Surah al-JHijr

Surah ini terdiri dari 99 ayat. AL-HIJRadalah nama sebuah daerah pegunungan yang didiami zaman dahulu oleh kaumTsamud terletak di pinggir jalan antara Madinah dan Syam (Suriah).

Surah al-Hjjr

Surah ini terdiri dari 9 9 ayat. M a y o r i t a s ulama berpendapat bahwa semua ayatnya adalah M a k k i y y a h , y a k n i turun sebelum Nabi M u h a m m a d saw. berhijrah ke M a d i n a h . M e m a n g , ada j u g a y a n g m e n g e c u a l i k a n ayat 87 yang berbicara tentang surah al-Fatihah. Ini berdasar dugaan mereka bahwa ahFatihah turun serelah Nabi saw. berhijrah. Tetapi, pendapat ini lemah. Ada juga yang mengecualikan ayat 90 dengan alasan b a h w a ia berbicara tentang Ahl al-Kitab/orang-orang Yahudi yang bermukim di Madinah. Pengecualian ini pun ditolak oleh banyak ulama. T i d a k diremukan n a m a lain dari surah ini kecuali al-Hij'r y a i t u wilayah p e m u k i m a n k a u m Tsamud y a n g dikenal juga dengan MadtVin Shalih yang terletak pada jalur Khaibar m e n u j u T a b i i k di Saudi Arabia. Penamaan lokasi itu dengan ^/-////'ryang antara lain berarti larangan^ boleh jadi disebabkan ia terlarang d i h u n i oleh siapa pun selain k a u m Tsamud. 7 e m a u t a m a clan tujuan uraian surah ini menggambarkan ketinggian k a n d u n g a n kitab suci a l - Q u r ' a n y a n g d e n g a n g a m b l a n g menjelaskan

kebenaran. M a k n a ini sejalan dengan nama al-Hijr yang kisahnya d e m i k i a n jelas apalagi bagi vang mendengar atau melihat peninggalan mereka, lebihlebih bagi suku Quraisy. D e m i k i a n al-Bk]a i m e n g h u b u n g k a n tema utama surah ini dengan namanya.

409

KELOMPOK 1 Juz XIV

AYAT 1-15

411

412

Surah al-Hijr [15]

Kelompok I Ayat 1-3

Surah al-Hijr [15]

413

AYAT 1-3

"Alif, Ldm, Ra'. Ini adalah ayat-ayat al-Kiulb, yaitu al-Qur'anyang penjelasan. Orang-orang yang kafir menginginkan kiranya mereka

memberi dahulu

menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah dan dilalaikan oleh angan-angan,

mereka makan dan bersenang-senang

maka- kelak mereka akan mengetahui. "

Penutup surah y a n g lalu berbicara tentang al-Qur'an b a h w a ia adalah penjelasan yang cukup dan sempurna bagi manusia untuk kebahagiaan dunia dan akhirat mereka. Nah, di sini sekali lagi Allah swt. menunjuk kepada alQ u r ' a n itu dengan m e n y a t a k a n Alif, Lam, Ra. Surah ini adalah sebagian dari ayat-ayat al-Kitab yang s e m p u r n a n y a ayat- ayat al-Qur'an yang memberi penjelasan. N a n t i pada masanya, di dunia dan pasti di akhirat kelak, orang-

orang yang kafir 'akan seringkah menginginkan kiranya mereka dahulu, ketika hidup di dunia, menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka selama hidup di d u n i a i n i — w a h a i Nabi M u h a m m a d , dan d e m i k i a n juga kamu, wahai k a u m m u s l i m i n — b i a r k a n mereka makan dan bersenang-senang dari saat ke saat, dan biarkan juga mereka terus-menerus dilalaikan persoalan p e n t i n g oleh angan-angan dari persoalanakan

kosong, maka kelak mereka

mengetahui akibat perbuatan b u r u k mereka itu. Kata ( U J J ) rubbama terdiri d a r i k a t a ( ) rubba yang dapar makna ) rubba yang

m e n g a n d u n g m a k n a jarang/sedikit

dan dapat juga m e n g a n d u n g

banyak/sering kali. Sedang, kata ( U ) ma y a n g merangkai kata ( itu m e n j a d i k a n k a t a t e r s e b u t t i d a k b e r f u n g s i mengkasrahkan kara sesudahnya.

sebagai huruf

Pada umumnya, kata ini dirangkaikan dengan kata yang menunjuk masa lampau, bahkan k a l a u p u n kata yang datang sesudahnya berbentuk kata kerja masa datang—seperri pada ayat i n i — m a k n a n y a tetap merujuk pada masa lalu. M e m a n g , tidak m u n g k i n orang-orang yang kafir yang dibicarakan oleh ayat ini menginginkan untuk beriman pada saat ayat ini turun, tetapi keinginan itu baru datang k e m u d i a n setelah berlalu w a k t u di m a n a keinginan mereka itu tidak dapat tercapai lagi.

414

Surah al-Hijr [15]

Kelompok I Ayat 1-3

Kata ( i j* )yawaddu

terambil dari akar kata y a n g terdiri dari huruf-huruf

wauw dan ^ / b e r g a n d a , yang mengadung arti cinta, keinginan, dan harapan. D e m i k i a n Ibn Faris dalam b u k u Maqayzs-nya_. Pakar rafsir, a l - B i q a ' i .

m e n a m b a h k a n bahwa pelaku kata tersebut m e m b u k r i k a n dalam sikap dan ringkah lakunya kesenangan dan harapannya iru. Ada y a n g m e m a h a m i keinginan orang-orang y a n g kafir u n t u k menjadi muslim terjadi kelak di hari Kemudian, dan kara nibba mereka pahami dalam arri sermg kali dan berulang-ulang Ibu 'Asyur memahaminya dalam arti sedikit dan bahwa itu terjadi ketika mereka melihat kemenangan y a n g diraih k a u m muslimin. Misalnya, dalam Perang Badar. Di samping itu—tulisnya—orangorang kafir juga sangat ingin agar menjadi orang-orang muslim ketika mereka m e n y a k s i k a n k a u m m u s l i m i n y a n g d u r h a k a d i a n g k a t dari neraka lalu d i m a s u k k a n ke surga serelah sebelumnya mereka disiksa. M e r e k a diangkat ke surga karena a d a n y a iman y a n g bersemai di hati mereka. M e m a n g , pada akhirnya, semua y a n g percaya kepada Allah swr. dan Nabi M u h a m m a d saw. akan masuk ke surga w a l a u p u n sebelumnya dosa-dosa mereka yang tidak d i a m p u n i Allah swt. harus dibersihkan di dalam neraka. Boleh jadi j u g a keinginan u n t u k menjadi orang-orang m u s l i m rerbetik dalam benak mereka dalam k e h i d u p a n d u n i a — w a l a u tanpa menyaksikan k e m e n a n g a n k a u m m u s l i m i n . Ini disebabkan sebagian mereka tahu persi> bahwa Islam adalah agama yang benar dan Nabi M u h a m m a d saw. adalah utusan Allah swt. serta al-Qur'an adalah firman-Nya. Mereka ingin beriman, retapi sikap keras kepala, dengki, dan ambisi m e m p e r t a h a n k a n yang m e n g h a m b a t keinginan itu. Firman-Nya: ( ) dzarhumlbiarkan mereka dan seterusnya, kedudukan

m e n g a n d u n g m a k n a tidak m e m i n t a b a n t u a n mereka, tidak menerima k o m p r o m i dengan mereka, dan ritiak j u g a melayani atau menghiraukan kejahilan dan cercaan mereka. Ini karena tujuan hidup mereka berbeda dengar, rujuan hidup Nabi M u h a m m a d saw. dan para pengikur beliau. Mereka hidup u n t u k m a k a n , b e r m a i n , dan m e n i k m a t i g e m e r l a p a n d u n i a w i sambil mengorbankan akhirat mereka, serta dilengahkan oleh angan-angan kosong.

Kelompok I Ayat 4-5

Surah al-Hijr [15]

4)5

AYAT 4-5

"Dan Kami tidak membinasakan

suat u negeri pun, melainkan ada

baginya dapat

ketentuan masa yang telah ditetapkan. mendahului ajalnya,

Tidak ada suatu umat pun yang "

dan tidak (pula) dapat mengundurkan(nya).

Ayat-ayat y a n g lalu m e n g a n d u n g ancaman bahwa kelak mereka akan menyesal. Dan, sebagaimana kebiasaan k a u m musyrikin bila diancam, selalu berkata dengan tujuan mengejek, "Kapan d a t a n g n y a ancaman itu?" atau "Percepatlah kehadirannya!' , ayat-ayat ini mengingatkan semua pihak bahwa ada w a k t u yang ditetapkan Allah swt. bagi segala sesuatu. Karena itu pula Allah swt. menegaskan melalui ayat ini bahwa: Kami tidak menjatuhkan siksa kecuali jika tiba w a k t u n y a , dan ini b u k a n h a n y a berlaku bagi mereka, tetapi itulah sunnah Kami. Kami tidak membinasakan suatu negeri pun
1

bersama dengan penduduknya melainkan ada baginya ketentuan, yakni masa yang telah ditetapkan dapat mendahului bagi kebinasaannya. Tidak ada suatu umat pun yang dan tidak pula dapat mengundurkan-nya..

ajalnya,

Kata ( ^ u S * ) kitab pada ayat 4 di atas bermakna kadar waktu tertentu yang ditetapkan Allah swt. l a terambil dari kata f ^_^S*) kataba y a n g berarti mewajibkan/menetapkan. Karena yang menerapkannya adalah Allah swt.,

tentu saja ia tidak akan berubah, bertambah, atau berkurang. W a k t u y a n g ditetapkan u n t u k p e n d u d u k negeri i t u — t u l i s S a y y i d Quthub—-dianugerahkan A l l a h swt. kepada mereka agar mereka

m e n g g u n a k a n n y a untuk beramal dan atas dasar amal mereka ditentukan kesudahan mereka. Bila p e n d u d u k negeri itu beriman, berbuat kebajikan, melaksanakan perbaikan, dan berlaku adil, Allah swt. akan memperpanjang usianya sampai mereka menyimpang dari semua prinsip-prinsip itu dan tidak ada lagi sedikit harapan kebaikan yang tersisa dari mereka. Nah, ketika itulah tiba ajal mereka dan berakhir eksistensinya sebagai satu umat, baik dengan kepunahan total m a u p u n sementara dengan kelemahan dan kelayuan. Boleh \,idl—tulis Sayyid Q u t h u b lebih lanjut—ada yang berkata bahwa "Ada banyak umat vang tidak beriman, tidak berbuat kebajikan dan perbaikan, tidak juga

416

Surah al-Hijr [15]

Kelompok I Ayat 6-7

berlaku adil, n a m u n demikian mereka tetap kuat, k a y a dan bertahan.' Apa y a n g dikatakan itu—tulisnya—tidaklah benar. Karena, pasti ketika itu masih tersisa bagi umat y a n g bertahan itu kebaikan, w a l a u p u n hanya dalam bentuk p e m b a n g u n a n material di bumi ini atau kebaikan dalam b e n t u k keadilan sempit yang mereka perlakukan di tengah masyarakat mereka, atau kebajikan perbaikan material dan ihsan yang terbatas, dan atas dasar adanya sisa kebaikan itulah mereka bertahan hidup sampai kebaikan itu habis dan akhirnya mereka p u n mencapai kesudahan yang pasti. Ini adalah sunnatullah y a n g tidak berubah. Setiap umat ada ajalnya dan tidak ada suatu umat pun yang mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan(nya). dapat

1

Rujuklah kepada penafsiran (QS. ar-Ra'd [ 1 3 ] : 11) untuk m e m a h a m i lebih j a u h penjelasan al-Qur'an tentang j a t u h b a n g u n n y a suatu umat. ^ Kata ( o j y - L - o ) yasta'khirun berarti mundur/menunda. sin pada kata ini b u k a n berarti meminta, H u r u f td'dan.
1

tetapi di sini ia berfungsi sebagai

penguat sehingga kata tersebut m e n g a n d u n g m a k n a bahwa bila ketetapan itu datang m a k a mereka tidak akan d i t a n g g u h k a n sesaat pun.

AYAT 6-7

Mereka

berkata:

"Wahai orang yang diturunkan benar-benar orang gila.

kepadanya. Mengapa

adz-Dzikr, tidak

sesungguhnya mendatangkan benar?"

engkau

engkau

malaikat kepada kami jika engkau termasuk orang-orang yang

Kalau ayat-ayat yang lalu menggambarkan keburukan perbuatan orangorang kafir yang tenggelam dalam k e n i k m a t a n d u n i a w i , kini digambarkan k e b u r u k a n ucapan mereka. Yakni, mereka berkata: diturunkan kepadanya adz-Dzikr, "Wahai orang yang

yakni al-Qur'an sebagaimana pengaku­

anmu, sesungguhnya engkau benar-benar orang gila dengan menyatakan bahwa apa yang engkau sampaikan itu bersumber dari Allah Yang M a h a a g u n g . "

R u j u k penafsiran Q S . R a ' d [1 3]: 1 1 h a l a m a n 228.

Kelompok i Ayat 6-7

Surah al-Hijr [15]

417

Selanjutnya, mereka mengusulkan hal iain y a i t u kehadiran malaikat dalam b e n t u k aslinya y a n g dapat mereka lihat dengan mata kepala. M e r e k a berkata: "Mengapa engkau tidak mendatangkan malaikat kepada kami untuk

m e m b u k t i k a n k e b e n a r a n u c a p a n m u dan agar m e r e k a y a n g l a n g s u n g m e n y a m p a i k a n pesan Allah atau mereka l a n g s u n g m e n y i k s a k a m i jika

m e m a n g benar engkau termasuk orang-orang yang benar m e n y a n g k u t apa y a n g engkau sampaikan i t u ? " Ucapan mereka memanggil Nabi M u h a m m a d saw. bukan dengan nama beliau atau fungsi beliau sebagai nabi tetapi wahai orang yang diturunkan

kepadanya tf^s-D-s/^r bertujuan mengejek dan mencemoohkan beliau. Ini d i p a h a m i dari penegasan mereka bahwa engkau adalah orang gila. Di sisi lain, bentuk pasif yang digunakan orang-orang kafir itu pada kata diturunkan memberi kesan bahwa mereka menilai peringatan yang disampaikan Nabi M u h a m m a d saw. itu datang dari satu sumber y a n g tidak jelas, bahkan tidak diketahui sehingga tidak layak dipercaya. Kara ( j T J J i ) adz-dzikr dapat berarti sesuatu yang dilafalkan/ diucapkan,

dapat juga berarti sesuatu yang terlintas dalam benak. A l - Q u r ' a n dinamai iidz-Dzikr karena ia adalah ucapan yang diwahyukan kepada Nabi M u h a m m a d saw. untuk dibaca dan diingat-ingat. Atau, karena ia adalah peringatan tentang keesaan Allah swt. dan keniscayaan hari Kemudian, atau karena dengan mengikuti tuntunannya seseorang akan diingat dan diperlakukan dengan baik di hari Kemudian, bukan seperti seseorang y a n g diabaikan dan dilupakan. Asy-Sya'rawi m e m a h a m i dari ucapan k a u m musyrikin itu sebagai bukti ketiadaan konsistensi serta bertolak belakangnya sikap mereka. Mereka, tulisnya, mau atau tidak, mengakui bahwa al-Qur'an adalah adz-Dzikr, sedang kata ini dalam bahasa m e m p u n y a i b a n y a k m a k n a antara lain kemuliaan,

sebagaimana ia juga merupakan nama al-Qur'an. Kaum musyrikin itu telah sekian kali mencari kelemahan al-Qur'an tapi mereka gagal menemukannya. Maka, bagaimana mungkin mereka menamai yang turun kepadanya al-Qur'an itu sebagai seorang y a n g gila, padahal sebelumnya mereka telah mengakui kejujuran dan amanahnya? Selanjutnya, tulis ulama Mesir k e n a m a a n itu, mereka dalam tuduhannya kepada Rasul saw. tidak menyadari bahwa mereka m e m a n g g i l beliau dengan ucapan ya ayyuha (wahai), dan ini serupa dengan

418

Surah al-Hijr [15]

Kelompok i Ayat 8

panggilan y a n g d i g u n a k a n Allah swt. kepada beliau. D e m i k i a n Allah swt. menjadikan lidah mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung pengagungan dan penghormatan kepada Rasul saw. tanpa mereka sadari. Ini merupakan k e h e n d a k Allah swt. y a n g bermaksud menjadikan orang-orang kafir yang keras kepala m e n g a k u i kebenaran tanpa mereka sadari. H e m a t penulis, pandangan atau kesan asy-Sya'rawi ini sedikit berlebihan. B a g a i m a n a m u n g k i n kesan penghormatan itu dapat m u n c u l , sedang secara regas dan gamblang ditemukan kata {jy£ ) majnun/giU dalam ucapan mereka

y a n g ditujukan kepada Rasul saw. Adanya tuduhan yang jelas dalam ucapan itu sudah c u k u p dapat menghilangkan segala kesan y a n g d i t i m b u l k a n oleh kata ( ^ j u ) yd ayyuhd yang tidak selalu harus berarti penghormatan. Panggilan semacam itu tidak khusus digunakan al-Qur'an untuk Nabi saw., tetapi juga untuk orang-orang beriman, manusia seluruhnya, bahkan juga terhadap orangorang kafir d a l a m firman-Nya: ( J j y l & l L^jb J i ) qulyd ayyubal kdfirun, j u g a kepada manusia yang lengah: ( insdnu md gharraka SSy, £'j£> U OLJ^i L^jb ) yd ayyuhal

bi Rabbika al-Kariml'wahai

manusia, apa y a n g telah

m e m p e r d a y a m u (sehingga durhaka) kepada Tuhanmu Yang M a h a Pemurah? (QS.al-Infithar [ 8 2 ] : 6 ) .

AYAT 8

"Kami tidak menurunkan

malaikat

melainkan

dengan haq dan

dengan

demikian mereka tidak diberi tangguh. "

Seperti terbaca di atas, ucapan orang-orang kafir itu m e n g a n d u n g dua persoalan. A y a t 6 t e n t a n g p e n g i n g k a r a n t e r h a d a p a l - Q u r ' a n , sumber

k e h a d i r a n n y a dan bahwa N a b i M u h a m m a d saw. adalah seorang gila, dan ayar 7 rentang kehadiran malaikat. Ayat 8 ini m e m b a n t a h terlebih d a h u l u persoalan k e d u a dengan m e n y a t a k a n : Kami tidak menurunkan melainkan malaikat

dengan h_aq, y a k n i m e n y a n g k u t sesuatu y a n g pasti, seperti

membawa risalah kenabian atau siksa terhadap yang durhaka serta keselamatan bagi y a n g taat, dan dengan demikian, j i k a malaikat hadir u n t u k mereka lihat

Kelompok I Ayat 8

Surah al-Hijr [15]

419

sebagaimana usul orang-orang kafir itu, pastilah tidak diberi tangguh. Yang d i m a k s u d dengan turunnya malaikat pada ayat ini bukan d a l a m arti turunnya membawa w a h y u atau rahmat, tetapi turunnya membawa siksa Ilahi. Kata al-haq dipahami dalam arti sesuatu yang ditetapkan dan y a n g ditetapkan itu adalah siksa. M a k n a ini d i k u k u h k a n oleh lanjutan ayat ini y a n g mengatakan bahwa mereka tidak ditangguhkan. Ayat di atas serupa dengan firman-Nya dalam Q S . al-An'am [ 6 ] : 8. Di sana dinyatakan bahwa orang-orang kafir berkata:

'i/j* 'i'££V f [S
diberi tangguh, "

'J

J

St & ij\ %

"Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat? "Sedang kalau Kami turunkan seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak

Ketika menafsirkan ayat al-An'am itu, penulis antara lain mengemukakan pandangan al-Biqa'i yang menyatakan bahwa jika usul mereka itu diterima, hanya ada dua k e m u n g k i n a n bagi kehadiran malaikat bagi mereka. Yakni ia tampak dalam bentuknya yang asli dan ketika itu pastilah manusia tidak akan m a m p u melihatnya sehingga mereka akan hancur binasa, dan jika para p e m b a n g k a n g itu diberi k e m a m p u a n untuk melihat malaikat dalam

bentuknya y a n g asli, urusan pun menjadi selesai karena, dengan melihat malaikat sambil mendengar dari mereka tentang kebenaran rasul dan ajaranajaran yang dibawanya, tentulah mereka akan percaya sehingga tidak ada lagi arti ujian m e n y a n g k u t i m a n dan selesai pula urusan mereka. Itu sebabnya sehingga para rasul Allah swt. kepada m a n u s i a haruslah manusia j u g a dalam rangka memberi manusia pilihan u n t u k beriman atau ingkar karena, kalau malaikat y a n g t u r u n sebagai rasul, alternatif m e m i l i h atau menolak ajaran a g a m a y a n g dikehendaki Allah swt. u n t u k d i l a k u k a n manusia tidak akan terpenuhi. Thahir Ibn 'Asyur m e n g e m u k a k a n bahwa turunnya malaikat sesuai usul mereka m e n g a k i b a t k a n kebinasaan k a r e n a boleh jadi Allah swt. telah menciptakan malaikat m e m i l i k i naluri ketegasan dalam kebenaran sehingga m e r e k a segera b e r t i n d a k t e r h a d a p p a r a p e m b a n g k a n g , diisyaratkan oleh firman-Nya: sebagaimana

420

Surah al-Hijr [151

Kelompok I Ayat 9

"Mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai dan mereka itu—karena takut kepada-Nya—-selalu berhati-hati"

Allah,

( Q S . al-

Anbiya' [21J: 2 8 ) . Ibn \Asyur lebih j a u h menjelaskan bahwa: Allah swt. menghalangi para malaikat berhubungan langsung dengan manusia, kecuali dengan h a m b a - h a m b a - N y a y a n g m u l i a , yang jiwa k e m a n u s i a a n n y a serupa dengan jiwa para malaikat itu, dan karena itu pula Allah swt. m e n g h a l a n g i mereka turun ke b u m i kecuali dalam kasus-kasus tertentu dan langsung atas perintah Allah swt. Pandangan serupa d i k e m u k a k a n oleh Thabathaba i, walau u l a m a ini m e n g e m b a l i k a n kebinasaan itu kepada keadaan para pembangkang, bukan sifat malaikat. Ulama ini menulis: Jiwa manusia y a n g merasuk ke alam materi dan tenggelam dalam alam fisik tidak akan m a m p u melihat malaikat-— seandainya para malaikat itu turun dan berbaur dengan mereka-—-karena kondisi para malaikar itu berbeda dengan kondisi mereka. Seandainya j i w a mereka dijadikan serupa dengan kondisi kejiwaan para malaikat, itu tidak lain kecuali perpindahan dari kerendahan materi/fisika ke puncak spiritual/ metafisika. Dan ini berarti kematian arau keadaan y a n g dialami manusia sesudah kematiannya.

AYAT 9

"Sesungguhnya Kami yang menurunkan benar-benar

adz-Dzikr,

dan sesungguhnya

Kami

baginya adalah para Pemelihara. "

Ayat ini sebagai bantahan atas ucapan mereka y a n g m e r a g u k a n sumber datangnya al-Qur an. Karena itu, ia dikuatkan dengan kata sesungguhnya dan dengan m e n g g u n a k a n kata Kami, yakni Allah swt., y a n g m e m e r i n t a h k a n malaikat Jibril as. sehingga, dengan demikian, Kami menurunkan
, ,

adz-Dzikr,

yakni al-Qur an yang k a m u ragukan itu, dan sesungguhnya Katm''juga bersama

Kelompok I Ayat 9

Surah al-Hijr [15]

421

semua k a u m muslimin benar-benar

baginya, yakni bagi al-Qur'an,

adalah

y a n g akan menjadi para Pemelihara otentisitas dan kekekalannya. Ayat ini dapat merupakan dorongan kepada orang-orang kafir unruk m e m e r c a y a i al-Qur'an sekaligus memutus harapan mereka untuk dapat mempertahankan keyakinan sesat mereka. Betapa tidak, al-Qur'an dan nilainilainya tidak akan punah tetapi akan benahan. Itu berarti bahwa kepercayaan yang bertentangan dengannva, pada akhirnya—cepat atau lambat-—pasti akan dikalahkan oleh ajaran al-Qur'an. Dengan d e m i k i a n , ridak ada g u n a n y a mereka m e m e r a n g i n y a dan tidak berguna pula m e m p e r t a h a n k a n kesesatan mereka. Bentuk j a m a k y a n g d i g u n a k a n ayat ini yang m e n u n j u k Allah swt., baik pada kata ( Liy j£ ) nahnu nazzalnd/Kami pemeliharaan menunaikan m a u p u n dalam hal

al-Qur'an, mengisyaratkan adanya keterlibatan selain Allah SWT.,

yakni malaikat Jibril as., dalam m e n u r u n k a n n y a dan k a u m muslimin dalam pemeliharaannya. M e m a n g , tidak ada w a h y u vang berupa ayat al-Qur'an vang tidak dibawa oleh malaikat Jibril as.—sesuai dengan penegasan al-Qur'an bahwa w a h y u - w a h y u Allah swt. itu dibawa turun oleh ar-Riih al-Amin, yakni malaikar Jibril as. (baca Q S . asy-Syu'ara [ 2 6 ] : 1 9 3 - 1 9 4 ) . Para ulama menggarisbawahi bahwa ada informasi lain dari Allah swt. y a n g dapat diterima oleh sementara m a n u s i a — t e r m a s u k Nabi M u h a m m a d saw.-—bukan melalui malaikat Jibril as. atau bahkan bukan melalui malaikat. Boleh jadi melalui m i m p i atau percakapan langsung di belakang h ijab atau malaikat y a n g lain (baca Q S . asy-Syura [42J: 5 1 ) . Kaum muslimin juga ikut m e m e l i h a r a otentisitas al-Qur'an dengan banyak cara. Baik dengan menghafalnya, menulis dan m e m b u k u k a n n y a , merekamnya dalam berbagai alat seperti piringan hitam, kaset, C D , dan lainlain. Ini di samping memelihara m a k n a - m a k n a yang d i k a n d u n g n y a . Karena itu, bila ada vang salah dalam menafsirkan maknanya—-kesalahan yang tidak dapat ditoleransi—-atau vang keliru dalam membacanya, akan rampil sekian banyak orang vang meluruskan kesalahan dan kekeliruan itu. A p a yang dilakukan manusia itu tidak terlepas dari taufik dan bantuan Allah swt. guna pemeliharaan kitab suci umat Islam itu.

422

Surah al-Hijr [15]

Kelompok I Ayat 9

Para ulama menggarisbawahi perbedaan antara a h Q u r an dan kitab suci yang lalu dari segi pemeliharaan otentisitasnya. Yang ditugaskan memelihara kitab suci y a n g lalu adalah para penganutnya (saja). (Baca Q S . a l - M a idah [5]: 4 4 ) . Selanjutnya, karena para penganut kitab suci itu lengah dan tidak melaksanakan tugas mereka dengan baik, kitab-kitab suci tersebut hilang atau berubah dengan p e n a m b a h a n , p e n g u r a n g a n , dan pemutarbalikan.

Adapun al-Qur'an, karena Allah swt. yang secara langsung menegaskan bahwa Dia terlibat dalam pemeliharaannya, insya Allah al-Qur'an akan langgeng tanpa perubahan sedikit pun. Sejak dahulu hingga kini. sekian banyak o r a n g — b a h k a n anak-anak

sebelum dewasa—telah m a m p u menghafal keseluruhan ayat-ayat al-Qur'an, bahkan sekian b a n y a k di antara mereka y a n g menghafalnya adalah orangorang y a n g ridak m e m a h a m i artinya. Bahkan, tidak jarang mereka y a n g berhasil meraih juara dalam musabaqah-musabaqah tilawatil Q u r ' a n pada tingkat internasional adalah p e m u d a - p e m u d a y a n g bahasa i b u n y a bukan bahasa a l - Q u f an. Sementara o r a n g — e n t a h dengan maksud baik atau b u r u k — p e r n a h memasukkan satu kalimat dalam rangkaian ayat-ayat al-Qur'an. Kalimat itu adalah shallaAlldhu 'alaihi wa sallam y a n g mereka tambahkan pada Q S . alU J

Fath [ 4 8 ] : 2 9 y a n g berbunyi ( iii J

_UJS ) Muhammadun

Rasulullah.

Sisipan kata itu sebenarnya merupakan penghormatan kepada Nabi saw. dan anjuran u n t u k diucapkan setiap mendengar nama beliau. Tetapi-—kendati d e m i k i a n — i a tidak dibenarkan untuk ditambahkan ke dalam al-Qur'an dan ketika itu juga Mushaf y a n g m e n g a n d u n g tambahan itu d i m u s n a h k a n . Dari hari ke hari. bertambah jelas bukti-bukti kebenaran janji tersebut, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi y a n g digunakan dalam pemeliharaannya. Dahulu, ketika turunnya ayat ini, pernyataan tersebut baru merupakan janji sebagaimana dipahami dari bentuk kata ( 0 j k s l j - ) lahdfizhun, tetapi kini setelah berlalu lebih dari seribu lima ratus tahun, janji itu telah menjadi kenvataan w a l a u p u n sekian banyak u p a y a y a n g dilakukan oleh m u s u h - m u s u h Islam untuk m e n g u b a h atau menghapusnya, dan w a l a u p u n upaya tersebut dilaksanakan pada masa-masa u m a t Islam dalam keadaan lemah dan dijajah. Orang-orang Yahudi y a n g m e m i l i k i p e n g a l a m a n dan

Kelompok [ Ayat 9

Surah al-Hijr [15]

423

keahlian dalam mengubah dan memalsukan kirab suci, kendati berhasil memalsukan ribuan hadits Nabi M u h a m m a d saw., serta m e m u t a r b a l i k k a n sejarah Islam, sedikit pun mereka tidak berhasil m e l a k u k a n perubahan

terhadap al-Qur'an. Ini semua adalah bukti kebenaran janji Allah swt. itu. T h a b a t h a b a ' i y a n g beraliran Syi'ah I m a m i y a h secara panjang lebar m e m b u k t i k a n d a l a m tujuh pasal uraian rentang keterpeliharaan a l - Q u r ' a n dari segala m a c a m perubahan, baik penambahan m a u p u n pengurangan. Rujuklah ke penafsirannya rentang ayat ini u n t u k m e n d a l a m i bukti-bukti yang dipaparkannya. Memang—tulisnya pada pasal tiga—ada riwayat-riwayat dari kalangan Syi'ah dan sekelompok Ahl as-Sunnah yang menyatakan bahwa ada beberapa surah dan ayat-ayat atau redaksi-redaksi yang hilang pada masa pengumpulan pertama vang dilakukan atas perin tali Abu Bakar ra., demikian juga pada p e n g u m p u l a n k e d u a di masa ' U t s m a n . R i w a y a t - r i w a y a t itu—t u l i s n y a — c u k u p banyak vang diriwayatkan oleh kelompok Syi'ah dalam b u k u - b u k u hadits mereka y a n g diakui, bahkan sementara ulama Syi'ah m e n i l a i n y a m e n c a p a i d u a ribu hadits. K e l o m p o k Ahl a s - S u n n a h pun

meriwayatkan hal serupa pada kitab-kitab sahih mereka, seperti Bukhari dan M u s l i m , Abu Daud, an-Nasa'i, Ahmad, dan lain-lain. Imam al-AIusi dalam tafsirnya menyebut bahwa j u m l a h n y a tidak dapat terhitung. Tetapi, tulis Thabathaba i lebih jauh, "Itu semua adalah riwayat-riwayat y a n g tidak dapat diandalkan kesahihannya. Tidak ada satu pun yang mutawdttrata.u memiliki

bukti-bukti y a n g pasti y a n g mengantar akal u n t u k m e n e r i m a n y a . Riwayatriwayat itu saling bertentangan, bahkan sebagian di antaranya ridak serupa dengan gaya redaksi al-Qur'an." Ada juga di antaranya yang bukan merupakan ayat retapi "sisipan" y a n g d i l a k u k a n seseorang sebagai tafsir dan penjelasan m a k n a atau apa y a n g diistilahkan oleh pakar-pakar qird at dengan mudraj.

Sekian banyak contoh yang d i k e m u k a k a u Thabathaba'i serta sekian banyak dalil yang dipaparkannya dan pada akhirnya ulama itu berkesimpulan bahwa a l - Q u r a n y a n g beredar di kalangan k a u m m u s l i m i n dewasa ini adalah alQur'an y a n g d i t u r u n k a n kepada Nabi M u h a m m a d saw. Tidak ada sedikit pun yang hilang dari sifat-sifatnya, pengaruh dan keberkahannya. Demikian lebih kurang Thabathaba'i.

424

Surah al-Hijr [15]

Kelompok I Ayat 10-11

AYAT 1 0 - U

"Dan sesungguhnya

Kami

telah mengutus sebelummu

kepada

kelompok-

kelompok yang terdahulu. Dan tidak datang kepada mereka seorang rasul pun, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. "

Ucapan orang-orang kafir terhadap Nabi M u h a m m a d saw., baik tuduhan gila, lebih-lebih pengingkaran mereka terhadap risalah beliau dan kebenaran a l - Q u r a n , sungguh menyedihkan dan m e n y a k i t k a n hati beliau. Karena itu, Allah swt. m e n g h i b u r N a b i - N y a d e n g a n m e n y a t a k a n bahwa: Dan
,

sesungguhnya Kami telah mengutus sekian banyak manusia sebagai rasul-rasul sebelum Kami mengutus-wa, wahai Nabi M u h a m m a d . Kami telah mengutus mereka itu kepada kelompok-kelompok manusia yang terdahulu. T i d a k satu

malaikat pun yang Kami utus u n t u k m e m b a w a risalah keagamaan kepada manusia. J i k a kini engkau didustakan oleh k a u m m u , demikian itu pula yang dialami oleh rasul-rasul yang Kami utus sebelummu. Dan tidak datang kepada mereka, y a k n i para u m a t terdahulu itu, seorang rasul pun y a n g Kami utus u n t u k mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya jangan bersedih dengan perlakuan k a u m m u terhadapmu. Kata ( ) syiya' adalah bentuk j a m a k dari kara ( ) syi'ah, y a k n i karena itu

pengikut. Kelompok-kelompok d i n a m a i syi'ah karena kelompok-kelompok k u saling mengikuti serta sependapat d a l a m pandangan-pandangan mereka. Penggunaan bentuk kata kerja mudhari'Imasa ya'tihimldatang kini pada kata (
J»^JL )

kepada mereka, padahal uraiannya m e n y a n g k u t masa lalu,

adalah u n t u k menghadirkan dalam benak mitra bicara/pembaca keburukan sikap orang-orang kafir itu, seakan-akan penolakan dan pengingkaran mereka masih sedang terjadi. Kata ( o ) yastahziun terambil dari kata (%^>\) al-huz'u yaitu

m e n a m p a k k a n seakan-akan memuji padahal m a k s u d n y a adalah mencela. Penambahan huruf td 'dan sin pada kata tersebut untuk mengisyaratkan bahwa keinginan mereka memperolok-olokkan itu tidak henti-hentinya dan terusmenerus berlanjut dengan penuh antusias. Demikian al-Biqa i.
t

Kelompok I Ayat 12-13

Surah al-Hijr [15]

425

Di celah ayat di atas, terdapat isyarar tentang kekufuran para penolak kebenaran al-Qur'an sebagaimana tersirat j u g a ancaman kepada mereka karena ayat ini menegaskan persamaan mereka dengan umat-umat y a n g lalu, sedang semua pihak mengetahui bahwa umat yang lalu kafir dan mendurhakai terusmenerus mereka serta dijatuhi sanksi oleh Allah swt.

AYAT 12-13

"Demikianlah, Kami memasukkannya ke dalam hati para pendurhaka. tidak beriman kepadanya dan sesungguhnya telah berlalu sunnah terdahulu. "

Mereka

orang-orang

Boleh jadi terlintas dalam benak siapa y a n g m e n d e n g a r ayat y a n g lalu satu pertanyaan: bagaimana bisa u m a t - u m a t yang lalu itu mengambil sikap y a n g sama, yakni menolak risalah para nabi mereka, padahal mereka hidup pada masa dan tempat y a n g berbeda. Nah, untuk itu avat ini menyatakan bahwa: Sebagai mana yang terjadi terhadap orang-orang kafir yang hidup pada masa lalu itu, demikian jugalah. Kami memasukkannya, a l - Q u r ' a n , ke dalam hati para pendurhaka, yakni pemahaman

yakni orang-orang kafir y a n g

telah m e n d a r a h daging kebejatan dan dosa-dosa d a l a m diri mereka. Tetapi, pemahaman itu tidak mengantar mereka memercayainya. Dengan demikian, mereka tidak beriman kepadanya, y a k n i kepada al-Qur'an atau kepada N a b i M u h a m m a d saw., dan sesungguhnya terdahulu. Ada j u g a ulama lain y a n g m e m a h a m i ayat ini d a l a m arti Allah swt. memasukkan rasa ingkar kepada a l - Q u f a n dan keinginan memperolokolokkan itu ke dalam hati para pendurhaka dan, dengan demikian, kondisi kejiwaan mereka telah berubah; fitrah kesucian y a n g dianugerahkan Allah swr. sebagai potensi yang seharusnya mereka kembangkan telah menjadi bejat dan sangat kotor karena kebatilan itu telah sangat kuat mengakar dalam jiwa mereka dan, dengan demikian, mereka tidak dapat beriman, j i k a makna ini yang A n d a pilih, h e n d a k n y a A n d a ingat bahwa hal tersebut dilakukan Allah telah berlalu sunnah orang-orang

426

Surah al-Hijr [15]

Kelompok I Ayat 14-15

swt. setelah s e b e l u m n y a mereka telah menjadi orang-orang bejat y a n g mendarah daging kebejatan dalam diri mereka sebagaimana ditegaskan oleh kata ( j y y r
1

) al-mujrimin!para

pendurhaka.

B u k a n k a h a y a t di atas

m e n y a t a k a n b a h w a AJIah swt. m e m a s u k k a n rasa ingkar dan keinginan memperolok-olok itu ke dalam hati al-mujriminfpara Kata ( ) kadzdlika pendurhaka?

a d a j u g a y a n g m e m a h a m i n y a d a l a m arti

"Sebagaimana Kami telah m e m a s u k k a n dan mencerahkan hati orang-orang yang beriman dengan al-Qur'an, Kami pun memasukkan kebatilan ke dalam hati para pendurhaka y a n g berbangga dengan dosa-dosanya." Kata ( ) sunnah berarri kebiasaan. Beberapa u l a m a memahami

p e n u t u p ayat di atas, ( j j j ^ l SL-) sunnatu al-awwal'in, dalam arti kebiasaankebiasaan yang diperlakukan Allah swt. terhadap orang-orang terdahulu, yakni j a t u h n y a siksa terhadap para pembangkang. A d a juga vang m e m a h a m i n y a dalam arti kebiasaan u m a t - u m a t terdahulu, yakni kebiasaan mereka selalu m e n o l a k ajakan para nabi dan memperolok-olokkan mereka.

AYAT 14-15

Dan jika seandainya

Kami membukakan

kepada mereka pintu

langit,

lalu

mereka terus-menerus naik ke atasnya, pasti mereka berkata: pandangan kena sihir. " kamilah yang dikaburkan,

"Sesungguhnya

bahkan kami adalah orang-orang yang

Pada avat-ayat yang lalu, telah disinggung permintaan mereka agar malaikat diturunkan Allah swt. dan mereka lihat dan dengar sendiri. Ayat ini berkomentar bahwa janganlah siapa pun mengira b a h w a mereka bersedia beriman jika seandainya usul mereka itu diterima, bahkan jika Kami membukakan seandainya

kepada mereka salah saru pintu dari p i n t u - p i n t u langit, naik ke atasnya sehingga dapat m e n y a k s i k a n

lalu. mereka terus-menerus

berbagai keajaiban dan kekuasaan Allah swt., pasti mereka tetap tidak percaya dan berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yangditutupi serta dikaburkan

w a l a u akal k a m i masih tetap terpelihara sehingga, dengan d e m i k i a n , kami

Kelompok i Ayat 14-15

Surah al-Hijr [15]

427

tetap tidak percaya. "Selanjutnya, mereka berkata: "Bahkan kami adaLih orangorang yang kena sihir. "Demikianlah, pengingkaran yang merasuk kuat dalam hati mereka telah menepis berbagai bukti y a n g ada. F i r m a n - N y a : (L>b ) fatahna alaihim bab ani membukakan

kepada mereka pintu langit bukan berarti m e m u n g k i n k a n mereka naik ke angkasa, tetapi m a k n a n y a adalah m e n g a n t a r mereka m a s u k ke d a l a m l i n g k u n g a n alam ruhani di mana para malaikat bertasbih menyucikan Allah swt. M e m a n g , kata (
^ - . j i )

as-sama '/langit m e l a m b a n g k a n juga m a k n a

keluhuran, kesucian, dan ketinggian. Dari arahnyalah wahyu sering kali ditunjuk dan ke arahnyalah amal-amal kebajikan dinyatakan naik menemui Sang Pencipta. Bahkan, Yang Mahakuasa sering kali dirunjuk sebagai "Berada di atas" sana. P e n u n j u k a n arah atas itu, w a l a u p u n t i d a k s e p e n u h n y a

dibenarkan, demikianlah y a n g sering kali terdengar atau terucap oleh banyak orang termasuk k a u m m u s l i m i n . Kata ( \ j j j i i )fazhallu terambil dari kata ( ) zhalla yang pada m u l a n y a

digunakan untuk menunjuk satu aktivitas yang dilakukan di siang hari, seperti kata ( ^+J\) amset yang digunakan menunjuk sore hari. A g a k n y a , ayat ini menggunakan kata yang menunjuk makna siang hari itu u n t u k menekankan bahwa kenaikan mereka ke pintu langit itu seandainya diadakan di siang hari bolong pun di mana mata dapat memandang dengan jelas dan manusia banyak yang dapat menyaksikannya—seandainya demikian pun keadaannya—mereka tetap tidak akan percaya. D e m i k i a n kesan y a n g diperoleh asy-Sya'rawi dari kata rersebut. Kata ( ci ) sukkirat terambil dari k a t a ( f^~>) sakara y a n g berarti sakrtin karena a k a l n y a

menutup. Seseorang y a n g mabuk dinamai ( & \ )

rertutup sehingga tidak dapat berpikir dengan baik dan kegiatannya tidak terkontrol.

KELOMPOK 2

AYAT 1 6 - 2 5

429

430

Surah al-Hijr [15]

Kelompok II Ayat 16 18

Surah al-Hijr [15]

431

AYAT 16-18

"Dar? sesungguhnya Kami telah menciptakan di langit gugusan dan Kami telah menghiasinya bagi para pemandang,

bintang-bintang menjaganya lalu ia

dan Kami

dari setiap setan yang terkutuk, kecuali yang mencuri-curi pendengaran dikejar oleh semburan api yang terang."

Orang-orang kafir menuntut aneka bukti yang bersifat suprarasional dan tidak sesuai dengan potensi mereka sebagai manusia. S u n g g u h aneh sikap mereka itu, padahal sekian b a n y a k bukti y a n g terhampar dan mereka lihat sehari-hari y a n g dapat mereka g u n a k a n u n t u k mencapai hakikat kebenaran y a n g disampaikan oleh Nabi M u h a m m a d saw. melalui kitab suci al-Qur'an. Ayat-ayat di atas menguraikan sebagian dari bukti-bukri tersebut. Pertama kali y a n g dicuri j uk adalah langit guna menyesuaikan dengan uraian ayat yang lalu yang juga m e n y i n g g u n g tentang langit. Ayat ini menyatakan: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di langit gugusan bintang-bintang yang, jika mereka sadari, tidak perlu lagi mereka

m e n u n t u t aneka bukti dan Kami telah menghiasinya, yakni langit, itu, bagi para pemandang sehingga langit dan hiasannya itu dapat m e m u a s k a n nalar

dan rasa manusia dan mengantarnya percaya kepada keesaan Allah swt. dan, di samping itu, Kayni juga menjaganya dari setiap setan yang terkutuk, kecuali setan yang mencuri-curi pendengaran, y a k n i percakapan para malaikat, lalu

ia dikejar oleh semburan api yang terang. Kata ( £ J > ) buruj adalah b e n t u k j a m a k dari ( ) burj, y a n g dari segi

bahasa bermakna istana atau benteng. Ada ulama yang m e m a h a m i n y a dalam arti bintang-bintang. Ia dinamai d e m i k i a n karena besar dan a g u n g n y a dan

banyak juga yang memahaminya dalam arti tempat-tempat peredaran bintangbintang tertentu. Apa pun m a k n a y a n g dipilih, k e d u a n y a m e n u n j u k k a n kekuasaan Allah swt. Ibn 'Asyur memahami kata ( ) buruj dalam arti yang kedua. Bintang-

bintang itu tampak berbentuk titik-titik yang bila dibuatkan garis dengan mengikuti titik-titik itu, b e n t u k n y a akan terlihat seperti binatang atau alat-

432

Surah al-Hijr [15]

Kelompok II Ayat 16-18

alat tertentu. Dari sini, mereka menamainya dengan nama binatang-binatang atau alat-alat sebagaimana yang terlihat itu. Gugusan bintang itu berada pada jalur peredaran matahari. Orang-orang terdahulu menjadikannya sebagal tempat perjalanan matahari y a n g berjumlah d u a belas sebanyak bilangan bulan-bulan dalam setahun. Yaitu: Kaprikornus Akuarius, Pisces, Aries, Taurus, Gemini, Kanser, Leo, Virgo, Libra, Skorpio, dan Sagitarius. Dahulu, orang percaya bahwa bintang-bintang dan benda-benda langit adalah dewa-dewa y a n g m e m p u n y a i pengaruh pada b u m i dan isinya. Ilmu p e r b i n t a n g a n atau astrologi m e r u p a k a n salah satu c a b a n g sihir y a n g mengetahui gerak benda-benda langit, dipercaya oleh masyarakat dapat mengetahui apa y a n g akan terjadi bagi seseorang, bahkan bagi masyarakat dan manusia seluruhnya. Para peramal m e m b u a t semacam peta bagi setiap orang sesuai dengan posisi bintang-bintang saat kelahirannya karena, menurut mereka, posisi bintang memengaruhi sifat dan pembawaan manusia bahkan menentukan peristiwa-peristiwa yang dialaminya serta menentukan pula saat kematiannya. M u n c u l n y a bintang ini dan bintang itu j u g a dipercaya sebagai pertanda sesuatu. Dalam Perjanjian Baru (Matius 2 ) , disebutkan bahwa orangorang Majusi mengetahui kelahiran 'Isa as. setelah mereka melihat bintangnya di Timur. Atas dasar astrologi, mereka j u g a menentukan hari-hari, bahkan jam-jam vang baik dan b u r u k u n t u k m e l a k u k a n aktivitas. Dari sini, lahir apa yang diduga orang sebagai hari baik dan hari sial. Bahkan, melalui i l m u perbintangan, mereka juga menduga dapat menentukan nasib bangsa-bangsa serta ciri-ciri suatu era karena setiap era m e m p u n y a i bintangnya. Masyarakat Arab Jahiliah pun memercayai hal serupa. Ilmu perbintangan d i m a s u k k a n oleh Nabi saw. dalam bagian ilmu sihir. "Barang siapa yang mempelajari satu ilmu dari bintang-bintang (astrologi), dia telah mempelajari satu bagian dari sihir. Sihirnya akan bertambah dengan bertambahnya ilmu perbintangan itu" (HR. A b u D a u d dan Ibn M a j a h ) . Rasul saw. juga m e m p e r i n g a t k a n bahwa: "Siapa yang berkunjung kepada peramal dan bertanya sesuatu kepadanya (dan ia m e m b e n a r k a n n y a ) , s baiatnya tidak diterima Allah selama empat puluh hari" (HR. M u s l i m dan A h m a d ) . Para a g a m a w a n tidak berbeda pendapat dalam menetapkan kekufuran siapa yang percaya bahwa bintang-bintang adalah tuhan-tuhan, baik dipuja

Kelompok II Ayat 16-18

Surah al-Hijr [15]

433

m a u p u n tidak, dan baik kepadanya diajukan permohonan atau tidak. Adapun b a h w a ia m e m p u n y a i p e n g a r u h t e r h a d a p a k t i v i t a s m a n u s i a — m a k a kepercayaan semacam ini pun sangat tidak direstui Islam—walau para ulama tidak m e n i l a i n y a sebagai kekufuran. Ia adalah suatu k e m u n k a r a n dan

kebodohan yang seharusnya ridak menyentuh seorang muslim. Dalih bahwa potensi b i n t a n g - b i n t a n g d a l a m m e l a h i r k a n p e r i s t i w a baru terjadi jika memenuhi sekian syarat tertentu, tidak mengurangi pandangan negatif ulama dan pemikir Islam terhadap astrologi, dan peminat-peminatnya. "Bintangbintang hanya dijadikan Allah untuk hiasan langit, melontar setan, dan sebagai penunjuk arah bagi manusia. Hanya tiga hal itu yang disebut dalam al-Qur'an." Demikian d i k e m u k a k a n dalam k u m p u l a n hadits sahih Bukhari. Kini, walau kepercayaan menyangkut astrologi sudah tidak sepenuhnya sama dengan kepercayaan masa lampau, dan benda-benda langit tidak lagi dipercaya sebagai dewa-dewa, masih ada saja y a n g percaya bahwa bintangbintang mempunyai pengaruh dalam aktivitas manusia. Bukti lain dari masih tersebarnya sisa-sisa k e p e r c a y a a n itu dapat j u g a terlihat d e n g a n masih banyaknya kolom-kolom "Nasib Anda Hari Ini" yang terhidang pada media massa T i m u r dan Barat. Semoga Allah swt. m e l i n d u n g i kita. Ayat ini b u k a n n y a bermaksud m e m b e n a r k a n p a n d a n g a n masyarakat masa lampau itu, tetapi menegaskan bahwa itu adalah ciptaan Allah swt. dan tunduk kepada kehendak-Nya. Ia bukan dewa, tidak juga keberadaannya menentukan nasib seseorang atati masyarakat. Ayat-ayat di atas menginformasikan bahwa langit dipelihara oleh Allah >wt. dari setan sehingga mereka hanya m a m p u mencuri-curi pendengaran. Kata ( Jjy~>l) istaraqa terambil dari kata ( ) saraqa yang berarti

mencuri. Penambahan h u r u f * / » dan / / J ' p a d a kata itu memberi arti upaya pencurian y a n g disertai oleh rasa takut y a n g mencekam pelakunya. Kata ((*=*-j ) rajim biasa diterjemahkan terkutuk A^n dipahami juga dalam i n i yang hina. Ini karena masyarakat masa lampau melempar seseorang yang ^•;iina. Ada y a n g berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata ( ^r')^) ar\'r>>2 vang berarti batu. Pelemparan orang-orang yang dihina telah dikenal ^ i k zaman Nabi N u h as., sebagaimana diisyaratkan oleh Q S . asy-Syu'ara Io_: 116. Agaknya, h u k u m rajam yang dijatuhkan kepada para p e z i n a y a n g
:

434

Surah al-Hijr [15]

Kelompok II Ayat 16-18

telah menikah j u g a bertujuan m e n g h i n a pelaku kejahatan itu, di samping membersihkan dan membentengi masyarakat dari kejahatan tersebut. Di tempat lain, al-Qur'an mengabadikan ucapan jin y a n g m e n y a t a k a n bahwa: Gl^.aJ-A^ j V l ^ ^ - i J - ^ J ..*\\ . U l i * IfL* Joui GS iSjj

"Sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang, barang siapa yang panah

(mencoba) mendengar-dengarkan

(seperti itu) tentu akan menjumpai ( Q S . al-Jinn [ 7 2 ] : 9 ) .

api yang mengintai (untuk membakarnya)"

M a k s u d n y a , d a h u l u sebelum diutusnya Nabi M u h a m m a d saw. mereka dengan mudah naik ke langit dan dengan tenang mendengarkan pembicaraan para malaikat, tetapi kini, w a l a u masih memiliki kemampuan, upaya menuju ke langit dan ketenangan mendengar pembicaraan itu diusik dengan semburan api. Kalau tadinya mereka dengan leluasa mendengar apa saja, k e m u d i a n menginformasikannya kepada t u k a n g - t u k a n g tenung dan peramal y a n g m e n y e m b a h atau t u n d u k kepada mereka, sejak diutusnya Nabi M u h a m m a d saw. k e m a m p u a n tersebut sudah sangat terbatas sehingga sejak itu mereka hanya dapat mencuri-curi pendengaran. Dengan demikian, kalaupun mereka dapat memberi informasi kepada rekan-rekannya-—manusia atau j i n — m a k a informasi itu hanya sepotong-sepotong atau bahkan keliru. Tidak jarang para peramal yang berhubungan dengan jin membumbui dan menambah-nambah informasi jin yang setengah-setengah itu. Dalam konteks ini, Allah swt. berfirman:

"Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta lagi yang banyak dosa " ( Q S . asy-Sy u'ara' [26]: 221-222). Imam Bukhari meriwayatkan melalui sahabat Nabi saw.. Abu Hurairah, bahwa Nabi saw. bersabda, "Apabila Allah swt. menetapkan suatu ketetapan, para malaikat merendahkan sayap mereka pertanda tunduk pada ketetapan-

Kelompok II Ayat 16-18

Surah al-Hijr [15]

435

N y a bagaikan rantai yang menyentuh batu y a n g halus serta takut kepadaNya. M a k a , apabila ketakutan mereka telah reda, (sebagian) mereka bertanya kepada sebagian y a n g lain, 'Apa y a n g disampaikan Tuhan?' M a k a , y a n g ini menjawab kepada y a n g bertanya, 'Allah swt. menetapkan y a n g hak, Dia Mahatinggi lagi Mahabesar' (sambil menyampaikan apa yang ditetapkan Allah swt.). Ketika itu, para jin vang mencuri-curi pendengaran d a l a m keadaan seperti ini (perawi hadits ini m e n u n j u k k a n tangan kanannya dengan

merenggangkan jari-jarinya satu di atas yang lain). Ketika itu, boleh jadi yang mencuri pendengaran terkena semburan api sehingga membakarnya dan boleh jadi j u g a ia luput dari semburannya sehingga ia m e n y a m p a i k a n n y a kepada jin yang ada di bawahnya dan akhirnya sampai ke b u m i dan diterima oleh tukang sihir atau tenung lalu ia berbohong seratus kebohongan dan ia dipercaya. Orang-orang y a n g m e n d e n g a r dan m e m e r c a y a i n y a berkata, ' B u k a n k a h pada hari ini dan itu ia m e n y a m p a i k a n kepada kira ini dan itu, dan ternyata benar?' yakni benar menyangkut apa yang didengar dari langit." Hadits serupa diriwayatkan juga oleh Imam M u s l i m dalam sahihnya, melalui I bn 'Abbas, dia berkata, ''Aku diberitakan oleh salah seorang sahabat Nabi saw. dari kelompok al-Anshar (penduduk M a d i n a h ) bahwa pada suatu m a l a m mereka d u d u k bersama Nabi saw., tiba-tiba ada cahaya bintang menyembur." Rasul saw. bertanya, "Apa yang kalian duga pada masa Jahiliah bila terjadi semburan demikian?" Mereka menjawab, "Allah swr. dan RasulNya y a n g lebih mengetahui. Kami tadinya berkata (percaya) bahwa pada malam itu lahir atau mati seorang agung." Rasul saw. menjawab, "Ia tidak menyembur karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi Tuhan kita Yang Mahasuci dan M a h a t i n g g i n a m a - N y a , apabila menetapkan sesuatu, para malaikat pemikul 'Arsy (singgasana Ilahi) bertasbih, kemudian penghuni langit di bawah mereka juga bertasbih hingga sampai tasbih kepada penduduk langit dunia." Mereka y a n g berada di bawah para malaikat pemikul 'Arsv bertanya, 'Apa yang difirmankan Tuhan?" M a k a , mereka m e n y a m p a i k a n apa yang difirmankan-Nyaitu. Penduduk langit pun saling bertanya dan memberitakan hingga sampai kepada penghuni langit dunia. Ketika itu, jin mencuri-curi pendengaran, lalu menyampaikannya kepada rekan-rekan mereka. Maka, apa

436

Surah al-Hijr [15]

Kelompok II Ayat 16-18

yang mereka sampaikan sebagaimana yang mereka dengar adalah benar, tetapi mereka m e n c a m p u r n y a dengan kebohongan dan menambah-nambabnya". D e m i k i a n terbaca di atas, baik dari al-Qur'an m a u p u n sunnah, bahwa jin m e m p u n y a i k e m a m p u a n untuk m e n e m b u s angkasa dan mendengar percakapan p e n g h u n i - p e n g h u n i n y a dan bahwa kini langit dijaga dan ada semburan api y a n g dapat m e m b a k a r mereka bila mendekar. Para u l a m a berbeda p e n d a p a t m e n y a n g k u t m a k n a k a t a - k a t a y a n g digunakan al-Qur"an dan sunnah itu. Ada yang berpendapat penjagaan langit,

semburan api, dan sebagainya m e n y a n g k u t persoalan yang dipaparkan ini hanyalah perumpamaan dan penggambaran atau ilustrasi tentang

pemeliharaan Allah swt. terhadap al-Qur'an dari segala m a c a m kerancuan serta penegasan tentang k e t i d a k m a m p u a n j i n m e m b a t a l k a n tuntunan Ilahi. Setan, menurut mereka, adalah l a m b a n g keburukan, kedurhakaan, dan p e m b a n g k a n g a n , malaikat adalah sebaliknya, sedangkan penyemburan api terhadap setan adalah kekukuhan pemeliharaan/penjagaan. Berbeda dengan pendapat ini adalah yang menafsirkannya secara harfiah atau paling sedikit tidak menjelaskan apa yang dimaksud oleh kata-kata yang digunakan kedua sumber ajaran Islam itu. M e r e k a tidak memperranyakan di m a n a penjaga langit itu, siapa mereka, dan b a g a i m a n a mereka melontar karena al-Qurian tidak menjelaskannya, dan tidak juga d i t e m u k a n hadits sahih yang dapat menjadi sumber informasi. M e r e k a m e n e k a n k a n bahwa kita ridak boleh menolak atau m e r a g u k a n persoalan y a n g diinformasikan a g a m a menvangkut penyemburan dengan syihab atau syubub (meteor atau

panah api) dengan dalih ada h u k u m - h u k u m alam yang mengatur peredaran planet-planet dan benda-benda langit, w a l a u p u n dalam saat y a n g sama kita harus mengakui keberadaan dan keniscayaan h u k u m - h u k u m alam itu karena, seperti tulis Sayvid Q u t h u b — s a l a h seorang penganut aliran ini: "Persoalan penjagaan langit, penyemburan setan, dan semacamnya bukan persoalan kita. Apalagi, bukankah tidak mustahil dalam peredarannya itu ia menyemburkan panah-panah api ke arah setan-setan dan jin, dan bukan pulakah peredaran seluruh planet—yang menyemburkan api maupun yang tidak—kesemuanya t u n d u k k e p a d a k e h e n d a k Allah swt. y a n g m e n e t a p k a n tersebut?" hukum-hukum

Kelompok II Ayat 16-18

Surah al-Hijr [15]

437

Selanjutnya, para ulama y a n g menerapkan m a k n a kalimat-kalimat di atas dalam pengertian hakiki-nyd. berbeda pendapat menyangkut kemampuan mencuri pendengaran y a n g dilakukan oleh para jin itu, apakah hingga kini

mereka masih dapat melakukannya atau tidak lagi. Yang menafikan berpegang kepada firman Allah swt.:

"Sesungguhnya mereka benar-benar Syu'am [ 2 6 ] : 2 1 2 ) .

dijauhkan

dari mendengar" ( Q S . asy-

Sedang, yang berpendapat mereka masih dapat m e n d e n g a r k a n — w a l a u dengan sangat terbatas—merujuk kepada firman Allah swt.:

"Mereka menghadapkan orang-orang pendusta"

pendengaran

itu, dan kebanyakan

mereka

adalah

asy-Syuanf [26]: 223).

Kata "mereka", menurut p e n d u k u n g pendapat terakhir ini, adalah para setan/jin itu, b u k a n n y a manusia y a n g menerima berita dari setan. Hadits y a n g diriwayatkan Bukhari di atas m e n d u k u n g pendapat y a n g menyatakan bahwa jin masih memiliki kemampuan mendengar berita-berita langit, tetapi kemampuan tersebut sudah sangat terbatas. Ibn Khaldun dalam Mutfaddirnah-nyi berpendapat bahwa para jin hanya terhalangi mendengar

saru macam dari berita-berita langit yaitu y a n g berkaitan dengan berita diutusnya Nabi M u h a m m a d saw., tidak selainnya. Atau, seperti yang ditulis oleh pakar tafsir, M a h m u d al-Alusi, boleh jadi j u g a keterhalangan itu h a n y a terbatas menjelang kehadiran Nabi M u h a m m a d saw., b u k a n sebelumnya dan bukan j u g a sesudah kehadiran beliau sebagai Rasul. Ayai-ayat di aras berbicara tentang keindahan, yang dirangkaikan dengan pemeliharaan dan kejauhan dari setan. Ini memberi kesan tentang petlunya m e m b e r i perhatian kepada k e i n d a h a n tetapi y a n g disertai dengan pemeliharaan diri dan kejauhan dari segala m a c a m keburukan lahir dan batin serta terhindar dari segala rayuan dan godaan setan.

438

Surah al-Hijr [15]

Kelompok II Ayat 19-20

AYAT 19-20

"Dan Kami telah menghamparkan

bumi dan menjadikan padanya

gunungDan

gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Kami telah menjadikan untuk kamu di sana sarana kehidupan,

dan yang

kamu sekali-kali terhadapnya bukanlah para pemberi rezeki. "

Setelah ayat yang lalu m e n g u r a i k a n sekelumit tentang kekuasaan Allah swt. y a n g terhampar di langit, kini dibicarakan sekelumit y a n g terbentang di b u m i . A l l a h swt. b e r f i r m a n : menghamparkan 'Dan Kami telah menciptakan dan

bumi sehingga menjadi luas terbentang guna m e m u d a h k a n padanya

h i d u p k a m u , kendati Kami menciptakannya bulat, dan menjadikan

gunung-gunung yang mantap dan kukuh agar bumi tidak berguncang sehingga menyulitkan penghuninya dan Kami tumbuhkan dan ciptakanpadanya, yakni di b u m i itu, segala sesuatu menurut ukuran y a n g tepat sesuai h i k m a h ,

kebutuhan, dan kemaslahatan m a k h l u k Dan Kami telah menjadikan sebagai anugerah dari Kami untuk kamu di sana, y a k n i di b u m i , segala sarana kehidupan, baik vang berupa kebutuhan pokok m a u p u n pelengkap, dan wahai

Kami menciptakan pula m a k h l u k - m a k h l u k yang kamu sekali-kali,

y a n g merasa kuat di bumi, terhadapnya, y a k n i terhadap m a k h l t t k - m a k h l u k itu bukanlah para pemberi Firman-Nya: ( J j j j ^ syai'in mauziininldan ukuran rezeki. J i " j* l ^ J taJU ) w a anbatnd fihd rniu kulli padanya segala sesuatu menurut

Kami tumbuhkan

d i p a h a m i oleh s e m e n t a r a u l a m a d a l a m arti b a h w a A l l a h swt. di b u m i ini a n e k a r a g a m t a n a m a n untuk

menumbuhkembangkan

k e l a n g s u n g a n h i d u p dan m e n e t a p k a n bagi setiap t a n a m a n itu m a s a pertumbuhan dan penuaian tertentu, sesuai dengan kuantitas dan kebutuhan m a h k l u k hidup. Demikian juga, Allah swt. menentukan b e n t u k n y a sesuai dengan penciptaan dan habitat alamnya. D a l a m tafsir al-Muntakhab, ayat ini dinilai sebagai menegaskan suatu

t e m u a n i l m i a h y a n g diperoleh melalui pengamatan di laboratorium, y a i t u setiap kelompok tanaman masing-masing m e m i l i k i kesamaan dilihat dari

Kelompok II Ayat 21

Surah al-Hijr [15]

439

sisi luarnya; demikian juga sisi dalamnya. Bagian-bagian tanaman dan sel-sel yang digunakannya untuk pertumbuhan memiliki kesamaan-kesamaan yang praktis tak berbeda. M e s k i p u n antara satu jenis dan lainnya dapat dibedakan, s e m u a n y a dapat diklasifikasikan dalam satu k e l o m p o k y a n g sama. Kata ( J^\** ) m.a'dyisy adalah bentuk j a m a k dari kata ( ) ma'isyah

yang pada m u l a n y a berarti memiliki kehidupan. M a k n a ini kemudian beralih berarti sarana kehidupan. yj ) wa man lastum lahu birdziqin/dan yang

Firman-Nya: ( j^j^y. « d

kamu sekali-kali terhadapnya bukanlah para pemberi rezeki berbicara tentang m a k h l u k - m a k h l u k Ilahi y a n g l e m a h dan yang bertebaran di b u m i ini, baik manusia y a n g lemah karena tua, sakit, atau anak-anak m a u p u n binatangb i n a t a n g melata y a n g m e m b u t u h k a n b a n t u a n m a n u s i a y a n g m e m i l i k i k e m a m p u a n . Penggalan ayat ini bermaksud menggarisbawahi bahwa Allah swt. telah menyiapkan segala sesuatu guna k e n y a m a n a n hidup manusia di bumi ini. Mereka dapat bekerja, bertani, berdagang, dan sebagainya, Bahwa ada di antara penghuni b u m i yang lemah, itu bukan berarti bahwa yang kuat adalah y a n g m e m b e r i mereka rezeki sehingga dapat bertahan hidup. Tidak s a m a sekali. B u k a n mereka y a n g m e m b e r i n y a rezeki, tetapi Allah swt. Bagaimana m u n g k i n manusia-manusia yang merasa kuat itu vang memberi mereka rezeki, padahal mereka sendiri dianugerahi rezeki oleh Allah swt. Itu semua m e n u n j u k k a n betapa kuasa Allah swt.

AYAT 21

"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. "

dan

Setelah menjelaskan bahwa segala anugerah rezeki bersumber sematamata dari Allah swt., dan bahwa kadar rezeki y a n g diterima masing-masing berbeda-beda, ditegaskan-Nya bahwa. Dan tidak ada sesuatu pun yang w u j u d di alam raya ini melainkan pada sisi Kami-lah sendiri, tidak sedikit pun di sfsi selain Allah, khazanahnya; Kami yang menciptakan nya, menguasai, dan

440

Surah al-Hijr [15]

Kelompok II Ayat 21

juga m e m b a g i n y a sesuai dengan kehendak dan kebijaksanaan Kami. Kami tidak menurunkannya, yakni menciptakan, menganugerahkan, dan memberi m a k h l u k k e m a m p u a n u n t u k m e n g g u n a k a n n y a melainkan dengan yang tertentu sesuai dengan keadaan masing-masing m a k h l u k . Kata ( J>\;f -) khazd 'in adalah bentuk j a m a k dari kara ( hjy>-) yang pada m u l a n y a berarti tempat menyimpan sesuatu guna khaztnah ukuran

memeliharanya/

lemari. Ayat ini mengibaratkan kekuasaan Allah swt. menciptakan dan mengatur segala sesuatu seperti keadaan seseorang yang menguasai segala yang berada d a l a m lemari. D i a p e m i l i k k u n c i n y a , y a n g kuasa m e m b u k a n y a sekaligus berwenang mengeluarkan apa y a n g terdapat d a l a m lemari itu dan membaginya u n t u k siapa vang Dia kehendaki. Beberapa u l a m a m e m a h a m i bahwa ayat ini h a n y a berbicara tentang air yang diturunkan dari langit dengan alasan bahwa konteks ayat ini berbicara tentang rezeki. Akan tetapi, pendapat ini kurang tepat, bukan saja karena rezeki mencakup anugerah lahir dan batin, tetapi j u g a karena ( j * min syaiitidak o\) in

ada sesuatu pun merupakan redaksi yang bersifat u m u m ,

m e n c a k u p segala sesuatu. A d a j u g a yang m e m a h a m i n y a d a l a m arti unsurunsur yang berbeda-beda yang dari perpaduan nya terjadi atau tercipta sesuatu. Allah swt. telah menyediakan di alam raya ini dalam jumlah y a n g sangat besar dan tidak akan habis aneka ciptaan dan faktor yang merupakan unsurunsur murlak bagi kehidupan makhluk, seperti udara, cahaya, kehangatan, dan lain-lain. Semua itu telah diciptakan Allah swt. dan semata-mata berada d a l a m k e k u a s a a n dan w e w e n a n g - N y a , dan hal-hal tersebut d e m i k i a n m e l i m p a h , tetapi karena r a h m a t - N y a kepada m a k h l u k , Dia tidak m e n u r u n k a n n y a kecuali d a l a m kadar tertentu. Menurut Sayyid Quthub, makna kata (&\ Ji\j?~) khazd 'in Allah semakin jelas setelah manusia mengetahui ciri unsur-unsur alam raya dan pembentukan komponen-komponennya. Kliazd 'in air yang pokok, misalnya, adalah bagianbagian kecil dari hidrogen dan oksigen dan bahwa bagian dari khazd'in rezeki pada tumbuhan yang berwarna hijau adalah cahaya yang dipancarkan matahari dan sebagainya. Hal yang serupa dengan ini banyak sekali y a n g menjelaskan m a k n a khazd'in Allah. Itu y a n g telah diketahui manusia. Tetapi, betapapun

Kelompok II Ayat 22

Surah al-Hijr [15]

441

banyak y a n g telah terungkap, ia sebenarnya sedikit, bahkan sedikit sekali jika dibandingkan dengan apa y a n g berada di sisi Allah swt. H a k i k a t y a n g d i k e m u k a k a n ini, w a l a u p u n benar adanya, m e m a b a m i ayar tersebut demikian masih j u g a membatasi redaksi y a n g bersilat u m u m itu. Karena itu, penulis cenderung m e m a h a m i n y a dalam pengertiannya vang u m u m mencakup segala anugerah Allah swt. yang diberikan-Nya, baik kepada jenis m a k h l u k m a u p u n kepada setiap individu. D a l a m konteks ini, antara lain Allah swt. berfirman;

"Jikalau Allah melapangkan rezeki bagi haniba-hamba-Nya, akan melampaui dikehendaki-Nya. hamba-Nya batas di bumi, tetapi Allah menurunkan Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui

tentulah

mereka

sesuai kadar yang (keadaan) hamba-

lagi Maha Melihat"(QS.

asy-Syura [ 4 2 ] : 2 7 ) .

Ayat ini-—seperti diisyaratkan di atas—tidak hanya terbatas pengertiannya pada hal-hal y a n g bersifat material, tetapi juga y a n g immateriah Karena itu, dapat juga dikatakan bahwa tidak ada ketenangan batin atau keresahan dan musibah y a n g m e n i m p a m a n u s i a kecuali sesuai k e t e n t u a n y a n g telah ditetapkan Allah swt. dan sejalan dengan h i k m a h kebijaksanaan-Nya.

AYAT 2 2

"Dan Kami menurunkan

telah meniupkan

angin

untuk

mengawinkan

maka

Kami dan

dari langit air, lalu Kami

beri kamu minum dengannya "

sekali-kali bukanlah kamu para penyimpannya.

Setelah ayat y a n g lalu berbicara tentang langit dan bumi, kini diuraikan tentang angin. Allah swt. berfirman: "Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan menurunkan b u t i r - b u t i r a w a n maka dari hasil p e r k a w i n a n itu dan langit air, y a k n i hujan, lalu Kami beri kamu Kami minum

442

Surah al-Wjr 05]

Kelompok 1 Ayat 22 1

dengannya,

y a k n i d e n g a n air itu, dan sekali-kali

bukanlah

kamu

para

penyimpannya. Kata ( £3ijl) laivaqih adalah bentuk j a m a k dari kata ( v&i) laqih yaitu unta betina yang m e n a m p u n g [ ) liqoh. K.ata.liqdh berarti air/sperma atau baik binatang, tumbuhan, atau

benih kelahiran anak yang dikandung jantan,

manusia. Ini mengantar betina yang m e n a m p u n g n y a melahirkan anak. Boleh jadi j u g a kata ( j i ' j l ) lawaqih merupakan bentuk j a m a k dari kata ( muUjih, yakni jantan yang m e m b u a h i betina. M u h a m m a d Sayyid Thanthawi menilai bahwa penggunaan kata ini oleh al-Qur'an adalah sangat tepat karena, dengan d e m i k i a n , ayat ini )

mengisyaratkan fungsi angin y a n g dapat mengantar penyerbukan t u m b u h t u m b u h a n dan j u g a angin y a n g m e n g a n d u n g butir-butir air y a n g k e m u d i a n m e n u r u n k a n hujan. Pendapat serupa d i k e m u k a k a n sebelumnya oleh Ibn 'A syur. D a l a m tafsir al-Muntakhab dinyatakan bahwa ayat. ini m e n u n j u k k a n

apa y a n g d i b u k t i k a n oleh perkembangan i l m u pengetahuan modern bahwa a n g i n m e r u p a k a n faktor p e n t i n g d a l a m p e n y e r b u k a n p a d a t u m b u h tumbuhan. Selain itu, sebelum awal abad dua puluh belum pernah diketahui bahwa angin m e m b u a h i awan dengan sesuatu y a n g menghasilkan hujan. Sebab, proron-proton y a n g terkonsentrasi di bawah molekul-molekul uap air untuk menjadi rintik-rintik hujan y a n g ada di dalam awan merupakan komponen u t a m a air hujan y a n g dibawa angin ke tempat b e r k u m p u l n y a awan. Proton-proton itu m e n g a n d u n g unsur garam laut, oksida, dan unsur debu yang dibawa angin. Itu semua merupakan zat penting yang menciptakan hujan. Selain itu, ditemukan pula bahwa hujan terjadi dari perputaran air. Mulai dari penguapan air di p e r m u k a a n b u m i dan permukaan laut dan berakhir dengan turunnya kembali uap itu ke atas p e r m u k a a n bumi dan laut d a l a m bentuk air hujan. Air hujan vang turun, itu menjadi bahan p e n y i r a m bagi semua m a k h l u k hidup, termasuk bumi itu sendiri. Air hujan y a n g turun itu tidak dapat dikendalikan atau ditahan karena akan meresap ke dalam tubuh berbagai m a k h l u k h i d u p dan ke dalam tanah untuk k e m u d i a n menguap

Kelompok II Ayat 22

Surah al-Hijr [15]

443

lagi. Dan begitu seterusnya. D e m i k i a n lebih kurang d a l a m b u k u tafsir alMuntakhab yang disusun oleh sekelompok pakar Mesir.

Penulis kurang setuju menjadikan ayat ini sebagai berbicara tentang fungsi angin d a l a m p e n y e r b u k a n pada t u m b u h - t u m b u h a n , w a l a u p u n hakikat tersebut tidak dapat dipungkiri dari segi ilmiah. Dalam buku al-Qur'an Membumikan

penulis m e n y a t a k a n bahwa seseorang yang tidak memerhatikan J ) arsalna ar-riydhd
t

h u b u n g a n antara kata ( ^S)j!

laivdqiha/Kami Uji la)

telah meniupkan angin untuk mengawinkan dengan kata ( u sUJJ* y fdanzalnd

min as-sarna 'i ma 'anhnaka Kami menurunkan dari langit air akan dalam

menerjemahkan dan m e m a h a m i kata ( ^JMji) lawdqihlmengawinkan

arti m e n g a w i n k a n t u m b u h - t u m b u h a n . N a m u n , bila diperhatikan dengan s a k s a m a b a h w a k a t a tersebut b e r h u b u n g a n d e n g a n kata s e s u d a h n y a , laivdqih

p e m a h a m a n tersebut tidaklah pada rempatnya. Ini karena kata

berhubungan dengan kata yang sesudahnya, yaitu turunnya hujan, hubungan sebab dan akibat sebagaimana dipahami dari penggunaan huruf f j ) fa/maka. Ini berarti perkawinan y a n g dilakukan angin itu mengakibatkan t u r u n n y a hujan, bukan mengakibatkan t u m b u h n y a t u m b u h a n . Ini karena tidak ada h u b u n g a n langsung serta sebab dan akibat antara perkawinan awan dan t u m b u h n y a tumbuhan. Seandainya yang dimaksud ayat di atas adalah fungsi angin dalam m e n g a w i n k a n t u m b u h a n , tentu redaksi ayat tersebut akan berbunyi: maka tumbuhlah tumbuhan dan siaplah buahnya untuk bukan seperti bunyi ayat di atas, maka Kami menurunkan hujan. F i r m a n - N y a : (ay£\±jLJ& ) fa asqaind kumuhallalu Kami beri kamu dimakan

dari langit air

minum dengannya m e n u n j u k k a n bahwa demikian kuasa Allah swt. sehingga segala sesuatu terpulang kepada-Nya, w a l a u dalam hal m e n e g u k air. Allah swt. menciptakan manusia m e m b u t u h k a n air dan menciptakan air dapat d i m i n u m manusia, semua itu adalah kuasa dan w e w e n a n g - N y a sehingga sebenarnya, hai manusia, bahkan seluruh makhluk, k a m u semua sangat m e m b u t u h k a n Allah swt. Jika Dia menghalangi air atau menjadikan semua air asin, niscaya k a m u semua tidak dapat bertahan hidup. Firman-Nya: ( jyjl£ ^ ^ 1 U j ) wa ma antum lahu bikhdzinin/dan kali bukanlah kamu para penyimpannya d a p a t berarti b a h w a sekalitempat

444

Surah al-Hijr [15]

Kelompok II Ayat 23

penyimpanan

hujan di langit dalam kekuasaan m e n c i p t a k a n air hujan,

mengelola turunnya serta kadar air y a n g t u r u n bukanlah berada dalam wewenang manusia. M e m a n g , manusia dewasa ini melalui pengetahuannya dapat m e n u r u n k a n h u j a n b u a t a n , tetapi i t u b u k a n berarti manusia

menciptakan hujan karena keberhasilan hujan buatan tergantung oleh beberapa faktor y a n g berada di luar k e m a m p u a n manusia, antara lain faktor mengandung tidaknya awan butir-butir air.

AYAT 23

"Dan sesungguhnya Kami mematikan

benar-benar

Kami-lah yang menghidupkan Pewaris."

dan

dan Kami (pulalah) para

Serelah berbicara secara u m u m tentang sebab-sebab kehidupan manusia dan t u m b u h - t u m b u h a n , kini ayat ini menegaskan kekuasaan Allah swt. menghidupkan dan m e m a t i k a n , setelah s e b e l u m n y a m e n g i s y a r a t k a n

kekuasaan-Nya itu dalam m e m b i n a s a k a n dan m e m b a n g k i t k a n masyarakat serta m e n g a n u g e r a h k a n air dan menjadikannya segar untuk d i m i n u m . Di sini, Allah swt. menegaskan bahwa: Dan sesungguhnya Kami hanva Kami-lah mematikan yang menghidupkan benar-benar

m a k h l u k material dan spiritual dan

mereka dan Kami pulalah para Pewaris dari segala apa yang

ditinggalkan oleh m a k h l u k - m a k h l u k y a n g pernah hidup itu. Kata ( j y y J i ) al-iudritsim terambil dari akar kata yang terdiri dari hurufhuruf tuauw, ra, dan t$a \ M a k n a n y a berkisar pada peralihan sesuatu kepada sesuatu y a n g lain. Dari sini, lahir kata {
CJJJ )

waratsa, y a k n i mewarisi, baik

materi m a u p u n selainnya, baik karena keturunan m a u p u n sebab y a n g lain. Az-Zajjaj mengartikan al-warits ada yang pergi. Dalam al-Qur'an, kata itu hanya ditemukan sekali dalam bentuk tunggal, yaitu dalam Q S . al~Baqarah [ 2 ] : 2 3 3 , dan lima kali dalam bentuk j a m a k , dua di antaranya m e n u n j u k kepada Allah swt. dan tiga lainnya menunjuk kepada manusia. sebagai segala sesuatu yang tinggal setelah

Kelompok II Ayat 23

Surah al-Hijr [15]

445

I m a m Ghazali m e m a h a m i kata al-Wdrits kepada-Nya

dalam arti Dia yang

kembali al-Wdrits

kepemilikan setelah kematian para pemilik. Allah swt.

y a n g m u t l a k karena semua akan mati dan h a n y a Dia y a n g kekal abadi. Dia vang akan berseru di hari Kemudian ( p j J i ^ kepunyaan siapakah kerajaanpada
s

j i ) limun al-mulku

al-yaumal

hari / ? « ? T i a d a y a n g menjawab sehingga Ji ) lilldhi. al-Wdhid al-Qahhdr/

Dia sendiri y a n g menjawab, ( y^&\

kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan M u ' m i n [40] : 1 6 ) . Dari a l - Q u r a n ditemukan penegasan-Nya bahwa:
;

(QS. Ghafir/ab

"Sesungguhnya Kami

mewarisi bumi dan semua yang ada di atasnya, mereka dikembalikan"

dan

hanya kepada Kami-lah

(QS. M a r y a m [ 1 9 ] : 4 0 ) ,

bahkan bukan h a n y a bumi tetapi seluruh alam raya:

"Kepunyaan Allah-lah Ali 'Imran [ 3 ] : 1 8 0 ) .

segala ivarisan (yang ada) di langit dan di bumi" (QS.

A l l a h swt. j u g a disifati oleh N a b i Z a k a r i a as. k e t i k a berdoa agar dianugerahi keturunan sebagai ( orJjijJ j > ) Khairu ah
1

Wdntsin!Sebaik-baik

Yang Mewarisi (QS. al-Anbiya [21]: 8 9 ) . Betapa Dia tidak wajar menyandang sifat ini, b u k a n k a h sekian b a n y a k y a n g mewarisi y a n g menjadi penghalang bagi ahli waris yang lain sehingga menjadi mahjiib/terhalangi sehingga tidak

berhak m e n e r i m a warisan, w a l a u p u n statusnya adalah ahli waris? Bukan pulakah ada di antara mereka y a n g berusaha berlaku curang atau menerima warisan untuk digunakan secara ridak wajar? Memang, ada yang berlaku baik bahkan menyerahkan sebagian atau keseluruhan h a k n y a kepada orang lain, tetapi mereka semua mewarisi m i l i k orang lain (keluarga), berbeda dengan Allah swt. y a n g mewarisi m i l i k - N y a sendiri y a n g pernah dititipkan kepada orang lain. Selanjutnya, apa y a n g diwarisi-Nya itu diserahkan pula kepada h a m b a - h a m b a - N y a yang lain. Dalam kehidupan dunia, Allah swt. tidak hanya mewariskan harta, tanah/ daerah, (QS. al-Ahzab [ 3 3 ] : 2 7 ) , tetapi juga kitab suci, (QS. Fathir [ 3 5 ] : 32)

446

Surah al-Hijr [15]

Kelompok II Ayat 24-25

bahkan atas izin-Nya seseorang dapat mewarisi ilmu dan hikmah sebagaimana Nabi S u l a i m a n as. mewarisi dari ayah beliau, Nabi Daud as. (QS. a n - N a m l [ 2 7 ] : 16). N a m u n , y a n g terpenting dari semua itu adalah bahwa: (lij o&Cy irt Kami yang

"Surga, yang akan Kami (Allah) wariskan kepada hamba-hamba selalu bertakwa"(QS.

M a r y a m [ 1 9 ] : 6 3 ) . M e r e k a y a n g mewarisi surga itulah

vang wajar m e n y a n d a n g sifat ini di dunia dan di akhirat kelak. M e n a r i k untuk d i k e m u k a k a n bahwa ketika Allah swt. m e n u n j u k diriNya sebagai pelaku pewarisan, al-Qur'an selalu menggunakan bentuk jamak. Bahkan, seperti d i k e m u k a k a n di atas, tidak d i t e m u k a n kata Wdrits dalam bentuk tunggal dan semua kata yang m e n u n j u k diri-Nya sebagai Penerima Warisan selalu dalam bentuk jamak. Agaknya, hal ini u n t u k mengisyaratkan bahwa AJfah swt. akan mengembalikan (ganjaran) apa yang diwarisi-Nya itu kepada hamba-hamba-Nya juga jika mereka berbuat baik, dan

mengembalikan pula sanksi dari yang diwarisi-Nya dari kejahatan-kejahatan mereka.

AYAT 2 4 - 2 5

"Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu kamu dan sesungguhnya Sesungguhnya Kami mengetahui Dia-lah (pula) orang-orang

dari yang

terkemudian.

Tuhanmu,

yang akan

menghimpun

mereka. Sesungguhnya Dia Mahabijaksana

lagi Maha Mengetahui. "

Setelah menjelaskan kekuasaan-Nya mematikan dan menghidupkan, dan bahwa Dia adalah Pewaris segala sesuatu, dijelaskan-Nya pula bahwa semua Itu berada dalam liputan ilmu-Nya. U n t u k menjelaskan hal ini, Allah swt. dalam firman-Nya di atas menekankan bahwa: Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu dari kamu, y a k n i y a n g telah pula

meninggal d u n i a sebelum kamu, dan sesungguhnya Kami mengetahui orang-orang yang terkemudian,

yakni yang masih hidup walau seandainya

Kelompok II Ayat 24-25

Surah al-Hijr [15]

447

mereka berusaha untuk mengakhiri hidupnya. Sesungguhnya Tuhanmu yang selalu berbuat baik kepadamu, wahai Nabi M u h a m m a d , Dia-lah sendiri yang akan menghimpun mereka di padang Mahsyar setelah kematian mereka semua. Sesungguhnya Dia adalah Mahahijaksana menempatkan segala sesuatu pada segala sesuatu, sampai ke

tempatnya y a n g tepat lagi Maha Mengetahui per'meian-perinciannya yang terkecil.

Para u l a m a berbeda p e n d a p a t tentang m a k n a kata ( j mustaqdimin

-

) alIa

y a n g diterjemahkan di atas dengan yang telah terdahulu.

terambil dari kata ( f Ji ) qadima y a n g berarti tampil ke depan

mendahului.

Al-Biqa'i m e m a h a m i n y a d a l a m arri yang terdahulu mati. Tulisnya: "Seakanakan kematian rampil mendahuluinya, walaupun yang bersangkutan dengan keluarganya berupaya untuk menghambat laju maut dengan berbagai cara." Lawan dari kata ini a d a l a h ( j j ^ t u J , ; ) al-musta'khirm. m e m a h a m i kata al-mustaqdimin Ada juga yang

dalam arti orang yang taat dan lawannya

adalah yang durhaka, atau yang tampil ke depan dalam medan juang dan lawannya adalah yang m u n d u r patah semangat d a l a m berjuang, atau y a n g tampil pada saf pertama dalam shatat dan lawannya adalah yang berada pada saf di belakang. Jika memerhatikan konteks uraian, a g a k n y a pendapat y a n g d i k e m u k a k a n antara lain oleh al-Biqa i di atas adalah pendapat yang paling tepat. H u r u f j-iw dan ta'pada kedua kata di atas berfungsi menguatkan m a k n a kematian dan kelanjutan hidup siapa yang dibicarakan ayat ini. Firman-Nya: ( ^ j - i ^ j& dljj 5 l j ) wa inna Rabhaka huwayahsyuru-huml

sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang akan menghimpun kamu merupakan natijahlhasil dari pernyataan sebelumnya b a h w a Dia y a n g m e n g h i d u p k a n

dan m e m a t i k a n . Ini karena siapa y a n g kuasa m e n g h i d u p k a n pertama kali sebelum adanya wujud, lalu m e m a t i k a n n y a setelah k e h i d u p a n — s i a p a yang kuasa m e l a k u k a n hal i t u — t e n t u m a m p u j u g a m e n g h i d u p k a n n y a kembali setelah kematian, bahkan kehidupan yang kedua dan penghimpunannya jauh lebih mudah—dalam pertimbangan logika manusia—-daripada

m e n g h i d u p k a n n y a pertama kali. Bukankah yang d i h i d u p k a n kembali itu sudah pernah m e n g a l a m i hidup sebelumnya? Bahkan, boleh jadi sisa dari wujudnya yang lalu masih ada, katakanlah sisa-sisa tulang belulangnya, berbeda

448

Surah al-Hijr [15]

Kelompok II Ayat 24-25

dengan yang d i h i d u p k a n pertama kali yang sama sekali belum m e m i l i k i w u j u d sebelumnya. Di sisi lain, Allah swt. y a n g m e m a t i k a n m a k h l u k / manusia lalu menghidupkan kembali apa yang telah dimatikan-Nya itu, tentu saja m e m p u n y a i tujuan dalam m e n g h i d u p k a n n y a kembali karena, jika tidak demikian, tentu ketetapan-Nya mematikan dan menghidupkan kembali itu dapat dinilai sebagai permainan atau perbuatan sia-sia. J i k a m e m a t i k a n dan m e n g h i d u p k a n kembali itu tanpa h i k m a h kebijaksanaan, tentu saja akan timbul pertanyaan m e n g a p a tidak sejak semula saja k e h i d u p a n pertama dilanjutkan tanpa kematian? H i k m a h tersebut diisyaratkan d a l a m Q S . alM u l k [ 6 7 ] : 2:
Z

<X£ £ 3

Op" L £

"Dia yang menjadikan

mati dan hidup supaya Dia menguji kamu siapa di

antara kamu yang lebih baik amalnya, "dan karena itu pula p e n u t u p ayat 2 5 vang ditafsirkan di atas menyatakan: "Sesungguhnya Dia adalah lagi Maha. Mengetahui." Mahahijaksana

KELOMPOK 3

AYAT 2 6 - 4 8

*

jp—

#

s*

w

^

v-

b

S ^ ^

J*\S*

2\

449

450

Surah al-Hijr [15]

Kelompok III Ayat 26-27

Surah al-Hijr [15]

451

AYAT 2 6 - 2 7

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

manusia dari tanah liat kering jin

Dan Kami telah menciptakan

sebelumnya dari angin yang sangat panas. "

Ayat ini dan ayat-ayat berikut memerinci peristiwa kejadian/kehidupan manusia di persada bumi ini setelah ayat yang lalu menegaskan bahwa Allah swt. y a n g m e n g h i d u p k a n dan m e m a t i k a n , dan bahwa Dia M a h a b i j a k s a n a lagi M a h a Mengetahui. Apa y a n g dikemukakan pada ayat yang lal u diuraikan buktinya oleh kelompok ayat-ayat ini. Di sini, Allah swt. berfirman: sesungguhnya Kami telah menciptakan Dan

manusia, yakni A d a m , dari tanah liat

kering vang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelumnya, yang sangat panas. Kata ( J L A U ? ) shalshal terambil dari kata ( i L a U ? ) shalshalah yaitu suara keras yang bergema akibat ketukan. Yang dimaksud di sini adalah tanah yang sangat keras dan kering. Kata ini serupa maknanya dengan ( j i k i l i ) al-fakhkhar. H a n y a saja, kata terakhir ini d i g u n a k a n u n t u k tanah y a n g keras akibat pembakaran dengan api, berbeda dengan shalshal y a n g kekeringan dan kekerasannya tanpa pembakaran. Karenaitu, pada Q S . ar-Rabmim [ 5 5 ] : 14, Allah swt. berfirman: yakni sebelum penciptaan Adam., dari angin

"Allah menciptakan

manusia dari shalshal yang serupa dengan al-fakhkhar. "

Yang serupa dengannya itu adalah shalshal. Kata ( U-) hama'adalah tanah yang bercampur air lagi berbau, sedangkan kata ( j ^ ~ * a ) masnun berarti dituangkan sehingga siap dan dengan m u d a h

dibentuk dengan berbagai bentuk yang dikehendaki. Ada juga yang memahami kata ini dalam arti y a n g telah lama sehingga kedaluwarsa. Ia terambil dari kata ( ) as-sanah yang berarti tahun. Dengan kara lain waktu yang lama.

452

Surah al-Hijr [151

Kelompok III Ayat 26-27

Thahir Ibn 'Asyiir berpendapat bahwa tujuan uraian ayar ini adalah untuk m e m b u k t i k a n betapa m e n g a g u m k a n Allah swt. dalam ciptaan-Nya. Dia menciptakan dari unsur-unsur yang remeh dan menjijikkan itu satu makhluk, vakni manusia, yang merupakan tokoh u t a m a jenis m a k h l u k a l a m material y a n g hidup. Ayat ini tidak bertentangan dengan ayat-ayat lain yang berbicara tentang asal kejadian manusia (Adam as.) karena aneka istilah y a n g d i g u n a k a n alQur'an menunjukkan tahapan-tahapan kejadiannya, la tercipta pertama kali dari tanah lalu tanah itu dijadikannya { ) thin [tanah bercampur air),

k e m u d i a n thin itu m e n g a l a m i proses dan irulah y a n g diisyaratkan oleh (J a U JA ) min h ani a'i n masnun dan ini dibiarkan hingga kering dan irulah >

y a n g menjadi ( J u ^ U s ) shalshal. Kata ( ^ \ ) al-jdnn seakar dengan kata ( j* ) jinn y a n g terambil dari yang berarti menutup/tertutup. Sementara ulama

akar kata ( j ^ r ) janana

memahami kata al-jdnn pada ayat ini dalam arti bapak dari kelompok makhluk yang dinamai jin, sebagaimana A d a m as. adalah b a p a k dari kelompok

m a k h l u k vang dinamai insani manusia. Ada juga yang mempersamakan kata tersebut dengan jin, apalagi menurut penganut pendapat ini uraian tentang mereka diperhadapkan dengan uraian tentang inslmanusia. Kata ( *js^ ) samuni berarti angin yang sangatpanas yang menembus masuk ke tubuh. Ada juga yang m e m a h a m i n y a dalam ain api yang tanpa usap. Dalam Q S . a r - R a h m a n [ 5 5 ] : 15 d i n y a t a k a n bahwa ( jU y> ^ j U y 6Uri j J ^ j ) w a

khalaqa al-jdnna min marijin min ndrin/dan jdrin diciptakan dari nyala api. Dari g a b u n g a n kedua ayar ini dapat d i k a t a k a n bahwa angin panas mengakibatkan kebakaran sehingga m e n i m b u l k a n nyala api, dari nyala api itulah jin diciptakan. Demikian, kedua avat tersebut tidak bertentangan dan saling melengkapi informasi tentang asal kejadian m a k h l u k tersebut. Ini berarti b a h w a asal kejadian manusia dan jdnn/jin sungguh sangat berbeda. Jin tercipta dari angin panas vang m e n i m b u l k a n api, sedang manusia seperti yang telah Anda ketahui.

Kelompok III Ayat 28-31

Surah al-Hijr [15]

453

AYAT 2 8 - 3 1

"Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,

"Sesungguhnya Aku hitam

akan menciptakan seorang mati usia dan tanah liat kering dari lumpur yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakannya, Ku-tiupkan ke dalamnya nih (ciptaan)-Ku, keadaan sujud. " Maka,

dan telah dalam

maka tunduklah kepadanya itu semuanya

bersujudlah para malaikat

bersama-

sama, tetapi iblis enggan bersama-sama dengan para yang sujud itu. "

Sebenarnya nikmat penciptaan dan kehadiran di pentas bumi ini sudah cukup untuk mendorong manusia taat dan mensyukuri Allah swt., terapi sebagian orang tidak sadar. M a k a , ayat ini m e n y e b u t k a n nikmat lain yang lebih besar, yaitu keutamaan yang dianugerahkan Allah swt. kepada manusia sambil menjelaskan sebab kesesalan manusia. U n t u k itulah ayat di atas d i k e m u k a k a n sesudah a y a t 2d d a n 2 7 y a n g lalu. D e m i k i a n a l - B i q a i m e n g h u b u n g k a n n y a . Ayat ini m e n u r u t n y a seakan-akan berkata: Sebut dan ingatkanlah hal itu karena ia sebenarnya sudah cukup untuk mengantar setiap yang berakal mencapai apa yang diharapkan darinya dan sebut serta ingatkan pula ketika malaikat, Tuhanmu, w a h a i Nabi M u h a m m a d , berfirman kepada para
L

"Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, kejadian fisiknya apabila ke

liat keringy<Lv\g

Aku telah menyempurnakan dalamnya

dan telah Ku-tiupkan

nih ciptaan-T^, maka tunduklah k a m u semua dan bersungkurlah dalam bahkan bersama-

secara spontan dan dengan m u d a h sebagai penghormatan kepadanya keadaan sujud. " Maka, serta merta dan segera tanpa m e n u n d a , berpikir, bersujudlah para malaikat yang diperintah itu semuanya

sama, tetapi iblis enggan ikut bersujud bersama-sama dengan para malaikat yang sujud itu. Ayat-ayat y a n g berbicara tentang kisah kejadian manusia d i k e m u k a k a n oleh a l - Q u f a n sebelum ini, yakni dalam surah al-Baqarah dan al-A'raf. Tetapi, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda dan berbeda juga gaya uraiannya, walau terdapat juga beberapa persamaan. Sayyid Q u t h u b menulis bahwa uraian-uraian itu memiliki keserupaan dalam hal pengantarnya, yakni

454

Surah al-Hijr [15]

Kelompok III Ayat 28-31

kesemuanya berbicara terlebih dahulu tentang kehadiran dan penguasaan yang dianugerahkan Allah swt. kepada manusia atas b u m i . Pada Q S . al-Baqarah 12]: 2 9 d i n y a t a k a n bahwa:

"Dia-lah

Allah yang menciptakan

untuk

kamu apa yang ada di

bumi

semuanya, "sedang d a l a m Q S . al-A'raf [ 7 ] : 10 dinyatakan bahwa:

"D^w demi, sesungguhnya Kami telah menempatkan dan Kami adakan bagi kamu di bumi itu penghidupan.

kamu sekalian di bumi Amat sedikitlah kamu

bersyukur, sedang dalam surah ini adalah seperti yang Anda baca pada ayat 19 dan 20 di atas. W a l a u p u n pengantarnya dapat dinilai serupa, konteks uraian masingmasing surah, arah, dan tujuannya berbeda. Pada al-Baqarah, penekanannya pada uraian tentang penugasan Adam as. sebagai khalifah di bumi y a n g diciptakan Allah swt. u n t u k manusia. Karena itu, di sana diuraikan rahasia penugasan iru yang tadinva tidak diketahui oleh para malaikat (baca ayat 3 0 3 3 ) . Sedang, pada al-A'raf, penekanannya pada perjalanan panjang manusia dari surga u n t u k menuju ke surga lagi, sambil m e n u n j u k k a n permusuhan iblis terhadap manusia sejak awal perjalanan iru hingga akhirnya manusia tiba kembali ke padang Perhitungan Ilahi, di m a n a ada di antara kelompok manusia y a n g d i k u m p u l k a n itu yang masuk kembali ke surga karena mereka m e m u s u h i serta m e n a m p i k ajakan setan dan ada j u g a y a n g terjerumus ke neraka karena mengikuti langkah-langkah setan yang merupakan musuh abadi itu. Nah, karena itu, dalam surah al-A'raf, d i t a m p i l k a n uraian m e n y a n g k u t sujudnya malaikat dan keengganan iblis, keangkuhannya, serta

permohonannya agar ditangguhkan k e m a t i a n n y a hingga hari Kebangkitan. Itu dimohonkan nya agar ia dapat menjerumuskan anak cucu A d a m as. yang karena ayah merekalah ia terusir dari surga. (Untuk jelasnya, bacalah kembali ayat-ayat 11 sampai ayat 25 surah t e r s e b u t ) .
16

B a c a Q S . A'raf [7]: 11 - 2 5 p a d a v o l u m e 4 m u l a i h a l a m a n 2 5 - 6 4 .

Kelompok III Ayat 28-31

Surah al-Hijr [15]

455

Sedang, penekanan uraian d a l a m surah al-Hijr ini adalah uraian tentang unsur penciptaan A d a m as., rahasia perolehan hidayah dan kesesatan, serta faktor-faktor dasar m e n y a n g k u t kedua hal itu dalam diri manusia. Karena iru, di sini diuraikan tentang penciptaan manusia dari tanah liat kering y a n g berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk serta penciptaan jin sebelumnya dari api y a n g sangat panas. Kemudian, diuraikan keengganan iblis bersujud lalu pengusirannya dan permohonannya serta pengakuannya bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk menjerumuskan hamba-hamba Allah swt. yang taat kepada-Nya. D e m i k i a n lebih kurang uraian Sayyid Q u t h u b tentang perbedaan ketiga surah-—aI-Baqarah, al-A'raf, dan a l - H i j r — d a l a m uraian masing-masing tentang kisah A d a m as. Ayat di atas m e m b e d a k a n juga dengan jelas asal kejadian manusia dan asal kejadian jin. Perbedaan itu bukan saja pada unsur ranah dan api. tetapi yang lebih penting adalah bahwa pada unsur kejadian manusia ada ruh cipraan Allah swt. Unsur ini tidak d i t e m u k a n pada iblis/jin. Unsur ruhani itulah vang mengantar manusia lebih mampu mengenal Allah swt., beriman, berbudi luhur, serra berperasaan halus. Dalam aI-Baqarah, d i k e m u k a k a n bahwa perintah sujud tersebut datang setelah A d a m as. m e m b u k t i k a n k e m a m p u a n n y a memberitahu n a m a - n a m a (benda-benda) setelah para malaikat m e n g a k u i k e t i d a k m a m p u a n mereka. Di sana, antara lain penulis kemukakan bahwa, sebagai penghormatan kepada sang khalifah y a n g dianugerahi i l m u dan mendapat tugas mengelola b u m i itulah, Allah swt. secara langsung memerintahkan kepada para malaikat agar sujud kepada A d a m . as. Para malaikat m e n y a d a r i bahwa perintah itu tidak boleh d i t a n g g u h k a n . Karena itulah, sebagai tanda ketaatan dan penyerahan diri kepada-Nya, maka segera mereka sujud tanpa m e n u n d a atau berpikir, apalagi perintah tersebut langsung dari Allah swt. Yang M a h a Mengetahui lagi Mahabijaksana, bukan dari siapa yang dapat salah, keliru atau lupa. Tetapi, iblis yang memasukkan dirinya d a l a m kelompok malaikat sehingga otomatis dicakup pula oleh perintah tersebut, enggan dan menolak, bukan karena tidak ingin sujud kepada selain Allah swt., tetapi karena ia angkuh, yakni m e n g a b a i k a n hak pihak lain, d a l a m hal ini A d a m as., serta m e m a n d a n g n y a rendah sambil m e n g a n g g a p d i r i n y a lebih tinggi. Ia enggan sujud, padahal

456

Surah al-Hijr [15]

Kelompok III Ayat 28-31

sujud tersebut adalah sujud penghormatan bukan sujud ibadah, atau bahkan tidak mustahil sujud yang diperintahkan Ailah swt. itu dalam arti sujud kepada Allah swt. dengan menjadikan posisi A d a m as. ketika itu sebagai arah bersujud, sebagaimana Ka'bah di M e k k a h dewasa ini menjadi arah k a u m muslimin sujud kepada-Nya. Kata ( j - i j ) basyar tcrambW dari kara ( l j ^ ) basyarah y a n g berarti kulit.
t

Kata ini biasa diterjemahkan dengan manusia. Ini, agaknya, karena sisi lahiriah yang tampak dari manusia adalah kulitnya bukan seperti binatang yang terlihat dengan jelas bulunya. N a m u n demikian, perlu dicatat bahwa kata ini berbeda dengan kata insan vang j u g a diterjemahkan dengan manusia. Kata basyar penekanannya pada sosok yang tampak dari manusia secara u m u m dan y a n g tidak berbeda antara seseorang dan y a n g lain. M i s a l n y a , anggota t u b u h n y a sama, masing-masing memiliki dua mata, dua telinga dan hidung, kepalanya di aras dan kakinya di bawah. M a s i n g - m a s i n g m e m i l i k i naluri y a n g sama, seperti haus dan lapar, dorongan seksual, cemas, harap, dan lain-lain. Itu sebabnya Nabi M u h a m m a d saw. diperintah untuk menyatakan bahwa:

"Sesungguhnya aku tidak lain kecuali basyar seperti kamu yang diberi wahyu" ( Q S . al-Kahf [ 1 8 ] : 1 1 0 ) . A d a p u n kata ( perbedaan-perbedaan
OUJI )

insan, ia m e n a m p u n g

dalam bidang keruhanian, k e i m a n a n , dan akhlak. ) insdn

Dengan kata lain, basyar menunjukkan persamaan, sedang kata (

dapat menyiratkan perbedaan antara seseorang dan yang lain. Ayar ini menegaskan bahwa .Allah swt. menciptakan basyar/manusia semuanya sama, dan kalaupun terjadi perbedaan antara seseorang dan y a n g lain, hal itu disebabkan adanva faktor ekstern y a n g mengakibatkan hal tersebut. Kata ( ) sawwaituhu terambil dari kara ( ^ j - » ) sawwd, yakni

menjadikan sesuatu sedemikian rupa sehingga sedap bagiannya dapat berfungsi sebagaimana yang direncanakan. Kata ( c~*Ji>) uafakhtu/Aku meniupkan terambil dari kata ( ) nafakba

yang hakikatnya adalah mengeluarkan angin melalui mulut. Vang d i m a k s u d di sini adalah memberi potensi ruhaniah kepada m a k h l u k manusia yang menjadikannya dapat mengenal Allah swt. dan mendekatkan diri kepada-

Kelompok III Ayat 28-31

Surah al-Hijr [15]

457

Nya. Bahwa "peniupan" itu d i n y a t a k a n sebagai dilakukan oleh Allah swt. adalah sebagai isyarat penghormatan kepada manusia. Perlu dicatat bahwa di sini tidak ada peniupan, tidak ada juga angin atau ruh dari Zat Allah swt. milik-Nya

y a n g m e n y e n t u h manusia. R u h Allah swt. y a n g d i m a k s u d adalah dan y a n g merupakan w e w e n a n g - N y a semata-mata.

Uraian tentang penciptaan manusia seperti terbaca di atas mengisyaratkan bahwa betapapun asal kejadian sesuatu bukan merupakan hal yang istimewa, bahkan menjijikkan, tetapi jika d a m p a k yang diakibatkannya atau hasil vang dapat diperoleh darinya merupakan hal-hal y a n g baik dan bermanfaat, unsur kejadian itu tidak memengaruhi penilaian terhadap sesuatu itu. Sperma yang menjijikkan jika dipandang, dan y a n g h a n y a bagian kecil dari setetes y a n g ditumpahkan ke rahim, merupakan asal kejadian manusia. N a m u n demikian, manusia yang dapat menghasilkan amal-amal kebajikan yang direstui Allah swt. menjadi malchluk y a n g sangat mulia di sisi-Nya. Itulah y a n g dapat mengarungi samudra serta menjelajah angkasa. Demikian asal kejadian sesuatu tidak berpengaruh jika d a m p a k y a n g dihasilkan baik. B u k a n k a h m a n u s i a sendiri merasa nvaman serta menyukai aroma semerbak walau ia bersumber dari musang kesturi? Kata ( OjASrl ) ajma uni semuanya dapat dipahami sebagai penguat dari kara ( ^ 5 * ) kulluhumlsemua sehingga dengan kata ini dipahami bahwa tidak ada satu malaikat pun-—setidaknya yang diperintah untuk sujud—yang tidak sujud. Dapat juga kata itu dipahami dalam arti bersarna-bersama, yakni semua malaikat itu sujud, dan sujud mereka terlaksana tidak sendiri-sendiri, retapi serentak dan bersama-sama. Banyak pakar bahasa berpendapat bahwa kata ( ^ - ^ 1 ) ^ ^ terambil dari bahasa Arab ( , J j i ) ab/asa yang berarti putus asa atau dari kata ( ^ - J J ) bahisa y a n g berarti tiada kebaikannya. Ada j u g a y a n g berpendapat b a h w a kata iblis bukan terambil dari bahasa Arab. Konon, asalnya dari bahasa Yunani, yakni Diabolos. Kata ini terdiri dari kata dia vang berarti di tengah atau sewaktu dan ballnn yang berarti melontar atau mencampakkan. Dari penggabungannya, lahir beberapa m a k n a antara lain menentang, menghalangi, dan yang berada antara dua pihak u n t u k m e m e c a h belah dan menciptakan kesalahpahaman. N a m u n , pendapat ini tidak d i d u k u n g oleh banyak ulama, walau m a k n a m a k n a itu tidak meleset dari ulah iblis dan setan.
? s

458

Surah al-Hijr [15]

Kelompok 11 Ayat 32-35 1

AYAT 3 2 - 3 5

Dia berfirman,

"Wahai iblis! Apa yang menghalangimu

tidak

bersama-sama

mereka yang sujud itu?" Ia berkata, "Tidak akan terjadi duriku sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering yang berasal "Keluarlah dari surga sampai

dari lumpur hitam yang diberi bentuk. "Dia berfirman,

karena sesungguhnya engkau terkutuk dan sesungguhnya atasmu laknat Hari Kiamat. "

Setelah melihat keengganan iblis sujud, Dia berfirman agar terbukti secara lahiriah dan di depan khalayak kedurhakaan iblis sebagaimana terbukti sebelumnya dalam i l m u Allah swt., "Wahai iblis! Apa yang yakni apa y a n g terjadi p a d a m u , sehingga tidak ikut sujud menghalangimu, bersama-sama

mereka, yakni para malaikat yang sujud lahir dan batin itu?" Ia, y a k n i iblis, berkata didorong oleh k e a n g k u h a n n y a b a h w a : "Tidak akan terjadi dariku

sujud, yakni sekali-kali aku tidak dapat bersujud, kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam

yang diberi bentuk karena aku lebih mulia darinya sebab aku Engkau ciptakan dari api." Dia, y a k n i Allah swt., berfirman menjawab k e a n g k u h a n iblis itu, "Keluarlah dari surga karena sesungguhnya engkau terkutuk sedang siapa y a n g terkutuk ridak wajar menerima rahmat apalagi surga, dan sesungguhnya atasmu secara khusus laknat, y a k n i kejauhan dari rahmat Allah swt., y a n g berlanjut terus sampai Hari Kiamat dan setelah Kiamat datang kutukan itu akan diserrai dengan siksa y a n g pedih. " Iblis menolak sujud bukan dengan alasan bahwa sujud kepada A d a m as. a d a l a h s y i r i k , seperti d u g a a n s e m e n t a r a o r a n g y a n g s a n g a t d a n g k a l pemahamannya. Keengganannya bersumber dari keangkuhan yang

menjadikan ia m e n d u g a dirinya lebih baik dari A d a m as. Redaksi y a n g d i g u n a k a n n y a : Tidak akan terjadi dariku sujud, bukan misalnya: Aku tidak akan sujud menunjukkan bahwa keengganan itu bukan lahir dari faktor luar

dirinya, m i s a l n y a karena ada halangan y a n g merinranginya, atau ada y a n g melarangnya, atau ia sedang sibuk dengan sesuatu yang lain, tetapi keengganan

Kelompok III Ayat 32-35

Surah al-Hijr [15]

459

itu disebabkan faktor y a n g melekat dalam d i r i n y a y a n g menjadikan sujud kepada A d a m as. tidak mungkin akan dapat ia lakukan. Faktor y a n g melekat itu adalah keangkuhan dan kedengkian y a n g ia jelaskan sendiri di tempat lain dengan ucapannya:

"Aku lebih baik darinya, Engkau telah menciptakan aku dari api sedang Engkau menciptakannya dari tanah" ( Q S . al-A'raf [7J: 1 2 ) . Alhasil, d a l a m logika

iblis, tidak wajar, bahkan tidak dapat terjadi, m a k h l u k y a n g lebih baik unsur kejadiannya bersujud kepada m a k h l u k yang lebih rendah unsur kejadiannya. Padahal, asal kejadian iblis dari api sama sekali tidak dapat dijadikan alasan untuk m e n y a t a k a n bahwa jenisnya lebih m u l i a dan lebih baik daripada manusia yang tercipta dari tanah. Secara sedikit terperinci persoalan ini penulis telah kemukakan ketika menafsirkan surah al-A'raf ayat 12. Rujuklah ke sana! Firman-Nya:
1

"Sesungguhnya atasmu laknat sampai Hari Kiamat" sedikit berbeda dengan redaksi Q S . S had [ 3 8 ] : 7 8 . Di sana, d i n y a t a k a n bahwa:

"Sesungguhnya

atasmu

laknat-Ku

sampai

Hari Kiamat.

" Perbedaan ini,

menurut para ulama, disebabkan pada surah Shad itu Allah swt. m e n g e c a m iblis y a n g enggan sujud dengan menyatakan:

"Hai iblis apa yang menghalangimu

sujud kepada yang telah

Ku-ciptakan

dengan kedua tangan-Ku?" ( Q S . Shad [ 3 8 ] : 7 5 ) . A n d a lihat di sini Allah swt. langsung m e n u n j u k d i r i - N y a dengan berkata ( C$M) tangan-Ku. yadayya/kedua

Karena itu, sangat wajar jika laknat itu pun di sana dinvatakan-

Nya secara tersurat bahwa ia bersumber dari diri-Nya. Adapun pada surah al-

Lihat kembali cifsii Q S . A ' r a f [7.1: 12 d a l a m v o l u m e 4 h a l a m a n 2 9 .

460

Surah al-Hijr [15]

Kelompok III Ayat 36-38

Hijr ini, terlihat bahwa uraian tentang persoalan ini menggunakan kata-kata yang dihiasi awalnya dengan h u r u f alif'dan lam (a.l) seperti al-sdjidin, ah

insdn, al-jdnn. Dengan demikian, sangat wajar pula jika kata laknat dihiasi pula dengan kedua huruf itu sehingga berbunyi ( ( j ^ * J ) la 'nati. Bahwa ayat ini mengarahkan jatuhnya laknat kepada iblis karena setiap kedurhakaan m e n g u n d a n g laknat, sedang tidak satu kedurhakaan pun yang ridak melibatkan iblis melalui rayuan dan godaannya. Dengan d e m i k i a n , seriap kedurhakaan yang dilakukan seseorang, dampak buruknya di samping akan m e n y e n t u h pelakunya sendiri, juga akan menyentuh pendorongnya, ) al-lanah dan b u k a n

dalam hal ini setan dan iblis. Dengan demikian, b e r t u m p u k laknat atas iblis sampai hari Kemudian karena kedurhakaan akan terus-menerus terjadi hingga hari Kemudian. Bahwa dalam surah Shad dinyatakan bahwa laknat itu datang dari Allah swt. karena m e m a n g Yang Mahakuasa itulah sumber-Nya. Laknat dari selainN y a tidak akan jatuh tanpa izin-Nya. Laknat y a n g datang dari selain-Nya hanya permohonan jatuh nya laknat. Nah, apakah permohonan itu diterima atau ditolak, kesemuanya terpulang kepada Allah swt.

AYAT 3 6 - 3 8

la berkata; dibangkitkan.

"Tuhanku! Maka

beri tangguhlah

aku sampai

hari

mereka mereka

"'Dia berfirman, "Maka, sesungguhnya engkau di antara

yanv diberi tangguh sampai hari yang ditentukan. "

Setelah iblis menyadari bahwa ia telah d i k u t u k oleh Allah swt. karena keangkuhan dan kedurhakaan y a n g lahir dari kedengkiannya kepada A d a m as., kedurhakaannya semakin menjadi-jadi. Terbukti ia tidak m e m o h o n a m p u n , tidak juga m e m i n t a ditinggikan derajatnya, tetapi Ia berkata dengan tujuan m e n j e r u m u s k a n m a n u s i a , "Tuhanku! Kalau b e g i t u maka beri

tangguhlah aku, vakni panjangkan usia aku, ke satu w a k t u yang l a m a sampai hari mereka, yakni semua manusia dibangkitkan dari kubur, yaitu Hari

Kelompok III Ayat 36-38

Surah al-Hijr [15]

461

Kiamat." Dia, yakni Allah swt., berfirman memenuhi harapannya, atau bukan karena m e m e n u h i n y a , tetapi d e m i k i a n ituiah ketetapan-Nva sejak semula bahwa, "Maka, jika demikian, sesungguhnya, hai iblis, engkau termasuk di antara mereka yang diberi tangguh sampai hari yang ditentukan, tetapi setelah

itu engkau harus mati dan mempertanggungjawabkan amal usahamu. " Ketika menafsirkan ayar serupa pada surah al-A'raf, penulis antara lain mengemukakan bahwa cukup banyak ulama tafsir ketika membicarakan ayat ini membahas apakah permohonan iblis dikabulkan Allah swt. dan membahas juga sampai kapan usianya ditangguhkan oleh Allah swt. Ibn Jarir ath-Thabari, pakar tafsir klasik, m e n e g a s k a n b a h w a A l l a h swt. tidak m e n g a b u l k a n permohonannya. Permohonannya baru dapat dikatakan dikabulkan Allah swt. seandainya Allah swt. berfirman kepadanya: "Engkau termasuk y a n g ditangguhkan sampai waktu yang engkau minta atau sampai hari

Kebangkitkan atau sampai hari mereka dibangkitkan dan lain-lain yang dapat menunjukkan bahwa permohonannya menyangkut penangguhan itu diterima Allah." Demikian ath-Thabari vang diikuti pendapatnya oleh sekian ulama. Thahir Ibu 'Asyur berpendapat serupa dan inilah—tulis ulama abad XX itu— yang menjadikan ayat ini m e n y a t a k a n : "Engkau termasuk di antara mereka

yang ditangguhkan, "jawaban ini adalah informasi tentang sesuatu yang telah d i t e t a p k a n s e b e l u m n y a . Iblis t e r l a l u h i n a u n t u k d i t e r i m a Allah swt. permohonannya. Ibn Katsir lain pula p a n d a n g a n n y a . "Aliah swt. memperkenankan apa yang di mohon kaitnya karena a d a n y a h i k m a h , i rada h, dan kehendak yang tidak dapat ditolak dan Dia M a h a c e p a t perhitungan-Nya," d e m i k i a n Ibn Katsir dalam tafsirnya yang dikutip dan dibenarkan oleh M u h a m m a d Rasyid Kidha dalam tafsir aEManar. Sebelum Ibn Kasti r, penafsir dan pengamal

tasawuf, an-Nasafi, menjelaskan dalam tafsirnya bahwa "Allah swt. menerima permohonan iblis karena dalam permohonan iru terkandung ujian, sekaligus untuk m e n d e k a t k a n hati para pencinta Allah swt. bahwa inilah anugerah Allah swt. bagi y a n g durhaka kepada-Nya, maka bagaimana, yakni tentu jauh lebih besar anugerah-Nya bagi vang m e n c i n t a i - N y a / ' U n t u k jelasnya, rujuklah kembali penafsiran ayat 14 dan 15 surah al-A'raf. '
i;

| S

Rujuk volume 4 halaman 38.

462

Surah al-Hijr [15]

Kelompok III Ayat 39-40

Di atas, terlihat b a h w a iblis m e n y a t a k a n ( < j j ) Rabbi/'J ubanku.

Ini

menunjukkan bahwa Dia mengakui Allah swt. sebagai Tuhan y a n g dengan rububiyahlpemclih.araan-'Nya. telah m e l i m p a h k a n a n e k a p e m e l i h a r a a n

kepadanya. N a m u n demikian, anugerah yang diakuinva itu tidak mendorongnya bertaubat atau menyadari kesalahannya karena m e m a n g jiwanya telah diliputi oleh kebejatan dan kedengkian kepada manusia.

AYAT 3 9 - 4 0

Ia berkata, "Tuhanku, disebabkan oleh penyesatan-Mu aku akan memperindah

terhadap diriku, pasti menyesatkan

bagi mereka di bumi dan pasti aku akan

mereka semuanya, kecuali bamba-bamba-Muyang

mukhlas di antara mereka. "

Setelah Allah swt. m e n y a m p a i k a n bahwa iblis akan termasuk mereka vang ditangguhkan h i d u p n y a hingga w a k t u tertentu, ia berkata, disebabkan oleh penyesatan-Mu terhadap diriku, yakni "Tuhanku,

kutukan-Mu bagi

terhadapku h i n g g a hari Kemudian, moka.pasti aku akan memperindah

mereka, yakni menjadikan mereka m e m a n d a n g baik perbuatan maksiat serta segala m a c a m aktivitas di bumiyang mengalihkan mereka dari pengabdian menyesatkan

k e p a d a - M u , dan pasti pula dengan d e m i k i a n aku akan dapat

mereka semuanya dari jalan lurus menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Upaya tersebut akan menyentuh semua manusia, kecualihamha-hamba-Mu

yang mukhlas di antara mereka, yakni yang Engkau pilih karena mereka telah menyerahkan diri secara penuh kepada-Mu." Kata ( ) aghivaita?ii terambil dari kata f ^*l! ) al-ghayy yaitu

kerusakan dan kebejatan. Ia d i g u n a k a n juga dalam arti kesesatan. H u r u f ba 'pada kata (Lc ) ^ / m i ada y a n g memahaminya berfungsi sebagai hurut y a n g digunakan untuk bersumpah sehingga kata tersebut merupakan sumpah iblis. Ia seakan-akan berkata, "Demi penyesatan yang Engkau lakukan atasku, pasti aku akan m e m p e r i n d a h " Pendapat ini tidak d i d u k u n g oleh

banyak ulama, antara lain dengan alasan tidak lumrah menggunakan kesesatan atau penyesatan sebagai ucapan yang m e n g u a t k a n k a n d u n g a n sumpah,

Kelompok 11 Ayat 39-40 1

Surah al-Hijr [15]

463

biasanya sumpah d i k u a t k a n dengan sesuatu y a n g d i m u l i a k a n . Bahkan iblis sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Q S . Shad [38] ayat 8 2 , bersumpah demi kemuliaan-Nva bahwa ia a k a n menjerumuskan la'ugbwiyannahum manusia ajma'in.

(tt-giji-H

J\3 ) qd la fabizzatika

Karena, itu tentu saja di sini ia tidak bersumpah demi penyesatan itu. Di sisi lain, ada j u g a riwayat y a n g m e n y a t a k a n b a h w a iblis bersumpah, " D e m i kemuliaan dan keagungan-Mu, aku akan terus-menerus menjerumuskan anak cucu A d a m selama hayat mereka masih d i k a n d u n g badan." Allah swt. berfirman: " D e m i kemuliaan dan keagungan-Ku, A k u tetus-menerus akan mengampuni mereka selama mereka m e m o h o n a m p u n " ( H R . A h m a d dapat

melalui Abu Sa'id al-Khudri). Riwayat ini walaupun tidak

dipertanggungjawabkan kesahihannya, wajar juga digarisbawahi bahwa dalam redaksinya tidak terdapat kata penyesatan, tetapi justru iblis m e n y e b u t

keagungan dan kemuliaan Allah swt. serupa dengan bunyi ayat surah Shad itu. Mayoritas ulama memahami huruf b& 'pada kata ( u ) bima di atas dalam arti sebab, sebagaimana terjemahan penulis di atas. Memang, kemudian timbul masalah karena pendapat ini dapat mengesankan bahwa Allah swt. y a n g menyesatkannya dan katena itu pula ia m e l a k u k a n penyesatan. Kesan ini semakin kuat jika diperhatikan bahwa Allah swt. tidak membantahnya dalam ucapannya itu. Menghadapi masalah ini, bermacam-macam pendapat yang dihidangkan para mufasir. Penganut paham ktbariyyak/Fatalisme menjadikan ucapan iblis

y a n g t i d a k d i s a n g g a h A l l a h swt. itu sebagai b u k t i b a h w a k e b u r u k a n , sebagaimana halnya kebaikan, keduanya bersumber dari Allah swt. Bukankah dosa yang dilakukan iblis dengan keengganannya sujud itu justru disebabkan oleh Allah swt? D e m i k i a n dalih mereka. A d a lagi vang berpendapat bahwa penyesatan y a n g d i m a k s u d adalah kekecewaan y a n g dialami oleh iblis akibat dijauhkan dari rahmat Allah swt. Dengan d e m i k i a n , iblis bagaikan berkata, "Karena Engkau mengecewakan aku dari perolehan rahmat-Mu, aku akan mengecewakan pula manusia dengan menjerumuskannya ke dalam dosa sehingga kelak mereka pun akan kecewa." A d a lagi y a n g berpendapat bahwa y a n g d i m a k s u d dengan penyesatan

464

Surah al-Hijr [15]

Kelompok III Ayat 39-40

adalah penyesatan d a l a m menelusuri jalan menuju surga. Iblis seakan-akan berkata, "Karena Engkau telah menyesatkan aku dari jalan menuju ke surga akibat k e d u r h a k a a n k u e n g g a n sujud k e p a d a A d a m as., a k u p u n akan menyesatkan manusia dari jalan itu." T h a h i r Ibn 'Asyur m e m a h a m i penyesatan vang dimaksud iblis di sini adalah penyesatan y a n g diketahui Allah swt. y a i t u penciptaan iblis dengan potensi buruk y a n g melekat pada dirinya sejak penciptaannya. Ucapan iblis tersebut—menurut Ibn ' A s y u r — m e l i m p a h keluar dari lubuk hatinya, tetapi bukan bertujuan pemuasan hatinya atau pelampiasan dendam. Karena—tulis Ibn 'Asyur—keagungan Ilahi sedemikian besar—yang tentu saja disadari oleh iblis—sehingga itu merupakan halangan untuk menyatakan bahwa ucapannya adalah pemuasan hati dan pelampiasan dendam. Pendapat ini masih mengesankan sesuatu y a n g tidak wajar dinisbahkan kepada Allah swt., yakni seakan-akan kesesatan yang dilakukannya disebabkan oleh penciptaan potensi buruk yang diciptakan Allah swt. pada dirinya, padahal jin y a n g m e r u p a k a n jenisnya iblis m e m i l i k i j u g a potensi positif tidak j a u h berbeda dengan manusia. B u k a n k a h ada di antara jenis jin yang taat kepada Allah swt.? ( b a c a Q S . al-Jinn [ 7 2 ] : 11). Bahkan, bukankah sang iblis sebelum kedurhakaannya itu justru sangat taat beribadah sehingga dimasukkan dalam kelompok malaikat? Penulis lebih cenderung kepada pendapatThabarhaba i yang memahami arrl penyesatan y a n g d i m a k s u d oleh iblis dan yang d i j a d i k a n n y a alasan menyesatkan manusia itu adalah kemantapan dan kesinambungan k u t u k a n A l l a h swt. k e p a d a n y a v a n g j u s t r u d i s e b a b k a n t e r l e b i h d a h u l u oleh

kedurhakaan dan kesesatannya sendiri y a n g enggan sujud kepada A d a m as. Dengan demikian, penyesaran y a n g terjadi dari Allah swt. adalah akibat langsung dari kesesatan dirinya sendiri, bukan datang perrama kali dari Allah swt. Hakikat adanya penyesatan Allah swt. setelah adanya kesesatan makhluk, berkali-kali diakui al-Qur'an antara lain firman-Nya:

"Ketika mereka

berpaling

dari kebenaran,

Allah pun

menudingkan

hati

mereka" (QS. ash-Shaff [61J: 5 ) .

Kelompok III Ayat 41-42

Surah al-Hijr [15]

465

Karena itu pula Allah swt. tidak menyanggah pernyataan iblis itu, karena d e m i k i a n itulah m a k s u d n y a . Firman-Nya: ( Jefo J ^ ) la'uzayyinanna lahum fi al-ardhil

aku akan memperindah bagi mereka di bumi menjelaskan arena pertarungan antara manusia dan setan, sekaligus menjelaskan cara y a n g d i g u n a k a n n y a . D e m i k i a n S a y y i d Q u t h u b y a n g lebih lanjut menulis, " B a h w a tidaldah seseorang m e l a k u k a n saru kedurhakaan kecuali ada sentuhan setan dalam memperindah, dan mempereloknya serta m e n a m p a k k a n n y a berbeda dengan hakikat dan keburukannya. Karena itu, hendaklah manusia sadar tentang cara setan ini dan berhati-hati setiap dia m e n e m u k a n perindahan bagi sesuatu dan setiap dia mendapatkan kecenderungan pada dirinya, jangan sampai di balik itu ada setan. Ketika itu, hendaklah dia segera berhubungan dengan Allah swt., m e n y e m b a h - N y a dengan tekun, karena setan pada saat i t u — sesuai pengakuannya sendiri—tidak akan m a m p u m e m p e r d a y a n y a . " Kara ( ^ „ ^ K i i ) al-mukhlashin terambil dari kata ( js^-) khalusha yang

berarti suci, murni, tidak bercampur dengan yang selainnya. Kata tersebut pada ayat ini ada y a n g m e m b a c a n y a dengan memfathahkan mukhlashin) huruf lam (al-

dan, dengan d e m i k i a n , ia menjadi objek y a n g dipilih dan

dijadikan Allah swt. khusus bagi diri-Nya, dan ada j u g a yang mengkasrahkan hmuHaru (al-mukhlishin) sehingga yang bersangkutan merupakan pelaku

y a n g tulus p e n g a b d i a n n y a lagi suci murni semata-mata kepada Allah swt. Kedua makna ini kak-berkait karena siapa yang mengikhlaskan dirinya kepada Allah swt. tidak m e m a n d a n g k e p a d a s e l a i n - N y a , A l l a h swt. pun akan memilihnya untuk berada di hadirat-Nya sehingga dia didekatkan oleh-Nya kepada-Nya, dan siapa yang berada di hadirat Yang Mahasuci, ridak mungkin setan akan menyentuhnya.

AYAT 4 1 - 4 2

Dia berfirman, hamba-hamba-Ku

"Ini ad-alah jalan yang lurus; kewajiban-Ku. tidak ada kekuasaan bagimu terhadap

Sesungguhnya mereka; kecuali

orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. "

466

Surah al-Hijr [15]

Kelompok III Ayat 41-42

U c a p a n iblis t e r s e b u t b o l e h j a d i m e n i m b u l k a n k e s a n b a h w a ia m e m p u n y a i k e m a m p u a n dan bahwa apa y a n g akan dilakukannya itu berada dr luar kekuasaan Allah swt. M a k a , untuk m e n a m p i k kesan yang keliru itu dan agar iblis tidak berlarut d a l a m k e a n g k u h a n n y a Dia, yakni Allah swt., berfirman, "Ini y a k n i apa y a n g e n g k a u sebut itu, yang engkau kecualikan

atau tidak kecualikan, adalah jalan yang lurus; yakni kerentuan vang Kutetapkan sesuai kehendak dan kebijaksanaan-Ku. Aku y a n g menetapkannya b u k a n k e h e n d a k d a n w e w e n a n g m u . Kewajiban-Ku, y a k n i A l l a h swt.

menetapkan bagi diri-Nya memelihara dan menerapkan kerentuan itu dalam perolehan kesesatan dan hidayah bagi setiap orang." Selanjutnya, Allah swt. menegaskan sekali lagi berlakunya ketentuan itu—dengan menyebut seluruh h a m b a - N y a bahwa Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan

bagimu, hai ihlis dan setan, terhadap mereka, kecuali, yakni tetapi orangorangyang mengikutimu dengan sengaja dan antusias yaitu orang-orang yang

^ w / s e h i n g g a enggan bertaubat, maka itulah yang dapat engkau goda dan itu pun hanya sebatas memperindah keburukan bagi mereka. Kata ( ^ ) 'alayya yang diterjemahkan di atas dengan kewajiban-Ku.

Ada u l a m a seperti ath-Thabari y a n g m e m a h a m i n y a dalam arti ( J ' ) ilayyal kepada-Ku sehingga penggalan ayat ini seakan-akan berkata, "Inilah jalan menuju kepada-Ku" atau "Ini a d a l a h j a l a n y a n g A k u s e n d i r i y a n g

menetapkannya, dan Aku sendiri y a n g akan memberi balasan dan ganjaran sesuai dengan sikap dan amal yang menelusurinya. "Tetapi, pendapat ini tidak didukung oleh banyak ulama karena ia mengalihkan satu redaksi yang memiliki m a k n a tertentu lagi populer kepada m a k n a y a n g lain, padahal tidak ada halangan u n t u k m e m a h a m i n y a seperti m a k n a n y a vang populer lagi semula itu. Kata ( J L P ) 'z'^i/biasanya d i g u n a k a n al-Qut'an u n t u k h a m b a - h a m b a Allah y a n g taat, atau y a n g bergelimang dalam dosa tetapi telah menyadari dosanya. Ini berbeda dengan kata ( x s-)
if

'abidyang

digunakan al-Qur'an

u n t u k h a m b a - h a m b a - N y a y a n g durhaka dan yang wajar mendapat siksaNya. Itu sebabnya akhir Q S . al-Fajr [ 8 9 ] : 29-30 menyatakan:

Kelompok III Ayat 41-42

Surah al-Hijr [15]

467

"Masuklah dalam kelompok 'ibdd-Ku dan masuklah dalam surga-Ku, sedang Q S . AH 'Imran [3]: 182, misalnya, menyatakan ( x-*iJ ^SUa* , j - J iil o\j ) wa anna Alldha laisa bi zhalldmin bukanlah Penganiaya lil 'abidldan bahwasanya Allah sekali-kali

terhadap al-'abid,

y a k n i tidak m e n g a n i a y a — w a l a u

menyiksa h a m b a - h a m b a - N y a y a n g durhaka. Atas dasar p e m a h a m a n m a k n a kata 'ibddseperti d i k e m u k a k a n ini, arti illd yang biasa diterjemahkan kecuali

di sini p e n u l i s p a h a m i d a l a m arri tetapi dan, d e n g a n d e m i k i a n , y a n g dikecualikan i t u — y a k n i y a n g dapat dipengaruhi oleh termasuk kelompok y a n g d i n a m a i 'ibdd Allah. seran—bukanlah

M e m a n g , ada j u g a y a n g

m e m a h a m i kata 'ibdd pada ayat ini dalam arti semua hamba Allah dan, j i k a demikian, tidak ada halangan menerjemahkan kata illd dengan kecuali. Ayat ini m e m p e r h a d a p k a n kata ( $is.) ghawin. 'ibdd dengan kata (
JJJUM )

al-

Yang d i m a k s u d dengan kata yang kedua ini adalah mereka y a n g

hatinya lebih cenderung kepada kesesatan dan kedurhakaan, bukan mereka y a n g relah benar-benar sesat dan durhaka. D e m i k i a n T h a h i r Ibn 'Asyur. Karena—tulisnya—seandainya yang bersangkutan dalam kenyataan telah sesat dan durhaka, apalagi m a k n a k e m a m p u a n iblis dalam penyesatan itu. A g a k n y a — w a Alldhu A'lam—maksud k e d u a ayat di atas adalah bahwa

Allah swt. telah melengkapi manusia dengan potensi y a n g menjadikan siapa di antara mereka yang mengikhlaskan diri kepada Allah swt., m e m b e n t e n g i dirinya dengan k e t a k w a a n , m a k a iblis dengan segala tentara dan

k e m a m p u a n n y a , tidak akan m u n g k i n dapat berhasil menyesatkan nya. Keikhlasan dan ketaatan kepada AJlah swt. dapat diibaratkan dengan upaya imunisasi yang melahirkan kekebalan tubuh menghadapi virus serta k u m a n k u m a n penyakit. Yang mengabaikan imunisasi akan sangat mudah diserang oleh k u m a n - k u m a n tersebut. Ayat ini m e n u n j u k k a n b a h w a iblis/setan sama sekali tidak m e m p u n y a i k e m a m p u a n dari dirinya sendiri. Firman Allah swt. y a n g ditujukan-Nya kepada iblis itu merupakan bantahan y a n g sangat tegas. Seakan-akan v\llah swt. b e r f i r m a n , "Dugaanmu, wahai iblis, bahwa engkau memiliki

kemampuan untuk menjerumuskan semua m a n u s i a — w a l a u mengecualikan sebagian m e r e k a — d u g a a n m u itu tidaklah benar karena pada h a k i k a t n y a engkau tidak m e m i l i k i k e m a m p u a n . Akulah y a n g berwenang p e n u h dalam

468

Surah al-Hijr [15]

Kelompok III Ayat 43-44

memberi hidayah dan menambah kesesatan. A k u telah menetapkan slurdth, y a k n i jalan dan ketentuan m e n y a n g k u t hal tersebut, sehingga jika engkau m a m p u menyesatkan maka itu karena izin, kehendak, dan kebijaksanaanKu untuk menguji manusia melalui rayuan mu, dan jika engkau gagal m a k a itu p u n k a r e n a A k u t e l a h m e n g a n u g e r a h k a n m a n u s i a potensi dan

mengajarkannya cara u n t u k menggagalkan usahamu. Potensi y a n g engkau miliki untuk m e n g g o d a pun adalah bersumber dari A k u semata-mata, pengaruh k e m a m p u a n itu tidak sedikit pun menyentuh a/-mukhlashin hamba-hamba-Ku." dari

AYAT 4 3 - 4 4

"Dan sesungguhnya, jahanam mempunyai

itu benar-benar

tempat mereka semuanya, tertentu."

la

tujuh pintu. Setiap pintu

untuk kelompok

Bagi yang sesat dan enggan bertaubat telah disiapkan siksa untuk mereka, vakni neraka J a h a n a m , dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat

berkumpul dan penyiksaan vang telah d i a n c a m k a n kepada mereka, yakni kepada pengikut-pengikut iblis dan setan, semuanya. Ia mempunyai tujuh

pintu, yakni tingkat. Setiap pintu telah ditetapkan untuk tempat penyiksaan kelompok tertentu dari mereka. Ayat ini merupakan juga penegasan tentang kekuasaan Allah swt. y a n g mutlak. Di sini, seakan-akan .Allah swt. menyatakan bahwa, w a l a u Kami telah m e m b e r i m u k e m a m p u a n u n t u k m e n g g o d a dan memperbanyak

p e n g i k u t m u , pada akhirnya engkau dan mereka semua akan Kami siksa di neraka. Tidak d i t e m u k a n penjelasan dari al-Qur'an tentang m a k n a pintu-pintu

neraka atau surga. Karena itu, kita tidak dapat memastikan apakah pintu yang d i m a k s u d di sini adalah tempat masuk serupa halnya dengan tempat masuk dan kel uar dari satu ruangan atau y a n g d i m a k s u d d e n g a n n y a adalah tingkat.

Kelompok III Ayat 45-46

Surah al-Hijr [15]

469

Kata tujuh juga diperselisihkan m a k n a n y a . Ada yang m e m a h a m i n y a dalam arti banyak dan ada juga yang m e m a h a m i n y a dalam arti angka yang di atas e n a m dan di bawah delapan. Bahkan, para ulama yang m e m a h a m i n y a dalam arti y a n g terakhir ini m e n y e b u t k a n tujuh nama neraka y a n g mereka anggap merupakan tingkat-tingkatnya yaitu Jahanam, Sa'ir, Saqar, jahhn, dan al-Hawiyah. Lazha, al-Jfuthamah,

Selanjutnya, mengapa tujuh, bukan

angka di atasnya atau di bawahnya? Ada y a n g menjawab, "Karena ada tujuh anggota tubuh manusia yang merupakan sumber-sumber kedurhakaan, yaitu mata, relinga, lidah, perur, k e m a l u a n , kaki, dan tangan, dan karena ketujuh anggota t u b u h itu j u g a dapat menjadi sumber ketaatan kepada Aliah swt. dengan svarat apa vang d i l a k u k a n n y a disertai dengan niat yang tulus, surga memiliki delapan pintu, dengan adanya penambahan niat itu. Demikian alKhathib asy-Syarbini sebagaimana dikutip oleh al-Jamal dalam tafsirnya vang mengomentari Tafsir ahjaldlain.

AYAT 4 5 - 4 6

Sesungguhnya orang-orang bertakwa berada dalam surga-surga dan mata airmata air. "Masuklah ke dalamnya dengan selamat dalam keadaan aman. "

Sebagaimana kebiasaan al-Qur'an m e n y a n d i n g k a n satu uraian dengan l a w a n n y a , setelah m e n y e b u t sanksi y a n g menanti k a u m kafirin, di sini disinggungnya ganjaran orang-orang beriman, yakni Sesungguhnya orang-orang bertakwa yang mantap k e t a k w a a n n y a berada dalam surga-surga yang ridak dapat dilukiskan dengan kata-kata karena tidak terlintas dalam benak betapa indah dan n i k m a t n y a dan di dekat kediaman mereka ada mata air-mata air

y a n g mengalir. Dikatakan kepada mereka oleh para malaikat, "Masuklah ke dalamnya dengan selamat sejahtera. "Mereka disambur dengan ucapan ''salam" serta mereka selalu dalam keadaan aman dan damai. Kata f fk*>) salam rerambil dari akar kata yang terdiri dari tiga huruf siri, laru, dan mim. M a k n a dasar dari kata y a n g terangkai dari huruf-huruf ini adalah luput dari kekurangan, kerusakan dan aib. Dari sini, kara selamat

470

Surah al-Hijr [15]

Kelompok III Ayat 47-48

diucapkan misalnya bila terjadi hal-hal y a n g tidak diinginkan, n a m u n tidak mengakibatkan kekurangan atau kecelakaan. Salam atau damai semacam ini adalah damai pasif. Ada j uga damai positif Ketika Anda mengucapkan selamat kepada seseorang yang sukses dalam usahanya, ucapan itu adalah cermin dari kedamaian yang positif. Di sini, bukan saja ia terhindar dari keburukan, tetapi lebih dari itu, ia meraih kebajikan/sukses. M a k n a inilah y a n g dimaksud oleh ayat di atas. Sayyid Quthub memperhadapkan uraian ayat-ayat ini dengan uraian ayatayat yang lalu. Bukan saja antara penghuni surga dan neraka, tetapi juga pada perincian perolehan masing-masing. "Agaknya, uraian tentang mata air-mata air diperhadapkan dengan pintu-pintu di neraka; masuknya penghuni surga dengan salam, dan d a m a i berhadapan dengan rasa takut y a n g m e n c e k a m di neraka, dan ayat berikut yang menguraikan dicabutnya kedengkian dari hati para penghuni surga diperhadapkan dengan kedengkian yang membakar hati iblis, sedang keadaan penghuni surga yang tidak disentuh oleh keletihan dan tidak k h a w a t i r terusir dari surga merupakan ganjaran akibat rasa takut dan ketakwaan mereka ketika hidup di d u n i a sehingga mereka wajar mendapar tempat y a n g menenangkan di sisi Allah swt. Tuhan mereka Yang M a h a Pemurah." D e m i k i a n Sayyid Q u t h u b .

AYAT 4 7 - 4 8

"Dan Kami

cabut apa yang berada dalam

dada-dada

mereka dari segala di atas

dendam, mereka menjadi saudara-saudara, dipan-dipan.

duduk berhadap-hadapan

Mereka tidak disentuh di dalamnya oleh kelelahan dan mereka

sekali-kali tidak akan dikeluarkan. "

Setelah menjelaskan kediaman orang-orang bertakwa di akhirat nanti, ayat ini menjelaskan kondisi kejiwaan serta h u b u n g a n timbal balik mereka dengan sesamanya. Ayat ini m e n g g a m b a r k a n hal itu dengan menyatakan: Dan Kami cabut sampai ke akar-akarnya sehingga tidak akan muncul lagi dan tidak juga berbekas apa yang tadinya ketika di dunia berada dalam dada-

Kelompok III Ayat 47-48

Surah al-Hijr [15]

471

dada, vakni hati mereka, dari segala dendam kesumat, dengki, dan permusuhan dan, d e n g a n d e m i k i a n , mereka menjadi saudara-saudara y a n g saling

bersahabat. Persahabatan dan persaudaraan mereka ditandai antara lain dengan keadaan m e r e k a duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan sambil

bercengkerama dan bersenda gurau. Itu berlanjut setiap saat, tetapi kendati d e m i k i a n mereka tidak disentuh di dalamnya oleh kelelahan atau kejemuan dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan dari kenikmatan dan surga

itu. M e r e k a akan m e n i k m a t i n y a u n t u k selama-lamanya. Kata ( kekeruhan. ) ghill terambil dari kara ( J J p ) ghalala yang antara lain berarti Dari sini, kata tersebut d i p a h a m i j u g a d a l a m arti permusuhan,

dengki, iri hati, dan dendam kesumat yang kesemuanya melahirkan kekeruhan jiwa. K e t i k a m e n a f s i r k a n Q S . a l - A ' r a f [71: 4 3 , p e n u l i s a n t a r a l a i n mengemukakan ( pjbjjj*,? J U dalam dada-dada bahwa kata (
LPJJ )

naza'na

pada

firman-Nya:

) wa naza'nd ma ji shudurihirnlKanii

cabut apa yang ada

mereka mengisyaratkan bahwa kekeruhan itu dicabut

hingga ke akar-akarnya sehingga naluri yang mengantar kepada dengki dan dendam tidak akan pernah ada lagi di surga nanti. Seandainya ayat ini berkata Kami hapus, dapat d i p a h a m i b a h w a sumber y a n g dapat m e n i m b u l k a n kesalahpahaman dan permusuhan masih ada sehingga boleh jadi suatu ketika muncul kembali. Untuk menghapus kesan tersebut avat ini menyatakan Kami cabut. M e m a n g di d u n i a — b a h k a n di tempat y a n g n y a m a n sekali p u n — t i d a k jarang terjadi kesalahpahaman bahkan kedengkian antara seseorang dan vang lain, k e n d a t i mereka t a d i n y a sangat bersahabat. Ini dapat menjadikan h u b u n g a n mereka tidak harmonis, yang pada g i l i r a n n y a m e n i m b u l k a n keresahan dan kekeruhan hidup. Nah, ayat ini bermaksud menjelaskan bahwa di surga sana kehidupan para penghuninya sangat harmonis sehingga mereka menjadi saudara-saudara y a n g bersahabat, yakni sama-sama senang dan bahagia, tidak ada ganjalan sedikit pun d a l a m haii mereka, kini dan masa datang. Ini sejalan juga dengan pernyataan y a n g berkali-kali ditegaskan alQur'an b a h w a penghuni surga tidak akan mengalami rasa rakut dan tidak pula akan bersedih hati.

472

Surah al-Hijr [15]

Kelompok III Ayat 47-48

Melalui ayat ini, S a y y i d Q u t h u b menggarisbawahi bahwa a g a m a Islam sama sekali tidak berusaha untuk mengubah tabiat manusia dalam kehidupan dunia ini atau m e n g a l i h k a n manusia menjadi m a k h l u k y a n g lain. Karena itu, d i a k u i n y a bahwa ada dengki dan dendam kesumat dan ada permusuhan y a n g dapat hinggap di hati manusia. N a m u n , keberadaannya itu tidak menghilangkan keimanan dan keislaman mereka dari akar-akarnya. Islam hanya membimbing agar gejolak sifat-sifat itu melemah sambil mengarahkan manusia menuju ketinggian dan keluhuran dengan mengajaknya untuk cinta di jalan Allah swt., demikian juga benci di jalan Allah swt. B u k a n k a h Iman tidak lain dari cinta dan benci? Di surga nanti, p e n g h u n i n y a telah mencapai puncak tertinggi kemanusiaannya setelah berhasil melaksanakan peranannya di pentas hidup duniawi, di sana dan ketika itu Allah swt. mencabut dari l u b u k hati manusia sumber rasa dengki dan permusuhan sehingga y a n g ada di surga tidak lain kecuali persaudaraan y a n g tulus lagi sangat bersahabat. Itulah tingkat penghuni surga. Siapa y a n g sering kali merasakannya d a l a m dirinya pada kehidupan dunia ini, hendaklah dia bergembi ra karena itu adalah indikator bahwa dia adalah penghuni surga selama iman menyertai rasa itu. Amal y a n g luput dari iman tidak sah dan tidak diterima oleh Allah swr. Demikian lebih kurang tulis Sayyid Q u t h u b . Anda jangan m e n d u g a bahwa hal tersebut mustahil dalam kehidupan d u n i a ini. Syaikh Mutawalli asy-Sya'rawi dalam tafsirnya mengutip riwayat y a n g menyatakan bahwa Sayyidina 'Ali Ibn A b i T h a l i b ra. beserta az-Zubair Ibn a l - A w w a m , y a n g k e d u a n y a termasuk di antara sekian orang y a n g digembirakan oleh Rasul saw. sebagai penghuni surga, kedua tokoh tersebut b e r h a d a p a n sebagai l a w a n d a l a m Perang a l - J a m a l . S a y y i d i n a 'Ali ra. m e n y a m p a i k a n pada az-Zubair yang sedang m e m e r a n g i n y a itu, "Bukankah Rasul saw. pernah berkata kepada engkau bahwa engkau akan memerangi 'Ali sedang engkau dalam keadaan menzaliminya?" Mendengar hal tersebut, Iman yang bersemai di hati az-Zubair mendorongnya meletakkan pedangnya dan menghentikan peperangan. Demikian iman mencabut permusuhan dari dada k a u m m u k m i n i n . D a l a m peperangan itu, terlibat juga Thalhah Ibn 'Ubaidillah. Sayyidina 'Ali ra. berkata bahwa, "Aku dan a y a h m u dianugerahi bagian dari apa yang diinformasikan oleh ayat-ayat ini." Salah seorang hadirin

Kelompok III Ayat 47-48

Surah al-Hijr [15]

473

berkomentar, "Tuhan Mahaad.il, sehingga m a n a m u n g k i n Dia m e n g h i m p u n engkau (wahai 'Ali) dengan T h a l h a h di surga." 'AU Ibn Abi T h a l i b ra. menjawab, (JiJA

"Jika

demikian,
)

apa

makna

firman

Allah

swt.: cabut

(frAjj-u? J L U P J J J a

wa naza'nd rndfi sbuduribim minghiWKami mereka, dari segala dendam?"

apa yang berada dalam dada-dada Kata ( kesulitan hidup.

) nashab berarti keletihan fisik dan atau keresahan hati serta

KELOMPOK 4

AYAT 4 9 - 8 4

475

476

Surah al-Hijr [15]

Surah al-Hijr [15]

477

478

Surah al-Hijr [15]

Kelompok IV Ayat 49-50

AYAT 4 9 - 5 0

"Kabarkanlah

hamba-hamba-Ku,

bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha adalah

Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku azab yang sangat pedih. "

Kandungan kelompok ayat yang lalu menggambarkan janji dan ancaman Allah swt., rahmat dan siksa-Nya. Nah, kelompok ayat ini berbicara tentang contoh dari curahan rahmat y a n g dialami oleh Nabi Ibrahim as., N a b i Luth as. dan k e l u a r g a n y a — k e c u a l i istrinya—serta contoh siksa-Nya terhadap p e n d u d u k Alkah dan al-Hijr. Di sisi lain, dapat juga terlihat hubungan ayat-ayat berikut dengan uraian awal surah pada ayat 3, 4, dan 5, y a k n i firman-Nya:

"Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang dan dilalaikan angan, maka kelak mereka akan mengetahui. Dan Kami tidak suatu negeri pun, melainkan ada baginya ketentuan

oleh anganmembinasakan telah dan

masa yang ajalnya,

ditetapkan. tidak (pula)

Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului dapat mengundurkan (nya)."

Di sini, d i u r a i k a n

tentang

kehancuran negeri-negeri yang durhaka penduduknya itu. Uraian kelompok ayat ini dapat j u g a berhubungan dengan uraian pada awal surah yang berbicara tentang usul kaum kafirin agar malaikat diturunkan Allah, y a n g kemudian dijelaskan bahwa mereka tidak turun kecuali dengan hak antara lain u n t u k m e m b a w a siksa (ayat 8 ) . D e m i k i a n terlihat aneka hubungan yang erat antara uraian ayat-ayat di atas dan ayat-ayat sebelumnya— walaupun ayat-ayat surah ini tidak turun sekaligus, tetapi dalam selang waktu y a n g tidak pendek. Al-Blqa'i menguraikan bahwa konteks ayar yang lalu mengesankan bahwa yang akan selamar dan memeroleh surga hanyalah yang benar-benar bertakwa

Kelompok IV Ayat 49-50

Surah al-Hijr [15]

479

y a n g sama sekali tidak dipengaruhi oleh setan karena pengertian

mukhlash

yang disinggung oleh ayat 4 0 y a n g lalu adalah yang m u r n i ridak bercampur dengan sesuatu selainnya. Padahal manusia—-lanjut al-Biqa'i—-adalah makhluk yang tidak sempurna sehingga ketidaksempurnaan/kekurangannya itu dapat dinilai bertentangan dengan hakikat takwa dan keikhlasan, dan ini dapat menjadikan manusia berputus asa lalu mengantarnya menjauh dari Allah swt. N a h , u n t u k m e n g h i l a n g k a n kesan itu sambil menjawab siapa y a n g m u n g k i n bertanya bagaimana dengan mereka yang tidak menegakkan takwa dengan sempurna, ayat ini ditempatkan di sini. Apa pun h u b u n g a n y a n g A n d a pilih, y a n g pasti adalah Allah swt. berfirman: Kabarkanlah k e p a d a hamba-hamba-Ku y a n g taat dan y a n g Akulah

bergelimang d a l a m dosa dan ingin bertaubat bahwa sesungguhnya sendiri Yang Maha Pengampun

lagi Maha Penyayang, dan kabarkan pula

kepada mereka yang durhaka dan enggan bertaubat bahwa sesungguhnya azabKu adalah azah yang sangat pedih. Kata ('Jj ) nabbi' terambil dari kata ( i j ) nabd yaitu berita yang penting. Kata ini berbeda dan lebih khusus dari kata ( j± ) khabar yang berarti berita secara u m u m . Kedua ayat di atas dapat juga dipahami sebagai isyarat bahwa perolehan surga adalah semata-mata karena pengampunan dan rahmat Allah swt., sedang m a s u k n y a seseorang ke neraka semata-mata karena keadilan-Nya. A y a t di a t a s m e n g g u n a k a n beberapa redaksi penguat ketika

menginformasikan pengampunan dan rahmat Allah, yaitu: a) sesungguhnya; b) A k u ; dan c) kedua huruf alifdan larn pada kata al-Ghafurdan ar-Rahi/u.

Di sisi lain ketika menyampaikan siksa, ayat ini tidak menunjuk langsung kepada Zat Allah dengan menyatakan, Aku yang menyiksa" berbeda, dengan pengampunan-Nya. Hal ini a g a k n y a disebabkan y a n g menganugerahkan

pengampunan hanya Allah semara, tidak ada keterlibatan selain-Nya, sedang dalam penyiksaan, Allah swr. dapar menugaskan pelaksanaannya kepada m a k h l u k . Telah sering kali penulis k e m u k a k a n b a h w a j i k a Allah swt. m e n u n j u k diri-Nya dalam bentuk tunggal (Aku), hal tersebut antara lain sebagai isyarat bahwa tidak ada yang terlibat dalam hal itu selain-Nya, berbeda jika menunjuk diri-Nya dalam bentuk j a m a k , yakni dengan kata Kami.

480

Surah al-Hijr [15]

Kelompok IV Ayat 51-52

Didahulukannya penyebutan rahmat dan pengampunan Allah atas siksaN v a mengisyaratkan b a h w a pada dasarnya rahmat dan p e n g a m p u n a n - N y a mendahului serta m e n g a l a h k a n amarah dan siksa-Nya, sejalan juga dengan firman-Nya dalam satu hadits Qudsi: Rahrnat-Ku amarah-Ku. mengalahkan/mendahului

AYAT 5 1 - 5 2

Dan kabarkan mereka tentang tamu-tamu tempatnya, maka mereka mengucapkan,

Ibrahim. Ketika mereka masuk ke "Salam". Ibrahim berkata,

"Sesungguhnya kami merasa takut kepada kamu. "

Di atas, telah dikemukakan pendapat Sayyid Q u t h u b tentang hubungan avat-ayat ini dengan yang sebelumnya. Al-Biqa'i menjadikan ayat ini sebagai penjelasan tentang m a k n a ( ^ U V i 1 ^Jjl agar orang-orang berakal mengambil
J

5*AJJ )

waliyadzdzakkara

ululalbdb/

pelajaran

setelah a y a t - a y a t l a l u

menjelaskan kandungan m a k n a firman-Nya:

"Supaya mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan YangMaha Esa. " y a n g merupakan p e n u t u p surah y a n g lalu (QS. Ibrahim [ 1 4 ] : 5 2 ) . Ibn 'Asjair memahami dari perintah ayat ini untuk mengabarkan tamu-tamu tentang

Ibrahim setelah sebelumnya telah diperintahkan mengabarkan

tentang rahmat dan siksa Ilahi sebagai salah satu bukti bahwa apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim as. itu merupakan rahmat Allah y a n g m e l i m p a h kepada h a m b a - h a m b a - N y a yang taat. Dapat juga d i k a t a k a n bahwa, setelah m e m e r i n t a h k a n untuk

m e n y a m p a i k a n salah satu hakikat yang sangat penting m e n y a n g k u t sifatsifat Allah swt., kini Rasul saw. diperintahkan untuk m e n y a m p a i k a n hakikat penting l a i n n y a m e n y a n g k u t Nabi Ibrahim as., Bapak para nabi, serra P e n g u m a n d a n g Tauhid, serta tokoh y a n g sangat d i h o r m a t i oleh k a u m musyrikin Mekkah, bahkan juga oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Berita

Kelompok IV Ayat 53-56

Surah al-Hijr [15]

481

y a n g disampaikan tentang Nabi Ibrahim, as. itu berkaitan dengan sikap k a u m musyrikin yang d e m i k i a n berani m e n u n t u t t u r u n n y a malaikat. Di sini dinyatakan: Dan kabarkan j u g a kepada mereka tentang tamu-tamu yakni para malaikat y a n g datang d a l a m bentuk para tamu. Ketika Ibrahim, mereka

masuk ke tempatnya, y a k n i ke r u m a h n y a , maka pada saat m a s u k itu mereka mengucapkan, "SalAm". Ibrahim berkata—setelah menjawab salam t a m u -

t a m u n y a itu—-yakni berkata dengan bahasa lisan atau m e n a m p i l k a n sikap y a n g m e n y a t a k a n bahwa: "Sesungguhnya kami, yakni aku bersama istriku, merasa takut kepada kamu. " Rujuklah ke surah H u d ayat 6 9 dan seterusnya u n t u k mengetahui

perincian pertemuan Nabi Ibrahim as. dengan para malaikat itu. Bahwa di sana disebutkan secara terperinci dan di sini sepintas karena masing-masing uraian memiliki konteks dan tujuan pemaparan yang berbeda-beda. Kata ( jjisrj ) wajiliin terambil dari kata ( J ^ - j ) waja/yaitu hati akibat menduga akan terjadi sesuatu yang buruk. keguncangan

AYAT 5 3 - 5 6

Mereka

berkata,

"Janganlah

engkau

merasa

takut,

sesungguhnya

kami berkata, oleh aku maka

menggembirakanmu "Apakah kamu ketuaan,

dengan seorang anak laki-laki yang 'alim. " Dia aku, padahal

menggembirakan

aku telah disentuh

maka dengan cara bagaimanakah menjawab,

apa yang kamu gembirakan dengan haq,

(itu)?" Mereka janganlah

"Kami menggembirakanmu

engkau termasuk

orang-orang yang berputus asa. " Dia Tuhannya, kecuali

berkata,

"Tidak ada yang berputus asa dari rahmat yang sesat. "

orang-orang

Setelah t a m u - t a m u , y a i t u para malaikat itu, melihat gelagat takut atau mendengar penyampaian N a b i Ibrahim as. bahwa beliau dengan istrinya merasa takut, m a k a mereka berkata, Janganlah engkau, wahai Nabi Ibrahim

as., merasa takut dengan kedatangan kami dan karena kami tidak menyentuh makanan yang engkau hidangkan, sesungguhnya kami datang

482

Surah al-Hijr [15]

Kelompok IV Ayat 53-56

menggembirakanmu,

yakni menyampaikan kabar gembira kepadamu, dengan

kelahiran seorang anak laki-laki y a n g k u a t — b u k a n seperti anak y a n g lahir dari orangtua bangka yang kekurangan gizi. Anak itu akan t u m b u h dewasa d a n y a n g a k a n m e n j a d i s e o r a n g yang 'alim, yakni sangat dalam

pengetahuannya." Anak vang dimaksud adalah Nabi lshaq as. Dia, yakni Nabi Ibrahim as., berkata setelah mendengar berita yang dinilainya sangat aneh itu, "Apakah kamu, wahai t a m u - t a m u k u , menggembirakan aku dengan kelahiran a n a k yang telah lama k u d a m b a k a n itu padahal aku telah disentuh oleh ketuaan, yakni usiaku telah lanjut, k e k u a t a n k u pun telah rapuh, maka dengan cara bagaimanakah kamu gembirakan dapat terlaksana apa, y a k n i berita gembira, yang "Kami menggembirakanmu

aku iru?" Mereka menjawab,

dengan disertai oleh haq, yakni melekat pada pemberitaan kami Iru kebenaran yang pasti lagi akan sesuai dengan kenyataan, maka karena itu janganlah

engkau termasuk orang-orang yang berputus asa. "Dia, yakni Nabi Ibrahim as., berkata m e n y a n g g a h dugaan bahwa dia berputus asa bahwa, ' A k u sama sekali tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah karena aku percaya penuh kepada-Nya dan kekuasaan-Nya apalagi tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orangyangsesat, yakni yang tidak menemukan jalan kebenaran serta tidak menyadari kebesaran dan kekuasaan Allah. Ayat ini menjelaskan bahwa berita gembira itu disampaikan kepada Nabi Ibrahim as., sedang dalam surah H u d berita gembira itu disampaikan kepada istrinya. Boleh jadi p e n y a m p a i a n tersebut terjadi dua kali, y a n g pertama kepada Nabi Ibrahim as. dan y a n g k e d u a — t i d a k lama k e m u d i a n — k e p a d a istri beliau. Betapapun, yang pasti berita itu menggembirakan suami istri itu. Bahkan, kalaupun berita itu h a n y a disampaikan kepada salah seorang dari pasangan suami istri, itu berarti telah diterima oleh pasangannya. Para malaikat—sebagaimana rerbaca di atas—tidak melarang isrri Nabi Ibrahim as. takut, tetapi melarang Nabi Ibrahim as. sendiri {janganlah engkau merasa takut), padahal m e n u r u t N a b i I b r a h i m as., istrinya p u n takut:

"Sesungguhnya kami merasa takut kepada kamu", hal ini boleh jadi karena ketika istri Nabi Ibrahim as. ridak berada di hadapan para malaikat atau boleh jadi juga ini mengisyaratkan bahwa adalah tugas suami m e n a n a m k a n rasa a m a n kepada istrinya. J i k a suami merasa tenang, k e t e n a n g a n itu

Kelompok IV Ayat 57-60

Surah al-Hijr [15]

483

diharapkan beralih kepada istri, d e m i k i a n j u g a sebaliknya. Kesan ini dapat dirasakan j u g a ketika para malaikat itu membatasi dugaan berputus asa pada diri Nabi Ibrahim as. sendiri dengan ridak berkata, "Janganlah k a m u berdua sebagai suami istri berputus asa." Sementara u l a m a menggarisbawahi bahwa Nabi Ibrahim as. sama sekali tidak meragukan kekuasaan Allah. Beliau hanya terheran-heran dan merasa sangat aneh dan takjub jika dia yang telah tua dan istrinya yang dinilai mandul itu masih dapat memeroleh keturunan. M a k n a ini sejalan dengan ucapan istri N a b i Ibrahim as. itu y a n g diabadikan pada Q S . H u d [ 1 1 ] : 72. c ^ i J 1 JUB o l J~*^ i J O j jfytjjw oJls anak

<—-~^

<

CJij

Dia berkata:

"Sungguh mengherankan,

apakah aku akan melahirkan tua, dan ini suamiku dalam

padahal aku adalah seorang perempuan

keadaan

tua pula? Sungguh ini benar-benar sangat aneh. " Dengan d e m i k i a n , Nabi m u l i a itu seakan-akan berkata, "Aku tidak pernah berputus asa, aku hanya mempertanyakan tentang hal itu karena aku sangat gembira m e n d e n g a r n y a tetapi tercengang bagaimana berita gembira itu dapat terlaksana. Karena itu, aku bertanya.'' Boleh jadi j u g a , saking gembiranya, beliau bertanya lagi bukan karena tidak percava, tetapi karena ingin mendengar sekali lagi berita gembira itu.

AYAT 5 7 - 6 0

Dia berkata, "Apakah urusan kamu, wahai para utusan?" Mereka "Sesungguhnya pengikut kami diutus kepada kaum pendurhaka, kami akan menyelamatkan kecuali

menjawab, pengikutsemua, termasuk

Luth. Sesungguhnya

mereka

kecuali istrinya, kami telah menentukan, orang-orang yang tertinggal. "

bahwa sesungguhnya dia

Para tamu itu meyakinkan Nabi Ibrahim as., setelah m e n y a d a r i b a h w a mereka adalah malaikat utusan-utusan Allah swt. dan menyadari pula bahwa malaikat tidak turun kecuali aras perintah Allah ( Q S . M a r y a m [ 1 9 ] : 64},

484

Surah al-Hijr [15]

Kelompok IV Ayat 57-60

dan bahwa kedatangannya selalu disertai dengan haq ( Q S . al-Hijr f 1 5 ] : 8 ) , Nabi Ibrahim as. mengalihkan pembicaraan dengan bertanya. Dia berkata,

"Apakah urusan kamu y a n g penting selain p e n y a m p a i a n berita gembira iru, wahai para utusan Allah?" Mereka menjawab, oleh Allah swt. kepada kaum pendurhaka kecuali pengikut-pengikut "Sesungguhnya kami diutus

u n t u k m e m b i n a s a k a n mereka

latih dan tentu Nabi Luth as. bersama mereka.

Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua dengan penyelamatan s e m p u r n a , kecuali istrinya. D i a t i d a k akan d i s e l a m a t k a n , kami telah

menentukan, sesuai dengan perintah dan keputusan Allah yang disampaikanN y a k e p a d a kami, bahwa sesungguhnya dia termasuk tertinggal bersama-sama dengan orang kafir lainnya." Kata ( fO&i-) khathbukum terambil dari kata (... hr^ ) khathaba yaitu orang-orang yang

berpidato/menyampaikan.

Biasanya, ia digunakan dalam arti berita yang penting

vang menjadi bahan pembicaraan dan penyampaian oleh banyak orang. Dari akar kata y a n g sama, lahir kata ( L k ? - ) khithbah, yakni lamaran untuk

m e n i k a h , bukan saja karena ia adalah berita penting tetapi j u g a karena hal tersebut menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Kata ( U j i i ) qaddarrui terambil dari kata ( f& ) qaddara y a n g berarti menetapkan. Yang menetapkan adalah Allah, tetapi di sini para malaikat

menyatakan bahwa mereka yang menetapkannya. Redaksi Ini serupa dengan ucapan salah seorang sraf y a n g sangat dekat kepada penguasa y a n g misalnya berkata, "Kami perintahkan ini atau itu," padahal vang memerintahkan adalah sang penguasa iru. Pendengarnya paham bahwa tidak m u n g k i n staf itu yang menetapkan, tetapi dia sekadar m e n g u c a p k a n n y a . U c a p a n itu lahir akibat kedekatannya kepada penguasa tersebut. Kara (
JJ^UJI

) al-ghdbirin adalah b e n t u k j a m a k y a n g d i g u n a k a n u n t u k

m e n u n j u k pria. Ini berarti bahwa sang istri y a n g durhaka iru termasuk salah seorang dari orang-orang yang tertinggal, yakni dibinasakan, sama dengan kebinasaan y a n g m e n i m p a k a u m lelaki. Statusnya sebagai wanita dan istri nabi tidak meringankan siksa itu atasnya sedikit pun.

Kelompok IV Ayat 61-64

Surah al-Hijr [15]

485

AYAT 6 1 - 6 4

Maka,

ketika para

utusan itu mendatangi

keluarga

Luth, dia

berkata, utusan

"Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal." Para menjawab, mereka "Sebenarnya kami dalang kepadamu Dan kami datang kepadamu

dengan azab yang selalu dengan kebenaran dan

dustakan.

sesungguhnya kami betul-betul orang-orang yang benar. "

Setelah selesai dialog para malaikat dengan Nabi Ibrahim as., mereka pun beralih u n t u k melaksanakan tugas mereka y a n g kedua, yakni terhadap k a u m ktith as. Maka, segera dan langsung ketika para utusan itu, yakni para m a l a i k a t y a n g t a d i n y a m e r u p a k a n t a m u - t a m u N a b i I b r a h i m as. itu, mendatangi rumah keluarga Nabi Luth as., dia, yakni Nabi Luth as., berkata, "Sesungguhnya kamu, wahai para pendatang, adalah orang-orang yang tidak dikenal." kepadamu Para utusan A l l a h itu menjaivab, "Sebenarnya kami datang dengan

b u k a n u n t u k b e r m a k s u d jahat, tetapi k a m i d a t a n g

m e m b a w a azab kepada k a u m m u yaitu azab yang selama ini selalu mereka dustakan jika e n g k a u m e n y a m p a i k a n n y a kepada mereka. Dan sekali lagi, jangan ragu sedikit pun m e n y a n g k u t tujuan kedatangan kami. Kami datang

kepadamu dengan m e m b a w a kebenaran yang melerai perselisihanmu dengan k a u m m u y a n g m e n d u s t a k a n m u dan sesungguhnya kami betul-betul orangyang benar d a l a m ucapan dan perbuatan kami. " Kata ( Oj^S^a) munkarun/'tidak dikenal terambil dari kata ( yang berarti tidak mengetahui atau tidak merasa tenang serta tidak ) nakara bersimpati. orang-

Kata y a n g digunakan ayat ini dipahami oleh para u l a m a dalam arti bahwa t a m u - t a m u yang datang itu adalah otang-otang asing y a n g tidak dikenal di kalangan masyarakat sehingga menimbulkan kecurigaan, rasa takut, dan gentar jangan sampai mereka bermaksud buruk. Sebenarnya, para malaikat itu bermaksud menemui Nabi Luth as. Tetapi, karena beliau tinggal bersama keluarga, mereka bagaikan m e n g u n j u n g i keluarga iru, di mana Nabi Luth as. merupakan kepala rumah tangga. Redaksi ini m e n g e s a n k a n p e n g h o r m a t a n k e p a d a k e l u a r g a N a b i Luth as. y a n g

486

Surah al-Hijr 115"!

Kelompok IV Ayat 65

dinyatakan sebagai dikunjungi oleh utusan-utusan Allah swt. Kata ( OjyS )yamtarim yang mendorong pelakunya terambil dari kata (hy>) miryahyaitu keraguan

curiga dan membantah secara menikahi 6uta

tanpa dasar. Penggalan ayat ini menginformasikan bahwa kedatangan para malaikat itu bertujuan menyiksa mereka dengan siksaan y a n g selama ini mereka ragukan k e h a d i r a n n y a dan y a n g selalu mereka pungkiri dengan berbagai dalih y a n g sangat rapuh. Ucapan para malaikat, sebagaimana terbaca di atas, menunjukkan betapa Nabi Luth as. gelisah dengan kedatangan para "orang-orang" iru yang sampai saat itu beliau belum tahu bahwa mereka adalah para malaikat. Keresahan dan rasa takut itu wajar karena para malaikat tersebut datang dengan tampan dan gagah, yang tentu saja akan m e n g u n d a n g kehadiran k a u m n y a y a n g tidak malu dan segan melakukan hubungan homoseksual. Penekanan dan penguatan ucapan malaikat itu juga diperlukan karena sebenrar lagi mereka akan meminta agar Nabi Luth as. meninggalkan lokasi p e m u k i m a n n y a sebagaimana terbaca pada ayat berikut. Pada surah Hud, identitas "tamu-tamu" Nabi Luth as. itu tidak terungkap kecuali serelah k a u m Nabi Luth as. datang u n t u k "mengganggu" para t a m u dan setelah mereka menolak harapan dan permohonan Nabi Luth as. Sedang di sini—sebagaimana terbaca pada ayat-ayat yang lalu—identitas mereka telah terungkap sejak semula dan uraian tentang m a k s u d buruk k a u m N a b i Luth as. diuraikan k e m u d i a n . H a l ini, m e n u r u t b a n y a k ulama, karena tujuan pemaparan kisah N a b i Luth as. di sini bukan kronologis peristiwa, tetapi penekanannya pada p e m b u k t i a n tentang kebenaran ancaman dan bahwa malaikar, bila datang kepada k a u m durhaka, kedatangan mereka m e m b a w a bencana, tanpa memberi tangguh.

AYAT 65

"Makapergilah

di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan

ikutilah

mereka dari belakang dan janganlah belakangdan teruskanlah perjalanan

seorang pun di antara kamu menoleh ke ke tempat yang diperintahkan kepadamu. "

Kelompok IV Ayat 65

Surah al-Hijr [15]

487

Setelah Nabi Luth as. mendapat ketenangan, para malaikat berkata kepadanya, "Jika sekarang engkau telah tenang dan mengetahui k e d a t a n g a n k a m i , maka pergilah di akhir malam dengan tujuan

membawa

keluargamu, dan ikutilah mereka dengan bersungguh-sungguh dari belakang, yakni jangan berada di depan, dan janganlah seorang pun di antara kamu

menoleh ke belakang agar perjalanan kalian dapat lancar ridak terganggti dengan pemandangan kiri dan kanan dan teruskanlah perjalanan yang diperintahkan Kata ( kepadamu. " b e n t u k j a m a k dari ( ) aith'ah, y a k n i bagian menuju ke tempat

) qith'adalah

terakhir dari sesuatu, sehingga yang dimaksud di sini adalah bagian terakhir m a l a m , menjelang subuh. Firman-Nya: ( ^AjUji ^ i t j ) wattabi adbarahum/ikutilah mereka dari

hebikang mengisyaratkan bagaimana seharusnya sikap seorang pemimpin vang bertanggung j a w a b . Bila ada bahaya y a n g mengancam, sang p e m i m p i n l a h y a n g harus berada di posisi yang terdekat dengan bahaya itu. Bahaya berupa siksa y a n g dijanjikan itu akan jatuh di kota yang k a u m Nabi Luth as. tinggalkan. Itu berarti yang berada di belakang adalah yang paling dekar dengan lokasi bahaya. Di sanalah Nabi Luth as. d i m i n t a berada. Bukan di bagian depan. Ini serupa dengan kapten kapal y a n g akan tenggelam, dia haruslah orang terakhir y a n g meninggalkan kapal. Di sisi lain, Nabi Luth as. d i m i n t a agar berada di belakang agar tidak ada seorang pengikutnya y a n g tertinggal. Yang d a t a n g l a m b a t p u n h e n d a k n y a d i a t u n g g u . S e d a n g , p e n g i k u t pengikutnya diminta untuk tidak menoleh, di samping agar perjalanan mereka tidak terganggu, juga karena boleh jadi dengan menoleh, mereka akan terpengaruh dengan apa y a n g ditinggal, baik harta benda m a u p u n keluarga yang durhaka. Ayat ini tidak menjelaskan ke arah mana Nabi Luth as. dan perigikutpengikutnya diperintah untuk berhijrah. Ada y a n g berkata ke Jordania, atau Syam, atau Mesir. Tidak ada penjelasan yang dapat diandalkan kesahihannya tentang arah mereka. Agaknya, pastilah ke suatu daerah yang p e n d u d u k n y a tidak m e l a k u k a n kedurhakaan seperti y a n g dilakukan k a u m Luth itu.

488

Surah al-Hijr [15]

Kelompok IV Ayat 66-69

AYAT 6 6

"Dan telah Kami

tetapkan

kepadanya perkara

itu, yaitu bahwa

belakang

mereka akan ditumpas habis di waktu subuh. "

Avat-ayat vang lalu telah menegaskan ketetapan Allah m e n y a n g k u t kebinasaan k a u m Luth, tetapi belum menginformasikan kapan terjadinya serta sebaras apa kebinasaan itu. Nah, ayat ini menjelaskan bahwa dan telah Kami tetapkan dan wahyukan kepadanya, yakni kepada Nabi Luth as., perkara y a n g sungguh mengerikan itu, yaitu bahwa belakang mereka akan ditumpas

habis, yakni mereka akan ditumpas sampai akhir sehingga tidak akan tersisa seorang pun, dan itu akan terlaksana di waktu subuh. Kata ( j * b ) ddbir dan segi bahasa berarti belakang. Dahulu, j i k a musuh telah terkalahkan, mereka lari pon tang pancing. Biasanya, yang ada di belakang tidak terkejar atau dibiarkan pergi karena pengejarnya sudah lelah dan bosan sehingga y a n g di belakang itu dapat berhasil lolos. Ayat ini m e n g g u n a k a n kara dabir untuk menjelaskan bahwa semua dibinasakan Allah swt., termasuk siapa y a n g ada di belakang, karena bagi Allah belakang dan depan sama saja dari segi k e m a m p u a n - N y a membinasakan siapa y a n g dikehcndaki-Nya. Ini berarti bahwa k a u m N a b i Luth as. itu dibinasakan secara total oleh Allah swt. melalui para malaikar y a n g diutus-Nya.

AYAT 6 7 - 6 9

Dan

datanglah

penduduk mereka

kota dengan

amat

gembira.

Dia

berkata, kamu kamu

"Sesungguhnya mempermalukan

adalah

tamu-tamuku,

maka janganlah

aku dan bertakwalah

kepada Allah dan janganlah

membuat aku terhina. "

J i k a ayat y a n g lalu m e n g g a m b a r k a n apa y a n g akan terjadi pada k a u m N a b i L u t h as. dan rencana para m a l a i k a t itu, a y a t ini beralih u n t u k

Kelompok IV Ayat 70-71

Surah al-Hijr [15]

489

m e n g u r a i k a n apa y a n g terjadi sebelum dialog iru ketika para pendurhaka mendengar bahwa ada "tamu-tamu" tampan di r u m a h Nabi Luth as. Dan datanglah sekian banyak orang p e n d u r h a k a dari penduduk kota

Sodom ke tempat Nabi Luth as. tinggal. Mereka datang dengan amat gembira atau saling g e m b i r a d a n m e n g g e m b i r a k a n karena m e r e k a bermaksud

m e l a k u k a n hubungan seks dengan t a m u - t a m u itu. M e l i h a t gelagat b u r u k itu, Nabi Luth as. sangat geram. Dia berkata, "Sesungguhnya mereka tamu-tamuku mempermalukan yang harus kita hormati, maka janganlah adalah kamu

aku dengan melakukan hal-hal y a n g tidak wajar apalagi

memaksanya melakukan hubungan seks dan bertakwalah kepada Allah, yakni lindungilah diri k a m u dari siksa Allah, dan janganlah terhina akibat p e r l a k u a n m u rerhadap mereka." Kata ( jadian. ) dhayfr/tamu-tamuku m e n g g u n a k a n bentuk mashdarlkata kamu membuat aku

Karena itu, ia dapat berarti tunggal dapat j u g a berarri jamak. Yang

dimaksud di sini adalah jamak karena avat-avat vang lalu menggunakan bentuk jamak untuk menunjukkan kedatangan para malaikat yang merupakan utusanutusan Allah. P e n e k a n a n b e l i a u d e n g a n m e n y e b u t k a t a tamu sambil

m e n u n j u k bahwa t a m u - t a m u itu adalah orang-orang y a n g berkunjung kepadanya mengisyaratkan bahwa mereka adalah para t a m u y a n g harus dihormati karena demikianlah seharusnya pelayanan terhadap yang bertamu dan bahwa beliau yang paling bertanggung jawab karena mereka berkunjung untuk menemui beliau. Ucapan Nabi Luth as. ini bertujuan membangkitkan dorongan agar kaumnya mengindahkan tata krama penghormatan kepada tamu. Kata ( jy*~ati ) tafdhahun terambil dari kata (£-£3 )fltdhaha yang berarti membuka. Kata (
~A—_

>,'»,)

fadhihah

adalah terbuka dan tersebarnya

sesuatu

yang dinilai aib atau buruk sehingga m e m a l u k a n dan m e n c e m a r k a n n a m a baik yang bersangkutan.

AYAT 7 0 - 7 1

Mereka berkata, "Dan bukankah kami telah melarangmu menyangkut alam?"Dia berkata, "Inilahputri-putriku

seluruh

jika kamu hendak berbuat. "

490

Surah al-Hijr [15]

Kelompok IV Ayat 70-71

Nasihat, bahkan permohonan, Nabi Luth as. tidak digubris oleh para pendurhaka dari k a u m n y a itu. Mereka berkata dengan a n g k u h dan kasar, "Bukankali engkau telah mengetahui bahwa kami pasti akan terus melakukan apa yang kami anggap baik dan bukankah kami telah melarangmu menyangkut

seluruh alam, yakni m e l a r a n g m u melindungi pria y a n g k a m i bermaksud melakukan hubungan dengannya?" M e n d e n g a r u c a p a n dan m e l i h a t sikap m e r e k a iru, N a b i L u t h as. menawarkan alternatif lain. Dia berkata, "Inilahputri-putri kaumku, nikahilah

mereka jika kamu hendak berbuat, y a k n i melampiaskan dorongan seksual k a m u , karena irulah cara yang halal, sehat, terhormat, dan sesuai dengan fitrah manusia." Firman-Nya: (
J^^
1

^ILGJ

jljt ) awalam nanhaka

ani al-'di

amin/dan

bukankah kami telah melarangmu

menyangkut seluruh alam d i p a h a m i oleh

asy-Sya'rawi dalam arti "Bukankah kami telah memperingatkan mu agar ridak menerima para pemuda yang tampan. Tetapi, karena engkau telah menerima mereka, kami akan m e l a k u k a n apa y a n g kami sukai terhadap mereka." Firman-Nya: ( J U J i*i3* ) hd'uld 'i banatilinilahputri-putriku ada u l a m a

yang memahaminya dalam arti putri kandung beliau. Dan, menurut penganut paham ini, walaupun putrinya hanya dua atau tiga orang, sedang y a n g datang m e n e m u i beliau b a n y a k pria, y a n g beliau m a k s u d k a n adalah m e n i k a h k a n kedua atau ketiga putrinya itu dengan dua atau tiga tokoh masyarakatnya yang diharapkan dapat memengaruhi dan mencegah yang lain. Pendapat yang lebih baik adalah m e m a h a m i n y a dalam arti putri-putri kaumku, yakni wanita

y a n g tinggal di p e m u k i m a n mereka. M e m a n g , nabi atau p e m i m p i n suatu masyarakat adalah bapak anggota masyarakat itu, sedang masyarakat umum—• apalagi yang m u d a — a d a l a h putra-putri bangsa. Kerika menafsirkan Q S . H u d 7 8 , penulis mengutip pendapat al-Biqa'i yang menyatakan bahwa ucapan Nabi Luth as. inilah putri-putriku bukanlah

dalam pengertian hakiki, tetapi peringatan kepada k a u m n y a bahwa mereka tidak dapat menyentuh tamu-tamu itu kecuali jika mereka menyentuh terlebih d a h u l u — s e c a r a paksa—putri-putri beliau karena pencemaran nama akibat m e l a k u k a n hal y a n g tidak wajar terhadap putri atau tamu sama buruknya, bahkan boleh jadi terhadap t a m u lebih buruk. Ini, tulis al-Biqa'i, serupa

Kelompok IV Ayat 72-77

Surah al-Hijr [15]

491

d e n g a n seseorang y a n g b e r m o h o n k e p a d a siapa y a n g m e m u k u l a g a r menghentikan p u k u l a n n y a dan bila dia tidak berhenti atau m e m u k u l lebih keras lagi, ketika itu si pemohon merangkul y a n g dipukul agar terhindar dari pukulan. Rujuklah, ke penafsiran ayat serupa dalam surah H u d [11]: 7 8 untuk m e m a h a m i lebih j a u h k a n d u n g a n m a k n a ayat i n i .
19

AYAT 7 2 - 7 7

"Demi umurmu! terombang-ambing.

Sesungguhnya " Maka

mereka

di dalam

kemabukan oleh suara

mereka yang

mereka

dibinasakan

keras

mengguntur ketika matahari akan terbit. Maka, Kami jadikan yang di atasnya ke bawahnya dan Kami hujani mereka dengan (batu) sijjil. Sesungguhnya yang dijalan terdapat

pada yang demikian itu benar-benar terdapat ayat-ayat bagi orang-orang memerhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya ia benar-benar terletak

yang masih tetap. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar tanda bagi orang-orang mukmin P

S u n g g u h , k a u m N a b i Luth as. itu telah m e l a m p a u i batas. M a k a , sejenak—sebelum melanjutkan uraian tentang mereka—Allah berfirman, "Demi umurmu, wahai Nabi M u h a m m a d , yang penuh dengan sifat dan amalamal terpuji, Sesungguhnya mereka k a u m Luth itu di dalam mereka m e l a m p i a s k a n nafsu mereka, terus-menerus kemabukan

terombang-ambing

sehingga mereka tidak menyadari kesesatan mereka, bahkan semakin menjadijadi. Maka akibatnya mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur,

yang terjadi ketika matahari akan terbit. Maka, akibat suara yang menggelegar itu, Kami jadikan negeri k a u m Luth itu. yang di atasnya terbalik ke bawahnya, hujani

yakni Kami hancurkan sehingga menjadi j u n g k i r balik, dan Kami

mereka secara bertubi-tubi dengan batu sijjil, yakni batu bercampur tanah atau tanah bercampur air, lalu m e m b e k u dan mengeras menjadi batu, y a n g m e n i m p a dan membinasakan mereka.

Rujuk volume 5 halaman 698.

492

Surah al-Hijr [15]

Kelompok IV Ayat 72-77

Sesungguhnya pada yang demikian y a n g disampaikan Ini, benar-benar

itu, yakni pada peristiwa-peristiwa y a k n i tanda-tanda tanda-tanda yang

terdapat ayat-ayat,

kekuasaan Allah, bagi orang-orang yang memerhatikan terhampar dan terhidang di alam raya.

j a n g a n d u g a apa y a n g diuraikan ini tanpa dasar atau kisah khayal. Peristiwanya benar-benar terjadi dan masih segar d a l a m ingatan masyarakat dan sesungguhnya ia, yakni p e m u k i m a n k a u m Luth itu, benar-benar di jalan terletak

u m u m yang masih tetap sehingga dapat dilalui dan dilihat bekasdemikian

bekas kehancurannya oleh para pejalan. Sesungguhnya pada yang

itu, y a k n i pada peristiwa-peristiwa y a n g d i a l a m i oleh N a b i Ibrahim as. dan Luth as. dan k a u m mereka, benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah y a n g sangat jelas bagi orang-orang mukmin.

Ayat 73 di atas tidak bertentangan dengan firman-Nya pada ayat 6 6 yang menyatakan: "Bahwa belakang mereka akan ditumpas habis di waktu

subuh"kaiena yang dijelaskan oleh ayat 6 6 itu adalah awal siksaan yang terjadi menjelang subuh, sedang y a n g dijelaskan di sini adalah k e p u n a h a n mereka y a n g rerjadi ketika matahari telah terbit, atau dapat j u g a kata musyriqin

diartikan ketika matahari akan terbit sehingga, kedua ayat tersebut semakna. Lirman-Nya: (lg!iL-> l^Jlp LU^j )fajaalnd yang di atasnya kehancuran ke bawahnya, 'alaih d sufilah di Kami. jadikan tentang dengan fitrah?

di s a m p i n g m e m b e r i g a m b a r a n persamaan sanksi itu

total, j u g a m e n g e s a n k a n

k e d u r h a k a a n mereka. B u k a n k a h m e r e k a j u g a m e m u t a r b a l i k k a n

Seharusnya, pelampiasan syahwat dilakukan dengan lawan seks, tetapi mereka m e m b a l i k n y a menjadi homoseks. Seharusnya, ia d i l a k u k a n dengan penuh kesucian, tetapi mereka menjungkirbalikkan dengan m e l a k u k a n n y a p e n u h kekotoran dan kekejian. Seharusnya, ia tidak dibicarakan secara terbuka, tidak dilakukan di tempat u m u m , tetapi mereka m e n j u n g k i r b a l i k k a n n y a dengan m e m b i c a r a k a n di tempat-tempat terbuka dan m e l a k u k a n n y a di tempat

u m u m . D e m i k i a n sanksi sesuai dengan kesalahan. Kata ( JJ^>) sijjil, m e n u r u t al-Biqa'i, m e n g a n d u n g m a k n a ketinggian.

Atas dasar itu, u l a m a ini m e m a h a m i batu-batu tersebut dilemparkan dari tempat y a n g ringgi. Rujuklah ke ayat-ayat surah H u d u n t u k lebih dalam apa y a n g terjadi pada k a u m Nabi Luth as. itu. memahami

Kelompok IV Ayat 72-77

Surah al-Hijr [15]

493

Tbabathaba'i, ulama yang berasal dari Persia, Iran, mendukung pendapat y a n g m e n y a t a k a n b a h w a kata tersebut berasal dari bahasa Persia y a n g m e n g a n d u n g m a k n a batu dan tanah yang basah. Boleh jadi apa yang menimpa k a u m Luth i t u — d e m i k i a n juga peristiwaperistiwa l a i n — m e r u p a k a n gempa b u m i atau letusan g u n u n g merapi y a n g ditetapkan Allah swt. bertepatan dengan kedurhakaan para p e m b a n g k a n g . Persesuaian w a k r u itu adalah u n t u k menyelaraskan antara i l m u - N y a y a n g Qadim dan setiap kasus, seperri kasus N a b i Luth as. ini. Boleh jadi j u g a ia adalah pengaturan khusus dari Allah swt. dalam rangka membinasakan k a u m Luth. D e m i k i a n lebih kurang komentar Sayyid Q u t h u b . Kata ( j ^ J i j s l i ) al-mutawassimin al-mutawassim. Ia terambil dari kata ( dengan tekun serta adalah bentuk j a m a k dari kata ( pJ>j&\) ) at-tawassum yang pada mulanya meneliti dengan saksama. Yang

b e r a r t i berpikir

m e l a k u k a n n y a dilukiskan oleh bahasa sebagai seseorang y a n g m e m a n d a n g sesuatu dari atas ke bawah. S e m e n t a r a u l a m a m e n g g a r i s b a w a h i b a h w a kegiatan itu dapat terlaksana dengan baik bila pikiran cerah, hati bersih, dan dengan pengamatan y a n g j i t u . Ada juga u l a m a y a n g m e n a m b a h k a n bahwa ini s e r u p a d e n g a n firasat yang tidak dapat diraih kecuali dengan

mengosongkan hati dari segala keburukan serta menghiasi diri dengan akhlak y a n g m u l i a . D i r i w a y a t k a n b a h w a Nabi saw. bersabda, "Berhati-hatilah terhadap firasat seorang m u k m i n karena dia melihat dengan nur Ilahi." Lalu, beliau membaca ayat di atas (HR. at-Tirmidzi, melalui Abu S a ' i d ) . Secara singkar dan sederhana dapat dikatakan bahwa al-mutawassimin adalah mereka

yang memerhatikan dengan saksama tanda dan indikator-indikator, mencari sebab-sebab dan akibat sesuatu, serta m e n g a m b i l pelajaran darinya; dan iru adalah sifat orang-orang m u k m i n . Al-Biqa i memahami penggunaan al-mutawassimin dalam ayat ini sebagai yakni

ejekan kepada k a u m musyrikin y a n g m e n g a k u sebagai mutawassimin,

orang-orang yang memiliki k e m a m p u a n m e n a r i k pelajaran, tetapi justru mereka mengabaikan sekian b a n y a k ayat-ayat Ilahi y a n g terhampar. Sifat mereka itu sungguh bertentangan dengan orang-orang m u k m i n yang cukup bagi mereka satu ayat dari sekian banyak ayat Ilahi. Agaknya, itulah sebabnya sehingga ayat 75 m e n g g u n a k a n b e n t u k j a m a k bagi kata ( o b i ) ayat ketika

494

Surah al-Hijr [15]

Kelompok IV Ayat 72-77

m e m b i c a r a k a n al-mutawassimin,

sedang ayar 7 7 m e n g g u n a k a n

bentuk

tunggal (djT ) ayah ketika menguraikan tentang orang-orang beriman. Sekali lagi, y a k n i bagi orang m u k m i n satu ayat pun sudah c u k u p mengantarnya kepada kesalehan. Dapat juga dikatakan bahwa bentuk j a m a k bagi ahmutawassimin unttik untuk

mengisyaratkan bahwa mereka baru dapat menyandang nama itu bila mereka benar-benar melakukan penelitian yang saksama dan mempelajari segala aspek dan tanda vang terbentang sehingga hasil vang mereka peroleh benar-benar akurat. B u k a n k a h , seperti d i k e m u k a k a n sebelum ini bahwa pelakunya bila m e m a n d a n g sesuatu maka pandangannya mengarah dari atas ke bawah? Itu berarti dia tidak merasa cukup dengan satu tanda saja. Kata ( *Jyj^) la'amrukal derni umurmu terambil dari kata ( j * * ) 'amr atau 'umr y a i t u usia. Biasanya, jika kata ini d i g u n a k a n d a l a m konteks sumpah—seperti pada ayat i n i — m a k a ia diucapkan dengan fathah, yakni

'amr seperti pada ayat ini, dan jika tidak dalam konteks sumpah, ia diucapkan d e n g a n dhammah, y a k n i 'umr. Kata t e r s e b u t mengandung makna

memakmurkan yang merupakan lawan dari membinasakan. Sementara ulama m e m a h a m i kata tersebut sebagai sumpah m e n y a n g k u t kehadiran N a b i M u h a m m a d saw. di pentas bumi ini. U m u r adalah masa y a n g dilalui j a s m a n i d a l a m rangka m e m a k m u r k a n hidup. Karena itu, ia berbeda dengan keberadaan pada masa tertentu sebab tidak selalu keberadaan sesuatu menghasilkan k e m a k m u r a n hidup. Kata y a n g d i g u n a k a n ayat ini m e n g a n d u n g m a k n a s u m p a h dan, karena s u m p a h biasanya m e n g g u n a k a n kara y a n g m e n u n j u k k a n keagungan, kata tersebut bagaikan menyatakan demi keagungan yang dianugerahkan kepadamu, wahai Nabi Muhammad. D e m i k i a n pendapat Ibn 'Asyur. Allah

T i d a k seorang pun yang disebut u m u r n y a sebagai sumpah oleh Allah swt. kecuali N a b i M u h a m m a d saw. Ini m e n g i s y a r a t k a n betapa tinggi k e d u d u k a n beliau di sisi Allah, sekaligus m e n u n j u k k a n b a h w a masa y a n g dilalui beliau benar-benar beliau isi dengan aktivitas yang m e m a k m u r k a n jiwa, baik jiwa beliau sendiri m a u p u n jiwa umat manusia.

Kelompok IV Ayat 78-79

Surah al-Hijr [15]

495

AYAT 7 8 - 7 9

"Dan sesungguhnya penduduk Kami membinasakan mereka.

Aikah benar-benar Dan sesungguhnya

orang-orang zalim, keduanya

maka

benar-benar

terletak di jalan yang jelas. "

Setelah menjelaskan kebinasaan k a u m Luth, kini diuraikan secara singkat k e b i n a s a a n u m a t Nabi S y u ' a i b as. Di s u r a h a s y - S y u ' a r a ' , a l - Q u r ' a n m e n g u r a i k a n kisahnya secara panjang. Ayat ini secata singkat menjelaskan bahwa Dan sesungguhnya penduduk Aikah yang nabi nya adalah Syu'aib benarbenar orang-orang zalim y a n g mempersekutukan Allah dan mendurhakaiNya, maka Kami membinasakan tempat pemukiman peduduk mereka. Dan sesungguhnya keduanya, y a k n i Aikah, dan k a u m Luth atau tempat terletak di jalan u m u m yang

p e m u k i m a n M a d y a n dan Aikah benar-benar jelas. Kata (

) al-aikah terambil dari kata ( ^\>ji\) al-aik yaitu pohon yang

sangat b a n y a k dahan dan lebat d e d a u n a n n y a . Yang d i m a k s u d di sini adalah tempat p e m u k i m a n k a u m Nabi Syu'aib as. karena mereka tinggal di satu w i l a y a h y a n g b a n y a k pepohonannya. Ada j u g a y a n g m e m b a c a ayat ini Ashbabu Laikah dan langsung m e m a h a m i n y a sebagai nama dari satu tempat. Ada ulama yang m e m p e r s a m a k a n tempat itu dengan M a d y a n , y a n g terletak di jalur antara Hijaz dan S y a m . Beberapa ulama menyatakan bahwa tepatnya adalah di pantai Laut M e r a h sebelah tenggara Gurun Sinai. Ulama lain menyatakan bahwa p e n d u d u k Aikah/Laikah berbeda dengan p e n d u d u k M a d y a n , "Ini adalah dua lokasi y a n g berdekatan y a n g dipisahkan oleh p e p o h o n a n y a n g lebat." A t a u , mereka adalah dua suku y a n g berbeda. P e n d u d u k M a d y a n b e r m u k i m di perkotaan, sedang al-Aikah n o m a d . Bagi yang memahaminya demikian, memahami kata keduanya dalam arti M a d y a n dan Aikah. Kezaliman dan k e d u r h a k a a n k a u m S y u ' a i b antara lain adalah

mempersekutukan Allah swt., merampok, dan melakukan kecurangan dalam timbangan dan takaran. Siksa yang dijatuhkan kepada M a d y a n adalah gempa,

496

Surah al-Hijr [15]

Kelompok IV Ayat 80-81

sedang terhadap Aikah adalah angin panas dan awan yang m e n i m b u l k a n api y a n g m e m b a k a r mereka. Kata ( ft»)) im&rn bermakna yang diteladani atau diikuti. Jalan d i n a m a i j u g a imam karena ia ditelusuri dan diikuti dalam rangka mencapai tujuan.

AYAT 8 0 - 8 1

"Dan sesungguhnya penduduk-penduduk rasul, dan Kami telah mendatangkan mereka darinya selalu berpaling. "

kota al-Hijr telah mendustakan kepada mereka ayat-ayat Kami,

para tetapi

Setelah menjelaskan tentang k a u m Nabi Syu'aib as., dan sebelumnya k a u m Nabi Luth as., kini dijelaskan tentang k a u m Tsamud yaitu k a u m Nabi Shalih as. A g a k n y a , ketiga k a u m itu disebut secara berurut oleh ayat-ayat ini karena ketiganya mengalami siksa y a n g serupa—gempa, api, dan suara y a n g menggelegar. Suara dapat m e n g g u n c a n g k a n dan m e n i m b u l k a n api. Di sisi lain, api y a n g bersumber dari l a n g i t m e n i m b u l k a n k e g o n c a n g a n dan

melahirkan suara y a n g menggelegar. Lokasi ketiga k a u m itu dikenal secara baik oleh k a u m musyrikin M e k k a h dalam perjalanan dagang mereka menuju Syam. Ayar ini menegaskan bahwa: Dan sesungguhnya penduduk-penduduk kota

al-Hijr, y a i t u Tsamud k a u m Nabi Shalih as., telah mendustakan para rasul Allah semuanya, dan Kami telah mendatangkan kepada mereka ayat-ayat

Kami, yakni mukjizat y a n g jelas, seperti u n t a y a n g tercipta dari baru karang arau keterangan-keterangan yang tegas dan tanda-tanda kekuasaan Allah, tetapi mereka darinya selalu berpaling dengan sungguh-sungguh lagi mantap. Yakni, mereka mengabaikan tanda-tanda itu dan tidak m e m e r h a t i k a n n y a , bahkan menganiayanya. Kata ( berarti larangan. ) al-hijr—seperti diisyararkan pada m u k a d i m a h surah i n i —

Boleh jadi disebabkan ia terlarang dihuni oleh siapa pun

selain k a u m Tsamud. Boleh jadi j u g a ia terambil dari kata hajar yang berarti batu karena mereka membelah g u n u n g - g u n u n g batu untuk menjadi tempat hunian mereka.

Kelompok IV Ayat 82-84

Surah al-Hijr [15]

497

Kaum Tsamud merupakan generasi pertama dari Arab Ba idah sama seperti 'Ad. N a m a mereka tertera dalam ukiran-ukiran peninggalan Raja Sarjoun II, salah seorang raja Asiria Baru pada 7 1 5 S M . Mereka dinilai sebagai termasuk bangsa-bangsa y a n g pernah d i t a k l u k k a n raja tersebut di sebelah utara semenanjung Jazirah Arab. Tempat tinggal mereka, y a n g masyhur d a l a m b u k u - b u k u pakar Arab, adalah di Hij r y a n g dikenal dengan Mada 'in Shalih ( K o t a - k o t a N a b i S h a l i h as. di W a d i a l - Q u r a ) . A l - A s h t a k h r i p e r n a h m e n g u n j u n g i tempat tersebut. Dia m e n y e b u t k a n b a h w a di situ terdapat sebuah sumur y a n g disebut dengan sumur Tsamud. A l - M a s udi, sejarahwan Islam kenamaan, menyebutkan bahwa tempat tinggal mereka berada di antara S y a m dan Hijaz sampai ke pantai laut Habasyah (Kthiopia). R u m a h - r u m a h mereka terpahat di g u n u n g - g u n u n g . Pada zaman a l - M a s ' u d i , peninggalanpeninggalan mereka masih tampak jelas bagi orang yang melakukan perjalanan haji dari S y a m di dekat W a d i al-Qura, yakni pada jalur Khaibar menuju Tabuk di Saudi Arabia. Demikian lebih kurang termaktub dalam Tafsir alMuntakhab karva sekelompok pakar Mesir.

Ayat di atas menyatakan bahwa k a u m Nabi Shalih as. mendustakan almursaliu, yakni para rasul. W a l a u p u n rasul yang diurus kepada mereka hanya seorang, yairti Nabi Shalih as., karena ajaran semua rasul dalam prinsip-prinsip akidah, syariah, dan akhlak adalah satu/sama, dan prinsip-prinsip itu y a n g mereka dustakan, m a k a m e n d u s t a k a n salah seorang rasul sama dengan mendustakan semua rasul. Karena itu, ayat di atas m e n g g u n a k a n bentuk j a m a k , bukan tunggal. Didahulukannya kata darinya pada penutup ayat ini mengandung makna penekanan dan pengkhususan, seakan-akan mereka tidak berpaling mengabaikan sesuatu apa pun kecuali satu hal yaitu ayat-ayat tersebut.

AYAT 8 2 - 8 4

"Mereka memahat sebagian gunung-gunung dalam keadaan aman. Maka

untuk menjadi

rumah-rumah

mereka dibinasakan

oleh suara keras yang

mengguntur di waktu pagi, maka tidaklah dapat menolong mereka apa yang telah mereka usahakan."

498

Surah al-Hijr [15]

Kelompok IV Ayat 82-84

Kaum Luth, p e n d u d u k al-Alkah, dan al-Hijr, tiga kelompok manusia durhaka d i g a b u n g kisahnya secara singkat oleh surah ini a g a k n y a karena keserupaan siksa yang menimpa mereka, yaitu suara yang menggelegar, gempa, dan api y a n g turun dari langit. M e m a n g , ketiganya kait-berkait. Suara menggelegar dapat m e n i m b u l k a n gempa dan g e m p a dapat m e n i m b u l k a n suara yang sangat dahsyat. Api yang turun dari langit pun demikian itu halnya. Penghuni al-Hijr oleh ayat sebelum ini dinyatakan yang berpaling dari seruan Allah dan mengingkari ayat-ayat-Nya sangat ktiat dibandingkan dengan kaum musyrikin Mekkah yang mencemoohkan dan mengingkari risalah Nabi M u h a m m a d saw. Mereka memahat sebagian gunung-gunung rumah-rumah untuk menjadi

dengan tujuan agar mereka dapat mendiaminya dalam keadaan

aman dari segala macam gangguan. N a m u n , karena mereka berpaling dan durhaka, Allah m u r k a kepada mereka maka mereka dibinasakan atas perintah Allah oleh gempa yang sangat dahsyat yang melahirkan atau diakibatkan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi, maka tidaklah dapat dan m e n y e l a m a t k a n mereka apa yang telah d a n terus-menerus menolong mereka

usahakan iru, yakni rumah-rumah dan benteng-bentengyang mereka bangun di g u n u n g - g u n u n g atau dari batu-batu gunung itu yang tadinya mereka duga sebagai tempat-tempat aman. Kata ( dj^i ) yanhitun yang biasa diterjemahkan memahat dari segi

bahasa bermakna memotong batu atau k a y u dari pinggir atau melubanginya di tengahnya. Sementara u l a m a m e m a h a m i kata ini d a l a m arti m e m o t o n g batu-batu gunung untuk kemudian menjadikannya sebagai bahan bangunan, baik rumah tempat tinggal maupun benteng-benteng. Ada juga yang memahaminya dalam arti menjadikan sebagian gunung-gunung yang terdapat di w i l a y a h mereka sebagai r u m a h - r u m a h tempat tinggal (gua-gua) setelah memotong dan atau melubanginya sehingga menjadi ruangan-ruangan tanpa harus m e m b a n g u n fondasi dan d i n d i n g - d i n d i n g . Pendapat kedua ini lebih populer. Kata (
j^twsj»)

mushbihinlwaktu

pagi memberi kesan bahwa bencana

y a n g m e n i m p a kaum Nabi Shalih as. itu terjadi sewaktu mereka bertebaran di luar r u m a h - r u m a h mereka. D e m i k i a n kesan Ibn 'Asyur.

KELOMPOK 5

AYAT 8 5 - 9 9

ji-li-A>L>oI ( ) J * - J H 2 ^ ^

^UJl

499

500

Surah al-Hijr [15]

Kelompok V Ayat 85-86

Surah al-Hijr [15]

501

AYAT 8 5 - 8 6

"Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di keduanya, datang, melainkan maka dengan hacp Dan sesungguhnya Kiamat dengan pemaafan yang baik. pasti

antara akan

maafkanlah

Sesungguhnya

Tuhanmu, D'ia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. "

Setelah menjelaskan kekuasaan Allah melaksanakan ancaman-ancamanNva serta menjatuhkan siksa-Nya, lebih lanjut Allah menguraikan secara u m u m kekuasaan-Nya mencipta langit dan bumi (alam raya) dengan segala isinya. Al-Bicia'i m e n g h u b u n g k a n ayat ini dengan ayat y a n g lalu dengan

m e m u n c u l k a n dalam benaknya satu pertanyaan y a n g boleh jadi diajukan seseorang yaitu: "Mengapa Allah vang membinasakan kaum vang Dia sendiri yang menciptakannya, padahal tentu saja Dia telah mengetahui bahwa mereka akan durhaka?" Nah, ayat-ayat di atas i t u — m e n u r u t n y a — a d a l a h jawaban atas pertanyaan yang muncul itu. Apa pun h u b u n g a n y a n g Anda pilih atau k e m u k a k a n , y a n g jelas ayat di atas menyatakan bahwa: Dan tidaklah Kami ciptakan langit dengan ketinggian dan luasnya serta aneka bintang dan planet, y a n g menghiasinya, dan tidak juga Kami ciptakan bumi dengan segala m a k h l u k y a n g ada di permukaan atau dalam perutnya, dan d e m i k i a n juga apa yang ada di antara keduanya,

yakni langit dan bumi, baik yang telah diketahui manusia m a u p u n belum atau tidak akan dapat diketahui, tidak Kami ciptakan itu semua melainkan

dengan haq, y a k n i selalu disertai kebenaran dan bertujuan benar, bukan permainan atau kesia-siaan, Itu antara lain Kami ciptakan u n t u k menguji manusia siapa di antara mereka y a n g menjadikannya bukti keesaan Kami serta m e n g g u n a k a n n y a dengan baik dan mengantarnya beramal saleh. Dan sesungguhnya Kiamat, di m a n a m a s i n g - m a s i n g m a n u s i a a k a n d i m i n t a i pasti akan

pertanggungjawaban serta diberi balasan dan ganjaran vang \acf,

datang. Hal iru demikian demi tegaknya "ahhaf dan keadilan yang merupakan tujuan penciptaan.

502

Surah al-Hijr [15]

Kelompok V Ayat 85-86

Maka karena iru, wahai N a b i M u h a m m a d , jangan hiraukan kecaman dan makian siapa y a n g m e n d u s t a k a n m u , tetapi maafkanlah mereka dengan pemaafan yang baik. Itu semua karena sesungguhnya Tuhanmu y a n g selalu berbuat baik dan m e m b i m b i n g m u , Dia-lah Yang Maha Pencipta secara

berulang-ulang lagi Maha Mengetahui segala sifat, ciri, kelakuan, dan isi hati ciptaan-ciptaan-Nva. Kata ( ) al-haqq pada ayat di atas, di samping apa yang telah dijelaskan

di atas, juga m e n g a n d u n g makna bahwa / ^ - / k e b e n a r a n tertanam dalam diri setiap makhluk, dan pada akhirnya akan tampak dengan jelas ke permukaan, dan bahwa Allah swt. telah menetapkan sistem yang haq lagi sesuai dengan hikmah kebijaksanaan. Dengan demikian, kalaupun kebaikan dan keburukan, atau kebenaran dan kebatilan, silih berganti, pada akhirnya kebenaran dan k e b a i k a n akan m e n g a l a h k a n k e b a t i l a n d a n k e b u r u k a n . H a k i k a t y a n g d i k e m u k a k a n ini sejalan juga dengan firman-Nya; jtt, b i s ,JJLAJ^S> J-laV* c T "Kami melontarkan yang haq atas yang batih maka ia *3-AA>

menghancurkan-nya

maka serta merta yang batil itu lenyap" (QS. al-Anbiya' [ 2 1 ] : 18). Dengari demikian, bila pada suatu saat kebatilan tampak m e n a n d i n g i haq atau bahkan mengalahkannya, hal tersebut hanya bersifat sementara dan segera kebenaran akan tampil. Sebagian buktinya adalah keadaan umat para nabi itu. Mereka tampil dengan kebatilan tetapi itu tidak bertahan karena tidak lama kemudian mereka dipunahkan oleh Allah swt, agar akhaq vang h a n y a bersumber dari-Nya itu tampil cemerlang. Kalaupun masih ada kebatilan y a n g berlanjut dalam kehidupan dunia ini, ia segera akan punah dan dikalahkan oleh aThaq pada hari Kemudian nanti, dan itulah vang diisyaratkan oleh lanjutan ayat bahwa sesiDigguhnya Kiamat pasti datang.

Ayat-ayat y a n g merupakan kelompok akhir surah ini sejalan pesanpesannya dengan uraian pada kelompok awal murali. Rujuklah pada ayat-ayat pertama surah ini yang memerintahkan Nabi saw. u n t u k membiarkan k a u m musyrikin makan dan m i n u m dan dilengahkan oleh angan-angan kosong,

Kelompok V Ayat 85-86

Surah al-Hijr [15]

503

dan y a n g d m i r n y a mereka ditimpa oleh ketentuan Allah swt. y a n g m e n i m p a setiap p e n d u d u k negeri y a n g durhaka. Firman-Nya: ( ^*J*Ji J}*&Jri ja dtij 6 ) ) inna Rabbaka huwa al-'Alim/sesungguhnya Mengetahui Tuhanmu, Dia-lah al-Khaltiuju

Yang Maha Pencipta lagi Maha

m e r u p a k a n alasan bagi perintah memberi maaf y a n g disebut

sebelumnya. Yakni berilah m a a f karena hal itu merupakan kemaslahatan u n t u k m u dan u n t u k mereka. Adapun u n t u k m u karena hal itu menunjukkan ketinggian budi pekertimu dan ini dicatat oleh Allah swt. sebagai ganjaran dan m e n g u n d a n g lebih b a n y a k simpati manusia. Sedang bagi mereka, itu memberi mereka peluang berpikir dan kesempatan berintrospeksi kiranya mereka dapat simpati k e p a d a m u dan ajaran-ajaran Islam sehingga pada akhirnya mereka pun beriman. Demikianlah keadaannya karena Allah M a h a Pencipta, Dia y a n g menciptakanmu dan menciptakan mereka, dan Dia j u g a M a h a Mengetahui apa y a n g kamu l a k u k a n . Dia mengetahui potensi dan kecenderungan k a m u serta mengetahui detak detik j a n t u n g k a m u semua. Kata ( ^JLO1\ ) ash-shafh sebenarnya tidak tepat diterjemahkan dengan pemaafan, yakni sinonim dari kata ( y * J l ) al-afwulpemaafan karena ash-

shafh adalah sikap memaafkan disertai dengan tidak mengecam kesalahan pihak lain. Dari kata ini lahir kata shafh ah y a n g berarti halaman!pagina. Al-

Ashfahani menilai bahwa kata ash-shafh lebih sulit diterapkan seseorang daripada aT'afwu. Bisa saja seseorang memaafkan, tetapi p e m a a f a n n y a

didahului oleh kecaman terhadap kesalahan, berbeda dengan ash-shafh. Karena itu, bisa saja seseorang memaafkan tetapi belum memberi shafh. Di sisi lain, kata maafkerdsti menghapus. Kesalahan y a n g dihapus pada satu halaman di

kertas p u t i h m u n g k i n masih m e n a m p a k k a n bekas-bekas penghapusan itu pada kerras. Tetapi, bila A n d a m e m b u k a lembaran baru, segalanya baik, baru, dan bersih. Tidak sedikit pun bekas y a n g ditemukan pada lembaran baru itu. Thabathaba'i m e m a h a m i kata pemaafan yang baik adalah melaksanakan keempat hal yang akan disebut oleh ayat 88 dan 89 berikut yaitu: 1) larangan memberi perhatian y a n g besar karena takjub dan ingin meraih k e n i k m a t a n duniawi; 2 ) larangan bersedih karena pengingkaran k a u m musyrikin; 3) perintah berendah hati dan melakukan hubungan harmonis sambil bersabar

504

Surah al-Hijr [15]

Kelompok V Ayat 87

dan m e l i n d u n g i k a u m m u k m i n i n ; serta 4 ) m e n y a m p a i k a n peringatanperingatan Allah swt. Sementara u l a m a memeroleh kesan dari ayat 8 6 di atas, khususnya dari kata ( ( j ^ ) KhaHd.qIMa.ha Pencipta, bahwa Allah akan menjadikan sebagian lawan Nabi saw. sebagai sahabat dan p e n d u k u n g - p e n d u k u n g ajaran Islam dan menciptakan dari mereka a n a k keturunan y a n g akan menjadi pembelapembela Islam. Ini d i k u k u h k a n juga oleh kata ( lilSj ) Rabbaka, yakni
1

Tuhanmu y a n g selalu berbuat baik dan m e m b i m b i n g serta m e m e l i h a r a m u , wahai Nabi M u h a m m a d .

AYAT 87

"Dan sesungguhnya Kami berulang-ulang

telah anugerahkan agung. "

kepadamu

tujuh (ayat) yang

dan al-Quranyang

Ayat sebelum ini menghibur Nabi saw. dan menganjurkan beliau agar memberi maaf yang baik. Di sini, beliau dihibur lagi dengan m e n y e b u t anugerah Ilahi y a n g sangat besar kepada beliau. Ini u n t u k mengingatkan bahwa beliau adalah pilihan Allah y a n g tidak m u n g k i n ditinggalkan-Nya. Al-Bicja'i m e n g h u b u n g k a n ayat ini d e n g a n ayat s e b e l u m n y a y a n g

menyatakan bahwa, setelah ayat vang lalu menyebut sifat Ilmu Allah dalam redaksi pengagungan, ayat berikutnya menyebut anugerah Allah di dunia ini kepada Nabi M u h a m m a d saw. y a n g berkaitan dengan sifat ilmu itu. Allah berfirman: Dan sesungguhnya Kami telah anugerahkan kepadamu.

wahai Nabi M u h a m m a d , tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang, y a i t u surah al-Fatihah, dan selain itu ada lagi ayat-ayat al-Qur anyang agung. Berbeda-beda pendapat ulama tentang maksud kata as-sab'al-matsdni.

Mayoritas ulama m e m a h a m i n y a dalam arti surah al-Fatihah yang terdiri dari tujuh ayar itu. Dari segi bahasa, kata ( £-iJ^ ) as-sab' berarti tujuh. Ini karena surah tersebut terdiri dari tujuh ayat, sedang kata ( ) al-matsdni merupakan ) tsanna

bentuk j a m a k dari kata (J^w ) mutsannd yang terambil dari kara (

Kelompok V Ayat 87

Surah al-Hijr [15]

505

yakn i mengulang, atau dari kata ( ^

) matsnd y a n g terambil dari kata (

)

itsnain yang secara harfiah berarti dua. Vang dimaksud dengan dua-dua adalah bahwa ia dibaca d u a kali setiap shalat. J i k a m a k n a ini y a n g d i m a k s u d , penamaan tersebut lahir pada awal masa Islam ketika setiap shalat terdiri dari dua rakaat, atau karena surah ini rurun dua kali, sekali di M e k a h dan sekali di M a d i n a h . Bila d i p a h a m i dalam arti berulang-ulang, itu antara lain karena ia dibaca berulang-ulang dalam shalat dan di luar shalat. Atau karena kandungan pesan setiap ayat al-Fatihah terulang-ulang dalam ayat-ayat al-Qur'an yang lain. Al-Biqa'i setelah m e n g h u b u n g k a n kata tujuh ayat dengan informasi tentang tujuh pintu neraka memeroleh kesan bahwa setiap ayat dari surah alFatihah, bila diamalkan tuntunannya, ia menjadi perisai yang menutup pintupintu neraka itu. J i k a kita m e m a h a m i istilah tersebur dalam arti surah al-Fatihah, ayat ini mencerminkan betapa tinggi nilai surah al-Fatihah dibanding dengan surahsurah a(- Qur'an lainnya. Dalam konteks ini, pakar hadits, at-Tirmidzi, meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, " Demi Tuhan Yang j i w a k u berada dalam g e n g g a m a n - N y a , Allah ridak m e n u r u n k a n di dalam l a u r a t , Injil, m a u p u n Zabur dan al-Qur'an suatu surah seperti as-Sab*al-MatsdniT

A d a juga ulama y a n g m e m a h a m i kata tujuh dalam arti tujuh surahsurah panjang dan y a n g dikenal dengan istilah as-sab'atb-tbiwdlya.hu surah

al-Baqarah, Ali 'Imriin, an-Nisa , a l - M a idah, al-An'am, al-A'raf, dan al-Anfal bersama at-Taubah. Pendapat ini tidak tepat karena surah al-Hijr t u r u n di M e k k a h sedang ketika turunnya surah ini belum lagi turun kepada Nabi saw. salah satu surah dari y a n g tujuh itu. M a s i h ada pendapat lain, tetapi agaknya yang paling tepat lagi berdasar penamaan Nabi saw. adalah pendapat pettama. Al-Qur'an adalah anugerah y a n g paling berharga bagi manusia. Yang menerimanya adalah manusia termulia. "Sebaik-baik kamu adalah siapa vang mempelajari al-Qur'an dan mengajarkannya," demikian sabda Nabi saw. "Siapa yang dianugerahi al-Qur'an kemudian menganggap ada seseorang yang d i a n u g e r a h i k e n i k m a t a n d u n i a w i vang lebih u t a m a d a r i n y a , dia telah meremehkan yang agung dan mengagungkan yang remeh." D e m i k i a n ucap Sayyidina Abu Bakar ra.

506

Surah al-Hijr [15]

Kelompok V Ayat 88-89

AYAT 8 8 - 8 9

"Janganlah

sekali-kali

engkau mengarahkan

matamu

kepada

apa

yang

dengannya Kami telah senangkan golongan-golongan janganlah

di antara

mereka dan sayapmu

engkau bersedih hati terhadap mereka dan rendahkanlah

kepada orang-orang mukmin. Dan katakanlah, pemberi peringatan yang menjelaskan. "

"Sesungguhnya aku hanyalah

Boleh jadi apa y a n g ditegaskan oleh ayat y a n g lalu tentang tujuan penciptaan langit dan bumi, m e n i m b u l k a n pertanyaan: m e n g a p a k a u m musyrikin dapat bergelimang dalam k e n i k m a t a n hidup, padahal mereka mendurhakai Allah? M e n g a p a mereka y a n g telah diancam oleh Allah masih dibiarkan dan diulur dengan aneka kenikmatan? Nah, ayat ini menjawab pertanyaan y a n g timbul dalam b e n a k k u . D e m i k i a n T h a h i r Ibn 'Asyur. Dan itu pula s e b a b n y a — t u l i s n y a lebih jauh-—ayat ini tidak m e n g g u n a k a n kata ( j ) waldan sebelum kata ( bjs *$) IA tamuddannaMziewa jika d i d a h u l u i wa la

oleh dan—sebagaimana tamuddanna—-maka

d a l a m Q S . T h a h a [ 2 0 ] : 131 (dJS*ij)

ia sekadar sebagai larangan y a n g tidak m e m p u n y a i

hubungan langsung dengan ayat sebelumnya. Dapat j u g a dikatakan bahwa karena apa y a n g telah dianugerahkan oleh Allah kepada Nabi M u h a m m a d saw., b e g i t u j u g a a p a y a n g a k a n

dianugerahkan-Nya kepada beliau, sedemikian besar, sangat wajar jika beliau diingatkan agpj janganlah sekali-kali engkau mengarahkan matam-u, y a k n i

jangan memberi perhatian yang besar serta tergiur kepada apa yang dengannya Kami telah senangkan untuk sementara lagi cepat berlalunya untuk golongangolongan di antara mereka orang-orang kafir itu katena apa y a n g mereka

peroleh dan cara penggunaannya adalah batil dan bukan "haq", dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka karena keengganan mereka beriman, atau akibat jatuhnya siksa atas mereka dan kesudahan buruk yang akan mereka alami. Adapun terhadap sesama kaum beriman, jalinlah hubungan harmonis dengan mereka dan rendahkanlah sayapmu, y a k n i bersikap rendah hatilah, kepada orang-orang mukmin. Dan katakanlah kepada mereka y a n g durhaka

Kelompok V Ayat 88-89

Surah al-Hijr [15]

507

itu, bahkan kepada semua orang bahwa "Aku tidak akan bersedih dan marah k a r e n a o r a n g - o r a n g kafir m e n o l a k a j a r a n y a n g k u s a m p a i k a n k a r e n a sesungguhnya aku hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan, kepada siapa p u n y a n g d u r h a k a atau tenggelam d a l a m k e n i k m a t a n d u n i a w i dengan melupakan akhiratnya." Pesan ayat ini harus dipahami sejalan dengan firmanN y a dalam Q S . al-Qashash [ 2 8 ] : 7 7 :

"Dan carilah (kebahagiaan) (kenikmatan)

pada

apa yang

telah

dianugerahkan

Aliah

kepadamu dari

negeri akhirat,

dan janganlah

melupakan

nasibmu

dunia, serta berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat

baik kepadamu. " Kata ( dJS ) tamuddanna memperpanjang terambil dari kata ( X») madda y a n g berarti

atau menambah. M e m a n g , m a t a tidak dapat diperpanjang, mengarahkan.

tetapi la dapat diarahkan karena kata ini di sini berarti

Kata (;r * j j i ) azwaj adalah j a m a k ( £ j j ) zauj y a n g berarti pasangan. Pasangan adalah satu y a n g menggenapkan dua hal yang berbeda tetapi keberpasangan m e n j a d i k a n n y a m e n y a t u d a l a m fungsi dan tujuan.Yang dimaksud adalah pasangan-pasangan kekururan, khususnya tokoh-tokohnya. Mereka, walaupun berbeda-beda, terapi menyaru dalam kedurhakaan kepada Allah swt. Ada j u g a y a n g m e m a h a m i kata tersebut dalam arti pasangan suami istri. Memang, kenikmatan akan semakin sempurna jika kehidupan duniawi d i n i k m a t i oleh sepasang pria dan w a n i t a , tetapi sekali lagi itu h a n y a kenikmatan semu bila tidak disertai oleh haq. Kata ( ) janah p a d a m u l a n y a berarti sayap. Penggalan ayat ini

mengilustrasikan sikap dan perilaku seseorang seperti halnya seekor burung y a n g merendahkan sayapnya pada saat ia hendak mendekat dan b e r c u m b u kepada betinanya, demikian juga bila ia melindungi anak-anaknya. Sayapnya terus dikembangkan dengan merendah dan merangkul serta tidak beranjak meninggalkan tempat dalam keadaan d e m i k i a n sampai berlalunya bahaya. Dari sini, ungkapan itu d i p a h a m i dalam arti kerendahan hati, hubungan

508

Surah al-Hijr [15]

Kelompok V Ayat 90-93

h a r m o n i s d a n p e r l i n d u n g a n , d a n k e t a b a h a n bersama k a u m

beriman,

khususnya pada saat-saat sulit dan krisis. AJ-Qur'an yang dianugerahkan itu, serta sikap tidak tergiur oleh kenikmatan duniawi sebagaimana halnya otang durhaka, merupakan bekal yang sangat berharga untuk melaksanakan tuntunan Allah swt. di atas antara lain memberi pemaafan yang baik kepada k a u m pendurhaka itu. Kata (\j\) and/aku, setelah sebelumnya telah disebut kata ( J\) /wm yang

bermakna sesungguhnya aku, mengandung m a k n a pengkhususan, yakni aku hanyalah—tidak lebih dari itu—-dan karena Rasul saw. juga tidak h a n y a

berfungsi sebagai pemberi peringatan, tetapi juga pemberi kabar gembira, m a k a pemberi peringatan y a n g d i m a k s u d tertuju h a n y a k e p a d a p a r a

pendurhaka saja.

AYAT 9 0 - 9 3

"Sebagaimana

(Kami telah memberi peringatan),

Kami telah

menimpakan al-Qur'an

atas al'muqtasimin

(yaitu) orang-orang yang telah menjadikan

terbagi-bagi. Maka, demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. "

Selanjutnya, Allah swt. mengancam k a u m musyrikin M e k k a h dan siapa pun yang durhaka dan bersikap buruk terhadap al-Qur'an dengan firmanN y a : Sebagaimana menimpakan Kami telah m e m b e r i p e r i n g a t a n , Kami juga telah

siksa atas al-muqtasimin,

yakni orang-orang y a n g m e m i l a h -

milah Kirab Allah swr. dan menyifatinya dengan sifat yang beraneka ragam, yaitu orang-orang yang telah menjadikan al-Qur'an terbagi-bagi. Ada y a n g

m e n a m a i n y a sihir, atau syair, atau tenung dan sebagainya, atau ada y a n g mereka benarkan ada juga yang mereka ingkari. Maka, demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, kelak di hari Kemudian, tentang apa dahulu. ) qasama y a n g

yang telah dan rerus-menerus mereka kerjakan Kata ( j ^ - ^ U l i ) al-muqtasimin berarti membagi

terambil dari kata ( i

atau memilah-milah,

sedang kata (jwa£ ) 'idhin adalah

Kelompok V Ayat 94-96

Surah ai-Hijr [15]

509

bentuk j a m a k dari kata ( LAP ) 'idhdhab y a i t u potongan sesuatu y a n g utuh.

atau bagian dari

Kata ( US') kamd, yang diterjemahkan dengan sebagaimana seperti Anda baca di atas, berhubu ngan dengan peringatan yang diperintahkan kepada Nabi M u h a m m a d saw. untuk beliau sampaikan. Atas dasar itu, yang d i m a k s u d dengan al-muqtasimin adalah sekelompok dari k a u m m u s y r i k i n M e k k a h

yang memberi penilaian b u r u k terhadap al-Qur'an. D a l a m suatu riwayat disebutkan bahwa tokoh k a u m musyrikin, yaitu al-Walid Ibn al-Mughirah, menugaskan sekian orang di gerbang masuk kota M e k k a h untuk m e m b a g i diri dan m e n y a m p a i k a n kepada siapa pun y a n g akan melaksanakan ibadah haji b a h w a al-Qur'an b u k a n firman Allah swt. tetapi ia adalah sihir, atau syair, atau ocehan tukang tenung. Ada j u g a ulama yang m e n g h u b u n g k a n n y a dengan anugerah rnatsdni dan m e m a h a m i kata al-muqtasimin as-sab'al-

dalam arti: sebagaimana Kami

telah menganugerahkan kepadamu surah al-Fatihah dan a l - Q u r a n , demikian jugalah y a n g telah Kami turunkan kepada kelompok-kelompok Ahl al-Kitab yang membagi dan m e m i l a h - m i l a h kitab suci mereka. Ada y a n g mereka t a m p a k k a n dan pelihara sebagaimana aslinya dan ada juga y a n g mereka s e m b u n y i k a n atau ubah, dan d e m i k i a n juga ada di antara u m a t m u y a n g menjadikan al-Qur"an terpilah-pilah, ada y a n g mereka percaya dan ada juga yang mereka tolak dan ingkari.

AYAT 9 4 - 9 6

"Maka sampaikanlah

secara terang-terangan

segala apa yang

diperintahkan memeliharamu

dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sesungguhnya Kami dan para pengolok-olok. di samping Allah,

Orang-orang yang menganggap ada tuhan yang lain

maka kelak mereka akan mengetahui. "

J i k a sikap terhadap al-Qur'an dan amal-amal manusia akan d i t u n t u t pertanggungjawabannya kelak, maka sampaikanlah secara terang-terangan diperintahkan

dan dengan penuh semangat serta kekuatan segala apa yang

510

Surah al-Hijr [15]

Kelompok V Ayat 94-96

oleh Allah swt. kepadamu u n t u k disampaikan, y a k n i d a k w a h Islamiah, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik, yakni jangan hiraukan gangguan

mereka, teruslah berdakwah m e n y a m p a i k a n kepada mereka ajaran Ilahi, sambil memaafkan gangguan mereka terhadap diri pribadimu. Karena dakwah yang dilaksanakan Nabi saw. selama ini telah mengundang aneka gangguan, dan tentu akan lebih menjadi-jadi setelah datangnya perintah ayat yang lalu, hati dan pikiran beliau ditenangkan dengan firman-Nya yang m e n g g u n a k a n redaksi p e n g u k u h a n "sesungguhnya" y a i t u : Sesungguhnya

Kami, yakni Allah swt. bersama m a k h l u k - m a k h l u k lain y a n g Allah swt. tugaskan, memeliharamu, w a h a i Nabi M u h a m m a d , dari kejahatan para

pengolok-olok yang merupakan tokoh-tokoh k a u m musyrikin dan yang selama ini tidak takut atau segan merendahkan ayat-ayat Allah swt. serta memperoloko l o k k a n m u secara pribadi, y a i t u orang-orang yang menganggap ada yang lain di samping Allah, maka kelak mereka akan mengetahui tuhan akibat-

akibat kedurhakaan dan olok-olok mereka. Kata ( £J*?ti ) fashda terambil dari kata ( ) shadad yang berarti

membelah. Kemudian, karena pembelahan biasanya m e n a m p a k k a n sesuatu y a n g terdapat pada belahan, kata tersebut berkembang m a k n a n y a menjadi menampakkan atau terang-terangan. mengesankan M a k n a inilah yang d i m a k s u d di sini. kekuatan dan kesungguhan. Dan sirn,

Ui sisi lain, pembelahan

perintah tersebut menuntut kesungguhan, upaya sekuat tenaga, serta semangat y a n g menggebu. ?mviVaYi YiYi W k . a u 'ocfS'ika.p k e m dan k a s a i "yang m e n g u n d a n g

antipati. Ia hanya menuntut kesungguhan untuk menjelaskan hakikat ajarar U l a m d m g a n m e n y e n t u h hati, mencerahkan pikiran, serta dengan k e b a s a n dan ketepatan a r g u m e n t a s i . N a m u n d e m i k i a n , ia b u k a n berarti tidak menyampaikan pandangan agama jika dinilai bertentangan dengan pandangan orang lain a t a u m e n y e m b u n y i k a n h a k i k a t - h a k i k a t n y a karena k h a w a t i r merugikan pihak lain bila m e m a p a r k a n n y a . Dengan t u r u n n y a ayat ini, Rasul saw. t i d a k lagi berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Lebih-lebih dengan adanya jaminan bahwa beliau tidak akan disentuh oleh kejahatan para pengolok-olok. Beberapa ulama berpendapat

Kelompok V Ayat 97-99

Surah al-Hijr [15]

511

b a h w a p e r i n t a h ini d a t a n g setelah betlalu tiga t a h u n atau lebih sejak pengangkatan Nabi M u h a m m a d saw. sebagai rasul. Ada beberapa ulama yang berusaha menentukan jumlah serta nama-nama para pengolok-olok itu serta olok-olokan mereka. M e n g e t a h u i n y a — s e p e r t i tulis pakar tafsir a r - R a z i — t i d a k b a n y a k faedahnya. Yang jelas b a h w a Allah swt. telah menjamin N a b i - N y a bahwa beliau tidak akan disentuh oleh kejahatan para pengolok-olok.

AYAT 9 7 - 9 9

"Dan demi, Kami sungguh mengetahui dadamu disebabkan

bahwa sesungguhnya engkau sempit maka bertasbihlah dengan

apa yang mereka ucapkan,

memuji Tuhanmu dan jadilah di antara orang-orang yang sujud dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan. "

Jaminan yang disampaikan—seperti yang Anda baca pada penjelasan ayar di atas—-adalah y a n g m e n y a n g k u t kejahatan para pengolok-olok, bukannya jaminan hilangnya olok-olok atau ucapan-ucapan buruk. Dengan kata lain, bukan terhentinya apa yang diistilahkan oleh Q S . Ali 'Imran [3]: 1 1 1 dengan ( ) adzd, y a k n i gangguan. Karena itu, ayat-ayat di atas m e n u n t u n N a b i

saw. dengan menyatakan bahwa: dan Kami Allah bersumpah demi kebesaran dan kekuasaan Kami, Kami sungguh mengetahui bahwa engkau m e m i l i k i

budi pekerti vang luhur, sangat pemaaf dan penuh toleransi m e n y a n g k u t gangguan y a n g ditujukan kepada pribadimu, dan Kami juga mengetahui bahwa sesungguhnya engkau merasa sempit dadamu disebabkan apa yang

mereka selalu ucapkan berupa kebohongan, olok-olokan y a n g ditujukan kepada Allah swt. dan risalahmu, m e n j a n g a n l a h hiraukan ucapan-ucapan itu tetapi bertasbihlah menyucikan Allah swt. dari segala kekurangan disertai dengan memuji Tuhan vang selama ini selalu membimbing dan memelihara^//,' dan jadilah e n g k a u — s e b a g a i m a n a apa yang engkau telah lakukan selama ini—salah seorang di antara oraug-orangyang tekun dan kh tisytik sujud yakni shalat, dan di samping itu sembahlah Tuhanmu dengan berbagai cara y a n g

512

Surah al-Hijr [15]

Kelompok V Ayat 97-99

d i s y a r i a t k a n - N y a sampai datang

kepadamu

keyakinan,

yakni kematian.

Dengari demikian, jiwamu akan selalu tenang, pikiranmu terus-menerus cerah, dan apa pun y a n g m e n i m p a m u akan ringan e n g k a u pikul dan engkau akan terus d i b i m b i n g oleh Allah swt. Salah satu cara vang d i t e m p u h Allah swt. g u n a menghalangi kejahatan para pengolok-olok adalah berrambahnya pemeluk Islam. Dengan keislaman Sayyidina Hamzah ra., p a m a n Nabi saw. dan Sayyidina ' U m a r ra. lahir keberanian y a n g lebih besar di kalangan k a u m m u s l i m i n dan m e n c i u t j i w a k a u m musyrikin karena kedua tokoh tersebut dikenal luas sebagai para pemberani y a n g tidak rela dilecehkan atau dihina keyakinan mereka. Kata ( J J J J T
1

-^

1

)

as-sdjidin pada ayat ini dipahami dalam arti orang-orang

yang tekun lagi khusyuk dalam shalat karena penggalan kata sesudahnya adalah perintah u n t u k m e l a k u k a n a n e k a ibadah. S e a n d a i n y a y a n g d i m a k s u d dengannya adalah orang-orang yang patuh—'Sebagaimana pendapat sementara u l a m a — m a k a perintah beribadah y a n g datang sesudahnya terasa bagaikan pengulangan. Di sisi lain, penyebutan shalat secara khusus m e n u n j u k k a n betapa pentingnya ibadah itu dibanding dengan ibadah-ibadah yang lain. Ini sejalan dengan sabda Nabi saw. y a n g m e n j a d i k a n n y a pemisah antara orang kafir dan m u k m i n , dan bahwa siapa y a n g m e n e g a k k a n n y a m a k a dia telah menegakkan agama. Hal tersebut demikian karena, dengan shalat sebagaimana vang diajarkan agama, seseorang dapat terhindar dari aneka dosa dan kejahatan. Perintah menjadi salah seorang dari kelompok as-sdjidin lebih sulit daripada dinyatakan jadilah seorang bersujud karena yang masuk dalam kelompok

tertentu harus mencapai suatu tingkat tinggi agar dapat diterima d a l a m kelompok itu. Sekian banyak syarat yang harus dipenuhi baru dia dapar direrima dalam kelompok tersebut. Perintah ayat ini dilaksanakan dengan penuh ketekunan oleh Rasul saw. Karena itu, "Bila beliau menghadapi kesulitan, beliau melaksanakan shalat." (HR. A h m a d melalui Hudzaifah ra. h dan karena itu pula Nabi saw. bersabda, "Sedekat-dekar seorang hamba kepada Tuhannya adalah pada saat dia sujud." {HR. A h m a d dan M u s l i m melalui Abu Hurairah). Kata ( j-JL}\) al-yacjin d i p a h a m i oleh b e b e r a p a ulama dalam arti

kemenangan, tetapi banyak ulama yang m e m a h a m i n y a dalam arti kematian.

Kelompok V Ayat 97-99

Surah al-Hijr [15]

513

J ika kata tersebut dipahami dalam arti kemenangan, dapat timbul kesan bahwa perintah melaksanakan shalat dan beribadah berakhir dengan darangnya kemenangan. Berbeda halnya jika ia dipahami dalam arti kematian. Kematian dipersamakan dengan keyakinan karena ia adalah sesuatu y a n g pasti, tidak seorang pun meragukannya. Setiap saat terlihat ia terlihat, walau seldan banyak pula orang yang lengah menyangkut kedatangannya. Sayyidina Ali ra. berkata, "Aku tidak pernah melihat suatu batil (yang akan p u n a h ) tetapi dianggap hak (pasti dan akan l a n g g e n g ) , sebagaimana halnya k e h i d u p a n dunia, dan tidak pernah pula melihar sesuatu y a n g haq (pasti) tetapi diduga batil (lenyap tanpa w u j u d ) seperti halnya maut." A y a t di atas m e n g g a m b a r k a n d a t a n g n y a k e m a t i a n dengan k a l i m a t "sampai datang kepadamu keyakinan". Itu berarti bukan manusia yang pergi m e n e m u i n y a karena m e m a n g semua manusia enggan mati dan, k a l a u p u n dia berusaha m e n g a k h i r i h i d u p n y a , dia tidak akan berhasil j i k a seandainya k e m a t i a n belum datang m e n e m u i n y a . N a m u n d e m i k i a n , suka atau tidak suka, cepat atau lambat, maut pasti datang m e n e m u i kita. l a diibaratkan dengan a n a k panah y a n g telah dilepas dari busurnya, ia terus akan mengejar sasarannya, dan begitu ia tiba pada sasaran, saat itu pula k e m a t i a n y a n g ditujunya tiba. Kecepatan a n a k panah itu j a u h melebihi kecepatan melaju m a k h l u k hidup sehingga betapa k e n c a n g n y a ia berlari pada a k h i r n y a anak panah itu mengenainya juga. A y a t di atas j u g a m e m b u k t i k a n b a h w a shalat dan i b a d a h h a r u s

dilaksanakan sepanjang hayat. Ia tidak boleh terhenti kecuali dengan kematian. J a n g a n k a n m a n u s i a biasa, Rasulullah saw. p u n y a n g d e m i k i a n suci j i w a n y a dan d e m i k i a n dekat lagi dicintai Allah swt. masih diperintahkan oleh ayat ini u n t u k terus shalat dan beribadah, apalagi selain beliau. Kewajiban agama harus dilaksanakan hingga akhir hayar karena kewajiban keagamaan bertujuan mengatur lalu lintas kehidupan manusia yang merupakan m a k h l u k sosial. M a n u s i a sering kali bersifat egois, ingin m e n a n g sendiri, p a d a h a l d e m i k e m a s l a h a t a n bersama, k e t e n a n g a n d a n k e a d i l a n harus ditegakkan dan benturan kepentingan sedapat m u n g k i n dihindari. Dari sini, Allah swt. menetapkan syariat dan menjelaskan sanksi dan ganjaran agar dengan d e m i k i a n setiap orang sadar dan takut kepada-Nya. D a l a m rangka

514

Surah al-Hijr [15]

Kelompok V Ayat 97-99

mengingatkan manusia tentang kehadiran Allah serta sanksi dan ganjaranN y a serta mengingatkan pula mereka akan perjalanan h i d u p n y a hingga m e n e m u i Allah swt. k e l a k — d a l a m rangka itulah, antara l a i n — A l l a h swt. mensyariatkan ibadah. Tanpa mengingat Allah swt. dan mengingat sanksi dan ganjaran-Nya serta tanpa takwa, vakni upaya menghindari siksa-Nya, hidup manusia sebagai individu dan anggota masyarakat akan sangat terganggu dan dilipuri oleh rasa tidak aman. Demildan itu, ibadah merupakan kebutuhan individu dan masyarakat. Di samping itu, manusia tidak dapat terhindar sama sekali dari keresahan hidup. Ada keresahan yang dapat ditanggulanginya s e n d i r i a t a u b e r s a m a o r a n g l a i n , tetapi a d a j u g a y a n g t i d a k d a p a r ditanggulanginya. Kecemasan tentang k e m a t i a n dan apa y a n g akan terjadi sesudahnya mendorong manusia mencari sandaran yang dapat diandalkan. Ini tidak dapat dia t e m u k a n kecuali pada T u h a n Yang M a h a Esa lagi M a h a k u a s a . Di s i n i l a h antara lain lahir k e b u r u h a n u n t u k shalat dan

mendekatkan diri kepada-Nya, bahkan pada hari-hari tua kebutuhan tersebut semakin dirasakan, dan m e m a n g demikian kenyataan yang terlihat seharihari. Semakin dekat kematian kepada seseorang semakin rekun pula dia shalat. jika demikian, sangat tepat jika ayat ini m e m e r i n t a h k a n untuk shalat dan beribadah kepada Allah swt. hingga akhir hayat. Akhirnva. jika A n d a kembali kepada awal surah ini y a n g m e m u l a i uraiannya tentang al~Qurian (ayat K, keinginan k a u m kafirin untuk menjadi orang-orang muslim'—paling tidak setelah kematian mereka (ayat 2)—serta perintahnya kepada Nabi saw. untuk membiarkan mereka yang memperolokolok beliau dan risalah Ilahi (ayat 3)-—jika Anda memerhatikan itu s e m u a — Anda akan menemukan betapa uraian awal surah ini bertemu dengan uraian akhirnya y a n g berbicara tentang anugerah-Nya berupa ayat-ayat al-Qur'an sambi! memerintahkan Nabi saw. tidak m e n g h i r a u k a n cemoohan orang-

orang kafir tetapi tetap melaksanakan d a k w a h , m e n y u c i k a n Allah swt., dan beribadah kepada-Nva. Demikian bertemu dengan sangat serasi awal dan akhir uraian surah ini. Wa Allah A "lam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful