SISTEM PEMANTAU GETARAN GEMPA DENGAN APLIKASI DATALOGGER BERBASIS BORLAND DELPHIE

  (Earthquake Scanner With Datalogger Applications Base On Borland Delphie)

SKRIPSI 

 

 

Disusun  Oleh : 

 
 

Netwin Lukas Lethulur
No.Mhs Program Studi  Jurusan    Jenjang    Fakultas        : 06042311p :  Teknik Elektronika  :  Teknik Elektro  :  S‐1  :  Teknologi Industri 

INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND  YOGYAKARTA 
April 2009 

SKRIPSI 

i

SISTEM PEMANTAU GETARAN GEMPA DENGAN APLIKASI DATALOGGER BERBASIS BORLAND DELPHIE
EARTHQUAKE SCANNER WITH DATALOGGER APPLICATIONS  BASE ON BORLAND DELPHIE      Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Akhir Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Program S-1 Pada Program Studi Teknik Elektronika Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta

  Netwin Lukas Lethulur No.Mhs    Program Studi  Jurusan    Jenjang    Fakultas    :  06042311p  :  Teknik Elektronika  :  Teknik Elektro  :  S‐1  :  Teknologi Industri 

    Diajukan Oleh :   

        INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND  YOGYAKARTA 
April 2009 

HALAMAN PENGESAHAN
SISTEM PEMANTAU GETARAN GEMPA DENGAN APLIKASI DATALOGGER BERBASIS BORLAND DELPHIE (Earthquake Scanner With datalogger Applications Base On Borland Delphie) ii

Yang dipersiapkan dan disusun oleh :

Netwin Lukas Lethulur
06.04.2311p Telah diujikan didepan Dewan Penguji pada tanggal: 08 April 2009 dan dinyatakan telah lulus memenuhi syarat.

Susunan Tim Penguji

Tandatangan Dosen Pembimbing I ( Mujiman, S.T., M.T. ) (…………………)

Dosen Pembimbing II ( Slamet Hani, S.T., M.T. ) (…………………)

Anggota Tim Penguji ( Ir Gatot Santoso MT ) (…………………)

Yogyakarta ... April 2009 Mengetahui, Ketua Jurusan Teknik Elektro

( Ir Gatot Santoso MT )

iii

Motto :
“Bukan Karena Sesuatu Itu Sulit Sehingga Kita Tidak Berani Untuk Melakukannya, Melainkan Karena Kita Tidak Berani Maka Sesuatu Itu Menjadi Sulit”

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Hanya kedalam tangan Tuhan Yesus Kkristus kupasrahkan serta kupersembahkan seluruh tubuh, roh dan jiwaku

Kupersembahkan semua yang telah kutuliskan ini Kepada :

Bapa, Mama dan Kakaku Helen

tersayang beserta

seluruh Keluarga yang kukasihi, Terimakasih atas segala Doa dan Dukungannya yang selalu mengiringi Setiap jalanku

Terima kasih Buat kekasihku tercinta Anita Funay Yang selalu setia dan senantiasa membantu dan menemaniku didalam suka maupun duka hingga terselesaikannya skripsi ini. GBU.

v

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan laporan skripsi ini dengan judul: “SISTEM PEMANTAU GETARAN GEMPA DENGAN APLIKASI DATALOGGER BERBASIS BORLAND DELPHIE”. Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis mendapat bantuan serta dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Ir. Sudarsono, M.T. Selaku Rektor Institut Sains & Teknologi Akprind Yogyakarta. 2. Bapak Muhammad Sholeh, S.T., M.T. Selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri Institut Sains & Teknologi Akprind Yogyakarta. 3. Bapak Ir. Gatot Santoso, M.T. Selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro Institut Sains & Teknologi Akprind Yogyakarta. 4. Bapak Mujiman, S.T.,MT. Selaku Dosen Pembimbing I. 5. Bapak Slamet Hani, S.T., M.T. Selaku Dosen Pembimbing II. 6. Bapak Ir. Gatot Santoso., MT. Selaku Dosen Penguji pada ujian pertanggung jawaban Skripsi. 7. Bapak Safriyudin., S.T., M.T. Selaku Dosen Pembimbing KP II Saya 8. Kepada Bapa dan Mama serta Kakak tercinta Helen yang selalu memberikan Doa, dorongan dan motifasi dari awal pembuatan skripsi sampai terselesainya skripsi ini.

vi

9. Kepada Bu Boy, Usi Nona, Adit, dan Eno terima kasih atas dukungan serta bantuannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 10. Kepada Bapak Agus Daryanto. Yang telah membantu penulis dalam administrasi maupun mengurusi pendaftaran skripsi penulis sampai pada selesainya skripsi ini. 11. Kepada Kekasih Tercinta, Nita Funay yang selalu senantiasa menemani dan memberikan dorongan kepada penulis hingga terselesaikannya skripsi ini. 12. Kepada Ponaanku Tersayang DEDY S, yang setia meminjamkan uang pada penulis dalam proses pembuatan skripsi ini, meskipun kadang-kadang ia marah-marah, tapi sampai pada akhinya juga dikasi pinjam. Hehehehe.... 13. Kepada Om Buce Luturmas, terima kasih atas bantuan, masukan dan dorongannya sampai penulis menyelesaikan skripsi ini..... Su tau Om Toooo. Itu Sudah.... Hadisk....hadisk....AAAAAaaaaaaaaaa....... 14. Buat Teman-teman Komunity Anak Timur: Andre Koten, Samuel, Rian Seran Ari, Lerry, Ricmon, Tedi, Robert dan Yono beserta teman-teman lain yang tak sempat penulis tuliskan satu persatu. Terima kasih atas dukungan serta Doanya. 15. Buat anak-anak Blok O, Om Boss dan Kak’s Bocha, Terima kasi atas dukungannya ya. Dik’s akan ingat kak’s dorang selalu. 16. Anak-anak SLA_Q Crew dan Seluruh pihak yang telah membantu penulis selama ini sehingga terselesaikannya laporan skripsi ini. 17. Buata teman-teman PS Crew. Habislah gelap terbiltlah terang. Sekali PS tetap PS.

vii

18. Kepada teman-temen Elektro terutama Om Joao Bosco De Jesus, dan temanteman lain yang tidak sempat penulis ucapkan satu persatu, trimakasih atas bantuan dan dukungannya serta motifasinya sampai terselesaikannya skripsi ini. SUKSES BUAT KITA SEMUA YA. 19. Kepada anak-anak PMK Galilea, Terima Kasih atas Doa dan dukungannya ya. TUHAN MEMBERKATI KITA SEMUA... Amin.

Penulis menyadari penyusunan laporan skripsi ini tidak lepas dari kesalahan dan kekurangan yang dikarenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan skripsi ini. Akhir kata, semoga keberadaan laporan skripsi ini mampu memberikan manfaat serta menambah wawasan dalam khasanah Ilmu Pengetahuan dalam bidang Elektro khususnya pada bidang elektronika.

Yogyakarta , April 2009

Penulis

viii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN DEPAN .................................................................................... HALAMAN JUDUL ..................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ MOTTO ......................................................................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... KATA PENGANTAR ................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................. DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... DAFTAR TABEL .........................................................................................

i ii iii iv v vi ix xiv xvi

INTISARI ...................................................................................................... xvii ABSTRACT ................................................................................................... xviii BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 Pokok Permasalahan ............................................................ Rumusan masalah ................................................................ Batasan Masalah .................................................................. Tujuan Dan Manfaat ............................................................ Metodologi Pembuatan Alat ................................................ Sistematika Penulisan .......................................................... 1 2 2 3 3 4

ix

BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 2.2 2.3 Tinjauan Pustaka ................................................................. Gempa .................................................................................. Skala Gempa Bumi .............................................................. 2.3.1 2.3.2 2.3.3 2.4 Skala Richter ............................................................ Skala Mercalli .......................................................... Skala Kekuatan Moment piezoelectric...................... 6 7 11 12 13 15 15 17 17 18 20 21 24 27 28 29 31 31 33 34 34 35

Piezoelectric ......................................................................... 2.4.1 2.4.2 Spesifikasi Piezoelectrisitas ..................................... Penggunaan Piezoelectrik ........................................

2.5 2.6

Analog To Digital Converter ............................................... Mikrokontroler AT89C51 .................................................... 2.6.1 2.6.2 2.6.3 2.6.4 2.6.5 2.6.6 2.6.7 2.6.8 Fungsi Pin ................................................................ Organisasi Memori .................................................. Register Fungsi Khusus ........................................... Timer/Conter ............................................................ Interupsi ................................................................... Antarmuka Serial ..................................................... Baud Rate ................................................................. Rangkaian Reset .......................................................

2.7

Perangkat Lunak Mirokontroler AT89C51 .......................... 2.7.1 2.7.2 Instruksi Transfer Data ............................................. Aritmatic Logical Unit (ALU) .................................

x

2.7.3 2.7.4 2.7.5 2.8

Instruksi Aritmatic ................................................... Instruksi Logika ....................................................... Instruksi Transfer Kendali .......................................

35 36 37 40 40 41 42 43 44 47 47 48

Serial Interface MAX232 ..................................................... 2.8.1 2.8.2 2.8.3 2.8.4 Dual Charge-Pump Voltage ..................................... Drivers RS-232. ........................................................ RS-232 Receiver ...................................................... Receiver And Enable Control Input .........................

2.9

Operating Amplifier ............................................................. 2.9.1 2.9.2 2.9.3 Inverting Amplifier (Penguat Pembalik) .................. Non-Inverting Amplifier (Penguat Tak Membalik).. Voltage Follower (Penyangga) ................................

BAB III

PEMBUATAN DAN PENGUJIAN ALAT 3.1 3.2 3.3 Perencanaan .......................................................................... Deskripsi Umum .................................................................. Perancangan Perangkat Keras .............................................. 3.3.1 Bagian Vibration Sensor Dan Sgnal Amplifiel ......... 3.3.2 Bagian Signal Conditioner ........................................ 3.3.3 Bagian Analog To Digital Converter ........................ 3.3.4 Bagian Microcontroller ............................................. 3.3.5 Bagian Interface RS232 ............................................ 3.3.6 Bagian Catudaya ....................................................... 50 50 51 51 52 53 56 57 59

xi

3.4

Cara Kerja Alat .................................................................... 3.4.1 Perancangan PCB ...................................................... 3.4.2 Proses Desain Jalur ................................................... 3.4.3 Proses Cetak Dan Sablon .......................................... 3.4.4 Proses Pelarutan PCB ................................................ 3.4.5 Proses Pengeboran .................................................... 3.4.6 Proses Pemasangan komponen .................................

60 60 61 62 63 64 64 66 66 67

3.5

Perancangan Perangkat Lunak ............................................. 3.5.1 Diagram Alir earth.Asm .......................................... 3.5.2 Algoritma earth.Asm ................................................

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 4.2 4.3 Tujuan Pengambilan Data .................................................. Tempat Pengambilan Data ................................................. Pengujian Perbagian ........................................................... 4.3.1 Bagian Vibration Sensor Dan Signal Amplifier ........ 4.3.2 Bagian Signal Conditioner ........................................ 4.3.3 Pengujian Bagian Analog To Digital Converter ....... 4.3.4 Pengujian Bagian Microcontroler ............................. 4.3.5 Pengujian Rangkaian Interface RS232 ...................... 4.3.6 Pengujian Bagian Catudaya ...................................... 4.4 Pengujian Sistem Lengkap ................................................. 70 71 71 71 73 74 76 79 80 82

xii

BAB V

PENUTUP 5.1 5.2 Kesimpulan ......................................................................... Saran .................................................................................. 83 84

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... LAMPIRAN ...................................................................................................

85 86

xiii

DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 Gambar 2.2 Gambar 2.3 Gambar 2.4 Gambar 2.5 Gambar 2.6 Gambar 2.7 Gambar 2.8 Gambar 2.9 Lapisan Bumi .............................................................................. 7 Peta Lempeng Tektonik ............................................................. 8 Arah Pergerakan Lempeng Tektonik ......................................... 9 Peta Lingkaran Api .................................................................... 10 Seismogram Gelombang P Dan S .............................................. 12 Tabel Skala Richter .................................................................... 13 Penampang Muatan Listrik Dari Piezoelectric .......................... 16 Bentuk Fisik Piezoelectric ......................................................... 17 Bentuk Fisik Dan Deskripsi Pin ADC0804 ............................... 19

Gambar 2.10 Aplikasi Umum Penggunaan ADC0804 .................................... 20 Gambar 2.11 Struktur Pin AT89C51 ............................................................... 20 Gambar 2.12 Peta Memori RAM Dan Special Fungsi register ....................... 25 Gambar 2.13 Rangkaian Power On Reset ........................................................ 33 Gambar 2.14 Struktur Pin Dan Tipical Part MAX232 .................................... 40 Gambar 2.15 Blok Internal MAX232 .............................................................. 42 Gambar 2.16 Bentuk Fisik Dan Deskripsi Pin LM393 .................................... 44 Gambar 2.17 Skematik Dasar Rangkaian Inverting Amplifier ........................ 47 Gambar 2.18 Skematik Dasar Rangkaian Non-Inverting Amplifier ................ 48 Gambar 2.19 Skematik Dasar Rangkaian Voltage Follower Amplifier .......... 49 Gambar 3.1 Gambar 3.2 Blok Diagram Sistem ................................................................. 51 Skematik Bagian Vbration Sensor Dan Signal Amplifier .......... 52

xiv

Gambar 3.3 Gambar 3.4 Gambar 3.5 Gambar 3.6 Gambar 3.7 Gambar 3.8 Gambar 3.9 Gambar 4.1 Gambar 4.2 Gambar 4.3 Gambar 4.4 Gambar 4.5 Gambar 4.6 Gambar 4.7 Gambar 4.8 Gambar 4.9

Skematik Bagian Conditioner .................................................... 53 Skematik Bagian Analog To Digital .......................................... 54 Skema Bagian Microcontroler ................................................... 56 Skematik Bagian Interface RS232 ............................................. 58 Skematik Bagian Catudaya ......................................................... 59 Ploting PCB ................................................................................ 62 Diagram Alir earth.Asm ............................................................. 67 Tes Point Bagian Vibration Sensor Dan Signal Amplifier ........ 71 Perbandingan Sinyal In/Out Signal Amplifier ........................... 72 Tes Point Bagian Signal Conditioner ......................................... 73 Tes Point Bagian Analog To Digital Converter ......................... 74 Sinyal Clok ADC ....................................................................... 75 Tes Poin Bagian Mikrocontroler ................................................ 76 Frekuensi Sinyal Pin Xtall ......................................................... 78 Frekuensi Sinyal Xtal2 ............................................................... 78 Tes Poin Bagian Interface RS232 .............................................. 79

Gambar 4.10 Titik Pengujian Bagian Catudaya ............................................... 80 Gambar 4.11 Conto Capture Grafik 1 .............................................................. 82 Gambar 4.12 Conto Capture Grafik 2 .............................................................. 83

xv

DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 2.1 Diskripsi Funsi Pin-pin ADC0804 .............................................. 19 Tabel 2.2 Fungsi-fungsi Khusus Pin-pin Port 3 .......................................... 22 Tabel 2.3 Penentuan Mode Kerja Port Serial .............................................. 31 Tabel 2.4 PCON-Power Control Register ................................................... 32 Tabel 2.5 Baut Rate Yang Dihasilkan Timer 1 ............................................ 32 Tabel 2.6 Ringkasan BaudRate Untuk Timer 1 Sebagai Generator Baud Rate ............................................................................................... 33 Tabel 2.7 Fungsional Pin LM393 ................................................................ 45 Tabel 3.1 Nilai D-out Untuk Data Input ...................................................... 55 Tabel 3.2 Inisialisasi Pemakaian Port U1 ..................................................... 57 Tabel 3.3 Peralatan Dan Bahan .................................................................... 61 Tabel 3.4 Daftar Komponen ......................................................................... 65 Tabel 4.1 Hasil Pengujian Bagian Vibration Sensor Dan Signal Amplifier . 72 Tabel 4.2 Tes Poin Bagian Signal Conditioner ............................................ 73 Tabel 4.3 Hasil Pengujian Bagian Analog ................................................... 74 Tabel 4.4 Hasil Pengujian Microcontroler (Saluran Xtal 1dan Xtal2) ......... 77 Tabel 4.5 Hasil Pengujian Bagian Interface ................................................. 79 Tabel 4.6 Pengujian Bagian Catudaya ......................................................... 80 Tabel 4.7 Hasil Data Pengujian Regulator ................................................... 81

xvi

Intisari
Sistem merupakan bentuk aplikasi pendeteksi getaran gempa yang dikendalikan menggunakan sistem kontrol adaptif berbasis mikrokontroler dengan datalogger berbasis PC. Secara prinsip sistem akan membaca sinyal getaran gempa melalui sensor piezoelectric dan menguatkan level sinyalnya agar dapat diolah menggunakan rangkaian analog to digital converter dan mikrokontroler. Pada saat program PC mengirimkan perintah pengambilan data sinyal getaran ke bagian mikrokontroler, bagian ini akan merespon perintah tersebut dengan mengirimkan data hasil konversi analog to digital converter ke PC melalui saluran serial. Proses ini akan terus dijalankan oleh program PC dan data report dari mikrokontroler inilah yang diproses ulang kedalam bentuk grafik sinyal getaran gempa (yang terdeteksi secara realtime).

Kata Kunci: piezoelectric, datalogger, mikrokontroler, analog to digita converter

xvii

Abstract
System is form of the application of earthquake jitter detector controlled applies control systems adaptif to base on mikrokontroler with datalogger to base on PC. In system principle will read earthquake jitter signal through censor piezoelectric and strengthens level its(the signal that be changeable applies digital to analog circuit of converter and mikrokontroler. At the time of program PC sends retrieval comand of jitter signal data to part of mikrokontroler, part of this the comand response will by sending data result of digital to analogue conversion of converter to PC through serial passage. This process would continuously be implemented by program PC and data report from this mikrokontroler reprocessed kedalam form of earthquake jitter signal graph ( what detected in realtime). Keyword: piezoelectric, datalogger, mikrokontroler, analogue to digita converter

xviii

xix

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Pokok Permasalahan Sistem pendeteksian getaran gempa bumi secara umum mengandalkan

piranti seismograf yang telah digabungkan dengan pengkawatan sistem sensor getaran secara khusus. Desain fisik sensor getaran dapat berupa mekanis penuh, mekanis dan fluida, maupun gabungan dari desain mekanis dan rangkaian elektronik. Pemasangan sistem sensor getaran untuk seismograf ini memerlukan konstruksi bangunan yang didesain secara khusus dan hanya efektif dipasang di area pegunungan atau daerah dengan kepadatan lalu lintas kendaraan yang minimal. Permasalahan inilah menyebabkan sistem pendeteksian gempa bumi tidak dipasang di area perumahan maupun di dalam gedung-gedung. Seperti kita ketahui, desain sistem sensor getaran merupakan bagian terpenting dari suatu sistem peringatan dini karena sangat menentukan faktor kehandalan dari sistem tersebut. Proses pengidentifikasian terjadinya getaran gempa bumi sebaiknya dapat diketahui sedini mungkin dan seharusnya piranti pendeteksi dapat dipasang di sembarang posisi baik didalam maupun diluar bangunan. Selain itu piranti pendeteksi harus bersifat sederhana, mudah dioperasikan, memiliki validitas sinyal yang akurat dan dapat mengidentifikasi terjadinya gempa bumi dengan arah rambatan gelombang horisontal maupun gelombang vertikal.

1

2

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah untuk

perancangan alat ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana cara menerapkan proses pendeteksian gempa secara cepat dan akurat menggunakan sensor piezoelectric? 2. Variabel apa saja yang mempengaruhi otomatisasi sistem pendeteksian gempa tersebut? 3. Bagaimana metode pengaturan yang digunakan agar informasi gempa yang terdeteksi dapat dimasukkan dalam datalogger? 4. Bagaimana metode pengaturan yang digunakan agar mode operasPi alat dapat digabungkan dengan sistem datalogger berbasis PC?. 5. Bagaimana metode sistem transmisi data kontrol yang digunakan dalam datalogger agar dapat ditampilkan dalam bentuk grafik dan data report?.

1.3

Batasan Masalah Batasan masalah yang diambil dalam penelitian ini dimaksudkan supaya

proses perancangan sistem dapat lebih disederhanakan dan mengarahkan proses penelitian agar tidak menyimpang dari apa yang diteliti. Batasan-batasan disini antara lain: 1. Dalam penelitian difokuskan pada perancangan aplikasi sistem pemantau gempa berbasis piezoelectric dengan aplikasi datalogger berbasis Borland Delphie.

3

2.

Penyusun membatasi jangkah ketepatan pembacaan sensor piezoelectric dengan maksud meminimalkan pengaruh gangguan lingkungan pengujian.

3.

Konstruksi sensor piezoelectric dirancang agar dapat memanfaatkan gaya pegas sehingga tingkat keakuratannya harus dikalibrasi terlebih dahulu.

4.

Perancangan dilakukan dengan cara sesederhana dan seefiesien mungkin dengan tujuan meminimalkan biaya pembuatan alat.

1.4

Tujuan Dan Manfaat Dengan dibuatnya sistem alat dan skripsi ini diharapkan bermafaat bagi:

1.

Pembangunan Negara Meningkatkan kualitas sumbar daya manusia Indonesia dalam berkarya dibidang teknologi khususnya pendidikan teknik elektro.

2.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Memberikan nilai tambah pada suatu sistem elektronik dan diharapkan dengan pembuatan alat ini dapat mempermudah desain sistem sensor getaran berbasis piezoelectric yang handal.

3.

Mahasiswa Memberikan kesempatan dan menguji mahasiswa untuk mengsinkronkan secara langsung antara teori dan praktek di lapangan.

1.5

Metodologi Pembuatan Alat Pembuatan aplikasi sistem pendeteksian gempa berbasis piezoelectric

dengan aktuator mikrokontroler dan PC dilakukan melalui beberapa tahap :

4

1.

Metode kepustakaan, yaitu penulis melakukan studi literatur tentang permasalahan yang ada melalui perpustakaan, dan internet.

2.

Metode percobaan, yaitu penulis melakukan berbagai percobaan yang berkaitan dengan peralatan yang penulis buat di laboratorium.

3.

Metode perencanaan dan perancangan alat, penulis membuat alat dengan menggabungkan berbagai data dan rangkaian yang penulis dapatkan.

4.

Metode konsultasi, yaitu dalam masa perencanaan dan pembuatan alat penulis juga berkonsultasi dengan dosen pembimbing dan sumber-sumber lain yang penulis jadikan acuan dan perbandingan terhadap alat yang penulis buat sehingga permasalahan yang timbul sewaktu pembuatan alat dapat teratasi.

1.6

Sistematika Penulisan Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari halaman judul, lembar

pengesahan dosen pembimbing, lembar pengesahan dosen penguji, halaman persembahan, halaman motto, kata pengantar, abstraksi, daftar isi, daftar tabel, dan daftar gambar. Sedangkan untuk bagian isi laporan terdiri dari : BAB I Pendahuluan Berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II Landasan Teori Bab ini memuat teori-teori yang berhubungan dengan dan juga berisikan tentang teori-teori yang berhubungan dengan penulisan dan pembuatan alat.

5

BAB III

Perancangan Sistem

Bagian ini menjelaskan metode-metode perancangan yang digunakan, dan cara mengimplementasikan rancangan tersebut. BAB IV Pengujian, Analisis dan Pembahasan

Bab membahas tentang hasil pengujian sistem yang telah dibuat serta mengamati batasan dan hambatan yang ditemui selama proses pengujian. BAB V Penutup

Bab ini memuat kesimpulan dan saran-saran dari proses perancangan, dan juga hasil pengujian dari sistem.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1

Tinjauan Pustaka Untuk bahasan borland delphie, penulis menggunakan buku acuan ”Teknik

Pemrograman Interface Berbasis Borland Delphie 7” yang dipublikasikan oleh PT Elek Media Computindo. Dalam buku ini disebutkan bahwa Borland Delphie memerlukan add-on komponen khusus agar dapat mengakses port serial maupun USB dalam sistem OS Windows XP. (Teguh Supriyana,2007). Untuk bahasan sensor, penulis menggunakan buku acuan ”Design Alarm Berbasis Sensor Getaran” yang dipublikasikan oleh PT Elek Media Computindo. Dalam buku ini disebutkan bahwa pegas dapat digunakan sebagai bagian dari sensor getaran yang cukup akurat selama bagian penguat sinyalnya memiliki faktor penguatan yang cukup dan harus mampu mereduksi sinyal secara interaktif (Benedictus B.S,2005). Untuk bahasan sistem interface, penulis menggunakan acuan skripsi ”Perancangan Sistem Interface RS232 Berbasis Mikrokontroler AT89C2051”. Dalam skripsi ini disebutkan bahwa sistem interface RS232 yang handal memiliki kecepatan transfer data yang cukup tinggi dan dapat disetting ulang secara mudah. (F. Romanson,2006) Sedangkan penggunaan piezoelectric sebagai sensor getaran menggunakan acuan desain sistem sensor getaran (2003, Budi Susanto) yang dipublikasikan melalui website http:///www.ilkom.edu/vibration_sensor/. Dalan desain sistem 6

7

sensor getaran ini disebutkan bahwa bentuk fisik piezoelectric harus dimodifikasi ulang agar dapat digunakan sebagai sensor getaran karena kontruksi plat dan membran aslinya bersifat statis.

2.2

Gempa Gempa adalah pergeseran tiba-tiba dari lapisan tanah di bawah permukaan

bumi. Ketika pergeseran ini terjadi, timbul getaran yang disebut gelombang seismik4. Gelombang ini menjalar menjauhi fokus gempa ke segala arah di dalam bumi. Ketika gelombang ini mencapai permukaan bumi, getarannya bisa merusak atau tidak tergantung pada kekuatan sumber dan jarak fokus, disamping itu juga mutu bangunan dan mutu tanah dimana bangungan berdiri.

Gambar 2.1 Lapisan Bumi Sumber : http://www.tfe.umu.se/courses/elektro/elmat1/v35_00_da/Hemuppgifter/quakesK JohansWLundgrMNorb.html Gempa terjadi di lapisan litosfir bumi karena lapisan ini terdiri atas lempenglempeng tektonik yang kaku dan terapung di atas batuan yang relatif tidak kaku. Daerah pertemuan dua lempeng atau lebih kita sebut sebagai plate margin atau batas lempeng, disebut juga sesar. Gempa dapat terjadi dimanapun di bumi ini,

8

tetapi umumnya gempa terjadi di sekitar batas lempeng dan banyak didapat sesar aktif disekitar batas lempeng. Titik tertentu di sepanjang sesar tempat dimulainya gempa disebut fokus atau hyposenter dan titik di permukaan bumi yang tepat di atasnya disebut episenter.

Gambar 2.2 Peta Lempeng Tektonik Sumber : http://www.tfe.umu.se/courses/elektro/elmat1/v35_00_da/Hemuppgifter/quakesK JohansWLundgrMNorb.html Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut mantel. Lapisan ini sedemikian panasnya sehingga senantiasa dalam keadaan tidak kaku, sehingga dapat bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang kita kenal sebagai aliran konveksi. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya.Ada tiga kemungkinan

9

pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati (collision) dan saling geser (transform).

Gambar 2.3 Arah Pergerakan Lempeng Tektonik Sumber : http://www.tfe.umu.se/courses/elektro/elmat1/v35_00_da/Hemuppgifter/quakesK JohansWLundgrMNorb.html

Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0-15cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi. Gempa dapat terjadi kapan saja, tanpa mengenal musim. Meskipun demikian, konsentrasi gempa cenderung terjadi di tempat-tempat tertentu saja, seperti pada batas Plat Pasifik. Tempat ini dikenal dengan Lingkaran Api karena banyaknya gunung berapi.

10

Gambar 2.4 Peta Lingkaran Api Sumber : http://www.tfe.umu.se/courses/elektro/elmat1/v35_00_da/Hemuppgifter/quakesK JohansWLundgrMNorb.html

Ilmuwan yang mempelajari sesar dan gempa disebut sebagai Seismologist. Para ilmuwan tersebut menggunakan peralatan yang disebut seismograf untuk mencatat gerakan tanah dan mengukur besarnya suatu gempa. Seismograf memantau gerakan-gerakan bumi mencatatnya dalam seismogram. Gelombang seismik, atau getaran, yang terjadi selama gempa tergambar sebagai garis bergelombang pada seismogram. Seismologist mengukur garis-garis ini dan menghitung besaran gempa. Seismologist menggunakan skala Richter untuk menggambarkan besaran gempa, dan skala Mercalli untuk menunjukkan intensitas gempa, atau pengaruh gempa terhadap tanah, gedung dan manusia.

11

2.3 2.3.1

Skala Gempa Bumi Skala Richter Skala Richter atau SR didefinisikan sebagai logaritma (basis 10) dari

amplitudo maksimum, yang diukur dalam satuan mikrometer, dari rekaman gempa oleh instrumen pengukur gempa (seismometer) Wood-Anderson, pada jarak 100 km dari pusat gempanya. Sebagai contoh, misalnya kita mempunyai rekaman gempa bumi (seismogram) dari seismometer yang terpasang sejauh 100 km dari pusat gempanya, amplitudo maksimumnya sebesar 1 mm, maka kekuatan gempa tersebut adalah log (10 pangkat 3 mikrometer) sama dengan 3,0 skala Richter. Skala ini diusulkan oleh fisikawan Charles Richter. Untuk memudahkan orang dalam menentukan skala Richter ini, tanpa melakukan perhitungan matematis yang rumit, dibuatlah tabel sederhana seperti gambar di samping ini. Parameter yang harus diketahui adalah amplitudo maksimum yang terekam oleh seismometer (dalam milimeter) dan beda waktu tempuh antara gelombang-P dan gelombang-S (dalam detik) atau jarak antara seismometer dengan pusat gempa (dalam kilometer). Dalam gambar 2.5 dicontohkan sebuah seismogram mempunyai amplitudo maksimum sebesar 23 milimeter dan selisih antara gelombang P dan gelombang S adalah 24 detik maka dengan menarik garis dari titik 24 dt di sebelah kiri ke titik 23 mm di sebelah kanan maka garis tersebut akan memotong skala 5,0. Jadi skala gempa tersebut sebesar 5,0 skala Richter.

12

Gambar 2.5 Seismogram Gelombang P dan S Sumber : http://www.tfe.umu.se/courses/elektro/elmat1/v35_00_da/Hemuppgifter/quakesK JohansWLundgrMNorb.html

Skala Richter pada mulanya hanya dibuat untuk gempa-gempa yang terjadi di daerah Kalifornia Selatan saja. Namun dalam perkembangannya skala ini banyak diadopsi untuk gempa-gempa yang terjadi di tempat lainnya. Skala Richter ini hanya cocok dipakai untuk gempa-gempa dekat dengan magnitudo gempa di bawah 6,0. Di atas magnitudo itu, perhitungan dengan teknik Richter ini menjadi tidak representatif lagi. Perlu diingat bahwa perhitungan magnitudo gempa tidak hanya memakai teknik Richter seperti ini. Kadang-kadang terjadi kesalahpahaman dalam pemberitaan di media tentang magnitudo gempa ini karena metode yang dipakai kadang tidak disebutkan dalam pemberitaan di media, sehingga bisa jadi antara

13

instansi yang satu dengan instansi yang lainnya mengeluarkan besar magnitudo yang tidak sama.

Gambar 2.6 Tabel Skala Richter Sumber : http://www.tfe.umu.se/courses/elektro/elmat1/v35_00_da/Hemuppgifter/quakesK JohansWLundgrMNorb.html

2.3.2

Skala Mercalli Skala Mercalli adalah satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi.

Satuan ini diciptakan oleh seorang vulkanologis dari Italia yang bernama Giuseppe Mercalli pada tahun 1902. Skala Mercalli terbagi menjadi 12 pecahan berdasarkan informasi dari orang-orang yang selamat dari gempa tersebut dan

14

juga dengan melihat dan membandingkan tingkat kerusakan akibat gempa bumi tersebut. Oleh karena itu skala Mercalli adalah sangat subjektif dan kurang tepat dibanding dengan perhitungan magnitudo gempa yang lain. Pada saat ini penggunaan skala Richter lebih luas digunakan untuk untuk mengukur kekuatan gempa bumi. Tetapi skala Mercalli yang dimodifikasi, pada tahun 1931 oleh ahli seismologi Harry Wood dan Frank Neumann masih sering digunakan terutama apabila tidak terdapat peralatan seismometer yang dapat mengukur kekuatan gempa bumi di tempat kejadian. Skala Modifikasi Intensitas Mercalli mengukur kekuatan gempa bumi melalui tahap kerusakan yang disebabkan oleh gempa bumi itu. Satuan ukuran skala Modifikasi Intensitas Mercalli adalah seperti di bawah: 1. Tidak terasa 2. Terasa oleh orang yang berada di bangunan tinggi 3. Getaran dirasakan seperti ada kereta yang berat melintas. 4. Getaran dirasakan seperti ada benda berat yang menabrak dinding rumah, benda tergantung bergoyang. 5. Dapat dirasakan di luar rumah, hiasan dinding bergerak, benda kecil di atas rak mampu jatuh. 6. Terasa oleh hampir semua orang, dinding rumah rusak. 7. Dinding pagar yang tidak kuat pecah, orang tidak dapat berjalan/berdiri. 8. Bangunan yang tidak kuat akan mengalami kerusakan. 9. Bangunan yang tidak kuat akan mengalami kerusakan tekuk. 10. Jambatan dan tangga rusak, terjadi tanah longsor.

15

11. Rel kereta api rusak. 12. Seluruh bangunan hancur dan hancur lebur.

2.3.3

Skala Kekuatan Moment Skala kekuatan moment diperkenalkan pada 1979 oleh Tom Hanks dan

Hiroo Kanamori sebagai pengganti skala Richter dan digunakan oleh seismologis untuk membandingkan energi yang dilepas oleh sebuah gempa bumi. Kekuatan moment Mw adalah sebuah angka tanpa dimensi yang didenifinisikan sebagai berikut: MW = M0 M0 ⎞ 2⎛ ⎞ 2⎛ − 9.1⎟ = ⎜ log10 − 16.1⎟ ..................................... (2.1) ⎜ log10 ⎜ ⎟ 3⎝ N .m dyn.cm ⎠ 3⎝ ⎠

M0 adalah Moment seismik (menggunakan satu newton metre [N·m] sebagai moment). Sebuah peningkatan satu tahap dalam skala logaritmik ini berarti sebuah peningkatan 101,5 = 31,6 kali dari jumlah energi yang dilepas, dan sebuah peningkatan 2 tahap berarti sebuah peningkatan 103 = 1000 kali kekuatan awal.

2.4

Piezoelectric Prinsip kerja piezoelektrisitas adalah kemampuan dari suatu benda (pada

umumnya kristal dan keramik) untuk menghasilkan potensial listrik sebagai response terhadap tekanan mekanik yang diberikan. Efek piezoelektrik adalah suatu efek yang reversible, dimana terdapat efek piezoelektrik langsung (direct piezoelectric effect) dan efek piezoelektrik balikan (converse piezoelectric effect). Efek piezoelektrik langsung adalah produksi potensial listrik akibat adanya

16

tekanan mekanik. Sedangkan efek balikan piezoelektrik adalah produksi tekanan akibat pemberian tegangan listrik, contohnya adalah kristal lead zirconate titanate yang akan mengalami perubahan dimensi sampai maksimal 0.1 % jika diberi tegangan listrik. Pada sebuah kristal piezoelektrik, muatan listrik positif dan muatan listrik negatif adalah terpisah, namun tersebar secara simetris sehingga secara keseluruhan kristal bersifat netral.

Gambar 2.7. Penampang Muatan Listrik Dari Kristal Piezoelektrik. Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Dielectric.png

Masing-masing sisi dari piezoelektrik membentuk kutub listrik dan ketika suatu tekanan mekanik diterima oleh kristal piezoelektrik, bentuk simetris dari tiap-tiap muatan listrik tersebut berubah menjadi tidak simetris dan akan menghasilkan tegangan listrik. Sebagai contoh, 1 cm kubik kristal quartz dengan tekanan mekanik sebesar 2000 Newton akan menghasilkan tegangan listrik sebesar 12500 Volt. Bentuk fisik piezoelectric secara umum dapat dilihat pada gambar 2.8

17

Gambar 2.8 Bentuk Fisik Piezoelectric Sumber: http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Piezoelectric&redirect=no

2.4.1

Spesifikasi piezoelektrisitas Spesifikasi piezoelektrisitas cenderung merupakan efek gabungan dari

sifat elektris bahan yaitu Fluks listrik, Permitivitas listrik, Medan listrik dan Hukum Hooke. Oleh karena itu penggolongannya dapat dibedakan menjadi: 1. Berdasarkan arah datangnya tekanan, terdapat tiga operasi yang dapat dideteksi menggunakan piezoelektrik yaitu transverse effect,

longitudinal effect, dan shear effect. 2. Berdasarkan teknologi piezoelektrik, besaran fisika untuk tekanan dan kecepatan dapat diukur.

2.4.2

Penggunaan piezoelektrik Piezoelektrik sensor secara umum digunakan dalam pendeteksian jenis-

jenis tekanan dalam bentuk suara (bentuk dasar dari aplikasi sensor) misalnya, piezoelektrik mikropon (gelombang suara akan membengkokkan materi piezoelektrik, kemudian membuat perubahan tegangan listrik) dan piezoelektrik pickup yang digunakan pada Gitar Listrik. Piezo sensor yang diletakan pada bagian intrumen yang dikenal sebagai kontak mikropon.

18

Piezoelektrik sensor secara khusus juga digunakan pada frekuensi suara tinggi pada Ultrasonic tranducer pencitraan medis dan juga pada test industri nondestruktif (NDT). Untuk beberapa teknik sensor, piezoelektrik sensor dapat bertindak murni sebagai sensor dan juga sebagai aktuator, oleh karena itu seringkali istilah transducer lebih disukai ketika alat itu memiliki dua kemampuan. Selain aplikasi yang disebutkan di atas, jenis aplikasi sensor piezoelektrik lainnya adalah: 1. Piezoelektrik elemen juga digunakan untuk mendeteksi dan pembangkit gelombang sonar. 2. Piezoelektrik mikrobalance digunakan sebagai sensor bilolog dan kimia yang sangat sensitif. 3. Piezoelektrik terkadang digunakan pada meteran tegangan. 4. Sistem manajemen mesin pada otomotif juga menggunakan piezoelektrik tranducers untuk mendeteksi adanya letupan, dengan men-sampling getaran blok mesin. 5. Piezoelektrik tranducers juga digunakan pada unit drum elektrik untuk mendeteksi sentuhan stik drum.

2.5

Analog To Digital Converter ADC0804 adalah konverter sinyal analog ke sinyal digital 8 bit dengan

spesifikasi mempunyai faktor kesalahan ± 1 LSB, waktu konversi 100 µS pada frekuensi clock 640 kHz dan kompatibel dengan segala jenis mikroprosesor atau

19

mikrokontroler. Bentuk fisik dan diskripsi pin ADC 0804 dapat dilihat pada gambar 2.26 dibawah ini:

Gambar 2.9 Bentuk Fisik Dan Diskripsi Pin ADC0804 Sumber : National Semiconductor, Datasheet ADC0804

Tabel 2.1 Diskripsi fungsi pin-pin ADC0804: Pin DB0 – DB7 CS (Chip Select) WR (Write) INTR (Interrupt) RD (Read) VIN(+) dan VIN(-) CLK R dan CLK IN A GND dan D GND VREF/2 VCC Fungsi Output biner 8 bit hasil konversi Input aktif 0, berfungsi untuk mengaktifkan ADC Input aktif 0, berfungsi untuk memulai konversi (start of conversion) Output aktif 0, berfungsi sebagai tanda konversi data telah selesai. Input aktif 0, berfungsi untuk mengeluarkan data hasil konversi ke pin DB0 – DB7. Berfungsi sebagai input tegangan analog. Berfungsi untuk mengatur frekuensi clock internal dengan menambahkan sebuah resistor dan kapasitor Berfungsi sebagai saluran pentanahan sinyal analog dan pntanahan sinyal digital Berfungsi sebagai pengatur penguatan tegangan input analog. Besaran nominalnya ditentukan sebesar ±2,5Vdc untuk faktor kesalahan ± 1 LSB Berfungsi sebagai input tegangan penyuplai (maksimal 6,5 Volt).

Jangkauan tegangan input dari ADC0804 mulai dari 0 Volt sampai dengan 5V atau setara dengan 00H sampai 0FFH. Aplikasi umum penggunaan ADC0804 diperlihatkan pada gambar 2.10

20

Gambar 2.10 Aplikasi Umum Penggunaan ADC0804 Sumber : National Semiconductor, Datasheet ADC0804

2.6

Mikrokontroler AT89C1 Mikrokontroler AT89C51 merupakan suatu chip mikroprosesor yang

dilengkapi sebuah CPU 8 bit, Memori (RAM dan ROM), 32 saluaran I/O dan mempunyai 4Kb Flash PEROM. Dengan kata lain mikrokontroler dapat disebut sebagai suatu mikrokomputer yang dapat bekerja hanya menggunakan single chip serta dibantu dengan sedikit komponen luar.

Gambar 2.11 Struktur Pin AT89C51 Sumber: Atmel Semiconductor, Datasheet AT89C51

21

Kelemahan utama dari mikrokontroler dibanding komputer adalah bahwa mikrokontroler hanya memiliki memori flash PEROM atau memori eksternal untuk penyimpanan data permanennya sedangkan komputer menggunakan harddisk yang mampu menampung data jauh lebih besar. Mikrokontroler AT89C51 mempunyai 40 pin, 32 diantaranya adalah untuk keperluan port paralel 8 bit. Satu port paralel terdiri dari 8 pin, dengan demikian 32 pin tersebut membentuk 4 port paralel. port paralel tersebut dikenal dengan Port 0, Port 1, Port 2, dan Port 3. Nomor dari masing-masing pin mulai dari 0 sampai 7. Sebagai contoh pin pertama Port 0 disebut P0.0. dan pin terakhir untuk Port 0 adalah P0.7.

2.6.1

Fungsi Pin (Pin) Pin 1 sampai 8 (Port 1) merupakan Port I/O dua arah (bidirectional) yang

dilengkapi dengan pull up internal terletak pada alamat 90H. Penyangga keluaran Port 1 mampu memberikan atau menyerap arus empat masukan TTL (sekitar 1,6 mA). Jika nilai logika ‘1’ dituliskan ke pin Port 1, maka masing-masing pin akan di- pulled high dengan pull up internal sehingga dapat digunakan sebagai masukan. Jika pin Port 1 dihubungkan ke ground (di-pulled low), maka masingmasing pin akan memberikan arus (source) karena di-pulled high secara internal. Port 1 juga menerima alamat bagian rendah (low byte) selama pemrograman dan verifikasi flash. Pin 9 Reset (RST). Akses terhadap pin Reset dapat dilakukan secara manual maupun otomatis saat power diaktifkan. Reset terjadi dengan adanya

22

logika 1 selama minimal 2 cycle. Setelah kondisi pin RST kembali Low, mikrokontroler akan kembali menjalankan program dari alamat 0000H. kondisi pada internal RAM tidak terjadi perubahan selama reset. Pin 10 sampai 17 (Port 3) merupakan Port I/O dua arah (bidirectional) dengan dilengkapi pull-up internal terletak pada alamat B0H. Penyangga keluaran Port 3 mampu memberikan atau menyerap arus senilai empat masukan TTL (sekitar 1,6 mA). Jika logika ‘1’dituliskan ke pin Port 3, maka masing-masing pin akan di- pulled high dengan resistor pull-up internal sehingga dapat digunakan sebagai masukan. Hal penting yang harus diperhatikan adalah pada saat pin Port 3 dihubungkan ke ground (di-pulled low), maka masing-masing pin akan memberikan arus (source) karena di-pulled high secara internal. Port 3 juga memiliki fungsi khusus selain I/O, yaitu sebagai port fungsi alternatif seperti ditunjukan pada tabel 2.3, diantaranya menerima sinyal-sinyal kontrol (P3.6 dan P3.7), bersama-sama dengan Port 2 (P2.6 dan P2.7) selama pemrograman dan verifikasi flash sedang berlangsung. Tabel 2.2 Fungsi-Fungsi Khusus Pin-Pin Port 3 Port P3.0 P3.1 P3.2 P3.3 P3.4 P3.5 P3.6 P3.7 Fungsi RXD, merupakan port masukan serial data TXD, merupakan port keluaran serial data INT0, merupakan port interupsi 0 eksternal INT1, merupakan port interupsi 1 eksternal T0, merupakan port timer 0 eksternal T1, merupakan port timer 1 eksternal WR, merupakan port write strobe memori data eksternal RD, merupakan port read strobe memori data eksternal
Sumber: WWW.Atmel.Com, Datasheet AT89C51

Pin 18 (XTAL2) merupakan keluaran dari penguat osilator. Sedangkan pin 19 (XTAL1) merupakan masukan ke penguat osilator membalik.

23

Pin 20 GND merupakan pin Ground atau pentanahan. Pin 21 sampai 28 (port 2) merupakan port I/O dua arah (bidirectional) dengan dilengkapi pull up internal terletak pada alamat A0H. Penyangga keluaran Port 2 mampu memberikan atau menyerap arus empat masukan TTL (sekitar 1,6 mA). Jika logika “1”dituliskan ke pin Port 2, maka masing-masing pin akan di- pulled high dengan pull up internal sehingga dapat digunakan sebagai masukan. Sebagai masukan, jika pin Port 2 dihubungkan ke ground (pulled low), maka masingmasing pin akan memberikan arus (source) karena di-pulled high secara internal. Port 2 akan memberikan byte alamat bagian tinggi (high byte) selama pengambilan instruksi dari memori program eksternal dan selama pengaksesan memori data eksternal yang menggunakan perintah dengan alamat 16-bit. Port 2 juga menerima alamat bagian tinggi selama pemrograman dan verifikasi flash. Pin 29 (PSEN=Program Strobe Enable) merupakan sinyal baca untuk memori program eksternal. Saat mikrokontroler menjalankan program dari memori eksternal, PSEN akan diaktifkan dua kali persiklus mesin, kecuali dua aktivasi PSEN dilompati (diabaikan) saat mengakses memori data eksternal. Pin 30 (ALE/PROG). Akses keluaran pinAddress Latch Enable (ALE) menghasilkan pulsa-pulsa untuk mengunci byte rendah (low byte) alamat selama mengakses eksternal memori. Pin ini juga berfungsi untuk masukan program (the program pulse input) atau PROG selama pemrograman flash. Pada operasi normal ALE akan berpulsa dengan laju 1/6 dari frekuensi kristal dan dapat digunakan sebagai pewaktuan atau clock rangkaian eksternal. Jika dikehendaki operasi ALE dapat dimatikan dengan cara mengatur bit 0 dari SFR pada lokasi 8Eh. Jika isinya

24

logika “1”, ALE hanya akan aktif selama dijumpai instruksi MOVX atau MOVC. Selain proses tersebut diatas, Pin ALE akan di pulled high sehingga tidak akan memberikan efek selama pengaksesan secara eksternal. Pin 31 (EA/VPP=Eksternal Access Enable) harus selalu dihubungkan ke ground, jika mikrokontroler ingin mengeksekusi program dari luar. Selain dari itu EA harus selalu dihubungkan ke VCC, agar mikrokontroler mengakses program secara internal dan beralamat dari 0000H sampai FFFFH. Pin EA/Vpp juga berfungsi menerima tegangan 12VDC saat pemrograman flash. Pada kondisi low maka pin ini akan berfungsi sebagai EA (External Acces Enable), yaitu mikrokontroler akan menjalankan program yang ada pada memori eksternal setelah system direset. Apabila berkondisi high maka pin ini akan berfungsi untuk menjalankan program yang ada pada memori internal. Pin 32 sampai 39 (port 0) dapat berfungsi sebagai I/O biasa, low order multiplex addres/data ataupun menerima kode byte pada saat flash programming. Sebagai fungsi I/O biasa port ini dapat memberikan output sink ke delapan buah TTL input atau dapat diubah sebagai input dengan memberikan logika 1 pada port tersebut. Pada saat flash programming dan verifikasi program, saluran ini memerlukan resistor external pull-up. Sedangkan Pin 40 (VCC) merupakan saluran supply tegangan ke IC.

2.6.2

Organisasi Memori Di dalam sebuah mikrokontroler terdapat suatau memori yang berfungsi

menyimpan data atau program. RAM adalah memori yang dapat dibaca atau

25

ditulis umumnya beralamat 30H hingga 7FH. Data dalam RAM akan terhapus (bersifat volatile) bila catu daya dihilangkan. Karena sifat RAM yang volatile ini, maka program mikrokontroler tidak disimpan dalam RAM. RAM digunakan untuk menyimpan data sementara, yaitu data yang tidak begitu vital bila hilang akibat aliran daya terputus. RAM pada IC ini mempunyai kapasitas sebesar 128 byte x 8 bit.

Gambar 2.12 Peta Memori RAM dan Special Fungsi Register

Dari gambar peta SFR terlihat bahwa address (alamat) memori yang dapat diisi adalah alamat yang tidak berisi register (kolom yang kosong). Pemisahan memori

26

program dan data, memperbolehkan memori data untuk diakses oleh alamat 8 bit. Sekalipun demikian alamat data memori 16 bit dapat dihasilkan melalui register Data Pointer Register (DPTR). RAM internal 128 byte mempunyai alamat yang sama dengan 128 byte SFR (Spesial Function Register = Pemetaan address memory pada chip). Register-register yang digunakan untuk pengolahan program dan pengaturan komponen-komponen peripheral internal tergabung dalam SFR, menempati segment 80H hngga FFH pada RAM internal Dalam mikrokontroler memori program aplikasi hanya dapat dibaca saja. Sedangkan untuk mengakses program memori eksternal dapat dilakukan melalui sinyal Program Strobe Enable (PSEN). Memori data menempati suatu ruang alamat yang terpisah dari memori program sehingga memori eksternal dapat diakses secara langsung hingga 64 Kbyte dalam ruang memori data eksternal. Untuk mengakses hal tersebut, bagian CPU akan memberikan sinyal baca dan tulis (RD dan WR) selama pengaksesan data eksternal. Memori data internal dan memori program eksternal dapat dikombinasikan dengan cara menggabungkan sinyal, RD dan PSEN melalui gerbang AND dan keluarannya sebagai tanda baca ke memori data/program eksternal. Pada gambar peta memori ditunjukkan bagaimana bagian RAM 128 byte bawah dipetakan. 32 byte bawah dikelompokan menjasi 4 bank dan 8 register (R0 hingga R7). Dua bit pada PSW (Program Status World) digunakan untuk memilih kelompok register mana yang digunakan. 16 byte berikutnya, diatas bank-bank register membentuk suatu blok ruang memori yang bisa teralamati per-bit (bit

27

addressable). Alamat-alamat bit ini adalah 00h hingga 7Fh. Semua byte yang berada didalam 128 bagian bawah dapat diakses baik secara langsung maupun tak langsung. Bagian 128 atas dari RAM hanya ada didalam piranti yang memiliki RAM berukuran 256 byte.

2.6.3

Register Fungsi Khusus (Special Fungsi Register) Special Fungsi Register (SFR) adalah register-register yang mempunyai

fungsi khusus, diantaranya digunakan untuk mengatur input-output data dari mikrokontroler, dan menempati alamat 80H hingga FFH. Misalnya register P0, P1, P2, dan P3 digunakan sebagai register untuk menampung data input-uotput. Selain itu, beberapa dari register ini mampu dialamati dengan pengalamatan bit, sehingga dapat dioperasikan seperti yang ada pada RAM. Pada SFR terdapat beberapa alamat yang bisa dialamati secara bit dan ada yang tidak bisa dialamati secara bit. Pada SFR yang bisa dialamati secara bit, adalah alamat yang pada digit keduanya adalah digit 0 atau 8, missal 80H, 88H,90H,98H, dan F8H. Special Fungsi Register Akumulator adalah yang sering dipakai untuk dialamati secara bit dan mempunyai alamat E0H, misalnya A.0, A.1, A.2, A.3, A.4, A.5, A.6, dan A.7. Berikut adalah penjelasan secara singkat tentang Special Fungsi Register beserta fungsinya : Akumulator (ACC) merupakan register aritmatika menempati lokasi E0H. yang berfungsi menyimpan data sementara sebelum atau sesudah program diproses. Sebagian besar instruksi pemrosesan pada AT89C51 menggunakan

28

akumulator sebagai operand sumber atau operand tujuan pengiriman data dari dan ke port I/0. Register B berlokasi di F0H digunakan selama operasi perkalian atau pembagian 8 bit dan dapat juga digunakan sebagai register operand sumber atau operand tujuan. Register Program Status Word (PSW) berlokasi di D0H berisikan informasi status program yang mana masing-masing bit menunjukkan kondisi Central Processing Unit setelah opersasi dijalankan. Stack Pointer (SP) merupakan register 8 bit yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan alamat data saat terjadi interrupt dan terletak di alamat 81H. Register data pointer atau DPTR merupakan register 16 bit yang terdiri dari Data Pointer High byte (DPH) dan Data Pointer Low byte (DPL) yang masing-masing berlokasi di 83H dan 82H. Serial data Buffer terletak pada lokasi 99H yang dibagi menjadi dua register yang terpisah, yaitu register penyangga penggirim (transmit buffer) dan penyangga penerima (receive buffer). Pada saat data di salin ke SBUF, maka data sesungguhnya dikirim ke penyangga pengirimdan sekaligus mengawali transmisi data serial. Dan sedangkan saat data disalin dari SBUF, maka sebenarnya data tersebut berasal dari penyangga penerima.

2.6.4

Timer/counter Dalam struktur mikrokontroler AT89C51 sama dengan AT89C51, yaitu

terdapat dua buah timer/counter 16 bit (timer/counter 0 dan timer/counter 1), yang

29

dapat diatur melalui perangkat lunak. Timer 0 dibentuk oleh register TH0 dan TH1 pada alamat 8AH dan 8CH. Timer 1 dibentuk oleh register TH1 dan TL1 pada alamat 8Bh dan 8DH. Apabila timer/counter diaktifkan pada frekuensi kerja mikrokontroler 12 MHz, timer/counter akan melakukan perhitungan waktu sekali setiap 1 mikro detik secara independen. Bila dimisalkan suatu urutan instruksi telah selesai dilaksanakan dalam waktu 5 mikro detik, pada saat itu pula timer/ counter telah menunjukkan perioda waktu 5 mikro detik. Apabila perioda waktu tertentu dilampaui, timer/counter segera mengiterupsi mikrokontroler untuk memberitahukan bahwa perhitungan perioda telah selesai dilaksanakan. Perioda waktu timer/counter secara umum ditentukan oleh persamaan berikut : Sebagai timer/counter 8 bit T = (255 – Tlx)* 1µs ............................................................................ (2.2) dimana Tlx adalah register TL0 dan TL1 Sebagai timer/counter 16 bit T = (65535 – THx.TLx)* 1µs .............................................................. (2.3) THx = isi register TH0 atau TH1 TLx = isi register TL0 atau TL1

2.6.5

Interupsi Interupsi adalah suatu kejadian atau peristiwa yang menyebabkan

mikrokontroler berhenti sejenak untuk melayani interupsi tersebut. Program yang dijalankan pada saat melayani interupsi disebut Interrupt Service Routin (Rutin Layanan Interupsi). Mikrokontroler AT89C51 mempunyai 5 interupsi yaitu 2

30

eksternal interupsi (INT0 dan INT1), interupsi port serial, interupsi T0 dan interupsi T1. Dalam suatu kondisi dapat juga dibutuhkan suatu program yang sedang berjalan tidak boleh diinterupsi, untuk itu AT89C51mempunyai 5 buah iterrupt yang masing-masing dapat ditetapkan enable atau disable satu persatu. Pengaturan ini dilakukan oleh Interrupt Enable Register (Register Pengaktif Interupsi) yang terletak pada alamat A8H. EA : Berfungsi mengaktifkan dan nonaktifkan semua interupsi jika bit ini di clear. Jika bit ini clear maka apapun kondisi bit lain dalam register ini, semua interupsi tdak akan di layani ES : Berfungsi mengaktifkan dan nonaktifkan interupsi port serial, set = aktif, clear = nonaktif ET1 : Berfungsi mengaktifkan dan nonaktifkan interupsi timer 1 set = aktif, clear = nonaktif. Jika interupsi ini enable, interupsi akan terjadi pada saat Timer 1 overflow EX1 : Berfungsi mengaktifkan dan nonaktifkan interupsi External 1, set = aktif, clear = nonaktif. Jika interupsi ini enable, interupsi akan terjadi pada saat terjadi logika 0 pada INT1 ET0 : Berfungsi mengaktifkan dan nonaktifkan interupsi timer 0 set = aktif, clear = nonaktif. Jika interupsi ini enable, interupsi akan terjadi pada saat Timer 0 overflow EX0 : Berfungsi mengaktifkan dan nonaktifkan interupsi External 0, set = aktif, clear = nonaktif. Jika interupsi ini enable, interupsi akan terjadi pada saat terjadi logika 0 pada INT1

31

2.6.6

Antarmuka Serial Port serial pada AT89C51 bersifat dupleks-penuh atau full-duplex, artinya

port serial dapat menerima dan mengirim data secara bersamaan. Selain itu juga memiliki penyenggara penerima, artinya port serial mulai bias menerima byte yang kedua sebelum byte yang pertama dibaca oleh register penerima (jika sampai byte yang kedua selesai diterima sedangkan byte pertama belum juga dibaca, maka salah satu byte akan hilang). Penerimaan dan pengiriman data port serial melalui register SBUF. Penulisan ke SBUF berarti mengisi register pengiriman SBUF sedangkan pembacaan dari SBUF berarti membaca register penerimaan SBUF yang memangkan terpisah secara fisik (secara perangkat lunak namanya menjadi satu yaitu SBUF). Bit SM0 dan SM1 (bit 8 dan 7 pada register SCON) dipakai untuk menentukan mode kerja port serial. Setelah reset kedua bit ini bernilai ‘0’ dan penentuan mode kerja port serial mengikuti Tabel 2.3. Tabel 2.3 Penentuan Mode Kerja Port Serial SM0 SM1 Mode Keterangan 0 0 0 Register geser 0 1 1 UART 8-bit 1 0 2 UART 9-bit 1 1 3 UART 9-bit 2.6.7 Baud Rate Baud rate untuk mode 0 nilainya hanya ditentukan berdasar frekuensi kristal/12 dan tidak dapat diubah (bersifat tetap). Persamaan untuk mode 0 adalah sebagai berikut : Baud Rate tetap (fosc/12) bisa diubah-ubah (dengan Timer) tetap (fose/64 atau fose/32) bisa diubah-ubah (dengan Timer)

Baudrate =

FrekuensiKristal ............................................................. (2.4) 12

32

Baud rate untuk mode 2 bergantung pada nilai bit SMOD pada register PCOM jika SMOD = 0, baud rute-nya 1/64 frekuensi kristal, jika SMOD=1 maka baud rate-nya 1/32 frekuensi kristal atau baud rate mode 2 ini mengikuti persamaan : Baudrate = 2 s mod × FrekuensiKristal ................................................. (2.5) 64

Tabel 2.4 PCON – Power Control Register Bit number 7 Reset 6 5 4 3 2 1 0 Register SMOD -

- P0F GF1 GF0 PD IDL 0 0 0 0 0

0

0 0

Pada saat Timer 1 digunakan sebagai generator baudrate, maka nilai baudrate yang dihasilkan dapat diklasifikasikan sesuai tabel 2.4 dibawah ini
Tabel 2.4 Baud Rate Yang Dihasilkan Timer 1. Baud Rate Kristal SMOD C/~T Timer 1 Mode X X 2 2 2 2 2 2 2 2 1 Nilai isi-ulang X X FFH FDH FDH FAH F4H E8H 1DH 72H FEEBH

Mode 0 Max: 1Mhz Mode 2 Max: 375K Mode 1 & 3: 62,5K 192000 9600 4800 2400 1200 137,5 110 110

12Mhz 12Mhz 12Mhz 11,059Mhz 11,059Mhz 11,059Mhz 11,059Mhz 11,059Mhz 11,059Mhz 6 Mhz 12Mhz

X 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0

X X 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Secara umum ralat 5 % dapat ditolerir dalam komunikasi tak-sinkron (asynchronous) berbasis mikrokontroler. Tetapi jika menginginkan nilai baudrate yang tepat sebaiknya menggunakan kristal dengan frekuensi 11,0592 Mhz.

33

Tabel 2.5 Ringkasan Baud Rate untuk Timer 1 Sebagai Generator Baud Rate. Nilai isi Baud Rate BaudRate Kristal SMOD ulang TH1 Aktual 9600 12,000 Mhz 1 F9H 8923 2400 12,000 Mhz 0 F3D 2404 1200 12,000 Mhz 0 F6H 1202 19200 11,059 Mhz 1 FDH 19200 9600 11,059 Mhz 0 FDH 9600 2400 11,059 Mhz 0 F4H 2400 1200 11,059 Mhz 0 E8H 1200

Ralat

7% 0.16% 0.16% 0 0 0 0

2.6.8 Rangkaian Reset Pemasangan rangkaian reset mikrokontroler bertujuan agar mikrokontroler menjalankan proses mulai dari awal register 00h. Konfigurasi standar rangkaian reset dapat dilihat pada gambar 2.13 dibawah ini:

Gambar 2.13 Rangkaian Power On Reset

Rangkaian reset untuk mikrokontroler dirancang agar mempunyai kemampuan power on reset yaitu reset yang terjadi pada saat sistem dinyalakan untuk pertama kalinya. Reset juga dapat dilakukan secara manual dengan menyediakan tombol reset yang berupa switch dan dipasang dalam posisi bypass terhadap kondensator reset. Tegangan reset yang diperlukan pin mikrokontroler yaitu sebesar 3,5 volt. Perancangan rangkaian reset dalam hal ini terdiri atas

34

sebuah kapasitor dan sebuah resistor. Dengan menggunakan model rangkaian diatas dapat dilihat bahwa sistem reset yang dibentuk pada dasarnya memanfatkan prinsip pengisian dan pengosongan kondensator. Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut: Vc = Vcc(1 − e − t / RC ) .............................................................................. (2.6) Dengan R = resistor dalam Ω, C = Kondensator dalam µF

2.7

Perangkat Lunak Mikrokontroler AT89C51

Perangkat lunak adalah seperangkat instruksi yang disusun menjadi sebuah program untuk memerintahkan komputer melakukan suatu pekerjaan. Sebuah instruksi selalu berisi kode pengoperasian (Op-Code). Kode pengoperasian inilah yang disebut dengan bahasa mesin yang dapat dimengerti oleh mikrokontroler. Instruksi-instruksi yang digunakan dalam memprogram suatu program yang diisikan pada IC AT89C51 adalah instruksi bahasa pemograman assembler atau sama dengan instruksi pemrograman pada IC mikrokontroler keluarga MCSI.

2.7.1 Instruksi Transfer Data (perintah pemindahan data) Instruksi transfer data adalah instruksi pemindahan atau pertukaran data antara operand sumber dengan operand tujuan. Operandnya dapat berupa register, memori atau lokasi suatu memori. Instruksi transfer data terbagi menjadi dua kelas operasi yaitu transfer data utama (General Purpose Trasfer) dan transfer spesifik akumulator (Accumulator Specific Transfer). Deskripsi instruksi tranfer data tersebut dijelaskan di bawah ini :

35

MOV

: Transfer bit atau byte dari operand sumber ke operand tujuan.

PUSH

: Transfer byte dari operand sumber ke suatu lokasi dalam stack yang ditunjuk oleh register penunjuk (Stack Pointer)

POP XCH

: Transfer byte dalam stack ke operand tujuan : Pertukaran data antara operand akumulator dengan operand sumber

XCHD : Pertukaran nibble orde rendah antara RAM internal dengan

akumulator (lokasinya ditunjukkan oleh R0 dan R1) 2.7.2 Arithmetic Logical Unit (ALU) ALU adalah suatu unit yang melaksanakan proses aritmatika dan logika seperti penjumlahan, pengurangan, pembagian, AND, OR, X-OR, rotasi, clear, dan komplemen operasi percabangan.

2.7.3 Instruksi Aritmatik (instruksi perhitungan) Operasi dasar aritmatik seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian dimiliki oleh AT89C51 dengan mnemonic : INC, ADD, ADDC, DA, SUBB, DEC, MUL, dan DIV. Deskripsi operasi mnemonic tersebut dijelaskan sebagai berikut.:
INC

: Increment (INC) yaitu mnemonic menambah satu isi sumber operand dan menyimpan hasilnya ke operand tersebut

36

ADD

: Penjumlahan antara akumulator dengan sumber operand dan hasilnya disimpan di akumulator

ADDC : Hasil dari instruksi ADD beserta carry flagnya dan

hasilnya disimpan di operand tersebut
SUBB

: Pengurangan akumulator dengan sumber operand, lalu dikurangi satu bila carry flagnya (CY) diset, dan hasilnya disimpan dalam operand tersebut

DEC

: Decrement (DEC) yaitu mnemonic mengurangi sumber operand dengan 1 dan hasilnya disimpan dalam operand tersebut

MUL

: Multiply

(MUL)

yaitu

mnemonic

perkalian

antara

akumulator dengan register B
DIV

: Divide

(DIV)

yaitu

mnemonic

pembagian

antara

akumulator dengan register B dan hasilnya disimpan dalam akumulator, sisanya di register B. 2.7.4 Instruksi Logika Mikrokontroler AT89C51 dapat melakukan operasi logika bit maupun operasi logika byte. Operasi logika dibagi atas dua bagian yaitu ; Opersi logika operand tunggal, yang terdiri dari CLR, SETR, CPL, RL, RLC, RR,RRC, dan SWAB. Operasi logika dua operand seperti : ANL, ORL, dan XRL. Operasi yang dilakukan oleh AT89C51 dengan pembacaan instruksi logika tersebut dijelaskan sebagai berikut :

37

CRL SETB CPL RL

: Menghapus bit atau byte menjadi nol (Low). : Menset bit atau byte menjadi satu (High). : Mengkomplenkan akumulator : Rotasi akumulator 1 bit ke kiri dan bit 1 digeser melalui carry flag

RR RRL

: Rotasi akumulator 1 bit ke kanan : Rotasi akumulator 1 bit ke kanan dan 7 bit digeser melalui carry flag

SWAB : Pertukaran nibble orde rendah dengan nibble orde tinggi ANL

: Operasi logika AND dan hasilnya disimpan dalam operand pertama

ORL

: Operasi logika OR dan hasilnya disimpan dalam operand pertama

XRL

: Operasi logika XOR dan hasilnya disimpan dalam operand pertama

2.7.5 Instruksi Transfer Kendali Instruksi trasfer kendali terdiri dari tiga kelas operasi, yaitu lompatan tidak bersyarat (Unconditional Jump), lompatan bersyarat (Conditional Jump), dan interupsi. Deskripsi instruksi transfer kendali dijelaskan sebagai berikut :
CALL

: Intruksi pemanggilan subroutine, artinya mikrokontroler sementara meninggalkan aliran program utama untuk mengerjakan intruksi-intruksi dalam subroutine dan akan

38

kemabli

ke

rogram

utama

setelah

selesai

dengan

menggunakan intruksi RET
ACALL : Instruksi pemanggilan subroutine bila alamat subroutine

tidak lebih dari 2 Kbyte
LCALL : Pemanggilan subroutine yang mempunyai alamat antara 2

Kbyte sampai 64 Kbyte
AJMP

: Lompatan untuk percabangan maksimum 2 Kbyte. Intruksi ini mempunyai 2 byte, byte pertama merupakan kode untuk intruksi AJMP pada lokasi memori program bit 8 sampai bit 10 dan byte kedua dipakai untuk menyatakan lokasi bit 0 sampai bit lokasi 7.

SJMP

: Lokasi memori program dalam intruksi ini tidak dinyatakn dengan lokasi sesugguhnya, tapi dinyatakan dengan pergeseran relatif’ terhadap nilai Program Counter saat intruksi.. namun intruksi tersebut tetap bisa dipakai asalkan jarak antara intruksi tidak lebih dari 127 byte atau berada pada -128 sampai +127

LJMP

Lompatan untuk percabangan maksimum 64 Kbyte. Kode untuk intruksi ini adalah 02H.

JNB

Percabangan jika bit tidak diset (Jump On Not Bit Set ), jika data bit 0 maka program akan melompat ke soubrutin yang ditunjuk dan jika data bit brnilai 1maka program akan menjalankan intruksi dibawahnya

39

JB

Intruksi ini melakukan pengujian bit pada alamat bityang ditunjuk. Jika data bit = 1 maka program tersebut akan melompat ke subroutine yang ditunjuk.

JZ

Percabangan akan dilakukan jika isi akumulator adalah nol (Jump if Zero).

JNZ

Percabangan akan dilakukan jika isi akumulator tidak nol (Jump if Not Zero).

JC CJNE

Percabangan terjadi jika Carry Flag (CY) diset “1” Operasi perbandingan operand pertama dengan operand kedua, jika tidak sama akan dilakukan percabangan (Compare And jump if Not Equal).

DJNZ

Mengurangi isi operand sumber dan percabangan dilakukan

akan

apabila isi operand tersebut tidak nol (

Decrement Jump if Not Zero).
RET RETI

Kembali ke subroutine pemanggil Instruksi kembali ke program interupsi utama

Sebagai operand dari perlengkapan instruksi dijelaskan sebagai berikut :
Rn Data

: Register R0 – R7 yang dipilih dari tumpukan register : Lokasi alamat data internal 8 bit, yang dikolasikan pada data RAM internal (0 – 127) SFR pada 128 – 255 (I/O port, register pengontrol, register status).

@R1

: Data RAM internal lokasi 0 – 255 delapan bit, yang

40

dialamati secara tidak langsung melalui R0 dan register R1
#Data

: Yang diisikan ke dalam instruksi adalah 8 bit

#Data 16 : Yang diisikan ke dalam instruksi adalah 16 bit Addr 16

Untuk tujuan alamat 16 bit. digunakan pada operasi ACALL dan LJMP yang dapat dilakukan dimana saja dalam 64 Kbyte daerah alamat program memori

Addr 11

11 bit alamat tujuan dipakai oleh operasi ACAAL dan AJMP. Percabangan dapat dilakukan dimana saja dalam 2 Kbyte daerah program

2.8

Serial interface MAX232

MAX232 berisi empat bagian yaitu: dual charge-pump DC-DC voltage converters, RS-232 drivers, RS-232 receivers, serta receiver and transmitter enable control inputs. Bentuk fisik dan persamaan rangkaian internalnya dapat dilihat pada gambar 2.14 dibawah ini.

Gambar 2.14 Struktur Pin Dan Typical Part MAX232 Sumber : Datasheet MAX232 www.maxim-ic.com/packages., 2001

41

2.8.1 Dual Charge-Pump Voltage Converter MAX220-MAX249 mempunyai dua Internal Charge-pumps untuk mengkonversi tegangan + 5V menjadi ± 10V yang menjadi persyaratan operasi pengarah RS-232. Convertor yang pertama menggunakan kapasitor C1 untuk menggandakan tegangan + 5V masukan menjadi tegangan + 10V pada C3 di keluaran V+. Konvertor yang kedua menggunakan kapasitor C2 untuk membalikkan tegangan + 10V menjadi tegangan - 10V pada C4 di keluaran V-. Saluran keluaran + 10V (V+) dan - 10V (V-) dapat digunakan untuk menggerakkan suatu untaian eksternal berkonsumsi daya rendah (lihat Typical Operating Characteristics Section), kecuali pada untuk MAX225 dan MAX245MAX247, karena pin ini tidak tersedia. Saluran V+ dan V- tidak diatur secara spesifik, sehingga penurunan-voltase keluaran dengan terus meningkat sesuai besaran arus beban. Hal penting yang harus diperhatikan dalam pengunaan saluran ini adalah pengguna tidak boleh memberikan beban terhadap saluran V+ dan Vsampai batas minimum ± 5V EIA/TIA-232E. Ketika menggunakan fasilitas shutdown menonjolkan dalam MAX222, MAX225, MAX230, MAX235, MAX236, MAX240, MAX241, dan MAX245-MAX249, pengguna harus menghindari penggunaan V+ dan Vto untuk menggerakkan untaian eksternal. Hal ini disebabkan karena pada saat komponen ini shutdown, saluran tegangan Vakan jatuh ke 0 V, dan saluran tegangan V+ akan jatuh ke +5 V. Untuk aplikasi yang memerlukan tegangan +10 V eksternal ke saluran V+, berlaku ketentuan sebagai berikut : kapasitor C1 tidak boleh dipasang dan pin SHDN harus

42

disambungkan ke VCC. Hal ini disebabkan karena saluran tegangan V+ secara internal dihubungkan ke VCC dalam mode Shutdown.

Gambar 2.15 Blok Internal MAX232 Sumber : Datasheet MAX232 www.maxim-ic.com/packages., 2001

2.8.2 Drivers RS-232 Saluran driver RS-232 bagian penerima (RS-232 input) memiliki ayunan tegangan keluaran pengarah sebesar ± 8 V dan ayunan tegangan keluaran minimum ± 5 V untuk kasus yang terburuk. Saluran tersebut diatur menggunakan resistor 5 KΩ pull down ke pentanahan. Kondisi pengaturan saluran ini dijamin memenuhi standart spesifikasi EIA/TIA- 232E dan V.28. Saluran masukan pengarah bagian pemancar (RS-232 output) yang tidak terpakai dapat dibiarkan tanpa koneksi dan terlepas satu dengan yang lainnya karena sudah dilengkapi dengan resistor pull-up sebesar 400 KΩ ke VCC (kecuali MAX220). Pemasangan resistor pull-up tersebut akan memaksa keluaran

43

pengarah yang tidak terpakai ke logika rendah karena semua pengarah merupakan tipe membalikkan (inverting). Sedangkan resistor pull-up disaluran masukan secara khas akan memberikan arus sumber sebesar 12 µA, kecuali dalam mode shutdown karena resistor pull-up tersebut akan ditanggalkan. Pada saat saluran keluaran pengarah dikondisikan mati, maka saluran tersebut akan memiliki status high-impedance dengan arus bocoran sebesar 25 µA. Kondisi ini juga terjadi pada saat mode shutdown digunakan, dalam mode three-state, dan ketika catu daya komponen ditanggalkan.

2.8.3 RS-232 Receivers Spesifikasi EIA/TIA-232E menyatakan bahwa suatu tegangan yang lebih besar dari 3V akan dianggap sebagai logika 0. Tegangan input thresholds ditetapkan pada 0,8V dan 2,4V, dengan demikian bagian penerima akan bereaksi terhadap TTL level input maupun CMOS level input. Masukan penerima secara histeresis ditentukan sebesar 0,5V untuk menghasilkan sinyal keluaran yang bersih dengan transisi slow-moving terhadap isyarat masukan. Adapun propagation delay bagian penerima ditentukan sebesar 600ns dan tidak terikat pada arah ayunan masukan.

2.8.4 Receiver and Transmitter Enable Control Inputs Bagian penerima mempunyai tiga mode operasi yaitu: kecepatan penuh menerima (normal active)‚ three-state (disabled)‚ dan low power receive (penerima dimungkinkan untuk melanjut fungsi pada data dengan nilai yang lebih

44

rendah). Penerima memungkinkan bagian masukan untuk mengendalikan kecepatan penuh proses penerimaan dan mode three-state. Bagian pemancar mempunyai dua mode operasi yaitu: kecepatan penuh memancarkan (normal active) dan three-state (disabled). Pemancar memungkinkan bagian masukan untuk mengendalikan mode shutdown.

2.9

Operating Amplifier

Penguat Operasional (Op-Amp) merupakan kumpulan puluhan transistor dan resistor dalam bentuk satu chip IC. Op Amp merupakan komponen aktif linear yang merupakan penguat gandeng langsung (direct coupling), dengan penguatan lintasan terbuka (Open Gain) yang sangat besar dan dapat dipakai untuk menjumlahkan, mengalikan, membagi, mendifferensialkan, serta

mengintegralkan tegangan listrik. IC Op-Amp sering dipakai untuk perhitunganperhitungan analog, instrumentasi, maupun berbagai macam aplikasi kontrol. Bentuk fisik dan diskripsi pin LM393 dapat dilihat pada gambar 2.16

Gambar 2.16 Bentuk Fisik Dan Diskripsi Pin LM393 Sumber : Haris Semiconductor, Data Sheet LM393

IC Op-amp jenis ini memiliki keunggulan cukup mencolok dalam pemakaian daya yang lebih rendah, kemampuan penggunaan saluran input yang

45

berkorelasi dengan saluran pentanahan maupun VEE, dapat dicatu menggunakan mode catudaya tunggal maupun catudaya ganda. Spesifikasi teknik dan fungsional dari masing-masing pin dapat dilihat pada tabel 2.5 dibawah:
Tabel 2.5 Fungsional Pin LM393 Pin 1 2 3 4 5 6 7 8 Fungsi Ground Masukan menjungkir (Input inverting) Masukan Tak menjungkir (Input non-inverting) Dihubungkan dengan terminal negatif pencatu daya (V-) Balance Offset Null Balance Strobe Output Dihubungkan dengan terminal positif pencatu daya (V+) Sumber : Haris Semiconductor, Data Sheet LM393

Pada saat Op-Amp dalam rangkaian terbuka dihubungkan dengan catudaya, secara otomatis akan menghasilkan penguatan tegangan tak terhingga atau Open Loop Gain (AOL). Op-Amp memiliki lebar pita tak terhingga untuk semua frekuensi. Suatu Op-Amp ideal seharusnya memiliki respon yang sama untuk semua frekuensi masukan. Tetapi secara praktis hal; ini tidak akan terjadi dalam praktek karena Op-Amp hanya akan merespon hingga batas frekuensi tertentu saja. Op-Amp memiliki fasilitas pengaturan Input Offset Voltage. Pengaturan ini perlu dilakukan jika dalam aplikasi tertentu saluran keluaran Op-Amp dituntut harus mampu menghasilkan nilai tegangan keluaran 0 Vdc pada saat nilai tegangan disaluran masukannya bernilai sama. Disamping itu Op-Amp memiliki karakteristik internal yang tidak akan berubah menurut suhu ruangan. Karakteristik internal hanya akan berubah jika suhu ruangan melampaui batas

46

toleransi kemasan atau pada saat Op-Amp mengalami over gain akibat pemakaian tegangan catudaya yang berlebihan. Perolehan daya (power gain) dalam suatu rangkaian penguat secara umum didefinisikan sebagai : Gain = dayakeluaran .......................................................................... (2.7) dayamasukan

Gain adalah suatu faktor yang tidak memiliki satuan, namun gain diukur dalam suatu unit logaritmis yang tidak memiliki dimensi (bells). Gain dalam bells adalah Gain(bells) = log10 dayakeluaran ....................................................... (2.8) dayamasukan

pada penggunaan praktis, decibel dianggap terlalu besar sehingga yang umum digunakan adalah satuan 0,1bells atau desibel (dB), atau dinyatakan sebagai : Gain(dB ) = 10 × log10 dayakeluaran ................................................... (2.9) dayamasukan

Daya sebanding dengan V2 atau I2, sehingga persamaan diatas dapat juga dituliskan sebagai : Gain(dB ) = 20 × log10 atau: Gain(dB) = 20 × log10 aruskeluaran .................................................. (2.11) arusmasukan dayakeluaran ..................................................(2.10) dayamasukan

jika dalam suatu sistem terdiri dari beberapa penguat, maka perolehan dalam penguatan atau gain dalam desibel dinyatakan sebagai : Gaintotal = G1 + G2 + G3 + .....Gn ......................................................... (2.12)

47

2.9.1 Inverting Amplifier (Penguat Pembalik) Penguat inverting pada dasarnya disusun menggunakan komponen eksternal berupa dua buah resistor yang dihubungkan seperti pada gambar 2.17 dibawah ini:

Gambar 2.17 Skematik Dasar Rangkaian Inverting Amplifier Sumber : Vademekum, Warsito

Pada operasinya, saat sinyal masukan berubah menjadi positif nilainya, maka saluran keluaran akan menjadi negatif dan sebaliknya. Selain itu jumlah perubahan tegangan di saluran keluaran secara relatif tergantung terhadap tegangan masukan dengan nilai perbandingan yang ditentukan oleh nilai resistor eksternal. Dengan demikian nilai penguatan model amplifier diatas adalah:

R R Vo = − A dengan nilai A (penguatan) = A …………………....... (2.13) Vi RB RB

2.9.2 Non-Inverting Amplifier (Penguat Tak Membalik) Penguat non-inverting pada dasarnya disusun menggunakan komponen eksternal berupa dua buah resistor yang dihubungkan seperti pada gambar 2.18 dibawah ini:

48

Gambar 2.18 Skematik Dasar Rangkaian Non-Inverting Amplifier

Sumber : Vademekum, Warsito Pada operasinya, impedansi masukan seperti diperlihatkan oleh sinyal akan menjadi lebih besar karena masukannya akan mengikuti sinyal yang diberikan dan tidak dijaga untuk tetap konstan oleh arus umpan balik (feedback). Kondisi ini menyebabkan pada saat sinyal dimasukan mulai bergerak, secara otomatis sinyal dikeluaran akan mengikuti fasenya sehingga masukan inverting akan dijaga nilai tegangannya pada taraf yang sama. Gain atau perolehan tegangan pada model ini akan selalu lebih dari 1, dengan demikian nilai penguatan dari model amplifier diatas adalah:
R Vo = 1 + A dengan nilai A (penguatan) >1 ...................................... (2.14) Vi RB

2.9.3 Voltage Follower (Penyangga) Penguat penyangga atau buffer pada dasarnya merupakan penguat dengan faktor penguatan 1 yang menyediakan masukan dengan impedansi tinggi, dan keluaran berimpedansi rendah yang disusun tanpa menggunakan komponen eksternal seperti pada gambar 2.19 dibawah ini:

49

Gambar 2.19 Skematik Dasar Rangkaian Voltage Follower Amplifier

Sumber : Vademekum, Warsito

Dalam operasinya, pada saat tegangan disaluran masukan berubah, tegangan disaluran keluaran dan inverting juga akan berubah dengan nilai yang sama. Dengan demikian nilai penguatan model amplifier diatas adalah:
Vo = Vi dengan nilai A (penguatan) =1.............................................. (2.15)

BAB III PERANCANGAN ALAT

3.1

Perencanaan Proses perencanaan sangat diperlukan sekali dalam pembuatan suatu alat,

khususnya perancangan elektronika. Proses perencanaan alat sangat penting untuk memulai suatu pekerjaan dengan tujuan berikut: 1. Agar alat yang dihasilkan nantinya sesuai dengan yang diharapkan 2. Untuk memilih komponen-komponen elektronika yang paling tepat. 3. Untuk menekan error dalam proses pembuatan 4. Menekan biaya pembuatan alat Perancangan dalam hal ini meliputi perancangan rangkaian, perancangan pemasangan tata letak komponen yang telah dirangkai pada kotak praktis. Perancangan awal memerlukan suatu kejelian dan ketelitian, karena perancangan awal akan sangat menentukan hasil akhir dari suat proses pembuatan alat. Apabila perancangan awal salah maka proses selanjutnya akan mengalami suatu kesalahan, sehingga selain ketelitian dan kejelian juga diperlukan ketepatan dalam proses pembelian komponen di pasaran.

3.2

Deskripsi Umum Sistem yang dirancang dalam gambar 3.1 merupakan bentuk desain

earthquake scanner with datalogger applications base on borland delphie yang dilengkapi dengan mikrokontroler dan PC sebagai aktuatornya. 50

51

ADC Control Vref Adjustment ADC Data Comm Data Level TTL

Analog to Digital Converter ADC0804

Adjustable amplified vibration signal Gain Adjustment

RS232 Interface MAX232
Comm Data Level RS232

Signal Conditioner LM393
Medium vibration level signal

Microcontroller AT89C51

Signal Amplifier BC547
Low vibration level signal

Vibration Sensor Piezoelectric

Reset

PC

Gambar 3.1 Blok Diagram Sistem Dalam diagram perancangan alat di atas dapat dilihat bahwa desain alat terdiri dari vibration sensor, signal amplifier, signal conditioner, analog to digital converter, microcontroller, interface RS232, dan aplikasi program PC

3.3 3.3.1

Perancangan Perangkat Keras Bagian Vibration Sensor dan Signal Amplifier Bagian vibration sensor disusun menggunakan R5 dan piezoelectric PZ1.

Bagian ini secara spesifik berfungsi menerima sinyal getaran gempa dan mengkonversi sinyal hasil penerimaannya menjadi sinyal listrik dengan level AC yang sangat rendah. Skematik vibration sensor dan signal amplifier dapat dilihat pada gambar 3.2

52

Gambar 3.2 Skematik Bagian Vibration Sensor Dan Signal Amplifier Dalam gambar 3.2 dapat dilihat bahwa sinyal keluaran PZ1 yang disalurkan melalui C9 cenderung memiliki level sinyal AC yang sangat rendah dan tidak dapat diumpankan secara langsung ke rangkaian signal conditioner. Oleh karena itu, sinyal tersebut harus dikuatkan terlebih dahulu menggunakan rangkaian signal amplifier yang merupakan penguat transistor Q1. Untuk bekerja secara benar dalam mode common emitor, transistor Q1 harus diberi tegangan bias melalui R7 dan R6. Dengan pengaturan ini, sinyal masukan di saluran basis Q1 akan dikuatkan level sinyal AC-nya dan disalurkan ke rangkaian signal conditioner melalui kondensator C10 yang terpasang disaluran kolektor.

3.3.2

Bagian Signal Conditioner Bagian signal conditioner disusun menggunakan U4A, R8-R12, C12-C13, dan

D1-D2. Bagian ini secara spesifik berfungsi menguatkan kembali sinyal AC keluaran rangkaian signal amplifier dan mengatur akusisi sinyalnya ke level DC dalam taraf tertentu agar dapat diumpankan kembali ke rangkaian analog to digital converter. Skematik bagian signal conditiner dapat dilihat pada gambar 3.3

53

Gambar 3.3 Skematik Bagian Signal Conditioner

Dalam gambar 3.3 dapat dilihat bahwa sinyal AC yang dikirimkan oleh signal amplifier disalurkan ke pin 3 (non-inverting U4A) melalui C12 dan variabel resistor R8 (gain adjusment). Tegangan sinyal tersebut kemudian dibandingkan dengan tegangan referensi yang diatur melalui R10. Proses pengaturan tersebut akan mengakibatkan saluran keluaran U4A mengeluarkan sinyal AC dengan level tertentu dan siap untuk disearahkan menjadi sinyal dengan level tegangan DC menggunakan rangkaian D1, D2, R11, R12 dan kapasitor C13.

3.3.3 Bagian Analog to Digital Converter Bagian analog to digital converter disusun menggunakan U3, R2-R4, dan C8. Bagian ini berfungsi mengkonversi sinyal getaran dalam level tegangan DC menjadi data getaran dengan format digital 8 bit biner. Untuk bekerja secara benar, U3 memerlukan 2 rangkaian eksternal yaitu rangkaian penentu tegangan referensi (Vref Adj) yang dibentuk menggunakan R2 dan R3, serta rangkaian R4 dan C8 yang berfungsi sebagai rangkaian RC pembentuk clock. Skematik bagian analog to digital converter dapat dilihat pada gambar 3.4

54

Gambar 3.4 Skematik Bagian Analog to Digital Converter

Dengan menggunakan nilai komponen seperti yang ditunjukkan dalam gambar 3.4, nilai frekuensi clock ADC U3 dapat dihitung menggunakan persamaan sebagai berikut:

f CLK ≅ f CLK ≅

1 1.1RC

f CLK f CLK

1 1.1(10 KΩ × 150 pF ) 1 ≅ 3 1.1 10 × 10 × 150 × 10 −12 ≅ 606060,61Hz = 606,61KHz

((

) (

))

Hal penting yang harus diperhatikan dalam pemakaian rangkaian ini terletak pada ketepatan nilai Vref yang ditentukan oleh R2 dan R3, karena jika nilainya tidak sama dengan ½ Vcc dapat mengakibatkan terjadinya kesalahan nilai konversi. Pada saat ADC dijalankan dalam mode skala penuh dengan Vcc = 5V dan Vref = 5V, maka nilai keluaran data untuk 1 LSB (step size) akan setara dengan: 1 LSB = Vref : Full scale 1 LSB = 5V : 256 1 LSB = 0,01953125V ≈ 20mV Jika ADC dijalankan dalam mode skala penuh dengan Vcc = 5V dan Vref = 2,5V, maka nilai keluaran data untuk 1 LSB (step size) akan setara dengan:

55

1 LSB = Vref : Full scale 1 LSB = 2,5V : 256 1 LSB = 0,009765625V ≈ 10mV Contoh kalkulasi data: Dengan adanya penyesuaian antara relevansi tegangan keluaran rangkaian signal conditioner dan Vref ADC ke ½ Vcc=2,5V, maka pada saat saluran keluaran rangkaian signal conditioner menghasilkan tegangan sebesar 350mV = 0,35V= nilai Vin ADC = 350mV, nilai data logika integer N adalah: N = (Vin : Vref) x 256 N = (0,35V : 2,5V) x 256 N = 35,84 Karena node N diambil posisi center atau ½ Vcc, maka transisinya adalah: Vin = Vref x (N : 256) Vin = 2,5V x (35,84 : 256) Vin = 0,35V = 350mV (konversi ADC terbukti berjalan sempurna) Dengan demikian nilai data Dout dari ADC merupakan hasil konversi nilai data N yang masih berupa bilangan desimal ke bilangan biner.
Tabel 3.1 Nilai Dout ADC Untuk Data Input 350mV

27 26 25 0 0 0 0 1

24 23 22 21 20 format 0 0 0 0 0 1
2

1
1

biner desimal

32 0

Hasil konversi menunjukkan nilai 32+2+1 =35 karena nilai dibelakang tanda koma secara otomatis akan diabaikan pada saat konversi.

56

3.3.4 Bagian Microcontroller Bagian mikrokontroler (microcontroller) disusun menggunakan U2 AT89C51 dan dicatu menggunakan tegangan VCC +5V. Bagian ini berfungsi mengatur proses kerja alat berdasar data acuan dari ADC dan PC. Skematik rangkaian mikrokontroler secara lengkap dapat dilihat pada gambar 3.5

Gambar 3.5 Skematik Bagian Mikrokontroler

Dalam rangkaian mikrokontroler U2 dapat dilihat bahwa pin EA/VPP dihubungkan secara langsung dengan VCC +5V. Hal ini berarti rangkaian mikrokontroler U2 dikonfigurasikan untuk bekerja dalam mode single chip dan tidak memerlukan pemasangan memori eksternal. Untuk dapat bekerja dengan benar, rangkaian mikrokontroler U2 memerlukan 2 rangkaian pendukung eksternal yang harus dipasang secara tepat. Rangkaian pertama merupakan pembangkit frekuensi clock yang dibentuk menggunakan kristal Y1, kapasitor C6 dan C7.

57

Sedangkan rangkaian kedua berupa rangkaian reset yang dibentuk menggunakan kondenstor C5 dan R1. Bagian mikrokontroler U2 merupakan otak dari sistem rangkaian alat, karena semua data input dan output harus diproses dan dikontrol melalui U2. Dalam gambar 3.5 dapat dilihat bahwa, tidak semua kaki pada U2 AT89C51 ini digunakan untuk proses data dan hanya pin-pin tertentu saja yang dipergunakan dalam proses tersebut diatas. Inisialisasi pemakaian port mikrokontroler dapat dilihat pada tabel 3.2
Tabel 3.2 Inisialisasi Pemakaian Port U1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Port P0.0 P0.1 P0.2 P0.3 P0.4 P0.5 P0.6 P0.7 P1.0 P1.1 P1.2 P1.3 P1.4 P1.5 P1.6 P1.7 Keterangan Data In ADC DB0 Data In ADC DB1 Data In ADC DB2 Data In ADC DB3 Data In ADC DB4 Data In ADC DB5 Data In ADC DB6 Data In ADC DB7 Control LED D0 Control LED D1 Control LED D2 Control LED D3 Control LED D4 Control LED D5 Control LED D6 Control LED D7 No 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Port P2.0 P2.1 P2.2 P2.3 P2.4 P2.5 P2.6 P2.7 P3.0 P3.1 P3.2 P3.3 P3.4 P3.5 P3.6 P3.7 Keterangan Control Write ADC Control Interupt ADC Control Read ADC Control Start ADC Nu Nu Nu Nu Rx Serial Tx Serial Nu Nu Nu Nu Nu Nu

3.3.5 Bagian Interface RS232 Bagian interface RS232 disusun menggunakan komponen inti U1 MAX232 yang dicatu menggunakan tegangan +5V. Bagian ini berfungsi menjembatani proses komunikasi secara serial antara PC dengan mikrokontroler

58

dalam taraf logika TTL ke RS232 dan sebaliknya. Untuk PC atau laptop, data taraf logika high akan setara dengan +10 sampai +12V, sedangkan data taraf logika low akan setara dengan -10 sampai -12V (level RS232). Untuk mikrokontroler U2, data taraf logika high akan setara dengan +5V, sedangkan data taraf logika low akan setara dengan 0V (level TTL). Bentuk skematik bagian interface RS232 dapat dilihat pada gambar 3.6

Gambar 3.6 Skematik Bagian Interface RS232

Seperti telah dijelaskan di bab 2, U1 memiliki rangkaian voltage pump-up dan voltage inverter internal. Rangkaian tersebut memerlukan kondensator C1-C4 yang harus dipasang dengan polaritas yang benar sesuai gambar 3.6. Pada saat proses transfer data dari PC ke mikrokontroler U2 dijalankan, pin 8 R2IN U1 akan berfungsi sebagai saluran penerima data dari PC, sedangkan pin 9 R2OUT U1 akan berfungsi sebagai saluran keluaran data yang disalurkan ke mikrokontroler U2. Pada saat proses transfer data dari mikrokontroler U2 ke PC dijalankan, pin 10 T2IN U1 akan berfungsi sebagai saluran penerima data dari mikrokontroler U2, sedangkan pin 7 T2OUT U1 akan berfungsi sebagai saluran keluaran data yang disalurkan ke PC.

