You are on page 1of 5

SISTEM PENGANGGARAN NEGARA

A. PENDAHULUAN

Dalam pasal 3 UUD 1945, disebutkan bahwa "Majelis Permusyawaratan Rakyat


menetapkan UUD dan garis-garis besar haluan negara (GBHN)".

GBHN adalah haluan negara tentang pembangunan nasional dalam garis-garis besar
sebagai pernyataan kehendak rakyat. Untuk menjabarkan garis-garis besar haluan negara
ini, disusunlah rencana pembangunan lima tahun atau Repelita. Dengan demikian,
sasaran yang tercantum dalam Repelita, selalu mengacu pada sasaran GBHN.

Dalam pelaksanaannya, disusun antara lain Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) sebagai rencana operasional tahunan yang menjabarkan sasaran Repelita. Untuk
menjembatani sasaran Repelita dengan APBN, disusun sasaran Repelita Tahunan (Sarlita)
sebagai dokumen yang diacu untuk menyusun sasaran APBN. Dengan demikian antara
GBHN, Repelita, Sarlita, dan APBN saling berkait satu sama lain.

Untuk mencapai sasaran Repelita, dibutuhkan sejumlah dana yang berasal dari:

1. Tabungan Pemerintah,
2. Bantuan Luar Negari (Bantuan Proyek),
3. Dana Masyarakat.

Contoh:
Dalam Buku Repelita VI (1994/95-1998/99) direncanakan pertumbuhan ekonomi sebesar
6,2%, dengan jumlah investasi sebesar Rp. 660,1 triliun.

Dana sejumlah itu berasal dari:

1. Pemerintah Rp. 175,9 triliun (26,6%)


Tabungan pemerintah Rp. 114,4 triliun (17,3 %)
Bantuan Proyek Rp. 61,5 triliun ( 9,3 %)
2. Masyarakat Rp. 484,2 triliun (73,4%)

Dana yang berasal dari pemerintah, diperlukan karena banyak proyek-proyek pemba-
ngunan yang tidak dapat dibiayai dari sumber tabungan masyarakat, seperti sektor
hankam, sektor hukum dan lain sebagainya.

B. ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA (APBN)

Sistem anggaran belanja negara di Indonesia, dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :

1. Sistim penerimaan, terdiri dari:


Penerimaan dalam negeri
Penerimaan pembangunan
2. Sisi pengeluaran terdiri dari:
Pengeluaran rutin, dan
Pengeluaran pembangunan

Menurut GBHN, Indonesia menganut sitem anggaran berimbang yang dinamis, artinya
pengeluaran negara sama dengan penerimaannya.
Gambaran pada tahun anggaran 1997/98, jenis dan jumlah penerimaan dan pengeluaran
negara adalah sebagai berikut:

ad.1.a. Penerimaan dalam negeri terdiri dari:


1. Penerimaan migas Rp. 14.871,1 miliar
2. Penerimaan diluar migas Rp. 73.198,6 miliar yang terdiri dari:
a. pajak penghasilan Rp. 29.117,7 miliar
b. pajak penghasilan pertambahan nilai Rp. 24.601,4 miliar
c. bea masuk Rp. 3.321,7 miliar
d. cukai Rp. 4.436,3 mihar
e. pajak ekspor Rp. 100,0 miliar
f. pajak bumi dan bangunan Rp. 2.505,0 miliar
g. pajak lainnya Rp. 632,5 miliar
h. penerimaan bukan pajak Rp. 8.225,8 miliar
i. laba bersih minyak Rp. 249,2 miliar

ad.1.b. Penerimaan Pembangunan


Penerimaan pembangunan terdiri dari : Bantuan Proyek Rp. 13.026,0 miliar

ad.2.a. Pengeluaran Rutin


Pengeluaran Rutin digunakan untuk mempertahankan roda pemerintahan agar dapat me-
langsungkan pelayanan kepada masyarakat secara berkesinambungan. Komposisi
pengeluaran rutin ini, terdiri dari:

1. Belanja pegawai:
a. gaji/pensiun Rp. 17.048,4 miliar
b. tunjangan beras Rp. 1.309,5 miliar
c. biaya makan/lauk pauk Rp. 1.233,7 miliar
d. belanja pegawai DN Rp. 1.009,9 miliar
e. belanja pegawai LN Rp. 590,5 miliar
2. Belanja barang:
a. belanja barang dalam negeri Rp. 8.478,0 miliar
b. belanja barang luar negeri Rp. 417,2 miliar
3. Subsidi daerah otonom:
a. belanja pegawai Rp. 10.967,8 miliar
b. belanja non pegawai Rp. 568,0 miliar
4. Bunga dan cicilan hutang:
a. hutang dalam negeri Rp. 334,2 miliar
b. hutang luar negeri Rp. 19.236,7 miliar
5. Pengeluaran rutin lainnya Rp. 964,9 miliar

ad.2.b. Pengeluaran Pembangunan Pengeluaran pembangunan


Pengeluaran pemerintah yang digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Penge-
luaran ini terdiri dari:

1. Pembiayaan rupiah Rp. 25.901,9 miliar


2. Bantuan Proyek Rp. 13.026,0 miliar

Pembiayaan rupiah adalah selisih antara pencrimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran
rutin pemerintah. Jumlah ini disebut pula Tabungan Pemerintah.
C. PENGGUNAAN PENGELUARAN PEMBANGUNAN

Penggunaan pengeluaran pembangunan diarahkan dengan mengacu kepada sasaran


Repelita dan prinsip Trilogi Pembangunan pemerataan/pertumbuhan, dan stabilitas).

Pengeluaran pembangunan dibagi dalam 3 kategori, yaitu:

1. Investasi langsung yang dikelola oleh departemen/lembaga teknis. Penyalur annya


melalui dokumen anggaran yang disebut Daftar Isian Proyek (DIP).
2. Transfer ke daerah dalam rangka meningkatkan otonomi daerah. Transfer ke
daerah ini dasar hukumnya melalui Instruksi Presiden (Inpres) dan penyalurannya
melalui dokumen anggaran yang disebut Surat Pengesahan Anggaran Bantuan
Pembangunan (SPABP).
Jenis bantuan pembangunan ini ( Repelita VI) terdiri dari 7 macam, yaitu:
a. Bantuan Pembangunan Desa,
b. Bantuan Pembangunan Desa Tertinggal,
c. Bantuan Pembangunan Daerah Tingkat II (Kabupaten),
d. Bantuan Pem bangunan Daerah Tingkat 1 (Propinsi),
e. Bantuan Pembangunan Sekolah Dasar,
f. Bantuan Pembangunan Kesehatan, dan
g. Bantuan Program Makanan Tambahan Anak Sekolah.

Di samping Bantuan Pembangunan ini, jenis pengeluaran pembangunan yang di


daerahkan adalah juga pajak bumi dan bangunan (PBB). PBB ini merupakan
penerimaan negara yang langsung dikeluarkan untuk pembangunan daerah (in
and out) baik Dati I maupun Dati II. Dalam tahun 1997/98 jumlah pengeluaran
pembangunan yang didaerahkan (Inpres dan PBB) mencapai 38,3% dari seluruh
anggaran yang berasal dari Tabungan Pemerintah.

3. Penyertaan Modal Pemerintah untuk membantu BUMN yang memerlukan.

D. KLASIFIKASI FUNGSIONAL

Penggunaan anggaran pembangunan ditujukan untuk seluruh aspek kehidupan yang


meliputi bidang ekonomi, sosial dan politik. Dalam sitematika penyusunannya, anggaran
pembangunan dalam Repelita VI dibagi dalam 20 sektor, yaitu:

1. Sektor Industri
2. Sektor Pertenian dan Kehutanan
3. Sektor Pengairan
4. Sektor Tenaga Kerja
5. Sektor Perdagangan, Pengembangan Usaha Nasional, Keuangan dan Koperasi
6. Sektor Transportasi, Meteorologi dan Geofisika
7. Sektor Pertambangan dan Energi
8. Sektor Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi
9. Sektor Pembangunan Daerah dan Transmigrasi
10. Sektor Lingkungan Hidup dan Tata Ruang
11. Sektor Pendidikan, Kebudayaan Nasional Kepercayaan Terhadap Tuhan YME,
Pemuda dan Olah Raga
12. Sektor Kependudukan dan Keluarga Sejahtera
13. Sektor Kesejahteraan Sosial Kesehatan, Peranan Wanita, Anak dan Remaja
14. Sektor Perumahan dan Pennukiman
15. Sektor Agama
16. Sektor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
17. Sektor Hukum
18. Sektor Sektor Aparatur Negara dan Pengawasan
19. Sektor Politik, Hubungan Luar Negeri, Penerangan, Komunikasi dan Media Massa
20. Sektor Pertahanan dan Keamanan

Keduapuluh sektor tersebut terbagi dalam 53 Sub Sektor dan 146 program.

E. KOORDINASI PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN

Koordinasi penyusunan rencana pembangunan dilakukan secara bertingkat yang dimulai


dari rapat-rapat koordinasi di:

1. tingkat Desa/Kelurahan
2. tingkat Keeamatan
3. tingkat Kabupaten/Kodya (Rakorbang Dati II)
4. tingkat Propinsi (Rakorbang Dati I)
5. tingkat Regional/Wilayah (Konregbang)
6. tingkat Pusat (Konasbang)

Hasil dari Konasbang dihimpun dan dievaluasi oleh Bappenas, disusun menurut
prioritasnya, sesuai dengan anggaran yang tersedia.

F. PENGESAHAN ANGGARAN

Dalam pasal 23 UUD 45, disebutkan bahwa "anggaran pendapatan dan belanja Negara
ditetapkan tiap-tiap tahun dengan Undang-undang. Apabila Dewan Perwakilan Rakyat
tidak menyetujui anggaran yang diajukan oleh Pemerintah, maka pemerintah
menjalankan anggaran tahun yang lalu". Atas dasar itu, menjelang pelaksanaan tahun
anggaran baru, Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-undang APBN kepada Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR). Pelaksanaan anggaran baru dapat dimulai setelah APBN tahun
anggaran yang bersangkutan disahkan oleh DPR.

G. PELAKSANAAN

Pelaksanaan pengeluaran pembangunan menggunakan dokumen anggaran yang disebut


Daftar Isian Proyek (DIP) dan dokumen lain yang dipersamakan. Untuk bantuan
pembangunan daerah menggunakan dokumen Surat Pengesahan Anggaran Bantuan
Pembangunan (SPABP). Penanggungjawab pelaksanaan anggaran pembangunan sektoral
(DIP) adalah Menteri Departemen dan Ketua Lembaga Teknis. Untuk operasionalnya
Menteri Departemen Teknis mengangkat dan menetapkan pemimpin proyek dan
pemiinpin bagian proyek untuk masingmasing DIP serta Bendaharawan Proyek dan
Bendaharawan Bagian Proyek. Pemimpin proyek melaksanakan proyeknya dengan
mengacu pada:

1. Rincian sasaran kegiatan yang tercantum dalain dokumen anggaran (DIP dan
dokumen yang dipersamakan)
2. Keputusan Presiden RI Tentang Pelaksanaan APBN
3. Standar satuan harga yang ditetapkan oleh Bappenas dan Departemen Keuangan

H. PEMANTAUAN DAN PENGAWASAN

Pemantauan pelaksanaan proyek-proyek pembangunan dilakukan oleh semua instansi


yang bertanggungjawab terhadap masing-masing proyek dan dikoordinasikan oleh
Bappenas. Pengawasan proyek terdiri dari pengawasan internal dan eksternal:

1. Pengawasan internal oleh Inspektorat Jenderal Departemen dan Badan


Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
2. Pengawasan eksternal oleh Badan Pemeriksa Keuangan (Bepeka)

I. SIKLUS ANGGARAN

Tahun anggaran dimulai dari tanggal 1 April sampai dengan 31 Maret. Kegiatan-kegiatan
sepanjang tahun anggaran tersebut adalah sebagai berikut:

April - Mei
Evaluasi program-program yang sedang berjalan dilakukan oleh
Departemen/ Lembaga
Juni - Juli
Kegialan rapat-rapat koordinasi pembangunan tingkat II di daerah.
Persiapan penyusunan lampiran pidato Presiden 16 Agustus
Agustus
Laporan Presiden RI tentang pelaksanaan tahunan Repelita di depan sidang
Paripurna DPR-RI.
Pelaksanaan rapat koordinasi pembangunan tingkat I diselenggarakan di
masing-masing propinsi.
September
Rapat konsultasi regional pembangunan, diselenggarakan di propinsi yang
ditunjuk.
Penyampaian daftar usulan proyek dari Departemen/Lembaga dan daerah.
Oktober
Rapat konsultasi nasional pembangunan di selenggarakan di Jakarta.
Nopember
Penyusunan buku biru yaitu daftar proyek-proyek bantuan luar negeri, yang
dipersiapkan untuk sedang CGI tahun berikutnya.
Desember
Penetapan pagu anggaran.
Rencana alokasi sektor, sub s e k t o r,dan program.
Sidang kabinet paripurna membahas tentang RAPBN dan petunjuk Presiden
RI.
Januari
Penyampaian Rancangan Undang-Undang APBN ke DPR PJ untuk disahkan.
Februari
Proses pembahasan proyek-proyek yang akan dilaksanakan tahun
anggaran berikutnya.
Akhir Maret
Pengesahan APBN dan Pengesahan DIP.
Penyampaian DIP dan dokumen lainnya ke seluruh propinsi.