1

PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI LEMBAGA TERAPI ANAK ALTISMA KUDUS

SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata 1 untuk meraih gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Nama Mahasiswa NIM Program Studi

: Erianawati : 1124000048 : S1 Kurikulum Teknologi Pendidikan

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

2

PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada : Hari Tanggal : :

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Hardjono NIP. 130781006

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

Mengetahui : Ketua Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan

Drs. Haryanto NIP. 131404301

3

PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : Rabu : 29 Juni 2005

Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. Siswanto, MM NIP. 130515769 Pembimbing I

Dra. Nurussaadah, Msi NIP. 131469642 Anggota Penguji Penguji I

Drs. Hardjono NIP.130781006 Pembimbing II

Drs. Kustiono, M.Pd NIP. 131998682 Penguji II

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

Drs. Hardjono NIP.130781006 Penguji III

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

4

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi atau tugas akhir ini benarbenar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang,

Erianawati NIM. 1124000048

Baihaqi) “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila mengerjakan suatu pekerjaan dilakukan secara itqon (professional)” (HR.” (HR. sesungguhnya mencari ilmu itu wajib bagi orang-orang Islam.” (Q. Alam Nasyrah : 6) “Carilah ilmu walaupun (keberadaan ilmu) di negeri Cina. Baihaqi) PERSEMBAHAN Ayahanda dan Ibunda kami tercinta Kakanda dan Adinda kami tercinta Teman-teman kami TP Angkatan 2000 dan Almamater .S.5 MOTTO DAN PERSEMBAHAN “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan.

Agar perkembangan anak hiperaktif bisa kembali seperti anak normal atau setidaknya bisa berkurang hiperaktifitasnya dan dapat berkomunikasi/menjalin hubungan baik dengan orang-orang disekitarnya maka anak hiperaktif perlu mendapatkan pendidikan. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus.6 ABSTRAK Erianawati. salah satunya adalah dengan terapi. 1987). pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. Di dalam pembelajaran anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus tidak lepas dari penggunaan media. Perilaku mereka tidak diatur melalui aturan yang jelas. Terkait dengan pembelajaran anak hiperaktif penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perencanaan. Kelemahan tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menggunakan strategi kognitif yang terorganisir sehingga sulit memusatkan dan mempertahankan perhatian. Walaupun dibutuhkan kesabaran.” Kata tiap-tiap menunjukkan bahwa semua warga negara Indonesia termasuk anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus berhak untuk memperoleh pendidikan. salah satunya adalah anak hiperaktif. guru. . Kata Kunci: Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) berbunyi: “Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapat pengajaran. Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menggambarkan anakanak yang menderita ketidakmampuan untuk ‘stop.. Hardjono. Si. Pembimbing I Drs. memakan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. pengasuhan dan penanganan secara khusus sejak dini. Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. listen and think’ (Abikoff. look. Pembimbing II Drs. terutama media visual. karena media visual (gambar) merupakan alat bantu komunikasi yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak. Untuk itu peran pendidik (orang tua. 2005. Suripto. dan disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). energi. M. namun dengan dilakukannya terapi secara intensif akan membantu penyembuhannya dan secara bertahap hiperaktifitasnya akan berkurang. dan orang dewasa lain) sangat diperlukan dalam upaya penyembuhan anak hiperaktif.

2) mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Disamping itu untuk meningkatkan kemampuan bahasa. Pemilihan informan penelitian dilakukan dengan cara sampel bertujuan (purposive sample). jelas dan konsisten dan dengan suara netral . interaksi sosial dan aktivitas imajinasi (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan kelainan perilaku. Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup Identifikasi benda. bentuk. yang termasuk kategori hiperaktif disini adalah Speech Delayed dan Hiperaktif (SD & H). Autis dan Hiperaktif (A & H) dan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi (NH & KK). Metode pengumpulan data adalah metode observasi. sedangkan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi yaitu anak yang mengalami gangguan perilaku tetapi ringan (hiperaktif ringan) dan kurang kokonsentrasi. Dan dengan informan peneliti 6 (enam) orang yang terdiri dari Kepala Terapi. identifikasi warna. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi. Pembelajaran ini bertujuan untuk membantu anak dalam generalisasi dan supaya anak menguasai berbagai konsep seperti warna. Untuk itulah dalam membelajarkan anak hiperaktif tidak lepas dari penggunaan media. 3) mengetahui bagaimana evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Guru Pembimbing/Terapis dan Orang Tua Siswa. terutama media visual (gambar). Speech Delayed dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan terlambat bicara dan kelainan perilaku. besaran dan lain-lain. afektif dan psikomotorik pada anak. identifikasi angka dan identifikasi kata kerja. wawancara dan dokumentasi. Dalam memberikan perintah/instruksi ini harus disampaikan dengan singkat. Dan metode yang digunakan dalam pengajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Cara membelajarkannya dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. dan beri perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. identifikasi bentuk. Penelitian ini dilakukan di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus dengan sasaran penelitian anak hiperaktif. mencocokkan (matching). kognitif. arah. sehingga anak dapat menangkap pesan. identifikasi huruf. peneliti memperoleh gambaran bahwa perencanaan pembelajaran (kurikulum) anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah menggunakan kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia.7 Adapun tujuan penelitian ini untuk: 1) mengetahui bagaimana merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Autis dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi. random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu untuk memenuhi kebutuhan informasi sesuai dengan permasalahan penelitian. Sedangkan dalam membelajarkan anak hiperaktif digunakan sistem pembelajaran lovaas one on one (pembelajaran satu guru satu murid). ukuran. yaitu cara pengambilan informan penelitian yang bukan didasarkan atas strata.

.8 (cukup keras. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media visual (gambar) memudahkan anak dalam memahami konsep dan membantu dalam generalisasi. dan Departemen Pendidikan Nasional hendaknya aktif dalam meningkatkan kinerjanya serta mendukung program terapi ini sehingga dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.. seperti hadiah untuk menarik minat mereka belajar. Disamping itu dapat meningkatkan kemampuan bahasa. anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan. Berdasarkan evaluasi proses dari hasil pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada 6 anak hiperaktif dapat disimpulkan bahwa pelajaran yang masih sering mengalami kendala/hambatan adalah identifikasi benda. orang tua siswa. Apabila dalam pembelajaran. Hal ini terbukti dengan 75 % anak hiperaktif berhasil menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru pembimbing/terapis melalui media visual (gambar) ini. identifikasi bentuk dan identifikasi kata kerja dimana kasusnya sama yaitu kurangnya ketelitian anak dalam membaca gambar dan gangguan dalam pemahaman bahasa. Apabila anak sulit untuk diajarkan maka cukup diberi iming-iming. tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami. Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah evaluasi proses yaitu evaluasi yang dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. kognitif. maka berikan prompt (bantuan/arahan) pada anak dan setiap kali anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar maka berikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan). psikiater anak. guru pembimbing/terapis. maka mengajar tanpa prompt dan memberikan reinforce respons yang benar saja. dokter anak. Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespon dengan benar. afektif dan psikomotorik pada anak. tetapi dengan adanya media visual (gambar) dan prompt (bantuan/arahan) dari terapis dapat membantu mengurangi/menghilangkan gangguan pemahaman bahasa pada anak. Saran dari penulis kepada pihak-pihak yang terkait diantaranya yaitu kepala terapi. psikolog anak.

oleh karenanya pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada : 1. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian.9 KATA PENGANTAR Dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan rasa syukur Alhamdulillah. Soegito. baik secara langsung maupun secara tidak langsung. MM. 5. Drs. segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga skripsi yang berjudul “Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus” telah terselesaikan. Hardjono. Drs. Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan. Suripto. pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini. 4. Drs. Rektor Universitas Negeri Semarang. Siswanto. . Drs. SH. Haryanto. Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan. 2. 3. maka dalam penyusunan skripsi ini. MM. tidak lepas dari peranan berbagai pihak. Ketua Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Menyadari keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki. Msi. Skripsi ini disusun dalam rangka menyelesaikan studi strata satu untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Semarang. A T. pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini. Drs.

Semarang. 7. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai. 9. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan yang telah memberikan pengalaman. terima kasih ku ucapkan atas do’a dan kasih sayang serta pengertian dan perhatiannya selama ini. Bapak dan Ibu-ku.10 6. Ibu Nur Halimah. 10. Amin Akhirnya peneliti mengharapkan semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembacanya. Para Guru Pembimbing Terapi Anak Bermasalah Al Tisma Kudus yang telah meluangkan waktu guna memberi arahan dalam wawancara yang diperlukan dalam penelitian ini. Penulis . Kepala Terapi Anak Bermasalah Al Tisma Kudus yang telah memberikan ijin penelitian dan informasi yang berguna bagi penulis. 8. ilmunya kepada penulis. Semoga semua bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

.............. B........... iv HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...... xvii DAFTAR LAMPIRAN ........ D.................................................................................................................... Latar Belakang Permasalahan................9 Rumusan Permasalahan ..................................9 Tujuan Penelitian ............................................ G.........................................................................................7 Pembatasan Permasalahan ....................... xvi DAFTAR GAMBAR ..6 Identifikasi Permasalahan ......... XVIII BAB I PENDAHULUAN A..................11 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .............................................................................v ABSTRAK ...................................................................................................................................................................................9 .......... E.......6 Penegasan Istilah ................................................................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .......................................... ix DAFTAR ISI ................................................1 Permasalahan .......................................................... C..................................................................................... F......................xi DAFTAR TABEL .............. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................................... iii HALAMAN PERNYATAN . vi KATA PENGANTAR ....................................................

................................39 .................. Masalah Anak Hiperaktif dan Penyelesaiannya ......... Ciri-ciri Pembelajaran .....................15 4.................................. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran ..... Tujuan Pembelajaran .... Media Pembelajaran ...................... Pengertian Media Pembelajaran ....... Asumsi Proses Pembelajaran ..........15 3.............................................. Unsur-unsur Dinamis dalam Pembelajaran .16 5................. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ...................27 1.....27 2......... Cara Menangani Anak Hiperaktif ....................................................................29 3......................................16 6..............................25 5............ Hakekat Pembelajaran .............10 BAB II KAJIAN PUSTAKA A.........................................10 Sistematika Skripsi ........... Pengertian Hiperaktif ................. Ciri-ciri Hiperaktif .............................................26 C................ Peranan Media Pembelajaran ...12 2................. Manfaat Penelitian .....19 3....... I................24 4......12 H..31 4............................ Manfaat Media Pembelajaran ............................................................. Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran ....... Anak Hiperaktif ...........17 B....................18 2.......... Pengertian Belajar dan Pembelajaran ....................12 1.....................................................18 1........

...45 4........... Bentuk Media Visual (Gambar) ............................................45 3........ Latar dan Sasaran Penelitian ............ Pelaksanaan Pembelajaran ..................13 D.................... Fungsi Media Visual ........ Pengertian Media Visual ............... Pengembangan Media Visual ..... Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data............................... Media Visual ...................89 B...... Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif ... Penggunaan Media Visual ........................................................ Teknik Pengumpulan Data ............................................. Teknik Analisis Data ......99 .................................................81 3..................44 1.............................44 2........87 BAB III METODE PENELITIAN A..........48 5.......................................................................80 2.....................................91 C...............80 1.. Pengembangan Kurikulum ...................................... Pendekatan dan Prosedur Penelitian ..........92 D.........................96 E......................................... Evaluasi ......................................................50 Penggunaan Media Visual dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif 80 E....................................

.............. 147 1.. 147 DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .............. EVALUASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ......................................... 134 C............... DESKRIPSI SETTING PENELITIAN ....... 124 DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS 2................. DESKRIPSI INFORMASI PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN DI MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS . PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR .................................... ANALISIS DATA ...........................14 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.. 107 B..................................................................................... DESKRIPSI HASIL PENELITIAN .............101 2........ PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ................................. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ................................... 125 3.......... 123 1....101 1..... PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR ..........

.................................................................. Saran ......................... SIMPULAN ................. 162 B..........................................................................................101 3.........................................................15 2.................................... Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus .......... 148 3............................................ 158 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A............................. 164 LAMPIRAN-LAMPIRAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN D.101 . DESKRIPSI HASIL PENELITIAN .......... DESKRIPSI SETTING PENELITIAN ................... 163 DAFTAR PUSTAKA ............ PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .

PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ............................................................... EVALUASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .................................................................. 107 E.................... 123 4... DESKRIPSI INFORMASI PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .......... 147 ................. 134 F........................................... 124 5..............................................16 4. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .................... PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .................... ANALISIS DATA ........................................ PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ................................... 125 6.. 147 4...............................

......................... 148 6........................................................17 5....................................... PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .......... 162 B................................................... Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus .. 158 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A.......................................................................... 163 DAFTAR PUSTAKA ............. 164 LAMPIRAN-LAMPIRAN .................. Saran ..................... SIMPULAN ..............................

.........18 DAFTAR TABEL Tabel Hal 4.................105 .....3..................... Data Siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus Tahun 2001-2004 ......103 4...104 4.................2. Data Siswa Hiperaktif ............... Data Terapis Tahun 2004/2005 ...................1....................

..... 29 ......... Grafik perbandingan jumlah aktivitas “tak terarah” Hal anak hiperaktif dan anak normal .........................1.............19 DAFTAR GAMBAR Gambar 2..

............................... Bagan analisis data kualitatif ....... 98 ...1......20 DAFTAR BAGAN Bagan Hal 3..............

............21 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Hal 1................ Hasil Wawancara .....215 ..168 3.............................. Denah Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus ..................................................................... Hasil Dokumentasi ........................................213 7.................................175 5............................................................................... Permohonan Ijin Penelitian ...................169 4................207 6................................................ Pedoman Wawancara .......................214 8...........167 2.................................. Lembar Penilaian ................................................. Surat Keterangan Penelitian ..... Pedoman Kurikulum ..............................................

tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 8 ayat (1) berbunyi: “Warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa.” Selanjutnya ayat (2) berbunyi: “Ciri khas satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat tetap diindahkan.22 BAB I PENDAHULUAN A. selanjutnya pasal 47 ayat (1) berbunyi: “Masyarakat sebagai mitra pemerintah berkesempatan seluas-luasnya dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) berbunyi: “Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapat pengajaran. dan/atau kelainan perilaku. tentang Pendidikan Luar Biasa pasal 3 ayat (1) “Jenis kelainan peserta didik terdiri atas kelainan fisik dan/atau mental. 20 Tahun 2003.” Sebagai tindak lanjut dari Undang-undang tersebut sudah diterbitkan pula Peraturan Pemerintah No.” Kata tiap-tiap menunjukkan bahwa semua warga negara Indonesia termasuk anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus/berkelainan berhak untuk memperoleh pendidikan. 72 Tahun 1991.” . Salah satu upaya Pemerintah dalam memantapkan pembangunan di bidang pendidikan adalah disahkannya Undang-Undang No. Latar Belakang Permasalahan Pendidikan adalah usaha sadar untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak didik yang terarah menuju tercapainya pendidikan nasional.

perkembangan otak saat perinatal. lingkungan fisik. Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menggambarkan anakanak yang menderita ketidakmampuan untuk ‘stop. look. Pada tahun 1996 NIMH menyebutkan beberapa gejala utama hiperaktifitas: Perasaan gelisah. dikatakan pada beberapa referensi bahwa penyebab terjadinya hiperaktifitas bersifat multi faktorial dimulai dari faktor genetik. sehingga perlu pelayanan pendidikan khusus. menjawab pertanyaan yang belum selesai ditanyakan dan tidak sabaran menunggu giliran. 1987). guru dan orang-orang yang berpengaruh di sekitarnya. Kelemahan tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menggunakan strategi kognitif yang terorganisir sehingga sulit memusatkan dan mempertahankan perhatian. selalu menggerakkan tangan dan kaki tanpa maksud tertentu. perkembangan otak saat kehamilan. sosial dan pola pengasuhan anak oleh orang tua. antara lain adalah hiperaktif. Penyebab pasti hiperaktifitas pada anak tidak dapat disebutkan dengan jelas. tingkat kecerdasan (IQ). Perilaku mereka tidak diatur melalui aturan yang jelas. terjadinya disfungsi metabolisme. pada salah satu pasalnya berbunyi bahwa anak yang memerlukan perhatian khusus. listen and think’ (Abikoff. . ketidak teraturan hormonal. tidak bisa duduk dengan tenang.23 Peraturan Pemerintah tahun 2002 tentang Pendidikan Luar Biasa yang merupakan penyempurnaan terhadap PP PLB. terburu-buru.

24 James M. Dalam perkembangannya seorang anak dengan kelainan ini akan terjadi depresi. dan tidak pernah menyelesaikan suatu pekerjaan dengan tuntas. tidak dapat duduk dengan tenang. yang ditandai dengan: kurangnya perhatian pada satu bentuk kegiatan tertentu. problem hubungan interpersonal baik dengan keluarga atau dengan lingkungan di sekitarnya (teman sepermainan) dan cenderung kurang percaya diri (minder). menyatakan bahwa hiperaktifitas (sebagai bagian dari ADHD) adalah kelainan perilaku yang bersifat neurologis tersering yang terjadi pada masa kanak-kanak. Jika tidak tertangani dengan segera akan berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan dalam bersosialisasi serta kemampuan menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. bergerak tanpa arah dan tujuan. hiperaktifitas (bagian terbesar) dan impulsifitas. Gangguan hiperaktif merupakan salah satu kelainan yang sering dijumpai pada kasus-kasus psikiatri anak. National Institute of Mental Health (2003). Perrin dkk. rendah diri dan beberapa masalah emosi yang tidak terkendali. seperti rendahnya kemampuan akademis di sekolah. dan merupakan suatu bentuk kelainan perilaku dengan jumlah kejadian gangguan afektif yang bersifat kronis terbanyak pada anak-anak usia sekolah. Pengelompokan ADHD merujuk gejala yang paling menonjol yang terjadi meliputi kurang perhatian. menyebutkan beberapa hal yang berhubungan dengan ADHD: . Data dari NIMH (2001). Anak-anak dengan ADHD biasanya juga disertai dengan berbagai kendala fungsional lainnya. hal ini dapat berlanjut hingga masa remaja bahkan saat dewasa.

Anak dengan ADHD lebih sering mengalami trauma dibandingkan dengan anak normal. lebih-lebih terhadap anak hiperaktif yang disertai IQ di bawah rata-rata.1 persen anak usia 9 hingga 17 tahun selama periode 6 bulan. Selama ini pelayanan pendidikan untuk anak hiperaktif atau anak yang ber kebutuhan khusus lainnya di Indonesia lebih cenderung dimasukkan kependidikan anak terbelakang mental/tunagrahita. Laki-laki lebih sering 2 sampai 3 kali dari pada perempuan. Akibatnya anak hiperaktif yang IQ nya normal atau di atas normalpun tidak mendapat pendidikan yang maksimal atau sesuai dengan kebutuhan. . 4. padahal anak hiperaktif memerlukan pendidikan spesifik. gangguan hubungan personal.25 1. 2. 5. Diperkirakan diderita 4. gangguan kecemasan. Agar perkembangan anak hiperaktif bisa kembali seperti anak normal atau setidaknya bisa berkurang hiperaktifitasnya dan dapat berkomunikasi/menjalin hubungan baik dengan orang-orang disekitarnya maka anak hiperaktif perlu mendapatkan pendidikan. 3. Gejala-gejala ADHD biasanya ditemukan pada usia prasekolah atau sekolah dasar dan menetap hingga remaja bahkan terkadang berlanjut hingga dewasa. ADHD sering disertai dengan terjadinya gangguan depresi. pengasuhan dan penanganan secara khusus sejak dini. salah satunya adalah dengan terapi. ketergantungan obat dan perilaku anti sosial. demikian juga dengan kebutuhan guru-gurunya.

Amerika Serikat. karena media visual (gambar) merupakan alat bantu komunikasi yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak. .26 Menurut penelitian di Virginia University. maka penulis tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul: “Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus”. Untuk itu peran pendidik (orang tua. memakan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. namun dengan dilakukannya terapi secara intensif akan membantu penyembuhannya dan secara bertahap hiperaktifitasnya akan berkurang. dan orang dewasa lain) sangat diperlukan dalam upaya penyembuhan anak hiperaktif. Dalam pembelajaran anak hiperaktif di tempat-tempat terapi di Jawa Tengah termasuk di Kudus. Dengan menggunakan media visual dapat meningkatkan efektifitas dan efesiensi proses pembelajaran. energi. Walaupun dibutuhkan kesabaran. dan disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners).. kemampuan menerima pengetahuan (Cognitive Ability) anak hiperaktif 20% masih menunjukkan kemampuan berpikir yang normal atau di atas normal. Berdasarkan uraian di atas. tidak lepas dari penggunaan media. Pendidikan melalui media visual adalah metode/cara untuk memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dapat dilihat daripada sesuatu yang didengar atau dibacanya. dan berat). sedangkan 80% menunjukkan IQ di bawah rata-rata (ringan. sedang. terutama dalam pembelajaran anak hiperaktif. guru. terutama media visual.

Permasalahan Dari uraian diatas. . Melalui media visual. timbul permasalahan “Bagaimana cara menggunakan media visual (gambar) dalam pembelajaran anak hiperaktif ?” mengingat betapa pentingnya media tersebut demi perkembangan mereka. Penegasan Istilah Berkaitan dengan judul di atas ditegaskan pengertian masing-masing istilah. diharapkan proses pembelajaran akan mendorong tumbuhnya perhatian dan pencapaian hasil belajar yang lebih baik bagi siswa. Tapi dalam hal ini hanya dikhususkan pada media gambar. media gambar dan media proyeksi (Daryanto. cara. Media visual adalah semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar mengajar yang bisa dinikmati lewat panca-indera mata. 1993:27). Media ini dapat berupa: media bentuk papan. C. 1989:569). lebih sempurna (Depdikbud. Media Visual Media adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai dengan lebih baik. memanfaatan sesuatu untuk tujuan tertentu. 1999:569) 2. Penggunaan Secara harfiah.27 B. penggunaan dapat diartikan proses. yaitu sebagai berikut: 1. (KBBI.

28 3. D. 1999:8). Pembelajaran Pembelajaran merupakan interaksi antara guru dengan siswa untuk mencapai suatu tujuan. Mengacu pada pengertian istilah di atas maka pengertian judul di atas adalah pemanfaatan media visual (gambar) untuk pembelajaran anak hiperaktif. Dalam pembelajaran ada pengakuan terhadap kemampuan siswa untuk belajar dan kemampuan ini akan terwujud apabila dibantu dan dibimbing oleh guru (Tim MKDK. (b) bahan pengajaran. 5. Terapi Anak Al Tisma Kudus Adalah salah satu bentuk pelayanan pendidikan nonformal dalam rangka penyembuhan gangguan perilaku dan pemusatan perhatian yang khusus menangani anak berkebutuhan khusus di Kudus. 1996:10). salah satunya adalah anak hiperaktif. Org. Komponen lingkungan belajar menurut Sudjana (1997:1) mencakup (a) tujuan pengajaran. atau yang dikenal sebagai ADD (Attention Deficit Disorder) atau ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder) (Keluarga. Kids Health. 4. Identifikasi Permasalahan Untuk mengajarkan anak hiperaktif dalam rangka mencapai tujuan instruksional diperlukan sistem lingkungan belajar. . Hiperaktif Hiperaktif merupakan gangguan pemusatan perhatian yang disertai gejala hiperaktivitas motorik.

Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yakni metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar. guru. sehingga dapat memotivasi anak untuk belajar. Di dalam pembelajaran. Masih banyaknya bentuk media visual yang digunakan dalam pembelajaran yang harus diketahui oleh seorang guru terutama dalam membimbing anak hiperaktif. Berdasarkan uraian di atas. Untuk dapat mencapai tujuan instruksional peranan guru dalam menggunakan metode serta media jelas akan menolong siswa dalam belajar memahami suatu materi pelajaran tersebut. dan orang dewasa) dalam upaya pengembangan potensi anak terutama anak hiperaktif demi masa depan mereka nantinya. Pentingnya peran pendidik (orang tua.29 (c) metodologi pengajaran. (d) penilaian pengajaran. . Komponen-komponen ini saling berinteraksi secara bervariasi dalam proses belajar. berbagai permasalahan yang memperkuat alasan penelitian dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1. khususnya anak hiperaktif masih dalam tahap konkret-operasional yaitu pola berpikir anak masih terbatas pada benda-benda konkret yang dapat dilihat dan diraba. Pentingnya penggunaan media visual dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran anak hiperaktif mengingat betapa bandelnya dan sulitnya anak hiperaktif untuk diatur sehingga diharapkan dengan penggunaan media visual ini dapat menarik minat mereka untuk belajar. 3. 2.

sebagai populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua siswa hiperaktif yang berjumlah ± 6 orang siswa. Tujuan Penelitian Berdasarkan atas permasalahan yang diajukan. Penelitian dilakukan pada anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. Pembatasan Permasalahan Dalam penelitian ini untuk menghindari terjadinya pembiasan. 2. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Bagaimanakah evaluasi pembelajaran anak hiperaktif media visual (gambar). dengan menggunakan G. pelaksanakan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran yang hanya dibatasi dengan menggunakan media visual (gambar) saja. Merancang materi pembelajaran. Rumusan Permasalahan Dalam penelitian ini yang menjadi rumusan masalah adalah: Bagaimanakah merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar).30 E. maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: . F. maka peneliti memberi batasan masalah antara lain: 1.

Manfaat Praktis: diharapkan para Pendidik/Guru (terutama pembimbing anak hiperaktif) dapat mengembangkan media pembelajaran melalui media visual: merancang media. 2. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Manfaat Teoritis: menambah wawasan tentang kependidikan dalam penggunaan media visual (gambar) sebagai media pembelajaran. memilih model penggunaan media visual yang cocok bagi kebutuhan siswa. 4. berisi: . 2. H. yaitu: 1. Manfaat Penelitian Ada beberapa manfaat dalam penelitian ini. Untuk mengetahui bagaimana merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Manfaat bagi Peneliti: menambah pengetahuan tentang pembelajaran khususnya dalam penggunaan media visual bagi anak hiperaktif. Sistematika Skripsi Skripsi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bagian Awal Skripsi. I. 3.31 1. Untuk mengetahui bagaimana mengevaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). 3. Manfaat bagi orang tua: memberikan wawasan yang lebih luas tentang anak hiperaktif dan cara mengatasinya.

Kajian Pustaka Pokok-pokok yang tercakup dalam kajian pustaka ini adalah uraian tentang Hakekat Pembelajaran. Pembatasan Penegasan Permasalahan.32 Halaman Judul. Abstrak. Manfaat Penelitian dan Sistematika Skripsi. berisi: BAB I. Identifikasi Permasalahan. . berisi: Daftar Pustaka dan Lampiran-lampiran. Media Visual dan Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif. Anak Hiperaktif. Daftar Tabel. Istilah. Media Pembelajaran. Simpulan dan Saran Bagian Akhir Sripsi. Latar dan Sasaran Penelitian. Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab ini menerangkan Hasil Penelitian dan Pembahasan. Pendahuluan Dalam bab ini dijelaskan tentang Latar Belakang Permasalahan. BAB IV. Kata Pengantar. Halaman Motto dan Persembahan. Teknik Pengumpulan Data. Daftar Isi. Daftar Gambar. dan Teknik Analisis Data. BAB II. Tujuan Rumusan Permasalahan. Halaman Pernyataan. Bagian Isi Skripsi. Halaman Pengesahan. dan Daftar Lampiran. Penelitian. Permasalahan. Halaman Persetujuan Pembimbing. Metode Penelitian Dalam bab ini diuraikan tentang Pendekatan dan Prosedur Penelitian. BAB III. BAB V.

Menurut Badawi (1985:59) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh perubahan tingkah laku baru individu secara keseluruhan sebagai hasil perjalanan individu dalam berinteraksi dengan lingkungan. pemahaman. . kecakapan. ketrampilan maupun sikap. serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada diri individu yang sedang belajar. bersifat positif serta bertujuan dan berarah. baik yang menyangkut pengetahuan. bahwa: Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku. Seperti yang dikemukakan oleh Djamarah dan Zain (2002:11). Artinya. Perubahan tingkah laku itu terjadi secara sadar. Hakikat Pembelajaran 1. sikap dan tingkah laku ketrampilan. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk perubahan pengetahuan.169 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Menurut Sujana (2000:28) pengertian belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan perubahan pada diri seseorang. kebiasaan. bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. bersifat kontinyu. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Batasan tentang teori belajar yang dikemukakan para ahli tergantung sudut pandang yang dipakai masing-masing dalam memberi arti belajar karena itu banyak dijumpai pengertian-pengertian tentang belajar.

to follow direction”. Dari ketiga definisi di atas. afektif dan psikomotor. baik yang disadari maupun yang timbul sendiri akibat praktek. dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca. mengatakan: “Learning is a change in performance as a result of practice”. b. Usaha pemahaman mengenai makna belajar ini akan diawali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. antara lain dapat diuraikan sebagai berikut: a. latihan dan bukan secara kebetulan. to try something themselves. Dengan adanya pengertian-pengertian belajar di atas belajar dapat diartikan sebagai tindakan atau usaha individu yang merupakan suatu proses dalam berinteraksi dengan lingkungan agar memperoleh pengetahuan dalam rangka mendapatkan perubahan tingkah laku baik yang berupa kognitif. to imitate. . kalau subjek belajar itu mengalami atau melakukannya. Geoch. Harold Spears memberikan batasan: “Learning is to observe. maka dapat diterangkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan.170 Selain itu dalam bukunya Sardiman (2000:20). Perubahan-perubahan tersebut bersifat kontinyu. positif. to listen. Juga belajar itu akan lebih baik. c. to read. meniru dan lain sebagainya. jadi tidak bersifat verbalistik. mengamati. mendengarkan. berarah dan bertujuan serta terdapat dua aspek yang sama yaitu adanya perubahan tingkah laku dan pengalaman yang mempengaruhi beberapa faktor. pengalaman. Cronbach memberikan difinisi: “Learning is shown by a change in behavior as a result of experience”.

(Tim MKDK. menguasai metode mengajar. Istilah “pembelajaran” merupakan pengganti istilah “mengajar”. agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. ketrampilan. yaitu orang yang menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang mendukung agar siswa dapat mewujudkan kemampuan belajarnya. praktek mengajar di sekolah-sekolah pada umumnya lebih banyak berpusat pada guru. tanpa memperhatikan bahwa siswa-siswanya dapat belajar atau tidak. dan ketrampilan yang didapat dari hasil proses belajar yang diberikan. mampu melakukan evaluasi belajar dll. kebiasaan.171 Belajar diharapkan terjadi perubahan-perubahan pada individu yang belajar. Ia harus menguasai materi. . sikap. Menurut Rohani (1997:24) pembelajaran adalah usaha sadar guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan. yaitu usaha sadar guru untuk membantu siswa atau anak didik. 1996:10). Artinya bila guru mengajar ia lebih mempersiapkan dirinya supaya berhasil dalam menyampaikan materi pelajaran. dan sikap. Dengan ini guru diharapkan selalu ingat bahwa tugasnya adalah membelajarkan siswa atau dengan kata lain membuat siswa dapat belajar untuk mencapai hasil yang optimal. Perubahan itu tidak hanya pada pengetahuan saja akan tetapi dalam kecepatan. Menurut para pakar pendidikan. Sesuai dengan pengertian pembelajaran. penguasaan diri. Oleh karena itu istilah mengajar yang dianggap berkonotasi “teacher centered” diganti dengan istilah pembelajaran. Guru berfungsi sebagai fasilitator.

Tingkah laku itu meliputi pengetahuan. 2000:25) dapat dikemukakan sebagai berikut: a. d.172 2. f. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis. ketrampilan. baik secara fisik maupun psikologis. Tujuan Pembelajaran Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. baik kuantitas maupun kualitas. Ciri-ciri Pembelajaran Ciri-ciri pembelajaran (Tim MKDK. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik. c. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar. b. Tujuan pembelajaran adalah membantu para siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah. dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran. 3. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa. e. . Oleh karena itu pembelajaran pasti mempunyai tujuan.

5. alat bantu pembelajaran. dan pada suatu ketika dapat menurun atau hilang. dan pada upaya guru menyiapkan bahan pembelajaran. Faktor internal terdiri dari faktor biologis dan faktor psikologis. Faktor internal. juga terdapat pada diri guru (motivasi dan kesiapan membelajarkan siswa). suasana pembelajaran. Unsur-unsur Dinamis dalam Pembelajaran Unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran kongruen dengan unsur-unsur dalam belajar. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dibagi menjadi dua. Artinya unsur-unsur yang diperlukan dalam belajar yang keadaannya dapat berubah-ubah. Faktor ini merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Unsurunsur ini kadang-kadang baik. yaitu faktor internal dan faktor eksternal. yaitu kondisi mental yang mantap dan stabil dimana kondisi ini tampak dalam bentuk sikap mental yang positif dalam menghadapi segala hal. yaitu kondisi fisik yang normal dan kondisi kesehatan fisik. a. 1) Faktor biologis (jasmaniah) Faktor biologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan keadaan fisik atau jasmani individu yang bersangkutan. 2) Faktor psikologis (rohaniah) Faktor biologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan kondisi mental seseorang. dan kondisi atau kesiapan siswa mengikuti pembelajaran baik fisik maupun psikologis. terutama hal-hal yang berkaitan dalam proses .173 4.

Bahwa pembelajaran harus melihat pentingnya produk dan proses secara seimbang. faktor lingkungan sekolah. Bahwa proses pembelajaran direncanakan dan dilaksanakan sebagai suatu sistem. Selain berkaitan erat dengan sikap mental yang positif. Bahwa dalam proses pembelajaran harus terjadi interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru. e. daya ingat dan daya konsentrasi. b. diasumsikan terjadi situasi atau kegiatan tertentu yang menyebabkan guru dan siswa menjadi aktif dan kreatif. Asumsi Proses Pembelajaran Dalam proses pembelajaran. faktor lingkungan masyarakat. 6. Bahwa proses pembelajaran lebih efektif apabila menggunakan metoda dan teknik yang tepat. . c. Faktor eksternal meliputi faktor lingkungan keluarga. dan faktor waktu. Adapun asumsi-asumsi tersebut adalah sebagai berikut: a. bakat. Bahwa inti proses pembelajaran adalah kegiatan belajar siswa secara optimal. kemauan/minat.174 belajar. faktor psikologis ini meliputi intelegensi/tingkat kecerdasan. d. Faktor eksternal Faktor eksternal merupakan faktor yang bersumber dari luar individu itu sendiri. b.

