BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Penyakit infeksi pada manusia dan hewan yang disebabkan oleh jamur di Indonesia masih relatif tinggi. Di Indonesia penyakit infeksi jamur pada kulit dan kuku masih sering dijumpai. Perkembangan infeksi jamur di Indonesia yang termasuk negara dengan iklim tropis disebabkan oleh udara yang lembab, sanitasi yang kurang, lingkungan yang padat penduduk dan tingkat sosial ekonomi yang rendah. Untuk itu masalah mengenai penyakit jamur perlu mendapat perhatian yang khusus di Indonesia. Obat antibakteri telah banyak dikembangkan secara luas, berbeda dengan obat antijamur yang masih terbatas dalam hal manfaat klinis. Alasan untuk perbedaan ini adalah adanya hubungan yang erat antara jamur dengan inang mamalianya. Banyak proses biokimia yang menyediakan sasaran berguna untuk obat antibakteri tidak terdapat dalam jamur, dan proses yang menjadi sasaran juga dimiliki oleh inang mamalia. Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60% air, yang dimaksudkan untuk pemakaian luar. Dipilihnya sediaan dalam bentuk krim tipe emulsi minyak dalam air (o/w) sebagai antijamur karena krim mempunyai keunggulan yaitu lebih mudah menyebar secara merata karena memiliki konsistensi lebih rendah serta lebih mudah untuk dibersihkan. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apa sajakah bahan-bahan yang digunakan untuk membuat sediaan krim antijamur? 1.2.2 Bagaimanakah metode pembuatan sediaan krim antijamur? 1.2.3 Apa sajakah evaluasi yang digunakan untuk mengevaluasi sediaan krim antijamur? 1

1.3 Tujuan Formulasi 1.3.1 Untuk mengetahui bahan-bahan yang digunakan untuk membuat sediaan krim antijamur. 1.3.2 Untuk mengetahui metode pembuatan sediaan krim antijamur. 1.3.3 Untuk mengetahui evaluasi yang digunakan untuk mengevaluasi sediaan krim antijamur. 1.4 Manfaat Formulasi Memperoleh formulasi krim tipe emulsi minyak dalam air (o/w) sebagai krim antijamur yang tepat dan memberikan informasi pada masyarakat tentang krim tipe emulsi minyak dalam air (o/w) yang dapat digunakan sebagai obat antijamur.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2

2.1 Obat Antijamur Obat anti jamur adalah obat yang digunakan untuk mengobati infeksi jamur seperti, kurap, kandidiasis (thrush), infeksi sistemik serius seperti meningitis kriptokokal, dan lain-lain. Obat tersebut biasanya diperoleh dengan resep dokter atau dibeli over-the-counter. Anti jamur bekerja dengan memanfaatkan perbedaan antara sel mamalia dan jamur untuk membunuh organisme jamur tanpa efek yang berbahaya pada host (Anonim, 2010). Jamur adalah eukariota yang berbeda secara umum dengan eukariota lainnya ditinjau dari cara memperoleh makanan, organisasi structural, serta pertumbuhan dan reproduksinya. Jamur bersifat heterotrof dan memperoleh makanannya dengan cara menyerap molekul-molekul organik kecil dari medium di sekitarnya. Untuk memperoleh molekul-molekul organik kecil tersebut, tubuh jamur mensekresikan enzim-enzim hidrolitik ke dalam makanan yang berada di sekitarnya. Ada beberapa jamur yang bersifat parasit pada hewan dan menyerang organ tertentu yang dapat menyebabkan kematian (Anonim, tt). 2.2 Struktur Kulit pada Mamalia Kulit (Integumentum Communae) menutupi seluruh permukaan badan, terdiri atas lapisan : epidermis dan suatu lapisan jaringan penyambung berupa dermis (korium) serta hipodermis (sub kutis) yang terdiri atas jaringan ikat longgar menghubungkan dermis dengan jaringan dibawahnya (Anonim, 2009). Fungsi kulit : 1. 2. 3. 4. Membungkus serta melindungi tubuh hewan terhadap pengaruh luar Ikut mengatur suhu tubuh serta kadar air. Membuang garam dan hasil metabolisme yang berlebihan. Melindungi tubuh terhadap pengaruh fisik, kimia dan jasad renik (Anonim, 2009) 3 yang merugikan.

kedalam tubuh.

Beberapa kelenjar kulit yang berperan dalam berbagai fungsi sekresi kulit, antara lain: kelenjar palit, kelenjar peluh, kelenjar ambing dan kelenjar kulit khusus. Beberapa struktur yang merupakan turunan dari kulit adalah: rambut, bulu, kuku, tanduk, jengger, pial dan gelambir (Anonim, 2009). a. Epidermis Terdiri atas epitel pipih banyak lapis yang bertanduk, memiliki lima lapis utama yakni : 1.Stratum basale / stratum germinativum : merupakan lapis paling bawah terdiri atas epithel kubis atau silindris sebaris rendah. Lapisan ini bersifat mitosis aktif untuk menggantikan lapis diatasnya yang mati / aus. Pigmen juga bisa ditemukan pada lapis ini selain pada lapis spinosum. 2.Stratum spinosum : sel penyusunnya berbentuk poligonal terdiri atas beberapa lapis, semakin keatas semakin memimpih. Pertautan antar sel yang cukup kuat ditunjang oleh desmosoma, sel memiliki tenofibril yang berakhir pada desmosoma. Lapis ini juga bisa bermitosis. 3.Stratum granulosum : Satu sampai tiga lapis, sel berbentuk elip dan mulai menunjukkan tanda bertanduk (cornification). Sel tersebut mengandung kerantobilia dan fungsinya masih belum jelas diketahui. 4.Stratum lusidum : Beberapa lapis sel yang telah mati, karenanya beraspek homogen. Inti dan organoida tidak jelas tapi desmosoma masih jelas terlihat, sedangkan butir keratohialinnya sudah lenyap berubah menjadi eledin. 5.Stratum korneum : Merupakan lapis sel yang paling luar, selnya bertanduk dan mengandung keratin yang diduga hasil perubahan eledin. Lapis ini pada beberapa tempat tebal dan bila kering akan mengelupas membentuk stratum disjunktum. Khususnya untuk stratum lusidum hanya ditemukan pada daerah yang tidak berambut, misalnya : planumnasale atau bantalan kaki. (Anonim, 2009)

4

Keratin adalah suatu skleroprotein yang sangat resisten terhadap pengaruh kimia dan biasanya keratin yang terdapat pada epidermis adalah keratin lunak dan keratin keras terdapat pada kuku, rambut yang bersifat kurang elastis karena kandungan sulfur tinggi (Anonim, 2009). b. Dermis / Korium Sering disebut Kutis vera, merupakan bagian utama kulit, disusun oleh serabut kolagen padat sedangkan serabut elastis dan jaringan ikat lain sedikit. Korium dibedakan atas dua bagian, yakni : • Stratum papilleare : membentuk jalinan dengan epidermis pada kulit tidak berambut. Tampak papil, dan sering terdapat ujung saraf pembuluh darah serta saluran kelenjar peluh.
• Stratum retikulare : Antara stratum papillare dengan stratum retikulare

sebenarnya mempunyai batasan yang tidak jelas. Hanya serabut kolagen pada stratum ini lebih padat dan anyamannya mengarah horisontal terhadap permukaan kulit. Didalam ilmu bedah mengetahui arah anyaman serabut kolagen ini sangat penting karena dalam operasi yakni memberikan proses kesembuhan yang lebih cepat (Anonim, 2009). c. Hipodermis Hipodermis atau sub kutis terdiri atas jaringan ikat longgar yang banyak mengandung serabut elastis. Dalam keadaan patologis akan membentuk beberapa rongga yang berisi cairan (edema) atau udara (emphysema). Daerah ini juga merupakan tempat perlindungan lemak terutama pada babi. Pada hewan yang gemuk sel lemak dapat menyusup lebih dalam dan terdapat diantara otot. Daerah tubuh yang sedikit terdapat sub kutis adalah: metakarpus kuda, oleh sebab itulah kulit sulit digerakkan karena melekat kuat (Anonim, 2009).

5

d. Integementum Mammalia Epidermis berkembang dari ektoderm dan hipodermis merupakan turunan dari mesoderm. Pada mulanya epidermis tersusun atas beberapa lapis sel berbentuk kubus. Proliferasi dari sel ini menghasilkan lapisan sel epidermis dan proloferasi sel basal menambah dengan cepat ketebalan sel yang berada diluarnya. Invagansi dan proliferasi sel basal bertambah dengan cepat ketebalan sel yang berada diluarnya. Invagansi dan proliferasi sel basal kedalam lapisan dibawah epidermis seperti dermis dan hypodermis menandakan adanya rambut, bulu dan kelenjar, yang mana sel dari jaringan tersebut diatas berhubungan dengan sel epidermis. Dermis dan hipodermis berkembang dari mesenkhim khusus. Poliferasi dan difrensiasi yang cepat dari sel mesenkhim menghasilkan jaringan yang ditandai dengan jaringan ikat longgar dan jaringan ikat padat (Anonim, 2009). e. Pigmentasi Kulit Melanosit adalah sel pembentuk pigmen yang juga dikenal dengan nama: Dermal chromatophore. Terdapat diantara stratum basale dan stratum spinosum tapi dapat juga terdapat pada stratum papillare dari korium (Anonim, 2009). Sel ini mempunyai bentuk khusus yakni memiliki penjuluran yang menyusup sampai stratum spinosum untuk melepas pigmen melanin pigmen tersebut selanjutnya diambil oleh sel pada lapis tersebut. Melanosit yang tidak berfungsi (istirahat) dikenal dengan “sel cerah” (clear cells). Sedangkan melanosit yang berfungsi dapat dikenali dengan reaksi DOPA (dihydroxyphenylalanine) yaitu melakukan sintesa komplek mengubah DOPA menjadi melanin. Reaksi DOPA inilah yang membedakan sel yang dapat membuat pigmen dan sel yang hanya menampung pigmen dalam epidermis (Anonim, 2009).

6

Melanin berfungsi melindungi tubuh terhadap pengaruh sinar ultraviolet yang memiliki daya tembus kuat. Sebagian sinar ditahan oleh pigmen melanin. Pada beberapa organisme melanin mungkin tidak ada (albinisme) misal: kerbau, sapi, harimau dan kera. Dari segi perkembangan ternak piara, albinisme agaknya dianggap suatu cacat keindahan. Kenyataan pada derajat albino yang kuat terdapat gejala takut sinar (photophobia) dan kondisi tubuhnya lebih lemah dari normal. Peristiwa hilang atau tidak cukupnya produksi melanosit yakni sel penghasil melanin juga disebut White Spots (Anonim, 2009). f. Kulit daerah Khusus Beberapa bagian dari kulit ada yang berambut dan ada yang tidak atau gundul. Beberapa bagian tubuh ditandai dengan epidermis yang tebal, sedangkan bagian yang lain tipis. Sama halnya dengan dermis, ketebalannya beragam dalam penyebarannya keseluruh tubuh. Dermis adalah bagian yang paling tebal dari kulit. Kulit daerah tertentu beragam bentuknya, hal ini erat hubungannya dengan cara kerjanya, cara hidup, penyebaran dan tipe kelenjar serta ketebalan kulit merupakan adaptasi fungsional yang paling idela terhadap lingkungan sekitarnya (Anonim, 2009).
1. Bantalan Kaki (Digital Pad / food pad)

Bantalan kaki hewan karnivora mengalami penandukan yang hebat menebal, berpigmen kuat dan bagian kulit yang tidak berbulu berguna untuk perpindahan (lokomosi). Bantalan kaki ini tahan terhadap abrasi dan efektif sebagai penyerap goncangan. 2. Skrotum Kulit skrotum umumnya paling tipis dalam tubuh, stratum korneum tidak berkembang dengan baik dan dermisnya kurang luas. Kelenjar tubuler apokrin dan kelenjar palit ditemui disini. Rambut tubuh halus dan pendek. Serabut otot polos dari tunika dartos mengadakan 7

persilangan dengan serabut kolagen dan elastis dari dermis. Tunika dartos dapat dipengaruhi oleh suhu sekitarnya dan bertanggung jawab atas kedudukan relatif testis terhadap dinding tubuh. Pada derajat yang tinggi otot ini akan berelaksasi, skrotum akan meregang karena dipengaruhi oleh berat testis sehingga kedudukan testis akan menjauhi dinding tubuh sebaliknya terjadi apabila derajat suhu merendah. 3. Hidung Planum nasale karnivora terbentuk dari penebalan dan pertandukan yang hebat dari epidermis disertai dengan tidak adanya kelenjar palit dan kelenjar tubuler. Planum nasale sapi dan ruminansia kecil tidak berbulu dan mengandung kelenjar merokrin tubuler yang melembabkan permukaannya. Epidermis tebal dan menanduk dengan hebat. Penandukan yang hebat dari planumrostale babi mengandung banyak kelenjar merokrin ubuler dan ditutupi oleh rambut yang jarang. Rambut yang halus dan kelenjar palit menandai kulit yang tipis di sekitar lubang hidung kuda. 4. Meatus Akustikus Eksternus Merupakan saluran yang menghubungkan antara lubang telinga dengan genderang telinga. Saluran ini dilapisi kulit dengan folikel rambut yang kecil, kelenjar palit dan kelenjar tubuler apokrin yang telah bermodifikasi (kelenjar seruminous) dijumpai disini. Dermis dari saluran ini bercampur dengan perikhondrium dan periosteuon tulang rawan dan penunjang telinga (Anonim, 2009). 2.3 Definisi Krim Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60% air, yang dimaksudkan untuk pemakaian luar. Ada dua tipe krim yaitu: 1. Krim tipe air-minyak (A/M) contohnya sabun polivalen, span, adeps lanae, kolesterol dan cera. 8

2.

Krim tipe minyak-air (M/A) contohnya sabun monovalen seperti

triethanolaminum stearat, natrium stearat, kalium stearat dan ammonium stearat. Untuk membuat krim digunakan zat pengemulsi, umumnya berupa surfaktan anionik, kationik dan nonionik (Anief, 1997). Keuntungan penggunaan krim adalah umumnya mudah menyebar rata pada permukaan kulit serta mudah dicuci dengan air (Ansel, 2005). Krim dapat digunakan pada luka yang basah, karena bahan pembawa minyak di dalam air cenderung untuk menyerap cairan yang dikeluarkan luka tersebut. Basis yang dapat dicuci dengan air akan membentuk suatu lapisan tipis yang semipermeabel, setelah air menguap pada tempat yang digunakan. Tetapi emulsi air di dalam minyak dari sediaan semipadat cenderung membentuk suatu lapisan hidrofobik pada kulit (Lachman, 2008). Stabilitas krim akan menjadi rusak, jika terganggu oleh sistem campurannya terutama disebabkan perubahan suhu, perubahan komposisi dan disebabkan juga oleh penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran dua tipe krim jika zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain. Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika diketahui pengencer yang cocok yang harus dilakukan dengan teknik aseptis. Krim yang sudah diencerkan harus digunakan dalam waktu satu bulan. Dalam penandaan sediaan krim, pada etiket harus tertera “Obat Luar” dan pada penyimpanannya harus dalam wadah tertutup baik atau tube dan disimpan di tempat sejuk (Anonim, 1979). 2.4 Sifat Fisikokimia Zat Aktif, Basis dan Bahan Tambahan 2.4.1 Asam salisilat Asam salisilat mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak lebih dari 101,0% C7H6O3 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan Pemerian : Hablur putih; biasanya berbentuk jarum halus atau serbuk hablur halus putih; rasa agak manis, tajam dan stabil diudara. Bentuk sintetis warna putih dan tidak 9

berbau. Jika dibuat dari metil salisilat alami dapat berwarna kekuningan atau merah jambu dan berbau lemah mirip mentol. Kelarutan : Sukar larut dalam air dan dalam benzena; mudah larut dalam etanol dan dalam eter; larut dalam air mendidih; agak sukar larut dalam kloroform. Penyimpanan Kegunaan 2.4.2 Asam stearat Asam stearat adalah campuran asam organik padat yang diperoleh dari lemak, sebagian besar terdiri dari asam oktadekanoat (C18H36O2) dan asam heksadekanoat (C16H32O2). Pemerian Kelarutan : Zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur; putih atau kuning pucat; mirip lemak lilin. : Praktis tidak larut dalam air; larut dalam 20 bagian etanol (95%) P, dalam 2 bagian kloroform P dan dalam 3 bagian eter P. Suhu lebur Penyimpanan Kegunaan : Tidak kurang dari 540 C. : Dalam wadah tertutup baik. : Basis krim. : Dalam wadah tertutup baik : Bahan aktif

2.4.3 Potassium Hidroksida (Kalium Hidroksida) Kalium hidroksida adalah suatu senyawa anorganik dengan rumus molekul KOH. Kalium hidoksida bersifat basa. BM : 56,1 g/mol Pemerian Kelarutan : Berbentuk padatan berwarna putih. : Sekitar 121 g KOH akan larut dalam 100 mL air pada suhu ruangan. Larut baik dalam methanol, etanol, dan 10

propanol. Kelarutan dalam etanol sekitar 40 gram KOH/100 ml etanol. Kegunaan : KOH digunakan sebagai pengering pada skala laboratorium. Sering digunakan sebagai pelarut dasar terutama golongan amina dan piridin. Penyimpanan : (Anonim, tt) 2.4.4 Sodium hidroksida (Natrium hidroksida) Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Ia bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan. Ia juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutan KOH. Ia tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non-polar lainnya. Larutan natrium hidroksida akan meninggalkan noda kuning pada kain dan kertas. Rumus molekul NaOH, massa molar 39,9971 g/mol, densitas 2,1 g/cm3 berbentuk padat, titik leleh 3180 C, titik didih 1390 0C (1663 0K). (Anonim, 2010) 2.4.5 Setil Alkohol Berupa serpihan putih atau granul seperti lilin, berminyak, memiliki bau dan rasa yang khas. Mudah larut dalam etanol 95% dan eter, kelarutannya meningkat dengan peningkatan suhu, tidak larut dalam air. HLB setil alkohol yaitu 15. Berfungsi sebagai emulsifying agent, stiffening agent, dan coating agent. Dalam sediaan losio, krim, dan salep biasa digunakan sebagai emolien dan emulsifying agent dengan konsentrasi antara 2-5%. Setil alkohol dapat meningkatkan konsistensi emulsi W/O

11

dengan konsentrasi 2-10%, dan meningkatkan stabilitas semisolid (Anggraini, 2008). 2.4.6 Propilen glikol Propilen glikol mengandung tidak kurang dari 99,5% C3H8O8. Pemerian Kelarutan :Cairan kental, jernih, tidak berwarna; rasa khas; praktis tidak berbau; menyerap air pada udara lembab. :Dapat bercampur dengan air, dengan aseton, dan dengan kloroform; larut dalam eter dan beberapa minyak esensial; tetapi tidak dapat bercampur dengan minyak lemak. Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup rapat. : Pembasah (konsentrasi untuk sediaan topical = 15%) (Rowe, et al., 2003). 2.4.7 Gliserin (C3H8O3) BM : 92,10. Gliserin mengandung tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari 101,0 % C3H8O3. Pemerian : Cairan seperti sirup; jernih; tidak berwarna; tidak berbau; manis diikuti rasa hangat. Higroskopis. Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk masa hablur tidak berwarna dan tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 20oC. Kelarutan : Dapat campur dengan air dan dengan etanol (95%) P; praktis tidak larut dalam kloroform P dalam eter P dan dalam minyak lemak. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. 12

Kegunaan

: Zat tambahan (pelembab).

2.4.8 Propilparaben (C10H12O3) BM : 180,20. Propilparaben mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 100,5 % C10H12O3, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian Kelarutan Penyimpanan 2.4.9 Metil Paraben : Serbuk putih atau hablur kecil, tidak berwarna. :Sangat sukar larut dalam air; mudah larut dalam etanol; dan dalam eter; sukar larut dalam air mendidih. : Dalam wadah tertutup baik.

HO

COOCH 3

Metil p id -h roksib zoat en C 6H8O3 BM 1 2 5 5 ,1
Organoleptis : Hablur kecil, tidak berwarna, atau serbuk hablur putih, tidak berbau atau berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa yang terbakar. Kelarutan : Sukar larut dalam air, dalam benzena dan dalam karbon terklorida, mudah larut dalam etanol dan dalam eter. Penggunaan : Pengawet (konsentrasi untuk sediaan topikal = 0,020,3%) (Rowe, et al., 2003) 2.4.10 Aqua Purificata

13

Air murni adalah air yang dimurnikan yang diperoleh dengan destilasi, perlakuan menggunakan penukar ion, osmosis balik, atau proses lain yang sesuai. Dibuat dari air yang memenuhi persyaratan air minum. Tidak mengandung zat tambahan lain (catatan: Air murni digunakan untuk pembuatan sediaan-sediaan). Bila digunakan untuk sediaan steril, selain untuk sediaan parenteral, air harus memenuhi persyaratan uji sterilitas atau gunakan air murni steril yang dilindungi terhadap kontaminasi mikroba. Tidak boleh menggunakan air murni untuk sediaan parenteral. Untuk keperluan ini digunakan air untuk injeksi, air untuk injeksi bakteriostatik atau air steril untuk injeksi. Rumus molekul BM Pemerian Penyimpanan : H2O : 18,02 g/mol : Cairan jernih, tidak berwarna; tidak berbau. : Dalam wadah tertutup rapat. (Anonim, 1995)

Kemurnian bakteriologi : Memenuhi syarat air minum.

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat • • • • • Penangas air Cawan porselen Batang pengaduk Neraca analitik Sudip 14

• • • • • • • • • • • 3.1.2 Bahan • • • • • • •
• •

Mortar Stamper Kertas saring Gunting Beaker glass pH meter Piknometer Pot krim Gelas ukur Kertas perkamen Thermometer Asam salisilat Asam stearat Potassium hidroksida Sodium hidroksida Cetyl alkohol Propilen glikol Gliserin Propil Paraben Metil Paraben Aqua purificata

• 3.2 Penimbangan Asam salisilat Asam stearat

6g 15 g 0.5 g 15

Potassium hidroksida

Sodium hidroksida Setil alkohol Propilen glikol Gliserin Propil Paraben Metil Paraben Aqua purificata Total 3.3 Cara Kerja

0.18 g 0.5 g 3g 5g 0.05 g 0.1 g 69.67 g + 100 g

• Bahan-bahan fase minyak (asam stearat, kalium hidroksida, natrium

hidroksida, setil alkohol, dan propilenglikol) dicampur bersama-sama dalam mortir/cawan petri sambil diaduk konstan pada suhu 70oC (titik leleh asam stearat).
• Bahan-bahan fase air (gliserin dan akuadest) dicampur bersama-sama dan

dipanaskan pada suhu yang sama seperti fase minyak dan dengan pengadukan yang konstan (campuran fase air).
• Campuran fase air ditambahkan setetes demi setetes ke dalam fase minyak

dengan pengadukan yang konstan.
• Setelah konsistensi krim mulai mengeras/memadat, ke dalam formula

ditambahkan zat aktif (asam salisilat) yang tak larut dengan metode levigasi (krim digerus hingga didapatkan massa yang lembut dan homogen).
• Bahan pengawet (propil paraben dan metil paraben) ditambahkan saat

pendinginan pada suhu 40oC. Digerus hingga homogen, kemudian dimasukkan ke dalam wadah.

16

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Pemilihan Bahan 4.1.1 Asam Salisilat Asam salisilat berfungsi mengelupaskan lapisan tanduk (keratolitik) sehingga obat dapat mudah menembus jaringan kulit. Asam salisilat memiliki efek keratolitik dan digunakan secara topikal untuk pengobatan kulit yang hiperkeratin dan bersisik seperti ketombe, psoriasis. Konsentrasi awal yang digunakan kira-kira 2%, jika perlu dapat ditingkatkan hingga 6%.

17

Asam salisilat memiliki sifat fungisida dan digunakan secara topikal pada pengobatan infeksi jamur kulit (Anonim, tt). 4.1.2 Asam Stearat Dalam formulasi topikal, asam stearat digunakan sebagai pengemulsi dan agen pelarut. Artinya, asam stearat dapa digunakan sebagai basis krim, disamping itu fungsinya sebagai agen pengemulsi menguntungkan dalam campuran yang mengandung air dan minyak. Asam stearat dalam penggunaannya dalam sediaan cream umumnya dibasakan dengan alkali. Asam stearat dinetralisir dengan basa sejumlah 5-15 kali beratnya sendiri dalam cairan berair. Penggunaannya dalam sediaan krim sejumlah 1-20%. Asam stearat digunakan sebagai basis krim stearat mampu tersaponifikasi dengan mudah dan bersifat netral, sehingga membentuk sabun yang stabil yang dapat dibuat dengan bahan-bahan hidrofilik dan lipofilik (Anonim, tt).

4.1.3 Potassium Hidroksida dan Sodium Hidroksida KOH dan NaOH digunakan sebagai pengatur pH sediaan. Karena basis krim yang bersifat asam, maka perlu ditambahkan KOH dan NaOH sebagai pengatur pH. Penampilan dan kelenturan sediaan krim ditentukan dari proporsi basa yang ditambahkan pada basis (Rowe, et al., 2003). Penambahan KOH dan NaOH berpengaruh pada penetrasi obat menembus kulit hewan dimana KOH dan NaOH akan membuat pH krim menjadi basa (7-7,4). Kulit hewan mamalia diketahui memiliki pH alkali (>7) sehingga krim yang bersifat basa akan dengan mudah meresap terpenetrasi di kulit hewan.

18

4.1.4 Setil Alkohol Dalam pembuatan emulsi minyak dalam air, setil alkohol dilaporkan memperbaiki stabilitas jika dikombinasi dengan agen pengemulsi larut air (dalam hal ini gliserin). Berfungsi sebagai emulsifying agent, stiffening agent, dan coating agent. Dalam sediaan losio, krim., dan salep biasa digunakan sebagai emolien dan emulsifying agent dengan konsentrasi antara 2-5%. Kombinasi campuran agen pengemulsi ini menghasilkan barrier yang dapat mencegah terjadinya koalesens droplet. sebagai agen pengemulsi adalah 2-5 %. 4.1.5 Propilenglikol Propilenglikol digunakan sebagai agen pembasah dalam pembuatan sediaan krim. Selain itu fungsi dari propilenglikol adalah sebagai pelarut propil paraben dan metil paraben yang merupakan pengawet dalam sediaan krim (Anonim, 2005). Sifat propilenglikol hampir sama dengan gliserin hanya saja propilenglikol lebih mudah melarutkan berbagai jenis zat. Sama seperti gliserin fungsi propilenglikol adalah sebagai humektan, namun fungsi dalam formula krim adalah sebagai pembawa emulsifier sehingga emulsi menjadi lebih stabil (Rowe, et al., 2003). 4.1.6 Gliserin Gliserin biasanya banyak digunakan dalam berbagai formulasi baik dalam sediaan oral, topikal, ataupun parenteral. Untuk sediaan topikal dan kosmetik, penggunaan gliserin adalah sebagai humektan atau emolien. Gliserin juga digunakan sebagai solven atau kosolven dalam emulsi krim. Penggunaan gliserin dalam sediaan topikal sebagai emolien ataupun humektan adalah ≤ 30% (Rowe, et al., 2003). Penggunaan setil alkohol

19

4.1.7 Metil Paraben dan Propil Paraben Metil paraben dan propil paraben digunakan sebagai bahan pengawet untuk mencegah tumbuhnya mikroba dalam sediaan krim. Dimana krim merupakan Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60% air, yang dimaksudkan untuk pemakaian luar. Jadi, adanya kandungan air dapat berpotensi ditumbuhi oleh mikroorganisme. Metil paraben biasanya digunakan sebanyak 0,12%-0,18% dan propil laraben 0,02%-0,05% (Anonim, 2010). 4.1.8 Aqua Purificata Aqua purificata adalah air untuk persiapan obat selain yang yang diperlukan untuk menjadi steril dan apyrogenic, kecuali dinyatakan dibenarkan dan diijinkan (Anonim, 2009).

4.2 Metode Pembuatan Cara pembuatan salep adalah bagian lemak dilebur di atas tangas air, kemudian tambahkan bagian airnya dengan zat pengemulsi. Setelah itu diaduk sampat terbentuk suatu campuran yang berbentuk krim (Anonim, 2009). 4.3 Uji Stabilitas Sediaan Krim 4.3.1 Fisika 4.3.1.1 Pemeriksaan kestabilan fisik Sediaan krim diamati secara organoleptis untuk mengetahui homogenitas, warna dan bau setiap minggu selama delapan minggu pada suhu kamar (Padmadisastra dkk, 2007). 4.3.1.2 Pemeriksaan pH

20

Sediaan krim diukur nilai pH-nya menggunakan pH meter setiap minggu selama delapan minggu pada suhu kamar (Padmadisastra dkk, 2007). 4.3.1.3 Distribusi ukuran partikel Penentuan ukuran partikel tubuh padat tersuspensi berlangsung melalui pengukuran secara mikroskopik. Mereka dipermudah melalui mikroskop proyeksi (lanameter), pada obyek sangat diperbesar yang muncul di atas sebuah layar focus dengan mistar. Pengukuran orientasi juga dapat grindometer (Voigt, 1994). 4.3.2 Biologi 4.3.2.1 Uji Efektivitas Pengawet Antimikroba Mikroba uji Gunakan biakan mikroba berikut: Candida albicans (ATCC No. 10231), Aspergillus niger (ATCC No. 16404), E. coli (ATCC No. 8739), P. aeruginosa (ATCC No. 9027), dan S. Aureus (ATCC No. 6538). Selain mikroba yang disebut di atas dapat digunakan mikroba lain sebagai tambahan terutama jika dianggap mikroba bersangkutan dapat merupakan kontaminan selama penggunaan sediaan tersebut. Media untuk biakan awal mikroba uji, pilih media agar yang sesuai untuk pertumbuhan yang subur mikroba uji, seperti Soybean-Casein Digest Agar Medium yang tertera pada Uji Batas Mikroba. Pembuatan Inokulasi Sebelum pengujian dilakukan, inokulasi permukaan media agar bervolume yang sesuai, dengan biakan persediaan segar mikroba yang akan digunakan. Inkubasi biakan bakteri pada suhu 300 hingga 350 selama 18 jam sampai 24 jam, biakan Candida

21

albicans pada suhu 200 hingga 250 selama 48 jam dan biakan Aspergillus niger pada suhu 200 hingga 250 selama 1 minggu. Gunakan larutan NaCl P 0,9% steril untuk memanen biakan bakteri dan Candida albicans, dengan mencuci permukaan pertumbuhan dan hasil cucian dimasukkan ke dalam wadah yang sesuai dan tambahkan larutan NaCl P 0,9% steril secukupnya untuk mengurangi angka mikroba hingga lebih kurang 100 juta per mL. Untuk memanen Aspergillus niger, lakukan hal yang sama menggunakan larutan NaCl P 0,9% steril yang mengandung polisorbat 80 P 0,05% dan atur angka spora hingga lebih kurang 100 juta per mL dengan penambahan larutan NaCl P 0,9% steril. Sebagai alternatif, mikroba dapat ditumbuhkan di dalam media cair yang sesuai, dan panenan sel dilakukan dengan cara sentrifugasi, dicuci, dan disuspensikan kembali dalam larutan NaCl P 0,9% steril sedemikian rupa hingga dicapai angka mikroba atau spora yang dikehendaki. Tetapkan jumlah satuan pembentuk koloni tiap mL dari tiap suspensi, dan angka ini digunakan untuk menetapkan banyaknya inokulasi yang digunakan pada pengujian. Jika suspensi yang telah dibakukan tidak segera digunakan, suspensi dipantau secara berkala dengan metode lempeng Angka Mikroba Aerob Total seperti yang tertera pada Uji Batas Mikroba untuk menetapkan penurunan viabilitas. Untuk memantau angka lempeng sediaan uji yang telah diinokulasi, gunakan media agar yang sama seperti media untuk biakan awal mikroba yang bersangkuatan. Jika tersedia inaktivator pengawet yang khas, tambahkan sejumlah yang sesuai ke dalam media lempeng agar. Prosedur jika wadah sediaan dapat ditembus secara aseptik menggunakan jarum suntik melalui sumbat karet, 22

lakukan pengujian pada 5 wadah asli sediaan. Jika wadah sediaan tidak dapat ditembus secara aseptik, pindahkan 20 mL sampel ke dalam masing-masing 5 tabung bakteriologik bertutup berukuran sesuai dengan steril. Inokulasi masing-masing wadah atau tabung dengan salah satu suspensi mikroba baku, menggunakan perbandingan 0,10 mL inokulasi setara dengan 20 mL sediaan, dan campur. Mikroba uji dengan jumlah yang sesuai harus ditambahkan sedemikian rupa hingga jumlah mikroba di dalam sediaan 1 juta per mL. Tetapkan jumlah mikroba viabel di dalam tiap suspensi inokula, dan hitung angka awal mikroba tiap mL sediaan yang diuji dengan metode lempeng. Inkubasi wadah atau tabung yang telah diinokulasi pada suhu 200 hingga 250. Amati wadah atau tabung pada hari ke 7, ke 14, ke 21, dan ke 28 sesudah inokulasi. Catat tiap perubahan yang terlihat dan tetapkan jumlah mikroba viabel pada tiap selang waktu tersebut dengan metode lempeng. Dengan menggunakan bilangan teoritis mikroba pada awal pengujian, hitung perubahan kadar dalam persen tiap mikroba selama pengujian. Penafsiran hasil suatu pengawet dinyatakan efektif di dalam contoh yang diuji jika: Jumlah bakteri viabel pada hari ke 14 berkurang hingga tidak lebih dari 0,1% dari jumlah awal. Jumlah kapang dan khamir viabel selama 14 hari pertama adalah tetap atau kurang dari jumlah awal. Jumlah tiap mikroba uji selama hari tersisa sedari 28 hari pengujian adalah tetap atau kurang dari bilangan yang disebut pada a dan b (Anonim, 1995). 4.3.2.2 Uji Batas Mikroba

23

Dilakukan untuk memperkirakan jumlah mikroba aerob viabel di dalam semua jenis perbekalan farmasi, mulai dari bahan baku hingga sediaan jadi dan untuk menyatakan perbekalan farmasi tersebut bebas dari spesimen mikroba tertentu. Spesimen uji biasanya terdiri dari Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa dan Salmonella. Pengujian dilakukan dengan menambahkan 1 mL dari tidak kurang enceran 10-3 biakan mikroba berumur 24 jam kepada enceran pertama spesimen uji (dalam dapar fosfat 7,2, Media fluid Soybean-Casein Digest atau Media Fluid Lactose Medium) dan diuji sesuai prosedur (Anonim, 1995).

4.3.3 Kimia Penetapan kadar Timbang seksama lebih kurang 60 mg lakukan penetapan seperti yang tertera pada pembakaran dengan labu oksigen. Menggunakan labu 100 mL dan campuran 10 mL air dan 5.0 mL hidrogen peroksida LP sebagai cairan penyerap. Jika pembakaran telah sempurna isi bibir labu dengan air, longgarkan sumbat dan bilas sumbat, pemegang contoh dan dinding labu dengan air dan bekas sumbat. Panaskan isi labu sampai mendidih dan didihkan selama lebih kurang 2 menit. Dinginkan sampai suhu kamar dan titrasi dengan natrium hidroksida 0,1 N LP menggunakan indikator fenolftalein LP. Lakukan penetapan blanko (Anonim, 1995).

24

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. 2005. Ilmu Meracik Obat. UGM Press: Yogyakarta Anggraini, C.A. 2008. Pengaruh Bentuk Sediaan Krim, Gel dan Salep terhadap Penetrasi Aminofilin sebagai Anti Selulit secara In Vitro Menggunakan Sel Difusi Franz. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia: Depok Anonim. tt. Kegiatan Belajar I (Evolusi Fungi). (cited 11 Nov, 2010). Available at : http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN %20IPA/196307011988031%20-%20SAEFUDIN/Evolusi%20fungi%20dan %20hewan.pdf Anonim. tt. Kosmetika Mata. (cited 9 Nov, 2010). Available at :

http://sanchia.blogspot.com/2009/12/kosmetika-mata.html Anonim. tt. Tinjauan Tentang Asetosal dan Asam Salisilat. (cited 9 Nov, 2010). Available at : http://digilib.ubaya.ac.id/skripsi/farmasi/F_184_1820070/ F_184_Bab%20II.pdf Anonim. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia

25

Anonim. 2005. European Pharmacopoeia ed. V. (cited 9 Nov, 2010). Available at: http://lordbroken.wordpress.com/author/lordbroken/page/3/ Anonim. 2009. Struktur Histologi Kulit. (cited 11 Nov, 2010). Available at: http://ajarhistovet.blogspot.com/2009/04/bab-9-struktur-histologi-kulit.html Anonim, 2010. Antijamur. (cited 11 Nov, 2010). Available at: http://en.wikipedia.org/wiki/antifungal_drug Lachman, L., Herbert A. L., Joseph L. K. 2008. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi III. UI Press : Jakarta Padmadisastra, Yudi dkk. 2007. Formulasi Sediaan Krim Antikeloidal yang Mengandung Ekstrak Terfasilitasi Panas Microwave dari Herba Pegagan (Centella asiatica (l.) urban). Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran: Bandung Rowe, Raymond C., Paul J. S., Paul J. W. 2003. Handbook of Pharmaceutical Excipients. Pharmaceutical Press : London Voigt, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. UGM Press: Yogyakarta

26

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful