Pengertian Politik Hukum 1.

Padmo Wahjono mengatakan bahwa politik hukum adalah kebijakan dasar yang menentukan arah, bentuk maupun isi hukum yang akan dibentuk.
2. Teuku Mohammad Radhie mendefinisikan politik hukum sebagai suatu pernyataan

kehendak penguasa negara mengenai hukum yang berlaku di wilayahnya dan mengenai arah perkembangan hukum yang dibangun.
3. Satjipto Raharjo mendefinisikan politik hukum sebagai aktivitas memilih dan cara

yang hendak dipakai untuk mencapai suatu tujuan sosial dengan hukum tertentu di dalam masyarakat yang cakupannya meliputi jawaban atas beberapa pertanyaan mendasar, yaitu 1) tujuan apa yang hendak dicapai melalui sistem yang ada, 2) caracara apa yang mana yang dirasa paling baik untuk dipakai dalam mencapai tujuan tersebut, 3) kapan waktunya dan melalui cara bagaimana hukum itu perlu diubah, 4) dapatkah suatu pola yang baku dan mapan dirumuskan untuk membantu dalam memutuskan proses pemilihan tujuan serta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut dengan baik. 4. Menurut Moh Mahfud MD, politik hukum adalah legal policy atau garis (kebijakan) resmi tentang hukum yang akan diberlakukan baik dengan pembuatan hukum baru maupun dengan penggantian hukum lama, dalam rangka mencapai tujuan negara. Dengan demikian politik hukum merupakan pilihan tentang hukum-hukum yang akan diberlakukan sekaligus pilihan tentang hukum-hukum yang akan dicabut atau tidak diberlakukan yang kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan negara seperti yang tercantum di dalam pembukaan UUD 1945.

Hukum Sebagai Alat Berbagai pengertian atau definisi tersebut mempunyai substansi makna yakni bahwa politi hukum itu merupakan legal policy tentang hukum yang akan diberlakukan atau tidak diberlakukan untuk mencapai tujuan negara. Di sini hukum diposisikan sebagai alat untuk mencapai tujuan negara. Terkait dengan ini Sunaryati Hartono mengemukakan tentang “hukum sebagai alat” sehingga secara praktis politik hukum juga merupakan alat atau sarana
1

dan langkah yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk menciptakan sistem hukum nasional guna mencapai cita-cita bangsa dan tujuan negara.

Hukum Sebagai Produk Politik Pernyataan bahwa “hukum adalah produk politik” adalah benar jika didasarkan pada das sein dengan mengkonsepkan hukum sebagai undang-undang. Dalam faktanya jika hukum dikonsepkan sebagai undang-undang yang dibuat oleh lembaga legislatif maka tak seorang pun dapat membantah bahwa hukum adalah produk politik sebab ia merupakan kristalisasi, formalisasi atau legalisasi dari kehendak-kehendak politik yang saling bersaingan baik melalui kompromi politik maupun melalui dominasi oleh kekuatan politik yang terbesar. Dalam konsep dan konteks inilah terletak kebenaran pernyataan bahwa “hukum merupakan produk politik”. Hukum merupakan produk politik, maka karakter produk hukum berubah jika konfigurasi politik yang melahirkannya berubah. Siapa yang dapat membantah bahwa hukum dalam arti undang-undang merupakan produk dari pergulatan politik. Itulah sebabnya von Krichman mengatakan bahwa karena hukum merupakan produk politik maka kepustakaan hukum yang ribuan jumlahnya bisa menjadi sampah yang tak berguna jika lembaga legislatif mengetokkan palu pencabutan atau pembatalannya.

Politik Hukum Pertanahan (Agraria). Berdasarkan beberapa pengertian atau definisi di atas, maka dapat dikemukakan pengertian atau definisi politik hukum tanah atau agraria adalah legal policy atau garis (kebijakan) resmi tentang hukum yang akan diberlakukan baik dengan pembuatan hukum baru maupun dengan penggantian hukum lama, dalam rangka mencapai tujuan negara dalam bidang pertanahan atau agraria. Politik agraria adalah garis besar kebijaksanaan yang dianut oleh negara dalam memelihara, mengawetkan, memperuntukkan, mengusahakan, mengambil manfaat, mengurus dan membagi tanah dan sumber alam lainnya termasuk hasilnya untuk kepentingan kesejahteraan rakyat dan negara, yang bagi negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar (UUD) 1945.

2

dilengkapai dengan peraturan pelaksananya. Perkembangan Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Di Indonesia Perkembangan politik hukum agraria di Indonesia terdiri atas beberapa fase : 1. dapat dijelaskan sebagai berikut : 3 . Pada masa kolonial / penjajahan 2. periode demokrasi liberal (1945-1959) 3. 2. Hukum agraria penjajah tidak menjamin kepastian hukum bagi rakyat asli (pribumi). ada hubungan erat antara politik dan hukum. Hukum agraria tersebut mempunyai sifat dualisme. Pada masa orde baru (1966-1998) 5. Dengan demikian. Pada masa orde lama. 3. dan soal-soal agraria dalam garis besarnya.Politik agraria dapat dilaksanakan. dasar-dasar. di samping hukum agraria yang berdasarkan atas hukum barat. periode demokrasi terpimpin (1959-1966) 4. dijelmakan dalam sebuah undang-undang yang mengatur agraria yang memuat asas-asas. Pada era reformasi (1998-saat ini) Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Kolonial / Penjajahan Hukum agraria kolonial mempunyai 3 ciri : 1. Pada masa orde lama. dengan berlakunya hukum adat. Beberapa ketentuan yang menunjukkan bahwa hukum dan kebijaksanaan agraria yang berlaku sebelum Indonesia merdeka disusun berdasarkan tujuan dan sendi-sendi Pemerintahan Hindia belanda. Tersusun berdasarkan tujuan dan sendi-sendi dari pemerintahan jajahan.

Petani harus menyerahkan sebagian hasil pertaniannya kepada kompeni tanpa dibayar sepeser pun. Pada masa pemerintahan Gubernur Herman Willem Daendles (1800-1811) Kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Gubernur Herman Willem Daendles adalan menjual tanah-tanah rakyat Indonesia kepada orang-orang Cina. tanah-tanah yang dikuasai dan digunakan oleh 4 . yang dibebankan kepada rakyat Indonesia yang tidak mempunyai tanah pertanian.1. Arab maupun bangsa Belanda sendiri. Pada masa pemerintahan Gubernur Thomas Stamford Raffles (1811-1816) Kebijakan yang ditetapkan oleh Gubernur Thomas Stamford Raffles adalah landrent atau pajak tanah. antara lain : a. 3. 2. Contingenten Pajak atas hasil tanah pertanian harus diserahkan kepada penguasa kolonial (kompeni). b. Roerendiensten Kebijaksanaan ini dikenal denga kerja rodi. Dengan demikian. sedang rakyat hanya sekedar memakai dan menggarapnya. maka sebagai akibat hukumnya adalah hak kepemilikan atas tanah-tanah tersebut dengan sendirinya beralih pula kepada Raja Inggris. Tanah-tanah yang dijual itu dikenal dengan sebutan tanah partikelir. Karena kekuasaan telah beralih kepada Pemerintah Inggris. Tanah-tanah di daerah swapraja di Jawa adalah milik raja. c. Dengan ketentuan ini. rakyat tani benarbenar tidak bisa berbuat apa-apa. Verplichte leveranten Ketentuan yang diputuskan oleh kompeni dengan raja tentang kewajiban menyerahkan seluruh hasil panen dengan pembayaran yang harganya juga sudah ditetapkan secara sepihak. Pada masa terbentuknya VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) Beberapa kebijaksanaan politik pertanian yang sangat menindas rakyat Indonesia yang ditetapkan oleh VOC. Mereka tidak berkuasa atas apa yang mereka hasilakn.

sedangkan bagi rakyat yang tidak mempunyai tanah pertanian wajib menyerahkan tenaga kerjanya yaitu seperlima bagian dari masa kerjanya atau 66 hari untuk waktu satu tahunnya. politik monopoli (politik kolonial konservatif) dihapuskan dan digantikan dengan politik liberal yaitu pemerintah tidak ikut mencampuri di bidang usaha. Pada masa berlakunya Agrarische Besluit Stb. Hasil pertanian tersebut diserahkan kepada pemerintah kolonial tanpa mendapat imbalan apa pun. 5. Dalam sistem tanam paksa ini. Politik Pertanahan (Agraria) Kolonial / Penjajah 5 .1870 No. mereka wajib memberikan pajak tanah kepada Raja Inggris. Rakyat Indonesia yang memiliki tanah dianggap sebagai penyewa atau penggarap saja dengan membayar pajak atas tanah.118 Pada masa berlakunya Agrarische Besluit. sehingga secara yuridis formal tanah-tanah tersebut menjadi domein (milik) negara. di Kesultanan Yogyakarta juga terdapat ketentuan semacam Domein Verklaring. 1870 No. petani dipaksa untuk menanam suatu jenis tanaman tertentu yang secara langsung maupun tidak langsung dibutuhkan pasar internasional pada waktu itu. kedudukan rakyat Indonesia yang memiliki tanah berada pada pihak yang lemah karena hampir semua tanah tersebut tidak mempunyai tanda bukti pemilikan sertifikat. Dengan berlakunya Domein Verklaring. Oleh karena itu. yang dimuat dalam Rijksblad Yogyakarta tahun 1918 No. melainkan milik Raja Inggris. 4.rakyat itu bukan miliknya. pengusaha diberikan kesempatan dan kebebasan mengembangkan usaha dan modalnya di bidang pertanian di Indonesia.55 Dengan berlakunya Agrarische Wet. sebagaimana sebelumnya diberikan kepada raja mereka sendiri. Pada masa berlakunya Agrarische Wet Stb. 6. Pada masa pemerintahan Gubernur Johanes van de Bosch Pada tahun 1830 Gubernur Johanes van de Bosch menetapkan kebijakan pertanahan yang dikenal dengan Tanam Paksa atau Cultuur Stelsel.16.

dan dependensi. sedangkan penduduk pribumi yang dijajah dipandang sebagai bangsa yang rendah atau hina. Dengan asas Domein Verklraing yang menyertainya. Penduduk pribumi diperas tenaga dan hasil produksinya untuk diserahkan kepada pihak penjajah. Dari komisi ini disampaikan rancangan UU untuk memperbaiki Peraturan Sewa Tanah atas tanah milik pangeran melalui sepucuk surat tanggal 28 Maret 1948 kepada Presiden Soekarno. dualistik. Untuk menanggapi berbagai tuntutan itu pada tanggal 6 Maret 1948. Prinsip dominasi terwujud dalam kekuasaan golongan penjajah yang minoritas terhadap penduduk pribumi yang mayoritas. Oleh sebab itu. Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Orde Lama. Masyarakat terjajah menjadi makin tergantung kepada penjajah dalam hal modal. Akhirnya keluarlah UU No. yaitu mendapatkan hasil bumi/bahan mentah dengan harga yang serendah mungkin. Tujuannya ialah tidak lain mencari keuntungan yang sebesar-besarnya bagi diri pribadi penguasa kolonial yang merangkap sebagai penguasa. feodalistik. Sistem kolonial ditandai oleh 4 ciri pokok. yaitu dominasi. pengetahuan dan keterampilan karena mereka semakin lemah dan miskin. Golongan penjajah dianggap sebagai bangsa superior. teknologi. Eksploitasi atau pemerasan sumber kekayaan tanah jajahan untuk kepentingan negara penjajah. Diskriminasi atau perbedaan ras dan etnis. wajar jika setelah proklamasi kemerdekaan timbul tuntutan agar segera diadakan pembaruan terhadap hukum agraria. Dependensi atau ketergantungan masyarakat jajahan terhadap penjajah. jelas sangat bertentangan dengan kesadaran hukum dan rasa keadilan dalam masyarakat. yang kemudian oleh pihak penjajah itu dikirim ke negara induknya untuk kemakmuran mereka sendiri. eksploitasi. Dominasi ini ditopang oleh keunggulan militer kaum penjajah dalam menguasai dan memerintah penduduk pribumi. 13 Tahun 1948 yang menghapus hak konversi. diskriminasi. 6 . presiden membentuk sebuah komisi yang dikenal dengan Panitia Tanah Konversi. Sebaliknya bagi rakyat Indonesia menimbulkan penderitaan yang sangat mendalam. Keuntungan ini juga dinikmati oleh pengusaha Belanda dan penguasa Eropa. Periode Demokrasi Liberal (1945-1959) Hukum agraria pada zaman Hindia Belanda telah menunjukkan bahwa hukum agraria zaman kolonial sangat eksploitatif. kemudian dijual dengan harga setinggi-tingginya.Dasar politik agraria kolonial adalah prinsip dagang.

7. yaitu : 7 .6 Tahun 1951 yang kemudian dikukuhkan menjadi UU biasa dengan UU No. meskipun kenyataannya UU agraria nasional yang “bulat” baru dapat diundangkan pada tahun 1960.55 Tahun 1955 dan UU No. Diantara berbagai pertauran perundang-undangan yang penting yang dilahirkan sebagai kebijaksanaan dan tafsir baru menyangkut hal-hal sebagai berikut : 1. 4. Pengaturan Perjanjian Bagi Hasil dengan UU No. artinya setelah terlampuinya periode 1945-1959. 6 Tahun 1952. Pengalihhan Tugas-tugas Wewenang Agraria dengan Keppres No. 5. 3. maka sejak awal kemerdekaan telah dibentuk komisi atau panitia yang diberi tugas menyusun dasar-dasar hukum agraria baru. Namun. hasil akhir dan kerja-kerja berbagai panitia baru mengkristal dalam bentuk UU pada tahun 1960. 2. Penambahan Peraturan dalam Pengawasan Pemindahan Hak atas Tanah dengan UU Darurat No.1 Tahun 1952 yang kemudian dikukuhkan menjadi UU No.1 Tahun 1958.Pada periode 1945-1959 pemerintah belum berhasil membuat UU Agraria nasional yang bulat sebagai pengganti Agrarische Wet 1870. 8. Ada beberapa panitia yang terbentuk dalam usaha menyusun UU agraria nasional.1 Tahun 1956. Perubahan Peraturan Persewaan Tanah Rakyat dengan UU Darurat No. Penghapusan Tanah Partikelir dengan UU No.78 Tahun 1957. Sejak awal kemerdekaan pemerintah telah mengambil langkah-langkah konkret untuk mengalhiri berlakunya UU produk kolonialisme.5 Tahun 1950.7 Tahun 1958.24 Tahun 1954.13 Tahun 1948 yang kemudian dilengkapi UU No.2 Tahun 1960. kemudian dirubah dan ditambah dengan UU Darurat No. Penaikan Besarnya Canon dan Cijns dengan UU No. Penghapusan Hak Konversi dengan UU No. 6. Untuk menyusun UU Agraria yang bercorak nasional dan bulat (menyeluruh) guna menggantikan UU Agraria peninggalan kolonial.8 Tahun 1954. Larangan dan Penyesuaian Pemakaina Tanah Tanpa Izin dengan UU Darurat No.

Pembentukannya dilakukan dengan Penetapan Presiden No. dengan Keppres No. Panitia Agraria Jakarta Setelah Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dan ibu kota negara berpindah lagi ke Jakarta. sedangkan UUD yang berlaku berdasar Dekrit 5 Juli 1959 adalah UUD 1945. Panitia Soewahjo Panitia ini dibentuk untuk melangkah lebih lanjut dalam upaya pembentukan hukum agraria yang baru sesuai dengan pasal 26. Ketika pada tahun 1959 terjadi perubahan konfigurasi politik dengan Dekrit 5 Juli 1959 RUU tersebut ditarik kembali oleh pemerintah pada tanggal 23 Mei 1960. Rancangan Soenarjo Hasil RUU yang disusun Panitia Soewahjo. Yogyakarta. Pada tanggal 19 Maret 1951. dengan beberapa penambahan atas sistematika dan beberapa pasalnya. Panitia Agraria Yogyakarta dibubarkan dan digantikan dengan panitia baru. Panitia ini dibentuk pada tahun 1948 di ibukota Republik Indonesia. 2. pembahasannya di dalam sidang pleno menjadi tertunda. Dibentuk dengan Keppres No. sebab RUU itu disususn berdasarkan UUDS 1950. pasal 37 (1) dan pasal 38 (3) UUDS 1950. dan dilengkapi bahan-bahan baru agar lebih sempurna.36 Tahun 1951. Sejak RUU Soenarjo diserahkan kepada Panitia ad hoc yang dibentuk DPR.1. 8 . disetujui oleh pemerintah untuk diajukan kepada DPR. yakni Panitia Agraria Jakarta. 4. Alasan penarikan itu secara yuridis konstitusional dapat dimengerti. Panitia Agraria Yogya. 3.16 Tahun 1948.1 Tahun 1956 panitia ini diketuai oleh Soewahjo Soemodilogo dengan tugas utama menyusun rancangan UU Pokok Agraria Nasional yang sedapat mungkin sudah dapat menyelesaikan tugasnya dalam waktu 1 tahun. dirasakan perlunya pembentukan Panitia Agraria yang baru yang dapat bekerja sesuai dengan perkembangan keadaan. Rancangan yang diajukan kepada DPR tanggal 24 April 1958 disebut Rancangan Soenarjo karena pada waktu itu menteri agraria yang mewakili pemerintah mengajukan RUU itu kepada DPR adalah Soenarjo.

Meskipun belum pada hukum agraria nasional yang komprehensif. bahkan sampai menggajukan RUU-nya. (karena pada periode ini belum ada produk hukum agraria nasional yang komprehensif). diajukan kepada DPR-GR oleh pemerintah dengan sebuah amanat presiden tanggal 1 Agustus 1960. Tanpa harus membuat rincian kewenangan interpretasi pemerintah atas berbagai produk hukum agaraia yang parsial. Watak responsif terlihat dari respons pemerintah pada aspirasi seluruh masyarakat Indonesia yang menuntut secara keras dibentuknya UU agraria nasional. pemberian kualifikasi responsif atas bentuk-bentuk respons pemerintah sudah menunjukkan signifikansi yang proposional. Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Orde Lama.1925-447) dan ketentuan dalam ayatayat lainnya dari pasal itu . Tindakan pemerintah dalam member respons tersebut. 2. sebagai yang termuat dalam pasal 51 Wet op de Staatsinrichting van Nederlands Indie (S. tetapi dari produkproduknya yang parsial itu.1870-118. Sebuah rancangan UU baru.Rangkaian langkah-langkah dalam membuat peraturan perundang-undangan secara parsial dan membentuk berbagai panitia agraria. Pada tanggal 14 September 1960 DPR-GR dengan suara bulat menerima RUU agraria yang diajukan oleh pemerintah. Beberapa peraturan yang dicabut secara eksplisit oleh UUPA : 1. yang disesuaikan dengan UUD 1945 dan Manifesto Politik. 9 . dapat dilihat dengan jelas. terlihat dari dibuatnya berbagai UU secara parsial. tidak lupa untuk terus mengusahakan terciptanya hukum agraria nasional yang baru. Agrarische Wet (S. tersebut dalam pasal 1 Agrarische Besluit S.1870-55). melainkan menyerap aspirasi masyarakat pada umumnya. menunjukkan bahwa pada periode ini pemerintah bersungguh-sungguh untuk membuat hukum agrraria yang responsif atau sesuai denggan rasa keadilan dalam masyarakat.5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria yang menurut diktum kelimanya dapat disebut sebagai Undang-undang Pokok Agraria (UUPA). sama sekali tidak bersifat positivis-instrumentalis. Domein Verklaring. Periode Demokrasi Terpimpin (1959-1966) Menteri Agraria yang baru Sadjarwo. hukum agraria pada periode ini berkarakter sangat responsif. RUU yang telah disetujui tersebut disahkan 24 September 1960 sebagai UU No.

Koninklijk Besluit tangggal 16 April 1872 No.1874-94 f. yakni terhadap semua peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan jiwa UUPA. Adanya hak menguasai oleh negara justru memberi jalan bagi tindakan responsif lainnya karena dari hak tersebut pemerintah dapat melakukan tindakan-tindakan yang berpihak bagi kepentingan masyarakat. Buku II Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) sepanjang yang mengenai bumi. tersebut dalam pasal 1 dari S.1875-119a. Dari sudut materinya yang bukan positivis-instrumentalis tersebut UUPA memperlihatkan karakter responsifnya dengan merombak seluruh sistem yang dianut oleh Agrarische Wet 1870.1875-179 berisi “larangan pengasingan tanah” dari penduduk asli Indonesia (golongan Bumi Putra) terhadap orang asing. tersebut dalam pasal I dari S. Domeinverklaring untuk Sumatera.187755. serta penegasan tentang melekatnya “fungsi sosial” atas hak atas tanah. S. 3. menghilangkan dualism hukum sehinggga tercipta unifikasi hukum.29 (S. Disamping pencabutan secra tegas (eksplisit) terdapat juga pencabutan yang sifatnya tidak langsung (implisit). Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Orde Baru (1966-1998) Pemerintah Orde Baru tidak lagi mengahadapi tuntutan untuk membuat hukum agraria nasional. tersebut dalam pasal dari S. air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. tersebut dalam pasal 1 dalam s.1875-179 menjadi tidak berlaku (tercabut) karena memuat ketentuan-ketentuan yang bertentangan jiwa UUPA. menghilangkan feodalisme dan segala hak konversinya. Domeinverklaring untuk Residentie Zuider en Qoster-afdeling van Borneo.1888-58. Domeinverklaring untuk Keresidenan Menado. Dalam kaitan ini dapat disebutkan sebagai contoh bahwa S.1872-117) dan peraturan pelaksanaannya. menghapus domeinverklaring. kecuali ketentuan-ketentuan mengenai hipotek yang masih berlaku pada mulai berlakunya UUPA.Algemene Domeinverklaring. sebab tugas itu sudah selesai ketika UUPA diundangkan pada tanggal 24 10 . 4.

tetapi secara formal. Pada tahun 1973 presiden mengeluarkan Inpres No. Akan tetapi. tuntutan pragmatis telah membawa pemerintah untuk melahirkannya hanya dalam bentuk Peraturan Menteri dan Instruksi Presiden. UUPA memberi legitimasi kepada pemerintah untuk melakukan pencabutan hak atas tanah demi kepentingan umum yang pedomannya diatur dalam UU No. tetapi interpretasi 11 . dan pelaksanaan proses pembebasan tanah untuk keperluan pembangunan. Materi Inpres tersebut seharusnya diatur dengan UU. Berkenaan dengan pelaksanaan UUPA pada periode Orde baru ini ada tiga masalah pokok yang dihadapi oleh pemerintah. Salah satu hal yang sering menjadi masalah publik adalah masalah pembebasan tanah untuk keperluan pembangunan. Ada kecendrungan untuk keperluan pragmatis pada era orde baru ini dibuat beberapa paraturan perundangan agraria secara parsial dengan watak konservatif. Pada era orde baru ini tidak ada lagi produk baru hukum agraria nasional karena produk periode sebelumnya yang memiliki karakter responsif masih terus diberlakukan. Memang sebagai produk hukum yang tidak menyangkut gezagverhouding dan yang mencakup hukum publik dan privat.15 tahun 1957 dan Inpres No. penyesuaian kembali isi peraturan-peraturana tertentu di bidang agraria. Kedua bentuk peraturan perundang-undangan tersebut jelas sangat tidak partisipatif karena secara formal hanya dilakukan secara sepihak oleh pemerintah.9 Tahun 1973 yang berisi pedoman jenis-jenis kegiatan yang dapat dikategorikan kepentingan umum. Hal ini menjadi masalah karena kreteria kepentingan umum sebagai alasan pencabutan belum diatur dalam peraturan perundang-undangan yang proporsional. yaitu pembuatan peraturan pelaksana. seharusnya materi yang begitu penting tidak hanya diatur dengan sebuah Inpres yang biasanya bersifat teknis dan einmalig.9 tahun 1973.20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak atas Tanah. dan dengan sendirinya tidak aspiratif karena tidak membuka saluran secara wajar bagi masuknya aspirasi masyarakat. Kecendrungan ini terlihat. Pada masa orde baru tuntutan pembangunan nasional semakin memperbesar kapasitas tuntutan atas tanah dan volume pengambilan tanah dari masyarakat. Meskipun secara materiil Inpres tersebut dapat dipakai.september 1960. Seperti diketahui. Kedua peraturan perundang-undangan ini jika dilihat dari materinya lebih proporsional untuk dituangkan dalam bentuk UU. UUPA berkarakter responsif. karena menyangkut hak rakyat banyak. Pemberian bentuk Inpres atas kriteria “kepentingan umum” lebih merupakan tindakan pragmatis pemerintah dalam melancarkan programprogrmnya. misalnya dengan adanya PMDN No.

namun bentuk peraturannya tetap tidak proporsional. Diperkirakan. Beberapa peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan sumber daya alam (agraria) dikeluarkan sejak dilakukannya reformasi pemerintahan di tahun 1998. Materinya yang prinsip seharusnya menjadi materi UU yang tidak dapat dibuat sepihak oleh eksekutif. Landreform kembali masuk dalam program penting pembaruan agraria. pemilikan. Adanya Kepres No.pemerintah dalam bentuk peraturan perundang-undangan secara parsial untuk keperluan pragmatis dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan memperlihatkan watak yang konservatif. penggunaan dan pemanfaatan (landreform) berkeadilan dengan memperhatikan kepemilikan tanah oleh rakyat. yaitu disebutkan dalam Pasal 5 TAP MPR RI No. penggunaan dan pemanfaatan tanah secara komprehensif dan sisematis dalam rangka pelaksanaan landreform. 6 juta hektar lahan akan dibagikan pada masyarakat 12 . maka semangat pembaruan agraria juga menggema dan kemudian melahirkan Ketetapan MPR Nomor IX Tahun 2001 yang merekomendasikan dilakukannya pembaruan atau revisi terhadap UUPA.IX/MPR/2001 bahwa salah satu arah kebijakan pembaruan agraria adalah: 1. Selanjutnya pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. yang pemilikan. Pembagian 8. 2. Dalam rancangan Undang-Undang tentang Sumber Daya Agraria disebutkan Tanah dan sumberdaya agraria selain tanah yang penguasaan dan pemilikannya melebihi batas maksimum. dikuasai oleh Pemerintah dan ditetapkan sebagai objek landreform untuk dibagikan kepada warga masyarakat yang termasuk dalam kelompok yang memperoleh hak utama. Baik itu yang kemudian dinilai merupakan langkah maju maupun yang justru dinilai mundur dari substansi peraturanperaturan sebelumnya.55 Tahun 1993. redistribusi tanah pun kembali diagendakan. dan dilaksanakannya sistem desentralisasi. meskipun membawa sedikit kemajuan. Politik Pertanahan (Agraria) Pada Era Reformasi (1998-Saat ini) Seiring dengan perubahan konstelasi politik. alam demokrasi yang semakin menguat.15 juta hektar lahan ini akan dilakukan pemerintah tahun 2007 hingga 2014. Melaksanakan penataan tanah kembali penguasaan. Menyelenggarakan pendataan pertanahan melalui inventarisasi dan registrasi penguasaan.

27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. UU No. orientasi pengelolaan sumber daya alam yang lebih berpihak pada pemodal-pemodal besar (capital oriented). UU No.. hutan produksi konversi. sehingga berpotensi kembali melanggengkan pola pengelolaan sumber daya alam yang berorientasi pada eksploitasi (use oriented) yang mengabaikan kepentingan konservasi dan keberlanjutan fungsi sumber daya alam. Misalnya. antara lain: UU No.1 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas UU No. UU No.4 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Treaty On Plant Genetic Resources For Food And Agriculture (Perjanjian Mengenai Sumber Daya Genetik Tanaman Untuk Pangan Dan Pertanian). Bahwa kebijakan pembaharuan agraria dan sumber daya alam tersebut dilaksanakan antara lain dengan melakukan pengkajian ulang terhadap berbagai peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan agraria dalam rangka sinkronisasi kebijakan antar sektor serta menyelesaikan konflik-konflik berkenaan dengan sumber daya agraria yang timbul selama ini sekaligus dapat mengantisipasi potensi konflik dimasa mendatang guna menjamin terlaksananya penegakan hukum dengan didasarkan pada prinsip-prinsip berkeadilan. dimana hal tersebut akan mengabaikan kepentingan dan akses atas sumber daya alam serta mematikan potensi-potensi pengelolaan perekonomian masyarakat lokal.19 Tahun 2004 tentang Penetapan Perpu No.18 Tahun 2004 tentang Perkebunan.31 Tahun 2004 tentang Perikanan. UU No. Bahwa hal tersebut dimandatkan secara tegas dalam ketentuan Pasal 6 dan Pasal 7 TAP-MPR No. karena semata-mata digunakan sebagai perangkat hukum (legal instrument) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. UU No. UU No.. Bahwa dengan disahkannya peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan sumber daya alam1 telah merusak politik pembaharuan hukum pengelolaan agraria dan sumber daya alam yang telah dimandatkan secara tegas dalam TAP-MPR No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara. 1 13 . serta mencabut.IX Tahun 2001 dimana DPR RI bersama Presiden ditugaskan untuk segera mengatur lebih lanjut pelaksanaan pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam.41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang. Sumatera.. dengan prioritas di Pulau Jawa. serta untuk segera melaksanakan Ketetapan tersebut dan melaporkan pelaksanaannya pada Sidang Tahunan MPR RI.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. tanah milik negara yang hak guna usahanya habis. UU No.30 Tahun 2007 tentang Energi dan UU No. maupun tanah bekas swapraja (Kompas....27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi. tanah telantar. UU No.IX Tahun 2001..15 juta hektar diberikan kepada pengusaha untuk usaha produktif yang melibatkan petani perkebunan. dan Sulawesi Selatan. mengubah dan/atau mengganti semua undang-undang dan peraturan pelaksanaannya yang tidak sejalan dengan Ketetapan ini. Tanah itu berasal dari lahan kritis. UU No.miskin.. tanggal 30 Januari 2007).. Sisanya 2. Tanah yang di bagian ini tersebar di Indonesia. UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air..

ruang angkasa dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dalam hubungannya dengan kepentingan manusia menuju masyarakat yang adil dan makmur.. pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam. air. Hal ini harus disesuaikan dengan Pasal 5 ayat 2 Ketetapan MPR RI No.Implementasi pengelolaan yang dilakukan Pemerintah akhirnya bersifat sangat sektoral. baik oleh seseorang. yaitu antara lain: 1.. dan masyarakat serta negara dalam hubungannya dengan kepemilikan. dipakai. dikelola. Untuk mengatur keselarasan dan keseimbangan dalam pemanfaatan bumi... Untuk memberikan atau menetapkan kekuasaan dan kewenangan kepada pemerintah dalam mengatur hubungan hukum antara seseorang atau badan hukum tertentu dengan tanah yang dimiliki. dimanfaatkan. air. kepastian hukum dan keadilan dalam hubungannya dengan hak-hak seseorang atau masyarakat atas tanah (bumi).”. 2. Hal ini sejalan dengan tujuan dan politik hukum pertanahan/agraria. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. masyarakat. penggunaan atau pemanfaatan. pemakaian. ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Melakukan pengkajian ulang terhadap berbagai peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam dalam rangka sinkronisasi kebijakan 14 . Untuk menjamin ketertiban... penatagunaan dan pengelolaan atas bumi (tanah). ruang angkasa dan kekayaan yang terkandung di dalamnya. pengusahaan. 3. Untuk penyederhanaan hukum dan kesatuan hukum dalam mengatur halhal yang berkaitan dengan agraria atau pertanahan dengan memperhatikan hukum adat. 4. Untuk mengatur dan sekaligus membatasi hak dan kewajiban seseorang atau badan hukum. badan hukum maupun instansi pemerintah lainnya. Hal ini bertentangan dengan Pembukaan alinea IV UUD 1945 yang menyatakan: “. untuk membentuk suatu Pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. dikuasai. perdamaian abadi dan keadilan sosial . digunakan. sehingga sumber daya alam tidak dilihat sebagai sistem ekologi yang terintegrasi dan tidak terkoordinasi serta berpotensi melanggar hak asasi manusia berkaitan dengan penguasaan. 5.. air.. mencerdaskan kehidupan bangsa. penguasaan.IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria Dan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang menyebutkan bahwa arah kebijakan dalam pengelolaan sumber daya alam adalah: 1.

misalnya: 1.01-21-22/PUU-I/2003.antarsektor yang berdasarkan prinsip-prinsip sebagaimana dimaksud Pasal 4 Ketetapan ini. 4. kontribusi.24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. seperti dinyatakan dalam Pasal 24C UUD 1945 dan Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-undang Republik Indonesia No. menyatakan UU No. 6. Pasal 22 ayat (1) sepanjang mengenai kata- 15 . karena Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia mempunyai kewenangan mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-undang terhadap UUD 1945. 2. 2. Bahwa dengan berbagai indikasi penyimpangan atas beberapa prinsip yang disebut di atas telah terjadi pembelokan prinsip negara hukum. kepentingan masyarakat dan kondisi daerah maupun nasional. Para Pemohon yang hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan. Memperluas pemberian akses informasi kepada masyarakat mengenai potensi sumber daya alam di daerahnya dan mendorong terwujudnya tanggung jawab sosial untuk menggunakan teknologi ramah lingkungan termasuk teknologi tradisional. Putusan MK No. Menyusun strategi pemanfaatan sumber daya alam yang didasarkan pada optimalisasi manfaat dengan memperhatikan potensi. 7. Menyelesaikan konflik-konflik pemanfaatan sumber daya alam yang timbul selama ini sekaligus dapat mengantisipasi potensi konflik di masa mendatang guna menjamin terlaksananya penegakan hukum. 3. Mewujudkan optimalisasi pemanfaatan berbagai sumber daya alam melalui identifikasi dan inventarisasi kualitas dan kuantitas sumber daya alam sebagai potensi pembangunan nasional. sehingga masyarakat menganggap perlu untuk mengajukan uji materil ke Mahkamah Konstitusi. 5.20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Putusan MK No.002/PUU-I/2003 tentang menyatakan Pasal 12 ayat (3) sepanjang mengenai kata-kata “diberi wewenang”. dimana hukum telah dipakai menjadi alat (instrument) untuk kepentingan kekuasaan semata. Mengupayakan pemulihan ekosistem yang telah rusak akibat eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Memperhatikan sifat dan karakteristik dari berbagai jenis sumber daya alam dan melakukan upaya-upaya meningkatkan nilai tambah dari produk sumber daya alam tersebut.

permohonan Pemohon tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard). tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Selain itu. efektif. 6. 8. menyatakan menolak Permohonan Pemohon.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan..19 Tahun 2004 tentang Perubahan UU No. maka perlu diterapkan sistem pengelolaan pertanahan yang efisien.kata “paling banyak”. yang walaupun ditolak. dan penggunaan tanah agar masyarakat golongan ekonomi lemah dapat lebih mudah mendapatkan hak atas tanah. Putusan MK No. Selain itu. pemilikan. dan demokrasi. perlu dilakukan penyempurnaan penguasaan. 7. Putusan MK No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. namun dalam pertimbangan hukumnya majelis menganggap bahwa alasan-alasan permohonan dapat dimaklumi.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Dengan adanya berbagai permohonan uji materil atas peraturan perundang-undangan yang menyangkut pertanahan.19 Tahun 2004 tentang Perubahan UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. 9. menyetakan Pasal 22 ayat (1) dan ayat (2) sepanjang menyangkut kata-kata “di muka sekaligus” dan “sekaligus di muka”. transparansi.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. menyatakan permohonan pemohon ditolak.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.20/PUU-V/2007 tentang Pengujian UU No. 4. menyatakan permohonan Pemohon ditolak untuk seluruhnya. Putusan MK No. lokasi. Putusan MK No.56 Prp Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian. Putusan MK No.03/PUU-III/2005 tentang Pengujian UU No. serta melaksanakan penegakan hukum terhadap hak atas tanah dengan menerapkan prinsip-prinsip keadilan. 5. dan Pasal 28 ayat (2) dan ayat (3) UU No. Putusan MK No. menyatakan Permohonan para Pemohon tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard).11/PUU-V/2007 tentang Pengujian UU No.21/PUU-III/2005 tentang Pengujian UU No. dan pemanfaatan tanah melalui perumusan berbagai aturan pelaksanaan land reform serta penciptaan insentif/disinsentif perpajakan yang sesuai dengan luas.08/PUU-III/2005 tentang Pengujian UU No.21-22/PUU-V/2007 tentang Pengujian UU No. penggunaan.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Putusan MK No.58-59-60-63/PUU-II/2004 dan No. menyempurnakan sistem hukum dan produk hukum pertanahan melalui inventarisasi dan penyempurnaan peraturan perundang-undangan pertanahan dengan mempertimbangkan aturan masyarakat 16 .13/PUU-III/2005 tentang Pengujian UU No. 3.

08/05/2005). termasuk investor asing. serta benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah oleh negara dengan pemberian ganti rugi senilai Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) untuk tanah. Sahala Sianipar. akan dilakukan penyempurnaan kelembagaan pertanahan sesuai dengan semangat otonomi daerah dan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Permasalahan utamanya adalah hak masyarakat atas hak atas tanah. mengungkapkan. Investor asing tidak mungkin berhadapan langsung dengan masyarakat di Indonesia. Direktur Golin/Haris Internasional Pte Ltd Singapura. Dan nampaknya bahwa pemerintah ingin menguasai tanah masyarakatnya dengan harga murah. Sebab itu. bahwa beberapa investor asing memang belum mau meneken persetujuan investasi di proyek infarstruktur karena belum ada jaminan soal pertanahan di Indonesia. terutama yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia bidang pertanahan di daerah. serta benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah menjadi terganggu. Selain itu. akan tetapi jika musyawarah gagal ditempuh kemudian terdapat uang pengganti dari pemerintah yang dititipkan ke pengadilan. Tetapi mungkin saja justru para pemodal yang diuntungkan. terlebih yang dimaksud dengan kepentingan umum dalam Peraturan Presiden No. Berbagai tanggapan tersebut menjadi lebih mendasar ketika masyarakat melihat bahwa substansi atau materi yang diatur dalam Peraturan Presiden sangat kental dengan pencabutan hak atas tanah. Pemerintah dapat saja “ seolah-olah “ dalam rangka kepentingan umum yang sebenarnya adalah akses memperlancar “bisnis“ segelintir orang mencabut hak masyarakat tersebut. 36 tahun 2005 tersebut telah mengalami perluasan kriteria jika dibandingkan dengan Keputusan Presiden No. maupun alternative dispute resolution. Hal tersebut menunjukan diperlemahnya akses masyarakat akan hak atas tanah dan dilanggarnya hak sipil-politik dan hak ekonomi. budaya oleh masyarakat oleh pemerintah. Salah satu peraturan perundang-undangan yang menimbulkan banyak tanggapan dari masyarakat adalan Peraturan Presiden No. Sekalipun diatur mengenai musyawarah dalam Peraturan Presiden No.adat. investor menginginkan agar pemerintah mengatur soal tanah (Jawa Pos Online. bangunan. serta peningkatan upaya penyelesaian baik melalui kewenangan administrasi. tanaman. perusahan publik relation yang bermarkas di AS. atau berdasarkan perhitungan dari instansi pemerintah yang bersangkutan dengan benda-benda selain tanah. sosial. tanaman. 55 tahun 1993. hingga presiden sendiri yang mencabut hak atas tanah itu. Hal tersebut sangat meresahkan masyarakat dan menjadi masalah sosial yang timbul di masyarakat. Pada kenyataan – seperti yang 17 . 36 tahun 2005. bangunan. peradilan.

36 tahun 2005 tidak berwatak responsif dan tidak mampu mengakomodir kepentingan dan aspirasi masyarakat Indonesia dalam bidang pertanahan (agraria). Pada tahun 2006 diadakan perubahan terhadap PP No. Akan tetapi. dan dengan sendirinya tidak aspiratif karena tidak membuka saluran secara wajar bagi masuknya aspirasi masyarakat. Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas PP No.bahwa berdasarkan hasil pemantauan proyek-proyek pemerintah yang berupa pinjaman luar negeri diperoleh bahwa salah satu faktor penghambat pelaksanaan proyek tersebut adalah kurangnya dana pengadaan tanah. Hal ini semakin membuktikan bahwa PP No. Peraturan Presiden tersebut jelas sangat tidak partisipatif karena secara formal hanya dilakukan secara sepihak oleh presiden (pemerintah).36 tahun 2005 yang dilakukan melalui Peraturan Presiden No. Peraturan Presiden itu juga tidak memberikan rasa keadilan bagi masyarakat sehingga dalam pelaksanaannya banyak mendapat perlawanan dari masyarakat. 26 Mei 2005).36 tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. maupun hambatan dalam permukiman kembali (Media Indonesia Kamis. Peraturan Presiden tersebut jika dilihat dari materinya lebih proporsional untuk dituangkan dalam bentuk UU. 18 .36 Tahun 2005 memiliki kecendrungan untuk keperluan pragmatis pada era ini yang dibuat secara parsial dengan watak konservatif.disampaikan Abdul Haris Kepala Subdit Pertanahan Bappenas Jakarta . tuntutan pragmatis telah membawa pemerintah untuk melahirkannya hanya dalam bentuk Peraturan Presiden. adanya hambatan dalam proses pembebasan tanah.

DAFTAR ISI 1.5 8. Hukum Sebagai Produk Politik ……………………………………………..…8 10..………………………........…. Periode Demokrasi Liberal (1945-1959) …………………....…9 19 .. Politik Pertanahan (Agraria) Kolonial / Penjajah …………………………………. Periode Demokrasi Terpimpin (1959-1966) …………………………………. Politik Hukum Pertanahan (Agraria) ……………………………………………. Perkembangan Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Di Indonesia ………………... Pengertian Politik Hukum ………………………….…………………………..………………….……………. Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Orde Lama...….….5 9...... Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Orde Lama....3 6. Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Orde Baru (1966-1998) …….2 5. Politik Hukum Pertanahan (Agraria) Pada Masa Kolonial / Penjajahan …….…...2 4....1 2.3 7.1 3.... Hukum Sebagai Alat ………………………………………….

Hukum Agraria Indonesia.. Cet.………………11 DAFTAR PUSTAKA Harsono. Djambatan. Jakarta. 20 . 2006. Politik Hukum Pada Era Orde Baru (1998-Saat ini) ……………….XVII.11. Himpunan Peraturan-Peraturan Hukum Tanah. Boedi.

Cet.. Bandung. Parlindungan. Politik Hukum Di Indonesia. Raja Garafindo Persada.. www.Mahfud MD. 2009. Fokusmedia. Jakarta. Sumber Media Internet : Lilis Nur Faizah. Hukum Agraria & Hak-Hak Atas Tanah. Jakarta. 2008. Cet. 2010.wordpress. Landreform: Sejarah Dari Masa Ke Masa. Moh. Komentar Atas Undang Undang Pokok Agraria.IX.or. Santoso. Bandung.VI.I.com Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI). Tanggapan Terhadap Perpres No. http://www. AP. Peraturan Perundang-undangan : Kitab Undang-Undang Agraria Dan Pertanahan.zeilla. Urip. Prenada Media Group.id. Cet. 2009. Mandar Maju. 21 .pbhi. 36 Tahun 2005.

TUGAS HUKUM AGRARIA I POLITIK HUKUM PERTANAHAN (AGRARIA) DI INDONESIA 22 .

S.H.I MADE WIDANA PUTRA. NIM. 1092461024 PROGRAM MAGISTER KENOTARIATAN UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2010 23 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful