Hello i’m Arini Noviana My class : 1x one

( Penyebaran islam di jakarta )
Awal perkembangan Islam di Jakarta erat hubungannya dengan situasi politik dan perdagangan. Hal ini menunjukan bahwa peran wilayah dalam posisi strategis menjadi faktor utama yang menjadikan kota Jakarta sebagai pusat kegiatan dan perdagangan. Hal ini karena Jakarta memiliki pelabuhan Sunda Kelapa yang berada dalam kekuasaan Kerajaan Padjajaran menjelang masuknya agama Islam. Sunda Kelapa sebelum masuknya pengaruh Islam merupakan Bandar perdagangan yang terpenting bagi perekonomian Kerajaan Padjajaran. Hal ini karena Sunda Kelapa merupakan pintu gerbang untuk menyambut kedatangan para imigran yang melaksanakan kegiatan perdagangan. Adanya bangsa pendatang di Sunda Kelapa menjadi cikal bakal berkembangnya kebudayaan baru. Faktor penyebabnya karena Sunda Kelapa menjadi tempat pertemuan berbagai macam golongan etnis, suku bangsa dan kebudayaan. Apabila dikaitkan dengan jalur sutera maka peran Sunda Kelapa merupakan pelabuhan yang dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai penjuru. Adanya kabar mengenai bangsa Arab sebagai bangsa petualang yang mengenal perniagaan dan melakukan penyebaran agama Islam sejak abad ke-9 merupakan alasan kuat bahwa bangsa tersebutlah yang membawa Islam ke tanah air terutama di Jawa Barat . Hal ini diperkuat oleh adanya karya Al-Mas’udi dalam bukunya Murujuzzahab yang menyatakan bahwa bangsa Arab telah terlebih dulu datang ke Indonesia sebelum kedatangan Belanda. Bahkan di Jakarta saat itu sudah ada Kampung Jawa yang dihuni oleh bangsa Arab untuk melaksanakan dakwah Islamiyah (sekarang berada dalam kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung). Perkembangan pesat pelabuhan Sunda Kelapa membuat Portugis berniat untuk menguasainya. Hingga tahun 1522 Sunda Kelapa masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Padjajaran. Untuk mengantisipasi perebutan Sunda Kelapa oleh Portugis maka Kerajaan Padjajaran mengadakan perjanjian dengan pihak Portugis. Perjanjian ini juga dibuat untuk mengatasi adanya pengaruh Islam dari pihak Cirebon yang ingin meruntuhkan Kerajaan Padjajaran. Adanya perjanjian antara pihak Padjajaran dan Portugis membuat Kerajaan Islam Demak dan pemuka Islam Cirebon mengubah sistem dakwah dengan memasukan unsur politik didalamnya. Hal ini bertujuan untuk membatasi sekaligus melumpuhkan pihak lawan. Bahkan adanya latihan fisik dan mental dilaksanakan untuk memperkuat pasukan Islam. Sasaran utama dari pasukan Islam adalah Pelabuhan sunda Kelapa yang hampir jatuh ketangan Portugis. untuk menaklukan Sunda Kelapa pasukan Islam terlebih dahulu menguasai Pelabuhan Banten, hal ini karena Banten merupakan pintu gerbang pantai Utara Jawa Barat Yang menjadi ramai ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511). Setelah menguasai Banten pasukan Cirebon dan Demak berhasil menaklukan Sunda

Adanya perjanjian antara Jayakarta dan Belanda pada tanggal 11-15 November 1610 membuat Sultan Abdul Mufakir (Sultan Banten) merasa tidak senang atas Pangeran Jayakarta Wijayakrama yang menandatangani perjanjian tersebut. Semangat dan perjuangan Islam berhasil ditanamkan di Sunda Kelapa. Pada tanggal 30 Mei 1619 nama Jayakarta diubah oleh Coen menjadi Batavia. Sejak terbentuknya VOC pada tahun 1602. Kemenangan pasukan Islam menjadikan Fatahillah sebagai pangeran yang mewakili Cirebon di Jayakarta. Sedangkan Sunda Kelapa akhirnya dipimpin oleh Tubagus Angke (anak Fatahillah). Fatahillah merupakan penguasa Sunda Kelapa yang pada tahun 1530 menjadi pangeran Cirebon untuk menggantikan pangeran Pasarean (putera Sunan Gunung Jati). Di dalam babad Banten keturunan Pangeran Jayakarta Wijayakrama adalah Sultan Ageng Tirtayasa (Abdul Fatah) yang merupakan anak dari Ratu Martakusumah dan Sultan Abdul Ma’ali Ahmad. sekaligus menjadi penyebab perebutan Jayakarta yang terus dilakukan oleh pihak Banten hingga masa Sultan Tirtayasa. Sejak itu banyak kaum pribumi melarikan diri ke pedalaman untuk menghindari penguasaan VOC. Pada awal abad ke-17 Jayakarta dipimpin oleh Pangeran Jayakarta Wijayakrama yang merupakan putera dari Tubagus Angke. Kedamaian antara Jayakarta dan Belanda hanya berlangsung singkat. peristiwa tersebut pada tanggal 22 Juni 1527. Hal ini merupakan dampak yang dialami oleh pihak Jayakarta setelah mengalami kekalahan dalam peperangan. Sedangkan nama Pangeran Ahmad Jayakarta dinyatakan sebagai keturunan Pangeran Jayakarta Wijayakrama karena semasa hidupnya Pangeran Ahmad Jayakarta merupakan orang yang sangat dihormati di Jayakarta. kemenangan atas Portugis tersebut membuat Fatahillah mengganti Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Adanya pertentangan antara pemimpin Jayakarta dengan J. Menurut Sukanto. . Hal ini yang menyebabkan pemerintahan Pangeran Jayakarta Wijayakrama berakhir pada tahun 1619. Hal ini dimanfaatkan Belanda untuk dapat menguasai Jayakarta.P Coen memunculkan terjadinya peperangan antara kedua belah pihak. Hal ini identik dengan sistem patrimonial atau kebapaan (kekerabatan). Hal ini karena pada tahun 1564 Tubagus Angke mendapat tugas untuk memimpin pasukan Demak ke Pasuruan.Kelapa pada 1527. penguasa Banten). Untuk mempeerat hubungan Banten dan Jayakarta maka Tubagus Angke dinikahkan dengan Pembayun (putri Hasanudin. Adanya pemanggilan Pangeran Jayakarta Wijayakrama ke Banten menyebabkan Jayakarta mengalami kekosongan penguasa. Hal ini juga diperkuat dengan ditemukan makamnya yang terletak di daerah Jatinegara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful