P. 1
Fatwa DSN

Fatwa DSN

|Views: 573|Likes:
Published by camcit1984

More info:

Published by: camcit1984 on Feb 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/07/2012

pdf

text

original

Sections

  • Konversi Akad Murabahah
  • Penjadwalan Kembali Murabahah
  • Penyelesaian Piutang Murabahah
  • Potongan Tagihan Murahabah
  • Pembiayaan Multijasa
  • Ganti Rugi (Ta' Widh)
  • Syariah Charge Card
  • Pengalihan Hutang
  • Pembiayaan Pengurusan Haji LKS
  • Rahn Emas
  • Rahn
  • Potongan Pelunasan Murabahah
  • Sanksi Atas Nasabah
  • Diskon Murabahah
  • Uang Muka Murabahah
  • Pembiayaan Ijarah
  • Musyarakah
  • Mudharabah (Qiradh)
  • Jual Beli Istishna'
  • Murabahah
  • Deposito
  • Tabungan
  • Giro

Konversi Akad Murabahah

Thursday, 18 May 2006

Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 49/DSN-MUI/II/2005 tentang Konversi Akad Murabahah. Menimbang : a. bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah; b. bahwa dalam hal nasabah mengalami penurunan kemampuan dalam pembayaran cicilan, maka ia dapat diberi keringanan; c. bahwa keringanan sebagaimana dimaksud di atas dapat diwujudkan dalam bentuk konversi dengan membuat akad baru dalam penyelesaian pembayaran kewajiban; d. bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam, Dewan Syari'ah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman. Mengingat : 1. Firman Allah SWT, antara lain: o QS. al-Baqarah [2]: 275:

"Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." o QS. al-Nisa' [4]: 29:

"Hai orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. Dan

janganlah kamu membunuh dirimu,. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." o QS. al-Ma'idah [5]: 1:

"Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya." o QS. al-Ma'idah [5]: 2:

"Hai orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syrar-,Nyrar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya, dan binatangbinatang qala'id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." o QS. al-Baqarah [2]: 280:

"Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." Mengingat : Hadis-hadis Nabi s.a.w.; antara lain: o Hadis Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan shahihkan oleh Ibnu Hibban :

Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak. o Hadis Nabi riwayat al-Thabrani dalam al-Kabir dan alHakim dalam al-Mustadrak yang menyatakan bahwa hadis ini shahih: Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Saw. ketika beliau memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir, datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: "Wahai Nabiyallah, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo" Maka Rasulullah saw berkata: "Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat".

o

Hadits Nabi Riwayat Muslim, beliau bersabda:

"Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia, Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat; dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya". o Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf alMuzani, beliau bersabda:

"Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. " 3. Kaidah fiqh: o "Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya." o "Kesulitan dapat mendatangkan kemudahan".

Memperhatikan: o Surat Direksi BSM No.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan fatwa. o o Hasil workshop BPH-DSN, 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2004. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Jum'at, 16 Muharram 1426/ 25 Februari 2005. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG KONVERSI AKAD MURABAHAH Pertama: Ketentuan Konversi Akad LKS boleh melakukan konversi dengan membuat akad baru bagi nasabah yang tidak bisa menyelesaikan/ melunasi pembiayaan murabahahnya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati, tetapi ia masih prospektif, dengan ketentuan: a. Akad murabahah dihentikan dengan cara: o o o Obyek murabahah dijual oleh nasabah kepada LKS dengan harga pasar; Nasabah melunasi sisa hutangnya kepada LKS dari hasil penjualan; Apabila hasil penjualan melebihi sisa hutang maka kelebihan itu dapat dijadikan uang

o Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. o Apabila hasil penjualan lebih kecil dari sisa hutang maka sisa hutang tetap menjadi hutang nasabah yang cara pelunasannya disepakati antara LKS dan nasabah. Din Syamsuddin . akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Kedua: Ketentuan Penutup o Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihak-pihak terkait. 07/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh). 27/DSN-MUI/III/2002 tentang Al Ijarah AlMuntahiyah Bi Al-Tamlik. KH. LKS dan nasabah eks-murabahah tersebut dapat membuat akad baru dengan akad: Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik atas barang tersebut di atas dengan merujuk kepada fatwa DSN No.muka untuk akad ijarah atau bagian modal dari mudharabah dan musyarakah. 08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah. b. M.A Sahal Mahfudh Prof. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Dr. H. Mudharabah dengan merujuk kepada fatwa DSN No. M. atau Musyarakah dengan merujuk kepada fatwa DSN No. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 25 Feburari 2005 / 16 Muharram 1426 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Sekretaris.

Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat). d. Menimbang : a. c. Orang yang mengulangi (mengambil . maka ia dapat diberi keringanan.Penjadwalan Kembali Murabahah Thursday. sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam. b. Mengingat : 1. al-Baqarah [2]: 275: "Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. bahwa dalam hal nasabah mengalami penuruan kemampuan dalam pembayaran cicilan. bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 48/DSN-MUI/II/2005 tentang Penjadwalan Kembali Tagihan Murabahah. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). antara lain: o QS. maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). Firman Allah SWT. padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. dan urusannya (terserah) kepada Allah. bahwa keringanan sebagaimana dimaksud di atas dapat diwujudkan dalam bentuk penjadwalan kembali dalam pembayaran kewajibannya. Dewan Syari'ah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman.

al-Baqarah [2]: 280: "Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. al-Nisa' [4]: 29 "Hai orang yang beriman. sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah. janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. Hadis-hadis Nabi s.w. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya" o Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf: "Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal . kecuali yang akan dibacakan kepadamu. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). al-Ma'idah [5]: 1: "Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak. antara lain: o Hadis Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan shahihkan oleh Ibnu Hibban : "Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. mereka kekal di dalamnya. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. dan binatang-binatang qala'id. Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat. dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. jangan (mengganggu) binatang binatang hadya.riba)." o Hadis Nabi Riwayat Muslim: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia.. al-Ma'idah [5]: 2: "Hai orang yang beriman. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu.a. jika kamu mengetahui. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji." o QS. dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji." o QS. maka bolehlah berburu. Dihalalkan bagimu binatang ternak. Dan janganlah sekali-kali kebencian-(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil haram." o QS. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan bertakwalah kamu kepada Allah." o QS. maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka." 2.

Perpanjangan masa pembayaran harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Kedua: Ketentuan Penutup o Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihak-pihak terkait. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Kaidah fiqh: o "Pada dasarnya. o Fatwa ini herlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekel iruan. 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2005 Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Selasa. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya." Memperhatikan: o o o Surat Direksi BSM No.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan fatwa. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 25 Feburari 2005 / 16 Muharram 1426 H . MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG PENJADWALAN KEMBALI TAGIHAN MURABAHAH Pertama: Ketentuan Penjadwalan Kembali LKS boleh melakukan penjadwalan kembali (rescheduling) tagihan murabahah bagi nasabah yang tidak bisa menyelesaikan/melunasi pembiayaannya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati. dengan ketentuan: o o o Tidak menambah jumlah tagihan yang tersisa. Hasil workshop BPH-DSN.atau menghalalkan yang haram. Pembebanan biaya dalam proses penjadualan kembali adalah biaya riil." 3. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. 13 Muharram 1426/ 22 Februari 2005.

M. Din Syamsuddin . H.A Sahal Mahfudh Prof. M.DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. KH. Dr. Sekretaris.

bahwa dalam hal nasabah tidak mampu membayar. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Firman Allah SWT. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 47/DSN-MUI/II/2005 tentang Penyelesaian Piutang Murabahah Bagi Nasabah Tidak Mampu Membayar.Penyelesaian Piutang Murabahah Thursday. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. b. " o QS. Mengingat : 1. al-Ma'idah [5]: 2: . Dewan Syari'ah Nasonal memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman. al-Nisa' [4]: 29: " Hai orang yang beriman. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu. antara lain: o QS." o QS. jika kamu mengetahui. maka diselesaikan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam. janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yung batil. bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. al-Baqarah [2]: 180: "Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. c. bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam. Menimbang : a.

" 3. • Hadis Nabi riwayat al-Thabrani dalam al-Kabir dan alHakim dalam al-Mustadrak yang menyatakan bahwa hadis ini shahih sanadnya : Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Saw. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.w."Hai orang yang beriman. Dan janganlah sekali-kali kebencian-(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam. jangan (mengganggu) binatangbinatang hadya. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa." 2. Hadits-hadits Nabi s. 23/DSN-MUI/III/2002 tentang Potongan Pelunasan dalam Murabahah . "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak. datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: "Wahai Nabiyallah. Kaidah fiqh: • • "Pada dasarnya. sesungguhnya Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo" Maka Rasulullah saw berkata: "Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat". dan binatang-binatang qala'id.. dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Bailullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji. Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat. maka bolehlah berburu. antara lain: • Hadits Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban : Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram. mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. ketika beliau memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir. • Hadits Nabi riwayat Muslim: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia." "Kesulitan dapat mendatangkan kemudahan" Memperhatikan: • Fatwa DSN No. janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah. sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya". • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf: "Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.a.

Apabila nasabah tidak mampu membayar sisa hutangnya. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. 13 Muharram 1426/ 22 Februari 2005. 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2005. Apabila hasil penjualan lebih kecil dari sisa hutang maka sisa hutang tetap menjadi hutang nasabah. Apabila hasil penjualan melebihi sisa hutang maka LKS mengembalikan sisanya kepada nasabah. • • • • Nasabah melunasi sisa hutangnya kepada LKS dari hasil penjualan. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Selasa. • 2. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG PENYELESAIAN PIUTANG MURABAHAH BAGI NASABAH TIDAK MAMPU MEMBAYAR Pertama: Ketentuan Penyelesaian LKS boleh melakukan penyelesaian murabahah bagi nasabah yang tidak bisa menyelesaikan/melunasi pembiayaannya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati. maka LKS dapat membebaskannya. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 22 Feburari 2005 / 13 Muharram 1425 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL . Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihakpihak terkait. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan fatwa. Surat Direksi BSM No. Kedua: Ketentuan Penutup • 1. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. dengan ketentuan: • Obyek murabahah dan atau jaminan lainnya dijual oleh nasabah kepada atau melalui LKS dengan harga pasar yang disepakati.• • • Hasil workshop BPH-DSN.

Sekretaris. KH. H. Dr. Din Syamsuddin .A Sahal Mahfudh Prof. M. M.MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.

b. maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). bahwa penghargaan dan keringanan yang merupakan mukafa 'ah tasyji 'iyah (insentif) tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk potongan dari total kewajiban pembayaran. Mengingat : 1. Dewan Syari'ah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman. d. Menimbang : a. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat).Potongan Tagihan Murahabah Thursday. bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). al-Baqarah [2]: 275: "Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. maka ia dapat diberi penghargaan. bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah. . padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Sedangkan nasabah yang mengalami penurunan kemampuan dalam pembayaran cicilan dapat diberi keringanan c. sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Firman Allah SWT. antara lain: o QS. bahwa dalam hal nasabah telah melakukan pembayaran cicilan dengan tepat waktu. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 46/DSNMUI/II/2005 tentang Potongan Tagihan Murahabah.

dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." o Hadis Nabi riwayat Imam Tirmidzi dari `Amr bin `Auf al-Muzani.a. janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah. "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dcngan kerelaan kedua belah pihak. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.w. dan binatang-binatang qala'id. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu." o QS. bersabda: "Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji." . mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka).a. Al-Nisa' [4]: 29: "Hai orang yang beriman. janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil.. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. kecuali yang akan dibacakan kepadamu. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. o QS." o QS. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.w. sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. dan dishahih-kan oleh Ibnu Hibban : "Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. Hadis-hadis Nabi s. Orang yang mengulangi (mengambil riba). Dan janganlah kamu membunuh dirimu. dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji. mereka kekal di dalamnya." 2. al-Baqarah [2]: 280: "Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu. Dan janganlah sekali-kali kebencian-(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam. Dihalalkan bagimu binatang ternak. maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. antara lain: o Hadis Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah. Nabi s. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. Al-Ma'idah [5]: 1: "Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. maka bolehlah berburu. Al-Ma'idah [5]: 2: "Hai orang yang beriman." o QS.dan urusannya (terserah) kepada Allah. jika kamu mengetahui. dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram. jangan (mengganggu) binatangbinatang hadya.

3. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya". 23/DSN-MUI/III/2002 tentang Potongan Pelunasan dalam Murabahah Hasil workshop BPH-DSN. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Selasa. o Hadis Nabi riwayat al-Thabrani dalam al-Kabir dan alHakim dalam al-Mustadrak yang menyatakan bahwa hadis ini shahih: "Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika Nabi Saw. 2. Besar potongan sebagaimana dimaksud di atas diserahkan pada kebijakan LKS. Kedua: Ketentuan Penutup 1. LKS boleh memberikan potongan dari total kewajiban pembayaran kepada nasabah dalam transaksi (akad) murabahah yang telah melakukan kewajiban pembayaran cicilannya dengan tepat waktu dan/atau nasabah yang mengalami penurunan kemampuan pembayaran. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG POTONGAN TAGIHAN MURABAHAH Pertama: Ketentuan Pemberian Potongan 1. Kaidah fiqh: o "Pada dasarnya. datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: "Wahai Nabi Allah. Pemberian potongan tidak boleh diperjanjikan dalam akad.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan fatwa. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai .o Hadis Nabi Riwayat Muslim: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia. Surat Direksi BSM No. 3. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo" Maka Rasulullah saw berkata: "Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat". tanggal 13 Muharram 1426/ 22 Februari 2005. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihak-pihak terkait. 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2004. Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat. memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir. " Memperhatikan: o o o o Fatwa DSN No.

H.kesepakatan melalui musyawarah.A Sahal Mahfudh Prof. Dr. M. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. 2. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 22 Feburari 2005 / 13 Muharram 1426 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Din Syamsuddin . KH. M. Sekretaris. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Bahwa LKS perlu merespon kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan jasa tersebut c. Firman Allah SWT.. dan aku menjamin . Bertaqwalah kepada Allah. dan barang siapa yang dapat mengembalikannya.Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain. Yusuf [12]: 72: "Penyeru-penyeru itu berseru: `Kami kehilangan piala Raja." o QS. dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Mengingat : 1. al-Baqarah [2]: 233: ". al-Qashash [28]: 26: "Salah seorang dari kedua wanita itu berkata. yaitu pembiayaan yang diberikan oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) kepada nasabah dalam memperoleh manfaat atas suatu jasa b. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. Menimbang : a. antara lain: o QS." o QS. tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bahwa salah satu bentuk \pelayanan jasa keuangan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah pembiayaan multi jasa.Pembiayaan Multijasa Thursday.. 'Hai ayahku! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 44/DSN-MUI/VII/2004 tentang Pembiayaan Multi Jasa. Bahwa agar pelaksanaan transaksi tersebut sesuai dengan prinsip syariah. Dewan Syariah Nasional MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang pembiayaan multijasa untuk dijadikan pedoman.

`Salatkanlah temanmu itu' (beliau sendiri tidak mau mensalatkannya)." o Hadis riwayat `Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id al-Khudri. antara lain: o Hadis riwayat Ibn Majah dari Ibnu Umar. Rasulullah saw bertanya." o Hadis riwayat Abu Daud dari Sa'd Ibn Abi Waqqash..". dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.a. `Tidak'. Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak. bersabda: "Barang siapa mempekerjakan pekerja.. dan janganlah tolong-menolong dalam (mengerjakan) dosa dan pelanggaran. Rasulullah berkata.. dari Abu Sa'id al-Khudri.terhadapnya. Maka. beritahukanlah upahnya. o QS.a. o Hadits Nabi riwayat Imam Ibnu Majah." o QS. ya Rasulullah'." o Hadis Nabi riwayat Bukhari: "Telah dihadapkan kepada Rasulullah SAW jenazah seorang laki-laki untuk disalatkan." (HR. maka. Nabi s. beliau men-salatkannya. Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain. al-Ma'idah [5]: 2: "Dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa. `Apakah ia mem-punyai hutang?' Sahabat menjawab. Bukhari dari Salamah bin Akwa'). al-Daraquthni.." 2.Dan penuhilah janji. `Ya'. `Apakah ia mempunyai hutang?' Sahabat menjawab. `Saya menjamin hutangnya.w. Hadis-hadis Nabi s. Rasulullah pun bertanya.w." o Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf alMuzani: "Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. bahwa Nabi bersabda: "Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering. ia berkata: "Kami pernah menyewankan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya. . sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggunganjcnvabannya. dan yang lain. Maka Rasulullah pun menshalatkan jenazah tersebut. al-Isra' [17]: 34: " ." o QS. Lalu Abu Qatadah berkata. al-Ma'idah [5]: I : "Hai orang yang beriman! Penuhilah aqad-aqad itu..

jilid 111/77-78 "Tidak sah akad penjaminan [dhaman] terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban. antara lain: o a. karena hutang orang itu belum fix. Oleh karena itu.dan menyatakan bahwa ia sah menjadi penjamin. Kitab Mughni al-Muhtajj. maka orang tersebut menjadi penjamin menurut pendapat yang paling kuat (awjah)." "Kesulitan dapat menarik kemudahan" "Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara' (selama tidak bertentangan dengan syari 'at)." o o Hadits Nabi riwayat Abu Daud. Misalnya ia berkata: `Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku menja-minnya.-penjaminan terhadap suatu kewajiban (hutang) yang belum fix-.. tidak sah menjamin hutang yang belum menjadi kewajiban. seperti harga barang yang akan dijual atau sesuatu . (Qaul qadim --Imam menyatakan sah penjaminan terhadap hutang yang akan menjadi kewajiban).Nabi s.. Redaksi dalam fasal tersebut adalah sebagai berikut: `Seandainya seseorang berkata.. " Memperhatikan : 1. per-nyataan pensyarah di sini (dalam pasal tentang dhaman) yang menyatakan dhaman (terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban) itu tidak sah bertentangan dengan pernyataannya sendiri dalam pasal tentang qardh di atas yang menegaskan bahwa hal tersebut adalah (sah sebagai) dhaman. pensyarah telah menuturkan masalah ini . antara lain: o "Pada dasarnya. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. seperti hutang dari akad qardh) yang akan dilakukan. Pendapat para ulama. jilid II: 201-202: (Hal yang dijamin) yaitu hutang disyaratkan harus berupa hak yang bersifat fix pada saat akad.. Tirmizi dan Ibn Hibban Sabda Rasulullah SAW : "Allah menolong hamba selama hamba menolong saudaranya. Dalam pasal tentang Qardh.w. Kitab I'anah al-Thalibin." o o o "Bahaya (beban berat) harus dihilangkan. Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku men--jaminnya. Kaidah fiqh." 3.. bersabda: "Tidak boleh membahayakan (merugikan) diri sendiri maupun orang lain.' Dengan demikian. Kemudian orang yang diajak bicara memberikan hutang kepada orang dimaksud sebanyak seratus atau sebagiannya.' Penjaminan tersebut tidak sah." o b.a.

Substansi Fatwa DSN No. • • 4. 394: "Boleh melakukan akad ijarah (sewa menyewa) atas manfaat yang dibolehkan. Besar ujrah atau fee harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal bukan dalam bentuk prosentase.02-DPS/UUS/04/2004 perihal Permohonan Fatwa DSN tentang Pembiayaan Multi Jasa. Keempat : Ketentuan Penutup . 11/DSN-MUI/IV/2000 tentang Kafalah 4. Ketiga : Penyelesaian Perselisihan Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak. Hasil Rapat Pleno DSN-MUI. B. karena keperluan terhadap manfaat sama dengan keperluan terhadap benda. Kitab al-Muhadzdzab. maka penyelesaiaannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Substansi Fatwa DSN No. 5. Hal itu karena hajat --kebutuhan orang-.terkadang mendorong adanya penjaminan tersebut. hari Rabu. maka sudah seharusnya boleh pula akad ijarah atas manfaat." 2. • 3. juz I Kitab al-Ijarah hal.. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah 3. 2. maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam Fatwa Ijarah. Dalam hal LKS menggunakan akad Kafalah. Pembiayaan Multijasa hukumnya boleh (jaiz) dengan menggunakan akad Ijarah atau Kafalah. maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam Fatwa Kafalah. Oleh karena akad jual beli atas benda dibolehkan.. 24 Jumadil Akhir 1325 H/11 Agustus 2004 5.yang akan dihutangkan. Surat dari BRI Syariah No." o c. Dalam hal LKS menggunakan akad ijarah. LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) atau fee. Dalam kedua pembiayaan multijasa tersebut. Dengan memohon taufiq dan ridho Allah SWT MEMUTUSKAN Menetapkan : FATWA TENTAG PEMBIAYAAN MULTI JASA Pertama : Ketentuan Umum • • 1.

M. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 11 Agustus 2004 / 24 Jumadil Akhir 1425 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. H. Sekretaris. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Din Syamsuddin . M. Dr. KH.Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan.A Sahal Mahfudh Prof. jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan.

Firman Allah SWT. dalam hal ini para pihak yang bertransaksi dalam LKS meminta fatwa kepada DSN tentang ganti rugi akibat penunda-nundaan pembayaran dalam kondisi mampu f. sehingga tidak boleh ada satu pihak pun yang dirugikan hak-haknya. c. Bahwa lembaga keuangan syari'ah (LKS) beroperasi berdasarkan prinsip syari'ah untuk menghindarkan praktik riba atau praktik yang menjurus kepada riba.. Bahwa masyarakat. . Menimbang : a. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 43/DSN-MUI/VIII/2004 tentang Ganti Rugi (Ta'Widh). DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang ganti rugi (ta'widh) untuk dijadikan pedoman Mengingat : 1. Bahwa kerugian yang benar-benar dialami secara riil oleh para pihak dalam transaksi wajib diganti oleh pihak yang menimbulkan kerugian tersebut e. termasuk masalah denda finansial yang biasa dilakukan oleh lembaga keuangan konvensional b. d. Bahwa syari'ah Islam melindungi kepentingan semua pihak yang bertransaksi. Bahwa dalam upaya melindungi para pihak yang bertransaksi. antara lain: o QS.Ganti Rugi (Ta' Widh) Thursday.”. baik nasabah maupun LKS. al-Ma'idah [5]: 1 “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu.. Bahwa para pihak yang melakukan transaksi dalam LKS terkadang mengalami risiko kerugian akibat wanprestasi atau kelalaian dengan menunda-nunda pembayaran oleh pihak lain yang melanggar perjanjian.

al-Isra' [17]: 34: ". Kaidah Fiqh... riwayat Ahmad dari Ibnu `Abbas. barang siapa melakukan aniaya (kerugian) kepadamu. al-Baqarah [2]: 279-280: ". Hadis-hadis Nabi s. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. balaslah ia.Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. lebih baik bagimu. Muslim dari Abu Hurairah." o Hadis Nabi riwayat jama'ah (Bukhari dari Abu Hurairah. al-Baqarah [2]: 194: ." 2." o QS. Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Ibn Umar.a.Dan penuhilah janji. segala bentuk mu' amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang . Malik dari Abu Hurairah.. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. antara lain: o Hadis Nabi riwayat Tirmizi dari `Amr bin `Auf: "Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Abu Daud dari Abu Hurairah. sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggunganjawabannya. Abu Dawud dari Syuraid bin Suwaid." o Hadis Nabi riwayat Nasa'i dari Syuraid bin Suwaid. bahwa Allah beserta orangorang yang bertakwa. Tirmizi dari Abu Hurairah dan Ibn Umar.w.. jika kamu mengetahui." o Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari `Ubadah bin Shamit. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu..o QS. dan Ahmad dari Syuraid bin Suwaid: "Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya. Ahmad dari Abu Hurairah dan Ibn Umar." o QS.. seimbang dengan kerugian yang telah ia timpakan kepadamu.. dan Malik dari Yahya: "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah. antara lain: o "Pada dasarnya." 3.maka. Nasa'i dari Abu Hurairah. dan Darami dari Abu Hurairah): "Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman.. Ibu Majah dari Syuraid bin Suwaid.

hlm 342..mengharamkannya. Nazariyah al-Dhaman. antara lain sebagai berikut:  Pendapat Wahbah al-Zuhaili. Mafahim Asasiyyah fi al-Bunuk al-Islamiyah. Damsyiq: Dar al-Fikr. Apabila jatuh tempo hutang ternyata sebelum masa kedatangannya dari perjalanan --misalnya. perlu kita perhatikan sebagai berikut. al-Qahirah: al-Ma'had al-`Alami li-al-Fikr al-Islami. 96).  Pendapat 'Abd al-Hamid Mahmud al-Ba'li. 87). apabila debitur menunjuk penjamin atau menyerahkan jaminan (qadai) yang cukup untuk membayar hutangnya pada saat jatuh tempo. 93)." o Pendapat beberapa ulama kontemporer tentang dhaman atau ta'widh.maka kreditur boleh melarangnya melakukan perjalanan. Sementara itu.. Apabila hal tersebut sulit dilakukan. juz IV. atau jika pihak berpiutang (kreditur) bermaksud melarang debitur (melakukan perjalanan). Hal itu karena obyek ganti rugi adalah harta yang ada dan konkret serta berharga (diijinkan syariat untuk memanfaatkannya" (h. hilangnya keuntungan dan terjadinya kerugian yang belum pasti di masa akan datang atau kerugian immateriil. perjalanan untuk berhaji di mana debitur masih dalam perjalanan haji sedangkan jatuh tempo hutang pada bulan Muharram atau Dzulhijjah-. ia menyatakan: "Jika orang berhutang (debitur) bermaksud melakukan perjalanan. 1996: "Ganti rugi karena penundaan pembayaran oleh orang yang mampu didasarkan pada kerugian yang terjadi secara riil akibat penundaan pembayaran dan kerugian itu merupakan akibat logis dari keterlambatan . ia boleh melakukan perjalanan tersebut. 1998: "Ta'widh (ganti rugi) adalah menutup kerugian yang terjadi akibat pelanggaran atau kekeliruan" (h. Akan tetapi. karena dengan demikian. maka wajib menggantinya dengan benda yang sama (sejenis) atau dengan uang" (h." Memperhatikan: o Pendapat Ibnu Qudamah dalam al-Mughni. (b) memperbaiki benda yang dirusak menjadi utuh kembali seperti semula selama dimungkinkan. bahwa penundaan pembayaran kewajiban dapat menimbulkan kerugian (dharar) dan karenanya harus dihindarkan. maka menurut ketentuan hukum fiqh hal tersebut tidak dapat diganti (dimintakan ganti rugi). seperti memperbaiki dinding. kerugian kreditur dapat dihindarkan." o Bahaya (beban berat) harus dihilangkan. "Ketentuan umum yang berlaku pada ganti rugi dapat berupa: (a) menutup kerugian dalam bentuk benda (dharar. seperti mengembalikan benda yang dipecahkan menjadi utuh kembali. Hal ini karena ia (kreditur) akan menderita kerugian (dharar) akibat keterlambatan (memperoleh) haknya pada saat jatuh tempo. bahaya).

widh) hanya boleh dikenakan atas pihak yang dengan sengaja atau karena kelalaian melakukan sesuatu yang menyimpang dari ketentuan akad dan menimbulkan kerugian pada pihak lain. karena itu. 1997: "Kerugian harus dihilangkan berdasarkan kaidah syari'ah dan kerugian itu tidak akan hilang kecuali jika diganti." o Fatwa DSN No. Ganti rugi (ta‘widh) hanya boleh dikenakan pada transaksi (akad) yang menimbulkan utang piutang . al-Qahirah: al-Ma'had al `Alami li-al-Fikr al-Islami."  Pendapat ulama yang membolehkan ta'widh sebagaimana dikutip oleh 'Isham Anas alZaftawi. 3. o Fatwa DSN No 18/DSN-MUI/IX/2000 tentang Pencadangan Penghapusan Aktiva Produktif dalam LKS o o Rapat BPH DSN MUI – BI – Perbankan Syari'ah. Dengan memohon taufiq dan ridho Allah SWT MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG GANTI RUGI (TA'WIDH) Pertama: KETENTUAN UMUM 1. Rapat Pleno DSN-MUI. 4. Ganti rugi (ta. 5. Penundaan pembayaran hak sama dengan ghashab. yaitu bahwa pelaku ghashab bertanggung jawab atas manfaat benda yang di-ghasab selama masa ghashab. menurut mayoritas ulama. Hukm al-Gharamah al-Maliyah fi al-Fiqh al-Islami. Kerugian riil sebagaimana dimaksud ayat 2 adalah biaya-biaya riil yg dikeluarkan dalam rangka penagihan hak yg seharusnya dibayarkan. seyogyanya stastus hukumnya pun sama. Kerugian yang dapat dikenakan ta'widh sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 adalah kerugian riil yang dapat diperhitungkan dengan jelas.17/DSN-MUI/IX/2000 tentang S anksi Atas Nasabah Mampu Yang Menundanunda Pembayaran.pembayaran tersebut. 2. Besar ganti rugi (ta'widh) adalah sesuai dengan nilai kerugian riil (real loss) yang pasti dialami (fixed cost) dalam transaksi tersebut dan bukan kerugian yang diperkirakan akan terjadi (potential loss) karena adanya peluang yang hilang (opportunity loss atau al-furshah al-dha-i' ah). sedangkan penjatuhan sanksi atas debitur mampu yang menunda-nunda pembayaran tidak akan memberikan manfaaat bagi kreditur yang dirugikan. hari Rabu. 18 Juli 2004 di Lippo Karawaci-Tangerang. 24 Jumadil Akhir 1325 H/11 Agustus 2004. di samping ia pun harus menanggung harga (nilai) barang tersebut bila rusak.

(dain), seperti salam, istishna' serta murabahah dan ijarah. 6. Dalam akad Mudharabah dan Musyarakah, ganti rugi hanya boleh dikenakan oleh shahibul mal atau salah satu pihak dalam musyarakah apabila bagian keuntungannya sudah jelas tetapi tidak dibayarkan. Kedua: KETENTUAN KHUSUS 1. Ganti rugi yang diterima dalam transaksi di LKS dapat diakui sebagai hak (pendapatan) bagi pihak yang menerimanya. 2. Jumlah ganti rugi besarnya harus tetap sesuai dengan kerugian riil dan tata cara pembayarannya tergantung kesepakatan para pihak. 3. Besarnya ganti rugi ini tidak boleh dicantumkan dalam akad. 4. Pihak yang cedera janji bertanggung jawab atas biaya perkara dan biaya lainnya yang timbul akibat proses penyelesaian perkara. Ketiga: Penyelesaian Perselisihan Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiaannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Keempat: Ketentuan Penutup Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan, jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 11 Agustus 2004 / 24 Jumadil Akhir 1425 H

DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua,

Sekretaris,

KH. M.A Sahal Mahfudh

Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin

Syariah Charge Card
Wednesday, 17 May 2006

Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 42/DSN-MUI/V/2004 tentang Syariah Charge Card. Menimbang : a. Bahwa untuk memberikan kemudahan, keamanan, dan kenyamanan bagi nasabah dalam melakukan transaksi dan penarikan tunai diperlukan charge card b. Bahwa fasilitas charge card yang ada dewasa ini masih belum sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. c. Bahwa agar fasilitas tersebut dilaksanakan sesuai dengan Syari'ah, Dewan Syari'ah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa mengenai hal tersebut untuk dijadikan pedoman. Mengingat : 1. Firman Allah SWT, antara lain: o QS. al-Ma'idah [5]: 1

“Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu...”. o QS.Yusuf [12]: 72:

"Penyeru-penyeru itu berseru: 'Kami kehilangan piala Raja,. dan barang siapa yang dapat mengembalikannya, akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya." o QS. al-Ma'idah [5]: 2:

"Dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam (mengerjakan) dosa dan pelanggaran..." o QS. al-Furqan [25]: 67

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak herlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian." o QS. Al-Isra' [17]:

"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemborospemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." o QS. al-Isra' [17]: 34:

"Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggunganjawabannya." o QS. al-Qashash [28]: 26:

"Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, 'Hai ayahku! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." o QS. al-Baqarah [2]: 275:

"Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." o QS. al-Baqarah [2]: 282:

"Hai orang yang beriman! Jika kamu bermu'amalah tidak secara tunai sampai waktu tertentu, buatlah secara tertulis..." o QS. al-Bagarah [2]: 280:

"Dan jika ia (orang yang berhutang itu) dalam kesulitan, berilah tangguh sampai ia berkelapangan..." 2. Hadist-hadist Nabi SAW, antara lain: • Hadis Nabi riwayat Imam al-Tirmidzi dari `Amr bin `Auf alMuzani, Nabi s.a.w. bersabda:

"Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." • Hadis Nabi riwayat Imam Ibnu Majah, al-Daraquthni, dan yang lain, dari Abu Sa'id al-Khudri, Nabi

w. Maka.a.. Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat. Nabi bersabda: "Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu.a. ya Rasulullah'." • Hadis Nabi riwayat Nasa'i. bersabda: "Barang siapa mempekerjakan pekerja.w.. Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain." Kaidah Fiqh. `Ya'." • Hadis Nabi riwayat Muslim.w. dan Allah senantiasa menolong hanzba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya" • Hadis Nabi riwayat Jama'ah." • Hadis Nabi riwayat Abu Daud. Nabi s." • Hadis Nabi riwayat Bukhari dari Salamah bin al-Akwa': "Telah dihadapkan kepada Rasidullah s. Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak " • Hadis riwayat 'Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id al-Khudri. `Tidak'. a. Nabi bersabda: "Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. beliau mensalatkannya. Ibn Majah. dan Ahmad. 'Salatkanlah temanmu itu' (beliau sendiri tidak mau mensalatkannya). maka. bersabda: "Tidak boleh membahayakan (merugikan) diri sendiri maupun orang lain. jenazah seorang laki-laki untuk disalatkan. Tirmizi dan lbn Hibban: "Za'im (penjamin) adalah gharinz (orang yang menanggung hutang). semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang . Rasulullah pun bertanya. Nabi bersabda: "Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang paling baik dalam pembayaran hutangnya. ia berkata: "Kami pernah menyewankan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya." • Hadis Nabi riwayat Abu Daud dari Sa'd Ibn Abi Waqqash. Rasulullah bertanya. Apakah ia mempunyai hutang?' Mereka menjawab. "Apakah ia mempunyai hutang?" Sahabat menjawab. menghalalkan harga diri dan memberikan sanksi kepadanya." • Hadis Nabi riwayat Bukhari. Nabi bersabda: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia. Maka Rasulullah pun menshalatkan jenazah tersebut.s. antara lain: • "Pada dasarnya. Lalu Abu Qatadah berkata. beritahukanlah upahnya. Rasulullah berkata. `Saya menjamin hutangnya. Abu Daud.

Redaksi dalam pasal tersebut adalah sebagai berikut: `Seandainya seseorang berkata." • • • "Kesulitan dapat menarik kemudahan." • "Menghindarkan kerusakan (kerugian) harus didahulukan (diprioritaskan) atas mendatangkan kemaslahatan. maka sudah seharusnya dibolehkan pula akad ijarah atas manfaat... seperti hutang dari akad qardh) yang akan dilakukan." . tidak sah menjamin hutang yang belum menjadi kewajiban. maka orang tersebut menjadi penjamin menurut pendapat yang paling kuat (aitjah).” o Kitab al-Muhadzdzab.. Dalam pasal tentang Qardh.' Dengan demikian.. Oleh karena itu." Memperhatikan: • Pendapat fuqaha' antara lain dalam: o Kitab I'anah al-Thalibin." o Kitab Mughni al-Muhtaj. Kemudian orang yang diajak bicara memberikan hutang kepada orang dimaksud sebanyak seratus atau sebagiannya.. seperti harga barang yang akan dijual atau sesuatu yang akan dihutangkan. 394: "Boleh melakukan akad ijarah (sewa menyewa) atas manfaat yang dibolehkan. pensyarah telah menuturkan masalah ini --penjaminan terhadap suatu kewajiban (hutang) yang belum terjadi dan menyatakan bahwa ia sah menjadi penjamin.terkadang mendorong adanya penjaminan tersebut. karena hutang orang itu belum terjadi. Hal itu karena hajat --kebutuhan orang-. jilid 111/77-78 : "(Tidak sah akad penjaminan [dhaman] terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban." "Keperluan dapat menduduki posisi darurat. karena keperluan terhadap manfaat sama dengan keperluan terhadap benda. Misalnya ia berkata: `Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku menjaminnya. (Qaul qadim --Imam al-Syafl'i-menyatakan sah penjaminan terhadap hutang yang akan menjadi kewajiban)..mengharamkannya. juz I Kitab al-Ijarah hal.. jilid II: 201-202: "(Hal yang dijamin) yaitu hutang (disyaratkan harus berupa hak yang telah terjadi) pada saat akad. Manakala akad jual beli atas benda dibolehkan. Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku menjaminnya.' Penjaminan tersebut tidak sah. pernyataan pensyarah di sini (dalam pasal tentang dhaman) yang menyatakan dhaman (terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban) itu tidak sah bertentangan dengan pernyataannya sendiri dalam pasal tentang qardh di atas yang menegaskan bahwa hal tersebut adalah (sah sebagai) dhaman." "Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara' (selama tidak bertentangan dengan syari'at).

Syariah Charge Card adalah fasilitas kartu talangan yang dipergunakan oleh pemegang kartu (hamil albithaqah) sebagai alat bayar atau pengambilan uang tunai pada tempat-tempat tertentu yang harus dibayar lunas kepada pihak yang memberikan talangan (mushdir al-bithaqah) pada waktu yang telah ditetapkan. 07 Rabi'ul Akhir 1425 H.11/DSN-MUI/IV/2000 tentang Kafalah. dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: Kedua: KETENTUAN UMUM Dalam fatwa ini. yang dimaksud dengan: a. Bank Danamon Syariah dan lain-lain. nomor 2 tentang Bithaqah al-Hasm wa Bithaqah alI'timan. termasuk perpanjangan masa keanggotaan dari pemegang kartu sebagai imbalan izin menggunakan fasilitas kartu. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG SYARIAH CHARGE CARD Pertama: HUKUM Penggunaan charge card secara syariah dibolehkan. • Surat-surat masuk Bank BII Syariah. 9/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah. Substansi Fatwa DSN No.19/DSN-MUI/IV/2001 tentang Qardh. Bank BNI Syariah.o Kitab Fiqh al-Sunnah jilid 4/221-222 : "Kafalah (jaminan) harta yaitu kajil (penjamin) berkewaj iban memberikan jaminan dalam bentuk harta. al-Ma 'ayir al-Syar 'iyah Mei 2001: al-Mi'yar alSyar'i. c. Bahrain. . Merchant Fee adalah fee yang diambil dari harga objek transaksi atau pelayanan sebagai upah/imbalan (ujrah samsarah). Substansi Fatwa DSN No. / 27 Mei 2004. Membership Fee (rusum al-'udhwiyah) adalah iuran keanggotaan. • Substansi Fatwa DSN No. pemasaran (taswiq) dan penagihan (tahsil aldayn)." o Pendapat Majma' al-Fiqh al-Islami & Hai'ah al-Muhasabah wa al-Muraja'ah li-al-Mu'assasah al-Maliyah al-Islamiyah. b. perihal permohonan fatwa tentang kartu berdasarkan prinsip syariah. • Pendapat Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional MUI pada hari Kamis.

akad yang digunakan adalah akad Kafalah wal Ijarah. Ketiga: KETENTUAN AKAD Akad yang dapat digunakan untuk Syariah Charge Card adalah: a. • Fee Penarikan Uang Tunai . b.d. Untuk transaksi pemegang kartu (hamil cd-bithaqah) melalui merchant (qabil al-bithaqahlpenerima kartu). 2. f. Keempat: 1. pemasaran (taswiq) dan penagihan (tahsil al-dayn). Denda keterlambatan (Late Charge) adalah denda akibat keterlambatan pembayaran yang akan diakui sebagai dana sosial. Ketentuan Fee: • Iuran keanggotaan (Membership fee) Penerbit kartu boleh menerima iuran keanggotaan (rusum al-'udhwiyah) termasuk perpanjangan masa keanggotaan dari pemegang kartu sebagai imbalan izin penggunaan fasilitas kartu. Fee Penarikan Uang Tunai adalah fee atas penggunaan fasilitas untuk penarikan uang tunai (rusum sahb alnuqud) e. • Ujrah (Merchant Fee) Penerbit kartu boleh menerima fee yang diambil dari harga objek transaksi atau pelayanan sebagai upah/imbalan (ujrah samsarah). Pemegang kartu utama harus memiliki kemampuan finansial untuk melunasi pada waktunya. Untuk transaksi pengambilan uang tunai digunakan akad al-Qardh wal Ijarah. Tidak mendorong israf (pengeluaran yang berlebihan) antara lain dengan cara menetapkan pagu. Denda karena melampaui pagu (Overlimit Charge) adalah denda yang dikenakan karena melampaui pagu yang diberikan (overlimit charge) tanpa persetujuan penerbit kartu dan akan diakui sebagai dana sosial. Ketentuan dan batasan (dhawabith wa hudud) Syariah Charge Card : • • • • • Tidak boleh menimbulkan riba. Tidak mengakibatkan hutang yang tidak pernah lunas (ghalabah al-dayn). Tidak digunakan untuk transaksi objek yang haram atau maksiat.

Dr.A Sahal Mahfudh Prof.Penerbit kartu boleh menerima fee penarikan uang tunai (rusum sahb al-nuqud) sebagai fee atas pelayanan dan penggunaan fasilitas yang besarnya tidak dikaitkan dengan jumlah penarikan. • Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Din Syamsuddin . M. Sekretaris. M. 3. H. Keenam : Ketentuan Penutup • Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihakpihak terkait. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 27 Mei 2004 / 07 Rabiul Akhir 1425 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. KH. Ketentuan Denda • Denda Keterlambatan (Late Charge) Penerbit kartu boleh mengenakan denda keterlambatan pembayaran yang akan diakui sebagai dana sosial. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. • Denda karena melampaui pagu (Overlimit Charge) Penerbit kartu boleh mengenakan denda karena pemegang kartu melampaui pagu yang diberikan (overlimit charge) tanpa persetujuan penerbit kartu dan akan diakui sebagai dana sosial.

al-Maidah [5] : 2: dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. c. penuhilah aqad-aqad itu. Bahwa lembaga keuangan syarah (LKS) perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya melalui akad pengalihan hutang oleh LKS. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan yang menjadi kebutuhan masyrakat adalah membantu masyarakat untuk mengalihkan transaksi non-syariah yang telah berjalan menjadi transaksi yang sesuai dengan syariah b. Menimbang : a. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya • Firman Allah QS. dan . Al-Maidah [5]: 1: Hai orang-orang yang beriman. Bahwa agar akad tersebut dilaksanakan sesuai dengan prinsip syariah Islam.. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 31/DSNMUI/VI/2002.Pengalihan Hutang Sunday. dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran..” • Firman Allah QS. tentang Pengalihan Hutang.. al-Baqarah [2] : 275 : “dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Mengingat : • • Firman Allah QS.. Firman Allah QS. Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa mengenai hal tersebut untuk dijadikan pedoman. al-Isra [17] : 34: dan penuhilah janji.

semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. al-Baqarah [2] : 275: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. yang dimaksud dengan: . al-Daraquthni. Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka.w bersabda: “Tidak boleh membahayakan (merugikan) diri sendiri maupun orang lain” • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. Pertama : Ketentuan Umum Dalam fatwa ini.bertakwalah kamu kepada Allah. Nabi s. orang yang kembali (mengambil riba). padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. tanggal 15 Rabiul Akhir1423H/ 26 Juni 2002. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. dari Abu Sa’id al-Khudri. adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat). dan urusannya (terserah) kepada Allah.”.a. • Hadis nabi riwayat Imam Ibnu Majah. dan yang lain. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). • Firman Allah QS. mereka kekal di dalamnya. keadaan mereka yang demikian itu. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PENGALIHAN HUTANG.” “Kesulitan dapat menarik kemudahan” “Keperluan dapat menduduki posisi darurat” “Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara’ (selama tidak bertentangan dengan syari’at). Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno DSN pada Hari Rabu.

Alternatif II : . Dengan qardh tersebut nasabah melunasi kredit (hutang)-nyal dan dengan demikian asset yang dibeli dengan kredit tersebut menjadi milik nasabah secara penuh.19/DSN-MUI/IV/2001 tentang al-Qardh dan fatwa DSN no 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah berlaku pula dalam pelaksanaan pembiayaan pengalihan hutang sebagaimana dimaksud alternatif I ini. 4. d. Kedua : Ketentuan Akad Akad dapat dilakukan melalui empat alternatif berikut: Alternatif I : 1. Al-Qardh adalah akad pinjaman dari LKS kepada nasabah dengan ketentuan bahwa nasabah wajib mengembalikan pokok pinjaman yang diterimanya kepada LKS pada waktu dan dengan cara pengembalian yang telah disepakati.a. dan dengan hasil penjualan itu nasabah melunasi qardh-nya kepada LKS. Nasabah adalah (calon) nasabah LKS yang mempunyai kredit (hutang) kepada Lembaga Keuangan Konvensional (LKK) untuk pembelian aset. dengan pembayaran secara cicilan. LKS menjual secara murabahah aset yang telah menjadi miliknya tersebut kepada nasabah. b. Aset adalah aset nasabah yang dibelinya melalui kredit dari LKK dan belum lunas pembayaran kreditnya. 3. yang ingin mengalihkan hutangya ke LKS. LKS memberikan qardh kepada nasabah. c. Fatwa DSN no. Pengalihan hutang adalah pemindahan hutang nasabah dari bank/lembaga keuangan konvensional ke bank/lembaga keuangan syariah. 2. Nasabah menjual aset dimaksud angka 1 kepada LKS.

Besar imbalan jasa Ijarah sebagaimana dimaksudkan angka1 tidak boleh didasarkan pada jumlah talangan yang diberikan LKS kepada nasabah sebagaimana dimaksudkan angka 2. Alternatif III : 1. Apabila diperlukan. Akad ijarah sebagaimana dimaksudkan angka1 tidak boleh dipersyaratkan dengan (harus terpisah dari) pemberian talangan sebagaimana dimaksudkan angka 2. nasabah dapat melakukan kad Ijarah dengan LKS. 9/DSN-MUI/IV/2002. LKS memberikan qardh kepada nasabah. terjadilah syirkah al-milk antara LKS dan nasabah terhadap aset tersebut. dan dengan demikian. 2. dengan seizin LKK. LKS membeli sebagaian aset nasabah. Alternatif IV : 1. . LKS dapat membantu menalangi kewajiban nasabah dengan menggunakan prinsip al-Qardh sesuai fatwa DSN-MUI no. 3. 3.1. LKS menjual secara murabahah bagian asset yang menjadi miliknya tersebut kepada nasabah. asset yang dibeli dengan kredit tersebut menjadi milik nasabah secara penuh. 2. 4. Dengan qardh tersebut nasabah melunasi kredit (hutang)-nya. sehingga dengan demikian. Dalam pengurusan untuk memperoleh kepemilikan penuh atas aset. sesuai dengan fatwa DSN-MUI no. Fatwa DSN no: 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah berlaku pula dalam pelaksanaan pembiayaan pengalihan hutang sebagaimana dimaksud dalam alternatif II ini. Bagian aset yang dibeli oleh LKS sebagaimana dimaksud angka 1 adalah bagian aset yang senilai dengan hutang (sisa cicilan) nasabah kepada LKK. 19/DSNMUI/IV/2001. 4. dengan pembayaran secara cicilan.

Ketiga : Ketentuan Penutup 1. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyarawah. LKS menyewakan aset yang telah menjadi miliknya tersebut kepada nasabah. Nasabah menjual aset dimaksud angka 1 kepada LKS. dengan akad al-ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. 2. Sekretaris. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 15 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. dan dengan hasil penjualan itu nasabah melunasi qardhnya kepada LKS. dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. 4.2. . 3. Fatwa DSN no: 19/DSN-MUI/IV/2001 tentang al-Qardh dan fatwa DSN no: 27/DSN-MUI/III/2002 tentang al-ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik berlaku pula dalam pelaksanaan pembiayaan pengalihan hutang sebagaimana dimaksud dalam alternatif IV ini.

M. ‘Hai ayahku! . H. c. Mengingat : • Firman Allah QS. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. tentang Pembiayaan Pengurusan Haji Lembaga Keuangan Syariah. Dr. Al-Qashas (28) : 26: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata.K. Al-Maidah [5]: 1: Hai orang-orang yang beriman. Bahwa lembaga keuangan syarah (LKS) perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya. b. Sahal Mahfudh Prof. Din Syamsuddin Pembiayaan Pengurusan Haji LKS Sunday. dihalalkan bagimu binatang ternak. M. Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang pengurusan dan pembiayaan haji oleh LKS untuk dijadikan pedoman.H.A. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah pengurusan haji dan talangan pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (BPIH). Bahwa agar pelaksanaan transaksi tersebut sesuai dengan prinsip syariah. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. kecuali yang akan dibacakan kepadamu. • Firman Allah QS. penuhilah aqad-aqad itu. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 29/DSNMUI/VI/2002. Menimbang : a.

beritahukanlah upahnya.a. kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. buatlah secara tertulis. • Firman Allah. Al-Baqarah [2] : 280 : Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” • Hadis Nabi s.” “Kesulitan dapat menarik kemudahan” “Keperluan dapat menduduki posisi darurat” . • Hadis-hadis Nabi S. Allah akan melepaskan kesulitan darinya pada hari kiamat. (QS.. antara lain hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah: “Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia. • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya.w riwayat al-Nasa’i. • Hadis Nabi s.w riwayat al-Bukhari: Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang paling baik dalam pembayaran hutangnya. Abu Daud. Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. antara lain QS.a...” • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. QS. • Hadis riwayat ‘Abd ar-Razaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri.”. dan Ahmad: Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga dirinya dan memberikan sanksi kepadanya.w bersabda: Barang siapa mempekerjakan pekerja.a. Ibn Majah.A.Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah. Nabi s. Al-Baqarah [2] : 282 : Hai orang yang beriman! Jika kamu bermuamalah tidak secara tunai sampai waktu tertentu. • Hadis Nabi s..”. • Firman Allah QS.a.”. Al-Maidah [5] : 2: dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. • Firman Allah tentang perintah untuk saling tolong menolong dalam perbuatan positif. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.w riwayat Jama’ah: Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman.W tentang beberapa prinsip bermuamalah. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Al-Maidah [5] : 2).

dan Musyarakah. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (V/85). LKS dapat membantu menalangi pembayaran BPIH nasabah dengan menggunakan prinsip al-Qardh sesuai fatwa DSN-MUI no. LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) dengan menggunakan prinsip al-ijarah sesuai fatwa DSN-MUI no. 9/DSNMUI/IV/2000. Kedua : 1. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di . 3. Pendapat para ulama tentang Al-Bai’ (jual-beli) dan mewakilkan dalam jual-beli. Asy-Syarkhasi dalam Takmilah Fathul Qadir (VI/2). 2. Wahbah Al-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (V/4058). Jasa pengurusan haji yang dilakukan LKS tidak boleh dipersyaratkan dengan pemberian talangan haji. Pendapat peserta Rapat Pleno DSN pada tanggal 14 September 2002 / 7 Rajab 1423 H. Pendapat ulama tentang Wakalah bil Ujrah. Fatwa-fatwa DSN-MUI mengenai Ijarah. Mudharabah. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN PENGURUSAN HAJI LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH.Memperhatikan : 1. Murabahah. 2. 4. Besar imbalan jasa al-ijarah tidak boleh didasarkan pada jumlah talangan al-Qardh yang diberikan LKS kepada nasabah. 4. 5. Apabila diperlukan. Pertama : Ketentuan Umum 1. 3. Surat Direksi BMI Nomor 150/BMI/FSG/VII/2002 tertanggal 11 juli 2002 perihal permohonan fatwa tentang skema transaksi LC impor dan LC ekspor. Qardh. Dalam pengurusan haji bagi nasabah. 19/DSNMUI/IV/2001. Salam/Istishna’.

dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. M. Din Syamsuddin . K. H.A. M. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.H. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Dr. maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyarawah. 2. Sekretaris. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 15 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Sahal Mahfudh Prof.antara para pihak.

Mengingat : • Firman Allah.Rahn Emas Sunday. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 26/DSN-MUI/III/2002. QS. Bahwa masyarakat pada umumnya telah lazim menjadikan emas sebagai barang berharga yang disimpan dan menjadikannya objek rahn sebagai jaminan hutang untuk mendapatkan pinjaman uang d. Menimbang : a... yaitu menahan barang sebagai jaminan atas hutang. Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang hal itu untuk menjadikan pedoman." . c. b. Bahwa bank syari'ah perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya. Al-Baqarah[2]:283 : "Dan apabila kamu dalam perjalanan sedang kamu tidak memperoleh seorang juru tulis maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang. tentang Rahn Emas. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah Rahn.

4. Nabi S. 14 Muharram 1423 H/28 Maret 2002 M. Rahn Emas dibolehkan berdasarkan prinsip Rahn (lihat fatwa DSN nomor 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn)." Memperhatikan : 1. Ongkos sebagaimana dimaksud ayat 2 besarnya didasarkan pada pengeluaran yang nyata-nyata diperlukan. Nabi S.W pernah membeli makanan dengan berhutang dari seroang Yahudi. Ongkos dan biaya penyimpanan barang (marhun) ditanggung oleh penggadai (rahin).• Hadis Nabi Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah." • Hadis Nabi riwayat Jama'ah. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat . Ia memperoleh manfaat dan menanggung resikonya." • Hadis Nabi riwayat al-Syafi'i. MEMUTUSKAN Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG RAHN EMAS. Hasil Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Kamis. 1985. dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya. Kedua : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. ia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah S. • Kaidah Fiqh:"Pada dasarnya segala bentuk muamalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Biaya penyimpanan barang (marhun) dilakukan berdasarkan akad ijarah. 3. V:181).A. 2.W bersabda: "Tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya.A. Surat dari Bank Syariah Mandiri No." • Ijma' : Para ulama sepakat membolehkan akad Rahn (al-Zuhaili.A. Pertama : 1. al-Daraquthni dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah. kecuali Muslim dan al-Nasai'i. 2. 3/305/DPM Tanggal 23 Oktober 2001 Tentang Permohonan Fatwa atas Produk Gadai Emas.W bersabda: "Tunggangan (kendaraan) yang digadaikan boleh dinaiki dengan menanggung biayanya dan binatang ternak yang digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung biayanya. Bagi yang menggunakan kendaraan dan memerah susu wajib menyediakan biaya perawatan dan pemeliharaan.

kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 14 Muharram 1423 H / 28 Maret 2002 M

DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua,

Sekretaris,

K.H. M.A. Sahal Mahfudh

Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin

Rahn
Sunday, 16 April 2006

Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 25/DSN-MUI/III/2002, tentang Rahn. Menimbang : a. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan hutang b. Bahwa lembaga keuangan syariah (LKS) perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya c. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang hal untuk dijadikan pedoman tentang Rahn, yaitu menahan barang sebagai jaminan atas hutang. Mengingat : • Firman Allah QS. Al-Baqarah (2) : 283: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang...”. • Hadis nabi riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.a, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w pernah membeli makanan dengan berhutang dari seorang Yahudi, dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya.”. • Hadis Nabi riwayat al-Syafi’i, al-Daraquthni dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, Nabi s.a.w bersabda: “Tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya. Ia

memperoleh manfaat dan menanggung resikonya.” • Hadis nabi riwayat Jama’ah kecuali Muslim dan al-Nasai, Nabi s.a.w bersabda: “Tunggangan (kendaraan) yang digadaikan boleh dinaiki dengan menanggung biayanya dan binatang ternak yang digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung biayanya. Orang yang menggunakan kendaraan dan memerah susu tersebut wajib menanggung biaya perawatan dan pemeliharaan.”. • Ijma: Para ulama sepakat membolehkan akad Rahn (Al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 1985, V:181). • Kaidah Fiqh: Pada dasarnya segala bentuk muamalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

Memperhatikan : 1. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis, tanggal 14 Muharram 1423 H / 28 Maret 2002 dan hari rabu, 15 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002.

Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG RAHN.

Pertama

: Hukum Bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan hutang dalam bentuk rahn dibolehkan dengan ketentuan sebagai berikut.

Kedua

: Ketentuan Umum 1. Murtahin (penerima barang) mempunyai hak untuk menahan Marhun (barang) sampai semua hutang Rahin (yang menyerahkan barang) dilunasi. 2. Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik Rahin. Pada prinsipnya, Marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh Murtahin kecuali seizin Rahin ,dengan tidak mengurangi nilai Marhun dan pemanfaatannya itu sekedar pengganti biaya pemeliharaan dan perawatannya. 3. Pemeliharaan dan penyimpanan Marhun pada dasarnya menjadi kewajiban Rahin,

maka Marhun dijual paksa/dieksekusi melalui lelang sesuai syariah. Murtahin harus memperingatkan Rahin untuk segera melunasi hutangnya. Hasil penjualan Marhun digunakan untuk melunasi hutang. maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyarawah. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 14 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002 M . dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Ketiga : Ketentuan Penutup 1. b. Penjualan Marhun a. Apabila jatuh tempo. Besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan Marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman. biaya pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penujualan. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban Rahin.namun dapat dilakukan juga oleh Murtahin. d. 5. Kelebihan hasil penjualan menjadi milik Rahin dan kekurangannya menjadi kewajiban Rahin. Apabila Rahin tetap tidak dapat melunasi hutangnya. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. c. 2. 4. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

M. Sahal Mahfudh Prof.A. Din Syamsuddin .DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Dr. H. K. M. Sekretaris.H.

. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 23/DSN-MUI/III/2002. Bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syariah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah.”. c. Al-Baqarah (2): 275: “.Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut ajaran Islam. .”. Bahwa dalam hal nasabah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang telah disepakati. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang potongan pelunasan dalam murabahah sebagai pedoman bagi LKS dab nastarajat secara umum.Potongan Pelunasan Murabahah Sunday. • Firman Allah QS. b.. Menimbang : a.. Mengingat : • Firman Allah QS... tentang potongan pelunasan dalam murabahah. LKS sering diminta nasabah untuk memberikan potongan dari total kewajiban pembayaran tersebut. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil..

Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG POTONGAN PELUNASAN DALAM MURABAHAH. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. sesungguhnya Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo’. 2.• • Firman Allah QS.”. tanggal 14 Muharram1423H/ 28 Maret 2002. Jika nasabah dalam transaksi murabahah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang telah disepakati. Surat dari pimpinan Unit Usaha Syariah Bank BNI no: UUS/2/878. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Saw. datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: ‘Wahay Nabiyallah. Al-Ma’idah (5): 2: “. Ketika beliau memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir.’ (HR. Besar potongan sebagaimana dimaksud di atas diserahkan pada kebijakan dan ...dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. LKS boleh memberikan potongan dari kewajiban pembayaran tersebut. Al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban). • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya.”.”.. Firman Allah QS. 2.. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis. Pertama : Ketentuan Umum 1. Memperhatikan : 1.. dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad. • Hadis Nabi dari Abu Said al-Khudri: “Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. Maka Rasulullah saw berkata: ‘Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat’ “.”. ‘Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin.. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.

dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan.A. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 14 Muharram 1423 H / 28 Maret 2002 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.H. K. Kedua : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Din Syamsuddin .pertimbangan LKS. M. Sahal Mahfudh Prof. H. Sekretaris. M. Dr.

dalam hal ini pihak LKS. b. Bahwa masyarakat. untuk dijadikan pedoman oleh LKS. An-Nisa [4]: 29 Hai orang-orang yang beriman. DSN perlu menetapkan fatwa tentang sanksi atas nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran menurut prinsip syariah Islam. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 17/DSNMUI/IX/2000. meminta fatwa kepada DSN tentang tindakan atau sanksi apakah yang dapat dilakukan terhadap nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran tersebut menurut syariat Islam.Sanksi Atas Nasabah Sunday. Mengingat : • Firman Allah QS. tentang Sanksi Atas Nasabah Mampu yang Menunda-nunda Pembayaran. kecuali dengan jalan perniagaan yang . c. Bahwa oleh karena itu. janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil. Bahwa nasabah mampu terkadang menunda-nunda kewajiban pembayaran baik dalam akad jual beli maupun akad yang lain. Bahwa masyarakat banyak memerlukan pembiayaan dari Lembaga Keuangan Syariah (LKS) berdasarkan pada prinsip jual beli maupun akad lain yang pembayarannya kepada LKS dilakukan secara angsuran. Menimbang : a. d. pada waktu yang telah ditentukan berdasarkan kesepakatan yang telah ditentukan berdasarkan kesepakatan di antara kedua belah pihak.

b.” • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas dan Malik dari Yahya: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain. Nasai. Tirmidzi.. Ibn Majah dan Ahmad dari syraid bin Suwaid: “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya.”. Memperhatikan : a. • Hadis Nabi riwayat jama’ah (Bukhari. tanggal 7 Rabbiul Awal 1421 H / 10 Juni 2000. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG SANKSI ATAS NASABAH YANG MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN Pertama : Ketentuan Umum .. Malik. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Sabtu. “Bahaya (beban berat) harus dihilangkan. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.. • • Firman Allah QS. Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Ahmad.. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional bersama dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia pada hari Sabtu. Muslim.”. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu.”. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Ibn Umar): “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. Darami dari Abu Hurairah. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. tanggal 17 Jumadil Akhir 1421 H / 16 September 2000.berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu." • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari Ubadah bin Shamit. Abu Dawud. Abu Daud.” • Hadis Nabi riwayat Nasai.”.

6. Dana yang berasal dari denda diperuntukkan sebagai dana sosial. tetapi menunda-nunda pembayaran dengan sengaja. 2.1. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 17 Jum. 4. Kedua : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. 5. Nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran dan/atau tidak mempunyai kemauan dan itikad baik untuk membayar hutangnya boleh dikenakan sanksi. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Ketiga : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Akhir 1421 H / 16 September 2000 M . 3. Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan atas dasar kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani. yaitu bertujuan agar nasabah lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya. Sanksi yang disebut dalam fatwa ini adalah sanksi yang dikenakan LKS kepada nasabah yang mampu membayar. Nasabah yang tidak/belum mampu membayar disebabkan force majeur tidak boleh dikenakan sanksi. Sanksi didasarkan pada prinsip ta’zir.

A. Sahal Mahfudh Prof.H.DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. M. H. Dr. K. M. Sekretaris. Din Syamsuddin .

Mengingat : • Firman Allah QS. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. b.”.Diskon Murabahah Sunday. c. Bahwa penjual (Lembaga Keuangan Syariah. ataukah merupakan hak pembeli (nasabah) sehingga harga penjualan kepada pembeli (nasabah) mengugnakan harga setelah diskon. tentang status diskon dalam transaksi murabahah tersebut. Menimbang : a. Bahwa dengan adanya diskon timbul permasalahan: apakah diskon tersebut menjadi hak penjual (LKS) sehingga harga penjualan kepada pembeli (nasabah) menggunakan harga sebelum diskon. d. LKS) terkadang memperoleh potongan harga (diskon) dari penjual pertama (supplier). DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang potongan harga (diskon) dalam murabahah untuk dijadikan pedoman oleh LKS. Bahwa untuk mendapatkan kepastian hukum. sesuai dengan prinsip syariah Islam.. tentang Diskon dalam Murabahah. Bahwa salah satu prinsip dasar dalam murabahah adalah penjualan suatu barang kepada pembeli dengan harga (tsaman) pembelian dan biaya yang diperlukan ditambah keuntungan sesuai dengan kesepakatan. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 16/DSN-MUI/IX/2000. ..

4. tanggal 17 Jumadil Akhir 1421 H / 16 September 2000. pembagian diskon setelah akad hendaklah diperjanjikan dan . Harga dalam jual beli murabahah adalah harga beli dan biaya yang diperlukan ditambah keuntungan sesuai dengan kesepakatan. 5. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional bersama dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia pada hari Sabtu. pembagian diskon tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian (persetujuan) yang dimuat dalam akad.”. Harga (tsaman) dalam jual beli adalah suatu jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak. lebih tinggi maupun lebih rendah. harga sebenarnya adalah setelah diskon. di sana terdapat hukum Allah”.• Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. baik sama dengan nilai (qimah) benda yang menjadi obyek jual beli. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Jika pemberian diskon terjadi setelah akad. karena itu diskon adalah hak nasabah. 3. • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya.”. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Sabtu. 2. Jika dalam jual beli murabahah LKS mendapat diskon dari supplier. b. Memperhatikan : a. • “Dimana terdapat kemaslahatan. tanggal 7 Rabbiul Awal 1421 H / 10 Juni 2000. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG DISKON DALAM MURABAHAH Pertama : Ketentuan Umum 1. Dalam akad.

Sahal Mahfudh Prof. Dr. Din Syamsuddin . Akhir 1421 H / 16 September 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 17 Jum.A. Kedua : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. Sekretaris. Ketiga : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.H. K.ditandatangani. H. M. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. M.

”. • • Firman Allah QS. riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas dan Malik dari Yahya: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang . Al-Baqarah (2) : 282: “Hai orang yang beriman! Jika kamu melakukan transaksi hutang piutang untuk jangka waktu yang ditentukan.. tuliskanlah.. LKS dapat meminta uang muka.”. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. tentang Uang Muka dalam Murabahah. Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Mengingat : • Firman Allah QS. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari Ubadah bin Shamit.. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang uang muka dalam murabahah untuk dijadikan pedoman oleh LKS. b. Menimbang : a.”. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 13/DSN-MUI/IX/2000. Bahwa untuk menunjukkan kesungguhan nasabah dalam permintaan pembiayaan murabahah dari Lembaga Keuangan Syariah (LKS). sesuai dengan prinsip ajaran Islam.Uang Muka Murabahah Sunday.. Bahwa agar dalam pelaksanaan akad murabahah dengan memakai uang muka tidak ada pihak yang dirugikan.

Memperhatikan : a. tanggal 7 Rabbiul Awal 1421 H / 10 Juni 2000. “Bahaya (beban berat) harus dihilangkan. Kedua : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. 4. nasabah harus memberikan ganti rugi kepada LKS dari uang muka tersebut. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG UANG MUKA DALAM MURABAHAH Pertama : Ketentuan Umum Uang Muka: 1. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai . • Para ulama sepakat bahwa meminta uang muka dalam akad jual beli adalah boleh (jawaz). LKS harus mengembalikan kelebihannya kepada nasabah. Jika nasabah membatalkan akad murabahah. LKS dapat meminta tambahan kepada nasabah. Dalam akad pembiayaan murabahah. 5. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya.”. tanggal 17 Jumadil Akhir 1421 H / 16 September 2000.”. Jika jumlah uang muka lebih kecil dari kerugian. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Sabtu. Besar jumlah uang muka ditentukan berdasarkan kesepakatan. b. 2.lain. Jika jumlah uang muka lebih besar dari kerugian. 3. Lembaga Keuangan Syari’ah (LKS) dibolehkan untuk meminta uang muka apabila kedua belah pihak bersepakat. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional bersama dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia pada hari Sabtu.

Din Syamsuddin . Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 17 Jum. Sahal Mahfudh Prof. M.kesepakatan melalui musyawarah. M. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Ketiga : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. K. Sekretaris. Akhir 1421 H / 16 September 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.H.A. H. Dr.

c.Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain. Bahwa kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan memperoleh manfaat suatu barang sering memerlukan pihak lain melalui akad ijarah. b. tentang Pembiayaan Ijarah. Bahwa agar akad tersebut sesuai dengan ajaran Islam. Bahwa kebutuhan akan ijarah kini dapat dilayani oleh lembaga keuangan syariah (LKS) melalui akad pembiayaan ijarah. Bertaqwalah kepada . Al-Baqarah (2) : “. dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang akad ijarah untuk dijadikan pedoman oleh LKS Mengingat : • Firman Allah QS. • Firman Allah QS. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 09/DSN-MUI/IV/2000. agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. yaitu akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. Al-Zukhruf (43) : 32: “Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia... Menimbang : a.Pembiayaan Ijarah Saturday.

karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”. maka. Nabi s.”.”. beritahukanlah upahnya.”. • • • Ijma ulama tentang kebolehan melakukan akad sewa menyewa. Al-Qashas (28) : 26: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata.”. • Hadis riwayat ‘Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri. • Firman Allah QS. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. • “Memghindarkan mafsadat (kerusakan/bahaya) harus didahulukan atas mendatangkan kemaslahatan. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.w bersabda: “Barangsiapa mempekerjakan pekerja. tanggal 8 Muharram 1421 H / 13 April 2000.” Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis. • Hadis riwayat Abu daud dari Sa’ad Ibn Abi Waqqash.”. bahwa Nabi bersabda: “Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering.Allah. Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak.a. Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. • Hadis riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Umar. ia berkata: “Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN IJARAH Pertama : Rukun dan Syarat Ijarah : . ‘Hai ayahku! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin.”.

Obyek Ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang dan/atau jasa. Pembayaran sewa boleh berbentuk jasa (manfaat lain) dari jenis yang sama dengan obyek kontrak. dengan cara penawaran dari pemilik aset (LKS) dan penerimaan yang dinyatakan oleh penyewa (nasabah). Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai dengan syari’ah. 2. 4. LKS) dan penyewa (lesee. Pemenuhan manfaat harus yang bersifat dibolehkan. Bisa juga dikenali dengan spesifikasi atau identifikasi fisik. 5. termasuk jangka waktunya. Kedua : Ketentuan Obyek Ijarah: 1. 6. 7. 5. Manfaat dari penggunaan aset dalam ijarah adalah obyek kontrak yang harus dijamin. Ketiga : Kewajiban LKS dan Nasabah dalam pembiayaan Ijarah . Sesuatu yang dapat dijadikan harga dalam jual beli dapat pula dijadikan sewa dalam Ijararah. Ketentuan (flexibility) dalam menentukan sewa dapat diwujudkan dalam ukuran waktu. nasabah). Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas. pihak yang mengambil manfaat dari penggunaan aset. Obyek kontrak: pembayaran (sewa) dan manfaat dari penggunaan aset. 3. 9. Sighat Ijarah berupa pernyataan dari kedua belah pihak yang berkontrak. 8. 2. Manfaat barang harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak.1. Pihak-pihak yang berakad (berkontrak) : terdiri atas pemberi sewa (lessor. 4. baik secara verbal atau dalam bentuk lain yang equivalent. pemilik aset. Sewa adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar nasabah kepada LKS sebagai pembayaran manfaat. 3. Pernyataan Ijab dan Qabul. tempat dan jarak. Manfaat harus dikenali secara spesifik sedemikian rupa untuk menghilangkan jahalah (ketidaktahuan) yang akan mengakibatkan sengketa. karena ia rukun yang harus dipenuhi sebagai ganti dari sewa dan bukan aset itu sendiri.

Menyediakan aset yang disewakan. Menanggung biaya pemeliharaan aset yang sifatnya ringan (tidak materiil). Kewajiban nasabah sebagai penyewa: a. Kewajiban LKS sebagai pemberi sewa: a. Keempat : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak.1. ia tidak bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. bukan karena pelanggaran dari penggunaan yang dibolehkan. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. c. Membayar sewa dan bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan aset yang disewa serta menggunakannya sesuai kontrak. Menanggung biaya pemeliharaan aset. b. Sekretaris. c. Menjamin bila terdapat cacat pada aset yang disewakan. Jika aset yang disewa rusak. . b. 2. juga bukan karena kelalaian pihak penyewa dalam menjaganya. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 08 Muharram 1421 H / 13 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.

. kini telah dilakukan oleh lembaga keuangan syraiah. Menimbang : a. baik dalam berbagi keuntungan maupun resiko kerugian. b. yaitu pembiayaan berdasarkan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu.Prof. Ali Yafie Drs. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 08/DSN-MUI/IV/2000.Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang bersyarikat itu sebagian dari mereka berbuat zalim kepada sebagian lain. di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang musyarakah untuk dijadikan pedoman oleh LKS Mengingat : • Firman Allah QS. Bahwa kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan usaha terkadang memerlukan dana dari pihak lain. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. Bahwa pembiayaan musyarakah yang memiliki keunggulan dari segi kebersamaan dan keadilan. kecuali orang yang beriman . A.. Shad (38) : 24: “. tentang Pembiayaan Musyarakah. KH. c. Nazri Adlani Musyarakah Saturday. antara lain melalui pembiayaan musyarakah.H.

’ (HR. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak.. atau dengan menggunakan caracara komunikasi modern. Hadis riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.. Akad dituangkan secara tertulis. Abu Daud.dan mengerjakan amal shaleh. dengan memperhatikan hal-hal berikut: a. c. Rasulullah berkata: “Allah swt berfiman: ‘Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin.”. dan amat sedikitlan mereka ini. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad). melalui korespondensi. yang dishahihkan oleh al-Hakim dari Abu Hurairah). . Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad).” • • Firman Allah QS. Ijma’ Ulama atas bolehnya musyarakah. Jika salah satu pihak telah berkhianat. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN MUSYARAKAH Beberapa Ketentuan : 1. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”.. tanggal 8 Muharram 1421 H / 13 April 2000. aku keluar dari mereka. • • • Taqrir Nabi terhadap kegiatan musyarakah yang dilakukan masyarakat pada saat itu..”. b.

akan tetapi. d. Seorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau menginvestasikan dana untuk kepentingannya sendiri. b. Modal dapat terdiri dari aset perdagangan. dan memperhatikan hal-hal berikut: a. kerja. seperti barang-barang. c. Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar pelaksanaan musyarakah. Modal yang diberikan harus uang tunai. perak atau yang nilainya sama. Seorang mitra boleh melaksanakan kerja lebih banyak dari yang lainnya. Para pihak tidak boleh meminjam. e. menyumbangkan atau menghadiahkan modal musyarakah kepada pihak lain. Setiap mitra memberi wewenang kepada mitra yang lain untuk mengelola aset dan masing-masing dianggap telah diberi weewnang untuk melakukan aktifitas musyarakah dengan memperhatikan kepentingan mitranya. keuntungan dan kerugian) a. Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset musyarakah dalam proses bisnis normal. harus terlebih dahulu dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra. dan setiap mitra melaksanakan kerja sebagai wakil. Modal i. tanpa melakukan kelalaian dan kesalahan yang disengaja. emas. kecuali atas dasar kesepakatan. meminjamkan. Pada prinsipnya. namun untuk menghindari terjadinya penyimpangan. iii. properti. Kompeten dalam memberikan atau diberikan kekuasaan perwakilan. Jika modal berbentuk aset. dan dalam hal ini ia boleh menuntut bagian keuntungan . LKS dapat meminta jaminan. 3. b. ii. Kerja i. Obyek akad (modal.2. Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan. Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum. dan sebagainya. kesamaan porsi kerja bukanlah merupakan syarat. dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan.

d. Keuntungan i. ii. Setiap mitra melaksanakan kerja dalam musyarakah atas nama pribadi dan wakil dari mitranya. a. Kedudukan masingmasing dalam organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. ii. iv. kelebihan atau prosentase itu diberikan kepadanya. b. Sistem pembagian keuntungan harus tertuang dengan jelas dalam akad. iii. Keuntungan harus dikuantifikasi dengan jelas untuk menghindarkan perbedaan dan sengketa pada waktu alokasi keuntungan atau ketika penghentian musyarakah.tambahan bagi dirinya. Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang ditetapkan bagi seorang mitra. Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika keuntungan melebihi jumlah tertentu. Kerugian Kerugian harus dibagi di antara para mitra secara proporsional menurut saham masingmasing dalam modal. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 08 Muharram 1421 H / 13 April 2000 M . c. Biaya operasional dipersengkatakan. 4. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. Biaya operasional dibebankan pada modal bersama.

kecuali dengan jalan perniagaan yang . nasabah) bertindak selaku pengelola.DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 07/DSN-MUI/IV/2000. Mengingat : • Firman Allah QS. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang mudharabah untuk dijadikan pedoman oleh LKS. b. LKS) menyediakan seluruh modal. Nazri Adlani Mudharabah (Qiradh) Saturday. Ali Yafie Drs. Menimbang : a. mudharib.H. tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh). sedang pihak kedua (‘amil. yaitu akad kerjasama suatu usaha antara dua pihak di mana pihak pertama (malik. Bahwa dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan dana lembaga keuangan syari’ah (LKS). Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. dan keuntungan usaha dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. shahib al-mal. Sekretaris. pihak LKS dapat menyalurkan dananya kepada pihak lain dengan cara mudharabah. A. Prof. KH.

. Daaqauthni..” (HR. Karenanya. muqaradhah (mudharabah).. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. bukan untuk dijual.. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. Thabrani dari Ibnu Abbas). ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah. ia (mudharib) harus menanggung resikonya. Jika persyaratan itu dilanggar. dan yang lain dari Abu Sa’id al-Khudri). dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. • Ijma. Firman Allah QS.”. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. 4/838). • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai.”. 1989.. hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. serta tidak membeli hewan ternak. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga.”. Ibnu Majah dari Shuhaib). Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu..”..”. sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang. Ibnu Majah. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN MUDHARABAH (QIRADH) . Diriwayatkan. • Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah. tanggal 29 Dzulhijjah 1420H/ 4 April 2000.berlaku dengan sukarela di antaramu. hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily. • Hadis Nabi: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain: (HR.. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. Al-Baqarah (2): 283: “. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. • • Firman Allah QS.Maka. beliau membenarkannya” (HR.

prosedur pembiayaan.Pertama : Ketentuan Pembiayaan : 1. lalai. dan mekanisme pembagian keuntungan diatur oleh LKS dengan memperhatikan fatwa DSN. Dalam hal penyandang dana (LKS ) tidak melakukan kewajiban atau melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan. Jumlah dana pembiayaan harus dinyatakan dengan jelas dalam bentuk tunai dan bukan piutang. namun agar mudharib tidak melakukan penyimpangan. 6. 3. 8. atau menyalahi perjanjian. Dalam pembiayaan ini LKS sebagai shahibul maal (pemilik dana) menbiayai 100% kebutuhan suatu proyek (usaha) sedangkan pengusaha (nasabah) bertindak sebagai mudharib atau pengelola usaha. dan pembagian keuntungan ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (LKS dengan pengusaha). LKS sebagai penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah kecuali jika mudharib (nasabah) melakukan kesalahan yang disengaja. 4. . Kriteria pengusaha. 2. mudharib berhak mendapat ganti rugi atau biaya yang telah dikeluarkan. 7. dan LKS tidak ikut serta dalam manajemen perusahaan atau proyek tetapi mempunyai hak untuk melakukan pembinaan dan pengawasan. Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila mudharib terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad. 5. LKS dapat meminta jaminan dari mudharib atau pihak ketiga. Jangka waktu usaha. 9. 10. Pada prinsipnya. Biaya operasional dibebankan kepada mudharib. Pembiayaan Mudharabah adalah pembiayaan yang disalurkan oleh LKS kepada pihak lain untuk suatu usaha yang produktif. dalam pembiayaan mudharabah tidak ada jaminan. Mudharab boleh melakukan berbagai macam usaha yang telah disepakati bersama dan seusai dengan syari’ah. tatacara pengembalian dana.

b. Keuntungan mudharabah adalah jumlah yang didapat sebagai kelebihan dari modal. dengan memperhatikan hal-hal berikut: a. Harus diperuntukkan bagi kedua pihak dan tidak boleh disyaratkan hanya untuk satu pihak. Modal harus diketahui jumlah dan jenisnya. baik secara bertahap maupun tidak. kelalaian atau pelanggaran kesepakatan. Modal tidak dapat berbentuk piutang dan harus dibayarkan kepada mudharib. Modal dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai. Penyedia dana (shahibul mal) dan pengelola (mudharib) harus cakap hukum. Akad dituangkan secara tertulis. melalui korespondensi. Syarat keuntungan berikut ini harus dipenuhi: a. 4. b. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad). sesuai dengan kesepakatan dalam akad. Modal adalah sejumlah uang dan/atau aset yang diberikan oleh penyedia dana kepada mudharib untuk tujuan usaha dengan syarat sebagai berikut: a. maka aset tersebut harus dinilai pada waktu akad. dan pengelola tidak boleh menanggung kerugian apapun kecuali diakibatkan dari kesalahan disengaja. c. 2. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad). 3.Kedua : Rukun dan Syarat Pembiayaan: 1. Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan. c. Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah. c. Jika modal diberikan dalam bentuk aset. . atau dengan menggunakan cara-cara komunikasi modern. b. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak. Bagian keuntungan proporsional bagi setiap pihak harus diketahui dan dinyatakan pada waktu kontrak disepakati dan harus dalam bentuk prosentasi (nisbah) dari keuntungan sesuai kesepakatan.

dalam mudharabah tidak ada ganti rugi. tanpa campur tangan penyedia dana. atau pelanggaran kesepakatan. b. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 29 Dzulhijjah 1420 H / 4 April 2000 DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA . 3. dan harus mematuhi kebiasaan yang berlaku dalam aktifitas itu.5. kelalaian. yaitu keuntungan. Mudharabah boleh dibatasi pada periode tertentu. kecuali akibat dari kesalahan disengaja. Penyedia dana tidak boleh mempersempit tindakan pengelola sedemikian rupa yang dapat menghalangi tercapainya tujuan mudharabah. Ketiga : Beberapa ketentuan hukum pembiayaan: 1. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Kegiatan usaha adalah hak eksklusif mudharib. Kegiatan usaha oleh pengelola (mudharib) sebagai perimbangan modal yang disediakan oleh pneyedia dana. Pengenlola tidak boleh menyalahi hukum syari’ah Islam dalam tindakannya yang berhubungan dengan mudharabah. karena pada dasarnya akad ini bersifat amanah (yad al-amanah). 4. Kontrak tidak boleh dikaitkan (mu’allaq) dengan sebuah kejadian di masa depan yang belum tentu terjadi. tetapi ia mempunyai hak untuk melakukan pengawasan. 2. Pada dasarnya. harus memperhatikan hal-hal berikut: a. c.

mustashni’) dan penjual (pembuat. sering memerlukan pihak lain untuk membuatkannya. yaitu akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli.H. c. shani’). DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang istishna’ untuk menjadi pedoman. A. Prof. Bahwa kebutuhan masyarkat untuk memperoleh sesuatu. Mengingat : . Sekretaris. tentang Jual Beli Istishna'. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 06/DSN-MUI/IV/2000. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. Menimbang : a. Nazri Adlani Jual Beli Istishna' Saturday. b.Ketua. Bahwa transaksi istishna’ pada saat ini telah dipraktekkan oleh lembaga keuangan syariah. Ali Yafie Drs. dan hal seperti itu dapat dilakukan melalui jual beli istishna’. KH.

semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan.• Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG JUAL BELI ISTHISHNA’ Pertama : Ketentuan tentang pembayaran : 1. 3. Kedua : Ketentuan tentang Barang: 1. baik berupa uang. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya.”. Ibnu Majah. dan yang lain dari Abu Sa’id al-Khudri). Penyerahannya dilakukan kemudian. barang atau manfaat. 2. Pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang. tanggal 29 Dzulhijjah 1420H/ 4 April 2000. • Hadis Nabi: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain: (HR. . Daaqauthni. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. 2. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang. 3. • Menurut mazhab Hanafi.”. istishna’ hukumnya boleh (jawaz) karena hal itu telah dilakukan oleh masyrakat muslim sejak masa awal tanpa ada pihak (ulama) yang mengingkarinya.

maka penyelesaian dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan. 2. 7. kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan. pemesan memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad. 6. 5. Tidak boleh menukar barang. hukumnya mengikat. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak.H. Nazri Adlani . Pembeli (mushtashni’) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya. Ketiga : Ketentuan Lain 1.4. KH. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 29 Dzulhijjah 1420 H / 4 April 2000 DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan. Prof. Semua ketentuan dalam jual beli salam yang tidak disebutkan di atas berlaku pula pada jual beli istishna’. A. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Sekretaris. 3. Ali Yafie Drs.

. tentang Murabahah. bank syari’ah perlu memiliki fasilitas murabahah bagi yang memerlukannya. yaitu menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 04/DSN-MUI/IV/2000. Bahwa dalam rangka membantu masyarakat guna melangsungkan dan meningkatkan kesejahteraan dan berbagai kegiatan. Bahwa masyarakat banyak memerlukan bantuan penyaluran dana dari bank berdasarkan prinsip jual beli. Menimbang : a. b.Murabahah Saturday.

Ibnu Majah dari Shuhaib). maka beliau menghalalkannya. . DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang Murabahah untuk dijadikan pedoman oleh bank syari’ah Mengingat : • Firman Allah QS.. ‘Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka.c. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai.”. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga. Bahwa oleh karena itu. • Firman Allah QS. muqaradhah (mudharabah). Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Al-Baqarah (2) : 280 : “. II/161..’ (HR.. • Hadis Nabi riwayat ‘Abd al-Raziq dari Zaid bin Aslam: “Rasulullah SAW. ditanya tentang ‘urban (uang muka) dalam jual beli.. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram... semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan.”.”.Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran.. Ibnu Majah dan Ahmad: “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya. Bada’i as-Sana’i V/220-222). maka berilah tangguh sampai ia berkelapangan.... • Hadis Nabi riwayat Nasa’i Abu Dawud.”.. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” • Hadis Nabi dari Abu Said al-Khudri: “Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda.”.. Al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban). • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin.”. • Ijma’ Mayoritas ulama tentang kebolehan jual beli dengan cara Murabahah (Ibnu Rusyd. bukan untuk dijual. • Hadis Nabi riwayat Jama’ah: “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman..”. Firman Allah QS.” (HR. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. Bidayah al-Mujtahid.Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. • • Firman Allah QS.. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. Al-Baqarah (2): 275: “.”. al-Kasani. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu.

Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG MURABAHAH Pertama : Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syari’ah: 1. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya. 4. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. secara prinsip menjadi milik bank. 3. . tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000.Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. 8. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga. dan pembelian ini harus sah dan bebas riba. Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari’ah Islam. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepaki. 5. pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah. misalnya jika pembelian dilakukan secara hutang. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba. 9. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri. akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang. 7. 2. 6.

Ketiga : Jaminan dalam Murabahah: 1. Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut. Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank. 3. Jaminan dalam murabahah dibolehkan. ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang. 6. b. agar nasabah serius dengan pesanannya. maka: a. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut. nasabah wajib melunasi kekurangannya. Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang. 7. Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan. biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut. bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah. karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat. 2. Jika nasabah batal membeli. Keempat : Hutang dalam Murabahah: . Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima (membeli)-nya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakatinya. Jika uang muka memakai kontrak ‘urbun sebagai alternatif dari uang muka. 2. 4.Kedua : Ketentuan Murabahah kepada Nasabah: 1. 5. ia tinggal membayar sisa harga. Jika bank menerima permohonan tersebut. dan jika uang muka tidak mencukupi. uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut. kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli. Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau aset kepada bank.

Secara prinsip. bank harus menunda tagihan hutang sampai ia menjadi sanggup kembali. Keenam : Bangkrut dalam Murabahah: Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan hutangnya. maka penyelesaian dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Kelima : Penundaan Pembayaran dalam Murabahah: 1. Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian hutangnya. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan. ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank. atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya. ia tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya. 2. atau berdasarkan kesepakatan. 2. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian. Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 26 Dzulhijjah 1420 H / 1 April 2000 . Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian. 3. nasabah tetap harus menyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal.1. Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja. penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut.

DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang bentuk-bentuk mu’amalah syari’ah untuk dijadijkan pedoman dalam pelaksanaan deposito pada bank syari’ah. c. Prof. Mengingat : • Firman Allah QS. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 03/DSN-MUI/IV/2000. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. yaitu simpanan dana berjangka yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimapanan dengan bank. memerlukan jasa perbankan. tentang Deposito. bahwa kegiatan deposito tidak semuanya dapat dibenarkan oleh hukum Islam (syari’ah). Nazri Adlani Deposito Saturday. Bahwa keperluan masyrakat dalam peningkatan kesejahteraan dan dalam bidang investasi. dan salah satu produk perbankan di bidang penghimpunan dana dari masyarakat adalah deposito. Bahwa oleh karena itu. kecuali dengan jalan perniagaan yang . KH.H. pada masa kini. b. A.DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Menimbang : a. Sekretaris. Ali Yafie Drs.

. • Para ulama menyatakan. Al-Baqarah (2): 283: “. modal) dari satu pihak (malik. sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Oleh karena itu. beliau membenarkannya” (HR. Transaksi mudharabah. • • Firman Allah QS. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah. 1989. hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya.Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia dari Tuhanmu.. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. 4/838). dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram..berlaku dengan sukarela di antaramu.” (HR. yakni penyerahan sejumlah harta (dana. Thabrani dari Ibnu Abbas).. Ibnu Majah dari Shuhaib). semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan.Maka.”. Karenanya.”.”. Firman Allah QS. dalam kenyataan banyak orang yang mempunyai harta namun tidak mempunyai kepandaian dalam usaha memproduktifkannya. diqiyaskan kepada transaksi musaqah. mudharib) untuk diperniagakan (diproduktifkan) dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan.. hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily. serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar. sementara itu tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki harta namun ia mempunyai kemampuan dalam memproduktifkannya.... mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. • Qiyas. diperlukan adanya kerjasama di antara kedua pihak tersebut. muqaradhah (mudharabah). • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai. shahib al-mal) kepada pihak lain (‘amil..” • Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah.. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga. ia (mudharib) harus menanggung resikonya.”. • Firman Allah QS. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Diriwayatkan.. Al-Baqarah (2) : 198 : “. bukan untuk dijual.”. • Ijma. Memperhatikan : ..

Kedua : Ketentuan Umum Deposito berdasarkan Mudharabah: 1. Deposito yang dibenarkan. 6. dalam bentuk tunai dan bukan piutang. Ditetapkan di : Jakarta . tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000. termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain. 2. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG DEPOSITO Pertama : Deposito ada dua jenis: 1. 2. yaitu Deposito yang berdasarkan prinsip Mudharabah. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional deposito dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. 5. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib. yaitu Deposito yang berdasarkan perhitungan bunga.Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. Deposito yang tidak dibenarkan secara syari’ah. 3. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya. bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya. Bank tidak diperkenankan untuk mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan. 4. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana. dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana.

Nazri Adlani . Sekretaris. KH. Prof.H.Tanggal : 26 Dzulhijjah 1420 H / 1 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. A. Ali Yafie Drs.

bahwa kegiatan tabungan tidak semuanya dapat dibenarkan oleh hukum Islam (syari’ah).. tentang Tabungan. pada masa kini. dan salah satu produk perbankan di bidang penghimpunan dana dari masyarakat adalah tabungan. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 02/DSN-MUI/IV/2000. c. bilyet giro dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. Mengingat : • Firman Allah QS..”. b. memerlukan jasa perbankan.Tabungan Saturday. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. . Menimbang : a. Bahwa keperluan masyrakat dalam peningkatan kesejahteraan dan dalam bidang investasi. Bahwa oleh karena itu. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu. Dewan Syari’ah Nasional (DSN) memandang perlu menetapkan fatwa tentang bentuk-bentuk mu’amalah syari’ah untuk dijadijkan pedoman dalam pelaksanaan tabungan pada bank syari’ah. yaitu simpanan dana yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang telah disepakati tetapi tidak dapat ditarik dengan cek.

mudharib) untuk diperniagakan (diproduktifkan) dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan. • • • Firman Allah QS. shahib al-mal) kepada pihak lain (‘amil. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. diqiyaskan kepada transaksi musaqah.. bukan untuk dijual. Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah. Diriwayatkan. diperlukan adanya kerjasama di antara kedua pihak tersebut. beliau membenarkannya” (HR.. Firman Allah QS. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. Transaksi mudharabah.Maka. • Qiyas. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin.. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai.”. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. • Para ulama menyatakan. 4/838).”. ia (mudharib) harus menanggung resikonya. Ibnu Majah dari Shuhaib). . sementara itu tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki harta namun ia mempunyai kemampuan dalam memproduktifkannya. ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah.. Karenanya.”.”. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan.. Thabrani dari Ibnu Abbas). tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000.. Jika persyaratan itu dilanggar.. muqaradhah (mudharabah).. 1989. sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. modal) dari satu pihak (malik. serta tidak membeli hewan ternak.” (HR.• Firman Allah QS. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu.”. Al-Baqarah (2): 283: “. Al-Ma’idah (5): 2: “dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebaikan. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga.. dalam kenyataan banyak orang yang mempunyai harta namun tidak mempunyai kepandaian dalam usaha memproduktifkannya. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah. Oleh karena itu. hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily. hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. • Ijma. yakni penyerahan sejumlah harta (dana.

Kedua : Ketentuan Umum Tabungan berdasarkan Mudharabah: 1. 3.Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG TABUNGAN Pertama : Tabungan ada dua jenis: 1. 5. bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak betentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan. 2. dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana. Ketiga : Ketentuan Umum Tabungan berdasarkan Wadi’ah: 1. termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain. yaitu tabungan yang berdasarkan prinsip mudharabah dan Wadi’ah. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul mal atau pemilik dana. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib. . Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya dalam bentuk tunai dan bukan piutang. 2. Tabungan yang tidak dibenarkan secara syari’ah. Bersifat simpanan. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. 6. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. yaitu tabungan yang berdasarkan perhitungan bunga. 4. Tabungan yang dibenarkan.

3. Tidak ada imbalan yang disyaratkan. Sekretaris. A. kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.H. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 26 Dzulhijjah 1420 H / 1 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. KH. Nazri Adlani . Simpanan bisa diambil kapan saja (on call) atau berdasarkan kesepatakan. Prof. Ali Yafie Drs.2.

15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 01/DSN-MUI/IV/2000. atau dengan pemindahbukuan. bilyet giro. bahwa kegiatan giro tidak semuanya dapat dibenarkan oleh hukum Islam (syari’ah)..”. Menimbang : a. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain.. Al-Baqarah (2): 283: “. • Firman Allah QS. Bahwa oleh karena itu. pada masa kini. Mengingat : • Firman Allah QS.. b. tentang Tabungan.. sarana perintah pembayaran lainnya. hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. memerlukan jasa perbankan. yaitu simpanan dana yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan penggunaan cek. Bahwa keperluan masyrakat dalam peningkatan kesejahteraan dan dalam bidang investasi..”. .Maka. c. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil..Giro Saturday. Dewan Syari’ah Nasional (DSN) memandang perlu menetapkan fatwa tentang bentuk-bentuk mu’amalah syari’ah untuk dijadijkan pedoman dalam pelaksanaan giro pada bank syari’ah. dan salah satu produk perbankan di bidang penghimpunan dana dari masyarakat adalah giro.

1989. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily. diperlukan adanya kerjasama di antara kedua pihak tersebut.”. modal) dari satu pihak (malik. shahib al-mal) kepada pihak lain (‘amil. ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah. sementara itu tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki harta namun ia mempunyai kemampuan dalam memproduktifkannya. Oleh karena itu... serta tidak membeli hewan ternak. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Diriwayatkan. Ibnu Majah dari Shuhaib). semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan.”.”. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000. 4/838). muqaradhah (mudharabah). • Qiyas. • Ijma. dalam kenyataan banyak orang yang mempunyai harta namun tidak mempunyai kepandaian dalam usaha memproduktifkannya.. bukan untuk dijual.. mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang. Firman Allah QS. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah.”. ia (mudharib) harus menanggung resikonya.” (HR. Al-Ma’idah (5): 2: “dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebaikan. Thabrani dari Ibnu Abbas). dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga.• • • Firman Allah QS. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai. beliau membenarkannya” (HR. Transaksi mudharabah. diqiyaskan kepada transaksi musaqah. yakni penyerahan sejumlah harta (dana. Jika persyaratan itu dilanggar. . Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah. Karenanya. • Para ulama menyatakan.. mudharib) untuk diperniagakan (diproduktifkan) dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin.

termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain. Tidak ada imbalan yang disyaratkan. 4. dalam bentuk tunai dan bukan piutang. Titipan bisa diambil kapan saja (on call). Giro yang dibenarkan secara syari’ah. 2. 6. Ketiga : Ketentuan Umum Giro berdasarkan Wadi’ah : 1. Kedua : Ketentuan Umum Giro berdasarkan Mudharabah: 1. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib. yaitu giro yang berdasarkan perhitungan bunga. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan ditunangkan dalam akad pembukaan rekening. 2. bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentang dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya. kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat . Giro yang tidak dibenarkan secara syari’ah. 3. 2. 3. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional giro dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. 5. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan. Bersifat titipan.Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG GIRO Pertama : Giro ada dua jenis: 1. dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana. yaitu giro yang berdasarkan prinsip Mudharabah dan Wadi’ah. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya.

Sekretaris.H. KH. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 26 Dzulhijjjah 1420 H / 1 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Ali Yafie Drs. A. Prof. Nazri Adlani .sukarela dari pihak bank.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->