Bab V.

Metafora Pada Kartun Editorial Pada bab ini akan dibahas khusus metafora dan aspek emotif kartun editorial, dari perspektif seni rupa, politik dan budaya. Bahasan pertama akan menyoroti segi olah rupa kartun editorial masa tersebut. Berikutnya akan dibahas posisi metafora kartun editoial sebagai kritik politik masa itu. Bagian terakhir adalah relasi antara metafora kartun dengan kebudayaan yang menaunginya. Melalui bahasan ini dapat ditarik kesimpulan tentang peranan metafora dan aspek emotif pada tiga bidang tersebut.

V.1. Metafora Kartun Sebagai Olah Rupa Gambar kartun merupakan karya rupa, yang diungkapkan dan dikomunikasikan melalui bahasa rupa. Tetapi tulisan verbal pun banyak dipakai dalam kartun. Kalau kartun terlalu banyak menggunakan bahasa verbal maka gambar hanyalah unsur penarik dan sekedar situasi tutur, di mana kata-kata menjadi faktor dominan dalam komunikasi. Tarik menarik antara dua cara berbahasa itu sudah terjadi sejak awal kehadiran kartun, dan hal itu tidak lepas dari teknik produksi grafis. Pada masa awal percetakan, teks dan judul selalu berada di luar bidang gambar. Teknik cetak yang menyebabkan harus demikian penampilannya.

gambar V.1. Kartun Abadi: Judul, Caption dan Label

189

Dalam

kasus

demikian,

antara

gambar

dengan

teks

terhubung

dengan

memperlakukan judul (headline) di atas gambar sebagai konteks apa yang diungkap gambar. Caption menerangkan lebih rinci kemana interpretasi kartun dimaksudkan. Dalam pengungkapannya bisa terjadi judul dan teks menjadi pigura pembatas dan pengarah bagaimana kartun dibaca. Tetapi tidak jarang pula terjadi bahwa akhirnya gambar hanya menjadi ilustrasi dari tulisan, visualisasi teks semata. Seluruh pengertian dan permainan terletak pada teks atau pun caption. Harian Rakyat menggunakan caption pada seluruh kartun mingguannya, hingga sering gambar hanyalah visualisasi deskriptif dari teks. Tanpa membaca teks kadang sulit dimengerti maksud gambarnya. Harian Rakyat masih menambah balon kata pada beberapa kartunnya. Kalau diperhatikan baik-baik karya Ramelan dan Sibarani, kartunis paling produktif dan piawai masa itu, ternyata mereka sama sekali tidak menggunakan balon kata. Harian Rakyat dapat dikatakan lebih maju dalam pemanfaatan balon kata. Tetapi ke dua kartunis tersebut pun lebih giat mengolah bahasa rupa, meletakkan teks sebagai pengarah saja tentang maksud dan arah gambarnya. Dalam hal ini Sibarani dan Ramelan pada beberapa karyanya berusaha mengurangi kata sesedikit mungkin, kadang tanpa teks. Hal tersebut bisa dimengerti karena, isu yang digambar sebetulnya sudah tercantum di halaman surat kabar tersebut, dan pembaca sudah mempunyai pengetahuan tentang berita tersebut. Hal ini juga menegaskan bahwa kartun bukanlah penyampai berita, tetapi media menyampaikan tanggapan atas berita yang sedang ramai dibicarakan masyarakat. Seperti disampaikan terdahulu, sebenarnya berbeda dengan snapshot fotografi, gambar bukan rekaman apa yang dilihat. Gambar merupakan tanggapan melalui proses seleksi, reduksi dan sikap yang diajukan. Pada kartun editorial semua berita dan ikon berita hingga isu tentang topik telah dipaparkan dalam berita media, baik surat kabar maupun radio. Kartun editorial menanggapi isu yang sedang dibahas di media, memampatkan dan menawarkan opini pada pembaca yang saat itu telah dibekali data tentang isu tersebut. Karena itu kartun editoril selalu kontekstual dengan situasi saat mana dan di mana karya tersebut diciptakan. 190

Teks verbal yang sulit dihindari adalah pemasangan label nama yang diterakan pada orang ataupun benda pada kartun. Teks label demikian bahkan ditemukan pada karikatur cukilan kayu pada gambar I.1. menentang gereja Katolik. Di gambar perlu diberi judul bahwa itu adalah Paus. Dalam kartun sulit menghindari pencantuman label, karena yang dikomentari adalah tokoh ataupun lembaga yang memiliki nama. Pencantuman nama mempermudah pengamat mengartikan kartun yang dilihatnya. Kartun masa Demokrasi Parlementer melempar kritik secara terbuka, kadang langsung kepada tokoh yang dituju. Untuk menegaskan arah kritik label sangat marak digunakan, seakan kartunis khawatir maksud gambarnya tak dikenal pengamat. Meskipun label kadang kesannya berlebihan (overdone), tapi untuk jangka panjang identifikasi verbal menolong pengamat yang sudah jauh melewati masa tersebut agar tetap mengetahui siapa tokoh yang dimaksud. Setelah lewat 50 tahun tak diketahui lagi seperti apa misalnya wajah Burhanuddin Harahap atau Ali Sostroamidjojo. Bila kartun dilihat sebagai dokumen sejarah pencantuman jadi penting. Bila dilihat sebagai karya satire, kecerdikan bermain metafora yang dapat dinikmati oleh pengamat dari masa ke masa menjadi lebih bermanfaat.

Gambar V.2. Kartun Sibarani Tanpa Kata, Bintang Timur 1957 191

Tiap bagian wajah ditindih dan disubstitusi dengan objek lain. Tak selalu pengamat bisa menemukannya karena dua kendala. Berbeda dengan lelucon slapstick yang segera tertangkap lucunya. beberapa bagian sebetulnya sangat tidak sopan (perempuan telanjang mengencingi orang tidur) dan kejam (orang dijadikan rokok). atau gambar apa saja. Tiap pengamat bisa mengambil kesan sendiri tentang gambar ini. Humor slapstick menonjolkan lelucon fisik yang denotatif. Meski demikian. Dalam kartun humor relasi ini merupakan tahap pertama disorientasi visual. Timbul pertanyaan. tidak semua orang memiliki daya imajinasi cukup luas untuk menangkap metafora yang kadang sulit. Konotasi ini merupakan bagian yang mengasyikkan bagi pengamat. Kendala pertama adalah lingkup pengetahuan dan kecerdikan pengamat untuk menemukan arti metaforik. hingga makna terungkap melalui penggabungan berbagai objek yang menggambarkan muka orang. kejanggalan yang menerbitkan tawa.2. meski tanpa kata seakan memuat teks yang kaya akan cerita.Kartun Sibarani pada gambar V. Bila diamati lebih rinci. menebak membutuhkan pengetahuan dan kejelian pengamat untuk menggalinya. Banyak teori tentang persepsi membahas ini. metafora menawarkan persamaan dalam perbedaan antara maksud pesan (topic) dan cara mengatakan (vehicle). Tapi tahap yang sederhana selalu dimulai dengan pertama-tama menangkap apa yang dilihat. manis dengan bunga dekorasi pada pipi. bagaimana sebenarnya orang membaca kartun. Dalam gambar yang mengundang nilai konotasi. Tanpa teks pun sebuah kartun bisa bercerita banyak. Semua objek yang digambar direlasikan untuk mendapat pengertian tentang apa yang digambar. Meski sepintas kesannya lucu. Tahap berikut adalah usaha pengamat mengkonotasikan gambar dengan sesuatu yang mungkin tersembunyi di baliknya. digambar secara denotatif (ikon / isi wimba). dan sebagian lagi yang menjadi lahan untuk menginterpretasi makna di balik gambar. Kendala lainny juga adalah perbendaharaan pengetahuan tentang 192 . Dalam tebakan selalu ada sebagian hal yang sudah diketahui pengamat. mencari perluasan makna gambar.

Kedua tahap awal di atas yang biasanya dibahas dalam semiotik. Kartun Anonim di Surat Kabar Obor Rakjat 193 . Gambar V.masalah yang diungkap. Potret pun pada dasarnya dibangun melalui unsur rupa dasar. Tanpa terlalu disadari natural metaphor mempengaruhi tanggapan pengamat terhadap pesan yang diungkap gambar. membentuk gelap-terang dan susunan gambar. “cara wimba” atau cara gambar secara subversif mengungkap sisi emotif pesan tersebut. kemudian menggali konotasi di balik gambar untuk menemukan makna di balik tanda. mulai dari ikon (juga index dan simbol). yaitu membaca ideologi di balik gambar. Sering elemen rupa dasar ini yang secara tersirat mengungkap aspek emotif gambar. Roland Barthes menyebut hal tersebut sebagai Myth atau mitos (Barthes. Tahapan awal dalam melihat yang jarang diperhatikan.3. cara menggaris. karena memotret tidak semata-mata merekam cahaya menjadi gambar. karena faktor sistem simbol berbeda-beda dalam proses komunikasi. Hingga dapat dipahami bahwa sebuah kartun editorial tak universal. Sering lelucon dari satu komunitas tak dimengerti pengamat dari latar yang berbeda. Bila “isi wimba” atau objek yang digambar menyuguhkan pada pengamat isi maksud pesan. Ini berlaku pula pada karya fotografi. 1983: 109-134). yang sebetulnya lebih dahulu sampai ke mata pengamat daripada dua tahap di atas. adalah penangkapan terhadap bentuk rupa dasar sebuah gambar.

Komposisi diagonal. IV. Gilray di mana kepatuhan anatomi dan pemanfaatan nada tengah menjadi perhatian para kartunis. Kartun-kartun Sibarani dikatakan membawa spirit Gillray (Anderson. bukan gaya gambarnya. melebih-lebihkan agar baik secara ikonik maupun secara rupa dasar menggelitik pengamat. Ramelan yang paling piawai dalam mendistorsi wajah maupun sikap tubuh. Orientasi secara umum lebih cenderung pada gaya kartun politik Eropa abad-XIX seperti Daumier. teknik kuas yang kasar dan naive secara tak disadari (subversif) memancarkan kesan emotif sakit tersebut.39. Kesan yang sama dijumpai pula pada coretan grafiti di dinding ruang publik. Dari kartun yang diteliti. bentuk ekspresi dan wajah.41.) Pada umumnya dalam pengolahan gestural dan sikap tubuh.43. karena sinisme ungkapannya. Jarang ditemukan distorsi yang menyolok seperti yang dilakukan Ramelan. Rowlandson. Kesan sakit bukan saja diakibatkan oleh ikonnya yang lugu tentang seseorang dicekik tangan besar sampai lidahnya keluar. Dengan gaya gambar realistis yang pada tahun 1955 dan selanjutnya makin sempurna. IV. baik dalam penguasaan alat maupun merekam bentuk. (gambar IV. Meski pada beberapa karya Sibarani kadang menggunakan juga garis kuas yang ramai. Gaya kartun Jepang yang diperkenalkan oleh Majalah Djawa Baroe dengan kesederhanaan garis outline tak berpengaruh dalam perkembangan kartun editorial di Jakarta. kartunis mencoba menggambarkan manusia dalam proporsi anatomi yang realistis melalui teknik kuas dan nada tengah. namun gaya gambar garis 194 . Tetapi secara emotif kartun tersebut keras dan pathetic.Secara teknis kartun editorial dari surat kabar Obor Rakjat di atas dianggap lemah. gerak tubuh menjadi hal pertama ditangkap pengamat. Karena itu kartun mengutamakan distorsi. Kartun editorial kebanyakan menggunakan manusia sebagai pengantar pesan. 1990:163). Dalam kasus kartun editorial yang diteliti distosi wajah dan tubuh tak banyak dilakukan. Ramelan dapat menggerakkan emosi melalui gerak tubuh yang lucu dan ekstrim. Gaya gambar ataupun lukisan naive (Primitive Art) digemari orang karena pancaran emotif yang misterius demikian.

Gambar V. Dalam pengolahan rupa kartun masa itu pemanfaatan gestural dan distorsi wajah tak terlalu menonjol. sering malah menyerupai wajah binatang. ideologi ataupun simbol sosial tertentu. metafora bukan manusia 195 . Sibarani memanfaatkan baik sikap tubuh maupun ekspresi wajah. Melalui gaya gambar garis yang bebas.penanya yang khas tak ditemui pada kartunis lain masa itu. dunia binatang seperti dalam fabel. kartunis ekspresionis Jerman di masa menjelang kekuasaan Hitler. Padahal binatang mempunyai potensi untuk dijadikan tokoh metafora kartun.11) digunakan kartunis Dukut hendronoto sebagai metafora dunia pendidikan. Menggunakan binatang membuat ada jarak antara isu yang diangkat (yang biasanya tentang manusia) dengan kendaraan metaforiknya. Binatang telah terdapat dalam perbendaharaan simbol sebagai wakil dari aspirasi. Keduanya menggunakan garis yang spontan dan tidak patuh pada hukum realisme. Tarikan garisnya lebih mirip Georg Grosz. Seperti halnya Ramelan. Bagaimanapun kecenderungan menggunakan tokoh binatang sangat langka pada masa tersebut. Pada olah wajah. Itu membuat karyanya unik. hingga gambar mereka dikenang banyak orang hingga kini. Kartun Harian Rakyat. Permainan berjarak itu memberi kesenangan sendiri kepada pengamat untuk menafsirnya.4. Sibarani menggambarkannya lebih garang dan ekspresif. tapi juga tak disukai tokoh yang dikritik. gerak tubuh pada karya Sibarani sering lentur tidak taat anatomi. Burung hantu (gambar IV. Suasana ramai lebih banyak muncul karena penyusunan prinsip rupa dasar yang dinamis.

196 . Tapi meletakkan keong sebagai subjek merupakan gagasan baru yang segar. terdapat metafora melalui binatang dan benda.6.38). yang tak dilakukan kartun media lain. Pada gambar IV. Sebetulnya keong dijadikan wakil karena merupakan korban dalam berita yang diangkat (orang makan keong).Beberapa contoh menunjukkan keasikan metafora bukan manusia seperti yang dilihat pada gambar Ayam dan Kucing di Indonesia Raya (gambar IV. Harian Rakyat yang sangat dominan metafora bekunya. kadang muncul dengan sesuatu yang segar.

Bola kartu pada kartun sebelah kanan secara cerdik menggabung bola dengan kartu yang biasanya digunakan untuk berjudi. Pada “Gone With The Wind”. hanya dari pandangan selintas terhadap seluruh karya melalui tampilan visualnya saja. Kalau dikembalikan pada situasi politik masa Demokrasi Parlementer yang terbuka dan keras.Dua contoh lain pada gambar di atas malah menggunakan benda sebagai subjek gambar. Penggabungan ini segera terkonotasikan dengan Totalisator. V. kesan keras dan ribut nyaris anarkis segera tampak menonjol. karena diambil dari situasi aktual sehari-hari. Karena itu tampilan metafora pada kartun masa itu berkesan terbuka. Tanpa perlu mengetahui peristiwanya. bermetafora melalui manusia dan alam nyata terasa lebih langsung mengenai sasaran. yang judi bola marak di Jakarta. merupakan media 197 . tapi jarang dimanfaatkan kartunis masa itu. Metafora Kartun Sebagai Kritik Politik Surat kabar yang semula dibuat sebagai media penyebar berita. Alam nyata memang lebih mudah dicerna pengamat. situasi dan cara gambar (rupa dasar) yang secara emotif sangat dinamis. Dongeng dan khayal mungkin menarik. Umumnya kartun editorial masa itu menggunakan manusia dan alam lingkungan nyata sebagai objek dan situasi metaforiknya. Menambahnya dengan sobekan kata “Demokrasi” segera menghubungkan dua topik yang sebetulnya tak berhubungan secara isi. hal mana hampir tak pernah dilakukan oleh kartun lain. Kesan tersebut terutama ditangkap melalui ungkapan metafora objek.2. kartun menumpang popularitas filem yang sedang ramai di putar saat itu. tetapi tersambung secara mengejutkan melalui angin (konotasi pergi atau hilang). tetapi mengandung jarak aktualitas dengan topik yang diungkap. Apalagi belum tentu dongeng yang dipilih diketahui sebagian besar pengamat. keras dan ramai. tidak terlalu berputar-putar dalam sindiran. Bermain dengan binatang dan benda seperti ini merupakan potensi metafora visual yang menarik. Jarang sekali digunakan alam khayal ataupun pengalihan melalui dongeng.

Sikap dialektik dua pihak ini menjadi semacam kebiasaan surat kabar Indonesia. Sebagai pembentuk opini. Karena itu surat kabar sering disebut sebagai agen demokratisasi berpikir. Dengan demikian pembaca merasa berperan dalam pilihan pendapat dalam masyarakat. surat kabar menjadi media untuk menyebarkan 198 . Orang memilih surat kabar bukan hanya karena berita faktual yang ditulis. menghadapi pemerintah yang saat itu menjajah. semula untuk meminta persamaan hak dan kemudian menuntut kemerdekaan. Masalah beralih kepada bagaimana mengatur jalannya negara. Posisi surat kabar masa itu adalah pembela nasib pembaca yang merasa terjajah. setidaknya partisipasi pasif melalui kesamaan opini dengan apa yang dibacanya. dan para kolaborator berpihak pada Belanda. Sikap demikian bukan hanya tercermin dari tulisan surat kabar. Masa pendudukan Jepang surat kabar tertutup untuk kritik terhadap penguasa. Kemampuan ini meningkatkan kecerdasan dan wawasan masyarakat pembaca tentang posisinya dalam sistem sosial. Dalam situasi dimana tidak ada pihak yang dominan menguasai opini masyarakat. dan hanya menyerang musuh Jepang yaitu negara-negara Sekutu sebagai musuh luar.yang meluaskan kemampuan baca-tulis secara luas. Pada masa Kebangkitan Nasional di Indonesia surat kabar dimanfaatkan sebagai media perjuangan. Peranan demikian kemudian memposisikan surat kabar bukan hanya media berita saja. tetapi juga kartun yang dimuatnya. surat kabar pembela rakyat dan pengkritik penguasa. Setelah musuh dari luar tidak menjadi perhatian karena Indonesia telah diakui kedaulatannya oleh dunia. Karena itu surat kabar kemudian berperan pula sebagai kesadaran kelompok. tetapi juga opini dan kebijakan politik yang sesuai dengan pandangan pembaca. perhatian kepada situasi dalam negeri. surat kabar berinteraksi dengan masyarakat tentang cara “melihat dunia”. yaitu pasukan Sekutu yang membawa Belanda berusaha kembali berkuasa. Pada masa revolusi pun kritik diarahkan ke luar. Pada masa Demokrasi Parlementer tahun 1950 – 1957 situasi berubah. tetapi secara sadar dan sistematis sebagai menyebar opini dan pandangan politik pengelola media tersebut.

Melalui bentuknya yang visual dan total maka ungkapannya segera dapat ditangkap dibandingkan tulisan yang linear. Banyak orang yang masih menggunakan istilah karikatur karena. Sejak awal misi kartun editorial sudah terbentuk sebagai media kritik. Dari surat kabar yang dibahas dalam penelitian ini. Karena itulah kartun editorial. Dalam situasi politik yang berimbang. Ungkapan kritik bukan ditujukan hanya kepada pihak dan tokoh yang dikritik. gambar sindiran demikian pada dasarnya adalah gambaran karikatural (distorsi) bukan cuma tokoh tapi juga distorsi situasi masyarakat. dan mengarahkan opininya sebagai pemberi masukan berupa kritik pada pemerintah. seakan tampil dalam peranan sebagai karya satire sosial atau media mengkritik. tetapi terutama kepada 199 . Pedoman berusaha tetap netral sebagai koran independen. surat kabar Suluh Indonesia dan Merdeka merupakan media bagi pembaca golongan nasionalis. pun pihak lawan politik yang kebetulan sedang berkuasa. Harian Rakyat dan Bintang Timur merupakan media golongan kiri. Kartun menjadi opini visual dari pandangan dan kebijakan surat kabar. Sebagai misal. Kehadiran kartun di surat kabar pun dilihat sebagai media kritik. Kartun editorial dalam posisi ini dimanfaatkan sebagai media kritik terhadap kebijakan maupun ideologi yang tak sepaham. Abadi menjadi lawan politik membawa suara golongan beragama. yang oleh sebagian masyarakat masih disebut karikatur. nyaris tak ada tekanan untuk beropini terbuka. Kartun editorial dipandang sebagai lahan untuk melempar kritik. juga militer yang menjadi musuh golongan kiri. Kekuatan ini yang dimanfaatkan surat kabar untuk menampilkan opini. Disinilah kemudian faksi-faksi politik memanfaatkan surat kabar untuk mempengaruhi opini dan membina kelompok masyarakat yang sependapat dalam aspirasi politik.pendapat tentang bagaimana seharusnya negeri ini dikelola. Indonesia Raya yang merupakan surat kabar independen merupakan media penyeimbang yang berpihak pada golongan agama dan sosialis kanan. “Surabaya” karya sastrawan Idrus. atau juga “Bunga Rumah Makan” karya Utuy Tatang Sontani sering disebut sebagai karya sastra karikatur masyarakat.

dan kaum nasionalis. kartun editorial menggunakan metafora untuk menajamkan maksud gambar. Masyarakat pembaca Suluh Indonesia adalah terutama simpatisan PNI yang terdiri dari pejabat pemerintah. Kepercayaan diri ini membuat Suluh Indonesia lebih berani terbuka mengkritik lawan politiknya. Sebaliknya. berpendidikan baik. Ali Sostroamidjojo kelihatan tak cakap dan konyol (gambar IV. kaum priyayi non muslim. simpatinya pada PNI tak bisa dirahasiakan. kalau pengamat hanya melihat kartun dari Indonesia Raya. Siapapun lawan yang muncul di surat kabar ini selalu dijadikan sasaran ejekan. Garis politik surat kabar ini pun mengikuti pikiran tersebut. Sikap hitam putihnya nyaris mirip Harian Rakyat. sadar politik.22).40). terutama organisasi muslim yang menentang sekularisme. Demikian pula dari Harian rakyat akan diperoleh opini negatif tentang Amerika (gambar IV. Mereka adalah kaum intelektual yang sudah terbina lama sejak masa pergerakan. Kartun menjadi penyebar opini dan pembina keberpihakan. Burhanuddin Harahap akan dianggap jahat dan bodoh (gambar IV. Kartun Ramelan di Suluh Indonesia memperlihatkan selalu sikap demikian bila 200 . Kritik sinis Bintang Timur mengajak pengamat mengejek para perwira pembangkang (gambar IV. pengagum buah pikiran Sukarno dan cenderung chauvinistic kepada rasa nasionalisme Indonesia.sesama pembaca yang sepihak dengan ideologi surat kabar tersebut. Tetapi Suluh Indonesia lebih percaya diri karena didukung partai terbesar kedua setelah Masjumi.46).35). Suluh Indonesia selalu membela apapun yang dilakukan tokoh-tokoh PNI. Sebagai surat kabar partisan PNI. Sebagai media kritik politik. PNI secara de facto menjadi golongan terkuat. Meskipun Sukarno menanggalkan keanggotaan dalam PNI karena menjadi presiden. Bahkan setelah NU keluar dari Masjumi dan membentuk partai sendiri. Kalau pengamat hanya melihat kartun dari Suluh Indonesia secara selintas tanpa mengetahui latar beritanya. dan mencela apapun yang dilakukan lawan politiknya. menganggap lawan golongan yang kurang nasionalis. Melalui metafora visual tiap pihak yang bertikai membangun citra negatif pada lawannya.

5.mengomentari pihak lawan. surat kabar ini menggunakan kartun juga sebagai media menyebar pujian kepada program pemerintah. Tetapi berbeda dengan kias beku di Harian Rakyat. Metafora sebagai ungkapan emotif pujian tampak pada kartun Jembatan “Dewan Nasional” (gambar IV. Surat kabar Merdeka sebagai sesama pembela pikiran Sukarno menampilkan pula kartun pujian “gerakan Hidup Baru” (IV. Kartun di Suluh Indonesia juga dimanfaatkan untuk dukungan dalam pemilihan umum.27). kartun kampanye sebagai media persuasi menekankan sikap emotif yang positif. Gambar V. saat mana PNI sudah jelas menjadi pemenang Pemilihan Umum.42). harmonis dan optimis. Menjadi wakil ideologi paling dominan (karena posisi Sukarno sebagai presiden). Masjumi dan PSI. Kartun Ramelan: Kampanye PNI 201 . Dalam kartun demikian yang digunakan adalah metafora beku. Ini terutama tampak pada tahun 1955 – 1957.

Sebagai sarana pembujuk. karya Ramelan dalam kartun kampanye menampilkan sikap emotif yang berbeda. Kritik gencar kepada Presiden menjadikan masalah bagi kelangsungan hidup surat kabar tersebut. tetapi bergantung kepada misi apa yang harus disampaikan kepada khalayaknya.6. Gambar V. Metafora yang digunakan pun berbeda dengan kartun kritiknya yang selain segar juga unik mengolah berbagai kendaraan kias Indonesia. Sikap terbuka ini menjadi ciri pandangan demokratis Indonesia Raya. mengambil kebijakan demokrasi di negara maju yang lebih dulu menerapkan sistem demokrasi demikian. kartun menampilkan representasi sasaran dalam sikap emotif yang positif. Metafora dan sikap emotif disesuaikan dengan tujuan pesan. Kartun Indonesia Raya secara jelas mengkritik pernikahan Presiden dengan Hartini. Dari kasus ini terlihat bahwa kartunis tidak membawa pendapatnya sendiri. tani dan tentara. Sebagai pengimbang terhadap gerakan golongan kiri. Melalui kartun Tong Kosong (gambar IV. pemuda pemudi kota. Indonesia Raya mengarahkan pangsanya kepada kaum intelektual kota yang berhaluan kanan.Berbeda dengan kartun kritik politik. buruh. Kartun S. Indonesia Raya lebih bebas beropini dan mengkritik siapapun. Metafora yang digunakan dalam kampanye ini adalah metafora beku tentang pengalihan dan pewakilan golongan sasaran kampanye: pelajar.37) Indonesia Raya mengkritik taktik Sukarno tentang isu adanya gerakan subversif. Soeharto tentang PKI di Indonesia Raya Berbeda dengan surat kabar Pedoman dan Abadi yang meski cenderung sehaluan 202 .

Dalam penampilan metafora pun seragam. bersikap menantang. Metafora yang digunakan lebih keras. Indonesia Raya lebih jelas dan langsung menyerang subjek kritiknya. buruh berbadan besar dan gagah. Sikap bermetafora keras demikian menjadi pengimbang kekerasan yang dilakukan lawan politik mereka. pejabat berdasi.tetapi bersikap hati-hati dengan metafora yang tidak terlalu frontal. rakyat selalu digambarkan sebagai kurus kecil. kawan dan lawan. Kartun Harian Rakyat menggambarkan ideologinya Pada contoh kartun Harian Rakyat (gambar V. Gambar V. Hampir semua kartun Harian Rakyat melihat situasi sebagai konflik dialektik. Di sisi lain strategi pemuatan citra agama surat kabar bertiras besar ini berusaha menunjukkan pada pembaca perhatiannya terhadap kehidupan beragama. tapi dalam ungkapan metafora kartun nampak perbedaan yang menyolok. berjas dan berperut buncit. Pada Harian Rakyat kartun ataupun artikel khotbah dan iklan ucapan dari berbagai agama sering dimuat.7. Konsep hitam putih demikian mengingatkan pada konsep Realisme Sosial yang dikembangkan pada awal kekuasaan komunis di Uni Soviet.) penggabungan simbol-simbol digunakan untuk membangun citra kuat pada pembaca tentang pandangan ideologisnya.1. 203 . Penggabungan mesjid dengan bendera Republik Rakyat Cina secara tak langsung mencitrakan bahwa Komunis pun menghormati agama. Meski Harian Rakyat dan Bintang Timur sama-sama surat kabar kiri. Kebijakan demikian diambil untuk membantah tuduhan golongan kanan bahwa Komunis sama dengan Atheis.

miskin) dan kekuatan (gagah). Kepribadian yang ditawarkan ditiupkan kepada pembaca untuk siap berperang (agresif). dan siap melawan musuh (garang membawa palu). Metafora beku dalam strategi ini digunakan karena tidak untuk kesenangan menebak. Pilihan kebijakan demikian 204 . Penyeragaman tanggapan melalui metafora melalui media massa melahirkan kekuatan dukungan politik masyarakat seikhwan. Kuda Troya. Sumber metafora dapat diambil dari mana saja tanpa terlalu memperlihatkan sikap dialektik seperti Harian Rakyat. Walt Disney. Disini terlihat bahwa metafora sebagai redeskripsi realitas (seperti yang disampaikan Paul Ricouer tentang metafora) dimanfaatkan untuk menawarkan pandangan ideologis terhadap suatu situasi.Orang telanjang dada berbadan besar dan garang digunakan untuk mencitrakan penindasan (tanpa baju. Romulus dan Remus. Metafora yang digunakan di Bintang Timur kadang sangat intelek dan mengambil sumber kendaraan dari budaya Barat seperti. Dengan demikian dapat diperkirakan pembaca pun dari kaum terpelajar berpendidikan Barat yang cenderung ke kiri. Gambar V. Hatta Meskipun sesama media kiri. mengubah dan memperkeras tanggapan emotif tentang sesuatu. Kepada siapa sikap agresif itu ditujukan dijelaskan melalui penggambaran metaforik “Uncle Sam” dan pejabat berperut buncit. tetapi pada sikap emotif yang hitam-putih mengenai “realitas” yang dihadapi pembaca. Gaya gambar maupun gaya ungkapnya terlihat lebih nakal dan beragam.8. Kartun Sibarani tentang Pasukan Banteng dan M. Bintang Timur menampilkan ungkapan metafora yang berbeda sejak kartun diisi secara tetap oleh Sibarani pada tahun 1954.

Dalam konteks demikian sebenarnya karya Sibarani berada di luar konsep kesenian Realisme Sosial yang digunakan dalam visualisasi di Harian Rakjat. Sikap emotif yang dibangun adalah tanggapan sinis kepada pokok pikiran dan perilaku lawan. tetap dalam kerangka ideologi komunis. Perbedaan konsep kartun dan metafora pada kedua media di atas menjadi menarik kalau direlasikan dengan konsep kesenian kaum komunis. Hendra Gunawan dan Batara Lubis memperlihatkan 205 .tidak diperuntukkan untuk menggalang kekuatan massa. Karena itu dalam karya visual realisme sosial. Kesenian harus mengabdi pada rakyat. Karena itu karya realisme sosial selalu menonjolkan dua hal: membangkitkan rasa bangga pada golongan pekerja untuk lebih giat “membangun negara”. Tetapi bahkan pada beberapa seniman yang berpandangan kiri masa Demokrasi Parlementer pun tampaknya tidak mengikuti konsep tersebut. dapat dipahami dan memberi semangat kesatuan (kaum buruh) dalam menghadapi musuh bersama. Kelincahan bermain metafora yang membutuhkan intelektualitas tinggi tidak masuk dalam konsep karya dialektik Komunisme Internasional. kaum kapitalis dan kaum borjuis. Partai Komunis Internasional menggariskan konsep keseniannya dengan “Realisme Sosial”. kaum kapitalis. Setelah Uni Soviet bubar. dan waspada terhadap musuh bersama. gaya visual demikian masih terlihat pada media propaganda Republik Rakyat Cina. Dalam menampilkan dialektik kaya dan miskin. diperlihatkan kesenjangannya agar mengundang rasa benci kepada Metafora bukan saja beku tetapi juga dipoles sedemikian rupa supaya memberi kesan emotif yang sama pada khalayak luas. Beberapa pelukis Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) seperti Tarmizi dengan lukisan realisme dan dialektik memperlihatkan kesetiaan pada konsep Realisme Sosial. Bintang Timur lebih cenderung menggoda kaum terpelajar melalui kacamata golongan kiri untuk mendapat dukungan moral kaum elite intelektual. Melalui metafora yang bermain dengan pikiran tersebut dibina sikap kritis pembaca. sosialis kanan dan militer. Karena itu metafora yang diungkapkan nakal dan mengejek lawan ideologisnya. kaum buruh digambar berbadan besar dan berwajah optimis untuk memotivasi pendukungnya.

Sistem nilai dan sistem simbol merupakan pengejawantahan dari nilai budaya yang berada di balik kehidupan bermasyarakat. terlihat bahwa kartun editorial bertugas sebagai pembawa misi ideologi surat kabar. Tetapi nilai budaya yang menjadi payung dari perilaku masyarakat lebih bersifat samar. Sebuah sistem sosial terikat oleh berbagai nilai moral (baikburuk). Baik penciptaan simbol maupun pengartian terhadap simbol dibaca dari kaca mata politik pengamat. Interaksi simbolik demikian menyebabkan sebuah simbol dapat dibaca berbeda-beda. Metafora Kartun Sebagai Cermin Budaya Seperti telah diutarakan terdahulu.tak pantas) dan estetika (bagus . dapat dikatakan Bintang Timur (dan Sibarani) tidak sepenuhnya mengikuti garis kesenian Realisme Sosial. Kebudayaan dalam ritus dan artifak mungkin terlihat kasat mata. Sebuah simbol nilainya menjadi relatif. pengimbang atau penyerang sikap berlawanan dari musuh ideologinya. sesuai latar belakang ideologi kelompok tertentu. Nilai demikian yang diperlukan oleh sebuah masyarakat sebagai pengikat dalam melangsungkan kehidupannya. Pada suasana politik seperti itu. Perubahan sangat 206 . tergantung pada siapa yang membacanya. 1973: 446-448). Masyarakat dan budayanya bukan sesuatu yang sifatnya tetap. secara emotif metafora telah digunakan secara efektif untuk melemparkan citra buruk (atau baik) pada tokoh politik tertentu. Meski sepaham dalam politik. di Indonesia. tak mudah dilihat. etika (pantas .jelek).3. Dilihat dari sisi konseptual demikian. selalu tejadi perkembangan dan perubahan.kecenderungan berbeda ke arah ekspresif ataupun dekoratif. Sistem sosial sebuah masyarakat lebih nyata berupa aturan dan tata cara dalam berinteraksi antar individu maupun kelompok yang disepakati bersama. V. kebudayaan merupakan jejaring makna yang dibangun sebuah masyarakat untuk menjaga sistem nilai dan sistem sosialnya (Geertz. Hal itu tampak nyata dalam situasi politik masa Demokrasi parlementer tersebut.tak ada kewajiban untuk mengikuti kebijakan kesenian partai demikian Dari berbagai bahasan aspek politik.

Hal ini masih tercermin dalam sistem administrasi pemerintahan yang digunakan sesudah merdeka. lambat atau cepat berpengaruh pula pada sistem nilai dan sistem simbol yang dianut. hampir 99% memakai latar artifak kehidupan modern. Karena berada di tengah masyarakat urban. Pun Jakarta menjadi tempat yang menampung aneka ragam masyarakat dengan tingkat ekonomi yang berbeda. Jakarta sebagai ibu kota menjadi pusat berkumpul masyarakat dari berbagai kelompok kepentingan ekonomi dan ideologi. Lebih rumit lagi. Dalam kehidupan perkotaan kedua budaya tersebut menjadikan masyarakat yang dualistis dan longgar ikatan sosialnya. Karena itu setelah merdeka sebagian dari diri mereka sudah terbiasa dengan kebudayaan Barat. sedikit demi sedikit kebudayaan Barat pun masuk ke dalam masyarakat golongan terpelajar Indonesia. ataupun dari interaksi dengan masyarakat dari budaya berbeda. dan budaya tradisi yang sangat kaya ragamnya di Nusantara. Tetapi mereka juga berasal dari masyarakat yang masih terikat pada tradisi. Perubahan tersebut sedikit banyak. Tetapi karena pemerintah Kolonial tidak pernah masuk terlalu dalam ke sistem sosial masyarakat tradisional. Sistem sosial yang diterapkan sejak masa administratif Hindia Belanda adalah sistem kolonial. Banyak 207 . Banyak novel masa Pujangga Baru menggambarkan secara dramatik dikotomi budaya ini. maka budaya dan sistem masyarakat tradisi masih terpelihara. Sejak digalakkannya pendidikan di masa politik etis. maka tampilan kartun editorial pun sangat dipengaruhi oleh budaya modern. Masyarakat Indonesia pada awal kemerdekaan berada dalam dua sistem tersebut. Penggunaan bahasa asing juga biasa digunakan karena merupakan bahasa pengantar ke dua setelah bahasa Indonesia. Pembaca surat kabar di Jakarta adalah masyarakat urban yang berpendidikan Barat. Kesenjangan ikatan sosial budaya mengakibatkan mudah timbul ketegangan antar kelompok. Dalam kerangka yang dinamik inilah sistem simbol dalam komunikasi sebuah masyarakat bekerja.tergantung dari masalah internal yang terjadi di masyarakat itu sendiri. Dalam situasi demikianlah surat kabar dan kartun editorial di Jakarta menjalankan misi sosial politiknya. perangkat administratif modern yang diwarisi dari pemerintah kolonial.

mewakili suara orang jalanan. dan menunjukkan sikap demokratis. seperti orang telanjang. dan dmembawa bayangan kelas di atas. 208 . Hal ini merupakan cerminan dari sikap yang lebih santai dalam menyampaikan kritik. Secara tersirat ditafsirkan bahwa pemerintahan di Indonesia sedikit banyak dibayangi konsep feodalisme Jawa. hingga norma tak terlalu diikat oleh tradisi.kelompok masyarakat masih menggunakan bahasa Belanda atau Inggris dalam pergaulan lisan sehari-hari. melalui istilah. di samping bahasa Belanda. banyak kartun dan tulisan menampilkan penggunaan bahasa slang. Sistem demokrasi yang menjadi cita-cita kemerdekaan tidak bisa segera menghapus adat kebiasaan feodal yang sudah meresap lama di negeri ini. dan tidak terlalu mengikatkan diri dengan tradisi asalnya. Karena itu kartun (dan sentilan pojok koran) sengaja menggunakan bahasa pasar (ngoko) untuk memperlihatkan dua hal. Ritual kenegaraan menunjukkan indikasi demikian. Pada kebudayaan urban ukuran menjadi lebih longgar. Masyarakat pembaca surat kabar rata-rata berpendidikan Barat. upacara dan pemakaian bahasa. bahasa pasar. menjilat kaki. Sebagai masyarakat kota yang egaliter. Kalau kebudayaan dilihat sebagai sistem nilai. Ben Anderson mengindikasikan bahwa bahasa Indonesia resmi kemudian seakan menjadi bahasa Kraton (seperti Krama Inggil dalam budaya Jawa) yang digunakan dalam pergaulan resmi kaum elite di kota besar. Hal demikian juga dapat ditafsirkan sebagai adanya perbedaan strata dalam berbahasa. bahasa resmi mengandung sifat emotif yang kaku dan berjarak. beberapa kartun dalam mengungkap topiknya menampilkan gambar yang menurut adab ketimuran (tradisi) terlihat kurang pantas. Pengungkapan seperti ini semakin kuat menunjukkan suasana bebas yang dinikmati para kartunis editorial masa itu. menduduki kepala orang. Di mana pesan yang disampaikan menjadi tak terlalu serius seperti dalam bahasa resmi. Meskipun bahasa Indonesia resmi menjadi konsensus nasional .

Melihat cukup banyak metafora dengan filem pada kartun masa Demokrasi Parlementer. dalam 209 . Harian Rakyat). sehingga terekam dalam memori masyarakat perkotaan. Penetrasi budaya filem di Indonesia sudah dimulai sejak awal abad-XX. maupun sebagai aktualisasi diri bermasyarakat. Sebagai budaya baru.9.8. Pergi ke bioskop adalah kebiasaan masyarakat Belanda dan Indis di perkotaan (gambar V. bisa diketahui kuatnya peredaran filem Hollywood di Indonesia. menonton dan membahas filem menjadi kebutuhan pada seseorang.Gambar V. Karena aktualitasnya. baik petikan hikmah filem tersebut. pengamat dapat segera merelasikan metafora yang dimaksud dalam kartun. Kartun menunjukkan gaya hidup modern Barat Metafora yang banyak muncul pasa masa itu untuk mengkonotasikan topik adalah dengan mengambil dari judul filem (Hollywood) yang sedang diputar di Jakarta. Surat kabar mengiklankan dan mengulas tentang filem setiap hari.

pasukan Artileri menggunakan semut. burung Rangkong di suku Dayak Kalimantan. Pengalihan pada binatang juga dipakai oleh masyarakat Indonesia pada masa sekarang. pengamat masih bisa mengerti. Kartun memang diciptakan dan ditanggapi untuk suatu masyarakat di tempat dan masa tertentu. Gambar V. topik dengan judul. seperti misalnya kerbau di sisa budaya megalith Indonesia. PKI dengan beruang. Dalam penggambaran binatang terdapat beda perlakuan dalam sistem nilai metafora kartun. karena itu tidak menjadi masalah untuk kontekstual dengan masanya.11 Kartun S Soeharto. Kartun Papan Filem Harian rakyat 1951 Tetapi menggunakan filem yang sedang beredar untuk menjadi kendaraan metafora menyulitkan bagi pengamat yang tidak menonton filem tersebut dan pengamat yang berada di masa datang. Pengamat hanya menangkap kulitnya saja. PNI memakai banteng. Indonesia Raya November 1955 Hanya sedikit kartun yang muncul pada masa Demokrasi Parlementer berani menampilkan binatang sebagai pengalihan seorang tokoh.Gambar V.10. Tetapi pengamat yang tidak melihat filemnya tidak dapat lebih dalam memaknai hubungan tersebut. Dalam kehidupan tradisi di Indonesia. Kalau hanya diambil judulnya saja untuk membandingkan antara topik dengan judul filem. Masjumi dengan onta. Siliwangi menggunakan harimau. kelelawar di suku Asmat. binatang kadang dijadikan simbol untuk sesuatu yang dijunjung tinggi. Harian Abadi (Masjumi) 210 .

Pemanfaatan binatang sebagai penggambaran sifat kelompok berubah dari masa ke masa. jinak dan baik. Abadi sebagai surat kabar Muslim. Meskipun kehidupan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kebudayaan modern Barat. Perbedaan aspirasi surat kabar melatari juga perbedaan tata nilai budaya visual. Kesan pengalihan itu tampak hati-hati. Suluh Indonesia dan Harian Rakyat lebih bebas menggunakan binatang. seakan kepala ditempel ke kucing dan ikan. Suara Rakyat lebih kejam menggambarkan Simbolon sebagai monyet buruk. Perubahan metafora kucing menjadi tikus 211 . Pada tahun 1950an koruptor selalu digambar sebagai sebagai kucing. Perbedaan makna metaforik kucing menjadi tikus amat berbeda.menggambarkan Syafruddin dan Rasuna Said sebagai ikan dan kucing. pada pameran Pakarti di Ubud Februari 2005. dibandingkan Suara Rakyat dan Bintang Timur yang sekular. Terasa sekali tujuan mengejek dari kartun tersebut. Kucing merupakan binatang yang kesannya secara fisik halus. Tikus memang dikenal sebagai binatang liar pencuri. mimiknya pun baik. tetapi tetap ada sistem nilai yang bertahan seperti dalam kasus penggambaran binatang tersebut. Di surat kabar Bintang Timur 23 Juli 1957 Sibarani harus membuat artikel untuk menjawab protes Bung Hatta sangat tersinggung disamakan dengan binatang. Sibarani merupakan kartunis yang paling berani mengalihkan tokoh ke binatang. gagasan itu diambil dari legenda serigala yang menyusui Romulus dan Remus pendiri kota Roma. Menurut Sibarani. hampir semua kartunis dari seratus kartunis Indonesia menggambarkan koruptor sebagai tikus. lebih berhati-hati dalam mengalihkan seorang tokoh ke binatang. Di balik sikap manisnya. kucing menyimpan sifat licik dan pencuri. Abadi hanya sekali menggunakan binatang sebagai ganti seseorang tokoh. Orang tak dapat menerima dirinya digambarkan sebagai binatang. Sibarani di Bintang Timur pernah menggambarkan Bung Hatta sebagai anjing yang menyusui dua tokoh PRRI. yang secara fisik pun tak indah. meski dapat menerima metafora binatang sebagai penggambaran karakter suatu profesi (Profesor: burung hantu) ataupun aspirasi kelompok (nasionalis: banteng). Demikian pula Bintang Timur mengkiaskan para jenderal pembangkang sebagai babi kecil yang diperdayai serigala (dipinjam dari komik Walt Disney).

Sikap semacam itu menunjukkan sikap budaya berbeda antara simile dengan metafora. tentang Anjing Sikap emotif dalam bermetafora bukan hanya dilihat dari pilihan objek. karena koruptor dan perilakunya tidak berubah. Ramelan hanya menyepertikan sebagai anjing (simile) hingga ada jarak (sintagmatik). sedang Sibarani membalik seluruh eksistensi manusia dan anjing. 212 . Sibarani menggabung keduanya. Yang berubah adalah deskripsi metaforik terhadap realitas tersebut. topik dan kendaraan.memperlihatkan pula pandangan metaforik terhadap koruptor. Ramelan dan Sibarani. sementara Sibarani menampilkan garis kasar. dalam satu makna metaforik (paragidmatik) . Gambar V. yang tadinya seakan baik tetapi licik kemudian disamakan dengan makhluk liar yang jelek. Pada metafora Sibarani lebih tegas menyatakan melalui pembalikan. Keduanya memancarkan sikap emotif yang berbeda. Dua kartun di atas memilih anjing sebagai kendaraan metaforik dengan pendekatan yang jauh berbeda. Pada simile Ramelan masih terlihat adanya tenggang rasa untuk berkata langsung. Ini pun jadi semacam redeskripsi. tapi juga cara memperlakukan objek dan pemanfaatan unsur rupa dasar. Terjadi pula perubahan sikap emotif terhadap koruptor. Dari cara menggambar menunjukkan Ramelan menampakkan wujud apik.12. Ramelan menyindir. Penilaian koruptor dalam sistem nilai budaya menjadi lebih buruk (tikus) daripada masa koruptor dimetaforakan sebagai kucing.

Dalam hal sosok wajah. Dengan menggunakan gaya realistis kartun berusaha menangkap realitas sekeliling.Sikap santun memilih pemisalan. baik wajah maupun cara berpakaian. Aminah Tjenderakasih. Budaya artifak seperti kebutuhan sehari-hari adalah benda-benda urban. kesenjangan demikian terlihat. Tapi dari pilihan manusia yang ditampilkan hampir seluruh kartun menunjukkan pilihan fisiognomi etnis lokal sebagai sosok tokoh kartun. Profil demikian bahkan tampak pada bintang filem Indonesia terkenal masa itu seperti Roekiah. di mana sistem sosial. Menjadi pemenang dalam perjuangan demikian merupakan prestasi tersendiri. dapat disimpulkan bahwa sebagian masyarakat urban pun masih terikat pada sistem nilai setempat. lebih banyak artifak budaya Barat atau modern digunakan pada pilihan objek maupun situasi. Namun dari aspek sistem nilai dan etika. Karena itu kartun pun menangkap realita demikian dalam tampilannya. Tak ada kecenderungan memandang profil ras Barat sebagai sosok ideal. Hal ini juga terlihat di dalam iklan surat kabar yang menggunakan ilustrasi gambar tangan sosok dengan wajah lokal. termasuk manusia yang hidup di lingkungan nyata. Noer. Nurnaningsih. masyarakat Indonesia bangga pada sosok fisiknya. Tetapi di Jakarta orang hidup dalam situasi budaya urban. Dari beberapa kasus. orang Indonesia. Bambang Hermanto. Karena itulah bangsa Indonesia saat itu senang dengan sosoknya sendiri dan bahasanya sendiri. Karena itu objek gambar manusia pun adalah manusia yang hidup di lingkungan Jakarta. Soekarno M. kebutuhan sosial dan ekonomi mengikuti gaya hidup perkotaan yang nyaris sama di mana pun. Dari pemaparan data didapatkan bahwa. Dari cara surat kabar dan kartun menyampaikan aspirasi sosial politiknya. nampak masih terdapat kesenjangan untuk sepenuhnya mengikuti norma modern. Kalau hanya dari tampilan artifak yang muncul masa itu. diperoleh kesan bahwa Jakarta sepenuhnya adalah komunitas masyarakat urban mulai mengglobal masa itu. sedang sikap terbuka memilih ungkapan jelas. Kebanggaan demikian muncul karena saat itu Indonesia baru lepas dari penjajahan melalui perjuangan yang keras dan penuh darah. Abadi dan Pedoman berhati-hati dalam 213 .

maka peranannya terlihat melalui dua jalur berbeda yang merelasikan situasi politik dan nilai budaya.5. Situasi sosial tidak homogen. Situasi persaingan ketat berelasi dengan bentuk metafora dan sikap emotif yang diungkap dalam komunikasi politik Dalam situasi demikian diharapkan nilai budaya yang dimiliki sebuah komunitas dapat menjadi acuan dalam menjaga kehidupan bermasyarakat.menimbang nilai budaya lokal. V. Kartun dilahirkan dari situasi sosial. masyarakat urban Jakarta mengalami transisi dalam menjalani sistem nilai budaya barunya. Perbedaan demikian memperlihatkan bahwa. 214 . Rangkuman Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa ungkapan metafora kartun editorial sangat berelasi dengan situasi kebudayaan setempat. Kembali pada pertanyaan awal. Tetapi surat kabar lain bersikap lebih longgar pada sistem nilai baru. Dalam lingkup demikian karya kartun mengemban tugas sosial kelompok tertentu dengan berpedoman pada sistem nilai budaya yang menaunginya. Dalam pencarian bentuk berbagai faksi dan ideologi saling beradu. bagaimana metafora dan sikap emotif muncul pada kartun editorial. yaitu nilai budaya. bekerja melalui bahasa dan sistem simbol yang sedang berlaku dalam mengungkap aspirasi maupun sikap emotif kelompok yang diwakilinya. Interaksi dapat berjalan baik bila dijaga melalui kesepakatan nilai-nilai bersama. sambil menjaga keutuhan sistem sosialnya. tapi terdiri dari berbagai kelompok kepentingan yang secara dinamis berinteraksi mepertahankan kepentingan masing-masing. Pada Demokrasi Parlementer situasi sosial belum sepenuhnya terbentuk. karena merupakan transisi dari situasi masa lalu yang berbeda (penjajahan). Aspirasi tersebut mempertimbangkan sistem nilai yang berlaku dalam kebudayaan suatu komunitas. Dasar penciptaan kartun editorial adalah pengungkapan aspirasi kelompok dalam sebuah situasi sosial tertentu. mewakili kelompok politik untuk menyampaikan aspirasinya.

tanggapan terhadap peristiwa.Hal tersebut diperlihatkan melalui garis tengah vertikal pada skema di bawah Gambar V. Hal tersebut diperlihatkan melalui kurva kanan. Baik metafora maupun sikap emotif diungkapkan karun editorial melalui olahan 215 .1. Sisi emotif mengumpan segi sikap yang ditampilkan kartun. sikap kelompok dan tata nilai budaya mewarnai sikap emotif yang diungkapkan. penyampaian merupakan sikap politik (emotif) suatu kelompok. Aspirasi tersebut ditampilkan melalui metafora yang dapat dimengerti dan diterima oleh sistem simbol dalam perbendaharaan tertentu. Permainan metaforik tersebut mengumpan kartun editorial dengan kendaraan metaforik yang ditampilkan. Dalam menyampaikan aspirasi. di mana karakter. Skema Proses Metafora Untuk menyampaikan aspirasi digunakan bahasa dan sistem simbol yang berlaku dalam sebuah komunitas (kurva kiri). dan tata nilai budaya yang dianut dalam sebuah komunitas. Sikap tersebut dilatari oleh karakter kelompok.

Melalui sistem simbol budaya kartun editorial mengungkap metafora. dan berakibat pada penampilan kartun editorialnya. situasi politik dan kebudayaan tidak bersifat tetap. Seperti diketahui. Kartun editorial merupakan fusi atau pemampatan dari masukan keempat komponen tersebut. hingga menghasilkan karya yang menggunakan metafora yang sesuai dengan aspirasi politik dan sistem nilai budayanya untuk mengungkap sikap emotif suatu kelompok politik. Sebuah kartun editorial lahir dari aspirasi politik yang mengungkap sistem sosial politik yang berlaku. Perubahan pada kedua sisi atas dan bawah itu membawa pula perobahan konstelasi komponen di dalamnya. Pergeseran atau pun perubahan pada sistem sosial ataupun nilai budaya akan berelasi dengan seluruh sistem tersebut.rupa dasar. 216 . Melalui nilai-nilai budaya kartun editorial mengungkap sikap emotif terhadap topik yang diungkap. olah gestural dan pengalihan metaforik.

garis sederhana dengan distorsi anatomis menjadi karakteristik kartun editorial beliau. Bagaimana relasi antara kedua masa itu dapat menjadi penelitian tersendiri yang menarik. Keberimbangan politik memberi peluang besar pada keterbukaan menyampaikan sikap emotif melalui metafora kartun.1. Kebanyakan kartunis masa Orde Baru memilih teknik garis dan distorsi. Soetanto. Simpulan Melalui penelitian yang ini tampak relasi yang kuat antara kartun editorial dengan sistem politik dan lingkup budaya yang menaunginya. Relasi tersebut tampak dalam keragaman metafora visual yang diciptakan dan sikap emotif yang ditampilkan kartun editorial masa tersebut. Kartunis pers mahasiswa seperti Harjadi S. Bahkan kalau ditarik ke masa selanjutnya.Bab VI. Sanento Yuliman dan Keulman memperlihatkan ciri yang mirip dengan Sibarani. Tapi tampilan kartun editorial Sibarani juga memakai garis dan nada tengah. Secara umum kartun lelucon (gag cartoon) masa itu menggunakan teknik garis. banyak kartunis pada awal masa Orde Baru memperlihatkan ciri yang sama dengan gaya Sibarani. yang mana tampak pula pada kartun lelucon Sibarani masa awal karirnya. meski berbeda dengan gaya yang diperkenalkan Sibarani. dalam gaya gambar maupun sikap nakalnya. Sejak masa Orde Baru makin jarang kartunis mengikuti gaya realistis seperti Ramelan. Simpulan dan Saran VI. Setelah menetap di Bintang Timur. Kecenderungan gaya kartun editorial yang sangat dominan masa itu adalah pada wimba realistis dengan teknik garis dan nada tengah. T.. Meninjau kartun editorial pada masa Demokrasi Parlementer dapat diketahui bahwa pendukungnya (pengirim maupun penerima) adalah masyarakat urban baru 217 . Hal tersebut menempatkan distorsi Sibarani sebagai anomali. seakan dibedakan antara lelucon (sederhana) dengan kartun editorial (lebih “berat”).

Sikap emotif diwarnai oleh sikap ideologi / aspirasi surat kabar (partisan maupun non partai) dan sikap politik surat 218 . Hal itu tercermin dari dua hal.yang hidup dalam budaya modern. Keberimbangan dan keterbukaan melahirkan aneka metafora yang mencerminkan juga keterbukaan sistem simbol dan tata nilai masyarakat. hingga tak ada pihak yang dapat mendominasi pendapat umum. kebudayaan sendiri. Ciri demikian merupakan semangat negara muda mempertahankan nasionalisme yang diperolehnya. Artifak budaya luar diterima oleh komunitas masyarakat urban Jakarta tanpa meninggalkan ciri nasionalisnya. corak dan penggunaan metafora sangat diwarnai oleh dinamika aspirasi berbagai faksi politik masa Demokrasi Parlementer. di mana sistem nilai berada dalam transisi. hingga memberi peluang pilihan metafora dan ungkapan sikap emotif. bahkan dimanfaatkan untuk mengejek. namun dalam pilihan ungkapan beberapa kasus masih terikat dengan sistem nilai dalam tradisi budaya setempat. Hal ini dimungkinkan karena kekuatan politik antar kelompok seimbang (simetris). Ungkapan lokal tampak pula pada pilihan figur yang muncul pada tampilan kartun. Meski ada kesenjangan nilai di sana-sini. dan khasanah yang terdapat dalam komunitas kebudayaan di mana kartun memilih kendaraan ungkap (metafora). Jakarta sebagai ibukota negara menjadi titik berkumpulnya berbagai aspirasi budaya Nusantara dan berdatangnya berbagai pengaruh dari luar. Transisi akibat pertemuan berbagai budaya tak pernah berakhir pada masyarakat kota yang terbuka dan selalu berubah. dan nilai tradisi yang dijaga. Meskipun ikon yang digunakan merupakan artifak budaya modern. tampilan kartun editorial masa itu menunjukkan kecintaan pada penggambaran manusia (etnik) dan artifak budaya Indonesia. Situasi budaya demikian didukung keterbukaan politik melahirkan bentuk. kesatuan bangsa. Secara umum metafora yang muncul pada kartun editorial bersifat terang-terangan. ciri karakter etnis Indonesia muncul sangat kuat. Ketegangan dan kesenjangan sistem nilai budaya yang terjadi karena pilihan metafora ataupun sikap emotif merupakan hal yang wajar pada masyarakat urban baru. membuka sikap yang lebih permisif pada nilai baru. kepribadian nasional. sistem politik (liberal) yang mendasari ungkapan kartun.

pada era reformasi saat ini kebanyakan kartun masih terjebak oleh pandangan mendua tersebut. baik perupaan. metafora dan sikap emotif. Suasana terbuka dan berimbang seharusnya melahirkan keberagaman sasaran kritik. Situasi terbuka dan seimbang memberi keleluasaan pada kartun editorial untuk mengungkap secara sangat terbuka sikap emotif terhadap topik yang dikritik. Ketidakseimbangan politik berdampak kepada dominasi satu golongan terhadap golongan lain. metafora tersamar muncul pada masa represi demikian. metodologi penelitian ini bisa disempurnakan agar mendapatkan hasil lebih 219 . Ungkapan emotif yang berani seperti itu muncul dari situasi tanpa tekanan politik dan keterbukaan budaya komunitasnya. baik untuk masyarakat umum. Meskipun demikian. Dalam situasi demikian kartun editorial menjadi terbatas mengungkap masalah. Tekanan ini berakibat kepada terhambatnya keterbukaan berpendapat. untuk memahami bagaimana perubahan sosial-politik dan budaya berdampak pada metafora dan sikap emotif kartun editorial dari masa ke masa. maupun media. tampilan gestural maupun pengalihan objek dan situasi. Menjelang akhir masa Demokrasi Parlementer mulai tampak perubahan sikap emotif sebagai akibat keguncangan sistem politik yang makin tak seimbang. Karena itu kartun editorial Pasca Demokrasi Parlementer dapat menjadi bahan penelitian lanjut. Kritik akan dibatasi dan dilakukan secara sangat hati-hati. hanya berperan sebagai kritikus terhadap pemerintah. di mana subjek kritik dapat sangat beragam ke segala arah. melihat hanya dari dua kutub. Sikap frontal ini tampak dalam pilihan metafora. Apa yang terjadi pada masa Demokrasi Parlementer dapat jadi pelajaran mengenai peranan kritik dan sikap terbuka kartun editorial. Sikap emotif demikian sangat terbatas pada era Orde Baru. Situasi demikian secara tak sadar melahirkan kartun yang memandang peranannya sebagai kritikus pemerintah.kabar terhadap isu yang muncul. Sebagai penelitian metafora visual dalam interelasi dengan politik dan budaya. pemerintah dan yang diperintah. Pandangan seperti ini memiskinkan horison kritik kartun.

baik segi metafora visual maupun ungkapan emotif. kapan dan di mana suatu karya dilahirkan. Itulah tantangan kreatif kartunis editorial dari waktu ke waktu. Saran Terapan Melalui kajian metafora visual pada kartun dapat dipahami pentingnya olah pikiran (metafora) dalam berkarya. Saran Penelitian Lanjutan Penelitian ini masih dapat dilanjutkan ke kartun masa sebelumnya dan sesudah Demokrasi Parlementer. Dalam kenyataan sehari-hari metafora visual sangat sering muncul pula dalam karya komunikasi visual dan seni rupa pada umumnya. 220 .2.mantap. melalui pendekatan seni rupa dan kebudayaan yang komprehensif. hingga dapat dibaca naik turunnya keterbukaan dan keberanian dalam mengekspresikan diri masyarakat melalui metafora kartun.1) dapat diteliti karya komunikasi visual lain yang menampilkan metafora dalam ungkapannya.3. Penelitian lanjut mengenai metafora visual dapat pula dilakukan pada berbagai fenomena perupaan. Dasar skematiknya tetap sama yaitu. agar piawai dalam memanfaatkan metafora visual sebagai “gudang senjata” untuk mempertajam kritik. VI. Dengan mengembangkan variabel pada skema proses metafora (gambar V. Inventarisasi artifak dan data historiografi dimungkinkan untuk memetakan perkembangan kartun editorial di Indonesia. Penelitian ini baru merupakan usaha awal memahami metafora visual dalam seni rupa. VI. aspek emotif aspirasi dan aspek komunikasi metaforik (verbal / visual) sangat berelasi dengan nilai budaya dan situasi sosiologis. Kartunis disarankan dengan cerdik memanfaatkan daya metafora. melalui pengetahuan budaya komunikasi masyarakat dan kepekaan membaca situasi dalam menimbang aspek emotif yang sesuai untuk sebuah isu.

23 – 26 Cohen. Cornell Univ. Geertz.O'G. Argument and Emonstration in Design Practice. Jan.Y. The Interpretation of Cultures. Skripsi. ed. Cultural History of Humor. Jakarta Feith. Benedict R. Roland (1983).(1997). Norman K.H. A Hobby Horse and Other Essays on Theory of Art. Sheldon. Phaidon Press. Language and Power. Metaphor and The Cultivation of Intimacy. NY. Margolin. Herbert. (1959). Cornell University Press Barthes. (1994). Victor. Gombrich. London 221 .. Chicago (91-109) Budimansyah. Ibnu.(1990). Gramedia. Bernard. Institut Teknologi Bandung. University of Chicago Press. Harper&brothers. Research Design Qualitative & Quantitative Approaches. History of Indonesia in the 20th Century. Granada Publishing. Cambridge Buchanan. The Story of Indonesia. (1989). Seeing Is Believing. John D. ed. University of Chicago Press (4-7) Creswell. New Jersey Feith. Sage Publications.(1963). Imagined Communities.. Basic Books Inc. Sense of Humor. NY Berger. exploring political cultures in Indonesia. (1984). Sage Publication. Edmund Burke (1967). Richard. Polity Press. Ted (1978). Press Fischer. CA Bremmer. & Lincoln. N. CA (175 – 190) Dahm. Handbook of Qualitative Research. Arthur Asa. (1971). Mayfield Publishing. Pemilihan Umum 1955. Herbert. ed. Sack. Clifford. (1995) Declaration By Design: Rhetoric. Mythologies. London Eastman. Octagon N. Max. Cornell University Press Anderson. ed (1994). Praeger Publisher Denzin. Yvonna S. Feldman. Prentice Hall. Art As Image and Idea. Abdul Salam dan karyanya. (1921). The Decline of Constitutional Democracy.O'G. (1999). Benedict R.DAFTAR PUSTAKA Anderson. Thousand Oaks. Louis. (1964).Y. E. Design Discource. On Metaphor. (1973).(2004).

Alexander.(1960). Gramedia Pustaka Utama. Keraf. Chelsea House Publisher. Harvard University Press Lester. Visual Communication: Images With Messages. Itacha. (2003). Metaphor and The Cultivation of Intimacy. Philosophy in A New Key. Morris. Holt. Abdul Djalil. Bulletin Antropologi FSUI 16. ed. Indiana University Press Pirous. Inc. Paul Martin (2001). London.H. Art in Indonesia. Maurice. Cassell & Co. Jakarta Naveh. Howard Palfrey. Edward (1981). NY. Le Dessin Carricatural dans la Presse Indonesienne (disertasi). Joseph (1975). Sack. University of Chicago Press (71-73) Heller. UK Mundayat. London Mahamood. Jakarta Koestler. Arthur(1964). (1957). E. Indonesia: The Possible Dream. 222 . Ecole Des Hautes Etudes en Sciences Sociales. N. Alus dan kasar. Syd. Cornell University Press.. Stravon Educational Press.Gombrich. Penerbit ITB.(1980). (1976). Wadsworth/Thomson Learning. Diksi dan Gaya Bahasa. Stephen. ed. Jean Jacques (1986. Kartun dan Kartunis. N.Y. Stilglow Sdn. London Harries. Desmond (1967). Mulyadi. N. Jonathan Cape Ltd. Aris Arif (1991). (1967). Gorys (1984). The Naked Ape. Karsten. Bandung. Claire. (1978). On Metaphor. NY Nöth. N. A&W Publisher. Dover Publication. World Encyclopedia of Cartoons.. (1971). Editorial and Political Cartooning. Winfried (1990). komunikasi politik di bawah Orde Baru. Sheldon. Belmont CA Leduc. (1957). The Act of Creation. Princeton University Press. Horn. London Nesbitt. Handbook of Semiotics. The Art Of Caricature.Bhd. Man Bites Man. Hoff. Arkana-Penguin Langer. Selangor. Orbis Publishing. The History and Techniques of Lettering.Y. Harcourt Brace Jovanovic.Y. Melukis itu Menulis. Sussane K.. (1981). Jones. (1999).. Art and Illusion. Origins of The Alphabet.Y. Paris Lucie-Smith.

Jay A. Dharmono. Bandung. trans). (1991). Jakarta Sutopo. Jakarta St.. 23 Juli Sibarani. metode penelitian untuk ilmu-ilmu sosial dan budaya. ed. (1971). Seni Abad-XX di Indonesia. Bambang. Karikatur dan Politik. Soegiharto. Pembreidelan Pers di Indonesia. Jakarta. Sack. (2000). Agustine (1957). (1998) . Augustin. (1983). Ir. Yogyakarta. ed. Penerbit Kanisius. 31 Desember. Jakarta Sibarani. Feb 1998 v124 n1 p 95 (25) Sibarani. Yogyakarta Soekiman. Universitas Sebelas Maret. Heribertus B. Postmodernisme. Sejarah Indonesia Modern.Ricklefs.Hill. (1996). Agustine (1957). Laporan Kongres Pemuda Indonesia Pertama di Weltevreden 1926. Karikatur Punya Dunia Sendiri. Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta. Gajah Mada Univ. H. Jakarta. Grafiti Pers. Oktober Sukarno. Nonverbal Metaphor: a review of theories and evidence. Yayasan Mencerdaskan Bangsa. Satyre Sosial. University of Chicago Press (146-147) Rohidi. Genetic. (1963). Thomas Nast. Apa yang Masih Teringat. Smith. Harian Bintang Timur. Wartawan Terpasung. Surakarta 223 . Tantangan Bagi Filsafat. Tjetjep Rohendi. The Metaphorical Process.Y. Di Bawah Bendera Revolusi. On Metaphor. Jakarta. Harian Bintang Timur. Kebudayaan Indis. Jakarta Simanjuntak. Seitz. Dover. Edward C. Ricouer Paul (1978). Thomas Nast. and General Psychology Monographs.. Yayasan Bentang Budaya. Jakarta Surjomihardjo. STISI. 12. Kesenian Dalam Pendekatan Kebudayaan. Press. Yogyakarta Sophiaan.I. Sudarmaji (1984). Sheldon. (2001). (Hardjowidjono. Penerbit Takari. (1996). Penerbit Panitia Dibawah Bendera Revolusi.(1981). N. Abdurrachman (1981). Manai. ISAI. Berkala Seni Rupa. Togi. Djoko (2000).C. Metodologi Penelitian Kualitatif. Institut Studi Arus Informasi. Social. (1998).

Bulletin of The Association of American Editorial Cartoonists (AAEC). 8081/aaec/index. Estetika Jiwa Besar: Mengenang S. January 1999. Sabtu. Susanto.zip. Gramedia. (1999). The change of styles in American Graphic Satires (tesis). Primadi. (2004). Jim Morin Makes the Case for Caricature. Sanento (1987). Jim. http//www. Wijana. Soedjojono.7 Juli 2000. Calif. (text Dated By M. I Dewa Putu. Pratt Univ.S. 21:00 WIB 224 .30. Wiyoso. Jonathan H. PT. NY. Robin). Berdirinya PERSAGI. Peirce. Harian Kompas. Program Pasca Sarjana ITB Yuliman. ftp://ftp. Bahasa Rupa. Penerbit Ombak. Karikatur dan Kritik Sosial Pada Masa Revolusi Indonesia (19451947).(1978).Suwirya. Yogyakarta Yudoseputro. Jurnal Sejarah-7. Penerbit Kelir.. Jakarta. 701: Sejarah Seni Rupa Indonesia Baru. (1993).com. Studi tentangPermainan Bahasa. 10 Oktober 1999. (1999). diktat kuliah SM. datanews. Bandung Tirtoprodjo. The Structure of Sosiological Theory. Kartun. (2005). C. Pembangunan. (1982). 11-27 Tabrani. 25 Maret SUMBER LAIN Morin. 22. Wagiono.hbs. The American Editors. jakarta Turner. Sejarah Pergerakan Bangsa. Jakarta. Dorsey Press. 76 Definitions of The Sign.fr/pub/semiotics/marty/76-gb.univ-perp.

Corky Trinidad. Local symbolism will be understood by limited people in local area. He called it "the instant communication". Mr. Mr. Transkrip Ceramah: Corky Trinidad & Antonio Attunes (Kuala Lumpur. They also have a very narrow knowledge about Asian affairs.it follows antological criterions as same as written column : efficient. - 225 . 18 . in his lecture. stated that Editorial Cartooning is more difficult than written journalism. to make people recognize the subject. Visual images are more easy to "read" at a glance. A good cartoon should be balanced of the form (plastic) the content (journalistic) and the Humour. Corky Trinidad opened his speech telling the conditions & situations of American cartoonists. They imagine Asian countries as a huge spot in the map with small people in it. diskusi dan workshop kartun editorial yang diikuti oleh para kartunis dari lima negara ASEAN. SEPTEMBER. and the artistic criterions. since visual image is a language in itself which more universal than written one. kartunis editoial freelance. At the discussion about the use of words. Mr. Humor is mostly needed. Antonio Attunes. But by looking for new universal symbolization. Corky stated that editorial cartoon is the most effective and popular media. but not trying to teach them. because 100 % readership will look at the cartoon first than to the written words. and deep insight. dan dipandu oleh Mr. Symbol usage depends on the subject (issue) and the audience we intend to reach. At the other part of his speech.21 . The aim of cartooning is. tinggal di Portugal.Lampiran 1. dan Antonio Attunes. It blends three kind of creative activities : As a journalistic activity. objective. it's better try to minimize or totally reject words in cartooning. kartunis editorial surat kabar The Chicago Post. They are not as free as what we always think they are. WORKSHOP ON EDITORIAL CARTOONING KUALA LUMPUR . we can expect broader audiences. 1989 reported to The Asia Foundation by : Priyanto S. Attunes also stated that. to generate new meaning from "pictures" that had been in the people's mind.18 – 21 September 1989 ) Lampiran ini merupakan cuplikan dari transkrip ceramah. As an artistic activity. that means trying to see things differently (different point of view/angle). it obeys the law of plastic art. wearing undershirts and funny cone hats. The problem of cartooning is how to speak with basic common pictures.

seperti Jepang. Tanggapan tentang kartun editorial Masa Demokrasi Parlementer (jawaban melalui surat pos atas 40 kartun yang dikirimkan. Karena itu hasil karya kartun Indonesia juga heterogen. Umumnya kartun editorial menggunakan “dry brush“ untuk nuansa kelabu dan semacamnya. berbeda dengan negara lain yang lebih homogen. Hal itu dilakukan untuk menghindari peringatan pemerintah. kurang main. Ini menyulitkan untuk mencipta karya yang bisa diterima secara nasional. Melalui komunikasi yang baik diharapkan bisa makin kecil perbedaan antar daerah. tehnik nyaris hampir sama menggunakan kuas dan krayon. Di luar elite kartunis. Padahal kartun sebagai karya komunikasi terutama mengandalkan kreatifitas dalam menyampaikan gagasan. masih harus melihat dulu kartun yang akan dimuat sebelum naik cetak. Lahan yang masih luas bagi kartunis adalah pada pembuatan komik dan filem animasi. 28 Maret 2005) Teknik Gambar: Secara umum bisa dikatakan ujud kartun editorial masa Demokrasi Parlementer. tetapi kalau ada kerjasama baik antar insan kreatif dari berbagai daerah niscaya suatu hari akan ketemu juga. orientasi gagasan dan audience. konsistensi. Penggambaran manusia pada rata-rata kartunis masa itu 226 . hingga kartun atau karya komunikasi dapat diterima dan dimengerti secara nasional (homogen). Golongan kecil karttunis inilah yang bisa mandiri dalam menyampaikan opini lewat kartunnya. Filipina. yaitu:daya observasi. iluminasi kreatifitas. Kekurangan ini menyebabkan hasil kartunnya tak maksimal menggali content dari gagasan. Sebetulnya kondisi kartunis Indonesia masih marjinal. tak dapat mengolah dan mengungkap opininya sendiri.Lampiran 2. stimulasi gagasan. sebagian besar kartunis masih dijadikan sekedar tukang gambar oleh redaksi. kecuali Sibarani yang lebih banyak menggunakan line stroke dengan pena. Hanya sedikit saja kartunis yang dapat memperoleh posisi baik di media. Malaysia. Resume wawancara Lisan Tentang Kartun di Ubud 16 Februari 2005 Indonesia adalah negara dengan kebudayaan yang sangat heterogen. Namun beberapa sudah menampakkan kemampuan berkomposisi. Tapi itupun tak mutlak. Meski sulit. Wawancara Dengan Dwikoendoro BR Tentang Kartun (wawancara 16 februari 2005 & 28 Maret 2005) A. dan manajemen. Kompas misalnya. B. Untuk itu Pak Dwikoen menyampaikan beberapa kiat untuk menjadi insan dalam industri komik maupun animasi. Kelemahan pada sebagian kartunis adalah dalam hal observasi tentang topik yangakan digarapnya. Gaya Gambar: Komposisi masih sederhana. tergantung pembuat dan pengamatnya.

hanya karena adanya teks saja yang membantu wacana. 6. Metafora nampak sekali berusaha sekuatnya untuk berkias. 3. 9. Usaha kreatif mengemukakan dalam bentuk semiotik sederhana. Komentar Kartun Editorial Demokrasi Parlementer 1. Metafora cukup diwakili kucing dan ikan.. 8. 10. 2. Yang jadi permasalahan. dengan simbol-simbol lugas yang sudah dikenal.. (Abadi 20 Maret 1951: Kucing Serbu Ikan ) Sangat gambling. Pendidikan menggunakan karakter fable. (Abadi. Antara rakyat kecil dengan panah penunjuk masih merupakan split image. (Harian Rakjat 20 Oktober 1951: AS hadiahkan meriam) Sayangnya roti tidak digambarkan. Dan sebagian “membludag”kan rasa dongkol. (Merdeka 1 Agustus 1950: PNI di atas gentong) Gentong merupakan wadah. Isi Pesan: Cara pengungkapan masalah sebagian masih dengan cara gamblang. Untuk zamannya kartun ini terasa amat kena. Cara berpikir sederhana saat itu. (Harian Rakjat 1 september 1951: Gone With The Wind) Penggarapan gambar lebih kuat di Verbal. 5 Januari 1952: Burung Hantu) Lugas. (rumah gaya Arab dan merayu cara Italia) 4. Nyaris tidak dibantu elemen lain. Metafor oponent kurang terasa. siapa itu kucing yang melarikan diri ? 227 . Pasti harmonis. Pemain lain Pantatnya saja nggak kelihatan.masih biasa saja jarang sekali ditemukan dramatisasi gerak dan distorsi. 1952: Bagyo. (Abadi. hantu) (pendidikan = burung 5. Kecuali dua orang yang tak mampu berbuat banyak. (Harian Rakjat 28 Agustus 1951: Uncle Sam & RRC) Menggunakan metafora sederhana. 6 April 1951: Orkes Sartono Cleber) Menampilkan Sartono sebagai Dirigen Belanda Jos Cleber yang sangat top pada tahun 50-an. (Merdeka. Cocok. sesuai budya zaman itu. Pemainnya orkesnya satu “ warna ‘. (Abadi 28 Maret 1951: Serenade de Sartono) Metafora sederhana.Anasir) Metafor pedesaan kurang terangkat. 7. Teks jadi lebih dominan. (Merdeka1952: Bagyo-Arah) Penggambaran kebingungan tak terlalu berbeda dngan masa kini. Penontonnya jadi pah-poh.

(Pedoman 14 Februari 1952: Survival of The Fattest) Kartun Sibarani ini membuat kita senyum. (Pedoman 1952 Ramelan: Anjing) Sindiran tajam buat politikus. (Suluh Indonesia 19 november 1955: BH kaki palsu) Cute cartoon. 18. masih sama saja situasinya dengan tahun 2005 19. 1952: Pancal lomba) Metafor sederhana. (Suluh Indonesia 1952: Gantung) Terus terang. Rakyat mau naik tangganya nggak nyampek. . 1955: Layangan Partai) Metafor sederhana. 12. (Pedoman 19 Januari 1952: Sukiman Jonggol) “golekan Jonggol’ untuk masyarakat jawa saat itu merupakan budaya yang rada dikenal. 13. 24. Mudah memahami masalahnya.11. gangguan kriminal politis saat itu.\ 17. masalahnya siapa itu Sutan Makmur. (Suluh Indonesia 26 oktober 1955: Makmur & sarang Tawon) Illustrasi cukup jelas. (Pedomasn 1953: Bardjo & Miss USA) Metafor slapstick. 21. Illustrasinya bagus. (Pedoman 2 februari 1952: Urbanisasi) Metafor sederhana. Peristiwa awal urbanisasi. (Suluh Indonesia 1955: BH cabut Gigi) Metafor menyakitkan] 22. (Merdeka 11 april 1951: Kereta api Sartono) Metafora lugas. semua lapisan masyarakat bisa membaca metaforanya. (Suluh Indonesia. 16. (Merdeka 10 februari 1951: Kue Ranjang) Kue ranjang bukan lagi menjadi simbol imlek. 25. merenung dan kesakitan. Api unggun untuk membakar rancangan UNIE INDONESIA BELANDA 14. Paling tidak kartun ini menjadi salah satu bahan penelitian perjalanan sejarah politik. (Suluh Indonesia. 23. Rasanya seperti menampilkan karakter Semar dan Petruk] 20. (Merdeka 12 november 1951: Kepanduan & Irian) Jiwa kepanduan masih merupakan spirit waktu itu. 228 . 15. (Suluh Indonesia 7 desember 1955: Bus ke Holland) Misi bahas “Irian Barat” di kartun ini kurang nampak.

229 . 27. Metafora jelas. Tanpa teks KSAD dan pengantar peneliti kurang tahu bahwa itu AH Nasution. BH kurang terasa ditinggal. (Suluh Indonesia 28 agustus 1957:: Hatta & bola ramal) Metafora peramal kaum Cigana. 35. (Bintang Timur 1957: Granat Cikini) Cute Cartoon. sumber sulindo: Smbolon monyet) Simbolon diibaratkan monyet? Rasanya ia kurang terlindung. (Suluh Indonesia 15 desember 1955: BH vs AURI) Kurang kena. (Suluh Indonesia 31 Juli 1957: Front Nasional) Tehnik sederhana. simbol kenegaraan pada :sang Cobra “ kurang nampak. (Suara Rakyat 29 Januari 1958. tak banyak megandalkan kemampuan kartunal. 31. Metafor lugu. Lebih kelihatan di”hantam” 30. (Bintang Timur 31 Desenber 1957: Wajah Pemimpin) Cute tetapi terlalu Vulgar. (Suluh Indonesia 12 desember 1955: Irian. BH vs Ali) Memberikan tekanan status Kabinet yang berbeda dengan nasib Irian yang sama saja “diduduki”. (Bintang Timur 31 Desenber 1957: Politikus & asong) Cute cartoon. Cute cartoon 28. karena kita bicara “Konsepsi” 33. Tetapi tanpa adanya petunjuk siapa di belakang siapa jadi kurang jelas. (Suara Rakyat 24 Januari 1958: kucing & ayam goreng) Sangat jelas.26. Rata-rata kartunis waktu itu belum sepenuhnya menampilkan fisik tokohnya. (Suara Rakyat 6 maret 1958. (Merdeka 19 Januari 1957: Telor Hidup Baru) Secara keseluruhan “Cute cartoon” tanpa harus menampilkan tokoh Sukarno. 38. 34. Cuma teks “negara Sumatra”. 36. (Suluh Indonesia 6 desember 1955: BH kura-kura) Metafora fabel.(orang kencing) 37. 32. sumber sulindo: Lubis & nagin) Sayang. 29. (Merdeka 26 Januari 1957: Sirkus Nasution) Metafora sirkus.

1972 Hijrah ke Jakarta. sebagai direktur produksi. penyuntingan naskah berita dan pembuatan strip Panji Koming. 1979 Panji Koming muncul pertama kali tanggal 14 Oktober. (Bintang Timur 1955. redaktur khusus dan kartunis Sawungkampret di majalah HumOr. Gramedia Film. 1994 Sampai sekarang. (Bintang Timur 1958: Hatta anti Komunis) Dark Cloud Metaphor C. 1958 – 1965 Ilustrator majalah Waspada dan Ilustrator dan Kartunis di mingguan Minggu Pagi dan harian Kedaulatan Rakyat. aktif mengisi rubrik kartun di surat kabar Kompas Minggu. sutradara dan editor untuk film iklan dan dokumenter. 1978 mulai membuat gag cartoon di Kompas Minggu. 1986 Sebagai direktur utama pada rumah produksi yang didirikannya. Gramedia. 1979-1983 Kepala bagian produksi PT Gramedia Film 1983-1986 Kepala bagian audiovisual PT Gramedia Film 1984 Staf redaksi harian Kompas. 1965 Televisi Eksperimentil Badan Pembina Pertelevisian Surabaya. 13 Mei 1941 dengan menyandang nama Dwi Koendoro Brotoatmodjo. Jawa Barat. kemudian pindah ke jurusan Ilustrasi Grafik di institusi yang sama. PT Citra Audivisitama. Sekolah Menengah Pertama di Surabaya tahun 1958. bekerja di penerbit PP Analisa sebagai ilustrator. tahun 1949-1955.39. kartunis dan art designer khusus untuk majalah Stop dan Senang 1973 Art director/ visualizer pada PT. Pendidikan mulai dari Sekolah Dasar Negeri Lengkong Besar 85 Bandung. serta bertugas di bagian tata artistik dan ilustrator PT. ketua I Asosoasi Animasi Indonesia (Anima) 1994 Juri Sayembara Cergam DitjenKebudayaan Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1976-1979 menggarap sendiri skenario storyboard visualizer. Inter Vista Advertising 1976 Bergabung dengan Grup Gramedia sebagai karyawan tetap PT. 1990 Sampai sekarang. dari “senyum kasih”: orang & anjing) Secara Metaforik status dan fungsi manusia sudah berubah? Anyhow it is a cute cartoon 40. Riwayat Hidup Dwikoendoro Dwi Koendoro lahir di Banjar. setelah dari Surabaya melanjutkan studi di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis. 1997 Ketua Dewan Juri Non Cerita Festival Sinetron Indonesia (FSI) 1999 Menerbitkan komik Sawung Kampret-1 2005 Menerbitkan komik Sawung Kampret-2 Penghargaan 1974 Pemenang I dan II Festival Mini Dewan Kesenian Jakarta 230 . oleh GM Sudarta disarankan diberi muatan kritik agar lebih berbobot.

1976 1981 1989 1994 Juara I dan II Festival Film Iklan Indonesia P3I. Pemenang I Lomba cipta Iklan Pariwara – P3I International Animatiom Festival Hiroshima 231 . Peraih piala Citra untuk kategori film Dokumenter Festival Film Indonesia.

orientasi kartunis jadi lebih luas. Soeharto Ramelan dan Sibarani. Kegiatan utama beliau sekarang adalah melukis. Banyak kartunis di Sumatera. seperti S. Hal ini terjadi karena para pengurus Pakarti adalah kartunis yang bergerak di media surat kabar maupun majalah. Wawancara Dengan Pramono Pramoedjo Tentang Kartun (wawancara 16 februari 2005 & 22 Mei 2005) A. Media surat kabar sejak krisis moneter malah mengurangi ruang untuk pemuatan kartun. Majalah Bog-Bog di Denpasar merupakan satu-satunya berkala khusus kartun humor. Lahan yang sedikit itu saat ini didominasi oleh para kartunis dari kelompok “Kokkang”.Lampiran 3. dan meningkatkan potensi kartun untuk tujuan sosial . Sibarani dalam tiap pertemuan lebih sering menyampaikan pendapat tentang situasi politik dan pemerintah daripada tentang kartun. Tapi setelah jaman berkembang. dan Sulawesi karyanya bagus. 22 Mei 2005) Pramono tak menyampaikan gambaran umum mengenai kartun pada masa itu. Pramono tidak mengomentari keseluruhan kartun yang dikirim padanya. terutama kartun humor. Mereka tak suka digambar sebagai binatang. mengarahkan karyanya pada kartun editorial. daripada sok tahu”. Karena itu beliau hanya memilih beberapa kartun yang bisa dikomentari. Tanggapan tentang kartun editorial Masa Demokrasi Parlementer (jawaban melalui email atas 40 kartun yang dikirimkan. Tulisnya: “banyak yang saya nggak ngerti. Kartunis pada masa awal Pakarti. Orang Amerika dan Eropa senng kalau wajahnya “dirusak” kalau makin menonjolkan ciri khas wajahnya. Animasi juga sekarang berkembang pesat. Digambar sebagai binatang pun mereka suka. Resume wawancara Lisan Tentang Kartun. Mereka mau gambarnya lucu saja tapi masih baik. terdapat perbedaan selera pada orang yang minta digambar. dengan kekhasan mengangkat silang budaya Barat / Modern dengan tradisi Bali. Kebanyakan kartunis masa itu sudah meninggal kecuali Sibarani (83 tahun) yang masih sangat vokal untuk orang seumurnya. Sebetulnya lahan kartunis masih sangat luas. Mengenai karikatur (wajah) Pramono menyampaikan pengalaman yang menarik. Orang Asia kurang suka wajahnya digambar jadi terlalu konyol. Tapi kendala kartunis daerah adalah tak adanya lahan untuk memuat karyanya. Kalimantan. Itok mengembangkan kartun untuk pendidikan anak. 232 . Selama karirnya sebagai pengartun wajah sejak di Pasar Seni Ancol (1980an) sampai hari ini. Beberapa tokoh kartunis masa itu dikenalnya. Program Pakarti masa itu lebih diarahkan kepada mengisi ruang di media untuk kartun. desa kartunis di Kaliwungu. B. di Ubud 16 Februari 2005 Sebagai Ketua Pakarti (Persatuan Kartunis Indonesia) periode 1989 – 2005 Pramono melihat potensi kartun di Indonesia sangat besar. dari yang klasik hingga animasi telepon selular.

sebuah konsert musik Cuma adanya “yessss. 9.. dengan segala cara agar bisa duduk di badan legislatif itu. (Harian Rakjat 1 september 1951: Gone With The Wind) Judul filem “Gone With The Wind” dijadikan pesan karikatural. (Abadi 28 Maret 1951: Serenade de Sartono) Sangat Barat.!|. 6. (Merdeka1952: Bagyo-Arah) 10. Idenya tanpa basa-basi verbal. judulnya juga bahasa Inggris. (Merdeka. Tak bisa ditawar-tawar disogok atau menyogok. (Abadi 20 Maret 1951: Kucing Serbu Ikan ) Keberanian karikaturis untuk menggambarkan manusia dengan figur binatang. (Harian Rakjat 20 Oktober 1951: AS hadiahkan meriam) Dari dulu Indonesia tergantung pada AS dalam persenjataan. Masjumi tidak mau ikut dalam kabinet? Hehe… kalau sekarang bakal rebutan. Yang Gendut : pemimpin. (Abadi. Kalau sekarang bisa dianggap penghinaan. Penampilan kartun: sangat Barat. 4. 2. ternyata sudah ada sejak dulu. Jaman itu pakai rayuan pulau kelapa untuk mau jadi menteri dan kabinet. Mungkin idealisme dalam berbangsa dan bernegara masih tinggi. 3. 7. 8. 1952: Bagyo. Saran dan pesan karikaturisnya malah tak ada 11. Yang gendut = pemimpin negara. tak kelihatan arah karikatur ini mau kemana.Anasir) Jatuh ke jurang sengsara. (berat di tulisan) 5. dgn. sperti cara karikaturis Barat mengomentari sesuatu: to the point. 5 Januari 1952: Burung Hantu) Menggunakan banyak kata-kata untuk menjelaskan maksud ide visualnya.Komentar tentang Kartun Editorial Demokrasi Parlementer 1. untuk rakyat kecil. yang kurus = rakyat. Pecah. selain ada pengaruh antar bangsa. (Merdeka 10 februari 1951: Kue Ranjang) 233 . Alam demokrasi yang terusik dan terbelah-belah. (Abadi. Tidak ada “usul” bagaimana baiknya. 6 April 1951: Orkes Sartono Cleber) Kok bisa y. (Harian Rakjat 28 Agustus 1951: Uncle Sam & RRC) Selain di sana ada RRC disini ada Uncle Sam. biasa digambarkan secara analogis begitu oleh karikaturis. rebutan korsi antara 2 kubu. Bhs Inggris. (Merdeka 1 Agustus 1950: PNI di atas gentong) Wadah PNI yg.

Luar Jawa malah belum terjamah oleh tangan pemerintah. anti kritik? 24. 17. kepentingan rakyat. Bila diadaptasikan dlm karikatur jaman sekarang pun masih sangat menohok dalam menelanjangi seseorang. 22. (Suluh Indonesia 26 oktober 1955: Makmur & sarang Tawon) Kementerian Penerangan diibaratkan sarang tawon. 1955: Layangan Partai) waktu itu belum ada “money politics” 21. BH vs Ali) Di Jaman 1955 itu mungkin kartun tersebut termasuk yang verbal dan keras. (Merdeka 11 april 1951: Kereta api Sartono) 13. 1952: Pancal lomba) Panjat pinang sebenarnya permainan rakyat. (Pedoman 14 Februari 1952: Survival of The Fattest) Sibarani dari dulu memang suka menvisualkan parodi manusia. (Pedoman 1952 Ramelan: Anjing) Kenapa politikus diberangus? Pakai berangus anjing pula! Apa mereka NATO? (no action talk only) 20. (Suluh Indonesia. (Suluh Indonesia 1952: Gantung) 15.12. (Suluh Indonesia 7 desember 1955: Bus ke Holland) Kenapa NU nggak ikut? Ngambek? 26. 25. (Merdeka 12 november 1951: Kepanduan & Irian) 14. tempat nge’pool’ madu. (Pedoman 1953: Bardjo & Miss USA) 23. (Pedoman 19 Januari 1952: Sukiman Jonggol) . (Suluh Indonesia 12 desember 1955: Irian. (Suluh Indonesia. Ada gonjang-ganjing di kalangan elite pemerintahan? 18. (Suluh Indonesia 19 november 1955: BH kaki palsu) Teknik & gagasan kartunis yg brilian. 234 . masih “liar”. Rakyat mendukung pemerintah memperjuangkan 19. sangat menarik untuk beradu nasib disitu. (Pedoman 2 februari 1952: Urbanisasi) Jakarta tempo doeloe pun seperti halnya sekarang. 16. (Suluh Indonesia 1955: BH cabut Gigi) Tanpa teks pun sudah sangat komunikatif.

Dulu masanya kucing garong (liar). 38. sumber sulindo: Lubis & nagin) Metafora karikatur yang gagasannya bisa berumur panjang. koruptor!. 36. (Bintang Timur 31 Desenber 1957: Politikus & asong) 235 . (Suara Rakyat 6 maret 1958. Yang lamban itu kabinet GH. ada “warning”nya. Pembidangan masalahnya jelas. Bedanya Tim tumbuh berderet melalui hidung. sekarang jamannya tikus. 35. Lihat saja di latar belakangnya ada anjing melolong. Negara Sumatera (PRRI?) ygh digambarkan sebagai sarang python yang sudah loyo/ mati meski sang peniup suling berusaha keras mendirikannya. sumber sulindo: Simbolon monyet) Drawing Ramelan memang bagus! Ini jenis kartun “mimpi buruk (nightmarish cartoon). (Suluh Indonesia 31 Juli 1957: Front Nasional) Saya pikir. kartun Ramelan di atas dlm visualisasinya dan teknik aplikasinya masih dipakai oleh beberapa kartunis jaman sekarang. (Suara Rakyat 29 Januari 1958. Yang di atas dari mulut menjadi granat. untuk penjarah.. 34. (Bintang Timur 31 Desenber 1957: Wajah Pemimpin) Untuk apa? Apa ada yang merasa? Atau sekedar gambar satire saja? 37. (Suluh Indonesia 28 agustus 1957:: Hatta & bola ramal) 31.27. (Bintang Timur 1957: Granat Cikini) Saya pernah lihat kartun Tim Mitelberg (Prancis) yang bermetamorfosa mirip kartun di atas. (Suara Rakyat 24 Januari 1958: kucing & ayam goreng) Tanpa teks sebenarnya sudah sangat bermakna. 33. perampok. 29. (Merdeka 26 Januari 1957: Sirkus Nasution) Apa Panglima Nasution berjuang sendiri dan pemerintah dll duduk2 nonton?. (Suluh Indonesia 15 desember 1955: BH vs AURI) 30. Tanpa teks “mis: cobra mati… dst” pun pesan sudah sampai. (Suluh Indonesia 6 desember 1955: BH kura-kura) Kura-kura merupakan binatang lamban. (Merdeka 19 Januari 1957: Telor Hidup Baru) Apa ini sesuai dengan aspirasi rakyat? Tak tergambar dlm pesan tersebut. 32. atau dikandung maksud: pelan2 kabinet BH dipengaruhi? 28. dgn komposisi yg seimbang.

39. (Bintang Timur 1955, dari “senyum kasih”: orang & anjing) Kali ini
Sibarani berani pula mempersonifikasi binatang, dan membinatangkan person. Ada kesenjangan kelas? Siapa di atas? Siapa di bawah?

C. Riwayat Hidup Pramono Pramoedjo Pramono lahir tahun 1942 di Magelang, Jawa Tengah. Setelah putus kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada Yogyakarta, kemudian menyelesaikan pendidikan formalnya di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta tahun 1963. Pindah ke Jakarta dan langsung bekerja di Harian Umum Sinar Harapan. Pengalaman kerja sebagai karikaturis di Majalah Mutiara, Astaga, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Sinar Harapan (Baru) 1965 – 1966 Anggota tim perancang/pelaksana desain diorama Monumen Nasional (Monas) Jakarta. 1966 – 1968 Anggota tim perancang/pelaksana desain diorama Monumen Kesaktian Pancasila, Lubang Buaya, Jakarta. 1967 Pemenang III lomba karikatur “Adinegoro”/PWI, Jakarta 1972 Pemenang III lomba karikatur HUT Bhayangkara, Jakarta 1980 Mendapat medali perunggu dan penghargaan dalam lomba kartun internasional The Yomiuri Shimbun, Tokyo. 1981 Pemenang II Lomba Karikatur “Adinegoro”/PWI, Jakarta 1982 Mewakili Asia-Pasifik dalam pertemuan kartunis Perancis, Inggris, Indonesia, Jepang di Tokyo, diselenggarakan oleh Asahi Shimbun. 1981 Mendapat medali perunggu dan penghargaan dalam lomba kartun internasional The Yomiuri Shimbun, Tokyo 1983 Pemenang II lomba karikatur “Adinegoro”/PWI, Jakarta. Penyelenggara lomba kartun “Peranan pers dalam pembangunan nasional” yang diselenggarakan oleh harian Sinar Harapan. 1985 Pemenang I lomba karikatur “Adinegoro”/PWI, Jakarta. Anggota tim penyelenggara lomba kartun internasional “Candalaga Mancanegara” I di Semarang 1986 Anggota tim juri hadiah “Adinegoro” sie karikatur PWI Jakarta. 1989 Diundang The Asia Foundation untuk hadir dalam seminar Kartunis ASEAN di Kualalumpur Ketua umum PAKARTI (Persatuan Kartunis Indonesia) periode 1990 sampai sekarang. 1991 Diundang The Japan Foundation untuk hadir dalam seminar/pameran kartun ASEAN di Tokyo, Jepang.

236

237

Lampiran 4. Komentar T. Sutanto tentang Kartun (Wawancara Tertulis melalui kiriman questionaire ) A. Resume Wawancara Lisan Tentang Kartun T. Sutanto tak memberi komentar khusus secara tertulis mengenai pandangan umum kartun editorial di Indonesia. Hanya dalam pembicaraan informal dapat ditangkap bahwa, masa Demokrasi Parlementer karikatur sangat digemari orang. Pada masa itu situasi politik bergairah, dan kartun dijadikan alat politik. Kartunis yang paling dikenangnya adalah Augustine Sibarani karena, gaya gambarnya yang unik dan pengolahan kritik yang cenderung nakal. Karya Sibarani yang paling dikenang adalah karya kartun yang dimuat di majalah “Kisah”, karya buku anak-anak, dan kumpulan kartun “Senyum Kasih Senyum”.. B. Komentar tentang Kartun Editorial Demokrasi Parlementer (jawaban melalui surat, 21 Marret 2005)

1. (Abadi 20 Maret 1951: Kucing Serbu Ikan ) Analogi berdasar peristiwa
sehari-hari./rumah tangga. Kucing menjadi lambang asosiatif dari pencuri, sesuai budaya rumah tangga desa waktu itu (Sekarang lebih populer tikus, lebih liar dan sama dengan hama). Sendok garpu menyatakan rumah tangga elit (pemerintah / kelas atas) Komposisi, susunan kurang tergarap enak, susunan letak kurang diatur dengan peka. Sambungan kepala ke ikan dan kucing terkesan “maksa”

2. (Abadi, 6 April 1951: Orkes Sartono Cleber) Analogi Dewan Menteri
(Kabinet) sbg kelompok orkestra dengan PM sebagai dirigen. Populer waktu itu, orkes = elit & populer (Radio- RRI) Kiasan mudah dipahami (Klise / Generik). Sindiran lunak tak tajam, kultur modern. Penggambaran tanpa dramatisasi kesannya lunak, kabinet sepi dukungan (Kurang terkesan nilai negatifnya)

3. (Abadi 28 Maret 1951: Serenade de Sartono) Kurang dramatisasi,
hubungan emosional (harapan yang kuat) dari Sartonbo ke Masjumi kurang tergambar. Impact: lemah, netral. (Sartono nyanyi ke arah siapa?). Kiasan Masjumi sbg puteri yang pemalu kurang ketahuan maksudnya, sesuai kondisi waktu itu mungkin? Background setting kurang bermakna asosiatif.

4. (Abadi, 5 Januari 1952: Burung Hantu) Gambarnya terlalu kompleks.
Burung hantu sebagasi lambang keterpelajaran sangat umum, klise. Untuk masa sekarang, maksud kurang jelas

5. (Harian Rakjat 1 september 1951: Gone With The Wind) Sederhana –
langsung – mudah dipahami. Penggunaan judul filem, nama tau bait lagu 238

14. (Harian Rakjat 20 Oktober 1951: AS hadiahkan meriam) *Klise! Lelucon yang mungkin sesuai dengan jaman itu (?). (Suluh Indonesia 1952: Gantung) (* Tak begitu jelas situasinya). (Pedoman 19 Januari 1952: Sukiman Jonggol) *Tak jelas sindirannya. (Merdeka 12 november 1951: Kepanduan & Irian) * Tak segera nampak kaitan perlambangan / kiasan dengan situasi. (Merdeka 1 Agustus 1950: PNI di atas gentong) Gentong lambang wadah vital (untuk beras. (Merdeka. Permintaan Masjumi duduk sebagai PM – sebagai permintaan yang hebat (berlebihan) tak terungkap secara visual (lokomotifnya juga tersembunyi. (Harian Rakjat 28 Agustus 1951: Uncle Sam & RRC) Perlambangan US = Uncle Sam sangat klise. Kenapa orang Indonesia mengaku “makan roti”? 8. 7. 15. yang bisa pecah Bagus untuk memberi “rasa” ungkapan perpecahan. terlalu mementingkan pemahaman (komunikatif) – kurang mempertimbangkan kreatifitas dan ungkapan yang segar. * Sikap figur tak dibuat dramatis atau lucu ( netral). Gentong cukup populer di budaya desa (waktu itu!) 11.merupakan cara yang masih sering dipakai sampai saat ini. 1952: Bagyo. (Merdeka1952: Bagyo-Arah) * Lambang Indonesia. Perdebatan (soal api) tak tergambarkan dengan baik. tapi kurang jelas kenapa harus pakai pengikat. 239 .Anasir) 9. * Penggambaran naif. Hubungan US dan Pemerintah Indonesia tak tergambarkan secara imajinatif – hanya pake teks “Gua punya anak buah ini”. * Matahari dan pohon gersang di kejauhan sangat terasa sunyi dan gersangnya. kalau masing-masing komisi bekerja dengan efisien dan efektif apa salahnya? * Efek negatif tak terungkap / tergambarkan. tak dominan). * Gambar juga terlalu rumit. 6. air. (Merdeka 11 april 1951: Kereta api Sartono) Perlambangan cukup baik (kabinet = kereta api) * Penggambaran kurang efektif. (Merdeka 10 februari 1951: Kue Ranjang) Perlambangan yang baik. 13. pengolahan sawah yang gersang. 10. agak terlalu tipografis (titik berat pada huruf tulisan). 12. * Arah kebijakan dilambangkan dengan arah-arah panah penunjuk _Cukup Klise. komposisi gambar persis di tengah: orang & batang persis di tengah. Gambar kayu-kayu merumitkan gambar dan menutupi kejelasan maksud. Sayang. Siapa yang di atas? Pedagang? Penguasa? Spekulan? (mungkin untuk situasi waktu itu cukup jelas).

Agak membingungkan sedikit: kalau pemimpin ambil mobil dan juga ambil berasnya. Hanya perbedaan kualitas. (Pedoman 2 februari 1952: Urbanisasi) Tidak jelas maksudnya. (Suluh Indonesia 1955: BH cabut Gigi) *Analogi yang sekilas masuk akal. 17. (Pedoman 14 Februari 1952: Survival of The Fattest) Tak begitu jelas kaitan persoalannya. *Kenapa Kempen digambarkan sebagai lebah? Tukang menyengat? – Positif? (menegur. seharusnya bisa humoristis. tapi penggambaran terlalu seram. (Suluh Indonesia 19 november 1955: BH kaki palsu) Kiasan visual yang jelas. Luar Kota dan Luar Jawa tak terjelaskan. Kabinet sebagai orang sakit gigi yang harus merontokkan gigi sendiri – tak mengena karena bila merontokkan gigi – kabimnet tak bergigi: negatif! – Kabinet pakai gigi baru / palsu. Mungkin bukan perlombaan panjat pinang kiasannya. * Kabinet & Oposisi masih dekat dengan rakyat (dari kostum dan kaki telanjang) – Masih sama (sederajat?) dengan rakyat – yang masih berkuasa (?) – digambarkan sebagai tangan besar yang masih bisa menyingkap pemerintah. 18. 22. yang tak sesuai digambar jelek / sengsara / sakit.16. menuju demokrasi terberangus – Seharusnya menuju demokrasi beretika! (entah bagaimana gambarnya). (Suluh Indonesia. *Kurang klop dengan pemimpin memikirkan nasib rakyat. (Suluh Indonesia. langsung. negatif! Rakyat sebagai dokter gigi (mencopot menteri / partai) – demokrasi omong kosong. rakyat dapat apa? * Dalam panjat pinang setiap orang mengambil hadiah untuk diri-sendiri. mengingatkan) – Negatif? (membuat sakit)… yang mana? 24. tapi sebetulnya tak logis. (Pedoman 1953: Bardjo & Miss USA) * Kartun indoktrinatif. (Suluh Indonesia 26 oktober 1955: Makmur & sarang Tawon) *Siapa yang cari penyakit? Tawon atau Makmur? (tak jelas kecuali situasi waktu itu yang bisa menjelaskan). 1952: Pancal lomba) * Kerancuan logika. salah / dosa? Hanya politik waktu itu yang tahu alasannya (opini pemerintah / publik). 23. 19. * Kesulitan hubungan antara Jakarta. * Tidak diolah secara cerdas dan lucu. Sedang gerombolan dapat diisolasi di luar kota? Kan Positif. * Kenapa memihak AS.. 21. 240 .. (Pedoman 1952 Ramelan: Anjing) Intro: (indoktrinasi) menuju totalitair. 1955: Layangan Partai) Analogi baik. 20.

(Suara Rakyat 24 Januari 1958: kucing & ayam goreng) Mirip gambar no. (Suluh Indonesia 28 agustus 1957: Djuanda & ramal) Perlambangan / kiasan menimbulkan tanda tanya. termasuk komposisinya). 34. (Suluh Indonesia 12 desember 1955: Irian. Situasi dalam negeri sebagai “cangkang” (kulit) tak ada kaitan logis. Mak?” = tak memberi pengertian khas sindiran atau harapan atau apakah terlalu umum? 31. BH vs Ali) * Ungkapan yang cukup kena dan mudah dipahami. sumber sulindo: Simbolon monyet) 241 . (Suluh Indonesia 15 desember 1955: BH vs AURI) Ini bukan tentang dukungan. (Suluh Indonesia 31 Juli 1957: Front Nasional) * Cukup mudah dicerna. 26. (Suara Rakyat 29 Januari 1958. karena pada dasarnya kucing adalah binatang peliharaan yang kelihatannya lembut dan jinak. (Suluh Indonesia 7 desember 1955: Bus ke Holland) Kenapa kabinet BH = mobil rusak? (situasi / opini politik dan sikap politik waktu itulah yang tahu). (Merdeka 26 Januari 1957: Sirkus Nasution) Gambar tidak bagus secara kejelasan. (Suara Rakyat 6 maret 1958. Teknik gambar kurang mendukung (kurang jelas. Apa hubungannya Munas dengan ramalan? (K”Kira-kira berhasil tidak.25. 27. Kenapa kepala kura-kura tidak digambarkan sebagai kepala BH? 28. (Suluh Indonesia 6 desember 1955: BH kura-kura) *Klise: tak jelas. *Mungkin ada penggambaran yang lebih pas? 30.1 – kucing sebagai “pencuri” lebih terasa liciknya daripada tikus. karena binatang2 ini mewakili siapa? (Partai2 duduk sebagai penonton di depan DPR)… Binatang juga tidak berasosiasi dengan lambang partai (Gajah. tak khas. (Merdeka 19 Januari 1957: Telor Hidup Baru) Perlambangan sangat klise & umum. sumber sulindo: Lubis & nagin) 35. Ungkapan / perlambangan tidak begitu tepat. bukan hama. Telur lainnya maknanya apa? 33. tapi lebih berupa kecelakaan atau sabotase. efektifitas maupun estetis. Tapi lambang buaya sebagai pengkhianat agak terlalu di”gathuk”kan (?) : yang nggak setuju secara politis = pengkhianat 29. Tapi kurang diulik lambang yang tepatnya. Garuda?) 32. *Kacamata kini: pampasan Jepang sebagai ayam.

Ljubljana. Galeri Nadi. Parade Seni Lukis Indonesia ‘ 71. dari “senyum kasih”: orang & anjing) Lelucon pengandaian (ganti tempat / posisi) 40. Fukuoka City Art Museum. 1971. Pameran “Gambar Segi Enam”. (Bintang Timur 31 Desenber 1957: Wajah Pemimpin) Ungkapan yang artistik & imajinatif. Pegrafis. Yugoslavia 1978 Fourth Triennale India. kini menjadi dosen di Desain Komunikasi Visual – ITB. 1995. (Bintang Timur 1958: Hatta anti Komunis) C. (Bintang Timur 1957: Granat Cikini) Pipa sebagai perlambangan: lambang visual untuk hubungan. Ygy. Kontributor kartun editorial di Tempo (1979 –1982). Japan. The Jakarta Post. New York tahun 1986. Pemeran Tunggal 1976. (Bintang Timur 31 Desember 1957: Politikus & asong) Kartun bukan politik yang sok politik (plesetan makna dari kata). Travelling. Sby 1995. Keliling Indonesia 1977 Biennale of Graphic Art. Illustrator dan Karikaturis. Jakarta 1984 Norwegian International Print Biennale. 2002 Tension and Harmony. 8th Asian International Art Exhibition. Kegiatan sebagai karikaturis media massa dimulai di harian Mahasiswa Indonesia sampai 1974. India 1980 Pameran Besar Seni Lukis Indonesia.1996. tapi bukan kaitan makna logis. Galeri Hidayat. New Delhi. Traveling di Inggris dan Swiss. Sutanto. Pameran Seni Rupa di Chase Manhattan Bank Jakarta 1990 & 1995 Pameran Seni Rupa. Menyindir Bung Karno? Atau moral pejabat pada umumnya? 37. Japan. Pameran Seni Rupa. Galeri Lontar Jakarta Pameran Bersama Terpilih 1968 -1969 Indonesian Artist 1969. Aktif sebagi Seniman. Penghargaan 242 . 1993. Bandung 1995.1997. TIM. Freddrikstad 1991 Contemporary Indonesian Prints. Sutanto T. Manila.36. keliling Jkt. lahir di Klaten 2 Mei 1941. 1996 11th Asian International Art Exhibition. Bdg. Riwayat Hidup T. (Bintang Timur 1955. lulus dari Seni Rupa ITB tahun 1969 dan menempuh program Master di Pratt Institute. Sex mendapat porsi utama sebagai alis dan hidung. Teknik expressionist (European style) 39. dan Pikiran Rakyat. Jakarta. 38.

243 . Jakarta. The Best Ten Indonesian Art Award. Yayasan Seni Rupa Indonesia.1980 1996 Best Work in the 4th Grand Exhibition of Painting from Jakarta Art Council.

Lampiran 4. Kaffi Fathir Raditya Jabatan & Pekerjaan Sejak 1973 Sejak 1978 1984-1990 1991. Jakarta Fair 1970 244 . Munadi Aliyanto. Indonesia : 022. Liliek Prihatini.Sekeloa 23. lulus 1973 : Euis Sukmadiana : Ariani Savitri. Kendi Maulanto. Jambatan dan Badan Penerbit Kristen Asisten Perancang perencanaan Anjungan Indonesia EXPO’70. IV/a) : 130682811 : Jl. Andriyanto : Achmad Turmudzi. 250 2771 : SMA. Sakri Agiyanto. Bandung 40134. Osaka Koordinator Tata Huruf di Anjungan “Lembur Kuring”. Paguyuban Kartunis Indonesia Anggota Kehormatan PAKARTI. Widya Nugrahani : Hilmy Muhammad Dzaki.1994 1987 . Jakarta. Riwayat Hidup Penulis Nama Lahir Pekerjaan NIP Alamat Tlp & facs Pendidikan Istri Anak Menantu Cucu : Priyanto Sunarto : Magelang . Luci Merciana. 10 Mei 1947 : Staf Akademik Institut Teknologi Bandung (gol. lulus 1965 : Sarjana Seni Rupa Institut Teknologi Bandung. Ikatan Perancang Grafis Indonesia Anggota ADGI.2000 1989 2005 – 2010 Anggota IPGI.1994 1994 1982 – 2000 1996 .1993 1997 2005 2005 Staf Pengajar di FSRD-ITB program studi Desain Komunikasi Visual Staf Pengajar di FSR-IKJ Komunikasi Visual dan Seni Murni Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual FSRD –ITB Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual FSRD –ITB Anggota Majelis Jurusan Desain FSRD-ITB Ketua Majelis Jurusan Desain – FSRD-ITB Anggota Senat FSRD-ITB Keanggotaan Organisasi Profesi 1980 . Ikatan Perancang Grafis Indonesia Anggota Dewan Pengarah IPGI. periode kepengurusan Riwayat Pekerjaan 1968 1968-1971 1969 1970 Bersama Harjadi Soeadi membuat ilustrasi buku bibliophile Pramudya Ananta Toer dalam bahasa Prancis terbitan Alliance Francaise Ilustrator buku-buku terbitan PT. Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (d/h IPGI) Anggota Dewan Pembina Penerbitan Prangko dan Filateli (Postel) Anggota Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional (MPKN) Depdikbud Anggota PAKARTI. Kanisius. Hasna Meisya Qotrunada.

Sidharta. Sunaryo.1985 Kordinator Grafis Anjungan Indonesia di EXPO’85 Tsukuba. PERUMTEL Jakarta 1988 Konsultan desain Museum Olahraga di TMII 1989 Pewarnaan Gedung Stasiun Kereta api Jakarta fly-over ( Cikini. Brisbane 1987 Konsultan Desain Sign-System WITEL-IV. Manku Mura di Banjar Siku. divisi Pemasaran PT Sampoerna. APRJ 1992 Pengarah Seminar “Advertising & Cultural Value” .DECENTA. Jakarta 1990-1991 Ketua bidang Desain Grafis Festival Istiqlal 1991. Jakarta 1994-1996 Kontributor Kartun untuk Majalah Berita FORUM KEADILAN 1996. mendirikan PT. Bandung 1986 Pengembangan desain Kemasan Rokok untuk PT Indramas Purna Agra. dan Manager Teknik 1975 . Jakarta 1992 Mural Kartun Peta Jakarta (500 cmX800cm) bersama anggota PAKARTI di Anjungan DKI Jakarta.2004 Opini Animasi di situs berita internet TEMPO INTERAKTIF http://www. Bandung 1985-1986 Kordinator Grafis Anjungan Indonesia di EXPO’86 Vancouver. Industri Kereta api ( INKA ) di PPI’85 1986 Konsultan Grafis bagi Biro Perencana “AT-6” perencanaan sign system “Gedung Pusat Management” IPTN. Bandung 1980 Kordinator Desain Museum Konfrensi Asia Afrika di Bandung. (FSRD ITB) 1995 Pengarah Simposium & PameranTeknologi Cetak (Peruri & ITB) 1995 Konsultan Kreatif Kampanye Nasional Bersurat Perum Pos dan Giro 1996 Anggota tim juri iklan SLI “001” kerjasama Indosat & Dentsu Jakarta 1996 Konsultan tatamuka majalah FORUM KEADILAN. Surabaya 1998 .1972 1973 Tim Desain Grafis pameran “Progress Report Pelita-I”. Encona 1989 .tempointeraktif. Adri Palar. Jepang 1985 Konsultan Design Khusus panel-panel Statistik BAPENNAS di PPI’85 1985 Konsultan Design Stand PT. Jakarta 1987-1988 Konsultan Grafis bagi PT GGI Anjungan Indonesia di EXPO’88 Brisbane 1988 Mural lukisan Kamasan (250 cm X 10800 cm) bersama Kel. G. dan bekerja sebagai sebagai Perancang Grafis. Pendidikan dan Kebudayaan 1984 . PPLH DKI Jakarta 1998 Pengarah Kreatif Corporate Identity PT.1991 Ketua Tim Desain Logo & Corporate Identity Perum Kereta Api (PERUMKA) 1990 Konsultan Desain Pameran Indotourism’90. Canada 1986 Ketua Tim Standardisasi Lambang & Corporate Identity ITB.1994 Kontributor Opini Kartun Majalah Berita Mingguan TEMPO.com/ 1997 Kordinator Gelar Kartun Lingkungan Hidup.Perkebunan-11. T. untuk Pavilion Indonesia EXPO’88.Sutanto.1998 Kontributor Opini Kartun untuk Tabloid Ekonomi KONTAN 1996-2001 Kontributor Kartun Sorotan untuk Majalah Berita Mingguan D&R 1996. Kontributor Kartun Editorial Majalah TEMPO (Baru) 245 . Departemen Luar Negeri 1982 Ketua Tim Pembuatan Animasi untuk film ilmiah “ Gerhana matahari Total 1983” oleh Tekkom-TKPK. Gondangdia. Pirous. Jakarta 1977. Malang 1987 Konsultan Evaluasi Tatarupa Majalah PERTIWI . Gambir. Depdagri Bersama AD.1981 1977-1978 Tim Desain Grafis Pameran “10 tahun Pembangunan Indonesia” Pelita-II 1978 Staf Redaksi & Tatarupa Koran “Figuran”. Scientiae. PintuAir.Bali. Mangga Besar) konsultan PT.sampai sekarang. Dep.

Sidharta (1996). Tempo. Museum Nasional. Perjuangan Pos (120cmX 2. Bandung 1999 Tim Konsultan Corporate Identity Politeknik Negeri Bandung (Polban) 2000 Konsultan Pameran Keliling "Kartun Untuk Demokrasi. Denpasar. Desain & layout buku G. dan Pakarti di Jakarta. Ilustrasi kampanye AQUA PEDULI(1996). Ilustrasi buku”Tikus Desa dan 246 . Prinka & Ilustrasi "Saat Menuai Kejahatan" kumpulan esei kriminologi karya Yesmil Anwar (2004). Jakarta 2003 Ketua Tim Juri Lomba Desain Grafis Nasional “Scopa 2003” di Jakarta 2003 Konsultan desain Kertas Suara Pemilihan Presiden 2004. Medan 2001 Konsultan Pameran Keliling "Kartun Untuk Demokrasi. Pengarah desain buku seri Fabel Grafiti Pers (1991-1992). Surat Emas(120 cm X250cm). Men. Desain Buku & Cover “Perjalanan Malam Hari” kumpulan esai Arsitektur karya Yuswadi (2003). Budpar Penelitian 1979. Maskot “Pemilihan Umum 2004” (2003). Komisi Pemilihan Umum & Depdagri. Pusat Pos Indonesia. Desain & ilustrasi Legenda Timor “mengembara ke kaki langit “ ( Grafiti 1992 ).50cm) di Gd. tema: Wakil Rakyat" Fredrich Naumann Stichtung di Jakarta. Cover Design buku-buku ekonomi karya Sjahrir (1995).1998 Mural Sejarah Pos (120cmX 60cm). Citra Lintas (1997).2003 Ketua Tim Juri Logo Museum Nasional. Ilustrasi Kalender harian Lippo Bank 1993 dan 1994.2003 Anggota Tim Konsultan Corporate Identity Institut Teknologi Bandung 2003 Pengarah Kreatif Kampanye P4B “Pendaftaran Pemilih dan Pendataan Penduduk Berkelanjutan”.KLH 2005: Anggota Dewan Juri “Anugerah Budaya” Kategori Iklan.) Anggota Tim Survei Inventarisasi Desain di Jawa Timur (FSRD-ITB&BPEN) Ketua Tim Survei Budaya Korporat PT. Maskot Alumniade ITB (1997). Sugih Tanpa Bondho karya Umar Kayam ( Grafiti 1995 ). Perumpel wil-III & IV Ketua Penyusun Jabatan dan Kompetensi Desain Grafis (Dikmenjur) Ketua Peneliti Desain Perajin Stempel di Bandung (LPPM-ITB) Ketua Penyusun Jabatan dan Kompetensi Komunikasi Grafis (Dikmenjur) Karya Desain Grafis Buku.80 1984 1991 1995 1997 2002 Anggota Tim Riset “Penelitian Persepsi Gambar pada Masyarakat Pedesaan” (UNICEF & Jurusan Komunikasi Massa FISIP-UI. Bukitinggi. Baratayudha di Negeri Antah Berantah. BPS 2002. Budpar Jabar 2003 Pengarah Kreatif “Pameran Aksara Nusantara”. tema: Pemilihan Umum 1999" Kerjasama Fredrich Naumann Stichtung. KPU Pusat 2004 Anggota Dewan Juri "Anugerah Budaya" Kategori iklan. Maskot "Aqua Peduli". Dep. Cover Design: Madhep Ngalor Sugih. Jakarta 2002.Madhep Ngidul Sugih karya Umar Kayam(1997). Mangan Ora Mangan Kumpul ( 1993 ). 2002 Anggota Tim Juri Logo Pariwisata Jawa Barat. Surabaya. Bandung. Yogya. Dep. Ilustrasi dan Desain Cetak lainnya: Desain Buku bersama S. Denpasar. Bandung. Budpar 2005 Anggota Dewan Juri Logo “Anugerah Adipura”. Makasar. Yogya.

Kalender Pita Decenta 1978.1994). Kontributor kartun untuk Kampanye Jamban Pribadi. Politeknk Seni Yogya (2001). PT Petrosol Geotechnique. Indonesia Pavilion EXPO’86 Vancouver (1985). Desain Prangko Pavilion Indonesia EXPO’86. 1987 ). Jakarta 1987: Pameran eksperimental bersama Gerakan Seni Rupa Baru “Pasaraya Dunia Fantasi” 1988: Pameran& diskusi Desain Grafis Indonesia . Yogyakarta. Berlin (1986). “RUNA” Jewelry (1974). Sidharta (2002). "Joglo Progo" steak house. Bandung (1987). Cover bukubuku Ilmiah PT Bina Cipta (1977-1978). Ilustrasi Bibliophile Pramudya Ananta Toer bahasa Prancis oleh “Alliance Francaise” (1968) Logo: API "Asosiasi Pematung Indonesia" (2004). Logotype Piala Citra & Mitra untuk FFI (1974) Pilihan Pameran dan Ceramah 1976: Pameran “Konsep” (mempertanyakan seni) bersama Gerakan Seni Rupa Baru. Logotype Institut Teknologi Bandung (2003). Tutur. Ygy. 1983 ). Ilustrator Rubrik Indonesiana Majalah TEMPO (1981 . Berkala ITB ( 1976 ).design & illustrasi Kalender”Warna Agung” 1983. Komunitas Penyiaran Jawa Barat “Balarea” (2002). Desain & Ilustrasi buku “Humor Sufi” (Pustaka Firdaus. Jkt. Perusahaan Tanaman Hias "Tepas"(1999).JAGDA”. Logotype Piala Vidia (Media Elektronik) (1992). Bandung (2004). Buku Pengantar Kapal Penumpang KM Rinjani (Ditjen Perla. 1979. Widya untuk FFI (1984). Bandung 1989: Pameran & Workshop Kartunis ASEAN. 1984) . Adhidarma. Logotype Adhicipta. Kuta (1990). “Banjar Gruppe”. Kintamani dan The Reefs di Hotel Bintang Bali.tulis surat” Pos dan Giro (1995). “Kirim kabar. Kemasan Jamu Tradisional “Karoehoen” Bandung ( 1969 ). Lembaga Humor Indonesia (1978).Jepang “IPGI. design & illustrasi Kalender”Warna Agung” 1983.Tikus Kota” (1991) dan “Tikus membalas Budi “(1992 ). New Delhi (1990).Folder & Buku untuk Perumtel (1985-1986 ). MTQ-XII. Suryo Sumanto. Surabaya 1992: Ceramah Manajemen dalam Desain Grafis di ISI Yogya 247 . Bdg. Jakarta 1978. Graha Afiat Pradika (Info Kesehatan) (1994). 1978: Pameran Humor & Saresehan . 1980 Pameran & Diskusi Keliling Gambar Kelompok Persegi Jakarta. Kordinator kalender OK! dan Majalah Editor 1988. Pameran 70 tahun G. Banda Aceh (1980). Kalender Pita “TEMPO” 1979. Buku Humor Mini “Langka Tapi Bohong” (Grafiti Pers. LSM “Jatiluhur” Pemberdayaan Prempuan (2004). Cover dan Ilustrasi beberapa buku PT Jambatan dan badan Penerbit Kristen (1968-1971). Buku Penerangan tentang Lingkup Senirupa (FSRDITB 1983). Piala Persatuan Insinyur Indonesia (1991). Bandung (1999). Surakarta 1980 Pameran Pertama & Saresehan Ikatan Perancang Grafis Indonesia. 50 th Senirupa ITB (1997). YASRI (1991). "Rich Cafe".Lembaga Humor Indonesia. PT Pramana dan Yayasan Seni Rupa Indonesia. Kuala Lumpur (Aminef) 1991: Pameran & Ceramah bersama 5 kartunis ASEAN di Tokyo (Japan Foundation) 1992: Pameran & Ceramah Karikatur dan Politik di Universitas Airlangga. Design & Ilustrasi kalender Perumtel 1985. PT. Perusahaan ikan “Segara Iwak” Jawa Barat (2002). Kontributor kartun Rubrik “Trio Tikus” majalah Zaman (1981-1983). 1977: Pameran Keliling Gambar Cetak Saring Decenta. Asian Energy Institute-AEI. Logotype Piala S. Design kalender Perumtel 1987. Ditjen Cipta karya. Vancouver (1986). kelompok musik avantgarde. Koperasi & Warung "Laos". Folder & Poster “Donor Darah” PMI Bandung (1976). Adhikara. Pacto Tour & Travel (1978). Bandung (2004). Kalender ITB 1974. bandung. “Tiada hari Tanpa jamban” (1986).

buku cetak terbatas) 1977 : Evaluasi & reorganisasi “Peta Bumi Indonesia Baru” (disoreintasi) 1980 : Proyek Pasir ( Curiosity ) "Hak Azasi Pasir" dan ”Migrasi Pasir ke 80 alamat pos” 248 . 2003: Diskusi “Menghadapi Pasar Kerja DKV” di Universitas Petra. Surabaya 2001: Ceramah Peluncuran buku karya kartun editorial Tempo “Opini Pri-S” di Trimatra. Jakarta 1988 : Kartun Editorial terbaik-1 tahun 1987 PWI Jaya 1989 . Jakarta Raya 1978 :Pemenang logo Asosiasi Kontraktor Indonesia ( AKI ). di Poliseni Yogya 2003: Ceramah “Desain Grafis Indonesia & Belanda” di Erasmus Huis. Bandung 2002: Artikel “Huruf Latin di Indonesia” katalog Aksara Nusantara.1994: Ceramah ttg Ilustrasi Kartun di Saresehan kartun Indonesia “PAKYO” Yogyakarta 1995: 1996: Diskusi keliling & Pameran Gambar SEGI-ENAM (Jakarta Post) Jakarta.teknik cetak tanah liat ). Jakarta 1981 : Penghargaan unique design. Menteri Muda Pemuda dan Olahraga. Lomba Logo “Regional Da’wah Council of Southern Asia and Pacific (RISEAP ). Jakarta 1977 : Pemenang logo 450 tahun kota Jakarta. (realisme. 1973 : Bibliophile “O” Eksperimen buku Puisi Kongkret untuk kumpulan puisi Sutardji Calzoum Bachri (karya Tugas Akhir Sarjana.1992: Kartun Editorial terbaik unggulan 2/3 PWI Jaya 1993 : Kartun Editorial terbaik-1 tahun 1992 PWI Jaya 1994 : Kartun Editorial terbaik-2 tahun 1993 PWI Jaya 1992 : Penghargaan IKAPI desain buku & ilustrasi terbaik 1992 “Mengembara ke kaki langit” (Grafiti) 2003: Kartun Editorial terbaik-2 tahun 2002 PWI Jaya Kegiatan Karya Rupa Eksprimen Bebas 1972 : Eksprimen topeng drama “Tersiarnya Kabar” Stema Seni Rupa-ITB sutradara: Sanento Yuliman (geometrik .dekoratif. Bandung. Jakarta 2003: Ceramah “Potensi Pendidikan Diploma”. teknik lipat potong). 1973 : Eksprimen topeng drama “ Karto Loewak” Studi Teater Bandung sutradara: Soejatna Aniroen. Ubud Penghargaan: 1969 : Penghargaan karya grafis terbaik Pameran tahunan Seni Rupa ITB 1971 : Penghargaan karya grafis terbaik Pameran Generasi Muda 1971. 1983 : Penghargaan IKAPI untuk desain & ilustrasi terbaik buku “ Humor Sufi” 1985 : Juara-2 lambang PT.Yogyakarta 1995: Ceramah “Desain Grafis & Grafika” Simposium Teknologi Cetak di Bandung 1997: Ceramah & tayangan Animasi sebagai opini di Internet di Jakarta& Yogyakarta 1998: Ceramah “Desain = wawasan+kreatifitas” di Univrsitas Tarumanegara. Surabaya 2003: Ceramah “Desain Grafis Indonesia 1950-1970an” di KMDGI. Kualalumpur 1982 : Juara-2 lambang Sumpah Pemuda. Surabaya. Museum Nasional 2002: Ceramah “Peranan Komunikasi Visual dalam Penyuluhan Gizi” AGB. Jakarta 1999: Kuliah Umum “Peranan Huruf dalam Desain Grafis” Universitas Petra. Pemda DKI. INDOSAT. Jakarta 2005: Ceramah “Metafora dalam Kartun” di Musyawarah Kartunis Indonesia.

1984: Bioskop Eksperimental “Gambar Toong” ( Voyeurism ) bersama IPPDIG di Pasar bambu IKJ-1982. FFI-1982 Medan.Salman. dan FFI-1984 Yogyakarta 1987 : Bioskop eksperimental “Sineraya Bioskop 5 Dimensi “ (Megatrend : Information Boom) bersama OK! -IPPDIG-LFM.Pasar Seni ITB 249 . Pasar Seni ITB 1983.1982 .

3. TIPOGRAFI (tiap kartun bisa lebih dari satu V) Judul : headline. atau tipografi bunyi. HARIAN RAKYAT = 150 (+Obor Rakyat) 7. PEDOMAN = 19 3. belanda. nama yang diterakan pada benda atau tokoh Onomatope: tiruan bunyi tanpa arti. SULINDO = 63 (+Suara rakyat) 4. atau yg diucapkan tokoh Tag : name tag. INDONESIA RAYA = 52 6. BINTANG TIMUR = 31 Jumlah = 344 kartun ` Check Form kartun untuk dihitung aspek-aspek yang akan dikaji: (1) Bahasa (2) Tipografi (3) Verbal – Visual (4) Latar Budaya (5) Situasi Pendukung (6) Suasana Tonal (7) Obyek yang digambar (8) Ekspresi Muka (9) Gerak Tubuh (10) Ungkapan Metafora (11) Aspek Emotif . kapital Caption : keterangan yang terletak di bawah gambar Balon : balon berisi kata ucapan. VERBAL-VISUAL > verbal : dominan verbal. inggris tanpa teks: tak memakai kata-kata 2. LATAR BUDAYA lokal : budaya tradisi indonesia asia : budaya tradisi asia barat : budaya tradisi khas barat / eropa amerika modern : budaya global yg dipengaruhi barat modern 250 . kata hanya keterangan saja visu all : hanya menggunakan gambar tanpa kata 4. BAHASA (tiap kartun bisa lebih dari satu V) formal : bahasa indonesia baku / resmi slank : bahasa sehari-hari jakarta daerah : bahasa daerah asing : bahasa asing asia. MERDEKA = 12 (+S Bagyo) 2.Lampiran 5 TABULASI & CHECK FORM 334 ARTIFAK KARTUN DARI TUJUH SURAT KABAR JAKARTA Nama Koran dan Jumlah kartun terpilih: 1. gambar hanya pelengkap ver-vis : makna verbal dan visual saling dukung > visual : makna visual dominan. ABADI = 17 5. Catatan tentang kotak isian tiap aspek 1. tulisan besar.

tak menyindir sindiran : menyindir / tak langsung / dibungkus dalam lelucon ejekan : mengejek pihak lawan dgn melecehkan. biasa saja segar : kiasan yg meski kias tapi relasinya cukup jelas samar : kiasan yg dibuat sangat samar tak segera jelas maksudnya 11. menghina Halaman berikut adalah tabulasi lengkap seluruh artifak kartun editorial yang diteliti. EKSPRESI WAJAH hiperaktif : mimik sangat menonjol (distorsi) aktif : mimik terbuka netral : tak ada ekspresi / pasif reaktif : mimik antisipatif hipereaktif : mimik sangat tertekan (distorsi) 9. mati. SITUASI PENDUKUNG nyata : kejadian di alam yang realistis situasi nyata khayal : kejadian di alam khayalan yang tak ada di kenyataan mitos : kejadian dikiaskan melalui mitos / legenda terkenal 6.5. EKSPRESI WAJAH hiperaktif : gerak sangat berlebihan (distorsi) aktif : gerak aktif netral : gerak cenderung diam reaktif : gerak antisipasi hipereaktif : gerak sangat menangkis (distorsi) 10. orang binatang : mengandung tokoh binatang benda : mengandung tokoh & pelengkap dari benda 8. OBYEK YANG DIGAMBAR (tiap kartun bisa lebih dari satu V) manusia : mengandung tokoh manusia. ASPEK EMOTIF resmi : ungkapan serius menyatakan hal yang resmi. UNGKAPAN METAFORA beku : kiasan yg sering diulang-ulang. berikut paparan check-form terinci tiap karya. babanyak kelabu / bayangan gelap : suasana gambar nyaris hitam gelap 7. banal. lucu : lucu saja. SUASANA TONAL terang : suasana gambar terang dominan putih temaram : suasana gambar agak redup. menertawakan. yg menonjol hanya lucu. 251 .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.