TEKNOLOGI MASYARAKAT (INDIGENOUS TECHNOLOGY) DALAM PERSPEKTIF MULTIDIMENSI: WACANA BAGI PERUMUSAN KEBIJAKAN

Tatang A Taufik*)

1.

PENDAHULUAN

Kajian teori/konseptual maupun pengalaman empiris beberapa negara maju maupun berkembang menunjukkan bahwa sebagai aset yang makin penting dalam perspektif jangka panjang, kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) mempunyai sifat kecenderungan berakumulasi progresif (dalam pengertian meningkat secara tidak linier), dinamis, dan kompleks. Bahwa iptek merupakan elemen yang makin penting dalam kehidupan manusia (dan masyarakat) telah mulai disadari. Namun patut diakui bahwa hal ini belum sepenuhnya diikuti komitmen dan konsistensi dalam mengaktualisasikannya. Dalam konteks negara/daerah atau perusahaan, dilihat dari sumbernya, kemampuan tersebut bisa berasal dari “sumber luar” (imported technology), dan dari “sumber dalam/internal” (indigenous technology). Pesatnya kemajuan iptek di negara-negara maju membuat upaya untuk berorientasi pada pemanfaatan, penguasaan dan pengembangan teknologi yang berasal dari luar menjadi agenda yang memperoleh tekanan, jika bukan perhatian utama (prioritas). Tambahan lagi bantuan atau kemudahan negara donor dan/atau penyedia teknologi yang disediakan. Proses ini membuat meningkatnya upaya impor teknologi di satu sisi dan hilangnya atau makin rendahnya perhatian pada indigenous technology pada sisi lain menjadi godaan yang sulit dihindarkan. Perkembangan dan dinamika kemajuan iptek dan berbagai perubahan di era global memang cenderung membuat batasan “teknologi luar dan teknologi dari sumber internal” ini makin kabur. Impor teknologi akan saling mempengaruhi dalam meningkatkan kemampuan internal. Namun, kelalaian (ignorance) atau kurangnya perhatian yang berlarut atas kemampuan sendiri menimbulkan persoalan (yang telah dirasakan dan menjadi potensi persoalan masa depan) yang jika terus diabaikan, tampaknya makin membesar. Beberapa isu indikatif antara lain
* )

Dr. Tatang A Taufik, MSc., Direktur Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Unggulan Daerah dan Peningkatan Kapasitas Masyarakat (P2KT PUDPKM) – BPPT.

87

PENGETAHUAN/TEKNOLOGI MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF MULTIDIMENSI

misalnya: a. Perkembangan aktivitas ekonomi dalam bentuk Foreign Direct Investment/FDI ternyata tidak banyak berperan efektif sebagai wahana alih teknologi. Kehadiran industri tersebut (misalnya di kawasan-kawasan industri) tak banyak berperan mendorong kapasitas dunia usaha setempat atau masyarakat sekitar dalam menyerap dan mengembangkan teknologi.1 Pengembangan kemampuan teknologi dari masyarakat setempat setidaknya belum menjadi perhatian pembuat kebijakan.2 Sementara di lain pihak, dari aspek sosio kultural, indigenous technology merupakan aset yang penting tidak saja bagi aktivitas ekonomi produktif dan peningkatan kapasitas masyarakat yang biasanya adaptif dengan lingkungan setempatnya, tetapi juga bagi perkembangan modal sosial. Dimensi local specificity dari heterogenitas multiaspek dalam masyarakat (dan lokasi) yang komplementer atas universalitas teknologi kini sebenarnya makin diakui justru lebih menentukan keunggulan daya saing dan kemandirian. “Pengabaian” terhadap indigenous technology berkontribusi terhadap rendahnya kapasitas masyarakat dalam pemanfaatan, penguasaan dan pengembangan teknologi serta dalam pemanfaatan potensi spesifik lokal. Indigenous technology sebagai potensi sumber daya dan kapabilitas internal (indigenous) yang masih terabaikan telah mulai dikembangkan oleh sementara pihak yang mampu melihat peluang dan memanfaatkannya untuk keuntungan ekonomis. Hanya saja tak ada “keuntungan” apapun yang diperoleh kelompok masyarakat “pemilik” indigenous technology tersebut. Ketergantungan pada impor, dalam bentuk yang lebih substansial dari sekedar impor produk (dalam bentuk barang dan jasa). Kini ketergantungan sepihak atas kemampuan/kompetensi kepada pihak asing (luar negeri) makin terasa. Perkembangan era global yang cenderung melahirkan kaidah/kesepakatan tatakrama baru pergaulan dunia yang diatur oleh pihak yang relatif lebih maju dan cenderung merugikan pihak-pihak yang tertinggal. Isu perdagangan bebas dan HKI/Hak Kekayaan Intelektual (beserta beberapa isu lainnya) tampak lebih merupakan instrumen kekuasaan bagi negara maju untuk terus mendominasi, ketimbang memberdayakan bagi negara berkembang yang memiliki posisi tawar makin rendah. Dalam segala keterbatasan dan ketidakberdayaannya, negara berkembang menjadi
Beberapa kasus bahkan menunjukkan kecenderungan makin tersingkirnya masyarakat setempat karena kehadiran industri. Sulit ditemukan rencana pengembangan kawasan industri misalnya, yang telah mempertimbangkan keterkaitan ekonomi dan teknologi dengan dunia usaha/masyarakat setempat. Tak mengherankan jika yang diperoleh dari kehadiran industri demikian umumnya adalah kesempatan kerja untuk keterampilan rendah masyarakat sekitar, itupun masih harus bersaing dengan para pendatang.

