ACADEMIC COURSE EVALUATION THEORETICAL AND EMPIRICAL DISTINCATION BETWEEN SELF RATED GAIN IN COMPETENCES AND SATISFICATION WITH

TEACHING BEHAVIOUR (EVALUASI PROGRAM AKADEMIK Perbedaan Teori dan Empiris antara Penilaian Diri dalam Peningkatan Kompetensi dan Kepuasan dengan Cara Mengajar) Oleh : Edith Braun dan Bernhard Leidner (2006) A . PENDAHULUAN I . Latar Belakang Masalah Reformasi pendidikan adalah hal yang tak terpisahkan dari perkembangan pendidikan di dunia saat ini. Upaya perbaikan pada bidang pendidikan ini semakin populer di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Benua Eropa. Proses reformasi ini dimulai dengan adanya The Bologna Process yang merupakan merupakan kunci utama dalam kebijakan pendidikan yang berisi perencanaan dalam mereformasi pendidikan tinggi (higher education) di seluruh Eropa. Pada dasarnya variasi Bologna merupakan dokumen terkait yang secara konsisten merujuk pada hasil pembelajaran (Brennan, 2001. P.4; cp, Adam, 2004). Menciptakan suatu standarisasi gelar akademik yang sama dan kompatibel di seluruh Eropa adalah salah satu tujuannya. Alasan dibentuknya pendidikan tinggi adalah membantu seseorang dalam meningkatkan personal development dan kesempatan kerja melalui sebuah pelatihan mahasiswa yang lebih berkompetensi dengan orientasi cara. Sebuah daftar lengkap mengenai kompetensi ini telah dirumuskan dalam “ framework of qualification" (Bologna Working Group on Qualification Frameworks. 2005) Reformasi pendidikan ini juga menambah variasi dalam evaluasi pembelajaran yang berguna untuk mengukur kepuasan mahasiswa dalam proses pembelajaran. HesaCom merupakan alat evaluasi pembelajaran di pendidikan tinggi yang berfokus pada Self Assesment of Competences atau di Jerman lebih dikenal dengan Self Reported Student Competences yang lebih berfokus pada

B . Alat ini memiliki perbedaan fokus dari segi subjeknya dibanding kuesioner evaluasi yang tersedia sampai saat ini yang masih menggunakan kriteria klasik yaitu mengukur kepuasan mahasiwa terhadap cara mengajar dosennya (satisfaction with teaching behaviour). 135) Satisfaction with teaching behaviour merupakan suatu intrumen yang mengukur kepuasan pelajar dengan pengajarnya. II . KERANGKA PENELITIAN. Perbedaan fokus subjek penilaian inilah yang menyebabkan adanya perdebatan antara para ahli mengenai instrumen mana yang lebih baik. Spies & Trauwein.penilaian diri mengenai seberapa besar peningkatan kompetensi yang diterima (Self Rated Gain in Competences). TINJAUAN PUSTAKA. 2. Kontribusi Penelitian Secara garis besar penelitian ini memiliki tiga tujuan utama. Sedangkan menurut (Heise. Tinjauan Pustaka Menurut Westermann (1998: p. 1996) satisfaction with teaching . Pemahaman baru mengenai kualitas pendidikan yang lebih tinggi ini dengan kata lain memfokuskan pada kemahiran dalam kompetensi (outcome oriented) dibandingkan dengan kepuasan dalam cara mengajar oriented). Untuk menunjukkan perbedaan teori dan empiris mengenai pernyataan (process cara pola mengajar secara tidak langsung penting terhadap hasil pembelajaran dengan pelaporan diri mengenai kemahiran kompetensi. HIPOTESIS I . Untuk menunjukkan bahwa kepuasan dengan cara mengajar dan kemahiran dalam kompetensi dapat diukur dengan cara yang berbeda. yaitu : 1. Pertanyaan Penelitian Apakah penilaian diri dalam peningkatan kompetensi (Self-Rated Gain in Competences) mempunyai korelasi dengan kepuasan pada pola mengajar (satisfaction with teaching behaviour) dan memiliki kaitan erat dengan enam kompetensi utama? III .

84) 4) Kemampuan sosial (5 item.behaviour adalah keadaan dimana penguji melihat perbedaan kepuasan yang diperoleh dengan pengajar baik keberhasilan maupun Kualitas pengajaran akademik. 1999) .) • Pengaplikasian Ilmu (Knowledge Processing) menunjukkan seberapa besar kemampuan mahasiswa dalam mengaplikasikan pengetahuannya beserta kemampuan mereka dalam mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari (Dochy & Alexander. Cronbach α = 0. akademik (Westermann.87) 6) Kemampuan individu (5 item. Cronbach α = 0. yang dimana menunjukkan sebuah adaptasi yang baik dan tidak perlu untuk berprestasi secara luar biasa (Coatsworth & Masten. p. 1998. α Cronbach = . yaitu: 1) Pengaplikasian Ilmu (6 item. Heise. berisi 26 item. Cronbach α = 0.90) 2) Kemampuan sistematis (3 item. Spies.85. 1996) Self Rated Gain in Competences adalah suatu instrumen yang mengukur seberapa besar peningkatan kompetensi yang diterima oleh seseorang selama dalam proses belajar-mengajar. Cronbach α = 0.83) 3) Kemampuan menyajikan (2 item.206) Pertanyaan dalam HEsaCom dan kompetensi utama berasal dari definisi teoretis. & Trautwein. • Kemampuan sistematis (Systematic Competence) menggambarkan keahlian individu dalam membuat perencanaan pada kegiatan mereka sebaik penguasaanya terhadap teknik yang relevan • Kemampuan menyajikan (Presentational Competence) mengacu pembelajaran berbicara di depan orang lain yang berdampak pada semakin meningkatnya keahlian dalam presentasi lisan • Kemampuan sosial ( Social Competence) didefinisikan sebagai pencapaian dalam keseimbangan antara pengembangan positif untuk diri sendiri dan kemauan dalam memahami harapan orang lain (Wentzel. HEsaCom (Braun et al. Kompetensi menggambarkan sejarah pencapaian prestasi (kompetensi kinerja) dan kapabilitas individu untuk bisa bekerja dengan baik di masa depan. Bloom 1956).92) 5) Kemampuan bekerja sama (5 item. α Cronbach = . 1995. 2008).

Parameter Pengukuran Variabel Dua buah model evaluasi pelatihan akademik yaitu Self Rated Gain in Competences yang menggunakan instrumen HesaCom dan Satisfaction with teaching behaviour yang diwakili oleh Instrumen dari Westermann menggunakan enam kompetensi utama yang sama yaitu : Knowledge Processing.06%) yang dikembalikan. • Kemampuan individu ( Personal Competence) adalah sikap positi individu yang berkaitan dengan pembelajaran dan pengembangan diri.94%) mencerminkan kesalahan para dosen dalam memprediksi jumlah mahasiswa yang menolak untuk mengisi kuesioner. Sampel dan Populasi Sebanyak 2981 kuesioner yang mengevaluasi 54 mata kuliah dari 17 fakultas disebarkan ke sembilan universitas yang berada di Jerman. II . dimana 1= tidak penting/sangat tidak memuaskan dan 5 = esensial/sangat memuaskan. Systematic Competence. METODE I . Presentational Competence. 515 (37%) adalah laki-laki dan sisanya 116 (8%) tidak jelas.• Kemampuan bekerja sama ( Cooperative Competence) diartikan sebagai kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain secara efektif. Cooperative Competence. Sisa kuesioner yang tidak dikembalikan yaitu 1578 kuesioner (52. . Rincian jenis kelamin mahasiswa yang mengisi kuesioner adalah : 777 (55%) adalah perempuan. dan Personal Competence. Social Competence. Namun hanya 1403 kuesioner (47. II . Responden diminta untuk mengisi kuesioner dengan memberikan Skala Likert 1-5. Dimana HesaCom menggunakan 26 item sedangkan Westermann menggunakan 24 item (indikator pertanyaan) dari enam kompetensi utama tersebut. Kerangka Penelitian C .

03 digunakan pula untuk mengatasi masalah pada nilai yang hilang (missing values) selama proses pengolahan.779. χ ² = .13. Dua model ini juga ditetapkan dengan menggunakan enam kompetensi utama tadi. χ ² diff3 = 305. Analisis Data Untuk menguji hipotesis yang menyatakan adanya perbedan pada konsepsi Self Rated Gain in Competences dengan Satisfaction with teaching behaviour digunakan Confirmatory Factor Analyses (CFA) melalui Mplus 3. untuk perbedaan nilai χ ² pada 1 df.779.440. secara signifikan uji LR (χ ² 588. Dengan kata lain kita dapat .429. Lalu sebagai tambahan diujikan pula parameter yang dianggap cukup untuk mengestimasi yaitu oleh factor loadings dan error covariances. harus ditolak. Berdasarkan perbandingan antara teknis estimasi yang berbeda dan the critical analysis of normality assumption oleh Fouladi (2000). Dengan demikian.433. Karena statistik χ2 sangat sensitif terhadap ukuran sampel (Marsh. seperti yang direkomendasikan oleh Joreskog (1993). Hal ini dilakukan untuk menguji apakah kedua model ini berbeda secara empiris. dipilihlah Maximum Likehood with robust standar error (MLR) untuk memperkirakan model paramater didalam CFAs. sehingga dihasilkan 12 model secara bersamaan. Teknik statistik modern yaitu Norm 2.092. 1988) maka ketepatan pada model yang aktif tidak hanya dievaluasi melalui dasar dari tes signifikan χ2 tetapi juga melalui rasio dasar χ2.117.460. hipotesis nol (H0). RMSEA dan SRMR.001) mendukung model alternatif (H1) yang dimana χ ² nilai lebih rendah daripada yang dari model nol (H0). χ ² diff4 = 1345. Lalu selanjutnya kedua model ini dibandingkan dengan likelihood-ratio (LR) pada degree of freedom dengan tujuan untuk menentukan model mana yang mampu menjelaskan data secara lebih baik. Hasil analisis data ini menunjukkan bahwa dari semua perbandingan model. yang menyatakan kurangnya perbedaan antara setiap kompetensi utama dan kepuasan. seperti : CFI. χ ² = diff5 diff2 diff6 diff1 = . degree of freedom (df) dan indeks-indeks yang hampir mendekati kebenaran. Balla & McDonald.III . χ ² = 274. p <.

berasumsi bahwa semua enam kompetensi utama secara empiris berbeda dari kepuasan dengan pola mengajar (dapat dilihat pada gambar di bagian lampiran). korelasi diperkirakan menjadi r1 = 0. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa self reported acqusition in competences dan satisfaction with teaching behaviour memiliki hubungan yang terkait. dan 55.746 Personal Competence. jika ada pertanyaan apakah self reported acqusition in competences dapat berhasil digambarkan melalui satisfaction with teaching behaviour maka jawabannya adalah hal tersebut dapat juga dilihat sebagai uji validitas diskriminatif HEsaCom's .279 Social Competence.67%. r4 = 0. dan r6 = 0. Dengan demikian.277 Cooperative Competence.65% yang secara berurutan untuk Knowledge Processing. Dalam model alternatif. Cooperative Competence. Jumlah kovariansi antara setiap kompetensi utama yang diberikan dan kepuasan program akademis adalah second interest.310 untuk Systematic Competence. D .601 untuk Knowledge Processing. yaitu: 36. 9. Varians umum yang terbagi oleh gagasan kompetensi dan kepuasan menunjukkan angka. dan Personal Competence .78%. 7. r2 = 0. r3 = . Social Competence. struktur yang diasumsikan dari enam kompetensi 'utama dapat diasosiasikan dengan satisfaction with teaching behaviour yang dikonfirmasi oleh indeks global dan lokal yang cocok pada CFAs (Beauducel & .61%.12%. Systematic Competence. namun secara empiris berbeda. 7.255 Presentational Competence. HASIL DISKUSI Proses Bologna (The Bologna Process) membutuhkan evaluasi program akademik di area kompetensi dan kemahiran mahasiswa selain dari penilaian mereka terhadap pola mengajar . Hasil koefisien korelasi ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara Knowledge Processing dan Personal Competence di satu sisi dan Course Satisfaction di sisi lain. Presentational Competence. Sedangkan korelasi lainnya menunjukkan hubungan yang lemah hingga sedang. Secara keseluruhan. 6. r5 = 0.50%.

Wittmann. 1998). 1997. Walaupun terlihat lebih baik. namun self rated competences masih memiliki keterbatasan pada subjeknyadan masih tidak bisa digunakan untuk menyamaratakan "pengukuran prestasi yang besar”. 1998). Roche & Marsh. Hal ini didukung oleh pendapat Marsh dan Roche (1997. L'Hommedieu et al. Pengembangan HesaCom telah dianggap sebagi langkah pertama untuk menuju reformasi dalam evaluasi pendidikan yang berfokus pada hasil (outcome) dan kompetensi . Hal ini terjadi karena validitas dari penilaian pribadi dari mahasiswa terkena efek bias seperti efek kelelahan yang dirasakan dari sebuah mata kuliah atau ketatnya seorang instruktur/dosen (Greenwald & Gillmore. 2004): self reported acqusition dan satisfaction with teaching behaviour adalah terkait tetapi berbeda konstruksi. Hau & Wen. Roche & Marsh. 1990. Secara eksplisit tersirat ajakan untuk para pengajar untuk lebih memikirkan mahasiwa mengenai hasil pada dibanding dengan cara mereka mengajar. Pada kenyataannya pengukuran terhadap penilaian diri (self reported) masih menimbulkan kontroversial. Marsh & Roche. 1998. 1998) yang mengkritik tipe tes yang menggunakan pendekatan pilihan ganda (multiple choice) yang berdasarkan uji kinerja sebagai kriteria tunggal yang valid dibanding gagasan untuk memvalidasi instrumen evaluasi. 2005. Hal ini menawarkan kesempatan untuk menerapkan budaya orientasi hasil. . Marsh. Beberapa ahli masih mempertimbangkan apakah sistem tersebut valid untuk menilai kesuksesan suatu kelas dari segi pendidikan (Greenwald & Gillmore..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful