P. 1
Sistem Reproduksi Dan Penyakit Yang Berhubungan Dengan Sistem Reproduksi Pada Manusia 9

Sistem Reproduksi Dan Penyakit Yang Berhubungan Dengan Sistem Reproduksi Pada Manusia 9

|Views: 5,379|Likes:
Published by Desi Risna

More info:

Published by: Desi Risna on Jan 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/08/2013

pdf

text

original

Sections

  • Obesitas Musuh Baru Dunia
  • Suplemen Golongan Darah
  • Pola Makan Golongan Darah
  • Golongan Darah O
  • Golongan Darah AB
  • Golongan Darah B
  • Golongan Darah A
  • Golongan Darah Dunia
  • Tahukah Golongan Darah Anda?

Sistem Reproduksi Dan Penyakit Yang
Berhubungan Dengan Sistem
Reproduksi Pada Manusia 9.1

Dari Crayonpedia

Langsung ke: navigasi, cari

Untuk materi ini mempunyai 1 Kompetensi Dasar yaitu:

Kompetensi Dasar :

1.Mendeskripsikan sistem reproduksi dan penyakit yang berhubungan dengan
sistem reproduksi pada manusia

Daftar isi

[sembunyikan]

•1 SISTEM REPRODUKSI
o1.1 Alat-alat Reproduksi pada Laki-Laki
o1.2 Alat-alat Reproduksi pada Perempuan
o1.3 Proses Pembuahan Atau Fertilisasi
o1.4 Penyakit Pada Sistem Reproduksi Manusia

•2 Referensi

SISTEM REPRODUKSI

Reproduksi merupakan proses menghasilkan individu baru dari organisme sebelumnya.

Organisme bereproduksi melalui 2 Cara :

•Repoduksi aseksual (vegetatit)

Adalah terbentuknya individu baru tanpa melakukan peleburan sel kelamin.

•Reproduksi seksual (generatif)

Umumnya melibatkan persatuan sel kelamin (gamet) dari 2 individu yang berbeda jenis
kelamin.

Alat-alat Reproduksi pada Laki-Laki

Alat reproduksi pada laki-laki terdiri atas sepasang testis, saluran-saluran kelamin,
kelenjar-kelenjar tambahan, dan penis.

•Testis merupakan kelenjar kelamin yang berfungsi sebagiai penghasil sperma dan
hormon testosteron. Testis terletak di dalam suatu kantong yang disebut skrotum.
•Saluran kelamin terdiri atas vasa eferentia. epididimis. dan vas deferens.

1.Vasa eferentia merupakan bagian yang berfungsi menampung sperma untuk
disalurkan ke epididimis berjumlah antara 10-20 buah.
2.Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok dengan panjang antara 5-6 meter.
Di saluran ini cairan sperma diabsorpsi sehingga menjadi agak pekat. Saluran ini
berfungsi menyimpan sperma untuk sementara (minimal selama tiga minggu).
3.Vas deferens merupakan saluran lurus dengan panjang sekitar 40 cm. Saluran ini
berfungsi untuk menghubungkan epididimis dengan uretra pada penis. Di bagian
ujung saluran ini terdapat saluran ejakulasi.

•Kelenjar tambahan meliputi vesika seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar

Cowperi.

1.Vesika seminalis merupakan kantong semen (mani) yang dindingnya menyekresi
cairan lendir yang banyak mengandung fruktosa, sedikit asam askorbat, dan asam
amino. Bahan-bahan kimia tersebut berfungsi untuk memberi makan dan
melindungi sperma sebelum membuahi ovum. Semen adalah cairan yang terdiri
atas sperma dan cairan yang dihasilkan oleh berbagai kelenjar tambahan

2.Kelenjar frostat merupakan kelenjar berbentuk bulat yang mengelilingi bagian
pangkal saluran uretra. Kelenjar ini menghasilkan cairan yang bersifat basa dan
berwarna putih seperti susu. Cairan tersebut berfungsi untuk menetralkan sifat
asam pada vasa eferentia dan cairan yang ada di dalam vagina sehingga sprema
dapat bergerak aktif.
3.Kelenjar cowperi (bulbouretralis), yaiitu kelenjar berukuran sebesarb butir kacang
yang terletak di bagian proksimal (pangkal) uretra. Kelenjar ini menghasilkan
cairan mukosa yang berfungsi sebagai pelicin.

•penis merupakan alat kelamin luar laki-laki yang befungsi untuk memasukkan
sperma ke dalam tubuh perempuan.

Sistem reproduksi apda laki-laki berhubungan erat dengan sistem ekskresi (pengeluaran),
khususnya sistem urinaria. Uretra merupakan saluran yang berfungsi untuk mengeluarkan
urine sekaligus sprema. Testis memproduksi jutaan setiap hari, sejak masa pubertas
samapai seorang laki-laki meninggal dunia. Jika tidak dikeluarkan, sel-sel sperma akan
mati dan diserap kembali.

Alat-alat Reproduksi pada Perempuan

Alat reproduksi pada perempuan terdiri atas sepasang ovarium (indung telur) yang
terletak di rongga perut, saluran telur (oviduk/tuba Fallopii), uterus (rahim), vagina dan
organ kelamin bagian luar.

Ovarium merupakan kelenjar kelamin perempuan yang berfungsi untuk
memproduksi ovum dan menyekresi hormon estrogen dan progesteron.
Saluran telur berfungsi untuk menyalurkan ovum ke arah rahim dengan gerakan
peristaltik dan dibantu oleh gerakan silia yang terdapat di dindingnya. Panjang
saluran ini sekitar 12 cm dan ujungnya berbentuk corong.

Uterus (rahim) berfungsi sebagai tempat berkembangnya embrio, dinding uterus
tebal, panjang sekitar 7,5 cm, dan lebar sekitar 5 cm. Selama kehamilan uterus
mampu mengembang sampai 500 kali.
Vagina merupakan saluran yang terletak di bawah uterus sebagai tempat bagi
penis pada saat kopulasi dan sebagai jalan bayi pada proses persalinan.
Organ kelamin luar meliputi bagian-bagian sebagai berikut

1.Klitoris (kelentit), yaitu struktur yang homolog dengan penis.
2.Vulva, terdiri atas labium mayor (bibir besar) dan labium minor (bibir kecil).
3.Lubang saluran kencing, merupakan saluran terluar uretra
4.Lubang vagina, merupakan ujung terluar vagina
5.Fundus, yaitu bagian lipat paha

Proses Pembuahan Atau Fertilisasi

Pembuahan adalah proses peleburan antara satu sel sperma dan satu sel ovum yang sudah
matang. Sebelumterjadi poses pembuahan, terjadi beberapa proses sebagai berikut.
Ovum yang telah masuk akan keluar dari ovarium. Proses tersebut dinamakan ovulasi.
Ovum yang telah masak tersebutakan masuk ke saluran Fallopii. Jutaan sperma harus
berjalan dari vagina menuju uterus dan masuk ke saluran Fallopii. Dalam perjalanan itu,
kebanyakan sperma dihancurkan oleh mukus (lendir) asa di dalam uterus dan saluran
Fallopii. Di antara beberapa sel sperma yang bertahan hidup, hanya satu yang masuk
menembus membran ovum. Setelah terjadi pembuahan, membran ovum segera mengeras
untuk mencegah sel sperma lain masuk. Proses pembuahan ini terjadi di bagian saluran
Fallopii yang paling lebar.

Hasil pembuahan adalah zigot. Kemudian mengalami pertumbuhan dan perkembangan
sebagai berikut:

1.Zigot membelah menjadi 2 sel, 4 sel, dan seterusnya.
2.Dalam waktu bersamaan lapisan dinding dalam uterus menjadi tebal seperti
spons, penuh dengan pembuluh darah, dan siap menerima zigot.
3.Karena kontraksi oto dan gerak silia diding saluran Fallopii, zigot menuju ke
uterus dan menempel di dinding uterus untuk tumbuh dan berkembang.
4.Terbentuk plsenta dan tali pusat yang merupakan penghubung antara embrio dan
jaringan ibunya. Fungsi plasenta dan tali pusat adalah mengalirkan oksigen dan
zat-zat makanan dari ibu ke embrio, serta menglirkan sisa-sisa metabolisme dari
embrio ke peredana darah ibunya.
5.Embrio dikelilingi cairan amnion yang berfungsi melindungi embrio dari bahaya
benturan yang mungkin terjadi.
6.Embrio berusaha empat minggu sudah menunjukkan adanya pertumbuhan mata,
tangan, dan kaki.

7.Setelah berusia enam minggu, embrio sudah berukuran 1,5 cm. Otak, mata,
telinga, dan jantung sudah berkembang. Tangan dan kaki, serta jari-jarinya mulai
terbentuk.
8.Setelah berusia delapan minggu, embrio sudah tampak sebagai manusia dengan
organ-organ tubuh lengkap. Kaki, tangan, serta jari-jariny telah berkembang.
Mulai tahap ini sampai lhir, embrio disebut fetus (janin).
9.Setelah mencapai usia kehamilan kira-kira sembilan bulan sepuluh hari, bayi siap
dilahirkan.

Jika ovum yang sudah masak tidak dibuahi oleh sperma, jaringan penyusun dinding
rahim yang telah menebal dan mengandung banyak pembuluh darah akan rusak dan
luruh/runtuh. Bersama-sama dengan ovum yang tidak dibuahi, jaringan tersebut
dikeluarkan dari tubuh lewat vagina dalam proses yang disebut menstruasi (haid).

Penyakit Pada Sistem Reproduksi Manusia

Beberapa penyakit dapat menyerang sistem reproduksi manusia. Penyakit tersebut antara
lain

sebagai

berikut.

1.

Gonorhea

(Kencing

Nanah)

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae dan ditularkan terutama
melalui hubungan seksual. Bakteri ini selain menimbulkan radang pada organ reproduksi
(vagina, saluran Fallopii, epididimis, kelenjar prostat), juga dapat menimbulkan radang
pada saluran kemih, mata, persendian, dan selaput otak. Kalau tidak segera diobati,
penyakit ini dapat menyebabkan kemandulan. Penyakit ini dapat menular dari seorang
ibu yang terinfeksi kepada bayi yang dilahirkannya. Beberapa bayi menjadi buta
karenanya.

Adapun tanda dan gejala-gejala penyakit ini sebagai berikut.

•Terdapat nanah di ujung saluran kencing.
•Rasa terbakar pada saat buang air kecil
•Pada laki-laki, uretra menjadi sempit sehingga sulit buang air kecil. Pada
beberapa kasus, testes menjadi rusak sehingga orang yang bersangkutan menjadi
mandul.

•Pada wanita, terdapat nanah dari vagina yang mungkin dapat menyebar ke rahim
dan indung telur. Akibatnva, wanita yang bersangkutan menjadi mandul.

2.

Sifilis

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum dan ditularkan terutama
melalui hubungan seksual. Penyakit ini terdiri atas beberapa stadium. Pada stadium
lanjut, sifilis tidak hanya menyerang organ-organ reproduksi, tetapi juga menyerang
organorgan tubuh yang lain, misalnya hati, susunan saraf, dan otak.

3.

Herpes

Genital

Penyakit ini disebabkan oleh virus herpes simpleks serotipe 2 dan ditularkan melalui
hubungan seksual. Virus ini selain menyerang organ-organ reproduksi laki-laki dan

perempuan, juga menyerang kulit. Sekarang sudah diketahui bahwa ada hubungan antara
infeksi virus

herpes

dan

kanker leher rahim.

4.

Keputihan

(Fluor

Albus)

Penyakit yang dialami perempuan ini disebabkan oleh berbagai parasit, antara lain jamur
Candida albicans, Protozoa dari jenis Trichomonas vaginalis, bakteri, dan virus. Candida
albicans menyukai lingkungan yang mengandung gula dan hangat. Jamur ini sering
ditemukan pada perempuan hamil dan penderita diabetes melitus (kencing manis).

5.

AIDS

AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immttne Deficiency Syndrome (sindrom
hilangnya kekebalan karena bentukan). Penyakit ini disebabkan oleh virus HIV (Human
Immtmodeficiency Virus). Sampai sekarang, penyakit mematikan ini belum ada obatnya.
Orang yang terinfeksi virus HIV tidak langsung menderita AIDS. Penyakit ini baru
terlihat setelah enam bulan sampai lima tahun, bergantung pada ketahanan tubuh
seseorang. Penyakit ini menyerang sel-sel darah putih yang merupakan bagian dari sistem
kekebalan tubuh. Akibatnya, jika terinfeksi kuman tertentu yang bagi orang biasa tidak
membahayakan. penderita AIDS dapat meninggal. Kita tidak perlu panik menghadapi
penyakit ini jika mengetahui cara penularannya. Tidak seperti influenza yang
penularannya melalui udara, penyakit ini menular melalui cairan tubuh. Menghirup udara
di sekitar penderita AIDS atau bersalaman dengan penderita AIDS, tidak menyebabkan
tertular. AIDS dapat menular melalui transfusi darah dari penderitaAIDS, melalui jarum
suntik yang pernah dipakai penderita AIDS, dan berhubungan seksual dengan penderita
AIDS. Bayi yang dikandung ibu penderita AIDS kemungkinan juga dapat tertular.

Meskipun banyak penyakit yang dapat menyerang organ-organ reproduksi. Sebenarnya
sebagian besar dapat dicegah dengan menjaga kebersihan secara umum dan kebersihan
organ-organ reproduksi. Jamur yang menyukai tempat lembap dapat dihindari dengan
selalu menjaga daerah perineum (selangkangan) selalu kering. Rasa gatal dapat dikurangi
dengan mengenakan celana dari bahan katun. Cara pencegahan yang lain adalah tidak
membiasakan bertukar handuk atau pakaian. Selain kebersihan diri. lingkungan juga
perlu dijaga kebersihannya. misalnya selalu mencuci selimut atau alas tidur.

Proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa disebut spermatogenesis. Pada tubulus
seminiferus testis terdapat sel-sel induk spermatozoa atau spermatogonium, sel Sertoli
yang berfungsi memberi makan spermatozoa juga sel Leydig yang terdapat di antara
tubulus seminiferus yang berfungsi menghasilkan testosteron. Proses pembentukan
spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon.

Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon perangsang folikel (Folicle Stimulating
Hormone/FSH) dan hormon lutein (Luteinizing Hormone/LH). LH merangsang sel
Leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa pubertas,
androgen/testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder. FSH merangsang sel
Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu
spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis. Proses pemasakan spermatosit

menjadi spermatozoa disebut spermiogenesis. Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis
dan membutuhkan waktu selama 2 hari.

Proses Spermatogenesis : Spermatogonium berkembang menjadi sel spermatosit primer.
Sel spermatosit primer bermiosis menghasilkan spermatosit sekunder, spermatosit
sekunder membelah lagi menghasilkan spermatid, spermatid berdiferensiasi menjadi
spermatozoa masak. Bila spermatogenesis sudah selesai, maka ABP testosteron
(Androgen Binding Protein Testosteron) tidak diperlukan lagi, sel sertoli akan
menghasilkan hormon inhibin untuk memberi umpan balik kepada hipofisis agar
menghentikan sekresi FSH dan LH.

Spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang dihasilkan
oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar cowper. Spermatozoa
bersama cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai semen atau air mani. Pada
waktu ejakulasi, seorang laki-laki dapat mengeluarkan 300 – 400 juta sel spermatozoa.

B. Oogenesis

Di dalam ovarium janin sudah terkandung sel pemula atau oogonium. Oogonium akan
berkembang menjadi oosit primer. Saat bayi dilahirkan oosit primer dalam fase profase
pada pembelahan meiosis. Oosit primer kemudian mengalami masa istirahat hingga masa
pubertas.

Pada masa pubertas terjadilah oogenesis. Oosit primer membelah secara meiosis,
menghasilkan 2 sel yang berbeda ukurannya. Sel yang lebih kecil, yaitu badan polar
pertama membelah lebih lambat, membentuk 2 badan polar. Sel yang lebih besar yaitu
oosit sekunder, melakukan pembelahan meiosis kedua yang menghasilkan ovum tunggal
dan badan polar kedua. Ovum berukuran lebih besar dari badan polar kedua.

Pengaruh Hormon dalam Oogenesis. Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon FSH yang
merangsang pertumbuhan sel-sel folikel di sekeliling ovum. Ovum yang matang
diselubungi oleh sel-sel folikel yang disebut Folikel Graaf, Folikel Graaf menghasilkan
hormon estrogen. Hormon estrogen merangsang kelenjar hipofisis untuk mensekresikan
hormon LH, hormon LH merangsang terjadinya ovulasi. Selanjutnya folikel yang sudah
kosong dirangsang oleh LH untuk menjadi badan kuning atau korpus luteum. Korpus
luteum kemudian menghasilkan hormon progresteron yang berfungsi menghambat
sekresi DSH dan LH. Kemudian korpus luteum mengecil dan hilang, sehingga aklurnya
tidak membentuk progesteron lagi, akibatnya FSH mulai terbentuk kembali, proses
oogenesis mulai kembali.

Catatan : Pada laki-laki spermatogenesis terjadi seumur hidup, dan pelepasan
spermatozoa dapat terjadi setiap saat. Pada wanita, ovulasi hanya berlangsung sampai
umur sekitar 45 – 5O tahun. Seorang wanita hanya mampu menghasilkan paling banyak
400 ovum selama hidupnya, meskipun ovarium seorang bayi perempuan sejak lahir sudah
berisi 500 ribu sampai 1 juta oosit primer.

C. Siklus Menstruasi

Setiap bulan wanita melepaskan satu sel telur dari salah satu ovariumnya. Bila sel telur
ini tidak mengalami pembuahan maka akan terjadi perdarahan (menstraasi). Menstruasi
terjadi secara perfodik satu bulan sekali. Saat wanita tidak mampu lagi melepaskan ovum
karena sudah habis tereduksi, menstruasi pun menjadi tidak teratur lagi, sampai kemudian
terhenti sama sekali. Masa ini disebut menopause.

Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata. Sedang pada mamalia lain terjadi
siklus estrus. Bedanya, pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka lapisan
endometrium pada uterus akan luruh keluar tubuh, sedangkan pada siklus estrus, jika
tidak terjadi pembuahan, endomentrium akan direabsorbsi oleh tubuh.

Umumnya siklus menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula setiap 21 hari
dan 30 hari) yaitu sebagai berikut : Pada hari 1 sampai hari ke-14 terjadi pertumbuhan
dan perkembangan folikel primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada seat tersebut
sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel
berkembang menjadi folikel Graaf yang masak, folikel ini juga menghasilkan hormon
estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi
merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas waktu
menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan
hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel Graaf yang masak untuk
mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14, waktu di sekitar terjadinya ovulasi
disebut fase estrus. Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah
menjadi badan kuning (Corpus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon
progesteron yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan
pembuluh darah untuk mempersiapkan datangnya embrio. Periode ini disebut fase luteal,
selain itu progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH, akibatnya
korpus luteum mengecil dan menghilang, pembentukan progesteron berhenti sehingga
pemberian nutrisi kepada endometriam terhenti, endometrium menjadi mengering dan
selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan (menstruasi) pada hari ke-28. Fase
ini disebut fase perdarahan atau fase menstruasi. Oleh karena tidak ada progesteron, maka
FSH mulai terbentuk lagi dan terjadilan proses oogenesis kembali.

D. Pembentukan Embrio

Peristiwa fertilisasi terjadi di saat spermatozoa membuahi ovum di tuba fallopii,
terjadilah zigot, zigot membelah secara mitosis menjadi dua, empat, delapan, enam belas
dan seterusnya. Pada saat 32 sel disebut morula, di dalam morula terdapat rongga yang
disebut blastosoel yang berisi cairan yang dikeluokan oleh tuba fallopii, bentuk ini
kemudian disebut blastosit. Lapisan terluar blastosit disebut trofoblas merupakan dinding
blastosit yang berfungsi untuk menyerap makanan dan merupakan calon tembuni atau
ari-ari (plasenta), sedangkan masa di dalamnya disebut simpul embrio (embrionik knot)
merupakan calon janin. Blastosit ini bergerak menuju uterus untuk mengadakan
implantasi (perlekatan dengan dinding uterus).

Pada hari ke-4 atau ke-5 sesudah ovulasi, blastosit sampai di rongga uterus, hormon
progesteron merangsang pertumbuhan uterus, dindingnya tebal, lunak, banyak
mengandung pembuluh darah, serta mengeluarkan sekret seperti air susu (uterin milk)
sebagai makanan embrio.

Enam hari setelah fertilisasi, trofoblas menempel pada dinding uterus (melakukan
implantasi) dan melepaskan hormon korionik gonadotropin. Hormon ini melindungi
kehamilan dengan cara menstrimulasi produksi hormon estrogen dan progesteron
sehingga mencegah terjadinya menstruasi. Trofoblas kemudian menebal beberapa lapis,
permukaannya berjonjot dengan tujuan memperluas daerah penyerapan makanan. Embrio
telah kuat menempel setelah hari ke-12 dari fertilisasi.1.

Pembuatan Lapisan Lembaga. Setelah hari ke-12, tampak dua lapisan jaringan di sebelah
luar disebut ektoderm, di sebelah dalam endoderm. Endoderm tumbuh ke dalam
blastosoel membentuk bulatan penuh. Dengan demikian terbentuklah usus primitif dan
kemudian terbentuk Pula kantung kuning telur (Yolk Sac) yang membungkus kuning
telur. Pada manusia, kantung ini tidak berguna, maka tidak berkembang, tetapi kantung
ini sangat berguna pada hewan ovipar (bertelur), karena kantung ini berisi persediaan
makanan bagi embrio.

Di antara lapisan ektoderm dan endoderm terbentuk lapisan mesoderm. Ketiga lapisan
tersebut merupakan lapisan lembaga (Germ Layer). Semua bagian tubuh manusia akan
dibentuk oleh ketiga lapisan tersebut. Ektoderm akan membentuk epidermis kulit dan
sistem saraf, endoderm membentuk saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan,
mesoderm membentuk antara lain rangka, otot, sistem peredaran darah, sistem ekskresi
dan sistem reproduksi.

Membran (Lapisan Embrio). Terdapat 4 macam membran embrio, yaitu :

a. Kantung Kuning Telur (Yolk Sac)

Kantung kuning telur merupakan pelebaran endodermis berisi persediaan makanan bagi
hewan ovipar, pada manusia hanya terdapat sedikit dan tidak berguna.

b. Amnion

Amnion merupakan kantung yang berisi cairan tempat embrio mengapung, gunanya
melindungi janin dari tekanan atau benturan.

c. Alantois

Pada alantois berfungsi sebagai organ respirasi dan pembuangan sisa metabolisme. Pada
mammalia dan manusia, alantois merupakan kantung kecil dan masuk ke dalam jaringan
tangkai badan, yaitu bagian yang akan berkembang menjadi tall pusat.

d. Korion

Korion adalah dinding berjonjot yang terdiri dari mesoderm dan trofoblas. Jonjot korion
menghilang pada hari ke-28, kecuali pada bagian tangkai badan, pada tangkai badan
jonjot trofoblas masuk ke dalam daerah dinding uterus membentuk ari-ari (plasenta).
Setelah semua membran dan plasenta terbentuk maka embrio disebut janin/fetus.

Plasenta atau Ari-Ari. Plasenta atau ari-ari berbentuk seperti cakram dengn garis tengah
20 cm, dan tebal 2,5 cm. Ukuran ini dicapai pada waktu bayi akan lahir tetapi pada waktu
hari 28 setelah fertilisasi, plasenta berukuran kurang dari 1 mm. Plasenta berperan dalam
pertukaran gas, makanan dan zat sisa antara ibu dan fetus. Pada sistem hubungan
plasenta, darah ibu tidak pernah berhubungan dengan darah janin, meskipun begitu virus
dan bakteri dapat melalui penghalang (barier) berupa jaringan ikat dan masuk ke dalam
darah janin.

Catatan : Makin tua kandungan, jumlah estrogen di dalam darah makin banyak,
progesteron makin sedikit. Hal ini berhubungan dengan sifat estrogen yang merangsang
uterus untuk berkontraksi, sedangkan progesteron mencegah kontraksi uterus. Hormon
oksitosin yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis jugs berperan dalam merangsang
kontraksi uterus menjelang persalinan. Progesteron dan estrogen juga merangsang
pertumbuhan kelenjar air susu, tetapi setelah kelahiran hormon prolaktin yang dihasilkan
kelenjar hipoftsislah yang merangsang produksi air susu.

E. Kontrasepsi

Kontrasepsi adalah suatu cara yang bertujuan mencegah terjadinya pembuahan, terdapat
beberapa metode, antara lain:

a. Tanpa Alat Bantu

Dengan cara tidak melakukan koitus pada masa subur wanita (hari 12 – 16 siklus haid).
Cara ini dikenal dengan nama sistem kalender atau abstinensi.

b. Menggunakan Alat Bantu

Mencegah pertemuan ovum dengan spermatozoa, dapat dilakukan dengan berbagai alat
bantu, misalnya : kondom, spiral, jelly, dan lain-lain.

c. Sterilisasi

Sterilisasi dilakukan dengan mengikat/memotong saluran vas defereus dikenal dengan
istilah vasektomi, atau mengikat/memotong tuba fallopii dikenal dengan istilah
tubektomi.

Artikel lain yang mungkin berguna

•Kata Kata Bijak Tentang Cinta

•Rahasia Kecerdasan Orang Yahudi
•15persen
•Atasi masalah Kista dengan Hydroxygen Plus
•Kesehatan GIGI dan GUSI – Kenapa Begitu Penting Berkaca Pada Kasus Leysus

Incoming search terms for the article:

•reproduksi manusia
•artikel biologi
•SISTEM REPRODUKSI PADA MANUSIA
•biologi reproduksi
•CARA REPRODUKSI MAnusia
•makalah sistem reproduksi pada manusia doc
•artikel sistem reproduksi pada pria
•PROSES REPRODUKSI
•proses reproduksi manusia
•proses reproduksi pada manusi

Sistem Reproduksi Pada Manusia

Reproduksi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan yang baru.
Tujuannya adalah untuk mempertahankan jenisnya dan melestarikan jenis agar tidak
punah. Pada manusia untuk menghasilkan keturunan yang baru diawali dengan peristiwa
fertilisasi. Sehingga dengan demikian reproduksi pada manusia dilakukan dengan cara
generatif atau seksual.
Untuk dapat mengetahui reproduksi pada manusia, kita harus mengetahui terlebih dahulu
organ-organ kelamin yang terlibat serta proses yang berlangsung di dalamnya.
ORGAN REPRODUKSI MANUSIA
a. PRIA
Dibedakan menjadi organ kelamin luar dan organ kelamin dalam.
Organ reproduksi luar terdiri dari :

1.Penis merupakan organ kopulasi yaitu hubungan antara alat kelamin jantan dan
betina untuk memindahkan semen ke dalam organ reproduksi betina. Penis
diselimuti oleh selaput tipis yang nantinya akan dioperasi pada saat
dikhitan/sunat.
2.Scrotum merupakan selaput pembungkus testis yang merupakan pelindung testis
serta mengatur suhu yang sesuai bagi spermatozoa.
Organ reproduksi dalam terdiri dari :

1.

1.Testis merupakan kelenjar kelamin yang berjumlah sepasang dan akan
menghasilkan sel-sel sperma serta hormone testosterone. Dalam testis
banyak terdapat saluran halus yang disebut tubulus seminiferus.

2.Epididimis merupakan saluran panjang yang berkelok yang keluar dari
testis. Berfungsi untuk menyimpan sperma sementara dan mematangkan
sperma.

3.Vas deferens merupakan saluran panjang dan lurus yang mengarah ke atas
dan berujung di kelenjar prostat. Berfungsi untuk mengangkut sperma
menuju vesikula seminalis.
4.Saluran ejakulasi merupakan saluran yang pendek dana menghubungkan
vesikula seminalis dengan urethra.
5.Urethra merupakan saluran panjang terusan dari saluran ejakulasi dan
terdapat di penis.

Kelenjar pada organ reproduksi pria terdiri dari :

1.Vesikula seminalis merupakan tempat untuk menampung sperma sehingga
disebut dengan kantung semen, berjumlah sepasang. Menghasilkan getah
berwarna kekuningan yang kaya akan nutrisi bagi sperma dan bersifat alkali.
Berfungsi untuk menetralkan suasana asam dalam saluran reproduksi wanita.
2.Kelenjar Prostat merupakan kelenjar yang terbesar dan menghasilkan getah putih
yang bersifat asam.
3.Kelenjar Cowper’s/Cowpery/Bulbourethra merupakan kelenjar yang
menghasilkan getah berupa lender yang bersifat alkali. Berfungsi untuk
menetralkan suasana asam dalam saluran urethra.

b. WANITA
Dibedakana menjadi organ kelamin luar dan organ kelamin dalam.
Organ reproduksi luar terdiri dari :

1.Vagina merupakan saluran yang menghubungkan organ uterus dengan tubuh
bagian luar. Berfungsi sebagai organ kopulasi dan saluran persalinan
2.keluarnya bayi sehingga sering disebut dengan liang peranakan. Di dalam vagina
ditemukan selaput dara. Vulva merupakan suatu celah yang terdapat di bagian
luar dan terbagi menjadi 2 bagian yaitu :

oLabium mayor merupakan sepasang bibir besar yang terletak di bagian
luas dan membatasi vulva.
oLabium minor merupakan sepasang bibir kecil yang terletak di bagian
dalam dan membatasi vulva

Organ reproduksi dalam terdiri dari :

1. Ovarium merupakan organ utama pada wanita. Berjumlah sepasang dan terletak di
dalam rongga perut pada daerah pinggang sebelah kiri dan kanan. Berfungsi untuk
menghasilkan sel ovum dan hormon wanita seperti :

Estrogen yang berfungsi untuk mempertahankan sifat sekunder pada wanita, serta juga
membantu dalam prosers pematangan sel ovum.

Progesterone yang berfungsi dalam memelihara masa kehamilan.

2. Fimbriae merupakan serabut/silia lembut yang terdapat di bagian pangkal ovarium
berdekatan dengan ujung saluran oviduct. Berfungsi untuk menangkap sel ovum yang
telah matang yang dikeluarkan oleh ovarium.

3. Infundibulum merupakan bagian ujung oviduct yang berbentuk corong/membesar dan
berdekatan dengan fimbriae. Berfungsi menampung sel ovum yang telah ditangkap oleh
fimbriae.

4. Tuba fallopi merupakan saluran memanjang setelah infundibulum yang bertugas
sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan bantuan silia
pada dindingnya.

5. Oviduct merupakan saluran panjang kelanjutan dari tuba fallopi. Berfungsi sebagai
tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan bantuan silia pada
dindingnya.

6. Uterus merupakan organ yang berongga dan berotot. Berbentuk seperti buah pir
dengan bagian bawah yang mengecil. Berfungsi sebagai tempat pertumbuhan embrio.
Tipe uterus pada manusia adalah simpleks yaitu dengan satu ruangan yang hanya untuk
satu janin. Uterus mempunyai 3 macam lapisan dinding yaitu :

Perimetrium yaitu lapisanyang terluar yang berfungsi sebagai pelindung uterus.

Miometrium yaitu lapisan yang kaya akan sel otot dan berfungsi untuk kontraksi dan
relaksasi uterus dengan melebar dan kembali ke bentuk semula setiap bulannya.

Endometrium merupakan lapisan terdalam yang kaya akan sel darah merah. Bila tidak
terjadi pembuahanmaka dinding endometrium inilah yang akan meluruh bersamaan
dengan sel ovum matang.

7. Cervix merupakan bagian dasar dari uterus yang bentuknya menyempit sehingga
disebut juga sebagai leher rahim. Menghubungkan uterus dengan saluran vagina dan
sebagai jalan keluarnya janin dari uterus menuju saluran vagina.

8. Saluran vagina merupakan saluran lanjutan dari cervic dan sampai pada vagina.

9. Klitoris merupakan tonjolan kecil yang terletak di depan vulva. Sering disebut dengan
klentit.

SISTEM REPRODUKSI PADA MANUSIA

Secara umum cara perkembangbiakan makhluk hidup dapat
digolongkan menjadi reporduksi seksual (perkembanganbiakan
vegetatif
) dan reproduksi seksual (perkembangbiakan generatif).
Reproduksi merupakan proses terbentuknya individu baru. Manusia
tergolong makhuk hidup yang yang melakukan reproduksi seksual.
Oleh karena itu, dalam melakukan perkembangbiakan melibatkan dua
induk (orang tua) yang masing-masing mempunai alat reproduksi
yang mendukung proses perkembanganbiakan tersebut.

Reproduksi merupaka proses terbentuknya individu baru.
Reproduksi bertujuan untuk melestarikan spesies agar tidak punah.
Reproduksi pada manusia tergolong reproduksi seksual. Sistem
reproduksi manusia melibatkan induk jantan dan induk betina. Dalam
sistem reporduksi manusia, tiap-tiap induk mempunyai organ

Sistem reproduksi wanita meliputi organ reproduksi, oogenesis, hormon pada wanita,
fertilisasi, kehamilan, persalinan dan laktasi.

1.Organ Reproduksi

Organ reproduksi wanita terdiri dari organ reproduksi dalam dan organ reproduksi luar.

Organ reproduksi dalam

Organ reproduksi dalam wanita terdiri dari ovarium dan saluran reproduksi (saluran
kelamin).

Ovarium

Ovarium (indung telur) berjumlah sepasang, berbentuk oval dengan panjang 3 – 4 cm.
Ovarium berada di dalam rongga badan, di daerah pinggang. Umumnya setiap ovarium
menghasilkan ovum setiap 28 hari. Ovum yang dihasilkan ovarium akan bergerak ke
saluran reproduksi.
Fungsi ovarium yakni menghasilkan ovum (sel telur) serta hormon estrogen dan
progesteron.

Saluran reproduksi

Saluran reproduksi (saluran kelamin) terdiri dari oviduk, uterus dan vagina.

Oviduk

Oviduk (tuba falopii) atau saluran telur berjumlah sepasang (di kanan dan kiri ovarium)
dengan panjang sekitar 10 cm. Bagian pangkal oviduk berbentuk corong yang disebut
infundibulum. Pada infundibulum terdapat jumbai-jumbai (fimbrae). Fimbrae berfungsi
menangkap ovum yang dilepaskan oleh ovarium. Ovum yang ditangkap oleh
infundibulum akan masuk ke oviduk. Oviduk berfungsi untuk menyalurkan ovum dari

ovarium menuju uterus.

Uterus

Uterus (kantung peranakan) atau rahim merupakan rongga pertemuan oviduk kanan dan
kiri yang berbentuk seperti buah pir dan bagian bawahnya mengecil yang disebut serviks
(leher rahim). Uterus manusia berfungsi sebagai tempat perkembangan zigot apabila
terjadi fertilisasi. Uterus terdiri dari dinding berupa lapisan jaringan yang tersusun dari
beberapa lapis otot polos dan lapisan endometrium. Lapisan endometrium (dinding
rahim) tersusun dari sel-sel epitel dan membatasi uterus. Lapisan endometrium
menghasilkan banyak lendir dan pembuluh darah. Lapisan endometrium akan menebal
pada saat ovulasi (pelepasan ovum dari ovarium) dan akan meluruh pada saat menstruasi.

Vagina

Vagina merupakan saluran akhir dari saluran reproduksi bagian dalam pada wanita.
Vagina bermuara pada vulva. Vagina memiliki dinding yang berlipat-lipat dengan bagian
terluar berupa selaput berlendir, bagian tengah berupa lapisan otot dan bagian terdalam
berupa jaringan ikat berserat. Selaput berlendir (membran mukosa) menghasilkan lendir
pada saat terjadi rangsangan seksual. Lendir tersebut dihasilkan oleh kelenjar Bartholin.
Jaringan otot dan jaringan ikat berserat bersifat elastis yang berperan untuk melebarkan
uterus saat janin akan dilahirkan dan akan kembali ke kondisi semula setelah janin
dikeluarkan.

Organ reproduksi luar

Organ reproduksi luar pada wanita berupa vulva. Vulva merupakan celah paling luar dari
organ kelamin wanita. Vulva terdiri dari mons pubis. Mons pubis (mons veneris)
merupakan daerah atas dan terluar dari vulva yang banyak menandung jaringan lemak.
Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi oleh rambut. Di bawah mons pubis
terdapat lipatan labium mayor (bibir besar) yang berjumlah sepasang. Di dalam labium
mayor terdapat lipatan labium minor (bibir kecil) yang juga berjumlah sepasang. Labium
mayor dan labium minor berfungsi untuk melindungi vagina. Gabungan labium mayor
dan labium minor pada bagian atas labium membentuk tonjolan kecil yang disebut
klitoris.
Klitoris merupakan organ erektil yang dapat disamakan dengan penis pada pria.
Meskipun klitoris secara struktural tidak sama persis dengan penis, namun klitoris juga
mengandung korpus kavernosa. Pada klitoris terdapat banyak pembuluh darah dan ujung-
ujung saraf perasa.
Pada vulva bermuara dua saluran, yaitu saluran uretra (saluran kencing) dan saluran
kelamin (vagina). Pada daerah dekat saluran ujung vagina terdapat himen atau selaput
dara. Himen merupakan selaput mukosa yang banyak mengandung pembuluh darah.

2.Oogenesis

Oogenesis merupakan proses pembentukan ovum di dalam ovarium. Di dalam ovarium
terdapat oogonium (oogonia = jamak) atau sel indung telur. Oogonium bersifat diploid
dengan 46 kromosom atau 23 pasang kromosom. Oogonium akan memperbanyak diri
dengan cara mitosis membentuk oosit primer.
Oogenesis telah dimulai saat bayi perempuan masih di dalam kandungan, yaitu pada saat
bayi berusia sekitar 5 bulan dalam kandungan. Pada saat bayi perempuan berumur 6
bulan, oosit primer akan membelah secara meiosis. Namun, meiosis tahap pertama pada

oosit primer ini tidak dilanjutkan sampai bayi perempuan tumbuh menjadi anak
perempuan yang mengalami pubertas. Oosit primer tersebut berada dalam keadaan
istirahat (dorman).
Pada saat bayi perempuan lahir, di dalam setiap ovariumnya mengandung sekitar 1 juta
oosit primer. Ketika mencapai pubertas, anak perempuan hanya memiliki sekitar 200 ribu
oosit primer saja. Sedangkan oosit lainnya mengalami degenerasi selama
pertumbuhannya.
Saat memasuki masa pubertas, anak perempuan akan mengalami perubahan hormon yang
menyebabkan oosit primer melanjutkan meiosis tahap pertamanya. Oosit yang
mengalami meiosis I akan menghasilkan dua sel yang tidak sama ukurannya. Sel oosit
pertama merupaakn oosit yang berukuran normal (besar) yang disebut oosit sekunder,
sedangkan sel yang berukuran lebih kecil disebut badan polar pertama (polosit primer).
Selanjutnya , oosit sekunder meneruskan tahap meiosis II (meiosis kedua). Namun pada
meiosis II, oosit sekunder tidak langsung diselesaikan sampai tahap akhir, melainkan
berhenti sampai terjadi ovulasi. Jika tidak terjadi fertilisasi, oosit sekunder akan
mengalami degenerasi. Namun jika ada sperma masuk ke oviduk, meiosis II pada oosit
sekunder akan dilanjutkan kembali. Akhirnya, meiosis II pada oosit sekunder akan
menghasilkan satu sel besar yang disebut ootid dan satu sel kecil yang disebut badan
polar kedua (polosit sekunder). Badan polar pertama juga membelah menjadi dua badan
polar kedua. Akhirnya, ada tiga badan polar dan satu ootid yang akan tumbuh menjadi
ovum dari oogenesis setiap satu oogonium.
Oosit dalam oogonium berada di dalam suatu folikel telur. Folikel telur (folikel)
merupakan sel pembungkus penuh cairan yang menglilingi ovum. Folikel berfungsi
untuk menyediakan sumber makanan bagi oosit. Folikel juga mengalami perubahan
seiring dengan perubahan oosit primer menjadi oosit sekunder hingga terjadi ovulasi.
Folikel primer muncul pertama kali untuk menyelubungi oosit primer. Selama tahap
meiosis I pada oosit primer, folikel primer berkembang menjadi folikel sekunder. Pada
saat terbentuk oosit sekunder, folikel sekunder berkembang menjadi folikel tersier. Pada
masa ovulasi, folikel tersier berkembang menjadi folikel de Graaf (folikel matang).
Setelah oosit sekunder lepas dari folikel, folikel akan berubah menjadi korpus luteum.
Jika tidak terjaid fertilisasi, korpus luteum akan mengkerut menjadi korpus albikan.

3.Hormon pada Wanita

Pada wanita, peran hormon dalam perkembangan oogenesis dan perkembangan
reproduksi jauh lebih kompleks dibandingkan pada pria. Salah satu peran hormon pada
wanita dalam proses reproduksi adalah dalam siklus menstruasi.

Siklus menstruasi

Menstruasi (haid) adalah pendarahan secara periodik dan siklik dari uterus yang disertai
pelepasan endometrium. Menstruasi terjadi jika ovum tidak dibuahi oleh sperma. Siklus
menstruasi sekitar 28 hari. Pelepasan ovum yang berupa oosit sekunder dari ovarium
disebut ovulasi, yang berkaitan dengan adanya kerjasama antara hipotalamus dan
ovarium. Hasil kerjasama tersebut akan memacu pengeluaran hormon-hormon yang
mempengaruhi mekanisme siklus menstruasi.
Untuk mempermudah penjelasan mengenai siklus menstruasi, patokannya adalah adanya
peristiwa yang sangat penting, yaitu ovulasi. Ovulasi terjadi pada pertengahan siklus (½
n) menstruasi. Untuk periode atau siklus hari pertama menstruasi, ovulasi terjadi pada

hari ke-14 terhitung sejak hari pertama menstruasi. Siklus menstruasi dikelompokkan
menjadi empat fase, yaitu fase menstruasi, fase pra-ovulasi, fase ovulasi, fase pasca-
ovulasi.

Fase menstruasi

Fase menstruasi terjadi bila ovum tidak dibuahi oleh sperma, sehingga korpus luteum
akan menghentikan produksi hormon estrogen dan progesteron. Turunnya kadar estrogen
dan progesteron menyebabkan lepasnya ovum dari dinding uterus yang menebal
(endometrium). Lepasnya ovum tersebut menyebabkan endometrium sobek atau meluruh,
sehingga dindingnya menjadi tipis. Peluruhan pada endometrium yang mengandung
pembuluh darah menyebabkan terjadinya pendarahan pada fase menstruasi. Pendarahan
ini biasanya berlangsung selama lima hari. Volume darah yang dikeluarkan rata-rata
sekitar 50mL.

Fase pra-ovulasi

Pada fase pra-ovulasi atau akhir siklus menstruasi, hipotalamus mengeluarkan hormon
gonadotropin. Gonadotropin merangsang hipofisis untuk mengeluarkan FSH. Adanya
FSH merangsang pembentukan folikel primer di dalam ovarium yang mengelilingi satu
oosit primer. Folikel primer dan oosit primer akan tumbuh sampai hari ke-14 hingga
folikel menjadi matang atau disebut folikel de Graaf dengan ovum di dalamnya. Selama
pertumbuhannya, folikel juga melepaskan hormon estrogen. Adanya estrogen
menyebabkan pembentukan kembali (proliferasi) sel-sel penyusun dinding dalam uterus
dan endometrium. Peningkatan konsentrasi estrogen selama pertumbuhan folikel juga
mempengaruhi serviks untuk mengeluarkan lendir yang bersifta basa. Lendir yang
bersifat basa berguna untuk menetralkan sifat asam pada serviks agar lebih mendukung
lingkungan hidup sperma.

Fase ovulasi

Pada saat mendekati fase ovulasi atau mendekati hari ke-14 terjadi perubahan produksi
hormon. Peningkatan kadar estrogen selama fase pra-ovulasi menyebabkan reaksi umpan
balik negatif atau penghambatan terhadap pelepasan FSH lebih lanjut dari hipofisis.
Penurunan konsentrasi FSH menyebabkan hipofisis melepaskan LH. LH merangsang
pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf. Pada saat inilah disebut ovulasi, yaitu saat
terjadi pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf dan siap dibuahi oleh sperma.
Umunya ovulasi terjadi pada hari ke-14.

Fase pasca-ovulasi

Pada fase pasca-ovulasi, folikel de Graaf yang ditinggalkan oleh oosit sekunder karena
pengaruh LH dan FSH akan berkerut dan berubah menjadi korpus luteum. Korpus luteum
tetap memproduksi estrogen (namun tidak sebanyak folikel de Graaf memproduksi
estrogen) dan hormon lainnya, yaitu progesteron. Progesteron mendukung kerja estrogen
dengan menebalkan dinding dalam uterus atau endometrium dan menumbuhkan
pembuluh-pembuluh darah pada endometrium. Progesteron juga merangsang sekresi
lendir pada vagina dan pertumbuhan kelenjar susu pada payudara. Keseluruhan fungsi
progesteron (juga estrogen) tersebut berguna untuk menyiapkan penanaman (implantasi)
zigot pada uterus bila terjadi pembuahan atau kehamilan.

Proses pasca-ovulasi ini berlangsung dari hari ke-15 sampai hari ke-28. Namun, bila
sekitar hari ke-26 tidak terjadi pembuahan, korpus luteum akan berubah menjadi korpus
albikan. Korpus albikan memiliki kemampuan produksi estrogen dan progesteron yang
rendah, sehingga konsentrasi estrogen dan progesteron akan menurun. Pada kondisi ini,
hipofisis menjadi aktif untuk melepaskan FSH dan selanjutnya LH, sehingga fase pasca-
ovulasi akan tersambung kembali dengan fase menstruasi berikutnya.

4.Fertilisasi

Fertilisasi atau pembuahan terjadi saat oosit sekunder yang mengandung ovum dibuahi
oleh sperma. Fertilisasi umumnya terjadi segera setelah oosit sekunder memasuki oviduk.
Namun, sebelum sperma dapat memasuki oosit sekunder, pertama-tama sperma harus
menembus berlapis-lapis sel granulosa yang melekat di sisi luar oosit sekunder yang
disebut korona radiata. Kemudian, sperma juga harus menembus lapisan sesudah korona
radiata, yaitu zona pelusida. Zona pelusida merupakan lapisan di sebelah dalam korona
radiata, berupa glikoprotein yang membungkus oosit sekunder.
Sperma dapat menembus oosit sekunder karena baik sperma maupun oosit sekunder
saling mengeluarkan enzim dan atau senyawa tertentu, sehingga terjadi aktivitas yang
saling mendukung.
Pada sperma, bagian kromosom mengeluarkan:
hialuronidase
Enzim yang dapat melarutkan senyawa hialuronid pada korona radiata.

akrosin

Protease yang dapat menghancurkan glikoprotein pada zona pelusida.

antifertilizin

Antigen terhadap oosit sekunder sehingga sperma dapat melekat pada oosit sekunder.
Oosit sekunder juga mengeluarkan senyawa tertentu, yaitu fertilizin yang tersusun dari
glikoprotein dengan fungsi :

•Mengaktifkan sperma agar bergerak lebih cepat.
•Menarik sperma secara kemotaksis positif.
•Mengumpulkan sperma di sekeliling oosit sekunder.

Pada saat satu sperma menembus oosit sekunder, sel-sel granulosit di bagian korteks
oosit sekunder mengeluarkan senyawa tertentu yang menyebabkan zona pelusida tidak
dapat ditembus oleh sperma lainnya. Adanya penetrasi sperma juga merangsang
penyelesaian meiosis II pada inti oosit sekunder , sehingga dari seluruh proses meiosis I
sampai penyelesaian meiosis II dihasilkan tiga badan polar dan satu ovum yang disebut
inti oosit sekunder.
Segera setelah sperma memasuki oosit sekunder, inti (nukleus) pada kepala sperma akan
membesar. Sebaliknya, ekor sperma akan berdegenerasi. Kemudian, inti sperma yang
mengandung 23 kromosom (haploid) dengan ovum yang mengandung 23 kromosom
(haploid) akan bersatu menghasilkan zigot dengan 23 pasang kromosom (2n) atau 46
kromosom.

5.Gestasi (Kehamilan)

Zigot akan ditanam (diimplantasikan) pada endometrium uterus. Dalam perjalannya ke

uterus, zigot membelah secara mitosis berkali-kali. Hasil pembelahan tersebut berupa
sekelompok sel yang sama besarnya, dengan bentuk seperti buah arbei yang disebut tahap
morula.
Morula akan terus membelah sampai terbentuk blastosit. Tahap ini disebut blastula,
dengan rongga di dalamnya yang disebut blastocoel (blastosol). Blastosit terdiri dari sel-
sel bagian luar dan sel-sel bagian dalam.

Sel-sel bagian luar blastosit

Sel-sel bagian luar blastosit merupakan sel-sel trofoblas yang akan membantu implantasi
blastosit pada uterus. Sel-sel trofoblas membentuk tonjolan-tonjolan ke arah
endometrium yang berfungsi sebagai kait. Sel-sel trofoblas juga mensekresikan enzim
proteolitik yang berfungsi untuk mencerna serta mencairkan sel-sel endometrium. Cairan
dan nutrien tersebut kemudian dilepaskan dan ditranspor secara aktif oleh sel-sel
trofoblas agar zigot berkembang lebih lanjut. Kemudian, trofoblas beserta sel-sel lain di
bawahnya akan membelah (berproliferasi) dengan cepat membentuk plasenta dan
berbagai membran kehamilan.
Berbagai macam membran kehamilan berfungsi untuk membantu proses transportasi,
respirasi, ekskresi dan fungsi-fungsi penting lainnya selama embrio hidup dalam uterus.
Selain itu, adanya lapisan-lapisan membran melindungi embrio terhadap tekanan mekanis
dari luar, termasuk kekeringan.

Sakus vitelinus

Sakus vitelinus (kantung telur) adalah membran berbentuk kantung yang pertama kali
dibentuk dari perluasan lapisan endoderm (lapisan terdalam pada blastosit). Sakus
vitelinus merupakan tempat pembentukan sel-sel darah dan pembuluh-pembuluh darah
pertama embrio. Sakus vitelinus berinteraksi dengan trofoblas membentuk korion.

Korion

Korion merupakan membran terluar yang tumbuh melingkupi embrio. Korion
membentuk vili korion (jonjot-jonjot) di dalam endometrium. Vili korion berisi
pembuluh darah emrbrio yang berhubungan dengan pembuluh darah ibu yang banyak
terdapat di dalam endometrium uterus. Korion dengan jaringan endometrium uterus
membentuk plasenta, yang merupakan organ pemberi nutrisi bagi embrio.

Amnion

Amnion merupakan membran yang langsung melingkupi embrio dalam satu ruang yang
berisi cairan amnion (ketuban). Cairan amnion dihasilkan oleh membran amnion. Cairan
amnion berfungsi untuk menjaga embrio agar dapat bergerak dengan bebas, juga
melindungi embrio dari perubahan suhu yang drastis serta guncangan dari luar.
Alantois
Alantois merupakan membran pembentuk tali pusar (ari-ari). Tali pusar menghubungkan
embrio dengan plasenta pada endometrium uterus ibu. Di dalam alantois terdapat
pembuluh darah yang menyalurkan zat-zat makanan dan oksigen dari ibu dan
mengeluarkan sisa metabolisme, seperti karbon dioksida dan urea untuk dibuang oleh
ibu.

Sel-sel bagian dalam blastosit

Sel-sel bagian dalam blastosit akan berkembang menjadi bakal embrio (embrioblas).
Pada embrioblas terdapat lapisan jaringan dasar yang terdiri dari lapisan luar (ektoderm)
dan lapisan dalam (endoderm). Permukaan ektoderm melekuk ke dalam sehingga
membentuk lapisan tengah (mesoderm). Selanjutnya, ketiga lapisan tersebut akan
berkembang menjadi berbagai organ (organogenesis) pada minggu ke-4 sampai minggu
ke-8.
Ektoderm akan membentuk saraf, mata, kulit dan hidung. Mesoderm akan membentuk
tulang, otot, jantung, pembuluh darah, ginjal, limpa dan kelenjar kelamin. Endoderm
akan membentuk organ-organ yang berhubungan langsung dengan sistem pencernaan dan
pernapasan.
Selanjutnya, mulai minggu ke-9 sampai beberapa saat sebelum kelahiran, terjadi
penyempurnaan berbagai organ dan pertumbuhan tubuh yang pesat. Masa ini disebut
masa janin atau masa fetus.

6.Persalinan

Persalinan merupakan proses kelahiran bayi. Pada persalinan, uterus secara perlahan
menjadi lebih peka sampai akhirnya berkontraksi secara berkala hingga bayi dilahirkan.
Penyebab peningkatan kepekaan dan aktifitas uterus sehingga terjadi kontraksi yang
dipengaruhi faktor-faktor hormonal dan faktor-faktor mekanis.
Hormon-hormon yang berpengaruh terhadap kontraksi uterus, yaitu estrogen, oksitosin,
prostaglandin dan relaksin.

Estrogen

Estrogen dihasilkan oleh plasenta yang konsentrasinya meningkat pada saat persalinan.
Estrogen berfungsi untuk kontraksi uterus.

Oksitosin

Oksitosin dihasilkan oleh hipofisis ibu dan janin. Oksitosin berfungsi untuk kontraksi
uterus.

Prostaglandin

Prostaglandin dihasilkan oleh membran pada janin. Prostaglandin berfungsi untuk
meningkatkan intensitas kontraksi uterus.

Relaksin

Relaksin dihasilkan oleh korpus luteum pada ovarium dan plasenta. Relaksin berfungsi
untuk relaksasi atau melunakkan serviks dan melonggarkan tulang panggul sehingga
mempermudah persalinan.

7.Laktasi

Kelangsungan bayi yang baru lahir bergantung pada persediaan susu dari ibu. Produksi
air susu (laktasi) berasal dari sepasang kelenjar susu (payudara) ibu. Sebelum kehamilan,
payudara hanya terdiri dari jaringan adiposa (jaringan lemak) serta suatu sistem berupa
kelenjar susu dan saluran-saluran kelenjar (duktus kelenjar) yang belum berkembang.
Pada masa kehamilan, pertumbuhan awal kelenjar susu dirancang oleh mammotropin.
Mammotropin merupakan hormon yang dihasilkan dari hipofisis ibu dan plasenta janin.

Selain mammotropin, ada juga sejumlah besar estrogen dan progesteron yang dikeluarkan
oleh plasenta, sehingga sistem saluran-saluran kelenjar payudara tumbuh dan bercabang.
Secara bersamaan kelenjar payudara dan jaringan lemak disekitarnya juga bertambah
besar. Walaupun estrogen dan progesteron penting untuk perkembangan fisik kelenjar
payudara selama kehamilan, pengaruh khusus dari kedua hormon ini adalah untuk
mencegah sekresi dari air susu. Sebaliknya, hormon prolaktin memiliki efek yang
berlawanan, yaitu meningkatkan sekresi air susu. Hormon ini disekresikan oleh kelenjar
hipofisis ibu dan konsentrasinya dalam darah ibu meningkat dari minggu ke-5 kehamilan
sampai kelahiran bayi. Selain itu, plasenta mensekresi sejumlah besar somatomamotropin
korion manusia, yang juga memiliki sifat laktogenik ringan, sehingga menyokong
prolaktin dari hipofisis ibu.

Gangguan pada Sistem Reproduksi Wanita

Gangguan menstruasi

Gangguan menstruasi pada wanita dibedakan menjadi dua jenis, yaitu amenore primer
dan amenore sekunder. Amenore primer adalah tidak terjadinya menstruasi sampai usia
17 tahun dengan atau tanpa perkembangan seksual. Amenore sekunder adalah tidak
terjadinya menstruasi selama 3 – 6 bulan atau lebih pada orang yang tengah mengalami
siklus menstruasi.

Kanker genitalia

Kanker genitalia pada wanita dapat terjadi pada vagina, serviks dan ovarium.

Kanker vagina

Kanker vagina tidak diketahui penyebabnya tetapi kemungkinan terjadi karena iritasi
yang diantaranya disebabkan oleh virus. Pengobatannya antara lain dengan kemoterapi
dan bedah laser.

Kanker serviks

Kanker serviks adalah keadaan dimana sel-sel abnormal tumbuh di seluruh lapisan epitel
serviks. Penanganannya dilakukan dengan mengangkat uterus, oviduk, ovarium, sepertiga
bagian atas vagina dan kelenjar limfe panggul.

Kanker ovarium

Kanker ovarium memiliki gejala yang tidak jelas. Dapat berupa rasa berat pada panggul,
perubahan fungsi saluran pencernaan atau mengalami pendarahan vagina abnormal.
Penanganan dapat dilakukan dengan pembedahan dan kemoterapi.

Endometriosis

Endometriosis adalah keadaan dimana jaringan endometrium terdapat di luar uterus, yaitu
dapat tumbuh di sekitar ovarium, oviduk atau jauh di luar uterus, misalnya di paru-paru.
Gejala endometriosis berupa nyeri perut, pinggang terasa sakit dan nyeri pada masa
menstruasi. Jika tidak ditangani, endometriosis dapat menyebabkan sulit terjadi
kehamilan. Penanganannya dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan, laparoskopi
atau bedah laser.

Infeksi vagina
Gejala awal infeksi vagina berupa keputihan dan timbul gatal-gatal. Infeksi vagina
menyerang wanita usia produktif. Penyebabnya antara lain akibat hubungan kelamin,
terutama bila suami terkena infeksi, jamur atau bakteri.

Komentar (22)

Kelamin

Penyakit kelamin adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh kuman yang ditularkan
melalui hubungan seks oral maupun melalui hubungan kelamin. Jenisnya bermacam-
macam, dari gonorhea, sifilis, herpes, HIV/AIDS, dll.

Sebagian penyakit kelamin sudah dapat disembuhkan, namun untuk penyakit-penyakit
tertentu seperti HIV/AIDS sampai kini belum ditemukan obatnya.

Penularan penyakit kelamin dapat dihindari dengan jalan menghindari hubungan kelamin
secara sembarangan (seks bebas), dengan setia kepada satu orang pasangan saja, atau
dengan menggunakan alat-alat pencegahan seperti kondom.

Penyakit kelamin tertentu dapat disembuhkan dengan pengobatan yang teratur, misalnya
dengan antibiotika. Namun demikian, mutasi kuman dapat menghasilkan kuman-kuman
yang kebal terhadap pengobatan yang diberikan, sehingga kemudian malah muncul
varian yang lebih ganas seperti misalnya Vietnam rose yang muncul di masa Perang
Vietnam.

HIV/AIDS dapat pula ditulari melalui penggunaan jarum suntik yang telah tercemar oleh
kuman HIV/AIDS, misalnya seperti yang sering dilakukan oleh para pemakai obat bius.
Sampai sekarang HIV/AIDS belum dapat disembuhkan. Obat-obatan yang diberikan
kepada penderita HIV sampai sekarang baru mampu memperpanjang hidup si pasien.

[sunting] Pranala luar:

Berhubungan seks dengan gonta-ganti pasangan dan ketidaktahuan dalam menjaga
kesehatan alat kelamin hingga tidak mengerti mengenai melakukan hubungan seks yang
aman adalah faktor yang utama penyebab terjadinya penyakit kelamin. Berikut ini jenis-
jenis penyakit kelamin yang harus anda waspadai :

Gonorrhea & Chlamydia

•Disebabkan oleh bakteri. Infeksi dimulai beberapa hari sampai beberapa minggu
setelah hubungan intim dengan orang yang terjangkit penyakit ini.

•Pada pria, penyakit ini menyebabkan keluarnya cairan dari kemaluan pria. Buang
air kecil dapat terasa sakit. Gejala-gejala ini dapat terasa berat atau tidak terasa
sama sekali.
•Gejala-gejala gonorrhea pada wanita biasanya sangat ringan atau tidak terasa
sama sekali, tetapi kalau tidak diobati penyakit ini dapat menjadi parah dan
menyebabkan kemandulan.
•Penyakit ini dapat disembuhkan dengan antibiotik bila ditangani secara dini.

Herpes

•Disebabkan oleh virus, dapat diobati tetapi tidak dapat disembuhkan.
•Gejala timbul antara 3 sampai 10 hari setelah berhubungan intim dengan
penderita penyakit ini.
•Gejala awal muncul seperti lecet yang kemudian terbuka menjadi lubang kecil
dan berair.
•Dalam 5 sampai 10 hari gejala hilang.
•Virus menetap dalam tubuh dan dapat timbul lagi sesuatu saat, dan kadang-
kadang sering.
•Wanita kerap kali tidak sadar bahwa ia menderita herpes karena lecet terjadi di
dalam vagina.

Infeksi Jamur

•Disebabkan oleh jamur.
•Menyebabkan kegatalan berwarna merah di bawah kulit pria yang tidak disunat.
•Pada wanita akan ke luar cairan putih kental yang menyebabkan rasa gatal.
•Dapat disembuhkan dengan krim anti jamur.

Syphilis

•Disebabkan oleh bakteria. Lesi muncul antara 3 minggu sampai 3 bulan setelah
berhubungan intim dengan penderita penyakit ini.
•Luka terlihat seperti lubang pada kulit dengan tepi yang lebih tinggi. Pada
umumnya tidak terasa sakit.
•Luka akan hilang setelah beberapa minggu, tetapi virus akan menetap pada tubuh
dan penyakit dapat muncul berupa lecet-lecet pada seluruh tubuh. Lecet-lecet ini
akan hilang juga, dan virus akan menyerang bagiantubuh lain.
•Syphilis dapat disembuhkan pada tiap tahapan dengan penicillin.
•Pada wanita lesi dapat tersembunyi pada vagina.

Vaginitis

•Infeksi pada vagina yang biasanya menyebabkan keluarnya cairan dari vagina
yang berbau dan menimbulkan ketidak nyamanan.
•Disebabkan oleh berbagai jenis bakteri (bakteri gonorrhea, chlamydia) atau jamur.
•Juga dapat disebabkan oleh berbagai bakteri tidak berbahaya yang memang
menetap pada vagina.
•Dapat diselidiki dengan meneliti cairan vagina tersebut dengan mikroskop.
•Pada umumnya dapat disembuhkan dengan obat yang tepat sesuai dengan
penyebabnya.

Bisul Pada Alat Kelamin atau HPV

•Disebabkan oleh virus (Virus Human Papilloma atau HPV)
•Muncul berupa satu atau banyak bisul atau benjolan antara sebulan sampai
setahun setelah berhubungan intim dengan penderita penyakit tersebut.
•Pada umumnya tidak dapat terlihat pada wanita karena terletak di dalam vagina,
atau pada pria karena terlalu kecil. Dapat diuji dengan lapisan cuka.
•Dapat berakibat serius pada wanita karena dapat menyebabkan kanker cervix.
•Bisul pada kelamin ini dapat disembuhkan, wanita harus menjalankan pap smear
setiap kali berganti pasangan intim.

Kutu Kelamin

•Sangat kecil (lebih kecil atau sama dengan 1/8 inch), berwana kelabu kecoklatan,
menetap pada rambut kemaluan.
•Dapat disembuhkan dengan obat cair yang digosokkan pada rambut kelamin.

Kutu Di Bawah Kulit

•Mirip dengan kutu kelamin, tetapi ukurannya lebih kecil dan menetap di bawah

kulit.
•Menyebabkan luka-luka kecil dan gatal di seluruh tubuh.
•Diobati dengan obat cair yang diusapkan ke seluruh tubuh.
•Pakaian, seprei dan handuk harus dicuci setelah pengobatan, karena kutu dapat
menetap pada kain-kain tersebut.

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)/HIV Disease

•Penyakit akibat hubungan intim yang paling serius, menyebabkan tidak
bekerjanya sistim kekebalan tubuh.
•Tidak ada gejala yang nyata tanpa penelitian darah.
•Dapat menyebabkan kematian setelah sepukuh tahun setelah terinfeksi virus HIV,
tetapi pengobatan telah ditemukan.

Disebarkan melalui hubungan intim dan pemakaian jarum suntik secara Jenis penyakit
yang diderita oleh manusia sangat beragam. Ada penyakit yang disebabkan dari dalam
tubuh manusia maupun dari luar tubuh manusia seperti kegagalan fungsi organ tubuh,
bakteri, kuman, racun, virus, jamur, atau keturunan.

Mengapa kita harus mengetahui berbagai jenis penyakit?

Mengetahui berbagai jenis penyakit sangat penting bagi kita agar dapat mencegah
timbulnya penyakit atau dapat segera mengantisipasi ketika melihat gejala-gejala atau
pun menderita penyakit tertentu. Selain itu, sebaiknya, kita pun mengenal sebab-sebab
timbulnya penyakit dan juga gejala-gejala yang tampak saat terjangkit suatu penyakit.

Jenis penyakit terdiri dari:

1. Jenis penyakit kronis

Jenis penyakit yang terjangkit dalam tubuh manusia dalam kurun waktu yang sangat lama
bahkan dapat mengakibatkan kematian, diantaranya:

•AIDS
•Kanker
•Jantung

2. Jenis penyakit langka

Penderita penyakit ini masih dibilang sedikit, kurang lebih sekitar seratus ribu atau 0,5%
dari seluruh penduduk dunia. Pada masa sekarang, penyakit langka ini masih sangat sulit
memperoleh obat atau pengobatannya. Penyakit-penyakit tersebut, antara lain :

•Asidosis tubulus renalis
•Citrulinemia Fabry disease
•Morquio, kekurangan enzim lisosom tertentu
•Multiple sclerosis (MS).

•bersamaan..

Berhubungan seks dengan gonta-ganti pasangan dan ketidaktahuan dalam menjaga
kesehatan alat kelamin hingga tidak mengerti mengenai melakukan hubungan seks yang
aman adalah faktor yang utama penyebab terjadinya penyakit kelamin. Berikut ini jenis-
jenis penyakit kelamin yang harus anda waspadai :

Gonorrhea & Chlamydia

•Disebabkan oleh bakteri. Infeksi dimulai beberapa hari sampai beberapa minggu
setelah hubungan intim dengan orang yang terjangkit penyakit ini.
•Pada pria, penyakit ini menyebabkan keluarnya cairan dari kemaluan pria. Buang
air kecil dapat terasa sakit. Gejala-gejala ini dapat terasa berat atau tidak terasa
sama sekali.
•Gejala-gejala gonorrhea pada wanita biasanya sangat ringan atau tidak terasa
sama sekali, tetapi kalau tidak diobati penyakit ini dapat menjadi parah dan
menyebabkan kemandulan.
•Penyakit ini dapat disembuhkan dengan antibiotik bila ditangani secara dini.

Herpes

•Disebabkan oleh virus, dapat diobati tetapi tidak dapat disembuhkan.
•Gejala timbul antara 3 sampai 10 hari setelah berhubungan intim dengan
penderita penyakit ini.
•Gejala awal muncul seperti lecet yang kemudian terbuka menjadi lubang kecil
dan berair.
•Dalam 5 sampai 10 hari gejala hilang.
•Virus menetap dalam tubuh dan dapat timbul lagi sesuatu saat, dan kadang-
kadang sering.
•Wanita kerap kali tidak sadar bahwa ia menderita herpes karena lecet terjadi di
dalam vagina.

Infeksi Jamur

•Disebabkan oleh jamur.
•Menyebabkan kegatalan berwarna merah di bawah kulit pria yang tidak disunat.
•Pada wanita akan ke luar cairan putih kental yang menyebabkan rasa gatal.

ERITA - yukinaru.wordpress.com - Penyakit kelamin adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh kuman yang ditularkan
melalui hubungan seks oral maupun melalui hubungan kelamin. Jenisnya bermacam-macam, dari gonorhea, sifilis,
herpes, HIV/AIDS, dll.Sebagian penyakit kelamin sudah dapat disembuhkan, namun untuk penyakit-penyakit tertentu
seperti HIV/AIDS sampai kini belum ditemukan obatnya.Penularan penyakit kelamin dapat dihindari

Lihat

Sumbernya

Penyakit Kelamini merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh kuman yang
ditularkan melalui hubungan seks oral maupun melalui hubungan kelamin. Sebagian
penyakit kelamin sudah dapat disembuhkan namun untuk penyakit-penyakit tertentu
seperti HIV/AIDS sampai kini belum ditemukan obatnya.

Berikut beberapa jenis penyakit kelamin :

Gonorrhea

Penyakit ini disebabkan bakteri. Infeksi dimulai beberapa hari sampai beberapa minggu
setelah hubungan intim dengan orang yang terjangkit penyakit ini. Jika terjadi pada pria
penyakit ini mengeluarkan cairan dari kemaluan. Buang air kecil dapat terasa sakit.
Gejala-gejala ini dapat terasa berat atau tidak terasa sama sekali. Sedangkan pada wanita
gejala ini bias tidak nampak atau hanya sangat ringan. Namun jika tidak diobati dan
bertambah parah bisa membuat si wanita menjadi mandul. Gonorrhea dapat diobati
dengan antibiotic jika ditangani secara dini.

Herpes

Penyakit ini disebabkan oleh virus. Penyakit ini Bisa diobati. Namun tidak bisa
disembuhkan karena virus menetap dalam tubuh sehingga bisa timbul sewaktu-waktu
meski sudah diobati. Gejala timbul antara 3 sampai 10 hari setelah berhubungan intim
dengan penderita penyakit ini. Gejala penyakit ini adalah muncul lecet yang kemudian
terbuka menjadi lubang kecil dan berair. Biasanya dalam 5-10 hari gejala ini bisa hilang.
Wanita yang terkena penyakit ini kebanyakan nggak menyadari kalau dirinya terkena
herpes karena biasanya lecet terjadi di dalam vagina. Namun herpes bisa juga terjadi di
bagian tubuh lain misalnya di mulut.

Syphilis / Raja Singa

Penyakit ini timbul akibat bakteri. Biasanya terjadi antara 3 minggu sampai 3 bulan
setelah berhubungan intim dengan penderita. Gejala penyakit ini adalah timbul luka pada
kulit seperti lubang pada kulit dengan tepi yang lebih tinggi dan umumnya tidak terasa
sakit. Luka biasanya akan sembuh setelah beberapa minggu namun virus menetap dalam
tubuh dan bisa muncul kembali ditempat yang berbeda. Bisa disembuhkan bertahap
dengan penicillin. Pada wanita biasanya penyakit ini tersembunyi dalam vagina.

BISUL atau kutil PADA ALAT KELAMIN

Penyebab penyakit ini adalah Virus Human Papilloma atau HPV. Muncul berupa satu
atau banyak bisul atau benjolan antara sebulan sampai setahun setelah berhubungan intim
dengan penderita penyakit tersebut. Pada umumnya tidak dapat terlihat pada wanita
karena terletak di dalam vagina atau pada pria karena terlalu kecil. Dapat berakibat serius
pada wanita karena dapat menyebabkan kanker cervix.

(Noe/ Berbagai sumber)
Metro
Ribuan Remaja DKI Idap Penyakit Kelamin
Mereka berusia antara 14 sampai 24 tahun. Kebanyakan perempuan.
Jum'at, 15 Oktober 2010, 11:26 WIB
Eko Priliawito, Sandy Adam Mahaputra

Peringatan Hari AIDS Sedunia (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)
BERITA TERKAIT

•Nama Dinkes Dicatut Untuk Minta Sumbangan
•3 Puskesmas di Kota Bogor Layani Rawat Inap
•859 Dokter Ditempatkan di Daerah Terpencil
•1.048 Warga Bogor Terjangkit TBC
•Warga Kebon Manggis Minta Dibuatkan Puskesmas

VIVAnews - Pergaulan bebas dan maraknya pelacuran, secara tidak langsung
berdampak pada meningkatnya penderita penyakit kelamin di Jakarta.

Sedikitnya ada 9.060 warga Jakarta mengidap penyakit yang ditularkan dari hubungan
seks bebas.

Jumlah penderita diprediksi jauh lebih banyak lantaran tidak sedikit warga yang masih
malu menjalani pengobatan penyakit ini di rumah sakit maupun puskesmas yang tersedia.

Menurut Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinkes DKI Jakarta, Ida
Bagus Nyoman Banjar, maraknya praktik pristitusi serta berubahnya pola pergaulan
secara tidak langsung telah mempengaruhi peningkatan jumlah penderita penyakit
kelamin ini.

Beberapa jenis penyakit kelamin itu seperti herpes, infeksi jamur, syphilis, vaginitis, bisul

pada alat kelamin atau HPV, kutu kelamin, kutu di bawah kulit, dan AIDS.

Indikasi tersebut terlihat dari kelompok usia penderita penyakit ini. Dari total jumlah
9.060 penderita, 3.007 orang diantaranya berusia 14 sampai dengan 24 tahun. Sedangkan
sisanya 5.863 penderita berusia di atas 24 tahun.

Lebih lanjut dikatakan Banjar, dari data penderita, penyakit kelamin lebih banyak dialami
kaum perempuan yang sebanyak 5.051 orang dan laki-laki sebanyak 4.009 orang.

"Kebanyakan penyakit kelamin ini ditimbulkan dari pola seksual yang salah, sehingga
jika tidak diwaspadai maka akan berpotensi pada HIV/AIDS," ujar Banjar, Jumat 15
Oktober 2010.

Dari hasil konseling Dinkes DKI, terhadap 3.680 penderita penyakit kelamin, sekitar 10
persen atau 360 orang di antaranya dinyatakan positif mengidap HIV/AIDS.

Sementara itu berdasarkan data Dinkes DKI, jumlah kasus HIV/AIDS di Jakarta pada
2009 mencapai 5.827 kasus. Itu terdiri dari 2.849 kasus HIV dan 3.008 kasus AIDS.

Sebanyak 2002 orang penderita AIDS dari pengguna jarum suntik, sisanya 426 menderita
AIDS dari non jarum suntik. Tercatat ada 426 orang meninggal dunia. (umi)

• VIVAnews

Dr. Midi SpKk dari Nusantara Medical Center mengajak kita mengenal lebih jauh
penyakit kelamin pada wanita. Thema ini diangkat karena menurutnya wanitalah yang
paling sering terkena imbas dan menjadi korban. Beberapa jenis penyakit kelamin antara
lain Gonorrhea dan Chlamydia yang disebabkan oleh bakteri. Infeksi dimulai beberapa
hari sampai beberapa minggu setelah hubungan intim dengan orang yang terjangkit
penyakit ini.

Pada pria, penyakit ini menyebabkan keluarnya cairan dari kemaluan pria. Buang air
kecil dapat terasa sakit. Gejala-gejala ini dapat terasa berat atau tidak terasa sama sekali.

Sementara pada wanita gejala gonorrhea sangat ringan atau malah tidak terasa sama
sekali, tetapi kalau tidak diobati penyakit ini dapat menjadi parah dan menyebabkan
kemandulan. Penanganan. Sementara untuk jenis Herpes yang penyebabnya adalah virus,
meskipun dapat diobati tetapi tidak dapat disembuhkan. Gejala akan timbul antara 3
sampai 10 hari setelah tertular.

Gejala awalnya adalah lecet yang kemudian terbuka menjadi lubang kecil dan berair.
Namun dalam 5 sampai 10 hari, gejalanya akan hilang. Tetapi Virus menetap dalam
tubuh dan dapat timbul lagi sesuatu saat. Wanita kerap kali tidak sadar bahwa ia
menderita herpes karena lecet terjadi di dalam vagina. Untuk penyakit kelamin yang
disebabkan oleh jamur, akan timbul rasa gatal berwarna merah di bawah kulit pria yang
tidak disunat.

Sementara pada wanita akan ke luar cairan putih kental yang menyebabkan rasa gatal.
Penyakit ini dapat disembuhkan dengan krim anti jamur dr. Midi menambahkan, untuk
jenis Syphilis disebabkan oleh bakteria. Lesi muncul antara 3 minggu sampai 3 bulan
setelah berhubungan intim dengan penderita penyakit ini.

Ciri lainnya, luka terlihat seperti lubang pada kulit dengan tepi yang lebih tinggi. Pada
umumnya tidak terasa sakit. Luka akan hilang setelah beberapa minggu, sementara virus
akan menetap pada tubuh dan penyakit muncul berupa lecet-lecet pada seluruh tubuh,
meskipun akan hilang juga namun virus ini akan menyerang bagian tubuh lain.

Syphilis dapat disembuhkan pada tiap tahapan dengan penicillin dan pada wanita, lesi
dapat tersembunyi pada vagina. Satu lagi dalam bahasan hari ini yaitu HIV DISEASE,
merupakan penyakit akibat hubungan intim yang paling serius, menyebabkan tidak
bekerjanya sistim kekebalan tubuh.

Tidak ada gejala yang nyata tanpa penelitian darah, dapat menyebabkan kematian setelah
sepuluh tahun terinfeksi tetapi pengobatan telah ditemukan . HIV Disebarkan melalui
hubungan intim dan pemakaian jarum suntik secara bersamaan.

Dr.Midi mengatakan pula, sayangnya para pasien yang berobat sekarang ini kepadanya
lebih banyak mengurusi masalah kecantikan ketimbang masalah kelamin. Padahal ada
dari mereka yang begitu cantik penampilannya ternyata telah terkena penyakit kelamin
dan menganggap bintik merah ditubuhnya adalah allergy padahal akibat penyakit kelamin
yang sudah menyebar di organ tubuhnya.

Sarannya, jangan malu untuk berobat, dokter akan menjaga rahasia pasien dan berusaha
meredam agar rumah tangga mereka tidak pecah karena suami isteri bisa saja saling
tuduh.

Infeksi Menular Seksual (IMS) menyebar cukup mengkhawatirkan di Indonesia. Baik
jenis gonorchea maupun sifilis. Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan
oleh bakteri spiroseta, Treponema pallidum. Penularan biasanya melalui kontak seksual;
tetapi, ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan
melalui ibu ke anak dalam uterus).

Gejala dan tanda dari sifilis banyak dan berlainan; sebelum perkembangan tes
serologikal, diagnosis sulit dilakukan dan penyakit ini sering disebut “Peniru Besar”
karena sering dikira penyakit lainnya. Data yang dilansir Departemen Kesehatan
menunjukkan penderita sifilis mencapai 5.000 – 10.000 kasus per tahun. Sementara di
Cina, laporan menunjukkan jumlah kasus yang dilaporkan naik dari 0,2 per 100.000 jiwa
pada tahun 1993 menjadi 5,7 kasus per 100.000 jiwa pada tahun 2005. Di Amerika
Serikat, dilaporkan sekitar 36.000 kasus sifilis tiap tahunnya, dan angka sebenarnya
diperkiran lebih tinggi. Sekitar tiga per lima kasus terjadi kepada lelaki.

Bila tidak terawat, sifilis dapat menyebabkan efek serius seperti kerusakan sistem saraf,
jantung, atau otak. Sifilis yang tak terawat dapat berakibat fatal. Orang yang memiliki
kemungkinan terkena sifilis atau menemukan pasangan seks-nya mungkin terkena sifilis
dianjurkan untuk segera menemui dokter secepat mungkin.

Ciri-ciri

Kuman penyebabnya disebut Treponema pallidum. Masa tanpa gejala berlangsung 3-4
minggu, kadang-kadang sampai 13 minggu. Kemudian timbul benjolan di sekitar alat
kelamin. Kadang-kadang disertai pusing-pusing dan nyeri tulang seperti flu, yang akan
hilang sendiri tanpa diobati. Ada bercak kemerahan pada tubuh sekitar 6-12 minggu
setelah hubungan seks. Gejala ini akan hilang dengan sendirinya dan seringkali penderita
tidak memperhatikan hal ini.

Selama 2-3 tahun pertama penyakit ini tidak menunjukkan gejala apa-apa, atau disebut
masa laten. Setelah 5-10 tahun penyakit sifilis akan menyerang susunan syaraf otak,
pembuluh darah dan jantung. Pada perempuan hamil sifilis dapat ditularkan kepada bayi
yang dikandungnya dan bisa lahir dengan kerusakan kulit, hati, limpa dan
keterbelakangan mental.

Ciri Pada Wanita dan Pria

Namun demikian bagaimana penyakit sifilis ini sesungguhnya? Mungkin sedikit uraian
berikut ini bisa membantu Anda.

Sifilis atau yang disebut dengan ‘raja singa’ disebabkan oleh sejenis bakteri yang
bernama treponema pallidum. Bakteri yang berasal dari famili spirochaetaceae ini,
memiliki ukuran yang sangat kecil dan dapat hidup hampir di seluruh bagian tubuh.
Spirochaeta penyebab sifilis dapat ditularkan dari satu orang ke orang yang lain melalui
hubungan genito-genital (kelamin-kelamin) maupun oro-genital (seks oral). Infeksi ini
juga dapat ditularkan oleh seorang ibu kepada bayinya selama masa kehamilan. Anda
tidak dapat tertular oleh sifilis dari handuk, pegangan pintu atau tempat duduk WC.

Gambaran tentang penyakit sifilis seperti yang dikemukakan tersebut mungkin masih
membuat Anda penasaran, karena wanita yang tidak tahu kalau suaminya sering ‘jajan‘
mungkin tidak menyadari kalau dirinya sudah mengidap penyakit sifilis.

Jadi uraian selanjutnya adalah mengenali gejala yang mungkin terjadi pada wanita, yang
terurai dalam empat stadium berbeda.

Stadium satu. Stadium ini ditandai oleh munculnya luka yang kemerahan dan basah di
daerah vagina, poros usus atau mulut. Luka ini disebut dengan chancre, dan muncul di
tempat spirochaeta masuk ke tubuh seseorang untuk pertama kalinya. Pembengkakan
kelenjar getah bening juga ditemukan selama stadium ini. Setelah beberapa minggu,
chancre tersebut akan menghilang. Stadium ini merupakan stadium yang sangat menular.

Stadium dua. Kalau sifilis stadium satu tidak diobati, biasanya para penderita akan
mengalami ruam, khususnya di telapak kaki dan tangan. Mereka juga dapat menemukan

adanya luka-luka di bibir, mulut, tenggorokan, vagina dan dubur. Gejala-gejala yang
mirip dengan flu, seperti demam dan pegal-pegal, mungkin juga dialami pada stadium
ini. Stadium ini biasanya berlangsung selama satu sampai dua minggu.

Stadium tiga. Kalau sifilis stadium dua masih juga belum diobati, para penderitanya akan
mengalami apa yang disebut dengan sifilis laten. Hal ini berarti bahwa semua gejala
penyakit akan menghilang, namun penyakit tersebut sesungguhnya masih bersarang
dalam tubuh, dan bakteri penyebabnya pun masih bergerak di seluruh tubuh. Sifilis laten
ini dapat berlangsung hingga bertahun-tahun lamanya.

Stadium empat. Penyakit ini akhirnya dikenal sebagai sifilis tersier. Pada stadium ini,
spirochaeta telah menyebar ke seluruh tubuh dan dapat merusak otak, jantung, batang
otak dan tulang.

Sedangkan pada lelaki yang telah tertular oleh sifilis memiliki gejala-gejala yang mirip
dengan apa yang dialami oleh seorang penderita wanita. Perbedaan utamanya ialah
bahwa pada tahap pertama, chancre tersebut akan muncul di daerah penis. Dan pada
tahap kedua, akan muncul luka-luka di daerah penis, mulut, tenggorokan dan dubur.

Orang yang telah tertular oleh spirochaeta penyebab sifilis dapat menemukan adanya
chancre setelah tiga hari – tiga bulan bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh. Kalau sifilis
stadium satu ini tidak diobati, tahap kedua penyakit ini dapat muncul kapan saja, mulai
dari tiga sampai enam minggu setelah timbulnya chancre.

Sifilis dapat mempertinggi risiko terinfeksi HIV. Hal ini dikarenakan oleh lebih
mudahnya virus HIV masuk ke dalam tubuh seseorang bila terdapat luka. Sifilis yang
diderita juga akan sangat membahayakan kesehatan seseorang bila tidak diobati. Baik
pada penderita lelaki maupun wanita, spirochaeta dapat menyebar ke seluruh tubuh dan
menyebabkan rusaknya organ-organ vital yang sebagian besar tidak dapat dipulihkan.
Sifilis pada ibu hamil yang tidak diobati, juga dapat menyebabkan terjadinya cacat lahir
primer pada bayi yang ia kandung.

Pengobatan

Sifilis dapat dirawat dengan penisilin atau antibiotik lainnya. Menurut statistik, perawatan
dengan pil kurang efektif dibanding perawatan lainnya, karena pasien biasanya tidak
menyelesaikan pengobatannya. Cara terlama dan masih efektif adalah dengan
penyuntikan procaine penisilin di setiap pantat (procaine diikutkan untuk mengurangi
rasa sakit); dosis harus diberikan setengah di setiap pantat karena bila dijadikan satu dosis
akan menyebabkan rasa sakit. Cara lain adalah memberikan kapsul azithromycin lewat
mulut (memiliki durasi yang lama) dan harus diamati. Cara ini mungkin gagal karena ada
beberapa jenis sifilis kebal terhadap azithromycin dan sekitar 10% kasus terjadi pada
tahun 2004. Perawatan lain kurang efektif karena pasien diharuskan memakan pil
beberapa kali per hari.

Perawat kesehatan profesional mengusulkan seks aman dilakukan dengan menggunakan
kondom bila melakukan aktivitas seks, tapi tidak dapat menjamin sebagai penjaga yang

pasti. Usul terbaik adalah pencegahan aktivitas seksual dengan orang yang memiliki
penyakit kelamin menular dan dengan orang berstatus penyakit negatif.

Seks Oral dan Sifilis

Banyak orang salah meyakini. Mereka pikir seks oral aman. Padahal, hubungan seks
dengan cara ini sudah terbukti bisa menularkan penyakit sifilis. Begitu laporan yang
disiarkan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDCP) dalam
Morbidity and Mortality Weekly Report. Ditambahkan, luka di mulut akibat sifilis, pada
gilirannya semakin meningkatkan risiko terkena infeksi HIV.

“Mereka yang dalam jangka panjang tidak terikat hubungan monogami dan melakukan
hubungan seks oral, sebaiknya tetap menggunakan pelindung, semisal kondom, untuk
mengurangi risiko terkena penyakit seksual menular,” kata tim peneliti dari Chicago
Department of Public Health yang dipimpin oleh Dr. C. Ciesielski.

Dalam pemantauan yang mereka lakukan, tim itu mendapati bahwa sifilis terus menyebar
lewat seks oral. Pola penularan yang mereka pantau sangat berubah dalam periode tahun
1998 hingga 2002. Bila di tahun 1990-an sifilis hanya terjadi pada kaum heteroseksual,
sejak 2001 jumlah pria yang melakukan hubungan seks dengan sesama pria tercatat
hampir 60 persen.

Antara tahun 2000 hingga 2002 tim yang dipimpin Ciesielski juga mewawancarai mereka
yang terkena sifilis. Hasilnya, lebih dari 14 persen kasus penularan sifilis terjadi melalui
seks oral. Jumlah ini dlaporkan oleh 20 persen gay dan 7 persen pria dan wanita
heteroseksual.

Angka itu belum termasuk penularan melalui seks oral yang mungkin terjadi pada saat
yang bersangkutan juga melakukan hubungan badan. Bahayanya, orang dengan sifilis di
mulut mungkin tidak memperlihatkan gejala. Luka di mulut lazim disalahmengerti
sebagai sariawan atau herpes. Padahal, di dalam luka itu tersembunyi kuman penyebab
sifilis.

Semua data ini menggarisbawahi perlunya edukasi pada mereka yang aktif secara seksual
untuk menghindari sifilis.

Tags: affair, flu, gelap, hubungan, mengenal, nyeri, obati, penyakit, pusing, raja, Seks,
Sifilis, singa, tulang

Istilah kelamin ganda sering rancu dikalangan masyarakat medis maupun umum.
Masyarakat umum sering berependapat sama dengan banci atau sama dengan laki-laki
yang seperti perempuan. Dalam dunia medis kelamin ganda sebenarnya disebut dengan
ambiguous genitalia yang artinya alat kelamin meragukan, namun belakangan ini para
ahli endokrin menggunakan istilah Disorders of Sexual Development (DSD). Pada DSD
tidak membahas transexual atau transgender yaitu individu dengan gangguan psikologis
laki-laki yang seperti wanita atau wanita seperti laki-laki dengan tanpa disertai kelainan
fisik/ alat kelamin (genital). Transeksual inilah yang dimasyarakat sering dianggap banci

atau homoseks. Pembahasan pada kelamin ganda adalah penderita interseksual yaitu
suatu kelainan di mana penderita memiliki ciri-ciri genetik, anatomik dan atau fisiologik
meragukan antara pria dan wanita. Gejala klinik interseksual sangat bervariasi, mulai dari
tampilan sebagai wanita normal sampai pria normal, kasus yang terbanyak berupa alat
kelamin luar yang meragukan. Kelompok penderita ini adalah benar-benar sakit secara
fisik (genitalnya) yang berpengaruh ke kondisi psikologisnya. Penderita interseks sering
disertai dengan hipospadia, yaitu kelainan yang terjadi pada saluran kencing bagian
bawah didaerah penis. Saluran kencing pada hipospadia terlalu pendek sehingga
muaranya tidak mencapai ujung penis melainkan bocor dibagian tengah batang penis atau
diantara kedua kantong buah zakar (scrotum). Pada keadaan berat, lubang lebar terletak
di daerah perineal menyebabkan skrotum terbelah dan memberikan gambaran seperti
lubang vagina terutama pada bayi baru lahir. Apabila kelainan ini disertai tidak turunnya
testis ke dalam skrotum, maka dapat menimbulkan kesulitan dalam menentukan jenis
kelamin bayi

Jumlah penderita dengan alat kelamin bermasalah di Semarang makin meningkat,
belakangan ini jumlah penderita yang datang rata-rata 2 orang perminggu. Sejak tahun
1991 jumlah penderita yang terdaftar pada laboratorium Sitogenetika Pusat Riset
Biomedik FK Undip Semarang untuk pemeriksaan kromosom (sebagai penentu jenis
kelamin) > 400 orang.

Fenomena ini belum tentu disebabkan oleh meningkatnya prevalensi kasus ambiguitas
seksual di Semarang. Mungkin salah satu penyebabnya adalah keberhasilan operasi
kelamin ganda di RS Dr. Kariadi/ Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro sehingga
menggugah pasien atau keluarga dengan masalah ambiguitas seksual untuk
memeriksakan diri. Keadaan ini menunjukkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat
meningkat untuk memanfaatkan fasilitas medis yang ada. Namun masih memprihatinkan
karena sebagian kasus ambiguitas seksual itu terlambat untuk memeriksakan diri, yaitu
saat anak itu sudah berusia di atas 2 tahun bahkan sudah beranjak dewasa dengan
pengasuhan gender yang tidak sesuai..

Tim Penyesuaian Kelamin

Dengan Keputusan Men Kes RI No. 191/MENKES/SK/III/1989 tentang penunjukan
rumah sakit dan tim ahli sebagai tempat dan pelaksanaan operasi penyesuaian
kelamin maka pada tanggal 12 juni 1989 dibentuk Tim Pelaksana Operasi Penggantian
Kelamin yang terdiri dari ahli bedah urologi, bedah plastik, ahli penyakit kandungan dan
ginekologi, anestesiologi, ahli endokrinologi anak dan dewasa (internist), ahli genetika,
andrologi, psikiater/psikolog; ahli patologi, ahli hukum, pemuka agama dan petugas
sosial medik. Sejak tahun 2003 ada perubahan kebijakan dan nama tim yaitu dengan
nama baru Tim Penyesuaian Kelamin yang hanya melakukan operasi penyesuaian
kelamin untuk penderita interseksual (tidak pada penderita transeksual) yang
membutuhkan penentuan jenis kelamin, perbaikan alat genital dan pengobatan. Semua
kasus yang datang akan didata, diperiksa laboratorium rutin, analisis kromosom dan
DNA, pemeriksaan hormonal dan test-test lain yang dianggap perlu seperti USG , foto
ronsen dll. Kegiatan tim ini adalah melaksanakan pertemuan rutin secara multidisipliner

antara seluruh anggota tim dengan penderita (yang telah selesai dengan pemeriksaan
penunjang untuk penegakkan diagnosis) untuk mendiskusikan penatalaksanaan, tindakan
dan pengobatan yang akan dilakukan termasuk pemberian konseling.

Kromosom Seks (penentu jenis kelamin)

Bagian terkecil tubuh adalah sel, di dalam sel terdapat inti sel yang mengandung
kromosom berjumlah 46. Laki-laki dan wanita normal mempunyai jumlah kromosom
yang sama, hanya penulisan simbolnya tidak sama yaitu 46, XY untuk laki-laki dan 46,
XX untuk wanita. Simbol ini artinya laki-laki dan perempuan mempunyai jumlah
kromosom 46 dengan 44 kromosom bukan penanda kelamin (autosom) dan 2 kromosom
seks (penanda kelamin) yaitu satu kromosom X dan Y pada laki-laki dan sepasang
kromosom X pada wanita. Di dalam kromosom terdapat DNA yang merupakan bahan
keturunan, yang akan memberikan informasi genetik dalam bentuk kumpulan molekul
DNA yang disebut gen. Didalam kromosom seks terdapat gen-gen berfungsi
memproduksi protein ensim/ hormon yang sesuai dengan jenis kelaminnya. Bila gen-gen
ini mengalami perubahan (mutasi) maka produksi protein akan mengalami
penyimpangan. Mutasi gen dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan DNA.

Pada keadaan normal, kromosom seks ditentukan oleh persatuan kromosom X dan Y dari
spermatosoa dan kromosom X dari ovum pada saat konsepsi, sehingga menghasilkan
46,XY (pria) atau 46,XX (wanita). Materi genetik yang terdapat pada kromosom Y
berperan penting dalam proses diferensiasi janin menjadi fenotip laki-laki. Sex-
determining region of the
human Y chromosome (SRY) terdapat pada lengan pendek
kromosom Y, merupakan gen yang mengkode produk sangat esensial dalam
perkembangan testis. Pada ketiadaan gen SRY, ovarium akan mengalami perkembangan
dilanjutkan dengan terbentuknya rahim dan saluran indung telor.

Aspek Genetik Ambiguitas Seksual

Banyak pendapat yang menyatakan tentang penyakit-penyakit yang dikelompokkan
sebagai interseksual. Pengelompokan yang biasa dipakai adalah membagi interseksual
menjadi male pseudohermaphroditism (hermaprodit semu laki-laki= maskulinisasi yang
tidak sempurna pada individu dengan genetik pria), female pseudohermaphroditism
(hermaprodit semu perempuan= maskulinisasi pada individu dengan genetik wanita.)
dan true hermaphrodite (hermaprodit yang sebenarnya). Interseksual juga termasuk pada
kasus dengan pertumbuhan gonad yang salah (Disgenesis Gonad) yang dapat diperiksa
berdasarkan hasil analisis kromosom (kariotip) dan gambaran mikroskopis jaringan
gonad (testis), gangguan pertumbuhan ini dapat berupa disgenesis gonad sebagian
(partial) atau keseluruhan (complete). Umumnya invidu yang menderita disgenesis gonad
sebagian, memiliki derajat ambiguitas genital yang bervariasi, tergantung pada jumlah
jaringan testis fungsional yang ada. Kadang-kadang kita temui anak-anak yang
mengalami disgenesis gonad dengan kromosom XY (laki-laki) namun memiliki struktur
alat genital perempuan walaupun kurang berkembang. Pada disgenesis gonad mempunyai

risiko tinggi untuk berubah menjadi ganas, sehingga sering menimbulkan dilema dalam
pengobatan apakah akan mempertahankan gonad atau pengambilan gonad.

Hermaprodit semu laki-laki (Male Pseudohermaphroditism )

Adalah individu yang memiliki kromosom Y (kromosom laki-laki) namun organ genitalia
luarnya gagal bertumbuh menjadi alat genital pria normal. Definisi ini masih terlalu luas
dan didalam praktek klinik masih dikelompokkan menjadi beberapa kelainan.

Ada beberapa jenis cacat hormon laki-laki yang menimbulkan gejala hermaprodit semu
laki-laki antara lain: yang paling sering adalah Sindrom Resistensi Androgen atau
Androgen Insensitivity Syndrome (AIS) atau Testicular Feminization Syndrome

Penyakit ini merupakan penampilan hermaprodit semu laki-laki yang paling
sering dijumpai di klinik. AIS merupakan kelompok kelainan yang sangat heterogen yang
disebabkan tidak atau kurang tanggapnya reseptor androgen atau sel target terhadap
rangsangan hormon testosteron. AIS diturunkan melalui jalur perempuan (ibu),
perempuan adalah pembawa sifat yang menurunkan, penderita hanya pada laki-laki.
Kejadian AIS dalam satu keluarga adalah hal yang sering dijumpai tetapi ternyata 1/3
kasus AIS tidak mempunyai riwayat keluarga yang positif. AIS dapat terjadi dalam
bentuk complete Androgen Insensitivity Syndrome (CAIS) atau incomplete/partial
Androgen Insensitivity Syndrome
(PAIS).

Penderita PAIS adalah laki-laki dengan kelainan alat kelamin luar yang sangat
bervariasi, kadang-kadang bahkan terdapat pada beberapa pria normal yang tidak subur.
Penderita PAIS mempunyai penis yang kecil yang tampak seperti pembesaran clítoris,
disertai dengan hipospadia berat (jalan kencing bocor ditengah tidak melewati penis)
yang membelah skrotum sehingga tampak seperti lubang vagina. Skrotum kadang tidak
menggantung dengan testis umumnya berukuran normal dan terletak pada abdomen,
selakangan atau sudah turun kedalam skrotum. Pada usia dewasa sering tumbuh payudara
dan keluarnya jakun, walaupun tidak disertai perubahan suara

Pada CAIS, penderita dengan penampilan seperti perempuan normal, dengan alat
kelamin luar seperti wanita, mempunyai vagina yang lebih pendek dari normal,dan
payudara akan tumbuh mulai masa prepubetas dengan hasil pemeriksaan kromosom
menunjukkan 46,XY (sesuai kromosom pada laki-laki) dan kadar hormon testosteron
normal atau sedikit meningkat. Pada pemeriksaan fisik dan USG akan teraba atau tampak
2 testis yang umumnya tidak berkembang dan terletak dalam rongga perut atau
selakangan, tanpa struktur alat genital dalam wanita. Individu dengan CAIS sering
menunjukkan gejala seperti hernia inguinalis (hernia pada selakangan), oleh karena itu
pada anak perempuan prapubertas yang mengalami hernia inguinalis (benjolan pada
selakangan) dan gejala tidak menstruasi sejak lahir, perlu pemeriksaan kromosom.

Female Pseudohermaphroditism

Merupakan istilah yang ditujukan bagi individu yang memiliki indung telur dan
kromosom 46,XX (kromosomperempuan) dengan penampakan alat kelamin bagian luar
yang ambigus. Sebab-sebab paling umum dari kelainan ini adalah Congenital adrenal
hyperplasia (CAH) yang menyebabkan kekurangan/ ketidak hadiran ensim 21α-
hidroksilase , 11β-hidroksilase dan 3β-hidroksilase dehidrogenase.

Congenital adrenal hyperplasia (CAH) merupakan penyebab terbesar kasus interseksual
dan kelainan ini diturunkan lewat ayah dan ibu yang sebagai pembawa separo sifat
menurun dan penderitanya bisa laki-laki dan perempuan yang mendapatkan kedua paroan
gen abnormal tersebut dari kedua orang tuanya.

Penyakit ini digolongkan menjadi tipe yang klasik dan non klasik. Tipe yang klasik ini
bisa menunjukkan gejala kehilangan garam tubuh (natrium) sampai terjadi syok, sehingga
sering meninggal pada bulan pertama setelah lahir, sebelum diagnosis bisa ditegakkan.
Sedang yang tidak menununjukan gejala kekurangan garam bisa bertahan hidup yaitu
pada wanita disertai gejala maskulinisasi dan pada laki-laki dengan gejala pubertas dini
tanpa disertai gejala keraguan alat kelamin sehingga laki-laki sering tidak datang berobat.
Pada pengalaman diklinik kenyataanya hampir tidak pernah tertangkap penderita laki-
laki. Penderita perempuan menunjukkan gejala pembesaran kelentit (klitoris) yang mirip
penis sejak lahir atau pada yang lebih ringan akan muncul setelah lahir. Anak-anak
penderita CAH akan tumbuh cepat tapi kemudian pertumbuhan akan berhenti lebih awal,
sehingga pada keadaan dewasa mereka akan lebih pendek dari ukuran tinggi badan
normal. Pada tipe yang non klasik gejala muncul setelah 5-6 tahun dengan maskulinisasi
yang lebih ringan, pembesaran klitoris akan muncul belakangan.

Maskulinisasi pada penderita CAH dengan genetik wanita hanya mungkin terjadi akibat
adanya hormon androgen ekstragonad (dari luar gonad) yang dapat berasal dari endogen
mau pun eksogen, karena pada penderita ini tidak ditemukan testis yang merupakan
penghasil utama hormon androgen. Manifestasi klinik dari hormon androgen yang
berlebihan ini terbatas pada alat genital bagian luar dan derajat berat-ringannya kelainan
tergantung pada tahap pertumbuhan seksual saat terjadinya paparan hormon androgen
tersebut. Pada penderita kelainan ini tidak akan ditemukan organ laki-laki bagian dalam.
Pada keadaan ringan sering munculnya pembesaran kelentit (menjadi seperti penis) pada
wanita setelah lahir, sehingga masyarakat menganggap alat kelaminnya berubah dari
wanita menjadi laki-laki. Penyakit ini bisa diobati, untuk menghindari gejala yang lebih
berat pengobatan harus dilakukan sedini mungkin dan seumur hidup. Penapisan pada bayi
baru lahir seharusnya dilakukan di Indonesia karena prevalensi penyakit ini cukup tinggi.

Paparan hormon androgen eksogen bisa disebabkan bahan hormonal yang bersifat
androgenik yang dikonsumsi ibu saat mengandung janin wanita, misalnya preparat
hormonal yang mengandung progestogen, testosteron atau danazol. Berat ringannya
kelainan alat genital janin tergantung dari usia kehamilan, potensi, dosis serta lama
pemakaian obat. Paparan hormon androgen dan progestogen saat usia kehamilan 6-10
minggu dapat berakibat perlekatan pada bagian belakang vagina, skrotalisasi labia dan

pembesaran klitoris. Kelainan organ genitalia yang disebabkan oleh paparan hormon
androgen eksogen mempunyai ciri khas yaitu proses maskulinisasi tidak berjalan
progresif dan tidak didapatkan kelainan biokimiawi.

True Hermaphroditism

Merupakan kelainan yang jarang dijumpai. Diagnosis True Hermaphroditism ditegakkan
apabila pada pemeriksaan jaringan secara mikroskopis ditemukan gonad yang terdiri dari
jaringan ovarium (perempuan) dan testis (laki-laki). Kedua jaringan gonad tersebut
masing-masing dapat terpisah tetapi lebih sering ditemukan bersatu membentuk jaringan
ovotestis. Pada analisis kromosom 70% dari kasus yang dilaporkan dijumpai 46,XX,
sisanya dengan 46,XY, campuran kromosom laki dan perempuan dengan kombinasi
46,XX/46,XY, 45,X/46,XY, 46,XX/47,XXY atau 46,XY/47,XXY.

Manifestasi klinik dan profil hormonal tergantung pada jumlah jaringan gonad yang
berfungsi. Jaringan ovarium sering kali berfungsi normal namun sebagian besar infertil.
Sekitar 2/3 dari total kasus true hermaphrodite dibesarkan sebagai laki-laki. Meski pun
demikian alat genital luar pada penderita kelainan ini biasanya ambigus atau predominan
wanita dan disertai pertumbuhan payudara saat pubertas. Jaringan Gonad dapat
ditemukan pada rongga perut, selakang atau lebih kebawah pada daerah bibir kemaluan
atau skrotum. Jaringan testis atau ovotestis lebih sering tampak di sebelah kanan.
Spermatozoa biasanya tidak ditemukan. Sebaliknya oosit normal biasanya ada, bahkan
pada ovotestis. Jika pasien memilih jenis kelamin pria, rekontruksi genital dan
pemotongan gonad selektif menjadi indikasi. Jika jenis kelamin wanita yang dipilih,
tindakan bedah yang dilakukan akan menjadi lebih sederhana..

Kesadaran tenaga medis dan pengaruh budaya di Indonesia

Kelamin ganda (interseksual) merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi
kondisi fisik dan psikologis yang masih kurang diperhatikan baik oleh tenaga medis
maupun masyarakat. Dalam menghadapi kasus-kasus demikian, peran tenaga medis yang
menolong persalinan sangat penting untuk dapat melakukan penatalaksanaan yang benar
terhadap penderita interseks, karena dampak sosiopsikologis yang dialami baik oleh
penderita mau pun keluarganya relatif lebih berat dibandingkan dengan cacat anggota
tubuhnya.

Di negara-negara yang sudah berkembang, jika terjadi kasus ketidakjelasan
jenis kelamin maka bayi yang baru lahir tidak akan diizinkan pulang sebelum ada
diagnosis dan penentuan jenis kelamin yang tepat yang biasanya pada langkah awal
ditentukan dengan pemeriksaan kromosom. Pemeriksaan kromosom untuk menentukan
jenis kelamin, apakah penderita mempunyai kromosom XY (laki-laki) atau XX
(perempuan).

Di Indonesia tidak demikian halnya, bayi bisa segera pulang bersama ibunya dengan
tanpa diagnosis yang pasti dan dengan jenis kelamin pada surat kelahiran yang ditentukan
dengan perkiraan dan kompromi antara dokter dan orang tua bayi. Keputusan orang tua

hanya sepihak karena anak belum bisa diajak bicara dan biasanya jenis kelamin
perempuan lebih menjadi pilihan. Penentuan jenis kelamin ini merupakan bentuk ke
egoisan orang tua karena hanya untuk kepentingan dirinya dalam menghadapi masyarakat
kalau ditanya apa jenis kelamin puteranya tanpa mempertimbangkan akibat dimasa akan
datang. Orang tua mudah menerima keputusan ini karena pihak rumah sakit/ penolong
persalinan tidak memberikan informasi mengenai diagnosis yang jelas dan tindakan
medis yang seharusnya segera diambil. Masalah akan muncul di kemudian hari karena
ketika alat genital anak tersebut mengalami perkembangan testis mulai turun masuk
kedalam skrotum dan terlihat seperti ada penis dan vagina hingga timbul keadaan yang di
masyarakat disebut dengan kelamin ganda, keraguan akan jenis kelamin akan muncul
baik dari pihak orang tua maupun dari sanubari anak ketika menjadi dewasa. Setelah
dilakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium jenis kelamin anak bisa ditentukan dan
mungkin akan berbeda dengan jenis kelamin pilihan orang tuanya.

Hambatan dan penanggulangan

Penyebab penyakit interseks sangat kompleks, terbanyak oleh karena kelainan genetik,
namun pengaruh lingkungan terutama penggunaan obat-obat hormonal pada masa
kehamilan merupakan salah satu yang diduga. Paparan pada masa kehamilan yang
mengakibatkan ambiguitas seksual pada bayi perempuan dengan kromosom 46,XX
semestinya dipertimbangan dengan hati-hati pada ibu hamil, pemakaian obat hormonal
yang tidak terlalu perlu seharusnya dihindari.

Hambatan pada penanganan penyakit ini adalah sarana penunjang diagnosis yang
masih minimal dan mahal, pengetahuan dan kesadaran yang kurang dari masyarakat dan
tenaga medis baik dokter, penolong persalinan maupun perawat kesehatan.

Pencegahan dapat dilakukan dengan konseling genetika untuk penyakit yang
menurun, penggunaan obat dan lingkungan yang aman pada awal kehamilan. Penanganan
seharusnya dilakukan sedini mungkin saat bayi baru lahir dengan secara multidisiplin.
Bayi baru lahir dengan kelainan alat kelamin harus ditentukan jenis kelaminnya agar
tidak terjadi salah pengasuhan dan gangguan psikologis dikemudian hari. Surat
keterangan kelahiran semestinya dibuat setelah jenis kelamin dapat ditentukan. Tindakan
operasi harus dilakukan dengan pertimbangan yang sangat hati-hati atau bahkan
penundaan sampai anak mencapai usia dewasa. Penentuan jenis kelamin dan tindakan
operasi koreksi tidak hanya ditentukan secara sepihak oleh orang tua saja. Untuk
menghindari masalah medikolegal maka perlunya penyusunan standard baku nasional
untuk penanganan kelamin ganda yang diatur oleh Departemen Kesehatan.

Pada tanggal 17-19 Oktober akan diselenggarakan seminar dan workshop Ambiguous
genitalia (keraguan alat kelamin) di Semarang, pada acara tersebut akan diselenggarakan
pendidikan seks pada para penderita yang tergabung dalam Forkis ( Forum Komunikasi
interseks Indonesia) oleh ahli dari Belanda yang fasih berbahasa Indonesia

Bila setiap orang Amerika penderita penyakit-penyakit yang menular lewat hubungan
seksual dipindahkan ke Kanada, jumlah mereka akan lebih dari dua kali jumlah penduduk
negara tetangga Amerika Serikat itu.

Kira-kira 40 juta orang Amerika telah tertular penyakit-penyakit lewat hubungan seksual
(sexually transmitted diseases atau STD). Tiap tahun, kasus baru STD mencapai 12 juta,
artinya, setiap hari ada 33.000. “Ini epidemi yang sangat meresahkan,” kata Peggy Darke,
ketua American Social Health Association di Research Triangle Park, North Carolina.

Kebanyakan STD dapat disembuhkan, walaupun makin lama penyakit ini dibiarkan,
makin besar kemungkinan Anda akan menderita cacat fisik dan mental yang sulit
dipulihkan, bahkan permanen. Anda juga harus sadar bahwa STD sering tidak
menimbulkan gejala dan dapat bersembunyi dalam tubuh selama bertahun-tahun
sehingga si penderita tanpa sadar akan menulari orang lain.

Yang terbaik adalah tidak berganti-ganti pasangan. Tetapi, bila Anda melakukannya,
secara sembunyi-sembunyi, karet kondom mungkin paling balk untuk menghindar dari
tertular STD atau menularkannya kepada orang lain. Bila Anda mengalami luka, lepuh,
ruam-ruam di sekitar daerah kemaluan, atau kencing nanah, segera periksakan kelainan
itu kepada dokter.

Centers for Diseases Control and Prevention di Atlanta telah mengidentifikasi lebih dari
50 organisme dan sindrom yang ditularkan melalui hubungan seksual. Berikut ini
beberapa yang paling umum.

1.Herpes genital. Hampir 31 juta orang Amerika, satu per enam jumlah penduduk
Amerika-pernah menderita herpes genital. Herpes, yang disebabkan oleh virus
herpes simplex tipe 2, adalah infeksi seumur hidup yang menyebabkan lecet-lecet
pada alat kelamin yang biasanya datang dan pergi. Ada pria yang tidak
menunjukkan gejala apa pun, tetapi mereka tetap bisa menulari orang lain.
Acydovir (Zovirox), sebuah obat yang diresepkan, dapat meringankan gejala-
gejalanya, tetapi tidak menyembuhkan. Lecet-lecet karena herpes atau STD lain
juga meningkatkan risiko tertular AIDS, karena virus penyakit ini dapat dengan
mudah masuk ke dalam tubuh melalui luka-luka kecil tadi.
2.Sifilis. Juga dikenal dengan nama Great Imitator karena gejala-gejala awalnya
mirip dengan gejala-gejala sejumlah penyakit lain. Sifilis sering dimulai dengan
lecet yang tidak terasa sakit pada penis atau bagian kemaluan lain dan
berkembang dalam tiga tahap yang dapat berlangsung lebih dari 30 tahun. Secara
umum, penyakit ini dapat membuat orang yang telah berumur sangat menderita,
karena dapat mengundang penyakit jantung, kerusakan otak, dan kebutaan.
Apabila tidak diobati, penyakit ini juga dapat menyebabkan kematian. Kira-kira
120.000 orang tertular sifilis tiap tahun. Antibiotika dapat mengobati penyakit ini
tetapi tidak dapat memulihkan kerusakan yang telah ditimbulkannya.
3.Gonore. Penyakit ini, yang telah dikenal sejak dahulu kala, kini menyerang
sekitar 1,5 juta orang Amerika, baik pria maupun wanita, setiap tahun. Meskipun
sering tanpa gejala, infeksi bakteri ini dapat menyebabkan rasa sakit saat buang

air kecil dan mengeluarkan nanah setelah dua hingga sepuluh hari. Kalau tidak
diobati, penyakit ini dapat berkembang menjadi artritis, lepuh-lepuh pada kulit,
dan infeksi pada jantung atau otak. Gonore dapat disembuhkan dengan
antibiotika.
4.Klamidia. Kondisi ini mempunyai gejala mirip gonore, walaupun bisa juga
beraksi tanpa gejala. Di Amerika, klamidia termasuk yang paling dapat diobati,
tetapi telah menginfeksi sekitar empat juta orang setiap tahun. Penyakit ini dapat
menyebabkan artritis parah dan kemandulan pada pria. Seperti sifilis dan gonore,
penderitanya dapat disembuhkan dengan antibiotika.
5.Genital wart. Di Amerika, kasus kutil pada alat kelamin ini rnencapai sejuta
setiap tahun. STD ini disebabkan oleh sejenis virus papiloma, yang terkait dengan
kanker penis serta anus. Obatnya tidak ada, walaupun kutil yang terjadi dapat
dihilangkan melalui operasi atau dibakar, atau dibekukan. Akan tetapi setelah itu
gejala yang sama dapat datang kembali.
6.Hepatitis B. Penyakit ini dapat berlanjut ke sirosis hati atau kanker hati. Setiap
tahun kasus yang dilaporkan mencapai 200.000, walaupun ini satu-satunya STD
yang dapat dicegah melalui vaksinasi.

be2ny.multiply.com (ilustrasi)

CIANJUR – Diduga memiliki kelainan sejak lahir, Kodir (14), anak dari pasangan Ahmad (50) dan
Omas (49), warga Kampung Cirumput RT 15/03, Desa Cirumput, Kecamatan Cugenang, Kabupaten
Cianjur, tidak memiliki alat kelamin (Sek ambigua). Faktor penyebab kelainan yang dialami siswa
kelas 6 SD itu belum diketahui pasti.

Menurut Omas, sebenarnya ketika lahir kelainan pada anaknya sudah diketahui, tidak mempunyai
alat kelamin. Namun selama ini selalu disembunyikan karena merasa malu, dan dilarang sama
anggota keluarga lainnya sampai anaknya kini sudah berusia 14 tahun.

“Dulu pernah mau dibawa ke rumah sakit, tapi karena kami tidak punya biaya dan takut terjadi
sesuatu, makanya kami menyembunyikannya,“ kata Omas, di rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
Cianjur, belum lama ini.

Saat ini, dirinya berani terbuka karena ada dorongan dari tetangga dan keluarga termasuk
keinginan anaknya sendiri. Akhirnya, Omas melaporkan kondisi yang dialami anaknya kepada
kepala desa dan diteruskan ke kantor kecamatan, untuk meminta bantuan. “Alhamdulillah, ada

respons dan akhirnya dibawa ke RSUD Cianjur untuk diperiksa," katanya.

Omas maupun Kodir mengharapkan bantuan berbagai pihak terkait termasuk pemerintah,
sehingga segera mendapat perawatan dan penanganan. Apalagi pihaknya kebingungan bila harus
dirawat, utamanya untuk kebutuhan keluarganya yang menunggu selama mendapat perawatan.

Kodir mengaku tidak merasakan sakit saat melakukan aktivitas termasuk ketika sedang bermain
dengan teman-temannya. Namun dirinya selalu mengalami kesulitan jika akan buang air kecil.
Sebab tidak bisa langsung, tapi harus menunggu munculnya keinginan buang air besar (bersamaan).

“Biasanya kalo mau buang air kecil, anak saya merasa sesak dan kembung kalau air kencingnya
belum keluar soalnya mesti menunggu buang air besar. Buang air kecil baru bisa kalau bersamaan
dengan buang air besar. Biasanya supaya bisa cepat buang air besar, kadang harus makan yang
pedas dulu supaya merasa mulas, dan bisa buang air besar,“ kata Omas.
(Ricky Susan/Koran SI/teb)

Tidak disangsikan lagi bahwa perbuatan yang pernah dilakukan oleh kaum Luth, yaitu
menyukai sesama jenis adalah perbuatan dosa besar bahkan lebih berat daripada
perbuatan zina. Karena itulah hukuman bagi para pelakunya menurut jumhur ulama
adalah dibunuh tanpa membedakan apakah si pelakunya telah menikah atau belum
menikah berbeda dengan hukuman rajam pada perzinahan hanya dijatuhkan kepada
pelakunya yang telah menikah, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad
dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa dari kalian yang
mendapatkan orang yang melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah para
pelakunya dan barangsiapa dari kalian yang mendapatkan seorang yang berhubungan
(seksual) dengan binatang maka bunuhlah orang itu serta binatangnya.”

Ketika menjelaskan hadits ini, Imam ash Shan’ani didalam kitabnya “Subul as Salam”
bahwa terdapat beberapa pendapat tentang cara pembunuhan para pelaku liwath tersebut :

1.Mereka dihukum dengan had (hukum) zina (rajam).
2.Dibunuh.
3.Dibakar dengan api.
4.Dilempar dari bangunan tertinggi di negeri itu dengan poisisi terbalik lalu diiringi
dengan lemparan batu-batu.

Untuk itu tidaklah ada yang terbaik bagi para pelaku liwath ini selain segera bertaubat
kepada Allah swt dengan taubat nasuha dan berhentilah dari perbuatan keji dan buruk itu
selagi Allah swt masih memberikan kesempatan kepadanya.

Adapun bagi orang-orang yang melakukan liwath di bulan suci ramadhan maka selain
dari bertaubat kepada Allah swt dengan taubat nasuha maka diwajbkan pula atasnya
kafarat seperti kafarat jima' di siang hari pada bulan suci Ramadhan.

Markaz al Fatwa didalam fatwanya no. 16359 ketika ditanya tentang seorang yang
melakukan perbuatan liwath sementara orang-orang sedang berpuasa Ramadhan,
menyebutkan :

“Perbuatan liwath adalah dosa besar yang termasuk didalam kelompok dosa-dosa,
tindakan kejahatan yang ganjarannya dari Allah swt adalah pembunuhan dan
pembinasaan bagi pelakunya, sebagaimana firman Allah swt :

لٍيجّسِ نمّ ةًرَاجَحِ مْهِيْلَعَ انَرْطَمْأَوَ اهَلَفِاسَ اهَيَلِاعَ انَلْعَجَفَ

Artinya : “Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani
mereka dengan batu dari tanah yang keras.” (QS. Al Hijr : 74)

Tidak disangsikan lagi bahwa perbuatan jahat ini menjadi lebih besar dosanya ketika
dilakukan di siang hari bulan Ramadhan sementara si pelaku liwathnya tengah berpuasa.
Maka diwajibkan baginya untuk bertaubat dengan taubat nasuha, beristigfar serta
membayarkan kafarat, yaitu : membebaskan budak, jika dia tidak mendapatkannya maka
berpuasa dua bulan berturut-turut, jika dirinya tidak sanggup maka memberi makan 60
orang miskin.”

(baca : Gay Tapi Ingin Menikah)

Wallahu A’lam

Ustadz Menjawab Lainnya

•Melawan Gunjingan dengan Ruqyah
Kamis, 22/04/2010 11:16 WIB
•Hukum Melakukan Penelitian Menggunakan Babi
Rabu, 21/04/2010 16:28 WIB
•Hukum Duduk atau Jalan di Atas Kuburan
Rabu, 21/04/2010 11:27 WIB
•Terlilit Utang, Musibah atau Ujian
Selasa, 20/04/2010 13:56 WIB
•Hukum Nafkah dan Zakat dari Utang Suami
Selasa, 20/04/2010 09:49 WIB
•Mengucap Amin Bersamaan dengan Malaikat
Senin, 19/04/2010 12:54 WIB
•Hukum Zihar dan Bayangan Isteri
Senin, 19/04/2010 09:27 WIB

VIVAnews - Kepolisian Resor Jakarta Selatan membekuk pelaku pembunuhan pria
pekerja salon bernama Kho Boen Kwan alias Jimmy (50) yang mayatnya ditemukan di
kamar kos Jalan Bunga Mawar No 23, RT 2 RW 2, Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta
Selatan, Kamis 11 Febuari 2010 lalu.

Pelaku adalah AF, 23 tahun. Dia nekat membunuh lantaran kesal saat dipaksa dan
diancam untuk melayani berhubungan badan. "Saya kesal karena dipaksa melakukan
hubungan badan. Kepalanya saya pukul pakai barbel ukuran 1 kg yang ada di dalam
kamar," ujarnya kepada wartawan, Rabu 24 Februari 2010.

Merasa belum puas tersangka kembali memukul kepala bagian belakang dengan barbel.
Korban yang semakin tak berdaya tersungkur dan dibekap dengan bantal. Tersangka
kemudian mengambil tas milik korban yang berisi uang tunai Rp 270 ribu, satu buah
telepon genggam dan satu buah kamera.

Sementara itu, Kapolres Jakarta Selatan, Komisaris Besar Gatot Eddy Pramono
mengatakan, ada motif asmara dalam aksi pembunuh itu. "Tersangka dibekuk di Cirebon,
mereka memang pasangan homo seksual," ujarnya.

Kapolres menambahkan, keduanya mulai kenal sejak enam bulan di kawasan Wolter
Mongonsidi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Tersangka kini mendekam di tahanan Polres Jakarta Selatan untuk mempertanggung
jawabkan perbuatannya, dan pasal yang dipersangkakan 338 KHUP dan 365 KUHP
dengan ancaman hukuman diatas 15 tahun.

Seperti diketahui, mayat korban pertama kali ditemukan teman prianya bernama Agus, di
tempat kosnya. Saksi curiga karena sudah tiga hari ini korban tidak masuk kerja.

Saat Agus datang, korban ditemukan dalam keadaan mengenaskan di dalam kamar
kostnya. Diperkirakan korban telah tewas sejak sejak dua hari lalu. "Senin kerja, Selasa
dan Rabu izin. Saya datang takut Jimy sakit parah,

Kata homoseksual berasal dari 2 kata, yang pertama adalah dari kata 'homo', yang kedua
'seksual' dan seksual berarti mengacu pada hubungan kelamin, hubungan seksual,
sedangkan homo mengacu pada kata sama. Hubungan seseorang dengan yang sejenis
kelamin dengan kita. Istilah ini adalah istilah yang mengacu pada perilaku dan juga
orientasi yang dimiliki oleh seseorang, kalau itu seorang pria biasanya disebut kaum gay
dari bahasa Inggris sedangkan kalau pada wanita disebut lesbion atau lesbian, dua-duanya
itu masuk dalam kelompok homoseksual.

Kaum homoseksual adalah manusia yang normal secara mental, secara jiwa dalam
pengertian mereka tidak mempunyai disfungsi tertentu atau kelainan jiwa yang tertentu.
Mereka adalah orang-orang yang sama seperti kita namun perbedaannya adalah dalam
hal orientasi seksualnya. Mereka tidak tertarik kepada lawan jenis, tetapi mereka tertarik
kepada sesama jenis.

Penyebab atau asal mula orang bisa berperilaku homoseksual:

a.Adalah dari segi keluarga atau bentukan keluarga.

Pria dan wanita yang homoseksual mempunyai latar belakang atau penyebab yang
sering kali berbeda. Untuk pria ada beberapa kemungkinan:

•Karena ayahnya absen sedangkan ibunya dominan. Ini adalah kasus di
mana ayahnya itu misalkan sudah meninggal dunia atau meninggalkan
keluarga, sehingga yang tertinggal di rumah adalah seorang ibu. Menurut
teori Sigmund Freud: seorang anak (khususnya anak laki-laki) itu pada
usia sekitar 3, 4 tahun akan mulai mengalihkan atau memerlukan
seseorang yang adalah pria juga, untuk menjadi modelnya atau contoh
perilakunya dalam hal ini adalah identitas seksualnya.

•Karena suatu situasi keluarga di mana ayah menjadi tokoh yang negatif
atau tokoh yang menyakitkan dalam kehidupan si anak pria. Misalnya dia
adalah seorang ayah yang bengis memukuli mamanya, memukuli anak-
anak yang lainnya. Si anak pria ini akhirnya bertumbuh besar dengan
suatu konsep bahwa pria itu jahat, apalagi ditambah dengan misalnya
kakak-kakak prianya juga sama jahatnya, nakal, berontak, menyakiti hati
mamanya, dan kebetulan dia juga sangat dekat dengan mamanya. Jika
ayah itu absen tidak ada di rumah atau si ayah menjadi figur yang
menyakitkan si anak, akibatnya akan ada kehilangan interaksi antara si
anak dengan orang tua prianya. Si anak pria ini akhirnya hanya
berinteraksi dengan mamanya, dengan figur wanita ini, inilah yang akan
diserap oleh anak itu. Ia bisa menyerap tingkah laku kewanitaan tapi tidak
harus langsung menyerap luarnya atau gaya-gaya kewanitaan. Namun
yang sering kali akan diserap adalah dalamnya si ibu itu, misalnya cara si
ibu mengekspresikan perasaannya, cara si ibu sedih waktu dimarahi oleh
ayahnya, cara si ibu itu menanyakan sesuatu kepada ayahnya kenapa
begini, kenapa begitu dan sebagainya. Cara-cara inilah yang akhirnya
diserap oleh si anak menjadi bagian dalam kehidupannya, maka itulah dia
akhirnya mengidentifikasi diri dengan si mama. Dan sewaktu dia
bertumbuh besar dia menempatkan dirinya tanpa dia sadari di pihak atau
di diri seorang wanita.

Adalah adanya kemungkinan kelainan genetik.

Hasil-hasil riset yang bersifat genetik memang memperlihatkan adanya dukungan

terhadap argumen ini. Bahwa memang ada kemungkinan yang sangat besar mereka yang
homoseksual itu dilahirkan dengan memiliki kecenderungan itu. Biar dibesarkan oleh
rumah tangga seperti apapun tetap dia akan mengarah ke situ, sebab dari kecil atau dari
lahir memang sudah diberikan kecenderungan tersebut secara genetik.

Roma 1:26, berkata: "Karena itu Allah menyerahkan mereka (orang-orang Roma ini)
kepada hawa nafsu yang memalukan sebab istri-istri mereka menggantikan persetubuhan
yang wajar dengan yang tak wajar jadi akhirnya ditulis di sini, sehingga mereka
melakukan kemesuman laki-laki dengan laki-laki dan sebagainya." Jadi memang Tuhan
melarang hubungan itu sendiri.

Average:
Poor
Okay
Good
Great
Awesome

ndonesia secara umum. Slah satu dampaknya adalah bahwa masyarakat baik di perkotaan
maupun di pedesaan sudah mengenal teknologi modern seperti : Komputer, Internet, telpone,
mobil dan lain sebagainya. Salah satu contoh gaya hidup modern adalah orientasi seksual
individu, pada saat ini orientasi seksual tidak lagi terbatas pada lawan jenis (hetero seksual) tapi
pada jenis yang sama atau yang lebih dikenal dengan istilah homo seksual. Seperti di ketahui
homo seksual belum dapat di terima masyarakat padahal kaum homo seksual merupakan
makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki hak yang sama untuk berhubungan dengan sang Pencipta-
NYA. Pemuka agama dan masyarakat secara umum mencap mereka sebagai kaum pendosa
sehinga tidak layak beribadah bersama – sama dengan kaum hetero seksual yang di anggap
bersih dan suci, maka terjadilah konflik dalam agama ; di satu sisi kita harus memegang aturan –
aturan yang kaku mengakibatkan orang orang yang tidak menjalankan kehidupan seperti yang di
tuliskan dalam Kitab Suci di perlukan secara diskriminatif. Hal ini menimbulkan pertanyaan ;
apakah mereka (kelompok homo seksual) bukan umat Tuhan yang berhak untuk hidup setara
dengan komunitas hetero seksual lainnya? Dengan adanya stigma dan diskriminasi mereka
belum cerdas menandakan bahwa ternyata kita belum cukup cerdas menempatkan keragaman
identitas di ranah publik. Seperti kita ketahui kampus adalah arena social mahasiswa untuk
belajar dan bergaul, biasanya rekan – rekan mahasiswa tidak mempermasalahkan orientasi
seksual individu. Namun bila ada mahasiswa yang membuka jati diri mereka sebagai bagian dari
kelompok homo, apakah keberadaan mereka dapat di terima/ bagaimana tanggapan mahasiswa
lainnya? Bagaimana juga dengan keluarga mereka? Dengan maksud mengungkap keberadaan
LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) inilah seminar ini di adakan.

Tujuan dar Seminar

þÿ

•Memberikan pandangan yang benar tentang keberadaan komunitas homo seksual
dengan norma – norma agama.

•Agar para peserta diskusi (mahasiswa, LSM, Akademisi dan Masyarakat umum) dapat
lebih mengerti keberadaan LGBT sebagai bagian dari Masyarakat yang memiliki hak
yang sama dengan komunitas hetero.

•Agar remaja homo seksual di lingkungan kampus dapat membekali doiri ketika
berhadapan dengan nilai nilai budaya modern.

Gay adalah istilah untuk laki-laki yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama
laki-laki atau disebut juga laki-laki yang mencintai laki-laki baik secara fisik, seksual,
emosional ataupun secara spiritual. Secara psikologis, gay adalah seorang lelaki yang
penuh kasih. Mereka juga rata-rata agak mempedulikan penampilan, dan sangat
memperhatikan apa-apa saja yang terjadi pada pasangannya.

Tingginya tingkat kriminalitas saat ini menyebabkan tingginya permintaan
visum. Hal ini menjadi perhatian kita sebagai dokter umum karena walaupun
permintaan visum biasanya diajukan kepada rumah sakit besar baik umum
maupun swasta, tidak menutup kemungkinan permintaan visum diajukan kepada
kita sebagai dokter umum pada saat kita melakukan tugas PTT di suatu daerah.
Untuk itu sebagai dokter umum kita wajib dapat melakukan visum dan membuat
laporannya melalui V et R.

Dalam setiap melakukan visum, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang
untuk memperjelas dan membuktikan kebenaran suatu kasus. Karena sebenarnya,
pada setiap kejadian kejahatan hampir selalu ada barang bukti yang tertinggal,
seperti yang dipergunakan oleh seorang ahli hukum kenamaan Italia yang
bernama E. Ferri, 1859-1927, bahwa ada yang dinamakan ”saksi diam” yang
terdiri antara lain atas :
1. Benda atau tubuh manusia yang telah mengalami kekerasan.
2. Senjata atau alat yang dipakai untuk melakukan kejahatan.
3. Jejak atau bekas yang ditinggalkan oleh si penjahat pada tempat kejadian.
4. Benda-benda yang terbawa oleh si penjahat baik yang berasal dari benda atau
tubuh manusia yang mengalami kekerasan maupun yang berasal dari tempat
kejadian.

5. Benda-benda yang tertinggal pada benda atau tubuh manusia yang mengalami
kekerasan atau ditempat kejadian yang berasal dari alat atau senjata yang
dipakai ataupun berasal dari si penjahat sendiri. (10)
Bila ”saksi diam” tersebut diteliti dengan memanfaatkan berbagai macam
ilmu forensik (forensic sciences) maka tidak mustahil kejahatan tersebut akan
dapat terungkap dan bahkan korban yang sudah membusuk atau hangus serta
pelakunya akan dapat dikenali. Sebagai contoh, pada kasus infantisida, untuk
kepentingan pengadilan perlu diketahui apakah bayi tersebut lahir hidup
kemudian meninggal karena pembunuhan atau memang lahir mati, dengan mudah
dapat kita ketahui dengan melakukan pemeriksaan hidrostatik, dimana bila
jaringan paru yang dicelupkan ke dalam air tawar tersebut mengapung maka bayi
tersebut dilahirkan dalam keadaan hidup.
Oleh sebab itu, pemeriksaan penunjang khususnya pemeriksaan
laboratorium sederhana menjadi sangat dibutuhkan keberadaannya. Dalam
membantu kita sebagai si pembuat visum untuk memperjelas suatu kasus kejadian
kejahatan, karena dengan mengetahui secara pasti pemeriksaan penunjang
laboratorium sederhana apa saja yang dapat dilakukan dalam kasus-kasus tertentu,
apa yang kita lakukan menjadi tepat guna. Sehingga dapat membantu
terungkapnya kebenaran yang sesungguhnya akan suatu kasus kejadian kejahatan
seperti moto yang berlaku dalam forensik bahwa ”melalui visum, barang/ benda
yang tidak bernyawa dan tidak bergerak dapat dibuat berbicara oleh para dokter
yang melakukan visum melalui V et R.”

A.Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka didapatkan adanya perumusan

masalah yaitu :

A.

1.Apa saja pemeriksaan laboratorium sederhana?
2.Bagaimana cara melakukannya dan interpretasi hasilnya?
3.Bagaimana implementasinya pada kasus-kasus tertentu?

A.Tujuan

Penyusunan refarat ini bertujuan agar tenaga medis khususnya para dokter
umum yang diwajibkan untuk dapat melakukan visum dan membuat V et R, dapat
mengetahui dan memahami macam-macam pemeriksaan laboratorium sederhana
yang ada pada ilmu forensik dan dapat menentukan pemeriksaan laboratorium
sederhana yang dapat dilakukan pada kasus tertentu untuk membantu mengetahui
penyebab kematian.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Definisi Pemeriksaan Laboratorium Sederhana

Tidak ada literatur yang secara jelas membatasi kata ”sederhana” pada
pemeriksaan laboratorium sederhana forensik ini, untuk itu kami membatasinya
sendiri, yaitu pemeriksaan laboratorium yang dalam pengerjaannya mudah,
dengan alat dan reagen yang murah dan mudah didapat namun memberi nilai
manfaat yang besar.

A.Macam-macam Pemeriksaan Laboratorium Sederhana dan Pelaksanaannya

1. Pemeriksaan Laboratorium Forensik Darah

Pemeriksaan bercak darah merupakan salah satu pemeriksaan yang paling
sering dilakukan pada laboratorium forensik. Karena darah mudah sekali tercecer
pada hampir semua bentuk tindakan kekerasan, penyelidikan terhadap bercak
darah ini sangat berguna untuk mengungkapkan suatu tindakan kriminil. (1)
Pemeriksaan darah pada forensik sebenarnya bertujuan untuk membantu
identifikasi pemilik darah tersebut.

Sebelum dilakukan pemeriksaan darah yang lebih lengkap, terlebih dahulu kita
harus dapat memastikan apakah bercak berwarna merah itu darah. Oleh sebab itu perlu
dilakukan pemeriksaan guna menentukan :

a. Bercak tersebut benar darah
b. Darah dari manusia atau hewan
c. Golongan darahnya, bila darah tersebut benar dari manusia
Untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan diatas, harus dilakukan
pemeriksaan laboratorium sebagai berikut :

a. Persiapan

Bercak yang menempel pada suatu objek dapat dikerok kemudian
direndam dalam larutan fisiologis, atau langsung direndam dengan larutan
garam fisiologis bila menempel pada pakaian.

b. Pemeriksaan Penyaringan (presumptive test)

Ada banyak tes penyaring yang dapat dilakukan untuk membedakan
apakah bercak tersebut berasal dari darah atau bukan, karena hanya yang
hasilnya positif saja yang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Prinsip pemeriksaan penyaringan:

Tingginya tingkat kriminalitas saat ini menyebabkan tingginya permintaan
visum. Hal ini menjadi perhatian kita sebagai dokter umum karena walaupun
permintaan visum biasanya diajukan kepada rumah sakit besar baik umum
maupun swasta, tidak menutup kemungkinan permintaan visum diajukan kepada
kita sebagai dokter umum pada saat kita melakukan tugas PTT di suatu daerah.
Untuk itu sebagai dokter umum kita wajib dapat melakukan visum dan membuat
laporannya melalui V et R.

Dalam setiap melakukan visum, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang
untuk memperjelas dan membuktikan kebenaran suatu kasus. Karena sebenarnya,
pada setiap kejadian kejahatan hampir selalu ada barang bukti yang tertinggal,
seperti yang dipergunakan oleh seorang ahli hukum kenamaan Italia yang
bernama E. Ferri, 1859-1927, bahwa ada yang dinamakan ”saksi diam” yang
terdiri antara lain atas :
1. Benda atau tubuh manusia yang telah mengalami kekerasan.
2. Senjata atau alat yang dipakai untuk melakukan kejahatan.
3. Jejak atau bekas yang ditinggalkan oleh si penjahat pada tempat kejadian.

4. Benda-benda yang terbawa oleh si penjahat baik yang berasal dari benda atau
tubuh manusia yang mengalami kekerasan maupun yang berasal dari tempat
kejadian.
5. Benda-benda yang tertinggal pada benda atau tubuh manusia yang mengalami
kekerasan atau ditempat kejadian yang berasal dari alat atau senjata yang
dipakai ataupun berasal dari si penjahat sendiri. (10)
Bila ”saksi diam” tersebut diteliti dengan memanfaatkan berbagai macam
ilmu forensik (forensic sciences) maka tidak mustahil kejahatan tersebut akan
dapat terungkap dan bahkan korban yang sudah membusuk atau hangus serta
pelakunya akan dapat dikenali. Sebagai contoh, pada kasus infantisida, untuk
kepentingan pengadilan perlu diketahui apakah bayi tersebut lahir hidup
kemudian meninggal karena pembunuhan atau memang lahir mati, dengan mudah
dapat kita ketahui dengan melakukan pemeriksaan hidrostatik, dimana bila
jaringan paru yang dicelupkan ke dalam air tawar tersebut mengapung maka bayi
tersebut dilahirkan dalam keadaan hidup.
Oleh sebab itu, pemeriksaan penunjang khususnya pemeriksaan
laboratorium sederhana menjadi sangat dibutuhkan keberadaannya. Dalam
membantu kita sebagai si pembuat visum untuk memperjelas suatu kasus kejadian
kejahatan, karena dengan mengetahui secara pasti pemeriksaan penunjang
laboratorium sederhana apa saja yang dapat dilakukan dalam kasus-kasus tertentu,
apa yang kita lakukan menjadi tepat guna. Sehingga dapat membantu
terungkapnya kebenaran yang sesungguhnya akan suatu kasus kejadian kejahatan
seperti moto yang berlaku dalam forensik bahwa ”melalui visum, barang/ benda
yang tidak bernyawa dan tidak bergerak dapat dibuat berbicara oleh para dokter
yang melakukan visum melalui V et R.”

A.Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka didapatkan adanya perumusan

masalah yaitu :

A.

1.Apa saja pemeriksaan laboratorium sederhana?

2.Bagaimana cara melakukannya dan interpretasi hasilnya?
3.Bagaimana implementasinya pada kasus-kasus tertentu?

A.Tujuan

Penyusunan refarat ini bertujuan agar tenaga medis khususnya para dokter
umum yang diwajibkan untuk dapat melakukan visum dan membuat V et R, dapat
mengetahui dan memahami macam-macam pemeriksaan laboratorium sederhana
yang ada pada ilmu forensik dan dapat menentukan pemeriksaan laboratorium
sederhana yang dapat dilakukan pada kasus tertentu untuk membantu mengetahui
penyebab kematian.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Definisi Pemeriksaan Laboratorium Sederhana

Tidak ada literatur yang secara jelas membatasi kata ”sederhana” pada
pemeriksaan laboratorium sederhana forensik ini, untuk itu kami membatasinya
sendiri, yaitu pemeriksaan laboratorium yang dalam pengerjaannya mudah,
dengan alat dan reagen yang murah dan mudah didapat namun memberi nilai
manfaat yang besar.

A.Macam-macam Pemeriksaan Laboratorium Sederhana dan Pelaksanaannya

1. Pemeriksaan Laboratorium Forensik Darah

Pemeriksaan bercak darah merupakan salah satu pemeriksaan yang paling
sering dilakukan pada laboratorium forensik. Karena darah mudah sekali tercecer
pada hampir semua bentuk tindakan kekerasan, penyelidikan terhadap bercak
darah ini sangat berguna untuk mengungkapkan suatu tindakan kriminil. (1)
Pemeriksaan darah pada forensik sebenarnya bertujuan untuk membantu
identifikasi pemilik darah tersebut.

Sebelum dilakukan pemeriksaan darah yang lebih lengkap, terlebih dahulu kita
harus dapat memastikan apakah bercak berwarna merah itu darah. Oleh sebab itu perlu
dilakukan pemeriksaan guna menentukan :
a. Bercak tersebut benar darah
b. Darah dari manusia atau hewan
c. Golongan darahnya, bila darah tersebut benar dari manusia
Untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan diatas, harus dilakukan
pemeriksaan laboratorium sebagai berikut :

a. Persiapan

Bercak yang menempel pada suatu objek dapat dikerok kemudian
direndam dalam larutan fisiologis, atau langsung direndam dengan larutan
garam fisiologis bila menempel pada pakaian.

b. Pemeriksaan Penyaringan (presumptive test)

Ada banyak tes penyaring yang dapat dilakukan untuk membedakan
apakah bercak tersebut berasal dari darah atau bukan, karena hanya yang
hasilnya positif saja yang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Prinsip pemeriksaan penyaringan:

A.Latar Belakang

Tingginya tingkat kriminalitas saat ini menyebabkan tingginya permintaan
visum. Hal ini menjadi perhatian kita sebagai dokter umum karena walaupun
permintaan visum biasanya diajukan kepada rumah sakit besar baik umum
maupun swasta, tidak menutup kemungkinan permintaan visum diajukan kepada
kita sebagai dokter umum pada saat kita melakukan tugas PTT di suatu daerah.
Untuk itu sebagai dokter umum kita wajib dapat melakukan visum dan membuat
laporannya melalui V et R.

Dalam setiap melakukan visum, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang
untuk memperjelas dan membuktikan kebenaran suatu kasus. Karena sebenarnya,
pada setiap kejadian kejahatan hampir selalu ada barang bukti yang tertinggal,
seperti yang dipergunakan oleh seorang ahli hukum kenamaan Italia yang

bernama E. Ferri, 1859-1927, bahwa ada yang dinamakan ”saksi diam” yang
terdiri antara lain atas :
1. Benda atau tubuh manusia yang telah mengalami kekerasan.
2. Senjata atau alat yang dipakai untuk melakukan kejahatan.
3. Jejak atau bekas yang ditinggalkan oleh si penjahat pada tempat kejadian.
4. Benda-benda yang terbawa oleh si penjahat baik yang berasal dari benda atau
tubuh manusia yang mengalami kekerasan maupun yang berasal dari tempat
kejadian.
5. Benda-benda yang tertinggal pada benda atau tubuh manusia yang mengalami
kekerasan atau ditempat kejadian yang berasal dari alat atau senjata yang
dipakai ataupun berasal dari si penjahat sendiri. (10)
Bila ”saksi diam” tersebut diteliti dengan memanfaatkan berbagai macam
ilmu forensik (forensic sciences) maka tidak mustahil kejahatan tersebut akan
dapat terungkap dan bahkan korban yang sudah membusuk atau hangus serta
pelakunya akan dapat dikenali. Sebagai contoh, pada kasus infantisida, untuk
kepentingan pengadilan perlu diketahui apakah bayi tersebut lahir hidup
kemudian meninggal karena pembunuhan atau memang lahir mati, dengan mudah
dapat kita ketahui dengan melakukan pemeriksaan hidrostatik, dimana bila
jaringan paru yang dicelupkan ke dalam air tawar tersebut mengapung maka bayi
tersebut dilahirkan dalam keadaan hidup.
Oleh sebab itu, pemeriksaan penunjang khususnya pemeriksaan
laboratorium sederhana menjadi sangat dibutuhkan keberadaannya. Dalam
membantu kita sebagai si pembuat visum untuk memperjelas suatu kasus kejadian
kejahatan, karena dengan mengetahui secara pasti pemeriksaan penunjang
laboratorium sederhana apa saja yang dapat dilakukan dalam kasus-kasus tertentu,
apa yang kita lakukan menjadi tepat guna. Sehingga dapat membantu
terungkapnya kebenaran yang sesungguhnya akan suatu kasus kejadian kejahatan
seperti moto yang berlaku dalam forensik bahwa ”melalui visum, barang/ benda
yang tidak bernyawa dan tidak bergerak dapat dibuat berbicara oleh para dokter
yang melakukan visum melalui V et R.”

A.Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka didapatkan adanya perumusan

masalah yaitu :

A.

1.Apa saja pemeriksaan laboratorium sederhana?
2.Bagaimana cara melakukannya dan interpretasi hasilnya?
3.Bagaimana implementasinya pada kasus-kasus tertentu?

A.Tujuan

Penyusunan refarat ini bertujuan agar tenaga medis khususnya para dokter
umum yang diwajibkan untuk dapat melakukan visum dan membuat V et R, dapat
mengetahui dan memahami macam-macam pemeriksaan laboratorium sederhana
yang ada pada ilmu forensik dan dapat menentukan pemeriksaan laboratorium
sederhana yang dapat dilakukan pada kasus tertentu untuk membantu mengetahui
penyebab kematian.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Definisi Pemeriksaan Laboratorium Sederhana

Tidak ada literatur yang secara jelas membatasi kata ”sederhana” pada
pemeriksaan laboratorium sederhana forensik ini, untuk itu kami membatasinya
sendiri, yaitu pemeriksaan laboratorium yang dalam pengerjaannya mudah,
dengan alat dan reagen yang murah dan mudah didapat namun memberi nilai
manfaat yang besar.

A.Macam-macam Pemeriksaan Laboratorium Sederhana dan Pelaksanaannya

1. Pemeriksaan Laboratorium Forensik Darah

Pemeriksaan bercak darah merupakan salah satu pemeriksaan yang paling
sering dilakukan pada laboratorium forensik. Karena darah mudah sekali tercecer
pada hampir semua bentuk tindakan kekerasan, penyelidikan terhadap bercak
darah ini sangat berguna untuk mengungkapkan suatu tindakan kriminil. (1)
Pemeriksaan darah pada forensik sebenarnya bertujuan untuk membantu
identifikasi pemilik darah tersebut.

Sebelum dilakukan pemeriksaan darah yang lebih lengkap, terlebih dahulu kita
harus dapat memastikan apakah bercak berwarna merah itu darah. Oleh sebab itu perlu
dilakukan pemeriksaan guna menentukan :
a. Bercak tersebut benar darah
b. Darah dari manusia atau hewan
c. Golongan darahnya, bila darah tersebut benar dari manusia
Untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan diatas, harus dilakukan
pemeriksaan laboratorium sebagai berikut :

a. Persiapan

Bercak yang menempel pada suatu objek dapat dikerok kemudian
direndam dalam larutan fisiologis, atau langsung direndam dengan larutan
garam fisiologis bila menempel pada pakaian.

b. Pemeriksaan Penyaringan (presumptive test)

Ada banyak tes penyaring yang dapat dilakukan untuk membedakan
apakah bercak tersebut berasal dari darah atau bukan, karena hanya yang
hasilnya positif saja yang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Prinsip pemeriksaan penyaringan:

Figure1. Penentuan golongan darah ABO cara makroskopik

Bila sel darah merah sudah rusak
Penentuan golongan darah dapat dilakukan dengan cara menentukan jenis
aglutinin dan antigen. Antigen mempunyai sifat yang jauh lebih stabil

dibandingkan dengan aglutinin. Di antara system-sistem golongan darah, yang
paling lama bertahan adalah antigen dari system golongan darah ABO.
Penentuan jenis antigen dapat dilakukan dengan cara absorpsi inhibisi, absorpsi
elusi atau aglutinasi campuran. Cara yang biasa dilakukan adalah cara absorpsi
elusi
dengan prosedur sebagai berikut: (2)
Cara pemeriksaan :

2-3 helai benang yang mengandung bercak kering difiksasi dengan metil
alcohol selama 15 menit. Benang diangkat dan dibiarkan mengering. Selanjutnya
dilakukan penguraian benang tersebut menjadi serat-serat halus dengan
menggunakan 2 buah jarum. Lakukan juga terhadap benang yang tidak
mengandung bercak darah sebagai control negative.
Serat benang dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi. Ke dalam tabung pertama
diteteskan serum anti-A dan kedalam tabung kedua serum anti-B hingga serabut
benang tersebut teredam seluruhnya. Kemudian tabung-tabung tersebut disimpan
dalam lemari pendingin dengan suhu 4 derajat Celcius selama satu malam.
Lakukan pencucian dengan menggunakan larutan garam faal dingin (4 derajat
Celcius) sebanyak 5-6 kali lalu tambahkan 2 tetes suspense 2% sel indicator (sel
daram merah golongan A pada tabung pertama dan golongan B pada tabung
kedua), pusing dengan kecepatan 1000 RPM selama 1 menit. Bila tidak terjadi
aglutinasi, cuci sekali lagi dan kemudian tambahkan 1-2 tetes larutan garam faal
dingin. Panaskan pada suhu 56 derajat Celcius selama 10 menit dan pindahkan
eluat ke dalam tabung lain. Tambahkan 1 tetes suspense sel indicator ke dalam
masing-masing tabung, biarkan selama 5 menit, lalu pusing selama 1 menit pada
kecepatan 1000 RPM.
Hasil :
Pembacaan hasil dilakukan secara makroskopik. Bila terjadi aglutinasi berarti
darah mengandung antigen yang sesuai dengan antigen sel indicator.
Pemeriksaan golongan darah juga dapat membantu mengatasi kasus paternitas.
Hal ini berdasarkan Hukum Mendel yang mengatakan bahwa antigen tidak
mungkin muncul pada anak, jika antigen tersebut tidak terdapat pada salah satu
atau kedua orang tuanya. Orang tua yang homozigotik pasti meneruskan gen

untuk antigen tersebut kepada anaknya. (Anak dengan golongan darah O tidak
mungkin mempunyai orang tua yang bergolongan darah AB).
Perlu diingat bahwa Hukum Mendel tetap berdasarkan kemungkinan
(probabilitas), sehingga penentuan ke-ayah-an dari seorang anak tidak dapat
dipastikan, namun sebaliknya kita dapat memastikan seseorang adalah bukan ayah
seorang anak (“singkir ayah”/”paternity exclusion”).
Contoh-contoh kasus.
Bayi tertukar.
Dilakukan pemeriksaan sistim golongan darah dari bayi serta kedua orang tuanya.

Table. Kasus bayi tertukar. Penentuan bercasarkan golongan darah ABO.

Bayi I

Bayi II

A

O

Pria

O

AB

Wanita

O

O
Jelas bayi II adalah anak dari pasangan I, sedangkan bayi I anak anak pasangan II.

Table. Kasus bayi tertukar. Penentuan berdasarkan golongan darah ABO.

Bayi I

Bayi II

AB

A

Pria

A

AB

Wanita

B

O
Jelas bayi I adalah anak pasangan I, tidak mungkin sebagai anak pasangan II,
sedangkan bayi II adalah anak dari pasangan II, walaupun pasangan I mungkin
saja mempunyai anak bergolongan darah A.
Ragu ayah (disputed paternity).
Dalam kasus ini siapa saja ayah yang sebenarnya dari seorang anak masih
diragukan.

Table. Kasus ragu ayah. Penentuan berdasarkan golongan darah ABO.

Golongan darah

Bayi

B MNS Rhesus +

Ibu

A MNS Rhesus +

Pria I

AB MNS Rhesus +

Pria II

O MS Rhesus +

Pria III

A MNS Rhesus +
Pria I tidak dapat disingkirkan kemungkinan menjadi ayah si anak, sedangkan
Pria II dan III pasti bukan ayah anak tersebut.
Ayah yang curiga si anak bukanlah anaknya yang sejati.

Table. Kasus ragu ayah. Curiga bukan anak yang sejati.

Golongan Darah

Anak

O MNS Rhesus +

Ibu

A MS Rhesus +

“Ayah”

B MS Rhesus +

Anak tersebut pasti bukan anak dari “Ayah” tersebut.
Demikian pula kasus-kasus lainnya dapat dibantu penyelesaiannya dengan cara
yang sama seperti diatas.
Bila dicurigai penyebab kematian adalah keracunan maka dapat dilakukan pemeriksaan
darah sebagai berikut :

1. Pemeriksaan CO (karbon monoksida)(2)
a. Untuk penentuan COHb secara kualitatif dapat dikerjakan uji difusi

alkali.
i. Ambil 2 tabung reaksi. Masukkan ke dalam tabung pertama 1-2 tetes darah korban dan
tabung kedua 1-2 tetes darah normal sebagai kontrol. Encerkan
masing-masing darah dengan menambahkan 10 ml air sehingga
warna merah pada kedua tabung kurang lebih sama.
ii. Tambahkan pada masing-masing tabung 5 tetes larutan NaOH 10-20%, lalu dikocok.
Darah normal segera berubah warna menjadi merah hijau
kecoklatan karena segera terbentuk hematin alkali, sedangkan
darah yang mengandung COHb tidak berubah warnanya untuk
beberapa waktu, tergantung pada konsentrasi COHb, karena COHb
lebih bersifat resisten terhadap pengaruh alkali. COHb dengan
kadar saturasi 20% memberi warna merah muda (pink) yang

bertahan selama beberapa detik, dan setelah 1 menit baru berubah
warna menjadi coklat kehijauan.
iii. Perlu diperhatikan bahwa darah yang dapat digunakan sebagai kontrol dalam uji dilusi
alkali ini haruslah darah dengan Hb yang normal. Jangan gunakan
darah foetus karena dikatakan bahwa darah foetus juga bersifat
resisten terhadap alkali.
b. Dapat pula dilakukan uji formalin (Eachloz-Liebmann).
Darah yang akan diperiksa ditambahkan larutan formalin 40% sama
banyaknya. Bila darah mengandung COHb 25% saturasi maka akan
terbentuk koagulat berwarna merah yang mengendap pada dasar
tabung reaksi. Semakin tinggi kadar COHb, semakin merah warna
koagulatnya. Sedangkan pada darah normal akan terbentuk koagulat
yang berwarna coklat.

Cara Gettler-Freimuth (semi-kuantitatif)

Prinsipnya sebagai berikut :

Darah + Kalium ferisianida CO dibebaskan dari COHb

CO + PdCl2 + H2O Pd + CO2 + HCl

Paladium (Pd) ion akan diendapkan pada kertas saring berupa endapan
berwarna hitam. Dengan membandingkan intensitas warna hitam
tersebut dengan warna hitam yang diperoleh dari pemeriksaan
terhadap darah dengan kadar COHb yang diketahui, maka dapat
ditentukan konsentrasi COHb secara semi kuantitatif.

2. Pemeriksaan Alkohol(2)

Bau alkohol bukan merupakan diagnosis pasti keracunan.
Diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan kuantitatif
kadar alkohol darah. Kadar alkohol dari udara ekspirasi dan urin dapat
dipakai sebagai pilihan kedua. Untuk korban meninggal sebagai pilihan
kedua dapat diperiksa kadar alkohol dalam otak, hati, atau organ lain atau
cairan tubuh lain seperti cairan serebrospinalis.

Penentuan kadar alkohol dalam lambung saja tanpa menentukan
kadar alkohol dalam darah hanya menunjukkan bahwa orang tersebut telah
minum alkohol. Pada mayat, alkohol dapat didifusi dari lambung ke
jaringan sekitarnya termasuk ke dalam jantung, sehingga untuk
pemeriksaan toksikologik, diambil darah dari pembuluh darah vena perifer
(kubiti atau femoralis).

Salah satu cara penentuan semikuantitatif kadar alkohol dalam
darah yang cukup sederhana adalah teknik modifikasi mikrodifusi
(Conway)
, sebagai berikut :

Letakkan 2 ml reagen Antie ke dalam ruang tengah. Reagen Antie
dibuat dengan melarutkan 3,70 gr kalium dikromat ke dalam 150 ml air.
Kemudian tambahkan 280 ml asam sulfat dan terus diaduk. Encerkan
dengan 500 ml akuades. Sebarkan 1 ml darah yang akan diperiksa dalam
ruang sebelah luar dan masukkan 1 ml kalium karbonat jenuh dalam ruang
sebelah luar pada sisi berlawanan.
Tutup sel mikrodifusi, goyangkan dengan hati-hati supaya darah
bercampur dengan larutan kalium karbonat. Biarkan terjadi difusi selama 1
jam pada temperatur ruang. Kemudian angkat tutup dan amati perubahan
warna pada reagen Antie.

Warna kuning kenari menunjukkan hasil negatif. Perubahan warna
kuning kehijauan menunjukkan kadar etanol sekitar 80mg %, sedangkan
warna hijau kekuningan sekitar 300mg %.
Kadar alkohol darah yang diperoleh dari pemeriksaan belum
menunjukkan kadar alkohol darah pada saat kejadian. Hasil ini akibat dari
pengambilan darah dilakukan beberapa saat setelah kejadian, sehingga
yang dilakukan adalah perhitungan kadar alkohol darah saat kejadian.
Meskipun kecepatan eliminasi kira-kira 14-15 mg%, namun pada
perhitungan harus juga dipertimbangkan kemungkinan kesalahan
pengukuran dan kesalah perkiraan kecepatan eliminasi. Gruner (1975)
menganjurkan angka 10 mg% per jam digunakan dalam perhitungan.
Sebagai contoh, bila ditemukan kadar alkohol darah 50mg% yang

diperiksa 3 jam setelah kejadian, akan memberikan angka 80 mg% pada
saat kejadian.

3. Pemeriksaan Insektisida(2)

Untuk pemeriksaan toksikologik insektisida perlu diambil darah,
jaringan hati, limpa, paru-paru dan lemak badan.
Penentuan kadar AchE dalam darah dan plasma dapat dilakukan
dengan cara tintimeter (Edson) dan cara paper-strip (Acholest).
Cara Edson : berdasarkan perubahan pH darah
AChE
Ach —— > kolin + asam asetat
Ambil darah korban dan tambahkan indikator brom-timol-biru,
diamkan beberapa saat maka akan terjadi perubahan warna. Bandingkan
warna yang timbul dengan warna standar pada comparator disc (cakram
pembanding), maka dapat ditentukan AchE dalam darah.

Table. Interpretasi Hasil pada Tes Edson.

% aktifitas AchE darah

Interpretasi

75% – 100% dari normal

Tidak ada keracunan

50% – 75% dari normal

Keracunan ringan

25% – 50% dari normal

Keracunan

0% – 25% dari normal

Keracunan berat

Cara Acholest :

Ambil serum darah korban dan teteskan pada kertas Acholest
bersamaan dengan kontrol serum darah normal. Pada kertas Acholest
sudah terdapat Ach dan indikator. Waktu perubahan warna pada kertas
tersebut dicatat. Perubahan warna harus sama dengan perubahan warna
pembanding (serum normal) yaitu warna kuning telur.
Interpretasi :

Kurang dari 18 menit tidak ada keracunan
20-35 menit keracunan ringan
35-150 menit keracunan berat

Kromatografi lapisan tipis (TLC)

Kaca berukuran 20 x 20 cm, dilapisi dengan absorben gel silikat
atau dengan aluminium oksida, lalu dipanaskan dalam oven 110 derajat
celcius selama 1 jam.

Filtrat yang akan diperiksa (hasil ekstraksi dari darah atau jaringan
korban) diteteskan dengan mikropipet pada kaca. Disertai dengan tetesan
lain yang telah diketahui golongan dan jenis serta konsentrasinya sebagai
pembanding. Ujung kaca TLC dicelupkan ke dalam pelarut, biasanya n-
Hexan. Celupan tidak boleh mengenai tetesan tersebut di atas. Dengan
daya kapilaritas maka pelarut akan ditarik ke atas sambil melarutkan
filtrat-filtrat tadi. Setelah itu kaca TLC dikeringkan lalu disemprot dengan
reagensia Paladium klorida 0,5% dalam HCl pekat, kemudian dengan
Difenilamin 0,5% dalam alkohol.
Hasilnya :

Warna hitam (gelap) berarti golongan hidrokarbon terklorinasi.
Warna hijau dengan dasar dadu berarti golongan organofosfat. Untuk
menentukan jenis dalam golongannya dapat dilakukan dengan
menentukan Rf masing-masing bercak.
Rf = jarak yang ditempuh bercak
Jarak yang ditempuh pelarut
Angka yang didapat dicocokan dengan standar, maka jenisnya dapat
ditentukan. Dengan membandingkan besar bercak dan intensitas warnanya
dengan pembanding, dapat diketahui konsentrasi secara semikuantitatif.

4. Pemeriksaan Sianida(2)
Uji kertas saring.

Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan asam pikrat jenuh,
biarkan hingga menjadi lembab. Teteskan satu tetes isi lambung atau
darah korban, diamkan sampai agak mengering, kemudian teteskan
Na2CO3 10 % 1 tetes. Uji positif bila terbentuk warna ungu.
Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan HNO3 1%, kemudian ke
dalam larutan kanji 1% dan keringkan. Setelah itu kertas saring dipotong-

potong seperti kertas lakmus. Kertas ini dipakai untuk pemeriksaan masal
pada pekerja yang diduga kontak dengan CN. Caranya dengan
membasahkan kertas dengan ludah di bawah lidah. Uji positif bila warna
berubah menjadi biru. Hasil uji berwarna biru muda meragukan sedangkan
bila warna tidak berubah (merah muda) berarti tidak dapat keracunan.
Kertas saring dicelup ke dalam larutan KCL, dan dipotong kecil-
kecil. Kertas tersebut dicelupkan ke dalam darah korban, bila positif maka
warna akan berubah menjadi merah terang karena terbentuk
sianmethemoglobin.

2.a. Pemeriksaan Laboratorium Forensik Cairan Mani & Spermatozoa (2), (5)

Cairan mani merupakan cairan agak putih kekuningan, keruh dan berbau
khas. Cairan mani pada saat ejakulasi kental kemudian akibat enzim proteolitik
menjadi cair dalam waktu yang singkat (10 – 20 menit). Dalam keadaan normal,
volume cairan mani 3 – 5 ml pada 1 kali ejakulasi dengan pH 7,2 – 7,6.
Cairan mani mengandung spermatozoa, sel-sel epitel dan sel-sel lain yang
tersuspensi dalam cairan yang disebut plasma seminal yang mengandung
spermion dan beberapa enzim sepertri fosfatase asam. Spermatozoa mempunyai
bentuk yang khas untuk spesies tertentu dengan jumlah yang bervariasi, biasanya
antara 60 sampai 120 juta per ml.
Sperma itu sendiri didalam liang vagina masih dapat bergerak dalam
waktu 4 – 5 jam post-coitus; sperma masih dapat ditemukan tidak bergerak
sampai sekitar 24-36 jam post coital dan bila wanitanya mati masih akan dapat
ditemukan 7-8 hari
Pemeriksaan cairan mani dapat digunakan untuk membuktikan :
1. Adanya persetubuhan melalui penentuan adanya cairan mani dalam labia
minor atau vagina yang diambil dari forniks posterior
2. Adanya ejakulasi pada persetubuhan atau perbuatan cabul melalui
penentuan adanya cairan mani pada pakaian, seprai, kertas tissue, dsb.
Teknik Pengambilan bahan untuk pemeriksaan laboratorium untuk
pemeriksaan cairan mani dan sel mani dalam lendir vagina, yaitu dengan
mengambil lendir vagina menggunakan pipet pasteur atau diambil dengan ose

batang gelas, atau swab. Bahan diambil dari forniks posterior, bila mungkin
dengan spekulum. Pada anak-anak atau bila selaput darah masih utuh,
pengambilan bahan sebaiknya dibatasi dari vestibulum saja.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi :

1. Penentuan spermatozoa (mikroskopis)

Tujuan : Menentukan adanya sperma
- Bahan pemeriksaan : cairan vagina
- Metode pemeriksaan :

Tanpa pewarnaan

Untuk melihat motilitas spermatozoa. Pemeriksaan ini paling
bermakna untuk memperkirakan saat terjadinya persetubuhan
Cara pemeriksaan :

Letakkan satu tetes cairan vagina pada kaca objek kemudian ditutup.
Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran 500 kali. Perhatikan
pergerakkan spermatozoa
Hasil :

Umumnya disepakati dalam 2 – 3 jam setelah persetubuhan masih
dapat ditemukan spermatozoa yang bergerak dalam vagina. Haid akan
memperpanjang waktu ini sampai 3 – 4 jam. Berdasarkan beberapa penelitian,
dapat disimpulkan bahwa spermatozoa masih dapat ditemukan 3 hari, kadang
– kadang sampai 6 hari pasca persetubuhan. Pada orang mati, spermatozoa
masih dapat ditemukan hingga 2 minggu pasca persetubuhan, bahkan
mungkin lebih lama lagi.

Dengan Pewarnaan

Cara pemeriksaan :

Buat sediaan apus dan fiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus
tersebut pada nyala api. Pulas dengan HE, biru metilen atau hijau malakit
Cara pewarnaan yang mudah dan baik untuk kepentingan forensik
adalah pulasan dengan hijau malakit dengan prosedur sebagian berikut :

Buat sediaan apus dari cairan vaginal pada gelas objek, keringkan diudara,
dan fiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut pada nyala api,
warnai dengan Malachite-green 1% dalam air, tunggu 10-15 menit, cuci
dengan air, warnai dengan larutan Eosin Yellowish 1 % dalam air, tunggu
selama 1 menit, cuci lagi dengan air, keringkan dan periksa dibawah
mikroskop.

Hasil :

Keuntungan dengan pulasan ini adalah inti sel epitel dan leukosit tidak
terdiferensiasi, sel epitel berwarna merah muda merata dan leukosit tidak
terwarnai. Kepala spermatozoa tampak merah dan lehernya merah muda,
ekornya berwarna hijau

Bila persetubuhan tidak ditemukan, belum tentu dalam vagina tidak
ada ejakulat karena kemungkinan azoosperma atau pascavasektomi. Bila hal
ini terjadi, maka perlu dilakukan penentuan cairan mani dalam cairan vagina.

2. Penentuan Cairan Mani (kimiawi)

Untuk membuktikan terjadinya ejakulasi pada persetubuhan dari
ditemukan cairan mani dalam sekret vagina, perlu dideteksi adanya zat-zat
yang banyak terdapat dalam cairan mani, yaitu dengan pemeriksaan
laboratorium :

a. Reaksi Fosfatase Asam

Merupakan tes penyaring adanya cairan mani, menentukan apakah
bercak tersebut adalah bercak mani atau bukan, sehingga harus selalu
dilakukan pada setiap sampel yang diduga cairan mani sebelum dilakukan
pemeriksaan lain. Reaksi fosfatase asam dilakukan bila pada pemeriksaan
tidak ditemukan sel spermatozoa. Tes ini tidak spesifik, hasil positif semu
dapat terjadi pada feses, air teh, kontrasepsi, sari buah dan tumbuh-
tumbuhan.
Dasar reaksi (prinsip) :

Adanya enzim fosfatase asam dalam kadar tinggi yang dihasilkan
oleh kelenjar prostat. Enzim fosfatase asam menghidrolisis natrium alfa

naftil fosfat. Alfa naftol yang telah dibebaskan akan bereaksi dengan
brentamin menghasilkan zat warna azo yang berwarna biru ungu. Bahan
pemeriksaan yang digunakan adalah cairan vaginal.
Reagen :
Larutan A

Brentamin Fast Blue B 1 g (1)
Natrium asetat trihidrat 20 g (2)
Asam asetat glasial 10 ml (3)
Askuades 100 ml (4)
(2) dan (3) dilarutkan dalam (4) untuk menghasilkan larutan
penyangga dengan pH 5, kemudian (1) dilarutkan dalam larutan peyangga
tersebut.
Larutan B
Natrium alfa naftil fosfat 800 mg + aquades 10 ml.
89 ml Larutan A ditambah 1 ml larutan B, lalu saring cepat ke
dalam botol yang berwarna gelap. Jika disimpan dilemari es, reagen ini
dapat bertahan berminggu-minggu dan adanya endapan tidak akan
mengganggu reaksi.
Cara pemeriksaan :

Bahan yang dicurigai ditempelkan pada kertas saring yang terlebih
dahulu dibasahi dengan aquades selama beberapa menit. Kemudian kertas
saring diangkat dan disemprotkan / diteteskan dengan reagen. Ditentukan
waktu reaksi dari saat penyemprotan sampai timbul warna ungu, karena
intensitas warna maksimal tercapai secara berangsur-angsur.
Hasil :

Bercak yang tidak mengandung enzim fosfatase memberikan
warna serentak dengan intensitas tetap, sedangkan bercak yang
mengandung enzim tersebut memberikan intensitas warna secara
berangsur-angsur.

Waktu reaksi 30 detik merupakan indikasi kuat adanya cairan
mani. Bila 30 – 65 detik, masih perlu dikuatkan dengan pemeriksaan

elektroforesis. Waktu reaksi > 65 detik, belum dapat menyatakan
sepenuhnya tidak terdapat cairan mani karena pernah ditemukan waktu
reaksi > 65 detik tetapi spermatozoa positif.
Enzim fosfatase asam yang terdapat di dalam vagina memberikan
waktu reaksi rata-rata 90 – 100 detik. Kehamilan, adanya bakteri-bakteri
dan jamur, dapat mempercepat waktu reaksi.

b. Reaksi Florence

Reaksi ini dilakukan bila terdapat azoospermia/tidak ditemukan
spermatozoa atau cara lain untuk menentukan semen tidak dapat
dilakukan.
Dasar :

Menentukan adanya kolin.
Reagen (larutan lugol) dapat dibuat dari :
Kalium yodida 1,5 g
Yodium 2,5 g
Akuades 30 ml
Cara pemeriksaan :

Cairan vaginal ditetesi larutan reagen, kemudian lihat dibawah

mikroskop.
Hasil :

Bila terdapat mani, tampak kristal kolin periodida coklat berbentuk
jarum dengan ujung sering terbelah.
Test ini tidak khas untuk cairan mani karena bahan yang berasal
dari tumbuhan atau binatang akan memperlihatkan kristal yang serupa
tetapi hasil postif pada test ini dapat menentukan kemungkinan terdapat
cairan mani dan hasil negative menentukan kemungkinan lain selain
cairan mani.

c. Reaksi Berberio

Reaksi ini dilakukan dan mempunyai arti bila mikroskopik tidak

ditemukan spermatozoa.
Dasar reaksi :

Menentukan adanya spermin dalam semen.

Reagen :

Larutan asam pikrat jenuh.
Cara pemeriksaan (sama seperti pada reaksi Florence) :
Bercak diekstraksi dengan sedikit akuades. Ekstrak diletakkan
pada kaca objek, biarkan mengering, tutup dengan kaca penutup. Reagen
dialirkan dengan pipet dibawah kaca penutup.
Hasil :

Hasil positif bila, didapatkan kristal spermin pikrat kekuningan
berbentuk jarum dengan ujung tumpul. Kadang-kadang terdapat garis
refraksi yang terletak longitudinal. Kristal mungkin pula berbentuk ovoid.

3. Penentuan Golongan Darah ABO Pada Cairan Mani

Pada individu yang termasuk golongan sekretor (85% dari populasi),
substansi golongan darah dapat dideteksi dalam cairan tubuhnya seperti air liur,
sekret vagina, cairan mani, dan lain-lain. Substansi golongan darah dalam cairan
mani jauh lebih banyak dari pada air liur (2 – 100 kali). Hanya golongan sekretor
saja yang golongan darahnya dapat ditentukan dalam semen yaitu dilakukan
dengan cara absorpsi inhibisi.

Table. Gambaran substansi golongan darah dalam bahan pemeriksaan yang berasal dari
forniks posterior vagina.

Golongan Darah Wanita

O

A

B

AB

Substansi
”sendiri”
dalam
sekret
vagina

H

A
A + H

B
B + H

A + B

Substansi
“asing”
berasal
dari

A
B
A + B

B
H*

A
H*

H*
A + H

semen

Hasil :

Adanya substansi ‘asing’ menunjukkan di dalam vagina wanita tersebut

terdapat cairan mani.

4. Pemeriksaan Bercak Mani Pada Pakaian

a. Secara visual

Bercak mani berbatas tegas dan warnanya lebih gelap daripada
sekitarnya. Bercak yang sudah agak tua berwarna kekuningan.

• Pada bahan sutera / nilon, batas sering tidak jelas, tetapi selalu lebih gelap

daripada sekitarnya.

• Pada tekstil yang tidak menyerap, bercak segar menunjukkan permukaan

mengkilat dan translusen kemudian mengering. Dalam waktu kira-kira 1
bulan akan berwarna kuning sampai coklat.

• Pada tekstil yang menyerap, bercak segar tidak berwarna atau bertepi

kelabu yang berangsur-angsur menguning sampai coklat dalam waktu 1
bulan.

• Dibawah sinar ultraviolet, bercak semen menunju

flouresensi putih. Bercak pada sutera buatan atau nilon mungkin tidak
berflouresensi. Flouresensi terlihat jelas pada bercak mani pada bahan
yang terbuat dari serabut katun. Bahan makanan, urin, sekret vagina, dan
serbuk deterjen yang tersisa pada pakaian sering berflouresensi juga.

b. Secara taktil (perabaan)

Bercak mani teraba kaku seperti kanji. Pada tekstil yang tidak
menyerap, bila tidak teraba kaku, masih dapat dikenali dari permukaan bercak
yang teraba kasar.
c. Skrining awal (dengan Reagen fosfatase asam)
Cara pemeriksaan :

Sehelai kertas saring yang telah dibasahi akuades ditempelkan pada
bercak yang dicurigai selama 5 – 10 menit. Keringkan lalu semprotkan /
teteskan dengan reagen. Bila terlihat bercak ungu, kertas saring diletakkan

kembali pada pakaian sesuai dengan letaknya semula untuk mengetahui letak
bercak pada kain.

d. Uji pewarnaan Baecchi

Reagen dapat dibuat dari :
Asam fukhsin 1 % 1 ml
Biru metilen 1 % 1 ml
Asam klorida 1 % 40 ml
Cara Pemeriksaan :

Gunting bercak yang dicurigai sebesar 5 mm x 5 mm pada bagian
pusat bercak. Bahan dipulas dengan reagen Baecchi selama 2 – 5 menit, dicuci
dalam HCL 1 % dan dilakukan dehidrasi berturut-turut dalam alkohol 70 %,
80 % dan 95 – 100 % (absolut). Lalu dijernihkan dalam xylol (2x)dan
keringkan di antara kertas saring.
Ambillah 1 – 2 helai benang dengan jarum.Letakkan pada gelas objek
dan uraikan sampai serabut-serabut saling terpisah. Tutup dengan kaca
penutup dan balsem Kanada. Periksa dengan mikroskop pembesaran 400 x.
Hasil :

Serabut pakaian tidak berwarna, spermatozoa dengan kepala berwarna
merah dan ekor berwarna merah muda terlihat banyak menempel pada serabut
benang.

Pemeriksaan Pria Tersangka (2)

Untuk membuktikan bahwa seorang pria baru saja melakukan
persetubuhan dengan seseorang wanita.

Cara lugol

Kaca objek ditempelkan dan ditekan pada glans penis, terutama
pada bagian kolum, korona serta frenulum, kemudian letakkan dengan
spesimen menghadap kebawah diatas tempat yang berisi larutan ligol
dengan tujuan agar uap yodium akan mewarnai sediaan tersebut. Hasil
akan menunjukkan sel-sel epitel vagina dengan sitoplasma berwarna
coklat karena mengandung banyak glikogen.

Untuk memastikan bahwa sel epitel berasal dari seorang wanita,
perlu ditentukan adanya kromatin seks (barr bodies) pada inti. Dengan
pembesaran besar, perhatikan inti sel epitel yang ditemukan dan cari barr
bodies. Ciri-cirinya adalah menempel erat pada permukaan membran inti
dengan diameter kira-kira 1 µ yang berbatas jelas dengan tepi tajam dan
terletak pada satu dataran fokus dengan inti.
Kelemahan pemeriksaan ini adalah bila persetubuhan tersebut telah
berlangsung lama atau telah dilakukan pencucian pada alat kelamin pria,
maka pemeriksaan ini tidak akan berguna lagi.
Pada dasarnya pemeriksaan laboratorium forensik pada korban
wanita dewasa dan anak-anak adalah sama, yang membedakan adalah
pendekatan terhadap korban

Pengumpulan barang bukti harus dilakukan jika hubungan seksual
terjadi dalam 72 jam sebelum pemeriksaan fisik.

2.b. Pemeriksaan Laboratorium Forensik Cairan Lainnya
Air Liur (2), (9)

Air liur merupakan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar liur. Air liur
(saliva) terdiri dari air, enzim alfa amilase (ptialin), protein, lipid, ion-ion
anorganik seperti tiosianat, klorida dan lain – lain.
Dalam bidang kedokteran forensik, pemeriksaan air liur penting untuk
kasus-kasus dengan jejas gigitan untuk menentukan golongan darah pengigitnya.
Golongan darah penggigit yang termasuk dalam golongan sekretor dapat
ditentukan dengan cara absorpsi inhibisi.
Reagen yang digunakan yaitu anti A dan anti B dapat diperoleh dari
laboratorium transfusi darah PMI, demikian pula

dengan anti H. Anti H dapat dibuat dari biji-biji Ulex europaeus yang
digerus dalam mortir. Tiap 1 g biji-bijian ditambahkan 10 ml salin. Kemudian
campuran tadi dikocok dengan mesin pengocok selam 1 jam dan dipusing selama
5 menit dengan kecepatan 3000 RPM. Cairan supernatan disaring dan dapat
segera dipergunakan.

Untuk pemeriksaan perlu dilakukan kontrol dengan air liur yang telah
diketahui golongan sekretor atau non sekretor.
Cara absorpsi inhibisi :

Basahkan bercak liur dengan 0,5 ml salin, kemudian peras dan tempatkan
air liur atau ekstrak air liur dalam salin tadi ke dalam tabung reaksi, lalu panaskan
dalam air mendidih selama 10 menit. Pusing dan ambil supernatant, bila mau
dimpan maka simpan pada suhu 20 °C.
Dalam tabung reaksi 1 vol air liur ditambahkan 1 vol antiserum.
Campuran tersebut didiamkan selama 30 menit pada suhu ruang untuk proses
absopsi.

Selama menunggu, tentukan titer anti A, anti B dan anti H yang
digunakan. Setelah 30 menit berlalu, pada campuran tersebut ditentukan titer anti
A, anti B dan anti H dengan cara yang sama.
SDM yang digunakan adalah suspensi 4 % yang berumur kurang dari 24
jam. Bandingkan titer antisera yang digunakan dengan titer campuran antiserum +
air liur.

Hasil positif bila titer berkurang lebih dari 2 kali.

Urine

a. Pemeriksaan untuk Timbal (2)

Normal kadar Pb dalam darah kurang dari 60 mikro gr/ 100 ml.
Bila lebih dari 70 mikro gr/100 ml berarti ada pemaparan abnormal. Bila
lebih dari 100 mikro gr/100 ml berarti telah terjadi keracunan.
Pemeriksaan laboratorium untuk menentukan Pb dalam urin dapat
dengan cara sebagai berikut :
Ke dalam urin ditambahkan H2SO4 encer sehingga terbentuk
endapan PbSO4 berwarna putih, lalu disaring. Endapan ini tak larut dalam
HNO3 tapi larut dalam HCl atau NH4-asetat. Untuk pemeriksaan Pb
dalam urin sebaiknya digunakan urin 24 jam.
Dalam urin kadar Pb normal 0,5 mikro gr/ 100 ml. Pemaparan
abnormal bila sama atau lebih besar dari 8 mikro gr/ 100 ml, sedangkan
keracunan bila sama atau lebih besar dari 20 mikro gr/ 100 ml. Pada

keracunan didapatkan pula kadar koproporfirin 80 mikro gr/ 100 ml
kreatin, dan d-ALA 2 mg/ 100 mg kreatin.

Uji Koproporfirin

Untuk mengetahui adanya koproporfirin dalam urin, dilakukan uji

sebagai berikut :

5 cc urin diasamkan dengan asam asetat glasial sehingga pH
kurang dari 4, kemudian ditambahkan 5 tetes H2O2 3% dan 5 cc eter, lalu
dikocok. Lapisan air dibuang dan lapisan eter diambil, ditambahkan ke
dalam 1 cc HCl 1,5 N, kocok, lapisan asam diambil, lihat dengan sinar
UV. Bila berwarna merah berarti terdapat koproporfirin, jika biru atau biru
muda berarti negatif.

Fluoresensi dan uji koproporfirin III dalam urin paling baik
dilakukan untuk skrining masal.

b. Pemeriksaan untuk Alkohol

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bau alkohol bukan
merupakan diagnosis pasti keracunan. Diagnosis pasti hanya dapat
ditegakkan dengan pemeriksaan kuantitatif kadar alkohol darah. Kadar
alkohol dari udara ekspirasi dan urin dapat dipakai sebagai pilihan kedua.
Untuk korban meninggal sebagai pilihan kedua dapat diperiksa kadar
alkohol dalam otak, hati, atau organ lain atau cairan tubuh lain seperti
cairan serebrospinalis.

Salah satu cara penentuan semikuantitatif kadar alkohol dalam urin
yang cukup sederhana adalah teknik modifikasi mikrodifusi (Conway),
sebagai berikut :

Letakkan 2 ml reagen Antie ke dalam ruang tengah. Reagen Antie
dibuat dengan melarutkan 3,70 gr kalium dikromat ke dalam 150 ml air.
Kemudian tambahkan 280 ml asam sulfat dan terus diaduk. Encerkan
dengan 500 ml akuades. Sebarkan 1 ml urin yang akan diperiksa dalam
ruang sebelah luar dan masukkan 1 ml kalium karbonat jenuh dalam ruang
sebelah luar pada sisi berlawanan.

Tutup sel mikrodifusi, goyangkan dengan hati-hati supaya urin
bercampur dengan larutan kalium karbonat. Biarkan terjadi difusi selama 1
jam pada temperatur ruang. Kemudian angkat tutup dan amati perubahan
warna pada reagen Antie.

Warna kuning kenari menunjukkan hasil negatif. Perubahan warna
kuning kehijauan menunjukkan kadar etanol sekitar 80mg %, sedangkan
warna hijau kekuningan sekitar 300mg %.

3.

Pemeriksaan Laboratorium Forensik Rambut (2), (6), (7), (8)

Rambut manusia berbeda dengan rambut hewan pada sifat-sifat lapisan
sisik (kutikula), gambaran korteks dan medula rambut.
Kutikula merupakan lapisan paling luar dari rambut, di bawahnya
terletak korteks yang terdiri dari gabungan serabut-serabut dengan pigmen. Di
tempat yang paling dalam/ tengah, terdapat medula yang mengandung pigmen
dalam jumlah terbanyak.

Rambut manusia memiliki diameter sekitar 50-150 mikron dengan
bentuk kutikula yang pipih, sedangkan rambut hewan memiliki diameter kurang
dari 25 mikron atau lebih dari 300 mikron dengan kutikula yang kasar atau
menonjol.

Pigmen pada rambut manusia sedikit dan terpisah-pisah sedangkan pada
hewan padat dan tidak terpisah. Perbandingan diameter rambut hewan dengan
diameter rambut manusia, indeks medula rambut manusia adalah 1:3, sedangkan
indeks medula rambut hewan adalah 1:2 atau lebih besar. Pemeriksaan indeks
medula merupakan pemeriksaan terpenting untuk membedakan rambut manusia
dari rambut hewan.

Berdasarkan asal tumbuhnya, rambut manusia dibedakan atas rambut
kepala; alis, bulu mata dan bulu hidung; kumis dan jenggot; rambut badan;
rambut ketiak dan rambut kemaluan. Umumnya tidak terdapat perbedaan yang
jelas antara jenis-jenis rambut tersebut di atas.
Rambut kepala umumnya kasar, lemas, lurus/ ikal/ keriting dan panjang
dengan penampang melintang yang berbentuk bulat (pada rambut yang lurus),
oval atau elips (pada rambut ikal/ keriting). Alis, bulu mata dan bulu hidung

umumnya relatif kasar, kadang-kadang kaku dan pendek. Rambut kemaluan dan
rambut ketiak lebih kasar sedangkan rambut badan halus dan pendek.
Pemeriksaan mikroskopik rambut utuh akan memperlihatkan akar,
bagian tengah dan ujung yang lengkap. Pada rambut yang tercabut, rambut akan
terlihat utuh disertai dengan jaringan kulit. Sebaliknya rambut yang lepas
sendiri mempun

akar yang mengerut tanpa jaringan kulit. Rambut yang terpotong benda
tajam, dengan mikroskop terlihat terpotong rata, sedangkan akibat benda tumpul
akan terlihat terputus tidak rata.
Panjang rambut kepala kadang-kadang dapat memberi petunjuk jenis
kelamin. Tetapi untuk menentukan jenis kelamin yang pasti, harus dilakukan
pemeriksaan terhadap sel-sel sarung akar rambut dengan larutan orcein. Pada
rambut wanita dapat ditemukan adanya kromatin seks pada inti sel-sel tersebut.
Perkiraan umur berdasarkan pemeriksaan keadaan pigmen pada rambut
sukar sekali dilakukan. Umumnya dapat dikatakan, bahwa bila usia bertambah
maka rambut akan rontok. Rontoknya rambut pada pria umumnya terjadi pada
dekade kedua atau ketiga, sedangkan pada wanita sering terjadi rontoknya
rambut ketiak dan pertumbuhan rambut pada wajah pada saat menopouse.
Rambut ketiak dan rambut kemaluan akan tumbuh pada usia pubertas.
Rambut, baik rambut kepala ataupun kelamin, merupakan bagian tubuh
manusia yang dapat memberikan banyak informasi bagi kepentingan peradilan,
antara lain tentang :
a. saat korban meninggal dunia
b. sebab kematian
c. jenis kejahatan
d. identitas korban
e. identitas pelaku
f. benda/ senjata yang digunakan
informasi tersebut di atas diperoleh dengan meneliti sifat-sifat gambaran
mikroskopik serta perubahan-perubahan yang terjadi akibat trauma atau racun
tertentu.

a. Saat meninggal dunia

Sifat- sifat dari rambut dapat dipakai untuk menentukan saat kematian

korban antara lain :
Tingkat pertumbuhannya, yaitu sekitar 0,4 mm per hari
Pertumbuhan tersebut akan berhenti jika orang meninggal dunia.
Atas sifat tersebut maka saat kematian dapat diperhitungkan asalkan
diketahui kapan korban terakhir kali mencukur rambutnya.
Memang ada pendapat yang menyatakan bahwa rambut orang
yang baru saja meninggal dunia masih dapat tumbuh menjadi lebih
panjang, tetapi sebetulnya bertambah panjangnya rambut tersebut
disebabkan oleh menuyusutnya kulit.
Lepasnya rambut akibat pembusukan.
Jika kematian sudah berlangsung 48 – 72 jam maka rambut

kepala akan mudah lepas.
Perubahan warna

Perubahan warna rambut juga dapat dipakai untuk
memperkirakan saat kematian. Pada penguburan yang dangkal
perubahan warna terjadi sesudah 1 – 3 bulan, sedang pada penguburan
yang dalam sesudah 6 – 12 bulan.

b. Sebab kematian

Informasi tentang sebab kematian juga dapat diperoleh melalui rambut
mengingat beberapa racun tertentu, terutama racun metalik, disimpan di bagian
tubuh tersebut.
c. Jenis kejahatan

Mengenai jenis kejahatan yang terjadi dapat diperkirakan dengan melihat
macam rambut yang ditemukan. Adanya rambut pubes pada tubuh korban
memberikan dugaan adanya tindak pidana perkosaan atau tndak pidana seksual
lainnya dan adanya rambut binatang pada tubuh manusia atau sebaliknya juga
dapat memberikan perkiraan adanya bestialiti.
d. Identitas korban

Rambut mempunyai sifat tahan terhadap pembusukan dan bahan-bahan
kimia sehingga dapat dijadikan sarana identifikasi bagi mayat-mayat tidak
dikenal yang sudah membusuk. Meskipun tak dapat memberikan identitas
personal tetapi dari rambut paling tidak dapat ditemukan umur, jenis kelamin,
ras, dan sebagainya.
e. Identitas pelaku

Rambut juga dapat dipakai sebagai sarana identifikasi guna mengetahui
identitas pelakunya. Sebagaimana diketahui bahwa pada tindak pidana
perkosaan dan pembunuhan, sering ditemukan rambut pelaku tertinggal atau
berhasil dijambak oleh korban sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan
identifikasi.
f. Benda/ senjata yang digunakan

Kerusakan pada rambut kadang-kadang menunjukkan ciri-ciri tertentu.
Pukulan di kepala dapat meninggalkan kerusakan kortikal pada rambut,
sedangkan tembakan senjata api dapat menyebabkan kebakaran pada rambut.
Rambut yang terbakar tersebut akan terlihat, hitam, rapuh, terpilin atau menjadi
keriting dan menimbulkan bau yang khas.
Keadaan pangkal rambut juga dapat dipakai sebagai petunjuk bagaimana
rambut itu lepas. Pada pangkal rambut yang lepas secara alami akan terlihat
atrofi, sedang pada rambut yang dicabut secara paksa akan mengalami robekan
pada sarung rambut dan pada bulbus akan terlihat tak teratur.
Ditemukannya rambut pada senjata juga dapat memberi petunjuk tentang
adanya kaitan antara senjata itu dengan kasus pembunuhan dan ditemukannya
rambut pada kendaraan bermotor juga dapat meberi petunjuk tentang
keterlibatan kendaraan tersebut dalam peristiwa tabrakan.
Jika ditemukan rambut yang diduga ada kaitannya dengan kejahatan maka
hendaknya rambut tersebut diperiksa dengan teliti untuk mengetahui :
1. Keaslian rambut

Pemeriksaan keaslian rambut perlu dilakukan mengingat adanya
berbagai serat yang bentuk dan warnanya mirip rambut.

Rambut yang utuh biasanya terdiri atas akar, batang dan ujung. Akar
ranbut terdiri atas jaringan ikat longgar sedangkan batang rambut terdiri atas
kutikula, korteks dan medula. Serat yang bukan berasal dari rambut tidak
mempunyai susunan seperti itu. Serat sintetis misalnya, gambaran
mikroskopiknya terlihat homogen.
2. Penentuan rambut manusia atau bukan
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa serat itu rambut maka
langkah selanjutnya adalah menentukan apakah rambut tersebut berasal dari
manusia atau hewan.

Ciri rambut manusia yaitu halus dan tipis, kutikula mempunyai sisik
kecil dan bergerigi, medula sempit atau kadang-kadang tak ada, kortek tebal,
index medulla kurang dari 0,3 dan pigmennya lebih ke arah perifer.
Sedangkan, ciri rambut binatang ialah kasar dan tebal, kutikula mempunyai
sisik lebar dan polihidral, medula lebar, kortek tipis, index medulla lebih dari
0,5 dan pigmennya di perifer maupun di sentral. Dengan tes presipitasi akan
dapat dibedakan dengan tepat antara rambut manu

rambut binatang.

3. Identifikasi

Jika sudah dapat dipastikan rambut manusia maka pemeriksaan lanjutan
perlu dilakukan untuk menentukan siapa pemiliknya. Perlu diketahui bahwa
rambut mempunyai sifat tahan terhadap pembusukan dan bahan-bahan kimia
sehingga dapat dijadikan salah satu sarana identifikasi bagi mayat-mayat yang
sudah membusuk. Meskipun tak dapat memberikan identitas personal seperti
halnya sidik jari, tetapi dapat memberikan identitas umum, antara lain :

a. Umur

Umur dari pemilik rambut dapat ditentukan dengan memeriksa
rambut tersebut berdasarkan tempat tumbuh dan warnanya.
Tumbuhnya rambut di berbagai bagian tubuh berbeda-beda
waktunya. Rambut pubis dan rambut ketiak misalnya, tumbuh pada
masa adolesen. Selain itu warna rambut juga dapat dipakai sebagai

petunjuk umur dari pemiliknya. Pada orang-orang tua warna rambut
akan berubah menjadi putih. Rambut lanugo pada bayi baru lahir
mempunyai sifat halus, tidak berpigmen, tak bermedula dengan pola
sisik yang lebih seragam.
b. Jenis kelamin

Melalui berbagai pemeriksaan yang teliti akan dapat ditentukan
jenis kelamin dari pemilik rambut. Rambut laki-laki pada umumnya
lebih kaku, lebih kasar dan lebih gelap. Sedang rambut wanita umumnya
halus, panjang dan meruncing ke arah ujung.
Dari distribusinya juga dapat ditentukan jenis kelaminnya.
Rambut jenggot, rambut dada dan kumis adalah khas rambut laki-laki.
Penyebaran rambut pubis antara laki-laki dan wanita juga menunjukkan
gambaran yang berbeda.

c. Ras

Untuk menentukan jenis rasnya dapat dilihat dari warna,
panjang, bentuk dan susunan rambut. Rambut orang Eropa misalnya,
berwarna pirang, kecoklatan atau kemerahan.

1.Pemeriksaan Laboratorium Forensik Lain

1. Isi Lambung
Pemeriksaan sianida (2)

a. Reaksi Schonbein-Pagenstecher (Reaksi Guajacol).

Masukkan 50 mg isi lambung/ jaringan ke dalam botol
Erlenmeyer. Kertas saring (panjang 3-4 cm, lebar 1-2 cm) dicelupkan ke
dalam larutan guajacol 10% dalam alkohol, keringkan. Lalu celupkan ke
dalam larutan 0,1% CuSO4 dalam air dan kertas saring digantungkan di
atas jaringan dalam botol. Bila isi lambung alkalis, tambahkan asam tartrat
untuk mengasamkan, agar KCL mudah terurai. Botol tersebut
dihangatkan. Bila hasil reaksi positif, akan terbentuk warna biru-hijau
pada kertas saring.

Reaksi ini tidak spesifik, hasil positif semu didapatkan bila isi
lambung mengandung klorin, nitrogen oksida atau ozon; sehingga reaksi
ini hanya untuk skrining.

b. Reaksi Prussian Blue (Biru Berlin).

Isi lambung/ jaringan didestilasi dengan destilator.
5 ml destilat + 1 ml NaOH 50 % + 3 tetes FeSO4 10% rp + 3 tetes FeCl3
5%,
Panaskan sampai hampir mendidih, lalu dinginkan dan tambahkan HCl
pekat tetes demi tetes sampai terbentuk endapan Fe(OH)3, teruskan sampai
endapan larut kembali dan terbentuk biru berlin.

c. Cara Gettler Goldbaum.

Dengan menggunakan 2 buah flange (‘piringan’), dan diantara
kedua flange dijepitkan kertas saring Whatman No. 50 yang digunting
sebesar flange. Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan FeSO4 10% rp
selama 5 menit, keringkan lalu celupkan ke dalam larutan NaOH 20%
selama beberapa detik. Letakkan dan jepitkan kertas saring di antara kedua
flange. Panaskan bahan dan salurkan uap yang terbentuk hingga melewati
kertas saring ber-reagensia antara kedua flange. Hasil positif bila terjadi
perubahan warna pada kertas saring, menjadi biru.

d. Kristalografi

Bahan yang dicurigai berupa sisa makanan/ minuman, muntahan,
isi lambung di masukkan ke dalam gelas beker, dipanaskan dalam
pemanas air sampai kering, kemudian dilarutkan dalam aceton dan
disaring dengan kertas saring. Filtrat yang didapat, diteteskan dalam gelas
arloji dan dipanaskan sampai kering, kemudian dilihat di bawah
mikroskop. Bila terbentuk kristal-kristal seperti sapu, ini adalah golongan
hidrokarbon terklorinasi.

Pemeriksaan kualitatif dapat menggunakan penentuan titik cair,
misal veronal murni mencair pada suhu 191° C. Uji kristal dilakukan
terhadap sisa obat yang ditemukan dalam isi lambung. Masing-masing

barbiturat mempunyai kristal yang khas bila dilihat dengan mikroskop.
Metoda Kopanyi (reaksi warna kobalt) dengan modifikasinya.

e. Metoda Kopanyi

Dilakukan dengan memasukkan 50 ml urin atau isi lambung dalam
sebuah corong. Periksa dengan kertas lakmus, jika bersifat alkali
tambahkan HCl sampai bersifat asam. Tambahkan 100 ml eter, kocok
selama beberapa menit. Diamkan sebentar, tampak air terpisah dari eter,
lapisan air dibuang, barbiturat terdapat dalam lapisan eter. Saring eter ke
dalam beaker glass dan uapkan sampai kering di atas penangas air.
Tambahkan 10 tetes kloro
melarutkan sisa barbiturat yang mengering.
Ambil beberapa tetes larutan dan letakkan pada white pocelain
spot plate. Tambahkan 1 tetes kobalt asetat (1 % dalam metil alkohol
absolut) dan 2 tetes isopropilamin (5% dalam metil-alkohol absolut),
Barbiturat akan memberi warna merah muda sampai ungu.
Pemeriksaan kuantitatif dan kuantitatif dapat dilakukan dengan
kromatografi lapis tipis (TLC), kromatografi gas cair (GLC),
spektrofotometri ultra-violet dan spektrofotofluorimetri.

2. Organ(2)
1) Mata

Uji Nalorfin

Untuk mendeteksi seseorang apakah ia pecandu atau bukan, dapat
diketahui melalui Uji Nalorfin. Pemberian Nalorfin pada pecandu morfin
akan memperlihatkan midriasis dan gejala putus obat lainnya. Tetapi bila
midriasis tidak terjadi, maka belum tentu ia bukan pecandu.
Caranya :

Ukur diameter pupil dengan pupilometer dan lakukan pemeriksaan
ini di dalam ruang khusus yang tidak dipengaruhi cahaya. Pemeriksaan
dilakukan lagi 30 menit setelah diberikan 3 mg Nalorfin subkutan.

2) Paru – paru
a) Pemeriksaan makroskopik paru.

Paru-paru mungkin masih tersembunyi di belakang kandung
jantung atau telah mengisi rongga dada. Osborn (1953) menemukan pada
75% kasus, ternyata paru-paru sudah mengisi rongga dada, baik pada bayi
yang lahir hidup maupun lahir mati. Paru-paru berwarna kelabu ungu
merata seperti hati, konsistensi padat, tidak teraba derik udara dan pleura
yang longgar (slack pleura). Berat paru kira-kira 1/70x berat badan.

Uji apung paru.

Uji ini harus dilakukan dengan teknik tanpa sentuh (no touch
technique), paru-paru tidak disentuh untuk menghindari untuk timbulnya
artefak pada sediaan histopotologi jaringan paru akibat manipulasi
berlebihan. Setelah organ leaher dan dada dikeluarkan dari tubuh, lalu
dimasukkan kedalam air dan dilihat apakah mengapung atau tenggelam.
Kemudian paru kiri dan kanan dilepaskan dan dimasukkan kedalam air
lagi, dan dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Setelah itu setiap
lobus dipisahkan dan di masukkan ke dalam air dan dilihat apakah
mengapung atau tenggelam. 5 potong kecil dari bagian perifer tiap lobus
dimasukkan ke dalam air, dan diperhatikan apakah mengapung ataukah
tenggelam.
Hingga tahap ini, paru bayi yang baru lahir mati masih dapat mengapung
oleh karena kemungkinan adanya gas pembusukan. Bila potongan kecil itu
mengapung, letakkan di antara dua karton dan ditekan (dengan arah
tekanan tegak lurus, jangan bergeser) untuk mengeluarkan gas
pembusukan yang terdapat pada jaringan interstisial paru, lalu masukkan
kembali ke dalam air dan di amati apakah masih mengapung atau
tenggelam. Bila masih mengapung berarti paru tersebut berisi udara residu
yang tidak akan keluar. Kadang-kadang dengan penekanan, dinding
alveoli pada bayi yang telah membusuk akan pecah dan udara residu
keluar dan memperlihatkan hasil uji apung paru negatif.
Uji apung paru harus dilakukan menyeluruh sampai potongan kecil-kecil,
mengingat kemungkinan adanya pernafasan sebagian yang dapat bersifat

buatan (pernafasan buatan) ataupun alamiah, yaitu bayi yang sudah
bernafas walaupun kepala masih dalam vagina.
Hasil negatif belum berarti pasti lahir mati, karena adanya kemungkinan
bayi dilahirkan hidup tapi kemudian berhenti bernafas meskipun jantung
masih berdenyut, sehingga udara dalam alveoli diresopsi. Pada hasil
negatif ini, pemeriksaan histopatologi harus dilakukan untuk memastikan
bayi lahir mati atau hidup. Hasil uji apung paru positif berarti pasti lahir
hidup.

Penyebab kematian. Penyebab kematian tersering pada
pembunuhan anak sendiri adalah mati lemas (asfiksia). Cara tersering
dilakukan adalah dengan cara pembekapan, penyumbatan jalan nafas,
penjeratan, pencekikan dan penenggelaman. Kadang-kadang bayi
dimasukkan ke dalam lemari, kopor dan sebagainya. (2)
Lahir hidup dapat diketahui dari perangi paru-paru secara makroskopis
maupun mikroskopis. Secara makroskopis paru-paru anak ayang
dilahirkan hidup akan tampak mengembang dan menutupi kandung
jantung, tepintnya tumpul, warnaya merah ungu dengan gambaran mozaik,
lebih berat (1/35 berat badan, pada yang lahir mati atau belum bernafas
berat paru-paru sekitar1/70 berat badan), pada perabaan teraba derik udara
atau krepitasi, bila dimasukkan ke dalam air akan mengapung, bila diiris
dan dipijat akan banyak mengeluarkan darah dan busa. Sedangkan secara
mikroskopik akan tamak jelas adanya pengembangan dari kantung-
kantung hawa (alveoli). (7)
b) Mikroskopik paru-paru.

Setelah paru-paru dikeluarkan dengan teknik tanpa sentuh, dilakukan
fiksasi dengan larutan formalin 10%. Sesudah 12 jam, dibuat irisan-irisan
melintang untuk memungkinkan cairan fiksatif meresap dengan baik ke dalam
paru. Setelah difiksasi selama 48 jam, kemudian dibuat sediaan histopatologi.
Biasanya dibuat pewarnaan HE dan bila paru telah membusuk digunakan
pewarnaan Gomori atau Ladewig.

Tanda khas untuk paru bayi belum pernah bernafas adalah adanya
tonjolan (projection), yang berbentuk seperti bantal (cushion-like) yang
kemudian akan bertambah tinggi dengan dasar menipis sehingga tampak
seperti gada (club-like). Pada permukaan ujung bebas projection tampak
kapiler yang berisi banyak darah.
Tanda khas untuk paru bayi yang belum bernafas yang sudah
membusuk, dengan pewarnaan Gomori atau Ladewig, tampak serabut-serabut
retikuler pada permukaan dinding alveoli berkelok-kelok seperti rambut
keriting, sedangkan pada projection berjalan dibawah kapiler sejajar dengan
permukaan projection dan membentuk gelung-gelung terbuka (open loops).
Pada paru bayi baru lahir mati mungkin juga ditemukan tanda inhalasi cairan
amnion yang luas karena as
Lahir hidup adalah keluar atau dikeluarkannya hasil konsepsi yang
lengkap, yang setelah pemisahan bernafas atau menunjukkan tanda kehidupan
lain, tanpa mempersoalkan usia gestasi, sudah atau belum tali pusat dipotong
dan uri dilahirkan.

Pada pemeriksaan ditemukan dada sudah mengembang dan diafragma
sudah turun sampai selaiga 4-5, terutama pada bayi yang telah lama hidup.
pemeriksaan paru lainnya adalah : (2)
a. Pemeriksaan diatom :

Alga (ganggang) bersel satu dengan dinding terdiri dari silikat
(SiO2) yang tahan panas dan asam kuat. Diatom ini dapat dijumpai dalam
air tawar, air laut, sungai, air sumur dan udara.
Bila seseorang mati karena tenggelam, maka cairan bersama diatom
akan masuk ke dalam saluran pernapasan atau pencernaan, kemudian
diatom akan masuk ke dalam aliran darah melalui kerusakan dinding
kapiler pada waktu korban masih hidup dan tersebar ke seluruh jaringan.
Pemeriksaan diatom dilakukan pada jaringan paru segar. Bila mayat
telah membusuk, pemeriksaan diatom dilakukan dari jaringan ginjal, otot
skelet atau sumsum tulang paha. Pemeriksaan diatom pada hati dan limpa

kurang bermakna sebab berasal dari penyerapan abnormal dari saluran
pencernaan terhadap air minum atau makanan.
b. Pemeriksaan Destruksi (Digesti Asam) Pada Paru
Ambil jaringan paru sebanyak 100 gram, masukkan ke dalam labu
Kjeldahl dan tambahkan asam sulfat pekat sampai jaringan paru terendam,
diamkan kurang lebih setengah hari agar jaringan hancur. Kemudian
dipanaskan dalam lemari asam sambil diteteskan asam nitrat pekat samapi
terbentuk dan cairan dipusing dalam centrifuge.
Sediment yang terjadi ditambah dengan akuades, pusing kembali dan
hasilnya dilihat dengan mikroskop. Pemeriksaan diatom positif bila pada
jaringan paru ditemukan diatom cukup banyak, 4-5/LPB atau 10-20 per
satu sediaan; atau pada sumsum tulang cukup ditemukan hanya satu.
c. Pemeriksaan Getah Paru

Permukaan paru disiram dengan air bersih, iris bagian perifer, ambil
sedikit cairan perasan dari jaringan perifer paru, taruh pada kaca objek,
tutup dengan kaca penutup dan lihat dengan mikroskop.
Selain diatom dapat pula terlihat ganggang atau tumbuhan jenis

lainnya
d. Pemeriksaan Kimia Darah

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kadar NaCl dalam
darah sehingga dapat diketahui apakah korban meninggal di air tawar atau
air asin. Darah yang diambil adalah darah dari jantung jenazah. Pada
peristiwa tenggelam di air tawar ditemukan tanda-tanda asfiksia, kadar
NaCl jantung kanan lebih tinggi dari jantung kiri dan adanya buih serta
benda-benda air pada paru-paru. Tenggelam jenis ini disebut tenggelam
tipe II A. Sedangkan pada peristiwa tenggelam di air asin terjadi gangguan
elektrolit dan ditemukan adanya tanda-tanda asfiksia, kadar NaCl pada
jantung kiri lebih tinggi dari pada jantung kanan dan ditemukan buih serta
benda-benda air pada paru-paru. Tenggelam jenis ini disebut tenggelam
tipe II B (6)
3. Lain-Lain (2)

1) Pada kasus keracunan As, kadar dalam darah, urin, rambut dan kuku
meningkat.
Nilai batas normal kadar As adalah sebagai berikut :
Rambut kepala normal : 0,5 mg/ kg BB
Curiga keracunan : 0,75 mg/ kg BB
Keracunan akut : 30 mg/ kg BB
Kuku normal : sampai 1 mg/ kg BB
Curiga keracunan : 1 mg/ kg BB
Keracunan akut : 80 mikrog/ kg BB
Dalam urin, Arsen dapat ditemukan dalam waktu 5 jam setelah
diminum, dan dapat terus ditemukan hingga 10-12 hari. Pada keracunan
kronik, Arsen tidak diekskresikan terus menerus (intermitten) tergantung pada
intake. Titik-titik basofil pada eritrosit dan lekosit muda mungkin ditemukan
pada darah tepi, menunjukkan beban sum-sum tulang yang meningkat. Uji
Kopro-porfirin urin akan memberikan hasil positif. Kematian dapat terjadi
sebagai akibat malnutrisi dan infeksi.
Uji Reinsch

Berdasarkan Hukum Deret Volta (sebagian deret Volta adalah : K Na Ca
Mg Al Zn Fe Pb H Cu As Ag Hg Au), unsur yang letaknya di sebelah
kanan akan mengendap bila ada unsur yang letaknya lebih kiri dalam
larutan tersebut. Letak As dalam deret adalah lebih kanan daripada Cu.
Cara pemeriksaan :
10 cc darah + 10 cc HCl pekat dipanaskan hingga terbentuk AsCl3.
Celupkan batang tembaga ke dalam larutan, akan terbentuk endapan
kelabu sampai hitam dari As pada permukaan batang tembaga tersebut.
Untuk membedakan dari Ba, digunakan sifat sublimasi As.
2) Pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi adanya narkotika
Bahan terpenting yang harus diambil adalah urin (tidak dapat diambil
ginjal), cairan empedu dan jaringan sekitar suntikan.

Isi lambung diambil jika ia menggunakan narkotika per-oral, demikian
pula hapusan mukosa hidung pada cara sniffling. Semprit bekas pakai dan sisa
obat yang ditemukan harus pula dikirim ke laboratorium.
Pada pemakain cara oral, morfin akan cepat dikonjugasi oleh asam
glukoronat dalam sel mukosa usus halus dan hati sehingga bahan sebaiknya
dihidrolisis terlebih dahulu.
Terhadap barang-barang bukti seperti bubuk yang diduga mengandung

morfin, heroin atau n

kotika lainnya, dapat dilakukan berbagai pengujian. Pengujian tersebut
hanya dapat dilakukan terhadap benda bukti yang masih berupa preparat
murni atau pada tempat suntikan bila ternyata di tempat tersebut masih
terkumpul narkotika yang belum diserap dan tidak dapat dilakukan terhadap
bahan biologis seperti urin, darah, cairan empedu dan lain-lain.
a. Uji Marquis :

Kepekaan uji ini adalah sebesar 1 – 0,025 mikro gram. Reagen dapat
dibuat dari 3 ml asam sulfat pekat ditambah 2 tetes formaldehid 40 %.
Pada umumnya semua narkotika akan memberikan reaksi warna ungu.
(Morfin, heroin dan codei + Marquis ungu; Pethidine + Marquis
jingga).

Untuk heroin, dapat dilakukan pengujian yang lebih khas :
10 tetes campuran asam nitrit pekat dan 85% asam fosfor yang memiliki
perbandingan 12:38 diletakkan dalam tabung centrifuge ukuran 5 ml,
kemudian ditambahkan 3,25 ml kloroform dan diputar selama 30 detik.
Perhatikan lapisan warna di dasar tabung yang timbul setelah 10 menit:
Hijau muda = negatif.
Kuning muda = 10 mikro gram.
Kuning coklat = 1 mg.
Merah coklat gelap = 10 mg.

b. Uji mikrokristal :

Uji ini lebih sensitif dan lebih khas jika dibandingkan dengan reaksi warna

Amrquis.

Caranya :
1 tetes larutan narkotika ditambahkan reagen dan dengan mikroskop, dilihat
kristal apa yang terbentuk.
Hanging microdrop technique merupakan modifikasi untuk narkotika
dengan pembentukan kristal agak lama.
Contoh :

Morfin + reagen kalium kadmium yodida (1 gr kadmium yodida + 2 gr
kalium yodida) kristal berbentuk jarum.
Kepekaan uji : 0,01 mikrogram
Morfin + kalium triodida kristal berbentuk pirirng.
Kepekaan uji : 0,1 mikrogram
Heroin + merkuri klorida kristal berbentuk dendrit.
Kepekaan uji : 0,1 mikrogram
Heroin + platinum klorida kristal berbentuk roset.
Kepekaan uji : 0,25 mikrogram
Pethidin + asam pikrat pekat kristal berbentuk roset berbulu.
Kepekaan uji : 0,1 mikrogram
3) Untuk menentukan barbiturat dalam organ tubuh (2)
Untuk pemeriksaan toksikologik, bahan yang harus dikirim ialah isi
lambung, darah hati atau perifer, urin, ginjal, hati, sebagian otak dan lemak
pada kasus keracunan barbiturat golongan kerja sangat singkat.
Ada 5 macam metode ekstraksi (Moghrabi & Curry), dan yang
memberikan hasil terbaik ialah ekstraksi langsung dengan kloroform. Bila
kadar dalam darah sangat rendah maka metode yang diapakai adalah metode
asam tungstat.

Konsentrasi barbiturat dalam otak, hati dan ginjal menunjukkan jumlah
yang besar sedangkan dalam otot dan tulang-tulang sedikit. Konsentrasi
barbiturat yang terbesar terdapat dalam otak dan hati yang bervariasi antara
2,5-8 mg/100 gr jaringan.

Dalam keadaan mayat yang membusuk lanjut, barbiturat masih tetap dapat
ditentukan (lebih kurang 25 % dari konsentrasi semula) sehingga dalam
melakukan penarikan kesimpulan, hal ini perlu diperhitungkan.
4) Pemeriksaan pada senjata api
a. Uji difenhidramin (2)

Uji difenhidramin, terhadap adanya nitrat dan pemeriksaan
spektrofotometri terhadap Sb pada tangan tersangka pelepas tembakan,
terutama pada senjata jenis revover merupakan salah satu cara
pembuktian terhadap pelaku penembakan.

b. Uji Parafin (6)

Uji tradisional yang amata terkenal adalah tes Paraffin (tes Gonzalez,
yang menggunakan parafin), yang menggunakan parafin cair untuk
mengambil residu dari tangan dan kemudian menambahkannya dengan
diphenylamine.

Tes parafin tersebut sebetulnya tes yang tidak spesifik, sebab hanya
mendeteksi adanya nitrate dan nitrite saja sehingga tes ini juga dapat
memberikan hasil positif jika tangan tercemar tembakau, kacang-
kacangan, pupuk, atau obat-obatan.
c. Tes Harrison & Gilroy (6)

Menggunakan kasa yang telah dibasahi dengan asam chlorida.
Bedanya dengan tes parafin adalah bahwa tes yang terakhir ini untuk
mendeteksi adanya unsur logam mercury, antimony, barium atau timah
hitam. Tentu harus diperhitungkan apakah pekerjaannya berkaitan
dengan logam-logam tersebut.

Mendengar kata “DIET” mungkin anda berfikir tentang “tidak makan” atau “mengurangi
makan
“, sehingga yang terlintas di benak anda mungkin akan ada rasa “lapar” atau
tidak kenyang“.

Sama sekali bukan itu yang dimaksud dengan Diet Sehat Golongan Darah. Karena
dengan Diet Sehat Golongan Darah, anda tetap harus makan, anda tetap harus kenyang,
anda tetap harus terpenuhi gizi dan kalori yang dibutuhkan tubuh, perbedaannya hanya
pada apa yang anda makan, apa yang boleh anda makan, dan apa yang tidak boleh anda
makan.

Makan merupakan proses reaksi kimia antara darah dengan makanan yang kita makan
ataupun suplemen makanan yang kita konsumsi.

Makanan mengandung protein yang disebut lektin.

Golongan Darah kita terprogram secara genetik untuk menerima atau menolak lektin
makanan-makanan tertentu.

Lektin yang bertentangan dengan golongan darah akan terkumpul dalam organ (seperti
dalam hati, ginjal, otak, lambung, usus dan lain-lain) atau system tubuh mulai
menggumpalkan sel-sel di daerah tersebut. Proses penggumpalan itu disebut aglutinasi
(agglutination)
dan akan mengganggu pencernaan, metabolisme dan system daya tahan
tubuh. Akibatnya akan timbul penyakit kronis seperti : artritis / radang sendi (arthritis),
kolitis / radang usus besar (colitis), kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, stress,
kelebihan / penurunanan berat badan, depresi, diabetes melitus dan kecanduan makanan
(food carvings).

Karena itulah diperlukan diet yang sehat, dan bukan sembarang diet, tetapi Diet Sehat
Golongan Darah
. Yang merupakan diet tanpa rasa lapar dengan memanfaatkan
pengetahuan tentang golongan darah kita.

Dan tujuan Diet Sehat Golongan Darah bukanlah hanya untuk jangka pendek, bukan
seperti kalau orang makan obat perangsang atau obat kimia yang hanya untuk keperluan
sesaat, tetapi ini adalah suatu proses yang bertujuan untuk kesehatan jangka panjang,
bahkan untuk menghindarkan kita dari resiko penyakit kronis, bahkan saat di usia tua kita
nantinya.

Mungkin saja anda banyak mendapatkan informasi mengenai berbagai macam cara diet
dari sumber lain, bahkan banyak obat-obatan, ramuan dan sebagainya yang diperkenalkan
oleh pihak lain, tetapi apakah mereka bisa menjelaskan cara kerja obat-obatan atau
ramuan tersebut ? Apakah mereka bisa secara terbuka memberitahukan secara transparan
dan terbuka apa saja komposisi dari obat-obatan tersebut ? Sehingga efek samping dari
obat-obatan atau ramuan tersebut mungkin malah akan membahayakan untuk jangka
panjangnya. Tetapi yang mau kita bicarakan di sini adalah yang bersifat ilmiah, dapat
dijelaskan secara detail sebab musababnya, sangat jelas komposisi dan bahan dasar dari
suplemen makanan ataupun makanan yang akan kita konsumsi, dan tidak ada yang perlu
dirahasiakan, tidak ada yang ditutup-tutupi, tidak ada yang tidak transparan. Mengapa itu
perlu ? Karena konsumsi makanan dan suplemen makanan berbeda dengan memakai baju
atau pakaian. Makanan dan suplemen makanan akan bereaksi secara kimia dengan darah
kita, dan karenanya kita mesti yakin bahwa itu pasti sehat, itu pasti higienis, itu pasti
bermanfaat, dan bukan menjadi racun bagi diri dan tubuh kita.

Kalau anda sudah membaca tulisan kami sebelumnya, maka anda akan tahu bahwa
makanan bagi anda mungkin bisa jadi racun bagi orang lain, karena perbedaan golongan
darah nya. Anda bisa membacanya di sini :

Baca mengenai Golongan Darah A di : http://www.AsnawiLim.com/golongan-darah-a

Baca mengenai Golongan Darah B di : http://www.AsnawiLim.com/golongan-darah-b

Baca mengenai Golongan Darah AB di : http://www.AsnawiLim.com/golongan-darah-ab

Baca mengenai Golongan Darah O di : http://www.AsnawiLim.com/golongan-darah-o

Semua yang kita bicarakan sebelumnya adalah mengenai hal yang akan kita lakukan ke
depannya, tetapi pada kenyataannya banyak orang yang sudah terlanjur salah makan
selama ini, maksudnya selama ini mereka telah makan makanan yang tidak sesuai dengan
golongan darah mereka, sehingga telah terjadi penumpukan lektin pada system organ
tubuh, dan penggumpalan sel-sel (agglutination).

Banyak orang yang telah menjadi sakit, tidak sehat, atau kurang sehat. Juga mempunyai
berat badan yang tidak ideal, entah terlalu kurus, atau bahkan terlalu gemuk (obesitas).
Atau bahkan ada yang bentuknya sudah tidak proporsional, misalnya perutnya buncit
seperti hamil, dan ini bahkan banyak terjadi pada lelaki juga (pasti bukan karena lelaki
tersebut mengandung / hamil ).

Berikut ini beberapa contoh kasus saja, yang bisa saja ada di antara anda mengalaminya :

Orang yang bergolongan darah A, lalu terlalu banyak makan daging merah, yang
merupakan makanan pantangan golongan darah A, sedangkan asam lambungnya rendah
sehingga tidak dapat mencerna daging merah ini secara sempurna, maka sisa makanan
bisa menumpuk dan membentuk kerak pada usus besar, colon nya menjadi kotor dan ber
toxin, dan system metabolisme menjadi tidak sehat, akibatnya lama kelamaan perutnya
akan membesar dan menjadi buncit. Juga mudah terkena penyakit darah tinggi.

Orang yang bergolongan darah B, lalu terlalu banyak makan daging ayam dan kacang-
kacangan, yang merupakan makanan pantangan golongan darah B, sehingga lektin
menumpuk pada system syaraf dan menyebabkan masalah system syaraf, antara lain sakit
kepala, pusing, dan sering lupa-lupa.

Orang yang bergolongan darah O, yang seharusnya banyak makan daging merah karena
asam lambungnya tinggi, tetapi justru tidak suka makan daging, sehingga asam
lambungnya tidak dimanfaatkan secara maksimal, dan bahkan menyebabkan masalah
lambung seperti masalah pencernaan dan penyakit yang berhubungan dengan maag.

Atau orang bergolongan darah O ini, terlalu banyak makan makanan yang mengandung
tepung terigu (gandum), dan makanan yang tidak sesuai dengan golongan darah O
lainnya, sehingga terjadi peningkatan berat badan, menjadi kelebihan berat badan. Atau
bahkan mudah terserang keradangan sendi (arthritis).

Dan karena tubuh dan organ tubuh sudah tidak sehat atau tidak sesuai yang seharusnya,
maka selain diperlukan Diet Sehat Golongan Darah untuk mencegah bertambah

menurunnya daya tahan tubuh ataupun untuk meningkatkan kesehatan, maka juga perlu
mengkonsumsi suplemen, dan suplemen yang dimaksud adalah suplemen mengikut
golongan darah.

Kalau darah telah terkontaminasi secara berat, maka perlu suplemen LEGREEN untuk
menormalkan kembali sel-sel darahnya. Dan terdapat Legreen A (untuk golongan darah
A), Legreen B (untuk golongan darah B), Legreen O (untuk golongan darah O).
Sedangkan untuk golongan darah AB mengkonsumsi campuran Legreen A + Legreen B,
karena golongan darah AB mengandung unsur A dan B.

Secara umum, suplemen-suplemen mengikut golongan darah yang diperlukan adalah :
Supergreen yang merupakan klorofil (chlorophyll) sesuai golongan darah, dan Prodetox
yang merupakan colon cleanser. Baik Supergreen dan Prodetox bekerja secara sinergy
melakukan cleansing terhadap system organ tubuh kita sehingga menjadi lebih sehat.
Bisa lihat di website sebagai berikut : http://www.Supergreen-Viamore.co.cc dan
http://www.Prodetox.co.cc

Untuk cleansing disertai pembakaran lemak, maka dibutuhkan juga suplemen Manyoo
Oil yang merupakan pemecah lemak, dan juga Co Enzyme Q10 (CoQ10) sebagai
pembakar lemak. Sebenarnya tubuh kita menghasilkan CoQ10 juga, tetapi karena kondisi
tubuh dan usia kita yang bertambah, maka produksi CoQ10 dalam tubuh bisa saja tidak
mencukupi lagi, sehingga pembakaran lemak tidak berjalan sebagaimana mestinya,
karenanya dibutuhkan suplemen CoQ10 dari luar. Bisa juga dilihat penjelasan pada
website sebagai berikut : http://www.Q10Manyoo.co.cc dan
http://www.CoEnzymeQ10.co.cc

Sedangkan untuk mereka yang ingin menurunkan berat badan dengan penurunan kadar
lemak secara significan, maka bisa mengkonsumsi paket PSP (Professional Slimming
Program). Dalam paket PSP ini, selain mengkonsumsi Supergreen, Prodetox, Manyoo
Oil, dan CoQ10, juga ada suplemen khusus untuk diet sehat berupa Protrim, Fibertrim,
dan Aloe Vera Powder. Bisa lihat di website : http://www.Protrim.co.cc dan
http://www.Fibertrim.co.cc serta http://www.AloeVeraPowder.co.cc

Panduan cara konsumsi paket PSP ada di dalam buku Viamore dan anda bisa melihat
penjelasan mengenai paket PSP (Profesional Slimming Program) di : http://www.PSP-
Viamore.co.cc

Karena pembahasan kita mengenai Diet Sehat Golongan Darah, maka semua suplemen
yang disebut di atas juga pasti yang sudah sesuai dengan golongan darah.

Anda juga bisa melihat website http://www.Viamore.Info dan
http://www.GolonganDarah.co.cc untuk informasi lebih lanjut.

Dengan Diet Sehat Golongan Darah, maka kita akan semakin sehat, dan kita pun bisa
mengendalikan berat badan kita.

Kalau ada niat pasti ada jalan, dan pasti ada hasil. Seorang dokter pun yang banyak
belajar mengenai dunia kesehatan dan obat–obatan belum tentu bisa mengendalikan berat
badannya sendiri kalau belum tahu cara dan rahasianya. Demikian juga seorang
olahragawan pun belum tentu selalu sehat ataupun mempunyai berat yang ideal. Dengan
mengerti Diet Sehat Golongan Darah, maka anda akan mengerti juga cara mengendalikan
berat badan anda, sekalian menjadi lebih sehat.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberikan pemahaman yang lebih baik dan lebih
lengkap mengenai Golongan Darah dan hubungannya dengan Diet Sehat Golongan Darah
dengan lebih jelas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->