b.

c.

d.

1

2

88

MENUMBUHKEMBANGKAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA LOKAL DAN PERLINDUNGAN ASET INTELEKTUAL BANGSA

TEKNOLOGI MASYARAKAT (INDIGENOUS TECHNOLOGY) DALAM PERSPEKTIF MULTIDIMENSI: WACANA BAGI PERUMUSAN KEBIJAKAN Tatang A Taufik

follower dan cenderung bergerak dalam ruang yang makin terbatas serta makin tak berdaya, kesenjangan antara negara maju dengan yang tertinggal berpotensi makin melebar. Jika indigenous technology disadari sebagai hal yang sangat penting, tentu perhatian pada pemanfaatan dan pengembangan indigenous technology harus makin besar. Bagaimana? Tentu implikasinya terutama dalam konteks kebijakan dan strateginya merupakan salah satu agenda kritis pembangunan (yang tak selalu harus sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah). Tulisan singkat ini memuat dua hal pokok. Pertama, diawali dengan menawarkan pengertian (dan batasan) tentang “apa” yang sebenarnya dimaksud dengan indigenous technology, bahasan tentang beberapa isu utama mengapa perhatian terhadap hal ini sangat penting bagi Indonesia diangkat. Hal tersebut selanjutnya menjadi pangkal tolak bagi hal kedua, yaitu merumuskan agenda tentang upaya yang sebaiknya segera dilakukan sebagai wacana dalam upaya mengembangkan, mendayagunakan, dan melindungi teknologi masyarakat.

2.

PENGERTIAN

Definisi, dengan tekanan yang ingin disampaikan di sini, tidak menyangkut soal salah atau benar (apalagi dalam pengertian mutlak/absolut), melainkan pada pertimbangan kegunaannya. Namun ini penting karena walaupun tidak disepakati, setidaknya pengertian tertentu yang dimaksud oleh seseorang/pihak tertentu dipahami oleh yang lainnya sehingga juga memperjelas perbedaannya atau ketidaksepakatannya.3 Sebagai salah satu pangkal tolak bagi interpretasi dan diskusi lebih lanjut, disampaikan batasan pengertian tentang beberapa terminologi kunci berikut ini. Yang dimaksud dengan “teknologi” di sini adalah sehimpunan cara, peralatan, metode, informasi, dan pengorganisasian yang dimanfaatkan untuk menghasilkan produk (barang dan/atau jasa) atau secara umum untuk memecahkan persoalan tertentu (menjawab persoalan pragmatis), berlandaskan kaidah keilmuan.4 Dengan
3

Sebuah definisi (tentang istilah/terminologi tertentu) sebenarnya lebih merupakan “kesepakatan” atas pengertian. Hal penting kedua adalah “kegunaan,” karena ini lah inti dari upaya menyepakati definisi tentang istilah tertentu. Konsekuensinya, kesepakatan ini tak harus langgeng, jika memang proses yang dilalui justru akan memperkaya dan meningkatkan kegunaan kesepakatan atas istilah tersebut. ESCAP (1988) menjabarkan “komponen” teknologi atas sehimpunan piranti lunak/software (cara/metode, dan sebagainya), piranti keras/hardware, pengorganisasian/orgaware, dan pengetahuan, kemampuan, serta keterampilan manusia/humanware.

4

P2KT PUDPKM DB PKT

89

PENGETAHUAN/TEKNOLOGI MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF MULTIDIMENSI

demikian, teknologi menunjukkan tekanan pada sisi pragmatis dalam konteks tujuan tertentu (know-how) atas dasar pengetahuan yang melatarbelakanginya (know-why).5 Dalam konteks tertentu (misalnya organisasi atau negara), bila dibedakan sumber asalnya, pengetahuan maupun teknologi bisa merupakan pengetahuan atau teknologi dari “luar/asing” dan “internal” (dianggap “asli” atau indigenous). Dinamika perkembangan iptek menunjukkan betapa sulitnya kini atau bahkan hampir mustahil memisahkan keduanya. Pengetahuan atau teknologi baru biasanya merupakan bauran dinamis melalui proses pemanfaatan dan pengembangan pengetahuan atau teknologi sebelumnya dan acapkali berasal dari beragam sumber. Jika teknologi menekankan pada sisi pragmatisnya (know-how), maka pengetahuan lebih merupakan akumulasi hasil olah pikir manusia atas persepsi dan kognisi serta know-why tentang fenomena (fenomenon) tertentu, melalui proses pembelajarannya. Secara semantis, pengetahuan tradisional (traditional knowledge) merupakan pengetahuan yang telah merupakan bagian dari tradisi masyarakat tertentu. Dia disampaikan secara turun-temurun dari suatu generasi ke generasi berikut dalam masyarakat. Pengetahuan ini tentunya bisa berasal dari “luar” masyarakat tersebut. Tetapi sebaliknya pengetahuan yang telah mentradisi ini bisa merupakan pengetahuan yang memang berkembang secara khas pada masyarakat tertentu. Pengetahuan ini hasil “internal” budaya kelompok masyarakat tertentu. Inilah yang merupakan pengetahuan “asli” (indigenous knowledge).6 Dengan pengertian di atas, maka teknologi masyarakat atau indigenous technology yang dimaksud di sini7 adalah teknologi yang dikembangkan atas
5

Opini atas pembedaan istilah sains (science) dan pengetahuan (knowledge) juga berkembang. Yang kedua (pengetahuan), lebih merupakan akumulasi ilmu yang diketahui, pengalaman, dan keterampilan. Sejauh ini memang belum ada kesepakatan tentang batasan mengenai pengetahuan “asli” (indigenous knowledge). Ambil contoh misalnya yang disampaikan oleh Gorjestani (2000) berikut ini: Indigenous Knowledge (IK) is defined as the basis for community-level decision making in areas pertaining to food security, human and animal health, education, natural resource management and other vital economic and social activities (Gorjestani, 2000). Sementara itu, “The International Institute of Rural Reconstruction (IIRR)” mendefinisikannya sebagai berikut (lihat http://www.panasia.org.sg/iirr/): Indigenous knowledge is the knowledge that people in a given community have developed over time, and continue to develop. It is: based on experience, often tested over centuries of use, adapted to local culture and environment, and dynamic and changing. Indigenous knowledge is not confined to tribal groups or the original inhabitants of an area (called indigenas in Latin America). It is not even confined to rural people. Rather, any community possesses indigenous knowledge -- rural and urban, settled and nomadic, original inhabitants and migrants. Other names for indigenous knowledge (or closely related concepts) are "local knowledge," "indigenous technical knowledge" and "traditional knowledge."

6

90

MENUMBUHKEMBANGKAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA LOKAL DAN PERLINDUNGAN ASET INTELEKTUAL BANGSA

TEKNOLOGI MASYARAKAT (INDIGENOUS TECHNOLOGY) DALAM PERSPEKTIF MULTIDIMENSI: WACANA BAGI PERUMUSAN KEBIJAKAN Tatang A Taufik

pengetahuan spesifik asli masyarakat (indigenous knowledge) tertentu tersebut. Secara skema, konsep yang diuraikan di atas ditunjukkan oleh Gambar 1 berikut.
Pengetahuan Tradisional Pengetahuan Luar

Pengetahuan Asli Teknologi Masyarakat/Asli

Teknologi Luar

Kemampuan Teknologi dalam Masyarakat

Gambar 1 Skematik Simplifikasi Terminologi yang Digunakan.

3.

IMPLIKASI LEGAL

Haruskah pembedaan dilakukan secara tegas antara pengetahuan atau teknologi dari “luar/asing” dan “internal”? Pembedaan bisa menjadi “krusial” manakala hal ini merupakan pangkal tolak yang mempunyai implikasi legal/hukum, khususnya menyangkut “hak kepemilikan” (ownership/property rights). Karena itu, diskusi akan pengertian yang membedakannya perlu terus dikembangkan. Dalam regim HKI yang berlaku (7 telah diundangkan), perlu dikaji apakah teknologi masyarakat bisa “terlindungi.” Jika tidak, setidaknya 3 (tiga) alternatif perlu ditelaah lebih lanjut: 1. Menganggap teknologi masyarakat “sama” dengan teknologi lain dan melakukan upaya pengembangan/pembaharuan teknologi (serta upaya penting terkait) agar bisa terlindungi dengan perundangan HKI yang berlaku.

7

Dalam makalah ini istilah teknologi masyarakat digunakan identik dengan indigenous technology.

P2KT PUDPKM DB PKT

91

PENGETAHUAN/TEKNOLOGI MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF MULTIDIMENSI

2.

Merumuskan istilah teknologi masyarakat dan menyempurnakan kerangka legal yang ada (menambahkan pasal tertentu, menyusun peraturan tambahan dengan yang lebih rendah dari undang-undang). Membuat perundangan baru khusus atau yang memuat secara eksplisit instrumen HKI bagi perlindungan teknologi masyarakat.

3.

Untuk alternatif pertama, salah satu yang paling mungkin adalah menganggap teknologi masyarakat sama dengan teknologi lainnya. Jika jenis paten yang dipilih, maka upaya pengembangannya menjadi sangat penting agar elemen “kebaruan” misalnya, dapat terpenuhi. Selain itu tentunya kajian atas regim HKI yang paling sesuai bagi teknologi masyarakat perlu dilakukan. Karena kerangka HKI hakekat utamanya adalah “individual dan monopolistik,” maka kepemilikan atas teknologi masyarakat perlu diatur agar memenuhi ketentuan yang berlaku dan memberikan kemanfaatan ekonomi bagi masyarakat “pemilik” teknologi tersebut. Isu ini dan isu penting lainnya perlu terus dikaji lebih lanjut. Alternatif kedua, merupakan pilihan yang mungkin walaupun tentunya tetap harus sejalan dengan kesepakatan internasional. Kejelasan terminologi merupakan salah satu elemen penting. Alternatif ketiga boleh jadi merupakan pilihan ideal. Akan tetapi, upaya bagi hal ini, kalaupun dimungkinkan, jelas merupakan proses yang tidak sederhana dan membutuhkan waktu yang relatif paling panjang di antara ketiga alternatif di atas. Menurut hemat penulis, alternatif pertama merupakan pilihan strategi yang paling logis (setidaknya tentatif hingga saat ini).8 Setidaknya ada beberapa alasan: 1. Yang membuat teknologi menjadi bernilai hakekatnya adalah kemanfaatannya bagi manusia dalam meningkatkan kualitas hidup (quality of life). Tentu saja, aktivitas ekonomi produktif merupakan salah satu (walaupun bukan satu-satunya) elemen pentingnya. Dalam kaitan ini, kemanfaatan teknologi sebagai instrumen enabler dan/atau productivity tool yang berkembang sesuai dengan kebutuhan manusia yang menurut penulis memberikan arti pentingnya teknologi. Dalam hal ini, indigenous technology biasanya (melalui proses kultural yang mungkin saja melalui beberapa generasi) dianggap sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Namun, walaupun prinsip-prinsip dasarnya mungkin tetap, ia akan (dan perlu) terus berkembang, jika tak ingin dilupakan dan secara perlahan punah. Apalagi di tengah “tekanan” pesatnya kemajuan iptek yang didominasi negara-negara “Barat.” “Perlindungan hukum saja” mungkin bisa menyelamatkan terutama bagi pelestarian nilai historis/budaya. Tapi kemanfaatannya bagi manusia yang kontekstual dengan perubahan jaman tetap menjadi pertanyaan besar.
Wacana akan hal ini terus berkembang.

8

92

MENUMBUHKEMBANGKAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA LOKAL DAN PERLINDUNGAN ASET INTELEKTUAL BANGSA

TEKNOLOGI MASYARAKAT (INDIGENOUS TECHNOLOGY) DALAM PERSPEKTIF MULTIDIMENSI: WACANA BAGI PERUMUSAN KEBIJAKAN Tatang A Taufik

2.

Teknologi, sebagai buah karya manusia terus berkembang. Kemanfaatannya pun akan berubah sejalan dengan perubahan kebutuhan/ tantangan manusia. Teknologi yang dianggap “usang,” sangat logis untuk pada akhirnya “ditinggalkan.” Kemudian manusia akan cenderung berupaya mencari/memilih untuk memanfaatkan teknologi yang lebih baik, demikian seterusnya. Inovasi pada akhirnya memang menjadi kunci agar teknologi relevan dengan kebutuhan/tuntutan kemanfaatan yang diharapkan. Bila ini dilakukan dan dilindungi secara hukum (dalam kerangka HKI yang paling sesuai) serta diatur dengan konsensus skema kepemilikan yang tepat misalnya, maka kemanfaatan ekonomis yang makin tinggi pun semestinya bisa dinikmati oleh kelompok masyarakat lokal (“pemilik indigenous technology”) secara adil.

Dengan atau tanpa perubahan kerangka legal, tetap saja inovasi indigenous technology merupakan agenda penting.

4.

BEBERAPA ISU POKOK TEKNOLOGI MASYARAKAT

Walaupun teknologi masyarakat sangat penting, tantangan yang dihadapi sangat berat dan pengabaian yang berlanjut akan sangat mungkin menjadi ancaman yang makin besar. Berikut ini beberapa isu pokok yang perlu memperoleh perhatian sungguh-sungguh. A. Komitmen dan Konsistensi atas Aset Intelektual Bangsa dalam Agenda Nasional

Upaya kongkrit pengembangan, pemanfaatan dan perlindungan teknologi masyarakat belum menjadi agenda prioritas nasional. Walaupun political will sudah mulai tampak, namun hal ini belum diikuti langkah/upaya kongkrit. Sejauh ini perhatian dan preferensi pembuat kebijakan (dan pelaku ekonomi) pada umumnya masih cenderung lebih mengandalkan teknologi asing/impor. Ancaman yang sangat mungkin memburuk antara lain:      Teknologi masyarakat makin tidak kompetitif. Potensi hilangnya social capital dalam masyarakat. Hilangnya potensi nilai ekonomi dari teknologi masyarakat. Potensi indigenous intellectual brain drain. Ketergantungan kepada teknologi impor makin tinggi.

P2KT PUDPKM DB PKT

93

PENGETAHUAN/TEKNOLOGI MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF MULTIDIMENSI

B.

Ketidakadilan (unfairness) atas Eskploitasi   Banyak terjadi ekploitasi terhadap teknologi masyarakat tanpa memperdulikan kompensasi kepada masyarakat pemiliknya. Ketidakadilan dalam bentuk kerugian ekonomi yang seharusnya menjadi hak masyarakat pemilik.

C.

Kepunahan Nilai Budaya

Makin kurangnya perhatian masyarakat terhadap teknologi masyarakat pada gilirannya mengakibatkan kecenderungan semakin berkurangnya pengetahuan masyarakat (terutama generasi muda) tentang teknologi masyarakat tersebut. Ancaman lebih lanjut/lainnya dari keadaan demikian antara lain adalah:   D. Tidak termanfaatkannya potensi ekonomis terkandung di dalam teknologi masyarakat. Loss of cultural values. dan politis yang

Kesepakatan Sistematika Konsep dan Kejelasan dalam Kerangka Legal

Seperti telah disampaikan sebelumnya, beberapa isu berikut sangat penting untuk dipecahkan:   Belum ada kesepakatan atas konsep sistematis tentang teknologi masyarakat. Belum ada kejelasan atau kesepakatan yang tegas tentang sistem perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terhadap teknologi masyarakat. Indikasi mulai terjadinya pencurian, pengembangan, pemanfaatan dan perlindungan HKI teknologi masyarakat Indonesia oleh pihak asing. Kerugian bagi bangsa (terutama negara berkembang) yang memiliki keragaman budaya lokal.

Ancaman yang menghadang terutama:  

E.

Perlindungan dan Penegakan Hukum

94

MENUMBUHKEMBANGKAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA LOKAL DAN PERLINDUNGAN ASET INTELEKTUAL BANGSA

TEKNOLOGI MASYARAKAT (INDIGENOUS TECHNOLOGY) DALAM PERSPEKTIF MULTIDIMENSI: WACANA BAGI PERUMUSAN KEBIJAKAN Tatang A Taufik

Rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap proses perlindungan hukum (perolehan HKI) bagi teknologi masyarakat (Proses perolehan dan pemeliharaan HKI masih dinilai terlalu “mahal”). Advokasi hukum atas teknologi masyarakat masih sulit. Penegakan hukum atas HKI masih terkesan lebih berpihak dan diprioritaskan kepada kepentingan pihak asing pemilik teknologi impor dari pada teknologi masyarakat Indonesia.

 

Jika solusi akan persoalan ini tak segera ditangani, selain teknologi masyarakat tak terlindungi dan nilai ekonominya pun tidak diperoleh, maka ancaman “imperialisme bentuk baru” melalui teknologi (imperialisme ekonomi melalui instrumen intelektual dan legal yang ditetapkan oleh bangsa/negara maju) dihadapi oleh masyarakat.

5.

IMPLIKASI KEBIJAKAN: KERANGKA AGENDA KRITIS

Dalam mengatasi isu-isu persoalan yang telah disampaikan, beberapa agenda pokok perlu dikaji dan dikembangkan. Namun, agar agenda tersebut efektif maka serangkaian hal penting berikut perlu elemen integral agenda: 1. Agenda bersama (collective action): Pengembangan dan pemanfaatan serta “perlindungan” teknologi masyarakat merupakan tanggung jawab bersama dan harus menjadi agenda bertindak bersama. Akan lebih efektif nampaknya jika di era otonomi daerah ini mulai dari upaya inventarisasi, pengembangan, hingga perlindungan hukum (perolehan HKI) teknologi masyarakat dilakukan di setiap daerah dan menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah masing-masing. Kepemimpinan: Upaya yang dilakukan membutuhkan kepemimpinan dari berbagai komponen masyarakat, baik Pemda, LSM, swasta, maupun komunitas masyarakat “pemilik” teknologi masyarakat tertentu. Prakarsa upaya perlu ditumbuhkembangkan, termasuk kampanye kepedulian (awareness campaign), sosialisasi, dan edukasi tentang pentingnya teknologi masyarakat, tanpa harus menunggu “kebijakan” dari pemerintah pusat. Penghimpunan aset teknologi masyarakat: Inventarisasi, “kodifikasi,” dan pengembangan basisdata (database) teknologi masyarakat merupakan langkah awal penting yang perlu segera dilakukan di setiap daerah. Ini

2.

3.

P2KT PUDPKM DB PKT

95

PENGETAHUAN/TEKNOLOGI MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF MULTIDIMENSI

terutama di daerah-daerah yang secara historis merupakan “pusat” peradaban/kebudayaan (kerajaan-kerajaan). 4. Paradigma pemberdayaan (empowering): Upaya secara arif untuk memberikan kesempatan bagi kelompok masyarakat tertentu yang “berhak atas kepemilikan teknologi masyarakat” untuk berkembang, perlu terus didorong. Penguatan atas nilai positif tradisi/budaya mereka harus terus terpelihara dan ditingkatkan. Eksploitasi (terutama dari “pihak asing”) atas “posisi tawar” mereka yang umumnya lemah harus dicegah. Dalam hal tertentu, class action atas eksploitasi yang terbukti merugikan kelompok masyarakat tersebut mungkin diperlukan. Ini bukan berarti memberikan proteksi “berlebihan” dan menghambat kemajuan mereka untuk berkompetisi, melainkan dalam kerangka memberikan kesempatan kepada semua lapisan masyarakat secara adil untuk berkembang, termasuk kepada kelompok yang umumnya relatif tertinggal. Fokus dalam upaya pemanfaatan, penguasaan dan pengembangan teknologi masyarakat: Sangat mungkin ditemui beragam teknologi masyarakat (atau yang “diklaim” sebagai teknologi masyarakat) di daerah di seluruh penjuru Nusantara ini. Tentunya perlu ada upaya untuk menentukan strategi dan langkah yang fokus pengembangan, penguasaan, perlindungan hukum (perolehan HKI) dan pemanfaatan atas teknologi masyarakat yang diprioritaskan di setiap daerah. Beberapa kriteria nilai ekonomi dan sosial budaya mungkin perlu dikembangkan dalam pemilihan (seleksi) atau penentuan prioritasnya. Manajemen aset intelektual: Teknologi masyarakat perlu dikelola secara tepat. Upaya yang sinergis perlu dikembangkan baik melalui pendidikan (formal maupun non-formal), inovasi melalui penelitian, pengembangan dan rekayasa, hingga “komersialisasi” perlu dikelola dengan sistem manajemen yang dianggap paling sesuai. Insentif riset, sistem kelembagaan, kerangka regulasi tertentu, dan/atau instrumen kebijakan tertentu, baik dari lembaga pemerintah pusat (misalnya Kantor Riset dan Teknologi, Departemen Pendidikan Nasional, dan lainnya) maupun pemerintah daerah (seperti Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah/Balitbangda) perlu dikaji dan dikembangkan dalam upaya ini. Pengembangan instrumen legal: Pengkajian dan pengembangan instrumen legal yang mendukung pengembangan, pemanfaatan dan perlindungan teknologi masyarakat sangat penting untuk memperoleh jaminan dan perlindungan hukum serta kemanfaatan ekonomi maupun sosial budaya bagi masyarakat secara adil.

5.

6.

7.

96

MENUMBUHKEMBANGKAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA LOKAL DAN PERLINDUNGAN ASET INTELEKTUAL BANGSA

TEKNOLOGI MASYARAKAT (INDIGENOUS TECHNOLOGY) DALAM PERSPEKTIF MULTIDIMENSI: WACANA BAGI PERUMUSAN KEBIJAKAN Tatang A Taufik

Berikut adalah beberapa langkah/upaya khusus yang penting dilakukan (dan tentunya dikaji lebih lanjut) dalam mengatasi beberapa isu persoalan yang disampaikan sebelumnya. A. Komitmen dan Konsistensi atas Aset Intelektual Bangsa dalam Agenda Nasional Pengembangan, pemanfaatan dan perlindungan teknologi masyarakat menjadi gerakan nasional. Perlu ada collective action yang sinergis antar pihak. Skema insentif untuk lembaga litbangyasa, Pemda dan pelaku usaha yang mengembangkan teknologi masyarakat. Kerangka regulasi (termasuk tentang mengembangkan, memanfaatkan dan masyarakat. peran Pemda) untuk melindungi teknologi

Beberapa langkah yang perlu dilakukan adalah: 

 

 

Peningkatan kapabilitas teknologi masyarakat. Prakarsa/upaya untuk memfasilitasi perolehan HKI bagi teknologi masyarakat.

B.

Ketidakadilan (unfairness) atas Eskploitasi     Kebijakan/kerangka regulasi komersialisasi teknologi masyarakat. Pengembangan sistem manajemen aset intelektual di daerah. Advokasi masyarakat adat/tradisional. Kampanye kepedulian (public pentingnya teknologi masyarakat. awareness campaign) tentang

C.

Kepunahan Nilai Budaya   Dimasukkannya mata pelajaran pengetahuan tradisional kurikulum sekolah dan atau perguruan tinggi. ke dalam

Peningkatan peran media massa dalam mengangkat isu tentang teknologi masyarakat.

P2KT PUDPKM DB PKT

97

PENGETAHUAN/TEKNOLOGI MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF MULTIDIMENSI

D.

Kesepakatan Sistematika Konsep dan Kejelasan dalam Kerangka Legal       Peningkatan intensitas riset dan forum diskusi teknologi masyarakat. Inventarisasi teknologi masyarakat di setiap daerah. Publikasi kekayaan teknologi masyarakat. Pengembangan sistem manajemen HKI teknologi masyarakat. Pengembangan sistem perlindungan HKI teknologi masyarakat. Mendorong perolehan HKI teknologi masyarakat.

E.

Perlindungan dan Penegakan Hukum  Mendorong agar stakeholder kunci lebih mengutamakan semangat kemandirian/pemberdayaan dalam peningkatan pemanfaatan, pengembangan dan perlindungan hukum atas HKI teknologi masyarakat. Fasilitasi perolehan HKI teknologi masyarakat.

6.

CATATAN PENUTUP

Indonesia diakui sangat kaya dengan keragaman budaya. Pengetahuan dan teknologi masyarakat di setiap daerah merupakan potensi besar yang selama ini masih “terabaikan.” Pesatnya kemajuan iptek, derasnya arus globalisasi, dan perhatian yang masih rendah dari masyarakat sendiri (dan pemerintah) yang berlanjut sangat mungkin akan mempercepat kepunahan aset intelektual bangsa tersebut. Upaya alih teknologi dari “luar” sejauh ini belum secara efektif mendorong pengembangan kapabilitas teknologi masyarakat. Upaya pengembangan, penguasaan, perlindungan hukum, serta pemanfaatan teknologi masyarakat yang sangat penting merupakan upaya yang mutlidimensi dan menjadi tanggung jawab bersama. Jika prakarsa/upaya ini dilakukan dan menjadi salah satu agenda prioritas di setiap daerah (misalnya kabupaten atau kota), maka pemanfaatan potensi lokal dan pengembangan serta perlindungan aset intelektual bisa menjadi instrumen penting dalam mencegah kepunahan nilai positif tradisi/budaya bangsa yang sangat penting dan dalam pewujudan otonomi daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat agar makin tinggi dan adil.

98

MENUMBUHKEMBANGKAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA LOKAL DAN PERLINDUNGAN ASET INTELEKTUAL BANGSA

TEKNOLOGI MASYARAKAT (INDIGENOUS TECHNOLOGY) DALAM PERSPEKTIF MULTIDIMENSI: WACANA BAGI PERUMUSAN KEBIJAKAN Tatang A Taufik

DAFTAR KEPUSTAKAAN
1. Gorjestani, Nicolas. 2000. Indigenous Knowledge for Development: Opportunities and Challenges. The UNCTAD Conference on Traditional Knowledge in Geneva, November 1, 2000. International Development Research Centre (IDRC). www.idrc.ca IIRR. 1996. Recording and using indigenous knowledge: A manual. International Institute of Rural Reconstruction, Silang, Cavite, Philippines. Dari http://www.panasia.org.sg/iirr/ikmanual/ik.htm UNESCO. 2001. Report by the Intergovernmental Committee for Promoting the Return of Cultural Property to its Countries of Origin or its Restitution in Case of Illicit Appropriation on its Activities (2000-2001). 31 C/REP/16. 9 August 2001. UNESCO. 2000. 2000-2010 Cultural Diversity: Challenges of the Marketplace. Round Table of Ministers of Culture. Final Report. UNESCO Headquarters, 11 - 12 December 2000.

2. 3.

4.

5.

P2KT PUDPKM DB PKT

99

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.