BAB I PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT Filsafat dalam bahsa Indonesia memiliki padanan kata

falsafah ( Arab ), philoshopy ( Inggris ), Philosophie ( Jerman, belanda, Prancis ). Semua itu bersumber pada istilah Yunani Philoshopia. Yang secara garis besar diartikan sebagai “cinta akan kearifan ( kebijaksanaan )”. Filsafat merupakan usaha untuk memperoleh

pandangan yang menyeluruh Filsafat mencoba menggabungkan kesimpulan –

kesimpulan dari berbagai ilmu dan pengamlan manusia menjadi suatu pandangan dunia yang konsisten. Para filsuf memakai pandangan yang menyeluruh terhadap kehidupan sebagai totalitas. Menurut para ahli filsafat spekulatif ( yang dibedakan dengan filsafat kritis ), dengan tokohnya C. D. Broad, tujuan filsafat adalah mengambil alih hasil – hasil pengalaman manusia dalam Dengan bidang cara keagamaan, ini etika dan ilmu pengetahuan, beberapa kemudian hasil – hasil tersebut direnungkan secara menyeluruh. diharapkan dapat diperoleh keismpulan umum tentang sifat – sifat ke depan. Hakikat nilai – nilai pancasila Nilai adalah seperti halnya ide manusia yang merupakan fungsi pokok human being. Nilai tidaklah nampak dalam dunia pengalaman. Dia nyata dalam jiwa manusia. Dalam ungakpan lain ditegaskan oleh Sidney B. Simon ( 1986 ) bahwa dasar alam semesta,

kedudukan manusia di dalamnya serta pandangan – pandangan

sesungguhnya yang dimaksudkan dengan nilai adalah jawaban yang jujur tapi benar dari pernyataan “what you are really, really, really, want.” Bangsa Indonesia sejak awal mendirikan negara, berkosesus untuk memegang dan menganut Pancasila sebagai sumber inspirasi, nilai dan moral bangsa. Konsesus bahwa Pancasila sebagai anutan untuk pengembang nilai dan moral bangsa ini secara ilmiah filosofis merupakan pemufakatan yang normatif. Nilai – nilai yang bersumber dari hakikat Tuhan, manusia, satu rakyat dan adil dijabarkan menjadi konsep Etika Pancasila, bahwa hakikat manusia Indonesia adalah untuk memiliki sifat dan keadaan yang berperi Ketuhanan Yang Maha Esa, berperi Kemanusiaan, Kebangsaan dan Kerakyatan yang keadilan sosial. • Ciri atau karakteristik berpikir filsafat adalah : 1. Sistematis 2. Medalam 3. Mendasar 4. Analitik 5. Kompherensif 6. Spekulatif 7. Reprentatif, dan 8. Evaluatif • 1. Epistemologi 2. Etika ( filsafat moral ) 3. Estetika ( filsafat seni ) 4. Matefisika 5. Filsafat Agama 6. Filsafat ilmu Cabang meliputi : – cabang filsafat

7. Filsafat pendidikan 8. Filsafat hukum 9. Filsafat sejarah 10.Kosmologi

Pancasila Sebagai Paradigma Kehidupan Paradigma adalah suatu asumsi-asumsi, dasar-dasar

teoritis yg umum (merupakan suatu sumber nilai), sehingga merupakan suatu sumber hukum, metode, serta penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri, serta karakter ilmu pengetahuan itu sendiri. Sumber Nilai Paradigma Terminologis Kerangka Pikir Orientasi Dasar Sumber serta arah & tujuan dari perkembangan dalam suatu tertentu Pengertian : Kerangka Berfiki sumber nilai Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan :  Pembangunan Mendasarkan pada Nilai2 Pancasila  Nilai-Nilai Pancasila Mendasarkan pada dasar ontologis (hakikat hidup) Manusia Sebagai subjek pendukung  Dasar Hakikat Manusia adalah Monopluralis :  Rohani dan raga bidang

 Makhluk individu dan makhluk sosial  Makhluk pribadi yang berdiri sendiri dan makhluk tuhan

BAB II IDENTITAS NASIONAL 1. Latar Belakang dan Pengertian Identitas Nasional. Situasi dan kondisi masyarakat kita dewasa ini

menghadapkan kita pada suatu keprihatinan dan sekaligus juga mengundang kita untuk ikut bertanggung jawab atas mosaik Indonesia yang retak bukan sebagai ukiran melainkan membelah dan meretas jahitan busana tanah air, tercabikcabik dalam kerusakan yang menghilangkan keindahannya. Untaian kata-kata dalam pengantar sebagaimana tersebut merupakan tamsilan bahwasannya Bangsa Indonesia yang dahulu dikenal sebagai “het zachste volk ter aarde” dalam pergaulan antar bangsa, kini sedang mengalami tidak saja krisis identitas melainkan juga krisis dalam berbagai dimensi kehidupan yang melahirkan instabilitas yang berkepanjangan semenjak reformasi digulirkan pada tahun 1998. (Koento W, 2005) Krisis moneter yang kemudian disusul krisis ekonomi dan politik yang akar-akarnya tertanam dalam krisis moral

dan menjalar ke dalam krisis budaya, menjadikan masyarakat kita kehilangan orientasi nilai, hancur dan kasar, gersang dalam kemiskinan budaya dan kekeringan spritual. “Societal terorism” muncul dan berkembang di sana sini dalam fenomena pergolakan fisik, pembakaran dan penjarahan disertasi pembunuhan sebagaimana terjadi di Poso, Ambon, dan bom bunuh diri di berbagai tempat yang disiarkan secara luas baik oleh media massa di dalam maupun di luar negeri. Semenjak peristiwa pergolakan antar etnis di Kalimantan Barat, bangsa Indonesia di forum internasional dilecehkan sebagai bangsa yang telah kehilangan peradabannya. Kehalusan perbuatan, budi, sopan santun dan dalam sikap dan kerukunan, toleransi solidaritas sosial,

idealisme dan sebagainya telah hilang hanyut dilanda oleh derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang penuh paradoks. Berbagai lembaga kocar-kacir semuanya dalam malfungsi dan disfungsi. Trust atau kepercayaan antar sesama baik vertikal maupun horisontal telah lenyap dalam kehidupan bermasyarakat. Identitas nasional kita dilecehkan dan dipertanyakan eksistensinya. Krisis multidimensi yang sedang melanda masyarakat kita menyadarkan kita semua bahwa pelestarian budaya sebagai upaya untuk mengembangkan Identitas Nasional kita telah ditegaskan sebagai komitmen konstitusional sebagaimana dirumuskan oleh para pendiri negara kita dalam Pembukaan UUD 1945 yang intinya adalah memajukan kebudayaan Indonesia.Dengan demikian secara konstitusional pengembangan dan arahnya. b. Identitas Nasional kebudayaan untuk membina dan mengembangkan Identitas Nasional kita telah diberi dasar

Kata identitas berasal dari bahasa Inggris Identity yang memiliki pengertian harafiah ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang membedakannya dengan yang lain. Dalam term antropologi identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri, komunitas sendiri, atau negara sendiri. Mengacu pada pengertian ini identitas tidak terbatas pada individu semata tetapi berlaku pula pada suatu kelompok. Sedangkan kata nasional merupakan identitas yang melekat pada kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik fisik seperti budaya, agama, dan bahasa maupun non fisik seperti keinginan, cita-cita dan tujuan. Himpunan kelompok-kelompok inilah yang kemudian disebut dengan istilah identitas bangsa atau identitas nasional yang pada akhirnya melahirkan tindakan kelompok (colective action) yang diwujudkan dalam bentuk organisasi atau pergerakan-pergerakan yang diberi atribut-atribut nasional. Kata nasional sendiri tidak bisa dipisahkan dari kemunculan konsep nasionalisme. Bila dilihat dalam konteks Indonesia maka Identitas Nasional itu merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang Indonesia menjadi dalam berbagai aspek kehidupan nasional dengan acuan dari ratusan suku yang “dihimpun” dalam satu kesatuan kebudayaan Pancasila dan roh “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai dasar dan arah pengembangannya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa hakikat Identitas Nasional kita sebagai bangsa di dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah Pancasila yang aktualisasinya tercermin dalam penataan kehidupan kita dalam arti luas, misalnya dalam aturan perundang-undangan atau hukum, sistem pemerintahan yang

diharapkan, nilai-nilai etik dan moral yang secara normatif diterapkan di dalam pergaulan baik dalam tataran nasional maupun internasional dan lain sebagainya. Nilai-nilai budaya yang tercermin di dalam Identitas Nasional tersebut bukanlah barang jadi yang sudah selesai dalam kebekuan normatif dan dogmatis, melainkan sesuatu yang “terbuka” yang cenderung terus-menerus bersemi karena hasrat menuju kemajuan yang dimilki oleh masyarakat pendukungnya. Konsekuensi dan implikasinya adalah bahwa Identitas Nasional adalah sesuatu yang terbuka untuk ditafsir dengan diberi makna baru agar tetap relevan dan fungsional dalam kondisi aktual yang berkembang dalam masyarakat. 2. Muatan dan Unsur-Unsur Identitas Nasional a. Muatan Unsur-Unsur Identitas Nasional Berbicara mengenai muatan Identitas Nasional maka dapat digambarkan sebagai berikut: • Pandangan Hidup Bangsa • Kepribadian Bangsa • Filsafat Pancasila • Ideologi Negara

Dasar Negara

Norma Peraturan

Rule of Law

 Hak dan Kewajiban WN  Demokrasi dan HAM

Etika Politik

 Geopolitik Indonesia  Geostrategi Ketahanan Nasional

Dari gambaran tersebut diatas bisa dikatakan bahwa Identitas Nasional adalah merupakan Pandangan Hidup Bangsa, Kepribadian Bangsa, Filsafat Pancasila dan juga sebagai Ideologi Negara sehingga mempunyai kedudukan paling tinggi dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk disini adalah tatanan hukum yang berlaku di Indonesia, dalam arti lain juga sebagai dasar negara yang merupakan norma peraturan yang harus dijunjung tinggi oleh semua warganegara tanpa kecuali “Rule of Law”, yang mengatur mengenai hak dan kewajiban warganegara, demokrasi serta hak asasi manusia yang berkembang semakin dinamis di Indonesia. Hal inilah akhirnya menjadi etika Politik yang kemudian dikembangkan menjadi konsep geopolitik dan geostrategi Ketahanan Nasional di Indonesia. b. Unsur-Unsur Identitas Nasional Identitas Nasional Indonesia merujuk pada suatu bangsa yang majemuk. Kemajemukan itu merupakan gabungan dari unsur-unsur pembentuk identitas yaitu suku bangsa, agama, kebudayaan dan bahasa.

1) Suku Bangsa: adalah golongan sosial yang khusus yang bersifat askriptif (ada sejak lahir), yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia terdapat banyak sekali suku bangsa atau kelompok etnis dengan tidak kurang 300 dialek bahasa. 2) Agama: bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Agama-agama yang tumbuh dan berkembang di nusantara adalah agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Agama Kong Hu Cu pada masa Orde Baru tidak diakui sebagai agama resmi negara namun sejak pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi negara dihapuskan. 3) Kebudayaan, adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang isinya adalah perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh pendukung-pendukungnya untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan digunakan sebagai rujukan atau pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi. 4) Bahasa: merupakan unsur pendukung identitas nasional yang lain. Bahasa dipahami sebagai sistem perlambang yang secara arbiter dibentuk atas unsur-unsur bunyi ucapan manusia dan yang digunakan sebagai sarana berinteraksi antar manusia. Dari unsur-unsur Identitas Nasional tersebut diatas dapat dirumuskan pembagiannya menjadi 3 bagian sebagai berikut : 1). Identitas Fundamental; yaitu Pancasila yang merupakan Falsafah Bangsa, Dasar Negara, dan Ideologi Negara. 2) Identitas Instrumental yang berisi UUD 1945 dan Tata Perundangannya, Bahasa Indonesia, Lambang Negara, Bendera Negara, Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”. 3) Identitas Alamiah yang meliputi Negara Kepulauan (archipelago) dan pluralisme dalam suku, bahasa, budaya dan agama serta kepercayaan (agama). 3. Keterkaitan Globalisasi dengan Identitas Nasional a. Globalisasi Adanya Era Globalisasi dapat berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Era Globalisasi tersebut

mau tidak mau, suka atau tidak suka

telah datang dan

menggeser nilai-nilai yang telah ada. Nilai-nilai tersebut baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Ini semua merupakan ancaman, peluang bagi bangsa tantangan Indonesia dan sekaligus sebagai untuk berkreasi, dan

berinovasi di segala aspek kehidupan. Di Era Globalisasi pergaulan antar bangsa semakin ketat. Batas antar negara hampir tidak ada artinya, batas wilayah tidak lagi menjadi penghalang. Di dalam pergaulan antar bangsa yang semakin kental itu akan terjadi proses alkulturasi, saling meniru dan saling mempengaruhi antara budaya masing-masing. Yang perlu kita cermati dari proses akulturasi tersebut apakah dapat melunturkan tata nilai yang merupakan jati diri bangsa Indoensia. Lunturnya tata nilai tersebut biasanya ditandai oleh dua faktor yaitu : 1) Semakin menonjolnya sikap individualistis yaitu mengutamaka n kepentingan pribadi diatas kepentingan umum, hal ini bertentangan dengan gotongroyong. 2) Semakin menonjolnya sikap azas

materialistis yang harkat martabat kemanusiaan hanya diukur dari hasil atau keberhasilan seseorang dalam memperoleh kekayaan. Hal ini berakibat bagaimana cara memperolehn ya tidak dipersoalkan lagi. Bila hal ini berarti dan telah dikesampingk an. Arus informasi yang semakin pesat mengakibatkan akses masyarakat terhadap nilai-nilai asing yang negatif semakin besar. Apabila proses ini tidak segera dibendung akan berakibat lebih serius dimana pada puncaknya mereka tidak bangga kepada bangsa dan negaranya. terjadi etika moral menjadi bisa berarti dan

Pengaruh negatif akibat proses akulturasi tersebut dapat akan merongrong mengganggu kepada nilai-nilai ketahanan kredibilitas yang di telah segala ada di dalam bahkan Untuk masyarakat kita. Jika semua ini tidak dapat dibendung maka aspek ideologi. mengarah sebuah

membendung arus globalisasi yang sangat deras tersebut kita harus berupaya untuk menciptakan suatu kondisi (konsepsi) agar ketahanan nasional dapat terjaga. Dengan cara membangun sebuah konsep nasionalisme kebangsaan yang mengarah kepada konsep Identitas Nasional b. Keterkaitan Nasional. Dengan adanya globalisasi, intensitas hubungan masyarakat antara satu negara dengan negara yang lain menjadi semakin tinggi. Dengan demikian kecenderungan munculnya kejahatan yang bersifat transnasional menjadi semakin sering terjadi. Kejahatan-kejahatan tersebut antara lain terkait dengan masalah narkotika, pencucian uang (money laundering), peredaran dokumen keimigrasian palsu dan terorisme. Masalah-masalah tersebut berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa yang selama ini dijunjung tinggi mulai memudar. Hal ini ditunjukkan dengan semakin merajalelanya peredaran narkotika dan psikotropika sehingga sangat merusak kepribadian dan moral bangsa khususnya bagi generasi penerus bangsa. Jika hal tersebut tidak dapat dibendung maka akan mengganggu terhadap ketahanan nasional di segala aspek kehidupan bahkan akan menyebabkan lunturnya nilai-nilai identitas nasional. Globalisasi dengan Identitas

4. Keterkaitan

Integrasi

Nasional

Indonesia

dan

Identitas Nasional Masalah integrasi nasional di Indonesia sangat kompleks dan multidimensional. Untuk mewujudkannya diperlukan keadilan, kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah dengan tidak membedakan ras, suku, agama, bahasa dan sebagainya. Sebenarnya upaya membangun keadilan, kesatuan dan persatuan bangsa merupakan bagian dari upaya membangun dan membina stabilitas politik disamping upaya lain seperti banyaknya keterlibatan pemerintah dalam menentukan komposisi dan mekanisme parlemen. Dengan demikian upaya integrasi nasional dengan strategi yang mantap perlu terus dilakukan agar terwujud integrasi karena bangsa pada Indonesia yang diinginkan. nasional Upaya lain pembangunan dan pembinaan integrasi nasional ini perlu hakekatnya integrasi tidak menunjukkan tingkat kuatnya persatuan dan kesatuan bangsa yang diinginkan. Pada akhirnya persatuan dan kesatuan bangsa inilah yang dapat lebih menjamin terwujudnya negara yang makmur, aman dan tentram. Jika melihat konflik yang terjadi di Aceh, Ambon, Kalimantan Barat dan Papua merupakan cermin dan belum terwujudnya Integrasi Nasional yang diharapkan. Sedangkan kaitannya dengan Identitas Nasional adalah bahwa menguatkan dibangun. 5. Paham Nasionalisme Kebangsaan a. Paham Nasionalisme Kebangsaan Dalam sesama perkembangan berubah peradaban menjadi manusia, bentuk interaksi lebih manusia yang akar dari adanya integrasi nasional Identitas Nasional yang dapat sedang

kompleks dan rumit. Dimulai dari tumbuhnya kesadaran untuk menentukan nasib sendiri. Di kalangan bangsa-bangsa yang

tertindas kolonialisme dunia, seperti Indonesia salah satunya, hingga melahirkan semangat untuk mandiri dan bebas untuk menentukan perjuangan masa depannya sendiri. Dalam situasi suatu perebutan kemerdekaan, dibutuhkan

konsep sebagai dasar pembenaran rasional dari tuntutan terhadap penentuan nasib sendiri yang dapat mengikat keikutsertaan semua orang atas nama sebuah bangsa. Dasar pembenaran tersebut, selanjutnya mengkristal dalam konsep paham ideologi kebangsaan yang biasa disebut dengan nasionalisme. Dari sanalah kemudian lahir konsep-konsep turunannya seperti bangsa (nation), negara (state), dan gabungan keduanya yang menjadi konsep negara-bangsa (nation-state) sebagai komponen-komponen yang membentuk Identitas Nasional atau Kebangsaan. dikatakan bahwa Paham Nasionalisme Sehingga dapat atau Paham

Kebangsaan adalah sebuah situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total diabdikan langsung kepada negara bangsa atas nama sebuah bangsa. Munculnya nasionalisme terbukti sangat efektif sebagai alat perjuangan bersama merebut kemerdekaan dari cengkeraman kolonial. Semangat nasionalisme diharapkan secara efektif oleh para penganutnya dan dipakai sebagai metode perlawanan dan alat identifikasi untuk mengetahui siapa lawan dan kawan. Secara garis besar terdapat tiga pemikiran besar tentang nasionalisme di Indonesia yang terjadi pada masa sebelum kemerdekaan Nasionalisme yaitu paham ke-Islaman, dengan Marxisme naiknya dan Indonesia. Sejalan pamor

Soekarno dengan menjadi Presiden Pertama RI, kecurigaan diantara para tokoh pergerakan yang telah tumbuh di saatsaat menjelang kemerdekaan berkembang menjadi pola ketegangan politik yang lebih permanen antara negara melalui figur nasionalis Soekarno di satu sisi dengan para

tokoh lain

yang

mewakili

pemikiran

Islam

(sebagai

agama

terbesar pemeluknya di Indonesia) dan Marxisme di sisi yang

b. Paham Nasionalisme Kebangsaan sebagai paham yang mengantarkan pada konsep Identitas Nasional Paham Nasionalisme atau paham Kebangsaan terbukti sangat efektif sebagai alat perjuangan bersama merebut kemerdekaan nasionalisme dari cengkeraman secara kolonial. efektif Semangat oleh para dihadapkan

penganutnya dan dipakai sebagai metode perlawanan, seperti yang disampaikan oleh Larry Diamond dan Marc F Plattner, para penganut nasionalisme dunia ketiga secara khas menggunakan retorika anti kolonialisme dan anti imperalisme. Para pengikut nasionalisme tersebut berkeyakinan bahwa persamaan cita-cita yang mereka miliki dapat diwujudkan dalam sebuah identitas politik atau kepentingan bersama dalam bentuk sebuah wadah yang disebut bangsa (nation). Dengan demikian bangsa atau nation merupakan suatu badan wadah yang di dalamnya terhimpun orang-orang yang mempunyai persamaan keyakinan dan persamaan lain yang mereka miliki seperti ras, etnis, agama, bahasa, dan budaya. Unsur persamaan tersebut dapat dijadikan sebagai identitas politik bersama atau untuk menentukan tujuan organisasi politik yang dibangun berdasarkan geopolitik yang terdiri atas populasi, geografis dan pemerintahan yang permanen yang disebut negara atau state. Nation-state atau negara - bangsa merupakan sebuah bangsa yang memiliki bangunan politik (political building) seperti ketentuan-ketentuan yang sah, perbatasan luar teritorial, negeri dan pemerintahan pengakuan

sebagainya. Munculnya paham nasionalisme atau paham kebangsaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari situasi soisal politik dekade pertama abad ke-20. Pada waktu itu semangat menentang kolonialisme Belanda mulai bermunculan di kalangan pribumi. Cita-cita bersama untuk merebut kemerdekaan menjadi semangat umum di kalangan tokoh-tokoh pergerakan nasional untuk memformulasikan bentuk nasionalisme yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Paham Nasionalisme di Indonesia yang disampaikan oleh Soekarno yang disuarakan adalah bukan nasionalisme yang berwatak sempit, tiruan dari Barat, atau berwatak chauvinism. Nasionalisme yang dikembangkan Soekarno bersifat toleran, bercorak ketimuran, dan tidak agresif sebagaimana nasionalisme yang dikembangkan di Eropa. Selain mengungkapkan keyakinan watak nasionalisme yang penuh nilai-nilai kemanusiaan, juga meyakinkan pihak-pihak yang berseberangan pandangan bahwa kelompok nasional dapat bekerja sama dengan kelompok manapun baik golongan Islam maupun Marxis. Sekalipun Soekarno seorang muslim tetapi tidak sekedar mendasarkan pada perjuangan Islam, menurutnya kebijakan ini merupakan pilihan terbaik bagi kemerdekaan maupun bagi masa depan seluruh bangsa Indonesia. mendapat intelektual Semangat respon muda dan nasionalisme dukungan barat Soekarno luas semisal dari tersebut kalangan dan

didikan

Syahrir

Mohammad Hatta yang kemudian semakin berkembang paradigmanya sampai sekarang dengan munculnya konsep Identitas Nasional, sehingga bisa dikatakan bahwa Paham Nasionalisme atau Kebangsaan disini adalah merupakan refleksi dari Identitas Nasional. Yang diprihatinkan disini adalah adanya perdebatan

panjang tentang paham nasionalisme kebangsaan dimana mereka mempunyai kesepakatan namun perlunya konteks paham yang nasionalisme Indonesia. kebangsaan dalam

berbeda mengenai masalah nilai atau watak nasionalisme

BAB IV NEGARA DAN KONSTITUSI

A. Pengertian Negara Untuk memahami secara detail mengenai negara, maka terlebih dahulu akan diawali dengan penelusuran kata negara tersebut. Secara literal istilah negara merupakan terjemahan dari kata kata asing, yakni state (bahasa Inggris), staat (bahasa Belanda) yang berarti keadaan yang tegak dan tetap atau sesuatu yang memiliki sifat-sifat yang tegak dan tetap. Pada hakikatnya negara adalah: organisasi kekuasaan karena di dalam negara terdapat pusat-pusat kekuasaan. Ada banyak pendapat tentang pengertian negara, antara lain: 1. Miriam Budiarjo: Organisasi dalam suatu wilayah dapat memaksakan kekuasaannya secara sah terhadap semua golongan kekuasaan lainnya dan dapat menetapkan tujuan-tujuan dari kehidupan bersama

2.

Mac

Iver:

Persetambatan hukum dan

(asosiasi

yagn

bertindak suatu

berdasarkan

direalisasikan

oleh

pemerintahan) untuk keperluan ini negara dilengkapi dengan kekuasaan 3. Max Weber: suatu masyarakat yang mempunyai monopoli dalam menggunakan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah. Secara umum negara dapat didefinisikan sebagai suatu organisasi dari sekelompok atau beberapa kelompok manusia yagn bersama-sama mendiami satu wilayah tertentu dan mengakui adanya suatu pemerintahan yagn mengurus tata tertib serta keselamatan kelompok atau beberapa kelompok masyarakat tersebut. B. Sejarah terbentuknya negara Beberapa teori tentang terbentuknya negara 1. Teori Kontrak sosial Teori kontrak sosial atau teori perjanjian masyarakat beranggapan bahwa negara dibentuk berdasarkan perjanjian-perjanjian masyarakat. Teori iniadalah salah satu teoriyang terpenting mengenai asal-usul negara. Disamping tertua, teori ini juga relatif bersifat universal, karena teori perjajian masyarakat adalah teori yang termudah dicapai, dan negara tidak merupakan negara tirani. Penganut teori kontrak sosial ini mencakup para pakar dari paham kenegaraan yang absolutis sampai ke pengantur paham kenegaraan yang terbatas. Untuk menjelaskan teori asal mula negara yang didasarkan atas kontrak sosial ini, dapt dilihat dari beberapa pakar yagn memiliki pengaruh dalam pemikiran politik tentang negara yaitu: Thomas

Hobbes, John Locke dan JJ. Rousseau. a. Thomas Hobbes Hobbes mengemukakan bahwa kehidupan manusia terpisah dalam dua zaman, yakni keadaan selama belum ada negara dan keadaan setelah ada negara. Bagi hobbes, keadaan alamiah sama sekali bukan keadaan yang aman sentosa, adil dan makmur. Tetapi sebaliknya, keadaan alamiah itu merupakan suatu keadaan sosial yang kacau suatu inferno di dunia ini tanpa hukum yang dibuat oleh manusia secara sukarela dan tanpa pemerintah, tanpa ikatan-ikatan sosial antar individu itu. Dalam keadaan demikian, hukum dibuat oleh mereka yang fisiknya terkuat sebagaimana keadan di hutang belantara. Manusia seakan-akan merupakan binatang dan menjadi mangsa dari manusia yang fisik lebih kuat dari padanya. Keadaan ini dilukiskan dalam peribahasa latinhomo homini lupus. Manusia saling bermusuhan, saling berperang satu melawan yang lain, keadaan ini dikenal sebagai “bellum omnium contra omnes” (Perang antara semua melawan semua). Bukan perang dalam arti keadaan bermusuhan yang terus menerus antara individu dan individu lainnya. Keadaan serupa itu tidak dapat dibiarkan berlangsung terus. Manusia dengan akalnya mengerti dan menyadari bahwa demi kelanjutan hidup mereka sendiri, keadaan alamiah itu harus diakhiri. Hal ini dilakukan dengan mengadakan perjanjian bersama individu-individu yang tadinya hidup dalam keadaan alamiah berjanji akan

menyerahkan

hak-hak

kodratnya

yang

dimilikinya

kepada seseorang atau sebua badan. Teknik perjanjina masyarakat yang disebut Hobbes sebagai berikut setiap individu kekuasaan dan menyerahkan hak memerintah kepada orang ini atau kepada orang-orang yagn ada di dalam dewan ini hak dengna syarat dan bahwa saya memberikan kepadanya memberikan

keabsahan seluruh tindakan dalam suatu cara tertentu. Dengan kata-kata seperti itu, terbentuklah negara yang dianggap dapat mengakhiri anarkhi yang menimpa individu dalam keadaan alamiah itu. Dengan perjanjian seperti itu terbentuklah Leviathan besar atau Tuhan Yang Tidak Abadi (Moral God). Bagi Hobbes hanya terdapat satu macam perjanjian, yakni pactum subjectionis atau perjanjian pemerintahan dengan cara segenap individu kodrat yagn berjanji yang menyrahkan semua hak-hak mereka

dimiliki ketika hidup dalam keadaan alamiah kepada seseorang atau sekekompok orang yang ditunjuk itu harus dibeirkan pula kekuasaan. Negara harus berkuasa penuh sebagaimana halnya dengan binatang buas leviathan yang dapat menaklukan segenap binatang buas lainya. Negara harus dibeirkan kekuasaan yang mutlak ini sehingga kekuasaan yang negara tidak dapat dan ditandingi dan disaingi oleh kekuasaan apapun. Di dunia tiada kekuasaan dapat menandingi menyaningi kekuasaan negara. Dengan perjanjina seperti itu, tidaklah mengherankan bahwa hobbes meletakkan dasar-dasar falsafah dari negara yang mutlak, teristimewa negara kerajaan yang

absolut.

Hobbes bahw

adalah hanya

seorang negara

royalis yang

yagn

berpendirian

berbentuk

negara krajaan yang mutlaklah dapat menjalankan pemerintahan yang baik. b. John Locke Bagi Locke, keadaan alamiah ditafsirkan sebagai suatu keadaan dimana manusia hidup bebas dan sederajat, menurut kehendak hatinya sendiri. Keadaan alamiah ini sudah bersifat sosial, karena manusia hidup rukun dan tentram sesuai dengan hukum akal Law of reason) yang mengajarkan bahwa manusia tidak boleh mengganggu hidup, kesehatan, kebebasan dan milik dari sesamanya. Dalam konsep tentang keadaan alamiah (state of nature), Locke dan Hobbes memiliki perbedaan. Bila hobbes melihat keadaan alamiah seagai suatu keadaan anarkhi, locke sebalikya melihat keadaa itu sebagia suatu keadaan of peace, goodwill, mutual assistance and preservation. Sekalipun keadaan itu suatu keadaan idela, namun Locke juga merasakan bahw keadaan itu potensial dapat menibmulkan anarkhi, karena manusia hidup tanpa organisasi dan pimpinan ygn dapat mengatur kehidupan mereka. Dalam keadaan alamiah setiap individu sederajat baik mengenai kekuasaan maupun hak-haklainnya, dan sehingga asas adalah penyelenggaraan oleh timbal hakim individu balik dari kekuasaan (reciprocity) perbuatan yurisdiksi dilakukan

sendiri-sendiri, dan

berdasarkan setiap individu tindakannya.

Keadaan

alamiah,

karenaitu, dalam dirinya sendiri mengandugn potensi untuk menimbulkan kegaduhan dan kekacauan. Oleh

karenaitu, manusia membentuk negara dengna suatu perjanjian bersaman. Dasar kontraktual dari negara dikemukakan Locke sebagai peringatan bahwa kekuasaan pengausa tidak penah mutlak tetapi selalu terbatas, sebab dalam mengadakna sekelompok perjanjian orang, dengan seorang atau tiadak individu-individu

menyerahkan seluruh hak-hak alamiah mereka. Ada hak-hak alamiah yagn merupakan hak-hak asasi yang tidak dapat dilepaskan, juga tidak oleh indiidu itu sendiri. Penguasa ygn diserahi tugas mengatur hidup individu dalam ikatan kenegaraan harus menghormati hak-hak asasi itu sendiir. Juga dalam konsturksi perjanjian itu terdapat perbedaan fndamental anara locke dan hobbes. Jika Hobbes hanya mengkonstruksi satu jenis perjanjina masyarakat saja, yaitu pactum subjectionis, locke mengajukan kontrak itu dalam fungsinya yagn rangkap. Pertama, individu dengan individu lainya mengadakan suatu perjanjian masyarakat untuk membnetuk suatu masyarakat politik atau negara. Pembentukan negara adalah fase pertama dan dilakukan dengan suatu factum unioneis. Locke sekaligus menaytakna bahwa suatu pemufakatan yagn dibut berdasarkan suara terbanyak dapat dianggap sebagai tindakan seluruh masyarakat itu, karena persetujuan individu-individu untuk membentuk negara, mewajibkan individu-individu lain untuk menaati negaa yang dibentuk dengna suara terbanyak itu. Neara yagn dibentuk dengan suara terbanyak itu tidak dapat

menambil hak-hak milik manusia dan hak-hak lainya yang tidak dapat dilepaskan. c. Jean Jacques Rousseau Rousseau orisinalisat merupakan yang tokoh Ia yang pertama kali menggunakan istilah kontrak sosial dengan makna dan tersendiri. merupakan sarjana terakhir yagn mempertahankan teori yang sudah tua dan usang itu ia juga memisahkan suasana kehidupan manusia dalam dua zaman, zmana para negara dan zaman berneara. Keadaan alamiah itu diumpamakanya sebagai keadaan sebelum manusia melakukan dosa, suatu keadaan yagn aman dan bahagia. Dalam keadaan alamiah, hidup individu bebas dan sederajat, semuanya dihasilkan sendiri oleh individu dan individu itu puas. Karena keadaan alamiah itu tidak dapat dipertahankan seterusnya, maka manusia itu dengan penuh kesadaran mengakhiri keadaan itu dengan suatu kontrak sosial. Dengan seperti ketentuan-ketentuan itu berlangsunglah perjanjina peralihan masyarakat keadaan dari

alamiah ke keadaan bernegara. Manusia terbelenggu dimana-mana man is born free and every where he is in chains. Demikian kata Rousseua. Jika Hobbes hanya mengenal pactum subjections dan Locke mengkonstruksi dua jenis perjanjina masyarakat, maka Rousseau hanya mengenal satu jenis perjanjian saja yait hanya pactum unionis, prjanjian masyarakat yang sebenarnya. Rousseau tidak mengenal pactum subjectionis yagn membentuk pemerintah yang ditaati. Pemerintah tidak mempunyai dasar kontraktual. Hanya

organisasi politiklah yang dibentuk dengan kontrak pemerintah sebagai pimpinan organisasi itu dibentuk dan ditentukan oleh yang berdaulat dan merupakan wakil-wakilnya. Yang berdaulat adalah rakyat seluruhnya melalui kemauan uumnya.

2. Teori Ketuhanan Teori ketuhanan ini dikenal juga dengan dokrin teokratis dalam teori asal mula negara. Teori ini pun bersifat universal dan ditemukan biak di dunia timur maupun di dunia Barat, baik di dalam teori maupun dalam praktik. Dokrin ketuhanan in memperoleh bentuknya yang sempurna dalam tulisan-tulisan para sarjana Eropa pada Abad Pertengahan yang menggunakan teori itu untuk membenarkan kekuasaan raja-raja yang mutlak. Dokrin ini mengemukakan hak-hak raja yang berasal dari tuhan untuk memerintah dan bertahta sebagai raja. Dokrin ketuhana kekuasaan yagn lahir sebagai dalam secara resultante abad tirani kontroversial . dari kaum dari politik pertengahan dapat

Monarchomach (penentang raja) berpendapat bahwa raja berkuasa diturnkan mahkotanya, bahkan dapat dibunuh. Mereka beranggapan bahwa sumber kekausaan adalah rakyat, sedangkan rajaraja pada waktu itu beranggapan kekuasaan mereka diperoleh dari tuhan. Negara dibentuk oleh Tuhan dan pemimpin-pemimpin negara ditunjuk oleh Tuhan. Raja dan pemimpin-pemimpin negara hanya bertanggung jawab pada Tuhan dan tidak

pada siapaun. teori teokratis seperti ini memang sudah amat tua dan didasarkan atas sabda Paulus. Thomas Aqunas mengikuti ajaran Paulus dan menganggap Tuhan sebagai principium dari semua kekuasaan, tetapi memasukkan unsur-unsur sekuler dalam ajarannya itu, yaitu bahwa sekalipun Tuhan memberikan principium itu kepada penguasa, namun rakyat menentukan modus atau bentuknya yang tetap dan bahwa rakyat pula yang memberikan kepada seseorang atau segolongan orang exercitum dari pada kekuasaan itu. Karenanya, teori Thomas Aguinas ini bersiat Monarcho – demokratis, yaitu bahwa di dalam ajaran itu terdapat unsur-unsur yang monarchistic di samping unsur-unsur yang demokratis. Jika dokrin ketuhana itu dalam abad pertengahan masih bersiat monarcho demokratis, dalam abad-abad ke 16 dan ke 17 dokrin itu bersifat monarchistic semata. Denan dokrin seperti itu diusahakan agar kekuasaan raja mendapatkan sifatnya yang suci, sehingga pelanggaran terhadap kekuasaan raja merupakan pelanggaran terhaap tuhan. Raja dianggap sebagai wakil tuhan, bayangan tuhan didunia. 3. Teori Historis Teori historis atau teori evolusionistis merupakan teori yang menyatakan bahwa lembaga-lembaga sosial tidak dibuat, tetapi tumbuh secara evolusioner sesuai dengna kebutuhan kebutuhan mnusia. Sebagai lembaga sosial yagn diperuntukan guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia, maka lembaga-lembaga itu tidak luput dari pengaruh tempat, waktu dan tuntutan-tuntutan zaman.

Teori

historis

diperkuat

dan

telah dan

dibenarkan ethonolig

oleh –

penyelidik-penyelidik antrhorpologis

historis

dari lembaga-lembaga sosial bangsa-

bangsa primitif di benua asia, afrika, australia dan amerika. Perlu ditambahkan bahwa pada saat ini, teori historis yagn umum diterima oleh sarjana-sarjana ilmu politik sebagai teori yang palng mendekati kebenaran tentang asal mula negara. Sekalipun teori historis pada umumnya mencapai

persesuaian faham mengenai pertumbuhan evolusionistis dari neara, namun dalam beberapa hal masih juga terdapat perbedaan pendapat, misalnya, apakah yang mendahului negara itu keluarga dan suku yang didasarkan sistem kebapakan ataukah yang didasarkan atas sistem keibuan? Serta bagaimanakah peran faktor-faktor kekeluargaan, agama, dan lain-lain dalam pembentkan negara? Dalam konteks seperti ini teori historis menemukan kesesuaian belum paham. C. Unsur, sifat, fungsi, klasifikasi, dan elemen kekuatan negara 1. Unsur-unsur Negara Terbentuknya adalah : a. Penduduk Penduduk adalah semua orang yang berdomisili serta menyatakan dimaksud kesepakatan semua diri ingin bersatu. Yang dengan orang adalah penduduk negara dapat terjadi karena adanya beberapa unsur. Unsur-unsur pembentuk negara tersebut

Indonesia dan negara lain (asing) yang sedang berada di

Indonesia untuk wisata, bisnis, dan liannya. Menurut data Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2003 lebih kurang 210 juta jiwa denan komposisi 50 % adalah berasal dari suku bangsa etnis Jawa. Sisanya suku Makasar-Bugis 3,68%, Batak 2,04%, Bali 1,88%, Lombok 1,5%, Aceh 1,4 % dan suku-suku lainnya. Sedangkan suku Tionghoa berjumlah 2,8%. Berdasarkan tingkat pendidikan, sebanyak 32 % tamat sekolah dasar (SD) da sekolah namun tidak tamat SD 30 %, SMP 13 %, SLTA 16%, diploma 2% dan universitas 2 %. b. Wilayah Negara memiliki batas/teritorial yang jelas atas darat, laut, dan udara di atasnya. Wilayah Indonesia terletak di antara dua bena yaitu benua Asia dan Australia, dan dua samudra yaitu samudera India dan Pasifik. Letak ini membuaat Indonesia berada pada posisi strategis yang menjadi jalur lalu lintas transportasi dunia. Posisi ini menguntungkan Indonesia karena terletak di wilayah bisnis (perdagangan) dunia. c. Pemerintah Sistem pemerintahan yang dianut oleh Indonesia adalah sistem pemerintahan presidensial. Dalam sistem ini, presiden memiliki hak prerogatif untuk memilih dan mengangkat pemerintahan daerah kepada serta memberhentikan para menteri sistem I dan sebagai pembantunya. Dalam implementasinya, sistem Indonesia Kepala menerapkan Daerah Tingkat desentralisasi yagn berintikan pada pemberian otonomi Kabupaten/Kota untuk mengelola dan mengeksplorasi sumber daya alam maupun manusia yang ada di daerah

untuk

kesejahteraan

dan

kemakmuran

rakyat

di

daerahnya secara optimal. Otonomi ini termasuk juga menyelenggarakan pemilihan kepala darah (PILKADA) di daerahnya masing-masing. Sekarang ini pemerintahan pusat hanya memiliki kekuasaan pada bidang politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi (Hukum) moneter dan fiskal nasional, serta agama. Kepala pemerintahan Indonesia dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum langsung presiden dan wakil presiden.

2. Sifat Organisasi Negara Setiap organisasi negara berbeda dengan organisasi lainnya, yakni: a. Sifat memaksa setiap negara dapat memaksakan kehendak dan kekuasaanya baik melalui jalur hukum maupun jalur kekuasaan atau paksaan b. sifat monopoli setiap negara menguasai hal-hal tertentu demi tujuan negara tanpa ada saingan c. sifat totalitas semua hal tanpa kecuali mencakup kewenangan negara, misalnya semua orang haru membayar pajak, semua orang wajib membela negara, semua orang sama di hadapan hukum/ berdasarkan hukum dan sebagainya. Negara negara merupakan dapat wadah yang memungkinkan rakytnya maju seseorang dapt mengembangkan bakat dan potensi memungkinkan berkembang serta dalam menyelenggarakan daya cipta

ata

kreativitasnya

dengan

bebas,

bahkan

negara

melakukan pembinaan 3. Fungsi Negara Secara umum setiap negara memiliki empat fungsi utama bagi bangsanya yaitu: 1. Fungsi Pertanahan dan Keamanan Negara melindungi rakyat, wilaya dan pemeritnahan dari ancaman tantangan, hambatan dan gangguan, baik dari dalam maupun dari luar yang dapat mengganggu pertahaan dan keamanan negara Kesatuan RI. 2. Fungsi pengaturan dan ketertiban Negara menciptakan UU dan Peraturan Pemerintah serta menjalankannya demi mewujdukan tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 3. Fungsi kesejahteraan dan Kemakmuran Negara melakukan upaya eksplorasi sumber daya ala (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM) untuk meningkatkan rakyat. 4. Fungsi keadilan menurut Hak dan Kewajiban Negara menciptakan dan menegakkan hukum secara tegas dan tanpa pilih kasih menurut hak dan kewajiban yang telah dikotribusikan kepada bangsa dan negara. pendapatan masyarakat sehingga terwujud kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh

4. Klasifikasi Negara Klasifikasi negara dapat dilihat berdasarkan beberapa indikator seperti jumlah orang yang berkuasa, bentuk negara, dan asas pemerintahan

a. Jumlah orang yang berkuasa dan orientasi kekuasaan Jumlah orang yang berkuasa dapat berjumla satu orang, sekelompok orang, atau banyak orang. Orientasi kekuasaan juga ada dua yaitu bila penyelenggaraanya berorientasi kepada kepentingan pihak yang berkuasa disebut bentuk negatif, dan apabila berorientasi kepada kepentingan umum disebut bentuk positif. Berdasarkan jumlah orang yang berkuasa dan orientasi kekuasaan terdapat enam bentuk klasifikasi negara Jumlah orang Satu orang Sekelompok orang Banyak orang Bentuk Positif Monarki Aristokrasi Demokrasi Bentuk Negatif Tirani Oligarki Mobokrasi

Oligarki adalah sistem pemerintahan yang dijalanjan oleh segelintir orang untuk kepentingan orang banyak. Partisipasi rakyat dalam pemerntahan dibatasi atau bahkan ditiadakan dengan dihapusnya lembaga perwakilan rakyat dan keputusannnya tertinggi ada pada tangan segelintir orang tersebut, Anarki adalah pemerintahan yang kekuasaannya tidak jelas, tidak ada peraturan yang benar-benar dapat dipatuhi. Setiap individu bebas menentukan kehendaknya sendiri-sendiri tanpa aturan yang jelas. Mobokrasi adalah pemerintahan yang dikuasai oleh kelompok mobokrasi orang untuk kepentingan kelompok orang terpusat yang yang pada berkuasa, bukan untuk kepentingan rakyat. Biasanya dipimpin ialah oleh sekelompok yang mempunyai motivasi yang sama. Diktator kekuasaan seseorang yang berkuasa mutlak (otoriter)

b. Bentuk negara ditinjau dari sisi konsep dan teori modern terbagi menjadi dua, yaitu 1. Negara Kesatuan Negara kesatuan adalah negara yagn merdeka dan berdaulat, dengan satu pemerintahan pusat yang berkuasa dan mengatur seluruh daerah. Dalam pelaksananya, negara kesatuan terbagi dua, yaitu: Negara kesatuan dengan sistem sentralisasi:

Negara dengan sistem dimana seluruh persoalan yang berkaitan dengan negara langsung diatur dan diurus oleh pemerintah pusat, sedangkan daerah-daerah tinggal melaksanakanya. Negara kesatuan dengan sistem desentralisasi: Negara denan sistem dimana kepala daerah diberikan kesempatan dan kekuasaan untuk mengurus rumah tanggannya sendiri atau dikenal dengna otonomi daerah atau swatantra 2. Negara Serikat (Federasi) Negara serikat adalah bentuk negara yang merupakan gabungan dari beberapa negara bagian dari negara serikat. Kekuasaan asli dalam negara federasi negara merupakan federasi negara bagian, untuk karena ia berhubungan langsung denan rakyatnya. Sementara bertugas menjalankan hubungan luar negeri, pertahanan negara, keuangan dan urusan pos. 5. Elemen Kekuatan Negara

Kekuatan suatu negara tertangung pada beberapa elemen seperti Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam, kekuatan militer, dan teritorial negara tersebut. a. Sumber Daya Manusia (SDM) Kekuatan negara tergantung pada jumlah penduduk, tingkat pendidikan warga, nilai budaya masyarakat, dan kondisi kesehatan masyarakat. Semakin banyak jumlah penduduk, semakin berkualitas SDM, dan semakin tinggi tingkat kesehatan, maka negara akan semakin maju dan kuat b. Sumber Daya Alam (SDA) Kekuatan negara tergantung pda kondisi alam atau material buminya, berupa kandunga minteral, kesuburan, kekayaan laut, dan hutan. Semakin tinggi kekayaan alam, maka negara tersebut semakin kuat, negara yang kaya akan minyak, agroindustri, dan manufaktur akan menjadi negara yagn tangguh. c. Kekuatan Militer Kekuatan militer dan mobilitasnya sanat menentukan kekuatan baik akan negara. Negara yang mempunyai jumlah dalam anggota militer, dan kualitas personel dan peralatan yagn meningkatkan kemampuan militer mempertahankan kedaultan negara. d. Teritorial Negara Kekuatan negara juga tergantung seberapa luas wilayah negara tetangga. Semakin luas dan strategis, maka negara tersebut akan semakin kuat.

Segala faktor yagn mendukung kedaulatan negara, berupa kepribadian persatuan dan bangsa, kepemimpinan, dukungan efisiensi birokrasi, reputasi internasional,

bangsa (nasionalisme), dan sebagainya.

D. Sistem pemerintahan negara Secara umum ada tiga macam system pemerintahan yang dianut oleh Negara-negara di Dunia, yakni: a. Presidensial, sistem pemerintahan presidential memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Kepala Negara dan kepala pemerintahan dipegang oleh presiden Presiden dan parlemen dipilih langsung oleh rakyat Presiden tidak bertanggung jawab kepada parlemen Presiden dan parlemen tidak bisa saling menjatuhkan Menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden Menteri-menteri bertanggung jawab kepada presiden Jika presiden/wakil presiden dalam masa jabatannya melakukan perbuatan melanggar hukum, dapat diberhentikan melalui mekanisme yang diatur dalam UUD/Konstitusi Sistem ini disebut juga sistem pemisahan kekuasaan. Dalam sistem pemerintahan ini parlemen/legislative dan pemerintah/eksekutif memiliki kedudukan yang sama dan saling mengawasi (check and balances system). Dalam sistem ini masa/periode kabinet sudah pasti (4 tahun, 5 tahun atau 6 tahun) sesuai aturan konstitusi suatu negara dan tidak bisa diganggu gugat oleh parlemen (fixed term atau fixed executive).

b. Parlementer, sistem pemerintahan parlementer memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Kepala simbol negara. Kepala menteri. Pemili hanya untuk memilih anggota parlemen/legislative Perdana menteri dan menteri-menteri ditunjuk dan diangkat oleh parlemen Perdana menteri dan menteri-menteri bertanggung jawab kepada parlemen Perdana menteri mengepalai kabinet yang terdiri atas meneri-menteri Parlemen bisa menjatuhkan kabinet dengan mosi tidak percaya. Dalam system ini kedudukan parlemen/legislative lebih tinggi dibandingkan kedudukan eksekutif/pemerintah. Dalam system ini masa periode kabinet tidak pasti. Sewaktu waktu kabinet bisa dibubarkan oleh parlemen dengan mosi tidka percyaa. Contoh Indonesia pada masa UUDS 1950l, Inggris dan Jepang. c. Sistem Pemerintahan dengan system referendum Merupakan system pemerintahan dengna pengawasan langsung dari rakyat, contoh Swiss. Hubungan Negara Dan Agama Negara dan agama merupakan persoalan yang banyak menimbulkan perdebatan (discourse) yang terus berkelanjutan di kelangan para ahli. Hal ini disebabkan oleh pemerintahan dipegang oleh perdana negara dipegang oleh presiden/raja/ratu/kaisar, hanya berperan sebagai

perbedaaan

pandangan

dalam

menerjemahkan

agama

sebagai bagian dari negara atau negara merupakan bagian dari dogma agama. Pada hakekatnya, negara sendiri secara umum diartikan sebagai suatu persekutuan hidup bersama sebagai penjelmaan sifat kodrati manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Oleh karena itu, sifat dasar kodrat manusia secara horizontal dalam hubungan manusia dengan manusia lain untuk mencapai tujuan bersma. Dengan demikian, negara memiliki sebab akibat langsung dengan manusia karena manusia adalah pendiri negara itu sendiri. Dalam memahami hubungan agama dan negara ini, akan dijelaskan beberapa konsep hubungan agama dan negara menurut beberapa aliran, antara lain paham teokrasi, paham sekuler dan paham komunis. 1. Hubungan Agama dan Negara Menurut Paham Teokrasi Dalam paham teokrasi, hubungan agama dan negara digambarkan sebagai sua hal yang tidak dapat dipisahkan. Negara menyatu denan agama, karena pemerintahan menurut paham ini dijalankan berdasarkan firman-firman tugah, segala tata kehidupan dalam masyarakat, bangsa, dan negara dilakukan atas titah tuhan. Degan demikian, urusan kenegaraan atau politik, dalam paham teokrasi juga diyakini sebagai manifestasi firman Tuhan. Dalam perkembangannya, paham teokrasi terbagi ke dalam dua bagian, yakni paham teokrasi langsng dan paham teokrrasi tidak langsung. Menurut paham teokrasi langsung, pemerintahan diyakini sebagai otoritas Tuhan secara langsng pula. Adanya negara di dunia ini adalah atas kehendak tuhan, dan oleh karena itu yang memerintah adalah tuhan pula. Sementara menurut sistem

pemerintahan teokrasi tidak langsng yagn memerintah bukanlah tuhan sendiri, melainkan yang memerintah adalah raja atau kepala negara yagn memiliki otoritas atas nama Tuhan. Kepala Negara atau raja diyakini memerintah atas kehendak tuhan. Kerajaan Beladna dpat dijadikan conoth untuk model ini. Dalam sejarah, raja di negara Belanda diyakini sebagai pengemban tugas suci yaitu kekuasaan yang merupakan amanat suci dari Tuhan ntuk memakmurkan rakyatnya. Politik seperti inilah yang diterapkan oleh pemerintah Belanda ketiga menjajah Indonesia. Mereka meyakini bahwa raja mendapat amanat suci dari tuhan untuk bertindka sebagai wali dariwilayah jajahannya itu. Dalam sejarah, politik Belanda seperti ini disebut politik etis. Dalam Pemerintahan teokrasi tidak langsung, sistem dan norma norma dalam negara dirumuskan berdasarkan firman-firmna tuhan. Dengan demikian, negara meyatu dengan agama. Agama dan negara tidak dapat dipisahkan. 2. Hubungan Agama dan Negara menurut Paham Sekuler. Paham sekuler memisahkan dan membedakan antara agama dan negara dalam negara sekuler, tidak ada hubungan antara sistem kenegaraan dengan agama. Dalam manusia paham ini, negara adalah lain, urusan hubungan dunia. dengan manusia atau urusan

Sedangkan agama adalah hubungan manusia dengan tuhan. Dua hal ini, menurut paham sekuler tidak dapat disatukan. Dalam negara sekuler, sistem dan norma hukum positif

dispisahkan dengna nilai dan norma agama. Norma hukum ditentukan mungkin atas kesepakatan tersebut manusia dan tidak dengan berdasarkan agama atau firman-firman tuhan, meskipun norma-norma bertentangan norma-orma agama. Sekalipun paham ini memisahkan antara agama dan negara, akan tetapi pada lazimnya negara sekuler membebaskan warga negaranya untuk memeluk agama apa saja yagn mereka yakini dan negara tidak intervensi dalam urusan agama. 3. Hubungan agama dan negara menurut paham Komunisme Paham komunisme memandang hakikat hubungna negara dan agama brdasarkan pada filosifi materialisme dialektis dan materialisme historis. Paham ini menimbulkan paham atheis. Paham yang dipelopori oleh Karl Marx ini, memandang agama sebagai candu masyarakat (marx, dalam Louis Leahy) menurutnya manusia ditentukan oleh dirinya sendiri. Sementara agama dalam paham ini, dianggap sebagai suatu kesadaran diri bagi manusia sebelum menemukan dirinya sendiri. Kehidupan manusia adalah dunia manusia itu sendiri yang kemudian menghasilkan masyarakat negara. Sedangkan agama dipandang sebagia realisasi fantastis makhluk manusia dan agama merupakan keluhan mahluk tertindas. Oleh karena itu, agama harus ditekan, bahkan dilarang. Nilai yagn tertinggi dalam negara adalah materi, karena manusia sendiir pada hakekatnya adalah materi. E. Pengertian konstitusi Istilah konstitusi berasal dari bahasa Prancis (constituer) yang berarti membentuk. Pemakaian istilah konsitusi yang

dimaksud ialah pembentukan suatu negara atau menyusun dan menyatakan aturan suatu negara. Sedangkan istilah Undang-undang dasar (UUD) merupakan terjemahan istilah dari bahasa Belanda Grondwet. Perkataan wet diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Undang-undang dasar, dan grond berarti tanah atau dasar. Di negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris dipakai istilah constittion yang bahasa Indonesianya konsitusi. Pengertian konstitusi dalam praktik dapat diartikan lebih luas dari pada pengertian Undnag-undang dasar. Dalam ilmu politik, constitution merupakan suatu yang lebih luas, yaitu keseluruhan dari peraturan-peraturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur secara mengikat caracara bagaimana sesuatu pemerintahan diselenggarakan dlam sutu masyarakat. Dalam bahasa latin, kata konstitusi merupakan gabungan dari dua kata, yaitu cume dan statuere. Cume adalah sebuah presposisi yang berarti “bersama-sama dengan …,” sedangkan statuere mempunyai arti berdiri. Atas dasar itu, kata statuere mempunyai arti “membuat sesuatu agar berdiri atau mendirikan/menetapkan.dengan demikian bentuk tunggal dari konstitusi adalah menetapka sesuatu secara bersama-sama dan bentuk jamak dari konstitusi berarti segala yang ditetapkan. Dalam perkembangannya, ada beberapa pendapat yang membedakan antara konstitusi dengan undang-undang dasar. Seperti yang dikemukakan oleh Herman Heler. Ia mengatakan bahwa konstitusi lebih luas dari pada Undang-undang dasar. Konstitusi tidak hanya bersifat yuridis melainkan juga bersifat

sosiologis dan politis. Sedangkan undang-undang dasar hanya merupakan sebagian dari pengertian konstitusi, yakni die geschreiben verfassung atau konstitusi yang tertulis . Pendapat yang sama dikemukanan oleh F. Lassale yang dikutip oleh abu daud busroh dan abubakar busro. Ia membagi pegertian konstitusi ke dalam dua pengertian, yaitu: 1. Pengertian sosiologis dan politis, yaitu sebagai faktor kekuatan yagn nyata dalam masyarakat. Jadi konstitusi menggambarkan hubungan antara kekuasaan yang terdapat dengan nyata dalam suatu negara. 2. pengertian yuridis yaiut suatu naskah yagn memuat semua bangunan negara dan sendi-sendi pemerintahan. Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa konstitusi meliputi peraturan tertulis dan tidak tertulis. Undang-undnag dasar merupakan konstitusi yang tertulis. Dengan demikian konstitusi dapat diartikan sebagai berikut : a. Suatu kumpulan kaidah yang memberikan pembatasanpembatasan kekuasaan kepada para penguasa b. Suatu dokumen tentang pembagian tugas dan sekaligus petugasnya dari suatu sistem politik c. Sutu gambaran dari lembaga-lembaga negara d. Suatu gambaran yagn menyangkut masalah hak-hak asasi manusia. F. Hakikat dan fungsi konstitusi 1. Hakikat Isi Konstitusi (UUD) Pada hakikatnya konstitusi (UUD) itu berisi tiga hal pokok, yaitu : a. adanya jaminan tehadap hak asasi manusia dan warga negaranya b. ditetapkan susunan ketatanearaan suatu egara yang

bersifat fundamental c. adanya pembagian dan pembatasan tugas ketatanegaraan yagn juga bersifat fundamental. 2. Fungsi Konstitusi Konstitusi (UUD) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menjadi memiliki arti dan makna yang sangat penting. Artinya bahwa konstitusi menjadi “tali” pengikat setiap warga negara dan lembaga negara dalam kehidupan negara. Dalam kerangka kehidupan negara, konstitusi secara umum memiliki fungsi sebagai: a. tata aturan dalam pendirian lembaga-lembaga yang permanen politik) b. tata aturan dalam hubugnan negara dengan warga negara serta dengan negara lainya c. sumber hukum dasar yang tertinggi. Artiya bahwa seluruh peraturan dan perudnang-undangan yagn berlaku harus mengcu pada konstitusi. 3. Tujuan Konstitusi Konstitusi sebagai disebutkan merupaka aturanaturandasar yang dibentuk dalam mengatur hubungan antar negara dan warga negara. Konstitusi juga dapat dipahami sebagai bagian dari kontrak sosial yang memuat aturan main dalam berbngsa dan bernegara. Lebih jelas, Sovernin Lohman menjelaskan bahwa dalam konstitusi harus memuat unsur-unsur sebagai berikut: 1. Konstitusi dipandang sebagai perwujudan perjanjian masyarakat. Artinya bahwa konstitusi merupakan konklusi dari kesepakatan masyarakat untuk membina neara dan pemerintahan yang akan mengatur mereka. (lembaga suprastutktur dan infastuktur

2. Konstitusi sebagai paigam yang menjamin hak-hak asasi manusia dan warga negara sekaligus penentuan batasbatas hak dan kewajiban warga negara dan alat-alat pemerintahannya. Pada prinsipnya, adanya konstitusi memiliki tujuan untuk membatasi kewenangan pemerintah dalam menjamin hakhak yang diperintah yang dan merumuskan pelaksanaan adanya kekuasaan berdaulat. Tujuan-tujuan

konstitusi tersebut, secara singkat dapat diklasifikasikan menjadi tiga tujuan, yaitu: 1. Konstitusi bertujuan untuk memberikan pembatasan sekaligus pengawasan terhadap kekuasaan politik 2. 3. Konstitusi konstitusi bertujuan bertujuan untuk melepaskan kontrol kekuasaan dari penguasa sendiri memberikan batasan-batasan ketetapan bagi para penguasa dalam menjalankan kekuasaanya. G. Institusi dan mekanisme pembuatan konstitusi 1. Institusi pembuat konstitusi Institusi (lembaga) yang bertugas untuk membuat konsitutusi adalah MPR 2. Mekanisme pembuatan/perubahan Konstitusi Tidak ada aturan yang jelas mengenai bagaimana tata cara pembuatan atau perubahan konsitutusi. Dalam pasal 3 ayat 2 dinyatakan MPR berwenang untuk mengubah dan menetapkan UUD. Prosedur untuk mengubah UUD terdapat dalam Pasal 37 UUD 1945 yang menyebutkan: (1)Untuk mengubah UUD sekurang-kurangnya 2/3

daripada jumlah anggota MPR harus hadir (2)Putusan diambil denan persetujuan sekurangkurangnya 2/3 jumlah anggota yang hadir. Pasal 37 tersebut mengandung tiga norma, yaitu : 1) Bahwa yang berwenang untuk mengubah UUD ada pada MPR sebagai lembaga tertinggi negara 2) Bahwa untuk mengubah UUD, kuorum yang harus dipenuhi sekurang-kurangnya anggota MPR 3) Bahwa putusan tentang perubahan UUD adalah sah apabila disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari anggota MPR yagn hadir. adalah 2/3 dari seluruh jumah

Dalam pelaksanaan amandemen konstutusi (UUD 1945) MPR mengunakna mekanisme sebagai berikut: 1) MPR menagakan rapat konsultasi dengan seluruh badan kelengkapan MPR dan anggotanya yaitu DPR dan DPD 2) MPR membnetuk panitia perumus badan Pekerja (BP MPR yagn bergugas menyusun RUUD 1945 dri pipinan MPR. Dalam pembahasan panitia perumus mengdakan rapat dengan pendapat dengan elemen-elemen yang meliputi unsur pemerintah, profesional, pengusaha, partai politik, LSM, ormas, OKP, tokoh masyarakat, dan unsur-unsur lain yang terkait. 3) Hasil perumusan Panitia Badan Pekerja MPR menyerahkan hasil perumusan RUU kepada pimpinan MPR. 4) Pimpinan MPR menyelenggarakan sidang umum MPR tahunan untuk mendengarkan pandangan umum fraksifraksi yang ada di MPR guna menetapkan RUUD 1945 amandemen menjadi UUD 1945 Amandemen

Menurut Ketetapan MPR RI Nomor III/MPR/2000, tentang sumber hukum dan tata urutan peratutan perundang-undang Negara RI adalah : 1) Undang-undang Dasar 1945 2) Ketetapan MPR RI 3) Undang-undang 4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang 5) Peraturan Pemerintah 6) Kepres 7) Peraturan daerah Sedangkan menurut UU No. 10/2004, tata urutan peraturan perundang-undangna Indonesia adalah: 1) Undang-undang Dasar 1945 2) Undang-undang /Perpu 3) Peraturan Pemerintah 4) Perpres 5) Peraturan daerah Dengan telah terbentuknya UU No. 10/2004 yang didalamnya diatur tentang tata urutan peraturan perundang-undangan, maka ketetapan MPR RI Nomor III/MPR/2000 tidak berlaku lagi. Namun demikian Pasal 7 ayat (4) UU No. 10/2004 dan penjelasannya, menyatakan bahwa peraturan yang dikeluarkan oleh MPR (sebagaimana yang ditetapkan dalam TAP MPR No. I/MPR/2003) masih diakui keberadaanya dan mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.

BAB V HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA Deskripsi Singkat Dalam bab ini kita akan mempelajari pengertian warga negara dan kewarganegaraan, mengenai hak dan kewajiban warga negara, asas dan unsur kewarganegaraan. Kemudian akan dipelajari juga mengenai masalah-masalah status mengenai yang kewarganegaraan bagaimana memperolehnya dan hak serta kewajiban warga negara. Akhirnya akan dibahas bagaimana membangun karakter warga bertanggungjawab PENGERTIAN WARGA NEGARA DAN KEWARGANEGARAAN Warga Negara • Warga Negara adalah penduduk sebuah negara atau bangsa berdasarkan keturunan, tempat kelahiran, dan sebagainya, yang mempunyai kewajiban dan hak penuh sebagai warga negara itu. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002). • Warga negara adalah penduduk suatu negara, tetapi penduduk belum tentu warga negara, karena mungkin seorang asing. Warga mempunyai negara. • Setiap warga negara mempunyai kewajiban terhadap negara adalah anggota suatu negara yang yaitu kedudukan khusus terhadap negaranya negara

hubungan hak dan kewajiban yang bersifat timbal-balik terhadap

negara dan mempunyai hak untuk dilindungi oleh negara. Penduduk • Penduduk, adalah orang yang memiliki domisili atau tempat tinggal tetap di wilayah negara itu, yang dapat dibedakan menjadi warga negara asli dan warga negara asing (WNA). • Penduduk menurut pasal 26 ayat (2) UUD 1945 adalah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia. • Bukan Penduduk, adalah orang-orang asing yang tinggal dalam negara bersifat sementara sesuai dengan visa yang diberikan negara melalui kantor imigrasi. Kewarganegaraan • Istilah Kewarganegaraan (citizenship) memilikii arti keanggotaan yang menunjukkan hubungan atau ikatan antara negara dengan warga negara. • Pengertian kewarganegaraan dapat dibedakan menjadi: • • • Kewarganegaraan dalam arti Yuridis dan Sosiologis. Kewarganegaraan dalam arti Formil dan Materiil. ditandai dengan misalnya: akte

Kewarganegaraan dalam arti yuridis Tanda adanya ikatan hukum,

adanya ikatan hukum antara orang-orang dengan negara. kelahiran,surat pernyataan, bukti kewarganegaraan, dll. • Kewarganegaraan dalam arti sosiologis, tidak ditandai dengan ikatan hukum, melainkan ikatan emosional, yang lahir dari penghayatan warga negara yang bersangkutan. Misalnya: ikatan perasaan, ikatan keturunan, ikatan nasib, ikatan sejarah, ikatan tanah air. • Kewarganegaraan dalam arti formil menunjuk pada tempat kewarganegaraan. Dalam sistematika hukum, masalah kewarganegaraan berada pada hukum publik. • Kewarganegaraan dalam arti materiil menunjuk pada

akibat dari status kewarganegaraan, yaitu adanya hak dan kewajiban warga negara. UNSUR-UNSUR KEWARGANEGARAAN • Ada • • • beberapa unsur yang menentukan status

kewarganegaraan, yaitu: Unsur darah atau keturunan (ius sanguinis) Unsur daerah tempat lahir (ius soli) Unsur kewarganegaraan (naturalisasi) Naturalisasi adalah status kewarganegaraan yang diperoleh atas hak opsi yaitu untuk memilih dan mengajukan kehendak menjadi warga negara dari suatu negara (=hak kewarganegaraan aktif) atau sebaliknya adalah hak repudiasi yaitu hak menolak pemberian kewarganegaraan dari suatu negara.

STATUS KEWARGANEGARAAN • Apatride (tanpa kewarganegaraan) adalah kewarganegaraan. seseorang Hal ini yang timbul tidak memiliki status menurut peraturan

kewarganegaraan suatu negara, seseorang tidak diakui sebagai warganegara dari negara manapun. • Bipatride (dwi kewarganegaraan) adalah kewarganegaraan ganda yang timbul apabila peraturan dari dua negara terkait seseorang dianggap sebagai warganegara kedua negara tersebut. Misal Tukiyo dan Tukiyem suami isteri berstatus warganegara A yang menganut asas iussanguinis dan berdomisili di negara B yang menganut asas iussoli. Anaknya, Tukijan lahir di negara B, maka Tukijan

mempunyai status kewarganegaraan ganda. • Multipatride adalah seseorang yang memiliki lebih dari dua status kewarganegaraan, yaitu seseorang (penduduk) yang tinggal di perbatasan dua negara. Hak dan Kewajiban Negara • Dalam rangka terpeliharanya hak dan kewajiban warga negara, negara memiliki tugas dan tanggungjawab sebagai berikut: 1. Negara 2. Negara menjamin atau kemerdekaan wajib tiap-tiap membiayai penduduk memeluk agamanya (pas 29 ayat 2) pemerintah pendidikan khususnya pendidikan dasar (pasal 31 ayat 2) 3. Pemerintah berkewajiban mengusahakan dan menyeleng-garakan satu sistem pendidikan nasional (pasal 31 ayat 3) 4. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya ayat 4) 5. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia (pasal 31 ayat 5) 6. Negara memajukan kebudayaan dengan manusia ditengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat memelihara dana mengembangkan nilai-nilai budayanya. 20% dari anggaran belanja negara dan belanja daerah (pasal 31

(pasal 32 ayat 1) 7. Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah 8. Negara sebagai menguasai kekayaan kebudayaan produksi nasional. (pasal 32 ayat 2) cabang-cabang terpenting bagi negara danmenguasai hidup orang banyak (pasal 33 ayat 2) 9. Negara menguasai bumi, air dan kekayaan alam demi kemakmuran rakyat (pasal 33 ayat 3) 10.Negara berkewajiban memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar (pasal 34 ayat 1) 11.Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan tidak mampu masyarakat 34 ayat 2) 12.Negara fasilitas bertanggungjawab pelayanan atas persediaan fasilitas kesehatan dan yang lemah dan

sesuai dengan martabat kemanusiaan (pasal

pelayanan umum yang layak (pasal 34 ayat 3) Beberapa Hal Prinsip Dari Uu No. 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan RI 1. Pengertian warga negara Indonesia adalah setiap orang yang berdasarkan peraturan perundang-undangan dan/atau berdasarkan perjanjian pemerintah RI dengan negara lain sebelum UU ini berlaku sudah menjadi warga negara Indonesia. 2. Yang menjadi warga negara Indonesia adalah: 1) Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah dan ibunya WNI.

2) Anak lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah WNI dan ibunya WNA. 3) Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari ibu WNI, tetapi ayahnya tidak mempunyai kewarganegaraan atau hukum negara asal ayahnya tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut. 4) Anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 hari setelah ayahnya meninggal dunia dari perkawinan yang sah dan ayahnya WNI. 5) Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu WNI. 6) Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu WNA yang diakui oleh seorang ayah WNI sebagai sebelum anaknya anak dan pengakuan berusia itu dilakukan atau tersebut 18 tahun

sebelum kawin. 7) Anak yang lahir di wilayah RI yang pada waktu lahir tidak jelas status kewarganegaraan ayah-ibunya., 8) Dll.

BAB VI DEMOKRASI DAN PENDIDIKAN DEMOKRASI Arti dan makna demokrasi Demokarasi berasal dari kata Yunani demos dan kratos. Demos artinya rakyat, kratos berarti pemerintahan. Jadi, demokrasi artinya pemertintah rakyat, yaitu pemerintahan yang rakyatnya memegang peranan yang sangat menentukan. Demokrasi dibagi menjadi dua yaitu, demokrasi langsung dan demokrasi tidak langsung. Demokrasi langsung adalah demokrasi yang dilaksanakan secara musyawarah, dimana rakyat dikumpulakan menjadi satu pada suatu tempat pertemuan dan mereka dapat memilihnya secara langsung, demokrasi tidak langsung adalah demokrasi yang dilaksanakan atas perwakilan rakyat dari masing – masing daerah, dan perwakilan rakyat tersebut yang akan menampung aspirasi rakyat untuk dijalankan dipemerintahan. Bagi negara – negara modern, demokrasi langsung tidak dapat dilaksanakan, karana : 1. Penduduk yang selau bertambah, sehingga suatu musyawarah tidak dapat dilaksanakan pada suatu tempat. 2. Masalah yang dihadapi oleh suatu pemerintah semakin rumit, tidak seperti di pedesaan. 3. Setiap warga negara mempunyai kesibukan masing – masing di dalam kehidupannya, sehingga cukup diwakilkan oleh perwakilan rakyat dari tiap daerah. Demokrasi yang pernah dijalankan di Indonesia diantaranya : 1. Demokrasi Liberal

Dimulai pada tahun 1945 – 1949, dan diganti pada tahun 1959. Demokrasi ini runtuh karna tidak tercapainya stabilitas politik dan timbulnya perbedaan pendapat yang sangat mendasar diantara partai politik yang ada saat itu. 2. Demokrasi Terpimpin Dimulai dengan runtuhnya demokrasi Liberal dan dikeluarkannya Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959, oleh Presiden Soekarno. Namun demokrasi ini mengalami kegagalan karna pembangunan yang tidak merata di berbagai daerah, terjadinya KKN, dan manipulasi politik. Akhirnya demokrasi ini pun runtuh pada 1998, yang disebut Reformasi. 3. Demokrasi pancasila Dimulai dengan tumbangnya demokrasi terpimpin, dan digantikan dengan Era Orde Baru yang memakai demokrasi Pancasila. Dan tetap dilakasanakan sampai saat ini karna masih dianggap cocok dengan keadaan Indonesia kini.

BAB VII HAM DAN RULE OF LAW

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful