You are on page 1of 22

LOGIKA ARISTOTLE (384-322 SM)

(Sejarah, Pengertian dan Model Konstruksinya)

=======================================

Achmad Khudori Soleh**

Logika Aristoteles mempunyai pengaruh sangat besar dalam


sejarah intelektual umat manusia. Buku-buku pegangan tentang logika --
tradisional-- sebagian besar diisi dengan logika ini, dan tidak ada satupun
jenis pengetahuan yang tidak bersentuhan logika yang ditemukan
Aristoteles ini, sehingga Immanuel Kant (1724-1804 M) pernah
menyatakan bahwa selama 20 abad lebih, logika Aristoteles tidak
tergoyahkan dan ia tetap menjadi tonggak dan pondasi pengetahuan
ilmiah manusia.1

Tulisan ini membahas pengertian logika, objek pembahasan dan


model konstruksinya, ditambah uraian tentang riwayat hidup Aristoteles
sendiri, kondisi sosial yang melingkupi, sejarah perkembangan logikanya,
kemudian ditutup dengan tanggapan tentangnya.

A. Riwayat Hidup.

Aristoteles lahir di Stageria semenanjung Kalkidike, Trasia, Yunani


Utara (Balkan), tahun 384 SM. Ayahnya bernama Machaon, seorang
dokter istana pada raja Macedonia, Amyntas II. Semasa kecil ia diasuh
ayahnya sendiri dan mendapat pelajaran tentang teknik bedah, sehingga
Aristoteles mempunyai perhatian yang sangat besar pada ilmu alam,
terutama biologi.2Perhatiannya pada ilmu-ilmu empiris, yakni ilmu
**
** Disampaikan dalam seminar kelas mata kuliah “Filsafat Barat Klasik-Tengah”
pada program S-3, Pps IAIN Sunan Kalijaga, Yogya, tanggal 01 Maret 2000, dibawah
bimbingan Prof. Dr. H. Amin Abdullah.
1
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta, Gramedia, 1996), 530.
2
Muhamamd Hatta, Alam Pikiran Yunani, Jakarta, UI Press, 1986), 115.
Kecenderungan Aristoteles pada ilmu-ilmu empiris ini perlu dicatat karena ini rupanya
memberikan pengaruh pada model filsafatnya sehingga berbeda dengan Plato, gurunya,
yang idealis. Menurut Aristoteles, pengalaman bukan pengetahuan bayangan, bukan
gambaran dari idea seperti yang diajarkan Plato. Pengetahuan adalah keadaan riil itu
2
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
biologi, tidak berubah meski ia telah menjadi seorang filosof, apalagi
pada masa kekuasaan Aleksander Agung (w. 336-323 SM), karena raja
yang pernah jadi muridnya ini memberikan bantuan yang besar dengan
memerintahkan para pemburu, penangkap unggas, dan nelayan didaerah
kekuasaannya untuk melaporkan hal-hal yang menarik dalam sudut
ilmiah kepada Aristoteles. Menurut Harold,3Aristoteles mempelajari tidak
kurang dari 500 jenis binatang dan mengklasifikasikan dalam sistem yang
rapi. Sistem klasifikasi yang di praktekkan ini sangat berpengaruh pada
pemikiran biologi berikutnya dan tidak tertandingi sampai zaman
renaisans.

Setelah ayahnya meninggal, pada usia 18 tahun, Aristoteles pergi


ke Athena untuk belajar di Akademia, Plato (427- 347 SM). Selama 20
tahun ia belajar dan bergaul dengan Plato. Menurut Hatta,4 disini
Aristoteles banyak membaca buku, mengumpulkan dan menyusun
bibliotik yang kemudian di anggap sebagai bibliotik pertama di Athena.
Plato sangat menghargai usaha muridnya ini sehingga menamakan
rumahnya dengan “rumah pembaca”.

Disamping belajar filsafat pada Plato, Aristoteles juga belajar


pengetahuan lain diluar Akademia. Antara lain, belajar matematika dan
astronomi pada Eudoxos dan Kalippos, serta retorika pada Isokrates dan
Demosthenes. Dengan modal pengetahuan yang cukup komplet dan utuh
tersebut ditambah kecerdasan yang luar bisa, maka selama di Akademia
ini Aristoteles mampu menulis beberapa karya di samping mengajar
anggota-anggota Akademia yang lebih muda, tentang mata kuliah logika
dan retorika.5

sendiri, meski diakui bahwa pengetahuan tersebut merupakan makna atau pengertian
dari yang riil, karena makna atau pengertian tersebut sama sekali tidak lepas dari kondisi
riil.
3
Harold H. Titus, Persoalan-Persoalan Filsafat, terj. HM. Rasjidi, (Jakarta, Bulan
Bintang, 1984), 256; Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, (Yogya, Kanisius, 1999), 156. Di
perkirakan binatang dan benda-benda yang menarik dalam bidang biologi dan zoologi
ini dipajang dalam sebuah rungan semacam musium.
4
M. Hatta, Alam Pikiran Yunani, 115.
5
Ibid, 116. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, 154.
3
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
Setelah Plato meninggal, Aristoteles bersama Xenokrates pergi
meninggalkan Athena menuju Assos.6Disini Aristoteles mengajar dan
menikah dengan Pythias, kemenakan Hermeias, penguasa wilayah
tersebut yang juga murid Plato. Namun, tidak lama kemudian ia terpaksa
harus menyelamatkan diri karena Assos diserbu tentara Persia. Setelah
beberapa lama ditempat pelarian, sekitar tahun 342 SM, Aristoteles di
undang Philippos, anak Amyntas II, raja Macedonia, untuk mengajar
Alexandros (Aleksander Agung). Selama 7 tahun Aristoteles mengajar
calon raja besar ini, dan setelah Alexandros dilantik sebagai raja, ia
menulis buku untuk raja agung ini, yakni “Perihal Monarki” dan “Tentang
Pendirian Perantauan”.7

Aristoteles kemudian kembali ke Athena setelah itu, tetapi tidak


menetap di Akademia yang saat itu telah dipimpin oleh Xenokrates,
karena merasa pemikirannya telah berbeda jauh dari ajaran Akademia.
Dengan bantuan dari Macedonia, ia lalu mendirikan sekolah sendiri yang
dinamakan Lykeion, karena tempatnya yang dekat dengan halaman yang
digunakan untuk persembahan dewa Apollo Lykeios. Disini, berbeda
dengan Sokrates (469-399 SM) dan Plato yang mengajar dengan cara
dialok, Aristoteles mengajar dengan cara kuliah, ceramah sambil berjalan
mondar-mandir, sehingga pemikirannya sering dinamai dengan
paripatetik (jalan-jalan). Ia memberi dua macam kuliah. Pertama, kuliah
yang diberikan pagi hari, bersifat ilmiah dan filosofis, khusus untuk orang
yang benar-benar ingin menunutut ilmu. Kedua, kuliah malam hari,
untuk masyarakat umum, tidak hanya menyangkut filsafat tetapi juga
retorika.8

Selama 12 tahun Aristoteles mengajar di Lykeion, sampai kematian


Aleksander Agung, tahun 323 SM, yang mengakibatkan gerakan anti
6
Menurut Bertens, Aristoteles meninggalkan Akademia karena berselisih dengan
Speusippos, pengganti Plato, tentang filsafat, yakni karena Speusippos menyetarakan
filsafat dengan matematika. Lihat Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, 154. Sementara itu,
Xenokrates pergi karena kecewa bahwa ia ternyata tidak menjadi pemimpin Akademia
sepeninggalan Plato, padahal ia murid senior dan merasa lebih cerdas dan pintar
daripada Speusippos. Lihat Hatta, Alam Pikiran Yunani, 116.
7
Ibid, 117; Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, 155.
8
Hatta, Alam Pikiran Yunani, 118. Menurut Bertens, disinilah Aristoteles menekuni
minatnya tentang ilmu biologi, zoologi dan ilmu-ilmu empiris lainnya, disamping
filsafat, dengan dukungan raja Aleksander Agung. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, 156.
4
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
Macedonia, gerakan untuk melepaskan Athena dari kekuasaan
Macedonia. Ia dituduh menyebarkan faham “atheis”, menghina dewa-
dewa, sehingga memaksanya melarikan diri ke Khalkis, tempat asal
ibunya, setelah menyerahkan kepemimpinan Lykeion ke tangan
muridnya, Theophrastos. Ia melarikan diri dengan alasan agar rakyat
Athena tidak berdosa dua kali terhadap filsafat (alusi terhadap nasib
Sokrates).9 Namun, setahun kemudian ia jatuh sakit dan meninggal di
tempat pelarian pada usia 63 tahun.

Aristoteles meninggalkan banyak tulisan, meliputi logika, filsafat


alam, psikhologi, biologi, metafisika, etika, politik dan ekonomi, serta
retorika dan poetika. Karya-karyanya tentang logika, antara lain,
Categoriae (kategori-kategori), De Interpretatione (tentang penafsiran),
Analyica priora (analitika yang lebih dahulu), Analytica posteriora (analitika
yang kemudian), Topica dan De sophisticis elenchis (tentang cara
berargumentasi kaum sofis).10

B. Kondisi Sosial.

Aristoteles hidup dalam lingkungan masyarakat Yunani yang


kondusif untuk berfikir kritis dan logis. Dari sisi sosial politik, masyarakat
Yunani saat itu hidup dalam lingkungan polis, suatu negara kota atau
kesatuan beberapa desa dimana semua masyarakat ambil bagian dalam
pengambilan keputusan, sehingga mereka tidak diperintah oleh raja atau
penguasa yang mempunyai kekuasaan mutlak.11 Polis ini merupakan
9
Bertens, Ibid; Hatta, Alam Pikiran Yunani, 119. Lihat pula, Frans Magnis Suseno,
13 Tokoh Etika, (Yogya, Kanisius, 1998), 27; Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat,
1, (Yogya, Kanisius, 1996), 45. Kondisi kematian Sokrates dan alasan pelarian Aristoteles
ini terulang kembali pada masa-masa berikutnya, yakni diri al-Hamadani (1098-1131 M)
penggagas “cinta iblis” dan Suhrawardi (1154-1192 M) penggagas epistimologi
illuminatif (isyraqi) dalam filsafat Islam. Keduanya dihukum mati karena gagasan-
gagasannya di anggap sebagai bid`ah.
10
Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, 160-3. Lihat juga Frederick Copleston, A History
of Philosophy, I, (London, Search Press, 1946), 273-5. Analitika adalah nama yang dipakai
Aristoteles untuk logika.
11
Polis ini timbul sebagai suatu bentuk kemasyarakatan baru pada abad 8 atau 7
SM, dan cepat berkembang sehingga tidak lama di negeri Yunani sudah terdapat ratusan
negara kota semacam ini. Wilayah polis ini tidak besar. Menurut Plato, suatu polis yang
5
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
pusat segala keaktifan dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan religius.
Menurut Bertens,12 setidaknya ada tiga ciri tentang negara kota atau polis
ini. Pertama, otonomi, mempunyai hukum sendiri, sehingga masyarakat
suatu polis hidup sesuai dengan hukum yang disepakati bersama dan
tidak diperintah secara sewenang-wenang. Kedua, swasembada, mandiri
dalam bidang ekonomi sehingga tidak tergantung pada negara lain.
Ketiga, merdeka dalam bidang politik. Lembaga-lembaga yang terpenting
dalam bidang ini adalah sidang umum (ekklesia), dewan harian (bule) dan
badan-badan pengadilan (dikasteria). Dalam sidang umum, semua warga
negara berhak mengambil bagian, sehingga mereka bisa disebut
demokrasi. Pada abad ke-5 dan ke-4 SM, Athena mencapai puncak dalam
bentuk pemerintahan ini.

Dengan kenyataan bahwa kekuasaan negara tidak dipegang oleh


satu orang dan semua harus tunduk pada hukum yang disepakati, maka
urusan negara menjadi urusan umum. Segala peristiwa yang menyangkut
interes umum dibicarakan dan didiskusikan bersama. Kondisi ini
menyebabkan masyarakat Yunani menjadi terbuka dan segala informasi
dapat disebarkan dengan cepat, sehingga segala pendapat akan segera
menemui kritiknya. Suasana seperti ini, tidak disangkal, sangat kondusif
bagi perkembangan suatu sikap ilmiah.

Dari sisi pemikiran, masyarakat Yunani menempatkan logos (bahasa


dan pemikiran logis) dalam kedudukan yang sangat istimewa.13 Ini
merupakan konsekuensi logis dari susunan polis yang terbuka. Dalam
susunan polis sebagai dijelaskan, bahasa menjadi sesuatu yang penting,
karena keputusan-keputusan dalam sidang umum dan sidang pengadilan
diambil atas dasar diskusi. Dalam diskusi dan debat, yang penting adalah
bagaimana menyakinkan khalayak ramai dengan kemahiran bahasa dan
argumentasi yang cerdik. Inilah yang --menurut Bertens-- kemudian
melahirkan ilmu retorika dan mengilhami Aristoteles untuk menciptakan
suatu logika sistematis, dimana disana diselidiki peraturan-peraturan
ideal tidak lebih dari 5000 orang, tidak termasuk anak-anak dan wanita. Bertens, Sejarah
Filsafat Yunani, 25.
12
Ibid, 26.
13
Logos berarti ucapan, pembicaraan, pikiran dan akalbudi. Yang dimaksud disini
adalah penalaran yang tepat atau pembicaraan yang lurus dengan argumen yang benar.
Lihat, Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 543.
6
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
yang berlaku untuk membuat argumentasi dan syarat-syarat bagi
pengetahuan ilmiah pada umumnya.14

Disamping itu, harus pula diperhatikan bahwa watak budaya


Yunani sendiri memang berfikir kritis dan logis. Menurut al-Jabiri,15 apa
yang di maksud dengan akal (berfikir) dalam tradisi Yunani lebih
merupakan pemikiran yang berkaitan dengan upaya mencari sebab dari
segala sesuatu, bersifat filosofis, berbeda dengan watak tradisi Arab,
misalnya, yang mengartikan akal (berfikir) sebagai sebuah tindakan atau
penjelasan bagaimana seseorang harus berbuat (bayani).16 Pernyataan ini,
setidaknya bisa dibuktikan ketika para pemikir Yunani mempertanyakan
kebenaran mitos-mitos yang ada disekitar mereka. Sebagaimana yang
terjadi pada peradaban lain, peradaban Yunani juga dimulai dari mitos-
mitos. Namun, khusus dalam peradaban Yunani, disana ada usaha untuk
menyusun mitos secara sistematis. Artinya, disini tampak sifat rasional
dan kritis bangsa Yunani, karena dengan mencari suatu keseluruhan yang
sistematis, berarti ada keinginan untuk mengerti hubungan mitos yang
satu dengan lainnya dan menyingkirkan mitos yang tidak dapat
dicocokkan dengan mitos lain. Salah satu usaha ini adalah Theogonia,
kumpulan mitos dari Hesiodos (750 SM) dan kumpulan mitos karangan
Pherekydes dari Syros (550 SM).17

14
Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, 27.
15
Al-Jabiri, Takwin al-Aql al-Arabi, (Beirut, Markaz al-Saqafah al-Arabi, 1991), 29-30.
16
Dalam perbandingan antara pola pikir Yunani yang logis-filosofis dengan Arab
yang bayani ini, ada diskusi yang terkenal yang terjadi antara Abu Said al-Syirafi (893-
979 M) yang mewakili pemikiran Arab dengan Abu Bisyr Matta (870-940 M) yang
mewakili pemikiran Yunani. Lebih jelas tentang ini lihat Oliver Leman, Pengantar Filsafat
Islam, terj. Amin Abdullah, (Jakarta, Rajawali, 1989), 12-13.
17
Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, 19. Lihat pula Hatta, Alam Pikiran Yunani, 2-3.
7
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
Disamping itu, menurut Bakker,18 pemikiran Yunani memang
bersifat sintetis, kontinu dan analogis, sehingga ia selalu mendorong
kreativias dan penemuan baru. Karena itu, ketika ilmu ukur dan ilmu
hitung dari Mesir dan Babilonia masuk Yunani, misalnya, ia tidak lagi di
praktekkan sebagai ilmu praktis belaka melainkan telah berubah sebagai
pengetahuan yang benar-benar ilmiah. Di tangan orang-orang Yunani ini,
ilmu pasti, ilmu ukur dan astronomi dari kebudayaan Timur dipelajari, di
praktekkan dan di kembangkan demi ilmu pengetahuan itu sendiri,
bukan untuk mencari keuntungan (disterestedly),19 sehingga ia berubah
dan menjelma sebagai ilmu yang sama sekali berbeda dengan
sebelumnya.

C. Perjalanan Logika Aristoteles.

Meski logika ditemukan dan dinisbatkan pada Aristoteles, tetapi


Aristoteles sendiri sebenarnya tidak pernah menyebutkan istilah
“logika”.20 Istilah “logika” justru digunakan oleh orang lain, pertama kali
oleh Cicero, (106-43 SM) tetapi dalam arti seni berdebat, kemudian oleh
Alexander dari Aphrodisius (w. 200 M) dalam arti yang sesungguhnya
sebagaimana makna yang ada sekarang. Aristoteles sendiri menggunakan
istilah “analitika” untuk penyelidikan argumentasi yang bertitik tolak dari
18
Bakker, Sejarah Filsafat dalam Islam, (Yogya, Kanisius, 1986), 9. Disini Bakker
membanding corak pemikiran Arab dengan Yunani, dengan menyatakan bahwa
pemikiran Arab bersifat dualistis, diskontinu dan dialogis, sementara corak utama dari
cara berfikir Yunani adalah sintetis, kontinu dan analogis. Dalam tradisi Arab dibedakan
secara tegas dan tanpa kenal perantara antara Tuhan dan makhluk, dunia dan akherat,
Arab dan non Arab, dan seterusnya, sementara dalam tradisi Yunani justru berusaha
merangkum perbedaan dan pertentangan tersebut dengan memberi ‘perantara’.
Misalnya, antara ada dan tiada terdapat yang mungkin, antara punya dan tidak punya
terdapat steresis (privatio) dan kesempurnaan sesuatu bisa dipartisipir oleh adanya yang
kurang sempurna secara analogis. Begitu seterunya, sehingga pola pikir Yunani memang
lebih logis dan filosofis dibanding Arab.
19
Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, 20-21.
20
Ibid, 167. Hal ini bukan berarti pada masa sebelum Aristoteles belum ada logika.
Logika justru berakar pada pembuktian-pembuktian geometri kaum Pyithagorian,
dialektika Zeno dan Elia dan dialektika Plato. Hanya saja harus diakui bahwa
Aristoteleslah yang berhasil merumuskan dan memberikan uraiannya secara sistematis.
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 520.
8
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
putusan yang benar, dan dengan istilah “dialektika” untuk penyelidikan
argumentasi yang bertitik tolak dari hipotesis atau putusan yang belum
pasti kebenarannya.21 Analitika dan dialektika ini merupakan cabang dari
ilmu yang sekarang disebut dengan “logika”, dan sentral analitika
Aristoteles adalah “silogisme”.22

Sepeninggalan Aristoteles, pemikiran-pemikirannya yang


kemudian dikenal dengan istilah paripatetik,dipelajari dan dikembangkan,
antara lain, di kota Antioch, Haraan, Edessa dan Qinnesrin (wilayah
Syiria utara), di Nisibis dan Ras`aina (wilayah dataran tinggi Iraq)23 dan di
Iskandariyah, Mesir, yang dikenal dengan mazhab Iskandariyah, suatu
mazhab yang mengajarkan logika dan filsafat Aristoteles, disamping Plato
(427-347 SM).24 Mazhab paripatetik ini bersaing dengan mazhab logika
Magarian-Stoa yang --karena lebih dekat pada dialektika Zeno (336-265
SM) dari Elia-- menaruh minat pada pengembangan sesuatu yang mirip
21
Menurut Aristoteles, dialektika ditemukan oleh Zeno (336-265 SM), suatu
perihal argumentasi yang didasarkan atas hipotesis atau pengandaian. Zeno memakai
aturan dialektika ini untuk membangun argumentasinya. Caranya, ia mengemukakan
suatu hipotesis, yakni salah satu anggapan yang dianut oleh para pelawan Parminedes,
kemudian menunjukkan bahwa dari hipotesis tersebut harus ditarik kesimpulan-
kesimpulan yang mustahil. Ternyata hipotesis semula tersebut tidak benar, dan itu
berarti bahwa kebalikannya yang harus dianggap benar. Dengan metode ini Zeno
membuktikan bahwa adanya ruang kosong, pluralitas dan gerak adalah sama-sama
mustahil. Lihat Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, 62.
22
Harus dikatakan disini bahwa meski logika Aristoteles dan filsafat Yunani
sangat berpengaruh dalam sejarah intelektual manusia, tetapi ia bukan satu-satunya
logika yang pernah lahir di dunia. Bersamaan dengan lahirnya logika di Yunani, lahir
pula logika di India yang disebut dengan logika Nyaya. Silogisme Nyaya yang
berkembang bersama dengan agama Hindu ini tidak hanya menuntut tiga proposisi
tetapi lima. Aliran ini menyibukan diri dengan analisis bahasa dan klasifikasi kekeliruan-
kekeliruan. Bersamaan dengan itu, juga lahir logika di Cina yang dasar-dasarnya
diberikan oleh Mo Tzu (468-376 SM), seorang reformis Confucu. Uraian lebih lengkap
tentang ini, lihat Paul Edwards (edit), The Encyclopedia of Philosophy, IV, (New York, The
MacMillan Company, 1967), 520-525. Lihat pula Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 520.
23
Philip K. Hitti, History of The Arabs, (New York, Macmillan Press, 1986), 241-2.
24
Muhsin Mahdi, Al-Farabi dan Fondasi Filsafat Islam, dalam jurnal al-Hikmah, edisi
4, (Bandung, Februari, 1992), 63-64. Menurut Muhsin, visi utama mazhab ini adalah
menyelaraskan antara filsafat dan agama. Lawannya, disamping logika Megarian-Stoa
dan Epicurean, adalah mazhab Athenian (Helenistik) yang mengajarkan filsafat neo-
platinik.
9
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
dengan kalkulus proposisional. Dengan berkosentrasi pada hubungan-
hubungan yang bertipe “jika...maka”, “atau ...atau”, para pengikut
mazhab Megarian-Stoa menggarap bentuk-bentuk penalaran yang sahih
untuk hubungan-hubungan ini.25 Selain itu, mazhab paripatetik juga
bersaing dengan logika Epicurean, suatu bentuk logika yang menganggap
bahwa semua koneksi logis berawal secara empiris, yang berarti
berdasarkan induksi dan analogi.26

Persaingan diantara aliran atau mazhab logika ini terus berlanjut


sampai abad-abad berikutnya. Banyak tulisan yang mendukung atau
menyerang mazhab lain selama kurun ini, seperti tulisan Galen (129-199
M), Alexander (w. 200 M) dari Aphrodisius, dan Porphyry (232-301 M).
Difihak Aristotelian, tokoh yang terkenal adalah Botheus (480-524 M)
yang tidak jarang menyerang mazhab Stoa. Spekulasinya tentang cara
eksistensi spesies dan genus sangat berpengaruh pada diskusi -diskusi
tentang universalia (konsep-konsep universal) abad pertengahan.27

Dari mazhab Iskandariyah, Athenian, kajian-kajian filsafat Yunani


di Syiria dan Iraq, pada abad ke-7, logika Aristoteles masuk dalam dunia
Islam, lewat proses penterjemahan. Dalam Islam sendiri, logika Aristoteles
pertama kali di perkenalkan dan dipakai oleh al-Kindi (806-875 M),
kemudian Ibn Rawandi (lahir 825 M), al-Razi (865-925 M), dan puncaknya
25
Logika Megarian-Stoa adalah sintesa antara pemikiran Megarian dan Stoics.
Logika Megarian sendiri dibangun oleh Euclides (430-360 SM) dari Megara, sementara
logika Stoa dirintis oleh Zeno (336-265 SM) dari Elia. Lihat Paul Edwards (edit), The
Encyclopedia of Philosophy, IV, 518-19.
26
Bagus, Kamus Filsafat, 520. Logika Epicurian didirikan oleh Epicuros (341-271
SM), seorang tokoh filsafat dari Athena dan banyak dipengaruhi pemikiran Demokritos
(460-370 SM). Lihat Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat, I, (Yogya, Kanisius,
1996), 54. Pemikiran Aristoteles sebenarnya juga berasal dari sistem induksi karena
statemen-statemen yang digunakan sebagai premis mayor dalam silogisme diambil dari
data-data empiris atau data-data rasional. Hanya saja, Aristoteles tidak memperdulikan
proses penyimpulan dari data empiris kepada pernyataan umum. Ia hanya tahu dan
menggunakan pernyataan yang sudah jadi, yang rasional dan diakui kebenaran, yang
dari situ kemudian dideduksikan menjadi sebuah kesimpulan yang lebih speksifik.
27
Ibid, 519; Paul Edwards (edit), The Encyclopedia of Philosophy, IV, 520. Porphyry
adalah murid Plotinus (204-270 M) yang setia dan yang mengumpulkan buku-buku
karya Plotinus. Plotinus sendiri adalah orang Mesir yang kemudian menetap dan
meninggal di Roma. Lihat Bernard Delfgaaw, Sejarah Ringkas Filsafat Barat, terj.
Sumargono, (Yogya, Tiara Wacana, 1992), 45.
10
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
pada al-Farabi (870-950 M) dan Ibn Sina (980-1037 M). Di tangan Ibn Sina
ini logika Aristoteles telah bercampur dengan neoplatonis dan kosmologi
Plotinus, tetapi ia berhasil menentukan tempat bagi logika. Menurut Ibn
Sina,28logika berurusan dengan faham-faham abstrak, yang merupakan
pengertian kedua dari tanda-tanda alamiah yang dianggap sebagai
pengertian pertama. Gagasan Ibn Sina ini kemudian menjadi bahan
diskusi yang hangat masa-masa sesudahnya. Setelah itu, logika Aristoteles
dan filsafat Yunani pada umumnya mengalami kemunduran dan tidak
lagi berkembang secara baik dalam pemikiran Islam karena serangan al-
Ghazali (1058-1111 M) dan dianggap tidak bisa mengatasi segala
persoalan oleh Suhrawardi (1154-1192 M), meski ia dibela oleh Ibn Rusyd
(1126-1198 M).29

Di dunia Barat sendiri, pada abad-abad berikutnya setelah periode


Arab-Islam, logika Aristoteles juga mengalami nasib sama, tidak diakui
dan diserang oleh, misalnya, Peter Ramus (1515-1572 M) dan Francis
Bacon (1561-1626 M) dengan menyatakan bahwa logika Aristoteles tidak
bisa menjadi alat untuk penemuan ilmiah.30 Juga oleh Leibniz (1596-1650
M) yang --meski tetap menghormati Aristoteles-- menyatakan bahwa
28
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 522.
29
Uraian lebih luas tentang ini, lihat Paul Edwards, The Encyclopedia of Philosophy,
IV, 525-27. Ada beberapa kontribusi yang berikan tokoh muslim. Antara lain, (1) dari al-
Farabi tentang silogisme induksi dan doktrin kesatuan masa depan, (2) dari Ibn Sina
tentang proposisi kondisional dan proposisi temporal, (3) dari Ibn Ruysd tentang
rekonstruksi silogisme modal Aristoteles.

Referensi lain lihat pula Ach. Khudori Soleh, Pergumulan Pemikiran Yunani dan
Arab Islam, makalah seminar kuliah Sejarah Peradaban Barat, tanggal 08 Nopember 1999,
pada Pps. IAIN Sunan Kalijaga, Yogya.

Tentang kritik Suhrawardi pada logika Aristoteles, setidaknya ada tiga prinsip
yang menjadi kekurangan logika Aristoteles; (1) bahwa ada kebenaran-kebenaran yang
tidak bisa dicapai oleh rasio atau didekati lewat logika, (2) ada eksistensi diluar pikiran
yang bisa dicapai nalar tetapi tidak bisa dijelaskan logika, seperti soal warna, (3) prinsip
logika atau silogisme yang menyatakan bahwa atribut sesuatu harus didefinisikan oleh
atribut yang lain akan menggiring pada proses tanpa akhir, ad infinitum, yang itu berarti
tidak akan ada absurditas yang bisa diketahui. Jelasnya, logika atau silogisme tidak bisa
menyingkap seluruh kebenaran dan realitas yang mendasari semesta. Lebih lengkap
tentang kritik Syhrawardi ini, lihat Mehdi Aminrazavi, Pendekatan Rasional Suhrawardi
Tehadap Problem Ilmu Pengetahuan, dalam jurnal Al-Hikmah, (Bandung, edisi 7, Desember
1992), 71-72.
11
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
tidak semua argumen dapat dimasukkan dalam logika silogisme
Aristoteles. Menurutnya, seni penemuan (arts combinatoria) lebih
fundamental daripada logika, dan bahasa universal (characteristica
universal), dengan tata bahasa dan aturan prosedurnya yang dibangun
secara filosofis akan lebih bisa membuat seseorang bergerak bebas
keseluruh bidang pengetahuan.31

Logika Aristoteles akhirnya benar-benar “selesai” setelah


ditemukan logika yang lebih canggih, logika modern, yang dasar-
dasarnya di tetapkan oleh CS. Peirce (1839-1914 M) dan G. Frege (1848-
1925 M) yang dikenal dengan istilah kalkulus proposional,karena memang
merupakan kalkulus proposisi-proposisi, di mana huruf-huruf p, q, r dan
seterusnya digunakan untuk mewakili proposisi-proposisi. Konektif-
konektif fungsional kebenaran dilambangkan dengan berbagai cara, dan
dengan definisi-definisi serta tabel kebenaran, di turunkanlah rumusan-
rumusan atau dalil-dalil dengan memperlihatkan langkah-langkah yang
sah yang mungkin diambil dalam memanipulasi proposisi-proposisi
dengan konektif-konektif.32
30
Ramus berusaha melawan logika Aristoteles dengan membuat logika sendiri,
sehingga dengan logika Ramus. Lihat Paul Edwards (edit), The Encyclopedia of Philosophy,
IV, 535. Tentang Bacon, menurut Bernard Delfgaauw, ia sesungguhnya tidak menambah
apapun pada perkembangan ilmu pengetahuan, karena Bacon sendiri tidak mengetahui
apa yang telah dicapai oleh masanya. Pengaruhnya yang pokok terletak pada
kegiatannya yang sering mengecam dan memberi garis besar pada pedoman-pedoman
yang kemudian berpengaruh besar pada filsafat Inggris dikemudian hari. Lihat Bernard,
Sejarah Ringkas Filsafat Barat, 108. Tetapi menurut Verhaak, Bacon bisa disebut sebagai
perintis empiris dan positivisme. Uraian lebih lengkap tentang pokok-pokok pikiran
Bacon sendiri, lihat C. Verhaak, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta, Gramedia, 1997), 137-
145.
31
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 521.
32
Ibid, 525. Namun, menurut Edwards, spirit logika modern telah diberikan oleh
Leibniz. Lihat Paul Edwards, The Encyclopedia of Philosophy, IV, 537. Tentang Peirce,
menurut Louis Kattsoff, ia termasuk juga sebagai salah satu peletak dasar pragmatisme.
Peirce menyatakan, “Untuk memastikan makna apa yang terkandung dalam pikiran,
seseorang harus memperhatikan konsekuensi-konsekuensi praktis yang bakal timbul
dari kebenaran konsepsi tersebut”. Lihat Kattsoff, Pengantar Filsafat, terj. S. Sumargono,
(Yogya, Tiara Wacana, 1992), 130.

Uraian CS. Pierce tentang bagaimana seseorang harus menjelaskan gagasannya,


lihat tulisannya, “Bagaimana Menjelaskan Gagasan Kita” dalam Qadir (peny), Ilmu
Pengetahuan dan Metodenya, (Jakarta, Yayasan Obor, 1995), 95-105.
12
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12

D. Pengertian, Objek dan Posisi Logika.

Secara bahasa, logika yang disebut logic (Inggris), logica (Latin) dan
logike atau logikos (Yunani) adalah ucapan atau akal budi yang berfungsi
baik, teratur dan dapat dimengerti.33

Menurut istilah, minimal ada dua pengertian yang bisa diberikan.


Pertama, logika adalah teori mengenai syarat-syarat penalaran yang sah.
Istilah ini pertama kali digunakan oleh Alexander (w. 200 M) dari
Aphrodisius. Penalaran bertolak dari satu atau lebih pernyataan yang di
sebut premis ke suatu pernyataan selanjutnya yang disebut kesimpulan.
Jika kesimpulan berasal dari premis-premis secara niscaya, pasti, proses
ini di sebut deduksi, penalaran deduksi atau logika deduksi. Jika
kesimpulan berasal dari premis-premis dengan derajat kemungkinan,
maka proses ini di sebut induksi, penalaran induktif atau logika induktif.
Kedua, logika adalah studi tentang aturan-aturan mengenai penalaran
yang tepat, serta bentuk dan pola pikiran yang masuk akal atau sah.
Logika adalah studi dan penerapan aturan-aturan penarikan kesimpulan
pada argumen atau pada sistem pikiran.34

Objek dan lingkup kerja logika, karena itu, adalah hal-hal yang
berkaitan dengan pemikiran. Pemikiran disini tidak di pandang sebagai
suatu sifat atau aktivitas subjek dalam pengertian psikhologis, sebaliknya
di lihat dari sudut hubungan-hubungan yang ada di antara ide-ide itu
sendiri yang dapat dipertalikan dalam pengertian yang sama dengan
banyak individu. Karena itu, logika bukan bagian dari psikhologis. Dalam
logika, isi-isi pikiran dipelajari dalam dirinya sendiri, menurut struktur
internalnya, menurut bentuk-bentuknya (seperti konsep, keputusan dan
kesimpulan) dan menurut hubungannya yang niscaya dan timbal balik
(khusus hukum-hukum logika). Jelasnya, objek logika adalah menjawab
persoalan bagaimana manusia bisa berfikir sebagaimana mestinya.35

33
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 519.
34
Ibid, 520. Lihat pula Poespoprodjo, Logika Ilmu Menalar, (Bandung, Remaja
Karya, 1989), 4.
35
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 528. Lihat juga Poedjawijatna, Logika Filsafat
Berfikir, (Jakarta, Aneka Cipta, 1992), 14.
13
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
Meski demikian, logika bukan bagian dari filsafat. Dalam
klasifikasi ilmu pengetahuan yang dibuat Aristoteles, ada tiga golongan
ilmu pengetahuan: pengetahuan praktis, produktif dan teoritis. Pengetahuan
praktis meliputi etika dan politik; Ilmu pengetahuan produktif
menyangkut pengetahuan yang sanggup menghasilkan suatu karya
(teknik dan kesenian); sementara pengetahuan teoritis mencakup tiga
bidang: fisika, matematika dan metafisika. Disini tidak ada tempat bagi
logika. Menurut Aristoteles,36 logika tidak termasuk ilmu pengetahuan
sendiri tetapi mendahuluinya sebagai persiapan untuk berfikir dengan
cara ilmiah. Jelasnya, logika adalah suatu alat (organon) agar seseorang
bisa mem-praktekkan ilmu pengetahuan.

E. Konstruksi Logika Aristoteles.

Logika Aristoteles dibangun diatas konsepsi intelektual yang


direkam dari kondisi empiris atau benda-benda eksternal yang ditangkap
indera. Menurut Aristoteles, gagasan-gagasan atau konsepsi yang ada
dalam pikiran tidak diambil dari alam ide sebagaimana disampaikan
Plato, melainkan direkam dari alam nyata, kenyataan empiris yang
ditangkap indera. Gagasan atau konsepsi dari alam riil yang direkam
indera kemudian diolah dan disusun secara sistematis menurut aturan
logis untuk mengungkap gagasan dan kebenaran lain yang lebih tinggi
daripada apa yang dicapai indera. Jika dalam pikiran seseorang telah
terbentuk konsep-konsep kebenaran, maka dengan silogisme atau aturan
logis, akan di temukan kebenaran atau gagasan lain yang tidak dikenal
sebelumnya. Prinsip kerja dari gagasan ini adalah (1) adanya benda-benda
alam yang bisa diindera, (2) terjadinya gambaran atau persepsi dalam
pikiran, (3) pengungkapan atas gambaran yang ada dalam pikiran
tersebut lewat bahasa atau kata.37

36
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 529; Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, 168. Pendapat
ini tetap dipakai kaum Aristotelian sampai abad-abad pertengahan. Al-Farabi, misalnya,
seorang tokoh Aristotelian dari kalangan muslim, memisahkan logika dan bahasa dari
keilmuan-keilmuan yang lain dalam klasifikasi yang dibuatnya. Al-Farabi membagi
ilmu-ilmu dalam lima bagian: bahasa, logika, metafisika, fisika, dan matematika. Lihat
Osman Bakar, Hierarki Ilmu, (Bandung, Mizan, 1997), 145 dan seterusnya.
37
Al-Jabiri. Bunyah al-Aql al-Arabi, (Beirut, al-Markaz al-Saqafi al-Arabi, 1991), 421.
14
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
Tentang penentuan apa yang ada yang ditangkap pikiran lewat
indera, Aristoteles membagi dalam 10 bagian yang disebut kategori, yakni
(1) substansi, (2) kuwantitas atau jumlah, (3) kuwalitas atau sifat, (4) relasi
atau hubungan, (5) tempat (6) waktu, (7) sikap atau status, (8) keadaan, (9)
kerja atau aktif, (10) menderita atau pasif. Diatas kategori yang sepuluh ini
seseorang menyusun pengertian atau logika.38

Dengan konsep ini, Aristoteles berarti membangun paradigma


pemikiran yang berasal dari “bawah”, empiris.39 Dari data empiris yang di
akui kebenarannya disusun konsepsi intelektual dan suatu kebenaran,
dan dari kebenaran serta konsepsi intelektual ini --dengan aturan
silogisme-- di turunkan atau ditemukan kebenaran dan konsepsi baru
yang lebih tinggi atau belum ditemukan sebelumnya. Begitu seterusnya
sehingga dari data-data empiris ini seseorang bisa naik dan menemukan
ide tertinggi. Konsekuensinya, dalam persoalan hubungan antara alam riil
dan ide, maka alam ide adalah “bayangan” alam riil. Apa yang ada (being)
dan yang aktual bukan yang di dalam otak, di dalam ide atau pikiran,
tetapi dalam benda-benda konkrit. Diluar itu semua tidak ada apapun,
melainkan hanya sebutan belaka, bukan benda sesungguhnya, meski yang
dimaksud adalah benda ghaib.

Dalam pandangan Aristoteles, alam idea (essensi) adalah sesuatu


yang “menjadi” bukan sesuatu yang “ada”, Ia ada secara immanen dalam
benda-benda konkrit yang bentuknya (form) kemudian ditangkap oleh
intelengia atau pikiran. Artinya, realitas yang sesungguhnya adalah
benda-benda konkrit yang dapat ditangkap indera tersebut, sedang apa
yang ada dalam akal pikiran, termasuk pengetahuan, semata hanya
representasi akal terhadap benda-benda konkrit yang ditangkap indera,
sehingga apa yang di sebut dengan “idea” atau essensi menjadi “tidak
pasti” karena juga di pengaruhi oleh kekuatan akal yang
merepresentasikan, berbeda dengan benda-benda konkrit itu sendiri.40

38
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 395; Hatta, Alam Filsafat Yunani, 123; Dardiri,
Humaniora, Filsafat dan Logika, (Jakarta, Rajawali, 1985), 41. Menurut Aristoteles, kategori
adalah seperangkat pernyataan yang mampu mengklasifikan semua pernyataan lain.
39
Dalam sejarah filsafat, Aristoteles memang dikenal sebagai salah seorang tokoh
empirisme, sementara Plato, gurunya dikenal sebagai rasionali. Plato lebih kerasan
dengan matematika dan dialektika, sedang Aristoteles berkonsentrasi pada ilmu-ilmu
induktif. Lihat Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 198.
15
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
Paradigma pemikiran Aristoteles ini berseberangan dengan
paradigma pemikiran gurunya, Plato, yang terbangun dari “atas”.
Menurut Plato,41 sumber ilmu pengetahuan adalah akal atau rasio karena
dialah yang merupakan wujud yang sesungguhnya (bieng), bukan
kenyataan empiris, meski tidak mengingkari pentingnya pengalaman dan
kondisi empiris. Namun, pengalaman atau data-data empiris hanya
dipandang sebagai sejenis perangsang pikiran, sehingga benar tidaknya
dipengaruhi oleh kenyataan atau objektif benda melainkan oleh ide atau
pikiran. Pengetahuan pada dasarnya adalah pengenalan kembali ide-ide
yang pernah diperoleh manusia sebelum mereka dilahirkan. Menurut
Plato,42 sebelum kelahirannya di dunia, manusia telah mengalami pre-
eksistensi di dunia ide, dan disana mereka menerima bekal konsep
tentang kebenaran dan kenyataan. Konsekuensinya, dalam kaitan antara
alam indera dan ide, alam indera atau dunia bukanlah kenyataan yang
sesungguhnya melainkan hanya bayangan dari alam ide. Dari alam ide
yang merupakan wujud hakiki (being) kemudian “turun” dalam bentuk
alam indera.

F. Tata Kerja Logika.

Logika Aristoteles, sebagaimana disinggung, berpusat dan


berpuncak pada apa yang disebut dengan silogisme. Silogisme adalah
argumentasi yang terdiri atas tiga proposisi. Setiap proposisi dapat
dibedakan atas dua unsur: (1) tentang apa sesuatu dikatakan yang disebut
“subjek”, (2) apa yang di katakan yang disebut “predikat”. Argumentasi
silogisme menurunkan proposisi ketiga dari dua proposisi yang sudah
diketahui. Kunci memahami silogisme adalah term yang dipakai dalam
putusan pertama maupun kedua.43

40
Copleston, A History of Philosophy, I, 377. Harun Hawijono, Sari Sejarah Filsafat
Barat, I, (Yogya, Kanisius, 1997), 48.
41
Copleston, A History of Philosophy, I, 372; Louis Kasstoff, Pengantar Filsafat, terj.
S. Sumargono, (Yogya, Tiara Wacana, 1996), 139.
42
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat, 38-9; Copleston, A History of Philosophy, I,
372
43
Bertens, Sejarah Fislafat Yunani, 169.
16
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
Silogisme sendiri terdiri atas dua bentuk: silogisme analitika yang
dalam epistemologi Islam dikenal dengan istilah (burhani atau
demonstratif) dan silogisme dialektika atau jadali. Silogisme analitika
(demonstratif) adalah silogisme yang tersusun atas premis-premis yang
benar, primer dan memang diperlukan. Premis yang benar adalah premis
yang memberi keyakinan, menyakinkan. Al-Farabi, seorang tokoh
terkemuka logika Aristotelian dari kalangan muslim,44 membagi materi
premis-premis silogisme ini dalam empat bentuk; (1) pengetahuan primer,
(2) pengetahuan indera (mahsusat), (3) opini-opini yang umumnya
diterima (masyhurat), (4) opini-opini yang diterima (maqbulat). Keempat
macam premis ini tidak sama tingkat kepercayaannya, ada yang mencapai
tingkat menyakinkan, mendekati keyakinan dan percaya begitu saja,
sehingga memunculkan hierarki tingkat hasil silogisme. Suatu premis bisa
dianggap menyakinkan bila memenuhi tiga syarat; (1) kepercayaan bahwa
sesuatu (premis) itu berada atau tidak dalam kondisi spesifik, (2)
kepercayaan bahwa sesuatu itu tidak mungkin merupakan sesuatu yang
lain selain darinya, (3) kepercayaan bahwa kepercayaan kedua tidak
mungkin sebaliknya. Premis dianggap mendekati keyakinan jika hanya
mengacu kepada dua kriteria pertama, sedang yang dipercaya belaka
mempersyaratkan kriteria pertama diantara tiga kriteria yang diberikan.45

Proposisi pengetahuan primer menduduki peringkat pertama dan


teratas dalam hierarki materi silogisme, karena ia dinilai memenuhi tiga
kriteria premis yang menyakinkan; yaitu bahwa selain secara at in self
benar adanya, ia juga telah teruji secara rasional. Proposisi yang
umumnya diterima (masyhurat) menduduki peringkat kedua, tingkat
mendekati keyakinan, tidak sampai derajat menyakinkan, karena ia
dianggap hanya mempunyai dua sifat pertama dalam tiga kriteria yang
dipersyaratkan. Proposisi yang umumnya diterima tidak mempunyai sifat
ketiga, tidak teruji secara rasional. Artinya, opini yang umum diterima
44
Osman Bakar, Hierarki Ilmu, 106. Pembagian al-Farabi tentang premis-premis ini,
khususnya tiga bagian yang terakhir, hampir sama dengan apa yang disampaikan
Immanuel Kant (1724-1804) dengan istilah “postulat”. Menurut Kant, postulat adalah
praandaian-praandaian dasar yang sifatnya tidak dapat dibuktikan tapi mutlak di
perlukan dan praktis. Dalam hal ini ada tiga postulat dalam pemikiran Kant; eksistensi
Tuhan, immortalitas (keabadian jiwa) dan kehendak bebas. Lihat, Lorens Bagus, Kamus
Filsafat, 87.
45
Osman Bakar, Hierarki Ilmu, 106; Hatta, Alam Pikiran Yunani, 124.
17
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
tidak pernah dikaji kembali apakah ia memang demikian, tidak dikaji
kemungkinan-kemungkinan sebaliknya. Pertimbangan pertama dalam
menerima opini yang umumnya diterima bukan atas dasar kebenarannya,
melainkan bahwa ia telah disepakati (konsensus atau ijma’) secara umum,
sehingga dalam hal ini, opini-opini yang bertentangan satu sama lain
boleh jadi diterima sekaligus, seperti dalam kasus fiqh.46

Silogisme analitika atau demonstratif yang disebut juga sebagai


silogisme kategoris menggunakan pengetahuan primer ini sebagai
premis-premisnya. Selain itu, juga bisa dari jenis-jenis pengetahuan indera
dengan syarat bahwa objek-objek pengetahuan indera tersebut harus
senantiasa sama (konstans) saat diamati, dimanapun dan kapanpun, dan
tidak ada silogisme yang menyimpulkan sebaliknya.47

Silogisme dialektik atau disbeut juga silogisme hipotesis adalah


bentuk silogisme yang tersusun atas premis-premis yang hanya bertarap
mendekati keyakinan, tidak sampai derajat menyakinkan seperti dalam
silogisme analitika. Materi premis silogisme dialektik berupa opini-opini
yang secara umum diterima (masyhurat), yang ini biasanya diakui atas
dasar keimanan atau kesaksian orang lain, tanpa di uji secara rasional.
Karena itu, nilai pengetahuan yang dihasilkan dari silogisme dialektika
tidak bisa menyamai pengetahuan yang dihasilkan dari metode silogisme
analitika. Ia berada di bawah pengetahuan analitika.48

Meski demikian, pengetahuan hasil metode dialektik tersebut


masih lebih unggul dibanding pengetahuan hasil retorik dan puitik, sebab
dalam metode retorik, salah satu premis utamanya telah dibuang
46
Osman Bakar, ibid,
47
Ibid.
48
Uraian lebih lengkap tentang tata aturan silogisme, pembagiannya dan contoh-
contoh masing-masing, lihat, Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 1000-1006; Poedjawijatno,
Logika Filsafat Berfikir, 78-82; Poespoprodjo, Logika Ilmu Menalar, (Bandung, Remaja Karya,
1989), 153-164.

Sejalan dengan pernyataan diatas, Ibn Rusyd yang juga memberikan tiga metode
penggalian ilmu; demonstratif (silogisme kategorik), dialektik (silogisme hipotesis) dan
retorik, menyatakan bahwa hasil pengatahuan demontratif untuk konsumsi kalangan
elite, pengetahuan dialektik untuk kalangan tengah, sedang retorik untuk masyarakat
awam. Lihat Ibn Rusyd, Kaitan Filsafat dengan Syariat, (Jakarta, Pustaka Firdaus, 1996), 56-
67.
18
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
sehingga keputusan yang dihasilkan tidak menyakinkan, untuk tidak
mengatakan tidak bisa diterima oleh aturan berfikir rasional. Pembuangan
premis utama retorik ini dikarenakan tujuan penting retorik bukan untuk
mencapai keyakinan rasional tetapi semata untuk menyakinkan
pendengar agar mereka mempercayai apa yang disampaikan dengan
membuat jiwanya puas dan sependapat dengan argumen-argumen
tersebut.

Disamping itu, premis yang digunakan dalam metode retorik


biasanya hanya berputar pada opini-opini yang diterima (maqbulat), salah
satu dari --meminjam istilah Kant-- postulat yang menduduki peringkat
paling rendah diantara empat postulat yang diberikan al-Farabi. Seperti
yang terjadi pada premis pada opini yang umumnya diterima (masyhurat),
opini maqbulat hanya menduduki peringkat “dipercaya saja” karena ia
tidak diakui secara umum, bahkan hanya diterima oleh individu atau
sekelompok kecil orang, tanpa ada penyelidikan lebih lanjut apakah yang
diterima tersebut memang demikian adanya atau justru malah
sebaliknya.49

G. Penutup.

Dalam akhir makalah ini ada beberapa hal yang patut


disampaikan. Pertama, dari sisi sejarah, kelahiran logika Aristoteles --
termasuk juga logika Yunani yang lain -- tidak lepas dari pengaruh
kondisi sosial politik Yunani saat itu yang terbuka, dimana segala
persoalan didiskusikan bersama secara bebas, sehingga dituntut adanya
kecakapan berfikir dan berargumentasi dalam rangka mempengaruhi
orang lain. Kedua, dalam konteks yang lebih luas, logika Aristoteles dan
filsafat Yunani pada umumnya bukan satu-satunya sistem berfikir yang
ada di dunia, meski diakui sebagai aturan berfikir yang paling
berpengaruh. Masih ada sistem berfikir lain yang juga besar dan cukup
berpengaruh, yaitu logika Nyaya di India dan logika Mo Tse di Cina.

Ketiga, perjalanan logika Aristoteles, sesungguhnya, hanya sampai


pada abad-abad pertengahan. Setelah mengalami kemunduran dalam
pemikiran filsafat Islam, karena diserang al-Ghazali dan dikritik
Suhrawardi, logika Aristoteles juga dikritik dan tidak diakui di Barat, dan
49
Osman Bakar, Hierarkhi Ilmu, 108.
19
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
mereka menelorkan sistem berfikir sendiri yang lebih bagus, logika
modern, yang kemudian mengantarkan Barat kepada kemajuan. Artinya,
dalam kaitannya dengan usaha kebangkitan Islam saat ini, para sarjana
muslim kiranya tidak bisa begitu saja kembali pada filsafat Islam abad
pertengahan yang Aristotelian; jika terpaksa mengambil, yang bisa
dilakukan hanya dari sisi spirit dan semangatnya belaka. Juga tidak harus
mengadopsi logika dan epistemologi Barat secara membabi buta, karena
ia ternyata juga mengandung kelemahan, yakni menimbulkan
kegersangan ruhani karena sifatnya yang positivistik. Perlu dipikirkan
logika dan epistemologi baru, epistemologi alternatif yang lebih bisa
mengerti dan mengatasi persoalan dunia modern dan masyarakat
muslim, sebagaimana yang pernah dilakukan Barat dahulu setelah
melihat kekurangan logika Aristoteles.

Keempat, sumber berfikir logika Aristoteles adalah apa yang disebut


10 kategori, yang terdiri atas 1 substansi dan 9 aksidensi. Konsep tentang
substansi ini diambil dari Plato, gurunya. Dari 10 kategori ini logika
Aristoteles kemudian menyusun abstraksi-abstraksi lewat aturan yang di
sebut dengan silogisme. Dengan demikian, pengetahuan, dalam
pandangan logika Aristoteles adalah abstraksi-abstraksi pikiran dari hasil
tangkapannya tentang substansi dan kategori-kategori.

Kelima, dari sisi filsafat, doktrin Aristoteles tentang immanensi


essensi, yakni bahwa essensi bersemayam dalam benda-benda dimana
benda-benda konkrit itulah yang dianggap sebagai realitas sesungguhnya,
memberikan kontribusi yang penting bagi perkembangan filsafat alam.
Paling tidak, ini merupakan antitesis atau koreksi atas doktrin Plato
tentang transendensi essensi, meski konsepsi Plato tentang essensi itu
sendiri akhirnya juga diambil oleh Aristoteles yang dimasukkan dalam 10
kategorinya, yakni substansi.

Keenam, meski logika Aristoteles pernah mengantarkan filsafat


Islam pada masa keemasan, juga pernah sangat berpengaruh dalam
sejarah intelektual manusia sampai abad pertengahan, tetapi ia juga
mengandung kelemahan, yang itu membuat kita harus berfikir ulang jika
berkeinginan untuk menggunakan logika ini dalam proyek kebangkitan
islam.
20
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
1. Prinsip silogisme Aristoteles yang lebih mengutamakan sesuatu yang
rasional dan kebenaran yang empiris, secara tidak langsung, berarti
telah menyederhanakan dan bahkan membatasi keberagaman serta
keluasan realitas. Kenyataannya, realitas tidak hanya pada apa yang
konkrit, yang tertangkap indera, tetapi ada juga realitas yang diluar
itu, seperti jiwa dan konsep mental. Artinya, disini ada kebenaran-
kebenaran lain yang tidak bisa didekati dengan silogisme, seperti
dikatakan Suhrawardi.

2. Silogisme tidak bisa menjelaskan atau menyimpulkan eksistensi


empiris diluar pikiran seperti soal warna. Artinya, tidak semua
keadaan atau argumentasi bisa diungkap lewat silogisme sebagaimana
kritik yang di sampaikan Leibniz.

3. Prinsip logika Aristoteles yang menyatakan bahwa atribut sesuatu


harus didefinisikan oleh atribut yang lain akan menggiring pada
proses tanpa akhir, ad infinitum. Itu berarti tidak akan ada absurditas
yang bisa di ketahui. Logika Aristoteles sesungguhnya tidak
memberikan apa-apa, tidak menghasilkan pengetahuan baru.

4. Sejalan dengan no. 3, dengan prinsip bahwa kesimpulan yang khusus


harus dideduksikan dari pernyataan yang umum, maka apa yang
disebut kesimpulan sebenarnya telah tercantum secara implisit pada
pernyataan umum yang disebut premis mayor; jika belum ada, maka
sia-sialah usaha silogisme tersebut karena sesuatu yang tidak ada tidak
akan melahirkan sesuatu yang baru. Ini termasuk kritik pada logika
Aristoteles yang di sampaikan John Stuart Mill (1806-1873 M) dan
Bacon [.]

5. Silogisme ternyata telah cenderung mengiring penganutnya pada cara


berfikir hitam putih, benar salah, sebagaimana yang terjadi dalam
model pikiran teologi atau ilmu kalam yang memang banyak
menggunakan logika ini. Akibatnya, pemikiran teologi menjadi sangat
keras dan mudah menimbulkan konflek, karena tidak mengenal
kebenaran pada fihak lain. Kebenaran hanya ada fihaknya sendiri.

-----------------
21
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12

DAFTAR PUSTAKA

Aminrazavi, Mehdi, “Pendekatan Rasional Suhrawardi Terhadap Problem


Ilmu Pengetahuan”, dalam jurnal Al-Hikmah, Bandung, edisi 7,
Desember 1992

Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta, Gramedia, 1996.

Bakar, Osman, Hierarki Ilmu, Bandung, Mizan, 1997.

Bakker, Sejarah Filsafat dalam Islam, Yogya, Kanisius, 1986

Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, Yogya, Kanisius, 1999.

Copleston, Frederick, A History of Philosophy, I, London, Search Press, 1946

Dardiri, Humaniora, Filsafat dan Logika, Jakarta, Rajawali, 1985.

Delfgaaw, Bernard, Sejarah Ringkas Filsafat Barat, terj. Sumargono, Yogya,


Tiara Wacana, 1992

Edwards, Paul (edit), The Encyclopedia of Philosophy, IV, New York, The
MacMillan Company, 1967

Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat, 1, Yogya, Kanisius, 1996

Hatta, Muhamamd, Alam Pikiran Yunani, Jakarta, UI Press, 1986

Hitti, Philip K, History of The Arabs, New York, Macmillan Press, 1986

Ibn Rusyd, Kaitan Filsafat dengan Syariat, Jakarta, Pustaka Firdaus, 1996

Jabiri, Takwin al-Aql al-Arabi, Beirut, Markaz al-Saqafah al-Arabi, 1991

-------, Bunyah al-Aql al-Arabi, Beirut, al-Markaz al-Saqafi al-Arabi, 1991.

Kattsoff, Pengantar Filsafat, terj. S. Sumargono, (Yogya, Tiara Wacana, 1992.


22
Khudori/Logika Aristo/2008-08-12
Khudori Soleh, Ach, Pergumulan Pemikiran Yunani dan Arab Islam, makalah
seminar kuliah Sejarah Peradaban Barat, tanggal 08 Nopember
1999, pada Pps. IAIN Sunan Kalijaga, Yogya.

Leman, Oliver, Pengantar Filsafat Islam, terj. Amin Abdullah, (Jakarta,


Rajawali, 1989

Mahdi, Muhsin, “Al-Farabi dan Fondasi Filsafat Islam”, dalam jurnal al-
Hikmah, edisi 4, Bandung, Februari, 1992

Pierce, “Bagaimana Menjelaskan Gagasan Kita” dalam Qadir (peny), Ilmu


Pengetahuan dan Metodenya, Jakarta, Yayasan Obor, 1995

Poedjawijatna, Logika Filsafat Berfikir, Jakarta, Aneka Cipta, 1992

Poespoprodjo, Logika Ilmu Menalar, Bandung, Remaja Karya, 1989

Suseno, Frans Magnis, 13 Tokoh Etika, Yogya, Kanisius, 1998

Titus, Harold H, Persoalan-Persoalan Filsafat, terj. HM. Rasjidi, Jakarta,


Bulan Bintang, 1984

Verhaak, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Jakarta, Gramedia, 1997

-----////-----