59

Kedua proses transfer data tersebut diatas dapat dilakukan secara bersamaan menggunakan baudrate yang sama karena saluran RS232 data serial PC maupun mikrokontroler dapat bekerja secara bidirectional, selain itu proses komunikasi ini dapat dijalankan menggunakan kabel DB9 yang mendukung format data 8 bit, tanpa parity, 1 stop bit dengan flowcontrol hardware (setting baudrate berlaku untuk mikrokontroler dan PC). 3.3.6 Bagian Catudaya Bagian catudaya disusun menggunakan transformator T1, penyearah D3D4, regulator +5V U5 tipe 78HT05 serta kondensator C14, dan C15. Skematik bagian ini dapat dilihat pada gambar 3.7

Gambar 3.7 Skematik Bagian Catudaya

Dalam awal uraian telah disebutkan bahwa rangkaian alat secara spesifik hanya menggunakan tegangan catuan sebesar +5Vdc dan +12Vdc. Untuk mencapai hal tersebut, tegangan AC keluaran transformator T1 akan disearahkan oleh D3 dan D4 menjadi tegangan DC kasar (VSS) yang difilter menggunakan C14. Tegangan VSS inilah yang digunakan sebagai tegangan sumber rangkaian driver motor dan regulator U5 pin 1. Proses penyaluran tegangan VSS ke regulator U5 pin 1 akan menyebabkan saluran keluaran regulator U5 pin 3 akan menghasilkan tegangan +5Vdc. Tetapi

60

untuk menjaga agar tegangan keluaran regulator U5 tetap stabil pada saat pembebanan diperlukan pemfilteran menggunakan kondensator C15.

3.4

Cara Kerja Alat

Sistem merupakan bentuk aplikasi pendeteksi getaran gempa yang dikendalikan menggunakan sistem kontrol adaptif berbasis mikrokontroler dengan datalogger berbasis PC. Secara prinsip sistem akan membaca sinyal getaran gempa melalui sensor piezoelectric dan menguatkan level sinyalnya agar dapat diolah menggunakan rangkaian ADC dan mikrokontroler. Pada saat program PC mengirimkan perintah pengambilan data sinyal getaran ke bagian mikrokontroler, bagian ini akan merespon perintah tersebut dengan mengirimkan data hasil konversi ADC ke PC melalui saluran serial. Proses ini akan terus dijalankan oleh program PC dan data report dari mikrokontroler inilah yang diproses ulang kedalam bentuk grafik sinyal getaran gempa (yang terdeteksi secara realtime).

3.5

Perancangan PCB

Setelah kita melakukan perencanaan, langkah selanjutnya adalah membuat papan rangkaian tercetak. Semua komponen dipasang pada papan ini kecuali sensor dan transformator dipasang dalam kotak untuk memudahkan

pemasangannya. Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan papan rangkaian tercetak adalah sebagai berikut :

61

Tabel 3.3 Peralatan dan Bahan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Peralatan Dan Bahan Bor PCB Mata bor berukuran 0,8mm, 1mm dan 3mm. Tang pengupas Solder Bahan PCB/ Papan Rangkaian Tercetak (PRT) Ferri Chloride (FeCl3). Lemat solder (lotfet). Tinner dan kuas Mur baut. Timah / tenol. Peralatan Sablon

3.5.1 Proses Desain Jalur Metode pembuatan jalur PCB terdapat berbagai macam cara, salah satunya dengan menggunakan program komputer PCB Designer Ver 1.0. Adapun langkah pembuatannya sebagai berikut: 1. Menyalakan komputer dan buka program PCB Designer. 2. Menggambar jalur rangkaian PCB dengan ketebalan garis 0.5 mm untuk jalur standart, 0,8mm untuk pointer drill dan blok screen untuk bottom layer menggunakan kerapatan 0,8mm. 3. Setelah desain gambar selesai, kemudian gambar dicetak di plastik film menggunakan printer laser.

62

Gambar 3.8 Plotting PCB

3.5.2 Proses Cetak Dan Sablon 1. Hasil cetakan bottom preview dijadikan film master screen sablon.

63

2. Siapkan peralatan sablon dan cetak gambar plotting PCB di screen sablon. 3. Setelah gambar tercetak di screen sablon dan sudah kering, bersihkan sisa jalur yang tidak terpakai dan diperiksa ulang hasilnya. 4. Cetak gambar plotting ke PCB menggunakan cat sablon permanen. 5. Tunggu sampai cat sablon kering dan PCB siap untuk dilarutkan

3.5.3 Proses Pelarutan PCB Setelah gambar hasil sablon menempel dipermukaan tembaga PCB, langkah selanjutnya adalah proses pelarutan. Urutan langkah dalam proses pelarutan ini adalah sebagai berikut: 1. Masukkan larutan FeCl3 ke dalam air hangat yang ditempatkan dalam ember atau baki plastik. 2. Masukkan PCB kedalam larutan FeCl3 tersebut. 3. Aduk pelan-pelan secara merata agar permukaan tembaga yang tidak tertutup gambar jalur dapat larut dalam cairan tersebut. 4. Jika proses pelarutan sudah selesai, angkat PCB sudah terbentuk jalur-jalur rangkaiannya. 5. Cuci PCB dengan air sabun dan amplas permukaan yang tertutup gambar dengan serabut baja sehingga tinggal jalur-jalur logam sesuai gambar jalur rangkaian. 6. Keringkan PCB, dan PCB siap untuk digunakan 3.5.4 Proses Pengeboran

64

Untuk mendapatkan hasil yang baik, pengeboran posisi pin komponen harus dilakukan dengan hati–hati agar tidak merusak jalur pada rangkaian tercetak. Proses-proses pengeboran dilakukan sebagai berikut : 1. Memberikan titik pada suatu papan tercetak untuk memudahkan proses pengeboran dengan ukuran yang telah ada. 2. Kemudian lakukan dengan pengeboran pada titik yang telah ada dengan alat bor PCB dengan putaran yang stabil. 3. Sesuaikan ukuran mata bor yang digunakan dengan keperluan lobang komponen 4. Setelah selesai lakukan pembersihan pada sisi-sisi lubang PCB dari kotoran sekaligus meratakan PCB dengan amplas secara hati-hati.

3.5.5 Proses Pemasangan Komponen Pemasangan komponen dilakukan dengan menempatkan komponenkomponen yang dibutuhkan pada bagian-bagian yang telah ditentukan. Pada waktu pemasangan komponen yang perlu diperhatikan adalah pemasangan komponen dioda dan kapasitor agar tidak terbalik polaritasnya. Untuk pemasangan komponen yaitu dengan melakukan langkah sebagai berikut: 1. Memasangkan komponen-komponen pada PCB, komponen pasif dipasang terlebih dahulu untuk menghindari kerusakan komponen aktif. 2. Menyolder agar komponen menyatu dengan jalur pada PCB.

65

3. Menguji apakah titik penyambungan tersebut sudah disolder secara baik dan mengadakan pengecekan kembali alur jalur PCB dengan gambar skematik dan komponen sesuai tabel komponen. 4. Rangkaian alat siap untuk digunakan bersama program aplikasi Gambar skematik lengkap rangkaian alat dapat dilihat dihalaman lampiran, sedangkan daftar komponen rangkaian dapat dilihat pada tabel 3.4
Tabel 3.4 Daftar Komponen

Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

Quantity 6 2 1 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

Reference C1,C2,C3,C4,C5,C10 C6,C7 C8 C13,C9 C11 C12 C14 C15 D1 D2,D1 D4,D3 PZ1 P1 Q1 RN1 R1 R2,R3 R4,R5,R7,R9,R11 R6 R8 R10 R12 T1 U1 U2 U3 U4 U5 V1 Y2

Part 10uF 30pF 150pF 100nF 100uF 1uF 2200uF 1000uF LDT-A51R 1N914 1N4007 PIEZO BUZZER DB9 Female 2SC885 R-PACK 8k2 2k 10k 100k 50k 5k-multi turn 470 TRANSFORMER CT MAX232 AT89C51 ADC0804 LM393 7805 220VAC 11.059Mhz

66

3.6

Perancangan Perangkat Lunak

Dalam cara kerja alat telah dijelaskan bahwa sistem yang dirancang bekerja menggunakan program earth.asm yang dibuat dalam bahasa assembler dan diketik menggunakan teks editor (program notepad.exe). File program aplikasi mikrokontroler ini kemudian disimpan dengan ekstensi *.asm dan dicompile menggunakan program ASM51 dengan perintah sebagai berikut: C:\>ASM51.EXE [program file. ASM] Setelah proses kompilasi program earth.asm selesai, program ASM51 akan menghasilkan file baru dengan ekstensi “*.lst” dan “*.hex”. File berekstensi lst digunakan untuk memeriksa kesalahan program hasil kompilasi. Sedangkan file berekstensi “*.hex” merupakan file yang akan ditransfer ke dalam memori mikrokontroler. Dalam proses pengisian program earth.asm kedalam AT89C51 digunakan kabel serial (DB9) untuk berkomunikasi dengan antara mikrokontroler dengan PC. Adapun proses pengisian program ke dalam Flash PEROM AT89C51 menggunakan program MPU_loader.exe. Listing program lengkap dapat dilihat di halaman lampiran.

3.6.1 Diagram Alir earth.Asm Penentuan diagram alir beserta algoritma program earth.asm ditentukan berdasarkan inisialisasi data kontrol. Diagram alir program earth.asm dapat dilihat pada gambar 3.9

67

Mulai

Inisialisasi prot dan register

Inisialisasi interupt serial

Jalankan kontrol ADC

Jalankan reset data parameter tidak Ada interupsi?

ya Simpan data serial ke akumulator ya Konversi data di acc ke huruf ASCII besar

Acc=”a”?

Aktifkan ADC

tidak Acc=”b”? ya Ambil data ADC dan konversi nilainya Ambil data ratusan

tidak Normal looping Acc=”c”? ya Ambil data ADC dan konversi nilainya Ambil data puluhan Tambah data dengan 30h untuk konversi ke ASCII

tidak Acc=”d”? ya Ambil data ADC dan konversi nilainya Ambil data satuan

tidak Kirim kembali ke PC

Selesai

Gambar 3.9 Diagram Alir earth.Asm

3.6.2 Algoritma earth.Asm Untuk mempermudah pemahaman diagram alir program earth.asm dapat digunakan algoritma sebagai berikut: Step 1. Jalankan prosedur inisialisasi register dan pemakaian port mikrokontroler

68

Step 2. Step 3. Step 4. Step 5.

Jalankan inisialisasi interupt serial Jalankan kontrol ADC Jalankan reset data parameter Ada interupsi? Jika tidak kembali ke langkah 4. Jika ya lanjutkan ke langkah 6

Step 6. Step 7.

Masukkan data serial ke akumulator Acc = ”a”? Jika tidak lanjutkan ke langkah 10. Jika ya lanjutkan ke langkah 8

Step 8. Step 9. Step 10.

Aktifkan rangkaian ADC Lanjutkan ke langkah 23 Acc = ”b”? Jika tidak lanjutkan ke langkah 14. Jika ya lanjutkan ke langkah 11

Step 11. Step 12. Step 13. Step 14.

Ambil data ADC dan konversi nilainya Ambil data ratusan hasil konversi Lanjutkan ke langkah 21 Acc = ”c”? Jika tidak lanjutkan ke langkah 18. Jika ya lanjutkan ke langkah 15

Step 15. Step 16. Step 17. Step 18.

Ambil data ADC dan konversi nilainya Ambil data puluhan hasil konversi Lanjutkan ke langkah 21 Acc = ”d”? Jika tidak lanjutkan ke langkah 24. Jika ya lanjutkan ke langkah 19

Step 19.

Ambil data ADC dan konversi nilainya

69

Step 20. Step 21. Step 22. Step 23. Step 24. Step 25.

Ambil data satuan hasil konversi Tambah data dengan 30h untuk konversi bilangan ASCII Lanjutkan ke langkah 24 Konversi data di acc ke huruf ASCII besar Kirim kembali ke PC Kembali ke langkah 4 untuk rutin pengulangan proses atau ke langkah 26 untuk mengakhiri proses

Step 26.

Selesai

BAB IV ANALISIS DAN PENGUJIAN

4.1

Tujuan Pengambilan Data Tujuan pengambilan data adalah untuk mengetahui kebenaran sistem

rangkaian dan kondisi komponen yang akan diuji. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian perbagian sesuai blok diagram dan pengujian kinerja dari keseluruhan dari ”Earthquake Scanner With Datalogger Applications Base On Borland Delphie”. Dengan adanya pengujian-pengujian tersebut diatas,

diharapkan kemungkinan terjadinya kesalahan atau kelemahan yang masih terdapat pada tiap-tiap bagian rangkaian dapat diketahui lebih pasti. Sedangkan pengambilan data secara keseluruhan bertujuan untuk membandingkan hasil perhitungan dan hasil pengukuran dengan standar kerja komponen yang terdapat pada datasheet.

4.2

Tempat Pengambilan Data Pengambilan data dilakukan di rumah dan di laboratorium, pada bulan

Maret 2009. Alat yang dipergunakan dalam pengambilan data meliputi: 1. Multimeter analog SANWA YX-360TRD 2. Multimeter digital SANWA GE830B yang digunakan untuk mengukur besaran listrik. 3. Osiloskop digital UT2025B + kabel USB yang digunakan untuk mengukur bentuk gelombang.

70

71

4. Downloader Sunrom untuk digunakan dalam proses pengisian program ke IC AT89C51 tujuan. 5. Kabel penghubung DB9, yang digunakan sebagai penghubung antara PC dengan Downloader dan PC dengan perangkat alat. 6. Perangkat alat lengkap dengan sensor getaran

4.3

Pengujian Perbagian Dalam perancangan ini pengujian perbagian dilakukan agar proses

pengecekan, kalibrasi dan analisa sistem rangkaian alat dapat dilakukan secara lebih cermat. 4.3.1 Bagian Vibration Sensor dan Signal Amplifier Pengujian bagian vibration sensor digunakan untuk mengetahui tegangan kerja dan bentuk sinyal hasil pengolahan penguat transistor Q1. Hasil pengujian bagian ini ditabulasikan dalam tabel 4.1 dengan titik ukur dicantumkan dalam gambar 4.1.

Gambar 4.1 Test Point Bagian Vibration Sensor Dan Signal Amplifier

72

Tabel 4.1 Hasil Pengujian Bagian Vibration Sensor Dan Signal Amplifier No 1 2 Test Point Basis Q1 Kolektor Q1 Tegangan Keterangan (V) 0,7 CRO probe 1 3 CRO probe 2

Untuk menunjukkan penguatan sinyal pada bagian ini, pembangkitan sinyal uji getaran dilakukan dengan melakukan ketukan halus secara manual kebagian sensor. Sinyal getaran yang dibangkitkan kemudian dipantau bentuk sinyalnya dan dibandingkan dengan sinyal yang telah diperkuat. Hasil pengujian bagian ini ditunjukkan pada gambar 4.2

Gambar 4.2 Perbandingan Sinyal In/Out Signal Amplifier

Dari gambar 4.2 dapat dilihat bahwa sinyal getaran yang diterima oleh PZ1 memiliki level sebesar 1,25Vpp/div, sedangkan sinyal hasil penguatan memiliki level sebesar 3Vpp/div. Dengan hasil ini dapat diambil kesimpulan bahwa sinyal dari PZ1 akan dikuatkan sekitar 2,4x dari sinyal aslinya dan mengalami pembalikan fasa sebesar 1800.

73

4.3.2

Bagian Signal Conditioner Pengujian bagian signal conditioner digunakan untuk mengetahui setting

R8 dan R10 yang paling tepat agar U4A dapat menghasilkan sinyal dengan level tegangan AC yang dapat disearahkan oleh D1-D2. Hasil pengujian bagian ini ditabulasikan dalam tabel 4.2 dengan titik ukur dicantumkan dalam gambar 4.3

Gambar 4.3 Test Point Bagian Signal Conditioner

Tabel 4.2 Hasil Pengujian Bagian Signal Conditioner No 1 2 3 Test Point Inverting U4A Non-Inverting U4A Keluaran D1 Tegangan Keterangan (V) 0 - 3,75 Multimeter 3,6 Multimeter 0 - 4,76 Multimeter

Dari hasil pengujian tabel 4.2 dapat dilihat bahwa pengaturan R8 secara tidak langsung mempengaruhi faktor penguatan U4A. Proses pengaturan ini juga mempengaruhi level tegangan DC yang dihasilkan oleh penyearah D1-D2 (yang terpasang disaluran keluaran U4A).

74

4.3.3

Pengujian Bagian Analog to Digital Converter Pengujian bagian analog to digital converter digunakan untuk mengetahui

kinerja bagian ini pada saat digunakan untuk mendeteksi level tegangan DC keluaran bagian signal conditioner. Hasil pengujian bagian ini ditabulasikan dalam tabel 4.3 dengan titik ukur dicantumkan dalam gambar 4.5

Gambar 4.4 Test Point Bagian Analog To Digital Converter

Tabel 4.3 Hasil Pengujian Bagian Analog To Digital Converter No 1 2 3 4 5 Test Point Pin 6 U3 Pin 4 U3 Pin 9 U3 Pin 1-3, 5 U3 Pin 18-11 U3 Tegangan Keterangan (V) 0–5 Tegangan analog L= 0,8 – H= 2,4 Frekuensi clock rangkaian ADC ± 2,5 Vref Adj L= 0,8 – H= 2,4 Pulsa ADC start L= 0,8 – H= 2,4 Data ADC out DB0-DB7

Berdasar hasil pengujian diatas dapat diketahui bahwa frekuensi clock ADC dipengaruhi oleh komponen eksternal R4 dan C8 dengan nilai frekuensi terhitung seperti tercantum di bab 3. Pola pembentukan frekuensinya merupakan prinsip dasar pengisian dan pengosongan kondensator. Dengan pengertian ini titik ukur tidak dapat dibebani secara langsung menggunakan multimeter analog dan hanya

75

boleh dibebani menggunakan multimeter digital berimpedansi tinggi atau menggunakan osiloskop.

Gambar 4.5 Sinyal Clock ADC

Tegangan terukur pada pin 9 U3 merupakan hasil dari rangkaian pembagi tegangan R2 dan R3. Nilai tegangan ini sangat penting karena menentukan ketepatan nilai konversi tegangan analog menjadi data digital. Dengan menggunakan nilai setting standar 2,5 volt, maka ketepatan nilai konversi ADC U3 akan setara dengan 10mV/1 LSB. Pin 1-3, 5 U3 berfungsi sebagai pin pengatur proses start konversi rangkaian ADC. Karena pin ini dikendalikan secara langsung menggunakan P2.0P2.3 U2, maka peraturan standar logikanya harus mengikuti aturan mikrokontroler U2. Dengan pengertian ini, proses komunikasi data yang terjadi berupa transfer data dari U3 ke U2 dan kontrol data dari U2 ke U3 dengan standarisasi VOL dan VOH mikrokontroler U2.

76

Pin 18-11 U3 berfungsi sebagai pin pengatur data keluaran ADC dalam format 8 bit (4 bit MSB, 4 bit LSB). Karena pin ini secara langsung dihubungkan dengan P0.0 – P03.7 U2, maka peraturan standar logikanya juga mengikuti aturan U2. Dengan menggunakan pengertian ini, proses komunikasi data yang terjadi dari U3 ke U2 menggunakan standarisasi VIL dan VIH mikrokontroler U2.

4.3.4

Pengujian Bagian Microcontroller Pengujian bagian microcontroller digunakan untuk mengetahui sinyal

dibagian osilator dan tegangan saluran reset. Hasil pengujian bagian ini ditabulasikan dalam tabel 4.4 dengan titik ukur dicantumkan dalam gambar 4.7

Gambar 4.6 Test Point Bagian Mikrokontroler

77

Tabel 4.4 Hasil Pengujian Bagian Mikrokontroler (Saluran Xtal1 dan Xtal2) No Test Point 1 2 XTAL1 XTAL2 Tegangan Keterangan (V) 0,6 V Osilator in 2,8 V Osilator out

Berdasar hasil pengujian diatas diketahui bahwa tegangan standar logika input port U2 memiliki aturan VIL dan VIH, sedangkan tegangan output port U2 memiliki VOL dan VOH. Ketentuan ini hanya berlaku untuk saluran XTAL1, dan 32 bit saluran I/O (port 0 sampai dengan port 3). Sedangkan untuk saluran reset dan XTAL2 berlaku ketentuan yang berbeda dengan nilai VOH=VIH= 3,5 V. Saluran reset U2 dipengaruhi oleh karakteristik pengisian dan pengosongan kondensator C5 yang terpasang secara seri dengan resistor R1. Dengan menggunakan nilai komponen pada gambar pengujian 4.7, nilai waktu transisi pengisian dan pengosongan kondensator C5 adalah: Vc = Vcc(1 − e − t / RC )
3,5 = 5(1 − e − t / 8, 2
+3

×10 −6

)

3,5 = 5(1 − e −0,082t ) 3,5 = 5 − 5e −0,082t 5e −0,082t = 1,5 e −0,082t = 0,3

− 0,082t = ln 0,3

− 0,082t = −1,20397
t = 14,68ms

78

Saluran XTAL1 merupakan input penguat operasi internal yang bertanggung jawab dalam proses pembentukan sinyal clock acuan proses kerja U2. Sedangkan saluran XTAL2 merupakan output penguat operasi internal. Dengan pengertian ini saluran XTAL2 dapat digunakan untuk keperluan eksternal yang memerlukan sistem pewaktuan dengan nilai frekuensi yang sama. Nilai frekuensi terukur pada pin-pin ini harus sama dengan nilai frekuensi kristal yang digunakan dan tidak boleh cacat sinyal. Bentuk gelombang pada pin XTAL1 dan XTAL2 dapat dilihat pada gambar 4.8 dan 4.9.

Gambar 4.7 Frekuensi Sinyal Pin Xtal1

Gambar 4.8 Frekuensi Sinyal Pin Xtal2

79

4.3.5 Pengujian Rangkaian Interface RS232 Pengujian bagian Interface RS232 digunakan untuk mengetahui kinerja dari U1 dalam menghasilkan tegangan catuan V+ dan V- yang diperlukan dalam proses konversi level sinyal data serial dari DB9 PC dapat disetarakan dengan level sinyal saluran dalam rangkaian alat. Hasil pengujian bagian ini ditabulasikan dalam tabel 4.5 dengan titik ukur dicantumkan dalam gambar 4.10

Gambar 4.9 Test Point Bagian Interface RS232

Dalam pengujian ini, tegangan V= dan V- yang diukur (terletak di pin 2 dan pin 6) merupakan keluaran dari bagian rangkaian internal voltage doubler +5V to +10V dan rangkaian internal voltage inverter +10V to -10V. Hasil pengujian bagian ini ditabulasikan dalam tabel 4.1.
Tabel 4.5 Hasil Pengujian Bagian Interface RS232 No Test Point Tegangan Keterangan 1 +10V Kondisi statis Pin 2 2 +10V Kondisi transfer data 3 -10V Kondisi statis Pin 6 4 -10V Kondisi transfer data

80

Dari hasil pengujian diatas dapat dilihat bahwa rangkaian internal voltage doubler +5V to +10V dan rangkaian internal voltage inverter +10V to -10V terbukti dapat menghasilkan tegangan V= dan V- yang stabil pada saat U1 berada dalam kondisi statis maupun pada saat digunakan dalam kondisi transfer data.

4.3.6 Pengujian Bagian Catudaya Pengujian bagian catudaya digunakan untuk mengetahui kemampuan tegangan dan arus keluarannya pada saat rangkaian tanpa beban maupun pada saat beban aktif. Titik pengujian bagian catudaya dapat dilihat pada gambar 4.11 sedangkan hasil pengujiannya dapat dilihat dalam tabel 4.6

Gambar 4.10 Titik Pengujian Bagian Catudaya Tabel 4.6 Hasil Pengujian Bagian Catudaya No VSS VCC Keterangan 1 14,5 V 5 V Tanpa beban 2 12 V 5 V Dengan beban

Dalam gambar pengujian 4.11, dapat dilihat bahwa rangkaian penyearah gelombang penuh dicatu menggunakan tegangan keluaran transformator T1 untuk mensuplai beban maksimal sebesar 1 A. Untuk menentukan nilai kapasitor yang diperlukan sehingga rangkaian ini memiliki tegangan ripple tidak lebih dari 0,75 Vpp, maka kita harus mengunakan persamaan sebagai berikut:

81

C = I.T/Vr = (1) (0,01)/0,75 = 13.333uF. Ukuran kapasitor yang sebesar tersebut diatasi cenderung mahal dan sulit ditemukan dipasaran. Oleh karena itu penulis hanya menggunakan ukuran 2200uF (C14) dengan resiko faktor ripple dari rangkaian akan naik menjadi: C = I.T/Vr ⇒ Vr = I.T/C

Vr = (1) (0,01) / 2200uF = 4,54V Dengan tegangan ripple yang cukup tinggi tersebut, tegangan dan arus keluaran rangkaian cenderung kurang stabil, sehingga tegangan keluaran penyearah pada saat tanpa beban adalah : Vdc = VM + Vr/2 Vdc = 12 + (4,54/2) Vdc = 14,27V Sedangkan tegangan keluaran penyearah pada saat beban penuh adalah : Vdc = VM - Vr/2 Vdc = 12 – (4,54/2) Vdc = 9,73 V Perubahan kondisi beban inilah yang mengakibatkan nilai terukur tegangan catudaya berubah seperti ditunjukkan dalam tabel 4.1. Untuk mencegah fluktuatif tegangan keluaran penyearah berpengaruh terhadap kinerja alat, penulis telah menambahkan regulator 7805 U5 dan C15 sebagai penstabil tegangan catuan VCC alat. Hasil pengujian pada bagian regulator dapat dilihat dalam tabel 4.6
Tabel 4.6 Data Pengujian Regulator U5 No Regulator U5 Keterangan 1 Pin 1 =12V Tegangan masukan 2 Pin 3= 5V Tegangan keluaran

82

4.4

Pengujian Sistem Lengkap

Pengujian sistem secara lengkap digunakan untuk mengetahui kemampuan aplikasi pada saat digunakan dalam keadaan sebenarnya dengan menggunakan PC sebagai bagian dari sistem. Dalam pengujian ini, bagian sensor PZ1 akan diketuk secara perlahan dan berulang-ulang agar dapat menghasilkan sinyal seperti halnya pada saat terjadi gempa. Hasil capture grafik pengujian ini dicantumkan dalam gambar 4.12

Gambar 4.11 Capture Grafik

Gambar 4.12 Capture Grafik

BAB V PENUTUP

5.1

Kesimpulan Berdasarkan uraian dalam landasan teori dan tinjauan pustaka yang

digunakan dan hasil pengujian sistem secara parsial maupun pengujian secara lengkap, dapat diambil kesimpulan bahwa: Proses pendeteksian sinyal getaran gempa terbukti dapat dideteks menggunakan piezoelectric berukuran diameter 2cm yang dimodifikasi

membrannya dengan penambahan per halus sepanjang 2cm. Bagian sensor tersebut kemudian dipasang ke dalam pipa besi dengan panjang 1 meter dan ditanam dalam tanah. Variabel yang mempengaruhi proses otomatisasi pendeteksian gempa meliputi kemampuan getar dari per halus di bagian piezoelectric, nilai setting gain adjusment, ketepatan nilai Vref ADC dan waktu proses yang diperlukan oleh mikrokontroler dan PC dalam mengkalkulasi data Data informasi gempa yang terdeteksi dapat dimasukkan ke datalogger dibagian program PC dengan menggunakan metode transfer data serial dengan kabel DB9 Transmisi data kontrol dalam datalogger harus mengikuti format data 8 bit, tanpa parity, 1 stop bit dengan flowcontrol hardware dan setting nilai baudrate yang sama berlaku untuk mikrokontroler dan PC.

83

84

5.2

Saran Pengembangan sistem alat dapat dilakukan dalam beberapa tahapan

dengan klasifikasi sebagai berikut: Bagian sensor dapat diekspansi jumlahnya menjadi 8 buah sehingga dapat membentuk jaringan sensor getaran yang terintegrasi kedalam sistem Penambahan jumlah sensor harus diikuti dengan penggantian jenis ADC dari 1 kanal menjadi 8 kanal Jika diinginkan bentuk gelombang pengamatan yang lebih terperinci dan datail, sebaiknya sistem diatas diintegrasikan dengan soundcard yang terpasang di PC

DAFTAR PUSTAKA
Brink, O.G and Flink, R.J. 1983. Dasar-dasar Instrumentasi. Jakarta : Binacipta Benedictus B.S,2005.”Design Alarm Berbasis Sensor Getaran”. Budi Susanto 2003. “piezoelectric “http:///www.ilkom.edu/vibration_sensor/ http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Piezoelectric&redirect=no F. Romanson,2006. ”Perancangan Sistem Interface RS232 Berbasis

Mikrokontroler AT89C2051”

Malvino, A.P dan Barmawi, M. 1987. Prinsip-prinsip Elektronika. Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga. Moh. Ibnu Malik dan Aristradi. 1997. “Bereksperimen dengan Mikrokontroler 8051”. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. Nalwan, Paulus Andi. 2003. “Teknik Antarmuka LCD 8 bit dan Pemrograman Mikrokontroler AT89C51”. Edisi Pertama. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. Plant, Malcom and Stuart Jan, Dr. 1985. “Pengantar Ilmu Teknik Instrumentasi”. Edisi Pertama. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. PT Elek Media Computindo.”Teknik Pemrograman Interface Berbasis Borland Delphie 7” PT Elek Media Computindo.”Design Alarm Berbasis Sensor Getaran”

Hanks TC, Kanamori H (1979). "A moment magnitude scale". Journal of Geophysical Research 84 (B5): 2348-50.

Choy GL, Boatwright JL (1995). "Global patterns of radiated seismic energy and apparent stress". Journal of Geophysical Research 100 (B9): 18205-28.

Utsu,T., 2002, Relationships between magnitude scales, in: Lee, W.H.K, Kanamori, H., Jennings, P.C., and Kisslinger, C., editors, International Handbook of Earthquake and Engineering Seismology: Academic Press, a

division of Elsevier, two volumes, International Geophysics, vol. 81-A, pages 733-746.. "{{{title}}}". . Teguh Supriyana,2007.Teknik “Pemrograman Interface Berbasis Borland Delphie 7”.

APPENDIX 1. Magnitudo – banyaknya energi yang dilepas pada suatu gempa yang tergambar dalam besarnya gelombang seismik di episenter. Besarnya gelombang ini tercermin dalam besarnya garis bergelombang pada seismogram. 2. Episenter – titik di permukaan bumi tepat di atas fokus atau sumber gempa, dinyatakan dalam lintang dan bujur, 3. Hyposenter – parameter sumber gempa bumi yang dinyatakan dalam waktu terjadinya gempa, lintang, bujur dan kedalaman sumber 4. Fokus – sumber gempa di dalam bumi, tempat batuan pertama patah. 5. Gelombang seismik – getaran gempa yang menjalar di dalam dan dipermukaan bumi dengan cara longitudinal dan transfersal. 6. Intensitas – besarnya goncangan dan jenis kerusakan ditempat pengamatan akibat gempa. Intensitas tergantung dari jarak tempat tersebut dari hyposenter. 7. Kerak bumi – lapisan atas bumi yang terdiri dari batuan padat. Baik tanah di daratan maupun di dasar laut termasuk kerak bumi. 8. Litosfir – lapisan paling atas bumi yang hampir seluruhnya terdiri dari batuan padat. Lapisan ini termasuk kerak bumi dan (sebagian) mantel atas 9. Mantel – Lapisan di bawah kerak bumi yang tediri dari mantel atas dan mantel bawah. 10. Lempeng Tektonik - bagian dari litosfir bumi yang padat atau rigid. Lempeng-lempeng tektonik ini senantiasa bergerak dengan lambat, terapung diatas mantel. 11. Seismograf – peralatan yang menggambarkan gelombang gempa yang datang di stasiun pengamat. 12. Seismogram – catatan tertulis dari getaran bumi yang dihasilkan oleh seismograf. 13. Seismologist – ilmuwan yang mempelajari gempa 14. Skala Mercalli – suatu ukuran subyektif kekuatan gempa dikaitkan dengan intensitas-nya 15. Skala Richter – suatu ukuran obyektif kekuatan gempa dikaitan dengan magnitudo-nya 16. Sesar – patahan atau pemisahan batuan, umumnya di antara dua atau lebih plat tektonik

Saduran dan modifikasi dari SqiQuest Courtesy DR. Pariatmono (BPPT)

Bill Of Materials Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Quantity 6 2 1 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

March 13,2009 Reference C1,C2,C3,C4,C5,C10 C6,C7 C8 C13,C9 C11 C12 C14 C15 D1 D2,D1 D4,D3 PZ1 P1 Q1 RN1 R1 R2,R3 R4,R5,R7,R9,R11 R6 R8 R10 R12 T1 U1 U2 U3 U4 U5 V1 Y2

14:27:34 Part 10uF 30pF 150pF 100nF 100uF 1uF 2200uF 1000uF LDT-A51R 1N914 1N4007 PIEZO BUZZER DB9 Female 2SC885 R-PACK 8k2 2k 10k 100k 50k 5k-multi turn 470 TRANSFORMER CT MAX232 AT89C51 ADC0804 LM393 7805 220VAC 11.059Mhz

Page1

Tampilan Program

Gambar 1 Tampilan Menu Utama

Gambar 2 Tampilan About

Gambar 3 Tampilan Help

Gambar 4 Tampilan Menu Control Dengan Contoh Parameter Setting Com Dan Turn Off

Gambar 5 Tampilan Menu Control Dengan Contoh Open Com Port Dan Turn On

Gambar 6 Tampilan Menu Control Dengan Contoh Start Capture Data

Fungsi Tombol 1. Help Digunakan untuk menampilkan menu help dalam format html. Dalam menu ini dijelaskan tujuan pembuatan program, limitasi penggunaan aplikasi dan fungsi dari tombol-tombol yang terdapat didalam program aplikasi PC 2. About Digunakan untuk menampilkan menu about dalam format html. Dalam menu ini diinformasikan judul perangkat asli dan identitas dari penulis 3. Exit Digunakan untuk keluar dari program aplikasi 4. Passcode Digunakan untuk mengaktifkan menu inisialisasi hardware code Yang berfungsi sebagai menu entry passcode 5. Com Digunakan untuk memilih nomor kode dari saluran komunikasi yang akan digunakan oleh PC dalam berkomunikasi dengan alat 6. Baudrate Digunakan untuk memilih kecepatan data transfer dari PC ke alat dan sebaliknya. Setting terpilih harus disesuaikan dengan setting program dalam mikrokontroler 7. Databit Digunakan untuk mengatur format data bit 8. Stopbit Digunakan untuk mengatur format stop bit 9. Parity Digunakan untk mengatur format parity bit 10. Reload Com Parameter Digunakan untuk memanggil kembali setting com, baudrate, databit, stopbit dan paritybit sebelum port yang digunakan dibuka untuk proses komunikasi data dari PC ke alat maupun sebaliknya 11. DTR Digunakan untuk mengatur spesifikasi flow control data transmit ready 12. RTS Digunakan untuk mengatur spesifikasi flow control ring terminal 13. XON Digunakan untuk mengatur spesifikasi flow control hardware XON/XOFF 14. Break Digunakan untuk mengatur spesifikasi flow control break point 15. Add Automatic Linefeed Digunakan untuk mengatur spesifikasi flow control automatic line feed 16. Open Port Digunakan untuk mengatur eksekusi buka port komunikasi

17. Close Port Digunakan untuk mengatur eksekusi tutup port komunikasi 18. Clear Digunakan untuk menghapus semua tampilan data text 19. Transmit Digunakan untuk mengatur proses transmit data dari PC ke alat secara manual. Data yang akan di transmisikan di entry melalui kolom data transmit, sedangkan reportnya akan ditampilkan melalui kolom data receive. 20. COM Event Digunakan untuk mencatat semua transmisi data yang melalui saluran serial RS232, termasuk pengaturan program dan alat 21. Data Transmited Digunakan untuk menampilkan string yang akan dikirim dari PC ke alat 22. Data Received Digunakan untuk menampilkan string yang diterima dari alat ke PC 23. Data Exported Digunakan untuk mengkonversi data string ke data numerik agar dapat dimasukkan dalam grafik dan log 24. Turn On Digunakan untuk mengatur proses penyalaan sistem hardware 25. Turn Off Digunakan untuk mengatur proses mematikan sistem hardware 26. Start Capture Digunakan untuk mengambil data dari alat dan menampilkannya ke grafik dengan jangkah pengambilan data per 500mS 27. Stop Capture Digunakan untuk menghentikan proses pengambilan data dari alat dan melakukan proses penyimpanan gambar grafik dalam format bmp

unit Main; interface uses Windows, Messages, SysUtils, Variants, Classes, Graphics, Controls, Forms, Dialogs, StdCtrls, XPMan, ExtCtrls, ComCtrls, About, Help, Control; type TForm1 = class(TForm) GroupBox1: TGroupBox; ExitBtn: TButton; HelpBtn: TButton; AboutBtn: TButton; Panel1: TPanel; InitBtn: TButton; XPManifest1: TXPManifest; InitBox: TGroupBox; ProgressBar1: TProgressBar; PrgTimer: TTimer; Image1: TImage; Bevel1: TBevel; MsgProg: TEdit; Label1: TLabel; HwrdData: TEdit; procedure AboutBtnClick(Sender: TObject); procedure ExitBtnClick(Sender: TObject); procedure FormCreate(Sender: TObject); procedure HelpBtnClick(Sender: TObject); procedure InitBtnClick(Sender: TObject); procedure PrgTimerTimer(Sender: TObject); procedure HwrdDataKeyPress(Sender: TObject; var Key: Char); private { Private declarations } public { Public declarations } end; var Form1: TForm1; i : integer; implementation {$R *.dfm} procedure TForm1.AboutBtnClick(Sender: TObject);
Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

1

var Flags: OLEVariant; URLnya : string; begin Flags := 0; URLnya := ExtractFilePath(Application.ExeName)+ 'about\about.html'; AboutFrm.WebBrowser1.Navigate(WideString(URLnya), Flags, Flags, Flags, Flags); AboutFrm.Visible :=true; end; procedure TForm1.ExitBtnClick(Sender: TObject); begin Application.Terminate; end; procedure TForm1.FormCreate(Sender: TObject); begin InitBox.Enabled :=false; PrgTimer.Enabled :=false; InitBtn.Enabled :=true; end; procedure TForm1.HelpBtnClick(Sender: TObject); var Flags: OLEVariant; URLnya : string; begin Flags := 0; URLnya := ExtractFilePath(Application.ExeName)+ 'help\help.html'; HelpFrm.WebBrowser1.Navigate(WideString(URLnya), Flags, Flags, Flags, Flags); HelpFrm.Visible :=true; end; procedure TForm1.InitBtnClick(Sender: TObject); begin if InitBtn.Caption = 'PassCode' then begin InitBtn.Caption := 'Processing'; i := 0; PrgTimer.Enabled :=false; ProgressBar1.Position := 0;
Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

2

MsgProg.Text := ''; end else begin InitBtn.Caption := 'PassCode'; ProgressBar1.Position := 0; MsgProg.Text := ''; PrgTimer.Enabled :=false; HwrdData.Enabled :=false; Form1.Enabled :=false; Form1.Visible :=false; end; end; procedure TForm1.PrgTimerTimer(Sender: TObject); begin if i < ProgressBar1.Max then begin if ProgressBar1.Position = 0 then MsgProg.Text := 'Initializing PC Connection.................'; if ProgressBar1.Position = 25 then MsgProg.Text := 'Building Application And Connection Code'; if ProgressBar1.Position = 50 then MsgProg.Text := 'Trying Application And Connection Access'; if ProgressBar1.Position = 90 then begin if HwrdData.Text <> 'nedwien' then begin MsgProg.Text := 'Error Code or Connection Failed'; ControlFrm.Visible :=false; Application.Terminate; end else begin MsgProg.Text := 'PC Application And Connection Ready To Used'; ControlFrm.Visible :=true; InitBtn.Enabled :=false; AboutBtn.Enabled :=false; HelpBtn.Enabled :=false; end; end; ProgressBar1.Position := i; inc(i); end else InitBtnClick(InitBtn);
Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

3

end; procedure TForm1.HwrdDataKeyPress(Sender: TObject; var Key: Char); begin if key = #13 then begin PrgTimer.Enabled := true; HwrdData.Enabled := false; end; end; end.

unit About; interface uses Windows, Messages, SysUtils, Variants, Classes, Graphics, Controls, Forms, Dialogs, XPMan, StdCtrls, ExtCtrls, OleCtrls, SHDocVw; type TAboutFrm = class(TForm) WebBrowser1: TWebBrowser; private { Private declarations } public { Public declarations } end; var AboutFrm: TAboutFrm; implementation {$R *.dfm}

end.

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

4

unit Help; interface uses Windows, Messages, SysUtils, Variants, Classes, Graphics, Controls, Forms, Dialogs, OleCtrls, SHDocVw; type THelpFrm = class(TForm) WebBrowser1: TWebBrowser; private { Private declarations } public { Public declarations } end; var HelpFrm: THelpFrm; implementation {$R *.dfm}

end.

unit Control; interface uses Windows, Messages, SysUtils, Variants, Classes, Graphics, Controls, Forms, Dialogs, StdCtrls, VaClasses, VaComm, ComCtrls, ExtCtrls, TeEngine, TeeFunci, Series, TeeProcs, Chart, jpeg; type TControlFrm = class(TForm) StatusBox: TGroupBox; OpenBtn: TButton; CloseBtn: TButton; ResetBtn: TButton; TransBtn: TButton; RptBtn: TButton; VaComm1: TVaComm;
Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

5

CTTimer: TTimer; ParameterBox: TGroupBox; Label1: TLabel; LabelBaudrate: TLabel; LabelDataBits: TLabel; LabelStopbits: TLabel; LabelParity: TLabel; ComboPortNum: TComboBox; ComboBaudrate: TComboBox; ComboDatabits: TComboBox; ComboStopbits: TComboBox; ComboParity: TComboBox; ReloadBtn: TButton; EventBox: TGroupBox; Memo1: TMemo; RcvrBox: TGroupBox; Memo2: TMemo; TrnasBox: TGroupBox; EditTransmit: TEdit; ExportBox: TGroupBox; EditReceive: TEdit; FlowBox: TGroupBox; CheckBoxXON: TCheckBox; CheckBoxBREAK: TCheckBox; CheckBoxDTR: TCheckBox; CheckBoxRTS: TCheckBox; CheckBoxAddLinefeed: TCheckBox; Label2: TLabel; Label3: TLabel; ApplicationBox: TGroupBox; ExitBtn: TButton; ApplBtn: TButton; TChart: TChart; Series1: TLineSeries; TGraphBtn: TButton; TSGraphBtn: TButton; Label4: TLabel; procedure ComboPortNumChange(Sender: TObject); procedure ComboBaudrateChange(Sender: TObject); procedure ComboDatabitsChange(Sender: TObject); procedure ComboStopbitsChange(Sender: TObject); procedure ComboParityChange(Sender: TObject); procedure ReloadBtnClick(Sender: TObject); procedure CheckBoxDTRClick(Sender: TObject); procedure CheckBoxRTSClick(Sender: TObject); procedure CheckBoxXONClick(Sender: TObject);
Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

6

procedure CheckBoxBREAKClick(Sender: TObject); procedure OpenBtnClick(Sender: TObject); procedure CloseBtnClick(Sender: TObject); procedure ResetBtnClick(Sender: TObject); procedure TransBtnClick(Sender: TObject); procedure RptBtnClick(Sender: TObject); procedure ExitBtnClick(Sender: TObject); procedure FormCreate(Sender: TObject); procedure VaComm1RxChar(Sender: TObject; Count: Integer); procedure TGraphBtnClick(Sender: TObject); procedure CTTimerTimer(Sender: TObject); procedure TSGraphBtnClick(Sender: TObject); procedure ApplBtnClick(Sender: TObject); procedure StopChartClick(Sender: TObject); private { Private declarations } public { Public declarations } end; var ControlFrm: TControlFrm; i: integer; z: integer; RdADC: Byte; RdADC2: integer; S: string; Ok: Boolean; OKvbr: Boolean; OKCap: Boolean; OkOn: Boolean; OkOff: Boolean; implementation uses DateUtils, Main; {$R *.dfm}

procedure TControlFrm.ComboPortNumChange(Sender: TObject); begin try VaComm1.PortNum := ComboPortNum.ItemIndex + 1; except ComboPortNum.ItemIndex := VaComm1.PortNum - 1;
Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

7

raise; end; end; procedure TControlFrm.ComboBaudrateChange(Sender: TObject); begin //ComboBaudrate.ItemIndex + 1 //Make sure we skip the brUser flag in TVaBaudRate VaComm1.BaudRate := TVaBaudrate(ComboBaudrate.ItemIndex + 1); Memo1.Lines.add('Baudrate: ' + ComboBaudrate.Text); end; procedure TControlFrm.ComboDatabitsChange(Sender: TObject); begin VaComm1.Databits := TVaDataBits(ComboDatabits.ItemIndex); Memo1.Lines.add('Databits: ' + ComboDatabits.Text); end; procedure TControlFrm.ComboStopbitsChange(Sender: TObject); begin VaComm1.StopBits := TVaStopBits(ComboStopbits.ItemIndex); Memo1.Lines.add('StopBits: ' + ComboStopbits.Text); end; procedure TControlFrm.ComboParityChange(Sender: TObject); begin VaComm1.Parity := TVaParity(ComboParity.ItemIndex); Memo1.Lines.add('Parity: ' + ComboParity.Text); end; procedure TControlFrm.ReloadBtnClick(Sender: TObject); begin if MessageDlg('This options will reload COM parameter, continue process?', mtConfirmation, [mbOk, mbCancel], 0) <> mrOk then exit; EventBox.Enabled :=true; StatusBox.Enabled :=true; ApplicationBox.Enabled :=true; EventBox.Enabled :=true; TrnasBox.Enabled :=true; RcvrBox.Enabled :=true; ExportBox.Enabled :=true; VaComm1.ResetPortParameters; Memo1.Lines.Add('Reload Com Parameter'); ParameterBox.Enabled :=false; FlowBox.Enabled :=false; CloseBtn.Enabled :=false;
Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

8

ExitBtn.Enabled :=false; TSGraphBtn.Enabled :=false; end; procedure TControlFrm.CheckBoxDTRClick(Sender: TObject); begin VaComm1.SetDTR(CheckBoxDTR.Checked); end; procedure TControlFrm.CheckBoxRTSClick(Sender: TObject); begin VaComm1.SetRTS(CheckBoxRTS.Checked); end; procedure TControlFrm.CheckBoxXONClick(Sender: TObject); begin VaComm1.SetXOn(CheckBoxXON.Checked); end; procedure TControlFrm.CheckBoxBREAKClick(Sender: TObject); begin VaComm1.SetBREAK(CheckBoxBREAK.Checked); end; procedure TControlFrm.OpenBtnClick(Sender: TObject); begin if MessageDlg('This options will open PC-COM port, continue process?', mtConfirmation, [mbOk, mbCancel], 0) <> mrOk then exit; OpenBtn.Enabled :=false; CloseBtn.Enabled :=true; ResetBtn.Enabled :=true; TransBtn.Enabled :=true; RptBtn.Enabled :=true; ApplBtn.Enabled :=true; ExitBtn.Enabled :=false; TSGraphBtn.Enabled :=false; VaComm1.Open; Memo1.Lines.Add('Com Port Open'); end; procedure TControlFrm.CloseBtnClick(Sender: TObject); begin if MessageDlg('This options will close PC-COM port, continue process?', mtConfirmation, [mbOk, mbCancel], 0) <> mrOk then exit; VaComm1.Close; Memo1.Lines.Add('Com Port Closed');
Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

9

OpenBtn.Enabled :=true; CloseBtn.Enabled :=false; CTTimer.Enabled:=false; TChart.Visible:=false; TChart.Enabled:=false; VaComm1.ResetPortParameters; VaComm1.Close; Self.Close; Form1.Enabled :=true; Form1.Visible :=true; end; procedure TControlFrm.ResetBtnClick(Sender: TObject); begin Memo1.Lines.Clear; Memo2.Lines.Clear; EditTransmit.Clear; EditReceive.Clear; end; procedure TControlFrm.TransBtnClick(Sender: TObject); begin CTTimer.Enabled :=false; TChart.Visible :=false; S := EditTransmit.Text; if CheckBoxAddLinefeed.Checked then S := S + #13#10; Ok := VaComm1.WriteText(S); if not Ok then Memo1.Lines.Add('Error writing to: ' + Format('Port %d', [VaComm1.PortNum])) else Memo1.Lines.Add(Format('Writing %d characters', [Length(S)])); end; procedure TControlFrm.RptBtnClick(Sender: TObject); var I: Integer; S: string; begin if MessageDlg('This options will sent all string at transmited box a 3 times, continue process?', mtConfirmation, [mbOk, mbCancel], 0) <> mrOk then exit; CTTimer.Enabled :=false; TChart.Visible :=false; S := EditTransmit.Text; if CheckBoxAddLinefeed.Checked then
Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

10

S := S + #13#10; for I := 1 to 3 do begin VaComm1.WriteText(S); Application.ProcessMessages; end; end; procedure TControlFrm.ExitBtnClick(Sender: TObject); begin CTTimer.Enabled :=false; TChart.Visible :=false; TChart.Enabled :=false; StatusBox.Enabled :=false; ApplBtn.Enabled :=true; ExitBtn.Enabled :=false; EditTransmit.Clear; Series1.Clear; OKvbr:=false; OkOn:=false; OkOff:=true; EditTransmit.Text := ('f'); S := EditTransmit.Text; if CheckBoxAddLinefeed.Checked then S := S + #13#10; OkOff := VaComm1.WriteText(S); if not OkOff then Memo1.Lines.Add('Error writing to: ' + Format('Port %d', [VaComm1.PortNum])) else Memo1.Lines.Add(Format('Writing %d characters', [Length(S)])); StatusBox.Enabled :=true; CloseBtn.Enabled :=true; end; procedure TControlFrm.FormCreate(Sender: TObject); begin with ComboPortNum do ItemIndex := Items.IndexOf('none'); with ComboBaudrate do ItemIndex := Items.IndexOf('none'); with ComboDataBits do ItemIndex := Items.IndexOf('none'); with ComboParity do ItemIndex := Items.IndexOf('none'); with ComboStopbits do
Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

11

ItemIndex := Items.IndexOf('none'); //ComboBaudrate.ItemIndex + 1 //Make sure we skip the brUser flag in TVaBaudRate VaComm1.BaudRate := TVaBaudrate(ComboBaudrate.ItemIndex+1); VaComm1.Databits := TVaDataBits(ComboDatabits.ItemIndex); VaComm1.Parity := TVaParity(ComboParity.ItemIndex); VaComm1.StopBits := TVaStopBits(ComboStopbits.ItemIndex); //All Read command disable OKvbr:=false; TChart.Visible :=false; ParameterBox.Visible :=true; FlowBox.Visible :=true; EventBox.Visible :=true; StatusBox.Visible :=true; ApplicationBox.Visible :=true; EventBox.Visible :=true; TrnasBox.Visible :=true; RcvrBox.Visible :=true; ExportBox.Visible :=true; EventBox.Enabled :=false; StatusBox.Enabled :=false; ApplicationBox.Enabled :=false; EventBox.Enabled :=false; TrnasBox.Enabled :=false; RcvrBox.Enabled :=false; ExportBox.Enabled :=false; FlowBox.Enabled :=false; CloseBtn.Enabled :=false; ExitBtn.Enabled :=false; TSGraphBtn.Enabled :=false; end; procedure TControlFrm.VaComm1RxChar(Sender: TObject; Count: Integer); var kar : char; idx : integer; val : string; begin Memo2.Clear; Memo1.Lines.Add('Reading Command ' + IntToStr(Count) + ' bytes'); Memo2.Lines.Text := Memo2.Lines.Text + VaComm1.ReadText; if OKvbr then Memo2.Lines.Add('Capture Vibration Signal') else if OKOn then
Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

12

Memo2.Lines.Add('Enable Hardware Control') else if OKOff then Memo2.Lines.Add('Disable Hardware Control') else if OKcap then begin //untuk mengatasi masalah pembacaan data yang bukan 0-255 val := ''; for idx:=1 to length(Memo2.Text) do begin kar := Memo2.Text[idx]; if not (kar in ['0'..'9',#8]) then kar:= '0'; //reset value val := val + kar; end; Memo2.Text := val; RdADC:= StrToInt(Memo2.Text); //convert for series data EditReceive.Text:=IntToStr(RdADC); //export to series end; end; procedure TControlFrm.TGraphBtnClick(Sender: TObject); begin EditTransmit.Clear; TGraphBtn.Enabled :=false; TSGraphBtn.Enabled :=true; TChart.Visible :=true; TChart.Enabled :=true; Series1.Clear; OKvbr:=true; OkOn:=false; OkOff:=false; EditTransmit.Text := ('e'); S := EditTransmit.Text; if CheckBoxAddLinefeed.Checked then S := S + #13#10; OKvbr := VaComm1.WriteText(S); if not OKvbr then Memo1.Lines.Add('Error writing to: ' + Format('Port %d', [VaComm1.PortNum])) else Memo1.Lines.Add(Format('Writing %d characters', [Length(S)])); i:=0; CTTimer.Enabled :=true; end;

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

13

procedure TControlFrm.CTTimerTimer(Sender: TObject); begin if i<=60 then begin OKvbr:=false; OKCap:=true; Memo2.Clear; EditTransmit.Text := ('bcd'); S := EditTransmit.Text; if CheckBoxAddLinefeed.Checked then S := S + #13#10; Okcap := VaComm1.WriteText(S); if not Okcap then Memo1.Lines.Add('Error writing to: ' + Format('Port %d', [VaComm1.PortNum])) else Memo1.Lines.Add(Format('Writing %d characters', [Length(S)])); with TChart do with Series1 do AddXY(i,RdADC,'',clred); inc(i); end end; procedure TControlFrm.TSGraphBtnClick(Sender: TObject); begin OkCap:=false; OKvbr:=false; OkOn:=false; OkOff:=false; EditTransmit.Clear; TSGraphBtn.Enabled :=false; TGraphBtn.Enabled :=true; TimeSeparator := ' '; CTTimer.Enabled:=false; TChart.SaveToBitmapFile(ExtractFilePath(Application.ExeName)+ '\Vibration Report\VbrGraph_' + TimeToStr(time) + '.bmp'); TChart.Visible:=false; TChart.Enabled:=false; end; procedure TControlFrm.ApplBtnClick(Sender: TObject); begin CTTimer.Enabled :=false; ApplBtn.Enabled :=false; ExitBtn.Enabled :=true;
Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

14

EditTransmit.Clear; TChart.Visible :=false; TChart.Enabled :=false; Series1.Clear; OKvbr:=false; OkOn:=true; OkOff:=false; EditTransmit.Text := ('a'); S := EditTransmit.Text; if CheckBoxAddLinefeed.Checked then S := S + #13#10; OkOn := VaComm1.WriteText(S); if not OkOn then Memo1.Lines.Add('Error writing to: ' + Format('Port %d', [VaComm1.PortNum])) else Memo1.Lines.Add(Format('Writing %d characters', [Length(S)])); end; procedure TControlFrm.StopChartClick(Sender: TObject); begin EditTransmit.Clear; EditReceive.Clear; EditTransmit.Clear; Memo1.Clear; Memo2.Clear; StatusBox.Enabled :=true; CloseBtn.Enabled :=false; OpenBtn.Enabled :=true; ExitBtn.Enabled :=true; VaComm1.Close; OKvbr:=false; OKCap:=false; CTTimer.Enabled:=false; TChart.Visible:=false; TChart.Enabled:=false; end; end.

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

15

Listing program Seismograph.exe…………………………………………...…

16

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful