P. 1
Meningitis Tuberkulosa

Meningitis Tuberkulosa

3.0

|Views: 2,639|Likes:
Published by Tia Neeh

More info:

Published by: Tia Neeh on Jan 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2015

pdf

text

original

PENDAHULUAN

Meningitis adalah suatu radang pada meningens (selaput yang melindungi otak dan batang otak), disebabkan oleh bakteri, dan virus yang dapat terjadi secara akut atau kronik. Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu meningitis serosa dan meningitis purulenta. Pada meningitis serosa cairan otak berwarna jernih sampai xantokrom, sedangkan pada meningitis purulenta cairan otak berwarna opalesen sampai keruh. Meningitis serosa dibagi menjadi 2 yaitu meningitis serosa viral yang disebabkan oleh infeksi virus dan meningitis serosa tuberkulosis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Meningitis serosa tuberkulosis atau meningitis tuberkulosis merupakan satu dari sekian jenis meningitis yang paling sering dan paling berbahaya karena berbeda dengan meningitis lainnya dari perjalanan penyakitnya yang lambat dan progresif. Meningitis tuberkulosis terjadi sebagai akibat komplikasi dari penyebaran tuberkulosis primer, biasanya dari paru.

TINJAUAN PUSTAKA
1

Selain itu dapat pula disebabkan oleh varian lain yaitu Mycobacterium tuberculosis varian bovis. Mycobacterium tuberculosis mempunyai ukuran panjang 2-4 mikron dan lebar 0. Patogenesis 2 . tidak membentuk spora dan kapsel atau konidia. Sering ditemukan berkelompok. Mycobacterium tuberculosis atau basil tuberkel tidak bergerak. status gizi dan faktor genetik tertentu yang berhubungan dengan faktor imun. Mycobacterium tuberculosis varian atipik.5 mikron. Hidup intraseluler dalam suasana aerob. Famili Mycobacteriacea dan Genus Mycobacterium. tingkat kesadaran kesehatan masyarakat. dan Mycobacterium tuberculosis varian flavesen. Suhu terbaik untuk pertumbuhannya adalah 37° C dan mati pada suhu kurang dari 30° C atau lebih dari 42° C.3-0. Epidemiologi Meningitis tuberkulosis masih banyak ditemukan di Indonesia karena morbiditasnya selain bergantung kepada tingkat kekebalan tubuh seseorang juga dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi. berbentuk filamen tetapi mudah patah dan menghasilkan bentuk batang dan kokoid.Definisi Meningitis tuberculosis adalah peradangan pada selaput otak atau meningen oleh bakteri tahan asam Mycobacterium tuberculosis. Etiologi Meningitis tuberkulosis paling sering disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis varian hominis. Mycobacterium tuberculosis termasuk dalam ordo Aktinomisetales.

Eksudat ini menyelubungi arteri dan nervus kranialis. IV dan VII.Meningitis tuberkulosis merupakan proses sekunder terhadap proses tuberkulosis di tempat lain pada tubuh. melainkan biasanya sekunder melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak. Setelah melepaskan bacilus dan materi granulomatosa kedalam rongga subarachnoid kemudian terbentuk sejumlah eksudat gelatin kental berwarna putih. Eksudat tersebut sebagian besar akan menempati dasar otak terutama pada batang otak dan sebagian kecil terdapat pada permukaan otak. Meningitis tuberkulosis pada anak seringkali dihubungkan dengan penjalaran suatu kompleks primer. kemudian tuberkel akan pecah dan bakteri masuk ke rongga sub arachnoidea. Dengan kata lain terinfeksinya meningen didahului dengan terbentuknya tuberkel di otak atau paru. Hal ini terjadi karena basil tuberkel tidak mudah masuk meningen melalui bakterimia dan perubahan vaskuler pada meningitis tuberkulosis tidak dapat ditimbulkan oleh bakterimia. Terdapatnya kelainan pada pembuluh darah seperti arteritis dan flebitis yang menimbulkan sumbatan dapat menyebabkan infark otak yang kemudian akan menyebabkan perlunakan otak. Hal inilah yang menjelaskan bahwa meningitis tuberkulosis secara histologis dapat disebut sebagai meningoensefalitis. Terjadinya meningitis bukanlah karena terinfeksinya selaput otak langsung oleh penyebaran hematogen. Kadangkadang terjadi perkontinuitatum dari mastoiditis atau spondilitis. sumsum tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah ke dalam rongga arachnoid (ruang subarachnoid). Patologi 3 . III. yang akan dapat menyebabkan hidrosefalus serta kelainan pada saraf otak. membentuk seperti sumbatan leher botol pada aliran cairan serebrospinal pada tingkat pembukaan tentorium. Saraf otak yang biasanya terkena pada meningitis tuberkulosis akibat gejala penekanan oleh eksudat yang kental adalah saraf otak II. tetapi baru terjadi setelah terjadi suatu infeksi pada ruang subarachnoid.

lama dan respon pengobatan. ditandai dengan gejalagejala non spesifik seperti demam. Namun yang lebih umum terjadi. yaitu : 1. yaitu umur. ketika ruptur dari satu atau lebih tuberkel subependimal melepaskan basil tuberkel ke ruangan subarachnoid. mengantuk (drowsiness). Meningitis tuberkulosis dapat muncul bertahun-tahun setelah infeksi. Plak perkijuan setempat yang merupakan tuberkuloma pada meningen 3. Meningitis proliferatif Gambaran patologi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. perjalanan penyakit perlahan-lahan dan keluhan sering tidak jelas dan tidak khas. berat dan lamanya sakit. Stadium I (inisial/ prodromal) Stadium ini berlangsung selama 1-2 minggu. virulensi dan jumlah basil. iritabilitas. dan malaise. yaitu : 1. Progresi cepat cenderung lebih sering terjadi pada infant dan anak usia muda. Manifestasi klinik Gambaran klinik meningitis tuberkulosis sangat variabel dan pada permulaan penyakit sukar diketahui.Gambaran patologis pada meningitis tuberkulosis terdapat dalam 4 bentuk. Progresi klinis meningitis tuberkulosis dapat terjadi cepat atau perlahan. sakit kepala. 4 . gejala dan tanda berkembang perlahan selama beberapa minggu dan dibagi menjadi 3 stadium. respon imun pasien. Tuberkel milier diseminata seperti tuberkulosis milier 2. Reaksi radang meningen akut 4. tapi infants dapat mengalami stagnasi pertumbuhan dan gangguan perkembangan. Tidak terdapat kelainan neurologis fokal.

kejang. pernafasan ireguler disertai peningkatan suhu tubuh. dan vaskulitis. seperti hiperpireksia. 3. hemiplegia atau paraplegia. Hidrosefalus terdapat pada dua pertiga kasus dengan lama sakit 3 minggu. defisit neurologis dan gerakan involunter. 5 . pupil terfiksasi. penurunan kesadaran atau disorientasi. Refleks tendon meningkat. Tanda yang paling umum adalah letargi. gejala gastrointestinal tanpa manifestasi kelainan neurologis. kejang. spasme klonik. muntah. Stadium III (terminal) Stadium ketiga ditandai dengan koma. disertai klonus patela dan pergelangan kaki. Pasien tampak apatis dan iritabel. postur deserebrasi. disertai nyeri kepala 2. hipertensi. Pada beberapa anak tidak terdapat adanya tanda rangsang meningeal namun bisa terdapat tanda-tanda ensefalitis. Pasien koma. Stadium II (transisi) Stadium kedua biasanya mulai dengan lebih mendadak. Perburukan penyakit secara klinis biasanya sejalan dengan perkembangan hidrosefalus. Pasien tampak mengantuk. dan tanda-tanda kelainan neurologis fokal yang lain. refleks abdomen menghilang. disorientasi disertai tanda rangsang meningeal. kaku kuduk. tanda Brudzinski atau Kerniq positif. peningkatan tekanan intrakranial.Predominan intermitten. deteriorasi tanda vital dan pada akhirnya kematian. hipertoni. gangguan saraf kranial.

Pemeriksaan penunjang 1. rasional dan tidak memiliki defisit neurologis. Tekanan sedikit meninggi dan jumlah sel kurang dari 500/ mm3 dengan dominan limfosit. dan bila didiamkan akan membentuk “cob web” atau “pellicle” atau sarang laba-laba. : pasien confused atau memiliki defisit neurologis seperti kelumpuhan saraf kranialis atau hemiparesis. kadang-kadang suhu malah merendah. lebih sering dijumpai nadi yang lambat. Stadium kerusakan otak setempat atau difus Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan didapatkan kaku kuduk. Dari uraian diatas didapatkan gambaran klasik perjalanan penyakit meningitis tuberkulosis yang terdiri dari : 1. Stadium prodromal 2.Sedangkan menurut British Medical Research Council. Stadium perangsangan meningen 3. Protein meninggi sampai 200mg% dan kadar glukosa menurun sampai dibawah 40mg%. tidak berwarna. 6 . suhu badan naik turun. abdomen tampak mencekung. Pemeriksaan cairan otak Merupakan kunci diagnosis untuk meningitis tuberkulosis Cairan serebrospinal pada meningitis tuberkulosis jernih. nadi sangat labil. hiperestesi umum. afasia motorik atau sensoris. yaitu : Stage I Stage II Stage III : pasien sadar penuh. reflek pupil yang lambat dan reflek tendon yang lemah. meningitis tuberkulosis dapat diklasifikasikan menjadi tiga stage. : pasien coma atau stupor dengan defisit neurologis yang berat.

gula darah dan elektrolit. Pemeriksaan radiologik Foto Thorak Hampir sebagian besar penderita meningitis tuberkulosis akan menunjukkan gambaran radiologik sesuai untuk suatu tuberkulosis. 3. Nampak sebagai fokus eksudat putih keabuan dibawah pembuluh darah retina. Selain itu perlu diperiksa juga jumlah dan hitung jenis leukosit serta peningkatan laju endap darah (LED). 5.1 cc atau tes Mantoux berguna untuk diagnosis. kelainan yang nampak adalah : • Tuberkuloma.2. Pemeriksaan darah rutin Darah perifer lengkap. Foto tengkorak Pada stadium akut meningitis tuberkulosis tidak akan menjumpai kelainan pada foto tengkorak. dapat mengalami perkapuran dan kadang terlihat suatu “mass effect” • Hidrosefalus. 4. Pelebaran sutura menandakan suatu peninggian tekanan intrakranial. terlihat dari pelebaran ventrikel. • Gambaran penyerapan abnormal dari kontras pada sisterna basalis. Tes tuberkulin Pemberian tuberkulin intradermal sebanyak 0. Tuberkel koroid Tuberkel koroid menandakan suatu proses tuberkulosis lanjut. Pemeriksaan CT Scan Dapat digunakan untuk diagnosis meningitis tuberkulosis. • Infark Angiografi 7 . terutama pada anak.

protein meningkat sampai 500 mg/ dl. Uji tuberkulin yang positif. terutama dalam stadium terminalis. Sesuai dengan rekomendasi American Academy of Pediatric 1994.Pada fase akut meningitis tuberkulosis dapat dijumpai kelainan pembuluh darah berupa penyempitan segmental arteri pada daerah basis otak. Diagnosis pasti hanya dapat dibuat bila ditemukan kuman tuberkulosis dalam cairan otak. kadar klorida menurun. Uji tuberkulin pada meningitis tuberkulosis sering negatif karena anergi. teratur dengan aktivitas gelombang delta voltase tinggi. leukosit yang meningkat sampai 500/ mm3 dengan dominasi sel mononuklear. Dari pemeriksaan dan kultur cairan otak didapatkan tekanan yang meningkat. Selain itu dapat memperlihatkan terdapatnya lesi fokal sesuai dengan lesi infark atau fokus epileptik. Elektroensefalografi Dijumpai gambaran EEG abnormal berupa perlambatan difus. kadar glukosa LCS menurun biasanya < 40 mg/ dl tapi dapat juga < 20 mg/ dl. warna dapat jernih atau xantokrom. Penatalaksanaan Pengobatan sedini mungkin sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi. kelainan radiologis yang tampak pada foto thorak dan terdapatnya sumber infeksi dalam keluarga hanya dapat menyokong diagnosis. Penyempitan ini terjadi akibat arteritis atau kompresi mekanik oleh eksudat kental. bentuk sinusoidal. diberikan pengobatan medikamentosa berupa kombinasi antara Obat Anti 8 . Diagnosis Ditentukan atas dasar gambaran klinis serta yang terpenting ialah gambaran pemeriksaan cairan otak.

dilanjutkan dengan tapering off Steroid diberikan untuk mencegah arteritis/ infark otak. Jika didapatkan hidrosefalus non-komunikan. Prednison 1-2 mg/ kgBB/ hari selama 2-3 minggu. Efek samping berupa kerusakan nervus VIII. Komplikasi 9 . nyeri sendi. diteruskan dengan pemberian INH dan Rifampicin selama 10 bulan. gatalgatal.m). dosis maksimum 2.Tuberkulosis dengan kortikosteroid. dosis maksimum 300 mg/ hari Bila timbul ikterus dosis dikurangi. dapat dilakukan pemasangan VP-Shunt. dosis maksimum 750 mg/ hari (i. pengobatan medis dengan furosemide dan acetazolamid akan mengembalikan nilai normal tekanan intra kranial dalam satu sampai dua minggu. reaksi hipersensitif 4. Streptomisin (S) 15-30 mg/ kgBB/ hari. Diberikan 4 macam obat selama 2 bulan. efek samping berupa kesemutan. efek samping berupa mual. trombositopenia 3. Obat-obat yang diberikan diantaranya adalah : 1. nyeri otot 2. dosis maksimum 2 gram/ hari Efek samping berupa hepatitis. perlekatan dan menghambat reaksi inflamasi. dan bersifat nefrotoksik 5. Isoniazid (INH) 5-15 mg/ kgBB/ hari. dosis maksimum 600 mg/ hari Bila timbul ikterus dosis dikurangi. Pasien yang tidak berhasil dengan cara ini maka akan direncanakan pula pemasangan ventrikuloperitoneal shunt.5 gram / hari Efek samping berupa gangguan penglihatan 6. Rifampisin (R) 10-15 mg/ kgBB/ hari. Etambutol (E) 15-20 mg/ kgBB/ hari. Pirazinamid (Z) 25-35 mg/ kgBB/ hari. Jika terdapat hidrosefalus komunikan. komplikasi infeksi.

paraplegia. diabetes insipidus. atau retardasi mental. Prognosis Prognosis meningitis tuberkulosis berhubungan dengan stadium klinis penyakit saat terapi dimulai. Prognosis untuk infant pada umumnya lebih buruk daripada anak yang lebih tua. Anak juga dapat menjadi buta atau tuli dan kadang timbul retardasi mental. paralisis sampai deserebrasi. sedangkan kebanyakan pasien pada stadium ketiga yang bertahan hidup mengalami disabilitas permanen. hidrosefalus akibat sumbatan. 10 . Dapat terjadi cacat neurologis berupa paresis. resorbsi berkurang atau produk berlebihan dari cairan otak. tuli. antara lain kebutaan. Sebagian besar pasien pada stadium pertama memiliki prognosis baik.Dapat terjadi akibat pengobatan yang tidak sempurna atau pengobatan yang terlambat. sedangkan kebanyakan pasien pada stadium pertama memiliki prognosis baik.

Diagnosis dan pengobatan dini dapat memberikan angka kesembuhan yang tinggi dapat mencegah terjadinya komplikasi 11 . Penatalaksanaannya berupa pemberian OAT yang dikombinasikan dengan kortikosteroid 8. 4. Pemeriksaan cairan otak Pemeriksaan darah rutin Tes tuberkulin Tuberkel koroid Pemeriksaan radiologik 7. Meningitis tuberkulosis disebabkan oleh penyebaran Mycobacterium tuberculosis dari bagian tubuh yang lain. Pemeriksaan penunjang terdiri dari : 1. Meningitis tuberkulosis adalah satu dari sekian jenis meningitis yang paling sering dan paling berbahaya. Kuman mencapai susunan saraf pusat melalui aliran darah dan membentuk tuberkel di selaput otak dan jaringan otak dibawahnya. Manifestasi klinik terdiri dari 3 stadium yaitu stadium inisial ditandai dengan gejala yang non spesifik berupa apatis dan iritabel. 5. stadium transisi ditandai dengan terdapatnya kaku kuduk dan kejang dan stadium terminal yang ditandai dengan koma. 3.KESIMPULAN 1. 4. Meningitis tuberkulosis biasanya disebabkan oleh bakteri penyebab tuberkulosis yaitu Mycobacterium tuberculosis varian hominis. 3. hemiplegi atau paraplegi. 5. Meningitis adalah suatu radang pada meningens (selaput yang melindungi otak dan batang otak) 2. 2. 6.

Jakarta. 2002. Penyakit Saraf RS. R. Rahajoe NN. Pola Penderita Meningitis Tuberkulosa. UPF Ilmu Jawets. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. Hasan Sadikin Bandung. Buku Kuliah Ilmu Panggabean. EGC. Basir D. Juni 2005. UKK Pulmonologi PP IDAI. 2.KEPUSTAKAAN 1. Jilid 2 – Jakarta: Infomedika. 2005. Kartasasmita CB. 4. 3. Melnick & Adelberg. Jakarta. FKUI-RSCM. Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Kesehatan Anak. Anak – Jakarta: FKUI. 1996. 12 . MS Makmurim. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Edisi 20. Mikrobiologi Kedokteran. 5.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->