LAPORAN PRESENTASI KASUS “SUBARACHNOID BLOK PADA OPERASI HERNIA INGUINALIS LATERALIS (HIL) SINISTRA”

A. KASUS PASIEN 1. IDENTITAS PASIEN: - Nama pasien
- Umur - Jenis kelamin - Alamat

: Bp. S : 54 tahun : Laki-laki : Kebon Agung, Bandongan : PNS : Islam : 14 Juni 2010

- Pekerjaan
- Agama

- Tanggal masuk bangsal : 12 Juni 2010 - Tanggal operasi

2. ANAMNESIS: - Keluhan Utama : Pasien mengeluhkan adanya benjolan pada selangkangan kiri yang terasa nyeri.
- Keluhan Tambahan : kadang nafas terasa seseg pada pagi hari.

- Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) : Pasien mengeluhkan adanya benjolan pada selangkangan kiri sebesar telur ayam. Benjolan tersebut muncul sejak 2 tahun yang lalu dan hilang timbul. Benjolan terasa nyeri. Bila pagi hari nafas kadang terasa sesak. Pasien mempunyai riwayat sakit hipertensi. - Riwayat Penyakit Dahulu (RPD) : Pasien menyatakan belum pernah mengalami gejala yang sama sebelumnya. - Riwayat Penyakit Keluarga (RPK) : Pasien menyatakan bahwa tidak ada anggota keluarga yang mengalami penyakit yang sama. Terdapat riwayat penyakit kronik dalam keluarga yaitu hipertensi.

1

3. PEMERIKSAAN
a. Pemeriksaan fisik saat masuk bangsal (12 Juni 2010) -

Keadaan Umum GCS Vital Sign

: baik : Compos Mentis : Tekanan Darah : 155/100 mmHg Nadi Suhu Berat Badan : 80 kali/menit : 36,3° C : 74 kg

-

b. Pemeriksaan pre-operatif (13 Juni 2010) -

Pemeriksaan Laboratorium Darah WBC RBC HGB HCT MCV 5,53 103/ul 4,72 106/ul 14,0 gr/dl 43,4 % 91,9 fL (Normal) (Normal) (Normal) (Normal) (Normal) MCH MCHC PLT 29,7 pg 32.3 g/dl 260 103/ul (Normal) (Normal) (Normal) (Normal) (Normal)

RDW-CV 12,5 % RDW-SD 41,0 fL

-

Pemeriksaan Kimia Darah Gula Darah Sewaktu 91,6 mg/dl (75-150)  normal Ureum Creatinin Protein total Albumin Globulin SGOT SGPT 40,8 mg/dl (10-50)  normal

1,35 mg/dl (0.6-1.2)  rendah 8,3 mg/dl (6,5-8,3) 4,57 mg/dl (3,5-5)  normal  normal

3,75 mg/dl (2,3-3,5)  tinggi 18,5 mg/dl (<38) 22,4 mg/dl (<42)  normal  normal

-

Pemeriksaan Elektrolit Natrium Kalium 147 mEq/L (135-155)  normal 4 mEq/L (3,5-5,5)  normal

2

Sp.An : dr.B : HIL (Hernia Inguinalis Lateralis) Sinistra : Hernioplasty - : 170/90 mmHg : 93 x/menit : 24 x/menit :: Berat badan ECG ASA : 70 kg : dbn :I - Pramedikasi Teknik anestesi - 3 . S : laki-laki : 54 tahun :B : dr. LAPORAN ANASTESIA - Nama penderita Jenis kelamin Umur Bangsal Dokter Anestesi Dokter operator Diagnosis preoperatif Penanganan Keadaan pre-operatif : Tekanan darah Nadi Respirasi : Bp. I. BA.Klorida - 111 mEq/L (95-108)  tinggi : Tekanan Darah Nadi Suhu Respiration Rate BB : 170/100 mmHg : 80 kali/menit : 36° C : 20 kali/menit : 70 kg Persiapan Operasi di Ruang B: Vital Sign 4. Sp.

3 RL 4 .… menit Maintenance : Halotan/influrance/isoflurance/N2O/O2 : Induksi : Buvanest 4 ml dan morphine 0.2 mg Maintanance : Narfoz 8mg.3 11. Sedacum RL Orasic.30 : pukul 12. Sedacum 1mg.• • Regional IV Inhalasi Induksi Obat - : spinal/epidural/blok : drip/intermittent : semi closed/ semi open/ closed • • • SR/AR/RK dgn ET/NT/No… : Oksigenasi +/. HES 1 • • • • Cairan masuk : RL 3 Mulai anestesi Selesai anestesi : pukul 11.20 M oringTe onit kana da hdanN di D n ra a urant e O ra pe si 200 150 Nilai 170 140 90 90 83 126 88 80 100 50 110 70 R L 0 11. Orasic 50mg. HES S lik isto Diastolik Nad i 12.15 Narfos.45 12 ja m 12.

cavum abdomen. Tabel1. Menurut sifatnya. Hernia Perinealis i. Hernia Lumbalis f. Hernia inguinalis dibagi menjadi: Hernia Interna a. Disebut hernia eksterna apabila penonjolannya dapat dilihat dari luar dan disebut hernia interna apabila isi henia masuk ke dalam rongga lain. Hernia Ischiadica Hernia yang paling sering terjadi (sekitar 75% dari hernia abdominalis) adalah hernia inguinalis. Hernia Inguinalis Medialis dan Lateralis b. hernia disebut hernia ireponibel. Hernia Epigastrica e. Hernia Retroperitonealis e.Hernia Epiploici Winslowi : Herniasi viscera abdomen melalui foramen omentale b. Hernia Bursa Omentalis c. Klasifikasi hernia berdasarkan arah herniasi Hernia Eksterna a. Hernia Femoralis c. Hernia Obturatoria g. Hernia Mesenterica d. Berdasarkan arah herniasi atau penonjolannya. Hernia Umbilicus d. pada hernia abdomen. PEMBAHASAN Hernia Inguinalis Lateralis Hernia merupakan suatu protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Hernia Diafragmatica 5 . Usus keluar jika berdiri atau mengejan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk ke perut. Hernia Semilunaris h. Bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga perut. misalnya cavum thorax. hernia dapat dibagi menjadi hernia eksterna dan hernia interna. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritoneum kantong hernia (hernia akreta). Misalnya. isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskuloaponeurotik dinding perut. ada yang disebut hernia reponibel bila isi hernia dapat keluar masuk.B.

batuk.  Hernia ingunalis direk (disebut juga hernia inguinalis medialis). Faktor yang dipandang berperan kausal adalah prosesus vaginalis yang terbuka. dan tepi otot rektus di bagian medial. tonjolan akan sampai ke skrotum. ini disebut hernia skrotalis. menonjol langsung ke depan melalui segitiga Hesselbach. pembuluh epigastrika inferior di bagian lateral. Pada umumnya keluhan pada orang dewasa yang menderita HIL adalah benjolan di lipat paha yang muncul pada waktu berdiri. Jika pada benjolan yang ada dirasakan nyeri hebat. Nyeri dapat disertai mual dan muntah. Tekanan intra abdomen yang meninggi secara kronik seperti batuk kronik. mengedan. yang disebut hernia strangulata. Hernia lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita dan dapat terjadi pada semua usia. dan kelemahan otot dinding perut karena usia. hipertrofi prostat. Apabila hernia ini berlanjut. atau jika tidak dapat direposisi. yaitu annulus dan kanalis inguinalis. atau mengangkat beban yang berat dan hilang setelah berbaring. hernia inguinalis indirek (disebut juga hernia inguinalis lateralis). Diagnosis ditegakkan atas dasar benjolan yang dapat direposisi. maka perlu dipikirkan adanya penjepitan isi perut. Hernia juga mudah terjadi pada individu yang kelebihan berat badan. atas dasar tidak adanya pembatasan jelas di sebelah kranial dan adanya hubungan ke kranial melalui anulus eksternus. Hernia ini disebut lateralis karena menonjol dari perut di lateral pembuluh epigastrika inferior. atau mengedan. Hal ini dapat terjadi jika sudah terjadi kematian 6 . Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang didapat. konstipasi dan asites. sering mengangkat benda berat. Disebut indirek karena keluar melalui dua pintu dan saluran. bersin. daerah yang dibatasi ligamentum inguinal di bagian inferior. peninggian tekanan di dalam rongga perut.

jaringan isi perut yang terjepit tadi. Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan pengembalian posisi (dengan cara mendorong masuk tonjolan yang ada secara manual) dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. jadi diperlukan pertolongan segera. Tindakan operatif merupakan satu-satunya pengobatan rasional hernia inguinalis. Prinsip dasar operasi hernia terdiri atas herniotomi dan hernioplasty. konservatif dan operatif. Reposisi dilakukan secara bimanual. Gambar1.  Indikasi operasi hernia: Semua hernia dianjurkan untuk dioperasi. Hernioplasty lebih penting dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi. Hernia strangulata merupakan suatu keadaan yang gawat. kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan. kemudian direposisi. Hernia Inguinalis Hernioplasty Penatalaksanaan hernia dibagi menjadi 2.  Kontra indikasi operasi hernia: • Terdapat penyakit jantung yang berat 7 . Pada hernioplasty dilakukan tindakan memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. sebab bahaya bila sampai terjadi inkarserata. Kantong hernia dijahit ikat setinggi mungkin lalu dipotong.

dan obat yang sedang digunakan dan dapat menimbulkan interaksi dengan obat anestetik - Riawayat anestetik/operasi sebelumnya. dan menentukan klasifikasi pasien berdasarkan ASA. narkotik). dll). penyakit jantung. Keluhan saat ini dan tindakan operasi yang akan dihadapi Riwayat penyakit yang sedang/pernah diderita untuk mengetahui kemungkinan penyulit anestesi (misalnya alergi. umr. - Riwayat kebiasaan sehari-hari yang dapat mempenaruhi tindakan (merokok. meliputi tanggal. minum alcohol. Penilaian dan Persiapan Praanestesia Tindakan pre-operatif ditujukan untuk menyiapkan kondisi pasien seoptimal mungkin dalam menghadapi operasi. penyakit ginjal. penyakit paru kronis. Persiapan praanestesia yang dilakukan meliputi persiapan alat. intoleransi obat. Persiapan prabedah menentukan keberhasilan suatu operasi. Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan faktor penyumbang sebab-sebab terjadinya kecelakaan anestesia. dan penyakit hati. dan anestesi.• Adanya penyebab tekanan intra peritoneum meningkat ( gangguan miksi. - Riwayat pemakaian obat-obatan meliputi alergi obat. alamat. jenis pembedahan. ) kecuali ada inkarserata. defekasi. komplikasi dan perawatan intensif pasca bedah. batuk berat. Riwayat berdasarkan system organ 8 . penilaian dan persiapan pasien. merencanakan dan memilih teknik anesthesia serta obat-obatan yang dipakai. obat penenang. diabetes melitus. Anamnesis: - Identifikasi pasien (nama. Kebiasaan buruk ini hendaknya dihentikan 1-2 hari sebelum operasi agar tidak mempengaruhi system kardiosirkulasi serta organ lain. ascites. Dokter spesialis anestesiologi hendaknya mengunjungi pasien sebelum pasien dibedah. agar dapat mempersiapkan fisik dan mental pasien secara optimal. serta persiapan obat anestesi yang diperlukan. Penilaian dan persiapan pasien diantaranya meliputi: I.

Pada operasi hernia. terapi cairan Frekuensi nadi. dilakukan bila ada riwayat atau indikasi IV. semuanya tergantung dari indikasi dan 9 . • • • sebelum induksi anesthesia. Pasien masuk kamar operasi mengenakan pakaian khusus Cukur rambut pubis 2 jam sebelum operasi. bulu mata dilepas. punggung (apakah ada deformitas). cat kuku) dibersihkan sehingga tidak mengganggu pemeriksaan. Pemeriksaan Fisik yang diperlukan. Ekstremitas. Pada operasi elektif hernia. diberikan bersama premedikasi (Sefalosporin generasi pertama). serta jumlah urin selama dan sesudah pembedahan. paru-paru. neurologis. serta suhu Jalan nafas (air way). • • Jika ada gigi palsu. foto dada (terutama untuk bedah mayor). Khusus. abdomen. Rutin: darah. III. Antibiotika profilaksis. pola dan frekuensi pernafasan. jika perlu pasang kateter. pasien dewasa dipuasakan 8 jam sebelum operasi. Setelah persiapan pre-operatif dan pasien diputuskan siap untuk mendapatkan operasi maka proses anestesi dapat dilakukan. Pemeriksaan Laboratorium 1.- Makanan yang terakhir dimakan Tinggi dan berat badan. Persiapan Hari Operasi • Pembersihan dan pengosongan saluran pencernaan untuk mencegah aspirasi isi lambung karena regurgitasi/muntah. dapat digunakan teknik anesthesia general maupun regional. Pemberian obat-obatan premedikasi (jika perlu) dapat diberikan 1-2 jam (lipstick. Bahan kosmetik Rectum dan kandung kemih dikosongkan. untuk memperkirakan dosis obat. - tubuh. Jantung. tekanan darah. perhiasan. II. 2. urin. elektrokardiografi (untuk pasien diatas umur 40 tahun).

diputuskan untuk menggunakan teknik anestesi regional yaitu subarachnoid block atau anestesi spinal. keadaan pasien baik. misalnya repair hernia. kontraksi usus dan fungsi lainnya yang diluar kesadaran. Bedah abdomen bawah 10 . Terdapat tiga bagian syaraf yaitu motor.kontraindikasi. subdural. Bedah ekstremitas bawah. Hal ini akan menimbulkan timbal balik yang penting. subarakhnoid) ialah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarakhnoid. ginekologi. Motor menyampaikan pesan ke otot untuk berkontraksi dan ketika di blok. nadi. Syaraf sensori akan menghantarkan sensasi seperti rabaan dan nyeri ke sumsum tulang dan ke otak. vasodilatasi dan penurunan tekanan darah yang mendadak mungkin akan terjadi ketika serabut otonom diblok dan pasien merasakan sentuhan dan masih merasakan sakit ketika tindakan pembedahan dimulai. sensori dan autonom. serabut otonom dan nyeri adalah yang pertama kali diblok dan serabut motor yang terakhir. otot akan mengalami paralisis. Anestesi spinal Anestesia spinal (intratekal. Anestesi spinal merupakan pilihan anestesi pada daerah dibawah umbilikus. Karena secara umum. dan area operasi hernia berada di bawah umbilicus. Bedah obstetric-ginekologi 5. Indikasi anestesi spinal adalah: 1. Bedah panggul 3. sedangkan syaraf atonom akan mengontrol tekanan darah. bagaimanakah keadaan pasien saat itu dan jenis operasi yang akan dilakukan. intradural. Pada kasus ini. 2. Contohnya. operasi urogenital dan operasi di daerah perineum dan genitalia. Larutan anestesi lokal yang disuntikan pada ruang subarachnoid akan memblok konduksi impuls sepanjang serabut syaraf secara reversible. Tindakan sekitar rectum-perineum 4. Bedah urologi 6. Pada umumnya.

Kontra indikasi anesthesia spinal Kontra indikasi absolute 1. Infeksi pada tempat suntikan 3. jalan nafas pasien terjaga. bakteremi) 2. suntikan 3. tidak ada efek pada pernafasan. Teknik Anestesia Spinal Kelainan neurologis Kelainan psikis Bedah lama Penyakit jantung Hipovolemia ringan Nyeri punggung Infeksi sekitar tempat sistemik 11 . Pada bedah abdomen atas dan bedah pediatric biasanya dikombinasi dengan anesthesia umum ringan. bila tidak aseptik akan menimbulkan infeksi dalam ruang subarachnoid dan meningitis. 6. 8. hepar. terdapat tonus visceral. renal dan gangguan endokrin (diabetes mellitus). Pasien menolak 2. kronis Kelebihan pemakaian anestesi spinal diantaranya adalah biaya minimal. Kontra indikasi anesthesia spinal ada dua macam yakni relative dan absolute. Koagulopati atau mendapat terapi antikoagulan 5. Sedangkan kekurangan pemakaian anestesi spinal akan menimbulkan hipotensi. Tabel2.7. dapat dilakukan pada pasien diabetes mellitus. Pasien lanjut usia dan pasien dengan penyakit sistemik seperti penyakit pernafasan. Kurang pengalaman atau/tanpa didampingi konsultan anesthesia Kontra indikasi relative 1. syok 4. aliran darah splancnic meningkat. Infeksi (sepsis. Tekanan intracranial meninggi 6. Hipovolemia berat. 4. jarang terjadi gangguan koagulasi. 7. hanya dapat digunakan pada operasi dengan durasi tidak lebih dari dua jam. perdarahan minimal. serta kemungkinan terjadi postural headache. Fasilitas resusitasi minim 7. 5. 8.

Gambar2. Kira-kira jarak kulit-lig. Posisi duduk merupakan posisi termudah. agar pasien merasa enak dan menstabilkan tulang belakang. Tentukan tempat tususkan. 7. Pada kasus ini diberikan obat anestesi lokal bupivakain yang dikombinasi dengan morfin sebagai analgesic. Posisi pasien duduk atau dekubitus lateral.supraspinosum-lig. dilakukan tususkan pada L3-4. Jika posisinya dekubitus lateral.flavum dewasa ±6cm. 6. agar posisi tulang belakang stabil.5 ml/detik) diselingi aspirasi sedikit. karena perubahan posisi berlebihan dalam waktu 30 menit pertama akan menyebabkan penyebaran obat. Biasanya dikerjakan di atas meja operasi tanpa di pindah lagi. untuk memastikan posisi jarum tetap baik. dan pasien membungkuk agar prosesus spinosus mudah teraba. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua krista iliaka dengan tulang punggung ialah L4 atau L4-5. 5. maka beri bantal kepala. 2. Pasang semprit yang berisi obat. Untuk operasi hernia ini. Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alcohol 4. Cabut stilet maka cairan serebrospinal akan menetes keluar. Subarachnoid Lokasi Ruang 12 . Jika posisinya duduk. Lakukan penyuntikan jarum spinal di tempat penusukan pada bidang medial dengan sudut 10-30 derajad terhadap bidang horizontal ke arah cranial.flavum-ruang epidural-duramater-ruang sub arakhnoid. masukkan pelan-pelan (0. pasien disuruh memeluk bantal. Tusukan pada L1-2 atau dia atasnya berisiko trauma terhadap medulla spinalis. Jarum lumbal akan menembus kulit-subkutis-lig.interspinosumlig. Beri anestetik lokal pada tempat tusukan. 3.1.

Obat-Obatan Yang Dipakai Buvanest sebagai anestesi lokal Buvanest merupakan nama dagang obat anestesi lokal. Farmakokinetik 13  . refrakteritas. kontraktilitas dan resistensi vaskuler perifer yang minimal. Farmakodinamik Anestesi lokal adalah obat yang digunakan untuk mencegah rasa nyeri dengan memblok konduksi sepanjang serabut saraf secara reversible. tremor dan menggigil. Rangsangan pusat biasanya berupa gelisah. tetapi saat di dalam akson terbentuk beberapa molekul terionisasi. diberikan buvanest 4ml dikombinasi dengan morfin 0. mengakibatkan penurunan curah jantung dan tekanan darah arteri. Pada pasien ini. serta mencegah pembentukan potensial aksi. dan molekul-molekul ini memblok kanal Na+. isinya adalah bupivacaine HCL. Absorpsi sistemik anestetik lokal juga dapat mengakibatkan perangsangan dan atau penekanan sistem saraf pusat. akhirnya terjadi henti napas. namun efek sistemik utamanya mencakup system saraf pusat. Obat menembus saraf dalam bentuk tidak terionisasi (lipofilik). Kontraktilitas miokardium ditekan dan terjadi vasodilatasi perifer. kejang. eksitabilitas.2 mg. Fase depresi dapat terjadi tanpa fase eksitasi sebelumnya. Anestesi lokal dapat menekan jaringan lain yang dapat dieksitasi (miokard) bila konsentrasi dalam darah cukup tinggi. Pada konsentrasi darah yang dicapai dengan dosis terapi. diikuti depresi dan koma. terjadi perubahan konduksi jantung.

parestesia.Kecepatan absorpsi anestetik lokal tergantung dari dosis total dan konsentrasi obat yang diberikan. meliputi takikardia ventrikuler dan fibrilasi ventrikuler. serta henti jantung. lambatnya persalinan. sakit punggung. meningitis septik. hipotensi sekunder dari blok spinal. hilangnya sensasi perineal dan fungsi seksual. hambatan jantung. paralisis pernapasan dan bradikardia (spinal tinggi). ansietas. sampai dengan 8 jam bila digunakan untuk blok syaraf. tinitus. Efek SSP lain yang mungkin timbul adalah mual. bersin. Sistemik : Biasanya berkaitan dengan sistem saraf pusat dan kardiovaskular seperti hipoventilasi atau apnu. penurunan curah jantung. Hal ini dapat dengan cepat diikuti rasa mengantuk sampai tidak sadar dan henti napas. edema angioneuretik (meliputi edema laring). kemungkinan mengarah pada kejang. retensi urin. hilangnya kesadaran. pruritus. Efek samping Penyebab utama efek samping kelompok obat ini mungkin berhubungan dengan kadar plasma yang tinggi. dan konstriksi pupil. Bupivacaine mempunyai awitan lambat (sampai dengan 30 menit) tetapi mempunyai durasi kerja yang sangat panjang. sakit kepala. hipotensi dan henti jantung. aritmia ventrikuler. Neurologik : Paralisis tungkai. dapat terjadi penglihatan kabur atau tremor. Kardiovaskuler : Depresi miokardium. eritema. Lama kerja bupivacaine lebih panjang secara nyata daripada anestetik lokal yang biasa digunakan. yang dapat disebabkan oleh overdosis. Alergi : Urtikaria. injeksi intravaskuler yang tidak disengaja atau degradasi metabolik yang lambat. serta ada tidaknya epinefrin dalam larutan anestetik. pusing. SSP : Gelisah. kelemahan. meningkatnya kejadian persalinan dengan 14 . dan vaskularisasi tempat pemberian. bradikardia. muntah. anestesia persisten. hipotensi. cara pemberian. inkontinensia fekal dan urin. Juga terdapat periode analgesia yang tetap setelah kembalinya sensasi. paralisis ekstremitas bawah dan hilangnya kontrol sfingter. episode asma. dan kemungkinan gejala anafilaktoid (meliputi hipotensi berat). meningismus. kedinginan.

dengan efek utama mengikat dan mengaktivasi reseptor µ-opioid pada sistem saraf pusat. artinya morfin dapat mengubah reaksi yang timbul di korteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima oleh korteks serebri dari thalamus. Oklusi akut pembuluh darah perifer. yakni tidak begitu mempengaruhi unsur sensoris lain. sedasi. physical dependence dan respiratory depression. euforia. Kolik renal atau kolik empedu. Efek kerja dari morfin (dan juga opioid pada umumnya) relatife selektif. Lebih hebat nyerinya makin besar dosis yang diperlukan. 3. Neoplasma. Morfin merupakan agonis reseptor opioid. pleuritis dan pneumotorak spontan. yaitu 1. Aktivasi reseptor ini terkait dengan analgesia. Morfin oral dalam bentuk larutan diberikan teratur dalam tiap 4 jam. Morfin tersedia dalam tablet. Morfin adalah analgesik alkaloid yang sangat kuat dan merupakan agen aktif utama yang ditemukan pada opium. bahakan persepsi nyeripun tidak selalu hilang setelah pemberian morfin dosis terapi. Morfin juga bertindak sebagai agonis reseptor κ-opioid yang terkait dengan analgesia spinal. Perikarditis akut. Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai Infark miokard. Dosis anjuran untuk menghilangkan atau 15 . atau kelumpuhan saraf kranial karena traksi saraf pada kehilangan cairan serebrospinal. Efek analgesik morfin timbul berdasarkan 3 mekanisme.morfin dapat mempengaharui emosi. Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk menghilangkan rasa sakit. Nyeri akibat trauma misalnya luka bakar. rasa getar (vibrasi). penglihatan dan pendengaran.2mg yang dikombinasikan dengan buvanest. 2. pulmonal atau koroner.forcep.  Morfin sebagai analgesik Pada pasien ini diberikan morfin 0. supositoria.morfin meninggikan ambang rangsang nyeri.morfin memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang rangsang nyeri meningkat. fraktur dan nyeri pasca bedah. yaitu rasa raba. injeksi. Morfin dan opioid lain terutama diindikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non-opioid.

1-0. Sebagian kecil morfin bebas ditemukan dalam tinja dan keringat.2 mg/ kg BB. miosis. sehingga tidak menghasilkan rangsang mual muntah efektif baik pada Sistem Saraf Pusat (SSP) maupun pada Sistem Saraf Perifer/ Tepi (SST). Narfoz bekerja sebagai selektif antagonis reseptor serotonin yang ketiga (5HT3). Narfoz bekerja secara selektif menghambat ikatan antara serotonin (5HT) dengan reseptor serotonin yang ketiga (5HT3) agar tidak berikatan. perubahan emosi. Morfin juga dapat menembus mukosa. mual muntah. hiperaktif reflek spinal. Efek morfin pada system syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan stimulasi. Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis. Ekskresi morfin terutama melalui ginjal. konvulsi dan sekresi hormon anti diuretika (ADH). hipoventilasi alveolar. Morfin dapat diabsorsi usus. Farmakodinamik Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang mengandung otot polos. Farmakodinamik Ondansetron adalah antagonis reseptor 5HT3 yang poten dan selektif. Morfin dapat melewati sawar plasenta dan mempengaruhi janin.  Narfoz sebagai antiemetic Pada pasien ini diberikan Narfoz 8mg yang isinya adalah Ondansentron sebagai obat sisipan untuk mencegah emesis.mengurangi nyeri sedang adalah 0. Farmakokinetik Morfin tidak dapat menembus kulit utuh. tetapi efek analgesik setelah pemberian oral jauh lebih rendah daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian parenteral dengan dosis yang sama. Digolongkan depresi yaitu analgesia. Untuk nyeri hebat pada dewasa 1-2 mg intravena dan dapat diulang sesuai yamg diperlukan. Narfoz akan menghambat reseptor 5HT3 yang 16 . tetapi dapat menembus kulit yang luka. sedasi.

gangguan fungsi ginjal (seperti pasien hemodialisa). Obat ini secara ekstensif dimetabolisme dan metabolitnya diekskresikan ke dalam feses dan urin. Narfoz juga bekerja di SST dengan menghambat reseptor 5HT3 di aferen vagal saluran cerna sehingga akan menghambat impuls ke pusat muntah. dapat menimbulkan amnesia. efek analgesik tidak ada. Narfoz bekerja di SSP sehingga sangat efektif untuk mengatasi mual muntah akibat kemo/radioterapi. Tidak mempengaruhi frekuensi denyut jantung. detoksifikasi opiat dan hyperemesis gravidarum. relaksasi otot dan mepunyai efek sedasi. depresi pusat nafas 17 . Farmakodinamik Dalam sistem saraf pusat.5 jam pemberian Ondansetron per oral.  Sedacum 0. hipnotik.terdapat pada CTZ (Chemoreseptor Trigger Zone). meskipun dapat diperpanjang sampai 5 jam pada penderita usia lanjut. Dengan kemampuan Narfoz untuk bekerja di SST maka Narfoz juga daapat digunakan untuk mengatasi mual muntah yang terjadi karena adanya gangguan pada saluran cerna. menurunkan aliran darah otak dan laju metabolisme.1% 1 mg sebagai sedasi Pada pasien diberikan sedacum 1mg. gangguan meurologis. Disposisi Ondansetron setelah pemberian per oral ataupun secara intravena sama dengan waktu paruh eliminasi terminal yang mencapai 3 jam. Bioavailabilitas absolut Ondansetron per oral mencapai 60%.5. Farmakokinetik Konsentrasi puncak dalam plasma dicapai setelah 1. Ikatan protein plasma mencapai 70-76%. antikejang. post operasi. Efek Kardiovaskuler menyebabkan vasodilatasi sistemik yang ringan dan menurunkan cardiac out put. yang berisi midazolam. perubahan hemodinamik mungkin terjadi pada dosis yang besar atau apabila dikombinasi dengan opioid. iritasi dan gangguan saluran cerna. Pada sistem respiratori dapat mempengaruhi penurunan frekuensi nafas dan volume tidal. Midazolam merupakan benzodiazepin yang larut air yang tersedia dalam larutan dengan PH 3.

efek puncak akan muncul setelah 4 – 8 menit setelah diazepam disuntikkan secara I.  Orasic 2ml sebagai analgesik Pada pasien ini diberikan obat sisipan Orasic yang berisi Tramadol Hcl 50mg. Midazolam dan diazepam didistribusikan secara cepat setelah injeksi bolus. Efek terhadap saraf otot dapat menimbulkan penurunan tonus otot rangka yang bekerja di tingkat supraspinal dan spinal. Tramadol mengikat secara stereospesifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga menghentikan sensasi nyeri dan respon terhadap nyeri. Tramadol mempunyai efek merugikan yang paling lazim dalam penggunaan pada waktu yang singkat dan biasanya hanya pada awal penggunaannya saja yaitu pusing. Dosis ulangan akan menyebabkan terjadinya akumulasi dan pemanjangan efeknya sendiri. Tramadol HCl adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat.5 sampai 6. sehingga membutuhkan naloxone pada sedikit pasien. sedasi.5%. sehingga sering digunakan pada pasien yang menderita kekakuan otot rangka. metabolisme mungkin akan tampak lambat pada pasien tua. Depresi pernafasan telah ditunjukkan hanya pada beberapa pasien yang diberikan tramadol sebagai kombinasi dengan anestesi.mungkin dapat terjadi pada pasien dengan penyakit paru atau pasien dengan retardasi mental. mulut kering. Farmakodinamik Tramadol mempunyai 2 mekanisme yang berbeda pada manajemen nyeri yang keduanya bekerja secara sinergis yaitu: agonis opioid yang lemah dan penghambat pengambilan kembali monoamin neurotransmitter. Farmakokinetik Obat golongan benzodiazepine dimetabolisme di hepar. mual. Tidak dilaporkan adanya depresi pernafasan yang secara klinis relevan setelah dosis obat yang direkomendasikan. Pada pemberian tramadol pada nyeri 18 .V dan waktu paruh dari benzodiazepine ini adalah 20 jam. berkeringat dengan insidensi berkisar antara 2.

mempunyai onset setelah 1 jam yang mencapai konsentrasi plasma pada mean selama 2 jam. Untuk mencegah kejadian tersebut dilakukan pemberian cairan (pre-loading) untuk mengurangi hipovolemia relatif akibat vasodilatasi sebelum dilakukan spinal/epidural anestesi dan loading cairan diteruskan sampai setelah operasi selesai. Tramadol mengalami metabolisme hepatik. Mean elimination half-life dari tramadol setelah pemakaian secara oral atau pemakaian secara intravena yakni 5 hingga 6 jam.  Pemberian Loading Cairan Ringer Lactat (RL) dan Hydroxy Ethyl Starch (HES) Efek samping anestesi regional khususnya subarachnoid block adalah depresi sistem saraf simpatis sehingga mempengaruhi tonus pembuluh darah dan menyebabkan vasodilatasi sehingga akan terjadi hipovolemi relative (kekurangan cairan akibat melebarknya pembuluh darah sedangkan volume darah relative tetap). Elimination half-life meningkat sekitar 2-kali lipat pada pasien yang mengalami gangguan fungsi hepatik atau renal. selain diberikan Ringer Laktat juga diberikan HES. 19 . misalnya jika tekanan darah pasien cenderung menurun terus dan drastis. O-demethyl tramadol. dimana kondisi hemodinamik pasien satabil. tramadol intravena tidak menyebabkan depresi pernafasan pada neonatus. tramadol akan muncul di dalam plasma selama 15 sampai 45 menit. Selain itu dapat juga diberikan vasokonstriktor pembuluh darah jika diperlukan. Hanya 1 metabolit. Farmakokinetik Setelah pemakaian secara oral seperti dalam bentuk kapsul atau tablet. yang secara farmakologis aktif. 20% mengalami first-pass metabolisme didalam hati dengan hampir 85% dosis oral yang dimetabolisir pada relawan muda yang sehat.waktu proses kelahiran. kemudian terjadi hipotensi. Pada pasien ini. secara cepat dapat diserap pada traktus gastrointestinal. namun belum memerlukan vasokonstriktor. Hampir 90% dari suatu dosis oral diekskresi melalui ginjal.

dan nadi pasien. andesco? 3x1 untuk satu hari. Sedangkan koloid adalah cairan yang memiliki kemampuan untuk menjaga tekanan onkotik di dalam intravaskuler sehingga cairan yang masuk lewat infuse akan stabil berada di intravaskuler sehingga mempercepat penstabilan cairan intravaskuler secara lebih cepat. - Memanajemen nyeri dengan pemberian analgesic dan antiemetic untuk menurunkan rasa nyeri dan mual. maka 2/3 cairan tersebut akan berpindah ke interstitial. jangan ditunda dalam memberikan rangsangan terhadap peristaltic (diet) dari konsistensi lunak dahulu misalnya air minum. - Setelah peristaltic stabil. isinya ketorolac tromethamine). elektrolit lengkap serta sorbitol sebagai sumber karbohidrat. Tutofusin Ops mengandung air. untuk mencapai keseimbangan cairan yang berada di intravaskuler diberikan 3 kali volume yang hilang.Cairan elektrolit seperti ringer laktat memiliki berat molekul kecil dan tidak mengandung glukosa dan memiliki kemampuan untuk berpindah dari intravaskuler menuju interstitial dan intraseluler secara cepat. - Menjaga posisi pasien dengan meninggikan kepala untuk mencegah naiknya cairan anestesi menuju thorakal atau cervical. Ketopain 3x3 untuk 1 hari dilanjutkan 2x3 selama 2 hari IV (sebagai analgesic pasca operasi. 20 . Pada pasien ini diberikan Tutofusin Ops 30 tetes IV. Pasca Anestesia - Menjaga keseimbangan cairan dengan mengontrol urine yang dihasilkan. Pada pasien ini diberikan medikasi pasca anestesi meliputi: Orasic 3x1 IV untuk satu hari. Dalam waktu setengah jam setelah pemberian 1 paket cairan elektrolit. Sehingga cairan yang ada di intravaskuler akan tetap kurang. Namun setelah keseimbangan intravaskuler terkoreksi. harus segera mungkin menyeimbangkan cairan interstitial dan intraseluler dengan memberikan ringer laktat kembali. tekanan darah. Piralen 3x1 (sebagai antiemesis) untuk 1 hari. Paisen diedukasi agar selalu menggunakan bantal. serta pemberian cairan intravena.

G. (1998). FY.com Kalbefarma.B. Alih Bahasa Staf Dosen FK Universitas Sriwijaya.wordpress.com. Edisi Keenam. Prescription: Buvanest. Sulistyaningsih. KM. Abdominal Hernias.kalbefarma.com/article/189563-overview Intan. Farmakologi Dasar Dan Klinik. (2007).medscape.C. Diakses pada tanggal 18 Juni 2010 dari http://emedicine. Jakarta: EGC 21 . Serba-Serbi Tentang Morfin. Diakses pada tanggal 19 Juni 2010 dari http://yosefw. Katzung. (2009). Diakses pada tanggal 16 Januari 2010 dari www. DAFTAR PUSTAKA Erickson. (2010). H.

Diakses pada tanggal 20 Juni 2010 dari www. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran UI: Jakarta.html WebMD. A. (2010).com/digestive-disorders/tc/inguinal-hernia-topic-overview 22 . Suryadi. Anestesi Regional. M. Ruswan. (2009). Narfoz.pharosindonesia.webmd.com/2009/07/anestesi-regional. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Diakses pada tanggal 17 juni 2010 dari http://drboen. Diakses pada tanggal 18 juni 2010 dari http://www. Dachlan. Said. A. Kartini. Pharos Indonesia (2009).com Prabowo. Inguinal Hernia. (2001).Latief.blogspot.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful