You are on page 1of 44

sekapur sirih

Beda....

Inilah kesan tampilan luar - dalam Jejak Leuser edisi kali ini. Edisi kesebelas ini
memang spesial, special edition lomba menulis TNGL yang pada tahun ini
mengambil tema ‘Arti Penting Taman Nasional gunung Leuser sebagai Situs Warisan
Dunia (World Heritage site)’. Lomba menulis diselenggarakan oleh Balai Besar TNGL
atas dukungan Pemerintah Spanyol dan UNESCO Jakarta Office, sebagai salah satu
rangkaian acara Jambore Konservasi TNGL 2008 dalam rangka memperingati Hari
Lingkungan Hidup. Pilihan format ini diterbitkan untuk memberikan kesempatan
kepada para pembaca JL untuk dapat membaca tulisan-tulisan para generasi
muda yang menjadi juara di lomba itu.

Biarkan mereka memprihatinkan, mengkritisi, menyanjung Leuser. Biarkan mereka


lebih mengenal Leuser untuk kemudian bisa mencintai ‘Sang Surga’ (mengambil
istilah Rizky Aditya - salah satu peserta lomba menulis) itu.

Ya...tulisan-tulisan para jawara menulis TNGL tahun ini akan kami tampilkan di edisi
ini, dengan tetap dilakukan proses editing oleh Tim Redaksi tanpa mengubah
makna aslinya. Tulisan-tulisan lain yang sebenarnya berkualitas dan layak muat di JL
(yang belum berkesempatan untuk bisa menjadi salah satu juara) akan kami
tampilkan di edisi-edisi yang akan datang.

Selamat membaca.

b u l e t i n

Jejak Leuser
Pelindung
Kepala Balai Besar TNGL

Pemimpin Redaksi
Bisro Sya'bani

Dewan Redaksi Diterbitkan oleh:


Ratna Hendratmoko Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser
Subhan
Ujang Wisnu Barata Jl. Suka Cita 12 Kel. Suka Maju
Medan Johor, Medan, Sumatera Utara
Telp/ Fax. (061) 7879378
Distribusi
Ahtu Trihangga E-mail : jejakleuser@yahoo.co.id
Blog : www.jejakleuser.blogspot.com
Administrasi
Cover depan : Leuser di Atas Awan
Yunita Aprillia (Foto: Koen Meyers, sxc.hu)
Cover belakang : Penari-penari Kecil Bukit Lawang
Umum (Foto: Ahmad Yasin)
Ali Sadikin
menu hari ini
4. Menulis untuk Sang Warisan Dunia
6. Cerita Lomba
8. Menyelamatkan TNGL Untuk Kehidupan Masa Depan
Jhon Rivel Purba

13. Memaknai Keberadaan TNGL Sebagai World Heritage


Rahmad Lingga

18. TNGL Warisan Dunia untuk Anak Cucu Kita


yang Harus Dijaga Kelestariannya
Ery Suhaymi

23. Kalau Bukan Kita,...Lantas Siapa Lagi?


Ardhy Dinata Sitepu

28. Karena Leuser Adalah World Heritage


Muhammad Reza Fadil

32. Leuser, Surga Indonesia yang Bakal Diporak-poranda


Rizky Aditya Fardhani

37. Menulis Lomba Menulis


39. Teruslah Menulis
40. Cerita Jambore
42. Awas Kolesterol...!
43. Indahnya....
Dari Kepala Balai

Menulis untuk Sang Warisan Dunia


Nurhadi Utomo

P o t e n s i gampang susah. Gampang kalau sudah


sumberdaya biasa atau terlatih, sehingga apa yang ditulis
alam yang mengalir bagaikan air mencari tempat yang
terkandung di rata. Apa yang dipikirkan dengan apa yang
jagat ini tidak tertuang akan menghasilkan keterpaduan,
akan kita seperti bejana berhubungan yang bila
ketahui apabila ditekan salah satu sisi, maka sisi yang lain
kita tidak bisa akan menyesuaikan. Ide dalam benak
membaca dan penulis langsung dicatat menjadi rangkaian
m e n u l i s . kata yang tersusun menjadi tulisan. Dengan
Membaca tulisan tersebut, si penulis menggambarkan
dalam arti luas kejadian yang dialami, yang dilihat atau dari
tidak hanya buah dari pikirannya sendiri. Runut, runtut
mengeja kata per kata, tetapi tulisan yang dengan gaya bahasa lugas.
mengajarkan sesuatu yang membuat kita
tau dan paham apa yang kita baca. Susahnya menulis? Susah kalau tidak biasa.
Sedangkan menulis berarti menampilkan Artinya menulis itu harus dibiasakan. Biar
apa yang kita lihat, dengar dan rasakan ditekan sana-sini kalo tidak terbiasa tidak
menjadi suatu rangkaian kata, kalimat dan akan bisa menghasilkan tulisan. Dengan
narasi. demikian persoalannya bukan terletak pada
gampang atau susah tetapi kepada
Menulis juga merupakan media komunikasi kemauan si penulis sendiri.
antar pihak. Itulah kenapa ada surat,
majalah, tabloid, surat kabar, SMS dan email. Menulis tentang alam? Kenapa tidak? Dunia
Dulu sebelum bisa menulis, seorang anak ini adalah lapangan tulisan dimana sumber
berbicara dan berkomunikasi dengan inspirasi yang tak ada habisnya. Tengoklah
bahasa tubuh seperti meronta, salah satu kekayaan alam yang ada di
mengangguk, menggeleng dan menangis. bagian barat Indonesia. Pulau Sumatera
Setelah bisa bicara, dia dapat menyebutkan dianugerahi hutan hujan tropis yang cukup
bahasa ibunya, meskipun hanya beberapa luas yang sebagian diantaranya telah
patah kata. Baru setelah diajarkan, dia bisa ditetapkan menjadi taman nasional.
merangkai huruf yang kemudian disusun
sehingga muncullah tulisan. Supaya Pada tahun 2004 usulan Pemerintah
maksud, tujuan dan makna dari tulisan bisa Indonesia untuk menjadikan Leuser bersama
dipahami dan dimengerti oleh TN Kerinci Seblat dan TN Bukit Barisan Selatan
pembacanya, diperlukan latihan yang sebagai salah satu situs warisan dunia
cukup seperti halnya kita belajar bicara. dikabulkan oleh UNESCO-Komite Warisan
Dunia dengan ditetapkannya rangkaian
Menulis adalah pekerjaan yang gampang- ketiga taman nasional itu menjadi Tropical

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


4
Dari Kepala Balai
Rainforest Heritage of Sumatra. Ini saja yang dijumpainya. Sebagai bagian dari
merupakan penghargaan besar bagi anak bangsa, tentu akan bangga bila dapat
bangsa Indonesia. TNGL bukan hanya mewujudkan lingkungan lestari yang akan
milik Indonesia, namun juga milik dunia. menjamin mutu kehidupan di masa yang akan
datang.
Banyak yang masih belum memahami
tentang apa itu warisan dunia dan apa Lomba menulis untuk mahasiswa dan pelajar
manfaatnya bagi yang menyandang sebagai rangkaian dari kegiatan “Jambore
status itu. Masih banyak pula yang belum Konservasi TNGL 2008” merupakan langkah jitu
tau, bahwa Leuser telah ditunjuk sebagai untuk memulai mengenalkan segala macam
salah satu situs warisan dunia. Jangankan jurus konservasi alam (dalam hal ini untuk TNGL)
itu, bahkan masih ada (banyak?) pula kepada generasi yang kritis tersebut. Balai Besar
yang masih belum ngerti apa itu Taman TNGL menyelenggarakan Jambore Konservasi
Nasional Gunung Leuser. Mari kita TNGL 2008 ini bukan tanpa maksud. Dengan
bersama-sama belajar tentang itu.... menggandeng para mitra TNGL,
penyelenggaraan kegiatan ini bukan hanya
Dari sebuah referensi yang saya baca, sekedar memperingati Hari Lingkungan Hidup
pengertian “Warisan Dunia” menurut saja. Namun lebih dari itu, penyelenggaraan
UNESCO (2004) memuat hal-hal sebagai berbagai macam kegiatan dalam satu
berikut: (1) Warisan Dunia dapat terdiri dari bungkus berupa jambore tersebut akan
Warisan Alam dan Warisan Budaya, (2) menunjukkan komitmen manajemen TNGL
Melestarikan warisan yang tidak dapat untuk terus berperan terhadap alam, sekaligus
digantikan dan warisan yang memiliki mengajak khalayak ramai untuk terus ikut
"Nilai Universal Istimewa", (3) Perlu berpartisipasi melestarikan Bumi Leuser.
melindungi warisan yang tidak dapat
dipindahkan, dan (4) Menjadi tanggung Kembali ke Lomba Menulis. Pemilihan kriteria
jawab kesadaran dan kerja sama kolektif pelajar dan mahasiswa sebagai peserta lomba
internasional. menulis ini saya nilai sangat tepat, karena
generasi ini masih bisa dibentuk untuk menjadi
Terus, apa manfaat Wardun bagi TNGL? para jawara konservasi, asal diberikan bekal
Banyak! Salah satu manfaat yang paling ilmu dan kesadaran konservasi sejak awal.
penting sekaligus paling strategis adalah Dengan mengikuti lomba menulis ini, mau tidak
terciptanya “jaringan global”. Kita harus mau mereka akan mencari referensi tentang
dapat memanfaatkan jaringal global ini TNGL yang akan memaksa mata mereka akan
untuk upaya pelestarian Leuser. Dan ini lebih terbuka terhadap bagaimana mereka
tergantung kita, terutama manajemen memperlakukan alam secara arif. Mereka juga
TNGL, bagaimana dapat menggalang akan tahu tentang keberadaan TNGL,
dukungan internasional untuk tujuan akhir, manfaatnya, dan persoalan-persoalnnya.
yaitu melestarikan Leuser. Dukungan ini Dengan mengenal Leuser, diharapkan menjadi
tentunya juga dapat berbentuk macam- satu langkah untuk bisa lebih menyayangi salah
macam; finansial, moril, infrastruktur, satu taman nasional tertua di Indonesia ini.
pengawasan, dan lain-lain.
Selain dari pada itu, melalui tulisannya, anak-
Pengenalan tentang konservasi alam, anak muda ini diharapkan dapat memberikan
tentang TNGL, tentang warisan dunia sumbangsih berupa ide-ide brilliant
masih sangat perlu ditingkatkan, terutama bagaimana menata Leuser ke depan. Ide
pada generasi muda, generasi yang bagaimana Leuser tetap menjadi 'sahabat'
dianggap masih mempunyai potensi bagi bumi dan planet-planet di sekitarnya...***
untuk membangun dan mengkritisi apa

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


5
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia

Cerita Lomba

K
ata Si Bismar, menulis itu mudah. penyelenggaraan lomba menulis ini. Sebuah
Kata Si Robert yang bukunya lomba yang selanjutnya diharapkan menjadi
sudah banyak laris di pasaran, pijakan pertama generasi tersebut untuk
nulis itu pekerjaan yang sangat susah. dapat ambil bagian dalam usaha
Bahkan dalam sebuah website khusus melindungi dan melestarikan TNGL.
menulis, salah satu pengelola web
tersebut (yang kebetulan katanya juga Lomba yang dikhususkan untuk pelajar (SMU)
suka menulis) mengatakan bahwa dan mahasiswa ini diselenggarakan dari
kesulitan dan kegelisahan yang luar tanggal 5 Juni sampai dengan 14 Juli 2008,
biasa dapat pula terjadi pada seorang sebagai salah satu rangkaian dari kegiatan
penulis (sekalipun dia telah kaliber Jambore Konservasi TNGL 2008 untuk
dunia) ketika akan menuangkan kata- memperingati Hari Lingkungan Hidup se-
katanya. Dunia. Tentang antusiasme untuk mengikuti
lomba menulis ini, ada total 45 peserta yang
Tentunya mereka punya alasan untuk mengikuti lomba ini, 37 peserta dari tingkat
bisa mengeluarkan statement seperti mahasiswa, dan 8 orang dari kategori
itu. Alasan yang apabila kita pikirkan pelajar. Yah...pelaksanaan kegiatan yang
lebih dalam, semua dapat diterima hampir berbenturan dengan ujian akhir dan
dengan legowo... Tidak perlu kita liburan sekolah menjadi salah satu sebab
perdebatkan 'pertentangan teori sedikitnya minat para pelajar untuk mengikuti
gampang-susah menulis itu.... lomba. Ini akan menjadi catatan penting
untuk penyelenggaraan lomba sejenis
Menulis. Ya...MENULIS. Itulah lomba selanjutnya.
yang diselenggarakan oleh Balai Besar
Taman Nasional Gunung Leuser Dalam penilaiannya, panitia Lomba Menulis
dengan didukung oleh UNESCO dan “Arti Penting Taman Nasional Gunung Leuser
Pemerintah Spanyol, bulan Juni - Juli sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage
2008 yang lalu. Lomba ini memuat Site)” menunjuk empat orang dari empat
tema “Arti Penting Taman Nasional trayek berbeda untuk menjadi anggota
Gunung Leuser sebagai Situs Warisan dewan juri; yaitu dari Balai Besar TNGL,
Dunia (World Heritage Site)”. Tuntutan UNESCO, akademisi, dan media. Terima kasih
tuangan kreatifitas untuk memunculkan kepada Pak Moko (Kepala Seksi Perlindungan,
gagasan dan ide baru khususnya dari Pengawetan, dan Perpetaan BBTNGL), Pak
generasi muda yang seharusnya Edy Batara (Kepala Jurusan Kehutanan,
menjadi generasi pendobrak yang kritis Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera
dan 'pemberontak' inilah yang Utara), Pak Suer (Technical Adviser UNESCO
menjadikan salah satu dasar Jakarta Office) dan Pak Maryoto (Kepala Biro

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


6
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
Sumatera Bagian Utara Harian sang jawara I, II, dan III akan dapat dibaca di
Kompas), atas kesediaannya sebagai Jejak Leuser edisi ini.
anggota dewan juri. Bapak-bapak ini
telah menilai tulisan berdasarkan Banyak asa yang tertanam pasca Lomba
kriteria-kriteria yang telah ditetapkan, Menulis “Arti Penting Taman Nasional Gunung
yaitu: kesesuaian tulisan dengan tema Leuser sebagai Situs Warisan Dunia (World
& kriteria lomba, pemahaman peserta Heritage Site)” untuk tahun ini. Selain
terhadap TNGL dan situs warisan dunia, pengharapan penyelenggaraan lomba
kreativitas dan mengungkapkan ide- sejenis yang jauh lebih baik lagi di tahun
ide orisinil, tata bahasa yang depan, lebih dari itu, pengharapan yang
digunakan, serta sistematika tulisan. lebih besar adalah bagaimana dari lomba
menulis ini menjadi batu pijakan bagi
Tanggal 14 Juli 2008, lomba menulis ini generasi pemberontak nan kritis itu untuk
telah mencapai puncak acara lebih tau, lebih mengenal, lebih mencintai,
dengan diadakannya acara dan selanjutnya lebih berperan dan ambil
pengumuman pemenang, presentasi bagian dalam usaha melindungi dan
pemenang, dan tentunya penyerahan melestarikan Leuser Sang Heritage Site.
hadiah (tropi, piagam dan beasiswa Bisakah? Akan kita buktikan nanti.......***
yang totalnya sebesar Rp
12.000.000,00). Siapa-siapa yang Bisro Sya’bani
juara, serta bagaimana isi tulisan dari Koordinator Lomba Menulis TNGL 2008

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


7
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
Juara I
Kategori Mahasiswa

Menyelamatkan TNGL Untuk Kehidupan Masa Depan

*)
Jhon Rivel Purba

P
ermasalahan kerusakan lingkungan menjadi salah satu
isu yang hangat dibicarakan dalam beberapa waktu
belakangan ini, baik di tingkat lokal, nasional maupun
global. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan di muka bumi
ini sedang berada dalam tingkat kritis, yang jika tidak segera
diatasi akan membawa dampak buruk bagi eksistensi
kehidupan di muka bumi ini. Salah satu masalah lingkungan
yang paling serius adalah perusakan hutan. Penyebabnya
sangat beraneka ragam. Mulai dari kebakaran hutan,
penebangan liar (illegal logging), bencana alam, serta
bentuk-bentuk eksploitasi sumberdaya hutan lainnya.

Bagi negara-negara berkembang, seperti Indonesia, masalah kerusakan hutan


memang cukup dilematis. Antara kepentingan ekologis dan kepentingan ekonomis.
Masalahnya, kepentingan ekonomis lebih sering mendominasi dan inilah yang menjadi
cikal-bakal pemicu kerusakan hutan. Lebih jauh lagi, kepentingan ekonomis ini
sesungguhnya lebih bersifat pribadi, yang terakumulasi dalam keuntungan ekonomi-
politiknya, daripada kepentingan umum. Salah satu bukti konkritnya adalah semakin
gencarnya penebangan liar, termasuk pada kawasan hutan lindung.

Salah satu hutan lindung yang menjadi korban keserakahan manusia tersebut adalah
hutan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). TNGL yang ditetapkan oleh UNESCO-
Komite Warisan Dunia sebagai situs warisan dunia atas usulan Pemerintah Indonesia
pada tahun 2004 ini mengalami tingkat kerusakan yang sudah sangat
mengkhawatirkan. Untuk wilayah Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) saja, selama bulan
November 2007 ditemukan 274 kasus aktivitas ilegal di dalam maupun sekitar KEL Provinsi
NAD dan Sumut, yang terdiri dari 150 kasus illegal loging, 101 kasus perambahan, 2 kasus
sawmil ilegal, 5 kasus panglong kayu ilegal, 4 kasus usaha perabot, 1 kasus kilang kayu

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


8
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
dan 7 kasus perburuan satwa (Buletin Leuser, 2008).

Dengan bercermin pada beberapa kejadian yang sangat merugikan kehidupan umat
manusia dan ekosistem secara luas tersebut, maka upaya penyelamatan TNGL sejak dini
untuk jangka panjang, dirasakan sudah menjadi keharusan. Hal ini juga dapat dilihat dari
beberapa hal: Pertama, fungsi TNGL yang sangat besar bagi kehidupan manusia dan
kelestarian ekosistem, misalnya : 1) sebagai daerah tangkapan air untuk mencegah
banjir, 2) sebagai paru-paru dunia, 3) pendukung pertanian bagi masyarakat di
sekitarnya, 4) objek penelitian dan wisata ekologi, 5) sebagai tempat atau habitat
berbagai spesies hayati yang hingga saat ini ada sebanyak 900 jenis flora dan 1.044
fauna (Buletin Leuser, 2003). Jika TNGL tidak segera diselamatkan, maka kehancuran
fungsi tersebut hanya tinggal menunggu waktu dan boleh ditebak berapa kerugian yang
diakibatkannya.

Kedua, dampak lanjutan dari pengrusakan TNGL yang sangat besar, misalnya; bencana
banjir yang bukan hanya mengakibatkan kerugian material dan kerugian ekologis
(semisal perubahan iklim), akan tetapi juga kerugian di sektor sosial, terutama di
masyarakat lokal. Kerugian tersebut pada akhirnya akan berpengaruh pada upaya
peningkatkan kualitas hidup mereka. Ketiga, kehancuran TNGL dan keanekaragaman
hayati membawa pengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung, bagi
kehancuran budaya masyarakat di sekitarnya. Masyarakat lokal yang hidupnya sangat
tergantung dari keberadaan sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati, dengan
adanya kerusakan TNGL akan berakibat pada perubahan cara berpikir dan pola hidup
mereka, terutama dalam memandang alam di sekitarnya. Sementara selama ini,
budaya masyarakat lokal sangat menghargai alam, sehingga mereka terbeban untuk
menjaga keberadaan alamnya. Keempat, Kehancuran TNGL bukan tidak mungkin akan
berakibat pada adanya konflik-konflik sosial-budaya pada masyarakat sekitarnya.
Perasaan diperlakukan secara tidak adil, termarginalisasi, dan terancam secara budaya
yang dialami oleh masyarakat sekitar TNGL sebagai bagian dari kehancuran TNGL yang
hanya menguntungkan sebagian pihak, tentu bisa menjadi sumber pemicu konflik.
Dengan bercermin pada lima hal tersebut, maka kerugian yang disebabkan oleh
kerusakan TNGL, yang seandainya dikalkulasi secara teliti, barangkali sudah sangat besar
dan bisa membuat kita tercengang. Inilah tantangan yang harus dicari jalan keluarnya.

Tantangan bagi upaya penyelamatan TNGL memang sangat besar, membutuhkan


energi, kerja keras, dan keseriusan dalam waktu yang relatif lama. Apalagi mayoritas
penyebab utama kehancuran TNGL adalah faktor manusia. Sementara mengubah
gaya hidup dan perilaku manusia bukanlah pekerjaan gampang dan instan. Pada sisi
lain, kerusakan TNGL terus terjadi dengan laju yang semakin cepat. Maka, kini hanya ada
dua pilihan: kita dan anak cucu kita hancur, atau kita lakukan perubahan sekarang ini
juga? Pertanyaannya, bagaimanakah solusi terbaik dalam menyelamatkan TNGL untuk
kehidupan masa depan ?
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
9
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
Upaya Penyelamatan

Dalam upaya penyelamatan TNGL, apalagi untuk jangka panjang, maka konsep Deep
Ecology (DE) adalah sesuatu yang tepat. Pada hakikatnya, gerakan ini melihat alam
sebagai sebuah komunitas etis yang perlu dijaga melalui suatu etika lingkungan. Etika
lingkungan yang lebih diarahkan pada cara pandang terhadap pengelolaan
lingkungan yang tidak hanya berpusat pada manusia, tetapi juga pada kepentingan
seluruh makhluk hidup dan alam. Selanjutnya, dalam mencari formulasi strategi dalam
konsep DE ini adalah dengan mencari upaya-upaya penyelesaian kerusakan dan
menjaga kelestarian lingkungan dengan menekankan pada pencarian faktor-faktor
penyebab utama serta mencari solusinya.

Melalui konsep DE, akan ditemukan langkah-langkah dalam mengatasi penyebab


utama dari proses pendegradasian TNGL. Faktor utama itu adalah manusia. Jadi upaya
pelestarian TNGL dengan konsep DE adalah dengan menekankan pada pembaharuan
aspek manusianya, bukan pada upaya-upaya superfisial dan jangka pendek
sebagaimana selama ini sering dipraktekkan. Karena itu, tanpa melupakan upaya-
upaya taktis (semisal: reboisasi, penegakan supremasi hukum, pengawasan ketat),
langkah jangka panjang berupa perubahan paradigma masyarakat dalam melihat
TNGL (yang tidak hanya sekedar sumberdaya yang bisa dimanfaatkan, akan tetapi juga
peruntukannya jauh ke depan) mutlak dilakukan. Sepanjang tidak ada perubahan pola
pikir, pola sikap, dan pola tingkah laku manusia, maka tidak akan ada perubahan
mendasar bagi upaya penyelamatan. Dan sepanjang itu pulalah upaya-upaya taktis
tersebut akan sulit berhasil.

Dengan perubahan paradigma, akan lahir sikap kritis terutama dalam memandang
cara produksi dan konsumsi terhadap sumberdaya alam yang selama ini sangat
menonjol. Sikap kritis ini juga sekaligus melihat hakikat TNGL dalam persfektif yang luas.
Artinya, kekayaan alam yang ada di TNGL tidak boleh direduksi dan dilihat hanya
semata-mata dari segi nilai dan fungsi ekonomisnya, tetapi juga dari nilai-nilai lain,
apakah itu nilai budaya, sosial, spritual, religius, dan nilai biologis-ekologis.

Sekali lagi, hal yang perlu dilakukan dalam menyelamatkan TNGL adalah perubahan
mental dan perilaku individu dan juga masyarakat. Ini memang tidaklah mudah, namun
mutlak harus dilakukan. Apalagi dewasa ini tembok dan kecenderungan kepada
materialisme dengan pola produksi dan konsumsi yang eksesif begitu menggejala di
masyarakat. Hal ini juga didukung dengan semakin menguatnya ideologi
developmentalisme yang sangat berpengaruh dalam pengambilan kebijakan,
termasuk kebijakan lingkungan. Misalnya, kebijakan pembangunan yang jauh dari
semangat pelestarian lingkungan.

Sekali lagi, tantangan dalam upaya menyelamatkan TNGL sangatlah besar. Mengubah
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
10
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
gaya hidup dan perilaku manusia membutuhkan waktu yang lama, sementara
kerusakan TNGL terus terjadi dalam laju yang begitu cepat. Maka, kini ada dua pilihan ;
kita dan anak cucu kita akan hancur atau kita berubah sekarang ini juga. Inilah yang
menjadi renungan kita bersama, serta diiringi oleh langkah-langkah selanjutnya. Untuk
itulah konsep DE perlu mendapat tempat dalam upaya penyelamatannya.

Konsep DE dalam strategi penyelamatan TNGL dapat lebih disederhanakan dalam tiga
hal : memperbaharui platform aksi, mengutamakan prinsip-prinsip pokok penyelamatan
lingkungan, serta mencari cara atau strategi dalam menyikapi isu-isu utama yang
menyangkut eksistensi TNGL.

Pertama, platform aksi bagi penyelamatan TNGL. Campur tangan manusia dewasa ini
terhadap TNGL sudah sangat berlebihan. Karena itu, perlu ada perubahan platform.
Platform tersebut harus menekankan bahwa TNGL merupakan milik bersama sehingga
semua orang mempunyai kewajiban yang sama untuk menjaga dan melestarikannya.
Platform tersebut sekaligus menggariskan bahwa kepentingan manusia bukanlah yang
utama, tetapi juga kepentingan komunitas ekologis. Hal yang seperti inilah yang perlu
disosialisasikan pada masyarakat, misalnya melalui pendidikan-penyadaran lingkungan
(ekologi) kepada mereka. Bisa juga ditempuh pada pendidikan formal bagi peserta didik
di daerah sekitar TNGL melalui materi pelajaran muatan lokal khusus tentang ekologi. Itu
berarti, sebagaimana layaknya hakikat pendidikan, kita telah bekerja hari ini untuk masa
yang akan datang. Dengan demikian, diharapkan akan ada perubahan gaya hidup,
perilaku, dan cara pandang terhadap lingkungan dan alam, sehingga memungkinkan
untuk membuat aksi bersama bagi upaya penjagaan dan penyelamatan TNGL.

Kedua, Prinsip-prinsip pokok penyelamatan lingkungan. Prinsip-prinsip pokok


penyelamatan lingkungan dapat diimplementasikan pada beberapa hal, diantaranya:
1) pengutamaan kelestarian alam dalam pengambilan kebijakan, serta melihat
kepentingan masyarakat (termasuk masyarakat adat) dalam pengambilan kebijakan
pengelolaan TNGL, sehingga upaya penyelamatan TNGL adalah dengan melibatkan
masyarakat adat, yang mempunyai relasi sangat unik antara alam (lingkungan) dengan
nilai-nilai budayanya, 2) Prinsip kesatuan asasi manusia dengan alam, 3) Prinsip keadilan
(perubahan politik lingkungan).

Ketiga, Dalam menyikapi isu lingkungan, maka yang utama dilakukan adalah strategi
yang berasal dari moral etika lingkungan, yang kemudian diterjemahkan dalam aksi
nyata dan konkret. Cara atau strategi ini diawali dengan perubahan radikal dalam diri
masyarakat. Artinya, perlu ada kebangkitan kesadaran moral dan kultural yang radikal
dalam menyikapi isu-isu lingkungan. Hal ini bisa dilakukan dengan pendekatan tradisi,
agama, budaya, dan sosiologis masyarakat. Untuk itu perlu ada pelibatan kekuatan
yang ada di masyarakat, misalnya: alim ulama, tokoh masyarakat, tokoh adat. Itu artinya,
dalam menyelamatkan TNGL ada sebuah gerakan yang melibatkan masyarakat luas,
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
11
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
yang sebelumnya telah mempunyai sikap dan keyakinan yang sama, serta didukung
oleh suatu gaya hidup.

Selanjutnya, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana memformat gerakan tersebut ke


dalam aksi-aksi nyata. Dan ini merupakan tanggung jawab semua lapisan masyarakat
untuk menyelamatkan alam demi kehidupan masa depan. ***

*)
Mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah - Fakultas Sastra,
Universitas Sumatera Utara - Medan
Email : kap_jho@yahoo.com

Acara penyerahan piala dan


presentasi nominator
pemenang lomba menulis
“Arti Penting TNGL sebagai Situs
Warisan Dunia” diadakan di
Kantor Balai Besar TNGL
Medan, 14 Juli 2008.

Nominator pemenang wajib


membacakan resume tulisan
yang mereka ikutkan dalam
lomba menulis TNGL dan
‘berhadapan’ dengan para
Dewan Juri

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


12
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
Juara II
Kategori Mahasiswa

Memaknai Keberadaan TNGL Sebagai World Heritage

*)
Rahmad Lingga

J
ika berbicara mengenai Taman Nasional Gunung Leuser,
ada satu ungkapan yang sudah sangat mengakar kuat
di benak kita. “ TNGL adalah paru-paru dunia “. Paru-
paru, merupakan organ tubuh yang berfungsi mengambil
oksigen dari luar sistem tubuh dan mengeluarkan CO2
sebagai sisa buangannnya. Jika TNGL dianggap sebagai
paru-paru dunia maka ada sedikit yang mengganjal; TNGL
dan KEL (Kawasan Ekosistem Leuser) bukan menyerap oksigen
akan tetapi mensuplai O2 keluar sistem dan mengambil CO2
dari luar. Jadi ungkapan tersebut sebenarnya kurang tepat
dan terkesan berlawanan arti dengan fungsi TNGL
sebenarnya. Akan tetapi sekarang TNGL memiliki julukan baru; Tropical Rainforest
Heritage of Sumatra. Yang mana branding baru ini kemungkinan akan memberi arti
yang baru dan lebih proporsional.

Mengacu kepada begitu besar dan tingginya kebesaran nama dari taman nasional
yang resmi ditetapkan sebagai World Heritage Site pada tahun 2004 lalu ini, tentu
meninggalkan segudang pertanyaan tentang bagaimana sebenarnya keberadaan
ekosistem taman nasional ini, peranan, dan bagaimana kondisi alami di dalamnya.

Berdasarkan SK. Menteri Kehutanan No 276/Kpts-II/1997 luas TNGL adalah 1.094.692


hektar. Dengan luas wilayah sebesar ini, TN Gunung Leuser berkembang menjadi sebuah
primadona sebagai kawasan yang menyimpan kekayaan alam yang tidak terhitung
jumlahnya. Sulit untuk mengupas secara rinci peranan serta manfaat dari TNGL tersebut.
Setidaknya harus dibagi beberapa aspek penting untuk memudahkan penjabarannya.
Aspek lingkungan dan kekayaan hayati agaknya merupakan segi terbesar yang dapat
disumbangkan oleh taman nasional yang sebagian besar wilayahnya berada di Propinsi
NAD dan Sumut ini. Karena memang hal tersebut yang paling banyak dibicarakan oleh
banyak pihak.
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
13
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
Bank Megabiodiversity

Berbicara mengenai kekayaan sumberdaya hayati, tentu bukan merupakan sesuatu


yang mengejutkan bagi kita. Indonesia dianggap menjadi salah satu penyimpan
biodiversity tertinggi setelah Brazil, utamanya kekayaan hayati tropis. Tetapi, kita akan
lebih dapat memaklumi hal di atas apabila mengambil contoh yang lebih konkrit dan
terperinci seperti TNGL ini. Daya dukung alami yang dimiliki oleh ekosistem Leuser telah
menjaring sekurang-kurangnya lebih dari 4.000 jenis flora khas daerah tropik bercurah
hujan tinggi. Leuser berada pada lintasan pegunungan terpanjang di Indonesia, yaitu
Bukit Barisan. Curah hujan rata-rata yang mencapai 1.200-1.800 mm/tahun telah
mengilhami hidupnya 20% jenis bunga Rafflesia di sini. Bunga terlebar di dunia ini selalu
menjadi daya tarik tersendiri dari kehidupan alami dari hutan daerah equatorial,
utamanya Indomalaya. Demikian kayanya akan jenis flora, sehingga banyak yang
menggangap bahwa TNGL bagaikan laboratorium alami tiada batas, karena diyakini
kawasan ini juga menyimpan sejumlah besar tanaman obat yang bermanfaat (Brima
Combe , 1996 ).

Sebagaimana lazimnya kondisi hutan tropis yang alami dan memiliki daya dukung yang
tinggi, keberadaan fauna di Leuser juga begitu mengundang decak kagum. Daftar
kekayaan fauna seolah tidak pernah menempatkan kawasan yang pada tahun 1981
ditetapkan sebagai Biosphere Reserve ini, di luar kelas unggulan. Leuser merupakan
habitat dari fauna-fauna utama seperti aves, amfibia, reptilia, serta mamalia yang
begitu tinggi. Tercatat sekitar 380 jenis aves, 120 jenis mamalia beserta invertebrata lain
yang menambah lengkapnya pesona kawasan ini. Pongo abelii merupakan primata
yang begitu lekat dengan taman nasional ini. Disamping keberadaan harimau sumatera
(Panthera tigris sumatrae) yang masih dapat ditemui keberadaannya disaat 2 kerabat
dekatnya, yakni harimau jawa dan harimau bali hanya tinggal kenangan. Gajah
sumatera, badak, owa, kedih adalah fauna lain andalan dari Leuser.

Logika sederhana bahwa akar tanaman dapat menyimpan dan mempertahankan


keberadaan air telah pula menaikkan passing grade dari TNGL. Suplai air bersih terhadap
kurang lebih 4 juta orang yang hidup disekelilingnya menjadi bukti nyata bahwa peranan
kawasan ini begitu besar dan luas. Pengendalian dampak dari melimpahnya air pada
Bulan September sampai November yang biasanya curah hujan sangat tinggi adalah
fungsi lain dari keberadaan hutan di dalam kawasan.

Pengaruh Sosial Ekonomi

Ajaran teologi berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada di alam merupakan
karunia Tuhan bagi manusia yang ditunjuk-Nya sebagai Khalifah (penguasa). Pernyataan
ini sepatutnya menjadi dasar utama bagi seluruh pihak, bahwa TNGL memiliki kaitan
yang erat dengan masyarakat sekitar. Tentunya mudah untuk memaknainya. Apabila
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
14
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
mengasumsikan separuh dari jumlah penduduk yang tinggal di sekeliling TNGL
berkepentingan aktif dengan seluruh aset yang dikandung Leuser, akan terbukalah
sebuah wacana baru nan luas tentang pentingnya kawasan ini. Lantas kenapa
berasumsi demikian? Tentunya tidak terlepas dari branding masyarakat Indonesia yang
agraris. Masyarakat agraris sangat bergantung kepada daya dukung lahan pertanian.
Leuser secara ekologis menjadi buffer iklim lokal yang mendukung pertanian. Belum lagi
masih begitu besarnya ketergantungan masyarakat tradisional pada bermacam-
macam sumberdaya hutan.

Ke depannya diharapkan motif ekonomi masyarakat terhadap keberadaan Leuser akan


lebih luas. Ekowisata, sekarang menjadi alternatif perekonomian baru yang menjanjikan
bagi masyarakat meskipun mungkin tidak akan dapat menjamah perekonomian
masyarakat secara luas layaknya pertanian. Tangkahan sepertinya dapat menjadi
contoh yang baik tentang bagaimana memanfaatkan keberadaan TNGL berikut
kekayaan sumberdaya hayati untuk mendukung perekonomian masyarakat, tentunya
dalam batasan yang sempit. Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) yang bertindak
sebagai pengelola berhasil menawarkan paket wisata alam kepada khalayak luas,
meskipun masih dominan paket yang berbau educative tourism. Di kawasan seluas
±10.000 hektar ini tersedia berbagai jenis paket wisata alam seperti tracking, wisata
patroli gajah, arung jeram, wisata air panas, dan lain-lain. Di kawasan ini masyarakat
dapat merasakan bahwa keberadaan hutan yang masih alami dapat memberikan
manfaat yang nyata tanpa harus merusaknya. Perluasan areal perkebunan sawit yang
beberapa waktu lalu begitu marak di sini setidaknya dapat sedikit ditekan denga adanya
alternatif bisnis ini. Sehingga akan ada semacam two way benefit; keberadaan
ekoturisme di satu pihak membantu perekonomiam masyarakat dan di lain pihak
masyarakat menjadi penjaga sukarela untuk kelestarian hutan tersebut.

Media Diplomasi

Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) yang diadakan di Rio de Janeiro, Brazil, Juni
1992 merupakan suatu pegangan yang tepat dalam memaksimalkan arti penting dari
keberadaan TNGL. Di saat Protokol Kyoto banyak dibicarakan, pemikiran-pemikiran
tentang globalisasi lingkungan dan sumberdaya hayati semakin berkembang pula.
Layaknya, KTT Bumi 1992 yang bertema” Think Globally, Act Locally ”, penekanan akan
perlunya semangat kebersamaan (multilateralisme) untuk mengatasi berbagai masalah
pembangunan yang berkelanjutan dan pelestarian sumberdaya hayati semakin dituntut
keberadaannya. Lantas bagaimana posisi dan peranan TNGL dalam hal ini?

TNGL dengan luas kawasan yang sangat besar dibarengi dengan berlimpahnya
sumberdaya di dalamnya, sepatutnya menjadi nilai jual yang tinggi dalam era
globalisasi lingkungan sekarang ini. Sedikit banyaknya asa akan terealisasinya
kesepakatan-kesepakatan yang telah dihasilkan dalam banyak konvensi mengenai
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
15
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
lingkungan, perubahan iklim, dan lain sebagainya menjadi semakin jelas arahnya.
Konvensi yang membahas tentang perubahan iklim menghendaki semua negara
berperan serta dalam menaggulangi dampak yang ditimbulkannya secara bersama-
sama. Tingginya konsentrasi gas rumah kaca sebagai produk buangan industri di
atmosfer telah menjelma menjadi monster yang menakutkan bagi kondisi iklim.
Pemanasan global telah merangsang ‘pemekaran’ air laut serta mencairnya
pegunungan es di kutub. Fenomena inilah yang menimbulkan dampak besar bagi
negara-negara di kawasan tropik. Terhalangnya air sungai sampai ke muara lautan akan
menyebabkan banjir di dataran rendah seperti pesisir timur Sumatera. Kemudian, hal
yang paling mencemaskan adalah perubahan iklim yang akan menghancurkan pola
pertanian masyarakat tropis yang masih tradisional. Pengeringan air akibat naiknya suhu
permukaan bumi menjadi masalah pertanian terbesar saat ini. Permasalahan inilah
yang harus disikapi secara arif dan bijaksana.

Negara-negara berkembang yang umumnya memiliki hutan yang luas sebagai


penyerap emisi karbon negara industri, telah melihat pentingnya suatu payung hukum
yang diakui secara global tentang pemeliharaan situs-situs alami. Negara-negara
industri sepatutnya membayar insentif buangan karbon kepada ”negara hutan” untuk
pemeliharaan hutan mereka. Nah, TNGL sebagai salah satu aset yang dimiliki Indonesia
dapat dijadikan ”senjata ampuh” untuk memaksa negara-negara maju agar mematuhi
kesepakatan di atas. Tentunya, haruslah dibarengi dengan pemeliharaan taman
nasional ini secara profesional.

Keterlibatan NGO internasional akan memuluskan harapan tersebut. Berbagai proyek


pengelolaan Leuser yang melibatkan NGO internasional dapat meyakinkan negara-
negara industri tentang komitmen kita dalam mempertahankan agar ekosistem ini tetap
menjalankan fungsinya sebagai buffer iklim global. Paru-paru dunia ini harus tetap dijaga
keutuhannya. TNGL, sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya memegang
peranan yang cukup luas. Upaya-upaya pelestarian TNGL tentu bukan hal sepele dan
pekerjaan yang mudah. Pemerintah sebagai induk dari semua kebijakan menjadi motor
utama tugas ini. Dukungan pihak lain menjadi terasa sangat penting untuk melakukan
upaya-upaya tersebut. Kemitraan menjadi hal yang sangat urgent dan tak terelakkan.
YLI, YEL, SOS-OIC, bersama beberapa lembaga swadaya masyarakat lain telah banyak
mendukung upaya-upaya konservasi kawasan ini. Hal inilah yang paling diharapkan
menjadi channel proses diplomasi lingkungan global yang paling efektif karena
pendanaan dari luar negeri telah menyokong banyak program kerja organisasi non-
pemerintah tersebut selama ini. Hanya saja, bentuk aliran dana tersebut masih bersifat
sukarela, belum dalam konteks ”iuran wajib” seperti yang kita harapkan.

Memaknai Secara Menyeluruh

World Heritage Site, adalah penghargaan tertinggi terhadap suatu tempat/ situs tertentu
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
16
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
yang mempunyai arti dan nilai yang sangat tinggi bagi dunia. Melihat sejenak ke dalam
pengertian tersebut, dapat memberikan gambaran betapa besar nilai yang dikandung
oleh TNGL. Berbicara dari sudut ekologisnya, akan kita dapati peranan yang sangat luas
dan keterkaitan dengan daerah sekitar maupun kondisi lingkungan global yang
demikian kompleks. Aspek sosioekonomi yang disokong oleh keberadaan taman
nasional pertama yang ditetapkan statusnya ini sedikit banyaknya telah diungkapkan di
atas. Malah berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh Beukering pada tahun 2003
menyebutkan bahwa KEL (termasuk didalamnya ada kawasan TNGL) memiliki nilai
ekonomi sebesar USD 7 milyar ( jika terdeforestasi), USD 9,5 milyar( bila dikonservasi), serta
USD 9,1 milyar (bila dikelola secara arif).

Untuk dapat memahami makna dan arti penting dari keberdaan TNGL, terlebih setelah
dijadikan sebagai World Heritage Site, dibutuhkan suatu pemahaman yang menyeluruh.
Kenapa demikian? Perkembangan pengetahuan tentang fenomena lingkungan global
dimana seluruh komponen lingkungan berinteraksi secara integral dan saling terkait satu
sama lain. Hal ini telah pula memperluas wawasan bahwa dalam mengelola suatu
ekosistem yang masih alami seperti TNGL sepatutnya semua pihak memiliki tanggung
jawab yang sama. Sebagaimana telah berusaha diangkat ke permukaan oleh para
pihak yang turut serta dalam beberapa konferensi lingkungan bahwa seluruh negara
harus bekerja sama dalam pemeliharaan lingkungan. Tetapi, masalah baru akan timbul
ketika kita sebagai ”tuan rumah” tidak berhasil membuat suatu program pemeliharaan
yang komprehensif. Leuser tanpa disadari telah menjadi perhatian segenap negara.
Apabila nantinya Protokol Kyoto telah berhasil untuk direalisasikan, maka tantangan
pengelolaan Leuser akan semakin kompleks. Namun demikian, di lain pihak, TNGL akan
mampu menjadi sumber devisa dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat
sekitar kawasan melalui program-program yang bersifat multifungsional.

TNGL yang merupakan penjelmaan dari usulan tokoh-tokoh Aceh, 93 tahun lalu, yang
melihat perlunya perlindungan kawasan hutan, akan berkembang menjadi suatu buffer
lingkungan global, pusat keanekaragaman hayati, edukasi, dan ekotourisme serta
mampu mengakomodasi keperluan hidup masyarakat sekitar kawasan. Tentunya,
seluruh pihak harus dapat menyatukan persepsi bahwa TNGL merupakan suatu kawasan
yang multifungsional berikut permasalahan pengelolaannya yang begitu kompleks. Ke
depan, kita berharap segala program pemeliharaan Leuser lebih terkoordinasi dan
memiliki arah yang lebih baik. Sehingga TNGL tetap layak menyandang dua gelar
sekaligus; paru-paru dunia dan World Heritage Site.***

*)
Mahasiswa Jurusan Biologi - Fakultas MIPA, Universaitas Sumatera Utara, Medan
Email : rahmadlinggamad@yahoo.com

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


17
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
Juara III
Kategori Mahasiswa

TNGL Warisan Dunia untuk Anak Cucu Kita


yang Harus Dijaga Kelestariannya
*)
Ery Suhaymi

T
aman Nasional Gunung Leuser (selanjutnya disingkat
TNGL) mempunyai keanekaragaman hayati yang
tinggi dan merupakan salah satu kawasan
perlindungan flora dan fauna terbesar di Asia Tenggara dan
suaka alam tropis terbesar dan terkaya di dunia. Selain itu,
TNGL merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan pantai,
dan hutan hujan tropika dataran rendah sampai
pegunungan. Potensi tersebut menjadi daya tarik bagi
wisatawan, ilmuwan dan kalangan pelajar/mahasiswa yang
ingin menikmati dan meneliti kekayaaan alam dan
keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya, terbukti
TNGL merupakan laboratorium alam yang kaya dan salah satu stasiun riset terbesar dan
telah lebih dari puluhan tahun tetap menjadi lokasi yang menarik minat peneliti
mancanegara sampai saat ini

Taman Nasional Gunung Leuser yang resmi pertama kali ditunjuk sebagai taman
nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian pada tahun 1980 ini terletak di
Propinsi Naggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara, meliputi hutan rawa di pantai
barat Aceh hingga ke kawasan hutan lebat tropis yang berada di dataran rendah bagian
tengah. Dengan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah (lowland tropical rain
forest), kawasan ini mempunyai ekosistem yang unik yang berbeda dibandingkan
dengan kawasan taman nasional lainnya yang ada di Indonesia. Masyarakat dunia
menyebut Taman Nasional Gunung Leuser sebagai salah satu paru-paru dunia.

Tidak sampai di situ, pemerintah Indonesia pun mengusulkan kepada UNESCO-Komite


Warisan Dunia, salah satu badan PBB yang bermarkas di Paris, agar keunggulan potensi
alam dan keanekaragaman hayati TNGL masuk ke dalam Warisan Dunia (World
Heritage). Dan pada tahun 2004 pengakuan global terhadap TNGL inipun berlanjut

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


18
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
dengan ditetapkannya TNGL oleh UNESCO-Komite Warisan Dunia sebagai Tropical
Rainforest Heritage of Sumatra, bersama-sama dengan Taman Nasional Kerinci Seblat,
dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Potensi dan Keadaan Fisik

TNGL dan kawasan lansekap di sekitarnya seluas 2 juta hektar yang disebut sebagai
Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), merupakan kawasan hutan tropis yang kaya
biodiversitas. TNGL merupakan habitat dari sejumlah besar spesies fauna mulai dari
mamalia, burung, reptilia, amfibia, ikan, dan invertebrate. Kawasan ini memiliki daftar
spesies burung yang panjang, dimana dari 380 spesies burung yang ada (65% dari total
jumlah spesies burung di seluruh Pulau Sumatera), 350 diantaranya tinggal di kawasan ini.
Di TNGL juga terdapat 36 dari 50 jenis burung endemik di Sundaland. Hampir 65% atau
129 spesies mamalia dari total 205 spesies (mamalia besar dan kecil) di Sumatera
tercatat tinggal di taman nasional ini. Di taman nasional ini terdapat habitat beberapa
satwa langka dan dilindungi antara lain mawas/orangutan (Pongo abelii), siamang
(Hylobates syndactylus), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), badak
sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae),
kambing hutan (Capricornis sumatraensis), rangkong (Buceros bicornis), rusa sambar
(Cervus unicolor), dan kucing hutan (Prionailurus bengalensis sumatrana).

Tidak hanya keanekaragaman fauna saja yang terdapat di taman nasional yang hampir
seluruh kawasannya ditutupi oleh lebatnya hutan Dipterocarpaceae ini, namun juga
kekayaan jenis flora di taman nasional ini diperkirakan mencapai sekitar 3.500 jenis flora.
Dan diantaranya terdapat tumbuhan langka dan khas seperti daun payung raksasa
(Johannesteijsmannia altifrons), bunga raflesia (Rafflesia atjehensis dan Rafflesia
micropylora) serta Rhizanthes zippelnii yang merupakan bunga terbesar dengan
diameter 1,5 meter. Selain itu, terdapat tumbuhan yang unik yaitu ara atau tumbuhan
pencekik.

Dengan ketinggian lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut menyebabkan hutan
di kawasan taman nasional ini kaya dengan tanaman anggrek. Potensi lain dari TNGL
adalah keindahan panorama alamnya, di dalam wilayah taman nasional mengalir
Sungai Alas yang banyak digunakan wisatawan untuk kegiatan olahraga arung jeram.
Penggemar olah raga arung jeram dapat mencoba keganasan Sungai Alas yang
mengalir menuju Kabupaten Aceh Selatan sambil menikmati panorama keindahan
alam hutan tropis Aceh dan perkampungan rakyat tradisional. Beberapa lokasi/ obyek
yang menarik untuk dikunjungi di taman nasional ini antara lain Gurah, Bahorok, Kluet,
Ketambe dan Suak Belimbing , dan masih banyak tempat wisata lain. Selain potensi
wisata yang ada, TNGL merupakan salah satu sumberdaya air yang mensuplai air bagi
sekitar 4 juta masyarakat yang tinggal di NAD maupun Sumatera Utara.

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


19
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
TNGL Sebagai Warisan Dunia

Dengan berbagai keanekaragaman hayati dan kekayaan flora dan fauna yang ada,
TNGL tercatat merupakan salah satu suaka alam tropis terbesar dan terkaya di dunia.
Pelestarian kawasan TNGL yang luasnya lebih dari 1 juta hektar ini tentu bukan pekerjaan
yang mudah dan sederhana. Perlu dukungan dari banyak pihak yang memiliki
kepedulian, bukan hanya pemerintah melalui instansi terkait tetapi juga perlu adanya
dukungan dari semua pihak, baik masyarakat sekitar, masyarakat umum, maupun pihak
swasta. Sebagai warisan dunia, TNGL juga menjadi tanggung jawab kesadaran dan
kerjasama kolektif internasional, masyarakat internasional juga ikut mendukung upaya
pelestariannya.

Saat ini, Conservation Internasional telah mengidentifikasi 25 kawasan hotspot di seluruh


dunia. Lima belas dari 25 hotspot terdapat di kawasan hutan hujan tropis. Dua hotspot
terdapat di Indonesia yaitu Sundaland dan Walacea Hotspot. Kawasan Sundaland
hotspot meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan. Kawasan TNGL dan kawasan lindung
disekitarnya merupakan salah satu dari kawasan hotspot di Sumatera. Inilah posisi
strategis TNGL dalam kancah konservasi global.

TNGL sebagai salah satu dari 812 Warisan Dunia yang tersebar di 180 negara diseluruh
dunia, mempunyai peran yang sangat strategis dalam memanfaatkan jaringan global
(global network) untuk upaya pelestarian taman nasional ini. TNGL harus dikelola secara
profesional dengan menggunakan network sebagai kendaraan untuk mendorong
terbangunnya leadership dan manajemen yang lebih efektif, membangun kerjasama
dalam upaya pelestarian dan pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang
upaya konservasi dan pelestarian TNGL itu sendiri. Jaringan global ini juga mempunyai
fungsi sebagai sarana kampanye global yang sangat efektif terhadap persoalan-
persoalan yang ada untuk diangkat ke skala global agar menjadi perhatian komunitas
global.

Melalui jaringan global dan collective awareness seperti inilah yang diharapkan menjadi
sarana untuk mempertahankan, melestarikan dan menyongsong masa depan
konservasi TNGL di masa yang akan datang yang penuh dengan tantangan dan
ketidakpastian.

Perlu berbagai upaya agar TNGL tetap terjaga sebagai paru-paru dunia dan warisan
dunia yang tetap prima dan terjaga kelestariannya, beberapa upaya tersebut antara
lain:

1. Membangun kepercayaan dunia


TNGL sebagai warisan dunia merupakan bagian dari Konvensi Warisan Dunia yang
bertujuan melestarikan kekayaan alam yang penting bagi kesejahteraan manusia.
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
20
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
Penunjukan TNGL sebagai salah satu dari 20 Taman Nasional Model di Indonesia yang
dimulai pada tahun 2007 merupakan bukti komitmen Pemerintah dalam hal ini
Departemen Kehutanan merespon perkembangan pengelolaan TNGL terkait dengan
statusnya sebagai warisan dunia. Hal ini menggambarkan keseriusan pemerintah dalam
melestarikan dan menjaga taman nasional ini sebagai warisan dunia sehingga jika hal ini
tetap konsisten terlaksana dan terwujudkan, maka bukan hal mustahil kepercayaan
dunia terhadap komitmen pemerintah Indonesia dalam melestarikan TNGL tetap
terjaga. Dengan demikian kerjasama dengan pihak-pihak asing dalam pengelolaan
TNGL dapat berjalan dengan mudah, seperti investasi pada titik-titik strategis dalam
pembangunan dan pengembangan ekowisata, perlengkapan sarana dan prasarana
baik untuk pelestarian maupun laboratorium riset yang saat ini dirasakan masih kurang
dan belum memadai serta belum dioptimalkan secara baik. Untuk itu kepercayaan
masyarakat internasional perlu kita bangun guna menunjang misi pelestarian taman
nasional ini ke depannya.

2. Penegakan hukum
Hal ini sangat diperlukan karena sumberdaya hayati yang paling banyak dieksploitasi
pemanfaatannya adalah sumberdaya yang terdapat dalam ekosistem hutan hujan
yang terletak di dataran rendah. Dari segi ekonomi, memang ekosistem hutan
semacam inilah yang dapat mendatangkan keuntungan terbesar karena mengandung
kekayaan paling tinggi yang disebabkan oleh adanya keanekaragaman hayati yang
terbesar pula. Di dalam hutan semacam ini tumbuh berbagai jenis kayu yang bernilai
ekonomis tinggi, maka tak jarang jika taman nasional ini menjadi sasaran para pelaku
illegal logging di negeri ini.

Secara internasional, Indonesia berfungsi sebagai paru-paru dunia dan dianggap


signifikan mempengaruhi iklim dunia. Selain itu, sebagai sumber keragaman hayati
dunia, hutan Indonesia telah menjadi perhatian untuk dipertahankan keberadaannya.
Oleh karena itu, penegakan hukum dalam penyelesaian persoalan taman nasional
perlu melibatkan beberapa pihak kunci yaitu TNGL, kepolisian, kejaksaan dan
pengadilan. Efektifitas penegakkan hukum sangat dipengaruhi oleh faktor komitmen
dan tingkat sinergitas antar lembaga penegak hukum tersebut.

3. Kerjasama pengelolaan
Untuk menjaga kelestarian flora dan fauna kawasan taman nasional, perlu dilakukan
upaya kerjasama berbagai instansi baik secara lintas sektoral maupun lintas program. Di
dalam kawasan TNGL hidup empat jenis hewan yang termasuk paling langka di dunia
yaitu harimau, badak, gajah dan orangutan. Untuk menjaga kelangsungan hidup dan
pelestarian satwa langka tersebut perlu upaya kerjasama pengelolaan antar lembaga,
baik dengan lembaga swadaya masyarakat dalam negeri maupun luar negeri yang
fokus pada masalah pelestarian lingkungan hidup dan pelestarian satwa langka. Upaya
kerjasama tersebut dapat direalisasikan dalam beberapa program kerjasama seperti:
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
21
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
program penyelamatan terhadap satwa langka, program konservasi satwa langka,
program pencegahan dan penaggulangan kebakaran hutan, program reintroduksi
orangutan sumatera, program keanekaragaman hayati daratan dengan tujuan untuk
meningkatkan pemahaman dan kemampuan berbagai institusi yang terlibat dalam
pengelolaan taman nasional, serta masih banyak program kerjasama lain yang dapat
dilakukan guna menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati yang ada di taman
nasional ini.

Penutup

TNGL sebagai salah satu dari 812 Warisan Dunia yang tersebar di 180 negara di seluruh
dunia mempunyai posisi strategis di tatanan global yang perlu dimanfaatkan untuk
membangun global network. Kerjasama mutlak diperlukan untuk pelestarian taman
nasional ini dan ini sekali lagi bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, instansi
terkait atau masyarakat adat yang berada di sekitarnya, tetapi menjadi tanggungjawab
kita bersama bahkan masyarakat Internasional sekalipun. Untuk itu kita bisa mulai dari diri
sendiri dengan upaya kecil tapi jika kita lakukan bersama maka akan menjadi upaya
yang besar yang akan membawa dan menjaga TNGL ini agar tetap lestari dan memberi
banyak manfaat bagi masyarakat sekitar, negara, bahkan dunia internasional. Karena
TNGL bukan saja milik kita semata tetapi milik masyarakat Internasional yang harus kita
jaga kelestariannya sampai kita wariskan kelestariannya kepada anak dan cucu kita,
untuk itu mari kita bersama menjaga kelestariannya.***

*)
Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara - Medan

Bahan Rujukan

Anonim. 2003. Buku Informasi Taman Nasional Bukit Tigapuluh; Balai Taman Nasional Bukit
Tigapuluh; Prop. Riau; 2003
Budiman, C; Pengantar Kesehatan Lingkungan; EGC; Jakarta; 2007
http://www.gunungleuser.or.id/artikel_leuser_warisan_dunia.htm
http://www.gunungleuser.or.id/biodiversitas.htm
http://www.tamanmini.com/anjungan/nad/pariwisata/taman_nasional_gunung_leuser
http://www.conservation.or.id/home.php?modul=news&catid=35&tcatid=420&page
=g_news.detail
http://www.conservation.or.id/home.php?modul=news&catid=24&tcatid=400&page
=g_news.detail

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


22
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
Juara I
Kategori Pelajar

Kalau Bukan Kita,...Lantas Siapa Lagi?

Ardhy Dinata Sitepu*)

D
ulu Leuser begitu indah, gemericik air dan lika-liku
sungai yang mengalir di lerengnya yang berair jernih
nan sejuk dihiasi air terjun kecil membuat kawasan
Taman Nasional Gunung Leuser begitu nyaman. Kicauan
burung dan suara hewan lainnya bagai sahut-menyahut
membentuk aura khas Taman Nasional Gunung Leuser,
apalagi ketika menginjakkan kaki di sana kita sudah disambut
oleh segerombolan orangutan yang benar-benar
merupakan pemandangan langka untuk kita saksikan. Bukan
hanya itu, Taman Nasional Gunung Leuser juga menjanjikan
akan kesejukan udara pegunungannya yang mampu
memikat setiap orang yang menginjakkan kakinya di sana.
Apalagi nun jauh di bawah sana, mata kita akan disegarkan
kembali oleh panorama indah objek wisata Bukit Lawang yang telah tersohor hingga
mancanegara akan keindahannya yang benar-benar menjanjikan dan memuaskan
bagi mereka yang mengunjunginya. Tapi sayang, sekarang Leuser telah berubah,
jangankan hanya sekedar mendengar kicauan burung di pagi hari, untuk menghirup
udara segar saja, akan sulit untuk kita dapatkan.

Sepintas lalu, masalah itu seperti benang kusut, kita tak tahu dari mana harus
menyelesaikannya. Dengan berpikir positif, masalah akan terlihat seperti anak tangga,
kita tahu dari mana kita harus menyelesaikannya. Mulai sekarang kita tak usah lagi sok
sibuk memikirkan bagaimana kita akan membenahi kerusakan Leuser karena betapa
banyak orang yang sibuk memikirkan tentang Leuser, tapi sangat jarang sekali orang yang
bisa berpikir positif dengan menghasilkan sebuah karya nyata, karya yang mulia, karya
yang benar-benar membuahkan hasil yang berguna bagi seluruh umat manusia. Tapi
kenyataannya apa yang kita harapkan belumlah bisa menjadi kenyataan, entah apa
yang sedang dipikirkan oleh mereka-mereka; apakah uang, jabatan dan penghargaan
begitu penting di mata mereka sehingga untuk berpikir positif saja tidak mampu mereka
lakukan, padahal sebenarnya hanya dengan berpikir positiflah kita akan mampu
melahirkan ide-ide yang berkualitas dan benar-benar bermanfaat bagi kita semua, “your
bliss and efficacy a lot of determined by your way of thinking” (keberhasilan dan
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
23
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
kebahagiaan anda banyak ditentukan oleh cara berpikir anda).

Tapi apa yang terjadi? Masih saja kita lihat orang-orang menjadikan sebuah proyek
pelestarian hutan beserta flora dan fauna yang ada di dalamnya sebagai ladang untuk
meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Tapi sudahlah, biarkan yang lalu tetap
berlalu dan mari kita menuju masa depan yang lebih cerah untuk menjadikan Leuser
seperti mimpi-mimpi anak negeri ini.

Perjuangan itu belum usai !

Dulu benang itu masih kusut sehingga kita tak tahu dari mana kita harus memulai tapi
dengan berpikir positif kita akan mampu membayangkan sebuah anak tangga
sehingga kita akan tahu dari mana kita akan memulai untuk menjadikan Leuser menjadi
sebuah warisan bagi dunia yang benar-benar layak untuk dijadikan sebagai warisan,
karena sekarang Leuser belumlah pantas untuk dijadikan sebagai warisan dunia.
Dengan usaha keras dari kita bersama, akan dapat menemukan arti penting Taman
Nasional Gunung Leuser, bukan hanya bagi masyarakat sekitar atau Indonesia, tapi bagi
seluruh dunia.

Manusia pada hakekatnya tidak ada yang sempurna, manusia memiliki kekurangan
yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang yang lainnya. Salah satunya yaitu
sifat malas; malas untuk memulai, malas untuk bekerja, malas untuk bertanggung jawab
dan malas untuk hidup maju. Sebenarnya manusia memiliki keunggulan di muka bumi
ini, tapi sayang keunggulan itu seakan sengaja disembunyikan sehingga menjadikan
manusia menjadi seorang yang futur (lemah semangat). Ketika melihat hutan yang
sedang parah-parahnya dihancurkan oleh manusia-manusia yang tidak bertanggung
jawab, kita hanya bungkam seribu bahasa dan hanya dapat mengatakan, ”Ah itukan
pekerjaan pemerintah dan para penjaga hutan, ya kalau kita ngapain repot-repot”.
Padahal kalau kita lihat kenyataan di lapangan, jumlah dari penjaga hutan terutama
yang berada di Taman Nasional Gunung Leuser tidaklah sebanding dengan luas taman
nasional ini. Dan yang lebih parah lagi, jumlah para penjaga hutan ini juga tidak
sebanding dengan jumlah para perusak hutan, bahkan dapat dikatakan ‘perbandingan
itu sangat-sangat tidak sebanding’.

Dan di sini kita sebagai para pewaris Taman Nasional Gunung Leuser, tegakah kita
melihat Taman Nasional Gunung Leuser dirusak begitu saja tanpa ada belas kasihan
sedikitpun?

Kemarin, ketika saya melihat siaran di televisi tentang perjuangan seorang mantan
anggota GAM yang dengan kegigihannya berjuang untuk menyelamatkan Leuser dari
ancaman kepunahan, hati saya merasa tergugah dan ada sebuah keinginan untuk
berjuang dengannya menyelamatkan Leuser dari kehancuran. Salah satu anggota GAM
tersebut merasa sangat berhutang budi dengan hutan karena ketika masih menjadi
anggota GAM, hutanlah yang telah menyelamatkannya. Ketika ia lapar, hutan masih
saja menyediakan makanan untuknya; ketika ia haus hutan juga masih menyediakan air
yang melimpah untuknya dan ketika malam hari menutupi, lagi-lagi hutan memberikan

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


24
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
perlindungan untuknya. Sehingga tidak ada alasan baginya untuk tidak menjaga hutan
di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

Tapi pengorbanan hutan yang begitu besar belum mampu menyentuh hati kita
bersama untuk sekedar tergugah dan mau melindungi hutan dengan segenap tenaga
yang kita miliki, padahal dengan adanya hutan, gas CO2 yang berkeliaran di udara yang
sangat berbahaya bagi kehidupan manusia dapat diserap dan dengan adanya hutan
kita juga dapat merasakan udara yang sejuk karena hutan telah mengatur sirkulasi udara
di bumi ini. Coba kita bayangkan bagaimana keadaan bumi ini jika hutan sudah rusak,
mungkin untuk sekedar menghirup udara yang segar saja kita harus mengeluarkan kocek
yang tidak sedikit jumlahnya. Tapi lagi-lagi manfaat hutan yang begitu besar kepada kita
belum mampu menggugah hati kita bersama. Apakah barangkali ketika keadaan hutan
sudah sangat parah baru kita dapat menyadarinya?

Saya bangga melihat aksi salah satu mantan anggota GAM tersebut. Melihat sebuah
karya nyata dan kegigihan darinya menjadikan saya sadar akan perjuangan dan juga
tentang hakekat pejuang itu sendiri, karena pejuang bukanlah sekedar omongan,
pejuang bukanlah penipu, penipu terhadap diri sendiri dan orang banyak, pejuang
bukanlah pengakuan seseorang, tapi pejuang adalah kepribadian, kepribadian yang
berani, berani bertanggung jawab dan bijaksana. Pejuang adalah marah, marah jika
hutan dirusak, pejuang adalah malu, malu jika merusak hutan, malu merusak melulu.
Dan saya sadar, pejuang itu bukanlah hanya mantan anggota GAM itu sendiri tapi
pejuang itu adalah saya, anda dan kita semua membentuk sebuah karya nyata bagi
banyak orang, bagi bangsa dan bagi Indonesia.

Saya yakin, bahkan sangat yakin, bahwa hanya dengan kesadaran yang tinggi kita
dapat menciptakan Leuser seperti mimpi-mimpi anak negeri ini. Dan kesadaran itu harus
ditanamkan kepada setiap orang dengan menanamkan keyakinan bahwa kita semua
adalah pejuang dan perjuangan itu belum selesai.

Sistem Patroli Bersama

Seperti yang saya katakan tadi, bahwa kita ini adalah pejuang dan pejuang itu bukan
hanya pemerintah, penjaga hutan ataupun para anggota GAM. Tapi pejuang itu adalah
saya, anda dan kita semua oleh sebab itu menjaga hutan adalah kewajiban kita
bersama. Kalau sekarang para penjaga hutan yang selalu melakukan patroli rutin untuk
menjaga hutan dari kehancuran, tapi mengingat kita semua adalah pejuang maka
sudah sepantasnyalah kita juga ikut serta dalam menjaga hutan di kawasan Taman
Nasional Gunung Leuser.

Hutan begitu membutuhkan uluran tangan kita, dan saya rasa jika hanya para penjaga
Leuser saja yang peduli terhadap kelestarian hutan di kawasan Taman Nasional Gunung
Leuser maka keadaan yang kita alami sekarang akan sulit dihentikan. Saat-saat hutan
berada di puncak kehancuran, dan demi menanggulangi itu, sudah sepantasnyalah
kita menumbuhkan kesadaran dalam diri kita dan di sini sistem patroli bersama agaknya
adalah pilihan yang tepat dimana dalam sistem ini kita semua mempunyai peran yang

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


25
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia

Ia kan enak patroli


rame-rame

Pengen tahu nih, Para cukong aja


bagaimana berpatroli takut dekat kita
di Leuser

Bisa patroli
sambil wisata nih

sama untuk menjaga hutan. Bersama-sama menjaga dan menjaga bersama-sama,


serta tidak ada lagi yang mengatakan ”loe-loe, gue-gue”.

Sistem patroli bersama ini memang kedengaran asing di telinga kita, tapi dengan sistem
inilah kita akan mampu menjadikan Leuser benar-benar memiliki arti penting bagi kita
semua. Dan untuk menuju keberhasilan yang gemilang kita juga dituntut untuk berjuang
dengan sekuat tenaga. Sistem ini dapat dijalankan dengan melakukan patroli bersama
yang terdiri dari masyarakat sekitar ataupun masyarakat dari daerah-daerah yang
berada dekat dengan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser dimana setiap
masyarakat memiliki kewajiban untuk selalu melakukan patroli di hutan kawasan Taman
Nasional Gunung Leuser dan sistem penjalanan patroli ini dapat dilakukan seperti ketika
melakukan siskamling dengan mengatur jadwal bergiliran untuk menjaga Leuser. Tapi
ingat, jangan menjadikan hal ini mejadi sebuah kesempatan, dimana masyarakat yang
diharapkan untuk menjaga kawasan Taman Nasional Gunung Leuser jangan sampai
menjadi musuh bagi diri sendiri dengan menjadikan kesempatan menjaga menjadi
peluang besar untuk mencuri seperti kata pribahasa ”sambil nyelam minum air”.

Sistem seperti ini dilakukan bukan hanya oleh masyarakat sekitar tapi juga dapat
dilakukan oleh pemerintah, dimana pemerintah juga mempunyai jadwal sendiri dalam
jangka waktu yang telah ditentukan untuk mengunjugi dan melakukan patroli di kawasan
Taman Nasional Gunung Leuser sehingga antara pihak pemerintah, masyarakat sekitar
dan hutan dapat membentuk sebuah hubungan yang mampu menciptakan
komunikasi yang baik. Jangan seperti sekarang ini, untuk mengunjungi Leuser saja sangat
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
26
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
jarang sekali dilakukan oleh pemerintah sehingga bukan hanya hutan saja yang tidak
dapat dipantau, tapi juga pemerintah tidak dapat memantau para oknum-oknum
pegawainya yang masih saja membandel.

Dengan tegas saya katakan bahwa sistem ini akan sulit berjalan jika tidak ada undang-
undang yang mengaturnya. Ilustrasinya kira-kira begini “ ketika aku disuruh oleh ibu untuk
membersihkan rumah yang kotornya seperti rumah tikus ataupun bisa dikatakan tak jauh
beda dengan TPA di belakang rumahku, dengan berat hati terpaksa aku katakan ya saja
kepada ibu demi menjaga kesopanan. Tapi pekerjaan itu tak kunjung kulakukan,
keesokan harinya ibu kembali menyuruhku dengan ultimatum jika aku tidak juga
membersihkan rumah maka besok aku tidak diberi uang saku. Ya apa boleh buat,
pekerjaan itu terpaksa aku lakukan dan pada kenyataannya walaupun dengan
keterpaksaan pada awalnya, akhirnya rumahku bisa menjadi bersih dan kegiatan yang
kulakukan itu telah menjadi sebuah kebiasaan bagiku sehingga ketika lain waktu ibu
menyuruhku, pekerjaan itu bisa aku lakukan dengan senang hati”.

Sudah jelas bahwa undang-undang yang mengatur sistem patroli bersama ini benar-
benar harus dibentuk dan diharapkan bahwa nantinya undang-undang ini dapat
menjadi suatu kebiasaan bagi kita semua, tapi ingat jangan pernah menjadikan
kegiatan ini menjadi keterpaksaan, tapi jadikanlah pekerjaan ini menjadi sebuah
kebahagiaan sehingga kita dapat melakukannya tanpa beban sedikitpun. Dan
lakukanlah kebaikan itu setiap hari walau sederhana, niscaya hati kita akan bahagia.

Penutup

Mungkin sistem patroli bersama ini kelihatan sangat sederhana sehingga banyak orang
beranggapan akan sulit sekali mewujudkan impian anak negeri ini menjadi sebuah
kenyataan melalui sistem patroli bersama ini. Tapi ingat perkataan dari Storey, “ Anda
harus miliki keyakinan bahwa jika anda dapat melakukan hal- hal kecil dengan baik,
maka anda juga dapat mengerjakan hal-hal besar dengan baik pula”. Jadi jangan
pernah melupakan hal-hal yang kecil karena dengan sering melakukan hal-hal yang
kecil maka nantinya anda juga akan terbiasa melakukan hal-hal yang besar dan satu hal
yang penting prinsip ini harus ditanamkan di hati setiap orang, karena prinsip ini akan sulit
berjalan jika setiap orang belum mau menanamkan prinsip ini dalam dirinya dan perlu
kita ingat, kalau bukan kita yang menjaga Leuser, lantas siapa lagi?***

*)
Siswa SMU Negeri 2 Binjai - Sumatera Utara

Bahan Bacaan:

Denny, Richard. 1997. Sukses Memotivasi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.


HL, Satria. 2008. Total Motivation. PRO-YOU: Jakarta.

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


27
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
Juara II
Kategori Pelajar

Karena Leuser Adalah World Heritage

Muhammad Reza Fadil*)

D
i tahun 2004, akhirnya dunia telah melihat dan
menyadari sebuah keistimewaan besar yang ada di
bumi Sumatera. Surga dunia yang terpendam di
bumi Leuser akhirnya diakui sebagai Warisan (Alam) Dunia
oleh UNESCO-Komite Warisan Dunia. Usaha Pemerintah
Indonesia dalam mengusulkan bumi Leuser ini sebagai
World Heritage Site kepada salah satu badan PBB yang
bermarkas di Paris tersebut patut diacungkan jempol.
Penunjukan Leuser dilakukan dalam satu paket bersama TN
Kerinci Seblat, dan TN Bukit Barisan Selatan, dengan nama :
"Tropical Rainforest Heritage of Sumatera". Dengan menjadi
Warisan Dunia, maka Leuser sejajar dengan Yellowstone dan
Grand Canyon National Park di Amerika yang terkenal itu,
Galapagos di Equador, The Great Wall di RRC, Taj Mahal di India, dan seterusnya. Seperti
biasanya, banyak pertanyaan kritis dan sebagian juga sinis mengenai diakuinya Leuser ini
sebagai Warisan Dunia. Untuk apa dan apa manfaatnya bagi Indonesia? Apakah
kebijakan ini sekadar "ikut-ikutan" tren global, yang berlomba-lomba untuk mendapatkan
pengakuan global? Atau ada cerita di balik kebijakan pemerintah ini?

Pengertian “Warisan Dunia” menurut UNESCO (2004) memuat hal-hal sebagai berikut: (1)
Warisan Dunia dapat terdiri dari Warisan Alam dan Warisan Budaya, (2) Melestarikan
warisan yang tidak dapat digantikan dan warisan yang memiliki "Nilai Universal Istimewa",
(3) Perlu melindungi warisan yang tidak dapat dipindahkan, dan (4) Menjadi tanggung
jawab kesadaran dan kerja sama kolektif internasional.

Dengan telah terdaftarnya Taman Nasional Gunung Leuser sebagai World Heritage Site,
maka ini akan menjadi motivasi pemerintah untuk memperbaiki aspek-aspek
pendukung yang mewarnai Taman Nasional Gunung Leuser. Mulai dari perlindungan
flora dan faunanya, kebersihan lingkungannya, bahkan sampai kepada pemberdayaan
penduduk pribumi yang bertempat tinggal di Bumi Leuser itu sendiri.

Taman Nasional Gunung Leuser memiliki peranan penting bagi seluruh makhluk hidup
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
28
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
yang khususnya berada di Pulau Sumatera. Baik itu bagi manusia, hewan, maupun
tumbuhan, hal itu bisa terjadi karena;

Pertama, Leuser kaya akan keragaman hayati

Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu suaka tropis terbesar dan terkaya
di dunia. MacKinnon dan MacKinnon (1986) menilai Taman Nasional Gunung Leuser
memiliki skor tertinggi diantara kawasan konservasi di seluruh Indo-Malaya. Taman
Nasional Gunung Leuser merupakan habitat dari sejumlah besar spesies fauna mulai dari
mamalia, burung, reptiial, amfibia, ikan, dan invertebrate. Kawasan ini memiliki daftar
spesies burung yang panjang, di mana dari 380 spesies burung yang ada (65% dari total
jumlah spesies burung di seluruh Pulau Sumatera), 350 di antaranya tinggal di kawasan
ini. Di Taman Nasional Gunung Leuser juga terdapat 36 dari 50 jenis burung endemik di
Sundaland. Hampir 65% atau 129 spesies mamalia dari total 205 spesies (mamalia
besar dan kecil) di Sumatera tercatat tinggal di taman nasional ini. Taman Nasional
Gunung Leuser merupakan habitat dari orangutan sumatera (Pongo abelii), harimau
sumatera (Panthera tigris sumatrae), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), gajah
sumatera (Elephas maximus sumatranus), siamang (Hylobathes lar), leaf monkey
(Presbytis thomasi) dan lain-lain.

Pentingnya kawasan ini dibuktikan dengan ekspedisi van Steenis tahun 1937, dan
dilanjutkan dengan ekspedisi-ekspedisi lainnya, membuktikan kayanya keragaman
hayati taman nasional ini. Tidak kurang dari 4.000 spesies tumbuhan dapat dijumpai,
termasuk yang paling fenomenal adalah ditemukannya 3 dari 15 tanaman parasit yang
terkenal, yaitu jenis Rafflesia. Taman Nasional Gunung Leuser juga habitat jenis bunga
tertinggi di dunia yaitu Amorphophalus titanium. Komposisi vegetasinya tersebar dalam
berapa zonasi (menurut ketinggian dari permukaan laut), yaitu Coastal Vegetation,
Tropical Zone (0-1.000 m), Colline Sub-Zone, (500-1.000 m), Submontane Zone (1.000-
1500 m), Montane Zone (1.500-2400 m), Subalpine Zone (2.400-3.400 m), Mountain
Blang Vegetation (2.600-3.000 m), dan Anthropogenic Vegetatinon. Selain itu, taman
nasional ini juga tempat yang penting sebagai habitat tumbuhan obat .

Oleh karena itu Taman Nasional Gunung Leuser berperan penting sebagai habitat flora
dan fauna yang ada di dalamnya. Sungguh Leuser adalah surganya flora dan fauna.
Dengan melimpah ruahnya flora dan fauna ini, apa salahnya jika pemerintah
mengupayakan pembuatan sebuah Taman Wisata Flora dan Fauna di sekitar
pegunungan Leuser seperti halnya Taman Safari di Jawa Barat. Agar kiranya masyarakat
di Sumatera dapat menikmati nuansa Taman Safari ala Sumatera yang selama ini
mungkin sangat diidam-idamkan oleh masyarakat Sumatera, khususnya NAD dan
Sumut. Sekaligus menunjukkan kepada masyarakat bahwasanya Taman Nasional
Gunung Leuser pantas dijadikan sebagai World Heritage.

Kedua, Leuser kaya akan sumberdaya air

Taman Nasional Gunung Leuser merupakan hulu dari 10 daerah aliran sungai (DAS), yaitu
Sei Wampu, Sei Lepan, Sei Besitang di Provinsi Sumut; Lawe Alas, Kr Kluet, A Simpang
Kanan, Kr Tripa, Kr Baru, Kr Susok, dan Kr Batee di Provinsi NAD. Kesepuluh DAS ini
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
29
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
menyediakan suplai air bagi sekitar 4 juta masyarakat yang tinggal di NAD maupun
Sumatera Utara.

Hampir 11 kabupaten tergantung pada jasa lingkungan Taman Nasional Gunung Leuser,
yaitu jasa berupa ketersediaan air konsumsi, air pengairan, penjaga kesuburan tanah,
pengendali banjir, dan sebagainya. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Beukering, dkk
(2003), nilai ekonomi total KEL (termasuk didalamnya terdapat TNGL) dihitung dengan
suku bunga 4% selama 30 tahun adalah USD 7,0 miliar (bila terdeforestasi), USD 9,5
miliar (bila dikonservasi), dan USD 9,1 miliar (bila dimanfaatkan secara
lestari). Berarti Taman Nasional Gunung Leuser telah menyumbang keuntungan
kepada negara. Dan secara tidak langsung pula telah menjaga keseimbangan
kehidupan pada masyarakat di Pulau Sumatera.

Selain itu agar pemanfaatannya lebih optimal lagi, kiranya dibuat di masing-masing
aliran sungai arena pelatihan olahraga arung jeram sebagai sarana hiburan bagi
masyarakat Sumatera khususnya, bahkan mungkin saja dari upaya ini lahir atlet-atlet
arung jeram berbakat dari Sumatera khususnya Sumut yang dapat membawa nama
harum daerahnya di event-event nasional dan internasional, yang selama ini mungkin
tidak tersalurkan karena tidak adanya sarana.

Ketiga, Leuser telah memiliki Global Network

Kembali pada pertanyaan awal tentang manfaat ditetapkannya Taman Nasional


Gunung Leuser sebagai salah satu dari 812 Warisan Dunia yang tersebar di 180 negara di
seluruh dunia. Salah satu manfaat yang sangat strategis adalah pemerintah harus dapat
memanfaatkan jaringan global ini untuk upaya pelestarian Taman Nasional Gunung
Leuser. Dan hal ini sangat tergantung pada tingkat keseriusan site manager untuk
menggalang dukungan internasional. Dengan perubahan-perubahan yang dilakukan
sejak awal tahun 2005 misalnya, Balai Taman Nasional Gunung Leuser telah berhasil
mendapatkan dukungan dari World Heritage Center di Paris dan Pemerintah Spanyol,
melalui UNESCO Jakarta Office. Semua dukungan tersebut diinvestasikan ke dalam
Taman Nasional Gunung Leuser dalam berbagai bentuk penguatan kapasitas
kelembagaan dan dukungan infrastruktur yang selama ini sangat lemah. Nampaknya,
taman-taman nasional yang secara global diakui dan masuk ke dalam jaringan global,
seperti Cagar Biosfer atau Warisan Dunia ini harus dikelola secara profesional, dengan
menggunakan network sebagai kendaraan untuk mendorong terbangunnya leadership
dan manajemen yang lebih efektif.

Jaringan global yang terdiri dari berbagai pakar ini juga dapat dijadikan kendaraan untuk
negosiasi kebijakan, khususnya kebijakan yang kurang memihak atau bertentangan
dengan kebijakan konservasi. Jaringan global juga dapat berfungsi sebagai sarana
kampanye global yang sangat efektif sekaligus juga watchdog terhadap persoalan-
persoalan di site, untuk diangkat ke skala global, agar menjadi perhatian komunitas
global. Pembangunan jalan Ladiagalaska yang memotong Ekosistem Leuser, misalnya,
sekiranya dapat menjadi perbincangan global karena diperkirakan dampaknya
merusak dan berpengaruh langsung pada keselamatan Taman Nasional Gunung
Leuser. Ratusan pakar primata alumni Stasiun Riset Ketambe sejak 30 tahun lalu, yang
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
30
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
tersebar di seluruh dunia, sampai saat ini masih peduli akan keselamatan dan kelestarian
bukan saja stasiun risetnya, tetapi juga isu-isu seputar Taman Nasional Gunung Leuser.
Global network dan collective awareness seperti inilah yang harus dijadikan sebagai
sarana untuk mempertahankan Taman Nasional Gunung Leuser di masa depan.

Inilah substansinya, dengan global network ini sebagai kendaraan pendukung


segalanya. Mulai dari penjagaan kelestarian Taman Nasional Gunung Leuser,
sarana prasarananya, dan pemasaran bertaraf internasional juga dapat
diperoleh dari pemanfaatan global network ini. Sehingga salah satu sisi Leuser dapat
menjadi sebuah taman wisata ekologi bertaraf internasional dengan pengunjung
wisatawan asing yang tak terkira banyaknya sehingga menambah devisa
negara dan mempengaruhi kehidupan penduduk sekitarnya dengan terbukanya
lapangan kerja. Karena Leuser adalah world heritage yang akan menjadi
taman wisata ekologi bertaraf internasional dengan para pengunjung asingnya.***

*)
Siswa SMU Negeri 2 Binjai - Sumatera Utara

Juara Lomba Menulis Tingkat SMU


menerima piala dan hadiah dari
Kepala Balai Besar TNGL, Ir. Nurhadi
Utomo. Lomba ini memperebutkan
total hadiah beasiswa sebesar Rp
12.000.000,- dan masing-masing
juara mendapatkan piala serta
piagam penghargaan.

Para Juara Lomba Menulis TNGL,


dari kiri: Jhon Rivel Purba, Rahmad
Lingga, Ery Suhaymi, Ardhy Dinata
Sitepu, Muhammad Reza Fadil,
Rizky Aditya Fardhani.

SELAMAT...!!!

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


31
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
Juara III
Kategori Pelajar

Leuser, Surga Indonesia yang Bakal Diporak-poranda


*)
Rizky Aditya Fardhani

S
egala sesuatu yang diciptakan di permukaan bumi ini
selalu memiliki hikmah. Semuanya dapat dimanfaatkan
sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Segala
manfaat yang dirasakan dapat terjadi ketika terdapat
interaksi yang sesuai antara unsur-unsur yang ada di
dalamnya. Keserasian dalam melakukan interaksi dapat
menimbulkan dampak yang harmonis di dalamnya.

Taman Nasional Gunung Leuser adalah anugerah Tuhan


yang tidak terucap dengan kata-kata. Hampir seluruh
kawasannya ditutupi oleh lebatnya hutan hijau dengan
beberapa sungai dan air terjun yang bersatu secara
harmonis. Keseimbangan terdapat di dalamnya. Pada kawasan yang luasnya lebih satu
juta hektar ini (luas TNGL adalah 1.094.692 ha-Red) terdapat tumbuhan langka, yang
khas dan sangat bernilai tinggi yaitu daun payung raksasa (Johannesteijsmannia
altifrons), bunga raflesia (Rafflesia atjehensis dan R. micropylora) serta Rhizanthes
zippelnii yang merupakan bunga terbesar dengan diameter 1,5 meter. Selain itu,
terdapat tumbuhan yang unik yaitu ara atau tumbuhan pencekik. Disamping tumbuhan
yang sangat menawan, satwa langka nan unik yang dilindungi juga tak mau kalah
dengan populasinya yang terdiri atas mawas atau orangutan (Pongo abelii), siamang
(Hylobates syndactylus), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), badak
sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae),
kambing hutan (Capricornis sumatraensis), rangkong (Buceros bicornis), rusa sambar
(Cervus unicolor), dan kucing hutan (Prionailurus bengalensis sumatrana).

Semua potensi yang ada di Taman Nasional Gunung Leuser ini memiliki
keanekaragaman hayati yang sangat khas dan unik yang tidak dimiliki di tempat lainnya.
Maka tidak salah Yayasan Leuser Internasional (YLI) mengatakan bahwa Kawasan
Ekosistem Leuser (termasuk di dalamnya TNGL) merupakan satu-satunya kawasan yang
dihuni oleh jutaan spesies langka di dunia dan sangat jarang sekali menemukan
keajaiban dunia seperti ini di belahan dunia lainnya.

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


32
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
Kelimpahan keanekaragaman tersebut harus kita syukuri dengan terus berupaya
melestarikanya dan mempertahankan keasliannya. Dan inilah tugas dari kita bersama.
Namun terlepas dari kesemuanya, kekayaan alam ini hanya ada di Indonesia, negara
dengan tanah yang subur dan makmur, namun berada di tengah kehidupan yang serba
kekurangan dengan beralaskan kemiskinan.

Pembahasan

Memperhatikan makhluk hidup dan habitatnya di dalam suatu lingkungan merupakan


hal yang sangat menarik. Lingkungan merupakan semua kondisi, situasi dan segala
sesuatu yang ada di sekitar makhluk hidup mempengaruhi kehidupan, pertumbuhan,
dan karakter makluk hidup yang saling terkait. Segala potensi yang ada di dalam suatu
lingkungan dapat terus asri ketika terus dirawat dan dijaga terus-menerus. Tetapi ketika
ada suatu gejala yang menghambat pemberdayaan suatu lingkungan, maka
lingkungan tersebut akan rusak dan selanjutnya akan terkikis oleh zaman.

Taman Nasional Gunung Leuser merupakan suatu lingkungan yang khas dengan segala
potensi yang ada di dalamnya. Potensi satwa dan tumbuhan di dalamnya dapat
menjadi daya tarik sendiri yang menjadikan Gunung Leuser merupakan suatu keajaiban
tersendiri yang di buat di kawasan zamrud khatulistiwa. Ironi memang jika melihat segala
potensi yang ada di dalamnya seketika hilang oleh keserakahan manusia yang ingin
menguasai tanpa hati nurani. Orangutan yang merupakan penghuni idola Gunung
Leuser misalnya. Akibat keserakahan manusia, para peneliti memperkirakan hewan khas
Gunung Leuser ini dalam waktu 50 tahun ke depan akan punah. Kita dapat berfikir, jika
salah satu komponen penyusunnya sudah hilang, akankan keajaiban dunia tersebut
akan tetap ajaib atau luntur karena keajaibannya.

Sebagai salah satu warisan dunia dengan segala kekhasannya, potensi yang ada pada
Gunung Leuser dapat dikatakan sebagai surga. Namun dalam kelestariannya sebagai
warisan dunia, setiap orang wajib turut serta dalam menjaga keseimbangan surga
tersebut. Pemanfaatannya juga harus memperhatikan pemeliharaan dan kelestarian
habitatnya, sehingga dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Pemanfaatannya
tentu harus berkesinambungan. Terciptanya keselarasan, keserasian dan keseimbangan
antara manusia dan lingkungan hidup harus diprioritaskan dalam setiap pemanfaatan
Gunung Leuser sebagai taman nasional. Hal tersebut harus diiringi dengan terbentuknya
manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindakan
melindungi serta membina kelestarian Taman Nasional Gunung Leuser. Hal yang perlu
diperhatikan secara bijaksana oleh kita bersama ketika kita ingin menjadikan Leuser
sebagai surga bersama adalah terlindungnya keasrian Leuser terhadap dampak dari
luar yang dapat menyebabkan pencemaran atau kerusakan lingkungan Leuser itu
sendiri.

Kekhasan dan keindahan serta keserasian Taman Nasional Gunung Leuser jika mampu
dimanfaatkan dengan segala keanekaragaman hayatinya, dapat menjadikan
kawasan ekosistem tersebut menjadi pemasukkan aktif bagi negara. Banyak manfaat
dan potensi yang dimiliki Leuser. Leuser merupakan kawasan yang sangat sensitif namun
kaya bila digali. Pemanfaatan tersebut dapat terlihat sebagai berikut :
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
33
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
1. Labaratorium alam alami
Taman Nasional Gunung Leuser dikemudian hari terbukti merupakan laboratorium alam
yang kaya sekaligus juga rentan. Pendapat MacKinnon (1986) menyatakan bahwa
Leuser mendapat skor tertinggi untuk kontribusi konservasi terhadap kawasan konservasi
di seluruh kawasan Indo-Malaya. Leuser merupakan habitat sebagian besar fauna dunia,
mulai dari mamalia, burung, reptilia, amfibia, ikan dan invertebrate (hewan tak bertulang
belakang) lainnya. Hal tersebut menjadikan Leuser sebagai surga bagi peneliti tanah air
maupun mancanegara.

2. Leuser sebagai sumber kehidupan


Pemanfaatan Leuser sebagai sumber kehidupan ketika mata air Pegunungan Leuser
mampu menyuplai air bagi jutaan masyarakat yang tinggal di NAD dan Sumatera Utara.
Belum cukup hanya itu saja, beberapa hasil hutan Leuser dapat bermanfaat bagi
kehidupan manusia, kayu misalnya. Misalkan penebangan kayu dengan adanya teknik
reklamasi atau tebang satu tanam satu atau lebih, maka kayu tersebut dapat diolah
menjadi suatu hal yang menjadi kebutuhan manusia sekarang ini. Belum lagi hasil hutan
yang begitu kaya potensi alamnya.

3. Menjadi panutan dalam keanekaragaman hayati


Begitu besar potensi yang ada di Taman Nasional Gunung Leuser, sehingga tidak salah
UNESCO-Komite Warisan Dunia menetapkannya sebagai warisan dunia yang sangat
berharga. Segala potensinya tersebut dapat menjadi contoh ketika pemanfaatan dan
pelestariannya dapat berjalan dengan baik. Bagaimana tidak, kawasan ekosistem yang
memiliki luas lebih dari satu juta hektar, kawasan ini dapat menjelma menjadi kawasan
yang memiliki prospek pembangunan berkelanjutan dan mampu menjadi sumber
mata penghidupan masyarakat. Hal ini yang harus digarisbawahi agar kepedulian
sesama kita dapat terbentuk untuk menjadikan Leuser seperti yang dirancangkan dapat
terlaksana dengan baik.

Segala surga yang didambakan dapat terwujud ketika interaksi sesamanya berjalan
dengan baik. Kesemuanya itu terbentuk secara alamiah dengan anugerah Sang
Pencipta. Terbentuknya tersebut dijalani dengan proses interaksi yang baik. Namun di
dalam perjalanannya, interaksi tersebut dapat terhambat oleh satu dan lain hal. Manusia
sebagai makhluk yang paling mulia terkadang lupa akan kodratnya untuk selalu
melestarikan alam ciptaan Tuhan. Berbuat dengan tidak bertanya kepada hati nurani
terkadang yang membumbungkan nafsu manusia menjadi setan yang sangat ganas.
Segala sesuatu dapat terjadi, surga dapat menjadi neraka. Namun keegoisan terkadang
membuat manusia tidak mau merasa bersalah dan tidak mau disalahkan. Hal ini yang
menjadikan Leuser dapat diporak-porandakan.

Penebangan hutan secara membabi buta tanpa memperhatikan dampaknya menjadi


alasan terdepan untuk diporak-porandakannya sang surga. Daerah resapan air akan
menjadi berkurang, habitat satwa menjadi menipis. Apakah karena materi ekonomi
semata yang menjadikan manusia lupa akan segalanya? Manusia lupa akan makhluk
lainnya yang sangat membutuhkan hutan sebagai tempat hidupnya.

Namun ada cerita aneh tapi nyata yang mewarnai cerita penebangan hutan. Ketika
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
34
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
krisis yang melanda Aceh dahulu, pembalakan hutan sangat berkurang pesat. Hal ini
dikarenakan banyak tentara GAM yang menghuni wilayah Leuser. Namun ketika
penjanjian damai telah berkumandang, pembalakan liar kembali terjadi. Apakah para
eksekutor penebangan hutan hanya takut pada GAM, bukan kepada Sang
Penciptanya? Memang perlu adanya sanksi tegas yang diusung pemerintah untuk
mengantisipasi hal ini.

Pengrusakan sang surga juga terjadi ketika kebijakaan pemerintah yang ingin
menjadikan taman nasional diobrak-abrik untuk memperluas areal pemukiman.
Memang dampak ledakan penduduk yang begitu pesat adalah perluasan pemukiman.
Hal inilah yang kurang disadari pemerintah pusat maupun daerah untuk mengatasinya.
Oleh karena itu, penekanan angka penduduk sangat berpengaruh akan kelestarian
lingkungan hidup. Selain itu pembuatan jalan dengan alasan pembangunan ekonomi
terkadang salah sasaran. Upaya pemerhati Leuser dalam mencegah hal tersebut
seakan sia-sia, hampir semuanya tidak diperdulikan pemerintah. Pembangunan yang
dilakukan masih menggunakan paradigma lama, bahwa pembangunan infrastruktur
adalah satu-satunya jalan untuk meningkatkan ekonomi. Padahal jasa lingkungan dari
sumberdaya hutan justru menghasilkan manfaat ekonomi lebih besar jika keutuhan
hutan tetap terjaga dengan baik dan kondusif.

Pembangunan infrastruktur seharusnya beriringan dengan upaya konservasi, bukannya


selalu berbenturan. Seiring dengan hal tersebut, program pemerintah yang ingin
menambah pendapatan daerah dengan memperluas perkebuanan sawit harus
dipikirkan matang-matang karena dapat merusak surganya Indonesia. Maka
hendaknya segala sesuatu program yang berkaitan dengan nilai ekonomi dan
peleburan Gunung Leuser menjadi sesuatu yang terus berkurang harus dipikirkan
dampak ke depan bagi generasi yang akan datang. Akankah kita mau ketika anak dan
cucu kita tidak mengenal lagi Taman Nasional Gunung Leuser sebagai warisan dunia
dengan segala keajaiban yang ada di dalamnya? Dan apakan tragedi lost of
generation harus terjadi bagi bangsa Indonesia?

Selain daripada itu, sektor yang tidak disangka-sangka yang memiliki potensi dalam
pengubahan surga Indonesia untuk diporak-porandakan adalah faktor media massa.
Terkadang segala sesuatu yang disampaikan media masa kurang sinkron dengan yang
sebenarnya. Media massa merupakan distributor informasi kepada masyarakat. Terlebih
lagi masyarakat dapat langsung mempercayai segala informasi yang ada di media
masa yang mereferensikan sumber lainnya atau survei langsung ke lapangan. Seperti
misalnya, ketika data yang kurang tepat menyatakan bahwa daerah gunung Leuser
telah hancur ataupun penebangan hutan telah menghabiskan Gunung Leuser. Hal
tersebut selanjutnya akan meresahkan masyarakat yang membacanya. Sehinggga
upaya yang dapat dilakukan masyarakat untuk melestarikannya sudah luntur karena
kepesimisan wilayah Leuser yang sudah begitu parah. Kita harapkan bersama, agar
media dapat memberikan data dan informasi yang benar tentang Leuser, tentang
problem, tentang solusi-solusi yang sedang dikerjakan. Jadi media pencitraan Leuser
dapat dimengerti betul oleh masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, sinkronisasi semua pihak dan unsur yang terkait di dalamnya harus benar-
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
35
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
benar terlaksana dengan baik. Para penegak hukum, perangkat peraturan, pemerintah
serta penjaga wilayah konservasi harus dapat menjalankan perannya dengan benar.
Terlebih lagi khususnya kepada direktur dan anggota pelestarian Taman Nasional
Gunung Leuser. Tidak dapat dibayangkan ketika para penggerak yang memiliki peran
yang sangat dekat dengan Leuser tidak tahu seluk beluk Leuser. Dan yang lebih
menakutkan lagi ketika kesatuan pemerhati Leuser tidak tahu apa visi dan misi ataupun
program yang akan dilaksanakan dalam melestarikan Leuser. Hanya berharap kepada
warga sekitar untuk bersama-sama menjaga diri untuk tidak merusak Leuser. Hal yang
ringan memang, tetapi jika hal itu terjadi dapat mengakibatkan setan-setan penggangu
dapat memporak-porandakan surga Indonesia dari arah yang tidak disangka-sangka.
Ironis memang. Tapi inilah Indonesia, negara yang kaya, tapi miskin pengetahuan. Tapi
terlepas dari itu semua harapan kita bersama, Indonesia tidak hanya penjadi penonton
dalam kemajuan perkembangan zaman, tetapi turut andil dalam kemajuan tersebut.

Sekarang tinggal pilihan kita, akankah merusak surga yang kita idamkan demi
kepentingan manusia generasi ini ataukah menjaga sang surga dengan ‘permadani’-
nya demi kepentingan manusia hingga generasi yang berikutnya? Jangan sampai
potensi yang telah given terhadap manusia, karena keserakahan manusia, Leuser
menjadi daerah yang rentan dan tak menjadi ajaib di tengah kemajuan zaman yang
pesat. Karena manusia selalu ingin berkuasa dan tak mau dikuasai.

Penutup

Segala limpahan rahmat dari Tuhan harus kita syukuri dengan memanfaatkan segala
sesuatu yang ada dengan sebaik-baiknya. Tidak ada salahnya, bekerja sama dengan
mengeluarkan dana untuk membangun dan melestarikan Leuser. Menjaga keindahan
dan kelestarian Leuser sebagai warisan dunia yang tidak tergantikan telah menopang
pundak kita sebagai kewajiban yang harus dikerjakan.

Warisan dunia telah tercipta di bumi Indonesia. Jangan malu akan Indonesia yang
katanya negara korupsi. Disamping keburukan, ada sisi baiknya juga. Dari sisi baik itu yang
harus kita pertahankan agar mendapat tempat di mata dunia. Tidakkah kita bangga
ketika negara maju menggantungkan harapannya kepada Indonesia sebagai jantung
dunia dengan keanekaragaman hayatinya? Jangan semata-mata karena nilai
ekonomis semata, surga Indonesia yang di depan mata diporak-poranda dengan
tangan kita sendiri. Akankan darah pejuang untuk mempertahankan Indonesia, harus
dijajah oleh bangsa sendiri. Ironis memang jika hal ini terjadi.

Tapi kesemuanya dapat terjadi, perubahan dapat dilaksanakan. Tuhan tidak akan
merubah suatu kaum, ketika kaum tersebut tidak mau merubahnya sendiri. Fikirkanlah
generasi ke depan yang masih ingin melihat bumi pertiwi berjaya di mata dunia.
Selamatkan sekarang juga, atau tidak sama sekali. Hidup surga alam di bumi
Indonesiaku.***

*)
Siswa SMU Negeri 1 Binjai - Sumatera Utara

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


36
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia

Menulis Lomba Menulis


Suer Suryadi*)

Menulis itu jangka waktu pengiriman karya lomba


gampang. yang hanya 2 minggu, jumlah itu cukup
Semua orang menggembirakan. Latar belakang
kecuali yang, pendidikan peserta mahasiswa cukup
maaf, buta bervariasi, yaitu dari Fakultas Pertanian
huruf, pasti (12), MIPA (7), Keguruan Ilmu Pendidikan
bisa menulis. (5), Hukum (3), sedangkan sisanya berlatar
Persoalannya belakang psikologi, biologi, keperawatan,
a d a l a h dan sastra.
membuat
tulisan yang Hanya 8 dari 45 peserta yang
m u d a h menggunakan tema lomba sebagai
dipahami judul tulisannya. Artinya, lebih banyak
orang lain dan enak dibaca. Butuh proses peserta yang kreatif dalam membuat
dan latihan. Salah satu latihannya adalah judul walau tidak selalu relevan dengan
mengikuti lomba menulis, menuangkan tema. Persoalan yang diangkat dalam
gelegak gagasan terhadap sesuatu. Bisa tulisan menggambarkan kreativitas dan
karena biasa. dinamika peserta, mulai dari
pengelolaan hutan yang umum hingga
Bagi pelajar dan mahasiswa, menulis ekowisata, jasa lingkungan, konservasi
adalah pekerjaan sehari-hari. Mulai dari orangutan, pendidikan konser vasi,
mencatat pelajaran di kelas, ujian, dan pembangunan berkelanjutan, dan
tugas karya tulis. Namun menulis untuk rehabilitasi. Salut!!!
lomba menulis, diperlukan pemahaman
terhadap tema sehingga isinya tidak Diantara kar ya-kar ya itu, terdapat
sekedar menyalin referensi, normatif, kalimat-kalimat yang membekas dalam
ngomel, tanpa analisa dan tanpa solusi ingatan saya. Misalnya ”Tinggalkan mata
kreatif. Mengupas pandangan dan air bagi generasi mendatang, bukan air
gagasan sendiri terhadap suatu mata”. Ada yang sempat-sempatnya
persoalan, jauh lebih bernilai daripada melihat tulisan ”hutan untuk
sekedar meng-amini gagasan yang kesejahteraan” pada uang koin seratus
sudah jadi rahasia umum. Ini baru orsinil. rupiah, menyitir lagunya ex-Ratu,”aku
baik-baik saja”, bahkan memprotes istilah
Sebanyak 37 mahasiswa dan 8 pelajar ”paru-paru” dunia karena hutan kita tidak
dari Sumatra Utara mengirimkan menyerap oksigen sebagaimana paru-
kar yanya. Pasti ada penyebabnya paru manusia. Ini kekaguman saya yang
sehingga tidak ada peserta dari NAD, kedua.
y a n g s a y a y a k i n b u ka n ka r e n a
diskriminasi. Sedikit? Tidak juga. Untuk Saya belum pernah meneliti gading

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


37
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia
gajah, sehingga lebih pe-de untuk Heritage of Sumatra (TRHS) atas usulan
mengatakan, tiada tembok yang tak Pemerintah Indonesia. Demikian halnya
retak. Ada peserta yang menelan dengan status Gunung Leuser sebagai
mentah-mentah kalimat dari sumber cagar biosfer, ditetapkan oleh UNESCO
informasinya, tanpa modifikasi, dan atas usulan Pemerintah Indonesia.
tanpa analisa. Tentu saja analisa yang Selanjutnya menjadi tugas pemerintah
sesuai kapasitas dan pemahaman untuk mengelola kawasan warisan dunia/
peserta. cagar biosfer dan menggunakan status
itu untuk meningkatkan nilai jual dan
Ditemukan pula sejumlah kalimat yang pemanfaatannya sesuai kaedah
berpotensi menimbulkan konservasi.
kesalahpahaman kepada pembacanya.
Misalnya, mereka menuliskan TNGL Umumnya peserta mencoba
sebagai cagar alam yang berstatus menggagas berbagai ide kreatif untuk
taman nasional. Padahal, cagar alam memaknai arti TNGL sebagai situs warisan
dan taman nasional adalah dua status dunia, agar sesuai tema. Namun belum
kawasan konservasi yang berbeda fungsi ada yang menggali dengan kreatif, arti
dan cara pengelolaannya. Referensi penting status warisan dunia bagi TNGL,
utama mengenai definisi dan fungsinya bagi pemerintah, bagi masyarakat, bagi
adalah UU No. 5 tahun 1990. konser vasi dan bagi kehidupan.
Bagaimana membanggakan,
Ada pula yang tidak dapat membedakan memanfaatkan, dan mempertahankan
TNGL dan KEL (Kawasan Ekosistem Leuser). status tersebut sehingga tercermin dalam
Ta m a n N a s i o n a l G u n u n g Le u s e r pengelolaan, kebijakan, dan aksi nyata
ditetapkan oleh Menteri Kehutanan para pihak.
s e d a n g ka n K E L d i t e t a p ka n o l e h
Keputusan Presiden No. 33/1998. Namun Akhirnya saya mengucapkan selamat
tidak berarti bahwa posisi dan status KEL ke p a d a p a r a p e m e n a n g, y a n g
lebih tinggi daripada TNGL. Kawasan tulisannya ditampilkan di dalam JL edisi
Ekosistem Leuser mencakup TNGL dan khusus ini. Semoga mereka dapat
sekitarnya, namun fungsi dan menjadi pemikir dan pelaku konservasi di
pengelolaannya berbeda. Perbedaan itu Indonesia. Bagi yang belum beruntung,
harus dicermati ketika menyitir informasi jangan mutung karena menulis untuk
dari literatur. Misalnya, penilaian ekonomi lomba menulis merupakan ajang
yang dilakukan oleh Beukering tahun 2003 penyadaran bagi diri sendiri dan
di daerah KEL, tidak serta merta dapat pembacanya. Kreativitas tidak dapat
diganti sebagai nilai yang ada di TNGL. dibeli, tapi dapat dipelajari dan dilatih.
Terima kasih kepada panitia lomba dari
Hal lain yang perlu dipahami adalah T N G L y a n g t e l a h b e ke r j a ke r a s
penetapan TNGL sebagai warisan dunia menyelenggarakan lomba ini. Sukses
oleh UNESCO. Kalimat yang lebih tepat terus, dan Tabah Sampai Akhir...***
adalah, TNGL bersama-sama dengan TN
*)
Kerinci Seblat dan TN Bukit Barisan Selatan Anggota Dewan Juri Lomba Menulis “Arti
ditetapkan oleh Komite Warisan Dunia- Penting TNGL sebagai Warisan Dunia”
UNESCO sebagai Tropical Rainforest Bekerja di UNESCO Office, Jakarta

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


38
Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia

Teruslah Menulis
Andreas Maryoto*)

M e n i l a i para juara tingkat SMA ini merupakan


tulisan dalam anak berbakat yang harus
s e b u a h dikembangkan kemampuan
l o m b a menulisnya sehingga suatu saat
m e r u p a ka n mereka menjadi penulis yang handal.
kegiatan
y a n g Sebaliknya, ketika menilai karya para
gampang- mahasiswa, saya sangat terpusingkan
gampang dengan teori dan jargon mereka. Saya
s u s a h . sempat berpikir, mengapa demikian?
S a n g a t Apa yang terpikirkan oleh para
beruntung mahasiswa sekarang? Tulisan mereka
sekali panitia telah menetapkan kriteria sangat muluk-muluk dan berpikir terlalu
yang menjadi panduan bagi para juri. tinggi. Saya sangat sedih mendapati
Saya kira panduan inilah yang akhirnya mahasiswa yang demikian. Bagaimana
bisa mempertemukan para juri mereka akan menyelesaikan masalah
sehingga tidak terperosok ke penilaian bangsanya kalau mereka tidak
yang sangat subyektif alias suka-suka. menginjakkan kakinya di tanah? Saya
Panitia tergolong profesional dalam berkerut ketika membaca dan menguji
membuat lomba sehingga saya yakin tulisan mereka.
para juri dan para peserta pun puas
dengan kegiatan ini. Apapun hasilnya dan juga fenomena
yang muncul dari lomba ini, saya
D a r i p e n i l a i a n y a n g d i l a k u ka n berharap lomba seperti ini akan
simpangan (deviasi) nilai sangat memacu para peserta untuk terus
rendah. Para pemenang memang menulis. Kegiatan menulis berarti
layak menang sedangkan yang tidak sebuah kerja budaya yang dari karya
masuk tiga besar memang layak tidak tulis bisa memunculkan pemikiran yang
masuk. aktual dengan jamannya. Tulisan yang
berisi buah pikiran bisa memperkaya
Saat saya menilai karya-karya pelajar kebudayaan. Teruslah menulis!
SMA saya sangat bergairah dan senang
*)
sekali. Tulisan mereka begitu polos dan Anggota Dewan Juri Lomba Menulis
sesuai dengan lingkungan berpikir “Arti Penting TNGL sebagai Warisan
mereka. Saat menanyakan atau Dunia”
bertanya jawab dengan mereka, saya Pimpinan Harian Kompas Biro
mendapatkan komentar-komentar Sumatera Bagian Utara
atau jawaban yang orisinal. Saya yakin
Vol. 4 No. 11 Tahun 2008
39
Jambore Konservasi TNGL 2008

Cerita Jambore

D
alam rangka memperingati Hari diwakili oleh Asisten Umum Pemkab) dan
Lingkungan Hidup se-Dunia, jajarannya, perwakilan Polres Langkat,
Balai Besar Taman Nasional pimpinan dan staf Dinas dan Badan
Gunung Leuser menggelar berbagai Pemerintah setempat, jajaran UPT lingkup
kegiatan yang terangkai dalam satu Departemen Kehutanan di Sumatera Utara,
nama “Jambore Konservasi TNGL para mitra TNGL serta masyarakat Bukit
2008”. Acara yang diselenggarakan di Lawang ikut berpartisipasi menanam bibit
ka w a s a n Pu s a t Pe n g a m a t a n pohon. Ada sekitar1.500 bibit tanaman (yang
Orangutan Sumatera (PPOS) Bukit sebagian besar dari jumlah itu merupakan
Lawang - SPTN Wilayah V Bohorok ini sumbangan dari para mitra TNGL) yang
didukung oleh banyak mitra Leuser ditanam di areal PPOS dan batas kawasan
seperti: UNESCO, Pemerintah Spanyol, taman nasional pada kegiatan tersebut.
Yayasan Leuser Internasional (YLI), Jenis-jenis yang ditanam saat itu adalah
Fauna & Flora International (FFI), ESP- durian, ketapang, mahoni, cempedak,
USAID, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), jabon, manggis hutan, dan pohon-pohon
SOS-OIC, Conservation International sumber pakan orangutan, serta pohon
(CI), Swarahijau Lestari, Himpunan pinang yang ditanam di batas kawasan
Pramuwisata Indonesia (HPI) Langkat, TNGL. Acara hari itu ditutup dengan aksi
Lembaga Kebersihan Lingkungan bersih sampah di sekitar kawasan ekowisata
Lestari (LKL2), Greenland dan Gema tersebut, dimana lokasi aksi ini adalah di jalur
Lestari. trekking yang ada di kawasan hutan Bukit
Lawang dan pembersihan sampah pada
Kegiatan dalam rangkaian Jambore ini jalur antara kantor SPTN V Bohorok sampai
adalah: Operasi Bersih dan Menanam dengan Stasiun Pusat Pengamatan
(dilaksanakan pada 5 Juni 2008), Orangutan Sumatera Bukit Lawang..
Lomba Melukis Anak-anak, Bazaar dan
Expo (8 Juni 2008), serta Lomba Menulis Tiga hari kemudian, Kantor SPTN V Bohorok
Pelajar dan Mahasiswa dengan tema dan Visitor Center Bukit Lawang kembali
Arti Penting Taman Nasional Gunung diramaikan oleh teriakan puluhan anak-anak
Leuser sebagai Situs Warisan Dunia yang sedang mengikuti lomba melukis
(World Heritage Site) yang tingkat SD dan suara nyaring panitia bazaar
diselenggarakan tanggal 5 Juni sampai yang sibuk melayani pembeli. Visitor Center
dengan 14 Juli 2008. lebih ramai lagi ketika speaker-speaker yang
berasal stand mitra-mitra TNGL menggema
Dengan berbalut kaos putih, peserta untuk mengkampanyekan konser vasi,
Jambore Konservasi TNGL 2008 yang program, serta produk-produk mereka.
antara lain Bupati Langkat (yang saat itu

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


40
Jambore Konservasi TNGL 2008
Peserta lomba lukis yang Kegiatan expo juga tidak kalah meriahnya,
diselenggarakan di dalam Visitor Center setidaknya ada 9 stand yang berpartisipasi
Bukit Lawang ini diikuti oleh 54 pelajar dalam kegiatan ini, yaitu: Balai Besar Taman
dari sekolah-sekolah dasar yang Nasional Gunung Leuser, SOS-OIC, ESP-USAID
berada di Bukit lawang dan sekitarnya. bersama masyarakat binaannya, Yayasan
Dari jumlah itu, 10 pelajar melukis Le u s e r I n t e r n a s i o n a l, Y E L b e r s a m a
dengan menggunakan media alami, masyarakat binaannya, HPI, masyarakat
seperti: daun, arang, bunga, tanah liat, Pengrajin Bukit Lawang, serta Kelompok
dan bahan alami lainnya. Gaharu.

Di kegiatan bazaar, Panitia Jambore Di Medan, pada tanggal itu juga, lomba
yang beberapa waktu sebelumnya menulis tentang 'Arti Penting Taman Nasional
telah mengumpulkan pakaian pantas Gunung Leuser sebagai Situs Warisan Dunia
pakai, menjual pakaian-pakaian (World Heritage Site)' juga memulai start awal
tersebut dengan harga yang sangat penerimaan naskah dari para peserta
murah kepada masyarakat Bukit lomba. Akhirnya pada tanggal 14 Juli 2008,
Lawang dan sekitarnya. Dari hasil bertempat di kantor BBTNGL Medan
penjualan ini akan dimanfaatkan untuk diadakan acara penyerahan hadiah lomba
mendukung pengelolaan ekowisata menulis sekaligus penutupan rangkaian
Bukit Lawang, misalnya dengan Jambore Konservasi TNGL 2008........Finish!
pengadaan tempat sampah, dan lain Sampai bertemu tahun depan dengan
sebagainya. penyelenggaraan yang lebih manis.***
- Ita & Ah2 -

A. Yasin

Foto bersama sebagian peserta Jambore Konservasi TNGL 2008

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


41
Intermezzo

Awas Kolesterol...!

S
udah terlalu banyak orang menderita karena kolesterol. Memang tidak semua
kolesterol bersifat jahat, kolesterol dengan tipe HDL (High Density Lipid) dengan kadar
tinggi justru diperlukan untuk mengangkut LDL (Low Density Lipid) dari darah kembali
ke hati untuk dihancurkan. Faktor makanan sangat berpengaruh pada tinggi rendahnya
kadar kolesterol jahat di dalam tubuh kita. Di bawah ini adalah tabel kandungan
kolesterol per 10 gram makanan (sumber: General Hospital, Singapura). Semoga
bermanfaat.
No N a m a M a k a n a n (1 0 g ra m ) K o le ste ro l (M g ) K a te g o ri

1. P u tih Te lu r A y a m 0 Se ha t
2. Te rip a n g (H a iso m ) 0 Se ha t
3. U b u r-u b u r 0 Se ha t
4. S u su S a p i N o n F a t 0 Se ha t
5. D a g in g A y a m P ilih a n Ta n p a K u lit 50 Se ha t
6. D a g in g Be b e k P ilih a n Ta n p a K u lit 50 Se ha t
7. Ika n S u n g a i B ia sa 55 Se ha t
8. D a g in g S a p i P ilih a n Ta n p a Le m a k 60 Se ha t
9. D a g in g K e lin c i 65 Se ha t
10. D a g in g K a m b in g P ilih a n Ta n p a Le m a k 70 Se ha t
11. Ika n E ko r K u n in g 85 Se ha t
12. D a g in g A sa p (H a m ) 98 S e ka li-se ka li
13. Ig a S a p i 100 S e ka li-se ka li
14. D a g in g S a p i 105 S e ka li-se ka li
15. B u ru n g D a ra 110 S e ka li-se ka li
16. Ika n B a w a l 120 S e ka li-se ka li
17. D a g in g S a p i Be rle m a k 125 S e ka li-se ka li
18. G a jih S a p i 130 H a ti-h a ti
19. G a jih K a m b in g 130 H a ti-h a ti
20. K e ju 140 H a ti-h a ti
21. S o sis D a g in g 150 H a ti-h a ti
22. K e p itin g 150 H a ti-h a ti
23. Udang 160 H a ti-h a ti
24. K e ra n g / S ip u t 160 H a ti-h a ti
25. B e lu t 185 B e rb a h a y a
26. S a n ta n K e la p a 185 B e rb a h a y a
27. S u su S a p i 250 B e rb a h a y a
28. S u su S a p i C re a m 280 B e rb a h a y a
29. C o kla t/ K a ka o 290 B e rb a h a y a
30. M e n te g a / M a rg a rin 300 B e rb a h a y a
31. J e ro h a n S a p i 380 B e rb a h a y a
32. K e ra n g P u tih / R e m is/ Tira m 450 B e rb a h a y a
33. Te lu r A y a m 500 B e rb a h a y a
34. J e ro h a n K a m b in g 610 B e rb a h a y a
35. C u m i-c u m i 1 .1 7 0 P a n ta n g
36. K u n in g Te lo r A y a m 2 .0 0 0 P a n ta n g
37. O ta k S a p i 2 .3 0 0 P a n ta n g
38. Te lu r B u ru n g P u y u h 3 .6 4 0 P a n ta n g

Vol. 4 No. 11 Tahun 2008


42
Wanasastra

Indahnya....
Tujuan itu di depan kita
Terhampar begitu indah
Dalam pelukan mata
Hijau,
Lestari,
Bukan mimpi

Mimpi itu di depan kita


Damai,
Arif,
Tanpa sikut,
Tanpa ribut,
Dan kemelut:dengan cinta kita balut

Harapan itu kita yang punya


Kita yang rasa,
Kita yang bawa,
Kita, kita dan kita.

Indahnya jika hati terpaut


Dan hari berhias tawa
Dari dalamnya jiwa.
Bukan pura-pura
Bukan pula fatamorgana.

Bisa !!!
Kita bisa.
Iya kan, kawan?
Benar kan,sobat?
Mesti.

Tak hanya tangan bergandengan


Tak hanya langkah kaki yang sejalan
Satu hati,
satu tujuan.
Menuju bahagia
Dan harapan gemilang...

-Yunita Aprilia-
Sumber dana: DIPA Balai Besar TNGL Tahun 2008