You are on page 1of 11

LAPORAN PENDAHULUAN

Nama Mahasiswa : Karina Megasari


NPM : 0606102625
Ruang Praktek : GPS, RSUP Fatmawati

FRAKTUR: CALCANEUS

Definisi
Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang (Doenges, 2000). Fraktur adalah
patahnya tulang yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Price & Wilson,
2006). Fraktur merupakan gangguan kontinuitas tulang baik sebagian atau seluruh bagian
tulang (Maher dkk, 2000). Fraktur dapat juga diartikan sebagai kondisi retaknya atau
rusaknya keutuhan tulang.

Klasifikasi
Fraktur dapat diklasifikasikan dalam dua jenis klasifikasi, yaitu menurut kondisi
permukaan kulit dan yang kedua menurut bentuk patahan yang terjadi. Klasifikasi fraktur
menurut kondisi permukaan kulit adalah:
a. Fraktur Terbuka
Yaitu fraktur dengan kondisi kulit ekstremitas pada daerah yang mengalami fraktur
ditembus oleh tulang yang patah.
b. Fraktur Tertutup
Yaitu fraktur dengan kondisi kulit yang tidak ditembus oleh fragmen tulang sehingga
lokasi terjadinya fraktur tidak tercemar oleh lingkungan.
Klasifikasi fraktur menurut bentuk dan pola patahannya adalah sebagai berikut:
a. Fraktur transversal
Fraktur yang terjadi karena benturan langsung pada titik fraktur dengan bentuk patahan
fraktur adalah lurus melintang pada batang tulang. Fraktur ini pada umumnya menjadi
stabil kembali setelah direduksi.
b. Fraktur oblik
Fraktur ini terjadi karena benturan tak langsung ketika suatu kekuatan pada jarak tertentu
menyebabkan tulang patah pada bagian yang paling lemah. Fraktur ini berbentuk diagonal
sepanjang tulang dan biasanya terjadi karena pemelintiran pada ekstremitas.
c. Fraktur spiral
Fraktur spiral terjadi ketika sebuah anggota gerak terpuntir dengan kuat dan biasanya
disertai dengan kerusakan pada jaringan lunak. Bentuk patahan dari fraktur spiral hampir
sama dengan fraktur obilk, akan tetapi pada fraktur spiral patahannya mengelilingi tulang
sehingga seolah-olah terpilin seperti spiral.
d. Fraktur komunitiva
Fraktur komunitiva merupakan kondisi di mana tulang yang patah pecah menjadi dua
bagian atau lebih; serpihan-serpihan atau terputusnya keutuhan jaringan dimana terdapat
lebih dari dua fragmen tulang.

e. Fraktur kompresi
Fraktur yang terjadi ketika kedua tulang menumbuk (akibat tubrukan) tulang ketiga yang
berada di antaranya, contoh fraktur jenis ini adalah tumbukan antara tulang belakang
dengan tulang belakang lainnya.
f. Fraktur greenstick
Fraktur di mana garis fraktur pada tulang tersebut hanya parsial (tidak lengkap) pada sisi
konveks bagian tulang yang tertekuk (seperti ranting pohon yang lentur). Fraktur jenis ini
hanya terjadi pada anak-anak.
g. Fraktur patologik
Fraktur yang terjadi pada tulang yang sudah mengalami kelainan misalnya metastase
tumor.
h. Avulsi : Tertariknya fragmen tulang oleh ligament atau tendo pada perlekatannya (Price
& Wilson, 1995).
Patogenesis
Secara umum fraktur dapat terjadi akibat terkena gaya langsung pada tulang (direct
force), kerusakan pada tulang yang terjadi karena ada bagian tulang yang terpelintir (torsio
injury), serta karena kontraksi yang berlebihan pada anggota gerak. Pada dasarnya tulang
mempunyai mekanisme sendiri untuk beradaptasi terhadap gaya yang dikenakan kepadanya.
Tulang mempunyai mekanisme stress and strain. Stress yaitu jumlah gaya yang diterima oleh
tulang, sedangkan strain yaitu reaksi tulang terhadap gaya tersebut. Kemampuan tulang untuk
mengkompensasi gaya yang mengenainya menentukan apakah tulang akan patah atau tidak.
Apabila kekuatan yang mengenai tulang seimbang dengan kemampuan tulang
mengkompensasi maka tidak akan terjadi fraktur, namun sebaliknya bila kekuatan yang
diterima tulang lebih besar dari kemampuan tulang untuk mengkompensasi maka terjadilah
fraktur.
Tulang yang patah dapat menjadi utuh kembali melalui proses penyembuhan tulang.
Tahap-tahap penyembuhan tulang meliputi tahap inflamasi (hematoma), proliferasi sel
(pembentukan fibrokartilago), pembentukan kalus, osifikasi (penulangan kalus), dan
konsolidasi serta remodeling.
a. Tahap inflamasi (hematoma)
Yaitu munculnya perdarahan dalam jaringan yang cedera yang memicu pembentukan
hematoma. Pada ujung fragmen tulang terjadi devitalisasi akibat terputusnya pasokan
darah. Tempat cedera akan diinvasi oleh makrofag yang bertugas membersihkan daerah
tersebut. Tahap inflamasi ini berlangsung 1-3 hari dan hilang dengan berkurangnya
pembengkakan dan nyeri. Jika suplai darah ke pembuluh darah tidak adekuat tahap
pertama dari pemulihan tulang ini gagal dan proses penyembuhan tulang akan terhambat.
b. Tahap proliferasi sel (pembentukan fibrokartilago)
Tahapan ini berlangsung 3 hari- 2 minggu. Ketika memasuki hari ke-5 pasca fraktur,
hematoma akan mengalami organisasi. Organisasi dari proses hematoma kemudian
berlanjut ke pembentukan tahap dua penyembuhan tulang dan jaringan. Terbentuk
benang-benang fibrin dalam bekuan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi dan
invasi fibroblast serta osteoblast. Fibroblast, osteoblast, dan kondroblast berpindah tempat
ke bagian yang fraktur sebagai hsil dari inflamasi akut dan membentuk fibrokartilago.
Fibroblast dan osteoblast akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks
kolagen pada patah tulang. Bentuk awal jaringan fibrosa biasanya disebut kalus primer.
Kalus tersebut berperan dalam peningkatan penyembuhan stabilitas fraktur. Pada
periosteum tampak pertumbuhan melingkar kaus tulang rawan. Kalus tulang rawan
tersebut dirangsang oleh gerakan mikrominimal pada bagian fraktur. Gerakan yang
berlebihan akan merusak struktur kalus.
c. Tahap pembentukan kalus
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain
sampai celahh terhubungkan. Fragmen patahan tulang dihubungkan dengan jaringan
fibrosa, tulang rawan, dan serat tulang imatur. Tahapan ini sangat penting karen
berhubungan dengan kesuksesan pembentukan dan penyembuhan tulang. Perlu waktu
sekitar 2-6 minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan
fibrosa. Jika prosesnya lambat atau terhambat, tahap akhir dari tahap ketiga penyembuhan
tulang tidak terjadi, maka terjadi kegagalan penyatuan terhadap tulang yang fraktur.
d. Tahap osifikasi (penulangan kalus)
Kalus mulai mengalami penulangan dalam 3 minggu-6 bulan pasca terjadinya patah
tulang yaitu melalui proses penulangan endokondrial. Kalus permanen dari tulang yang
telah kaku menyilang pada celah fraktur antara periosteum dan korteks untuk membentuk
fragmen. Formasi dari kalus secara internal bertujuan untuk membentuk kesatuan pada
rongga sumsum. Mineral terus menerus ditimbun sampain tulang benar-benar bersatu
dengan keras.
e. Tahap remodeling/ konsolidasi
Tahapan ini berlangsung mulai 6 minggu-1 tahun meliputi pengambilan jaringa mati dan
reorganisasi tulang baru ke susunan struktural baru sebelumnya.

Manifestasi Klinik
Tanda dan gejala yang dapat dikenali pada bagian anggota tubuh yang mengalami
fraktur adalah sebagai berikut:
a. Mobilitas yang abnormal pada tulang yang seharusnya tidak bergerak pada keadaan
normal (tidak terjadi patah tulang)
b. Krepitus (suara gesekan antara tulang)
c. Deformitas
d. Ekimosis (trauma jaringan lunak dan pembuluh darah)
e. Edema
f. Kehilangan fungsi normal yang berasal dari kerusakan saraf, ketidakstabilan fraktur,
dan nyeri
g. Spasme otot (kontraksi otot yang berlebihan)
h. Syok yang berasal dari kehilangan darah, nyeri yang sangat dan kerusakan jaringan
lunak yang luas
i. Penyusutan ekstremitas
j. Nyeri

Komplikasi
Komplikasi fraktur dan imobilitas dapat dibagi menjadi kompliaksi segera dan
komplikasi lambat.
a. Komplikasi segera antara lain:
 Sindrom kompartemen
Sindrom kompartemen adalah tekanan tinggi pada kompartemen otot dalam ruang
tertutup fascia yang menyebabkan berkurangnya perfusi darah hingga di bawah
jumlah yang dibutuhkan untuk viabilitas jaringan. Naiknya tekanan menyebabkan
iskemi dan nyeri. Ada dua penyebab utama dari sindrom kompartemen, yaitu
berkurangnya ukuran kompartemen dan meningkatnya isi dalam kompartemen.
 Trombosis vena dalam
Adanya bekuan di vena profunda dari ekstremitas bawah dapat menyebabkan
trombosis vena dalam. Faktor resiko munculnya kondisi ini berhubungan dengan
mekanisme pembekuan darah, kerusakan vaskular, dan stasis vena.
 Sindrom emboli lemak
Sindrom emboli lemak adalah presentasi lemak globulin dalam parenkim paru dan
sirkulasi perifer, hal ini muncul setelah terjadinya fraktur pada tulang pipa, trauma
mayor atau prosedur pembedahan ortopedi. Teori yang mendalami sumber dari lemak
globulin menyatakan bahwa trauma langsung merusak sel lemak dalam sumsum
tulang yang fraktur atau luka pada jaringan lunak yang kemudian hasil pecahan sel
lemak tersebut bermigrasi ke paru-paru.
 Emboli pulmonal
Emboli pulmonal adalah suatu bekuan atau penyebab lain (udara, lemak, cairan) yang
tersangkut dalam pembuluh darah arteri pulmoner. Karena trombosis vena dalam
merupakan penyebab utama dari emboli pulmonal, maka faktor resiko keduanya
adalah sama. Efek dari emboli pulmonal adalah hipoksia sampai dengan kematian.
 Infeksi
Infeksi umumnya terjadi pada patah tulang terbuka di mana kondisi jaringan yang
terluka dapat dengan mudah terpapar oleh bakteri-bakteri patogen.
b. Komplikasi yang terjadi secara lambat antara lain:
 Kekakuan sendi
Penyebab umum dari kekakuan sendi adalah ketidakadekuatan aktivitas dari otot dan
tungkai, edema dependen yang diperpanjang, infeksi, serta imobilisasi yang lama dari
fraktur intra artikular.
 Sindrom kompleks nyeri regional
Sindrom ini merupakan sebuah disfungsi yang sangat menyakitkan dan sindrom dari
tidak digunaknnya suatu bagiantubuh dengan karakteristik nyeri abnormal dan
bengkak dari ekstremitas dan biasanya dipresipitasi oleh trauma minor.
 Miosistis ossifikans
Adalah pembentukan abnormal dari tulang heterotopik (abnormal dan bukan pada
tempatnya) dekat tulang dan otot, biasanya merupakan respon terhadap trauma.
 Malunion
Kondisi ini merupakan sembuhnya tulang dengan bentuk abnormal. Hal ini dapat
terjadi ketika ketidakseimbangan stres menekan tarikan otot dan gravitasi sehingga
menyebabkan penjajaran yang tidak tepat pada fragmen fraktur.
 Delayed union (penyatuan terlambat)
Merupakan kelanjutan dari nyeri tulang dan kerapuhan yang melewati sebuah periode
penyembuhan yang konsisten dengan tingkat trauma dan jaringan. Kondisi ini
mungkin disebabkan oleh disfraksi fragmen fraktur atau penyebab sistemik eperti
infeksi.
 Non union
Terjadi apabila penyembuhan fraktur tidak tercapai setelah 4-6 bulan pasca fraktur
dan penyembuhan spontan fraktur tidak memungkinkan terjadi.
 Kehilangan reduksi fraktur
 Refraktur
 Osteomielitis
Mungkin terjadi pada femur atau tubia mengikuti fraktur terbua dan fiksasi internal.
Staphylococus aureus merupakan organisme bakteri yang dapat menyebabkan infeksi
kronis dan berulang pada tulang.
Prinsip Penanganan Fraktur
Prinsip penanganan fraktur ada 4, yaitu: rekognisi, reduksi, retensi dan rehabilitasi.
1. Rekognisi, mengenal jenis fraktur, lokasi dan keadaan secara umu; riwayat
kecelakaan, parah tidaknya luka, diskripsi kejadian oleh pasien, menentukan
kemungkinan tulang yang patah dan adanya krepitus.
2. Reduksi, mengembalikan fragmen tulang ke posisi anatomis normal untuk
mencegah jarinagn lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan
perdarahan. Reduksi ada 3 (tiga), yaitu:

 Reduksi tertutup (close reduction), dengan cara manual/ manipulasi, dengan


tarikan untuk menggerakan fragmen tulang/ mengembalikan fragmen tulang ke
posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan)

 Traksi, digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi, dimana


beratnya traksi di sesuaikan dengan spasme otot. Sinar X digunakan untuk
memantau reduksi fraktur dan aproksimasi fragmen tulang

 Reduksi terbuka, dengan memasang alat untuk mempertahankan pergerakan,


yaitu fiksasi internal (kawat, sekrup, plat, nail dan batang dan implant logam) dan
fiksasi ekterna (pembalutan, gips, bidai, traksi kontinue, pin dan tehnik gips

3. Reposisi, setelah fraktur di reduksi, fragmen tulang harus di imobilisasi atau


dipertahankan dalam posisi penyatuan yang tepat. Imobilisasi dapat dilakukan dengan
cara fiksasi internal dan eksternal.

4. Rehabilitasi, mempertahankan dan mengembalikan fungsi, dengan cara:

 Mempertahankan reduksi dan imobilisasi

 Meninggikan ekstremitas untuk meminimalkan pembengkakan

 Memantau status neorovaskular

 Mengontrol kecemasan dan nyeri

 Latihan isometrik dan setting otot

 Berpartisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari


Kembali keaktivitas secara bertahap

Fraktur Kalkaneus (Calcaneus)


Kalkaneus disebut juga tulang tumit, merupakan tulang besar yang membentuk dasar
dari bagian belakang kaki. Kalkaneus berhubungan dengan tulang kuboid dan talus.
Hubungan antara talus dan kalkaneus membentuk sendi subtalar. Sendi ini amat penting pada
fungsi kaki normal. Kalkaneus sering disamakan seperti telur, karena memiliki cangkang, tipis
keras di luar, terdapat tulang yang lebih lembut seperti spons di dalam. Bila kulit luar pecah,
tulang cenderung rapuh dan menjadi terfragmentasi. Hal ini mengakibatkan fraktur kalkaneal
yang parah. Jika fraktur melibatkan sendi maka dapat berisiko mengalami artritis dan nyeri
kronis.
Fraktur Kalkaneus biasanya disebabkan oleh cedera pergelangan kaki yang berputar
atau lebih sering akibat terjatuh dari ketinggian, kecelakaan mobil, pergelangan kaki keseleo,
penggunaan berlebihan atau stress berulang pada tulang tumit. Fraktur ini mungkin hanya
terbatas pada kalkaneus atau dapat meluas hingga melibatkan sendi subtalar atau
kalkaneokuboid. Fraktur yang signifikan memerlukan CT scan untuk pemeriksaan lebih
lanjut dan memerlukan fiksasi pembedahan..

Jenis Fraktur Calcaneus


Fraktur kalkaneus mungkin atau mungkin tidak melibatkan sendi subtalar dan
sekitarnya. Fraktur yang melibatkan sendi (fraktur intra-artikular) adalah fraktur kalkaneal
paling parah, termasuk terjadinya kerusakan tulang rawan (jaringan penghubung antara dua
tulang). Prospek untuk pemulihan tergantung pada seberapa parah kalkaneus tersebut hancur
pada saat cedera. Sedangkan fraktur yang tidak melibatkan sendi (fraktur ekstra-artikular)
disebabkan karena trauma, seperti fraktur avulsi (patahan tulang ditarik ke kalkaneus oleh
tendon Achilles atau ligamen) atau cedera yang mengakibatkan beberapa fragmen fraktur;
Stres fraktur, yang disebabkan oleh penggunaan berlebihan atau cedera ringan. Tingkat
keparahan dan pengobatan fraktur tulang ekstra-artikular tergantung pada lokasi dan
ukurannya.

Tanda-Gejala Fraktur Calcaneus


Tanda gejala dari fraktur akibat trauma: Nyeri tiba-tiba di tumit dan ketidakmampuan
menjejakkan berat tubuh dengan kaki; Pembengkakan di area tumit; Memar di area tumit dan
pergelangan kaki. Sedangkan tanda-gejala fraktur akibat penekanan, yaitu: Rasa nyeri yang
menyeluruh di area tumit yang muncul perlahan-lahan dan pembengkakan di area tumit.
Patofisiologi Fraktur Calcaneus
Etiologi : trauma; tekanan/ stress berulang

Beban energi tinggi pada tumit

Talus terdorong ke bawah calcaneus

Kerusakan fragmen tulang/ cedera jaringan lunak Pergeseram


fragmen tulang

Periosteum, cortex, pembuluh darah


deformitas
Sum-sum tulang dan jaringan lunak terputus
Penurunan fungsi
ekstremitas
Perdarahan jaringan skeletal

Hematoma Gg. mobilitas

Pengeluaran bradikinin Stimulasi respon radang (vasodilatasi, eksudasi


plasma, migrasi leukosit dan infiltrasi sel darah putih)

Berikatan dengan nociceptor

Histamin

Nyeri

Penanganan Fraktur Calcaneus

Pada beberapa fraktur, penanganan non-bedah dapat digunakan, seperti: Istirahat


(rest) dibutuhkan untuk menyembuhkan fraktur. Kompres dengan es (ice) dapat mengurangi
nyeri dan pembengkakan. Kompresi (compression), yaitu membungkus kaki dengan perban
elastis atau memakai stocking kompresi, dan elevasi/ elevation (menjaga posisi kaki agar
tinggi sedikit di atas tingkat jantung) juga mengurangi pembengkakan..Imobilisasi dapat
dilakukan untuk menjaga tulang yang fraktur dari pergerakan. Sedangkan untuk fraktur akibat
trauma, penanganan yang dilakukan yaitu pembedahan untuk merekonstruksi sendi, atau pada
kasus parah, memadukan sendi.

Pemeriksaan Diagnostik dan Laboratorium


Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis fraktur antara lain:
1. Pemeriksaan rontgen untuk menentukan lokasi/ luasnya fraktur atau trauma.
2. Skan tulang, tomogram, skan CT/ MRII memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan
untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
3. Arteriogram dilakukan bila dicurigai terdapat kerusakan vaskuler
4. Hitung darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun
(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel).
Peningkatan leukosit adalah respon stres normal setelah trauma.
5. Kreatinin; trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk bersihan ginjal
6. Profil koagulasi; perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multipel,
atau cedera hati.

Pengkajian
1. Aktivitas dan istirahat
• Tanda : keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera,
fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan,
nyeri).
2. Sirkulasi
• Tanda : hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ ansietas) atau
hipotensi (kehilangan darah); takikardia (respon stress atau hipovolemia); penurunan
atau tak ada nadi pada bagian distal yang cedera; pengisian kapiler lambat; pucat pada
bagian yang terkena; pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi yang
cedera.
3. Neurosensori
• Gejala : hilang gerakan/ sensasi; spasme otot; kebas; kesemutan (parestesis).
• Tanda : deformitas lokal; angulasi abnormal; pemendekan; rotasi; krepitasi (bunyi
berderit); spasme otot; terlihat kelemahan/ hilang fungsi; agitasi (mungkin
berhubungan dengan nyeri/ ansietas atau trauma lain).
4. Nyeri/ kenyamanan
• Gejala : nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan/
kerusakan tulang; dapat berkurang pada imobilisasi); tak ada nyeri akibat kerusakan
saraf; spasme/ kram otot (setelah imobilisasi).
5. Keamanan
• Tanda : laserasi kulit; avulasi jaringan; perdarahan; perubahan warna; pembengkakan lokal
(dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).
6. Penyuluhan/ pembelajaran
• Gejala : lingkungan cedera
• Pertimbangan : DRG menunjukkan rerata lama dirawat femur 7,8 hari; panggul/ pelvis 6,7
hari; lainnya 4,4 hari bila memerlukan perawatan di rumah.
• Rencana pemulangan : mungkin memerlukan bantuan dengan transportasi, aktivitas
perawatan diri, dan tugas pemeliharaan/ perawatan rumah.

Masalah Keperawatan
1. Resiko cedera
2. Nyeri akut
3. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer
4. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas
5. Kerusakan mobilitas fisik
6. Kerusakan integritas kulit/ jaringan
7. Resiko tinggi terhadap infeksi
8. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan

DAFTAR PUSTAKA
American College of Foot and Ankle Surgeon (2009). Fractures of the calcaneus (heel
bones fractures) diambil pada 9 Januari 2011 dari:
http://www.foothealthfacts.org/footankleinfo/fractures_calcaneus.htm

Joyce. M. Black, (1997). Medical surgical nursing : Clinical management


for Continuity of Care. (Edisi 5) Philadelphia: WB Saunders.
Maher, dkk. (2002). Orthopedic nursing. Philadelphia: WB. Saunders
Marilyn. E. Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman
untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien.
(edisi 3). Jakarta : EGC
Nicklebur, S. (2009). Calcaneus fractures diambil pada 9 Januari 2011 dari:
http://emedicine.medscape.com/article/1232246-overview
Price, S.A & Lorraine M. Wilson. (2006). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses
penyakit. Jakarta: EGC