N

A
M

N A S

I

PA

O IM TR

NIO MU ND

O
N

IA

L

TA

R

U

N G

U L E

PATRIM

N

N

S

TA GE

OI

EM

E

O N D IA L

A

W O R LD H

L

G

ER

U

I

Sekapur Sirih
Salam Lestari… Dengan sedikit perubahan di layout, Jejak Leuser kembali hadir di hadapan para pembaca. Tulisan tentang Leuser sebagai salah satu rangkaian Tropical Rainforest Heritage of Sumatra masih menghiasi JL pada edisi ini. Tulisan-tulisan ini merupakan hasil dua mahasiswa Universitas Sumatera Utara-Medan, yang berpartisipasi dalam lomba menulis yang diselenggarakan oleh Balai Besar TNGL dan UNESCO beberapa waktu yang lalu. Fakhrullah menulis tentang betapa pentingnya Leuser, secara umum; sedangkan Lina menulis lebih spesifik, yaitu tentang Bukit Lawang dan orangutannya. Tentunya dengan balutan pesan yang sama: lestarikan Leuser. Pada edisi ini, pembahasan tentang pisang diulas secara singkat oleh Lulut di rubrik Kehati. Ternyata banyak sisi lain dari pisang yang selama ini belum kita ketahui, meskipun mungkin hampir setiap hari kita melihat buah tersebut. Di rubrik Dinamika, Bu Yani, demikian sapaan akrab Kabag TU Balai Besar TNGL, menulis tentang begitu pentingnya daerah penyangga sebuah kawasan konservasi yang ironisnya justru sering 'terlupakan. Apa yang diungkapkan oleh Bu Yani? Jawabannya ada di halaman 16. Di “Khasanah”, Rina mengemukakan pendapatnya bahwa penginderaan jauh ternyata juga dapat digunakan untuk meng-estimasi cadangan karbon yang kita punya. Di rubrik ini Rina juga berbicara tentang pemanasan global, perdagangan emisi, dan lain sebagainya. Di rubrik Wacana, Yunita mencoba 'curhat di buletin ini. Curahan hatinya tentang para konservasionis, tentang para pembela hutan, dan tentang hutan itu sendiri. Dan di rubrik ini juga, Ali mencoba mengemukakan pendapat pribadinya tentang eksistensi Polhut, sebuah jabatan yang dia emban selama masuk pegawai Balai Besar TNGL. Akhirnya di 'Wanasastra', Pak Adi mencurahkan kecintaannya kepada mangrove dalam bentuk puisi indah yang beliau buat 3 tahun lalu. Selamat membaca...

Jejak Leuser

b u

l e t i n

Pelindung : Kepala Balai Besar TNGL | Penanggung jawab : Kepala Bagian Tata Usaha| Pemimpin Redaksi : Bisro Sya'bani | Editor : Yunita Aprilia - Yoghi Budhiyanto| Distribusi : Ahtu Trihangga | Administrasi : Dwiana Fajaria | Umum : Ali Sadikin
Diterbitkan oleh: Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Jl. Suka Cita 12 Kelurahan Suka Maju, Kecamatan Medan Johor, Medan, Sumatera Utara Telp (061) 7871521 - Fax. (061) 7879378 Email: jejakleuser@yahoo.co.id Blog : http://www.jejakleuser.blogspot.com Redaksi Buletin “Jejak Leuser” menerima sumbangan tulisan yang berkaitan dengan aspek alam dan konservasi. Tulisan diketik dengan spasi tunggal, maksimal 5 halaman dan minimal 3 halaman A4 dengan font Times New Roman 10. Naskah dikirim ke email : jejakleuser@yahoo.co.id dengan disertai identitas diri (termasuk foto penulis), serta foto-foto dan/ atau gambar-gambar yang dapat mendukung tema tulisan. Naskah yang dikirimkan menjadi hak penuh redaksi Buletin “Jejak Leuser” untuk dilakukan proses editing seperlunya.

Cover depan : Ini Leuser Bung.... (Ilustrasi Rangkong: Diding/FFI-SECP - Foto: K. Meyers, sxc.hu) | Cover belakang : Sudut Hutan Tualang Kepang (Foto: Bisro Sya’bani) | Design‘n Layout : Bisro Sya’bani

Menu Hari Ini

9 5
LEUSER,
RUMAH KITA SEMUA

16 12

24 19

27

Selamatkan Orangutan, Selamatkan Habitatnya!
Pisang Liar
Sang Sumber Plasma Nutfah

Pembangunan Daerah Penyangga Kawasan Konservasi
“PENTING NAMUN LUPUT DARI PERHATIAN”

Penginderaan Jauh dan Cadangan Karbon
Barisan di Benteng Terakhir itu....

4 30 31

tentang SPORC DAN

EKSISTENSI POLhut
Kita Bisa...! Rasa Sebuah Ketulusan Mangrove dan Kehidupan

Dari Kepala Balai

Kita Bisa...!
Nurhadi Utomo
udahkah anda melihat, mencermati, dan meneliti apa yang selama ini sudah anda lakukan, dan sudahkah anda membuat rencana ke depan agar lebih baik? Sebuah pertanyaan sederhana dan klasik, tapi yakinlah bahwa makna dari pertanyaan ini begitu “dalam”. Evaluation, planning dan better result, itulah sebenarnya dari inti pertanyaan itu. Tiga hal mendasar yang apabila kita lakukan selama hidup kita, pasti apa yang kita dapat, paling tidak, akan mendekati apa yang kita inginkan. Memang, semuanya tidak akan dihasilkan secara instant. Bukankah ketika kita akan menaiki sebuah menara, kita juga akan naik tangga satu per satu dari bawah, tengah, dan akhirnya sampai ke puncak? Jangan kita pernah berharap mendapatkan kesuksesan dengan sekejap, sebuah kesuksesan mesti melewati sebuah perjuangan. Percayalah, kita akan bisa, selagi kita masih mampu untuk berpikir 'bisa', dan selama akal mengatakan 'bisa'. Sering kita mendengar istilah,”Ah itu tidak masuk akal…”. Untuk melihat batasan masuk akal atau tidak, sebenarnya adalah hal yang sederhana. Kita tinggal melihat orang lain saja, jika orang lain telah berhasil melakukan sesuatu atau berhasil menggapai apa yang orang itu impikan, berarti impian itu adalah hal yang masuk akal. Jiwa 'pasti bisa' itu pula yang sangat perlu ditanamkan dalam mengelola Leuser. Tentu saja, jiwa 'pasti bisa' yang bermuatan positif dan halal bagi aturan agama dan aturan yang telah dibuat Negara. Jiwa seperti itu harus ditanamkan kuat-kuat terutama bagi seluruh elemen petugas yang tergabung dalam wadah Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser ini. Ada banyak unsur positif dari dalam raga dan jiwa setiap pegawai yang harus disatukan untuk menggapai jiwa 'pasti bisa' (sekali lagi, 'pasti bisa' dalam artian positif) tersebut. Modal berupa kejujuran dan kedisiplinan adalah dua di antara banyak unsur itu. Sebuah kejujuran adalah dasar dari kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berorganisasi, dan berbangsa. Sholahuddin Wahid dalam sebuah tulisannya mengatakan bahwa kejujuran adalah prasyarat utama pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang berlandaskan prinsip saling percaya, kasih sayang, dan tolong menolong. Faktor kejujuran inilah adalah inti dari akhlak yang merupakan salah satu tujuan dari diutusnya Rasulullah oleh Allah SWT.

S

Namun sebelum membahas 'jujur' dengan orang lain, marilah kita berusaha jujur kepada diri kita sendiri. Ya, kita harus bisa jujur pada jiwa yang selama ini setia pada kita.... Memang, kejujuran tidak akan datang begitu saja, tetapi harus diperjuangkan dengan niat, sabar, dan penuh dengan kesungguhan hati. Ada sebuah kata mutiara, “Jadikanlah kebenaran (al Haq) sebagai tempat kembalimu (rujukanmu), kejujuran sebagai tempat pemberangkatanmu, sebab kebenaran adalah penolong paling kuat dan kejujuran adalah pendamping utama”. Berbicara tentang disiplin, disiplin menjadi hal sangat mendasar bagi kesuksesan setiap orang, siapa saja dan dimana saja dia. Saya pernah membaca ada ungkapan dari Jim Rohn, “Disiplin adalah jembatan antara goal dan penyampaiannya”. Apapun tujuan kita, tanpa kedisiplinan yang kuat, maka kita tidak akan dapat menggapai apa yang kita inginkan sebagai hasil akhir. Penulis dan motivator ulung dari Amerika itu juga mengatakan, “Untuk setiap usaha mendisiplinkan diri, akan ada reward-reward yang berkali lipat”. Ya, kedisiplinan sangat berkaitan erat dengan hasil yang akan kita peroleh. Dengan hasil yang positif dan baik, kita pasti akan mendapatkan penghargaan; penghargaan berupa materi, atau paling tidak penghargaan dalam bentuk ucapan terima kasih. Ketepatan waktu kerja, cara berpakaian, dan pembawaan sikap merupakan salah satu contoh kecil dalam penanaman disiplin yang selama ini mungkin masih terabaikan. Apa saja yang akan kita tanamkan, harus berasal dari diri kita sendiri, termasuk penanaman sifat disiplin. Napoleon Hill pernah berucap, “Jika kamu tidak dapat menundukkan dirimu, maka dirimu akan menundukkan kamu”. Nah..... Secara pelan-pelan, dari hal-hal disiplin sederhana setiap pegawai seperti itu, dengan 'bantuan' (kalau perlu berupa 'paksaan') dari para pimpinan, maka sikap itu akan merembet ke dalam kedisiplinan internal kantor, hingga akhirnya menjadi kedisiplinan organisasi dalam mengelola Leuser. Alangkah semakin indahnya Leuser.... Tuhan juga sangat menyukai kedisiplinan. Ya, kalau untuk saat ini kita masih terasa berat untuk melaksanakan disiplin hanya karena 'paksaan' pimpinan, cobalah kita arahkan mata hati kita ke Tuhan, karena cinta terbesar dan hakiki orang beriman hanyalah untuk Tuhan. Tuhan adalah motivator terbesar bagi kita untuk melakukan hal-hal dari yang paling kecil, termasuk untuk berbuat disiplin. Sekali lagi, Tuhan sangat menyukai kedisiplinan.*** nhd_utm@yahoo.com

4

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

Tentang Leuser
obalah kita bertanya pada saudarasaudara kita, seberapa mereka mengenal Leuser? Mulai dari sejarahnya, letaknya, luasnya, kekayaannya, peranannya, dan kondisinya saat sekarang ini. Seberapa pentingkah Leuser bagi kita? Sehingga banyak LSM dan pihak asing yang rela membuang kekayaan dan waktunya untuk memperhatikan dan meneliti Leuser? Sehingga banyak orang lokal yang diperalat dan diperbudak karena faktor ekonomi rela merusak rumah Leuser kita? Dan kita yang berada tak jauh dari Leuser merasa asing dan bersikap acuh dengan rumah Leuser kita. Apakah ini sikap dari generasi penerus kekayaan Leuser kita? Yang hanya bisa menjadi robot-robot di dunia modern yang penuh dengan kerumitan administrasi dan birokrasi. Yang hanya mengejar segepok uang/ harta dari pihak asing sedangkan kita lupa bahwa anak-cucu kita telah mewarisi harta yang sungguh beribu-ribu kali lipatnya dari yang kita peroleh. Yang hanya bisa memperhatikan nasibnya sendiri tanpa mau berbagi untuk menjaga dan menata rumah Leuser kita. Ayo..ini saatnya kita peduli pada rumah kita sendiri. Anggaplah Leuser sebagai anugerah besar dari Sang Tuhan berupa rumah, dan kita sebagai khalifah di muka bumi ini yang telah diberi akal oleh-Nya agar bersikap bijaksana dalam mengelola rumah kita itu. Karena Leuser adalah warisan yang dunia berikan pada kita dan sepatutnyalah kita berbangga atas kepercayaan ini dan menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya dengan hati yang tulus. Berbicara tentang kawasan konservasi itu, kita jangan pernah melupakan sejarahnya. Sejarah Taman Nasional Gunung Leuser dimulai pada tahun 1920-an, saat itu Pemerintah Kolonial Belanda memberikan ijin kepada ahli geologi Belanda bernama F.C. Van Heurn untuk meneliti dan mengeksplorasi sumber minyak dan mineral yang diperkirakan banyak terdapat di Aceh. Namun sayangnya setelah riset berlangsung, Van Heurn menyatakan bahwa kawasan yang diteliti tidak ditemukan kandungan mineral yang besar. Pada tahun 1927, pemuka-pemuka adat setempat menginginkan agar Pemerintah Kolonial Belanda peduli terhadap barisan-barisan pegunungan berhutan lebat yang ada di Gunung Leuser. Setelah melakukan diskusi dan memperoleh kesepakatan, Van Heurn menawarkan kepada para wakil pemuda adat (para Datoek dan Ulee Balang) agar mendesak Pemerintah Kolonial Belanda untuk memberikan status kawasan konservasi (Suaka Margasatwa/ Wildlife Sanctuary) di kawasan tersebut. Setelah berdiskusi dengan Komisi Belanda untuk Perlindungan Alam, pada bulan Agustus 1928 diusulkanlah kepada Pemerintah Kolonial Belanda untuk membentuk Suaka Alam di Aceh Barat seluas 928.000 hektar dan melindungi kawasan yang terbentang dari Singkil (hulu Sungai Simpang Kiri) di Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

C

LEUSER,
RUMAH KITA SEMUA
Oleh: Fakhrullah*

5

Tentang Leuser
bagian selatan, sepanjang Bukit Barisan, ke arah lembah Sungai Tripa dan Rawa Pantai Meulaboh, di bagian utara. Kemudian pada tanggal 6 Februari 1934 dilakukan pertemuan dari wakil pemuka adat dan Pemerintah Kolonial Belanda di Tapaktuan. Pertemuan itu menghasilkan “Deklarasi Tapaktuan” yang ditandatangani oleh perwakilan pemuka adat dan perwakilan Gubernur Hindia Belanda di Aceh pada saat itu yang berlaku sejak 1 Januari 1934. selama ini sebagai Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan sehari sesudahnya berdasarkan SK Dirjen Kehutanan, ditunjuklah Sub Balai Perlindungan dan Pelestarian Alam Gunung Leuser untuk mengelola TNGL. Pada tahun 1981, Gunung Leuser mendapatkan status yang berskala global untuk pertama kalinya, yaitu sebagai Cagar Biosfer yang ditetapkan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atas usulan pemerintah Indonesia. Cagar Biosfer sendiri didefinisikan sebagai kawasan ekosistem daratan atau pesisir yang diakui oleh Program Man and the Biosphere (MAB)-UNESCO untuk mempromosikan keseimbangan antara manusia dan alam. Menurut LIPI (2004) Cagar Biosfer melayani perpaduan tiga fungsi yaitu (1) kontribusi konservasi lansekap, ekosistem, jenis, dan plasma nutfah; (2) menyuburkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan baik secara ekologi maupun budaya; dan (3) mendukung logistik untuk penelitian, pemantauan, pendidikan, dan pelatihan yang terkait dengan masalah konservasi dan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal, regional, nasional, maupun global. Sampai dengan saat ini, Indonesia memiliki enam cagar biosfer yang tersebar di beberapa provinsi. Keenam cagar biosfer tersebut adalah: Cagar Biosfer Cibodas (zona inti meliputi Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, ditetapkan sejak tahun 1977), CB Tanjung Puting (zona inti TN. Tanjung Puting, 1977), CB Lore Lindu (zona inti TN. Lore Lindu, 1977), CB Komodo (zona inti TN. Komodo, 1977), CB Pulau Siberut (zona inti TN. Pulau Siberut (termasuk TN. Siberut), dan , CB Gunung Leuser (zona inti TN Gunung Leuser, 1981). Sedangkan secara global, sampai dengan tahun 2006 di seluruh dunia telah ditetapkan 507 Cagar Biosfer yang tersebar di 102 negara. Penetapan Leuser sebagai Cagar Biosfer tidak membuat pemerintah Indonesia puas begitu saja, namun pemerintah segera mempersiapkan segala sesuatu untuk mengelola rumah Leuser kita agar menjadi lebih baik. Ini terbukti dengan terbitnya SK Menteri Pertanian tertanggal 3 Maret 1982 yang menunjuk Hutan Wisata Lawe Gurah, yang berasal dari sebagian Suaka Margasatwa Kappi (7.200 hektar), dan Hutan Lindung Serbolangit (2.000 hektar) sebagai bagian TNGL. Lalu pada tahun 1982 berdasarkan SK Menteri Pertanian menetapkan TNGL di Sumatera Utara seluas 213.985 Ha (gabungan dari SM Langkat Selatan, SM

....Kami Oeloebalang dari Landschap Gajo Loeos, Poelau Nas, Meuke', Laboehan Hadji, Manggeng, Lho' Pawoh Noord, Blang Pidie, dan Bestuurcommissie dari Landschap Bambel, Onderafdeeling Gajo dan Alas. Menimbang bahwa perloe sekali diadakannja peratoeran jang memperlindoengi segala djenis benda dan segala padang-padang jang diasingkan boeat persediaan. Oleh karena itoe, dilarang dalam tanah persediaan ini mencari hewan jang hidoep, menangkapnja, meloekainja, atau memboenoeh mati, mengganggoe sarang dari binatang-binatang itoe, mengeloearkan hidoep atau mati atau sebagian dari binatang itoe lantaran itoe memoendoerkan banjaknja binatang....” Tapaktoean, 6 Februari 1934

Deklarasi Tapaktuan mencerminkan tekad masyarakat Aceh untuk melestarikan kawasan Leuser untuk selamanya sekaligus juga mengatur sanksi pidananya (penjara/ denda). Usaha pelestarian Leuser tidak berhenti begitu saja, mulai tahun 1934-1938 banyak dilahirkan keputusan-keputusan atas dasar kerjasama Pemerintah Kolonial Belanda dan pemuka-pemuka adat yang ada di sekitar Leuser, seperti: pembentukan Suaka Alam Gunung Leuser seluas 142.800 hektar pada tanggal 3 Juli 1934, pembentukan kelompok hutan Langkat Sekundur di tanggal 8 Agustus 1935, pembentukan Suaka Margasatwa (SM) Kluet seluas 20.000 hektar. Di Sumatera Utara, terdapat keputusan Sultan Langkat yang menetapkan kelompok hutan Langkat Sekundur, Langkat Selatan, dan Langkat Barat sebagai Suaka Margasatwa Sekundur dengan nama Wilhelmina Katen dengan total luas 213.985 hektar. Demikian usaha masyarakat sekitar kawasan Leuser berusaha menjaga ‘rumah’-nya Leuser di masa sebelum kemerdekaan. Ini menunjukkan bahwa pemikiran orang-orang di zaman dahulu lebih berbudaya dan maju untuk menjaga titipan anak cucunya sehingga kita yang hidup di zaman sekarang ini patut berterimakasih dan mengikuti keteladanan orangtua kita tempo dulu. Setelah era kemerdekaan, upaya Pemerintah Indonesia untuk menjaga dan melestarikan Leuser terus berlanjut; pada tanggal 10 Desember 1976 berdasarkan SK Menteri Pertanian menunjuk Suaka Margasatwa Kappi sebagai bagian kawasan Leuser seluas 150.000 hektar, dan pada tanggal 6 Maret 1980 berdasarkan SK Menteri Pertanian No.811/Kpts/Um/II/1980, pemerintah mendeklarasikan kawasan suaka margasatwa, suaka alam, dan kelompok-kelompok hutan di sekitar Leuser yang terbentuk

6

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

Tentang Leuser
Langkat Barat, SM dan TW Sekundur) sedangkan di daerah Aceh seluas 586.500 Ha (gabungan dari SM Kluet, SM Gn. Leuser, SM Kappi, dan TW Lawe Gurah). Selanjutnya pada tanggal 12 Mei 1984, berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 096/Kpts-II/1984 membentuk suatu unit pelaksana teknis yang bernama Balai Taman Nasional Gunung Leuser yang merupakan wujud usaha pemerintah untuk melestarikan dan menjaga Taman Nasional Gunung Leuser. Pada tahun 1984 lagi-lagi TNGL memperoleh status yang cukup membanggakan yakni sebagai ASEAN Park Heritage (Taman Warisan ASEAN). Dan akhirnya pada tahun 1997 berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 276/Kpts-II/1997 menyatakan bahwa luas keseluruhan Taman Nasional Gunung Leuser adalah 1.094.692 Ha. Dengan adanya pengakuan global dan regional, upaya pemerintah yang berusaha semakin baik lagi dalam memanajemen TNGL, dan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, maka Pemerintah Indonesia mengusulkan kepada Komite Warisan Dunia (World Heritage Committee) agar TNGL menjadi bagian dari salah satu warisan dunia. Warisan dunia adalah warisan yang (1) terdiri dari Warisan Alam dan Warisan Budaya; (2) Melestarikan warisan yang tidak dapat digantikan dan warisan yang memiliki “Nilai Universal Istimewa”; (3) Perlu melindungi warisan yang tidak dapat dipindahkan, dan (4) Menjadi tanggung jawab kesadaran dan kerjasama kolektif Internasional (UNESCO, 2004). Pada sidangnya ke-28 yang berlangsung di Suzhou, Cina pada tanggal 27 Juni07 Juli 2004, akhirnya Komite Warisan Dunia mangakui Taman Nasional Gunung Leuser besama dengan TN. Kerinci Seblat dan TN. Bukit Barisan Selatan sebagai salah satu warisan dunia dengan 'gelar' Tropical Rainforest Heritage of Sumatera. Dengan demikian, sampai saat ini Indonesia telah memiliki 7 situs yang tercantum dalam Daftar Warisan Dunia, yaitu: Candi Borobudur (ditetapkan pada tahun 1991), Candi Prambanan (1991), situs arkeologis Sangiran (1996) yang termasuk dalam Situs Warisan Budaya, dan untuk Situs Warisan Alam adalah: TN. Ujung Kulon (1991), TN. Komodo (1991), TN. Lorentz (1999) dan Tropical rainforest Heritage of Sumatra (2004). Sekarang mari kita telaah sedikit saja kekayaan warisan yang ada di dalam kawasan TNGL dan sekitarnya. Berdasarkan laporan yang ditulis oleh MacKinnon & MacKinnon dalam Review on Protected Areas System in the Indo-Malayan Realm pada tahun 1986, menyebutkan bahwa Leuser mendapatkan skor tertinggi untuk kontribusi konservasi terhadap kawasan konservasi di seluruh kawasan Indo-Malaya. Leuser merupakan habitat sebagian besar fauna Sumatera, mulai dari mammalia, burung, reptilia, amfibia, ikan dan hewan invertebrata. Selama ini tercatat 380 spesies burung, 350 diantaranya merupakan spesies yang tinggal di Leuser. Sebanyak 129 spesies (65%) dari 205 spesies mammalia besar dan kecil di Sumatera ditemukan di Leuser termasuk orangutan sumatera (Pongo abelii), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), badak sumatera (Dicherorhinus sumatrensis), gajah sumatera (Elephas maximus sumateranus) yang merupakan fauna kunci di TNGL, dan juga ada owa (Hylobathes lar) serta kedih (Presbytis thomasii). Selain itu, di TNGL juga ditemukan lebih dari 4.000 spesies tumbuhan, termasuk 3 dari 15 spesies tumbuhan parasit Rafflesia, dan ribuan spesies tumbuhan obat. Dengan kekayaan yang sedemikian itu, maka pantaslah TNGL dinyatakan sebagai laboratorium alam yang merupakan surga bagi para peneliti baik dari manca negara maupun Indonesia. Misalnya, Stasiun Riset Ketambe di Aceh Tenggara telah menjadi salah satu stasiun riset terbesar sejak tahun 1971 dan sampai saat ini tetap menjadi lokasi yang menarik minat bagi para peneliti. Kawasan TNGL dan lansekap disekitarnya seluas 2,6 juta Ha yang disebut sebagai Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

7

Tentang Leuser
Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), merupakan kawasan hutan tropis yang kaya keanekaragaman hayati sekaligus rentan. Letak rentannya adalah saat ini masyarakat banyak menerapkan sistem lahan yang berpedoman pada prinsip ekologi yang saling ketergantungan dengan tipe batuan, hidroklimatologi, bentuk lahan, jenis tanah, dan organisme. Dinyatakan oleh RePPProt (1998), bahwa dari 78 sistem lahan di pulau Sumatera, 42 sistem lahan dapat ditemukan di Kawasan ekosistem Leuser. Faktor lainnya adalah iklim, khususnya curah hujan. Di bagian barat Bukit Barisan curah hujan mencapai 3.000-4.500 mm/tahun, di bagian timur Bukit Barisan mencapai 2.000-3.000 mm/tahun. Rata-rata curah hujan di TNGL/ KEL sebesar 1.000-2.767 mm/tahun. Berbagai faktor alam tersebut merupakan salah satu penyebab rentannya kompleks KEL dari berbagai bentuk eksploitasi. Kawasan Ekosistem Leuser termasuk TNGL menyuplai air bagi 4 juta masyarakat yang tinggal di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Sebanyak 9 kabupaten tergantung pada jasa lingkungan TNGL dalam bentuk ketersediaan air konsumsi, air pengairan, penjaga kesuburan tanah, mengendalikan banjir, dan sebagainya. Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dilindungi oleh TNGL dan KEL sebanyak 5 DAS di wilayah NAD (Jambo aye, Tamiang-Langsa, Singkil, Sikulat-Tripa, dan Baru-Kluet), sedangkan yang berada di wilayah SUMUT sebanyak 3 DAS (Besitang, Lepan, dan Wampu-Sei Ular). Studi yang dilakukan oleh Beukering et al. (2003) menyebutkan nilai ekonomi total ekosistem Leuser, termasuk TNGL di dalamnya, dihitung dengan suku bunga 4% selama 30 tahun adalah USD 7.0 milyar (bila terdeforestasi), USD 9,5 milyar (bila dikonversi), dan USD 9,1 milyar (bila dimanfaatkan secara lestari). Hal ini menunjukkan betapa besarnya peran kawasan hutan di Ekosistem Leuser dan TNGL untuk menjaga stabilitas ekosistem dan keberlanjutan pembangunan khususnya di daerah hilir yang sarat dengan penggunaan lahan produktif dan aset-aset pembangunan strategis. Hal tersebut diatas juga seharusnya menjadi bukti bahwa kita ini telah diberi warisan yang sungguh amat kaya dan bila kita mampu melestarikannya dan menjaganya secara arif maka kita bisa menjadi bangsa yang kaya dan bermartabat. Sudah sepatutnyalah kita yang notabene hidup di zaman penuh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih mengedepankan logika dan sikap yang arif dalam mengelola, menjaga, dan melestarikan harta warisan ini dengan menganggapnya ibarat rumah kita sendiri, dan berusaha untuk tidak menjadi tamu di rumah sendiri. Ya, Leuser adalah rumah bagi kita semua umat manusia di dunia ini. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk melestarikan Leuser, rumah kita itu? Kita sebagai anak Indonesia yang menjadi putra-putri generasi penerus bangsa wajib peduli, menjaga dan melestarikan kekayaan alam Indonesia termasuk Taman Nasional Gunung Leuser yang merupakan situs warisan dunia kebanggaan bangsa Indonesia. Hal yang dapat kita lakukan antara lain: 1. 2. Tidak merusak kawasan hutan, yaitu dengan tidak ikut menebang hutan dan membakar kawasan hutan. Tidak memburu, memperdagangkan/ memperjualbelikan flora dan fauna yang terdapat di dalam TNGL hanya untuk kesenangan perorangan/ kelompok tertentu hanya demi uang. Melakukan kegiatan penghijauan, reboisasi, maupun rehabilitasi hutan untuk menciptakan kembali keseimbangan alam bagi manusia dan lingkungan Ikut serta melaksanakan kegiatan kampanye, sosialisasi, maupun penyebaran informasi tentang perlindungan dan pelestarian serta penelitian tentang Taman Nasional Gunung Leuser. Bilapun kita mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumberdaya alam di TNGL maka haruslah dikedepankan pemikiran-pemikiran yang logis dan bijaksana demi keberlangsungan dan kelestarian TNGL.

3.

4.

5.

Akhirnya bila kita menyadari bahwa TNGL itu adalah harta warisan yang sungguh amat kaya dan kita pun yang hidup zaman sekarang ini bisa menerima dan mengelola harta warisan tersebut dengan arif maka kita bisa menyapa dan memberi salam kepada 25.000 anak-cucu kita yang lahir per harinya dengan penuh kebanggaan dan keteladanan. Sama halnya ketika kita lahir ke dunia ini dan menerima harta warisan ini dengan penuh senyuman bangga akan kekayaan harta warisan yang kita terima. Ya... Leuser, Rumah Kita Semua.*** *Fakhrullah | Mahasiswa Fakultas MIPA - Universitas Sumatera Utara | Peserta Lomba Menulis “Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia”

8

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

Tentang Leuser

Mari bayangkan Taman Nasional Komodo tanpa komodo, Taman Nasional Bali Barat tanpa jalak bali, dan Taman Nasional Wasur tanpa cendrawasih. Miris, habitat yang tak dihuni oleh endemiknya. Yah, bisa dipastikan kita hanya membayangkan bentangan tanah gersang, sunyi, sepi, dan tentu saja sangat memprihatinkan.

Selamatkan Orangutan, Selamatkan Habitatnya!
B
egitu pula jika kita membayangkan bila Bukit Lawang tanpa orangutan! Bukit Lawang telah sangat terkenal akan orangutannya. Tidak hanya peneliti satwa dalam negeri, peneliti asing pun mengenal dengan baik kawasan yang dulu bernama Pusat Rehabilitasi Orangutan Bahorok ini. Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera dan Ekowisata Bukit Lawang diawali dari berdirinya Pusat Rehabilitasi Orangutan Bohorok yang diprakarsai oleh World Wide Fund for Nature (WWF) dan Frankfurt Zoological Society (FZS) pada tahun 1973. Pada Januari 1980 Pusat Rehabilitasi tersebut diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia yang kemudian dikelola oleh Direktorat Perlindungan dan Pelestarian Alam, Direktorat Jenderal Kehutanan, Departemen Pertanian. Seiring berjalannya waktu, ternyata wisatawan yang tertarik pada Pusat Rehabilitasi ini terus meningkat, sehingga Bahorok terkenal dengan wisata orangutan. Orangutan di Bahorok merupakan orangutan semi liar hasil rehabilitasi. Menjual wisata Bahorok menjadi sempurna karena diimbangi oleh keindahan alam dan letaknya yang tidak jauh dari Medan, yaitu sekitar 96 km dari ibukota Sumatera Utara tersebut, atau dapat ditempuh tiga sampai empat jam dengan kendaraan bermotor. Penelitian yang dilakukan oleh Mahasiswa Departemen Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Mikha Sri Dewi (2008)1 mengungkapkan bahwa wisatawan yang

Oleh: Lina Naibaho*

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

9

Tentang Leuser
Selamatkan Habitat Orangutan mengunjungi Bukit Lawang, seratus persen berkunjung karena ketertarikannya pada orangutan. Menurutnya, wisatawan yang paling sering berkunjung berasal dari Irlandia. Para wisatawan ini mengunjungi Bukit Lawang, semata-mata karena ingin menyaksikan secara langsung makhluk yang 97% ber-DNA mirip manusia ini, berada di habitat aslinya. Harta Warisan di Jantung Dunia Keberadaan orangutan sumatera di gugus Taman Nasional Gunung Leuser telah menjadi salah satu warisan bagi dunia (world heritage). Mengingat konsep harta warisan, tentu saja keberadaan orangutan sumatera tidak diperhitungkan untuk dimanfaatkan hari ini saja, tetapi juga untuk besok – sebagai warisan bagi anak cucu negeri dan bumi ini. Karena itulah, pemerintah Indonesia menetapkan orangutan sumatera sebagai satwa dilindungi melalui PP No.7/1999. Tidak sampai disitu saja, berdasarkan IUCN red list edisi 2002, orangutan termasuk dalam kategori “critically endangered” (sangat kritis terancam punah) secara global, dan berdasarkan CITES termasuk dalam Appendiks I.2 Dunia sendiri telah menetapkan TNGL sebagai warisan dunia. Atas usulan Pemerintah Indonesia dan dengan melalui proses seleksi yang ketat, pada Sidang ke 28 Komite Warisan Dunia yang berlangsung di Suzhou, Cina, pada tanggal 27 Juni - 7 Juli 2004, UNESCO melalui World Heritage Committee menetapkan Taman Nasional Gunung Leuser bersama Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site), Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS). Dengan begitu kawasan konservasi di propinsi NAD dan Sumut, yang meliputi 9 (sembilan) kabupaten itu telah diakui sebagai jantung dunia. Menurut UNESCO (2004), pengertian “Warisan Dunia” itu sendiri memuat hal-hal sebagai berikut: (1) Warisan Dunia dapat terdiri dari Warisan Alam dan Warisan Budaya, (2) Melestarikan warisan yang tidak dapat digantikan dan warisan yang memiliki "Nilai Universal Istimewa", (3) Perlu melindungi warisan yang tidak dapat dipindahkan, dan (4) Menjadi tanggung jawab kesadaran dan kerja sama kolektif internasional.3 Pengelolaan satwa liar seperti orangutan ternyata menjadi seni dan ilmu membuat keputusan sekaligus aksi-aksinya untuk mensiasati struktur, dinamika dan hubungannya dengan viabilitas populasi, habitat, dan masyarakat.4 Karena itulah, kepunahan orangutan menjadi persoalan pelik, yang jika dirunut akan menjadi perjalanan panjang yang tak putus. Berbagai aktivitas manusia, seperti penebangan liar (illegal logging) dan perdagangan satwa telah memperkeruh keberadaan orangutan. Primata yang secara genetik sangat dekat kekerabatannya dengan manusia ini pun terancama punah. Sementara itu, ilmuwan yang pesimistis menyatakan bahwa populasi TNGL menjadi satu-satunya taman nasional yang masih memiliki harapan untuk kelangsungan hidup jangka panjang bagi orangutan. Sementara untuk taman nasional yang cukup terkenal dengan orangutannya, seperti Taman Nasional Tanjung Puting, sebagaimana di lain tempat, hilangnya spesies tanaman pangan, penghancuran sekunder tumbuhan jalar dan pepohonan kecil, dan berbagai aktivitas yang menghancurkan kawasan (biodiversity)5, telah membuat keberadaan orangutan semakin terpuruk di bumi ini. Begitulah, bisa kita bayangkan betapa pentingnya menyelamatkan orangutan di gugus TNGL, artinya begitu urgent untuk menyelamatkan orangutan bukan? Hanya satu jawaban untuk persoalan ini, yaitu konservasi habitat orangutan! Dalam hal ini, konservasi orangutan dilakukan dengan jalan membebaskannya dari gangguan dan mengusahakan agar vegetasi alam yang tumbuh di dalam habitat mereka tetap dijaga utuh. Dengan cara demikian, populasi satwa tidak perlu atau akan sedikit sekali memerlukan tindakan pengelolaan khusus. Pengelolaan satwa liar di dalam taman nasional, dalam banyak aspek berkaitan dengan pengelolaan vegetasi sebagai unsur penunjang utama bagi kelangsungan hidup orangutan.6 Hal ini perlu dilakukan karena dalam aktivitas kesehariannya, orangutan mempunyai habitat inti (core area). Pada daerah inti, yang paling utama adalah tersedianya pohon tidur (sleeping tree) yang aman dari predator, biasanya pada pohon di dekat sungai, dan dekat dengan sumber pakan. Berdasarkan data revisi Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) (2004), perkiraan jumlah orangutan 2 di Sumatera adalah 6.667 individu dewasa. Perkiraan ini dikhawatirkan terus berkurang seiring dengan berbagai aktivitas penebangan liar dan perdagangan satwa, karena itu harus dilakukan pengelolaan yang benar menyangkut orangutan.

10

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

Tentang Leuser
sebagai sandaran kursi yang artistik dan penghias interior dan eksterior bangunan pariwisata seperti hotel, restoran, penginapan, pesanggrahan, dan sebagainya. Sedangkan akarnya bisa dibentuk menjadi meja yang mempunyai nilai artisitik yang tinggi. Catatan : Melalui tulisan ini, penulis merekomendasikan agar kegiatan penanaman pohon matoa di bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Bahorok lebih diperhatikan, baik dari segi penanaman maupun pemeliharaan setelah kegiatan penanaman, agar habitat orangutan sumatera bisa dipertahankan keberadaannya. Yah, bukankah menyelamatkan habitat orang utan di gugus TNGL, berarti bagian dari menyelamatkan warisan dunia juga?*** *Lina Naibaho | Mahasiswa Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara | Peserta Lomba Menulis “Arti Penting TNGL sebagai Situs Warisan Dunia” Referensi penulisan: Skripsi Mikha Sri Dewi, tema Profil dan Kajian Wisatawan Asing pada Daerah Wisata Alam Taman Nasional Gunung Leuser. Mahasiswa Program Studi Manajemen Hutan. Departemen Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) 2 Disampaikan dalam seminar "Menyelamatkan orangutan sumatera Indonesia di Sumatera". Disampaikan oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati pada 3 Juni 2008 di Medan. 3 Wiratno (2003), diakses melalui Leuserhttp://www.harianglobal.com/news.php?item.32310.3 (29 Juni 2008) 4 Wiratno, dkk (2004). Berkaca di Cermin Retak : Refleksi Konservasi dan Implikasi bagi Pengelolaan Taman Nasional. Edisi Revisi 2004. Halaman 118 5 Sinar Harapan (2003). IUCN : Orangutan Indonesia terancam punah. Diakses melalui http://www.sinarharapan.co.id/berita/0407/08/nas02 .html (29 Juni 2008). 6 Wiratno, dkk (2004). Berkaca di Cermin Retak : Refleksi KOnservasi dan Implikasi bagi Pengelolaan Taman Nasional. Edisi Revisi 2004. Halaman 118-119 7 Medan Bisnis (2008). Diakses melalu http://www.medanbisnisonline.com/rubrik.php? p=117667&more=1 (29 Juni 2008). 8 Ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Diakses melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Matoa (29 Juni 2008).
1

bisro sy

Salah

saran satu

di utan rang go

g awan kit L Bu hutan

Matoa, Tanaman Agen Konservasi Menyelamatkan orangutan, memang dengan menyelamatkan habitatnya. Jika habitat orangutan adalah daerah bantaran sungai dan dekat dengan sumber pakan, maka melirik pohon matoa (Pometia spp) menjadi salah satu rekomendasi solusi. Penanaman pohon matoa di bantaran sungai, selain sebagai konservasi bantaran sungai ternyata mampu menyelamatkan orangutan dari krisis pangan. Ketua Departemen Ilmu Tanah Universitas Sumatera Utara (USU) dan peneliti DAS Sumut, Abdul Rauf (2008)7 mengatakan pohon matoa sangat baik sebagai penguat daerah bantaran sungai. Banjir bandang yang melanda Bahorok pada 2003 silam telah menghanyutkan bangunan, pepohonan besar seperti ficus-ficusan, dan bambu - yang selama ini disinyalir sebagai tanaman konservasi bantaran sungai. Ternyata, jelas Abdul Rauf, saat itu justru pohon matoa yang berdiri kokoh di tebing-tebing sungai. Matoa atau yang lebih dikenal dengan pohon pakam ini, adalah tanaman khas Papua Barat yang termasuk ke dalam famili Sapindaceae. Pohon matoa dapat tumbuh tinggi dan memiliki kayu yang cukup keras. Rasa buahnya adalah campuran rambutan, durian, dan kelengkeng. Buahnya berbentuk lonjong dan seukuran dengan buah pinang (kelurga palem). Ketika muda berwarna hijau dan setelah matang berwarna hijau kekuningan. 8 Menurut Abdul Rauf (2008), buah pohon matoa ini sangat disukai oleh orangutan, burung, dan satwa lainnya, dan pohon matoa yang dapat tumbuh tinggi menjadi tempat yang cocok bagi orangutan untuk membangun sarangnya (sleeping tree). Selain mempunyai fungsi konservasi, ternyata matoa juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Tanaman ini penghasil papan/kayu yang cukup baik, yang telah dimanfaatkan untuk kusen, pintu, dan kursi. Sementara rantingnya bisa dimanfaatkan

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

11

K e h a t I

Hampir semua masyarakat di dunia tidak asing dengan buah pisang. Buah dengan sejuta manfaat ini telah banyak dikonsumsi oleh manusia karena kandungan gizinya yang tinggi.

isang menyediakan energi cukup tinggi bila dibandingkan dengan buah lainnya. Pisang diketahui kaya akan mineral berupa kalium, magnesium, fosfor, besi, dan kalsium. Selain itu didalam buah pisang juga mengandung berbagai vitamin antara lain vitamin C, B6, B kompleks, dan serotonin yang aktif sebagai neurotransmitter dalam kelancaran fungsi otak, sehingga pisang dapat membuat otak menjadi lebih segar (Anwar, 2003). Kandungan dan manfaat pisang bagi kesehatan telah banyak diketahui oleh masyarakat. Akan tetapi masih sedikit masyarakat yang mengenal tentang biologi dari pisang. Asal-usul nama ''Pisang“ Pisang masuk ke dalam marga Musa, suku Musaceae. Beberapa ahli botani berpendapat bahwa nama Musa diambil dari nama Antonius Musa, salah seorang dokter kaisar Octavius Augustus dari Roma, sementara itu beberapa ahli botani lainnya berpendapat bahwa nama Musa berasal dari bahasa Arab yaitu mouz atau mouwz yang berarti pisang. Pisang Liar (Musa sp.) di Indonesia Seperti halnya jenis tumbuhan lainnya, pisang dikelompokkan menjadi pisang liar dan pisang budidaya. Pisang liar pada umumnya ditemukan tumbuh liar di alam, mempunyai banyak biji, dan bersifat diploid. Sedangkan pisang budidaya pada umumnya tumbuh di pekarangan, bijinya sedikit, dan bersifat triploid atau kadang diploid. Jenis pisang budidaya inilah yang sering kita manfaatkan, sedangkan pisang liar tidak banyak dimanfaatkan secara ekonomi, padahal pisang liar mempunyai potensi yang luar biasa dan masih belum banyak digali. Indonesia merupakan salah satu negara pusat asal-usul pisang-pisangan. Jumlah jenis pisang liar di Indonesia sangat melimpah. Sebanyak 12 jenis pisang liar telah ditemukan di Indonesia. Pisang-pisang liar ini ditemukan

P

Pisang Liar
Sang Sumber Plasma Nutfah
Oleh: Lulut Dwi Sulistyaningsih*

12

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

K e h a t I
mulai dari Lembah Alas (Aceh Tenggara) sampai ke daerah Papua bagian utara. Jenis pisang liar dan daerah penyebarannya di Indonesia : 1. Musa acuminta Colla Jenis ini mempunyai beberapa nama lokal, antara lain cau kole (Sunda), pisang cici alas (Jawa), pisang rimbo (Minangkabau), pisang harangan (Batak), nuka nuibo (Kaili), unti darek (Bugis). Tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian 1.800 m dpl dan juga tumbuh di hutan sekunder. Pisang ini ditemukan di Sulawesi, Jawa Barat, Bali, dan Sumatra. sitata, sedangkan masyarakat Sunda menyebutnya dengan cau kole. Jenis ini ditemukan di sepanjang lereng barat Pegunungan Bukit Barisan Sumatera, mulai dari Aceh sampai Tapanuli, Sumatera Barat dan Bengkulu. 8. Musa schizocarpa Simmonds Ditemukan di dataran rendah terbuka di Papua dan di sepanjang sisi jalan antara Arso dan Genyem. Selain itu jenis ini ditemukan juga tumbuh di Niugini. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai pisang utan. 9. Musa textilis Nee Jenis ini dapat ditemukan di dalam koleksi tumbuhan Badan Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri di Bogor. Dikenal sebagai pisang manila atau pisang abaka.

2. Musa balbisiana Colla Masyarakat Indonesia mengenalnya secara umum dengan sebutan pisang batu, pisang biji, atau pisang klutuk. Jenis ini belum pernah dilaporkan dan 10. Musa troglodytarum L. ditemukan tumbuh secara Asli dari Maluku dan belum pernah Dari potensi-potensi liar di Indonesia. Akan dilaporkan dan ditemukan tumbuh liar yang dimiliki oleh pisang tetapi secara luas telah di tempat lain. Dikenal dengan tersebut, potensi yang paling penting sebutan pisang tongkat langit atau ditanam di kebunkebun Indonesia. adalah potensi sebagai sumber plasma pisang tunjuk langit. Masyarakat Seram ada yang menyebutnya nutfah. Keberadaan plasma nutfah 3. Musa dengan tema tenala langit. ini penting untuk meningkatkan borneensis Becc. kualitas pisang-pisang Pisang yang dikenal 11. Musa uranoscopos Lour dengan pisang hutan oleh Jenis ini merupakan asli dari Cina budidaya yang ada masyarakat Indonesia ini Selatan, Vietnam, Laos dan diintroduksi ke di Indonesia. tumbuh sepanjang sungai Indonesia melalui Kebun Raya Bogor. Mahakam dan di Kabupaten Tabalong, Masyarakat Indonesia menyebutnya dengan pisang Kalimantan Selatan. Masyarakat Serawak hias. mengenalnya dengan sebutan pisang unkaok atau pisang unkadan. 12. Musa velutina Wendl. & Drude Jenis yang dikenal dengan sebutan pisang hias ini, 4. Musa celebica Warb. bukan asli Indonesia melainkan berasal dari Assam Dikenal oleh masyarakat Toraja dengan sebutan punti dan diintroduksikan ke Indonesia melalui Kebun lampung. Jenis ini ditemukan di Taman Nasional Raya Bogor. Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Potensi Pisang Liar 5. Musa lolodensis Cheesman Ditemukan menyebar mulai dari Halmahera, Maluku Di Indonesia, pisang liar belum mempunyai nilai sampai ke Papua bagian utara. Masyarakat setempat ekonomi yang tinggi. Selama ini tunas atau bonggol menyebutnya dengan pisang hias. pisang muda diberikan sebagai pakan ternak pengganti rumput. Daunnya digunakan sebagai 6. Musa ornata Roxb. pembungkus makanan. Tangkai daun dan serat upih Berasal dari Himalaya bagian tenggara dan daun yang kering digunakan sebagai pengikat. diintroduksi ke Indonesia melalui Kebun Raya Masyarakat Jawa Tengah menggunakan upih daun Bogor. Seperti halnya M. lolodensis Cheesman, jenis kering sebagai pembungkus daun tembakau, ini disebut juga dengan pisang hias. sedangkan di Sumatera Utara digunakan sebagai pembungkus gula aren. Selain itu, upih batang dapat 7. Musa salaccensis Zoll digunakan sebagai pelindung bibit tanaman. Padahal Masyarakat Minangkabau mengenalnya dengan kalau dikaji lebih jauh lagi, kegunaan pisang liar pisang monyet dan pisang karok, masyarakat tidak hanya terbatas pada hal tersebut. Pisang liar Mandailing mengenalnya dengan sebutan pisang mempunyai potensi yang luar biasa, diantaranya :

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

13

K e h a t I
1. Sumber plasma nutfah M. acuminata Colla dan M. balbisiana Colla merupakan nenek moyang dari pisang-pisang budidaya yang ada di Indonesia. Beberapa jenis pisang budidaya merupakan hasil persilangan dari kedua jenis pisang tersebut. Jenisjenis pisang liar lainnya juga diketahui mempunyai potensi sebagai induk dalam persilangan untuk menciptakan kultivar-kultivar yang unggul. 2. Sumber serat Musa textilis Nee telah diketahui mempunyai kandungan serat dalam batang semunya yang secara fisik kuat, tahan lembab dan air asin, sehingga baik untuk digunakan sebagai bahan baku kertas berkualitas tinggi yang tahan simpan (seperti uang, kertas dokumen, kertas cek), kertas filter, pembungkus teh celup, bahan pakaian, pembungkus kabel dalam laut, serta tali-temali lainnya (Triyanto et al. 1982). Saat ini telah banyak penelitian yang dilakukan dalam rangka perbanyakan dan perbaikan kualitas serat dari pisang abaka ini. 3. Tanaman hias Di tengah maraknya trend tanaman hias di masyarakat Indonesia, beberapa jenis pisang liar dapat dimanfaatkan sebagai tanaman hias karena secara morfologi, beberapa jenis pisang liar khususnya yang tumbuh di Indonesia mempunyai penampakan morfologi yang menarik, diantaranya Musa lolodensis Cheesman, Musa ornata Roxb., Musa uranoscopos Lour, dan Musa velutina Wendl. & Drude. Dari potensi-potensi yang dimiliki oleh pisang tersebut, potensi yang paling penting adalah potensi sebagai sumber plasma nutfah. Keberadaan plasma nutfah ini penting untuk meningkatkan kualitas pisang-pisang budidaya yang ada di Indonesia. Pisang liar sebagai sumber plasma nutfah Banyaknya jenis dan varietas dari pisang-pisang liar menunjukkan banyaknya keanekaragaman genetik yang ada didalam jenis tersebut. Keanekaragaman hayati yang ada dapat digunakan sebagai sumber plasma nutfah, kaitannya dengan usaha perakitan varietas unggul. Keanekaragaman genetik tersebut harus dipertahankan dan diperluas keberadaannya, sehingga bahan untuk perakitan varietas unggul selalu tersedia. Beberapa pisang liar telah diketahui mempunyai ketahanan terhadap penyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporium f. cubense. Jamur ini mampu bertahan lama di dalam tanah sebagai klamidospora sehingga sulit untuk dikendalikan. Penyakit layu Fusarium telah merusak perkebunan pisang di Bogor dan Lampung yang menyebabkan petani pisang harus menanggung kerugian yang cukup besar. Tidak hanya di Indonesia, penyakit ini juga telah menyerang perkebunan-perkebunan pisang di Taiwan, Kepulauan Kanari, Afrika Selatan, Australia, Amerika Tengah dan Selatan (Nasution & Yamada, 2001). M. acuminata Colla merupakan salah satu nenek moyang pisang budidaya di Indonesia. Jenis ini mendonorkan genom ”A”. Pisang budidaya yang merupakan turunan dari jenis ini antara lain pisang ambon (AAA), pisang ambon lumut (AAA), pisang mas (AA), dan pisang berangan (AAA) (Nasution & Yamada 2001). M. acuminata var malaccensis, salah satu varietas dari M. acuminata Colla yang ditemukan di Jawa Barat dan Sumatera, diketahui mempunyai resistensi terhadap jamur layu Ras 1 dan Ras 2, serta Sigatoka. Resistensi terhadap sigatoka juga ditunjukkan oleh M. acuminata Colla var. burmanica (Stover & Simmonds 1987). Pisang liar yang juga merupakan nenek moyang pisang budidaya di Indonesia adalah M. balbisiana Colla. Jenis ini mendonorkan genom ”B”. Beberapa kultivar turunannya antara lain pisang kepok, pisang siem, dan pisang cepatu (ABB). M. balbisiana Colla mampu tumbuh di daerah kering karena jenis ini agak toleran terhadap kekeringan (Nasution & Yamda, 2001). M. schizocarpa Simmonds telah dilaporkan mampu menyilang dengan M. banksii von Muell di Niugini (Argent 1976). Shepherd (dalam Argent 1976) menemukan adanya tanda-tanda asal-usul M. schizocarpa Simmonds dalam kultivar-kultivar ”Galan” dari New Britain dan New Ireland. Diperkirakan jenis ini telah memberikan sumbangan klon yang cukup banyak melalui persilangan. Jenis pisang liar yang berasal dari Assam, M. velutina Wendl. & Drude akan menyilang secara timbal balik dengan M. acuminata Colla bila tumbuh bersama-sama.

Lulut DS

14

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

K e h a t I
Perkecambahan cukup baik tetapi efek timbal balik terlihat berbeda. Jenis pisang liar lainnya yaitu M. ornata Roxb. telah berhasil disilangkan dengan M. acuminata Colla, M. balbisiana Colla, dan beberapa jenis lainnya. Persilangan dengan M. acuminata Colla dan M. balbisiana Colla dilaporkan mudah dilakukan secara timbal balik, perkecambahan baik tetapi efek timbal baliknya terlihat berbeda (Simmonds 1962 dalam Nasution & Yamada 2001). Cheesmann (1950) melaporkan bahwa M. uranoscopos Lour telah berhasil disilangkan dengan M. borneensis Becc.. Jenis pisang liar lainnya yang telah berhasil disilangkan dengan M. borneensis Becc. adalah M. textilis Nee. Persilangan pisang-pisang liar dengan ”Gross Michel” menghasilkan kultivar-kultivar tetraploid yaitu ”IC2” yang diketahui mempunyai resistensi terhadap jamur layu dan resisten terhadap cacing penggerek (Radopholus similis) dan Sigatoka (Mycospaerella musicola) (Nasution & Yamada 2001). Melihat besarnya potensi pisang liar sebagai sumber plasma nutfah, maka hendaknya kegiatan eksplorasi, inventarisasi, dan evaluasi pisang-pisang liar khususnya di Indonesia perlu dilakukan dan terus ditingkatkan. Sehingga perbaikan kultivar-kultivar pisang di Indonesia dapat terus dilakukan dan Indonesia tidak hanya menjadi pusat asal-usul dan keanekaragaman pisang liar, tetapi menjadi pusat komoditas ekspor pisang-pisang budidaya.*** *Lulut Dwi Sulistyaningsih | Staff Herbarium Bogoriense, Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi LIPI Sumber Pustaka Anwar, F. 2003. Tips: Pisang membuat otak segar. http://www.depkes.go.id/index.php [24 Oktober 2008]. Argent, G.C.C. 1976. The wild bananas of Papua New Guinea. Not. Roy. Bot. Gard. Edinburgh 35 (1): 77-114. Cheesmann, E.E. 1950. Classification of the bananas 3: Critical notes on the species. M. coccinea Andrews. Kew Bull. 1: 29-31. Nasution, R. E., Yamada, I. 2001. Pisang-pisang Liar di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi – LIPI. Stover, R. H., Simmonds, N. W. 1987. Bananas 3rd. Longman: London. Triyanto, H. S., Muliah, & Edi, M. 1982. Batang abaka ( M. textiles Nee) sebagai bahan baku kertas. Berita Selulosa 18-27.

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

15

DInamIka

Pembangunan Daerah Penyangga Kawasan Konservasi
“PENTING NAMUN LUPUT DARI PERHATIAN”

Oleh : Sri Andajani*

P

emanfaatan sumberdaya alam hayati oleh masyarakat dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari telah dimulai sejak adanya catatan kehidupan dan kebudayaan manusia. Budaya tersebut berimplikasi terjadinya eksplorasi yang berlebihan secara terus menerus terhadap sumberdaya alam hayati. Menyadari kondisi tersebut, pemerintah mulai mengalokasikan kawasan konservasi - yang terdiri atas Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) - sebagai benteng terakhir penyangga kehidupan yang bersifat jangka panjang. Upaya tersebut bahkan telah dimulai sejak jaman penjajahan Belanda dengan terbitnya Ordonansi Perlindungan Alam 1941 (Natuurbescherning Ordonantie 1941 Staatsblad1941 Numer 167), yang lebih lanjut diperbaharui dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kehutanan, kemudian diperbaharui kembali dengan Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, serta diperkuat dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya beserta berbagai peraturan pelaksanaannya. Landasan-landasan hukum tersebut diperkuat lagi dengan terbitnya Undang Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Penataan Ruang. Dengan demikian, setiap tapak lahan yang ada semakin menjadi jelas peruntukannya. Untuk lebih menjamin pencapaian kelestarian fungsi dan manfaat dari kawasan konservasi maka masih perlu adanya daerah penyangga yang berada disekeliling kawasan konservasi. Daerah penyangga ini diharapkan dapat berfungsi untuk meminimalisir atau menyerap (buffer) dampak negatif dari aktifitas manusia maupun alam di luar kawasan konservasi. Namun demikian, untuk merealisir maksud tersebut masih ditemui berbagai kendala dan permasalahan. Daerah Penyangga , Fungsi dan Permasalahannya Yang dimaksud dengan daerah penyangga adalah wilayah yang berada di luar di sekeliling kawasan konservasi, dapat berupa kawasan hutan lain,

16

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

DInamIka
tanah negara bebas maupun yang dibebani hak, yang diperlukan dan diharapkan mampu menjaga keutuhan kawasan konservasi (disarikan dari penjelasan Pasal 16 Ayat (2) Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE) dan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 Pasal 56). Selanjutnya dijelaskan bahwa “Pengelolaan atas daerah penyangga tetap berada di tangan yang berhak, sedangkan cara-cara pengelolaan harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan pemerintah”. Dari uraian di atas dapat dibaca adanya potensi konflik tumpang tindih kepentingan (potential conflict of interest) di antara kepentingan dari pemilik atau pengelola lahan yang menjadi daerah penyangga dengan kepentingan yang semata-mata berorientasi konservasi kawasan. Dalam hal ini, pemilik atau pengelola lahan yang menjadi daerah penyangga tidak dapat memanfaatkan lahannya sesuai dengan keinginannya yang seringkali dipandang tidak sesuai dengan kepentingan konservasi kawasan yang disangga. Oleh karena itu, koordinasi yang baik diantara pengelola kawasan konservasi dengan pemilik dan pengelola lahan merupakan kunci penting untuk mencapai optimalisasi pemanfaatan kawasan untuk kepentingan yang berbeda. Mencermati pengertian dan ketentuan di atas, daerah penyangga secara fisik merupakan semua bentuk penggunaan lahan di luar kawasan konservasi yang lokasinya berbatasan langsung dengan suatu kawasan konservasi. Namun demikian, sesungguhnya pengelolaan daerah penyangga bukan sekedar terhadap kawasan-fisiknya, tetapi lebih kepada bagaimana pembinaan terhadap masyarakat atau pemilik lahan tersebut dalam rangka mendukung pengelolaan kawasan konservasi dapat dilakukan secara sinergis, tanpa ada pihak yang merasa dirugikan. Mencermati adanya kendala bahwa di satu pihak menetapkan daerah penyangga berfungsi sebagai penyerap kegiatan di luar kawasan konservasi yang dapat mengancam keutuhan kawasan dan sumberdaya alam hayati yang terkandung di dalamnya, dan di pihak lain bahwa pengelolaan daerah penyangga tidak berada dalam satu otoritas, maka pengelolaan daerah penyangga harus berorientasi sebagai berikut: 1. Melindungi kawasan konservasi dan sumberdaya alam hayati yang terkandung di dalamnya dari gangguan yang berasal dari luar kawasan, khususnya yang diakibatkan oleh kegiatan manusia. Melindungi daerah dan masyarakat di sekitar kawasan konservasi dari gangguan yang berasal dari dalam kawasan khususnya yang diakibatkan oleh kegiatan satwa liar. Menumbuhkan sinergi positif (pada daerah penyangga) sebagai akibat dari interaksi antara kawasan konservasi beserta sumberdaya alam hayatinya dengan masyarakat dan pola penggunaan atau pemanfaatan lahan di sekitarnya.

2. 3.

Orientasi tersebut dapat diwujudkan melalui pemberdayaan masyarakat yang berada di dalam daerah penyangga sehingga dapat meminimalisir ketergantungan masyarakat yang melampaui daya dukung kawasan konservasi dan sumberdaya alam hayati yang terkandung di dalamnya, sekaligus meredam gangguan khususnya satwa liar dari dalam kawasan konservasi terhadap masyarakat, lahan pertanian dan perkebunan serta pemukiman penduduk di sekitar kawasan konservasi. Penentuan Daerah Penyangga Mengingat misi pengembangan daerah penyangga yang cukup kompleks, maka penentuan dan kegiatan yang dikembangkan perlu memperhatikan aspek konservasi kawasan, pola penggunaan lahan serta kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat, termasuk sarana dan prasarana yang tersedia. Di dalam upaya penentuan dan penetapan daerah penyangga ini diperlukan adanya partisipasi dan keterlibatan aktif dari masyarakat setempat serta komitmen dari pihak terkait lainnya, khususnya pemerintah daerah. Komitmen pemerintah daerah ini sangat berpengaruh dalam penentuan rencana tata ruang wilayah, baik Tingkat Propinsi (RTRWP) maupun Kabupaten (RTRWK). Dengan demikian lahan yang berbatasan dengan kawasan konservasi dapat ditetapkan sebagai lahan budidaya tertentu yang sejalan dengan atau mendukung upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Permasalahan dan Upaya Pemecahannya Permasalahan utama dalam pengembangan daerah penyangga kawasan konservasi selain pola penggunaan lahan yang sangat beragam antara lain kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan hutan (hutan lindung, hutan porduksi); perkebunan; pertanian dan pemukiman serta pertambangan, adalah status kepemilikan dan atau penguasaan lahannya. Berkaitan dengan hal tersebut, pemilik atau penguasa lahan tidak dapat memanfaatkan lahan dimaksud sesuai dengan keinginannya karena dibatasi oleh kepentingan konservasi dari Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

17

DInamIka
kawasan konservasi yang berbatasan langsung. Selain itu pengelolaan lahan daerah penyangga tidak berada pada satu pihak yang memiliki tujuan pengelolaan sejalan dengan tujuan penetapan kawasan konservasi. Oleh karena itu daerah penyangga haruslah merupakan perpaduan dari kepentingan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dengan berbagai kepentingan masyarakat pemilik/ penguasa lahan dan penduduk setempat serta penentu kebijakan. Untuk itu, koordinasi dan kerjasama dengan berbagai pihak dan masyarakat setempat merupakan prioritas utama dalam pengembangan daerah penyangga, khususnya dalam pemaduserasian program dan kegiatan pembangunan kawasan konservasi. Dalam upaya memecahkan masalah yang dihadapi baik yang berkaitan secara langsung dengan masyarakat setempat maupun pelaku pembangunan di sektor lain, maka perlu diperhatikan beberapa prinsip pembangunan yang mencakup : 1. Komitmen nasional, yaitu konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dalam bentuk kawasan konservasi (KSA dan KPA) ini merupakan komitmen atau kesepakatan nasional yang harus didukung oleh semua pihak. Oleh karena itu, pengertian ini perlu disebarluaskan dan dimengerti oleh semua pihak terkait (stakeholders). Tak terpulihkan, yaitu perlunya pengertian semua pihak bahwa keragaman dan keunikan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya di dalam kawasan konservasi ini bersifat rentan yang berarti kerusakan yang berlebihan dapat menyebabkan kepunahannya. 3. Manfaat optimum, yaitu keberadaan kawasan konservasi harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan konservasi harus diupayakan pada pencapaian dampak positif bagi masyarakat sesuai dengan kondisi bio-fisik kawasan dan sosial ekonomi masyarakat setempat. Subsidi silang, yaitu penambahan masukan (input) pembangunan melalui sektor dan bidang lain akibat adanya pembatasan penggunaan lahan daerah penyangga. Subsidi ini harus bersifat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui “non land based activities”. Pengakuan (recognition), yaitu pengakuan dari masyarakat bahwa adanya penambahan masukan (subsidi) terjadi karena adanya pengelolaan kawasan konservasi disamping berlangsungnya kegiatan sektor lain juga tergantung pada kelestarian kawasan konservasi. 6. Phasing out, yaitu pemberian subsidi dalam berbagai bentuk , termasuk kegiatan pembangunan sektor lain harus bersifat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan berkurang secara bertahap sehingga tidak menimbulkan ketergantungan baru. Pengalihan tekanan, yaitu kegiatan yang dikembangkan di daerah penyangga dan sekitarnya harus bersifat mengalihkan tekanan masyarakat terhadap kawasan serta sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dalam kawasan konservasi. Kemandirian, yaitu kegiatan yang dikembangkan di daerah penyangga diarahkan untuk tidak hanya menyediakan kesempatan kerja dan berusaha tetapi sekaligus mendidik masyarakat setempat untuk mengurus dirinya sendiri dan lingkungannya, tidak tergantung pada subsidi dan sumberdaya kawasan konservasi secara langsung. 5.

4.

7.

8.

2.

Akhirnya, dengan sedikit tulisan ini diharapkan ada tanggapan maupun respon serta perhatian yang 'lebih' terhadap pengembangan daerah penyangga Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA).*** *Sri Andajani | Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser

Kita tidak bisa menjadi bijaksana dengan kebijaksanaan orang lain, tapi kita bisa berpengetahuan dengan pengetahuan orang lain. - Michel De Montaigne -

18

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

Khasanah

Penginderaan Jauh dan Cadangan Karbon

Pemanasan Global dan Penyebabnya Pemanasan global atau yang sering disebut Global Warming adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Pemanasan global pada dasarnya merupakan dampak dari aktivitas manusia terutama dalam penggunaan bahan bakar fosil yang tidak terkendali serta penggunaan lahan. Meningkatnya intensitas kegiatan manusia dengan pola dan gaya hidup seperti tahuntahun terakhir ini maka diperkirakan 100 tahun lagi temperatur rata-rata permukaan bumi akan naik sebesar 4,50 C. Meningkatnya temperatur rata-rata global pada akhirnya akan menyebabkan perubahan-perubahan seperti naiknya muka air laut, meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Pemanasan global juga berpengaruh pada hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan. Dan yang paling membahayakan adalah berpengaruh langsung pada kesehatan manusia. Indonesia Emitor Karbon Terbesar Ke-3 Dunia? Indonesia dicatat sebagai negara terbesar ketiga pembuang emisi karbon di dunia (setelah Amerika Serikat dan Cina), dengan sumber emisi utamanya adalah kebakaran hutan. Akan tetapi, secara ilmiah statement ”Indonesia sebagai Negara ke-3 Emitor CO2” masih diperdebatkan. Dasar pemikiran para peneliti internasional tersebut bermula pada jumlah hotspot kebakaran hutan yang begitu besar pada tahun 1997. Mereka berasumsi bahwa jumlah hotspot setiap

Oleh: Rina Purwaningsih*

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

19

Khasanah
tahunnya sama seperti pada tahun 1997. Pada kenyataannya, sejak tahun 1997 hingga saat ini jumlah hotspot di Indonesia tidak selalu sama dan cenderung mengalami penurunan. Selain itu, terkait dengan penebangan pohon, dalam suatu areal kebakaran diasumsikan bahwa tanamannya adalah homogen (umur/ jenisnya sama). Padahal dalam satu areal hutan, jenis dan umur tanaman tidak selalu sama/bervariasi. Makin tua umur tanaman, kapasitas penyerapan CO2 makin berkurang sehingga penebangan pohon tua tidak berkaitan lagi dengan fungsi yang diharapkan, yaitu menyerap CO2. Selanjutnya, hasil dari konferensi di Kopenhagen tersebut akan diratifikasi oleh negara-negara di dunia untuk menggantikan Kyoto Protocol yang akan berakhir pada tahun 2012. CDM vs REDD

Mekanisme yang ditawarkan dalam rangka penurunan emisi adalah mekanisme CDM (Clean Development Mechanism ) dan REDD (Reduction Emission from Deforestation and Namun demikian sebagai negara berkembang sekaligus negara Forest Degradation) . CDM merupakan salah penghasil emisi karbon yang besar, Indonesia mempunyai kesempatan satu mekanisme upaya penurunan emisi Green besar sebagai negara ”penyerap karbon” dengan mengefektifkan House Effect dengan tujuan membantu negara sumberdaya hutan yang dimiliki. Berdasarkan Protokol Kyoto telah maju menurunkan emisinya. Di lain pihak, dibangun mekanisme perdagangan emisi, implementasi bersama dan CDM membantu negara berkembang dalam mekanisme pembangunan bersih (CDM = Clean melaksanakan pembangunan yang Development Mechanism) dimana negara berkelanjutan sekaligus maju mengurangi emisi Gas Rumah memberikan kontribusi untuk Kaca (GRK) dengan membangun Salah satu mencapai tujuan konvensi proyek penyerap karbon di negara pemanfaatan teknologi yaitu menstabilkan berkembang. Pada Desember konsentrasi GRK di 2007 negara-negara dunia yang penginderaan jauh yang belum atmosfer sehingga tergabung dalam United Nations banyak dikembangkan saat ini perubahan iklim global Climate Change Conference adalah untuk menghitung dapat dicegah. Di (UNFCCC) dalam sidang PBB kemampuan hutan dalam Indonesia, khususnya di di Bali, telah menghasilkan bidang kehutanan, CDM menyerap dan melepaskan kesepakatan untuk merupakan suatu kemitraan menyelamatkan bumi dari ancaman karbon. antara negara maju dan bencana pemanasan global secara berkembang untuk menurunkan bersama. Satu hal penting yang GRK. Kegiatan kehutanan yang telah dihasilkan dari konferensi tersebut adalah disepakati adalah Aforestasi dan tercapainya kesepakatan dunia yang disebut Bali Reforestasi. Roadmap. Pada dasarnya, Bali Roadmap ialah langkah-langkah yang didalamnya tercakup kesepakatan aksi adaptasi, jalan pengurangan Aforestasi adalah penanaman pohon pada emisi gas rumah kaca, dan transfer teknologi dan keuangan yang areal yang 50 tahun sudah tidak berhutan. meliputi adaptasi dan mitigasi. Kesepakatan lain yang penting dalam Sementara Reforestasi adalah penanaman Bali Roadmap adalah adanya target waktu, yaitu pada 2009 akan pohon pada areal yang sejak 31 Desember diselenggarakan lagi konferensi lanjutan tentang perubahan iklim 1989 bukan merupakan hutan. Areal yang global yang akan diselenggarakan di Kopenhagen, Denmark.
Pendekatan untuk menentukan perubahan Tingkat kerincian faktor emisi (Tier): luas (disebut Data Aktivitas) perubahan cadangan karbon 1. Pendekatan Non-spasial yaitu dari data 1. Memakai data yang diberikan oleh IPCC statistik negara (misal FAO )-memberikan (data default values) pada skala benua gambaran umum perubahan luas hutan 2. Berdasarkan peta, hasil survey dan data 2. Data spesifik dari negara bersangkutan statistik nasional untuk beberapa jenis hutan yang dominan atau yang utama 3. Data spasial dari interpretasi penginderaan 3. Data cadangan karbon dari Inventarisasi jauh dengan resolusi yang tinggi Nasional, yang diukur secara berkala atau dengan modelling

20

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

Khasanah
berpotensi untuk dilaksanakan mekanisme CDM diantaranya adalah lahan kosong, padang rumput, lahan pertanian, lahan basah, permukiman (kebun, ladang). Jenis kegiatan yang dilakukan untuk CDM diantaranya kegiatan agroforestri, silvofisheri, monokultur dan campuran, perkebunan karet, dan perkebunan buah-buahan. Pada dasarnya, dengan proyek CDM ini dapat dibuktikan bahwa lahan yang dulunya tidak bisa menyerap karbon akhirnya mampu menjadi hutan dan dapat menyerap karbon. Sebenarnya proyek CDM hampir sama dengan kegiatan rehabilitasi lahan. Akan tetapi CDM mempunyai nilai plus karena selain lahan kembali menjadi hutan juga mendapat keuntungan dari hasil penjualan karbon yang diperoleh dari proyek (tentu saja setelah dikurangi ongkos kegiatan CDM). REDD (Reduction Emission from Deforestation and Forest Degradation) merupakan upaya penurunan emisi GRK (saat ini hanya terbatas CO2) yang terjadi dari berhasilnya pencegahan tindakan konversi dan kerusakan hutan. Mekanisme REDD lebih ditujukan pada proses lepasnya cadangan karbon hutan ke atmosfer dalam bentuk emisi GRK akibat konversi pengelolaan hutan yang tidak berkelanjutan. Berbeda dengan CDM, mekanisme REDD bukan kegiatan menanam pohon. Yang dimonitor dalam REDD adalah besar emisi dari laju perubahan penutupan hutan akibat deforestasi dan degradasi hutan sehingga diketahui perubahan cadangan karbon yang terjadi. Dalam implementasi REDD dilakukan sebuah pemantauan untuk memastikan dan membuktikan Vol. 4 No. 12 Tahun 2008 bahwa dengan dilaksanakannya REDD maka terjadi penurunan emisi. IPCC menentukan sebuah metodologi dengan tiga pendekatan dan tingkat kerincian (tier) yang sudah direview oleh ratusan pakar dan pemerintah berbagai negara. Semakin tinggi tingkat ketelitian pendekatan penentuan perubahan luas hutan dan tingkat kerincian perubahan cadangan karbon, akan menentukan kompensasi yang diterima dari kegiatan REDD. Mekanisme REDD penting bagi Indonesia karena akan memberikan hasil yang signifikan dalam mendukung kegiatan pengelolaan hutan yang lebih berkelanjutan. Luas hutan yang dimiliki Indonesia berpotensi menyerap karbon secara global. Ke depannya potensi tersebut akan sangat ditentukan oleh kesiapan Indonesia sendiri dalam memonitor luas hutan yang dimiliki, seberapa besar perubahan penutup hutan yang terjadi dan berapa besar potensi karbon yang dimiliki. Selain itu implementasi REDD juga harus didukung kesiapan perangkat peraturan dan kelembagaan yang berkaitan. Memanfaatkan Teknologi Penginderaan Jauh untuk Monitoring Bencana Pemanasan Global Metode penentuan besar cadangan karbon telah banyak diperbincangkan di dunia secara global. Berbagai teknik konvensional telah diujicobakan. Namun mencari metode yang cepat, tepat, efektif dan efisien menjadi tuntutan mengingat posisi Indonesia sebagai negara pengemisi dan penyerap karbon yang akan meminta kompensasi dunia internasional. Salah satu teknik mutakhir yang berpotensi diterapkan adalah dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Teknologi Penginderaan Jauh merupakan teknologi pengumpulan informasi tanpa kontak langsung dengan obyek dengan menggunakan alat scanner dan kamera yang diletakkan pada wahana bergerak seperti pesawat udara, pesawat luar angkasa atau satelit dan menganalisis informasi yang diterima dengan teknik interpretasi foto, citra dan pengolahan citra. Salah satu pemanfaatan teknologi penginderaan jauh yang belum banyak dikembangkan saat ini adalah untuk menghitung kemampuan hutan dalam menyerap dan melepaskan karbon. Kelebihan pemanfaatan teknologi penginderaan

21

Khasanah
jauh adalah lebih murah dan efektif daripada teknologi konvensional yang ada sekarang. Dasar penggunaan teknologi ini adalah dengan mengkolaborasikan hasil pencitraan data seperti citra MODIS, Landsat, SPOT atau citra beresolusi tinggi lainnya hingga menghasilkan data cakupan vegetasi yang ada di muka bumi. Hasil tersebut kemudian diturunkan dengan seberapa besar kemampuan vegetasi dalam menyerap dan melepaskan karbon. Dengan demikian akan diketahui besar potensi karbon pada setiap kawasan hutan. Sensing (CEReS) telah mengusulkan dibangunnya Global Land Cover Ground Truth Database. Ground truth merupakan sampel data lapangan yang dikumpulkan pada saat melakukan klasifikasi landcover dengan citra satelit secara otomatis. Sampel-sampel data lapangan ini akan menjadi sebuah basis data yang dikumpulkan dari seluruh studi landcover global yang ada di dunia. Dengan basis data ini proses validasi data global akan mudah dilakukan. Data satelit dengan spesifikasi resolusi spasial lebih tinggi juga akan membantu proses validasi. Seperti halnya data Quckbird yang mempunyai resolusi spasial 2,44 hingga 0,61 meter dengan periode ulang 3,5 hari sekali tentunya akan lebih membantu proses validasi menjadi efektif dan efisien.

Dengan menggunakan data satelit resolusi rendah, menengah dan tinggi dapat dilakukan observasi secara global hingga detil di lokasi yang dikehendaki. Observasi secara global dapat menggunakan data MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectro-radiometer). MODIS merupakan salah satu produk NASA dengan satelit Terra dan Aqua. Citra MODIS mempunyai tiga resolusi spasial yaitu 250, 500, dan 1.000 meter. Resolusi spasial ini sangat cocok untuk melakukan observasi secara global. Selain itu Observasi paling detil untuk menghitung data MODIS mempunyai kelebihan pada potensi cadangan karbon adalah dengan pantulan panjang gelombang menggunakan metode pengukuran elektromagnetik yang diterima langsung di lapangan atau dikenal Ketersediaan data sensor yaitu sebanyak 36 band dengan plot data. Saat ini metode cadangan karbon di kawasan mulai dari 0,405 sampai yang paling sering digunakan konservasi terutama di taman nasional 14,385 mikrometer. untuk pengukuran cadangan akan mendukung pelaksanaan dan Sementara itu, MODIS dapat karbon secara langsung adalah pemantauan kegiatan REDD mengamati tempat yang metode Alometrik. Pada sama di permukaan bumi dasarnya, persamaan alometrik sehingga pengelolaan kawasan setiap hari, untuk kawasan di adalah menggunakan variabel hutan yang berkelanjutan atas lintang 30 dan setiap 2 hari diameter, tinggi, berat jenis kayu dapat terwujud. untuk kawasan di bawah lintang tiap pohon dan faktor koreksi dalam 30 (termasuk Indonesia). Jadi pada perhitungannya. Penggunaan dasarnya data MODIS mempunyai persamaan Alometrik ini lebih sederhana, kelebihan, diantaranya adalah pada lebih murah, cukup akurat, dan mudah diaplikasikan. banyaknya spektral panjang gelombang (resolusi radiometrik) dan Berikut beberapa contoh persamaan alometrik : lebih detilnya cakupan lahan (resolusi spasial) serta lebih rapatnya frekuensi pengamatan (resolusi temporal). Ketterings et al. (2001) : Data Landsat dan SPOT bisa digunakan untuk observasi secara B = 0,11 . ñ . D2+c regional/ nasional. Kelebihan data Landsat dan SPOT dibandingkan dengan MODIS adalah pada lebih telitinya cakupan lahan (resolusi B = biomass pohon (kg/phn), spasial). Landsat Thematic Mapper (TM) bekerja pada resolusi D =diameter setinggi dada (cm) ñ = berat jenis kayu (g/cm3) spasial 30 meter. Bahkan pada Landsat ETM+ bisa mencapai resolusi c = parameter tempat tumbuh 15 meter pada band 8. Landsat mengamati 7 spektral, mulai interval biru (0,45 - 0,52 mikrometer) sampai thermal inframerah (10,4 - 12,5 mikrometer). Resolusi temporal untuk Landsat adalah 16 hari. Sementara itu data SPOT (Satellite pour l'Observation de la Terre) yang merupakan produk Perancis mempunyai resolusi spasial dari 10, 5 hingga 2,5 meter (SPOT 5). Memiliki 6 band dengan resolusi Brown (1995): temporal 26 hari. B = 0,049 . ñ . D2H Ketepatan estimasi pengukuran cadangan karbon menggunakan data B = biomass pohon (kg/phn), satelit tentunya membutuhkan sebuah pendekatan yang lebih real. D =diameter setinggi dada (cm) Dari sinilah dibutuhkan validasi data. Klasifikasi tutupan lahan ñ = berat jenis kayu (g/cm3) dengan citra satelit divalidasi dengan kenyataan di lapangan. Untuk H = Tinggi pohon (m) observasi global, validasi data merupakan agenda besar yang tidak mudah dilakukan. Diperlukan kerjasama studi lingkungan secara internasional. Sebagai contoh di Center for Environmental Remote

22

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

Khasanah
Vademicum Kehutanan (1976) : B= 4/3 V ñ V= ¶ (D/2)2 Hä B = biomass pohon (kg/phn) V = volume kayu (m3) ¶ = 3,14 D =diameter setinggi dada (cm) ñ = berat jenis kayu (g/cm3) H = Tinggi pohon (m) ä = Faktor koreksi 2002/2003) kawasan TNGL dengan luas 1 juta hektar lebih tersebut mempunyai luasan Hutan Lahan Kering Primer sebesar 231.204 Ha, dan Hutan Lahan Kering Sekunder sebesar 747.776 Ha. Proses deforestasi yang terjadi di TNGL dari tahun 1990 s/d 2000 telah mencapai 18.655 Ha (analisis citra Landsat ETM+ tahun 1990-2000, WCS 2007). Sementara hutan yang berpotensi terdegradasi mencapai 142.857 Ha (analisis Lab. GIS TNGL, 2007). Berdasarkan kenyataan diatas, TNGL sebagai kawasan ekosistem bagi semua makhluk hidup di dalamnya yang juga berfungsi sebagai penyerap karbon bagi penduduk di sekitarnya menjadi terancam. Yang lebih penting adalah TNGL juga mempunyai posisi strategis sebagai salah satu Hutan Hujan Tropis Warisan Dunia sejak tahun 2004. Apabila tidak dijaga dan dilestarikan dengan baik, maka masyarakat dunia akan marah karena kehilangan sebagian dari paru-parunya. Ancaman bencana pemanasan global menjadi hal yang dekat di mata. Masyarakat dunia akan ikut mengawasi setiap jengkal perubahan penutupan hutan. Oleh karena itu ketersediaan data secara real time menjadi sangat penting. Terutama fluktuasi ketersediaan stok karbon yang bisa diserap oleh hutan TNGL secara time series. Apabila kerusakan hutan dapat dicegah, otomatis masyarakat dunia juga akan memberikan imbalan yang pantas bagi pihak taman nasional.*** *Rina Purwaningsih | Junior Project Assistant, UNESCO Bahan bacaan : Anonim. 2007. Global Warming, Pengaruhnya Secara Global dan Nasional serta Kaitannya dengan Isu “Indonesia sebagai Negara Emitor ke-3 di Dunia”. Badan Meteorologi dan Geofisika. Materi Presentasi pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Geografi Indonesia di UNIMED. Ginoga, Kirsfianti. 2007. Peran Hutan Sebagai Penyerap dan Pengemisi Karbon. Badan Litbang Kehutanan. Tim Perubahan Iklim Departemen Kehutanan. Materi Presentasi pada Pelatihan Karbon November 2007. Http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global Http://www.beritaiptek.com/messages/artikel/719062004em.sht ml IFCA. 2007. Reducing Emissions from Deforestation and Degradation, Baselines and Monitoring ; Concepts and Issues. Materi Presentasi pada Pelatihan Karbon November 2007.

Yang perlu diperhatikan bahwa perhitungan potensi cadangan karbon tidak hanya dilakukan pada pohon saja. Secara keseluruhan potensi cadangan karbon dihitung dari akumulasi biomass (Ct) yaitu above ground biomass (bt) , soil (St), underground biomass (Ut), dan necromass (Nt). Total C stock : Ct = 0,5 bt + CSt + CUt + Cnt Pengukuran Cadangan Karbon di Taman Nasional (Sebuah Wacana) Taman nasional merupakan kawasan konservasi yang mempunyai kekayaan keragaman hayati yang tinggi. Selain sebagai habitat bagi sejumlah species fauna, setidaknya sebagian besar hutan primer dan hutan sekunder berada di kawasan taman nasional. Keberadaan hutan primer dan sekunder mempunyai potensi sangat besar dalam menyimpan cadangan karbon. Ketersediaan data cadangan karbon di kawasan konservasi terutama di taman nasional akan mendukung pelaksanaan dan pemantauan kegiatan REDD sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan dapat terwujud. Sebagai contoh adalah permasalahan di Taman Nasional Gunung Leuser. Sesuai Keputusan Menhut No.276/kpts-II/1997 TNGL mempunyai luas kawasan 1.094.692 Ha. Berdasarkan klasifikasi landcover yang dilakukan oleh BAPLAN DEPHUT tahun 2005 (hasil interpretasi Citra Landsat tahun

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

23

W a c a n a

Barisan di Benteng Terakhir itu....

“...Konservasi merupakan benteng terakhir kehutanan...”, begitu yang aku dengar dari Sekditjen PHKA, Bapak Haryadi Himawan dalam acara silaturahimnya ke kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser beberapa waktu yang lalu. Pak Sekditjen juga mengajak kami untuk menjadi pelaku sejarah. Pelaku sejarah yang akan dikenang karena kemuliaannya sebagai perwira atau pejuang konservasi..!! Benteng terakhir, dua kata yang aku garis bawahi saat ini, singkat tapi 'dalam'. Kalau aku boleh berkomentar, dalam pertempuran pun, benteng adalah suatu yang teramat penting. Inilah pertahanan terakhir, penentu hajat hidup orang banyak bahkan masa depan ummat manusia sedunia atau kalau mau yang 'lebih' lagi maknanya, inilah pertempuran untuk mati syahid atau hidup mulia mempertahankan kekayaan alam yang telah Allah Yang Maha Kaya berikan kepada kita. Leuser. Warisan dunia yang teramat indah. Berada di ujung Pulau Sumatera yang merupakan bumi terakhir bagi si Pangeran Hutan,_sebutanku untuk Harimau Sumatra. Berbagai isu strategis mewarnai perjalanan umurnya yang semakin tua. Sangat sering kudengar (sehingga mungkin sudah terlalu bosan) di telingaku tentang illegal logging, perambahan hutan, persoalan tata batas kawasan, jual beli lahan dan sebagainya. Bikin gerah, gereget, sedih dan terluka. Andai bisa teriak, Leuser mungkin akan berkata, ”Nggak ada kerjaan lain napa?”.

Oleh: Yunita Aprilia*

Nasihat Pak Harfan dalam Laskar Pelangi yang selalu diingat Ikal adalah ”Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya!” Leuser memberi begitu banyak manfaat yang tak ternilai harganya tetapi balasannya adalah luka semata. Tapi yakinlah, yang banyak memberi tentu akan banyak menerima. Ya... meskipun penerimaan yang tidak semestinya, Leuser masih memberi sepenuh hati pada jutaan orang yang memerlukan oksigen untuk bernafas dan air untuk kehidupannya. Leuser masih berdiri diantara hamparan sawit dan berbagai kemelut yang berselimut. Dan syukur itu tak boleh

24

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

W a c a n a
terhenti. Masih ada yang peduli, masih ada yang malu rasa di diri, masih ada yang tergerak hati, masih ada barisan yang berkehendak dan berusaha menyelamatkan Leuser...sengaja atau tidak pada mulanya. Dan sekarang aku berada disini. Di salah satu barisan itu. Barisan konservasi, meski aku bukan lulusan dari jurusan konservasi waktu menuntut ilmu tempo hari. Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser yang menurut Permenhut No P.03/Menhut-II/2007 punya tugas pokok untuk melakukan penyelenggaraan, konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dan pengelolaan kawasan taman nasional berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bangga? Iya. Berat? Pasti. Sungguh amanah luar biasa yang harus aku jalani. Seperti teringat kata Imam Ghazali ketika bertanya pada murid-muridnyanya di suatu hari, ”Apakah yang paling berat di dunia ini?”. Jawabannya adalah ”amanah”. Ya, amanah itu yang sedang aku hadapi, aku isi dan aku hiasi. Tentunya dengan pilihan demi pilihan, keputusan demi keputusan dan resiko demi resiko. Sulit, tapi aku yakin bisa. Tentunya berbekal semangat yang membara, ikhtiar yang optimal dan doa yang tak berhenti terlantun. Yang jelas harapan itu masih ada. Harapan untuk bisa menjalankan amanah ini dengan baik, harapan untuk melihat hijau kemilau hutanku, harapan untuk bersama menuju keadilan dan kesejahteraan, harapan untuk senantiasa lebih baik, harapan dan harapan, kenyataan dan kenyataan. Tapi jujur, aku ga bisa sendiri dan aku ga mau sendiri. Rasanya sepi, tak ada temen untuk berbagi, tak ada sahabat yang memotivasi, tak ada yang menasihati. Jangankan untuk bekerja, sholat berjamaah aja akan lebih baik kan. Kerja dalam rangka ibadah pun tentu akan lebih bermakna jika dilakukan bersama, berjamaah, bareng-bareng, bermitra atau apapun bahasanya itu. Yang penting tidak sendiri, meski sesekali kesendirian itu perlu untuk mengukur dan merenungi segala kekurangan diri di hadapan-Nya. Kebersamaan dalam doa juga punya arti. Doa yang terlantun dari mulut (apalagi dari hati) orang lain, boleh jadi itu yang menjadikan kebaikan kita pada hari ini. Atau bahkan kesulitan buat kita? Bisa jadi, bila ternyata kita tak membuat orang lain nyaman dan aman berada di dekat kita. Satu lagi, beramal bersama-sama itu ternyata lebih asyik, lebih cantik dan lebih seru. Tak hanya tangan yang bergandengan, tak pula kaki yang sejalan melangkah, tetapi jiwa yang menyatu dalam kebersamaan. Indah kan? Mungkin ada yang masih ingat petikan lirik lagu 'Sahabat Perjalanan'? .... Disini kita telah bersatu Bicara tentang pohon-pohon yang hilang Pada siapa terucap ungkapan jiwa Abadikan indahnya alam kami .... atau do'a Rabithah yang sering terlantun saat saudara-saudariku menutup pertemuan di majelis, menghadirkan orang-orang yang kami sayangi bersama dalam jalan ini. Sesungguhnya Engkau Tahu bahwa hati ini tlah berpadu berhimpun dalam naungan cintaMU bertemu dalam ketaatan bersatu dalam perjuangan menegakkan syariat dalam kehidupan ... Semoga. barisan pejuang konservasi itu berdiri tegap, erat, kuat dan amanah. Tegap menghadapi badai yang menggoyahkan langkah dan pertahanan diri. Erat menggenggam segala asa dan tujuan yang akan kita jelang. Kuat menghadapi rintangan demi rintangan dari berbagai arah dan jurusan. Amanah dalam menunaikan apapun yang menjadi kewajiban. Aa Gym punya 3M untuk mengubah bangsa ini, kita bisa juga mengadaptasi rumus tersebut untuk menguatkan pribadi-pribadi yang berada di benteng terakhir kehutanan Indonesia (1) Mulai dari diri sendiri, (2) Mulai dari hal yang kecil dan (3) Mulai saat ini juga!. Yuuuk..kita coba. Semampu kita, apapun itu, sekecil apapun, seringan apapun. Tapi tak lupa niat, niat dan niat. Niat ketika bangun pagi, niat ketika bersiap ke kantor, niat di perjalanan, niat ketika di lapangan, niat ketika di kantor, niat ketika menyalakan laptop atau komputer, niat ketika membuat SPT, niat ketika menerima perintah pimpinan, niat ketika pulang dari kantor, niat dan niat, ketika dan ketika... Bukankah seberat-berat pekerjaan jika dilakukan dengan hati yang lapang akan terasa ringan dan seringan-ringan pekerjaan jika dilakukan dengan hati yang dongkol akan terasa berat? Setelah niat, kita kembali pada ajakan Pak Sekditjen untuk jadi pejuang yang akan dikenang. Kata beliau, ”Bukan penjahat, bukan

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

25

W a c a n a
pengkhianat, bukan yang aman-aman saja dan bukan yang tak dikenal sama sekali”. Naah kalo tentang ini aku teringat 5 (lima) tipe karyawan atau pejabat di kantor menurut seorang guru di Daarut Tauhiid dulu yang selalu mengingatkan tentang Manajemen Qalbu. Katanya ini adalah cara praktis untuk menilai dan mengukur diri sendiri apakah kita termasuk pejabat wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram? Pejabat wajib yaitu tipe pejabat yang keberadaannya sangat disukai, dibutuhkan, harus ada sehingga ketiadaannya sangat dirasakan kehilangan. Pribadinya sangat mengesankan, tutur katanya yang sopan tak pernah melukai siapapun yang mendengarnya, bahkan pembicaraannya sangat bijak, menjadi penyejuk bagi hati yang gersang, penuntun bagi yang tersesat, perintahnya tak dirasakan sebagai suruhan, orang merasa terhormat dan bahagia untuk memenuhi harapannya tanpa rasa tertekan. dia sangat menghargai hak-hak dan pendapat orang lain, setiap orang akan merasa aman dan nyaman serta mendapat manfaat dengan keberadaannya. Disebut sebagai pejabat sunnah apabila kehadiran dan keberadaannya memang menyenangkan, tapi ketiadaannya tidak terasa kehilangan. Andai saja kelompok kedua ini lebih berilmu dan bertekad mempersembahkan yang terbaik dari kehidupannya dengan tulus dan sungguh-sungguh, niscaya dia akan naik peringkatnya ke golongan yang lebih utama. Pejabat mubah ada dan tiadanya sama saja. Datar-datar saja. Andaikata bisa dimotivasi dengan kursus, pelatihan, rotasi kerja, mudah-mudahan bisa meningkat semangatnya. Pejabat makruh adanya menimbulkan masalah, tiadanya tidak menjadi masalah. Bila dia ada di kantor menimbulkan ketidaknyamanan dan menganggu kinerja orang lain. Yang serem adalah pejabat haram. Akhlaknya sangat buruk bagai penyakit kronis yang bisa menjalar. Sering memfinah, mengadu domba, suka membual, tidak amanah, serakah, tamak, pekerjaannya tidak pernah jelas ujungnya, bukan menyelesaikan pekerjaan malah sebaliknya menjadi pembuat masalah. Pendek kata dia adalah "trouble maker". Hmmmmh...kita termasuk tipe yang mana? Atau mungkin kita perpaduan dari kelima tipe tersebut? Dirindukan kehadirannya atau dirindukan ketiadaannya? Semoga masih ada waktu untuk terus menata hati dan membina diri menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi pejuang yang menghijaukan perjalanan konservasi sampai titik penghabisan. Tak peduli staf ahli atau ahli staf-kah kita. Tak peduli diamanahi jabatan apa kita di barisan ini. Keep fighting' til the end!! Berjuang di tanah Leuser tak terbayang bagi seorang akhwat yang lahir, besar dan tinggal di seberang pulau seperti aku. Namun dunia kehutanan mungkin ladang terbaik yang telah Dia peruntukkan untuk aku hadapi dan nikmati. Mungkin iya, senior-seniorku, pimpinan-pimpinanku di kantor lebih dulu terjun ke dunia ini, lebih banyak ilmu dan pengalaman yang tak ternilai harganya, lebih banyak suka-duka tawa-air mata yang tertoreh di lembar demi lembar buku histori nya, lebih banyak cerita perjuangan yang menambah ghirah atau semangat kebanggaan pada dirinya. Dan itulah yang bisa dibagi antar generasi. Agar perjuangan tak berhenti di sini. Agar benteng terakhir itu tetap berdiri kokoh. Bangkitlah Negeriku Harapan itu masih ada Berjuanglah bangsaku Jalan itu masih terbentang … (Bangkitlah Negeriku_Shoutul Harokah) Sebuah muhasabah, terutama teruntuk diriku sendiri.*** *Yunita Aprilia | Penata Bina Cinta Alamdan Kader Konservasi Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser

Urusan kita dalam kehidupan ini bukanlah untuk mendahului orang lain, tetapi untuk melampaui diri kita sendiri, untuk memecahkan rekor kita sendiri dan untuk melampaui hari kemarin dengan hari ini. - Stuart B. Jhonson -

26

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

W a c a n a

tentang SPORC DAN EKSISTENSI POLhut
Oleh: Ali Sadikin*

S

ecara kuantitas, eksistensi Polisi Kehutanan (Polhut) saat ini semakin menurun. Hal ini disebabkan selain karena semakin banyaknya Polhut memasuki masa pensiun, juga akibat adanya kebijakan Pemerintah yang membentuk SPORC (Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat). Anggota SPORC adalah para “alumni” Polhut yang kemudian dibekali pendidikan lanjutan selama lebih kurang 2 bulan. Setiap tahunnya anggota Polhut berkurang sekitar 300 orang karena berubah status menjadi anggota SPORC. Secara historis, SPORC muncul awal tahun 2005. Menurut siaran pers-nya yang bernomor S.680/II/PIK-1/2005, Departemen Kehutanan membentuk Satuan Polhut Reaksi Cepat (SPORC) sebagai jawaban atas semakin meningkatnya intensitas gangguan dan tekanan terhadap sumberdaya hutan di Indonesia berupa pencurian dan pemungutan hasil hutan secara liar, peredaran dan perdagangan hasil hutan ilegal termasuk penyelundupan ke luar negeri serta perambahan/penggunaan/ penguasaan lahan kawasan hutan secara melanggar hukum. SPORC merupakan satuan Polhut khusus yang memiliki kompetensi lebih dibandingkan dengan Polhut reguler. Kemampuan tersebut terkait dengan tingkat kehandalan, profesionalitas, dukungan kemampuan dan keterampilan fisik serta dedikasi dan integritas yang tinggi. Namun yang sedikit membingungkan adalah bahwa personel SPORC sebenarnya Polhut juga. Perbedaannya, para personel SPORC telah dibekali pendidikan tentang teknis kehutanan dan lain-lain dalam waktu sekitar 2 bulan. Meskipun terhitung tidak terlalu lama, namun dengan pendidikan tersebut, diharapkan profesionalitas, kehandalan dan dedikasi calon anggota SPORC dapat meningkat pesat. Namun di lain pihak, dengan adanya perekrutan anggota SPORC dari personil Polhut yang sudah ada, apabila tidak ada peremajaan secepatnya di tubuh Polhut, maka kita tinggal menghitung waktu habisnya jumlah Polhut yang kita miliki. Secara tidak langsung, mungkin orang awam akan mengatakan bahwa pemerintah terkesan tidak lagi membutuhkan Polhut karena dianggap kurang mampu dalam menangani permasalahan kehutanan di lapangan, sehingga harus ada tenaga baru yang handal dalam menangani semua permasalahan kehutanan di lapangan yaitu SPORC. Semoga kesan itu dapat hilang dengan eksistensi dan komitmen kuat para Polhut di lapangan, serta semakin diperkuatnya koordinasi dan komunikasi yang intensif antara Polhut dengan SPORC. Pada dasarnya operasi perlindungan dan pengamanan hutan dilakukan dalam rangka menjamin terselenggaranya kelestarian hutan, dan Polhut adalah pejabat yang punya kewenangan dalam melaksanakan tugas tersebut. Wewenang Polhut yang dimaksud meliputi kegiatan dan tindakan kepolisian khusus di bidang kehutanan yang bersifat preventif dan tindakan administratif operasi represif. Wewenang tersebut antara lain:

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

27

W a c a n a
• Mengadakan patroli/perondaan di dalam kawasan hutan atau wilayah hukumnya. • Memeriksa surat-surat atau dokumen yang berkaitan dengan pengangkutan hasil hutan di dalam kawasan hutan atau wilayah hukumnya. • Menerima laporan tentang telah terjadinya tindakan pidana menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan. • Mencari keterangan dan barang bukti terjadinya tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan dan hasil hutan. • Membuat laporan dan menandatangani laporan tentang terjadinya tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan dan hasil hutan. Dari uraian di atas, tugas dan fungsi pokok (tupoksi) pejabat Polhut sebagai teknisi di lapangan jelas sudah. Namun mengingat penurunan kuantitas Polhut, apakah mungkin semua tupoksi itu bisa dilaksanakan secara optimal oleh Polhut? Jika kita lihat sekilas, dari segi tupoksi-nya, tidak ada suatu perbedaan yang mendasar antara Polhut dengan SPORC. Namun dari segi organisasi tentu berbeda, SPORC sudah memiliki brigade tersendiri sedangkan Polhut reguler berada di bawah UPT pusat dan/ atau daerah. Kerjasama cantik dan saling mendukung antar 2 organisasi itu, seperti yang sudah berjalan di Provinsi Sumut ini, diharapkan akan mampu meredam dikotomi-dikotomi yang mungkin bisa terjadi. Dalam kurun waktu 5 tahun (mulai tahun 2005 sampai tahun 2009) kekuatan SPORC akan berjumlah 1.500 personil. Tentunya secara otomatis jumlah personil Polhut reguler juga berkurang sejumlah tersebut. Pembentukan SPORC ini diyakini oleh Pemerintah akan menjawab kekurangan jumlah aparat pengamanan hutan yang saat ini berjumlah 8.800 dengan 3.100 personil ditempatkan di ‘pusat’ dan 5.700 personil di daerah. Seperti yang sering terjadi di banyak hal, teori selalu berbeda dengan praktek. Itulah juga yang tergambar pada pembahasan ini. Sekali lagi, dari segi kuantitas, jumlah Polhut akan terus merosot dan di lain pihak jumlah personil SPORC terus bertambah. Hal ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk dapat mengatur pengisian pos-pos petugas di lapangan yang personelnya semakin 'menipis'. Ini dikarenakan SPORC tidak standby langsung di pos-pos penjagaan di lapangan, tetapi di kantor brigade yang sudah ditetapkan (berada di ibukota propinsi) yang notabene jauh dari kawasan hutan sebenarnya. Pemilihan lokasi markas SPORC ini saya yakin juga melalui banyak pertimbangan, misalnya kestrategis-an lokasi; menyangkut daya jangkau ke seluruh wilayah propinsi, ketersediaan sarana dan prasarana, serta efektifitas komunikasi dari semua lini. Namun, kembali ke pertanyaan awal... Jumlah Polhut semakin menipis, siapa lagi petugas yang ada di lapangan? Semoga pemerintah akan mendapatkan solusi terbaik untuk problem ini. Sedikit kita menoleh kepada kebijakan di masa lalu, M. Prakosa selaku Menteri Kehutanan pada saat itu membentuk suatu tim yang dianggap jitu dalam menangani permasalahan kehutanan di lapangan yaitu Tim P2LHHI (Pemberantas Penebangan Liar dan Peredaran Hasil Hutan Illegal). Tim ini dimaksudkan dapat mengurangi illegal logging. Tim yang dianggap sebagai rumus yang paling efektif dan efesien dalam menangani masalah illegal logging. Namun yang terjadi adalah bahwa akhirnya Tim ini tidak bertahan lama. Apakah karena dianggap tidak berhasil atau hanya karena pergantian kepemimpinan yang mengakibatkan pergantian kebijakan? Entahlah.... Apakah SPORC nantinya akan bernasib sama dengan Tim P2LHHI? Kita mengharapkan, semoga tidak. Awalnya Tim P2LHHI juga dianggap sebagai program andalan pemerintah dalam menangani masalah penebangan liar, dan sekarang SPORC menjadi ujung tombak dalam menangani permasalahan tersebut. Dan yang menjadi pertanyaan, setelah tahun 2009 apakah program ini akan terus berlanjut atau muncul lagi program baru yang lebih baik? Tentunya pemerintah-lah yang menentukan semua ini. Sekedar usulan, sebaiknya pemerintah membuka kesempatan menjadi anggota SPORC dari kalangan umum bukan direkrut dari yang sudah ada sehingga tidak terjadi ‘dwifungsi’ dalam pelaksanaan tugas di lapangan, serta tidak ada yang merasa dirugikan dengan sebuah ‘kebijakan’. Dan yang utama, semoga tidak ada lagi penyusutan jumlah Polisi Kehutanan dan eksistensi Polhut sebagai “pengawal” paru-paru dunia tetap terjaga.*** *Ali Sadikin Polhut pada Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Bahan bacaan: Siaran Pers No: S.680/II/PIK-1/2005. Diakses melalui http://www.dephut.go.id/informsi/humas/2005/680_05.htm (11 September 2008) 2 Werdaningsih. 2008. Perlindungan dan Pengamanan Hutan. Balai Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Pematang Siantar. Pematang Siantar.
1

28

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

Seputar Kita
Indonesia Menanam (pun dengan Medan)
28 November 2008

1

2

Foto: Ahtu Trihangga

5

4

3

Keterangan foto: 1. Denah areal penanaman di sekitar lokasi pencanangan “Gerakan Menanam Satu Juta Pohon” Sumatera Utara. 2. Gubernur Sumatera Utara, H. Syamsul Arifin,SE, memimpin acara. 3. Prasasti “Gerakan Menanam Satu Juta Pohon” Provinsi Sumatera Utara. 4. Peserta upacara, bersiap menanam... 5. Kepala Balai Besar TNGL - secara simbolis menanam sebatang bibit Pulai. agi itu, tanggal 28 November 2008, hujan rintik-rintik membasahi kompleks Pangkalan TNI AL-1 Stasiun Pemancar, Desa Ujung Serdang, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang - Sumatera Utara. Walau demikian, ratusan orang berbalut kaos putih dengan tulisan 'Indonesia Menanam' tetap segar dan menyungging senyum terbaiknya untuk mengikuti agenda hari itu, yaitu Upacara Pencanangan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional Tingkat Propinsi Sumatera Utara. Mereka adalah para peserta ‘menanam’ dari berbagai instansi; Dinas dan Badan Pemerintah lingkup Pemda Provinsi Sumatera Utara, jajaran UPT lingkup Departemen Kehutanan di Sumatera Utara, jajaran penegak hukum, para pelajarmahasiswa beserta guru-guru mereka, dan masyarakat umum. Bulan Desember ditetapkan sebagai Bulan Menanam

P

dan tanggal 28 November 2008 sebagai puncak Hari Menanam Nasional. Acara di Pangkalan TNI AL-1 Stasiun Pemancar ini adalah bagian dari “Aksi Penanaman 100 Juta Pohon” yang telah dicanangkan Presiden. Di lokasi ini, Gubernur Sumatera Utara, H. Syamsul Arifin,SE secara simbolis menanam pohon sekaligus mencanangkan agenda nasional ini di tingkat Provinsi Sumatera Utara. Sekitar 5.000 pohon jenis pulai, ketapang, durian, mangga dan petai ditanam serentak di sekitar areal pencanangan itu. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser beserta staf juga berkesempatan ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Ikut menancapkan akar yang diharapkan kuat menyokong pohon – pohon yang akan menghijaukan Indonesia. Semoga.... *dwi-ita

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

29

Intermezzo

Rasa Sebuah Ketulusan
Seorang teman karib menghampiri meja kerja anda,dan memungut sebatang pensil yang patah.Pintanya,¡±oleh aku pinjam ini?¡± B Anda yang sibuk hanya menengok sekelebat dan berkata, ambil ¡± saja!¡±. Setelah itu anda lupa tentang kejadian itu selamanya. Padahal bagi teman anda,pensil patah itu sangat berharga demi pengerjaan tugasnya. Tahukah anda bagaimana rasa'sebuah ketulusan? ' Setiap dari kita pasti pernah memberikan sesuatu dengan ketulusan yang murni.Namun tidak banyak yang mampu memahaminya.Karena ketulusan bukanlah rasa apalagi untuk dirasarasakan.Ketulusan adalah rasa yang tak terasa, sebagaimana anda menyilakan teman dekat anda mengambil pensil patah anda.Tiada setitik pun keberatan.Tiada setitik pun permintaan terima kasih.Tiada setitik pun rasa berjasa. Semuanya lenyap dalam ketulusan. Sayangnya tidak mudah bagi kita untuk memandang dunia ini seperti pensil patah ini.Sehingga selalu ada rasa keberatan atau berjasa saat kita saling berbagi.Sayangnya tidak mudah juga untuk bersibuksibuk pada keadaan sendiri sehingga pensil patah pun tampak bagai pena emas. Jangan ingatingat perbuatan baik anda.Kebaikan yang anda letakkan dalam ingatan bagaikan debu yang tertiup angin.

Dicuplik dari Motivasi Net bagian pertama halaman 33

30

Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

Wanasastra
poem for mangrove

MANGROVE DAN KEHIDUPAN
by Adi Triswanto Mangrove…… ibarat lelaki Dia adalah kumis…. Walau sedikit, dia membuat manis Dan…… dengan kumis membuat wanita meringis Mangrove …. ibarat wanita Dia cantik nan rupawan, bak putri ratu kecantikan Semua…….mendekat, meminta perhatian Bukan hanya manusia, bahkan hewan…. Jasat renik…Nyamuk…Lebah…Cacing…Ikan …Kepiting…Burung…. Biawak…Ular…Kadal…Komodo…Kelelawar…Kambing...Kerbau...Sapi Monyet… Bahkan… buaya nan seraaaaam Semua…. ada di sana Semua…. butuh dia Dia meliuk ditiup angin pantai, membuai makhluk menjadi damai Dan bergoyang ketika ombak menerpa, bak penari legong nan menawan Tiada bosan aku memandang Mangrove….. Ibarat kala Dia adalah sunrise dan sunset Walau sebentar, tetapi sangat indah nan menakjubkan Disana…. Kenangan susah terlupakan Mangrove… Ibarat makanan Dia adalah soup yang sedaap Karena manis, asam dan asin berpadu didalam Hingga…berbagai makhluk betah berdiam Mangrove… Ibarat bangunan …… Dia adalah landasan Akarnya kokoh nan mencengkeram Menopang seluruh struktur kehidupan Struktur kehidupan insan…..semesta alam Tanpa mangrove abrasi akan menghantam Tanpa mangrove intrusi akan menyerang Tanpa mangrove polusi tidak tertahan Tanpa mangrove bencana tsunami banyak menelan korban Tanpa mangrove kan terperas….. produktifitas perairan Tanpa mangrove …..kan terputus…. mata rantai makanan Tanpa mangrove akan padam ….kehidupan Karena mangrove adalah…. bukti Illahi…tangan Tuhan…. Anugerah Sang Pencipta Dan manusia harus…. mempertahankan. Sebagai bukti pengabdian. Bogor, 25 Juli 2005 Vol. 4 No. 12 Tahun 2008

31

Sumber dana: DIPA Balai Besar TNGL Tahun 2008