You are on page 1of 4

TEROR RAYA PEMANASAN GLOBAL

Akhir-kahir ini umat manusia menghadapi beragam permasalahan yang


berkaiatan dengan lingkungan. Silih berganti bencana menimpa, berpindah-pindah
dari satu tempat ke tempat lain, tak kunjung usai. Sejak gempa bumi dahsyat yang
meluluhlantakkan Aceh di akhir 2004, rentetan gempa bumi makin eksesif. Nias,
Iran, Pakistan menyusul dan berikutnya mana lagi?Hanya Sang Pencita yang tahu.
Gempa bumi sebagai peristiwa geologis di alam permukaan bumi sulit dan
mungkin tidak dapat diprediksi kejadiaanya. Secara teoritis gempa bumi, salah
atunya terjadi karena terjadinya pergesaran lempeng benua yang diikuti dengan
pelepasan energi. Semakin besar dan kuat intensitasnya maka getaran yang terasa
sampai permukaan bumi akan makin besar. Efeknya biasa kita lihat, bahkan
ermukaan bumi bisa terbelah karena kuatnya. Proses ini terus terjadi sampai
terbentuk kestabilan energi, sehingga gempa bumi sebenarnya peristiwa periodic
yang berulang dengan rentang 50 – 200 tahun bahkan lebih. Alupun eistrumny tidak
tepat di lokasi itu tetapi tepat pada jalur yang sama.
Pertanyaannya sekarang, kenapa gempa sering terjadi dengan kekuatan yang
besar pula? Fenomena ini belum bisa dijelaskan secara ilmiah, perlu penelitia yang
intensif dan lama. Menurut Anwar (2005) secara empirik, dalam dekade ini (195 –
2005) telah terjadi 19 kali gempa bumi besar dengan skala di atas 7 skala Richter.
Bandingkan dengan decade sebelumnya hanya terjadi 7 gempa besar di seluruh
dunia. Ia juga berasumsi bahwa probilitas gempa yang makin tinggi juga dupicu
oleh factor eksternal, yaitu peningkatan suhu permukaan bumi. Mekanisme ini
dianalogikan dengan kondisi telor saat direbus. Isi telor yang makin dipanaskan akan
memuai sehingga mendorong kulitnya dan akibatnya cangkang retak, artinya
gempa!
Sekarang kita lihat fenomena lain, kekerapan translokasi mikroorganisme
makin sering, flu burung, SARS dan antrax adalah salah satunya. Melewati batas
ekologi, selain itu malaria, deman berdarah dan beragam penyakit dengan vector
binatang juga terus menyebar dari habitat klasiknya. Hama penyakit pada tanaman
pangan juga tak mau ketinggalan, contohnya serangan belalang pada areal gandum di
Amerika Serikat. Di tempat kita juga sudah terdengar serangan wereng dan tikus.
Di sisi lain, anomali iklim mulai tertera. Periodesasi musim mulai tidak
konsisten. Beberapa daerah diguyur hujan dengan intensitas yang tinggi, akibatnya
banjir hebat melanda. Tidak usah jauh-jauh mengambil contoh, yang ada di depan
mata kita. Tumbang Nusa menjadi danau, hulu Barito meluap dan menggenangi
sekitarnya. Di daerah lain, hujan jarang turun, kelangkaan air menjadi derita yang
selalu diiringi dengan kebakaran lahan. Medio 2005, pantai barat Amerika Serikat
diamuk Katrina yang mengakibatkan melonjaknya harga minyak dunia. Tidak lama
berselang Jepang dan Korea kelimpahan badai tropis.
Berdasarkan laporan akhir-akhit ini kutub es mengalami penyusutan yang
makin luas dan beberapa sumber salju abadi di daerah tropis juga mulai mengali
pencairan. Pencairan es kutub akan menaikan permukaan air laut, daerah-daerah
pantai di bumi akan terendam. Air laut akan menghambat limpahan air permukaan,
akibatnya daerah banjir makin banyak. Padahal banyak kota-kota besar di dunia ini
berada di daerah pantai yang dekat dengan plaut dan banyak yang posisinya berada
di bawah permukaan air laut. Apa jadinya bila permukaan air laut makin naik?
Bukankah ini adalah indikasi-indikasi bahwa ada yang berubah pada biosfer
kita?
Bukti ilmiah menyatakan bahwa 3 gas rumah kaca (GRK) utama : CO 2, CH4
dan N2O tiap tahun mengalami peningkatan, masing-masing adalah 1,5 ppmv; 7 ppbv
dan 0,8 ppbv. Sehingga sejak era praindustri ketiga masing-masing mengalami
perubahan dari 290 ppmv menjadi 360 ppmv, 700 ppbv menjadi 1745 ppbv; dan 275
ppbv menjadi 314 ppbv. Sangat mencengangkan, perubahan konsentrasi yang sangat
besar dalam kurun waktu 200 tahun (Murdiyarso, 2003).
GRK secara ilmiah berfungsi sebagai selimut bumi, karena GRK menjebak
bahang dari sinar inframerah yang dipantulkan kembali oleh permukaan bumi. Secar
alamiah alam membentuk keseimbangan CO2 tiap tahun laut menyerap sebanyak
104 miliar ton CO2 dan melapas 100 miliar ton CO2 melalui proses difusi kimia-
fisika. Fotosintesis tanaman menjadi rosot karbon sekitar 100 miliar ton CO2.
Sedangkan penyumbang emisi karbon adalah konsumsi BBF, eksploitasi hutan,
respirasi dan pernapasan tanah masing-masing sebesar 5, 2, 50 dan 50 miliar ton CO2
(Soejani, 1992). Defisit ini jika berlangsung normal tidak akan berpengaruh
dramastis terhadap pemanasan global karena penambahan konsentrasinya tidak lebih
dari 1 ppmv.
Yang ditakutkan adalah perubahan konsentrasi yang sangat besar. Jika hanya
memperhatikan pengaruh konsentrasi CO2 di atmosfer, maka setiap kenaikan 140
ppvm akan menaikkan suhu permukaan bumi sebasar 1 0C. memang angka yang
ecil namun dampaknya sangat dahsyat. Kenaikan suhu permukaan bumi sebesar 0,5
0
C seperti sekarang ampanya seperti ini, apalagi bila 2 kalinya. Revolusi tahap kedua
setelah musnahnya dinosaurus akan terjadi. Kiamat sudah dekat.
Sebenarnya langkah preventif telah dimulai dengan adanya Protokol Kyoto,
yang mewajibkan negara-negara maju sebagi emisitor utama untuk mengurangi 5%
di bawah tingkat emisinya pada tahun 1990 yang harus dicapai alam periode 2008 –
2012. namun dengan arogansi AS keluar dari Protokol Kyoto mengakibatkan
efektivitas Protokol ini menjadi terhambat.
Walaupun tidak diwajibkan, kita juga harus bertindak. Sebagai negara tropis,
kepulauan dan berada di tiga daerah lempengan benua yang terkenal aktif, Indonesia
sangat rentan terkena bencana ekologis dan geologis. Selain itu kita juga menjadi
sorotan dunia atas keberadaan hutan tropis dan lahan gambut yang sangat potensial
sebagai rosot karbon.
Langkah-langkah itu adalah : pertama gerakan pertama efisiensi pemakaian
BBF. 57% pemanasan global disebabkan oleh produksi dan konsumsi energi fosil.
Sekarang adalah momentum tepat untuk melakukan gerakan ini dikala harga minyak
dunia sangat tinggi. Hal ini juga harus diimbangi dengan invensi terhadap sumber
energi alternatif yang ramah lingkungan.
Kedua, disakselerasi pembabatan hutan serta mempercepat gerakan
reforestrasi. melalui proses fisiologis, pohon hutan termasuk sumber rosot yang
sangat besar. Ketiga, eksploitasi lahan gambut yang tidak sesuai dengan daya
dukungnya harus dicegah. Diperkirakan tiap hektar lahan gambut dapat menyiman
600 ton CO2 (Andriesse, 1988 dalam Istomo, 2005).
Keempat, budayakan proses produkis dan gemar menggunakan produk yang
ramah lingkungan. Tak dipungkiri sebagai negara berkembang sebenarnya kita
sedang mengulangi kesalahan negara-negara maju. Kita hidup dalam budaya
konsumtif dan boros. Sekeliling kita digelantungi produk-produk pencemar dan
perusak ozon, peptisida, CFC, busa, spryer.
Kelima, pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan dan hutan.
Kebakaran lahan dan hutan akan meningkatkan konsentrasi karbon di udara.
Pembakaran akan melepaskan kandungan karbon yang tersimpan dalam biomassa
hutan.
Akhirnya, berpikir global dan bertindak local untuk hidup selaras dengan
alam adalah kunci utama penyelamatan peradaban dari kiamat ini. Dan sekaranglah
saatnya kita bertindak jangan sampai kiamat datang, baru kita menyesal.
Wallahu’alam.

Hiu Putih, 10 Desember 2005

Anwar, Bachtiar. 2005. Selamatkan Planet Bumi. Harian Kompas 25 November


2005

Firor, John. Perubahan Atmosfer Sebuah Tantangan Global. Terjemahan Yuliani


Liputo. Penerbit Rosda Jayaputra, Jakarta.

Istomo. 2005. Keseimbangan Hara dan Karbon dalam Pemanfaatan Gambut secara
Berkelanjutan. Dalam Prosiding seri 08 : Pemanfaatan Gambut secara
Bijaksana untuk Manfaat Berkelanjutan. The Climate Change, Forest and
Peatlands in Indonesia Project.

Murdiyarso, Daniel. 2003. Sepuluh Tahun Perjalanan Negosiasi Konvensi


Perubahan Iklim. Penerbit Kompas, Jakarta.

Soerjani, M. 1992. Hutan Tropika, Potensi, Permasalahan dan Upaya


Pengelolaannya. Dalam Mochtar Lubis (eds). Melestarikan Hutan Tropis,
Permasalahan, manfaat san Kebijakannya. Yayasan Obor Indonesia,
Jakarta