BELAJAR DARI BANJIR NEGERI SABA’ Tuesday, 04 November 2008 H.

MUNTAHA AZHARI, MA (Dosen Institut PTIQ Jakarta) Ada beberapa kisah banjir yang diungkap al-Qur’an, namun yang mempunyai relevansi paling tepat untuk kita ambil hikmah dan pelajarannya adalah fenomena banjir negeri Saba'. Kisah banjir negeri Saba’ diungkap dalam QS Saba’/34 : 15-17 : “Sungguh bagi Saba dahulu kala, ada satu tanda di tempat kediaman mereka – dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri. Makanlah rizki (yang diberikan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. Sebuah negeri yang makmur dan bahagia, dan Tuhan Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling (dari Allah) dan Kami datangkan kepada mereka banjir (yang dilepaskan) dari bendungan, dan Kami ganti dua (jajaran) kebun mereka menjadi kebun-kebun yang menghasilkan buah-buahan yang pahit, pohon asl dan sedikit pohon sidr. Demikianlah Kami balas mereka karena kekafiran mereka, dan pembalasan Kami hanya kepada orang kafir.” (QS. Saba’/34 : 15-17)

Banjir itu merupakan peristiwa tragis karena menghapus kejayaan dan kemakmuran fantastis yang telah dicapai oleh suatu negara. Lebih tragis lagi banjir itu ternyata bersumber dari diri manusia sendiri. Bagi kita warga di daerah-daerah yang sering diporak-porandakan oleh banjir, perlu mengambil pelajaran dari kisah negeri Saba’ ini, untuk mengetahui sejauh mana faktor manusia dan kerusakan lingkungan hidup menjadi penyebab banjir. Sementara itu, secara umum dari kisah negeri Saba' bisa diambil pelajaran tentang perjalanan suatu Negara yang berubah secara drastis dari kejayaan dan kemakmuran menjadi Negara yang sengsara dan hancur. Selain kasus banjir, yang juga menarik dalam mengkaji-ulang tafsir negeri Saba’ adalah kajian secara sosio-politik terhadap negeri Saba'. Dalam mengkaji negeri Saba’ menurut al-Qur'an mau tidak mau kita akan mengenal sebutannya yang populer sebagai “baldatun thayyibah wa rabb ghafur” (QS. Saba'/34 : 15). Predikat itu sering disebut-sebut sebagai konsep negeri ideal dalam al-Qur’an, sehingga selalu didengungkan dalam dakwah, orasi politik atau kajian ilmiah. Sementara bila dikaji lebih komprehensif dengan melihat rangkaian ayat lebih lengkap maksud utama informasi al-Qur'an tentang negeri Saba' tersebut tidaklah demikian. Pengungkapan kisah tentang Saba’ dalam al-Qur’an, meski mengandung aspek sejarah, tetapi mainstream ayat sesuai dengan fungsi al-Qur’an sebagai kitab petunjuk (kitab hidayah) tetap bertujuan penyadaran manusia untuk memegang teguh keimanan dan menjauhi kekafiran. Karena konteks ayat tentang kisah negeri Saba' yang tertuang setelah kisah Nabi Daud dan Sulaiman merupakan pengungkapan bangsa-bangsa yang mengalami perubahan dan pergantian dalam perjalanan sejarahnya, dari kejayaan menjadi kehancuran. Untuk itu mengkaji : apa, di mana dan bagaimana sejarah negeri Saba’ sebenarnya, baik secara historis maupun ajaranajaran yang normatif akan menambah wawasan kita lebih komprehensif, terutama tentang tafsir negeri Saba'.

apa yang harus dilakukan memenuhi ajakan tersebut. dan di antara dua bukit itulah kaum Saba' membangun bendungan Ma’rib itu. menurut penuturan sejarawan al-Hamadany dalam bukunya Washf Jazirah al-‘Arab. negeri Saba' bisa mencapai kemakmuran dan kejayaannya adalah karena kebijakan pemimpinnya. dengan disebutnya nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Penyayang (bismillah ar-rahman ar-rahim). yang di saat hujan ketinggian airnya bisa mencapai 1100 meter di atas permukaan laut. begitu juga pertambangannya yang kaya menghasilkan emas permata.Saba’ yang Makmur Sejauh pelacakan para ahli tafsir maupun ahli sejarah. pada zaman Nabi Sulaiman (992-952 SM) negeri ini dipimpin oleh Ratu Balqis binti Syurahil -. (Tafsir al-Maraghy Juz 23. bukan matahari yang selama ini mereka yakini. dan bukan mengandung ancaman aneksasi kekuasaan. negeri Saba’ dengan kotanya Ma’rib terletak di Yaman. Sedang Saba' (makna asal : berpisah) selain menunjukkan nama Negara. Pendekatan diplomatik inilah yang kemudian membawa kepada cahaya petunjuk yang mengantarkannya menjadi seorang muslimah. tak lain adalah Ratu Balqis tersebut. Kandah. di balik pandangan politik. Aliran air ini menuju arah timur laut melewati dua bukit. Tentang Bendungan Ma’rib (Sadd Ma’rib). kecenderungan nuraninya menangkap bahwa di sana ada petunjuk atau cahaya spiritual. Anmar dan Himyar. Membaca surat Nabi Sulaiman yang mengandung prinsip-prinsip dasar kehidupan. termasuk aksi militer bila diperlukan. Di bawah kepemimpinannya negeri Saba' mencapai puncak kemakmuran.seorang kepala negara perempuan yang berhasil mencapai kejayaan dan kemakmuran (Surah an-Naml/27 : 22-25). Dia bukan hanya dikenal dengan ilmu pengetahuan dan wawasannya yang luas. yang sebelumnya kering dan tandus. Air bendungan itu telah menyuburkan dataran seluas 3000 mil persegi. Tetapi. yaitu suatu suku yang berasal dari Saba’ ibn Yasyjub bersama anak-anaknya : Madzdaj. sekitar 50 mil dari San’a sekarang. bisa juga menunjukkan nama suatu kaum (suku bangsa). Di celah-celah pegunungan itu terdapat wadi yang bermuara pada wadi besar yang disebut Mizab Timur. Tetapi tidak hanya dari segi kesuburan dan kesejahteraan. Asy’ari. Artinya asal mula negeri ini dibangun dan ditempati oleh kaum Saba'. Kerajaan Saba' berdiri pada abad VIII SM. Karenanya ia pun menghendaki agar urusan ini tidak dihadapi secara militer tetapi dengan diplomatik. Tanah-airnya yang subur menghasilkan pertanian yang melimpah. Saba’ yang nama aslinya Abdus-Syams adalah cucu dari Ya’rub ibn Qahthan yang dikenal sebagai nenek-moyang bangsa Arab. Kebijakan dan kekuatan ruhani Ratu Balqis tergambar saat ia menanggapi surat dari Nabi Sulaiman as yang mengajaknya kepada agama tauhid dan menyembah Tuhan Maha Pencipta. dia bermusyawarah dengan para pejabat dan bawahannya. aparatnya siap menjalankan perintah apapun dari Sang Ratu. Azd. Informasi lain dari al-Qur’an. tetapi juga karena kemampuan rohani yang bersih dan tajam yang membuatnya mau menerima agama tauhid (an-Naml/27 : 44). kekuasaannya sampai wilayah Ethiopia. hal : 71) Mengacu pada ayat “jannatani ‘an yamin wa syimal” (dua kebun di kanan dan di kiri). bahwa di sebelah barat-daya Ma’rib terdapat rangkaian pegunungan yang memanjang sampai sebelah tenggara. Sebagai negara yang kuat. .

Jalan-jalan dan saluran-saluran air di kanan-kirinya terlihat dua kebun penuh dengan tanaman dan taman yang membuat suasana teduh dan nyaman. Hawanya sejuk. yang merupakan bentuk pengingkaran kepada Allah sebagaimana dinyatakan pada awal ayat. tak terlalu panas di musim kemarau dan tak terlalu dingin di musim hujan. kemakmuran dan kejayaan negeri itu melahirkan generasi pemimpin yang despotic dan korup. lalat. diungkapkan bahwa jika seseorang lewat dengan membawa keranjang. hal : 1104). untuk menggambarkan kemakmuran Saba'. hal.menurut al-Qusyairy bahwa bendungan Ma’rib telah membuat tanah-tanah berbukit sekelilingnya yang semula gersang menjadi subur. yakni Arab yang makmur. seorang mufassir modern dalam bukunya The Holy Qur’an. . artinya 2 abad setelah zaman Ratu Balqis. Tafsir at-Tahrir wat-Tanwir. negeri Saba’ terdiri dari 13 daerah yang di masing-masing daerah terdapat seorang nabi. Ia menambahkan. artinya kejadian itu bukan semata-mata langsung dari Allah. Menurut Abdurrahman ibn Zaid di antara tanda kemakmuran Saba’ kebersihan dan kesehatan lingkungannya. kerusuhan dan kriminalitas (Abdullah Yusuf Ali. Bahkan jika seorang dari luar datang dan terbawa kutu atau kepinding. Bila dicermati dalam ayat “fa arsalna ‘alayhim sayl al-'arim” (maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar) dipakai bentuk “kami”. meskipun tak bisa diingkari adanya kemakmuran yang sangat (Thahir bin 'Asyur. Artinya. Jilid 9. hal : 533) Sedang Abdullah Yusuf Ali. maka ia akan mati dengan sendirinya Dari sisi lain. The Holy Qur’an : 1105) Dikisahkan oleh para mufassir. al-Alusy. kepinding. dan itulah yang disebut Arabia Felix. (Abdullah Yusuf Ali. tetapi melalui perantara atau bersama pihak lain. sehingga ketika turun air hujan yang besar bendungan itupun tak sanggup menahannya. Kondisi seperti itulah yang membawa masyarakat mengabaikan tatanan social serta tuntunan moral. menanggapi hal itu Syaikh Thahir bin 'Asyur memberikan komentar bahwa pengungkapan demikian bisa jadi berlebihan (mubalaghah). yang menurut ahli sejarah terjadi pada tahun 120 M. Jalalayn). Maka yang muncul dari system yang menindas itu sikap apatisme masyarakat yang mudah tersulut pada anarkhi. rempah-rempah dan wewangian. 167) Banjir. (al-Qurthudby. Mereka menyampaikan kepada penduduk daerah masingmasing bahwa kejayaan dan kemakmuran negeri Saba’ merupakan suatu tanda kemurahan Allah. menganalisis menurut fenomena ekologis bahwa terjadinya banjir besar adalah karena keserakahan manusia yang melakukan penggundulan tanaman dan pembangunan perumahan yang mengabaikan penyerapan air dan pengaturan saluran. kalajengking atau ular. Negeri itu menghasilkan buah-buahan. bahwa secara sosiologis dan politis dalam masyarakat telah terjadi pelapisan dan kesenjangan social akibat system politik yang menindas. maka keranjang itu akan dipenuhi oleh buah-buah yang berhamburan di jalanan. untuk dinikmati dan disyukuri dengan mentaati hukum-hukum dan ajaran-Nya. Ibn Katsir menyebut bahwa di sana terdapat sekelompok tikus yang membuat lubang-lubang di dalam bendungan itu sehingga akhirnya menggerogotinya dan akhirnya bobollah bendungan tersebut (Tafsir Ibn Katsir Juz III. Balasan Kekufuran Selanjutnya tentang mengapa dan bagaimana terjadi banjir besar (sayl al-'arim). The Holy Qur’an. Tetapi. Digambarkan bahwa di sana tak ada binatang-binatang kotor yang berbahaya seperti nyamuk.

Anmar. Muzaffaruddin Navi mengungkapkan bahwa bekas-bekas arkeologis sejarah negeri Saba'. Asy'ariyun. bahwa mereka terdiri dari beberapa suku : Azd. karena sifat kesombongan yang membuat mereka lupa diri. kering dan terlantar yang ditumbuhi pepohonan yang tak berguna. hingga jadilah negeri Saba’ suatu negeri yang jaya dan makmur. Arnand (Arnold). Dikisahkan bahwa penduduk Saba' beberapa tahun sepeninggal Ratu Balqis kembali menyembah matahari. Lakhm dan Judzam. hal : 40-41). Enam suku pertama pergi ke Oman yang tak jauh dari tanah asal mereka. Makna kufur mereka dalam ayat ini lebih menunjukkan kufur dan ingkar atas nikmat dan anugerah Allah. Sebagai manusia. Menurut catatan TJ Arnand panjang bendungan adalah 2 mil. Ghassan ke Bushra dan Syam. Hukum dan ajaran Allah dijalankan dengan baik. Bila kita simak ayat-ayat di atas. Kaum Saba’ rupanya orang-orang yang mempunyai kemampuan berpikir dan berkarya sehingga mampu membangun suatu peradaban tinggi. Mula-mula penduduk negeri Saba’ memperoleh kejayaan dan kemakmuran berkat kesuburan tanah yang diairi Bendungan Ma’rib yang dibangun oleh nenek-moyang mereka. kemudian membuat maket dari pekerjaan raksasa itu serta beberapa prasastinya. Saba' mempunyai sistem pemerintahan yang kuat. bukan semata-mata kufur dan ingkar secara teologis yang berarti mengingkari Tuhan. maka para ulama mufassirin cenderung menafsirkannya dengan kufur nikmat. juga Halevy dan Glaser melakukan penyelidikan peninggalan kota Ma’rib dan bendungannya.Penggambaran yang tragis ditunjukkan bahwa dengan jebolnya bendungan Ma'rib karena banjir besar menjadikan rumah-rumah mereka hanyut dan hancur. serta pohon sidr yang berduri. Ghassan. sehingga bendungan Ma’rib yang menjadi . Dengan kondisi demikian maka penduduknya pun tak mampu bertahan tinggal di situ. Karena tidak ada petunjuk dalam ayat tentang kufur secara teologis. sehingga mereka keluar bertebaran ke negeri-negeri lain Penyebaran bangsa Saba' dijelaskan oleh Thahir bin 'Asyur. Artinya keadaan jaya. Allah menunjukkan bagaimana akibat (balasan) orangorang yang ingkar (I'radh. raja yang bijaksana. Kindah. Di bawah pimpinan Ratu Balqis. aparat dan rakyat yang patuh. Khuza'ah. lengah dan lupa diri sehingga masuklah kekufuran dan kezaliman yang mengabaikan hukum dan tuntunan Allah. 'Amilah. menikmati anugerah Allah dan mensyukurinya sehingga memperoleh ampunan dan ridla dari Allah (baldatun thayyibah wa rabbun ghafur) Keadaan demikian tentu tidak bisa selamanya terus lestari dengan sendirinya. mereka tergoda oleh nafsu keserakahan. Mereka tidak mensyukuri dengan menjaga dan merawat sumber-daya alam yang dianugerahkan. makmur dan enak itu membuat mereka menjadi sombong. Sedang yang lain ke negeri yang jauh : Khuza'ah ke Tihamah (Mekkah). kufur) terhadap hukum dan tuntunan-Nya. Sejarah Geografi Qur’ani. ajakan para nabi untuk taat kepada Allah sebagai wujud kesyukuran didengar dan diikuti. Lakhm (Aus dan Khazraj) ke Yatsrib dan yang lain ke Irak. melanggar prinsipprinsip kelestariaan alam dan lingkungan. kuat. Bajilah. negeri atau wilayah yang dulunya subur dengan kebun-kebun dan taman-taman yang indah berubah menjadi tanah yang tandus. pohon arak dan atsal yang pahit. bendungan Ma’rib dan banjir besar tersebut telah dibuktikan para ahli sejarah. Madzdaj. Kejayaan dan kemakmuran negeri itu terus bertahan hingga beberapa abad setelah Balqis. dengan tinggi 120 kaki (Muzaffaruddin Nadvi. Pada tahun 1843 pengembara Perancis TJ.

Artinya. hal. Dia juga berkuasa untuk memberikan siksa dan bencana dengan mengirimkan banjir besar yang melenyapkan segala kenikmatan mereka. bahwa dalam keadaan jaya. bahwa Dialah yang telah memberikan kemurahan dan anugerah berupa kesuburan dan kejayaan kepada negeri Saba'. yang tidak mengikuti ajaran Allah akan mengakibatkan kesengsaraan (Thahir bin 'Asyur. Mengacu kepada kasus negeri Saba' tersebut maka reformasi yang kini dijalankan untuk mengatasi krisis yang berkepanjangan ini. tetapi justeru ingkar kepada Allah. Dan manusia harus sadar bahwa sikap dan perilakunya yang jahat. Karenanya kita perlu mawas diri agar sejarah yang terjadi pada negeri Saba’ tidak terulang dalam negeri kita. jadilah padang pasir yang tak bisa lagi dibudidayakan. Jilid 11. Dan kasus terakhir inilah yang kemudian terjadi pada negeri Saba' (Wahbah az-Zuhaily. antara lain : Allah Maha Kuasa. Jilid 9. at-Tafsir al-Munir. Pada akhirnya. lupa-diri dan kufur yang kemudian akan mencabut dan menghilangkan segala nikmat yang ada. Semua itu merupakan indikasi rendahnya kualitas bangsa. hal. yang juga mengindikasikan adanya sikap kufur atas nikmat dan anugerah Allah. sebagai realisasi syukur dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. manusia mudah dimasuki sikap sombong dan lupa diri. 180). beberapa pelajaran yang harus diambil dari kisah negeri Saba'. Tafsir at-Tahrir wat-Tanwir. tanaman dan segala fasilitas yang lain. makmur dan maju. kolusi dan nepotisme (KKN) atau maraknya Pemilu dan Pilkada yang sarat dengan perlombaan ambisi mencari kekuasaan dengan mengabaikan moralitas dan aturan. Pengelolaan Negara justeru nampak didasari nafsu keserakahan seperti maraknya praktek korupsi. sebagai akibat bencana yang besar itu tinggal tanah yang kering dan tandus. menurut Thahir bin 'Asyur. Tak ada yang bisa tumbuh kecuali hanya tanaman liar yang pahit. Artinya. ternyata kita semua telah ingkar mengabaikan prinsip-prinsip moral untuk mengabdi secara tulus dan tanggungjawab sebagai bentuk syukur hamba kepada Dzat Yang Maha Pemurah. Dan pergantian serta perubahan situasi demikian menunjukkan ketidak-kekalan keadaan dunia. haruslah dilakukan dengan : . kebun. maka kita harus sadari bahwa konsep dan praktek pengelolaan kehidupan bernegara dan bermasyarakat kita nampak tidak dilandasi dan disertai moralitas keagamaan. berduri yang tak berguna. nikmat tak secara otomatis bisa langgeng dan justeru bisa membuat sombong. Bukannya dia bersyukur atas anugerah Allah dengan pengabdian yang tulus. Kini. 500-5002) Reformasi Moral Bila kita refleksikan dalam kehidupan bangsa Indonesia yang mengalami krisis multidimensi. Menurut Syeikh Wahbah az-Zuhaily bahwa predikat “baldatun thayyibah wa rabbun ghafur” yang dilekatkan pada negeri Saba' pada hakekatnya bermakna ganda : kejayaan dan kemakmuran sebagai nikmat Allah yang harus disyukuri.tumpuan kehidupan itupun rapuh dari dalam yang akhirnya bobol dan terjadilah banjir besar yang menghanyutkan rumah. karena itu di sisi lain Allah Yang Maha Pengampun niscaya akan melestarikan nikmat-Nya bila kita senatiasa ingat dan taat kepada-Nya. Inti pesan yang disampaikan ayat ini adalah agar kaum Quraisy di masa Rasulullah dan juga semua manusia dapat mengambil pelajaran.

Dar Ihya at-Turats al-‘Araby. II. niscaya Allah akan membimbing kita ke jalan yang lurus. Sungguh Allah selalu bersama orang-orang yang melakukan perbuatan baik” (QS. 2005 . Beirut. I. Dar Ihya at-Turats al-Araby. Cet. Pustaka Firdaus. tunduk dan pasrah atas ajaran Allah kita harus mengejawantahkan semua itu dalam amal shalih. 2001 Sayid Muzaffaruddin Nadvi. niscaya akan Kami bimbing ke jalan Kami. Beirut. I. Maka tujuan pengelolaan untuk mewujudkan kesejahteraan kehidupan di muka bumi serta memanfaatkannya untuk kemaslahatan alam semesta. Dar el-Fikr. Qur’an. Tafsir Ibn Katsir. Sebagai hamba. Untuk itu. 1955. Cet. Kita harus mulai dengan introspeksi dan koreksi total atas sikap-sikap keserakahan dan kesalahan-kesalahan dalam mengelola nikmat tanah-air yang subur ini seraya kembali (taubat) kepada tatanan yang benar mengikuti ajaran Allah. Tafsir at-Tahrir wat-Tanwir. Ahmad Mushthafa al-Maraghy. Memandang Negara dengan segala kekayaan sumber daya alam yang ada sebagai nikmat dan anugerah Allah. Tafsir al-Maraghy. Cet. Agama Ramah Lingkungan dalam Perspektif al-Qur’an. Ma’a al-Anbiya’ fil-Qur’an. Mukhtashar min Tafsir al-Imam athThabary. suatu kesuksesan yang Dia ridhai: “Mereka yang berusaha sungguh-sungguh mengikuti ajaran Kami. Jakarta. baik para pemimpin maupun rakyat. sebagai wujud rasa syukur kepada Allah pengelolaan segala nikmat dan anugerah itu harus sesuai dengan ajaran-Nya yang didasari landasan moral untuk mengabdi (beribadah) kepada-Nya. tugas demikian merupakan pengabdian (ibadah) kepada-Nya. 1994 Abu al-Fida Ismail ibn Katsir. Dar al-Fajr al-Islamy. at-Tafsir al-Munir fil-'Aqidah. Beirut Abu Thahir Ya’qub al-Fairuabadi. Cet. VIII. tt Wahbah az-Zuhaily. Kemudian sebagai hamba yang beriman. 1997. Text. al-‘Ankabut/29 : 69). VII. Beirut Mujiyono Abdullah. Translation and Commentary. Dar Suhnun. Cet. Manusia pada dasarnya adalah hamba ('abdullah) yang mengemban amanat sebagai khalifatullah fil-ardh. Beirut. Tunis. tt Abu al-Fadhl Syihabuddin Mmahmud al-Alusy al-Baghdady. Jakarta. Afif Abdul Fattah Thabbarah. Damaskus. Dar al-Ilm lil-Malayin. Sejarah Geografi Qur’ani.Pertama-tama menata kembali sikap mental individu. Shadaqallah al-‘azhim Daftar Bacaan : Abdullah Yusuf Ali. judul asli The Holy Qur’an. Terjemah dan Tafsirnya. Maktabah Riyadh al-Haditsah. Jakarta. Paramadina. Pustaka Firdaus. Dan amal shalih harus dilakukan dengan semangat berjuang secara sungguh-sungguh dan professional mengikuti jalan Allah. Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn ‘Abbas. Thahir bin 'Asyur. wasy-Syari'ah wal-Manhaj. Tugas manusia dalam kehidupan adalah mewujudkan kemakmuran (kemajuan) dalam hidup kehidupan. tt Abu Yahya Muhammad ibn Shamadaj an-Najini. Darul Fikr. Ruh al-Ma’any fi Tafsir alQur’an al-‘Azhim was-Sab’ al-Matsany.