€

Ada perbedaan persepsi antara pusat dengan daerah dalam hal ruang lingkup review Perda. Sejauh ini, review oleh Pusat meliputi aspek administratif (konsistensi dengan peraturan lain, utamanya peraturan perundangan yang lebih tinggi) dan aspek substansi (merugikan kepentingan masyarakat). Sementara itu, beberapa daerah berpendapat bahwa seharusnya review Pusat hanya sampai pada penilaian tentang kesesuaian Perda yang dibuat dengan aturan tentang kewenangan yang sudah dilimpahkan kepada daerah (tidak perlu masuk ke wilayah substansi).

€

€

Pemerintah pusat tidak dapat atau tidak mampu memenuhi target waktu satu bulan untuk meninjau kembali Perda tentang pajak daerah dan retribusi sebagaimana ditetapkan oleh UU 34/2000. Bahkan, tidak semua Perda yang diajukan di-review mendapatkan umpan balik atau komentar dari Pusat. Beberapa Pemda sudah melakukan konsultasi dengan Propinsi sebelum menerbitkan Perda tertentu, tetapi tetap saja ada Perda (yang sudah dikonsultasikan) dianggap bermasalah oleh Pusat, sehingga Pemda menganggap konsultasi itu sia-sia.

Propinsi menerima salinan Perda, tetapi fungsinya hanya sebagai penyimpan arsip, karena tidak memiliki peran dalam melakukan peninjauan kembali Perda-Perda tersebut. Sumber http://www.akademika.or.id/arsip/Peng awasan%20Perda-IRDA%20SeminarIndonesia.pdf
€

Keterlibatan msyrkt/stakeholders tdk optimal

Identifikasi masalah & prioritas masalah tidak cermat Perancang Perda hy berorientasi pd kepentingan pihak tertentu Prinsip kesetaraan & kebersamaan antar pihak tdk optimal (´pemaksaanµ) Ketidaklayakan sumber daya & koordinasi antar instansi dlm pelaksanaan Lemahnya Sosialisai & Publikasi Pra & Pasca Pengesahan/Diundangkan

Perda Gagal/Tertunda:
1. Resistensi masyarakat 2. Pemda tdk mampu menerapkan

1. Apakah permasalahan yang dihadapi sudah didefinisikan secara benar? € 2. Apakah langkah pemerintah dapat dijustifikasi? € 3. Apakah peraturan perundangan baru merupakan langkah terbaik pemerintah
€

€ € € € €

4. Apakah ada dasar hukum untuk langkah tersebut? 5. Tingkat pemerintahan mana yang sesuai untuk langkah tersebut? 6. Apakah manfaat dari peraturan perundangundangan lebih besar dari biayanya? 7. Apakah distribusi manfaat ke seluruh masyarakat transparan? 8. Apakah peraturan perundang-undangan dipahami oleh para pemakainya? tersebut jelas, konsisten, dapat diakses dan

(9) Apakah seluruh kelompok kepentingan memiliki kesempatan untuk menyampaikan € pandangannya? € (10)Bagaimana pentaatan terhadap peraturan perundangan akan dicapai?
€

€ €

PEMERINTAH HANYA MENANGGUNG 35% BIAYA KESEHATAN TOTAL SEKITAR 70% BIAYA KESEHATAN DARI MASYARAKAT MASIH BERSIFAT OUT OF POCKET (WB,2008) TREND JPKM-PEMBIAYAAN KESEHATAN PRA-UPAYA YG BERSIFAT SUKARELA & SWADAYA MAKIN MENURUN DRASTIS SEJAK KRISIS (DEPKES,2006) PENYALAH GUNAAN SKTM MENINGKAT& MERATA DISEMUA DAERAH PEMDA MENGGRATISKAN BIAYA KESEHATAN SALAH SUBSIDI KEMAMPUAN APBD MAKIN TERBATAS UTK MENGCOVER MASKIN NON KUOTA JAMKESMAS

€

€ €

DATA SUSENAS DI JATENG
TAHUN 2004 TOTAL BUKAN MAKANAN KESEHATAN TEMBAKAU SIRIH TAHUN 2001 TOTAL BUKAN MAKANAN KESEHATAN TEMBAKAU SIRIH % PENINGKATAN BIAYA TEMBAKAU (2001-2004) % PENURUNAN BIAYA KESEHATAN (2001-2004)
Sumber: Susenas 2001, 2004

RATA2 (Rp)
301182.2 18269.6 53114.5 184149.5 35426.7 36799.1 44,76% 45,21%

€

Dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Dinas Kesehatan Kota Semarang, anggaran turun 13% dari Rp 50,1 miliar pada APBD 2009 menjadi Rp 36,5 miliar di RAPBD 2010
¾ program obat dan perbekalan kesehatan dari Rp 3,8 miliar ¾ ¾ ¾ ¾ ¾

di APBD 2009 menjadi Rp 2,6 miliar di RAPBD 2010 program upaya kesehatan masyarakat yang membidik masyarakat miskin dari Rp 26,5 miliar menjadi Rp 18,8 miliar program perbaikan gizi masyarakat dari Rp 692,5 juta menjadi Rp 340 juta program pengembangan lingkungan sehat dari Rp 353 juta menjadi Rp 145,5 juta program pencegahan penyakit menular dari Rp 3,8 miliar menjadi Rp 2,6 miliar Sumber http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/13/11260784/a nggaran.kesehatan.kota.semarang.minim

€

€

€

RAPBD Kota Semarang 2010 untuk pendapatan sebesar Rp1,3 triliun dan belanja Rp1,6 triliun. Alokasi anggaran kesehatan APBD Kota Smg akhirnya disetujui naik sebesar 1,39% dr tahun 2009 menjadi 50,8 M di thn 2010 Dari 13 program kesehatan tersebut, program upaya kesehatan masyarakat menghabiskan setengah porsi anggaran, yakni sejumlah 26.951.191.650 (pelayanan kesehatan penduduk miskin di Puskesmas sebesar 13 M dan kegiatan operasional Puskesmas sebesar 12 M)

No ITEM 1 2 JMLH TARIF KENAIKAN TERTINGGI: Persalinan oleh Dokter Lab. Darah (ery, Hb, Trombo,leuko) TARIF TERENDAH:

LAMA 89 Rp.230 rb Rp. 1.750 Rp. 1750 (Lab. Rutin ) Rp.230 rb (Partus oleh dokter)

BARU 200 Rp. 350 rb Rp. 8.000 Rp. 2500 (Lab. Rutin) Rp. 350 rb (Partus dokter, laik hotel & restoran)

KETERANGAN 111 tarif baru Rp. 120 rb > 350% Rp. 750

3

TARIF TERTINGGI:

Rp. 120 rb

4

PENURUNAN TERTINGGI: Akomodasi & perawatan persalinan /hari

Rp. 180 rb

Rp. 70.000

Rp. (-) 110 rb

No ITEM 1 RAWAT INAP (PERSALINAN)

UNIT COST Rp. 426.097

BARU Rp. 590.000 (dokter +ranap +visite 3 hr) Rp. 490.000 (bidan+ranap+visite 3hr) Rp. 210.000 - 225.000 (3hr akomodasi +visite dr umum/spesialis) ?

KETERANGAN Rp. 70 ² 170 rb diatas unit cost

2

RAWAT INAP BIASA JENIS KASUS/ TINDAKAN TERBANYAK DI PUSKESMAS JENIS KASUS/ PEMERIKSAAN TERBANYAK DI LABKESMAS

Rp.283.897

Rp. 60 ² 70 rb Dibawah unit cost per kasus Untuk memproyeksikan beban subsisdi atau masyarakat Untuk memproyeksikan beban subsisdi atau masyarakat

3

?

4

?

?

Pasal 171 (1) Besar anggaran kesehatan Pemerintah dialokasikan minimal sebesar 5% (lima persen) dari anggaran pendapatan dan belanja negara di luar gaji. € (2) Besar anggaran kesehatan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota dialokasikan minimal 10% (sepuluh persen) dari anggaran pendapatan dan belanja daerah di luar gaji. € (3) Besaran anggaran kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diprioritaskan untuk kepentingan pelayanan publik yang besarannya sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari anggaran kesehatan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pendapatan dan belanja daerah.
€ €

€

€

€

APAKAH SEMARANG AKAN MENGALOKASIKAN 10% APBD UTK SEKTOR KESEHATAN ? ? KAPAN & BERAPA ESTIMASI NILAINYA ? APAKAH SEKTOR KESEHATAN AKAN MAMPU SECARA CERDAS & AKUNTABEL MEMANFAATKAN ANGGARAN 10% TERSEBUT ? 2/3 DARI ANGGARAN TERSEBUT HARUS UNTUK PELAYANAN PUBLIK KESEHATAN APA SAJA? APA PERDA RETRIBUSI KESEHATAN INI BERDAMPAK NEGATIF TERHADAP KEBERHASILAN IMPLEMANTASI AMANAT UU KESEHATAN TSB ?

STAKEHOLDERS MASYARAKAT -MISKIN (JAMKESDA) -MISKIN LAIN PROVIDER KESEHATAN

POTENSIAL BENEFIT ? HAK DASAR KESEHATAN ? MUTU YANKES KEPUASAN KERJA NAKES ? PAD HDI

POTENSIAL RISK (COST) ? DAYA BELI AKSESIBILITAS ? INEFISIENSI TUNTUTAN MASYARAKAT ? AMANAT UU KESEHATAN INEFISIENSI

PEMDA

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful