Paper Serial Diskusi “Agama di Mata Para Filsuf” Universitas Paramadina Jakarta, Kamis, 28 Juni 2007 Fitzgerald K.

Sitorus “TANPA DUNIA TUHAN BUKANLAH TUHAN” Tentang Struktur Konseptual Tuhan dan Momen-Momen Kesadaran Religius Menurut Hegel Filsafat memiliki isi dan tujuan yang sama dengan seni dan agama G.W.F. Hegel1 II. Kedudukan Agama dalam Sistem Filsafat Hegel Keseluruhan sistem filsafat Hegel adalah deskripsi fenomenologis atas keseluruhan aktivitas Allah atau Roh Absolut. Aktivitas tersebut bertolak dari momen pertama (tesis) atau Roh “pada dirinya sendiri” (an sich), menuju momen Roh “untuk dirinya sendiri” (fuer sich) atau antitesis, dan kemudian berakhir pada momen Roh “pada dan untuk dirinya sendiri” (an-und-fuer-sich) atau sintesis. Ketiga momen inilah yang membentuk sistem filsafat Hegel. Momen pertama dibahas dalam Ilmu Logika (Wissenschaft der Logik), momen kedua dalam Filsafat Alam (Naturphilosophie) sedangkan momen ketiga dalam Filsafat Roh (Philosophie des Geistes). Ketiga momen yang sekaligus merupakan tiga bidang sains/filsafat ini telah mencakup keseluruhan kenyataan. Sistem filsafat Hegel sendiri tidak lain dari pertanggung-jawaban logis dan rasional atas Roh Absolut tersebut. Karena itulah ia mengklaim bahwa filsafatnya, yang olehnya sendiri disebut Idealisme Absolut, telah mampu menjelaskan keseluruhan kenyataan (yang Absolut) secara logis dan rasional. Dengan kata lain, sistem filsafat Hegel, yang Absolut dan momen realisasi dirinya, serta keseluruhan kenyataan menjadi identik. Sesuai dengan kekhasan metode dialektika yang terdiri dari momen tesis-antitesissintesis, Hegel selalu membagi setiap momen dalam sistemnya ke dalam triade-triade yang lebih kecil. Sebagaimana Ilmu Logika dan Filsafat Alam, Filsafat Roh juga terdiri dari tiga momen: Roh Subyektif, Roh Obyektif dan Roh Absolut. Roh Subyektif terbagi lagi ke dalam momen Antropologi, Kesadaran dan Psikologi. Roh Obyektif terbagi menjadi Hukum, Moralitas dan Tatanan Sosial Etis (Sittlichkeit) — tatanan sosial etis terbagi lagi ke dalam keluarga, masyarakat sipil (buergerliche Gesellschaft) dan negara. Sementara Roh Absolut terbagi ke dalam Seni, Agama dan Filsafat.2 Jadi, puncak atau telos realisasi diri Roh Absolut itu adalah Filsafat. Roh mencapai kesadaran dirinya dalam Filsafat. Atau, Filsafat adalah momen di mana yang Absolut dikenali dalam cara yang sesuai dengan hakikatnya sendiri, yakni sebagai Konsep (Begriff). Jadi, bukan dalam dan melalui seni atau agama, melainkan hanya dalam dan melalui Filsafat-lah yang Absolut itu bisa dipahami sesuai dengan hakikatnya sendiri. Tentu yang dimaksud dengan filsafat di sini adalah Idealisme Absolut Hegel sendiri. Tapi sekalipun puncak realisasi itu terdapat dalam filsafat, bukan berarti bahwa dalam momen-momen sebelumnya, yang Absolut tidak bisa dikenali. Yang Absolut selalu bisa dikenali pada setiap momen dalam sistem itu. Proses perkembangan dialektis momenmomen tersebut juga sekaligus merupakan proses pengetahuan yang semakin konkret mengenai yang Absolut. Bisa juga dikatakan bahwa momen-momen tersebut adalah hasil manifestasi atau realisasi diri yang semakin konkret dari Roh Absolut. Karena itu, seperti
Dalam Wissenschaft der Logik, Jilid II, Leipzig: Felix Meiner, 1951, hal. 484. Selanjutnya disingkat WL, diikuti nomor jilid dan halaman. 2 Kunzmann, Peter, et.al, Atlas zur Philosophie, Muenchen: DTV, 1991, hal. 154.
1

1

Kutipan di atas terdapat dalam halaman 17. The Difference Between Fichte’s and Schelling’s System of Philosophy. Vorlesungen ueber die Philosophie der Religion. yakni untuk “mengkonstruksi yang Absolut dalam kesadaran”4 atau untuk mencapai “kesatuan antara Pikiran (Denken) dan Ada (Sein).W. Karena bukan sebuah pengada. 3 2 . dalam Driyarkara. 94. Adriani. Tuhan dan yang Absolut memiliki struktur konseptual dan hakikat yang sama. Dalam bahasa metafisika. Konsepsi mengenai Yang Absolut Dengan sistem seperti diuraikan secara singkat di atas. Mutlak berarti tidak terbatas (unendlich). yang Absolut berarti mutlak. Albany: SUNY Press. Ketidakterbatasan) itu bukanlah sesuatu. 6 Saya telah membahas ini dalam artikel “Dialektika Ada-Ketiadaan-Menjadi” pada Hegel. Yang Absolut. Harris dan Walter Cerf. Dengan kata lain. agama dan filsafat (dan juga sebenarnya dengan semua momen dalam sistem itu) adalah sama. yang tidak Filsafat Agama berasal dari kuliah-kuliah Hegel di Universitas Berlin tahun 1821. Hegel mengatakan. 1827 dan 1831.”3 Bidang ilmu pengetahuan (Wissenschaft) yang berbeda-beda itu hanyalah caracara yang berbeda dalam memahami yang Absolut.P. Tuhan juga absolut. Sebuah Upaya Pendasaran Prinsip-Prinsip Filsafat Hegel. XXVII.. obyek yang diketahui dan metode yang digunakan dalam proses pengetahuan tersebut. di sini tidak ada lagi — sebagaimana pada Kant — perbedaan antara subyek yang mengetahui. Leipzig: Reclam. 1982. yakni yang Absolut itu sendiri dan realisasi dirinya. sebab sesuatu an sich telah selalu terbatas.100 halaman! Saya menggunakan edisi tua. hlm.”5 Filsafat Hegel menjadi filsafat yang total. Bolland. Ia adalah Ketiadaan itu sendiri. yang tidak-absolut ini mampu memiliki pengetahuan mengenai yang Absolut? Apakah hakikat dan bagaimanakah struktur konseptual dari yang Absolut itu? Dengan pertanyaan-pertanyaan di atas maka kita sudah sekaligus mempertanyakan konsepsi Hegel mengenai Tuhan. Bahan kuliah itu kemudian diterbitkan secara anumerta. Dengan kata lain. atau kita. maka dengan sendirinya ia tidak lagi tidak-terbatas atau tidak absolut (karena ia dibatasi oleh yang lain).dikutip di atas. Selanjutnya disingkat PR. hal. “obyek agama dan filsafat adalah kebenaran abadi dalam obyektivitasnya. maka yang Absolut itu adalah Ketiadaan (Nichts) — what is not some thing is nothing. Secara konseptual. 1824. 1977. Ia tidak bisa diimajinasikan. Terjemahan buku ini ke dalam bahasa Inggris mencapai 3 jilid. hal. 3/2004. terjemahan H.. Tuhan adalah terminologi agama untuk yang Absolut.F. G.J.W. 5 Hegel. Atau. G. Hrsg. dengan tebal hampir 1. Dengan demikian. yang Absolut itu bukanlah sebuah pengada (a being). jilid III. dipersepsi atau dikonsepsikan. Apa yang dapat dikatakan mengenai yang Absolut dapat pula dikatakan mengenai Tuhan. melainkan Ada (Being). Th. dan serba mencakup. 1901. Tuhan dan tidak lain dari Tuhan. G. No. dan eksplikasi Tuhan. misalnya. II. Leiden: A.S. bukan sesuatu. hanya bisa diketahui melalui yang tidak-absolut. kata Hegel adalah Ketiadaan murni (reines Nichts) yang sama dengan Ada murni (reines Sein). Vorlesungen ueber die Geschichte der Philosophie.6 Dan karena itu pula ia adalah bildlos (imageless). sebagai sesuatu. sebab bila ia terbatas. Relasi antara yang Absolut dengan yang tidak-absolut sama dengan relasi antara Tuhan dengan ciptaan-Nya.J.F.H. Lalu bagaimanakah kita bisa memiliki pengetahuan mengenai yang Absolut? Yang Absolut. Semakin momen atau bidang ilmu tersebut jauh dari filsafat maka pemahaman akan yang Absolut juga semakin abstrak. yang Absolut atau yang tidak terbatas (Unendlichkeit. Karena bukan sesuatu maka yang Absolut itu tidak memiliki kualitas atau determinasi tertentu. 345. Tapi apakah sesungguhnya yang Absolut itu? Bagaimana Hegel membuktikan bahwa Yang Absolut itu memang sungguh-sungguh Absolut? Bagaimanakah hubungan antara yang Absolut dengan yang tidak-absolut? Bagaimana pula Hegel. kata Hegel. 17-35. isi dan tujuan seni. 4 Hegel. Dalam Filsafat Agama-nya. Hegel mengklaim telah mampu merealisasikan tujuan dan tugas filsafat.

Bila intelek melihat obyek yang berbeda sebagai berbeda. Karena Sesuatu itu terbatas (A) maka ada yang lain (B) yang. yakni dibatasi oleh yang terbatas yang pertama itu. tapi karena B (yang mendeterminasi A itu) juga terbatas karena dideterminasi oleh A maka yang dilakukan A sebenanya adalah determinasi-diri sendiri (Selbstbestimmung) — A mendeterminasi B dan sekaligus dengan itu B kemudian mendeterminasi A. yakni dibatasi oleh sesuatu yang lain. Hal serupa juga didemonstrasikannya dalam kategori-kategori konseptual dalam Ilmu Logika. Bagi Hegel. Keduanya identik. sementara rasio fakultas absolut atau tidak terbatas. Hegel justru sebaliknya. ad infinitum. karena setiap sesuatu dalam rangkaian itu selalu terbatas. kata Hegel. Hegel menyebut proses ini Ketidakterbatasan yang Buruk atau Negatif (Die schlechte oder negative Unendlichkeit) karena. Pemahaman yang melihat kedua kategori tersebut beroposisi atau saling mengeksklusi. Di sini tidak ada lagi yang tidak terbatas yang secara konseptual bisa disebut beroposisi terhadap yang terbatas.terbatas bisa diketahui melalui yang terbatas. hal. Intelek adalah fakultas yang terbatas. demikian seterusnya. melainkan bahwa keduanya bersifat saling mencakup atau saling mengandaikan. karena terbatas. Dengan kategori ini maka Ketidakterbatasan tidak dipahami sebagai “sesuatu” yang tanpa limit (limitless). adalah khas pemikiran akal sehat atau intelek (Verstand). Gagasan baru yang diperlihatkan Hegel di sini adalah bahwa yang terbatas tidaklah saling beroposisi atau saling mengeksklusi dengan yang tidak-terbatas. sesuatu yang terbatas dengan sendirinya menghasilkan sesuatu lainnya yang juga terbatas. Rasio yang hakikatnya dialektis (artinya: selalu menyatukan unsur-unsur yang bertentangan) justru melihatnya sebagai Ketidakterbatasan Afirmatif (Die affirmative Unendlichkeit). pemahaman filosofis dengan Rasio (Vernuft) yang hakikatnya bersifat spekulatif justru melihat adanya identitas di antara kedua kategori yang berbeda tersebut.8 Ketidakterbatasan di atas adalah pandangan khas akal sehat atau intelek. Di sini Hegel berbicara secara konseptual mengenai relasi dialektis antara yang terbatas dan yang tidak terbatas. maka rasio melihat A=B. Intelek itu melimitasi. Sesuatu menjadi yang lain. sama-sama Sesuatu atau sama-sama yang lain. 11. Relasi dialektis antara yang terbatas dan yang tidak-terbatas Dalam Fenomenologi Roh Hegel telah mendemonstrasikan bagaimana pengetahuan (mengenai) yang absolut itu mungkin dengan bertolak dari pengetahuan indrawi mengenai obyek-obyek empiris. intelek (Verstand) dan rasio (Vernunft) memiliki kapasitas yang sama. masih termasuk kategori pemikiran akal sehat karena masih melihat yang beroposisi sebagai beroposisi. Karena ada sesuatu yang terbatas. II. tapi sekaligus berbeda dari B. segala kategori yang tidak terbatas (misalnya Tuhan) hanya bisa dipahami melalui rasio.a. maka ia juga akan menghasilkan sesuatu ketiga yang juga terbatas. yakni determinasi-diri sendiri. karena yang tidak terbatas itu telah dengan sendirinya dibatasi oleh yang terbatas. 7 Dalam skema epistemologi Hegel dan Kant. juga terbatas. rangkaian Sesuatu yang terbatas itu tidak pernah menjadi tidakterbatas. melainkan sebagai kemampuan untuk mendeterminasi-diri menjadi yang terbatas. Tapi sesuatu yang kedua ini juga. filsafat Kant dan seluruh sains. maka yang lain pun menjadi terbatas. karena dibatasi oleh A. hal. sementara akal budi mengunifikasi — pengertian ini juga terdapat pada Kant.7 Dalam arti ini. Inilah juga pengertian kebebasan menurut Hegel. B kemudian mendeterminasi A. 132. Bila intelek melihat A=A atau A # B. menurutnya. A dengan demikian melakukan determinasi-diri. yang berarti A identik dengan B. maka akal budi melihat identitas dalam perbedaan itu. Inilah Ketidakterbatasan Afirmatif atau Ketidakterbatasan yang sesungguhnya. yakni kemampuan mendeterminasi diri sendiri. Dengan demikian. 8 WL I. lihat WL I. Tapi bila Kant mengatakan bahwa rasio yang tidak terbatas itu tidak mampu mengetahui Allah yang juga tidak terbatas. Ia mulai dari yang terbatas atau yang tidak absolut (endlich). 3 . yang lain jadi Sesuatu.

11 WL I. 127.10 Keseluruhan pengertian ini terangkum dalam kategori yang disebut Saling Determinasi antara yang Terbatas dan Tidak Terbatas (Wechselbestimmung des Endlichen und Unendlichen). Spiers and J. Akal sehat pun sering tidak puas dengan fakta-fakta telanjang empiris yang kita temui begitu saja dalam kenyataan indrawi. kita hanya mengetahui Penampakan (Erscheinung) dari sebuah esensi. sedangkan yang tidak-terbatas adalah idealitas dari yang terbatas. 13 Ini adalah prinsip Idealisme Hegel. lihat WL II. hal. berubah-ubah dan negatif. ia disebabkan oleh yang lain. ia kontingen. Dalam kuliah-kuliahnya mengenai Bukti-Bukti Tentang Eksistensi Tuhan. karena ia mampu mendeterminasi dirinya menjadi yang terbatas. maka ia fana. yakni sebagai negasi dari yang terbatas. Tapi yang tidak terbatas itu tidak terlihat. Pikiran selalu cenderung mempertanyakan “esensi” dari apa yang tampak secara indrawi. Kiranya. fana dan berubah-ubah. justru karena terbatas. volume 3. maka yang terbatas itu telah sekaligus tercakup dalam apa yang dikatakan. … Being is to be defined not as finite only but also as infinite. Dengan demikian. London: Routledge & Paul Kegan. Yang terbatas itu. pada dasarnya setiap filsafat adalah idealisme. edited and translated by E. Dengan demikian. WL I.. Yang terbatas itu tidak berdiri sendiri. Dalam bahasa Hegel: “yang tidak-terbatas yang dibatasi” (Ein verendlichtes Undendliches) atau “yang terbatas yang menjadi tidak-terbatas” (Das verunendlichte Endliche). hal. 1968. yang terbatas itu adalah manifestasi yang tidak terbatas. 132. hal. . sementara yang tidak terbatas adalah idealitas dari yang terbatas. pengetahuan yang berhenti hanya pada yang terbatas. Keberadaan yang terbatas ditopang oleh yang tidak terbatas yang berada di “baliknya”. Ada itu didefinisikan bukan hanya sebagai yang terbatas tapi juga sebagai yang tidak terbatas. terbatas berarti dibatasi (dalam bahasa Hegel: dinegasi) oleh yang lain. Persoalannya adalah sejauh mana prinsip itu diterapkan dalam filsafat tersebut. sementara terbatas berarti dideterminasi oleh yang lain.B. Ia selalu mempertanyakan mengapa hal itu demikian? Karena itu. Dan manusia tidak pernah mau menghentikan pengetahuannya hanya pada yang terbatas. 157. 134.11 Yang terbatas adalah realitas atau determinasi diri dari yang tidak-terbatas. Dengan demikian.” dalam Hegel’s Lectures on the Philosophy of Religion. hal. tapi juga Adanya yang Tidak Terbatas. “Dalam mengatakan apa itu yang tidak-terbatas. Ia selalu ingin mencari sesuatu yang stabil di balik yang berubah-ubah itu. bahkan aliran empirisme pun mengandung idealisme tertentu. bukanlah pengetahuan yang sesungguhnya. esensi yang terbatas adalah yang tidak terbatas. hal. WL I. 10 9 4 . hubungan antara yang terbatas dengan yang tidak-terbatas bukanlah saling mengeksklusi atau beroposisi — sebagaimana menurut akal sehat — melainkan saling-mencakup (Ineinandergreifen). ia justru memperlihatkan diri melalui dan dalam yang terbatas. menurut Hegel. atau dalam bahasa metafisika. Hegel di sini benar. 259. Ia mengatakan bahwa Idealisme tidak lain dari pengakuan bahwa yang terbatas itu bukanlah ada yang sesungguhnya. atau tidak bebas.13 Di atas telah dikatakan bahwa yang terbatas adalah realitas yang tidak-terbatas. Yang tidak-terbatas adalah kesatuan dialektis dari yang terbatas dan tidak-terbatas.”9 Jadi yang tidak-terbatas itu ada sebagai yang terbatas. karena dalam pengetahuan demikian. Yang Absolut itu terbatas sekaligus tidak terbatas. Hegel menyatakan dengan tegas: “Adanya yang terbatas bukan hanya Ada-nya.”12 Relasi tersebut mengimplikasikan bahwa yang terbatas bukanlah “ada yang sesungguhnya” (veritable being).Ketidakterbatasan berarti mampu mendeterminasi diri sendiri atau bebas. Sebagaimana diuraikan di atas. 12 “The Being of the finite is not only its Being. Keduanya identik sekaligus berbeda. Yang terbatas itu negatif. yang kita ketahui belumlah esensi yang sesungguhnya. but is also the Being of the Infinite. Burdon Sanderson.

yang terbatas itu terbatas.”16 yang merupakan obyek pembahasan Ilmu Logika.14 Artinya. Pada momen berikutnya. Yang Absolut kemudian menegasi dirinya menjadi Partikularitas (Die Besonderheit). Keduanya identik. yang terbatas itu adalah yang tidak-terbatas dalam bentuk yang terbatas. belum mendiferensiasi dirinya.” Dalam momen Individualitas. Yang terbatas di sini adalah dunia dan segala isinya yang merupakan hasil partikulariasi-diri (dalam bahasa agama: ciptaan) dari yang Absolut. yang Absolut atau Tuhan itu juga identik sekaligus tidakidentik “ dari seluruh ciptaan-Nya. 31. Dengan bertolak dari yang terbatas. Tanpa mengetahui secara persis makna terminologi maka kita pasti kesulitan memahami maksud Hegel secara tepat. yakni dengan munculnya yang lain yang terbatas atau yang tidak absolut — yang Absolut “untuk dirinya sendiri”. Pengetahuan langsung hanya dimungkinkan mengenai obyek-obyek indrawi. Kesatuan dialektis ketiga momen ini adalah juga pengertian Konsep (Begriff) pada Hegel. artinya yang tidak terbatas ada pada yang terbatas. Ini adalah tiga terminologi penting yang selalu kita temui dalam tulisan-tulisan Hegel baik mengenai seni. Partikularitas (P). baik U maupun P telah tercakup secara dialektis. Yang terbatas itu adalah hasil afirmasi diri atau negasi diri dari yang tidak-terbatas. yakni yang tidak absolut. pengetahuan mengenai absolut selalu berlangsung melalui medium tertentu. yakni dengan melihat keseluruhan proses tersebut sebagai relasi dialektis antara Universalitas (U). Dengan kata lain. hal. 156. melainkan tidak langsung. Ia adalah kesatuan abstrak yang tidak terbagi (undifferentiated unity). Agama dan Yang Absolut Dari uraian di atas maka kita telah melihat bagaimana yang Absolut atau yang tidak-terbatas berelasi dengan yang tidak absolut atau yang terbatas. 16 WL I. yang menjadi obyek pembahasan Filsafat Alam. Yang tidak absolut dengan demikian menjadi pintu melalui mana kita bisa mengetahui yang Absolut. hal. yang tidak lain dari hasil negasi diri dari yang Absolut itu. Tapi keduanya juga berbeda karena yang terbatas itu berbeda dari yang tidak-terbatas. Yang terbatas dengan demikian identik sekaligus berbeda dari yang tidak terbatas. lihat PR. sementara yang Absolut itu tidak bersifat indrawi. dan inilah salah satu definisi fundamental dari yang Absolut. Pada momen ini. rasio akhirnya mengetahui bahwa yang terbatas itu adalah hasil determinasi diri dari yang tidak terbatas (Absolut). yakni proses dialektis di mana yang Absolut mendeterminasi dirinya menjadi yang tidak Absolut namun sementara itu ia tetap Absolut dapat dikonstruksi dalam terminologi khas Hegel yang lebih konseptual lagi. dan Individualitas (I).17 Lihat The Difference. 17 Tentang relasi dialektis antara U-P-I dalam bidang agama. hukum. Keseluruhan uraian di atas.III. ia masih serba mencakup segala sesuatu. hal. Dalam bahasa Hegel. Relasi dialektis inilah yang disebut Hegel dengan “identitas antara identitas dan non-identitas”. agama dan lain-lain. 52 dst. atau yang terbatas itu adalah bentuk lain dari yang tidak terbatas. Yang Absolut itu menjadi Absolut secara konkret justru karena dalam dirinya telah menyatu ketiga momen tersebut. 15 14 5 . ini adalah Tuhan “sebagaimana Ia dalam esensi abadinya sebelum penciptaan alam dan roh yang terbatas. yang tidak-terbatas tidak terbatas. Kant juga telah mengatakan hal ini. yang terbatas itu bukanlah yang tidak terbatas.15 Secara sederhana hal ini bisa dijelaskan demikian: Universalitas (die Allgemeinheit) adalah momen ketika yang Absolut masih berada “pada dirinya sendiri” (an sich). politik. yang Absolut kemudian menegasi kembali hasil negasi dirinya itu (jadi: dua kali negasi) dan melahirkan Individualitas (die Einzelheit) sebagai sintesa — yang Absolut sebagai “ada pada dan untuk dirinya sendiri. karena yang terbatas itu adalah hasil determinasi diri atau negasi diri dari yang tidak terbatas. Uraian di atas juga memperlihatkan bahwa pengetahuan mengenai yang Absolut bukanlah pengetahuan langsung.

yakni Trinitas tersebut. Dalam Filsafat Agama. 21 “Die Selbstbewegung des Absoluten zu sich. membuat dirinya menjadi obyek bagi dirinya. Akan tetapi yang Universal seabagai Totalitas adalah Roh.”18 III. Gottesbeweise im Deutschen Idealismus. Hegel menyanjung tinggi agama Kristen. manifestasinya. Individualitas itu adalah telos realisasi yang Absolut. Subyek yang aktif dan kreatif merealisasikan diri. yakni sebagai Individualitas konkret. hal. Apa yang dilakukan Tuhan di sini adalah bahwa Ia. 19 18 6 . hal. tapi juga Subyek yang hidup (das lebendiges Subjekt). Ia menyingkapkan diri-Nya. Tuhan Sebagai Roh dan Kreator Abadi Jadi. karena dengan demikian. hal. PR. dan kemudian menyatukan dirinya kembali dengan yang lain yang merupakan hasil realisasi dirinya itu.Hegel menulis: “Ketiga bentuk yang diindikasikan itu adalah: Ada yang abadi dalam dan pada dirinya sendiri — bentuk Universalitas. U adalah Allah sebelum Ia menciptakan dunia dan segala isinya (dalam bahasa Hegel: menegasi atau mempartikularisasikan dirinya). Putra. menghasilkan yang lain daripadanya. bentuk penampakan atau Partikularisasi — Ada untuk yang lain. yang universal yang mencakup segala sesuatu dalam dirinya. 181. kita menemukan banyak ungkapan serupa mengenai Tuhan. Di sini kita mencapai tahap Roh. yang abadi. Dalam paham ini. Yang dimaksud Individualitas konkret di sini adalah pemahaman mengenai Allah berdasarkan paham Trinitas (Die Dreienigkeit) Kristiani. Artinya. menjadi roh-roh yang terbatas. sebagai subyek. “Tuhan yang abstrak. melainkan dirinya dalam bentuk yang lain. 604. 563. adalah Partikularitas dari yang tidak terbatas. 586. semua yang tiga ini adalah Roh… Inilah kebenaran esensial yang harus dijadikan pegangan. 1972. yang Absolut tidak cukup hanya dilihat sebagai Substansi. Hegel mengkritik Spinoza yang memahami yang Absolut hanya sebagai Substansi (causa sui). dan dengan demikian ia dapat mengenai dirinya dalam bentuk yang lain. ia tidak lagi melihat yang lain sebagai yang lain. melainkan melihatnya sebagai Individualitas konkret. Yang lain. Ketiga. yang serba mencakup dan total.” dalam Harald Knudsen. hal. bentuk kembalinya Ia dari penampakannya itu kepada dirinya sendiri — Individualitas absolut. adalah yang Universal. 20 PR. Pengenalan dirinya dalam bentuk yang lain ini menjadi jalan bagi keabsolutan Tuhan. Bapak. sedangkan P tersimbolkan dalam diri Yesus Kristus sebagai roh yang terbatas dalam bentuk manusia (hasil negasi atau partikularisasi diri Allah). Tuhan itu juga digambarkan sebagai Roh yang secara aktif merealisasikan diri. Menurut Hegel. Berlin: Walter de Gruyter. Keseluruhan proses ini tidak lain dari “pergerakan diri dari yang Absolut menuju dirinya sendiri. Roh sebagai Individualitas. Hegel menulis: “Tuhan itu mencipta … Tuhan bukan lagi esensi gelap yang tumpul pada dirinya. Ia PR.a. sementara I sebagai sintesa adalah Roh Kudus (negasi atas negasi). pemahaman konkret mengenai Tuhan bukanlah dengan melihatnya sebagau Universalitas abstrak. Tuhan dalam bentuk Individualitas itu adalah imanen sekaligus transenden.”21 Karena aktif merealisasikan dirinya untuk dirinya sendiri maka Tuhan disebut Subyek. yang telah menampung segala sesuatu yang lain pada dirinya. yang terasing dari semua yang lain atau yang semata-mata transdenden (tanpa imanensi). yakni dengan menyebutnya agama absolut atau agama kebenaran atau “agama yang sempurna”19 karena dalam agama inilah yang Absolut dipahami dalam arti sebagaimana diuraikan di atas.”20 Karena itu dikatakan bahwa Hegel adalah filsuf paling Kristiani karena ia membangun sistem filsafatnya berdasarkan skema atau keyakinan paling mendasar dari Kekristenan. Ia memanifestastikan diri-Nya.

27 PR. “Roh hanya merupakan Roh kalau ia eksis bagi dirinya sendiri sebagai negasi atas segala bentuk yang terbatas.”22 Dengan demikian..24 Karena itu. hal. hal. 359. Tuhan dan Akal Budi Di atas dikatakan bahwa Hegel adalah filsuf yang paling Kristiani karena ia membangun sistem filsafatnya dengan menggunakan skema dasar kristianitas. filsafat mengembangkan dirinya hanya bila ia mengembangkan agama. melainkan pengetahuan mengenai apa yang bukan mengenai dunia. PR. Karena itu. “Tuhan sebagai Roh adalah penyingkapan diri itu sendiri. melainkan Ia adalah Kreator abadi. 26 J. Ketuhanannya justru terealisasi melalui yang terbatas itu.23 Dengan demikian..memposisikan sebuah perbedaan dan menjadi yang Lain. Jadi filsafat Hegel adalah filsafat yang teologis. Filsafat adalah . sehingga kita dapat menyibukkan PR. 24 PR. dan dalam mengembangkan dirinya ia mengembangkan agama. Karena itu. kedua teori tersebut dapat tersintesakan. New York: Collier Books. sementara filsuf lain umumnya membela kekristenan dengan meminjam konsep-konsep filosofis dari Aristoteles atau pemikir lainnya.” tulis Hegel. sebagai idealitas absolut. sebagai Subyek. 25 “Ohne Welt ist Gott nicht Gott. melainkan terus-menerus. ia adalah penyingkapan diri abadi. penciptaan tidak berlangsung sekali untuk selamanya. 1958.Dengan demikian. dalam pandangan Hegel. Dalam pandangan Hegel. 17-18. Pada dasarnya.26 Dan bukan hanya itu. hal. Inilah Konsep mengenai Tuhan. 23 22 7 .” tulis Hegel. membuat dirinya menjadi obyektif.pengetahuan mengenai yang abadi. ia tidak keluar dari dirinya sendiri. hal. bisa dikatakan bahwa filsafat Hegel pada dasarnya adalah teologi (logos atau diskursus tentang teos atau Tuhan) karena sistem tersebut tidak lain dari eksplikasi atau pemaparan diri Allah. Inilah konsepsi yang konkret mengenai Tuhan. Filsafat bukanlah sebuah kebijaksanaan mengenai dunia. maka mediasi itu ditransformasi (aufgehoben).. Tuhan bukanlah subyek yang diam. hal.”27 Kemudian: “Karena itu.. Tuhan sebagai Roh menghendaki yang terbatas. dan karena ini bukanlah relasi kepada yang lain dari dirinya. melainkan itulah keseluruhan sistem. dan apa yang mengalir keluar dari hakikat-Nya. Putra itu ada atau dimediasi melalui Bapak. Ia tidak menciptakan dunia sekali untuk selama-lamanya. actus. Tuhan berada pada dirinya sendiri. Tuhan adalah aktivitas. ia adalah agama. hal. Tapi dalam yang Lain ini.”25 IV. Mengenai hubungan filsafat dan agama. yakni bahwa teori evolusi dan teori penciptaan (kreasionisme) tidak beroposisi satu sama lain. Pergerakan atau perealisasian diri inilah yang disebut dengan proses penciptaan. 567. Tuhan bukanlah Tuhan. dan eksplikasi Tuhan. Tuhan atau yang Absolut bukan sekadar sebuah bagian dari sistem tersebut. Dalam ungkapan yang paling tinggi. dan mengenali dirinya dalam obyektivitas itu. Hegel menulis: “obyek agama dan juga filsafat adalah kebenaran abadi dalam obyektivitasntya. atau pergerakan diri sendiri terus-menerus. perbedaan ini adalah putra. Findlay. memahami Tuhan sebagai Roh bukanlah dengan membayangkannya sebagai jiwa yang melayang-layang begitu saja. agama dan filsafat adalah satu. 72. Di sini tampaknya Hegel telah mengantisipasi gagasan modern yang berkembang pada abad 20. dan sebaliknya: dalam Putra itu yang tersingkapkan hanyalah Bapak. mengenai apa sesungguhnya Tuhan itu. melainkan sebagai yang aktif merealisasikan dirinya. karakteristiknya yang paling mendasar. karena filsafat berarti penolakan konsepsi-konsepsi subyektif dan opini. 168.” dalam PR. serta mempertahankan kontradiksi dalam dirinya sendiri. “Tanpa dunia. ia hanya menghubungkan dirinya kepada dirinya sendiri. Hegel: A Re-Examination. filsadat itu sendiri adalah ibadah kepada Tuhan (Gottesdienst). Berdasarkan uraian di atas. Tuhan dan tidak lain dari Tuhan. 279..N.

sebagaimana dikatakan Kant. dan mengenali dirinya. hal. volume 3. dalam perspektif Hegel. “Manusia mengetahui Tuhan hanya sejauh Tuhan sendiri mengetahui dirinya sendiri dalam manusia. bahwa iman tidak bertentangan dengan rasio. Memahami Tuhan dengan iman. Ia disebut ilahi karena akal budi itu tidak terbatas. sebagaimana dikatakan oleh Kant sendiri. 115. tidak terbatas. Hegel mengatakan bahwa ibadah adalah salah satu momen di mana manusia menghubungkan diri atau menyatu dengan Allah. dan yang dimaksud dengan pikiran spekulatif adalah pikiran yang menyatukan hal-hal yang beroposisi. kata Hegel. Essays in Hegelian Dialectic. Hegel mengatakan. “Berpikir spekulatif berarti memecahkan (aufloesen) sebuah kenyataan ke dalam bagianbagian. Hegel mengatakan bahwa filsafat adalah ascensio mentis in Deum (menaik untuk menyatu dengan Allah). tidak setiap pemikiran yang dapat disebut pemikiran ilahi. Tapi bila dikatakan bahwa bila manusia berpikir maka Allah berpikir atau hadir dalam diri manusia itu. Rasio (karena ia ilahi) tidak tunduk pada apapun yang lain. adalah bahwa Kant tidak membiarkan yang Absolut menjadi isi dari akal budi. melainkan bahwa dalam pikiran yang rasional dan spekulatif itu Allah berpikir. Quentin Lauer. hal. New York: Fordham University Press. dengan demikian. karena itu ia spekulatif. pemikiran yang ilahi adalah pemikiran spekulatif. bukan melalui alam atau realitas lain. 32 PR. 1977. 1968. 30 Quentin Lauer. hal. maka ia pasti bisa mengetahui yang Absolut. Hegel mengatakan bahwa pengetahuan mengenai Tuhan itu bukan soal iman atau postulat akal budi praktis.29 Dalam ibadah atau filsafat. Spiers and J. Pikiran rasional itu bersifat ilahi sekaligus manusiawi. Karena itulah revolusi Kopernikan yang dimulai Kant itu sesungguhnya belum sungguhsungguh revolusioner. belum sesuai dengan hakikat rasional manusia itu. hadir. Rasiolah yang pertama-tama membuat manusia menjadi manusia. 31 Dalam “Kuliah-Kuliah Tentang Bukti-bukti Eksistensi Tuhan. Karena itu. Hegel adalah satu-satunya filsuf yang memberi tepat yang maha tinggi bagi rasio.”28 Pada bagian lain. Akal budi adalah dimensi yang ilahi pada manusia. 150. Dengan argumentasi ini. Burdon Sanderson. New York: Fordham University Press. menurut Hegel.” tulis Hegel. Dengan mengutip arti doa atau ibadah menurut Anselmus. kalau akal budi itu absolut. 303. sambil mengkritik Kant.32 Jadi. Padahal. ia adalah fakultas absolut pada manusia. atau identitas antara identitas dan non-identitas. kenyataan paling mendasar yang tersingkap di situ bukan bahwa ia memikirkan Tuhan. 19. hal. “dualisme” antara Roh dan dunia diatasi.”31 Eksistensi Tuhan pertama-tama tersingkapkan kepada manusia melalui pikiran. hal. 17. Rasio selalu menyatukan unsur-unsur yang beroposisi.diri dengan Tuhan.30 Bila akal budi atau pikiran adalah fakultas yang ilahi pada manusia. bukan berarti bahwa Allah itu menjadi manusia atau manusia itu menjadi Allah. Manusia dapat mengetahui Tuhan karena manusia memiliki akal budi (Vernunft). edited and translated by E. Rasio berbeda dari intelek yang justru memahami yang berbeda sebagai berbeda. maka kalau manusia berpikir. Yang dimaksud Hegel dengan pikiran rasional adalah pikiran spekulatif. Essays in Hegelian Dialectic. sebab keduanya hanya cara-cara yang PR. sebagaimana telah diuraikan di atas. kita bisa mengatakan bahwa berfilsafat adalah juga beribadah karena kedua-duanya sama-sama menyibukkan diri dengan Tuhan. lalu bertemu dengan yang abadi. London: Routledge & Paul Kegan.B. melainkan Tuhan menyingkapkan diri dalam pikiran tersebut. Kant juga telah mengatakan hal tersebut. 1977.” dalam Hegel’s Lectures on the Philosophy of Religion. Ini sama dengan prinsip identity in difference. namun kesalahan Kant. manusia “melepaskan diri” dari yang temporal. 29 28 8 . tapi obyek tersebut ditangkap sebagai kesatuan. atau pikiran yang tidak terbatas. dan mengoposisikan bagian-bagian itu satu sama lain berdasarkan karakteristik pemikiran. Pikiran rasional adalah “pikiran ilahi” (godly thinking). Kant juga sebenarnya telah mengatakan hal ini.

Perbedaan ini memperlihatkan gerak dialektis manifestasi diri yang semakin sesuai dengan hakikat yang Absolut itu sendiri. agama bukanlah pertama-tama fenomena manusiawi. hingga kelak ia (dalam agama Kristen) mengenali dirinya yang obyektif itu dan menjadi absolut dalam bentuk Roh Kudus. sebagaimana pada filsafat. Jacobi. 36 Ini adalah kata benda dalam bahasa Jerman yang berasal dari kata kerja darstellen yang berarti “memaparkan di sana” (da = di sana. 149 dst. seperti salib. ia “dipaparkan di sana”. kata Hegel. patung atau benda-benda lainnya. stellen = memaparkan. Agama memang masih membutuhkan medium atau simbol-simbol material.” dalam PR. Artinya. Agama. Karena itu. agama menjadi mungkin karena Allah mengasingkan dirinya ke dunia. tapi itu semua tidak boleh dipertentangkan dengan rasio. Jadi. doktrin-doktrin keagamaan dan lain-lain memang bisa menjadi jalan untuk mengenal Tuhan. hal. menduduki ruang dan waktu. melainkan fenomena ilahi. “Kita mendefinisikan agama dalam arti yang ketat sebagai kesadaran-diri Allah (Selbstbewusstsein Gottes). Bentuk-Bentuk Kesadaran Religius Jadi. sebab tidak ada yang terdapat pada hal-hal tersebut yang bukan merupakan karya akal budi manusia. Dalam agama. maka pemahaman mengenai Allah yang paling sempurna adalah melalui rasio. kredo. sekalipun pikiran di sini belum merupakan pikiran murni. dan Schleiermacher yang mengatakan bahwa Tuhan itu adalah soal hati dan perasaan. kredo atau doktrin itu semua adalah hasil kerja akal budi manusia. Hegel mengatakan dengan sinis bahwa bila kekristenan adalah soal hati dan ketaatan atau kesetiaan maka Kristen yang paling baik adalah anjing! V. ia bukanlah penemuan manusia.35 IV.”34 karena dalam dan melalui agama-lah. Bila dalam seni yang Absolut mengobyektifikasikan diri dalam bentuk yang indrawi (Darstellung). melainkan pekerjaan dan ciptaan dari yang Ilahi dalam manusia. ke dalam pikiran atau kesadaran manusia. stellen = menempatkan. menempatkan). Bila dalam Seni. hal. 37 Ini adalah kata benda dalam bahasa Jerman yang berasal dari kata kerja vorstellen yang berarti “membayangkan”.berbeda dalam diri makhluk yang sama dalam upaya memahami obyek yang sama. Manifestasi-diri dari yang Absolut dalam Seni. dan bukan pikiran. harafiah: vor = di depan. misalnya seni dan filsafat. hal. Setiap karya seni selalu terdiri dari materi tertentu. pengakuan iman.33 Tapi karena rasio adalah fakultas yang tertinggi dan bahkan ilahi pada manusia. 28-29.a. Allah mengasingkan dirinya. 561. 35 PR. Bila kita membayangkan sesuatu maka kita seakan-akan menempatkan sesuatu itu di hadapan kita. yang Absolut tampil semata-mata dalam bentuk indrawi.37 sementara dalam filsafat dalam bentuk Konsep (Begriff). Sebagai salah satu bentuk obyektifikasi atau manifestasi-diri. 34 33 9 .” kata Hegel. ketika menanggapi para romantis seperti Schelling. menurut Hegel. yang Absolut tidak hanya dpahami lagi dalam kesadaran internal berupa feeling atau kepercayaan (Glauben) tapi juga telah dipikirkan. sedangkan dalam filsafat sama sekali tidak indrawi lagi (karena Konsep sepenuhnya berada dalam pikiran). namun peranan medium tersebut tidaklah sepenting pada seni. “Agama adalah hasil karya Roh Ilahi. Agama dan Filsafat.36 maka dalam Agama yang Absolut tampil dalam bentuk “pikiran bergambar” (Vorstellung). maka sudah barang tentu obyektifikasi yang Absolut dalam momen agama berbeda dari momen-momen lainnya. Gabungan imajinasi dan pikiran inilah yang disebut Essays in Hegelian Dialectic. yang lain daripadanya. agama adalah salah satu bentuk obyektifikasi diri Allah. Kata ini sering diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan re-presentation (“menghadirkan kembali”) atau “pikiran bergambar” (pictorial thinking). adalah “kesadaran diri Allah. Iman atau kepercayaan. yakni sebagai Konsep atau Ide. dalam agama unsur indrawi itu telah berkurang. menjadikan dirinya dalam bentuk yang terbatas.

sementara ketiga dan terakhir (filsafat) adalah pemikiran bebas roh Absolut. Artinya. 101. Dalam Filsafat Agamanya. Momen-Momen Kesadaran Religius Hegel menggambarkan perkembangan yang Absolut dalam bidang agama itu juga secara dialektis. Dengan kata lain. yang berhadapan dengan manusia dalam relasi yang saling mengalienasikan. 1975. 39 “Vermenschlichung Gottes und Vergoettlichung des Menschen. IV.”38 IV. “Estetika Hegel” dalam Teks-teks Kunci Filsafat Seni. di mana yang Absolut disajikan untuk kontemplasi dan perasaan. yang Absolut yang dipahami sebagai universalitas abstrak itu (lihat momen pertama di atas) bersifat serba mencakup. 203. yakni kesatuan yang tidak terbagi.Hegel dengan Vorstellung (representasi atau pictorial thinking). tapi sekaligus mentransendensi dunia dan manusia. sementara manusia tidak bernilai apa-apa. hal. 10 . sebuah pengetahuan dalam bentuk indrawi dan obyektif itu sendiri. atau yang Absolut sebagai Individualitas. manusia penganut Agama 38 Dalam Aesthetics. Di sini yang Absolut dipahami masih sebagai Universalitas.) Yogyakarta: Galang Press. hal. Mengenai filsafat seni Hegel.M. di mana yang Absolut dipahami sebagai sama sekali berbeda dan terpisah dari dunia dan manusia itu sendiri.c. di jurang dan gunung. T.b. Momen pertama adalah kesadaran religius yang bersifat universal abstrak. Kemudian bentuk kedua (agama) adalah pikiran bergambar (pictorial thinking). Gottesbeweise im Deutschen Idealismus. Agama Alam ini adalah agama-agama primitif yang menganggap bahwa Tuhan itu berdiam di mana-mana: di pohon beringin. ia ada atau terdapat pada segala sesuatu. hal. bentuk pertama (seni) dari pengenalan ini adalah pengetahuan langsung dan oleh karena itu bersifat indrawi. Lectures on Fine Art. dan memperlihatkan gerak dialektis kesadaran akan yang Absolut dalam kelahiran agama-agama tersebut. yang Absolut dilihat sebagai yang serba mencakup segala sesuatu tapi sekaligus berbeda dari segala sesuatu yang dicakup itu. di gua-gua. yang Absolut itu imanen atau ada pada dunia dan manusia. Dalam berhadapan dengan yang Absolut. yang Absolut dilihat sebagai yang tidak-terbatas yang beroposisi terhadap yang terbatas (dunia dan manusia). 2005. Berlin: Walter de Gruyter. pertama. “Pikiran bergambar” bisa didefinisikan sebagai kombinasi dialektis antara imajinasi (seni) dan pikiran (filsafat). yakni. Di sini. yang Absolut itu imanen sekaligus transenden. sesuai dengan skema U-P-I. Bentuk-Bentuk Agama Positif Agama yang paling primitif dalam bentuk kesadaran religius universal adalah Agama Alam (die Naturreligion). Hegel membahas secara mendetail semua agama yang pernah ada dalam sejarah umat manusia. Dalam agama ini. Oxford: The Clarendon Press. 11-40. Tuhan dipahami semata-mata sebagai kekuatan absolut yang serba mencakup.40 Agama Alam terdiri dari tiga bentuk agama konkret.” dalam Harald Knudsen. Hegel menulis: “Sekarang. “agama langsung” atau magis (yang sebenarnya bukan sejenis agama. 40 PR. Momen ketiga sebagai sintesa adalah Individualitas. yakni yang melihat yang Absolut sebagai yang universal sekaligus partikular. oleh Mudji Sutrisno (ed. Dalam momen ini alienasi dan oposisi diatasi melalui penebusan (salvation). lihat tulisan saya. Dalam agama ini. 1972.”39 Perkembangan momen-momen kesadaran religius ini berkorespondensi dengan momen-momen perkembangan agama-agama positif dalam sejarah umat manusia. atau semata-mata berupa ketidakterbatasan. tetapi mengandung kepercayaan pada adanya yang Absolut). agama yang lahir belakangan mengandung kesadaran yang lebih konkret mengenai Tuhan. Knox. hal. Di sini Tuhan dibayangkan sebagai yang lain. volume I. Ini adalah konsepsi yang Absolut menurut agama Kristen: “pemanusiawian Allah dan pengilahian manusia. terj. Momen kedua adalah Partikularitas. 222.

Dalam agama Zoroaster. Dalam kepercayaan Mesir. misalnya. dan dalam berhadapan dengan-Nya. yang Absolut itu tidak lagi dianggap bersemayam pada segala sesuatu. Agama ini memandang manusia identik sekaligus berbeda dari Tuhan melalui partisipasi dalam kehidupan ilahi dan anugerah penebusan. dan tidak ada tujuan praktis yang dianggap bernilai. “Perbedaan kontras antara Kristen dan Muhamedanis adalah bahwa dalam Kristus. misalnya. sekalipun Islam lahir paling belakangan. Muhamedanisme membenci dan melarang segala sesuatu yang konkret. melainkan menyatu Disebut agama substansi karena di sini yang Absolut dipahami sebagai substansi (ingat konsep Substansi Spinoza sebagai causa sui) yang menyatakan diri dalam dunia empiris. Namun. sikap indiferen menyangkut setiap tujuan. yang ilahi dikembangkan dalam cara yang konkret dan dipahami sebagai Trinitas. dan kepentingan. Di sini. hal. 42 PR. Di sini Tuhan telah dipahami sebagai Roh. Akan tetapi karena manusia itu juga bersifat praktis dan aktif maka tujuan itu hanya dapat dicapai melalui pemujaan yang Satu itu di tengah-tengah semua manusia. yakni Roh yang tidak terbatas. Dalam momen ini. Dalam agama Ibrani. Tuhan telah dipahami sebagai yang memiliki kualitas kebaikan. namun masih berupa individu (individu) manusia. adalah sejarah yang konkret. Sementara dalam agama Romawi.. manusia tidak memiliki tujuan.. Hegel menggolongkan agama ini ke dalam kesadaran religius yang melihat Tuhan beroposisi terhadap dunia dan manusia. dalam hal pemahaman mengenai yang Absolut. Yunani (agama keindahan) dan Romawi (agama utilitas). 41 11 . sama seperti ketiga agama di atas.. Agama Substansi adalah sejenis Panteisme. misalnya.. Tuhan adalah Satu yang absolut. Syria dan Mesir. Dalam momen kesadaran religius kedua (Partikularitas) lahirlah agama spiritualitas individual. dewa Jupiter Capitolinus dianggap berperan sebagai pemelihara keamanan dan kedaulatan kerajaan Roma. yang tidak hanya transenden tapi juga imanen. Tuhan digambarkan sebagai seorang individu yang dapat marah-marah dan menghukum manusia. misalnya. Tuhan dipahami sesuai dengan hakikatnya sendiri. Momen kedua adalah agama substansi (yang mencakup agama Cina. dan bahwa sejarah manusia. Tuhan adalah individualitas yang terdiri dari tiga personalitas (Trinitas). sebuah fatalisme absolut. Bentuk konkret dari agama ini adalah agama Ibrani (atau agama sublimitas). yakni agama Kristen. Yang Absolut tidak lagi dipahami semata-mata sebagai universalitas abstrak. segala sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia itu dianggap sebagai yang Absolut. yakni sebagai Roh. Ketiga agama terakhir ini adalah sekaligus transisi menuju agama individualitas spiritual (Die Religion der geistigen Individualitaet). . Dalam kekristenan. Konsepsi mengenai yang Absolut di sini masih abstrak.Alam hidup dalam ketakutan.. dan karena itu agama Muhammad pada dasarnya adalah fanatik. Yang terbatas dan tidak-terbatas serta yang fana dan ilahi tidak lagi beroposisi. Yang Absolut itu seakan-akan telah keluar dari keabstrakannya dan mempartikularisasikan dirinya. Tuhan dipandang sebagai yang terpisah dan beroposisi terhadap manusia.41 dan agama Persia. relasinya kepada yang Satu. karena ia telah mendiferensiasi diri ke dalam berbagai bentuk.”42 Momen terakhir (Individualitas) adalah agama absolut (die absolute Religion) atau agama wahyu (die offenbare Religion). indiferen menyangkut kehidupan. piramida atau patung-patung tertentu. Tuhan masih dipahami sebagai Partikularitas. Hinduisme dan Budhisme). 699. melainkan hanya pada obyek-obyek tertentu. [Dalam Muhamedanisme] terdapat kecenderungan untuk membiarkan segala sesuatu berlangsung dengan sendirinya. partikularitas.

gereja dan lain-lain. Dalam Kekristenan. 1958. volume I.. Essays in Hegelian Dialectic. Harris dan Walter Cerf. J.”44 Sebagaimana Kant. dalam Driyarkara. Karl Loewith. 563. tidak terpisahkan satu sama lain. G. Quentin.W. Sitorus. Hegel.P.) Yogyakarta: Galang Press. G. Vorlesungen ueber die Geschichte der Philosophie.W. et. terjemahan H. “Manusia dan Tuhan saling memiliki. Hegel: A Re-Examination. Roh universal dan roh yang partikular. Kunzmann. Hrsg... Hegel. G... Atlas zur Philosophie. Jilid I dan II. Hegel G. Wissenschaft der Logik. 1977.. Hegel. ia adalah agama yang menjadi obyektif kepada dirinya sendiri. Loewith. Gott. 44 PR. sesuai dengan ajaran Protestantisme. Leipzig: Reclam. Mensch und die Welt in der Metaphysik von Decartes bis zu Nietzsche.S.F.H. atau untuk dirinya. London: Routledge & Paul Kegan. 1991. Leiden: A. seperti pemuka agama. 1982. agama yang merepresentasikan Ada dalam bentuk yang terealisasi. No. pengakuan akan dimensi yang ilahi pada manusia itu memungkinkan manusia untuk berhubungan secara langsung dengan Tuhan. volume 3. Gott. di mana yang Absolut dipahami semata-mata dalam kategori pemikiran murni.W. Bolland.J. edited and translated by E. Hegel. Roh yang tidak-terbatas dan roh yang terbatas. Spiers and J.. New York: Collier Books.M.. Gottesbeweise im Deutschen Idealismus. Knudsen.. Harald. Lauer. The Difference Between Fichte’s and Schelling’s System of Philosophy.secara dialektis. 2005. Sebuah Upaya Pendasaran Prinsip-Prinsip Filsafat Hegel. “Estetika Hegel” dalam Teks-teks Kunci Filsafat Seni.N. Hegel juga memuji agama Kristen. 1951. Aesthetics.K. hal. F.W. dan itulah yang mengkonstitusikan agama ini. Hegel. jilid III.B. 43 12 . Gotettingen: Vandenhoeck & Ruprecht. T.F. tanpa harus melalui lembaga-lembaga agama duniawi. Berlin: Walter de Gruyter. hal. dan merupakan substansi dan isinya. 1975. Burdon Sanderson.F. dan menyebut agama ini sebagai agama kebebasan karena. 1972. Sitorus. 3/2004. 119. 1967. Leipzig: Felix Meiner.K. terj. G. 1977. “Dialektika Ada-Ketiadaan-Menjadi” pada Hegel. G.*** Daftar Pustaka Findlay. F. oleh Mudji Sutrisno (ed. keterhubungan itulah identitas absolut dari roh-roh tersebut. XXVII. Peter. New York: Fordham University Press. Albany: SUNY Press.al.F.F. G.W.J. Lectures on Fine Art. Mensch und die Welt in der Metaphysik von Decartes bis zu Nietzsche.W.”43 dan akal budi (Vernunft) adalah dimensi yang ilahi (yang tidak terbatas) pada manusia. Hegel menulis: “Agama Kristen adalah agama yang sempurna. Knox. Muenchen: DTV.F. Karl. 1968. 1967. Oxford: The Clarendon Press. Pengakuan akan dimensi keilahian manusia berkat akal budinya inilah yang sekaligus merupakan transisi agama ke filsafat. Gotettingen: Vandenhoeck & Ruprecht. Th. Hegel’s Lectures on the Philosophy of Religion. Adriani. Vorlesungen ueber die Philosophie der Religion. terutama Kristen Protestan Lutheran. 1901.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful