http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3 Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar Ditulis oleh Otong Kardisaputra A. Latar belakang masalah Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu, guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di atasnya. Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya? Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang, ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas (Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guruguru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide, jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya? Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974), P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J. Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970), E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran. Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guruguru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk. 1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah. A. Rumusan Masalah Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?” Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai: “pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut: 1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar) apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional; 2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas A. Pembentukan Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsepkonsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya. Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya. Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri apabila menerima input melalui sensornya. Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema. Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. dan pengetahuan sosial.generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. Dengan konsepkonsep yang ada tersebut. yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu. atau memahami sesuatu. Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial. Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. menurut Titus (1959:78). Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. pengetahuan logiko-matematik. Sains. sebagai sekumpulan pengetahuan. atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri. Penguasaan Pengetahuan Sains. yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. Piaget (dalam Dahar. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. sumber pengetahuan logikomatematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya. Menurut Piaget (dalam Dahar. suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. tanda atom unsur-unsur. untuk melakukan operasi-operasi logis. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak. memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi). hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. Skemata merupakan dasar untuk berpikir. yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik. Untuk memperjelas hal tersebut. dapat dipelajari secara langsung. A. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep- . dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. 1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu. Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan. Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu. dan sebagai metode-metode. Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial. satuan besaran pokok.

to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition. teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja. dan cara bersikap. and systems. to solve problems. masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah. teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi.konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi.. secara ringkas dapat dikatakan bahwa. Menurut Poerwadarminta (1983). Jadi. Sedangkan teknologi. Dengan demikian sains. sedangkan menurut UNESCO (1983). Produk sains meliputi fakta. dan norma-norma sosial tertentu. Sains melandasi perkembangan teknologi. adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut: . Sains. 1994: 29). konsep. masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. teori dan hukum. sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. Sedangkan. merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention. Menurut Poerwadarminta (1983). Dengan demikian. menurut Fischer (1975). 1990 . misalnya dalam penemuan rumus-rumus. sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains. teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. Sains dirumuskan secara sistematis. cara berfikir. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa. sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam. namun juga untuk aktivitas penemuan (invention). sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. Masyarakat . prinsip. resources. Sund (1973: 2). kebutuhan. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh. Teknologi. teknologi adalah sebagai berikut: ……. cara memecahkan masalah. menurut Aikenhead (dalam Mariana.technology is the know-how and creative process that may utilize tools. 1992: 4). Yager. Menurut Robert B. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses.

3. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. nutrisi. 5. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalahmasalah teknologi sehari-hari. Kirham (dalam Wellington. 4. masyarakat). penyadaran. Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien. dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. 1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content. process. Untuk penyusunan materi pendidikan sains. 1992: 19-20). . teknologi. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari.SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut. Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. (Varella. 1992:87-88) B. dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. 2. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat.

dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsepkonsep . menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta. teori. Pendekatan ScienceTechnology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. konsep. isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content. dan terminologi. Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. model.dan context. menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. 1994: 1). Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. Context. sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. Untuk kepentingan itu. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi. Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu. guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka. Strategi kedua. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat. prinsip. Pada awal perubahan tiap topik. dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS. Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Process. strategi pertama. National Science Teacher Association atau NSTA. berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam . Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat. Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. definisi. Content.

dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. 1994: 34) . Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. (e) memilki pengertian hubungan antara sains. mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar. 1993: 428). Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran. kreatif membuat produk teknologi sederhana. atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi. STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. Literasi sains (scientific literasi). teknologi. berpengaruh satu sama lain. dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya. (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains. Adapun individu yang literat teknologi menurut M.J. mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di selasela kegiatan belajar berlangsung. Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains. efesien dan efektif. dan masyarakat secara terintegrasi. teknologi. (b) mampu menggunakan proses sains. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. Literasi teknologi. (c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. sadar akan efek hasil teknologi. (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia). (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. tepat. Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu.pembelajaran. isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. Strategi ketiga. dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. teknologi dan masyarakat. masyarakat dan nilai-nilai manusia. dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman.

Dahar. Philadelphia: Saunders Co. Good. (1989). Belmount: Wadsworth Publishing Company.W.I. Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire. 1998: 276). Gagne. Man and Siciety. New York: Holt. P.S. The Stucture of Science Education. “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “. R.B. Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains. _______. Austin: Univercity of Texas. Poerwadarminta. dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager. Jakarta.V. Jakarta: Erlangga. L. (1985). The Condition of Learning and Theory of Instruction. (1985). (1973). R. & Sund. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”. Teori-teori Belajar. (1971). R. 3 Mei. R. A. (1983). (1990).(1995). IKIP Bandung: tidak diterbitkan. How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited. Carin. Gagne. G. (1974). R. (1968). Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain. Poedjiadi. New York: David Mc. Science. Gordner. et al. Teaching Children Science: An Inquiry Approach. (1980). A. Dictionary of Education. Fischer. New York: Rinehort and Winston. .e. L. Kuslan.J. W. Disertai Doktor FPS IKIP. Jakarta: PN. Balai Pustaka. Bandung.M. “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang. A. 17-19 Januari.masyarakat. (1979). _______. et al. Rinehort and Winston. DAFTAR PUSTAKA Bloom.L. Principlesof Instructional Desig.H. Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung. & Briggs. (Eds).J.B. Merrill Publishing.A. (1975). Teaching Science Through Discovery. Kamus Umum Bahasa Indonesia.’lay Company. Inc. C. Hall. & Stone. New York: Mc Graw Hill Book Company..M. Columbus: Charles E. (1971)..

Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran. (1971). Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya.Rogers. 87-92. New York: Free Press. namun retensinya berbeda signifikan. ICASE YEARBOOK.F. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan . hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja. Communication of Innovation: Crosscultural Approach. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. ICASE YEARBOOK. Titus. Rubba. (1993). E.H. eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU. Science Education.E. Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran.(1959). Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes. “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”. (1992). 2-8. & Shoemaker. A. Living Issues In Philoshophy. F.F. (1992). Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan. “Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”. retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa. 407-431. G.M. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya. Varella. H. Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda. R. Yager. tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka. New York: American Book Company. Pendahuluan 1.A. P. “Science-Technology-Society as Reform”.

R.keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar. Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun. Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok. Pertanyaan biasa adalah pertanyaanpertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok. tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan.W. Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi. Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1. Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains. Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara. Pada kenyataannya. 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. 2. karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi. mendorong siswa berfikir. 1985:122). hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu. 1996:458). 1991: 97).. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. Namun. Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen. Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat . 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu. 1996:117). B. Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa. dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. Rumusan Dan Batasan Masalah a. Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan. salah satunya dengan memberikan pertanyaan.

Pertanyaan permintaan (compliance questions). dalam Nuryani Rustaman. Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly. banyak hal yang perlu dipahami dan diingat. Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan .1997: 43) 2. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S. Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan. Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan. Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak.C. (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula. Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi. dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan. Retensi erat hubungannya dengan belajar. (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E. dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa. Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa. Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen. Wrag dan George Brown . Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep. 1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut. Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi. maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi.memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.C. 2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3. 1996: 18). jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi.Wrag dan George Brown 1997: 43).1987:72). mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E. Dalam mempelajari sains biologi. pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh. misalnya topik polusi. dapat menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik. yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya.1999:4). Namun. Namun. Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman. pertanyaan retoris (rhetorical questions). Uzer Usman. baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas. 1991: 97).

Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya. metode pembelajaran. 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari. Kulik et. al. dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985).. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese. Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. Hursh (1976). Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa. (1978 & 1990) (dalam Semb et. 1959: 236). tidak diperlukan individu sehingga tidak . 3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. 1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah. 1959: 241). sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa. 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. al. 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan. menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor. 5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa. maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual. Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese. Retensi mengacu pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan. dan perbedaan individual..dengan retensi. Winkel (1996: 305). Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi). Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis. tugas yang harus dipelajari. kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan.

Disain Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Tes awal Perlakuan T1 X1 T1 X2 Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 T2(1) 3 minggu T2(2) T2(1) T2(2) . Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. C. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pretest Post-test Desain. Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991. yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda. 1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen. yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah. sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan.dihiraukan. Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka. Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsep-konsep yang telah dimilikinya. Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. dalam Susan Hanley.

Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini.7 X = rata-rata nilai.83 116. dan Retensi siswa Konsep/su Nilai Kontrol Eksperimen b konsep Pre.9 95. Eksperimen > (Postes 2) Pos tes 2 kel. X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah.93 8. Kontrol *dilakukan dengan uji t1 .Retensi % Pre.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Retensi 3.25 Sd 10. Sd = standar deviasi.75 8.58 81.5 9. Tabel 1.03 79 74.58 8.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D. dan R = nilai terendah Tabel 2. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Polusi Air Pretes 1.3 26 63 63 Keterangan: % Reten-si 98.4 12.16 1.4 78.07 11.) R 33 52 59 75. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes. T = nilai tertinggi.Keterangan Konsep Kontrol & kel. Pos-tes.6 7.48 1. T2(1)= Postes. Z hitung Z tabel Hasil perbandi.36 80.Pos-tes Retensi test test Reten-si test 1 (Posttest 2) (Pos-tes ke-2) Polusi Air X 50. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel. X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa.64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 kel.Post.98 50.27 (LKS T 78 100 89 125 67 100 96 Eksp.Keterangan: T1= Tes awal / pre-test.25 1.

3%) - - K= kelompok kontrol. Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat.Tabel 3.7%) (91. Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2).8%) (33.4%) 5 (13.1%) - Pos tes 2 K E 12 15 Retensi K 33 E 35 (97.7%) 16 18 (50%) 3 (44.8%) 4 (11.9%) 3 (8.3%) 3 (8.3%) (58. Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test.3%) 11 (30. Retensi. dan Retensi Konsep Polusi Air Batas Kriteria nilai 100-80 Sangat baik 70 – 79 Baik 60 – 69 Sedang 50 – 59 Kurang Keterangan: Pos tes 1 K E 19 21 (52. Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat.3%) (41.3%) (8. Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah. Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol. 1989:159). sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar. pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes .2%) 1 (2. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa.1%) 3 (8. dan E = kelompok eksperimen E.8%) 10 (27. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2). Peristiwa ini dapat .6%) 4 (11. Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes.

disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. James Deese (1959:253) mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. Lebih jauh lagi Richard Anderson dan Gerald Faust, (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi faktor penentu bagi retensi siswa. Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh, Uzer Usman, 2000:75). Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman, 1999:8) yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. Dalam proses belajar yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Melalui pertanyaan yang mengarahkan, maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi, jelas dan stabil. Menurut Slameto (1995:123) makin jelas, stabil serta terorganisasinya struktur kognitif seseorang, maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi pada orang tersebut, sebaliknya, pada struktur kognitif yang tidak stabil, kabur dan tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan retensi. Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi) dibanding rata-rata nilai postes 1. Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa, karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1 diberikan. Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes, sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak diberi tahu, sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. Peristiwa Lupa merupakan hal yang biasa terjadi pada manusia, seperti yang dikatakan oleh Robert Travers (1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our limitations”, lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam mengingat. Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa telah mendapatkan materi yang baru, maka materi yang baru tersebut akan mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan (Muhibbin Syah, 1996:158). Selain itu Hilgard dan Bower, 1975 (dalam Muhibbin Syah, 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. Terutama penurunan ini terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep semakin banyak ia lupa. Berdasarkan predikat skor pada postes 1, 2 dan persentase retensi (tabel 3), secara umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat sangat baik, baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan baik. Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel, 1996:305).

Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses, penggunaan memori, penemuan sendiri. Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengasimilasikan, mengakomodasikan, mengorganisasikan dan mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen, 1996:102). F. Kesimpulan Dan Saran 1. Kesimpulan Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa . Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik, umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. Dalam selang waktu tiga minggu, retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan sangat baik, umumnya sangat baik. Namun, pembelajaran yang menggunakan pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan. 2. Saran a. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat, dalam pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa memahami konsep dengan baik. b. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran, maka penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis materi dan model pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA Anderson, R.C., 1973, Teaching and The Science of Learning, New York: Harper and Row Publishers Gagne, R.M. 1985. The condition of Learning and theory of Instruction. New York: Holt, Renehart and Winston. Gagne, R.M. and Briggs L,J. 1974. Principoles of Instructional Design. New York: Renehart and Winston George, B and Wragg, 1997, Bertanya, Jakarta: Gramedia

George J.M., 1967, Psychology for Effective Teaching, New York: Holt, Rinehart and Winstron, Inc. James Deese, 1959, The Psychology of Learning, London: Mc. Graw Hill Book Comp. Jim Flower and Lou Cohen, 1990, Practical Statistics for Field Biology, Milton Keyners: Open University Press Mohamad Uzer Usman, 1995, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Rosdakarya Nuryani Rustaman, 1999, Pertanyaan, Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya, Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan Osborne, J. 1993. Alternatives to Practical Work. School Science Research. 25. (271): 117-123. Ratna Wilis Dahar, 1992, Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama PBM IPA Pada Berpikir Siswa, Laporan Penelitian: tidak diterbitkan. Semb and Ellis, 1993, Long-term Memory For Knowledge Learned in School, Journal of Education Psychology, vol.85, No.2: 305-316 Slameto, 1987, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta Susan Hanley, 1997, Constructivist Theory, Internet Travers, R.M.W., 1982, Information, Processing and Learning, New York: Mc. Graw Hill Book Comp. Wang and Thomas, 1995, Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or Hindrance?, Journal of Education Psychology vol. 87, No.3: 468-475 Winkel, W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia. Wragg, E.C., 1997, Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar, Jakarta: Rasindo Wynne Harlen, 1992, The Teaching of Science, London: David Futton Publishers Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan Ditulis oleh Sungging Handoko A. Pendahuluan Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja, tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya.

Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu yang baik. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu. karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan. dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar. bahwa di dalam peristiwa pendidikan. disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha. Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu.Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan. Dalam pada itu perlu ditegaskan. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. mempengaruhi. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan . dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk).

bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan muridmurid. Sikap berpakaian. Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. maka pengertian itu relatif adanya. sederhana tetapi terpelihara. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. 1.hidupnya”. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat. Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. maka hal ini kita bicarakan. bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. . Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia. dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian. B. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. A. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya.

Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. matanya. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). e. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. Sikap sabar. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. 3. mereka harus mengidahkan suruhannya. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. c. bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri. murid-murid dapat bekerja bersma-sama. Ciptakan suasana kelas yang baik. Dalam kelas yang suasananya baik. jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. Sering guru merasa. Kelas menjadi gaduh. Karena itu harap sabar. Jangan mengajak murid-murid. d. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan . kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain. saling tolong menolong. yaitu. Berani memandang tiap-tiap murid. Jangan memberi hukuman badan. Sikap di muka kelas. b. Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas.2. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. f. Bagi seorang guru kita haris berani: a. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. Jangan bersikap putus asa. sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. berbicaralah dengan tenang dan tegas. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut. cintailah muridnurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme. jangan menggangap. kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. mungkin guru.

mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. Menurut hemat penulis. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek.maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru. Menurut peraturan sekolah. 7. Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. mencelanya. umpamanya: murid yang tidak sopan . Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segansegan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. guru dilarang memberi hukuman badan. dan sebagainya. yang tolol. umpamanya: memukul. Sikap yang mengejek murid. guru boleh memberi hukuman badan. Guru mudah marah menghukum anak. dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. . dan kedua-duanya tidak baik. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. Janganlah guru lekas marah karena itu. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan. bukan hak itu tidak jarang dilakukan. Sikap yang memberi hukuman badan. memukulnya dan sebagainya. atau ia menjadi takut kepada guru. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. 4. Sikap yang banyak memberi larangan. 5. melempar dsb. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”. Memukul murid dengan tongkat kecil. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. mengejek. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. 6. mencela. hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. untuk memberi hukuman badan. menedang. yang kotor. yang selalu gaduh. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. dan tidak diberikan untuk membalas dendam.

Memang dalam mendidik. tidak jujur. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan. jarang melarang. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik. 8. sebab biasanya perintahnya dituruti. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. serta menjadikan . Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. insinyur. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. Bersikap jujur dan adil. sosial dan sebagainya.Guru yang baik. montir. ini adalah suatu bahaya bagi mereka. Murid-murid akan lekasa mengerti. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. apakah guru itu bertidak adil dan jujur. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. ada yang meminta lebih banyak syarat-syarat emosi. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. ahli hukum. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan. mereka lekas melihat. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan. pilih kasih dan sebagainya. Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. 9. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat. seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. ada pula pada syarat intelek. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. karena itu jangan banyak melarang.

Bambang Laksono. nasco.L. standardisasi. Jakarta 1989. mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini. FKIP-UNLA 2000. cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. diterjemajkan. Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar. P.33 Thn. Belajar dan Pembelajaran . maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia. pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman). kontrol luar. Toha Putra. Mashoed. Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20.. Majalah Mahasiswa No. I. Semarang 1995. Penutup Daripembahasan diatas ini. Metode-metode belajar konvensional. penulis buku The Accelerated Learning Handbook. akarnya telah tertanam sejak zaman kuno. Accelerated Learning (A. C. cetakan ketiga. yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000. A. Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar. dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. cv. Prof.) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan.murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral. Tarsito.L. yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik . Winarno Surakhmad. DR. Daftar pustaka Abu Ahmad. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya. Baru Jakarta 1996. cv.) adalah cara belajar yang alamiah. Simanjuntak M. organis bukan sekedar mekanis.J. (A. fragmentasi. dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga . Otang Kardi Saputra. Langevld.. Beknopte Theoretische Paedagogiek. Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier. satu-ukuran-untuk-semua. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru. Bandung 1993. Didaktik Metodik. VI Januari 1993 M.

adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar.dikenal sebagai teknik membosankan). pada kerja sama dan prestasi kelompok. kontrol birokrasi terpusat. belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar . kerja sama murni. dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kayapilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut. pelatih sebagai pelaksana program. variasi dan keragaman dalam metode belajar. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif. dan kita lamban menyadarinya. dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi. Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. kesalingterkaitan. pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah). Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator. Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan. Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi . statis. dan dapat diramalkan. Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi. Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar. bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin. dan tidak efektif. yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan. motivasi internal (dan bukan sematamata eksternal). Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana. Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. pada prestasi individu. belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. lamban.

2. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. sugesti. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria. Dia mendapati bahwa kombinasi musik. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi.L. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri. dan aplikasi A. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. kolaboratif. dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). metode. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. 4. terutama penelitian mengenai otak dan belajar. kreatif. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana. Georgi Lozanov. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”. telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear. dan . Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. linear. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi. Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria. diantaranya : 1. 3.) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar. dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran. semua indra. seluruh tubuh. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif. Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”. Di setiap tingkatan.atau “budaya perusahaan”. kita semua harus menjadi inovator. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif. Ilmu kognitif modern. Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. dan “hidup”. nonmekanistis.

Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. 5. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru. Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. jaringan saraf baru. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear. 3. Bukan Mengonsumsi. 2. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. Belajar paling baik adalah dalam konteks. dan verbal). otak bukanlah prosesor berurutan. Hal-hal yang dipelari secara . Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920an. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. 4. dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. melainkan prosesor paralel. memakai “otak kiri”. indra. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. 1. Prinsip-prinsip Accelerated Learning. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diserap oleh pembelajar. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar. jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis. mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). 6. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. rasional. 7. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri. dan sarafnya. melainkan menyerap banyak hal sekaligus.bersifat mengasuh pada aktivitas belajar. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi. Belajar adalah Berkreasi. indra. Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an. Bagaimanapun juga.

yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan. dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan. jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. merenung. Perasaan negatif menghalangi belajar.terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. Kata Kunci: Ekonomi pendidikan. A. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. mendapatkan umpan balik. dan menarik hati. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrakasalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. dan menerjunkan diri kembali. Belajar yang penuh tekanan. . Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. pembiayaan dalam pendidikan.Pd. 7. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis. cara menual dengan menjual. cara bernyanyi dengan bernyanyi. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Sudah saatnya. Kita belajar berenang dengan berenang. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). investasi dalam pendidikan. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya. santai. Dengan demikian. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. Perasaan positif mempercepatnya. Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. menyakitkan. 6. S. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. pendidikan harus dipandang sebagai investasi.

yaitu 1. Namun demikian pada kenyataannya . Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. Dengan kata lain. pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya. dan 2. kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital. Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung pembangunan adalah pendidikan masyarakat. Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada.Untuk menjawab hal tersebut di atas. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat. Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya.

Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan karakteristik khas setiap negara. Di negara maju. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. Diantara ukuran-ukuran tersebut. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Di Amerika Serikat yang sudah maju. 6. bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. 2. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara.tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. 5. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. 1. telepon. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. diantaranya: 1. pemakaian teknologi yang canggih. Pendapatan per-kapita 2. penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. Ekonomi di negara sosialis. Secara ringkas tampak berikut ini. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar. persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. . Negara Industri vs Non-Industri.

Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan ukuran tersebut di atas. Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan. Pendapatan Domestik Bruto. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi 5. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan.sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. Dari uraian di atas. perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri. Pendapatan nasional. Pendidikan. maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. Berdasarkan hal tersebut di atas. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuranukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. 1. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Pendapatan per-kapita 3. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. maupun Pendapatan Perkapita . maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. Di negara non-industri. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. 1.

baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat. Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapanharapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya). Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning). terutama dalam hal-hal berikut: 1. Sebagai fungsi investasi. Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. Konsumsi energi A.3. Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. sementara bentuk pendidikan formal. Perubahan peta ketenagakerjaan. 2. kualitas manusia dan pendapatan nasional. Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia. Dengan demikian maka investasi dalam pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung. artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional. Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan . Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasilhasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4. Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu. Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain. Kenneth J. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan.

Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S. untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang. 2. 3. yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan. Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial. Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak. Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. 1991: 14). Dalam kaitan ini. 4. kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. Backer. yang secara . pengetahuan dan produktivitas kerjanya. B. Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil. Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). yaitu: 1.metode serta teknik baru yang berkelanjutan. Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan. bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Jones melihat. 1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia.

dan konsumsi. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern. Tabungan ini akan menjadi investasi kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun. karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih. Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. C. dan low management. distribusi. atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. dan 2. Menurutnya. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan.langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi. Di samping tenaga kerja. juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. Oleh karena itu. Argumen ini memiliki dua sepek. Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan. Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan . midle. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. yaitu: 1. Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi.

Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila. dari perspektif . Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2. Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini. Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosialekonomi-politik. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan. Sambas. Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon.dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. Kata Kunci: Konflik sosial. Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. tingkat pendalaman agama. Hj. tingkat pendidikan. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif. yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi. yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru. Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini.Pd. Elly Retnaningrum. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif. Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). dan 3. pendidikan dalam keluarga. Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. Sebagai ilustrasi. sekolah maupun masyarakat. yaitu: 1. baik di keluarga. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. M.

lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk . merusak fasilitas umum. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. menghilangkan nyawa orang lain. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis. Kelima. tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu.dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga. Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas. baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi. ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis.baik yang bernuansa SARA maupun tidak-. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas.pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-. Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat. tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. Lebih jauh. beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya. kondisi ini mengakibatkan munculnya fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama. Ketiga. Keempat. Misalnya. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja. dan semacamnya. Kedua. Pertama.

yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas. perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas. Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi.memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain. sekolah. Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran. serta masyarakat. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga. Untuk mengantisipasi kondisi itu. Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama. Selain itu. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Berbagai tindak penyimpangan. Dalam situasi sehari-hari. Ini bisa diperkuat di sekolah. Dan yang lebih mendasar. sekolah. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. kekerasan. Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial. di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan. secara langsung maupun tidak langsung. Demikianlah. . dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. baik di lingkungan keluarga.

Untuk itu. suasana belajar A. afektif. Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial. H. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. life skill. M. akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK). Drs. potensi siswa. yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. Kata Kunci: model belajar. masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP). yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. agama. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. Guru masih dominan dan siswa resisten. Erman Suherman. guru masih menjadi pemain dan siswa . melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. Namun pada kenyataannya. model pembelajaran. dan ras dapat dihindarkan. dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. Ar. telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S.Pd. kompetensi. Dengan belajar aktif.

tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif.penonton. identifikasi. pada pihak siswa. Padahal. memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. kecakapan hidup. tuntutan KBK. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. Demikian pula. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah. Dengan paradigma yang berubah. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. B. Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah. mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. guru aktif dan siswa pasif. fasilitas. . apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. dan memang itu kewajiban utama. Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman. yang saya hormati dan saya banggakan. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran. mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif. pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. materi. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. Dengan perkataan lain. observasi. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. analisis. yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). aplikasi. Inilah hakikat pembelajaran. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas. dan guru itu sendiri. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. sehingga misi KBK dapat terwujud. Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru. mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. penalaran. boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. karena ia telah memiliki komptensi. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya.

motivasi aktivitas positif. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. prilaku). atau ke tokoh lain Oneng. komunikasi. konjektur. presentasi. generalisasi. atau yang lainnya. Ada berbagai model belajar yang akan dibahas. Ucup. sederhana. . Sebagai contoh. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. Akuntansi. meskipun dengan makna yang tidak berbeda. Agama. kocak. baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. pengelolaan suasana hati. Istilah psikologi kontemporer. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi. sosialisasi. dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. Hindun. kreativitas. yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. membaca. tidak parsial terpisah satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. yaitu: 1. eksplorasi. yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika.investigasi. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). Dengan memahami model-model belajar ini. kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. pengendalian impulsi. empati). dan tidak sebaliknya. kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik. terutama kognitif) disebut dengan hard skill. supir bajay. pemecahan masalah). inkuiri. pejabatnya. seperti gemuk. dan pengendalian diri disebut dengan soft skill. C. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. dosen-dosen dan staf administrasi. hipotesis. Ema. koneksi. kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. Dalam bidang studi keahlian anda. kata kunci).

2. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan . senyum-tertawa. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif. misalnya keramahan. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. Selanjutnya. linier. spasial. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif. holistic. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. verbal. dan simbolik. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep. misalnya berangan-angan.Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. abstrak. dan kreativitas. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. intuitif. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. sebagai instrumen kecerdasan. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran. siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. menonton. di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. ide. teratur. sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. Bagaimana dengan anda?. mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. sekuensial. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. Yang produknya berupa peta konsep. rasional. atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. suasana nyaman dan menyenangkan. realitas. kesadaran diri. musik. emosional. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. mengobrol atau bercanda tanpa makna. setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. misal kenakalan atau lamunan. Mengingat hal itu. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%. kelembutan. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri.

yaitu: kesadaran. siswa dengan fasilitas belajar. setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. dan regulasi. Musical-rithmic. Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. manfaat. Sebagai orang beragama. bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. ataupun dengan guru.dengan nilai-nilai kehidupan beragama. dan aplikasi. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. tergantung dari variabel meta kognitif. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya. bantuan. Akibatnya sungguh mengejutkan. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7. Linguistic-verbal. ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif. Intrapersonal-reflective. dan regulasi. Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. yaitu Spacial-visual . yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. strategi. kompleksitas. Holler. kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. Logic-thinking-reasoning. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. Interpersonalcommunication. monitoring. prediksi. yaitu kondisi individu. yaitu: refleksi kognitif. pertanyaan. pengalaman. dan ibadah lainnya. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). monitoring. koneksi. tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal. 4. 3. bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. dkk. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. natural. Metakognitif Secara harfiah. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir. berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. pengetahuan. sintesis. untuk kita simak dan renungkan. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. anak yang pada awalnya secara alami penuh . Body-kinestic. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. dan strategi berpikir.

mengembangkan). mendengar dan melihat 50%. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. dan bukan dengan kegiatan mengajar. ragu-ragu. tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. berkomentar. tepai harus dengan hands-on. dan mau memperbaiki diri. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya. gerak tubuh. minds-on. keberanian.presentasi). ingin mencoba. Agar bermakna. memanfaatkan. menimpakan kesalahan. presentasi. yaitu optimis. menggunakan. pribadinya berpola negative. dan cemas. Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran. partisipatidf. Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun. punya alternative. tumbuhkan citra positif. pemalu.” bukan katanya. seperti pesimis. ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun.keyakinan. menghindar. diskusi). suka tantangan. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. 5. prasangka. dan . dikendalikan keadaan . ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). mengkomunikasikan. Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. menemukan). konstruksivis. nada suara. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. dan sosok panutan). mengendalikan keadaan. Makin lama ia makin dewasa. mengerjakan. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. Sebagai guru. bersikap mengajak dan bukan memerintah. dari mendengar 20%. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya). ada kebebasan memilih. belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. sehingga dia tumbuh menjadi penakut. belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca. bertanya. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan. pembenaran. m\udah menyerah. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan. katakana “saya …. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%. menjawab. mengatakan-komunikasi mencapai 70 %. menduga. Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa. Mencobapek (menyelidiki. dan sibuk dengan alasan. dari melihat 30%. meng-identifikasi. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006. Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. Dengan perkataan lain. membiarkan. menyimpulkan. Selanjutnya.

kontinuitas historical. menghindar dari kegiatan. tidak melalui pemberitahuan oleh guru. sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. yaitu: konsistensi internal. Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar. menggeneralisasi. belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang. Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar. Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. tindak lanjut. simbolisasi. dan partisipatif dalam setiap kegiatan. menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat. seperti kemampuan sosialisasi. Mungkin saja kemasannya tidak akurat. yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). sitematik. 6. justifikasi. empati dan pengendalian diri.daily life (kontekstual). mengabaikan kesempatan. mengerjakan). Dari indikator belajar aktif. guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi. koherensi. presentasi. kekonvergenan. 7. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. berkonjektur. keterpaduan. . berupaya terlaksana. karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. refeleksi-eksplanasi. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. dan sintaks (SOP). structuralistic (terstrutur. membiarkan segalanya terjadi.diskusi. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara gurusiswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan). sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. tanya-jawab. di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. berhipotesis. maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. aksionmatik). Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. mengeksplorasi. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran. atau mungkin terjadi eksalahan.

2.nyaman dan menyenangkan. kerja kelompok. dan inklusif life skill. sifat materi bahan ajar. Kontekstual (CTL. Dengan memanfaatkan kenyatan itu. konstruksivis-inkuiri. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. motivasi belajar muncul. negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). melakukan-mengkomunikasikan. tanggung jawab. Cooperative Learning). Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. terbuka. dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa. pembegian tugas. sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat. membentuk kelompok heterogen. mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. dan suasana menjadi kondusif . Dalam prakteknya. tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang. menyelesaikan persoalan. Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi. modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian. D. 1. atau inkuiri. dan pelaporan. dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing. tugas. kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. kontekstual-trealistik. presentasi hasil kelompok.empiristic (pngelaman induktif-deduktif). Oleh karena itu. fasilitas-media yang tersedia. siawa heterogen (kemampuan. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep. ada control dan fasilitasi. Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran. pengarahan-strategi. dan rasa senasib. tidak hanya menonton dan . Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. Koperatif (CL. siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. siswa melakukan dan mengalami. gender. Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. belajar berkelompok secara koperatif. dunia pikiran siswa menjadi konkret. pengalaman. dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). dan kondisi guru itu sendiri. karekter). Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi.

minds-on. Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. Pembelajaran Langsung (DL. penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya. 4. fakta. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa. latihan mandiri. Sintaknya adalah menyiapkan siswa. investigasi. mengerjakan). eksplorasi.mencatat. questioning (eksplorasi. generalisasi). evaluasi. mencoba. sharing). induksi. investigasi. proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. latihan terbimbing. dan pengembangan kemampuan sosialisasi. identifikasi. motivasi. authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran. rangkuman. konsep. penilaian portofolio. konjektur. mengarahkan. inquiry (identifikasi. interpretasi. inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). analisis-sintesis). reflection (reviu. membimbing. sajian informasi dan prosedur. tindak lanjut). hipotesis. dan evaluasi. menemukan). rambu-rambu. dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). elaborasi (analisis). penyampaian kompetensitujuan. realitas (kebermaknaan prosesaplikasi). terbuka. prinsip. konjektur. algoritma. pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. pengemabngan mateastika). hands-on. suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. generalisasi. menuntun. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. inkuiri. mengembangkan. pengarahan-petunjuk. aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis. yaitu matematika horizontal (tools. refleksi. demokratis. Realistik (RME. contoh). mengkonstruksi konsep-aturan. dan . 5. interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). generalisasi. 3. yaitu modeling (pemusatan perhatian. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif. penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa. sintesis. untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. informal ke formal). learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. negosiasi. constructivism (membangun pemahaman sendiri.

pengorganisasian pembelajaran.inkuiri 6. dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. . komunikasi-interaksi. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas. . cari alternative. dan sosialisasi. kreativitas. Sintaknya adalah: pemahaman. 8. belum dikenal cara penyelesaiannya. menimalisasi tulisan-hitungan. Problem Terbuka (OE. membuat kesimpulan. 9. jawaban siswa beragam. siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri). keterpasuan. Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. jalan keluar. identifikasi kekeliruan. Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. cara. kognitif tinggi. 7. mengeksplorasi. table). fluency). Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker. sharing.menginvestigasi. menduga. atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. kritis. yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi. diagram.atau algoritma). Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing. siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan. dan ragam berpikir. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab. keterbukaan. keterbukaan. kaitakkan dengan materui selanjutnya. aturan. Sintaknya adlaha menyajikan masalah. siswa mengidentifkasi. bimbingan dan pengarahan. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar. dan akhirnya menemukan solusi. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. perhatikan dan catat reson siswa. menyusun soalpertanyaan.

berpikir. Untuk mewujudkan belajar efektif. 13. dan ceria. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. sehingga suasana menjadi nyaman. mendemonstrasikan. memecahkan masalah. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). dan mennaggapi. Ada canda. membaca. argumentasi. kemudian eksplanasi (empiric). mengkonstruksi. menemukan. nada lembut. senyum. dan tertawa. Jangan lupa. menggambar. yaitu: informasi. mengemukakan penndepat. dan memotivasi diri. presentasi. ia telah berpartisipasi 10. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus. menyenangkan. 12. berbicara. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. SDetelah memperoleh tugas. dan menerapkan. representasi. membaca-merangkum. menyelidiki. eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan. pengarahan. TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. menggunbakan media dan alat peraga. mencipta. siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. mengidentifikasi. Usahakan dinamikia . 11. SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. berkelompok mengerjakan LKSD-modul. yaitu bagaimana siswa belajar. mulai dari eksplorasi (deskripsi). dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. menyimak. guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah. Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. hipotesis. mengingat. Untuk mngurang kondisi tersebut. namun demikian bisa dibiasakan.Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. bertanya. bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal. dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar. merangkum. suara menyejukkan.

good. missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara. c. Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior. Auditory. setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. santun. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. Bumping. Sintaknya adalah sebagai berikut: a. Intellectualy. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi. perluasan. 14. lembut. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. mengembangkannya. berikan penghargaan kelompok dan individual. d. dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. e. Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. .). Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic. very good. begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama. dan ada sajian bodoran. ramah . VAK (Visualization. 15. AIR (Auditory. atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Siapkan meja turnamen secukupnya. pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketigakeempat dst. medium.kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok.

buat kelompok heterogen. tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok. Pengarahan. sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. kembali ke kelompok aasal. berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs).16. penyimpulan dan evaluasi. iformasi bahan ajar. refleksi. presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. saling berbagi sehingga terjadi diskusi. 18. umumkan hasil kuis dan beri reward. buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. tuiap kelompok bahan belajar sama. 19. 20. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. buat kelompok heterogen (4-5 orang). buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu. tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu. presentasi kelompok (share). (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif. berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. 17. saling tukar jawaban. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal. umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. kuis .

buat skor perkembangan tiap siswa. pengoalahn data penyajian data hasi investigasi. diskusi. dan menggali. dan alternative solusi). CORE (Connecting. hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi. mengkritisi. elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. (R) memikirkan kembali. GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan. TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak. kerja kelompok. umumkan hasil kuis dan berikan reward. mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi. rencanakan pelaksanaan investigasi. 21. (E) . misal mengukur tinggi pohon. Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. mendalami. 24. buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas. kembali ke kelompok asal. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. dan kemudian buat laopran hasil presentasi. presentasi. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas. Refleting. kelompok (membaca-mencatatat-menandai). kuis individual. kerja kelompok. presentasi dan diskusi. TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. identifikasi perbedaan. mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah. melaporkan. Sinatknya adalah: informasi. Sintaknya adalah kerja kelompok. 25. pilih strategi solusi 23. tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain. 22. buat skor perkem\angan siswa.individual. (0) organisasi ide untuk memahami materi. laporan kelompok. CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. banyak guru dan staf sekolah). presentasi. identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. 26. Organizing. diskusi. umumkan hasil kuis dan berikan reward.

DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. Kerangka pikir untuk sukses. Read. Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. dan menemukan. Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). Reflect. dan konsep-ide. Selanutnya menyelesaikan masalah . dn 5 untuk certain. Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya. 4 untuk almost certain. yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. SQ3R (Survey. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. memperluas. 2 untuk not sure. 3 untuk sure. 27. Ajukan pengujian pemahaman. darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatatmenandai kata kunci. Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). analisi pengalaman. Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer. yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksamacermat. Recite. 32. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. 31. Question. MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. 29. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. 1 untuk amost guest. jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30. Question. SQ4R (Survey. menggunakan. dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar. Recite.mengembangkan. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman. Read.

penggunaan. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi. siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. refleksi. deteksi kausal lain. 37. sajian . mengidentifikasui kausal. analisis kausal. menemukan kata kunci. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. dan kembali berbagai informasi. presentasi hasil kelompok. pengemabangan. dan seterusnya 36. Reading. and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. menemukan pilihan solusi utama. dan penutup. Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. deteksi kausal. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. pertimbangan solusi. siswa bekerja sama (membaca bergantian. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. dan rencana solusi yang terpilih.tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut. siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. dan implementasi solusi utama. 35. Integrated. identifikasi kausal utama. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan. CIRC (Cooperative. mengelompokkan gejala. penerapan. Sintaknya adalah: identifkasi. 33. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya. solusi tentative. imoplementasi solusi. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang. Sintaksnya adalah: persiapan. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. pendahuluan. 34.

siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat. tanya jawab untuk pemantapan. menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya. pembentukan kelompok siswa. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum. sajian materi pokok. 41.materi. presentasi hasil kelompok. siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. 38. membentuk kelompok. sajian materi. guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. siswa mebaca materi lengkap pada wacana. salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. penyuimpulan. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok. guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi. bekerja kelompok. kelompok lain menjawab secara bergantian. bentuk kelompok berpasangan sebangku. kesimpulan dan evaluasi. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. sajian materi. refleksi. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian. 43. penyampaian kompetensi. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. presentasi di depan hasil diskusinya. . Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. bimbingan penimpoulan dan refleksi. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. 40. refleksi dan evaluasi 42. 39.

siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. 46. kartu dikumpul lagi dan dikocok. evaluasi dan refleksi. penyimpulan dan evaluasi. refleksi. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. penyimpulan dan evaluasi. Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural. 48. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi. refleksi. sajian permasalahan terbuka. dikusi kelas. langkah demi langkah bertahap. 47. refleksi. membimbing pelatihan-penerapan. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar.pemberian reward. untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. 50. presentasi hasuil diskusi kelompok. mengecek pemahaman dan balikan. Make-A Match Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok. 44. setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward. penyimpulan dan evaluasi. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. 45. siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. bertukar peran. sajikan materi. sajian gambaran umum materi bahan ajar. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya. penyimpulan dan evaluasi. refleksi. pengecekan kebenaran jawaban. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. penyimpulan dan evaluasi. refleksi. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. 49. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. Examples Non Examples .

LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. 54. Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan . guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut. perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi. dan pengecekan. Reviewing and reducing difficulty. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. aplikasi. Metakognitive questioning. sajian materi. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi. ranguman. presentasi hasil kelompok. guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. Tanya jawab dan refleksi 57. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. bagikan wacana materi bahan ajar. bertukar peran.Persiapkan gambar. dan refleksi 56. evaluasi dan refleksi. Obtaining mastery. evaluasi. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. adakah alternative. siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. bimbingan penyimpulan. diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. rencana. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus. 53. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. Enrichment. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian. siswa latian dan bertanya. 51. pengungkapan ide-konsep awal. siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. valuasi dan refleksi. penyimpulan. evaluasi dan refleksi. solusi. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi. Picture and Picture Sajian informasi kompetensi. Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi. Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. apakah bermanfaat. 52. Verivication. penyimpulan. apakah solusinya. diagram. 55. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku. Practicing. Sintaks: pemahaman masalah.

Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. sampaikan kompetensi. sajian materi.blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap. guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar. presentasi. tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci. kelompok-kerjasama. koperatifinkuiri-solusi-workshop. siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon. LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap. evaluasi dan refleksi 61. berikan latihan soal bertingkat. proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minatkuriositi-tanya. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi. membentuk kelompok heterogen. siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa . tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit). reward. virtual workshop menggunakan computer-internet. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi. setelah selesai kupon dikembalikan. pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu. informasikan kompetensi. berikan sal tes bentuk super item. dan hipotesis. penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. 63. dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. sajian materi.bahan belajar . Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori. 62. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi. Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. guru membentuk kelompok. 59. 58. Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkatbertahap dari simpel ke kompleks. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. integrasi. Time Token Model ini digunakan (Arebds. 60. berupa opemecahan masalah.dan nama yang diberi. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. siswa ditugaskan membaca wacana. presentasi. . siswa berkelompok melengkapi. kebebasan-terbuka.

ketrampilan. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. Guru harus menciptakan suasana kondusif. tiap usaha siswa diberi reward. demonstrasikan melalui presentasikomunikasi. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak. Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. L (1993). komunikasi positif yang efektif. dinamis. Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002). alami-dengan dunia realitas siswa. The Constructivist Classroom Education in Profile. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban. Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. partisipatif. interaktif. Emotional Spritual Quotient (ESQ). dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. Semoga. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. E.64. melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan. c = communication. m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi). menciptakan inovasi. agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. Oleh karena itu penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. 65. latihan. lima kali salah guru membimbing. jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. dengan E = energi yang diartikan sukses. Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. dan model pembelajaran yang inovatif. tidak lagi takut dalam berpartisipasi. kohesif. Begitu pulal dalam pembelajaran. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. Sintaksnya adalah: sajian konsep. optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan. semua mempunyai tujuan. tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. kerja individual. Burton. Perth: Edith . dan saling menghargai. Jakarta: Arga. namai-buat generalisasi sampai konsep. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi. konsep harus dialami.

Gardner. Goleman. Emotional Intelligence..:Depdiknas. . Buzan. New York: Penguin Books. De Porter. WWI Publishing Texas: Waco. Howard (1985). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning. CTL). S. 3rd ed. Jakarta. Use Both Sides of Yoru Brain. What is Contextual Learning. Daniel (1995). Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. New York: Dell Publishing.Ar. Tony (1989). Cord (2001). Ditdik SLTP (2002). Bobbi (1992). Erman.Cowan University. (2002). Quantum Learning. New York: Basic Bools. New York: Bantam Books. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. dkk. Bandung: JICA-FPMIPA.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful