P. 1
cdk_082_infeksi_nosokomial_(i)

cdk_082_infeksi_nosokomial_(i)

|Views: 34|Likes:
Published by Dzulfikar Shubhy

More info:

Published by: Dzulfikar Shubhy on Jan 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/17/2013

pdf

text

original

Sections

  • International Standard Serial Number: 0125 – 913X
  • REDAKSI KEHORMATAN
  • KETUA PENGARAH
  • KETUA PENYUNTING
  • PELAKSANA
  • TATA USAHA
  • ALAMAT REDAKSI
  • NOMOR IJIN
  • PENERBIT
  • PENCETAK
  • PETUNJUK UNTUK PENULIS
  • PENDAHULUAN
  • ORGAMSASI PPIN
  • Surveilans
  • Buku Panduan
  • Prioritas
  • EPIDEMIOLOGI
  • Sumber
  • Penderita
  • Cara Penularan
  • KESIMPULAN
  • KALENDER PERISTIWA
  • PERMASALAHAN
  • INFEKSI NOSOKOMIAL
  • FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
  • Staf rumah sakit
  • Peralatan
  • Lingkungan
  • RUMAH SAKIT PERSAHABATAN
  • Sarana yang menunjang
  • Kendala yang dihadapi
  • Cara kerja
  • Pelaksanaan
  • HASIL
  • KRONOLOGI
  • MATERI DAN CARA
  • PEMBICARAAN
  • RINGKASAN
  • UPAYA PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL
  • MASALAH DALAM PENCEGAHAN INFEKSI NOSO- KOMIAL DAN UPAYA UNTUK MENGATASINYA
  • ORGAMSASI PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL
  • STRUKTUR ORGANISASI
  • TUGAS :
  • DIREKTUR :
  • KETUA PELAKSANA HARIAN :
  • PELAKSANA HARIAN (Koordinator Lantai/OK/ICU) :
  • PELAKSANA, RUANGAN :
  • MENGENAI RUMAH SAKIT UMUM (TIPE C) KABU- PATEN DAERAH TINGKAT II BEKASI Sejarah
  • Kondisi saat ini
  • PENGENDALIAN INFEKSI NOSOKOMIAL RUMAH SAKIT UMUM BEKASI
  • EVALUASI
  • PENUTUP
  • ABSTRAK
  • BAHAN DAN CARA 1. Kriteria bahan penelitian
  • 2. Cara pengambilan sampel
  • 3. Identifikasi mikrobiologi
  • HASIL DAN PEMBAHASAN
  • KESIMPULAN DAN SARAN
  • PERAN UNIT LABORATORIUM
  • PERANAN ANGGOTA PANITIA
  • TUGAS LABORATORIUM RS
  • SURVEILANS LABORATORIUM
  • DATA LABORATORIUM
  • PELAPORAN DATA
  • EVALUASI DATA
  • KEJADIAN LUAR BIASA
  • PEMERIKSAAN LINGKUNGAN RS
  • BAHAN DAN CARA
  • PEMBAHASAN
  • UCAPAN TERIMA KASIH
  • KONTAMINAN AIR
  • 1. Anorganik terlarut
  • 2. Organik terlarut
  • 3. Partikel tersuspensi
  • 4. Mikroorganisme
  • PURIFIKASI AIR
  • 1. "Ion-exchange"/penukar ion
  • 2. Distilasi
  • 3. Reverse osmose (RO)
  • 4. Pengelolaan
  • INFEKSI PADA TRANSPLANTASI GINJAL
  • PREDISPOSISI INFEKSI
  • PENCEGAHAN INFEKSI PADA TRANSPLANTASI GINJAL
  • PENCEGAHAN INFEKSI PADA SAAT OPERASI
  • PENCEGAHAN INFEKSI SESUDAH TRANSPLANTASI
  • PENGALAMAN DI JAKARTA
  • PENGOLAHAN AIR
  • TERBENTUKNYA SENYAWA TRIHALOMETHANE
  • Terbentuknya THM dalam air minum
  • THM dalam kolam renang dan pemandian air panas
  • THM dalam air permukaan dan air tanah
  • BAHAYA THM
  • CARA MENGHILANGKAN THM
  • HIPERTENSI
  • ARTERIOSKLEROSIS
  • SINDROM HIPERVISKOSITAS
  • PENYAKIT DARAH
  • AIDS (ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME)
  • DIABETES MELITUS
  • TUJUAN
  • Bank Mata sebaiknya tanggap terhadap beberapa hal berikut
  • Beberapa etik Bank Mata
  • PENERANGAN
  • TENAGA Dokter mata
  • Teknisi
  • ASAL DONOR
  • Sebab kematian
  • Penyebab kematian
  • Umur donor
  • Waktu enukleasi
  • CARA PENGAMBILAN MATA
  • Prosedur Enukleasi
  • Pengangkatan dengan tepi korneoskleral
  • Penilaian mata di Bank Mata
  • PENGAWETAN
  • Gliserin anhidrat
  • Ruang lembab
  • Media kultur 37°C
  • McCarey Kaufman Medium
  • Pengiriman mata donor
  • DAERAH UJI COBA
  • BAHAN DAN CARA KERJA
  • HASIL DAN PEMBAHASAN Pengukuran kepadatan nyamuk
  • Evaluasi daya bunuh residu permethrin pada kelambu
  • REKOMENDASI
  • Sampel
  • Tes sensitivitas in vivo
  • Tes sensitivitas in vitro
  • CERMIN DUNIA KEDOKTERAN P.O. Box 3105, JAKARTA 10002
  • TIADA KABAR
  • Dr. Ketut Ngurah
  • PENCEGAH ABORTUS
  • Emiliana Tjitra
  • PAKAI KALENDER
  • Refinaldi
  • SIAPA YANG LEBIH MODERN????
  • OLH
  • ABBOTT MENARIK OMMFLOX (TEMAFLOXACIN) DARI PASAR
  • TERAPI SINDROM GUILLAIN- BARRE
  • PEMILIHAN OBAT
  • VITAMIN B6 UNTUK EMESIS GRAVIDARUM
  • CEDERA KEPALA DI KALANG- AN OLAHRAGAWAN
  • PEMILIHAN ANTIHIPERTENSI
  • MANFAAT TAMBAHAN ACE-IN- HIBITOR
  • BIOAVAILABILITAS TERFENA- DIN TIDAK DIPENGARUHI OLEH MAKANAN
  • KONSUMSI OBAT MANULA DI ITALIA
  • Penyekat Penyerta DiuretikPenyekat betaPenyekat kalsium Penyekat ACE

1993

82. Infeksi Nosonomial (I) Januari 1993

International Standard Serial Number: 0125 – 913X

Daftar Isi :
2. Editorial 4. English Summary 5. Pengendalian Infeksi Nosokomial di RS Dr Cipto Mangunkusumo dengan Sumber Daya Minimal – Robert Utji 8. Pengendalian Infeksi Nosokomial di RS Persahabatan, Jakarta – H Thamrin Hasbullah 13. Pengendalian Infeksi Nosokomial di RSUD Dr Soetomo, Surabaya – Djoko Roeshadi, Alit Winarti 16. Upaya Pencegahan Infeksi Nosokomial di RS Mitra Keluarga, Jakarta – Hartati Kurniadi 18. Pengendalian Infeksi Nosokomial di RSU Bekasi –Dean Wahyudi Satyaputra 21. Sterilitas Udara Ruang Operasi dan Peralatan Bedah serta Higiene Petugas Beberapa Rumah Sakit di Jakarta – Pudjarwoto Triatmodjo 25. Peranan Laboratorium dalam Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi Nosokomial – Dalima Ari Wahono Astrawinata 28. Kebiasaan Cuci Tangan Petugas Rumah Sakit dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial–DAnwar Musadad, Agustirta Lubis, Kasnodihardjo 32. Air sebagai Sumber Kontaminasi – Usman Suwandi 36. Infeksi pada Transplantasi Ginjal dan Pencegahannya – R.P. Sidabutar, Suhardjono 39. Dampak Proses Chlorinasi Air pada Kesehatan – Inswiasri, Agustina Lubis 42. Manifestasi Mata Penyakit Sistemik – Hilman Taim 45. Bank Mata – Sidarta Ilyas 49. Evaluasi Pemakaian Kelabu Dipoles Permethrin untuk Penanggulangan Malaria dengan Vektor An. sundaicus di Lampung – Santiyo Kirnowardoyo, Panut, Hasan Basri, Adi Waluyo 53. Sensitivitas Plasmodium fal,ciparum terhadap Beberapa Obat Anti Malaria di Desa Pekandangan, Jawa Tengah – Emiliana.T., Sekar Tuti, M Renny, PR Arbani, Harijani AM 57. Indeks Karangan Cermin Dunia Kedokteran Tahun 1992 61. Humor Kedokteran 62. Abstrak 64 RPPIK

Karya Sriwidodo

Mungkinkah seseorang yang dirawat di rumahsakit menjadi bertambah penyakitnya? Suatu pertanyaan yang kedengarannya aneh; tetapi bila direnungkan lebih dalam, hal tersebut tidaklah mustahil – bukankah rumahsakit merupakan tempat berkumpulnya berbagai jenis penyakit, baik yang menular maupun yang tidak? Tentu saja kemungkinan di atas merupakan hal yang sedapat mungkin dihindari, karena bukan saja akan menambah biaya perawatan, tetapi lebih-lebih akan memperberat penderitaan pasien yang bersangkutan. Jadi usaha yang dilakukan tidak cukup dengan usaha pengobatan saja, tetapi meliputi juga tindakan pencegahan terjadinya infeksi yang terjadi di rumahsakit yaitu infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial merupakan masalah, terutama di rumahsakitrumahsakit besar yang merawat pasien dengan berbagai jenis penyakit, baik yang menular maupun yang tidak. Masalah ini harus selalu dipantau dan dicegah sedapat mungkin, antara lain dengan menerapkan tindakan asepsis, mengurangi tindakan invasif dan – yang tidak kurang pentingnya – membiasakan para petugas berperilaku higienis. Masalah ini merupakan pokok bahasan edisi ini, meliputi pengalaman di berbagai rumahsakit, pemeriksaan laboratorium yang relevan dan kemungkinan sumber infeksi; semoga bahasan ini berguna bagi para sejawat agar tidak menjadikan pasiennya bertambah sakit. Redaksi
Untuk memperluas jangkauan, maka sejak tahun 1993 ini, Cermin Dunia Kedokteran tidak lagi hanya dibagikan oleh PT Kalbe Farma, tetapi juga oleh PT Dankos Laboratories, PT Bintang Toedjoe, PT Hexpharm Jaya dan PT Pfrimmer Infusol Indonesia. Hal ini terlaksana berkat kerjasama dengan perusahaan-perusahaan farmasi tersebut di aks; untuk itu Redaksi mengucapkan terima kasih, semoga dengan cara ini Cermin Dunia Kedokteran dapat semakin luas dibaca dan dimanfaatkan.

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993

Susy Tejayadi Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. bila tujuh atau lebih. Sodeman WA.10 halaman kuarto. Box 3105 Jakarta 10002 Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan. Tabel/skema/grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelasjelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi. Philadelphia: WB Saunders. Istilah media sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku. Sri Oemijati. B. Dr. Medical Rehabilitation. disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/atau Uniform Requirements for Manuseripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979. 1974. l990 64 : 7-10. 1993 3 . 4893549. akan diberitahu secara tertulis. hendaknya diberi keterangan mengenai nama. 90 : 95-9). Setiawan – Drs. Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Nama (para) pengarang ditulis lengkap. hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. Jakarta. bila telah pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah. Semarang. Dr. SE. Sudarto Pringgoutomo Guru Besar Ilmu Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ranti Atmodjo PETUNJUK UNTUK PENULIS – Drs. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Surabaya. DR. – Drg. 1984. DR. London: William and Wilkins. Sidabutar Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Sub Bagian Ginjal dan Hipertensi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. DR. Swartz MN. Sumarmo Poorwo Soedarmo Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Victor S Ringoringo. 457-72. R. 4891502 NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 PENERBIT Grup PT Kalbe Farma PENCETAK PT Midas Surya Grafindo – Prof. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Kirby RL. – Prof. dengan menyisakan cukup ruangan di kanan-kirinya. Gunadi Budipranoto – DR. sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk.1992 International Standard Serial Number: 0125 – 913X REDAKSI KEHORMATAN KETUA PENGARAH Dr Oen L. Bila pengarang enam orang atau kurang. 4892808 Fax. Box 3105 Jakarta 10002 Telp. 82. B.H KETUA PENYUNTING Dr Budi Riyanto W PELAKSANA Sriwidodo WS TATA USAHA Sigit Hardiantoro ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran P. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. – Prof. Hal 174–9. Kusumanto Setyonegoro Guru Besar Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pathologic physiology: Mechanisms of diseases. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran P. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Jakarta.P. kedokteran dan farmasi. bila menggunakan bahasa Indonesia. Oka Wangsaputra – DR. diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. Jakarta. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut.O. Bila terpisah dalam lembar lain. Jakarta. hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. Cermin Dunia Kedokt. 1st ed. Weinstein L. R. Jakarta – DR. Chandra Guru Besar Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Pathogenetic properties of invading microorganisms. Departemen Kesehatan RI. Jakarta – Prof. MSc. P. lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 . Dr. – Dr. eds. REDAKSI KEHORMATAN – DR. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah. Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis. – Prof. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran. Dalam: Sodeman WA Jr. Bila tidak ada. satu muka. sebutkan semua. Contoh: Basmajian JV.O. I. Baltimore.J. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut. Cermin Dunia Kedokteran No. Sadrach Lembaga Penelitian Universitas Trisakti. – Prof. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio.

Jakarta PRACTICE OF HAND-WASHING AMONG HOSPITAL PERSONNEL D. coil. This study found that 95. Cemin Dunia Kedokt.1993 . Pseduomonas. Streptococcus and molds such as Aspergillus sp.English Summary SURGICAL ROOMS AND SURGICAL INSTRUMENTS STERILITY AND PERSONNELS HYGIENE IN SEVERAL HOSPITALS IN JAKARTA Pudjarwoto Triatmodjo Health Research and Development Center. Jakarta In order to determine the spread of infections in hospitals.1% of paramedic hand-swab contains microorganisms ranging from 19 x 102 to 15 x 106. Proteus. 1993. 82. the bacterial count in several nursing rooms varies between 10-300 CPU/15'.82: 21-4 st/olh A study on hand washing practice among hospital personnel has been done at 7 hospitals in Jakarta. most of them do not wash their hands. Indonesia. 82: 28-31 Dam 4 Cermin Dunia Kedokteran No.which was higher than the required limit. Staphylococcus was the most frequent contaminant. The hand swab test showed that 34.2% of paramedics and 41. including the surgical instruments. Cermin Dunia Kedokt. Department of Health. Health Research and Development Board. It was found that in the surgical operating rooms in several hospitals. Anwar Musadad. Staphylococcus. Kasnodihardjo Research Centre on Health Ecology. Indonesia. isolation of microorganisms were carried out in various nursing rooms and surgical rooms. 1993 . several surgical instruments were found to be contaminated by bacteria.. In addition. It means that the handwashing practice among hospital personnel has not been adequate. But according to our observation. The result of laboratory examination showed that 97. Agustina Lubis.8% of medical doctors said that they always wash their hands before and after handling the patients. In addition.Department of Health. Furthermore. a hand-swab test of nursing personnel was conducted. such as E.the bacterial count was more than 15CPLI/15'. There were 415 respondents which consist of 293 paramedics and 122 medical doctors.4% of the nursing personnel contaminated by nosocomialcausing microorganisms.

tenaga kesehatan atau lingkungan rumah sakit untuk memperoleh data untuk ditabulasi dan dianalisa. Jakarta PENDAHULUAN Infeksi Nosokomial (INOK) merupakan masalah yang besar di setiap Rumah Sakit. Rumah sakit dan profesi kesehatan mempunyai tanggung jawab moral untuk to do the patient no harm. bagaimana dengan sumber daya minimal? Dalam uraian berikut ini kita akan perhatikan masingmasing komponen program PPIN. Surveilans mikrobiologi penting untuk mengetahui sumber penyebab INOK sehingga langkah-langkah pengendalian dan pencegahan. Idealnya semua program yang disusun dijalankan secara utuh. dengan angka mortalitas 1%0). infus. pelacakan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan sebagainya. Ini dapat terlaksana dengan memberikan pelayanan kepada setiap penderita dengan standar profesi tertinggi. kateter.4% dan angka yang tertinggi INOKnya di Bagian Parasitologi dengan Sepsis(2). Unit Sterilisasi Sentral. Di RSCM surveilans terhadap penderita yang dirawat sudah berjalan rutin secara Minis untuk memantau risiko infeksi penderita operasi. Farmasi Rumah Sakit. Di dalam organisasi diperlukan juga seorang yang secara khusus menangani soal dana untuk program serta kelancaran pelaksanaannya. Jabatan Ketua tidak boleh terlampau singkat mengingat program-program PPIN tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Tugas PPIN adalah melaksanakan surveilans. Tangga Rumah Sakit dan sebagainya.Artikel Pengendalian Infeksi Nosokomial di RS Dr. Surveilans mikrobiologi belum rutin dilakukan terhadap penderita kecuali penderita luka bakar. Standar profesi ini adalah dalam program yang disusun dan dilaksanakan oleh PPIN seperti surveilans. Cermin Dunia Kedokteran No. ahli mikrobiologi. Ketua PPIN adalah seorang Klinikus ahli penyakit infeksi yang juga memperdalam pengetahuan epidemiologi dan mikrobiologi. dan lingkungan seperti di IGD. Perawat Pengendali Infeksi (Infection Control Nurse). ahli bedah. 1993 5 . Apalagi di Rumah Sakit yang jumlah penderita yang dirawatnya banyak dengan tenaga perawatnya masih terbatas. bagaimana di RS Dr. dan ICU. ruang rawat TST. ORGAMSASI PPIN Organisasi PPIN adalah bersifat lintas sektoral dan terintegrasi di antara banyak disiplin pelayanan seperti dokter ahli penyakit infeksi. Surveilans Surveilans adalah pengamatan yang seksama pada waktu tenentu terhadap penderita yang dirawat di rumah sakit. pendidikan nosokomial kepada tenaga kesehatan. menentukan kebijakan-kebijakan dan cara-cara pencegahan infeksi. Cipto Mangunkusumo? Sebagai ilustra'si di RSCM telah dilakukan surveilans terbatas selama 6 bulan (1990) dengan hasil sebagai berikut : insiden berkisar antara 0 – 14. Di Amerika Serikat dilaporkan INOK mencapai 5% per tahun bahkan mungkin lebih lagi. Tujuan PPIN yang paling utama adalah mencegah terjadinya infeksi pada penderita di Rumah Sakit dan juga tenaga kesehatan(3). Bagian Rumah Dibacakan pada Seminar Terbatas Pengendalian Infeksi Nasokomial di Rumah Saki: dengan Sumber Daya Minimal tanggal 22 Februari 1992 di Gedung Perpustakaan Nasional Jakarta. administrasi Rumah Sakit. 82. tetapi menuntut dana yang besar. Keadaan seperti ini akan mengakibatkan prinsipprinsip higiene kurang mendapatkan perhatian. Cipto Mangunkusumo dengan Sumber Daya Minimal Robert Utji Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Surveilans akan memberikan gambaran tentang INOK atau suatu KLB. Ketua PPIN harus diberi wewenang untuk mengambil keputusan penting yang berhubungan dengan INOK.

virus. Di dalam menentukan skala prioritas untuk melakukan pengendalian. much time is needed for surveillance and reporting infections to establish baseline infection rates. Sumber Sumber infeksi dapat berupa kuman. all three parts of the infection chain must be present. After a program has been well established. More time is then allocated to teaching. by size and type of institution. Prioritas PPIN harus melaksanakan banyak program. in both hospitalwide manual and the infection control sections of departmental manuals. cuci tangan dengan air mengalir. Little time is spent in teaching and consulting. For an infection to occur. Kita akan melihat 3 faktor yang bersama-sama menentukan terjadinya INOK (Gambar 3). once infection control manuals (hospitalwide and departmental sections) have been completed.Buku Panduan Segala keputusan PPIN sebaiknya dituangkan di dalam sebuah buku panduan untuk setiap unit di Rumah Sakit. Administrative activities consume a great amount of time because of the need to develop infection control manuals. and all criteria must be met. Gambar 1. so that administrative time can be decreased. sabun dan desinfekt. supaya efisien dan efektif harus ditentukan prioritas.an. Buku ini harus menjadi pedoman untuk diketahui dan dilaksanakan oleh para tenaga kesehatan. Smaller institutions will generally require less time to do total hospital data collection than will larger facilities because of the increased complexity of care. In setting up a program. only annual review is necessary. by size and type of institution. Apakah cuci tangan untuk tindakan operatif harus pakai sikat. Gambar 3. desinfektan alkohol dan waktu cuci tangan yang lebih lama. less time is needed for surveillance and reporting activities. sabun air mengalir. partly because personnel do not know of the availability of the ICP. Examples of time spent in setting up infection control programs. Isi buku ini memberikan petunjuk-petunjuk praktis seperti petunjuk tentang cara cuci tangan yang baik. 1993 . untuk tindakan invasif seperti pemasangan infus. Additionally. consulting. Berikut ini sebuah contoh prioritas untuk langkah awal. Gambar 2. Example of time spent in infection control activities in programs 1–2 years old. 6 Cermin Dunia Kedokteran No. cuci tangan biasa untuk merawat penderita tanpa tindakan invasif hanya perlu air mengalir dan sabun. kita harus dapat tentukan faktor yang paling utama. or special studies. lanjut sebuah rumah sakit dan prioritas untuk macam-macam rumah sakit (Gambar 1 dan 2)(1). 82. kateter dan sebagainya. protozoa dan parasit yang terdapat di alam. Bahkan manusia sehat juga penuh EPIDEMIOLOGI Untuk pelaksanaan pengendalian dan pencegahan perlu diketahui epidemiologi INOK.

Penularan melalui tangan perawat dapat secara langsung karena tangan yang kurang bersih atau secara tidak langsung melalui peralatan yang invasif. Surveilan penderita harus dibarengi dengan surveilan bakteriologik supaya dapat ditemukan sumber infeksinya. 2nd ed. Dengan tindakan mencuci tangan secara benar saja. Hosp.dengan kuman yang dianggap normal. KESIMPULAN Sekarang pertanyaan yang penting yang perlu dijawab : Bagaimanakah Rumah Sakit dapat melakukan pengendalian INOK dengan sumber daya yang minimal ? 1. Untuk penderita yang imunokompromi. Laporan Surveilans Nosokomial. A personal view. penderita harus menjadi obyek yang paling utama : to do the patient no harm. KEPUSTAKAAN 1. Lingkungan kita terkenal dengan sumber kuman patogen yang paling besar.: Dept. 3. Penderita Penderita selalu menjadi sasaran benih penyakit karena biasanya keadaan tubuh yang lemah. 82. Ann. Kita harus cepat dapat menanggulangi atau mencegah infeksi dari luar maupun dari dalam. air yang terkontaminasi kuman. PO Box 4200/JATJG Jakarta 13041 INDONESIA Cermin Dunia Kedokteran No. KALENDER PERISTIWA May 3 – 6. Untuk memutuskan mata rantai infeksi. Secr. Peralatan yang kurang steril. 1971. 1990. Bila PPIN akan mengawasi semua sumber kuman dengan jalan memantau secara rutin. Cara Penularan Cara penularan melalui tenaga perawat ditempatkan sebagai penyebab yang paling utama INOK. 1977. 1993 7 . New York: Wiley Medical. The Hospital Infection Control Committee. Dalam pengendalian INOK. 83: 683. RSCM. Tujuan pengendalian harus diprioritaskan kepada penderita terlebih dahulu dan tidak pada tenaga kesehatan. Ajemian E. biayanya akan sangat besar dan tidak praktis. Principle and Practice. prioritas utama adalah pada tenaga perawat dengan jalan mengubah perilaku menjadi lebih aseptik dan menjalankan peraturan-peraturan dalam buku panduan secara konsekuen. Intern. La Force FM. Faculty of Medicine. sering meningkatkan risiko INOK. Castle M. Keadaan yang paling optimal adalah kalau penderita dirawat secara khusus seperti di isolasi atau dilayani khusus oleh perawat tertentu. 4. 12(1): 135. hal 1-4. Hand washing practices for the prevention of nosocomial infections. 1987. cairan desinfektan yang mengandung kuman. 1993 – DERMATO-THERAPEUTIC UPDATE '93 – INTERNATIONAL SYMPOSIUM Nusa Indah Convention Centre Bali. Pract. University of Indonesia. INOK dapat dikurangi 50%t`l. Hospital Infection Control. Med. INDONESIA. 2. kuman normal pun dapat menjadi patogen karena daya tahan tubuh yang berkurang. 2. Steere AC. of Dermatovenereology. Made Nursari. 3. Mallison GF. Langkah pertolongan yang diberikan rumah sakit dalam perawatan penderita serba sulit karena perawatan yang berlebihan akan meninggikan risiko infeksi dan perawatan yang kurang akan melemahkan daya tahan penderita.

kateterisasi saluran kemih. 26: 7). Suatu infeksi pada penderita barn bisa dinyatakan sebagai infeksi nosokomial bila memenuhi beberapa kriteria/batasan tertentu : 1. rata-rata tambahan hari rawat adalah 4 hari. Pada waktu penderita mulai dirawat di rumah sakit tidak didapatkan tanda-tanda klinik dari infeksi tersebut. Bila saat mulai dirawat di rumah sakit sudah ada tanda-tanda infeksi. Telah diketahui bahwa pengelolaan infeksi nosokomial menimbulkan biaya tinggi. Dari literatur dapat dilihat betapa seriusnya masalah ini di Amerika : Angka kejadian infeksi nosokomial rata-rata 6%. Pada waktu penderita mulai dirawat di rumah sakit tidak sedang dalam masa inkubasi dari infeksi tersebut.000. sex. baik yang ditanggung pihak penderita maupun pihak Rumah Sakit.– PERMASALAHAN – Rumah sakit merupakan tempat mondok segala macam jenis penyakit. biaya Rp. Jakarta H. dan pemeriksaan bahan-bahan infeksius. 4. 136. Tanda-tanda klinik infeksi tersebut baru timbul sekurangkurangnya setelah 3 x 24 jam sejak mulai perawatan.Pengendalian Infeksi Nosokomial di RS Persahabatan.000 pertahun dengan pengeluaran biaya pelayanan tambahan $ 4 Miliard pertahun (Medical Care Journal. Rumah Sakit Persahabatan. Infeksi tersebut bukan merupakan sisa dari infeksi sebelumnya. Angka kematian infeksi nosokomial mencapai 60. Di negara maju.800 per kejadian infeksi. infeksi nosokomial termasuk dalam 10 besar penyebab kematian. dengan tambahan biaya $ 1. Dibacakan pada Seminar Terbatas Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Saki[ dengan Somber Daya Minimal tanggal 22 Februari 1992 di Gedung Perpustakaan Nasional Jakarta. Juli 1988. 8 Cermin Dunia Kedokteran No. Jakarta PENDAHULUAN Masalah Infeksi Nosokomial pada tahun terakhir ini telah menjadi topik pembicaraan di banyak negara. 1993 . atau endoskopi. 5. biaya Rp. Thamrin Hasbullah UPF Ilmu Bedah. – Kuman yang biasa mondok di rumah sakit umumnya kebal terhadap antibiotika. bahkan terhadap banyak antibiotika. 2. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI Ada dua faktor yang memegang peranan penting : * Faktor Endogen : Faktor yang ada di dalam penderita sendiri seperti umur.000.– 1987 : Han Rawat = 416 hari. pengalaman di RSUD Dr. 3. pihak asuransipun tidak mau membayar biaya lebih yang ditimbulkan akibat infeksi nosokomial sehingga pihak penderita sangat dirugikan. dan terbukti infeksi tersebut didapat penderita ketika dirawat di rumah sakit yang sama pada waktu lalu. bahkan di Amerika.000. 82. 2. Justru dalam situasi lingkungan seperti inilah orang sakit yang rata-rata daya tahan tubuhnya menurun harus dirawat agar ia sembuh dari penyakitnya. serta belum pernah dilaporkan sebagai infeksi nosokomial.000. Izin operasi suatu rumah sakit bisa dicabut karena tingginya angka kejadian infeksi nosokomial. berupa kateterisasi IV. Soetomo Surabaya menunjukkan bahwa dengan mengendalikan infeksi nosokomial pada Infeksi Luka Operasi (ILO) dapat dihemat biaya : 1986 : Hari Rawat = 552 hari. tindakan invasif. – Rumah sakit merupakan gudang kuman-kuman patogen. Di rumah sakit banyak dilakukan tindakan yang mengandung risiko terjadinya infeksi nosokomial. Di Indonesia. angka kejadian infeksi nosokomial telah dijadikan salah satu tolok ukur mutu pelayanan rumah sakit. dan penyakit penyerta. seperti : operasi. INFEKSI NOSOKOMIAL Infeksi Nosokomial adalah infeksi yang didapat penderita selama/oleh karena dia dirawat di rumah sakit.

dan udara supaya tetap bersih. dan ketrampilan dalam menerapkan teknik perawatan. Lingkungan Perlu diperhatikan: Kebersihan lingkungan. Bahan yang harus dibuang (disposal) diusahakan tidak menjadi sumber infeksi. dan cara menyimpan dan mempertahankan kesterilannya. Jumlahnya dapat dikurangi dengan cara perawatan kulit pra bedah dan pemakaian desinfektan. pengetahuan tentang sep- Cermin Dunia Kedokteran No. air yang dipakai. – Melakukan semua standar prosedur kerja dengan benar dan sempurna (SOP : perawatan. yakni kuman yang "normal" berada dalam pori kulit. Sedangkan kuman pendatang yang berasal dari lingkungan terletak di permukaan kulit. perlu diperhatikan kesehatan dan kebersihannya. dan teknik medis yang dilakukan. tempat-tempat sampah yang tertutup. Caranya adalah dengan memutus mata rantai terjadinya infeksi nosokomial : – Meningkatkan pengetahuan personil rumah sakit tentang infeksi nosokomial. lebih mudah. Sumber Infeksi d Rumah Sakit tik dan aseptik. Dalam pengendaliannya perlu diingat bahwa pencegahan lebih baik daripada pengobatan. lebih murah dan tidak berbahaya baik bagi penderita maupun lingkungannya. 1993 9 . cara membersihkan dan mensterilkan. Bagan 3. BREAKING THE CHAIN OF INFECTION Penderita Penting diketahui antara lain : keadaan umum. apakah normal atau ada luka. obesitas atau penyakit khronis lainnya. Dalam hal tertentu udara perlu disaring (filtrasi). ini dapat dihilangkan dengan cara perawatan kulit pra bedah dan pemakaian desinfektan. kelompok yang merawat penderita. – Meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang risiko infeksi nosokomial bagi pasien yang dirawatnya. dan kadang-kadang perlu fumigasi atau pemusnahan bahan. Kulit normal sudah mengandung banyak kuman yang bisa menjadi penyebab infeksi. Peralatan Sangat perlu diketahui mengenai cara penggunaan.* Faktor Eksogen : Faktor di luar penderita. Staf rumah sakit Dokter dan personil paramedis merupakan sumber infeksi yang penting dalam terjadinya infeksi nosokomial. tindakan dan penggunaan/pemilihan alat-alat dan lain-lain). misalnya dengan memakai kantong plastik yang dapat segera ditutup. seperti lama penderita dirawat di rumah sakit. dan keadaan kulit penderita. 82. mengalir dan dengan kelembaban tertentu. peralatan. lingkungan. ada kuman komensal. Bagan 1. penyakit penyerta seperti DM.

Prosedur kerja yang perlu ditetapkan adalah : – Cara pencegahan infeksi nosokomial. − Baru dilakukan intervensi. – Dengan biaya pengendalian yang murah dapat dihemat hari 10 Cermin Dunia Kedokteran No. Perlu ditetapkan prioritas masalah infeksi nosokomial yang akan ditanggulangi dari masalah yang ada. Langkah-langkah pokok yang perlu dilaksanakan oleh rumah sakit : 1) Menetapkan kebijaksanaan. – Mengikutsertakan penderita dan keluarga dengan memberikan pengetahuan praktis tentang infeksi nosokomial serta penyakit yang sedang diderita penderita. dan petugas informasi di ruangan. Panitia Medik Pengendalian Infeksi (Dalin) mempunyai tugas pokok menyusun kebijaksanaan dasar. − Baru ditetapkan hipotesis penyebab. dengan demikian dapat dipastikan adanya dukungan sumber daya. − Cara pemecahan masalah. Pelaporan/umpan balik. Mekanisme dam pencegahan dan surveilans. 3) Penyusunan rencana kerja. karena pencegahan infeksi nosokomial hanya dapat berhasil bila ada perubahan perilaku personil. 82. 4) Pencatatan. Mekanlsme dasar yang dlperlukan 1. hal ini memerlukan motivasi dan pengetahuan yang bisa diperbailci melalui pendidikan. tim Dalin mempunyai tugas pokok menyusun prosedur. pendidikan. Bagian Dasar Struktur Organisasi Penyimpulan data. pemantauan. sedang UPF bertugas melaksanakan prosedur. tepat. – Analisis data. – Cara pemantauan infeksi nosokomial (surveilans). Bagan 4. 1993 . 5) Pendidikan personil. pelaporan dan tindakan koreksi. Contoh : pada KLB : − Digunakan analisis sebab akibat. – dan lain-lain. – Penyusunan data. Kebijaksanaan bahwa pengendalian infeksi nosokomial masuk dalam program prioritas di rumah sakit. – – Bagan 5. Peranan pendidikan personil sangat penting. prosedur kerja. kertas petunjuk di pintu. − Penetapan penyebab. Dilaksanakan dengan terarah. tertib dan berkesinambungan. − Ditambah analisis penderita. – Pneumonia. – Pemberian pengobatan yang tepat dan rasional. misalnya : – Infeksi Luka Operasi. – Infeksi Saluran Kemih. 2) Menetapkan struktur organisasi (Bagan 4). Pada kejadian Luar Biasa perlu ditetapkan : − Tata cara untuk melakukan identifikasi masalah. KESIMPULAN – Infeksi nosokomial dapat dikendalikan dan angka kejadiannya dapat diturunkan dengan sepertiganya.– Identifikasi penyebab infeksi nosokomial. − Dipantau hasilnya. – Sepsis. – Memberi petunjuk praktis pada pengunjung tentang hal-hal yang perlu dijaga/dilakukan/dihindarkan pada waktu berkunjung melalui papan pengumuman. – Pengumpulan data. melalui PKMRS.

Penataran dilaksanakan secara bertahap dengan pesertanya ialah para PRU seluruh UPF beserta wakilnya. 2) Tidak ada dana sama sekali.rawat dan biaya pelayanannya. – Menyusun Buku Panduan. – Komite Farmasi. – Dengan pengendalian infeksi nosokomial dapat dijaga dan ditingkatkan mutu pelayanan rumah sakit. yang terinfeksi 1 = 1. Penyakit dalam Jumlah Kasus Terinfeksi % 26 – – Anak 68 – – Paru 61 7 11% Kardiologi 2 – – II. Pelaksanaan Penataran diadakan bekerja sama dengan Bidang Diklat Rumah Sakit Persahabatan dan Bidang Perawatan Rumah Sakit Persahabatan. beserta resistensi testnya. 82. Sarana yang menunjang 1) Struktur Organisasi Rumah Sakit Persahabatan sudah lengkap (Struktural dan Fungsional). – Uji coba surveilans tindakan invasif intra vena dan infeksi luka operasi. Ruang Rawat ICCU : dari 12 kasus (total). 3 kasus (terkena infeksi (25%).10 Juni 1991) Operasi Bersih Operasi Bersih Terkontaminasi Ruang Bedah Kelas Kebidanan Kelas Cempaka A Cempaka B Jumlah Jumlah 28 8 14 40 90 Jumlah Terinfeksi Jumlah Terinfeksi 26 8 13 39 86 – – – – – 2 – 1 1 4 – – – 1 1 Dari 90 kasus. terkoordinir serta terkendali. – Standar prosedur kerja perasat/tindakan seperti : ∗ Persiapan operasi. Cermin Dunia Kedokteran No. untuk itu diadakan kerja sama dengan FKUI/RSCM. dan para PRR seluruh UPF beserta wakilnya. – Mengisi acara Siang Klinik Dokter. – Pengendalian infeksi nosokomial tidak terlalu sukar. – Mengirim tenaga PRU UPF ke Seminar dan Penataran Nosokomial. karena instansi ini sudah mempunyai anggaran. ILO (Infeksi Luka Operasi) pada operasi bersih/bersih terkontaminasi (12 Mel 1991 sd. – Mencari angka dasar infeksi nosokomial. ∗ Tindakan perasat invasif intra vena. ∗ Perawatan luka operasi. B. ∗ Pengambilan sampel infeksius dan cara pengirimannya. kateterisasi saluran kemih. endoskopi. ∗ Tindakan perasat invasif kateterisasi kandung kemih. baik untuk rawat jalan maiupun untuk rawat nginap. Invasif Intra Vena : I. tindakan invasif. Tabel 1. 4) Pada bulan September 1989 telah dibentuk Komite Pengendalian dan Penanggulangan Infeksi Nosokomial Rumah Sakit Persahabatan. yang telah mengikuti penataran tentang infeksi nosokomial hanya 4 (empat) orang. yang berfungsi sebagai top referral hospital untuk penyakit thorax non kardial. – Komite Medical Record. 1993 11 . 2) Rumah Sakit Persahabatan telah melaksanakan program menjaga mute yang meliputi bidang administrasi dan bidang pelayanan. Cara kerja 1) Membuat program jangka pendek. Hasil Evaluasi Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit Persahabatan (Mel 1991) A. – Mengisi acara Siang Klinik Paramedis. yakni menyebarluaskan pengetahuan tentang infeksi nosokomial melalui : – Membagi dan menyebarkan pengetahuan tentang infeksi nosokomial kepada seluruh anggota Komite. Materi Penataran meliputi : – Pengenalan tentang infeksiNosokomial secara menyeluruh. Unit-unit/Ruang Rawat Biasa (Penilaian kasus yang masuk dalam 2 minggu). RUMAH SAKIT PERSAHABATAN Rumah Sakit Persahabatan merupakan rumah sakit tipe/ klas B. Kendala yang dihadapi 1) Komite Nosokomial beranggotakan 16 orang. asal setiap petugas rumah sakit dapat memahami dan menyadari peranannya masing-masing dan pengendaliannya dilakukan dengan terencana. kateterisasi intra vena. dan lain-lain. ∗ Sanitasi.1%. – Mengadakan surveilans (terbatas). 2) Membuat program jangka panjang yakni : – Mengadakan penataran untuk paramedis semua UPF secara bertahap. 3) Telah dibentuk beberapa Komite Pendamping Pimpinan untuk urusan khusus yakni : – Dewan Medik. dan juga merupakan pusat pendidikan dokter ahli terutama Ahli Penyakit Paru serta tempat pendidikan paramedis. Di sini banyak dilakukan tindakan dengan risiko infeksi bagi penderita seperti operasi. ∗ Pengambilan dan penyajian makanan. – Membuat peta mikroba kuman-kuman rumah sakit.

Ala rasa kebanggaan pada UPF yang angka infeksi nosokomialnya cukup rendah. Tabel 1. KEPUSTAKAAN 1. (eds.) Control of hospital infection.85 – 25 10.5 % 10. Proporsi Infeksi Nosokomial menurut Lokasi Infeksi dan Ruang Rawat dēngan tindakan Invasif tertentu (September/Oktober 1988) Ruangan Kebidanan Klas Kebidanan Umum Bedah GT Bedah Cempaka A Bedah Cempaka B Anak Atas~ Anak Bawah Melati Atas Melati Bawah Mawar APD Mawar Kardiologi Keluar RS 10 27 18 42 25 35 75 24 48 14 10 Kateterisasi n 3 7 TD TD TD – – 3 2 5 1 ISK – – n 7 18 TD TD TD 35 75 21 46 9 9 Infus Fl – – Operasi n – 2 18 42 25 TAK TAK TAK TAK TAK TAK ILO 1 – – – No. Oktober 1988) No.Kes RI dan RSUD Dr.8 % 28. Tiap-tiap UPF sudah mempunyai tenaga inti sebagai pelaksana pemantauan infeksi nosokomial.B Saunders Co.7 70 7. Palma MB. HASIL 1. Keterangan : Pengamatan selama tiga minggu. hal ini merangsang minat UPF lainnya. 55. 82. hal. W. 2. Rumah Saki' Persahabatan.8 % 55.T Bedah Cempaka A Bedah Cempaka B Anak Atas Anak Bawah Melati Atas Melati Bawah Mawar APD Mawar Kardiologi Jumlah Jumlah Prevalenai LN KRSP (%) 10 27 18 42 25 35 75 24 48 14 10 328 – – – – – 1 – 6 5 5 7 24 – – – – – 2. PengenaanPengendalianInfeksiNosokomial. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Ruangan Kebidanan Klas II Kebidanan Umum Bedah G. Soetomo. Thamrin Hasbullah.32 Keterangan Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Dengan antibiotik Tanpa antibiotik Sumber : Buku Simposiwn Keperawatan Oktober 1988. 1993 . 1989. 5. Buku Simposium Keperawatan. Materi Penataran dan Latihan Pengendalian Infeksi Nosokomial Tingkat Nasional 5 Desember s/d 17 Desember 1988 di Surabaya oleh Dep. 3. Infection Control : a policy and procedure manual. ha155. 4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 – – – – 1 – 6 5 5 7 Keterangan : TD TAK ISK Fl ILO = tidak diamati = tidak ada kasus operasi = infeksi saluran kemih = Flebitis = infekri luka operasi Life is half spent before we know what it is 12 Cermin Dunia Kedokteran No. Tabel 2. 1 2 3 4 5 Ruangan Anak Atas Melati Atas Melati Bawah Mawar Atas Penyakit Dalam Mawar Kardiologi Infus 35 21 46 9 9 Plebitis n 1 6 5 5 7 % 2.C. Oktober 1988. Anggota-anggota Komite Nosokomial sudah punya pengetahuan dasar yang lumayan. 2. 4. Prevalensi Infeksl Nosokomial menurut Ruang Rawat dengan tindakan Invaslf tertentu (September/Oktober 1988) No. Ayliffe GAJ. Lowbury EIL. 1975. Pengendalian dan penanggulangan infeksi nosokomial sudah masuk dalam program menjaga mutu Rumah Sakit Persahabatan.Dibacakan pada Sidang Klinik Dokter Rumah Sakit Persahabatan.4 35. Angka kejadian lnfeksi menurut lokasl ruang rawat dengan tindakan Invasif intra vena (September 1988 ad. 1989.7 % Lampiran 1. A practical Handbook.5 % 77. 3.

Soetomo dimulai Januari 1986. not killing germs more completely or buying better equipment and supplies. infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat karena penderita dirawat atau pernah dirawat di rumah sakit. Soetomo. KRONOLOGI Program ini dimulai tahun 1985. dibentuk juga organisasi Dalin (Gambar 1). maupun oleh perawat untuk semua jenis infeksi nosokomial. Pada tahun-tahun berikutnya telah dilakukan continuous surveillance yang dilaksanakan baik oleh peserta PPDS I maupun perawat khusus dari 5 UPF besar ditambah dengan UPF Saraf yang telah dilatih secara khusus. MATERI DAN CARA Surveilan infeksi lukā operasi dilakukan UPF Bedah yang dilaksanakan tileh semua peserta PPDS I. Indonesia Prevention of nosocomial infection is primarily a matter of monitoring and improving human practice. dan juga merupakan pemborosan yang besar. angka kematiannya cukup tinggi : 1 juta/ tahun.Pengendalian Infeksi Nosokomial di RSUD Dr. Surabaya Djoko Roeshadi. Untuk pelaksanaan program. Pada tahun itu juga telah dilakukan surveilan untuk memperoleh angka dasar kejadian infeksi luka operasi bersih di lingkup UPF Bedah dan UPF Kebidanan dan Penyakit Kandungan. Program pengendalian infeksi nosokomial di RSUD Dr. Surveilan untuk keseluruhan jenis infeksi nosokomial dilakukan oleh pe- Cermin Dunia Kedokteran No. Bentuk Organisasi Panitla Pengendalian Infeksi Nosokomial RSUD Dr. Pada periode ini telah berhasil disusun standar. Soetomo. Surabaya. (Haley) PENDAHULUAN Infeksi nosokomial sangat merugikan baik penderita maupun rumah sakit. Soetomo. Dari data yang didapat dari surveilan WHO nyatalah bahwa angka kejadiannya cukup tinggi : 5% tahun atau 9 juta orang dari 190 juta yang dirawat. selama ± 1 tahun oleh anggota panitia hanya dilakukan penelaahan kepustakaan dengan tujuan untuk memperoleh kesatuan pendapat tentang infeksi nosokomial. surveilan dilakukan baik oleh dokter untuk luka operasi bersih. standar surveilan maupun standar organisasi. 82. jenis surveilan adalah continuous observation terhadap semua kasus bedah. Alit Wlnarti Panitia Medik Pengendalian Infeksi RSUD Dr. standar diagnosis. Secara definisi. baik standar pelaksanaan perasat perawatan. Standar ini dapat terlaksana pembuatannya setelah melalui miniseminar yang dihadiri oleh semua wakil-wakil UPF sehingga dicapai kesepakatan. Gambar 1. 1993 13 .

2. didapatkan dugaan penyebab (risk factor) adalah penjadwalan. Survelian Perawat Januari 1989 – Juni 1991/I. Soetomo sebelum dilaporkan ke pimpinan rumah sakit.4): Tabel 1. pembersihan alat dan ruangan.85%. Survelian Infeksi Luka Operasi oleh Perawat Januari 1989–Juni 1991 (6 UPF – 21 Ruangan) Tabel 3. pemberinfection rate 5. Dalam surveilan infeksi luka operasi bersih yang dilaksanakan oleh dokter dengan angka dasar infection rate 3. Hasil surveilan Infeksi Luka Operasi bersih di UPF Bedah tahun 1985 s/d Desember 1989 oleh peserta PPDS I Tabel 2. Untuk pengumpulan data. Hasil-hasil surveilan ini dikembalikan sebagai feed back bagi UPF/Seksi-seksi dalam UPF dengan tujuan agar mereka dapat menyadari penampilan (performance) mereka dalam pelayanan sehingga mereka dapat memperbaiki did. Dari hasil yang kita peroleh. Survetlan Infeksi Saluran Kenih oleb Perawat Janwri 1989 – Juni 1991(6 UPF–21 Ruangan) PEMBICARAAN Dari motto yang ditulis oleh Haley tampak jelas bahwa kesadaran petugas untuk melaksanakan standar perasat perawat adalah merupakan kunci pokok keberhasilan dari program pengendalian infeksi nosokomial. kerja CSSD dan persiapan kulit penderita.75% pada tahun 1985.3. dengan demikian diharapkan bahwa semua pihak alum berpartisipasi Waif dengan motivasi yang benar untuk mendukung pelaksanaan program. Dalam keadaan ini dilakukan analisis tu- lang ikan seperti yang tercantum dalam gambar 2. Maksud dilakukannya dua surveilan sekaligus adalah untuk mengembangkan sistim kontrol dalam program ini. HASIL Mulai dan 1985 s/d Desember 1991 telah diperoleh hasil seperti tercantum di bawah ini (Tabel 1. 82. hipotesa ini terbukti kebenarannya. pada tahun 1986 didapatkan outbreak dengan dugaan penyebabnya (risk factor) adalah penjadwalan.rawat di lima UPF tersebut di atas dan UPF Saraf. 14 Cermin Dunia Kedokteran No. Perawat yang melakukan surveilan adalah perawat khusus setiap ruangan yang dilcoordinir oleh perawat dari bidang perawatan yang menjadi anggota panitiapengendalian infeksi rumah sakit. 1993 . Semua hasil surveilan ini diserahkan kepada dan diolah oleh Panitia Pengendalian Infeksi RSUD Dr. dibuat lembar pengumpul data yang berbeda antara LDP surveilan dokter (yang bersifat lapangan sempit tapi mendalam) dengan LDP perawat (yang bersifat luas tapi dangkal).V (6 UPF – 21 Ruangan) Tabel 4.

3. Soetomo mulai tahun 1986 . 6. bahkan mulai tahun 1987 . maka didapatkan angka infection rate yang menurun dengan tajam seperti tampak pada Gambar 1. Seminar. Jaminan mum di Rumah Sakit.23% di UPF Saraf. Dmu Bedah FK.5%. sehingga proses ini jelas akan berhasil apabila organisasi yang sudah dibentuk secara konsisten melaksanakan intervensi agar proses perubahan perilaku petugas dapat terjadi tents menerus menuju standar yang berlaku.v. 9 -11 Juni 1988. 2) Populasi yang diamati oleh perawat tidak hanya di bagian Bedah saja. Simposium Nasimal Infeksi Nosokomial. Perbedaan yang ada. 4. 2. August 1982. Pengendalian Infeksi NosokomiaL Simposium-Lokakarya National. KEPUSTAKAAN 1. 1981. Untuk memantau kesempurnaan pelaksana program maka dipakai sistim kendali seperti bagan di bawah ini. Dari hasil surveilan perawat mengenai infeksi luka operasi nyata tidak ada perbedaan yang bermakna dibandingkan dengan hasil yang dilakukan oleh dokter. akibat infeksi nosokomial.1991 ada policy penyempumaan penggunaan antibiotika dengan menekankan profilaksis primer sehingga dengan demikiatl justru mulai tahun 1987 pemakaian antibiotika cenderung menurun dengan drastis. Djoko Roeshadi. 1993 15 . USA: Aspen Pub1. maka dengan gads kendali infection rate 3. 2: 7. RINGKASAN Telah dilaporkan perjalanan program pengendalian infeksi nosokomial di RSUD Dr. maka penghematan yang didapat adalah 180 juta rupiah total. Moh. 2. Dari risk factor tersebut di atas jelas bahwa faktor kesadaran petugas claim melaksanakan standard operating procedure adalah sangat penting. sehingga pada tahun 1989 didapatkan infection rate untuk infeksi luka operasi hasil) adalah 0. Program ini mampu mengendalikan pemborosan keuangan. Malin Abdullah dick. waktu perawatan bagi penderita infeksi nosokomial bertambah (8 hari). Australia. Hospitals: what they are and how they work. sedangkan populasi pengamatan yang dilakukan oleh dokter terbatas pada UPF Bedah. Dari hasil pengamatan perawat terlihat penurunan angka kejadian phlebitis dari 68.1991 dimana didapatkan kenyataan bahwa : 1. Surabaya. Managing Hospital Infection Control for Cost Effectiveness. Wirawan S. Dari kenyataan-kenyataan di atas jelaslah bahwa pelaksanaan program pengendalian infeksi nosokomial merupakan program untuk mengendalikan mutu pelayanan rumah sakit yang perlu dilaksanakan oleh setiap rumah sakit dalam ruang lingkup masing-masing. 82. Di dalam program ini juga dicoba untuk menganalisa manfaat program ini bagi penghematan dana.05% menjadi 7. Lipman Hasil Pengamatan Angka Kejadian Infeksi Luke Operasi untuk Kasus-kauu Bedah Terencana di Laboratorium-UPF. Haley RW. Surabaya. Apabila garis kendali diambil 1. AHA.74% dapat dihemat dana sekitar 90 juta rupiah (tahun 1986). Soetomo Surabaya. disebabkan oleh karena : 1) Pengamatan perawat hanya dilakukan selama penderita dirawat di rumah sakit.1986.). 5. Juni 1988.83% tanpa pembelian antibiotika berlebihan. kateter sebailc-baiknya. Bul PERSI 1984. Mekanlsine pemecahan masalah Setelah dilakukan perlakuan terhadap faktor tersebut. UNAIR/RSUD Dr. Faktor dominan keberhasilan program adalah motivasi petugas untuk melaksanakan standar perasat keperawatan. Wilson L Quality Assurance and Review. Snook ID.Gambar 2. Cermin Dunia Kedokteran No. Hal yang sama dapat dilihat pada hasil-hasil surveilan yang dilakukan oleh perawat. sedangkan pengamatan dokter dilakukan sampai penderita pulang. penurunan ini pada hakekatnya dapat terjadi karena setiap pentgas pelaksana pelayanan melaksanakan standar perasat pemasangan i. ongkos harian bat7c untuk pembelian antibiotdca maupun pemeriksaan laboratorium dan perawatan jugs menittgkat. (Ed.

Perawat dan dokter yang telah mengikuti Simposium Pengendalian Infeksi Nosokomial secara bergantian memberikan ilmu yang mereka peroleh lalu dilanjutkan dengan diskusi. kemudian pada bulan April 1991 menjadi 6 lantai dengan kapasitas 152 tempat tidur. dengan Sumber Daya Minimal tanggal 22 Februari 1992 di Gedung Perpustakaan Nasional Jakarta. Pendidikan dan pelatihan dalam bidang infeksi nosokomial. 1993 . Meskipun organisasi ini baru diresmilcan pada bulan Januari 1992. Jan Tambajong. Rumah Sakit ini diresmikan oleh Gubemur DKI. penyakit syaraf. mengikutsertakan perawat-perawatdan beberapadokterdalam Simposium Pengendalian Infeksi Nosokomial. Bapak Wiyogo Atmodarminto pada tangga125 Maret 1989. penyakit bedah dan sebagainya. tim ini sudah mulai berjalan meskipun dengan sepia keterbatasannya. Pencegahan infeksi nosokomial di RSMK terutama ditujukan untuk kepentingan operasional yang berkaitan dengan peningkatan mutu pelayanan (quality assurance) yang kini masih terbatas pada aspek surveilans. 4. Mengingat kembali tentangkemungkinan terjadinya infeksi nosokomial akibat tingkah laku personil rumah sakit (medik dan paramedik). maka sejak tahun 1990. Karena keterbatasan ruangan. Upaya pencegahan infeksi nosokomial di RSMK secara umum meliputi : 1. lalu bulan November 1991 menjadi 7 lantai dengan kapasitas 212 tempat tidur dan sejak bulan Februari 1992 menjadi 8 lantai dengan kapasitas 254 tempat tidur. Oleh sebab itu sejak bulan Desember 1991. 2. meskipun pada waktu itu dari pengamatan jarang sekali terdapat kasus infeksi nosokomial. 82. Maka pada bulan Januari 1992. Melihat perkembangan jumlah pasien serta kapasitas tempat tidur di RSMK. diresmikanlah organisasi tersebut dengan susunan sebagai berikut : Ketua Tim : Dr. Pemantauan terjadinya infeksi nosokomial. Hartati Kurniadi. UPAYA PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL Untuk memberikan kualitas pelayanan yang lebih baik terhadap pasien. Ketnudian para peserta simposium tersebut mencoba mempraktekkannya di RSMK. salah satu cara pencegahan infeksi nosokomial yang dilakukan adalah. Pada saat diresmikan. Keharusan untuk mentaati prosedur pelayanan yang telah ditetapkan. rumah sakit ini terdiri dari 5 lantai dengan kapasitas 100 tempat tidur. tetapi sejak bulan Desember 1991.Upaya Pencegahan Infeksi Nosokomial di RS Mitra Keluarga. Jakarta PENDAHULUAN Rumah Sakit Mitra Keluarga adalah rumah sakit swasta yang dibangun dan diasuh oleh Yayasan Mitra Keluarga. tidak ada ruangan khusus penyakit dalam. Pelaksana Ruangan : Perawat-perawat di Ruangan. Peningkatan kemampuan opersonil. dan untuk tetap menjaga mutu pelayanan rumah sakit maka pada bulan November 1991 dipikirkan perlunya membentuk suatu organisasi khusus untuk pencegahan infeksi Dibacakan pada Seminar Terbatas Pengendalian lnfeksi Nosokomial di Rwnah Saki. Ketua Pelaksana Harian : Dr. Pemantauan pelaksanaan prosedur pelayanan. mulai dipikirkan bentuk organisasi yang kira-kira cocok untuk RSMK. Makalah ini tidak akan membahas infeksi nosokomial dari segi ilmiahnya. Pelaksana Harlan : Para Koordinator Lantai. 3. maka Rumah Sakit Mitra Keluarga hanya membedakan ruangan-ruangan atas ruangan anak dan dewasa serta ruangan infeksi dan non infeksi. nosokomial. Dilakukan pengamatan tentang kemungkinan terjadinya 16 Cermin Dunia Kedokteran No. Tujuan surveilans tersebut adalah untuk memantau sejauh mana keadaan aseptik/steril di bagian-bagian tertentu dari RSMK telah tercapai agar dapat diambil langkahlangkah perbaikan manajemennya. Jakarta Hartati Kurniadi RS Mitra Keluarga. tetapi lebih merupakan suatu laporan tentang pengalaman kegiatan awal Tim Pencegahan Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit Mitra Keluarga.

Akan diusahakan lagi pendekatan secara berkelompok atau secara individu. MASALAH DALAM PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL DAN UPAYA UNTUK MENGATASINYA 1. 4. untuk iw tindakan desinfeksi perlu lebih diperhatikan. Penelitian terhadap infeksi nosokomial. Mengadakan evaluasi kebijaksanaan. ORGAMSASI PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL STRUKTUR ORGANISASI DIREKTUR Dr. selalu ada perbaikan tetapi belum 100% memuaskan. Menganalisa data. 3. Melihat hasil infeksi nosokomial yang cukup rendah. Cipto Mangunkusumo. Masih ada petugas yang belum mengikuti semua prosedur pelayanan yang telah ditetapkan. Memberikan laporan bulanan kepada Direktur mengenai hasil pencegahan infeksi nosokomial. Ella terdapat kecurigaan adanya infeksi nosokomial. Meskipun kultur tidak mendukung ke arah infeksi nosokomial. Memberikan saran kepada Direktur untuk pengembangan prosedur kerja dan perbaikan yang dianggap perlu. 2. 2.infeksi nosokomial di Iantai-lantai perawatan dan ICU. Hartati Kurniadi PELAKSANA HARIAN Koordinator Lantai Perawatan dan ICU PELAKSANA RUANGAN Para Perawat di Lantai Perawatan dan ICU TUGAS : DIREKTUR : 1. 3. 4. Melaksanakan prosedur kerja dengan sebaik-baiknya. Organisasi ini masih sangat muda sehingga masih harus belajar banyak pada ahlinya. PELAKSANA HARIAN (Koordinator Lantai/OK/ICU) : 1. apakah dokter-dokter RSMK sudah berani untuk percaya sepenuhnya akan tindakan asepsis dan antisepsis yang dilakukan di RSMK? Selain mungkin ada baiknya untuk mulai dipikirkan juga pemberian obat standar. 82. PEMBICARAAN Sampai saat ini. 3. Mengawasi pelaksanaan prosedur kerja di ruangan masingmasing. maka nama pasien tersebut dicatat di kolom yang tersedia sesuai dengan perlakuannya (kateterisasi/infus dan sebagainya). 2. maka dilakukan pemeriksaan laboratorium yang dianggap perlu. yang akan dicatat setiap hari adalah pasien barunya saja. Selama bulan Desember 1991. Dari formulir pencatatan kasus infeksi nosokomial. 2. RUANGAN : 1. PELAKSANA. tim pencegahan infeksi nosokomial RSMK masih harus belajar banyak agar dapat menyqjikan laporan dan data yang setepat mungkin. dari 223 operasi (seluruh operasi) terdapat satu kasus infeksi nosokomial (0.45%). Bertanggung jawab kepada Koordinator Lantai. Cermin Dunia Kedokteran No. 5. Melaksanakan kebijaksanaan berdasarkan prosedur kerja. Selain itu secara teratur diadakan uji sterilitas ruangan dan peralatan di RSMK. 3. Jan Tambajong KETUA PELAKSANA HARIAN Dr. Memberi koreksi bila petugas di ruangan tindakannya tidak sesuai dengan prosedur kerja. Mengumpulkan data dari ruangan. Dipikirkan kemungkinan untuk belajar dan langsung melihat cara pemantauan di RS Dr. Pengetahuan petugas rumah sakit mengenai infeksi nosokomial masih belum mantap. 6. Menentukan kebijaksanaan. Untuk itu sebagai langkah berikutnya adalah membetulkan laporan yang saat ini dibuat. 2. Bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan upaya pencegahan infeksi nosokomial. Yang dicatat sebagai infeksi nosokomial adalah semua kasus infeksi yang terjadi sekurang-kurangnya setelah 3 x 24 jam dirawat di rumah sakit atau pada waktu masuk tidak didapatkan tanda-tanda klinik dari infeksi tersebut. Setiap minggu memberikan laporan kepada Ketua Pelaksana Harian. KETUA PELAKSANA HARIAN : 1. kemudian bila ada yang menunjukkan infeksi nosokomial. tetap dicatat sebagai infeksi nosokomial. Dari hasil uji sterilitas. Koordinasi dengan para koordinator lantai perawatan dan ICU. 5. Koordinator lantai akan tetap memantau secara random dan sekaligus mengingatkan kembali prosedur yang seharusnya dilaksanakan. 1993 17 . Mengadakan pertemuan rutin minimal sebulan sekali.

Nosokomion berarti tempat untuk merawat/ rumah sakit. sangat disayangkan bila justru pasien atau pengunjung yang datang ke Rumah Sakit menjadi sakit karena mendapatkan infeksi yaitu Infeksi Nosokomial. Selain itu Infeksi Nosokomial juga dapat menyebabkan kematian. II Bekasi. Pada tahun 1956. 82.Kes/SK/II/79 RSU Bekasi ditetapkan sebagai RS tipe C. berdasarkan surveilans IN Luka Operasi (ILO) selama 3 bulan tahun 1991 didapatkan angka yang cukup tinggi. kamar suntik dan 1 kamar balut. Tugasnya mengendalikan masalah-masalah yang berkaitan dengan infeksi nosokomial. dengan SK. MENGENAI RUMAH SAKIT UMUM (TIPE C) KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BEKASI Sejarah Awal dari RS Bekasi bermula pada tahun 1939. Nosokomial berasal dari kata Nosos = penyakit dan Komeo = merawat. Khususnya bagi pasien yang memerrukan rujukan di daerah.Kes. termama pasien dapat menyebabkan bertambah tingginya biaya perawatan karena waktu rawat nginap dan pengobatannya yang memanjang. Jawa Barat PENDAHULUAN Tujuan umum Rumah Sakit Tipe C adalah peningkatan dan pemantapan pelaksanaan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan serta pemulihan pasien. Mengingat tujuan di atas. – Poliklinik spesialis (9 bidang spesialis). RI No. Jadi Infeksi Nosokomial dapat diartikan infeksi yang berasal atau terjadi di Rumah Sakit. Pelayanan yang dilakukan meliputi : – Pelayanan gawat darurat 24 jam. "Panitia Pengendalian IN" di RSU Bekasi dibentuk pada tahun 1990. – Pelayanan rawat nginap berkapasitas 171 tempat tidur. Ketenagaan yang ada sampai akhir tahun 1991 seluruhnya 308 orang. Walaupun begitu ketenagaan dokter masih bersifat part timer yang datang 2 x dalam seminggu. Setelah kemerdekaan RI. mempunyai luas bangunan keseluruhan ± 6270 m2 dari 10. yang melaksanakan 4 bidang spesialis dasar. di Indonesia angkanya masih beragam dan masih sulit untuk mendapatkan angka yang pasti. Diharapkan apa yang telah dilakukan panitia bisa menjadi basis dalam usaha pengendalian infeksi nosokomial di RSU Bekasi di masa-masa mendatang. – Pelayanan penunjang berupa Radiologi. Dalam usia yang relatif muda (2 tahun). 4 dokter gigi dan lain 18 Cermin Dunia Kedokteran No. poliklinik Bekasi mengalami perubahan menjadi RS Pembantu dengan adanya penambahan ruapg perawatan pasien. sejalan dengan perubahan status Bekasi dari Kewedanaan menjadi Kabupaten. Men. 17 dokter umum. belum banyak yang dilakukan mengingat keterbatasan-keterbatasan yang dijumpai. Kondisi saat ini Saat ini RS Bekasi yang terletak di jantung kota Kabupaten Bekasi dan berjarak ± 15 menit perjalanan ke arah timur dū Ibukota Jakarta. Pada tahun 1979.Pengendalian Infeksi Nosokomial di RSU Bekasi Dean Wahjudy Satyaputra Panitia Pemantauan Infeksi Nosokomial Rumah Sakit Umum Kabupaten DT. 151/ Men. Pada saat itu masih berupa poliklinik saja dengan sarana yang sangat minim yaitu berupa kamar periksa. Di RSU Bekasi sendiri. bila dikelompokkan berdacarkan jenis keahlian terdiri dari 17 dokter ahli.000 m2 lahan yang ada. Rumah Sakit Pembantu diubah menjadi Rumah Sakit Umum. tetapi usaha pengendalian tetap berjalan secara bertahap dengan menyesuaikan langkahnya sesuai situasi dan kondisi yang ada. sehingga harus mulai dilakukan "pengendalian" dengan seksama. Bila menyimak gambaran kejadian Infeksi Nosokomial. Laboratorium dan lainlain. 1993 . Infeksi Nosokomial dapat membebani kita semua.

Kami juga melibatkan kepala ruangan sebagai anggota panitia karena disadari akan pentingnya peranan perawat dalam usaha Pengendalian Infeksi Nosokomial. – dipimpin oleh kepala perawatan dibantu kepala-kepala ruangan. • Melakukan Surveilans IN.sebagainya. baik UPF. melalui SK Direktur No. PHIN : Panitia Harian IN. 3. Pala bulan Oktober 1990. Common cold. Sejak ditetapkan. saat ini sedang dipersiapkan : − kebijaksanaan penggunaan antiseptik dan desinfektan. dengan mempertimbangkan kondisi yang ada. Di antara 50 jam materi yang diberikan 10% adalah tentang STRUKTUR PIN DI RSU BEKASI Keterangan : PPIN : Panitia Pemantau IN. • Memberikan usulan/kebijaksanaan atas hasil pemeriksaan sampling lingkungan RS yang dilakukan setiap tahun. PENGENDALIAN INFEKSI NOSOKOMIAL RUMAH SAKIT UMUM BEKASI Infeksi Nosokomial sebetulnya bukan hal baru. – tugasnya membuat kebijaksanaan upaya PIN. Struktur kepanitiaan PIN seperti di atas dibuat dengan mengadaptasi bentuk yang ada di RSHS. EVALUASI Selama pelaksanaan kegiatan Pengendalian IN. Kenyataan bahwa penyakit infeksi masih tinggi kejadiannya di Rumah Sakit Bekasi. 2. Instalasi maupun unsur-unsur lainnya. TBC. − kebijaksanaan kamar operasi. – Lima penyakit utama yang ditemukan di rawat jalan adalah : 1. kegiatan tersebut adalah : • Mempublikasikan Infeksi Nosokomial pada rapat koordinasi di lingkungan RSU Bekasi. Penyakit mata dan adnexanya. Penyuluhan sekali seminggu dengan mated yang bervariasi. Pada kesempatan ini. − kebijaksanaan isolasi ruang perawatan. Tonsilitis.549 orang. 82. II Bekasi. sudah sejak lama disadari oleh pewgas-petugas di lingkungan RS kami. – diketuai oleh tenaga medis yang telah mendapatkan pelatihan PIN. panitia telah melakukan berbagai kegiatan sesuai dengan perencanaan yang dibuat. 1993 19 . Penyakit saluran nafas. ketua PPIN mengemukakan informasi mengenai PIN. yang maksudnya untuk meningkatkan keterampilan tenaga perawat RS. Berdasarkan data yang diambil dari laporan RSU Bekasi tahun 1991 kami mencatat : – Jumlah kunjungan pasien rawat jalan sebanyak 96. Bagi pengunjung RS juga penyuluhan dilakukan melalui papan informasi yang disediakan di ruangan tunggu poliklinik. 5. – Rata-rata BOR sebesar 70. • Mempublikasikan IN pada kesempatan pelatihan proses keperawatan bagi kalangan paramedis. TPIN : Tim Pengendali IN. Demam tifoid/sebab lain. • Melengkapi kebijaksanaan-kebijaksanaan umum Rumah sakit. Jumlah tenaga yang telah mendapat Pelatihan Pengendalian Infeksi Nosokomial berjumlah 2 orang dokter dan 2 orang paramedis. 4. panitia masih menjumpai kendala-kendala. hal ini memudahkan dalam pelaksanaan Surveilans. • Mempersiapkan pedoman prosedur-prosedur tetap. Penyakit saluran cema lainnya. sebab mereka yang lebik erat kaitannya dengan perawatan. Panitia yang dibentuk perlu terdiri dad semua unsur-unsur yang ada di lingkungan Rumah sakit. 5. – anggota lain adalah dari unsur keperawatan. • Bekerjasama dengan PKMRS dalam acara penyuluhan kepada pengunjung/penunggu pasien tentang masalah-masalah yang bersangkutan dengan terjadinya Infeksi Nosokomial. Trauma kepala. Mengingat ruang lingkup kerja yang sangat luas. 2. • Setiap bulan Direktur RS mengadakan rapat dengan semua kepala UPF. • PHIN sendiri secara berkala mengadakan pertemuan untuk membahas masalah-masalah IN. Diare dan gastroenteritis. di kalangan panitia sendiri masih belum Cermin Dunia Kedokteran No. sebagai tindak lanjut pelatihan PIN yang diselenggarakan di Bandung. Perlu diketahui di RSU Bekasi sampai saat ini telah dilakukan 5 gelombang pelatihan proses keperawatan. 3. rata-rata LOS = 3. Infeksi Nosokomial yang diberikan oleh dokter ataupun perawat dari PHIN.67%. Instalasi dan pejabat struktural lainnya. 4.96 hari. Diare dan gastroenteritis. – diharapkan sebagai motor dari kegiatan PIN. – anggotanya adalah waki! dari Unit-unit/unsur yang terkait. misalnya saja : • Informasi IN. Yang ditemukan di rawat nginap : 1. tetapi usaha yang dilakukan kurang terarah sehingga hasilnya kurang memadai. Luka Operasi (lampiran). Panitia itu selanjutnya bertanggung jawab atas segala aspek yang mempengaruhi terjadinya Infeksi Nosokomial termasuk usaha memperkecil angka kejadian dan mencegah Infeksi Nosokomial di Rumah sakit. 848/ 2378/Kepeg dibentuklah Panitia Pengendali Infeksi Nosokomial di RSU Kabupaten DT.

ada pemikiran untuk mempersiapkan tenaga yang khusus berkonsentrasi pada pengendalian IN (ICN) yang dikaitkan dengan kedudukan struktural di keperawatan. padahal untuk memperbaiki/penyediaannya cukup mahal. perhatian pada Infeksi Nosokomial semakin besar. • Sistim informasi RS yang berjalan perlu ditingkatkan. Keterlibatan semua unsur sangat diperlukan. sebagaimana diketahui permasalahan PIN begitu lugs dan kompleks. harus disadari bahwa Pengendalian IN harus mulai dilaksanakan secara profesional. • Panitia adalah tenaga-tenaga fungsional yang mempunyai kesibukan sehingga kendala waktu sulit ditanggulangi. dengan demikian petugas tersebut bisa mencurahkan perhatian sepenuhnya pada masalah IN. PENUTUP Dari kenyataan yang ada. Kendala yang ada dicoba tanggulangi dengan memperhatikan segi-segi lainnya. • Masih diperlukan usaha memotivasi tenaga kesehatan dalam pengendalian IN. Untuk membuat suatu kebijaksanaan dalam Pengendalian IN perlu dukungan data yang akurat dari berbagai unsur di RS.seragam. Dengan dukungan pimpinan dan staf RS diharapkan pertimbangan PIN dapat dimasukkan ke dalam perencanaan RS secara keseluruhan. karena penyelenggaraan Pengendalian IN harus dilaksanakan secara integratif dan lintas program. Di RSU Bekasi dengan segala kondisi yang ada. agak sulit mengharapkan input/ide dari Unit/Instalasi yang bersangkutan guna melaksanakan kegiatan PIN. . Ada beberapa kondisi prasarana dan sarana yang kurang memadai. Dipandang dari garis operasional juga bisa lebih terkendali. • Selama ini Pengendalian IN di RS Bekasi dititik beratkan pada kegiatan yang tidak memerlukan banyak dana.

pengembangan teknologi pengamatan infeksi nosokomial. coli. Pseudomonas. telah dilakukan pemeriksaan mikrobiologis terhadap udara ruang operasi dan bebērapa jenis ruang perawatan.infeksi nosokomial dapat meliputi: pengenalan konsep survai epidemiologi di rumah sakit untuk pencegahan dan penanggulangan infeksi nosokomial. Pasien bedah merupakan pasien yang mempunyai risiko tinggi untuk mendapatkan infeksi nosokomial. Jakarta ABSTRAK Untuk mendapatkan gambaran mengenai sumber penularan kejadian infeksi nosokomial di rumah sakit. namun insiden infeksi nosokomial masih harus mendapat perhatian lebih banyak. Staphylococcus merupakan bakteri penyebab infeksi nosokomial yang paling banyak mencemari udara ruang operasi.4% tangan petugas rumah sakit (perawat) diketahui terkontaminasi oleh beberapa jenis mikroba penyebab infeksi nosokomial seperti E.3%(1).3-18. Beberapa negara melaporkan bahwa rata-rata 5-10% penderita yang dirawat di rumah sakit akan mendapat infeksi yang ditularkan oleh seseorang atau dari suatu alat selama ia dirawat. penelitian KLB (Kejadian Luar Biasa) infeksi Cermin Dunia Kedokteran No. Angka infeksi nosokomial untuk luka bedah di Indonesia dilaporkan sebesar 2. Proteus. Angka kuman pada beberapa ruang perawatan berkisar antara 10-300 CPU/15'. pengumpulan data rutin untuk memperoleh gambaran tentang berbagai aspek epidemiologi infeksi nosokomial. 1993 21 . 5-19% pen- derita yang dioperasi mengalami luka postoperasi dengan frekuensi infeksi luka yang berbeda tergantung dari jenis operasi yang dilakukan. Staphylococcus. PENDAHULUAN Walaupun pemeliharaan kesehatan saat ini telah menjadi lebih baik antara lain karena telah digunakannya cara-cara baru dan modem untuk membantu menegakkan diagnosis dan pengobatan penyakit. Sebesar 34. Public Health Laboratory Service (1960) menulis. 82. Dalam upaya menanggulangi kejadian infeksi nosokomial. Streptococcus dan spesies jamur Aspergillus sp. lingkungan dan mikroba yang satu sama lain sating terkait. Dalam hubungan ini kegiatan survai epidemiologi yang diarahkan untuk survai . Di swiping im diperiksa pula hygiene petugas melalui pemeriksaan terhadap tangan (hand swab) perawat. serta peralatan bedah. Beberapa jenis perlengkapan bedah d>7cetahui tidak steril dan ditemukan mengandung bakteri. lebih-lebih apabila dirawat di rumah sakit dengan tingkat hygiene lingkungan rumah sakit yang masih belum sesuai dengan yang dipersyaratkan. tinjauan epidemiologi terhadap masalah pencemaran dan infeksi nosokomial perlu dilakukan karena pada dasarnya kejadian infeksi nosokomial melibatkan unsur manusia.Sterilitas Udara Ruang Operasi dan Peralatan Bedah serta Higiene Petugas Beberapa Rumah Sakit di Jakarta Pudjarwoto Trlatmodjo Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Departemen Kesehatan RI. Dari hasil pemeriksaan tampak bahwa angka kuman pada beberapa ruang bedah mencapai lebih dari 5 CPU/15' sehingga melebihi ambang batas yang ditetapkan.

Cara pengambilan sampel Pengambilan sampel dilakukan secara aseptis. Kemudian lidi kapas segera dimasukkan ke dalam media PBS yang telah disiapkan dalam tabung reaksi (tube). II. Dalam identifikasi ini pertama dilakukan kultur terhadap masing-masing sampel dengan media spesifik. Beberapa jenis kuman yang terdeteksi mencemari ruang bedah adalah Staphylococcus sp dan kuman gram negatip yang dalam pemeriksaan ini belum jelas nama genusnya. – Udara ruang bedah/ruang operasi. Ruang bedah RS. VI untuk mendeteksi sampai seberapa besar pencemaran yang terjadi oleh mikroba penyebab infeksi nosokomial. ruang anak-anak. Nilai pencemaran dari dua kamar bedah tersebut belum tentu memenuhi standar karena waktu penangkapan kuman hanya berlangsung 15 menit sedangkan persyaratan yang ditetapkan 30 menit. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini telah dapat diperiksa sejumlah 105 spesimen yang terdiri dari sampel ruang bedah dan ruang perawatan 30 spesimen. – Usap tangan (hand swab) personil rumah sakit yang sedang dinas di bangsal-bangsal perawatan.nosokomial yang terjadi di beberapa rumah sakit serta melaksanakan berbagai survai dan studi dalam rangka pengumpulan data dasar infeksi nosokomial(2). II mempunyai angka kuman sama yaitu 3 CPU/15'. III dengan angka kuman sebesar 5 CPU/15'. IV 5 7 33 12 24 37 36 89 187 21 34 111 RS. dalam makalah ini disajikan data hasil studi mengenai pencemaran mikroba pada beberapa peralatan bedah. Untuk mendapatkan gambaran mengenai sumber-sumber penularan dan kemungkinan rute penyebaran kuman penyebab infeksi nosokomial sebagai salah satu upaya pengumpulan data dalam pemecahan masalah infeksi nosokomial. alatalat. Berdasarkan pada persyaratan tersebut di atas maka dapatlah dikemukakan bahwa 4 ruang bedah dari 4 rumah sakit masih belum memenuhi standar mikrobiologi yang ditetapkan. sarung tangan. udara ruang operasi dan usap tangan petugas (hand swab) yang berasal dari 6 rumah sakit di Jakarta yaitu RS. Pengambilan sampel udara dilakukan dengan media Agar Darah dalam petridisk yang dibuka selama 15 menit dalam ruang yang diperiksa. Identifikasi mikrobiologi Dilakukan dengan menggunakan metode yang telah dibakukan oleh WHO (1987)(4) dan Manual for Clinical Microbiology(5). III. Besarnya pencemaran mikroba pada ruang bedah dan bebe rapa ruang perawatan dari 6 rumah sakit di Jakarta berda sarkan jumiah mikroba yang tertangkap dengan media Agar Darah selama 15 menit (N = 30) Angka kuman (dalam CPU/15 menit) RS.I s/d RS. V 8 35 300 32 80 455 Range RS. VI 7 3-8 32 12-35 48 19-300 96 74 257 10-96 28-89 3-300 Ruang Bedah Kebidanan Penyakit dalam Perawatan bayi Perawatan anak Total Keterangan : N RS. alat-alat dan perlengkapan bedah dan personil rumah sakit (perawat) yang sering mengadakan kontak langsung dengan pasien. ruang bedah RS. VI. dan lain-lain(3). III RS. I dan RS. V dan RS. ruang bedah RS. Pemeriksaan milcrobiologis dilakukan terhadap beberapa jenis sampel berikut ini : – Alat-alat untuk keperluan operasi pasien seperti gunting. 82. 2. VI dengan angka kuman 7 CPU/15' (tabel 1). I. I 3 18 53 30 34 138 = = = RS. Sampel alatalat dan perlengkapan bedah diambil dengan cara swab. RS. dan lain-lain. Ambang batas pencemaran mikroba yang diperkenankan untuk ruang bedah adalah 5 CPU/15'. serta dapat pula terjadi dengan cara wound precaution yaitu melalui perawatan postoperasi. baju operasi. IV. 3. III dan RS. ruang bayi. Dua ruang bedah yang tidak tercemar Staphylococcus adalah ruang bedah dari RS. Di sini Staphylococcus ditemukan pada sebagian besar ruang bedah (4 ruang bedah). BAHAN DAN CARA 1. inhalasi. alat-alat untuk tindakan invasif. 1993 . Beberapa cara transmisi penyebab infeksi nosokomial adalah dengan cara air-borne yaitu melalui udara. kain kasa. Di samping itu transmisi kuman dapat berlangsung dengan cara contact spread yaitu mclalui tangan petugas. V dengan angka kuman 8 CPU/15' dan ruang bedah RS. yaitu dengan lidi kapas steril yang terlebih dahulu dibasahi dengan PBS (Phosphate Buffer Saline) kemudian diusapkan pada alatalat yang diperiksa. RS. hand swab dari perawat 64 spesimen dan usap alat dan perlengkapan bedah 11 spesimen. Mikroba lain yang ditemukan adalah jenis jamur Aspergillus sp. Dari tahap kultur kemudian dilakukan pemeriksaan mikroskopis melalui pewarnaan gram dan uji biokimia serta uji serologi untuk identifikasi jenis-jenis mikroba tertentu. II 3 25 19 10 28 85 RS. Angka pencemaran ruang bedah dari 6 ruang bedah yang berasal dari 6 numah sakit adalah berkisar antara 3–8 CPU/15'. Cara yang sama juga dilakukan untuk pengambilan sampel dari hand swab. RS. tetapi nilai pencemarannya di atas ambang batas yang dipersyaratkan (tabel 1). RS. VI CPU Jumlah ruang diperiksa Kode rumah sakit yang diteliti Colony Plate Unit 22 Cermin Dunia Kedokteran No. ruang penyakit dalam. Transportasi sampel ke laboratorium dengan menempatkan sampel dalam boks berisi es. serta beberapa ruang perawatan seperti ruang kebidanan. IV dengan angka kuman 7 CPU/15'. handuk dan lain-lain yang berada dalam keadaan siap pakai. Kriteria bahan penelitian Obyek penelitian adalah udara ruang operasi. Tabel 1. Ke empat ruang bedah tersebut adalah ruang bedah RS.

Dari 5 jenis ruang perawatan yang diperiksa yaitu ruang kebidanan, ruang penyakit dalam, ruang perawatan bayi dan ruang perawatan anak tampak adanya variasi nilai pencemaran mikroba. Angka pencemaran terendah diketahui terdapat pada ruang kebidanan dengan nilai pencemaran sebesar 12–35 CPU/ 15', sedangkan angka pencemaran tertinggi terdapat pada ruang penyakit dalam dengan nilai pencemaran sebesar 19–300 CPU/15'. Dilihat dari jenisnya Staphylococcus merupakan mikroba yang paling dominan mencemari berbagai ruang perawatan tersebut. Beberapa jenis mikroba lain yang ditemukan antara lain adalah Streptococcus dan bakteri gram negatip yang dalam pemeriksaan ini belum jelas nama genusnya, serta beberapa jenis jamur yaitu Aspergillus sp dan Mucor sp. Dilihat dari jumlah mikroba pencemar per rumah sakit tampak pula bahwa angka pencemaran terkecil terdapat pada RS. II, sedangkan angka pencemaran terbesar dijumpai pada RS. V. Petugas rumah sakit seperti dokter, bidan, perawat dan lainlain dapat merupakan sumber atau media transmisi/penularan kuman-kuman patogen, karena di samping dapat berperan sebagai carrier dari bakteri tertentu, dapat pula membawa kuman karena kontak dengan para pasien yang telah terinfeksi sebelumnya; atau tangan petugas terkontaminasi oleh kuman yang mengandung CFA (Colonizing Factor Antigen) dan bila kuman ini menginfeksi seseorang dapat menjadi patogen di dalam tubuh. Dari hasil pemeriksaan mikrobiologis terhadap tangan petugas rumah sakit tampak bahwa sebesar 34,4% tangan petugas (perawat) membawa bakteri penyebab infeksi nosokomial (tabel 2). Beberapa jenis kuman yang terdeteksi mengkontaminasi tangan petugas antara lain adalah E. coli, Staphylococcus, Pseudomonas, Proteus, Streptococcus dan Jamur. Di sini ditemukan pula adanya kontaminasi ganda pada 3 orang petugas, yaitu satu petugas terkontaminasi oleh Staphylococcus + Proteus dan dua orang petugas oleh Staphylococcus + Jamur Aspergillus sp. Staphylococcus merupakan bakteri yang paling banyak mencemari tangan petugas yakni sebesar 18,7% (12 dari 64). Kemudian berturut-turut Pseudomonas 6,2%, Proteus 4,6%; E. coli dan Streptococcus serta Jamur Aspergillus masing-masing sebesar 3,1% (gambar 1). Pola infeksi nosokomial dapat berubah dari waktu ke waktu dan perubahan tersebut terjadinya bersamaan dengan pemakaian serta makin meluasnya penggunaan antibiotik(6). Sebelum tahun 1950-an yakni pada waktu antibiotik Penicillin barn dipakai, infeksi nosokomial terutama disebabkan oleh Pneumococcus dan Streptococcus. Kemudian sejak tahun 1950-an yakni setelah meluasnya pemakaian antibiotik Penicillin, dilaporkan penyebab utama infeksi nosokomial adalah bakteri gram positip Staphylococcus yang kebal (resisten) terhadap Penicillin dan sampai kini diperkirakan masih merupakan penyebab infeksi nosokomial walaupun telah banyak bermunculan jenis antibiotik baru. Hal ini terbukti dengan tingginya angka pencemar-

Tabel 2.

Distribusi kuman penyebab infeksi nosokomial yang terdeteksi pada usap tangan (hand swab) petugas rumah sakit (perawat) yang bertugas di beberapa rumah sakit di Jakarta (N = 64) Jumlah petugas diperiksa 11 Jumlah petugas tercemar 3 Mikro organisms Staphylococcus (2) Pseudomonas (1) Staphylococcus + Proteus (1) Proteus (2) Staphylococcus (1) Staphylococcus (2) Staphylococcus + Jamur (2) Pseudomonas (1) Staphylococcus (1) Pseudomonas (1) E. coli (1) Streptpcoccus (2) Proteus (1) Staphylococcus (1) Staphylococcus (2) Pseudomonas (1) E. coil (1)

Kode Rumah Sakit RS. I

RS. II RS. III

10 14

3 5

RS. IV RS. V RS. VI

10 9 10

3 4 4

Jumlah % Keterangan : N RS. I s/d RS. VI = =

64 100

22 34,4

Total petugas diperiksa Kode umiak sakit yang diteliti

Gambar 1. Jenis bakterl penyebab infeksi nosokomial dan besarnya pen cemaran (dalam %) pada usap tangan (hand swab) petugas rumah sakit (perawat) dl beberapa rumah sakit di Jakarta (N = 64)

Keterangan : A = Streptococcus B = Proteus C = Pseudomonas D = Staphylococcus E = E. coli

= 3,1% = 4,6% = 6,2% = 18,7% = 3,1%

N = Jumlah sampel diperiksa = 64

Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993 23

an oleh Staphylococcus di lingkungan rumah sakit. Angka kejadian infeksi nosokomial yang disebabkan oleh Staphylococcus memerlukan penelitian yang lebih mendalam di lingkungan perawatan. Alat-alat dan perlengkapan operasi bedah dapat menjadi alat transmisi kuman-kuman penyebab infeksi nosokomial; dan angka infeksi nosokomial untuk luka bedah di Indonesia dilaporkan cukup tinggi (2,3–18,3%). Tabel 3 memberikan informasi tentang kondisi sterilitas alat-alat dan perlengkapan operasi bedah yang ada di beberapa rumah sakit di Jakarta. Di sini terlihat bahwa masih terdapat alat-alat dan perlengkapan bedah yang slap pakai tetapi dalam keadaan tidak steril; dari 11 jenis perlengkapan bedah yang diperiksa terdapat 4 jenis yang terdeteksi tidak steril: Beberapa kemungkinan penyebabnya adalah proses sterilisasi yang tidak sempurna atau penanganan yang kurang hygienis. Apabila keadaan tidak steril ini akibat dari cara sterilisasi yang tidak sempllma, kiranya beberapa hal penting yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan sterilitas yang optimal adalah tercapainya holding time (waktu sterilisasi) dan meratanya temperatur ke setiap bagian yang disterilisasi.
Tabel 3. Kondisi aterilitas beberapa Jenis peralatan operasi bedah dari beberapa rumah sakit dl Jakarta Jumlah Kuman/swnb 0 0 0 2x104 0 3x104 0 35x104 2x104 0 0 Mikro organisme – – – Bakteri gram (+) kokus – Bakteri gram (–) batang – Bakteri gram (+) kokus Bakteri gram (+) kokus – – Pertimbangan Stern Steril Steril Tidak steril Steril Tidak steril Stern Tidak steril Tidak steril Steril Steril

operasional yang rendah. Temperatur dan holding time yang perlu dipērhatikan dalam sterilisasi dengan autoclave adalah 132°C selama 2 menit, 121°C – 12 menit dan 116°C – 30 menit. Dengan memperhatikan temperatur dan holding time secara tepat seperti tersebut di atas maka diharapkan diperoleh kondisi sterilitas yang optimal pada alat-alat yang disterilkan. Apakah tingginya angka infeksi nosokomial pada pasien luka bedah ini adalah akibat'dari perlengkapan dan alat operasi bedah yang kondisi sterilitasnya kurang memadai? Hal ini perlu diteliti dari berbagai aspek secara lebih mendalam. KESIMPULAN DAN SARAN – Bakteri gram positip Staphylococcus merupakan salah satu mikroba penyebab infeksi nosokomial yang dominan sebagai pencemar pada anggota tubuh/tangan petugas rumah sakit/perawat, udara di berbagai ruang perawatan seperti ruang perawatan bayi, kebidanan, anak, penyakit dalam dan lain-lain. Bahkan udara pada beberapa ruang operasi/ruang bedah dan beberapa peralatan bedah menunjukkan indikasi tidak steril dan tercemar Staphylococcus. – Beberapa jenis mikroba lain yang terdeteksi mencemari udara dan peralatan medis serta petugas antara lain adalah E. coli, Pseudomonas, Streptococcus, Proteus dan Jamur. – Proteksi terhadap para pasien yang mempunyai risiko tinggi terhadap kejadian infeksi nosokomial perlu dilakukan secara lebih saksama. Di samping itu peningkatan hygiene di rumah sakit dengan cara meningkatkan tindakan sterilisasi, desinfeksi dan antisepsis perlu dilakukan secara lebih saksama, tidak terkecuali peningkatan cara cuci tangan para petugas/ perawat.

Nama/Asal bahan Instrumen/Ruang OK darurat V Kain kasa/Ruang OK Pam Kain kasa/Ruang instalasi bedah Handuk/Instalasi bedah Sarung tangan/ Instalasi bedah Baju operasi/ Instalasi bedah !Cain kasa/ Kebidanan Alat operasi/ OK mata Instmnen/ Instalasi bedah Kain kasa/ Bedah umum Mat operast/ OK Bedah sesar

KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Effendy A, Ibrahim R, Mubarak Z Insiden infeksi nosokomial di RSU DR. Z. Abidin Banda Aceh (Penelitian Pendahuluan). MKT 1988; 3(1): 13–5. Surachmad S, Sutoto, Josodipuro K. Kumpulan Makalah Penataran Isolasi Penderita Penyakit Menular (Infeksi Nosokomial dan Pencegahannya). Dep Kes RI, Jakarta 1984. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Lingkungan Pemukiman. Pentaloka Survailans Epidemiologi bagi Para Kepala Dinas Kesehatan Dati II. Dep Kes RI, Jakarta 1990. WHO, CDD Program for Central Diarrhoeal Diseases. Manual for Laborstot), Investigation of Acute Enteric Infection, 1987. Lennette EH, Ballows A, Flimsier JW, Shadomy HJ (eds). Manual for Clinical Microbiology. American Society for Microbiology Association PubL Washington, 1985. Usman Chatib Warsa. Aspek Mtkrobiologi Infeksi Nosokomial. Maj Informasi Kesehatan No. 19, Januari 1987. Dibawakan Pada Seminar Penyakit Menular di Jakarta, 4 Febtuart 1986. Janes, Sototo, Punjabi NH. Infeksi Nosokomial Saluran Cema (INSC) pada Penderita Anak di Rumah Sakit Khusus Penyakit Menular, Jakarta. Medika (Sept.) 1985; 11(a): 851–8.

Salah satu cara sterilisasi yang digunakan di rumah sakit adalah dengan autoclave (panas uap). Cara ini paling umum digunakan karena dapat diandalkart, mudah pelaksanaannya dan dapat diterapkan pada hampir 80% kebutuhan bahan yang ada serta biaya

24 Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993

Peranan Laboratorium dalam Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi Nosokomial
Dalima ArI Wahono Astrawlnata Panitia Infeksi Nosokomial Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo/ UPF Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta

PENDAHULUAN Pengendalian infeksi nosokomial (IN) merupakan tanggung jawab suatu panitia/tim pencegahan dan pengendalian penyakit infeksi di Rumah Sakit (RS). Salah satu aspek penting dalam penanggulangan IN adalah surveillans, di mana laboratorium turut berperan serta(1,2). PERAN UNIT LABORATORIUM Laboratorium Rumah Sakit, khususnya laboratorium mikrobiologi mempunyai peranan yang cukup penting dalam membantu program surveillans, dan pencegahan serta penanggulangan infeksi nosokomial. Peran tersebut mencakup beberapa hal, antara lain(2,3) : • Kerja sama dalam suatu tim/panitia penanggulangan infeksi RS • Identifikasi secara tepat mikroorganisme penyebab IN • Pelaporan berkala data pola kuman RS dan pola antibiogram • Pelacakan secara tepat penyebab infeksi tertentu RS • Melakukan pemeriksaan mikrobiologik bilamana diperlukan terhadap petugas atau lingkungan Rumah Sakit Dalam hal penanggulangan infeksi nosokomial, peran laboratorium yang cukup penting dapat berjalan dengan baik bilamana beberapa anggota tim penanggulangan infeksi nosokomial berasal dari unit laboratorium. Anggota tim tersebut harus yang betul-betul mengetahui kemampuan pemeriksaan mikrobiologik di laboratorium rumah sakitnya sehingga dapat menjalankan tugas sesuai kemampuan dan sarana yang tersedia. Komunikasi yang lancar dan hubungan yang baik antara bidang perawatan (Dokter/Perawat), Tim Pelaksana Harian Penanggulangan IN dan petugas laboratorium merupakan modal utama berjalannya suatu program penanggulangan infeksi nosokomial; terlebih lagi bilamana program tersebut didukung sepenuhnya oleh kebijakan rumah sakit(1,3,4).

PERANAN ANGGOTA PANITIA Anggota panitia yang berasal dari unit laboratorium (Dokter Spesialis Patologi Klinik, Ahli Mikrobiologi/Biologi, Analis Laboratorium Kesehatan) harus dapat menyumbangkan pikiran dan pendapatnya dalam menyusun program penanggulangan IN, terutama yang menyangkut pemeriksaan laboratorium. Mereka harus dapat menekankan bilamana pemeriksaan perlu dilakukan dan apakepentingannya serta bilamana pemeriksaan tersebut tidak perlu dilakukan. Hal ini panting, terutama bila menyangkut soal pembiayaan yang harus dipikul oleh rumah sakit. Selain itu anggota tim dari unit laboratorium bersama-sama anggota tim yang lain secara berkelanjutan perlu memberi penataran dan penjelasan khususnya mengenai cara-cara pengambilan dan pengiriman bahan yang tepat, dan cara-cara pencegahan infeksi nosokomial kepada petugas RS yang lain. Sehingga secara seluruh program penanggulangan infeksi nosokomial melalui pengumpulan data maupun tindakan pencegahan dapat berjalan dengan baik(1,3,5). TUGAS LABORATORIUM RS Khususnya dari segi pemeriksaan, laboratorium RS dituntut untuk dapat mengidentifikasi mikroorganisme penyebab secara benar dalam waktu sesingkat mungkin. Hasil biakan yang dikeluarkan harus dapar dijamin telah melalui tahap prainstrumentasi, instrumentasi dan pasca instrumentasi yang benar. Pada tahap prainstrumentasi yang perlu diperhatikan adalah : – tindakan a/antisepsis yang benar – cara pengambilan bahan yang baik pemilihan bahan pemeriksaan yang sesuai – cara pengiriman yang tepat Dalam hal ini termasuk menyiapkan wadah penampung steril dan mengetahui cara penyimpanan yang benar sebelum dikirim.

Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993 25

3). Hal ini diperlukan untuk melihat efektivitas antimikroba yang dipakai dan menghentikan penggunaan antimikroba yang sudah tidak efektif lagi. Pada keadaan tertentu. besar kemungkinan penderita yang bersangkutan masih dalam perawatan di rumah sakit(3. nilai informasi yang didapat juga tidak banyak manfaatnya. dari waktu ke waktu perlu diperiksa sterilitasnya. meningitidis dalam cairan otak – M. pyogenes pada apusan tenggorok Hasil tersebut dilaporkan sebelum hasil lengkapnya selesai. dapat ditentukan tindakan pencegahan selanjutnya. sama sekali tidak dibenarkan. karena bila tidak. selain membuang dana yang besar. 82. data itu tidak akan ada manfaatnya lagi. 1993 . Dalam hal ini tim penanggulangan IN akan terlibat kerjasama dengan panitia atau komisi antibiotika dan terapi RS.6). PELAPORAN DATA Pelaporan data yang periodik atau berkalapun harus segera dapat disebar luaskan. Di sini letak pentingnya sarana komunikasi antara laboratorium dengan ruang perawatan(2.6). DATA LABORATORIUM Data laboratorium merupakan salah satu data penting dalam surveilans infeksi nosokomial. Pemeriksaan lingkungan atau petugas rumah sakit akan bermanfaat bila memang dibutuhkan.3.3).Pada tahap instrumentasi laboratorium RS dituntut memiliki kemampuan : – cara-cara pemeriksaan yang benar – sesuai dengan prosedur yang seharusnya – dijamin dengan pemantapan mutu secara berkala Sedangkan tahap pasca instrumentasi menuntut : – ketelitian pencatatan – kemampuan pengolahan dan penyimpanan data – kecepatan penyebaran informasi ke pihak-pihak yang memerlukan Anggota tim dari laboratorium harus mampu menilai hasil yang dikeluarkan oleh laboratoriumnya dari sudut pandang epidemiologi dan infeksi nosokomial. Dalam hal mikroorganisme penyebab infeksi. hal ini penting karena bila masih diperlukan data tambahan. tetapi mungkin juga diperlukan pemeriksaan terhadap petugas dan lingkungan RS. sehingga pada akhimya akan menyederhanakan jenis antimikroba yang dipakai. Surveilans dapat dilakukan secara aktif yaitu dengan memeriksa bahan yang telah ditetapkan oleh panitia pengendalian IN atau secara pasif dengan mengevaluasi hasil yang diperoleh dari pemeriksaan seharihari(1. 26 Cermin Dunia Kedokteran No. pemborosan tenaga dan waktu. maka diperlukan identifikasi dan pelaporan yang cepat dan tepat. Tindakan pencegahan harus dapat dilakukan secepatnya berdasarkan penyebab yang ada dan permasalahan yang ditimbulkan.2. misalnya pada saat terjadi kejadian luar biasa di ruang operasi. maka pihak laboratorium RS harus siap dengan petugas dan tatacara penanggulangan KLB tersebut. aureus dari neonatus – S. Dalam hal ini terutama dituntut kecepatan dalam diagnosis penyebab kejadian dan pola penyebarannya.6). alat-alat endoskopi atau tuba endotrakeal(2. sehingga pada akhirnya ketajaman data surveilans dapat diperoleh dan dipakai sebagai dasar untuk penyusunan program selanjutnya(1.3). tbc pada petugas RS – S. khususnya laboratorium mikrobiologi terhadap biakan kuman dari bahan yang diperiksa. Beberapa hal yang perlu diperiksa bila terjadi KLB di ruang operasi antara lain : – permukaan meja operasi – peralatan-peralatan lain dalam ruang operasi – lantai – udara – air Sebaliknya. Berdasarkan data laboratorium dari tim IN maka komisi antibiotika akan dapat menentukan pemilihan jenis antimikroba yang masih boleh digunakan dan yang perlu ditarik. Selain itu pola resistensi terhadap antimikroba yang digunakan RS tersebut untuk masing-masing mikroorganisme perlu dilaporkan dari waktu ke waktu.3). mencegah pemborosan dana dan menekan tingkat resistensi kuman(1. atau peningkatan infeksi nosokomial di suatu ruang perawatan. EVALUASI DATA Anggota tim unit laboratorium juga dituntut untuk dapat mengevaluasi dan menganalisa kumpulan data laboratorium mikrobiologi sehingga pola mikroorganisme penyebab infeksi di RS tersebut dari waktu ke waktu dapat diketahui dan dipelajari. Hasil yang keluar harus mampu dipastikan betul-betul sebagai penyebab infeksi dan bukan suatu kontaminan atau suatu kolonisasi belaka. Berdasarkan gambaran angka kejadian tersebut. Selain itu alat-alat yang tidak dapat disterilkan dengan autoklaf tetapi menggunakan larutan desinfektan.2. Hal ini tentu harus diperlakukan secara khusus dan di luar kegiatan rutin yang memang sudah ada(2. beberapa hal yang perlu dilakukan secara terus menerus adalah memeriksa sterilitas alat-alat perlengkapan operasi yang disterilkan di pusat sterilisasi rumah sakit atau pemeriksaan berkala formula makanan bayi. Hal ini berlaku untuk peralatan anestesi. KEJADIAN LUAR BIASA Pada kejadian luar biasa (KLB) di mana terjadi peningkatan tiba-tiba angka kejadian infeksi nosokomial. PEMERIKSAAN LINGKUNGAN RS Pemeriksaan rutin atau periodik terhadap petugas atau lingkungan RS tanpa indikasi. laboratorium dituntut untuk segera melaporkan bilamana ditemukan kuman-kuman patogen seperti : – N. Pemeriksaan tidak saja perlu dilakukan terhadap pasien yang dicurigai terkena infeksi nosokomial. SURVEILANS LABORATORIUM Surveilans laboratorium adalah pengumpulan data dari hasil laboratorium. Gabungan antara data yang diperoleh dari laboratorium dengan hasil surveilans klinik mutlak dilakukan untuk mendapatkan gambaran angka kejadian IN yang tepat.

McGowan. Nosocomial Bloodstream and Intravascular Device-Related Infections. In: Wenzel RP (ed). – Ujung kateter urin atau win yang diaspirasi langsung dari ujung proksimal kateter urin pada infeksi saluran kemih (ISK)(8). 7. Baltimore: Williams & Wilkins. – Bahan darah pasien sepsis. Prevention and Control of Nosocomial Infections. 1989. Prevention and Control of Nosocomial Infections. 1987: 283-319. In: WenzelRP(ed). The Infection Control Committee. 1987: 335-43. terutama neonatus(10). In: Wenzel RP (ed). 1.1985:110-22. 1984: 655-63. Baltimore: Williams & Wilkins. Wenzel RP. khususnya laboratorium mikrobiologi merupakan salah Satu mata rantai yang penting. Surveillance and Reporting of Nosocomial Infections. Prevention and Control of Nosocomial Infections. Mayhall CG. Baltimore: Williams & Wilkins. Penataran/Pelatihan Pengendalian Infeksi Nosokomial RSCM. Ryan KJ. Prevention and Control of Nosocomial Infections. 9. Prevention and Control of Nosocomial Infections. 1987: 56-60. Hughes JM. Nos000mial Infections and Infection Control. 6. 1987: 70-82. Baltimore: Williams & Wilkins. Peranan Laboratorium dalam Penanggulangan Infeksi Nosokomial. KESIMPULAN Dan bahasan di atas jelas suatu program penanggulangan infeksi nosokomial RS merupakan suatu program terpadu yang melibatkan semua unsur di rumah sakit tersebut. Hammy BH. (ed. JC. KEPUSTAKAAN Astrawinata DAW. Jakarta..Di bawah ini beberapa pemeriksaan yang mungkin diperlukan untuk suatu surveilans mikrobiologik infeksi nosokomial : – Ujung kateter intravena pada phlebitis (infeksi luka infus/ ILI)(7). – Apusan rektal pasien enteritis. 4th ed. In: Wenzel RP (ed). de Leon SP. 5. 1987: 405-39. Garibaldi RA. 1987: 109-15. Baltimore: Williams & Wilkins. Jarvis WR. In: Sherris. – Pus dari bagian dalam infeksi luka operasi (ILO)(9). Surgical Infections Including Bums. 1987: 344-84. 1993 27 . Baltimore: Williams & Wilkins. Hospital Acquired Urinary Tract Infections : Epidemiology and Prevention. 4. Washington DC: ASM Pub1. Baltimore: Williams & Wilkins. adanya kerjasama antar masing-masing unsur serta kesadaran untuk berperan aktif. Thompson RL. Prevention and Control of Nosocomial Infections. In: Wenzel RP (ed). Program dapat berjalan dengan baik apabila koordinasi antar semua unsur yang terlibat baik. Cermin Dunia Kedokteran No. khususnya neonatus(7). JE Jr. 3. Prevention and Control of Nosocomial Infections. In: Wenzel RP (ed). Manual of Clinical Microbiology. 82.) Medical Microbiology : an introduction to infectious diseases. Organizing for Infection Control. Dalam hal ini peran laboratorium RS. In: Lennette EH et al (ads). 10. Role of the Microbiology Laboratory in Prevention and Control of Nosocomial Infections. New York: Elsevier. Nosocomial Gastrointestinal Infections. 8. 2. In: Wenzel RP (ed). dan yang tidak kurang pentingnya adalah dukungan penuh dari pimpinan RS.

5).8% tergantung pada penyakit pasien. Kuman-kuman tersebut bisa berasal dari benda atau alat yang terkontaminasi. Departemen Kesehatan RI. waktu cuci tangan dan penggunaan desinfektan dalam melakukan cud tangan. Sebagai responden penelitian adalah tenaga paramedik perawatan (PP) dan tenaga medik (dokter). Cara mencuci yang dilakukan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Sementara itu di kalangan dokter temyata hanya 41.4% mencuci jari dan telapak tangan dan 84. Anwar Musadad.5%) juga mengaku selalu mencuci tangan menggunakan sabun setelah buang air besar. cara cuci tangan. Demikian pula RS selalu dihuni. karier. baik menular maupun tidak menular. 1993 . 82. Dari sejumlah itu 84. Sebagian besar (87. Dari berbagai tulisan diketahui bahwa kejadian infeksi silang di RS kebanyakan terjadi melalui tangan petugas RS yang tercemar kuman karena kontak dengan pasien/penderita. 17. Jumlah responden keseluruhan 415 orang.4% menggunakan sabun dan 1.4. 15.6% mengaku mencuci tangan hingga ke lengan dan sisanya mencuci hanya jari dan telapak tangan saja. Sebagian besar (93.2%) petugas paramedis perawatan (PP) mengaku selalu melakukan cuci tangan sebelum makan atau memegang makanan. Jakarta PENDAHULUAN Tangan tidak pernah bebas dari berbagai macam kuman.9% mencuci tangan sesudah menangani pasien. tetapi dapat juga merupakan reservoar organisme nosokomial(4). Agustin Lubls. Dengan demikian kebiasaan cuci tangan sebelum melakukan sesuatu pekerjaan menjadi penting artinya dalam upaya pencegahan infeksi. Mengingat pentingnya cuci tangan dalam pencegahan infeksi nosokomial. sebagian besar PP (85.0%) sewaktu mencuci tangan selalu menggunakan sabun. Bahkan tangan petugas RS tidak saja merupakan alat pasif dalam penyebaran bakteri gram negatif.6% mencuci tangan sampai ke lengan.8%) mengaku menggunakan desinfektan. 28.6% mengatakan tidak praktis. Dalam penanganan pasien. mengingat RS sebagai tempat berkumpulnya segala macam penyakit. 28. Di Rumah Sakit (RS) kebiasaan cuci tangan petugas merupakan perilaku yang mendasar sekali dalam upaya mencegah cross infection (infeksi silang). terdiri dari 293 orang PP dan 122 orang dokter yang diambil secara systematic random sampling dari daftar petugas yang ada di masing-masing RS.6% merasa tangannya tidak kotor dan 42. maka dilakukan studi tentang kebiasaan cuci tangan petugas RS. pengamatan perilaku dan pemeriksaan laboratorium dari spesimen usap tangan petugas. Di antara mereka yang kadang-kadang atau sama sekali tidak mencuci tangan. Kapas tersebut diusapkan secara silang di telapak tangan kemudian dimasukkan ke media phosphate buffer saline dalam botol untuk selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk diperiksa jumlah kumannya. BAHAN DAN CARA Penelitian dilakukan di seluruh Rumah Sakit Umum (RSU) Pemerintah yang ada di DKI Jakarta.0%) mengaku selalu mencuci tangan sebelum menangani pasien dan 96.3. atau tinggal secara menetap pada tangan(1).0% hanya dengan air saja.8% 28 Cermin Dunia Kedokteran No.Kebiasaan Cuci Tangan Petugas Rumah Sakit dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial D. HASIL Hasil wawancara menunjukkan sebagian besar (95. bahan/alat atau dengan lingkungan yang tercemar(2. Kasnodlhardjo Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan. Dalam mencuci tangan. Data perilaku cuci tangan yang dikumpulkan meliputi praktek cuci tangan. dikunjungi dan digunakan oleh berbagai macam pejamu yang rentan sehingga mudah terjadi infeksi nosokomial. Pengambilan dilakukan dengan menggunakan kapas steril yang sudah dicelupkan ke dalam akuades steril. Sampel usap tangan diambil dari 5 orang PP di setiap RS. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan daftar pertanyaan. sebagian besar (81.

Di antara mereka yang kadang-kadang atau sama sekali tidak mencuci tangan 31.8 284 96.9 293 100. Tabel 1. Tindakan mereka dalam menangani pasien tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Mereka pada umumnya mencuci tangan setelah selesai melakukan pemeriksaan pasien keseluruhan.3% memberikan alasan fasilitasnya tidak tersedia.2 Tak Pernah n 0 – 2 – 11 13 4 1 % 0. 2-3 kali/mg n 94 33 % 32. Kebiasaan Memotong Kuku Petugas RS Jenis Tenaga 1. Dokter 45 71 Dalam perawatan kuku jari tangan sebagian besar petugas mengaku selalu melakukan pemotongan kuku secara rutin sekali dalam satu minggu (Tabel 3).0 51 41. Hasil pengamatan perilaku menunjukkan bahwa sebagian besarpetugas tersebut tidak melaksanakan cuci tangan.8 n 293 122 Jumlah % 100. Hal ini menunjukkan bahwa pengakuan mereka hanya berdacarkan pengetahuan mereka saja. Setelah buang air besar – PP – Dater 3.0 113 100.7 – Jumlah n % Tabel 3. baik saat pertama kali atau pergantian dari pasien satu ke pasien lainnya.5 54.9% mencuci tangan pada saat sesudah menangani pasien.0% karena lupa dan 28.1 1 kali/mg n 110 66 % 37.0 100.1% sampel kandungan kumannya antara 19 x l02 dan 15 x 106 kuman (Tabel 4).1 Tak Tentu n 89 23 % 30.2% mengaku mencuci jari dan telapak tangan saja.3% menggunakan desinfektan dan sisanya hanya dengan air. 15.7 29. Setelah menangani pasien – PP – Ddcter Tabel 2. Dan mereka yang mengaku selalu mencuci tangan baik sebelum maupun sesudah menangani pasien 58. 62.5 1. Hasil pemeriksaan sampel usap tangan terhadap 35 orang PP menunjukkan 97. 1993 29 . Kebiasaan Mencuci Tangan Petugas RS Selalu n % Kadang– kadang n 14 – 17 – 33 58 5 33 % 4.0 – – 04 293 100.ya daripada kepentingan pasien.9 293 100. Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Angka kuman 65 x 102 29x 103 17 x 103 355 x 102 182x 103 31 x 103 61x103 11 x 104 1155 x 103 54x103 425 x 102 48 x 103 46x 103 209 x 103 355 x 102 18 x 103 22x104 285x 103 135 x 102 15 x 106 137 x 104 105 x 102 53x104 41 x 103 0 142 x 103 19 x 102 115 x 102 28 x 103 6x 103 81 x 103 3x103 66 x 103 178 x 103 62x103 Kode RS 01 02 Saat Mencuci Tangan 1. PP 2.0 – – 05 3. Sebelum menangani pasien – PP – Dokter 4. Hasil pengamatan menunjukkan 85% PP keadaan kuku dan tangannya relatif bersih. Dokter Tabel 4.0 10.0 06 Cara Mencuci Tangan Petugas RS Jari dan Telapak Tangan n % 15.0 – 0. 03 279 95.0 27.9 Jumlah n 293 122 % 100.9 79 69. 25.3 47. PP 2.5 – – 249 85. Para dokter tersebut dalam mencuci tangan 28.0 07 Jenis Tenaga 1.7 122 100.0 Pemeriksaan populasi kuman pada usap tangan petugas para medis perawatan di 7 RS dl DKI Jakarta No.yang mengakui selalu mencuci tangan pada saat sebelum menangani pasien dan 69.6 41.0 1. PEMBAHASAN Sebagian besar petugas RS yang diteliti baik PP maupun dokter mengaku selalu melakukan cuci tangan baik sebelum maupun sesudah menangani pasien.6% memberi alasan airnya tidak mengalir. Sedangkan bila melihat waktu melakukan cuci tangan menunjukkan tujuan mencuci tangan petugas lebih diperuntukkan bagi dirin.1 % tergantung pada keadaan. namun dalam kenyataannya tidak demikian.4 18.7% menggunakan sabun. Sebelum makan – PP – Dokter 2. 82.5 293 100.4 0. Sebagian petugas dalam melakukan cuci tangan tampak hanya jari-jari tangan yang dicelupkan ke dalam waskom berisi desinfektan. Biasanya mereka mencuci tangan hanya pada saat setelah penanganan pasien secara keseluruhan selesai.2 – – 274 93.8 – 11. Sepintas lalu tindakan demikian kelihatan asal- Cermin Dunia Kedokteran No. Ini terlihat pada waktu petugas akan memeriksa pasien. Baik PP maupun dokter ternyata sebagian besar tidak melakukan cuci tangan sebelum menangani pasien.4 58.2 n 248 51 Sampal Lengan % 84.0 100.8 – 5.

12). udara. Hal tersebut disebabkan oleh 1) kurang memadainya fasilitas cuci tangan. walaupun secara fisik tampak bersih. 4.J. Sedangkan untuk tindakan-tindakan lain khususnya tindakan insersi diperlukan antiseptik(3).3.L. Dan berbagai penelitian diketahui bahwa keadaan sanitasi RS masih belum memadai dan ditemukan berbagai kuman penyebab infeksi nosokomial pada ruanganruangan dan berbagai peralatan di RS(1.4.1%) yang jumlah sarana cuci tangannya memadai dan hanya 42. Peningkatan jumlah dan kualitas fasilitas cuci tangan. Hasil pengamatan terhadap jenis fasilitas cuci tangan: seluruh RS menggunakan waskom (wash-basin) dan hanya 3 RS (42. Tampaknya kebiasaan cuci tangan di kalangan petugas RS belum dilakukan sepenuhnya. Hasil penelitian R. Hasil pengamatan di 7 RS temyata hanya 4 RS (57.8. Sebaliknya wastafel yang ada menggunakan putaran kran air biasa dan sebagian tidak dilengkapi sabun. Perlu dilakukan pengawasan yang ketat terhadap kebiasaan cuci tangan petugas khususnya yang berhubungan langsung dengan pasien.asalan. Penelitian Casewell & Philips (1977) menunjukkan bahwa mencuci tangan dengan air (tanpa sabun) dapat menghilangkan kurang dari 98% Klebsiella. sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan perlengkapannya. khususnya wastafel yang putaran krannya dioperasikan dengan kaki atau siku. Albert and Condie F. Penggunaan waskom sebagai sarana cuci tangan dapat diterima asalkan frekuensi penggantian air dan desinfektan dalam waskom dilakukan sesering mungkin. sedangkan dengan menggunakan sabun dapat menghilangkan lebih dari 98% Klebsiella. Sedangkan sering ditemukannya kuman pada putaran kran air disebabkan adanya reinfeksi karena tangan yang sudah bersih digunakan untuk menutup kran air yang sudah terkontaminasi tangan kotor pada saat membuka kran(1).7. Sprunt et al (1973). Keadaan demikian memungkinkan terjadinya kontaminasi dan hasil pencucian kurang bersih.. Penelitian EJ. Untuk itu disarankan : 1. Sardjito dkk yang melakukan penelitian mengenai populasi kuman pada berbagai peralatan. Begitu juga hasil penelitian L.K. Lowbury et al menunjukkan bahwa mencuci tangan menggunakan sabun dapat mengurangi jumlah Staphylococcus aureus rata-rata 99. Amerika menunjukkan bahwa hanya 41% kontak dengan pasien yang diikuti dengan mencuci tangan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian di atas maka diperoleh kesimpulan bahwa tindakan cuci tangan petugas RS masih rendah. sebelum dan sesudah makan.7% dan Pseudomonas aeruginosa 99.3). pencucian tangan dengan menggunakan sabun dapat menghilangkan 67 – 100% coliform (median 96%)(1. 1993 . Penggunaan air dan sabun serta antiseptik dapat menghilangkan kuman-kuman dan kotoran.3). maka seluruh petugas RS pada waktu tiba di RS. Hal tersebut dimaksudkan untuk mencegah terjadinya reinfeksi. Malahan sebagian dari mereka tidak melakukan cuci tangan sama sekali karena beberapa alasan antara lain fasilitas cuci tangan tidak tersedia.8%0). khususnya pada waktu sebelum menangani pasien.2. setelah dari kamar mandi/WC. Pada dasamya tindakan mencuci tangan tergantung pada tipe. Kalangan dokter lebih sedikit (28%) dibandingkan dengan perawat (41%).10).11. Diadakan peraturan dan tanda-tanda peringatan yang jelas di setiap ruangan tentang keharusan mencuci tangan. Untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Peningkatan kesadaran petugas tentang pentingnya cuci tangan melalui penyelenggaraan penyegaran tentang pencegah- 30 Cermin Dunia Kedokteran No. 2. lupa. di samping karena jumlah sarana cuci tangan yang terbatas. Untuk itu dalam melakukan cuci tangan dianjurkan menggunakan air yang mengalir dengan putaran kran yang dioperasikan dengan kaki(1) atau siku. Tetapi buruknya kondisi lingkungan di RS menjadikan cuci tangan tetap diperlukan setiap akan melakukan suatu tindakan. Umumnya kontak yang sangat singkat seperti berjabat tangan dengan pasienpasien tidak memerlukan cuci tangan. intensitas dan lamanya kontak dengan pasien. Sedangkan hasil penelitian K. Taylor (1978) tentang teknik mencuci tangan tenaga perawat di Inggris menunjukkan 89% cara mencuci tangannya belum baik(6). jika tangan tampak kotor dan sebelum pulang ke rumah diharuskan melakukan cuci tangan(1. Pencucian tangan rutin selama kegiatan perawatan pasien dianjurkan menggunakan air bersih yang mengalir dengan menggunakan sabun(1.9. khususnya tindakan-tindakan invasif atau pembedahan serta di ruanganruangan tertentu. airnya tidak mengalir. (1981) pada petugas medik suatu intensive care unit di Seattle. Penggunaan waskom pada prakteknya dipakai seharian penuh tanpa diganti larutan desinfektannya sehingga memungkinkan waskom tersebut menjadi sumber kontaminasi. bahan makanan dan petugas di beberapa RS di Jakarta menemukan Klebsiella pneumoniae dan kuman aerob berspora pada larutan desinfektan dan Proteus vulgaris. Hal ini menunjukkan masih rendahnya disiplin dan kesadaran petugas akan pentingnya cuci Langan dalamm pencegahan infeksi atau penularan penyakit. coliform dan kuman aerob berspora pada putaran kran air(8). menganggap tidak praktis dan merasa tangannya tidak kotor. Ditemukannya kuman-kuman pada waskom larutan desinfektan mungkin karena jarangnya larutan desinfektan atau air tersebut diganti sehingga petugas yang mencuci tangan bukannya menjadi bersih tetapi justru terkontaminasi kuman dari petugas yang mencuci tangan terlebih dahulu. 3.9% yang keadaannya baik. Begitu juga adanya kandungan kuman yang relatif tinggi pada sebagian besar hasil usap tangan petugas menunjukkan rendahnya frekuensi cuci tangan dan cara cuci tangan yang belum benar.5. Sebaliknya kontak yang lama dan intens memerlukan cuci tangan(3). 82. Boleh jadi hal ini disebabkan budaya maupun alasan-alasan tertentu sehingga para petugas RS tidak melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien.9%) yang menggunakan wastafel. 2) kurang adanya kesadaran petugas akan pentingnya cuci tangan dalam pencegahan infeksi nosokomial dan 3) kurang adanya pengawasan.

1975. Rahim A. Laporan Penelitian. 1984. 5. Pelaksanaan Sanitasi Rumah Sakit di Jawa Tengah. 13. Hospital Hygiene. Sunanti Zalbawi. Jakarta. 6. Departemen Kesehatan RI. 4th Ed. Petunjuk Teknis Pengendalian Infeksi Nosokomial Di RS DR Cipto Mangunkusumo. 29 Pebruari – 1 Maret 1988. Feachem RG. Georgia: Atlanta. et al. 1977. Freedman B. 1985. New York: Appleton-Century-Crofts. 1980. 12. 62(3). Bull WHO. Djarismawati. 2. Aspek sosiologis sanitasi Rumah Sakit di DKI Jakarta.an infeksi nosokomial. Sardjito R. Dixon RE. Begitu pula kepada seluruh Direktur dan staf RS yang telah membantu terselenggaranya penelitian ini. Kasnodihardjo. Guidelines for the prevention and control of Nosocomial Infections. Jakarta. Baer H. 52. 1989. bahan makanan/minuman dan petugas) di beberapa Rumah Sakit dan Laboratorium di Jakarta. Public Health and Preventive Medicine. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Kepala Pusat Penelitian Ekologi Kēsehatan yang telah memberikan kesempawn kepada penulis untuk melakukan penelitian. Knittle MA. Antibacterial Effectiveness of Routine Hand Washing. peralatan. Jakarta. Lubis A. Pemantauan mikrobiologik lingkungan di dalam Rumah Sakit. Third Ed. 1989. 433. 11. Eleventh Ed. Maurer IM. . 1981. Role of hand contamination of personnel in the epidemiology of gram-negative nosocomial infections. J Pediatr. 1985. Suharto. Gunawan N. Jakarta. Jakarta. 7. Penelitian Terbaik FKUI 1984. 1984. Intervention for the control of Diarrhoeal Diseases among Young Children: Promotion of personal and domestic hygiene. Kumpulan Materi Seminar Sanitasi Rumah Sakit. Panitia Penyusunan Buku Pedoman Pengendalian Infeksi Nosokomial. Laporan Penelitian. 9. Jakarta. Pediatr 1973. 3. 8. KEPUSTAKAAN 1. Rahim A. Eitzman DV. Dalam: Maxcy-Rosenau 10. New Orleans-Lousiana: Peerless Publ Co. US Department of Health And Human Services. Mallison GF. Elizabeth H. Kumpulan Makalah Penataran Isolasi Penderita Penyakit Menular (Infeksi Nosokomial Dan Pencegahannya). Sanitarian's Handbook. 4. Nosocomial Infections. Sardjito R. Musadad DA. udara. Sprunt K. London: Edward Arnold Ltd. Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Penelitian mengenai populasi kuman (mangan. Jilid II.

bahkan sering digunakan sebagai pembawa.0 – 7.4 3.0 10. karena dosisnya akan lebih besar dan langsung masuk ke pembuluh darah. tidak hanya bagi manusia. dapat tumbuh dengan baik di dalam air. Untuk mendapatkan air tersebut diperlukan bahan baku air yang mempunyai kualitas baik. Beberapa tipe mikroorganisme tertentu.0 – 4. dapat dien- 32 Cermin Dunia Kedokteran No. oksigen.0 0. dan non volatile.4 3.0 0.0 0. filtrable.T.0 * – Water for Injection mg/1 5. karena kualitas yang jelek dapat menimbulkan gangguan. Di USP.0 – 4. peralatan. substansi organik.0 0. ** Depends on use. air yang digunakan sebagai vehicle sediaan injeksi harus memenuhi syarat waterier injection. Jakarta PENDAHULUAN Air merupakan kebutuhan utama makhluk hidup.3 1.0 0. Components Purified Water mg/1 5. Anorganik terlarut Garam anorganik di dalam air dapat terdisosiasi membentuk ion positip dan negatip. Jumlah relatip kecil substansi ini sudah cukup menyebabkan efek samping yang serius dan reaksinya akan lebih serius pada injeksi intravena volume besar. Zat ini dianggap berasal dari bakteri dan mempunyai sifat dapat lam t air.5 5. or below predetermined concentration.0 0. Untuk sediaan farmasi terutama sediaan parenteral.Air sebagai Sumber Kontaminasi Usman Suwandi Pusat Penelitian dan Pengembangan P. misalnya kalsium dan magnesium sebagai pembentuk kesadahan (hardness) air.0 – 7. *** Absent by rabbit test.3 1. Kalbe Farma. Zat ini dapat dihilangkan dengan distilasi atau dengan berbagai proses purifikasi lainnya. mikroorganisme.0 ** *** pH Choride Sulfate Ammonia Calcium Heavy Metals Oxidizable Substance Total Solids Bacteriological Purity Pyrogens Note : * Complies with federal EPA regulations for drinking water. Bahan ini merupakan air yang telah dimurnikan dengan distilasi atau reserve osmosis dan memenuhi syarat standar kemumian purified water. 1993 . termostabil. ion-ion ini bersama dengan ion-ion seperti karbonat.0 10. tentu lebih disukai air yang murni dan tidak mahal. Tabel 1. Air tersebut tidak hanya memenuhi syarat kemurniaan secara kimiawi saja. 1. Air minum sering mengandung klorin. 82.5 5. KONTAMINAN AIR Industri farmasi banyak membutuhkan air distilasi dan demineral. Bila air diuapkan. sehingga dapat mengganggu peruntukan air tersebut. tetapi juga harus bebas dari substansi pirogenik yaitu penyebab terjadinya reaksi febril setelah injeksi sediaan steril. baik dalam proses pembuatan air tersebut maupun air yang dihasilkan. Air yang baik untuk diminum biasanya mengandung berbagai kontaminan seperti elektrolit. partikel gas terlarut misalnya karbon dioksida. hewan dan tumbuhan tetapi juga mikroorganisme. Pada dasarnya ada 4 macam kontaminan yang ada dalam air. USP XX Standards for Water Purity Numerical Interpretations of Standard. Air ini digunakan untuk mencuci kontainer. Perusahaan farmasi memerlukan banyak air bersih. air merupakan bagian yang sangat penting. as measured by LAL test. Standar kedua jenis air tersebut dapat dilihat pada tabel I.

Setiap penukar ion dapat disusun pada kolom yang berlainan maupun pada kolom yang sama. Softener digunakan untuk menghilangkan ion kalsium dan magnesium. Ini dapat terjadi pada konsentrasi relatip rendah. 3. 82. mineral dan organik tak larut. pestisida. pre-treatment air baku sangat diperlukan. Pada prinsipnya merupakan pemanasan air sampai mendidih dan uap aimya kemudian dilewatkan kondensor dengan temperatur rendah sehingga uap terkondensasi. Untuk menghilangkan kerak ini diperlukan zat-zat kimia pembersih. Untuk mengurangi residu atau kontaminan dan gangguan lain. diperlukan batas kandungan berbagai zat dalam air yang digunakan antara lain : 1. 1 Microorganisms occurring in water (mainly after Wailhausser 1978) Cermin Dunia Kedokteran No. Penukar ion biasanya digunakan untuk pemurnian air yaitu untuk memperoleh air demineral dan softened water. Pembentukan kerak pada tabung evaporator dapat mengurangi transfer panas dan akhirnya akan mengurangi kapasitas. sehingga mengurangi keefektifan deionizer. PURIFIKASI AIR Di USP dinyatakan bahwa water for injection dapat dibuat dengan distilasi atau reverse osmosis dan harus memenuhi syarat kemumian pada purled water. terutama untuk mengilangkan padatan tersuspensi dan untuk mengurangi kandungan substansi organik. Reverse osmose (RO) Pemurnian air menggunakan membran reverse osmosis sering digunakan karena membran ini mampu memisahkan berbagai 3.dapkan membentuk kerak (hard scale).untuk penukar anion.klorin bebas dan silika Klorid dan klorin bebas pada stainless steel dapat menyebabkan stress corrosion cracking. 2. "Ion-exchange"/penukar ion. kloramin. 2. Perbedaan keduanya terutama untuk water for injection harus memenuhi batas kandungan endotoksin bakteri. Organik terlarut Substansi organik terlarut mencakup hasil samping berbagai pembusukan dan semakin meningkat dengan bt. Distilasi Distilasi merupakan salah satu cara untuk memproduksi water for injection. Umumnya problem mengenai substansi ionogenik dapat ditangani dengan baik. Demi neralisasi dapat dilakukan dengan menggunakan penukar kation dan anion. serabut. 4. Untuk menjamin berfungsinya proses pemurnian air dengan baik. Fig. Magnesium. Pembentukan kerak pada tabung evaporator tentu dapat mengurangi transfer panas dan kapasitas.kalsium dan karbonat Pada saat evaporasi ion ini dapat mengendap bersama anion karbonat membentuk kerak hard scale.akan menggantikan anion dalam air. Penukar ion pada umumnya menggunakan bentuk H* untuk penukar kation dan bentuk bentuk OH. Untuk mengetahui macam mikroorganisme yang terdapat dalam air dapat dilihat pada gambar 1. terutama pada daerah sambungan. 1. Mikroorganisme Kontaminan mikroorganisme dalam air untuk keperluan farmasi mungkin dapat merupakan problem utama. namun substansi non-ionogenik seperti bakteri atau virus dapat menimbulkan masalah. Partikel tersuspensi Partikel terusupensi meliputi debu kerak. Ion H* akan menggantikan kation dalam air dan ion OH. dan menggantinya dengan ion sodium. 2. trihalomethane dan detergen serta berbagai hasil bio-dekomposisi lainnya.rtambahnya produk-produk yang dihasilkan manusia seperti herbisida. Proses ini banyak digunakan untuk mereduksi hardness air sebelum dipakai distilasi atau reverse osmosis. karena dapat menyumbat atau melapisi tempat pertukaran. lalu dikumpulkan dan disimpan. Mikroorganisme tertentu dapat berkembang dengan baik di dalam air. Klorid. 1993 33 . Kelemahannya beberapa kontaminan atau residu dapat terbawa kondensat. Zat-zat organik terlarut ini dapat mengganggu evaporasi dan sangat berpengaruh pada resin penukar ion. Partikel-partikel ini dapat dihilangkan dengan filtrasi dan dapat menyebabkan gangguan pada proses distilasi maupun demineralisasi.

Thin film composite (TEC) dan Sulfon composite. – Peracetic acid. sedangkan keuntungan hollow fibre yaitu jumlah area membran per unit volume lebih besar. Pretreatment air baku sangat diperlukan untuk mengoptimasi sistem RO. Sistem RO mempunyai 2 macam bentuk yaitu : – One pass RO – Two pass RO (TPRO) Kemampuan sistem tersebut mengeliminasi berbagai substansi dapat dilihat pada tabel 3. selain itu juga digunakan untuk menghasilkan airuntuk aplikasi medis seperti hemodialisis. Proses pembersihan dapat dilakukan sebagai preventif atau pencucian aktif. Perbedaan keduanya antara lain bahwa spiral wound dapat beroperasi pada tekanan lebih tinggi dan lebih mudah dibersihkan. sudah merupakan cara sanitasi yang baik. tergantung pada kegunaan air tersebuL Karena setiap cara mempunyai kemampuan mengeliminasi kontaminan berbeda-beda. pH Temperature Rejection Oxidation Bacteria Fluxrate Tabel 3. proses osmosis akan berbalik. Zat-zat kimia yang biasa digunakan untuk sanitasi membran RO antara lain : – Klorin. partikel. Polimer yang paling lazim digunakan yaitu Cellulose Acetate Triacetate (CA). Cellulose Acetate 4-7 35°C Low-Medium Good Good Low-Medium Polyamide 4-9 39°C Medium Poor Very Good Low Amide Composite 3-10 50°C High Poor Exeellent High Sulfane Composite 2-12 70C High Very Good Excellent Medium pembilasan zat-zat kimia pembersih: b. Membran yang digunakan untuk reverse osmosis biasanya merupakan polimer komplek. Reverse Osmosis Rejection . Walter S. Dan mikroba yang digunakan. Dengan menggunakan tekanan. Karena sedikit daja terjadi kontaminasi dapat menyebabkan risiko pirogenitas. Formalin efektif digunakan pada konsentrasi 1-2% selama 1– 2 jam. (tabel 2). Keuntungan zat ini yaitu mudah dibilas. Pengelolaan Air yang sudah diperoleh hendaknya ditangani dengan baik sesuai dengan peruntukannya. Air hasil proses purifikasi harus ditangani dengan baik. Kedua sistem ini telah banyak digunakan untuk memperoleh purified water dan WFI. Untuk memperoleh air yang murni. Laju air yang dihasilkan tergantung pada sifat membran. Perilaku berbagai mikroba pada air demineral juga diamati oleh Kruger (1980). garam terlarut. di mans air akan bergerak melalui membran dari larutan konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi dalam usaha menyamakan konsentrasi di kedua sisi membran. air melalui membran akan bergerak meninggalkan larutan pekat. PENUTUP Kontaminan air dapat berupa partikel tersuspensi. Osmosis merupakan proses dua larutan yang dipisahkan membran semi permeabel. Pada saat air distilasi ganda diinokulasi 100 organisme per ml dan disimpan pada temperatur kamar. Kruger (1980) telah melakukan percobaan untuk mengetahui perilaku berbagai mikroba pada air distilasi ganda dan demineral. Sebagai gambaran kemampuan mengeliminasi berbagai kontaminan oleh berbagai proses purifikasi dapat dilihat pada tabel 4. subtansi koloid dan bakteri dari molekul air. Pengontrolan Mikroprosesor dapat digunakan untuk mengontrol sistem RO secara terus menerus dan konsisten serta dapat mencatat semua kondisi sistem operasi. bahkan Achromobacter sp dan Flavobacter sp dapat meningkatkan populasinya setelah 72 jam inokulasi. substansi organik. sehingga diperoleh air berkualitas tingi. Ro Membrane Environmental Characteristics.99% Dissolved Solids Organics (pytogens) Bacteria 95% 99% 99% 34 Cermin Dunia Kedokteran No. 82. Kontaminasi perlu dicegah karena beberapa mikroba dapat hidup dengan baik dalam air tersebut. substansi terlarut atau mikroorganisme. Sanitasi Sanitasi rutin dan pemeliharaan yang tepat akan menyebabkan kerja sistem dapat diandalkan dan kualitas air yang dihasilkan akan konsisten. 4). seperti pernah diamati oleh Kruger (1980). polyamide (PA). Substansi pirogenik ini berhubungan sangat erat dengan kontaminasi mikroba. Konsentrasi 10 mg/1 selama 30 menit. – Formalin. setelah 1– 2 hari ternyata dapat menimbulkan pirogenitas pada saat diuji dengan LAL. kimiawi air yang digunakan dan kondisi operasi seperti temperatur dan tekanan. 4. untuk mencegah kontaminan terutama mikroba. Problem utama pada air distilasi ganda dalam kaitannya dengan kontaminasi mikroba adalah pirogenitas. dapat menggunakan berbagai macam cara purifikasi. One-Pass RO Two-Pass RO 99% 99. c. Kelemahan zat ini yaitu sering sukar dihilangkan dari sistem. biasanya digunakan untuk membran RO yang peka terhadap oksidasi kimia yaitu PA dan TFCRO. Sedangkan E. konfigurasi membran RO yang paling lazim digunakan untuk pemumian air yaitu spiral wound dan hollow fibre. digunakan untuk membran yang stabil dalam lingkungan oksigen seperti CA dan polisulfon. Dalam usaha meningkatkan produktivitas sistem RO. Pada saat air merembes melalui membran. 1993 . Mengeliminasi low flow areas Area tergenang dan aliran yang lambat dapat merupakan sumber kontaminasi bakteri dan dapat menyebabkan kesukaran Tabel 2. ternyata semua dapat tumbuh dengan baik sampai 72 jam pengamatan (gb. coli dan Pseudomonas aeruginosa populasinya menurun mendekati nol setelah 72 jam inokulasi.99% 99. kotoran harus dibuang secara terus menerus untuk mencegah pengotoran membran. (1984) memberikan saran untuk memperhatikan hal-hal berikut: a.ion. Pada gambar 2 dan 3 dapat dilihat bahwa fungi dan yeast dapat hidup pada air distilasi ganda. efektif untuk membran RO oxidizablestable dengan konsentrasi 100 mg/I selama 30 menit.

23 (1) : 16 . Water.April : 26 . 1985. 1984.6. Groves MJ. 7.capable of removing large percentages Poor. Water and Air. 3.Table 4. 4. 8. Kruger D. London: William Heinemann Medical Books Ltd. 1976 . 5. Part I. Pharmaceutical Engineering. rev. 6.Pure Water Technology . 1973 : 48 . Hartech.April : 34 . Parenteral Products. Pharmaceutical Engineering. Drug Made in German 1980. 1984.6.capable of complete or total removal Good . 19 (4) t 130 . Marquadi K. Standnisky W. purification process comparison (1) Actived carbon will remove chlorine by absorption (2) Special grades of carbon are available which exhibit excellent trace organic removal capabilities (3) Will remove organics based on molecular weight cutoff of ultrafilter membrane (4) Certain UV oxidation systems have been specifically designed to exhibit excellent trace organic removal capabilities. Rockville USP Convention.94. with regard to the GMP. Reverse Osmosis. Mahoney RF.32. 1984 : March . Technology and Systems for Water Purification. Drug Made in German. Note : E – G – P – Excellent . 28 (2) : 82 . Ultrafiltration or reverse osmosis for low bacteria count water for purified water. contact time and flowrate KEPUSTAKAAN 1. These are not tobeconfused with UV sterilizers (5) UV systems. little or no removal Men's natures are all -alike. may have bactericidal or bacteriostatic capabilities limited by intensity.New Trends. Drug Made in German. March . while not physically removing bacteria. Distillation Pretreatment Equipment Considerations. State of the An in Ultra .166. 2. Inc. Water as Source of Microbial Contamination-a New Possible Method of Influence.20. two important Media in the Manufacture of Sterile Pharmaceuticals. it is their habit that carry them apart (Confucius) . The United States Pharmacopea 21st. Rossler R.

baik bakteri konvensional ataupun infeksi opurtunistik dan jamur. lebih jarang didapatkan. akan tetapi umumnya self limiting. Dalam masa kurang dari 1 bulan pasca operasi. Apabila terjadi infeksi tidak konvensional seperti infeksi virus yang jarang. CMV cukup sering didapat. 1993 . 82. protozoa atau tuberkulosis. Sidabutar. yaitu tahun 1960-an infeksi masih merupakan penyebab kematian yang utama pada transplantasi ginjal(1). Infeksi bakteri yang tidak konvensional seperti listeria. biasanya terdapat sesudah 1 bulan. Virus herpes simplex cukup sering terjadi dan awal. 2. fungsi ginjal yang kurang. Suhardjono Sub Bagian Ginjal dan Hipertensi.Infeksi pada Transplantasi Ginjal dan Pencegahannya R. Penderita sudah lama dalam keadaan uremia. dan menimbulkan banyak masalah.(Gambar 1). Transpiantasi ginjal hanya dapat berhasil baik apabila kita dapat memberikan dosis obat yang cukup mensupresi mekanisme rejeksi. Semakin lama mortalitas akibat infeksi dengan jelas menunjukkan penurunan(2). 3. Jakarta PENDAHULUAN Pada masa lalu. Infeksi bakteri pada 1 bulan pertama biasanya terdapat pada saluran kencing. Faktor obat-obat imunosupresi. splenoktomi. jamur. anemia yang membuat sistim kekebalan rendah. INFEKSI PADA TRANSPLANTASI GINJAL Pada dasarnya ada 2 jenis infeksi yang sering terjadi yaitu infeksi bakteri konvensional dan infeksi yang tidak konvensional. Infeksi jamur mencapai puncak tertinggi pada 2 . dan akses vaskuler. 36 Cermin Dunia Kedokteran No. protozoa. dirawat kembali oleh karena infeksi yang dialaminya yang membahayakan jiwa dan ginjalnya. kemungkinan kontaminasi. lebih dari 50% penderita transplantasi meninggal karena infeksi. angka kematian akibat infeksi mencapai 25% dari seluruh kematian(1). kemungkinan memang penderita sudah mengidap penyakit tersebut sebelumnya. Bagian Ilmu Penyakit Dalam-Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo. luka operasi. Infeksi nocardia.P. Jadi pengalaman dan kemahiran ahli bedah amat berperan terhadap timbulnya infeksi pada luka operasi. Sering resipien pada suatu saat. selain itu Alga prednison memperlambat penyembuhan luka. infeksi pada transplantasi ginjal masih menjadi masalah. infeksi dimudahkan dengan adanya netropenia. Jakarta 8 Februari 1992. Selain dosis steroid yang tinggi. Operasi yang meliputi vaskuler dan saluran kemih. PREDISPOSISI INFEKSI Penderita transplantasi ginjal lebih mudah mendapat infeksi oleh karena beberapa faktor(3) : 1. akan tetapi tidak menurunkan kemampuan imunitas tubuh untuk mengatasi infeksi. Infeksi ini dapat berlanjut menjadi septikemia yang berakibat fatal. Pemberian dosis tinggi imunosupresi memungkinkan eksaserbasi dan diseminasi infeksi-infeksi ini. Walaupun sudah banyak kemajuan yang didapat pada masa ini. legionella dapat terjadi kemudian. Kemungkinan Dipresentasikan pada : Simposium Infekri Nosokomiat pada Pasien Imunokompromi. hepatitis. Herpes zoster dapat terjadi setelah bulan-bulan awal transplantasi. hal ini disebabkan oleh semakin majunya teknik pembedahan. Infeksi pada luka dipengaruhi oleh adanya hematom. pencegahan dan pengobatan infeksi serta imunosupresi. mikobakteria. jamur. Infeksi pada 4 minggu pertama transplantasi umumnya adalah konvensional oleh karena tindakan operasi. hiperglikemia. fistula urin. yang lain adalah akibat infeksi nosokomial. sistim pernapasan. ada tidaknya diabetes dan asal ginjalnya(4).3 bulan pasca transplantasi ketika dosis prednison masih sekitar 60 mg/hari .

Pemeriksaan serologik HIV akhir-akhir ini mulai dilakukan. PENCEGAHAN INFEKSI SESUDAH TRANSPLANTASI Penderita transplantasi sebaiknya dirawat di ruang yang semi steril. 82. Setelah minggu ke-2 apabila tidak ada indikasi lain kultur dilakukan 1 kali seminggu sampai penderita pulang. HSV. tenggorokan * Infeksi yang aktif harus diobati terlebih dulu. dalam pemeriksaan awal telah dibuat suatu prosedur untuk mencari kemungkinan adanya infeksi. PENGALAMAN DI JAKARTA Dalam 12 tahun terakhir.5 hari Kultur darah. dilakukan setiap hari. memakai masker. Pada perawatan pasca transplantasi kemungkinan tersering adalah terjadinya infeksi pada luka operasi. darah. Neomisin/Polymixin Oral Tobramycin/Colistin Mycostatin/Amphotericine B Antibiotika profilaksis Cermin Dunia Kedokteran No. Pemeriksaan ginekologik Urin. Selama minggu pertama dan kedua dilakukan pemeriksaan laboratorium setiap hari. PENCEGAHAN INFEKSI PADA SAAT OPERASI Angka infeksi amat menurun dengan membaiknya teknik pembedahan. limfe atau pembentukan ruang yang menyebabkan infeksi bakteri. WR. walaupun banyak yang menganjurkan hal Mi. VDRL. pemeriksaan fisik dan laboratorium baik dari calon donor maupun resipiennya. disebabkan oleh infeksi (Gambar 2). 27% kematian pada transplantasi ginjal di RSCM dan RS Cikini. urin. THT. HIV) Kultur kulit. Pemeriksaan Awal Calon Donor Foto thorax Pielografi Intra Vena Urin. 1993 37 . Tabel 1. HIV) Pra operasi Sterilisasi kamar perawatan resipien. PENCEGAHAN INFEKSI PADA TRANSPLANTASI GINJAL Untuk mencegah infeksi. lekosit dan lain-lain kultur. Hal ini meliputi anamnesis. bronkiektasis. min. drain. infeksi pada saat perawatan jarang terjadi. dengan prosedur yang biasa dilakukan di ruang steril. hidung. walaupun dikatakan bahwa pemasangan drain menambah kemungkinan terjadinya infeksi. Antibiotika diberi apabila ada demam. sehingga lebih menguntungkan oleh karena kita mempunyai cukup waktu untuk memerilcsa donor dan memilih yang sehat. selalu dilakukan pemeriksaan kultur pada ujung atau puntung alat-alat tersebut. C (WR.5 dicabut Suction drain secepatya dicabut Antibiotika 3 . line. drain. antara lain dengan menghindari terjadinya hematom. Evaluasi calon donor amat penting karena penularan penyakit melalui ginjal yang ditransplantasikan mungkin terjadi. Tak semua senter memberikan antibiotika profilaksis. HSV. dipakai suction drain. Pada umumnya penderita dipulangkan pada minggu ke-3 atau ke-4 pasca operasi. sesuai dengan hasil kultur terakhir dan organ yang terkena. fokus infeksi. luka operasi. VDRL. Untuk menghindari pengumpulan darah. Kemudian dilakukan usaha-usaha untuk menekan kemungkinan terjadinya infeksi dari luar maupun dari dalam tubuh penderita sendiri (Tabel 1). Setiap yang masuk memakai baju khusus. fogging dengan Resiguard.Pasca Operasi Luka operasi tiap hari dibersihkan CVP line: hari ke-2 dicabut Kateter hari ke 3 . kultur dan pemeriksaan Antibidy Coated Bacteria Darah: Virus. kebocoran urin dan pengumpulan limfe. Dengan prosedur yang kami lakukan sampai saat ini. Hb. Pemeriksaan gigi. Hepatitis B. mencuci tangan dengan antiseptik. C. (TPHA. Setiap dilakukan pengangkatan kateter atau drain atau i. Di Indonesia semua transplantasi dilakukan dengan donor hidup. Hepatitis B. Operasi ulangan oleh karena sesuatu hal seperti perdarahan. Protokol pencegahan Infeksl transplantasi ginjal Pemerlksaan awal Calon Resipien Foto thorax: tbc.v. Antibody Coated Bacteria Darah: CMV. CMV. kultur. akan menambah kemungkinan infeksi. Waktu terjadlnya Infeksi pada penderita transplantasi ginjal. biasanya disebabkan oleh Stafilokokus aureus/ Gambar 1. UV 24 jam Penderita mandi dengan antiseptik Daerah operasi dikompres betadin Dekontaminasi usus. kebocoran urin. luka setiap hari selama 2 minggu. Kami di sini memberikan cephalosporin generasi ke-3 atau ampisilin selama 5 hari. * Acydovir apabila ada indikasi (2 minggu atau lebih lama).

Wound infections in renal transplant wounds. Untuk pencegahan infeksi. Untuk profilaksis di awal program transplantasi ginjal kami memakai cephalosporin generasi ke-3 selama 7 hari. Grune & Stratton. Proc. Pada tiga orang yang mengalami infeksi jumur sistemik kami berikan Ampoterisin B. PENUTUP Infeksi pada transplantasi ginjal amat menentukan survival penderita dan ginjal cangkoknya. 3. Saat ini untuk profilaksis kami hanya memakai ampisilin selama 5 hari. Principles and Practice. Simposium Beberapa Aspek Penatalaksanaan Penyakit Ginjal. Suhardjono dan Sumardjono 1990). Pada satu kasus terdapat sisa benang nilon dan pada kasus yang kedua tidak diketemukan. Am J Kidney Dis. Walaupun saat ini sudah ada obat anti jamur yang lebih aman. Simmons RL. Rifkind D. 7. Kidney Transplantation. Grossman RA. pengalaman dan beberapa aspek khusus di Indonesia. Feldman HI. 1966 to 1987. 6. p 553-605. tidak dianjurkan mendonorkan ginjal kepada resipien dengan hasil tes serologi yang negatif. Sidabutar RP. Hill RB. 82. KEPUSTAKAAN Gambar 3. Kami mendapatkan seorang penderita dengan abses yang cukup besar di bekas luka operasi dengan febris yang tinggi. Ann. 8. Migliori RJ. Banyak biaya yang dapat dihemat oleh karenanya. tetapi kemudian meninggal karena residif dengan infeksi yang amat luas dan distres pernapasan. Akan tetapi angka infeksi yang terjadi ternyata masih lebih besar apabila dibandingkan dengan yang terjadi di sini. Death after transplantation. Penderita yang mengalami infeksi Legionella paru dapat tertolong dengan pemberian Siprofloksasin. Oleh karena itu tindak pencegahan dan pengobatannya perlu terus diperbaiki. Hal ini juga membuktikan bahwa tidak selalu hal-hal yang dilakukan di luar negeri harus selalu diterapkan di sini. Transplantation Proc 1988. Dafoe DC. An analysis of sixty cases. Apabila terdapat tanda yang jelas dari infeksi virus. 4. Young LS (eds). Sampai saat ini angka kejadian infeksi yang didapat di Indonesia tak berbeda dengan di negara maju. Proc. 20: 396-399. London. albus yang masih sensitif terhadap ampisilin. Clunie GJA. 182: 770. 1975. Am J Med. Jakarta 1990: 111-125. Infection prophylaxis after organ transplantation. Hill MN. Lane DJ.). Simmons RL. of death after renal transplantation. 2nd ed. Sumardjono. Clinical Aproach to Infection in Compromised Host. pemakaian antimikroba yang mempunyai spektrum lebar 1. Kurtz J. 1981.Gambar 2. Dengan dimulainya pemakaian cyclosporin. Suhardjono. 1967. Najarian JS. 1988. Dari kesan yang kami alami selama ini. Dalam Morris PJ (Ed. kami mencurigai adanya peningkatan nefrotoksitas akibat kombinasi obat-obat ini. Padaogenetic and prognostic factor. Transplantasi ginjal. Starzl TE. Keseringan Inreksi dari 100 Transplantasl Ginjal dl Jakarta (Sidabutar. Obat anti virus tidak diberikan secara rutin sebagai profilaksis. Obat ini menyebabkan toksisitas dan akhirnya penderita talc tertolong. 38 Cermin Dunia Kedokteran No. 1993 . Francis DMA. HSV. Dalam kepustakaan pernah dilaporkan tetjadinya infeksi pada daerah bekas luka operasi pada 2 penderita setelah transplantasi ginjal 4½ dan 17 tahun(5). setelah hampir 2 bulan pasca bedah. Wound infections presenting several years after successful renal transplantation. Rubin RH. Transpl. Dengan insisi dan pemberian ampisilin penderita ini dapat sembuh. 1991. Kyrriakides GK. kami selalu ekstra hati-hati terhadap kemungkinan infeksi jamur. d'Apice AJ. Dalam: Rubin RH. Surg. semua kasus Herpes Zoster menunjukkan perbaikan dalam waktu singkat dengan obat ini. Hurwitz SH. kami memberi Acyclovir parenteral atau oral. 2. New York: Plenum. Penyebab kematian pada Transplantasi Ginjal dalam kurun waktu 12 tahun d Jakarta dalam jangka lama sering meningkatkan terjadinya infeksi virus atau jamur. sehingga antimikroba ini kami hindari. 1984. 17: 512-S. 42: 327-33. 20: 128-30. Infectious complications after renal transplantation. calon donor yang menunjukkan infeksi CMV. Dahrling BE. 5. Winearls CG. Infection in the renal transplan patient. Changes in casse. Banyak pusat transplantasi di Amerika memakai Trimetoksasol-SMZ sebelum dan sesudah operasi untuk jangka yang amat lama(6).

Pertumbuhan penduduk yang pesat. Senyawa-senyawa chlor Cermin Dunia Kedokteran No. PENGOLAHAN AIR Proses pengolahan air ini sangat tergantung dari karakteristik aii baku dan kualitas air yang diinginkan. Jakarta ABSTRAK Senyawa-senyawa trihalomethane (THM) tclah ditemukan dalam air bersih untuk rumah tangga. sebagian meresap ke tanah menjadi air tanah dan sebagian lagi tinggal/mengalir di pennukaan tanah seperti danau dan sungai yang disebut dengan air permukaan. Untuk menghindari atau mereduksi terbentuknya THM. air kolam renang dan sebagainya. harus dihilangkan zat-zat organik terlebih dahulu sebelum proses' chlorinasi atau mengganti jenis disinfektan dengan jenis lain yang tidak menyebabkan terbentuknya THM. PENDAHULUAN Air selalu berada dalam sildus hidrologik sehingga relatif jumlahnya tetap. Air yang sehat bagi kehidupan manusia adalah air yang tidak terkontaminasi dan tidak dapat menimbulkan penyakit yang disebarkan melalui air. Dalam suatu unit pengolahan air biasanya digunakan kombinasi antara proses-proses tersebut. Kadar paling tinggi terdapat dalam kolam renang. Proses pengolahan air sēcara garis besar terdiri dari proses biologik. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Pencemaran di kota-kota besar yang berasal dari limbah rumah tangga dan industri dapat menurunkan kualitas air. Air permukaan ini divapkan oleh panas matahari naik ke atas menjadi awan yang akhirnya terkondensasi menjadi embun atau hujan. air tanah. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari sangat sulit ditemukan air dengan kualitas yang memenuhi syarat. Agustina Lubis Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan. Air hujan turun ke bumi. sirkulasi udara harus dibuat sebaik mungkin. sehingga THM yang terdapat dalam udara di was permukaan air kolam tidak akan mengambang di tempat tetapi dapat pindah/mengalir mengikuti sirkulasi udara. Air merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan. Kualitas dan kuantitas air sangat bervariasi tergantung dari peruntukannya. Tetapi dalam keadaan darurat THM dapat dihilangkan dengan merebus air selama 3–5 menit. pertukaran ion dan sebagainya. bebas dari unsur-unsur yang beracun. Standar kualitas air untuk kebutuhan hidup manusia (disebut air bersih) lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kualitas air untuk keperluan yang lain. Oleh karena itu diperlukan pengolahan air yang ada agar sesuai dengan kualitas yang diinginkan seperti untuk air minum. 1993 39 . chlorinasi/ozonisasi. Untuk kolam renang dengan sistem tertutup. air permukaan dan dalam air kolam renang atau pemandian. Proses chlorinasi adalah pembubuhan chlor atau senyawa chlor ke dalam air dengan tujuan untuk membunuh kuman atau menghilangkan bau (untuk industri). urbanisasi dan industrialisasi menyebabkan masalah lingkungan makin besar dan membahayakan kesehatan manusia. dan bebas dari sejumlah mineral dan zat organik yang berlebihan(1). 82. mekanik dan kimiawi. Khusus untuk proses kimiawi di antaranya adalah proses netralisasi dengan asam atau basa.Dampak Proses Chlorinasi Air pada Kesehatan Inswlasri .

Akibat yang paling cepat adalah kehilangan kesadaran yang mungkin diikuti dengan koma dan kematian. sedangkan dalam penelitian Lahl dkk tahun 1981 ditemukan kadar chloroform dalam kolam renang berkisar antara 50 – 980 ug/P. Proses chlorinasi ini banyak digunakan dalam mengolah limbah industri. keringat) suhu dan pHnya agak tinggi(7). urat dan ginjal(3). Kadar THM maksimum dalam kolam renang mencapai 177.8 ug/1(4). Dalam tubuh manusia. Dengan dosis 500 mg yang dihirup oleh seseorang. Dalam penelitian ini kadar THM dalam udara di atas permukaan kolam renang maksimum mencapai 787 ug/m3(4). Perlu diketahui pula bahwa THM dalam kolam renang ini dapat dibebaskan ke udara di atas permukaan air tersebut (THM mudah menguap). TERBENTUKNYA SENYAWA TRIHALOMETHANE Senyawa halogen organik yang mudah menguap (volatile halogenated organics) yang biasa disingkat dengan VHO terjadi pada proses chlorinasi dalam air yang mengandung bahan-bahan organik dengan konsentrasi tinggi. THM dalam kolam renang dan pemandian air panas Penelitian yang sama jugamenunjukkanbahwadalam kolam renang yang telah didesinfeksi dengan NaC1O atau dengan dichloroisocyanurate juga terbentuk senyawa THM. Senyawa THM inilah yang akan terhirup oleh orang-orang yang secara teratur berkunjung ke kolam renang tersebut. renang.6% THM yang masuk melalui mulut (7 mg/kg berat badan) diubah menjadi CO2. dan Bromoform (CHBr3)(3). Chloroform adalah suatu depresan sistim saraf pusat yang juga berpengaruh pada hati dan ginjal. lemak tubuh adalah tempat penyimpanan chloroform yang sangat penting. dihydroisocyanurate dan chloramine.Senyawa THM ini antara lain adalah Chloroform (CHC13). Dosis mematikan yang paling rendah yang pemah dicatat adalah 210 mg/kg berat badan. Sedangkan kadar chloroform dan bromoform dalam udara di atas air tersebut berkisar antara 4 – 750 ug/m3 dan 0 – 910 ug/m3(6). sodium hypochlorite (NaC1O) maupun dengan chlorine dioksida (C1O). Benoit tahun 1986 di tempat-tempat pemandian air panas untuk umum menyatakan bahwa kadar chloroform dan bromoform dalam air adalah 35 – 674 ug/1 dan 37 – 3600 ug/1. sebab sifat ini telah terbukti pada percobaan terhadap tikus. Kadar THM maksimum yang terdeteksi dalam air tanah adalah 20 ug/1(4). THM ini muncul karena air limbah yang pada umumnya terchlorinasi dan yang secara luas digunakan dalam aktivitas industri. Terbentuknya THM dalam air minum Suatu penelitian yang dilakukan oleh Aggazzotti G. paru.yang banyak digunakan dalam proses chlorinasi pada umumnya adalah gas chlorin. Pada tikus. Selain itu hasil penelitian ini menyatakan bahwa beberapa air tanah mengandung bahan-bahan organik yang tinggi walaupun berasal dari lapisan-lapisan yang dalam. Air yang sama tidak mengandung THM ketika dianalisa sebelum proses chlorinasi dan bahan organiknya telah dihilangkan. dan kadarnya lebih tinggi daripada dalam air minum. mudah dan efektif sebagai disinfektan. Dibromochloromethane (CHClBr2).4 ug/1(4). Penelitian yang dilakukan oleh Frank M. Kadang-kadang THM ini bisa mencapai konsentrasi yang tinggi. 82. 1993 . THM dalam air permukaan dan air tanah Penelitian yang mendeteksi adanya THM dalam air permukaan maupun air sumur dalam menunjukkan bahwa air permukaan mengandung THM maksimum 25. tetapi ini tergantung pada kepekaan individu masing-masing. Penelitian lain yang menggunakan analisa statistik (analisa regresi) hasilnya hampir sama dengan studi-studi sebelum- 40 Cermin Dunia Kedokteran No. BAHAYA THM Senyawa THM diduga potensial karsinogenik terhadap manusia.3 ug/l(8) dicapai pada musim pans (di sungai Tone Jepang) dan maksimum 263 ug/1 di Itali(4). chlorine dioksida. Bahaya pada ginjal dicatat 24 – 48 jam setelah terpapar dan bahaya pada hati setelah 2 – 5 hari. air kolam. dan jumlah yang lebih kecil didapatkan dalam hati. Pembentukan THM akan meningkat pada proses thlorinasi air yang mengandung zat-zat organik (berasal dari asam humus. Hal ini disebabkan karena dalam kolam renang kandungan bahan organiknya lebih besar (karena mendapat tambahan bahan organik dari orangorang yang memakai kolam renang tersebut misalnya dari keringat dan urine). Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat tumor ginjal pada tikus jantan dan tumor tiroid pada tikus betina yang diberi ransum makanan yang mengandung chloroform. Senyawa-senyawa VHO tersebut sebagian besar ditemukan dalam bentuk trihalomethane (THM). khususnya dalam kolam renang yang tertutup (indoor pool). Jika dalam proses chlorinasi di dalam air mengandung Br maka terjadilah reaksi sebagai berikut : Br– + HOC1 ––––––––––> HOBr + Cl– Dengan demildan di dalam air tersebut terdapat senyawa HOBr dan HOCI yang akan bereaksi dengan zat-zat organik membentuk THM(2). Reaksi kimia yang terjadi pada saat chlorinasi dengan gas chlor atau dengan kaporit adalah sebagai berikut : C12 + 2H2O –––––––––> HOCl + H+ + Cl– Ca (OC1)2 + 2 H2O –––––––––> 2 HOCI + Ca++ + (OH)– HOCI inilah yang membunuh kuman (sebagai disinfektan)(2). air minum di negara-negara yang sedang berkembang karena biayanya relatif murah. 18 – 67% dikeluarkan lagi dalam bentuk yang tidak berubah dalam waktu 8 jam. bromine chlorida. Dosis yang mematikan kira-kira 44 g atau 630 mg/kg berat badan untuk orang yang berat badannya kira-kira 70 kg. Penelitian pada tahun 1983 yang dilakukan oleh Chambon dkk menemukan kadar chloroform dalam kolam renang berkisar antara 83 – 665 ug/1o). urine. Sebagian besar metabolisme dari chloroform dikeluarkan melalui paru-paru sebagai CO2 atau melalui ginjal sebagai chlorine anorganik. menemukan adanya senyawa THM dalam air minum setelah proses chlorinasi baik dengan gas Chlorine. senyawa hipochlorit. lebih dari 50. Kadar THM maksimum yang terdeteksi adalah 41. sehingga gejala keracunan muncul beberapa hari setelah terpapar. Bromodichloromethane (CHC12Br).

5) Memperbaiki kualitas air baku atau memilih sumber-sumberalternatif yang tidak mengandung bahan-bahan organik tinggi. 4) Penggunaan adsorben (karbon aktif) untuk menghilangkan bahan-bahan organik sebelum proses chiorinasi. vol. Watanabe H. Reinhhold GW. 25(2): 191-202. Water Res 1983. Correlation of humic substance trihalomethane formation potential and adsorption behavior to molecular weight distribution in raw and chemically treated waters. Lahl U et al. Water Res 1987. 8. proses-proses tersebut perlu diperbaiki untuk mengoptimasi penghilangan bahan-bahan organik. p. 3. 7. 20 (8): 999-1003. the sixth US Japan Conference an Sewage Treatment Technology.air kolam renang dan pemandian umum. Untuk mengganti jenis disinfektan ada beberapa disinfektan alternatif yang menghasilkan THM kecil sekali atau bahkan tidak menghasilkan sama sekali antara lain yaitu : − chlorine yang bebas chlorine dioksida − chloramine − ozone Dalam keadaan danurat.air minum. Japan. 4. 6. KESIMPULAN Senyawa organik yang mudah menguap terjadi pada proses chlorinasi dalam air yang banyak mengandung zat organik. 2) Jika proses chlorinasi dipakai setelah proses koagulasi dan pengendapan atau setelah proses softening dan pengendapan. Chambon P et aL Survey of trihalomethane levels on Rhone-Alps water supplies. 21 (3): 353-7.13). Karena THM tenmasuk senyawa yang bersifat karsinogenik makahanlsdihilangkan. 21(5): 573-83. Akibat lain bila dalam air buangan timbul senyawa-senyawa THM yaitu akan memberi akibat yang besar terhadap lingkungan sumber air penerima dan mengganggu kehidupan ikan. Research and Development of United States Environmental Protection Agency. Benoit FM. Webber Jr. Uchiyama M. mungkin standar yang lebih khusus untuk masing-masing jenis THM perlu ditentukan. 5. 2. ada indikasi kuat bahwa standar total THM tersebut akan ditetapkan lebih rendah lagi. 11. John Wiley and Sans 1967. Geneva 1984. 20 (8): 959-634. 1984. Distribution and balance of volatile halogenated hydrocarbons in the water and air of covered swimming pools using chlorine for water disinfection. Environmental Engineering Series. 2. CARA MENGHILANGKAN THM Untuk mereduksi THM harus dihilangkan penyebabnya yaitu zat-zat organik sebelum proses chlorinasi atau mengganti jenis disinfektan yang tidak menyebabkan terbentuknya THM(9. 1979. 3) Mengoptimasi proses-proses pendahuluan sebelum proses chlorinasi untuk menghilangkan bahan-bahan organik. Water Res 1991.Pembentukan THM akan meningkat pada proses chlorinasi air yang mengandung zat-zat arganik (berasal dari asam humus. Survey of Volatile Halogenated Organics (VHO) in 1ta1y. Jackson R. Guidelines for Drinking-water Quality. untuk mengatasi masalah sumber air minum yang telah tercemar oleh THM maka air tersebut harus direbus dahulu sebelum dipakai sebagai air minum. Health Criteria and Other Supporting Information. Dalam keadaan darurat THM dalam air minum dapat dihilangkan dengan cara merebus air sampai mendidih selama 3 – 5 menit. Untuk menghilangkan penyebabnya ada beberapa alternatif yaitu : 1) Memindahkan proses chlorinasi pada bagian yang paling akhir dengan tujuan bahan-bahan organiknya sudah dihilangkan sebelum proses chlorinasi. Untuk menghindari terbentuknya THM perlu dihilangkan zat-zat organik sebelum proses chlorinasi atau dipilih disinfektan lain yang tidak menyebabkan terbentuknya THM. Water Res 1987. WJ. urine. Water Item 1986. Water Res 1986. 15: 803-14. et aL Trihalomethane adsorption on activated carbon fibers. Fair GM.nya yang menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara angka kematian kanker kandung kemih dan kadar chloroform dalam air minum. 9. 10. World Health Organization. suhu dan pH tinggi. Trihalomethane formation in whirlpool Spas. 240-245. Dan lebih dari itu. 9. Taylor IS. Trihalomethane yang terdeteksi dalam air tanah. USA 1978.12.11.10 mg/1. The prevention of formation and removal of chlorinated organics in wastewater. kadar tertinggi terdapat dalam air kolam renang.dan dalam udara di atas kolam renang. Any GL et aL The effects of ozanation and activated carbon adsorption on trihalomethane speciatian. p. 12. Oleh karena itu United States Environmental Protection Agency (USEPA) telah menetapkan kadar maksimum kontaminasi total THM yang diperbolehkan dalam air minum adalah 0. . Water Res 1991. Water Res 1981. Sakoda A. et aL Trihalomethane Precursor Removal by the Magnesium Carbonate Process. keringat). 355-55. Aggazzotti G. air permukaan. Kadar total THM 30 ug/1 dalam air minum telah direkomendasi dengan konsumsi rata-rata 2 liter/hari. 25 (2): 219-25. 17: 65-9. 13.10. Geyer OC. Senyawa ini sebagian besar ditemukan dalam bentuk trihalomethane(THM). Pada saat ini. Predieri G. Water Supply and Waste Disposal. et aL Changes of trihalomethane formation potentials in the Tone River. p. THM akan hilang bila air tersebut direbus sampai mendidih selama 3 – 5 menit. KEPUSTAKAAN 1. El-Rehaili AM. 6) Menggunakan kombinasi cara-cara tersebut di atas.

Penyakit yang jelas manifestasinya pada mata. arteriosklerosis dan eklamsi sangat membantu menentukan keparahan penyakit. tennasuk bagian luar mata dan bagian dalam mata dapat membantu penentuan tingkat keparahan penyakit dan menetapkan prognosis. Ada pengaruh yang langsung mengakibatkan kebutaan dan ada juga pengaruh yang tidak mengakibatkan kebutaan. retina mengalami ablasi(3). Kebutaan di hari tua yang mengancam penderita diabetes dapat dihindarkan dengan pemantauan retinopati secara ketat dan penanganan yang tepat waktunya. Pada eklamsi di mana hipertensi terjadi pada ibu hamil tiga bulan terakhir. Retinopati ditandai dengan terlihatnya sembab retina. PENDAHULUAN Mata sebagai salah satu organ tubuh tidak luput dari pengaruh penyakit sitemik yang dapat berupa kelainan patologianatomik ringan sampai ke tingkat lebih parah. Penyakit sistemik dapat pula berakibat kebutaan. Salah satu target organ hipertensi adalah mata(2). HIPERTENSI Retina dan pembuluh darahnya mudah dipengaruhi hi- pertensi. perubahan retina sedikit berbeda dengan retinopati hipertensi biasa. sindrom hiperviskositas. Keadaan ini dapat dipakai sebagai indikasi kuat untuk mengakhiri kehamilan (ter- 42 Cermin Dunia Kedokteran No. Hipertensi ringan dan moderat yang berlangsung lama pada penderita umur muda. Demikian juga kualitas aliran darah di daerah mikrosirkulasi. Jaringan koroid mengalami sembab berat dan mengalami gangguan permeabilitas sehingga terjadi pelepasan cairan yang mendesak retina. dan diabetes melitus. Jakarta ABSTRAK Mata tidak luput dari pengaruh penyakit sistemik. dapat meningkatkan ketelitian diagnosis. Pengenalan manifestasi suatu penyakit mata sistemik pada maw. perdarahan retina berbentuk nyala api dan eksudat berbentuk kapas (cotton wool exudate). arteriosklerosis. Hipertensi berat dan hipertensi maligna akan menimbulkan kelainan retina yang disebut retinopati. anemia. terutāmma dalam diagnosis awal dan pengamatan hasil pengobatan. Pada hipertensi maligna kecuali retinopati juga terdapat papil edema (sembab papil) dan kadang-kadang disertai sembab koroid. Kelainan retina yang menyolok adalah reaksi terhadap kelainan koroid di bawahnya.Manifestasi Mata Penyakit Sistemik Human Taint Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RS Cipto Mangunkusumo . antara lain adalah hipertensi. 82. Pemeriksaan fundus penderita hipertensi. Ketrampilan funduskopi dapat melihat perubahan patologik pembuluh darah halus yang mewakili seluruh tubuho>.dapat mempercepat timbulnya sklerosis pembuluh darah halus. ketrampilan memeriksa setiap organ tubuh. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Penurunan daya tahan tubuh penderita AIDS mengundang penyakit oportunis pada mata dan menyebabkan penyakit infeksi sukar disembuhkan. sangat akut dan berat. 1993 . Perubahan dinding pembuluh darah halus retina dapat menjadi contoh perubahan yang terjadi pada organ tubuh lainnya. Diabetes melitus tergolong penyakit yang membutakan.

Di samping manifestasi mata infeksi.1% penderita diabetes yang diperiksa di Bagian Ilmu Penyakit Mata FKUI/ RSCM. Jaringan di sekitar mata dan konjungtiva bulbi dapat mengalami pertumbuhan sarkoma Kaposi dan limfoma Burkitt. atau degenerasi makula. tetap mengalami kebutaan. Sebaliknya. 82. 1993 43 . lekemia dan disproteinemia(5). Penglihatan mundur. warna dan bentuk pembuluh darah kembali normal. maka pengobatan diabetes melitus lebih berhasil. menjadi sukar disembuhkan(7. Kebutaan terjadi karena kerusakan makula lutea. Fundus memperlihatkan pelebaran vena dan perdarahan retina. Banyak penderita diselamatkan dari komplikasi fatal. yang dapat diikuti dengan teliti sehingga tersedia cukup waktu untuk upaya pencegahan kebutaan. AIDS (ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME) Dengan menurunnya daya tahan tubuh penderita AIDS. Ablasi pada eklamsi akan sembuh sendiri mengiringi meredanya eklamsi. Apabila TK II disertai penebalan dan sembab daerah makula. berupa sumbatan arteri atau vena. PENYAKIT DARAH Lekemia yang berat tidak hanya menyebabkan hiperviskositas. Kelopak mata membengkak. sehingga tindakan dapat ditentukan pada waktu yang terbaik. maka TK menjadi Ilb. Keparahan retinopati dapat dibagi dalam beberapa tingkat untuk menentukan apakah kebutaan sudah mengancam atau belurn. Pembuluh darah akan berangsur menyempit. • Tingkat keparahan II. Dalam satu tahun membutuhkan pembaharuan kaca mata 3 sampai 4 kali. Kekentalan dapat terjadi karena volume dan jumlah sel bertambah atau plasma lebih kental. Penyakit sel sikel (sickle cell disease) sering disertai pembentukan jaringan proliferasi di retina yang suatu waktu dapat menimbulkan ablasi retina. maka penyakit yang mengenai mata. Pertumbuhan tumor di samping dan di belakang bola mata menyebabkan bola mata menonjol dan tidak dapat digerakkan. yang merupakan akibat retinopati yang bertambah parah. juga terdapat manifestasi noninfeksi. tetapi melalui masa peningkatan keparahan retinopati dalam waktu yang cukup panjang. akibat darah yang lebih kental. Setelah viskositas darah dipulihkan. Untuk itu penulis telah mengajukan klasifikasi tingkat keparahan (TK) retinopati sebagai berikutoo: • Retinopati diabetika tingkat keparahan (TK) I. tetapi dapat menimbulkan sumbatan vena.pada funduskopi ditemukan mikroaneurisma disertai perdarahan retina lima atau lebih bercak. ARTERIOSKLEROSIS Setiap orang yang mencapai umur 45 tahun akan mengalami penebalan dinding arteri berupa penumpukan zat kolagen pada lapisan otot(4). • Lanjutan dari TK ini ialah IIIa yang ditandai oleh terlihatnya pembentukan pembuluh darah baru (neovascular) dilapisan retina (IRMA : Infra Retina Microvascular Anomaly). Jaringan telah terlindung oleh sklerosis (defence by sclerosis)(4). Sebelum terlihat perubahan patologik di atas. Penulis mendapatkan 1. yang berbentuk tonjolan kecil pada kelopak mata dan konjungtiva bulbi. setelah bayi dikeluarkan. justru terjadi lebih banyak. tidak lagi banyak menimbulkan perubahan retina. eksudat bebagai bentuk yang tersebar terutama di polus posterior. Ulkus kornea mengalami perforasi. 1921 memperkenalkan insulin untuk menurunkan gula darah. dan perdarahan badan kaca. Anemia akut akibat kehilangan darah yang berat. Jika TK II disertai tanda-tanda bendungan vena. ablasi retina. dan infiltrasi sel lekosit pada jaringan lunak sekitar bola mata serta pada jaringan di dalam bola mata. Mata terlihat merah dengan pembuluh darah konjungtiva bertambah. SINDROM HIPERVISKOSITAS Sindrom hiperviskositas terjadi karena aliran darah terhambat. DIABETES MELITUS Sejak Banting. Infeksi toksoplasma pada retina dan koroid meningkat dan herpes zoster ophthhalmicus lebih parah. ditandai oleh telah terdapatnya mikroaneurismadan beberapaperdarahan retina (kurang dari 5 bercak). alurnya lebih kaku. dismal peningkatan perkelokan. biarpun kondisi tubuhnya terpelihara. berupa pelebaran lumen dan pertambahan perkelokan disertai perdarahan retina yang terkonsentrasi di sepanjang vena tersebut. Harapan hidup penderita diabetes lebih panjang. Fundus refleks berwarna merah tua dan fundus memperlihatkan pengisian pembuluh darah yang berlebihan sehingga lumen arteri dan vena melebar. Tidak sedildt penderita diabetes. dan warna dinding berubah dari transparan menjadi lebih jingga sampai putih (copper wire dan silver wire). di samping pucat juga dapat terjadi kerusakan akut pada koroid dan retina yang tidak reversibel(6). kadang-kadang sudah timbul gejala kelemahan mata. Penglihatan mundur tiba-tiba pada seorang berumur lanjut banyak yang disebabkan oleh tersumbatnya aliran darah uteri atau vena dan perdarahan makula akibat arteriosklerosis. Hipertensi pada penderita yang telah mengalami arteriosklerosis karena proses penuaan.minasi). sukar membaca dan takut silau. komplikasi pada mata yang berhubungan erat dengan lama mengidap diabetes. Perubahan retina terjadi karena gangguan sirkulasi dan nutrisi. tingkat keparahan tenmasuk IIa. yang selama ini penyembuhannya ditunjang daya tahan tubuh. mata menonjol dan sukar digerakkan. Penderita sudah membutuhkan kaca mata baca biarpun umur masih muda. Anemia kronik bermanifestasi pada mata berupa pucat pada konjungtiva dan fundus yang disertai perdarahan retina dan preretina. Kelainan retina berupa bercak-bercak putih berbentuk kapas terlihat didaerah posterior fundus dan dapat dijumpai pada hāmpir 50% kasus AIDS. Keadaan ini terlihat pada polisitemia.8). menderita buta totalo). Tingkat keparahan terakhir dari retinopati diabetika ialah TK IIIb yang ditandai invasi pembuluh darah bersama jaringan ikat Cermin Dunia Kedokteran No. Kebutaan oleh diabetes tidak terjadi mendadak.

Hilman Taim. atau secara langsung dengan kriokoagulasi (pendinginan) dan diatermi (listrik). AIDS and Ophthalmology. New York : Harper & Row Publishers 1971. Kalima RE. Smolin G. Mid 4 : 759. Henkind. Ober RR. Henkind. The Eye in General Vascular Disease. Preface. Perdarahan badan kaca terjadi akibat pembuluh darah baru yang menjulur ke rongga badan kaca pecah. maka funduskopi secara teratur perlu dilakukan pada setiap penderita diabetes. Dollery. Hilmar Taim. Tingkat selanjutnya dari kelainan mata penderita diabetes ialah ablasi retina dan perdarahan badan kaca.Kmnpulanmakalah Seminar Hasil Penelitian Perguruan Tinggi bagi pars Peneliti Muds. Pada klasifikasi ini eksudat lemak tidak dimasukkan dalam tanda retinopati. The Retinal Circulation.FauyExudates padaRetinopatiDiabetika. Jogja : 1984. 8. FiedlanderM. Pada keadaan badan kaca yang sudah keruh dilakukan kriokoagulasi atau diatermi. 41 : 641. Roma : 1986. 7. 6. SidabutarRP. 4. International Congress of Ophthalmology. Secara sederhana retinopati diabetika dibagi dalam dua kelompok yaitu nonproliferasi (background retinopaty) yang mencakup TK I. Jose Ra usma. 639. Trans VI th. Retinopati diabetika TK IIlb yang badan kacanya masih jernih masih dapat difotokoagulasi biarpun sudah agak terlambat. Ce min Dunia Kedokt 1989. 'Congers Nasiosul PERDAMI ke-V. Klasifikasi Retinopatia Diabetika. Visual loss from choroidal ischetnia. Konyo m IL.b dan TK IIIa. Dollery. 1. 911-923. Solo : 1982. 57. a. 2. HilmanTaim. 292. 101 : 650-656. Mabie WC. Asia Pacific Acad of OphthalmoL Bali : 1976. Medical Department. Hypertension and Arteriosclerosis. 10. 1971.b. Untuk mendapatkan waktu tindakan terbaik dalam mencegah kebutaan. Ocular manifestations associated with AIDS.Intemational Ophthalmology Clinic. Tindakan koagulasi yang terbaik ialah pada TK II a. TK II. The Retinal Circulator Medical Department New York : Harper dt Row Publishers. Br J Ophthalmol 1957. 64 : 606. Ablasi retina terjadi karena renggutan jaringan ikat (TK IIIb) sehingga retina terlepas dari dinding bola mata. Direktorat Pembina an Penelitian don Pelayanan Masyarakat DEPDIKBUD.3. karena ternyata penderita diabetes bangsa Indonesia tidak banyak yang gemuk. Am I Ophthalmol 1986. Fluorescein Angiography in Toxemia of Pregnancy. Peningkatan keparahan retinopati dapat dihambat dengan fotokoagulasi jaringan retina yang patologik memakāi cahaya Laser atau Xenon. KEPUSTAKAAN Wise. Kedua keadaan ini adalah akibat dari retinopati diabetika TK IIIb. sehingga eksudat lemak tidak selalu terdapat dalam gambaran retinopatitttl. 47. 11. Proc XXV. 1989. Leishman R. Untuk menilai fundus secara cermat. Terhadap retinopati TK I funduskopi dilakukan 6 bulan sekali. Br J Ophthahnol 1980. Wise.(fibrosis) ke rongga badan kaca. Retinopati Diabetika. Penyulit Jangka Pan jang Hipertensi. 9. operasi katarak penderita diabetes kadang-kadang perlu dipercepat. 5. dan IiIa. 3. P Le Hoang et al. Measure thrice before you cut once . retinopati proliferasi (proliferative retinopaday) sama dengan IIIb. dan terhadap retinopati TK II fun- duskipi 3 bulan sekali. 29 : 2.

Pada masyarakat belum ada kejelasan mengenai peraturan ataupun hukum yang berlaku di dalam masyarakat. Pada tahun 1987 mulai terdapat kerja sama Indonesia dengan Bank Mata Sri Lanka dengan datangnya 4 mata pada tahun tersebut. 2. TUJUAN Bank Mata bertujuan untuk mendapatkan donor mata. Maka diperlukan suatu badan yang dapat mengatur hubungan antara donor. Bank Mata didirikan untuk perlunya mendapatkan donor mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RS Cipto Mangunkusumo. resipien. Asupan diperlukan untuk menambah kemungkinan donor memberikan matanya setelah meninggal. Adalah sukar mendapatkan donor pada setiap permulaan usaha cangkok kornea. Jakarta PENDAHULUAN Keratoplasti tolah dilakukan sejak 2 abad yang lalu dan di Indonesia mulai 30 tahun yang lalu. Bank Mata bertanggung jawab untuk membagikan mata secara cepat dan efisien. Bank Mata bergabung dengan rumah sakit atau universitas Cermin Dunia Kedokteran No.Bank Mata Sidarta Ilyas Bagian Ilmu Penyakit Mata. sehingga kekurangan donor tidak disertai dengan kegagalan menahan bahan yang tersedia. Termasuk hal yang merupakan hambatan dengan belum adanya peraturan mengenai jenazah terlantar untuk kepentingan donor mata. Calon donor diminta mengisi formulir pernyataan yang disaksikan oleh 2 orang keluarga terdekat. dan dokter pembedah. Bank Mata sebaiknya tanggap terhadap beberapa hal berikut. dokter mata tidak ada hubungan langsung dengan donor. Keluarga adalah orang yang nantinya dapat menentukan bila tiba saatnya pengangkatan mata untuk dapat terlaksana sesuai dengan wasiat yang telah dibuat. Bank Mata adalah jembatan yang dapat menyelesaikan kebutuhan resipien terhadap donor mata. Pada saat itu donor lokal belum sangat diharapkan karena calon donor banyak dipengaruhi oleh hal-hal yang tidak jelas dari lingkungannya. Bank Mata tidak akan berdiri bila masyarakat dan hukum sekitar belum memungkinkan untuk memberikan mata. apakah sudah ada informed consent. Bank Mata sebaiknya membahas asupan yang datang dari masyarakat terhadap kegiatannya. Bank Mata sebaiknya melakukan penelitian untuk mendapatkan hal-hal yang dapat dipertanggung jawabkan mengenai segala sesuatu yang dilakukannya. dan meneruskannya kepada ahli bedah maw. Diperlukan kerja sama dengan orang awam untuk mendapatkan lebih banyak donor. 1993 45 . Sangat sukar bagi seseorang dokter mata mendapatkan donor mata. Pada permulaan sejarah keratoplasti di dunia donor didapatkan dari narapidana yang dihukum mati. Bank Mata merupakan badan yang tidak mencari keuntungan dan berperan terutama untuk mendapatkan donor mata yang memberikannya kepada dokter-dokter yang memerlukannya untuk transplantasi. Dengan penelitian akan didapatkan kemungkinan perubahan teknik pembedahan serta pelayanan yang sama dan berbobot pada setiap Bank Mata. Di Indonesia telah terdapat bentuk organisasi klub donor yang terdiri atas calon donor mata yang dapat membantu kegiatan Bank Mata. Jenazah terlantar yang meninggal di rumah sakit ataupun di luar rumah sakit hanya setelah 48 jam dapat dipergunakan untuk rumah sakit. Beberapa etik Bank Mata 1. Perlu diadakan pertemuan pengurus untuk mendapatkan/membicarakan asupan ini. Hal yang sering dihadapi adalah masalah siapa yang dianggap sebagai ahli waris bila telah akan diambil mata donor. bila perlu mengawetkan. 82. kecelakaan lalu lintas ataupun perang dan dari penderita terlantar yang meninggal di rumah sakit.

dan alat yang dipergunakan untuk : – mendapatkan donor mata (penerangan) – terlaksananya pembedahan donor. 5. 6. agama. 2. Seseorang donor mata adalah seseorang yang secara ikhlas tanpa imbalan bersedia memberikan bantuan pada orang lain. badan sosial. Demikian pula transportasi dan aturan pengawetan. Bank Mata akan berfungsi sebagai pengatur terhadap pelaksanaan kebutuhan donor mata. Dokter mata akan melakukan penyelidikan mengenai cara pengawetan. 82. Nama resipien dan donor tidak disiarkan Bank Mata atau pembedah kecuali pada keadaan khusus. Masyarakat memerlukan penerangan mengenai donor. Ketua medis teknis bertanggung jawab pada kelangsungan pekerjaan laboratorium mata. – hanya Bank Mata mengetahui apa yang terjadi dengan mata donor dan resipien. resipien tidak membayar penggantian – donor. dan staf pengajar. ASAL DONOR Donor didapat dari : – Donor terdaftar. • Tahayul yang masih kuat di dalam masyarakat. Mempersiapkan alat enukleasi. Ketua medis adalah seorang dokter mata yang mempunyai minat pada penyakit mata luar. resipien. kedudukan sosial. resipien dengan sempurna PENERANGAN Penerangan sangat memegang peranan untuk memperbaiki pandangan yang negatif terhadap usaha mendapatkan donor mata. Uang tidak dikaitkan dengan hal-hal berikut : – resipien. Membuat riwayat penyakit donor yang akan menjamin dapat dipergunakannya mata donor. televisi. 3. bedah kornea. Mempunyai kemampuan menilai mata donor. seminar dan lokakarya. Bertanggung jawab terhadap terlaksananya pembiakan mata donor dan sterilitas cairan pengawet. 8. Di dalam Bank Mata tidak hanya diperlukan donor mata saja akan tetapi juga waktu. Tujuan Bank Mata untuk sarana jaringan pada kebutuhan. transportasi. Menjaga sterilitas laboratorium. waktu pengawetan. penyuluhan pada kelompok. Teknisi Teknisi yang mencatat hal berikut dari donor : – Sebab kematian donor. Menjaga sterilitas kotak dan alat pengawet dan enukleasi. Menjaga data donor. Selama ini dirasakan beberapa hambatan yang menonjol. 7. – Membuat catatan medis donor. Masih dirasakan adanya pengaruh keluarga. 3. Teknisi Bank Mata mempunyai tugas : 1. TENAGA Dokter mata Dokter spesialis mata bertanggung jawab atas dapat dilakukannya pembedahan keratoplasti. 8. seperti : – diberikan terutama pada yang darurat – urutan permintaan – pertimbangan lainnya.pikiran. dan berjalannya pekerjaan teknisi. 1993 . 7. Donor mata adalah seseorang yang memberikan jaringan matanya setelah meninggal untuk menolong seseorang buta akibat kelainan korneanya. Diperhatikan aturan atau hukum yang berlaku untuk pengambilan jaringan di dalam negara. Tidak terdapat perbedaan suku. donor tidak meminta penggantian – pembedah tidak mendapatkan penggantian dengan halhal terkait donor – donor tidak dibayar – donor tidak membayar pada resipien – resipien tidak mendapat imbalan dari donor. dan membagikannya kepada dokter yang memerlukannya. dan hal-hal nonmedis lainnya untuk kesempatan mendapatkan jaringan donor. dan yayasan. 10.Hal ini sangat dikaitkan dengan : – kegiatan pelayanan kesehatan dan – pendidikan khususnya. lingkungan atas ketidak tahuannya di dalam lingkungan dan kehidupan sosial. dan pengambilan mata donor. 11. Semua dilakukan agar resipien mendapatkan donor yang baik dan hasil yang baik pada keratoplasti. penelitian. Pada masyarakat perlu diberikan penerangan yang bcrkesinambungan. 9. Hal ini untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari. mendapatkan mata donor. Walaupun seluruh pemuka agama mengizinkan pengambilan mata donor setelah meninggal untuk kepentingan orang buta. 5. Bank mata memerlukan seorang dokter mata yang akan bertanggung jawab untuk menilai mata donor. dan tindakan medis yang dilakukan. menangani mata donor.uang. – Jenazah di mana peraturan mengizinkan untuk pengambilan- 46 Cermin Dunia Kedokteran No. Mata diberikan menurut beberapa sistem. 4. • Pengaruh perubahan kosmetik (paras muka) akibat pengambilan jaringan mata sangat memberikan efck yang belum dapat dimengerti seluruhnya. Keluarga sadar dan tabu apa yang dilakukan : – rahasia donor dipertahankan. Mengetahui teknik pengambilan mata. seperti : • Keraguan apakah benar agama atau kepercayaan yang dianut mengizinkan mata diambil setclah meninggal. – 4. tanpa pertimbangan kesukaran-kesukaran untuk mengambil mata tersebut. Tidak ada persaingan antara 2 Bank Mata. Mata yang telah didonorkan oleh calon donor diambil. 6. – Riwayat kesehatan donor. Penerangan pada masyarakat tidak boleh berhenti dan diperlukan berkesinambungan dengan memakai seluruh sarana yang tersedia seperti radio. Donor yang didapatkan dari perorangan.

Membran Descemet adalah bagian yang panting karena kerusakannya diakibatkan adanya kerusakan endotel. Pemeriksaan lampu celah. Donor yang tidak ideal (memerlukan perhatian khusus): − penderita dengan kelainan endotel − mutipel sklerosis − parkinson − leukemia − jaundice − diabetus melitus − sifilis − mata pasca bedah dengan kelainan mata. Bagian sisa korneo skleral juga dapat dipergunakan. kerusakan akan bertambah dengan berjalannya waktu. Dicari seluruh otot penggerak mata dengan pengkait otot dan digunting. benda asing. Bagian yang terpenting adalah endotel yang akan berkurang dengan bertambahnya umur. Sebab kematian. Tepi sklera dipegang dan kemudian seluruh bagian iris dan badan siliar yang masih menempel pada sklera dilepas dengan spatula. dan warna sklera. Biasanya cara ini dilakukan di dalam laboratorium. Dikenal 2 cara pengambilan jaringan mata donor yaitu enukleasi dan komeoskleral. Pada tindakannya diperlukan tingkat sterilitas yang tinggi karena mudah sekali terjadi kontaminasi. Penilaian mata di Bank Mata Pemeriksaan umum.5 mm darilimbus. Mata donor yang terbaik adalah mata yang segar dan muda yang tersedia. Donor yang meninggal akibat penyakit virus tidak boleh dipergunakan. Diketahui bahwa pada setiap penurunan suhu 10 derajat kebutuhan metabolisme faktor turun setengahnya. Spekulum kelopak dipasang dan konjungtiva dipisahkan dari limbus. Pembedah akan memakai sarung tangan steril dengan memakai masker. Mata yang akan diambil diperlakukan seperti tindakan melakukan pembedahan di kamar bedah. Mata dimasukkan ke dalam botol. Sebelum melakukan pengambilan mata donor diperlukan beberapa penilaian. Potongan sklera dilanjutkan dengan gunting. defek epitel. dan tindakan bedah gabung. kontaminasi. Seseorang yang tidak diketahui sebab meninggalnya tidak dapat dipergunakan sebagai mata donor. Kerusakan kecil endotel akan dapat terlihat segera setelah meninggal. Cara ini lebih sukar dibanding dengan enukleasi karena dengan mudah dapat merusak endotel kornea yang sangat penting. Bank Mata akan mengambil mata donor tanpa memperhatikan sebab. Belum ada peraturan yang lebih memudahkan didapatkannya mata donor dari jenazah terlantar setelah 6 jam di rumah sakit atau kecelakaan lalu lintas. Daerah pembedahan dibersihkan dengan betadin dan kain penutup berlubang. waktu kematian dan umur donor. Makin tua donor makin mudah terbentuknya lipatan Descemet. Dengan melakukan pemeriksaan mata didapatkan kesan umum mata yang akan dipergunakan. Pemeriksaan bakteriologik. Bola mata yang keluar kemudian dicuci dengan garam fisiologik dan larutan antibiotika. Pemeriksaan ini mengenai kejernihan. Banyak penyakit yang dapat ditularkan pada keratoplasti. Biakan diambil dari limbus dengan kapas. seperti : Penyebab kematian. Setelah itu glukosa dalam mata sangat berkurang dan mulai terjadi kematian endotel. CARA PENGAMBILAN MATA Mata akan diambil oleh tenaga medik yang bertugas untuk pengambilan mata. Dibuat insisi sklera yang hanya mencapai suprakoroid 2. – Jenazah dengan seizin keluarga untuk diambil matanya. Seluruh tepi limbus dilepas dari konjungtiva yang menempel padanya. Donor dengan usia 3 tahun : − sangat lentur dan sukar dimanipulasi saat pembedahan. Tidak semua mata donor dapat digunakan. Di dalam pengawetan dengan ruang lembab ini mata dikirim ke Bank Mata. Kelopak mata dibuka dengan spekulum kelopak kawat. Botol ini dimasukkan ke dalam kotak pengantar yang dapat ditutup sehingga suhu dapat bertahan 4 derajat Celsius. Umur donor. Sebaiknya diperhatikan usia mata yang diperiksa. 82. Dibedakan dalam 2 kategori : 1. Bila suhu diturunkan maka daya hidup endotel bertambah. − lebih cembung. Donor muda dipergunakan untuk keratoplasti mata anak dan dewasa. Cermin Dunia Kedokteran No. 1993 47 . Saraf optik digaet dengan sendok saraf optik dan kemudian dimasukkan gunting di bawahnya yang akan menggunting saraf tersebut. Mata yang tidak dapat dipergunakan akan dipakai untuk penelitian atau keratoplasti lamelar. Mata dapat diperiksa dengan lampu celah kecuali dengan pakimeter. Spekulum kelopak di lepas dan bola mata diprolapskan keluar. Mengancam kesehatan resipien dan kontra indikasi dipergunakan karena terdapat kelainan endotel : − Rabies − Creutzfeld − Septikemia − Retinoblastoma − penyakit Hodgkin − leukemia − hepatitis 2. Prosedur Enukleasi. Waktu enukleasi Segera setelah meninggal endotel hanya dapat hidup 6 jam pada suhu 37° Celcius. Kornea dengan tepi sklera ini disimpan di dalam pengawet yang khusus untuk ini. Untuk melakukan ini perlu didapatkan latihan pengangkatan yang benar. Mata dengan tumor tertentu tidak dapat dipergunakan sebagai mata donor. Pengangkatan dengan tepi korneoskleral.nya.

54: 5. McCarey BE dick. 1984. mudah dan banyak dipergunakan. Keadaan ini akan mengakibatkan : – Bekerja sukar dengan jadwal sehingga keadaan seperti darurat. 4. 82. Media kultur 37°C. Kornea pada kultur media dapat disimpan untuk selama 30 hari. Inc. Major DJ. North Florida Lions Eye Bank for Restoring Sight. Pels E. Schuchard. Cassey TA. WB Saunders CO. McCarey–Kaufman Corneal Eye Bank Te4bnique. Kornea disimpan dalam gliserin 95%.. 2. 1993 . Eye Bank Progress. Organ-Culture preservation of Human Cornea. Mata donor dikirim Bank Mata hanya pada dokter mata yang mampu mengerjakan pencangkokan selaput bening. seperti biasanya menyimpan darah donor. 3.pada suhu 4 derajat Celcius. Semua mata yang diterima Bank Mata dicatat dan diteruskan untuk pengawetan atau dipergunakan langsung. Disimpan . Pengiriman mata donor. Corneal Grafting–principle and practice. Gliserin anhidrat Pengawetan ini dilakukan untuk donor pada keratoplasti lameler. Botol yang berisi bola mata ditutup tidak terlalu rapat. Man proposes. Documents Ophthalmologica 1933. Dengan pengawetan ruang lembab biasanya pembedahan dilakukan secepat mungkin. Kerugian dengan cara ini ialah bertambahnya ketebalan kornea. 56: 147-153. Mudah terjadi kontaminasi jamur dan bakteri bila dikerjakan tidak baik. Dengan cara ini pengawetan dapat selama 18 bulan. maka mata akan dapat dipergunakan lebih lama. 73–86. Mata dikirim dengan potongan kornea skleral dan tidak bola mata lengkap. Am J Ophthalmol. – Tidak dapat dilakukan pemeriksaan bakteriologik sebelum pencangkokan. Cara pengawetan ini baik pada waktu pendek atau 5 hari. Dengan cara ini mata dapat disimpan untuk selama 24 – 48 jam.PENGAWETAN Berbagai cara preservasi yang dilakukan untuk mata atau kornea donor seperti : – gliserin anhidrat – ruang lembab – media kultur – McKaufmann medium – pengawetan krio. Ruang lembab Pengawetan di dalam ruang lembab merupakan prosedur pengawetan standar. KEPUSTAKAAN 1. 1962. Booklets. Cara ini adalah cara yang murah. King JH Jr. McCarey Kaufman Medium. Bila waktu antara meninggal dengan saat pengangkatan bola mata diperpendek. Botol dimasukkan ke dalam kotak busa yang berisi es di dalam plastik. Cod disposes 48 Cermin Dunia Kedokteran No. Pada pengiriman mata ditulis semua data donor. Donor disimpan di dalam kultur jaringan dengan suhu 4 derajat Celcius.

dalam hal ini program pemberantasan malaria.I. Karena keterbatasan dana. seperti tertera pada peta di bawah ini : .7%. Di Indonesia. Hambatan yang dihadapi bukan hanya hambatan teknis seperti kekebalan vektor terhadap DDT. misalnya kurangnya biaya. Uji coba dilakukan selama dua tahun. C. Jakarta **Asisten Entomologist Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Propinsi Lampung ABSTRAK Telah dilakukan uji pemakaian kelambu yang dipoles dengan permethrin untuk penanggulangan malaria di Desa Tarahan. quinquefasciatus. Sesuai dengan anjuran WHO maka di Indonesia mulai dilakukan uji coba pemakaian kelambu yang dipoles dengan insektisida piretroid sintetis (permethrin). tritaeniorhynchus dan A. Kabupaten Lampung Selatan. dengan umur efektif paling tidak selama enam bulan. yang dapat menurunkan manfaat penyemprotan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R. Di daerah yang penduduknya menggunakan kelambu yang dipoles dengan permethrin terjadi penurunan densitas dan kontak antara ketiga jenis nyamuk tersebut dengan orang secara bermaknal. Tetapi dari uji hayati langsung ternyata bahwa kelambu yang dipoles permethrin mempunyai daya bunuh cukup baik terhadap nyamuk. Meskipun kadang-kadang ada hambatan dalam kegiatan pengumpulan data. Vektor yang menjadi sasaran adalah Anopheles sundaicus Rodenwaldt. kelambu katun memberikan kematian 75.Evaluasi Pemakaian Kelambu Dipoles Permethrin untuk Penanggulangan Malaria dengan Vektor An. Di Sabah (Malaysia Timur). Hasan Basri** dan Adi Waluyo** *Medical Entomologist.. DAERAH UJI COBA Uji coba pemakaian kelambu yang dipoles permethrin dilakukan di Desa Tarahan. PENDAHULUAN Dalam progam pemberantasan malaria. dilakukan pula upaya pemberantasan vektor untuk memutus penularan dengan kegiatan pokok berupa penyemprotan rumah dengan insektisida. sinensis. khususnya DDT. Uji coba dilakukan mulai September 1986 hingga Nopember 1988. Penyemprotan rumah untuk penanggulangan malaria yang telah dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu. Panut**. tahun pertama digunakan untuk mengumpulkan data dasar atau data sebelum masyarakat memakai kelambu. tetapi secara keseluruhan. Kecamatan Ketibung. selain penemuan dan pengobatan penderita. sundaicus di Lampung Santiyo Kirnowardoyo*. dengan vektor Anopheles sundaicus. Tarahan terletak di daerah pantai pada ujung selatan Propinsi Lampung. telah menghadapi hambatan yang cukup berarti. maka pemerintah. selanjutnya tahun ke dua untuk pengumpulan data setelah penduduk memakai kelambu. Kecamatan Katibung. dengan penangkapan nyamuk di daerah yang penduduknya memakai kelambu yang dipoles permethrin. Hasil evaluasi menerangkan bahwa kepadatan vektor (An.5%. Enam bulan setelah pemolesan. sedang kelambu nilon 51. sundaicus) dan jumlah penderita malaria antara sebelum dan sesudah penduduk menggunakan kelambu yang dipoles permethrin tidak berbeda nyata. kepadatan nyamuk dapat ditekan dengan bermakna paling tidak selama 217 hari2. sehingga cakupan penyemprotan sangat terbatas. Kabupaten Lampung Selatan. tetapi juga hambatan non teknis. uji coba pemakaian kelambu yang dipoles permethrin dilakukan di Lampung dengan sponsor WHO. uji coba dapat dikatakan berjalan dengan lancar. Di Cina pemakaian kelambu yang dipoles dengan permethrin efektif untuk pengendalian C. Peneliti Bidang Entomologi Kesehatan pada Pusat Penelitian Ekologi. mulai mengembangkan metoda pemberantasan vektor yang lebih efisien.

Pembagian kelambu kepada penduduk dilakukan dalam awal bulan Oktober 1987. maka efikasinya dapat dilihat dari densitas atau kepadatan nyamuk yang menjadi sasaran. Agar nyamuk tidak tersedot.dengan air. 3ehingga An. mereka menggulung kaki cēlananya. sedang sisanya (80 buah) dari nilon berwarna biru. maka penduduk mempunyai kebiasaan tinggal di luar rumah hingga larut malam. Karena nyamuk yang kontak kelambu diharapkan mati terbunuh oleh residu permethrin di kelambu. mulai pukul 18. 2) Terdapat tempat perindukar Anopheles sundaicus dengan tipe permanen yang memadai. bahkan tidak sedikit yang terpaksa tidur di luar. tempat uji coba dilakukan. Untuk menangkap nyamuk.75 m.5 = 34 ml 1000/250 x 17 x 0. Penangkapan nyamuk di dalam rumah pagi tiari juga dilakukan oleh empat orang. dengan slide positivity rate sebesar kira-kira 25%. 1993 .Tiap penangkap bekerja di enam rumah. Sukamaju. Penangkapan nyamuk dengan umpan orang (human bait) dilakukan oleh empat orang. kelambu dikeluarkan dan dibiarkan hingga kering tanpa dijemur di sinar matahari. hingga di atas lutut.00 dengan tiap jam aktif menangkap selama 40 menit.00 hingga 24. hingga cairan teresap oleh kelambu dengan merata. yaitu alat untuk menyedot nyamuk yang terdiri atas : Tabung galas dengan diameter 15. masuk ke dalam mulut. setelah mereka menangkap dengan umpan orang. Kepadatan nyamuk yang diukur adalah. digunakan alat yang disebut aspirator. Kemudian cairan mengandung bahan permethrin seperti tercantum di atas dituangkan ke dalam kantong yang ada kēlambunya. Sebagian besar (120 buah) kelambu dari bahan katun. mereka menangkap selama 15 menit. mm. Setelah semua cairan teresap. Untuk pemolesan. Luas kelambu rata-rata 17 m2 (lebar = 1.5 gr/m2. Perbandingan banyaknya permethrin dan air yang diperlukan adalah sebagai berikut3 : Kelambu Bahan katun Bahannilon Permethrin 1000/250 x 17 x 0. Uji hayati langaung untuk menilai daya bunuh residu permethrin yang ada di kelambu dilakukan menurut instruksi WHO4 . Jumlah kelambu untuk tiap rumah disesuaikan dengan jumlah penduduk. bahan permethrin yang tersedia diencerkan Selanjutnya disiapkan kantong plastik. Sukamaju tidak mendapat pembagian kelambu. Keadaan sosial ekonomi penduduk rendah.. : 1) Kepadatan nyamuk menggigit orang (human bitar) 2) Kepadatan nyamuk di dalam rumah pada malam hari 3) Kepadatan nyamuk di dalam rumah pada pagi hari. mereka juga sebagai umpan untuk digigit nyamuk. Kemudian setelah kering. Sukamaju digunakan sebagai pembanding. Sebalang. sedangkan di tiap rumah. 82. Sebalang dan Kp. Sejumlah 200 kelambu yang telah dipoles permethrin dibagikan kepada 492 penduduk Kp.5 = 34m1 Air 17 x 45 ml = 765 ml 17 x 15 ml = 255 ml Desa Tarahan terdiri dari beberapa kampūng. Jadi hanya nyamuk yang menggigit dirinyalah yang boleh ditangkap. Dosis pemolesan yang dikehendaki 0. sehingga sebagian besar rumah penduduk tidak memenuhi syarat kesehatan. Uji hayati dilakukan tiap tiga bulan sekali. di antaranya Kp. Penduduk Kp. di antara tabung galas dengan pipa karat diberi sekat dari kasa plastik atau kasa kawat halus4 . Pemilihan Desa Tarahan sebagai lokasi uji coba berdasarkan beberapa pertimbangan sebagai berikut : 1) Hasil survai malariometrik menerangkan bahwa kasus malaria di lokasi tersebut cukup tinggi. BAHAN DAN CARA KERJA Seluruhnya ada 200 kelambu yang dipoles permethrin 25EC. ke dalam kantong tersebut kita masukkan satu kelambu. Penangkapan nyamuk di dalam rumah pada malam hari dilakukan oleh empat orang yang sama. Kantong diremas-remas. Karena rumah mereka sempit. sundaicus ditemukan sepanjang tahun. kelambu dimasukkan lagi ke dalam kantong dan selanjutnya dibagikan kepada penduduk. dan selama 50 Cermin Dunia Kedokteran No. karena di samping sebagai penangkap. 3) Sejak tahun 1984 tidak dilakukan penyemprotan dan upaya pengendalian cara lainnya. panjang = 2 m dan tinggi = 2 m). Pada ujung pipa karat diberi kepingan plastik untuk menyedot. ujungnya disambung dengan pipa karet/plastik sepanjang 80 – 100 cm. tiap jam mereka menangkap selama 10 menit. karena Kp.

7 50 April 1988 Nopember 1988 Cermin Dunia Kedokteran No. Bahan atau nyamuk yang digunakan untuk uji adalah Aedes aegypti yang dibiakkan di insektarium Badan Litbang Kesehatan. Evaluasi dilakukan dengan uji hayati langsung (bioassay test). yaitu 8. Tabel 2. Pemeriksaan darah dilakukan oleh tenaga Puskesmas.7 75.5 Dukuh Pf % 43. Kebenaran Slide Positivity Rate ditentukan setelah dilakukan crosscheck. Hasil Survai Malariometrik setelah Dilakukan Crosscheck untuk Evaluasi Pemakaian Kelambu yang Dipoles dengan Permethrin.3 83. Metoda yang digunakan adlaah metoda standar WHO.5 115 150 150 415 200 200 400 Nilon Mad 72 130 •112 314 112 112 224 % Kern.3 96 93.5 gr/m2.1987 Nopember 1987 Dēsember 1987 Januari 1988 Pebruari 1988 Maret 1988 Apri11988 Mei1988 Juni 1988 Juli 1988 44 10 29 8 6 6 14 11 7 20 26 6 5 0 1 20 2 9 1 4 0 6 43 53 75 37 43 23 15 34 0 22 2 10 12 6 2 0 0 INN 49 13 36 7 1 0 6 0 6 13 25 2 2 0 2 29 3 2 0 0 1 0 1S 27 54 26 35 19 12 19 0 7 3 17 5 4 1 0 0 INM 27 6 21 2 0 0 0 0 0 4 3 0 0 – – – – 2 0 5 5 3 14 16 17 0 1 0 8 11 0 0 0 0 0 0 0 1 0 Sukamaju (tak menggunakan kelambu) OUTM 5 2 3 7 9 20 7 7 5 10 2 2 2 1 4 10 32 66 11 62 2 62 120 33 84 37 28 3 10 0 0 7 0 2 4 0 2 2 0 INN 6 0 6 0 1 1 2 3 0 11 4 0 0 0 1 0 5 1 0 1 0 1 3 0 4 2 0 0 0 0 0 0 0 1 2 1 0 0 0 INM 2 2 1 0 0 11 1 0 0 2 0 2 1 – – – – 0 0 8 0 3 11 9 9 11 0 0 0 2 1 2 0 0 2 0 1 0 0 Keterangan: OUTM INN INM – – – – – dilakukan oleh empat orang penangkap dari pukul 18. Bulan Nopember 1986 lull 1987 Jml.7 Pembanding Jml 60 60 60 180 80 80 160 Mati 3 2 3 8 7 7 14 % Kern. Tabel 1. tiap jam aktif menangkap selama 10 menit. dilihat perbedaannya dari hasil survai malariometrik. Kelambu dipoles permethrin Bulan Jml Januari 1988 114 150 150 414 200 200 400 Katun Mad 101 143 144 388 166 145 311 % Jml Kern.9 Sebalang 248 41 1~6.7 51.00 – 24.7 51. Evaluasi daya bunuh residu permethrin pada kelambu. tiap orang menangkap pada 6 rumah. Nyamuk dikontakkan ke kēlambu selama 60 menit. 1993 51 .8 75. Survai malariometrik dilakukan tiap enam bulan sekali. Hasil survai entomologi yang menerangkan jumlah nyamuk ditangkap dengan umpan orang di War rumah (OUTM). tiap jam aktif menangkap selama 40 menit. (Tabel 3).00. tetapi di crosscheck oleh tenaga laboratorium Subdit P2 Malaria.8 8.00.7 51. kegiatan penangkapan tidak dilakukan.1 Sukamaju 137 30 21.9 48. Hasil uji hayati langsung dapat dilihat pada Tabel 2.6 86. 5 3.uji coba dilakukan uji hayati sebanyak dua kali. 62. dilakukan oleh empat orang penangkap dari pukul 18. 82. Hasil Penangkapan Anopheles sundaicus untuk Evaluasi Pemakaian Kelambu yang Dipoles Permethrin di Propinsi Lampung. Perbandingan jumlah kasus antara sebelum dan sesudah penduduk menggunakan kelambu.6 95.8 Bulan Jumlah Apri11988 Jumlah Evaluasi berdasarkan banyaknya penderita malaria. Sebalang (menggunakan kelambu) OUTM September 1986 Oktober 1986 Nopember 1986 Desember 1986 Januari 1987 Pebruari 1987 Juni 1987 Iuli 1987 Aaustus 1987 Oktober.4 8.00 – 24.8%.9 Sebalang 100 14 14 Sukamaju 237 27 11.8 8.3 5 4.5 Sukamaju 283 58 20. Kematian sebenarnya pada uji bulan April 1988 dikoreksi dengan rumus Abbott. Tabel 3.4 69. yang dibantu oleh tenaga tim entomologi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengukuran kepadatan nyamuk. sediaan Ratio aediaan Jml. karena kematian pembanding lebih besar dari 5%. masing-masing rumah dilakukan penangkapan selama 15 menit. Positif darah didarah poaitif periksa Sebalang 152 67 44.7 74. Pembacaan hasil dilakuakn setelah nyamuk dipelihara selama 24 jam. oleh tenaga Puskesmas dan Sub Puskesmas. dilakukan oleh empat orang penangkap.6 51 60.7 81. 88. penangkapan di dalam rumah malam (INN) dan penangkapan di dalam rumah pagi (INM) dapat dilihat pada Tabel 1.3 50 55. Hasil Uji Hayati Langsung Kelambu yang Dipoles Permethrin Dosis 0.1 Sukamaju 169 64 37.4 Pembagian kelambu awal Oktober 1987 Sebalang 212 49 23.

Hal ini terjadi karena penduduk mempunyai kebiasaan berada di luar rumah hingga larut malam. sundaicus tetap tinggi meskipun penduduk sudah mendapat pembagian kelambu (Nopember 1987 – Mei 1988). Kelambu dari bahan katun yang dipoles permethrin mempunyai umur efektif lebih lama daripada kelambu nilon. sundaicus tergolong nyamuk eksofilik dan eksofagik.7%.6 12–23 bl SPR 56. Apalagi bila diingat bahwa kita tidak melakukan upaya tindakan anti jentik.4 tidak terlihat bila dibandingkan dengan populasi keseluruhan. ditambah dengan udara yang panas. proses pemolesan kelambu katun lebih mudah. Tidak adanya perbedaan nyata antara SPR sebelum dan sesudah pembagian kelambu (tabel 3). maka apabila kelambu tersebut dipakai dengan sempurna dan penularan tidak berlangsung di luar atau di daerah dengan vektor endofagik.1 Sukamaju (pembanding) 0–11 bl SPR 14.5 2–4 th SPR 61. Hal ini ditunjang oleh data pada label 3. karena lebih mendapat perhatian dari orang tua mereka. daya bunuh kelambu katun masih 75. sundaicus di Lampung. Dari jumlah yang kecil itu tidak seluruhnya kontak dengan kelambu.5% sedang yang dari nilon 51. sundaicus sebelum dan sesudah pembagian kelambu tidak ada perbedaan bermakna karena nyamuk yang masuk ke dalam rumah untuk mencari darah relatif sangat kecil bila dibandingkan dengan populasi keseluruhan.5 25 48. Jadi jelas bahwa kejadian penularan di luar rumah itulah yang merupakan kendala utama yang menyebabkan ketidak berhasilan pemakaian kelambu untuk penanggulangan malaria. Enam bulan setelah dipoles. penularan malaria masih berlangsung.4 34. Pembagian kelambu Awal Oktober 1987 April 1988 Nopember 1988 16.6 35 23. sedang setelah pembagian kelambu hanya antara 0% – 35%. KESIMPULAN Pemakaian kelambu yang dipoles permethrin dengan dosis 0.7%. sundaicus antara sebelum penggunaan kelambu (September 1986 – Agustus 1987) dengan setelah pembagian kelambu (Oktober 1987 – Juli 1988) tidak berbeda nyata. sehingga jumlah nyamuk yang mat akan lebih kecil lagi dan 52 Cermin Dunia Kedokteran No.3 Keterangan: – SPR = Slide Positivity Rate. menyebabkan banyak anggauta keluarga yang tidur di luar.5 gr/m2 untuk penanggulangan malaria dengan vektor An.1 80 9. An. bahwa kelambu yang dibuat dari bahan katun lebih baik dari pada yang dibuat dari nilon. daya bunuhnya masih cukup baik. Hasil Survai Malariometrik Khusus Anak-anak di bawah Umur Lima Tabun untuk Evaluasi Pemakaian Kelambu Dipoles Permethrin. 1993 .Pada Tabel 1 terlihat bahwa kepadatan An. Dapat pula disarankan digunakan oleh para penebang kayu di hutan dan siapa saja yang berkaitan dengan tugasnya mempunyai risiko besar untuk digigit nyamuk. Mengingat daya bunuh kelambu yang dipoles dengan permethrin nyatanya cukup baik.3 12–23 bI SPR 33. Enam bulan setelah pemolesan. Tiga bulan setelah kelambu dipoles. Tetapi untuk anak-anak di bawah lima tahun pembagian kelambu dapat melindungi mereka dari penularan malaria.6 16. apabila kita perhatikan Tabel 2.5% sedang yang dari nilon tinggal 51.7%. kecuali itu karena rumah mereka pada umumnya sempit. Hal ini menerangkan bahwa bagi anakanak. meskipun kelambu yang dipoles permethrin mempunyai daya bunuh cukup baik terhadap nyamuk dengan umur efektif paling tidak enam bulan setelah pemolesan. Kelambu yang dipoles permethrin dapat disarankan untuk perlindungan dari penularan malaria bagi tentara yang sedang tugas operasional. karena kejadian penularan malaria di daerah penelitian berlangsung di luar rumah (outdoor transmission). REKOMENDASI Kelambu yang dipoles permethrin akan memberikan efek positif untuk penanggulangan malaria. hasil uji hayati memberikan keterangan yang berbeda.6% – 61.1%. Pada Tabel 2 terlihat bahwa residu permethrin pada kelambu sangat efektif membunuh nyamuk. maka pembagian kelambu bermanfaat untuk perlindungan terhadap penularan malaria. Kecuali umur efektifnya lebih panjang. Pada label 1 terlihat bahwa pada musimnya. Kelambu katun lebih mudah menyerap larutan permethrin dari pada kelambu nilon. maka pemakaian kelambu akan efektif untuk penanggulangan malaria seperti yang terjadi di Sabah (Malaysia Timur) dan Cina.1 37. 82. Ketidak cocokan antara Tabel 2 dengan Tabel 1 & 3 dapat dijelaskan sebagai berikut 1. Data ini ditunjang oleh data pada Tabe1 4. yaitu kelambu dari bahan katun memberikan kematian 93. Tetapi. kelambu katun memberikan kematian 75. Hal ini menerangkan bahwa meskipun penduduk telah memakai kelambu.3 2–4 th SPR 34. Kesimpulan lain yang dapat diambil dari hasil uji coba ialah.. Dari hasil survai malariometrik pada Tabel 3 terlihat bahwa rasio sediaan darah positif (slide positivity rate) antara sebelum dan sesudah pembagian kelambu tidak berbeda nyata. Densitas An. kepadatan An. maka nyamuk tersebut tidak perlu masuk ke dalam rumah. bila digunakan di daerah dengan vektor endofagik atau di daerah di mana penduduknya mulai masuk tidur tidak terlalu malam.6 0 16. karena di luar rumah telah tersedia sumber darah yang diperlukan. Sebelum pembagian kelambu SPR nya antara 16. sehingga tiap hari masih timbul nyamuk baru dari tempat perindukan. dilihat dari densitas nyamuk dan SPR semua umur ternyata tidak efektif. 2. Sebalang (memakai kelambu) 0–11 bl SPR Nopember 1986 16.7% sedang bahan nilon 75. Tabel 4. Pada Tabel 4 terlihat bahwa SPR khusus anak-anak di bawah lima tahun setelah pembagian kelambu menurun dengan nyata.

Schreck CE. WHO Geneva. 3. Part II.892. Luo Xinfu. Xu Jinjiang. Kanwil Departemen Kesehatan dan Ka. atas izin dan partisipasi serta bantuan yang diberikan. 2. I. atas kerja samanya. Zao Meiluan. Cermin Dunia Kedokteran No. The influence of permethrin-impregnated bed-nets and mass drug administration on the incidence of Plasmudium falciparum malaria in children in Sabah. Jeffrey LK Hii et al. 1985. 1993 53 . Akhirnya tidak lupa. Treating mosquito-nets for better protection from bites and mosquito-borne disease. 1988. Dinas Kesehatan Dati I Prop. 4. Terima kasih juga diucapkan kepada Ka. 82. 1 : 397–407. WHO/VBC/85.914. Medical and Veterinary Entomology 1987. Pan Shina(ang. Puskesmas Ketibung. Liu Skuyou.WHO/VBC/88. Geng Rongen. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih diucapkan kepada para pamong Desa Tarahan. terima kasih juga diucapkan kepada WHO yang telah membiayai uji coba ini sehingga selesai. Malaysia. 1975. Evaluation of Permethrin impregnated mosquito-nets against mosquito inChina.KEPUSTAKAAN 1. sehingga uji coba ini dapat berjalan dengan lancar. Juga kepada Ka. Anonymous. sehingga uji coba dapat berhasil dengan baik. Self LS. atas segala bantuannya sehingga uji coba dapat berlangsung dengan baik. Ka.ampung serta para staf. Puskesmas Panjang dan staf yang terkait. Manual on Practical Entomology in Malaria.

dan seluruhnya adalah P.4%. di desa Pekandangan. sulfadoxin-pirimetamin. Departemen Kesehatan R. Jakarta ABSTRAK Sensitivitas P. 1993 . Dalam upaya pencegahan dan pemberantasan malaria. falciparum terhadap obat-obat antimalaria sangat penting untuk diketahui. falciparum di Pekandangan ternyata telah resisten secara in vivo terhad`ap klorokuin dengan derajat R. falciparum terhadap obat antimalaria mempengaruhi keberhasilan program pemberantasan malaria. Resistensi secara in vitro juga ditemukan terhadap sulfadoxin-pirimetamin.7%' dan sampai saat ini masih tetap 54 Cermin Dunia Kedokteran No. sensitivitas P. sedangkan secara in vitro masih sensitif. Direktorat Jenderal PPM & PLP. Jawa Tengah Emiliana T*..1% positif malaria. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. PENDAHULUAN Plasmodium falciparum merupakan salah satu dari 4 jenis Plasmodium manusia yang telah banyak menimbulkan kematian. Sekar Tuti*. falciparum Dari penderita tersangka malaria secara klinis dengan demam. falciparum terhadap klorokuin secara in vivo. Sensitivitas ini sangat bervariasi dari suatu daerah ke daerah yang lain. Oleh sebab itu perlu diketahui status sensitivitas obat-obat antimalaria saat ini di Jateng. M Renny*.Sensitivitas Plasmodium falciparum terhadap Beberapa Obat Anti Malaria di desa Pekandangan. Penilaian sensitivitas ini dapat dilakukan secara in vivo dan in vitro yang Dibacakan di Seminar Parasitologi Nasional VI dan Kongres P4I V. sedangkan terhadap kina dan meflokuin masih sensitif. Untuk itu dilakukan tes sensitivitas P. ternyata juga telah resisten secara in vitro di Jateng6. resisten multidrugs yaitu terhadap klorokuin secara in vivo dan sulfadoxinpirimetamin secara in vitro. III. dengan splenomegali. Surabaya. Sensitivitas in vivo dilakukan dengan tes 7 hari yang disederhanakan. kina. dan 20% dengan demam dan splenomegali.5% positif malaria. dengan panas dan splenomegali. Resistensi terhadap sulfadoxin-pirimetamin secara in vivo juga telah ditemukan5. hanya 57. II dan R. sensitivitas in vitro dengan tes mikro. Sampai saat ini hanya P. splenomegali dapat merupakan petunjuk penderita dengan kemungkinan besar sedang menderita malaria. dan meflokuin secara in vitro. P. Bahkan terhadap obat antimalaria lain yaitu meflokuin yang belum beredar dan belum dipakai secara resmi di Indonesia. karena sampai saat ini kasus malaria di Pekandangan masih cukup banyak. dan Harijani AM* * *Pusat Penelitian Penyakit Menular. 82. Jawa Tengah mula-mula dilaporkan resisten terhadap klorokuin pada tahun 1981 secara in vivo dan in vitro2–4 . telah disederhanakan tehnik pelaksanaannya1. falciparum dominan. Jakarta **Sub Direktorat Malaria. hanya 53. Karakteristik klinis dari 20 penderita malaria adalah 45% dengan splenomegali. PR Arbani**. pada bulan November 1989.I. Dengan demikian desa Pekandangan merupakan daerah malaria P. Banjarnegara merupakan salah satu kabupaten di Jateng dengan Slide Positivity Rate 20. terhadap klorokuin. 90% positif malaria. 23–25 Juni 1990. 40% dengan demam. Ternyata Parasite Rate : 5. falciparum yang dilaporkan tidak sensitif atau telah resisten dengan beberapa obat antimalaria. dan menurut standar teknik dari WHO.

vivax Pm : P. II. Untuk itu penelitian ini dilakukan di Pekandangan. ditemukan 20 kasus malaria. 139 diperiksa limpanya. Tabel 1. 45% dengan splenomegali. Tes sensitivitas in vivo Kasus-kasus yang akan di tes sensitivitas in vivo. dan 6 minggu untuk meflokuin. klorokuin : ≥ 8 pmol.4%. R.9 5.1 5. dan semuanya adalah P. falciparum terhadap klorokuin secara in vivo. kabupaten Banjarnegara. falciparum terhadap klorokuin.75. Pada pemeriksaan parasitologis darah terhadap 368 penduduk. sulfadoxin-pirimetamin. Karakteristik klinis dari 20 penderita malaria adalah 40% dengan demam. 4 minggu untuk sulfadoxin-pirimetamin. 1993 55 . dosis tunggal.4 Species Pf 0 1 2 4 1 12 20 Pv 0 0 0 0 0 0 0 Pm 0 0 0 0 0 0 0 Pmix 0 0 0 0 0 0 0 Gol umur 0–11 bl 12–23 bl 2– 4 th 5– 9 th 10–14 th > 15 th Total Keterangan: PR : Parasite Rate. falciparum. 2. falciparum. Jumlah diperiksa 6 1 15 94 48 204 368 Jumlah positif 0 1 2 4 1 12 20 PR (%) 0 100 13.3 0 4 8. 4 kasus R. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status sensitivitas P. III.3 4. Tabel 2.. I kasep tak dapat dibedakan. II. Adapun persyaratan untuk tes sensitivitas in vivo adalah : 1) hanya terinfeksi oleh P. sedangkan S dan R. Slide Falciparum Rate 5. Hasil pemeriksaan limps menurut golongan umur dari pen duduk desa Pekandangan. kina dan tetrasiklin. Average Enlarged Spleen = 1. 4. hari ke III : D2.5% . malariae Pmix : Pf + Pv atau Pf + pm atau Pv + Pm Pada pemeriksaan klinis dan parasitologis darah. serta merupakan salah satu daerah yang masih sensitif klorokuin3. falciparum. 1989.tinggi kasus malarianya. dari 7 penderita dengan demam dan splenomegali hanya 4 (57. harus negatif.000–80. kina. 3) tidak minum obat antimalaria selama 14 hari yang lalu terhadap golongan 4-aminokuinolin. kecamatan Banjarmangu. Sampel Untuk mendapatkan kasus yang memenuhi persyaratan tes sensitivitas yang sesuai dengan kriteria WHO8 dilakukan pemeriksaan klinis dan parasitologis darah tetes tebal dengan pewarnaan Giemsa dari penduduk yang menderita demam maupun tidak. Jawa Tengah.000 per min' darah. I dini. Desa yang dilaporkan cukup banyak kasus melarianya antara lain Pekandangan. Jumlah diperisa 6 1 12 15 4 101 Pembesaran limpa ( Hackett ) 0 4 0 9 13 4 97 1 2 0 1 1 0 1 2 0 0 1 1 0 3 3 0 1 1 0 0 0 2 4 0 0 0 0 0 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 Jumlah 2 1 3 2 0 4 12 SR (% ) 33. 82. Tes sensitivitas in vitro Penderita-penderita yang diambil darahnya untuk tes sensitivitas in vitro diobati radikal dengan klorokuin dan primakuin dengan dosis sesuai petunjuk Depkes9. dan memakai kit WHO. Jawa Tengah. dari 12 penderita dengan splenomegali (termasuk 2 bayi) hanya 9 (90%) yang positif malaria. Hasil pemeriksaan parasitologis darah menurut golongan umur dari penduduk desa Pekandangan. kina : ≥ 256 pmol. 1989.000–10. sulfadoxin-pirimetamin : ≥ 1. 4) tes urin Dill Glazko untuk obat golongan 4-aminokuinolin dan Lignin untuk sulfonamid. meflokuin : ≥ 64 pmol. dan meflokuin.5%.000 penduduk yang tercatat. BAHAN DAN CARA Penelitian dilakukan pada bulan November 1989 di desa Pekandangan. semuanya menunjukkan hasil sensitif. pada saat pengobatan akan dimulai: DO. Jateng. Persyaratan untuk tes in vitro adalah sama dengan tes sensitivitas in vivo kecuali kepadatan parasit aseksual yaitu antara 1. desa yang dikelilingi oleh hutan salak dan sawah.3%) yang positif malaria. R. 12 orang membesar antara H1–113.3 2. I. 20% dengan demam dan splenomegali (tabe1 3) Hasil tes sensitivitas in vivo P. HASIL Dari 1. dan hari ke VIII : D71. 2 dad 6 spesimen Cermin Dunia Kedokteran No.75 (tabel 1). Parasite Rate 5.000 pmol –> 12. Terhadap sulfadoxin-pirimetamin.6 Gol umur 0–11 bl 12–23 b1 2–4 th 5–9 th 10–14 th > 15 th Total 139 127 5 5 Keterangan: SR (Spleen Rate) 2 – 9 tahun : 18. dan terhadap klorokuin. dan hari ke III 5 mg/kgbb/hari.3 100 25 13. dan 2 kasus gagal karena muntah-muntah (tabel 4). Hasil tes sensitivitas in vitro P. 3. Tes sensitivitas in vitro dilakukan dengan tes mikro sesuai petunjuk WHO10. Adapun batas konsentrasi obat antimalaria dinyatakan resisten adalah : 1. 1 kasus R. Pf : P. Pv : P. diobati dengan klorokuin dosis total 25 mg/kgbb.000 per mm3 darah. sehingga Spleen Rate (2-9 tahun) adalah 18. III.dan Average Enlarged Spleen 1.1%) yang positif malaria (tabel 3). secara oral. kina dan meflokuin secara in vitra. dari 15 penderita demam hanya 8 (53. 2) kepadatan parasit aseksual antara 1.5 pmol. Penelitian sensitivitas berdasarkan kriteria WHO hanya dapat menilai R. selama 3 hari: hari I dan II 10 mg/kgbb/hari. Setiap kasus diikuti selama 7 hari dan diperiksa ulang parasitologis darah tetes tebal dengan pewarnaan Giemsa.4% (tabel 2). falciparum terhadap klorokuin menunjukkan bahwa tak ada kasus yang sensitif (S) dan R.

4%g. falciparum dominan. 82. Jawa Tengah. Hasil tea sensitivitas P. menunjukkan indikasi bahwa di daerah itu sedang terjadi transmisil' . falciparum Pekandangan. yang lain ternyata menderita penyakit infeksi lain. Jumlah tersangka malaria 15 12 * 7 Jumlah positif malaria (%) 8 (53. Hoffman dkk telah menemukan P. falciparum masih sensitif terhadap kina dan meflokuin. falciparum yang dominan (100%) di Pekandangan. fakiparum secara in vitro terhadap beberapa obat antimalaria di Pekandangan. Pekandangan tak dapat disebut sebagai daerah mesoendemis. Penelitian ini perlu diulang dengan jumlah sampel yang lebih besar sehingga keadaan malaria di Pekandangan dapat diketahui secara jelas. Untuk segala surat-menyurat.menunjukkan hasil resisten (tabel 5). serta pengamatan penyakit malaria yang lebih ketat. Di samping itu perlu disiapkan obat alternatif untuk malaria P. Hasil Sensitif (S) atau RI kasep Resisten I (R I) dini Resisten II (R II) Resisten III (R III) Gage Total Jumlah 0 0 4 1 2 7 Keterangan Banjarnegara sebenarnya masih merupakan daerah sensitif terhadap klorokuin secara in vivo3. KESIMPULAN DAN SARAN Pekandangan merupakan daerah malaria P. Karakteristik klinis penderita tersangka dan penderita malaria P. 1989. Box 3105. resisten multidrugs yaitu terhadap kjorokuin secara in vivo dan sulfadoxin-pirimetamin secara in vitro. pergunakan Alamat lengkap Anda dengan mencantumkan Kode Pos ke alamat kami : CERMIN DUNIA KEDOKTERAN P. 1993 .7%7. Hal ini sesuai dengan yang ditemukan Harijani AMS. Berdasarkan perkiraan PR Banjarnegara adalah 20. Oleh sebab itu perlu segera diambil tindakan-tindakan pengobatan sedini mungkin. serta pengamatan penyakit malaria yang lebih ketat. Dengan demikian splenomegali di Pekandangan dapat dipakai sebagai petunjuk bahwa penderita sedang menderita penyakit malaria.3%) 9 (90 %) 4 (57. falciparum resisten meflokuin di Jateng. 1989. karena 2 bayi yang splenomegali dengan HI dianggap normalll . sedangkan pada tahun 1983. Ini bararti Pekandangan telah menjadi daerah P. Ditemukannya P. pencegahan dan pemberantasan. falciparum seam in vivo terhadap klorokuin di Pekandangan. walaupun secara in vitro masih sensitif. III terhadap klorokuin secara in vivo. Jawa Tengah. Hasil tes sensitivitas P. karena jumlah anak 0–9 tahun yang diperiksa terlalu sedikit yaitu hanya 34 orang. pencegahan dan pemberantasan. Innis obat Klorokuin Sulfadoxin-pirimetamin Kina Meflokuin Jumlah yang diperikaa 5 6 3 2 Sensitif 5 4 3 2 Resisten 0 2 0 0 PEMBAHASAN Walaupun Spleen Rate (2–9 tahun) adalah 18. 1989. Tabel 3. Sebenarnya hanya 1 dari 12 penderita splenomegali yang tidak menderita malaria.3% penderita demam yang menderita malaria. suatu saat dapat terjadi ledakan• sehingga perlu segera diambil tindakan pengobatan sedini mungkin. Secara in vitro ternyata P. II dan R. Tabe1 4.1%) % kuakteristik dari 20 penderita 40 % 45 % 20 % Karakteristik ldinis Demam Splenomegali Demam+splenomegali Keterangan: * termasuk bayi 2 orang dan tidak menderita malaria. Dalam penelitian ini secara in vitro P. Ternyata dari hasil penelitian ini telah resisten R. fakzparum resisten klorokuin. JAKARTA 10002 56 Cermin Dunia Kedokteran No. falciparum juga tersisten terhadap sulfadoxin-pirimetamin. Perbedaan ini mungkin disebabkan adanya pengaruh faktor penyerapan dan metabolisme obat dalam tubuh penderita tersebut. splenomegali dapat sebagai petunjuk bahwa penderita kemungkinan besar sedang menderita malaria. falciparum resisten multidrugs. Hal ini juga diperkuat dengan adanya kasus malaria pada anak-anak balita. muntah-muntah Tabe1 5.O. Ternyata hanya 53. Jawa Tengah. antara lain ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) yang banyak ditemui pada pemeriksaan klinis. sedangkan secara in vitro masih sensitif. Resistensi terhadap obat antimalaria ini mungkin juga disebabkan karena seringnya pemakaian preparat sulfa sebagai obat antibiotika di daerah tersebut.5%. Jadi walaupun PR yang didapat hanya 5. seharusnya jumlah anak 0–9 tahun yang diperiksa minimal adalah 168 orang11.

MPH. Laporan tes resistensi P. 2. 1984. IX (2) : 1–6. Harijani AM. Payne D. Sub Direktorat P2 Malaria. Arbani. 6. Suriadi Gunawan. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih ditujukan kepada : 1. Rooney W. 82. Dr. Kadinkes Kabupaten Banjarnegara dan stafnya.R. Practical aspects of the in vivo testing for sensitivity of human Plasmodium spp to antimalarials. WHO/MAL/82. Inter-country meeting on drug resistant malaria. P. dan meneliti di Pekandangan. 8. 1982. Arbani PR. Direktorat Daerah Pencegahan Pemberantasan Penyakit Malaria. 22 February 1989. Jakarta 12 April 1982. serta seluruh temanteman yang banyak membantu dalam penelitian ini Cermin Dunia Kedokteran No. P. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. 988. Pemberantasan Penyakit Malaria Propinsi Jawa Tengah. Kepala Puslit Penyakit Menular yang telah memberi saran-saran dan petunjuk. PPM & PLP. serta mengijinkan makalah ini diterbitkan. Report of an Intercountry meeting. Simanjuntak C. 1983. New Delhi. 1987. Laporan akhir penelitian tahun 1983–1985. Malaria : Survai malariometrik 6. Penelitian resistensi P. serta mengijinkan hasilnya untuk diterbitkan. falciparum yang resisten terhadap klorokuin di Indonesia. 7. WHO Drug resistant malaria. Pertemuan Tehnis Malaria. falciparum terhadap Fansidar di Indonesia. 4.KEPUSTAKAAN 1. Panel diskusi Seminar Parasitologi Nasional dan Kongres ke 2 P4I. Kumara Rai N. Dr. DPH. 5. Bull Health Stud Indon 1981. 29 September – 3 October 1988. Departemen Kesehatan RI. Arbani PR. falciparum terhadap klorokuin. Penyebaran dan penanggulangan P. Hoffman SL dkk. 3. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. SEARO. 2. 9. In vitro studies of the sensitivity of Plasmodium falciparum to mefloquine in Indonesia. Malaria : Pengobatan 3. Dinas Kesehatan Propinsi Dati I Jawa Tengah. Kumara Rai N. Departemen Kesehatan RI. 3. falciparum resisten terhadap klorokuin di Kabupaten Jepara. 29 September – 3 Ocotber 1988. Agustus 1983. Kasubdit P2 Malaria. Jawa Tengah. Laporan tahunan 1977. 1993 57 . SEA/MAL/165. yang telah memberi kesempatan mengikuti "Latihan tes sensitivitas obat-obat antimalaria". 11. Bandung. Review of the systems for determining drug sensitivity in Plasmodium falciparum. 10.

.. Sarlito Wirawan Sarwono: Aspek Psiklogik AIDS Imran Lubis: Reaksi Psikologik akibat HIV Positif pada Homaseks Asimptomatih di Australia Rachmat Juwono: Petunjuk Pencegahan Penularan HIV untuk Petugas Kesehatan Imran Lubis: Program AIDS di Australia . Was: AIDS . Singapore. Pain S. Arna Apkara. Mob. 1626: 23 Penggunaan kombinasi tetap captopril + HCT O. 265: 3255-64 Cedera dalam Perawatan Internat.suatu studi komparatif Rachmat Juwono: Tanya Jawab mengenai AIDS Sudibyo Supardi. Soetano General Hospital.: Terfenadin untuk Pengobatan Urtikaria Krorik Imtikhananik: Dermatitis Exfoliativa M Goedadi H. Hari Sukanto. Halim Mubin. I. Anwar Musadad: Obit yang Disalahgunakan oleh Pasien Ketergantungan Obat di Rumah Sakit Ketergantungan Obat dan di Inabah Instruksi Mental Kesehatan RI no. Retno Widowati S.Hubungannya dengan Penyakit Menular Seksual Lainnya Moh. Marvel Reny. Mochtar Hamzah: Kelainan Lempeng Kuku Grace Widodo. Titi Lestari S. Sugastiasri S. 303: 549-50 Akibat tenggelam BMJ 1991. 1991.Med. Brunai Darussalam. 325: 849-53 Penggunaan tranboprofilaksis BMJ 1991. J. Engl.: Malaria Tropika dengan Beberapa Komplikasi Tjandra Yoga Aditama: Tuberculosis Situation . 1991. Philippines and Japan Rozaimah Zain Harold: Pemantauan Efek Samping Obat Pudjarwoto T. bid pada hipertensi esensial Br. Purnosno: Penelitian Pemberantasan Malaria di Kabupaten Sikka. IGAK Rats. Rita Marfeta Dewi: Pengobatan Fluor Albus di Puskesmas Cempaka Putih Barat Evita HF Effendi: Dermatitis Herpetiformis S Fasihah R. 301: 9-12 CDK 75. J.J. Affandi. Med. Erdina HDP. Flores . Dr. Engl.H. A.. Hartadi.: Hiperhidrosis S. Oedayati DB. Med.Delay in Case Finding Harijani AM. AIDS English Summary Suriadi Gunawan: Perkembangan Masalah AIDS Imran Lubin: Epidemiologi AIDS Imran Lubin: Petneriksaan Laboratorium untuk HIV Muljati Prijanto: Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk Diag4 5–9 10 –15 16 –18 nosis Human Immunodeficiency Virws (HIV) Harry Isbagio: Artritis yang Berhubungan dengan Penyakit Defisiensi Imun Jusuf Barakbab. Pharmacol.03. 328: 732 Terapi antimiktobial pada tahun 2000 Market Letter.1991. Clin.Mochtar Hamzah: Urtikaria Kontak S. Saut Sahat Pollan: A Retrospective Study of Drug Eruption at the Department of Dennato-venereology. pylori Scrip 1991. Mochtar Hamzah: Displasia Ektodermal Evita HF Effendi: Terapi Plasmaferesis dalam Dennatologi Tjandra Yoga Aditama: Health Situation in Indonesia.1991. July 8.1991. 32: 115-9 Kontraseptif bans Scrip 1991. 286-I/PD. Rita Marleta Dewi: Karakteristik Penderita Fluor Albus di Puskesmas Cempaka Putih Barat I. Kelainan Dasar dan Lipat Kuku RS Siregar. 338: 7435 Diagnosis sindrom septik Lancet 1991. 1625: 23 Mengatasi asites pada sirosis hepatis N.325:911-6 CDK. KULIT I English Summary Arini Rinaldi. Erdina HDP. Randy Bandy: Masalah Penyimpangan Perilaku Seksual Pemuda Remaja di Kota-kola Besar di Jawa. M. 1991. Tantawi Djauhari: Deruatofitosis di LP Palembang.Malaria pada Anak SD Keputusan Presiden RI No.Engl. 1991 Diabetes pada kehamilan N... Marvel Reny. Engl. G. Sri Adi Sularsito: Hirsutisme dan Hipertrikosis Emiliana Tjitra. J. 82.04 tentang Petunjuk Pelaksanaam Melaporkan Penderita dengan Gejala AIDS Abstrak Pentamidin untuk infeksi PCP N. Med. Kosasfh:. Cyrus H. Buditjahjono. Sarjaini Jamal. Med.. IGAK Rata. J. 1993 . 1991. Erdina HDP. 324: 1018-25 Obat esensial Lancet 1991. Med.: Daya Antimikroba Obat Tradisional Diare terhadap Beberapa Jenis Bakteri 4 5–9 10 – 15 16 – 18 19 – 21 22 – 25 26 – 29 30 – 33 34 – 37 38 – 40 41 – 44 17 – 19 20 – 22 23 – 25 26 – 31 32 – 36 37 – 39 40 – 42 43 – 45 46 – 48 49 – 51 52 – 58 19 – 21 22 – 24 25 – 27 28 – 31 32 – 36 37 – 39 40 – 43 44 – 47 48 – 51 52 – 54 55 – 57 58 – 61 62 59 – 61 62 62 62 62 62–63 63 63 62 62 62 62–63 63 63 63 63 63 4 5–9 10–12 13 –16 58 Cermin Dunia Kedokteran No. Engl. Indonesia Shannaz Nadia Idris. PharnacertAbstracts 1991. KULIT II English Summary Adiana Murniati. LP Lahat dan LP Muara Enim Subakir: Pengaruh Suhu Pengeraman pada Biakan Malassezia furfur Emillana Tjitra.Unandar Budimulja: Mastositosis Lydia Pratanu: Geretika Medik-Diagnosis Prenatal serta Aplikasi Klinik Yovita Lisawati: Pembuatan Antibodi HCG dari Kelinci dan Evaluasi untuk Uji Kehamilan A. 321: 829-35 Meramalkan risiko kardiovaskular N. Untung SP. 28(1): 112 Nyeri postpartum BMJ 1990. J. J.D vs. Jakarta Djunaedi Hidajat. 37 tahun 1991 tentang Pengangkatan Dokter Pegawai Tidak Tetap Selama Masa Bakti Abstrak H. Surabaya. 302: 932-3 Hipertensi sistolik dan stroke JAMA 1991. A. 72/Menkea/Insl17/1988 tentang Kewajiban Melapor Penderita dengan Gejila AIDS Keputusan Direktur Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Kesehatan Lingkungan Pemukiman no. Engl. Nur Indah P. Simanjuntak. Kosasih: Bromhidrosis Sri Linuwih SMR.Indeks Karangan dalam Cermin Dunia Kedokteran Tahun 1992 CDK 74. 325:1593-8 Zidovudin untuk anak N. 76. 324: 1079-83 Transmisi HIV-1 N. Fasihah R.

Patogen Sekar Tuti: Resistensi Plasmodium falciparum terhadap Beberapa Obat Anti Malaria di Indonesia Misnadiarly: Basil Tahan Asam dan Limfadenitis Tuberkulosis Usman Suwandi: Mekanisme Kerja Antibiotik Abstrak Alkohol dalam ASI N. Boestan: Manula dan Olahraga ditinjau dari Sistim Kardiovaskular Abraham Simatupang: Proses Kepuasan Terapi dan Masalah dalam Pemakaian Obat Abstrak Antimalaria Lancet 1992. Intern. Med. 339: 333–4 Risiko ultrasonografi pada wanita hamil Lancet 1992. 264: 703-6 Melatonin Scrip 1991. Penelitian Entomologi 1 Emiliana Tjitra. 326: 852–6 Efek teratogenik zidovudin N. 1679/80: 26 Antihemofili Scrip 1991. PENYAKIT SENDI English Summary Harry Isbagio: Pendekatan Diagnostik Penyakit Reumatik Caedlia R. Med.1991. Rita M. 150:1389-96 45 – 48 49 – 52 53 – 55 56 – 59 62 62 62 62 62–63 63 63 63 63 63 63 4 5–7 8 –11 12 –18 19 – 20 21– 25 26 – 29 30 – 32 33 – 36 37 – 38 39 – 43 44 – 51 52 – 55 56–60 62 62 62 62–63 63 63 63 63 63 63 Harry Isbagio: Peranan Obat Antiinflamasi Non Steroid terhadap Nyeri dan Inflamasi pada Penyakit Reumatik AR Nasution: Efek Samping Obat Antiinflamasi Non Steroid Djunaedi Hidajat. 1671: 24 Dosis aspirin Scrip 1991. Med. JMCh Pelupessy: Perkembangan Penyakit Jantung Koroner pada Anak Ratna Dewi S. 267: 64-9 Asiklovir untuk chickenpox Scrip 1991. 1991. 325: 1001-7 Aritmi ventrikel N. 324: 1525-31 Kaptopril untuk nefropati diabetik Scrip 1991. 66: 1037-42 Biaya advertensi obat di Indonesia Scrip 1992. 1991. J. J. 1991. 1991. Heart J. 1671: 27 Bakteruria asimtomatik Arch. Harijani A. 338: 752 Infeksi saluran kemih JAMA 1990. Dis. Engl. Farida Zubier. Engl.: Penatalaksanaan Fase Akut Cedera Kepala Sudibyo Supardi. J. Julius: Gambaran Endoskopi Saluran Cema Bagian Atas di Bagian Penyakit Dalam RSU dr. 66: 313-5 Korelasi kadar kolesterol serum dengan prevalensi penyakit jantung koroner BMJ 1991. Padang Arini Setiawati: Farmakologi dan Penggunaan Terapi Obat-obat Sitoproteksi Misbah Jalins: Pemberian Dini Makanan Lewat Pipe pada Pasien Postoperasi Bedah Digestif Djoko Juwono: Menuju Bebas Polio tahun 2000 di Indonesia Harijani AM. 1637: 25 Mikwrin Lancet 1991. Julius: Proteksi Mukosa Lambung terhadap Obat-obat Antiinflamasi Nonsteroid Nasrul Zubir. Engl. 1644: 24 CDK. Med. Max Joseph Herman: Lingkungan Sosial Pasien Ketergantungan Obat di Rumah Sakit Ketergantungan Obat dan di Inabah Abstrak Pengaruh antagonis H2 terhadap kadar alcohol senun JAMA 1991. Suyitno. Boestan: Aspek Psikologi Pasca Serangan Jantung Hadi Hartono. Med. Flores . 1677:25 4 5–8 9 – 13 14 – 17 18 – 21 22 – 25 26 – 28 29 – 35 36 – 40 41 – 46 47 – 49 50 – 52 53 – 56 57 – 59 62 62 62 62 62 63 CDK 78. Engl. 1679/80:24 32 – 35 36 – 39 40 – 42 43 – 46 47 – 51 52 – 56 57 – 60 62 62 62 62 62 62 – 63 63 63 63 63 63 CDK 79. 325: 981-5 Kortikosteroid untuk nyeri pinggang bawah N. Dewi. 339: 261–4 Indometasin untuk batu empedu Lancet 1992. 324: 1532-8 Deksametason untuk Meningitis N. Iwan N. M. Engl. Mursiatno: Penelitian Pemberantasan Malaria di Kabupaten Sikka. 326: 781–5 Manfaat tambahan tamoxifen N. 1991. 267: 94-9 Silent ischemia pada pria diabetik dengan neuropati otonom Br. TUMOR OTAK English Summary A. Child. Harry Isbagio: Kriteria Diagnostik Penyakit Reumatik Harry Isbagio: Prinsip Dasar Penatalaksanaan Gangguan Reumatik HM Adnan: Peranan Analisis Cairan Sendi dalam Diagnosis Penyakit Sendi Harry Isbagio: Strategi Pengobatan Medikamentosa Penyakit Reumatik 4 5–9 10 – 14 15 – 17 18 – 24 25 – 31 Cermin Dunia Kedokteran No.2. Marvel Reny. Sahat Ompusunggu. Engl. J. Adhi Djuanda: Sindrom Dermatitis-Artritis Gonoreal Diseminata Effendy Salim. Widya: Penggunaan Laser dalam Akupunktur Abstrak Kanker payudara rekuren N. Suwarni. 1992. 1991. 324: 781-8 Obat penyekat beta untuk varises esofagus N. 326: 857–62 Terapi bedah kanker payudara N. 1637: 11 Rx. 266: 3004–7 Risiko diuretik pada diabetes mellitus Arch. AR Nasution. 151: 1350–6 NSAID topikal Scrip 1991.Rini Sasanti Handayani. 339: 385–9 Manfaat ASI Lancet 1992. Med. J. 82. Engl. 1992. Tobing: The Role of Occupational Therapy in Patient with Brain Tumor PT Simatupang: Rehabilitasi Pasien dengan Tumor Otak MN Janie: Pengelolaan Nyeri pada Kanker Stadium Lanjut Budi Riyanto W. 326:1102–7 Terazosin untuk hipertrofi Prostat Scrip 1992. J. 339: 317–21 Pirimetamin untuk ensefalitis toksoplasma Lancet 1992. Med. J. Jamil. 339: 268–71 Efek teratogenik litium karbonat Lancet 1992. Marwoto: Test IFA pada Penelitian Malaria di Kepulauan Seribu Rochestri Sofyan: Produksi Antibodi K1on Tunggal dan Aplikasinya dalam Bidang Kedokteran Nuklir Dharma K. Med. Med.. 1689:23 Aspirin untuk karsinoma kolon Scrip 1991. Engl. 1993 59 . 303: 276-82 Ibuprofen sebagai anti piretik Arch. Intern. 267: 83-6 Risiko perokok pasif JAMA 1991. J. Chalim Muntasir: Pengenalan Gejala Minis Tumor Otak Suwondo: Gejala Psikiatrik Tumor Otak Tri Astuti Wonoyudo: Peranan CT Scan pada Diagnosis Tumor Otak Arman Adel Abdullah: Diagnosis Tumor Otak dengan MRI FX Eddy Gunawan Yusup: Histopatologi Tumor Otak R. Engl. Med. 1644: 26 Sistim pelepasan obat baru Scrip 1991. J. 1992. 77. 1992. Susworo: Peranan Radioterapi pada Neoplasma Susunan Saraf Pusat Djoko Riadi: Terapi Pernbedahan Tumor Otak Ali Shahab: Biopsi Stereotaksi Tumor Otak Martina V. MASALAH SALURAN CERNA English Summary Amirmuslim Malik: Mekanisme Proteksi Saluran Cerna Julius: Patogenesis Tukak Peptik Dwi Djuwantoro: Diagnosis dan Pengobatan Tukak Peptik Sujono Hadi: Hasil Pengobatan Gastritis dengan Traksat empat kali sehari Dibandingkan dengan Traksat dua kali dua sehari Sayan Wongso. 1685:5 Prevalensi migren di AS JAMA 1992. benzodiazepin Scrip 1991. Syahrial Harun. Iwan N. Padang. 339: 530–3 Efek samping pimozide Scrip 1991. Med. 1679/80: 25 Faktor risiko gout JAMA 1991. Asman Manaf. 1990. 1991.

Usman: Hemoptisis Masif 90 – 94 Sugito. Gubler : Dengue Hemorrhagic Fever . RS Parhusip: Benda Asing di Saluran Nafas 98–100 Update II (Diagnostik) Endang Haryanti Gani: Penatalaksanaan Malaria Herat Masa Kini 101–104 Sahat Sianipar: Perkembangan TeknologiRadiologi dalam Diagnosis Berbagai Penyakit 105–108 Rusli Pelly: Asma Noktumal 109–111 Pangaribuan Siregar: Metabolit Oksigen Radikal Bebas dan Ke- rusakan Jaringan Update III (Penyakit Kulit dan Kelamin) Mansur A Nasution. LS Soeroso. UNIVERSITAS TARUMANAGARA DAN LUSTRUM VI UNIVERSIHal TAS TARUMANAGARA Pengantar Sambutan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan Republik Indonesia Sambutan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Universita Tarumanagara Sambutan Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Sumber Waras FK Universitas Tarumanagara Demam Berdarah Dengue Duane J. I Sukiman: Vaksinasi terhadap Hepatitis B 53 – 56 Infeksi. Soekimin: Strategi Deteksi Kanker Payudara Stadium Awal 10 – 13 M Fauzie Sahli: Karsinoma Serviks Uteri . J.1991) Sumengen Sutomo: Pemberantasan penyakit Demam Berdarah melalui pengawasan kualitas lingkungan Duane J. RS Parhusip. Rosiana R Ramsi: Manifestasi Klinis Infeksi HIV Mansur A Nasution. T Bahry Anwar. LS Santoso. Zainuddin Amir. Gani W Tambunan: Berbagai Aspek Deteksi Dini Karsinoma Paru Makmur Husaini: Laboratorium Diagnostik Malaria Masa Kini Simposlum Satelit : Coronary Heart Disease Update T Bahry Anwar. Gubler : Recent developments in Research on Dengue Hemorrhagic Fever Sutaryo : Patogenesis dan patofisiologi Demam Berdarah Dengue Sugianto Djoharman : Demam Berdarah Dengue berat dengan konfirmasi virologik Tatang Kustiman Samsi : Problematik diagnosis Demam Berdarah Dengue Sugianto Djoharman : Manifestasi klinis langka Demam Berdarah Dengue Melani Witarsa Setiawan : Peranan ultrasonografi dalam penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue Sri Rezeki Harun : Demam Berdarah Dengue: Pengalaman di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Cipto Mangunkusumo. Psyckiatr. Luka Bakar. Delyuzar. dan Luka Avulsi 31 – 34 Harry Soedjatmiko: Trauma Toraks 35 – 38 Update I (Pediatri) Syahril Pasaribu: Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue 39 – 43 Atan Baas Sinuhaji. 267: 264–7 Merokok dan plasenta Previa Am. Joko S Lukito. 165: 28–32 Penggunaan fenobarbital Pediatr. Perdarahan dan Hipertensi pada Obstetri Ginekologi Rusli P Barus: Infeksi dalam Kehamilan dan Persalinan 57 – 59 John Slamet Khoman: Perdarahan Hamil Tua dan Perdarahan Postpartum 60 – 63 Daulat Sibuea: Penanganan Kasus Perdarahan Hamil Muda 64 – 66 Hasdiana Hann: Hipeitensi dalam Kehamilan/Preeklamsi dan Eklamsi (Gestosis) 67 – 71 Penyakit Kardiovaskular dan Penanganannya HA Adin St Bagindo: Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Jantung Koroner di Indonesia 72 – 75 T Renardi Haroen. T Renardi Haroen: Penggunaan Ca Antagonists dalam Penatalaksanaan Penyakit Jantung Koroner Simposium Satelit : Pola Makan untuk Mencegah Kegemukan Pangaribuan Siregar: Interkonversi Zat-zat Kimia dalam Tubuh Semiloka : Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih Hesty RPO Sitompul: Program Menjaga Mutu Pelayanan Kontrasepsi Mantap Raja Malem Kaban: Pemantauan Aspek Non Medik Pelayanan Kontrasepsi Mantap Maciste Lumbanraja: Pencegahan lnfeksi pada Metode Kontrtsepsi Efektif Terpilih (MKET) 112–115 116–118 119–123 124–125 126–127 128–137 138–140 141–146 147–149 150–151 152–156 157–160 161–164 165–170 171–173 174–180 CDK 81.LIMA WINDU FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Deteksi Dini Kanker dan Penatalaksanaannya Masa Kini Humala Hutagalung: Beberapa Aspek Bedah Onkologi 5–6 Gani W Tanabunan: Penerapan Biopsi Aspirasi Janun Halus dalam Deteksi Dini Kanker 7–9 Gani W Tambunan. Juwono. RS Parhusip. Zulilham: Penatalaksanaan Gejala Duh Tubuh Uretra Diana Nasutlon: Alergi dan Iritasi Kulit pada Keadaan Sehari-hari Kursus dan Demonstrasi RJP Oloan SM Siahaan: Resusitasi Jantung. HMM Tarigan. 82.FK. Gontar A Siregar: Pola Payah Jantung di 76 – 78 Rumah Sakit Dr Pimgadi Medan Gawat Darurat Penyakit Syaraf LBM Sitorus: Status Epileptikus 79 – 81 Syawalludin Nasution. ILMU KESEHATAN ANAK RS. Mansur A Nasution. EDISI KHUSUS .Stroke pada usia muda J Neurol. H Soekimin. H Sugito. Obstet. SUMBER WARAS . 1993 . 1991. Neurol. Rusyda N: Efusi Pleurasif 95 – 97 Sugito.Deteksi Dini dan Penanggulangannya 14 – 16 Visum dan Hukum dalam Kedokteran Kehakiman Amar Singh : Permasalahan Visum et Repertum 17 – 21 Amri Amir: Hukum Kesehatan : The New Frontier 22 – 24 P Emma Sitompul: Pengambilan clan Pengawetan Barang Bukti Pemeriksaan secara Laboratoris Kriminalistis 25 – 27 Gawat Darurat Bedah S Soewandi: Akut Abdomen pada alat Pencernaan Orang Dewasa 28 – 30 Buchari Kasim: Trauma Wajah.A Global Public Health problem Thomas Suroso: Kebijakan Nasional pada Demam Berdarah Dengue Tatang Kustiman Samsi : Pengamatan klinis Demam Berdarah Dengue di Rumah Sakit Sumber Waras (1968 . AH Sutanto: Mekanisme Diare Infeksius Akut 44 – 46 H Ridwan Muchtar Daulay: Kendala Penanganan Infeksi Saluran Pemafasan Akut (ISPA) 47 – 52 Penyakit Hati dan Tukak Lambung EN Kosasih.1991. T Kemala Intan: Pengiriman dan Pengelolaan Jaringan untuk Diagnostik Histopatologik Maria Irene Toting: Toxoplasmosis dan Infertilitas Luhur Soeroso. Sumarl. 7(4): 243–8 63 63 63 63 CDK 80. 54: 264–7 Ceftriaxone untuk Endokarditis JAMA 1992. Neurosurg. Tapi S Niari: Diagnosis dan Penatalaksanaan Dematofitosis Namyo O Hutapea. Adril A Hakim: Penatalaksanaan Memar Otak (Contusio Cerebri) 82 – 83 A Sjukri Batubara: Koma 84 – 87 Darulkutni Nasution: Stroke Hemoragik : Perdarahan Intraserebral 88 – 89 Gawat Darurat Penyakit Paru H Luhur Soeroso. Gynecol. EDISI KHUSUS ULANG TAHUN KE-25 UPF/LAB. Kamallah Muis. Jakarta 7–8 9 10 11–13 14–18 19–25 26–33 34 35–39 40–43 44–49 50–52 53–56 57–61 60 Cermin Dunia Kedokteran No. Sutomo Kalman: Patofisiologi dan Penatalaksanaan Penyakit Jantung Koroner Sutomo Kasiman. Pam dan Otak Makalah Lain Joko S Lukito. 1991.

Malaria II CDK No.Insomnia CDK No. 1993 61 . Gunarsa : Pendekatan psikologis terhadap anak yang dirawat dan sikap orang tua Simposium Satelit: Batuk Kronik pada Anak Herman Sidharta : Batuk kronik pada anak Oeml Alifa Tadjoeddin : Batuk kronik pada anak ditinjau dari bidang THT E. 78 .Masalah Saluran Cams 70 eks 40 eks 40 eks 50 eks 25 eks 20 eks 25 eks 120 eks 140 eks 180 eks 90 eks 120 eks 400 eks 50 eks 70 eks 320 eks 520 eks 580 eks 380 eks Sekiranya sejawat masih memerlukan edisi tersebut dapat memberitahukan kepada kami melalui surat. Setiawan. Katyadi. Purnadi K.Kulit (I) CDK No.Kulit (II) CDK No. 17 .Penyakit Sandi CDK No. 66 .Masalah Anestesi CDK No. sebagai berikut : CDK No. Dadi Suyoko : Konsep baru penatalaksanaan Asma Bronkial pada anak 104–106 106–109 110–111 112 113–114 115–120 121–125 126–128 129–131 132–134 135–136 137–140 141–143 144–148 Simposium Satelit: Nyeri Perut Berulang dan Menahun pada anak Hansa Wulur : Nyeri perut berulang dan menahun pada anak 149–154 Singgih D. Digdowirogo: Endoskopi pada pendarahan gastrointestinal Simposium Satelit: Hematuri pada Anak Setiadharma Selopranoto: Hematuri pada anak:Pendekatan diagnosa Linda Supardi : Hematuri pada anak: Aspek radiologi Melani Witarsa Setiawan : Hematuri pada anak: Aspek sonografi Zainal Abidin : Hematuri pada anak: Aspek urologi Simposium Satelit: Psikologi Anak Singgih D.Seminar Penyakit Tak Menular I CDK No. Susanto. Sie: Rotavirus in pediatric patients at Sumber Waras Hospital Mei-Hwei Chang : Hepatocellular Carcinoma in children S. I. 82.Bedah Mikro CDK No. 76 .Tumor Kepala dan Leher CDK No.B. 65 .Penyakit Saraf (Sambungan) CDK No. 33 . H. Jennings : Study of human peripheral blood leukocytes from Dengue immune persons. kami akan mengirimkannya secara cuma-cuma selama persediaan masih ada. Redaksi Cermin Dunia Kedokteran No. 43 .M. 52 . Wulur : Pengalaman Ultrasonografi Abdomen di RS Sumber Waras Willem Baerts : Echo Encephalography of newborn infants 62–65 66–69 70 71 72 73–74 75–78 79 80–82 83 84–85 86–89 90–95 96–98 99–103 Mei-Hwei Chang : USG examination of the hepatohiliaty Indra Wiradharma : Indikasi USG ginekologi pada anak Haryanto Sidharta : Ultrasonografi intervensi tumor perut Endoskopi Mei-Hwei Chang : Helicobacter pylori & duodenal ulcer in children Laurentius A. Wiharta : Hepatitis pada bayi Mei-Hwei Chang : The protective efficacy of Recombinant Hepatitis B vaccine in infants of HBeAg positive HbsAg carrier mothers in Taiwan Komalarini : Diare di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Sumber Waras Anni C. Semarang Ratna Tan : Dengue virus surveillance at Sumbar Waras Hospital September 1987 through August 1992 Peter Donald O'Hanley : Potential pathogenic roles of acute inflammatory cytokines and HLA status in DHF Gerald B. Setajo Noegroho : Histoplasmosis di Rumah Sakit Sumber Waras Emiliana Tjitra : Pengobatan Malaria yang Resister terhadap Klorokuin Ultrasonografi Melani W.Simposium Upaya Peningkatan Pelayanan Rumah Sakit CDK No.: Demam Berdarah Dengue: Pengalrnan di Bagian IlmuKesehatan Anak RS Hasan Sadikin.Imunisasi I CDK No. 53 . 73 .Azhall MS.Imunisasi II CDK No. 67 .Puhnonologi CDK No. Bandung Aaggoro D. relationship between FC receptor expression and virus growth Penyakit Tropis Mei-Hwei Chang : Hepatitis in children in Asia Adnan S. 74 . 70 . 77 . 55 . Lesman : Endoscopic Retrograde Chlolangio Pencreatography (ERCP) diagnostik dan terapeutik pada Obstruksi Biller Hadjat S. JJ Setiawan. Gunarsa : Faktor psikogenik pada gangguan organik 155–156 nyeri perot berulang dan menahun pada anak ANDA MEMBUTUHKAN CERMIN DUNIA KEDOKTERAN EDISI LAMA ? Di dalam persediaan kami masih terdapat Cermin Dunia Kedokteran Edisi lama.Khusus . 69 . 79 .Gizi CDK No.Tumor Otak CDK No. 49 .Kardiovaskular CDK No. Sachro : Danam Berdarah Dengue: Pengalaman di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS DR.Kesehatan dan lingkungan CDK No. 71 .

82." Aidi : "Tahu nggak. Denpasar PENCEGAH ABORTUS Seorang ibu hamil muda dengan pendarahan datang berobat." Aidi : "Au………. Dokter : Ibu ini bagaimana? Bukan kegugurannya nanti yang menjadi masalah. "Ya. cara pakainya ?" Ali : "Tahu !" Aidi : "Caranya bagaimana ?" Ali : "Setiap kami kumpul. Seperti yang diungkapkan pada dialog di bawah ini. Dokter : Yang dituruti toh yang masuk akal lho bu! Emiliana Tjitra Jakarta PAKAI KALENDER Dalam program KB banyak metode kontrasepsi yang diperkenalkan kepada masyarakat. dengan bom. Lihat saja. Di negeri saya tidak dipakai kejutan listrik lagi. Sambil meningkatkan nada suaranya ia berkata: "Di Rusia caracara yang kalian pakai sudah lama ditinggalkan. Di Rusia sapi-sapi dibunuh dengan meledakkannya dengan bom!" "Dengan bom?????. yang temyata di lapangan juga tak jarang mengalami distorsi informasi. Dok! Yang ada sekarang cuma kuburnya!" Dr. 1993 . Sarjana dari Rusia merasakan bahwa kedua rekannya dariBarat tadi hendak mengejek keadaan di negerinya." ungkapnya dengan polos. Bu? Apa dia sudah sembuh sekarang?" "Tidak ada kabarnya lagi tentang anak saya. tetapi karena perut ibu tertusuk paku ini. yaitu tidak dipotong lagi dengan pisau. tapi sapi-sapi dibunuh dengan tembakan laser!" Kedua sarjana dari Inggris dan Amerika Serikat lantas berpaling kepada rekannya dari Rusia dan dengan nada agak mengejek menanyakan bagaimana caranya membunuh sapi di Rusia. Sambil menikmati kopinya sarjana Inggris bercerita: "Di Inggris pembunuhan sapi di tempat pemotongan hewan berlangsung sangat modern.HUMOR ILMU KEDOKTERAN TIADA KABAR Seorang dokter menyapa seorang ibu yang sedang berbelanja di pasar swalayan. di toko-toko penjual daging di Rusia yang tinggal hanya tulang-tulang sapi saja!" OLH Jakarta 62 Cermin Dunia Kedokteran No. Penderita : Susah dokter. Refinaldi Sambaliung. lebih banyak peranan tenaga kesehatan. Untuk yang sederhana dapat dilakukan oleh akseptor sendiri. seminggu yang lalu si ibu mengobatkan anak balitanya pada dokter tersebut. masing-masing dari Inggris. akan tetapi binatang tadi dibunuh dengan kejutan listrik. Dokter : (Pada waktu akan dilakukan pemeriksaan fisik) Lho." Sarjana dari Amerika Serikat langsung berreaksi: "Wah. Ketut Ngurah Lab. Dan yang paling sederhana hingga yang paling rumit. Soalnya. "Apa kabar mengenai putranya. Penderita : (Dengan malu mengambil paku tersebut) Katanya untuk mencegah keguguran. Berau SIAPA YANG LEBIH MODERN???? Tiga usahawan. apa ini bu? (sebuah paku dengan panjang 12 cm terletak vertikal di umbilicus). yang tentu berkonsultasi dulu dengan dokter atau bidan. Parasitologi FK Unud. Amerika Serikat dan Rusia berkumpul sewaktu rehat kopi (coffee break) sebuah konperensi internasional tentang peternakan. pada hal sudah ikut KB. Sedangkan yang rumit. Salah satu cara sederhana adalah penggunaan kalender.. kalendemya saya alaskan di tempat tidur. Ali : "Aidi (seorang petugas kesehatan di puskesmas). istri kamu pakai KB apa ?" Ali : "Pakai kalender. istri saya kok masih hamil. kalau kemauan orangtua tidak dituruti. cara itu sudah ketinggalan jaman." Kedua sarjana dan negara makmur tadi balas menanya.

1693: 5 Brw VITAMIN B6 UNTUK EMESIS GRAVIDARUM Vitamin B6 telah diteliti efektivitasnya terhadap mual dan muntah selama kehamilan. tidak ada perbedaan bermakna dalam hal rasa mual. J.000 resep temafloxacin.1991.3 ± 2. Sedangkan untuk pengobatan ulkus. dari segi biaya antagonis H2 merupakan pengobatan yang dianjurkan untuk ulkus gaster. Ternyata perbaikan kekuatan ditemukan pada 34% pasien yang menerima plasma-exchange dan pada 53% pasien yang menerima imunoglobulin iv (p = 0. 326: 1123–9 Hk TERAPI SINDROM GUILLAINBARRE Sindrom Guillain-Barre merupakan polineuropati yang diduga berkaitan dengan reaksi imunologik.2) (p < 0.05). tidak ada hilang kesadaran. 31 wanita hamil mendapat 3 dd 25 mg. 95% CI: 3–34%). sedangkan bila lebih dari 4 minggu. uremia hemolitik. sedangkan omeprazol untuk ulkus duodeni bila pengobatan dilakukan selama 4 minggu. N. • Berhenti bertanding. Med. Temafloxacin baru saja dipasarkan di AS selama 3 bulan dan juga sudah beredar di UK. Perbaikan tersebut dirasakan setelah 41 hari pada kelompok plasma-exchange dan setelah 27 hari pada kelompok imunoglobulin (p = 0. dan saat ini telah beredar banyak preparat yang memenuhi syarat dengan harga yang berbeda-beda. Efek samping yang muncul berupa hipoglikemia berat pada pasien manula dengan penurunan fungsi ginjal. • Periksa segera dan setiap 5 menit kemudian untuk mengetahui gejala amnesia dan gejala pascatrauma lain. Engl. terdapat pengurangan derajat mual yang bermakna pada wanita yang mendapat vitamin B6 (ratarata 4. Lima puluh reaksi berat.8 ± 2. tetapi efek ini tidak muncul pada periode uji coba pemasaran yang dilakukan Abbott. muntah didcrita oleh 15 wanita sebelum terapi. Penarikan temafloxacin ini merupakan langkah lanjutan setelah penyelidikan yang dilakukan oleh FDA yang menyimpulkan bahwa resiko efek samping yang serius terbukti disebabkan oleh temafloxacin dan lebih berat dibandingkan antibakteri kuinolon lainnya. Jerman. 82. Di antara 31 wanita di kelompok terapi. 1992. Inpharma. 1993 63 . dan turun menjadi hanya 8 wanita setelah terapi.024.ABSTRAK ABBOTT MENARIK OMMFLOX (TEMAFLOXACIN) DARI PASAR Abbott Laboratories secara sukarela menarik dari pasaran produk baru anti bakteri berspektrum luas Omniflox® (Temafloxacin) menyusul dilaporkannya efek samping yang serius yang ditimbulkan oleh obat ini. p 27 VSO dan tidak bisa berjalan sendiri. dan kelompok imunoglobulin menderita lebih sedikit komplikasi dan lebih sedikit memerlukan pernapasan buatan. 13 Juni 1992.4 g. Sedangkan di kelompok plasebo. Gyneco1. Obslet.01). Efek samping yang berat ini muncul setelah.ditulisnya sekitar 300. Sebelum terapi.1) dibandingkan dengan yang menerima plasebo (rata-rata 1. termasuk 3 meninggal dunia dilaporkan berkaitan erat dengan penggunaan temafloxacin. penggunaan imunoglobulin intravena sedikitnya sama efektifnya dengan plasma-exchange. Irlandia. Pada sindrom Guillain-Barre akut. muntah diderita oleh 10 wanita sebelum terapi dan menjadi 15 wanita setelah terapi. suatu percobaan telah dilakukan untuk membandingkanefektivitasplasma-exchange dengan pemberian imunoglobulin pada 150 pasien yang menderita sindrom Guillain-Barre kurang dari dua minggu PEMILIHAN OBAT Departemen Kesehatan Belgia telah mengeluarkan informasi yang bertujuan agar para dokter memperoleh pedoman pemilihan obat yang sejenis. Scrip 1992. 78: 33–6 Hk CEDERA KEPALA DI KALANGAN OLAHRAGAWAN Colorado Medical Society telah mengeluarkan pedoman untuk menangani kasus-kasus cedera kepala di saat olahraga: Grade 1 : confusion (bingung) tanpa amnesia./ kgbb. Rasa mual dinilai menurut skala 1 – 10 dan ada tidaknya muntah dicatat. vitamin B6 selama 3 hari dan 28 wanita hamil lainnya mendapat plasebo dengan cara yang sama. Ternyata vitamin B6 dapat mengurangi beratnya rasa mual dan juga kejadian muntah secara bermakna di kalangan wanita hamil. Secara acak mereka menerima lima kali plasmaexchange (masing-masing 200–250 ml. • Boleh kembali bertanding bila tidak ada gejala timbul sclama sedikitnya 20 Cermin Dunia Kedokteran No. gangguan ginjal yang memerlukan dialisis dan reaksi alergi yang menyebabkan gangguan pemapasan. Italia. Swedia dan Argentina. Pengobatan hipertensi dengan penyekat beta yang dapat diberikan sekali sehari merupakan pengobatan yang dianjurkan.) atau lima dosis imunoglobulin (0./kgbb./hari). biayanya akan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan antagonis H2. sedangkan setelah terapi.

• Dapat kembali bertanding setelah 1 minggu tanpa gejala.3 g/mmHg.8%). 1694:25 Brw 64 Cermin Dunia Kedokteran No. sebagai berikut : Penyekat Penyerta BIOAVAILABILITAS TERFENADIN TIDAK DIPENGARUHI OLEH MAKANAN Suatu studi cross-over pada 24 sukarelawan pria sehat menunjukkan KONSUMSI OBAT MANULA DI ITALIA Empat puluh persen penduduk Italia yang berumur di atas 70 tahun mengkonsumsi 4–6 macam obat sehari dan 12% mengkonsumsi lebih dari 9 obat. Scrip 1992. Pola penulisan resep polifarmasi serta perubahan-perubahan farmakokinetik dart farmakodinamik menyebabkan tingginya frekuensi efek samping (6–14%) yang dilaporkan pada kelompok manula ini. Dari analisis tersebut.6%) dan obatobat bronkopulmoner (4. perubahan status mental. diuretik (8. Spanyol beberapa waktu yang lalu. temyata ACEinhibitor mempunyai efek mengurangi hipertrofi ventrikel kiri yang terbaik dibandingkan dengan golongan antihipertensi lain. JAMA 1991. • Berhenti bertanding. tetapi jumlah obat yang diabsorpsi dari terfenadine 120 mg relatif tidak dipengaruhi dengan adanya makanan kaya lemak dibandingkan keadaan puasa.5%). 1729: 27 Brw bahwa walaupun kadar puncak rata-rata (C max) meningkat (tidak bermakna) dan waktu mencapai kadar puncak rata-rata (t max) diperlambat secara bermakna. Bjorn Dahlof dari Swedia melaporkan meta-analisis dari 109 penelitian mengenai antihipertensi yang melibatkan 2357 pasien. 82. 266(20): 2869 Hk MANFAAT TAMBAHAN ACE-INHIBITOR Dalam pertemuan International Society of Hypertension yang diadakan di Madrid. Pengurangan hipertrofi ventrikel kiri merupakan manfaat tambahan karena mengurangi risiko kardiovaskular. lakukan pemeriksaan neurologik lengkap. Scrip 1992. tidak ada hilang kesadaran. • Rawat bila terdapat kelainan neurologik. Perbedaan farmakokinetik di atas secara klinik tidak bermakna. 1721: 4 vso Diuretik Penyekat beta Penyekat kalsium Penyekat ACE ++ ++ + ++ + – – + – ++ – – + – + – ++ + ++ + + + ++ + + – + ++ Tidak ada Penyakit jantung Angina Asthma/COPD Gangguan vaskular perifer Gout Diabetes melitus Keterangan : ++ : pilihan pertama + : alternatif – : umumnya kontraindikasi Scrip 1992.4 g/mmHg pada penggunaan antagonis kalsium dan sebesar 1. Grade 2 : confusion dengan amnesia.ABSTRAK menit. bila tidak ada. Obat-obat yang paling banyak diresepkan adalah antiangina dan kardiotonik (15. 1993 . Di Indonesia terfenadine tersedia dengan merek dagang Nadane®. dipulangkan dengan pengawasan keluarga. pemeriksaan diulang keesokan harinya. perburukan gejala pascatrauma atau adanya kelainan pada pemeriksaan neurologik memerlukan penilaian/konsultasi dengan ahli saraf atau perawatan. 13 Juni 1992. 1. Hilang kesadaran yang berlanjut. dibandingkan dengan penurunan sebesar 0. p 24 vso PEMILIHAN ANTIHIPERTENSI Para peneliti di UKMedicalResearch Council telah mengeluarkan rekomendasi penggunaan antihipertensi di kalangan usia Ian jut. Grade 3 : hilang kesadaran • Bawa segera ke rumahsakit. Dr. • Periksa gejala/tanda kelainan intrakranial. yaitu sebesar 2. • Dapat kembali bertanding setelah 2 minggu tanpa gejala.1 g/ mmHg pada penggunaan diuretik.9 g/mmHg pada penggunaan betablockers. Inpharma.

Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. 82. Sumber infeksi nosokomial adalah berikut ini. kecuali : a) Penyakit dasar b) Status gizi pasien c) Pendidikan pasien d) Tindakan medik e) Pengobatan pasien 3. Bahan yang biasanya tidak diperlukan pada surveilans mikrobiologik infeksi nosokomial : a) Pus luka operasi b) Usapan ujung kateter intravena c) Usapan ujung kateter urin d) Urin e) Feses 9. Cara pencegahan infeksi nosokomial yang terpenting : a) Penggunaan alat steril b) Perilaku petugas medik/paramedik c) Penggunaan antibiotik pencegahan d) Sterilitas ruangan e) Isolasi pasien 6. Kebiasaan cuci tangan yang kurang baik ialah : a) Mencuci tangan sebelum tindakan b) Mencuci tangan setelah tindakan c) Menggunakan air waskom d) Menggunakan antiseptik e) Menggunakan sabun biasa Cermin Dunia Kedokteran No. coli b) Stafilokokus c) Streptokokus d) Proteus e) Pseudomonas 8. Kuman patogen yang penting di kalangan petugas kesehatan dalam kaitannya dengan kemungkinan infeksi nosokomial : a) Stafilokokus aureus b) Streptokokus hemolitikus c) M. tuberkulosis d) Proteus e) Pseudomonas 10. Diagnosis infeksi nosokomial ditegakkan bila terdapat tanda di bawah ini. kecuali : a) Pasien sendiri b) Pasien lain c) Makanan/minuman pasien d) Dokter/paramedik e) Tanpa kecuali 5. 1993 65 . Ambang batas pencemaran ruang bedah : a) 0 CPU/l5' b) 5 CPU/10' c) 10 CPU/10' d) 5 CPU/15' e) 10 CPU/15' 7. Faktor-faktor betikut ini dapat mempermudah terjadinya infeksi nosokomial. Kuman utama pada infeksi nosokomial : a) E. Yang tidak termasuk dalam kegiatan Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial : a) Surveilans b) Pengobatan c) Pelaporan d) Pemantauan e) Semua termasuk 2. kecuali : a) Belum ada tanda infeksi pada saat awal perawatan b) Tanda infeksi muncul setelah 3 x 24 jam setelah dirawat c) Infeksi tersebut bukan bagian dari penyakit awal d) Dapat berupa infeksi saluran kemih e) Tanpa kecuali 4.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->