PENELITIAN TENTANG INTERAKSI SOSIAL KELOMPOK ALIRAN ISLAM MINORITAS DALAM MASYARAKAT DI BERBAGAI DAERAH DI JAWA TENGAH

LAPORAN

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PROVINSI JAWA TENGAH 2008

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah : a). Mendeskripsikan interaksi sosial kelompok aliran Islam Minoritas dalam kegiatan sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan, dan hubungannya dengan pemerintah, b). Mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat kelompok aliran Islam minoritas dalam berinteraksi sosial pada berbagai kegiatan dengan komunitasnya, baik dilihat dari internal aliran tersebut maupun dari pihak eksternal, c). Mendeskripsikan pola pembinaan terhadap kelompok aliran Islam minoritas yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan deskripsi kualitatif dalam menganalisis interaksi sosial pada lima kelompok aliran di enam lokasi kabupaten/kota Jawa Tengah. Hasil dari penelitian ini adalah: Secara umum interaksi sosial aliran Islam minoritas di tengah-tengah masyarakat di Jawa Tengah cukup kondusif, baik interaksi ini dilihat dari interaksi sosial keagamaan, interaksi sosial kemasyarakatan maupun interaksi sosial politik (Pemerintah). Masih terjadi kemungkinan pengerasan paham internal keagamaan pada beberapa kelompok namun stabilitas kerukunan antarumat Islam masih terjaga karena adanya interaksi sosial kemasyarakatan yang kondusif meskipun perlu peningkatan partisipasi aktif anggota aliran dalam interaksi sosial pemerintahan. Terdapat potensi pendukung dan penghambat interaksi sosial secara internal dan eksternal. Pola pembinaan yang ada masih berada dalam tataran internal dan eksternal masih belum ada agenda yang berkelanjutan. Rekomendasi yang diberikan : a). Peningkatan komunikasi, pemutahiran informasi, peningkatan keterlibatan kelompok minoritas dalam kegiatan-kegiatan sosial pemerintahan; b). Pengembangan potensi dan pengurangan hambatan dengan memfasilitasi aktivitas komunikasi lintas aliran Islam; dan c). Peningkatan intensitas komunikasi dan koordinasi untuk meningkatkan pemberdayaan kelompok Islam minoritas. Kata Kunci : Aliran Islam Minoritas, Interaksi Sosial

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Ditengah-tengah situasi bangsa Indonesia untuk bangkit dari segala aspek keterpurukan, baik sosial, politik, budaya maupun keagamaan, maka stabilitas nasional merupakan salah satu kunci pokok dalam mewujudkan citacita masyarakat yang makmur, sejahtera lahir maupun batin. Stabilitas nasional pada saat era reformasi ternyata masih sering diuji dengan munculnya kelompok-kelompok tertentu yang kurang puas atau yang berbeda afiliasi politik maupun keagamaannya. Realitas empirik yang terjadi dewasa ini, khususnya dalam kehidupan masyarakat muslim di Indonesia banyak bermunculan kelompok aliran. Eksistensi kelompok-kelompok aliran tersebut mendapat simpati dan diikuti oleh sebagian umat Islam. Hal tersebut tidak terlepas dari keterbukaan dan kebebasan mengapresiasikan kebutuhan spiritual dalam berbagai dimensi keagamaan. Khusus di Jawa Tengah, aliran-aliran yang muncul secara keseluruhan lebih kurang 93 aliran yang menyebar di seluruh ibukota Kabupaten/Kota. Sedangkan yang termasuk aliran Islam minoritas lebih dari 10 aliran.1 Hal ini berbeda dengan organisasi Islam yang telah mencapai 34 organisasi keagamaan Islam.2 Dan pada organisasi Islam itu sendiri terdapat organisasi yang identik dengan aliran atau bahkan telah menjadi aliran tersendiri, seperti LDII dan Gerakan Ahmadiyah Indonesia. Terdapat tiga segi dalam agama Islam, yaitu segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual) dan ilahiyyat (teologi). Segi muamalat (interaksi
Muzayanah, Umi & A.M. Wibowo. Peta Keagamaan Provinsi Jawa Tengah. Balitbang Agama Semarang. 2007. Halaman 50. Dalam laporan hasil penelitian ini hanya memfokuskan pada data yang terdapat pada kejaksaan Tinggi Provinsi Jawa Tengah dan masih ada beberapa organisasi keagamaan maupun aliran yang belum tercover, seperrti Hizbut Tahrir di berbagai Kota/Kabupaten, aliran Syekh Kanjeng Patih Kalajanggel di Kabupaten Brebes, Syahadatain, Qur’an suci di Kabupaten Banyumas, Syi’ah di Kota Pekalongan, Jama’ah Tabligh di Magelang,dll. 2 ibid., Halaman 39.
1

2

sosial) tidak dapat dilepaskan dari aspek ”psikologi mayoritas-minoritas"3. Psikologi semacam itu pada dasarnya mencerminkan kompleks psikologis yang muncul, berkembang, dan bertahan dalam pengalaman interaksi yang panjang; dan ia juga menggambarkan ketakutan-ketakutan yang ada dalam sebuah masyarakat agama vis-a-vis komunitas keagamaan lain yang berbeda. Psikologi ”kenangan bersama" (collective memory) aliran keagamaan muncul berkaitan dengan cara pandang yang mendasari pemahaman dan sikap keagamaan, juga berkaitan erat dengan corak kepribadian masyarakat pemeluknya. Kepribadian masyarakat dalam suatu sisi akan melahirkan pelunakan-pelunakan oleh paham keagamaan yang menjunjung tinggi nilainilai toleransi dan moderasi. Tetapi pada sisi yang lain, kepribadian yang cenderung membatasi diri dalam interaksi akan melahirkan pengerasan budaya dan keyakinan apalagi jika ada faktor-faktor kasat mata yang berbeda dengan perilaku umum semisal kasus amuk massa yang terjadi di Desa Brayo, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang pada tahun 2000. Massa yang berasal dari desa Brayo, Brotoh, Siwatu dan Wonotunggal serta dari Buaran kota Pekalongan secara spontan mendatangi pondok pesantren Al-Hadi. Kedatangan massa yang diperkirakan mencapai ribuan orang itu, tanpa ada komando yang jelas secara bersama-sama menyerang lokasi kejadian dengan melempari gedung pondok pesantren dan rumah pengurus yang berada di sekitar pondok. Contoh lain munculnya kekerasan yang mengatasnamakan agama berupa aksi perusakan oleh massa terhadap komunitas Ahmadiyah Kuningan Jawa Barat dan berbagai daerah lain yang bersamaan dengan Idul adha 1428 H merupakan fenomena yang terkait dengan konflik keyakinan dan soal kekerasan keberagamaan. Potensi kegelisahan di tengah masyarakat termanifestasi dalam perilaku kekerasan terhadap kelompok lain. Hal tersebut bisa mengancam iklim kondusif suatu daerah, begitupun dengan Jawa Tengah yang cukup memiliki deferensiasi kelompok aliran umat beragama. Secara normatif, Islam adalah agama rahmah, menjunjung tinggi keadilan, kemanusiaan dan kesetaraan. Tidak ada sekat-sekat kultural, sosial,
3

Azra, Azyumardi. Psikologi Minoritas-Mayoritas. Gatra Edisi Khusus September 2008.

3

apalagi ideologis yang memisahkan interaksi sosial. Interaksi sosial yang terbuka memungkinkan manusia memiliki keimanan dan beragama dengan baik. Keislaman dan keimanan seseorang tidak terganggu serta dapat beribadah dengan tenang. Masyarakat akan harmonis dengan sikap dan kehidupan yang toleran, damai dan terbuka dengan para tetangga, tanpa prasangka dan curiga. Islam mengagungkan sikap cinta damai (Q.S. 8: 61) dan manusiawi (Q.S. 17: 70 dan 95: 4) sehingga dalam berinteraksi sosial manusia diajak untuk dapat memilah antara persoalan tuntutan kemanusiaan yang bersifat profane dengan masalah keimanan yang bersifat teologis dan sakral. Nabi Muhammad menyatakan bahwa, Antum a’lamu biumuurid dunyakum (Engkau lebih mengerti dalam urusan duniamu). Manusia diberi kepercayaan oleh Allah SWT untuk mengatur dan membina realitas sosial sesuai kreatifitas dan konteksnya masing-masing. Artinya, ada ruang toleransi bagi munculnya keragaman pemahaman terhadap teks-teks agama sepanjang penafsiran tersebut tidak bertentangan dengan bangunan dasar dari agama.4 Sementara itu, apabila melihat realitas di masyarakat masih terdapat persoalan perbedaan interpretasi yang mengarah pada eksklusivisme beragama. Ajaran Islam diyakini sebagai ajaran yang shoheh fii kulli zamanin wa makanin (benar di setiap waktu dan tempat), hal ini hanya dapat dibuktikan jika umat Islam mampu melakukan aktualisasi dan kontekstualisasi karena dengan cara ini, ajaran Islam bisa dioperasionalkan dalam kondisi apapun dan saat kapanpun. Nabi Muhammad SAW melihat persoalan kemanusiaan dari perspektif hubungan antarmanusia (Hablul-minan-naasi) bukan dari perspektif teologis dan keimanan saja. Perbedaan keimanan bukan menjadi penghalang melakukan interaksi sosial. Seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW terhadap orang kafir yang pernah menyakiti, Nabi tetap mau besuk dan mendoakan, apalagi terhadap tetangga, relasi, dan kawan baik yang tidak pernah mengganggu.
4

Puslitbang Kehidupan Beragama Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, Jurnal Harmoni: Pemikiran dan Gerakan Keagamaan di Indonesia, volume IV, Nomor 13, JanuariMaret, hal. 9

4

Sikap yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW di atas tidak akan mengurangi nilai keunggulan ajaran Islam atau merusak keimanan. Bahkan sebaliknya ajaran Islam justru akan terlihat jika perilaku dan akhlak sosial umat Islam bisa memberikan ketenangan, ketentraman dan kedamaian kepada orang lain. Begitu juga kekaguman orang lain kepada suatu aliran dalam Islam akan muncul jika pengikut aliran tersebut mampu bersikap elegan dan simpatik dan sebaliknya apabila suatu aliran dalam Islam minim peran di masyarakat yang didasarkan pada sikap sentimen yang dangkal dan emosional, serta penuh prasangka, maka akan mengganggu proses interaksi sosial sekaligus mengkerdilkan ajaran Islam yang mulia dan universal. Berpijak pada penafsiran pada ajaran Islam yang memihak kepada kaum yang tertindas dan dipinggirkan, maka setiap struktur sosial yang mempertahankan praktik ketidakadilan terhadap golongan adalah berlawanan dengan semangat Islam. Kondisi interaksi sosial yang tidak harmonis merupakan hambatan bagi realisasi kesetaraan umat beragama, oleh karena itu faktor-faktor yang menyebabkan permasalahan tersebut muncul harus diidentifikasi agar dapat diubah dengan semangat relegio-etik. Dengan demikian, Islam akan hidup dan berkembang menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan. Ancaman pelemahan peran Islam melalui munculnya aliran minoritas yang bersifat eksklusif dan memiliki sentimen agama yang kuat dan memunculkan sikap ketidak tenangan dan ketidak tenteraman dalam masyarakat seharusnya menjadi tumpuan perhatian pemerintah dan masyarakat untuk mengubah interaksi yang tidak setara (mayoritas) menjadi kondisi yang setara agar tidak justru melumpuhkan peran Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Untuk menguak secara mendalam realitas interaksi sosial kelompok-kelompok aliran terfokus pada interaksi dalam kegiatan sosial pada kehidupan keagamaan, sosial masyarakat dapat dilihat dari beberapa aspek yang dalam penelitian ini kemasyarakatan, dan sosial politik (pemerintah). Bertolak dari tiga aspek interaksi sosial tersebut, maka penelitian ini juga diharapkan mampu mengidentifikasi potensi dan hambatan interaksional

5

serta merumuskan formulasi pola pembinaan kelompok aliran Islam itu dalam kehidupan masyarakat di Jawa Tengah. B. Rumusan Masalah Bertolak dari pemikiran dalam latarbelakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah interaksi sosial kelompok aliran Islam minoritas berbagai daerah di Jawa Tengah? 2. Apakah faktor pendukung dan penghambat kelompok aliran Islam minoritas dalam melakukan interaksi sosial dengan komunitasnya? 3. Bagaimana pola pembinaan terhadap kelompok aliran Islam minoritas? C. Tujuan Penelitian Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: 1. Mendeskripsikan interaksi sosial kelompok aliran Islam Minoritas dalam kegiatan sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan, dan hubungannya dengan pemerintah. 2. Mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat kelompok aliran Islam minoritas dalam berinteraksi sosial pada berbagai kegiatan dengan komunitasnya. baik dilihat dari internal aliran tersebut maupun dari pihak eksternal 3. Mendeskripsikan pola pembinaan terhadap kelompok aliran Islam minoritas yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. D. Manfaat 1. Meningkatkan pemahaman mengenai aliran Islam sebagai bahan menetapkan kebijakan pembinaan terhadap kelompok-kelompok aliranaliran Islam Minoritas dalam masyarakat terkait dengan sistem interaksi sosial keagamaan, kemasyarakatan, dan hubungannya dengan pemerintah. 2. Meningkatkan pemahaman potensi/faktor pendukung dan penghambat interaksional internal aliran Islam Minoritas dalam perkembangannya di berbagai daerah di Jawa Tengah. 3. Diketahuinya pola pembinaan terhadap kelompok aliran Islam Minoritas di masyarakat. di

6

E. Hasil yang Diharapkan Adanya data dan kajian penelitian untuk rekomendasi tentang upaya pembinaan terhadap kelompok-kelompok aliran minritas Islam di masyarakat dan mengurangi hambatan aliran agama Islam dalam interaksi sosial. F. Alur Pikir Penelitian
Kelompok Aliran

Interaksi Sosial

Sosial Politik (Pemerintah)

Sosial Kemasyarakatan

Sosial Keagamaan

Potensi Kelompok

Hambatan kelompok

Pola Pembinaan

KERUKUNAN, TOLERANSI, PARTISIPASI

7

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Interaksi Sosial Aliran Islam Kata interaksi berasal dari bahasa Inggris “interaction” yang berarti intermediate action, action on each other, reciprocal action or effect (Tindakan yang berlanjut, tindakan satu sama lain, tindak lanjut).5 Adapun yang dimaksud dalam penelitian ini adalah interaksi atau tindakan secara timbal balik dan berlangsung kontinyu kelompok aliran Islam minoritas dengan komunitasnya dalam beberapa aspek, yaitu dalam kegiatan sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan dan hubungannya dengan pemerintah. Kelompok secara harfiah berarti beberapa orang yang berkumpul menjadi satu.6 Yang dimaksud dengan kelompok dalam penelitian ini adalah kelompok aliran Islam minoritas yang eksistensinya dalam komunitas (masyarakat) merupakan jumlah yang relatif lebih sedikit anggotanya dibandingkan dengan yang lain.7 Kelompok juga berarti golongan-golongan dalam masyarakat yang berada dihadapan golongan-golongan yang lebih kuat dan mempunyai kedududukan sosial lebih rendah, kekuasaan, martabat dan hak yang dibatasi. Kelompok yang berada dalam masyarakat realitas sosialnya sering dikucilkan dan menjadi sasaran diskriminasi karena memang atau dianggap mempunyai perbedaan-perbedaan jasmaniah, budaya dan sosial. Kelompok seperti itu disebut marginal group yaitu kelompok yang terdiri dari orangorang yang mempunyai kedudukan rendah.8 Kelompok aliran merupakan pihak second social dalam struktur kemasyarakatan.
Simo & Schuster, Webster Dictionary, Published by New World Dictionary, Printed in The United State of America. 1972. hal. 955. 6 Poerwadarminto, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN. Balai Pustaka,. 1976. hal. 469. 7 Dewan Redaksi Ensiklopedi Indonesia, Ensiklopedi Indonesia. Pn.PT. Ichtiar Baru – Van Hoeve. Jakarta. t.t., hal. 2.257. 8 Hendropuspito, D. OC., Sociologi Sistematik, Pn. Kanisius. Yogjakarta. 1989. hal. 74.
5

dalam

pembahasan ini dipahami sebagai suatu kelompok yang eksisitensinya

8

Masyarakat merupakan kesatuan terbesar dari manusia-manusia yang saling bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan bersama atas dasar kebudayaan yang sama.9 Masyarakat lingkupnya lebih luas dari pada lingkup kelompok sosial. Adapun yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah masyarakat muslim. Lebih lanjut yang menjadi fokus penelitian ini adalah interaksi kelompok aliran dalam kegiatan sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan, dan pemerintah. Kehidupan beragama menurut konsep Wach memandang agama merupakan suatu sistem kepercayaan, mempunyai suatu sistem kaidah yang mengikat penganutnya atau peribadatan dan mempunyai sistem perhubungan dan interaksi sosial atau kemasyarakatan.10 Agama bukan hanya dipandang sebagai seperangkat aturan mutlak yang datangnya dari Allah, akan tetapi dipandang sebagai perangkat aturan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Setiap pemeluk agama terikat oleh suatu ajaran tertentu, maka akan terbentuklah kelompok-kelompok agama tertentu. Bila dalam kehidupan masyarakat terdapat beberapa pemeluk agama yang berlainan, maka akan terbentuk pula kelompok-kelompok keagamaan yang berbeda. Kelompokkelompok keagamaan tersebut berkembang secara alamiah dan adakalanya sengaja dibentuk dalam konteks sosial politik tertentu. Masing-masing kelompok keagamaan tersebut mempunyai aktivitas-aktivitas, yang tidak hanya dalam aspek peribadatan saja, melainkan juga dalam aspek sosial seperti kemasyarakatan dan sosial politik. Kelompok keagamaan tersebut saling berhubungan satu dengan lainnya. Hubungan ini merupakan suatu proses interaksi sosial, yakni hubungan timbal balik antara perorangan, antara orang perorangan dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok dalam masyarakat.11 Naluri ini merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Upaya manusia dalam rangka memenuhi
Soekanto, Soerjono. Kamus Sosiologi, CV Rajawali. Jakarta. 1985. hal. 211. Wach, Joachim. Sociology Of Religio, The University Of Cichago Press, London, 1964. Dikutip oleh D. Hendro Puspito, O.C. dalam Sosiologi Agama, Kanisius, Malang, 1984, hal. 35 11 Ishomuddin, DR., Sosiologi Perspektif Islam, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang, 2005, hal. 163.
10 9

9

kebutuhan-kebutuhan hidupnya dilakukan melalui proses sosial yang disebut interaksi sosial, yaitu hubungan timbal-balik antara orang perorang, antara orang perorang dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok dalam masyarakat.12 Interaksi sosial tersebut dibentuk oleh harapan dan respon dari dan terhadap orang lain sehingga selalu membentuk kehidupan sosial.13 Sedangkan istilah yang sering dipakai untuk menunjukkan subyek orang dan juga dipergunakan untuk menunjuk pada sekelompok orang yang menjadi sasaran diskriminasi sering dikaitkan dengan perbandingan jumlah suatu kelompok yang lebih kecil dengan kelompok yang lebih besar. Di sinilah muncul golongan yang tidak terlepas dari adanya kelompok dominan. Pengertian kelompok juga sering didekati dengan size (jumlah) dan power (kekuasaan).14 Dengan karakteristik antara lain; Pertama, golongan merupakan segmen dari subordinat dalam suatu entitas yang kompleks. Kedua, golongan memiliki perilaku yang berbeda dan unsur-unsur kebudayaan yang dimilikinya dan dinilai lebih rendah oleh golongan mayoritas. Ketiga, bahwa golongan memiliki kesadaran akan dirinya merupakan suatu kesatuan dengan ciri-ciri tertentu.15 Berangkat dari karakteristik golongan atau kelompok inilah yang memberikan pemahaman dalam tulisan ini secara komprehensif, bahwa kelompok atau golongan yang tidak dominan dengan ciri khas aliran dari agama tertentu yang berbeda dari agama mayoritas penduduk. B. Potensi Kerjasama dan Hambatan Aliran Islam Minoritas Proses interaksi sosial yang terjadi di masyarakat merupakan fenomena yang dinamis dari kehidupan masyarakat. Menurut Kimball Young, bahwa bentuk-bentuk interaksi sosial yang berada di masyarakat dapat dibedakan menjadi dua komponen, yakni kerja sama dan oposisi. Interaksi sosial yang bersifat kerja sama akan melahirkan asimilasi, sedangkan interaksi

Ishomuddin, Sosiologi Perspektif Islam. Universitas Muhammadiyah. Malang. 2005. hal. 162-163 Puslitbang Kehidupan Beragama Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, Jurnal Harmoni: Dinamika Agama-gama di Indonesia , volume II, Nomor 8, Oktober-Desember, hal. 14-15. 14 Schermerhorn, R.A., Comparative Ethnic Relations: A Framework of Theory and Research, Random House, New York, 1970, hal. 13
13 15

12

ibid

10

dalam bentuk oposisi akan melahirkan persaingan dan pertentangan.16 Kerja sama pada tataran praktis adalah apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan mengendalikan terhadap diri sendiri. Bentuk kerja sama yang dapat dilihat antara lain: 1) Gotong royong; 2) Bargaining, yakni pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih.17 Pada sisi yang lain, interaksi sosial dalam bentuk kerja sama tersebut juga akan melahirkan asimilasi, yaitu suatu proses sosial yang ditandai dengan adanya usaha mengurangi perbedaan yang terdapat pada orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga berusaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses mental dengan memperhatikan kepentingankepentingan dan tujuan bersama. Proses asimilasi akan timbul bila ada: 1) kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya; 2) orang perorang sebagai warga kelompok-kelompok itu saling bergaul secara langsung dan intensif untuk waktu yang lama; 3) kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri.18 Menurut Soerjono Soekanto, bahwa faktor yang dapat mempermudah terjadinya suatu asimilasi antara lain adalah: toleransi, memiliki kesempatan di bidang ekonomi yang seimbang, sikap menghargai orang asing dengan kebudayaannya, sikap yang terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat, persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan, perkawinan campuran, dan adanya musuh bersama dari luar.19 Adapun interaksi sosial dalam bentuk oposisi dibagi menjadi dua, yaitu persaingan dan pertentangan. Oposisi itu sendiri dapat diartikan sebagai cara berjuang melawan seseorang atau kelompok, untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Persaingan yang lahir dari sebuah oposisi merupakan suatu
Kimball Young, Social Cultural Process, dalam Selo Sumarjan, Setangkai Bunga Sosiologi, Fakultas Ekonomi UI, Jakarta, 1986. Hal. 220. 17 James D. Homson - William, J. Mc Ewen, Organizational Goals Enviroment: Goal Setting As An Interaction Process, dalam Selo Sumarjan, Ibid., hal. 235-245. 18 Clifford Geertz, Konflik Dan Konfigurasi, dalam Roland Robertson, Agama, Analisa Dan Interpretasi Sosiologi, terjemahan AF Saifuddin, Rajawali, Jakarta, hal. 215-219. 19 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Penerbit Rajawali, Jakarta, 1986, hal. 70.
16

11

perjuangan sosial yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk damai atau tidak dengan kekuasaan.20 Sedangkan pertentangan merupakan suatu perjuangan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu dengan jalan melukai atau menghancurkan pihak lawan.21 Interaksi sosial dalam bentuk akomodasi adalah suatu usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan, yaitu usaha untuk mencapai kestabilan. Bentuk akomodasi adalah 1) Kursif, yakni bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh karena adanya paksaan, dan biasanya salah satu pihak berada dalam posisi yang lemah; 2) Kompromi ialah dimana pihak yang terlibat masing-masing mengurangi tuntutannya, agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada; 3) Toleransi merupakan bentuk akomodasi tanpa menggunakan persetujuan yang formal; 4) Arbitrasi ialah suatu suatu cara untuk mencapai kompromi apabila pihak yang berhadapan masing-masing tidak sanggup untuk mencapai sendiri, sehingga ada pihak ketiga yang netral yang bisa mendamaikan.22 Sementara itu, interaksi sosial yang tidak kondusif dan melahirkan sebuah pertentangan bahkan pada tataran tertentu menjadikan konflik dapat diakibatkan oleh berbagai faktor. Faktor yang dapat mempertajam konflik tersebut adalah karena adanya perbedaan ideologi yang mendasar, karena rasa tidak senang terhadap nilai-nilai kelompok-kelompok lain, adanya perbedaan dan makin meningkatnya mobilitas status yang cenderung memaksakan kontak di antara individu-individu dan atau kelompok-kelompok, dan makin intensifnya perjuangan politik yang cenderung menyuburkan perbedaan agama dengan kepentingan politik. Adapun faktor-faktor yang meredakannya adalah adanya perasaan memiliki satu kebudayaan dan adanya toleransi umum yang didasarkan atas suatu relativisme kontekstual yang menganggap nilai-nilai tertentu sesuai dengan konteksnya.23

Kimball Young, Social Cultur Process, dalam Selo Sumarjan Op.cit., hal. 192. ibid., hal. 193. 22 Kimball Young, Op.cit., hal. 235 – 245. 23 Geertz, Clifford. Konflik Dan Konfigurasi, dalam Roland Robertson, Agama, Analisa dan Interpretasi Sosiologi, terjemahan AF Saifuddin, Rajawali, Jakarta, hal. 207.
21

20

12

C.

Pembinaan Kerukunan, Toleransi, dan Partisipasi Pluralisme di Indonesia merupakan keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, baik dari kesukuan maupun dari keyakinan beragama. Bahkan pada tataran satu agamapun masih terdapat bagian-bagian atau kelompok-kelompok yang tidak sefaham. Kebhinekaan inilah yang selamanya dapat dipersatukan agar terjadi interaksi sosial yang baik dan tercipta kerukunan umat beragama yang solid. Kerukunan umat beragama yang dimaksud adalah keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di dalam negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.24 Realitasnya sering kemajemukan”perbedaan” tidak mengarah pada sebuah kerukunan yang pada akhirnya menjadi sebuah kekuatan, akan tetapi memunculkan sebuah konflik yang dipicu oleh berbagai perbedaan yang ada pada masyarakat. Sebagai contoh adalah di rusaknya mushalla LDII di Jember atau dibubarkannya Tarekat Wahidiyah di Jawa Barat dan dibakarnya masjid Ahmadiyah di Sukabumi. Padahal, apabila dicermati secara mendalam, setiap agama juga mengajarkan kepada umatnya untuk mengasihi sesama makhluk hidup dan bersikap positif terhadap alam. Hanya saja agama-agama sering kali dipahami secara sempit dan eksklusif oleh penganutnya dan disertai perasaan curiga yang berlebihan terhadap penganut agama lain maupun kelompok lain, sehingga mengakibatkan terjadinya berbagai macam konflik di masyarakat. Sementara itu, sikap fanatisme yang berlebihan di kalangan penganut agama masih sangat dominan sehingga dapat menimbulkan disharmoni yang merugikan semua pihak, termasuk kelompok penganut agama.25 Hubungan pengaruh mempengaruhi antar agama dengan masyarakat pada gilirannya melahirkan sikap dan perilaku keagamaan yang bersifat

Peraturan Bersama Menteri Agama dan Mendagri Nomor 9 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama Dan Pendirian Tempat Ibadah. 25 Victor, Y. Tanja, Pluralisme Agama Dan Problem Sosial, 1998, Pustaka Cide Sindo, Jakarta, halaman xx.

24

13

dikotomik, yaitu Pertama, sikap dan tingkah laku yang moderat, yakni memperlihatkan keluwesan baik pada cara berpikir maupun pada perwujudan tingkah laku, Kedua, sikap dan tingkah laku fanatik ekstrim, yang menganggap diri dan kelompoknya selalu pada pihak yang benar, serta tidak memberi kesempatan mengadakan kompromi dengan penganut agama lain. Sikap dan tingkah laku keagamaan yang disebutkan pertama mengandung pengertian bahwa agama dapat menjadi sumber persatuan. Sedang sikap dan tingkah laku keagamaan yang disebutkan kedua mengandung pengertian bahwa agama dapat menjadi sumber konflik.26 Dengan demikian, pembinaan kerukunan umat beragama pada masyarakat diharapkan dapat menciptakan situasi yang kondusif dan tercapai kerja sama dalam bentuk partisipatif, asimilasi, maupun akomodasi. Adapun faktor yang memiliki peranan penting untuk mewujudkan adalah melalui jalinan erat para aktor, seperti pemerintah, tokoh-tokoh agama atau organisasi keagamaan dan tokoh masyarakat. D. Kebijakan Kerukunan Umat Beragama Kebebasan beragama di Indonesia dijamin oleh UUD 1945 terutama pasal 28E, 28I, dan 29. UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia juga mengatur adanya hak-hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia. Pasal 22 UU Nomor 39 Tahun 1999 menegaskan bahwa: (1) Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu; dan (2) Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya. Kebijakan penting yang telah diambil oleh Pemerintah dalam rangka pemeliharaan kerukunan umat beragama, yaitu kebijakan tentang tugas kepala daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama, dan kebijakan yang ditujukan kepada warga Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan warga masyarakat pada umumnya. Kebijakan itu bukan merupakan intervensi

26

Bachtiar, Harsya W., Agama Dan Perubahan Sosial Di Indonesia, dalam Bulletin “Dialog “ Edisi No. 17, Jakarta, Badan Litbang Agama, 1984, hal. 20.

14

terhadap keyakinan masyarakat, melainkan upaya untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. Kebijakan tentang tugas kepala daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama dituangkan dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat. Peraturan ini singkatnya disebut dengan PBM. Kebijakan ini memberikan pedoman kepada para kepala daerah dalam memelihara kerukunan umat beragama. Adapun yang diatur dalam PBM ini bukan aspek doktrin agama, tetapi lalu lintas para warga negara Indonesia pemeluk suatu agama ketika berinteraksi dengan warga negara Indonesia lainnya yg memeluk agama berbeda. PBM ini tidak membatasi kebebasan beragama seseorang dan juga tidak membatasi seseorang untuk mendirikan rumah ibadat. Adanya persyaratan calon pengguna 90 orang dewasa untuk pendirian sebuah rumah ibadat semata-mata untuk mengadministrasikan dan mengetahui siapa saja yang hendak menggunakan suatu rumah ibadat yang hendak dibangun. Demikianlah kebebasan itu diberikan secara luas sebagai bagian dari upaya pemeliharaan kerukunan umat beragama yang menjadi bagian penting dari kerukunan nasional, yang merupakan salah satu tugas dari daerah, termasuk kepala daerah, untuk mewujudkannya sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 22 butir ‘a’ UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Terkait dengan pemulihan keamanan dan ketertiban masyarakat dalam kasus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), Pemerintah telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Nomor 3 Tahun 2008, Nomor KEP-033/A/JA/6/2008, dan Nomor 199 Tahun 2008, tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat tanggal 9 Juni 2008. Perlu ditegaskan bahwa SKB itu bukanlah bentuk intervensi Pemerintah terhadap keyakinan warga masyarakat, melainkan upaya Pemerintah untuk memelihara

15

keamanan dan ketertiban masyarakat yang terganggu karena adanya pertentangan dalam masyarakat yang terjadi akibat penyebaran paham keagamaan menyimpang. Bagi Pemerintah, masalah Jemaat Ahmadiyah Indonesia mempunyai dua sisi. Pertama, Ahmadiyah adalah penyebab lahirnya pertentangan dalam masyarakat yang berakibat terganggunya keamanan dan ketertiban masyarakat. Sisi kedua, warga JAI adalah korban tindakan kekerasan sebagian masyarakat. Kedua sisi ini harus ditangani Pemerintah. Selain itu SKB juga memerintahkan aparat pusat dan daerah untuk melakukan langkah-langkah pembinaan dan pengawasan bagi pelaksanaan SKB ini. Langkah pembinaan ini dimaksudkan memberi kesempatan kepada penganut JAI untuk memperbaiki perbuatannya yang menyimpang itu. Secara teknis yuridis, jika terjadi pelanggaran bagi SKB ini, baik dilakukan oleh warga JAI maupun masyarakat, maka masyarakat dapat melaporkannya kepada aparat hukum, yang selanjutnya akan mengambil tindak lanjut. Apakah suatu tuduhan suatu penodaan agama itu telah terjadi atau tidak, akan dilakukan oleh hakim di Pengadilan dengan tentu saja mendengarkan saksi ahli. Negara menjamin kebebasan beragama bagi para warganya, dan tidak mencampuri aspek-aspek doktrinal dari suatu ajaran agama. Negara juga melindungi seluruh warganya dan menegakkan keamanan dan ketertiban untuk warganya. Setiap kali kebebasan itu sengaja atau tidak sengaja berujung kepada terganggunya keamanan dan ketertiban masyarakat, maka negara termasuk Pemerintah harus tampil untuk mengembalikan keamanan dan ketertiban masyarakat itu sebagaimana mestinya. Kebebasan beragama adalah hak yang pelaksanaannya harus diselaraskan dengan tanggung jawab untuk menegakkan kewajiban dasar manusia seperti memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.

16

BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian Penelitian ini didesain dengan menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendeskripsikan dan menganalisis tentang interaksi sosial kelompok aliran Islam minoritas dalam masyarakat. Pendekatan kualitatif ini digunakan dengan pertimbangan hendak mengungkap hakikat yang sebenarnya tentang bagaimana interaksi kelompok aliran Islam Minoritas dalam masyarakat. Dengan pendekatan ini pula diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan penjelasan tentang interaksi kelompok aliran Islam minoritas di masyarakatnya. Dengan pertimbangan pemilihan pada pendekatan kualitatif dalam penelitian tersebut lebih tepat karena dapat menggali data lebih dalam. B. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data ini adalah dengan wawancara. Teknik ini dilakukan terhadap tokoh kelompok aliran Islam minoritas, tokoh Islam diluar aliran minoritas, tokoh masyarakat, dan pihak pemerintah. Hasil wawancara ini diharapkan dapat mengumpulkan data terkait dengan pandangannya dalam interaksi sosial keagamaan, interaksi sosial politik, dan sosial kemasyarakatan berikut dengan hambatan dan potensi yang ada dalam kelompok Islam minoritas dalam perspektif in group. Teknik wawancara dengan tokoh masyarakat dan pihak pemerintah untuk menghimpun informasi interaksi sosial kelompok aliran dalam perspektif out group, baik dalam interaksi sosial keagamaan, interaksi sosial politik, dan sosial kemasyarakatan. Di samping itu juga untuk menggali hambatan dan potensi yang ada dalam kelompok aliran Islam Minoritas di masyarakat. Wawancara juga dilakukan terhadap pihak Departemen Agama Kabupaten/Kota dan Pusat untuk menghimpun informasi terkait dengan kebijakan pola pembinaan kelompok aliran.

17

Teknik lain dalam menggali data adalah dengan observasi. Observasi ini dilakukan untuk mengambil data yang terkait dengan hal-hal sebagaimana dalam wawancara terhadap tokoh atau anggota kelompok aliran Islam Minoritas di masyarakat. Fokus dari observasi ini adalah mengamati tindakan-tindakan interaksi kelompok aliran dalam masyarakat dan beberapa praktik ibadah secara langsung. Telaah dokumen dilakukan untuk mengambil data yang tercatat, baik dalam kelompok aliran maupun pemerintah terkait dengan berbagai hal seperti referensi sumber ajaran dan dokumen kebijakan dalam pembinaan kelompok aliran. C. Teknik Analisis Data Analisis data merupakan upaya mencermati dan mensistematikakan data-data yang diperoleh melalui wawancara, observasi maupun telaah dokumen. Analisis dalam penelitian ini dilakukan melalui dua tahap, yaitu selama di lapangan dan setelah dari lapangan. Analisis di lapangan ditempuh dengan mempersempit fokus, menetapkan tipe studi, mengembangkan pertanyaan analitik, menyusun komentar, dan telaah kepustakaan yang relevan. Analisis setelah dari lapangan ditempuh dengan membuat kategori-kategori masalah/temuan dari lapangan dengan cara menata sekuensi atau urutan penelaahannya. D. Lokasi Penelitian Lima aliran di enam lokasi penelitian di kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah ini dipilih didasarkan pada sebaran perkembangan di masyarakat, yaitu: 1. Aliran Syi’ah di Kota Pekalongan 2. Majlis Tafsir Al Qur’an (MTA) di Surakarta 3. Kelompok Syahadatain di Kabupaten Banyumas 4. Organisasi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Kabupaten Pati dan Kabupaten Grobogan 5. Kelompok Jamaah Tabligh di Kabupaten Magelang

18

BAB IV GAMBARAN UMUM KEHIDUPAN KEAGAMAAN DAN PROFIL ALIRAN ISLAM MINORITAS DI JAWA TENGAH

A. Aliran Syi’ah 1. Sejarah Singkat Salah satu kelompok aliran keagamaan dalam Islam di Jawa Tengah adalah aliran Syi’ah. Aliran Syi’ah dikembangkan oleh ustadz Ahmad Barakbah di Kota Pekalolngan. Ustadz Barakbah adalah keturunan Arab generasi ke-6 yang memiliki latarbelakang keagamaan berfaham Sunni sebagaimana yang dianut oleh kedua orangtuanya dan keluarganya. Beliau pernah belajar di Universitas Qum Iran selama ebih dari 5 tahun. Kecerdasan ustadz Barakbah yang terlebih dahulu belajar di Universitas Gajah Mada Yogyakarta jurusan Bahasa Arab dan aktivis PII dan HMI ini terlihat setelah berhasil mendirikan Pondok Pesantren Al Hadi pada tanggal 4 Juli 1989 dan berkiblat ke Iran yang nota bene berfaham Syi’ah. Pendirian pondok pesantren Al Hadi ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan ustadz Barakbah terhadap umat Islam yang diibaratkan pohon yang rimbun dan berbuah serta memiliki akar yang kuat akan tetapi tidak pernah merasakan rindangnya pohon dan lezatnya buah. Latarbelakang lain adalah untuk memberikan pemahaman kepada ummat Islam terhadap persepsi yang salah atau keliru terhadap faham Syi’ah sekaligus mengembangkan faham Syi’ah27. Langkah awal yang dilakukan adalah dengan membentuk pengurus pondok pesantren yang diketuai oleh ustadz Ahmad Barakbah sendiri, Bidang Pendidikan dipegang oleh ustadz Abdurrahman Barakbah (adik kandung ustadz Barakbah), Bidang keuangan dan administrasi ustadz Muhammad Khotib (Teman ustadz Barakbah dari Qum – Iran), dan dewan guru yang antara lain ustadz Ahmad

27

Mawardi, Marmiati. Hubungan Intern Ummat Beragama di Jawa Tengah ; studi kasus di Kota Pekalongan. Balai Penelitian Aliran Kerohanian / Keagamaan Semarang. 1999. Halaman 204.

19

Barakbah, ustadz Muhammad Khotib, ustadz Muhammad Barakbah, ustadz Abdul Ghoni dan ustadz Ahmad Zaini. Pada awal berdirinya pondok pesantren, jumlah santri yang ditampung berjumlah 5 orang dan berkembang menjadi 116 santri pada tahun 1999 dengan jumlah ustad 11 orang.28 Pada tahun 2008 jumlah santri menurun hanya mencapai 60 santri laki-laki dan perempuan. Asal santri ini tidak ada yang berasal dari Pekalongan, melainkan dari Tegal, Bengkulu, Kalimantan, Jawa Timur. 2. Paham Keagamaan Paham keagamaan yang menjadi ”perdebatan” antara lain berkaitan dengan Aqidah, Syariat, Wilayah, dan Nikah. Bagi ustadz Ahmad Barakbah, bahwa hal yang paling penting dalam kehidupan manusia adalah taqwa, iman, ilmu dan jihad. Taqwa secara konsepsional dan praktis harus didasarkan pada Al Qur’an karena Al Qur’an adalah sumber ajaran utama, iman adalah sesuatu yang sangat privasi dengan bersumber pada hati, ilmu adalah sesuatu yang sangat penting sampai-sampai yang akan mengangkat derajatnya adalah Allah SWT bukan manusia dan jihad adalah berjuang untuk Allah SWT yang tidak hanya sebatas pada perang membela Islam. Jihad adalah melakukan sesuatu yang memiliki manfaat bagi dirinya dan juga bagi orang lain. a. Aqidah Berkaitan dengan aqidah yang menjadi pokok persoalan adalah rukun iman di mana pada umat Islam umumnya rukun iman ada 6, hal ini berbeda dengan yang menjadi dasar dari ajaran Syi’ah. Menurut ustadz Ahmad Barakbah, bahwa untuk menentukan rukun iman lebih dahulu diambil pengertian apa itu rukun. Rukun adalah sesuatu yang harus ada sehingga keberadaannya mengharuskan orang meyakini. Rukun ini berbeda dengan wajib, karena wajib apabila ditinggalkan dengan sengaja maka akan batal. Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW adalah sesuatu yang harus ada dan harus diimani, oleh karena itu rukun iman hanya 1 yaitu iman kepada
28

Pada tahun 1999 ustadz Barakbah mengembangkan sayapnya dengan mendirikan pondok pesantren di Kecamatan Wonotunggal Kabupatan Batang. Wilayah ini dipilih karena di wilayah tingkat Kecamatan belum ada pondok pesantren, namun demikian setelah berjalan selama + 10 bulan dibubarkan secara paksa oleh masyarakat yang diindikasikan berasal dari wilayah Pekalongan , hal ini dikarenakan untuk mayarakat sekitar tidak ada permasalahan.

20

Allah dan Rasul Muhammad SAW. Sedangkan yang lain adalah wajib untuk diimani, maka orang Islam yang meninggalkan kewajibannya tersebut menjadi batal imannya. Rukun iman yang 6 sebagaimana yang berkembang pada faham sunni adalah pemahaman ulama. Persoalan rukun iman ini juga berkembang pada persoalan imamiyah dimana kelompok Syi’ah meyakini akan adanya imam yang harus memimpin kekhalifahan. Imam adalah ahlulbait yang dipilih langsung oleh Allah SWT, sehingga imam adalah urusan Allah SWT bukan urusan manusia. Imam yang menjadi panutan oleh kelompok Syi’ah ada 12 imam dan imam yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Adapun nama-nama imam yang disebutkan berjumlah 12 imam tersebut diperoleh dari berbagai hadis yang meriwayatkannya. Kepercayaan kepada Ali bin Abi Thalib sebagai imam bukan berarti mengkafirkan adanya kepemimpinan Khulafaurrasyidin yang lain, seperti Abu Bakar Asshidiq, Umar ibnul Khattab, dan Usman ibnu Affan. b. Syari’at Rukun Islam yang dijadikan dasar dalam ajaran Syi’ah hanya 1, yaitu Syahadat sebagaimana syahadat yang dijadikan umat Islam pada umumnya. Sedangkan shalat, puasa, zakat dan haji adalah wajib sehingga apabila ditinggalkan dengan sengaja maka Islamnya menjadi batal. Sebagai contoh adalah ketika orang di luar Islam membaca syahadat dengan sendirinya sudah Islam meskipun belum melakukan shalat, puasa, zakat dan haji. Syahadat yang sering menjadi persoalan adalah Syahadat yang diakhiri dengan kalimat Wasyhadu ‘Anna ‘Aliyyan Waliyullah. Menurut ustadz Barakbah, bahwa kalimat tambahan Wasyhadu ‘Anna ‘Aliyyan Waliyullah hanya diucapkan ketika mengumandangkan adzan karena adzan itu sendiri hukumnya bukan wajib sehingga diperbolehkan, akan tetapi ketika dalam shalat maka kalimat tambahan tersebut tidak dibacakan karena pada dasarnya dalam shalat bacaan harus sesuai dengan yang dibaca oleh Rasulullah. Posisi Rasulullah adalah posisi yang dimuliakan. Shalat yang sering menjadi persoalan adalah pelaksanaan shalat yang hanya menggunakan 3 waktu. Penetapan waktu ini berdasarkan waktu muktah dimana shalat Subuh, shalat Dhuhur bersamaan waktu pelaksanaannya dengan

21

Ashar dan Maghrib dengan Isya. Dalam melakukan shalat tetap sesuai dengan jumlah raka’at yang telah ditetapkan dan sebagaimana yang dilakukan oleh umat Islam lainnya. Dalam pelaksanaan shalat ini juga terdapat shalat yang kewajibannya boleh memilih, yaitu shalat Jum’at. Pelaksanaan shalat Jum’at di pondok pesantren Al Hadi yang dipimpin oleh ustadz Ahmad Barakbah ini diganti dengan shalat dhuhur, hal ini dilakukan karena belum ditegakkannya syari’at Islam. Shalat Jum’at adalah wajib pilihan (wajib takhyiiri) dan apabila umat Islam lainnya melaksanakan shalat Jum’at-pun tidak ada masalah, bahkan santrinyapun diperbolehkan mengikuti shalat Jum’at di masjid manapun.29 Ustadz Ahmad Barakbah sedikit menjelaskan perihal shalat Jum’at yang pada awal diwajibkannya ketika Nabi Muhammad SAW sedang membina dan mengatur masyarakat Madinah. Pada saat shalat Jum’at pertama kali dilakukan imamnya bukan Nabi Muhammad SAW, bahkan Nabi sendiri tidak ikut shalat Jum’at karena sedang mengatur masyarakat Madinah. Puasa, Zakat dan Haji yang diterapkan dalam ajaran Syi’ah tidak berbeda dengan umat Islam lainnya terutama dalam persoalan yang bersifat wajib, seperti puasa ramadhan, perayaan Idul Fithri, zakat fitrah, perayaan Idul Qurban dengan pembagian daging qurban untuk masyarakat pada umumnya, dan pelaksanaan kewajiban haji ke tanah suci. Persoalan lain yang sering menjadi pembicaraan pada kalangan masyarakat Islam umumnya adalah pemahaman tentang nikah Mut’ah. Nikah ini nampak tidak lazim dan merugikan salah satu pihak, terutama perempuan. Padahal apabila dilihat lebih jauh, nikah mut’ah pada dasarnya menguntungkan bagi pihak perempuan, hal ini dikarenakan semua yang menentukan adalah wanita, baik mahar maupun batas waktunya. Begitu juga masalah perwalian sama dengan nikah yang dilaksanakan oleh umat Islam lainnya.

29

Ustadz Ahmad Barakbah sebelum berangkat ke Iran adalah Khotib jum’at yang dari berbagai masjid yang ada di Pekalongan dan luar Pekalongan, akan tetapi setelah pulang dari Iran dan mendirikan Ponpes Al Hadi tidak lagi berkhutbah di masjid di Pekalongan, akan tetapi untuk wilayah di luar Pekalongan apabila ada yang memintanya Khutbah jum’at maka ia akan melakukannya. Persoalan tidak khutbah jum’at di Pekalongan bukanlah sebuah pilihan, melainkan karena tidak ada yang memintanya berkhutbah dan tahu dirilah katanya.

22

Nikah mut’ah adalah suatu jalan keluar untuk menghindari perilaku perzinahan, sehingga apabila nikah mut’ah menjadi sesuatu yang tidak dipertentangkan atau dianjurkan, maka perzinahan tidak akan terjadi pada umat Islam. Nikah mut’ah bukan berarti nikah tanpa syarat sebagaimana nikah permanen, hanya saja nikah mut’ah lebih membawa kebahagiaan karena setelah masa kontrak selesai dapat dilanjutkan. Masa kontrak adalah masa untuk mengetahui lebih jauh perilaku suami yang apabila dipandang baik dan mampu membawa pada keluarga yang baik dapat dijadikan nikah permanen. Pandangan kelompok Syi’ah terhadap nikah yang dilaksanakan oleh umat Islam yaitu dengan nikah permanen tidak ada masalah. Begitu juga masalah poligami dan nikah sirri tidak ada permasalahan bagi kelompok Syi’ah. Menurut Kepala Kelurahan Klego Kecamatan Pekalongan Timur, bahwa kelompok Syi’ah apabila akan mengadakan pernikahan juga tetap mengurus surat melalui prosedur pemerintah sebagaimana yang dilakukan oleh umat Islam lainnya. Dengan demikian, pada dasarnya nikah dalam pandangan Syi’ah adalah sunnah yang bernilai ibadah dan salah satu jalan untuk menghindari perzinahan. Dari beberapa pemahaman tentang kelompok Syi’ah sesat yang terjadi pada masyarakat sebenarnya hanya didasarkan pada beberapa literatur yang sampai ke tangan dan berisi tentang ajaran Syi’ah yang dikategorikan sesat. Padahal apabila melihat literatur tidak sedikit literatur karya orang sunni yang juga menunjukan kesesatan. Literatur adalah sangat tergantung penulisnya, sehingga apabila tidak suka dengan kelompok Syi’ah maka akan menulis beberapa hal yang mengarah pada kesesatan kelompok Syi’ah. B. Majlis Tafsir Al Qur’an (MTA) 1. Sejarah Singkat Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) didirikan pada tanggal 19 September 1972 oleh Al Ustadz Abdullah Thufail Saputro. MTA berpusat di kota Surakarta, tepatnya dijalan Serayu No. 12 Semanggi, Rt 06, RW. 15, Pasar Kliwon, Surakarta.30

30

Brosur Mengenang 35 Tahun Perjalanan Dakwah MTA, hal. 1

23

Latar belakang pendirian Majlis Tafsir Al-Qur’an adalah didasarkan pada kondisi umat Islam pada Akhir dekade tahun 1960-an dan awal dekade tahun 1970-an. Sampai dengan saat itu, umat Islam yang telah berjuang sejak zaman Belanda untuk melakukan emansipasi, baik secara politik, ekonomi, maupun kultural, justru semakin terpinggirkan. Ustadz Abdullah Thufail Saputro, seorang mubaligh yang karena profesinya sebagai pedagang mendapat kesempatan untuk berkeliling hampir keseluruh Indonesia, kecuali Irian Jaya. Melihat kondisi umat Islam di Indonesia yang seperti itu, tidak lain disebabkan umat Islam di Indonesia kurang memahami Al-Qur’an. Oleh karena, sesuai dengan ucapan seorang ulama bahwa umat Islam tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang telah menjadikan umat Islam baik pada awalnya, yaitu Al-Qur’an. Ustadz Abdullah Thufail Saputro yakin bahwa umat Islam Indonesia hanya akan dapat melakukan emansipasi di segala bidang apabila umat Islam Indonesia mau kembali ke Al-Qur’an. Demikian, maka Udtadz Abdullah Thufail Saputro pun mendirikan MTA sebagai rintisan untuk mengajak umat Islam kembali ke Al-Qur’an.31 Berasal dari latar belakang pendirian sebagaimana di atas, maka tujuan didirikannya MTA adalah untuk mengajak umat Islam kembali ke Al-Qur’an. Sesuai dengan nama dan tujuannya itu, maka pengkajian Al-Qur’an dengan tekanan pada pemahaman, penghayatan dan pengamalan Al-Qur’an menjadi kegiatan utama MTA.32 Dalam rangka menghindari negative perception dari pihak lain, maka MTA tidak dikehendaki menjadi lembaga yang illegal, tidak dikehendaki menjadi ormas/parpol tersendiri ditengah-tengah ormas-ormas dan orpol-orpol tertentu. Untuk memenuhi keinginan ini, bentuk badab hukum yang dipilih adalah yayasan. Oleh karena itulah pada tanggal 23 januari tahun 1974, MTA resmi menjadi yayasan dengan akta notaris R. Soegondo Notodioejo. Dengan demikian dapat dipahami lebih jauh bahwa MTA bukan partai politik dan tidak akan menjadi partai politik, bukan suatu golongan dan tidak akan menjadi suatau golongan tersendiri dari umat Islam. Seluruh umat Islam
31 32

Selayang Pandang Yayasan Majelis Tafsir Al Qur’an (MTA), September 2007, hal. 1 Ibid, hal. 1

24

digolongan dan partai manapun adalah saudara. MTA berharap saudar-saudara yang aktif di golongan dan partai manapun hendaklah selalu menjadikan AlQur’an dan Sunnah sebagai way of life, selalu menyuarakan Islam kepada Manusia, menjalin ukhuwah Islamiyah, rasa musawah sesama muslim, tanpa merasa lebih antara satu dengan yang lain. Kepada saudara-saudara kami yang non muslim, kita bisa berdampingan, saling hormat menghormati tidak saling mencela dengan berbuat baik serta berlaku adil,selama mereka tidak memusuhi kita karena agama. Sampai dengan usianya yang ke 35 tahun ini, MTA yang berpusat di Kota Surakarta sudah memiliki 29 perwakilan (tingkat kabupaten/kota) dan 139 cabang (tingkat kecamatan ) yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.33 2. Paham Keagamaan Sumber ajaran yang dipedomani oleh warga MTA tidak berbeda dengan kelompok organisasi/umat Islam pada umumnya, yaitu Al Qur’an dan Al Hadits. Bagi MTA bahwa Al Qur’an dan Al Hadits itu tidak cukup hanya untuk dipelajari dan dipahami saja. Tetapi lebih jauh dari itu harus diupayakan untuk dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi berpedoman Al Qur’an dan Al Hadits itu tidak bisa di tawar-tawar lagi sebagai pedoman manusia untuk mengarungi kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Bagi MTA berpedoman Al Qur’an dan Al Hadits itu final, oleh karena warga MTA tidak mudah digoyahkan dan dipengaruhi paham maupun pendapat pendapat kelompok/organisasi/umat lain. Sebagaimana prinsip MTA bahwa ketika kita memberikan dakwah sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadits menurut pemahamannya, kemudian ada pihak lain yang tidak sependapat itu tidak masalah (lanaa’maluna walakum a’malakum). Kemudian tentang akidah yang di kembangkan oleh MTA pada kenyataannya tidak berbeda denngan akidah yang dipedomani oleh umat Islam di Indonesia, seperti percaya tentang rukun iman yang enam, yaitu iman kepada Allah SWT, malaikat, rasul, kitab, hari akhir, qodha dan qodar. Apa bila dipahami secara mendalam , akidah MTA ada identik dengan paham salah satu

33

Hasil wawancara dengan Ketua MTA Al Ustadz Drs. Ahmad Sukino, pada tanggal 25 April 2008

25

ormas Islam di Indonesia, seperti dalam praktek ibadah, dan kaifiyah salat subuh. Terkait dengan syariah (fiqih), warga MTA tanpa ikatan pada salah satu mazhab. Landasan hukum yang dipedomani dan dilaksanakan oleh warga MTA harus bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadits. Meskipun demikian warga MTA tidak berarti anti atau tidak mengikuti ajaran mazhab tertentu, tetapi dalam implementasinya ke syariatan (fiqih) jika berkiblat imam mazhab tertentu, maka harus dirujuk dulu bagaimana ketetapan dalam Al Qur’an dan Al Hadits terhadap sustu hukum yang hendak dilakukannya, seperti tentang salat, puasa, zakat, haji, nikah, dan sebagainya. Berdasarkan faham keagamaan yang dikembangkan Majlis Tafsir Al Qur’an (MTA) di atas memberikan deskripsi bahwa betapa ketat dan kuatnya paham keagamaan warga MTA, yakni tidak sama sekali berani berpedoman dalam keagamaannya selain pada Al Qur’an dan Al Hadits. Dengan dasar kedua hal itulah yang menjadikan warga MTA oleh pihak lain, yang belum memahaminya, diberikan kesan dan stigma sebagai kelompok yang keras dan ekslusif Padahal sebenarnya paham yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh warga MTA itu benar-benar berupaya senantiasa sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Al Hadits. Kemudian jika dulu distigmakan oleh pihak lain bahwa warga MTA itu sebagai kelompok ingkarussunah, ternyata dalam tatanan kehidupan dan pahamnya pun tidak lepas dari tuntunan Al Hadists pula. Munculnya stigma-stigma negatif terhadap paham yang dikembangkan MTA itu tidak bisa terlepas dari kiprah tokoh pendirinya yang terkesan keras dan lugas. Hal itu dimungkinkan pemahaman terhadap Al Qur’an dan implementasinya cenderung murni (apa adanya). Sehingga bagi masyarakat non warga MTA yang berbeda paham muncul rasa tidak simpati atau bahkan memusuhi. Selain itu dimungkinkan pula metode dakwah yang lugas oleh para ustadz waktu itu. Namun, setelah era reformasi dewasa ini eksistensi dan paham yang dikembangkan oleh MTA mulai dipahami oleh pihak lain. Sehingga MTA makin hari semakin berkembang pesat hingga hampir keseluruh wilayah

26

Indonesia. Hal itu merupakan bukti bahwa bahan yang kembangkan MTA itu pada dasarnya sama dengan paham yang dikembangkan oleh kelompok lain. C. Kelompok Syahadatain 1. Sejarah Singkat Secara nasional Kelompok Jamaah Syahadatain telah terdaftar di Departemen Agama urutan ke-56 dengan nomor administrasi D.III/OT.014/174/2001 tanggal 8 Mei 2001. Sedangkan di Departemen Dalam Negeri telah didaftarkan pada tanggal 28 Maret 2001 dengan Nomor Surat 05/B/DPP/III/2001 dan diterima keberadaannya berdasarkan Surat Nomor Inventaris : 39/D.I/IV/2001. Dalam surat ini dijelaskan sifat kekhususan adalah Kesamaan Agama Islam dengan nama organisasi Jamaah Asy Syahadatain Indonesia. Keberadaan Syahadatain sebagai kelompok keagamaan yang berada di Kabupaten Banyumas ini berasal dari Cirebon Provinsi Jawa Barat. Kelompok ini berdiri pada tahun 1945 di Kabupaten Banyumas tepatnya di Desa Purbadana Kecamatan Kembaran Purwokerto. Proses berdirinya berawal kepulangan Kyai Husein (almarhum) dari Pondok Pesantren Tebuireng (Jamsaren) Provinsi Jawa Timur dan melanjutkan untuk memperdalam ilmu agama ke Cirebon tepatnya pada Kyai Abah Umar dan Abah Ismail. Pada saat belajar untuk memperdalam inilah Kyai Husein aktif dipengajian yang didirikan oleh Kyai Abah Umar dengan nama pengajian AsySyahadatain.34 Berdirinya kelompok Syahadatain di Desa Purbadana adalah diawali dengan pendirian masjid Syahadatain oleh Kyai Husein yang didukung oleh

34

Pada saat Kyai Husein (almarhum) berangkat ke Cirebon ditemani oleh Kyai Abdul Shomad dan bersama-sama berguru pada Abah Umar dan Abah Ismail. Namun demikian, setelah pulang keduanya tidak memiliki pemahaman yang sama dalam pengembangan agama melalui dakwah. Kyai Abdul Shomad memilih untuk tidak mengembangkan Syadatain melainkan lebih mengembangkan Tarekat Syadzaliyah dan berdakwah ke berbagai daerah. Kedua Kyai muda tersebut pada akhirnya harus berpisah untuk membawa misi yang berbeda, yaitu Kyai Husein lebih memilih Syahadatain untuk menerapkan metode berdakwah dan menganggap sebagai kelompok yang mempertahankan organisasi Nahdlotul ‘Ulama (istilahnya NU yang konsekuen), sedangkan Kyai Abdul Shomad memilih berdakwah dengan “gaya” NU sebagaimana yang dikembangkan oleh NU umumnya.

27

adiknya (Kyai Mustangin)35 dan putra-putranya. Proses pendirian masjid ini tidak dipermasalahkan oleh warga setempat meskipun tidak jauh dari masjid Syahadatain terdapat masjid yang lebih banyak dikunjungi ketika shalat Jum’at. Menurut Kepala Desa (Bapak Warsito) keberadaan masjid Syahadatain tidak mengganggu lingkungan sekitar,36 baik pada saat melakukan kegiatan Dzikir/Tahlil dan Yasin setiap Kamis malam jum’at maupun tawasulan setiap hari Minggu malam Senin. Perkembangan kelompok Syahadatain untuk wilayah Desa Purbadana tidak terlalu pesat, hal ini dikarenakan proses ”ritual” yang diselenggarakan ketika dzikir, Tahlil maupun Tawasulan terlalu lama sehingga peminatnya tidak banyak. Menurut Warsito, bahwa keengganan anggota masyarakat untuk tidak mengikuti lebih dikarenakan tidak kuat mengikuti acara ”ritual” dzikir maupun tawasulan. Apabila dilihat dari aspek ibadah shalat tidak ada masalah dan bisa diikuti oleh seluruh umat Islam.37 Jumlah anggota jamaah kelompok Syahadatain pada awalnya hanya pada lingkup keluarga Kyai Husein, namun demikian dalam perkembangannya telah diminati oleh beberapa orang dari berbagai wilayah di luar Kecamatan Kembaran. Secara administrasi tidak terdapat jumlah yang pasti, hanya saja menurut Ahmadi (Anggota sekaligus putra Kyai Mustangin) jumlah jamaah sekitar 200 orang, hal ini akan terlihat ketika penyelenggaraan acara ”Rajaban” dan acara besar lainnya yang melibatkan seluruh anggota jamaah. 2. Paham Keagamaan Sumber ajaran yang dipedomani oleh warga Jamaah Kelompok Syahadatain sama dengan umat Islam pada umumnya, yaitu berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits atau Ahlul Sunnah wal Jamaah. Selain kedua dasar utama

Kyai Mustangin adalah adik kandung Kyai Husein yang memiliki kemiripan dari berbagai aspek, terutama dalam aspek fisik. Kyai Mustangin ini secara otomatis menjadi pimpinan Syahadatain setelah Kyai Husein meninggal dunia pada bulan Maret 2008. 36 Dari hasil pengamatan, bahwa jumlah jamaah shalat jum’at kurang dari 30 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Adapun jamaah yang shalat jum’at lebih banyak dari wilayah yang cukup jauh sehingga kebanyakan mereka memakai kendaraan roda dua, sedangkan anggota masyarakat sekitar lebih memilih shalat jum’at di masjid umum. 37 Anggota kelompok Syahadatain termasuk golongan usia yang telah lanjut dan sudah berkeluarga, meskipun ketika shalat terlihat anak muda usia yang berjamaah dan berjubah putih. Sementara itu, orang tua Warsito sebagai Kepala Desa termasuk pengikut setia kelompok Syahadatain.

35

28

tersebut juga mengikuti paham Sunni yang melekat pada organisasi Nahdlotul ’Ulama. Bagi Kelompok Jamaah Syahadatain, bahwa Al Qur’an dan Al Hadits itu sebagai sumber utama yang paling agung, akan tetapi untuk menambah amalan-amalan ibadah lainnya dibutuhkan pedoman lain yang melekat pada guru atau berusaha menjalankan amalan seperti yang dijalankan oleh gurunya. Menurut H. A. Mawardi yang menjadi pengikut sejak tahun 1972 bahwa ajaran yang dijalankan oleh anggota kelompok Syahadatain adalah sebagaimana yang dilakukan dan diajarkan oleh guru pendahulunya di Cirebon dengan tidak mengurangi sedikitpun dan ajaran tersebut sama dengan yang dijalankan oleh anggota jamaah Nahdlotul ’Ulama (NU). Oleh karena itu, kelompok ini merasa kelompoknya adalah pengikut NU yang konsisten. Hal ini dilihat dari misi utamanya adalah mengistiqomahkan masalah sunnah, seperti selalu bersorban putih, selalu menjalankan sunnah Rowatib dan selalu menjalankan shalat sunnah Dhuha dan Tahajjud. Sebagai pelengkap untuk melakukan amalan ibadah setelah shalat fardlu digunakan buku pedoman yang diberi nama Aurod Asy-Syahadatain. Buku ini berisi tentang bacaan sebelum melakukan shalat fardlu (puji-pujian), do’a buka puasa sebagaimana yang dibaca umat islam lainnya, niat shalat sunnah,38niat shalat fardlu dan beberap do’a pada umumnya. Selain niat dan do’a di atas, buku ini juga menuntun jamaah untuk melakukan wirid dengan nama Aurod Ati Saalim yang diawali dengan Syahadat 3 kali, istighfar 100 kali, Dzikir 100 kali, Alloh 100 kali, Huu 100 kali yang dilanjutkan dengan kalimat Huwalloohu ahad …. Sampai surat al Ikhlas selesai.. Bacaan dilakukan setelah shalat fardlu habis maghrib dan isya terutama malam Jum’at. Sedangkan bacaan lainnya yang diberi nama tawasulan dibaca setiap hari Ahad malam Senin.39
Dalam pelaksanaan shalat sunnah ini terdapat shalat sunnah Daf’il Balaa’ dan shalat Isyrooq yang dilakukan dengan dua rokaat. 39 Pelaksanaan pembacaan Aurod ATi Salim setiap malam jum’at adalah dikarenakan setiap hari kamis sore Ruh orang yang sudah meninggal datang kepada keluarganya, sehingga diupayakan setiap sejak sore sebelum maghrib sudah mulai dibacakan wirid dan do’a-do’a agar ruh yang datang merasa senang. Sedangkan untuk tawasulan dilakukan setiap hari ahad (minggu) malam senin dikarenakan senin adalah hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sehingga harus selalu diingat dan dibacakan do’a dengan tawasul agar limpahan rahmat, berkah dan hidayahnya melimpah kepada umatnya terutama kepada yang membaca.
38

29

Baik pujian maupun dalam membaca wirid dan bacaan lainnya tidak semuanya dalam bentuk bahasa Arab melainkan juga bahasa Jawa. Khusus untuk pujian, sebelum melaksanakan shalat fardlu berbeda lafadz atau bacaanbacaan yang dibaca. Misalkan pada saat akan shalat dhuhur pujian yang dibaca diawali dengan kalimat Robbanaa Dholamna….., dan pada shalat ashar pujian dalam bentuk shalawatan yang diawali dengan kalimat Alloohumma Sholli ‘Alaa nuuril anwaari. a. Aqidah Terkait dengan akidah yang dikembangkan oleh kelompok Syahadatain tidak berbeda dengan umat Islam lainnya. Hal ini terlihat dari keyakinan terhadap rukun iman yang enam, yaitu iman kepada Allah SWT, malaikat, rasul, kitab, hari akhir, qodha dan qodar. Menurut H. A. Mawardi, bahwa aqidah yang dikembangkan dalam kelompok Syahadatain sama sekali tidak ada perbedaan, yaitu tetap menganut pada keyakinan yang 6 sebagai rukun iman. Keyakinan ini tidak lagi dibicarakan dalam kelompoknya dikarenakan sudah pasti dan tidak akan ada perubahan. Keyakinan terhadap rukun iman ini juga nampak dari lafadz-lafadz yang dibaca setelah shalat wajib dengan menempatkan Malaikat setelah para Nabi. Sebagai contoh ketika shalat maghrib selesai (Aurod Ba’dal Maghrib) dilakukan bacaan Syahadat 3x, Istighfar 7 x, Subhanalloh 3 x, Al Hamdulillah 3 x, Allohu Akbar 3 x, Dzikir 11 x, shalawat 7 x dilanjutkan dengan bacaan do’a dengan wasilah kepada para Rasul dan juga para Malaikat.40 b. Syariat Rukun Islam yang menjadi rujukan atau yang dipedomani oleh kelompok Syahasdatain juga sama dengan umat Islam lainnya, yaitu Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Syahadat yang dikenal adalah Syahadat Tauhid untuk mengesakan Allah SWT dan syahadat Rasul untuk meyakinan utusan Allah SWT. Begitu juga dalam persoalan shalat, kelompok Syahadatain berpegang pada adanya shalat wajib (fardlu) dan

40

Aurod Asy-Syahadatain, Buku Pedoman kelompok Syahadatain.

30

shalat sunnah. Untuk shalat fardlu dilakukan sama dengan umat Islam lainnya, yaitu 5 waktu (Isa, Subuh, Luhur, Asar dan Maghrib). Sedangkan untuk shalat sunnah terdapat shalat sunnah yang tidak dikenal oleh ummat Islam pada umumnya, yaitu shalat sunnah Daf’ul Balaa’ yang dilakukan setelah shalat Isya dengan jumlah rakaat 2 rakaat. Dalam shalat sunnah Daf’ul Balaa’ ini terdapat aturan-aturan tertentu, yaitu bacaan setelah shalat adalah Syahadat 3 kali, istighfar 7 kali dan surat-surat pendek lainnya, seperti Alqodr, Ayat Kursi, Al Fiil. Pembacaan surat diawali dengan kalimat Allohumma bihaqqi Alam Taro…. Dilanjutkan shalawat sampai ke khalifah dan dilanjutkan dengan kalimat bahasa Jawa seperti Abdi Tiyang odo tiyang salah nuhun gendul nuhun Syafaat kanjeng Nabi Muhammad SAW…… Menawi wonten bala fitnah saking kilen tidingna ngilen( terus) nyebul ngulon. Rangkaian selanjutnya dalam melakukan shalat tolak bala’ ini adalah menghadap ke barat (Madep Ngulan) dengan membaca surat Al Qodr dilanjutkan Laailaahaillallah Muhammadurrosuulullah menawi wonten bala saking ler sapunana ngaler – nyebul ngalor. Hal ini dilanjutkan dengan menghadap ke timur (mdep ngetan), madep ngidul, dan madep ngulon dangak mundur dengan bacaan yang tidak jauh berbeda. Dalam shalat wajib secara umum tidak ada perbedaan yang berarti. Hanya saja ketika shalat Jumat terdapat perbedaan yang nampak dari keumuman yang dilakukan oleh masyarakat NU. Perbedaan tersebut antara lain jumlah jamaah shalat Jum’at tidak harus 40 orang sebagaimana yang dilakukan di masjid NU umumnya, Jamaah kebanyakan berasal dari luar wilayah desa Purbadana dan shalat sunnah qobliyah maupun ba’diyah dilakukan secara berjamah. Puasa, zakat dan haji yang dijadikan pedoman sekaligus dilaksanakan oleh kelompok Syahadatain tidak berbeda dengan masyarakat Islam pada umumnya, yaitu puasa wajib dilaksanakan ketika bulan Ramadhan dengan mengikuti pemerintah untuk mengawali dan mengakhiri. Adapun untuk shalat Iedul fithri maupun Iedul Adha dilaksanakan di Masjid Syahadatain. Begitu juga zakat yang dilakukan adalah zakat fitrah sebelum shalat Iedul

31

Fithri dan Haji diwajibkan bagi yang memiliki kemampuan secara finasial dan fisik. D. Organisasi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Kabupaten Pati 1. Sejarah Singkat Eksistensi LDII bermula sejak masih bernama YAKARIS sekitar tahun 1974-an. Dari nama YAKARI mengikuti perkembangan secara nasional berubah menjadi LEMKARI yang pada awalnya dirintis (didirikan) oleh Bapak Haji Suyono, Misman, dan Bapak Sudjadi. Ketiga orang tersebut bersedia merintis YAKARI di Kabupaten Pati atas adanya motivasi dari Bapak Sarjono dan Bapak Tulus. Ketika masih bernama YAKARI kepemimpinan dipegang oleh Bapak H. Anwar Muhammadin dan Bapak H. Jasno. Kemudian ketika berubah menjadi LEMKARI, kepemimpinan dipegang oleh Bapak Drs. Suratno dan Bapak Drs. Juhadi. Jumlah anggota LDII se-Kabupaten Pati pada tahun 1980-an sekitar 7.000 orang. Kemudian perkembangan selanjutnya sampai dengan tahun 1990an jumlah anggota sekitar 20.000 orang dan hingga tahun 2008 ini diperkirakan mencapai 25.000 orang. Pada tahun 1980 eksistensi anggota LDII berada di wilayah Kecamatan dan pada tahun 1990 tumbuh berkembang di 20 wilayah kecamatan hingga sekarang. 2. Paham Keagamaan Sumber ajaran yang dipedomani oleh anggota LDII adalah berupa Al Qur’an dan al Hadits. Kedua sumber tersebut senantiasa menjadi landasan anggota LDII dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, bagi anggota LDII harus secara sungguh-sungguh mau mendalami, memahami dan mengamalkan ajaran yang terkandung dalam kedua ajaran tersebut. Bagi anggota LDII di Kabupaten Pati untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan tentang agama selain bersumber Al Qur’an dan Al Hadits ternyata juga diajarkan beberapa kitab tafsir Ibnu Abbas, Kutubussittah, Shahih Buhori, dan Sohih Muslim.

32

a. Aqidah Akidah yang dianut oleh anggota LDII tidak berbeda dengan paham akidah yang dianut oleh umat Islam Indonesia pada umumnya, yakni paham yang dikembangkan Ahlussunnah wal Jamaah, seperti mereka juga meyakini bahwa rukun iman itu terdiri dari iman kepada Allah SWT, iman kepada Malaikat Allah, iman kepada Rasul Allah, iman kepada hari akhir dan iman kepada qodlo dan qodar. b. Syariah Dalam pembahasan syariah yang dipedomani oleh angota LDII di Kabupaten Pati di sini hanya difokuskan kepada aspek shalat, puasa, zakat, haji dan nikah. Dalam masalah shalat, anggota LDII melaksanakan shalat wajib 5 waktu dan melaksanakan shalat sunnah, seperti shalat sunnah Tahajud, Dhuha dan Hajat. Khusus untuk shalat subuh tidak menggunakan bacaan qunut dan ketika shalat Jum’at menggunakan dua adzan dengan khutbah menggunakan teks dalam bahasa Arab, hal ini juga dilakukan ketika shalat ‘Idain yang dilaksanakan di lapangan dengan khutbah menggunakan teks bahasa Arab. Sedangkan untuk shalat sunnah Tarawih dilakukan dengan 8 rakaat yang ditambah witir 3 rakaat. Puasa yang dilakukan oleh anggota LDII dalam bulan Ramadhan mengikuti ketetapan Pemerintah, baik pada awal maupun akhir Ramadahan. Sedangkan pada rukun Islam yanglain, yaitu Zakat bagi anggota LDII tidak berbeda pandangan dengan ummat Islam Indonesia umumnya, yakni bahwa zakat itu wajib dikeluarkan bagi orang yang memiliki harta benda yang sudah mencapai batas ketentuan (nishab). Haji bagi anggota LDII ditekankan untuk melaksanakannya apabila sudah memiliki persyaratan maupun kemampuan. Kemudian tentang haji amanah bagi anggota LDII diperbolehkan dengan syarat pelaku haji amanah pernah melaksanakan ibadah haji untuk dirinya. Nikah bagi anggota LDII senantiasa ditekankan agar ketika melakukan pernikahan di KUA. Hal ini dikarenakan dengan nikah di kantor KUA berarti sudah syah secara formal administrasi (Pemerintah) maupun secara agama.

33

Meskipun demikian bagi anggota LDII berpandangan bahwa nikah secara agama saja (sirri) adalah syah hukumnya. E. Organisasi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Kabupaten Grobogan 1. Sejarah Singkat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Kabupaten Grobogan tidak diketahui secara pasti kapan mulai muncul. Hal ini dikarenakan anggota LDII yang masuk ke wilayah Grobogan khususnya di wilayah Purwodadi sebagai pusat kegiatan tingkat Kabupaten tidak menetap. Menurut Sarwo anggota asal Wonogiri bahwa, sejak datang ke Purwodadi pada tahun 1974 sudah ada LDII dengan nama LEMKARI, hanya saja pada saat itu tidak diketahui persis kapan pertama kali muncul. Keberadaan LEMKARI pada tahun 1974 yang diketahui oleh Sarwo diakui oleh Bambang Setyobudi, hanya saja tempatnya berada di wilayah Kelurahan Brambangan bukan kelurahan Purwodadi seperti yang sekarang ini dan benarbenar eksis di wilayah Kelurahan Purwodadi tepatnya di RT 07 RW XXI Jetis Selatan Kelurahan Purwodadi Kecamatan Purwodadi antara tahun 1982. Menurut Moh. Hasym, S.Pd. (Guru Sejarah pada SMAN 1 dan SMA PGRI Purwodadi)41 embrio munculnya LDII di Kelurahan Purwodadi sebelum tahun 1982 dan pada saat itu masih sangat eksklusif. Hal ini tergambar dari peristiwa tahun 1982 di mana ada beberapa siswa dan warga yang shalat di Masjid milik LDII dipel/dibersihkan setelah selesai melakukan shalat. Kejadian di atas berkembang pada kejadian yang lain, yaitu tidak maunya anggota LDII menjemur pakaian bersamaan dengan jemuran milik warga. Kondisi seperti inilah yang pada saat itu LDII sulit untuk berkembang. Menurut Drs. Suharman, bahwa tidak maunya anggota LDII menjemur pakaian bersama warga bukan karena menganggap hasil cucian warga masih najis, melainkan kepantasan pakaian yang dijemur, yaitu menjemur lebih baik di dalam atau di belakang rumah, karena apabila di dalam atau dilihat orang lain tidak pantas.

41

Lokasi pusat aktivitas LDII berada di belakang gedung SMAN 1, SMA PGRI, dan juga SMA Nasional.

34

Keberadaan LDII ini semakin mengalami kemajuan yang cukup pesat setelah era reformasi, yaitu dapat merehab Masjid, menambah bangunan untuk perkantoran dan gedung pertemuan atau aula. Kemajuan ini juga terlihat dari aktifitas yang dikembangkan, yaitu dari pengajian rutin setiap hari Senin, Selasa, dan Jum’at berkembang dengan penambahan pengajian cabe rawit untuk anakanak dan pengajian umum dalam rangka memperingati hari besar Islam. Persebaran pengurus maupun anggota LDII Kabupaten Grobogan ini cukup luas hampir di setiap Kecamatan yang ada di Kabupaten Grobogan. Begitu juga persebaran pengurus maupun anggota yang aktif dalam setiap kegiatan di pusat kegiatan LDII Kabupaten Grobogan terutama dalam pelaksanaan shalat Jum’at berasal dari berbagai wilayah desa dan kecamatan yang ada di Kabupaten Grobogan. Kekompakan dan soliditas inilah yang menggambarkan LDII Kabupaten Grobogan sangat kuat dan cukup dikenal oleh kalangan masyarakat. Dan anggota masyarakat merasa terbantu oleh pengurus LDII adalah pada saat banjir melanda wilayah Kecamatan Purwodadi dimana sebagian masyarakat mengungsi di aula LDII dengan diberi makan nasi bungkus maupun mie rebus. 2. Paham Keagamaan Lembaga Dakwah Islam Indonesia sebagai lembaga yang didirikan pada tanggal 3 januari 1972 memiliki tujuan yang telah dirumuskan dalam musyawarah nasional. Tujuan LDII adalah meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang islami serta turut serta dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya...(Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga LDII Bab II pasal 5. Dari tujuan meningkatkan kehidupan yang islami inilah LDII mendasarkan paham keagamaannya pada al Qur’an dan al Hadits. Menurut Drs. Suharman, LDII tidak mengenal paham keagamaan seperti yang dikenal oleh ummat Islam pada umumnya, yaitu Ahlussunnah wal Jamaah karena yang dikembangkan atau diajarkan dalam ajaran agama adalah hanya mendasarkan pada al Qur’an dan al Hadits. Dengan demikian, LDII hanya berprinsip pada ajaran yang diambil hanya dari al Qur’an dan al Hadits. Hal ini telah ditetapkan dalam program umum LDII pada poin Maksud dan Tujuan yang hendak dicapai, yaitu meningkatkan penghayatan dan pengamalan ajaran agama

35

Islam dengan bersumber pada al Qur’an dan Sunnah Rosululloh Sholallahu ‘Alaihi Wassallam a. Aqidah Akidah yang dianut oleh anggota LDII tidak berbeda dengan akidah yang dianut oleh umat Islam Indonesia pada umumnya, yakni berpegang pada rukun iman yang berjumlah 6. Adapun keenam rukun iman tersebut adalah iman kepada Allah SWT, iman kepada para Malaikat Allah, iman kepada Rasul Allah, iman kepada hari akhir dan iman kepada qodlo dan qodar. Menurut Sarwo, bahwa rukun iman ini tidak bisa ditambah maupun dikurangi dan harus tetap dipertahankan karena sesuai dengan al Qur’an dan Assunah, sehingga apabila akan merubah merupakan dosa. b. Syariah Pada bidang syariah yang dipedomani oleh angota LDII di Kabupaten Grobogan berpegang pada rukun Islam yang berjumlah 5, yaitu Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat, dan Haji. Di samping itu, berbagai ajaran yang ada di dalamnya juga menjadi sebuah kajian, seperti masalah nikah. Shalat yang dilakukan oleh anggota LDII adalah shalat wajib dan shalat sunnah yang benar-benar diajarkan atau dilakukan oleh Rasululloh SAW. Adapun dalam pelaksanaannya sama dengan umat Islam lainnya. Contoh dari pelaksanaan Syariah adalah ketika menjalankan shalat Jum’at yang didahului dengan adzan pertama + 5 menit sebelum adzan ke dua. Sebelum Adzan kedua dikumandangkan, terlebih dahulu Khotib naik mimbar dan dilanjutkan khutbah dengan bahasa Arab, hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah apabila berkhutbah dengan menggunakan bahasa Arab. Setelah khutbah pertama selesai, Khotib duduk bersila di atas sajadah dan berdo’a + 45 detik untuk kemudian dilanjutkan dengan khutbah kedua yang juga dengan menggunakan bahasa Arab. Khutbah menurut mereka adalah rangkaian shalat sehingga tidak boleh diselipi bahasa selain bahasa Arab. Setelah shalat jum’at selesai, Khotib berdiri dan ceramah dengan menggunakan bahasa Indonesia + 15 menit. Di tengah-tengah ceramah, para jamaah melemparkan uang ke arah depan sebagai uang infaq/shadaqoh.

36

Menurut Suharman, bahwa melempar uang ini untuk menunjukan bahwa seberapapun uang yang dimiliki untuk diinfakan tidak perlu malu berapa jumlahnya, yang paling penting adalah keikhlasan beramal. Hal ini berbeda apabila infaq menggunakan kotak infaq di mana selain akan mengganggu pelaksanaan shalat Jum’at juga masih ada rasa malu untuk berinfaq apabila yang diinfaqkan nilainya sedikit. Rukun Islam lainnya yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari selain Shalat adalah Puasa, Zakat, dan Haji. Puasa yang dilakukan adalah puasa Wajib setiap bulan Ramadhan dengan mengikuti Pemerintah untuk penentuan awal dan akhir waktu, Zakat yang ditekankan adalah zakat fithrah sebelum shalat ‘Idul Fithri dan Haji yang dilaksanakan adalah sebagaimana umat Islam lainnya. Menurut Suharman, bahwa untuk haji tetap mengikuti yang dipolakan oleh pemerintah sampai ke tanah suci, hal ini disampaikan untuk menepis bahwa jamaah LDII setelah sampai di tanah suci akan memisah dengan jamaah dari Indonesia dan akan bergabung dengan jamaah khusus LDII. Persoalan lain di luar rukun Islam di atas adalah masalah nikah. Persoalan ini perlu mendapat kejelasan dikarenakan terdapat opini di masyarakat, bahwa anggota LDII apabila akan menikah tidak melalui KUA, melainkan dinikahkan dalam lingkungan LDII. Menurut para pengruus LDII Kabupaten Grobogan, bahwa anggota LDII apabila akan menikah sama dengan umat Islam lainnya, yaitu melalui RT sampai ke KUA. Hal ini dibenarkan oleh Bambang sebagai Ketua RT, bahwa warga LDII apabila akan menikah terlebih dahulu meminta surat pengantar dari RT, meskipun demikian tetap dinikahkan lagi oleh kelompoknya. Bagi Bambang tidak ada persoalan karena itu hak mereka. F. Kelompok Jamaah Tabligh 1. Sejarah Singkat Eksistensi kelompok Jamaah Tabligh mulai tahun 1979, yakni di awali dengan kedatangan rombongan para Da’i dari Syuriah dalam rangka mengadakan dakwah selama sekitar 15 hari. Rombongan tersebut pertama kali datang ke masjid

37

Al Husna desa Prangkoan Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang. Kemudian dakwah dilanjutkan ke masjid Kauman Payaman Tuguran dan Tegalrejo. Tokoh utama yang mula-mula mengembangkan Jamaah Tabligh adalah H. Ahmad Haryanto. Pada tahun 1980 ia sudah mengikuti rombongan Jamaah Tabligh di atas ke Yogyakarta. Jejak H. Ahmad Haryanto itu kemudian diikuti oleh K.H. Ahmad Muhlasin yang merupakan pengasuh pondok pesantren Sirojul mukhlasin di Payaman Kecamatan Secang Kabupaten Magelang. Kedua orang tersebut di atas (H. Ahmad Haryanto dan K.H. Ahmad Muhlasin) yang selanjutnya sebagai tokoh yang sekaligus penanggungjawab perkembangan kegiatan Jamaah Tabligh di daerah Kabupaten Magelang dan sekitarnya. Hingga kini sentral aktifitas adalah di Pondok Pesantren Jamaah Tabligh di Payaman I dan Kerincing II. Pada kedua pondok pesantren tersebut merupakan lembaga pendidikan yang pada intinya adalah kegiatan tahfidz al Quran dan ta’lim. Kemudian setiap bulan Robiul Awal sebagian santri dan alumni melakukan khuruj (dakwah keluar) selama 10 hari dan pada setiap bulan Sya’ban selama 40 hari. Kegiatan kelompok Jamaah Tabligh lebih terlihat gigih mulai tahun 1991 yang berpusat di pondok pesantren Sirojul Mukhlasin Payaman. Setelah mengalami perkembangan anggota (jamaah) secara pesat, maka pada tahun 1997 kegiatannya dipusatkan di pondok pesantren Sirojul Mukhlasin II Kerincing Kecamatan Secang.42 2. Pedoman dan Kegiatan Jamaah Tabligh43 a. Pedoman Ada pedoman-pedoman yang melandasi setiap kegiatan dakwah bagi warga Jamaah Tabligh, yaitu: Empat hal yang harus diintensifkan, yaitu 1). Dakwah IlaAllah 2). Ta’lim wa Ta’lim 3). Dzikir wal Ibadah 4). Khidmah Empat hal yang harus dikurangi, yaitu:
42 43

Hasil wawancara dengan ustadz Moh. Nursalim dan ustadz Ismail pada tanggal 30 Mei 2008. Op.Cit., Halaman 16-17.

38

1). Masa makan dan minum 2). Masa tidur dan istirahat 3). Masa keluar dari masjid 4). Masa berbicara sia-sia Empat hal yang harus dijaga, yaitu: 1). Taat kepada pimpinan selama pimpinan taat pada Allah dan Rasul 2). Mendahulukan amal ijtima’ daripada amal pribadi 3). Menjunjung tinggi kehormatan masjid 4). Perasaan sabar dan tahan uji Empat hal yang harus ditinggalkan, yaitu: 1). Mengharapkan sesuatu selain dari Allah 2). Meminta-minta sesuatu selain kepada Allah 3). Memakai barang orang lain tanpa seijin pemiliknya 4). Mubazir dan boros. Empat hal yang tidak boleh disentuh, yaitu: 1). Tidak boleh membicarakan masalah politik baik dalam maupun luar negeri 2). Tidak boleh membicarakan masalah status sosial (derajat, pangkat dan kedudukan) tetapi yang ada hanya tawakkal. 3). Tidak boleh membicarakan masalah khilafiyah atau perbedaan pendapat dalam masalah agama. 4). Tidak boleh meminta-minta dana dan membicarakan aib masyarakat. b. Kegiatan Ada beberapa kegiatan yang dilakukan Jamaah Tabligh selain pendidikan dalam pondok pesantren (tahfidz dan ta’lim). Adapun kegiatan tersebut adalah : 1). Bulan Robiul Awal (Maulud) Kegiatan ini dilakukan selama 10 hari secara berkeliling, baik di pulau jawa maupun luar jawa. Pelaksana kegiatan ini selain warga pondok pesantren juga diikuti para alumni manapun siapa saja yang mau mengikutinya 2). Bulan Sya’ban (Ruwah)

39

Pada bulan sya’ban kegiatan tabligh keliling (khuruj) dilaksanakan selama 40 hari. Adapun pelaksana kegiatan ini sama dengan pelaksana kegiatan pada bulan Robiul Awal di atas. 3). Malam Jum’at Kegiatan pengajian akbar yang diselenggarakan Jamaah Tabligh setiap malam jum’at ini tidak hanya diikuti oleh warga Jamaah Tabligh saja, tetapi dari orang-orang non Jamaah Tabligh di Kerincing dan sekitarnyapun banyak yang mengikutinya. Kegiatan ini dilaksanakan sejak sore sehabis shalat Ashar hingga pagi hari (Subuh). 4). Ba’da Maghrib Kegiatan silaturahmi pada setiap ba’da maghrib ini dilakukan oleh warga pondok pesantren Kerincing. Adapun bentuk kegiatan silaturahmi itu adalah ke rumah-rumah warga dekat masjid yang berada di sekitar pondok pesantren.

40

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

Secara umum interaksi sosial aliran Islam minoritas di tengah-tengah masyarakat di Jawa Tengah cukup kondusif, baik interaksi ini dilihat dari interaksi sosial keagamaan, interaksi sosial kemasyarakatan maupun interaksi sosial politik (Pemerintah). Indikatornya adalah tidak adanya gejolak yang mengarah pada perpecahan di tengah-tengah masyarakat yang diakibatkan oleh adanya aliran Islam minoritas tersebut atau terjalinnya kerjasama kelompok aliran dengan masyarakat dalam kegiatan pendidikan, ekonomi, kemasyarakatan, dan kesehatan. Sikap kondusifitas masyarakat Jawa Tengah ini tampak dari adanya keterbukaan (Inclusivitas) bagi anggota aliran maupun bagi warga masyarakat sekitar. Meskipun dalam beberapa prinsip tetap berpegang pada ajaran yang diyakininya, namun demikian dalam interaksi sosial kemasyarakatan dan interaksi sosial politik tetap berjalan baik. Interaksi sosial kemasyarakatan dan interaksi sosial politik mempengaruhi masyarakat Jawa Tengah menjadi kondusif. Namun demikian, untuk mengetahui lebih mendalam bagaimana sebenarnya interaksi sosial keagamaan, interaksi sosial kemasyarakatan maupun interaksi sosial politik antara aliran islam minoritas dengan pemerintah dalam dilihat pada pembahasan yang lebih terfokus. A. Interaksi Sosial Aliran Islam minoritas di beberapa Daerah di Jawa Tengah 1. Interaksi Kelompok Aliran Syi’ah Persoalan yang sering terjadi di masyarakat terhadap aliran Syi’ah adalah persoalan interaksi, baik interaksi sosial dalam kaitanya dengan kegiatan sosial keagamaan, kegiatan sosial kemasyarakatan maupun kegiatan sosial dengan pemerintah/ sosial politik. Problema interaksi sosial yang terjadi pada aliran Syi’ah di wilayah Pekalongan ini adalah sebagai berikut:

41

a. Interaksi Sosial Keagamaan Interaksi sosial kelompok Syi’ah dengan masyarakat pada umumnya cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari pergaulan keseharian yang saling menyapa apabila bertemu di jalan antara anggota maupun keluarga pesantren Al Hadi dengan anggota masyarakat. Adanya anggota masyarakat yang membeli kue (roti) yang disediakan di rumah ketua/keluarga H. Ahmad Barakbah. Kegiatan rutin yang terbiasa terjadi dalam perilaku keseharian ini membawa implikasi pada kegiatan yang lain terutama pada kegiatan sosial keagamaan. Kegiatan sosial keagamaan yang bekerjasama dengan pemerintah desa adalah ketika melaksanakan penyembelihan hewan qurban. Menurut Bapak Bambang (Kepala Kelurahan Klego), bahwa setiap tahun dari keluarga H. Ahmad Barakbah selalu memberikan kambing qurban yang sudah disembelih dan diserahkan di kelurahan untuk dibagikan kepada anggota masyarakat sekitar. Adapun teknis pembagian sepenuhnya diserahkan kepada panitia yang berada di kelurahan. Kegiatan lain yang membawa kepada sebuah interaksi adalah ketika Ponpes Al Hadi mengadakan Peringatan Hari Besar Islam (Mauludan) dan peringatan hari pengangkatan Ali bin Abi Thalib seminggu setelah hari raya Haji. Pada peringatan ini pihak ponpes mengundang anggota masyarakat untuk ikut menghadiri acara tersebut terutama dalam kegiatan pengajian. Menurut salah seorang pengurus, bahwa dalam peringatan Mauludan biasanya dihadiri oleh Kepala Kelurahan dan memberikan sambutan. Adapun kegiatan rutin mingguan yang selalu diadakan dan melibatkan anggota masyarakat sekitar adalah Pengajian Ahad Sore. Dalam pengajian ini pihak Ponpes mengundang anggota masyarakat dan bertempat di Masjid Ponpes. Dari hasil evaluasi selama ini, anggota masyarakat yang datang antara 20 sampai 25 orang. Materi yang disampaikan adalah masalah keislaman, seperti masalah syari’at dengan metode ceramah dan dialog. Dalam pengajian ini sangat terbuka dan mempersilahkan siapa saja untuk datang tanpa ada unsur paksaan untuk mempengaruhi anggota masyarakat untuk memasuki aliran Syi’ah. Menurut H. Ahmad Barakbah, bahwa keluarga besar Syi’ah tidak akan pernah berusaha mempengaruhi masyarakat untuk masuk Syi’ah, apalagi dilakukan dengan cara

42

door to door. Itu adalah suatu pantangan, karena orang mau masuk Syi’ah bukan dari dakwahnya orang syi’ah melainkan karena kefahaman dan ketertarikan dengan semangat berislamnya. Kegiatan sosial keagamaan yang terjalin ketika anggota masyarakat maupun organisasi lain seperti Al Irsyad mengadakan walimahan dengan mengundang ponpes Al Hadi atau sebaliknya. Hubungan melalui kegiatan walimah ini cukup efektif untuk saling memahami dan mengerti tentang adanya perbedaan dalam beberapa ajaran dalam agama. Bagi kelompok Syi’ah yang terpenting dalam berinteraksi apapun bentuknya yang dibawa adalah Islamnya bukan nama kelompoknya. b. Interaksi Sosial Kemasyarakatan Pada dasarnya hubungan keluarga pondok pesantren Al Hadi dengan komunitas masyarakat sekitarnya sangat baik. Hal ini ditandai dengan tidak sedikitnya anggota masyarakat sekitar yang sering berhubungan, baik dalam persoalan bisnis, sosial kemanusiaan maupun persoalan keagamaan. Menurut Ustadz Barakbah, keterbukaan keluarga ponpes Al Hadi dengan anggota masyarakat ini ditandai dengan lokasi pondok dan rumah yang tanpa pagar dan terbuka kepada siapapun yang ingin memiliki kepentingan. Memang diakui pernah terjadi gesekan-gesekan dengan anggota masyarakat sekitar tahun 1998, akan tetapi gesekan tersebut dipicu oleh seseorang yang bermasalah dan tidak suka akan keberadaan ponpes. Pasca terjadinya gesekan terutama penyerangan beberapa anggota masyarakat yang terprovokasi terhadap pondok pesantren dan masjid di Wonotunggal Kabupaten Batang pada tahun 1999, kelompok Syi’ah lebih berhati-hati dan selalu mengadakan sosialisasi melalui berbagai kegiatan, seperti ikut menyemarakaan kegiatan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI, Menurut Bambang (Kepala Kelurahan Klego) bahwa setelah terjadinya pergesekan antara ponpes Al hadi dengan masyarakat sekarang ini komunikasi sudah dapat berjalan dengan baik dan hubungan sosial kemasyarakatan juga berjalan dengan baik. Masyarakat sudah tidak lagi membahas tentang bagaimana aliran Syi’ah perlu dilarang atau tidak, akan tetapi kerukunan yang dibangun

43

sekarang ini perlu dilestarikan, apalagi dilihat dari hubungan kemasyarakatan sudah baik. Hubungan sosial dengan masyarakat menjadi baik juga diungkapkan oleh salah seorang santrinya, bahwa Ketua RT setempat juga sering bermain ke pondok dan ngobrol dengan para santri dengan berbagai hal terutama apabila ada kegiatan berkaitan dengan lingkungan di RT. Begitu juga ketika RT maupun pihak kelurahan mengadakan kegiatan, maka pihak ponpes pun selalu datang dan iktu mengisi kegiatan. c. Interaksi dengan Pemerintahan/Sosial Politik Ustadz Ahmad Barakbah adalah pimpinan utama kelompok Syi’ah yang ada di Pekalongan, oleh karena itu segala sesuatu yang berkaitan dengan pihak luar ponpes, baik masyarakat maupun pemerintah selalu menjadi tokoh utama yang melayani atau yang berhubungan. Sebagai contoh, Ustadz juga berdialog dengan pihak kejaksaan ketika isu-isu Syi’ah menjadi sebuah isu yang sepihak. Hasil dari dialog ini membawa pada hubungan antara ustadz Ahmad Barakbah pribadi maupun atas nama keluarga besar ponpes Al Hadi dengan pihak pemerintah (kejaksaan) menjadi baik. Selain dengan pihak kejaksaan, Ustadz Ahmad Barakbah juga diundang oleh pihak Departemen Agama dalam berbagai acara terutama berkaitan dengan pondok pesantren. Dalam acara tersebut pihak ponpes Al hadi selalu datang meskipun kadang diwakili oleh salah satu pengrusnya. Namun demikian menurut Kakandepag Kota Pekalongan, bahwa pihak ponpes Al Hadi dalam beberapa acara yang terkait selalu datang apabila diundang, hanya saja dalam pertemuan itu mereka tidak aktif dalam berdialog. Ia hanya datang dan berbaur dengan tamu undangan lainnya sampai acara berahir. Pada tingkat kelurahan, pihak ponpes juga beberapa kali mendapat undangan untuk mengikuti kegiatan tertentu, seperti dalam upacara 17 Agustus maupun kegiatan karnaval atau kegiatan lainya. Menurut Lurah Klego, diakui bahwa setiap ada kegiatan yang mengundang pihak ponpes Al Hadi selalu didatangi dan menjadi peserta aktif. Hubungan komunitas Syi’ah dengan pihak kelurahan terahir adalah ketika anggota Syi’ah akan berangkat ke Iran pada

44

bulan Januari 2008. Pada saat persiapan pemberangkatan sekitar 10 orang anggota Syi’ah mengurus surat-surat secara prosedural melalui kelurahan. Hal yang sampai sekarang belum pernah bersentuhan adalah dengan peta perpolitikan yang ada di wilayah Pekalongan khususnya. Pihak Kelompok Syi’ah tidak pernah berhubungan maupun dihubungi oleh partai politik tertentu untuk ikut bergabung. Namun demikian, sebagai warga negara Indonesia yang harus taat pada pemerintahan, maka komunitas Syi’ah juga ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum maupun pemelihan daerah. Ketika ada pencoblosan, komunitas Syi’ah juga ikut mencoblos, hanya saja yang tidak dilakukan adalah ikut mengkampanyekan partai tertentu maupun kandidat tertentu. Untuk memberikan pemahaman dan kebebasan pada para santrinya yang sudah memiliki hak pilih, Ustadz hanya memberikan pendidikan politik melalui media Televisi. Manurut Ustadz Ahmad Barakbah, bahwa para santri sudah memiliki kemampuan tersendiri untuk memilih yang terbaik yang tingkat kemaslahatannya lebih tinggi daripada tingkat kemadhorotannya, sehingga tidak perlu ada pemahaman maupun penjelasan khusus tentang partai maupun figur yang harus dipilih. Ustadz Ahmad Barakbah tidak pernah sekalipun mengarahkan atau mengajak para santrinya untuk cenderung ke partai tertentu atau memilih tokoh tertentu. 2. Interaksi Kelompok Majlis Tafsir Al Qur’an (MTA) a. Interaksi Sosial Keagamaan Perihal interaksi sosial keagamaan warga MTA dengan warga (umat Islam) sekitar maupun pemerintah setempat dapat dipahami dari beberapa kegiatan, yaitu pengajian umum, Juma’tan dan PHBI. Pada kegiatan pengajian umum setiap Ahad pagi yang diselenggarakan oleh MTA Pusat, ternyata pesertanya tidak hanya warga MTA saja, tetapi umat Islam pada umumnya pun bebas mengikutinya. Pengajian tersebut pesertanya senantiasa banyak, yakni diatas 6000 orang setiap minggu. Kemudian pemateri (penceramah) dalam kegiatan pengajian umum itu tidak selalu oleh Ustad Ahmad Sukino, tetapi sering mengundang tokoh agama dari luar, seperti Prof. Dr. Dinsyamsudin (tokoh Muhamadiyah), Ir. Solahuddin Wahid (tokoh NU) dan sebagainya. Jadi

45

pada kegiatan pengajian umum itu pimpinan MTA berupaya bisa mengundang tokoh agama dari luar. Mengenai materi pengajian umum yang diselenggarakan oleh MTA Pusat itu tergantung tema apa yang diminta atau sesuai kemauan pemateri. Tetapi yang jelas materi yang disampaikan pada pengajian umum itu bersifat umum juga (akidah, akhlak dan sejarah).44 Dari kegiatan pengajian umum tersebut memberikan deskripsi bahwa terdapat interaksi yang baik dan bahkan rutin antara warga MTA dengan umat lain. Hanya saja dalam hal itu pihak MTA lah yang senantiasa menyelenggarakan. Tetapi pada kegiatan yang diselenggarakan pihak lain, pihak MTA belum terlibat. Dalam kegiatan juma’tan, warga MTA ternyata juga melaksanakannya di masjid-masjid umat sekitarnya dimana warga MTA berada. Sehingga pada kegiatan Juma’tan tersebut memang bukan menjadi kendala bagi warga MTA untuk menyatu dan berinteraksi dengan umat lain. Kemudian pada kegiatan PHBI, interaksi yang terjadi ternyata belum terjadi ketingkat warga. Tetapi untuk kegiatan-kegiatan PHBI itu yang biasa terlibat masih pada tatanan pengurus, baik pada tingkat cabang, perwakilan maupun pusat.45 Realitas empirik menunjukan bahwa interaksi sosial keagamaan warga MTA dengan umat Islam lainnya memang masih relatif terbatas (sedikit), dan yang tampak jelas interaksinya pada kegiatan rutin pada pengajian umum Ahad pagi saja. Sedangkan untuk kegiatan sosial keagamaan lainnya, warga MTA masih belum tampak keterlibatannya.46 Berdasarkan realitas interaksi sosial keagamaan warga MTA di atas, menunjukan bahwa dalam perihal kegiatan sosial keagamaan warga MTA masih belum mencairkan diri untuk berinteraksi dengan umat lainnya. Hal itu dimungkinkan karena warga MTA masih belum bisa seirama dengan umat lain dalam hal pemahaman (tafsir) terhadap Al Qur’an, khususnya pada tatanan penghayan dan pengamalannya. Begitu juga sebaliknya, pihak (umat) lain tadi
44

Hasil wawancara dengan Ustadz Ahmad Sukino, pada tanggal 25 April 2008 Ibid. 46 Hasil wawancara dengan informan pada tanggal 25 April 2008
45

46

dimungkinkan pula telah terlanjur memberikan stigma bahwa kelompok MTA itu sebagai pengamal ajaran yang relatif keras, eksklusif dan sebaginya. Realitas sebagaimana di atas sejak paska era reformasi berangsur-angsur mulai tereleminasi dan kini bahkan dapat dibilang relatif sudah tidak lagi menjadi perihal yang dipergunjingkan lagi dalam kehidupan umat Islam sekitarnya (MTA). Walaupun demikian, bagi pihak yang tidak sepahampun masih ada komentar miring terhadap MTA. Hal itu wajar terjadi dalam kehidupan keagamaan umat Islam di Indonesia (khususnya), dimana ketidak sepahaman terhadap penafsiran ajaran dari sumber utama (Al Quran) merupakan dinamika yang kiranya sulit dihikangkan. Sebagai suatu prinsip yang senantiasa dipedomani oleh warga MTA dalam berinteraksi sosial keagamaan adalah lana a’maluna walakum a’malukum (bagi kami apa yang kami lakukan dan bagi kalian apa yang kalaian lakukan). Maksudnya apa yang diamalkan ajaran agama itu untuk diri warga MTA dan terserah bagi kelompok atau pihak lain mengamalkan ajaran agama yang dipedomaninya. Dengan prinsip itulah terlihat bahwa warga MTA dalam berinteraksi sosial keagamaan lebih cenderung menjaga diri agar tidak menimbulkan konflik dengan pihak lain. b. Interaksi Sosial Kemasyarakatan Tentang interaksi sosisl kemasyarakatan warga MTA dapat diketahui dari berbagai kegiatan senagaimana yang telah disinggung di muka (Bab II). Dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oeh warga MTA itu seperti kerja bakti bersama, pemda dan TNI kemudian warga MTA juga secara rutin pertiga bulan sekali melakukan donor darah, bahkan kadang kala apabila pihak PMI merasa mendesak untuk kebutuhan darah menghubungi pihak MTA Selanjutnya interaksi sosial warga MTA dengan masyarakat atau umat sekitar adalah berupa pemberian santunan kepada korban banjir maupun konflik. Begitu juga dapat diketahui adanya interaksi sosial kemasyarakatan adalah pihak MTA menerima pasien dari warga non MTA untuk berobat di Balai Pengobatan MTA. Kemudian pada aspek perekonomian antara warga MTA dan umat sekitarnya dapat terjalin interaksi yang harmonis seperti warung makan warga

47

non MTA relasinya juga banyak warga MTA. Begitu juga sebaliknya warga MTA juga biasa berbelanja di kios atau warung warga non MTA, warga MTA juga biasa beli obat di apotik milik warga MTA dan sebagainya.47 Berdasarkan realitas empirik tentang interaksi sosial kemasyarakatan warga MTA sebagamana pembahasan di muka, memberikan deskripsi bahwa perihal interaksi sosial kemasyarakatan MTA dapat dikatakan karena terinspirasi oleh pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Al Qur’an yang diupayakn untuk diimplementasikan semampu mungkin dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh dalam kegiatan pemberian santunan korban bencana alam maupun konflik tidak hanya terbatas di daerah sekitar kelompok MTA saja, tetapi hampir setiap ada bencana alam maupun korban konflik di Indonesia, warga MTA senantiasa berpartisipasi. Adapun dana untuk kegitan penyantunan itu murni dari warga MTA yang bersumber dari infak, sodaqoh dan zakat. Dalam ketiga hal itu (infak, sodaqoh, dan zakat), warga MTA senantiasa berusaha mengimplementasikan ajaran yang terkandung dalam Al Qur’an, Berdasarkan sumber dana yang terhimpun dari warga MTA itulah, maka MTA mampu membeiayai diri dan memberikan santuanan pada pihak lain yang membutuhkan. Bagi warga MTA berinteraksi sosial dengan masyarakat itu luas cakupannya, yang termasuk didalamnya adalah tolong menolong dalam kehidupan. Lebih utama sebagai manusia adalah menjadi pihak yang mampu menolong atau memberi dari pada pihak yang diberi, sebagaimana ajaran dalam Islam (Al Hadits) Al yadul ‘ulya khoirun min yadis sufla (tangan diatas lebih baik dari pada tangan yang berda di bawah). Interaksi sosial kemasyarakatan yang dibangun oleh warga MTA adalah dapat dipahami sebagai pengajaran dalam pemahamannya tentang jihad “bi amwal” maksudnya jihad dengan menggunakan modal harta benda. Hal ini terbukti dengan cukup banyaknya kegiatan pemberian santunan yang dilakukan oleh warga MTA untuk kemaslahatan masyarakat pada umumnya.

47

Hasil wawancara dengan Siti asyiyah (warga non MTA) pada tanggal 25 April 2008

48

c. Interaksi dengan Pemerintahan/Sosial Politik Interaksi sosial antar wrga MTA dengan pemerintah dapat terjalin antara pimpinan MTA dengan Pemda, Kodim, diknas, dan Depag. Interaksi itu terjadi pada kegiatan-kegiatan, seperti PHBI, ulang tahun dan sebagainya. Bentuk interaksi itu adalah bersifat undang mengundang. Khusus interaksi MTA dengan pihak Depag dan Diknas biasanya terkait dengan masalah-masalah kegamaan dan pendidikan. Interaksi dalam bentuk undang mengundang, konsultasi dan pembinaan. Untuk interaksi MTA dengan kedua instansi pemerintah tersebut frekuensinya lebih sering dibandingkan dengan instansi lainnya. Kemudian interaksi dengan pihak lain adalah adanya interaksi antara pimpinan MTA dengan para pimpinan ormas Islam ataupun kelompok Islam. Interaksi itu terjalin dalam satu wadah kegiatan MUI Kota Surakarta. Dalam kepengurusan MUI itu dapat diketahui bahwa Ustadz Ahmad Sukino (ketua umum MTA) duduk sebagai pembuka, ketua II MUI juga dari warga MTA, dan komandan satgas MTA menjadi pengurus MUI. Selanjutnya di wadah FKUB ada dua orang dari warga MTA yang menjdi anggota FKUB Kota Surakarta. Dan ada pula warga MTA yang menjdi anggota pengurus FSUI Surakarta. Memahami keterlibatan pimpinan MTA dalam beberapa wadah umat Islam itu, memnunjukan bahwa warga maupun pimpinan MTA terdapat interaksi dengan pihak lain. Disamping itu MTA ternyata berinteraksi pula dengan beberapa instansi. 3. Interaksi Kelompok Syahadatain a. Interaksi Sosial Keagamaan Masyarakat Purbadana Kecamatan Kembaran termasuk masyarakat yang relegius dengan kultur paham keagamaan hampir 100 % NU. Oleh karena itu, interaksi sosial keagamaan yang terjadi tidak jauh berbeda dengan model-model yang dikembangkan dalam tradisi NU, seperti Tahlilan, Mitungdino, Matangpuluh, Nyatus dan Nyewu. Begitu juga yang terjadi pada kelompok Syhadatain yang ”mengaku” NU yang konsisten dengan ajarannya, bahwa bentuk-bentuk tahlilan, nyewu dan lain sebagainya adalah tradisi yang biasa

49

dilakukan oleh kelompoknya dan juga berada dalam lingkungan masyarakat sekitar. Interaksi sosial keagamaan warga kelompok Syahadatain dengan warga (umat Islam) sekitar maupun pemerintah setempat secara khusus dapat dipahami dari beberapa kegiatan, yaitu pengajian umum (PHBI) dan Juma’tan.. Pada kegiatan pengajian umum yang diselenggarakan oleh masyarakat muslim pada umumnya, anggota dari kelompok Syahadatain juga aktif, baik sebagai panitia maupun peserta. Dalam pengajian umum ini biasanya diselenggarakan mengikuti hari besar Islam, seperti pada saat memperingati Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi maupun ketika menyelenmggarakan malam peringatan nuzulul Qur’an. Pada saat penyelenggaraan pengajian umum biasanya yang memberikan ceramah seorang kyai dari luar wilayah kecamatan Kembaran. Menurut Warsito, bahwa penceramah yang didatangkan biasanya dari kalangan NU, hal ini dilakukan disamping untuk mempertebal keimanan dan menambah wawasan keagamaan juga lebih tepat sesuai dengan kondisi masyarakat sekitar. Masyarakat Purbadana khususnya adalah masyarakat yang memiliki nilai-nilai sosial keagamaan yang tinggi, sehingga diharapkan isi dari ceramah juga lebih memperkuat nilai-nilai tersebut. Menurut Warsito, bahwa prinsip yang dikembangkan sementara ini untuk mendukung terciptanya suasana yang kondusif adalah tetap menjaga persatuan dan kesatuan warga dan sejauh mungkin menghindarkan dari hal-hal yang membuat perpecahan. Sebagai contoh adalah ketika anggota kelompok Syahadatain terjadi musibah, maka yang membacakan tahlil dan do’a juga dari anggota masyarakat umumnya di luar anggota Syahadatain. Begitu juga sebaliknya apabila ada anggota masyarakat yang terkena musibah, maka yang ikut mengurusi jenazahnya dari awal sampai penguburan melibatkan anggota kelompok Syahadatain. Memang diakui terdapat anggota kelompok Syahadatain yang kadang berlebihan di mana apabila yang terkena musibah bukan kelompoknya, maka tidak begitu respon untuk membantunya. Namun demikian anggota kelompok tersebut sudah cukup dikenal di masyarakat memang perilakunya kurang baik

50

dan hubungan sosial keagamaan dengan masyarakat pada umumnya juga kurang baik. Interaksi sosial keagamaan yang tidak mau kompromi adalah pada saat pelaksanaan shalat jum’at. Ibadah shalat jum’at yang dilaksankan oleh kelompok Syahadatain ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan pada masjid sekitarnya, yaitu diawali dengan adzan pertama untuk panggilan dan adzan kedua ketika khotib memulai khutbahnya. Namun demikian, anggota masyarakat sekitarnya tidak melakukan shalat Jum’at di masjid Syahadatain. Begitu juga sebaliknya meskipun agak jauh, bagi anggota kelompok Syahadatain tetap melakukan shalat jum’at di masjid Syahadatain. Adapun jumlah jamaah shalat jum’at yang tidak melebihi 40 orang tidak menjadikan kelompok umat Islam lainnya mengklaim tidak sah. Kondisi seperti inilah menurut Warsito yang menjadikan interaksi sosial keagamaan dapat berjalan dengan baik. Klaim kebenaran kelompoknya tidak terjadi. b. Interaksi Sosial Kemasyarakatan Interaksi sosial kemasyarakatan warga Syahadatain dapat berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari kebiasaan anggota masyarakat dalam aktivitas kerja bakti bersama, ikut berbela sungkawa apabila terdapat anggota kelompoknya maupun anggota masyarakat pada umumnya yang terkena musibah, ikut membantu apabila terdapat anggota keluarga dari manapun yang mempunyai hajat sunatan/ngantenan/syukuran dan saling membantu ketika terdapat anggota masyarakat yang tidak mampu membangun rumah sebagai tempat tinggal. Dalam interaksi sosial kemasyarakatan ini nampak tidak ada kehususan bagi kelompok Syahadatain untuk memilah-milah. Hal ini dikarenakan, menurut Imam Nahdi, bahwa ketika berada di masyarakat apapun aktivitasnya adalah sebagai anggota masyarakat, sehingga tidak bisa dipilah-pilah mana yang anggota Syahadatain dan mana yang bukan. Interaksi sosial kemasyarakatan merupakan keharusan bagi seluruh anggota masyarakatan tanpa terkecuali. Interaksi sosial kemasyarakatan juga terlihat dari hubungan perekonomian antara anggota kelompok Syahadatain dengan warga sekitarnya. Jalinan hubungan yang harmonis terlihat adanya warga yang membeli kebutuhan

51

sehar-hari di warung milik anggota Syahadatain, begitu juga dari anggota Syahadatain yang melakukan transaksi jual beli dengan anggota masyarakat pada umumnya. Realitas empirik ini memberikan deskripsi bahwa perihal interaksi sosial kemasyarakatan yang terjadi sebagai kultur masyarakat pedesaan yang dikenal sebagai masyarakat paguyuban. Menurut Drs. Muslimin dari Departemen Agama Kabupaten Banyumas, bahwa terdapat konsep yang cukup matang dan tepat yang berkembang dan selalu dikumandangkan dalam berbagai acara di perkotaan maupun di pedesaan, yaitu konsep Paseduluruan. Konsep ini berasal dari bahasa asli banyumas, yaitu sedulur yang semua orang paham. Konsep inilah yang membawa pada interaksi sosial kemasyarakatan seperti tidak ada sekat-sekat, baik organisasi maupun aliran. Dilihat dari aspek kepentingan anggota Syahadatain dalam interaksi sosial kemasyarakatan nampaknya dilakukan dengan kesadaran sebagai anggota masyarakat bukan karena menjaga hubungan baik dengan warga masyarakat. Menurut Ahmadi, bahwa semua kegiatan kemasyarakatan tidak ada hubunganya dengan kegiatan kelompok tertentu, oleh karena itu merupakan tanggungjawab bersama semua warga untuk memiliki interaksi sosial yang baik dalam bermasyarakat. c. Interaksi dengan Pemerintahan/Sosial Politik Interaksi anggota kelompok Syahadatain dengan pihak pemerintah secara institusi tidak terjadi. Hal ini dikarenakan kelompok Syahadatain tidak pernah memiliki kepentingan dengan pemerintah, baik Departemen Dalam Negeri maupun Departemen Agama. Begitu juga bagi pemerintah, khususnya Departemen Agama Kabupaten Banyumas yang tidak mengerti keberadaan kelompok Syahadatain di Desa Purbadana Kecamatan Kembaran. Menurut Drs. Muslimin, bahwa Departemen Agama Kabupaten Banyumas belum mendapat laporan dari masyarakat maupun organisasi tertentu tentang keberadaan Syahadatain, meskipun pada tingkat pusat telah terdaftar sebagai salah satu organisasi/kelompok dengan sifat kekhususan Kesamaan Agama Islam. Begitu juga dalam organisasi yang tergabung dalam Forum Komunikasi Lembaga Dakwah (FKLD) maupun Badan Kerjasama Organisasi

52

Islam (BKOI) untuk wilayah Kabupaten Banyumas tidak dikenal kelompok Syahadatain. Meskipun secara organisasi tidak ada interaksi antara kelompok Syahadatain dengan pemerintah, namun demikian secara individual interaksi tersebut dapat berjalan dengan baik. Sebagai salah satu contoh adalah beberapa anggota kelompok Syahadatain adalah Pegawai Negeri Sipil yang secara otomatis selalu bekerja untuk pemerintah. Di samping itu, beberapa anggotanya juga sebagai ketua RT dan pengurus RT dan RW yang selalu aktif berkoordinasi dengan pihak kelurahan, sehingga apabila ada kebijakan dari pemerintah pada tingkat atas sampai pada tingkat kelurahan, maka pihak RT selalu mengadakan sosialisasi. Menurut H.A.Mawardi, bahwa sebagai warga Negara yang sekaligus sebagai ketua RT, maka sudah merupakan kewajiban untuk membantu apa yang diperlukan oleh pemerintah terutama pada level desa. Secara informal, keberadaan kelompok Syahadatain sudah diakui oleh pemerintah tingkat desa sehingga segala aktivitas yang dilakukan pihak pemerintahan desa mengetahuinya. Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Desa, bahwa semua aktivitas yang dilakukan oleh kelompok Syahadatain selalu diketahuinya dan untuk sementara ini selalu membantu secara langsung maupun tidak langsung terhadap beberapa program pemerintah, terutama ketika Pilkada maupun Pemilu. Kesungguhan kelompok Syahadatain dalam pelaksanaan program pemerintah terutama pada saat Pemilu tanpa memiliki tendensi apapun kecuali hanya ingin menyukseskan program pemerintah. Menurut Imam Nahdi, bahwa kelompoknya tidak memiliki afiliasi politik kemanapun dan kepada siapapun, sehingga menyerahkan kepada anggotanya untuk memilih yang disukai. Kelompoknya tidak pernah mendapat instruksi secara tertulis maupun lisan untuk menentukan pilihan pada partai atau seseorang dalam pilihan kepala daerah maupun dalam pemilu. Kenetralan kelompoknya terhadap berbagai urusan Pilkada dan Pemilu memuluskan jalannya interaksi sosial dengan pemerintah. Hal ini nampak dari petugas lapangan dalam Pemilu maupun Pilkada tidak sedikit dari anggota kelompok Syahadatain menjadi anggota atau bahkan ketua Panitia Pemungutan

53

Suara (PPS) tingkat Desa. Menurut Warsito, bahwa peran dari beberapa anggota kelompok Syahadatain cukup tinggi sehingga dapat membantu pemerintah desa dalam menyukseskan program pemerintah, apalagi sementara ini kelompok mereka berada pada posisi yang netral dan tidak mau diikutsertakan dalam salah satu partai politik maupun tim suskes dalam Pilkada. 4. Interaksi Organisasi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Kabupaten Pati a. Interaksi Sosial Keagamaan Interaksi sosial keagamaan anggota LDII dengan masyarakat muslim sekitarnya (Daerah Kabupaten Pati) hanya tercipta pada saat LDII menyelenggarakan kegiatan pengajian minggu pagi, baik pada tingkat PAC, PC maupun DPD. Hal itu disebabkan karena pihak LDII membebaskan kepada siapapun untuk mengikutinya. Tetapi pada kenyataannya hanya ada beberapa orang tertentu saja yang hadir mengikuti pengajian tersebut. Sebaliknya anggoat LDII tidak pernah mengikuti kegiatan pengajian yang dielenggarakan oleh masyarakat muslim disekitarnya, baik yang berupa pengajian biasa maupun penyelenggaraan PHBI. Dengan demikian dapat dipahami, bahwa anggota LDII dengan masyarakat muslim sekitarnya kurang ada interaksi, baik dalam bentuk undang mengundang maupun yang bersifat spontanitas individual dan atau kelompok. Realitas semacam itu dapat diartikan adanya eksklusifitas anggota LDII untuk berinteraksi dalam hal kegiatan keagamaan dengan kelompok lain. b. Interaksi Sosial Kemasyarakatan Dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di mana para anggota LDII berada di wilayah sekitar Kabupaten Pati ternyata terdapat interaksi antara kedua belah pihak (anggota LDII dengan masyarakat sekitar). Realitas menunjukan anggota LDII senantiasa mau melibatkan diri dalam kegiatankegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat umum, seperti kerja bakti, olah raga, ketetanggaan, dan kemasyarakatan. Kemudian dalam kegiatan sosial ekonomi, anggota LDII paling tidak ada jarak ataupun kesungkanan berinteraksi dengan masyakat sekitar. Hal itu

54

dapat dimengerti dari para anggota LDII tidak merasa ada kesungkanan berbelanja di toko/warung yang penjualnya anggota LDII. Dilihat dari aktifitas sosial kemasyarakatan ternyata atribut, simbol maupun paham antara kedua belah pihak tidak menjadi mekanisme kontrol ketika berinteraksi. Dengan demikian, interaksi sosial kemasyarakatan antara anggota LDII dengan masyarakat sekitar dapat tercipta tanpa adanya hambatan atas dasar paham maupun lainnya. c. Interaksi dengan Pemerintahan/Sosial Politik Interaksi anggota maupun pengurus LDII dengan pemerintah pada kenyataannya juga belum tercipta dengan baik, khususnya dengan Departemen Agama. Dengan Departemen Agama ini, interaksi terjadi hanya ketika anggota LDII hendak melakukan pernikahan dan ibadah haji. Selain dari kdua hal tersebut antara LDII dengan Departemen Agama Kabupaten Pati tidak pernah ada hubungan (interaksi). Pihak Departemen Agama merasa tidak pernah diundang maupun mengundang LDII pada kegiatan-kegiatan keagamaan. Interaksi LDII dengan elemen pemerintah lain dapat tercipta pada saat menyelenggarakan kegiatan penyuluhan tentang narkoba dan perkemahan anak sekolah setiap setahun sekali. Adapun bentuk interaksi (hubungan) itu adalah pihak LDII yang mengundang pihak kejaksaan, POLRI dan Kesbanglinmas. 5. Interaksi Organisasi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Kabupaten Grobogan Secara umum interaksi anggota LDII dengan berbagai pihak berjalan cukup kondusif, baik dalam interaksi sosial kemasyarakat, sosial keagamaan maupun dalam interaksi sosial politik. Menurut Bambang Setyobudi, bahwa interaksi yang dilakukan oleh anggota LDII cukup baik, hal ini dilihat dari berbaqgai kegiatan yang bersifat kemasyarakatan selalu mengikuti, apalagi tokoh LDII yang berdiam di wilayahnya termasuk pengurus RT. Perubahan keterbukaan dalam interaksi ini mulai sangat terasa setelah LDII menyampaikan surat klarifikasi kepada MUI tentang paradigma baru yang dilakukan oleh LDII pusat. Meskipun LDII Kabupaten Grobogan belum

55

menerima salinan surat keputusan dari MUI Kabupaten Grobogan, akan tetapi sudah bisa memahami isi dari surat tersebut, yaitu yang berisi tentang: LDII bukan penerus/kelanjutan dari gerakan Islam Jamaah serta tidak menggunakan ataupun mengajarkan ajaran Islam Jamaah. Selain di atas, surat klarifikasi tersebut menyebutkan tentang. LDII tidak menggunakan atau menganut sistem keamiran, LDII tidak menganggap umat muslim di luar kelompok mereka sebagai kafir dan najis, dan LDII bersedia bersama ormas-ormas Islam lainnya mengikuti landasan berfikir keagamaan sebagaimana yang ditetapkan MUI. Klarifikasi tersebut dalam realitas di masyarakat Grobogan dapat dilihat dari bagaimana interaksi sesungguhnya warga LDII di tengah-tengah masyarakat. a. Interaksi Sosial Keagamaan Interaksi sosial keagamaan anggota LDII dengan masyarakat muslim sekitarnya berjalan dengan baik. Menurut Ibu Ety Yuni (Ibu rumah tangga) bahwa kelompok LDII setiap tahun selalu membagikan daging kurban kepada masyarakat sekitar. Di samping itu, mempersilahkan masyarakat untuk mengikuti pengajian yang diselenggarakan oleh LDII, terutama bagi anak-anak untuk ikut aktif dalam kegiatan pengajian al Quran Cabe Rawit di masjid LDII. Kegiatan sosial keagamaan ini yang bersifat rutin dilaksanakan setiap hari senin malam, selasa malam dan jum’at malam. Kegiatan ini dilaksanakan dari habis shalat Isya sampai jam 21.30 WIB kecuali ketika pengajian dalam rangka memperingati Hari Besar Islam (PHBI) toleransi waktu dapat melebihi jam masyarakat. Menurut Bambang Setyobudi, untuk sementara ini tidak pernah ada persoalan dengan kegiatan pengajian yang diadakan oleh kelompok LDII. Hanya saja ketika masyarakat mengadakan pengajian yang bersifat rutin, anggota LDII yang berada di wilayahnya tidak mengikuti. Menurut Bambang, bahwa di RTnya diselenggarakan pengajian dan tahlil rutin bulan yang diberi nama Al Muqorrobiin. Kegiatan ini berjalan dengan baik setiap bulan dan diikuti oleh hampir semua warga muslim kecuali yang menjadi anggota LDII. Bagi Bambang, bahwa selama anggota LDII tidak menjelekan pengajian yang ada dan tetap melakukan hubungan kemasyarakatan dengan baik, maka perbedaan tersebut tidak menjadi masalah.

56

b. Interaksi Sosial Kemasyarakatan Kegiatan Pengurus maupun anggota LDII Kabupaten Grobogan secara umum sama dengan anggota masyarakat lainnya dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Hanya saja secara organisasi kegiatan sosial kemasyarakatan tidak nampak, hal ini dikarenakan pengurus maupun anggota LDII lebih banyak bertempat tinggal di luar wilayah Jetis Selatan Kelurahan Purwodadi. Menurut Ibu Ety Yuni (anggota masyarakat RT 07 RW XXI Jetis Selatan) maupun Moh. Hasyim S.Pd.48 bahwa pengurus maupun anggota LDII yang berdiam di wilayah tersebut cukup baik dalam melakukan interaksi sosial kemasyarakatan yang bersifat harian maupun insidentil, terutama ketika ada penyembelihan hewan qurban kemudian dagingnya dibagikan ke seluruh warga sekitar dan ketika terjadi kebanjiran, warga mengungsi di aula milik kantor LDII. Adapun untuk kebutuhan sehari-hari makan dan minum dibantu oleh pengurus LDII dalam bentuk nasi bungkus dan mie rebus. Pendapat berbeda disampaikan oleh Bambang Setyobudi (Ketua RT 07 RW XXI), bahwa pengurus maupun anggota LDII dalam peringatan Idul Qurban diakui cukup baik, yaitu menyembelih hewan qurban maupun membagikannya dilakukan sendiri oleh pengurus dan anggota LDII. Namun demikian, dalam kegiatan kemasyarakatan, terutama ketika ada kegiatan yang bersifat melibatkan seluruh anggota masyarakat pada tingkat RT pada awalnya sulit untuk aktif. Melihat kondisi seperti inilah akhirnya salah satu tokoh dari LDII masuk dalam struktur pengurus RT, yaitu H. Sunar Hidayatullah (Bendahara LDII Kabupaten Grobogan) dan mulai sejak itulah pengurus maupun anggota LDII di wilayah Jetis selatan mulai aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, seperti berkunjung terhadap orang yang sakit, kerja bakti, dll. Keterlibatan anggota LDII dalam kegiatan sosial kemasyarakatan juga didukung oleh adanya beberapa anggota LDII yang menerima bantuan beras dari pemerintah melalui RT. Menurut Bambang Setyobudi, bahwa semua warga yang terdaftar sebagai warga Jetis selatan dan dianggap kurang mampu akan mendapat bantuan tanpa pandang bulu. Pendekatan seperti inilah, menurut
Moh. Hasyim S.Pd. adalah Guru Sejarah pada SMAN 1 Purwodadi yang letaknya berdekatan dengan Kantor Pusat kegiatan LDII Kabupaten Grobogan.
48

57

Bambang Setyobudi cukup tepat untuk melibatkan pengurus maupun anggota LDII dalam seluruh kegiatan yang berkaitan dengan kemasyarakatan. Bahkan lebih dari itu, kegiatan yang diadakan oleh warga LDII pun harus mengikuti jam masyarakat agar tidak mengganggu ketenangan warga dan ketika ada kegiatan Ketua RT di undang atau paling tidak diberitahu secara lisan maupun surat resmi. Apabila melihat Anggaran Dasar LDII, yaitu pada Bab IV tentang Kegiatan dan Usaha pasal 9 diktum 4 berisi tentang Peran serta sosial dan kemasyarakatan yang diantara isinya adalah meningkatkan kerjasama dan persaudaraan di kalangan umat Islam, Berupaya meningkatkan kesadaran, kepekaan dan kesetiakawanan sosial melalui kegiatan sosial dan peningkatan kesejahteraan yang dimaksudkan untuk memperkecil kesenjangan sosial, maka tidak ada persoalan lagi interaksi sosial anggota LDII dengan warga masyarakat. Menurut Suharman (Sekretaris LDII Kabupaten Grobogan), bahwa interaksi sosial warga LDII Kabupaten Grobogan dengan warga masyarakat sekitarnya adalah cukup baik, hal ini dapat dibuktikan dalam berbagai even-even kegiatan kemasyarakatan selalu aktif. c. Interaksi dengan Pemerintahan/Sosial Politik Interaksi anggota maupun pengurus LDII dengan pemerintah berkaitan dengan politik sekarang ini lebih independen. Menurut Drs. Suharman, bahwa LDII sekarang memiliki paradigma baru untuk menepis isu-isu yang pernah berkembang, yaitu Dipel/disucikan kembali bagi jamaah shalat yang bukan anggota LDII shalat di masjid LDII, eksklusive, dan underbow pada salah satu partai politik tertentu. Masjid LDII sekarang diperbolehkan untuk shalat semua kalangan umat Islam tanpa harus dipel/disucikan kembali setelah selasai shalat, anggota LDII lebih terbuka untuk berdialog dengan siapapun dan anggota LDII dipersilahkan untuk mengikuti partai politik yang disukai. Dengan paradigma baru tersebut. LDII juga mengadakan hubungan baik dengan pihak pemerintah, baik berkaitan dengan kewarganegaraan, seperti mengurus KTP, surat pernikahan, pelaksanaan pernikahan dengan menggunakan

58

lembaga KUA49, dll. Selain kegiatan yang bersifat individual dengan pihak pemerintah, secara organisasi LDII juga mengadakan hubungan baik dengan pemerintah Kabupaten maupun Departemen Agama yaitu lembaga yang dibentuk oleh pemerintah, seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). 6. Interaksi Kelompok Jamaah Tabligh a. Interaksi Sosial Keagamaan Interaksi sosial Jamaah Tabligh di Desa Krincing Kecamatan Secang Kabupaten Magelang dapat digolongkan menjadi dua, yaitu interaksi warga Pondok Pesantren Jamaah Tabligh dan Kelompok Tabligh (Khuruj). 1). Warga Pondok Pesantren Jamaah Tabligh Warga Pondok Pesantren Jamaah tabligh Desa Krincing dapat dikatakan hanya ada dua macam interaksi sosial keagamaan dengan masyarakat sekitar, yakni pada malam Jum’at dan sehabis shalat Maghrib. Hal itu dengan pertimbangan bahwa mereka di pondok memang hanya untuk ta’lim maupun takhfidz. Oleh karena itu, perihal kehidupan sosial keagamaan merasa dicukupkan dari pondok pesantren. Realita semacam itu dapat difahami, bahwa warga pondok tersebut di atas memang memfokuskan pada pendalaman terhadap materi-materi keagamaan (Islam) yang bersumber dari kitab-kitab kuning (klasik). Bahkan menurut salah satu informan menjelaskan, bahwa pondok tersebut memang mempertahankan sistim salafi. Jadi dalam kehidupan sehari-hari warga pondok (santri) hanya belajar/mengaji. Oleh karena itu para santripun tidak pernah dapat melihat TV, membaca koran, menggunakan HP maupun mendengarkan radio. Untuk interaksi sosial yang lain yang dilakukan adalah melakukan silaturahmi ke rumah-rumah warga yang tinggal di sekitar masjid. Adapun maksud silaturahmi adalah dalam rangka tabligh kepada warga sekitar untuk memakmurkan masjid khususnya ketika shalat berjamaah.
Dalam pelaksanaan pernikahan selain dinikahkan oleh KUA, anggota LDII juga mengadakan pernikahan khusus yang dilaksanakan secara internal. Menurut Bambang S., bahwa pelaksanaan seperti itu tidak ada masalah karena berkaitan dengan keyakinan dan tidak mengganggu lingkungan masyarakat.
49

59

2). Kelompok Tabligh (Khuruj) Jamaah Tabligh di samping mempunyai kegiatan menyelenggarakan pendidikan dalam pondok pesantren juga terdapat kegiatan yang secara realitas empirik lebih dikenal luas oleh masyarakat muslim Indonesia, yaitu berupa Tabligh (dakwah) secara keliling dari masjid ke masjid di seluruh wilayah Indonesia atau yang oleh warga jamaah Tabligh disebut sebagai Tabligh Khuruj. Pelaksanaan tabligh (khuruj) itu dirancang dengan model kelompokkelompok yang setiap kelompok terdiri sekitar 10 irang. Kemudian dari kelompok-kelompok itu melaksanakan tabligh di sebuah masjid tertentu dalam waktu sekitar 3 hari. Pada kegiatan tabligh khuruj itu mereka biasa memakai pakaian muslim (gamis). Setelah selesai melaksanakan tabligh di sebuah masjid daerah tertentu, kelompok Jamaah Tabligh tersebut berpindah ke masjid daerah lainnya. Adapun kegiatan yang dilakukan pada tabligh khuruj itu pada intinya adalah untuk mengajak salat berjamaah anggota masyarakat sekitar masjid yang menjadi sasaran tabligh. Selain itu, mereka juga melakukan silaturahmi ke rumha-rumah (door to door) warga muslim di sekitar masjid itu. Jadi secara sederhana dapat difahami, bahwa kegiatan tabligh khuruj yang dilakukan oleh Jamaah Tabligh adalah tabligh (dakwah) agar masyarakat mau dan membiasakan salat berjamaah di masjid. Berdasarkan dua jenis kegiatan sosial keagamaan Jamaah Tabligh di muka memberikan deskripsi bahwa kelompok tersebut hanya sebatas pada saat adanya pengajian akbar setiap malam jum’at yang mempunyai konotasi sebagai adanya interaksi sosial keagamaan dengan masyarakat sekitar (daerah Krincing). Sedangkan interaksi sosial keagamaan kelompok Jamamaah Tabligh dengan masyarakat muslim di sekitar masjid yang amenjadi sasaran tabligh khuruj juga hanya sebatas silaturahmi dengan masyarakat. Dengan demikian interaksi sosial keagamaan kelompk Jamaah Tabligh ada terkesan eksklusif, sebab pada kegiatan-kegiatan keagamaan yang diselenggarakan oleh masyarakat maupun pemerintah setempat mereka

60

tidak berpartisipasi. Hal itu memang sesuai dengan misi jamaah Tabligh bahwa kelompk Jamaah Tabligh yang berada dalam pondok pesantren hanya untuk mendalami ta’lim dan takhfidz. Sedangkan kelompok Jamaah Tabligh yang di luar pondok pesantren menurut persepsi masyarakat juga kurang berinteraksi dalam hal keagamaan. Bagi masyarakat muslim sekitar sentral kelompok Jamaah Tabligh, mereka (kelompok Jamaah Tabligh) dalam bertabligh (dakwah) ada satu hal yang dipandang kurang etis, kurang menarik, dan bahkan sudah tidak relevan. Adapun model tabligh itu adalah dakwah door to door50. b. Interaksi Sosial Kemasyarakatan Ada dua hal yang dapat dipahami dari interaksi sosial kemasyarakatan kelompok Jamaah Tabligh Desa Krincing Kecamatan Secang Kabupaten Magelang, yaitu interaksi sosial pada saat melakukan tabligh khuruj (keluar) dan dalam lingkungan pondok pesantren. Secara otomatis kelompok Jamaah Tabligh pada saat melakukan kegiatan tabligh khuruj sudah pastu melakukan interaksi dengan masyarakat muslim di sekitar masjid yang menjadi objek tablighnya. Interaksi sosial kelompok Jamaah Tabligh dengan masyarakat muslim di sekitar masjid tersebut sebenarnya bukan merupakan interaksi dalam pengertian hubungan timbal balik antara dua belah pihak sebagaimana yang telah didefinisikan oleh pakar interaksi. Tetapi interaksi itu hanya sebatas kegiatan silaturahmi kelompok Jamaah Tabligh ke rumah-rumah warga muslim di sekitar masjid dengan maksud untuk mengajak lebih meningkatkan ibadah salat berjamaah di masjid. Jadi interaksi sosial kemasyarakatan yang dilakukan kelompok Jamaah Tabligh dalam hal ini hanya sebatas kegiatan silaturahmi. Oleh karena itu tanpa kegiatan itu, tidak tercipta interaksi antara kelompok Jamaah Tabligh dengan masyarakat muslim di sekitar masjid yang menjadi sentral kegiatan. Dengan kegiatan tabligh khurujyang dilakukan oleh kelompok Jamaah Tabligh sebagaimana di atas ternyata menimbulkan persepsi pro dan kontra di kalangan masyarakat. Bagi yang berpersepsi pro mengatakan, bahwa kegiatan

50

Hasil wawancara dengan seorang tokoh agama pada tanggal 31 Mei 2008.

61

tabligh khuruj door to door itu menunjukan bahwa mereka mempunyai i’tikad baik dalam bermasyarakat. Sebab apapun bentuk kegiatan yang dilakukan kelompok Jamaah Tabligh itu (khuruj) berarti mereka hendak menjalani interaksi positif dengan masyarakat.51 Kemudian bagi yang berpersepsi kontra mengatakan bahwa, kegiatan tabligh khuruj yang dilakukanJamaah Tabligh dengan model door to door itu dipandang sebagai hal yang kurang menarik dan bahkan mengganggu ketenangan masyarakat. Sebab apapun alasannya masyarakat yang didatangi oleh kelompok Jamaah Tabligh itu akan muncul pertanyaan mau apa dan hendak mengajak beragama macam apa dan sebagainya. Bagi warga masyarakat yang kemampuan beragamanya sedang-sedang saja atau bahkan kurang, maka tentu tidak akan mempermasalahkannya. Tetapi sebaliknya, bagi warga masyarakat yang kemampuan agamanya sudah tinggi, maka akan menjadi risih dan tidak simpatik.52 Dengan demikian interaksi sosial kemasyarakatan kelompok Jamaah Tabligh dalam kegaiatan khuruj itu menimbulkan pro dan kontra dalam kehidupan masyarakat sekitar masjid. Terlepas adanya persepsi pro dan kontra itu, dalam pembahasan ini interaksi sosial kemasyarakatan kelompok Jamaah Tabligh dengan masyarakat muslim sekitar masjid yang menjadi sasaran tablighnya belum terwujud dengan baik. Selanjutnya, interaksi sosial kemasyarakatan kelompok Jamaah Tabligh yang berada dalam pondok pesantren desa Krincing Kecamatan Secang Kabupaten Magelang dengan masyarakat sekitarnya tampak eksklusif. Sebab warga pondok Jamaah Tabligh dengan masyarakat sekitar dapat dikatakan hampir tidak pernah berinteraksi dalam keidupan sehari-harinya. Hal itu disebabkan bagi warga (kelompok) Jamaah Tabligh dalam pondok pesantren hanya fokus pada belajar ta’lim dan ahfidz. c. Interaksi dengan Pemerintah/Sosial Politik Interaksi kelompok Jamaah Tabkligh dengan pemerintah setempat dapat dikatakan hampir tidak ada, khususnya bagi warga pondok pesantren. Tetapi
51 52

Hasil wawancara dengan informan masyarakat tanggal 31 Mei 2008. Hasil wawancara dengan tokoh agama tanggal 30 Mei 2008.

62

bagi kelompok Jamaah Tabligh yang bukan warga pondok pesantren tersebut terdapat interaksi dengan pemerintah setempat. Hal ini terbukti dengan adanya dari anggota kelompok Jamaah Tabligh ada yang menjadi pengurus RT maupun RW. Kondisi seperti ini menunjukan, bahwa anggota kelompok Jamaah Tabligh yang non warga pondok pesantren ada interaksi dengan pemerintah setempat. B. Potensi dan Hambatan Kelompok Aliran Islam Minoritas di Masyarakat 1. Potensi dan Hambatan Kelompok Aliran Syi’ah a. Potensi 1). Struktur Struktur pengurus yang berada di kelompok Syi’ah ini terbagi menjadi dua, yaitu yang termasuk dalam struktur pengurus Yayasan dan yang masuk dalam pengurus pondok pesantren. Untuk struktur pengurus Yayasan adalah Ustadz Ahmad Barakbah sebagai Ketua Umum yang dibantu oleh Ketua I Ustadz Husain Al Atas, Ketua II ustadz Sholeh Mulaikhula, Sekretaris ustadz Muhammad Khotib, Bendahara ustadz Ahmad Al Atas. Sedangkan untu penguru Pondok Pesantren diketuai oleh Ustadz Ahmad Barakbah yang dibantu oleh Dewab Guru ustadz Ahmad Zubaidi, Sekretaris ustadz Ahmad Zubaidi dan bendahara ustadz Hasan Musawa. 2). Kepemimpinan Kepemimpinan yang terdapat di Yayasan maupun pondok pesantren Al Hadi sejak berdiri pada tanggal 4 Juli 1989 sampai sekarang masih dipegang oleh Ustadz Ahmad Barakbah. Hal ini dikarenakan Ustadz Ahmad Barakbah adalah pendiri kelompok Syi’ah dan menjadi tokoh utama dalam berbagai kegiatan. Ustadz Ahmad barakbah memiliki akses yang cukup kuat ke negara Iran, sehingga apabila terdapat santri yang memiliki kemampuan baik dapat melanjutkan ke Iran. Adapun sistem pergantian kepemimpinan terutama pada bagian tertentu, menurut Ustadz Ahmad Barakbah ada perubahan.

63

3).

Keanggotaan Sesuai dengan ide dasar pendirian Syi’ah, yaitu meluruskan persepsi yang keliru dalam memandang kelompok Syi’ah, maka dalam perekrutan keanggotaan tidak mengikat dan tidak dikhususkan pada warga keturunan Arab. Keanggotan yang tidak dilengkapi kartu anggota ini secara otomatis adalah santri yang mondok di Pondok Pesantren Al Hadi.

4). Kegiatan Kegiatan yang dilakukan oleh Kelompok Syi’ah antara lain bekaitan dengan kegiatan yang dilakukan oleh para santri pondok pesantren dan pengajian. Kegiatan para santri di pondok pesantren terutama adalah memperdalam bahasa Arab untuk memperdalam al Qur’an, Aqidah, Akhlak, Khulashoh Mantiq, dll. Adapun untuk pengajian dilaksanakan secara rutin untuk internal santri dan untuk umum. Untuk internal santri lebih kearah pada pendalaman materi, sedangkan untuk umum adalah pengajian yang bersifat umum seperti pada pelaksanaan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) maupun pengajian rutin minggu sore. 5). Sumber Dana Sumber dana yang diperoleh untuk operasional pelaksanaan kegiatan utamanya dari para santri, hanya saja karena sangat terbatasnya dana yang diperoleh dari para santri, maka Yayasan maupun Pondok Pesantren mencari alternatif dengan donator dan relasi kelompok Syi’ah. Menurut salah seorang santri, bahwa apabila telah selesai dari pondok pesantren Al Hadi akan melanjutkan ke Iran dengan memperoleh beasiswa dan kepada para santri hanya dibebani biaya pengurusan di dalam negeri. Melihat kondisi ini nampak bahwa peran relasi dari kawan-kawan ustadz Ahmad Barakbah yang berada di Iran sangat kuat untuk mendukung pendanaan. b. Pendukung dan Penghambat Interaksi Sosial Kegiatan sosial keaagamaan yang dikembangkan oleh kelompok Syi’ah melalui ponpes Al hadi maupun secara individual sekarang ini

64

mengalami perbaikan, namun demikian, pada sisi yang lain juga kadang muncul kendala yang menghambat proses interaksi yang sedang dibangun pasca pergesekan. Kondisi seperti ini diakibatkan oleh beberapa faktor yang mendukung maupun yang menghambat 1). Faktor Pendukung dalam Interaksi Sosial Keagamaan Faktor pendukung terjalinnya interaksi sosial keagamaan dengan pihak luar adalah sudah semakin diterimanya komunitas kelompok Syi’ah oleh pihak organisasi keagamaan, pemerintah maupun tokoh agama di wilayah Pekalongan. Keterbukaan ini dilatarbelakangi oleh sikap keterbukaan dari pihak kelompok Syi’ah untuk selalu mau diajak dialog. Hubungan yang sudah mencair melalui kegiatan sosial keagamaan seperti hubungan timbal balik saling mengundang dalam acara walimah dengan organisasi Al Irsyad yang nota bene paling keras untuk membubarkan Syi’ah sampai sekarang berjalan dengan baik. Interaksi dengan beberapa tokoh-tokoh agama nampak semakin baik setelah pihak kelompok Syi’ah terbuka kepada siapapun yang ingin mengajak dialog, apalagi setelah dibuka pengajian setiap minggu sore di masjid ponpes Al Hadi dan dipersilahkan untuk warga mengkaji Islam bersama. Dalam pengajian ini selalu dibuka dialog, sehingga apabila terdapat tokoh masyarakat maupun tokoh agama yang masih mempertanyakan eksistensi Aliran Syi’ah dilihat dari berbagai ajaran yang tidak sama dengan umat Islam pada umumnya dapat ditanyakan. Menurut Ahmad Barakbah, keluarga besar Syi’ah selalu mau diajak berdialog kapanpun tanpa didahului dengan prasangka. Bahkan dibukanya pengajian setiap ahad sore adalah lahan untuk mengadakan dialog yang konstruktif dan menghilangkan dari fanatisme yang tidak berdasar. 2). Faktor Pendukung dalam Interaksi Sosial Kemasyarakatan Faktor pendukung dalam interaksi sosial kemasyarakatan adalah tingkat sosialisasi anggota kelompok aliran Syiah yang mulai terbuka. Keterbukaan ini tidak hanya dilambangkan dengan posisi pondok pesantren Al Hadi yang selalu terbuka untuk masyarakat umum, baik

65

untuk melakukan kegiatan ekonomi, konsultasi agama maupun kegiatan kebersamaan warga, seperti kerja bakti maupun dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan. Interaksi sosial dengan anggota masyarakat cukup mencair seiring dengan komunikasi antar warga masyarakat dengan komunitas Syi’ah berjalan dengan baik dan ramah apabila bertemu di jalan. Adanya toko Roti, Rideka (Pusat batik dan karya Khas Pekalongan) dan koperasi yang ada di wilayah ponpes Al Hadi yang dijual untuk umum menjadikan interaksi dengan komunitas lain menjadi baik. Interaksi sosial ini juga didukung oleh kebiasaan pengurus pondok pesantren Al Hadi yang memberikan daging qurban setiap hari raya Iedul Adha. Pemberian qurban ini dilakukan di Kelurahan untuk semua warga yang telah ditentukan oleh pihak kelurahan. Dalam pemberian hewan qurban yang dilakukan setiap tahun sampai sekarang ini belum pernah ada yang menolak, baik dari tokoh masyarakat setempat, tokoh agama maupun dari warga itu sendiri. Kondisi seperti inilah yang menjadikan .anggota kelompok aliran Syi’ah dapat diterima di masyarakat. 3). Faktor Pendukung dalam Interaksi dengan Pemerintah Berkaitan dengan interaksi dengan pemerintah sudah tidak ada persoalan yang menghambat, karena selama ini sudah berjalan dengan baik. Faktor yang mendukung adalah karena dari pihak ponpes Al Hadi selalu mematuhi peraturan yang ada sesuai dengan birokrasi yang ada. Begitu juga adanya pengurus RT yang sering silaturahmi ke ponpes Al Hadi menambah interaksi menjadi lebih baik. Menurut Bambang (Kepala Kelurahan Klego Kecamatan Pekalongan Timur), sementara ini, aktifitas maupun administrasi yang bersinggungan dengan kepemerintahan tidak ada persoalan dan berjalan dengan baik. Meskipun demikian, pihak pemerintah (Kelurahan) yang baru ini belum pernah mendapat undangan dalam vent-event yang diadakan di ponpes Al Hadi. Selain dengan pihak kelurahan, faktor pendukung yang selalu dilakukan dengan pemerintah adalah dengan pihak Departemen Agama,

66

baik melalui instansi KUA maupun dengan Departemen Agama Kota. Dengan pihak KUA adalah berkaitan dengan pernikahan, hal ini dikarenakan pernikahan yang dilakukan oleh warga Syi’ah adalah melalui KUA terutama berkaitan dengan administrasi. 4). Faktor Penghambat dalam Interaksi Sosial Keagamaan Meskipun cukup banyak faktor pendukung dalam interaksi anggota Aliran Syi’ah dengan pihak luar, namun demikian masih terdapat faktor penghambat yang sering muncul, terutama berkaitan dalam interaksi sosial keagamaan. Faktor penghambat tersebut lebih banyak berkaitan dengan ajaran yang masih belum diterima oleh tokoh agama secara individual maupun secara organisasi yang berimplikasi pada interaksi sosial yang kurang harmonis. Faktor penghambat dalam interaksi sosial keagamaan yang masih sangat menonjol adalah adanya kurang kecocokan antara tokoh dari Aliran Syiah yang diwakili oleh Ustadz Ahmad Barakbah dengan para tokoh agama yang tergabung dalam organisasi Ashabul Kahfi. Masih belum harmonisnya hubungan antara kelompok Syi’ah dengan organisasi Ashabul Kahfi53 yang dipimpin oleh Zainal dan dibangun oleh intelektual muslim Pekalongan, seperti Kyai Tohirun, Kyai Nawir (PPP) dan Kyai Bashori (NU) tidak pernah terjadi dialog dan masing-masing masih memiliki perasaan apriori terhadap kebenaran yang diyakini, apalagi dalam Syi’ah terdapat konsep Taqiyah.54 Begitu juga dengan tokoh agama yang sudah apriori terhadap kelompok Syi’ah, seperti yang diungkapkan oleh Said Sungkar yang menganggap bahwa kelompok Syi’ah adalah bukan Islam karena berbagai buku literatur yang dibaca cukup banyak yang menyimpang

Organisasi Ashabul Kahfi merupakan satu-satunya organisasi Islam lokal yang menentang keras keberadaan pondok pesantren AL hadi yang berhaluan Syi’ah. Tokoh dari aliran ini adalah mantan anggota DPRD Kota Pekalongan dan tokoh agama yang cukup berpengaruh di wilayah Kota Pekalongan. Menurut Ustadz Ahmad Barakbah, tokoh dari Ashabul Kahfi merupakan tokoh yang berada di balik peristiwa penyerbuan pondok pesantren di Batang maupun di Jawa Timur. 54 Taqiyah yang dilakukan oleh kelompok Aliran Syi’ah menurut Said Sungkar adalah dibolehkannya berbohong atau menyembunyikan kekeliruannya dengan apa yang berlaku dalam ajaran Islam pada umumnya.

53

67

dari ajaran Islam yang sebenarnya. Dengan anggapan literatur yang menyimpang inilah menjadikan interaksi sosial keagamaan menjadi terhambat. Sebagai contoh masih terdapatnya warga yang tidak mau mengikuti kajian ahad sore di pondok pesantren Al Hadi karena khawatir terbawa menjadi kelompoknya. Faktor penghambat lainnya adalah adanya komunitas Syi’ah yang tidak menyelenggarakan shalat Jum’at, sehingga apabila ada anggota masyarakat lain yang tidak faham tentang ajaran Syi’ah menjadi menganggapnya sebagai aliran sesat, karena bagaimanapun ajaran Islam pada umumnya menyatakan bahwa shalat Jum’at adalah wajib hukumnya. 5). Faktor Penghambat dalam Interaksi Sosial Kemasyarakatan Untuk interaksi sosial kemasyarakatan anggota kelompok Aliran Syi’ah dengan warga sekitar sebenarnya sudah tidak ada hambatan. Akan tetapi, karena peristiwa penyerbuan anggota masyarakat ke pondok pesantren Al Hadi di Kabupaten Batang yang berdekatan lokasinya dengan pesantren Al Hadi di Pekalongan dan terjadinya pelemparan batu beberapa warga ke rumah/pondok pesantren Al Hadi interaksi sosial kemasyarakatan menjadi terganggu. Kondisi seperti ini sebenarnya sekarang sudah mulai kondusif kembali. Faktor lain yang nampaknya menjadi interaksi kurang familiar dan menjadi sebuah hambatan adalah faktor lokasi atau tempat tinggal pondok pesantren Al Hadi. Secara geografis, lokasi ponpes berada di gang dan masuk ke dalam sekitar 15 m. sementara sebelah kanan, kiri dan depannya adalah bangunan yang tertutup dengan dinding yang kokoh sehingga terkesan ponpes eksklusif 6). Faktor Penghambat dalam Interaksi dengan Pemerintah Hubungan secara kelembagaan maupun perseorangan dari anggota maupun pengurus kelompok Aliran Syi’ah dengan pemerintah akhir-akhir ini sudah cukup kondusif. Namun demikian, pada tataran tertentu masih terdapat intrik-intrik yang mengarah pada terjadinya interaksi. Intrik-intrik tersebut antara lain masih adanya pihak kelurahan

68

yang masih memandang tidak baik terhadap kelopok Aliran Syi’ah. Salah satu contoh ketika terjadi konsultasi dengan Kepala Kelurahan tentang eksistensi kelompok aliran Syi’ah, maka kepala kelurahan meminta kepada salah satu stafnya untuk berdialog. Dari hasil dialog dengan staf kelurahan tersebut, apa yang disampaikan selalu menyudutkan kelompok aliran Syi’ah. Di sinilah nampak bahwa masih ada ketidak harmonisan hububungan antara pihak kelompok aliran Syi’ah dengan pihak kelurahan. Hal ini apabil dikembangkan terus menerus akan menjadi penghambat interaksi sosial dengan pihak pemerintah setempat secara luas. 2. Potensi dan Hambatan Kelompok MTA di Surakarta a. Potensi 1). Struktur Struktur pengurus Majlis Tafsir Al Qur’an (MTA) terdiri dari : MTA Pusat yang berkedudukan di Surakarta, MTA perwakilan di tingkat Kabupaten/Kota, dan MTA Cabang di tingkat Kecamatan. Untuk struktur pengurus pada tingkat pusat dengan Ketua Umum: Drs. Ahmad Sukino, Ketua I(Suharto, S.Ag), Ketua II (Dahlan Najotaroeno) dan sekretaris( Drs. Yoyok Mugiytno, M.Si dan Drs. Medi), dan Bendahara (Mansur Masyhuri dan Sri Sadono). 2). Kepemimpinan Kepemimpinan MTA di tingkat pusat yang sekarang masih eksis merupakan kepemimpinan yang masih terinspirasi dari kepemimpinan sejak berdirinya. Maksudnya, pasca kepemimpinan pendiri MTA (Ustadz Abdullah Thufail Saputro) hingga kini pucuk pimpinan masih dipegang oleh Ustadz Ahmad Sukino. Meskipun demikian, keterpilihan Ustadz Ahmad Sukino ditentukan oleh hasil musyawarah mufakat pertemuan pengaurus-pengurus tingkat perwakilan dan cabang. Terpilihnya Ustadz Ahmad Sukino sebagai Ketua Umum MTA tidak bisa terlepas dari Ketua Umum MTA tidak bisa terlepas

69

dari kedekatannya dengan Ustadz Abdullah Thufail Saputro ketika masih memegang pimpinan MTA. Sistem kepemimpinan yang dikembangkan dalam MTA tampak sebagai imamiyah. Maksudnya kebijakan dan kepengurusan yang diambil dan dilaksanakan dominan atas otoritas dan prakarsa imam (Ketua Umum). Dengan demikian para warga/anggota MTA memiliki sikap ketaatan (tawadlu’) yang tinggi kepada imam (Ketua Umum). Hanya saja yang perlu diketahui disini bahwa sistim kepemimpinan yang diimplementasikan tidak murni dalam bentuk imamah, tetapi masih terkombinasi dengan sistim permufakatan. 3). Keanggotaan Dalam kehidupan Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) tidak disosialisasikan istilah anggota maupun keanggotaan. Tetapi dalam kehidupan MTA selain terdapat pengurus juga warga. Bagi warga MTA tidak dikembangkan adanya Kartu Tanda Anggota/warga. Sehingga jika dipertanyakan jumlah warga hanya di dasarkan pada absensi dalam kegiatan pengajian. Apabila ada warga (orang) yang telah mengikuti beberapa kali kegiatan pengajian, pihak pengaurus memberikan formulir, untuk kesediaan sebagai warga MTA. Ada beberapa pernyataan yang harus di taati oleh warga MTA sebagai berikut: a). Bersungguh-sungguh dan ihlas dalam mengaji yang diselenggarakan oleh MTA b). Benar-benar yakin dan mau mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya, baik secara individu, keluarga maupun dalam masyarakat c). Sanggup menyebar luaskan ilmu yang telah diperolehnya dengan tanpa pamrih, tasamuh dan hanya mengharap keridhoan Allah semata.55 4). Kegiatan56 a). Pengajian
55 56

Hasil wawancara dengan seorang anggota MTA tanggal 25 April 2008 Selayang Pandang Yayasan MTA, hal. 1-2 dan Hasil wawancara dengan Al Ustadz Ahmad Sukino tanggal 25 April 2008

70

Dalam kegiatan pengajian yang diselenggarakan oleh MTA ada dua macam, yakni khusus dan umum. Pengajian khusus merupakan pengajian yang pesertanya terdaftar dan setiap mengikuti kegiatan diabsen. Pengajian khusus ini diselenggarakan seminggu sekali, baik ditingkat pusat, perwakilan-perwakilan dan cabang-cabang. Adapun para guru (ustadz) pengajian itu dikirim dari pusat atau yang disetujui oleh pusat. Pada tingkat perwakilan maupuin cabang yang terlalu jauh untuk dijangkau dari pusat, maka pengajian dengan guru (ustadz) dari pusat diselenggarakan dua minggu sekali, satu bulan sekali, bahkan satu semester sekali dengan frekuensi sekali sehari. Materi yang diberikan dalam pengajian khusus adalah tafsir AlQur’an yang dikeluarkan oleh Departemen Agama dan kitab-kitab tafsir lain, baik karya ulama Indonesia maupun ulama salaf, seperti Al Manar, Al Maroghi, dan Ibnu Katsir. Proses belajar mengajar dalam pengajian khusus itu dilakukan dengan teknik ceramah dan tanya jawab. Guru (ustadz) menyajikan materi yang disampaikannya, kemudian peserta mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Berdasarkan tanya jawab itu, maka pokok pembahasan dapat berkembang ke berbagai hal yang dipandang perlu. Dari kegiatan itulah kajian tafsir Al Qur’an dapat berkembang ke kajian aqidah, syariat, akhlak, tarikh, dan masalah aktual yang terjadi sehari-hari. Di samping itu, pengkajian Tafsir Al Qur’an yang dilaksanakan MTA secara otomatis mencakup pengkajian Al Hadist. Itu semua bertujuan agar peserta (warga) MTA memahami, menghayati dan mengamalkan Al Qur’an secara konsekwen. Kemudian untuk pengajian yang bersifat umum adalah pengajian yang dibuka untuk umum. Maksudnya peserta pengajian tidak hanya dari warga MTA. Untuk kegiatan pengajian umum itu tidak ada absen bagi peserta. Materi pengajian umum itu lebih ditekankan pada hal-hal yang diperlukan dalam pengamalan sehari-hari. Adapun pengajian umum tersebut baru dapat diselenggarakan oleh MTA tingkat pusat, yang

71

diselenggarakan sekali dalam seminggu (tiap hari minggu pagi) di Surakarta. Pemateri pada kegiatan pengajian umum itu adalah Ustadz Ahmad Sukino dan para tokoh agama Islam lain non warga MTA. b). Kegiatan Lainnya Pengamalan Al Qur’an membawa kebentuk kehidupan bersama berdasar Al Qur’an dan Sunah Nabi. Kehidupan bersama ini menuntut adanya berbagai kegiatan yang terlembaga untuk memenuhi kebutuhan warga. Oleh karena itulah, di samping menyelenggarakan kegiatan pengajian, MTA juga menyelenggarakan kegiatan-kegiatan lain. Adapun kegiatan-kegiatan lain yang diselenggarakan MTA itu adalah pendidikan formal dari tingkat TK-SMTA, pondok pesantren (pendidikan non formal), dan kegiatan yang bersifat non formal), dan kegiatan yang bersifat sosial, seperti kerja bakti dengan Pemda dan TNI, donor darah rutin ke PMI (setiap tri wulan), pemberian santuna kepada korban bencana alam dan konflik, pemberdayaan ekonomi umat, kesehatan, penerbitan buku dan brosur dan siaran radio. Khusus tentang siaran melalui radio itu, MTA sudah mempunyai pemancar dan studio sendiri sejak 1 Maret 2007 pada gelombang 107.9 MHz. Untuk kegiatan sosial tersebut di atas, pada tataran implementasi dilapangan, pelaksanaannya adalah aktifis satgas MTA. Jadi untuk kegiatan yang bersifat sosial sebagaimana disinggung dimuka, yang melaksanakan adalah satgas MTA. 5). Sumber Dana Banyak pihak yang mempertanyakan tentang dari mana MTA mendapatkan dana untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang relatif intensif itu. Bahkan pernah ada isu, bahwa dana kegiatan MTA itu bersumber dari luar negeri maupun orpol tetentu. Ternyata menurut Ustadz Ahmad Sukirno (ketua umum) bahwa kegiatan dana MTA itu bersumber dari warga sendiri. Bagaimanakah MTA mampu memberikan motivasi kepada warganya untuk berpartisipasi dana dalam setiap kegiatan? Ternyata salah satu ajaran yang diberikan kepada warga benar-benar dipahami dan diamalkan. Adapun

72

ajaran yang dimaksud adalah bahwa sesungguhnya jihad itu terdiri atas dua unsur, yaitu jihad bi amwal (harta) dan jihad bi anfus (jiwa). Apabila jihad bi amwal (harta) dihayati dengan baik dan diamalkannya secara konsekuen dan konsisten, membiayai maka umta Islam tidak pernah akan kekurangan dana untuk kegiatan-kegiatannya. Warga MTA senantiasa ingin

berpartisipasi dalam setiap kegiatan dan berani berjihad bukan hanya dengan anfus, tetapi juga bi amwal, sebab memang demikianlah yang dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya.57 b. Pendukung dan Penghambat Interaksi Sosial 1). Faktor Pendukung dalam Interaksi Sosial Keagamaan Faktor pendukung dalam interaksi sosial kemasyarakatan warga MTA dengan umat lainnya adalah dibukanya kebebasan umat lain untuk mengikuti kegiatan pengajian umum setiap minggu pagi. Selain itu pihak MTA membuka lebar pintu bagi para tokoh agama Islam yang berskala Nasional maupun regional untuk menjadi penceramah pada kegiatan tersebut. Hal ini dilakukan untuk menunjukan bahwa MTA sebenarnya sangat terbuka untuk memperoleh masukan melalui pengajian yang diselenggarakan. Prinsip lana a’maluna wa lakum a’malukum yang tertanam dalam diri warga MTA menjadikan pihak lain tidak merasa terganggu. Sehingga dalam kehidupan sosial keagamaan warga MTA dengan umat lain tidak pernah terjadi konflik. Prinsip inilah yan senantiasa dikembangkan oleh warga MTA untuk menjaga keberlangsungannya dalam berinteraksi sosial dengan masyarakat yang didasarkan pada ajaran agama. Prinsip saling mengerti dalam keberbedaan dan tidak menggangu umat lain melakukan sesuai dengan amalnya merupakan langkah fleksibiltas warga MTA. 2). Faktor Pendukung dalam Interaksi Sosial Kemasyarakatan Faktor pendukung terciptanya interaksi warga MTA dengan pihak lain adalah adanya motivasi jihad bi amwal yang tertanam pada diri warga MTA. Selain itu penghimpunan dana yang relatif mudah dari warga MTA

57

Selayang Pandang Yayasan MTA, op-cit, hal. 3-4

73

menjadikan MTA sering melakukan kegiatan yang bersifat sosial, seperti pemberian santunan, donor darah dan pemberdayaan warga setempat. Dari kegiatan-kegiatan itulah tercipta interaksi yang baik antara warga MTA dengan puhak lain. 3). Faktor Pendukung dalam Interaksi Dengan Pemerintah dan Pihak Lain Faktor pendukung adanya interaksi MTA dengan pihak pemerintah adalah potensi yang dimilii maupun usaha-usaha yang dilakukan oleh MTA dapat memberi manfaat bagi masyarakat luas, seperti usaha dibidang penddikan, kesehatan dan pemberian santunan. Kemudian terciptanya interaksi pimpinan MTA dengan para pimpinan ormas maupun kelompok lain adalah adanya tokoh-tokoh religius Islam yang menjadi relawan dalam upaya menciptakan kerukunan (ukhuwah) sesama umat muslim Surakarta. 4). Faktor Penghambat dalam Interaksi Sosial Keagamaan Penghambat interaksi sosial keagamaan warga MTA dengan kelompok atau umat lain adalah kurang elastisnya pemahaman dan pengamalan ajaran Al Quran ketika menghadpi perbedaan dengan kelompok atau umat lain. Kemudian warga MTA juga belum mau mengikuti kegiatankegiatan keagamaan yang diselenggarakan pihak lain, selain jumatan. 5). Faktor Penghambat dalam Interaksi Sosial Kemasyarakatan Untuk interaksi sosial kemasyarakatan warga MTA dengan pihak lain relatif hampir tidak ada. Hanya ada satu hal yang menjadi penghambat berinteraksi sosial kemasyarakatan warga MTA dengan pihak lain, yaitu kegiatan kaum wanita (ibu). Oleh karena mempunyai pandangan bahwa kegiatan Dasa Wisma PKK itu merupakan hal yang mubazir, maka bagi kaum wanita MTA kurang berinteraksi dengan warga sekitarnya. 6). Faktor Penghambat dalam Interaksi dengan Pemerintah dan Pihak Lainnya. Masih adanya persepsi yang tidak sepaham terhadap pemahaman dan pengamalan ajaran Al Qur’an warga MTA, baik oleh oknum pejabat maupun kelompok atau armas tertentu, maka hal itu kurang mendukung dan bahkan berakibat menyebabkan kurang harmonisnya hubungan interaksi kedua belah pihak.

74

3. Potensi dan Hambatan Kelompok Syahadatain a. Potensi 1). Struktur Sejak berdiri sampai sekarang, kelompok Syahadatain tidak memiliki struktur pengurus yang jelas. Kelompok ini hanya memiliki satu pemimpin, yaitu Kyai Husein. Namun demikian sepeninggal Kyai Husein juga tidak ada pemilihan siapa yang menggantikan posisi Kyai Husein. Menurut Ahmadi, bahwa kepemimpinan dalam kelompok Syahadatain bersifat otomatis, yaitu Kyai Husein sebagai pendiri maka dengan sendirinya menjadi pemimpin dan sekarang sepeninggal Kyai Husein, maka kepemimpinan dipegang oleh adiknya, yaitu Kyai Mustangin. Memang ada pemikiran sekarang ini untuk membentuk struktur kepengurusan yang jelas sebagaimana yang berada di tingkat pusat. 2). Kepemimpinan Kepemimpinan yang dikembangkan oleh kelompok Syahadatain adalah kepemimpinan kharismatis dalam kelompok tersebut. Oleh karena itu, yang menjadi pemimpin adalah yang paling berwibawa terutama dari trah keturunan/keluarga Kyai Husein sebagai pendiri utama. Namun demikian apabila dalam perkembangannya tidak ada dari keluarga Kyai Husein yang memiliki kewibawaan terutama dalam usia dan kekhusuan, maka pemimpin dapat diambil dari anggota kelompok yang lain yang dipandang berwibawa dan cukup baik ilmu agamanya. Menurut Ahmadi, bahwa organisasi tidaklah begitu penting karena yang paling penting adalah keistiqomahan dalam menjalankan sunnahsunnah Nabi Muhammad SAW secara konsisten, seperti bersorban, melakukan shalat tahajud dan dilanjutkan shalat dhuha. Dan yang sekarang mampu melakukannya adalah Kyai Mustangin di mana pada setiap tengah malam sudah berada di masjid shalat tahajud dilanjutkan shalat shubuh dan dzikir/wirid sampai pada waktu dhuha. 3). Keanggotaan Keanggotaan dalam kelompok Syahadatain tidak diatur sebagaimana organisasi Islam pada umumnya, seperti melalui trining maupun pemberian

75

kartu anggota. Keanggotaan di sini bersifat sukarela tanpa ada unsur paksaan dan siap mengikuti berbagai aktivitas yang dilakukan oleh kelompoknya. Bahkan anggota masyarakat yang ikut dalam kegiatan yang dilakukan oleh kelompok Syahadatain, seperti mengikuti peringatan hari besar Islam, ikut shalat Jum’at atau halat fardlu lainnya secara berjamaah, ikut dzikir dan wirid tidak secara otomatis sebagai anggotanya. Seseorang yang bisa dijadikan anggota adalah yang selalu mengikuti kegiatan yang diadakan kelompok Syahadatain dan secara lisan menyampaikan kepada pimpinan. Namun demikian, secara umum dapat dilihat bahwa anggota kelompok Syahadatain selalu memakai sorban putih ketika akan melaksanakan shalat sehingga bagi anggota masyarakat yang ingin bergabung cukup dengan berpakaian sebagaimana kelompok Syahadatain kelompoknya. 4). Kegiatan58 Kegiatan yang dilakukan oleh kelompok Syahadatain terbagi menjadi tiga, yaitu dalam bentuk pengajian, kegiatan rutin (tahlil, dzikir dan wirid setiap hari kamis malam dan tawasulan setiap hari minggu malam) dan temu nasional. Untuk pengajian dilakukan setiap kali habis membaca tahlil, Yasiin dan wirid lainnya pada hari kamis malam jum’at dan apengajian dalam rangka memperingati hari besar Islam. Adapun yang memberi materi adalah Kyai Mustangin untuk kegiatan pengajian rutin sedangkan pengajian lainnya oleh anggota lainnya. Kegiatan lain adalah Tawasulan yang dilakukan setiap hari minggu malam senin. Khusus untuk kegiatan temu nasional diadakan di daerah Panuragan Wetan Kabupaten Cirebon yang dilaksanakan setiap bulan Mulud. Pertemuan ini merupakan ajang silaturahim kelompok Syahadatain tingkat nasional bukan dalam rangka pergantian pengurus. Pada temu nasional ini sebenarnya kegiatannya sama dengan yang dilakukan oleh masing-masing dan mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh

58

Selayang Pandang Yayasan MTA, hal. 1-2 dan Hasil wawancara dengan Al Ustadz Ahmad Sukino tanggal 25 April 2008

76

kelompok Syahadatain di berbagai daerah pada saat menyambut kedatangan bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam menyelenggarakan seluruh kegiatan yang dilakukan oleh kelompok Syahadatain dibiayai oleh anggotanya secara sukarela. Sebagai contoh ketika ada kegiatan kamis malam Jum’at yang membutuhkan konsumsi cukup banyak, maka seluruh hidangan yang disajikan adalah dari anggota yang kebetulan memiliki rizki yang cukup. Begitu juga ketika pembangunan/pemekaran Masjid Syahadatain lebih banyak didanai oleh anggotanya, meskipun juga ada beberapa kaum muslimin di luar anggotanya yang ikut membantu. Sebenarnya dalam kegiatan maupun pendanaan untuk semua kegiatan pengajian, tawasulan/tahlil dan rehab Masjid, kelompok Syahadatain sangat terbuka, yaitu siap menerima bantuan dari manapun dan dari siapapun termasuk dari pemerintah. Kelompok Syahadatain pada dasarnya terbuka kepada siapapun untuk keperluan apapun, yang paling penting menurut Ahmadi jangan mengatakan kelompok Syahadatain adalah sesat. b. Pendukung dan Penghambat Interaksi Sosial 1). Faktor Pendukung dalam Interaksi Sosial Keagamaan Faktor pendukung dalam interaksi sosial keagamaan yang terjadi antara kelompok Syahadatain dengan masyarakat sekitar adalah sama-sama berada dalam kultur yang sama, yaitu kultur NU, sehingga pengamalan agamanya tidak jauh berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Begitu juga dalam kegiatan yang bersifat sosial keagamaan, seperti dalam pengurusan jenazah dari memandikan sampai pada pemakaman dilakukan sebagaimana yang dilakukan oleh masyarkat pada umumnya, yaitu selain dimandikan dan dikafani serta di shalati juga terdapat kegiatan Talqin terhadap jenazah. 2). Faktor Pendukung dalam Interaksi Sosial Kemasyarakatan Untuk kegiatan sosial kemasyarakatan bagi kelompok Syahadatain tidak ada masalah, sehingga interaksi sosial kemasyarakatan juga dapat terjalin dengan baik. Faktor pendukung yang kuat dalam interaksi sosial

77

kemasyarakatan adalah sebagian anggota kelompok Syahadatain sebagai Ketua RT dan pengurus RT dan RW. Posisi sebagai pengurus di wilayah RT dan RW inilah yang memudahkan untuk berinteraksi dengan anggota masyarakat lainnya, apalagi sebagai pelayan masyarakat selalu siap menerima persoalan yang dihadapi oleh anggota masyarakat terutama berkaitan dengan surat menyurat. 3). Faktor Pendukung dalam Interaksi dengan Pemerintah dan Pihak Lain Hubungan kelompok Syahadatain dengan pemerintah secara organisasi tidak ada, namun demikian terdapat faktor yang cukup kondusif untuk berhubungan dengan pihak pemerintah terutama pemerintahan tingkat desa. Faktor yang cukup dominan dalam interaksi anggota kelompok Syahadatain dengan pemerintah adalah dilatarbelakangi oleh kedudukan beberapa anggota kelompok Syahadatain yang menjadi ketua RT maupun pengurus pada level RT dan RW. Dengan posisi inilah menjadi dukungan yang kuat interaksi kelompok Syahadatain dengan pemerintah. 4). Faktor Penghambat dalam Interaksi Sosial Keagamaan Meskipun tidak ada persoalan dalam berbagai interaksi, akan tetapi apabila ditelusuri lebih jauh terdapat beberapa unsur yang menjadi faktor penghambat dalam interaksi sosial keagamaan. Faktor yang sangat memungkinkan menjadi penghambat dalam interaksi sosial keagamaan dengan anggota masyarakat umumnya adalah adanya anggota dari kelompok Syahadatain yang dikenal tidak memiliki toleransi dengan anggota masyarakat umumnya, terutama ketika ada kematian, shalat janazah, dan tahlilan. Menurut Warsito, diakui bahwa ada anggota Syahadatain yang sering tidak mengikuti tahlilan atau membantu orang yang terkena musibah karena orang yang terkena musibah bukan dari kelompoknya. Hal ini sedikit akan mengganggu interaksi sosial keagamaan yang ada di masyarakat. Namun demikian, diakuinya tidak semua anggota kelompok Syahadatain seperti itu. Masih banyak anggota kelompok Syahadatain yang baik bahkan sangat giat dalam membantu anggota masyarakat yang terkena musibah. Sementara itu

78

yang memiliki karakter tidak baik di atas juga dimiliki pada kelompok keagamaan atau organisasi keagamaan lainnya. Ia menambahkan, bahwa sesuatu yang memungkinkan akan menjadi penghambat dalam interaksi sosial keagamaan adalah kegiatan tahlil, dzikir maupun wirid yang dilakukan di masjid Syahadatain melewati jam 21.00 WIB. Untuk sementara tidak ada masalah, akan tetapi dikhawatirkan ketika terdapat warga sekitar yang merasa terganggu, sementara jamaah yang sedang beraktivitas bukan dari wilayah sekitar, maka akan memunculkan masalah yang dengan sendirinya berakibat pada interaksi sosial keagamaan yang lain. Selain hambatan di atas, juga terdapat persoalan yang mengarah pada munculnya hambatan, yaitu eksklusifitas dalam kegiatan beribadah. Sebagai contoh dilihat dari segi berpakaian bagi laki-laki adalah dengan jubah dan bersorban putih, melakukan shalat Jum’at tanpa bercampur di masjid yang dimiliki oleh masyarakat, padahal pelaksanaan shalat jum’at di masjid Syahadatain hanya diikuti oleh kurang dari 40 orang di mana dalam paham ahlussunnah Wal jamaah yang dipahami oleh sebagian besar kalangan NU harus lebih dari 40 orang. Begitu juga adanya shalat sunnah Ba’diyah maupun qobliyah yang mengiringi shalat wajib yang dilakukan dengan berjamaah, padahal shalat sunnah tersebut biasanya dilakukan dengan sendiri-sendiri (munfaridan). Di sinilah dengan eksklusifitas dalam beribadah, melakukan shalat jum’at kurang dari 40 orang dan melakukan shalat sunnah secara berjamaah akan memunculkan faham baru, apalagi dari kelompok Syahadatain ini tidak ada yang ikut shalat jum’at di masjid milik masyarakat. 5). Faktor Penghambat dalam Interaksi Soaial Kemasyarakatan Interaksi sosial kemasyarakatan antara kelompok Syahadatain dengan anggota masyarakat pada umumnya tidak ada hambatan yang berarti. Interaksi ini berjalan dengan baik yang ditunjukan dalam kegiatan kerja bakti, saling menengok apabila ada anggota masyarakat yang sakit dan aktif dalam kegiatan yang bersifat kebersamaan antar warga, seperti lomba dalam

79

rangka 17 Agustus maupun dalam kegiatan lain dengan menyediakan konsumsi secara suka rela. 6). Faktor Penghambat dalam Interaksi sosial dengan Pemerintah Interaksi sosial kelompok Syahadatain dengan Pemerintah tidak ada hambatan. Hal ini dikarenakan sebagian anggota kelompok Syahadatain yang dituakan adalah pengurus Ketua RT dan pengurus RW. Jabatan di RT maupun RW menurut H. Ahmad Mawardi (Ketua RT dan anggota kelompk Syahadatain) tidak bersifat politis agar anggota kelompoknya memiliki pengaruh di masyarakat. Jabatan ini murni jabatan hasil pilihan anggota masyarakat yang bukan anggota kelompok Syahadatain, sehingga dalam melaksanakan tugasnya didasarkan pada amanat. Dengan demikian hubungan kelompoknya dengan pemerintah secara otomatis baik, begitu juga dengan anggota masyarakat. 4. Potensi dan Hambatan Organisasi LDII di Kabupaten Pati a. Potensi 1). Struktur Untuk pembahasan ini, struktur keorganisasian LDII yang dikemukakan adalah struktur yang paling akhir (periode tahun 2004-2009). Struktur kepengurusan LDII Kabupaten Pati terdiri dari struktur Dewan Penasehat dan Pengurus Harian. Ketua Dewan Penasehat adalah K.H. Anwar Muhammadin dan Ketua Pengurus Harian adalah Agus Priyono, B.Sc. Pengurus harian terbagi dalam bidang-bidang, yaitu: Organisasi, Keanggotaan dan Kaderisasi; Penerangan dan Mass Media; Pendidikan Umum dan Pelatihan; Pemuda Olah raga, Seni dan Budaya; Peranan Wanita dan Kesejahteraan Wanita; dan Koperasi, Wiraswasta dan Kesejahteraan Sosial; serta Pelatihan dan Bantuan Hukum. 2). Kegiatan59 Kegiatan yang dilaksanakan oleh LDII Kabupaten Pati paling tidak ada dua, yaitu pengajian rutin dan kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan
59

Selayang Pandang Yayasan MTA, hal. 1-2 dan Hasil wawancara dengan Al Ustadz Ahmad Sukino tanggal 25 April 2008

80

sosial. Untuk kegiatan pengajian bagi anggota LDII dilaksanakan dalam tiga tingkatan, yaitu PAC, PC dan DPD. Untuk tingkat PAC dilaksanakan 3 kali dalam seminggu, yakni malam Selasa, malam Kamis dan malam Sabtu. Pengajian tingkat PC dilaksanakan 3 kali dalam sebulan, yakni minggua ke II, III dank e IV. Sedangkan pengajian tingkat DPD dilaksanakan sebulan sekali setiap Minggu I. Untuk kegiatan sosial bagi anggota LDII dilakukan dengan memberikan santunan pada kaum Dhuafa dan memberikan bantuan berupa uang maupun natura setiap ada korban bencana alam di Indonesia. b. Pendukung dan Penghambat Interaksi Sosial 1). Faktor Pendukung Faktor pendukung adanya interaksi sosial antara anggota LDII dengan masyarakat sekitarnya adalah adanya fatwa MUI yang harus dilaksanakan oleh LDII. Selain itu, sikap toleran masyarakat muslim sekitarnya terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan yang diselenggarakan oleh LDII. Begitu juga adanya sikap solidaritas anggota LDII dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. 2). Faktor Penghambat Perihal yang menghambat terciptanya interaksi antara anggota LDII dengan masyarakat sekitar adalah adanya dua hal yang cukup sulit untuk segera dinetralisir, yaitu: a). Masih adanya eksklusivitas anggota LDII dalam hal keberagamaan b). Adanya praduga negatif dari masyarakat terhadap anggota LDII terkait dengan implementasi keagamaan, seperti nikah dan penggunaan tempat peribadatan oleh kelompok lain. 5. Potensi dan Hambatan Organisasi LDII di Kabupaten Grobogan a. Potensi 1). Struktur Berdasarkan surat keputusan Dewan Pimpinan Daerah LDII Propinsi Jawa Tengah Nomor: Kep-6/K/V/2006 tentang Pengesahan Komposisi Personalia

81

Dewan Pimpinan Daerah LDII Kabupaten Grobogan Periode 2004 – 2009 dengan ketua Dewan Penasehat adalah Erman Suharto, S.Sos. dan Ketua Pengurus Harian adalah H. Moch Kadam. Struktur Pengurus Harian terdiri dari bagian-bagian, yaitu: Organisasi, Keangotaan dan Kaderisasi; Hubungan Antar Lembaga; Komunikasi, Informasi dan Media; Pendidikan Agama dan Dakwah; Pendidikan Umum dan Pelatihan; Iptek, Lingkungan Hidup dan Kajian Strategis; Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat; Pemuda Olah Raga dan Seni Budaya; Bantuan Hukum dan HAM; serta Pemberdayaan Wanita dan Kesejahteraan. 2). Kepemimpinan Kepemimpinan yang dikembangkan dalam organisasi LDII secara umum sama dengan organisasi lain yang mengikuti aturan pemerintah berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Oleh karena itu, sistim musyawarah sangat dikembangkan untuk menetapkan kepemimpinan dari satu periode ke periode berikutnya. Sebagai contoh adalah yang dilakukan untuk kepemimpinan periode 2004– 2009 LDII Kabupaten Grobogan didasarkan pada hasil musyawarah Dewan Pimpinan Daerah LDII Kabupaten Grobogan pada tanggal 15 Desember 2004. Namun demikian untuk menetapkan secara sah dilakukan oleh DPD tingkat atasnya, yaitu Jawa Tengah. Model kepemimpinan yang didasarkan pada asas musyawarah ini merupakan penetapan yang telah disahkan melalui Musyawarah Nasional LDII. Hal ini termaktub dalam AD/ART Bab VII Pasal 19 yang berbunyi bahwa organisasi ini mempunyai 5 (lima) tingkatan musyawarah dari musyawarah tingkat nasional atau yang disingkat dengan MUNAS, MUSDA Tk. I, MUSDA Tk. II, MUSCAB dan musyawarah tingkat anak cabang atau disingkat MUSACAB. Dengan adanya penetapan tersebut juga berimplikasi pada sikap dalam pengambilan Keputusan. Hal ini tetruang dalam Bab IX tentang Pengambilan Keputusan pasal 22 yang berbunyi antara lain Musyawarah/rapat adalah sah apabila dihadairi lebih dari setengah yang

82

wajib hadir dan Keputusan diambil atas dasar mufakat apabila tidak terpenuhi diambil dengan suara terbanyak. 3). Keanggotaan Menurut Drs. Suharman, bahwa segala keputusan yang berkaitan dengan organisasi diambil sesuai dengan AD/ART yang telah disahkan. Begitu juga masalah keanggotaan dalam LDII bersifat suka rela dan tidak mengikat serta terbuka untuk setiap warga negara Indonesia dan yang disebut anggota dalam LDII adalah orang yang bersedia mengikuti kegiatan LDII dan menyetujui AD/ART, program kerja dan seluruh keputusan hasil musyawarah/rapat-rapat dan peraturan organisasi. 4). Kegiatan Kegiatan yang dilaksanakan oleh LDII Kabupaten Grobogan lebih banyak pada internal anggota dan bersifat pendalaman materi keagamaan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadits. Meskipun demikian terdapat kegiatan yang lebih menekankan pada konsolidasi pengurus sekaligus membahas pengajian, pembangunan fisik gedung, yaitu dengan pertemuan pengurus setiap satu bulan sekali. Kegiatan yang bersifat keagamaan dalam bentuk pengajian dilaksanakan setiap hari Senin, Selasa dan Jum’at. Adapun waktu pengajian dilaksanakan setiap habis shalat Isya antara pukul 19.30 sampai dengan 21.00 WIB. Di samping itu, juga terdapat pengajian Cabe Rawit yang dilaksanakan setiap hari setelah shalat Ashar dengan materi Iqro’, hafalan do’a dan baca tulis al Qur’an (BTA). Pengajian cabe rawit ini sama dengan Taman Pendidikan Al qur’an (TPQ) dan diperuntukan bukan hanya untuk putra-putra angota LDII, melainkan terbuka untuk umum. Selain kegiatan di atas juga terdapat kegiatan rutin setiap hari Jum’at, yaitu shalat Jum’at berjamaah. Dalam shalat Jum’at ini dilakukan sebagaiman shalat Jum’at pada umumnya dengan adzan dua, hanya saja isi khutbah dibacakan dalam bahasa Arab dengan teks buku yang telah tersedia di mimbar. Setelah khutbah pertama selesai, Khotib duduk sambil berdo’a dengan bacaan sirri selama kurang lebih 45 detik dan dilanjutkan dengan khutbah kedua juga dengan bahasa Arab.

83

Setelah selesai shalat Jum’at, Khotib berdiri dan menyampaikan pengajian dengan bahasa Indonesia yang isinya menjawab pertanyaan dari salah seorang jamaah di luar pembahasan Jum’at. Ketika Khotib sedang menyampaikan ceramahnya, para jamaah melemparkan uang ke arah depan seusia dengan keikhlasannya. Menurut para jamaah bahwa pelemparan uang tersebut adalah infaq yang menggambarkan keikhlasan sesuai dengan kemampuan uang yang dimiliki dan ketika dilemparkan berarti benar-benar menyerahkan uang tersebut. Hal ini berbeda apabila menggunakan kotak infaq yang selain mengganggu juga merasa kurang ikhlas karena beramal dengan ditutupi pakai tangan atau bahkan ada jamaah yang gengsi dan risih akhirnya memasukan bukan karena Allah melainkan karena gengsi atau risih. 5). Sumber Dana Sumber dana untuk semua kegiatan maupun untuk pembangunan fisik masjid dan gedung lainnya berasal dari anggota tanpa ditentukan berapa jumlahnya. Pendanaan ini termasuk dari infaq shalat jum’at dan para donatur kaum muslim yang ingin menginfakan dananya melalui LDII. Menurut Drs. Suharman, sementara ini belum terfikirkan untuk mengadakan penarikan infaq rutin yang dibebankan kepada para anggota. Bahkan informasi yang berkembang di masyarakat tentang diambilkan dari zakat penghasilan anggotanya sebanyak 20 % adalah belum juga terfikirkan. Diakui ada dana yang bersifat rutin yang diterima oleh Pengurus LDII Kabupaten Grobogan, namun demikian jumlahnya juga tidak dapat diprediksikan. Dana-dana rutin yang setiap bulan diperoleh tersebut berasal dari cabang-cabang. Namun demikian tidak semua cabang selalu mengirimkan iuran setiap bulan, hal ini sangat tergantung pada kondisi keuangan dari cabang itu sendiri. Berangkat dari kondisi seperti inilah, menurut Drs. Suharman bahwa iuran yang diberikan oleh cabang-cabang tersebut bersifat insidential b. Pendukung dan Penghambat Interaksi Sosial 1). Faktor Pendukung dalam Interaksi Sosial Keagamaan

84

Pada awalnya interaksi sosial keagamaan yang dilakukan oleh LDII agak kesulitan, hal ini diakui karena masih ada opini di masyarakat yang berkembang, bahwa LDII eksklusif, masjidnya tidak boleh untuk shalat yang bukan anggotanya dan dalam mencuci tidak boleh di jemur bersama-sama yang bukan anggota LDII. Namun demikian, dalam perkembangannya interaksi sosial keagamaan sudah mulai membaik. Hal ini didukung oleh sifat terbukannya LDII setelah menggunakan paradigma baru yang menerima semua orang Islam secara umum. Faktor pendukung lainnya dalam interaksi sosial keagamaan ini adalah terbukanya masjid untuk umum pada saat shalat maupun pengajian, membagikan daging qurban ke masyarakat yang dilakukan oleh anggota LDII dan adanya pengajian cabe rawit yang diperuntukan untuk semua anakanak muslim tanpa terkecuali dan kondisi pusat kegiatan keagamaan LDII yang secara geografis dilalui oleh anggota masyarakat pada umumnya. 2). Faktor Pendukung dalam Interaksi Sosial Kemasyarakatan Berkaitan dengan interaksi sosial kemasyarakatan diakui oleh Bambang Setyobudi (Ketua RT) pada awalnya aga kesulitan karena tidak mau bergabung, baik dalam acara rapat bulanan maupun dalam acara kerja bakti. Hal ini dimaklumi karena kebanyakan anggota LDII bertempat tinggal di luar wilayahnya, Namun demikian setelah tokoh LDII dijadikan pengurus RT dan ada beberapa anggota LDII yang mendapat bantuan dari pemerintah melalui RT, maka interaksi sosial kemasyarakatnya menjadi baik. Disinilah masuknya tokoh LDII yang menjadi pengurus RT dan adanya anggota LDII yang menerima bantuan dari pemerintah menjadikan interaksi sosial kemasyarakatan menjadi baik. Bahkan akhir-akhir ini telah terjadi pembauran antara anggota LDII dengan anggota masyarakat di luar LDII ketika ada lomba-lomba yang bersifat umum, seperti pada saat 17 Agustusan. 3). Faktor Pendukung dalam Interaksi dengan Pemerintah dan Pihak Lain Hubungan organisasi LDII dengan pemerintah secara organisasi tidak ada, akan tetapi hubungan dengan pemerintah terutama pada tataran RT adalah baik. Hal ini didukung oleh semakin terbukanya anggota LDII untuk

85

mengikuti aturan pemerintah dalam persoalan yang berkaitan dengan pemerintahan, seperti dalam pembuatan KTP dan Pernikahan. Selain itu, sebenarnya ada faktor pendukung lainnya, yaitu sebagian tokoh utama LDII adalah PNS yang bekerja di berbagai lini kepemerintahan, sehingga bagaimanapun autran-aturan yang harus dilaksanakan berkaiatan dengan pemerintahan harus diselesaikan sesuai dengan procedural. 4). Faktor Penghambat dalam Interaksi Sosial Keagamaan Meskipun interaksi sosial keagamaan anggota LDII sudah dapat dikatakan baik, namun demikian masih terdapat persoalan yang bisa menjadi penghambat. Menurut Bambang Setyobudi, bahwa di wilayah RT 07 yang juga sebagai pusat kegiatan keagamaan LDII terdapat pengajian rutin atau yang lebih dikenal dengan Jamaah Tahlil Al Muqorrobiin yang diselenggarakan setiap hari Kamis malam jum’at. Selama ini pengurus maupun anggota LDII tidak ada yang mau mengikuti jamaah tahlil tersebut tanpa alasan yang jelas. Di samping itu, juga beredar opini masyarakat, bahwa pernikahan yang dilakukan oleh anggota LDII tidak hanya di KUA melainkan juga dilakukan di kelompoknya, sehingga pernikahan dilakukan dua kali. Kondisi seperti inilah paling tidak menjadi pembicaraan masyarakat tentang anggota LDII yang tidak mau bercampur dengan masyarakat ketika ada kegiatan keagamaan di RT. 5). Faktor Penghambat dalam Interaksi Sosial Kemasyarakatan Dalam minteraksi sosial kemasyarakatan sebenarnya sudah tidak ada persoalan lagi sehingga hambatan-hambatan itu tidak muncul. Apalagi setelah peristiwa kebanjiran dan banyak anggota masyarakat mengungsi di aula LDII, maka semakin tidak ada jarak antara anggota LDII dengan anggota masyarakat. Namun demikian kesan LDII eksklusif yang kadang muncul dan sampai kepada masyarakat inilah sering menjadi faktor penghambat. Sebagai contoh ketika shalat jum’at masih terdapat warga yang berada di sekitar masjid LDII tidak mau mengikuti shalat jum’at di masjid LDII, akan tetapi lebih memilih di masjid lainnya yang relatif lebih jauh.

86

6. Potensi dan Hambatan Kelompok Jamaah Tabligh a. Potensi 1). Struktur Menurut ustadz Ismail dan ustadz Abdul Ala, bahwa dalam Jamaah Tabligh tidak terdapat struktur kepengurusan secara formal atau sebagaimana organisasi pada umumnya. Namun dalam kegiatannya senantiasa ada penanggung jawab maupun pembantu-pembantu pada saat tabligh khuruj maupun pengelolaan di pondok pesantren. Kepengurusan Jamaah Tabligh di Kabupaten Magelang terdiri dari penanggungjawab, sekretaris dan pembantu-pembantu, yaitu istiqbal, tafahud, tasykil, i’lam, mimbar wala, dan hidmah. Istiqbal adalah bertugas menerima tamu, tafakhud seorang yang betrugas menyeleksi orang-orang yang akan keluar di jalan Allah (khuruj), Tasykil adalah seorang yang bertugas memberikan pengumuman di markas (masjid dakwah), mimbar wala adalah seorang yang bertugas sebagai protokol dalam dalam musyawarah, Khidmah adalah seorang yang bertugas memberikan pelayanan kepada para anggota jamaah.60 b. Pendukung dan Penghambat Interaksi Sosial 1). Faktor Pendukung dalam Interaksi Sosial Keagamaan Faktor pendukung interaksi social keagamaan kelompok Jamaah Tabligh dengan masyarakat muslim sekitar adalah adanya kegiatan pengajian akbar setiap hari Kamis malam Jum’at. Hal itu disebabkan pada kegiatan pengajian tersebut pihak kelompok Jamaah Tabligh membuka pengajian yang diperuntukan untuk umum dan secara terbuka bagi kaum muslimin di luar kelompoknya diminta untuk mengikuti kegiatan tersebut. 2). Faktor Penghambat Faktor penghambat interaksi social keagamaan maupun interaksi social kemasyarakatan kelompok Jamaah Tabligh dengan masyarakat muslim sekitar adalah adanya eksklusifitas kelompok tersebut. Dengan

60

Sulaiman, Jamaah Tabligh di desa Kerincing Kecamatan Secang Kabupaten Magelang. Balitrohag. Semarang. 1997. Halaman 12-13.

87

demikian cukup sulit anggota kelompok Jamah Tabligh untuk berinteraksi secara bebas dengan anggota masyarakat pada umumnya. C. Pola Pembinaan dan Pengembangan Kelompok Aliran Islam Minoritas 1. Pola Pembinaan dan Pengembangan Kelompok Aliran Syi’ah Pola pembinaan yang dikembangkan di ponpes Al Hadi sementara ini lebih banyak dilakukan di internal ponpes. Sedangkan Departemen Agama Kota Pekalongan sebagai institusi pemerintah tidak pernah secara langsung mengadakan pembinaan. Menurut Kakandepag Kota Pekalongan, bahwa tidak ada dana khusus yang diperuntukan pembinaan terhadap kelompok aliran dalam keagamaan, namun demikian secara tidak langsung, seperti diundang dalam rangka pertemuan pengasuh ponpes se kota Pekalongan maupun acara yang berkaitan dengan ponpes selalu mengundang ponpes Al Hadi. a. Internal Secara internal pola pembinaan yang dikembangkan dalam kelompok aliran Syi’ah dilakukan melalui proses pembelajaran yang diselenggarakan di ponpes Al hadi. Dengan demikian, pembinaan yang bersifat ke dalam ini dilakukan cukup intensi, yaitu setiap waktu dan setiap, kecuali hari Kamis dan Jum’at yang merupakan hari libur pembelajaran. Dalam pembinaan internal lebih banyak dilakukan oleh dewan ustadz, hal ini dikarenakan ustadz Ahmad Barakbah sering mendatangi undangan di luar kota bahkan luar negeri (Negara Iran). Adapun jenis pembinaan dilakukan dengan pembelajaran di kelas melalui kajian kitab sesuai dengan jadwal pelajaran, majlis ta’lim yang diadakan setiap hari minggu sore dan mengirim santri apabila ada undangan dari luar, seperti diskusi maupun acara yang diselenggarakan khusus oleh Departemen Agama Berkaitan dengan interaksi sosial, secara khusus pihak pengelola pondok pesantren tidak pernah mengadakan pembinaan. Namun demikian secara alamiah para ustadz maupun para santri tidak ada larangan untuk berinteraksi sosial dengan anggota masyarakat lainya sehingga ustadz

88

maupun santri dibebaskan untuk memenuhi kebutuhannya dibeli dari luar. Bahkan ustadz membebaskan para ustadz maupun santrinya untuk shalat jum’at di masjid umat islam pada umumnya, hal ini dikarenakan pada hari jum’at merupakan hari libur pembelajarn formal. b. Eksternal Pembinaan yang bersifat eksternal terhadap kelompok aliran Syi’ah yang dilakukan di luar proses pembelajaran yang bersifat internal adalah ketika mengadakan kegiatan hari besar Islam, seperti peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dan pengajian setiap hari Ahad sore. Dalam kegiatan ini pihak ponpes mengundang pihak luar, baik anggota masyarakat maupun pihak pemerintah. Dengan demikian antara pihak anggota kelompok aliran Syi’ah dapat berbaur dan berinteraksi dengan anggota masyarakat pada umumnya. Sedangkan bentuk pembinaan yang bersifat mengembangkan anggota kelompok aliran Syi’ah dengan masyarakat sekitar secara langsung tidak ada. Menurut salah seorang santri, bahwa secara kebetulan di wilayahnya tidak pernah ada kerja bakti sehingga pembinaan dalam kerangka sosial kemasyarakatan dan terjun langsung di lapangan tidak terjadi. Meskipun demikian dalam kegiatan yang bersifat keadministrasian di lingkungan, seperti donatur kegiatan 17 Agustusan maupun iuran rutin bulan di RT selalu dipenuhi. 2. Pola Pembinaan dan Pengembangan Kelompok MTA a. Internal Pembinaan internal warga MTA terkait dengan keagamaan adalah melalui pengajian umum dan khusus. Di samping itu pembinaan keagamaan juga melalui lembaga-lembaga pendidikan yang diselengarakannya. Mengenai materi pembinaan keagamaan itu terkait dengan masalah akidah, akhlak dan syariah dengan sumber utama Al Qur’an. Kemudian pembinaan yang terkait dengan interaksi sosial adalah melalui pertemuan-pertemuan warga MTA yang di dalamnya diberikan

89

materi ukhuwah, baik dalam bertetangga, bersaudara, bermasyarakat maupun bernegara. b. Ekternal Pembinaan keagamaan secara ekternal bagi warga MTA baik yang berupa masalah keagamaan maupun sosial kemasyarakatan dapat dikatakan tidak ada. Hal itu memang secara riil selama ini tidak ada pembinaan dari ekternal yang bersifat khusus untuk warga maupun pimpinan MTA. Sedangkan jika pernah ad itu pun sifatnya untuk pimpinan kelompok atau pun organisasi secara umum, seperti yang diselenggarakan oleh Depag dan Diknas. 3. Pola Pembinaan dan Pengembangan Kelompok Syahadatain a. Internal Pembinaan internal anggota kelompok Syahadatain terkait dengan keagamaan dilakukan paling tidak seminggu dua kali, yaitu pada hari Kamis dan Minggu. Pada hari Kamis kegiatanya adalah tahlil, dzikir dan wirid dan pada hari minggu dilakukan tawasulan. Dalam setiap kegiatan ini selain terdapat bacaan lanjutan dengan bahasa jawa seperti “... Abdi tiyang bodo, tiyang salah muhun syafaate kanjeng Nabi... nuhun diparingi waras... Dawuh gusti sampun wekas sampun weling duwe kuping ojo budeg gege eling... iki zaman sampun rupek... tetepana hak kang bener tetep mulya...” juga selalu diisi ceramah oleh Kyai Mustangin. Adapun isi ceramah yang selalu disampaikan adalah tentang istiqomah dalam melaksanakan perintah Allah SWT dan selalu mohon ampunan. b. Ekternal Pembinaan yang bersifat eksternal terhadap anggota kelompok Syahadatain adalah diikutsertakannya anggota dalam kegiatan temu nasional yang diadakan di daerah Panuragan Wetan Kabupaten Cirebon. Kegiatan ini dilakukan setahun dua kali, yaitu setiap bulan Mulud dan bulan Rajab. Pertemuan ini merupakan ajang silaturahim kelompok Syahadatain tingkat nasional untuk menguatkan keyakinan anggotanya terhadap eksistensi kelompok Syahadatain. Menurut H. Mawardi,

90

pertemuan di Cirebon sangat penting sehingga diupayakan seluruh anggota dapat mengikutinya, sehingga dapat memahami ajaran kelompok Syahadatain yang datang dari gurunya tanpa ditambahi dan dikurangi sedikitpun. 4. Pola Pembinaan dan Pengembangan Organisasi LDII di Kabupaten Pati a. Internal Pembinaan sosial keagamaan, kemasyarakatan dan pemerintahan dilakukan oleh para mubaligh maupun pengurus terhadap anggota LDII adalah melalui kegiatan, pengajian, raker maupun silaturahmai informal. b. Ekternal Pembinaan yang dilakukan oleh pihak ekternal terhadap anggota LDII di Kabupaten pati hanya dilakukan oleh pihak Kesbanglinmas setempat yang secara rutin melibatkannya bersama dengan kelompok lainnya. Sedangkan pihak Departemen Agama sendiri tidak pernah melakukan pembinaan, bahkan tidak ada program sama sekali untuk pembinaan terhadap anggota LDII.

5. Pola Pembinaan dan Pengembangan Organisasi LDII di Kabupaten Grobogan a. Internal Pola pembinaan yang dilakukan oleh pengurus maupun mubaligh LDII dalam rangka pembinaan di bidang sosial keagamaan, kemasyarakatan dan pemerintahan dilakukan melalui pengajian-pengajian yang diselenggarakan, baik pengajian rutin setiap hari Senin, Selasa, dan Jum’at maupun melalui konsolidasi organisasi yang sekaligus membahas program pengajian. Pembinaan ini juga dimulai sejak anak-anak melalui pengajian cabe rawit. Pembinaan juga dilakukan setelah shalat Jum’at dengan ceramah dalam suasana yang akrab. Ceramah habis shalat Jum’at ini untuk

91

menambah wawasan keagamaan anggota meskipun ketika khutbah Jum’at dengan bahasa Arab sudah dapat dimengerti isinya. Menurut salah seorang jamaah yang sekaligus anggota LDII, bahwa meskipun khutbah Jum’at dengan bahasa Arab akan tetapi apa yang disampaikan sudah pernah disampaikan dalam kajian keislaman melalui pegajian tafsir al Qur’an maupun al Hadits. b. Ekternal Pembinaan secara ekternal terhadap anggota LDII di Kabupaten Grobogan ini secara khusus tidak pernah dilakukan, baik oleh Departemen Agama, MUI maupun instansi pemerintah lainnya. Hanya saja hubungan pengurus dengan pimpinan MUI maupun Kepala Departemen Agama Kabupaten Grobogan cukup baik. 6. Pola Pembinaan dan Pengembangan Jamaah Tabligh a. Internal Secara interanal pembinaan anggota Jamaah Tabligh dilakukan secara intensif pada aspek penguatan keagamaan. Sedangkan pada aspek kemasyarakatan terlihat kurang mendapatkan perhatian yang baik, hal ini terbukti khususnya anggota Jamaah Tabligh yang tinggal dalam pondok pesantren hampir tidak pernah melakukan sosialisasi dengan masyarakat sekitar, seperti pada kegiatan kerja bakti, peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus. b. Ekternal Pembinaan yang dilakukan oleh pihak luar, seperti Kandepag dan Kesbanglinmas terhadap kelompok Jamaah Tabligh di daerah Kerincing selama ini dapat dikatakan tidak ada. Hal itu secara jujur dikatakan oleh informan, bahwa selama ini tidak ada pembinaan terhadap kelompok Jamaah Tabligh tersebut.61 Selama ini tidak pernah ada pembinaan khusus dari Kakandepag setempat.62

61 62

Hasil wawancara Kasi Penamas Departemen Agama Kabupaten Magelang pada tanggal 30 Mei 2008. Hasil wawancara dengan anggota jamaah Tabligh pada tanggal 31 Mei 2008.

92

BAB VI SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan 1. Interaksi Sosial a. Masih terjadi kemungkinan pengerasan paham keagamaan di internal aliran khususnya untuk kelompok aliran Syi’ah, LDII, MTA, dan Jamaah Asy Syahadatain. Pada aliran Syi’ah masih terdapat ajaran yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam pada umumnya, seperti terlalu mengangungkan Ali bin Abi Thalib dan mensyahkan nikah mut’ah, adanya anggapan sebagian masyarakat yang apabila melakukan shalat di masjid milik jamaah LDII akan disucikan kembali, adanya anggapan MTA hanya menggunakan dalil-dalil al Qur’an, dan pada Syahadatain terlalu eksklusif karena para anggotanya tidak mau shalat Jum’at di masjid milik masyarakat dan mendirikan shalat jum’at sendiri meskipun jumlah jamaahnya tidak ada 40 orang sebagaimana disyaratkan dalam madzab imam Syafi’i. Sementara itu, untuk interaksi sosial dengan anggota masyarakat sekitarnya sangat dianjurkan oleh pimpinan kepada semua santri maupun anggotanya, sehingga tidak sedikit anggota jamaahnya yang menjadi pengurus RT maupun RW. b. Basis stabilitas kerukunan antarumat Islam di Jawa Tengah adalah interaksi sosial kemasyarakatan, interaksi sosial pada umumnya tercipta dalam aspek pendidikan, perekonomian, kesehatan, dan bakti sosial. Pada aspek pendidikan terlihat anggota aliran maupun putra dari pimpinan jamaah yang melanjutkan pendidikan pada sekolah yang ada di masyarakat, pada aspek perekonomian terjadi transaksi jual beli antar anggota masyarakat dengan anggota aliran Islam minoritas melalui koperasi yang dimiliki kelompok Islam minoritas maupun usaha yang dilakukan oleh anggota masyarakat pada umumnya, pada aspek kesehatan hampir semua anggota aliran Islam minoritas yang berobat ke Puskesmas milik pemerintah maupun ke dokter

93

yang bukan anggotanya, dan pada kegiatan bakti sosial sebagai sarana yang dilakukan oleh para anggota aliran Islam minoritas untuk berinteraksi sosial dan menjaga kerukunan antar umat beragama. c. Masih kurangnya partisipasi aktif anggota aliran dalam interaksi sosial pemerintahan dalam proses pembuatan kebijakan terlihat pada kurangnya keaktifan dan kehadiran mengikuti kegiatan rapat pemerintahan dimulai dari tingkat administrasi desa/kelurahan. Meskipun demikian, untuk administrasi yang berkaitan dengan pemerintahan tetap dilakukan secara prosedural, seperti ketika santri Syi’ah akan berangkat ke Iran secara legal melalui pihak pemerintahan setempat. 2. Potensi dan Hambatan a. Potensi pendukung interaksi sosial secara internal adalah mulai adanya pelunakan pemahaman tentang perbedaan muamalat bukan merupakan prinsip dalam beragama. Sedangkan secara eksternal, masyarakat secara umum mulai menerima eksistensi kelompok minoritas khususnya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. b. Hambatan interaksi sosial secara internal adalah kelompok minoritas masih lebih mementingkan pengembangan ilmu keagamaan dalam komunitasnya. Sedangkan secara eksternal, masih adanya sebagian kelompok masyarakat muslim yang belum bisa menerima peran kelompok Islam minoritas dalam kehidupan sosial keagamaan dan pemerintahan. 3. Pola Pembinaan a. Pola pembinaan yang ada masih berada dalam tataran internal aliran maka posisi tokoh dan pengurus sangat strategis sebagai fasilitator bagi intervensi kebijakan untuk pemberdayaan umatnya b. Pola pembinaan dari lingkup eksternal masih dalam tataran ketersediaan mekanisme dan saluran formal misalkan Kantor Urusan Agama atau Depag Kaupatenb/Kota namun belum ada agenda aksi yang jelas dan berkelanjutan. B. Rekomendasi 1. Interaksi Sosial

94

a. Peran MUI dan Kanwil Depag untuk menggalakkan aktivitas komunikasi untuk mewujudkan ukuwah islamiyah antarkelompok Islam dengan melibatkan aliran minoritas dalam penentuan kebijakan keagamaan, misalkan penentuan awal dan akhir Ramadhan. b. Badan Kesbangpol dan linmas dan Kejaksaan perlu melakukan pemutahiran data informasi tiap organisasi sosial keagamaan sehingga perkembangan dan peran organisasi dapat diketahui. Perkembangan dan kecenderungan tingkat potensi konflik di masyarakat perlu diketahui. c. Pemerintah daerah perlu mendorong peningkatan keterlibatan kelompok minoritas dalam kegiatan-kegiatan sosial pemerintahan seperti pengurusan identitas kartu tanda penduduk, data kelahiran, pelayanan pendidikan dan pelayanan kesehatan oleh pemerintah. 2. Potensi dan Hambatan a. Potensi yang sudah dimiliki oleh kelompok Syi’ah, MTA, Syahadatain, LDII maupun Jamaah Tabligh hendaknya dikembangkan dan ditingkatkan agar lebih memberi manfaat bagi keluarga besar kelompok sendiri maupun pihak lain, seperti usaha bidang kesehatan, pendidikan dan kegiatan sosial kemasyarakatannya. b. Biro Mental dan Spiritual Setda, Kanwil Depag, FKUB Provinsi, Kepolisian Daerah, Kajaksaan Tinggi dan MUI Provinsi untuk menfasilitasi aktivitas komunikasi lintas aliran Islam. 3. Pola Pembinaan a. Perlu meningkatkan intensitas komunikasi dan koordinasi antara Kejaksaan tinggi, Kawil Depag Provinsi, dan Gubernur untuk meningkatkan upaya pembinaan pada kelompok minoritas. b. Revitalisasi pembagian peran antara Kanwil Depag (Urais: urusan agama Islam), Depag Kab/Kota, dan KUA terkait dengan lingkup pembinaan terhadap kelompok minoritas dan masyarakat sekitar. c. Perencanaan program pembangunan khususnya bidang keagamaan (Musrenbangda) perlu mengakomodasi kepentingan dan gagasan-gagasan semua kelompok keagamaan.

95

DAFTAR PUSTAKA Basyuni, Muhammad M. Kebijakan dan Strategi Kerukunan Umat Beragama. Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, Jakarta, 2006. Dewan Redaksi Ensiklopedi Indonesia, Ensiklopedi Indonesia. Pn.PT. Ichtiar Baru – Van Hoeve. Jakarta. t.t. Geertz, Clifford. Konflik Dan Konfigurasi, dalam Roland Robertson, Agama, Analisa Dan Interpretasi Sosiologi, terjemahan AF Saifuddin, Rajawali, Jakarta.tt. Ishomuddin., Sosiologi Perspektif Islam, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang, 2005.
Mawardi, Marmiati. Hubungan Intern Ummat Beragama di Jawa Tengah; studi kasus di Kota Pekalongan. Balai Penelitian Aliran Kerohanian/Keagamaan Semarang. 1999.

Muzayanah, Umi dan A.M. Wibowo. Peta Keagamaan Provinsi Jawa Tengah. Balitbang Agama Semarang. 2007 Poerwadarminto, W.J.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN. Balai Pustaka,. 1976. Puspito, D. Hendro OC., Sociologi Sistematik, Pn. Kanisius. Yogjakarta. 1989. Schermerhorn, R.A., Comparative Ethnic Relations: A Framework of Theory and Research, Random House, New York, 1970. Simo & Schuster, Webster Dictionary, Published by New World Dictionary, Printed in The United State of America. 1972. Soekanto, Soerjono, Kamus Sosiologi, CV Rajawali. Jakarta. 1985. Sulaiman, Jamaah Tabligh di desa Kerincing Kecamatan Secang Kabupaten Magelang. Balitrohag. Semarang. 1997. Sumarjan, Selo, Setangkai Bunga Sosiologi, Fakultas Ekonomi UI, Jakarta, 1986. Victor, Y. Tanja, Pluralisme Agama Dan Problem Sosial, 1998, Pustaka Cide Sindo, Jakarta.tt Wach, Joachim, Sociology Of Religio, The University Of Cichago Press, London, 1964. Young, Kimball, Social Cultural Process, dalam Selo Sumarjan, Setangkai Bunga Sosiologi, Fakultas Ekonomi UI, Jakarta. tt Azra, Azyumardi. Psikologi Minoritas-Mayoritas. Gatra Edisi Khusus September 2008.

96

Bachtiar, Harsya W., Agama Dan Perubahan Sosial Di Indonesia, dalam Bulletin “Dialog “ Edisi No. 17, Jakarta, Badan Litbang Agama, 1984. Puslitbang Kehidupan Beragama Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, Jurnal Harmoni: Dinamika Agama-gama di Indonesia , volume II, Nomor 8, Oktober-Desember 2002, hal. 14-15. Puslitbang Kehidupan Beragama Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, Jurnal Harmoni: Pemikiran dan Gerakan Keagamaan di Indonesia, volume IV, Nomor 13, Januari-Maret 2005. Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, Nomor: 9 Tahun 2006 dan Nomor: 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadah. SKB (Surat Keputusan Bersama) 3 Menteri (Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri RI) Nomor: 3 Tahun 2008, Nomor: KEP033/A/JA/6/2008, dan Nomor: 199 Tahun 2008 Tentang Peringatan dan Perintah Kepada Penganut, Anggota, Dan/Atau Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat.

97

Lampiran 1 KEPUTUSAN KOMISI FATWA Nomor : 03 / Kep / FK – MUI / IX 2006 Tentang LEMBAGA DAKWAH ISLAM INDONESIA Bismillaahirrohmaanirrohiem Komisi Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) dalam rapat Pleno pada hari Senin tanggal 11 Sya’ban 1427 H / 4 September 2006 M., setelah : MENDENGAR : Penjelasan pimpinan harian MUI tentang hasil pertemuan Pimpinan MUI dengan Dewan Pimpinan LDII Pusat tanggal 4 Juni 2006 dan kunjungan pusat LDII MEMBACA : 1. Fatwa MUI tentang Islam Jamaah 2. Surat pernyataan klarifikasi dari Dewan Pimpinan LDII Pusat yang ditandatanganiKetua umum dan Sekjenya MEMPERHATIKAN : Pendapat dan usul peserta rapat Komisi Fatwa MUI tanggal 11 Sya’ban 1427 H . 4 September 2006 M. MEMUTUSKAN MENETAPKAN: 1. Dapat menerima pernyataan klarifikasi tingkat nasional dari pimpinan LDII Pusat yang menyatakan bahwa: a. LDII telah menganut paradigma baru b. LDII bukan penerus/kelanjutan dari gerakan Islam Jamaah serta tidak menggunakan ataupun mengajarkan ajaran Islam Jamaah. c. LDII tidak menggunakan atau menganut sistem keamiran. d. LDII tidak menganggap umat muslim di luar kelompok mereka sebagai kafir dan najis.

98

e. LDII bersedia bersama ormas-ormas Islam lainnya mengikuti landasan berpikir keagamaan sebagaimana yang ditetapkan MUI. 2. Mengharuskan agar klarifikasi dilakukan juga oleh pengurus LDII tingkat Propinsi dan Kabupaten / Kota sebagaimana telah dilakukan oleh Dewan Pimpinan LDII Pusat kepada MUI. Klarifikasi di tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota dilakukan oleh masing-masing tingkatan yang sama. 3. Menyarankan: a. Agar Dewan Pimpinan LDII Pusat segera mungkin melakukan Munas / Rakernas dan membuat keputusan mengenai hal tersebut sehingga terjadi persamaan persepsi di LDII sampai pada tingkat yang terbawah b. Melakukan konferensi Pers (Pers Conference) mengenai pernyataan klarifikasi tersebut untuk diketahui oleh semua warga LDII khususunya dan umat Islam pada umunya. Jakarta, 11 Sya’ban 1427 H. 04 September 2006 M. MAJLIS ULAMA INDONESIA KOMISI FATWA, Ketua KH. Ma’ruf Amin Sekretaris Hasanuddin

99

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful