Teori Hermeneutika Paul Ricoeur Hermeneutika adalah teori tentang berkerjanya pemahaman dalam menafsirkan teks (Ricoeur, 1981

: 43), dan palmer (2003: 8) menjelaskan bahwa dua fokus dalam kajian hermeneutika mencakup; (1) peristiwa pemahaman terhadap teks, (2) perseolan yang lebih mengarah mengenai pemahaman dan interpretasi. Hal ini memperlihatkan bahwa gagasan utama dalam hermeutika adalah ´pemahaman terhadap teksµ. Ricoeur (1981: 146) menjelaskan bahwa teks adalah sebuah wacana yang dibakukan lewat bahasa. Apa yang dibakukan oleh tulian adalah wacana yang dapat diucapkan, tetapi wacana ditulis karena tidak diucapkan. Disini terlihat bahwa teks merupakan wacana yang disampaikan dengan tulisan. Jadi, teks sebagai wacana , yang di tuliskan dalam hermeneutika Paul Recouer, berdiri secara otonom, bukan merupakan turunan dari bahasa lisan, seperti yang dipahami oleh strukturalisme. 2.2 Teori Metafora Metafora kata Monroe, adalah ´puisi dalam miniatureµ. Metafora menghubungkan makna harfiah dengan makan figuratif dalam karya sastra. Dalam hal ini, karya sastra merupakan karya wacana yang menyatukan makna eksplisit dan implisit. Dalam tradisi positivisme logis, perbedaan antara makna eksplisit danimplisit di berlakukan dalam perbedaan antara bahasa kognitifdan emotif, yang kemudian dialihkan menjadi perbedaan menjadi vocabuleri denotasi dan konotasi. Denotasi dianggap sebagai makna kognitif yan merupakan tatanan semantik, sedangkan konotasi adalah ekstra-semantik. Konotsi terdiri ataas seruan-seruan emotif yang terjadi serentak yang nilai kognitifnya dangkal. Dengan demikian arti figuratif suatu teks harus dilihat sebagai hilangnya makna kognitif apapun. Karya sastra dibuka oleh saling berpenngaruhnya makna-makna ini, yang memusatkan analisisnya pada desain verbal, yaitu karya wacana yang menghasilkan ambiguitas semantik yang mencirikan suatu karya sastra. Karya wacana inilah yang dapat dilihat dalam miniatur dalam metafora (Ricoeur, 1976: 43). 2.3 Teori Simbol Kata ´simbolµ yang berasal dari kata Yunani sumballoberarti ´menghubungkan atau menggabungkanµ . symbol merupakan suatu tanda, tetapi tidak setiap tanda adalah simbol. Simbol yang berstruktur polisemik adalah ekspresi yang mengkomunikasikan banyak arti. Bagi Ricoeur, yang menandai suatu tanda sebagai simbol adalah arti gandanya atau intensionalitas arti gandanya. Ricouer merumuskan bahwa setiap struktur pengertian adalah suatu arti langsung primer, harfiah, yang menunjukkan arti lain yang bersifat tidak langsung sekunder, figuratif yang tidak dapat dipahami selain lewat arti pertama (Poespoprodjo, 2004: 119).

oleh karena penelitian kualitatif. 2. ANALISIS SAJAK Untuk mencapai tingkat pemaknaan dalam pepuisian Abdul Wachid BS. langkah-langkah refleksi (pemahaman) yaitu menghubungkan dunia objektif teks dengan dunia yang diacu (reference). 20003: 376). Metode teoritis yang digunakan dalam penelitian adalah teori metafora dan simbol dalam hermeneuika (Paul Ricoeur). pada suatu kontek khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Kurniawan.4 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan sumber yang berdasarkan Al-Quran untuk mengarah pada penjelasan deskriptif dan interpretasi sebagai ciri khas penelitian kualitatif. makna lain yang tidak langsung. Merumuskan kesimpulan. Pengumpulan data tambahan yang mendukung penelitiani. maka data utamanya adalah kata-kata atau bahasa (kurniawan. 3.. 3. Langkah ini disebut juga dengan langkah eksistensial atau antologi. langkah objektif ( penjelasan). yang pada aspek simbolnya bersifat non linguistik. yaitu sajak yang mengandung metafora dan simbol ´burungµ sebagai subjek penelitian. pokok atau literer menunjuk kepada makna tambahan. penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian secara holistic dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa . via.. Melakukan analisis secara cermat terhadap metafora dan simbol ´burungµ yang terdapat dalam sajak-sajak yang dijadikan sampel penelitian dengan menggunakan teori hermeneutika (Ricoeur. . Sajak ´Burungµ merupakan sajak yang digunakan sebagai dasar analisis dan merupakan acuan pembanding dengan sajak-sajak lain dalam kumpulan puisi µRumah Cahayaµ.4 2. keberadaan makna itu sendiri. 2009:31). Pemilihan sampel sebagai data penelitian. Kedua.Ricouer mendefinisikan simbol sebagai struktur penandaan yang di dalamnya ada sebuah makna langsung. Pembebasan ekspresi dengan sebuah makna ganda ini mengatakan dengan tepat wilayah hermeneutic (Bleicher. langkah kerja analisisnya mencakup :Pertama. yaitu menganalisis dan mendiskripsikan aspek semantik pada metafora dan simbol berdasarkan pada tataran lingistiknya. 5. data pendukungnya yaitu buku yang mendukung penelitian ini. Dan sajak yang di analisis di ambil secara acak terkait dengan kesamaan makna-makna yang ada sebagai pendukung dari penganalisisan. sekunder dan figuratif yang dapat dipahami hanya melalui yang pertama. 4. Tahap penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini sebagai berikut : 1. Kurniawan. langkah filosofis. dalam kumpulan puisi ´ Rumah Cahaya µ penulis menganalisis metafora dan simbol yang terdapat di dalamnya. Pembacaan terhadap objek penelitian. langkah ini mendekati tingkat antologis. yaitu berpikir denga mengunakan metafora dan simbol sebagai titik tolaknya. 2009 :31 ). 2009:31).Ketiga.

dapat diposisikan sebagai simbol yang mengungkapkan makna sajak yang sebenarnya secara menyeluruh seperti maksut pengarang dalam menulis sajak ini. Dari keempat bait sajak ´Burungµ.3.1 Sajak ´Burungµ 5 BURUNG Sebagai burung Aku pun rela Kau sangkarkan dan kau tenggerkan. Selain sebagai metafora. simbol ´Burungµ menduduki peristiwa yang utama karena isi baris-baris selanjutnya merupakan penjelasan dan jawaban atas makna filosofi simbol ´Burungµ. µBurungµ pada tataran lebih. Sebab ada yang lebih kekal Dari kebebasan yang fana 3. Di atap Rumah. Simbol ini menjadi kerangka dasar kesadaran transcendental ´Aku-lirikµ. Dalam analisis metafora yang telah dilakukan. hanya saja mempunyai insting sebagai hewan mestinya. Akan tetapi jika diterapkan menggunakan perspektif hermeneutika Ricoeur. Pemaknaan simbol di operasikan pada tataran nonsematis. Makna ´Burungµ menurut pandangan penyair mengambil dasar-dasar islam sebagai kepercayaan religi. Simbol ´Burungµ pada sajak ´Burungµ menduduki sebagai subjek pokok yang menjadi kunci dari penganalisisan sajak. Sebatang bambu Atau di dahan Hatimu. ketegangan ´Burungµ justru pada aspek kalimat (statement metaphor). diartikan sebagai ´jiwaµ manusia sebagai hamba Allah. ´Burungµ menunjukan suatu ketegangan kata (word metaphor). yaitu menyangkut kepercayaan religi (Aku-lirik) yang mengakui sebagai hamba Allah dan dia selalu bertawakkal. sebagai dialektika antara peristiwa dengan makna (wacana). 6 dan 7 yaitu « mawar bersujud .2 Analisis Simbol Burung Dalam Sajak ´Burungµ Simbol burung pada sajak ´Burungµ muncul pada bait pertama. berserah diri dan mematuhi printah dan laranganya. ´Burungµ pada hakekatnya merupakan hewan unggas yang bisa terbang dan hidup namun tidak mempunyai akal seperti manusia. Atau di ketinggian. Simbol yang mempunyai interpretasi ´jiwaµ sebagai hamba Allah juga muncul pada beberapa sajak lain dalam kumpulan puisi ´Rumah Cahayaµ seperti pada sajak ´Diam Mawarµ pada baris ke 5.

Dengan mengetahui konsep judulnya. Dengan demikian simbol ´Burungµ pada sajak ´Burungµ setelah diteliti merepresentasikan pada makna kesadaran ´Aku-lirikµ menjadi seorang hamba alloh. yang merajai seluruh manusia dan menjadi tuhan sesembahan manusia.. ´Burungµ merujuk pada arti yang lain sebagai diri. Baris 1.biarkan aku tinggal diam diutuhkan cintamu «6 mawar disini adalah ´jiwaµ manusia sebagai hamba Allah yang bersujud. jadi kehidupan terbatas dalam sangkarnya dan tergantung yang memelihara burung. diri yang terbang kesana kemari tak menentu dan berserah diri namun kehidupan burung ada dalam sangkar. Khalayaknya burung merupakan . ´Kasidah Ismail Untuk Ibrahimµ dan masih banyak sajak lain yang mengungkapkan ´Aku-lirikµ sebagai ´jiwaµ manusia sebagai hamba Allah.3 Analisis Metafora Sajak ´Burungµ Judul pada sajak ´Burungµ merupakan sebuah kata yang mempunyai makna jelas. Hamba Allah pada hakehatnya adalah manusia yang di cipta karena Allah. Konsep metafora kata (woldmetaphor)muncul karena kata ´burungµ menghadirkan makna yang berbeda yaitu µAku-lirikµ sebagai burung. ´Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindungµ (Al-Imron (3):173). Kemudian pada sajak lain seperti dalam sajak ´Darah Kasidahµ dalam kata ´dari burung-burung yang enggan terbangµ. maka tindakan ´Aku-lirikµ selanjutnya adalah berserah diri pada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangannya dengan harapan kehidupan kekal yang bahagia. edisi Minggu 2 juli 1995. maka gambaran terhadap wacana yang akan digambarkan dalam sajak bisa dijadikan sebagai pijakan atau kunci untuk menganalisisnya. maka manusia harus taat perintah dan menjauhi larangannya. halaman 8. Apa maksud dari judul ´Burungµ dapat diungkap makna sencedan reference setelah menganalisis isi sajak sebagai wacana. kehidupan manusia berdasar kehendak Allah.. 3. yang terkutip dalam buku mistisisme cahaya. sajak ´Kami Datang Padamuµ pada kalimat ´kamilah semut itu ya rabbiµ . ´Burungµ merupakan hewan unggas yang bisa terbang dan hidup. Karena telah diciptakan dan terlahir di dunia. Seperti dalam surat An-Nas (Manusia) pada ayat 1. Pada surat Al-Imran juga menjelaskan perintah manusia untuk menyembah hanya kepada Allah. Burung yang rela dan pasrah disangkarkan dan ditenggerkan oleh yang mempunyainya. 2 dan 3 mengandung arti yang memerintah manusia untuk berlindung kepada tuhan. (1) Sebagai burung Aku pun rela Kau sangkarkan dan kau tenggerkan . 2 dan 3 pada bait pertama di atas mengungkapkan kesadaran ´Aku-lirikµ bahwa dirinya merupakan burung (seperti burung).7 Konsep ´Aku-lirikµ sebagai ´Hamba Allahµ juga di ungkapkan oleh Pujiharto dalam Kedaulatan Rakyat.

Pemaknaan dalam bait ini mengibaratkan burung yang bukan manusia sebagai manusia ´Akulirikµ hal yang sama juga terdapat pada sajak ´Diam Mawarµ pada baris 5.hewan yang tidak mempunyai kemampuan untuk menulis dan berkarya. menyembah dan taat kepada Allah SWT. Hal seperti ini menurut Riccoeur merupakan metafota-kata (word-metapor). 8 dan 9 yang menjadi opsi pilihan selanjutnya. tidak bisa menulis dan berkarya. yang bisa disebut sebagai metafora mati atau bukan metafora sebenarnya karena tidak ada perluasan makna pada tataran kalimat dan wacana. (2) « Di atap Rumah. ´Dan bertawakalah kepada (Allah) yang maha perkasa lagi maha penyayang.8 dan Dalam surat Al-Fatihah ayat kelima ´Iyyaka na·budu wa iyyaka nasta·in(u)µ. yaitu minimal dibangun atas unsur subjek sebagai identifikasi tunggal ´sebagai burungµ dan unsur prediksi-umum sebagai prediksi ´aku pun relaµ. 5 dan 6 bait kedua menunjuk pada atribusi keterangan tempat yang menjadi jawaban dimana kalimat bait pertama.µ(Asy-Syuara: 217). Jawaban yang menunjuk pada keterangan tempat dari bait pertama semakin kuat dan jelas pilihan jawaban setelah diperkuat oleh lanjutan bait. Sedangkan kata ´sebagaiµ disini merupakan kata yang memunculkan statement bahwa ´Burungµ sebagai manusia ´Aku-lirikµ yang bisa menulis dan berkarya. ´Burungµ merupakan hewan unggas yang bisa terbang dan hidup. « Pada baris ke 4. Artinya: Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami mohon pertolongan. Baris ketiga ´Kau sangkarkan dan kau tenggerkanµ jawabannya ´Di atap // Rumah // Atau di ketinggianµ. Disebut metafora-pernyataan karena komposisinya sudah memenuhi sebagai preposisi. hal itu merupakan kegiatan dan kemampuan yang dimiliki manusia. Kedua puisi yang berbeda judul ini membicarakan berserah diri. sedangkan ´kau sangkarkan dan kau tenggerkanµ sebagai unsur penjelas. . ´Sebagai burungµ menggabungkan dua dunia yang berbeda (diference) yang absurditas dalam keserupaan (resemblance). yaitu pada bait ketiga pada baris 7. Metafora-pernyataan (statement-metaphor) muncul pada ´Sebagai burung//Aku pun relaµ yang terjadi karena ´Aku-lirikµ merupakan burung maka dia harus rela disangkarkan dan ditenggerkan. (3) « Sebatang bambu Atau di dahan Hatimu. 6 dan 7 ´mawar bersujud // biarlah aku tinggal diam // diutuhkan cintamuµ mawar disini di interpretasikan sebagai manusia yang bersujud (berserah diri). Atau di ketinggian.

´Kau sangkarkan dan kau tenggerkanµ sebagai unsur keterangan tempat. Kekal adalah abadi dan fana adalah kehidupan di dunia ini. Dalam Al-Qur·an banyak dijelaskan mengenai surga dan salah satu kunci masuk surga adalah beriman.9 Bentuk yang menunjuk sebagai keterangan dan jawaban seperti ini banyak ditemukan dalam kumpulan puisi ´Rumah Cahayaµ seperti pada sajak berjudul ´Kasidah Dari Negeri Hijauµ pada baris ke 2 dan 4 dalam bait pertama ´Di mana matahari membiaskan impian//impian pelangi. 8 dan 9 tetap mempunyai kedudukan sebagai jawaban dari kalimat baris ketiga bait pertama. sejuk dan penuh dengan imbalan balasan kehidupan yang lurus di dunia. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Ali Imran: 31). penuh dengan siksaan lebih yang merupakan imbalan bagi orang-orang yang mempunyai amal perbuatan buruk selama di dunia sementara surga merupakan tempat yang indah. Dalam bait ini ´Aku-lirikµ mengungkapkan kesadaran transcendental mengenai konsep kehidupan nantinya. maka ikutlah aku. Neraka tempat yang panas. Kehidupan yang kekal itu mempunyai dua opsi neraka dan surga. Dari hal ini terjadi metafora-kata yang mengibaratkan hati mempunyai dahan.« Pada bait ketiga baris 7. bahwa bagi mereka disediakan Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di . dan kata ´muµ menunjuk pada Allah SWT. yaitu kesadaran bahwa kehidupan setelah di dunia nantinya akan lebih kekal. ´Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang berimanµ (QS. Seperti dalam Al-Qur·an Katakanlah: jika kamu benar-benar mencintai Allah. Hal ini berbeda setelah digabungkan dengan baris selanjutnya ´hatimuµ arti dalam pohon berubah menjadi dalam hati. ´kebebasanµ sebagai prediksi universal. niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Al Mu·minun : 1) dan pada ayat lain ´Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik. (4) « Sebab ada yang lebih kekal Dari kebebasan yang fana Baris 10 dan 11 dari bait terakhir dari sajak ´Burungµ diatas menunjuk pada suatu proposisi yang terbentuk atas unsur identifikasi atas ´Sebab ada yang lebih kekalµ muncul sebagai identifikasi-singular. namun pada baris kedua bait ketiga yaitu ´di dahanµ mengandung metafora-kata. Di dahan menunjuk pada arti ditempat yaitu dalam pohon. Khalayaknya dahan merupakan bagian dari pohon dan hati merupakan bagian dari organ manusia yang secara sadar tidak ada hubungan yang terkait. ranting. Kehidupan ahkerat yang kekal dan kehidupan dunia yang fana. Hingga cakrawalaµ dalam kutipan sajak ini ´Hingga carawalaµ merupakan keterangan tempat dimana merupakan jawaban dari pertanyaan ´Di mana matahari membiaskan impianµ. Dengan demikian dalam bait ini dan bait sebelumnya menciptakan kesan atau efek atas sesuatu yang menjadi ´subjek pokoknyaµ yaitu ketakwaan dan tawakal kepada Allah SWT. Menunjuk juga pada proposisi-perbandingan yang terbentuk atas kata ´dariµ disini membandingkan antara kehidupan di dunia dan akherat nantinya (surga atau neraka). cabang yang intinya pada benda bagian dari pohon atau tumbuhan. ´yang fanaµ sebagai atribusi-keterangan.

µ Mereka diberi buahbuahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnyaµ (Al Baqarah (Sapi betina) : 25). dan yang berzikir menyebut nama Tuhannya (Allah) kemudian dia shalat. sedangkan kehidupan akhirat jauh lebih baik dan abadiµ. maka harus menyukurinya.4 Konsep Hamba Alah Dalam Sajak ´Burungµ Konsep hamba Allah pada sajak ´Burungµ berangkat dari kesadaran ´Aku-lirikµ sebagai hamba Allah (jiwa yang diciptakan oleh Allah SWT. Hubungan ini mengindikasikan kesadaran bahwa diri ´jiwa iniµ adalah hamba dan Tuhan adalah Allah sebagai tuan kita. Makna hamba Allah ini dibangun atas wacana yang ada dalam empat bait dalam sajak. Makna ´Burungµ pada sajak ´Burungµ dalam kumpulan puisi ´Rumah Cahaya) karya Abdul Wachid BS. sebagai jiwa yang selalu bertawakal. dan perbuatan kita? Di dalam Al-Qur an surat Allah berfirman: Artinya. Seperti apa yang tersirat dalam ´Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Adz Dzaariyaat: 56)µ Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. makan dari rezeki karena kehendakmu dan hamba berserah diri dan tunduk padamu. Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Burung dipersepsikan sebagai hamba Allah yang taat menjalankan dan menjauhi larangannya.) yang dalam sajak disimbolikan dengan ´Burungµ sebagai penggantian kata agar pengartian sajak menjadi kabur karena ´Burungµ hakekatnya bukan manusia. Menurut arti sebenarnya burung merupakan hewan unggas namun . mulut. merepresentasikan makna sebagai ´hamba Allahµ. dalam hal ini diposisikan sebagai dzat yang trandensental. Tetapi kamu terpengaruh dengan kehidupan dunia. Hamba adalah burung yang hidup dalam sangkarmu.dalamnya. Kesadaran trandensental ´Aku-lirikµ dalam sajak ´Burungµ dalam hubunganya dengan Allah menimbulkan tiga hal kesadaran yaitu: pertamasebagai jiwa yang diciptakan Alloh. 2.. ´Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensucikan dirinya. Siapa yang tidak mau.10 3. KESIMPULAN Penelitian ini menggunakan perspektif hermeneutika Ricoeur. yaitu sesuatu yang terpisah dari diri ´jiwaµ. Tapi satu pertanyaan untuk kita. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka (Muhammad: 12)11 Allah SWT. jika beriman balasannya adalah surga? Setiap muslim itu pasti menginginkan derajat yang lebih tinggi dan surga bagi kehidupannya kelak di akhirat. apakah sudah kita beriman kepada Allah dengan sebenar-benar iman yang kita punya? Iman di hati. ketiga keyakinan bahwa nantinya akan ada balasan dari apa yang kita perbuat dan nantinya di berikan pada dunia yang kekal (neraka dan surga) sebagai balasan yang setimpal tergantung amal dan perbuatan di dunia yang fana. mereka mengatakan: ´Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam Surga-Surga itu. keduamenjalankan dan menjauhi larangannya.

.. Burung yang rela dan pasrah disangkarkan dan ditenggerkan oleh yang mempunyainya. Jadi makna ´Burungµ merupakan kesadaran ´Aku-lirikµ bahwa dirinya merupakan burung (seperti burung).. ´Aku-lirikµ menyadari bahwa dia bisa hidup karena Allah SWT. hal itu merupakan kegiatan dan kemampuan yang dimiliki manusia. mengacu pada kehidupan sebagai manusia. maka dari itu dia bertawakal. dan kehidupan itu nantinya tergantung pada amal perbuatan kita selama hidup di dunia. berserah diri pada Maha Pencipta yang Esa dengan cara menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya karena Allah SWT. peran bait melalui baris-baris kata merupakan kunci pokok yang memunculkan anggapan bahwa ´Aku-lirikµ mengibaratkan kehidupannya seperti burung yang ada dalam sangkar dan selalu berserah pada yang mempunyainya. Maka kesadaran ´Aku-lirikµ sebagai burung mengungkap bahwa dirinya merupakan manusia biasa. Khalayaknya burung merupakan hewan yang tidak mempunyai kemampuan untuk menulis dan berkarya. maka burung merujuk pada arti simbol sebagai ´hamba allahµ. menjanjikan hidup yang kekal setelah kehidupan yang fana nantinya.karena dalam sajak burung. Surga bagi yang mempunyai amal perbuatan baik dan neraka bagi orang-orang yang mempunyai amal perbuatan buruk selama di dunia. Dalam pengartian isi sajak.