2002:19). artinya alat yang dapat dilihat dan didengar yang dipakai dalam proses pembelajaran dengan maksud untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif dan efisien. Apapun yang disampaikan oleh guru sebaiknya menggunakan media. 2002: 6).175 B. Media Pembelajaran 1. Bahan di sini merupakan barangbarang yang biasanya disebut perangkat lunak atau software yang di dalamnya terkandung pesan-pesan untuk disampaikan dengan mempergunakan peralatan (Sadiman. Media mengandung pesan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa tidak menjadi bosan dalam meraih tujuan-tujuan belajar. paling tidak yang digunakannnya adalah media verbal yang berupa kata-kata yang diucapkan dihadapan siswa. Menurut Daryanto (1993:1) bahwa media adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat disampaikan dengan lebih baik dan lebih sempurna. . Pengertian Media Pembelajaran Media disebut juga alat-alat audio visual. Kata media berasal dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman. Media dalam kawasan teknologi pendidikan merupakan sumber belajar yang berupa gabungan dari bahan dan peralatan. Dengan penggunaan alatalat ini guru dan siswa dapat berkomunikasi lebih mantap dan hidup serta interaksinya bersifat banyak arah.

Briggs (1970) dalam Sadiman (2002:6) menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman. . Sedangkan NEA (National Education Association) menyatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio-visual serta peralatannya. membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar.176 AECT (Association of Education and Communication Technology) memberikan batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. memudahkan penafsiran data. perasaan. menyajikan dengan menarik dan terpercaya. Dari beberapa batasan pengertian media tersebut di atas. Manfaat Media Pembelajaran Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar. Penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses belajar mengajar dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. dilihat. didengar dan dibaca. 2. maka dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran. dan memadatkan informasi. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Media hendaknya dapat dimanipulasi.

c. f. umpan balik dan penguatan. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif. g. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa. spesifik dan jelas. Pengajaran bisa lebih menarik. h. Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan. b. Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat e. d. .177 Menurut Kemp & Dayton (1985:3-4) dampak positif dari penggunaan media pembelajaran adalah sebagai berikut: a. beban guru untuk penjelasan yang berulang-ulang mengenai isi pelajaran dapat dikurangi bahkan dihilangkan sehingga ia dapat memusatkan perhatian kepada aspek penting lain dalam proses belajar mengajar. Kualitas hasil pelajaran dapat ditingkatkan bilamana integrasi kata dan gambar sebagai media pengajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan dengan baik. Pengajaran dapat diberikan kapan dan di mana diinginkan atau diperlukan terutama jika media pengajaran dirancang untuk penggunaan secara individu.

Memperluas wawasan dan pengalaman siswa yang mencerminkan pembelajaran non verbalistik dan membuat generalisasi yang tepat. f. c. b. Hubungan guru-siswa tetap merupakan elemen paling penting dalam sistem pendidikan modern saat ini. Membuahkan perubahan signifikan tingkah laku siswa. Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak telah mereka pelajari. j. Meningkatkan rasa saling pengertian dan simpati dalam kelas. Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa.178 Dale (1969:180) mengemukakan bahwa bahan-bahan audio-visual dapat memberikan banyak manfaat asalkan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran. Meyakinkan diri bahwa urutan dan kejelasan pikiran yang siswa butuhkan jika mereka membangun struktur konsep dan sistem gagasan yang bermakna. d. Guru harus selalu hadir untuk menyajikan materi pelajaran dengan bantuan media apa saja agar manfaat berikut ini dapat terealisasi: a. e. Menunjukkan hubungan antara mata pelajaran dan kebutuhan pelajaran dan minat siswa dengan meningkatnya motivasi belajar siswa. Membuat hasil belajar lebih bermakna bagi berbagai kemampuan siswa. Mendorong pemanfaatan yang bermakna dari mata pelajaran dengan jalan melibatkan imajinasi dan partisipasi aktif yang mengakibatkan meningkatnya hasil belajar. . i. Melengkapi pengalaman yang kaya dengan pengalaman itu konsep-konsep yang bermakna dapat dikembangkan. h. g.

Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. Memperbesar perhatian siswa. oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap. oleh karena itu mengurangi verbalisme. mendemonstrasikan. d. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru. c. . apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran. d. b. Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berpikir. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar. tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati. memerankan. sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga. tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru. melakukan. b.179 Sudjana & Rivai (1992:2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa. dan lain-lain. yaitu: a. Encyclopedia of Educational Research dalam Hamalik (1994:15) merinci manfaat media pembelajaran sebagai berikut: a. Metode mengajar akan lebih bervariasi. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pengajaran c.

Obyek atau benda yang terlalu besar untuk ditampilkan di ruang kelas dapat diganti dengan gambar. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses hasil belajar. terutama melalui gambar hidup. maka dapat disimpulkan bahwa manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut: a. slide. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera. c. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain. slide. Obyek atau benda yang terlalu kecil yang tidak tampak oleh indera dapat disajikan dengan bantuan mikroskop. foto. f. atau gambar. radio. slide disamping secara verbal. dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Kejadian langka yang terjadi di masa lalu atau terjadi sekali dalam puluhan tahun dapat ditampilkan melalui rekaman video. interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya. film. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. dan waktu. realita. dan membantu efisiensi dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar. film. ruang. b. g.180 e. atau model. . film. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu. Dari beberapa batasan manfaat media pembelajaran di atas. foto. Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa.

dan video. slide. 1993:3) a. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran. 3. masyarakat. atau simulasi komputer.181 Obyek atau proses yang amat rumit seperti peredaran darah dapat ditampilkan secara kongkret melalui film. Peristiwa alam seperti meletusnya gunung berapi atu proses yang dalam kenyataan memakan waktu lama seperti proses kepompong menjadi kupukupu dapat disajikan dengan teknik-teknik rekaman seperti time-lapse untuk film. d. Kejadian atau percobaan yang dapat membahayakan dapat disimulasikan dengan media seperti komputer. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka. gambar. video. slide. dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata. Tujuan Media yang dipilih hendaknya menunjang pencapaian tujuan pengajaran. kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang. b. Ketepatgunaan Hendaknya dipilih ketepatan dan kegunaannya untuk menyampaikan pesan yang hendak dikomunikasikan atau diinformasikan. serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru. . Penggunaan media dalam pembelajaran dapat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran. atau komputer. film. dan pemilihan media mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut: (Daryanto.

Biaya Biaya yang dikeluarkan hendaknya seimbang dengan hasil yang diharapkan dan tergantung kemampuan dana yang tersedia. Sumber belajar bagi siswa. Mutu teknis Kualitas media harus dipertimbangkan. f. Tingkat kemampuan siswa Media yang dipilih hendaknya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. e. besar kecilnya kelompok atau jangkauan penggunaan media tersebut.182 c. direncanakan untuk perorangan atau kelompok. Alat untuk mengangkat atau menimbulkan persoalan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan oleh para siswa dalam proses belajarnya. . pendekatan terhadap pokok masalah. apakah ada pengganti yang relevan. Peranan Media Pembelajaran Peranan media dalam proses pembelajaran dapat ditempatkan sebagai: a. artinya media tersebut berisikan bahan-bahan yang harus dipelajari para siswa baik individual maupun kelompok. jika media sudah rusak atau kurang jelas/terganggu sehingga mengganggu proses transfer informasi (tidak menarik. d. Alat untuk memperjelas bahan pengajaran pada saat guru menyampaikan pelajaran. detail kurang bisa dipahami). c. Ketersediaan Apakah media yang diperlukan tersedia atau tidak. 4. b.

Alat bantu yang digunakan hendaknya dipilih secara obyektif. Hendaknya menguasai /mengenal dengan baik media yang akan digunakan c. Media yang digunakan hendaknya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai b. 5. tidak didasarkan atas selera atau kesenangan pribadi gurunya d.183 Sungguhpun demikian media sebagai alat dan sumber pembelajaran tidak bisa menggantikan guru sepenuhnya. Siswa tidak mungkin aktif menemukan sendiri suatu kesimpulan. persoalan media dan sumber sangat penting. yang nantinya akan bermanfaat bagi mereka terutama anak-anak yang mempunyai kelainan khusus seperti anak hiperaktif. karena tergantung situasi-kondisi dan ada keuntungan-kerugian dari masing-masing media. tanpa adanya bantuan media dan sumber belajar (guru dan buku-buku pelajaran). Disamping itu dapat membuat mereka terlatih memecahkan permasalahanpermasalahan yang riil. . yang mungkin mereka hadapi kelak. artinya media tanpa guru suatu hal yang mustahil dapat meningkatkan kualitas pengajaran. Dengan adanya media dan bimbingan dari orang-orang yang ada disekitarnya (guru dan oranng tua siswa) dapat mempermudah siswa dalam memahami suatu pelajaran. Tidak ada alat bantu yang paling baik untuk semua tujuan. Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran Untuk menunjang terjadinya keaktifan siswa dalam belajar. Empat prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam menggunakan media pembelajaran adalah sebagai berikut: a. Peranan guru masih tetap diperlukan sekalipun media telah merangkum semua bahan pengajaran yang diperlukan oleh siswa.

Bahan pengajaran yang dijelaskan guru kurang dipahami siswa. gangguan perhatian. Anak Hiperaktif 1. d. membangkang dan destruktif yang menetap. . Kurangnya perhatian siswa akibat kebosanan mendengarkan uraian guru. dan menjadi alasan sehingga si anak dirujuk untuk mendapatkan pendidikan. suka membuat keributan. Terbatasnya sumber pengajaran. Sedangkan Tailor (1989) mengatakan bahwa kata 'hiperaktif' merupakan suatu terminologi yang mencakup beberapa kelainan perilaku meliputi: perasaan gelisah. Guru tidak bergairah untuk menjelaskan bahan pengajaran melalui penuturan kata-kata (verbal) akibat terlalu lelah disebabkan telah mengajar cukup lama. Pengertian Hiperaktif Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menurut National Medical Series (1996) adalah suatu peningkatan aktifitas motorik hingga pada tingkatan tertentu yang menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi. b.184 Pada waktu berlangsungnya pengajaran hendaknya penggunaan media digunakan guru pada situasi sebagai berikut: a. Tidak semua sekolah mempunyai buku sumber. aktifitas yang berlebihan. atau tidak semua bahan pengajaran ada dalam buku sumber. C. c. pengasuhan dan penanganan secara khusus. perasaan yang meletup-letup. setidaknya pada dua tempat dan suasana yang berbeda. Hal ini sering kali dikeluhkan oleh orang tua dan guru.

Mereka biasanya bertindak 'nekat' dan impulsif. penurunan kontrol diri dan aktifitas yang berlebihan secara nyata. Pada umumnya prestasi akademik mereka tergolong rendah dan minder. tetapi tidak didapatkan kelainan otak yang spesifik. gejala hiperaktif yang muncul sangat dipengaruhi (tergantung) oleh situasi dan kondisi yang berlaku yang dihadapi. Mereka sering menunjukkan tindakan anti sosial sehingga orangtua. sulit bergaul dan sering tidak disukai teman sebayanya. Tetapi dikatakan bahwa perilaku ini berangsur berkurang dengan bertambahnya umur. mudah marah. seperti yang terlihat pada gambar diagram berikut: . Tidak jarang mereka dengan kelainan ini disertai adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Sering kurang memperhatikan. dan suka menyela pembicaraan serta mencampuri urusan orang lain. sering menggerak-gerakkan tangan dan kaki di saat duduk meski tanpa tujuan tertentu. tidak menghiraukan mainan atau sesuatu miliknya. tidak bisa duduk dengan tenang.185 Lissauer & Clayden (2001) menyatakan bahwa pada anak dengan hiperaktif terjadi disorganisasi afektif. kurang sopan. Wenar (1994) menyebutkan bahwa anak dengan kelainan hiperaktif dalam aktifitas sehari-hari (24 jam) lebih tinggi dibandingkan dengan anak normal bahkan saat tidur sekalipun. guru dan lingkungannya memperlakukan dengan tidak tepat dan tidak menyelesaikan masalah. tidak mampu berkonsentrasi dan sering tidak tuntas dalam mengerjakan sesuatu serta berusaha menghindari pekerjaan yang membutuhkan daya konsentrasi tinggi. Pada anak ini menunjukkan perilaku yang berlebihan dalam menjalankan tugas/pekerjaannya.

anak tampak tidak mendengarkan apa yang dikatakan lawan bicaranya. tidak dapat . Grafik perbandingan jumlah aktivitas “tak terarah” anak hiperaktif dan anak normal.melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikir lebih dahulu.186 Jumlah “aktivitas tak terarah” Anak yang hiperaktif Anak normal 3 5 7 9 11 13 Usia anak (tahun) Gambar 2. akan tetapi tingkat aktivitas semua anak semakin terkendali dengan meningkatnya usia. Ciri-ciri Hiperaktif Ada 3 gejala utama atau primary symtoms pada penderita ADHD (Barkley. Seperti: sering tidak berhasil menyelesaikan tugas. 1990 menyebut hal ini sebagai ‘the holy trinity of ADHD’): a.1. 2. Anak-anak yang hiperaktif jumlah aktivitas “tak terarah” -nya lebih banyak daripada jumlah aktivitas “tak terarah” anak-anak yang normal. Inattention/ tidak adanya perhatian Yaitu kesulitan untuk memusatkan perhatian pada hal yang sedang dilakukannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang anak yang menderita hiperaktif adalah mereka yang mempunyai gangguan perilaku yang berlebihan. tidak bisa konsentrasi pada satu hal dan kadang bersikap impulsif .

c. Hyperactivity/ hiperaktivitas Gejala ketiga ini meliputi semua kecenderungan penderita untuk melakukan suatu aktivitas secara berlebihan. sering menggumamkan katakata yang tidak jelas maksudnya. selalu bergerak (melompat berlebihan). dengan kata lain penderita sering menuruti dorongan hatinya. gelisah (juga dalam tidur).187 konsentrasi. gagal untuk menunggu giliran dalam situasi bermain atau kelompok. selalu bergerak seperti digerakkan oleh mesin atau selalu ‘on the go’. mempunyai kesulitan untuk mempertahankan perhatian pada kegiatan bermain. . kesulitan dalam mengorganisir pekerjaan (tetapi tidak berhubungan dengan kelemahan kognitif). sering melakukan hal lain sebelum satu hal selesai. jika anak cukup banyak menerima penguatan atau kontrol yang ketat. sering berteriak di kelas dan mudah menginterupsi pembicaraan orang lain (misal menjawab pertanyaan sebelum selesai diajukan). tanda-tanda gangguan bisa sedikit atau tidak sama sekali. anak tersebut oleh orang lain akan dianggap sebagai anak yang menyusahkan atau nakal. b. Di lain pihak. atau ketika anak di dalam situasi ‘face to face’. perhatian mudah dialihkan oleh stimulus dari luar. perlu banyak pengawasan. Seperti: sering bertindak sebelum berpikir. Impulsivity/impulsivitas Yaitu ketidakmampuan individu untuk mengontrol perilakunya. tidak bisa tetap duduk. baik aktivitas secara motoris maupun verbal. Sering. Gejala-gejala tersebut akan semakin memburuk pada situasi-situasi yang menuntut adanya perhatian. Seperti: tidak bisa duduk tenang.

apalagi terhadap petunjuk yang mengandung langkah-lanngkah atau tahapantahapan. Karena mengalami luka di otak mereka sering tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan. Masalah intelek Anak hiperaktif jelas mengalami gangguan dalam otak. . Ia sulit menentukan mana yang penting dan mana yang harus diprioritaskan terlebih dulu selain sulit menyelesaikann pelajaran. Masalah Anak Hiperaktif dan Penyelesaiannya Beberapa masalah yang dihadapi anak hiperaktif (Setiawani. tetapi tidak mampu mengendalikan diri. Perilaku yang sulit diduga itu kadang membuat orang tua. Kadangkala mereka sadar harus mematuhi peraturan. misalnya: “m” dengan “w”. “d” dianggap “b” atau “p” dianggap “q”. khususnya ketika masuk ke suasana kelas yang dinamis. susah bergaul. sering kacau dalam menanggapi citra yang diterima. kemampuan belajar lemah. emosinya menjadi mudah terangsang. guru atau teman-temannya merasa khawatir. Adakalanya mereka sulit mengerti pembicaraan orang secara umum.188 3. Ia sulit menggabungkan satu hal dengan hal lainnya. Ia juga mengalami kesulitan dalam mengutarakan pikiran dan perasaan melalui kata-kata. antara lain: a. dan sebagainya sehingga mengalami kesulitan dalam membaca. kurang kendali diri. Daya pikir penangkapannya lemah sehingga sulit untuk menghadapi pelajaran matematika. 2000:138). sering tidak dapat berkonsentrasi dan pelupa. tidak dapat berencana atau menduga apa akibat yang dilakukannya.

c. Mereka sulit tidur dengan nyenyak dan mudah terbangun. sepertinya sedang begitu sibuk melakukan sesuatu sehingga tidak dapat beristirahat. bermain kasar. kurang sabar. bulu. jagung. tidak sabar menunggu. dan sembrono sehingga besar kemungkinan bisa mengalami kecelakaan. Masalah emosi Anak hiperaktif umumnya bersifat egois. Sebaliknya gerakan tenang pun bermasalah. debu dan bahan kosmetik. kedelai. semangatnya kuat. Mereka juga sensitif terhadap makanan tertentu.. dan kebiasaan tidur mereka bermacam-macam: ada yang bermimpi sambil berjalan. misalnya bila disuruh menulis. susu.189 b. Juga emosi sering berubah-ubah sehingga tidak mudah diduga. Mereka tidak dapat berolahraga dengan banyak gerak dan banyak tenaga. mereka tidak dapat menggunakan alat tulis dengan baik. tidak takut bahaya. seperti berolah raga atau lompat tali. Anak hiperaktif juga peka terhadap bahan kimia. mengigau atau mengompol. suka merusak. suka berteriak dan ribut. telor ayam. tetapi sebentar kemudian marah dan sedih. Seorang ahli berpendapat bahwa yang sangat dibutuhkan mereka adalah melatih mereka untuk dapat mengendalikan diri. meraba dan menyentuh benda-benda untuk merasakan lingkungan di sekitarnya. bila berbaris selalu berebutan. daging. gula dan gandum. kadang begitu senang dan ceria. mewarnai atau menggambar. obat. babi. . Pernyataan emosinya sangat ekstrim dan kurang kendali diri. dan emosional. Masalah biologis Mereka suka sekali berlari-lari dan sulit untuk menyuruh mereka diam. seperti: coklat.

atau Cylert.190 d. Ia bisa mencuri uang orang tua atau permen di toko. Penggunaan obat Hiperaktivitas merupakan akibat keterlambatan perkembangan atau penyimpangan. Pengobatan tertentu berdampak berlawanan dari harapan. mencuri dengar pembicaraan telepon orang lain sehingga kesan orang banyak adalah anak ini bermasalah dan bermoral rendah. obat-obat di atas adalah obat penggiat. biasanya obat itu justru menambah tingkat aktivitasnya dan tidak dapat tidur semalam suntuk. kerap kali digunakan untuk mengatasi hiperaktivitas. Namun. Obat-obat yang dipakai pada anak yang di diagnosis sebagai hiperkinetik adalah obat penggiat (stimulan) sistem saraf pusat. Masalah moral Karena mengalami berbagai masalah seperti di atas. obat itu akan memacu dan menyebabkan kita hiperaktif. tidak mengembalikan barang yang dipinjam. seperti Ritalin. kalau obat penenang diberikan kepada anak yang hiperaktif atau obat yang akan memperlambat atau menidurkan kita. Ada beberapa cara dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi anak hiperaktif (Setiawani. Dekedrine. 2000:139). obat ini nampaknya “memperlambat” anak yang hiperaktif. mencela pembicaraan orang. masuk ke kamar orang lain. yang mengaktifkan bagian- . Penggiat sistem saraf pusat. Apabila orang yang normal menggunakannya. maka mereka pun tidak memiliki kepekaan dalam hati nurani. Sebaliknya. anak tidak memiliki daya kontrol secukupnya untuk mencegah perilakunya atau membuat dia dapat duduk tenang atau berkonsentrasi lama. Misalnya. antara lain: a.

Obat secara tidak langsung menguntungkan anak karena memberi kontrol lebih banyak. Hal itu kerap kali terjadi pada anak hiperaktif di kelas. sebagian besar gejala hiperaktifnya berkurang dan umumnya akan . Obat itu tidak hanya membantu anak duduk tenang dan mengurangi kegaduhan. obat itu menggiatkannya yang memberi kendali pada anak. mudah bingung) merupakan kendala terbesar dalam nilai sekolahnya. Maka. Ia dapat mengontrol dirinya lebih baik. Penampilannya buruk. Akibat pengobatan hiperaktivitas: 1) Obat itu akan “membuat dia tenang”. ia tidak pernah menerima informasi. tidak dapat konsentrasi. ia tidak berhasil. anak lebih mudah diurus dan menampakkan sedikit masalah dalam kaitannya dengan sekolah.191 bagian badan tertentu. Ia kurang aktif dan lebih mampu berkonsentrasi dalam waktu yang lebih lama. hiperaktivitas kognitif (misalnya rentang perhatian sempit. Obat membantu mengendalikan gejala-gejala hiperaktif yang mengganggu. kontrolnya setara dengan “motor”nya. Pengobatan tidak membuat anak lebih pandai atau dapat belajar lebih cepat melainkan menghilangkan gejala hiperaktivitas yang mengganggu. Pada umumnya. tetapi juga memperbaiki rentang perhatian dan mengurangi kebingungannya. Anak-anak hiperaktif biasanya mengalami kesulitan besar di ruang kelas. Akibatnya kalau ia ditanya atau harus melakukan sesuatu. Dengan kata lain. sebab ia mudah terganggu atau tidak dapat memperhatikan guru cukup lama dan oleh karena itu. Ia tidak dibuat tenang atau “dibius”.

Kedua pakar teori dalam bidang ini adalah Ben Feingold dan Lendon Smith. dosis obat itu ditambah. Kalau terjadi. Biasanya kita dapat melihat satu diantara akibat-akibat di atas dalam 1 sampai 7 hari sesudah anak mulai minum obat.3 dan 4. dan mungkin jatuh tertidur waktu melihat TV. Hendaknya orang tua jangan menambah atau mengurangi dosis obat anak tanpa konsultasi dengan dokter. banyak dilakukan studi tentang diet atau gizi makanan atas perilaku hiperaktivitas. Karena banyak obat diberikan untuk mengatasi kesulitan sekolah dan terutama diberikan selama jam-jam sekolah (yakni sebelum makan pagi dan makan siang). Lalu diperiksa dampaknya dan jika tak ada akibat positif. hubungilah dokter. Akhir-akhir ini. 2) Tidak terjadi apa-apa. Kalau ini terjadi. b. berarti ia memang hiperaktif dan dosisnya sesuai. Pengaturan makanan Selama 50 tahun yang lalu beberapa laporan mengkaitkan hiperaktivitas dengan alergi makanan. anak itu mungkin hiperaktif. Anak tidak menampakkan perubahan apa pun.192 menampakkan perbaikan positif. 4) Anak mungkin menjadi lebih aktif. 3) Mungkin anak nampak mengantuk atau kecapaian. anak itu tidak hiperaktif dan pengobatan harus dihentikan. maka perlu mendapatkan laporan dari gurunya. Kalau ini terjadi. tetapi tidak menerima cukup obat. . Maka jika terjadi reaksi 2. Selama mengobati anak. Banyak dokter mulai dengan dosis obat terendah. sangat penting untuk tetap berhubungan dengan dokter. Kalau ini terjadi. barangkali ia hiperaktif tetapi meminum obat terlalu banyak.

dikeringkan. dikalengkan. kismis. . ada dua kelompok makanan yang harus dihindari anak hiperaktif. Kelompok II terdiri dari segala jenis makanan yang mengandung warna atau aroma sintetis (buatan). murbei. Daftar buah-buahan dan sayur-sayuran yang harus disingkirkan dari diet anak-anak dalam semua bentuknya-segar. Tetapi semua makanan yang mengandung warna atau aroma buatan harus dijauhkan dari diet anak. mentimun. Buah-buahan dan sayursayuran yang tidak menimbulkan reaksi kurang baik pada anak dapat dimasukkan dalam diet. Kalau anak memperlihatkan reaksi yang menggembirakan atas Diet Feingold sesudah 4 sampai 6 minggu. Jika anak tidak memperlihatkan aktivitas yang meningkat atau kesulitan perhatian. sari buah ataupun sebagai bahan makanan-seperti : apel. makanan itu harus dihentikan. Makanan baru dalam Kelompok II harus diperhatikan. dibekukan. Tetapi kalau timbul reaksi yang kurang baik.193 Diet Feingold Menurut Diet Feingold. yakni harus dicoba selama 3 atau 4 hari. Diat ini tidak berkaitan dengan pengawet makanan. persik. dapat ditambahkan jenis makanan lain. makanan tersebut dapat dimasukkan dalam dietnya. makanan dalam Kelompok I dapat berangsur-angsur dimakan. ceri. jika tidak ada reaksi yang tidak menyenangkan. kecuali butilat hidroksitoluena yang memperlihatkan reaksi bertentangan bagi beberapa anak. murbei hitam. tomat. nektarin. Makanan kelompok I mengandung salsilat dan meliputi buahbuahan dan sayur-sayuran. anggur. jeruk manis. aberikos.

perlu diamati rata-rata selama 1 sampai 3 minggu.194 Dr. diemulsikan. Disamping diet umum ini. obat yang digunakan untuk mengontrol perilaku hiperaktif dapat dihentikan setelah anak menjalani diet selama 2 atau 3 minggu. Namun. diproses. Feingold memberi beberapa petunjuk bagi orang tua yang anaknya menjalankan diet. Pada umumnya produksi dagang sedapat mungkin harus dihindari. Pola makanan ini disebut diet pencegahan. 2) Diet itu harus ditaati dengan ketat. Kalau meragukan. Beberapa di antaranya seperti berikut: 1) Semua makanan harian yang dimakan anak harus dicatat. 100% 3) Tidak ada batasan terhadap banyak makanan yang manis buatan sendiri. 4) Semua etiket makanan harus dibaca dengan cermat. Gula dan makanan “asal-asalan” tidak . dibakukan. dokter anak harus selalu dihubungi sebelum penngobatan diganti atau dikurangi. Smith Dr. diberi warna atau diawetkan. Diet Pencegahan itu terdiri atas 3 bagian: 1) Bahan-bahan anti gizi hendaknya dihindari. lebih baik jangan disantap. 5) Kalau nampak ada perbaikan. Hal ini umumnya mencakup makanan yang telah dikemas. Pendekatan Gizi Dr. 6) Dalam beberapa hal. Lendon Smith berpendapat bahwa setiap orang harus mengikuti pola makanan umum sebagai bagian program sepanjang hidup. ia memberikan saran khusus untuk mengendalikan gejala-gejala hiperaktivitas. ditambahai.

es krim yang diperdagangkan. telur. air tebu. daging ayam. c. diktator atau berhati baja. Di antaranya sebagai berikut: sayuran segar (mentah). kacangkacangan. gandum yang dibungkus. Anak jangan dimanjakan kalau tahu bahwa penyebab hiperaktifnya karena masalah biologis. ikan. Tunjukkan dengan mantap dan wibawa bahwa orang tua ingin ditaati oleh anak-anaknya. Orang tua harus bertahan dengan peraturan yang telah diberikan dan menuntut anak agar menaatinya. misalnya: di kamar atau di ruang bermain. Menciptakan lingkungan yang tenang Usahakan untuk menciptakan suasana yang tenang di tempat anak itu biasa bergerak. 3) Mulailah setiap hari dengan vitamin dan mineral (diandaikan anak kekurangan bahan-bahan tersebut). Sikap bertahan ini bukan berarti kejam. susu pasterisasi. Beberapa makanan yang harus dihilangkan yakni: gula putih dan gula coklat. jagung. buncis. sebaiknya pindah rumah agar anak itu dapat bertumbuh dalam situasi yang baik. tepung putih. sirup. Hindarkan pemanjaan. Bila lingkungan tempat tinggalnya sangat bising. buah-buahan mentah. keras. d. sayur mayur (seperti kacang panjang. keju putih. gula tebu. .195 diperkenankan. dalam jumlah kecil. tetapi sebaliknya untuk membina dan mengajar anak tentang apa yang harus mereka lakukan. 2) Makanan alami harus disantap 4 atau 6 kali sehari. dan miju-miju). madu.

Bila orang tua tidak putus asa. Membimbing dalam kebenaran Meski anak hiperaktif sering tidak mampu menguasai diri dan perilakunya. Terapi perilaku. Setiap perilaku yang tidak dapat diterima harus dicegah. walaupun harus dilakukan berulang-ulang. Cegahlah anak untuk meniru adegan-adegan yang tidak baik. 1994:158). lagu yang ribut dan sinar yang bergerak menyilaukan. f. terapi wicara. orang tua atau guru tidak seharusnya bersikap acuh dan menyerah. Memilih acara teve dengan hati-hati Acara teve yang menampilkan adegan kekerasan. namun biasanya kalau terapi dilakukan secara intensif maka perkembangannya akan maju secara bertahap. Gunakan tenaga ekstra dengan tepat Anak ini kurang dapat mengendalikan diri dan apabila sikap agresifnya dapat disalurkan dalam aktivitas yang tepat. Memang dibutuhkan kesabaran. energi dan biaya yang tidak sedikit. . kemudian tentukan suatu standar yang sesuai dengan kebenaran. Cara Menangani Anak Hiperaktif Anak hiperaktif perlu diterapi agar tidak menghambat perkembangan kecerdasan dan sosialnya.196 e. dapat merangsang anak dan mengakibatkan mereka emosional. terapi konsentrasi. pilihlah acara teve yang beradegan lembut dan baik. Oleh sebab itu. obatobatan bahkan keluarganya pun perlu mendapat terapi untuk meneruskan terapi di rumah dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak-anak hiperaktif (Clerq. g. 4. Perlu ada kesabaran untuk mengajarkan hal ini. anak akan mempunyai harapan untuk disembuhkan. maka itu akan mengurangi keonaran.

orang tua. ada banyak kepentingan klinis yang terkait dengan intervensi terapi alternatif yang berusaha untuk memberikan taktik dan ketrampilan kepada anak-anak ADHD yang memungkinkan mereka untuk mengatasi permasalahan dengan lebih efektif. Bagaimanapun juga beberapa kerugian akan tetap timbul dengan pendekatan medis ini. guru. Selain itu juga perlu disadari bahwa terapi yang efektif adalah terapi yang melibatkan semua pihak. dokter dan psikologi. 1980) menunjukkan perbaikan yang penting dalam hal gejalagejala utama gangguan. hal ini tidak berarti meningkatkan ketrampilan sosial interpersonal. Dengan pengobatan. dan belajar. Hanya ada sedikit bukti bahwa pengobatan stimulan selam jangka-panjang bisa mengubah hasil akhir anak-anak . Dengan adanya keterbatasan-keterbatasan ini. Whalen & Henker. Menurut Abikoff (1987) pengobatan nampaknya hanya mempunyai sedikit pengaruh terhadap kemampuan kognitif seperti penalaran. dengan self-instruction training (training instruksi kepada diri sendiri) dan social problem-solving strategies (strategi pemecahan masalah sosial). Selanjutnya. Terapi Anak Perawatan yang paling banyak dipakai untuk menangani anak-anak hiperaktif sampai sekarang adalah medikasi psikostimulan. Medikasi Psikostimulan Kemanjuran klinis jangka-pendek dari obat-obat ini telah dicatat dengan baik. Pendekatan kognitif-behavioral nampaknya memberikan jawaban yang efektif.197 a. walaupun pengobatan menghilangkan perilaku yang mengganggu dalam kelas. sebagian besar anak-anak dan remaja ADHD (60-90%. pemecahan masalah.

Luria mengemukakan tiga tahap: 1) Tahap pertama: tingkah laku anak dokontrol oleh bahasa orang lain. Tujuannya adalah untuk memotivasi anak untuk menjembatani secara verbal. anak memperoleh kontrol diri dengan menggunakan instruksi diri secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam (covert self-instructions). dialog internal ini (instruksi diri atau self-instruction) digunakan sebagai titik awal untuk mencapai perubahan perilaku. dikembangkan oleh Meichenbaum dan Goodman (1971). 2) Tahap kedua: anak mengatur perilakunya dengan bicara keras-keras pada dirinya sendiri (self-instructing aloud). Selama terapi. Self-instruction training. karena anak diminta untuk berhenti secara periodik dan mengevaluasi penampilannya. 3) Tahap ketiga: pada usia sekitar 5-6 tahun. Berdasarkan pendekatan ini pada teori Vygotsky dan Luria (1962) yang menekankan pentingnya pengaruh bahasa dan pikiran pada tingkah laku. tetap ada pada masa remaja dan awal masa dewasa. terutama orang tua. . Teknik instruksi diri dan self-monitoring digunakan untuk mengurangi respon impulsif. Self-Instruction Training-Latihan Instruksi Diri. pemikiran dan tindakannya sendiri. mengintegrasikan teknik-teknik kognitif (menyederhanakan proses pemecahan masalah) dan prinsip-prinsip mempelajari tingkah laku (modeling dan behavioral rehearsal).198 ini: riset menunjukkan bahwa ketrampilan belajar dan sosial yang rendah serta prestasi akademis yang buruk.

199

Lima tahap belajar melalui proses modeling bisa dibedakan dalam situasi belajar ini: 1) Model orang dewasa melakukan suatu tugas dengan instruksi verbal yang keras (cognitive modeling) 2) Anak melakukan tugas yang sama dengan instruksi yang keras dari model orang dewasa (overt extern guidance) 3) Anak melakukan tugas dengan instruksi sendiri yang keras (external selfinstruction) 4) Anak melakukan tugas dengan membisikkan instruksi-diri (whispering external self-instruction) 5) Anak melakukan tugas dengan instruksi-diri intern (covert self-instructions) Instruksi-diri atau self-instruction mendukung dan mengatur tingkah laku anak. Melalui 5 tahap modeling ini, anak belajar untuk menunda perilaku: ‘stoplook-do’ (berhenti-lihat-lakukan). Verbalisasi sedikit demi sedikit akan hilang dengan adanya latihan dan pengulangan (behavioral rehearsal) sampai semuanya diinternalisasi : berpikir dan bertindak akan menjadi proses yang otomatis. Social Problem-Solving Skills Training-Latihan Ketrampilan Pemecahan Masalah Sosial. Terapi ini menekankan pada perkembangan strategi kognitif untuk meningkatkan kontrol diri dan respon sosial dalam menyelesaikan suatu masalah. Untuk mengembangkan srategi kognitif ini diperlukan modeling secara verbal, latihan dan penguatan sosial (social reinforcement), yang dilakukan dalam kelompok kecil (3 sampai 8 orang) atau secara individual. Tujuan dari terapi ini

200

adalah untuk mengembangkan kompetensi dan interaksi interpersonal yang memadai. Terapis memberikan suatu problem dan menunjukkan beberapa perilaku yang efektif untuk menghadapi masalah tersebut. Setelah itu terapis menanyakan pada anggota kelompok satu demi satu, bagaimana respon mereka terhadap permasalahan tersebut. b. Terapi Orang Tua Terapi ini menekankan pada parents monitoring (memonitor/supervisi oleh orang tua) dan parents management skills. Orang tua dilatih untuk berinteraksi dengan anaknya yang menderita ADHD dengan menggunakan penguat yang positif, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anaknya. Misalnya: memuji perilaku anak yang sesuai, memberi peraturan yang jelas pada anak, selalu mengawasi atau mengontrol perilaku anaknya. Disamping itu terapis juga sebaiknya memberikan penjelasan tentang latar belakang dan perkembangan aspek-aspek ADHD pada guru. Hal ini dengan tujuan agar guru tidak bersikap menolak anak didiknya yang menderita ADHD. Bantuan yang dapat diberikan untuk mereka yang hiperaktif Org. Kids Health, 1999:8) yakni: a. Dengan mengadakan kontak agar pada waktu tertentu menguasai emosinya, tidak boleh dikerasi karena akan bertambah melawan. b. Dengan diajak bicara dengan pendekatan individual sebelum memberikan pertanyaan/tugas. (Keluarga.

201

c. Anak yang kesulitan berkonsentrasi untuk memulai tugas dilakukan dengan menatap mata anak, memberikan instruksi secara individual, menyuruh mengulangi perintah dan tugasnya. Sementara bagi anak yang tidak dapat menyelesaikan tugas sehingga kehilangan konsentrasi maka berikan tugas menjadi porsi-porsi kecil.

D. Media Visual 1. Pengertian Media Visual Media Visual (Daryanto, 1993:27), artinya semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar yang bisa dinikmati lewat panca-indera mata. Media visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi. Dengan demikian media visual dapat diartikan sebagai alat pembelajaran yang hanya bisa dilihat untuk memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan akan isi materi pelajaran. Pendidikan melalui media visual adalah metoda/cara untuk memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dapat dilihat daripada sesuatu yang didengar atau dibacanya.

202

2. Fungsi Media Visual Levie & Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu fungsi atensi, fungsi efektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau teks materi pelajaran. Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras. Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. 3. Penggunaan Media Visual Selama proses belajar mengajar kita cenderung menggunakan pancaindera penglihatan, kita memakai mata kita untuk memperoleh informasi, isyarat, tanda atau hal yang menarik perhatian kita, kenyataan ini mempunyai arti yang

Untuk mendapatkan gambaran tentang ukuran dan bentuknya. b. Gunakan grafik untuk menggambar ikhtisar keseluruhan materi sebelum menyajikan unit demi unit pelajaran untuk digunakan oleh siswa mengorganisasikan informasi. Kemampuan penglihatan harus dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan proses belajar mengajar. dan diagram.. Gambar realistis harus digunakan secara hati-hati karena gambar yang amat rinci seringkali mengganggu perhatian siswa untuk mengamati apa yang seharusnya diperhatikan. c. kalau mungkin gerakan gambar. harus terlihat perbandingannya dengan obyek lain yang sudah dikenal.203 penting untuk keperluan belajar dan mengajar. Media visual haruslah sesuai dengan kenyataan dan dapat diterima. Visual digunakan untuk menekankan informasi sasaran (yang terdapat teks) sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. yaitu : a. gunakan yang asli (master) untuk membuat setiap turunan/kopi/duplikat untuk menjaga kualitas gambar. Penampilan visual tidak boleh mengganggu. Media visual tidak boleh terlalu ramai dan kacau supaya informasi yang dimaksudkan dapat tertangkap jelas oleh siswa. gambar dan tulisan yang diproyeksikan harus dapat dibaca. . Usahakan visual itu sesederhana mungkin dengan menggunakan gambar garis. grafis atau slide yang asli untuk membuat master copy (duplikat asli yang pertama kali). artinya obyek-obyek yang masih asing atau belum dikenal hendaklah ditampilkan sedini mungkin. untuk itu harus jelas dan terang. karton. Prinsip umum untuk penggunaan efektif media visual. Visual tidak boleh meragukan. bagan.

Gunakan gambar untuk melukiskan perbedaan konsep-konsep f. m.204 d. dan menyatakan apa yang orang dalam gambar itu sedang kerjakan. tempat atau obyek. dan semua obyek dan aksi yang dimaksudkan dilukiskan secara realistik sehingga tidak terjadi penafsiran ganda. h. Unsur-unsur pesan dalam visual itu harus ditonjolkan dan dengan mudah dibedakan dari unsur-unsur latar belakang untuk mempermudah pengolahan informasi. n. g. . i. l. amat membantu untuk mempelajari materi yang agak kompleks j. Hindari visual yang tak berimbang. khususnya diagram. pikirkan atau katakan. Caption (keterangan gambar) harus disiapkan terutama untuk menambah informasi yang sulit dilukiskan secara visual. e. Warna harus digunakan secara realistik. Warna dan pemberian bayangan digunakan untuk mengarahkan perhatian dan membedakan komponen-komponen. menghubungkan kejadian atau aksi dalam lukisan dengan visual sebelum atau sesudahnya. Visual yang diproyeksikan harus dapat terbaca dan mudah dibaca. Visual yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan gagasan khusus akan efektif apabila jumlah obyek dalam visual yang akan ditafsirkan dengan benar dijaga agar terbatas. seperti lumpur. kemiskinan. Visual. Ulangi sajian visual dan libatkan siswa untuk meningkatkan daya ingat. memberi nama orang. k. Tekankan kejelasan dan ketepatan dalam semua visual.

dan keseimbangan. Pesan atau informasi yang panjang atau rumit harus dibagi-bagi ke dalam beberapa bahan visual. tekstur. atau konsep yang ingin disampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk. dan gabungan dari dua bentuk atau lebih. iklan-iklan. ruang. dibaca. chart. Keterpaduan Keterpaduan mengacu kepada hubungan yang terdapat di antara elemenelemen visual yang ketika diamati akan berfungsi secara bersama-sama. sketsa/gambar garis. dan warna juga perlu dipertimbangkan Kesederhanaan Kesederhanaan mengacu kepada jumlah elemen yang terkandung dalam suatu visual. seperti foto. keterpaduan. Jumlah elemen yang lebih sedikit memudahkan siswa menangkap dan memahami pesan yang disajikan visual itu. gambar/ilustrasi. papan informasi. mempunyai banyak gagasan untuk merancang bahan visual yang menyangkut penataan elemen-elemen visual yang akan ditampilkan. penekanan. Tataan dapat dimengerti. seperti majalah. Dalam proses penataan itu harus diperhatikan prinsip-prinsip desain. Foto menghadirkan ilustrasi melalui gambar yang hampir menyamai kenyataan dari sesuatu obyek atau sesuatu. grafik merupakan representasi simbolis dan artistik sesuatu obyek atau situasi. garis. Bentuk. gambar dan lain-lain yang ada disekitar kita. Sementara itu. dan dapat menarik perhatian sehingga ia mampu menyampaikan pesan yang diinginkan oleh penggunaannya. bagan. Bahan-bahan grafis.205 Pengembangan Media Visual Visualisasi pesan. informasi. Elemen- . antara lain prinsip kesederhanaan. grafik.

informasi atau isi pelajaran perlu diperhatikan. Keseimbangan seperti ini menampakkan dua bayangan visual yang sama dan sebangun. Oleh karena itu. hubungan-hubungan. . warna.206 elemen itu harus saling terkait dan menyatu sebagai suatu keseluruhan sehingga visual itu merupakan suatu bentuk menyeluruh yang dapat dikenal yang dapat membantu pemahaman pesan dan informasi yang dikandungnya. pemilihan bentuk sebagai unsur visual dalam penyajian pesan. seringkali konsep yang ingin disajikan memerlukan penekanan terhadap salah satu unsur yang akan menjadi pusat perhatian siswa. Dengan menggunakan ukuran. perspektif. Garis Garis digunakan untuk menghubungkan unsur-unsur sehingga dapat menuntun perhatian siswa untuk mempelajari suatu urutan-urutan khusus. Penekanan Meskipun penyajian visual dirancang sesederhana mungkin. atau ruang penekanan dapat diberikan kepada unsur terpenting. Keseimbangan Bentuk atau pola yang dipilih sebaiknya menempati ruang penayangan yang memberikan persepsi keseimbangan meskipun tidak seluruhnya simetris tetapi memberikan kesan dinamis dan dapat menarik perhatian disebut keseimbangan formal. Bentuk Bentuk yang aneh dan asing bagi siswa dapat membangkitkan minat dan perhatian.

biru. gambar chart berseri (flipchart). yaitu (1) pemilihan warna khusus (merah. dan sebagainya). (2) nilai warna (tingkat ketebalan dan ketipisan warna itu dibandingkan dengan unsur lain dalam visual tersebut). menunjukkan persamaan dan perbedaan. warna dapat mempertinggi tingkat realisme obyek atau situasi yang digambarkan. Warna digunakan untuk memberi kesan pemisahan atau penekanan. kuning. foto. tetapi ia harus digunakan dengan hati-hati untuk memperoleh dampak yang baik. Tujuan utama penampilan berbagai jenis media visual (gambar) ini adalah untuk memvisualisasikan konsep yang ingin disampaikan kepada siswa/anak. alat permainan visual edukatif dan berbagai media visual gambar lainnya. atau untuk membangun keterpaduan. Bentuk Media Visual (Gambar) Ada berbagai bentuk media visual (gambar) yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama anak hiperaktif yaitu media gambar yang meliputi gambar chart. 5. dan (3) intensitas atau kekuatan warna itu untuk memberikan dampak yang diinginkan. Warna Warna merupakan unsur visual yang penting. Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan ketika menggunakan warna.207 Tekstur Tekstur adalah unsur visual yang dapat menimbulkan kesan kasar atau halus. Tekstur dapat digunakan untuk penekanan suatu unsur seperti halnya warna. . dan menciptakan respons emosional tertentu. Disamping itu.

grafik dan sebagainya yang berguna untuk memperjelas materi pelajaran yang diajarkan oleh guru di depan siswa. angka. Fungsi chart adalah untuk menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan dengan cara yang lebih visualisasi agar lebih mudah dimengerti dengan melalui penjelasan gambar. . 3) Biaya tidak terlalu mahal dan relatif murah. Untuk mengajar/menjelaskan kepada siswa kita jangan menunjuk gambar chart dengan tangan langsung karena ini bisa menghalangi gambar yang ditampilkan. tabel. 2) Chart berseri/flip chart adalah satu kesatuan informasi yang dituangkan dalam beberapa tahapan atau dibuat berseri . Jenis chart ada 2 yakni: 1) Chart tunggal adalah satu kesatuan informasi yang dituangkan dalam satu lembar. Keuntungan menggunakan gambar chart: 1) Menghemat waktu dalam proses belajar mengajar (tidak perlu menggambar/menulis lagi di papan tulis. 4) Semua guru bisa membuatnya.208 a. diagram. atau pulpen yang tangkainya bisa diperpanjang seperti antene radio. cukup menempelkan saja) 2) Dapat digunakan berulangkali. tetapi gunakan alat penunjuk yang berupa: batang bambu kecil panjang. Gambar Chart Chart adalah sebuah lembaran kertas yang berisi informasi dalam bentuk gambar dan tulisan.

ukuran dan waktu (maksudnya adalah memperkecil ukuran yang besar. informasi sebelumnya yang terdapat pada lembar-lembar chart dibawahnya tidak boleh dilihat oleh siswa. lembab. 6) Bisa memperjelas masalah. Gambar chart berseri (flipchart) Gambar chart berseri (flipchart) sebenarnya sama dengan chart tunggal. perbedaannya adalah pada chart berseri (flipchart) serangkaian beberapa lembar gambar merupakan satu komponen/kesatuan informasi yang disajikan secara berurutan dengan cara ditumpuk/dibendel dan dijepit menjadi satu. 4) Kurang bisa menggambarkan unsur gerak atau proses. . mempercepat proses yang memakan waktu lama. luka dan sobek). memperlama proses yang cepat dan sebagainya). b.209 5) Bisa mengatasi ruang. Ciri khas dari flipchart adalah lembaran-lembaran gambar chart adalah berurutan di mana satu bendel merupakan satu kesatuan yang utuh. rengat. sehingga sebelum lembar pertama telah jelas baru boleh dibuka lembaran berikutnya sehingga ada hubungan kesatuan dari lembar pertama ke lembar berikutnya. 2) Perlu perawatan yang baik karena kertas mudah rusak (kena air. memperbesar ukuran yang kecil. 5) Perlu ketrampilan menggambar. Kerugian menggunakan gambar chart: 1) Untuk membuat chart yang baik dan tepat diperlukan waktu persiapan/pembuatan yang cukup lama. 3) Perlu tempat yang cukup untuk penyimpanan.

brosur-brosur dan buku-buku. bacaan. misalnya dari surat-surat kabar. . Gambar fotografi dapat diperoleh dari berbagai sumber. alamiah. dramatisasi. dan pernyataan kreatif dalam bercerita. kejadian yang sudah tidak mungkin diulangi bisa digantikan dengan media foto ini. kongkret. serta membantu mereka menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi bacaan dari buku teks. dimensi/skala benar dan akurat. penulisan. lukisan. Membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan berbahasa. foto yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut dapat digunakan oleh guru secara efektif dalam kegiatan belajar mengajar. Foto merupakan media visual yang efektif karena lebih nyata. Obyek yang tidak mungkin dibawa ke kelas. Gambar fotografi itu pada dasarnya membantu mendorong para siswa dan dapat membangkitkan minatnya pada pelajaran. kartun. ilustrasi. Foto Hasil pemotretan fotografi adalah merupakan media (alat bantu mengajar) gambar juga. kegiatan seni. c. berukuran besar/terlalu kecil yang tidak memungkinkan dibawa ke kelas. menulis dan menggambar. hanya perbedaannya gambar ini didapatkan dengan peralatan yang dinamakan kamera foto sehingga obyek yang digambar sesuai dengan apa yang ada. Foto dapat membatasi ruang. akurat.210 Flipchart disajikan lembar demi lembar sehingga minat dan konsentrasi siswa terarah pada penjelasan gambar chart yang dijelaskan oleh guru tersebut. majalah-majalah. waktu dan ukuran. pada setiap jenjang pendidikan dan berbagai disiplin ilmu. Gambar. realistis.

dan menarik. dan membantu siswa menafsirkan serta mengingat isi pelajaran yang berkenaan dengan foto-foto tersebut. Foto yang digunakan sebagai media pegajaran harus artistik dalam arti foto tersebut mempertimbangkan faktor-faktor seperti komposisi.211 Sebagai media pengajaran. Diskusi tentang jenis-jenis spesies tertentu dari binatang akan berjalan efektif apabila disertai dengan foto-foto berbagai jenis binatang yang termasuk spesies yang sedang dibicarakan. Untuk menunjukkan berbagai jenis gaya bangunan (arsitek) Islam. kualitas artistik. mengembangkan kemampuan siswa berbahasa. foto harus cukup besar dan jelas untuk kelompok siswa yang dihadapi. yaitu mendukung pencapaian tujuan pengajaran. pewarnaan yang efektif. Foto disesuaikan dengan tingkat usia siswa. validitas. misalnya. dan teknik pengambilan dann pemrosesan yang baik. kejelasan dan ukuran yang memadai. foto dapat pula digunakan secara berkelompok terutama untuk melancarkan kegiatan diskusi tentang isi pelajaran. foto dapat digunakan dengan efektif. Sudjana & Rivai (1991) menguraikan beberapa kriteria pemilihan foto untuk tujuan pengajaran. sederhana atau tidak rumit sehingga siswa tidak salah menafsirkan pesan dalam foto itu. Selanjutnya. Foto benarbenar melukiskan konsep atau pesan isi pelajaran yang ingin disampaikan sehingga dapat memperlancar pencapaian tujuan. Foto harus jelas . atau perbedaan gaya arsitek dari berbagai negara dan zaman. Disamping siswa dapat menggunakan foto secara perorangan. Dengan demikian foto bisa memenuhi fungsinya untuk membangkitkan motivasi dan minat siswa. foto haruslah dipilih dan digunakan sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.

foto-foto untuk tujuan pengajaran harus dapat memikat perhatian siswa. majalah. Namun demikian. antara lain: 1) Mudah dimanfaatkan di dalam kegiatan belajar mengajar. 2) Harganya relatif lebih murah daripada jenis-jenis media pengajaran lainnya. Kebenaran foto atau validitas foto menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. kereta api. bukanlah foto sesuatu obyek atau peristiwa yang dibuat-buat atau didramatisasi: foto seorang petani di desa kita yang sedang menuai padi dengan pisau alat panen merupakan kenyataan yang sesungguhnya. misalnya foto-foto mengenai benda-benda atau obyek yang akrab dengan kehidupan siswa seperti binatang. . Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari gambar fotografi dalam hubungannya dengan kegiatan pengajaran. dibandingkan dengan seorang petani dari desa kita yang memanen padi di sawah dengan “mesin traktor penggiling padi. karena praktis tanpa memerlukan perlengkapan apa-apa.” Disamping itu. tidak berarti foto mengenai obyek yang kurang akrab dengan siswa tidak boleh disajikan. dan lain-lain. boneka dan mainan. surat kabar dan bahan-bahan grafis lainnya. Dengan memanfaatkan kalender bekas. Mungkin foto tentang sesuatu obyek yang asing bagi siswa dapat menarik perhatian siswa karena baru pertama kalinya berkumpul dan siswa ingin mengetahui lebih jauh tentang obyek itu. dan cara memperolehnya pun mudah sekali tanpa perlu mengeluarkan biaya.212 karena dengan ketajaman dan kontras yang baik yang dapat memberikan ketepatan dan rincian yang memadai untuk menggambarkan kenyataan yang ditampilkannya.

beberapa gambar fotografi seri yang disusun secara berurutan dapat memberikan kesan gerak dapat saja dicobakan. dari ilmu-ilmu sosial sampai ilmu-ilmu eksakta. Kelemahan gambar fotografi antara lain: 1) Beberapa gambarnya sudah cukup memadai akan tetapi tidak cukup besar ukurannya bila dipergunakan untuk tujuan pengajaran kelompok besar. Menurut Edgar Dale. Karakteristik dari gambar fotografi: 1) Gambar fotografi itu adalah dua dimensi.213 3) Gambar fotografi bisa dipergunakan dalam banyak hal. Mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. 2) Gambar fotografi adalah berdimensi dua. untuk berbagai jenjang pengajaran dan berbagai disiplin ilmu. kecuali bilamana diproyeksikan melalui proyektor opek. Namun demikian. Kecuali bilaman dilengkapi dengan beberapa seri gambar untuk objek yang sama atau adegan yang diambil dilakukan dari berbagai sudut pemotretan yang berlainan. 4) Gambar fotografi dapat menerjemahkan konsep atau gagasan yang abstrak menjadi lebih realistik. dengan maksud guna meningkatkan daya efektifitas proses belajar mengajar. dari sudut pandang pembelajaran hal itu menjadi amat penting terutama untuk mata pelajaran yang rumit. sehingga sukar untuk melukiskan bentuk sebenarnya yang berdimensi tiga. . gambar fotografi dapat mengubah tahap-tahap pengajaran. dari lambang kata (verbal symbols) beralih kepada tahapan yang lebih kongkret yaitu lambang visual (visual symbols). 3) Gambar fotografi bagaimana pun indahnya tetap tidak memperlihatkan gerak seperti halnya gambar hidup.

dan memilihnya yang terbaik untuk tujuan khusus pengajaran. . 3) Gambar datar dapat memberi kesan gerak. pertama dari sudut pendidikan dan kedua dari sudut seni. Dengan satu pusat perhatian maka seluruh adegan akan mendukung kepada pesan apa yang ingin disampaikan. 4) Gambar datar menekankan gagasan pokok dan impresi. validitas serta menarik. kualitas artistik. 5) Gambar datar memberi kesempatan untuk diamati rinciannya secara individual. yaitu harus memadai untuk tujuan pengajaran. segala macam objek dapat dipotret dari yang kongkret sampai kepada gagasan yang abstrak. misalnya hasil pemotretan jagat raya dengan benda-benda langitnya. Dari sudut pandang ini ada dua macam pertimbangan. Dalam hal ini guru hendak menetapkan kegunaan-kegunaan gambar yang secara relatif memadai. bahwa untuk menilai dan memilih gambar datar yang baik harus menampilkan satu gagasan utama. kejelasan dan ukuran yang cukup. memerlukan pengamatan rincian gambar yang tekun. Ada beberapa kriteria dalam memilih gambar-gambar yang memenuhi persyaratan bagi tujuan pengajaran. Dalam memilih gambar fotografi ada lima kriteria untuk tujuan pengajaran.214 2) Gambar datar adalah medium yang “diam” oleh sebab itu dalam hal ini seringkali dipergunakan istilah gambar tetap atau gambar diam. misalnya gambar yang memperlihatkan adegan di jalan raya sangat efektif. untuk menyatakan bahwa gambar itu tidak bergerak. 6) Gambar datar dapat melayani berbagai mata pelajaran.

Keefektifan suatu gambar ditentukan oleh sejauh mana baiknya gagasan dikomunikasikan melalui gambar-gambar itu. merupakan ciri fundamental efektivitas gambar yang baik atau pengorganisasian ke seluruh unsur-unsur gambar yang baik. Jadi pusat perhatian dari suatu gambar adalah gagasan. Gambar berwarna harus dipilih betul menurut kenyataan. dan alamiah misalnya merah. dan harus cukup besar sehingga rinciannya bisa diamati untuk dipelajari. Kedua. Gambar-gambar yang memenuhi persyaratan mutu seni juga harus memenuhi faktor-faktor: 1) Komposisi yang baik. untuk memilih gambar fotografi perlu memperhitungkan kesesuaiannya dengan tingkat usia siswa. gambar-gambar itu harus memenuhi persyaratan artistik yang bermutu. pewarnaan yang bagus. berarti pemakaian warna-warna secara harmonis merupakan ciri kedua dari kualitas artistik suatu gambar. 2) Pewarnaan yang efektif..215 Pertama gambar fotografi itu harus cukup memadai. Demikian pula pola gambarnya harus sederhana dan gagasannya tidak kompleks. bagian informasi atau satu konsep jelas yang mendukung tujuan serta kebutuhan pengajaran. . misi. pemakaian cahaya. Dalam pada itu. Di samping itu gambar fotografi hendaknya realistik dan hidup. artinya untuk tujuan pengajaran yaitu harus menampilkan gagasan. Artinya gambar itu mempunyai pusat perhatian yang jelas sehingga memberikan keseimbangan kepada gambar secara keseluruhan. biru. pesan yang ingin dikomunikasikan bukan bersifat fisik. kedudukan dan arah garisgaris. bayangan serta pewarnaan. Sedikit unsur terdapat di dalam gambar adalah cocok bagi anak-anak usia muda.

lebih pantas dipajang daripada untuk tujuan pengajaran. Warna-warna campuran hanya dipergunakan bila ingin menonjolkan makna tertentu terhadap gagasan yang ditampilkan ke depan. Bilamana ukuran gambar terlalu kecil maka akan sulit diamati. Ketiga. kapal terbang dan sebagainya. perahu. adegan yang ideal. 3) Teknik pemotretan yang unggul bernilai lebih dari komposisi dan pewarnaan. yaitu terhadap bendabenda yang akrab dengan kehidupan mereka. Yang tidak kurang pentingnya adalah besarnya gambar. sehingga tampak jelas ke seluruh siswa. Gambar-gambar yang representatif dari bidang studi tertentu yang menampilkan pesan yang benar menurut ilmu. merupakan gambar-gambar yang tepat untuk maksud pengajaran yang sahih. Gambar-gambar fotografi yang melukiskan suasana dramatis atau mencekam. misalnya binatang-binatang. pemahaman dan daya tarik terhadap gambar merosot dan perhatian siswa kepada gambar pun hilang. anakanak. Kelima memikat perhatian kepada anak-anak. Gambar yang tajam dan kontras mempunyai kelebihan. validitas gambar.216 hijau dan violet. kereta api. antara lain: . karena ketepatan dan rinciannya menggambarkan kenyataan secara lebih baik. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam mempergunakan gambargambar fotografi sebagai media visual pada setiap kegiatan pengajaran. gambar fotografi untuk tujuan pengajaran harus cukup besar dan jelas. Memikat perhatian bagi anak-anak cenderung kepada hal-hal yang diminatinya. Keempat.

Tujuan khusus itulah yang mengarahkan minat siswa kepada pokok-pokok terpenting dalam pelajaran. sebab keefektifan pemakaian gambar-gambar fotografi di dalam proses belajar mengajar memerlukan keterpaduan. akan mengakibatkan para siswa merasa dirongrong oleh sekelompok gambar yang memikat mereka. akan tetapi tidak menghasilkan kesan atau impresi visual yang jelas. seni grafis dan bentuk-bentuk kegiatan lainnya. atau dalam menyajikan gagasan baru. melalui gambar-gambar para siswa akan didorong untuk mengembangkan keterampilan berbahasa lisan dan tulisan. apa yang membedakan ciri-ciri satu sama lain. 4) Kurangilah penambahan kata-kata pada gambar. Melalui gambar itulah mereka memperoleh kejelasan tentang istilah verbal. Misalnya gambar-gambar candi gaya Jawa Tengah dan Jawa Timur. siswa akan menjelaskan mengapa bentuknya tidak sama. Banyaknya ilustrasi gambar secara berlebihan. oleh karena gambar-gambar itu justru sangat penting dalam mengembangkan kata-kata atau cerita. lebih baik daripada dua kali mempertunjukkan gambar-gambar yang serabutan tanpa pilih-pilih.217 1) Pergunakanlah gambar untuk tujuan-tujuan pelajaran yang spesifik. 2) Padukan gambar-gambar kepada pelajaran. daripada mempergunakan banyak gambar tetapi tidak efektif. Keterampilan jenis . 3) Pergunakanlah gambar-gambar itu sedikit saja. 5) Mendorong pernyataan yang kreatif. Jumlah gambar yang sedikit tetapi selektif. yaitu dengan cara memilih gambar tertentu yang akan mendukung penjelasan inti pelajaran atau pokok-pokok pelajaran.

bisa juga dengan memanfaatkan gambar-gambar baik secara umum maupun secara khusus. Dalam kegiatan bermain ini anak membentuk sesuatu. d. Alat Permainan Visual Edukatif Alat permainan edukatif adalah alat permainan yang dirancang khusus untuk kepentingan pendidikan dan mempunyai beberapa ciri yaitu: 1) Dapat digunakan dalam berbagai cara. 3) Segi keamanan sangat diperhatikan baik dari bentuk maupun penggunaan cat 4) Membuat anak terlibat secara aktif 5) Sifatnya konstruktif. Jadi guru bisa mempergunakan gambar datar. Alat ini dapat berbentuk balok-balok dalam berbagai macam ukuran. 6) Mengevalusi kemajuan kelas. Terdiri dari semua alat permainan yang dibuat dengan berbagai macam bahan seperti plastik. 2) Ditujukan terutama untuk anak-anak pra sekolah dan berfungsi mengembangkan berbagai aspek perkembangan kecerdasan dan motorik anak.218 keterbacaan visual dalam hal ini sangat diperlukan bagi siswa dalam “membaca” gambar-gambar itu. manfaat dan menjadi bermacam-macam bentuk. Pemakaian instrumen tes secara bervariasi akan sangat baik dilakukan. dalam upaya memperoleh hasil tes yang komprehensif serta menyeluruh. . gabungan bermacam-macam bahan yang dapat digunakan untuk mencipta bangunan. maksudnya dapat dimainkan dengan bermacam-macam tujuan. Macam-macam alat permainan visual edukatif: 1) Alat edukatif untuk membangun. kayu. slides atau transparan untuk melakukan evaluasi hasil belajar siswa.

P. 2) Alat permainan edukatif untuk melatih berbagai macam pengertian mengenai warna. Misalnya: membuat rumah-rumahan dengan balok kayu atau potongan lego. anak usia prasekolah terutama anak hiperaktif akan lebih mudah belajar pengenalan konsep-konsep ini apabila dilakukan sambil bermain (melalui kegiatan bermain). koordinasi mata dengan tangan. besaran dan lain-lain. plastik. menggambar. arah. konsentrasi (pemusatan perhatian). ini maka kosa kata yang didapat juga tak ternilai.219 menciptakan bangunan tertentu dengan alat permainan yang tersedia. mengembangkan kreativitas. Misalnya kertas. Pada usia prasekolah anak perlu menguasai berbagai konsep seperti warna. kayu dan sebagainya. Melalui kegiatan bermain dengan A. Karena kegiatan ini bermanfaat untuk melatih ketekunan. Kegiatan ini sangat baik diberikan pada anak yang mempunyai gangguan/berkebutuhan khusus seperti hiperaktif dan autisme.E. menyusun kepingan-kepingan kayu bergambar dan yang semacamnya. bentuk. Dengan rentang perhatian yang terbatas dan masih sulit diatur atau masih sulit belajar dengan “serius”. ukuran. Tidak jarang anak mampu menguasai bahasa yang canggih karena kemampuan ingatan pendengarannya bagus sehingga kita tidak perlu terlalu takut untuk menggunakan bahasa yang umumnya digunakan orang dewasa. Alat permainan edukatif yang mengandung unsur konsep . karena anak akan merasa senang dan tanpa ia sadari ternyata ia sudah banyak belajar. Peralatan ini terbuat dari berbagai macam bahan. mengisi waktu luang. bentuk dan ukuran. Misalnya dalam memperkenalkan warna dan ukuran bisa digunakan kegiatan bermain memancing ikan yang terdiri dari bermacam-macam warna dan ukuran.

Yang paling sederhana adalah papan bentuk (lingkaran. dan di samping). oval dan sebagainya). 4) Tangga bentuk silinder dan kubus. segi empat. sekaligus melatih motorik halus. belajar hukum sebab akibat. Misalnya. Dengan memainkan alat permainan ini anak belajar tentang bentuk. anak diminta menyatukan kembali. bentuk dan ukuran. bila terlalu sulit bagi anak untuk mengingat nama segi empat dapat diganti dengan istilah kotak atau tahu. warna. Kata “lingkaran” diganti menjadi bundar. segi tiga dan segi enam. segi empat. Model puzzle lain adalah suatu gambar tertentu yang kemudian dipotong-potong. juga melalui pengulangan bermain dengan alat ini akan membuat anak makin memiliki konsep dan mengenal nama bentuk tersebut dengan spontan. 3) Puzzle (mainan bongkar pasang). jumlah. Beberapa contoh alat permainan edukatif yang dapat mengembangkan ketrampilan gerakan halus dan koordinasi mata dan tangan: 1) Lotto-lotto berwarna 2) Alat permainan menara gelang ganda bentuk bulat. di bawah. yaitu suatu sarana menyalurkan energi dan agresivitas anak. Dengan alat permainan ini anak-anak akan mengenal konsep warna.220 bentuk tidak perlu mendapat penekanan berlebih. Dengan bermain dan secara tidak khusus disebutkan nama bentuknya. bintang. 6) Papan-papan hitung 7) Papan paku (dengan pengawasan cermat) . segi tiga. posisi benda (di atas. setelah gambar tersebut ditebarkan di meja. 5) Papan-papan pasak.

melatih konsentrasi. polisi dan penjahat. 10) Berbagai macam miniatur binatang. Dalam bermain pura-pura anak menirukan kegiatan orang yang pernah dijumpainya dalam kehidupan sehari-hari. pola bentuk untuk dijiplak (sebagai persiapan membuat huruf). alat permainan LASY. sejenis atau sama. Misalnya: main rumah-rumahan. Manfaat yang bisa diperoleh melalui kegiatan bermain ini. anak dapat menyusun suatu bentuk tertentu. Dapat juga anak melakukan peran imajinatif atau dongeng. Yaitu materi yang membawa anak untuk kesiapan akademik bagi anak. bentuk angka-angka (untuk memperkenalkan bentuk angka) dan sebagainya. Kalau ia berhasil. Materi tersebut meliputi: kertas dan pensil. ketekunan. jadi batman atau kesatria baja hitam.221 8) Biji untuk meronce 9) Kartu berpasangan. misalnya balok meja. 11) Alat permainan yang bersifat konstruksi. dapat meningkatkan kosa kata serta belajar mengelompokkan berdasarkan fungsinya. akan menimbulkan rasa puas. dapat dengan contoh atau berdasarkan kreasinya sendiri. 12) Materi yang berorientasi pada kegiatan yang bersifat akademik. mendapat pujian dari orang lain yang akan meningkatkan keinginan anak bekerja lebih baik lagi. . daya tahan. melatih ketrampilan motorik halus. antara lain mengembangkan kemampuan anak untuk berdaya cipta (kreatif). yaitu untuk mengembangkan kreativitas. Dengan alat permainan tersebut. orang (tokoh) yang bermanfaat untuk bermain peran sekaligus meningkatkan pengetahuan anak.

Suruhlah ia meraba huruf-huruf itu. Lalu ajaklah si kecil memainkan permainan “konsentrasi” dengan cara mengocok tumpukan foto itu. Kita bisa . Kegiatan: suruh anak untuk menunjuk beberapa benda dan menyebutkan huruf awal serta bunyinya dengan demikian anak akan dapat mengenal abjad. 3) Huruf-huruf Amplas Cara membuatnya siapkan beberapa lembar amplas. Huruf-huruf ini akan terasa menonjol bila diraba oleh si kecil. Permainan ini membantu si kecil untuk membedakan secara visual dan mengingat-ngingat letak kartu sehingga ia tidak hanya sekedar menebak saja selama permainan ini. mengenal bunyi huruf dan membedakan bunyi. atau meletakkannya dengan posisi terbalik di atas meja dan membuka secara bergantian dua kartu sekaligus. pertama dengan mencobanya bersama kita dan kemudian ia akan memperhatikan kita menggunakan jari untuk menelusuri bentuk huruf secara benar. lalu potong. gunting dan tutup setiap guntingan foto dengan plastik bening sehingga terbungkus rapi. Tempelkan foto-foto itu di karton/kertas tebal.222 Alat permainan visual edukatif ciptaan Montessori: Aktivitas Bahasa 1) Album Foto Abjad Terbuat dari foto berbagai obyek dan di bawah foto ditulis huruf awalnya. 2) Foto-foto berpasangan. Susunlah tiap huruf tersebut di atas karton tebal. Tujuannya adalah mencari pasangan setiap foto itu. Cara membuatnya potret berbagai benda yang dikenal si kecil dan cetak dua buah untuk masing-masing foto.

Misalnya: saya buah. 6) Tabel Tugas Memberikan tugas pada anak bisa mendorong keinginannya untuk mandiri dan memberikan kepuasan saat tugasnya telah selesai dilaksanakan. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk anak-anak yang baru mulai belajar membaca dengan mengenal tulisan. saya rasanya asam. Bagian depan kulkas misalnya bisa dijadikan tempat untuk menempelkan huruf-huruf dengan menggunakan magnet. 5) Buku Teka-teki Abjad Cara membuat buku teka-teki yaitu dimana satu halaman berisi petunjuk dan halaman selanjutnya berisi jawaban. Kegiatan ini bisa membantu si kecil mengenal abjad 4) Dinding Kata Dinding kata ini dapat dibuat di berbagai tempat. gambar . bantulah si kecil menentukan obyeknya. Untuk buku atau kartu permainan. dan beri tiga atau empat petunjuk. Kegiatan ini dapat membuat anak berpikir kritis dan berpikir imajinatif. Tabel tugas bisa dibuat dengan menggunakan amplop bertuliskan nama anak dan kartu bergambarkan tugas mereka. Untuk mengatur tugas anak dapat dibuat tabel penuh warna agar lebih menarik.223 membimbing jarinya untuk menelusuri setiap huruf saat kita menyebutkan nama huruf tersebut. Kita juga bisa membuat huruf besar dan huruf kecil dari lembaran amplas kemudian memainkan permainan “konsentrasi” untuk memasangkan huruf besar dengan huruf kecil. atau langsung memasangkan huruf besar dan huruf kecil bersama-sama. saya berwarna kuning. Untuk anak yang lebih kecil.

Masukkan benang yang sudah diikatkan ke sebatang lidi kecil ke lubang itu hingga ujung benangnya menembus ke belakang. Lubangi anak panah tadi sehingga terbentuk lubang yang menembus pusat lingkaran ke belakang. Cara menggunakannya anak harus menemukan gambar di kartu itu . ikatkan lagi lidi kecil sehingga anak panah dan lingkaran saling menempel. Setelah selesai. Meski hasil guntingannya tidak rapi. 8) Jam Gambar Cara membuatnya yaitu gambarlah sebuah lingkaran di karton tebal. Sedangkan menggunting dan menempel gambar adalah latihan yang tepat untuk mengembangkan ketrampilan motorik halusnya. lubangi pusat lingkaran itu. menyortir gambar-gambar itu atau memilih foto atau gambar makanan bisa mengembangkan ketrampilannya dalam mebedakan obyek secara visual. dan gunting kemudian tempelkan gambar-gambar benda dan gambarlah sebuah anak panah di karton. sehingga posisinya seperti jarum jam. di ujung benang tadi. 7) Menyortir Gambar-gambar Ajaklah si kecil mengumpulkan gambar berbagai jenis makanan yang ia sukai dan yang tidak ia sukai dari majalah dan menempelkannya untuk dijadikan hiasan kolase. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada tulisan dan membedakan secara visual. dan anak panah bisa diputar. letakkan di atas lingkaran. Lalu. setelah itu tempelkan sepotong karton tebal di bawahnya.224 merupakan suatu pesan. Jadi pastikan setiap tugas ditampilkan dengan gambar yang sesuai.

dan berikan beberapa guntingan kertas itu kepada si kecil sekaligus. huruf apa saja yang bisa dibuat dari potongan tersebut. 2) Kwartet angka. (jawabannya huruf besar “R” serta huruf besar dan kecil dari “p”). Hal ini membantu anak bisa belajar menghitung hingga angka 100. Kartu tersebut bisa dibuat dalam ukuran yang . Lalu pasangkan benda tersebut dengan angkanya. Aktivitas Matematika 1) Deretan angka Cara membuat deretan angka dengan menggunting angka-angka pada kalender bekas dan menaruhnya di sebuah kotak. Kemudian tempelkan angka tersebut secara berurutan pada selembar kertas berwarna. 9) Garis dan lengkungan Cara membuatnya adalah guntinglah garis lurus yang panjang dan pendek serta setengah lingkaranyang besar dan kecil dari karton. Kegiatan ini bisa membantunya memahami bahwa semua huruf terbentuk dari garis lurus dan lengkungan. Usahakan agar kertas tidak terlalu panjang agar anak bisa menyelesaikannya dengan baik. Mulailah dengan satu garis lurus yang panjang dan pendek serta satu buah bentuk setengah lingkaran berukuran kecil.225 yang bunyi konsonan awalnya sama dengan gambar yang tertunjuk oleh anak panah. Kumpulkan bermacammacam benda. mintalah anak untuk menghitung jumlah benda yang sesuai dengan angka yang tertera pada masing-masing kartu. Tanyakan pada anak. Buatlah kartu-kartu dengan angka di dalamnya.

Jadi menurut mereka angka 5 atau 7 tidak dapat ditampilkan dengan cara lain dan masih tetap merupakan 5 atau 7. mintalah anak untuk menyusun empat angka dengan empat cara yang berbeda. 3) Tusuk Gigi Anak-anak yang masih kecil biasanya berpikir bahwa angka selalu statis. maka ajaklah anak untuk melakukan kegiatan dengan tusuk gigi. Misalnya. kemudian tanyakan jam berapa kepada anak sesuai dengan gambar atau anak diminta menunjukkan/mengarahkan arah jarum jam sesuai yang kita perintahkan. Perkenalkanlah semua uang jenis logam. 4) Jam tiruan Buatlah jam tiruan dari kertas kardus. Untuk belajar memahami bahwa sebuah angka tetap sama meski diatur dengan cara berbeda. Hitunglah jumlah tusuk gigi itu bersama-sama saat ia menyusun (dan menempelkan) tusuk gigi dengan cara yang berbeda. atau menjadi persegi panjang. Setelah itu. dibariskan berjajar atau membentuk satu garis lurus. pada empat lembar kertas yang berbeda. 5) Menjiplak uang logam. Jelaskanlah padanya bahwa jumlah tusuk gigi pada setiap susunan tersebut tetaplah empat. Aktivitas ini dapat membantu si kecil yang baru mengenal uang logam . empat tusuk gigi bisa disusun menjadi sebuah rumah. Siapkan beberapa tusuk gigi. Lalu. letakkan uang logam di bawah kertas putih dan bantulah ia menjiplak dengan menggunakan krayon.226 cukup besar sehingga seluruh benda itu bisa diletakkan semuanya di atas kartu. Buatlah jiplakan dari kedua sisi uang logam.

227 Alat-alat yang diperlukan untuk pendidikan persiapan permulaan membaca dan menulis dan persiapan permulaan berhitung/matematika: 1) Balok bangunan Fungsi/kegunaan: a) Mengenal bentuk-bentuk benda serta hubungannya antara satu dengan yang lainnya. b) Belajar menyusun kalimat. yang dilakukan oleh anak sendiri. dan huruf melalui pelajaran persiapan membaca permulaan. b) Memberi variasi dalam cara memantapkan pengertian bilangan. . 2) Kotak merjan Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan 5 macam bentuk dan warna. kata. 3) Kotak baca Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan kalimat. b) Sebagai alat untuk mendorong anak dalam membangun sesuatu dengan daya fantasi dan kreatifitasnya. c) Melatih kesabaran anak. serta kombinasinya. suku kata. kata. suku kata.

hijau. kuning. jingga. b) Bahan terbuari dari triplek c) Warna yang digunakan adalah Papan penampang berwarna abu-abu Kepingan geometris sesui dengan yang tersebut diatas. putih dan hitam) Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari papan penampang dan kepingan setengah lingkaran. nila. biru. d) Jumlah 1 papan penampang dengan 9 lubang lingkaran 9 potong kepingan setengah lingkaran .228 Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari: Kotak bertutup yang dapat dibuka Tutup kotak yang di dalamnya terdapat gambar yang bertuliskan “nina beli buku” Isi kotak papan baca 1 Kepingan kalimat “nina beli buku” 2 Set kepingan kata “nina beli buku” 2 Set kepingan suku kata “nina beli buku” 2 Set kepingan huruf “nina beli buku” 4) Papan pengenalan warna Fungsi/kegunaan: Memperkenalkan 9 macam warna (yang terdiri dari warna merah. ungu.

buah nanas. masing-masing dengan urutan warna yang paling muda dan meningkat ke warna paling tua. 6) Boneka Fungsi/kegunaan: Alat peraga untuk kegiatan bermain sandiwara boneka. 7) Papan geometris Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan bentuk-bentuk geometris b) Melatih otot-otot jari anak c) Untuk latihan menulis Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari papan penampang dan9 potongan-potongan bentuk geometris b) Bahan terbuat dari papan triplek 8) Pohon hitung Fungsi/kegunaan: a) Memperkenalkan konsep bilangan b) Menanamkan pengertian tentang perbandingan (lebih banyak kurang) Spesifikasi alat: Unsur-unsur pada pohon hitung adalah pohon. daun dan sebagainya. dan isi pohon yang terdiri dari bentuk bunga. buah kecil. alas pohon.229 5) Papan nuansa warna Fungsi/kegunaan: Mengenalkan nuansa 5 jenis warna. .

c) Membandingkan bentuk-bentuk geometris 11) Lotto gambar benda berpasangan Fungsi/kegunaan: Mengenalkan hubungan antara benda-benda yang berpasangan. meja-kursi.230 9) Papan pengenalan angka Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan angka 91-5) sebagai lambang bilangan b) Melatih anak untuk mengenal angka dan menghitung sendiri banyaknya paku jamur sebagai angka. sendok-garpu. penggorengan-sodet. kaos kaki-sepatu. rok-baju. pensil-buku. raket-kok. tatakan-cangkir. papan/setrika-setrikaan b) Bahan terbuat dari triplek dan harbort . Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari Papan penampang yang bergambar Kepingan yang bergambar berpasangan: Daun-bunga. 10) Kotak pos Fungsi/kegunaan: a) Mengenal bentuk-bentuk geometris (benda 3 dimensi) dengan beberapa penampang b) Melatih keseimbangan otot untuk memasukkan bentuk-bentuk geometris pada penampang yang benar.

kuning dan coklat.231 12) Loto gambar benda yang sama Fungsi/kegunaan: Mengenalkan persamaan dan perbedaan bentu antara benda-benda Spesifikasi alat: a) Unsur alat terdiri dari papan tempat keping bergambar dan isi berupa 12 keping bergambar b) Bahan dari triplek dilapis formika 13) Serbuk berwarna Fungsi/kegunaan: a) Bahan untuk menggambar b) Finger painting Spesifikasi alat: a) Unsur dari serbuk berwarna ¼ (seperempat) kilogram setiap warna. kuning dan biru. merah. d) Jumlah terdiri 1 set dengan 3 ukuran (besar-sedang-kecil) . hijau. 14) Kuas gambar Fungsi/kegunaan: Alat pencetus pengungkapan ekspresi menggambar anak Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari tangkai dan bulu-bulu kuas b) Bahan yang digunakan adalah kayu dan ijuk/rambut c) Tiga macam warna. b) Bahan yang digunakan adalah sepuluh kue c) Warna: merah.

ungu. hijau.kuning.232 15) Plastisin Fungsi/kegunaan: Alat untuk membentuk dan melatih otot-otot jari anak Spesifikasi alat: a) Unsur dari barang yang lunak dan dapat dibentuk b) Bahan terbuat dari Tanah liat atau plastisin c) Warna: merah. logam dan karet (penahan logam) b) Warna: merah. biru. Tugas anak adalah menggerakkan panahpanah itu sehingga panah kanan menunjukkan nama (kata) dari benda yang ditunjuk oleh panah kiri. biru Beberapa media pembelajaran visual lainnya yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama belajar membaca asosiasi antara arti dan kata. dimana pada bagian kiri memuat gambar dari berbagai benda dan pada bagian kanan memuat nama dari benda itu. . jingga d) Jumlah menurut keperluan 16) Gambang Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan salah satu alat musik pukul pada anak b) Sebagai alat untuk membangkitkan/memupuk rasa senang pada musik. Dan dua buah panah yang terbuat dari karton yang dapat digerakkan ke atas dan ke bawah melalui pita/tali. Spesifikasi alat: a) Bahan terbuat dari kayu. jingga. hijau. yaitu: 1) Peralatan yang terbuat dari sehelai karton. kuning.

dimana bagian kiri memuat kata dan bagian kanan memuat gambar atau dua bagian memuat suku kata. Untuk mengontrol benar atau tidak dalam membacanya.233 2) Gambar penghubung. Cara menggunakannya: ikan diletakkan dengan kata disebelah atas dan anak membacanya. . Beberapa media pembelajaran visual lainnya yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama analisa sintese. ikan dibalikkan (dengan dikail) tiap kali anak menangkap seekor ikan. Tugas anak mencari kata yang sesuai dengan gambar atau sebaliknya. Tiap kartu terdiri dari dua bagian. yaitu: 1) Alat yang terbuat dari dua helai kartu (satu set mainan kwartet) dimana kartu yang satu memuat nama (kata) dan kartu yang satunya lagi memuat gambar. dimana bagian muka dari kartu memuat gambar dan bagian belakang kartu memuat nama (kata) dari gambar itu. Alat ini bersifat self corrective. Tugas anak adalah menggabungkan kartu gambar dan kata sesuai dengan bentuknya 3) Satu set kwartet yang terdiri atas 5 atau 6 atau 7 helai kartu. 4) Alat ini terdiri dari 8 sampai 12 helai kartu yang masing-masing berbentuk ikan. Tugas anak adalah menyusun kartu-kartu ini dalam sebuah lingkaran. karena adanya sambungan tertentu antara kartu gambar dan kartu kata. Agar ikan dapat dikail. jika benar ikan boleh ditahan. jepitlah masing-masing dengan sebuah paperclip pada ujung tali pengail. ikatkan sebuah magnet kecil. nama dibacanya jika salah ikan dikembalikan dalam kolam.

Misal untuk huruf n: nasi-nangka-aminiman-taman.234 Tujuannya: agar anak belajar cepat mengidentifikasi benda dan nama. kata disusunnya menurut gambar. Bagi anak yang lambat. Sedangkan anak yang telah maju. Tugas anak adalah menyusun kata. Guru menunjukkan huruf (lambang): siswa menyebut kata-kata yang mulai/berakhir dengan huruf itu. Cara menggunakannya: Huruf ditunjukkan: Siswa mengucapkan bunyinya (bukan namanya) Guru menyebut bunyi siswa menunjukkan hurufnya. Ia menyusun kata atas strukturnya. agar anak menangkap struktur kata dengan cepat. 2) Satu set mainan kwartet. dsb . Panah menunjukkan dimana harus memulai jika ia menulis huruf. Set ini adalah merupakan self corrective (dapat mengoreksi diri sendiri) 3) Peralatan yang membantu proses mengenal lambang dan bunyi. yaitu kartu yang memuat huruf/lambang. dimana tiap kartu dipotong menjadi dua bagian. tidak menghiraukan gambar. Dimana titik yang agak besar pada bagian atas dari kartu menunjukkan bagian atas dari huruf. Bagi anak demikian gambar hanya berfungsi sebagai alat pengontrol.

. agar kuat dan awet. Lemari ini diberikan sebuah dasar. ai. anak membaca dari atas ke bawah. 7) “Lemari huruf” yaitu merupakan alat untuk menyusun kata. tiap laci diberi manyi.235 Dalam hal ini tidak perlu mengetahui bagaimana menulis kata yang disebutnya mungkin anak menyebut kata baru yang belum diajarkan. Dipakai 30 buah kotak agar ada tempat bagi huruf-huruf seperti j. 4) Sebuah dadu yang dibuat dari karton tebal. Justru disinilah terletak kemajuan anak. au dll. Cara menggunakannya: dengan menggerakkan huruf “s” melalui pita. e. dibuat dari kotak korek api dijadikan satu lemari (direkatkan) dan tiap kotak merupakan sebuah laci. anak menyebut bunyi huruf itu/kata yang mulai/berakhir dengan “s”. Agar mudah menarik laci untuk mengambil huruf yang diperlukan. Dengan tujuan agar anak membaca kata-kata dengan cepat. dipinggir kiri dan kanan ada pita tempat menggerakkan huruf ke atas dan ke bawah. Kalau anak melihat huruf “n” lalu menyebut nama mobil maka ia berarti belum tahu bahwa huruf n adalah lambang untuk bunyi n. kalau jatuh dengan huruf “s” ke atas. maka yang penting adalah mengenal bunyi huruf sebagai bunyi pertama/terakhir dalam sebuah kata. 6) Alat ini terdiri dari sehelai karton dibagi dua bagian. Cara menggunakannya dadu dijatuhkan ke lantai. 5) Flash card yaitu kartu yang memuat kata dan yang ditunjukkan kepada anak untuk dilihat selama sekejap mata saja. dibuat dari karton. dibungkus dengan kain dril. Hendaknya instruksi pada anak itu jelas agar tidak membingungkan anak.

Dengan alat ini mereka dapat menguji kekuatan sendiri yaitu dapat dipakai oleh 1-2 orang. pada papan dilekatkan deretan kantong karton tinggi 5 cm. Dapat mempermahir siswa menyusun kata-kata menjadi satu untaian kalimat . yaitu berupa kartu-kartu kata dibuat dengan karton yang ditulis kata-kata. anak harus mengembalikan huruf pada tempatnya masingmasing. jika dua orang dapat dilakukan dengan bekerja sama.236 Pada laci yang berisi huruf “a” ditempelkan huruf “a”. tugas anak menyusun kata dengan huruf dalam laci itu. Hal-hal yang terjadi pada anak tiap kali ia menyusun sebuah kata: Anak memikirkan kata mana yang akan disusun Anak menganalisa kata itu Anak mengidentifikasi tiap bunyi dalam kata itu dengan hurufnya. 8) Papan Kantong Diperlukan papan triplek/karton tebal dan kartu kata dengan panjang triplek kira-kira 90 cm dan tinggi 60 cm. ini berarti bahwa kunci untuk kepandaian membaca telah ada padanya. Kalau anak telah dapat mengerjakan hal ini dengan lancar. saling membantu dan mengoreksi. Setelah pekerjaan selesai. 9) Teknik strip story. pada deretan kantong dapat dipindah-pindahkan beberapa karton-karton kecil yang bertuliskan kata-kata.

Kurikulum bagi anak hiperaktif dititik beratkan pada pengembangan kemampuan dasar. Kurikulum SLB Tuna Rungu e. dengan modifikasi. Pengembangan Kurikulum Anak hiperaktif memiliki kemampuan yang berdeferensiasi.237 E. Kemampuan dasar kognitif b. Kemampuan dasar bahasa/komunikasi c. Kemampuan dasar bina diri. serta proses perkembangan dan tingkat pencapaian programpun juga tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Kurikulum SLB Tuna Rungu dan Tunagrahita Penyusunan program layanan pendidikan dan pengajaran diambil dari kurikulum tersebut dengan mempertimbangkan kemampuan dan ketidakmampuan (kebutuhan) anak. Sehingga untuk mengembangkan kurikulum mengacu pada: a. Program Pengembangan kelompok bermain (usia 2-3 tahun) b. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif 1. dan . Oleh karena itu kurikulum dapat dipilih. Kurikulum Sekolah Dasar d. Pelayanan pendidikan bagi anak hiperaktif akan lebih baik apabila dimulai sejak dini (intervensi dini). dengan bertitik tolak pada kebutuhan masing-masing anak berdasarkan hasil identifikasi. dimodifikasi dan dikembangkan sendiri oleh guru pembimbing/terapis. Kurikulum Taman Kanak-kanak (usia 4-5 tahun) c. yaitu: a.

Sosialisasi Apabila kemampuan dasar tersebut dapat dicapai oleh anak dengan mengacu pada kemampuan anak yang sebaya dengan usia biologi/kalendernya. sehingga anak dapat menangkap pesan. Respon anak c. Konsekwensi d. hukuman. sedangkan perilaku buruk dihilangkan (melalui time out. maka kurikulum dapat ditingkatkan pada kemampuan pra akademik dan kemampuan akademik.238 d. Pelaksanaan Pembelajaran Dalam membelajarkan anak hiperaktif digunakan sistem pembelajaran lovaas one on one (pembelajaran satu guru satu murid) yang didasari oleh model perilaku kondisioning operant (Operant Conditioning) dimana efektifitas pengajaran berkaitan dengan kontrol terhadap antecedent/perilaku yang lalu dan konsekwensi. atau dengan kata “tidak”). 2. Yaitu dengan memberikan reinforcement yang positif sebagai kunci dalam merubah perilaku. Berhenti sejenak dilanjutkan dengan perintah selanjutnya Sedangkan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” . menulis. Sehingga perilaku yang baik dapat terus dilakukan. meliputi kemampuan: membaca. yaitu: a. Dalam teknisnya program loovas (Discrete Trial Training/DTT dari Lovaas) ini terdiri dari 4 bagian. dan matematika (berhitung). Stimuli dari guru agar anak berespons b.

Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya . Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Kegiatan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual gambar. Katakan “Ini apa?” Prompt (bantuan/arahkan) anak untuk melabel (menyebutkan nama bendabenda) gambar tersebut dan beri reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. dan kartu gambar c. Materi yang diajarkan adalah menunjuk dan menyebutkan gambar b. Media visual (gambar) itu mencakup gambar benda.239 tersebut. gambar angka dan gambar kata kerja. gambar huruf. Prompt (bantuan/arahkan) anak untuk menunjuk gambar tersebut dan beri reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. meliputi: 1) Identifikasi Benda a. persiapkan perhatian dan beri sebuah gambar. terutama media visual (gambar). Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi gambar: Gambar diletakkan di meja di depan anak. Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. gambar bentuk. Persiapkan perhatian dan beri perintah “Tunjuk … (nama benda gambar tersebut)”. gambar warna. Melabel gambar: Duduk di kursi berhadapan dengan anak . karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami.

dan berbagai bentuk. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk warna yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Prompt (bantu) anak untuk meletakkan benda yang diberikan di atas atau di depan benda yang cocok/sesuai. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi warna: Letakkan bahan-bahan berwarna di meja di hadapan anak. 3) Identifikasi warna a. Proses/Prosedur pembelajaran: Letakkan benda (benda-benda) pada meja di hadapan anak. dan beri reinforcer (hadiah/pujian). Materi yang diajarkan adalah mencocokkan gambar b. kartu angka. Kurangi sedikit . Beri sebuah benda yang cocok/sesuai dengan salah satu benda di hadapan anak dan berikan perintah “Samakan”. Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna c.240 tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Materi yang diajarkan adalah mengidentifikasi gambar-gambar dan melabel (menyebutkan nama) benda-benda dan gambar-gambar. Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. b. kartu huruf. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama warna)”. c. 2) Mencocokkan (Matching) a. benda berwarna.

Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel bentuk yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel warna yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk bentuk yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Materi yang diajarkan adalah identifikasi bentuk dan melabel bentuk b. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar c. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi bentuk: letakkan sebuah bentuk (berbagai bentuk) pada meja dihadapan anak.241 demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah benda berwarna. Katakan “Bentuk apa (ini)?”. Melabel warna: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Melabel bentuk: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama bentuk)”. Kurangi sedikit demi . 4) Identifikasi Bentuk a. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah bentuk. Katakan “Warna apa (ini)?”.

Katakan “Huruf apa (ini)?”. Materi yang diajarkan adalah identifikasi huruf dan melabel huruf b.242 sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. 5) Identifikasi huruf a. Melabel bentuk: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi huruf: Letakkan huruf (-huruf) pada meja dihadapan anak. Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf c. Media yang akan digunakan adalah kartu-kartu angka c. 6) Identifikasi angka a. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah bentuk. Proses/Prosedur pembelajaran: . Materi yang diajarkan adalah identifikasi angka dan melabel angka b. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk bentuk yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama huruf)”. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel bentuk yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya.

Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk angka yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah angka. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya . Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. melabel kata kerja dan menirukan gambar b. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk gambar yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Katakan “Angka (ber) apa (ini)?”. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama angka)”. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi kata kerja: Letakkan gambar aktivitas orang pada meja dihadapan anak. 7) Identifikasi kata kerja a. Media yang digunakan adalah foto/Gambar aktivitas orang c. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel angka yang dimaksud dan reinforce responsnya.243 Identifikasi angka: Letakkan angka (-angka) pada meja dihadapan anak. Melabel angka: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (gambar aktivitas orang)”. Materi yang diajarkan adalah identifikasi kata kerja.

Melabel kata kerja: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Persiapkan perhatian anak dan beri perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar). Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menirukan aktivitas seperti dalam gambar. 3. Hal ini dilakukan pembimbing dengan cara memberi reward atau demonstrasi secara verbal dan .244 tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Katakan “Gambar apa (ini)?”. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah gambar. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel gambar yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Evaluasi Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif meliputi: a) Evaluasi proses Evaluasi proses ini dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang atau pembelajaran yang sedang berlangsung seketika itu juga.

c) Evaluasi Catur Wulan Evaluasi ini disebut juga dengan evaluasi program yang dimaksud sebagai tolak ukur keberhasilan program secara menyeluruh. Hal ini dapat dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi bersama atau case conference. b) Evaluasi Bulanan Evaluasi ini bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah. Apabila tujuan program pendidikan dan pengajaran telah tercapai dan dapat dikuasai anak. Di samping itu untuk mengetahui sejauh mana program yang dicapai anak dapat diketahui dengan cara adanya catatan khusus/buku penghubung. sebaliknya apabila program belum dapat terkuasai oleh anak maka diadakan pengulangan program (remedial) atau meninjau ulang apa yang menyebabkan ketidak berhasilan pencapaian program. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif yang menjadi contoh kasus. .245 konkrit. maka kelanjutan program dan kesinambungan program ditingkatkan dengan bertolak dari kemampuan akhir yang dikuasai anak.

Landasan ini digunakan untuk menjaring data informan. Alasan digunakan pendekatan kualitatif karena lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan yang tidak terkonsep sebelumnya tentang keadaan di lapangan yang sebenarnya. tingkah laku dan tindakan para pelaku dalam peristiwa belajar dan mengajar di tempat Terapi Anak. karena data-data yang terkumpul berupa uraian kata-kata dan gambar (Moleong.246 BAB III METODE PENELITIAN A. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong. Fokus ini mengarahkan perhatian kepada aktivitas. 2001:2) dalam penelitian kualitatif dapat dikemukakan definisi mengenai metodelogi kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran pada anak hiperaktif yang dikhususkan pada penggunaan media visual (gambar) saja. 2000:5). penyusunan data dan analisis data yang diperoleh. Untuk mengkaji masalah tersebut dipilih pendekatan kualitatif. pendekatan kualitatif dapat menghasilkan data . Adapun kegiatan yang dilakukan dalam penelitian deskriptif ini: pengumpulan data. yaitu para guru dan peneliti dianggap mengetahui tentang pembelajaran pada anak hiperaktif khususnya dalam penggunaan media visual (gambar). Pendekatan dan Prosedur Penelitian Fokus penelitian ini adalah perencanaan. kreativitas.

sebagai landasan struktural formal untuk dilaksanakannya penelitian. Dari hasil studi pendahuluan dilakukan identifikasi mengenai pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di lokasi penelitian. Sedangkan data sekunder yaitu data yang cara mendapatkannya tidak secara langsung melalui sumbernya. Untuk memperoleh data perencanaan. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif khususnya dengan menggunakan media visual (gambar) digunakan dua sumber yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. berkenaan dengan informasi . diperoleh dari (1) Kepala Terapi Anak. observasi partisipan dan pengumpulan dokumen. Langkah ketiga adalah pelaksanaan penelitian untuk mengambil data yang diperlukan dalam penelitian dengan menggunakan teknik: wawancara. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). Langkah kedua adalah pengurusan izin penelitian pada pihak-pihak terkait. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya terhadap pihak yang memerlukan data meliputi para guru Terapi Anak Al Tisma Kudus.247 secara utuh dari informan dan perilaku yang dapat diamati sebagian dari suatu keutuhan. dan pendekatan kualitatif lebih peka dan dapat menyesuaikan dengan berbagai penajaman pengaruh bersama maupun terhadap pola-pola nilai yang dihadapi selama penelitian berlangsung. untuk menyaring data tentang perencanaan. yaitu di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Sebagai langkah pertama yang dilaksanakan peneliti adalah mengadakan studi pendahuluan di lokasi penelitian.

Dengan mempertimbangkan hal ini. terutama dengan melihat dari segi kualitas tempat terapi dan aksesibilitas. latar penelitian ditentukan secara purposif. telah dapat dipilih sebuah kasus di tempat terapi sebagai latar penelitian ini yaitu Terapi Anak Al Tisma Kudus. Sasaran kajian dalam penelitian ini adalah perencanaan. yakni dengan memilih sebuah kasus pembelajaran anak hiperaktif di Kota Kudus. serta sejarah berdirinya LembagaTerapi Anak Al Tisma Kudus.248 tentang berbagai kegiatan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar dan (2) dokumentasi tentang statistik jumlah siswa. Latar dan Sasaran Penelitian Sesuai dengan pendekatan metodelogis yang digunakan. interaksi sosial dan aktivitas imajinasi (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan kelainan perilaku. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual . Autis dan Hiperaktif (A & H) dan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi (NH & KK). sedangkan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi yaitu anak yang mengalami gangguan perilaku tetapi ringan (hiperaktif ringan) dan kurang kokonsentrasi. Speech Delayed dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan terlambat bicara dan kelainan perilaku. Termasuk kategori hiperaktif disini adalah Speech Delayed dan Hiperaktif (SD & H). Pemilihan latar penelitian ini ditentukan dengan mendasarkan pada kelayakan informasi-informasi yang diperoleh dalam proses penelitian di lapangan. Autis dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi. B.

pola komunikasi siswa. materi pendidikan. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. 1996:66). Teknik Wawancara Mendalam Wawancara merupakan memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dan responden dengan menggunakan panduan wawancara (Dian. karakteristik guru dan siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). observasi partisipan dan dokumentasi. .249 (gambar). Pengamatan Fisik Terfokus Pengamatan fisik terfokus adalah dengan bantuan alat kamera foto digunakan sebagai teknik untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan halhal fisik yang sesuai dengan masalah penelitian. Secara khusus. 2. C. alat-alat pembelajaran yakni media visual (gambar) dan proses belajar mengajar. wawancara mendalam. yang meliputi bangunan fisik sekolah. maka teknik yang dipilih untuk mengumpulkan data di lapangan adalah teknik : pengamatan fisik terfokus. aktivitas belajar pada siswa dan penggunaan media visual (gambar). Kedua. 1. sasaran kajian diarahkan pada perencanaan. pertama sasaran kajian diarahkan pada kondisi lingkungan fisik. Ketiga. kajian diarahkan pada faktor pendorong dan penghambat yang muncul dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). Teknik Pengumpulan Data Sesuai dengan permasalahan dan pendekatan penelitian.

Hal ini dilakukan untuk menjaring data-data secara lebih jelas dan mendalam untuk kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai laporan hasil penelitian. 2001:135). faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). .250 Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan (Moleong. upaya pemecahan masalah dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). Dengan demikian proses wawancara akan terarah dan tidak akan menyimpang jauh dari sasaran maupun tujuan yang telah direncanakan. Agar dalam pelaksanaan wawancara berjalan dengan lancar dan sistematis. Wawancara yang dilakukan peneliti adalah wawancara mendalam. perencanaan. Di dalam pelaksanaan wawancara dilakukan lebih dari satu kali dengan mewawancarai informan kunci kemudian ke informan pelengkap secara berurutan sesuai dengan keadaan informan dalam konteks wawancara yang sebenarnya. Dalam pelaksanaan wawancara dilakukan dengan cara terpimpin yaitu pewawancara membuat kerangka dan garis besar mengenai pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara antara lain: identitas informan (baik informan kunci atau informan pelengkap). pengetahuan tentang proses belajar mengajar. yaitu wawancara dengan menggunakan bahasa campuran (bahasa daerah dan bahasa Indonesia) dan melibatkan emosi pada kebebasan dalam sifat kekeluargaan. maka dibuat suatu pedoman wawancara.

sehingga mempunyai dua peranan yaitu sebagai pengamatan dan menjadi anggota kelompok yang diamati (Moleong. Observasi partisipan yaitu pengamatan menjadi anggota penuh dari kelompok yang diamati. . 1996:60). Karena tujuan wawancara adalah untuk memperoleh data yang sangat dibutuhkan dalam proses penelitian. Teknik Observasi Partisipan Observasi dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala atau fenomena yang diselidiki dengan menggunakan mata sebagai alat tanpa ada pertolongan alat standar lain (Dian. Teknik observasi partisipan dilakukan peneliti dengan melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran. 2001:126).251 sehingga informan yang diperlukan terjaring semua. 3. khususnya Kepala Terapi Anak yang memiliki pengetahuan. Hasil catatan dan rekaman dari wawancara tersebut nantinya akan menjadi data yang diperlukan dalam penelitian yang berguna untuk pengecekan verifikasi data yang diperoleh dari sumber data yang lain. terutama pada saat proses pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) dengan tujuan untuk mengetahui ciri mengenai kondisi dan informasi yang diperlukan. selama berlangsungnya wawancara dilakukan pencatatan dengan mempergunakan buku catatan di lapangan dan mempergunakan alat perekam (tape recorder) merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. pengalaman dan wawasan yang cukup luas. Teknik wawancara mendalam ini dilakukan dengan para informan kunci.

2001:161). .252 Dalam mengumpulkan informasi. Latar yang diamati meliputi situasi umum fisik yang relevan. Sedangkan aktivitas yang dimaksud adalah perilaku guru dan murid dalam situasi pembelajaran. Berkaitan dengan penelitian ini. 4. Di samping menggunakan alat tulis dalam pelaksanaan metode observasi ini dibantu dengan kamera foto untuk memperkuat argumentasi dengan gambar visual hasil rekaman kamera foto tersebut. Teknik dokumentasi digunakan untuk menjaring data aspek kesejarahan. berkaitan dengan berdirinya. dengan menelusuri data arsip atau dokumen yang berada di kantor Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus (Moleong. maka ada beberapa aspek yang akan diamati meliputi tiga hal. Studi dokumentasi dilakukan dengan menelusuri catatan yang ada di daerah penelitian baik yang dimiliki sekolah maupun pihak-pihak yang berkenaan dengan sekolah tersebut. berkaitan dengan aspek fisik dan dokumen administrasi. Pelaku yang dimaksud disini adalah guru dan murid. yaitu setting latar. sehingga peneliti relatif lebih bebas dalam membuat catatan yang diperlukan berdasarkan pedoman observasi yang telah direncanakan. Teknik Studi Dokumentasi Teknik studi dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan data-data sekunder dari dokumen-dokumen yang mungkin ada dapat mendukung perolehan data dalam penelitian ini. pelaku dan aktivitas dalam situasi pembelajaran. peneliti menggunakan proses pengamatan peran serta atau partisipasi.

Analisis data dilakukan secara induktif. menganalisis. mempelajari. kategori dan satu uraian dasar. dirangkum. Disamping itu laporan sebagai bahan mentah juga perlu disingkatkan direduksi. dipilih hal-hal yang pokok. Berikut ini tahapan analisis data yaitu sebagai berikut: a Pengumpulan data Peneliti mencatat semua data secara obyektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan. oleh sebab itu laporan tersebut perlu direduksi. difokuskan pada hal yang penting. yaitu dimulai dari lapangan atau fakta empiris dengan terjun kelapanagan. Data yang diperoleh dalam lapangan ditulis dalam bentuk uraian terinci yang akan terus bertambah sejalan bertambahnya waktu penelitian. mengorganisasikannya kedalam suatu pola. dan dicari tema atau polanya. .253 D. Teknik Analisis Data Analisis data menurut Payton dalam Moleong (1991:103) adalah proses mengatur urutan data. menafsir dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. b Reduksi data Yaitu memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan focus penelitian. Analisis data di dalam penelitian kualitatif dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. dan disusun lebih sistematis sehingga lebih mudah dikendalikan. Menurut Miles dan Hoberman dalam Rachman (1999:120) peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil wawancara di lapangan.

yaitu yang merupakan validitasnya (Milles dan Hoberman. Dalam penyajian ini dapat dilakukan melalui berbagai macam visual. Untuk itu peneliti berusaha mencari pola. model. persamaan. 2000:19). Sejak semula peneliti berusaha mencari makna dari data yang diperoleh. dan sebagainya (Milles dan Hoberman. Kesimpulan adalah tinjauan ulang pada catatan di lapangan atau kesimpulan dapat ditinjau sebagai makna-makna yang muncul dari data yang harus diuji kebenarannya. halhal yang sering muncul. Untuk menampilkan data-data tersebut agar lebih menarik maka diperlukan penyajian yang menarik pula. kekokohannya dan kecocokannya. Penarikan kesimpulan merupakan bagian dari satu kegiatan konvigurasi yang utuh. Verifikasi data yaitu pemeriksaan tentang besar dan tidaknya hasil laporan penelitian. sehingga kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. tema. diagram. Hasil dari data-data yang telah didapatkan dari laporan penelitian selanjutnya digabungkan dan disimpulkan serta diuji kebenarannya. chart network. 2000:17) d Pengambilan keputusan atau verifikasi Yaitu data-data dari hasil penelitian setelah direduksi. misalnya gambar. Dalam pelaksanaan penelitian penyajian-penyajian data yang lebih baik merupakan suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid. hubungan. disajikan langkah terakhir adalah kesimpulan-kesimpulan. matrik. grafik.254 c Penyajian data (display data) Yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. . hipotesis dan sebagainya.

Apabila ketiga tahapan tersebut selesai dilakukan diambil suatu keputusan atau verifikasi. Setelah direduksi kemudian diadakan sajian data. selain itu pengumpulan data juga digunakan untuk penyajian data. . Pertamatama peneliti di lapangan dengan mengadakan wawancara atau observasi yang disebut di tahap pengumpulan data. PENGUMPULAN DATA REDUKSI DATA SAJIAN DATA PENGAMBILAN KEPUTUSAN ATAU VERIFIKASI Bagan 3.1. Sumber: Milles dan Hoberman dalam Rahman (1999:20) Keempat komponen tersebut saling mempengaruhi dan terkait. Analisis Data Kualitatif. Karena data yang dikumpulkan banyak maka diadakan reduksi data.255 Tahapan analisis data kualitatif tersebut dapat dilihat dalam bagan di bawah ini.

Adapun maksud utama adanya perpanjangan di lapangan ini untuk mengecek kebenaran data yang diberikan baik dari informan utama maupun informan penunjang. bahan belajar. Foto-foto terhadap objek pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media visual (gambar) dan observasi terhadap data-data ini dimaksudkan untuk mendukung kebenarannya antara hasil wawancara dengan kenyataan yang sebenarnya yang ada pada lapangan. Menurut Moleong (2001:173) untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan. perlu diperhatikan juga keabsahan data yang terkumpul. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Setelah tahapan analisis data dilakukan. 2) triangulasi (triangulation) dan 3) pengecekan anggota (member checking). kegiatan ketika proses belajar berlangsung. Dalam hal ini digunakan teknik 1) keikutsertaan di lapangan dalam rentang waktu yang panjang (prolonged engagement). Sebagai langkah untuk mendukung kebenaran data secara akurat maka peneliti juga mengadakan pemotretan terhadap tempat terapi. maka perlu mengadakan keikutsertaan dalam rentang waktu yang panjang.256 E. 1) Keikutsertaan di Lapangan dalam Rentang Waktu yang Panjang Dalam penelitian ini untuk menguji kepercayaan terhadap data yang telah dikumpulkan dari informan utama yaitu Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus. Selain itu peneliti juga mengadakan pengamatan terhadap data-data mengenai sarana prasarana dan proses belajar mengajar. .

Menurut Patton dalam Moleong (2001:178) triangulasi dengan sumber lain berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. sebagai latar dalam penelitian ini. (3) membandingkan hasil wawancara dari informan dengan didukung dokumentasi sewaktu penelitian berlangsung.. Dari kegiatan ini. 3) Pengecekan Anggota Peneliti mengadakan pengecekan anggota dengan tujuan untuk menguji terhadap derajat kepercaan tentang data-data yang diberikan oleh informan utama. karena anggota yang dimaksudkan adalah guru-guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Hal ini dapat dicapai dengan jalan: (1) membandingkan data informasi hasil observasi dengan informasi dari hasil wawancara kemudian menyimpulkan hasilnya. peneliti telah memperoleh kelengkapan data dan akurasi data tentang pelaksanaan kegiatan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Pelaksanaan pengecekan anggota ini lebih banyak dilaksanakan peneliti secara informan.257 2) Triangulasi Untuk pemeriksaan keabsahan data yang telah dikumpulkan agar memperoleh kepercayaan dan kepastian data. maka peneliti melaksanakan pemeriksaan dengan teknik mencari informasi dari sumber lain. (2) membandingkan data hasil dari informan utama (primer) dengan informasi yang diperoleh dari informan lainnya (sekunder). sehingga informasi yang diberikan oleh informan utama pada penelitian dapat mewakili validitas dan mendapatkan derajat kepercayaan yang tinggi. .

dibantu oleh beberapa guru pembimbing/terapis. Walaupun lokasi terapi ini terletak disudut kota dan ditengah-tengah perkampungan akan tetapi sangat mudah apabila ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum. dan kurang stimulasi. IQ rendah. speech delayed (terlambat bicara). Bagan Organisasi Terapi Anak Al Tisma Kudus dipimpin oleh Kepala Terapi. Bagan Organisasi Terapi Anak Al Tisma Kudus. 259 Gebog Kudus. down sindrome. c. Tinjauan Historis Terapi Anak Al Tisma Kudus Terapi Anak Al Tisma Kudus didirikan sejak Maret tahun 2001. .258 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. b. microcepalus (anak yang lahir dengan ukuran lingkar kepala kurang dari standart kelahiran). Letak Geografis Terapi Anak Al Tisma Kudus Secara geografis Terapi Anak Al Tisma Kudus terletak disudut kota di Jalan Besito Gang II RT. 06 / RW. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN 1. Deskripsi Setting Penelitian a. 07 No. disphasia (anak yang mengalami gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam). gangguan konsentrasi. merupakan salah satu tempat terapi untuk anak berkebutuhan khusus. seperti autisme. hiperaktif. retardasi mental (idiot).

termasuk hiperaktif yaitu: Psikolog anak Psikiater anak Dokter. 1) Keadaan Guru Terapi Anak Al Tisma Kudus dipimpin oleh 1 Kepala Terapi yang juga merangkap sebagai terapis dengan dibantu 6 guru pembimbing/terapis yang berjenis kelamin perempuan semua. meliputi dokter spesialis yang menangani gangguan perkembangan anak. yaitu terdiri dari 7 terapis termasuk didalamnya Kepala Terapi yang juga merangkap sebagai terapis. 2004). d.259 Adapun personal dari Terapi Anak Al Tisma Kudus. dokter spesialis metabolitas Departemen Pendidikan Nasional Dan tenaga ahli yang lain seperti: ahli gizi. dokter spesialis syaraf. Keadaan Guru. Guru pembimbing/terapis di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus yang bergelar ahli madya hanya 1 orang dan lainnya adalah tamatan SMA. (Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus. dimana setiap terapis memegang satu-dua anak dengan sistem pembelajaran individual (lovaas one on one – satu guru satu murid) di bawah kendali dan supervisi Kepala Terapi. terutama dalam memberikan solusi untuk menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus. Adapun pihak-pihak terkait yang diajak kerjasama dalam Terapi Anak Al Tisma Kudus ini. Siswa. dlsb. . (Sumber: Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus. 2004) Mekanisme kerja yang dilakukan adalah semua terapis melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing. Sarana dan Prasarana Terapi Anak Al Tisma Kudus.

00 – 15. Data Terapis Tahun 2004/2005 NO NAMA TERAPIS ANAK KETERANGAN 1. Sumarni Yuliana Wijayanti Ida Lestariningrum Sahrul dan Hilmi Anis dan Martika Agusta Fahmi dan Bagas Terapis Terapis Terapis (Profil Pendidikan Terapi Anak Al Tisma Kudus. sedangkan yang masih diterapi sampai saat ini kurang lebih ada 15 siswa.00 WIB .00 – 12. Andi Kumala. Terapi dilaksanakan setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat dan dalam satu hari dibagi dalam 4 session yaitu: Session I dilaksanakan pada pukul 08. Alvin dan Galih Terapis 4.00 WIB Session II dilaksanakan pada pukul 10. 2.00 – 17. Nur Halimah Endang Sulastri Troy Khusnul Ma’ali. 6. Adinda Ayuditya dan Fakhari Husaini Kepala Terapis Terapis 3.00 WIB Session IV dilaksanakan pada pukul 15. Sari Naja. dan siswa lainnya yang dirasa sudah sembuh cukup diterapi di rumah dengan masih tetap berkonsultasi dengan pihak terapi.260 Tabel 4. Mikail Hima. dan Fahmi Qoulani Terapis 5.00 WIB Session III dilaksanakan pada pukul 13.00 – 10.1.2004) 2) Keadaan Siswa Pada tahun 2001– 2004 jumlah siswa secara keseluruhan yang diterapi di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus berjumlah 24 siswa. 7. Purwati Dimas.

Kds Bae.2. 7. Adinda Ayu Ditya Gebog.261 Sejak berdiri hingga saat sekarang ini. Kds Pr 5 th Down Sindrome . 2. UMUR 7 th 6 th 7 th 7 th 8 th JENIS KELAINAN Dimas Adi Nugraha Naja Khusnul Ma’ali Mikail Hima Galih Ds. Kds Mejobo. Kds Gebog. 5. 4. 8. NAMA ALAMAT KEL. Tabel 4. Jpr Kudus Kota Pati Loram. Mejobo. 9. yang selalu berupaya keras dalam penyembuhan mereka. akan tetapi dengan terbatasnya guru/terapis mengakibatkan banyak anak yang ditolak. Kds Lk Lk Lk Lk Lk Autis Speech Delayed Hiperaktif Disphasia Speech Delayed & Hiperaktif 6. Kds Lk Lk Lk Lk Lk Lk Lk Lk 8 th 10 th 5 th 9 th 9 th 7 th 8 th 6 th IQ rendah & Autis Autis & Hiperaktif ADD Autis Microcepalus IQ rendah Autis & Hiperaktif Speech Delayed dan Hiperaktif 14. Kds Mejobo. 13. 11. Data Siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus Tahun 2001-2004 NO 1. terbukti dengan banyaknya siswa dengan berbagai jenis berkebutuhan khusus yang disembuhkan melalui terapi ini dan semakin banyaknya orang tua yang ingin anaknya diterapi disini. Kds Bae. 3. Hal ini tentu tidak terlepas dari pembinaan yang diberikan baik oleh kepala terapi maupun para guru pembimbing/terapis di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Kds Besito. Kds Gebog. Andy Kumala Ferdinan Troy M. Kds Langgar Dalam. 12. Terapi Anak Al Tisma Kudus sudah bisa terbilang sukses. 10. Haidar Hilmi Agusta Fahmi Fahmi Qoulani Bagas Alvin Anis Mayong.

Kds Besito. Kds Lk Lk Lk Pr Lk Lk Lk Lk Pr Pr 9 th 5 th 6 th 7 th 6 th 7 th 7 th 7 th 9 th 10 th Gejala Autis Gejala Autis ADD IQ rendah Gangguan Konsentrasi Gangguan Konsentrasi Retardasi Mental Kurang Stimulasi Retardasi Mental Normal Hiperaktif & Kurang Konsentrasi (Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus. 2. 6. Data Siswa Hiperaktif NO 1. 18. 22. 19. 23. Kds Langgar dalam. Kds Jepara Langgar dalam. Kds Gebog. Kds Gebog. Kds Bae. .3. 3. 2001-2004) Dari data tersebut yang termasuk dalam kategori hiperaktif dan sebagai sasaran penelitian ada 6 siswa. UMUR 7 th 8 th 10 th 8 th 6 th 10 th JENIS KELAINAN Khusnul Ma’ali Galih Ferdinan Troy Alvin Anis Martika Lk Lk Lk Lk Lk Pr Hiperaktif Speech Delayed & Hiperaktif Autis & Hiperaktif Autis & Hiperaktif Speech Delayed dan Hiperaktif Normal Hiperaktif & Kurang Konsentrasi 3) Keadaan Sarana dan Prasarana Terapi Anak Al Tisma Kudus Terapi Anak Al Tisma Kudus dilaksanakan di rumah pribadi Kepala Terapi dengan 5 ruang kelas. Kds Prambatan. 17. 4. Fachrul Meka Firanita Martika Besito. 24. 20.262 15. 16. NAMA KEL. 5. 21. Hanif Al Falih Sadath Haidar Ahmad Fatih Nia Famison (Icon) Tito Angguraji Rizal A. Kds Gebog. yakni sebagai berikut: Tabel 4.

hiperaktif. gambar huruf. foto/gambar aktivitas orang dlsb yang kebanyakan media itu dibuat sendiri dengan sangat sederhana. gambar binatang. model/benda-benda tiruan dan berbagai media visual (gambar). gambar warna. papan planel. . gambar benda-benda disekitar kita. speech delayed. maupun media pembelajaran seperti papan tulis. down sindrome dan gangguan lainnya. Begitu juga dengan kursi guru dibuat sejajar dengan siswa dengan tujuan agar perhatian siswa tidak mudah teralihkan saat belajar.263 Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus mempunyai perlengkapan pembelajaran seperti di Taman Kanak-kanak (TK). Akan tetapi karena terbatasnya tempat menjadikan tempat terapi ini tidak mempunyai sarana bermain diluar. buku-buku pelajaran. buku-buku cerita. dimana media ini sangat berguna sekali untuk menarik perhatian siswa dalam belajar dan membantu siswa memahami materi pelajaran. Disamping itu meja yang digunakan untuk belajar dirancang khusus agar siswa tidak leluasa bergerak dan tetap konsentrasi pada pelajaran. gambar sayur-sayuran. baik itu alat-alat permainan seperti puzzle. balok kayu dlsb. maka dengan sistem pembelajaran yang digunakan yaitu lovaas one on one (satu guru satu murid) mengharuskan setiap siswa belajar di ruangan tersendiri dimana ruangan tersebut tidak diperbolehkan adanya gambargambar/benda yang dipajang yang bisa menarik perhatian siswa. Karena dilembaga terapi ini khusus menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti autisme. disamping itu juga untuk membantu kita dalam berkomunikasi dengan siswa. seperti gambar angka. gambar alat transpotasi. gambar buah-buahan.

wawancara dan dokumentasi. kamera. Sesuai dengan rancangan awal yang menyebutkan bahwa metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi.264 Ada satu alat yang sangat penting untuk menenangkan anak yang hiperaktifnya tergolong berat yang bernama Bean Back. . Adapun informan yang dimintai keterangan sebanyak enam orang yang terdiri dari berbagai unsur yang terkait dalam pelaksanaan pembelajaran di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Deskripsi Informasi Pelaksanaan Proses Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. data dari hasil observasi. Memang kelihatan kejam tapi itulah salah satu cara yang efektif untuk menenangkan mereka dan mengenalkan pada mereka bahwa alat ini tidak menakutkan dan membahayakan bagi dirinya. berikut ini disajikan deskripsi penemuan data mengenai tahap perencanaan. 2. Alat ini terdiri dari dua matras dimana penggunaanya anak di jepit antara dua matras tersebut dan ditindih oleh seorang guru. maupun catatan lapangan lebih lanjut dapat dipahami. yaitu kepala terapi. Penyajian data dilakukan secara berurutan dari hasil observasi. maka dalam sub bagian ini akan disajikan informasi. wawancara dan dokumentasi. Langkah ini dilakukan supaya data mentah yang pengambilannya memanfaatkan tape recorder. wawancara dan dokumentasi. 3 guru pembimbing/terapis dan 2 orang tua siswa.

Informan Penelitian I Nama : Ibu Nh sebagai Kepala Terapi dan merangkap sebagai guru pembimbig/terapis anak yang bernama Ferdinan Troy. Sedangkan metode yang digunakan dalam pengajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Secara umum Kepala Terapi mempunyai tugas mengkoordinator dan bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan terapi mulai dari pengelolaan terapi. Ed. penataan segala administrasi hingga peningkatan sumber daya manusia bagi guru/terapis di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. 12) Pendekatan yang digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus yaitu dengan menggunakan pendekatan individual (lovaas one on one .265 Demi menjaga kenyamanan informan paska memberi informasi. Yl. (Ibu Nh. (Ibu Nh. manajemen keuangan. Nr. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut.pembelajaran satu guru satu murid). Pr. akan tetapi pendekatan dan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif sama dengan pendekatan dan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus lainnya. sesuai dengan etika penelitian menyebutkan nama hanya dengan menyebutkan inisial saja yaitu Nh. Ut. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan . 6) Walaupun dalam menangani anak hiperaktif tidak jauh berbeda dengan menangani anak berkebutuhan khusus lainnya. sehingga anak dapat menangkap pesan.

Mengupayakan adanya kontak mata yang sejajar antara guru-siswa 3. kreatif dan konsisten di dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. (Ibu Nh. 4. Oleh karena anak hiperaktif pada umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain. ketelatenan. Maka guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak hiperaktif. Beberapa pra syarat yang harus dilakukan dan dipersiapkan oleh seorang guru pembimbing anak hiperaktif sebelum mengerjakan/melaksanakan kegiatan belajar mengajar yakni: 1. karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. b) Ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster. alat-alat belajar. Hal yang terpenting sebelum guru melaksanakan kegiatan pembelajaran adalah mengkondisikan anak dalam keadaan kestabilan emosi. penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang. . Guru pembimbing sebagai model untuk anak hiperaktif harus memiliki kepekaan. 13) Menurut Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus dalam upaya membelajarkan anak hiperaktif tidak mudah. Kemampuan untuk meningkatkan ketahanan konsentrasi anak. 2. Mengupayakan kepatuhan dari anak hiperaktif dan pemahaman bahasa reseptif. ventilasi dan penerangan yang cukup). Menciptakan situasi yang kondusif untuk pembelajaran meliputi: a) Emosi yang stabil dari anak hiperaktif.266 menggunakan media visual (gambar-gambar).

(Ibu Nh. Setelah kemampuan tersebut dikuasai. Seorang guru pembimbing anak hiperaktif harus memiliki dedikasi. harus tegas dan sabar dalam menghadapi siswa. Setelah .267 5. (lamp) (Ibu Nh. Berbicara dengan singkat dan artikulasi yang jelas. keuletan. 14) Kurikulum pembelajaran anak hiperaktif yang digunakan di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus sama dengan kurikulum yang digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu Kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. dan kreativitas di dalam membelajarkan anak didiknya. dapat menarik perhatian siswa. tidak menggunakan aksesoris yang berlebihan. Sebagai contoh untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna dari instruksi “Ambil bola merah”. ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya. “bola” dan “merah”. Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran untuk anak hiperaktif. Pembimbing harus menyadari dan memahami tujuan apa yang akan dicapai dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Maka materi pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata “ambil”. 16) Pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: a) Terstruktur Artinya dalam pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. ketelatenan.

bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang. tetap dalam bersikap. supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas yang berlaku (menjadi lebih fleksibel).268 anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi “Ambil bola merah” kedalam perbuatan kongkrit. baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya). c) Terprogram Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evalusi. dan waktu. d) Konsisten Konsisten memiliki arti “Tetap”. demikian pula apabila anak berperilaku negatif (reinforcement). Konsisten bagi guru pembimbing berarti. mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Sedangkan arti konsisten bagi anak adalah tetap dalam mempertahankan dan menguasai kemampuan sesuai dengan stimulan yang muncul dalam ruang dan waktu yang berbeda. dapat dilatih dengan kondisi dilingkungannya. ruang. bila diartikan secara bebas konsisten mencakup tetap dalam berbagai hal. Orang tua pun dituntut konsisten . Namun. merespon dan memperlakukan anak sesuai dengan karakter dan kemampuan yang dimiliki masing-masing anak hiperaktif. b) Terpola Terpola disini maksudnya dalam kegiatan anak hiperaktif harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur. Apabila anak berperilaku positif/memberi respon positif terhadap sesuatu stimulan (rangsangan). maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan).

yakni dengan bersikap dan memberikan perlakuan terhadap anak sesuai dengan program pendidikan yang telah disusun bersama antara pembimbing dan orang tua sebagai wujud dari generalisasi pembelajaran di sekolah dan di rumah. Kesimpulannya. bentuk. e) Kontinyu Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran. simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu). buah. huruf dan angka.269 dalam pendidikan bagi anaknya. Alat bantu komunikasi: berupa gambar-gambar yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak . program pendidikan dan pelaksanaannya. (Ibu Nh. tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan di rumah dan lingkungan sekitar anak. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah. sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus konkrit. terapi perilaku dan pendidikan bagi anak hiperaktif harus dilaksanakan secara berkesinambungan. 17) Sarana belajar sangat diperlukan. binatang. benda-benda sekitar. kendaraan. Dan kebetulan anak yang diterapi di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah kebanyakan anak usia prasekolah maka sarana belajarnyapun dsesuaikan dengan usia pendidikan anak yaitu berupa: Alat peraga: pengenalan warna. karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. Karena pola pikir anak hiperaktif pada umumnya adalah pola pikir konkrit.

instruksi yang jelas. tali. tetapi melalui tata cara pengajaran untuk anak bermasalah (kelas kecil dengan jumlah guru besar atau satu guru satu murid. Disamping itu juga mengadakan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. dengan memberi reward (hadiah/pujian)untuk respons yang benar. Dimana evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian yang setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. dsb) dengan tujuan untuk membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler dan belajar secara intensif . dan memperlihatkan hasil yang menggembirakan (berperilaku seperti anak normal) kemudian anak dipersiapkan dan diperkenalkan pada pengajaran dengan kurikulum sekolah biasa. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. dengan alat visual/gambar/kartu. dsb Alat bantu pengembangan motorik kasar: bola. menggunting. (Ibu Nh. dlsb Mainan edukatif (Ibu Nh. padat dan konsisten. mewarna.270 Alat bantu pengembangan motorik halus: cara memegang pensil. 19) Setelah anak diterapi secara terpadu dan terstruktur. 15) Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah: evaluasi proses yang dilakukan dengan cara seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga.

Walaupun anak sudah patuh dan dapat berkonsentrasi pada saat terapi. Guru pembimbing khusus adalah seseorang yang dapat membantu guru kelas dalam mendampingi anak yang . Akan tetapi banyak persepsi yang salah mengenai guru pembimbing khusus ini. Ia perlu belajar mengenal dan mengikuti peraturan disekolahnya. tetapi di sekolah umum anak masih memerlukan waktu penyesuaian untuk dapat mengikuti tatacara pengajaran yang berbeda dengan pada saat terapi. Membantu anak belajar bermain/berinteraksi dengan teman-temannya 5. Membantu anak untuk tetap berkonsentrasi 4. sehingga dapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnya. Anak biasa ditangani dengan guru khusus sendirian. (Ibu Nh. dan dikelas anak harus berbagi dengan teman-temannya dengan bahasa guru yang berbeda dengan terapisnya dan bersifat klasikal. 20) Tugas seorang shadow/guru pembimbing khusus (GPK) adalah: 1.271 pelajaran yang tertinggal di kelas reguler. berinteraksi/bersosialisasi dengan teman sebayanya dan harus mengerti instruksi guru dengan cepat. Mengendalikan perilaku anak dikelas 3. Menjembatani instruksi guru dan anak 2. Menjadi media informasi antara guru dan orang tua dalam membantu anak mengejar ketinggalan dari pelajaran dikelasnya. Guru pembimbing/shadow bukanlah asisten anak disekolah yang bertugas membantu anak dalam segala hal. Untuk itu dalam sekolah anak harus didampingi guru pembimbing/terapis sampai ia benar-benar bisa mandiri dan mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik.

272 bermasalah pada saat diperlukan. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif. sehingga proses pengajaran dapat berjalan lancar tanpa gangguan. Usia pada saat diagnosis 3. Berat-ringannya kelainan/gejala 2. kurikulum. Kecerdasan/IQ 6. Guru kelas tetap mempunyai wewenang penuh akan kelasnya serta bertanggung jawab atas terlaksananya peraturan yang berlaku. Tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa 4. sekolah dan masyarakat). metode. 22) Sebagai contoh dalam penanganan anak hiperaktif dan pembelajarannya dengan menggunakan media visual (gambar) dapat dilihat pada Ibu Nh yang juga terjun langsung sebagai terapis/guru pembimbing Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan autis (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan hiperaktif. Setelah anak bisa diam agak lama baru Ibu Nh mulai pelajaran dengan menunjukkan gambar satu . lingkungan (keluarga. disamping itu agar anak tidak terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan agar dia tahu bahwa dihadapannya itu ada orang yang sedang memperhatikannya. (Ibu Nh. dalam penanganannya Ibu Nh menempatkan anak ini diruangan khusus (ruangan kosong) dan didudukkan di meja kursi khusus tujuannya agar anak ini agar tidak terlalu banyak gerak (hiperaktif) dan tetap kontak mata dengan terapis. Terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru. yaitu: 1. Kesehatan dan kestabilan emosi anak 7. sarana pendidikan. Tingkat kelebihan (streng) dan kekurangan (weakness) yang dimiliki anak 5.

Walaupun sistem dan metode pembelajaran yang digunakan untuk membelajarkan Ibu Nh . Sehingga hasil pembelajarannya cukup memuaskan dan anak ini bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya walaupun tingkat kehiperaktifitasannya sedikit berkurang akan tetapi masih bisa dikendalikan dan seringkali mengucapkan kata-kata yang tidak jelas arah tujuannya. 21) Informan Penelitian II Nama : Ibu Pr. karena kebanyakan tingkah mereka itu sama yaitu tergolong anak yang hiperaktif. sehingga mendapinginya di sekolah (Ibu Nh.273 persatu dihadapan anak tanpa distraksi/gambar lain dimulai dari materi yang mudah ke yang sulit (disesuaikan dengan kurikulum) dan disesuaikan dengan kemampuan anak. tetapi dalam memberikan materi harus cepat dan cekatan karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. Ibu Ed dan Ibu Yl (Guru Pembimbing/Terapis) Ibu Pr sebagai guru pembimbing/terapis Galih dan Alvin Ibu Ed sebagai guru pembimbing/terapis Khusnul Ma’Ali Ibu Yl sebagai guru pembimbing/terapis Anis dan Martika Melihat tingkah laku anak berkebutuhan khusus sekilas kita tidak bisa membedakan tergolong tipe apa yang diderita mereka. Untuk itulah Ibu Nh selalu mempersiapkan media visual (gambar) dan mainan edukatif di samping sebelum pelajaran dimulai. karena anak ini cukup cerdas dan cepat tanggap maka semua materi yang diberikan dengan menggunakan media visual (gambar) tidak mengalami kendala/hambatan dalam membelajarkannya. yang membedakan hanyalah apakah dia itu tergolong hiperaktif ringan atau hiperaktif berat.

Sedangkan Martika lebih mengkonsentrasikan anak itu pada tugas yang diberikan. tentunya ini harus dengan prompt. dalam menyampaikan lebih dipertajam bahasanya agar dia lebih memahami maksud dari ucapan/perintah kita. Sedangkan untuk Galih karena dia mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif Ibu Pr menekankan dalam berkomunikasi. karena . sehingga anak itu mengerti/maksud dari perintah Ibu Pr. Karena Alvin mempunyai gangguan autis dan hiperaktif Ibu Pr menekankan agar selalu kontak mata dengan Alvin agar ia tidak mempunyai kesempatan untuk asyik dengan dunianya sendiri (misalnya melamun atau sibuk dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak menganggap ada orang dihadapannya). Dan Ibu Yl dalam menangani Anis yang mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif dan Martika yang mempunyai gangguan normal hiperaktif (hiperaktif ringan) dan kurang konsentrasi dirasakan tidak jauh berbeda antara keduanya. bagaimana caranya agar anak itu mau berbicara dan mau menirukan apa yang Ibu Pr ucapkan. Ibu Ed dan Ibu Yl) Ibu Pr sebagai pembimbing anak yang tergolong hiperaktif yaitu Alvin dan Galih dirasakan ada perbedaan dalam penanganannya. Kalau Anis. Sedangkan Ibu Ed dalam menangani Khusnul Ma’Ali yang mempunyai gangguan autis dan hiperaktif dengan cara menatap mata si anak dan memegangi kedua tangannya agar tidak bergerak kesana kemari sampai anak itu benar-benar bisa tenang.274 anak berkebutuhan khusus sama tapi dalam penanganan mereka (untuk membuat mereka tenang dan konsentrasi pada pelajaran) berbeda-beda tergantung dari tipe apa yang diderita anak itu (Ibu Pr.

Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Selanjutnya yang paling penting dalam membelajarkan anak hiperaktif adalah mempersiapkan konsentrasi anak (Ibu Ed) dan tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri (Ibu Yl). Setelah bisa duduk lebih lama. baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada.275 anak itu seringkali mengabaikan tugas yang diberikan dan tidak jarang dalam menyampaikan perintah cukup pintar. Sebelum mengajarkan anak hiperaktif yang harus dipersiapkan terlebih dahulu adalah program pembelajaran. Menurut (Ibu Ed dan Ibu Yl) cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas yaitu: Pertama kita berusaha menenangkan mereka. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming. tetapi tidak semudah itu karena ditengah-tengah pelajaran anak sudah mulai banyak gerak sehingga konsentrasi buyar. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. kemudian ajaklah untuk duduk diam. harus diulang-ulang. Disampaikan secara tegas dan lugas (Ibu Pr). Pegang kedua tangannya dengan lembut. alat peraga dan konsep/cara membelajarkan anak hiperaktif (Ibu Pr). walaupun sebenarnya anak itu .

(Ibu Pr) Hampir semua mata pelajaran dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu. Cara membelajarkannya dikelas: dengan disampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain. karena media visual (gambar) ini sangat penting untuk menarik perhatian/minat mereka dalam belajar. (Ibu Yl) Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup berhitung (mengenal angka). balok kayu dlsb dalam membelajarkan anak hiperaktif juga harus menggunakan alat bantu pengajaran terutama media visual (gambar). mengenal berbagai gambar yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu gambar sayur-sayuran. mengenal nama-nama benda disekitar kita dan aktifitas orang. Gambargambar itu mencakup bidang: gambar-gambar yang ada dilingkungan yaitu didalam rumah. buah-buahan. tegas. lalu kita tingkatkan tahap demi . binatang. membaca (mengenal huruf). alat transportasi dan berbagai hal yang belum mereka ketahui. dan bermakna dan apabila ada yang tidak dimengerti oleh anak kita gunakan gambar (visual) yang kita ibaratkan apa yang kita ucapkan untuk membantu kita dalam berkomunikasi (Ibu Pr dan Ibu Ed) Disamping menggunakan mainan edukatif seperti puzzle.276 Agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar maka dalam berkomunikasi dengan anak hiperaktif dapat dilakukan dengan cara: • Menatap mata si anak dengan tanpa bicara berbelit-belit karena itu akan menyulitkan anak untuk memahami perkataan kita (Ibu Yl) • Berbicara harus singkat. jelas. diluar rumah.

kemudian ditambah lagi sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak itu tadi. apalagi jika gambar-gambar itu berwarna. (Ibu Ed) Faktor yang mendukung penggunaan media visual (gambar) dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah • Untuk membimbing anak dalam memahami suatu benda atau hal yang baru (Ibu Yl) • Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa memungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah/membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi.277 tahap jumlah-jumlah apa yang kita berikan ( dimulai dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit sesuai dengan kurikulum yang ada). (Ibu Ed) • Dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual itu akan menarik minat mereka dalam belajar. sulit memperhatikan. dengan tingkahnya yang tidak bisa diam dan konsentrasinya yang mudah pudar. (Ibu Pr) Menurut (Ibu Pr) kesulitan pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar) adalah apabila dalam penanganannya anak pertama kali. Sedangkan menurut (Ibu Ed) kesulitannya adalah apabila kita memperkenalkan pada gambar yang terlihat asing bagi mereka. anak akan lebih tertarik untuk melihat dan memperhatikan apa yang kita sampaikan. Dan menurut (Ibu Yl) kesulitannya yaitu pada awal-awalnya anak mulai . untuk itu pada saat akan mengeluarkan gambar tidak diperkenankan mengeluarkan banyak. tetapi harus satu terlebih dahulu. Anak selalu dalam kondisi yang tidak tenang. kita harus berusaha mengulangi sampai benar-benar anak itu tahu/memahami.

sudah bisa berkonsentrasi dan dapat diajak komunikasi. (Ibu Yl) . Tidak hanya memperkenalkan pada suatu media tapi untuk mulai pembelajarannya saja itu sulit. dia bisa mengikuti dengan baik. walaupun dalam mengartikan gambar dengan dua kata ia masih agak sulit (Ibu Pr) Sedangkan Khusnul Ma’ali terbukti dengan hiperaktifitasnya mulai berkurang. sehingga waktu dua jam itu hanya digunakan untuk menenangkan anak. Dan untuk Martika walaupun dia kurang konsentrasi dalam belajar dan penangkapannya itu kurang tetapi dengan ketelatenan dan pembelajaran yang berulang-ulang hasilnyapun cukup memuaskan. Terbukti sekarang Alvin sudah bisa dikendalikan emosinya dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik walaupun dia masih bingung membedakan antara jantan dan betina tetapi dengan prompt akhirnya dia mengerti juga. (Ibu Ed). putih menjadi uti. Dan hasil dari pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) ini dirasakan sudah cukup berhasil. Dan Anis terbukti kalau sudah bisa bicara walaupun cedal dan dalam membaca hurufnya ada yang dihilangkan seperti biru menjadi bi u. kotak menjadi otak tetapi dia cukup pintar terbukti kalau nilai-nilainya itu baik. Dan Galih kosa kata bicaranya sudah mulai meningkat. dan dia masih suka mengoceh sendiri yang tidak jelas arah tujuannya.278 ditangani. Dan dalam pelajaran tidak ada kendala. walaupun awalnya ia agak kesulitan membedakan bentuk lingkaran dan oval.

(Ibu Nr dan Ibu Ut) Anak hiperaktif akan terlihat jelas saat ia mulai terlambat berbicara. kontak matanya. Saat diketahui itulah sebaiknya anak dibawa ke dokter anak. manja karena diajari oleh orang tuanya sendiri. dari situlah mungkin dokter akan menganjurkan untuk membawa ke tempat-tempat terapi anak yang khusus menangani anak yang bermasalah (mempunyai gangguan perkembangan) untuk membantu kesembuhan mereka (Ibu Nr). baik itu di tempat terapi maupun dirumah. tetapi kita harus tetap konsisten untuk mengajarinya pada jam yang sudah ditentukan (Ibu Nr) dan apabila masih sulit untuk diatasi salah satunya jalan adalah dengan memberikan obat penenang dari dokter yang tentunya penggunaannya sesuai dengan resep dokter. Dengan demikian kita akan tahu perkembangan anak tiap harinya. biasanya ia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). walaupun anak cenderung lebih tidak konsentrasi. Di rumah sebaiknya orang tua juga menyediakan perlengkapan pembelajaran seperti yang ada di tempat terapi untuk mengajarkan/mengulang kembali apa yang diajarkan di tempat terapi.279 Informan Penelitian III Ibu Nr dan Ibu Ut (orang tua siswa) Seorang anak diketahui hiperaktif biasanya ketika anak itu mulai tumbuh yaitu menginjak usia 2 tahun. jam kurang tidur dan yang paling penting adalah hasil dari diagnosa dokter. Ciri-cirinya dapat dilihat dari gerakan-gerakannya. . Ia suka mengoceh sendiri seperti orang latah dan bicaranya tidak jelas arah tujuannya (Ibu Ut).(Ibu Ut). perilakunya.

ANALISIS DATA Proses analisis data dimulai dari menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber wawancara. Pr. B. jika anak menangis minta dibelikan makanan maka selaku orang tua adalah memberi pengertian bahwa makanan itu tidak boleh agar cepat sembuh (Ibu Nr). foto. Dan untuk menunjang kelancaran alangkah baiknya jika satu keluarga juga ikut diet (Ibu Ut). Berdasarkan data temuan hasil wawancara dengan keenam informan penelitian yaitu (Nh. Berkaitan dengan proses analisis data tersebut maka pada bagian ini akan disajikan urutan proses analisis data dari mulai penyusunan satuan-satuan. Ed. catatan lapangan dan komentar peneliti. dokumen berupa laporan. menyusunnya dalam satuan-satuan yang selanjutnya akan dikategorikan. dipelajari dan ditelaah maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data. biografi. maka biasakanlah dulu anak makan dengan masakan/makanan yang dibuat sendiri. Karena kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif. . artikel dan sebagainya (Moleong. gambar.280 Selain itu orang tua juga harus memperhatikan makanan yang dimakan anaknya yang hiperaktif sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi. Setelah dibaca. 1998: 103). Sedangkan proses analisis data telah dilakukan sejak penyusunan deskripsi penemuan data pada sub bab IV A. Nr dan Ut). hasil observasi dan hasil dokumentasi dibawah ini disajikan data yang kemudian akan dilakukan kategorisasi. Yl.

langkah selanjutnya adalah analisis data. Perencanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Berdasarkan hasil observasi.281 Sedangkan analisis data mengenai tiap-tiap satuan dari sumber data akan disajikan dalam laporan. kurikulum yang digunakan untuk pembelajaran anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus mengacu pada kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia (Lamp). Dimana hal tersebut juga dikuatkan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Dalam membelajarkan anak hiperaktif kami menggunakan kurikulum yang sudah banyak digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia yang tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemampuan anak. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus dapat disajikan sebagai berikut: 1. dan tidak mampuannya. . Setelah pemrosesan satuan (unityzing). serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. Kategori perencanaan. usia anak. Kategorisasi ini didasarkan pada tujuan dan kemiripan isi dengan menggunakan kriteria tertentu.

alat-alat belajar.282 2. Pelaksanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Berdasarkan hasil observasi di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dilakukan dikamar khusus bebas distraksi. penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang. ventilasi dan penerangan yang cukup). Metode ini memberikan gambaran konkrit tentang . Dimana hal tersebut juga dikemukakan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Pembelajaran anak hiperaktif dilakukan diruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster. Pembelajaran ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dimana pembelajarannya setiap satu guru memegang satu murid atau dua guru memegang satu murid dan ini berlaku bagi anak yang masih sangat sulit untuk dikendalikan (hiperaktif berat) dan bersifat sementara sampai tingkat kehiperaktifitasan anak sedikit berkurang. Sedangkan metode yang digunakan di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini adalah perpaduan dari metode yang ada. Dimana guru yang satu (terapis) duduk berhadapan dengan anak memberikan materi pelajaran dan guru yang satunya lagi (asisten terapis) duduk dibelakang anak/memangku anak dan memegangi anak sambil mengarahkan. dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak.

283 “sesuatu”. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar-gambar). dan biasanya juga diimbangi dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif divisualkan lewat gambar-gambar. karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. anak akan jadi lebih tertarik untuk .pembelajaran satu guru satu murid). dan dengan gambar-gambar yang berwarna. sehingga anak dapat menangkap pesan. karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Dimana hal tersebut juga dikemukakan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Disini kami dalam membelajarkan anak hiperaktif mengggunakan pendekatan individual (lovaas one on one . diantaranya adalah Ibu Yl yang menjelaskan bahwa penggunaan media visual (gambar) sangat diperlukan untuk membimbing anak dalam memahami suatu benda atau hal yang baru. sehingga anak dapat menangkap pesan. Disamping mainan edukatif penggunaan media visual (gambar) sangat mutlak diperlukan dalam pembelajaran anak hiperaktif. seperti yang dikemukakan oleh para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Sedangkan metode yang kami gunakan adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Sedangkan Ibu Pr menjelaskan bahwa media visual itu sangat diperlukan karena disamping anak ini hiperaktif ia juga kehilangan konsentrasi.

disamping itu cara yang termudah untuk menyampaikan kepada anak supaya mengerti adalah dengan menggunakan media visual (gambar). benda berwarna. 2. Sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu. kartu huruf. dan kartu gambar. pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus itu mencakup: 1. . tak terkecuali di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini. Identifikasi benda dan melabel (menyebutkan) gambar Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. kartu angka. Hal senada juga dikemukakan oleh Ibu Ed yang menjelaskan sebagai berikut: Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah/membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi. dan berbagai bentuk.284 melihat dan memperhatikan apa yang disampaikan. Lalu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya itu memungkinkan penggunaan media visual itu akan lebih menarik minat anak dalam belajar. Hampir semua mata pelajaran dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Mencocokkan (Matching) Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik.

Identifikasi warna dan melabel warna Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna 4. Identifikasi kata kerja. Apabila disaat pelajaran berlangsung konsentrasi anak mulai hilang dan anak sulit untuk dikendalikan maka guru biasanya akan memegangi kedua tangan atau pipi (sekitar kepala) anak itu. Identifikasi bentuk dan melabel bentuk Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar 5.285 3. cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas dengan menggunakan media (visual) gambar adalah sebagai berikut: Setelah anak bisa diam agak lama baru memulai pelajaran dengan menunjukkan gambar satu persatu dihadapan anak tanpa distraksi/gambar lain dimulai dari materi yang mudah ke yang sulit (disesuaikan dengan kurikulum) dan disesuaikan dengan kemampuan anak dan dalam memberikan materi harus cepat dan cekatan karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. Identifikasi huruf dan melabel huruf Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf 6. melabel kata kerja dan menirukan gambar Media yang digunakan adalah foto/gambar aktivitas orang Menurut Kepala Terapi Anak yang juga terjun langsung dalam mengajar anak hiperaktif. Identifikasi angka dan melabel angka Media yang digunakan adalah kartu-kartu angka 7. bila perlu kaki anak dijepit di antara paha guru atau tungkai guru/terapis menjepit/merangkum kursi di belakang anak .

antara lain adalah Ibu Pr yang menjelaskan sebagai berikut: Gambar-gambar yang sudah kita dapatkan kita potong-potong dalam bentuk kecil-kecil kemudian kita sampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain.286 dan menatap anak itu dan mengatakan “… (nama anak) lihat” dan mengatakan “Tidak…”. bukannya ditertawakan karena lucu. applaus. bisa berupa imbalan/hadiah. lugas dan setiap kali respon yang diberikan oleh anak harus kita kasih reinforcer. Cara membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) ini juga diperjelas oleh para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. lalu kita tingkatkan tahap demi tahap jumlahjumlah apa yang kita berikan. Tindakan dan kata-kata inilah yang selalu diucapkan guru untuk mencegah/melarang anak yang berbuat sesuka hati bahwa perbuatannya itu salah/tidak benar dan untuk melarang/menyuruh diam disaat anak mengoceh sendiri. sebab dengan ditertawakan akan membuat anak itu merasa bangga karena merasa diperhatikan dan merasa bahwa apa yang dilakukannya/diucapkannya itu benar/baik. tepuk tangan dan acungan jempol. Dan dalam mengajar kita sampaikan secara tegas. . Sebaliknya apabila anak sudah mulai mengerti dengan maksud kita dan berusaha memperbaiki tindakannya yang salah baru kita katakan “ya”.

kemudian ajaklah untuk duduk diam. . guru dalam memberikan perintah/instruksi pada anak adalah dengan disampaikan secara singkat. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. tegas dan bukan membentak) tujuannya agar anak mudah memahami. dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit. baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. setelah anak diam beberapa lama baru kita mulai pembelajarannya secara bertahap dimulai dari yang mudah/sederhana sampai ke yang rumit sesuai dengan kurikulum yang sudah ada.. Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Hal senada juga diperkuat oleh Ibu Yl yang menjelaskan bahwa cara membelajarkan anak hiperaktif yang dilakukan adalah menyuruh anak untuk duduk dan memusatkan perhatian mereka dengan menatap mata anak dan memegang kedua tangannya. Setelah bisa duduk lebih lama. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan.287 Sedangkan menurut Ibu Ed cara adalah: membelajarkan anak hiperaktif di kelas Pertama kita berusaha menenangkan mereka. Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming. Sedangkan berdasarkan hasil observasi. Pegang kedua tangannya dengan lembut.

288 Singkat maksudnya dalam memberikan perintah guru hanya mengucapkan satu kata (kata kuncinya saja) dan bukan kalimat yang panjang. Apabila materi pelajaran identifikasi gambar maka guru memberikan perintah “Tunjuk … (nama gambar tersebut)” dan apabila materi pelajaran melabel (menyebutkan) guru memberi perintah “Ini apa?” atau “Apa ini?” dan apabila materi pelajaran mencocokkan (matching) guru memberi perintah “Samakan” atau “Kasih ke Ibu”. selanjutnya untuk menyuruh anak menirukan gambar guru memberikan perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar)”. Ingin mengajarkan imitasi beda dengan mengikuti perintah sederhana (satu-tahap). . Misalnya instruksi “masukkan” jangan diganti “masukkin”. Dan dalam perintah sederhana : instruksi “Tepuk tangan” berarti tangan guru/terapis diam sama sekali. hemat kata dan hemat gerakan. Jelas maksudnya guru dalam memberikan perintah sesuai dengan apa yang ingin diajarkan. karena anak hiperaktif mempunyai gangguan perlambatan dalam menangkap pesan seperti suara radio gelombang pendek (suara hilang timbul) sehingga anak hanya menangkap sepotong-potong. Sedangkan konsisten maksudnya dalam memberikan perintah/instruksi kata yang diucapkan harus persis sama untuk instruksi selanjutnya. Untuk itu dalam membelajarkan anak hiperaktif harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Misalnya dalam pelajaran Imitasi: instruksi “Tiru” berarti guru/terapis memberikan contoh (misal: tepuk tangan). “masukken” atau “masuppin” karena ini akan membingungkan anak.

seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Dengan cara menatap mata anak dan memegangi kedua tangannya dengan lembut. maka guru mengajar tanpa prompt dan memberikan reinforce respons yang benar saja. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. . Apabila dalam pembelajaran. maka dapat disimpulkan bahwa cara membelajarkan anak hiperaktif dikelas adalah: Pertama guru mempersiapkan perhatian anak dan berusaha menenangkan mereka. Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespon dengan benar. Setelah keadaan tenang dan bisa duduk lebih lama. guru mulai pelajaran dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Dalam memberikan perintah/instruksi ini guru menyampaikan dengan singkat.289 Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang diperoleh dari para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus di atas. guru memberikan prompt (bantuan/arahan) pada anak dan setiap kali anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar guru memberikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan). anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami. kemudian diajak untuk duduk diam. Apabila anak sulit untuk diajarkan maka berilah dia iming-iming. kemudian guru memberi perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan.

Guru memegang satu gambar dan meletakkan beberapa gambar dihadapan anak lalu anak disuruh memilih gambar yang sesuai dengan gambar yang dipegang guru. tetapi diluar jangkauan anak. menirukan gambar/melakukan aktivitas guru biasanya memulai dengan memerintahkan anak untuk mengambil sesuatu yang ada di sekitar/diruang kelas kemudian anak diajarkan pada hal-hal yang lebih spesifik dan anak diperintahkan meniru guru (misalnya minum dari gelas. melepas sepatu. menggosok gigi. makan dengan menggunakan sendok dan garpu.. yaitu: 1. maka guru akan menanyakan terlebih dahulu apa warna benda tersebut sebelum memberikannya. ada berbagai macam cara yang digunakan guru dalam mengajar mata pelajaran mencocokkan (matching). 3. Guru meletakkan sebuah benda dihadapan anak dan berbagai macam gambar yang berbeda (max 5 gambar) dan anak disuruh mencocokkan/memilih gambar yang sesuai dengan benda. dlsb). Dengan cara mengatur benda-benda yang berlainan warna. Dalam identifikasi kata kerja. Sedangkan dalam pelajaran identifikasi warna guru juga menggunakan tehnik insidental (berkebetulan). Guru meletakkan dua kelompok gambar yang mempunyai gambar berpasangan dan anak disuruh mencocokkan/memasangkan gambar-gambar itu. 2. Jika anak meminta benda tersebut.290 Berdasarkan hasil observasi di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus dengan menggunakan catatan lapangan. .

dimana lembar penilaian ini setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. Evaluasi proses dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung.291 3. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif yang menjadi contoh kasus. untuk itulah anak harus dibantu/diarahkan (prompt setengah/sebagian/ringan) (nilai P++) hingga akhirnya anak mendapatkan nilai A yang berarti anak benar-benar menguasai. dan apabila anak mengalami kendala/hambatan dalam menerima pelajaran maka anak mendapatkan nilai P yang berarti belum bisa atau nilai P+ yang berarti sudah mulai/sesekali bisa. evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini adalah evaluasi proses dan evaluasi bulanan. dengan memberi reward (hadiah/pujian) untuk respons yang benar. Evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian. Hal ini dapat . Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Dari hasil observasi dan wawancara dengan Kepala Terapi. Sedangkan evaluasi bulanan bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga. dengan ketentuan penilaian yaitu jika anak menguasai materi pelajaran atau memberikan respons benar maka anak mendapat nilai A.

3. gambar buah-buahan. matching huruf besar. matching buahbuahan dan matching sayuran. matching binatang. anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik bahkan ia melaksanakannya dengan waktu yang cepat ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A dan A+. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. maka diperoleh hasil evaluasi pembelajaran sebagai berikut: Khusnul Ma’ali 1. gambar sayuran dan alat transportasi. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. matching bentuk.292 dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi bersama (case conference) Berdasarkan lembar penilaian pada 6 anak hiperaktif dari evaluasi proses. anak menunjukkan tingkat penguasaan yang baik terbukti selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. yang hanya dikhususkan pada mata pelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). 2. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A .

ini terbukti bahwa pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa menjawab dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan. wajik. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. segitiga. akan tetapi ia agak sulit membedakan antara lingkaran dan oval sehingga harus diulang beberapa kali baru ia memahami . oval. Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10 anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik 7. 5. lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. kotak.293 4. .

294 Galih 1. Sedangkan dalam identifikasi buah-buahan ada yang mudah dikuasai dan ada yang masih sulit dikuasai/dimengerti dan ini membutuhkan prompt terbukti pada buah tomat anak mendapatkan nilai P+. ini terbukti dengan ia mendapatkan nilai P. Dalam identifikasi buah-buahan dan alat transportasi anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. matching bentuk. P++ sampai akhirnya ia mendapatkan nilai A yaitu benar-benar bisa/menguasai. gambar buah-buahan. P+. 2. matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan . Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda ada beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. P++ dan sampai mendapatkan nilai A. alat transportasi. matching binatang. matching huruf besar. Dalam identifikasi gambar binatang anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A akan tetapi ada beberapa gambar binatang yang sulit dipahaminya diantaranya adalah ayam betina karena anak belum mengerti dan belum bisa membedakan mana ayam jantan dan mana ayam betina yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga ia harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan) dan bahkan ia sudah mulai/sesekali bisa.

kotak. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4.6.9. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang.3. untuk angka 1. segitiga.295 baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. oval. 3.10 anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik.2. akan tetapi setelah menginjak angka 5 dan 8 anak mengalami kesulitan ia sulit menghafal sampai 3 kali pertemuan baru ia hafal terbukti pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ . wajik. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6.4.7. lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10.

Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda anak tidak mengalami masalah saat ditanya bahkan ia langsung bisa menjawab tanpa diberi prompt oleh karena itu ia mendapatkan nilai A+ 2.296 dimana anak sudah mulai/sesekali bisa dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan hingga anak mendapatkan nilai A dimana ia benar-benar telah menguasai. ini terbukti bahwa pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa menjawab dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan. akan tetapi dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan dua kata atau lebih anak masih mengalami kesulitan seperti main bola. meniup harmonika dlsb. membaca. Ferdinan Troy 1. lari dlsb anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan satu kata seperti memasak. 7. Mencocokkan (Matching) Karena dalam pembelajaran mencocokkan (matching) adalah merupakan hal yang paling mudah anak tidak mengalami masalah saat disuruh mengerjakan tugas sehingga ia mendapatkan nilai A .

297

3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10, anak juga tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik, dan materinyapun ditingkatkan mulai dari penjumlahan dan pengurangan sesuai dengan pelajaran di sekolah.

298

7. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Alvin 1. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang, gambar buah-buahan, alat transportasi anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A, akan tetapi sama halnya yang dialami Galih ada beberapa gambar binatang yang sulit dipahaminya diantaranya adalah ayam betina karena anak belum mengerti dan belum bisa membedakan mana ayam jantan dan mana ayam betina yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga ia harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan) dan bahkan ia sudah mulai/sesekali bisa, ini terbukti dengan ia mendapatkan nilai P, P+, P++ sampai akhirnya ia mendapatkan nilai A yaitu benar-benar bisa/menguasai. 2. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna, matching huruf besar, matching bentuk, matching binatang, matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A.

299

3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10, anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik, akan tetapi ia mengalami kesulitan saat disuruh menulis angka. 7. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan

300

pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A, walaupun kadang-kadang arah pembicaraannya mulai tidak jelas dan ngelantur kemana-mana. Anis 1. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang, gambar sayuran, gambar buah-buahan dan alat transportasi hanya gambar sayuran yang masih sulit dikuasai/dimengerti oleh anak dan ini membutuhkan prompt terbukti pada buah tomat anak mendapatkan nilai P+, P++ dan sampai mendapatkan nilai A. 2. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. 3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A

seperti biru menjadi bi u. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja sebenarnya anak tidak mengalami kendala ia cepat menguasai materi yang diberikan hanya saja karena anak ini cedal dan pemahaman bahasanya kurang. akan tetapi untuk angka 5 anak mengalami kesulitan ia sulit menghafal sampai 3 kali pertemuan baru ia hafal terbukti pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan hingga anak mendapatkan nilai A dimana ia benar-benar telah menguasai.301 5. putih menjadi uti. . anak tidak mengalami kendala saat ditanya walaupun angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik. mungkin dalam menyampaikannya saja yang salah dan selalu ada saja huruf yang dihilangkan. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. 7. kotak menjadi otak dlsb.

matching huruf besar. segitiga. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. matching binatang. angsa. 3. kotak. lingkaran dan trapesium) anak masih sulit membedakan antara lingkaran dan oval ini terbukti dengan nilai yang didapat P+. wajik. matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. oval. . bebek untuk itu tidak jarang disertai dengan prompt hingga ia benarbenar bisa membedakan.302 Martika 1. 2. P++ dan A dimana anak sesekali bisa dan harus diberi prompt hingga akhirnya tanpa prompt. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan terutama gambar binatang selalu ada saja nama yang terbalik seperti itik. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. matching bentuk.

Dan dengan gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan penggunaaan media visual (gambar) akan mewujudkan tujuan komunikasi dari anak. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. dapat disimpulkan bahwa dalam menangani anak hiperaktif salah satu cara yang terbaik adalah dengan dibawa ke tempat terapi anak yang khusus menangani anak bermasalah (gangguan perkembangan) dan cara yang paling mudah bagi guru pembimbing/terapis dalam menangani/membelajarkan anak hiperaktif adalah dengan menggunakan media visual (gambar) karena dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual (gambar) itu akan lebih menarik minat anak dalam belajar. disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 7. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10. .303 5. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Dari hasil wawancara diatas.

(Bryn.304 C. Dimana sekolah-sekolah khusus itu mengatur program yang akan memenuhi kebutuhan anak. Pada umumnya terapi perilaku bersifat pendidikan (Singgih. tahapan-tahapannya disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. Kurikulum pembelajaran untuk anak hiperaktif disesuaikan dengan tingkat perkem bangan kemampuan anak. (lamp) Hal ini diperkuat oleh teori Sobur (1986:125) bahwa hanya “terapi terarah” yang dapat membantu anak keluar dari masalah hiperaktif. serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. Hal ini diperkuat oleh teori Clerq (1994:126) bahwa terapi individu yang diterapkan. usia anak. dan tidak mampuannya. 1989:73) Kurikulum yang digunakan untuk pembelajaran anak hiperaktif ditempattempat terapi anak mengacu pada kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. 1. Fungsi otaknya yang terganggu harus dilatih dengan terapi kesibukan. Perencanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Setelah keseluruhan data yang ditemukan peneliti pada latar penelitian dilakukan proses analisis komparatif antar informan peneliti maupun dengan menggunakan catatan lapangan dan dokumentasi selanjutnya peneliti menyajikan kesimpulan tentang perencanaan. 1992:200) . pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di tempat terapi anak.

alatalat belajar. Hal ini juga diperkuat oleh teori Sobur (1986:125-126) bahwa disamping perlunya pemeriksaan medis. Pelaksanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dilakukan dikamar khusus bebas distraksi yaitu ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster. Dengan dimasukkan di kelas-kelas kecil itu anak-anak hiperkinetik akan memperoleh perhatian dan pengawasan yang diperlukan (Bryn. yang memudahkan beralih perhatian. tata ruang yang diusahakan jangan terlalu ramai dengan bermacam-macam benda. 1989:73) Pembelajaran ini dilakukan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dimana pembelajarannya setiap satu guru memegang satu murid atau dua guru memegang satu murid dan ini berlaku bagi anak yang masih sangat sulit untuk dikendalikan (hiperaktif berat) dan bersifat sementara sampai tingkat hiperaktifitas anak sedikit berkurang. penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang. Dilakukan dengan cara guru yang satu (terapis) duduk berhadapan dengan anak memberikan materi pelajaran dan guru yang satunya lagi (asisten terapis) duduk dibelakang anak/memangku anak dan memegangi anak sambil mengarahkan. dapat disarankan latihan-latihan untuk mengurangi kebanyakan gerak ini. Dengan cara dipangku/dipegang tangannya sambil muka berhadap-hadapan untuk dilatih . ventilasi dan penerangan yang cukup). Misalnya. Hal ini diperkuat oleh teori Taylor (1988:125) bahwa anak hiperaktif perlu diterapi langsung untuk mengubah perilakunya yaitu dengan sistem pengajaran satu guru satu murid.305 2.

Ada cara lain untuk mengatasi anak-anak semacam ini. terutama media visual (gambar). Itu sudah bagus. karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. Anak didudukkan dipojok dan diusahakan untuk menarik perhatiannya kepada suatu kesibukan. yaitu menempatkan anak dalam ruangan kecil yang tidak ada rangsangan-rangsangan (misalnya gambar-gambar dan sebagainya). Metode ini memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Untuk itulah dalam membelajarkan anak hiperaktif tidak lepas dari penggunaan media. Dan dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. Bila latihan ini dilakukan secara intensif. Disamping itu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual (gambar) itu akan lebih menarik . setiap kali dimulai dengan tiga menit. sehingga anak dapat menangkap pesan. Pada hari-hari pertama mungkin hanya berhasil selama sepuluh menit. Makin lama jangka waktu latihan ini makin meningkat. Hal ini diperkuat dengan teori Sobur (1986:254) bahwa bentuk “tidak verbal” suatu gambar. lama kelamaan hiperaktifnya dapat diatasi. Sedangkan metode yang digunakan adalah perpaduan dari metode yang ada. Ruangan seperti itu tidak memungkinkan anak untuk pegang ini pegang itu. lalu ditambah menjadi empat menit dst. Misal. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. memungkinkan anak untuk mengatasi kemampuannya berbicara yang masih terbatas.306 konsentrasi. apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif divisualkan lewat gambar. dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak.

Ahli-ahli seni rupa menyatakan bahwa gambar bisa meningkatkan kapasitas belajar dalam hal lain yang tak berkaitan dengan seni. seperti pengetahuan alam dan matematika (Sobur. bisa berupa kuartet buah-buahan. . Identifikasi benda dan melabel (menyebutkan) gambar Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. dan sebagainya. Agar anak belajar menangkap struktur kata dengan cepat. tumbuh-tumbuhan.307 perhatian/minat mereka dalam belajar. perkakas rumah. 1986:259). Sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. Hal ini juga diperkuat oleh Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:22) bahwa fungsi gambar adalah untuk: Menarik perhatian anak Mengadakan motivasi dan merangsang anak Memberikan suatu latar belakang pada bacaan Merangsang percakapan (ekspresi) dan diskusi Mendidik sifat kritis pada anak Memperkenalkan kata-kata baru. dengan tujuan: Agar anak belajar cepat mengidentifikasi benda dan namanya. binatang. dan kartu gambar. alat-alat dapur. Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:43) bahwa dalam mengidentifikasi benda dan nama digunakan alat yang merupakan satu set mainan kuartet. pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) itu mencakup: 1.

melabel kata kerja dan menirukan gambar Media yang digunakan adalah foto/gambar aktivitas orang Cara guru membelajarkannya di kelas dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut adalah: Pertama guru mempersiapkan perhatian anak. Hal ini diperkuat oleh teori Sobur (1986:69) bahwa cara menolong anak agar dapat belajar dengan baik adalah dengan mengajak anak untuk bisa berkonsentrasi. kartu angka.308 2. Jauhkan segala sesuatu yang mungkin mengganggu . dan berbagai bentuk. Identifikasi angka dan melabel angka Media yang digunakan adalah kartu-kartu angka 7. Anak-anak harus membiasakan diri memusatkan perhatiannya kepada pelajaran selama waktu belajar. kartu huruf. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. 3. dengan berusaha menenangkan mereka. Dengan cara menatap mata anak dan memegangi kedua tangannya dengan lembut. kemudian diajak untuk duduk diam. Mencocokkan (Matching) Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. Identifikasi kata kerja. Identifikasi bentuk dan melabel bentuk Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar 5. benda berwarna. Identifikasi huruf dan melabel huruf Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf 6. Identifikasi warna dan melabel warna Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna 4.

baru guru mulai pelajaran dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. waktu bekerja bekerjalah sungguh-sungguh dan waktu belajar benarbenarlah belajar.” Apabila seseorang betul-betul memusatkan perhatian sepenuhnya pada sesuatu tanpa merasa terganggu oleh suasana sekitar untuk beberapa saat. (75). tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami. Seorang pendidik pernah berkata “Play while you play. maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut mampu berkonsentrasi. Hal ini juga diperkuat oleh teori Pearce (1990:74) bahwa latihan konsentrasi dapat membantu dengan meminta anak hiperaktif untuk berkonsentrasi pada suatu tugas selama beberapa detik dan kemudian meningkatkan waktunya secara bertahap selama beberapa minggu dan selalu mengakhiri setiap sesi konsentarsi dengan catatan keberhasilan Setelah keadaan anak tenang. and study while you study. work while you work. “Waktu bermain bermainlah. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. dan bisa duduk lebih lama. Dalam memberikan perintah/instruksi ini guru menyampaikan dengan singkat.” Artinya. karena anak hiperaktif mempunyai gangguan perlambatan dalam menangkap pesan seperti suara radio gelombang pendek (suara hilang timbul) sehingga anak hanya menangkap sepotong-potong. Apabila materi pelajaran identifikasi gambar maka . Singkat maksudnya dalam memberikan perintah guru hanya mengucapkan satu kata (kata kuncinya saja) dan bukan kalimat yang panjang. kemudian guru memberi perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan.309 konsentrasi si anak.

Teori yang mendukung adalah konsistensi dianggap sebagai dasar mengatasi anak hiperaktif. Ingin mengajarkan imitasi beda dengan mengikuti perintah sederhana (satu-tahap). Jelas maksudnya guru dalam memberikan perintah sesuai dengan apa yang ingin diajarkan. Misalnya instruksi “masukkan” jangan diganti “masukkin”. Dan dalam perintah sederhana : instruksi “Tepuk tangan” berarti tangan guru/terapis diam sama sekali. Sebaliknya. 1991:40) Ada berbagai macam cara yang digunakan guru dalam mengajar mata pelajaran mencocokkan (matching). Untuk itu dalam membelajarkan anak hiperaktif harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. (Fontenelle. hemat kata dan hemat gerakan. pendekatan yang tidak konsisten hampir pasti gagal dan menimbulkan kesulitan perilaku.310 guru memberikan perintah “Tunjuk … (nama gambar tersebut)” dan apabila materi pelajaran melabel (menyebutkan) guru memberi perintah “Ini apa?” atau “Apa ini?” dan apabila materi pelajaran mencocokkan (matching) guru memberi perintah “Samakan” atau “Kasih ke Ibu”. Sedangkan konsisten maksudnya dalam memberikan perintah/instruksi kata yang diucapkan harus persis sama untuk instruksi selanjutnya. Misalnya dalam pelajaran Imitasi: instruksi “Tiru” berarti guru/terapis memberikan contoh (misal: tepuk tangan). “masukken” atau “masuppin” karena ini akan membingungkan anak. Dengan cara yang konsisten kemungkinan akan keberhasilan teknik-teknik yang diterapkan. yaitu: . selanjutnya untuk menyuruh anak menirukan gambar guru memberikan perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar)”.

Dalam identifikasi kata kerja. anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan. Guru meletakkan sebuah benda dihadapan anak dan berbagai macam gambar yang berbeda (max 5 gambar) dan anak disuruh mencocokkan/memilih gambar yang sesuai dengan benda. melepas sepatu. makan dengan menggunakan sendok dan garpu. Jika anak meminta benda tersebut. dlsb). Guru meletakkan dua kelompok gambar yang mempunyai gambar berpasangan dan anak disuruh mencocokkan/memasangkan gambar-gambar itu. 6. Guru memegang satu gambar dan meletakkan beberapa gambar dihadapan anak lalu anak disuruh memilih gambar yang sesuai dengan gambar yang dipegang guru.311 4. tetapi diluar jangkauan anak. Apabila dalam pembelajaran. maka guru memberikan prompt (bantuan/arahan) pada anak untuk menunjuk atau melabel atau mencocokkan gambar atau menirukan aktivitas seperti dalam gambar tersebut sesuai dengan materi yang diajarkan pada . menirukan gambar/melakukan aktivitas guru biasanya memulai dengan memerintahkan anak untuk mengambil sesuatu yang ada di sekitar/diruang kelas kemudian anak diajarkan pada hal-hal yang lebih spesifik dan anak diperintahkan meniru guru (misalnya minum dari gelas. 5. maka guru akan menanyakan terlebih dahulu apa warna benda tersebut sebelum memberikannya. Sedangkan dalam pelajaran identifikasi warna guru juga menggunakan tehnik insidental (berkebetulan). menggosok gigi. Dengan cara mengatur benda-benda yang berlainan warna..

Alat pendidikan itu adalah upaya/siasat yang sengaja dibuat dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Hal ini diperkuat oleh Nur’aeni. diantaranya: Perhatian Perhatian dapat diberikan dengan banyak cara: pandangan. sentuhan. hadiah. bukan penyuapan. teladan dan contoh. Hadiah/ganjaran diberikan pada orang yang telah melakukan suatu kebaikan. Dalam konteks ini pemberian ganjaran merupakan sarana Bantu untuk belajar. Hal ini diperkuat dengan teori Pearce (1990:28) bahwa ganjaran memiliki banyak bentuk yang berbeda. karena anak terbiasa dengan pemberian hadiah/iming-iming sebelum anak melakukan sesuatu (agar anak melakukan sesuatu) dan kebiasaan itu harus dihilangkan dengan cara mengganti hadiah yang berupa benda riil itu dengan pujian/tepukan. ganjaran. senyuman. (1997:136-137) bahwa penguat (reinforcemen)t adalah alat pendidikan yang menyebabkan tingkah laku individu lain yang kita hadapi (anak didik peserta didik) akan terpatri. Hal inilah yang menjadi salah satu cara untuk menghilangkan kebiasaan anak dari sifat manja. . pelukan atau beberapa patah kata. Alat itu antara lain: pujian. Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespons dengan benar guru biasanya mengajar tanpa prompt dan hanya memberikan reinforce respons yang benar saja.312 saat itu dan setiap kali anak melakukan/merespons dengan benar tak jarang guru memberikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan). hukuman. Hal ini juga diperkuat oleh teori Fontenelle (1991:90) bahwa hadiah atau ganjaran sangat berguna dalam mengatasi beberapa kesulitan akibat hiperaktivitas.

Hal tersebut juga diperkuat oleh Nur’aeni (1997:141) bahwa pendidik/orang tua harus jeli dalam memilih alat-alat pendidikan yang sesuai dengan harapan. sebab dengan ditertawakan akan membuat anak itu merasa bangga karena merasa diperhatikan dan merasa bahwa . kadang ia suka mengoceh sendiri tak jelas arah tujuannya dan menoleh/bergerak kesana kemari walaupun sudah dihalangi meja. suasana sekitar. bila perlu kaki anak dijepit di antara paha guru atau tungkai guru/terapis menjepit/merangkum kursi di belakang anak dan menatap anak itu dan mengatakan “… (nama anak) lihat” dan mengatakan “Tidak…” tindakan dan kata-kata inilah yang selalu diucapkan guru untuk mencegah/melarang anak yang berbuat sesuka hati bahwa perbuatannya itu salah/tidak benar dan untuk melarang/menyuruh diam disaat anak mengoceh sendiri. bukannya ditertawakan karena lucu. biasanya guru akan memegangi kedua tangan atau pipi (sekitar kepala) anak itu. Disaat pelajaran berlangsung tak jarang konsentrasi anak mulai hilang.313 Pujian Hadiah khusus Hadiah khusus digunakan sebagai cara untuk mendukung dan menguatkan setiap pujian yang diberikan. kondisi anak dan akibat sampingan yang mungkin timbul. hal inilah yang menguji kesabaran guru dalam membimbing anak hiperaktif. Hal yang terbaik dalam memberikan hadiah khusus adalah menggunakan satu/dua hal secara teratur sebagai ganjaran dan menyimpannya sebagai hadiah khusus untuk membuatnya lebih diharapkan dan berharga.

Hal ini diperkuat dengan teori Pearce (1990:7) bahwa dengan mengatakan “tidak” dapat secara bertahap memperkenalkan anak dengan gagasan bahwa ada batas mengenai berapa banyak kebutuhan yang dapat dipenuhi. dimana hal ini diperkuat oleh teori Pearce (1990:8) adalah mungkin untuk mengatakan “ya” dan memberikan pujian setiap kali seorang anak melakukan sesuatu yang baik dan sebagai akibatnya kita tidak perlu mengatakan “tidak”.314 apa yang dilakukannya/diucapkannya itu benar/baik. Inilah yang dimaksud dengan disiplin. Dan apabila anak masih tetap sulit untuk diajak dian dan diajar maka guru akan memberi anak itu imingiming. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. dan anak akan secara bertahap pula mengetahui batasan dari apa yang dapat diterima dan apa yang tidak dapat diterima. Dan apabila anak sudah mulai mengerti dengan maksud kita dan berusaha memperbaiki tindakannya yang salah. cukup kita katakan “ya”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui pengelolaan dan penanganan yang serius dibarengi dengan upaya mengatasi tingkat gangguan . Ada banyak cara untuk mengatakan tidak: Dengan nada suara yang tajam Dengan bentakan yang keras Mengatakan “tidak” dengan berbisik Menggoyangkan jari Mengerutkan dahi dan memasang wajah marah Berpaling dan tidak memberikan perhatian.

dengan tujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. Evaluasi proses dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung. dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga.315 dapat membantu mengarahkan kondisi hiperaktif untuk menunjang hal-hal positif perkembangan anak. . Sedangkan evaluasi bulanan bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. Evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian. dengan memberi reward (hadiah/pujian) untuk respons yang benar. Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian).Menurut Bloom (Handbook on Formative and Sumative Evaluation of Student Learning) mengemukakan bahwa “Evaluasi adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar penetapan ada tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau anak didik.” Evaluasi pembelajaran anak hiperaktif yang umum digunakan di tempattempat terapi anak adalah evaluasi proses dan evaluasi bulanan. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif . 3..

yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga anak harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan). alat transportasi. 3) Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak tidak mengalami kendala/hambatan. gambar buah-buahan. matching bentuk. 2) Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. matching binatang. Hanya gambar binatang dan gambar sayuran saja yang masih membingungkan anak hal ini dikarenakan adanya kesamaan dalam gambar dan anak masih belum bisa membedakannya seperti ayam jantan dan ayam betina. matching huruf besar. Begitu juga dengan gambar tomat mungkin karena bentuk dan warnanya hampir sama dengan gambar lain misal: jeruk sehingga anak masih bingung membedakan dan ragu untuk menjawab. matching buahbuahan dan matching sayuran anak tidak mengalami kendala/hambatan karena pelajaran ini termasuk yang paling mudah hanya saja anak dituntut untuk lebih teliti dalam memasangkan gambar. .316 Berdasarkan lembar penilaian dari evaluasi proses maka dapat disimpulkan bahwa hasil evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada 6 anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah sebagai berikut: 1) Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang.

Pengajaran menulis diberikan bersamasama dengan pengajaran membaca. oval. Dalam pelajaran ini hambatan/kendala yang dialami anak hanya dalam penulisannya. Ia sukar .317 4) Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. Hal ini diperkuat dengan teori Fontenelle (1991:20) bahwa beberapa anak yang tergolong hiperaktif memperlihatkan kekurangan-kekurangan motoris-perseptual (kekurangan motoris-visual dan koordinasi motoris halus atau koordinasi tangan-mata). Tetapi dengan prompt (arahan/bantuan) lama-lama anak menjadi tahu dan memahami. huruf “e” sebagai “e”. dan seterusnya. Hal ini diperkuat oleh Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:3) bahwa dengan metode eja. huruf “s” sebagai “es”. maka si anak belajar merangkai suku kata dan dirangkai lagi menjadi kata. kotak. yaitu suka terbalik-balik dan tidak rapi. Kesulitan dalam bidang ini biasanya mempengaruhi kecakapan menulis. maka semua aktivitas tangan dan pensil itu sulit. segitiga. bukan dengan bunyinya. lingkaran dan trapesium) anak sering dibingungkan antara lingkaran dan oval karena bentuknya yang hampir sama. Tulisan tangannya biasanya jelek. Bagi anak ini. wajik. 5) Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak menguasai materi dengan baik. Misal huruf “b” disebut atau dilafalkan sebagai “be”. Setelah mengenal huruf-huruf dengan namanya. menulis itu pekerjaan yang sukar. huruf diperkenalkan kepada anak dengan namanya dalam abjad.

lari dlsb anak tidak mengalami kendala/hambatan. kotak menjadi otak dlsb. padahal perilaku ini wajar bagi semua anak. Dan untuk anak yang mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) tidak jarang dia mengucapkan kata dengan menghilangkan satu huruf entah itu didepan. putih menjadi uti. akan tetapi dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan dua kata atau lebih anak masih mengalami kesulitan seperti main bola. Mungkin tulisannya mula-mula rapi. anak kadang-kadang sudah mulai/sesekali bisa atau anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan yaitu angka 5 dan 8. ditengah. anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak. . meniup harmonika dlsb.318 menyalin dari papan tulis sebab mengabaikan huruf-huruf dan kata-kata biasanya pekerjaannya tampak teledor dan acak-acakan. tetapi makin lama makin jelek. 7) Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan satu kata seperti memasak. ia “lambat” dalam menulis. atau dibelakang karena kesulitan dalam berbicara seperti kata biru menjadi bi u. akan tetapi ada angka dimana anak mengalami kesulitan menghafal. Dan kerap kali ia membalikkan huruf dan angka. Karena ia harus berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan kertas dan pensil. membaca. sering tidak menyelesaikan pekerjaan tulis. 6) Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10.

identifikasi huruf. Simpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab di muka. penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Dimana dalam membelajarkannya dengan menunjukkan gambar satu persatu di depan anak dengan disertai prompt (bantuan/arahan) dan reinforce (hadiah/pujian) untuk respons yang benar. Dalam pembelajaran anak hiperaktif dilaksanakan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dan dengan metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. 2.319 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. identifikasi warna. sehingga anak dapat menangkap pesan. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. identifikasi angka. Kurikulum yang digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup Identifikasi benda. identifikasi bentuk. . Salah satunya adalah dengan penggunaan media visual (gambar). dan identifikasi kata kerja. kemudian prompt dan reinforce itu dikurangi sedikit demi sedikit sampai tidak menggunakan sama sekali dan anak benar-benar menguasai materi pelajaran. mencocokkan (matching).

Saran Berdasarkan hasil penelitian tentang Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Dari hasil pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada anak hiperaktif. Kepada Terapi disarankan untuk lebih terbuka kepada masyarakat 4. Disamping itu dapat meningkatkan kemampuan bahasa. Kepada Guru Pembimbing/Terapis disarankan untuk lebih memperdalam konsep pembelajaran anak berkebutuhan khusus baik itu dalam perencanaan. B. maka disarankan sebagai berikut: 1. 2. pelaksanaan dan evaluasi. Hal ini terbukti dengan 75 % anak hiperaktif berhasil menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru pembimbing/terapis melalui media visual (gambar) ini. Kepada Kepala Terapi disarankan untuk mengembangkan materi pelajaran dan metode pembelajarannya. 3. afektif dan psikomotorik pada anak. tidak hanya menggunakan media visual (gambar) saja tetapi juga dengan menggunakan media lain.320 3. dapat disimpulkan bahwa media visual (gambar) memudahkan anak dalam memahami konsep dan membantu dalam generalisasi. Kepada peneliti lain disarankan untuk mengadakan penelitian tentang Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dengan objek penelitian yang berbeda dan dengan topik yang berbeda. . kognitif.

Kelompok Belajar sebagai Teknik Bimbingan dan Penyuluhan Metode pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta. 2000. 1994. Dahar. Jakarta: Rineka Cipta. Media Visual untuk Pengajaran Teknik. Yogyakarta: Penerbit FIP-IKIP. Konseling dan Psikoterapi. Aswan 2000. Arsyad. Gunarsa. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Pedoman Pelayanan Pendidikan Bagi Anak Austik. Tingkah Laku Abnormal. Jakarta: Raja Grafindo. Media Pembelajaran. Depdiknas. Suharsimi. 1996. Fontenelle. Jakarta: Gunung Mulia. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Arikunto. Belajar Secara Efektif. Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktek. Thursan. 1996. Djamarah. Daryanto. 1992. 1993. 1991. Clerq. Jakarta: Erlangga. Hakim. Singgih D. Syaiful Bahri dan Zain. Tarsito Bandung. 1997. Strategi Belajar Mengajar. 1985. Jakarta: Grasindo. 2002. Don H. Ahmad. 1986.321 DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Jakarta: Rineka Cipta. Teori-teori Belajar. . Suharsimi. Suharsimi. Azhar. Badawi. Jakarta: Puspa Swara. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Linda De. Jakarta: Bina Aksara Arikunto. Jakarta: Gunung Mulia. Memahami dan Mengatasi Anak Overaktif. Wilis.

Lemah Belajar dan ADHD. Bandung: Remaja Rosdakarya.322 Lask. Alex. Bandung: Angkasa . Jakarta: Rineka Cipta. Moleong. 2000. Ngatidriatun. 2003. Setiawani. 1997. 1981. 1984. Sadiman. Semarang: STIMIK Dian Nuswantoro. Anak Masa Depan. Osman. 1989. 2000. Jakarta: Gramedia. Intervensi Dini bagi Anak Bermasalah. Ahmad. Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An. Menerobos Dunia Anak. Soemiarti. Jakarta: Bhratara Karya Aksara. Jakarta: Rohani. Metodelogi Penelitian. Nur’aeni. Media Pendidikan. Jakarta: Grasindo Pakasi. Bandung: Yayasan Kalam Hidup. Bagaimana Binarupa Aksara. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Lexy. Pearce. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1997. 1986. Bryn. Dian Retno. Media Instruksional Edukatif. Soepartinah. Mengatasi Perilaku yang Buruk. Betty B. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta. 2002. 2001. Arief. Mary Go. 1996. Patmonodewo. 1990. Jakarta: Raja Grafindo Persada Sardiman. Sobur. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: Rineka Cipta. John. Memahami dan Mengatasi Masalah Anak Anda.

2000. Mengatasi Problem Psikologi Balita. Semarang. .com Tan dan Chan.323 Soemardji & Sutaryadi. 1992. Eric. 1994. Semiloka Mengenal dan Membimbing Anak Hiperaktif. Bandung: Sinar Baru. Kegiatan Untuk Anak Dini Usia. Evaluasi Hasil Belajar dan Pengajaran Remedial.google. 2004. Mainan dan Permainan. Jakarta: Gramedia Tim Redaksi Puspa Swara. Agar Anak Tangkas Mengatasi Hidup. Wes & Sheryl Haystead. http//www. 2001. Anak yang Hiperaktif. 1995. Jakarta: Prestasi Pustaka. Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC Pada Penyandang Autisme Gangguan Perkembangan Pada Anak. Jakarta: Puspa Swara. 2003.com. Bandung: Sinar Baru Algensindo Sugianto T. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. 1998. Sunday School Smart Pages.google. Kids Healt. Nana dan Rivai.com. 2000. Unika. UNS Surakarta. 1997. Unika. Jakarta: Primamedia Pustaka. Sudjana. http//www. Kiat Membantu Anak Hiperaktif. Jakarta: DepDikBud Sumber : Keluarga. Taylor. 1988. Bermain. Jakarta: Graha Sucof. 1999. Weaver. Media Pengajaran. Ahmad. Helping Children with Special Needs : The Hiperactive Child. http//www. Sudjana. Mayke. Gospel Light. Edward T. Hal 65. Ventura. Yayasan Autisma Indonesia. Org.google. Mary.

ada bermacam-macam tipe anak berkebutuhan khusus. Tolong beri penjelasan tentang jadwal terapi disini? Apakah tugas anda sebagai Kepala Terapi Anak? Ada berapa jumlah guru yang membantu anda mengajar disini? Bagaimana cara mencari guru untuk mengajar anak berkebutuhan khusus. Sebelumnya saya mau tanya. Selain penanganan khusus anak hiperaktif (terapi) apakah disini juga memberikan pelayanan lain seperti terapi (konsultasi) orang tua dalam menangani anaknya dirumah. Berapa rata-rata umur mereka dan kebanyakan anak nomor berapa yang diterapi disini? 11. Melihat cerita anda tadi. 1. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri? 2. Adakah kriteria khusus (syarat-syarat) dalam membimbing anak hiperaktif? 15. . seperti yang kita ketahui bahwa tidak mudah seseorang itu membimbing anak yang mempunyai kebutuhan khusus apalagi anak itu tergolong hiperaktif. 3. Wawancara dengan Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus. tipe apa saja yang diterapi disini dan bagaimana anda mengetahui kalau anak itu tergolong tipe itu? 12. Ada berapa jumlah siswa yang diterapi disini? 10. Pendekatan dan metode apakah yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif? 14. 6.324 PEDOMAN WAWANCARA PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS A. Apa yang mendorong/menggerakkan hati anda sehingga ingin mendirikan Terapi Anak? Apakah ada pihak-pihak terkait yang diajak bekerja sama dalam menyelenggarakan program terapi anak ini? 4. apakah sama penanganan dan sistem pembelajaran anak hiperaktif dengan anak berkebutuhan khusus lainnya? 13. Ada berapa ruang kelas yang digunakan untuk mengajar? Apakah ruangan ini juga didesain khusus untuk membelajarkan anak hiperaktif agar anak lebih konsentrasi dalam belajar? 5. apakah dalam hal ini diperlukan kiat-kiat khusus seperti diadakan pelatihan dalam membimbing anak sebelum mengajar di kelas? 9. sedangkan di tempat terapi anak ini ada bermacam-macam anak berkebutuhan khusus. 7. karena penelitian saya adalah pembelajaran khusus untuk anak hiperaktif. 8.

Tisma Kudus Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? 2. Apakah selama ini ada hambatan/kendala dalam mengelola tempat terapi anak ini baik itu dari administrasinya. para guru/terapis dan siswanya? 24. gedung/perlengkapannya. Bagaimana cara mengevaluasi pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? 20. Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian). apalagi mereka juga memerlukan perhatian yang ekstra? 21. SMA) sesuai dengan umur anak dan tingkat kemampuan anak. lalu bagaimana hasilnya? 22. Jika anak itu sudah dikatakan cukup sembuh (tingkat aktifitasnya berkurang) apakah pihak sekolah menyarankan agar anak itu juga disekolahkan disekolah reguler/formal (TK. menurut anda? 23. Bagaimanakah cara merancang pembelajaran anak hiperaktif ? 17. Apakah pesan anda pada para orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/ anak berkebutuhan khusus lainnya? B.325 pengaturan makanan dan pemberian obat pada anak hiperaktif yang tentunya dengan persetujuan dokter? 16. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? . Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak hiperaktif)? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran? 3. SD. Apakah prinsip-prinsip yang digunakan dalam pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? 18. Disamping sebagai kepala terapi anda juga ikut mengajar/sebagai terapis. Wawancara dengan guru pembimbing/pengajar (terapis) Terapi Anak Al 1. dan dari data yang saya terima anda mengajar Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan Autis dan Hiperaktif. selain di tempat terapi anak itu sendiri? Lalu bagaimana cara mensiasatinya agar anak itu juga bisa menerima pelajaran di sekolah umum. Bagaimana cara anda menanganinya dan mengajarkannya terutama dengan menggunakan media visual (gambar). Apa yang menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan dan pengajaran bagi anak hiperaktif. SMP. Sarana pembelajaran apa saja yang disediakan disini khusus digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif? 19.

faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? 10. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? 12. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? 11. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya.326 4. 8. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? 7. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? 6. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? 14. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? . karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? 16. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? 13. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? 5. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? 15. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? 9. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif.

Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? 20. Apakah disamping anak anda diterapi disini. meja kursi . mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? 7. Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? 9. alat/media pembelajaran dan mainan? 13. Umur berapa anak anda diterapi disini? 11. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? 14.327 17. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? 18. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? C. 2. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? . Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? 8. dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi anak? 12. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak? 10. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? 19. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? 3. Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? 6. Wawancara dengan orang tua siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus 1. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? 4. 5.

tentunya ini dengan bantuan para pengajar. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? HASIL WAWANCARA PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS Wawancara Dengan Kepala Terapi Anak Ibu Nur Halimah III. lalu saya coba untuk mendirikan terapi untuk anak berkebutuhan khusus. mereka mengeluh pada saya tentang anak mereka dan saya disuruh membantu menyembuhkan mereka. Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? 19. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? 17. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri? J. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? 20. Pertama sih saya tidak kepikiran untuk mendirikan terapi ini. . Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? 16. karena tidak hanya anak hiperaktif saja yang diterapi disini tetapi juga anak autisme dan anak-anak yang berkebutuhan khusus lainnya (mempunyai kelainan dalam dirinya) tentunya itu semua dengan dukungan dari suami dan keluarga saya. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif. Dan alhamdulillah siswanya juga cukup banyak dan tidak sedikit pula siswa yang berhasil saya tangani. T. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? 18. setelah dipikir-pikir kenapa saya tidak menolong mereka kalau saya saja berhasil menyembuhkan anak saya. Apa yang mendorong/menggerakkan hati anda sehingga ingin mendirikan Terapi Anak ? J. Terapi Anak ini berdiri sejak Maret tahun 2001 T.328 15. justru ide ini muncul dari temanteman saya yang juga mempunyai anak berkebutuhan khusus seperti anak saya yang alhamdulillah sekarang dia sudah sembuh.

dan tenaga ahli yang lain seperti: ahli gizi.329 T. dan kebetulan mereka perempuan semua. otomatis semua tugas menjadi tanggung jawab saya.00 – 12. T. Tolong beri penjelasan tentang jadwal terapi disini? J. Psikiater anak. pihak-pihak terkait yang juga sangat menunjang dalam penyelenggaraan terapi anak ini. dlsb. disitu kita mengemukakan masalah yang kita hadapi selama ditempat terapi untuk menemukan solusinya. dan kesembuhan anakanaknya (siswa-siswi) walaupun dalam hal ini juga menjadi tanggung jawab guru pembimbing/terapis. Di desain sih nggak. Guru yang mengajar disini ada 6.00 WIB Session IV dilaksanakan pada pukul 15. T.00 – 15. dokter spesialis metabolitas.00 WIB Session III dilaksanakan pada pukul 13. seperti yang kita ketahui bahwa tidak mudah seseorang itu membimbing anak yang mempunyai kebutuhan . dengan begitu pengetahuan kita akan bertambah tentang anak-anak yang berkebutuhan khusus dan cara menanganinya.00 WIB Session II dilaksanakan pada pukul 10. maupun koordinator serta peningkatan sumber daya manusia bagi guru/terapis. diantaranya: Psikolog anak.00 – 10. Ada berapa ruang kelas yang digunakan untuk mengajar? Apakah ruangan ini juga didesain khusus untuk membelajarkan anak hiperaktif agar anak lebih konsentrasi dalam belajar? J.00 – 17. Terapi disini dilaksanakan setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat dan dalam satu hari dibagi dalam 4 session yaitu: Session I dilaksanakan pada pukul 08. Karena dalam membelajarkan anak hiperaktif itu harus di ruangan yang kosong tanpa ada hiasan dinding yang bisa mengganggu konsentrasi mereka pada pelajaran. dokter spesialis syaraf. Dimana setiap satu-dua bulan sekali Badan Psikiater dan Psikologi Anak selalu mengadakan seminar tentang anak-anak berkebutuhan khusus. dokter disini meliputi dokter spesialis yang menangani gangguan perkembangan anak. Ada 5 kelas. Ada berapa jumlah guru yang membantu anda mengajar disini? J. Apakah ada pihak-pihak terkait yang diajak bekerja sama dalam menyelenggarakan terapi anak ini? J. Apakah tugas anda sebagai Kepala Terapi Anak? J. baik itu sebagai administrator. T.00 WIB Jadi setiap membelajarkan anak itu dilaksanakan selama ± 2 jam. fasilitator. Karena saya yang mendirikan terapi anak ini sekaligus sebagai kepala dan terapis disini. Bagaimana cara mencari guru untuk mengajar anak berkebutuhan khusus. Departemen Pendidikan Nasional. T.asal bisa digunakan untuk membelajarkan mereka dan lebih mengkonsentrasikan mereka pada pelajaran. T. Ada. Dokter. disamping itu saya juga harus bertanggung jawab terhadap perkembangan terapi ini.

330

khusus apalagi anak itu tergolong hiperaktif, apakah dalam hal ini diperlukan kiat-kiat khusus seperti diadakan pelatihan dalam membimbing anak sebelum mengajar di kelas? J. Mengingat terapi anak ini berada di kota kecil dengan biaya yang tidak banyak, saya tidak mengharuskan seseorang yang membantu saya untuk mengajar disini orang yang mempunyai gelar sarjana, tetapi saya ingin membantu mereka yang benar-benar membutuhkan pekerjaan, cukup dengan diberi pengarahan sedikit dan buku panduan tentang membelajarkan anak yang berkebutuhan khusus mereka akan cepat tanggap dan mengerti apa yang harus mereka kerjakan, maka dari itu kebanyakan mereka adalah lulusan SMA. Sedangkan untuk pelatihan, pertama saya suruh mereka untuk membantu terapis lainnya mengajar, sambil melihat dan memahami cara mengajar anak yang benar, karena cara mengajar ini tidak seperti cara mengajar di Taman Kanak-kanak yang siswanya adalah anak-anak normal akan tetapi yang dihadapi nanti adalah anak yang sulit diatur dan mempunyai berbagai macam masalah. Setelah mereka memahami cara mengajar yang benar baru saya beri wewenang untuk mengajar sendiri dan berhasil tidaknya dalam pengajaran itu tergantung dari dirinya sebagai terapis/guru pembimbing. T. Ada berapa jumlah siswa yang diterapi disini? J. Sejak saya mendirikan terapi ini sampai sekarang jumlah siswa yang diterapi disini kurang lebih ada 24 anak, sedangkan yang masih diterapi sampai saat ini kurang lebih ada 15 anak, dan siswa lainnya yang dirasa sudah sembuh cukup diterapi di rumah dengan masih tetap berkonsultasi dengan pihak terapi. T. Berapa rata-rata umur mereka dan kebanyakan anak nomor berapa yang diterapi disini? J. Umur mereka rata-rata 5 sampai 10 tahun. Dan kebanyakan dari mereka adalah anak pertama (sulung), dan ada juga lho anak yang sepupunya juga diterapi disini tetapi masalahnya berbeda yang satunya IQ rendah sedangkan sepupunya mengidap autis dan hiperaktif. Selain itu disini ada juga anak kembar tetapi kembarannya itu normal, dan ada juga yang kakak adik diterapi disini dan kedua-duanya itu mempunyai masalah autisme. T. Melihat cerita anda tadi, ada bermacam-macam tipe anak berkebutuhan khusus, tipe apa saja yang diterapi disini dan bagaimana anda mengetahui kalau anak itu tergolong tipe itu? J. Tipe anak yang diterapi disini banyak, ada yang hiperaktif, autis, ADD, speech delayed (terlambat bicara), disphasia (anak yang mengalami gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam), IQ rendah, microcepalus (anak yang lahir dengan ukuran lingkar kepala kurang dari standart kelahiran), down sindrome, gangguan konsentrasi, retardasi mental (idiot), dan kurang stimulasi. Dan untuk mengetahui tergolong tipe apa anak itu, biasanya kami melihat dari tingkah lakunya selang beberapa hari setelah anak diterapi disini, atau kalau nggak biasanya dari psikiater atau psikolog kami sudah diberitahu kalau anak itu tergolong tipe ini.

331

T. Sebelumnya saya mau tanya, karena penelitian saya adalah pembelajaran khusus untuk anak hiperaktif, sedangkan di tempat terapi anak ini ada bermacam-macam anak berkebutuhan khusus, apakah sama penanganan dan sistem pembelajaran anak hiperaktif dengan anak berkebutuhan khusus lainnya? J. Penanganan dan sistem pembelajarannya itu sama, akan tetapi karena pertama kali anak dibawa di tempat terapi ini dengan permasalahan yang berbeda-beda, mungkin cara penanganan pertama itu saja yang berbeda, Misalnya anak hiperaktif berat dengan hiperaktif ringan, anak hiperaktif berat lebih sulit penanganannya dibandingkan dengan anak hiperaktif ringan dan biasanya kami menangani anak yang hiperaktif berat dengan bantuan alat “been back” yang tujuannya agar hiperaktifnya itu berkurang, sedangkan anak yang tergolong hiperaktif ringan cukup dengan diarahkan saja tanpa menggunakan alat “been back”. Pernah ada anak yang bernama Anis dia tergolong speech delayed (terlambat bicara), selama enam tahun tidak mau berbicara dan bagaimana cara kita membuat anak itu mau bicara dan

melenturkan lidah yang kaku itu, dan alhamdulillah setelah melalui terapi dia mau berbicara walaupun bicaranya cedal akibat lama tidak bicara. T. Pendekatan dan metode apakah yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif? J. Disini kami dalam membelajarkan anak hiperaktif mengggunakan pendekatan individual (lovaas one on one - pembelajaran satu guru satu murid). Sedangkan metode yang kami gunakan adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”, sehingga anak dapat menangkap pesan, informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar-gambar), karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. T. Adakah kriteria khusus (syarat-syarat) dalam membimbing anak hiperaktif? J. Dalam upaya membelajarkan anak hiperaktif tidak mudah. Guru pembimbing sebagai model untuk anak hiperaktif harus memiliki kepekaan, ketelatenan, kreatif dan konsisten di dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh karena anak hiperaktif pada umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain. Maka guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak hiperaktif. Ada beberapa pra syarat yang harus dilakukan dan dipersiapkan oleh seorang guru pembimbing anak hiperaktif sebelum mengerjakan/melaksanakan kegiatan belajar mengajar yakni: 6. Menciptakan situasi yang kondusif untuk pembelajaran yang meliputi: c) Emosi yang stabil dari anak hiperaktif.

d) Ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan. 7. 8. Mengupayakan adanya kontak mata yang sejajar antara guru-siswa Kemampuan untuk meningkatkan ketahanan konsentrasi anak.

332

9.

Mengupayakan kepatuhan dari anak hiperaktif dan pemahaman bahasa reseptif.

10. Pembimbing harus menyadari dan memahami tujuan apa yang akan dicapai dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran untuk anak hiperaktif. T. Selain penanganan khusus anak hiperaktif (terapi) apakah disini juga memberikan pelayanan lain seperti terapi (konsultasi) orang tua dalam menangani anaknya dirumah, pengaturan makanan dan pemberian obat pada anak hiperaktif yang tentunya dengan persetujuan dokter? J. Disini kami memberikan pelayanan konsultasi bagi orang tua, karena ini sangat penting untuk mengetahui perkembangan anaknya dirumah. Melalui bimbingan para guru/terapis serta kerjasama yang baik dengan orang tua dan orang-orang disekitarnya, dapat dikembangkan potensi anak. Akan tetapi pelayanan pengaturan makanan dan pemberian obat adalah wewenang dokter, dan kami ditempat terapi hanya menjalankannya saja apa yang dianjurkan oleh dokter dan menjalankan proses penyembuhannya (terapinya) untuk mempersiapkan anak sekolah di sekolah reguler. T. Bagaimanakah cara merancang pembelajaran anak hiperaktif ? J. Dalam membelajarkan anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya kami menggunakan kurikulum yang sudah banyak digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia yang tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemampuan anak, dan tidak mampuannya, usia anak, serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. Mungkin mbak Eri nanti bisa lihat sendiri di buku panduan yang sudah saya berikan. T. Apakah prinsip-prinsip yang digunakan dalam pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? J. Pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: f) Terstruktur Yaitu pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Setelah dikuasai, kemudian ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya. Contohnya untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna dari instruksi “Ambil bola merah”. Maka materi pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata “ambil”, “bola” dan “merah”. Setelah anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi “Ambil bola merah” kedalam perbuatan kongkrit. g) Terpola Terpola disini maksudnya dalam kegiatan anak hiperaktif harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur, baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya)

333

Namun, bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang; dapat dilatih dengan kondisi dilingkungannya, supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). h) Terprogram Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evalusi. Sebab dalam program materi pendidikan harus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan pada kemampuan anak. i) Konsisten Artinya: apabila anak berperilaku positif memberi respon positif terhadap sesuatu stimulan (rangsangan), maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan), demikian pula apabila anak berperilaku negatif (reinforcement). Hal tersebut juga dilakukan dalam ruang dan waktu lain yang berbeda secara tetap dan tepat, dalam arti respon yang diberikan harus sesuai dengan perilaku sebelumnya. j) Kontinyu Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran, program pendidikan dan pelaksanaannya. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan di rumah dan lingkungan sekitar anak. Kesimpulannya, terapi perilaku dan pendidikan bagi anak hiperaktif harus dilaksanakan secara berkesinambungan, simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu). T. Sarana pembelajaran apa saja yang sangat diperlukan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. Sarana belajar itu sangat diperlukan dalam pembelajaran anak hiperaktif, karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. Karena pola pikir anak hiperaktif pada umumnya adalah pola pikir konkrit, sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus konkrit. Dan kebetulan anak yang diterapi disini adalah kebanyakan anak usia prasekolah maka sarana belajarnyapun dsesuaikan dengan usia pendidikan anak yaitu berupa: alat peraga: pengenalan warna, bentuk, huruf dan angka, benda-benda sekitar, buah, binatang, kendaraan, alat bantu komunikasi: berupa gambar-gambar yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak, alat bantu pengembangan motorik halus: cara memegang pensil, menggunting, mewarna, dsb, alat bantu pengembangan motorik kasar: bola, tali, dlsb, dan ditambah berbagai macam mainan edukatif T. Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian). Bagaimana cara mengevaluasi pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? J. Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif disini adalah: evaluasi proses yang dilakukan dengan cara seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga, dengan memberi

karena dia mempunyai gangguan autis yang hanya tertarik pada dunianya sendiri dan hiperaktif. anak dipersiapkan dan diperkenalkan pada pengajaran dengan kurikulum sekolah biasa. dan dikelas anak harus berbagi dengan teman-temannya dengan bahasa guru yang berbeda dengan terapisnya dan bersifat klasikal. T. Setelah anak diterapi secara terpadu dan terstruktur. SMA) sesuai dengan umur anak dan tingkat kemampuan anak. Disamping sebagai kepala terapi anda juga ikut mengajar/sebagai terapis. Benar. Ia perlu belajar mengenal dan mengikuti peraturan disekolahnya. apalagi mereka juga memerlukan perhatian yang ekstra? J. instruksi yang jelas. sehingga dapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnya. selain di tempat terapi anak itu sendiri? Lalu bagaimana cara mensiasatinya agar anak itu juga bisa menerima pelajaran di sekolah umum. Untuk itu dalam sekolah anak harus didampingi guru pembimbing/terapis sampai benar-benar ia bisa mandiri dan mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. lalu bagaimana hasilnya? J. Pertama kali Troy (begitu nama panggilan Ferdinan Troy) dibawa kesini saya melihat bahwa kasus anak ini sama dengan kasus yang dialami anak saya dulu. SMP. SD. saya mencoba untuk menenangkan anak ini agar tidak terlalu banyak gerak (hiperaktif) dengan saya tempatkan diruangan khusus dan saya dudukkan di meja kursi khusus tujuannya agar anak ini tetap kontak mata dengan saya dan tidak asyik dengan dunianya sendiri dan agar dia tahu bahwa . tetapi di sekolah umum anak masih memerlukan waktu penyesuaian untuk dapat mengikuti tatacara pengajaran yang berbeda dengan pada saat terapi. Dimana evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian yang setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. dsb) dengan tujuan untuk membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler dan belajar secara intensif pelajaran yang tertinggal di kelas reguler. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. T. Walaupun anak sudah patuh dan dapat berkonsentrasi pada saat terapi. Disamping itu kami juga mengadakan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. dengan alat visual/gambar/kartu. Jika anak itu sudah dikatakan cukup sembuh (tingkat aktifitasnya berkurang) apakah pihak sekolah menyarankan agar anak itu juga disekolahkan disekolah reguler/formal (TK. padat dan konsisten. dan dari data yang saya terima anda mengajar Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan Autis dan Hiperaktif. berinteraksi/bersosialisasi dengan teman sebayanya dan harus mengerti instruksi guru dengan cepat. Anak biasa ditangani dengan guru khusus sendirian. Bagaimana cara anda menanganinya dan mengajarkannya terutama dengan menggunakan media visual (gambar). tetapi melalui tata cara pengajaran untuk anak bermasalah (kelas kecil dengan jumlah guru besar atau satu guru satu murid.334 reward (hadiah/pujian)untuk respons yang benar.

diantaranya: berat-ringannya kelainan/gejala.tetapi ya itu kita sebagai terapis harus cepat dan cekatan dalam memberikan materi karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. T. Untuk itulah kita harus siap dengan media visual (gambar) disamping kita dan mainan edukatif. Dan hasilnya bisa mbak Eri lihat sendiri di lembar penilaian. Apakah pesan anda pada para orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/anak berkebutuhan khusus lainnya? J. Apakah selama ini ada hambatan/kendala dalam mengelola terapi anak ini baik itu dari administrasinya. dan ternyata anak ini cukup cerdas dan cepat tanggap pada materi yang saya berikan sehingga tidak ada kendala dalam membelajarkannya. Menurut saya yang menjadi penentu keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif. T. sarana pendidikan. metode. kesehatan dan kestabilan emosi anak. usia pada saat diagnosis. sekolah dan masyarakat). yang terakhir adalah terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru. T. Saya kira masih banyak sekali hambatan-hambatan dalam mengelola sekolah ini. tetapi jangan lupa orang tua juga harus ikut andil dalam penyembuhan anaknya dirumah. karena guru hanya membantu di tempat terapi dan tanpa kerjasama antara orang tua siswa dan guru tidak mungkin sukses dalam penyembuhan itu. Wawancara Dengan Guru Pembimbing/Pengajar (Terapis) . gedung/perlengkapannya. tingkat kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak. setiap dia menoleh dan mulai bergerak saya usahakan agar menatap saya . dll padahal masih banyak orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya untuk diterapi disini dan terpaksa saya tolak. lingkungan (keluarga. dan saya berusaha tenang dan tidak tertawa setiap anak ini mengoceh. Setelah anak ini bisa diam agak lama baru saya mulai pelajaran dengan saya tunjukkan gambargambar. kecerdasan/IQ. antara lain: terbatasnya ruang dalam belajar. menurut anda? J. Pesan saya kepada para orang tua yang mempunyai anak bermasalah segeralah bawa ke dokter spesialis anak dari situ mungkin dokter akan menyarankan ke psikiater/psikolog anak dan cari informasi tentang terapi khusus untuk menangani anak yang berkebutuhan khusus.335 dihadapannya itu ada orang yang sedang memperhatikannya. karena ocehannya ini suka ngelantur kemana-mana tanpa jelas. Alhamdulillah sekarang dia bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya walaupun saya masih mendapinginya di sekolah. kurangnya sarana dan prasarana dalam belajar. kurangnya tenaga pengajar. kurikulum. Apa yang menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan dan pengajaran bagi anak hiperaktif. para guru/terapis dan siswanya? J. tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa.

Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. T. bagaimana caranya agar anak itu mau berbicara dan mau menirukan apa yang saya ucapan. Bicara dengan anak hiperaktif tidak boleh dengan bertele-tele harus singkat. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. applaus. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak hiperaktif)? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran ? J. Kami mempersiapkan program yang diberikan secara sistematis. Disampaikan secara tegas. Yang tergolong hiperaktif itu ada dua anak yaitu Alvin dan Galih. Kira-kira jumlahnya ada 7 anak yaitu Autis klasik. tegas dan bermakna. hiperaktif dan gangguan konsentrasi. T. T. T. sedangkan Galih speech delayed (terlambat bicara) dan mengerti/maksud dari perintah saya tentunya ini harus dengan prompt. tepuk tangan dan acungan jempol.336 Ibu Purwati T. Sedangkan untuk Galih karena dia mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif saya menekankan pada bicara. apabila ada bahasa yang tidak dimengerti oleh anak kita buatkan bentuk visualnya yaitu gambar-gambar yang kita ibaratkan apa yang kita ucapkan. T. Karena Alvin mempunyai gangguan autis dan hiperaktif saya menekankan agar selalu kontak mata dengan Alvin agar ia tidak mempunyai kesempatan untuk asyik dengan dunianya sendiri (misalnya melamun atau sibuk dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak menganggap ada orang dihadapannya). Kalau Alvin mempunyai gangguan hiperaktif. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. alat peraga dan cara/konsep membelajarkan anak hiperaktif. sehingga ia autis dan hiperaktif. Ada. lugas dan setiap kali respon yang diberikan oleh anak harus kita kasih reinforcer bisa berupa imbalan/hadiah. autis. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? J. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? .

Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. binatang. tetapi harus satu terlebih dahulu. sulit memperhatikan. gambar-gambar dikomputer yang dicetak. kemudian ditambah lagi sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak itu tadi. T. papan tulis dan bisa dibuat dengan tangan. Ya. apakah itu bahasa Indonesia ataupun matematika. mainan juga digunakan untuk membelajarkan anak hiperaktif. Cara membelajarkannya dikelas: gambar-gambar yang sudah kita dapatkan kita potong-potong dalam bentuk kecil-kecil kemudian kita sampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain. Media itu ada yanng sedikit dibeli dan banyak yang dibuat sendiri. Anak selalu dalam kondisi yang tidak tenang. faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? J. T. diluar rumah. Dan hampir semua mata pelajaran menggunakan media visual. lha pada saat mau mengeluarkan alat peraga dan gambar itu tadi tidak diperkenankan mengeluarkan banyak. Ya. terus dengan gambar-gambar yang berwarna. dan biasanya juga diimbangi dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. lalu kita tingkatkan tahap demi tahap jumlah-jumlah apa yang kita berikan. T. mengenal berbagai gambar yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu gambar sayur-sayuran. nah apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif kita visualkan lewat gambar-gambar itu tadi. buah-buahan. Gambar-gambar itu mencakup bidang: gambar-gambar yang ada dilingkungan itu yaitu didalam rumah.337 J. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. T. karena mainan itu bukan mainan biasa tetapi mainan edukatif yang tujuannya memang digunakan untuk belajar. anak akan jadi lebih tertarik untuk melihat dan memperhatikan apa yang kita sampaikan. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? J. Biasanya untuk pertama kalinya anak yang mengalami hiperaktifitas dalam penanganannya anak pertama kali. . alat transportasi dan berbagai hal yang belum mereka ketahui. Media visual itu sangat diperlukan karena disamping anak ini hiperaktif ia juga kehilangan konsentrasi. media itu berupa kertas. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J.

T. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? J. T. konsep perhatiannya sudah mulai membaik dan semuanya sudah mulai ada titik kesembuhan. T. tetapi diganti dengan pujian. justru obat tersebut sangat membantu mereka dalam berkonsentrasi T. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? J. semua anak hiperaktif selalu kesulitan dalam bergaul karena tingkat aktivitasnya yang sangat tinggi. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. Ya. Tidak. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. tidak . Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. semua anak disini disamping penanganan terapi. ciuman. itu tidak akan terjadi asal para terapis dan orang tua konsisten dengan apa yang kita berikan. Tidak. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal.338 T. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. tahap demi tahap. Ya. hingga ia melakukan gerakan-gerakan itu ditempat lingkungan sosialnya. karena kita memberikan hadiah (reinforcer) pada anak karena mereka melakukan respon baik dan itu akan kita berikan pada saat anak menjalani terapi pada awal penanganan. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? J. tepuk tangan. hadiah-hadiah itu bisa diganti dengan jalan-jalan/apa saja setelah proses penanganan terapi. Mungkin dengan menghubungi dokter untuk meningkatkan dosisnya. kita bekerja sama dengan dokter untuk menyembuhkan anak tersebut. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. tidak dihilangkan dan hadiah-hadiah itu dikurangi/diganti tidak berupa riil/benda. tengah pertengahan sesi pemberian hadiah mulai dikurangi. T. Tidak ada. mungkin bahkan jika anak itu kepatuhannya sudah mulai pulih. justru cara termudah untuk menyampaikan anak supaya mengerti adalah pakai gambar visual.

T. Ya saya rasa sudah cukup berhasil. T. Buktinya sekarang Alvin sudah bisa dikendalikan emosinya dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik walaupun dia masih bingung membedakan antara jantan dan betina tetapi dengan prompt akhirnya dia mengerti juga. Caranya kita mulai perkenalkan secara satu persatu dengan media visual (gambar-gambar) dan tentunya harus diikuti dengan aktifnya orang tua di rumah. Ya di tempat terapi ini sangat membutuhkan kerja sama orang tua wali. . Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. apa yang diharapkan tidak sesuai dengan harapan semua. karena disini modalnya adalah sistem orang tua aktif. jika tidak aktif apa yang dihasilkan. karena kondisi tingkat kehiperaktifitasannya itu yang belum bisa ditempatkan diluar ruang sempit. bukannya mereka disisihkan tetapi mereka memang tersisih. mereka selaku orang tua dan kami selaku terapis. Ada. hambatan kami dalam membelajarkan anak hiperaktif adalah jika anak itu memang dalam proses penanganan dan baru beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang baru kita berikan. Selaku guru pembimbing/terapis kita berikan program sosialisasi dengan tahapan-tahapan dengan tidak secara langsung dengan jumlah teman yang banyak diatas 5 orang tetapi dibawah 5 mungkin bahkan bisa dimulai dari jumlah 2 orang dalam ruang lingkup yang sempitbukan diarea luar rumah yang lebih luas. T. Pesan saya kepada orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya jangan lupa untuk selalu mengawasi mereka dimanapun anak itu berada. Dan Galih kosa kata bicaranya sudah mulai meningkat. selalu memberikan yang terbaik dan jangan lupa jika ada yang merasa putranya mengalami gangguan perkembangan cepat dibawa ke ahlinya. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif terutama Alvin dan Galih sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. mereka juga tidak bisa melakukan interaksi dia juga kadang asyik dengan dirinya sendiri. walaupun dalam mengartikan gambar dengan dua kata ia masih agak sulit. salah sendiri karena melakukan kegiatan yang tidak sama dengan anak lain. sehingga kalau dilihat dari amatan awam anak itu memang kelihatan berbeda.339 ada yang melakukan sama seperti anak itu tadi. T. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. dan dia masih suka mengoceh sendiri yang tidak jelas arah tujuannya. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J.

340

Ibu Endang Sulastri
T. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. Disini saya menangani 2 siswa yang mempunyai tipe hiperaktif dan autis. Namanya Khusnul Ma’Ali T. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak yang berbeda tipe)? Bagaimana cara menangani anak yang hiperaktif terutama saat pembelajaran? J. Ada. Dalam menangani anak hiperaktif kita berusaha untuk menenangkannya dengan cara menatap mata si anak dan memegangi kedua tangannya agar tidak bergerak kesana kemari sampai anak itu benar-benar bisa tenang. T. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. Pertama alat pembelajarannya dulu kita persiapkan kemudian konsentrasi anak, setelah anak mulai konsentrasi baru kita mulai pelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada, akan tetapi sebelum melanjutkan ke materi selanjutnya kita ulangi materi sebelumnya sekedar untuk mengingatkannya kembali.

IV. T.

Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas

(langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda?
J. Sebenarnya sih sama saja dalam menghadapi berbagai tipe anak berkebutuhan khusus, cuma bagaimana cara/usaha kita menenangkan anak agar bisa konsentrasi dalam pelajaran.

Pertama kita berusaha menenangkan mereka. Pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Setelah bisa duduk lebih lama, baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada, tetapi tidak semudah itu karena ditengah-tengah pelajaran anak sudah mulai banyak gerak sehingga konsentrasi buyar. Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming, seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Jadi intinya dalam mengajarkan anak hiperaktif yaitu bagaimana anak itu bisa konsensentrasi pada pelajaran.

341

T. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif, bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. Dengan menatap mata si anak dengan tanpa bicara berbelit-belit karena itu akan menyulitkan anak untuk memahami perkataan kita. T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? J. Ya, karena itu sangat penting untuk menarik perhatian mereka dalam belajar. Salah satunya yang paling penting disini adalah menggunakan media gambar. Kebanyakan gambar-gambar itu dibuat sendiri entah itu kita ambil dari majalah-majalah/buku atau kita ambil dari komputer yang kemudian dilaminating agar tidak cepat rusak/kotor. T. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. Tentu saja ya, terutama mainan edukatif seperti puzzle, balok kayu, dlsb, karena ini penting untuk mengasah kecerdasan mereka, kita jadi tahu sampai sejauh mana mereka kemampuan mereka untuk menyelesaiannya. T. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas?

J.

Pembelajaran mencakup

dengan

menggunakan (mengenal

media

visual

berhitung

angka),

membaca

(mengenal huruf), mengenal nama-nama benda disekitar kita dan aktifitas orang. Dan saya rasa semua mata pelajaran menggunakan sesuai media dengan visual itu. Cara kita

membelajarkannya

kurikulum

ajarkan/perkenalkan dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit, mungkin adik nanti bisa lihat cara membelajarkan anak hiperaktif dikelas dan kalau untuk lebih jelasnya lagi bisa melihat di buku Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC disitu lengkap sudah ada kurikulumnya dan cara pembelajarannya.
T. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif, faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu?

342

J.

Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah /membantu kita dalam

berkomunikasi/berinteraksi. Lalu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya itu memungkinkan penggunaan media visual itu akan lebih menarik minat mereka dalam belajar. T. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. Kesulitannya adalah apabila kita memperkenalkan pada gambar yang terlihat asing bagi mereka, dengan tingkahnya yang tidak bisa diam dan konsentrasinya yang mudah pudar, kita harus berusaha mengulangi sampai benar-benar anak itu tahu/memahami. T. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. Tidak ada

T. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar, salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya, karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu, lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. Benar, untuk itu sedikit demi sedikit kita harus menghilanginya/menggantinya karena reiforcer itu kan tidak harus berupa benda riil tetapi bisa berupa pujian, tepuk tangan dll. T. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka, yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. Tidak pasti, tergantung dari kondisi anak apakah anak itu mudah ditangani atau tidak.

T. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? J. Tidak ya, karena itu obat penenang (konsentrasi)

T. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif, karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? J. Sesuai dengan petunjuk dokter, mungkin orang tua diminta konsultasi dengan dokter.

T. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal, apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya?

343

J.

Ya, terutama kendalanya dalam berkomunikasi, tetapi itu tidak penting, bagi anak kecil asalkan bisa diajak bermain mereka akan enjoy aja. Dan kami disini sebagai terapis memberikan program sosialisasi dimulai dari ruang lingkup yang kecil.

T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. Tentu saja, hal itu sangat penting untuk mengetahui perkembangan si anak.

T. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. Pasti ada, salah satunya apabila anak itu sulit untuk berkonsentrasi. Perhatian anak dalam belajar kadang belum dapat bertahan untuk waktu yang lama dan masih berpindah pada obyek/kegiatan lain yang lebih menarik bagi anak. Hal inilah yang dapat mengakibatkan waktu pembelajaran terbuang dengan sia-sia, karena hanya cukup untuk menenangkan anak saja. Dan biasanya yang kami lakukan adalah: Waktu untuk belajar bagi anak ditingkatkan secara bertahap Kegiatan dibuat semenarik mungkin, dan bervariasi Istirahat sebentar kemudian dilanjutkan kembali, dimaksudkan untuk mengurangi kejenuhan pada anak. T. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif (Khusnul Ma’Ali) sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. Saya rasa bisa dibilang cukup berhasil. Terbukti dengan hiperaktifitasnya mulai berkurang, sudah bisa berkonsentrasi dan dapat diajak komunikasi. Dan dalam pelajaran tidak ada kendala, dia bisa mengikuti dengan baik, walaupun awalnya ia agak kesulitan membedakan bentuk lingkaran dan oval. T. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. Diharapkan apa yang dipelajari di tempat terapi diulang lagi dirumah.

Ibu Yuliana Wijayanti
T. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. Disini saya mengajar dua orang siswa dan semuanya hiperaktif, yaitu Anis dan Martika. Kalau Anis mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif sedangkan Martika mempunyai gangguan normal hiperaktif (hiperaktif ringan) dan kurang konsentrasi. T. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran?

T. karena memang anak itu seringkali mengabaikan tugas yang kita berikan dan tidak jarang dalam kita menyampaikan perintah harus diulang-ulang. Hampir semua dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu. kebanyakan media itu adalah media visual gambar yang dibuat sendiri. T. T. T. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? J. setelah anak diam beberapa lama baru kita mulai pembelajarannya. Yang pertama kita siapkan adalah media pembelajarannya dulu.344 J. baru kita mulai kegiatan belajar mengajar dan tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri T. tentunya mainan edukatif T. siswanya dalam berkonsentrasi. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? J. materi pembelajarannya. Ya. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. Ada. apabila ada yang tidak dimengerti oleh anak kita gunakan gambar untuk membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi. Bicara dengan anak hiperaktif harus tegas dan jelas. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. Yang dilakukan adalah menyuruh anak untuk duduk dan memusatkan perhatian mereka dengan menatap mata anak dan memegang kedua tangannya. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. tapi keduanya mudah diatur koq. . Ya. Hanya saja kalau Anis. Sedangkan untuk Martika kita lebih mengkonsentrasikan anak itu pada tugas yang kita berikan. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? J. Cara pembelajarannya dengan bertahap dimulai dari yang mudah/sederhana sampai ke yang rumit sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. dalam menyampaikan kita lebih mempertajam bahasa kita agar dia lebih memahami maksud dari ucapan/perintah kita.

Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. Tidak hanya memperkenalkan pada suatu media tapi untuk mulai pembelajarannya saja itu sulit. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. tetapi bisa diganti dengan pujian. apakah anak itu mudah untuk diatasi ataukah sulit untuk diatasi/ditenangkan untuk konsentrasi. Tidak. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. T. sehingga waktu dua jam itu hanya digunakan untuk menenangkan anak. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. Untuk membimbing anak dalam memahami sesuatu baik itu dalam memahami suatu benda atau ucapan. ciuman. justru obat tersebut sangat membantu mereka dalam berkonsentrasi T. karena hadiah itu tidak hanya berupa benda. Kesulitannya yaitu pada awal-awalnya anak mulai ditangani. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. justru cara yang paling mudah dalam menyampaikan materi pelajaran adalah menggunakan media visual (gambar) bahkan media ini sangat membantu kita dalam berkomunikasi pada anak. T. tepuk tangan. T. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. Tergantung dari kondisi anak. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? Tidak. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? Kita akan menghubungi dokter untuk diminta meningkatkan dosisnya. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. T. Tidak ada.345 T. T. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka . karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? J.

Ya. mengamuk. destruktif. baik itu masalah perilaku maupun emosi anak yang tidak stabil Cara mengatasinya: Memberikan reinforcement. tantrum dsb. memberontak. tertawa tanpa sebab yang jelas. Disini kami mencoba untuk mengajarkan sosialisasi pada anak dimulai dengan kelompok kecil anatara 2-3 orang disitu kita mengamati tingkah anak sambil mungkin diadakan suatu permainan. Terbukti kalau Anis sudah bisa bicara walaupun cedal dan dalam membaca hurufnya ada yang dihilangkan seperti biru menjadi bi u. Alhamdulillah cukup berhasil. banyak sekali masalah yang ditimbulkan si anak. kotak menjadi otak tetapi dia cukup pintar terbukti kalau nilai-nilainya itu baik. Sedangkan apabila emosi anak dalam keadaan tidak stabil. mungkin ia cenderung asik dengan dunianya sendiri/permainannya sendiri. Dan untuk . tidak menyakiti diri. sehingga orang tua dan kita sebagai terapis bisa mengetahui perkembangan si anak baik dirumah maupun ditempat terapi. Tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri Menyiapkan kegiatan yang menarik dan positif Menciptakan situasi yang kondusif bagi anak. terutama dalam mengendalikan anak untuk belajar. untuk itu lembar penilaian selalu dibawa pulang tujuannya agar orang tua mengulang apa yang diajarkan diterapi. misalnya: menangis. kegiatan dapat dilanjutkan. Ada. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. T.346 bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? J. putih menjadi uti. Ya itu pasti orang tua harus aktif dalam membelajarkan anaknya dirumah. berteriak. T. terutama kendalanya dalam berkomunikasi dan dalam ia bersikap. Maka cara mengatasinya: Berusaha mencari dan menemukan penyebabnya Berusaha menenangkan anak dengan cara tetap bersikap tenang Setelah kondisi emosinya mulai membaik. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J.

Ya. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? J. Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? J. T. dia mengoceh sendiri T. Punya. T. Dari gerakan-gerakannya. Pesan saya kepada orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya usahakan untuk membimbing anaknya di rumah dengan tegas dan disiplin. Sejak usia mendekati 2 tahun T. ada 3 T. Wawancara Dengan Orang Tua Siswa Ibu Nur T. kontak matanya. lalu kami mencari petunjuk seorang dokter untuk dibawa kemana anak saya yang mengalami gangguan perkembangan ini. Umur berapa anak anda diterapi disini? . sering. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? J. Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? J. oleh dokter kami dianjurkan untuk dibawa ke pusat terapi khusus untuk menangani anak bermasalah. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak berkebutuhan khusus? J. kalau nggak salah usia 4. jam kurang tidur dan yang tambah yakin dari kami adalah dari diagnosa dokter. Kami waktu itu tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Ya T. Anak pertama T. perilakunya. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? J. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. Ya. Dari koran. T.347 Martika walaupun dia kurang konsentrasi dalam belajar dan penangkapannya itu kurang tetapi dengan ketelatenan dan pembelajaran yang berulang-ulang hasilnyapun cukup memuaskan. tidak ada yang dia tirukan.5 tahun. T. Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? J. khususnya hiperaktif/autisma. Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? J. V. Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? J. T.

348 J. T. meja kursi . T. Perubahannya memang sangat mencolok sekali. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif . berinisiatif untuk mengungkapkan keinginannya/pendapatnya sendiri. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? J. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. T. Ya saya selaku orang tua selalu meluangkan waktu untuk membimbing dan mengajari anak saya. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? J. Ada. jika anak kami menangis minta dibelikan makanan kami selaku orang tua adalah memberi pengertian bahwa makanan itu tidak boleh agar cepat sembuh.5 tahun T. perkembangan bicaranya dia sudah bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dalam bentuk kalimat. T. lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? J. Ya kami memperhatikan sekali pola makanan yang dikonsumsi oleh anak kami. Umur 4. kami menyediakan fasilitas lengkap untuk anak kami yang mempunyai gangguan perkembangan autis dan hiperaktif ini. Apakah disamping anak anda diterapi disini. Yang kami lakukan kami membiasakan dulu dengan masakan-masakan/makanan-makanan yang kami buat sendiri. alat/media pembelajaran dan mainan? J. T. manja karena diajari oleh orang tuanya sendiri di rumah. Ya. dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi? J. buktinya anak saya sekarang sudah sembuh dan baik. anak cenderung lebih tidak konsentrasi. karena ini berhubungan dengan perkembangan anak kami maka kami harus bekerja sama dengan terapis dan dokter. dan kami cara mengatasinya adalah kami tetap harus konsisten untuk mengajarinya pada jam yang sudah ditentukan. T. Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? J. Ya tentu. kami selalu konsultasi dan berobat ke dokter setiap 2 bulan sekali. T. Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? . Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? J. Ya.

Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? J. jadi kalau ingin makan makanan yang dibeli di luar makanannya harus ngumpet. T. tapi mungkin anak saya yang hiperaktif ini lebih diperhatikan lagi. Ibu Utami T. Hambatan-hambatan itu ada pada awal sebelum penanganan tetapi setelah terjadi penanganan anak kami sudah mulai berinteraksi. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? J. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. sudah pulih dan bergaul dengan siapa saja. menjadi seorang anak yang anda inginkan dan anak itu inginkan. Sebelumnya saya bawa kedokter kemudian oleh dokter disuruh dibawa ke tempat terapi. T. Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? J. ada 2 orang. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? J. Anak no. dia berbicara sejak dia mulai mengoceh tapi bicaranya itu tidak jelas sampai akhirnya saya bawa ke tempat terapi ini. VI. sekeluarga alangkah baiknya memang mendukung dan keluarga kami juga mendukung. Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? J. Ya. Tidak. . Ya. Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? J. jadi harus menghormatinya. karena memang ada satu anak yang bermasalah dari keluarga kami sehingga keluarga yang lainpun harus tahu bahwa ada saudaranya yang tidak boleh makan makanan itu. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? J. Ya. Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? J. Kurang lebih berumur 2 tahun. Pesan saya pada orang tua yang mempunyai anak hiperaktif tolong bahwa tiap anak mempunyai hak yang sama. T.2 T.349 J. tolong masukkanlah ke tempat-tempat terapi karena disitulah tempatnya dan penanganan yang tepat agar anak anda menjadi manusia yang berguna. hak pendidikan yang sama dengan anak yang tidak mempunyai gangguan perkembanngan. Karena anak itu banyak gerak dan sulit diatur. T. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). sudah sembuh. T. T. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? J. T.

perilakunya sudah mulai bisa dikendalikan. dan tidak seaktif dulu. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak berkebutuhan khusus? J. Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? J. dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi? J. T. Apakah disamping anak anda diterapi disini. mungkin karena diajarkan sendiri oleh orang tuanya jadi anak itu menjadi manja dan sulit konsentrasi akibatnya saya selalu memberikan obat penenang sebelum mengajarkan anak saya di rumah.350 T. Ya. Ya. karena sebelum dibawa ke tempat terapi saya merujuk ke dokter. T. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? J. lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? . Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? J. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? J. Umur 5 tahun T. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? J. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif . mulai dari dia sudah bisa diajak berkomunikasi. demi perkembangan dan kesembuhan anak saya setiap ada seminar/pelatihan tentang anak bermasalah saya berusaha untuk mengikutinya. tetapi setelah anak saya mulai diterapi. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. Dari teman saya yang juga mempunyai anak seperti saya. T. Umur berapa anak anda diterapi disini? J. T. dan dari tempat terapi sendiri juga menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Ya saya berusaha untuk meluangkan waktu untuk membelajarkannya dirumah. Ya. T. Dulu sih tidak pernah. T. Banyak sekali dan hasilnya cukup memuaskan walaupun itu memerlukan waktu yang cukup lama. Ya T. alat/media pembelajaran dan mainan? J. T. meja kursi .

Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? J. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? J. T. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? J. T. tidak di depan anak saya yang hiperaktif. tetapi kalau dengan orang dewasa kendalanya dalam berkomunikasi. karena anak kecil itu kan nggak tahu apa-apa asal bisa diajak bermain mereka senang saja. saya mencoba untuk membuat makanan sendiri sesuai dengan anjuran dokter. apabila disitu ada yang ingin makan saya suruh menghindar. Selama ini saya mengajarkan pada anak-anak saya untuk tidak membiasakan jajan diluar rumah. HASIL DOKUMENTASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF . apalagi setelah mengetahui anak saya ada yang bermasalah. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. Kalau dengan teman sebaya sih enggak. Dan dalam proses terapi jangan lupa anak juga diterapi dirumah untuk itu sebagai orang tua kita harus sabar dalam menghadapi anak. mungkin dari situ akan merujuk ke tempat terapi. Setelah dipikir-pikir itu baik juga untuk semuanya. Jadi tidak anak saya yang bermasalah saja yang diet tetapi semua anggota keluarga ikut diet. Ya. Saya sarankan kepada orang tua yang mempunyai anak bermasalah seperti saya ini untuk dibawa ke dokter anak atau ke psikiater anak. T.351 J. untuk itu peran anggota keluarga juga sangat penting dalam mengajarkan dia berkomunikasi.

352 Wawancara dengan Kepala Terapi Pemusatan perhatian pada anak Melabel nama buah Menulis huruf Menulis angka Menunjuk angka .

353 Belajar Menabung Melabel Angka Melabel warna Menyebutkan nama binatang Mencocokkan benda Pemberian reinforcer (hadiah) berupa krupuk .

354 Melabel nama binatang Pemberian reinforcer (pujian) Membaca suku kata Menyelesaikan mainan puzzle Belajar membaca MACAM-MACAM MEDIA VISUAL (GAMBAR) .

355 Gambar alat transportasi Gambar benda dengan jumlah yang lebih banyak Gambar warna Gambar angka Gambar buah-buahan Gambar huruf .

356 Gambar aktivitas orang (kata kerja) Gambar suku kata Gambar arah jarum jam Gambar nama benda Gambar aktivitas orang secara bertahap Gambar aktivitas orang secara bertahap .

3. 2. 4. Kemampuan Imitasi (Meniru) Imitasi gerakan motorik kasar Imitasi tindakan (aksi) terhadap benda Imitasi gerakan motorik halus Imitasi gerakan motorik mulut 1.357 Macam-macam mainan edukatif “Been Back” Alat untuk mengurangi hiperaktifitas pada anak PEDOMAN KURIKULUM Kemampuan Mengikuti Tugas/Pelajaran Duduk mandiri di kursi Kontak mata saat dipanggil “Galih” Kontak mata ketika diberi perintah “Lihat [(ke) sini]” Berespons terhadap arahan “Tangan ke bawah” 1. Kemampuan Bahasa Reseptif 1. Mengikuti perintah sederhana (satutahap) . 3. 2. 4.

6. 11. dan diri sendiri Menyebutkan (melabel) kata kerja di gambar. Melepas kaos kaki 5. 7. 11. Menggunakan serbet/tissue 8. Kemampuan Pre-Akademik 1. Mencocokkan 2. 13. 5. angka Benda-benda yang non-identik Asosiasi (hubungan) antara berbagai benda Menyelesaikan aktivitas sederhana secara mandiri Identifikasi warna-warna Identifikasi berbagai bentuk Identifikasi huruf-huruf Identifikasi angka-angka Menyebut (menghafal) angka 1 sampai 10 Menghitung benda-benda 1. Melepas baju 7. bentuk. 11. Benda-benda yang identik 3. huruf. 12. Melepas celana 6. 10. Minum dari gelas 2. 9. 6. 13. 10. 12. 8. 6. Identifikasi bagian-bagian tubuh Identifikasi benda-benda Identifikasi gambar-gambar Identifikasi orang-orang dekat (familier)/anggota keluarga Mengikuti perintah kata kerja Identifikasi kata-kata kerja pada gambar Identifikasi benda-benda di lingkungan Menunjuk gambar-gambar dalam buku Identifikasi benda-benda menurut fungsinya Identifikasi kepemilikan Identifikasi suara-suara di lingkungan Kemampuan Bahasa Ekspresif Menunjuk sesuatu yang diingini sebagai respons dari “Mau apa?” Menunjuk secara spontan benda-benda yang diingini Imitasi suara dan kata Menyebutkan (melabel) benda-benda Menyebutkan (melabel) gambargambar Mengatakan (secara verbal) bendabenda yang diinginkan Menyatakan atau dengan isyarat “ya” dan “tidak” untuk sesuatu yang disukai (diingini) dan yang tidak disukai (tidak diingini) Menyebutkan (melabel) orang-orang dekat (familier)/anggota keluarga Membuat pilihan Saling menyapa Menjawab pertanyaan-pertanyaan sosial Menyebutkan (melabel) kata kerja di gambar. Kemampuan Bantu-diri 1. 14. 8. 5. Benda dengan gambar Warna. 7.358 2. Melepas sepatu 4. 7. orang lain dan diri sendiri Menyebutkan (melabel) benda sesuai fungsinya Menyebutkan (melabel) kepemilikan 4. 3. 9. 10. 14. 4. 15. Toilet-training untuk buang air kecil 8. 2. 9. 4. 3. 5. Makan dengan menggunakan sendok dan garpu 3. Gambar-gambar yang identik . orang lain. 12.

Juga mudah dievaluasi terapis (atau waktu-waktu tertentu) yang mana yang selalu mendapat P atau A. 4. : ……………………………………………………………………. dinilai P. 3. Yaitu 3 terapis pada 3 session (kesempatan/waktu belajar) yang berbeda-beda secara berurutan memperoleh nilai A (yaitu berturut-turut 3 instruksi pertama mendapat 3 respons yang benar semua). Catatan : 1. atau P+.. P++.359 LEMBAR PENILAIAN Kategori Instruksi Respon Benar : ……………………………………………………………………. Bila dalam 1 session seorang terapis melakukan suatu aktivitas lebih dari satu siklus. Dapat juga digunakan kode misalnya APP. dan lain-lain (sesuai kesepakatan seluruh terapis dan orang tua. 2. AAP (bila AAA cukup ditulis dengan A saja). aktivitas tersebut dimasukkan ke dalam program dan lembar penilaian.-. : ……………………………………………………………………. 1/lebih respons salah. atau A-. Masing-masing terapis menggunakan ball point dengan warna tinta yang berbeda.. Sehingga mudah terlihat berapa kali seorang terapi telah melakukan suatu aktivitas. Bila dalam 3 instruksi pertama berturut-turut. tetapi harus konsisten).. Hal ini dapat dikerjakan dengan tujuan untuk membedakan apakah anak memang benar-benar belum bisa atau sudah mulai /sesekali bisa atau bisa dengan prompt setengah/sebagian/ringan. Bila suatu aktivitas telah mendapatkan 3 x 3 A. . untuk pencatatannya tanggal ditulis hanya sekali dan bagian tanggal berikutnya dicoret supaya mudah terlihat dan mudah dievaluasi. Suatu aktivitas dinyatakan telah dikuasai anak bila memenuhi kriteria 3 x 3 A. dan mudah dievaluasi sudah berapa kali seorang (dan keseluruhan) terapis telah mendapatkan nilai A (achieved). A.

360 Yang dimaksud satu siklus yaitu pada instruksi #1 dan #2 anak tidak berespons atau berespons salah. kemudian imbalan. kemudian dengan instruksi #3 + prompot. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful