The Only

True God

Sebuah Kajian
Monoteisme Alkitabiah

Eric H.H. Chang
“The Only True God” Edisi PDF

B uku yang ditulis oleh Eric H.H. Chang ini, aslinya diterbitkan
sebagai buku cetak (Borobudur Publishing ISBN 978-979-25-
2709-4), sekarang dirilis sebagai ebook PDF gratis. Sekalipun gratis,
ebook ini masih dilindungi hak cipta, dan belum dilepas ke domain
umum. Oleh karena itu, ebook ini tidak boleh didistribusikan
kecuali dengan ketentuan berikut: (i) tidak dikenakan biaya; (ii) file
PDF-nya tidak diubah dengan cara apapun dari bentuk aslinya
seperti yang dirilis oleh website Cahaya Pengharapan Ministries.
Untuk mengunduh salinan resmi yang terbaru, silakan
mengunjungi http://cahayapengharapan.org/ (Di website ini, Anda
akan menemukan materi Alkitabiah yang lain.)
Edisi PDF ini, untuk sementara waktu, mengandung hanya Bab 1
sampai Bab 6 dari buku asli. Bab-bab selanjutnya (7-10), yang
mengkaji Yohanes 1:1,14 dengan rinci, masih ditahap pengerjaan
dan akan dirilis nanti. Para pembaca yang ingin mendapatkan edisi
lengkap ini bisa mengecek website kami dari waktu ke waktu, atau
meninggalkan alamat email di cpm@cahayapengharapan.org.
Para pembaca yang merasa tidak nyaman membaca dari
komputer tablet atau laptop, bisa membeli edisi cetaknya dari
website ini.
Buku ini dirilis ke publik dengan kerinduan yang sama yang
selalu dimiliki Eric Chang, yaitu demi kemuliaan Allah dan
pembangunan umat-Nya dalam Yesus Kristus.

Cahaya Pengharapan Ministries
Juni 2016
Catatan Editor

E book PDF ini mengandung teks yang sama seperti buku cetak
yang asli, dengan beberapa perubahan: (i) font dan format yang
baru; (ii) penerjemahan yang lebih jelas; (iii) beberapa kesalahan
pengetikan telah diperbaiki; (iv) bookmark PDF telah ditambahkan.
Selain perbaikan umum yang disebut di atas, terdapat juga tiga
perbaikan khusus yang dilakukan untuk menyelaraskannya dengan
subjek buku, yaitu monoteisme Alkitabiah. Hal ini dilakukan demi
menghindari salah paham.
Yang pertama menyangkut terjemahan kata Lord untuk Yesus.
Kata bahasa Inggris Lord yang sering dipakai untuk menyapa Yesus,
yang sekaligus menjadi gelar kehormatan Yesus seperti dalam “the
Lord Jesus Christ”, merupakan terjemahan dari kata Yunani kurios.
Siapa saja yang mengenal bahasa Inggris dan bahasa Yunani akan
tahu bahwa kata Lord dan kurios memiliki makna yang luas dan
paling tepat diterjemahkan sebagai “Tuan”, tetapi “Tuhan” bukanlah
salah satu maknanya. “Tuan” merupakan sebuah kata yang bebas
diterapkan kepada manusia biasa dalam bahasa apa pun.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti utama bagi
“Tuhan” adalah sesuatu yg diyakini, dipuja dan disembah oleh
manusia sebagai yg Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb. Arti
sekundernya didefinisikan sebagai sesuatu yg dianggap sbg Tuhan.
Ini bukan maknanya Lord dalam bahasa Inggris maupun kurios
dalam bahasa Yunani. Padanan Yunani untuk definisi yang
diberikan oleh KBBI adalah theos bukan kurios. Dengan kata lain,
kurios adalah salah satu gelar yang dipakai bagi theos tetapi itu tidak
berarti semua yang disebut kurios itu adalah “Tuhan”.
Atas pertimbangan ini, dan juga demi keselarasan dengan isi dan
maksud buku ini, kata “Tuhan” yang diterapkan pada Yesus dalam
Alkitab Indonesia akan ditulis sebagai “Tu[h]an”.
Yang kedua menyangkut pronomina untuk Yesus. Demi
membedakan Yesus dari Allah, semua pronomina untuk Yesus akan
ditulis dalam huruf kecil sesuai dengan tulisan penulis dan juga
kutipan-kutipan dari Alkitab. Hanya pronomina untuk Allah saja
yang akan ditulis dalam huruf besar. Akan tetapi, apabila buku ini
mengutip dari buku-buku karya orang lain, tidak ada perubahan
akan dilakukan pada pronominanya.
Terakhir, nama “Yahweh” akan dikembalikan kepada kutipan
Perjanjian Lama yang mengandung tetragramaton, YHWH. Semua
kutipan Kitab Suci dalam buku ini diambil dari ALKITAB © LAI
2001 (TB) atau Perjanjian Baru TB Edisi 2 © LAI 1998 (TBR),
kecuali dinyatakan lain.
Selain TB dan TBR, Alkitab yang banyak juga dikutip ialah Kitab
Suci Indonesian Literal Translation (KS-ILT Edisi-2). Kutipan dari
Alkitab ini akan ditandai dengan (ILT). Alkitab ini mengandung
beberapa ciri khas, dan salah satunya ialah pemakaian kata Ibrani
yang tidak diterjemahkan, tetapi ditransliterasikan, Elohim.
Mengingat kata Elohim masih terdengar asing di telinga masyarakat,
kami menghindar dari memakai istilah tersebut dengan mengutip
Alkitab versi ini yang tersedia di program SABDA Version 4.30
sebagai Modified Indonesian Literal Translation. Kutipan dari
program SABDA ini akan ditandai dengan (MILT).

Chuah SC
20 Juni 2016
Buku Sekuel
“The Only Perfect Man” adalah
lanjutan dan pasangan dari karya
Eric H.H. Chang yang sebelumnya,
“The Only True God”. Sementara
karya yang sebelumnya berpusat
pada Yahweh sebagai “satu-
satunya Allah yang benar”
(Yoh.17:3), karya baru ini berpusat
pada Yesus Kristus, Anak Allah
dan satu-satunya manusia
sempurna yang pernah hidup di
muka bumi ini. Lebih dari itu,
Allah telah meninggikan dia di
sebelah kanan-Nya sebagai wakil-
mutlak-Nya. Oleh karena itu, sub
judul buku ini, “Kemuliaan Allah
pada Wajah Yesus Kristus”
(2Kor.4:6).

Untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang buku ini,
silakan mengunjungi http://cahayapengharapan.org/id/toko-buku/.
Anda dapat membaca Pratinjau buku di situ.
The Only True God: Sebuah Kajian Monoteisme Alkitabiah
Eric H.H. Chang
Copyright © 2011, 2016
Eric H.H. Chang dan Christian Disciples Church

Edisi 1.0 adalah edisi cetak 2011 yang asli yang diterbitkan oleh
Borobudur Publishing
Edisi 1.1 adalah edisi ebook PDF Juli 2016

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam terbitan
ISBN: 978-979-25-2709-4
Desain Sampul by Chris Chan

Pemberitahuan Hak Cipta untuk Edisi 1.0
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa
pun tanpa izin tertulis dari penulis/penerbit sesuai dengan Undang-undang
Hak Cipta.

Pemberitahuan Hak Cipta untuk Edisi 1.1
Dilarang memodifikasi atau mengubah ebook PDF ini dalam cara apa pun
dari bentuk aslinya yang dirilis oleh website Cahaya Pengharapan Ministries.
Dilarang mendistribusi file PDF ini kecuali dengan ketentuan berikut: (i)
tidak dikenakan biaya; (ii) file PDF-nya ada dalam bentuk asli.

Untuk mengunduh salinan resmi yang terbaru, silakan mengunjungi
http://cahayapengharapan.org/.

Foto halaman berikut: Lake Memphremagog, Quebec, Canada
DEDIKASI

Hormat dan kemuliaan sampai selama-
lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang
kekal, yang tidak nampak dan yang esa!
(1Timotius 1.17)
Ucapan Terima Kasih

D engan rasa penghargaan dan terima kasih yang mendalam,
saya ingin mengakui kelimpahan dorongan (secara langsung
atau tidak langsung) dari ratusan rekan sekerja dalam jemaat-jemaat
kami di seluruh dunia. Meskipun mereka terheran-heran dan malah
terkagum-kagum ketika saya mulai menguraikan Kitab Suci di
dalam cahaya monoteisme Alkitabiah, mereka tetap berpandangan
terbuka dan suportif, serta bertekad bulat mencari kebenaran
menurut Kitab Suci. Keterbukaan pikiran yang demikian, atau apa
yang dapat digambarkan sebagai “keterbukaan hati”, sungguh-
sungguh bukan sesuatu yang boleh dianggap enteng, khususnya di
antara mereka (termasuk diri saya) yang sejak semula telah diasuh
dalam trinitarianisme. “Keterbukaan hati” di sini berarti: saya
melihat di dalam diri mereka bukan hanya keterbukaan pikiran
secara mental atau intelektual saja, tetapi juga suatu keterbukaan
rohaniah yang lebih dalam terhadap firman Allah dan, di atas
segalanya, Allah yang hidup. Bagi saya, kiranya tidak ada keterangan
memadai atas sikap luar biasa ini, kecuali kenyataan bahwa anugerah
satu-satunya Allah yang benar melimpah ke atas mereka dan
memenuhi mereka dengan kasih supernal (dari atas) kepada Dia dan
kebenaran-Nya.
Saya berhutang terima kasih juga kepada Bentley Chan. Ia
merupakan salah satu contoh dari orang-orang yang saya rujuk di
atas. Dengan tidak tanggung-tanggung ia mencurahkan segenap
tenaganya selama proses penerbitan buku saya yang terdahulu,
Becoming a New Person. Sekarang, lebih dari semua itu, sekali lagi
saya diberi kehormatan memperoleh partisipasinya yang cakap dan
kompeten dalam mempersiapkan buku ini untuk penerbit. Dengan
senang hati ia menerima tugas sulit ini, yang antara lain, terdiri dari:
pengoreksian bacaan, pengaturan format, pemberian saran-saran
bermanfaat, dan penyusunan Indeks Kitab Suci. Siapakah yang dapat
sepenuhnya membalas dia kecuali Tuhan sendiri?
Atas permintaan saya, dua rekan sekerja saya, Agnes S.L. Lim dan
Lee Sen Siou, dengan senang hati menerima tugas sulit memeriksa
setiap pemunculan kata “Memra” (“Firman”) dalam Targum-targum
Aram dari Pentateukh (“kelima kitab Musa”). Atas jerih-payah
mereka, saya ingin menyatakan rasa penghargaan yang sepenuh hati.
Bahasa Aram merupakan bahasa yang digunakan di Tanah Suci
pada masa Yesus dan jemaat awal. Oleh karena itu, penting untuk
kita mengetahui bagaimana orang-orang zaman itu mengerti kata
“Firman” supaya kata “Firman” yang terdapat dalam Yohanes 1:1,14
bisa dimengerti dengan lebih baik. Kedua ayat ini amat kritis untuk
kajian kita ini. Namun, karena seluruh hasil penelitian itu terlalu
besar untuk dicakupkan sepenuhnya dalam buku ini, hanya kitab
Kejadian dan Keluaran saja yang dimasukkan. Itupun harus dengan
mengeluarkan teks asli Aramnya. Karya mereka ditemukan dalam
Lampiran 12. Bentley menyumbangkan bagian pendahuluannya
yang mudah diikuti dan informatif.
Adalah sebuah kealpaan jika saya tidak memaktubkan rasa terima
kasih dan penghargaan atas dukungan ketabahan doa istri saya hari
demi hari. Saya kira hanya di alam baka saja saya baru akan
mengetahui seberapa besar hutang budi saya atas doa syafaat yang ia
panjatkan dengan tiada putus. Tentu saja, dukungan ini diberikan
dengan limpah dalam kehidupan rumah-tangga kami sehari-hari,
antara lain, dalam hal menyiapkan makanan. Ketika waktunya
makan, seringkali saya hanya dapat datang setelah makanannya
dingin, oleh karena upaya merampungkan sebagian naskah. Namun,
tidak sekali pun ia menunjukkan kejengkelan karena harus
menghangatkan makanan itu kembali. Saya bersyukur karena
anugerah-Nya yang ditampakkan dalam kehidupan istri saya bagi
kemuliaan-Nya.
Akhirnya, seluruh proses penulisan buku ini, dari awal hingga
akhir, telah menjadi suatu pengalaman luar biasa akan Allah yang
hidup. Hari demi hari, sesudah dianugerahi tidur yang lelap dan
segera setelah terjaga (terkadang dimulai sebelum sepenuhnya
terjaga), saya akan diberi sesuatu yang dapat digambarkan sebagai
“sebuah aliran pemikiran” tentang apa yang harus saya tulis pada
hari itu. Selanjutnya, saya akan menghabiskan sebagian besar sisa
hari itu untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Hal seperti ini
tidak terjadi setiap hari, tetapi saya rasa benar terjadi 50% atau lebih
selama masa penulisan yang sekitar satu tahun lamanya ini. Di
samping itu, pada beberapa kesempatan saya dituntun pada
penemuan materi yang penting bagi karya ini (yang membawa
sukacita besar bagi saya), materi yang tanpa saya sadari telah tersedia
sebelumnya. Meskipun saya telah dianugerahi kehormatan khusus
mengalami Allah berulang-kali dalam pelbagai situasi dalam
kehidupan saya, proses penulisan buku ini, meskipun seringkali
melelahkan secara mental dan fisik (saya juga masih harus
melaksanakan tanggung jawab administratif selama periode itu),
terutamanya telah menjadi suatu pengalaman yang sungguh-
sungguh unik akan Allah yang hidup. Kepada Dia, TUHAN Allah,
saya di sini ingin memaktubkan pujian dan pemujaan sepenuh hati.
Teks Alkitab Terjemahan Baru (TB) © LAI 1974 dan Teks Perjanjian
Baru (TB) Edisi 2 © LAI 1997 merupakan versi yang paling banyak
dipakai dalam buku ini. Bila ada versi lain yang dipakai, versinya
akan tercantum. Versi yang dipakai dalam Lampiran 12 adalah Kitab
Suci Indonesian Literal Translation (ILT).

ILT – Indonesian Literal Translation (Edisi 2)
MILT – Modified Indonesian Literal Translation 2008
KSKK – Kitab Suci Komunitas Kristiani 2002
BIS – Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari 1985
ITL – Alkitab Terjemahan Lama 1958
Daftar Isi
Ucapan Terima Kasih 10
Prakata 16
Pendahuluan 18

Bab 1 Monoteisme Yesus dan Rasul-rasulnya 72
yang Eksplisit

Bab 2 Hanya Manusia Sempurna Dapat 196
Menjadi Juruselamat Dunia

Bab 3 Menilai Kembali Pemahaman 281
Kristen akan Manusia

Bab 4 Penuhanan Trinitaris akan Kristus 349

Bab 5 Yahweh dalam Alkitab Ibrani 451

Bab 6 Kekristenan telah Kehilangan Akar 517
Yahudinya – Konsekuensi Serius

Bab 7 Asal Usul “Firman” dalam -
Yohanes 1:1 dari Perjanjian Lama

Bab 8 “Firman” adalah “Memra” -

Bab 9 Memandang Lebih Dekat Yohanes 1:1 -

Bab 10 Yahweh “turun” dan “tinggal di -
antara kita” di dalam Kristus

Lampiran 1 Pentingnya Mazmur 2 guna memahami -
gelar “Anak Allah”

Lampiran 2 Yohanes 8:58 -

Lampiran 3 Apakah Paulus menolak Hukum Taurat -
dan kebenarannya?

Lampiran 4 Beberapa pengamatan tentang Targum -

Lampiran 5 Catatan eksegesis atas Yohanes 12:41 -

Lampiran 6 “Firman Allah” dalam Wahyu 19:13 -

Lampiran 7 Kesejajaran antara “Firman itu adalah -
Allah” dengan 2Korintus 3:17

Lampiran 8 Filipi 2:6,7 – Lebih banyak bukti dari -
Alkitab Ibrani

Lampiran 9 Mazmur 107:19,20 -

Lampiran 10 Beberapa pemikiran tentang kelahiran -
Yesus dari Perawan

Lampiran 11 Konflik Kristologis di antara umat -
Trinitarian

Lampiran 12 Memra dalam Targum -

Indeks Ayat 546
Prakata

B uku ini ditulis bagi pembaca umum. Oleh sebab itu, istilah-
istilah teologis dan teknis sedapat mungkin dihindari. Tujuan
karangan ini adalah untuk mengkaji monoteisme dalam Alkitab,
dengan perhatian khusus kepada ayat-ayat atau teks-teks yang
digunakan untuk menyangga doktrin trinitaris, guna melihat apa
sebenarnya yang dikatakan oleh teks-teks ini bila tidak memasukkan
gagasan-gagasan ataupun memaksakan doktrin-doktrin
kedalamnya. Untuk mengerjakan hal ini dengan baik, biasanya kita
perlu mengkaji Kitab Suci dalam bahasa-bahasa aslinya, dan bukan
hanya melalui berbagai terjemahan saja, karena sebuah terjemahan
tidak dapat sepenuhnya mengeluarkan makna dan nuansa teks asli.
Ketika membahas teks asli dalam bahasa Ibrani dan Yunani,
setiap upaya akan dilakukan untuk menolong para pembaca yang
tidak terbiasa dengan bahasa tersebut supaya dapat memahami alur
pembahasannya. Kata-kata Ibrani dan Yunani akan
ditransliterasikan (kecuali jika kata-kata itu ada dalam teks karya
referensi yang dikutip dalam buku ini) sehingga sang pembaca
mempunyai sedikit gambaran tentang pelafalannya. Namun,
eksegesis yang bersifat teknis sejauh mungkin akan dihindari bila hal
itu dipandang sulit diikuti oleh pembaca umum. Namun, hal ini
kadang-kadang tidak dapat dihindari karena para sarjana, dan orang
lain yang lebih memahami Kitab Suci, juga memerlukan materi yang
relevan untuk melihat keabsahan eksegesis yang disajikan. Sebagian
dari materi ini barangkali terlalu teknis bagi pembaca biasa, yang
mungkin mau melompati bagian-bagian ini dan membaca bagian
selanjutnya. Catatan kaki akan dibuat seminimal mungkin.
Bagi mereka yang memiliki wawasan yang lebih luas dalam
bidang Studi Alkitab, mungkin berguna jika saya menyatakan bahwa
pada umumnya saya sependapat dengan karya Prof. James D.G.
Dunn dari Durham, Inggris. Komitmennya kepada akurasi dalam
eksegesis, bersama dengan penolakannya untuk membiarkan dogma
menguasai eksegesis, merupakan komitmen saya juga. Oleh sebab
itu, tidak heran jika kesimpulan saya sering kali tidak jauh berbeda
dari kesimpulannya. Meskipun saya belum membaca semua buku
karangannya, materi yang relevan untuk buku ini dapat ditemukan
terutamanya dalam karangannya Christology in the Making dan The
Theology of Paul the Apostle. Akan tetapi, pernyataan di atas semata-
mata menyangkut metodologi, dan sama sekali tidak bermaksud
menyiratkan persetujuan total dalam intisari. Prof. Dunn tidak
melihat naskah ini sebelum diterbitkan.
Ketika frekuensi statistik dari kata tertentu diberikan, statistik
tersebut selalu berdasarkan bahasa Ibrani atau Yunani dari teks
aslinya, dan bukan terjemahan Inggrisnya.
Akhirnya, penulis ini menganggap kajian ini sebuah kajian atas
Alkitab sebagai Firman dari Allah, bukan kajian tentang gagasan dan
pendapat dari para pengarang keagamaan zaman purba semata-
mata. Oleh sebab itu, keyakinannya adalah: Allah berbicara kepada
umat manusia melalui orang-orang yang dipilih-Nya, yang dengan
setia menyampaikan pesan dan kebenaran-Nya. Dan hal ini
bersandar pada keyakinan (yang berakar dari pengalaman pribadi)
bahwa Allah itu nyata, dan bahwa Ia terlibat secara pribadi dan aktif
dalam ciptaan-Nya. Keterlibatan dan kegiatan-Nya yang personal
terungkapkan dengan sepenuhnya dan secara unik di dalam Yesus
Kristus, baik dalam perkataan maupun perbuatan.
Pendahuluan

S ebelum kita mulai mengkaji lebih lanjut monoteisme dalam
Alkitab, baiklah kiranya dinyatakan dari awal bahwa
monoteisme merupakan hal yang sentral di dalam hati dan pikiran
Yesus–monoteismelah yang diajarkan Yesus, monoteismelah yang
mendasari ajarannya. Sebenarnya, kata “monoteisme” muncul
dalam Alkitab dari perkataan Yesus sendiri, yang ia ucapkan dalam
doanya kepada Allah, sang Bapa, “Inilah hidup yang kekal, yaitu
bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar,
dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh.17:3).
Kata “monoteisme” terdiri dari dua kata Yunani: “monos” (“hanya,
sendiri”, dan sebagaimana dijelaskan dalam Leksikon Yunani-
Inggris BDAG: “dengan fokus sebagai satu-satunya”), dan “theos”
(“Allah”). Kedua kata inilah yang ditemukan dalam perkataan Yesus
yang diucapkan kepada Bapa, “satu-satunya (monos) Allah (theos)
yang benar”.
Penting pula diperhatikan dengan seksama bahwa perkataan
Yesus di Yohanes 17:3 bertalian dengan hidup kekal, dan hal ini
Pendahuluan 19

mencakup dua komponen penting: (1) “bahwa mereka mengenal
Engkau, satu-satunya Allah yang benar” dan (2) “Yesus Kristus yang
telah Engkau utus”. Memiliki hidup kekal bukanlah sekadar perkara
“percaya pada Yesus”, seperti yang sering dikatakan oleh banyak
penginjil. Yesus sendiri mengatakan bahwa seseorang pertama-tama
harus mengenal satu-satunya Allah yang benar, dan berikutnya
mengenal dia (Yesus) juga sebagai yang diutus oleh satu-satunya
Allah itu. Perhatikan pula, Yesus tidak berkata apa-apa tentang soal
“percaya” (yang oleh banyak penginjil didefinisikan dengan bebas
sesuka hati mereka). Kata yang dipakai adalah “mengenal”, yang
mengandung makna jauh lebih kuat daripada “percaya”.
Secara statistik, kata “mengenal” (ginōskō) merupakan kata kunci
dalam Injil Yohanes (muncul 58 kali), hampir tiga kali lebih banyak
daripada Injil Matius (20 kali), hampir lima kali lebih banyak
daripada Injil Markus (12 kali), dan lebih dari dua kali lipat lebih
banyak daripada Injil Lukas (28 kali). Leksikon Perjanjian Baru
Yunani-Inggris standar (BDAG) memberi definisi primer atas
ginōskō sebagai berikut: “sampai kepada pengetahuan akan
seseorang atau sesuatu, tahu, tahu tentang, berkenalan dengan.”
Berkenalan dengan seseorang berarti menjalin suatu hubungan
personal dengan orang itu. Berapa banyakkah orang Kristen yang
bisa berkata bahwa mereka memiliki hubungan semacam ini dengan
satu-satunya Allah yang benar, dan dengan Yesus Kristus? Menurut
perkataan Yesus, hidup kekal bergantung sepenuhnya kepada hal ini.
Oleh karena itu, “percaya” (kata kunci lain dalam Injil Yohanes)
harus didefinisikan dalam istilah “mengenal” Allah dan Yesus
Kristus. Demikian pula, orang-orang yang mengira bahwa
monoteisme Alkitabiah tidak esensial untuk keselamatan sebaiknya
membaca kembali Yohanes 17:3 dengan lebih teliti.
Perkataan Yesus begitu terang hingga tidak perlu dijelaskan
dengan menggunakan teknik-teknik linguistik yang rumit. Yesus
menyatakan dengan gamblang bahwa hanya ada satu Allah, yang dia
20 The Only True God

panggil “Bapa”, dan dia menyuruh murid-muridnya memanggil Dia
dengan cara yang sama (“Bapa kami di surga”). Yesus mengakui
dirinya sebagai orang yang diutus oleh “satu-satunya Allah yang
benar”. Oleh karena itu, seharusnya jelas nyata kepada siapa saja
yang betul-betul mendengarkan ucapan Yesus bahwa jika sang Bapa
adalah satu-satunya Allah yang benar, maka tidak ada yang lain yang
dapat eksis sebagai Allah di samping-Nya. Dari perkataan Yesus
seharusnya jelas nyata bahwa ia secara pasti mengecualikan dirinya
dari klaim keilahian (deity) melalui kata “monos” atau “satu-satunya”
yang merujuk kepada sang Bapa. Namun kita dicegah dari
mendengarkan dia karena kita telah terbenam dalam trinitarianisme
seumur hidup kita. Umat Kristen sudah mencapai kondisi rohani di
mana kita memanggil Yesus “Tu[h]an, Tu[h]an” tetapi tidak
mendengar ataupun melakukan apa yang dikatakannya (Luk.6:46,
bdk. Mat.7:21,22). Kita sudah menjadi terbiasa memaksakan
doktrin-doktrin kita sendiri ke dalam ajarannya, dan ketika doktrin-
doktrin tersebut tidak sesuai dengan perkataan Yesus, kita
mengabaikan saja apa yang dikatakan olehnya. Namun, suka atau
tidak, monoteisme merupakan bagian paling akar dari kehidupan
dan pengajaran Yesus. Itulah kenyataannya, dan kita akan
mempertimbangkan hal ini dengan lebih matang dalam bagian
berikut.
Yesus (di Mrk.12:29) juga secara eksplisit mengesahkan deklarasi
yang sentral kepada iman bangsa Israel: “Dengarlah, hai orang Israel:
Yahweh itu Allah kita, Yahweh itu esa!” (Ul.6:4). Perkataan ini
mengungkapkan monoteisme iman Israel yang tidak mengenal
kompromi tersebut. Ini segera diikuti oleh perintah, “Kasihilah
Yahweh, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Ul.6:5). Kata “segenap”
rangkap tiga ini mencakup pengabdian total manusia terhadap
Allah, menjadikan Dia satu-satunya sasaran penyembahan dan cinta
kasih. Menariknya, di bibir Yesus, kata “segenap” itu menjadi
Pendahuluan 21

rangkap empat: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu
dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan
dengan segenap kekuatanmu” (Mrk.12:30); “dengan segenap akal
budimu” ditambahkan, dengan demikian mempertinggi intensitas
pengabdian terhadap Yahweh Allah. Yesus menggambarkan
perintah ini (Ul.6:4,5) sebagai perintah yang “terutama” atau “paling
penting” (Mrk.12:29,31). Perintah ini menjadikan Yahweh satu-
satunya sasaran pengabdian total. Memang, dalam prakteknya, kita
tidak mungkin mengasihi lebih dari satu pribadi dengan keseluruhan
diri kita.
Konsisten dengan hal ini, hendaknya dicatat bahwa dalam ajaran
Yesus, ia tidak pernah menjadikan dirinya sendiri fokus pengabdian
yang maha-melingkupi, sebab itu akan bertentangan dengan ajaran-
nya bahwa hanya Yahweh saja yang patut diberi dedikasi tunggal.
Kehidupan Yesus sendiri sepenuhnya mengikhtisarkan dan menela-
dankan pengabdian yang total terhadap Yahweh. Kehidupannya
selalu konsisten dengan pengajarannya. Yesus pasti kecewa dan
sedih karena para pengikutnya yang kemudian telah gagal
menghayati teladan dan ajarannya, dan justru malah menjadikan dia
pusat peribadahan dan penyembahan, dan mengira dengan berbuat
demikian mereka telah menghormati dan menyenangkan hatinya.
Monoteisme Yesus juga diungkapkan dengan jelas di Yohanes
5:44, “Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang menerima
hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang
datang dari Allah (theos) yang Esa (monos)?”
Para penulis Perjanjian Baru, sebagai murid-murid Yesus yang
sejati, dengan setia menegaskan monoteismenya. Demikian Rasul
Paulus berkata di 1Timotius 1:17, “Hormat dan kemuliaan sampai
selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah (theos) yang kekal,
yang tidak nampak dan yang esa (monos)! Amin.” Roma 16:27, “bagi
Dia, satu-satunya (monos) Allah (theos) yang penuh hikmat, melalui
Yesus Kristus: Segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.”
22 The Only True God

Demikian pula dalam surat Yudas: “Allah (theos) yang esa (monos),
Juruselamat kita melalui Yesus Kristus, Tu[h]an kita, bagi Dialah
kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan
sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.” (Yud.1:25) Jemaat
awal mengungkapkan iman monoteistiknya dalam doksologi-
doksologi yang amat indah, atau dalam puji-pujian di muka umum
yang dipersembahkan kepada Allah.
Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa Alkitab sama sekali
bersifat monoteistik, dan hal yang terutamanya signifikan bagi umat
Kristen adalah fakta bahwa Yesus sendiri hidup dan mengajar
sebagai seorang monoteis. Meskipun musuh-musuhnya berusaha
keji menghancurkannya dengan tuduhan palsu bahwa ia telah
berhujat (yang mendatangkan hukuman mati di Israel) oleh karena
mengklaim kesetaraan dengan Allah, fakta yang tercantum dalam
kisah-kisah Injil adalah: tidak sekali pun ia pernah mengklaim
dirinya setara dengan Allah. Sesungguhnya, bukti Injil menunjukkan
bahwa musuh-musuhnya mengalami kesulitan besar membuat
Yesus secara terbuka mengakui dirinya sebagai Mesias, yaitu raja
Mesianik yang dinanti-nantikan itu, apalagi sebagai Allah!
Sebagaimana dinyatakan di Filipi 2:6, ia “tidak menganggap bahwa
menjadi setara dengan Allah adalah sesuatu yang harus dirampas”
(MILT). Namun anehnya, inilah tepatnya yang dilakukan oleh para
trinitarian atas nama Yesus! Kita bersikeras memaksakan kepadanya
apa yang ia sendiri tolak! Namun, masalah dasariah yang
ditimbulkan dengan mengangkat Yesus ke tingkat keilahian adalah
terciptanya situasi di mana paling sedikit ada dua pribadi yang
sama-sama Allah; ini membawa trinitarianisme ke dalam konflik
dengan monoteisme Alkitab.
Perkara untuk monoteisme Alkitabiah itu seteguh batu karang
dan tidak memerlukan pembelaan sama sekali. Trinitarianismelah
yang berada dalam posisi bagaikan telur di ujung tanduk, sehingga
tidak heran apabila buku demi buku bersubjek Trinitas telah
Pendahuluan 23

diterbitkan dalam usaha untuk menemukan semacam pembenaran
dari Kitab Suci. Untuk memeras doktrin trinitaris dari Alkitab
monoteistik, para trinitarian membutuhkan sebanyak mungkin
peranti hermenetis (sebagaimana dapat dilihat dari buku-buku itu),
karena itu merupakan suatu usaha membuat Alkitab mengatakan
apa yang tidak dikatakannya. Saya tahu—saya sudah melakukan hal
ini hampir sepanjang hidup saya oleh karena trinitarianisme yang
telah ditanamkan ke dalam diri saya sejak masa bayi rohani, yang
telah saya telan mentah-mentah. Berikut ini kita akan memeriksa
argumen-argumen trinitaris yang utama di dalam cahaya Kitab Suci.
Lebih penting lagi, kita akan melihat apakah ajaran trinitaris telah
mengakibatkan hilangnya ajaran Alkitabiah yang benar tentang
Allah dan keselamatan manusia, sebab kekeliruan selalu
dipertahankan dengan mempertaruhkan kebenaran. Hanya setelah
kita melepaskan apa yang batil barulah kita dapat mulai melihat apa
yang benar.

Tentang buku ini

S ebagian besar dari kajian ini tersita oleh pembahasan Injil
Yohanes, karena Injil tersebut merupakan Injil yang paling
diandalkan oleh trinitarianisme untuk mendukung argumen-
argumennya. Hal ini benar terutamanya untuk bagian teks yang oleh
para pakar dianggap sebagai himne yang tertanam dalam Prolog
Injil Yohanes (Yoh.1:1-18), secara khusus ayatnya yang pertama
(Yoh.1:1). Nas lain dalam Perjanjian Baru yang oleh beberapa
sarjana juga dianggap sebagai kidung tentang Kristus, dan
berkepentingan dengan trinitarianisme ditemukan dalam Filipi 2
(ay.6-11). Kolose 1 (terutamanya ay.13-20) dan Ibrani 1 merupakan
nas lain yang banyak digunakan oleh para trinitarian. Nas-nas ini
dan lainnya akan dibahas lebih singkat karena penafsiran trinitaris
atas semua nas-nas ini bergantung secara langsung atau tidak
24 The Only True God

langsung pada penafsiran Yohanes 1:1. Sekali Yohanes 1:1 terlihat
jelas tidak mendukung penafsiran trinitaris, maka akan segera jelas
pulalah bahwa teks-teks lainnya pun tidak mendukung
trinitarianisme. Namun, kita akan memeriksa beberapa teks bukti
kunci, sebelum mengkaji Yohanes 1:1 dengan lebih mendalam dan
rinci, untuk menyingkapkan kekeliruan interpretatif dan
eksegetisnya.
Mengenai Yohanes 1:1, perkara trinitarisnya bersandar pada
asumsi bahwa “Firman itu” adalah Yesus Kristus (Firman = Yesus
Kristus), dan, karena itu, pra-keberadaan Firman berarti pra-
keberadaan Yesus. Anehnya, tak seberkas bukti pun yang
disodorkan dari Injil Yohanes untuk membuktikan persamaan atau
identifikasi ini. Setelah diteliti lebih dekat, ternyata kegagalan serius
dalam menyediakan bukti bagi persamaan tersebut tidaklah
mengherankan, sebab memang tidak ada bukti semacam itu, karena
tidak terdapat persamaan antara Firman itu dengan Yesus Kristus
dalam Injil Yohanes. Persamaan tersebut merupakan sebuah asumsi
belaka. Adalah sebuah kejutan besar untuk menyadari bahwa dogma
yang selama ini kita genggam dengan begitu erat sebagai trinitarian,
sebenarnya bersandar pada sebuah asumsi tak berdasar.
Sesungguhnya, di luar Yohanes 1:1 dan 1:14, “Firman itu” tidak
lagi disebut dalam Injil Yohanes, sedangkan “Yesus Kristus” tidak
disebutkan sampai 1:17 pada akhir Prolog (ay.1-18). Satu-satunya
kaitan antara “Firman itu” dengan Yesus Kristus ditarik dari
Yohanes 1:14, “Firman itu telah menjadi manusia (“daging”), dan
tinggal di antara kita”. “Daging” dalam Alkitab merupakan suatu
cara menggambarkan hidup manusia. Firman itu masuk ke dalam
hidup manusia (“menjadi daging”) dan berdiam di antara kita.
Namun, hal yang tidak dikatakan oleh ayat ini adalah: “Yesus Kristus
menjadi manusia (“daging”)”; dan inilah tepatnya hal yang begitu
saja diasumsikan oleh penafsiran trinitaris. Tentu saja, kita tahu
bahwa “Yesus” merupakan nama yang diberikan kepadanya pada
Pendahuluan 25

saat kelahirannya (Mat.1:21), tetapi, apakah dasarnya untuk
berasumsi bahwa “Kristus yang pra-eksisten telah menjadi daging”?
Gagasan “Kristus yang pra-eksisten” ini didasari oleh asumsi bahwa
Yesus Kristus dan Firman yang pra-eksisten itu satu dan sama;
namun faktanya adalah tidak di manapun dalam Injil Yohanes
Firman itu disamakan dengan Yesus. Dengan kata lain, Yesus dan
Firman itu tidak satu dan sama. Apakah atau siapakah Firman yang
pra-eksisten itu? Inilah pertanyaan yang perlu kita kaji dengan
cermat.
Jika Yohanes bermaksud mengidentifikasikan Firman itu sebagai
Yesus, lalu kenapa ia tidak melakukan identifikasi tersebut? Satu
jawaban untuk pertanyaan ini dapat ditemukan dari tujuan yang
dipaparkan dalam Injil Yohanes. Injil ini (berbeda dengan
trinitarianisme) tidak bertujuan untuk membuat orang
mempercayai Yesus sebagai Firman yang pra-eksisten, tetapi sebagai
“Kristus”. Hal ini dapat dipastikan dengan mudah karena Injil ini
merupakan satu-satunya Injil yang tujuan penulisannya dicatat
dengan jelas: “tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya
bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya,
kamu memperoleh hidup dalam namanya” (Yoh.20:31). Gelar
“Kristus” adalah padanan Yunani untuk “Mesias”, sebuah gelar yang
amat signifikan bagi orang Yahudi, tetapi sayangnya, hampir tidak
berarti apa-apa bagi orang non-Yahudi.

“Anak Allah”
“Anak Allah” adalah gelar mesianik lain yang diturunkan dari
Mazmur 2 (khususnya ay.7,12), di mana raja Daud yang dijanjikan
akan dianugerahi suatu hubungan dengan Allah seperti hubungan
antara seorang anak dengan ayahnya. Tepatnya, hubungan yang
intim antara Yesus dengan Allah dalam Injil Yohanes memberi bukti
yang tak bisa dipungkiri akan dirinya sebagai Mesias; dan memper-
26 The Only True God

cayai Yesus sebagai Kristus/Mesias, “Juruselamat dunia” (Yoh.4:42)
artinya “memiliki hidup dalam namanya”. Dengan demikian, dari
pernyataan tujuan yang dipaparkan dalam Injil Yohanes, jelas sekali
bahwa mempercayai Yesus sebagai Firman yang pra-eksisten itu
bukanlah tujuan Injil ini. Jadi, kita harus mempertimbangkan
dengan seksama apa yang dimaksud dengan “Firman itu”, dan
mengapa Injil Yohanes dimulai dengan merujuk kepadanya.
Seseorang mungkin bertanya, “Jika Injil Yohanes ditulis bagi
orang-orang non-Yahudi, lalu mengapa istilah seperti ‘Mesias
(Kristus)’ dan ‘Anak Allah’ dipakai?” Pertanyaan ini menyatakan
asumsi lain, yakni, Injil ini ditulis bagi orang-orang non-Yahudi.
Bahkan dengan mengasumsikan tanggal penulisan Injil Yohanes
yang jauh kemudian (setelah th. 90 M), hendaknya diingat bahwa
jemaat yang bermula sebagai jemaat Yahudi (baca bagian pertama
kitab Kisah Para Rasul), secara predominan masih berciri Yahudi
menjelang akhir abad pertama, khususnya dalam cara pemikiran
mereka yang monoteistik. Pada suatu waktu, walaupun jauh lebih
awal dari akhir abad pertama, Rasul Paulus perlu memperingatkan
orang beriman bukan Yahudi di Galatia agar tidak disunat (Gal.5:2-
4, dsb.)! Paulus harus mengingatkan mereka bahwa sunat berkaitan
dengan ikatan perjanjian Allah yang terdahulu dengan umat Yahudi,
dan oleh karenanya, tidak relevan kepada orang-orang non-Yahudi
dan ikatan perjanjian yang baru.
Para penginjil pertama yang memberitakan kabar baik kepada
orang-orang kafir adalah orang Yahudi, sama seperti Rasul Paulus.
Jadi, mereka pasti sudah pernah menjelaskan arti istilah seperti
“Mesias/Kristus” kepada para pendengarnya. Seperti Yohanes,
mereka pun pasti pernah menjelaskannya dengan istilah
“Juruselamat dunia” (Yoh.4:42), pemberi air hidup (Yoh.4:14) dsb.,
yang dapat dipahami dengan mudah, baik oleh orang Yahudi
maupun non-Yahudi. Namun, sejalan dengan waktu dan dengan
meluasnya jemaat-jemaat ke seluruh penjuru dunia, dan jemaat
Pendahuluan 27

Kristen hampir secara eksklusif telah menjadi jemaat bukan Yahudi,
arti konsep-konsep kunci seperti “Mesias” mulai menjadi kabur,
atau malah terlupakan. Banyak orang beriman non-Yahudi, malah
sebagian besar dari mereka, menganggap “Kristus” hanya sebagai
nama-diri lain dari Yesus. Tiga abad kemudian, gelar Mesianik
“anak Allah” itu dibalik sehingga menjadi gelar ilahi “Allah-Anak”,
sebuah istilah yang sama sekali asing kepada Yohanes atau Paulus
atau setiap penulis Perjanjian Baru lainnya!
Hanya dalam sekitar seratus tahun setelah kematian dan
kebangkitan Kristus, pertumbuhan pesat jemaat di dunia telah
menghasilkan satu hal yang tidak diinginkan: gereja tidak lagi
mempertahankan pertaliannya dengan akar-akar Yahudinya.
Akibatnya, arti istilah-istilah dan konsep-konsep yang dahulu amat
dikenal baik oleh orang beriman Yahudi mula-mula, sekarang
menjadi kabur atau malah tidak lagi dikenal oleh rata-rata orang
Kristen. Selain istilah umum seperti “Kristus”, yang sulit dijelaskan
artinya oleh rata-rata orang Kristen dewasa ini, asal-usul dan arti
“Firman itu” kelihatannya telah menghilang dengan cepat.

“Firman itu”

H al ini mengakibatkan spekulasi yang nyaris tidak habis-
habisnya tentang “Firman itu” (Yunani: “Logos”) dan tentang
apakah Yohanes (atau siapa saja yang menulis himne yang
digabungkan ke dalam Prolog Injil itu) mengambilnya dari filsafat
Yunani atau ajaran Yahudi. Namun, para sarjana trinitarian
mendapati semuanya itu tidak menolong, karena baik dari sumber
Yahudi maupun Yunani tidak ditemukan "Firman” atau "Logos”
sebagai tokoh ilahi personal yang sesuai dengan "Allah-Anak”.
Akhirnya, sebagian sarjana pergi sejauh untuk mengusulkan bahwa
Yohanes sendirilah yang telah menciptakan gagasan adanya suatu
Logos personal; usul ini dibuat bermartabat dengan diberi istilah
28 The Only True God

cukup keren “sintesis Yohanein” (“the Johannine synthesis”), tetapi
tanpa mampu memberi bukti apa-apa atas keabsahannya. Hal ini
dapat dilihat dalam buku-buku tafsir atas Injil Yohanes.
Buku ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa kita tidak perlu
mengambil tindakan putus asa sampai mengarang-ngarang asal-usul
Firman Yohanein seperti ini. Langkah pertama yang perlu kita
lakukan adalah dengan mendapatkan sedikit pengetahuan akan
jemaat induk berbahasa Aram tempat Yohanes dan para rasul mula-
mula berasal. Kita perlu mempelajari fakta-fakta dasar, antara lain,
bahasa Aram merupakan bahasa ibu yang dipakai oleh Yesus, yaitu
bahasa yang umum dipakai di Palestina pada masa Kristus, dan
dipakai untuk waktu yang cukup lama, baik sebelum dan sesudah
masa Yesus. Itu sebabnya mengapa banyak kata Aram masih
ditemukan di dalam Injil (Mrk.5:41 merupakan satu contoh
terkenal). Dapat dipastikan bahwa Yesus, dan para rabi pada
umumnya, dapat membaca Alkitab Ibrani; tetapi tidak diketahui
apakah ia berbahasa Yunani.
Dengan beberapa pengecualian, rata-rata orang Yahudi di
Palestina pada masa Yesus tidak berbahasa Ibrani. Alkitab Ibrani
harus diterjemahkan ke dalam bahasa Aram (bahasa yang serumpun
dengan bahasa Ibrani tetapi berbeda darinya) sewaktu didaraskan di
depan orang-orang yang berkumpul di sinagoga setiap minggu. Kata
bahasa Aram untuk “terjemahan” adalah “targum”. Hal yang
penting bagi kita adalah fakta bahwa “Firman” merupakan istilah
yang dikenal baik oleh rakyat Israel pada masa Kristus, karena
“Firman” adalah "Memra” dalam bahasa Aram, dan kata ini sering
muncul dalam terjemahan-terjemahan (atau targum-targum) Aram,
yang rutin mereka dengar di sinagoga. Kita akan meneliti kata
“Memra” dengan cukup rinci untuk melihat kepentingannya dalam
mengerti pesan dari Injil Yohanes.
Yang paling penting, kita akan melihat bahwa sesungguhnya
tidak ada cara lain untuk memahami arti “Firman itu” (Logos)
Pendahuluan 29

dengan tepat (yaitu, jika kita tidak berbelok ke filsafat Yunani
ataupun versi Yahudi dari filsafat Yunani oleh Filo), selain daripada
menemukan artinya dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) dan
terjemahan Aramnya, yaitu Targum. Jika kita meneliti Kitab Suci
kita akan mendapati bahwa “Firman” di Yohanes 1:1, "Firman”
dalam Perjanjian Lama seperti di Mazmur 33:6, Hikmat dalam kitab
Amsal (khususnya Ams.8:30), dan Firman (Memra) dalam Targum,
semua pada intinya memiliki arti yang sama—sebagaimana bisa
diduga dari ciri Kitab Suci yang konsisten sebagai Firman Allah.
Kitab Suci tidak membiarkan kita dibingungkan oleh arti-arti yang
bertentangan dan tidak sepadan.

Kitab-kitab Suci
Mengenai “Kitab Suci” atau “Kitab-kitab Suci”, penting untuk
dipahami bahwa kata-kata ini adalah istilah yang digunakan dalam
Perjanjian Baru untuk merujuk kepada Alkitab Ibrani, yang disebut
“Perjanjian Lama” oleh umat Kristen. Bisa dimaklumi bila kaum
Yahudi merasa keberatan Alkitab mereka disebut demikian karena
kata “lama” cenderung menyiratkan sesuatu yang antik, dan karena
itu kelewahan atau usang. Tentu saja, “lama” bisa juga bermakna
“berasal dari zaman purba” dan karena itu harus diperlakukan
dengan hormat, akan tetapi ini tidak mengesampingkan makna
“lama” lainnya yang lebih kentara. Saya memakai istilah “lama” di
sini dengan kesadaran penuh bahwa istilah tersebut memang tidak
memadai dan tidak pantas. Saya hanya menggunakannya karena
inilah istilah yang secara universal dimengerti oleh umat Kristen,
dan juga karena fakta bahwa pada saat ini tidak ada istilah lain yang
umum diterima di antara umat Kristen sebagai penggantinya. Jika
istilah “Alkitab Ibrani” digunakan tanpa disertai penjelasan lanjutan
maka istilah ini bisa dipahami sebagai Alkitab dalam bahasa Ibrani.
Dewasa ini istilah “Kitab-kitab Suci” (baik dalam bentuk tunggal
30 The Only True God

maupun jamak) dipahami mencakup “Perjanjian Lama” dan “Baru”.
Jadi, sebelum ditemukannya terminologi baru, seperti “Kitab-kitab
Suci terdahulu” dan “Kitab-kitab Suci kemudian” (yang akan
digunakan sekali-sekali dalam buku ini), untuk sementara ini saya
terpaksa harus terus mengggunakan terminologi tersebut yang
diterima secara umum di antara umat Kristen; dan saya mohon
kesabaran para pembaca Yahudi. Menggunakan istilah “Kitab-kitab
Suci Yahudi” pun tidak banyak menolong karena “Perjanjian Lama”
dan juga sebagian besar dari Perjanjian Baru (kecuali Lukas dan
Kisah Para Rasul) ditulis oleh orang Yahudi; ini merupakan sesuatu
yang mudah dilupakan oleh orang Kristen.
Jadi, ketidak-pantasan penggunaan istilah “Perjanjian Lama”
bukan hanya karena istilah ini tidak bisa diterima oleh umat Yahudi,
tetapi juga karena ini bukan cara para penulis Perjanjian Baru
merujuk kepada Alkitab Ibrani. Dalam “Perjanjian Baru”, yang
“Lama” selalu dirujuk sebagai “Kitab Suci” (mis. Mrk.12:10;
Yoh.2:22; Rm.4:3; 1Ptr.2:6; atau “Kitab-kitab Suci”, mis. Mat.21:42;
Rm.1:2); istilah ini muncul tidak kurang dari 50 kali. Perlu diingat
bahwa “Kitab Suci” merupakan satu-satunya Alkitab yang dimiliki
gereja awal. Kitab-kitab Injil dan surat-suratnya baru pertama kali
digabungkan ke dalam satu jilid dan dipakai oleh gereja-gereja
sekitar 150 tahun setelah masa pelayanan Kristus di muka bumi.
Salah satu dari koleksi paling mula-mula ini tercantum dalam Kanon
Muratorian (th. 170-180 M), yang masih belum mencakup seluruh
karangan Perjanjian Baru seperti yang kita miliki saat ini.
Para sarjana (terutamanya sarjana PL) sudah lama menyadari
adanya masalah dengan istilah “Perjanjian Lama”. Jadi, apa yang
saya katakan di sini bukanlah sesuatu yang orisinal. Namun hal ini
penting sehubungan dengan tema-tema yang akan dibahas karena
itu adalah penunjuk lain atas penyimpangan Kekristenan dari akar-
akar Alkitabiah dan Yahudinya. Seorang sarjana Kristen yang
berpandangan keras akan hal ini adalah Garry Willis, Professor of
Pendahuluan 31

History Emeritus di Northwestern University, yang dalam bukunya
yang terbaru, What Paul Meant, menulis, “Bagi Paulus tidak ada
yang namanya ‘Perjanjian Lama’. Seandainya ia tahu kalau
karangan-karangannya akan digabungkan menjadi sesuatu yang
disebut Perjanjian Baru, ia tidak akan mengakuinya jika sekiranya
itu dimaksudkan untuk menolak, atau mengsubordinasikan satu-
satunya Kitab Suci yang ia tahu, satu-satunya firman Allah yang ia
kenal, Alkitabnya.” (What Paul Meant, Penguin Books, 2006, hlm.
127 dyb.)

Tema-tema dalam kajian ini

B uku ini membahas tiga tema utama dalam Alkitab yang paling
berkepentingan bagi umat manusia:

(1) Ada satu, dan hanya satu, Allah yang benar, yang adalah Pencipta
segala yang ada. Penyataan diri dari Allah ini tercatat bagi kita
pertama-tama dalam Alkitab Ibrani (yang disebut “Perjanjian Lama”
oleh umat Kristen), dan berikutnya dalam Perjanjian Baru. Jemaat
Kristen lahir di Yerusalem, dan kelahirannya dilukiskan dalam kitab
Kisah Para Rasul. Jemaat itu adalah jemaat Yahudi, dan oleh kare-
nanya, bersifat monoteistik yang tidak mengenal kompromi.
Namun, jemaat Kristen non-Yahudi, yang tidak mempunyai
komitmen demikian kepada monoteisme, dan yang sejak sekitar
pertengahan abad ke-2 telah lepas dari induk Yahudinya, mulai
mengembangkan suatu doktrin yang menyatakan bahwa ada lebih
dari satu pribadi yang adalah Allah. Gereja non-Yahudi telah
mengambil langkah pertama yang besar untuk menjauhi
monoteisme ketika di Nikea pada 325 M mereka mendeklarasikan
bahwa doktrin ini mewakili iman gerejanya. Buku ini bertujuan
untuk menunjukkan bahwa, baik dalam Perjanjian Lama maupun
32 The Only True God

Baru, sama sekali tidak ada dasar untuk kompromi ini dengan
politeisme, yang menyamar sebagai semacam “monoteisme”.
(2) “Satu-satunya Allah yang benar”, sebagaimana Yesus memanggil
Dia (Yoh.17:3), merupakan Allah yang sangat mempedulikan
ciptaan-Nya, khususnya manusia dan kesejahteraannya. Ia
menciptakan umat manusia dengan suatu rencana kekal. Oleh
karena itu, sejak awal penciptaan manusia kita melihat Dia terlibat
secara intim dengan manusia. Keterlibatan-Nya yang luar biasa
dalam penyelamatan satu umat yang terjerat dalam kesengsaraan
perbudakan di Mesir; dan pemeliharaan-Nya akan segala kebutuhan
mereka selama 40 tahun mengembara di padang gurun Sinai yang
mengerikan, merupakan sebuah kisah yang diceritakan berulang-
ulang, bukan saja di Israel tetapi di seluruh dunia. Dalam kisah
tersebut kita juga mendapati Allah sendiri tinggal bersama dengan
umat Israel, hadirat-Nya diam di antara mereka dalam kemah yang
lebih dikenal dengan sebutan “tabernakel” (atau “Kemah Suci”)
(bdk. Yoh.1:14, “berdiam”, “berkemah”). Ia hadir bersama mereka
dan memimpin mereka melewati padang gurun dalam tiang awan
pada siang hari dan tiang api pada waktu malam. Melalui semua ini
Ia telah menunjukkan bahwa Ia bukan Allah yang transenden dalam
arti Ia menjaga jaraknya dari manusia, tetapi sebaliknya melibatkan
diri-Nya secara sangat “bersahaja” (down to earth).
Tentu saja, Allah sebagai Pencipta seluruh umat manusia tidak
hanya peduli dengan bangsa Israel tetapi dengan seluruh umat
manusia. Oleh sebab itu, terdapat isyarat-isyarat penting,
terutamanya diberikan melalui nabi-nabi Perjanjian Lama, bahwa
Allah akan datang pada suatu saat sedemikian rupa sehingga
“seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama” (Yes.40:1-
5). Bahkan lebih mengagumkan lagi, Ia akan datang ke dunia dalam
rupa seorang manusia. Ini tampak jelas terungkapkan dalam
pernyataan profetis yang dimasyhurkan oleh kartu-kartu Natal
Pendahuluan 33

(Yesaya 9:5, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang
putra telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas
bahunya, dan namanya disebut orang: Penasihat Ajaib, Allah yang
Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”).
Namun anehnya, gereja non-Yahudi trinitarian telah
memutuskan bahwa Ia yang datang ke dunia ini bukanlah Dia yang
disebut “satu-satunya Allah yang benar” oleh Yesus (Yoh.17:3), dan
yang secara konsisten dipanggilnya “Bapa”, melainkan seorang
pribadi lain yang disebut “Allah-Anak”—sebuah istilah yang tidak
dapat ditemukan di manapun dalam Alkitab. Tujuan buku ini adalah
untuk menunjukkan bahwa sejumlah kecil ayat dalam Perjanjian
Baru yang dikemukakan para trinitarian untuk mendukung doktrin
mereka itu tidak memberikan bukti eksistensi “Allah-Anak”, atau
bahwa Yesus Kristus adalah Allah-Anak. Tidak diragukan sama
sekali bahwa para penulis Perjanjian Baru adalah orang-orang
monoteis, dan karena itu tidak ada cara yang benar untuk
menghasilkan doktrin trinitaris dari karangan-karangan
monoteistik—kecuali dengan memaksakan penafsiran secara tidak
benar ke dalam teks.
(3) Rencana Allah untuk menyelamatkan manusia dari kesengsaraan
(karena kegagalannya mengakui Dia sebagai Allah, Roma 1:21) bu-
kanlah sebuah rencana yang dirancang secara mendadak tanpa
dipikirkan dahulu, melainkan sesuatu yang telah terpadu ke dalam
rencana kekal-Nya bagi seluruh ciptaan menurut pra-pengetahuan-
Nya. Ini berarti rencana-Nya untuk menyelamatkan manusia sudah
ada “sebelum permulaan zaman” (2Tim.1:9).
Dalam rencana ini tokoh kuncinya ialah seorang manusia yang
telah dipilih-Nya yang diberikan-Nya nama “Yesus” (Mat.1:21;
Luk.1:31). Nama ini penting karena artinya “Yahweh menyela-
matkan” atau “Yahweh adalah keselamatan”. Orang Kristen
berbicara seolah-olah Yesus sendiri adalah penyelamat, tetapi
34 The Only True God

sebenarnya ia adalah penyelamat karena “Allah ada di dalam Kristus
ketika mendamaikan dunia dengan diri-Nya sendiri” (2Kor.5:19,
MILT). Yesus sendiri terus mengulangi hal ini dengan berbagai cara
dalam Injil Yohanes, yakni, segala sesuatu yang ia katakan dan
perbuat sebenarnya dilakukan oleh “sang Bapa” di dalam dia
(Yoh.14:10, dsb.). Hal itu dikarenakan Allah hidup di dalam Yesus
dengan cara yang belum pernah dilakukan-Nya dalam sejarah
manusia. Inilah yang membuat Yesus betul-betul unik dibanding
siapa pun yang pernah hidup di muka bumi ini, dan itu juga
sebabnya mengapa ia menikmati suatu hubungan spiritual yang
intim dan unik dengan Allah seperti hubungan seorang anak dengan
ayahnya. Itulah sebabnya ia disebut “anak Allah”, yang dalam
Alkitab tidak pernah berarti “Allah-Anak”. Oleh karena
hubungannya yang unik dengan sang Bapa, tiga kali dalam Injil
Yohanes ia disebut “satu-satunya Anak Allah” atau “Anak Allah
yang unik” (Yoh.1:14; 3:16,18).
Dalam hubungan yang tidak pernah terjadi sebelumnya ini, atas
ikhtiar Yesus sendiri, ia hidup dalam ketaatan penuh kepada Allah
sebagai Bapa, dan memilih menjadi “taat sampai mati, bahkan
sampai mati di kayu salib” (Flp.2:8). Melalui “ketaatan satu orang
banyak orang menjadi orang benar” (Rm.5:19), yang berarti bahwa
dia menyelesaikan keselamatan manusia melalui kematiannya di
kayu salib. Dengan cara inilah Allah mendamaikan segalanya
dengan diri-Nya melalui Kristus. Lagi pula, oleh karena ketaatannya
kepada Allah, Allah “sangat meninggikan dia dan mengaruniakan
kepadanya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus
bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi
dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus
Kristus adalah Tu[h]an,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp.2:9-11).
Allah mengaruniakan kepada Yesus hormat setinggi-tingginya.
Itulah sebabnya kita menyebut dia “Tu[h]an”.
Pendahuluan 35

Pergeseran fokus yang serius dalam Gereja non-Yahudi
Akan tetapi, gereja non-Yahudi yang kemudian, telah gagal (sengaja
atau tidak) untuk membedakan perbedaan yang signifikan antara
kata “Tu[h]an” (“Lord”) yang disandangkan kepada Yesus dan
“TU[H]an” (“LORD”) yang disandangkan kepada Allah (sama
seperti kata “lord” dalam bahasa Inggris, kata Yunani kurios
digunakan dalam kedua kasus), meskipun dalam bahasa Yunani
(seperti bahasa Inggris) kata kurios mempunyai beberapa tingkatan
makna: bisa digunakan sebagai gelar kesopanan yang artinya kira-
kira “tuan”; itulah caranya seorang budak memanggil majikannya,
atau seorang istri memanggil suaminya, atau seorang murid gurunya
(seperti dalam bahasa Inggris “master” untuk “schoolmaster”),
sedangkan dalam Perjanjian Lama Yunani (LXX) kata ini biasa
digunakan untuk memanggil Allah. Dengan demikian, gereja non-
Yahudi yang kemudian dengan mudah beralih dari berbicara
tentang Yesus sebagai “Tu[h]an” menjadi Yesus sebagai “Allah”.
Inilah salah satu alasan utama mengapa gereja non-Yahudi pada
abad ke-4 tidak mengalami banyak kesulitan dalam
memproklamirkan Yesus Kristus sebagai “Allah-Anak”, pribadi
kedua dalam “Ke-Allahan” (“Godhead”). Dengan demikian, lahirlah
“trinitarianisme” sebagaimana dikenal dewasa ini.
Dari sudut pandang Alkitabiah, konsekuensi yang amat serius
dari semua ini adalah bahwa Allah (sang Bapa) telah
dikesampingkan atau dipinggirkan oleh penyembahan kepada Yesus
sebagai Allah, hal yang telah mendominasi gereja. Sekilas pandang
buku-buku pujian Kristiani modern langsung menyingkapkan
siapakah sasaran utama dari doa dan penyembahan Kristiani. “Sang
Bapa” telah dibiarkan memegang peranan yang relatif sampingan.
Yesus telah menggantikan Bapa dalam kehidupan Kristiani sebab,
bagi mereka, Yesuslah Allah itu. Rasul Paulus, yang dalam surat-
suratnya berulang-kali menulis tentang “Allah dan Bapa Tu[h]an
36 The Only True God

kita, Yesus Kristus” (Rm.15:6; 2Kor.1:3, dsb.), akan gemetar dengan
pemikiran bahwa gereja Kristen masa depan akan mengganti “Allah
Tu[h]an kita Yesus Kristus” sebagai sasaran penyembahan yang
utama, dengan menyembah Yesus sendiri sebagai Allah, malah
dengan mengutip (atau lebih tepatnya, salah mengutip) surat-
suratnya (khususnya Flp.2:6 dyb.)!
Jika Yesus dapat menjadi sasaran penyembahan, lalu mengapa
tidak ibunya, Maria, yang dideklarasikan menjadi “bunda Allah”
oleh gereja non-Yahudi, dan yang benar-benar disembah oleh
sebagian besar gereja Kristen? Sebab, jika Yesus adalah Allah, maka
Maria bisa sepantasnya disebut “bunda Allah”. Meskipun Maria
belum dideklarasikan menjadi Allah, kelihatannya ini tidak
diperlukan mengingat fakta bahwa sebagai “bunda Allah” ia tampak
berkedudukan di atas Allah. Di dalam gereja Maria biasanya
digambarkan sedang memangku bayi Yesus; gambaran yang
mengusulkan bahwa sang ibu lebih besar daripada bayinya,
sekalipun bayi itu adalah Allah! Tidak heran bila begitu banyak
orang Kristen berdoa kepada Maria sebagai orang yang memiliki
pengaruh yang amat besar selaku ibu atas anaknya.
Tujuan buku ini adalah untuk memberi peringatan bahwa gereja
Kristen telah menyimpang dari kebenaran yang ditemukan dalam
firman Allah, yakni Alkitab. Semua orang yang mengasihi Allah dan
kebenaran-Nya akan membaca kembali Kitab-kitab Suci dengan
seksama untuk mencari kebenaran bagi diri mereka sendiri, dan
dengan demikian kembali kepada “Allah Penyelamat kita”, “yang
telah menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan
kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan
maksud dan anugerah-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada
kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman” (2Tim.1:9).
Oleh sebab inilah kita menghormati Yesus sebagai “Tu[h]an”—
tetapi selalu sedemikian rupa "bagi kemuliaan Allah, Bapa kita”
(Flp.2:11). Prof. Hans Küng mengatakan hal yang sama dengan
Pendahuluan 37

memakai istilah teologis, “kristosentrisitas Paulus tetap berasaskan
pada dan mencapai puncaknya lagi dalam teosentrisitas keras”
(Christianity, hlm.93 dyb., huruf tebal darinya).

Kesimpulan

S ebagai kesimpulannya, maksud tujuan buku ini adalah untuk
menangkap makna ajaran Alkitabiah yang terangkum di
1Timotius 3:16 (ILT), yakni, “Dia telah dinyatakan dalam daging”
dalam pribadi “manusia Kristus Yesus” (1Tim.2:5). Bahwa rujukan
di sini adalah pada Allah yang telah menyatakan diri-Nya di dalam
daging terlihat jelas dari fakta berikut: Untuk mengatakan bahwa
seorang manusia telah “dinyatakan” dalam daging tidaklah terlalu
masuk di akal. Lagipula, Kristus tidak disebut dalam kedua ayat
sebelum ini, tetapi Allah disebut dua kali dalam ayat sebelumnya.
Jadi, siapa lagi “Dia” di 1Timotius 3:16 kalau bukan Allah? Jika
memang Allah yang telah dinyatakan dalam daging, maka ini
dengan tepat dapat digambarkan sebagai sebuah “rahasia agung”,
seperti yang dikatakan ayat itu.
Tepatnya rahasia inilah bahwa Allah “tinggal di antara kita”
(Yoh.1:14) “dalam Kristus” (istilah yang sering sekali muncul dalam
karangan Paulus—73 kali, tidak termasuk “dalam dia”, dst., lebih
dari 30 kali), sama seperti ketika Ia tinggal di antara umat Israel,
yang perlu kita pertimbangkan dengan seksama. Allah melakukan
ini “di dalam Kristus ketika mendamaikan dunia dengan diri-Nya
sendiri” (2Kor.5:19, MILT). Tentu saja, trinitarianisme pun percaya
bahwa Allah “telah dinyatakan dalam daging”, tetapi Allah yang
telah dinyatakan itu adalah “Allah-Anak”, tanpa mempedulikan
fakta bahwa tidak ada pribadi seperti ini di manapun dalam Alkitab.
Akibatnya, mereka telah mengesampingkan satu-satunya Allah yang
benar, yang oleh Yesus dipanggil “Bapa”, sebagai Dia yang datang ke
dunia “dalam Kristus” demi keselamatan kita. Atau, dengan
38 The Only True God

menggunakan istilah-istilah teologis Prof. Küng, trinitarianisme
telah menggantikan “teosentrisitas” Alkitabiah dengan
“kristosentrisitas” mereka.
Namun apakah pengertian “Allah (Yahweh) telah dinyatakan di
dalam daging” itu benar-benar tepat? Ini betul-betul sebuah pernya-
taan mengguncang yang amat menakjubkan, dan sebuah pernyataan
yang perlu kita periksa dengan rinci dalam halaman-halaman
berikut.

Apakah kita sungguh-sungguh monoteis?
Kita semua adalah orang-orang monoteis: umat Kristen
menganggap dirinya orang monoteis. Kekristenan mengklaim
dirinya iman yang monoteistik. Namun kenapa? Bagaimana
mungkin agama yang tidak menaruh imannya semata-mata dan
secara eksklusif pada satu Allah yang personal, tetapi mempercayai
tiga pribadi yang semuanya sama-sama Allah, masih mengklaim
dirinya iman yang monoteistik? Dari definisinya, “monoteisme”
bermakna “kepercayaan pada Allah yang tunggal: kepercayaan
bahwa hanya ada satu Allah” (Encarta Dictionary). Definisi ini sama
dalam setiap kamus. Namun, kepercayaan pada tiga pribadi ilahi
yang setara bukanlah kepercayaan pada “Allah yang tunggal”,
ataupun bahwa “hanya ada satu Allah”.
Sebagaimana telah kita catat, kata “monoteisme” berasal dari kata
Yunani “monos” (satu) dan “theos” (Allah). Allah yang telah
menyatakan diri-Nya dalam Alkitab Ibrani telah menyatakan diri-
Nya dengan Nama agung “YHWH”, yang disetujui oleh para pakar
pada umumnya dengan pelafalan “Yahweh”. Makna Nama-Nya
selalu menjadi pokok pembahasan, tetapi maknanya kira-kira “Aku
adalah Aku”, atau “Aku akan menjadi siapa Aku akan menjadi” (Lih.
Kel.3:14), atau menurut PL Yunani (LXX) nama itu mengandung
makna “Yang Sudah Ada” (ho ōn), yang mengemukakan bahwa Ia
Pendahuluan 39

ada secara abadi dan bahwa Ia adalah sumber segala yang ada.
Perjanjian Lama mengakui adanya satu Allah yang personal saja,
yaitu Yahweh, sebagai satu-satunya Allah yang benar. Nama-Nya
yang muncul 6828 kali itu adalah sentral kepada keseluruhan Alkitab
Ibrani. Namun, kebanyakan umat Kristen tampaknya sama sekali
tidak menyadari kenyataan sederhana ini.
Yahweh mutlak adalah satu-satunya (monos) Allah (theos) yang
dinyatakan dalam Alkitab. Barangkali ada “banyak ilah dan banyak
tuhan” yang dipercayai orang (1Kor.8:5,6), tetapi sejauh wahyu
Alkitabiah, Yahweh adalah, menurut Yesus, “satu-satunya Allah
yang benar”. Yesus sudah pasti mengajarkan monoteisme, tetapi
pertanyaannya adalah: apakah kita sebagai murid-muridnya
sungguh-sungguh orang monoteis?
Perlu dipahami dengan jelas bahwa monos bukan kata yang dapat
direntangkan maknanya menjadi sebuah kelompok yang terdiri dari
beberapa pribadi, suatu kumpulan yang terdiri dari beberapa entitas,
atau suatu golongan yang terdiri dari sejumlah tokoh. Berikut
definisi monos menurut Kamus PB Yunani-Inggris BDAG yang
berwenang: “1. sebagai satu-satunya entitas dalam suatu golongan,
satu-satunya, sendiri kata sifat a. dengan fokus sebagai satu-satunya.
2. penanda batasan, satu-satunya, sendiri, [monon] jenis netral,
dipergunakan sebagai kata keterangan.”
Kata “Allah” dan istilah “satu-satunya Allah” dalam Perjanjian
Baru, tanpa dapat disangsikan selalu merujuk kepada Allah dari PL,
Yahweh. Lalu mengapa nama “Yahweh” tidak muncul dalam PB
seperti dalam Alkitab Ibrani? Jawaban kepada pertanyaan ini terletak
pada dua kenyataan penting:
(1) Dampak yang meluluh-lantakkan dari Pembuangan ke atas Israel
sebagai sebuah bangsa akhirnya membuat mereka insaf. Bangsa
Israel mulai menyadari bahwa alasan dari pembuangan dahsyat itu
dan kehancuran mereka sebagai sebuah bangsa bersandar pada fakta
40 The Only True God

bahwa selama ini mereka telah melakukan perzinahan rohaniah
dengan bersikeras menyembah ilah-ilah lain di samping Yahweh
(salah satunya yang paling dikenal ialah Ba’al). Mereka telah
melawan peringatan yang diberikan berulang kali oleh nabi-nabi
Yahweh, yang secara jelas menyatakan bahwa Yahweh akan
mengirim mereka ke pembuangan karena pemberontakan mereka
terhadap-Nya dan penyembahan mereka kepada berhala. Setelah
mengalami fakta bahwa Yahweh telah menepati janji-Nya, dan
melihat dengan mata mereka sendiri apa yang Ia katakan akan
terjadi memang telah terjadi, dan setelah merasakan kerasnya
hukuman Allah, mereka kembali ke keruntuhan tanah Israel pasca
masa pembuangan sebagai umat terhukum yang mulai saat itu dan
seterusnya tidak akan lagi menyembah Allah lain selain Yahweh saja.
Mereka menjadi begitu takut akan Dia sehingga mereka menahan
diri dari mengucapkan Nama-Nya yang agung. Sejak saat itu mereka
menyebut-Nya dengan memakai gelar “Tu[h]an” (adonai).
Lagipula, umat Yahudi tidak akan pernah lagi menyembah Allah
lain selain Adonai Yahweh, sekalipun jika Allah itu disebut “Anak”
Yahweh (yang tidak disebut di manapun dalam PL), ataupun jika
Allah itu disebut “Roh” Yahweh, yang disebut beberapa kali dalam
PL tetapi tidak pernah dianggap sebagai pribadi terpisah di samping
Yahweh. Itu sebabnya kita bisa memastikan bahwa para penulis PB
berkebangsaan Yahudi tidak mungkin orang trinitarian; kita sudah
melihat sejumlah contoh dalam PB tentang semangat monoteisme
mereka yang begitu berapi-api. 1

Untuk alasan ini juga, umat Yahudi sejak berabad-abad yang lalu hingga
1

kini tidak menganggap umat trinitarian sebagai orang-orang monoteis sejati
meskipun mereka mencoba untuk sedapat mungkin bersikap damai. (Sebuah
contoh bagus dari sikap damai mereka ditunjukkan dalam buku Christianity
in Jewish Terms (diedit oleh Tikva Frymer-Kensky dst., Westview Press,
2000), yang berupa dialog antara para pakar Yahudi dan Kristen. Sulit untuk
membayangkan dialog damai yang serupa antara pakar Muslim dan Kristen
Pendahuluan 41

(2) Selama 70 tahun masa pembuangan (disebut Penawanan
Babilonia) ke negeri asing yang penduduknya berbahasa Aram,
generasi orang Yahudi yang berikut berbahasa Aram setempat,
bukan bahasa Ibrani (sama seperti umat Yahudi yang hidup di AS
atau Eropa saat ini berbahasa setempat dan pada umumnya tidak
bisa berbahasa Ibrani). Para ahli Taurat, para pakar Alkitab, masih
membaca Alkitab Ibrani (sama seperti kebanyakan rabi di seluruh
dunia saat ini), dan mengajar Alkitab di sinagoga, tetapi kebanyakan
orang awam tidak lagi memahami bahasa Ibrani, jadi bagian-bagian
Alkitab yang didaraskan di sinagoga harus diterjemahkan ke dalam
bahasa Aram. Berikut penjelasan Encarta, “Ketika Penawanan
Babilonia berakhir pada abad ke-6 sM, bahasa Aram telah
menggantikan bahasa Ibrani sebagai bahasa percakapan umum,
maka timbul kebutuhan untuk menjelaskan makna bacaan-bacaan
dari Kitab Suci.” (Microsoft Encarta Reference Library 2005. © 1993-
2004 Microsoft)
Untuk kajian kita ini, penting untuk mencamkan fakta bahwa
dalam targum-targum (terjemahan-terjemahan) Aram dari Alkitab
Ibrani, Nama Allah yang kudus “Yahweh”, oleh karena rasa takzim,
telah diganti dengan istilah “Memra”, yang dalam bahasa Aram
bermakna “Firman”. Dengan demikian, setiap orang Yahudi
Palestina tahu bahwa “Memra” adalah rujukan metonimik (kata
yang digunakan ganti orang atau hal yang dimaksudkan
sesungguhnya) untuk “Yahweh”. Memra seringkali muncul dalam
Targum Aram, sebagaimana dapat dilihat dari Lampiran 12 pada
akhir buku ini.

dalam iklim keagamaan saat ini.)
42 The Only True God

Monoteisme dalam Alkitab
Monoteisme Alkitab mutlak tidak mengenal kompromi. Saya tidak
tahu seorang pun sarjana Alkitab yang menyangkali fakta ini. Oleh
sebab itu, kita tidak perlu membenarkan diri sewaktu mengajarkan
monoteisme Alkitabiah. Orang yang mempergunakan Alkitab untuk
mengajarkan sesuatu selain daripada monoteismelah yang perlu
mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka.
Umat Kristen trinitaris cenderung mendudukkan diri di antara
umat Yahudi dan Muslim sebagai orang monoteis. Masalahnya
adalah, baik Yudaisme maupun Islam tidak mengakui Kekristenan
trinitaris sebagai agama yang betul-betul monoteistik, tanpa
menghiraukan klaim-klaim Kristiani. Apapun artinya “monoteisme”
Kristiani itu, baik umat Yahudi maupun Muslim tidak menerima
agama tersebut sebagai monoteistik menurut Kitab Suci mereka.
Apakah mereka bersikap keterlaluan?

Bagaimana buku ini ditulis

B uku ini bukan hasil dari sebuah rencana untuk meniadakan
atau menggelincirkan trinitarianisme. Ia mengambil bentuk
sebagai hasil dari keprihatian penginjilan yang sungguh-sungguh
untuk membawa Injil keselamatan kepada semua bangsa dan
kerinduan untuk Tuhan datang kembali. Kedua hal itu dikaitkan
dalam perkataan Yesus di Matius 24:24, “Injil Kerajaan ini akan
diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa,
sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” “Kedatangan yang kedua”
dan “akhir zaman” dikaitkan bersama di Matius 24:3, dan kedua
peristiwa ini dikaitkan dengan pemberitaan Injil secara universal.
Fakta yang tak terbantahkan adalah bahwa sebagian besar dari
dunia belum terjangkau oleh Injil. Umat Muslim saja terdiri lebih
dari 1,000,000,000 (satu miliar) orang. Lagipula, Islam adalah agama
yang paling pesat bertumbuh di dunia, jadi angka ini akan terus
Pendahuluan 43

bertambah di tahun-tahun mendatang. Sebuah laporan BBC pada
Desember 2007 mengatakan bahwa pemeluk agama Islam
bertambah tiga kali lipat di Eropa selama 30 tahun terakhir.
Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel di koran
Church of England yang mengungkapkan pandangan bahwa pada
tingkat pertumbuhan Islam pada saat ini, tidak lama lagi Inggris
akan menjadi negara Muslim. Apa artinya semua ini? Bukankah ini
berarti Matius 24:14 tidak hanya tidak digenapi, tetapi harapan
penggenapannya menjadi semakin jauh, dan bersamanya harapan
Kedatangan Kedua juga menjadi semakin pudar?
Bukankah ini jelas-jelas berarti bahwa bukan saja gereja telah
gagal menggenapi Amanat Agung, tetapi kemungkinan akan
penggenapannya juga semakin lama semakin berkurang (oleh
karena perkembangan peristiwa-peristiwa di dunia)? Ditambah lagi
dengan fakta sejarah bahwa, berkenaan dengan Islam, Kekristenan
telah gagal secara menyedihkan untuk membuat dampak injili ke
atas Islam selama kurun waktu lebih dari 1400 tahun semenjak
lahirnya agama tersebut. Dimulai pada abad ke-7 dan ke-8, terkejar
oleh meluasnya kekuatan-kekuatan Islam, Kekristenan mundur dan
kehilangan pusat-pusat pentingnya di seluruh Afrika Utara, Timur
Tengah (termasuk Yerusalem dan Tanah Suci), dan yang kini
disebut negara Turki (yang sekali waktu adalah pusat Kekristenan
yang penting), dan juga daerah-daerah luas ke arah timurnya.
Diperhadapkan dengan realitas yang keras ini, bagaimanakah
Amanat Agung (Mat.28:18-20) dapat digenapi? Ditambah lagi
dengan pertengkaran internal di antara umat Kristen, baik sepanjang
sejarah gereja maupun saat ini. Sebagian umat Kristen merasa
seolah-olah adalah urusan mereka untuk mencap orang lain yang
tidak sepaham dengan pandangan doktrinal mereka sebagai “orang
sesat” atau “bidah”, malah untuk hal-hal seperti “sekali selamat,
selalu selamat”, atau “jaminan keselamatan kekal”, seringkali dengan
pengertian yang sangat kabur tentang pokok ajaran Kitab Suci atau
44 The Only True God

yang berhubungan dengannya. Kita diingatkan akan peristiwa
pengepungan Yerusalem, yang bahkan ketika tentara Romawi
tengah memperketat cengkeraman besinya atas kota itu pada th. 70
sM, sekelompok orang Yahudi di dalam kota itu masih saling
bertengkar, saling berkelahi, malah saling membunuh satu sama lain
oleh karena perselisihan pendapat yang begitu runcing atas pelbagai
topik, sampai akhirnya prajurit Romawi menerjang masuk dan
membakar kota tersebut, dan Bait Suci tempat Yesus dahulu
mengajar pun hangus dilalap api!
Jadi, situasi yang ada di dunia dan di dalam gereja saat ini
menyisakan rasa optimisme yang sangat kecil akan penggenapan
perkataan Yesus di Matius 24:14, jika semuanya dibiarkan tetap
berjalan seperti ini. Tepatnya dalam usaha mencari jawaban atas
kegagalan gereja untuk menjangkau umat Muslim dengan kabar
baik inilah timbul suatu kebutuhan untuk menanyakan apa yang
bisa diperbuat, dan juga apakah ada sesuatu yang salah dengan cara
kita memahami dan menyajikan kabar baik selama ini.

Riwayat Pribadi

S aya menulis sebagai seorang yang dahulunya seorang trinitarian
sejak menjadi seorang Kristen di usia 19 tahun—suatu periode
yang menjangkau lebih dari lima puluh tahun lamanya. Selama
hampir empat dasawarsa melayani sebagai gembala, pemimpin
gereja, dan guru banyak orang yang telah melayani purna waktu,
saya mengajarkan doktrin trinitaris dengan semangat berapi-api,
sebagaimana dapat disaksikan oleh orang-orang yang mengenal
saya. Trinitarianismelah yang saya minum bersama dengan susu
rohani ketika saya masih seorang bayi rohani. Selanjutnya, dalam
studi-studi Alkitabiah dan teologis, minat saya terfokus pada
Kristologi yang saya kejar dengan intensitas yang cukup tinggi.
Hidup saya terpusat pada Yesus Kristus. Saya mempelajari dan
Pendahuluan 45

berupaya mempraktekkan pengajarannya dengan pengabdian
sedalam-dalamnya.
Artinya, dalam praktek saya merupakan seorang monoteis yang
mengabdi kepada suatu monoteisme yang mana Yesus adalah Tuhan
dan Allah saya. Pengabdian yang intens kepada Yesus seperti ini
mau tidak mau menyisakan sedikit ruang baik untuk sang Bapa
maupun Roh Kudus. Jadi, meskipun dalam teorinya saya percaya
akan adanya tiga pribadi, dalam prakteknya sebenarnya hanya ada
satu pribadi saja yang sungguh-sungguh penting: Yesus. Saya
memang menyembah satu Allah, dan satu Allah itu adalah Yesus.
Satu-satunya Allah yang dinyatakan dalam Perjanjian Lama, yaitu
Yahweh, dalam prakteknya telah digantikan oleh Allah-Yesus
Kristus, Allah-Anak. Sebagian besar umat Kristen berbuat hal yang
serupa, jadi mereka dengan mudah dapat memahami apa yang saya
katakan.
Sekitar tiga tahun yang lalu saya merenungkan pertanyaan ini:
Bagaimanakah kabar baik dapat diperkenalkan kepada umat
Muslim? Saya mendapati bahwa iman Kristiani saya disertai oleh
semacam prasangka terhadap umat Muslim, yang harus diatasi jika
saya ingin memahami dan menjangkau mereka. Namun, segera
sesudah itu saya pun menyadari bahwa begitu saya mengatakan
sesuatu tentang Trinitas, atau mengatakan bahwa Yesus itu adalah
Allah, semua komunikasi dengan orang Muslim akan terputus
seketika. Tentu saja, hal yang sama juga berlaku kepada umat
Yahudi. Jadi bagaimanakah mereka bisa dijangkau?
Kita sudah melihat kata-kata Yesus, “Injil kerajaan ini harus
diberitakan dahulu ke seluruh dunia sebagai kesaksian bagi semua
bangsa, dan kemudian akan datang kesudahannya...” (Mat.24:14).
Kita hanya perlu memandang situasi di dunia untuk melihat betapa
sulitnya memberitakan kabar baik ke negara-negara Muslim yang
banyak jumlahnya. Hal yang sama juga benar untuk bangsa Israel.
Ini berarti bahwa berdasarkan kata-kata Yesus di Matius 24, akhir
46 The Only True God

zaman tidak bisa datang dan Yesus tidak bisa kembali, karena Injil
tidak bisa dikabarkan kepada bangsa-bangsa tersebut.
Kebanyakan orang Kristen tampak nyaris tidak menyadari sama
sekali, atau pun mempedulikan hal-hal demikian. Oleh sebab itu,
nyaris tidak ada keprihatinan untuk menjangkau umat Muslim.
Kebanyakan orang Kristen tidak tahu apa-apa tentang agama Islam,
selain itu juga tidak tertarik dengan mereka dan keselamatan
mereka. Pada umumnya hanya ada sedikit semangat atau nyala api
spiritual dalam gereja-gereja. Apakah ada masalah rohaniah yang
lebih mendalam di dalam gereja itu sendiri yang terletak pada
akarnya?
Jika kita mempertimbangkan hubungan antara Islam dengan
Kekristenan dalam sejarah, kita ingat bahwa hanya tiga ratus tahun
setelah Syahadat Nikea ditetapkan dalam gereja (yang memprokla-
mirkan Allah terdiri dari tiga pribadi alih-alih satu), Islam tampil ke
atas pentas sejarah dunia. Sekali lagi Islam memproklamirkan
monoteisme radikal yang telah diproklamirkan dalam Alkitab
Ibrani. Sejak saat itu dan seterusnya, Kekristenan yang telah tersebar
luas dengan cepat ke segala penjuru dunia selama tiga abad pertama,
sekarang terdorong mundur ketika berhadapan dengan kekuatan-
kekuatan Islam monoteistik. Adakah pesan rohaniah untuk kita di
sini? Jika ada, dapatkah kita melihatnya?
Saya mulai sadar bahwa saya perlu menilai kembali apakah kita
orang Kristen sungguh-sungguh adalah orang monoteis. Apakah
kita benar-benar telah setia kepada wahyu Alkitabiah? Banyaknya
buku-buku yang dikarang oleh para teolog Kristen yang berusaha
untuk menerangkan dan membenarkan “monoteisme Kristiani”
menandakan adanya persoalan: Mengapa begitu banyak upaya
dibutuhkan untuk menerangkan atau membenarkan “monoteisme”
macam ini? Pada saat saya sedang memikirkan kembali pertanyaan
“monoteisme Kristiani” ini saya membaca ulang sebuah monograf
akademis yang saya miliki. Monograf ini adalah koleksi esai para
Pendahuluan 47

teolog trinitarian baik yang Protestan maupun Katolik mengenai
monoteisme. Saya segera melihat bahwa para penulis tersebut
memiliki satu persamaan: mereka jelas sekali terlihat tidak nyaman
dengan monoteisme; beberapa diantaranya bahkan mengkritik
secara terbuka.
Ketika saya memeriksa pemikiran saya sendiri, saya pun meng-
insafi bahwa trinitarianisme yang dianuti saya pada dasarnya tidak
kompatibel dengan monoteisme Alkitabiah. Maka saya merasa perlu
memeriksa kembali perkara ini. Bila kita mempercayai tiga pribadi
yang terpisah, berbeda dan setara satu dengan yang lain, yang
masing-masing adalah Allah sepenuhnya, yang bersama-sama
membentuk “Ke-Allahan” (Godhead), bagaimana mungkin kita
masih dapat berbicara tentang iman pada “Allah yang secara radikal
monoteistik” (Yahweh) yang dinyatakan dalam Alkitab Ibrani—
kecuali jika kita menggunakan istilah “Allah yang secara radikal
monoteistik” dengan arti yang berbeda dari arti yang ditemukan
dalam Alkitab? (Istilah “Allah yang secara radikal monoteistik”
dipinjam dari artikelnya Profesor David Tracy dari Chicago dalam
bukunya Christianity in Jewish Terms, 2000, Westview Press, hlm.82-
83; buku ini terdiri dari tulisan para sarjana Yahudi dan Kristen.)
Sampai saat itu dengan penuh keyakinan saya percaya bahwa saya
mampu mempertahankan trinitarianisme berdasarkan teks-teks
Perjanjian Baru yang begitu saya kenal baik. Namun, pertanyaan
yang lebih mendesak sekarang adalah: Bagaimanakah caranya teks-
teks ini diterangkan kepada umat Muslim yang tulus ingin mengenal
Isa (sebutan mereka untuk Yesus) dan yang bahkan bersedia
membaca Injil, yang telah disahkan oleh Al-Qur’an? Yang
mengejutkan saya adalah: sekali saya mulai menyisihkan prasangka
serta pra-konsepsi dan menilai kembali setiap teks guna melihat apa
yang sesungguhnya dikatakan di situ, dan bukan dengan interpretasi
kita sebagai seorang trinitarian, pesan yang muncul dari teks itu
ternyata tidak sama dengan perkiraan saya. Hal ini terutamanya
48 The Only True God

benar untuk Yohanes 1:1. Oleh karena trinitarianisme saya yang
tertancap dalam, proses ini berakhir dengan pergumulan panjang
(yang disertai kerja sangat keras) untuk mencari kebenaran pesan
Alkitabiah. Beberapa dari hasil upaya itu tertuang dalam buku ini.
Biarlah setiap pembaca menilainya sendiri dengan seksama, dan
kiranya Allah mengaruniakan terang-Nya kepada kita, yang
tanpanya kita tidak dapat melihat.
Ketika saya pertama-tama menghadapi tantangan menilai
kembali trinitarianisme dalam terang Alkitab, dan kemudian
membagikan terang itu kepada siapa saja yang sudi menerimanya,
saya pikir saya seorang diri mengambil pendirian ini. Namun, ketika
saya sedang mempersiapkan penerbitan naskah ini, saya terkejut
ketika secara kebetulan menemukan karya teolog terkenal Hans
Küng, dan mendapati bila ia sudah terlebih dahulu menyatakan
bahwa doktrin Trinitas itu “tidak alkitabiah” dalam karyanya yang
berjudul Christianity: Essence, History, and Future, yang diterbitkan
pada tahun 1994. Sekarang saya tahu bahwa ia bukan satu-satunya
teolog dogmatis Katolik terkemuka yang membuat penegasan ini.
Teolog sistematis K-J Kuschel, dalam kajian mendalam berjudul
Born Before All Time? The Dispute over Christ’s Origin yang
diterbitkan pada tahun 1992, telah menyatakan hal yang sama.
Tentu saja, dengan ditemukannya dukungan yang tidak diduga,
terutamanya dari sarjana yang memiliki kualitas dan keberanian
yang luar biasa ini, sangatlah membesarkan hati. Dan meskipun
pengerjaan naskah saat itu sudah hampir rampung, saya
mendapatkan buku-buku tersebut tepat pada waktunya sehingga
masih sempat menyisipkan sejumlah kutipan dari buku-buku
mereka ke dalam buku ini.
Mengenai Trinitas, misalnya, dalam satu bagian teks yang
berjudul “Tidak ada doktrin Trinitas dalam Perjanjian Baru”, Prof.
Küng dengan tegas menyatakan “Walaupun memang benar di
seluruh Perjanjian Baru ada kepercayaan pada Allah sang Bapa, pada
Pendahuluan 49

Yesus sang Anak dan Roh Kudus Allah, tetapi tidak terdapat doktrin
tentang satu Allah dalam tiga pribadi (wujud), tidak ada doktrin
tentang ‘Allah Tritunggal’, ‘Trinitas’.” (Christianity, hlm.95)

Rintangan-rintangan yang menghadapi kita ketika
mempertimbangkan Monoteisme Alkitabiah
(1) Perlunya membereskan setumpukan prakonsepsi yang disebab-
kan oleh indoktrinasi: Misalnya, kita yang berbahasa Inggris
berbicara tentang Roh dengan memakai kata ganti “he”, karena
ketika kita membaca Perjanjian Baru kita mendapati Roh disebut
seperti itu. Kebanyakan orang Kristen, karena tidak mengenal
bahasa Yunani, tidak mengetahui bahwa kata untuk Roh, pneuma,
adalah kata yang berjenis netral, dan oleh sebab itu harus
diterjemahkan dengan kata ganti “it”. Bahkan setelah mempelajari
bahasa Yunani pun kita masih tetap berbicara tentang Roh sebagai
“he” karena menurut doktrin trinitaris, Roh itu adalah pribadi yang
terpisah dan berbeda, yang setara dengan kedua pribadi lainnya
dalam Trinitas, yaitu Bapa dan Anak. Inilah sebabnya mengapa
semua terjemahan Inggris menerjemahkan kata pneuma yang
berjenis netral sebagai “he”. Hal ini tidak ada kaitannya sama sekali
dengan tatabahasa yang tepat tetapi berkaitan sepenuhnya dengan
dogma Kristiani.
Hal yang sama juga berlaku untuk gagasan “Trinitas”. Di India
terdapat sejumlah besar dewa, tetapi ada tiga dewa yang menduduki
tempat teratas. Ketiga dewa itu saling berbagi “hakikat” kedewaan
yang sama; kalau tidak mereka tidak akan dianggap dewa sama
sekali. Jika orang-orang di India yang menyembah ketiga dewa
tertinggi ini disebut orang politeis oleh umat Kristen, lalu dalam hal
apa konsep trinitaris Kristiani berbeda dari konsep trinitaris orang
India? Apakah hanya karena ketiga pribadi dalam Trinitas Kristiani
itu lebih dekat hubungannya satu sama lain, misalnya, antara “Bapa”
50 The Only True God

dan “Anak” (bagaimana dengan “Roh”)? Indoktrinasi memiliki
pengaruh kuat yang membuat kita bersikeras bahwa trinitarianisme
mewakili monoteisme—sesuatu yang ditolak oleh orang-orang
monoteis sejati seperti umat Yahudi dan umat Muslim. Jika dalam
diri kita masih tersisa sedikit akal logis kita akan segera melihat
bahwa seandainya Allah-Bapa, Allah-Anak, dan Allah-Roh itu ada,
maka menurut dogma ini jelas nyata ada tiga Allah. Akan tetapi,
tampaknya kita tidak mampu menghadapi fakta gamblang ini secara
jujur! Di sini kita melihat daya indoktrinasi dan kemampuannya
untuk mengalahkan pemikiran logis.
Bagi mereka yang pernah melihat cara kerja indoktrinasi, ini
bukanlah hal baru. Hal seperti ini sudah terjadi bahkan dalam
sejarah baru-baru ini: idealisme gila seperti Nazisme dan impiannya
untuk membangun sebuah utopia seribu tahun, yaitu sebuah cita-
cita yang antara lain mewajibkan pembasmian bangsa Yahudi, yang
dianggap sebagai sampah kemanusiaan yang menjangkiti ras
manusia, atau paling tidak ras Arya. Hanya indoktrinasi melalui
propaganda besar-besaran yang dapat membujuk orang berpikir
segila itu.
Banyak pula orang yang pernah mengalami proses cuci-otak yang
diperkenalkan oleh komunisme Stalin. Mereka hanya diperbolehkan
berpikir dengan pola yang sudah ditetapkan sebelumnya; yang lain
akan mendatangkan hukuman berat, termasuk pengurungan dan
hukuman mati.
Ketika berbicara tentang membatasi pikiran bebas, gereja sendiri
mempunyai sejarah panjang yang gelap. Begitu gereja menetapkan
doktrinnya, seperti Syahadat Nikea dan Khalkedon pada abad ke-4,
perbedaan pendapat tidak diperbolehkan dan akan diganjar dengan
ekskomunikasi, yang sebenarnya berarti mengutuk orang itu ke
dalam neraka. Tidak ada yang lain lebih serius dari itu, kematian
jasmaniah pun tidak. Penindasan gerejawi macam ini berkembang
menjadi penyiksaan badani yang kejam, kerapkali berpuncak pada
Pendahuluan 51

kematian, selama masa Inkuisisi yang dikenakan gereja kepada
orang-orang yang telah dikutuk sebagai bidat.
Bahkan dewasa ini pun tidak sedikit orang Kristen yang mengira
bila mereka memiliki semacam hak ilahi untuk mencap orang
Kristen yang tidak sepaham dengan pandangan doktrinal mereka
dengan sebutan “sesat”, “sekte” atau, seperti sebelumnya, “bidat”.
Dengan demikian, orang-orang yang mengangkat dirinya sebagai
pembela iman ini melanjutkan tradisi panjang gereja non-Yahudi
dengan konflik-konflik doktrinal yang saling mematikan, yang di
mata dunia nyaris bukan demi kemuliaan Allah, belum lagi
bagaimana Allah memandang semua ini.
Namun terlepas dari tekanan-tekanan luar yang memaksa kita
menuruti dogma tertentu adalah kenyataan bahwa kita sendiri telah
diyakinkan bahwa doktrin itu benar. Sepanjang kehidupan Kristen
kita, kita telah belajar untuk membaca Alkitab dengan cara tertentu
yang diyakini sebagai satu-satunya cara yang tepat untuk mema-
haminya. Jadi, sekarang Alkitab dipahami hanya dengan cara itu
dan, sebaliknya, apa saja yang kita baca semakin meyakinkan kita
bahwa cara yang diajarkan kepada kita itu adalah cara yang tepat.
Dengan demikian, kita sendiri telah memperkuat iman kepercayaan
kita ke dalam doktrin tertentu itu, terutamanya di saat kita sendiri
menjadi guru dan mengajarkan doktrin itu kepada orang lain, malah
dengan berusaha mencari keterangan yang lebih meyakinkan
ketimbang keterangan yang sudah diajarkan kepada kita. Di sini saya
berbicara dari pengalaman pribadi sebagai seorang guru.
Akibat dari semua ini adalah ketika saya membaca Perjanjian
Baru, mau tidak mau saya membaca setiap nas dengan cara yang
sudah diajarkan kepada saya, yang selanjutnya diperkuat dengan
argumen-argumen baru yang telah saya kembangkan sendiri.
Sebagaimana seorang guru yang rajin, saya berusaha membuat
perkara trinitaris ini semeyakinkan mungkin. Saya sudah
mempelajari dan mengajarkan Alkitab sebagai sebuah kitab
52 The Only True God

trinitaris; jadi bagaimanakah mungkin saya sekarang memahaminya
di dalam cahaya monoteisme?
Ambillah, sebagai contoh, Filipi 2:6-11, teks terkenal yang selalu
digunakan oleh trinitarian untuk membuktikan bahwa Kristus
adalah Allah-Anak. Prof. M. Dods merangkum teks itu sebagai
berikut: “Kristus digambarkan [dalam nas ini] meninggalkan
kemuliaan yang semula dinikmatinya dan kembalinya setelah
tugasnya di bumi selesai dan sebagai buah hasil kerja itu” (The
Gospel of John, The Expositor’s Greek NT, hlm.841). “Kemuliaan”
yang ditinggalkan oleh Kristus itu adalah “kemuliaan ilahi”,
sebagaimana dinyatakan dalam kalimat Dods yang berikut.
Itulah caranya kita semua memahami teks ini sebagai trinitarian.
Tidak pernah terpikirkan oleh kita bahwa interpretasi ini adalah
hasil dari terlalu banyak membacakan ke dalam teks apa yang tak
tertulis di situ. Kata “kemuliaan”, misalnya, tidak muncul di
manapun dalam teks ini (atau bahkan dalam pasal ini) sehubungan
dengan Kristus, apalagi istilah “kemuliaan ilahi”. Istilah “kemuliaan
ilahi” di sini bukan berarti kemuliaan Allah Bapa (lih. Flp 2:11),
melainkan “Allah-Anak”, suatu istilah yang tidak muncul di
manapun dalam Kitab Suci. Sekali lagi, kata-kata kunci seperti
“meninggalkan” dan “kembali” juga tidak ada dalam nas tersebut,
tetapi dibacakan kedalamnya. Untuk mengatakan Yesus “tidak
menganggap bahwa menjadi setara dengan Allah adalah sesuatu
yang harus dirampas”, seperti dikatakan di Filipi 2:6 (MILT), sama
sekali berbeda dari mengatakan “meninggalkan kemuliaan ilahi”-
nya.
Lagipula, nas di Filipi 2:6-11 itu sama sekali tidak berkata apa-apa
tentang Kristus yang “kembali” kepada “kemuliaan yang semula
dinikmatinya” (Dods). Yang dikatakan adalah sesuatu yang sangat
berbeda, yang seharusnya dapat dilihat sendiri: “Itulah sebabnya
Allah sangat meninggikan dia dan mengaruniakan kepadanya nama
di atas segala nama” (Flp.2:9). Di sini sama sekali tidak ada gagasan
Pendahuluan 53

kalau ia hanya sekadar menerima kembali apa yang pernah
dimilikinya semula; untuk berkata demikian artinya membuat tidak
bermakna fakta bahwa ia “sangat ditinggikan” Allah.
Dengan demikian rangkuman Dods atas teks Filipi ini benar-
benar tidak memuat apapun yang berasal dari teks itu sendiri! Tanpa
malu-malu trinitarianisme telah dibacakan ke dalamnya. Namun
sebagai orang trinitarian kita tidak memperhatikan ketidaksesuaian
yang serius antara penafsiran kita dengan teks-teks Alkitabiah yang
semestinya kita tafsirkan. Ini dikarenakan kita tidak tahu cara mem-
baca teks selain dengan cara yang telah diajarkan kepada kita. Di sini
kita tidak akan mengkaji Filipi 2 dengan rinci, tetapi beberapa poin
yang terdapat dalam nas terkenal ini akan dipakai sebagai contoh
dari fakta bahwa membaca Alkitab dengan kacamata trinitaris telah
menjadi kebiasaan kita.
Terlepas dari tugas sulit mempelajari kembali cara membaca
Alkitab di dalam cahaya yang baru, yaitu cahaya monoteisme, ada
lagi faktor lain yang menurunkan motivasi, yaitu faktor tekanan-
tekanan luar seperti dijuluki “bidat”, hal yang menakutkan bagi
kebanyakan orang Kristen. Hanya karena menyatakan bahwa
Alkitab bersifat monoteistik karena Alkitab adalah firman dari “satu-
satunya Allah yang benar” orang lantas bisa dijuluki “bidat” oleh
gereja menunjukkan betapa jauhnya gereja telah menyimpang dari
firman Allah.
Hanya keberanian dari Allah untuk menghadapi kebenaran,
sesungguhnya, untuk mencintai kebenaran di atas segala-galanya,
yang akan memampukan kita mengenal Dia yang disebut “Allah
yang benar”. Dengan demikian, saya akan mengakhiri bagian ini
dengan kata-kata dari Yesaya 65:16, “Siapa yang memberkati dirinya
sendiri di bumi, akan memberkati dirinya sendiri dalam Allah yang
benar, dan siapa yang dilaknat di bumi, akan di ambil sumpah oleh
Allah yang benar, karena kesesakan yang dahulu telah dilupakan,
dan karena mereka telah disembunyikan dari mata-Ku.” (MILT)
54 The Only True God

(2) Terlepas dari masalah-masalah serius dari indoktrinasi dan
tekanan sebaya, ada masalah lain yang tak kalah seriusnya, yakni,
kita tidak lagi memiliki gagasan-gagasan dan konsep-konsep yang
dikenal baik oleh orang-orang yang pertama membaca PB: konsep-
konsep umum seperti Logos atau Memra, Syekinah, dan
terutamanya Nama Allah, Yahweh. Semuanya itu telah menjadi
asing bagi kebanyakan orang Kristen. Untuk memahami Alkitab,
konsep-konsep ini perlu dipelajari dan bagi kebanyakan orang hal
itu sendiri merupakan sebuah tantangan.
Dewasa ini hanya sedikit orang Kristen yang tahu akan hal
semendasar seperti fakta bahwa Nama Allah dalam Alkitab Ibrani
adalah “Yahweh”, yang dibacakan “Adonai” oleh orang Yahudi kare-
na rasa takzim, yang artinya “Tuan”. Biasanya kata ini diterje-
mahkan sebagai “LORD” dalam kebanyakan Alkitab Inggris (dengan
pengecualian New Jerusalem Bible, yang memakai “Yahweh”). Nyaris
tak satu pun orang Kristen yang tahu berapa kali Nama “Yahweh”
muncul dalam Alkitab Ibrani. Mereka terkejut ketika diberitahu
bahwa Nama itu muncul 6828 kali. Bila bentuk pendek dari Nama
itu juga dihitung (seperti kata Haleluyah, di mana ‘Yah’ mewakili
Yahweh dan Haleluyah berarti “Puji Yahweh”), jumlah pemunculan-
nya melonjak menjadi sekitar 7000 kali. Tidak ada nama lain yang
menyaingi frekuensi pemunculan ini dalam Alkitab. Jelas sekali ini
menunjukkan bahwa Yahweh melingkupi baik pusat maupun
lingkar Alkitab; pada hakekatnya, Ia adalah “semua dalam
semuanya” (1Kor.15:28).
Perlu pula dicatat bahwa kata “Yahweh” juga ditemukan dalam
PB, terutamanya dalam pelbagai tempat yang mengutip PL. Kata
“Adonai” (metonim Yahudi untuk “Yahweh”) muncul 144 kali
dalam Complete Jewish Bible. Dalam Salkinson-Ginsburg Hebrew
New Testament, “Yahweh” muncul 207 kali.
Pendahuluan 55

Namun, perkaranya jauh melampaui frekuensi statistik Nama
Yahweh dalam Alkitab. Keindahan karakter Yahweh yang luar biasa
sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab merupakan hal yang
teramati oleh sedikit orang Kristen. Keindahan karakter-Nya yang
terlihat dari belas kasihan-Nya, hikmat-Nya, dan kuasa-Nya yang
dipakai untuk keselamatan manusia, sudah dinyatakan dalam kitab
Kejadian, di mana kita dapat mengamati tingkat keintiman yang
mengejutkan dari interaksi-Nya dengan Adam dan Hawa, yang
tampaknya dikunjungi-Nya secara teratur “pada waktu hari sejuk”
(Kej.3:8) di Taman Eden, yang telah Ia “buat” (Kej.2:8) untuk
mereka. Setelah mereka berbuat dosa, Ia malah membuatkan
pakaian untuk menutupi mereka (Kej.3:7,21).
Kasih sayang dan kuasa penyelamatan Yahweh terlihat dalam
skala besar ketika Ia menyelamatkan orang Israel dari perbudakan di
Mesir. Ia memimpin sekitar 2.000.000 orang Israel melalui padang
gurun yang mengerikan hingga tiba di tanah Kanaan, dan
menyediakan segala kebutuhan mereka selama 40 tahun. Kita akan
mempertimbangkan hal-hal tersebut dengan lebih menyeluruh
dalam bab 5; di sini kita hanya menyebutkan bahwa kualitas-kualitas
yang sama dari karakter Yahweh dinyatakan lagi dalam Injil melalui
kehidupan dan perbuatan Yesus Kristus, yang dalam dirinya seluruh
kepenuhan Yahweh diam. (Kol.1:19; 2:9)
(3) Berbicara tentang “Allah” pun malah menjadi persoalan karena
bagi orang trinitarian kata itu bisa merujuk kepada salah satu dari
ketiga pribadi, atau ketiganya sekaligus. Dengan demikian, Allah itu
tiga serangkai, yaitu, sebuah kelompok yang terdiri dari tiga entitas
atau pribadi. Kita bahkan tidak bisa berbicara tentang Allah sebagai
Bapa tanpa disertai asumsi trinitarian bahwa kita sedang berbicara
tentang sepertiga dari Trinitas yang dipanggil “Allah Bapa”, atau
bahkan tentang Yesus sebagai “Bapa”, karena banyak orang Kristen
juga menyandangkan gelar ini kepadanya. Lantas, bagaimana
56 The Only True God

caranya kita bisa berbicara tentang “satu-satunya Allah yang benar”
tanpa disalah-pahami oleh orang trinitarian? Tampaknya jalan
keluar satu-satunya ialah dengan memakai nama yang diwahyukan
oleh-Nya sendiri: “Yahweh”, atau bahkan dengan “Yahweh Allah”
(YHWH Elohim), istilah yang muncul 817 kali dalam PL.

Beberapa fakta sejarah yang penting

A dalah fakta sejarah bahwa Syahadat trinitaris Nikea ditetapkan
pada tahun 325 M (dan Syahadat Konstantinopel pada tahun
381 M), yaitu sekitar 300 tahun setelah masa Kristus. Ini berarti
trinitarianisme menjadi syahadat resmi gereja tiga abad sesudah
masa Yesus Kristus.
Begitu juga adalah fakta sejarah bahwa Yesus dan para rasulnya
semua adalah orang Yahudi, dan bahwa jemaat awal yang didirikan
di Yerusalem (dikisahkan dalam kitab Kisah Para Rasul) adalah
jemaat Yahudi. Ini berarti jemaat yang paling mula-mula itu
semuanya terdiri dari orang-orang monoteis. Para sarjana dengan
jujur mengakui “monoteisme PB yang keras (dalam Injil Yohanes,
lih. khususnya 17:3)”, meminjam kata-kata H.A.W. Meyer (Critical
and Exegetical Handbook to the Gospel of John, hlm.68).
Ini berarti ketika kita memahami PB secara monoteistik, atau
menjelaskannya dengan cara itu, kita berbuat demikian sesuai
dengan ciri sejatinya. Begitulah caranya PB semestinya dimengerti
dan diuraikan. Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang
Yohanes 1:1 atau bagian lain dari PB dalam pengertian monoteistik,
kita sama sekali tidak perlu membenarkan apa-apa, dan tidak ada
perkara yang perlu dibela sama sekali.
PB bukanlah sebuah dokumen politeistik ataupun trinitaris yang
perlu diterangkan secara monoteistik. Jika ini yang kita lakukan
maka kita harus membuat pembenaran atas tindakan kita serta
membela perkara kita. Namun, kebalikannyalah yang benar.
Pendahuluan 57

Berkenaan dengan PB, trinitarianismelah yang sedang disidangkan:
ia harus menjelaskan mengapa ia telah menginterpretasikan Firman
Allah yang monoteistik secara politeistik, sehingga sama sekali
memutar-balikkan ciri dasariahnya.
Namun apakah umat trinitarian bukan orang monoteis? Sebagai
trinitarian kita berargumen bahwa kita adalah orang monoteis,
bukan orang politeis, karena kita percaya pada satu Allah dalam tiga
pribadi. Kita menutup mata (dan telinga) terhadap fakta yang
seharusnya nyata-nyata jelas: Jika Bapa adalah Allah, dan Anak
adalah Allah, dan Roh adalah Allah, dan ketiganya setara dan kekal
bersama, maka kesimpulan yang tak dapat dipungkiri adalah: ada
tiga Allah. Jadi, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa kita masih
percaya pada satu Allah? Hanya dengan satu jalan: definisi kata
“Allah” harus diganti—dari “Pribadi” menjadi “Hakikat” (atau
“Kodrat”) ilahi, yang dibagi bersama oleh ketiga pribadi tersebut.
Akan tetapi, fakta sederhananya adalah bahwa Allah dalam
Alkitab itu sebenarnya suatu Jatidiri yang sangat personal dan bukan
sekadar “hakikat”, tidak peduli sehebat apa hakikat itu. Namun,
trinitarianisme telah mengubah konsep Alkitabiah akan Allah
dengan secara lancang memperkenalkan politeisme ke dalam gereja
dengan berkedok sebagai “monoteisme”. Dengan berbuat demikian
mereka telah mengubah makna kata “Allah”.

Pergeseran Halus dari Monoteisme ke Triteisme Trinitaris
Kita sudah memperhatikan fakta sejarah bahwa sejak masa Kristus
hingga ke masa Syahadat Nikea terdapat selang waktu 300 tahun
lamanya. Selama tiga abad itu gereja mengalami perubahan funda-
mental yang lambat tetapi pasti, yaitu perpindahan dari monoteisme
ke politeisme. Alasan historis bagi perubahan ini tidak sulit
dipahami. Ketika jemaat awal, dengan kuasa Roh Allah,
memproklamirkan Injil yang monoteistik secara dinamis ke seluruh
58 The Only True God

dunia Yunani-Romawi yang politeistik dan banyak orang datang
kepada Tuhan, banyak orang beriman non-Yahudi yang datang ke
gereja tidak sepenuhnya menanggalkan cara berpikir mereka yang
politeistis. Dengan berkembangnya jemaat di seluruh dunia, orang
non-Yahudi mulai menguasai gereja, hingga akhirnya orang Yahudi
hanya menjadi kaum minoritas di kebanyakan gereja di luar
Palestina. Menjelang paro abad ke-2, ketika Kekristenan berpisah
dengan Yudaisme, perpisahan dengan monoteisme Alkitabiah
menjadi kenyataan dalam faktanya jika bukan dalam namanya.
Menjelang awal abad ke-3 M sulit menemukan satu saja nama
orang Yahudi di antara para pemimpin gereja daerah (waktu itu
disebut “uskup”). Gereja sekarang kokoh berada di bawah
kepemimpinan orang-orang non-Yahudi. Para pemimpin ini telah
bertumbuh dalam lingkungan agama dan budaya di mana terdapat
“banyak ilah dan banyak tuhan” (1Kor.8:5), dan “ilah-ilah” serta
“tuhan-tuhan” agama orang Yunani dan Romawi pada dasarnya
adalah manusia-manusia yang diagungkan oleh orang banyak
sebagai pahlawan. “Jadi, jiwa-jiwa yang lebih baik akan melewati
masa peralihan dari manusia menjadi pahlawan dan dari pahlawan
menjadi setengah dewa; dan dari setengah dewa, beberapa di
antaranya, setelah jangka pemurnian yang panjang, akan
sepenuhnya saling berbagi dalam keilahan” (Plutarch [c. 46-120 M],
dikutip dalam Greek-English Lexicon, BDAG, θεότης). Aleksander
Agung dan beberapa kaisar Romawi dihormati sebagai ilah. 2

Dalam kenyataannya, sebagaimana dikenal luas, sebagian orang Romawi
2

juga tidak keberatan memasukkan Yesus sebagai satu ilah di antara banyak
ilah di kuil Romawi. Hal yang membuat mereka marah ialah penolakan orang
Kristen mula-mula untuk mengakui kaisar sebagai ilah. Hal ini berakibat
kepada beberapa peristiwa penganiayaan terhadap orang Kristen, karena
penolakan mereka untuk menyembah kaisar dianggap sebagai bukti
ketidaksetiaan kepada pemerintahan Romawi. Namun, di pihak mereka,
orang Kristen sudah tentu, tidak terlalu merasa senang dengan sebagian orang
Pendahuluan 59

Apapun alasan-alasan lain yang menyebabkan gereja secara
berangsur menyimpang dari monoteisme (bdk. Jews and Christians:
the parting of the ways AD 70 to 135, ed. James D.G. Dunn), dengan
diresmikannya Syahadat Nikea dan Syahadat Konstantinopel tiga
abad sesudah masa Kristus, jelaslah bahwa Kristus sekarang dinyata-
kan sebagai Allah, setara dan kekal bersama dengan dua pribadi lain
dalam Ke-Allahan (Godhead). Allah bukan lagi satu Jatidiri yang
personal tetapi sebuah kelompok yang terdiri dari tiga pribadi yang
sama-sama setara. Ini berarti makna kata “Allah” telah berubah dari
satu Pribadi ilahi menjadi tiga pribadi ilahi yang berbagi satu
“hakikat” ilahi (Latin, substantia; Yunani: hupostasis; juga, ousia 3).
Oleh sebab itu, proklamasi Alkitabiah yang fundamental untuk iman
Alkitabiah baik dalam PL maupun PB, yang diungkapkan dengan
jelas dalam kata-kata: “Dengarlah hai Israel, TUHAN (Yahweh)
Allah kita, TUHAN (Yahweh) itu Esa” (Ul.6:4; Mrk.12:29) pada
hakikatnya telah diubah menjadi: “Dengarlah, hai Gereja, Tuhan
Allahmu itu TIGA.”
Dengan adanya perubahan ini maka seluruh ciri dari Monoteisme
Alkitabiah, yang menyatakan satu Allah yang personal, berubah
menjadi suatu “monoteisme” yang mana “Allah” bukan lagi satu
pribadi melainkan suatu “hakikat” yang dibagi bersama oleh tiga
pribadi.

Roma yang tidak keberatan memuliakan Yesus sebagai ilah di samping ilah-
ilah mereka yang lain. Dan jika para pemuja berhala saja rela mengakui
keagungan Yesus dengan memberikannya tempat di antara ilah-ilah mereka,
mengapa orang Kristen (non-Yahudi) tidak rela memuliakan dia dengan cara
yang sama, yaitu, sebagai Allah? Hal ini membantu membuka jalan untuk
trinitarianisme.
3
“Hupostasis dan ousia pada mulanya adalah sinonim, kata yang pertama
Stoa dan yang terakhir Platonis, yang artinya, eksistensi nyata atau esensi, dari
suatu benda.” J.N.D. Kelly, Early Christian Doctrines, hlm.129.
60 The Only True God

Sejak permulaan abad ke-3, Origenes, “bapa” terkemuka Gereja
Yunani dan guru di sekolah katekismus di Aleksandria, sudah
mendeklarasikan, “Kami tidak takut berbicara tentang dua Allah
dalam satu pengertian, dan satu Allah dalam pengertian lain” (J.N.D.
Kelly, Early Christian Doctrines, hlm.129). “Kami tidak takut
berbicara... tentang dua Allah”: Betapa beraninya, atau mestikah kita
berkata, betapa lancangnya?! Pintu air politeisme (dibalik samaran
selubung tipis “monoteisme trinitaris”) sekarang telah terbuka lebar.
Dalam kurun waktu kurang dari 200 tahun semenjak masa Kristus,
gereja non-Yahudi dengan berani telah menentang monoteisme
Alkitabiah, dan memulai tradisi panjang menggunakan gaya bahasa
ambigu (bermakna-ganda, taksa): “dalam satu pengertian... dalam
pengertian lain”. Pengertian yang mana? Allah orang Kristen non-
Yahudi, dari segi pribadi, ada dua (atau tiga, resmi sejak 381 M); dari
segi hakikat: satu. Namun, biarlah dipahami dengan jelas bahwa
sejauh menyangkut penyingkapan Alkitabiah, entah dalam
Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, tidak ada dua Allah (atau tiga)
dalam pengertian apa pun. Orang-orang yang peduli dengan
kebenaran Alkitabiah akan menolak gaya bicara trinitaris yang
ambigu, karena merasakan adanya kebohongan di situ. Hanya ada
satu Allah yang benar, dan Nama-Nya adalah Yahweh! Siapa saja
yang mengabarkan Allah lain di samping Dia pasti harus
mempertangggung-jawabkan perbuatannya pada Hari itu.
Meskipun sengaja mengubah cara kata “Allah” didefinisikan dan
difahami merupakan perkara yang teramat serius, keseriusan
perkara itu tidak berakhir di situ. Dalam kenyataannya, deklarasi
trinitaris itu sama sekali bertolak-belakang dengan pernyataan ilahi
bahwa “Yahweh (TUHAN) itu ESA”, Ul.6:4. Yahweh adalah satu
Jatidiri, satu Entitas, satu Pribadi, sebagaimana jelas terlihat dalam
Alkitab Ibrani; dan dalam Perjanjian Baru pun tidak ada bedanya,
sebagaimana akan kita lihat. Oleh sebab itu, makna keesaan Allah
Pendahuluan 61

dalam Alkitab bukanlah sesuatu yang bisa ditawar-tawar atau
dikompromikan.
Makna keesaan Yahweh didefinisikan dengan kejelasan mutlak,
dan tidak menerima kompromi yang mengusulkan bahwa keesaan-
Nya adalah “kesatuan di dalam keragaman” yang membuka
kemungkinan mencakup satu atau dua pribadi lain di samping
Yahweh. Kitab Suci dengan tegas menyatakan: “Tuhanlah Allah;
tidak ada yang lain kecuali Dia” (Ul.4:35). Atau, dengan kata-kata
Yahweh sendiri, “tidak ada Allah selain dari pada-Ku, Allah yang
adil dan Juruselamat; tidak ada yang lain kecuali Aku. Berpalinglah
kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung
bumi! Sebab Akulah Allah, dan tidak ada yang lain” (Yes.45:21,22).
Dalam dua ayat ini saja “tidak ada yang lain” diulang sebanyak tiga
kali. Frasa itu diulang berkali-kali lagi di bagian lain Kitab Suci; kita
akan memiliki kesempatan untuk kembali kepada nas-nas tersebut
dalam kajian ini.
Paling khususnya, deklarasi trinitaris ini mentah-mentah
membantah penegasan Yesus sendiri atas Ulangan 6:4 bahwa
Yahweh itu esa. Pada kesempatan ketika seorang ahli Taurat
bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?” Yesus menjawab,
“Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel,
Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu Esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu,
dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu.”
(Mrk.12:28-30) Siapa yang diacu sebagai “Tuhan Allahmu” benar-
benar jelas; dalam Perjanjian Lama frasa yang muncul lebih dari 400
kali itu merupakan bentuk rujukan standar kepada Yahweh.
Akan tetapi, kelompok pemimpin gereja di Nikea itu, yang
agaknya mengakui Yesus sebagai “Tu[h]an”, tidak takut (seperti
dinyatakan oleh Origenes sebelumnya) menentang tuan mereka dan
menuntut gereja harus percaya bahwa Allah itu lebih dari satu
pribadi. Ini mengingatkan kita akan kata-kata Yesus, “Dan mengapa
62 The Only True God

kamu berseru kepadaku: Tu[h]an, Tu[h]an, padahal kamu tidak
melakukan apa yang aku katakan?” (Luk.6:46) Bila sang guru
mengajarkan bahwa Allah itu esa, bagaimanakah semestinya tang-
gapan murid-muridnya yang sejati? Dan jika kita tidak melakukan
apa yang ia katakan, tidakkah kita akan mendengar ia berkata, “Aku
akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah
mengenal kamu! Enyahlah dari hadapanku, kamu sekalian yang
melakukan kejahatan!” (Mat.7:23). Atau, apakah kita mengira ia
akan merasa senang karena kita telah mengangkatnya hingga setara
dengan Yahweh, sama seperti orang-orang yang ingin memahkotai
dia dan menjadikannya raja dengan paksa di Yohanes 6:15: “Karena
Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa dia
dengan paksa untuk menjadikan dia raja, ia menyingkir lagi ke
gunung, seorang diri”?
Sebagai umat trinitarian kita meninggikan Yesus hingga setara
dengan Yahweh walaupun ia sendiri tidak sekalipun pernah meng-
klaim sebagai Allah, seperti dinyatakan di Filipi 2:6 bahwa ia “tidak
menganggap bahwa menjadi setara dengan Allah adalah sesuatu
yang harus dirampas.” (MILT) Menariknya, kata yang
diterjemahkan sebagai “dirampas” dalam ayat ini merupakan kata
yang sama yang diterjemahkan sebagai “membawa dengan paksa”
(harpazo) di Yohanes 6:15 yang dikutip di atas. Yesus tidak pernah
berusaha merebut dengan paksa, atau merampas, kesetaraan dengan
Allah. Kita akan kembali ke Filipi 2 dalam kajian ini.
Trinitarianisme juga bersikeras menjadikan Roh Tuhan (Yahweh)
pribadi yang terpisah dan berbeda dari Yahweh. Siapapun yang
mengenal Perjanjian Lama dengan baik akan mendapati hal ini agak
aneh. Umat Yahudi pasti bertanya-tanya apakah umat Kristen sung-
guh-sungguh memahami Alkitab atau tidak. Untuk
memperdebatkan bahwa Roh Yahweh, adalah pribadi yang berbeda
dan terpisah dari-Nya adalah sama seperti memperdebatkan bahwa
“roh manusia” (1Kor.2:11; Ams.20:27; Pkh.3:21; Za.12:1) adalah
Pendahuluan 63

individu yang terpisah dan berbeda yang hidup di dalam dia, atau
hidup dengan dia sebagai pribadi yang lain! Sayangnya, ini bisa
dipandang benar untuk orang yang menderita penyakit skizofrenia,
tetapi untuk mengemukakan bila demikian halnya dengan Allah
adalah kegilaan, atau lebih parahnya, penghujatan.
“Allah itu Roh” (Yoh.4:24) sebagaimana dikatakan Yesus, akan
tetapi, tanpa ragu kita menyatakan bahwa Roh Allah, Roh Tuhan,
Roh Kudus itu sebenarnya adalah pribadi yang berbeda dari-Nya.
Malangnya, sebagai orang trinitarian, kita telah begitu terbiasa
dengan pengajaran seperti ini sehingga tidak lagi mampu melihat
kekonyolannya (absurdity). Kita meyakinkan diri sendiri bahwa kita
tentu tidak sebodoh itu. Masalahnya bukan kebodohan melainkan
kebutaan—dan kita mengira hanya orang Yahudi sajalah yang
mengalami kebutaan (Ef.4:18; Rm.11:25, khususnya berkenaan
dengan Yesus sebagai Mesias)!
Oleh karena Alkitab itu nyata-nyata bersifat monoteistik
(sehingga sebuah uraian secara monoteistik atasnya tidak
memerlukan pembenaran apapun), maka berikut ini adalah sebuah
upaya untuk mempelajari bagaimana memahami Kitab Suci dengan
semestinya: secara monoteistik. Ini bukan tugas yang mudah untuk
seorang yang telah berkecimpung dalam trinitarianisme seperti diri
saya. Akan tetapi, hal ini harus dilaksanakan oleh anugerah Allah,
demi menangkap kebenaran-Nya. Sudah saatnya kita “menyelidiki
dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN
(Yahweh)” (Rat.3:40).

“Monoteisme” Trinitaris

“M onoteisme” trinitaris hanya dapat memenuhi syarat sebagai
monoteisme dengan mengubah definisi kata “mono-
teisme”. Ini kurang lebih sama dengan mengatakan kalau malaikat
adalah manusia, dengan mengubah makna kata “manusia” sehingga
64 The Only True God

juga mencakup malaikat. Ini ibarat mengubah peraturan permainan
dengan menaruh tiang-tiang gawangnya lebih jauh sehingga kita
bisa mencetak angka. Ini tidak bisa diterima oleh mereka, seperti
umat Yahudi (dan umat Muslim), yang tahu bahwa argumentasi
semacam ini merupakan sebuah penyangkalan akan monoteisme
radikal dalam Firman Allah, yang tidak mengenal kompromi.
Jadi, bagaimana mungkin trinitarianisme yang mengklaim bahwa
Allah itu bukan satu pribadi tetapi tiga pribadi yang sama-sama
setara, tetap mengklaim dirinya monoteistik? Jawaban sederhananya
adalah dengan mengubah makna kata “monoteisme” sedemikian
rupa sehingga satu Allah itu tidak lagi dipahami sebagai satu Pribadi
tetapi sebagai satu “hakikat”, hakikat keilahian atau “ke-allahan”
(“godhead”). Kamus Encarta mendefinisikan “godhead” dengan
“keadaan sebagai Allah atau ilah; kodrat atau esensi sebagai yang
ilahi; juga disebut ‘kualitas ilahi’”. Setiap ilah dalam politeisme
adalah ilah karena mereka saling berbagi “keadaan sebagai ilah”,
yakni, “hakikat” kualitas ilahi. Jika tidak demikian, bagaimana lagi
mereka bisa menjadi ilah? Begitu juga, kita adalah manusia karena
kita saling berbagi kualitas manusiawi; kita berbagi “hakikat”
kemanusiaan. Jika tidak demikian, bagaimana lagi kita bisa menjadi
manusia?
Jadi, apa yang telah diperbuat oleh trinitarianisme adalah mengu-
rangi arti kata “Allah” dari sebuah rujukan kepada TUHAN Allah
dalam Alkitab menjadi suatu kelompok yang terdiri dari tiga tokoh
yang saling berbagi “hakikat” ilahi, agak seperti tiga orang manusia
yang saling berbagi “hakikat” manusiawi (“keadaan menjadi
manusia”, Encarta). Kata “Allah” dikurangi artinya menjadi suatu
“keberadaan diri”, bukan suatu pribadi. Allah yang dinyatakan
dalam Alkitab telah dikurangi (de-personalized) menjadi “hakikat”
ilahi untuk membuka jalan bagi dua pribadi ilahi lain untuk berbagi
dalam “satu hakikat” itu. Satu hakikat, atau satu kodrat inilah yang
dimaksud dengan “monoteisme” trinitaris.
Pendahuluan 65

Entah sang trinitarian menyadarinya atau tidak (besar
kemungkinan tidak), ketika ia berdoa kepada “Allah” ia tidak berdoa
kepada suatu pribadi khusus tetapi kepada suatu “keberadaan diri”
yang dipercayainya terdiri dari tiga pribadi. Tidak heran kalau tidak
banyak orang yang berdoa kepada Bapa, dan kebanyakannya
barangkali berdoa kepada Yesus (seperti yang saya lakukan dahulu),
dan banyak juga yang berdoa kepada Roh Kudus (seperti yang
dilakukan oleh kaum karismatik).
Lantas, dari mana datangnya konsep monoteisme yang telah
disimpangkan ini? Para trinitarian sudah tentu mengklaim konsep
itu berasal dari Perjanjian Baru. Yohanes 1:1 merupakan ayat
tunggal paling penting yang mereka gunakan untuk membela
perkara mereka. Itu sebabnya kita akan mengkaji ayat ini dengan
sangat rinci. Jika ayat ini tidak bisa dipergunakan untuk
mengesahkan trinitarianisme, maka perkara dengan dogma ini akan
runtuh. Ayat-ayat lain dalam PB yang diandalkan oleh
trinitarianisme juga akan kita selidiki. Ayat-ayat tersebut termasuk
satu bagian kecil dari Filipi 2, sebagian dari Kolose 1, beberapa ayat
di Ibrani 1 dan kitab Wahyu. Namun, penafsiran trinitaris atas nas-
nas ini sangat bergantung pada penafsiran atas Yohanes 1:1, jadi
sesudah makna ayat ini menjadi jelas, makna dari nas-nas lainnya
pun akan relatif lebih mudah dimengerti.
Karya ini memiliki tujuan yang jauh lebih penting daripada
sekadar menggugurkan dogma trinitaris. Pengguguran trinitarian-
isme itu akan membersihkan jalan kepada pewartaan sebuah
pewahyuan indah yang telah disamarkan oleh doktrin trinitaris,
yakni, satu-satunya Allah yang benar itu—yang menyatakan Dirinya
dengan Nama Yahweh (YHWH), “Aku adalah Aku” (Kel.3:14), yang
melalui nabi agung Yesaya menyatakan bahwa Ia akan datang
kepada umat-Nya (Yes.40), dan yang melalui nabi PL terakhir
Maleakhi, menyatakan bahwa Ia dengan tiba-tiba (tanpa terduga)
akan datang ke bait-Nya—Ia memang telah datang di dalam pribadi
66 The Only True God

Yesus Kristus sebagaimana dinyatakan dalam kitab-kitab Injil.
Penyataan yang mengejutkan inilah yang telah disamarkan oleh
trinitarianisme. Pribadi yang pertama (dan satu-satunya) itulah yang
telah datang ke dunia dalam Kristus, bukan “pribadi kedua”
sebagaimana yang dibayangkan. Kita akan melihat semua ini dengan
lebih lengkap setelah penafsiran trinitaris atas Kitab Suci dievaluasi.

Mengapa orang Kristen percaya adanya Trinitas?
Seandainya dalam Alkitab terdapat satu ayat saja yang dengan
gamblang dan eksplisit menyatakan “Yesus Kristus adalah Allah”
maka seluruh masalah ini akan langsung diselesaikan, dan diskusi
lebih lanjut tidak lagi dibutuhkan. Namun, faktanya adalah: tidak
ada pernyataan semacam itu dalam Kitab Suci. Kalau begitu,
mengapa kita tidak tutup saja perkara ini oleh karena tidak cukup
bukti? Yah, hal tersebut tidak sesederhana itu; tradisi gerejawi yang
panjang dan rumit berperan di balik semua ini. Mengapa umat
Katolik Roma percaya pada Trinitas? Mereka mempercayainya
karena itu adalah doktrin resmi Gereja Katolik. Bagi umat Katolik
Roma gereja adalah suara Allah di muka bumi. Jika Anda berharap
untuk diselamatkan, Anda harus menelan mentah-mentah apa yang
diajarkan oleh gereja.
Bahwa pemimpin-pemimpin gereja Katolik adalah wakil-wakil
Allah di muka bumi, dan bahwa mereka berkuasa menjalankan apa
yang mereka anggap sebagai kehendak Allah dalam segala hal yang
berkenaan dengan iman dalam gereja, sudah berlangsung lama
dalam tradisi dan sejarah gerejawi. Oleh sebab itu, sekelompok
pemimpin gereja (disebut “uskup”) berkumpul di Nikea pada tahun
325 M yang didanai oleh kaisar Roma Konstantinus (yang
mengklaim sudah menjadi seorang Kristen tetapi baru dibaptis
menjelang kematiannya). Konstantinus memberikan kepada mereka
tugas yang mengandung signifikansi historis terbesar, yaitu
Pendahuluan 67

membuat ketetapan atas pandangan-pandangan tentang Yesus
Kristus yang berbeda-beda dan saling bertentangan itu serta
menentukan bagaimana relasinya dengan Allah, yang menjadi topik
hangat dalam gereja saat itu dan mengancam kesatuan dan
ketentraman yang diharapkan oleh Konstantinus dalam
kekaisarannya.
Akhirnya para pemimpin gereja (yang sempat saling bersitegang)
di Nikea membuat ketetapan yang kita kenal sebagai Syahadat Nikea
yang mendeklarasikan bahwa keilahian (deity) Yesus wajib
dipercayai oleh umat Kristen. Atas dasar apa deklarasi ini dibuat?
Inilah pertanyaan penting yang perlu ditanyakan. Apakah didasari
oleh Alkitab, atau paling tidak oleh PB? Tidak, syahadat ini tidak
mengandung satu rujukan pun kepada Alkitab. Jadi, berdasarkan
wewenang dari siapa? Dari para pemimpin gereja ini, yang
menganggap diri mereka bertindak demi Nama Allah untuk gereja-
Nya.
Wewenang gereja semacam ini baru pertama kali ditantang
beberapa ratus tahun yang lalu (pada abad ke-16) oleh Martin
Luther, yang sendiri seorang Katolik Roma, yang juga seorang
biarawan Agustinian. Betapa lancangnya seorang biarawan
rendahan bangkit melawan kekuatan lembaga Katolik yang besar!
Luther berani melakukan hal ini atas dasar Perjanjian Baru yang
telah ia pelajari dengan tekun. Ketika tengah membaca surat-surat
Paulus matanya menangkap kata-kata “dibenarkan oleh iman”. Ia
menyadari bahwa hal ini bertentangan dengan ajaran gereja Katolik
pada masa itu yang mengajarkan orang untuk mencari “pahala”
demi memperoleh pengampunan dosa. Berdasarkan kebenaran ini,
yaitu dibenarkan oleh iman, Luther mengambil pendirian yang
berani melawan seluruh kekuatan gereja; dan dari pendirian yang
berani ini lahirlah Reformasi.
Meskipun frasa “dibenarkan oleh iman” hanya muncul beberapa
kali dalam surat-surat Paulus (Rm.3:28; 5:1; Gal.2:16; 3:24), gagasan
68 The Only True God

yang dikemukakan oleh kata-kata itu mempunyai dasar yang lebih
luas dalam ajaran Paulus tentang keselamatan, dan juga dalam
ajaran Perjanjian Baru. Pendirian Luther yang berani ini
mengandung signifikansi yang amat besar, yaitu sejak saat itu
ajaran-ajaran gereja bisa ditantang berdasarkan Kitab Suci, yaitu
firman Allah. Gereja dan para pemimpinnya tidak lagi bisa
menyombongkan diri dengan wewenang mengajarkan segala hal
yang berkenaan dengan iman tanpa perlu mempertanggung-
jawabkannya dengan firman Allah. Sayangnya, situasi di Gereja
Katolik sampai saat ini tetap belum berubah, karena wewenang
gereja (yaitu para pemimpin dan tradisinya) masih lebih diutamakan
daripada Kitab Suci.
Seluruh perhatian Luther telah tersita dengan perkara
“dibenarkan oleh iman”. Mengingat komitmennya kepada Kitab
Suci sebagai wewenang tertinggi untuk gereja, kita hanya bisa
bertanya-tanya apa yang kira-kira muncul dalam benaknya atas
pertanyaan yang mengawali bagian ini—“Mengapa orang Kristen
percaya pada Trinitas”—bila tidak di manapun dalam Kitab Suci
frasa “Yesus adalah Allah” dapat ditemukan?
Tanpa pernyataan-pernyataan eksplisit yang menyatakan Yesus
sebagai Allah, gereja hanya dapat mengggunakan ayat-ayat yang
tampaknya menyiratkan keilahian Yesus untuk merangkai doktrin
Trinitas. Di atas dasar yang rapuh inilah doktrin tersebut dibangun,
dan ayat-ayat inilah yang perlu kita selidiki dalam kajian ini.
Lagipula, apa yang biasanya tidak diketahui oleh rata-rata orang
Kristen adalah bahwa tidak ada kekompakan di antara para sarjana
mengenai makna dari banyak ayat kunci yang digunakan oleh
trinitarianisme. Bahasan-bahasan intelektual ini sering ditemukan
dalam buku-buku pintar dan artikel-artikel yang pada umumnya
tidak terjangkau dan/atau sebagian besarnya tidak dipahami oleh
orang awam. Kebanyakan orang Kristen menganggap bila perkara
trinitarianisme ini sudah “siap dipakai”, sudah dituntaskan sejak
Pendahuluan 69

dahulu kala dan tidak dapat diragukan lagi. Dengan demikian,
mereka akan terkejut bila membaca pernyataan berikut dalam
Greek-English Lexicon oleh Thayer: “Entah Kristus disebut Allah
harus ditentukan dari Yoh.1:1; 20:28; 1Yoh.5:20; Rm.9:5; Tit.2:13;
Ibr.1:8 dyb., dst.; masalah ini masih diperdebatkan di antara para
teolog.” (Greek-English Lexicon, θεός, sec.2).
Namun, jika frasa “dibenarkan oleh iman” ini tertera secara
eksplisit dalam surat Roma dan Galatia sebagaimana dilihat oleh
Luther, maka pernyataan “TUHAN itu esa” tentunya tidak kurang
eksplisit, dan frasa itu bergema di seluruh Perjanjian Lama dan Baru.
Yesus menyebutnya perintah yang “terutama” atau “yang paling
penting” (Mrk.12:29).

Kesimpulannya: Perbedaan dasariah antara
trinitarianisme dan monoteisme

S ambil kita melanjutkan kajian Kitab Suci dalam buku ini,
penting sekali untuk dipahami dengan baik bahwa apa yang
sedang kita lakukan di sini bukan semata-mata sebuah kajian
tentang penafsiran-penafsiran yang berbeda-beda tetapi tentang
perbedaan dasariah dalam cara berpikir di tingkat rohaniah,
perbedaan sudut pandang yang total dalam melihat Kitab Suci, dan
sesungguhnya, dalam melihat segala sesuatu. Kita bisa memandang
segalanya secara monoteistik, yakni dari kebenaran bahwa segala
sesuatu berasal dari satu-satunya Allah yang benar dan kembali
kepada-Nya sedemikian rupa Ia menjadi titik pusat dan lingkar dari
segala yang ada—sehingga Ia menjadi titik fokus kehidupan kita;
atau, kita memandang segalanya secara politeistik, yakni, dari sudut
pandang bahwa ada lebih dari satu Allah atau lebih dari satu pribadi
yang adalah Allah. Lalu pertanyaannya adalah: yang mana satu
menjadi fokus kehidupan kita? Oleh karena kita tidak bisa
berpegang baik kepada lebih dari satu titik fokus, maka tidak peduli
70 The Only True God

titik fokus mana yang kita pilih, titik fokus itu tidak akan bisa
menjadi satu-satunya yang kita pilih, karena itu tidak pernah bisa
sesuai dengan monoteisme Alkitabiah.
Trinitarianisme berbicara tentang tiga pribadi yang semuanya
sama-sama Allah, kemudian mengklaim suatu tempat dalam
monoteisme dengan mengubah definisi Allah menjadi “kodrat
ilahi”, “hakikat” atau “Ke-Allahan” (“Godhead”) yang dibagi oleh
ketiga pribadi itu; yang artinya tentu saja bahwa “Ke-Allahan” ini
sama sekali tidak identik dengan satu-satunya Allah yang personal
dalam Alkitab. Di mana ada kepercayaan kepada lebih dari satu
pribadi sebagai Allah, itulah politeisme menurut definisi. Hal yang
perlu kita sadari adalah bahwa pada hakikatnya trinitarianisme
adalah iman yang berbeda dari monoteisme Alkitabiah. Jadi di sini
kita bukan tengah berurusan dengan masalah penafsiran Alkitabiah
yang relatif sederhana, tetapi dengan masalah iman Alkitabiah yang
jauh lebih dalam. Dengan kata lain, yang menjadi taruhan di sini
adalah iman yang sejati atau palsu, bukan semata-mata penafsiran
Alkitab yang benar atau salah. Iman sejati atau palsu, menurut Kitab
Suci, adalah perkara hidup atau mati.
Jika pengalaman umat Israel dijadikan sebagai titik acuan, maka
transisi dari politeisme dan pemberhalaan ke monoteisme bukanlah
suatu hal yang mudah. Ini jelas melibatkan apa yang oleh Rasul
Paulus disebut “pembaruan pikiran” (Rm.12:1,2). Hal ini bukan
sesuatu yang dapat dicapai hanya dengan mengubah cara berpikir di
tingkat rasional atau intelektual. Yang harus terjadi adalah sebuah
perubahan di tingkat rohaniah, dan ini hanya bisa dilakukan oleh
pekerjaan Allah sendiri di dalam diri kita.
Kita tahu dari pengalaman betapa sulitnya mengubah sebuah
kebiasaan. Sebagai trinitarian kita telah dilatih untuk memahami
setiap nas dalam Alkitab dari sudut pandang trinitaris, yaitu satu-
satunya sudut pandang yang kita ketahui. Kita sudah terbiasa
melihat setiap ayat dari sudut pandang penafsiran trinitaris.
Pendahuluan 71

Sekalipun pada akhirnya kita dapat melihat bahwa penafsiran yang
berbeda itu yang lebih tepat, itu sendiri tidak menyelesaikan
persoalan yang lebih mendalam akan jenis iman yang memberi
ungkapan kepada penafsiran tersebut. Jadi, sekali lagi, persoalannya
bukan semata-mata penafsiran mana yang tepat, tetapi yang mana
satu iman yang sejati.
Dalam bab-bab berikut penafsiran trinitaris atas teks-teks tertentu
akan diambil dari karya-karya referensi trinitaris yang berwenang.
Kita akan menemukan bahwa penafsiran atas teks-teks itu mau tidak
mau dikendalikan oleh iman kepercayaan dari para penulis. Dengan
kata lain, bukan Kitab Suci yang mengendalikan kepercayaan atau
dogma, tetapi dogma yang mengendalikan penafsiran. Hal ini
biasanya dilakukan hampir tanpa disadari (sebagaimana saya
ketahui dari pengalaman) oleh karena kepercayaan bahwa hal itu
harus dipahami secara demikian, yakni, kita percaya bila ini
merupakan satu-satunya cara yang tepat untuk memahaminya.
Tentu saja tidak ada niat sama sekali untuk menyesatkan diri sendiri
ataupun orang lain; iman kitalah yang menetapkan cara kita
memahami segala sesuatu. Oleh sebab itu, pada dasarnya ini adalah
persoalan iman.
Bab 1

Monoteisme Yesus
Kristus dan Para-Rasul
yang Eksplisit

“Syema” dalam ajaran Yesus: Markus 12:29
Jawab Yesus: “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai
orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa.”

D i sini Yesus mengutip Syema (dari kata Ibrani shama,
mendengar) dari Ulangan 6:4, yang didaraskan oleh umat
Yahudi setiap hari. Akan tetapi, bagaimanakah kata-kata “Tuhan itu
esa” seharusnya dimengerti?
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 73

Saya akan mengutip diskusi dari karya referensi Theological
Wordbook of the Old Testament (TWOT) dengan entri ‫אֶ חַ ד‬, (’ehad,
satu):

“Sebagian sarjana merasa bahwa, meskipun kata ‘satu’
berbentuk tunggal (’ehad memiliki bentuk jamak, ’ahadim,
mis. Kel.12:49; bdk. Bil.15:16), pemakaian kata itu
memperbolehkan adanya doktrin Trinitas. Sementara benar
bahwa doktrin ini dipertandakan dalam PL, ayat itu berpusat
kepada kenyataan bahwa ada satu Allah dan Israel berhutang
kesetiaan secara eksklusif kepada dia (Ul.5:9; Ul.6:5). PB pun
bersifat monoteistik keras sementara pada saat yang sama
mengajarkan keragaman di dalam kesatuan (Yak.2:19;
1Kor.8:5-6).

“Berbagai kesulitan leksikal dan sintaktis dari Ulangan 6:4
dapat dilihat dari banyaknya terjemahan yang diajukan untuk
ayat ini dalam NIV. Pilihan ‘the LORD is our God, the LORD
alone’ mendapat dukungan baik dari konteks luas kitab itu
maupun konteks langsung. Ulangan 6:4 berfungsi sebagai
mengantar untuk menyemangati bangsa Israel agar mematuhi
perintah untuk “mengasihi (Tuhan)” (ay.5). Gagasan bahwa
Tuhan adalah satu-satunya Allah Israel sesuai sekali dengan
perintah itu (bdk. Kid.6:8 dyb.). Lagipula, kedua gagasan ini,
yakni, hubungan unik antara Tuhan dengan bangsa Israel, dan
kewajiban Israel untuk mengasihi dia, merupakan
keprihatinan utama dari amanat-amanat Musa dalam kitab itu
(bdk. Ul.5:9 dyb.; Ul.7:9; Ul.10:14 dyb., 20 dyb., Ul.13:6;
Ul.30:20; Ul.32:12). Akhirnya, Zakharia menggunakan teks
tersebut dengan arti berikut ini, dan menerapkannya secara
universal sehubungan dengan eskaton: “Maka TUHAN akan
menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN
adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya’ (Za.14:9).”
74 The Only True God

Dalam paragraf pertama dari TWOT yang dikutip di atas, “sebagian
sarjana” (tidak semuanya, atau mungkin malah tidak banyak)
“merasa” (apakah ini soal perasaan pribadi?) bahwa kata “satu”
dalam bentuk tunggal “memperbolehkan adanya doktrin Trinitas
berdasarkan keragaman di dalam kesatuan” (disebut dalam paragraf
TWOT yang terdahulu). Persoalannya adalah PL sama sekali tidak
menyebutkan adanya keragaman apapun di dalam Yahweh. Jadi,
atas dasar apakah persisnya perasaan dari “sebagian sarjana” itu?
TWOT selanjutnya membuat pernyataan “sementara benar
bahwa doktrin ini (yaitu, doktrin Trinitas) dipertandakan dalam
PL”, tetapi tak satu ayat pun diberikan sebagai bukti atas pernyataan
tersebut. Faktanya, jangankan mempertandakan trinitarianisme
dalam PL, menemukan bayang-bayang saja pun sulitnya setengah
mati! Saya sendiri sudah berupaya menemukan bayang-bayang
tersebut! Para trinitarian telah mencoba menunjuk kepada istilah-
istilah seperti Syekinah, memra, dst. yang seringkali muncul dalam
sastra Alkitabiah Yahudi, tetapi mengabaikan fakta bahwa istilah-
istilah itu bukanlah hypostasis-hypostasis atau pribadi-pribadi dalam
sastra tersebut; dengan demikian semuanya ini hanyalah soal
membacakan trinitarianisme ke dalam gagasan-gagasan dan nama-
nama itu (satu lagi contoh eisegesis).
Eisegesis trinitaris jugalah yang harus digunakan jika kita ingin
menemukan “keragaman di dalam kesatuan” (yaitu keserbaragaman
pribadi di dalam satu Allah) di Yakobus 2:19 dan 1Korintus 8:5-6
(yang dikutip oleh TWOT dalam paragraf pertama), bahkan dengan
sambil mengakui “PB pun bersifat monoteistik keras”. Tidaklah
mengherankan bila TWOT tidak berusaha menerangkan bagaimana
PB bisa dibilang bersifat monoteistik “keras” jikalau ia mengajarkan
keserbaragaman pribadi di dalam Ke-Allahan. TWOT menyadari
bahwa sebagian besar para pembacanya adalah orang trinitarian
yang toh tidak akan meminta keterangan!
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 75

Bagaimana sebenarnya Yakobus 2:19 (“engkau percaya, bahwa
hanya ada satu Allah saja”, εἷς ἐστιν ὁ θεός), yang jelas-jelas sekali
menunjuk kepada Ulangan 6:4 (κύριος εἷς ἐστιν), justru bisa
digunakan sebagai bukti untuk “keragaman di dalam kesatuan”
dalam diskusi Ulangan 6:4 agak sulit untuk dimengerti. Untuk
mengharapkan bahwa “satu” bukan berarti “satu” secara harfiah,
tetapi sesuatu yang menyerupai “kesatuan”, yang didalamnya bisa
terdapat keragaman atau keserbaragaman pribadi, sungguh-sungguh
adalah harapan yang sia-sia. Kata “kesatuan” itu sendiri sudah
menyiratkan keserbaragaman; jika hanya ada satu negara-bagian
(state) saja kita tidak bisa menyebut “United States” (atau Amerika
Serikat, yang terdiri dari banyak negara-bagian yang dipersatukan).
Lagipula, persoalannya dengan trinitarianisme adalah bahwa kita
akan mengalami kesulitan menemukan bahkan satu pertanda dalam
PL atas keserbaragaman pribadi di dalam Yahweh Sendiri, karena
Ulangan 6:4 berbicara tentang Yahweh (“LORD” dengan huruf
kapital dalam kebanyakan terjemahan bahasa Inggris, dan
“TUHAN” dalam terjemahan Indonesia); dan jika tidak ada
keserbaragaman seperti itu, maka tidak ada gunanya berbicara
tentang “kesatuan”.
TWOT juga mengutip 1Korintus 8:6 (ἀλλ’ ἡμῖν εἷς θεὸς ὁ πατὴρ,
‘namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa’) yang, sama
seperti Yakobus 2:19, menggemakan Ulangan 6:4 dan, oleh sebab
itu, tidak bisa dikutip secara sah sebagai bukti untuk mendukung
apa yang disebut “mengajarkan keragaman di dalam kesatuan”
(TWOT paragraf pertama), atau akan menjadi debat kusir.
Di sisi lain, TWOT tidak memberi tahu pembacanya bahwa pesan
dari Ulangan 6:4 juga digemakan dalam ayat-ayat PB yang lain,
misalnya, Galatia 3:20 (ὁ δὲ θεὸς εἷς ἐστιν, ‘sedangkan Allah adalah
satu’), Roma 3:30 (εἴπερ εἷς ὁ θεὸς, ‘Allah memang satu’), dan
1Timotius 2:5 (εἷς γὰρ θεός, ‘karena Allah itu esa’). Namun ayat-
76 The Only True God

ayat ini memang menegaskan pernyataan yang diakui TWOT bahwa
PB itu bersifat “monoteistik keras”.
Untuk bersikap adil terhadap TWOT, setelah menyatakan bahwa
doktrin Trinitas dipertandakan dalam PL, TWOT mengenyam-
pingkan doktrin itu dengan kata “sementara”, yang menunjukkan
bahwa doktrin itu tidak ada kaitannya dengan arti Ulangan 6:4, dan
menyatakan sebaliknya bahwa “ayat itu berpusat kepada kenyataan
bahwa ada satu Allah”. Pernyataan ini selanjutnya dikembangkan
dalam paragraf TWOT berikutnya yang memilih terjemahan untuk
Ulangan 6:4 yang berbunyi, “the LORD is our God, the LORD alone
(TUHAN itu Allah kita, TUHAN sendiri)”. Yaitu, ungkapan “the
LORD is one (TUHAN itu satu)” dimengerti sebagai “the LORD
alone (TUHAN sendiri)”.
“TUHAN sendiri” tentunya adalah terjemahan yang tepat karena
“TUHAN itu esa” sudah pasti tidak berarti “satu dari sekian banyak”
ataupun, seperti yang telah kita lihat, suatu kesatuan dari keserba-
ragaman pribadi, karena memang tidak ada “keragaman” semacam
itu yang tersirat dalam PL. “TUHAN sendiri” cocok sekali dengan
konteks ayat ini yang intinya adalah bahwa Yahweh, TUHAN,
adalah satu-satunya Pribadi yang kepada-Nya “Israel berhutang
kesetiaan secara eksklusif” (TWOT paragraf pertama di atas yang
juga mengutip Ul.5:9 dan 6:5 sebagai pendukung). “Gagasan bahwa
Tuhan adalah satu-satunya Allah Israel sesuai sekali dengan perintah
itu (bdk. Kid.6:8 dyb.)” (TWOT paragraf kedua).
TWOT layak dipuji karena dalam kesempatan ini, alih-alih
kecondongannya pada pemahaman trinitaris, TWOT mencari ekse-
gesis yang setia kepada konteks Ulangan 6:4.
Namun, ada sebuah kesalahan fundamental yang melekat pada
seluruh diskusi yang diberikan dalam TWOT, dan dalam diskusi
oleh para trinitarian pada umumnya, yaitu kegagalan dalam melihat
apa sebenarnya yang dinyatakan oleh Ulangan 6:4: “TUHAN Allah
kita, TUHAN itu esa”. Keprihatinan trinitarian adalah apakah Allah
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 77

dapat dimengerti sebagai “esa” dalam arti kesatuan multi-pribadi.
Akan tetapi, kata “esa” dalam Syema menerangkan kata “Yahweh”
(TUHAN), bukan kata “Allah”. Apakah trinitarianisme ingin
memperdebatkan Yahweh sebagai Jatidiri yang terdiri atas tiga-
pribadi? Jika demikian, Yahweh itu bukan hanya Bapa saja, tetapi
juga tiga-tiganya di dalam Trinitas! Dengan demikian, ketiga pribadi
itu semuanya adalah penjelmaan dari satu Yahweh (yang dalam
teologi disebut “Modalisme” atau “Sabelianisme”). Atau, apakah
para trinitarian ingin tetap bersikeras bahwa Yahweh dalam Alkitab
Ibrani adalah jatidiri yang multi-pribadi, bertentangan dengan
Alkitab sendiri? Jika tidak, lalu apa maksud seluruh diskusi panjang
lebar tentang “kesatuan” dan “keragaman” sehubungan dengan yang
“esa” di Ulangan 6:4?

Argumen palsu bahwa "satu" berarti "kesatuan"

I ni merupakan argumen yang sering digunakan di kalangan
trinitarian, yang saya gunakan juga di masa lalu, setelah meneri-
manya tanpa memeriksanya dengan teliti. Argumen ini terdengar
mengesankan bagi orang Kristen rata-rata karena disebut didasarkan
pada makna kata Ibrani untuk “satu” (‫אֶ חַ ד‬, ’ehad) yang membuatnya
kedengaran sarjanawi, dan karena ia tidak mengenal bahasa Ibrani,
ia tidak dapat mengecek keabsahannya. Sebagaimana telah kita lihat
di atas, TWOT menyiratkan pengartian ini ketika mengatakan
bahwa ia “memperbolehkan” gagasan “keragaman dalam kesatuan”;
tetapi TWOT tidak memberikan bukti leksikal apa pun untuk
pernyataan ini.
Oleh karena pentingnya argumen tersebut bagi banyak
trinitarian, di sini saya akan melukiskan fitur-fitur yang menonjol
dari argumen ini. Inti dari argumen ini adalah seperti berikut:
78 The Only True God

Dalam penggunaan bahasa Ibrani kata ’ehad menyiratkan
kesatuan bukan penunggalan (singularity) karena “satu”
mengandung lebih dari satu unsur di dalamnya, misalnya,
“Jadilah petang dan jadilah pagi, satu hari” (Kej.1:5, NASB;
tetapi “satu hari” lebih baik diterjemahkan sebagai “hari
pertama”, seperti dalam kebanyakan terjemahan yang lain).
Ayat yang sangat penting untuk argumen ini adalah Kejadian
2:24 ketika Adam dan Hawa bersama-sama membentuk “satu
daging” (tetapi bdk. 1Kor.6:16,17 yang menerapkannya
kepada kesatuan rohaniah antara orang beriman dengan
Tuhan). Kemah itu dibuat menjadi sebuah struktur terpadu
oleh sejumlah pengait: Keluaran 36:18, “Dibuat oranglah lima
puluh kaitan tembaga untuk menyambung tenda-tenda kemah
itu, sehingga menjadi satu.” Contoh lain dapat ditemukan
dalam nubuat Yehezkiel tentang penyatuan kerajaan utara dan
selatan menjadi satu (Yeh.37:15-22). Jadi kesimpulannya
adalah mengatakan tentang Allah sebagai “satu” menyiratkan
Ia adalah kesatuan lebih dari satu pribadi, dan bahwa Yesus
Kristus, “Allah-Anak”, tercakup dalam kesatuan itu, menurut
penafsiran trinitaris atas PB.

Pada dasarnya, itulah argumen untuk Trinitas dari kata 'ehad.
Kelihatannya cukup mengesankan—sampai kita memeriksa rincian
leksikalnya. Kata Ibrani untuk “satu” ini dipakai sebanyak 971 kali
dalam Alkitab Ibrani, jadi ada banyak bahan yang tersedia untuk
menilai argumen trinitarisnya. Bila kita melakukan hal ini maka
dalam waktu singkat kita akan menemukan bahwa semua argumen
tadi sebenarnya semu; satu lagi kasus pembelaan palsu yang
menyesatkan—mengumpulkan bukti yang mendukung argumen
sendiri dan mengabaikan bukti kuat yang bertentangan. Kita tidak
perlu melihat setiap satu dari 971 pemunculan itu karena hanya
dengan memeriksa beberapa ayat saja akan segera terlihat bahwa
kata 'ehad dengan pasti digunakan dalam arti “ketunggalan”
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 79

(“singleness”). Satu cara yang cepat untuk melihat sendiri fakta ini
adalah dengan mencari kata “single” dalam terjemahan Inggris
seperti ESV dan kemudian melihat kata dalam bahasa Ibraninya
yang diterjemahkan sebagai “single”. Dalam banyak kesempatan
akan terlihat bahwa kata 'ehad-lah yang diterjemahkan sebagai
“single”, tanpa menyiratkan adanya gagasan kesatuan. Berikut ini
adalah beberapa contoh:

Keluaran 10:19, “Not a single locust was left in all the country
of Egypt.” Atau “tidak ada satu belalangpun yang tinggal di
seluruh daerah Mesir.”

Keluaran 25:36, “the whole of it a single piece of hammered
work of pure gold”; atau “semuanya itu haruslah dibuat dari
sepotong emas tempaan yang murni”.

Ulangan 19:15, “A single witness shall not suffice” atau “Satu
orang saksi saja tidak dapat menggugat”.

1Samuel 26:20, “the king of Israel has come out to seek a
single flea”; atau, “raja Israel datang untuk membunuh seekor
kutu” (BIS).

Tidak satu pun dari contoh-contoh di atas memunculkan gagasan
kesatuan dalam kata ’ehad; sebaliknya, sebuah singularitas (“singul-
arity”) yang sederhanalah yang diungkapkan. Ada banyak contoh
lain dari kata ’ehad yang mengungkapkan singularitas tetapi
terjemahannya tidak memakai kata “single”, misalnya, Kej.27:38;
40:5; Kel.14:28; Yos.23:10; Hak.13:2; 1Taw.29:1; 1Raj.4:22 (5:2 dalam
beberapa versi); Yes.34:16, dsb. Apa yang muncul dari kajian leksikal
ini adalah bahwa kata ’ehad dapat dipakai untuk merujuk kepada
sebuah struktur komposit (cth. kemah suci) dan juga kepada sebuah
singularitas sederhana (cth. seorang saksi). Gagasan “kesatuan” tidak
melekat pada kata itu sendiri tetapi ditentukan oleh konteks. Jadi,
80 The Only True God

pemeriksaan atas pemakaiannya dalam bahasa Ibrani menunjukkan
bahwa kata “’ehad” tidak berbeda dari pemakaiannya dalam bahasa
Inggris (atau berbagai bahasa lain). Dengan demikian, “satu” dalam
bahasa Indonesia bisa dipakai dalam pengertian kolektif seperti
dalam “satu keluarga”, atau sebagai singularitas sederhana seperti
dalam “satu individu”. Baik dalam bahasa Ibrani, bahasa Inggris
maupun bahasa Indonesia, gagasan keserbaragaman atau
singularitas tidak melekat pada kata “satu”; itu ditentukan dari
konteks atau cara kata “satu” dipakai.
Lagipula, sementara kata “satu” dapat dipakai dalam arti kolektif
seperti “satu keluarga” atau “satu perusahaan”, hal itu sendiri tidak
menyiratkan kesatuan dalam keluarga atau perusahaan itu. Sebuah
keluarga bisa mengalami perselisihan, dan sebuah perusahaan malah
dapat hancur karena perpecahan; jadi, istilah kolektif seperti “satu
keluarga” atau “satu perusahaan” dengan sendirinya tidak
membuktikan adanya kesatuan. Jika kata ’ehad tidak membuktikan
kesatuan bahkan ketika dipakai sebagai istilah kolektif, maka ini
semakin memperjelas bahwa gagasan kesatuan tidak melekat pada
kata ’ehad ketika dipakai sendirian (seperti di Ul.6:4), tetapi harus
diberikan oleh kata-kata lain baik secara eksplisit ataupun implisit.
Misalnya, dalam kalimat “mereka disatukan sebagai satu orang”,
kesatuan dinyatakan secara eksplisit oleh kata “disatukan”, bukan
oleh kata “satu”, yang di sini mengungkapkan singularitas. Gagasan
kesatuan yang sama dapat diungkapkan secara implisit dengan
mengatakan “seluruh bangsa itu bangun sebagai satu orang”
(Hak.20:8 ESV), di mana gagasan kesatuan diungkapkan oleh
keserbaragaman dari “seluruh bangsa” yang bergabung bersama
dengan sehati sepikir seperti “satu orang”. Dalam kedua kesempatan
di atas kata “satu” mengungkapkan ketunggalan, sedangkan gagasan
kesatuan harus diberikan oleh kalimat itu secara keseluruhan.
Seharusnya jelas sekarang bahwa kita tidak boleh memperdebatkan
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 81

adanya semacam gagasan kesatuan yang melekat pada kata
Ibrani ’ehad.
Oleh karena itu, adalah sebuah kesalahan besar untuk
membangun sebuah teologi berdasarkan kata ’ehad yang diartikan
secara keliru sebagai kesatuan. Memperdebatkan “Ke-Allahan”
sebagai sebuah kesatuan entitas (terdiri lebih dari satu pribadi)
berdasarkan ciri leksikal 'ehad adalah argumen yang palsu.
Sayangnya, trinitarianisme didirikan di atas argumen yang palsu
seperti ini. Di Ulangan 6:4 Yahweh dinyatakan sebagai ’ehad, dan
baik konteks langsung maupun konteks umum PL menunjukkan
dengan jelas bahwa Yahweh adalah “satu” dalam arti singularis
sebagai satu-satunya Allah. Di dalam PL orang sulit menemukan
bahkan bayangan dari individu ilahi lain yang dikatakan eksis dalam
“hakikat” (menggunakan istilah trinitaris) yang sama dari satu-
satunya Allah—yang tentu saja merupakan istilah yang
bertentangan: Jika ada pribadi lain dalam “hakikat”-Nya, maka Ia
bukan satu-satunya Allah. Sekali lagi di sini kita melihat
kemustahilan dari usaha mengekstrak trinitarianisme dari
monoteisme sejati.

Ulangan 6:5 meniadakan apa saja selain monoteisme
Bahwa Yahweh saja merupakan satu-satunya Allah telah dinyatakan
dengan tegas di Ulangan 6:4. Namun, apa yang umumnya diabaikan,
terutama oleh trinitarian, adalah bahwa perintah yang dikeluarkan
segera sesudah penegasan itu semakin memperkuat penegasan
tersebut sedemikian rupa sehingga meniadakan semua pilihan lain
selain monoteisme “radikal” yang ditegaskan tanpa kompromi.

Ulangan 6:5, “Kasihilah Yahweh, Allahmu, dengan segenap
hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap
kekuatanmu.”
82 The Only True God

Kata “segenap” yang diulang tiga kali ini, yang meliputi diri manusia
secara keseluruhan, tidak lagi menyisakan apa-apa untuk mengasihi
ilah yang lain. Perhatikan bahwa perintah ini tidak memungkinkan
trinitarianisme untuk berfungsi, karena seberapa pun besarnya
usaha kita, kita tidak mungkin dapat mengasihi tiga pribadi yang
berbeda dengan “segenap” kita secara serentak. Kita memang bisa
mengasihi banyak orang, tetapi tidak dalam cara yang dituntut di
sini. Itu sebabnya kenapa kebanyakan orang trinitarian yang paling
bersungguh-sungguh (seperti saya dahulu) akhirnya mengasihi
Yesus secara intens dan terkonsentrasi, menjadikan dia sasaran
utama dari pengabdian dan doa kita. Adalah mustahil dalam praktek
untuk memberikan pengabdian yang sama besarnya kepada Bapa
dan kepada Roh.
Dengan demikian, tanpa disadari kita telah hidup dalam
ketidaktaatan kepada perintah terutama dari pengajaran Kitab Suci,
karena Yesus sang Mesias bukanlah “Yahweh Allahmu”, yang
sendiri seharusnya menjadi satu-satunya sasaran pengabdian kita.
Saya tidak tahu akan adanya sarjana Alkitab yang menegaskan, atau
mau menegaskan, bahwa Yesus adalah Yahweh.
Lebih penting lagi, ketiga Injil Sinoptik semuanya mencatat
bahwa Yesus sendiri mengajarkan Ulangan 6:5 sebagai perintah
agung dan terutama dari “hukum Taurat dan kitab para nabi”
(Mat.22:40): Matius 22:37; Markus 12:30; Lukas 10:27. Namun,
bukannya mengasihi “Yahweh Allahmu”, kita memilih untuk
mengasihi Yesus sebagai sasaran utama dari pengabdian kita, tanpa
menghiraukan pengajarannya. Tidakkah ini seharusnya membuat
kita merenungkan kembali kata-katanya, “Mengapa kamu berseru
kepadaku: Tu[h]an, Tu[h]an, padahal kamu tidak melakukan apa
yang aku katakan?” (Luk.6:46)
Kira-kira apa konsekuensinya dari ketidaktaatan semacam itu?
Yesus tidak membiarkan para pendengarnya berada dalam
kegelapan: “Banyak orang akan berkata kepadaku pada hari itu:
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 83

Tu[h]an, Tu[h]an, bukankah dalam namamu kami telah bernubuat,
dan dalam namamu kami mengusir setan, dan dalam namamu kami
melakukan banyak mukjizat? Dan pada waktu itu aku akan
menyatakan kepada mereka: Aku tidak pernah mengenal kamu,
enyahlah dari padaku, kamu yang mengerjakan kedurhakaan!”
(Mat.7:22,23 ILT) Bukankah mereka yang tidak menaati perintah
sentral yang agung dari Ulangan 6:4,5 secara akurat dilukiskan
sebagai “yang mengerjakan kedurhakaan”, yakni, mereka yang tidak
mengindahkan perintah atau hukum Allah, khususnya perintah
yang digambarkan oleh Yesus sebagai “yang terutama” (Mrk.12:29)?

Syema

K ita telah melihat bahwa Yesus sepenuhnya mengesahkan
Syema. Yang menarik adalah bagaimana ahli taurat yang
bercakap-cakap dengan Yesus memahami apa yang dikatakan Yesus,
“Tepat sekali, Guru, benar katamu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa
tidak ada yang lain kecuali Dia.” (Mrk.12:32) Perhatikan dengan
baik: “Benar katamu itu bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.”
Perhatikan juga, “Dia esa” disamakan dengan “tidak ada yang lain
kecuali Dia”; pernyataan yang satu menjelaskan pernyataan yang
satunya lagi. Yesus sama sekali tidak membantah interpretasi ahli
taurat itu atas apa yang dikatakannya. Sebaliknya, ia memuji ahli
taurat tersebut, “Engkau tidak jauh dari kerajaan Allah!” (ay.34).
Mengapa ahli taurat itu masih belum berada di dalam kerajaan?
Karena ia masih belum percaya bahwa Yesus adalah sang Mesias;
tanpa iman ini ia tidak dapat diselamatkan (Yoh.20:31).
Kata-kata ahli taurat di Markus 12:32 menggemakan Ulangan
4:35: “TUHANlah (Yahweh) Allah; tidak ada yang lain kecuali Dia”.
Bandingkan:
84 The Only True God

Yesaya 45:5, “Akulah Yahweh dan tidak ada yang lain; kecuali
Aku tidak ada Allah.”

Yesaya 45:14, “tidak ada yang lain; di samping Dia tidak ada
Allah!”

Yesaya 45:18, “Akulah Yahweh dan tidak ada yang lain.”

Yesaya 45:21b,22, “Siapakah yang mengabarkan hal ini dari
zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu?
Bukankah Aku, Yahweh? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah
selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak
ada yang lain kecuali Aku! Berpalinglah kepada-Ku dan
biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab
Akulah Allah dan tidak ada yang lain.”

Yesaya 46:9, “Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak
purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain,
Akulah Allah, dan tidak ada yang seperti Aku”.

Yesaya 46:5, “Kepada siapakah kamu hendak menyamakan
Aku, hendak membandingkan dan mengumpamakan Aku,
sehingga kami sama?”

Yesaya 40:25, “Dengan siapa hendak kamu samakan Aku,
seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus.”

Keluaran 8:10, “tidak ada yang seperti Yahweh, Allah kami.”

Keluaran 9:14, “bahwa tidak ada yang seperti Aku di seluruh
bumi.”

1Samuel 2:2, “Tidak ada yang kudus seperti Yahweh, sebab
tidak ada yang lain kecuali Engkau.”
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 85

Yeremia 10:6, “Tidak ada yang sama seperti Engkau, ya
Yahweh! Engkau besar dan nama-Mu besar oleh
keperkasaan.”

Daftar referensi yang panjang (meskipun tidak lengkap) ini dengan
tegas meneguhkan dua hal: (1) Yahweh adalah satu-satunya Allah
yang benar; tidak ada Allah selain Dia; (2) Ia tidak ada bandingannya
dan tidak ada yang menyamai. Bandingkan kedua peneguhan ini
dengan deklarasi trinitaris yang sama sekali bertentangan bahwa ada
dua pribadi ilahi lain selain Yahweh, dan keduanya setara dengan
Dia. Lancang benar, orang-orang politeis trinitarian dari gereja non-
Yahudi!
Tentu saja, penegasan-penegasan keras dalam Alkitab Ibrani ini
awalnya ditujukan terhadap penyembahan berhala yang menjamur
di Israel, yang akhirnya membawa mereka kepada pemusnahan
sebagai sebuah bangsa pada masa Pembuangan. Akan tetapi, gereja
non-Yahudi jelas-jelas tidak belajar apa-apa dari bencana yang
menimpa Israel. Namun, gereja non-Yahudi tidak bisa berdalih
mengingat banyaknya pernyataan-pernyataan monoteistik dalam
PB, termasuk pengajaran eksplisit dari Yesus sendiri ( Mrk.12:29
dyb.; Yoh.5:44; 17:3).
Dialog antara Yesus dengan ahli taurat tentang “perintah yang
paling utama” (Mrk.12:28 dyb.) merupakan dialog khas antara
seorang Yahudi dengan seorang Yahudi, dan nas ini adalah salah
satu dari sekian banyak dalam Injil yang menegaskan pernyataan
Martin McNamara bahwa Yesus adalah “seorang Yahudi tulen.
Bahasa dan alam pikirannya adalah Yahudi.” (Targum and
Testament, hlm.167), dan tidak ada usaha dari kita dalam
menampilkan dirinya sebagai Kristus berambut pirang dan bermata
biru, atau apa saja, dapat mengubah fakta tersebut.
Sebagaimana terlihat dari dialog dengan ahli taurat itu, Syema’
mewakili unsur utama dari iman Yahudi. Dalam kalimat pembuka
86 The Only True God

dari artikel “Syema” dalam Jewish Encyclopedia kita membaca bahwa
Syema’ “didaraskan sebagai pengakuan iman Yahudi”—itulah
pengakuan iman mereka. Pengakuan iman ini harus didaraskan
setiap hari oleh setiap orang Yahudi baik pada pagi hari maupun
pada petang hari. Seberapa pokoknya Syema’ ini untuk iman Yahudi
dilukiskan dalam Jewish Encyclopedia seperti berikut:

‘Itulah seruan-perang dari imam yang memanggil bangsa
Israel untuk mengangkat senjata melawan musuh (Ul xx.3;
Sotah 42a). Itulah kata terakhir dari orang sekarat dalam
pengakuan imannya. Syema’ ada di bibir orang-orang yang
menderita dan disiksa demi Taurat. R. Akiba dengan tabah
menahan siksaan sementara dagingnya dicabik-cabik oleh sisir
besi, dan tewas sambil mendaraskan “Syema’”. Ia
menyuarakan kata terakhir dari kalimat itu, “Ehad” (satu)
dengan hembusan nafas terakhirnya (Ber. 61b). Dalam setiap
penganiayaan dan pembunuhan masal, dari masa Inkuisisi
sampai pembantaian Kishinef, “Syema’ Yisrael” telah menjadi
kata-kata terakhir di bibir orang-orang yang sekarat. “Syema’
Yisrael” adalah kata sandi yang membuat seorang Yahudi
mengenali seorang Yahudi lainnya di setiap belahan bumi.’

Sekali gereja non-Yahudi beranjak dari unsur utama iman
Alkitabiah ini—yakni monoteisme Alkitab Ibrani—dengan secara
resmi memasang Allah yang multi-personal dalam Syahadat Nikea
pada tahun 325 M, di mana “Allah” bukan lagi satu Pribadi tetapi
sekarang menjadi suatu “hakikat” (ousios)—sebuah pelukisan untuk
Allah yang sama sekali asing bagi Alkitab—dengan cara demikian
gereja telah menyangkal Syema’, yaitu, “bahwa Dia esa, dan tidak
ada yang lain kecuali Dia”. Dengan demikian, mereka pun telah
menyangkal ajaran Yesus. Apakah mereka yang menyangkal ajaran
tuannya dapat disebut murid-muridnya? Oleh sebab itu, barangkali
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 87

tidak terlalu mengejutkan bila dewasa ini tidak banyak orang Kristen
yang menyebut dirinya murid-murid Yesus.
Syema’ (Ul.6:4) mendeklarasikan: “Dengarlah, hai orang Israel:
TUHAN [Yahweh] itu Allah kita, TUHAN [Yahweh] itu esa!”
Di pihak lain, trinitarianisme mendeklarasikan: “Dengarlah hai
Gereja, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu tiga.” (Makna dasar kata
“Trinitas: 1. tiga: sebuah kelompok yang terdiri dari tiga. 2. ketigaan
(Threeness): kondisi keberadaan sebagai tiga pribadi atau tiga benda
[abad ke-13, Melalui bahasa Perancis Kuno trinite, dari Latin
trinitas, dari trinus ‘lipat tiga’]” Encarta Dictionary, demikian juga
The Concise Oxford Dictionary, dsb.)
Ini merupakan dua pernyataan yang sama sekali berbeda, secara
fundamental tidak kompatibel, dan saling eksklusif. Kesesuaian
macam apa yang mungkin ada antara sebuah syahadat yang di satu
sisi berbicara tentang kesatuan sebuah kelompok yang terdiri dari
tiga pribadi yang sama-sama setara, sama-sama kekal dalam Ke-
Allahan, dan di sisi lain, sebuah deklarasi bahwa Yahweh adalah
satu-satunya Allah tanpa ada yang menyamai? Orang yang
bersikeras akan adanya kesesuaian antara syahadat yang
bertentangan tentang Allah ini pasti sudah kehilangan kemampuan
berpikirnya.
Mengapa Syema’ itu begitu relevan bagi kita? Pertama, karena itu
adalah deklarasi monoteisme yang fundamental, dan kedua, karena
jemaat Allah yang sejati adalah perwujudan “Israel milik Yahweh”
(Gal.6:16); “Lagipula, jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu
juga adalah keturunan Abraham dan ahli waris menurut janji Allah.”
(Gal.3:29); “Sebab orang Yahudi sejati bukanlah orang yang lahiriah
Yahudi dan sunat sejati bukanlah sunat yang dilakukan secara
lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah orang yang tidak tampak
keyahudiannya dan sunat sejati ialah sunat di dalam hati, secara
rohani, bukan secara harfiah. Pujian bagi orang seperti ini datang
bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” (Rm.2:28,29)
88 The Only True God

Perintah Pertama
Keluaran 20:3 “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” “Ku”
yang berbicara di sini diperkenalkan di dua ayat pertama:

Keluaran 20:1, Lalu Allah mengucapkan segala firman ini, 2

“Akulah Yahweh Allahmu”.

Seandainya, menurut para trinitarian, Yesus adalah Allah dan Roh
Kudus adalah Allah, dan keduanya adalah pribadi sama seperti Bapa
(Yahweh), maka mereka mengakui dua pribadi lain sebagai Allah di
samping Yahweh. Ini jelas-jelas melanggar Perintah Pertama.
Kita sudah melihat bahwa Yesus dengan tegas mengesahkan
Syema yang mencakup semua perintah termasuk, tentunya, Perintah
Pertama. Namun Yesus tidak hanya menegaskan monoteisme yang
tercantum dalam Syema secara terbuka, monoteisme Yesus tidak
diungkapkan dengan lebih kuat di manapun juga selain dalam
doanya kepada Bapa di Yohanes 17: “Inilah hidup yang kekal, yaitu
bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar,
dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (ay.3)

A pakah Matius 28:19 bertentangan dengan monoteisme Yesus?
Teks ini digunakan seolah-olah teks ini adalah sebuah rumus
trinitaris. Itulah caranya kita sebagai orang trinitarian diajar untuk
berpikir, dan kita seringkali mendengarnya dipakai dalam berbagai
upacara penting, seperti dalam upacara pernikahan dan kematian,
tetapi terutamanya dalam upacara baptisan, sebab ayat itu berbunyi,
“Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan baptis-
lah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. Kata-kata
yang segera menyusul di ayat berikutnya, “dan ajarlah mereka
melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu”
(ay.20), biasanya tidak terlalu banyak diperhatikan, paling tidak
komitmen Yesus kepada monoteisme yang tercantum dalam Syema.
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 89

Namun, apakah Yesus bertentangan dengan dirinya sendiri di
Matius 28:19? Kita akan melihat dalam bagian selanjutnya bahwa
para sarjana trinitarian pun tidak berani berkata demikian.

Matius 28:19 sebagai teks-bukti untuk trinitarianisme
“19 Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
20
dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah
kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, aku menyertai kamu
senantiasa sampai akhir zaman.” (Matius 28:19-20)

H .A.W. Meyer dalam buku tafsirnya Critical and Exegetical
Handbook of the Gospel of Matthew membahas ayat ini
dengan panjang lebar. Ia mengklaim bahwa meskipun Nama itu
berbentuk tunggal, kita “tentu saja” harus membaca kelanjutannya
sebagai “dan dalam nama Anak, dan dalam nama Roh Kudus.” Akan
tetapi, argumen Meyer ini sebenarnya luar biasa kosong. Untuk
sekadar menyatakan bahwa “εἰς τό ὄνομα (eis to onoma, ke dalam
Nama), tentu saja, harus dipahami berada juga di depan του υἱοῦ
(tou huiou, sang Anak) dan ἁγίου πνεύματος (hagiou pneumatos,
sang Roh Kudus)”, adalah serampangan. Bagaimana mungkin
sebuah pernyataan penting dibenarkan hanya dengan sebuah “tentu
saja”? Apa yang dibuktikan oleh “tentu saja” itu? Tidak apa-apa pun.
Namun, ada satu alasan untuk “tentu saja” ini—sebab ini adalah
“tentu saja” sejauh menyangkut trinitarianisme, jadi “tentu saja” ini
berasal dari dogma trinitaris. Bahkan seorang eksegete seperti Meyer
(perhatikan kata “Exegetical” di judul buku tafsirnya) di sini
mengizinkan dogma untuk menentukan karyanya, yang saya akui
telah saya lakukan juga di masa lalu. Begitulah kuatnya cengkeraman
dogma atas kita.
90 The Only True God

Dalam upaya untuk menyediakan rujukan silang yang
menyangga argumentasinya, Meyer mengutip Wahyu 14:1
(“namanya dan nama Bapanya”), akan tetapi, tampaknya ia tidak
melihat bahwa ayat ini adalah bukti yang persis bertolak-belakang
dengan kesimpulan yang ingin ia buat, karena “namanya” dan
“nama Bapanya” disebut secara terpisah di Wahyu 14:1, sedangkan
hanya satu nama yang disebut di Matius 28:19. Demikian juga, jika
Yesus berniat untuk ketiga nama itu semuanya diucapkan dalam
pernyataan baptisan maka ia akan mengatakannya secara eksplisit
(seperti di Why.14:1), “dalam nama Bapa, dan dalam nama Anak,
dan dalam nama Roh Kudus” (sebagaimana dilakukan di beberapa
gereja), atau lebih singkat, “In the names of the Father, and of the
Son, and of the Holy Spirit”.
Argumen Meyer ditolak oleh The Expositor’s Greek Testament:
“Tidak dikatakan dalam nama-nama, dsb., ataupun dalam nama
Bapa, dan nama Anak, dan nama Roh Kudus.—Maka mungkin bisa
disimpulkan adanya gagasan ketritunggalan yang membentuk
sebuah Kesatuan Ilahi di waktu yang bersamaan. Namun, ini
barangkali membacakan terlalu banyak ke dalam kata-kata itu
daripada yang dimaksudkan.” (Bagian tafsir ini ditulis oleh A.B.
Bruce, yang ketika itu menjabat sebagai professor of apologetics, Free
Church College, Glasgow, Skotlandia.) Komentar Bruce yang jujur
ini (yang saya cetak miring) patut dihargai, karena ia pun seorang
trinitarian, akan tetapi dengan jujur ia meragukan bila ayat ini dapat
digunakan sebagai argumen untuk gagasan Trinitas itu.
Untuk bersikap adil terhadap Meyer, ia akhirnya mengakui
bahwa ayat ini tidak boleh digunakan sehubungan dengan doktrin
Trinitas. Ia menulis, “Kita harus berhati-hati dalam memanfaatkan
bentuk tunggal ini untuk digunakan secara dogmatis sebagai
argumentasi baik untuk mendukung (Basilides, Jerome, Teofilakt)
atau menentang (pengikut-pengikut Sabellius) doktrin Trinitas yang
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 91

ortodoks.” Ia pun menolak pandangan trinitaris sarjana Jerman yang
bernama Gess:

Kita harus sama-sama mewaspadai pandangan Gess, yang
berpendapat bahwa Kristus abstain dari menggunakan kata-
kata “dari Allah Bapa,” dst. [yaitu, Allah-Anak dan Allah-Roh
Kudus] karena ia menganggap gelar Allah itu juga milik Anak
dan Roh Kudus.

Mengapa Meyer menolak interpretasi Gess, padahal itu adalah
penafsiran lazim dalam ajaran trinitaris? Itu karena sebagai seorang
eksegete Meyer menyadari bahwa dalam pengajaran Yesus, “Ia tidak
pernah diketahui mengklaim nama θεός (theos, Allah) baik untuk
dirinya sendiri maupun untuk Roh Kudus” (kutipan ini diambil dari
catatan kaki 1, hlm.302, cetak miring dari dia, transliterasi dan
terjemahan dalam kurung dari saya).
Pengamatan Meyer yang terakhir ini: “Ia (Yesus) tidak pernah
diketahui mengklaim nama θεός, baik untuk dirinya sendiri ataupun
untuk Roh Kudus”, merupakan pengamatan yang sangat penting
untuk memahami Yesus dan ajarannya dengan tepat. Fakta inilah
yang akhirnya mencegah Meyer dari mempergunakan Matius 28:19
sebagai argumen untuk Trinitas.
Lalu apakah pemahaman Meyer sendiri atas Trinitas sehubungan
dengan Matius 28:19? Pandangannya adalah “Nama” (tunggal) itu
“dimaksudkan untuk menunjukkan kodrat hakiki dari Pribadi-
pribadi atau Jatidiri-jatidiri yang berkaitan dengan baptisan”
(hlm.303); tetapi ia juga mengatakan bahwa “Pribadi-pribadi atau
Jatidiri-jatidiri” itu tidak setara dalam kedudukan mereka relatif satu
sama lain, karena Anak tunduk kepada Bapa, dan Roh tunduk
kepada Bapa dan Anak. Jadi mereka berbagi “kodrat hakiki” yang
sama (yang juga disebut “hakikat” pada abad ke-3 dan ke-4 dan
selanjutnya) tetapi mereka tidak setara. Pandangan ini diungkapkan
di berbagai bagian dari keterangan Meyer dalam buku tafsirnya.
92 The Only True God

Saya mengutip karya Meyer di sini karena, meskipun ia termasuk
ke dalam generasi sarjana yang lebih awal, penguasaannya akan
Perjanjian Baru Yunani dan pengetahuannya berkenaan dengan
Perjanjian Baru Yunani secara umum nyaris tidak dapat disamai.
Buku-buku tafsir eksegetisnya sebanyak 20 jilid atas Perjanjian Baru
Yunani (aslinya ditulis dalam bahasa Jerman dan diterjemahkan ke
dalam bahasa Inggris) tersedia dalam edisi cetak ulang baru-baru ini.
Masih banyak karya referensi lain yang bisa dikutip dan dibahas,
tetapi itu akan melampaui ruang lingkup buku ini.
Namun jika, seperti yang ditunjukkan oleh Prof. A.B. Bruce, lebih
banyak yang dibacakan ke dalam Matius 28:19 oleh trinitarian
daripada yang dimaksudkan, lalu apa arti yang dimaksud Yesus
dalam mengajarkan bahwa murid-murid baru harus dibaptis dalam
satu Nama Allah itu? Untuk pertanyaan ini Bruce tidak memberi
jawaban. Namun, apakah Tu[h]an membiarkan kita tanpa jawaban?
Sama sekali tidak, jawabannya tersedia jika kita menyimak
perkataannya dengan saksama, karena itu berkaitan dengan karakter
dasariah dari pelayanannya.
Lalu kenapa kita dibaptis ke dalam satu Nama itu? Satu Nama itu
dalam Kitab Suci, hanya bisa merujuk kepada Nama Yahweh, yang
oleh Yesus secara konsisten dipanggil “Bapa”. Alasan mengapa
Yesus hanya menyebut satu Nama di Matius 28:19 mulai terlihat
dengan terang ketika kita mulai memahami intisari dari
pengajarannya. Pertimbangkan nas-nas berikut:

Yohanes 5:43, “Aku datang dalam nama Bapaku dan kamu
tidak menerima aku; jikalau orang lain datang atas namanya
sendiri, kamu akan menerima dia.” Di sini Yesus menyatakan
secara kategoris bahwa ia tidak datang dalam namanya sendiri.

Yohanes 10:25, Yesus menjawab mereka: “Aku telah
mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya;
pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan dalam nama Bapaku,
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 93

itulah yang memberikan kesaksian tentang aku.” Yesus tidak
melakukan pekerjaan-pekerjaannya (termasuk mujizat-
mujizat, dst.) dalam namanya sendiri, tetapi dalam nama
Bapa.

Yohanes 12:13, mereka mengambil daun-daun palem, dan
pergi menyongsong dia sambil berseru-seru: “Hosana! Terpu-
jilah dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Kata-
kata ini muncul dalam keempat Injil)

Yohanes 12:28, “Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Lalu
terdengarlah suara dari surga: “Aku telah memuliakannya, dan
Aku akan memuliakannya lagi!” Memuliakan nama Bapa
adalah tujuan seluruh hidup dan pelayanan Yesus.

Yohanes 17:6, “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada
semua orang yang Engkau berikan kepadaku dari dunia.
Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka
kepadaku dan mereka telah menuruti firman-Mu.” Kehidupan
dan pekerjaan Yesus adalah untuk mengenalkan Yahweh
Allah (“menyatakan nama-Mu”) kepada murid-muridnya.

Yohanes 17:11, “Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi
mereka masih ada di dalam dunia, dan aku datang kepada-
Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-
Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku,
supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. 4

4
Yesus yang menjadi “satu” dengan Bapa di sini dikaitkan dengan
penerimaan “nama-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku”. Yang sama
berlaku untuk murid-muridnya; sebab bagaimana lagi mereka bisa “dipelihara
dalam nama-Mu” kecuali jika mereka ada di bawah Nama-Nya atau menyan-
dang Nama-Nya (kurang lebih seperti istri yang menyandang nama
suaminya)? Menerima Nama-Nya berarti menerima “kemuliaan”-Nya [untuk
persamaan antara “nama” dan “kemuliaan”, bdk. mis. Mzm.102:15; Yes.42:8;
94 The Only True God

Yohanes 17:11 menunjukkan dengan tajam kebenaran menyolok
yang diungkapkan dalam ayat ini: bahwa Bapa telah memberikan
Nama-Nya, atau wewenang-Nya, kepada Yesus; ia bertindak dalam
Nama Bapa, bukan dalam namanya sendiri. “Nama” di sini merujuk
kepada wewenang Bapa, bukan kepada sebuah gelar. Oleh kuasa dari
wewenang itulah para murid dilindungi.

Yohanes 17:12, “Selama aku bersama mereka, aku memelihara
mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan
kepadaku;” Kata-kata ini menekankan kembali apa yang telah
dikatakan di ayat sebelumnya.

Yohanes 17:26, “dan aku telah memberitahukan nama-Mu
kepada mereka dan aku akan memberitahukannya, supaya
kasih yang Engkau berikan kepadaku ada di dalam mereka
dan aku di dalam mereka.” Yesus tidak memberitakan dirinya
sebagai pokok utama dari pesannya, tetapi dengan setia mem-
proklamirkan Bapa kepada mereka. Ia menyatakan bahwa ia
akan terus melakukan hal ini (yaitu sesudah kematian dan
kebangkitannya) supaya kasih Bapa untuk Yesus akan
dicurahkan ke dalam hati murid-muridnya (bdk. Rm 5:5).

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa seluruh pelayanan Yesus
berpusat pada melakukan segala sesuatu dalam nama Bapanya,
bukan dalam namanya sendiri. Ia tidak pernah meninggikan dirinya,
tetapi selalu meninggikan Bapanya. Oleh karena inilah (“Aku

43:7; 48:11; 59:19; Yer.13:11; dst.]; Yesus menerima kemuliaan Bapa (Nama)
dan juga memberikannya kepada murid-muridnya: “Aku telah memberikan
kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepadaku, supaya mereka
menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu” (Yoh.17:22). Ini penting untuk
pemahaman kita atas Matius 28:19, karena untuk dibaptis dalam, atau ke
dalam, Nama Bapa artinya datang di bawah Nama-Nya sebagai milik
kepunyaan-Nya (1Ptr.2:9), dipersatukan dengan-Nya, dan dengan demikian
berada di bawah pemeliharaan “Nama-Mu (Nya)”.
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 95

senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya”, Yoh.8:29) Bapa
memuliakan Yesus, menjadikan dia objek dari iman bagi
keselamatan, dan tidak memberikan nama lain yang olehnya kita
dapat diselamatkan (Kis.4:12); dan Bapa berkenan menjawab doa-
doa yang dipanjatkan dalam nama Yesus (Yoh.15:16; 16:23-26).
Oleh karena Yesus datang dalam Nama Bapa sebagai orang yang
diutus Bapa, dan oleh karena ia selalu berfungsi dalam Nama Bapa,
tidak dalam namanya sendiri, maka sudah dapat diduga bila Yesus
memerintahkan agar baptisan dilakukan dalam Nama Bapa. Oleh
karena Anak (dan Roh, bdk. Yoh.14:26, dst.) melakukan
pekerjaannya dalam Nama Bapa, maka, dalam terang pengajaran
Yesus, jelaslah mengapa hanya satu Nama saja yang disebut di
Matius 28:19. Bahwa Yesus datang dalam nama Tuhan (Yahweh)
disebut dua kali dalam Injil Matius (Mat.21:9; 23:39), dan sekali
dalam masing-masing dari ketiga Injil lainnya. Dalam Matius
jugalah Yesus mengajar murid-muridnya untuk berdoa, “Bapa kami
yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu” (Mat.6:9).
Jika demikian halnya, yaitu baptisan itu pertama dan terutama
adalah ke dalam Nama Bapa, sedangkan Anak dan Roh digolongkan
di bawah Nama yang satu itu, maka bukankah kita juga dibaptis ke
dalam Anak dan Roh Kudus karena kedua-duanya disebutkan dalam
ayat ini? Namun tidak di manapun dalam PB disebutkan lagi bahwa
kita “dibaptis ke dalam Roh Kudus” (βαπτίσειν ἐις πνεύματι ἁγίῳ).
Preposisi ἐν (en, dalam) di ἐν πνεύματι (en pneumati) di
1Korintus 12:13 tentu saja berkasus instrumental dalam makna dan
paling tepat diterjemahkan sebagai “oleh Roh” atau “melalui Roh”;
kemungkinan besar itulah artinya juga di Matius 3:11 dan beberapa
kutipannya dalam PB. Akan tetapi, PB secara pasti menegaskan
bahwa kita “dibaptis ke dalam Kristus”: Rm.6:3; Gal.3:27: dan
dengan demikian kita disatukan dengan dia dalam kematian dan
kehidupannya.
96 The Only True God

Di kitab Kisah Para Rasul ada beberapa rujukan kepada baptisan
“dalam nama Yesus Kristus” (Kis.2:38; 8:16; 10:48; 19:5). Ini sudah
tentu bukan berarti orang dibaptis hanya ke dalam nama Yesus saja,
dengan secara terang-terangan mengabaikan perintah Yesus untuk
membaptiskan dengan deklarasi triadik seperti yang diberikan di
Matius 28:19. Bahkan sampai hari ini pun saya belum mengetahui
adanya gereja yang membaptis orang dalam nama Yesus saja. Di
kitab Kisah Para Rasul, rumus “dalam nama” (mis. Kis.3:6; 9:27,28;
16:18) artinya bertindak dalam atau di bawah wewenang seseorang,
dalam hal ini, bertindak dalam wewenang Yesus untuk melakukan
baptisan seperti yang ia perintahkan kepada murid-muridnya.
“Dalam nama” merupakan istilah kunci di kitab Kisah Para Rasul;
dan sama seperti Yesus yang selalu hidup dan bekerja dalam Nama
Bapa, demikian pula murid-muridnya selalu berfungsi dalam nama
Yesus, yang olehnya mereka hidup di bawah nama Bapa: “Dan segala
sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan,
lakukanlah semuanya itu dalam nama Tu[h]an Yesus, sambil
mengucap syukur melalui dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol.3:17);
“Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tu[h]an
kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.” (Ef.5:20).

Pemikiran lanjutan tentang Matius 28:19

B egitu terlepas dari “pesona” (Gal.3:1, “Siapa yang telah
mempesonakan kamu?”) trinitarianisme, kita bertanya-tanya
bagaimana orang bisa sampai mengira bila ayat ini, Matius 28:19,
memberi dukungan kepada Anak sebagai “sama-sama setara dengan
Bapa”. Kita hanya perlu menanyakan: Apa yang mendahului
pernyataan dalam ayat ini? Ayat 18 menyatakan “Kepadaku telah
diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah…”
“Segala kuasa” diberikan kepada Anak oleh siapa? Tentu saja oleh
Bapa. Lalu bagaimana mungkin ia yang bertindak dengan otoritas
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 97

yang diberikan kepadanya oleh pribadi lain dinyatakan setara
dengan yang memberikan otoritas itu? Seandainya ia setara, maka ia
dapat menjalankan otoritasnya sendiri dan tidak perlu bergantung
kepada otoritas yang diberikan itu. Semuanya ini seharusnya sudah
cukup jelas. Namun, bukankah dalam keadaan “terpesona”
seseorang tidak bisa melihat apa yang jelas?
Oleh karena otoritas itu datangnya dari Bapa, maka jelaslah
bahwa ia yang berfungsi dalam otoritas itu berfungsi dalam nama
dari otoritas yang olehnya ia berwenang untuk berfungsi, dan dalam
kasus ini nama Bapa. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila satu
nama saja yang disebut, dan mengingat ayat yang mendahuluinya
nama itu pasti adalah Nama Bapa. Ini berarti Anak dan Roh
berfungsi di bawah Nama Bapa, karena satu nama berarti satu
pribadi, bukan tiga. Yesus menjelaskan dengan gamblang bahwa ia
tidak datang dalam namanya sendiri (Yoh.5:43; 10:25), dan bahwa
Roh datang dari Bapa (Yoh.15:26); dengan demikian mereka
berfungsi di bawah satu Nama, yaitu Nama Bapa (Yahweh).
Berkenaan dengan Matius 28:19, apa yang telah dibahas
semestinya sudah konklusif. Namun, kita bisa mempertimbangkan
pokok berikut untuk memperlihatkan kelalaian yang disengaja dari
argumentasi trinitaris. Berkaitan dengan hal ini, pertimbangkan
kutipan dari Mishnah ini: “Rabi Yehuda berkata, ‘Belajarlah dengan
seksama, karena kesalahan yang tidak disadari dalam pembelajaran
akan diperhitungkan sebagai pelanggaran sembrono’”. (Aboth 4:13).
H. Danby, editor Mishnah berkata (dalam catatan kaki) bahwa Rabi
Yehuda adalah “guru yang paling sering disebut (sekitar 650 kali)
dalam Mishnah”, menunjukkan bahwa perkataannya dianggap bijak
dan berbobot, dan karena itu harus diperhatikan.
Trinitarian seharusnya faham bahwa jika Matius 28:19 ingin
dipakai sebagai bukti yang sah untuk Trinitas, mereka pertama-tama
perlu membuktikan dengan jelas bahwa “Anak” dalam Injil Matius
adalah nama ilahi. Jika tidak, sekalipun dua dari Pribadi itu ilahi
98 The Only True God

tetapi tidak bisa dibuktikan bahwa yang ketiga juga ilahi, maka
jelaslah tidak ada dukungan perkara yang bisa dibuat untuk Trinitas.
Lagipula, hanya istilah “Anak” yang ringkas saja yang muncul dalam
ayat ini; dapatkah diasumsikan begitu saja bahwa yang dimaksud
adalah “Anak Allah”, bukan “Anak Manusia”? Pertanyaan ini
penting pertama-tama karena Yesus tidak pernah berbicara tentang
dirinya sebagai Anak Allah; sebab meskipun istilah “Anak Allah”
muncul 10 kali dalam Injil Matius, di mana 9 kalinya merujuk
kepada Yesus, tetapi tidak satu pun dari pemunculan itu dipakai
oleh Yesus untuk merujuk kepada dirinya sendiri. Oleh sebab itu,
tidak ada alasan untuk menduga bila ia memakai gelar itu untuk
dirinya sendiri di Matius 28:19.
Istilah “Anak Manusia”, yang muncul 28 kali dalam Injil Matius,
merupakan gelar yang dipilih oleh Yesus untuk merujuk kepada
dirinya sendiri. Oleh sebab itu, bukankah wajar inilah yang dimak-
sudkan dengan “Anak” di Matius 28:19?
Sekalipun jika kita berasumsi bahwa yang dimaksud Yesus adalah
Anak Allah, bertentangan dengan pemakaian konsistennya di
Matius, kita masih perlu membuktikan bahwa “Anak Allah” itu
sebuah gelar ilahi. Dengan meneliti bukti dalam Matius, paling
banyak dapat ditunjukkan bahwa itu adalah sebuah gelar
kehormatan dan pengagungan rohani. Kita sama sekali tidak dapat
membuktikan keilahian gelar “Anak Allah” dalam arti merujuk
kepada Allah atau kepada pribadi lain yang setara dengan Dia. Di
Ucapan Bahagia Yesus menyatakan, “Berbahagialah orang yang
membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”
(Mat.5:9). Perhatikan bahwa dari sembilan contoh, di mana gelar
“Anak Allah” dikenakan kepada Yesus, dua contoh yang pertama
adalah perkataan Iblis yang terkenal “jika engkau adalah Anak
Allah” yang diucapkan pada waktu Pencobaan (Mat.4:3,6); contoh
yang berikutnya diucapkan oleh dua laki-laki yang kerasukan setan
di Matius 8:29; tiga contoh lainnya dipakai dalam bentuk cemoohan
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 99

di bibir musuh-musuhnya (26:63; 27:40,43). Hanya dua kali gelar itu
keluar dari bibir murid-muridnya (14:33; 16:16); dan terakhir, dari
mulut kepala pasukan pada saat penyaliban Yesus (27:54).
Yesus tidak pernah memakai gelar ini untuk dirinya sendiri
dalam Injil Matius; dan dari total sepuluh kali hanya dua yang
diterapkan pada Yesus oleh murid-muridnya, yang tampaknya
menunjukkan bahwa gelar ini bukan gelar pilihannya. Di Matius
14:33 para pengikutnya menyatakan bahwa ia adalah anak Allah
setelah peristiwa meredakan badai; Petrus mengakui dia sebagai
“Mesias, Anak Allah yang hidup” (16:16) di mana “Anak Allah”
merujuk kepada “Mesias”, sebagaimana halnya dengan nas paralel di
Lukas 9:20; imam besar mendesak Yesus untuk menyatakan di
bawah sumpah apabila ia adalah “Mesias, Anak Allah” (26:63), tetapi
Yesus tetap menolak memberikan jawaban langsung, menyebut
dirinya seperti biasa dengan gelar “Anak Manusia” (ay.64); dua kali
Yesus diejek sebagai “Anak Allah” sementara ia tergantung di atas
kayu salib (27:40,43).
Contoh terakhir keluar dari mulut kepala pasukan Romawi dan
beberapa prajuritnya ketika mereka mengalami gempa bumi pada
saat kematian Yesus dan mengakui dia sebagai sang (atau, seorang)
Anak Allah (Mat.27:54). Apakah yang dimaksudkan oleh para
prajurit Romawi dengan istilah itu? Nas paralelnya di Injil Lukas
memberikan sebuah jawaban: “Ketika kepala pasukan melihat apa
yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: “Sungguh, orang ini
adalah orang benar” (Luk.23:47).
Dengan demikian, kesimpulan dari survei dalam Injil Matius ini
tidak memberikan bukti bahwa Anak Allah merujuk kepada suatu
makhluk ilahi yang berada pada kedudukan yang setara dengan
Allah. Pertimbangan yang seksama atas bukti yang ada
menunjukkan tidak adanya dasar untuk mengklaim bahwa Matius
28:19 mendukung doktrin Trinitas.
100 The Only True God

Hal yang jelas ditunjukkan oleh rumus pembaptisan itu adalah
bahwa Bapa merupakan sumber keselamatan kita, dan Anak adalah
dia yang melaluinya keselamatan dibuat tersedia bagi umat manusia
dan, yang ketiga, Roh Allah Yahweh terlibat di dalam seluruh proses
keselamatan kita. Analisa ini didasari oleh prinsip fundamental yang
dinyatakan dengan gamblang di 1Korintus 8:6, “namun bagi kita
hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa kita, yang dari Dia berasal
segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tu[h]an saja,
yaitu Yesus Kristus, yang melalui dia segala sesuatu telah dijadikan
dan yang karena dia kita hidup.” Semuanya berasal dari Bapa,
melalui Anak, oleh Roh Allah. Inilah prinsip yang terlihat di seluruh
PB.

2Korintus 13:13
Hal yang sama berlaku untuk 2Korintus 13:13: “Anugerah Tu[h]an
Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus
menyertai kamu sekalian”. Dalam penulisan Paulus, “Tu[h]an Yesus
Kristus” bukanlah sebuah gelar yang menempatkan dia setara
dengan Allah, tetapi berbeda dari “satu Allah” itu sebagaimana
terlihat di 1Korintus 8:6, di mana ia menyatakan bahwa bagi kita
hanya ada “satu Allah saja, yaitu Bapa, dan satu Tu[h]an saja, yaitu
Yesus Kristus” atau, dengan memakai kata-kata dari 1Timotius 2:5,
“Karena Allah itu esa dan esa pula pengantara antara Allah dan
manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”.
2Korintus 13:13 tidak bernilai untuk trinitarianisme karena baik
“Bapa” maupun “Anak” tidak disebut. Fakta bahwa Yesus disebut
sebelum Allah menunjukkan bahwa “anugerah” dan “kasih” di sini
ada hubungannya dengan keselamatan, karena tak seorang pun
datang kepada Bapa kecuali melalui Kristus (Yoh.14:6); karena Allah
dalam hikmat-Nya yang kekal telah memutuskan bahwa “di bawah
kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 101

yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis.4:12). Dalam
pengalaman keselamatan, kita datang kepada Kristus terlebih dulu,
dan melalui dia kita mengalami kasih Allah, dan kemudian barulah
kita mengalami Roh-Nya bekerja dalam hidup kita.
Lagipula, Paulus tidak tahu apa-apa tentang trinitarianisme;
penegasannya tentang “satu Allah” (Rm.16:27; Rm.3:30; 1Kor.8:6;
8:4; Ef.1:3; 3:14; 4:6; 1Tim.1:17; 2:5, dst.) membuktikan bahwa
imannya dengan teguh berakar dalam monoteisme PL yang tak
kenal kompromi.
Yesaya 45 merupakan salah satu pasal yang menyatakan mono-
teisme yang tak kenal kompromi ini. Sewaktu berhadapan dengan
pemujaan berhala bangsa Israel, Yahweh mendeklarasikan sebanyak
tiga kali dalam dua ayat (ay.21,22) bahwa Ia adalah satu-satunya
Allah yang ada:
20
“Berhimpunlah dan datanglah, tampillah bersama-sama, hai
kamu sekalian yang terluput di antara bangsa-bangsa! Tiada
berpengetahuan orang-orang yang mengarak patung dari kayu
dan yang berdoa kepada allah yang tidak dapat
menyelamatkan.
21
Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah
mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang
mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan
memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku,
TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari
pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang
lain kecuali Aku!
22
Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu
diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan
tidak ada yang lain.”
102 The Only True God

Keakraban Rasul Paulus dengan pasal ini tercermin dari surat-surat-
nya: Kol.2:3 – Yes.45:3; Rm.9:20 – Yes.45:9; 1Kor.14:25 – Yes.45:14;
Rm.11:33 – Yes.45:15; dan Rm.14:11; Flp.2:10-11 – Yes.45:23.

Gelar “Tu[h]an Yesus Kristus”

G elar ini cukup dipastikan berasal dari pengajaran gereja paling
mula-mula. Gelar ini muncul dalam pesan yang dikhotbahkan
oleh Petrus setelah Pentakosta di Kisah Para Rasul 2:36, “Jadi
seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah
membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tu[h]an dan
Kristus.” Perhatikan ketiga kata dalam huruf miring yang jika
digabungkan membentuk gelar “Tu[h]an Yesus Kristus”.
Jadi gelar ini bukanlah ciptaan Paulus tetapi merupakan salah
satu anugerah yang telah ia “terima” (1Kor.15:3). Dari Kisah 2:36
kita melihat bahwa Allahlah yang membuat Yesus menjadi
“Tu[h]an”; oleh karena itu tidak ada soal tentang kesetaraan hakiki
dengan Allah. Oleh sebab itu, 2Korintus 13:13 tidak bisa dipakai
untuk menyangga doktrin Trinitas. Hal yang ditegaskan secara
konsisten dalam surat-surat Paulus adalah bahwa Allah mengerjakan
penebusan kita di dalam dan melalui Kristus, dan mengerjakan
pengudusan kita di dalam dan melalui Roh.

Yesus tidak pernah mengklaim gelar “Allah” untuk
dirinya sendiri

S ebelumnya kita telah mencatat pernyataan yang dibuat oleh Dr.
H.A.W. Meyer: “Ia (Yesus) tidak pernah diketahui mengklaim
nama θεός (theos, Allah) baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk
Roh Kudus”. Tidak ada sarjana Alkitab yang mempertanyakan kebe-
naran dari ketegasan ini, karena ia dengan tepat mencerminkan
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 103

kebenaran Alkitabiah tentang perkara ini. Kebenaran ini sangat
penting untuk dengan tepat memahami Yesus dan pengajarannya.
Namun jika Yesus sendiri tidak pernah mengklaim dirinya
sebagai Allah, umat Kristen tetap saja bersikeras memanggilnya
“Allah” sekalipun hal ini bertentangan dengan sikap dan pengajaran
Yesus sendiri, dan khususnya bertentangan dengan monoteisme
Yesus sendiri. Seperti orang-orang di Yohanes 6 yang ingin
menjadikan Yesus raja secara paksa, umat Kristen menjadikan dia
Allah secara paksa. Ini tidak dilakukan oleh Yohanes atau oleh
“komunitas Yohanein”.
Ketika membahas pesan Yesus dalam Injil Yohanes, teolog
sistematik Jerman Karl-Josef Kuschel bertanya, “Apakah Yesus
mengabarkan bahwa ia adalah Allah? Apakah murid-murid Yesus
menuhankan pahlawan mereka?” Atas pertanyaan-pertanyaan ini ia
menjawab:

‘Pertama, tidak mungkin ada pertanyaan apakah teks
menunjukkan bahwa Yesus menuhankan dirinya sendiri di
sini. Yesus tidak pernah menyatakan dirinya sebagai “Allah”,
tetapi sebaliknya dimengerti oleh komunitas pasca Paskah,
dalam “Roh”, sebagai firman Allah dalam sebuah pribadi…
Yang kedua, para murid Yesus pun tidak pernah mengklaim
bahwa Yesus adalah Allah; mereka juga tidak menuhankan
pahlawan mereka. Tidak di manapun juga Kristus Yohanein
pernah muncul sebagai Allah kedua di samping Allah. Dalam
Injil Yohanes pun, dapat dianggap pasti bahwa Allah (ho
theos) adalah sang Bapa, dan sang Anak adalah yang telah ia
utus, pewahyu-Nya: “Bapa lebih besar daripada Aku”
(Yoh.14:28). Pengakuan Tomas yang terkenal, “Tu[h]anku
dan Allahku” (Yoh.20:28), juga harus dipahami dalam
pengertian ini; yang mencerminkan bahasa doa (!), yang
dengan jelas merujuk kepada Kristus yang telah bangkit dan
yang mengandaikan pengutusan Roh (Yoh.20:22). Isinya tidak
104 The Only True God

menyatakan perubahan apapun atas pernyataan-pernyataan
kristologis yang sebelumnya (yang mengarah kepada,
misalnya, penuhanan Kristus atau penggantian Allah oleh
Kristus), melainkan sebuah konfirmasi atas apa yang
diperkenalkan dalam prolog dan yang juga akan dinyatakan di
bagian akhir dari surat 1Yohanes (5:20), bahwa “Allah
sungguh-sungguh telah menjadi kelihatan dalam rupa Yesus”
(H.Strathmann), bahwa “Yesus itu transparan kepada sang
Bapa sebagai pewahyu-Nya” (Rahner dan Thuesing, A New
Christology, 180. Tentang Yohanes 1:1, Thuesing (ibid.)
dengan meyakinkan menyatakan bahwa “Logos” di sini bukan
mode subsistensi kedua dari Trinitas, tetapi firman Allah yang
memberi pewahyuan’.)’ (K-J Kuschel, Born Before All Time?
hlm.387 dyb.)

Namun Yesus bukan saja tidak pernah mengklaim dirinya sebagai
Allah, ia malah enggan berbicara tentang dirinya sebagai Mesias di
depan umum. Fakta ini jelas nyata dalam kitab-kitab Injil. Sarjana
Jerman Wrede menyebutnya “rahasia Mesianik” (“the Messianic
secret”), dan “rahasia” ini menjadi topik dari begitu banyak diskusi
terpelajar dalam buku-buku dan artikel-artikel. Hal yang perlu kita
perhatikan di sini adalah jika Yesus menolak mengakui kemesiasan-
nya di depan umum, terlebih lagi ia tidak akan membuat klaim
apapun sebagai Allah!
Namun orang Kristen, sementara mengakui bahwa Yesus tidak
pernah menerapkan kata “Allah” kepada dirinya sendiri, memperde-
batkan bahwa beberapa ucapannya mengandung klaim implisit
terhadap keilahian. Satu pernyataan seperti itu yang mereka petik
ialah: “Aku dan Bapa adalah satu”. Jika kita setia kepada sikap Yesus
yang menolak mengklaim status ilahi, maka jelaslah bila setiap inter-
pretasi atas kata-kata Yesus harus mengesampingkan klaim implisit
atau klaim halus sebagai Allah. Jika kita dapat sekali saja melepaskan
kebiasaan membacakan penafsiran trinitaris kita ke dalam teks yang
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 105

kita baca dalam kitab-kitab Injil, kita akan melihat bahwa “kesatuan”
dengan Allah yang dibicarakan oleh Yesus bukanlah kesatuan
eksklusif antara dia dengan Bapa, tetapi suatu kesatuan yang
mencakup semua orang beriman; dan justru kesatuan yang inklusif
dari semua orang beriman dengan dirinya dan dengan Allah inilah
yang didoakan oleh Yesus di Yohanes 17:11,22: “supaya mereka
menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” Jika kesatuan dengan
Allah berkaitan dengan menjadi Allah, maka semua orang beriman
akan menjadi Allah melalui kesatuan ini!

Antikristus: satu-satunya pribadi di Perjanjian Baru yang
mengklaim dirinya sebagai Allah
Yesus tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Allah; hanya ada satu
pribadi saja yang disebut dalam Perjanjian Baru yang akan membuat
klaim ini: antikristus, si “manusia durhaka” (“Man of Lawlessness”).
Mengapa umat trinitarian bersikeras mengatakan bahwa Yesus
mengklaim dirinya sebagai Allah (konon dengan pernyataan-
pernyataan “Akulah”, yang akan kita bahas di bawah ini), padahal ia
sama sekali tidak membuat klaim seperti itu? Di 2Tesalonika 2:3,4
dikatakan tentang “manusia durhaka” (ay.3), bahwa ia akan
“menyatakan diri sebagai Allah”—seorang manusia yang mempro-
klamirkan dirinya sebagai Allah adalah tanda utama yang digunakan
oleh mereka yang sudah pernah diajar untuk mengenali dia (ay.4).
Apakah kita sungguh-sungguh ingin mengklaim bahwa sebenarnya
inilah yang dilakukan oleh Kristus sendiri, dan “manusia durhaka”
itu akan menirunya?
Jika Kristus tidak pernah membuat klaim semacam itu, maka
kepalsuan klaim dari “manusia durhaka” itu akan dengan mudahnya
terekspos. Namun, jika orang banyak sudah menerima klaim
trinitaris bahwa Yesus mengklaim dirinya sebagai Allah (atau
sekalipun jika ia tidak membuat klaim tersebut, bagaimanapun juga
106 The Only True God

dalam kenyataannya ia adalah Allah), maka tidaklah mengherankan
bila banyak orang akan beranggapan bahwa antikristus ini, yang
pada akhir zaman mengklaim dirinya sebagai Allah, bisa jadi adalah
Kristus yang telah datang kembali, dan oleh karenanya ditipu oleh
antikristus. Harus diingat bahwa antikristus jelas tidak akan
menyatakan dirinya sebagai “manusia durhaka” atau “pembinasa
keji”, melainkan sebagai Kristus sejati, sang juruselamat dunia, yang
membawa “perdamaian dan keamanan” (1Tes.5:3) ke dunia ini.
Sekarang mari kita lihat lagi 2Tesalonika 2:4: “yaitu lawan yang
meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah
sebagai Allah hingga ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan
diri sebagai Allah.” Perhatikan bahwa antikristus menentang semua
allah lain, sehingga meninggikan dirinya sebagai satu-satunya
sasaran penyembahan yang benar—sekali lagi hal yang tidak pernah
dilakukan oleh Yesus, tetapi sebaliknya, pada waktu pencobaan ia
sudah menyatakan (Mat.4:10), “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis:
‘Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia
sajalah engkau berbakti!’ (Ul.6:13)”. Betapa besar perbedaannya
dengan antikristus!
Perhatikan juga bahwa “ia duduk di Bait Allah” (ay.4) yang, tentu
saja, menegaskan klaimnya sebagai Allah; karena jika ia adalah Allah
maka di mana lagi tempat duduknya kalau bukan di dalam bait
Allah? Dari semua ini kita bisa melihat dengan mudah bahwa jika
Kristus mengklaim dirinya sebagai Allah, dan antikristus pun
berbuat hal yang sama seperti dia, maka tanda pengenal utama dari
antikristus akan hilang. Lalu bagaimana antikristus bisa dikenali bila
ia datang, terutamanya bila kedatangannya akan disertai oleh
“tanda-tanda dan mujizat-mujizat” yang dahsyat? 2Tesalonika 2:9:
“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan
disertai berbagai perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat
palsu”.
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 107

Musuh-musuh Yesus menuduhnya mengklaim
kesetaraan dengan Allah
Ada dua nas utama dalam Injil, keduanya di Injil Yohanes, yang
mencatat bahwa musuh-musuh Yesus menuduhnya telah secara
tidak langsung mengklaim kesetaraan dengan Allah. Keduanya
merupakan “nas konflik” yang mengungkapkan sikap permusuhan
dari para musuh Yesus dengan membuat tuduhan serius bahwa
Yesus menyiratkan bila ia memiliki kesetaraan dengan Allah. Tentu
saja, itu adalah tuduhan sebesar tuduhan menghujat, yang menurut
Hukum Yahudi diganjar dengan hukuman mati. Begitulah besarnya
permusuhan mereka terhadap dia karena tidak menaati hukum
Taurat sesuai pandangan mereka, khususnya aturan hari Sabat,
sehingga mereka berupaya mencari jalan untuk membunuhnya.
Inilah konteks tuduhan penghujatan yang dilemparkan kepada-
nya. Kita sudah berulangkali memperhatikan bahwa Yesus tidak
pernah mengklaim kesetaraan dengan Allah. Sebaliknya, ia sangat
menekankan ketergantungan dan ketundukannya kepada Allah.
Tidak ada Injil yang menonjolkan pengajarannya tentang hal ini
dengan lebih kuat selain Injil Yohanes. Maka seharusnya jelas bagi
siapa saja yang tanpa prasangka membaca Injil Yohanes bahwa
tuduhan menyetarakan dirinya dengan Allah, yang merupakan
penghujatan, adalah tuduhan yang nyata-nyata palsu yang dirancang
untuk memastikan kematiannya sebagaimana dinyatakan dengan
gamblang di Yohanes 5, bahwa para musuhnya “makin berusaha
untuk membunuhnya” (ay.18). Namun hal yang paling anehnya,
dari sudut pandang eksegesis Alkitabiah, para trinitarian
menganggap tuduhan palsu itu benar! Bagaimanapun juga, inilah
yang dituntut oleh dogma trinitaris. Mereka tidak terlalu peduli
apakah Yesus sendiri menerima tuduhan itu atau tidak. Jawabannya
atas tuduhan tersebut cukup jelas untuk dilihat oleh semua orang.
108 The Only True God

Yohanes 5
15
Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada para pemuka
Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia.
16
Karena itu, para pemuka Yahudi berusaha menganiaya
Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.
17
Tetapi ia berkata kepada mereka: “Bapaku bekerja sampai
sekarang, maka akupun bekerja juga.”
18
Sebab itu, para pemuka Yahudi makin berusaha untuk
membunuhnya, bukan saja karena ia melanggar peraturan
Sabat, tetapi juga karena ia mengatakan bahwa Allah adalah
Bapanya sendiri dan dengan demikian menyamakan dirinya
dengan Allah.
19
Lalu (oun, ‘oleh karena itu’) Yesus menjawab mereka,
“Sesungguhnya aku berkata kepadamu, Anak tidak dapat
mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri, jikalau ia tidak meli-
hat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu
juga yang dikerjakan Anak.”

Lalu apa tanggapan Yesus atas gugatan yang dituduhkan kepadanya
bahwa ia “menyamakan dirinya dengan Allah” (ay.18)? Hanya
kebutaanlah yang menghalangi kita dari melihat bahwa jawabannya
adalah penolakan mentah-mentah atas tuduhan kesetaraan karena,
sebaliknya, “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari dirinya
sendiri”; ia mengikuti Bapa dengan sepenuhnya, sebab ia melakukan
“hanya” “apa yang dikerjakan Bapa”. Bagaimanakah mungkin suatu
penolakan atas tuduhan kesetaraan dapat dibuat lebih kuat dari ini?
Berhubungan dengan Allah sebagai Bapa sesungguhnya adalah
unsur utama dalam kehidupan dan pengajaran Yesus. Sejak awal
dalam pelayanannya ia mengajari murid-muridnya untuk berbicara
kepada Allah sebagai “Bapa”, mengajari mereka untuk berdoa, “Bapa
kami di surga”. Ini juga bukan sesuatu yang sama sekali unik untuk
Yesus seolah-olah itu suatu bentuk panggilan yang belum dikenal
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 109

untuk Allah; frasa ini muncul dalam PL: Yesaya 64:8, “Tetapi seka-
rang, ya TUHAN (Yahweh), Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah
liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah
buatan tangan-Mu”, dan “Aku telah menjadi bapa Israel”, Yer.31:9;
bdk. Mal.1:6. Dan Israel berkali-kali disebut sebagai “anak” Allah
(Kel.4:22,23; Ul.14:1 “anak-anak” dalam teks Ibrani dan Yunani;
demikian juga Yes.1:2).
Allah adalah “Bapa kami” secara kolektif, maka Ia pun “Bapaku”
secara individu; karena bagaimana mungkin Dia dapat disebut
“Bapa kami” jika Dia bukan “Bapaku”? Jadi, Yesus yang menyebut
Allah sebagai “Bapanya” seharusnya tidak menjadi isu untuk orang
Yahudi, selain daripada anggapan bila ia terlalu menekankan bentuk
sapaan untuk Allah ini dalam cara yang bagi mereka dirasakan
terlalu intim sehingga tidak takzim. Namun, ini tidak layak disebut
mengklaim kesetaraan dengan Allah, yang berarti penghujatan. Ini
semua menunjukkan dengan amat nyata bahwa seluruh episode ini
adalah suatu usaha dari para pemimpin bangsa itu untuk dengan
segala cara mengarang tuduhan palsu terhadap Yesus agar ia
dijatuhkan hukuman mati, dan mengenyahkan orang yang mereka
anggap pembuat keonaran besar, sebuah duri dalam daging.

Yohanes 10
27
Domba-dombaku mendengarkan suaraku dan aku
mengenal mereka dan mereka mengikut aku,
28
dan aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan
mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan
seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganku.
29
Bapaku, yang memberikan mereka kepadaku, lebih besar
dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut
mereka dari tangan Bapa.
30
Aku dan Bapa adalah satu.”
110 The Only True God

31
Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk
melempari Yesus.
32
Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang
berasal dari Bapaku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan
manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau
melempari aku?”
33
Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu
pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan
karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun
hanya seorang manusia saja, menjadikan dirimu Allah.”
34
Kata Yesus kepada mereka: “Bukankah ada tertulis dalam
kitab Tauratmu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah?
[Mzm.82:6]
35
Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan,
disebut allah sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan,
36
masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh
Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau
menghujat Allah! Karena aku telah berkata: Aku Anak Allah?
37
Jikalau aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapaku,
janganlah percaya kepadaku,
38
tetapi jikalau aku melakukannya dan kamu tidak mau
percaya kepadaku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu,
supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di
dalam aku dan aku di dalam Bapa.”

Usaha yang kedua kalinya ini untuk mendakwakan tuduhan
penghujatan terhadap Yesus berangkat dari kegagalan mereka dalam
memahami kata-kata Yesus “Aku dan Bapa adalah satu” (ay.30).
Seperti para trinitarian, entah bagaimana, mereka membaca adanya
klaim kesetaraan dengan Allah di dalam kata-kata ini, meskipun
Yesus telah mengatakan segera sebelum itu bahwa “Bapaku lebih
besar daripada siapapun” (ay.29). Apakah kita mengira “siapapun”
di sini tidak termasuk Yesus sendiri? Bukankah maknanya cukup
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 111

jelas: Tak ada seorang pun yang lebih besar daripada Bapaku? Atau
dengan memakai kata-kata Paulus, Bapa adalah Allah “yang ada di
atas segala sesuatu, yang harus dipuji sampai selama-lamanya”
(Rm.9:5). Dengan menyatakan bahwa “Bapa”, bukan Anak, “lebih
besar daripada siapapun” berarti Yesus telah menutup segala klaim
terhadap kesetaraan. Ia menaruh perkara ini di tempat yang tidak
bisa diperdebatkan lagi ketika menyatakan, “Bapa lebih besar
daripada aku” (Yoh.14:28).
Perhatikan bahwa seluruh isu dalam bagian teks ini dari Yohanes
10 berkisar seputar penghujatan: “Bukan karena suatu pekerjaan
baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau
menghujat Allah, karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia
saja, menjadikan dirimu Allah” (ay.33); dan lagi, “Engkau menghujat
Allah” (ay.36), semuanya itu dengan niat yang dinyatakan di depan
umum untuk melempari dia dengan batu sampai mati. Yesus
menolak tuduhan mereka justru karena, bertentangan dengan
tuduhan mereka, ia tidak pernah membuat klaim kesetaraan dengan
Allah.
Yesus menjelaskan apa yang dimaksud dengan “Aku dan Bapa
adalah satu” dengan kata-kata berikut, “supaya kamu boleh
mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam aku dan aku di
dalam Bapa” (ay.38). Namun, penjelasan ini barangkali kurang
terang untuk mereka, setidaknya sampai mereka mendengar
pengajarannya di Yohanes 15:1 dyb. berkenaan dengan kesatuan
hidup dengan Bapa yang mencakup para murid.
Yesus juga menjelaskan bahwa dengan mengatakan “Aku adalah
Anak Allah” ia menunjuk kepada dirinya sebagai dia “yang
dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia”
(ay.36) dan hal ini, sebagaimana ditunjukkan olehnya, tidak bisa
didakwa sebagai penghujatan. Sebab dalam sejarah Israel ada orang-
orang lain yang juga telah dikuduskan dan diutus oleh Allah kepada
umat-Nya, terutamanya Musa. Akan tetapi, hukum Taurat bahkan
112 The Only True God

menyebut para pemimpin yang lebih kecil daripada Musa sebagai
“para allah” karena mereka bertindak sebagai wakil Allah di bawah
wewenang firman-Nya. Dengan demikian Yesus menunjukkan
dengan jelas dan tajam bahwa tuduhan mereka sama sekali tidak
berdasar.

”Anak Allah”

I stilah “anak Allah” bukanlah hal baru bagi umat Yahudi. Istilah
ini ditemukan dalam PL, di mana Israel disebut “anak” Allah
(Kel.4:2,23; Yes.1:2; Yer.31:9; Hos.11:1, bdk. Mat.2:15). Jadi, apa
sebenarnya maksud tuduhan yang dibuat-buat ini? Sederhananya
begini: Yesus dituduh telah memakai istilah “anak Allah” bukan
menurut pengertian konvensional tetapi sebagai klaim kesetaraan
dengan Allah—klaim yang menghujat dan ganjarannya adalah
hukuman mati menurut hukum Taurat (Yoh.19:7). Luar biasanya,
trinitarianisme sependapat dengan musuh-musuh Yesus bahwa ia
membuat klaim tersebut! Berdasarkan tuduhan palsu inilah Yesus
dihukum mati melalui penyaliban (Yoh.19:6, juga ay.15 dyb.
Mrk.14:64; Mat.26:65,66). Namun menurut trinitarianisme, tuduhan
terhadap Yesus yang mengklaim kesetaraan dengan Allah itu benar;
jika memang demikian, maka menurut hukum Yahudi ia pantas
disalib, karena klaim Yesus tidak memberikan pilihan lain kepada
Sanhedrin (yakni Mahkamah Agama, badan hukum tertinggi di
Israel) selain menghukum mati Yesus.
Namun cerita-cerita Injili tentang pengadilan Yesus jelas menun-
jukkan bahwa Yesus dihukum dan dieksekusi atas dasar tuduhan-
tuduhan palsu yang dibuat oleh saksi-saksi palsu. Kitab-kitab Injil
tidak ada yang menegaskan bila Sanhedrin berbuat hal yang benar
menurut hukum Taurat. Matius menyatakan hal tersebut dengan
sangat jelas:
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 113

59
Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama
mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya ia dapat dihu-
kum mati, 60 tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun
tampil banyak saksi dusta. (Mat.26:59,60a)

Seharusnya jelas nyata bagi setiap orang yang perseptif bahwa jika
Yesus memang telah mengklaim kesetaraan dengan Allah, maka apa
gunanya mencari bukti palsu dan saksi-saksi palsu? Bahkan saksi-
saksi palsu tidak berhasil mengarang suatu perkara yang
meyakinkan sebagaimana ditunjukkan oleh Matius 26:60 dyb.
Akhirnya, karena frustasi tidak bisa menemukan tuduhan sah atas
Yesus, mereka menuduhnya telah menghujat oleh karena klaimnya
sebagai Mesias—yang di bawah hukum Taurat tidak diganjar dengan
hukuman mati! Berikut ini adalah adegannya sebagaimana
dilukiskan dalam Injil Matius (pasal 26):

62
Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepadanya:
“Tidakkah engkau memberi jawaban atas tuduhan-tuduhan
saksi-saksi ini terhadap engkau?”
63
Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-
nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah
engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.”
64
Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi,
aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat
Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan
datang di atas awan-awan di langit.”
65
Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia
menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang
telah kamu dengar hujatnya.
66
Bagaimana pendapat kamu?” Mereka menjawab: “Ia harus
dihukum mati!”
Perhatikan bahwa Yesus diminta untuk mendeklarasikan di bawah
sumpah apakah ia “Kristus”, yaitu Mesias, Anak Allah (ini adalah
114 The Only True God

gelar lain untuk Mesias, yang akan dibahas dengan lebih menye-
luruh berikut ini). Mengapa imam besar itu tidak menanyakan saja
kepadanya apakah ia mengklaim kesetaraan dengan Allah, yang
memang telah dituduhkan kepadanya di depan umum? Jawabannya
mudah, sebagaimana telah kita lihat, mereka tidak bisa
melemparkan tuduhan ini kepada Yesus meskipun dengan memakai
saksi-saksi palsu; jadi jelaslah bahwa ia tidak pernah membuat klaim
semacam itu, dan akan menyangkalnya lagi jika ditanyai.
Luar biasanya, bahkan untuk pertanyaan apakah ia Mesias Yesus
pun menolak memberikan jawaban langsung, menjawab hanya
dengan “Engkau telah mengatakannya”, yakni, itu adalah kata-
katamu, bukan kata-kataku. Dan berpaling dari gelar “Anak Allah”
ia malah merujuk dirinya dengan gelar yang lebih disukainya, yaitu
“Anak Manusia” (ay.64), yang menunjuk kepada nubuatan mesianik
di Daniel 7:13: “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu,
tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak
manusia”. Bagaimana tepatnya ini bisa menjadi hujatan di bawah
Hukum Yahudi tidak jelas sama sekali, dan berjilid-jilid diskusi
terpelajar tentang pengadilan Yesus tersedia bagi mereka yang ingin
mengejar perkara ini lebih jauh. Namun yang jelas Sanhedrin
bertekad untuk membunuh Yesus dengan atau tanpa bukti yang
diperlukan.
Hal yang penting untuk tujuan kita adalah menunjukkan dari
cerita-cerita Injili bahwa dakwaan-dakwaan yang dituduhkan
kepada Yesus bahwa ia mengklaim kesetaraan dengan Allah tidak
bisa bertahan sekalipun dalam persidangan yang bersikap sangat
bermusuhan dengannya, yakni Sanhedrin. Di dalam cahaya kisah-
kisah Injil, tidak bisa dimengerti bagaimana para trinitarian bisa
mengabaikan bukti dari kitab-kitab Injil dan bersikeras bahwa Yesus
memang mengklaim kesetaraan dengan Allah.
Tentu saja Yesus mengklaim keintiman istimewa dengan Allah
sebagai Bapa karena Logos Allah berinkarnasi di dalam dia
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 115

(Yoh.1:14); tetapi yang menjadi tujuannya, baik melalui kehidupan
ataupun kematiannya, adalah untuk membawa murid-muridnya ke
dalam keintiman (atau kesatuan) yang serupa dengan Bapa, sehingga
mereka pun akan mengenal Dia sebagai Bapa dan hidup dalam
hubungan Bapa-anak dengan-Nya; ini adalah unsur sentral
pengajaran Yesus dalam Injil Yohanes.
Pelayanan Yesus dimaksudkan untuk membawa para murid
(“yang Bapa berikan kepadaku”) ke dalam hubungan yang serupa:
“Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau
berikan kepadaku [kemuliaan apa lagi selain kemuliaan keputraan?],
supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di
dalam mereka dan Engkau di dalam aku supaya mereka menjadi
satu dengan sempurna,” Yoh.17:22,23; bdk.14:20). Pelukisan
hubungan rohaniah yang begitu mendalam dalam arti menjadi satu
dengan Allah dipakai untuk menjebaknya dengan tuduhan
menyetarakan dirinya dengan Allah.

Arti “Anak Allah” yang diterapkan kepada Yesus

K ita sudah melihat bahwa Yesus tidak pernah mengklaim
sebagai Allah dalam semua kitab Injil, dan kata “Allah” tidak
dipakai untuk mengacu kepadanya di bagian PB selebihnya (kecuali
dalam beberapa terjemahan modern, dalam dua atau tiga ayat, kata
“Allah” mengacu kepada Yesus; kita akan memeriksa terjemahan-
terjemahan itu nanti). Kita pun telah melihat bahwa istilah trinitaris
“Allah-Anak” tidak ditemukan di manapun juga dalam Alkitab. Jadi,
dari mana datangnya istilah ini? Jawaban singkatnya, tentu saja,
istilah ini sebuah ciptaan trinitaris. Istilah ini menjadi populer
karena kemiripannya yang menyesatkan dengan gelar “anak Allah”
yang memang muncul dalam PB; dalam benak orang-orang yang
tidak terlalu tajam pemikirannya, kedua istilah ini dapat dengan
mudah menjadi rancu dalam bahasa Inggris. “God the son” (“Allah-
116 The Only True God

Anak”) membalikkan “the son of God” (“anak Allah”) dengan
membuang kata “of”. Perubahan-perubahan penting ini kelihatan-
nya sepele, terutama untuk bahasa (seperti bahasa Mandarin) yang
sintaksisnya memerlukan pembalikan susunan kata dalam proses
penerjemahan. Hal ini mungkin juga terjadi dalam bahasa Inggris
jika “the son of God” diterjemahkan sebagai “God’s son”; itulah
caranya istilah tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin.
Namun semirip-miripnya “God’s son” dengan “God the son”, makna
keduanya sama sekali berbeda. Tepatnya perbedaan inilah yang
dengan mudahnya dilewatkan (terutama oleh orang Kristen rata-
rata), sehingga menghasilkan kesalahan serius.
Apa arti “Anak Allah” di dalam PB? Sekilas pandang bukti
Alkitabiah menunjukkan bahwa itu adalah sebuah gelar Mesias, Raja
Israel yang dinanti-nantikan, yang juga akan menjadi “juruselamat
dunia” (Yoh.4:42; 1Yoh.4:14). Ini sama sekali tidak ada sangkut-
pautnya dengan gagasan trinitaris akan suatu tokoh ilahi yang
disebut “Allah-Anak”. Gelar Alkitabiah ini diturunkan dari mazmur
Mesianik penting, Mazmur 2, di mana (ay.7) Yahweh berbicara
kepada raja Davidik, “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan
(yaitu Aku telah menjalin suatu hubungan denganmu seperti
hubungan antara Bapa dengan anak; dan semenjak saat itu Raja-
Mesias akan bertakhta di bumi dalam Nama Yahweh untuk
menaklukkan musuh-musuh kebenaran, bdk. Mzm.2:9; 110:1;
1Kor.15:25-28) pada hari ini (hari pengurapan dan penobatan)”.
Frasa Mesianik “Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”
menandakan asal mula frasa “Anak Tunggal Allah” (Yoh.1:18; 3:16)
yang sering dikutip oleh trinitarian tanpa mempedulikan asal
mulanya, dengan memaksakan makna dogmatis mereka sendiri
kedalamnya. Faktanya adalah Mazmur 2:7 berulang-kali diterapkan
kepada Yesus dalam Perjanjian Baru:
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 117

Kisah 13:33, “telah digenapi Allah kepada kita, keturunan
mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang tertulis
dalam mazmur kedua: Engkaulah Anak-Ku! Aku telah
menjadi Bapamu pada hari ini.”

Yang menarik dan signifikan tentang ayat ini adalah bahwa
kebangkitan Yesus dari antara orang mati dilihat sebagai titik
penggenapan Mazmur 2:7, titik di mana ia “diperanakkan” sebagai
“anak”, ketika ia diurapi dan dinobatkan sebagai raja.
Menariknya, ayat yang sama diterapkan kepada Yesus di Ibrani
5:5 sehubungan dengan penunjukannya sebagai Imam Besar supaya,
seperti Melkisedek (Ibr.7:1), ia menjadi raja dan juga imam:

Ibrani 5:5, Demikian pula Kristus tidak memuliakan dirinya
sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh
Dia yang berfirman kepadanya: “Engkaulah Anak-Ku! Engkau
telah menjadi Anak-Ku pada hari ini”…

Dari semua ini jelaslah bahwa “Anak Allah” merupakan sebuah gelar
dari sang Mesias dalam Alkitab, dan jangan dirancukan dengan
“Allah-Anak” trinitaris itu. Beberapa referensi tambahan sudah
cukup untuk menetapkan fakta ini:

Yohanes 1:34, “Aku telah melihatnya dan memberi kesaksian:
Ia inilah Anak Allah.”

Apa maksud Yohanes Pembaptis dengan gelar ‘Anak Allah’? Dari
ayat 41 (“Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)” murid-
muridnya jelas sekali memahami siapa yang dimaksudkannya.

Yohanes 1:49, Kata Natanael kepadanya: “Rabi, Engkau Anak
Allah, engkau Raja orang Israel!”
118 The Only True God

Kata-kata di atas menunjukkan bahwa untuk Natanael (dan umat
Yahudi umumnya), ‘Anak Allah’ berarti ‘Raja orang Israel’, satu lagi
gelar lain dari Mesias.
Kaitan antara Raja keturunan Daud yang dijanjikan itu, sang
Mesias, dengan gelar “Anak Allah” juga terlihat jelas dari nas berikut
ini di Matius 27:
41
Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli
Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan dia dan mereka
berkata:
42
“Orang lain ia selamatkan, tetapi dirinya sendiri tidak dapat
ia selamatkan! Jika ia Raja Israel, baiklah ia turun dari salib
itu, maka kami akan percaya kepadanya.
43
Ia mempercayakan dirinya pada Allah: Biarlah Allah men-
yelamatkan dia sekarang, jikalau Allah berkenan kepadanya!
Karena ia telah berkata: Aku Anak Allah.”
Hendaknya diingat bahwa nas di atas terdapat dalam Injil Matius,
bukan Injil Yohanes, jadi ‘Anak Allah’ di sini tidak mengandung
konotasi yang sama dengan yang terdapat dalam Injil Yohanes, dan
tentunya dalam Injil Matius sama sekali tidak ada pernyataan klaim
kesetaraan dengan Allah. Oleh sebab itu, kita harus menanyakan apa
yang dipahami oleh para imam kepala dan ahli Taurat dengan istilah
tersebut, dan mengapa mereka mengaitkannya secara sengaja
dengan ‘Raja Israel’, meskipun dalam ejekan? Sekali lagi, jawabannya
adalah: ‘Anak Allah’ dan ‘Raja Israel’ keduanya adalah gelar
mesianik. Namun, mereka menolak Yesus sebagai Mesias Israel;
mereka melihat dia sebagai Mesias palsu, dan karena itu, mereka
menganggap dia sangat berbahaya secara politik, sebagaimana
ditunjukkan oleh sambutan meriah orang banyak ketika Yesus
memasuki Yerusalem. Pemerintahan Romawi juga selalu takut akan
pemberontakan politik, jadi para pemimpin Yahudi memanfaatkan
rasa takut itu, dan mendesak mereka untuk menyalibkan Yesus.
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 119

Markus 15:32, “Baiklah Mesias (Kristus), Raja Israel itu, turun
dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya.” Bahkan kedua
orang yang disalibkan bersama-sama dengan dia mencela dia
juga.

Anak Allah, raja Mesianik Israel

B ahwa gelar “anak Allah” merupakan gelar yang terkenal bagi
sang Mesias terlihat dari ayat-ayat berikut yang menunjukkan
bahwa kedua gelar “Kristus” (atau “Mesias”) dan “anak Allah”
kerapkali dipakai bersama: Mat.16:16; 26:63; Mrk.1:1 (“anak Allah”
tidak ditemukan dalam dua teks Yunani purba yang penting, yang
disebut unsial); Luk.4:41; Yoh.11:27; 20:31; Rm.1:4; 1Kor.1:9;
2Kor.1:19; Gal.2:20; Ef.4:13; 1Yoh.5:20; 2Yoh.1:3,9—semuanya 14
kali (atau 13 jika Mrk 1:1 tidak termasuk).
Dari ayat-ayat ini, terutama ayat-ayat Injil di mana “Kristus” dan
“anak Allah” diucapkan bersama-sama sebagai dua bagian dari satu
gelar yang sama, semestinya amat jelas sekarang bahwa sang Mesias
disebut “anak Allah”, berdasarkan “anak-Ku engkau” di Mazmur 2:7
yang diucapkan kepada raja keturunan Daud. Mengenai ayat ini,
Robert Alter, Professor of Hebrew and Comparative Literature dari
University of California, Berkeley, baru-baru ini menulis, “adalah hal
biasa di Timur Dekat purba, hal yang mudah diadopsi oleh bangsa
Israel, untuk membayangkan raja sebagai anaknya Allah” (The Book
of Psalms, A Translation with Commentary, Norton, 2007; tentang
Mzm.2 sehubungan dengan gelar “anak Allah” lihat pembahasan
lebih lengkap di Lampiran 1).
Untuk mempertimbangkan arti gelar “anak Allah” dengan lebih
seksama, saya mengutip dari artikel James Stalker dalam
International Standard Bible Encyclopedia (ISBE):
120 The Only True God

Dalam Kitab Suci gelar itu diberikan kepada bermacam orang
untuk pelbagai alasan. Pertama, gelar itu diterapkan kepada
para malaikat, seperti di Ayub 2:1 dikatakan “datanglah anak-
anak Allah menghadap Yahweh”; mereka boleh jadi disebut
demikian karena mereka adalah makhluk ciptaan Allah, atau
karena, sebagai makhluk rohani, mereka menyerupai Allah
yang adalah roh. Yang kedua, di Lukas 3:38 gelar itu
diterapkan kepada manusia pertama; dan dari perumpamaan
Anak yang Hilang bisa diperdebatkan kalau gelar itu berlaku
kepada semua orang. Yang ketiga, gelar itu diterapkan kepada
bangsa Ibrani, seperti di Kel.4:22, Yahweh berkata kepada
Firaun, “Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung,”
alasannya karena Israel adalah sasaran dari kasih dan pilihan
Yahweh yang istimewa. Yang keempat, gelar itu diterapkan
kepada raja-raja Israel, sebagai perwakilan dari bangsa yang
terpilih. Dengan demikian, di 2Sam.7:14, Yahweh berkata
tentang Salomo, “Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan
menjadi anak-Ku”; dan, di Mzm.2:7, penobatan seorang raja
diumumkan dalam sebuah ramalan dari surga, yang berkata,
“Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.”
Akhirnya, dalam Perjanjian Baru, gelar tersebut diterapkan
kepada semua orang kudus, seperti di Yoh.1:12, “Tetapi semua
orang yang menerimanya diberinya kuasa supaya menjadi
anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namanya;”
Karena gelar itu memiliki jangkauan aplikasi seluas ini, maka
jelaslah bahwa Keilahian Kristus tidak dapat disimpulkan
hanya dari fakta bahwa ia diterapkan kepada Yesus’
(Penebalan huruf ditambahkan demi kejelasan; cetak miring
dari saya).

Akan tetapi, sebagai seorang trinitarian, Stalker tidak akan bersedia
untuk mengakui apa yang dinyatakan di kalimat terakhir dari
petikan ini. Sesungguhnya, sebagaimana dapat diduga, ia tidak akan
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 121

menyimpulkan artikelnya sampai ia bisa menemukan jalan untuk
membalikkan “anak Allah” menjadi “Allah-Anak”. Untuk mencapai
hal ini, banyak argumentasi semu yang menyertainya.
Dalam paragraf berikutnya, Stalker menulis (agaknya dengan
sedikit nada tidak setuju) “adalah wajar untuk berasumsi bila pene-
rapan gelar itu kepada Yesus berasal dari salah satu pemakaiannya
[empat] di Perjanjian Lama; dan yang hampir secara universal dite-
tapkan oleh kesarjanaan modern sebagai pemakaian yang keempat
yang disebut di atas—yaitu kepada raja-raja Yahudi.” Namun,
apakah Stalker bersedia mengambil pendirian (yang mustahil
baginya) bahwa gelar “anak Allah” sebagaimana diterapkan kepada
Yesus tidak berakar dalam PL? Karena terburu-buru ingin
membuktikan keilahian Kristus ia tidak memberitahu kita!
Sebagai contoh argumentasi semu saya hanya akan mengutip
yang berikut:

“Ketika Yesus membangkitkan pengakuan besar dari kedua
belas muridnya di Filipi Kaisaria, pengakuan itu diberikan
dalam bentuk sederhana oleh dua penulis Sinoptik,
‘Engkaulah Mesias!’ (Mrk.8:29; Luk.9:20); tetapi Matius
menambahkan, ‘Anak Allah yang hidup’ (Mat.16:16).
Kerapkali dikatakan bahwa paralelisme Ibrani memaksa kita
menganggap kata-kata ini hanya sebagai padanan untuk gelar
‘Mesias.’ Namun, ini bukan sifat dari paralelisme, yang
umumnya memasukkan ke dalam istilah kedua dari istilah
paralelnya sesuatu yang melebihi apa yang diungkapkan dalam
istilah pertama. Adalah cukup sesuai dengan sifat paralelisme
jika istilah kedua menyediakan alasan untuk istilah pertama.
Artinya, Yesus adalah sang Mesias oleh karena Ia adalah Anak
Allah.”

Argumentasi Stalker terdiri dari dua langkah. Pertama, ia membuat
pernyataan, “Kerapkali dikatakan bahwa paralelisme Ibrani
122 The Only True God

memaksa kita menganggap kata-kata ini hanya sebagai padanan
untuk gelar ‘Mesias’”. Stalker menerima paralelisme ini, tetapi itu
tidak membawanya terlalu jauh. Ia ingin mengatakan bahwa “Anak
Allah” berarti lebih dari “Mesias”. Seberapa lebihnya? Jelas, ia ingin
mengatakan bahwa gelar itu artinya “Allah-Anak”; dan sekalipun ia
tidak memakai istilah trinitaris ini, ia berulang-kali berbicara
tentang “keilahian” Kristus. Jadi, bagaimana membuat “Anak Allah”
berarti lebih dari “Mesias (Kristus)”? Itulah langkahnya yang
berikut.
Langkah Stalker yang kedua adalah mengklaim secara dogmatis
bahwa paralelisme Ibrani “umumnya memasukkan ke dalam istilah
kedua dari istilah paralelnya sesuatu yang melebihi apa yang
diungkapkan dalam istilah pertama”, tetapi gagal memperlengkapi
pembacanya dengan setidaknya satu referensi Alkitabiah untuk
memperkuat pernyataan tersebut. Bagaimanapun juga, ini adalah
sebuah “ensiklopedi”, jadi, tidaklah terlalu berlebihan untuk
mengharapkan adanya sebuah referensi pendukung.
Kita harus mempertanyakan keabsahan pemahaman Stalker akan
“sifat paralelisme (Ibrani)”. Pertama, dua gelar yang disebut secara
berturutan (seperti di Mat.16:16) tidak dengan sendirinya memben-
tuk “paralelisme”. Paralelisme adalah sebuah fitur dalam puisi
Ibrani, dan untuk membentuk paralelisme puitis memerlukan lebih
dari sekadar menempatkan dua gelar secara berturutan. Stalker
ternyata tidak pernah berkonsultasi kepada karya standar atas subjek
ini, seperti karya E.W. Bullinger, Figures of Speech used in the Bible
(hlm.349-362), yang dapat menyelamatkan dia dari konsepsi-kon-
sepsi yang salah tentang paralelisme Alkitabiah. Namun, sekalipun
tanpa mempelajari contoh-contoh dari paralelisme PL, seandainya
saja Stalker mengecek bukti PB akan gelar-gelar Yesus bila
digunakan secara berturutan, ia akan melihat bahwa tidak ada
“istilah kedua” yang melebihi “istilah pertama” untuk dibicarakan:
Dalam surat-surat Paulus, misalnya, gelar “anak Allah” disebut
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 123

sebelum gelar “Mesias (Kristus)”. Lihat contohnya di 2Korintus 1:19
(bdk. 1Kor.1:9; Ef.4:13), “Anak Allah, Yesus Kristus (Mesias)”; di
sini “Yesus sang Mesias” merupakan “istilah kedua”, yang menurut
Stalker mengungkapkan “sesuatu yang melebihi apa yang
diungkapkan dalam istilah pertama”, sehingga dengan demikian,
(menurut argumennya) akan berlawanan dengan Matius 16:16!
Artinya, berdasarkan argumen Stalker, Yesus sang Mesias berarti
sesuatu yang lebih dari dirinya sebagai “Anak Allah”!
Barangkali kita bisa dimaafkan karena mengakui sudah cukup
jenuh dengan argumentasi tak berdasar yang konyol seperti ini, yang
sayangnya, cukup mencirikan trinitarianisme. Saya menyertakannya
di sini sebagai contoh untuk menunjukkan bagaimana trinitarian
biasanya memperdebatkan perkara mereka.
Akan tetapi, apa yang tidak bisa dipungkiri oleh Stalker adalah
adanya persamaan yang nyata antara gelar “Anak Allah” dan
“Mesias (Kristus)” dalam Kitab Suci. Namun, ia berupaya sekuat
tenaga membuat “anak Allah” berarti sesuatu yang lebih daripada
“Mesias”, barangkali karena pemahaman yang tidak memadai akan
gelar “Mesias” dalam Kitab Suci, tetapi terlebih lagi karena ia ingin
berusaha membuat “anak Allah” berarti “Allah-Anak” sesuai dengan
dogma trinitaris. Akan tetapi, ia seharusnya bisa melihat bahwa
sekalipun jika benar bahwa istilah kedua dalam sebuah paralelisme
mengungkapkan “lebih” (daripada apa yang ada dalam istilah
pertama), yang “lebih” itu tidak akan pernah dapat membalikkan
“anak Allah” menjadi “Allah-Anak”. Namun, sayangnya, eksegesis
dibuat takluk kepada dogma dan ditekan untuk berbicara bahasa
trinitarianisme. Dengan demikian, segala cara dihalalkan demi
mencari bukti.
Seorang sarjana lain, James Crichton, dalam artikelnya tentang
“Mesias” di International Standard Bible Encyclopedia menulis,
124 The Only True God

“Tidak diragukan bahwa ‘Anak Allah’ dipakai sebagai sebuah
gelar Mesianik oleh umat Yahudi pada masa Tu[h]an kita.
Imam besar di hadapan Sanhedrin mengenalinya sebagai itu
(Mat.26:63). Gelar itu diterapkan juga dalam arti resminya
kepada Yesus oleh murid-muridnya: Yohanes Pembaptis
(Yoh.1:34), Natanael (Yoh.1:49), Maria (Yoh.11:27), Petrus
(Mat.16:16, meskipun tidak dalam paralel). Pemakaian
Mesianik ini berdasarkan Mzm.2:7; bandingkan 2Sam.7:14.”

Crichton, seperti Stalker, adalah seorang trinitarian (kalau tidak
artikelnya tidak akan diterbitkan oleh ISBE) dan, sebagaimana dapat
diduga, mempertahankan bahwa Yesus “setara dengan Bapa”, tetapi
ia melihat bahwa bukti PB mengharuskan pengakuan bahwa “anak
Allah” merupakan sebuah gelar Mesianik.
Untuk menyimpulkan dan meringkas bagian ini, saya mengutip
kesimpulan pembahasan Dr. Karl-Joseph Kuschel, seorang teolog
sistematis Jerman, mengenai hubungan antara gelar “anak Allah”
dan gagasan Kristus yang pra-eksisten atau ilahi. Kuschel menulis:

“Sekarang apa artinya semua ini untuk pertanyaan mengenai
hubungan antara menjadi Anak Allah dan pra-eksistensi
Kristus? Di sini kita juga dapat menetapkan sebuah konsensus
di luar batasan pengakuan [denominasi].

“1. Sepadan dengan asal-usul Yahudinya (ideologi kerajaan)
gelar “Anak Allah” tidak pernah dikaitkan dengan keberadaan
surgawi sebelum kala atau dengan keilahian.

“2. Yesus tidak berbicara tentang dirinya sebagai Anak Allah,
ataupun mengatakan sesuatu tentang keputraan yang pra-
eksisten. Andaikanlah, komunitas pasca-Paskah berbahasa
Aram paling awal mengakui Yesus sebagai Anak Allah, tetapi
sejalan dengan Perjanjian Lama mereka tidak memasukkan
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 125

pernyataan apa pun tentang pra-eksistensi ke dalam
pengakuan ini.

“3. Fondasi dasar dari pembicaraan pasca-Paskah tentang
Yesus sebagai Anak Allah tidak terletak pada ‘kodrat ilahi’
Yesus, pada suatu keputraan ilahi yang pra-eksisten, tetapi
pada praktek dan pengajaran Yesus sendiri semasa di bumi:
dalam hubungannya yang unik dengan Allah, yang biasa
disapanya sebagai ‘Abba’, dalam suatu keakraban yang belum
pernah terjadi sebelumnya.

“Terakhir tapi bukan yang akhir, seperti sudah kita dengar, di
Israel gelar “anak Allah” sebagian besar merujuk kepada
martabat dan kuasa yang unik dari penguasa politik tertinggi.”
Born Before All Time?, hlm.238.

Akhirnya, patut dicatat bahwa walaupun Al Qur’an memang
berbicara tentang Yesus (Isa) sebagai Mesias (Masih), Al Qur’an
mutlak menolak gelar Mesianik PB “anak Allah”. Alasannya mudah
dilihat dari artikel-artikel ISBE ini yang menghalalkan segala cara
untuk membalikkan “anak Allah” menjadi “Allah-Anak”. Akibat
yang menyedihkan dari semua ini adalah umat Muslim menolak PB
secara keseluruhan, dan dengan demikian menolak pesan
keselamatan yang ada dalam sang Mesias (Kristus). Jika mereka bisa
diyakinkan bahwa “anak Allah” dalam PB adalah sebuah gelar
Mesias (Masih) dan tidak berarti “Allah-Anak”, mereka tidak
mempunyai alasan untuk menolaknya. Kita pun harus diingatkan
lagi bahwa tidak di manapun dalam PB kepercayaan pada keilahian
Kristus diperlukan untuk keselamatan; itu adalah sesuatu yang
dipaksakan oleh dogma Kristiani, bukan oleh firman Allah. Dengan
bersikeras bahwa Yesus adalah “Allah-Anak”, orang Kristen telah
menutup pintu keselamatan bagi orang Muslim melalui iman pada
Kristus, sebagai sang Mesias atau “anak Allah” menurut arti
Mesianik yang tepat (Yoh.20:31). Apakah umat Kristen dapat
126 The Only True God

berkata pada umat Muslim pada Hari itu, “aku bersih dari darah
siapa pun juga” (Kis.20:26)?

Injil-injil Sinoptik

P embaca PB yang jeli mau tidak mau akan memperhatikan
bahwa dalam tiga Injil pertama (disebut “Injil-injil Sinoptik”
karena ketiganya memiliki sudut pandang yang sama akan pribadi
dan pekerjaan Yesus) hampir tidak ada apapun yang bermanfaat
bagi trinitarianisme. Seharusnya menjadi keprihatinan serius bagi
trinitarian bahwa tiga dari empat Injil yang ada tidak dapat
digunakan untuk mendukung argumen keilahian Kristus yang
begitu sentral bagi dogma mereka. Banyak di antara kita melihat
fakta ini sebagai trinitarian, dan meskipun agak dibingungkan
olehnya, dan sekalipun tidak dapat memberikan jawaban
memuaskan kepada pertanyaan mengapa hal yang begitu penting
(bagi kita) seperti keilahian Kristus diabaikan begitu saja oleh
Sinoptik, kita tidak bisa berbuat banyak selain mengangkat bahu.
Maka, Injil Yohanes menjadi Injil kesayangan trinitarian, karena kita
mengira kita bisa menggali teks-teks bukti dari Injil ini sepuas hati
kita. Itulah sebabnya kita akan memfokuskan sebagian besar dari
kajian kita kepada Injil Yohanes.
Kita akan melihat bahwa sekalipun benar bahwa perspektif Injil
Yohanes berbeda dari perspektif Sinoptik, pada intinya tidak
terdapat perbedaan apa-apa sehubungan dengan pribadi Yesus dan
pekerjaannya. Mengenai soal perspektif, ajaran Yesus dalam Injil-
injil Sinoptik berpusat pada “Kerajaan Surga” (Injil Matius) atau
“Kerajaan Allah” (Lukas); jelas sekali Injil Matius ditujukan kepada
khalayak Yahudi, jadi kata “surga” dipakai untuk merujuk kepada
“Allah”, yakni, Yahweh. Di Yohanes, ajaran Yesus menyatakan
“hubungannya yang unik dengan Allah”, dan juga bagaimana
melalui dia kita juga dapat menjalin sebuah hubungan yang hidup
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 127

dengan Allah. Namun kebenaran ini juga muncul pada suatu bagian
dalam Injil Matius: “Semua telah diserahkan kepadaku oleh Bapaku
dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak
seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya
Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat.11:27; 28:18; bdk.
Yoh.3:35; 5:21-27; 13:3; 17:2; juga Yoh.10:15; 14:9).
Matius 11:27 telah digambarkan ibarat “petir Yohanein di siang
bolong”. Di sini kita melihat cara familier Yesus menyapa Allah
sebagai “Bapaku” seperti di Injil Yohanes. Di sini juga kita lihat
keintiman yang mendalam dari pengenalan timbal-balik yang
ditunjukkan dengan menyebut Allah sebagai “Bapa” (atau Abba).
Sebab, kecuali jika ada pengenalan timbal-balik, maka tidak ada
keintiman yang dapat dibicarakan. Ketika Yesus mewahyukan Bapa
kepada kita, kita dengan demikian ditarik ke dalam pengenalan
timbal-balik itu yang memperkenankan kita memanggil Allah
sebagai “Bapa kami” (sebagaimana diajarkan Yesus kepada murid-
muridnya, Mat.6:9), bukan sekadar formalitas, tetapi dalam
keintiman sebuah hubungan Bapa-anak.
Ayat Matius ini berperan untuk menegaskan bahwa tidak ada
perbedaan esensial antara Sinoptik dan Injil Yohanes berkenaan
dengan perihal siapa Yesus.

Ucapan-ucapan “Akulah” (“I am”) —Apakah Yesus
mengklaim sebagai Allah?

S ebagai trinitarian kita menggunakan ucapan-ucapan “Akulah”
(“I am”) di Injil Yohanes sebagai senjata ampuh untuk
“membuktikan” keilahian Kristus, yaitu, bahwa Yesus adalah
Allah. Kita gagal secara menyedihkan untuk melihat bahwa ini
merupakan salah satu argumen paling dungu yang bisa
dikembangkan. Mengapa? Karena hanya ada dua cara untuk
memahami ucapan “Akulah” dari Yesus ini:
128 The Only True God

(1) Yesus sedang memakai istilah itu secara biasa seperti yang
digunakan dalam percakapan sehari-hari (mis. “Aku adalah seorang
pelajar”, “Aku adalah orang Indonesia”, dst.), dan dengan demikian
ia sedang membuat pernyataan tentang dirinya sebagai sang Mesias,
sang Juruselamat, atau
(2) Yesus sedang memakai “Akulah” dalam arti khusus, yaitu
merujuk kepada Keluaran 3:14 di mana ia tampil sebagai gelar bagi
Yahweh; dan jika demikian halnya, maka entah Yesus sedang
mengklaim sebagai Yahweh, atau Yahwehlah yang sedang berbicara
melalui dia.
Apakah “Akulah” dipahami sebagai (1) atau (2), tak satu pun dari
alternatif ini menyediakan bukti bahwa Yesus adalah Allah (yaitu
Allah-Anak) karena, menurut pemakaian (1), cara biasa, ia berbicara
selaku “manusia Kristus Yesus”, dan menurut pemakaian (2),
rujukan khusus itu adalah untuk Yahweh, Allah Bapa. Oleh karena
itu, ucapan-ucapan “Akulah” Yesus sama sekali tidak menyodorkan
bukti apa-apa tentang keilahian Yesus sebagai Allah-Anak dalam
skema trinitaris.
Sekarang kita akan mempertimbangkan (1) dan (2) dengan lebih
teliti dalam terang bukti Injil. Namun kita juga akan mengingat
kemungkinan Yesus memakai “Akulah” pada beberapa kesempatan
dalam arti biasa atau umum dan pada kesempatan lain dalam arti
khusus.

Bagaimana memahami dengan tepat pemakaian
“Akulah” oleh Yesus?
(1) “Akulah” sebagaimana dipakai dalam artinya yang normal atau
biasa dalam percakapan sehari-hari, di mana Yesus berbicara sebagai
seorang manusia sejati, tetapi secara khususnya sebagai “sang
Kristus”, yang berarti “sang Mesias.”
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 129

Untuk menempatkan perkara ke dalam konteks yang tepat kita
harus memperhitungkan sekian banyak ayat ketika Yesus sebagai
“Anak” mengungkapkan ketergantungan dan ketundukan totalnya
kepada Bapa (Yoh.3:35; 5:22,27,36; 6:39; 12:49; 13:3; 17:2,7,8, dst.).
Dalam semua ayat ini kata didōmi (‘memberi’) digunakan untuk
mengungkapkan fakta bahwa segala sesuatu yang dimiliki oleh
Anak, ia terima dari sang Bapa yang memberikan semua ini
kepadanya.
“Akulah” (egō eimi, tensa kini) muncul 24 kali dalam Injil
Yohanes, di mana 23 kali dipakai oleh Yesus dan sekali oleh orang
buta yang disembuhkan Yesus (Yoh.9:9). Jadi, sebenarnya bukan 7
“Akulah” (yang diketahui oleh kebanyakan orang Kristen), tetapi 23
yang mengacu kepada Yesus. Secara statistik, frekuensi “Akulah”
menunjukkan bahwa frasa itu termasuk kosakata khusus dalam Injil
Yohanes, jika dibandingkan dengan kitab-kitab lain: Matius 5 kali;
Markus: 3; Lukas: 4; Kisah Para Rasul: 7; Wahyu: 5: jumlahnya = 24,
jumlah yang sama dengan Injil Yohanes. Dengan kata lain, separuh
dari seluruh pemunculan egō eimi dalam Perjanjian Baru ada di Injil
Yohanes.
Lalu, apa tujuan dari sekian banyak “Akulah” dalam Injil
Yohanes? Jawabannya tentu saja ada pada pernyataan tujuan Injil
itu, “tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa
Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya kamu
memperoleh hidup dalam namanya” (Yoh.20:31). Bukankah bentuk
persona ke-3 dari “Akulah” ialah “Dialah”? Jadi, tujuannya adalah
untuk mengumumkan bahwa “dialah”, yaitu, dia (Yesus) ialah sang
Kristus, Anak Allah itu. Namun, ketika Yesus berbicara, “dialah”
tentu saja harus ada dalam bentuk “akulah”.
Kata “Kristus” (Yunani untuk “Mesias”) muncul 18 kali dalam
Injil Yohanes, tetapi hanya keluar sekali dari mulut Yesus sendiri,
dan itu ada dalam doanya kepada Bapa di Yohanes 17:3. Ketika
diminta di Yohanes 10:24 untuk menyatakan secara gamblang
130 The Only True God

apakah ia Kristus, ia menjawab, “Aku telah mengatakannya kepada
kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang
kulakukan dalam nama Bapaku, itulah yang memberikan kesaksian
tentang aku” (ay.25). Ia memang telah mengatakannya kepada
mereka, tetapi tanpa memakai gelar “Kristus”; ia membiarkan
mukjizat-mukjizat “memberikan kesaksian tentang aku”. Lagipula,
alih-alih gelar “Kristus”, ia menggambarkan pelayanan Kristus, sang
Mesias, dengan istilah-istilah metaforis seperti “gembala”, “terang
dunia”, dst., masing-masing diawali dengan “Akulah”. Namun yang
jelas adalah ia memang mengakui bahwa ia adalah Kristus,
meskipun pada umumnya ia menolak menyatakannya secara
eksplisit.
“Sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa akulah dia (egō eimi),
kamu akan mati dalam dosamu” (Yoh.8:24). Alasannya mengapa
perlu mempercayai bahwa dia adalah Mesias/Kristus yang dijanjikan
itu adalah “supaya karena percaya kamu memperoleh hidup dalam
namanya” (Yoh.20:31)—hal ini penting untuk keselamatan. Namun,
mempercayai bahwa Yesus adalah Allah bukan syarat untuk kesela-
matan di manapun juga dalam Perjanjian Baru. Trinitarianisme
telah memaksakan kepada jemaat suatu persyaratan untuk
keselamatan tanpa pembenaran dari Firman Allah, dan ini
merupakan hal yang sangat serius.
Dalam nas berikut di Yohanes 8 kita dapat melihat cara Yesus
yang khas dalam memakai “Akulah” (egō eimi), biasanya
diterjemahkan sebagai “I am he” (“akulah dia”) sebagaimana
diharuskan oleh kaidah linguistik Inggris:

24
“Karena itu tadi aku berkata kepadamu bahwa kamu akan
mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa
akulah dia (egō eimi), kamu akan mati dalam dosamu.”
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 131

25
Lalu kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau?” Jawab
Yesus kepada mereka: “Apa yang telah kukatakan kepadamu
sejak semula?
26
Banyak yang harus kukatakan dan kuhakimi tentang kamu;
akan tetapi Dia yang mengutus aku, adalah benar, dan apa
yang kudengar dari Dia, itulah yang kukatakan kepada dunia.”
27
Mereka tidak mengerti bahwa ia berbicara kepada mereka
tentang Bapa.
28
Maka kata Yesus: “Apabila kamu telah meninggikan Anak
Manusia, barulah kamu tahu bahwa akulah dia (egō eimi), dan
bahwa aku tidak berbuat apa-apa dari diriku sendiri, tetapi aku
berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa
kepadaku.”

Perhatikan baik-baik, Yesus mengatakan kepada orang Yahudi
bahwa mereka harus percaya bahwa “akulah (dia)” jika mereka tidak
mau mati dalam dosa-dosa mereka. Maka, sebagaimana bisa kita
duga, mereka segera menanyakan dia, “Siapakah engkau?” (ay.25)
tetapi, sekali lagi, ia menolak memberi jawaban eksplisit atas
pertanyaan tersebut, dengan kata lain, dia menolak untuk berkata
“Akulah Mesias” atau “Akulah Anak Allah”. Ia hanya menyatakan
“apa yang kudengar dari Dia (Bapa, ay.27), itulah yang kukatakan
kepada dunia” (ay.26). Di sini, seperti di bagian lain dalam Injil
Yohanes, Yesus menekankan subordinasinya yang total kepada
Bapa, sampai-sampai ia tidak berkata apa-apa selain apa yang
disampaikan Bapa kepadanya (ay.28).
Akan tetapi, di ayat 28 Yesus sekali lagi merujuk kepada dirinya
sebagai “akulah (dia)”, tetapi kali ini ia berbicara tentang dirinya
sebagai “Anak Manusia”. Dalam bahasa Yunani gelar tersebut tidak
ditulis dengan huruf kapital; huruf kapital diberikan oleh para
penerjemah, tentu saja dengan niat supaya istilah tersebut dipahami
sebagai sebuah gelar mesianik. “Anak manusia” merupakan gelar
132 The Only True God

yang lebih disukai oleh Yesus untuk dirinya sendiri dalam keempat
Injil (semuanya 74 kali: Mat:27 kali; Mrk:14; Luk:22; Yoh:11). Baik
dalam bahasa Aram maupun bahasa Ibrani (juga Ibrani modern)
“anak manusia” adalah istilah lazim untuk “manusia” (bdk. Ef.3:5).
Hal ini tidak diketahui oleh kebanyakan orang Kristen, sehingga
mereka beranggapan bila itu semestinya semacam gelar istimewa,
dalam hal ini, sebuah gelar mesianik. Sebenarnya, secara linguistik
sudah cukup tepat jika Yohanes 8:28 diterjemahkan seperti berikut,
“Apabila kamu telah meninggikan Manusia itu (atau, manusia),
barulah kamu tahu, bahwa akulah dia (egō eimi)”. Entah “anak ma-
nusia” itu sebuah gelar mesianik atau bukan dibahas dalam sejumlah
besar buku dan artikel, tetapi hal itu tidak berkaitan secara langsung
dengan kajian ini. Yang perlu kita camkan di sini adalah bahwa
Yesus jelas menginginkan para pendengarnya (yang kebanyakan,
seperti dirinya, berbicara bahasa Aram sebagai bahasa ibu)
memperhatikan dia menyatakan dirinya sebagai “sang manusia”,
atau “sang Manusia”.
Yang ingin saya tekankan berdasarkan nas ini di Yohanes 8, dan
juga pemakaian lain dari “Akulah” dalam ucapan Yesus, adalah
bahwa “Akulah” dalam Injil Yohanes dengan sendirinya adalah
sebuah pernyataan mesianik justru karena itu menggemakan
“dialah” dari Yohanes 20:31: “tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya
kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya
karena percaya kamu memperoleh hidup dalam namanya”—Dialah
Kristus. Dengan demikian, “akulah” = “dialah”. Jadi, di Yohanes
8:28, misalnya, Yesus adalah Kristus/Mesias terlepas dari apakah
“anak manusia itu” dimengerti sebagai sebuah gelar mesianik atau
bukan. Oleh karena itu, di Yohanes 8 ini, seperti juga dalam nas-nas
lain, “Akulah” merupakan sebuah penegasan mesianik yang implisit,
bukan sebuah klaim terhadap gelar milik Yahweh.
Tentu saja adalah sebuah kesalahan untuk segera berasumsi
bahwa setiap pemunculan dari ke-23 “Akulah” dalam Injil Yohanes
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 133

harus dimengerti secara mesianik. Prinsip dasar yang menguasai
semua eksegesis adalah bahwa konteks merupakan faktor penentu
dalam menetapkan arti dari nas yang sedang dipertimbangkan.

“Akulah” di Yohanes 14:6
Ketundukan Kristus kepada Bapa menonjol dengan kejelasan yang
sempurna di seluruh Injil Yohanes. Dalam retrospeksi saya sekarang
menginsafi betapa aneh untuk Yohanes 14:6 (“Akulah jalan dan
kebenaran dan hidup”), misalnya, dikutip oleh trinitarian sebagai
bukti atas keilahian dan kesetaraan Kristus dengan Allah Bapa.
Orang tidak perlu menjadi pemikir yang mendalam atau luar biasa
perseptif untuk melihat bahwa “jalan” adalah sarana untuk
mencapai tempat tujuan, bukan tempat tujuan itu sendiri; jalan
adalah cara untuk sampai ke tujuan, bukan akhir dari tujuan itu
sendiri. Sewaktu kita dalam perjalanan, apakah kita begitu terpikat
dengan jalan itu sampai kita tidak bisa melihat ke mana jalan itu
membawa kita? Dan ke manakah Kristus, Jalan itu, membawa kita?
Ayat yang sama (Yoh.14:6) memberi jawabannya: Membawa kita
kepada Bapa, karena “tidak ada seorangpun yang datang kepada
Bapa, kalau tidak melalui aku.” Kristuslah Jalan itu—‘melalui aku”—
tempat tujuannya adalah “Bapa”: “Sebab juga Kristus telah mati
sekali untuk segala dosa kita, ia yang benar untuk orang-orang yang
tidak benar, supaya ia membawa kita kepada Allah” (1Ptr.3:18).
“Jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh.14:6): dalam Injil Yohanes
ketiga unsur ini—jalan, kebenaran, dan hidup—adalah aspek-aspek
dari satu realitas. Firman itu datang ke dalam Kristus (Yoh.1:14)
untuk membawa kita kepada Allah; oleh sebab itu, dia adalah jalan
yang melaluinya kita datang kepada Allah. Firman menyelesaikan
misi ini karena ia adalah kebenaran, seperti kata Yesus, “Firman-Mu
adalah kebenaran” (Yoh.17:17). Melalui “firman kebenaran”
(Ef.1:13) ini yang diwartakan sebagai kabar baik kita diselamatkan.
134 The Only True God

Atau, dalam istilah kelahiran kembali, “Ia (Allah) memilih untuk
melahirkan kita melalui firman kebenaran” (Yak.1:18,
diterjemahkan dari NIV; terjemahan ini didukung oleh BDAG).
Kristus, yang di dalamnya logos berinkarnasi (Yoh.1:14),
mewujudkan “firman kebenaran” yang telah disediakan Allah demi
keselamatan kita.
Demikian juga dengan “hidup”, sebagaimana diterangkan dengan
jelas di 1Yoh.1:1, “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami
dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami
saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang
Firman (logos) hidup—itulah yang kami tuliskan kepada kamu.”
Logos hidup itu telah menjadi kelihatan dan nyata di dalam pribadi
Kristus; Firman telah datang ke dunia untuk menjadi Jalan kepada
Bapa, sesungguhnya satu-satunya jalan, sebab “tidak ada seorangpun
yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui aku” (Yoh.14:6), maka
dia adalah “jalan itu”.
Kebenaran dan hidup, seperti jalan, bukanlah tempat tujuan atau
akhir dari tujuan itu sendiri; mereka adalah sarana yang digunakan
oleh Allah untuk membawa kita kepada diri-Nya Sendiri. Ini bisa
diungkapkan melalui kata-kata Paulus, “Allah mendamaikan dunia
dengan diri-Nya melalui Kristus (jalan, dan kebenaran dan hidup)”
(2Kor.5:19). Melalui Firman itulah Allah, dalam cinta kasih-Nya,
menyediakan bagi kita kebenaran dan hidup dari “keselamatan yang
abadi” (Ibr.5:9) dalam Kristus. Justru karena itulah Allah adalah
sasaran utama dari pujian dan penyembahan dalam Alkitab.
Namun mengapa setiap kali kita melihat atau mendengar
pernyataan Yesus dalam bentuk “Akulah jalan…” kita menganggap
bahwa ia sedang menegaskan, atau mengklaim, keilahian? Apakah
bukan karena kita telah begitu dipenuhi dengan ajaran trinitaris
sehingga kita tidak dapat memahami kata-kata tersebut dengan cara
lain? Jika Yesus sekadar ingin mengatakan bahwa ia adalah jalan
kepada Allah, apakah ada cara lain untuk mengatakannya selain dari
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 135

“Akulah (egō eimi) jalan”? Jika saya berkata “Akulah orang Cina”,
apakah “Akulah” dalam kalimat ini menyiratkan bahwa saya sedang
membuat klaim keilahian? Di Yohanes 9:9, ketika orang-orang
memperdebatkan apakah orang buta itu benar-benar orang yang
disembuhkan oleh Yesus, ia sendiri memastikan fakta tersebut
dengan kata-kata “Akulah (egō eimi)”, yaitu mengatakan secara
tegas, “Akulah orangnya dan bukan orang lain.” Adalah lucu jika ada
yang mengemukakan bahwa dengan mengatakan “Akulah” orang
yang dulunya buta itu sedang membuat klaim implisit sebagai Allah!
Memang benar bahwa dalam bahasa Yunani, “Akulah” dalam
Injil Yohanes mengandung ciri penegas, yang menegaskan bahwa
Yesus merupakan satu-satunya jalan; sama seperti “Akulah pintu”
(Yoh.10:7,9) berarti “akulah orangnya, bukan orang lain, yang
adalah pintu.” Namun, pintu, seperti jalan, merupakan sarana yang
digunakan orang untuk keluar masuk rumah atau lapangan
berpagar. Pintu bukanlah rumah; jika tidak ada rumah atau
lapangan berpagar, maka tidak perlu ada pintu. Demikian juga, bila
tidak ada tempat tujuan, tidak perlu ada jalan.
Mengingat pembahasan di atas, tidak perlu diragukan lagi bahwa
“Akulah” dalam “Akulah jalan” dari Yohanes 14:6 berciri mesianik,
sama seperti Yohanes 8:24 dan 28; dan tentunya bukan klaim
terhadap keilahian.

“Akulah kebangkitan dan hidup” (Yohanes 11:25)
Trinitarian tidak akan ragu mengutip kata-kata tersebut sebagai
“bukti” bahwa Yesus adalah Allah. Namun, seperti biasanya, mereka
tidak mau repot-repot melihat konteksnya. Kata-kata itu diucapkan
kepada Marta, dan ketika Yesus menanyakan apakah ia
mempercayai pernyataannya ini dan juga pernyataan-pernyataan
mengejutkan lain yang diucapkan segera sesudahnya, ia berkata:
“siapa saja yang percaya kepadaku, ia akan hidup walaupun ia sudah
136 The Only True God

mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaku, tidak
akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”
Jawaban Marta bukanlah, “Ya, aku percaya engkaulah Allah” tetapi
“Ya, Tu[h]an, aku percaya, bahwa engkaulah Mesias, Anak Allah,
yang akan datang ke dalam dunia.” (Yoh.11:25-27). Dengan kata
lain, Marta tidak melihat perkataan Yesus sebagai suatu klaim
terhadap keilahian melainkan sebuah pernyataan mesianik yang
diiyakannya. Sebagai seorang Yahudi Marta tahu, tidak seperti
kebanyakan orang non-Yahudi yang tidak tahu, bahwa “Anak Allah”
bukanlah sebuah gelar ilahi dalam Alkitab tetapi sebuah gelar Mesias
yang didasari oleh Mazmur 2:7.
Namun bukankah Yesus mengatakan ini pada peristiwa
kebangkitan Lazarus? Tentu saja. Akan tetapi, jika pertanyaan ini
menyiratkan bahwa membangkitkan orang mati adalah bukti
dirinya sebagai Allah, maka ini memperlihatkan ketidaktahuan yang
luar biasa akan Alkitab. Itu bukan satu-satunya peristiwa dalam
Alkitab tentang orang mati dibangkitkan. Sebenarnya ini bukan kali
pertama Yesus membangkitkan orang mati. Jauh sebelum masa
Yesus, Elia juga membangkitkan seorang anak yang sudah mati dan
tidak satu pun orang Yahudi yang pernah menganggap hal itu bisa
digunakan sebagai bukti bahwa Elia adalah tokoh ilahi! Kisah
tentang perbuatan Elia itu tercatat di 1Raj.17:17 dst., dan
mengandung kesamaan dengan kisah Yesus membangkitkan anak
seorang janda di kota Nain sebagaimana dilukiskan di Lukas 7:11-
17. Poin-poin utama dari kesamaan adalah: (1) kedua peristiwa itu
ada hubungannya dengan kehilangan seorang janda; (2) kematian
dari anak satu-satunya; (3) kata-kata pada akhir kisah Injil Lukas
setelah orang mati itu dihidupkan kembali, “Yesus menyerahkannya
kepada ibunya” (Luk.7:15), menggemakan apa yang dilakukan Elia
setelah anak itu dibangkitkan: ia membawanya turun dari kamar
atas, tempat di mana ia membawa anak itu dan berdoa kepada
Yahweh, dan mengembalikannya kepada ibunya. Mungkin saja kata-
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 137

kata di Lukas artinya tidak lebih daripada Yesus mengembalikan
anak itu kepada sang ibu, tetapi tidak menutup kemungkinan bila
Lukas juga memang berniat menyiratkan suatu rujukan kepada nabi
besar Elia itu. Kemungkinan ini menjadi lebih besar sambil kita
membaca kisahnya, sebab segera setelah pernyataan di Lukas 7:15
kita membaca, “Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan
Allah, sambil berkata: ‘Seorang nabi besar telah muncul di tengah-
tengah kita,’ dan ‘Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-
Nya’”.
Intinya peristiwa kebangkitan anak muda itu dari kematian tidak
menyebabkan orang Yahudi menganggapnya sebagai bukti keilahian
Yesus, melainkan sebagai bukti bahwa “seorang nabi besar (seperti
Elia) telah muncul di tengah-tengah kita” dan bahwa “Allah telah
datang untuk menyelamatkan umat-Nya”, sama seperti ketika Ia
menyelamatkan Israel dari penyembahan berhala melalui Elia,
khususnya melalui peristiwa terkenal di atas gunung Karmel.
Sebagaimana akan kita lihat berkali-kali dalam kajian ini, trinitarian
terus-menerus memasukkan klaim keilahian ke dalam ucapan-
ucapan dan tindakan-tindakan Yesus padahal ia sama sekali tidak
bermaksud seperti itu dan orang-orang yang hadir waktu itu pun
tidak menarik kesimpulan itu.
Akan tetapi, orang banyak yang menyaksikan Yesus membangkit-
kan orang mati itu memang mengakui bahwa di dalam Yesus “Allah
telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya”. Kata yang diter-
jemahkan sebagai “datang untuk menyelamatkan” atau “melawat”
(ILT) di Lukas 7:15, adalah episkeptomai yang bisa berarti melawat
orang sakit (mis. Mat.25:36,43), jelas bukan saja sebagai kunjungan
kesopanan tetapi dengan niat untuk menolong sedapat mungkin;
secara signifikan, kata ini juga digunakan dalam arti “mengawasi,
tampil untuk menolong” (BDAG) di Keluaran 3:16 (segera sesudah
penampakan diri Yahweh kepada Musa sebagai “AKU ADALAH
AKU” di 3:14), ketika Musa diperintahkan untuk menyampaikan
138 The Only True God

pesan ini: “Pergilah dan kumpulkanlah semua pemimpin Israel.
Umumkanlah kepada mereka bahwa Aku, Yahweh, Allah nenek
moyang mereka, Allah Abraham, Ishak dan Yakub, sudah menam-
pakkan diri kepadamu. Beritahukanlah mereka bahwa Aku sudah
datang kepada (episkeptomai) mereka dan sudah melihat bagaimana
mereka diperlakukan oleh bangsa Mesir” (BIS, lih. pula Kel.4:31).
Keluaran adalah suatu kejadian yang berkepentingan besar untuk
pemahaman pesan Injil Yohanes, sebagaimana akan kita lihat.
Adalah juga salah bila mengemukakan bahwa Yesus mengklaim
keilahian dengan kata-kata “Akulah kebangkitan dan hidup”, karena
klaim seperti itu akan berlawanan sama sekali dengan pengajaran
Yesus sendiri yang eksplisit dan tegas tentang monoteisme
(Mrk.12:29; Yoh.5:44), dan fakta bahwa baginya sang Bapa adalah
“satu-satunya Allah yang benar” (Yoh.17:3). Lagipula, ia
membuatnya segamblang mungkin bahwa “apa yang aku katakan
kepadamu, tidak aku katakan dari diriku sendiri, tetapi Bapa, yang
tinggal di dalam aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-
Nya” (Yoh.14:10). Diterapkan kepada Yohanes 11:25, apa lagi
artinya kalau bukan sang Bapalah yang tinggal di dalam Kristus, dan
bahwa sang Bapa merupakan sumber dan kuasa dari “kebangkitan
dan hidup” yang datang melalui Kristus?

Apakah “Akulah” dipakai dalam arti khusus (yaitu,
merujuk kepada Yahweh) dalam beberapa ucapan Yesus?
Yesus berulang-kali menegaskan bahwa Bapa adalah sumber dari
segala sesuatu yang dilakukannya. Ia tidak mengerjakan dan menga-
takan “apapun dari dirinya sendiri”. Apa lagi artinya itu kalau bukan
perbuatan dan perkataannya adalah apa yang Bapa, yang tinggal di
dalam dia, ungkapkan melalui dia? Ini dinyatakan di Yohanes 5:19:
‘Lalu Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya aku berkata kepada-
mu, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri,
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 139

jikalau ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang diker-
jakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”’ Juga Yohanes 5:30,
“Aku tidak dapat berbuat apa-pun dari diriku sendiri”. Yohanes
8:28, “Aku tidak berbuat apa-apa dari diriku sendiri, tetapi aku
berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaku.”
Ucapan-ucapan ini jelas berarti bahwa sang Bapa Allah, Yahweh,
bertindak dan berbicara melalui Yesus. Apakah ada buktinya dalam
perkataan Yesus? Barangkali pernyataan berikut adalah satu
contohnya:

John 8.58: ‘Jesus said to them, “Truly, truly, I say to you,
before Abraham was, I am.”’

Yohanes 8:58, Kata Yesus kepada mereka: “Sesungguhnya aku
berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, [akulah].”

Untuk memahami ayat ini, ada dua pilihan: (1) Mengambil “akulah”
dalam ayat ini sebagai rujukan kepada Keluaran 3:14 atau kepada
Yesaya 43:10,11. Kita harus menyadari bahwa ini berarti kita
mengatakan bahwa Yesus mengklaim dirinya sebagai Yahweh—
yaitu sebuah klaim yang tidak ingin dibuat oleh trinitarian, karena
jika Yahweh memiliki kedudukan dalam Trinitas, maka
kedudukannya adalah sebagai “Allah Bapa”, bukan “Anak”. (2)
Mengambilnya dalam arti Yahweh berinkarnasi di dalam “manusia
Kristus Yesus”, dan di sini Ia dengan gamblang tengah berbicara di
dalam Yesus dan melalui Yesus. Secara eksegetis pilihan yang
terakhir ini tentu saja tidak mustahil; tetapi tetap saja akan
berlawanan dengan trinitarianisme.
Mengapa kita mengatakan bahwa pilihan alternatiflah yang
mungkin, yaitu, bahwa Yahwehlah Dia yang sedang berbicara
melalui Yesus dengan kata-kata, “Sebelum Abraham ada, akulah”?
Hal ini dimungkinkan karena dua alasan terkait:
140 The Only True God

(1) Sang Bapa “diam” atau “tinggal” di dalam Kristus, tergantung
pada terjemahan mana yang Anda baca. Kata-kata tersebut pada
dasarnya mengandung makna yang sama, dan menerjemahkan kata
Yunani menō. “Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa
dan Bapa di dalam aku? Apa yang aku katakan kepadamu, tidak aku
katakan dari diriku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam aku,
Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.” (Yoh.14:10)
(2) Yesus menegaskan dengan berbagai cara bahwa “firman yang
kamu dengar itu bukanlah dari aku, melainkan dari Bapa yang
mengutus aku” (Yoh.14:24); “Sebab aku berkata-kata bukan dari
diriku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus aku, Dialah yang meme-
rintahkan aku untuk mengatakan apa yang harus aku katakan dan
aku sampaikan.” (Yoh.12:49)
Dengan menggabungkan kedua poin di atas, tentu bukan mustahil
bila Yohanes 8:58 merupakan sebuah contoh di mana sang Bapa,
Yahweh, berbicara melalui Yesus dengan kata-kata “Akulah”. Dan Ia
tentu ada sebelum Abraham dalam pengertian apa pun dari kata
“sebelum”. 5
Contoh lain di mana kita mungkin dapat mendengarkan suara
Yahweh berbicara melalui Yesus adalah Yohanes 10:11,14 “Akulah
gembala yang baik”, yang dengan jelas mencerminkan kata-kata
masyhur dari Mazmur ke-23, “TUHAN (Yahweh) adalah gemba-
laku”. Sulit untuk menghindari kesimpulan bahwa sebuah
identifikasi yang disengaja memang dimaksudkan, sebuah
identifikasi yang diperkuat oleh ayat terkenal dan indah yang lain:
“Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya
dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba
dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-
hati.” (Yes.40:11)

5
Mengenai Yohanes 8:58 baca juga Lampiran 2.
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 141

Yohanes 2:19 tampaknya menyediakan contoh lain dari Bapa
yang sedang berbicara melalui Yesus. Di sini “aku adalah” bukan
dalam bentuk kala masa kini tetapi dalam bentuk kala masa depan
“aku akan”. Ayat itu berbunyi: ‘Jawab Yesus kepada mereka:
“Runtuhkan Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan
mendirikannya kembali.”’ Maknanya dijelaskan dalam dua ayat
berikutnya, “Tetapi yang dimaksudkannya dengan Bait Allah ialah
tubuhnya sendiri” (Yoh.2:21). Nah, fakta pentingnya adalah bahwa
Kitab Suci dengan suara bulat menyatakan bahwa sang Bapalah,
Allah, yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Hal ini
dinyatakan berkali-kali di Kisah Para Rasul (2:24,32; 3:15,26; 4:10;
5:30; 10:40; 13:30,37 dst.); dan di Roma 10:9, iman yang percaya
bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati
adalah suatu keharusan untuk keselamatan (lih. lebih lanjut
1Kor.6:14; Gal.1:1; Kol.2:12; 1Ptr.1:21, dst.).
Dalam PB ada banyak rujukan kepada kebangkitan Yesus, tetapi
tak satu pun yang berbicara tentang Yesus membangkitkan dirinya
sendiri dari antara orang mati; itu adalah perbuatan Allah. Hal ini
dituntaskan dengan meyakinkan oleh fakta bahwa di dalam nas ini
juga—tepat pada ayat berikutnya—ditegaskan bahwa Bapalah yang
membangkitkan Yesus: Yohanes 2:22 “Jadi kemudian, sesudah Yesus
dibangkitkan dari mati, teringatlah pengikut-pengikutnya bahwa hal
itu pernah dikatakannya. Maka percayalah mereka kepada apa yang
tertulis dalam Alkitab dan kepada apa yang dikatakan oleh Yesus”
(BIS). Frasa “Yesus dibangkitkan” menerjemahkan ēgerthē, yaitu
aoristus pasif dari egeirō, yang menegaskan bahwa Allahlah yang
membangkitkan dia dari antara orang mati. Semua ini membawa
kepada kesimpulan yang tak terelakkan bahwa “Aku” dalam frasa
“Aku akan mendirikannya kembali” adalah sebuah contoh penting
dari Bapa, Yahweh, yang berbicara di dalam dan melalui Yesus.
142 The Only True God

Kekeliruan penggunaan trinitaris “Akulah” sebagai bukti
keilahian Yesus
Haruslah diingat bahwa untuk mengatakan bahwa Yahweh, sang
Bapa, berbicara melalui Yesus yang Ia diami, adalah sangat berbeda
dari pemakaian “Akulah” oleh trinitarian untuk memperjuangkan
keilahian Yesus. Trinitarian harus mengerti bahwa
Jika dengan “Akulah” Yesus mengklaim dirinya sebagai Allah, maka
secara khusus ia mengklaim dirinya sebagai Yahweh!
Klaim trinitaris bahwa “Akulah” dalam Injil Yohanes harus
dimengerti sebagai klaim Yesus sebagai Allah, berhadapan dengan
banyak masalah. Apakah mereka ingin mengatakan bahwa Yesus,
alih-alih Bapa, adalah Yahweh? Atau, apakah mereka ingin
mengatakan bahwa ada tiga (atau dua?) pribadi yang adalah
Yahweh? Ini melanggar pernyataan monoteis PL. Namun, bukan itu
saja, ini akan membuat perkataan Yesus sendiri dalam Injil Yohanes
menjadi tidak berarti, misalnya, “Bapa lebih besar daripada aku”
(Yoh.14:28), jika “aku” dimengerti sebagai “Akulah” yang ilahiah itu.
Sesuai konteks Yohanes 14 kita harus percaya pada Allah dan juga
pada Yesus (14:1, bdk. ay.10,11); dan Yesus ingin kita mengerti
bahwa, sebagai objek dari iman dan kepercayaan kita, sang Bapa
lebih besar daripada dia. Apa lagi maksudnya kalau bukan itu?
Mengenai Yohanes 14:28, Dr. Kuschel mengutip karya seorang
teolog Jerman, W. Thuesing:

“W. Thuesing, ‘Die Erhoehung der Verherrlichung’ [‘The
Exaltation of Glorification’], hlm.206-14, kh. 210, [di mana ia]
sudah mengatakan semua yang perlu dikatakan: ‘Apa maksud
klausa “sebab Bapa lebih besar daripada aku?” Itu harus
ditafsirkan dari segi hubungan antara Bapa dan Anak yang
dilukiskan di bagian lain dari Injil itu; dibandingkan dengan
Anak, Bapa adalah sosok yang selalu memberi, yang
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 143

memegang inisiatif, yang mengeluarkan perintah. Anak selalu
mendengarkan dan menerima dari Bapa; ia memenuhi
kehendak Bapa, ia menyelesaikan apa yang dimulai oleh
Bapa—tetapi tidak sebaliknya. Frasa “lebih besar” juga muncul
di bagian lain dalam Perjanjian Baru, tetapi bukan sebagai
perbedaan metafisik atau kualitatif, melainkan sebagai
pengungkapan suatu hubungan superordinasi dan
subordinasi.” (K-J Kuschel, Born Before All Time? Bagian Dua,
B, VII, catatan kaki 74, hlm.637, kata-kata dalam tanda kurung
siku ditambahkan).

Trinitarianisme, yang berkeras secara dogmatis akan kesetaraan dari
‘pribadi-pribadi’ ilahi itu, telah membuatnya sangat sulit bagi kita
untuk menerima pengajaran yang sangat gamblang dan eksplisit
dalam Injil Yohanes tentang subordinasi Anak kepada Bapa. Kita
dibuat merasa telah mempermalukan atau menghina Anak jika kita
mengakui bahwa ia adalah subordinat Bapa—meskipun Anak itu
sendiri yang menegaskan subordinasinya; dengan mengsubordinasi-
kan Yesus, sebenarnya bukan kami yang lancang.
Akhirnya, trinitarian sepertinya tidak dapat memutuskan apakah
Yesus mengklaim sebagai Yahweh (sekalipun ia bahkan tidak
menyatakan dirinya sebagai Mesias secara terbuka) atau sebagai
anak Yahweh (“anak Allah”). Banyak trinitarian yang begitu
bingung dengan persoalan ini sehingga dalam kekaburan mereka
kelihatannya ingin mengambil semacam perpaduan dari keduanya!
Sekalipun tidak sesuai dengan Kitab Suci, dogma trinitaris
sebenarnya rutin memanjakan gaya bicara ganda seperti ini, yang
sekarang menyatakan Yesus adalah Allah dan juga kemudian
menyatakan ia adalah Anak Allah—hal ini, tentu saja, adalah hal
yang kami kenal baik karena kami sendiri sebagai trinitarian juga
telah melakukannya.
144 The Only True God

Siapakah tepatnya “Bapa” yang sangat kerap
dibicarakan oleh Yesus dalam Injil Yohanes?

“B apa”, yang mengacu secara khusus kepada Allah, termasuk
kosa kata khusus dari Yohanes; kata itu adalah sebuah kata
kunci dalam pengajaran Yesus. Statistik menyatakan hal ini dengan
jelas: “Bapa” muncul dalam Injil Matius: 23 kali (dalam 21 ayat);
Markus: 3 kali (termasuk “Abba” di 14:36); Lukas: 12 kali (dalam 9
ayat); dan Yohanes: 114 kali (dalam 97 ayat). 6
Dari angka-angka tersebut segera terlihat bahwa pemunculannya
dalam Injil Yohanes sekitar 5 kali lebih banyak daripada Injil Matius,
dan Matius adalah kitab yang lebih panjang daripada Yohanes.
Jelaslah, “Bapa”, yang merujuk pada Yahweh Allah, selalu ada dalam
ucapan Yesus, dan juga di dalam hati dan pikirannya. Di sini kita
tidak bisa memeriksa kesemua 114 referensi kepada “Bapa” dalam
Injil Yohanes, tetapi kita akan merangkum beberapa poin utama.
Siapakah “Bapa” dalam pengajaran Yesus menjadi jelas dari nas-
nas berikut:
(1) Ialah Allah Israel, Yahweh, yang disembah dalam Bait Suci di
Yerusalem, tetapi akan disembah secara universal “dalam roh dan
kebenaran”.
Yohanes 4:
21
Kata Yesus kepadanya (perempuan Samaria): “Percayalah
kepadaku, hai perempuan, saatnya akan tiba bahwa kamu
akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di
Yerusalem.
22
Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami
menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang
dari bangsa Yahudi.

6
Statistik yang diberikan di sini adalah berdasarkan referensi yang
diberikan dalam Modern Concordance to the New Testament, Michael Darton,
editor, Doubleday, 1976, yang pada dasarnya bisa diandalkan.
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 145

23
Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang bahwa
penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam
roh dan kebenaran; sebab Bapa mencari orang-orang yang
menyembah Dia secara demikian.

Semua ayat ini adalah tentang penyembahan; Bapa sendiri adalah
objek penyembahan baik bagi orang Yahudi maupun orang Samaria;
Ia disembah di Yerusalem, yaitu, di Bait Suci. Jadi, rujukan itu tanpa
diragukan adalah kepada Allah Israel, Yahweh. Yesus pun berbicara
tentang Dia sebagai “Allah Bapa” (Yoh.6:27).
Berikut beberapa lagi pengamatan kunci mengenai “sang Bapa”:
(2) Ia adalah “Yang ada dengan sendirinya” (“self-existent One”),
sang Pencipta, yang telah menganugrahkan kepada Yesus kuasa
untuk melaksanakan kehendak-Nya baik dalam kebangkitan
maupun penghakiman:

Yohanes 5:26, “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup
dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak
mempunyai hidup dalam dirinya sendiri.”

“Bapa” adalah sumber hidup, karena Dialah satu-satunya yang
“mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri”. Secara signifikan, itulah
artinya deskripsi Nama Yahweh di Keluaran 3:14 sebagai “AKU
ADALAH AKU” (sebagaimana tercermin dalam LXX, ho ōn). Ia
tidak memperoleh hidup dari siapa pun juga, tetapi semua yang
hidup menerima hidupnya dari Dia; karena Ia adalah sang Pencipta,
sang Absolut sehubungan dengan segala yang ada. Ia telah memilih
menurut kedaulatan kehendak-Nya untuk mengaruniakan kepada
Anak untuk mempunyai hidup dalam dirinya dan untuk
menyalurkan hidup kepada setiap orang yang mendengarkan
suaranya (Yoh.5:25). Penting untuk diperhatikan bahwa Yesus
146 The Only True God

menjelaskan bahwa hidup yang ada padanya itu telah diberikan
(didōmi) kepadanya oleh Bapa; bukan sesuatu yang dimilikinya
sendiri. Tentu saja, ini bertentangan dengan Kristologi trinitaris.
Poin penting ini, yaitu, bahwa segala sesuatu yang dimiliki oleh
Yesus ia terima dari sang Bapa, diulangi lagi di ayat berikutnya:

Yohanes 5:27, “Ia telah memberikan kuasa kepadanya untuk
menghakimi, karena ia adalah Anak Manusia.”

Di sini, kata “memberikan” (didōmi) dipakai lagi, sekarang dengan
mengacu kepada otoritas atau kuasa (exousia) yang dianugrahkan
kepadanya oleh Bapa untuk menjalankan penghakiman. Kedua kata
ini, “memberikan” dan “kuasa” adalah dua kata yang sama persis
dalam teks Yunani yang muncul di Matius 28:18: “Yesus mendekati
mereka dan berkata: ‘Kepadaku telah diberikan segala kuasa di surga
dan di bumi.’”
Konteks di Yohanes 5 (ay.24-29) adalah tentang kebangkitan yang
akan datang (ay.29) dan penghakiman (ay.27). Ayat-ayat tersebut
dapat juga berfungsi sebagai konteks dari Matius 28:18.
Pernyataan-pernyataan Yesus dengan jelas menegaskan fakta
bahwa semua yang ada padanya itu diberikan kepadanya dengan
murah hati oleh sang Bapa. Pernyataan yang maha-melingkupi di
Yohanes 5:30 mengalir secara logis dari penegasan itu: “Aku tidak
dapat berbuat apa pun dari diriku sendiri; aku menghakimi sesuai
dengan apa yang aku dengar, dan penghakimanku adil, sebab aku
tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang
mengutus aku.”
Sungguh sulit untuk dimengerti bagaimana orang yang
mendengarkan perkataan Yesus dalam ayat-ayat ini bisa
memaksakan kalau Yesus mengklaim kesetaraan dengan sang Bapa.
(3) Sang Bapa telah mengutus Yesus sebagai “juruselamat dunia”
(Yoh.4:42) agar umat manusia tidak dihukum pada hari
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 147

penghakiman melainkan menerima hidup kekal. Yesus
melaksanakan hal ini dengan (1) menyatakan sang Bapa kepada
semua orang yang mencari Dia (Yoh.14:9), dan (2) menjadi “anak
domba Allah”, anak domba yang disediakan oleh Bapa Sendiri
sebagai korban untuk dosa, untuk “menghapus dosa dunia”
(Yoh.1:29).
Sebagaimana bisa dilihat di Yohanes 5:30, “Aku tidak menuruti
kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku”,
Yesus berbicara tentang Bapa yang mengutus dia untuk menye-
lesaikan pekerjaan yang telah dipercayakan kepadanya. Bahwa Allah
yang mengutus dia adalah suatu hal yang diulang berkali-kali oleh
Yesus dalam Injil Yohanes. Yesus hidup dengan kesadaran yang
mendalam akan misi yang telah dipercayakan Bapa kepadanya.
(4) Poin-poin di atas digabungkan dalam doa Yesus di Yohanes 17:3:
“Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau,
satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang
telah Engkau utus.”
Dasar bagi seluruh pengajaran Yesus dalam Injil adalah
penegasan bahwa Bapa ialah “satu-satunya Allah yang benar”.
Namun, “Allah-Bapa” (Yoh.6:27, yakni, Yahweh) yang
dibicarakan oleh Yesus tidak boleh dirancukan dengan “Allah-Bapa”
trinitaris, yang bukan “satu-satunya Allah yang benar”, tetapi hanya
satu dari tiga pribadi, dan dengan demikian membentuk sepertiga
dari “Ke-Allahan” trinitaris. Trinitarianisme memakai istilah-istilah
yang sama dengan istilah-istilah yang dipakai dalam Alkitab tetapi
sering kali dengan makna yang sama sekali berbeda. Pengaburan
makna sedemikian atas istilah-istilah penting ini dapat
mengakibatkan pemikiran yang keruh. Oleh karena itu, kita perlu
mengecek dengan seksama makna yang tepat dari istilah-istilah yang
sedang digunakan ketika membahas trinitarianisme.
148 The Only True God

Allah dan Bapa Tu[h]an kita Yesus Kristus
“Allah dan Bapa Tu[h]an kita Yesus Kristus” merupakan sebuah
bentuk rujukan penting kepada Allah yang ditemukan di Rm.15:6;
2Kor.1:3; 11:31; Ef.1:3; 1Ptr.1:3. Kelima referensi tersebut menunjuk-
kan bahwa frasa ini merupakan sebuah deskripsi Allah yang terkenal
di gereja PB dan bahwa Allah yang mereka sembah itu memang
adalah “Allah dan Bapa Tu[h]an kita Yesus Kristus”.
Bagi kita yang dibesarkan dalam trinitarianisme, sang “Bapa”
langsung dihubungkan dengan “Allah-Anak”, sedangkan dalam PB
“Bapa” adalah istilah yang dimengerti sehubungan dengan “anak
Allah”, gelar sang Mesias atau Kristus. Gelar ini selanjutnya
digabungkan ke dalam gelar “Tu[h]an Yesus Kristus”, yang bagi
seorang berbahasa Ibrani adalah “Tu[h]an Yesus sang Mesias” (lih.
mis. Salkinson-Ginsburg Hebrew NT). Bagi orang-orang yang tidak
berbahasa Ibrani, gelar “Kristus” itu telah menjadi semacam nama
keluarga sehingga signifikansi aslinya telah hilang.
“Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi
Tu[h]an dan Kristus” (Kis.2:36) dan setidaknya justru karena alasan
ini Ia adalah keduanya “Allah dan Bapa dari Tu[h]an kita Yesus”.
Hal ini membuat jelas bahwa gereja awal tidak memandang kata
“Tu[h]an” sebagai gelar ilahi dalam pengertian trinitaris. Betapa
berbedanya keadaan dewasa ini karena orang Kristen tidak bisa
memikirkan Yesus sebagai “Tu[h]an” kecuali dalam pengertian
bahwa ia adalah Allah. Hal ini menunjukkan bagaimana pemikiran
trinitaris telah menjadikannya hampir mustahil bagi kita membaca
PB kecuali di dalam bahasa dan kategori trinitaris. Umat Kristen
sudah terikat untuk membaca PB melalui kacamata trinitaris.
Kecuali jika kita, oleh anugerah Allah, dibebaskan dari belenggu ini,
kita tidak akan pernah dapat memahami firman Allah dengan tepat,
selain dengan istilah-istilah yang telah disimpangkan secara serius.
Seberapa besarkah dampaknya kondisi yang menyedihkan dan
berbahaya ini atas kondisi rohaniah gereja saat ini, bila gereja tidak
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 149

lagi bisa memahami firman Allah sebagaimana mestinya? Mereka
menyembah tiga pribadi alih-alih satu, dan kebanyakannya hanya
satu—Yesus. Bertolak-belakang tajam dengan ini, dalam PB jemaat
menyembah “Allah dan Bapa Tu[h]an kita, Yesus Kristus”. Atau
sebagaimana dikatakan oleh sang Rasul, “aku sujud kepada Bapa”
(Ef.3:14).
Akan tetapi, bagaimana kita dapat mendamaikan, di satu sisi,
gagasan trinitaris bahwa Yesus setara dengan Yahweh, dan di sisi
lain, fakta bahwa Yahweh adalah Allahnya Yesus? Apakah sekali lagi
dengan memakai gaya bicara ganda (double-talk): yang terakhir
berlaku kepada Yesus sebagai manusia, bukan sebagai Allah (jika
tidak Yahweh akan menjadi Allahnya Allah!)? Dengan kata lain,
trinitarianisme mengharuskan Yesus dibagi dua bila menyangkut
eksegesis ayat-ayat dalam Kitab Suci: Di satu tempat sesuatu
dikatakan yang berlaku kepada Yesus sebagai manusia, dan di
tempat lain sesuatu dikatakan yang berlaku kepadanya sebagai Allah.
Dengan cara meloncat bolak-balik seperti inilah dogma itu
dipertahankan. Akan tetapi, pemisahan Allah dengan manusia di
dalam Kristus trinitaris sebenarnya tidak diizinkan oleh syahadat
trinitaris itu sendiri, karena pemisahan Allah dengan manusia di
dalam Kristus seperti inilah yang dikutuk sebagai bidat dengan nama
“Nestorianisme”, yang mengakibatkan pengucilan. “Eutikianisme
dan Nestorianisme akhirnya dikutuk di Konsili Khalkedon (451 M),
yang mengajarkan satu Kristus dalam dua kodrat dipersatukan
dalam satu pribadi atau hypostasis, tetapi tetap ‘tanpa kerancuan,
tanpa perubahan, tanpa pembagian, tanpa pemisahan!’” (Evangelical
Dictionary of Theology, W.A. Elwell, Baker, Art. tentang Kristologi,
hlm.225; cetak miring ditambahkan).
Dengan demikian, sifat pertentangan-diri dari trinitarianisme ter-
ungkap oleh gaya bicara bertentangan (double-talk) trinitaris.
Karena seandainya Allah dan manusia dalam Kristus dapat
dipisahkan dengan mengatakan ayat ini berlaku kepada Yesus
150 The Only True God

sebagai manusia tetapi ayat itu berbicara tentang Yesus sebagai
Allah, maka ia bukan lagi satu pribadi melainkan dua, dan ini
bertentangan dengan dogma trinitaris bahwa Yesus adalah keduanya
“Allah sejati, manusia sejati” dalam satu pribadi. Namun, teori itu
satu hal, prakteknya lain lagi. Diperhadapkan dengan masalah-
masalah yang tak teratasi dalam terang Alkitab monoteistik yang tak
kenal kompromi, trinitarian terpaksa bermain sulap interpretatif
untuk menyangga dogma mereka.
Mari kita ambil satu poin penting yang fundamental sebagai
contoh. Satu hal yang sangat sering dinyatakan tentang Yesus adalah
kematian penebusannya. Namun seandainya Yesus adalah Allah,
maka ia tidak bisa mati; jika ia bisa mati, maka ia bukan Allah.
Karena satu kebenaran dasariah tentang Allah dalam Alkitab ialah
bahwa Dia itu abadi, kekal dan tidak takluk kepada maut (Ul.33:27;
Mzm.90:2, dst.); hal ini tidak diragukan sama sekali sejauh Alkitab
mencatat. Paulus berbicara tentang Allah sebagai “satu-satunya yang
tidak takluk kepada maut” (1Tim.6:16). Segala sesuatu akan berlalu,
tetapi Allah tetap selamanya, “tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan”
(Mzm.102:25-27).
Jadi trinitarianisme diperhadapkan dengan pertanyaan:
Bagaimana mungkin Yesus mati tetapi dia juga Allah? Untuk itu
tidak ada jawaban lain selain mengatakan: Yesus mati sebagai
manusia, bukan sebagai Allah. Inilah gaya bicara ganda yang tak
terelakkan. Lalu, apa jadinya dengan syahadat trinitaris yang
dinyatakan di Khalkedon: “Satu Kristus dalam dua kodrat
(perhatikan bagaimana Allah disebut dengan istilah “kodrat”)
dipersatukan dalam satu pribadi… tanpa pembagian, tanpa
pemisahan”? Jelaslah, dogma ini benar-benar mustahil untuk
dipertahankan dalam terang wahyu Alkitab tentang Allah.
Lagipula, seandainya Yesus adalah Allah, maka istilah “Allah
Tu[h]an kita Yesus Kristus” berarti bahwa Allah adalah Allah dari
Allah! Aduh, trinitarianisme! Karena, mau tidak mau, ini akan
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 151

membangkitkan pertanyaan: “Allah” macam apa Yesus
trinitarianisme ini? Karena Allah memang dikenal sebagai “Allah
segala allah” (Ul.10:17; Mzm.136:2; Dan.2:47; 11:36), tetapi siapa
“segala allah” ini harus kita biarkan untuk ditemukan jawabannya
oleh para trinitarian.

Allah sebagai Allah dan Bapanya Yesus—dan kita;
Yohanes 20:17
Istilah “Allah dan Bapa” muncul 12 kali dalam PB; 6 berkaitan
dengan Kristus, dan 6 yang sisa berkaitan dengan orang-orang
beriman. Semua referensi tersebut dikutip lengkap di sini:
Allah sebagai Allah Tu[h]an kita Yesus Kristus, atau “Allahnya”:

Roma 15:6, “sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu
memuliakan Allah dan Bapa Tu[h]an kita, Yesus Kristus.”

2Korintus 1:3, “Terpujilah Allah, Bapa Tu[h]an kita Yesus
Kristus, Bapa yang penuh kemurahan dan Allah sumber segala
penghiburan”.

2Korintus 11:31, “Allah, yaitu Bapa dari Yesus, Tu[h]an kita,
yang terpuji sampai selama-lamanya [bdk. Rm.9:5], tahu,
bahwa aku tidak berdusta.”

Efesus 1:3, “Terpujilah Allah dan Bapa Tu[h]an kita Yesus
Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita
segala berkat rohani di dalam surga”.

1Petrus 1:3, “Terpujilah Allah dan Bapa Tu[h]an kita Yesus
Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah membuat
kita lahir kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus dari
antara orang mati, kepada hidup yang penuh pengharapan”.
152 The Only True God

Wahyu 1:6, “dan yang telah membuat kita menjadi suatu
kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapanya, bagi
Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.”

Allah sebagai Allah dan Bapa kita:

Galatia 1:4, “yang telah menyerahkan dirinya karena dosa-
dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang
sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita”.

Efesus 4:6, “satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di
atas semua dan melalui semua dan di dalam semua.”

Filipi 4:20, “Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-
lamanya! Amin.”

1Tesalonika 1:3, “Sebab kami selalu mengingat pekerjaan
imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu
kepada Tu[h]an kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa
kita”.

1Tesalonika 3:11, “Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan
Yesus, Tu[h]an kita, membukakan bagi kami jalan
kepadamu”.

1Tesalonika 3:13, “Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya
tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada
waktu kedatangan Yesus, Tu[h]an kita, dengan semua orang
kudus-Nya.”

Para sarjana Muslim telah menuduh Paulus sebagai orang yang
menuhankan manusia Yesus dengan menjadikan dia Allah-Anak,
dan dengan demikian, Paulus menjadi pendiri sejati agama Kristen
seperti yang ada hari ini. Namun, terlepas dari fakta bahwa istilah
“Allah-Anak” tidak pernah dipakai oleh Paulus, dari daftar ayat-ayat
di atas tentang “Allah dan Bapa” akan segera terlihat dengan jelas
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 153

bahwa kebanyakan dari rujukan kepada Allah sebagai “Allah Yesus
Kristus” itu ditemukan dalam surat-surat Paulus (4 dari 6 ayat), dan
ia menulis dengan cara yang persis sama tentang Allah sebagai Allah
kita (seluruh 6 ayat).
Yesus berbicara tentang Allah sebagai “Allahku” (Yoh.20:17;
Mat.27:46 = Mrk.15:34); kata-kata ini menggemakan Mzm.22:1,
tetapi tidak dengan demikian kehilangan signifikansinya. Di
Yohanes 20:17, Yesus berkata kepada Maria Magdalena, “Janganlah
engkau memegang aku terus, sebab aku belum naik kepada Bapa,
tetapi pergilah kepada saudara-saudaraku dan katakanlah kepada
mereka bahwa sekarang aku akan pergi kepada Bapaku dan Bapamu,
kepada Allahku dan Allahmu.” Hal ini tercermin dengan kuatnya di
Wahyu 3:12 ketika Kristus yang telah bangkit itu berbicara tentang
“Allahku” sebanyak empat kali dalam satu ayat ini:

“Siapa yang menang, ia akan kujadikan tiang di dalam Bait
Suci Allahku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan
padanya akan kutuliskan nama Allahku, nama kota Allahku,
yaitu Yerusalem baru, yang turun dari surga dari Allahku, dan
namaku yang baru.”

Arti ayat ini pada hakikatnya tidak akan terpengaruh jika alih-alih
“Allahku” cukup dibaca “Allah” saja. Jadi, apa yang ditampilkan
dengan jelas sekali adalah penegasan dari Kristus bahwa Allah
adalah Allahnya dalam cara yang paling personal yang dapat
dinyatakan. Hal ini sangat penting untuk memahami Kristologi
kitab Wahyu (bdk. pula 3:2).
Sebagai trinitarian kita berpendapat bahwa frasa “Bapaku dan
Bapamu”, “Allahku dan Allahmu”, membedakan Yesus dari kita
karena ia tidak berkata “Bapa kita”, “Allah kita”. Namun kita menga-
baikan kenyataan bahwa dalam kalimat yang sama ia juga berkata
“pergilah kepada saudara-saudaraku”; apakah ia dengan demikian
juga membedakan dirinya dari mereka? Jika demikian, bagaimana?
154 The Only True God

Tidakkah ia juga yang berkata bahwa semua orang yang melakukan
kehendak Allah adalah saudara-saudaranya (Mat.12:48,49;
Mrk.3:34,35; Luk.8:21), yang berarti semua orang yang melakukan
kehendak Allah akan mengalami Allah sebagai Bapa? Bahwa Yesus
menggenapi kehendak Bapa secara lebih sempurna daripada
saudara-saudaranya tidak diperselisihkan, tetapi apakah itu
membuat Allah menjadi Bapanya dengan cara yang berbeda?
Namun di sini, sebagaimana di bagian lain, kita membacakan
trinitarianisme kita ke dalam teks itu, dan dogma kita menuntut
adanya pembedaan antara kemanusiaan kita dan kemanusiaan
Kristus, karena Kristus bukan manusia sama seperti kita: ia adalah
Allah-manusia, Allah dan manusia di dalam satu pribadi. Ini berarti
ia bukan sungguh-sungguh manusia seperti kita. Selanjutnya ini
berarti dalam mentalitas trinitaris Yesus itu cenderung lebih
dipandang sebagai Allah daripada sebagai manusia; kemanusiaannya
dibayangi oleh keilahiannya. Ini menimbulkan pertanyaan apakah
Yesus trinitaris itu hanyalah sekadar sebuah tubuh manusia yang
kepribadiannya digerakkan oleh kodrat ilahinya. Kristus trinitaris
adalah Allah, tetapi dapatkah dikatakan dengan jujur bahwa ia itu
“benar-benar manusia”? Allah-manusia, dalam kasus seperti ini,
bukanlah seorang manusia seperti kita. Jadi trinitarianisme harus
mengubah definisi Alkitab dari “Allah” dan “manusia” untuk
memuat Yesus yang mereka tuhankan! Jika kita memberi kebebasan
kepada diri kita sendiri untuk mendefinisikan istilah-istilah Alkitab
dengan cara apa saja sesuai dengan tuntutan dogma kita, maka kita
telah memilih untuk memperlakukan Alkitab semau kita. Namun
apa lagi yang bisa diharapkan bila dasar batu karang monoteisme
Alkitabiah itu, di mana Yahweh adalah satu-satunya Allah, telah
ditolak demi tiga pribadi yang berbagi dalam satu hakikat ilahi?
Sebagai akibatnya, “eksegesis” trinitaris atas Yohanes 20:17
menengarai bahwa “Bapa” juga harus dimengerti dalam arti yang
berbeda-beda; jadi ketika Yesus berkata “Bapaku”, ia diduga sengaja
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 155

membedakan hubungannya dengan Bapa dari hubungan murid-
muridnya dengan Bapa dengan istilah “Bapamu”. Logika macam apa
ini! Namun pembacaan teks secara gamblang (tanpa kacamata
trinitaris) menunjukkan bahwa justru kebalikannyalah yang benar:
apa yang dimaksudkannya adalah bahwa mulai saat ini, oleh kuasa
kebangkitan dan oleh Roh Kudus yang akan segera disalurkannya
kepada mereka (Yoh.20:22), murid-muridnya akan tahu bahwa
“Bapaku” adalah “Bapamu”. Ini mengingatkan kita akan kata-kata
indah di Kitab Rut, ketika Rut berkata kepada Naomi, “Janganlah
desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti
engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan
di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam:
bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku.” (Rut 1:16)
Ini membawa kita kepada “jantung” dari pelayanan Yesus, yang
tujuannya digambarkan oleh Rasul Petrus sebagai “membawa kita
kepada Allah” (1Ptr.3:18). Untuk mencapai hal ini, Yesus melakukan
dua hal yang menuntut sebuah respon: pertama, Yesus memanggil
pendengarnya untuk “marilah kepadaku” (Mat.11:28; Yoh.1:39; 5:40;
6:44,65) dan, kedua, ia memanggil kita dengan kata-kata, “ikutlah
aku” (Mat.10:38; Mrk.8:34; Yoh.10:27, dst.); atau sederhananya,
“datanglah ke mari dan ikutlah aku” (Mat.19:21; Luk.18:22). Sering
kali “ikutlah aku” sudah menyiratkan “marilah kepadaku”; dan
“ikutlah aku” kerap kali muncul dalam keempat Injil (Mat: 6 kali;
Mrk: 4; Luk: 4; Yoh: 6 = 20 kali dalam Injil). Kedua langkah tersebut
mendefinisikan sifat pemuridan dalam Perjanjian Baru. Ucapan Rut
kepada Naomi secara tepat dipandang mengungkapkan hakikat dan
karakter dari pemuridan.
Hasil dari dibawa kepada Allah melalui Yesus adalah bahwa kita
mengenal Allah sebagai Bapa kita dengan cara yang sama seperti
Yesus mengenal Allah sebagai Bapa. Setiap orang Kristen telah
mempelajari doa “Bapa Kami” (Mat.6:9-13) sejak masa kanak-kanak.
Doa ini sering didaraskan dalam ibadah gereja. Namun, berapa
156 The Only True God

banyak orang yang benar-benar mengenal Allah sebagai Bapa? Apa
artinya “membawa kita kepada Allah” kalau bukan membawa kita
untuk mengenal Allah, agar kita memanggil-Nya “Abba, Bapa” dari
hati kita (Gal.4:6; Rm.8:15), persis seperti Yesus yang juga
memanggil-Nya “Ya Abba, ya Bapa” (Mrk.14:36)? Ia datang untuk
menyelamatkan kita, dan inilah arti “diselamatkan”. “Inilah hidup
yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya
Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau
utus.” (Yoh.17:3)
Kata “mengenal” (ginōskō) adalah kata kunci dalam tulisan
Yohanes; kata ini muncul dalam Injil Yohanes dan Pertama Yohanes
jauh lebih sering daripada kitab PB lainnya (Yoh: 57 kali; Mat: 20;
Mrk: 12; Luk: 28; Kis: 16; Rm: 9; 1Yoh: 25). Thayer’s Greek Lexicon
memuat artikel yang panjang dan instruktif untuk kata ginōskō
(kenal) yang dimulai dengan, “Khususnya γινώσκω [ginōskō] berke-
nalan dengan, mengenal, digunakan dalam PB untuk pengetahuan
tentang Allah dan Kristus, dan tentang hal-hal yang berkaitan
dengan mereka atau yang keluar dari mereka; a. τόν Θεόν [ton
theon], satu Allah yang sejati itu, berlawanan dengan politeisme
orang kafir: Rm.1:21; Gal.4:9; juga Yoh.17:3”. Dalam membahas
berbagai kata Yunani untuk kata “kenal”, Thayer membuat sebuah
pengamatan yang penting tentang arti ginōskō: “pengetahuan
berdasarkan pengalaman pribadi” (huruf miring ditambahkan).

Persoalan pelik tentang “dua kodrat” dalam pribadi
Kristus, sang “Allah-manusia”

D alam teologi Kristen, topik yang mengandung kepentingan
khusus adalah “Kristologi”, yang terutama berkaitan dengan
persoalan pelik tentang bagaimana harus memahami Yesus Kristus
yang memiliki dua “kodrat”, Allah dan manusia, di dalam satu
pribadi. Masalah ini tidak berasal dari Perjanjian Baru tetapi sejak
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 157

Yesus dituhankan sebagai Allah oleh gereja non-Yahudi; hanya
setelah itu masalah ini menjadi genting bagi Kekristenan. Mau tidak
mau, penuhanan Yesus menjadi Allah telah menciptakan sebuah
situasi di mana sekarang ada lebih dari satu pribadi yang disebut
Allah, dan hal ini membawa konsekuensi serius: yaitu kesangsian
terhadap monoteisme. Gereja non-Yahudi menyadari sepenuhnya
fakta bahwa Alkitab itu monoteistik, jadi bagaimana gereja masih
dapat mempertahankan suatu bentuk monoteisme, sementara di saat
yang bersamaan keilahian Kristus sebagai Allah-Anak? Sebagian
pemimpin gereja memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap
monoteisme; sebagian lainnya bersikeras pada kedudukan Kristus
sebagai Allah. Sebagai akibatnya, sejarah Kristologi ditandai oleh,
sebagaimana dapat diduga, konflik, perpecahan, dan pengucilan
(bahkan uskup-uskup saling mengucilkan satu sama lain!) Akhirnya,
pandangan bahwa Yesus adalah Allah keluar sebagai pemenang
dalam gereja non-Yahudi. Hal seperti ini tidak mungkin terjadi di
jemaat Yahudi awal.
Lalu, bagaimana dengan monoteisme? Yah, Allah dikurangkan
dari satu Pribadi menjadi satu “hakikat”. Hal ini muncul cepat sekali
di gereja non-Yahudi, tidak lama setelah gereja kehilangan pertalian
dengan gereja induk Yahudinya. “Bapa” Latin terkemuka,
Tertulianus (th. 155-220 M), menaruh perkara itu seperti berikut,
“Allah adalah nama dari hakikat itu, yaitu, keilahian” (J.N.D. Kelly,
Early Christian Doctrines, hlm.114). Pengaruh Tertulianus dapat
dilihat dari pengamatan Kelly, “Paus [Dionysius] mungkin telah
menyimpulkan, atas dasar-dasar etimologi yang meyakinkan, bahwa
hypostasis adalah padanan kata Yunani untuk substantia, yang
dipelajarinya dari Tertulianus, menandakan kenyataan konkret yang
tak terpisahkan dari ke-Allahan” (Kelly, Doctrines, hlm.136). Tanpa
membahas lebih jauh akan kerumitan, dan liku-liku dari sejarah
Kristologi, cukup untuk diketahui bahwa posisi doktrinal gereja
dewasa ini pada intinya tetap sama seperti Tertulianus, yaitu, “ketiga
158 The Only True God

pribadi Ke-Allahan saling berbagi hakikat yang sama” (W.A. Elwell,
Evangelical Dictionary of Theology, “Substance”)
Mengapa trinitarian berbicara tentang Yesus sebagai “Allah-
manusia”? Karena mereka mengklaim bahwa ia memiliki dua
“kodrat”, satu ilahi dan satu manusiawi: Bagaimana kedua kodrat itu
berhubungan satu sama lain di dalam dia? Jawaban yang diberikan
pada Konsili Khalkedon (451 M) menyatakan bahwa kedua kodrat
itu eksis bersama “tanpa kerancuan, tanpa perubahan, tanpa
pembagian, tanpa pemisahan” di dalam satu pribadi. Ini seakan-
akan menunjukkan adanya perpaduan dua kodrat yang sama sekali
berbeda dan terpisah di dalam pribadi Yesus. Bagaimana “pribadi”
seperti ini, yang pada dasarnya adalah dua pribadi, dapat berfungsi
sama sekali tidak dijelaskan, dan tak pelak, tidak dapat dijelaskan.
Jadi, ini dimasukkan ke dalam alam “misteri” teologis—sesuatu yang
efektif menghentikan orang dari bertanya lebih lanjut. Rupanya
pribadi Yesus ini harus begitu saja diterima sebagai sebuah enigma.
Pribadi yang ada di tengah-tengah iman trinitaris itu harus tetap
dalam keadaan tak terpahami, setidaknya berkenaan dengan
bagaimana ia dapat bertindak sebagai pribadi yang disebut Allah dan
manusia sekaligus. Pernyataan Khalkedon memang tidak dapat
dipahami jika pernyataan tersebut dianggap memberi referensi yang
berarti kepada suatu pribadi nyata. Apa adanya, pernyataan itu tidak
lebih daripada sebuah tuntutan dogmatis yang dibuat oleh sebuah
majelis gereja di Khalkedon pada abad ke-5. Tuntutan itu sama
sekali tidak memiliki dasar yang kuat dari Kitab Suci, akan tetapi
dinyatakan oleh gereja trinitarian sebagai batu ujian dari ortodoksi
Kristen. Namun pertanyaan yang dapat dan harus diajukan adalah
apakah ini pengajaran yang Alkitabiah ataukah hasil dari
kebingungan manusia karena tidak memahami pewahyuan
Alkitabiah?
Dari abad ke abad, banyak trinitarian merasa tidak puas percaya
pada “suatu” Kristus yang pada dasarnya tak terpahami, sebuah
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 159

enigma. Banyak yang lebih menyukai gagasan Yesus sebagai Allah
yang berinkarnasi di dalam tubuh seorang manusia. Setidaknya
pandangan ini kelihatannya masuk akal. Dalam pandangan mereka
tentang Kristus, Allah (Anak, bukan Bapa) telah mengambil-alih
kedudukan dalam konstitusi manusia yang biasanya ditempati oleh
“roh manusia”. Gagasan ini didukung oleh apa yang dalam teologi
dikenal sebagai “Kristologi Aleksandria” 7. Menurut gagasan ini,
Yesus mempunyai tubuh daging sama seperti kita, tetapi pribadi
yang bertindak di dalamnya adalah Allah-Anak (kalau tidak maka
ada dua pribadi yang bertindak di dalam satu pribadi itu—mirip
dengan skizofrenia!); di dalam Kristus “Allah-Anak” telah
mengambil alih (apapun artinya, atau, dari sudut pandang lain,
menggantikan) roh manusia. Dengan demikian, ia sama seperti kita
di tingkatan daging, tetapi “Allah-Anak”lah yang hidup di dalam
daging itu. Dengan cara ini ia bisa dianggap “Allah sejati dan
manusia sejati”. Di sini kita tidak akan membahas soal “Allah sejati”,
tetapi dapatkah seseorang yang dibentuk seperti itu disebut
“manusia sejati” sekalipun jika ia memiliki tubuh manusia yang
nyata?
Tentunya tidak sulit untuk dilihat oleh siapapun (kecuali jika kita
sengaja bersikap buta) bahwa tidak ada manusia yang juga sekaligus
Allah dapat sungguh-sungguh disebut manusia tanpa mendefinisi
ulang istilah “manusia” menjadi sesuatu yang berbeda dari arti sebe-
narnya. Kita mungkin tidak tahu banyak, tetapi kita adalah manusia,
jadi sekalipun jika kita tidak tahu apa-apa, setidaknya kita tahu betul
seperti apa manusia itu. Itulah sebabnya kita tahu apa pun Allah-
manusia itu, ia bukan manusia seperti kita, ia sama sekali bukan
salah satu dari kita.

7
Untuk diskusi yang lebih lengkap tentang konflik trinitaris antara aliran
Aleksandria dan Antiokhia, lihat Lampiran 11.
160 The Only True God

Berbicara tentang Allah dan manusia dalam istilah “kodrat”
bukanlah cara yang tepat untuk melanjutkan pemeriksaan
kristologis. Namun, tidak sulit untuk memahami mengapa
trinitarian terpaksa memakai istilah ini. Sebenarnya Allah dan
manusia hanya pantas dibicarakan dalam istilah “pribadi”. Berbicara
tentang manusia dengan istilah “kodrat” berarti berbicara tentang
ciri-ciri dan kualitasnya, bukan tentang dirinya sebagai suatu
“pribadi”. Namun pemikiran trinitaris tentang Kristus sebagai
“Allah-manusia” menjadikannya mustahil untuk berbicara tentang
Allah dan manusia dalam istilah “pribadi” karena, jika tidak, Kristus
akan menjadi dua pribadi: Allah dan manusia!
Namun berbicara tentang Allah sebagai “hakikat” atau “kodrat”
sebenarnya merupakan penghinaan terhadap Allah, dan mereka
yang berbuat demikian tanpa disadari sedang bermain-main dengan
“api yang menghanguskan” (Ul.4:24; 9:3; Yes.33:14; Ibr.12:29). Di
dalam Alkitab, Allah jelas bukan sekadar “kodrat” atau “hakikat”.
Lagipula, memiliki “kodrat ilahi” tidak menjadikan Allah, jika tidak,
maka berdasarkan 2Petrus 1:4 kita pun adalah ilahi. Begitu juga,
sekadar memiliki “kodrat” atau “esensi” manusia tidak menjadikan
seseorang manusia; melainkan, oleh karena kita adalah manusia
(atau pribadi) maka kita memiliki kodrat manusia.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “kodrat”? Agaknya ini
merujuk kepada hal-hal seperti sifat intrinsik, temperamen, atau
kualitas esensial. “Kualitas-kualitas” seperti itu dalam manusia
berasal dari kemanusiaannya, tetapi keadaannya sebagai manusia
tidak berasal dari kualitas-kualitas tersebut. Dengan demikian,
mendahulukan “kodrat” daripada manusianya sama saja dengan
“mendahulukan kereta daripada kudanya”. Seekor binatang bisa saja
memperlihatkan ciri-ciri atau perilaku manusia (“nyaris manusia”)
tetapi itu tidak menjadikannya manusia. Apa yang dimaksud dengan
“kodrat ilahi” di 2Petrus 1:4 sangat jelas dari konteksnya, yang
menjelaskan bahwa kualitas-kualitas moral dan spiritual Allah
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 161

tersedia bagi kita (bdk. “buah Roh”, Gal.5:22) sebagai akibat dari
menjadi manusia baru dalam Kristus (2Kor.5:17).
Dengan demikian, mengatakan bahwa Yesus memiliki kodrat
ilahi tidak sama dengan mengatakan bahwa ia adalah Allah. Jelas
sekali, apa yang disebut “kodrat” oleh trinitarian adalah sesuatu yang
lebih menyerupai “hakikat”. Namun, sekali lagi, Allah bukanlah
sebuah hakikat, demikian juga manusia. Seseorang itu lebih daripada
sekadar “hakikat”nya, apapun itu. Bisa dikatakan bahwa seseorang
itu lebih daripada jumlah hakikat-hakikat, atau kodrat-kodrat, atau
sifat-sifatnya.
Dengan terminologi-terminologi yang kabur seperti “kodrat” dan
“hakikat”, tidaklah mengherankan bila doktrin dua-kodrat Kristus
menjadi masalah berduri dalam gereja sejak masa Nikea dan
seterusnya, yang berakibat pada kerancuan, perselisihan, konflik dan
perpecahan. Adakah jalan keluar untuk masalah yang diciptakan
oleh gereja itu sendiri?
Kitab Suci berbicara tentang “Roh Allah” dan juga “roh manusia”
(Ams.20:27; Pkh.3:21; Za.12:1, dst.). Dapatkah kita berbicara tentang
“roh” dalam istilah “kodrat”? Jika ya, maka “roh manusia” akan
sama dengan “kodrat” manusia, sebagai satu unsur dasariah dari
konstitusi manusia. Akan tetapi, sebagaimana diketahui setiap
orang, dalam konstitusi setiap manusia juga terdapat “daging”, dan
“daging” ini pun merupakan unsur penting dari konstitusi manusia.
Daging begitu mendefinisikan manusia, dan begitu dasariah
terhadap karakter dan sifat manusia, sehingga Alkitab berbicara
tentang eksistensi manusia cukup dengan istilah “daging” (mis.
Yes.40:6; Yoh.1:14). Namun jika “daging” mendefinisikan kehidupan
manusia, dan jika manusia juga memiliki “roh” yang juga integral
kepada “kodrat”nya sebagai manusia, maka manusia memiliki dua
“kodrat”: daging dan roh. Jika memang demikian halnya, ini berarti
Yesus sebagai Allah-manusia memiliki tiga “kodrat”: daging dan roh
manusia ditambahkan kepadanya sebagai Allah-Anak! Ini nyaris
162 The Only True God

tidak bisa dianggap sebagai manusia sejati tanpa mengubah definisi
dari makna menjadi “manusia”.
Satu solusi adalah dengan menyarankan bahwa Allah-Anak,
sebagai Roh, telah menggantikan roh manusia di dalam Yesus. Akan
tetapi ini tidak benar-benar menuntaskan masalah, karena sekarang
manusia itu minus “roh” manusia, dan dengan demikian, tetap
bukan manusia sungguh-sungguh, bukan “manusia sejati”. Dari
semua ini jelas bahwa trinitarianisme, dengan menuhankan Kristus
sebagai Allah, telah menciptakan sebuah masalah yang jelas-jelas
tidak ada jalan keluarnya. Allah dan manusia tidak dapat
dipersatukan atau digabungkan seperti yang dibayangkan oleh
trinitarianisme dalam gagasan “Allah-manusia”. Seandainya mereka
tidak menciptakan masalah ini, maka tidak ada yang perlu mencari
solusi. Ini bukanlah masalah Perjanjian Baru melainkan sebuah
masalah yang diciptakan oleh gereja non-Yahudi.

Jika Yesus adalah Allah, lalu bagaimana dengan
keselamatan manusia?

M asalahnya bahkan lebih rumit daripada itu: Seandainya Yesus
adalah Allah, maka mustahil untuk dia berbuat dosa, karena
Allah bahkan tidak bisa dicobai untuk berbuat dosa (Yak.1:13),
apalagi berbuat dosa. Bagaimana mungkin dia yang tidak mampu
berbuat dosa beridentik dengan orang-orang berdosa dan menjadi
perwakilan mereka? Hanya dia yang mampu berbuat dosa (seperti
Adam) tetapi tidak melakukannya—yang tanpa dosa bukan karena
tidak dapat berbuat dosa, melainkan tidak berbuat dosa, yang
berhasil sedangkan Adam gagal—hanya pribadi seperti itulah yang
dapat mati bagi orang-orang berdosa. “Melalui ketaatan satu orang
banyak orang menjadi orang benar” (Rm.5:19), tetapi jika ia taat
karena ia tidak dapat dicobai, atau berbuat dosa, maka tidak ada
artinya berbicara tentang “ketaatannya”.
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 163

Justru hal yang menakjubkan tentang Yesus sebagai Juruselamat
kita adalah ini: ia bisa saja berbuat dosa, tetapi ia tidak; ia bisa saja
tidak menaati Bapa, tetapi ia tetap taat dalam segala keadaan. Jika itu
bukan hal yang paling menakjubkan, lantas apa? Siapa saja yang
pernah dengan serius menghadapi tantangan dalam menjalani
kehidupan yang berkenan kepada Allah pasti akan dibuat kagum
dengan keajaiban kehidupan Yesus yang sempurna. Bahkan seorang
dengan tingkat kerohanian seperti Paulus mengakui, “Bukan seolah-
olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan
aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya”
(Flp.3:12).
Apakah ada jawaban dalam Kitab Suci untuk masalah ini?
Petunjuk pertama dapat ditemukan di Yohanes 1:18 “di pangkuan
Bapa” yang mengungkapkan keakraban yang sangat dalam dengan
Yahweh; dibandingkan dengan keakraban ini, Yohanes yang ada “di
pangkuan” Yesus (Yoh.13:23) hanyalah cerminan redup. Ada suatu
kedalaman dari kesatuan dengan Yahweh yang diungkapkan lewat
ucapan: “Engkau di dalam aku dan aku di dalam Engkau”. Sebagian
orang percaya pernah mengecap sedikit dari kenyataan yang diung-
kapkan oleh, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan,
menjadi satu roh dengan Dia” (1Kor.6:17), karena hal ini bukan
sekadar status melainkan sebuah realitas pengalaman (sama seperti
menjadi “satu daging” melalui pernikahan bukan sekadar status
melainkan sebuah realitas yang dialami). Namun kita tidak sepenuh-
nya memahami seperti apa kesatuan macam itu dalam kesempur-
naannya. Akan tetapi, dalam hal Yesus kesatuan rohaniah dengan
Yahweh ini menghasilkan suatu kedinamisan dalam kehidupannya
yang dibuktikan oleh kehidupannya yang sempurna tanpa cacat.
Seandainya gereja non-Yahudi mengerti bahwa realitas dalam
Kristus itu bukan semacam kesatuan metafisik lewat penggabungan
dua “hakikat” atau “kodrat” dalam Kristus (“kesatuan hipostatik”
menurut terminologi trinitaris), dan seandainya mereka dapat dibe-
164 The Only True God

baskan dari pemikiran politeistis (“tiga Pribadi”) dan filosofis
Yunani, dan menangkap kedalaman dan kuasa dari kesatuan
rohaniah (“satu roh”, 1Kor.6:17), maka mereka pasti akan dapat
memahami kebenaran Kitab Suci tentang pribadi Kristus dan
kesatuannya dengan sang Bapa.
Kata-kata indah dari Ulangan 33:12 berlaku kepada Yesus pada
kedalaman yang tidak berlaku kepada siapa pun, “Kekasih Yahweh
… diam di antara bahu-bahu-Nya.” (NAU) Sesungguhnya itulah
artinya berada “di pangkuan Bapa”! Hidup “di dalam Dia” menurut
ajaran Yesus.

Kristologi trinitaris: masalah yang jauh lebih serius untuk
dipikirkan

N amun masih ada sebuah masalah yang jauh lebih serius yang
ditimbulkan oleh kristologi trinitaris: penyatuan antara Allah
dan manusia yang sedemikian rupa sehingga Allah benar-benar
menjelma ke dalam sebuah tubuh manusia secara permanen, dan
dengan demikian menjadi seorang manusia, sehingga Allah dapat
disebut sebagai manusia—seorang manusia tertentu bernama Yesus
Kristus. Trinitarianisme disajikan sedemikian rupa sehingga
Anselmus dapat berbicara tentang Allah yang menjadi manusia
(dalam bukunya yang terkenal Cur Deus Homo?). Ini jauh
melampaui antropomorfisme. Adalah satu hal untuk berkata bahwa
Allah tampil dalam bentuk manusia di Perjanjian Lama, tetapi untuk
berkata bahwa Allah menjadi seorang manusia seperti yang
dipikirkan oleh trinitarianisme, adalah hal yang sama sekali berbeda.
Ada baiknya kita mempertimbangkan apakah kita telah
melangkah terlalu jauh dengan dogma Kristiani kita, sampai-sampai
melanggar sifat Allah yang transenden; dan apakah imanensi-Nya
telah diseret ke level sehingga para teolog tidak ragu-ragu berbicara
tentang Allah yang tak takluk maut itu disalibkan dan mati di atas
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 165

kayu salib (bdk. J. Moltmann, The Crucified God). Sayangnya,
trinitarianisme telah memungkinkan cara bicara seperti ini tentang
Allah. Batas yang memisahkan Allah dan manusia bukan saja telah
dikaburkan tetapi telah diruntuhkan. Ada beberapa hal yang tidak
bisa dibenarkan betapa pun besarnya rasa takzim kita. Siapa saja
yang sungguh-sungguh telah menangkap jiwa pewahyuan Allah
dalam Perjanjian Lama pasti akan gemetar berbicara tentang Allah
yang disalibkan dan mati layaknya manusia fana. Namun
trinitarianisme telah membuat kita begitu mati rasa sampai kita
berani berbicara seperti itu bahkan tentang Allah, yang menurut
Kitab-kitab Suci dianggap penghujatan. Kita berani menginjak
tempat yang tidak berani didekati oleh malaikat (bdk. surat Yudas).
Karena karya ini berciri eksegetis dan ekspositoris, dan tidak
dimaksudkan sebagai risalah teologis, pertanyaan di atas akan saya
tinggalkan sebagai bahan renungan.

Kesatuan rohaniah—bentuk kesatuan yang tertinggi

K arena tidak rohaniah, kita lamban menyadari bahwa kesatuan
rohaniah adalah bentuk kesatuan yang paling tinggi; tidak ada
yang lebih tinggi. Malah, sejak abad ke-5 (Konsili Khalkedon, 451
M) dan seterusnya, gereja non-Yahudi secara resmi menuntut
keyakinan pada sebuah syahadat yang menyatakan “penyatuan dua
kodrat (dyo physes), yakni kodrat keilahian dan kodrat kemanusiaan,
ke dalam satu hypostasis atau pribadi Yesus Kristus” (“Hypostatic
Union”, Evangelical Dictionary of Theology, W.A. Elwell, Ed.).
Perhatikan bahwa apa yang ditegaskan secara eksplisit adalah
penyatuan Allah dan manusia melalui penyatuan “kodrat keilahian
dan kodrat kemanusiaan”.
Seandainya maksudnya adalah untuk menyatakan penyatuan
Allah (sekali pun jika yang dimaksud adalah “Pribadi Kedua”)
dengan manusia dalam Kristus, kenapa tidak dinyatakan saja dengan
166 The Only True God

gamblang? Kenapa memakai istilah “dua kodrat”? Karena
seharusnya jelas bahwa “kodrat” dari suatu pribadi bukanlah pribadi
itu seutuhnya. Dan jika yang dimaksud adalah pribadi itu seutuhnya,
kenapa berbicara hanya tentang “kodrat”nya? Di 2Petrus 1:4 kita
pun dinyatakan sebagai orang-orang yang “mengambil bagian dalam
kodrat ilahi (physis, kata yang sama dengan “kodrat” dalam syahadat
itu)”. Apakah memiliki “kodrat ilahi” menjadikan kita Allah atau
setara dengan Allah, atau menjadi bagian dari “Trinitas”? Tentu saja
tidak. Lalu kenapa memiliki “kodrat” ilahi mengangkat Kristus
menjadi Allah, atau menunjukkan bahwa ia adalah salah satu
anggota dari “Ke-Allahan”?
Dan karena “kodrat” tidak sama dengan pribadi itu seutuhnya,
maka bukankah penyatuan dari “dua kodrat” dalam satu pribadi
semacam ini akan menghasilkan suatu pribadi yang bukan sungguh-
sungguh Allah dan juga bukan sungguh-sungguh manusia? Akan
tetapi, dengan cara demikian trinitarianisme ingin menandaskan
bahwa ia itu “sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh
manusia”!
Bagaimana gereja bisa berakhir dalam keadaan yang begitu
membingungkan? Ini disebabkan oleh kegagalan dalam memahami
kebenaran Kitab Suci bahwa kesatuan rohaniah (“satu roh”,
1Kor.6:17) merupakan bentuk kesatuan yang paling tinggi dan
mendalam; yang menyebabkan mereka mencari semacam kesatuan
“hakikat” atau “kodrat” secara metafisis dalam pribadi Kristus,
sehingga terciptalah istilah “kesatuan hipostatik”, yang mereka
anggap sebagai kesatuan yang lebih tinggi. Namun, sebagaimana
telah kita lihat, kesatuan dari “dua kodrat”, yaitu kodrat Allah dan
kodrat manusia, hanya berarti pribadi yang bersangkutan memiliki
atribut-atribut yang diwakili oleh “kodrat-kodrat” itu.
Akan tetapi, apa yang ingin ditegaskan oleh syahadat Khalkedon
melalui doktrin “kesatuan hipostatik” adalah bahwa Allah dan
manusia sungguh-sungguh dipersatukan di dalam Kristus sehingga
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 167

“kodrat manusia secara tidak terpisahkan bersatu untuk selama-
lamanya dengan kodrat ilahi di dalam satu pribadi Yesus Kristus,
tetapi masing-masing kodrat itu tetap berdiri sendiri, utuh, dan
tidak berubah, tanpa campuran atau kerancuan sehingga pribadi
yang satu itu, Yesus Kristus, sungguh-sungguh Allah dan sungguh-
sungguh manusia” (“Hypostatic Union”, Evangelical Dictionary of
Theology, W.A. Elwell, Ed.). Bagaimana mungkin seseorang
memiliki kodrat yang “seutuhnya” tanpa memiliki pribadi yang
seutuhnya?
Apa yang gagal dilihat oleh trinitarian adalah bahwa hanya dalam
hal kesatuan rohaniah sajalah Allah dan manusia bisa bersatu
sedemikian rupa sehingga tetap “berdiri sendiri, utuh, dan tidak
berubah, tanpa campuran atau kerancuan” dalam satu pribadi:
1Korintus 6:17 “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan,
menjadi satu roh dengan Dia.”
Lagipula, gagasan “kesatuan kodrat” yang metafisis semacam ini
(apapun artinya itu) mau tidak mau mengkompromikan kemanu-
siaan Kristus, dan ini menimbulkan konsekuensi soteriologis yang
paling serius.
Akan tetapi, Gereja bersikeras dengan dogmanya, dan menga-
baikan fakta bahwa doktrin Alkitabiah tentang keselamatan telah
dikompromikan, tetapi kebanyakan orang Kristen tidak menyadari
hal ini. Adalah penting untuk kita menyadari bahwa seorang Kristus
yang bukan sungguh-sungguh manusia tidak dapat menyelamatkan
mereka yang sungguh-sungguh manusia. Justru karena Kristus
Yesus ialah sungguh-sungguh manusia maka ia dapat sungguh-
sungguh menyelamatkan kita. Tak seorang pun yang “sungguh-
sungguh Allah” dapat menjadi “sungguh-sungguh manusia”. Itu
juga sebabnya setiap bahasan tentang makna Logos di Yohanes 1
harus mempertimbangkan kebenaran ini, dan tidak membiarkan
dirinya terbawa oleh gagasan-gagasan dan opini-opini metafisis.
168 The Only True God

Gagasan Allah-manusia dikenal baik oleh bangsa Yunani yang
mitologinya sarat dengan dewa-dewi yang dulunya adalah laki-laki
atau perempuan. Tidak heran kalau bangsa Yunani, atau kaum ter-
pelajar Yunani, para pimpinan gereja non-Yahudi bisa mencetuskan
gagasan kesatuan kodrat ilahi dan manusiawi dalam satu pribadi
Yesus Kristus. Mereka hanya merumuskan ajaran Alkitabiah dari
segi pemikiran budaya Yunani, yang telah menjadi kebiasaan
mereka dalam berpikir dan dalam mengungkapkan diri mereka.
Tampaknya kebanyakan dari mereka masih belum cukup
mendalami ajaran Alkitabiah untuk dapat menghayati jiwanya dan
berpikir menurut polanya, bertolak-belakang dengan orang percaya
Yahudi mula-mula.
Semakin gereja dipenuhi oleh bangsa non-Yahudi akibat dari
penyebaran Injil yang efektif ke seluruh dunia, dunia pun menyebar
ke dalam gereja, dan pada saat Konsili Nikea pada tahun 325 M
dunia (khususnya dalam bentuk Kaisar Konstantinus) mulai
mengambil kendali secara efektif atas gereja. Konstantinuslah yang
menjadikan agama Kristen agama utama dari Kekaisaran Romawi,
dan dialah yang mengundang Konsili Nikea.

“Rahasia Kristus”

A pa maksud kita ketika berbicara tentang Yesus sebagai “Allah
sejati dan manusia sejati”? Apa sebenarnya yang sedang kita
bicarakan? Kita tentu tidak bermaksud mengatakan bahwa ia adalah
sebagian Allah dan sebagian manusia. Akan tetapi, apa lagi artinya
kalau bukan itu? Bahwa ia adalah semuanya Allah dan semuanya
manusia, seutuhnya Allah dan seutuhnya manusia, 100% Allah dan
100% manusia (sehingga jumlahnya 200%!)? Namun, itu bukan
sebuah kemungkinan ontologis (maupun logis). Lantas, apa artinya
“Allah sejati dan manusia sejati”? Sebagaimana bisa diduga, satu-
satunya jalan keluar adalah dengan bersurut ke alam “misteri”. Akan
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 169

tetapi, itu tentu bukan maksud Paulus ketika ia berbicara tentang
“misteri Kristus” (Ef.3:4; Kol.4:3), sebab dengan istilah ini ia tidak
merujuk kepada semacam teka-teki logis ataupun ontologis, melain-
kan kepada rencana keselamatan Allah yang tersembunyi berabad-
abad yang lalu tetapi kini dinyatakan dalam Kristus dan digenapi
melalui kematian dan kebangkitannya.
Namun masalahnya bukan saja terletak pada pengangkatan Yesus
ke tingkatan “Allah”, tetapi juga pada konsekuensi dari menyembah
dia sebagai Allah, yang telah menurunkan “Allah Bapa kita” ke
tempat sekunder di dalam hati dan pikiran kebanyakan umat
Kristen. “Pribadi pertama” dari “Ke-Allahan” dalam kenyataannya
telah menjadi “pribadi kedua”, sekalipun Ia masih dibiarkan
memegang gelar kehormatan “Pribadi Pertama”—yang ditulis
dengan huruf kapital supaya kelihatan lebih sedap dipandang. Sang
Anak telah menggantikan sang Bapa sebagai pusat pengabdian umat
Kristen. Paulus, sebagaimana juga semua penulis PB lainnya, akan
dibuat ngeri dengan kondisi seperti ini. Saya sekarang mulai
menginsafi bahwa Kristus sendiri akan merasa jijik dengan hal ini.
Ajarannya telah diselewengkan menjadi sesuatu yang tidak diajarkan
olehnya. Orang-orang pilihan sudah disesatkan (bdk. Mat.24:24).
Sekarang kita bisa mengerti mengapa penghakiman akan dimulai
dari rumah Allah (1Ptr.4:17).
Begitu gereja mengambil posisi dogmatis bahwa Kristus adalah
Allah dan dengan demikian setara dengan Allah dalam segala hal,
maka kesimpulannya adalah menyembah Kristus adalah sama
dengan menyembah Allah, Bapa kita. Dari menyembah dia beserta
sang Bapa, tanpa sepengetahuan kita tergelincir ke dalam
penyembahan kepada Yesus alih-alih sang Bapa. Lagipula, sekalipun
ketika kata “Bapa” dipakai dalam doa, sebenarnya Kristuslah yang
dimaksud dengan istilah itu. Pembenaran atas hal ini diklaim dari
kitab Yesaya (Yes 9:5, “Bapa Yang Kekal”), sedangkan perintah
Yesus untuk tidak menyebut seorang pun selain Allah sendiri
170 The Only True God

sebagai “Bapa” (Mat.23:9: “karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia
yang di surga”), seperti biasanya, tidak diindahkan.

“Misteri Kristus”, Berkat atau Kutuk—bergantung pada
sikap seseorang
Sebenarnya ada berbagai aspek dari misteri Kristus; sebuah realitas
yang rumit dan tidak sederhana. Satu aspek melibatkan prinsip
bahwa realitas yang sama itu dapat menjadi berkat atau kutuk
bergantung pada sikap seseorang terhadap realitas itu. Jadi,
2Korintus 2:15-16, “Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum
dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di
antara mereka yang binasa. Bagi yang terakhir kami adalah bau
kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan
yang menghidupkan”—aroma Kristus yang sama membawa hidup
kepada seseorang dan kematian kepada yang lain. Di Lukas 20:17
batu penjuru tersebut (di ay.18) menjadi penyebab kehancuran bagi
mereka yang menolaknya dan mereka yang jatuh di bawah
penghakiman. Dengan cara yang sama “misteri Kristus” termasuk
kenyataan luar biasa bahwa ia dapat menjadi keselamatan bagi
sebagian orang dan kebinasaan bagi yang lain. Oleh karena itu,
konsekuensi dari menyalahtafsirkan “misteri” tersebut adalah sangat
serius; ini adalah soal hidup dan mati.
Prinsip umum bahwa berkat dapat menjadi kutuk juga terlihat
dari prinsip, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari
padanya akan banyak dituntut” (Luk.12:48). Banyak diberi adalah
suatu berkat, tetapi menyalahgunakan berkat akan mendatangkan
penghakiman. Dan semakin besar berkatnya, semakin berat
penghakimannya jika berkat itu disalahgunakan. Berkat paling besar
yang pernah diberikan kepada manusia adalah “karunia-Nya yang
tak terkatakan itu” (2Kor.9:15)—Kristus. Menyalahgunakan karunia
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 171

ini juga akan membawa konsekuensi-konsekuensi yang tak
terkatakan.
Kitab Suci menerangkan bahwa Yesus adalah jalan kepada Allah,
bukan destinasi, yaitu Allah Sendiri. Yesus adalah sarana, bukan
sasaran. Jika sekarang kita menjadikan dia sasaran ketimbang
sarana, maka kita telah menyimpangkan tujuan Allah, dan berkat
Kristus akan menjadi kutuk. Dengan menjadikan Kristus setara
dengan sang Bapa dalam pengertian trinitaris, dengan menjadikan
dia “sekutu” Allah, berarti menganut dwiteisme atau triteisme, dan
dengan demikian pemujaan berhala, yang mengakibatkan terkena
kutukan Allah. TUHAN telah memberi peringatan, “Jangan ada
padamu allah lain di hadapan {atau di samping}-Ku” (Kel.20:3;
Ul.5:7); kita mengabaikannya dengan harga kekal yang tinggi.
Yesus sendiri mengajar murid-muridnya untuk mengabdi
sepenuhnya kepada “Allah yang Esa” (Yoh.5:44; Mrk.12:29,30),
tetapi kita (umat Kristen) memilih untuk menyembah Yesus sebagai
Allah! Siapa saja yang mempelajari ajaran Yesus dengan cermat akan
menyadari bahwa hal itu akan membuatnya merasa sangat ngeri.
Jika kita berpegang pada monoteisme Alkitabiah dan menyembah
hanya Allah saja maka kita akan sejalan dengan ajaran Yesus, dan
kita pasti tidak akan berada di jalan yang salah dan menuju ke arah
yang salah, ke arah bencana rohani.
Semua ini berarti bahwa dalam hikmat dan maksud Allah, Kristus
adalah sarana yang dipakai Allah untuk memisahkan domba dari
kambing, orang percaya yang sejati dari yang palsu. Sebenarnya, di
Perumpamaan Domba dan Kambing, Kristus menjadi patokan yang
dipakai untuk memisahkan domba dan kambing dan sekaligus
orang yang memisahkan mereka berdasarkan patokan itu
(Mat.25:31-46). Perumpamaan tersebut berbicara dari segi tindakan-
tindakan praktis, tetapi intinya iman adalah “iman yang bekerja oleh
kasih” (Gal 5:6) dan bukan hanya suatu keyakinan intelektual atau
abstrak.
172 The Only True God

Sesuatu yang sangat menggelisahkan

H al yang sangat menggelisahkan saya adalah dalam trinitarian-
isme, kita telah mengambil apa yang dengan sendirinya sangat
baik, yaitu pribadi dan karya Yesus Kristus, dan dengan itu
menggeser sang kebaikan mutlak, yakni, Tuhan Allah Yahweh
Sendiri sebagai tumpuan iman dan penyembahan kita. Tak pelak,
hal ini dilakukan karena kita telah tertipu oleh si Jahat, dan bukan
oleh niat yang disengaja untuk berbuat jahat. Namun,
bagaimanapun juga, memakai kebaikan untuk melawan sang
Kebaikan tertinggi dengan menggantikan yang terakhir dengan yang
terdahulu, merupakan puncak kejahatan. Hal itu merupakan
kejahatan halus yang berfungsi sebagai metode penipuan paling
efektif yang dirancang untuk memikat mereka yang mengejar
kebaikan, yakni, “orang-orang kudus”.
Tampaknya Yesus sendiri telah melihat hal ini sebelumnya secara
profetis ketika ia berkata, “Mengapa kaukatakan aku baik? Tak
seorangpun yang baik selain Allah saja” (Mrk.10:18; Luk.18:19).
Tentu saja ia tidak menyangkal bahwa ia baik, tetapi ia tidak ingin
digunakan untuk menggantikan Dia yang sendiri adalah Kebaikan
absolut, dan dia pun tidak pernah mengklaim dirinya sebagai
Kebaikan absolut itu. Yesus dengan tegas menyatakan bahwa
“kebaikan” merupakan kualitas yang hanya dimiliki oleh Allah
Yahweh saja dan tidak dimiliki oleh yang lain (oudeis, “tak
seorangpun”, BDAG). Semuanya yang sungguh-sungguh baik
berasal dari Dia.
Dalam keadaan gereja yang suram saat ini, niscaya sudah saatnya
untuk mengeluarkan seruan untuk menghimpun seperti yang
dilakukan Musa ketika orang Israel berpaling dari Yahweh dan
membuat allah mereka sendiri: ‘maka berdirilah Musa di pintu
gerbang perkemahan itu serta berkata: “Siapa yang memihak kepada
TUHAN (Yahweh) datanglah kepadaku!” Lalu berkumpullah
kepadanya seluruh bani Lewi’ (Kel.32:26). Kita tidak lagi hidup di
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 173

zaman Musa, jadi perintah di ayat berikutnya untuk “Baiklah kamu
masing-masing mengikatkan pedangnya pada pinggangnya dan
berjalanlah kian ke mari melalui perkemahan itu dari pintu gerbang
ke pintu gerbang…” tentunya bukan berarti menggunakan pedang
secara harfiah, tetapi hari ini berarti pedang Roh, Firman Allah
(Ef.6:17; Ibr.4:12).

Bahaya penyembahan berhala
Surat Yohanes yang Pertama (1Yohanes) diakhiri secara menge-
jutkan dan mendadak dengan peringatan: “Anak-anakku,
waspadalah terhadap segala berhala” (1Yoh.5:21). Akhir surat yang
mendadak dan singkat ini tampaknya dirancang untuk
menanamkan peringatan yang serius ini di dalam hati dan pikiran
kita. Namun, menurut kita, orang Kristen “sejati” tidak mungkin
jatuh ke dalam “dosa yang mendatangkan maut” (1Yoh.5:16,17),
yakni penyembahan berhala, dan kalau hal ini tidak mungkin terjadi,
maka peringatan itu berlebih-lebihan. Namun Allah lebih mengenal
kita daripada kita mengenal diri kita sendiri, itulah sebabnya Ia
mengeluarkan peringatan keras ini melalui hamba-Nya. Tidak
mengacuhkan peringatan itu sama artinya dengan binasa.
Justru karena penyembahan berhalalah Israel binasa sebagai
sebuah bangsa ketika mereka dikirim ke Pembuangan. Kisah
bagaimana Israel membiarkan dirinya tergoda oleh penyembahan
berhala membentuk sebagian besar dari Perjanjian Lama. Israel telah
“dipesonakan” (Gal.3:1) oleh ilah-ilah lain dan para penyembahnya
sampai-sampai mereka bukan saja menutup telinga mereka terhadap
himbauan-himbauan dan peringatan-peringatan Yahweh yang
mendesak melalui para nabi-Nya, tetapi juga membungkamkan
suara mereka dengan membunuh mereka (bdk. Mat.23:34,35; dst.).
Ciri penyembahan berhala, pertama-tamanya, adalah ia dibuat
oleh manusia, dan bertentangan dengan apa yang diwahyukan oleh
174 The Only True God

Allah. Akan tetapi, orang bisa mengambil sesuatu yang telah diwah-
yukan, misalnya Alkitab, dan menjadikannya sasaran penyembahan.
Ini disebut “bibliolatri” (penyembahan Alkitab). Namun, hal ini
relatif jarang terjadi, karena biasanya unsur penting kedua dari pe-
nyembahan berhala adalah ciri antropoidnya (menyerupai manusia),
yaitu, allah buatan manusia pada umumnya memiliki ciri-ciri manu-
sia, sehingga memudahkan manusia untuk beridentifikasi
dengannya.
Dalam kasus Yesus, sesuatu yang sangat halus dan berbahaya bisa
terjadi (dan sudah terjadi). Jika ia adalah sekaligus Allah dan
manusia, maka ini berarti bahwa ia bukan saja manusia, tetapi ia
lebih daripada Allah, sebab Allah itu “hanya” Allah, sedangkan
Yesus itu keduanya Allah dan manusia. Jelas akan lebih sulit untuk
beridentifikasi dengan Allah yang sepenuhnya transenden, tidak
kelihatan, dan tidak terjangkau; tetapi jika Yesus adalah Allah yang
memiliki tubuh manusiawi yang nyata seperti yang kita miliki,
beridentifikasi dengan dia akan jauh lebih mudah. Tidak heran kalau
ia dapat dengan mudahnya menggantikan Bapa dalam doa dan
penyembahan kita.
Kita nyaris tidak perhatikan bahwa kita telah melakukan sesuatu
yang teramat serius, yakni, kini kita melihat Allah sebagai “hanya”
Allah, tetapi Yesus sebagai Allah tambah manusia. Kesempurnaan
Allah, bagi kita, tidak dipandang sempurna karena kekurangan
kualitas manusiawinya. Namun kekurangan ini ditemukan dalam
kesempurnaan Kristus, yang adalah Allah sekaligus manusia dalam
satu pribadi. Trinitarianisme (tanpa disadari tentunya) telah
menciptakan sebuah super-berhala, bahkan lebih hebat daripada
Allah sendiri, karena doktrin ini menyiratkan, hampir tak kentara,
bahwa Allah “disempurnakan” (dari sudut pandang manusiawi) oleh
penambahan kualitas manusiawi itu! Ini merupakan hasil yang tak
terelakkan dari sebuah doktrin yang bersikukuh bahwa Kristus itu
100% Allah (“Allah sejati”) dan 100% manusia (“manusia sejati”)
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 175

(200% (!), berlawanan dengan Allah yang 100%, Allah “saja”—
seberapa dekatnya semua ini dengan penghujatan? Masih adakah
rasa “takut akan Allah” di dalam hati manusia?). Efeknya adalah
Allah Bapa, yang sebenarnya menjadi jantung dan pusat dari segala
sesuatu, telah dikesampingkan dalam Kekristenan trinitaris.
Dalam menegaskan bahwa Yesus adalah Allah sejati dan manusia
sejati, trinitarianisme rupanya tidak mempertimbangkan sama sekali
apakah pernyataan yang tidak masuk akal seperti itu, mungkin atau
tidak. Apakah umat Kristen sungguh-sungguh merasa puas
memperlakukannya sebagai “misteri” yang tak terjangkau oleh akal
manusia? Adalah menyedihkan bagi kebenaran jika sesuatu yang
tidak masuk akal begitu saja diklasifikasikan sebagai “misteri”. Ini
jelas-jelas bukan definisi kata “misteri” sebagaimana dipakai dalam
Perjanjian Baru.
Namun bagi orang yang berhenti sejenak untuk memikirkan hal
ini, absurditas logis dari klaim bahwa suatu pribadi bisa menjadi
“100%” manusia dan juga “100%” Allah, akan terlihat jelas dari fakta
bahwa “pribadi” semacam itu akan menjadi 200%, dan dengan
demikian, menjadi dua pribadi, bukan satu! 100% (sebagai padanan
matematis untuk “sejati”) tidak dimaksudkan dalam istilah yang
murni kuantitatif, tetapi sebagai cara untuk mencakup apa saja yang
dibutuhkan oleh kata “sejati”. Sebab, jika seseorang bukan 100%
manusia, bagaimana mungkin ia disebut manusia sejati? Seekor
simpanse dikatakan memiliki kira-kira 98% DNA manusia, tetapi
apakah itu memenuhi syarat sebagai manusia? Selain kekurangan 2%
DNA manusia, tentu saja simpanse juga kekurangan “roh manusia”.
Siapa saja yang tidak memiliki roh manusia bukanlah manusia, dan
ini jauh lebih penting daripada DNA.
Pada akhirnya, dogma trinitaris mewakili kegagalan dalam
memahami keduanya Allah dan manusia. Allah itu mutlak
sempurna dalam diri-Nya dan tidak ada apa-apa yang dapat
ditambahkan kepada kesempurnaan-Nya. Sedangkan mengenai
176 The Only True God

Yesus sebagai Allah-manusia, “Allah sejati dan manusia sejati”, jika
kita berbicara memakai metafora matematis dalam bentuk
persentase, dan mengakui fakta bahwa ketika berbicara tentang
menjadi satu “pribadi”—bukan performanya—tak seorang pun bisa
menjadi lebih dari 100%, maka bukankah ini berarti ia hanya bisa
menjadi 50% Allah dan 50% manusia? Dan itu juga berarti ia tidak
bisa menjadi sungguh-sungguh Allah ataupun manusia, bila Allah
dan manusia dimengerti menurut terminologi Alkitabiah. Namun,
seperti yang telah kita lihat, gagasan Allah-manusia merupakan hal
yang lazim dalam pemikiran Yunani yang mendominasi budaya
orang kafir. Dewa-dewi Yunani dan Romawi adalah manusia-
manusia yang didewakan dan dimuliakan; mereka telah menjadi
entitas mitologis, dan persyaratan kebenaran dan logika tidak
berlaku pada mitologi. Tak seorang pun dapat membaca sastra klasik
Yunani tanpa menjumpai nama-nama dari “ilah-ilah” mereka yang
sekian banyak, persis seperti yang digambarkan oleh Paulus
(1Kor.8:5). Orang-orang yang dibesarkan dalam budaya semacam
ini tidak akan sulit mempercayai Yesus sebagai Allah-manusia.

Disesatkan oleh ide-ide religius dan filosofis Yunani
Kita tidak menyadari bahwa kita telah disesatkan oleh “hikmat” atau
sofistri teologis Yunani, dan sebagai akibatnya, dijauhkan dari
hikmat pewahyuan Alkitabiah (kedua hikmat yang berbeda dan
bertentangan ini dibahas di 1Kor.1:17-2:13). Dalam Alkitab,
misalnya, Allah (Yahweh) bukanlah suatu “hakikat”. Adakah orang
yang pernah menyodorkan sepotong bukti Alkitabiah untuk
membenarkan pandangan bahwa kita bisa berbicara tentang Allah
dengan istilah “hakikat”? Namun para pemimpin Yunani gereja
tampaknya tidak ragu menggunakan istilah ini. Setiap teolog
seharusnya sadar bahwa definisi Allah sebagai suatu “hakikat” ini, di
mana tiga pribadi eksis bersama, merupakan produk dari sofistri
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 177

teologis Yunani—sofistri yang disahkan dengan memanfaatkan
sekumpulan ayat-ayat dalam Kitab Suci, dan yang telah berhasil
menyesatkan kita semua. Spekulasi-spekulasi filosofis Yunani telah
menjauhkan kita dari firman Allah.
Namun ada hal yang lebih serius untuk dipertimbangkan:
Pernahkah terlintas dalam pikiran kita bahwa berbicara tentang
Allah sebagai “hakikat” bisa jadi adalah perbuatan menghujat?
Apakah mungkin pikiran dan roh kita telah menjadi begitu mati rasa
oleh karena “aklimatisasi” kultural sehingga kita telah menjadi
terbiasa dengan istilah tersebut sampai-sampai kita tidak lagi
memperhitungkan kemungkinan tersebut? Bukankah ini kurang
lebih seperti orang yang terbiasa mengumpat dan tidak menyadari
betapa kasar perkataannya? Akankah Allah menuntut
pertanggungjawaban dari kita karena telah menggambarkan Dia
sebagai “hakikat”, atau “zat” (Latin ‘Substantia’; Yunani Hupostasis
atau ousia) dari tiga pribadi ilahi?
Sedangkan untuk pemikiran Yunani, Garry Wills (Professor of
History Emeritus di Northwestern University) menguraikannya
dengan ringkas tetapi jelas, “Paulus tidak pernah menampilkan
Yesus sebagai Allah orang Yunani, sebagai Hikmat dari Plato,
sebagai Penggerak yang Tidak Digerakkan dari Aristoteles” (What
Paul Meant, Penguin Books, 2006, hlm.127).

Pencarian teks-teks bukti oleh trinitarian
Apa psikologi di balik tekad kita untuk membuktikan “Yesus
Kristus” itu mutlak setara dalam segala hal dengan “Allah Bapa
kita”? Di dalam mengejar tujuan ini dengan penuh semangat kita
tidak berhenti untuk mempertimbangkan fakta bahwa tidak satu
kitab pun dalam PB yang memiliki tujuan tersebut, sehingga kita
mendapati diri kita tidak sejalan dengan PB. Sebenarnya, tidak dapat
diperlihatkan kalau kata “Allah” (dalam pengertian trinitarisnya,
178 The Only True God

yakni, tokoh yang setara bersama dengan Bapa) pernah diterapkan
kepada Kristus dalam PB. Jadi, usaha untuk membuktikan keilahian
Kristus harus bergantung pada gelar-gelar yang telah kita lihat di
atas, seperti, “anak Allah”.
Untuk saya pribadi, saya mengakui sekali lagi bahwa dalam hal
Kristologi, saya telah membiarkan trinitarianisme menguasai
eksposisi saya di masa lalu. Saya menyelidiki Kitab-kitab Suci untuk
menemukan teks-teks bukti untuk keilahian Kristus. Saya masih
memiliki Alkitab tua yang ditandai pada setiap tempat yang memuat
teks semacam itu, yang disertai oleh banyak catatan. Sekarang saya
merasa agak geli atau bahkan lucu ketika mendengar orang
mengutip teks-teks yang sama itu kepada saya untuk mendukung
trinitarianisme mereka.

Konsekuensi-konsekuensi praktis dari Trinitarianisme
Apakah konsekuensi-konsekuensi dari Kristologi trinitaris? Dengan
menuhankan Kristus menjadi setara dengan Allah, “Kristus” dan
“Allah” sekarang memiliki arti yang sama. Akibatnya, berdoa dan
menyembah Yesus adalah berdoa dan menyembah Allah. Allah
Bapa dikurangi menjadi salah satu dari tiga, dan itu pun bukan yang
utama. Begitu sang Bapa dipinggirkan, terbukalah pintu untuk
menjadikan pribadi-pribadi lain sebagai sasaran utama dari doa dan
pengabdian kita. Akibatnya, Yesus menjadi sentral dalam
Protestanisme “aliran utama”; dalam Pantekostalisme pula Roh
menjadi yang utama; sedangkan untuk sebagian besar Katolikisme
Roma, Perawan Maria menggantikan ‘pribadi-pribadi’ ilahi tersebut,
setelah diangkat statusnya ke tingkatan yang serupa.
Seandainya mereka diminta berhenti berdoa dan beribadah
kepada sosok-sosok yang telah mereka tuhankan itu, mereka akan
merasa begitu bingung sehingga tidak tahu harus berbuat apa.
Tampaknya jelas bahwa, setelah disesatkan oleh trinitarianisme,
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 179

mereka nyaris tidak tahu bagaimana harus berdoa dan beribadah
seandainya mereka harus berhenti menyembah allah pilihan mereka
sendiri. Mereka telah begitu disesatkan sehingga mereka akan
merasa kesulitan berdoa kepada sang Bapa, sebab itu akan terasa
seperti berdoa kepada sosok yang asing.
Ajaran Perjanjian Baru sama sekali berbeda. PB jelas mengajarkan
bahwa Allah Bapa (bukan dalam arti trinitaris) selalu menjadi
sasaran utama dari doa dan ibadah kita. Begitulah persisnya cara
Yesus berdoa, dan ia mengajar murid-muridnya untuk berbuat hal
serupa. Ia selalu mengajar kita untuk berdoa kepada Bapa, yang
seharusnya sudah jelas dari “Doa Bapa Kami”. Tujuan utama dari
pelayanannya adalah untuk membawa kita kepada suatu hubungan
langsung dengan Bapa yang dikenal dan dikasihi olehnya. Ia ingin
kita berdoa kepada “Abba, Bapa” sama seperti yang ia lakukan. Ini
terlihat dari ajarannya, dari kematiannya (untuk membuka jalan
kepada perdamaian dengan Dia), dan dari pengutusan Roh guna
menginspirasi serta menguatkan kita untuk berdoa kepada Abba.
Kristus sudah pasti akan merasa ngeri melihat ajarannya
dicampakkan oleh sebuah doktrin yang meminggirkan sang Bapa
atas namanya. Alih-alih mengikuti ajaran dan teladannya, murid-
muridnya telah menaruh dia di tengah-tengah, dan dengan
demikian telah memindahkan sang Bapa dari kedudukan yang jelas
dimiliki-Nya dalam PB secara keseluruhan—dan lagi pula, semuanya
ini dilakukan dengan mengabaikan ajaran Yesus sendiri. “Mengapa
kamu berseru kepadaku: Tu[h]an, Tu[h]an, padahal kamu tidak
melakukan apa yang aku katakan?” (Luk.6:46; bdk. Mat.7:21-23)
Jadi apakah menjadi soal jika kita terus berpegang pada doktrin
Trinitas? Akankah hal itu mempengaruhi keselamatan kita? Tidak—
jika tidak menjadi soal apakah kita mendengarkan dan menaati
ajaran Yesus. Barangkali kita tidak pernah mengira bahwa kata-kata
Yesus di Matius 7:21-23 mungkin berlaku kepada kita. Namun
alangkah baiknya kalau kita mencamkan nasihat Paulus untuk
180 The Only True God

mengerjakan “keselamatanmu dengan takut dan gentar”, sesuatu
yang diyakinkan kepada kita oleh gereja Injili bahwa hal itu tidak
perlu. Kata mereka, “takut dan gentar” (2Kor.7:15; Flp.2:12)
mencerminkan kurangnya iman yang, menurut mereka, sebagai
iman yang berjalan dalam keberanian kudus! Paulus bisa
mendapatkan sebuah pelajaran iman dari para pengkhotbah yang
berani ini!
Mungkinkah kita juga “mendengar tetapi tidak mengerti”?
Apakah hati kita telah dikeraskan karena kita telah berada di bawah
kuasa penipuan? Dapatkah kita melihat ajaran Yesus dalam keempat
Injil itu dan tidak menangkap maksudnya? “Kerajaan Allah”,
sebagaimana kita seharusnya sudah tahu sekarang, adalah unsur
utama dalam pengajaran Yesus. Kerajaan itu pertama dan terutama
adalah kerajaan milik Allah, sang Allah yang disapa oleh Yesus
sebagai “Bapa”. Namun, kita ditipu oleh trinitarianisme yang
mengatakan kepada kita bahwa itu adalah kerajaan milik Yesus,
karena ia adalah Allah.
Nah, memang benar bahwa dalam arti tertentu itu adalah
kerajaan Yesus. Dalam arti apa? Dalam arti bahwa Allah telah
mengangkat dia sebagai raja dalam kerajaan-Nya, dalam arti yang
sama seperti ketika Daud, bapa Yesus (“anak Daud” merupakan
gelar yang disandangkan kepada Yesus dalam Injil), diurapi menjadi
raja Israel yang, sebagai kerajaan teokrasi, adalah kerajaan milik
Allah. Campuran kebenaran dan kepalsuan macam inilah yang
dimanfaatkan oleh trinitarianisme untuk mencengkram orang. Akan
tetapi, setiap orang yang membaca Inijl tanpa prasangka niscaya
akan tahu bahwa ketika Yesus mengumumkan Kerajaan itu, ia
sedang mengumumkan kerajaan Allah, bukan kerajaannya sendiri.
Unsur pokok lainnya dalam pelayanan Yesus, mengingat
dekatnya Kerajaan tersebut (ditekankan dalam Sinoptik), adalah
membawa orang ke dalam suatu hubungan yang menyelamatkan
dengan Allah yang harus berpangkal dari pertobatan. Begitu ada
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 181

pertobatan, Yesus memanggil mereka ke langkah berikutnya: sebuah
hubungan yang penuh kepercayaan dan akrab dengan Bapa sebagai
“Abba”. Di Injil Yohanes, Yesus mengajarkan murid-muridnya
bahwa keakraban ini didasari oleh keberdiaman timbal-balik (“aku
di dalam mereka dan Engkau di dalam aku”, Yoh.17:23, dst.). Dari
semuanya ini seharusnya mutlak jelas, terutamanya dari pengajaran
Yesus dalam Injil Yohanes, bahwa Bapa adalah yang utama dalam
pelayanan Yesus.
Sentralitas sang Bapa dalam Injil Yohanes (dan juga dalam tulisan
Paulus dan sisa PB) membuat kita berhenti sejenak dan
merenungkan doktrin umum tentang Allah (“theology proper”)
dalam teologi Kristiani dewasa ini, dan semenjak abad ke-4. Allah
diajarkan pertama dan terutama sebagai suatu Sosok transenden, di
mana transendensi berarti “eksistensi di atas dan terpisah dari dunia
material” (Encarta). Allah Bapa, dalam doktrin trinitaris, sudah
tentu adalah transenden; sedangkan Anak Allah sepertinya adalah
imanen, setidaknya berkaitan dengan pelayanan bumiahnya. Dalam
doktrin ini Bapa dan Anak benar-benar berfungsi dalam ranah yang
berbeda.
Hal yang perlu dipahami adalah bahwa doktrin transendensi ini
berasal dari filsafat Yunani (Plato dan Aristoteles) dan bukan dari
Alkitab Ibrani. Gagasan Yunani tentang transendensi ilahiah ini
dihancurkan oleh pengajaran Yesus di Injil Yohanes, ketika ia
menjelaskan bahwa sang Bapa terlibat secara intim dalam setiap
aspek kehidupan dan pekerjaannya (Yesus), dan dalam seluruh
karya keselamatan umat manusia.
Hal ini juga muncul dalam ketiga Injil Sinoptik, di mana Kerajaan
Allah bukan sesuatu yang ada di surga semata-mata atau hanya di
masa depan, tetapi sesuatu yang sudah beroperasi di dunia sekarang
ini dan, pada akhirnya, akan menang atas segala kuasa musuh di
bumi. Hal ini juga diajarkan oleh Paulus; dan perspektifnya hampir
sama dengan perspektif Yohanes. Kitab Wahyu menaruhnya demi-
182 The Only True God

kian, “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tu[h]an kita dan dia
yang diurapi-Nya, dan ia akan memerintah sebagai raja sampai
selama-lamanya” (Why.11:15). Namun, gagasan Yunani tentang
Allah, sang Bapa, sebagai sepenuhnya transenden dan tidak peduli
dengan urusan-urusan dunia, adalah tidak sesuai dengan Kitab Suci,
dan secara efektif mengasingkan Dia dari kita sebagai Sosok yang
jauh dan sulit didekati.
Tidak heran, kita tidak benar-benar beridentifikasi dengan
1Yohanes 1:3, “Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan
Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus”. Mengingat jauhnya
Bapa seperti yang tersirat dalam ajaran Kristen yang telah kita
terima, bagaimana kita dapat bersekutu dengan sang Bapa? Oleh
karena itu, hampir seluruh umat Kristen Injili sekarang ini bersekutu
dengan sang Anak sambil sesekali berbasa basi (pay lip service)
dengan Bapa sebagai sikap sopan terhadap Dia. Semuanya ini lahir
dari kegagalan kita dalam memahami ajaran Kitab Suci tentang
imanensi Bapa dan keterlibatan-Nya yang mendalam di dalam
keselamatan kita. Akibatnya, kehidupan rohaniah kita tidak lagi
seimbang dan malah menyimpang bila dinilai dalam terang firman
Allah. Jika suatu hari nanti kita, berkat kasih-karunia, dianugrahi
kehormatan diizinkan masuk Surga, barangkali kita akan langsung
menuju kepada Yesus, dan menyembah dia dengan rasa syukur dan
pujian, dan tidak akan (seperti seluruh kumpulan orang banyak
surgawi yang berulang-kali dilukiskan dalam Kitab Wahyu)
menyembah Bapa yang duduk di atas takhta. Betapa tidak sesuainya
kita dengan seluruh kumpulan orang banyak itu di surga—termasuk
Tu[h]an kita Yesus Kristus!
Dan apa tujuan dari salib, yaitu, kematian Yesus? Apakah tujuan
utama Yesus untuk mendamaikan dunia dengan dirinya? Apakah
pengorbanan “Anak Domba Allah” itu untuk mendamaikan umat
manusia dengan Anak Domba alih-alih dengan Allah? Menanyakan
pertanyaan-pertanyaan seperti itu sama saja seperti menjawabnya,
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 183

setidaknya bagi orang yang memiliki sedikit pemahaman akan Kitab
Suci. Lantas, apa yang begitu membutakan kita sehingga apa yang
seharusnya sangat jelas menjadi tidak jelas? Semoga Tuhan
memberikan rahmat.

Yesus sebagai Tu[h]an

S ituasi dengan trinitarianisme bukan soal sederhana yang bisa
diterima atau ditolak begitu saja, yaitu, tidak jadi soal apakah
Anda ingin tetap berpegang kepadanya atau meninggalkannya.
Sekarang semestinya jelas nyata bahwa dogma ini merupakan
sebuah pelanggaran terhadap firman Allah, karena secara harfiah
telah “jauh melampaui” (“melanggar”) firman-Nya. Tidak di mana
pun dalam khotbah rasuli di Kisah Para Rasul, dan dalam ajaran PB,
kepercayaan pada Yesus sebagai Allah menjadi syarat untuk
keselamatan. Begini caranya sang rasul merangkum iman yang
dibutuhkan untuk keselamatan, “Sebab jika engkau mengaku
dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tu[h]an, dan percaya dalam
hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan dia dari antara orang
mati, maka engkau akan diselamatkan” (Rm.10:9). Petrus sudah
menjelaskan arti kata “Tu[h]an” dalam pesannya yang pertama
(pesan pertama yang diwartakan sesudah Pantekosta) di Kisah Para
Rasul 2:

34
“Sebab bukan Daud yang naik ke surga, malahan Daud
sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku:
35
‘Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-
musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.’ [Mzm.110:1]
36
Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa
Allah telah membuat (poieō) Yesus, yang kamu salibkan itu,
menjadi Tu[h]an dan Kristus.”
184 The Only True God

Peninggian Yesus sebagai “Tu[h]an dan Kristus” berkaitan secara
langsung dengan dirinya yang telah “dibangkitkan” pada
kebangkitannya oleh Allah (Kis.2:31-32).
Makna “Tu[h]an” diuraikan dengan jelas dalam nas ini. Kata itu
tidak dimaksudkan untuk dibaca sebagai “pribadi kedua dari
Trinitas”. Berbuat demikian artinya tidak menghiraukan, dan
dengan demikian melanggar, firman Allah. Petrus membuatnya jelas
bahwa “Tu[h]an dan Kristus” harus dipahami menurut latar
Mzm.110:1 yang mengacu kepada raja Daud Mesianik yang
dijanjikan, yang sekarang telah datang dalam Kristus. Akan tetapi,
trinitarianisme menyatakan dengan tegas bahwa jika Anda tidak
percaya bahwa Yesus adalah Allah menurut definisi mereka, maka
Anda adalah seorang bidat, dan orang bidat tidak akan
diselamatkan.
Akan tetapi anehnya, para penginjil yang memanggil orang-orang
untuk bertobat dan menerima keselamatan dalam Kristus biasanya
tidak menyebutkan bahwa Anda harus percaya kepada Yesus sebagai
Allah sebelum Anda dapat diselamatkan. Sebagian dari mereka
hanya mengatakan kalau ia harus diterima sebagai Juruselamat, dan
sebagian lagi memaksa kalau ia harus diterima juga sebagai Tu[h]an.
Apakah mereka berasumsi bahwa orang-orang non-Kristen (mis. di
Asia) sudah seharusnya tahu bahwa mereka diharapkan untuk
percaya bahwa Yesus adalah Allah? Lalu, mengapa keilahian Kristus
tidak selalu dinyatakan secara eksplisit dalam penginjilan? Apakah
tujuannya untuk membuat orang-orang itu membuat sebuah
“keputusan untuk Kristus” dulu dan sesudahnya baru diberitahukan
bahwa mereka harus percaya kepada Yesus sebagai Allah-Anak?
Apakah ini jujur? Atau, apakah para penginjil itu tidak sepenuhnya
yakin bila doktrin ini dibutuhkan untuk keselamatan?
Pemugaran terhadap monoteisme Alkitabiah akan tercapai bila
sang Bapa dipuja sebagai pusat dari kehidupan Jemaat sesuai dengan
ajaran Yesus, yang diakui orang Kristen sebagai “Tu[h]an”. Yaitu,
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 185

bila semua orang yang mengaku sebagai murid-murid Tu[h]an
Yesus Kristus meneladani contoh Tuan mereka dalam berdoa
kepada Bapa dan melakukan kehendak-Nya. Kristus menguatkan
murid-muridnya melalui Roh Allah untuk melakukan apa yang
tidak mampu mereka lakukan secara alamiah. Jika pemuridan
berarti mengikuti Yesus, maka pengikutan itu harus merujuk kepada
ajarannya dan teladan hidupnya yang mutlak mengabdi kepada
Yahweh Allah, sang Bapa, yang disapanya dengan penuh kasih
sebagai “Abba”. Yesus masih melakukan hal ini sekarang juga,
menurut Kitab Suci, karena dialah pengantara bagi semua orang
yang beriman dan yang mengikuti dia; sebab bukankah tertulis
bahwa, “ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua
orang yang melalui dia datang kepada Allah. Sebab ia hidup
senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr.7:25)? Ini
menunjukkan betapa penting pelayanannya sebagai Pengantara
untuk kita saat ini di hadapan Bapa demi keselamatan kita.
Namun apakah dia akan menjadi pengantara untuk mereka yang
memanggil dia “Tu[h]an, Tu[h]an” tetapi tidak menaati dia?
Sebaliknya, Yesus memperingatkan orang-orang seperti itu untuk
berharap mendengar kata-kata ini dari dia “pada hari terakhir”:
“Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak
pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapanku, kamu sekalian
yang melakukan kejahatan!” (Mat.7:23, lih. ay.21-23) Menariknya,
pernyataan terakhir menggemakan Mazmur 119:115 di mana sang
Pemazmur mengungkapkan komitmennya untuk mematuhi Allah
dan firman-Nya: “Menjauhlah dari padaku, hai penjahat-penjahat;
aku hendak memegang perintah-perintah Allahku.” Yesus berulang-
kali berbicara tentang memegang perintah-perintah Allah: Yohanes
10:18; 12:49; 15:10; juga 14:31. Perhatikan pula, Yesus memakai
istilah “Allahku” juga sesudah kebangkitannya (Yoh.20:17; bdk.
Mat.27:46); namun apa yang jarang diperhatikan adalah bahwa
dalam Kitab Wahyu, Kristus yang telah dimuliakan itu tetap
186 The Only True God

berbicara tentang Yahweh Allah sebagai “Allahku” (Why.3:2,12).
Doa syafaat dari seorang imam besar seperti dia (Ibr.7:24,25) sudah
pasti akan didengar.

Alkitab itu Allah-sentris (God-centered)

U ntuk memahami apa saja dalam Kitab Suci dengan tepat, kita
harus memulai dengan memahami bahwa Kitab Suci itu Allah-
sentris, yang diungkapkan dengan jelas di Efesus 4:6, “satu Allah dan
Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan melalui semua dan di
dalam semua”; perhatikan keempat “semua”. “Bapa dari semua”
dalam konteks ini berbicara tentang Allah sebagai Bapa semua orang
beriman. “Di atas semua” (epi pantōn) sama persis dengan yang ada
di Roma 9:5 (itu sebabnya Roma 9:5 berlaku kepada “satu Allah dan
Bapa”, bukan kepada Yesus sebagaimana diinginkan oleh trinitarian)
dan berbicara tentang supremasi dan kekuasaan-Nya di atas semua;
“melalui semua” “mengungkapkan hadirat(Nya) yang menyeliputi,
menghidupkan, dan menguasai” (The Expositor’s Gk Testament); “di
dalam semua” hadirat-Nya berdiam oleh Roh-Nya. J.A. Robinson
mengatakannya seperti berikut, “Mahatinggi di atas segalanya, Ia
bergerak melalui segala sesuatu, dan diam di dalam segala sesuatu”
(Commentary on Efesus, Exposition of the Greek Text). Singkatnya, Ia
adalah segalanya atau semuanya dalam setiap hal yang dapat
dibayangkan—Ia mutlak segalanya.
Kesegalaan (Allness) ini diungkapkan dengan cara lain di Roma
11:36, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan
kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” “Dari”,
“oleh”, dan “kepada”—yang melingkupi segalanya.
Maksud dari semuanya ini adalah bahwa mutlak tidak ada
apapun dan siapapun yang berada di luar kesegalaan Allah. Apa saja
yang ada, ada bagi Dia (“yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu
dijadikan”, Ibr.2:10), oleh karena Dia, dan bergantung kepada
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 187

hadirat-Nya yang menopang. Itu berarti, segala sesuatu dan setiap
makhluk, besar atau kecil, ada sehubungan dengan Dia, relatif
kepada Dia yang sendiri adalah absolut. Tidak ada dua (apa lagi tiga)
absolut. Semuanya ini berarti bahwa, sejauh penyataan Kitab Suci,
Kristus haruslah dipahami sehubungan dengan “satu Allah dan Bapa
dari semua” (Ef.4:6), sekalipun jika hubungannya dengan Dia ada
pada tingkatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang
lain. Berbicara tentang Kitab Suci sebagai “Kristus-sentris” adalah
keliru jika ini berarti Kristus merupakan yang absolut dalam dirinya
sendiri, yaitu Allah. Tidak mungkin ada dua absolut, kalau tidak,
dua-duanya tidak absolut. Untuk alasan yang sama, keabsolutan
tidak dapat dibagi antara dua pribadi atau lebih. Dalam Kitab Suci,
tidak ada contoh yang memperlihatkan adanya satu “Allah” (entah
disebut “Anak” atau “Roh”) yang eksis secara independen dari
“Allah dan Bapa yang satu itu” dan setara dengan-Nya. Segala
makhluk ada hanya sehubungan dengan Dia, dan secara mutlak
tidak mempunyai eksistensi atau fungsi terlepas dari Dia.
Mengingat fakta-fakta ini, pembahasan tentang siapa Yesus dalam
dirinya sendiri adalah percuma karena jawabannya hanya bisa
ditemukan sehubungan dengan “satu Allah dan Bapa dari semua”
(Ef.4:6). Maksudnya, Kristologi itu hal mustahil terlepas dari doktrin
umum akan Allah (theology proper), dan tidak ada artinya terlepas
dari itu. Hal ini terlihat dari gelar-gelar yang dipakai untuk Kristus
dalam PB. Gelar Yesus yang tertinggi, ‘Tu[h]an’ dan ‘Kristus’,
keduanya dianugrahkan kepadanya oleh Allah, sebagaimana dibuat
jelas dalam pesan pertama yang dikhotbahkan sesudah Pantekosta
dan pencurahan Roh (Kis.2:36). Gelar lain pun tidak terkecuali. Ini
merupakan sebuah kenyataan yang bukan saja diakui oleh Yesus
sendiri tetapi juga dirangkulnya dengan senang hati dan sukacita. Ia
selalu menegaskan ketergantungannya, penundukannya, dan komit-
mennya yang total kepada sang Bapa (sebagaimana terlihat dengan
188 The Only True God

jelas dalam Injil Yohanes), sambil terus-menerus mengajar murid-
muridnya untuk mengikuti dia dalam melakukan hal serupa.
Pernyataan dari kebenaran-kebenaran Alkitabiah ini sama sekali
tidak bermaksud untuk merendahkan Yesus, tetapi untuk
mengoreksi perspektif-perspektif yang telah disimpangkan oleh
trinitarianisme. Allah telah memilih untuk meninggikan Yesus di
atas segalanya, memuliakan dia oleh karena penyangkalan-dirinya
yang total di atas salib (Flp.2:6-11), dan kita tidak boleh (ataupun
ingin) mengurangi satu iota pun kemuliaan yang telah diberikan
Allah. Di sisi lain, kita tidak boleh memberikan kepada Kristus
kemuliaan yang hanya menjadi milik Allah dan Bapa yang esa itu
sendiri.
Besarnya kemuliaan yang dikaruniakan Allah ke atas Yesus
diungkapkan dengan hebatnya di Efesus 1:19-23:

19
dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai
dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar,
20
yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membang-
kitkan dia dari antara orang mati dan mendudukkan dia di
sebelah kanan-Nya di surga,
21
jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan
kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat
disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di
dunia yang akan datang.
22
Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus
dan dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari
segala yang ada.
23
Jemaat yang adalah tubuhnya, yaitu kepenuhan dia yang
memenuhi semua dan segala sesuatu (bdk. 4:10).”

Tujuan abadinya dinyatakan di 1Korintus 15,
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 189

Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kakinya.
Tetapi kalau dikatakan bahwa "segala sesuatu telah ditakluk-
kan," maka teranglah bahwa Ia sendiri yang telah
menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak
termasuk di dalamnya. Tetapi kalau segala sesuatu telah
ditaklukkan di bawah Kristus, maka ia sendiri sebagai Anak
akan menaklukkan dirinya di bawah Dia, yang telah
menaklukkan segala sesuatu di bawahnya, supaya Allah
menjadi semua di dalam semua. (1Kor.15:27,28)

Monoteisme Yesus berakar pada monoteisme Perjanjian
Lama yang tidak kenal kompromi

M onoteisme PL dinyatakan dengan begitu jelas sehingga sama
sekali tidak memberi ruang untuk berargumen atau berseng-
keta. Teks-teks Alkitab dengan jelas menyatakannya sendiri:

“Tidak ada allah lain”

Ulangan 4:35 Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui,
bahwa Yahwehlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia.

Ulangan 4:39 Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan cam-
kanlah, bahwa Yahwehlah Allah yang di langit di atas dan di
bumi di bawah, tidak ada yang lain.

Keluaran 34:14, Sebab janganlah engkau sujud menyembah
kepada allah lain, karena Yahweh, yang nama-Nya
Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.

1Raja-Raja 8:60, supaya segala bangsa di bumi tahu, bahwa
Yahwehlah Allah, dan tidak ada yang lain,
190 The Only True God

Yesaya 45:5 Akulah Yahweh dan tidak ada yang lain; kecuali
Aku tidak ada Allah.

Yesaya 45:18 Sebab beginilah firman Yahweh, yang
menciptakan langit, Dialah Allah yang membentuk bumi dan
menjadikannya dan yang menegakkannya, dan Ia mencipta-
kannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk
didiami : "Akulah Yahweh dan tidak ada yang lain.”

Yesaya 45:21,22 Bukankah Aku, Yahweh? Tidak ada yang
lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan
Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku! Berpalinglah
kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-
ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.

Mari kita perhatikan baik-baik bahwa semua ayat yang terdaftar di
atas menyatakan bukan saja hanya ada satu Allah, tetapi Allah yang
satu ini adalah Yahweh, dan “tidak ada yang lain selain Dia”. Ini
membuatnya mustahil untuk berbicara tentang Allah sebagai suatu
“hakikat” yang dibagi tiga pribadi. Tak seorang pun yang berakal
sehat akan memperdebatkan bahwa Yahweh adalah suatu hakikat,
atau ada tiga pribadi yang disebut Yahweh. Konsekuensi daripada
menyembah dan mempersembahkan kurban kepada allah lain selain
Yahweh dinyatakan dengan mutlak jelas:

Keluaran 22:20, “Siapa yang mempersembahkan korban
kepada allah kecuali kepada Yahweh sendiri, haruslah ia
ditumpas.”

Sekali lagi, tidak ada ruang untuk memperdebatkan makna dari
“sendiri” (Ibrani: bd; Yunani: monos). Di mana terdapat dua atau
tiga pribadi, maka tidak ada individu dalam bilangan itu bisa
dikatakan sendiri. Kata yang sama, “sendiri”, sebagaimana dipakai di
Keluaran 22:20 kerap kali dipakai untuk Allah:
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 191

Ulangan 32:12, demikianlah Yahweh sendiri menuntun dia,
dan tidak ada allah asing menyertai dia.

2Raja-raja 19:15, Hizkia berdoa di hadapan Yahweh dengan
berkata: “Ya Yahweh Allah Israel, yang bertakhta di atas
kerubim! Hanya Engkau sendirilah Allah segala kerajaan di
bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi (juga
Yes.37:16).

2Raja-raja 19:19, “Maka sekarang, ya Yahweh, Allah kami,
selamatkanlah kiranya kami dari tangannya, supaya segala
kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkau sendirilah
Allah, ya Yahweh.” (juga Yes 37:20)

Nehemia 9:6, Engkau sendirilah, ya Yahweh, hanya Engkau!
Engkau yang telah menjadikan langit, langit segala langit
dengan segala bala tentaranya, bumi dengan segala yang ada di
atasnya, dan laut dengan segala yang ada di dalamnya, dan
Engkau memelihara kehidupan mereka semua. Dan bala
tentara langit sujud menyembah-Mu. (ILT)

Mazmur 4:9, Dalam damai aku akan berbaring dan tidur
bersama-sama, karena Engkau sendiri, ya Yahweh, yang
membuat aku berdiam dengan aman. (ILT)

Mazmur 72:18, Terpujilah Yahweh, Allah Israel, yang
melakukan perbuatan yang ajaib seorang diri!

Mazmur 83:19, Dan biarlah mereka mengetahui, bahwa
Nama-Mu adalah Yahweh; bahwa Engkau sendirilah Yang
Mahatinggi atas seluruh bumi. (ILT)

Mazmur 148:13, Biarlah mereka memuji Nama Yahweh,
karena hanya Nama-Nya yang layak ditinggikan, keagungan-
Nya ada atas bumi dan langit. (ILT)
192 The Only True God

Yesaya 2:11, Mata manusia yang angkuh akan direndahkan,
dan kesombongan manusia akan ditundukkan, dan hanya
Yahweh sendiri yang akan ditinggikan pada hari itu. (ILT)
(juga Yes.2:17).

Yesaya 44:24, Beginilah Yahweh yang menebusmu dan
membentukmu sejak dari kandungan, berfirman, “Akulah
Yahweh yang menjadikan segala sesuatu, yang membentang-
kan langit, Aku sendiri yang menghamparkan bumi, siapakah
bersama dengan-Ku?” (ILT)

Yesus sepenuhnya mengesahkan monoteisme yang dinyatakan
dengan kuat dan jelas ini sebagaimana bisa dilihat dari pernyataan
berikut:

Matius 4:10, Lalu berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah,
Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan,
Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah (monos) engkau
berbakti!” {Ul.6:13} (juga Luk.4:8)

Hal yang mencolok tentang kutipan Yesus dari Ulangan 6:13
menjadi jelas ketika kita membandingkannya dengan ayat tersebut:

Ulangan 6:13, Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu;
kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya
haruslah engkau bersumpah.

Kata “hanya… saja” (monos) tidak muncul baik dalam teks Ibrani
maupun teks Yunani dari ayat ini kendati, mengingat ayat-ayat PL
sebelumnya dan konteks PL secara keseluruhan, kata itu memang
tersirat. Apa yang dilakukan Yesus ialah menyatakan secara eksplisit
dan otoritatif apa yang tersirat dengan menyisipkan kata kritis
“hanya… saja” (monos) ke dalam ayat ini. Dengan demikian,
monoteisme Yesus dibuat sangat jelas.
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 193

Hal yang sama juga terjadi di Lukas 4:8, sehingga tidak bisa
dikatakan bahwa kata “hanya… saja” (monos) ditambahkan oleh
Matius karena Injilnya lebih berciri “Yahudi” dibandingkan dengan
Injil-injil lain.

Lukas 4:8, Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis:
Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya
kepada Dia sajalah (monos) engkau berbakti!”

Harus diperhatikan juga bahwa “Tuhan, Allahmu” baik dalam Injil
Matius maupun Lukas adalah “TUHAN (Yahweh) Allahmu” dalam
Kitab Ulangan. Yesus memilih sebuah ayat yang tidak sekadar
berbicara tentang melayani Allah saja, tetapi ayat yang secara khusus
berbicara tentang melayani hanya Yahweh saja. Fakta ini, diambil
bersama dengan penegasan monoteistik kuat dari Yesus di Yohanes
5:44 di mana ia berbicara tentang Allah sebagai “Allah yang Esa”,
dan sapaannya kepada Bapa sebagai “satu-satunya Allah yang benar”
di Yohanes 17:3, berarti Yesus tidak sekadar menganut semacam
monoteisme yang dapat berpikir tentang Allah hanya sebagai
“hakikat”, tetapi ia berkomitmen teguh kepada monoteisme Yahweh,
sebuah monoteisme di mana Yahweh sendiri adalah Allah “dan
hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti” (Luk.4:8). Ini,
sebenarnya, adalah monoteisme Alkitabiah sejati; monoteisme
Alkitabiah adalah monoteisme Yahweh.
Hal penting lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa pernyataan-
pernyataan monoteistik dari Yesus ini semuanya berciri
“situasional”, artinya semua itu tidak diucapkan sebagai bagian dari
pengajarannya di depan umum melainkan diucapkan dalam situasi
tertentu, dialamatkan pada peristiwa khusus. Orang Yahudi adalah
monoteis yang berapi-api; Yesus tidak perlu mengkhotbahkan
monoteisme kepada mereka. Jadi pernyataan-pernyataan situasional
dari Yesus ini mengatakan kepada kita tentang monoteismenya
sendiri, ketimbang monoteisme orang Yahudi pada umumnya.
194 The Only True God

Untuk alasan inilah pernyataan-pernyataan itu sangat penting.
Pernyataan yang pertama, di mana ia mengutip Ulangan 6:13, adalah
ketika ia berhadapan dengan pencobaan, dan kita telah melihat
bahwa Yesus memilih untuk menambahkan kata “hanya” (monos),
yang sering muncul dalam teks-teks PL yang lain sehubungan
dengan Yahweh, tetapi tidak dalam teks yang ini.
Yohanes 5:44 adalah sebuah dialog dengan pendengar yang tidak
reseptif: “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima
hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang
datang dari Allah yang Esa?” Dua ayat sebelumnya ia berkata,
“Tetapi tentang kamu, memang aku tahu bahwa di dalam hatimu
kamu tidak mempunyai kasih terhadap Allah” (Yoh.5:42), bukti dari
tuduhan ini adalah mereka mencari pujian dari manusia, bukan dari
Allah. Dengan kata lain, manusia, bukan Allah, adalah fokus
kehidupan mereka; mereka berorientasi kepada manusia, bukan
kepada Allah. Ini mengatakan sesuatu yang sangat penting kepada
kita tentang monoteismenya Yesus. Bagi dia, monoteisme bukan
sekadar suatu dogma keagamaan yang dianuti seseorang, tetapi
melibatkan sebuah gaya hidup yang sepenuhnya berorientasi kepada
Allah, bukan manusia. Ini melibatkan komitmen untuk melakukan
kehendak-Nya, senantiasa berusaha untuk hidup berkenan kepada-
Nya. Bagi Yesus, mengakui monoteisme Yahweh tetapi hidup
dengan berpusatkan kepada diri sendiri merupakan hal yang tak
terpikirkan dan tak dapat ditoleransi; itu adalah puncak
kemunafikan. Celaannya yang keras dalam Matius 23 ditujukan
kepada para pemuka agama yang pengakuan monoteismenya tidak
diragukan, tetapi kehidupan dan tingkah-laku mereka bukan saja
meragukan, tetapi lebih buruk dari itu. Monoteisme sejati harus
diungkapkan melalui kehidupan yang menghormati Yahweh, yang
digerakkan oleh kasih untuk-Nya.
Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit 195

Hal ini muncul dengan kuat dalam situasi lain, yang disebut
dalam ketiga Injil Sinoptik, ketika Yesus ditanyai tentang hukum
mana yang paling penting.

Jawab Yesus: “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai
orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah
Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap
kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu
manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang
lebih utama daripada kedua perintah ini” (Mrk.12:29-31).

Yesus menggarisbawahi fakta bahwa pengakuan monoteistik itu
(“Tuhan itu esa”) terikat secara tak terpisahkan dengan kasih yang
sepenuhnya berkomitmen kepada Allah, yaitu, kasih yang
melibatkan keseluruhan diri orang itu, dan yang juga melibatkan
kasih terhadap sesama. Ini berarti monoteisme bukan sekadar
sebuah pengakuan yang keluar dari mulut saja, tetapi sebuah
pengakuan yang dibuat dengan hati dan yang menguasai seluruh
pribadi dan gaya hidup orang itu. Ini dicontohkan dengan sempurna
dalam kehidupan Yesus sendiri.
Bab 2

Hanya Manusia
Sempurna Dapat menjadi
Juruselamat Dunia

Ajaran Alkitabiah tentang Satu Allah Sejati dan Satu
Manusia Sempurna

B eberapa tahun yang lalu, ketika saya dan istri saya sedang
menjelajahi India (karena didorong oleh kepedulian untuk
menginjili negeri yang besar itu), kami terkesan dengan begitu
banyaknya patung dewa-dewi yang ada di sana; meski hanya
beberapa saja yang menjadi sasaran penyembahan yang lebih
menonjol. Kuil-kuil besar dan kecil terlihat di mana-mana, dan
sering kali dikerumuni banyak pemuja. Mau tidak mau, sebuah
pertanyaan memasuki benak kami: Apakah perlunya
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 197

keanekaragaman dewa-dewi tersebut? Seandainya ada satu Allah
maha-mencukupi yang dapat memenuhi semua kebutuhan,
bukankah itu akan membuat semua dewa-dewi lain mubazir?
Bukankah karena manusia masih belum menemukan satu Allah
yang maha-mencukupi itu sehingga mereka harus berpaling kepada
pelbagai dewa yang beranekaragam itu demi memenuhi pelbagai
kebutuhan mereka?
Jika memang ada satu Allah personal yang maha-mencukupi
seperti itu, maka pribadi ilahi kedua atau ketiga tidak lagi
dibutuhkan. Namun tampaknya Allah itu tidak dikenal manusia,
sehingga timbullah kebutuhan untuk mencari yang lain. Hal ini
mengingatkan kita pada kata-kata Paulus di Atena tentang “Allah
yang tidak dikenal” (Kis.17:23). Untuk seseorang seperti Paulus yang
mengenal Allah Israel, Yahweh, yang mengagumkan, kebutuhan
akan ilah-ilah lain sangat tidak masuk akal. Apa yang akan
dipikirkannya tentang trinitarianisme yang sampai mengatributkan
ajaran tentang pribadi ilahi yang kedua dan malah yang ketiga selain
Yahweh itu kepada dirinya (Paulus)? Semakin orang memahami PL
dengan 6828 rujukan kepada Yahweh tanpa rujukan apapun kepada
pribadi ilahi lain di samping Dia, dan semakin orang memahami
pengajaran Paulus tentang keselamatan, semakin mereka akan
menyadari bahwa usulan apapun bahwa ia telah mengajarkan
Kristus sebagai pribadi ilahi kedua yang setara dengan Yahweh akan
menyulut murka besar darinya. Lebih parah lagi, ini akan menyulut
murka besar dari Yahweh sendiri (Kel.32:10 dyb.). Namun hal yang
mungkin tidak diduga oleh trinitarian adalah, oleh karena
pengajaran mereka secara dasariah bertentangan dengan pengajaran
Yesus sendiri, mereka akan menemukan pada Hari besar dan
terakhir itu bukan “Yesus yang lemah lembut”, yang dilukiskan
dengan syahdunya dalam sebuah lagu Kristiani terkenal, tetapi
“murka Anak Domba” yang mengerikan (Why.6:16; bdk. 14:10).
198 The Only True God

Kekristenan non-Yahudi dewasa ini tidak lagi mengetahui kalau
“Kekristenan Yahudi selalu mempertahankan fakta historis bahwa
Mesias dan Tu[h]an Yesus dari Nazaret itu bukanlah wujud ilahi,
Allah kedua, melainkan seorang manusia di antara umat manusia”
(Hans Küng, Christianity, hlm.97).

Tidak membutuhkan satu lagi Allah, tetapi satu manusia
sempurna

A pakah intisari dari ajaran PB tentang keselamatan pada
umumnya, khususnya ajaran Paulus, yang begitu penting bagi
kesejahteraan abadi umat manusia? Seluruh ajaran Perjanjian Baru
tentang keselamatan terikat pada konsep manusia sempurna, yang
tanpanya tidak akan ada keselamatan. Apakah manusia sempurna
itu? Ia adalah seorang manusia yang, tidak seperti Adam, tak bercela
dan tak bersalah (“anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat”,
1Ptr.1:19), dan yang karena alasan itu dapat menjadi juruselamat
dunia. Manusia tidak membutuhkan tambahan Allah (Yahweh
sudah lebih dari mencukupi), jadi manusia tidak membutuhkan
Yesus sebagai Allah, tetapi yang sangat dibutuhkannya adalah
seorang manusia sempurna jika dia berharap untuk diselamatkan.
Wujud Allah tidak menjadikan dia manusia sempurna;
sebaliknya, wujud Allah tidak akan menjadikan dia manusia sejati
sama sekali terlepas dari memiliki tubuh manusia. Bukankah ini
sesuatu yang seharusnya sangat jelas? Atau, apakah trinitarianisme
telah mengaburkan pikiran kita sampai-sampai kita tidak dapat
melihat bahkan apa yang jelas? Yang dipertaruhkan di sini adalah:
Jika Yesus bukan seorang manusia seperti Adam—atau seperti kita—
maka seluruh harapan untuk keselamatan akan lenyap begitu saja.
Kita tidak memahami hal ini karena kita masih belum memahami
prinsip dasariah dari keselamatan menurut pewahyuan Alkitabiah.
Singkat kata, agar kita dapat diselamatkan, Allah harus menyediakan
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 199

seorang manusia sempurna yang dapat membatalkan dampak
mematikan dari dosa Adam (dan dosa manusia). Bagaimanakah
caranya Allah menyelamatkan kita melalui manusia sempurna ini?
Paulus mengatakannya dengan ringkas seperti berikut:

“Jadi, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak
orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui ke-
taatan satu orang banyak orang menjadi orang benar.” (Roma
5:19)

Ayat yang satu ini merangkum doktrin keselamatan Perjanjian Baru
secara gamblang dan singkat. Memahami ayat ini secara menyeluruh
berarti memahami jalan keselamatan itu dengan sepenuhnya.
Sejumlah besar materi rohaniah telah dikemas dan dipadatkan ke
dalam ayat ini.
“Ketaatan satu orang” ini, yang olehnya “banyak orang menjadi
orang benar” merupakan sesuatu yang dicapai “melalui
penderitaan”:

Ibrani 2:10, Sebab memang sepantasnya Allah [yaitu Bapa]
yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan, yaitu
Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan —
juga menyempurnakan Perintis [Kristus, sang Anak] yang
memimpin mereka kepada keselamatan melalui penderitaan.

Ibrani 5:8-9, Sekalipun ia adalah Anak, ia telah belajar taat
dari apa yang telah dideritanya dan sesudah ia
disempurnakan, ia menjadi sumber keselamatan yang abadi
bagi semua orang yang taat kepadanya.

Ibrani 7:28, Anak, yang telah dijadikan sempurna sampai
selama-lamanya.

Ayat-ayat penting di atas merupakan masalah serius bagi trinitarian-
isme karena trinitarian telah terindoktrinasi untuk membaca “Allah-
200 The Only True God

Anak” ke dalam setiap referensi kepada “Anak”. Dengan demikian,
ide bahwa sang Anak itu tidak sempurna, dan bahwa sang Bapa
harus menyempurnakan dia—khususnya melalui penderitaan—
merupakan hal yang tidak tercernakan secara teologis oleh
trinitarian. Setiap argumen yang mengatakan hal ini mengacu
kepada Anak sebagai manusia harus berhadapan dengan
permasalahan Kristologis yang serius: dalam memisahkan “kedua
kodrat” itu untuk membuat mereka bertindak secara mandiri,
bagaimana mungkin kedua kodrat itu disebut “bersatu tanpa
pemisahan”? Dan jika kedua kodrat itu tidak bisa dipisahkan
sehingga dapat lolos dari ketajaman pernyataan-pernyataan dalam
kitab Ibrani ini, hal itu membangkitkan pertanyaan tajam tentang
Anak ilahi: anak macam apa ini yang masih belum belajar untuk taat
kepada bapanya? Bahwa seorang anak manusia, yang baik sekalipun,
perlu belajar taat kepada ayahnya dapat dimengerti; dan kebaikan
anak itu terlihat justru dari ketaatannya. Namun bagaimana kita
menerangkan perkara Anak yang pra-eksisten dan kekal yang masih
belum belajar untuk taat kepada sang Bapa, dan baru
mempelajarinya ketika ia datang ke bumi?!
Perhatikan juga ayat-ayat dalam Surat Ibrani ini secara konsisten
menyatakan bahwa Allah Bapalah, Yahweh, yang menyempurnakan
Anak; bukan Anak menyempurnakan dirinya sendiri sehingga
rujukan kepada “dua kodrat” itu tidak relevan. Jadi di Ibrani 2:10
kata “menyempurnakan” dalam bahasa Yunaninya berbentuk aktif,
karena Allah Yahwehlah yang aktif dalam menyempurnakan sang
Anak. Dalam dua ayat lainnya, “dijadikan sempurna” berbentuk
pasif karena sang Anak, bukan sang Bapa, merupakan subyek
kalimat. Penyempurnaan Kristus adalah kehendak Bapa, dan
diprakarsai oleh Dia demi keselamatan umat manusia.
Dalam surat Ibrani, sebagaimana dalam Perjanjian Baru secara
keseluruhan, sang “Anak” merujuk kepada gelar mesianik “Anak
Allah” atau “Anak Manusia”, tetapi tidak pernah merujuk kepada
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 201

istilah trinitaris “Allah-Anak” untuk alasan sederhana bahwa gelar
“Allah-Anak” tidak ditemukan baik dalam Perjanjian Baru maupun
Lama.
Pentingnya ketiga nas dalam kitab Ibrani yang dikutip di atas,
ditemukan dalam kenyataan bahwa ketiga nas itu menerangi
kebenaran bahwa Allah menjadikan sang Anak, Mesias Yesus,
sempurna melalui proses penderitaan agar ia dapat menjadi
“Perintis yang memimpin mereka kepada keselamatan” (Ibr.2:10).
Ini berarti penyempurnaan “manusia Kristus Yesus” mutlak esensial
untuk keselamatan manusia. Hanya Mesias sebagai manusia
sempurnalah yang dapat menjadi “juruselamat dunia” (Yoh.4:42;
1Yoh.4:14).
Memakai istilah persembahan, hanya hewan yang “tidak bercela”,
yaitu sempurna, dapat dipersembahkan kepada Allah. Tidak ada
hewan yang tidak sempurna, dengan cacat sekecil apapun, dapat
dipersembahkan. Hal ini berulang-kali ditekankan dalam Taurat
Perjanjian Lama. Bahkan orang yang tidak berbahasa Ibrani pun
dapat melihat sendiri bahwa frasa “tidak bercela” muncul dalam 17
ayat di kitab Imamat dan 17 ayat juga di kitab Bilangan berkenaan
dengan hewan-hewan yang dipersembahkan sebagai kurban. Dalam
beberapa ayat frasa itu muncul lebih dari sekali: misalnya Bilangan
6:14, “dan ia harus mempersembahkan sebagai persembahannya
kepada TUHAN (Yahweh) seekor domba jantan berumur setahun
yang tidak bercela untuk korban bakaran dan seekor domba betina
berumur setahun yang tidak bercela untuk korban penghapus dosa
dan seekor domba jantan yang tidak bercela untuk korban
keselamatan”.
Sesuai dengan itu, Tu[h]an Yesus Kristus, Manusia Sempurna itu,
dapat mempersembahkan dirinya untuk keselamatan dunia. Dalam
kata-kata Ibrani 9:14, “terlebih lagi (daripada kurban-kurban hewan,
ay.13) darah Kristus, yang melalui Roh yang kekal telah
mempersembahkan dirinya sendiri kepada Allah sebagai persem-
202 The Only True God

bahan yang tidak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari
perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah
kepada Allah yang hidup”, dan 1Ptr.1:18,19, “Sebab kamu tahu,
bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang
kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang
fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah
yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak
domba yang tak bernoda dan tak bercacat.”

Keunikan sang Manusia Sempurna, Yesus Kristus
Manusia sempurna adalah seorang manusia yang sempurna dalam
ketaatannya kepada Allah. Manusia seperti itu belum pernah ada
dalam sejarah dunia. Hal inilah yang ditekankan oleh Rasul Paulus
di Roma 3:10, “seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorang
pun tidak’”, ayat yang sering kali disalahgunakan untuk
memperdebatkan “kebejatan total” manusia, tanpa mengindahkan
fakta bahwa Paulus mengakui adanya orang-orang yang saleh dan
baik di dunia ini, sebagaimana terlihat dari pernyataan berikut,
“Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar
tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati.”
(Roma 5:7)
Walaupun mungkin ada “orang-orang baik” di dunia ini, tetapi
belum pernah ada seorang manusia yang sempurna yang diukur
menurut standar Allah Yahweh. Akan tetapi, seorang manusia
sempurna seperti itulah yang diperlukan untuk keselamatan
manusia. Hanya jika Yesus menjadi manusia seperti itu barulah ia
dapat menyelamatkan kita. Seandainya saja para teolog trinitarian
memahami soteriologi Alkitabiah (doktrin keselamatan) dengan
lebih baik, mereka akan menghindari kesalahan terus-terusan berbi-
cara tentang Yesus sebagai Allah. Perjanjian Baru sama sekali tidak
menyatakan bila kepercayaan pada Yesus sebagai Allah diperlukan
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 203

untuk keselamatan. Namun, adalah esensial untuk percaya bahwa
“manusia Kristus Yesus” merupakan satu-satunya perantara yang
ditunjuk Allah untuk keselamatan kita (1Tim.2:5,6); ialah satu-
satunya manusia sempurna yang pernah tampil di atas muka bumi
ini; Allah telah melakukan sesuatu yang baru demi keselamatan
umat manusia.
Kesempurnaan Yesus terdiri justru dari ketundukan dan
ketaatannya yang total kepada Allah Bapa, Yahweh. Justru karena
inilah subordinasinya kepada kehendak Bapa itu dengan begitu
terus-menerus, hampir berulang-ulang, ditekankan oleh Yesus
sendiri sebagaimana dilukiskan secara ekstensif dalam Injil Yohanes,
hal yang akan kita kaji nanti dalam karya ini.
Hal ini menyebabkan kita mempertimbangkan pertanyaan:
Apakah yang tersirat dalam istilah “manusia sempurna”? Kita harus
memahami bahwa kesempurnaan dalam arti mutlak merupakan
sebuah atribut Allah, bukan manusia (“Bapamu yang di surga
sempurna” Mat.5:48). Dengan demikian, dijadikan sempurna
artinya menjadi seperti Dia; memperoleh karakter-Nya. Namun,
apakah penderitaan itu sendiri, sekalipun diperlukan dalam proses
penyempurnaan, dapat menjadikan seseorang sempurna?
Penderitaan, bagaimanapun juga, merupakan hal yang dialami oleh
sebagian besar umat manusia, dan banyak yang memikulnya dengan
martabat dan bahkan dengan heroisme yang luar biasa, tetapi
apakah itu akan menjadikan mereka manusia sempurna seperti yang
disebut di Kitab Ibrani? Beberapa orang yang pernah menderita
barangkali bisa mencapai tingkat keunggulan moral yang tinggi;
tetapi mencapai kesempurnaan Kristus tidak berada dalam alam
jangkauan manusia.
Kesempurnaan Kristus bersandar pada keterlibatan ilahiah yang
unik dalam pribadinya sebagai orang yang didiami Firman (Memra)
(Yoh.1:14); “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di
dalam dia” (Kol.1:19); “Sebab dalam dialah berdiam secara
204 The Only True God

jasmaniah seluruh kepenuhan keilahian” (Kol.2:9). Ini berarti
kesempurnaan Kristus dicapai melalui hadirat dan kuasa Allah yang
secara unik berdiam di dalam dirinya. Yahweh Allah membangun
sebuah kesatuan dengan Kristus pada bagian terdalam dari dirinya
(“Aku dan Bapa adalah satu”, Yoh.10:30); dalam kesatuan ini Kristus
diberdayakan untuk mencapai apa yang tidak dapat dicapai oleh
manusia dengan sendirinya. Oleh karena itulah ia disebut “anak
tunggal” (Yoh.1:14; 3:16,18; 1Yoh.4:9); inilah yang membedakan dia
dari Adam, manusia “dari debu tanah”, sebagai manusia “dari surga”
(yaitu dari Allah)” (1Kor.15:47). Tanpa hadirat Yahweh yang
berdiam secara unik di dalam Kristus, kesempurnaan yang
diperlukan itu tidak mungkin akan tercapai. Manusia sempurna
ialah manusia yang didiami oleh kepenuhan Yahweh secara jasmani
di bumi ini, di antara manusia, untuk menyelesaikan keselamatan
umat manusia.
Namun perlu ditekankan bahwa kesempurnaan Kristus sebagai
manusia tidak menjadikan Kristus sekadar peserta pasif. Karena
Ibrani 5:8 berkata, “Sekalipun ia adalah Anak, ia telah belajar taat
dari apa yang telah dideritanya.” Kata “belajar” berbentuk aktif
dalam bahasa Yunani. Ini bukan sekadar sikap tunduk yang pasif,
melainkan ketaatan yang sepenuh hati kepada Bapa; Yesus
mengungkapkannya seperti ini, “aku senantiasa berbuat apa yang
berkenan kepada-Nya” (Yoh.8:29). Ia dapat sepenuhnya merasakan
sentimen sang Pemazmur, “aku suka melakukan kehendak-Mu, ya
Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku” (Mzm.40:8); ia dapat
berbicara tentang kehendak Allah sebagai makanannya (Yoh.4:34),
berarti ia tentu tahu maknanya “nikmatkanlah dirimu pada
Yahweh” (Mzm.37:4; Yes.58:14, ILT).
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 205

Manusia sempurna sebagai guru sempurna
Kita sering kali berbicara tentang “ajaran Yesus” tanpa mencatat
fakta bahwa ajarannya berasal dari Bapa, bukan dari dirinya sendiri.
Apa yang diajarkan oleh Yesus adalah ajaran sang Bapa
sebagaimana ditegaskannya sendiri di Yohanes 7:16, “Ajaranku
tidak berasal dari diriku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus
aku.” Bapalah yang berbicara kepada kita dalam seluruh ajaran
Yesus. Yesus mengulangi hal ini berkali-kali. Selain Yohanes 7:16,
ada lagi yang berikut:

3:34, Sebab siapa yang diutus Allah, dialah yang
menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan
Roh-Nya dengan tidak terbatas.

12:49, Sebab aku berkata-kata bukan dari diriku sendiri, tetapi
Bapa, yang mengutus aku, Dialah yang memerintahkan aku
untuk mengatakan apa yang harus aku katakan dan aku
sampaikan.

14:10, Apa yang aku katakan kepadamu, tidak aku katakan
dari diriku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam aku,
Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

14:24, Siapa saja yang tidak mengasihi aku, ia tidak menuruti
firmanku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari
aku, melainkan dari Bapa yang mengutus aku.

17:8, Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepadaku
telah kusampaikan kepada mereka.

Yesus adalah manusia sempurna juga karena alasan ini, yakni, ia
selalu “menyampaikan firman Allah” (Yoh.3:34), dan, oleh karena
itu, sempurna dalam perkataan. Sebagaimana tertulis di Yakobus
3:2, “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; siapa tidak
206 The Only True God

bersalah dalam perkataannya, ia orang yang sempurna, yang dapat
juga mengendalikan seluruh tubuhnya.”
Tanpa Yesus kita tidak akan memiliki ajaran Bapa; oleh karena itu
kita bersyukur kepada Bapa dari lubuk hati kita karena Yesus.
Namun kita tidak boleh lupa bahwa pesan Yesus adalah Firman
Allah, Allah yang berulang-kali disapa Yesus sebagai “Bapa”.
Firman yang dikabarkan Yesus adalah kebenaran dan hidup
justru karena itu adalah Firman Allah, sang Bapa. Firman Allah
adalah pewahyuan-diri Allah, yang menjadi sarana untuk menarik
semua orang kepada-Nya. Sang Bapa menarik kita melalui firman-
Nya. Hal ini konsisten dengan apa yang telah kita lihat sebelumnya,
yakni, Yesus sebagai perwujudan firman Allah merupakan Jalan
kepada sang Bapa. Memakai gambaran lain, ia adalah Roti yang
diturunkan Bapa agar orang dapat memperoleh hidup melalui
proses “memakan”nya. Semua metafora yang lain dengan cara yang
sama melukiskan Yesus sebagai alat karya keselamatan Bapa. Hal ini
muncul dengan kuat khususnya dalam Injil Yohanes, di mana
kebenaran bahwa Yesus adalah dia yang diutus oleh sang Bapa, dan
yang bertindak dalam subordinasi dan ketergantungan total kepada
Bapa, ditekankan lebih kuat di sini daripada di bagian lain dalam PB.
Sekarang kita akan mempertimbangkan bukti atas pernyataan ini.

Penegasan Yesus bahwa ia diutus Bapa dan oleh karena
itu bertindak di bawah wewenang Bapa

T entang Bapa mengutus Yesus, sekilas pandang kepada statistik
akan segera menyatakan pentingnya hal ini dalam Injil
Yohanes. Dua kata Yunani diterjemahkan sebagai “mengutus”:

apostellō
Matius: 3 (jika 21:37, dalam sebuah perumpamaan, dihitung)
Markus: 2 (jika 12:6, dalam sebuah perumpamaan, dihitung)
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 207

Lukas: 4
Yohanes: 17

pempō
Sinoptik: 0
Yohanes: 24
Apostellō dan pempō, berkenaan dengan Bapa mengutus Anak,
semuanya dijumlahkan menjadi 41 kali dalam Injil Yohanes.
Penegasan ini mencolok. Hal lain yang mencolok juga adalah
kedua kata itu bukan saja muncul dalam Injil Yohanes, tetapi setiap
referensi ada dalam ajaran Yesus sendiri di dalam Injil tersebut. Dan
seolah-olah ingin memastikan agar kita tidak melewatkan poin ini,
Yesus berkata di Yohanes 13:16, “Sesungguhnya aku berkata
kepadamu: seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya,
ataupun seorang utusan daripada orang yang mengutusnya”; oleh
karena itu, “Bapa lebih besar daripada aku” (14:28).
Jumlah yang sangat besar ini (41 kali) menunjukkan bahwa hal
tersebut merupakan jantung dan intisari dari ajarannya. Kajian
terhadap setiap ucapan itu akan memberikan rincian ajaran Yesus
dalam Injil Yohanes. Namun hal itu ada di luar lingkup buku ini.
Di sini saya tidak akan berusaha menganalisa perbedaan-
perbedaan semantis (jika ada) antara apostellō dan pempō, kecuali
menyediakan sebuah kutipan dari A Treasury of New Testament
Synonyms (Stewart Custer, Bob Jones University Press, Inc., 1975) di
mana ia memberikan ringkasan dari pembahasannya tentang kedua
kata tersebut sebagai berikut, “Kata ἀποστέλλω (apostellō) menandai
‘aku mengutus dengan sebuah amanat’ atau ‘aku mengutus secara
resmi.’ Πέμπω (pempō) adalah istilah umum untuk ‘aku mengutus.’
Dalam beberapa konteks kata itu sudah pasti berarti ‘aku mengutus
secara resmi,’ tetapi tidak selalu demikian; konteks yang harus
memutuskan.”
208 The Only True God

Namun kajian Custer lebih kuat dilandasi oleh bahasa Yunani
klasik daripada bahasa Yunani PB di mana perbedaan antara kedua
kata itu tidak tampak begitu jelas, meskipun beberapa perbedaan
seperti yang diberikan oleh Custer masih bisa diterima. Misalnya,
apostellō dan pempō keduanya muncul di Yohanes 20:21, di mana
perbedaannya tidak tampak terlalu jelas; perbedaan tersebut lenyap
sama sekali dalam berbagai terjemahan. Namun apakah kedua kata
yang berbeda itu digunakan hanya untuk variasi sastra? Atau,
apakah mungkin Yesus (di Yoh.20:21) tidak mau pengutusan
murid-muridnya itu ditempatkan setingkat dengan pengutusan
dirinya ke dalam dunia oleh Bapa, dan dengan demikian, sekali lagi
menghormati sang Bapa sebagai yang lebih besar daripada dirinya?

Ketergantungan Yesus yang sepenuhnya kepada Bapa
sebagaimana terlihat dalam ajarannya

O rang yang mengutus jelas lebih besar daripada orang yang
diutus olehnya. Oleh sebab itu, “diutus” dengan sendirinya
mengungkapkan subordinasi orang yang diutus kepada orang yang
mengutusnya (Yoh.13:16). Namun Yesus menegaskan lebih
daripada itu: Ia mengungkapkan dirinya sebagai orang yang
bergantung sepenuhnya kepada sang Bapa. Yohanes 6:57 “Sama
seperti Bapa yang hidup mengutus aku dan aku hidup oleh Bapa,
demikian juga siapa saja yang memakan aku, akan hidup oleh aku.”
Hubungan kita dengan Yesus, ketergantungan kita kepada Yesus
untuk hidup, mencerminkan ketergantungan Yesus kepada sang
Bapa untuk hidup.
Menurut pengajaran Yesus sendiri di Yohanes 6:57, sama seperti
kita tidak dapat hidup tanpa Yesus, demikian pula Yesus tidak dapat
hidup tanpa sang Bapa. C.K. Barrett (The Gospel According to St.
John, Commentary and Notes on the Greek Text, SPCK)
mengatakannya demikian, “Hidup sang Anak sepenuhnya
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 209

bergantung pada sang Bapa (διὰ τὸν πατέρα) [dia ton patera], ia
tidak memiliki hidup ataupun wewenang yang mandiri, dan oleh
karena ia tinggal di dalam Bapa, dengan demikian manusia dapat
hidup dengan tinggal di dalam dia” (hlm.248, atas Yoh.6:57; cetak
miring dari saya). M. Dods pula berkata, “Bapa adalah sumber hidup
yang absolut; Anak adalah pembawa hidup itu kepada dunia; bdk.
5:26, yang mengungkapkan ketergantungan yang sama dari Anak
pada Bapa untuk hidup” (Expositor’s Greek Testament, atas Yoh 6:57;
cetak miring dari saya).
Yohanes 5:26: “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam
diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai
hidup dalam dirinya sendiri.” Sang Anak mempunyai hidup dalam
dirinya sendiri, tetapi hanya karena sang Bapa telah memberikan
(ἔδωκεν, edōken aor. dari didōmi) hidup itu kepada Anak. Dan oleh
karena Bapa telah memberikan hidup kepada Anak, maka Anak pun
dapat memberikannya kepada orang lain: “Sebab sama seperti Bapa
membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya,
demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendakinya”
(Yoh.5:21). Sang Anak telah dianugrahi wewenang penuh untuk
meneruskan hidup yang telah diberikan oleh Sang Bapa kepadanya.

Didōmi dalam Injil Yohanes
Secara statistik kata didōmi (memberi) merupakan kata signifikan
yang lain dalam Injil Yohanes; kata ini lebih kerap muncul dalam
Injil Yohanes daripada kitab-kitab lain di PB (Yoh: 75 kali; Mat: 56;
Mrk: 39; Luk: 60); kata ini pun acap muncul dalam Apokalypsis
Yohanes, yakni, Kitab Wahyu (58 kali).
Bagi kebanyakan orang Kristen, barangkali contoh yang paling
dikenal dalam Injil Yohanes ditemukan di 3:16, “Karena Allah begitu
mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan (didōmi)
Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
210 The Only True God

kepadanya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Inilah
yang digambarkan oleh Paulus sebagai “karunia-Nya yang tak
terkatakan itu” (2Kor.9:15). Allahlah yang memberikan Yesus
kepada kita, tidak lain dan tidak bukan karena Ia mengasihi kita.
Untuk orang-orang yang egois seperti kita ini, adalah cukup sulit
untuk dipahami apabila seseorang mengasihi kita dengan sangat
mendalam dan tulus, tetapi kenyataan bahwa Allah mempunyai
alasan untuk mengasihi kita adalah hal yang hampir tidak dapat
dimengerti. Namun ayat ini tidak hanya menyatakan bahwa Allah
mengasihi kita, tetapi Ia mengasihi kita sampai-sampai memberikan
Anak-Nya. Ungkapan terima kasih seperti apa yang bisa kita
balaskan kepada sang Bapa? Kita mengasihi sang Anak (sudah
semestinya), tetapi kita meminggirkan sang Bapa seolah-olah Ia
kurang terlibat di dalam keselamatan kita.

Yesus menegaskan ketaatannya kepada sang Bapa

“K ata Yesus kepada mereka: ‘Jikalau Allah adalah Bapamu,
kamu akan mengasihi aku, sebab aku datang dari Allah dan
sekarang aku ada di sini. Lagi pula aku datang bukan atas
kehendakku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus aku’”
(Yoh.8:42). Seperti telah kita lihat, Yesus bukan saja menekankan
subordinasinya kepada Bapa sebagai orang yang diutus oleh-Nya,
tetapi juga ketergantungannya kepada Bapa untuk hidup. Di ayat ini
(Yoh.8:42) ia menggarisbawahi ketaatannya pada Bapa: bahwa
kedatangannya ke dunia ini bukan atas pilihan atau inisiatifnya
sendiri, melainkan karena ketaatan pada kehendak Bapa. Tentang
ayat ini C.K. Barrett (The Gospel According to St. John) mengulas,
“Sekali lagi misi Yesus dikosongkan dari segala sugesti akan
kehendak-diri atau kepentingan-diri. Ini adalah tekanan Yohanein
yang sangat umum dan esensial; lih. terutamanya 5:19-30. Yesus
tidak datang ke dunia atas kemauannya sendiri; ia datang karena
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 211

diutus. Pelayanannya bersignifikansi bukan karena hikmat atau
kebajikan dari dirinya sendiri, tetapi karena fakta bahwa ia adalah
duta dari Allah sendiri.”
Jelas melalui kata-kata “aku datang bukan atas kehendakku
sendiri, melainkan Dialah yang mengutus aku” (Yoh.8:42), Yesus
tegas-tegas menyatakan bahwa kedatangannya merupakan sebuah
tindakan ketaatan pada Bapa, bukan tindakan dari kehendaknya
sendiri. Ia bisa saja tidak menaati, dan melalui tindakan
ketidaktaatan itu (seperti Adam) mencengkeram kesetaraan dengan
Allah. Akan tetapi, bukankah kita membaca Filipi 2:6 seakan-akan
kedatangannya itu atas inisiatifnya sendiri, sebuah tindakan dari
kehendaknya sendiri? Pemahaman seperti itu ternyata salah, dan
mendistorsikan pengertian kita atas nas yang penting itu.
Roma 5:19, “Jadi sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang
banyak orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui
ketaatan satu orang banyak orang menjadi orang benar.” Ketaatan
harus melibatkan pilihan. Yesus berulang-kali menegaskan bahwa ia
telah membuat pilihan untuk menaati Bapa: Yohanes 4:34,
“Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus aku dan
menyelesaikan pekerjaan-Nya”; kehendak Bapa itu ibarat makanan
baginya, ia hidup darinya. Yohanes 5:30, “Aku tidak menuruti
kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku.”
Yohanes 6:39, “Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus aku,
yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepadaku jangan
ada yang hilang, tetapi supaya kubangkitkan pada akhir zaman.”

Subordinasi dan ketergantungannya
Yohanes 14:10, “Apa yang aku katakan kepadamu, tidak aku
katakan dari diriku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam
aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.”
212 The Only True God

Yohanes 5:19, Lalu Yesus menjawab mereka, katanya:
“Sesungguhnya aku berkata kepadamu, Anak tidak dapat me-
ngerjakan sesuatu dari dirinya sendiri, jikalau ia tidak melihat
Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu
juga yang dikerjakan Anak.’”

Yohanes 12:49, “Sebab aku tidak berbicara dari diriku sendiri,
melainkan Dia yang telah mengutus aku; Bapa sendiri telah
memberikan (didōmi) perintah (entolē) kepadaku, apa yang
harus kuucapkan, dan apa yang harus kukatakan.” (ILT)

Dalam ayat terakhir di atas Yesus menerangkan bahwa ia selalu
hidup menurut perintah-perintah (entolē) yang telah diberikan
(didōmi) oleh Bapa kepadanya. Kita seharusnya dapat menduga
bahwa, kata “perintah” (entolē) lebih sering muncul dalam Injil
Yohanes dibanding Injil-injil Sinoptik (Yoh: 10 kali; Mat: 6; Mrk: 6;
Luk: 4). Yesus berulang-kali merujuk pada perintah-perintah Bapa:

Yohanes 10:18, “Tidak seorang pun mengambilnya dari aku,
melainkan aku memberikannya menurut kehendakku sendiri.
Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya
kembali. Inilah perintah yang kuterima dari Bapaku.”

Yohanes 15:10, “Jikalau kamu menuruti perintahku, kamu
akan tinggal di dalam kasihku, seperti aku menuruti perintah
Bapaku dan tinggal di dalam kasih-Nya.”

Bandingkan ini dengan ayat berikut:

Yohanes 14:31, “tetapi dunia harus tahu bahwa aku mengasihi
Bapa dan bahwa aku melakukan segala sesuatu seperti yang
diperintahkan (entellomai) Bapa kepadaku.”
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 213

Yesus selalu melakukan kehendak Bapa
Kehendak (thelēma) sang Bapa adalah kata kunci lain dalam Injil
Yohanes, lagi-lagi lebih sering muncul dalam Injil ini daripada Injil-
injil lain (Yoh: 11 kali; Mat: 6; Mrk: 1; Luk: 4). Di sini kita mengutip
hanya ayat-ayat yang secara langsung relevan dengan apa yang
sedang dibahas di bagian ini. Selain Yohanes 4:34 yang dikutip
sebelumnya, ada ayat-ayat berikut:

Yohanes 5:30, “Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diriku
sendiri; aku menghakimi sesuai dengan apa yang aku dengar,
dan penghakimanku adil, sebab aku tidak menuruti kehen-
dakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku.”

Yohanes 6:38, “Sebab aku telah turun dari surga bukan untuk
melakukan kehendakku, melainkan kehendak Dia yang telah
mengutus aku.”

Yohanes 7:17, “Siapa saja yang mau melakukan kehendak-
Nya, ia akan tahu entah ajaranku ini berasal dari Allah, entah
aku berkata-kata dari diriku sendiri.” Hanya orang-orang yang
hidup menurut kehendak Allah akan dianugerahi untuk
mengenal Yesus—yang mengajar dan hidup menurut
kehendak Allah. Firman Allah dan kehendak Allah tidak bisa
dipisah.

Kita mencatat bahwa Yesus tidak sekadar mengatakan secara dog-
matis: Jika kamu ingin diselamatkan, kamu harus percaya kepadaku
dan menerima apapun yang aku katakan dan ajarkan (inilah caranya
gereja Kristen biasanya berbicara). Bagaimana kita tahu apakah
seseorang (atau Gereja) sungguh-sungguh tengah memberitakan
firman Allah? Ini sebuah pertanyaan yang adil. Jawaban Yesus
adalah: Jika kamu sungguh-sungguh ingin hidup dengan
sepenuhnya dan tanpa kompromi sesuai dengan kehendak Allah,
214 The Only True God

maka Allah pasti akan menunjukkan kepadamu apakah aku—dan
ajaranku—benar atau tidak.
Mengetahui kebenaran bukanlah soal teori atau dogma,
melainkan soal hidup (atau mati)—dan hidup bukanlah teori atau
dogma belaka. Jika kita hidup dalam terang dengan melakukan
kehendak Allah dengan setia, Ia akan mengaruniakan kepada kita
untuk melihat terang-Nya, sebagaimana tertulis di Mazmur 36:9,
“Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami
melihat terang.”
Injil Yohanes ditulis dengan gaya yang jelas dan tidak rumit. Jika
kendati fakta ini kita masih tidak bisa memahami pesan yang terkan-
dung di dalamnya, maka kita harus memeriksa kondisi rohani kita
(“hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri”, 1Kor.11:28).
Mereka yang mengorek-ngorek Injil ini untuk mencari teks-teks
bukti, yang mereka pindahkan dari konteks asli untuk menyangga
gagasan dan doktrin mereka yang tidak Alkitabiah, harus memper-
timbangkan konsekuensinya yang serius: “Inilah hukuman itu:
Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai
kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka
jahat” (Yoh.3:19). “Perbuatan-perbuatan mereka jahat” tidak
semestinya berarti mereka itu perampok atau pezinah, tetapi mereka
hidup menurut kehendak mereka sendiri, ketimbang hidup
sepenuhnya dalam ketaatan kepada kehendak Allah. Dalam
pengajaran Yesus, melakukan atau tidak melakukan kehendak
Bapalah yang mendefinisikan kebaikan atau kejahatan; bagaimana
setiap orang hidup sehubungan dengan kehendak Allah itulah yang
menentukan apakah akan dinilai baik atau jahat, apakah membawa
kepada kehidupan atau kematian.
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 215

Kemanusiaan Kristus yang sejati dan lengkap adalah
esensial bagi keselamatan manusia

A da pengamatan penting lain yang perlu kita camkan mengingat
poin-poin di atas: Jika kemanusiaan Kristus dengan cara apa
pun dipertanyakan atau dikompromikan, kita pun mengkompromi-
kan keselamatan kita, sebab sebagaimana telah kita catat, jika Kristus
bukan sungguh-sungguh manusia maka ia tidak bisa menjadi
juruselamat kita. Namun justru itulah yang telah dilakukan oleh
trinitarianisme; mengkompromikan kemanusiaan Kristus dengan
menandaskan secara dogmatis bahwa Kristus itu keduanya
“sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungguh Allah”. Jika kita
belum dibutakan oleh logika trinitarianisme yang sinting, kita tidak
perlu waktu lebih dari sekejap untuk melihat bahwa ini adalah logika
nonsens. Fakta gamblangnya adalah tak seorang pun yang dapat
menjadi sungguh-sungguh manusia yang adalah sungguh-sungguh
Allah. Tidak ada yang dapat menjadi 100% manusia dan juga 100%
Allah, karena jumlahnya akan menjadi 200%—dua pribadi.
Adakah sesuatu yang mustahil bagi Allah? Jawabannya ‘Ya’, jika
yang terlibat adalah kontradiksi logis atau nonsens. Ini sama seperti
menanyakan: apakah Allah bisa membuat sesuatu menjadi 100%
hitam dan 100% putih semuanya sekaligus? Dapatkah 100% garam
juga menjadi 100% gula? Intinya nonsens yang bukan-bukan tidak
pernah bisa diatributkan kepada Allah; Ia adalah Allah kebenaran,
bukan Allah irasional dan dusta.
Akan tetapi, Kristologi yang bertentangan-diri macam inilah
tepatnya yang mengakibatkan orang-orang Kristen berkata “Yesus
adalah Allah”; pada umumnya orang-orang Kristen ini memiliki
konsep yang lemah tentang kemanusiaan Yesus. Faktanya adalah
kita tidak bisa memegang dengan seimbang dua pemikiran tentang
Yesus yang saling bertolak-belakang tanpa yang satu mendominasi
216 The Only True God

yang lainnya, dan karena Allah harus menjadi yang mendominasi
itu, maka kemanusiaan Kristus dipudarkan oleh dominasi itu.
Juga, gagasan Allah-manusia yang dogmatis ini mengakibatkan
orang Kristen harus terlibat dalam seni gaya bicara ganda (double-
speak): di satu saat kita berbicara tentang dia sebagai Allah dan di
lain saat kita berbicara tentang dia sebagai manusia, bahkan tanpa
menyadari kontradiksi yang terlibat. Kita nyaris tidak menyadari
bahwa kita sedang berayun ke sana kemari, karena sudah kebal
dengan kontradiksi-diri di dalam suatu alam pikiran di mana
kebenaran dan kepalsuan, yang rasional dan irasionalitas,
dipaksakan ke dalam koeksistensi.
“Prestasi” mental ini harus dibayar dengan harga yang amat
tinggi: kita hanya perlu memandang ke sekeliling dunia dan melihat
bahwa, jauh dari menjadi “terang dunia” (Mat.5:14), gereja telah
menjadi tidak relevan, karena gereja sendiri telah jatuh ke dalam
kegelapan kepalsuan. Bagaimanakah gereja dapat berfungsi sebagai
terang kecuali jika ia dilepaskan dari belenggu kepalsuan? Mengingat
jahatnya kepalsuan, relevansi dari kata-kata yang diajarkan Yesus
kepada murid-muridnya untuk berdoa, “lepaskanlah kami dari yang
jahat”, mulai menjadi jelas secara mencolok.
Mari kita ambil sebuah contoh: pencobaan Kristus di Matius 4
dan Lukas 4. Bagaimana trinitarianisme menjelaskan nas ini dalam
cahaya prinsip yang tercantum di Yakobus 1:13, “Allah tidak dapat
dicobai oleh yang jahat”? Ini berarti jika Yesus betul-betul tidak bisa
dicobai, maka ia bukan seorang manusia; dan jika ia bisa dicobai, ia
bukan Allah. Untuk memperdebatkan bahwa ia dapat dicobai
sebagai manusia, tetapi tidak sebagai Allah, dengan memakai gaya
bicara ganda (double-talk) yang lazim dilakukan oleh trinitarian
tanpa rasa malu, artinya mengubah apa yang masuk akal menjadi
tidak masuk akal, dan kebenaran menjadi kepalsuan, sebab ketika
berbicara tentang pencobaan, ia bukan Allah—tetapi jika ia adalah
Allah, maka ia tidak dapat dicobai dan pencobaan Kristus akan
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 217

menjadi suatu latihan yang tidak berarti. Apa sudah terjadi dengan
klaim bahwa ia adalah 100% Allah (Allah sejati) dan 100% manusia
sekaligus di waktu yang bersamaan? Bagaimana kita dapat
menafsirkan Kitab Suci dengan tepat dan secara bertanggung jawab
dengan pengajaran seperti ini?
Trinitarianisme ingin mendapatkan keduanya: Yesus, sang Allah-
manusia, adalah satu pribadi tetapi secara fungsional ia sebenarnya
adalah dua pribadi sekaligus, yaitu Allah dan manusia. Jadi
berkenaan dengan hal menghadapi pencobaan, Yesus yang adalah
Allah, sekejap mata beralih menjadi manusia. Beralih bolak-balik
sesuai dengan tuntutan situasi seperti ini adalah cara Kristus
trinitaris berfungsi. Akan tetapi hal itu sendiri menunjukkan bahwa
ia tidak dapat menjadi keduanya Allah dan manusia sekaligus. Sebab,
tak seorang pun bisa dicobai dan sekaligus tidak dapat dicobai,
karena itu mustahil secara logis dan faktual, dan untuk tetap
berpendapat bahwa hal itu mungkin adalah bersikeras untuk
berbicara omong kosong. Apakah memang begitu sulit untuk
melihat bahwa pernyataan apa pun yang kurang lebih mengatakan
bahwa Yesus bisa dicobai tetapi di saat yang sama tidak bisa dicobai
merupakan hal yang tidak masuk akal? Akan tetapi, gaya bicara
ganda (double talk) seperti inilah yang harus dipakai trinitarian
dalam memperdebatkan doktrin Allah-manusia. “Ya” mereka adalah
“tidak”, dan “tidak” mereka adalah “ya” (bdk. Mat.5:37;
2Kor.1:17,19; Yak 5:12)—apa saja yang sesuai dengan tujuan mereka
guna membela sebuah dogma yang pada akhirnya terbukti tidak bisa
dipertahankan baik oleh Kitab Suci maupun oleh logika.

Asal-usul Trinitarianisme

D alam terang Kitab Suci, asal-usul dan perkembangan
kekeliruan trinitaris dapat dianalisa dalam tiga langkah:
218 The Only True God

(1) “Firman itu” disalahtafsirkan untuk merujuk kepada “Allah-
Anak”, yang tidak ditemukan dalam Kitab Suci (atau di tempat lain),
tetapi diciptakan oleh trinitarianisme sebagai akibat dari penafsiran
yang keliru, khususnya mengenai Yohanes 1:1. Oleh karena penting-
nya hal ini dan seriusnya konsekuensinya terhadap jemaat, perhatian
yang seksama akan diberikan untuk memeriksa hal ini dalam bab-
bab berikut.
(2) “Inkarnasi” ditafsirkan sebagai dua pribadi yang berbeda dan
terpisah, yang satu disebut “Allah”—yakni, “Allah-Anak”—dan
manusia yang bernama Yesus, secara harfiah dimampatkan atau
dipadatkan menjadi satu pribadi, satu individu. Dua pribadi dibuat
menjadi satu pribadi! Ini tidak dimaksudkan sebagai penyatuan
metaforis seperti penyatuan suami dan istri yang menjadi “satu
daging” (Kej.2:24; Mat.19:5, dst.), tetapi sungguh-sungguh menjadi
satu pribadi! Melalui doktrin ini dua pribadi terpadu menjadi satu—
tanpa mempedulikan apakah hal ini mungkin secara logis atau
faktual. Namun ini menimbulkan masalah bahwa “pribadi” seperti
itu akhirnya menjadi sesuatu yang bukan benar-benar manusia
ataupun ilahi, yaitu menjadi semacam kombinasi dari keduanya.
Namun, terburuk dari semua, Kitab Suci sama sekali tidak
mengandung dasar apapun untuk hal ini. Ini tidak lebih dan tidak
kurang hanyalah sebuah pemalsuan trinitaris yang tersesat. Akan
tetapi, doktrin macam inilah yang dituntut untuk dipercayai oleh
umat Kristen!
(3) Gereja Barat telah gagal melihat bahwa Yahweh Allahlah yang
ada “di dalam Kristus ketika mendamaikan dunia dengan diri-Nya”
(2Kor.5:19, ILT) kendati fakta bahwa, sebagaimana Yesus sendiri
telah menyatakannya dengan jelas, sang Bapa, Yahweh, adalah “satu-
satunya Allah yang benar” (Yoh.17:3), “Allah yang Esa” (Yoh.5:44);
siapa lagi kalau bukan Dia yang ada “di dalam Kristus ketika
mendamaikan dunia”? Akan tetapi, teologi Barat telah menutup
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 219

pilihan ini karena, di bawah pengaruh filosofi Helenistik (Yunani)
yang berpendapat bahwa Allah itu transenden, mereka telah
membuatnya mustahil untuk berpikiran bahwa Yahweh bisa datang
ke dunia di dalam Kristus. Tampaknya, “Firman itu” justru dianggap
kurang transenden, barangkali sebagai sejenis wujud menengah
(seperti dalam Filo); jika tidak, bagaimana Firman itu bisa
menghindari larangan buatan manusia atas kedatangan Allah ke
dunia oleh karena “transendensi”-Nya? Kelihatannya trinitarian
tidak menyadari bahwa mengecualikan Firman dari larangan itu
dengan sendirinya menyangsikan klaim mereka tentang keilahian
Firman itu, karena itu akan menjadi pengakuan bahwa Firman itu
tidak transenden dari semula.

Pengajaran Yesus sendiri

P ernyataan “Allah ada di dalam Kristus ketika mendamaikan
dunia dengan diri-Nya sendiri” (2Kor.5:19 MILT) bukanlah
ciptaan Paulus (Paulus sering salah dituduh sebagai pencetus
doktrin-doktrin Kristen yang kemudian); tak pelak, itu adalah ajaran
Yesus sendiri. Seperti yang akan kita lihat sewaktu mengkaji
pengajaran Yesus dalam Injil Yohanes, secara konsisten Yesus
menegaskan bahwa Bapalah, yang merupakan kuasa dinamis yang
bekerja di dalam dia, yang memampukan dia menggenapi misinya
untuk menyelesaikan keselamatan umat manusia. Ini bisa dilihat
dengan jelas dalam kata-kata berikut: “Bapa, yang tinggal di dalam
aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya” (Yoh.14:10).
Dalam pengajaran Yesus tidak terdapat gagasan kalau
transendensi Yahweh menghalangi-Nya datang ke dunia di dalam
Kristus; Yesus bahkan dapat berbicara secara metaforis tentang bumi
sebagai “tumpuan” kaki Yahweh (Mat.5:35)—kaki-Nya berdiri
kokoh di bumi yang Ia ciptakan! Filosofi apa pun, Yunani atau
220 The Only True God

sebaliknya, tidak akan diizinkan melarang Dia datang ke dunia
ciptaan-Nya.
Dengan demikian, dalam terang pengajaran Yesus dengan mudah
dapat dilihat bahwa ketiga poin yang menjadi dasar dogma trinitaris
tidak menemukan dukungan di dalam pengajarannya. Berkenaan
dengan poin pertama, “Firman itu” sebagai sebuah metonim untuk
“Yahweh” merupakan sesuatu yang akrab kepada Yesus dan orang-
orang Yahudi pada zamannya karena itu berakar dalam PL dan
Alkitab Aram (Targum) yang umum dipakai di sinagoga di Israel.
Hal ini akan dibahas dengan lebih rinci dalam bab-bab berikut.
Berkenaan dengan poin yang kedua, bahwa di dalam Yesus, Allah
dan manusia “dipadatkan” menjadi satu (bagaimana lagi kita
menggambarkan dua pribadi yang dikurangi menjadi satu?!),
gagasan seperti itu sama sekali asing dalam ajaran Yesus, malah
tidak kompatibel dengan ajarannya. Setelah kita mulai memahami
sedikit dari inti-inti dasariah dalam ajaran Yesus, kita mulai merasa
mual dengan gagasan trinitaris yang mengurangi Allah dan manusia
menjadi satu pribadi; yang tampaknya berbatasan dengan
menghujat. Bagaimana lagi kita dapat mengatasi kepalsuan ini tanpa
menyebutkannya? Anehnya, sebagai trinitarian, kita tidak merasa
keberatan dengan dogma yang menggabungkan Allah dan manusia
menjadi satu pribadi ini. Barangkali ini dikarenakan sedikit dari kita
yang betul-betul menyadari apa sesungguhnya arti dan dampak dari
penggabungan seperti itu; konsepnya terlalu kabur bagi kita,
sehingga implikasinya tidak memukul kita. Namun alasan lain
adalah karena kebanyakan orang mempunyai konsep Allah yang
terlalu dangkal; keagungan yang membangkitkan rasa hormat
terhadap Allah yang hidup itu sangat asing dalam pemikiran
kebanyakan orang tentang Dia. Jadi, kita benar-benar tidak pernah
terpikir bahwa kita mungkin tengah mengatakan sesuatu yang
sangat tidak menyenangkan Dia. Lagipula, jika seseorang
mempercayai sesuatu tentang Allah, biasanya adalah gagasan bahwa
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 221

tidak ada yang mustahil bagi Allah, dan ini menjadikannya mungkin
untuk berbicara bahkan tentang absurditas seolah-olah hal yang
absurd juga mungkin bagi Allah.
Yesus memperingatkan kita tentang cara kita merujuk kepada
Allah. Berikut ini, misalnya, adalah alasan di balik peringatannya
untuk tidak bersumpah:

“Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali
bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta
Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan
kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah
kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi
kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau
menghitamkan sehelai rambutpun. Jika ya, hendaklah kamu
katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa
yang lebih daripada itu berasal dari si jahat” (Mat.5:34-37).

Apa yang mencolok dari perkataan Yesus di sini adalah
peringatannya bahwa meskipun rujukan langsung kepada Allah
dihindari ketika bersumpah “demi langit”, atau “demi bumi”, dll,
sumpah Anda tetap bereferensi kepada Allah, sehingga Anda tetap
harus mempertanggung-jawabkannya di hadapan Dia, dan Anda
bisa jadi “dihukum” atau bahkan dibuang ke “neraka yang menyala-
nyala” (Mat.5:22) jika itu “berasal dari si jahat” (Mat.5:37). Inilah
derajat penghormatan kepada Allah dalam kehidupan dan
percakapan sehari-hari yang jauh melampaui konsep kebanyakan
orang Kristen, dan yang nyaris tak terpikirkan olehnya. Oleh karena
itu, sulit untuk membayangkan apa yang akan dipikirkan Yesus
tentang penggabungan Allah dengan manusia ke dalam satu pribadi
sebagaimana didefinisikan secara dogmatis oleh trinitarianisme!
Pengurangan trinitaris dari dua pribadi menjadi satu ini sama
sekali tidak mewakili apa yang dimaksud oleh Yesus dengan menjadi
“satu” dengan sang Bapa, dan kita yang menjadi satu dengan dia dan
222 The Only True God

Bapa melalui penyatuan yang serupa. Penyatuan ini selalu dibicara-
kan dalam istilah “tinggal” atau “diam” di dalam satu sama lain,
bukan semacam penyerapan kuasi-fisik ke dalam satu sama lain.
Identitas diri masing-masing pribadi sepenuhnya dipastikan dalam
penyatuan ini, dan malah diperkaya dan ditingkatkan olehnya.
Yesus tidak pernah terlibat dalam ‘gaya bicara ganda’, yaitu,
kadang berbicara sebagai manusia dan kadang sebagai Allah.
Siapapun yang berbuat demikian sudah sewajarnya dianggap
menderita schizofrenia, jika bukan sesuatu yang lebih buruk. Di
sepanjang Injil Yohanes, secara konsisten ia berbicara sebagai “anak”
yang hidup dalam kasih dan ketaatan total kepada Bapanya. Namun
trinitarianisme, dalam tekadnya untuk mempertahankan gagasan
yang tidak dapat dipertahankan secara Alkitabiah (dan secara logis)
tentang Yesus sebagai ‘Allah sejati dan manusia sejati’, mendapati
bahwa mereka tidak dapat berbuat demikian tanpa menengarai
bahwa dalam satu situasi Yesus berbicara sebagai Allah tetapi dalam
situasi lain sebagai manusia (mis. “Aku haus”, Yoh.19:28). Dengan
demikian, mereka mengakui bahwa ia berfungsi secara schizofrenis;
dan hal ini memang tidak dapat dielakkan, oleh karena kodrat
rangkapnya. Injil sama sekali tidak memberikan dasar untuk gagasan
semacam itu.
Hendaknya diingat baik-baik bahwa, dari sudut pandang
keselamatan umat manusia, keilahian Kristus tidak menjadi soal,
tetapi realitas dari kemanusiaan Kristus merupakan hal yang paling
penting. Jika kita tidak ingin disesatkan, kita harus mengingat hal ini:
Tidak di manapun juga dalam PB iman pada keilahian Kristus
diwajibkan untuk keselamatan. Fakta ini akan menjadi lebih jelas
bagi pembaca seraya kita melanjutkan kajian ini.
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 223

Manusia Sempurna sebagai Pengantara
“Karena Allah itu esa dan esa pula pengantara antara Allah
dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim.2:5).

M usa melayani secara efektif sebagai seorang pengantara antara
Israel dan Yahweh. Dalam beberapa kesempatan Israel yang
memberontak diselamatkan dari murka Allah melalui perantaraan
Musa. Namun siapakah yang berdiri di antara umat manusia dan
Allah? “Semua orang telah berbuat dosa” (Rm.3:23), semua orang
tidak menaati Allah, semua orang ada dalam cengkeraman maut dan
hukuman; siapakah yang akan berbicara atas nama umat manusia
sama seperti yang dilakukan Musa untuk bangsa Israel? Perlunya
pelayanan Kristus sebagai “pengantara yang esa” menjadi nyata di
sini. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau Kristus dibanding-
kan dengan Musa sebagai pengantara (Gal.3:19-22). Bahkan dalam
Prolog Yohanes terdapat rujukan kepada Musa (Yoh.1:17), sebab
melalui dia Firman (logos) Allah datang kepada Israel dalam bentuk
Hukum Taurat.
Surat kepada Orang Ibrani membahas dengan rinci peranan
perantaraan Yesus sebagai imam agung yang besar. Fungsi imam
agung dijelaskan di Ibrani 5:1 (LAI-TL), “Karena setiap Imam Besar
yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan untuk mewakili
manusia dalam hubungan mereka dengan Allah [yaitu bertindak
sebagai pengantara]. Ia bertugas untuk mempersembahkan berbagai
persembahan dan kurban oleh karena dosa.” “Dan tidak seorangpun
yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, melainkan
dipanggil oleh Allah untuk itu” (ay.4). “Demikian pula Kristus tidak
memuliakan dirinya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi
dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepadanya, “Engkaulah Anak-
Ku! Engkau telah menjadi Anak-Ku pada hari ini” [Mzm.2:7]”
(ay.5). “Sebab Kristus tidak masuk ke Ruang Suci buatan manusia,
224 The Only True God

yang hanya melambangkan Ruang Suci yang sebenarnya. Kristus
masuk ke surga sendiri; di sana ia sekarang menghadap Allah untuk
kepentingan kita (huper hēmōn)” (Ibr.9:24, BIS). “Untuk
kepentingan kita” membentuk karakter dari peranan sang
pengantara, khususnya peranan imam besar sebagai pengantara.
Namun “untuk kepentingan kita” hanyalah salah satu terjemahan
dari huper hēmōn, yang secara harfiah berarti: “untuk kita”. Frasa ini
muncul berkali-kali sehubungan dengan pekerjaan Kristus sebagai
imam besar dan juruselamat; ada terlalu banyak referensi untuk
dikaji di sini, tetapi berikut ini adalah ayat-ayat yang muncul dalam
Kitab Roma:

“Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita
orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.”
(5:6)

“Akan tetapi, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita
dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati
untuk kita.” (5:8)

“Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang
menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia
tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-
sama dengan dia?” (8:32)

“Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: Yang telah
bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah
menjadi Pembela bagi kita?” (8:34)

Dari referensi-referensi di atas penting untuk diperhatikan bahwa
Allah Yahweh-lah yang menyediakan pengantara itu dengan mene-
tapkan Yesus sebagai imam besar (Ibr.5:5), dan Ia jugalah yang
menyediakan kurban penebus dosa dengan menyerahkan Anak-Nya
sendiri (Rm.8:32), sehingga “Kristus telah mati untuk kita” (Rm.5:8).
Itulah alasannya mengapa Yahweh disebut “Allah Juruselamat kita”
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 225

(1Tim.1:1; 2:3; dst.). Penyediaan untuk keselamatan manusia ini
mengingatkan kita pada kejadian pengurbanan Ishak oleh Abraham.
Ketika Ishak menanyakan ayahnya di mana hewan kurban itu,
Abraham, “bapa semua orang percaya” (Rm.4:11), menjawab, “Allah
yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-
Nya, anakku.” (Kej.22:8). Hal ini mengisyaratkan iman yang percaya
pada Yahweh yang akan menyediakan “Anak Domba Allah”
(Yoh.1:29,36; dan, di kitab Wahyu, “Anak Domba”); frasa itu berarti:
seekor Anak Domba yang disediakan oleh Allah Sendiri—untuk
memungkinkan keselamatan umat manusia.
Yang juga penting untuk kita ketahui adalah “untuk kita” (huper
hēmōn, dan dengan demikian, “untuk kamu”, huper sou) berakar
dalam bahasa penebusan di PL. Berikut ini adalah sebuah contoh
dari Yesaya 43:
3
Sebab Akulah Yahweh, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah
Israel, Juruselamatmu. Aku menebus engkau dengan Mesir,
dan memberikan Etiopia dan Syeba sebagai gantimu [LXX,
huper sou, “untuk kamu”]. 4 Oleh karena engkau berharga di
mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku
memberikan manusia sebagai gantimu [LXX, huper sou], dan
bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.

Nas di atas menjelaskan beberapa poin penting:
(1) Yahweh adalah Penebus umat-Nya. Ini merupakan sebuah tema
penting dalam Alkitab Ibrani, tetapi diberikan penekanan khusus di
kitab Yesaya. “Dari tiga puluh tiga nas dalam Perjanjian Lama di
mana gō’ēl [penebus] diterapkan kepada Allah, sembilan belas nas
muncul dalam Kitab Yesaya… Dalam merohaniahkan istilah gō’ēl,
Yesaya (Yes.49:26; bdk. Mzm.19:14) menempatkannya setaraf
dengan ‘juruselamat’”. (Unger’s Bible Dictionary, “Penebus”)
226 The Only True God

(2) Penebusan melibatkan pembayaran “tebusan”. Dalam hal ini,
karena Mesir juga kepunyaan Allah, Ia memilih untuk memberikan-
nya sebagai tebusan untuk membebaskan umat-Nya dari
perbudakan yang mengikat mereka. Tebusan adalah “harga” (timē)
yang dibayar untuk menebus seorang budak. Oleh karena itu, Paulus
menulis kepada jemaat di Korintus, “kamu bukan milik kamu
sendiri, sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar:
Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1Kor.6:19,20; juga
7:23)
(3) Tebusan adalah sesuatu yang diberikan untuk ditukar dengan
tawanan atau budak yang telah ditebus dengan bayaran itu. Maka,
ketika kita membaca di Roma 5:6 bahwa “Kristus telah mati untuk
kita orang-orang durhaka”, kita mengerti bahwa melalui
kematiannya ia telah memberikan nyawanya sebagai tebusan untuk
kita sehingga memastikan jiwa kita selamat. Ia memberikan dirinya
sendiri untuk ditukar dengan kita. Yesus sendiri mengatakannya
demikian, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan
untuk melayani dan untuk memberikan nyawanya menjadi tebusan
bagi banyak orang.” (Mat.20:28) Yesus adalah tebusan itu yang
menyerahkan dirinya dengan sukarela bagi kita (Gal.2:20). Namun,
tidak seperti Paulus, kita biasanya mengabaikan fakta bahwa Allah
Yahwehlah yang memberikan Anak-Nya sebagai tebusan itu; “Ia,
yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang
menyerahkannya bagi kita semua” (Rm.8:32). Dengan kata lain,
Allah Yahweh adalah sang Juruselamat-Penebus, dan Yesus adalah
tebusan yang dibayar Allah untuk kita. Indahnya sang pengantara
adalah karena ia merupakan kurban-tebusan yang rela. Indahnya
Yahweh adalah karena Ia rela “menyerahkan” “anak terkasih”-Nya
demi keselamatan-kemerdekaan kita dari dosa dan kematian. Dari
kerelaan Yesus memberi dirinya kita dapat menghargai mengapa ia
adalah “anak terkasih” Yahweh.
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 227

Rasul Petrus mengatakannya seperti ini, “Sebab kamu tahu,
bahwa kamu telah ditebus [oleh Allah] dari cara hidupmu yang sia-
sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan
barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan
dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti
darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.”
(1Ptr.1:18,19) Mengapa ia berbicara tentang darah Kristus sebagai
sesuatu yang “mahal”? Bukankah karena darah itu adalah darah
“Anak terkasih” Allah (2Ptr.1:17; Mat.3:17; 17:5, dst.)? Perhatikan
juga bahwa, “darah” di sini berbicara tentang Yesus sebagai manusia,
dan “yang tak bernoda dan tak bercacat” menggambarkan dirinya
sempurna; dengan demikian melukiskan dia sebagai sang manusia
sempurna.
(4) Mereka yang telah ditebus menjadi milik pihak yang menebus.
Ini dinyatakan dengan indah sekali di Yesaya 43:1, “Tetapi sekarang,
beginilah firman Yahweh yang menciptakan engkau, hai Yakub,
yang membentuk engkau, hai Israel: "Janganlah takut, sebab Aku
telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan
namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.” Sentimen ini sudah
diungkapkan jauh sebelumnya di Ulangan 14:1,2: “Kamulah anak-
anak Yahweh, Allahmu… sebab engkaulah umat yang kudus bagi
Yahweh, Allahmu, dan engkau dipilih Yahweh untuk menjadi umat
kesayangan-Nya dari antara segala bangsa yang di atas muka bumi.”
Demikian pula di Ulangan 26:18, “Dan Yahweh telah menerima janji
dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat
kesayangan-Nya.” Sentimen yang sama ini diterapkan kepada
jemaat dalam Perjanjian Baru, seperti di 1Petrus 2:9,10:

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani,
bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya
kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari
Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada
228 The Only True God

terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah,
tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu
tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas
kasihan.

Untuk alasan ini pulalah jemaat disebut “jemaat Allah” (7 kali dalam
PB). Dalam trinitarianisme “Kristosentris” kita selalu berbicara
tentang “jemaat Yesus Kristus”. Betapa terkejutnya saya ketika
mendapati istilah “jemaat Kristus” tidak dapat ditemukan dalam
Perjanjian Baru! Ini mengingatkan saya akan Matius 22:29: “Yesus
menjawab mereka: Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab
Suci maupun kuasa Allah!”—dan saya telah berasumsi kalau saya
mengenal keduanya itu dengan cukup baik!—sebuah pelajaran
kerendahan hati yang menyakitkan tetapi sangat diperlukan!
Dalam kasih sayang Allah Ia menebus kita melalui Kristus dan
menjadikan kita milik-Nya. Namun, hal yang telah kita lupakan
(atau yang kita pilih untuk diabaikan?) sebagai trinitarian adalah
bahwa bukan hanya kita saja yang menjadi milik-Nya, tetapi Kristus
Yesus Tu[h]an kita juga adalah milik Yahweh sendiri, seperti yang
dinyatakan oleh sang Rasul dengan begitu jelas, “Tetapi kamu adalah
milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah” (1Kor.3:23). Akhirnya
saya memahami apa yang selama ini tidak saya pahami oleh karena
Kristologi trinitaris saya: Kristus bukanlah seorang pengantara
mandiri yang berdiri di antara Allah dan manusia; ia adalah milik
Allah. Dengan kata lain, ia bukan pihak ketiga yang datang untuk
bertindak sebagai seorang penengah atau perunding antara Allah
dan manusia. Ia memang seorang pengantara, tetapi hanya dalam
arti sebagai seorang yang diutus Allah dan diangkat oleh-Nya
sebagai imam agung dan juga sebagai kurban; karena Allah
Sendirilah yang ada “di dalam Kristus ketika mendamaikan dunia
dengan diri-Nya sendiri” (2Kor.5:19). “Ia, yang tidak menyayangkan
Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkannya bagi kita semua”
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 229

(Rm.8:32) untuk memastikan penebusan kita. Allah Yahwehlah yang
memprakarsai semuanya ini sejak awal; Dia sendirilah yang
menyediakan pengantaranya.
Akhirnya, saya mulai memahami apa yang dimaksud oleh sang
Rasul di Galatia 3:20. Dapat dimaklumi bila setiap terjemahan
berusaha mengartikan kalimat yang begitu padat ini, tetapi
tampaknya nyaris tidak ada yang berhasil. Terjemahan harfiah kata
demi katanya berbunyi, “Nah, seorang pengantara bukan dari satu;
tetapi Allah itu satu.” Apa artinya ini? Sebagaimana telah kita lihat,
keselamatan umat manusia ini sepenuhnya diprakarsai oleh Allah
sendiri; manusia tidak ada bagian sama sekali, ia tidak memberi
sumbangsih apapun; semuanya datang hanya dari Allah yang satu
itu—tidak ada pihak lain yang terlibat dalam perencanaan dan
pelaksanaan dari keselamatan manusia, keselamatan itu adalah
semata-mata anugerah Allah. Jadi di Galatia 3:20, meskipun Paulus
sependapat bahwa biasanya seorang pengantara tidak disediakan
oleh satu pihak saja, akan tetapi, dalam perkara keselamatan
manusia, Kristus sang pengantara memang disediakan oleh satu
pihak saja: Allah yang satu itu. “Allah itu satu” menggemakan
Ulangan 6:4 dan Markus 12:29; diterapkan di sini secara khusus
kepada soal keselamatan.

“Yeshua”, nama yang diberikan Allah kepada Yesus

S eperti umum diketahui, nama Ibrani Yesus adalah Yeshua.
Nama ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai
“Jesus”, mengikuti bentuk Yunaninya, bukan Ibrani. “Yeshua”
berarti “Yahweh menyelamatkan” atau “Yahweh adalah
Juruselamat”. Akan sangat aneh jika orang yang nama-dirinya
memberitakan Yahweh sebagai Juruselamat menggantikan Dia
sebagai juruselamat! Sebenarnya, bukan saja aneh tetapi palsu, dan
bahkan jahat.
230 The Only True God

Nama “Yeshua” jelas berarti Yahweh akan menyelamatkan kita di
dalam dan melalui orang yang diberi nama itu. Pada berbagai
kesempatan dalam sejarah Israel Yahweh menyelamatkan umat-Nya
melalui para penebus atau penyelamat yang dibangkitkan oleh-Nya.
Contohnya:

Nehemia 9:27, “Engkau menyerahkan kembali mereka ke
dalam tangan musuh-musuh mereka yang menindas mereka.
Dalam penindasan mereka, mereka berseru kepada-Mu, dan
Engkau mendengarkan mereka dari surga, sehingga oleh
kemurahan-Mu yang berlimpah ruah. Engkau mengirim
penyelamat yang membebaskan mereka dari para penindas
mereka.” (KSKK)

Obaja 1:21, “Penyelamat-penyelamat akan naik ke atas
gunung Sion untuk menghukumkan pegunungan Esau; maka
Tuhanlah yang akan empunya kerajaan itu.”

Yesus pun adalah seorang Penyelamat yang diutus dari Allah, seperti
tertulis di 1Yohanes 4:14, “Dan kami telah melihat dan bersaksi,
bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.”
Lagipula, Yesus terus-menerus menegaskan bahwa Bapalah yang
bekerja melalui dia: “Bapa, yang tinggal di dalam aku, Dialah yang
melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya” (Yoh.14:10; bdk. Yoh.5:19);
“Pekerjaan-pekerjaan-Nya” secara khusus adalah segala yang perlu
dilakukan demi keselamatan umat manusia.
“Allah Juruselamatku” (atau “Allah Keselamatanku” dalam
terjemahan lain) kerap muncul dalam PL. Kata “Allah” (elohim) dan
“selamat” (Yasha, akar Ibrani yang membentuk nama “Yeshua”)
muncul bersama-sama tidak kurang dari 70 kali dalam PL; dan kata
“Yahweh” muncul bersama-sama dengan “selamat” sebanyak 131
kali. Akhirnya, tidak ada penyelamat lain selain Yahweh: “Tidak ada
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 231

Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak
ada yang lain kecuali Aku!” (Yes.45:21).

Kemuliaan Kristus—sebagai manusia

K emuliaan Kristus tidak terdiri dari dugaan bahwa dia adalah
“Allah”, melainkan dia sebagai “Adam yang akhir”
(1Kor.15:45), yaitu puncak dari ciptaan Allah: manusia baru.
Manusia baru Yesus ini adalah “buah sulung” (1Kor.15:23) yang juga
buah terakhir, puncaknya, sang “manusia sempurna” (Ef.4:13).
Itulah sebabnya ia adalah “yang awal dan yang akhir” (Why.1:17;
2:8), permulaan dan puncak dari ciptaan baru.
Efesus 4:13 memerlukan penguraian lebih lengkap. Demikian
bunyi ayat ini menurut MILT: “hingga kita semua telah sampai pada
kesatuan iman dan pengenalan penuh akan Putra Allah, sebagai
manusia sempurna, sesuai ukuran kedewasaan kepenuhan Kristus”.
Sekilas pandang kepada terjemahan-terjemaham lain akan menun-
jukkan bahwa kebanyakannya menerjemahkan “manusia sempurna”
sebagai “manusia dewasa” atau “kedewasaan penuh”. Kata yang
terdapat dalam teks bahasa Yunaninya adalah dua kata “anēr” dan
“teleios”. Makna dasar dari anēr adalah “seorang pria dewasa, laki-
laki, suami” (BDAG); jadi kata itu bukan anthrōpos, kata yang
berarti manusia. Lantas, mengapa kata khusus untuk pria dewasa
dipakai di sini, dan bukannya kata untuk manusia dalam arti umum?
Jawabannya cukup jelas: “manusia sempurna” di sini mengacu
secara khusus kepada Kristus, yang ditegaskan oleh kalimat
berikutnya: “tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan
Kristus”. Sedangkan untuk “teleios”, makna utamanya adalah “1.
tentang mencapai standar tertinggi, sempurna”, tetapi bisa juga
berarti “2. tentang hal menjadi dewasa, tumbuh menjadi besar,
matang, dewasa” (kedua kutipan ini diambil dari BDAG). Maksud
dari Efesus 4:13 tentu saja bukannya kita mesti bertumbuh kepada
232 The Only True God

kedewasaan dalam arti umum, tetapi secara khusus untuk
bertumbuh kepada kedewasaan kepenuhan Kristus sebagai “manusia
sempurna”.
Hal lain yang mencolok dari ayat ini adalah cara istilah “Anak
Allah” dipahami. “Anak Allah” itu tidak lain dan tidak bukan adalah
sang “manusia sempurna”! Kedua frasa itu jelas berkaitan satu
dengan yang lain di ayat ini, dan tidak dapat dipahami dengan tepat
secara terpisah.
Manusia sempurna itu bukan sekadar boneka manusia, tetapi
seorang yang dalam ketaatan dan pengabdian penuh kepada Yahweh
melaksanakan tujuan penyelamatan-Nya dalam sukacita
ketundukan (“yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul
salib ganti sukacita yang disediakan bagi dia”, Ibr.12:2). Kita bisa
berseru dari hati, “Sungguh seorang penyelamat!” Terlebih lagi
ketika kita memahami bahwa adalah tidak mustahil bagi dia untuk
dicobai dan jatuh sama seperti Adam (hal yang mustahil seandainya
ia adalah Allah), tetapi ia “menang atas mereka” (Kol.2:15; bdk.
Why.5:5) dalam ketabahan ketaatannya kepada sang Bapa yang
tinggal di dalam dia, yang memelihara dia, yang terus-menerus
memberdayakannya di dalam segala sesuatu yang ia katakan dan
lakukan, dengan demikian memastikan kemenangannya.

Pandangan yang negatif terhadap manusia dalam
Kekristenan

D egradasi manusia oleh Augustinus dan Kalvinus sehingga ia
dipandang tidak lebih daripada seorang berdosa yang hina dan
“bejat”, membuat Yesus tampak tidak layak sebagai manusia
“semata-mata”. (Ia tidak mungkin seorang malaikat atau penghulu
malaikat, atau akan dikatakan bahwa manusia diselamatkan oleh
seorang malaikat!) Dan jika Kristus—begitulah logikanya—harus
lebih daripada manusia dan lebih daripada malaikat, bagaimana ia
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 233

bisa kurang daripada Allah? Pengajaran Paulus tentang manusia
sebagai “gambaran dan kemuliaan Allah” (1Kor.11:7) disingkirkan
oleh dogmatisme Kristen semacam ini yang secara selektif mengutip
ayat-ayat seperti yang ditemukan di Roma 3:10-18, yang merupakan
sekumpulan ayat-ayat PL yang melukiskan tingkat kekejian yang
telah dipilih oleh sebagian orang. Namun mengemukakan bahwa
limbah dari kemanusiaan adalah representatif dari seluruh umat
manusia adalah tidak sesuai dengan kenyataan (seperti banyak
contoh dari orang seperti pemadam kebakaran, yang sekalipun
bukan Kristen, mempertaruhkan nyawa mereka, dan bahkan tewas,
demi menyelamatkan orang lain di saat bencana), dan juga tidak
sesuai dengan pernyataan Paulus tentang manusia sebagai (bentuk
waktu ini) “kemuliaan Allah” (1Kor.11:7)—sebuah pernyataan yang
agak kuat, bukan? Lantas, mengapa berbicara tentang Kristus
sebagai manusia dianggap merendahkannya?

“Kemuliaan” dalam Injil Yohanes: Yesus tidak menerima
kemuliaan dari manusia
Orang yang menjadikan kehendak Allah sebagai satu-satunya tujuan
hidup, sama sekali tidak peduli dengan kemuliaan dari manusia.
Yesus memulai pelayanan pengajarannya dengan Ucapan Bahagia
(Matius 5); yang melukiskan cara fungsi orang yang hidup menurut
kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari. Orang seperti inilah
yang menjadi sasaran berkat-berkat Allah. Di bagian terakhir
Ucapan Bahagia Yesus berkata:

“10 Berbahagialah orang yang dianiaya karena melakukan
kehendak Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan
Surga.
11
Berbahagialah kamu, jika karena aku kamu dicela dan
dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
234 The Only True God

12
Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di
surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang
sebelum kamu.”
Orang-orang yang mencari pahala atau kemuliaan yang datang dari
Allah sendiri, tidak peduli dengan permusuhan dari manusia, sebab
hasrat mereka satu-satunya adalah hidup untuk Allah dan menye-
nangkan Dia. Dicela dan dianiaya menjadi sebab untuk “bersukacita
dan bergembira”. Pada bagian akhir Injil pembaca akan melihat
bahwa bukan saja para nabi yang dianiaya, tetapi di atas segalanya,
Yesus sendiri; dan demikian juga dengan semua orang yang melaku-
kan kehendak Bapa dan mencari kemuliaan-Nya.
“Kemuliaan” (doxa, δόξα) adalah sebuah kata kunci yang secara
statistik signifikan dalam Injil Yohanes di mana kata ini muncul 19
kali, dibanding 13 kali dalam Injil Lukas (20% lebih panjang), Matius
7 kali, dan Markus hanya 3 kali. Satu-satunya kitab dalam PB di
mana kata doxa muncul sekerap Injil Yohanes adalah kitab Wahyu
(juga sebuah kitab Yohanein), di mana ia muncul 17 kali.
Sekilas pandang pada tempat doxa dalam pengajaran Yesus
membeberkan suatu hal yang amat penting tentang pikiran Kristus
yang teramati oleh sedikit orang:

Yohanes 5:41, Aku tidak menerima kemuliaan dari manusia.
(ILT)

Yohanes 5:44, Bagaimana kamu dapat percaya jika kamu
mencari kehormatan satu dari yang lain, dan tidak mencari
kemuliaan dari Allah satu-satunya? (KSKK) (Perhatikan
monoteisme sebagai faktor memotivasi: dari “Allah satu-
satunya”, monos theos)

Yohanes 7:18, Orang yang berbicara atas namanya sendiri
mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri. Tetapi orang yang
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 235

mencari kemuliaan bagi Dia yang mengutusnya adalah orang
yang jujur, dan dalam dirinya tidak ada ketidakbenaran. (ITL)

Yohanes 8:50, Aku tidak mencari kemuliaan untuk diri
sendiri. Ada Satu yang mengusahakannya, yaitu Dia yang akan
menghakimi. (ITL)

Yohanes 8:54, Jawab Yesus: “Jikalau aku memuliakan diriku
sendiri, maka kemuliaanku itu sedikitpun tidak ada artinya.
Bapakulah yang memuliakan aku, tentang siapa kamu berkata:
‘Dia adalah Allah kami’”.

Yohanes 12:43: Sebab mereka mencintai kemuliaan manusia
lebih daripada kemuliaan Allah. (MILT)

Semuanya ini dirangkum oleh tindakan Yesus di Yohanes 6:15,
“Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak mem-
bawa dia dengan paksa untuk menjadikan dia raja, ia menyingkir
lagi ke gunung, seorang diri.”
Kita mungkin telah membaca Injil Yohanes berulang-kali tetapi
sudahkah kita sungguh-sungguh memahami pesannya dan, khusus-
nya, signifikansi dari kata-kata dan tindakan-tindakan Yesus?
Apakah kita mengira kita menyenangkan Yesus dengan memahkotai
dia secara paksa sebagai raja kita, sama seperti yang dilakukan
orang-orang di Yohanes 6 karena mereka mengenali dia sebagai
“nabi yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh.6:14), sang Mesias
agung yang mereka nanti-nantikan? Mereka mungkin ingin
memakotainya karena melihat ia bisa memenuhi kebutuhan
jasmaniah mereka; tetapi apakah kita lebih baik daripada mereka
karena kita tidak mempunyai kebutuhan material yang mendesak
(‘roti’ atau makanan) seperti mereka tetapi menginginkan roti yang
memberi hidup kekal itu untuk kita sendiri? Apakah hasrat-hasrat
rohaniah memang tidak seegois hasrat-hasrat material? Apakah
236 The Only True God

hasrat memperoleh kebahagiaan, misalnya, tidak seegois hasrat
memperoleh makanan?
Namun intisarinya di sini adalah Yesus menolak untuk
dimahkotai sebagai raja oleh siapapun—kecuali oleh Allah sendiri.
Kita menyanyikan himne-himne seperti “Mahkotai Dia, Mahkotai
Dia” dengan penuh antusiasme seolah-olah ini sesuatu yang
memuliakan dan menyenangkan dia. Namun apakah mungkin ia
tidak akan menerimanya dari kita sama seperti ia tidak
menerimanya dari mereka di Yohanes 6:15? Hal ini tak pernah
terlintas dalam pikiran kita karena kita masih belum memahami
pikirannya—“pikiran Kristus” (1Kor.2:16). Hasratnya yang pertama
dan terutama adalah supaya Allah Bapa dimuliakan, dan ia tidak
ingin dimuliakan terlepas dari sang Bapa. Ini juga suatu hal yang
diungkapkan dengan jelas dalam Kitab Wahyu. Yesus menerima
kemuliaan kekuasaan sebagai raja hanya dari Sang Bapa, dan mutlak
tidak dari siapapun juga. Betapa sedikitnya kita memahami dia.

Kesalahan trinitarian malah lebih serius daripada itu

D i Yohanes 6:15 mereka ingin menjadikan Yesus sebagai raja
“dengan paksa”. Apakah seorang raja Israel dapat diangkat
karena kepopuleran, atau apakah ia diangkat oleh Allah sendiri?
Apakah umat Allah dapat merebut wewenang untuk memilih raja
mereka sendiri dalam kerajaan Allah? Bangsa Israel pernah melaku-
kan hal ini sebelumnya dalam sejarah ketika mereka memilih Saul
sebagai raja—dengan konsekuensi yang mencelakakan. Beranikah
kita berbuat hal yang sama seperti mereka? Apakah kita mengira
Kerajaan Allah itu pemerintahan demokrasi ketimbang teokrasi?
Jika demikian, maka kita bahkan masih belum menangkap hakikat
keselamatan yang tak terpisahkan dari kekuasaan Allah sebagai raja.
Kita pun masih belum betul-betul menangkap fakta bahwa Yesus
mengumumkan Kerajaan Allah, yaitu kekuasaan-Nya sebagai raja,
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 237

sebagai pesan sentral dalam ajarannya, sebagaimana dapat dilihat
dari Injil-injil Sinoptik. Menurut rencana Allah yang kekal, Yesus
diangkat oleh Allah sebagai raja di dalam kerajaan-Nya dan dengan
demikian, seperti semua raja Israel, ia akan menjadi (dan sekarang
adalah) wakil mutlak Allah.
Patut dicatat bahwa dalam Kitab Wahyu, yang teragung di antara
makhluk-makhluk rohaniah melemparkan mahkota mereka di
bawah takhta. Tidak seperti kita, mereka tidak begitu congkak
sampai membayangkan kalau mereka memiliki hak (oleh karena
status rohaniah mereka) untuk memahkotai siapa saja. Jika Yesus
adalah raja, atau bahkan raja di atas segala raja, itu adalah semata-
mata karena Yahweh yang meninggikan dia ke kedudukan itu,
bukan karena ia merampas kedudukan itu untuk dirinya sendiri,
terlebih lagi bukan karena kita yang memberikan martabat itu
kepadanya.
Namun Kekristenan trinitaris telah melangkah lebih jauh
daripada orang Yahudi di Yohanes 6. Kita telah menuhankan Yesus
sampai ke tingkat kesetaraan dengan Allah sang Bapa, Yahweh
Sendiri—dan penegasan Yesus sendiri tentang Bapa sebagai “satu-
satunya Allah yang benar” begitu saja diabaikan. Sebagai akibatnya,
kita telah membuat Yesus menjadi sasaran penyembahan dan doa
kita. Alhasil, sang Bapa telah diasingkan ke tempat yang relatif
marginal baik dalam penyembahan maupun doa. Sebenarnya, untuk
kebanyakan orang Kristen bahkan kata “Bapa” merupakan sebuah
bentuk sapaan untuk Yesus (Yesaya 9:5 digunakan untuk
membenarkan perbuatan tersebut).
Jika tindakan Israel merebut hak untuk memilih raja mereka
sendiri, sebagaimana dilakukan oleh bangsa-bangsa tetangganya,
dianggap sebagai sebuah tindakan penolakan terhadap Yahweh
(“tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja
atas mereka”, 1Sam.8:7), kira-kira kata apa lagi yang bisa digunakan
238 The Only True God

untuk menggambarkan apa yang telah dilakukan jemaat non-Yahudi
kepada Yahweh?!

Yesus sebagai “Tu[h]an” sekaligus “hamba”
Adalah prinsip Yesus untuk tidak pernah mencari ataupun
menerima kemuliaan dari manusia. Ia tidak pernah mengajar
murid-muridnya untuk menghormati dirinya lebih dari sekadar
guru mereka karena ia bertujuan mengajarkan perkataan hidup yang
kekal kepada mereka dan menjadi seorang teladan hidup untuk
mereka, yaitu sebuah perwujudan yang hidup dari segala yang ia
ajarkan. Jadi tidak mengherankan ketika kita menyadari bahwa ia
datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani
(Mrk.10:45); ia mengambil “rupa seorang hamba” (Flp.2:7) dan
menunjukkannya dengan membasuh kaki murid-muridnya
(Yoh.13:1 dyb.). Akan terlihat sangat tidak konsisten bagi seseorang
yang datang untuk menjadi hamba menuntut kehormatan bagi
dirinya sendiri. Ia pun mengajarkan bahwa yang terbesar dalam
kerajaan Allah harus menjadi hamba dari semua (Mrk.10:42-44;
Mat.20:25 dyb.; Luk.22:25 dst.). Ini semua mengungkapkan prinsip
pokok dari kehidupan dan pikirannya.

Apakah prinsip-prinsip Kerajaan Allah berubah setelah
Yesus ditinggikan?
Apakah prinsip tidak mencari kemuliaan dari manusia ini dibuang
sesudah kebangkitan Kristus? Apakah prinsip-prinsip Kerajaan telah
berubah sejak saat itu atau, khususnya, setelah ia diberi Nama di atas
segala nama? Jika prinsip-prinsip itu telah dibuang atau diubah,
maka jelaslah bila karakter Kerajaan Allah itu sendiri pun telah
berubah, dan jika demikian, berubah menjadi apa? Namun tak ada
apapun juga yang menandakan kalau ada sesuatu yang telah berubah
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 239

sehubungan dengan karakter Kerajaan Allah, baik di bumi maupun
di surga. Jika memang sudah betul-betul berubah, maka kitalah
(gereja) yang telah mengubahnya, berkelakuan sama persis seperti
orang-orang di Yohanes 6:15. Lalu, bagaimana Yesus akan
berurusan dengan kita? Bukankah ia akan menolak kita dengan cara
yang sama seperti ia menolak mereka di Yohanes 6:15? Jika kita
sungguh-sungguh ingin memuliakan Allah di dalam Kristus maka
kita harus melakukannya dengan cara Allah—atau berhadapan
dengan penolakan dan pengasingan dari Kerajaan-Nya.
Jika prinsip-prinsip rohaniah Kerajaan itu belum dibatalkan atau
berubah, maka bukankah prinsip “yang terbesar akan melayani
sebagai yang terkecil” masih tetap berlaku? Dengan demikian,
bukankah itu berarti bahwa Raja dari segala raja adalah juga Hamba
dari segala hamba? Hal ini berada di luar jangkauan pemahaman
dunia, tetapi justru itulah maksud ajaran Yesus, bahwa karakter
Kerajaan itu berbeda secara radikal dari dunia, dan orang-orang
dunia tidak dapat memahaminya atau menerimanya. Jika kita ingin
menghormati sang Hamba-Raja (Servant-King) dalam Kerajaan
Allah, bagaimana caranya? Jawaban yang konsisten untuk
pertanyaan ini di seluruh Kitab Suci adalah dengan menaati dia.
“Mengapa kamu berseru kepadaku: Tu[h]an, Tu[h]an, padahal
kamu tidak melakukan apa yang aku katakan?” (Luk.6:46). Kita
memanggil dia Tu[h]an, tetapi kita berkelakuan, bahkan
sehubungan dengan Kristus, seperti orang-orang dunia. Kita
menghormati dia dengan cara yang hampir sama seperti orang-
orang dunia menghormati penguasa-penguasa dan raja-raja mereka,
dan kita begitu duniawi sampai-sampai membayangkan bahwa
dengan berbuat demikian kita sedang menyenangkan dia.
Keinginannya adalah agar kita mengikuti dia dalam memberikan
kemuliaan kepada Allah saja, dan menghormati dia dengan menaati
ajarannya dengan setia.
240 The Only True God

Kita juga dapat bertanya, sehubungan dengan pertanyaan apakah
prinsip-prinsip dan sifat Kerajaan telah berubah sesudah Yesus
ditinggikan, dan setelah ia diberi nama di atas segala nama, apakah
ia berhenti berada dalam “keadaan sebagai manusia” sebagai akibat
dari peninggian itu, dan jika tidak, apakah ia berhenti berada dalam
“rupa seorang hamba”? Mengingat apa yang baru saja dinyatakan,
semestinya jelas bahwa ia mempertahankan kedua “bentuk”-nya
sebagai manusia dan juga sebagai hamba/kurban (bdk. Yesus sebagai
“Anak Domba”, gelarnya yang terkemuka di kitab Wahyu). Dalam
pengajaran Yesus, hamba dan kurban keduanya tak terpisahkan
sebagaimana di Markus 10:45: “Karena Anak Manusia juga datang
bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk
memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang” (juga
Mat.20:28), dan dalam simbolisme rohani yang penting yaitu
pembasuhan kaki murid-muridnya sesaat sebelum ia menuju ke
salib.
Akan tetapi, pada umumnya umat Kristen tampaknya telah
berasumsi bahwa melalui peninggian Yesus ia telah berhenti
menjadi seorang hamba, karena dalam pandangan kita yang duniawi
kedua hal itu tampak tidak kompatibel; tetapi, tidak demikian dalam
Kerajaan Allah: di dalam Kerajaan, begitu seseorang berhenti
menjadi hamba, ia pun berhenti menjadi raja (atau pemimpin) di
mata Allah. Kecuali jika kita memahami dan menerapkan prinsip ini
dalam kehidupan kita, kita tidak dapat berfungsi dalam kerajaan
Allah atau dalam jemaat-Nya sebagaimana Ia menghendaki; Yesus
memperingatkan kita akan bahaya berakhir menjadi “kambing”,
bukan “domba” (Mat.25:31-46).
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 241

“Raja di atas segala raja” sebagai teks-bukti untuk
keilahian Kristus

S alah satu dari “teks-teks bukti” kesayangan kita sebagai
trinitarian adalah gelar “raja di atas segala raja, dan tuan di atas
segala tuan”. Di Wahyu 17:14 gelar ini diterapkan kepada Anak
Domba, dan di 19:16 kepada Firman Allah; tetapi di 1Timotius 6:15
gelar itu dipakai untuk merujuk kepada Allah. Jadi, dengan mudah
dapat ditarik kesimpulan bahwa Anak Domba itu adalah Allah
dalam arti ia sederajat dengan Allah, sesuatu yang tidak disokong
oleh Kitab Wahyu.
Ketika saya mengecek Alkitab tua saya, saya menemukan bahwa
1Tim.6:15 memang adalah rujukan silang yang saya tuliskan di
samping Wahyu 17:14. Namun sesuai dengan ciri khas para
trinitarian, saya lalai untuk menyertakan rujukan-rujukan lain
kepada gelar “raja di atas segala raja” dalam Alkitab secara
keseluruhan. Faktanya, dalam Kitab Suci, gelar ini juga dipakai
untuk para penguasa manusia. Di Ezra 7:12, gelar itu dipakai untuk
Artahsasta; dan di Yehezkiel 26:7, Allah Sendiri menyebut
Nebukadnezar sebagai “raja di atas segala raja”; demikian juga di
Daniel 2:37. Jadi argumen untuk keilahian Kristus dicapai melalui
penggunaan teks-teks secara selektif, dengan mengabaikan teks-teks
yang bertentangan dengan perkara kita. Bukankah ini menandakan
kurangnya kejujuran spiritual dan intelektual, yaitu kurangnya
keterbukaan terhadap kebenaran?
Di Matius 28:18, Kristus yang telah bangkit itu mengumumkan
kepada para murid bahwa “kepadaku telah diberikan segala kuasa di
surga dan di bumi”. Kalau begitu, maka seyogyanyalah ia disebut
“Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan”. Namun yang
perlu diperhatikan adalah hal ini tidak dapat digunakan sebagai
argumen untuk kesetaraan Kristus dengan Allah Bapa karena
kedaulatan itu diberikan kepadanya oleh Allah. Allah sendiri yang
242 The Only True God

berhak memberikannya, karena itu adalah milik-Nya sebagai Allah.
Namun entah kenapa kita tidak puas dengan fakta bahwa Yesus
telah “dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat” oleh Allah
(Ibr.2:9), kita tidak bersedia menerima apa saja yang kurang dari
kemuliaan atau keilahian bawaan (berbeda dari diberikan), yakni, ia
setara secara kekal dengan Allah Bapa kita dalam segala hal,
meskipun tidak ada pembenaran Alkitabiah apapun untuk hal
tersebut. Gelar “Raja di atas segala raja” dipakai oleh Paulus sekali
saja di 1Tim.6:15, dan gelar itu merujuk kepada Allah Bapa kita,
sebagaimana diterangkan dengan sempurna oleh ayat itu sendiri.
1Timotius 6:15 boleh jadi menggemakan Ulangan 10:17, “Sebab
Yahweh, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan,
Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu
ataupun menerima suap”. Ini juga digemakan di Mazmur 136:1-3,
“Bersyukurlah kepada Yahweh, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk
selama-lamanya kasih setia-Nya. Bersyukurlah kepada Allah segala
allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk
selama-lamanya kasih setia-Nya”.
Nas-nas tersebut tercermin di 1Korintus 8:5,6, “Sebab sungguh
pun ada apa yang disebut “ilah”, baik si surga, maupun di bumi—
dan memang benar ada banyak “ilah” dan banyak “tuhan” yang
demikian — namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa,
yang dari Dia berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup,
dan satu Tu[h]an saja, yaitu Yesus Kristus, yang melalui dia segala
sesuatu telah dijadikan dan yang karena dia kita hidup.” Kedua nas
(di kitab Ulangan dan Mazmur) berbicara tentang Yahweh, yang
dirujuk sebagai “sang Bapa” oleh Yesus, dan sebagai “Allah Bapa
kita” oleh Paulus.
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 243

“Yang Awal dan Yang Akhir”

M engenai teks-teks bukti yang digunakan dalam trinitarian-
isme, mari kita pertimbangkan sebuah contoh lain dari
metodologi yang dipakai untuk “menetapkan” sebuah argumen.
Kembali ke kitab Wahyu, pertimbangkan gelar “Yang Awal dan
Yang Akhir” (Why.1:17; 2:8) yang diperluas menjadi “Alfa dan
Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan
Yang Akhir” (Why.22:13) di mana ketiga gelar itu semuanya identik,
yaitu mereka pada dasarnya mengandung arti yang sama. Oleh
karena gelar-gelar tersebut adalah gelar-gelar Kristus, maka mereka
digunakan untuk memperdebatkan keilahiannya.
Tidak seperti halnya “raja di atas segala raja”, yang bukti dari PL
begitu saja diabaikan, kali ini semuanya bergantung pada dua teks di
PL untuk menetapkan argumen kita. Kedua teks itu adalah Yesaya
44:6 dan 48:12 di mana Allah disebut “yang terdahulu dan... yang
terkemudian”. Di situ kita mendapatkan “bukti” keilahian Kristus.
Dengan demikian, perkara itu tampaknya dapat ditetapkan dengan
sangat gampang. Akan tetapi, kita tidak berhenti sejenak untuk
mempertimbangkan satu masalah kecil: Oleh karena Allah itu “dari
keabadian ke keabadian” dan dengan demikian, tanpa permulaan
atau akhiran (lih. pula Why.4:9,10), lantas bagaimana Ia dapat men-
jadi “Yang Pertama dan Yang Terkemudian”, “Yang Awal dan Yang
Akhir”? Hal ini mungkin hanya dalam satu arti sebagaimana dijelas-
kan oleh Kitab Suci: Ia adalah yang pertama dan yang terkemudian
khususnya sehubungan dengan ciptaan-Nya (yang mencakup umat
manusia), dan khususnya sehubungan dengan umat-Nya.
Penciptaan diawali dengan Dia dan akan mencapai penyem-
purnaan di dalam Dia (pada waktu yang ditetapkan-Nya ketika
tujuan-Nya telah tercapai). Sehubungan dengan umat-Nya, mereka
berhutang penebusan mereka kepada-Nya. Ia adalah awal kita
karena Ia memanggil kita kepada diri-Nya Sendiri dan dengan
demikian menerima kita sebagai umat-Nya melalui ikatan perjanjian
244 The Only True God

yang Ia tetapkan dengan kita. Ia adalah akhir kita karena kegenapan
akhir kita akan ditemukan hanya di dalam Dia.
Apa yang benar di bawah perjanjian yang lama juga benar di
bawah perjanjian yang baru, tetapi dengan realitas yang baru karena
sekarang Allah menjadikan kita sebuah ciptaan baru di dalam
Kristus. Kristus adalah “sang pengantara” dari perjanjian yang baru
itu (Ibr.9:15; 12:24; 1Tim.2:5); dan di bawah perjanjian ini Allah
telah memilih untuk melakukan segala sesuatu “melalui Kristus”
(atau, teks Alkitab lebih sering menulis, “melalui dia”) dan “di dalam
Kristus” karena “Allah ada di dalam Kristus ketika mendamaikan
dunia dengan diri-Nya sendiri” (2Kor.5:19, MILT). Untuk alasan
inilah Allah masih “Yang Awal dan Yang Akhir” di dalam dan
melalui Kristus; dan karena hal ini dikerjakan “di dalam Kristus”,
Kristus juga dapat digambarkan sebagai “yang awal dan yang akhir”
sehubungan dengan umat Allah. Jadi, di Ibrani 12:2 Kristus
digambarkan sebagai “pelopor dan penyempurna” iman kita. Kata
yang diterjemahkan sebagai “penyempurna” (teleiōtēs) secara
semantis berkaitan dengan kata “akhir” (telos) dalam gelar “Yang
Awal dan Yang Akhir” di Wahyu 22:13.
Sehubungan dengan umat manusia secara keseluruhan, Kitab
Suci berbicara tentang Kristus sebagai “buah sulung” dari orang-
orang yang telah mati (yaitu, manusia pertama yang dibangkitkan
untuk selamanya dari kematian, 1Kor.15:20); kebangkitan yang
terakhir telah dimulai dengan kebangkitan Kristus—ia adalah
permulaan dari kebangkitan yang terakhir dan penjaminnya.
Perhatikan bahwa “buah sulung” adalah ap-archē, sedangkan “Yang
Awal” di Wahyu 22:13 adalah archē. Ia juga adalah “Adam yang
akhir (kata ‘Adam’ artinya ‘manusia’ dalam bahasa Ibrani)” di
1Kor.15:45, di mana kata “akhir” (eschatos) itu sama persis dengan
kata “terkemudian” di Wahyu 22:13. Jadi memang benar “manusia
Kristus Yesus” adalah “yang awal dan yang akhir” sehubungan
dengan umat manusia dan keselamatannya.
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 245

Namun ada masalah lain yang jarang dipikirkan trinitarian ketika
memakai gelar “Yang Awal dan Yang Akhir” untuk membuktikan
keilahian Kristus: gelar ini bukan gelar umum untuk Allah, tetapi
sebuah gelar khusus untuk Yahweh: Yesaya 44:6, “Beginilah firman
TUHAN (YHWH), Raja dan Penebus Israel, TUHAN (YHWH)
semesta alam: "Akulah yang terdahulu dan Akulah yang
terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.’” Apakah para
trinitarian sungguh-sungguh ingin membuktikan bahwa Kristus dan
Yahweh adalah satu pribadi yang sama?

Kristus sebagai kurban maha-mencukupi yang
disediakan bagi kita oleh Allah (Yahweh)—digunakan
sebagai argumen untuk keilahian Kristus

D ulu saya pernah memperjuangkan keilahian Kristus dengan
alasan satu orang hanya bisa mati untuk satu orang lain saja;
jika Kristus hanya manusia, bagaimana mungkin kematiannya dapat
menguntungkan seluruh umat manusia? Argumen ini kedengaran
sangat meyakinkan: bagaimana mungkin kematian satu individu
manusia dapat menebus dosa semua orang? Akan tetapi, hikmat
Allah tidak ditetapkan oleh kebijaksanaan atau nalar manusia.
Kesalahan dari pemikiran ini menjadi nyata ketika saya memahami
kebenaran di Yohanes 3:14,15, “sama seperti Musa meninggikan ular
di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
supaya setiap orang yang percaya kepadanya beroleh hidup yang
kekal.”
Ayat di atas merujuk kepada peristiwa yang tercatat di Bilangan
21:7-9 ketika orang-orang tewas karena pagutan ular-ular berbisa.
Musa diperintahkan oleh Allah untuk membuat seekor ular tembaga
dan menaruhnya di atas tiang agar terlihat oleh semua orang;
mereka yang percaya ketika memandangnya akan selamat dari racun
ular itu. Yesus membandingkan peristiwa ini dengan hal percaya
246 The Only True God

kepada dia: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang
gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya
setiap orang yang percaya kepadanya beroleh hidup yang kekal”
(Yoh.3:14,15). Intinya di sini seharusnya sangat jelas: penyelamatan
ribuan orang yang memandang kepada ular tembaga itu tidak ada
kaitannya sama sekali dengan apapun yang inheren di dalam ular
itu—mereka diselamatkan oleh Allah melalui iman kepada janji-Nya
bahwa siapa saja yang memandang akan diselamatkan: “Maka
berfirmanlah Yahweh kepada Musa: ‘Buatlah ular tedung dan
taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika
ia melihatnya, akan tetap hidup.’” (Bil.21:8) Ayat berikutnya
menegaskan bahwa orang-orang yang mempunyai iman untuk
memandang hidup. Hal yang sama juga berlaku bagi mereka yang
memandang kepada Yesus untuk memperoleh keselamatan melalui
iman (Ibr.12:1,2); kuasa penyelamatan Allah dalam Kristuslah yang
menyelamatkan mereka dari dosa dan maut. Dengan demikian,
bukan sesuatu yang inheren di dalam konstitusi Kristus yang
menyelamatkan, melainkan Allah Bapa kitalah (Yahweh) yang
menyelamatkan kita di dalam dan melalui Kristus. Karena
keselamatan adalah sepenuhnya karya Allah; keselamatan diperoleh
hanya oleh iman dan melalui anugerah-Nya.
Roma 3:21-26 diakui sebagai jantung dari pengajaran tentang
keselamatan dalam kitab Roma (bdk. juga Dunn, Christology I,
hlm.219). Keenam ayat ini, yang bersama-sama merangkai satu kali-
mat (!) dirangkum di ay.26: Allah “membenarkan orang yang
percaya kepada Yesus.” Inilah tepatnya poin yang dimaksud dalam
paragraf sebelumnya. Kita gagal mempresentasikan soteriologi
Alkitabiah (doktrin keselamatan) dengan tepat jika kita gagal
membuat jelas bahwa Allah Bapa kita adalah pelopor yang terutama
dari keselamatan kita, sementara Yesus adalah mediator, instrumen,
atau agen keselamatan kita. Pokok ini tidak hanya muncul dari
Roma 3:26 tetapi juga dari nas itu secara keseluruhan:
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 247

21
Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat pembenaran oleh
ALLAH telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab
Taurat dan Kitab-kitab para nabi,
22
yaitu pembenaran oleh ALLAH melalui iman dalam Yesus
Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada
perbedaan.
23
Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan
kemuliaan ALLAH,
24
dan oleh anugerah-NYA telah dibenarkan dengan cuma-
cuma melalui penebusan dalam Kristus Yesus.
25
Kristus Yesus telah ditentukan ALLAH menjadi jalan
pendamaian melalui iman, dalam darahnya. Hal ini dibuat-
Nya untuk menunjukkan keadilan-NYA, karena IA telah
membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa
kesabaran-NYA.
26
Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-NYA pada
masa ini bahwa IA adil dan juga membenarkan orang yang
percaya kepada Yesus.

“Allah” disebut 10 kali (termasuk kata ganti) dalam 6 ayat ini yang
membahas keselamatan kita, yang membuatnya sangat jelas bahwa
Ia merupakan subjek dalam arti gramatikal. “Yesus” (termasuk
“Kristus Yesus” atau “Yesus Kristus”) disebut 4 kali (termasuk kata
ganti di ay.25). Kebenaran Allah disebut 4 kali, dan “membenarkan”
2 kali; sedangkan “iman” muncul 3 kali. Statistik nas ini memberikan
rangkuman yang bagus atas soteriologi (doktrin keselamatan) kitab
Roma secara keseluruhan. 8

8
Statistik untuk kitab Roma (teks Yunani):

• “Allah”: 153 kali (tidak terhitung kata ganti) dalam 135 ayat.
• “Yesus Kristus” atau “Kristus Yesus”: 31 kali; “Yesus” (sendiri): 5;
248 The Only True God

Kitab Roma merupakan satu-satunya karangan dalam PB yang
memberikan ajaran tentang keselamatan dengan lengkap dan relatif
sistematis. Di dalamnya, Allah betul-betul adalah tokoh sentral.
Jumlah referensi kepada Kristus kurang lebih separuh dari jumlah
referensi kepada Allah, mencerminkan statistik yang serupa di Roma
3:21-26. Allahlah (Bapa) yang membenarkan (menyelamatkan)
“melalui iman di dalam Yesus Kristus” (Rm.3:22).

Seluruh mukjizat Yesus dilakukan oleh Allah (Yahweh)
melalui dia

S egala macam usaha telah dilakukan untuk menjelaskan, atau
meniadakan, mukjizat-mukjizat Yesus, bahkan oleh beberapa
sarjana Kristen yang tidak bisa atau tidak mau menerima hal-hal
supernatural. Sebenarnya ada banyak mukjizat yang tidak dapat
dijelaskan hanya dengan penyembuhan psikosomatis, kebetulan, dll.
Baru-baru ini saya mendengar seorang dokter mata yang mengakui
bahwa bahkan dengan pengetahuan dan peralatan (laser, dll) terkini
(2007) sekalipun, ia masih tidak sanggup mengembalikan
penglihatan orang yang buta sejak lahir dan telah dewasa, seperti
laki-laki yang disembuhkan oleh Yesus di Yohanes 9. Yesus sudah
pasti tidak melakukan mukjizat sebagai tontonan untuk

“Kristus” (sendiri): 34 = total: 70 kali (paling banyak dalam PB, tanpa
menghitung kata ganti sekalipun);
• “Righteousness”: 29 times (by far the most frequent in NT; Mt is next
with 7 times) “Kebenaran”: 29 kali (jauh paling sering dalam PB;
berikutnya Matius dengan 7 kali)
• “Benar” (kata kerja): 14 kali (berikutnya adalah Gal: 6)
• “Iman” 35 kali (Berikutnya Ibr: 31).
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa semuanya itu adalah kata-kata
kunci dalam Kitab Roma.
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 249

mengesankan orang; mukjizat-mukjizat itu mengandung pesan
rohaniah bagi mereka yang mempunyai telinga untuk mendengar
dan mata untuk melihat (Mat.13:15,16). Penyembuhan laki-laki buta
itu, misalnya, akan mengingatkan seorang pengamat yang perseptif
kepada sebuah nas seperti Yesaya 29:

18
Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar perkataan-
perkataan sebuah kitab, dan lepas dari kekelaman dan
kegelapan mata orang-orang buta akan melihat.
19
Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di
dalam Yahweh, dan orang-orang miskin di antara manusia
akan bersorak-sorak di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel!
Saya juga pernah mendengar sebuah diskusi dengan seorang ahli
meteorologis, yang telah mempelajari Danau Galilea selama 25
tahun, untuk mengetahui apakah ada penjelasan ilmiah yang bisa
ditemukan untuk peristiwa Yesus menenangkan angin ribut di
Danau itu (Mat.8:24-27); sang ahli mengaku bahwa tidak ada
penjelasan yang diketahui. Namun mukjizat di “Laut Galilea” ini
merupakan pemeranan dari Mazmur 107:
23
Ada orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal,
yang melakukan perdagangan di lautan luas;
24
mereka melihat pekerjaan-pekerjaan Yahweh, dan perbua-
tan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam.
25
Ia berfirman, maka dibangkitkan-Nya angin badai yang
meninggikan gelombang-gelombangnya.
26
Mereka naik sampai ke langit dan turun ke samudera raya,
jiwa mereka hancur karena celaka;
27
mereka pusing dan terhuyung-huyung seperti orang mabuk,
dan kehilangan akal.
28
Maka berseru-serulah mereka kepada Yahweh dalam kesesa-
kan mereka, dan dikeluarkan-Nya mereka dari kecemasan
mereka,
250 The Only True God

29
dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-
gelombangnya tenang.
30
Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-
Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka.
31
Biarlah mereka bersyukur kepada Yahweh karena kasih
setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib
terhadap anak-anak manusia.

Perbandingan kisah di Matius 8 dengan nas di Mazmur 107 ini
langsung memperlihatkan kesesuaian yang mencolok antara
keduanya, yang tentunya bukan kebetulan tetapi dirancang untuk
menunjukkan siapa sebenarnya yang menenangkan angin ribut di
Galilea. Perhatikan bahwa Yahweh disebut tiga kali dalam kutipan
Mazmur ini.
Mukjizat-mukjizat Yesus terus-menerus digunakan oleh trinita-
rian untuk membuktikan keilahian Kristus. Namun, seperti ucapan-
ucapan “Akulah”, mukjizat-mukjizat itu berbuat hal yang sama.
Mukjizat-mukjizat itu tidak “membuktikan” Yesus adalah Allah,
tetapi jika mereka membuktikan sesuatu, mereka akan
membuktikan apakah Yesus adalah Yahweh, atau Yahweh tinggal di
dalam Yesus secara jasmaniah (Yoh.1:14) dan melakukan pekerjaan-
Nya melalui Yesus. Yang mana satu pilihan yang tepat dijelaskan
dengan sempurna oleh Yesus sendiri dan di dalam PB. Bahwa Allah
Israel, Yahweh, yang melakukan pekerjaan-Nya di dalam Kristus
dinyatakan secara gamblang di Kisah 2:22, “Hai orang-orang Israel,
dengarlah perkataan ini: Yesus dari Nazaret adalah orang yang telah
ditentukan Allah dan dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-
kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh
Allah dengan perantaraan dia di tengah-tengah kamu, seperti yang
kamu ketahui.”
Yesus sendiri menegaskan hal ini: “Apa yang aku katakan
kepadamu, tidak aku katakan dari diriku sendiri, tetapi Bapa, yang
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 251

tinggal di dalam aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-
pekerjaan-Nya.” (Yoh.14:10) Kata “pekerjaan” (ergon) dapat
mencakup referensi khusus kepada mukjizat, yaitu pekerjaan-
pekerjaan supernatural. Tentang ergona, Greek English Lexicon
(BDAG) memuat, “perbuatan-perbuatan Allah dan Yesus,
khususnya, mukjizat-mukjizat”. “Ia (Yohanes) kerap menggunakan
istilah ‘pekerjaan’, memang tidak secara eksklusif merujuk kepada
mukjizat-mukjizat Kristus, tetapi sering dengan rujukan khusus
kepada mereka; seolah-olah pekerjaan ajaib merupakan pekerjaan
yang wajar dan seyogyanya dari seorang yang ajaib” (Unger’s Bible
Dictionary, “Miracles”). Di sini, Bible Dictionary itu dengan
seyogyanya mengutip Yohanes 5:36, “segala pekerjaan yang
diserahkan Bapa kepadaku, supaya aku melaksanakannya. Pekerjaan
itu juga yang kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi
kesaksian tentang aku bahwa Bapa telah mengutus aku”; Yohanes
10:25, “pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan dalam nama Bapaku,
itulah yang memberi kesaksian tentang aku [yaitu bahwa akulah
sang Mesias, ay.24]”; Yohanes 10:32, “Kata Yesus kepada mereka:
Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapaku yang kuperlihatkan
kepadamu”. Kepada ini dapat ditambahkan Yohanes 5:19, “Lalu
Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya aku berkata kepadamu,
Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri””.
“Kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda”
(Kis.2:22) merupakan bagian dari pekerjaan Allah dalam men-
yelamatkan umat manusia, karena “Allah ada di dalam Kristus
ketika mendamaikan dunia dengan diri-Nya sendiri” (2Kor.5:19,
MILT).
Ini berarti menggunakan mukjizat-mukjizat sebagai bukti
keilahian Kristus adalah sama sekali keliru. Sebab, entah itu
memberi makan ribuan orang, berjalan di atas air, atau
membangkitkan orang mati, semuanya itu terjadi karena, seperti
kata Yesus, “Bapa, yang tinggal di dalam aku, Dialah yang
252 The Only True God

melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya” (Yoh.14:10). Kenapa kita
tidak mau mendengarkan dia ketika ia berkata, “Aku tidak dapat
berbuat apa-apa dari diriku sendiri” (Yoh.5:30), alih-alih
mengarang-ngarang doktrin kita sendiri?

Pentingnya Mazmur 8 untuk memahami pribadi dan
pekerjaan sang Mesias (Kristus)
Mazmur 8:
1
Ya Yahweh, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di selu-
ruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.
2
Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah
Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk
membungkamkan musuh dan pendendam.
3
Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan
bintang-bintang yang Kautempatkan:
4
apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah
anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
5
Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti
Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan
hormat.
6
Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu;
segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:
7
kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-
binatang di padang;
8
burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang
melintasi arus lautan.
9
Ya Yahweh, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di
seluruh bumi!

S eluruh Mazmur ini dikutip untuk mempermudah kita melihat
struktur serta substansinya. Perhatikan, pertama, bahwa
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 253

Mazmur ini dimulai dan diakhiri dengan kata-kata pujian yang sama
persis kepada Yahweh. Ayat pertama mengatakan, “Ya Yahweh,
Tuhan kami… yang menempatkan keagungan-Mu di atas langit!”
(ILT) Dengan kata lain, kemuliaan Yahweh lebih tinggi daripada
langit; keagungan dan kemuliaan Yahweh yang supernal (dari atas)
disanjung dengan sorak-sorai.
Namun ayat ke-2, berkontras tajam dengan ayat pertama, tiba-
tiba turun ke tingkatan “bayi-bayi dan anak-anak”; dan dari mulut
mereka Yahweh telah “meletakkan dasar kekuatan” dihadapan
musuh-musuh-Nya. Apa yang ditandai oleh kontras ini? Tidakkah
ini mengingatkan kita pada kata-kata “dalam kelemahanlah kuasa-
Ku menjadi sempurna” (2Kor.12:9)? Dan ini membuka jalan untuk
pasangan kontras berikutnya: ay.3 “Jika aku melihat langit-Mu…”
lawan ay.4, “apakah manusia…” Akan tetapi, justru dalam
kelemahan manusialah Yahweh, seperti halnya bayi-bayi dan anak-
anak itu, telah memilih untuk menyatakan kuasa dan kemuliaannya:
“Engkau… telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat”
(ay.5).
Perhatikan bahwa dalam struktur Mazmur ini, ay.5 ada di pusat
Mazmur itu, sebagai ayat pertengahannya. Perhatikan juga,
bagaimana isi ayat itu bersesuaian dengan ayat pertama dan terakhir
dari Mazmur itu, yakni, kemuliaan dan keagungan Yahweh, yang di
ay.5, dikaruniakan ke atas manusia! Perhatikan juga, “manusia”
sama artinya dengan “anak manusia” di ay.4. Jelas sang Pemazmur
tidak tahu apa-apa tentang degradasi manusia sebagaimana
diajarkan dalam doktrin “kebejatan total”. Rasul Paulus pun tidak
mengajarkan doktrin macam itu, karena ia berbicara tentang
manusia sebagai “kemuliaan Allah” (1Kor.11:7), dengan demikian
mewartakan kebenaran yang sama seperti Mazmur ini.
Mari kita pertimbangkan ayat 5 dan 6 dari Mazmur 8 ini dengan
lebih mendalam. Beberapa hal penting dinyatakan dalam ayat-ayat
ini:
254 The Only True God

(1) “Namun engkau telah membuatnya sedikit lebih rendah daripada
makhluk-makhluk surgawi.” Terjemahan ESV “makhluk-makhluk
surgawi” merupakan sebuah kompromi dari beberapa terjemahan
lain yang bervariasi mulai dari “malaikat-malaikat” hingga “Allah”.
Kata dalam teks Ibraninya adalah elohim yang umumnya berarti
“Allah” atau “allah” (lebih dari 2600 kali dalam PL), tetapi kadang
bisa juga berarti “malaikat-malaikat” atau makhluk-makhluk
surgawi pada umumnya. Oleh karena kata itu kerap diterapkan
kepada Yahweh di PL, mengapa kata “Allah” tidak dipakai dalam
semua terjemahan dari Mazmur 8:5? Jawabannya adalah karena
pengaruh Septuaginta, di mana si penerjemah telah memilih untuk
menerjemahkan kata elohim sebagai “aggelous” (jamak dari aggelos),
dan dari situ muncullah kata “malaikat-malaikat”.
Lalu, bagaimana seharusnya terjemahannya yang tepat? Kata
“malaikat” atau “malaikat-malaikat” muncul beberapa kali dalam
Kitab Mazmur, tetapi dalam setiap contoh kata yang dipakai adalah
kata Ibrani yang biasa dipakai untuk “malaikat”, malach. Saya masih
belum menemukan contoh dalam Kitab Mazmur di mana elohim
secara pasti berarti “malaikat-malaikat”. Oleh karena itu, tampaknya
tidak ada alasan yang baik mengapa Mazmur 8:5 tidak
diterjemahkan sebagai “sedikit lebih rendah daripada Allah”, seperti
dalam beberapa terjemahan Inggris (RSV, NRSV). Ini bukan berarti
manusia semestinya lebih tinggi daripada malaikat (walaupun lihat
1Kor.6:3, “Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi
malaikat-malaikat?”), ataupun lebih rendah. Namun bukankah inti
dari ayat ini adalah bahwa Allah telah mengaruniakan “kemuliaan
dan hormat” ke atas manusia sehingga kemuliaan dan keagungan-
Nya yang ilahi akan dinyatakan melalui manusia di seluruh alam
semesta? Dengan demikian, dalam Kitab Suci, manusia sebagai
“kemuliaan Allah” hanyalah “sedikit lebih rendah daripada Allah”.
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 255

(2) Ay.6a, “Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu”.
Ini jelas mengacu kepada Kejadian 1:26,28 dan 9:2. Pernyataan ini
ditekankan kembali dan diperkuat di kalimat berikut:
Ay.6b, “segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya”;
penegasan penting ini berulang-kali muncul dalam PB dengan
mengacu kepada Kristus, sementara ayat ini juga memiliki kaitan
yang signifikan dengan perkataan Mesianik di Mazmur 110:1,
“Demikianlah firman Yahweh kepada tuanku: ‘Duduklah di sebelah
kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan
kakimu.’” Tak pelak lagi, “membuat musuh-musuhmu menjadi
tumpuan kakimu” itu sama dengan meletakkan mereka “di bawah
kakinya (yaitu, kakimu)” (Mzm.8:6). Yesus menganggap Mazmur
110:1 telah tergenapi dalam pelayanannya (Mrk.12:36; 14:62; dll).
Bahwa “segala-galanya telah Kau letakkan di bawah kakinya”
(Mzm.8:6) merupakan sebuah pernyataan yang diterapkan kepada
Kristus selaku perwakilan manusia, “Adam yang akhir”
(1Kor.15:45). Di 1Kor.15:27 pernyataan itu berfungsi sebagai kunci
untuk memahami bagian teks dari 15:24-27. Di Ef.1:20,
“mendudukkan dia di sebelah kanan-Nya”, berarti “Allah telah
menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Al Masih dan
menetapkan dia sebagai kepala atas segala-galanya bagi jemaah”
(Ef.1:22: LAI-TL).
Wewenang Kristus yang diberikan Allah ini diperluas, dan
diterapkan melalui jemaat, seperti dinyatakan di Roma 16:20,
“Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera menghancurkan Iblis
di bawah kakimu” (bdk. Why.3:9); ini mencerminkan janji kepada
orang saleh di Mazmur 91:13, “Singa dan ular tedung akan kaulang-
kahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga” (bdk.
Kej.3:15).
Sebagaimana Mazmur-mazmur Mesianik pada umumnya,
Mazmur 8 juga bersifat profetis, seperti dapat dilihat jelas dari Ibrani
2:
256 The Only True God

8
“segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kakinya
(Kristus).” Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu
kepadanya (Kristus), tidak ada suatupun yang Ia (Allah)
kecualikan, yang tidak takluk kepadanya. Tetapi sekarang ini
kita belum melihat segala sesuatu ditaklukkan kepadanya.
9
Tetapi yang kita lihat ialah bahwa Yesus untuk waktu yang
singkat dibuat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat
dan karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan
dan hormat, supaya oleh anugerah Allah ia mengalami maut
bagi semua manusia.” (Referensi kepada Mazmur 8 terlihat
jelas.)
(3) Mengingat poin-poin di atas, tak pelak Mazmur 8 merupakan
salah satu dari nas-nas dasariah dalam PL untuk memahami pema-
kaian gelar “anak manusia” (Mzm.8:4) oleh Yesus. Ini ditegaskan
dalam ajarannya seperti Matius 11:27 (par. Luk.10:22) dan Matius
28:18; juga Yohanes 3:35; 13:3.
(4) Dari Mazmur 8 dan ayat-ayat terkait, dapat dilihat bahwa Kitab
Suci mempunyai pandangan yang luhur akan manusia dalam
rencana kekal Allah. Semua ini digenapi dengan sepenuhnya dan
dengan sempurna di dalam pribadi Kristus. Di dalam Kristus,
manusia sebagai “gambaran dan kemuliaan Allah” (1Kor.11:7)
mencapai puncak ekspresi gemilang: “Dialah cahaya kemuliaan
Allah dan gambar keberadaan Allah yang sesungguhnya” (Ibr.1:3).
Namun Kristus menyatakan kemuliaan dan kuasa Allah sebagai
manusia, sebab tidak ada artinya untuk mengatakan bahwa Allah
menyatakan kemuliaan Allah, dan juga tidak masuk akal untuk
mengatakan bahwa Allah adalah “gambar keberadaan Allah yang
sesungguhnya”.
Akan tetapi, bertentangan dengan Kitab Suci, Kekristenan
mempunyai pandangan yang rendah terhadap manusia, yang
dipandangnya sebagai seorang berdosa yang bejat, “bobrok sampai
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 257

ke akarnya”. Dengan pandangan semacam ini, sama sekali tak
terbayangkan kalau manusia pernah bisa menjadi “cahaya
kemuliaan Allah” (Ibr.1:3); jadi tidak heran bila nas-nas seperti ini
digunakan untuk membuktikan keilahian Kristus, ketimbang
penggenapan rencana Allah yang kekal di dalam Kristus untuk
manusia. Begitu kita memahami dengan baik pengajaran Alkitabiah
tentang manusia sebagai “gambaran dan kemuliaan Allah”—
kemuliaan yang kini tercapai sepenuhnya di dalam pribadi Yesus
sang Mesias (Kristus)—kita akan melihat bahwa banyak nas yang
digunakan oleh trinitarian untuk “membuktikan” keilahian Kristus
sebenarnya mewartakan sesuatu yang berbeda, yakni, bahwa
kemuliaan ilahiah itu terwujud sepenuhnya di dalam dan melalui
“manusia Yesus Kristus” yang “satu” itu (Rm.5:15,17; 1Tim.2:5).

“Anak Manusia” dari Daniel 7 dan “manusia dari surga”
(1Kor.15:47)
Daniel 7:13, “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu,
tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti
anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu,
dan ia dibawa ke hadapan-Nya.”

Matius 24:30, “Pada waktu itu akan tampak tanda Anak
Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap
dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas
awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan
kemuliaannya.”

P erkataan Yesus di Matius 24 secara jelas merujuk kepada Daniel
7, khususnya istilah “anak manusia” (tanpa kata “seperti”), dan
258 The Only True God

frasa “di atas awan-awan dari langit” itu sama persis dalam teks
Yunani seperti dalam PL Yunani (LXX). “Datang” adalah kata
Yunani yang sama meskipun dalam kala yang berbeda.
Kaitan antara Daniel 7 dengan Mazmur 8 terlihat dari rujukan
kepada “anak manusia” dalam kedua pasal itu. Namun, lebih
penting dari itu, “kekuasaan” diberikan kepada “anak manusia”
dalam kedua nas itu; Daniel 7:14 mengatakan, “Lalu diberikan
kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja,
maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa
mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal.”
Di sini, kaitannya dengan Mazmur 110:1 juga terlihat, dengan
demikian mengaitkan ketiga nas tersebut. Nas-nas itu menyediakan
latar belakang untuk memahami apa yang dikatakan Yesus di Matius
24:30.
Daniel 7 adalah pasal yang berciri profetis, yaitu, ia berkenaan
dengan masa depan, bukan masa lalu. Dengan kata lain, pasal ini
berbicara tentang “anak manusia” di masa depan, bukan tentang
pribadi pra-eksisten dengan nama itu. Demikian pula, Mazmur
110:1 juga berkenaan dengan masa depan; itu adalah janji Allah
kepada mesias keturunan Daud. Dengan cara yang sama, perkataan
Yesus tentang kedatangan “anak manusia” berkaitan dengan suatu
kejadian di masa depan yang oleh orang Kristen disebut
“Kedatangan Kristus yang Kedua”. Hal yang sama juga benar dengan
perkataan Yesus di ayat berikut:

Matius 26:64, “Jawab Yesus: ‘Engkau telah mengatakannya.
Akan tetapi, aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu
akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang
Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.’”

Kaitan antara ayat tersebut dengan Daniel 7:13 sekali lagi terlihat
dari frasa “anak manusia” dan “datang di atas awan-awan di langit”,
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 259

sedangkan kaitannya dengan Mazmur 110:1 tampak dari “duduk di
sebelah kanan Yang Mahakuasa (yaitu Allah)”.
Rujukan Yesus kepada Daniel 7:14 terlihat dengan jelas di Markus
13:26, “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang
dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaannya.”
“Kekuasaan dan kemuliaan” di sini sepadan dengan “kekuasaan dan
kemuliaan” di Daniel 7.
Semua ini membantu kita untuk lebih memahami alasan Yesus
memakai “anak manusia” sebagai gelar yang lebih disukai dalam
Injil. Gelar ini bukan saja menekankan kemanusiaannya yang sejati,
tetapi juga pelayanan mesianiknya dalam menggenapi janji Allah
kepada umat-Nya tentang pembebasan di masa depan.
Selanjutnya, tanpa mengetahui latar belakang PL ini kita tidak
dapat memahami dengan tepat apa yang dimaksud Rasul Paulus
dengan “manusia kedua” yang datang “dari surga”, dan akhirnya
terjebak dalam spekulasi filosofis tentang semacam Urmensch (kata
Jerman untuk ‘Manusia Primordial’), atau prototipe manusia pra-
eksisten—sebuah gagasan yang pernah diusulkan sebagian teolog.
Namun semua ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa
yang ditulis Paulus di 1Korintus 15:47, “Manusia pertama berasal
dari debu tanah dan bersifat alamiah, manusia kedua berasal dari
surga”. Siapapun yang akrab dengan Daniel 7:13,14 akan segera
mengenali “manusia dari surga” dalam perkataan Paulus. Ini pun
bukan satu-satunya kaitan antara kedua nas tersebut. Misalnya,
1Korintus 15:25, “Karena ia harus memegang pemerintahan sebagai
Raja sampai Allah meletakkan semua musuhnya di bawah kakinya”,
tentunya berkaitan dengan Daniel 7:14, “Lalu diberikan kepadanya
kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-
orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi
kepadanya.”
Namun kaitan antara kedua nas tadi sebenarnya lebih jauh
daripada ini. “Manusia dari surga” di 1Korintus 15:47 itu ada dalam
260 The Only True God

konteks bahasan tentang kebangkitan yang mencakup ayat 35
sampai 57. Jika kita lihat Daniel 7:13 (dikutip di awal bagian ini) kita
membaca tentang sebuah penglihatan surgawi tentang anak manusia
yang datang ke Hadirat Allah. Bila kita membandingkan hal ini
dengan perkataan Yesus di Matius 26:64, “Aku berkata kepadamu,
mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah
kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit”,
gambarannya menjadi lebih jelas: Pertama, anak manusia datang
kepada Allah (Dan.7:13) dan dianugerahkan untuk duduk di sebelah
kanan-Nya (Mzm.110:1); dari Injil kita tahu inilah yang terjadi
sesudah kebangkitan Yesus. Lalu, yang kedua, di masa yang akan
datang anak manusia itu akan “datang di atas awan-awan di langit”
dengan “kekuasaan dan kemuliaan” yang besar (Mrk.13:26). Paulus
membahas tahap kedua ini di 1Korintus 15:24-28, sementara ia
menulis tentang “manusia dari surga” ketika membahas tentang
kebangkitan (1Kor.15:35-57).
Ini berarti Yesus adalah “manusia dari surga” itu, manusia
“rohani” (ay.46), oleh karena kebangkitan. Ini sama sekali tidak ada
hubungannya dengan spekulasi-spekulasi metafisis yang non-
Alkitabiah tentang semacam manusia abadi yang pra-eksisten.
G.G.Findlay, dalam The Expositor’s Greek New Testament,
memahami hal ini dengan benar, “Sejak kebangkitannya dan
seterusnya, Kristus, sehubungan dengan iman manusia, telah
menjadi anthrōpos epouranios [manusia dari surga]. ”
Akhirnya, rencana Allah adalah supaya melalui Kristus kita pun
menjadi “sama dengan dia yang berasal dari surga” (1Kor.15:48);
dan melalui dia “kita akan memakai rupa dari yang surgawi” (ay.49).
Ini berarti, seperti Kristus, kita semua juga akan menjadi orang-
orang “dari surga” sebagai hasil dari kebangkitan itu.
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 261

Allah ada di dalam Kristus

F akta bahwa Yesus adalah manusia, atau “anak manusia”, adalah
sangat jelas dalam Alkitab. Pentingnya dia bagi kita terletak
pada fakta bahwa “Allah (Yahweh) ada di dalam Kristus ketika
mendamaikan dunia dengan diri-Nya sendiri” (2Kor.5:19). Namun
sejauh trinitarianisme, ayat itu bisa saja dibaca sebagai Allah adalah
Kristus (atau, Kristus adalah Allah). Apakah perubahan itu berarti?
Apa yang telah mereka ubah? Yang diubah adalah, kalau di
2Korintus 5:19 ALLAH-lah yang mendamaikan, sekarang KRISTUS-
lah selaku Allah yang melakukan tindakan pendamaian itu. Yahweh
telah dikesampingkan oleh Kristus yang diwartakan sebagai Allah.
Dengan demikian, monoteisme Yahweh telah digulingkan—
sungguh suatu hal yang teramat serius, sejauh firman Allah.
Seharusnya sangat jelas bahwa “Allah ada di dalam Kristus” dan
“Allah adalah Kristus/Kristus adalah Allah” merupakan dua
proposisi yang sangat berbeda secara dasariah. “Allah ada di dalam
Kristus” juga berarti bahwa, meskipun Allah dan Kristus keduanya
dapat sepantasnya disebut “juruselamat kita”, peranan mereka dalam
proses keselamatan kita pada dasarnya berbeda: Kristus adalah agen
yang di dalam dan melaluinya Allah melaksanakan tujuan-tujuan
penyelamatan-Nya bagi kita; tetapi, Allah Sendirilah yang menjadi
Penggerak Utama dari proses keselamatan itu. Apa akan terjadi
dengan keselamatan kita jika Allah tidak mengutus Kristus ke dunia?
Dan bagaimana kita dapat diselamatkan jika Ia tidak
membangkitkan Yesus dari antara orang mati? Belum lagi Bapa yang
terus-menerus memberdayakan Kristus selama masa pelayanannya:
pengajarannya serta tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban yang
dikerjakan melalui dia memastikan kesudahan yang berkemenangan
atas karya penyelamatannya.
Di sisi lain, peranan Kristus tentunya tidak sekadar pasif, tetapi
dilakukan dengan taat, setia dan rela kepada Bapa selama masa
pelayanannya. Ialah “Adam yang akhir” yang unik, yang baru, yang
262 The Only True God

dalam maksud Allah mutlak diperlukan bagi penebusan umat
manusia. Namun kita harus memahami dengan baik bahwa peranan
Kristus dalam penyelamatan umat manusia adalah mutlak sebagai
manusia, dan ALLAH-lah yang ada di dalam MANUSIA Kristus
Yesus untuk mendamaikan dunia dengan diri-Nya Sendiri. Setiap
penyimpangan dari hal ini adalah penyimpangan dari firman Allah
sebagaimana diwartakan dalam PB, dan telah berakibat kepada
konsekuensi serius sehingga Allah Bapa, Yahweh, telah
dikesampingkan dari kedudukannya sebagai Pusat mutlak dari
pesan Injil. Seterusnya, mau tidak mau, hal ini pasti membawa
konsekuensi-konsekuensi yang mengerikan.

Gelar “Juruselamat” disandangkan kepada Yahweh Allah
dan kepada Kristus dalam kitab Timotius and Titus
Kata “juruselamat” (sōtēr) muncul 24 kali dalam PB (kata kerja
“menyelamatkan”, sōzō, 106 kali) dan disandangkan kepada Allah
dan Kristus. Namun gelar “Allah Juruselamat kita” hanya terdapat
dalam Surat-surat Pastoral (Timotius dan Titus) serta Yudas (ay.25),
yang muncul 6 kali. Gelar “Kristus juruselamat kita” pun hanya
terdapat dalam Surat-surat Pastoral, muncul sekali dalam bentuk itu
(Tit.3:6), dan 3 kali dalam berbagai bentuk (“Kristus Yesus,
Juruselamat kita”, Tit.1:4; “Juruselamat kita Kristus Yesus”,
2Tim.1:10; dan Tit.2:13 “Juruselamat kita Yesus Kristus”) sehingga
jumlah menjadi 4 kali. Dengan demikian, Allah lebih kerap
digambarkan sebagai “juruselamat” kita daripada Yesus. Akan tetapi,
terjemahan-terjemahan Inggris yang lebih baru dengan berani
mencoba “menyamakan skor”.
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 263

Membuat Yesus menjadi Allah melalui terjemahan;
“kaidah satu artikel (kata sandang)”

T rinitarianisme dengan lancang telah memberi diri sendiri
sebuah dorongan tambahan melalui terjemahan mereka yang
lebih baru atas beberapa ayat dalam Surat-surat Pastoral, khususnya
Titus 2:13. KJV (King James Version) menerjemahkan ayat itu
sebagai,

“looking for that blessed hope, and the glorious appearing of the
great God and our Saviour Jesus Christ (dengan menantikan
penggenapan pengharapan kita yang penuh berkat dan
penampakan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan
Juruselamat kita Yesus Kristus)”.

Namun, the New King James menggantinya menjadi,

“looking for the blessed hope and glorious appearing of our great
God and Savior Jesus Christ (dengan menantikan penggenapan
pengharapan kita yang penuh berkat dan penampakan
kemuliaan Allah dan Juruselamat kita yang Mahabesar, Yesus
Kristus)”.

Hal yang sama dilakukan oleh semua terjemahan Inggris utama yang
lebih baru. Dengan cara ini, gelar “Allah yang Mahabesar” dan
“Juruselamat” keduanya disandangkan kepada Yesus.
Sebelum kita meneliti perkara ini dengan lebih dekat, hendaknya
diperhatikan bahwa terjemahan Suriah purba yang disebut Peshitta
menerjemahkannya demikian,

“looking for the blessed hope, and the manifestation of the glory
of the great God, and our Life-giver, Jesus the Messiah”
[terjemahan James Murdock]. (“dengan menantikan
penggenapan pengharapan kita yang penuh berkat, dan
264 The Only True God

penampakan kemuliaan Allah yang Mahabesar, dan Pemberi
Hidup kita, Yesus sang Mesias.”)

Sebagaimana diharapkan dari sebuah terjemahan Semitis, “Allah
yang Mahabesar” dibedakan dari “Yesus sang Mesias” dengan kata
“dan”. Menariknya, “juruselamat” diterjemahkan sebagai “pemberi
hidup”. Peshitta adalah Alkitab Suriah purba yang, menurut
Encyclopedia Britannica, merupakan “Alkitab yang diterima oleh
para jemaat Kristen Suriah sejak akhir abad ke-3 M”, yaitu abad
sebelum dirumuskannya syahadat-syahadat Nikea dan
Konstantinopel yang mendasari trinitarianisme. Hal penting yang
harus diperhatikan adalah terjemahan itu tidak mencerminkan
karakter atau susunan kata dari terjemahan-terjemahan modern
trinitaris untuk Titus 2:13.
Apa yang menjadi dasar bagi terjemahan “Allah dan Juruselamat
kita Yesus Kristus” dalam Surat-surat Pastoral? Dasarnya adalah
“penemuan” sebuah “kaidah” gramatikal (yang mulai menjadi
populer pada abad ke-20) yang mengatakan bahwa, karena hanya
ada satu artikel takrif saja yang membatasi kata “Allah” dan
“Juruselamat” di Titus 2:13, maka keduanya merujuk kepada pribadi
yang sama, yakni, Yesus Kristus. Anehnya, bapa-bapa gereja awal
yang berbahasa Yunani, dan orang-orang lain yang berbahasa
Yunani, tampaknya tidak menyadari adanya “kaidah” seperti itu
dalam bahasa mereka! Para uskup dan sarjana berbahasa Yunani
yang mendukung kaum trinitarian pada abad ke-4 tampaknya tidak
pernah berpikiran untuk menggunakan “kaidah” yang jelas-jelas
menguntungkan posisi mereka itu—jika kaidah seperti itu ada!
“Kaidah” ini harus menunggu sampai beberapa sarjana Eropa, yang
bahasa ibunya bukan bahasa Yunani, meninggikannya ke tingkat
“penemuan”. Tak pelak, kita semua yang dulunya trinitarian sangat
senang dengan “penemuan” ini; saya masih ingat betapa gembiranya
saya ketika mendengar hal ini sewaktu masih duduk di bangku
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 265

kuliah dan menandai Titus 2:13 dalam Alkitab saya dengan huruf-
huruf tebal. Kasihan King James Version abad ke-17 yang, tentu saja,
terlalu dini untuk mengambil manfaat darinya!
Kita hanya bisa bertanya-tanya apa kira-kiranya reaksi Bapa-bapa
Yunani itu seandainya mereka diberitahu bahwa mereka tidak
memahami sebuah kaidah dari bahasa mereka sendiri! Kita
barangkali bisa menduga respon mereka akan kurang lebih sama
dengan respon para pakar bahasa Cina seandainya mereka
diberitahu oleh orang Barat bahwa mereka tidak memahami sebuah
kaidah dari bahasa Cina!
Memang benar bahwa setelah trinitarianisme menetapkan dirinya
sebagai dogma gereja Kristen Barat, terjemahan “Allah dan
Juruselamat kita Yesus Kristus” mulai muncul, dan ditemukan pada
beberapa papirus; namun terlepas dari fakta asal-usulnya yang jelas-
jelas trinitaris dan penanggalan yang lebih kemudian (tidak ada yang
lebih dini dari abad ke-7), jauh sebelum itu bahasa Yunani sudah
tidak lagi menjadi bahasa universal di kekaisaran Roma (Augustinus,
354-430 M, meskipun seorang pemimpin teratas gereja, hampir
tidak tahu bahasa Yunani), jadi tingkat kompetensi dalam bahasa itu
tidak dapat dibandingkan dengan tingkatnya di masa-masa lebih
awal, bahkan dengan asumsi bahwa bahasanya sendiri belum
mengalami perubahan-perubahan signifikan (seperti, misalnya,
dalam hal bahasa Yunani PB dibandingkan dengan bahasa Yunani
klasik, dan bahasa Yunani Modern dibandingkan dengan bahasa
Yunani PB).
Berkenaan dengan terjemahan yang tepat untuk Titus 2:13,
penting untuk dicatat bahwa N.J.D. White, seorang trinitarian yang
menerima keilahian Kristus, menunjukkan dalam The Expositor’s
Greek Testament (di mana ia membahas perkara ini dengan panjang-
lebar) bahwa bukti gramatikal untuk terjemahan “Allah dan
Juruselamat kita Yesus Kristus” sama sekali tidak memadai dan
266 The Only True God

menolaknya dengan tegas. Berkenaan dengan “kaidah” yang disebut
di atas, Dr. White menulis,

“Argumen gramatikal—‘identitas dari rujukan untuk dua
nominal di bawah satu artikel umum’—adalah terlalu lemah
untuk menanggung bobot, terutamanya bila kita memper-
hitungkan bukan saja pengabaian umum atas artikel itu dalam
surat-surat tersebut tetapi juga ketiadaannya sebelum σωτήρ
[juruselamat] di 1Tim.1:1; 4:10.”

Sehubungan dengan frasa “penampakan kemuliaan Allah yang
Mahabesar” (Tit.2:13), White memberi ulasan berikut,

“Kedatangan Kristus yang kedua kalinya akan datang,
sebagaimana dikatakannya sendiri, ‘dalam kemuliaan
Bapanya’ (Mat.16:27; Mrk.8:38). ‘Kita bermegah dalam
pengharapan akan menerima kemuliaan Allah’ (Rm.5:2).
Dengan demikian, kedatangan Kristus yang kedua kalinya
boleh dianggap sebagai ‘penampakan kemuliaan Allah’.”

Lebih lanjut, White menulis, “Tidak di manapun juga Santo Paulus
lebih tegas dengan bahasanya yang luhur tentang Allah Bapa selain
dalam Surat-surat ini [yaitu Surat-surat Pastoral]; lih. 1Tim.1:17;
6:15,16.” Ia juga menyebutkan bahwa “Inilah satu-satunya tempat
dalam PB di mana kata μέγας [mahabesar] diterapkan kepada Allah
sejati, meskipun kata itu selalu dipakai untuk menggambarkan
dewa-dewi orang kafir, mis., Kis.19:28.”
Begitu juga, J.E. Huther, dalam Critical and Exegetical
Commentary of the New Testament, memberikan diskusi panjang-
lebar atas Titus 2:13. Dr. Huther (juga seorang trinitarian)
menunjukkan bahwa makna ayat ini “tidak dapat diputuskan secara
murni dari tatabahasanya”. Kemudian, ia mengurutkan tiga poin
yang menentukan mengapa, berdasarkan eksegesis, frasa “Allah yang
Mahabesar” tidak berlaku untuk Kristus. Namun untuk
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 267

menghindari diskusi yang berkepanjangan atas ayat ini, saya akan
sisakan rinciannya untuk mereka yang ingin mempelajarinya
sendiri.
Akan tetapi, berkenaan dengan “kaidah” yang menjadi dasar
terjemahan Titus 2:13 oleh banyak versi Alkitab Inggris, ulasan
Huther berikut ini sangat relevan, “Ada cukup banyak contoh
tentang dua subyek berbeda yang berada di bawah satu artikel saja,
dan kami tidak melihat mengapa contoh-contoh tersebut tidak
dikutip di sini” (catatan kaki 1, hlm.360).
Kita dapat membiarkan A Grammar of New Testament Greek,
Moulton-Howard-Turner, sebuah karya referensi standar, untuk
memberi kata penutup atas topik ini: “Kita harus menilai secara
kritis pandangan umum bahwa Titus 2:13 mengandung dua klausa
dalam aposisi [yaitu merujuk kepada pribadi yang sama]. Hal yang
sama juga berlaku untuk 2Petrus 1:1... Pengulangan artikel tidak
selalunya diperlukan untuk memastikan obyek-obyeknya
dipertimbangkan secara terpisah” (Jilid 3, hlm.181, re. Tit.2:13).
Dengan kata lain, tidak ada dasar untuk “kaidah” yang ditengarai itu;
satu artikel dapat merujuk kepada dua subyek yang berbeda, tidak
semestinya kepada satu subyek saja. Intinya, terjemahan-terjemahan
trinitaris sebenarnya tidak ditentukan oleh pertimbangan gramatikal
ataupun eksegetis, tetapi oleh komitmen atau kepercayaan dogmatis
para penerjemahnya.
Lagipula, dalam usaha memakai ayat dalam Surat-surat Pastoral
ini untuk mengangkat Yesus menjadi Allah, mereka dengan sengaja
mengabaikan fakta bahwa justru dalam surat-surat inilah mono-
teisme dan kemanusiaan Kristus dinyatakan dengan kejelasan
mutlak: “Karena Allah itu esa dan esa pula pengantara antara Allah
dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim.2:5). Kita pasti
dengan sengaja telah membutakan diri kalau kita tidak melihat
deklarasi monoteistik Paulus yang eksplisit dan khas pada awal
kalimat ini, “Sebab, hanya ada satu Allah” (BIS), yaitu Allah yang
268 The Only True God

dirujuk sebagai “Allah Juruselamat kita” dua ayat sebelumnya (ay.3).
Kalimat tersebut diakhiri dengan pernyataan yang sama eksplisit,
“manusia Kristus Yesus”. Apakah ada cara lain untuk membuat
pernyataan-pernyataan ini lebih gamblang sehingga “bahkan orang
bodoh, tidak akan tersesat” (Yes.35:8, ILT)?
Dalam hal ini, sayangnya, kita harus mengakui tuduhan umat
Muslim bahwa umat Kristen yang telah menyimpangkan makna
teks-teks Alkitabiah memang cukup berbobot. Juga, bagaimana kita
dapat memberikan, dengan hati nurani yang bersih, terjemahan-
terjemahan yang disimpangkan seperti ini kepada orang-orang
Yahudi atau Muslim yang ingin mengenal PB?

2Petrus 1:1
Sebagaimana bisa diduga, kebanyakan terjemahan bahasa Inggris
utama yang lebih baru atas 2Petrus 1:1 menerapkan “kaidah satu
artikel” yang sama kepada terjemahan mereka atas ayat itu, “the
righteousness of our God and Savior Jesus Christ (kebenaran Allah
dan Juruselamat kita Yesus Kristus)” (kata-kata dalam cetak miring
menerjemahkan τοῦ θεοῦ ἡμῶν καὶ σωτῆρος Ἰησοῦ Χριστοῦ). Akan
tetapi, struktur gramatikal yang sama di 2Tesalonika 1:12 (τοῦ θεοῦ
ἡμῶν καὶ κυρίου Ἰησοῦ Χριστοῦ) justru diterjemahkan sebagai “the
grace of our God and the Lord Jesus Christ (anugerah Allah kita dan
Tu[h]an Yesus Kristus)” oleh versi-versi terjemahan yang sama itu;
mengapa “kaidah satu artikel” dibuang di sini? Apakah karena kata-
kata tersebut telah menjadi bagian dari pengucapan berkat
tradisional yang dipakai dalam ibadah-ibadah gereja yang tidak
ingin mereka ubah atau langgar? Tradisikah yang lagi-lagi
menentukan terjemahannya di sini?
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 269

Yudas 4
Namun pertimbangkan bagaimana ESV (English Standard Version,
2001), seperti kebanyakan versi-versi modern lain, menerjemahkan
frasa terakhir di Yudas 4 sebagai “our only Master and Lord, Jesus
Christ” (τὸν μόνον δεσπότην καὶ κύριον ἡμῶν Ἰησοῦν Χριστὸν:
secara harfiah, the only Master and our Lord Jesus Christ). Teks
Yunaninya (seperti Titus 2:13) hanya mengandung satu artikel
takrif, yang tidak diterjemahkan oleh ESV, tetapi diganti dengan
“our” untuk keduanya “Master” maupun “Lord”. Namun apa
alasannya untuk berbuat seperti itu? Sekali lagi, apakah karena
“kaidah satu artikel” yang ditengarai? Namun, para penerjemah
seharusnya tahu bahwa hal itu tidak dapat dibenarkan karena kata
“our” yang dalam teks Yunani berada tepat di depan “Yesus Kristus”,
dapat menggantikan artikel takrif—yang mereka akui dengan
menggantikan “the” pada awal frasa Yunaninya dengan “our”. Sekali
lagi mereka tidak segan-segan menyalahgunakan “kaidah satu
artikel” untuk memperoleh terjemahan trinitaris mereka.
Tak pelak, terjemahan King James Bible memberikan susunan
kalimat yang benar: “the only Lord God, and our Lord Jesus Christ.”
Terjemahan ini dituruti oleh New King James Bible. Demikian juga
dengan Peshitta: “him who is the only Lord God and our Lord, Jesus
the Messiah” (Murdoch). Tyndale, yang jelas-jelas belum pernah
mendengar adanya “kaidah satu artikel” ini, menerjemahkannya
sebagai “God the only Lorde and oure Lorde Iesus Christ.” (Tyndale’s
New Testament, 1534)
Ayat ini mungkin tidak terlihat relevan untuk diskusi kita saat ini
karena ayat ini tidak menyebut Yesus sebagai Allah. Namun
masalahnya tidak sesederhana itu karena frasa “satu-satunya
Penguasa”. Jika Yesus Kristus adalah satu-satunya Penguasa dan
Tu[h]an kita, maka ini jelas tidak menyisakan ruang untuk Allah
Bapa! Kekristenan Barat selama ini telah menggusur Allah sang Bapa
270 The Only True God

dari tempatnya, bahkan dengan memakai PB untuk membenarkan
perbuatannya.
Di sini, pertimbangkan lagi terjemahan Peshitta, “Him who is the
only Lord God and our Lord, Jesus the Messiah”; perbedaan antara
“satu-satunya Tuhan Allah” dengan “Tu[h]an kita Yesus” menonjol
dengan jelas. Namun apakah pembacaan ini dapat dibenarkan? Mari
kita pertimbangkan fakta-fakta berikut:
(1) Bagian kedua dari ayat ini (Yudas 4) berbunyi, “orang-orang
fasik, yang menyalahgunakan anugerah Allah kita untuk
melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-
satunya Penguasa…” Apa yang diselewengkan? “Anugerah Allah
kita”. Jadi, siapakah yang disangkal melalui tindakan penyelewengan
ini? Bukankah Allah yang anugerah-Nya diselewengkan? Dengan
demikian, bukankah ini jelas-jelas berarti Allah yang anugerahnya
diselewengkan ini, dan yang dengan demikian disangkal secara
terbuka, adalah yang Satu itu yang disebut sebagai “satu-satunya
Penguasa”? Tentu saja, dengan menyangkal Allah, satu-satunya
Penguasa, maka Kristus-Nya pun disangkal; namun, ayat itu sendiri
menerangkan bahwa rujukan primernya adalah kepada Allah, sang
Bapa.

(2) Kata yang diterjemahkan sebagai “Penguasa” (despotēs) dipakai
sebagai sebuah gelar untuk Allah baik dalam PL maupun PB. Semua
contoh lain dari kata ini bila dipakai sebagai sebuah gelar ilahi dalam
PB selalu merujuk kepada Yahweh Allah: Lukas 2:29; Kisah 4:24;
2Petrus 2:1 (“dibeli” bdk. Kis.20:28); Wahyu 6:10 (“Tuhan yang
Berdaulat” bdk. Kis.4:24), bukan kepada Yesus, jadi tidak ada alasan
untuk menganggap Yudas 4 sebagai pengecualian, dan terutamanya
tidak bila kata “satu-satunya” (monos) dipakai. Dalam PL Yunani
(LXX) despotēs (Penguasa) muncul banyak kali sebagai suatu bentuk
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 271

sapaan untuk Yahweh Allah, khususnya dalam Kitab Daniel di mana
kata itu muncul 7 kali.
Mengingat bukti-bukti di atas, sungguh mencengangkan—sekaligus
menyedihkan—melihat sejauh mana sebagian trinitarian rela salah
menerjemahkan dan menyalahgunakan bahkan Kitab Suci, yang
mereka akui sebagai firman Allah. Tidak adakah lagi komitmen
kepada kebenaran?

Psikologi apa yang bekerja dalam pemikiran trinitaris?

A pakah Yesus hanya berharga bagi kita jika ia adalah Allah?
Apakah ia kurang berharga bagi kita sebagai manusia? Apakah
kasih kita kepadanya akan berkurang jika ia “hanya” manusia?
Apakah keberhargaan dirinya terletak pada “kodrat ilahi”nya,
sehingga hanya jika ia adalah Allah barulah ia dihargai? Atau,
apakah ia berharga karena ia “telah mengasihi aku dan menyerahkan
dirinya untuk aku” (Gal.2:20) terlepas dari “kodrat hakiki”-nya?
Apakah status menentukan nilai kasih? Apakah kasih seorang raja
lebih berharga daripada kasih ibu saya hanya karena ia seorang raja?
Seandainya kasih seorang raja mungkin lebih murni (mis. kurang
egois) daripada kasih ibu saya, itu hal yang berbeda, tetapi itu tidak
ada kaitannya sama sekali dengan statusnya.
Yesus, oleh karena kesuciannya, dapat (dan memang) mengasihi
dengan kemurnian yang melampaui semua kasih manusia yang
pernah kita kenal, oleh sebab itu kualitas kasihnya tak dapat
ditandingi oleh seorang manusia pun, bahkan seorang ibu pun tidak.
Apakah kasih dari dia yang “menyerahkan dirinya untuk aku”
kurang berharga karena kasih itu adalah kasih “manusia Kristus
Yesus” alih-alih “Allah Kristus Yesus”?
Dan, bicara soal ketidakberdosaan, apakah Yesus tidak berdosa
karena ia adalah Allah? Jika demikian, maka ia tidak berdosa secara
272 The Only True God

hakiki (sebab Allah tidak dapat berbuat dosa), dan bukan karena
kemenangan atas dosa dan daging. Ajaran Kitab Suci dengan
demikian dinyatakan salah, sebab akan bertentangan dengan fakta
yang dirangkum dalam pernyataan di Roma 5:19, “Jadi, sama seperti
melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang
berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang [Yesus] banyak
orang menjadi orang benar.” Ini adalah prinsip dasariah soteriologi
PB, dasar yang pokok dari keselamatan kita: ketaatan dari “satu
orang” itu.
Semuanya bergantung pada ketaatan Kristus sebagai manusia. Ini
bukan soal ketaatan Allah kepada Allah yang dibutuhkan untuk
keselamatan manusia. Ini adalah perkara ketaatan manusia kepada
Allah yang digenapi oleh Kristus dengan “taat sampai mati, bahkan
sampai mati di kayu salib” (Flp.2:8). Kita harus memahami dengan
baik bahwa kasih dari dia “yang telah mengasihi aku dan
menyerahkan dirinya untuk aku” adalah kasih dari manusia Kristus
Yesus. Kembali kita menanyakan: Apakah kasih ini berkurang
nilainya karena itu adalah kasih dari manusia Kristus Yesus? Bagi
saya tentu saja tidak; Yesus tidak menjadi kurang berharga bagi saya
jika ia “hanya” seorang manusia. Kasihnya untuk kita mutlak amat
dibutuhkan demi keselamatan kita.
Yesus dapat tetap tidak berdosa tentunya bukan semata-mata
karena upayanya sendiri tanpa bantuan, tetapi karena kepenuhan
Yahweh tinggal atau “bertabernakel (berkemah, Yoh.1:14:)” di dalam
dirinya secara jasmaniah (Kol.2:9). Kita pun, dengan cara yang
kurang lebih sama, dapat menang atas dosa melalui hadirat Allah
yang tinggal di dalam kita sebagai bait-Nya (1Kor.3:16; 6:19). Di
1Yohanes 3:9 kita membaca, “Setiap orang yang lahir dari Allah,
tidak terus menerus berbuat dosa; sebab benih ilahi tetap ada di
dalam dia dan ia tidak dapat terus menerus berbuat dosa, karena ia
lahir dari Allah.” Jika ayat ini beraplikasi kepada kita, betapa lagi
Kristus, sang “Anak tunggal”?
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 273

Trinitarianisme telah membutakan mata kita terhadap apa yang
bisa digambarkan sebagai “fenomena Kristus yang luar biasa”, yakni,
seorang manusia sejati telah berhasil menjadi tanpa dosa walaupun
ia “sudah dicobai dalam segala hal, sama seperti kita sendiri; hanya
ia tidak berbuat dosa” (Ibr.4:15, BIS). Realitas yang mencengangkan
dari kemenangan atas dosa ini terhilang dalam trinitarianisme
karena, sebagai Allah, Kristus tidak mungkin bisa berbuat dosa—
sebab jika ia bisa berbuat dosa, ia tidak mungkin adalah Allah. Jika ia
tidak bisa berbuat dosa oleh karena keilahiannya, maka ini membuat
Ibrani 4:15 menjadi tidak berarti—demikian pula dengan pencobaan
di padang gurun (Mat.4; Luk.4). Ketidakberdosaan bawaan (oleh
karena keilahian) akan mendiskualifikasikan Yesus sebagai Kurban
tebusan dosa (yang mengharuskan ketaatan dari “satu orang”,
Rm.5:19); itu juga akan membuat dia tidak dapat dicobai “sama
seperti kita” sehingga ia tidak dapat bertindak sebagai Imam Besar
yang turut merasakan kelemahan kita (lagi-lagi bertentangan dengan
Ibr.4:15).
Namun mari kita kembali ke psikologi pemikiran trinitaris yang
menyiratkan bahwa kebernilaian Kristus ada pada keilahiannya, dan
ia didevaluasi jika dianggap “hanya” manusia. Pertanyaan “apakah
manusia?”, jika dianggap sebagai pertanyaan retorik, mengharapkan
jawaban, “Tidak lebih dari debu”. Hal ini mungkin berlaku di
tingkatan jasmaniah, tetapi tidak berlaku padanya di tingkatan
rohaniah (lih. pembahasan terdahulu tentang Mzm.8). Jika
pemikiran kita dikuasai oleh konsep manusia yang tidak Alkitabiah,
maka tidak heran bila pandangan yang mengatakan bahwa Yesus itu
manusia, bukan Allah, akan dilawan keras sebagai sebuah devaluasi
terhadap dirinya.
Namun mari kita bertanya lagi: apakah nilai Kristus untuk kita
ada pada keilahiannya? Ataukah ada pada apa yang telah
dikerjakannya untuk kita sebagai Juruselamat? Untuk menangkap
hal ini dengan lebih jelas, kita dapat menanyakannya seperti ini:
274 The Only True God

Dalam ajaran Kitab Suci, keselamatan kita sebenarnya bergantung
pada apa? Apakah pada “hakikat”-nya (entah ia itu Allah atau
manusia), ataukah pada “pekerjaan”-nya (fungsinya)? Yesus
menunjuk kepada “pekerjaan-pekerjaan”-nya sebagai bukti
autentisitasnya (Yoh.10:25,37,38).
Supaya kurang abstrak, kita bisa memakai sebuah gambaran: Apa
pentingnya sebuah kunci? Apakah pada bahannya (“hakikat”-nya),
yaitu, apakah terbuat dari semacam logam mulia seperti emas atau
platinum, ketimbang besi atau baja? Atau, apakah pada fungsinya,
yakni, untuk membuka pintu rumah? Apakah penting kunci itu
terbuat dari apa selama kunci itu dapat memberi kita akses masuk ke
dalam rumah? Bukankah nilainya terletak pada apa yang dikerjakan-
nya untuk kita, ketimbang pada jenis logamnya?
Adalah menarik dan juga signifikan bahwa Yesus berbicara
tentang “mutiara yang sangat berharga” (Mat.13:46). Entah mutiara
itu sebuah gambaran Kerajaan Allah, atau Kristus sendiri sebagai
orang yang diangkat Allah untuk memerintah, tidak penting untuk
tujuan kita saat ini. Yang signifikan adalah mutiara dipilih Yesus
sebagai lambang. Pada apa tepatnya nilai sebutir mutiara itu?
Apakah pada bahan yang membentuknya (“hakikat”-nya)? Jika
mutiara itu ditumbuk hingga menjadi bubuk, apakah masih bernilai?
Jika bubuknya dibuat menjadi pasta kosmetik, ia mungkin masih
bernilai, tetapi tidak banyak dibandingkan dengan mutiara yang
berharga tadi. Jadi, apa pun alasannya mengapa sebutir mutiara itu
bernilai, nilainya jelas tidak terletak pada “hakikat”-nya atau
komposisi kimianya.
Bukankah sungguh berbeda halnya dengan emas? Apakah satu
ons bubuk emas berkurang nilainya daripada satu ons emas
batangan? Tentu saja sama nilainya. Namun, akan lain halnya jika
seorang seniman yang mahir menciptakan sesuatu yang sangat
indah dengan emas itu, karena ciptaannya itu sekarang memiliki
nilai yang berbeda sekali; karena sekarang ciptaannya itu telah
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 275

menjadi (atau, kita bisa katakan “berfungsi” sebagai) sebuah karya
seni. Seorang pelukis besar bahkan dapat menggunakan bahan-
bahan yang tidak bernilai tinggi (cat kanvas, minyak atau air), dan
dengan bahan-bahan tersebut menciptakan sebuah adikarya yang
bernilai jutaan dolar.
Bahan-bahan pembentuk bukanlah soal penting dalam hal ini,
yang penting adalah apa yang diperbuat (atau dihasilkan, atau
dicapai) dengan bahan-bahan itu. Demikian juga, Kitab Suci tidak
terlalu mempedulikan “kodrat hakiki” Kristus, seolah-olah ia harus
menjadi sesuatu yang lebih daripada “hanya manusia”; tema sentral-
nya adalah tentang apa yang telah dikerjakan oleh Allah di dalam
dan melalui Kristus Yesus untuk keselamatan kita.
Apakah keselamatan yang disediakan Allah bagi kita itu
berkurang nilainya jika Kristus tidak dapat diperlihatkan dari Kitab
Suci sama-sama setara dengan Yahweh Allah dalam setiap aspek?
Apakah karya penyelamatan Kristus melalui pemberdayaan Allah
berkurang nilainya jika keilahiannya tidak dapat diperlihatkan dari
Kitab Suci? Tentu saja tidak. Sebab, sebagaimana telah kita lihat, hal
yang penting bagi kita adalah apa yang telah diselesaikan untuk kita
oleh Allah dalam Kristus; sedangkan untuk hal-hal lainnya kita akan
“mengenal dengan sempurna” (1Kor.13:12) pada Hari itu.
Dari semuanya ini jelas bahwa mentalitas trinitaris tidak sesuai
dengan pewahyuan PB. Namun mereka dengan gigihnya bersikeras
bahwa Yesus adalah Allah, malahan sampai sejauh
“menerjemahkan” Kitab Suci sesuai dengan tafsiran mereka sendiri,
dengan demikian mereka menyediakan sendiri ayat-ayat yang
mereka gunakan untuk menyangga doktrin mereka! Semoga Allah
berbelas-kasihan kepada mereka—dan kepada kita yang melakukan
hal yang serupa.
276 The Only True God

Soal penting: Apakah sesungguhnya pewahyuan
Alkitabiah tentang pribadi dan karya Yesus Kristus?

U ntuk menjawab pertanyaan ini, kita harus terlebih dulu
meluruskan argumen-argumen trinitaris tentang keilahian
Kristus, klaim bahwa ia adalah “Allah-Anak”, sebuah gelar yang
tidak ditemukan dalam Alkitab. Sejauh Alkitab, Yesus Kristus tegas-
tegas ada dalam alam manusia, seorang manusia asli. Adalah
mustahil, baik dalam terang Kitab Suci maupun nalar, untuk Yesus
menjadi seorang manusia nyata seperti kita jika ia juga “sungguh-
sungguh Allah”. Tentu kita menjadi orang-orang bodoh dan
berbicara nonsens ketika kita menyimpang dari Kitab Suci.
Kita bisa yakin bahwa kita berada di atas dasar Kitab Suci yang
teguh ketika kita menegaskan bahwa Yesus itu sungguh-sungguh
seorang manusia. Apakah ini sama dengan mengatakan bahwa ia
“hanya” seorang manusia sama seperti kita? Sama sekali tidak.
Tidak? Namun bukankah kita baru saja berkata bahwa ia sungguh-
sungguh seorang manusia? Tentu saja, tetapi siapa di antara kita
yang bisa dilukiskan sebagai seorang “manusia sempurna” atau
“manusia tanpa dosa”? Tak seorangpun. Jadi jelaslah bahwa dalam
arti paling penting ini ia tidak sama seperti kita. Oleh karena dia
sajalah seorang manusia yang sempurna, bukankah itu juga berarti
bahwa hanya dialah manusia secara sempurna? Bukankah itu juga
berarti, dalam terang kesempurnaan Yesus yang unik, seluruh umat
manusia harus mengakui bahwa mereka bukan manusia secara
sempurna? Dengan demikian, manusia itu bukan sungguh-sungguh
manusia sebagaimana yang dimaksudkan sampai pada akhirnya
mereka juga “dijadikan sempurna” (bdk. Ibr.5:9; 7:28; 11:40; 12:23).
Sang Rasul jelas tidak menganggap hal ini suatu kemungkinan dalam
hidup ini ketika ia berkata, “Bukan seolah-olah aku telah
memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku
mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena
akupun telah ditangkap oleh Kristus” (Flp.3:12). Ini berarti Yesus
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 277

adalah satu-satunya manusia sejati yang pernah ada di atas bumi ini,
karena ia adalah satu-satunya pribadi yang sempurna dan tanpa
dosa yang pernah hidup.
Dengan demikian, sejauh Kitab Suci, tidak ada keraguan sama
sekali tentang Yesus sebagai manusia dan, sesungguhnya, sebagai
satu-satunya pribadi yang sungguh-sungguh manusia. Disinilah
letak keunikan mutlaknya; ia tak tertandingi. Justru karena inilah
hanya dia saja yang bisa menjadi juruselamat dunia. Sebab,
masalahnya dengan manusia adalah keegoisan dan dosa kerap kali
membuat mereka berkelakuan kurang dari manusia, kurang dari
maksud Allah untuknya. Sayangnya, inilah hal yang dialami oleh
banyak orang di tingkatan personal dan sosial, demikian juga di
tingkatan internasional—sesuatu yang diingatkan kepada kita setiap
hari melalui berita dunia serta mendengar tentang konflik dan
peperangan tak berkesudahan yang sedang berkecamuk di dunia.
Namun dalam Kristus ada harapan, karena di dalam dia Yahweh
Allah akan mendamaikan segala sesuatu dengan Diri-Nya (Kol.1:20
Pewahyuan Alkitabiah membawa kita kepada kesadaran bahwa
hanya ada satu Allah sejati dan juga hanya ada satu manusia sejati.
Lagipula, sebagaimana dapat diduga, di antara mereka terdapat
suatu hubungan kesatuan yang unik, yang berulang-kali dibicarakan
oleh Yesus. Kesatuan ini dilukiskannya dengan istilah “tinggal” atau
keberdiaman timbal balik: “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam
aku” (Yoh.14:11). Karena hanya Yesus saja yang tanpa dosa, hanya
dia sajalah “tempat” (Yoh.2:19) di mana Allah yang kudus bisa
tinggal dalam kepenuhan-Nya. Kepenuhan ilahi ini diwakili oleh
Firman Allah (Yoh.1:1) yang, sebagaimana kata-kata, bisa
digambarkan sebagai sesuatu yang melimpah keluar dari kedalaman
yang paling dalam dari diri-Nya dan tampil kemuka untuk berdiam
di dalam satu manusia sejati itu, dan di dalam Kristus untuk
berdiam di antara kita (Yoh.1:14).
278 The Only True God

Dalam jemaat awal ada sebuah deskripsi tentang kesatuan Allah
dalam Kristus ini dalam bentuk gambaran sepotong besi yang
dimasukkan ke dalam api hingga besinya berpijar di dalam api itu;
dengan begitu, besinya ada di dalam api, dan apinya ada di dalam
besi, akan tetapi, apinya tetap api dan besinya tetap besi, yang satu
tidak berubah menjadi yang lain, dan ini melukiskan perkataan
Yesus dengan indah dan efektif, “Aku di dalam Bapa dan Bapa di
dalam aku” (Yoh.14:11). Persatuan itu sedemikian rupa sehingga
Yahweh bisa berbicara dan bekerja dengan bebas melalui Kristus
untuk menyelesaikan tujuan-tujuan kekal-Nya di dunia, dan Kristus
bisa berbicara dan bertindak untuk Yahweh sebagai wakil mutlak-
Nya (plenipotentiary). Itu sebabnya ada beberapa nas dalam Kitab
Suci yang tidak jelas apakah mengacu kepada Yahweh atau kepada
Kristus. Akan tetapi, hendaknya diingat bahwa persatuan dari besi
dengan api itu bukan berarti besinya menjadi api, atau apinya
menjadi besi; keduanya bersatu tetapi tetap berbeda. Begitu juga,
persatuan Yahweh dengan Kristus bukan berarti Kristus adalah
Yahweh atau Yahweh adalah Kristus.
Jadi, pewahyuan Alkitabiah bukan saja menyatakan Yesus sebagai
satu-satunya manusia sejati, yang dengan sendirinya sudah cukup
mengagumkan, tetapi sama menakjubkan, bahwa Yahweh Allah
telah datang ke dunia dalam Kristus untuk mendamaikan dunia
dengan Dirinya, yaitu untuk menyelamatkannya. Jadi, yang datang
ke dunia untuk menyelamatkan kita itu bukan suatu sosok ilahi tak
dikenal yang disebut “Allah-Anak”; tetapi tak lain dan tak bukan
adalah Yahweh Sendiri yang datang ke dunia demi keselamatan kita.
Kebenaran yang indah dan dasariah inilah yang telah disimpangkan
dan dihilangkan oleh trinitarianisme yang menggantikan Yahweh
dengan “Allah-Anak” sebagai sosok yang datang ke dunia. Betapa
besarnya kerugian itu!
Dengan demikian, Yesus adalah “bait” Yahweh yang unik
(Yoh.2:19) di dunia di mana penebusan untuk dosa dibuat melalui
Bab 2 — Manusia Sempurna adalah Juruselamat 279

darahnya yang sungguh-sungguh darah manusia dan yang tanpa
dosa, dan darinya kebenaran Yahweh Allah diwartakan hingga ke
ujung bumi. Dan oleh karena ia adalah satu-satunya manusia sejati,
ia menjadi satu-satunya pengantara yang bertindak atas nama
manusia (1Tim.2:5), sama seperti Musa yang mengantarai atas nama
bangsa Israel. Nama Yesus pun menjadi satu-satunya nama yang
efektif untuk keselamatan umat manusia; sebab “tidak ada
keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam dia, sebab di
bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada
manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis.4:12).
“Diberikan” oleh siapa? Oleh siapa lagi kalau bukan oleh Yahweh
Sendiri?
Dari kajian kita terhadap Kitab Suci terlihat bahwa, sementara di
satu sisi trinitarianisme sudah keliru, akan tetapi, di sisi lain ajaran
dari berbagai macam kelompok Kristen, baik yang purba maupun
modern (mis. Arian, Unitarian, dll), yang mengajarkan bahwa Yesus
hanyalah seorang yang luar biasa, seorang nabi besar, dan “anak”
angkat Allah, sama sekali tidak memadai, sama sekali melewatkan
unsur terpenting dari kemanusiaan Kristus, yaitu kesempurnaannya
yang unik, dan dengan tepat ditolak oleh jemaat awal.
Karena Yahweh Allah, sang Bapa, berkenan meninggikan Yesus
di atas segala makhluk lain, sedemikian rupa sehingga setiap lidah
harus mengakui dia sebagai “Tu[h]an”, maka begitulah caranya ia
harus diperlakukan dan dihormati “bagi kemuliaan Allah, Bapa”
(Flp.2:10,11). Namun kesulitannya bagi kita sekarang adalah, sebagai
trinitarian, kita adalah orang-orang yang Kristosentris, kita melaku-
kan segalanya demi kehormatan dan kemuliaan Kristus, dan karena
kita berpikiran Yesus adalah Allah, kita mengira bahwa dengan
memuliakan dia kita sedang memuliakan Allah. Jadi gagasan meng-
hormati Kristus “bagi kemuliaan Allah, Bapa (Yahweh)” sebenarnya
adalah konsep asing bagi kita. Dalam benak kita, Yahweh nyaris
tidak diperhitungkan sama sekali, dan bahkan “Allah-Bapa”
280 The Only True God

trinitaris sekalipun memiliki sedikit, jika ada, signifikansi nyata
dalam cara berpikir kita yang Kristosentris. Disinilah perlunya
sebuah perubahan radikal, sebuah pembaharuan budi (Rm.12:2),
jika kita ingin kembali kepada monoteisme Alkitabiah.
Namun masa lalu trinitarian kita tidak akan membuat hal ini
mudah; adalah sulit untuk melepaskan sesuatu yang telah sekian
lama berada di pusat kehidupan dan pikiran kita. Sulit untuk kita
menyadari bahwa dengan menuhankan dan mengidolakan Yesus
(bagaimana lagi kita harus menyebutnya?), kita telah mendurhakai
Yahweh Allah dan Kristus-Nya. Kita telah gagal untuk melihat
bahwa Yesus adalah jalan, bukan tempat tujuan; ia adalah perantara,
imam agung yang mempersembahkan kurban kepada Yahweh atas
nama kita, tetapi ia bukan Yahweh Allah yang dengan-Nya kita perlu
berdamai. Untuk selamanya kita bersyukur bahwa ia adalah manusia
sempurna yang “telah mengasihi kita dan menyerahkan dirinya
untuk kita” untuk “membawa kita kepada Allah” (1Ptr.3:18). Dan
sekarang, kita dipersatukan dengan Allah dan Kristus secara kekal di
dalam “tubuh Kristus”, yaitu jemaat Allah, di mana Kristus adalah
kepalanya dan kita anggota tubuhnya. Dalam hidup baru ini kita
sekarang belajar untuk menjalin hubungan dengan Yahweh Allah
sebagai pusat dari kehidupan kita, dan di saat yang sama selalu
mengingat dan menghormati Kristus dengan rasa syukur, sang
kurban sempurna (seperti dalam Perjamuan Kudus, atau Ekaristi)
yang disediakan oleh Yahweh bagi kita. Kristus Yesus, satu-satunya
manusia sempurna, telah membuat penyelamatan umat manusia
menjadi sesuatu yang mungkin.
Bab 3

Menilai Kembali
Pemahaman Kristen
akan Manusia

Pandangan rendah akan manusia dalam trinitarianisme
versus ajaran Alkitabiah tentang manusia sebagai
“gambaran dan kemuliaan Allah” (1Kor.11:7)

S ebuah rintangan serius untuk kita menerima Yesus sebagai ma-
nusia sejati dan manusia sempurna adalah rendahnya pan-
dangan akan manusia dalam pemikiran Kristen, terutamanya
semenjak masa Augustinus, sekitar empat abad setelah masa Kristus.
Pendapat mengenai kebejatan total manusia, yang mulai
mendominasi pengajaran Kristen sejak saat itu dan seterusnya,
menurunkan manusia ke keadaan degradasi moral yang total.
282 The Only True God

Semuanya ini dilakukan demi meninggikan anugerah Allah sebagai
satu-satunya harapan keselamatan manusia.
Belum cukup untuk para dogmatis ini menunjukkan bahwa
kebenaran atau kesalehan manusia, entah setinggi apapun, tidak
akan pernah cukup untuk menggapai keselamatan, karena tak
seorang pun dapat dengan sendirinya mencapai standar yang
dituntut Allah. Itu sebabnya keselamatan tersedia hanya karena
anugerah oleh iman. Tidak, berdasarkan beberapa ayat yang dikutip
di luar konteks, mereka merasa perlu berkeras bahwa semua orang
itu benar-benar dan sepenuhnya bejat, busuk sampai ke dalam,
kebenaran mereka itu tidak lebih daripada “kain kotor”.
Apakah para dogmatis ini sungguh-sungguh ingin menegaskan,
misalnya, perbuatan orang-orang yang mengorbankan nyawa
mereka dengan beraninya demi menyelamatkan orang lain (yang
banyak terjadi hampir setiap harinya, seperti contoh baru-baru itu
dengan para anggota pemadam kebakaran yang tewas di Menara
Kembar pada 9/11) bukanlah perbuatan saleh, bahkan di mata Allah
sekalipun, dan adakah orang yang berani mengatakan kebenaran
seperti itu ibarat “kain kotor”? Pernyataan-pernyataan Alkitabiah
tentang kebenaran yang bersifat munafik atau yang “dipamerkan”,
yang dicela oleh Yesus, disalahterapkan oleh para dogmatis ini pada
kebenaran manusia secara umum. “Berilah hormat kepada orang
yang berhak menerima hormat.” Akan tetapi, jika semua orang itu
bejat, lantas untuk apa memberi hormat kepada siapa pun? Paulus
berbicara tentang “orang yang baik”; akankah kita bersikeras bahwa
“baik” itu hanya di mata manusia saja? Dan apakah “orang yang
suka damai” (Lukas 10:6 BIS) itu seorang yang saleh atau bukan?
Lagipula, jika pencabutan frasa “kain kotor” dari konteks Yesaya
64:6 untuk menajiskan seluruh kebenaran manusia ini dijadikan
sebagai contoh “eksegesis” Kristiani atas Kitab Suci, maka cara Kitab
Suci disalahgunakan dalam “eksegesis” trinitaris tidaklah
mengherankan. Melihat sepintas nas dalam kitab Yesaya akan segera
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 283

menunjukkan bahwa para dogmatis itu sama sekali tidak peduli
dengan apa sebenarnya yang dikatakan Yesaya. Ucapan “segala
kesalehan kami seperti kain kotor” adalah sebuah pengakuan dosa
dari hati yang remuk di hadapan Allah atas nama bangsa Israel,
sebuah pengakuan akan kosongnya ibadah keagamaan mereka,
karena kenyataannya adalah “tidak ada yang memanggil nama-Mu
atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu” (ay.7); dan oleh
sebab itu, “Engkau menyembunyikan wajah-Mu terhadap kami, dan
menyerahkan kami ke dalam kekuasaan dosa kami” (ay.7). Namun
ayat-ayat yang mendahuluinya menerangkan dengan sangat jelas
bahwa tak satu pun darinya dimaksudkan untuk menyangkali bahwa
ada orang-orang di Israel yang “menanti-nantikan” Tuhan dan yang
“melakukan yang benar dengan sukacita”: “Tidak ada telinga yang
mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang
bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau
yang berbuat demikian. Engkau menyongsong mereka yang
melakukan yang benar dan yang mengingat jalan yang
Kautunjukkan…sejak dahulu kala” (Yes.64:4,5).
Cara para dogmatis Kristen itu memperlakukan Kitab Suci secara
serampangan demi mencapai tujuan dogmatis mereka untuk melu-
kiskan seluruh umat manusia dalam warna kebejatan yang seram
demi membangun doktrin anugerah mereka akan mencengangkan
setiap penafsir Alkitab yang bertanggung jawab. Dengan demikian,
manusia yang telah dilukiskan sebagai “hampir sama seperti Allah”,
dan yang telah dimahkotai dengan “kemuliaan dan hormat”
(Mzm.8:6) sekarang dilukiskan nyaris tidak lebih baik daripada si
Iblis! Seorang penulis Kristen mengutip penulis Austria, Karl Kraus
(1874-1936), dengan nada persetujuan ketika Kraus menulis, “Si
Iblis sangat optimis jika mengira ia dapat membuat manusia lebih
buruk daripada mereka sendiri.”
284 The Only True God

Akibat dari doktrin kebejatan total: kita enggan
berbicara tentang Kristus sebagai manusia
Begitu banyak ajaran Kristiani yang didasari oleh suposisi bahwa
Allah dimuliakan dan keselamatan-Nya dibesarkan dengan meren-
dahkan manusia sebagai makhluk yang bejat atau rusak. Biasanya,
dalam buku teologi Kristen, penulis menyusun daftar ayat yang
berbicara tentang kefasikan dan kerusakan manusia, sedangkan
tujuan Allah yang mulia untuk manusia nyaris tidak disinggung.
Kata-kata di Mazmur 8, “apakah manusia…?” diperlakukan dalam
tulisan-tulisan dan lagu-lagu seolah-olah menyampaikan pertanyaan
retoris yang mengharapkan jawaban negatif, “Ia bukan apa-apa”.
Ternyata, tak seorang pun mau repot-repot melihat seluruh ayatnya:
“apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak
manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm.8:5; 144:3)
Jauh dari menjadi pertanyaan retoris, sebenarnya ayat itu
merupakan ungkapan rasa heran, pujian, dan syukur, yang
digerakkan oleh keprihatinan dan kepedulian Allah kepada manusia!
Ayub, sekalipun dalam keadaan tidak puas, pun mengakui hal ini:
“Apakah gerangan manusia, sehingga dia Kauanggap agung, dan
Kauperhatikan, dan Kaudatangi setiap pagi, dan Kauuji setiap saat?”
(Ayb.7:17,18) Allah telah menetapkan hati-Nya pada manusia! Ia
mencurahkan begitu banyak perhatian kepadanya! Pertanyaan Ayub
“Apakah gerangan manusia?” tidak menyodorkan jawaban seperti
“bukan apa-apa”, atau “hanya seorang berdosa yang bejat”,
melainkan “seorang yang berharga bagi Allah”, “seorang yang
kepadanya Allah telah menjatuhkan pilihan-Nya”.
Alkitab tentu saja tidak menutupi dosa manusia, tetapi Alkitab
tidak pernah mengemukakan bahwa umat manusia secara
keseluruhan telah menjadi bejat dan tidak bernilai oleh sebab dosa.
Keberhargaan manusia bagi Allah bahkan sebagai orang berdosa
harus selalu diingat sekalipun keseriusan dosanya tidak diabaikan;
ini adalah sudut pandang Alkitabiah. Anak yang hilang itu masih
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 285

tetap anak, setidaknya sebagai keturunan Adam (Luk.3:38),
sekalipun masih belum seorang anak Allah di dalam Kristus.
Dosa memang telah menurunkan umat manusia kepada
kemiskinan rohaniah, dan lebih buruk lagi, kepada konsekuensi-
konsekuensi mengerikan dari perbudakan di bawah kuasa dosa dan
maut. Namun bukti bahwa Allah sama sekali tidak pernah mening-
galkan rencana kekal yang telah ditentukan-Nya untuk manusia
dinyatakan dengan jelas oleh rencana penebusan manusia yang telah
ditetapkan-Nya “sebelum fondasi dunia” melalui “manusia Kristus
Yesus”.
Namun pandangan yang rendah terhadap manusia yang begitu
tersebar luas di dalam jemaat Kristen membuat orang-orang Kristen
enggan berbicara tentang Kristus sebagai manusia, kecuali sebagai
konsesi bahwa hanya jika Kristus itu manusia ia tidak bisa menjadi
juruselamat manusia. Ia dilukiskan sebagai seorang yang merendah-
kan dirinya sampai pada kedudukan yang rendah ini demi kesela-
matan kita walaupun, dalam kenyataannya, ia adalah Allah bukan
manusia, sebab dalam jati-dirinya ia adalah “Allah-Anak”.
Pemikiran semacam inilah yang menguasai pikiran orang Kristen
dan, sayangnya, tidak lagi bersentuhan dengan antropologi
Alkitabiah dan rencana kekal Allah yang mulia untuk manusia yang
diwahyukan di dalamnya.

Pandangan yang luhur terhadap manusia dalam Kitab
Suci

R encana dan maksud mulia Allah untuk manusia dinyatakan
dengan jelas dalam Kitab Suci, tidak disembunyikan, sehingga
tidak ada alasan untuk tidak melihatnya. Kita sudah mencatat
bahwa, di Kejadian 2:7, Yahweh menghembuskan nafas ke dalam
hidung manusia sehingga ia menjadi makhluk hidup. Apakah yang
diberikan Allah kepada manusia dengan menghembuskan nafas ke
286 The Only True God

dalam hidungnya? Apakah udara atau oksigen? Tentu saja bukan!
Banyak makhluk ciptaan lain juga menghirup udara dan oksigen,
tetapi Ia tidak menghembuskan nafas-Nya ke dalam mereka. Yang
dihembuskan ke dalam manusia adalah nafas-Nya, atau roh-Nya
sendiri. Baik dalam bahasa Ibrani maupun Yunani, “nafas” dan
“roh” adalah kata yang sama, yaitu, kata Ibrani ruach dan kata
Yunani pneuma dapat diterjemahkan sebagai “nafas” atau “roh”.
Pada saat seseorang mati, “roh kembali kepada Allah yang
mengaruniakannya” (Pkh.12:7).
Justru karena manusia memiliki roh yang diberikan kepadanya
oleh Allah, maka dalam arti ini, ia adalah makhluk ilahi. Yesus
mungkin menarik perhatian kepada fakta ini di Yohanes 10:34-36.
Nas ini adalah kutipan dari Mazmur: “Aku sendiri telah berfirman:
‘Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian.
Namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang
pembesar kamu akan tewas’” (Mzm.82:6,7). Selain para penguasa
dan pembesar yang disebut “para allah”, apakah mungkin Yesus
bermaksud lebih dalam lagi dengan menunjukkan bahwa manusia
itu ilahi dalam arti ia telah menerima rohnya dari Allah? Jika
demikian, betapa terlebih lagi Yesus itu ilahi sebagai orang yang
didiami Allah dalam kepenuhan-Nya sebagai Logos? Sebenarnya,
kita tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun tanpa nafas atau
roh. Begitulah dekatnya kaitan antara nafas atau roh dengan firman.
Jika Mazmur 8:6 dapat berbicara tentang manusia bahkan dalam
keadaannya sekarang ini sebagai yang telah dimahkotai “dengan
kemuliaan dan hormat”, maka akan terlebih besar lagi hormat dan
kemuliaannya setelah Yahweh menyelesaikan karya penebusan-Nya
atas manusia! Dan seperti apakah kemuliaan dan hormat itu?
“Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-
galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya” (ay.6). Dan sejauh
apakah jangkauan kekuasaan yang diberikan Allah kepada manusia
dengan menaruh “segala-segalanya… di bawah kakinya”? Jawaban
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 287

yang mengejutkan adalah “segala-segalanya” itu mencakup segala
sesuatu secara mutlak kecuali Allah sendiri!

“Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah
kakinya. Tetapi kalau dikatakan, bahwa ‘segala sesuatu telah
ditaklukkan’, maka teranglah, bahwa Ia sendiri yang telah
menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak
termasuk di dalamnya” (1Kor.15:27).

Ini berarti tujuan Allah di dalam Kristus adalah menjadikan manusia
wakil penguasa-Nya atas seluruh penciptaan, kedua hanya setelah
Allah di seluruh alam semesta! Semuanya ini akan dilaksanakan
Allah di dalam dan melalui Kristus—sebagai manusia, sebab kata-
kata di Mazmur 8 menyangkut manusia dan tujuan luhur Yahweh
bagi dia.
Hal ini diilustrasikan dengan baik oleh kisah Yusuf yang terkenal
itu, yang diangkat menjadi penguasa atas segala-galanya di Mesir
oleh Firaun—segala-galanya, kecuali Firaun sendiri (Kej.45:26),
sehingga dirinya menjadi orang kedua setelah Firaun di seluruh
negeri itu. Seperti itulah rencana mulia yang telah ditentukan Allah
untuk manusia di dalam Kristus. Peninggian Kristus di Filipi 2:9-11
dapat diilustrasikan dengan peninggian Yusuf sebagai penguasa
Mesir seperti berikut, “Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin
meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf;
dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari pada kain halus dan
digantungkannya kalung emas pada lehernya” (Kej.41:42). Semua itu
bukan sekadar tindakan seremonial, karena melaluinya Firaun
menganugerahkan otoritas dan kemuliaannya sendiri kepada Yusuf,
terutama dengan memberikan cincin meterai yang memuat stempel
pribadinya, yang digunakan untuk menyegel surat-surat perintah
resmi dari raja. Itu berarti Firaun telah mempercayakan seluruh
otoritas pribadinya kepada Yusuf, dengan demikian
memberdayakan dia untuk bertindak atas nama Firaun. Dengan cara
288 The Only True God

yang sama, di Filipi 2:9-11, Yahweh menganugerahkan kemuliaan
dan otoritas ilahi-Nya kepada Yesus. Sama seperti cincin meterai itu
memuat nama Firaun (nama di atas segala nama di Mesir), demikian
pula, Yahweh menganugerahkan nama di atas segala nama kepada
Yesus, dan dengan demikian sepenuhnya memberi wewenang
kepada Yesus untuk bertindak atas nama-Nya.
Namun fakta bahwa manusia Kristus Yesus akan menjadi kedua
hanya setelah Yahweh Allah di seluruh ciptaan (dan kita di dalam
Kristus) sepertinya tidak cukup baik untuk trinitarian. Berangkat
dari semangat sesat yang “sungguh berapi-api untuk Allah, tetapi
tanpa pengertian” (Rm.10:2; yang juga pernah saya lakukan) mereka
bersikeras bahwa Kristus harus mutlak setara dengan Allah dalam
segala hal—sesuatu yang ditolak oleh Kristus sendiri (Flp.2:6).
Untuk alasan yang aneh (suka melawan?) mereka tidak mau
menerima kalau Yahweh sajalah yang menjadi “semua di dalam
semua” (1Kor.15:28), sekalipun hal ini ditegaskan oleh sang Anak
sendiri dengan menaklukkan dirinya kepada Allah. Ada baiknya kita
berhati-hati jangan-jangan kita membiarkan api semangat sesat
membawa kita ke dalam penghukuman.

Nilai manusia dalam kisah penciptaan kitab Kejadian
Kisah penciptaan dalam kitab Kejadian memberikan pengesahan
tersendiri akan nilai manusia bagi Allah. Melihat kisah penciptaan
dengan seksama, kita dapat mengatakan bahwa sebuah label bisa
dipasangkan kepada manusia dengan tulisan, “Buatan tangan Allah”.
Ini dikarenakan secara jasmaniah manusia dilukiskan telah
“dibentuk” oleh Allah sendiri (tidak melalui agen); dan secara
rohaniah, manusia adalah “hembusan nafas Allah”: “Yahweh
Allah… menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya”
(Kej.2:7). Tidak terlalu sulit untuk melihat di sini sebuah gambaran
agak seperti “resusitasi mulut ke mulut”. Manusia diciptakan
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 289

menurut gambar atau citra Allah sendiri (Kej.1:26,27), yang
dirancang agar kemuliaan-Nya dikenal oleh seluruh ciptaan.
Atas dasar apa kita berbicara tentang Adam sebagai “buatan
tangan” Allah? Dasarnya adalah kata “membentuk” di Kejadian 2:7,
“Yahweh Allah membentuk manusia itu dari debu tanah”. Kata itu
digunakan untuk menggambarkan seorang tukang periuk, dengan
tangannya, membentuk bejana dari tanah liat di atas jentera
pembuat periuk. Hebrew and English Lexicon of the Old Testament
(BDB) memberikan definisi berikut untuk kata “membentuk” (‫יָצַ ר‬,
ysr) “1. tentang aktivitas manusia: a. tentang seorang tukang periuk
yang membentuk bejana dari tanah liat Yes.29:16; 41:25; Yer.18:4
(x2); 18:6 (x2); 1Taw.4:23; Rat.4:2; Za.11:13 (x2). 2. tentang aktivitas
ilahi: a. (sebagai seorang tukang periuk) membentuk Adam dengan
memakai ‫‘[ עפר‬pr, ‘debu’] dari ‫[ אדמה‬admh, ‘bumi, tanah’] Kej.2:7;
2:8 (J)”.
Kejadian 2:19 menyebutkan bahwa Allah juga membentuk
makhluk-makhluk lain, tetapi bukan untuk menyandang gambar
atau citra-Nya, seperti halnya manusia. Juga tidak disebutkan
tentang Allah menghembuskan nafas ke dalam mereka seperti yang
Ia lakukan kepada Adam. Ini menunjukkan bahwa Yahweh bisa
menghidupkan Adam tanpa harus menghembuskan nafas ke dalam
lubang hidungnya, tetapi Ia memilih untuk berbuat demikian demi
alasan-Nya sendiri.
Si perempuan pun secara khusus merupakan “buatan tangan”
Allah sebagaimana dinyatakan di Kejadian 2:21,22: “Dan dari rusuk
yang diambil Yahweh Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah
[bānāh, “membuat, membangun, menyusun”] seorang perempuan”
(ay.22). Oleh karena Hawa dibuat dari rusuk dan daging Adam yang
hidup, Yahweh tidak perlu menghembuskan nafas ke dalam
hidungnya secara terpisah, seperti yang Ia lakukan dengan debu tak
bernyawa yang membentuk Adam. Dan, sama seperti Adam, ia pun
seorang penjunjung citra Allah (Kej.1:27).
290 The Only True God

Ada orang niscaya akan berkata bahwa kisah dalam kitab
Kejadian mengenai Allah membentuk manusia itu bersifat
antropomorfis, dan harus dipahami secara metaforis, bukan secara
harfiah. Kita akan membahas soal antropomorfisme nanti. Untuk
saat ini kita hanya akan menanyakan: Jika demikian, apakah pesan
“metaforis” dari kisah penciptaan manusia ini? Apakah lukisan rinci
tentang pembentukan manusia itu hanya sebuah alat kesastraan agar
kisahnya dibuat lebih hidup? Inilah yang disebut oleh beberapa
penulis sebagai “mitos penciptaan”. Namun mereka pun tidak dapat
menyangkali bila kisah dalam kitab Kejadian itu dimaksudkan untuk
memperlihatkan keterlibatan Allah yang begitu akrab dalam
penciptaan manusia, dengan demikian menunjukkan seberapa besar
nilai manusia bagi Dia.

Gambaran Allah

A yat-ayat yang berbicara tentang Yesus sebagai “gambaran
Allah” seringkali dikutip seolah-olah ayat-ayat itu
membuktikan keilahiannya. Namun manusia juga disebut sebagai
“gambaran Allah”, tetapi tak seorang pun akan mengutipnya sebagai
bukti keilahian manusia. Lagipula, berbicara soal gambaran yang
dipuja atau disembah menimbulkan pertanyaan berikut: Apakah arti
pemberhalaan? Bukankah artinya penyembahan kepada gambaran?
Jika Yesus adalah gambaran Allah, sebagaimana dinyatakan dalam
PB, bukankah penyembahan kepadanya berarti pemberhalaan? Jika
diperdebatkan bahwa dalam halnya dengan Yesus ini tidak menjadi
masalah karena ia adalah Allah, maka ini berarti Yesus sebagai Allah
tengah disembah sebagai gambaran Allah. Dapatkah Allah
disamakan dengan gambaran-Nya sendiri?
Kalau tidak, apakah itu berarti pribadi ke-2 dari Trinitas adalah
gambaran dari pribadi pertama, yaitu, Anak adalah gambaran dari
Bapa? Namun, dalam Kitab Suci, sebuah gambaran, menurut
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 291

definisi, adalah suatu salinan atau turunan yang berasal dari yang
aslinya, misalnya foto atau patung; dan jika Anak adalah turunan
dari Bapa sehingga menjadi gambaran-Nya, maka ia jelas lebih
inferior dibanding Bapa. Lantas, atas dasar apa trinitarian menolak
subordinasi sang Anak? Begitu pula, sepatah kata diturunkan dari
pembicaranya, jadi bagaimana mungkin Firman Allah dikatakan
setara dengan Allah Sendiri?
Penting untuk diperhatikan bahwa tulisan-tulisan Yohanein, yang
menjadi sumber favorit teks-teks bukti trinitaris, menutup surat
pertamanya dengan sebuah peringatan tentang penyembahan
berhala dalam ayat penutupnya: “Anak-anakku, waspadalah
terhadap segala berhala” (1Yoh.5:21). Kita harus dengan sukacita
dan rasa syukur menghormati dan mencintai, memuji dan memuja,
Tu[h]an kita Yesus Kristus, tetapi ada sebuah garis yang tidak dapat
dilewati tanpa terjatuh ke dalam dosa pemberhalaan yang
menjijikkan.
Kita melampaui garis itu ketika kita mewartakan Kristus sebagai
Allah, setara dalam setiap hal dengan sang Bapa, dan karena itu
harus disembah seyogyanya Allah. Dalam kitab Wahyu, kitab di
mana Allah disembah sebagai Wujud yang tertinggi, Allah (Yahweh)
secara mutlak menjadi Pusat dan satu-satunya Objek penyembahan,
sedangkan Yesus diberi pemujaan dan pujian di beberapa tempat,
sebagai “Anak Domba”.

Yesus sebagai Gambar Allah

D i Kejadian 1:26,27; 9:6, kita diberitahu bahwa manusia
diciptakan dalam “gambar” (‫ )צֶ לֶם‬Allah. Gambar adalah citra,
rupa, atau representasi dari seseorang atau sesuatu. Di Kejadian 5:3
dikatakan bahwa Set ada dalam “rupa” (‫ ) ְדּמוּת‬dan “gambar”
ayahnya, Adam, yaitu ia mempunyai kemiripan secara jasmaniah,
dan barangkali juga dalam karakter, dengan sang ayah. Bukankah ini
292 The Only True God

berarti Set bisa berkata, “Siapa saja yang telah melihat aku, ia telah
melihat bapaku”? Ini mengingatkan kita akan ucapan Yesus di
Yohanes 14:9, “Siapa saja yang telah melihat aku, ia telah melihat
Bapa.” Yesus jelas tengah berbicara tentang dirinya sebagai gambar
Allah. Ini bukan klaim bahwa ia adalah Allah tetapi, sebaliknya,
klaim sebagai manusia sejati, “Adam yang akhir” (1Kor.15:45), dia
yang betul-betul mewakili umat manusia sebagaimana manusia
dimaksudkan oleh Allah, yakni, sebagai gambaran yang melaluinya
Allah mewahyukan diri-Nya.
Kedua kata ini, “rupa” dan “gambar”, diterapkan kepada manusia
di Kejadian 1:26; dan seperti yang telah kita lihat, keduanya bisa
merujuk kepada kemiripan seorang anak dengan ayahnya, sebagai-
mana halnya Set. Bukankah ini menerangkan mengapa Adam,
karena ia diciptakan dalam gambaran Allah, disebut “anak Allah”
(Luk.3:38)? Manusia itu tidak lain tidak bukan adalah representasi
Allah akan diri-Nya untuk dilihat oleh seluruh penciptaan, di surga
dan di bumi. Betapa luhurnya tujuan Allah bagi manusia!
Di Bilangan 33:52 kata Ibrani yang sama untuk “gambar” seperti
di Kej.1:26,27 dipakai untuk berhala-berhala yang terbuat dari logam
yang mewakili allah yang disembah oleh penduduk setempat. Kata
itu kerap dipakai untuk “patung-patung” berhala (2Raj.11:18;
2Taw.23:17; Yeh.7:20; Am.5:26), dan untuk “patung-patung
manusia” atau “patung-patung lelaki” (Yeh.16:17; 23:14). Dari sini
terbukti bahwa “patung-patung” itu sering dibuat dalam bentuk
manusia. Yesaya 44:13 melukiskan seorang pengrajin yang sedang
membuat berhala semacam itu, “Tukang kayu merentangkan tali
pengukur dan membuat bagan sebuah patung dengan kapur merah;
ia mengerjakannya dengan pahat dan menggarisinya dengan jangka,
lalu ia memberi bentuk seorang laki-laki kepadanya, seperti seorang
manusia yang tampan, dan selanjutnya ditempatkan dalam kuil”.
Kata-kata “bentuk seorang laki-laki” dalam bahasa Yunani adalah
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 293

morphē dan anēr, yang berarti “patung lelaki” sama seperti di
Yehezkiel 16:17.
Semua ini menunjukkan bahwa “gambar” dan “bentuk” pada
dasarnya bermakna sama. Namun hal yang signifikan untuk penye-
lidikan kita di sini adalah bahwa kata morphē (“bentuk”) adalah kata
yang dipakai di Filipi 2:6, yang diterjemahkan sebagai “rupa Allah”.
Ini menunjukkan bahwa “gambar Allah” dan “rupa Allah” jelas-jelas
bersinonim. Ini berarti frasa “rupa Allah” harus dipahami dalam
istilah gambar Allah seperti di Kejadian 1:26,27; 9:6. Manusia yang
diciptakan dalam gambar dan rupa Allah dapat digambarkan sebagai
berada dalam “rupa Allah”. Namun sebagai trinitarian kita tidak
ragu-ragu membacakan penafsiran kita sendiri ke dalam frasa ini,
terlepas dari kenyataan bahwa kita tidak dapat menyodorkan satu
pun bukti Alkitabiah yang mendukung penafsiran kita atas frasa
tersebut yang mengartikan Yesus sebagai Allah.
Sekarang kita harus mengajukan pertanyaan ini: apakah kita
melihat gambar dan kemuliaan Allah pada manusia dalam
keadaannya sekarang? Barangkali hampir setiap orang akan
memberikan jawaban negatif. Mengapa? Bukankah ini jelas-jelas
karena ketidaksempurnaan manusia pada saat ini? Hanya manusia
sempurna yang dapat benar-benar mencerminkan kemuliaan Allah.
Sekarang kita mulai memahami pentingnya Yesus sebagai satu-
satunya manusia yang sempurna.
Bahwa Yesus adalah gambar Allah yang sejati dinyatakan tanpa
ambiguitas dalam PB:

2Korintus 4:4, “yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang
pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga
mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus
yang adalah gambaran Allah.”

Kolose 1:15, “Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang
sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.”
294 The Only True God

Sebuah gambar merupakan representasi dari yang asli. Gambar
tersebut harus menyandang rupa atau bentuk dari yang asli. Dengan
demikian, kecuali kalau Kristus ada dalam “rupa” Allah (Flp.2:6,
μορφή, morphē, “rupa, penampilan luar, bentuk”, BDAG), ia tidak
bisa menjadi gambaran Allah.
Akan tetapi, Paulus juga melihat manusia pada umumnya sebagai
dalam gambar Allah. Berlawanan dengan ajaran Kristiani, Alkitab
tidak menganggap manusia telah kehilangan gambar Allah oleh
karena dosa Adam, ataupun mengemukakan bahwa gambar itu telah
dihancurkan atau dirusak oleh dosa Adam. Hal ini bukan murni
masalah doktrin, tetapi hal yang mengandung konsekuensi praktis
yang serius terhadap manusia. Sebab, jika manusia dalam arti apa
pun tidak lagi berada dalam gambar Allah, maka prinsip yang
diucapkan di Kejadian 9:6 tidak lagi berlaku, “Siapa yang
menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh
manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya
sendiri.” Kesakralan nyawa manusia berakar pada keberadaannya
dalam gambar Allah. Karena itu, membunuh seorang manusia
membawa konsekuensi serius. Namun jika manusia tidak lagi berada
dalam gambar Allah, maka membunuh manusia tidak jauh berbeda
dari membunuh binatang. Pengesahan Yesus atas Kejadian 9:6
tercermin dalam perkataannya kepada Petrus, “Masukkan pedang
itu kembali ke dalam sarungnya, sebab semua orang menggunakan
pedang, akan binasa oleh pedang” (Mat.26:52). Hal ini menunjukkan
bahwa Yesus tidak sependapat dengan doktrin Kristen saat ini yang
diterima secara umum. Ini juga menunjukkan bahwa ketika Paulus
berbicara mengenai manusia sebagai “gambaran dan kemuliaan
Allah” (1Kor.11:7), ia sepenuhnya selaras dengan PL dan dengan
pengajaran tuannya.
Namun gambar Allah dalam manusia masih harus
disempurnakan saat Kristus tampil, sebab hanya pada saat itulah kita
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 295

akan menjadi serupa dengan dia yang adalah gambaran Allah yang
sempurna, sebagaimana dinyatakan di ayat berikut ini:

1Yohanes 3:2, “Saudara-saudaraku yang terkasih, sekarang
kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan
kita kelak; akan tetapi, kita tahu bahwa apabila Kristus
dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti dia, sebab kita
akan melihat dia dalam keadaannya yang sebenarnya.

Gambar Allah di dalam Kristus tentu saja jauh lebih unggul
ketimbang gambar Allah dalam manusia pada umumnya; tetapi
karena Kristus dan manusia keduanya adalah penyandang gambar
Allah dan memiliki “rupa”-Nya (sekalipun dalam derajat
keunggulan yang berbeda), maka Filipi 2:6 tidak bisa digunakan
untuk memperdebatkan keilahian Kristus.

“Baiklah Kita menjadikan manusia”
Beberapa orang trinitarian yang lebih terpelajar menyadari bahwa
kurangnya bukti PL untuk doktrin ini menimbulkan masalah serius
atas keabsahannya; mereka menyadari fakta bahwa nyaris tidak
ditemukan sepotong bukti pun di situ. Jadi beberapa trinitarian
berusaha menggenggam jerami apa saja yang dirasa mampu
memberi sedikit dukungan. Yang menyedihkan, mereka bahkan
menunjuk pada tiga kali kata kudus di Yesaya 6:3 (“Kudus, kudus,
kuduslah Yahweh semesta alam”), seolah-olah mereka tidak tahu
bila pemberitaan kata “kudus” rangkap-tiga itu dimaksudkan untuk
mengungkapkan kekudusan pada tingkatan tertinggi, sebagaimana
kita berbicara tentang tiga tingkat kebesaran, yaitu besar, lebih besar,
paling besar; atau tinggi, lebih tinggi, paling tinggi; begitu juga
dengan kudus, lebih kudus, paling kudus.
Bahwa kitab Kejadian memakai kata ganti jamak di Kejadian 1:26
(“Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa
296 The Only True God

Kita”) selalu digunakan untuk mengusulkan Trinitas. Masalah
dengan argumen itu adalah, pertama, kata “Kita” tidak menyatakan
apa-apa tentang jumlah pribadi yang dimaksud, karena jumlahnya
bisa berapa saja. Kedua, kata itu tidak membuktikan apa-apa tentang
kesetaraan pribadi-pribadi yang terhitung dalam kata ganti itu.
Misalnya, seorang panglima angkatan bersenjata sebuah negara bisa
berkata, “Bersama-sama kita akan memenangkan peperangan ini”;
kata ganti “kita” dalam pernyataan ini tidak memberikan petunjuk
apa pun mengenai jumlah prajurit yang akan bertempur di bawah
perintahnya, apalagi mengemukakan bila ada yang setara
dengannya.
Jadi, apa lagi yang dapat dicapai dengan memakai “Kita” di
Kejadian 1:26 selain berusaha membangun sebuah perkara untuk
politeisme, di mana jumlah maupun kedudukan para allah itu tidak
penting? Namun dalam konteks monoteisme Alkitab, perkara
seperti itu tidak dapat dibangun karena Alkitab hanya mengakui
“Allah yang esa” (Yoh.5:44). Lagipula, di dalam konteks PL, kita
melihat dari Amsal 8:20 bahwa Hikmat digambarkan secara
metaforis sebagai satu pribadi, yang bekerja sama dengan Allah
dalam penciptaan. Jadi cara paling gamblang untuk memahami
Kejadian 1:26 adalah bahwa “Kita” merujuk kepada Allah dan
Hikmat-Nya. Kata ini pun bisa merujuk kepada Firman-Nya jika
“firman Yahweh” di Mazmur 33:6 ini dipersonifikasikan.
Mengenai bentuk jamak dalam “baiklah Kita menjadikan (‫עשׂה‬,
yāsah) manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kej.1:26), hal yang
tidak diketahui oleh kebanyakan orang Kristen adalah bahwa, ketika
sampai pada penciptaan manusia di ayat berikutnya, kata kerja
untuk “cipta” semuanya berbentuk tunggal dalam bahasa Ibrani,
yang berarti hanya Allah Sendirilah yang terlibat dalam penciptaan
manusia. Demikian bunyi ay.27: “Maka Allah menciptakan
[tunggal] manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah
diciptakan-Nya [tunggal] dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 297

Nya [tunggal] mereka”. Kata kerja “cipta” (‫בָּ ָרא‬, bārā) muncul 3 kali
dalam bentuk tunggal—seolah-olah untuk penekanan! Hal yang
sama juga benar dalam teks Yunaninya. Akan tetapi, orang tidak
akan mengetahui hal ini dari terjemahan Inggris [dan Indonesia]
karena entah “mereka menciptakan” atau “ia menciptakan” tidak
ada bedanya dalam kedua bahasa itu untuk bentuk kata kerja “cipta”.
Di Kejadian 9:6, “Allah membuat [tunggal] manusia itu menurut
gambar-Nya sendiri”, kata kerja “membuat” di sini sama dengan
kata yang dipakai di Kejadian 1:26 dan berbentuk tunggal. Juga,
dalam semua referensi berikutnya tentang tindakan Allah
menciptakan manusia, Kitab Suci selalu menyatakannya dalam
bentuk tunggal baik dalam kitab Kejadian (5:1; 9:6) maupun dalam
bagian Kitab Suci selebihnya (Ayb.35:10; Mzm.100:3; 149:2; Yes.64:8;
Kis.17:24; dst.).
Menariknya, kata kerja yang sama yāsah (“membuat”) yang
dipakai di Kejadian 1:26 dalam bentuk jamak ini dipakai di Kejadian
9:6 dalam bentuk tunggal. Jadi, barangkali kata “Kita” di Kejadian
1:26 yang memungkinkan Amsal 8:30 berbicara tentang Hikmat
sebagai terlibat dalam pembuatan dan pembentukan segala sesuatu
yang diciptakan, meskipun mungkin tidak secara langsung terkait
dengan penciptaan mereka.
Sehubungan dengan perbedaan makna antara kedua kata yang
diterjemahkan sebagai “menjadikan/membuat” (yāsah) dan “cipta”
(bārā), Theological Wordbook of the OT (TWOT) mengatakan
demikian: ‘Akar kata bārā mempunyai makna dasar “menciptakan.”
Kata ini berbeda dari yāsah “membentuk” karena yang terakhir
menekankan pembentukan sebuah obyek sedangkan bārā menekan-
kan awal mula eksistensi obyek itu.’ Jadi ini menunjukkan bahwa
peranan Hikmat adalah dalam pembentukan dari apa yang telah
diciptakan. Hal ini dikonfirmasi melalui deskripsi Hikmat sebagai
“kepala pekerja” (Ams.8:30 ILT); yang bekerja di samping Yahweh
(“Aku berada di samping-Nya”, Ams.8:30; BIS) dalam pembuatan
298 The Only True God

manusia menurut gambar Allah. Dengan demikian, Hikmat
tercakup oleh kata “Kita” dalam “baiklah Kita menjadikan manusia”.
Terlepas dari ini, Hikmat memiliki tempat yang penting dalam PL.
Di bawah “Hikmat” International Standard Bible Encyclopedia
memuat penjelasan berikut: “verba Ibr: chakham, dengan adjektiva
Ibr: chakham, dan nomina Ibr: chokhmah, Ibr: chokhmoth, dipakai
lebih dari 300 kali dalam Perjanjian Lama.”

Yesaya 9:5
“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera
telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas
bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib,
Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

A da begitu sedikit teks dalam PL yang berguna bagi
trinitarianisme sehingga kita terpaksa membuat loncatan besar
dari kitab Kejadian ke kitab Yesaya! Yesaya 9:5 merupakan salah
satu dari begitu sedikit teks PL yang dapat ditemukan oleh
trinitarian untuk digunakan sebagai “bukti” bagi keilahian Kristus,
tetapi seperti biasanya, dengan tidak mempedulikan konteks. Sekilas
pandang kepada ayat berikutnya segera menunjukkan bahwa kata-
kata itu berbicara tentang raja Daud yang dijanjikan, sang Mesias:

“Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan
berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya,
karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan
keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-
lamanya. Kecemburuan Yahweh semesta alam akan
melakukan hal ini.” (Yes 9:6)

Jadi, “anak” atau “putera” di 9:5 ini adalah pewaris takhta Daud
sebagaimana dijelaskan oleh ay.6. Kepada pewaris inilah kata-kata di
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 299

Mazmur 2:7 ditujukan, “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuper-
anakkan pada hari ini.”
“Allah yang Perkasa”: Bahwa sang raja bisa disapa sebagai “Allah
(elohim)” dapat dilihat dari Mazmur 45:7 (ILT). Tepat di ayat
berikutnya, Mazmur 45:8, Yahweh dinyatakan sebagai “Allahmu”:
“Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu
Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai
tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu”. Pembukaan dari
Mazmur ini pun dengan gamblang menyatakan, “aku hendak
menyampaikan sajakku kepada raja” (Mzm.45:2). Lihat pula
Mazmur 82:6,7, “Aku sendiri telah berfirman: ‘Kamu adalah allah,
dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian. Namun seperti
manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang pembesar (sar,
penguasa) kamu akan tewas.’” Yesus mengutip ayat ini di Yohanes
10:34. Intinya kata “allah” kadang dipakai dalam PL untuk merujuk
kepada seseorang yang memiliki kekuasaan, seperti seorang
pembesar atau raja, tanpa menyiratkan kalau orang tersebut ilahi.
Namun “Allah yang Perkasa” juga dapat dimengerti dalam istilah
peninggian yang dianugerahkan kepada Yesus seperti dilukiskan di
Filipi 2:9.
“Bapa yang Kekal”: Seorang raja yang baik dianggap sebagai bapa
oleh rakyatnya; dan oleh karena kerajaannya tidak akan pernah
berakhir (“dari sekarang sampai selama-lamanya”, 9:6), ia bisa
sepantasnya disebut “bapa yang kekal”. Di Daniel 7 Allah memberi-
kan kerajaan yang kekal kepada “anak manusia”: “Lalu diberikan
kepadanya (“anak manusia”, ay.13) kekuasaan dan kemuliaan dan
kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku
bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah
kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah
kerajaan yang tidak akan musnah.” (Dan.7:14)
“Penasihat Ajaib” dan “Allah yang Perkasa” memberikan alasan
bagi “besar kekuasaannya”. Besar kekuasaannya dan damai sejahtera,
300 The Only True God

karena “kekal” dan “tidak akan lenyap”, pada gilirannya
menerangkan mengapa ia akan disebut “bapa yang kekal” dan juga
“raja damai”.
Penulisan huruf kapital pada keempat julukan itu dalam terje-
mahan Inggris berpengaruh dalam mengangkat mereka ke status
ilahi; ini menunjukkan pengaruh huruf besar atas para pembaca!
Tentu saja, huruf-huruf kapital itu hanya ada dalam teks Inggris,
bukan dalam teks Ibrani.
Mengingat wahyu PB, tak diragukan sama sekali bila nubuatan-
nubuatan ini mencapai penggenapannya di dalam Kristus.
Nubuatan-nubuatan itu juga digenapi dalam fakta bahwa
pencapaiannya dilaksanakan oleh Allah Sendiri, yang ada di dalam
Kristus mengerjakan semua itu. Hal ini diungkapkan di bagian
terakhir dari nubuatan tersebut, “Kecemburuan Yahweh semesta
alam akan melakukan hal ini.” Yahweh Sendirilah yang akan
memastikan kesuksesannya.
Namun masih ada kemungkinan lain yang tidak dikecualikan
oleh uraian sebelumnya: Yesaya 9:5 bisa jadi merupakan sebuah
nubuatan mengenai kedatangan Yahweh Sendiri di dalam pribadi
Mesias Yesus dalam arti yang dinyatakan di Kolose 2:9. Ini mungkin
cara yang paling sederhana dan gamblang untuk memahami
nubuatan tersebut, sekalipun tanpa mengesampingkan uraian
sebelumnya sebagaimana berlaku pada sang Mesias, anak Daud,
sebagai manusia.
Penerapan Yesaya 9:5 kepada Yahweh bisa dikonfirmasi dari gelar
“Ajaib” atau “Penasihat Ajaib”, sebab di Yesaya 28:29 Yahweh
dilukiskan sebagai “ajaib dalam keputusan”. Di Hakim-hakim 13:18
“malaikat TUHAN” memberitahu Manoah dan isterinya (orang-tua
Samson) bahwa namanya adalah “Ajaib”, dan kemudian pasangan
tersebut menyadari bahwa mereka telah “melihat Allah”
(Hak.13:22).
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 301

Gelar “Allah yang Perkasa” berkesejajaran dengan Mazmur 50:1,
dan “Raja Damai” diilustrasikan dengan lukisan indah di Yesaya
11:6-9. “Bapa yang Kekal” pasti tidak bisa diklaim juga sebagai gelar
sang Anak! Bagaimanapun juga, jika ada yang berkeras bahwa gelar-
gelar di Yesaya 9:5 itu adalah murni gelar-gelar ilahi, hal itu tidak
akan membuktikan Yesus sebagai Allah dalam arti umum, tetapi
bahwa ia adalah Yahweh, mengingat gelar-gelar tersebut adalah
milik Yahweh!
Kesimpulan: Sementara keempat gelar di Yesaya 9:5 dapat dan
memang berlaku kepada Mesias yang dijanjikan itu, gelar-gelar itu
sebenarnya lebih baik diterapkan kepada Yahweh Sendiri. Dengan
mendiami Mesias selama masa pelayanannya, kualitas-kualitas ilahi
itu terpancar dari kehidupan Mesias Yesus sedemikian rupa
sehingga kemuliaan ilahi diwahyukan melalui dia sebagai “gambar
Allah yang tidak kelihatan” (Kol.1:15).

Apakah Allah berkenan jika kita menyembah gambar-
Nya?

K ita harus kembali kepada pembahasan tentang manusia yang
telah diciptakan sebagai “gambaran Allah”. Kita pun telah
melihat bahwa Kristus adalah gambaran Allah par excellence karena
hanya dia sajalah manusia yang sempurna itu. Namun sekarang kita
harus mengajukan pertanyaan berbobot: Apakah firman Allah mem-
perbolehkan penyembahan kepada “gambaran Allah”? Sehubungan
dengan trinitarianisme, ini bukanlah pertanyaan yang murni aka-
demis untuk menanyakan apakah kita boleh menyembah gambaran
Allah alih-alih Allah Sendiri, atau bahkan berdampingan dengan
Allah Sendiri.
Deskripsi Kristus sebagai “gambaran Allah” (εἰκὼν τοῦ θεοῦ,
eikōn tou theou), ditemukan di 2Korintus 4:4; Kolose 1:15; Ibrani
302 The Only True God

1:3; dan sementara istilahnya tidak dipakai dalam Injil Yohanes,
gagasannya diungkapkan dalam banyak pernyataan penting,
khususnya Yohanes 14:9, dan Yohanes 1:14,18; 12:45; 14:10; 15:24.
Gambar kepala kaisar pada mata uang disebut eikōn (gambaran),
yaitu sebuah rupa atau potret (Mat.22:20). Gambaran kaisar jelas
bukan kaisar, jadi bukankah jelas Kristus sebagai gambaran Allah
bukan Allah? Apa susahnya memahami fakta ini? Akan tetapi,
sebagai trinitarian tampaknya kita tidak dapat membedakan sebuah
gambaran dari apa yang diwakili oleh gambaran itu karena
penalaran dogma trinitaris yang aneh.
Namun pertanyaan yang ingin kita jawab adalah: Apakah Allah
berkenan bila kita menyembah gambar-Nya? Jika jawabannya “Ya”,
maka tidak ada alasan untuk kita tidak dapat menyembah manusia,
sebab ia diciptakan menurut gambar Allah. Akan tetapi, Kitab Suci
bukan saja melarang menyembah manusia, siapapun dia, tetapi juga
gambaran manusia, seperti patung lelaki atau patung manusia
(sebagaimana telah kita lihat sebelumnya, mis. Yeh.16:17). Oleh
karena itu, Rasul Paulus mencela orang-orang yang berpaling dari
Allah dan “berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka
telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang
tidak fana dengan gambaran (eikōn) yang mirip dengan manusia
yang fana” (Rm.1:22,23). Perhatikan bahwa kata “gambaran” adalah
kata yang sama dengan kata yang dipakai oleh sang Rasul untuk
Kristus dan manusia pada umumnya sebagai gambaran Allah. Setiap
orang itu fana, dan Kristus pun tidak terkecuali, jika tidak maka ia
tidak bisa mati untuk menebus dosa umat manusia. Ia telah
dibangkitkan dari antara orang mati, dan demikian juga akan terjadi
dengan semua orang beriman; apakah itu berarti bahwa orang yang
sudah dibangkitkan dari kematian boleh disembah? Dan bahkan
dalam hal seorang Allah-manusia, atau manusia ilahi, dapatkah
orang menyembah yang satu tanpa menyembah yang lainnya?
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 303

Larangan menyembah gambaran dari apa saja telah diabadikan di
Ulangan 4:15-19. Kita hanya perlu melihat dua ayat pertamanya,
15
“Hati-hatilah sekali sebab kamu tidak melihat sesuatu rupa
pada hari TUHAN (Yahweh) berfirman kepadamu di Horeb
dari tengah-tengah api 16 supaya jangan kamu berlaku busuk
dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala
apapun: yang berbentuk laki-laki atau perempuan.”

Ada dua hal yang menonjol: (1) Yahweh tidak memiliki “rupa” yang
dapat dilihat (tmunah “rupa, bentuk”), ay.15. (2) Empat kata dipakai
di ayat selanjutnya untuk mencakup semua pilihan: “patung”,
“berhala”, “menyerupai”, dan “berbentuk”. Tidak ada bentuk atau
bayangan yang luput dari larangan membuat objek penyembahan
apapun selain Allah yang hidup, Yahweh.
Kita perlu menyadari bahwa di sini kita sedang membahas
Perintah yang pertama dari Sepuluh Perintah; hal ini dijabarkan di
Ulangan 5:

6
“Akulah Yahweh, Allahmu, yang membawa engkau keluar
dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
7
Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
8
Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun
yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah,
atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
9
Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah
kepadanya, sebab Aku, Yahweh Allahmu, adalah Allah yang
cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-
anaknya dan kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari
orang-orang yang membenci Aku,
10
tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu
orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang
pada perintah-perintah-Ku.”
304 The Only True God

Hendaknya diamati bahwa “kesalahan” yang dibicarakan di sini
(ay.9) bukanlah dosa pada umumnya, tetapi merujuk kepada hal
yang baru saja disebut, yakni, “sujud menyembah” kepada
“gambaran” atau “rupa” apa pun. Yahweh sendiri adalah sasaran
penyembahan sejati karena hanya Dialah sang Pencipta dan
Penyelamat (ay.6).
Gagasan yang mengemukakan adanya “allah” lain (ay.7) yang
dapat disembah alih-alih, atau berdampingan dengan, Yahweh
merupakan penghinaan terhadap Dia: “Jadi dengan siapa hendak
kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa
dengan Dia?” (Yes.40:18). Trinitarian tampaknya tidak mampu
menangkap sifat monoteisme Alkitabiah, oleh karena itu mereka
berani mengusulkan adanya pribadi lain selain Yahweh sebagai
sasaran penyembahan. “Dengan siapa hendak kamu samakan Aku,
seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus” (Yes.40:25).
Untuk pertanyaan tersebut para trinitarian dengan berani
menjawab, “Yesus, Allah-Anak”. Mereka sebaiknya memper-
timbangkan Perintah Pertama dengan seksama, dan mengingat
bahwa Yesus sendiri dengan tegas mengesahkan pewartaan di
Ulangan 6:4: “Dengarlah, hai orang Israel, Yahweh Allah kita,
Yahweh itu esa!”

Larangan atas penyembahan kepada gambaran akan
dilawan
Tidak mengherankan bila ada satu individu yang dengan sengaja
akan melawan larangan atas penyembahan kepada gambaran:
Antikristus.
Kata “eikōn” dipakai 10 kali dalam kitab Wahyu; semuanya
merujuk kepada gambar binatang (Why.13:14,15 (x3); 14:9,11; 15:2;
16:2; 19:20; 20:4). eikōn yang diterjemahkan sebagai “patung”
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 305

merupakan kata kunci dalam kitab Wahyu; kata ini muncul 3 kali
lebih banyak di Wahyu daripada kitab-kitab lain dalam PB.
Di Wahyu 13:15 patung binatang itu diberi nafas hidup, artinya,
patung itu dibuat hidup dan tampil sebagai gambaran hidup dari
binatang itu; ini jelas sebuah imitasi yang disengaja dari kenyataan
bahwa manusia (dan Kristus “manusia terakhir”) adalah gambaran
Allah yang hidup (Kej.1:26,27; 1Kor.11:7; bdk. 2Kor.3:18 dan
1Kor.15:49). Penyembahan kepada binatang dan/atau gambarannya
adalah pemberhalaan yang dipaksakan kepada umat manusia oleh si
binatang sebagai sebuah ekspresi pemberontakan terbesar melawan
Allah sang Pencipta dan Penebus.
Wahyu 14 ayat 9 dan 11 berbicara tentang penyembahan
binatang dan gambarannya. Wahyu 16:2 dan 19:20 berbicara tentang
gambaran itu sendiri sebagai sasaran penyembahannya; menerima
tanda dari binatang itu dan menyembah gambarannya merupakan
hal yang tak dapat dipisahkan. Menolak menyembah gambaran
binatang itu akan diganjar dengan hukuman mati, 13:15. Dan
Wahyu 20:4 menunjukkan bahwa penyembahan kepada binatang itu
ataupun kepada gambarannya sebenarnya adalah satu dan hal yang
sama. Dari semuanya ini jelas bahwa memaksa orang ke dalam
pemberhalaan merupakan tujuan utama dari “tanda dari binatang
itu”, dan hal itu meringkaskan tujuan kampanye anti-Allah binatang
itu. Mereka yang belum disesatkan ke dalam pemberhalaan akan
dipaksakan ke dalamnya, atau dibunuh.
Dalam kitab Wahyu mereka yang menyembah binatang itu
ataupun gambarannya sama-sama bersalah di hadapan Allah, dan
akan menghadapi murka-Nya. Menyembah gambaran binatang itu
atau menyembah binatang itu sendiri pada dasarnya adalah hal yang
sama. Apakah hal yang sama juga berlaku dalam prinsip (sekalipun
sasaran penyembahannya berbeda) mengenai penyembahan kepada
Allah ataupun penyembahan kepada gambaran-Nya? Maksudnya:
Pada dasarnya apakah menyembah Allah dan menyembah
306 The Only True God

gambaran-Nya itu merupakan hal yang sama, setidaknya kalau
gambaran itu adalah Kristus dan bukan manusia lain?

Bolehkah Yesus disembah karena ia adalah gambaran
Allah?

K ita sudah mencatat bahwa Kristus adalah gambaran Allah
(demikian pula manusia pada umumnya). Apakah ini berarti
melakukan penyembahan kepada gambaran Allah bersama dengan
Allah Sendiri secara Alkitabiah bisa diterima, karena bagaimanapun
juga, gambaran itu adalah gambaran Allah, bukan binatang itu? Dan
karena manusia juga adalah gambaran Allah, lantas apakah kita
boleh menyembah manusia sebagai gambaran Allah? Jika
jawabannya tidak, lantas mengapa kita boleh menyembah “manusia
Kristus Yesus” (1Tim.2:5)? Bukankah penyembahan kepada
gambaran apa pun merupakan sebuah tindakan pemberhalaan?
Bukankah Yesus sendiri yang menyatakan tanpa kompromi, “Sebab
ada tertulis: ‘Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya
kepada Dia sajalah (atau, sendiri, monos) engkau berbakti!’”;
“menyembah” (proskuneō) dan “berbakti” (latreuō) adalah kata
sinonim (Mat.4:10; Luk.4:8). Apakah kita menyebut diri kita murid-
muridnya tetapi tidak mengindahkan ajarannya? Jika kita telah
memutuskan bahwa kita boleh menyembah Yesus yang merupakan
gambaran Allah, maka bukankah ini berarti kita telah jatuh ke dalam
pemberhalaan bahkan sebelum dipaksa ke dalam bentuk
pemberhalaan yang lain? Apakah mungkin ada bentuk
pemberhalaan yang lebih bisa diterima daripada yang lain? Jika
orang-orang pilihan sudah disesatkan ke dalam suatu bentuk
pemberhalaan (Mat.24:24), apakah keadaan mereka akan lebih
buruk jika dipaksa ke dalam bentuk pemberhalaan yang lain?
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 307

Bisakah Yesus menjadi berhala?
Pertanyaannya bisa diajukan dengan cara lain: Apakah mungkin
menjadikan Yesus Kristus sebuah berhala? Dan apakah hal itu suatu
pengecualian terhadap larangan penyembahan berhala? Atau apakah
menyembah Yesus itu bukan pemberhalaan? Tentu saja, trinitarian
akan berkeras bahwa Yesus adalah Allah-Anak, tetapi dapatkah
mereka menyangkal kemanusiaannya? Jika tidak, maka bukankah
ini berarti menyembah Yesus artinya menyembah manusia,
sekalipun kita berkeras bahwa ia adalah manusia ilahi? Jadi apakah
menyembah manusia tertentu ini dapat diterima? Dapat diterima
oleh siapa? Oleh trinitarian atau Allah? Mengapa sulit untuk
menemukan bukti penyembahan kepada Yesus (berbeda dari
memberikan penghormatan tertinggi) dalam PB? Doksologi-
doksologi dalam PB ditujukan kepada Allah yang Esa, tanpa
menyebut Yesus. Misalnya, 1Timotius 1:17 “Hormat dan kemuliaan
sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal,
yang tidak nampak dan yang esa!” Demikian pula, dalam kitab
Wahyu kata “sembah” (proskuneō) tidak pernah dipakai untuk
merujuk kepada Yesus, “sang Anak Domba”, tetapi hanya dan selalu
kepada Yahweh Allah.
Dan jika menyembah “manusia Kristus Yesus” itu diperbolehkan,
mengapa salah untuk menyembah ibunya, Maria? Kenapa tidak
sekalian saja menyembah semua santo lainnya, sebagaimana dilaku-
kan umat Katolik? Jika manusia adalah “gambaran dan kemuliaan
Allah”, maka sekali kita memperbolehkan menyembah satu
manusia, lantas berdasarkan prinsip apa kita mengecualikan
manusia lain, dan siapakah yang akan memutuskan prinsip
pengecualian tersebut? Di manakah kita akan menarik garis
pembatas terhadap pemberhalaan ketika pintu airnya terbuka? Demi
kesejahteraan kita yang kekal, sebaiknya kita memegang kata-kata
terakhir dari Surat 1Yohanes di dalam hati dan pikiran kita, “Anak-
anakku, waspadalah terhadap segala berhala” (5:21).
308 The Only True God

Jadi kita perlu menekan pertanyaan penting ini: Menurut Kitab
Suci, apakah menyembah sebuah gambaran pernah dapat dibenar-
kan? Gambaran Allah bukan Allah. Jika sebuah gambaran adalah
Allah maka kita hanya perlu menyembah gambaran itu; mengapa
kita masih perlu menyembah Allah? Gambaran Bapa bukanlah sang
Bapa, melainkan sang Anak. Sekalipun saya mempunyai saudara
kembar yang sama persis dengan saya sehingga orang lain yang
melihat saudara saya itu mengira dia adalah saya, saudara itu tetap
bukan saya. Namun bukankah justru itu yang dilakukan oleh
trinitarianisme, menyembah gambaran Allah sebagai Allah ?

Apakah Filipi 2:10 memperbolehkan kita menyembah
Kristus?
9
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan dia dan menga-
runiakan kepadanya nama di atas segala nama,
10
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di
langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
11
dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tu[h]an,”
bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Y esus tidak meninggikan dirinya; Allah-lah yang sangat
meninggikan dia dan mengaruniakan kepadanya nama di atas
segala nama. Para sarjana tidak pasti apakah ini artinya nama
“Yesus” telah ditinggikan sebagai nama di atas segala nama, seperti
tampak ditunjukkan oleh ayat berikutnya; tetapi jauh lebih mungkin
bahwa nama atau gelar yang diberikan kepadanya adalah “Tu[h]an”,
karena segala lidah akan mengakuinya sebagai Tu[h]an (ay.11).
“Tu[h]an” di sini bukan “TUHAN” (Yahweh), melainkan yang
diberitakan oleh Rasul Petrus di Kisah 2:36, “Jadi, seluruh kaum
Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus,
yang kamu salibkan itu, menjadi Tu[h]an dan Kristus.” “Allah telah
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 309

membuat Yesus… menjadi Tu[h]an” mencerminkan secara tepat
apa yang dikatakan di Filipi 2:11.
Bagaimanapun juga, nyaris tidak mungkin kalau Yahweh akan
berbagi nama-Nya sendiri dengan Yesus, sebab jika demikian maka
akan ada dua pribadi dengan nama yang sama, yang akan membuat
mereka praktis tidak dapat dibedakan! Lagipula, perkataan Yahweh
di Yesaya 48:11 membuang kemungkinan itu, “Aku akan
melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab
masakan nama-Ku akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan
kemuliaan-Ku kepada yang lain.” Dalam Kitab Suci, “kemuliaan”
dan “nama” seringkali bersinonim. Kita harus selalu mengingat
bahwa Allahlah yang meninggikan Yesus dan hal ini dilakukan bagi
kemuliaan Allah Bapa (ay.11). Maksudnya, Allah adalah pemrakarsa
(yang awal) dan sasaran (yang akhir) dari peninggian Yesus.
Kegagalan dalam memahami hal ini berakibat pada penyalahtafsiran
bagian himne ini.
Filipi 2:10-11 dikenal berasal dari Yesaya 45:23, “dan semua orang
akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia
dalam segala bahasa.” Untuk memahami hal ini dengan tepat kita
perlu melihat konteksnya di Yesaya 45,
21
“Bukankah Aku, Yahweh? Tidak ada yang lain, tidak ada
Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat,
tidak ada yang lain kecuali Aku!
22
Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu
diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan
tidak ada yang lain.
23
Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku
telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik
kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku,
dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa,
24
sambil berkata: Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam
Yahweh.”
310 The Only True God

Nas ini dimulai dan diakhiri dengan Yahweh, dan tidak ada pribadi
lain yang disebut dalam keempat ayat ini. Perhatikan juga bahwa
kalimat, “semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan
bersumpah setia dalam segala bahasa” merupakan kalimat yang
dikutip di surat Filipi. Namun kalimat ini adalah isi dari sumpah
yang diucapkan oleh Yahweh Sendiri, sehingga tidak mungkin
berlaku kepada siapa pun juga selain Yahweh. Lalu bagaimana ayat-
ayat ini bisa bersangkutan dengan Yesus dalam Surat Filipi?
Jawabannya tidak sulit ditemukan jika kita tidak membiarkan
dogma mengaburkan persepsi kita. Perbandingan yang cermat
antara nas dalam surat Filipi dengan nas dalam kitab Yesaya
memberikan jawabannya. Ada sebuah perbedaan penting antara
kedua nas itu: Di kitab Yesaya tertulis “dihadapan-Ku (yaitu
Yahweh)” semua orang akan bertekuk lutut, tetapi di Filipi 2:10
tertulis “dalam nama Yesus” atau “en tō onomati Iēsou”. Sekarang
maknanya menjadi jelas: Dalam, oleh, atau pada saat nama Yesus
disebut segala lutut akan bertekuk kepada Yahweh, “dihadapan-Ku”.
Demikian pula, “segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah
‘Tu[h]an’,” bagi kemuliaan Allah, Bapa (yaitu, Yahweh)” (Flp.2:11).
Bukan kepada Yesus segala lutut akan bertekuk, melainkan
kepada Yahweh segala lutut akan bertekuk “dalam nama Yesus”,
atau pada saat nama Yesus disebut. Inilah caranya BDAG Greek-
English Lexicon (onoma) menerjemahkan kalimat ini, “ketika nama
Yesus disebut segala lutut harus bertekuk”. BDAG memberikan
banyak contoh tentang hal ini; salah satunya adalah, “Bersyukur
kepada Allah ἐν ὀν. Ἰησοῦ Χρ. sambil menyebut nama Yesus Kristus,
Ef.5:20”, yang pada dasarnya berarti bersyukur kepada Allah oleh
karena Yesus. BDAG juga memberi komentar menarik tentang
“melalui” atau “oleh nama”: “efek yang ditimbulkan oleh nama itu
disebabkan oleh pengucapannya”. Jadi efek yang ditimbulkan oleh
pengucapan nama Yesus adalah segala lutut akan bertekuk di
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 311

hadapan Yahweh, sama seperti yang disumpahkan Yahweh akan
terjadi.
Sekarang semestinya mulai terlihat jelas dari Filipi 2:6-11 dan PB
secara keseluruhan bahwa nilai superlatif dari nama Yesus tidak
bersandar pada dirinya yang ditengarai sebagai “Allah-Anak”, tetapi
pada dirinya sebagai manusia sempurna yang sendiri dapat berkata,
“Aku senantiasa melakukan apa yang berkenan kepada-Nya”
(Yoh.8:29). Yahweh sendiri pula berfirman tentang dia, “Inilah
Anak-Ku yang terkasihi, kepadanyalah Aku berkenan” (Mat 3:17;
17:5). Tidak heran Yesus dapat berkata, “Sesungguhnya aku berkata
kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan
diberikan-Nya kepadamu dalam namaku” (Yoh.16:23; 15:16). Apa
pun yang dilakukan oleh Yesus, tujuannya selalu dan hanya untuk
memuliakan Bapa, “Dan apa pun yang kamu minta dalam namaku,
aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam Anak”
(Yoh.14:13).

“Rupa Allah” dan “gambaran Allah”; Filipi 2:6
Meskipun kita telah membahas istilah “gambar” dan “rupa” ketika
membahas Kejadian 1:26,27, demi kesaksamaan kita akan
mempertimbangkannya melalui jalur lain. BDAG:

“Rupa” (morphē) “μορφή, ῆς, ἡ (Hom.+) rupa, penampilan
luar, bentuk umumnya tentang bentuk tubuh 1Kl 39:3; ApkPtr
4:13 (Ayb 4:16; ApkEsd 4:14 hlm.28, 16 Tdf.; SJTaw 78, 13).
Tentang bentuk atau rupa patung (Yos., Vi. 65; Iren. 1, 8, 1
[Harv. I 67, 11]) Dg 2:3. Tentang penampilan dalam
penglihatan, dst., mirip dengan orang-orang.” (BDAG)

Demikian pula, Thayer, Greek-English Lexicon:

“μορφή [morphē], μορφῆς, ἡ dari Homer dan seterusnya, rupa
seseorang atau sesuatu menurut penglihatan; penampilan
312 The Only True God

eksternal: anak-anak dikatakan mencerminkan ψυχῆς τέ καί
μορφῆς ὁμοιότητα (dari orang-tua mereka).”

Dari beberapa baris pertama definisi yang diberikan oleh BDAG kita
melihat bahwa referensi primernya adalah kepada “bentuk tubuh”,
yang dalam hal ini jelas tidak berlaku. Namun definisi berikutnya,
“Tentang bentuk atau rupa patung” menunjukkan bahwa kata itu
bisa berarti “rupa” dalam arti sebuah “gambar”. Namun oleh karena
bentuk jasmaniah Allah tidak dipertimbangkan di sini, maka
maknanya harus menunjuk kepada gambaran Allah yang spiritual,
dan PB (dan Paulus sendiri) memang berbicara tentang Yesus
sebagai gambaran Allah (2Kor.4:4; Kol.1:15).
Pemakaian kata “rupa” sehubungan dengan membuat patung
dapat dilihat di Yesaya 44:13, “Tukang kayu merentangkan tali
pengukur dan membuat bagan sebuah patung dengan kapur merah;
ia mengerjakannya dengan pahat dan menggarisinya dengan jangka,
lalu ia memberi bentuk (morphē, μορφή) seorang laki-laki
kepadanya, seperti seorang manusia yang tampan, dan selanjutnya
ditempatkan dalam kuil.” Konteksnya menceritakan tentang
pembuatan (pembentukan) patung-patung berhala. Lihat seluruh
bagian teks Yes.44:13-17; Baca ay.17, “Dan sisa kayu itu
dikerjakannya menjadi allah, menjadi patung sembahannya; ia sujud
kepadanya, ia menyembah dan berdoa kepadanya, katanya:
‘Tolonglah aku, sebab engkaulah allahku!’” Jelas, “rupa”
bersangkutan dengan patung, dalam hal ini sebuah berhala.
Gagasan “rupa” dalam arti “gambaran”, dapat dilihat juga melalui
pemakaian kata kerja morphoō oleh Paulus di Galatia 4:19, “Hai
anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai
rupa (morphoō) Kristus menjadi nyata di dalam kamu.” Paulus
berjuang dengan susah payah demi jemaat di Galatia melalui doa
dan pengajaran sampai akhirnya mereka “dibentuk” atau dijadikan
serupa dengan gambaran Kristus.
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 313

Filipi 2:7 juga berbicara tentang Kristus “mengambil rupa seorang
hamba” (μορφὴν δούλου λαβών, morphēn doulou labōn). Yesus
sebenarnya bukan seorang hamba atau budak (doulos), tetapi itu
mencerminkan sikap hatinya, yang harus dipahami secara rohani,
sama seperti “rupa Allah” harus dipahami secara rohani. Sikap Yesus
selaku seorang hamba terlihat dari perkataannya sendiri di Matius
20:28, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani,
melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawanya
menjadi tebusan bagi banyak orang” (=Mrk.10:45).
Yesus merupakan gambaran Allah sebagai manusia, karena
“dialah gambar Allah yang tidak kelihatan” (Kol.1:15), yakni, sifat
Allah yang tidak kelihatan menjadi kelihatan di dalam Yesus.
Kenyataan bahwa ia adalah gambaran Allah pada masa
kehidupannya di bumi (“Siapa saja yang telah melihat aku, ia telah
melihat Bapa”, Yoh.14:9) menunjukkan bahwa ia memiliki
kedudukan di hadapan Allah yang mungkin menyebabkan dia
berpikiran untuk merampas kesetaraan dengan Allah. Mungkinkah
ini unsur pokok dalam kisah pencobaan di Matius 4=Lukas 4?
Bukankah dalam hal ini Adam gagal, “kamu akan menjadi seperti
Allah” (Kej.3:5)?
Justru pada titik di mana Adam gagal melalui ketidaktaatan,
Kristus harus berhasil untuk menjadi Juruselamat kita (Rm.5:19,
“Jadi sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang
telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu
orang banyak orang menjadi orang benar”). Namun jika ketaatan ini
(penolakan untuk merampas kesetaraan dengan Allah) terjadi di
alam pra-eksisten, maka itu bukan sebagai manusia, bukan sebagai
“Adam yang akhir”, dan karena itu tidak dapat membatalkan
ketidaktaatan Adam, karena sebagaimana tertulis di Roma 5:19:
“melalui ketaatan satu orang”. Ini berarti Filipi 2:6 tidak dapat
dipertimbangkan dalam istilah pra-eksistensi tanpa meniadakan
keselamatan umat manusia. Untuk alasan ini pandangan James
314 The Only True God

Dunn bahwa nas Filipi 2 ini harus dipahami sehubungan dengan
“Kristologi Adam” patut dihargai (lih. The Theology of Paul the
Apostle, hlm.282). 9 Adam gagal justru karena ketidaktaatannya, dan
ketidaktaatan pada dasarnya adalah tindakan pemberontakan, dan
pemberontakan sebagai penolakan terhadap otoritas merupakan
klaim implisit terhadap kesetaraan dengan otoritas itu. Dalam arti
inilah Adam mengungkapkan klaim terhadap kesetaraan dengan
Allah. Namun Kristus, “Adam yang akhir” (1Kor.15:45) menolak
untuk merampas kesetaraan dengan Allah. Ia puas dengan peranan
yang diberikan Allah kepadanya selaku “Adam yang akhir”, sehingga
Allah dapat menjadikan dia ‘juruselamat dunia” (Yoh.4:42;
1Yoh.4:14).
Dan berbicara tentang peranan yang diberikan Allah, kata “rupa
muncul lagi di ayat berikutnya (Flp.2:7), biasanya diterjemahkan
menjadi “mengambil rupa seorang hamba”, di mana “mengambil”
adalah terjemahan untuk kata lambanō. Namun lambanō bisa
berarti “mengambil” atau “menerima”. Jadi frasa itu bisa juga
diterjemahkan menjadi “menerima rupa seorang hamba”, peranan
yang diberikan kepadanya oleh Allah. “Menerima” atau “menaati”
tidak perlu dipandang sebagai hal pasif semata. Misalnya, kata yang
sama, lambanō, yang diterjemahkan sebagai “mengambil” di Filipi
2:7 diterjemahkan sebagai “menerima” (Yun. aor. aktif) di Yohanes
20:22, “Terimalah Roh Kudus” (juga Kis.19:2, dll).
Penafsiran trinitaris atas Filipi 2:6dyb. tidak meyakinkan sama
sekali. Satu alasan utama adalah karena istilah “rupa Allah”

9
Kristologi Adam mewakili usaha mempelajari Kristus sebagai manusia,
“Adam”, yang adalah kata Ibrani untuk “manusia”. Namun pandangan yang
rendah terhadap manusia yang pada umumnya dianut oleh umat Kristen
berarti Kristologi macam ini tidak disambut oleh kebanyakan dari mereka.
Dalam percakapan saya dengan seorang profesor teologi beberapa waktu yang
lalu, ia menggambarkan Kristologi Prof. Dunn sebagai “rendah”. Ini
dikarenakan manusia dalam teologi Kristiani dipandang “rendah”.
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 315

merupakan batu sandungan besar bagi mereka. Perkaranya akan
tuntas seandainya saja ayat itu mengatakan, “yang walaupun adalah
Allah…” Namun, sayang sekali untuk trinitarianisme, bukan itu
yang dikatakan. Dengan menolak makna “rupa” sebagai sebuah
representasi atau gambaran, mereka gagal memberikan penafsiran
yang dengan tepat mengungkapkan apa yang dikatakan oleh
teksnya, jadi mereka dengan beraninya membacakan penafsiran
mereka sendiri kedalamnya.
BDAG menyatakan secara dogmatis bahwa “rupa” adalah
“ungkapan ilahi dalam Kristus yang pra-eksisten” tetapi tidak mem-
berikan penjelasan apa pun bagaimana kata itu secara leksikal dapat
memiliki makna ini. Dengan demikian, sebuah leksikon trinitaris
terlihat terlibat dalam penyebaran trinitarianisme, bukannya setia
kepada ilmu leksikografi. Oleh karena itu, kita sering kali perlu ber-
paling kepada leksikon Yunani-Inggris sekuler dan otoritatif seperti
Liddell and Scott guna mencari pandangan yang tidak memihak.
Dengan sia-sia saya memeriksa Greek-English Lexicon saya yang
sangat besar dan lengkap (2042 halaman besar dengan cetakan kecil,
tanpa menghitung 153 halaman Lampiran) oleh Liddell, Scott, dan
Jones (Oxford, 1973), guna menemukan kaitan antara morphē
dengan gagasan pra-eksistensi dalam bentuk atau rupa apa pun
(mohon maaf atas permainan katanya!). Oleh karena alasan ini pula,
tidak terdapat kaitan yang hakiki antara morphē dengan kata
“Allah”. Ditambah dengan fakta bahwa morphē berarti “penampilan
luar, rupa, bentuk tubuh” (menurut definisi BDAG sendiri), maka
jelas tidak satu pun dari semua itu berlaku untuk Allah karena
“Allah itu Roh” (Yoh.4:24). Itulah sebabnya kita sama sekali tidak
dapat mengaitkan “rupa” dengan “Allah” kecuali melalui pengajaran
Alkitabiah tentang manusia sebagai “gambaran Allah”. Dalam
bahasa Alkitabiah, “rupa Allah” berarti “gambar Allah”, yang tak
pelak merujuk kepada manusia sebagai gambar Allah (Kej.1:26,27,
dll).
316 The Only True God

Argumen Thayer (Greek-English Lexicon, μορφή) bahwa Kristus
dalam pra-eksistensinya ada dalam “rupa Allah”, yaitu dalam rupa
ini “ia tampak kepada para penghuni surga” adalah, maaf untuk
mengatakan, murni hasil imajinasi; maka tidak mengherankan, tak
sepotong pun bukti Alkitabiah yang disodorkannya untuk memper-
kuat hal ini. Lagipula, sementara memang benar bahwa satu cara
untuk kita, sebagai manusia, mengenali orang adalah melalui rupa
atau bentuk mereka (khususnya wajah), kita juga mengenali orang
melalui suara mereka (mis. di telepon) bahkan tanpa melihat “rupa”
mereka. Oleh karena itu, adalah tidak berdasar untuk
membayangkan makhluk-makhluk surgawi saling mengenali satu
sama lain melalui “rupa” mereka! 10

Sebuah analisis atas Filipi 2:6-7
“(Yesus), yang meskipun ada dalam rupa Allah, tidak
menganggap bahwa menjadi setara dengan Allah adalah
sesuatu yang harus dirampas.” (Flp.2:6 MILT)

10
Meskipun Allah sebagai Roh itu tanpa morphē, tanpa “bentuk badani
atau eksternal”, sehingga kita tidak dapat berbicara tentang “rupa Allah”
dengan tepat kecuali menurut pengertian Alkitabiah tentang “gambar Allah”,
kita tidak perlu menyangkal bahwa Allah bisa mengambil “rupa” jika Ia
memilih untuk berbuat demikian. Barangkali “malaikat Tuhan” merupakan
sebuah contoh dalam PL. Barangkali kitab Wahyu merupakan contoh lain,
jika kita tidak merancukan yang rohaniah dengan yang jasmaniah. Dalam
kitab Wahyu, Yang Mahakuasa “terlihat” duduk di atas takhta (disebut 12
kali). Dalam penglihatan Yohanes di Apokalypsis, makhluk-makhluk surgawi
dibuat “kelihatan” dalam cara tertentu guna menyampaikan pesan ilahi
kepada Yohanes; kemungkinan lain adalah Yohanes dianugerahi penglihatan
rohaniah, karena tidak bisa melihat apa yang tak kelihatan oleh mata
jasmaniah sebab, sebagaimana Paulus berkata, “Yang kelihatan adalah
sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2Kor.4:18).
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 317

S ekali kita telah dibebaskan dari indoktrinasi trinitaris yang
bersikeras bahwa “rupa Allah” berarti “Allah”, dan sekali kita
memperoleh kembali kejernihan pikiran, kita seharusnya dapat
melihat dengan jelas bahwa seandainya Yesus adalah Allah, maka
dia sama sekali tidak ada alasan untuk “merampas” (harpagmos)
kesetaraan dengan Allah, karena ia sudah memilikinya. Hanya orang
yang tidak memiliki kesetaraan dengan Allah (seperti halnya Adam)
yang bisa berkeinginan untuk merampasnya (bdk. Kej.3:5,6). Oleh
karena itu, usaha untuk memaksa ayat ini mengatakan bahwa
“meskipun adalah Allah ia (Yesus) tidak merampas kesetaraan
dengan Allah” akan membuat Kitab Suci menjadi tidak berarti,
sesungguhnya, membuat firman Allah menjadi nonsens. Ini
tentunya sebuah pelanggaran serius terhadap Allah dan firman-Nya.
Dalam terjemahan KJV untuk Filipi 2:6, “who, being in the form of
God, thought it not robbery to be equal with God (yang, walaupun
dalam rupa Allah, menganggap bukan perampasan untuk menjadi
setara dengan Allah)”, ada sesuatu yang tidak masuk akal: Jika
pernyataan itu berkaitan dengan dua pribadi yang setara, dalam
keadaan apa kata “perampasan” perlu digunakan sehubungan
dengan soal kesetaraan? Bahkan dengan mengizinkan kebebasan
puitis sekalipun, bagaimana perampasan bisa masuk dalam
pembahasan ini? Sejauh dua pribadi yang setara, bagaimana
mungkin yang satu “merampas” kesetaraan dari yang lain? Bahkan
dalam hal dua pribadi yang tidak setara sekalipun, apakah
kesetaraan itu sesuatu atau status yang dapat diambil dari seseorang
melalui “perampasan”? Karena, merampas bukan saja mengambil
apa yang bukan miliknya, tetapi juga menghilangkan apa yang
menjadi hak milik pribadi lain. Jadi “merampas” bukan hanya soal
berusaha secara licik untuk mencapai kesetaraan dengan pribadi
lain, tetapi menyingkirkan statusnya sehingga menjadi milik sendiri.
Jika perampasan itu berhasil, maka pribadi yang lain itu bukan saja
akan kehilangan kesetaraannya, tetapi juga akan takluk kepada
318 The Only True God

pribadi yang telah mengambil kesetaraannya itu, sehingga
kedudukannya menjadi lebih rendah.
Semua ini betul-betul tidak masuk akal sehubungan dengan Filipi
2:6. Sebab, jika Yesus adalah Allah, maka soal mencapai kesetaraan
dengan Allah akan benar-benar berlebihan, dan apa tujuannya kata
“perampasan” dalam pernyataan berlebihan ini? “Rampas” dalam
kalimat ini tidak saja menjadikan pernyataan itu tidak berarti tetapi
konyol. Di sisi lain, jika Yesus tidak setara dengan Allah, maka
dalam arti apa berbicara tentang “perampasan” menjadi bermakna
dalam hal memperoleh kesetaraannya dengan Allah? Satu-satunya
arti yang dapat dipikirkan adalah bahwa usaha memperoleh
kesetaraan itu sebenarnya ialah sebuah tindakan perampasan
terhadap Allah, sebuah tindakan pemberontakan, dan ini pasti
sesuatu yang tak terpikirkan oleh Yesus. Ini memang masuk akal—
kecuali fakta bahwa KJV justru telah membalikkan maknanya
dengan mengatakan bahwa Yesus tidak menganggapnya sebagai
perampasan! Sungguh suatu pemikiran yang aneh! Apakah mungkin
Paulus memanggil orang-orang percaya untuk berusaha menandingi
hal itu (ay.5)?! Lagi pula, adalah mustahil untuk membuat
pernyataan keterlaluan seperti itu terhubung secara berarti dengan
kalimat berikut: “melainkan telah mengosongkan dirinya sendiri,
dan mengambil rupa seorang hamba...” (ay.7). Selanjutnya, jika
Yesus memang sudah setara dengan Allah, maka pernyataan “Itulah
sebabnya Allah sangat meninggikan dia dan mengaruniakan
kepadanya nama di atas segala nama” dst. (ay.9) tidak akan
mempunyai signifikansi atau arti apa pun, karena hal itu tidak akan
menambah apa-apa kepada kedudukan yang sudah dimilikinya.
Oleh karena ayat ini sangat penting untuk trinitarian, dan oleh
karena KJV merupakan satu-satunya versi Alkitab yang umum
dipakai dalam dunia bahasa Inggris selama 300 tahun lamanya (awal
abad ke-17 hingga awal abad ke-20), dan masih cukup berpengaruh
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 319

terhadap banyak orang Kristen saat ini, maka kita perlu
memfokuskan masalah ini dengan lebih tajam lagi.
Di ayat sebelumnya (Flp.2:5) Paulus menasihati orang-orang
percaya agar “kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan
perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. Filipi 2:6 menya-
takan kepada kita apa yang dipikirkan oleh Yesus, yaitu, apa yang
terlintas dalam benaknya. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong
kita belajar berpikir sebagaimana dia berpikir. Oleh karena ayat ini
menggambarkan cara Yesus berpikir dan bersikap, hal ini bisa
disampaikan dengan lebih jelas jika kita mendengarnya dari mulut
Yesus sendiri. Mari kita coba memahami pikirannya yang
digambarkan dari dua sudut pandang yang berbeda: (1) bahwa ia
adalah Allah; (2) bahwa ia bukan Allah.
Hal apa yang muncul ketika Filipi 2:6 dibaca dari sudut pandang
pertama? (1) Yesus adalah Allah, dan ia berpikir: Aku tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah itu perampasan. Apakah yang
dinyatakan oleh pemikiran seperti ini tentang sikap dan
karakternya? Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
perampasan karena ia beranggapan itu adalah milik yang menjadi
haknya? Namun sekalipun jika itu memang milik yang menjadi
haknya, lantas mengapa muncul gagasan perampasan? Bukankah itu
mengemukakan suatu sikap permusuhan terhadap Allah? Setidak-
tidaknya, cara berpikir seperti itu mengemukakan adanya unsur
kesombongan. (2) Jika Yesus bukan Allah, tetapi mengungkapkan
pikirannya seperti berikut: Aku tidak menganggap kesetaraan
dengan Allah itu perampasan, apa yang dapat kita pelajari dari
“pikiran” semacam itu? Bukankah itu dengan gamblang
menunjukkan bahwa merampas kesetaraan dengan Allah tidak
dipandang sebagai perampasan olehnya; itu bagi dia suatu tindakan
yang wajar, bukan pemberontakan!
Sekarang seharusnya jelas bahwa pernyataan dalam KJV ini
sebenarnya mengungkapkan semacam pemberontakan spiritual.
320 The Only True God

Kalimat KJV itu justru mengungkapkan kebalikan dari maksud
Paulus dalam menasihati umat beriman untuk berpendapat bahwa
Yesus tidak pernah berpikiran untuk merampas kesetaraan dengan
Allah; sebaliknya ia memilih status seorang hamba (budak, doulos),
dan taat sampai mati.
Apa sebenarnya yang diungkapkan oleh terjemahan KJV? Pikiran
yang tertuang di sini pada hakikatnya adalah pikiran si Iblis, yang
senantiasa bertujuan untuk merampas kesetaraan dengan Allah,
sesungguhnya, untuk meninggikan dirinya di atas takhta Allah,
sekiranya mungkin, dan yang ambisinya disampaikan dalam kata-
kata “Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku
mengatasi bintang-bintang Allah… hendak menyamai Yang
Mahatinggi” (Yes.14:13,14). Bagaimana bisa pemikiran Iblis diizin-
kan diam-diam merayap masuk ke dalam ayat ini dan dikaitkan
dengan Kristus!?
Tidak kurang seriusnya adalah masalah ini: Mengapa sebagai
trinitarian kita sama sekali tidak mendeteksi masalah mengerikan
dalam penerjemahan ayat ini? Bukan saja kita tidak melihat
masalahnya, tetapi kita selalu menggunakannya untuk
“membuktikan” bahwa “Yesus adalah Allah”. Sekarang saya baru
sadar bahwa apa yang telah dilakukan oleh trinitarianisme justru
diungkapkan dengan sempurna dalam terjemahan ini.
Trinitarianisme telah merampas dari Yahweh Allah kedudukan-Nya
sebagai Sasaran tertinggi dari iman kita. Trinitarianisme telah
mengesampingkan Dia untuk memberikan kedudukan itu kepada
Yesus yang diangkatnya ke tingkat keilahian, menyetarakan dia
dengan Allah. Dan tak satu pun dari semua ini dianggap sebagai
perampasan! Dengan kata lain, terjemahan Filipi 2:6 oleh KJV ini
dengan sempurna mengungkapkan pemikiran dan mentalitas
trinitarianisme. Justru inilah alasannya mengapa kita, sebagai
trinitarian, tidak melihat adanya masalah.
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 321

Kembali ke teks Yunani Filipi 2:6, dan memeriksa kata
harpagmos, yang diterjemahkan sebagai “robbery” (“perampasan”)
oleh KJV, serta mempertimbangkan kata itu dalam cahaya beberapa
leksikon Yunani-Inggris, kita mendapati bahwa hanya BDAG yang
memberikan “perampasan” sebagai salah satu definisi harpagmos.
Akan tetapi, BDAG segera memberi komentar berikut mengenai
definisi itu: “perampasan, nyaris mustahil di Filipi 2:6” dan
menambahkan, “keadaan setara dengan Allah tidak dapat disamakan
dengan tindakan perampasan”. Jadi BDAG menegaskan bahwa
persamaan ini tidak masuk akal. Itulah sebabnya mengapa
kebanyakan terjemahan Inggris tidak menggunakan kata seperti
“perampasan” 11 dan tidak menyusun kalimatnya seperti KJV.
Dengan demikian, mereka bukan saja mengamankan kalimat
tersebut dari absurditas tetapi juga dari apa yang sepantaskan
disebut sebagai pemberontakan rohaniah.
Trinitarian menolak untuk menghadapi kenyataan bahwa ayat ini
jelas-jelas menyatakan Yesus bukan Allah, dan ia tidak berusaha
(tidak seperti Adam dan Hawa) merampas kesetaraan dengan Dia.
Tak mengherankan, beberapa trinitarian, tidak segan-segan pergi
sejauh menerjemahkan kata harpagmos menjadi kurang lebih seperti
berikut: ia tidak “berpegang pada” atau “mempertahankan” 12 .
Namun kata Yunani harpagmos tidak menerima pemutarbalikan
seperti itu. Berikut ini adalah maknanya menurut BDAG Greek-
English Lexicon, “1. penyitaan harta milik dengan kekerasan,
perampasan 2. sesuatu yang dapat diklaim atau dituntut dengan

11
Sebenarnya ini bukan kata yang lazim untuk perampasan dalam bahasa
Yunani; Woodhouse's English-Greek Dict. memuat harpagē sebagai padanan
kata dari “perampasan”, bukan harpagmos.
12
“(Yesus) yang, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap
kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan”
(Flp.2:6).
322 The Only True God

mencengkeram atau menggenggam”; tetapi mengenai definisi
kedua ini, Lexicon mengakui bahwa “Makna tersebut tidak dapat
dikutip dari kesusastraan non-Kristen, tetapi secara gramatikal dapat
dibenarkan”. Definisi yang kedua itu tidak diberikan dalam leksikon
Yunani-Inggris otoritatif lain seperti Liddell and Scott, atau Thayer.
Makna utama kata harpagmos, “perampasan”, adalah merampas apa
yang bukan milik kita. Makna kedua yang diberikan BDAG
bertujuan untuk meniadakan sifat kekerasan dari tindakan
“perampasan”, dan membuatnya merujuk semata-mata kepada
pengklaiman sesuatu dengan mencengkeram atau
menggenggamnya. Namun makna yang telah diperlunak ini tidak
membuang fakta bahwa yang dimaksud adalah menggenggam
sesuatu yang bukan milik orang yang menggenggam.
Semua ini menunjukkan bahwa makna Filipi 2:6 sangat jelas: ayat
ini menyatakan kebalikan persis dari apa yang coba dibuktikan oleh
trinitarianisme dari ayat ini. Apa yang dikatakan oleh ayat ini adalah
bahwa Yesus, sekalipun sebagai gambaran Allah yang tertinggi, “ada
dalam rupa Allah”, tidak berusaha merampas atau mengklaim
kesetaraan dengan Allah. Ia sama sekali bertolak-belakang dengan
Adam. Ia tidak berbuat dosa seperti halnya Adam. Sebagai manusia
sempurna ia bisa menggenapi peran luhur sebagai Juruselamat
dunia.
Jauh dari keinginan mengklaim kesetaraan dengan Allah, ia
“mengosongkan” (kenoō) dirinya. Mengingat pembahasan
terdahulu, kita tidak perlu membuang waktu membahas spekulasi
trinitarian tentang Yesus yang ditengarai mengosongkan dirinya
dari hak-hak prerogatif ilahinya di alam pra-eksistensi. Jika mereka
lebih memperhatikan apa sebenarnya yang dikatakan oleh nas ini,
alih-alih berupaya sekuat tenaga membacakan penafsiran mereka
sendiri ke dalam teks, mereka akan melihat bahwa makna
“mengosongkan dirinya” dijelaskan dalam himne ini melalui
paralelisme puitis yang ditemukan tepat di kalimat berikutnya: “ia
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 323

merendahkan dirinya” (Flp.2:7), yang merupakan padanan puitis
dari “mengosongkan dirinya”.
Dengan menolak merebut, atau bahkan mengklaim, kesetaraan
dengan Allah (berkontras tajam dengan Adam dan Hawa), Yesus
dengan demikian ditetapkan sebagai gambaran Allah par excellence.
Namun ia pergi lebih jauh daripada tidak mengklaim kesetaraan itu.
Karena meskipun Yesus di dalam Hikmat Allah “menjadi sama
dengan manusia” (Flp.2:7; bdk. Mat.11:19; Luk.7:35; 11:49)—dan
menurut Yohanes 1:14 Firman itu (Logos) berinkarnasi di dalam
manusia Yesus (“dalam keadaan sebagai manusia”, Flp.2:7), sesuatu
yang disadari oleh Yesus, sebagaimana terlihat di Injil Yohanes—
namun “ia telah merendahkan dirinya dan taat sampai mati, bahkan
sampai mati di kayu salib” (Flp.2:8).

Maksud Filipi 2:6-8 yang praktis
Di dalam menafsirkan “himne Kristus” ini (Flp.2:6-11), trinitarian
tidak mengindahkan alasan mengapa Rasul Paulus menempatkan
himne itu dalam suratnya kepada jemaat di Filipi ini. Namun
tujuannya dinyatakan secara eksplisit di kalimat sebelum himne itu:
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan
perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (ay.5). Himne ini
tidak ditempatkan di tengah-tengah wacana teologis. Tujuan
utamanya adalah untuk menunjuk kepada Yesus sebagai teladan
untuk ditiru oleh setiap orang beriman. Oleh karena itu, tujuan
Paulus sangatlah praktis. Ia di sini tidak bermaksud mengajarkan
apa yang oleh teologi kemudian hari disebut “Kristologi”; dan jika
pendapat umum para sarjana itu benar, yaitu Paulus di sini tengah
mengutip himne yang digunakan dalam gereja awal, maka ia bukan
pengarang himne itu, tetapi hanya mengutipnya karena sangat cocok
dengan tujuan praktis yang ada dalam benaknya.
324 The Only True God

Kita telah menyimpang dari tujuan awal seluruh nas ini ketika
kita hanyut ke dalam spekulasi-spekulasi teologis, sementara
melupakan panggilannya untuk menjalani kehidupan seperti
Kristus. Namun jika Kristus itu Allah menurut nas ini, bagaimana
tepatnya ia dapat berfungsi sebagai teladan untuk manusia? Kita
tidak memiliki “hak-hak prerogatif ilahi” untuk ditanggalkan, dan
sesungguhnya kebanyakan orang tidak memiliki hak prerogatif yang
nyata atau bahkan istimewa untuk dilepaskan. Sebagian orang yang
termasuk dalam kelas terpandang mungkin bisa memilih untuk
melepaskan sebagian dari hak istimewa mereka, tetapi bagaimana
dengan mayoritas orang? Penerapan praktis seperti apa yang ada di
benak Paulus, mengingat kebanyakan orang beriman pada masanya
bisa digolongkan sebagai “orang biasa”?
Di sinilah kaitan penting antara Filipi 2:17 (“dicurahkan”) dan 2:7
sering dilewatkan, walaupun kaitan semantis antara “dikosongkan”
(kenoō) dan “dicurahkan” (spendomai) seharusnya cukup jelas,
karena sebuah bejana yang telah dicurahkan akan menjadi kosong.
Paulus selalu memastikan ia mengajar melalui teladan; apa yang
dikatakannya tentang Kristus di 2:7 ia terapkan kepada dirinya
sendiri dalam lingkup 10 ayat!
Namun sama pentingnya juga, Filipi 2:17 menerangkan makna
ay.7, karena dalam terang inilah makna “mengosongkan dirinya”
menjadi jelas, terlebih lagi karena, maknanya diterangkan di ay.8, “ia
telah merendahkan dirinya dan taat sampai mati”. Ketaatan sampai
mati inilah, pencurahan diri inilah yang tepatnya ditiru oleh Paulus
dalam kesiapannya untuk membiarkan darahnya dicurahkan demi
Allah dan jemaat-Nya. Di 2Timotius 4:6, ia “sudah mulai dicurahkan
(spendomai, kata yang sama di Flp.2:17)… saat kematianku sudah
dekat”. Tujuan praktis yang hendak ditekankan oleh Paulus di Filipi
2 dapat diringkas oleh perkataan berikut, “Ikutilah teladanku, sama
seperti aku juga mengikuti teladan Kristus” (1Kor.11:1).
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 325

Seharusnya jelas sekarang bahwa spekulasi trinitaris tentang
Yesus yang “mengosongkan” diri dari keilahiannya, atau dari hak-
hak prerogatifnya, adalah gagasan yang dibacakan ke dalam teks dan
secara praktis mustahil untuk diteladani. “Hendaklah kamu dalam
hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat
juga dalam Kristus Yesus” (Flp.2:5). Lagipula, sekalipun kata
“mengosongkan” di sini tidak merujuk kepada hak-hak ilahi,
melainkan kepada hak-hak manusia saja, nyaris tidak ada apa-apa
yang dapat ditiru oleh jemaat Filipi, karena mereka termasuk dalam
kelas sosial yang lebih rendah (seperti halnya kebanyakan orang
beriman pada masa itu, 1Kor.1:26), dan pada umumnya sangat
miskin (2Kor.8:2). Hak-hak apa yang mereka miliki yang bisa
mereka kosongkan? Akan tetapi, mereka bisa setia dan taat sampai
mati (Why.2:10); mereka bisa “dicurahkan” sama seperti Paulus
(2Tim.4:6; Kis.20:24). Paulus menulis surat ini dari dalam penjara,
dan ia selalu hidup dengan prospek maut di ambang pintu demi
Injil. Orang-orang beriman pun, selalu hidup di bawah ancaman
ataupun realitas penganiayaan. Oleh karena itu, Paulus berseru
kepada orang-orang beriman untuk mengenang teladan Kristus,
yang sekarang diteladankan untuk mereka dalam kehidupannya
sendiri.

Filipi 2:6-11

P enafsiran trinitaris atas nas ini didasari oleh penafsiran trinitaris
atas Yohanes 1:1. Jadi Filipi 2:6 dianggap merujuk kepada Logos
pra-eksisten yang ditafsirkan sebagai Allah-Anak. Buang asumsi
tersebut maka penafsiran Filipi 2:6 dalam istilah Yesus Kristus yang
pra-eksisten tidak akan dapat bertahan karena itu bergantung pada
persamaan Logos = Yesus Kristus yang keliru, yang sebagaimana
telah kita lihat, tidak berdasar dalam Injil Yohanes.
326 The Only True God

Lagipula, surat Filipi ditulis sebelum Injil Yohanes (menurut
pendapat kebanyakan sarjana, sekitar 30 tahun sebelum Yohanes),
jadi apakah ada alasan untuk berpikir bahwa jemaat di Filipi
memahami surat Paulus kepada mereka dalam istilah Yohanes 1:1,
apa lagi penafsiran trinitaris atasnya? Mereka telah diajar oleh Rasul
Paulus secara personal; di manakah dalam ajarannya ia berbicara
tentang Kristus yang pra-eksisten? Dan tidak ada apa-apa dalam nas
Filipi ini yang mengharuskannya dipahami dalam istilah pra-
eksistensi. Pra-eksistensi dibacakan ke dalam teks, bukan keluar dari
teks (eisegesis, bukan eksegesis). Dan ini termasuk istilah “rupa
Allah” sebagaimana dipahami oleh trinitarianisme.
Sekalipun kita berusaha menafsirkan Filipi 2 dengan Hikmat yang
pra-eksisten, kita tetap akan terbentur dengan pertanyaan:
Kapankah Hikmat pernah berusaha merampas kesetaraan dengan
Allah? Tak satu pun “entitas” metaforis lain seperti Taurat atau
Logos pernah berbuat hal itu. Ini berarti sekalipun Kristus dianggap
sebagai Logos yang pra-eksisten di Filipi 2:6, tindakan merampas
kesetaraan dengan Allah ditinggalkan tanpa titik acuan. Fakta
gamblangnya adalah hanya Adam saja yang melalui
ketidaktaatannya berbuat hal semacam itu, dan hanya Adam saja
yang relevan dengan kristologi Paulin di mana Kristus adalah
“manusia kedua” (1Kor.15:47), “Adam yang terakhir” (1Kor.15:45).

Filipi 2:6-8
Sebagai trinitarian yang dibesarkan dalam doktrin dosa asali dan
kebejatan total, kita benar-benar bingung bagaimana memahami
pernyataan Paulus bahwa manusia “menyinarkan gambaran dan
kemuliaan Allah” (1Kor.11:7). Kata “menyinarkan” dalam teks
Yunani ada dalam kala masa kini, bukan kala masa lalu (yaitu
sebelum “Kejatuhan Manusia”)! Tentu saja, kita tidak punya alasan
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 327

untuk mengatakan bahwa Paulus telah membuat kesalahan, ataupun
adanya bukti kesalahan dalam tradisi tekstual.
Seandainya Paulus hanya berkata “manusia menyinarkan gamba-
ran Allah”, itu sudah cukup bermasalah, karena menurut doktrin
dosa asali gambaran itu setidaknya telah ternoda, atau bahkan sama
sekali hancur, sebagai akibat dari dosa Adam. Namun Kitab Suci
mengatakan lebih jauh dengan pernyataan “berlaras dua” bahwa
manusia adalah “gambaran dan kemuliaan Allah”. Hal itu
seharusnya meninggalkan doktrin kita dalam keadaan berantakan,
tetapi tanpa rasa takut, kita mengabaikan Kitab Suci (seperti
biasanya) ketika Kitab Suci bertentangan dengan doktrin kita.
Seandainya kita tidak mengabaikan Kitab Suci kita tidak akan
mengalami kesulitan untuk memahami istilah “rupa Allah” di Filipi
2:6-11; sebab “rupa Allah” adalah istilah yang tidak muncul di
tempat lain dalam Alkitab, tetapi merupakan cara yang pantas untuk
berbicara tentang “gambaran dan kemuliaan Allah” dalam bahasa
puitis, seperti dalam lagu atau himne. Hal ini akan dibahas lebih
lengkap di bawah ini.
Allah itu Roh (Yoh.4:24), dan oleh karena itu, tidak memiliki
bentuk yang terlihat oleh mata jasmani. Namun Ia membuat Dirinya
“kelihatan” dengan menyatakan kemuliaan-Nya. Kitab Suci
berulang-kali berbicara tentang kemuliaan-Nya yang kelihatan:
Kel.16:10; Im.9:23; Bil.14:10; 16:19,42; 20:6; Mzm.102:16; Yeh.1:28;
3:23; 8:4; Kis.7:2,55. Jadi kemuliaan-Nya adalah “bentuk,
penampilan luar”-Nya yang kelihatan, yang adalah arti kata morphē.
Jadi Kristus sebagai manusia dan, oleh sebab itu, sebagai “gambaran
dan kemuliaan Allah” (1Kor.11:7) ada “dalam rupa Allah” untuk
menyatakan Allah kepada dunia—Ia adalah “terang dunia”
(Yoh.8:12; 9:5; tentang orang percaya, Mat.5:14).
Mempertimbangkan lebih jauh pertanyaan tentang “keadaan tak
nampak” dan “rupa” ketika berbicara tentang Allah, kita mungkin
menanyakan: Mengapa Allah dikatakan “tak nampak” (1Tim.1:17)?
328 The Only True God

Bukankah karena Allah sebagai Roh (Yoh.4:24) tidak memiliki
“rupa”? Lantas, bagaimana orang dapat berbicara tentang “rupa
Allah”? Pilihan kita hanya dua: “rupa” dimengerti sebagai “gam-
baran”, atau, istilah “rupa Allah” merupakan sebuah kontradiksi-
diri. Secara eksegetis, kita hanya ada pilihan pertama. Sebagaimana
telah kita catat sebelumnya, istilah “rupa Allah” tidak muncul di
mana pun dalam Kitab Suci selain dalam frasa puitis di Filipi 2:6 ini.

Filipi 2:
6
(Kristus), yang meskipun ada dalam rupa Allah, tidak men-
ganggap bahwa menjadi setara dengan Allah adalah sesuatu
yang harus dirampas. (MILT)
7
melainkan telah mengosongkan dirinya sendiri, dan
mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan
manusia.
8
Dan dalam keadaan sebagai manusia, ia telah merendahkan
dirinya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu
salib.

Nas penting ini sudah disinggung beberapa kali sebelumnya dalam
buku ini. Di sini kita akan membuat beberapa pengamatan lebih
jauh:
Ada dua hal dalam penafsiran nas ini yang selalu diabaikan atau
kurang dihargai, dan yang oleh sebab itu, berakibat pada kesalah-
tafsiran:
(1) Nas ini adalah tentang “Kristus Yesus” (Flp.2:5) di mana “Kristus
(Mesias)” ditempatkan pada posisi penegas di depan “Yesus” 13. Jadi
seluruh nas Filipi ini merujuk kepada Yesus sebagai sang Mesias.

13
“Kristus Yesus” muncul 95 kali dalam PB, “Yesus Kristus” 135 kali,
sedangkan “Yesus” 917 kali.
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 329

Masalahnya ialah gelar “Mesias” ini nyaris tidak berarti apa-apa bagi
seorang non-Yahudi dan itu sebabnya ia membaca “Kristus” (bentuk
Yunani dari “Mesias”) sebagai sebuah nama personal. Rasul Paulus
adalah seorang Yahudi dan tentunya ia tidak berpikir tentang
“Kristus” sebagai semacam nama personal. Bagi dia, sebagaimana
kebanyakan orang Yahudi pada masanya, gelar “Mesias” mengan-
dung signifikansi sebagai penyelamat/raja yang dinanti-nantikan.
Namun kaum Yahudi tidak berpikir tentang Mesias sebagai pribadi
ilahi. Pentingnya gelar “Kristus” untuk Paulus dapat dilihat dari
perbandingan statistik:
Dalam surat yang relatif pendek seperti surat Filipi ini, Christos
(Mesias, Kristus) muncul 37 kali dalam 104 ayat (35,6% atau rata-
rata lebih daripada satu kali per 3 ayat); di Roma kata itu muncul 65
kali dalam 432 ayat (15,04% atau rata-rata satu kali per 6,6 ayat);
bandingkan dengan Yohanes: 18 kali dalam 878 ayat (2,05% atau
satu kali per 48,7 ayat), dan Matius 16 kali dalam 1068 ayat (1,49%
atau satu kali per 66,7 ayat). Secara statistik, gelar “Mesias” atau
“Kristus” jauh lebih sering muncul dalam surat Filipi dibandingkan
dengan kitab lain; dari segi persentase, dua kali lebih banyak
daripada surat Roma. Hal ini jelas menandakan bahwa penekanan
pada Kristus sebagai sang Mesias, juruselamat dan raja yang
diharapkan manusia, merupakan sebuah kunci untuk memahami
Filipi 2:6-11.
Kata Ibrani “Mesias” (Yunani, “Kristus”) berarti “yang diurapi”.
Untuk menjelaskan pentingnya gelar ini saya akan mengutip dari
ISBE [International Standard Bible Encyclopedia]:

‘Istilah tersebut digunakan dalam Perjanjian Lama untuk para
raja dan imam, yang ditahbiskan untuk memegang jabatan
melalui upacara pengurapan. Diterapkan kepada imam hanya
sebagai kata sifat—“imam yang diurapi” (Im.4:3,5,16; 6:22
(Ibrani 15)). Pemakaian substantifnya terbatas pada raja; dia
330 The Only True God

saja yang disebut “yang diurapi TUHAN,” mis. Saul
(1Sam.24:6,10 (Ibrani 7,11), dst.); Daud (2Sam.19:21 (Ibrani
22); 2Sam.23:1, “yang diurapi Allah Yakub”); Zedekia
(Rat.4:20). Dengan cara yang sama, raja di kitab Mazmur
ditandai oleh “milikku,” “milikmu,” “yang diurapinya.”’
(Cetak miring ditambahkan)

Perhatikan kata-kata yang tercetak miring dalam kutipan di atas,
yang ketika dikenakan kepada “Mesias Yesus” (Flp.2:5) berarti Yesus
adalah raja yang diurapi Yahweh. Lagi-lagi mengutip ISBE: “Sang
Mesias adalah alat pilihan yang olehnya kerajaan Allah akan
didirikan di Israel dan di dunia.” Kenyataan ini menerangkan
mengapa setiap lutut harus bertelut kepada Yesus dan setiap lidah
mengakuinya Tu[h]an bagi kemuliaan Allah sang Bapa (Flp.2:9-11).
Jelas untuk alasan ini Yesus adalah “yang diurapi TUHAN”, “raja di
atas segala raja” (Why.17:14).
Adalah suatu fakta yang teruji secara historis bahwa raja-raja
memiliki kecenderungan mengklaim keilahian dan/atau didewakan
oleh orang lain. Nebukadnezar adalah salah satu contoh dalam PL,
dan Herodes Agripa I adalah sebuah contoh yang tercatat dalam PB
(Kis.12:21dyb.). Penuhanan dan/atau penuhanan-diri para kaisar
Romawi pun terkenal luas. Kaisar-kaisar Cina disebut “anak-anak
surga”. Justru hal inilah yang enggan dilakukan oleh Kristus/Mesias
Yesus (Flp.2:6).
Adam pun seorang raja karena seluruh dunia diberikan
kepadanya sebagai wilayah pemerintahannya (Kej.1:28). Hikayat
Yahudi memberikan gambaran berlebihan tentang kebesaran Adam
baik dari segi fisik maupun kuasa adikodrati. Namun ia jatuh karena
menyerah kepada keinginan sesat untuk “menjadi seperti Allah”
(Kej.3:5).
Tidak seperti Adam, Yesus, sang manusia baru, raja Mesianik
yang diurapi Allah, enggan merampas kesetaraan dengan Allah.
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 331

Sebaliknya, ia merendahkan dirinya dalam ketundukan total kepada
Bapa, Yahweh, dan “taat sampai mati” (Flp.2:8). Ia memperlihatkan
suatu prinsip rohani yang mendasar tentang kerajaan Allah: yaitu
kebesaran rohaniah bukanlah soal merebut kemuliaan untuk diri
sendiri melainkan soal melayani orang lain, sebab “yang terbesar
dalam kerajaan adalah pelayan dari semua” (Mat.23:11; Luk.22:26).
Oleh sebab inilah Allah meninggikan dia di atas segalanya.
(2) Seluruh nas itu adalah puisi: sebuah kidung tentang
Kristus/Mesias Yesus sebagai “Manusia Kedua” (1Kor.15:47).
Kebanyakan orang memiliki terlalu sedikit pemahaman akan ciri-
ciri puisi. Ini menyebabkan puisi dibaca sebagai prosa, dan bahasa
puitis dibaca sebagai pernyataan-pernyataan harfiah. Banyak
terjemahan Inggris membantu pembaca membedakan puisi dari
prosa dengan mencetak puisi dalam bentuk bait. Mereka yang
memiliki Alkitab seperti itu dengan segera akan melihat bahwa
sebagian besar dari PL, terutamanya kitab Mazmur dan sebagian
dari kitab para nabi, dicetak dalam bentuk bait.
Filipi 2:6-11 umumnya dianggap sebagai sebuah himne yang
digabungkan ke dalam surat tersebut oleh Paulus dan, dengan
demikian, adalah puisi. Akan tetapi, nas itu sering ditafsirkan
sebagai pernyataan-pernyataan prosa. Bayangkan apa yang terjadi
bila puisi dibaca sebagai prosa di Yehezkiel 28:
12
Hai anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai raja
Tirus dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan
Yahweh: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat
dan maha indah.
13
Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu
permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau,
permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan
malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan
disediakan pada hari penciptaanmu.
332 The Only True God

14
Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung
kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-
batu yang bercahaya-cahaya.
15
Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari
penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu.
16
Dengan dagangmu yang besar engkau penuh dengan
kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Kubuangkan
engkau dari gunung Allah dan kerub yang berjaga
membinasakan engkau dari tengah batu-batu yang bercahaya.
17
Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumus-
nahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada
raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya.
18
Dengan banyaknya kesalahanmu dan kecurangan dalam
dagangmu engkau melanggar kekudusan tempat kudusmu.
Maka Aku menyalakan api dari tengahmu yang akan
memakan habis engkau. Dan Kubiarkan engkau menjadi abu
di atas bumi di hadapan semua yang melihatmu.
19
Semua di antara bangsa-bangsa yang mengenal engkau kaget
melihat keadaanmu. Akhir hidupmu mendahsyatkan dan
lenyap selamanya engkau.
Nas ini berbicara tentang raja negeri Tirus. Seorang raja Tirus lain
bernama “Hiram” disebut sebelumnya dalam PL sebagai orang yang
membantu menyediakan kayu aras untuk pembangunan Bait Suci
pertama (2Sam.5:11; 1Raj.5:1; dst.). Usaha untuk mengartikan nas
dalam kitab Yehezkiel ini sebagai pernyataan-pernyataan harfiah
berarti tidak ada manusia yang cocok dengan gambaran yang
diberikan, sehingga nas ini diterapkan kepada Iblis.
Ada banyak masalah dengan gagasan ini, sebab tidak di mana pun
dalam Alkitab Iblis secara khusus terkait dengan Tirus, apalagi seba-
gai rajanya. Untuk masalah interpretatif lainnya, kita dapat merujuk
kepada buku tafsiran yang lebih terpelajar atau bahkan tafsiran
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 333

populer seperti The Expositor’s Commentary, yang menolak mene-
rapkan nas itu kepada Iblis atas alasan-alasan eksegetis.
Masalah yang sama muncul ketika kita mengartikan setiap
pernyataan, atau bahkan setiap kata, di Filipi 2:6-11 secara harfiah.
Hal ini dilakukan bahkan oleh para sarjana yang menyadari (atau
seharusnya menyadari) fakta bahwa nas ini adalah puisi. Mereka
bahkan tidak mengajukan pertanyaan mendasar: “Jika ini adalah
pernyataan-pernyataan harfiah, lantas mengapa ada dalam bentuk
puitis?” Tentu saja, ini bukan berarti pernyataan faktual atau harfiah
tidak dapat dibuat dalam puisi, tetapi hanya saja ketika pernyataan-
pernyataan itu dievaluasi, fakta bahwa mereka ditulis sebagai puisi
tidak boleh diabaikan. Tak pelak apa yang dikatakan di Yehezkiel
28:12dyb. mengandung kenyataan, tetapi dinyatakan dalam bahasa
puitis yang berbunga, dan ketika bahasa berbunga dimengerti secara
harfiah, maka dianggaplah rujukannya itu kepada makhluk
supranatural.
Prof. James D.G. Dunn, dalam The Theology of Paul the Apostle
menulis, “Debat panas masih berlanjut seputar himne ini. Namun
demikian, usulan bahwa himne itu telah dikarang dengan kiasan
kuat kepada Adam atau bahkan dimodelkan pada template kristologi
Adam masih meyakinkan.” (Paul, hlm.282.)
“Tentang sifat kiasan” Dunn menulis,

“Sebab kenyataannya adalah terlalu banyak dari perdebatan
eksegesis seputar nas ini memperlihatkan ketidakpekaan artis-
tik atau sastra. Sebagaimana sempat kita amati lebih dari sekali
dalam kajian ini, kiasan-kiasan pada dasarnya tidak
dinyatakan secara eksplisit. Para pujangga atau kritikus sastra
yang harus menerangkan setiap kiasan dan gema akan
melemahkan seni mereka dan para pembacanya yang lebih
perseptif akan kehilangan momen pencerahan, sensasi
334 The Only True God

pengenalan. Keahlian artistik mereka akan diturunkan ke
tingkat salinan catatan untuk ujian sekolah menengah.

“Jadi dengan Paulus khususnya, kita sudah mengemukakan
sejumlah kiasan kepada berbagai tradisi Yesus. Dan kita sudah
mencatat kiasan-kiasan (yang nyaris tidak eksplisit) kepada
Adam di Roma 1:18-25 dan 7:7-13; tentunya, jika analisa kita
yang sebelumnya tentang kristologi Paulus dapat dibenarkan,
maka Adam merupakan sosok yang ada di balik banyak
pengteologian Paulus. Untuk membuat pengenalan akan
sebuah kiasan bergantung pada ketepatan makna istilah
tertentu akan bertentangan dengan seni kiasan. Sebaliknya,
kekurangakuratan makna suatu istilah atau gambaran multi-
faset dari sebuah metaforalah yang seringkali memampukan
interkoneksi atau loncatan imaginatif, yang merupakan bahan
kiasan. Pentingnya hal tersebut harus diulangi: eksegesis atas
istilah-istilah tertentu yang bersikeras hanya pada satu makna
referensial untuk setiap istilah dan menyangkal semua ke-
mungkinan lain akan menjadi eksegesis yang salah karena
telah menyempitkan makna (eksegesis “either-or”) dan
mengesampingkan pertalian-pertalian yang mungkin ingin
ditimbulkan oleh sang pengarang justru dengan memakai
serangkaian istilah-istilah yang evokatif seperti itu. Nyaris
tidak perlu dikatakan bahwa pertimbangan-pertimbangan
hermenetis seperti itu mengandung relevansi khusus bilamana
nas yang bersangkutan adalah sebuah puisi atau sebuah
himne. Relevansi dari pengamatan ini dalam hal ini akan
menjadi jelas seraya kita melanjutkan.

“Di dalam menilai Filipi 2:6-11 tidak terlalu sulit untuk
mengidentifikasi empat atau lima titik kontak dengan tradisi
dan kristologi Adam.

“2:6a—dalam rupa Allah;
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 335

(Bdk. Kej.1:27—“menurut gambar-Nya.”)
“2:6bc—dicobai untuk merampas kesetaraan dengan Allah;
(Bdk. Kej.3:5—“kamu akan menjadi seperti Allah.”)
“2:7—mengambil rupa seorang hamba [kepada kebinasaan
dan dosa];
(Bdk. Hik.2:23; Rm.8:3,18-21; 1Kor.15:42,47-49; Gal.4:3-4;
Ibr.2:7a,9a,15.)
“2:8— taat sampai mati;
(Bdk. Kej.2:17; 3:22-24; Hik.2:24; Rm.5:12-21; 7:7-11;
1Kor.15:21-22.)
“2:9-11—ditinggikan dan dimuliakan.
(Bdk. Mzm.8:5b-6; 1Kor.15:27,45; Ibr.2:7b-8,9b.)”

(Paul, hlm.283-4 dan catatan kaki 78-82)

Mengenai Filipi 2:6a Dunn menulis,

‘Himne tersebut memakai istilah “rupa (morphē)”, bukan
istilah yang dipakai di Kejadian 1:27, “gambaran (ikōn).” Akan
tetapi, dalam sebuah pembahasan yang melibatkan kiasan,
argumen [keberatan] itu tidak berbobot. Istilah-istilah tersebut
dipakai sebagai sinonim, dan tampaknya si penulis lebih
menyukai “rupa Allah” karena istilah itu bersejajaran dan
berkontras dengan “rupa seorang hamba.” Justru fungsi ganda
dari sebuah istilah yang demikianlah yang bisa diharapkan
dalam gaya puitis.’ (The Theology of Paul the Apostle, 284-285)

Perbandingan leksikal antara “rupa” dengan “gambar”
Filipi 2:6: “rupa”, μορφή, morphē, “rupa, penampilan luar, bentuk”,
BDAG. Selain Filipi 2:6,7, hanya di Markus 16:12 saja kata itu berarti
rupa yang berbeda tetapi kelihatan.
336 The Only True God

Mari kita bandingkan definisi kata morphē (“rupa”) ini dengan
definisi kata eikōn (“gambar”) yang diberikan BDAG sebagai
berikut: “1. kemiripan, potret, 2. gambaran hidup, 3. rupa,
penampilan”.
Kesamaan maknanya jelas terlihat. Ini berarti “rupa Allah” secara
semantik sama dengan “gambar Allah” karena hanya jika Kristus ada
dalam “rupa Allah” barulah ia bisa menjadi “gambar Allah yang
tidak kelihatan” (Kol.1:15; 2Kor.4:4). Yesus telah membuat Allah
yang tidak kelihatan menjadi kelihatan. Makna “gambaran Allah” di
2Korintus 4:4 dijelaskan dua ayat kemudian, yaitu “kemuliaan Allah
yang tampak pada wajah Kristus” (2Kor.4:6). Dengan demikian,
“gambaran” dan “kemuliaan” lagi-lagi dikaitkan bersama-sama.

Kesalahtafsiran yang diakibatkan oleh dogma trinitaris

N amun doktrin kebejatan total manusia telah membutakan kita
dari melihat bahwa “rupa Allah” merupakan cara puitis yang
ekspresif untuk berbicara tentang manusia sebagai “gambaran dan
kemuliaan Allah” (1Kor.11:7). Akibatnya, kita sebagai trinitarian
berjerih untuk “membuktikan” keilahian Kristus dari “rupa Allah”.
Akhirnya kita memutuskan bahwa lebih mudah untuk tidak berjerih
mengejar suatu usaha yang sia-sia; dan lebih baik begitu saja
menganggap “rupa Allah” sebagai “Allah”, sekalipun kita tidak dapat
membuktikan persamaan itu. Toh kebanyakan orang Kristen adalah
trinitarian, jadi apa perlunya bukti? Bagaimanapun juga, kita hanya
“berkhotbah kepada orang-orang yang sudah percaya”.
Untuk alasan ini juga, kami tidak akan mengomentari beberapa
tafsiran atas ayat ini karena sulit dipercaya bila apa yang tertulis di
situ dapat dianggap sebagai karya kesarjanaan berbobot, dengan
demikian penilaian apa pun atas tafsiran-tafsiran tersebut akan
tampak kasar. Untuk mengilustrasikan hal ini, sebuah tafsiran
terpelajar (The Expositor’s Greek Testament), meskipun tidak dapat
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 337

menentukan makna morphē (rupa) selain sesuatu yang diakuinya
hanya sebuah “kemungkinan”, tetap menyimpulkan tanpa bukti
dalam kalimat berikutnya bahwa “Maksud dia (Paulus), tentu saja
[!], dalam arti paling tegas [!] adalah bahwa Kristus yang pra-
eksisten itu Ilahi” (tanda seru dari saya). Frasa “tentu saja”,
meskipun tidak berhubungan, begitu saja digunakan untuk
mendukung pendapat mereka karena kurangnya bukti. Dengan kata
lain, frasa “tentu saja” digunakan untuk menggantikan bukti yang
dibutuhkan! Dalam bidang studi akademis lain, cara penyajian
seperti ini akan dibuang dengan cibiran.

Tiga sinonim yang penting
Ada tiga kata yang bersinonim dipakai di Filipi 2:6,7:

(1) morphē ay.6,7; “rupa, penampilan luar, bentuk” (BDAG);
satu-satunya contoh lain dalam PB ada di Markus 16:12,
“Sesudah itu ia (Yesus) menampakkan diri dalam rupa yang
lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam
perjalanan ke luar kota.”

(2) schēma, ay.7, “penampilan sesuatu dalam keadaan atau
bentuk yang umum dikenali, penampilan luar, rupa, bentuk”
(BDAG).

(3) homoiōma, ay.7, “keadaan yang serupa dalam penampilan,
gambaran, rupa” (BDAG), di Roma 1:23 dengan rujukan
kepada berhala; dipakai 6 kali di Ulangan 4:16-18, dan dipakai
dengan ikōn (gambaran) di ay.16; di 1Sam.6:5 artinya
“gambar”, lih. juga 1Makabe 3:48.

Dari definisi di atas, kesinoniman antara “rupa” dan “gambar”
dibuat lebih jelas lagi. Ini berarti persamaan makna antara “rupa
Allah” dan “gambar Allah” dapat dibuktikan secara linguistik
338 The Only True God

bahkan tanpa menyebut fakta kiasan. Sebaliknya, secara linguistik
istilah “rupa Allah” sama sekali tidak membuktikan keilahian
Kristus. 14

Kristus, “manusia kedua”, ada dalam rupa dan gambar
Allah

G agasan rupa dan gambaran begitu jelas terkait bahkan dalam
definisi kata morphē itu sendiri hingga nyaris tidak perlu
ditunjukkan sekali lagi bila Rasul Paulus berulang-kali berbicara
tentang Yesus sebagai “gambaran Allah” (2Kor.4:4; Kol.1:15).
Trinitarianisme mengalami kesulitan menerima makna ini di Filipi
2:6 karena trinitarianisme tidak mempunyai banyak pegangan dalam
PB sehingga mereka terpaksa berusaha membuat “rupa Allah”
berarti sesuatu yang dapat digunakan untuk menyangga dogmanya.
Meringkas pembahasan sebelumnya, yang dimaksud di Filipi 2:6-
11 adalah Kristus, “manusia kedua” itu (1Kor.15:47), sama seperti
Adam pertama, ada dalam “rupa” atau “gambaran” Allah, tetapi
tidak seperti yang pertama, ia tidak merampas kesetaraan dengan
Allah atau ingin menjadi “seperti Allah” (Kej.3:5). Sebaliknya, “ia
taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp.2:8), dan
justru inilah caranya ia “dijadikan sempurna” (Ibr.5:9; 7:28),
menjadikan dia manusia sempurna yang diperlukan demi
keselamatan umat manusia.

Penanggalan dini surat Filipi sebagai faktor penting lain

P enanggalan surat Filipi yang relatif dini (th. 63/64 M) perlu
pertimbangan lebih lanjut. Sebagian besar jemaat pada waktu

14
Baca lebih lanjut di Lampiran 8: “Lebih banyak bukti dari Alkitab
Ibrani”.
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 339

itu masih berciri Yahudi dan, dengan demikian, bersifat monoteistik
keras. Paulus memastikan dirinya menjangkau “pertama-tama orang
Yahudi” (Rm.1:16), sehingga baik di Filipi ataupun di kota-kota
lainnya di mana ia berkotbah, orang Yahudi selalu menjadi
“sasaran” penginjilannya yang utama. Gairahnya untuk kaum
sebangsanya, orang Yahudi, diungkapkan dengan jelas di surat
Roma pasal 9-11. Ia lebih peduli dengan keselamatan mereka
daripada keselamatannya sendiri, yang diungkapkannya pada awal
nas itu (khususnya Rm.9:1-3). Dengan demikian, kita dapat
membayangkan dengan semangat macam apa ia berkhotbah kepada
orang Yahudi ke manapun ia pergi, dan permusuhan macam apa
yang ditimbulkan oleh gairah tersebut di beberapa tempat yang ia
kunjungi tercatat baik dalam kitab Kisah Para Rasul maupun dalam
cerita Paulus sendiri di 2Korintus 11:23-27.
Intinya Paulus bukan tengah menulis terutamanya, apalagi secara
eksklusif, kepada orang-orang non-Yahudi seperti yang sering
diasumsikan. Surat-suratnya tentu saja ditujukan kepada kota-kota
dalam dunia berbahasa Yunani, tetapi kota-kota tersebut merupakan
pusat-pusat komersial di mana sejumlah besar pedagang dan ahli
tukang Yahudi tinggal bersama keluarga mereka di situ. Paulus
sendiri adalah seorang Yahudi yang lahir dan dibesarkan di kota
berbahasa Yunani, Tarsus (“kota yang terkenal”, Kis.21:39) dan bela-
jar membuat tenda sebagai keahlian. Dalam menulis kepada orang
Yahudi, Paulus tentunya tidak akan berusaha mengasingkan dan
memusuhi mereka dengan memasukkan di tengah-tengah suratnya
sesuatu yang bertentangan dengan monoteisme (mis. Flp 2:6-11).
Perkumpulan-perkumpulan orang beriman yang disurati Paulus
sebagian besarnya bisa dipastikan berciri Yahudi pada saat ia
menyurati mereka. Dan penanggalan dini dari surat-suratnya
(umumnya dianggap tulisan PB terdini), merupakan bahan
pertimbangan yang mempengaruhi pemahaman kita akan nas Filipi
2 yang tengah kita bahas itu. Setidaknya, “himne pra-Paulin” itu
340 The Only True God

tidak bisa begitu saja diasumsikan tertulis dalam bahasa Yunani dari
semulanya, sebagaimana diperkirakan oleh sebagian sarjana.
Bukannya tidak beralasan untuk mempertimbangkan kemungkinan
bahwa lagu tentang (bukan untuk) Kristus ini ditulis dalam bahasa
Aram atau Ibrani dalam jemaat Yahudi awal, dan kemudian
diterjemahkan oleh seseorang ke dalam bahasa Yunani. Mungkin
juga Paulus sendiri yang menerjemahkannya (setahu saya tak
seorang sarjana pun yang mengemukakan bahwa Paulus sendiri
yang menyusunnya).
Mengingat pengamatan di atas, penting untuk mengingat latar
belakang Semitisnya, terutamanya yang dari PL, karena nas tersebut
penuh dengan kiasan-kiasan kepada nas-nas PL sebagaimana telah
ditunjukkan oleh James Dunn (dikutip di atas). Asal-usul
Semitisnya, termasuk kepengarangan Paulus—kita selalu lupa bahwa
ia adalah seorang Yahudi, dan ia tidak malu mengumumkan dirinya
“orang Ibrani asli”, yang ia nyatakan justru dalam surat Filipi ini
(3:5!)—nyaris “menjamin” monoteisme nas ini. Jika kita masih
berkeras memaksakan penafsiran trinitaris yang politeistis ke dalam
Filipi 2:6dyb. dengan mengklaim bahwa nas itu berbicara tentang
Yesus sebagai “pribadi ilahi kedua”, maka dalam terang semua bukti
yang terkumpul, itu sudah tentu adalah “memalsukan (doloō, juga
memutarbalikkan, menyelewengkan) firman Allah” (2Kor.4:2) untuk
disesuaikan dengan dogma kita.

Kesimpulan

K ita telah memeriksa kata “rupa” sebagaimana digunakan dalam
PL Yunani, yang adalah Alkitab dari bagian jemaat awal yang
berbahasa Yunani. Kita juga telah melihat beberapa kata Ibrani yang
mendasari terjemahan Yunani untuk memperoleh gagasan yang
lebih tepat akan konsep-konsepnya yang diungkapkan oleh kata-
kata itu. Kita telah melihat kata Ibrani tmunah yang dalam PL
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 341

Yunani diterjemahkan sebagai morphē (“rupa”). Fakta bahwa kata
Ibrani ini muncul dalam karya purba seperti kitab Ayub sama sekali
bukan berarti kata ini sudah usang dan maknanya mungkin telah
berubah. Kata yang sama ini (tmunah) dipakai jauh lebih kemudian
dalam sastra rabinik dengan arti yang hampir sama. Sebuah contoh
disajikan dalam karya M. Jastrow Dictionary of the Talmud, di
bawah tmunah:

“rupa, bentuk. Mekh, Yithro, s, 6 (ref. Kel XX,4)… Saya
mungkin pikiran (dari kata pesel [patung berhala]) bahwa
orang tidak boleh membuat patung ukiran untuk dirinya,
tetapi boleh membuat bongkahan: oleh karena itu, teksnya
berbunyi, ‘maupun bentuk apa pun’” (Aksara Ibrani
dihilangkan).

Keluaran 20:4 muncul dalam kutipan BDB yang memasuki pemba-
hasan atas Ayub 4:16 di atas. Kutipan Jastrow ini berfungsi untuk
menegaskan definisi tmunah dan dengan demikian morphē juga. 15 16

Ketaatan Kristus
Penafsiran trinitaris untuk Filipi 2:6 adalah bahwa pada suatu ketika
dalam kekekalan Kristus yang pra-eksisten menolak “mempertahan-
kan” kesetaraan dengan Allah, melainkan mengosongkan, atau
merendahkan, dirinya sehingga menjadi manusia. Pengosongan-diri

15
Judul lengkap karya Jastrow: Dictionary of the Targumim, the Talmud
Babli and Yerushalmi, and the Midrashic Literature, oleh Marcus Jastrow.
16
Kata Ibrani mana yang akan digunakan oleh terjemahan Ibrani modern
untuk menerjemahkan “rupa” di Filipi 2:6? The Salkinson-Ginsberg Hebrew
NT menerjemahkan “dalam rupa Allah” sebagai ‫ בִ ְדמוּת ְ ֶא�הִ ים‬bduth elohim.
Kata bduth didefinisikan sebagai “rupa, kemiripan, dari penampilan luar”
dalam BDB, di mana Kejadian 1:26 (manusia dibuat dalam “rupa” Allah;
“gambaran” dan “rupa” digunakan sebagai sinonim) dikutip sebagai contoh.
342 The Only True God

ini merupakan inti dari ketaatan, ketaatan yang tunduk bahkan
sampai mati di atas salib kayu. Nah, jika Yesus sudah sempurna
dalam ketaatan di surga, ketaatan yang berakhir dan mencapai
puncaknya di atas salib kayu, lalu mengapa kitab Ibrani berbicara
tentang dia yang “telah belajar taat dari apa yang telah dideritanya”
(Ibr.5:8), dan bahwa ia disempurnakan “melalui penderitaan”
(Ibr.2:10)? Ini jelas menunjukkan bahwa kitab Ibrani memahami hal
ini dengan cara yang berbeda dari trinitarian. Kitab Ibrani
menunjukkan bahwa Yesus belajar ketaatan di bumi; bukan sesuatu
yang sudah dimiliki Kristus yang konon pra-eksisten di surga. Kisah
Injil menegaskan hal ini ketika melukiskan ketundukan Yesus
kepada Allah di taman Getsemani dengan kata-kata, “Ya Bapaku,
jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapanku; tetapi
jangan kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi”
(Luk.22:42).
Lagipula, pengamatan yang seksama atas seluruh nas Filipi (2:6-
11) menunjukkan bahwa satu-satunya unsur yang mencirikan
kehidupan dan kematian Yesus adalah ketaatannya. Dan sejauh
pelayanan penyelamatannya, tidak ada apa-apa lagi yang
dibutuhkan: “Jadi, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang
banyak orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui
ketaatan satu orang banyak orang menjadi orang benar” (Rm.5:19).
“Ketaatan satu orang” inilah, bukan ketaatan suatu wujud ilahi, yang
mutlak penting untuk keselamatan umat manusia; dan justru
ketaatan inilah menjadi unsur kunci dari kehidupan dan kematian
Yesus di bumi. Ini berarti penolakannya untuk merampas kesetaraan
dengan Allah (Flp.2:6) berhubungan dengan kehidupannya di bumi,
dan bukan dengan pra-eksistensinya. Seharusnya juga jelas sekarang
bahwa menyatakan Yesus mengklaim kesetaraan dengan Allah
dalam Injil Yohanes merupakan penyalahtafsiran serius akan Injil
tersebut.
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 343

Filipi 2.9-11
9
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan dia dan menga-
runiakan kepadanya nama di atas segala nama,
10
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di
langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
11
dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tu[h]an”,
bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Pertama-tama, nama itu diberikan kepada Yesus oleh Allah Bapa.
Charizomai artinya “memberi secara cuma-cuma sebagai anugerah”
(BDAG). Jika kemuliaan ilahi itu telah menjadi milik Yesus dalam
pra-eksistensinya, kemuliaan tersebut tidak bisa diberikan
kepadanya sebagai suatu tindakan berdasarkan kasih karunia atau
anugerah. Sebab, untuk sekadar mengembalikan apa yang
sebelumnya sudah menjadi miliknya tidak dapat dilukiskan dengan
tepat sebagai memberikan sesuatu kepadanya “secara cuma-cuma
sebagai anugerah”.
Yang kedua, oleh karena penganugerahan nama itu, setiap lutut
bertekuk dan setiap lidah mengaku “Yesus adalah Tu[h]an”
(ay.10,11a; bdk. Yes.45:23). Dari sini jelas bahwa gelar “Tu[h]an”
(kurios) juga “diberikan secara cuma-cuma sebagai anugerah”
(BDAG) kepadanya oleh “Allah Bapa” (ay.11). Di sini lagi-lagi bukan
miliknya berdasarkan hak. Ia disebut “Tu[h]an Yesus Kristus”
tepatnya karena gelar itu diberikan kepadanya oleh Allah. Itu sebab-
nya Petrus mewartakan bahwa “Allah telah membuat Yesus, yang
kamu salibkan itu, menjadi Tu[h]an dan Kristus.” (Kis.2:36).
Perhatikan lagi bahwa Allah yang telah menjadikan dia Tu[h]an.
Kedudukan sebagai Tu[h]an dianugerahkan kepadanya oleh Allah,
dan demikian juga dengan kedudukan sebagai Mesias (Kristus). Hal
yang luar biasa tentang Yesus adalah segala sesuatu yang ia miliki
diberikan kepadanya oleh sang Bapa, termasuk nama “Yesus”
(Mat.1:21). Yesus bahkan rela berbuat lebih jauh dengan
344 The Only True God

mengatakan “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari dirinya
sendiri” (Yoh.5:19,30). Justru disinilah letaknya rahasia kebesaran
Yesus—yang bertolak belakang dengan merampas kesetaraan
dengan Allah. Dan untuk alasan inilah tepatnya Yahweh, sang Bapa,
menganugerahkan hormat yang setinggi-tingginya kepadanya.
Yang ketiga, peninggian ini adalah “bagi kemuliaan Allah, Bapa”
(Flp.2:11). Apa artinya ini kecuali bahwa tindakan yang
mengherankan ini menyatakan kebaikan dan kemurahan Allah
sehingga menyebabkan setiap orang memuji dan memuliakan Dia?
Sebab “Allah Bapa kita”, dengan memberikan “nama itu” kepada
Yesus, telah memberikan kepadanya kedudukan terhormat yang
praktis menempatkan dia sederajat dengan diri-Nya.
Dari segi eksegesis Alkitabiah, kajian kita atas nas ini masih
belum lengkap sampai kita memeriksa rujukan yang gamblang
kepada Yesaya 45:23 dalam nas ini.

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan,
hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang
lain. (juga ay.21) Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari
mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak
dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di
hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa’”
(Yes.45:22,23).

Perhatikan bahwa nas ini mengandung pernyataan monoteisme
yang tegas, “Akulah (Yahweh) Allah dan tidak ada yang lain”
(ay.21,22). Mengingat monoteisme Paulus yang eksplisit (1Kor.8:6,
1Tim.1:17, 2:5, dst.), bagaimanakah seharusnya kita memahami
rujukan kepada Yesaya 45:23 dalam Filipi 2:10? Konsisten dengan
persamaan “rupa Allah” dengan “gambaran Allah”, dan pernyataan
Paulus yang berulang-kali tentang Yesus sebagai gambaran Allah
(2Kor.4:4; Kol.1:15), apa lagi arti “setiap lutut” bertekuk kepada
gambaran Allah kalau bukan memuja Yahweh dalam gambaran-
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 345

Nya? Dan mengakui sebagai Tu[h]an dia yang telah dipilih Bapa
sebagai Tu[h]an, berarti mengakui kedaulatan Bapa atas pilihan
keputusan-Nya. Semuanya ini jelas-jelas “bagi kemuliaan Allah,
Bapa”.
Sebuah gambaran adalah cerminan dari apa yang diwakili oleh
gambaran itu. Jadi hormat yang diberikan kepada gambaran adalah
hormat yang diberikan kepada apa yang diwakili oleh gambaran
tersebut. Inilah tujuan yang dimaksudkan untuk Adam, tetapi Adam
gagal oleh karena ketidaktaatan. Akan tetapi, justru inilah yang
dicapai Yesus melalui ketaatannya yang mutlak, sehingga dia
menjadi gambaran Allah yang sempurna, memancarkan kemuliaan
Allah serta menarik semua orang kepada-Nya. Dengan cara ini
bagian pertama dari kutipan Yesaya telah digenapi di dalam Kristus
Yesus, “Berpalinglah kepada-Ku (Yahweh) dan biarkanlah dirimu
diselamatkan, hai ujung-ujung bumi!” (Yes.45:22). “Kristus
juruselamat kita” (Tit.1:4; 3.6 dst.) adalah cerminan yang sama persis
dari “Allah Juruselamat kita” (Tit.1:3; 2:10; 3:4 dst.). Dalam rencana
keselamatan Allah sebagaimana diwahyukan dalam PB, manusia
ditarik kepada “satu-satunya Allah yang benar” (Yoh.17:3) melalui
Kristus Yesus Tu[h]an. Yahweh Allah dipuja dan dimuliakan
melalui gambaran-Nya; sebab prinsip dasariah dalam Kitab Suci
adalah segala sesuatu datang kepada kita dari Allah melalui Kristus.
Allah adalah sumber utama segalanya; dan Ia telah menunjuk
Kristus sebagai salurannya. Karena itu, Allah adalah sumber
keselamatan, dengan demikian, Ia adalah “Allah juruselamat kita”;
Kristus adalah orang yang melaluinya keselamatan Allah datang
kepada kita, karena itu ia adalah “Kristus juruselamat kita”. Paulus
mengatakannya seperti ini: “bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu
Bapa, yang dari Dia berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita
hidup, dan satu Tu[h]an saja, yaitu Yesus Kristus, yang melalui dia
segala sesuatu telah dijadikan, dan yang karena dia kita hidup.”
(1Kor.8:6).
346 The Only True God

Akhirnya, sebuah prinsip penting ditetapkan di sini: Yesus hanya
ditinggikan dengan benar jika peninggiannya membawa kemuliaan
kepada Bapa; ini merupakan tujuan seluruh pelayanannya yang juga
tujuan pengajaran PB. Namun meninggikan Yesus dengan mengor-
bankan kemuliaan Bapa, khususnya meninggikan Yesus alih-alih
meninggikan Bapa—menjadikan Yesus sebagai pusat, sebagai Allah
Kekristenan—sudah tentu palsu dan karena itu “sesat” sejauh berke-
naan dengan Kitab Suci secara keseluruhan. Prinsip Alkitabiah ini—
bahwa segala sesuatu adalah “bagi kemuliaan Allah, Bapa”—
merupakan hal yang tidak dapat diperdebatkan.
Sebagai gambaran Allah, Yesus adalah perwujudan kemuliaan
Allah sebagaimana dinyatakan dengan hebatnya di Ibrani 1:3:
“Dialah cahaya kemuliaan Allah dan gambar keberadaan Allah yang
sesungguhnya.” Oleh karena itu, adalah tidak mungkin untuk
memuliakan Yesus Alkitabiah tanpa memuliakan Allah Bapa yang
kemuliaan-Nya diwakili oleh Yesus—kecuali Yesus lain dan Injil lain
diwartakan bertentangan dengan apa yang dinyatakan dalam
Alkitab. Jika kita ingin menghindar dari ajaran palsu maka kita perlu
menuruti prinsip yang dinyatakan dengan jelas di sini: semua ajaran
yang benar adalah “bagi kemuliaan Allah, Bapa”, yang tidak lain
adalah Yahweh Allah, TUHAN Allah. 17

17
Bagaimana caranya trinitarianisme memuliakan Allah ketika mereka
berkeras bahwa Yesus sebagai sang Anak setara dalam segala hal dengan sang
Bapa sepanjang kekekalan, dan sekadar menyerahkan kemuliaannya untuk
sementara waktu pada saat inkarnasi? Sebab, jika demikian halnya, sang Bapa
cuma mengembalikan kepada sang Anak apa yang memang sudah menjadi
miliknya sejak kekekalan. Bagaimana hal ini dapat memuliakan Bapa?
Namun, bagaimanapun juga, trinitarian tidak terlalu peduli dengan
kemuliaan Bapa karena ia sudah menggantikan Bapa dengan Anak sebagai
pusat utama dari agama Kristen, yang mereka wartakan sebagai Kristosentris.
Bab 3 — Menilai Kembali Pemahaman Kristen 347

1Korintus 15:45-47, 49, “rupa dari yang surgawi”
45
Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi
makhluk yang hidup” [Kej 2:7], tetapi Adam yang terakhir
menjadi roh yang menghidupkan.
46
Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah,
tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah.
47
Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat
alamiah, manusia kedua berasal dari surga.
Frasa “manusia kedua berasal dari surga” telah menyebabkan seba-
gian orang beranggapan bahwa Yesus, “manusia kedua” itu, di sini
disebut pra-eksisten. Namun Prof. Dunn telah menunjukkan bahwa
makna tersebut diingkari oleh pernyataan di ayat sebelumnya bahwa
manusia alamiah “adalah yang pertama”, yaitu ia ada sebelum
manusia rohaniah (James Dunn, The Theology of Paul the Apostle,
hlm.289). Bahkan terlepas dari pengamatan yang benar ini, “dari
surga (ex ouranou)” tidak memberikan bukti pra-eksistensi
sebagaimana terlihat dari cara istilah itu dipakai dalam PB. Misalnya,
Matius 21:25, “Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga (ex
ouranou) atau dari manusia?” (juga Mrk.11:30; Luk.20:4) Jelas,
pertanyaannya di sini adalah apakah baptisan Yohanes berasal dari
Allah atau manusia. Makna ini sesuai dengan makna “dari surga” di
Yohanes 6:31, “Nenek moyang kami telah makan manna di padang
gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari
surga.” Di sini tidak ada pertanda bahwa manna itu sesuatu yang
pra-eksisten melainkan yang diturunkan dari Allah. Demikian pula,
Yesus adalah “roti yang benar dari surga” (ay.32,33, dll).
“Dari surga” juga berarti “rohaniah” berbeda dari “duniawi” atau
“alamiah”. Oleh karena itu, 2Korintus 5:2 (ILT), “Sebab juga, di sini
kita mengeluh ketika merindukan untuk mengenakan tempat
kediaman kita yang dari surga”, yaitu tubuh rohaniah kita, tubuh
kebangkitan. Jadi “dari surga” di sini berarti “rohaniah”. Makna ini
348 The Only True God

juga sesuai sekali dengan 1Korintus 15:47: Manusia pertama bersifat
alamiah, manusia kedua bersifat rohaniah. Ini justru bergema
dengan ay.46 and 48.
Hal yang berkaitan dengan kajian kita disimpulkan di ay.49, “Dan
sebagaimana kita telah mengenakan gambar dari yang duniawi, kita
juga akan mengenakan gambar dari yang surgawi” (ILT); karena kita
akan menjadi seperti dia secara sempurna, seperti dinyatakan di
1Yohanes 3:2, “kita akan menjadi sama seperti dia, sebab kita akan
melihat dia dalam keadaannya yang sebenarnya.” Namun kita telah
mengambil langkah pertama ke arah ini: “kamu telah menanggalkan
manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia
baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengeta-
huan yang benar menurut gambar Penciptanya” (Kol.3:9,10). Jadi
proses menjadi serupa dengan dia merupakan proses yang telah
dimulai melalui pembaharuan budi (Rm.12:2). Jika kita berada di
dalam Kristus, kita harus “mengenakan manusia baru, yang telah
diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan
kekudusan yang sesungguhnya” (Ef.4:24). Kita adalah “manusia
baru” yang disebut di Efesus 2:10, “Karena kita ini buatan Allah,
diciptakan dalam Kristus Yesus”. Jadi saat ini kita sudah mulai
“mengenakan gambar dari yang surgawi”; dan, sebagaimana
dikatakan sang Rasul, “aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang
memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya
sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp.1:6).
Bab 4

Penuhanan Trinitaris
akan Kristus

P andangan yang rendah terhadap manusia dalam pemikiran
umat Kristen non-Yahudi memperkuatkan tekad untuk
mengangkat Yesus ke tingkat Allah, bahkan sampai pada kesetaraan
dengan Yahweh! Yesus, objek iman Kristen itu, tidak mungkin
hanya seorang manusia biasa atau bahkan manusia luar biasa
sekalipun, ia harus lebih daripada manusia, ia harus menjadi Allah!
Jadi gereja menetapkan hal tersebut melalui sebuah dekret yang
dibuat di Nikea; entah Kitab Suci memberikan pembenaran atas hal
ini atau tidak, jelas-jelas adalah soal sekunder bagi mereka. Tidak
ada Kitab Suci yang dikutip untuk mendukung dekret mereka di
Nikea. Mereka menganggap diri mereka memiliki hak untuk
menentukan keyakinan gereja, tanpa mempedulikan Kitab Suci.
350 The Only True God

Namun demikian, beberapa upaya telah dibuat untuk membaca-
kan keyakinan trinitaris ke dalam beberapa nas PB melalui
penafsiran dan bahkan, di sejumlah tempat, jelas-jelas dengan
mengutak-atik teks PB. Salah satu nas kunci yang digunakan oleh
trinitarianisme, Filipi 2:6-11, telah kita selidiki dengan cukup rinci.
Kita telah mengkajinya dalam konteks yang tepat tentang Kristus
sebagai gambaran Allah. Sekarang kita akan memeriksa beberapa
teks PB penting lain yang digunakan sebagai teks bukti oleh
trinitarian. Gagasan Kristus sebagai gambaran Allah itu begitu
pokok dalam pemahaman PB tentang Kristus sehingga lagi-lagi
menjadi kunci untuk nas penting lain yang digunakan dalam
trinitarianisme, yaitu, Kolose 1, di mana Kristus sebagai gambaran
Allah muncul lagi di Kolose 1:15. Untuk melihat konteksnya, kami
mengutip nas itu:

Kolose 1
12
dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang
melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang
ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam terang.
13
Ia (Bapa, ay.12) telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan
dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang
kekasih;
14
di dalam dia (Anak) kita memiliki penebusan kita, yaitu
pengampunan dosa.
15
Dialah (Anak) gambar Allah yang tidak kelihatan, yang
sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,
16
karena di dalam dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang
ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang
tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik peme-
rintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan [melalui]
dia dan untuk dia.
17
Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu
menyatu di dalam dia.
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 351

18
Dialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Dialah yang sulung, yang
pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga dialah yang
lebih utama dalam segala sesuatu.
19
Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam
dia,
20
dan melalui dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu
dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di
surga, sesudah Ia mengadakan pendamaian dengan darah salib
Kristus.

Masalah besar dalam memahami teks ini adalah kenyataan bahwa
setelah “Bapa” disebutkan di ay.12 dan “Anak” di ay.13, kemudian
disusul oleh banyak kata ganti “dia” dan “-nya” yang tidak menetap-
kan apakah referensi itu kepada Bapa atau Kristus. Hal tersebut
harus ditentukan dari konteks, yang dalam banyak kasus
menjelaskan siapa yang tengah dirujuk di situ—yaitu jika
pembacanya seorang monoteis yang dibesarkan dalam Kitab Suci
Ibrani. Namun berbeda situasinya dengan seorang yang dibesarkan
dalam trinitarianisme. Inilah yang terjadi dengan ay.16 di mana “di
dalam (atau, oleh) dia” oleh trinitarian dianggap merujuk kepada
Kristus sebagai pencipta segala sesuatu. Perhatikan terjemahan
trinitaris berikut:
16
sebab oleh dia segala sesuatu telah diciptakan, yang ada di
dalam surga dan yang ada di atas bumi, yang kelihatan dan
yang tidak kelihatan, baik takhta-takhta atau para pemegang
kekuasaan, atau penguasa-penguasa atau otoritas-otoritas;
segala sesuatu diciptakan melalui dia dan bagi dia. (ILT)

Namun, itu berarti mengabaikan fakta-fakta berikut:
(1) Penafsiran ini berlawanan dengan PL di mana, Allah, sang Bapa,
tak pelak adalah sang pencipta;
352 The Only True God

(2) Ayat sebelumnya (ay.15) berbicara tentang Kristus sebagai
“gambar Allah”, dan tidak di manapun dalam Kitab Suci dapat
ditunjukkan bila gambaran Allah menciptakan segala sesuatu;
(3) Hal yang sama juga benar dengan “yang sulung, lebih utama dari
segala yang diciptakan”: tidak di manapun dinyatakan bahwa yang
sulung membawa alam semesta ke dalam keberadaan;
(4) Rasul Paulus memakai istilah atau ekspresi yang kurang lebih
sama di Roma 11:36 dan sama sekali tidak disangsikan bila ia
sedang merujuk kepada Yahweh Allah sebagaimana terlihat jelas
dari ayat-ayat sebelumnya (Rm.11:34dyb.). Roma 11:36: “Sebab
segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi
Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.”
(5) Demikian pula Ibrani 2:10, “Sebab memang sepantasnya Allah—
yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan, yaitu Allah
yang membawa banyak orang kepada kemuliaan—juga
menyempurnakan Perintis yang memimpin mereka kepada
keselamatan (Kristus) melalui penderitaan.”
(6) Bahwa Yahweh Allah, sang Bapa, adalah pencipta segala sesuatu
bukan saja diajarkan dalam PL tetapi juga dalam PB: Wahyu 10:6
“dan ia bersumpah demi Dia yang hidup selama-lamanya, yang telah
menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya,
dan laut dan segala isinya, katanya, ‘Tidak akan ada penundaan
lagi!’” Yahweh Allah adalah tokoh sentral dalam Kitab Wahyu; Yesus
secara konsisten disebut sebagai “Anak Domba”.
(7) Usaha menafsirkan Kolose 1:16 sebagai “oleh dia” sehubungan
dengan Yohanes 1:3 didasari oleh asumsi trinitaris bahwa Firman itu
adalah individu yang terpisah dari Yahweh, serta asumsi selanjutnya
bahwa individu ini adalah Kristus yang pra-eksisten. Itu berarti
membuat banyak asumsi yang tidak berdasar.
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 353

Akan tetapi, jika kita membuang penafsiran trinitaris bahwa “oleh
Kristus” segala sesuatu telah diciptakan, dan memahami teks
Yunaninya sebagai “di dalam dia” segala sesuatu telah diciptakan,
maka gambarannya berubah sama sekali, dan keberatan-keberatan
di atas tidak berlaku untuk pemahaman itu. Ini adalah karena “di
dalam dia” merupakan konsep yang sentral dalam ajaran Paulus
tentang keselamatan, dan juga kepada efek kosmis (“segala sesuatu”)
dari keselamatan Allah “di dalam Kristus”. Pertimbangkanlah,
misalnya, ayat berikut ini:

Efesus 2:10, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam
Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang
dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di
dalamnya.”

Apakah maknanya “yang dipersiapkan Allah sebelumnya”? Ini harus
dipahami sehubungan dengan ayat-ayat pembuka di surat Efesus,
khususnya 1:4: “Sebab di dalam dia (Kristus) Allah telah memilih
kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di
hadapan-Nya (-Allah).” Arti ayat ini akan dipertimbangkan lebih
penuh berikut ini.
Lingkup kosmis dari keselamatan di dalam Kristus dilukiskan
dengan kuat di Kolose 1:19,20 : “Karena seluruh kepenuhan Allah
berkenan tinggal di dalam dia (Kristus), dan melalui dialah Allah
memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya (Allah), baik yang
ada di bumi, maupun yang ada di surga, sesudah Ia mengadakan
pendamaian dengan darah salib Kristus.” (Lih. juga Ef 1:10). Di sini
kita melihat lagi istilah “melalui dia”, sebagaimana di ay.16, di dalam
konteks keselamatan.
Penebusan dan pendamaian dengan Allah merupakan gagasan
utama di Kolose 1:13-22: “13 Ia (sang Bapa, ay.12) telah melepaskan
kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan
Anak-Nya yang terkasih; 14 di dalam Dia (sang Anak) kita memiliki
354 The Only True God

penebusan kita, yaitu pengampunan dosa... 20 dan melalui dialah
Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya... 22 sekarang
diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh
kematiannya.”

Melihat sepintas kepada tafsiran-tafsiran

S etelah mengecek buku-buku tafsiran yang tersedia, saya melihat
bahwa para sarjana yang utama cukup terpelajar dan bijak untuk
menghindar dari usaha membuktikan keilahian Kristus melalui nas
ini, walaupun banyak yang berusaha membuktikan pra-
eksistensinya.
A.S. Peake, misalnya, dalam The Expositor’s Greek Testament
(yang berorientasi trinitaris) membuat pengamatan penting tentang
ay.16: “ἐν αὐτῷ [en autō]: ini bukan berarti ‘oleh dia’”. Akan tetapi,
banyak terjemahan Inggris berkeras menaruh “oleh dia” di dalam
teks sementara membuang “di dalam dia” ke catatan pinggir.
Mengenai “di dalam dia”, setelah mempertimbangkan gagasan-
gagasan seperti “sang Anak sejak kekekalan adalah prototipe alam
semesta” yang ditolak oleh Peake karena secara hermenetis tidak
pantas, ia menyebutkan bahwa beberapa ahli tafsir utama
memahami “di dalam dia” “berarti tindakan penciptaan bergantung
secara kausatif pada sang Anak. Ini mungkin merupakan penjelasan
yang paling aman”.
Sedangkan untuk arti pernyataan “tindakan penciptaan bergan-
tung secara kausatif pada sang Anak”, hal itu dijelaskan dengan lebih
lengkap berikut ini: “Anak adalah Agen dalam penciptaan (bdk.
1Kor.8:6); ini sudah pasti menyatakan pra-eksistensi Anak dan
memangku supremasi Bapa.” Di sini Peake memberi dukungan
kepada pra-eksistensi Anak sementara mengakui supremasi Bapa.
Namun pra-eksistensi tidak sama dengan keilahian; malaikat juga
dianggap makhluk pra-eksisten, yaitu mereka sudah ada sebelum
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 355

penciptaan di Kejadian 1. Lagipula, supremasi Bapa tidak sesuai
dengan dogma trinitaris tentang kesetaraan Anak dalam setiap aspek
dengan Bapa. Lebih lanjut, supremasi Bapa, tentu saja, harus berarti
subordinasi Anak kepada Bapa. Mengapa Peake mengakui semua
ini? Bukankah karena itu sajalah yang ia rasa dapat disimpulkan dari
nas itu “dengan aman” tanpa terjatuh ke dalam perangkap
kekeliruan atau penyalahtafsiran?
Akan tetapi, Peake juga mengakui bahwa,

Penafsiran ay.15-17 yang diberikan Oltramare tidak boleh
dilewatkan. Ia [Oltramare] menghilangkan gagasan praeksis-
tensi dari nas itu, dan mengatakan bahwa rujukan itu adalah
kepada Kristus sebagai Penebus dari permulaan hingga akhir.

Penciptaan dan penebusan, tidak dapat dipertimbangkan secara
terpisah di Kolose 1:12-22, seperti yang sering dilakukan. Penebusan,
di pihak Allah, bukanlah sesuatu yang dipikirkan kemudian seolah-
olah dosa manusia di Taman itu mengejutkan Dia sehingga Ia harus
terburu-buru menyusun sebuah rencana penebusan. Rencana Allah
untuk keselamatan manusia sudah ditetapkan “sebelum dunia
dijadikan”. Hal ini dinyatakan dengan jelas sekali di Efesus 1:4,
“Sebab di dalam dia (Kristus) Allah telah memilih kita sebelum
dunia dijadikan”.
Ini berarti penciptaan dilakukan melalui keenam hari di Kejadian
1 dengan penebusan dalam pandangan sepanjang waktu. Ini berarti
“Anak Domba yang disembelih sejak permulaan dunia ini”
(Why.13:8 ILT) adalah tokoh utama dalam rencana Allah bagi
penciptaan sama seperti ia adalah tokoh utama dalam rencana
keselamatan Allah. Jika, dalam rencana Allah yang kekal, tidak akan
ada penebusan tanpa Kristus, maka tanpa dia tidak akan ada
penciptaan juga. “Di dalam dia (Kristus)” (Kol.1:16), sehubungan
dengan dia, segala sesuatu telah diciptakan. Ini berarti semua
356 The Only True God

pernyataan yang ada dalam nas di surat Kolose ini harus dipahami
sehubungan dengan konsep penebusan.

“Sejak permulaan dunia ini”
Frasa “sejak permulaan dunia ini” muncul 7 kali dalam PB, dan
“sebelum permulaan dunia ini” 3 kali. Yang menjadi perhatian kita
di sini adalah frasa “Anak Domba yang disembelih sejak permulaan
dunia ini” (Why.13:8 ILT): apakah ini harus diartikan bahwa Kristus
benar-benar disalibkan di surga sebelum penciptaan? Saya rasa tak
seorangpun yang cukup bodoh untuk mengira itulah caranya frasa
itu harus dipahami. 18
Lantas, apa artinya frasa itu? Tentu saja, satu-satunya
kemungkinan adalah bahwa Anak Domba itu telah disembelih
dalam rencana abadi Allah sebelum Ia menjadikan alam semesta.
Namun jika kita bersikeras untuk memahaminya secara harfiah,
maka dapat ditunjukkan dari frasa itu sendiri bahwa memang
dikatakan bila Anak Domba itu disembelih sebelum dunia
diciptakan! Jika satu-satunya cara yang tepat untuk memahami
pernyataan penebusan yang begitu penting ini bukanlah secara
harfiah tetapi dalam terang rencana kosmik penebusan Allah,
bukankah hal yang sama berlaku juga di Kolose 1:15-17, yang juga
berbicara tentang penebusan?

18
TB dan beberapa terjemahan Inggris lain menerjemahkan Wahyu 13:8
seperti ini, “yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia
dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah
disembelih.” Ini berarti nama-nama orang beriman telah tertulis dalam kitab
kehidupan sebelum mereka ada di dunia ini. Ini berarti ayat ini mengatakan
sesuatu yang mirip dengan Efesus 1:4. Akan tetapi, bagaimana versi-versi
Alkitab itu menghasilkan terjemahan ini? Caranya adalah dengan
menyisipkan sebuah padanan tanda koma ke dalam teks Yunani sesudah kata
“disembelih”; pembacaan seperti ini tampaknya serampangan.
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 357

Sebuah peristiwa historis yang menentukan—penyaliban Kristus
(Kol.1:20, 22)—disebut seolah-olah sudah terjadi dalam keabadian.
Apakah ini satu-satunya pernyataan semacam itu dalam PB? Tidak,
seperti yang telah kita lihat, “Allah telah memilih kita sebelum dunia
dijadikan” (Ef.1:4) jauh sebelum kita ada secara jasmaniah sebagai
manusia, sebelum kita mendengar pewartaan Injil, dan sebelum kita
berpaling dari dosa dan membuat komitmen iman! Jemaat, yang
kepalanya adalah Kristus, sudah ada dalam rencana kekal Allah jauh
sebelum jemaat itu menjadi nyata, dan dengan demikian bisa disebut
telah “dipilih” sekalipun masih belum ada di bumi. 19

Pengamatan lanjutan atas Kolose 1:12-20
Jika kita mengamati Kolose 1:12-20 dengan cermat maka kita akan
melihat sesuatu yang signifikan: Semua kata kerja aktif digunakan
sehubungan dengan sang Bapa (Yahweh) sementara peran sang
Anak secara konsisten bersifat pasif, mis. “di dalam dia” yang
diulangi beberapa kali. (Bahasa Yunani memperlihatkan hal ini
secara lebih tajam daripada bahasa Inggris.) Peran aktif Bapa dalam
karya penebusan, dan peran Anak yang relatif pasif dibandingkan
Bapa, justru adalah hal yang diajarkan oleh Yesus sendiri dalam Injil
Yohanes. Kenyataan penting ini menonjol dengan begitu jelas dalam
nas Kolose ini sehingga tidak perlu dijabarkan secara rinci di sini.
Hal yang timbul paling jelas dari kenyataan ini adalah bahwa
Allah Bapa (Yahweh) merupakan Penebus/Juruselamat kita di dalam
dan melalui Kristus. Dialah yang ada “di dalam Kristus ketika men-
damaikan dunia dengan diri-Nya” (2Kor.5:19 dan Kol.1:22). Kristus

19
Dapatkah kita membangun pra-eksistensi Anak Domba berdasarkan
Wahyu 13:8? Jika ya, maka kita pun dapat menetapkan pra-eksistensi kita sen-
diri berdasarkan Efesus 1:4 (dan Wahyu 13:8, jika kita menerima terjemahan
TB).
358 The Only True God

juga adalah Juruselamat kita karena seluruh karya penyelamatan
Allah terjadi di dalam dia dan melalui dia. Untuk berbicara tentang
Kristus seolah-olah ia adalah Juruselamat kita yang terutama (kalau
bukan satu-satunya) berarti kita telah gagal total dalam memahami
pewahyuan PB, termasuk ajaran Yesus sendiri. Itulah sebabnya
mengapa Rasul Paulus memulai nas surat Kolose ini dengan,
“mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa…” (ay.12)—malah
dengan tidak menyebut sang Anak sebagai sasaran dari ucapan
syukur itu (yang mengejutkan kita). Ini adalah karena, sebagaimana
diuraikan lebih lanjut oleh nas itu, yang menjadi penggerak utama
karya keselamatan kita adalah Bapa, yang bekerja “di dalam
Kristus”—salah satu istilah favorit Paulus.
TUHAN (Yahweh) sebagai Penebus atau Penyelamat umat-Nya
sering muncul dalam Perjanjian Lama. Yahweh sebagai Penebus
(Ibr.: Goel) Israel disebut 16 kali dalam kitab Yesaya, dan merupakan
konsep utama dalam kitab itu. Satu ayat paralel dengan Kolose 1,
yang juga menggabungkan penebusan dengan penciptaan, ialah
Yesaya 44:24, “Beginilah firman Yahweh, Penebusmu, yang
membentuk engkau sejak dari kandungan; ‘Akulah Yahweh, yang
menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan
langit, yang menghamparkan bumi siapakah yang mendampingi
Aku?’”.
Mari kita perhatikan juga dengan saksama kalimat terakhir yang
memberitakan bahwa di dalam karya penciptaan itu Yahweh Sendiri
yang membentangkan langit, dan menghamparkan bumi “seorang
diri”. Pernyataan tersebut dengan tegas menyatakan bahwa Yahweh
tidak mempunyai “sekutu” ketika Ia menciptakan langit dan bumi.
Akan tetapi, dalam eksegesis kita atas beberapa ayat Perjanjian Baru
kita tidak ragu-ragu mengabaikan pernyataan ini demi mencari
mendukung untuk penafsiran trinitaris.
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 359

Hikmat dan Logos

N amun ada yang akan bertanya: Bagaimana dengan Amsal 8
yang mengatakan bahwa hikmat bekerja sama dengan Yahweh
dalam karya penciptaan? Apakah Amsal bertentangan dengan
Yesaya, sehingga Kitab Suci itu bertentangan dengan dirinya sendiri?
Di sini kita melihat bahayanya mengabaikan kenyataan bahwa
Amsal berbicara tentang hikmat secara metaforis sebagai seseorang
(jenis kelamin perempuan). Amsal, sebuah kitab yang berbicara
tentang pentingnya hikmat, menekankan pentingnya hikmat dengan
menunjukkan bahwa Allah Sendiri memakai hikmat ketika Ia
menciptakan alam semesta.
Namun trinitarian begitu bergairah ingin “membuktikan” doktrin
mereka dari Kitab Suci sehingga mereka tidak ragu mengabaikan
kenyataan jelas bahwa ini adalah hipostatisasi hikmat secara meta-
foris, dan juga fakta bahwa hikmat itu adalah kata yang berkelamin
feminin, walaupun tidak tampak jelas dari kata Inggris “wisdom”,
tetapi masih terlihat dari pronomina femininnya (“she”). Begitu kita
memahami bahwa apa yang ada di Amsal adalah metafora, maka
tidak ada lagi kontradiksi dengan Yesaya.
Kita tidak bisa memilih kedua-duanya: Kita harus mengakui
hikmat dalam kitab Amsal itu sebagai apa adanya, yaitu sebuah
“personifikasi”, atau, memungkiri kebenaran pernyataan dalam
kitab Yesaya bahwa Yahweh menciptakan langit dan bumi tanpa
bantuan siapapun. Pernyataan yang saling bertentangan tidak
mungkin keduanya benar.
Namun jika hikmat bukan suatu pribadi, maka tidak ada masalah
apa pun untuk mengatakan bahwa Yahweh memakai hikmat untuk
menghasilkan karya ciptaan-Nya, tidak berbeda dengan mengatakan
bila seseorang yang membangun rumah memakai pengetahuannya
untuk membangun rumah itu. Jika orang itu berkata ia memakai
pengetahuannya untuk memandu dia langkah demi langkah di
360 The Only True God

dalam proses pembangunan itu, tak seorangpun yang berakal sehat
akan beranggapan bila ia tengah berbicara secara harfiah tentang
seseorang yang bernama Pengetahuan yang memandu dia di dalam
pekerjaannya, sekalipun dari cara penyampaiannya memang
kedengaran seolah-olah pengetahuan itu dipersonifikasikan.
Metafora semacam ini sering dipakai dalam pembicaraan sehari-
hari. Jika seseorang berkata, “Sakit di punggungku ini sedang
membunuh aku”, tak seorangpun akan beranggapan kalau yang
dimaksud adalah sesuatu atau seseorang yang disebut Sakit yang
tinggal di punggungnya dan tengah mencoba membunuhnya!
Akan tetapi, tampaknya di dalam usaha untuk mendukung
sebuah dogma tertentu nyaris segala macam penafsiran dapat
dibenarkan—sekalipun dengan berkeras bahwa yang metaforis harus
diartikan secara harfiah, seperti halnya Hikmat dalam kitab Amsal
yang ditafsirkan sebagai nama lain untuk “pribadi” Firman/Logos.
Dulu saya tidak pernah mempertimbangkan bagaimana penafsiran
kata Firman yang dipersonifikasikan di Yohanes 1 dapat didamaikan
dengan monoteisme PL, atau dengan pernyataan di Yesaya 44:24
bahwa Yahweh menciptakan segala sesuatu “seorang diri”, dan
“sendiri”—perhatikan penegasan ganda ini.
Sebab tak seorangpun yang telah mempelajari PL secara serius
dapat mengklaim kalau PL mengajarkan bahwa Yahweh adalah
suatu “hakikat” (memakai bahasa trinitaris) multipersonal ilahi,
apalagi membuktikan klaim seperti itu. Jika demikian halnya,
seharusnya jelas bahwa wahyu PL tentang Yahweh tidak mungkin
dapat didamaikan dengan pandangan trinitaris bahwa Firman
adalah pribadi ilahi yang setara dengan Bapa (Yahweh) di dalam
“hakikat” ilahi yang disebut “Allah”—seolah-olah ada sesuatu yang
disebut “Allah” selain tetapi termasuk Yahweh!
Tampaknya trinitarianisme telah mengajarkan kita seni
memelintir mental, sampai-sampai kita mengira (sebagai ekseget)
telah berhasil memelintir kontradiksi menjadi paradoks, dan kemu-
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 361

dian merasa puas bahwa “paradoks” ini mewakili kebenaran. Bahkan
lebih sederhana lagi, kita mengabaikan saja kontradiksi yang ada,
biasanya dengan mengabaikan konteks langsungnya dan/atau
konteks umumnya.
Namun harus dinyatakan dengan jelas bahwa semuanya ini tidak
dilakukan dengan sengaja untuk menyesatkan, tetapi hanya karena
kita sendiri telah disesatkan, dan oleh karena itu kita berusaha
sekuat tenaga untuk melihat trinitarianisme di dalam teks-teks di
depan kita, bahkan ketika terkadang sulit mendamaikan apa yang
kita baca dalam teks-teks lain yang tampaknya mengatakan sesuatu
yang berbeda. Betapa sulitnya untuk melepaskan diri dari tentakel
kesalahan! Kalau bukan karena anugerah Allah hal itu pasti
mustahil.

Keselamatan adalah pesan utama dari Kolose 1:12-20
Di ay.13 kata kerja rhuomai (ῥύομαι) dalam frasa “Ia (sang Bapa,
ay.12) telah melepaskan (ῥύομαι) kita” berarti “melepaskan dari
bahaya, menyelamatkan, menolong, melepaskan, melindungi,
seseorang” (BDAG). Dalam PL kata ini paling sering muncul di kitab
Mazmur (62 kali dalam LXX) dan kitab Yesaya (26 kali dalam LXX)
hampir selalu tentang Yahweh sebagai Penyelamat. Pemakaiannya
yang paling dikenal umum adalah di Matius 6:13 di dalam permo-
honan kepada Bapa, “lepaskanlah kami dari yang jahat”, yang kita
kenal baik dari Doa Bapa Kami. Karena itu, baik di Kolose 1, PL,
maupun Doa Bapa Kami, Bapa (Yahweh) adalah sang Jurusela-
mat/Penebus bagi yang berseru kepada-Nya.
Menariknya, di Kolose 1:14 terdapat kaitan lain dengan Doa Bapa
Kami, yaitu “pengampunan dosa” yang bersesuaian dengan doa,
“ampunilah kami dari kesalahan kami” (Mat.6:12; Luk.11:4).
“Pengampunan dosa” di Kolose dijabarkan berdasarkan makna kata
“Penebusan” (apolutrōsis, ἀπολύτρωσις), yang didefinisikan sebagai
362 The Only True God

“pembebasan dari keadaan sebagai tawanan, pembebasan,
penebusan, pelepasan” (BDAG). Allah telah membebaskan kita dari
hutang dan ikatan dosa melalui darah Kristus. Bagaimana Allah
melakukan hal ini “dalam Kristus” dijabarkan di ay.20.
Perhatikan bagaimana semua kata dan konsep kunci PB yang
berhubungan dengan keselamatan muncul bersama-sama dalam nas
ini: melepaskan, penebusan, pengampunan (ay.13,14), memper-
damaikan (ay.20,22), mengadakan pendamaian melalui darahnya
yang tercurah di atas salib (ay.20), dan “menempatkan kamu kudus
dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya” (ay.22).
Sekarang mari kita perhatikan pula bahwa ada lima ayat (ay.15-
19), yang berhubungan dengan penciptaan, yang “tersisip” di antara
ayat-ayat yang berhubungan dengan keselamatan. Dengan kata lain,
bagian teks itu dimulai dengan karya keselamatan Allah, berlanjut
dengan karya penciptaannya, dan diteruskan dengan karya
keselamatan-Nya. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa
semuanya itu terhubung secara tak terpisahkan; yaitu semuanya itu
merupakan bagian dari “paket” yang satu itu. Dalam rencana dan
tujuan Allah yang kekal, Kristus adalah tokoh utama kepada kedua
bagian yang tak terpisahkan itu. Namun kita tidak boleh pernah
mengabaikan kenyataan bahwa Allah (Yahweh) adalah Penggerak
Utama dalam kedua bagian itu, yang mengerjakan tujuan dan
maksud-Nya di dalam dan melalui Kristus: “Karena seluruh
kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam dia” (ay.19). Hal ini
ditegaskan kembali di 2:9.
Kegagalan dalam melihat dengan jelas kenyataan bahwa, baik di
Kolose 1 maupun PB secara keseluruhan, Allah adalah Penggerak
Utama akan menyebabkan kita terjatuh ke dalam pandangan palsu
bahwa PB bersifat “Kristosentris”, dan selanjutnya ke dalam trinita-
rianisme. Sebagai seorang trinitarian saya dulu selalu menekankan
Kristosentrisitas ini, karena mengira ini adalah penekanan PB.
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 363

Seperti yang dapat kita lihat sekarang, penekanan ini tidak sesuai
dengan PB.
Oleh karena kelima ayat yang berkaitan dengan penciptaan ini
“tersisip” di antara ayat-ayat tentang keselamatan, tentu saja pantas
ditanyakan apakah ayat-ayat itu harus dipahami sehubungan dengan
karya penebusan Allah di dalam Kristus.

“Gambar Allah yang tidak kelihatan”

A yat pertama dari kelima ayat itu (ay.15) berkata, “Dialah
gambar Allah yang tidak kelihatan”. 2Korintus 4:4 juga
menegaskan Kristus sebagai gambaran Allah. Pernyataan-
pernyataan tersebut identik dengan 1Korintus 11:7 yang
mengatakan bahwa manusia adalah “gambaran dan kemuliaan
Allah”. Allah itu tidak kelihatan untuk mata manusia, tetapi manusia
adalah gambaran-Nya. Jadi Kristus, seperti setiap orang, adalah
gambar Allah. Karena itu, di dalam menegaskan bahwa Kristus
adalah gambar Allah, maka ditegaskan bahwa ia adalah manusia;
karena kecuali ia adalah manusia, ia tidak dapat menjadi juruselamat
umat manusia. Akan tetapi, bagaimana orang dapat berargumen
untuk pra-eksistensinya berdasarkan dirinya sebagai gambar Allah?
Jika menjadi gambar Allah melibatkan pra-eksistensi, maka manusia
pun pra-eksisten!
Masalahnya dengan Kristologi trinitaris sebenarnya berkaitan
dengan masalah antropologinya. Pentingnya pernyataan tegas di
1Korintus 11:7 bahwa manusia adalah “kemuliaan Allah” belum
pernah dimengerti. Menjadi “kemuliaan Allah” berarti bahwa
melihat manusia adalah melihat Allah, karena dalam Kitab Suci
melihat kemuliaan-Nya berarti melihat Dia (Yes.6; Yeh.1, dan juga
dengan Manoah, dst.).
Namun ternyata, ketika kita melihat manusia sekarang ini, kita
mengalami kesulitan (dengan beberapa pengecualian) melihat
364 The Only True God

kemuliaan Allah. Mengapa? Karena, seperti diuraikan di surat
Roma, umat manusia berada di bawah perbudakan dosa, dan
sehingga proses penebusan itu selesai, kemuliaan Allah tidak akan
terlihat jelas di dalam dia. Namun pada hari itu ketika kita menjadi
“kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Kol.1:22)
maka, sesungguhnya, kita akan benar-benar menjadi “kemuliaan
Allah”. Dengan demikian, ketika Paulus berbicara tentang manusia
sebagai kemuliaan Allah (1Kor.11:7), tampaknya ia tengah berbicara
tentang manusia dalam rencana dan tujuan Allah sebagaimana
manusia itu dimaksudkan Allah, bukan sebagaimana ia ada pada
saat ini.
Namun hal ini sama sekali berbeda dengan Kristus, karena
meskipun “sama dengan kita, ia telah dicobai” ia tidak berbuat dosa.
Karena tanpa dosa ia benar-benar “kudus dan tak bercela dan tak
bercacat di hadapan-Nya (Allah)”. Itu sebabnya ia adalah kemuliaan
Allah, dan itu sebabnya dengan melihat dia kita melihat Allah dalam
kemuliaan-Nya. Justru dalam hal inilah trinitarianisme telah
merancukan kristologinya dengan anthropologi PB. Sekarang kita
dapat melihat ini terjadi karena trinitarianisme telah gagal
memahami kebenaran PB yang penting bahwa manusia adalah
kemuliaan Allah.
Pewahyuan Kitab Suci juga menunjukkan bahwa manusia tidak
pernah dapat menjadi kemuliaan Allah terlepas dari Dia. Justru
ketika manusia memaksakan kemerdekaannya dan berusaha
menjadi “seperti Allah”, dengan demikian memperoleh semacam
kemerdekaan daripada Dia, ia berhenti mengejawantahkan
kemuliaan-Nya. Manusia adalah, dan menikmati, kemuliaan Allah
hanya melalui kesatuan atau penyatuan dengan Dia, dan ini hanya
dapat terealisasi melalui kepenuhan hadirat-Nya yang mendiami,
sebagaimana didemonstrasikan secara sempurna oleh Kristus:
“Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam dia”
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 365

(Kol.1:19). Dan ini menjadi suatu realitas dalam Kristus hanya
karena ia tunduk secara total kepada Bapa (Yahweh).
Hal ini juga berdampak pada pemahaman kita akan soteriologi
PB, yaitu doktrin keselamatan. Sebab jika Kristus bukan sepenuhnya
dan benar-benar manusia, maka kita tidak akan selamat. Sebab, oleh
karena dosa satu manusia maut masuk ke dalam dunia, dan oleh
karena ketaatan satu manusia kita dibenarkan (Rm.5:15-19). Karena
ada harapan keselamatan bagi kita hanya jika Kristus itu manusia,
mengapa trinitarianisme selalu memperdebatkan keilahian Kristus
bila hal itu tidak ada keterkaitan sama sekali dengan keselamatan
umat manusia? Tidak di manapun dalam Perjanjian Baru
dinyatakan bila keyakinan pada keilahian Kristus diperlukan demi
keselamatan. Akan tetapi, jemaat trinitaris, dengan sikap menentang
Firman Allah, berani menjuluki bidat kepada siapa saja yang
menolak kristologi mereka.
Anda akan ingat bahwa sebagai trinitarian saya
merasionalisasikan kaitan soteriologis antara kemanusiaan dan
keilahian dengan memperdebatkan bahwa jika Yesus hanya seorang
manusia, kematiannya tidak bisa menguntungkan seluruh umat
manusia, tetapi sebagai Allah ia tak terbatas, dan ketakterbatasan
dapat mencakup jumlah apa saja, tidak peduli seberapa besar
jumlahnya. Argumen ini bukannya tidak logis; setidaknya memiliki
landasan matematika. Namun masalahnya adalah argumen ini tidak
Alkitabiah, sebab dalam Kitab Suci, logika soteriologis bukanlah
logika matematis, tetapi logika yang bekerja dengan prinsip yang
sama sekali berbeda.
Misalnya, ketika umat Israel berbuat dosa besar di padang gurun
dan tengah dibinasakan oleh gigitan ular berbisa, Allah memberi
perintah kepada Musa untuk menaruh seekor ular tembaga di atas
tiang; supaya siapa saja yang memandang ular tembaga yang
tergantung di atas tiang itu akan hidup (Bil.21:7-9). Hanya ada satu
ular tembaga, tetapi tidak peduli berapa banyak orang yang meman-
366 The Only True God

dangnya, mereka diselamatkan dari maut. Jelas sekali, matematika
bukanlah faktor. Ketaatan pada panggilan untuk memandang ular
itu, di satu sisi, dan anugerah pengampunan Allah, di sisi lain,
merupakan satu-satunya prinsip yang beroperasi di sini. Kristus
membandingkan pelayanan keselamatannya dengan peristiwa
genting ini, khususnya kepada dirinya yang “ditinggikan” di atas
salib: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun,
demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang
yang percaya kepadanya beroleh hidup yang kekal” (Yoh.3:14,15).
Demikian juga, ketaatan Kristus telah menghapus ketidaktaatan
Adam untuk semua orang yang ada di dalam Kristus. Sebenarnya, ia
berbuat lebih banyak daripada itu, “jauh lebih banyak” sebagaimana
dinyatakan di Roma 5:9,10,15,17. Di sini sekali lagi hal itu tidak ada
kaitannya sama sekali dengan logika matematika, tetapi sepenuhnya
dengan anugerah dan hikmat Allah.
Gambaran lain dari keselamatan yang diperoleh dari perjalanan
orang Israel di padang gurun adalah manna, yang disediakan
Yahweh untuk mereka setiap hari dari surga. Yesus merujuk kepada
peristiwa surgawi yang luar biasa ini di Yohanes 6 di mana ia
menyatakan dirinya sebagai roti yang benar dari surga. Yesus adalah
roti surgawi yang disediakan Yahweh untuk keselamatan umat
manusia yang, ketika mereka memakannya, tidak akan binasa. Jika
Yahweh bisa menyediakan roti untuk orang Israel di padang gurun
yang jumlahnya sekitar 2 juta orang, apakah sang Pencipta akan
mengalami kesulitan menyediakan untuk 2 milyar atau 2 trilyun
orang? Jumlah ini mungkin mengejutkan kita, tetapi sama sekali
tidak untuk Dia yang menciptakan Adam dan Hawa (dan juga kita
semua) dengan trilyunan sel dalam masing-masing tubuh! Yahweh
dapat memberi hidup kepada seberapa banyak orang pun melalui
Yesus, sang “roti hidup”. 20

20
Wikipedia, di bawah “Sel (biologi)”, mengatakan bahwa tubuh manusia
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 367

Di 1Korintus 10:3,4, dengan gaya midrash (“midrash” adalah
teknik yang digunakan para rabi untuk menafsirkan Kitab Suci)
Paulus menulis, “mereka semua (yang ada di padang gurun) makan
makanan rohani yang sama dan mereka semua minum minuman
rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani
yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.” Manna
dilukiskan sebagai “makanan rohani” karena bukan berasal dari
sumber duniawi, tetapi disediakan secara khusus oleh Yahweh. Sama
halnya dengan air; air itu disebut “minuman rohani” karena bukan
berasal dari mata air di padang gurun bebatuan tetapi disediakan
secara khusus oleh Yahweh. Paulus, yang di sini menulis dalam gaya
midrash (sebagaimana para sarjana pada umumnya sependapat),
menunjukkan bahwa batu itu adalah sebuah lukisan atau “lambang”
bagi Kristus, yang kemudian akan menjadi mata air hidup untuk
dunia (bdk. Yoh.4:13,14). Dan sama seperti air itu mencukupi orang
banyak di padang gurun, air itu mencukupi seberapa banyak orang
pun karena Yahweh, yang tak terbatas itu, adalah sumbernya.
Sekarang kita memahami bahwa Kristus tidak perlu menjadi tak
terbatas untuk dapat menyelamatkan dunia, sebab keselamatan
memuat sumbernya yang tak terbatas di dalam Yahweh Sendiri. Air
melambangkan hidup, dan Yesus adalah “batu karang” atau mata air
yang melaluinya air itu mengalir. Pemberi air yang utama itu, dan
pemberi “setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang
sempurna”, adalah Yahweh Sendiri (Yak.1:17).
Yesus dilukiskan sebagai kurban penebus dosa, sebagai “Anak
Domba Allah”, atau sederhananya, “Anak Domba” di kitab Wahyu.
Namun harus diingat bahwa ia adalah “Anak Domba Allah” justru
karena dialah Anak Domba yang disediakan Yahweh untuk menebus
dosa manusia: “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri,

diperkirakan memiliki 100 trilyun sel.
368 The Only True God

tetapi yang menyerahkannya bagi kita semua” (Rm.8:32); dan
apakah persediaan Yahweh untuk dosa bisa tidak mencukupi?

“Yang sulung dari segala yang diciptakan” (Kol.1:15)

B aik di Kolose 1:18 maupun Wahyu 1:5 Kristus disebut sebagai
“yang sulung dari antara orang mati”, sebagai yang pertama
bangkit dari antara orang mati oleh kuasa sang Bapa; dan karena
sang Bapa akan membangkitkan lebih banyak lagi setelah dia dan
melalui dia, “Dialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara
orang mati” (Kol.1:18). Dalam jemaat, Kristus adalah “yang sulung
di antara banyak saudara” (Rm.8:29).
Beginilah bunyi keseluruhan Kolose 1:18, “Dialah kepala tubuh,
yaitu jemaat. Dialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara
orang mati, sehingga dialah yang lebih utama dalam segala sesuatu.”
Satu hal akan menjadi lebih jelas lagi ketika kita memahami dengan
lebih baik tujuan-tujuan mulia Allah bagi manusia sebagaimana
diajarkan dalam PB, dan juga di sini di Kolose 1, yaitu bahwa Kristus
yang adalah kepala jemaat adalah pula kepala atas seluruh
penciptaan, atau dengan memakai bahasa dari 1:15, “yang sulung
dari segala yang diciptakan”.
Tujuan abadi Allah bagi manusia, dengan Kristus sebagai kepala
umat manusia, tidak dilukiskan secara rinci, tetapi menimbulkan
rasa heran bahkan dari beberapa kilasan yang dinyatakan dalam
Kitab Suci. Misalnya, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan
bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk.2:27). Apakah implikasi dari
pernyataan ini? Jika hari Sabat yang suci pun diperuntukkan bagi
manusia, lantas apa yang tidak dibuat bagi manusia? “Ia, yang tidak
menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkannya bagi
kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala
sesuatu kepada kita bersama-sama dengan dia?” (Rm.8:32)
Pertanyaan retorik ini bukan saja menandakan kerelaan Allah tetapi
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 369

juga niat-Nya untuk memberikan kepada kita segala sesuatu! Jadi
Ibrani 1:2 berbicara tentang Kristus sebagai orang yang telah Allah
“tetapkan sebagai ahli waris segala sesuatu”, dan inilah yang
dikatakan di Roma 8:17, “Jika kita adalah anak, maka kita juga
adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima
janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan
Kristus”. Ini berarti kita adalah sesama ahli waris dengan dia yang
adalah ahli waris segala sesuatu! Paulus memakai frasa “tuan dari
segala sesuatu” di Galatia 4:1 ketika berbicara tentang kita sebagai
ahli waris (baca seluruh bagian teks dari 3:29-4:7).
Berkaitan dengan itu, pertimbangkan pernyataan mengejutkan
yang berikut: “Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan
dirinya atas manusia, sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik
Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati,
baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang. Semuanya
milikmu. Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik
Allah” (1Kor.3:21-23).
Pertimbangkan baik-baik apa yang termasuk ke dalam “segala
sesuatu” yang adalah milikmu: Itu termasuk bahkan para Rasul
(Kefas ialah Petrus); “dunia” menerjemahkan kosmos, yang menurut
konteks mencakup segala sesuatu dari kehidupan sampai kematian,
dari masa kini sampai masa depan, yang mempunyai arti, “jumlah
total dari segala sesuatu di sini dan di saat ini, dunia, alam semesta
(yang teratur)” (BDAG). Kata “segala sesuatu” yang komprehensif
ini tidak menyisakan apa-apa, kecuali Kristus dan Allah, yang
meskipun begitu adalah milik kita juga, sekalipun dalam arti
berbeda, sebab mereka masing-masing adalah Tu[h]an kita dan
Allah kita. Namun perhatikan juga bahwa “Kristus adalah milik
Allah” sama seperti “kamu adalah milik Kristus” (1Kor.3:23). Soal
kesetaraan Kristus dengan Allah tidak pernah diungkit dalam PB:
Kristus adalah milik Allah—seperti kita adalah milik Kristus, dan
segala sesuatu adalah milik kita. (bdk. urutan di 1Kor.11:3.)
370 The Only True God

Dapatkah kita menangkap implikasi dari semua ini? Dapatkah
kita memahami maksud dari apa yang tengah diwahyukan?
Bukankah itu tersimpul dalam kalimat terakhir di Kolose 1:16?
“segala sesuatu diciptakan…untuk dia”—untuk dia, bukan sebagai
satu pribadi “individu”, tetapi sebagai kepala dan perwakilan umat
manusia. Ini berarti Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk
manusia dengan Kristus sebagai kepalanya. Itu sebabnya Paulus
dapat berkata, “segala sesuatu adalah milikmu” (1Kor.3:21)!
Dapatkah kita benar-benar menangkap pewahyuan yang
mengejutkan dan mengagumkan ini: Yahweh tidak menciptakan
segala sesuatu untuk diri-Nya sendiri, tetapi untuk kita?! Kita
sebagai makhluk-makhluk egois, dapatkah kita memahami Allah
yang menjadikan segala sesuatu bukan untuk diri-Nya sendiri, tetapi
untuk makhluk-makhluk ciptaan-Nya, khususnya, kita! Yang
diwahyukan adalah Allah yang sama sekali tanpa pamrih dalam
perbuatan-Nya, dan ini memberikan makna yang baru dan
mendalam kepada pernyataan “Allah adalah kasih” (1Yoh.4:8,16).
Berkaitan dengan itu, pertimbangkan juga 1Timotius 6:17, “Allah
yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu
untuk dinikmati.” Apakah kita mengira bila Allah menciptakan
pelbagai jenis bunga yang menghiasi bumi, semuanya cemerlang
dalam berbagai macam warna, bentuk, dan aroma, untuk dinikmati-
Nya sendiri? Sedemikian megahnya sampai-sampai Yesus
berkomentar bahwa Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak
berpakaian seindah bunga-bunga itu (Mat.6:28,29). Pernahkah kita
merenungkan pelbagai jenis pepohonan yang menghasilkan buah-
buah lezat, bunga-bunga yang sedap dipandang, kayu untuk segala
macam kegunaan dan, tak kalah pentingnya, oksigen yang esensial
untuk manusia? Semestinya jelas bahwa Allah tidak menciptakan
pepohonan hanya untuk kesenangan-Nya Sendiri atau hanya untuk
Kristus sendiri.
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 371

Dan mestikah kita melanjutkan berbicara tentang aneka ragam
sayur-mayur yang menyediakan gizi esensial bagi umat manusia?
Apakah kita mengira bila ini semua diciptakan untuk nutrisi-Nya
sendiri? Atau tentang sungai, danau, dan lautan yang diisi dengan
berbagai jenis ikan oleh Allah? Kita tidak perlu melanjutkan, intinya
sudah cukup jelas: Allah “dalam kekayaan-Nya memberikan kepada
kita segala sesuatu untuk dinikmati” (1Tim.6:17). Semua ini
membuktikan apa yang kita lihat dalam pewahyuan PB, yaitu Allah
menciptakan segala sesuatu untuk manusia, bukan hanya untuk
“manusia Kristus Yesus” saja, yang dijadikan kepala jemaat oleh
Allah—tetapi apa artinya kepala tanpa tubuh? Dan dalam hal ini
juga, “tidak baik, kalau manusia itu (Kristus) seorang diri saja”
(Kej.2:18)! Bukankah Paulus yang menegaskan bahwa cerita dalam
kitab Kejadian ini berbicara secara proleptis atau secara tipologis
mengenai Kristus dan jemaat (Ef.5:32)?
Meskipun secara periodik beberapa wilayah dunia menderita
kelaparan terutamanya karena peperangan, salah kelola, korupsi,
dst., bumi ini sekarang menyediakan makanan untuk 7 milyar
orang! 21 Allah dengan kasih sayang menyediakan segala sesuatu
untuk umat manusia walaupun manusia pada umumnya tak
berterimakasih. Terlebih lagi, Allah adalah Allah yang realitasnya
dapat dialami dalam hidup ini bila kita mencari Dia dengan hati
terbuka, yaitu Allah yang telah datang kepada kita di dalam Kristus.
Bertolak-belakang dengan pewahyuan yang luar biasa ini bahwa
Allah di dalam kasih-Nya menciptakan segala sesuatu yang baik
untuk umat manusia, gambaran Kristus macam apa yang muncul
dari terjemahan trinitaris yang menerjemahan kalimat terakhir di
Kolose 1:16 sebagai, “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk
Dia”? Apa lagi artinya kalau bukan Kristus menciptakan segala

21
7 milyar di akhir 2011, Wikipedia, “Populasi Dunia”.
372 The Only True God

sesuatu untuk dirinya sendiri? Sungguh sebuah gambaran yang sama
sekali berbeda dari gambaran Allah yang tanpa pamrih yang
dilukiskan dalam paragraf-paragraf sebelumnya!

Rencana kekal Allah untuk manusia

R encana Allah untuk manusia sebenarnya jauh lebih besar
daripada yang dapat kita bayangkan, “Tetapi seperti ada
tertulis: ‘Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah
didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati
manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang
mengasihi Dia’” (1Kor.2:9). Salah satunya disampaikan Paulus
dalam bentuk pertanyaan, “Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan
menghakimi malaikat-malaikat?” (1Kor.6:3) Para malaikat adalah
makhluk-makhluk rohani, “pahlawan-pahlawan perkasa yang
melaksanakan firman-Nya” (Mzm.103:20). Bagaimana mungkin
seseorang menghakimi malaikat kecuali jika ia diberi otoritas atas
mereka? Lantas apa artinya ini kalau bukan manusia yang ditebus itu
akan dianugerahi otoritas atas makhluk-makhluk tertinggi dalam
penciptaan! Dan oleh karena malaikat tidak berdiam di bumi
melainkan di surga, apa artinya ini kalau bukan manusia yang
ditebus itu akan dianugerahi otoritas baik di surga maupun di bumi!
Otoritas tersebut sudah dianugerahkan kepada Yesus dalam rangka
menyempurnakan karya keselamatan Allah (Mat.28:18-20).
Jika ada masalah yang muncul dalam memahami Kolose 1 dalam
terang kemanusiaan Kristus, masalah ini timbul dari kegagalan
untuk melihat peran luhur yang telah direncanakan Allah untuk
manusia “sebelum dunia dijadikan” (Ef.1:4). Allah menjadikan
seluruh penciptaan sehubungan dengan manusia, dengan Kristus
sebagai kepala dan perwakilannya (“di dalam dia”). Begitu kita
terlepas dari pandangan negatif atas manusia sebagai sepenuhnya
rusak yang mendominasi teologi Kristen, dan begitu kita dipulihkan
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 373

dari rasa heran terhadap keagungan yang direncanakan Allah untuk
manusia, kita tidak akan mengalami kesulitan untuk memahami apa
yang diwahyukan di dalam nas yang menakjubkan dari Kitab Suci
ini.

“Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu” (Kol.1:17)

S ebagai “yang sulung dari segala yang diciptakan” (Kol.1:15), dan
juga “yang sulung dari antara orang mati” (Kol.1:18), ia benar-
benar dapat dikatakan sebagai yang “ada terlebih dahulu dari segala
sesuatu” (Kol.1:17); dan adalah maksud Allah baginya “sehingga ia
yang lebih utama dalam segala sesuatu” (ay.18). “Terlebih dahulu
dari segala sesuatu” digunakan untuk mendukung pra-eksistensi
Kristus dalam trinitarianisme, tetapi ini tidak banyak menolong
dogma trinitaris sebab pra-eksistensi tidak membuktikan keilahian,
membuktikan pra-eminensi pun tidak. Tidak banyak orang yang
akan memungkiri bila Iblis (“si ular”, Kej.3:1dyb.; Why.12:9) sudah
ada sebelum penciptaan di Kejadian 1, ketika segala sesuatu
diciptakan “sungguh amat baik”. Namun ia sudah tampil di Kejadian
3 untuk mencobai Adam dan Hawa agar berbuat dosa. Demikian
pula, tak seorang pun akan mengusulkan bila Iblis menikmati
keutamaan karena pra-eksistensinya. Keutamaan yang diberikan
kepada Kristus adalah sesuatu yang diberikan kepadanya oleh Bapa.
Dalam Kitab Suci, keutamaan biasanya, tetapi tidak semestinya,
merupakan sebuah konsekuensi dari senioritas. Misalnya, walaupun
Yusuf adalah anak ke-11 dari 12 anak laki-laki Yakub, dengan
demikian menjadi anak termuda kedua di antara saudara-
saudaranya, Allah meninggikan dia ke tingkat keunggulan bukan
saja atas mereka tetapi juga atas seluruh tanah Mesir (Kej 30-50).
Yesus berkata bahwa “banyak orang yang terdahulu akan menjadi
yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu”
(Mat.19:30).
374 The Only True God

Mengenai “yang sulung dari segala yang diciptakan”, “yang
sulung” dijelaskan sebagai “merujuk kepada status istimewa yang
dimiliki anak sulung” (BDAG), yang dijelaskan dengan lebih rinci
oleh leksikon itu sebagai “Status istimewa yang dinikmati oleh anak
sulung sebagai ahli waris yang nyata di Israel”. Leksikon tersebut
juga mengartikan frasa “yang sulung dari segala yang diciptakan”
sebagai merujuk kepada keselamatan daripada kepada ciptaan
material, meskipun, seperti telah kita lihat, keduanya terjalin secara
integral: “tentang Kristus, sebagai yang sulung dari sebuah
kemanusiaan baru yang akan dimuliakan, sebagaimana Tuannya
dimuliakan sebagai πρωτότοκον ἐν πολλοῖς ἀδελφοῖς [yang sulung
di antara banyak saudara] Rm.8:29” (BDAG). Leksikon itu
menambahkan: “Ungkapan ini betul-betul cocok untuk melukiskan
Yesus sebagai seorang yang berasal dari Allah untuk mendirikan
sebuah komunitas baru yang terdiri dari orang-orang beriman”.
Dengan demikian “yang sulung dari segala yang diciptakan”
berbicara tentang Kristus sebagai yang pertama, yang terutama,
dalam umat Allah yang baru, yaitu ciptaan baru itu (2Kor.5:17).
Di sisi lain, “yang sulung dari antara orang mati” mengingatkan
kita bahwa “ia telah merendahkan dirinya dan taat sampai mati,
bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp.2:8); karena tanpanya ia
tidak dapat menjadi “yang sulung dari antara orang mati”. Dengan
kata lain, hanya dengan menjadi yang terakhir, merendahkan
dirinya sampai kepada kematian yang paling rendah—kematian di
kayu salib—ia dibangkitkan oleh Yahweh Allah untuk menjadi yang
terdahulu, bukan saja dari orang mati tetapi juga atas seluruh alam
semesta (Flp.2:9-11). Mungkin juga untuk alasan ini Yesus adalah
“Yang Awal dan Yang Akhir” (Why.1:17; 2:8).
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 375

“Segala sesuatu menyatu di dalam dia” (Kol.1:17)

A pa artinya pernyataan itu? Oleh karena “manusia Kristus
Yesus” adalah pusat, hub (pusat kegiatan), dari tujuan Allah
baik untuk penciptaan maupun penebusan, maka bukankah itu
berarti bahwa ia memberikan koherensi kepada segala sesuatu, atau
bahwa segala sesuatu menemukan koherensinya “di dalam dia”?
Yaitu, segala sesuatu mempunyai tujuan dan makna oleh karena dia
dan sehubungan dengan dia; mereka “bertaut untuk membentuk
kesatuan yang harmonis dan kredibel” (sebagaimana Encarta
Dictionary mendefinisikan “koherensi” dengan baik)—tetapi selalu
dan hanya sehubungan dengan dia.
Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa Allah
menghimpun segala sesuatu, atau mempersatukan segala sesuatu, di
dalam Kristus; yang menjadi tujuan utama karya penebusan-Nya
bagi seluruh ciptaan: yaitu “untuk mempersatukan segala sesuatu”—
yang merupakan definisi tepat untuk kata yang diterjemahkan
sebagai “hold together” (sunistēmi, συνίστημι) dalam beberapa
terjemahan Inggris. Karena itu BDAG juga memberikan definisi
sunistēmi sebagai, “menghimpun dengan berkumpul,
mempersatukan, mengumpulkan”. Pertimbangkan nas yang luar
biasa di Efesus 1 berikut ini:
7
Sebab di dalam dia kita beroleh penebusan oleh darahnya,
yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan anugerah-Nya,
8
yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan
pengertian.
9
Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada
kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana
kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam
Kristus
376 The Only True God

10
sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan
di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di
surga maupun yang di bumi.

Mari kita amati bahwa (1) di sini juga, penciptaan dan penebusan
dikaitkan, dan (2) semua ini terjadi “di dalam dia” atau “di dalam
Kristus” (muncul 3 kali dalam 4 ayat ini).
Oleh karena itu, di dalam Kristus segala sesuatu dalam penciptaan
dipersatukan ke dalam sebuah kesatuan yang koheren. BDAG juga
memberikan definisi berikut untuk sunistēmi (συνίστημι): “sampai
pada keadaan koherensi, terus-menerus, bertahan, eksis, menyatu
bersama-sama pres. med. dan akt. pf.” yang tentu saja sesuai dengan
definisi terdahulu. Definisi ini dinyatakan berlaku untuk kata-kata
dalam bentuk present medium dan aktif perfek dari kata kerja itu.
Bentuk yang terakhir yang dipakai di Kolose 1:17. Perhatikan juga
bahwa hanya definisi “menyatu bersama-sama” saja yang diberikan
dalam terjemahan yang dikutip di atas (pada judul). Namun BDAG
menunjukkan bahwa “keadaan koherensi” juga meluas ke gagasan
kesinambungan, daya tahan, dan bahkan eksistensi. Seperti itulah
kuasa, sifat, dan lingkup, dari kesatuan penebusan di “dalam
Kristus”!

2Korintus 8:9
“Karena kamu telah mengenal anugerah Tu[h]an kita Yesus
Kristus bahwa sekalipun ia kaya, oleh karena kamu ia menjadi
miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-
nya.”

P enafsiran trinitaris atas ayat ini tergantung pada penafsiran atas
Filipi 2:6: Yesus kaya di surga tetapi memilih kemiskinan
duniawi sehingga kita bisa menjadi kaya. Namun jika penafsiran nas
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 377

di surat Filipi itu salah, maka ayat itu tidak bisa digunakan di sini.
Lagipula, dalam surat-surat Korintus tidak ada apa-apa yang
membenarkan pemahaman semacam itu.
Pertama-tama, kita perlu menanyakan kekayaan dan kemiskinan
macam apa yang tengah dipertimbangkan di sini. “Supaya kamu
menjadi kaya” pasti tidak merujuk kepada kekayaan material
sebagaimana sudah jelas dari dua ayat pertama pasal ini:

“Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada
kamu tentang anugerah yang diberikan kepada jemaat-jemaat
di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai
penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka
sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan”
(2Kor.8:1,2).

Jemaat-jemaat di Makedonia adalah penerima anugerah Allah, dan
bukti dari anugerah ini adalah kedermawanan mereka di tengah-
tengah penderitaan dan kemiskinan mereka. Anugerah Allah tidak
membuat mereka kaya secara materiil tetapi telah membuat mereka
bersukacita dan dermawan di tengah-tengah pencobaan dan
kemiskinan mereka—di situlah letaknya kebesaran anugerah Allah.
Demikian juga, kekayaan yang akan diterima jemaat di Korintus
jelas adalah kekayaan rohani dari anugerah Allah yang sama seperti
yang diterima oleh jemaat di Makedonia. Hal ini merupakan sesuatu
yang jauh lebih bernilai (yaitu, kekal) untuk Paulus daripada
kekayaan materiil. Paulus tidak mungkin berpendapat bila Kristus
menjadi miskin untuk membuat kita kaya secara materiil.
Ketika Paulus menggambarkan Kristus sebagai “kaya” apakah
maksudnya kaya secara materiil? Bahkan kekayaan surgawi pun
sudah tentu bukan kekayaan materiil. Arti “kaya” sudah
didefinisikan dengan jelas di 2Korintus 8:2: “sukacita yang meluap”
dan “kaya dalam kemurahan” yang tidak dipengaruhi oleh “pelbagai
penderitaan” dan “kemiskinan yang parah” (ILT). Sesungguhnya
378 The Only True God

inilah kekayaan sejati, terutamanya bagi kita yang secara pribadi
telah menyaksikan kesengsaraan para jutawan, dan di sisi lain,
sukacita orang tidak beruang yang bergaul dengan Allah yang setiap
hari mengalami pemeliharaan-Nya, kasih-Nya dan perawatan-Nya.
Lantas, apa artinya “oleh karena kamu menjadi miskin”? Paulus,
sebagai seorang yang “mengikuti teladan” Kristus (1Kor.11:1),
mengilustrasikan hal ini dalam kehidupannya sendiri: “Karena
dialah aku telah melepaskan semuanya itu” (Flp.3:8). Sekarang tanpa
apa-apa lagi, ia masih mempunyai satu milik terakhir untuk
ditawarkan: hidupnya—“Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada
kurban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita
dengan kamu sekalian” (Flp.2:17). Ia memakai gambaran
“dicurahkan sebagai persembahan” ini sekali lagi ketika saatnya tiba
untuk dia menyerahkan nyawanya: “Mengenai diriku, darahku
sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku
sudah dekat” (2Tim.4:6). “Dicurahkan” artinya “dikosongkan” (bdk.
kenoō, Flp.2:7), dan di sini kita melihatnya dalam dua tahap:
pertama adalah niat, sebuah ungkapan hati dan kehendak, seperti
diungkapkan di Filipi 2:17 (juga Kis.20:24), dan kemudian dalam
aktualisasinya di saat ia “akan meninggalkan dunia” seperti di
2Timotius 4:6. Tampaknya inilah caranya “pengosongan-diri”
Kristus di Filipi 2:7 harus dipahami karena kehidupan Paulus
berpolakan kepada kehidupan Kristus; ia memiliki “pikiran” Kristus
(Flp.2:5).
Semuanya ini menerangkan bahwa Kristus yang menjadi
“miskin” bereferensi terutamanya kepada kematiannya di kayu salib
(Flp.2:8). Di atas kayu salib ia menanggung derita “oleh karena
kamu” (2Kor.8:9), suatu kemiskinan yang tidak bisa ditanggung oleh
siapa pun karena, seperti yang dikatakan Paulus sebelumnya, “dia
yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena
kita, supaya dalam dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor.5:21).
Menjadi “kebenaran Allah” artinya menjadi kaya selamanya, sebab
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 379

itu berarti pendamaian dengan Allah dan memperoleh hidup yang
kekal (2Kor.5:17-20). Namun untuk mendapatkan “kekayaan”
seperti itu bagi kita, Kristus rupanya mengalami tingkat kemiskinan
yang paling dalam bukan saja secara jasmaniah tetapi juga secara
batiniah sebagaimana diungkapkan oleh Yesus sendiri di atas salib,
“Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Mzm.22:1) yang berarti: “Allahku,
Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Mat.27:46;
Mrk.15:34). Ia, yang menikmati kekayaan rohaniah dari keakraban
dengan Bapa, sebagaimana dilukiskan dalam Injil Yohanes, sekarang
“karena kamu” menanggung rasa sakit yang tak terkatakan dari
perpisahan itu sebagai penanggung-dosa, dosa yang berdampak
pada pemisahan dari Allah: “tetapi yang merupakan pemisah antara
kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat
Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak
mendengar, ialah segala dosamu” (Yes.59:2).
Prospek kehilangan hadirat Allah dari perpisahan inilah yang
ditakuti Yesus, dan inilah yang menjelaskan keringat dan air
matanya di Taman Getsemani. Namun oleh karena “kesalehannya”
doanya didengarkan: “Dalam hidupnya sebagai manusia, ia
mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan
air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkannya dari maut,
dan karena kesalehannya ia telah didengarkan” (Ibr.5:7). Bagi Yesus
yang telah mengenal hidup yang “kaya” dari keintiman dengan
Bapa, yang bisa dilukiskan dengan menjadi “satu” dengan Dia, tidak
ada kemiskinan yang bisa dibandingkan dengan kehilangan hadirat-
Nya bahkan untuk sekejap, dan saat sekejap seperti itu pasti terasa
seperti kekekalan. Sebagian orang pernah menanggung untuk sesaat
lamanya kehilangan semacam itu yang dilukiskan oleh Santo
Yohanes dari Salib (Saint John of the Cross) dengan “Malam Gelap”
(“the dark night of the soul”), tetapi tentu saja tak seorang pun bisa
mengalaminya sedalam Yesus, dan semuanya itu adalah “demi
kamu”.
380 The Only True God

1Timotius 3:16
Sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: “Dia, yang telah
menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam
Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat,
diberitakan di antara bangsa-bangsa; yang dipercayai di dalam
dunia, diangkat dalam kemuliaan.”

Mengenai 1Timotius 3:16, tentu saja kita tahu ayat itu biasanya
digunakan oleh trinitarian untuk merujuk kepada Kristus, sekalipun
Kristus tidak disebut dalam konteks langsung sehubungan dengan
ayat ini. Misalnya, The Expositor’s Greek Testament membuat asumsi
tersebut hanya berdasarkan sebuah dugaan: “sulit untuk
menghindari kesimpulan bahwa yang menyusul adalah sebuah
kutipan oleh Santo Paulus dari sebuah syahadat primitif… tentang
Yesus Kristus”. Kesimpulan semacam ini yang murni dugaan harus
dihindari, terutamanya ketika tidak sepotong bukti pun yang
diberikan untuk membuktikan eksistensi “syahadat primitif” yang
ditengarai ini. Sebenarnya ada sejumlah naskah di mana dijumpai
pembacaan “Allah telah dinyatakan dalam daging”, tetapi resensi ini
bisa jadi karya trinitarian yang berusaha “membuktikan” keilahian
Kristus. Namun, kemungkinannya tetap ada bahwa pernyataan
“Allah telah dinyatakan dalam daging” menggemakan Yohanes 1:14
yang mengatakan bahwa “Firman (‘Memra’, metonim bagi Yahweh)
menjadi daging”.

1Yohanes 5:7,8
“Sebab ada tiga yang memberi kesaksian: Roh dan air dan
darah dan ketiganya adalah satu”.

Beberapa Alkitab akan mencetak sisipan trinitaris dalam tanda
kurung seperti berikut:
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 381

7
Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam surga:
Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.
8
Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air
dan darah dan ketiganya adalah satu.

Alkitab Inggris NIV menjelaskan sisipan trinitaris itu di catatan
kakinya seperti berikut: “7,8 Naskah-naskah Vulgate yang kemudian
di dalam surga: Bapa, Firman dan Roh Kudus, dan ketiganya adalah
satu. 8Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi: (tidak dijumpai
dalam naskah Yunani mana pun sebelum abad ke-16)”.
Tentang nas ini komentar Prof. Küng sudah mencukupi, “Dalam
surat 1Yohanes konon ada sebuah kalimat (comma johanneum) yang
terkait dengan ucapan tentang Roh, air dan darah, yang selanjutnya
berbicara tentang Bapa, Firman, dan Roh, yang dikatakan adalah
‘satu’. Namun riset historis-kritikal telah membuka kedok kalimat
ini sebagai pemalsuan yang terjadi di Afrika Utara atau Spanyol pada
abad ke-3 atau 4.” (H. Küng, Christianity, hlm.95)
Dalam catatan kaki tentang nas itu, Küng menjelaskan maksud
ayat itu: “Teks asli 1Yohanes 5:7dyb. itu berbicara tentang roh, air
(=baptisan) dan darah (=ekaristi) yang ‘setuju’ atau ‘adalah satu’
(kedua sakramen memberi kesaksian kepada kuasa dari satu roh).”

1Yohanes 5:20
“Akan tetapi, kita tahu bahwa Anak Allah telah datang dan
telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita
mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di
dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dialah Allah yang benar dan
hidup yang kekal.”
382 The Only True God

Yesus datang untuk memberikan pengertian kepada kita. Pengertian
apakah ini? Yaitu mengenal “(Allah) Yang Benar” dan berada “di
dalam (Allah) Yang Benar”. Bagaimana kita bisa berada “di dalam
Dia”? Dengan cara berada “di dalam Anak-Nya Yesus Kristus” (juga
1Yoh.2:24). Jadi, “Dialah Allah yang benar” di kalimat berikut sudah
pasti merujuk pada kata “Yang Benar” yang disebut dua kali dan
juga pada kata “-Nya” dalam kata “Anak-Nya” yang disebut dalam
kalimat terdahulu. Dengan demikian “Allah yang benar” merujuk
kepada Yahweh Allah dan bukan kepada Kristus.
Biasanya, tanpa mengindahkan sintaksis dari ayat tersebut,
banyak trinitarian yang tetap berkeras bila “Allah yang benar”
merujuk kepada Yesus Kristus. Dengan berbuat demikian mereka
juga tidak mengindahkan apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri:
“Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau,
satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang
telah Engkau utus” (Yoh.17:3). Perhatikan betapa tepatnya kata-kata
itu bersesuaian dengan 1Yohanes 5:20; karena kedua ayat berbicara
tentang “Allah yang benar” dan “hidup yang kekal.”

Yohanes 1:18 dan masalah tekstualnya
“No one has ever seen God, but God the One and Only, {Or
the Only Begotten} {Some manuscripts but the only (or only
begotten) Son} who is at the Father's side, has made him
known” (NIV-B).

[Pembahasan di bagian ini hanya relevan kepada para pembaca yang
memakai Alkitab bahasa Inggris seperti ESV, NASB, NIV-B yang
memilih “the only God” atau “the only begotten God” alih-alih “the
only begotten Son” – ed.]
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 383

T erjemahan NIV (British) menggagaskan adanya masalah
tekstual dalam teks ini. Oleh karena masalah itu, ayat ini
sebenarnya tidak berguna untuk tujuan kajian ini, tetapi kita akan
membahasnya demi keutuhan, dan juga karena ayat ini mungkin
dapat membuktikan adanya pemalsuan dengan teks tersebut, yang
mengakibatkan cukup banyak variasi tekstual. Hal ini dapat dilihat
dari berbagai terjemahan: “The only Son” (RSV, NJB), atau “the only
begotten Son” (NKJ), atau “the only begotten God” (NASB), atau
bahkan “God the One and Only” (NIV), “the only God” (ESV), dst..
Pelbagai terjemahan ini menyulitkan diskusi yang berarti atas teks
itu, tanpa pertama-tama mencoba memilah alasan atas variasi yang
membingungkan itu. Tampaknya masalahnya berasal dari fakta bah-
wa teks aslinya telah dipalsukan, jadi masalahnya menjadi masalah
menentukan yang mana dari teks-teks purba itu yang paling
mungkin sebagai teks asli. Namun karena pada saat ini hal itu tidak
dapat ditentukan dengan kepastian mutlak, ini berarti pembahasan
teks ini hanya menjadi masalah kemungkinan atau probabilitas,
yang sangat menurunkan nilainya untuk kajian ini.
Satu kata yang umum dalam semua teks Yunaninya adalah
monogenēs. Apa yang terlampir, atau tidak terlampir pada kata inilah
yang menjadi penyebab masalah. Beberapa teks memuat monogenēs
theos (only begotten God, or the only God), yang lainnya memuat
monogenēs huios (only son, atau only begotten son), yang lainnya
monogenēs huios theou (only begotten son of God), sedangkan bebe-
rapa memuat ho monogenēs (the only begotten). Teks semacam ini
jelas tidak dapat berfungsi sebagai dasar yang kokoh untuk sebuah
doktrin.
Namun demikian, kita dapat membahas dengan singkat kata
monogenēs, karena kata ini jelas-jelas merupakan unsur pokok
dalam semua teks. Pada dasarnya kata ini mempunyai dua definisi
sebagaimana diberikan oleh BDAG Greek-English Lexicon: (1)
merujuk kepada “satu-satunya anak” (laki-laki atau perempuan); di
384 The Only True God

Ibrani 11:17 kata ini merujuk kepada Ishak sebagai satu-satunya
anak Abraham, seperti juga di Lukas 7:12; 9:38, atau satu-satunya
anak perempuan Lukas 8:42; (2) mempunyai makna “unik, berbeda
dari yang lain” seperti di Yohanes 3:16,18 dan 1Yohanes 4:9 merujuk
kepada Yesus sebagai “satu-satunya”, atau “anak Allah yang unik”,
dalam terjemahan lebih lama biasanya “satu-satunya anak Allah
yang diperanakkan”.
1) Mengenai monogenēs kita bisa menanyakan: Mengapa istilah
“satu-satunya Anak yang diperanakkan” atau “Anak Tunggal Allah”
harus dianggap sebagai deskripsi yang membuktikan keilahian? Injil
Lukas menerangkan bahwa gelar “Anak Allah” (Luk 1:35) diberikan
kepadanya oleh karena kelahirannya dari seorang perawan. Bahwa
gelar ini tidak dimaksud untuk menyampaikan gagasan keilahian
tampak jelas dari fakta bahwa Adam juga disebut “anak Allah” hanya
dua pasal sesudahnya (Luk.3:38). Juga, sebagai konsekuensi dari
kelahiran itu Yesus dapat disebut “satu-satunya yang diperanakkan”
atau “tunggal” karena tak seorang pun pernah diperanakkan dengan
cara itu. Ketika Kitab Suci menyediakan penjelasan yang gamblang
dan mudah dimengerti, mengapa kita perlu membacakan pemikiran
kita sendiri ke dalam istilah tersebut?
2) “Yang ada di pangkuan Bapa” (bdk. BDAG “Bosom”); bentuk
present tense di kalimat “yang ada di pangkuan Bapa” tidak mem-
berikan alasan untuk mendukung pra-eksistensi. Logos dikatakan
telah “menjadi daging” di ay.14, dan ayat-ayat sesudahnya berbicara
tentang kejadian-kejadian yang terjadi setelah peristiwa itu. Jadi
tidak ada alasan untuk menduga bila ay.18 kembali ke pra-eksistensi.
3) Gambaran Yesus “yang ada di pangkuan Bapa” dengan indahnya
melukiskan hubungan yang hidup antara Yahweh dengan manusia
di dalam Kristus, mengilustrasikan kedekatan dan keakrabannya,
“yaitu, dalam hubungan yang paling dekat dan intim dengan Bapa,
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 385

Yohanes 1:18 (Winer’s Grammar, 415 (387))” Thayer Greek-English
Lexicon. Ungkapan yang sama “yang ada di pangkuan” dipakai
untuk “murid yang dikasihi Yesus”, biasanya diperkirakan sebagai
Yohanes, sehubungan dengan Yesus di Yohanes 13:23.

“The only begotten God”
Kebanyakan dari naskah Yunani paling tua memuat monogenēs
theos (“only begotten God”), jadi dari sudut pandang tekstual,
pembacaan “God” mendapatkan dukungan naskah yang lebih baik.
B.D. Ehrman, yang mengepalai Department of Religious Studies di
University of North Carolina di Chapel Hill, dan seorang pakar teks
PB, menulis, “Harus diakui bahwa pembacaan pertama (yaitu
“God”) merupakan pembacaan yang dijumpai dalam naskah-naskah
paling tua dan umumnya dianggap yang terbaik—naskah kumpulan
teks Aleksandria.” (Misquoting Jesus, Harper San Francisco, 2005,
hlm.161dyb.) Namun Prof. Ehrman menduga bahwa teks aslinya
adalah “Son” dan diganti oleh kaum antiadopsionis (belakangan
trinitarian) menjadi “God” untuk menentang ajaran kaum
adopsionis bahwa Yesus hanyalah manusia, bukan Allah, tetapi
“diadopsi” oleh Allah menjadi Anak-Nya pada baptisannya ketika
suara surgawi mengumumkan, “Engkaulah Anak-Ku…” (Mrk.1:11).
Dari sudut pandang monoteisme, kedua pembacaan itu tidak
bermasalah. Sebab, jika pembacaannya ialah “Son”, sebagaimana
telah kita lihat dalam pembahasan sebelumnya, pra-eksistensi tidak
tersirat di Yohanes 1:18, sekalipun trinitarian ingin membacakan
pra-eksistensi ke dalamnya. Namun jika pembacaan yang benar
adalah “God”, maka itu merujuk kepada Yohanes 1:14,
“Firman/Memra itu menjadi daging”. Ini akan menguatkan
penafsiran saya atas Yohanes 1:1dyb yang dijabarkan dalam buku
ini. Namun penafsiran saya tidak bergantung pada pembacaan ini
untuk mendapatkan dukungan.
386 The Only True God

Dengan kata lain, trinitarian mengira pembacaan “God”
mendukung doktrin mereka, tetapi itu hanya karena mereka
berasumsi bahwa “God” merujuk kepada Yesus, tanpa
mengindahkan fakta bahwa “God” (berbeda dari “god”) dalam Kitab
Suci selalu merujuk kepada Yahweh. Ehrman juga menegaskan
bahwa “only begotten God” hanya dapat merujuk kepada Bapa
karena ia berpendapat bahwa monogenēs, yang umumnya
diterjemahkan sebagai “only begotten”, di sini berarti “unik”, dan
menulis, “Istilah unik dalam bahasa Yunani berarti ‘berbeda dari
yang lain’. Hanya ada satu saja yang berbeda dari yang lain. Istilah
“the unique God” harus merujuk kepada Allah sang Bapa
sendiri—jika tidak, Ia tidak unik. Akan tetapi jika istilah itu
merujuk kepada Bapa, bagaimana mungkin ia dapat dipakai untuk
Anak?” (Misquoting Jesus, hlm.162, cetak miring darinya, cetak tebal
dari saya).
Berbicara tentang Yesus (atau Anak) sebagai “the unique God”
sudah tentu akan menyisihkan sang Bapa; sebab jika Yesus adalah
“Allah yang berbeda dari yang lain”, apa yang tersisa untuk Bapa?
Atas alasan inilah Ehrman mengatakan, sejauh Alkitab, “istilah the
unique God harus merujuk kepada Allah sang Bapa sendiri”.
Berikut kesimpulan Ehrman atas hal ini: “Mengingat fakta bahwa
frasa yang lebih umum (dan dapat dimengerti) dalam Injil Yohanes
adalah ‘the unique Son’, tampaknya itulah teks asli yang ditulis di
Yohanes 1:18” (Ehrman, Misquoting Jesus, hlm.162). Intinya, jika
perubahan “the unique Son” menjadi “the unique God” adalah karya
ahli-(ahli) kitab dari Aleksandria, maka dengan tidak membuang
kata “unique”, ia membocorkan perubahan yang dibuatnya dan
menggagalkan upayanya sendiri.
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 387

Ucapan-ucapan tentang Yahweh dalam PL yang
diterapkan kepada Yesus dalam PB

K ita sudah melihat sebuah contoh dari hal ini di Filipi 2:10-11,
yang mengandung referensi jelas kepada Yesaya 45:22,23.
Bagaimanakah ayat-ayat itu harus dimengerti? Jawaban bagi perta-
nyaan ini sebenarnya relatif mudah karena pilihan logis yang
tersedia sangat terbatas: (a) “Manusia Kristus Yesus” (1Tim.2:5;
Rm.5:15,17; Kis.4:10) adalah Yahweh—identifikasi yang mustahil
sebab Yahweh adalah “Allah, bukan manusia” (Hos.11:9;
1Sam.15:29; Ayb.9:32; dst.), atau (b) Yesus adalah pengejawantahan
kemuliaan Allah (Ibr.1:3; Yoh.1:14, dst.), kepenuhan Allah (Kol.2:9;
1:19; Yoh.2:21, dst.); ia adalah orang yang di dalamnya sang Bapa
tinggal dan bekerja (Yoh.14:10). Jelas, (b) merupakan satu-satunya
pilihan yang tepat.
Namun jika Yesus bukan (a) ataupun (b) maka menerapkan ayat-
ayat mengenai Yahweh dalam PL kepada Yesus akan berarti ia
adalah Yahweh kedua yang, menurut Alkitab, betul-betul mustahil;
malah lebih buruk, dapat dianggap penghujatan. Lagipula,
mengidentifikasi Yesus sebagai Yahweh tidak menolong
trinitarianisme sedikitpun karena Yahweh adalah sang Bapa, bukan
sang Anak, jadi ayat-ayat Yahweh itu tidak dapat membuktikan
eksistensi “pribadi ilahi kedua”.
Penerapan ayat-ayat Yahweh kepada Yesus memberikan
konfirmasi lanjutan bahwa “kepenuhan” Allah datang ke dunia
secara badaniah, bahwa “Allah ada di dalam Kristus ketika
mendamaikan dunia dengan diri-Nya sendiri” (2Kor 5:19 MILT).

Pertanyaan tentang Hari Tuhan dan Melkisedek
Berkaitan dengan hal ini ada dua pertanyaan yang dikirimkan
kepada saya yang akan saya sampaikan di sini tanpa perubahan.
Jawabannya pun disampaikan tanpa perubahan. Korespondensi ini
388 The Only True God

dimasukkan di sini karena ada kemungkinan sebagian pembaca
mempunyai pertanyaan yang serupa.

“Saya harap Anda tidak keberatan dengan beberapa
pertanyaan yang saya ajukan di sini. Pertama, tentang istilah
‘Hari Tuhan’. Istilah ini digunakan sekitar 25x dalam 23 ayat
di PL/PB tergabung. Tampaknya, ‘Tu[h]an’ dalam PL
umumnya merujuk kepada Yahweh. Namun 5x rujukan dalam
PB (Kis.2:20; 1Kor.5:5; 2Kor.1:14; 1Tes.5:2; 2Ptr.3:10)
kelihatannya merujuk kepada Yesus sebagai Tu[h]an. Kisah
2:20 merupakan kutipan dari Yoel 2:31. Jadi untuk istilah
‘Hari Tu[h]an’, ‘Tu[h]an’ di situ merujuk kepada siapa? Saya
memahami bahwa ‘Hari Tu[h]an’ bisa berlainan artinya pada
waktu dan tempat yang berbeda, tetapi agaknya
membingungkan bila istilah itu terkadang merujuk kepada
Yahweh dan, di tempat lain, khususnya dalam PB, merujuk
kepada Yesus.

“Pertanyaan kedua adalah tentang sosok misterius Melkisedek
(Ibr.7:3), yang tidak berayah ataupun beribu, tidak bersilsilah.
Yesus berasal dari garis keimaman Melkisedek. Siapakah
Melkisedek? Yesus mempunyai garis keturunan jasmaniah dan
rohaniah. Apakah orang akan menganggapnya manusia
sekaligus ilahi?”

Jawaban saya: “Hari Tu[h]an” berkaitan dengan penghakiman.
Tentang hal ini Yesus sudah memberikan gambaran situasi yang
sangat jelas, “Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah
menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak”
(Yoh.5:22). Artinya, Yesus akan mengadili sebagai hakim yang
diangkat oleh Yahweh, yaitu, sebagai plenipotentiary (duta) Yahweh
yang berkuasa penuh yang bertindak atas Nama-Nya. Hal yang sama
ditekankan oleh Petrus dalam pesannya yang Anda kutip (Kis.2:20)
dan yang ditutup dengan kata-kata berikut, “Jadi seluruh kaum
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 389

Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus,
yang kamu salibkan itu, menjadi Tu[h]an dan Kristus” (ay.36). Hal
yang sama dinyatakan di sini: Allah telah melantik Yesus sebagai
duta-Nya yang berkuasa penuh. Ini berarti bahwa “Tu[h]an” akan
bertindak atas nama “TU[H]AN (yaitu Yahweh)”. Oleh karena itu,
“Hari Tu[h]an” merujuk kepada salah satu ataupun keduanya tanpa
perbedaan penting.
Sedangkan untuk pertanyaan kedua, tampaknya tidak terdapat
kaitan logis antara keimaman Melkisedek dengan Yesus yang dipan-
dang sebagai “manusia sekaligus ilahi”. Surat Ibrani tidak berbicara
tentang Yesus sebagai keturunan Melkisedek secara jasmani, jadi
entah Melkisedek itu ilahi atau tidak, tidak ada pengaruhnya atas
pribadi Yesus. Sebenarnya dalam surat Ibrani tidak didalilkan
adanya kaitan personal yang langsung antara Melkisedek dan Yesus.
Hanya keimamannya saja yang dibahas di situ, dan ia menjawab
sebuah permasalahan serius bagi umat Yahudi (Ibrani): Bagaimana
mungkin Yesus seorang imam, apalagi imam besar (tema utama
dalam surat Ibrani), sedangkan ia bukan keturunan suku Lewi?
Jawaban penulis surat Ibrani adalah bahwa hal itu telah dinubuatkan
(Mzm.110:4, sebuah Mazmur mesianik), bahwa raja Mesianik
keturunan Daud itu juga adalah seorang imam—Mesias akan
menggabungkan kedudukan sebagai raja dan imam dalam dirinya—
tetapi sebagai seorang dari suku Yehuda ia tidak mungkin adalah
imam dari suku Lewi, tetapi keimamannya akan seperti keimaman
Melkisedek yang adalah raja sekaligus imam. Namun semua ini tidak
ada kaitannya dengan apakah Yesus itu manusia sekaligus ilahi.

Satu lagi teks bukti trinitaris—Yohanes 12:41
“Hal ini dikatakan oleh Yesaya, karena ia telah melihat
kemuliaan-Nya dan telah berkata-kata tentang Dia.”
390 The Only True God

T rinitarian biasanya beranggapan, tanpa menghiraukan eksegesis
atas ayat ini, bahwa yang dikatakan di sini adalah Yesaya
melihat kemuliaan Yesus dan berbicara tentang dia. Sebenarnya, tak
secarik bukti pun dapat ditunjukkan dari nas kitab Yesaya ini bahwa
Yesaya berbicara tentang Yesus, atau bahwa kemuliaan yang
dilihatnya adalah kemuliaan Yesus. Semua ini harus dibacakan ke
dalam nas kitab Yesaya. Dan juga, tidak ada bukti bahwa Yohanes
tengah mengklaim bahwa Yesaya melihat manusia Yesus dalam
penglihatannya akan Yahweh. Akan tetapi, inilah caranya
trinitarianisme berkembang pesat, yaitu dengan terang-terangan
mengabaikan prosedur eksegesis yang tepat.
Pembahasan ayat ini dapat disederhanakan dengan memperha-
tikan baik-baik bahwa (1) ayat ini merujuk kepada penglihatan
Yesaya di Yesaya 6, yang mengisahkan tentang penglihatan akan
Yahweh; tetapi (2) tak seorang pun dapat melihat Yahweh dan hidup
(Kel.33:20, dst.), jadi apa yang dilihat Yesaya dijelaskan di Yohanes
12:41 sebagai “kemuliaan-Nya”, yang disebut umat Yahudi sebagai
Syekinah-Nya; oleh karena itu, (3) jika Yohanes bermaksud
menerapkan kata-kata tersebut kepada Yesus maka hanya ada dua
kemungkinan: a. manusia Yesus itu diidentifikasi sebagai pribadi
yang satu dan sama dengan Yahweh, yang adalah mustahil, dan
bagaimanapun juga tidak akan memenuhi tujuan trinitaris, atau b.
mengidentifikasi Yesus sebagai ekspresi kemuliaan Yahweh,
pengejawantahan Syekinah-Nya, dan ini akan bersesuaian dengan
Yohanes 1:14. Tentu saja, tak satu pun dari semua ini mendukung
trinitarianisme, karena pada dasarnya tidak ada trinitarianisme
dalam Injil Yohanes.
Jadi teks ini sebenarnya tidak berguna untuk trinitarianisme
karena (1) jika kata “-Nya” itu dianggap merujuk kepada Yahweh,
hal itu tidak dapat berfungsi sebagai teks bukti, dan (2) jika “-Nya”
itu dianggap merujuk kepada Yesus, itu akan menyamakan Yesus
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 391

dengan Yahweh, yang akan merancukan “Pribadi Pertama”, yaitu
Bapa dalam trinitarianisme dengan “Pribadi Kedua”, “Allah-Anak”.
Bila kita membandingkan Yohanes 12:41 dengan 1:14 kita segera
melihat bahwa “kemuliaannya” (tēn doxan autou) muncul dalam
kedua ayat itu; jadi yang satu menjelaskan yang lain: “Dan Firman
itu sudah menjadi daging dan berdiam di antara kita. Dan kita telah
melihat kemuliaan-Nya” (1:14a,b ILT). Pokok bahasan di Yohanes
1:14 adalah Firman. Jadi jelas “kemuliaan-Nya” merujuk kepada
kemuliaan Firman. Karena Firman/Memra dalam Prolog Yohanes
merupakan sebuah metonim atau synecdoche untuk Yahweh (kita
akan mempelajari hal ini dengan lebih mendalam dalam buku ini),
maka jelaslah “kemuliaan-Nya” itu merujuk kepada kemuliaan
Yahweh, yang justru disebut kemuliaan yang dilihat Yesaya di
Yohanes 12:41. Selanjutnya kedua ayat di Injil Yohanes ini menyak-
sikan bahwa kemuliaan Yahweh itu sekarang “telah dinyatakan di
dalam daging” (1Tim.3:16, ILT) karena ia “sudah menjadi daging
dan berdiam di antara kita”. Di dalam “daging” itulah “kita telah
melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadanya
sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran”
(Yoh.1:14). Dengan kedatangannya di dalam daging ia dikenal
sebagai “Anak Tunggal Bapa” yang disebut tiga ayat kemudian
sebagai “Yesus Kristus” (ay.17). 22

“Aku telah melihat sang Bapa”: bukti pra-eksistensi?
Di Yohanes 12:41, “Yesaya…telah melihat kemuliaan-Nya”;
“melihat” adalah kata horaō. Inilah kata yang sama yang digunakan
untuk penglihatan Yesus akan Bapa:

22
Baca juga “Catatan atas eksegesis Yohanes 12:41”, Lampiran 5.
392 The Only True God

Yohanes 3:32, “Ia bersaksi tentang apa yang dilihatnya dan
yang didengarnya, tetapi tidak seorangpun yang menerima
kesaksiannya itu.”

Yohanes 6:46, “Hal itu tidak berarti bahwa ada orang yang
telah melihat Bapa. Hanya dia yang datang dari Allah, dialah
yang telah melihat Bapa.”

Yohanes 8:38, “Apa yang kulihat pada Bapa, itulah yang
kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang
kamu dengar dari bapakmu.”

Namun apakah kita perlu berasumsi (asumsi lagi) bahwa referensi-
referensi ini merujuk kepada “penglihatan” dalam keadaan pra-
eksistensi? Atau, apakah hal itu terjadi setelah ia lahir? Perhatikan
present tense dalam perkataan Yesus di Yohanes 5:19, “Lalu Yesus
menjawab mereka, ‘Sesungguhnya aku berkata kepadamu, Anak
tidak dapat mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri, jikalau ia tidak
melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu
juga yang dikerjakan Anak.’” Ini menunjukkan bahwa “penglihatan”
Yesus merupakan sesuatu yang dialaminya di bumi, dan tentunya
bukan hanya ketika Yesus mengucapkan Yohanes 5:19, tetapi selama
bertahun-tahun kehidupannya di bumi. Jadi ini murni perkara
membacakan dogma trinitaris kita ke dalam teks itu untuk
berargumentasi bahwa kala perfect tense di “Apa yang kulihat pada
Bapa” (Yoh.8:38) merupakan sesuatu yang terjadi dalam keadaan
pra-eksistensi Yesus. Berdasarkan logika argumen ini kita pun
terpaksa menerima pra-eksistensi Yesaya, sebab ia berkata, “mataku
telah melihat Sang Raja, yakni Yahweh semesta alam” (Yes.6:1,5)! 23

23
Di sisi lain, ucapan-ucapan tentang “melihat” itu bisa juga dianggap
contoh-contoh dari Logos (seperti Hikmat, Mat.11:19; Luk.7:35 bdk. 11:49)
yang berbicara melalui Kristus.
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 393

Yohanes 16:15, “Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah
milikku”—bukti keilahian?

I ni sesuai dengan Yohanes 17:10, “dan segala milikku adalah
milik-Mu dan milik-Mu adalah milikku.” Ini jelas merupakan
bagian dari arti menjadi satu dengan Bapa, sebuah kesatuan di mana
umat beriman dipanggil untuk berpartisipasi, “supaya mereka
menjadi satu, sama seperti kita adalah satu” (17:22b). Sedangkan
untuk bagian kedua dari 17:10 (“dan milik-Mu adalah milikku”),
kita menjumpai gema yang mencolok dalam perkataan Paulus,
“Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas
manusia, sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus, Apolos,
maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu
sekarang, maupun waktu yang akan datang. Semuanya milikmu,
tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah”
(1Kor.3:21-23).
Namun “segala sesuatu” tentu saja adalah milik Allah, sebab tidak
ada sesuatu pun yang bukan milik-Nya; namun sekarang sebagai
akibat dari penyatuan kita dengan diri-Nya melalui Kristus, segala
sesuatu—termasuk para Rasul, dunia, kehidupan, kematian, masa
kini dan masa yang akan datang (daftar yang sungguh mencengang-
kan!)—semuanya itu menjadi milik kita, dan hal itu diulangi lagi:
“semuanya milikmu” untuk memastikan kita tidak melewatkan hal
yang luar biasa itu!
Hal ini ditegaskan lagi di ayat lain: Roma 8:17, “Jika kita adalah
anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang
berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya
bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-
sama dengan dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama
dengan dia.”
Segala sesuatu adalah milik Allah, karena itu menjadi “ahli waris
Allah” artinya menjadi ahli waris segala sesuatu dan “ahli waris
bersama-sama dengan Kristus”. Sekarang kita mengerti mengapa
394 The Only True God

Yesus dapat berkata, “Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-
ku”—sebab ia adalah ahli waris Allah oleh karena menjadi Anak-
Nya. Nah, oleh anugerah Allah, kita dapat berkata bersama dengan
Kristus, “Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milikku” karena Ia
telah menjadikan kita ahli waris bersama-sama dengan Kristus.
Melalui dia kita menjadi ahli waris Allah!
Semua kebenaran yang menakjubkan dan penting ini memampu-
kan kita untuk lebih memahami signifikansi perkataan Yesus di
Yohanes 16:15 (“Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milikku”),
yang jelas menunjukkan bahwa ayat itu tidak membuktikan keseta-
raan Kristus yang inheren dengan Bapa. Yang dibuktikan adalah
kasih Bapa kepadanya, sama seperti 1Korintus 3:21 membuktikan
kasih Bapa yang menakjubkan untuk kita.
Hal yang biasanya diabaikan adalah bahwa untuk mengatakan
Kristus merupakan ahli waris Allah adalah sama dengan
mengatakan bahwa segala sesuatu yang dimiliki Kristus diberikan
kepadanya oleh Bapa, dan bahwa ia tidak memiliki apa-apa selain
dari apa yang diberikan kepadanya. Justru hal inilah yang ditegaskan
oleh Yesus sendiri dalam pengajarannya kepada murid-muridnya:
Yohanes 17:7 “Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau
berikan kepadaku itu berasal dari Engkau.” Barrett menulis bahwa
hal itu bisa diungkapkan dengan “‘Semua yang kumiliki berasal dari
Engkau’… Yohanes seperti biasa menekankan ketergantungan
Yesus, dalam misi duniawinya, kepada Bapa” (tentang Yoh.17:7).
Demikian pula, mengatakan bahwa kita adalah ahli waris bersama-
sama dengan Kristus, sama juga dengan mengatakan bahwa apa pun
yang kita miliki, kita terima dari Bapa oleh karena kasih-Nya yang
tidak terduga untuk kita. Kita, dengan sendirinya, tidak memiliki
apa-apa sama sekali.
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 395

Yohanes 17:5
“Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah aku di hadirat-Mu
sendiri dengan kemuliaan yang kumiliki di hadirat-Mu
sebelum dunia ada.”

I ni merupakan salah satu ayat yang disebut-sebut menyiratkan
keilahian Yesus oleh trinitarian. Ada dua unsur dalam ayat ini
yang mereka kira mendukung pandangan mereka: (1) “kemuliaan”:
“kemuliaan yang kumiliki di hadirat-Mu” dan (2) pra-eksistensi:
“sebelum dunia ada”. Kesalahan argumen trinitaris bersandar pada
kenyataan bahwa gagasan-gagasan mereka sendiri telah dibacakan
ke dalam makna kedua unsur itu, karena mereka gagal memahami
makna kedua unsur itu dalam Injil Yohanes dan PB. Dengan kata
lain, ini merupakan satu lagi dari sekian banyak contoh eisegesis
trinitaris: membacakan ke dalam teks apa yang tidak ada di dalam
teks dan yang tidak dimaksud oleh teks.
Mengenai (1), “kemuliaan”, trinitarian sekadar berasumsi bahwa
kemuliaan yang dimaksud di sini adalah kemuliaan ilahi, meskipun
tidak ada bukti untuk hal itu dalam teksnya sendiri, jadi gagasan
kemuliaan ilahi begitu saja dibacakan ke dalamnya. Paulus berbicara
tentang adanya berbagai jenis kemuliaan (1Kor.15:40-43).
Namun kenyataannya adalah bahwa dalam Injil Yohanes,
“kemuliaan” memiliki makna yang tidak lazim dan, karena itu, tidak
terduga. Adalah ciri khas Injil “spiritual” ini bahwa nilai-nilai
manusia dibalikkan sehingga apa yang tidak mulia di mata manusia
menjadi mulia di mata Allah. Sama seperti tertulis dalam kitab
Yesaya, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu
bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Yahweh” (Yes.55:8).
Demikian pula, dalam Ucapan Bahagia Yesus memberitahu murid-
muridnya bahwa penganiayaan merupakan alasan untuk bersukacita
ria (Mat.5:10-12), dan hal yang jarang diperhatikan adalah bahwa ia
396 The Only True God

menggunakan kata “berbahagialah” dua kali dalam nas itu, yang
menjadikannya “berkat ganda”. Namun anehnya, Ucapan Bahagia
itu sering disebut “delapan berkat” (mis. dalam bahasa Cina)
padahal ada sembilan. Namun sukacita bukanlah reaksi umum umat
Kristen terhadap penganiayaan. Tidak banyak orang menganggap
pengalaman penganiayaan sebagai pengalaman mulia. Akan tetapi,
dalam Injil Yohanes, Yesus justru berbicara tentang penyalibannya
sebagai peninggiannya, atau pemuliaannya.

Ciri khusus kemuliaan dalam Yohanes—“ditinggikan”:

Yohanes 3:14,15, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular
di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus
ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepadanya
beroleh hidup yang kekal.”

Yohanes 8:28, “Maka kata Yesus: ‘Apabila kamu telah
meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa akulah
dia, dan bahwa aku tidak berbuat apa-apa dari diriku sendiri,
tetapi aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan
Bapa kepadaku.’”

Yohanes 12:32-33, “‘dan aku, apabila aku ditinggikan dari
bumi, aku akan menarik semua orang datang kepadaku.’ Ini
dikatakannya untuk menyatakan bagaimana caranya ia akan
mati.”

Yohanes 13:31, “Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus:
‘Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di
dalam dia.’”

Yohanes 7:39, “Yesus belum dimuliakan”—pada saat itu ia
masih belum “ditinggikan”.
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 397

Yohanes 12:23,24, “Kata Yesus kepada mereka, ‘Telah tiba
saatnya Anak Manusia dimuliakan. Sesungguhnya aku berkata
kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan
mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan
menghasilkan banyak buah.’”

Kaitan antara Yesus yang “dimuliakan” dengan biji gandum yang
“menghasilkan banyak buah” melalui kematian dibuat jelas secara
eksplisit. Kematian adalah “kemuliaan” biji gandum justru karena
melalui kematiannya itu biji itu menghasilkan banyak buah, dan
hanya dengan cara itu, karena tidak ada cara lain untuk sebuah biji
berbuah banyak dan berlipatganda. Pepatah kuno “darah para martir
merupakan benih jemaat” mewartakan kebenaran yang sama.
Kematian sebagai sesuatu yang memuliakan Allah terlihat juga di
Yohanes 21:19, “Dan hal ini dikatakannya (Yesus) untuk
menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah.”
Akan tetapi, bagaimana bisa penderitaan dan penyaliban disebut
“kemuliaan” yang dimiliki Yesus di hadirat Bapa sebelum dunia ada?
Ini membawa kita kepada unsur kedua: “pra-eksistensi”.

(2) “Sebelum dunia ada” (Yoh.17:5)
Trinitarian berasumsi bahwa kata-kata ini berbicara tentang pra-
eksistensi Yesus, tetapi pandangan ini bermasalah secara eksegetis
karena (a) berdasarkan prinsip bahwa Kitab Suci sendiri merupakan
penafsir yang terbaik, maka tidak ada kesejajaran langsung dengan
kata-kata di Yohanes 17:5 ini di tempat lain dalam Kitab Suci (untuk
saat ini tidak termasuk penafsiran trinitaris atas Yohanes 1 dan Filipi
2), jadi tidak ada bukti Alkitabiah yang dapat dikemukakan untuk
mendukung gagasan pra-eksistensi Kristus di sini. (b) Namun
sekalipun diasumsikan bahwa ayat ini berbicara tentang kemuliaan
Kristus yang pra-eksisten, hal itu tidak membuktikan keilahiannya
sama sekali. Pra-eksistensi bukanlah bukti keilahian. Para malaikat
398 The Only True God

dan makhluk rohaniah lain pun pra-eksisten dalam arti mereka eksis
sebelum dunia diciptakan, sebagaimana terlihat dari fakta bahwa
mereka tidak disebut diciptakan sebagai bagian dari ciptaan materiil
di Kejadian 1. (c) Frasa “di hadirat-Mu” (dalam “kemuliaan yang
kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada”) bukanlah kesejajaran
langsung dengan Yohanes 1:1 (“Firman itu bersama-sama dengan
Allah”) di mana kata “bersama-sama dengan” dalam bahasa
Yunaninya adalah pros; di Yohanes 17:5 adalah para seperti di Amsal
8:30 tentang Hikmat, “aku ada di sisi-Nya (para) sebagai kepala
pekerja” (Ams.8:22-31 ILT). Ini mungkin mengusulkan bahwa di
sini Logos di dalam Kristus tengah berbicara sebagai Hikmat.
Namun ini berarti kita harus memahami “kemuliaan” dalam arti
yang berbeda dari yang digunakan Yesus tentang dirinya.
Untuk menghindar dari membacakan pemikiran kita sendiri ke
dalam teks, kita perlu memeriksa dengan hati-hati konsep pra-
eksistensi sebagaimana ia muncul dalam PB. Rasul Paulus menyata-
kannya dengan jelas dan ringkas seperti berikut di Roma 8 (ILT):
29
Sebab, mereka yang telah Dia kenal sebelumnya, juga telah
Dia pratetapkan serupa dengan gambar Putra-Nya, sehingga
dia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. 30Dan
mereka yang telah Dia tetapkan sebelumnya, mereka juga
telah Dia panggil, dan mereka yang telah Dia panggil, mereka
juga telah Dia benarkan, dan mereka yang telah Dia benarkan,
mereka juga telah Dia muliakan.

Serangkaian peristiwa dipaparkan di sini sebagai berikut: kenal
sebelumnya  pratetapkan (menjadi serupa dengan gambaran
Anak-Nya)  panggil  benarkan  muliakan. Perhatikan bahwa
Yahweh Allah adalah pengarang dari kelima kejadian itu, yang
dimulai dengan pra-pengetahuan-Nya sebagai Yang Mahatahu.
Hal yang harus diingat adalah adanya selang waktu yang lama,
atau kesenjangan waktu, antara Yahweh yang mengetahui segala
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 399

sesuatu “sebelum dunia ada” dan saat si orang beriman dipanggil
dan dibenarkan. Dan masih ada selang atau kesenjangan waktu lain
(yang mungkin lama) dari saat panggilan dan pembenaran si orang
beriman sampai kepada saat ketika ia akan dimuliakan pada hari
kebangkitan dari antara orang mati dan masuk ke dalam kepenuhan
hidup kekal. Artinya, dari “kenal sebelumnya” sampai pada
“dimuliakan” di Roma 8:29,30 meliputi pra-eksistensi dalam
keabadian yang merentang ke masa lalu hingga kepada keabadian
yang merentang ke masa depan: seperti ada tertulis “dari selama-
lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah” (Mzm.90:2).
Hal yang relevan dari semuanya ini untuk pemahaman kita
mengenai pra-eksistensi Alkitabiah adalah bahwa Yahweh telah
mengenal si orang beriman itu sebelumnya jauh sebelum ia benar-
benar ada, sesungguhnya, “sebelum dunia ada”; si orang beriman
telah ada dalam pengetahuan Allah jauh sebelum kelahirannya ke
dalam dunia. Hal ini, tentu saja, sama persis dengan “manusia
Kristus Yesus”. Orang-orang dan peristiwa-peristiwa sudah ada
dalam pengetahuan Allah terlebih dahulu, dan dengan demikian, Ia
dapat bertindak berdasarkan pra-pengetahuan itu, sehingga setiap
orang yang Ia panggil akan menjadi serupa dengan gambaran Anak-
Nya menurut rencana keselamatan-Nya bagi umat manusia yang
telah ditentukan sebelumnya.
Hal ini dikonfirmasi dengan mempertimbangkan referensi
Yohanein yang lain di kitab Wahyu, yang menyatakan realitas
kekekalan:

Wahyu 13:8, “Dan semua orang yang diam di atas bumi akan
menyembah si binatang—setiap orang yang namanya tidak
tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba yang telah
disembelih sejak dunia dijadikan. {Atau, tidak tertulis sejak
dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan Anak Domba yang
telah disembelih}” (NIV).
400 The Only True God

Sintaksis atau susunan kalimat dari teks Yunaninya lebih
mendukung terjemahan NIV daripada alternatif yang diberikannya
dalam tanda kurung. Berdasarkan pembacaan ini, Anak Domba,
Yesus, telah disembelih pada penciptaan dunia, yaitu, di dalam
pikiran dan rencana penyelamatan Allah, jauh sebelum ia dilahirkan
di Israel. Sekarang kita dapat melihat bagaimana kemuliaan dari
“peninggian” Yesus di atas kayu salib terkait dengan “sebelum dunia
ada” dalam perkataan Yesus di Yohanes 17:5—sebuah pernyataan
yang mengandung kedalaman yang mencengangkan.

Pra-eksistensi rencana Allah untuk keselamatan umat
manusia di dalam Kristus

K eselamatan merupakan sesuatu yang sudah ada dalam rencana
Allah sebelum dunia ada. Di ayat-ayat berikut kita akan
melihat beberapa contoh dari “sebelum dunia ada” yang diterapkan
kepada semua orang beriman:

Matius 25:34, “Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang
di sebelah kanannya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh
Bapaku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu
sejak dunia dijadikan.” Kerajaan itu disediakan bagi “kamu”
jauh sebelum “kamu” ada, sesungguhnya, sudah “sejak dunia
dijadikan”!

Wahyu 13:8, “Semua orang yang tinggal di atas bumi akan
menyembahnya (binatang itu), yaitu setiap orang yang
namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab
kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih.” Ini
merupakan kemungkinan lain dalam menerjemahkan teks
Yunani ayat ini; jadi “sejak dunia dijadikan” merujuk baik
kepada orang-orang beriman maupun kepada sang Anak
Domba, tetapi yang mana pun mereka ada dalam rencana
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 401

Allah sebelum mereka memasuki dunia ini. Jika terjemahan
ini diterima, maka itu berarti bahwa mereka yang tidak
menyembah binatang itu adalah mereka yang namanya tertulis
dalam kitab kehidupan dari Anak Domba sejak dunia
dijadikan.

2Timotius 1:9, “Dialah (Allah) yang menyelamatkan kita dan
memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan
perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan anugerah-
Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam
Kristus Yesus sebelum permulaan zaman [yaitu dalam
kekekalan, πρὸ χρόνων αἰωνίων]”.

Mengenai Kristus sendiri dikatakan bahwa ia, “yang memang telah
diketahui terlebih dahulu sebelum permulaan dunia, tetapi baru
dinyatakan pada masa yang terakhir bagi kamu” (1Ptr.1:20, ILT; bdk.
2Tim.1:9,10). Ia telah “diketahui terlebih dahulu” oleh Allah, tetapi
tidak disebut tentang pra-eksistensi. Ayat berikutnya (1:21) berkata,
“Melalui dialah kamu percaya kepada Allah yang telah membangkit-
kan dia dari antara orang mati dan telah memuliakannya, sehingga
imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah”. Di sini,
kemuliaan yang diberikan kepada Kristus oleh Allah bukanlah
kemuliaan pra-eksisten tetapi diberikan kepadanya setelah Allah
membangkitkan dia dari antara orang mati.

Roma 4:17—Allah “memanggil hal-hal yang tidak ada
seolah-olah ada” (NIV)

“A llah yang… memanggil hal-hal yang tidak ada seolah-olah
ada” (Roma 4:17, NIV). James Dunn (Word Biblical
Commentary, Roma) sependapat bila terjemahan ini tepat, tetapi
menganggapnya terlalu “lemah”, dan lebih menyukai “memanggil
hal-hal yang tidak ada menjadi ada”. Tentu saja kedua terjemahan
402 The Only True God

itu mungkin, dan tidak saling eksklusif. Namun terjemahan yang
lebih disukai Dunn berfungsi untuk menggaris-bawahi pernyataan
yang mendahuluinya (“Allah yang menghidupkan orang mati”).
Meskipun demikian, terjemahan NIV mengungkapkan sebuah
kebenaran yang mendalam: Bagi Allah, hal-hal yang belum ada,
adalah “seolah-olah sudah ada”, yaitu sudah bereksistensi.
Misalnya, bagaimana mungkin Ia telah bertindak demi keselama-
tan kita sebelum dunia dijadikan ketika kita masih belum ada?
Jawabannya ditemukan justru di Roma 4:17: Dalam pikiran dan pra-
pengetahuan-Nya, kita sudah ada, dan Ia bertindak sesuai dengan
pra-pengetahuan itu dengan mengambil langkah-langkah konkret
sehubungan dengan kita bahkan sebelum dunia diciptakan! Bukan-
kah ini tepatnya yang dikatakan Paulus, “Mereka yang telah Dia
kenal sebelumnya…Dia panggil” (Rm.8:29,30, ILT)? Ayat-ayat yang
kita baca dalam paragraf terdahulu, seperti Matius 25:34; 2Timotius
1:9; dan Wahyu 13:8, semuanya mencontohkan kebenaran yang
sama ini tentang Allah, yang memberikan anugerah keselamatan-
Nya kepada kita di dalam Kristus “sebelum permulaan zaman”
(2Tim.1:9).
Ini berarti sebuah tujuan yang terbentuk dalam pikiran Allah
adalah sebagus tujuan yang telah tergenapi atau telah ada. Dalam arti
ini, kita telah ada “sebelum dunia dijadikan”, dan “mereka yang telah
Dia kenal sebelumnya…Dia muliakan” (Rm 8:29,30, ILT)—Allah
telah memuliakan kita sebelum dunia dijadikan! Seperti itulah
kepastian dari tujuan-tujuan Yahweh, tanpa menghiraukan betapa
dekat atau jauh di masa depan, sehingga kata-kata (dipanggil,
dibenarkan, dimuliakan) itu semuanya ditulis dalam past tense
(Yunani: aorist)! Paulus dikaruniai pemahaman yang mendalam
akan Allah; dan atas dasar inilah ia dapat membuat pernyataan yang
luar biasa seperti itu. Diterapkan kepada dirinya sendiri, ia
memahami bahwa Allah dalam kasih dan anugerah-Nya telah
memilih dia dan memuliakan dia sejak kekekalan.
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 403

Jika Paulus memahami hal ini, tidakkah Yesus juga tahu tentang
hal itu? Tentu saja. Ini terlihat dari Yohanes 17:5, “Dan sekarang, ya
Bapa, muliakanlah aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan
yang kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada”. Mengingat
pembahasan terdahulu, sekarang kita siap untuk menyimpulkan
kajian kita atas ucapan Yesus yang signifikan ini:
(1) “Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah aku di hadirat-Mu sendiri”,
yang mengawali kalimat itu, jelas menunjukkan bahwa Yesus sedang
bersiap-siap untuk memasuki hadirat Bapa melalui kematian dan
kebangkitannya: Bdk. “Aku pergi kepada Bapa” (Yoh.16:10), “Aku
pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yoh.14:2,3), “Aku
belum naik kepada Bapa” (Yoh.20:17), tetapi ia akan segera naik.
(2) “Muliakanlah aku”; kita telah melihat makna khusus dari
“kemuliaan” dan “mempermuliakan” dalam Injil Yohanes. Hal yang
perlu diamati di sini adalah, “muliakanlah” berbentuk aktif, menun-
jukkan bahwa pemuliaan ini merupakan tindakan Bapa: Yesus yang
“ditinggikan”, kematiannya di kayu salib untuk dosa adalah, pada
akhirnya, hasil usaha Allah, bukan manusia; kematian Kristus demi
keselamatan kita adalah rencana Allah, bukan manusia. Yesus adalah
“Anak Domba Allah”. Imam di bait suci yang menyembelih anak
domba itu sekadar bertindak atas nama orang yang mempersem-
bahkan anak domba itu; anak domba itu bukan anak domba imam.
“Anak Domba Allah” disebut demikian karena ia dipersembahkan
oleh Allah untuk keselamatan kita: “Inilah kasih itu: Bukan kita yang
telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan
mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita”
(1Yoh.4:10). Oleh karena itu, kematian Kristus sebagai kurban
pendamaian bagi kita terutamanya adalah perbuatan Allah. Jika kita
gagal melihat hal ini kita akan secara keliru menyalahkan orang
Romawi atau Yahudi atas kematiannya yang hanya berfungsi sebagai
alat dalam rencana Allah demi keselamatan umat manusia.
404 The Only True God

(3) Rencana keselamatan ini bukan hasil pemikiran yang timbul
kemudian di pihak Allah, tetapi telah dipersiapkan dalam kekekalan
“sebelum dunia ada” dan sekarang tengah diterapkan melalui kasih,
kuasa, dan hikmat Allah. Mempertimbangkan hal-hal tersebut, sang
Rasul berseru, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan
pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-
Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Rm.11:33)
Akhirnya, kebenaran bahwa Allah “memanggil hal-hal yang tidak
ada seolah-olah sudah ada” (Rm.4:17, NIV) bukanlah sekadar
sebuah soal teologi untuk memuaskan rasa ingin tahu kita.
Kebenaran itu ditulis demi sebuah tujuan yang sangat praktis, yaitu,
menunjukkan bahwa iman bukanlah semacam angan-angan tetapi
bersandar pada batu karang karakter Allah Sendiri, dan yang
rencana dan tujuan-Nya tidak mungkin gagal. Iman, bahkan dalam
menghadapi rintangan yang tampaknya tak teratasi, pasti akan
menang, bukan karena ada apa-apa yang inheren di dalam iman itu
sendiri, tetapi karena Dia yang kepada-Nya iman bergantung. Inilah
sebabnya mengapa konteks Roma 4 berkaitan terutama dengan
aplikasi praktis iman dalam kehidupan kita bahkan dalam berbagai
keadaan yang tidak bersahabat, dan Abraham diangkat sebagai
teladan dari hal ini:

19
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui
bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah
kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.
20
Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena
ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia
memuliakan Allah,
21
serta berkeyakinan penuh bahwa Allah berkuasa untuk
melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 405

22
Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai
kebenaran.”

Lebih luar biasa lagi adalah keyakinan Yesus yang tak tergoyahkan
atas rencana keselamatan Bapa yang sedang dilaksanakan melalui
dia, khususnya sekarang ketika saat pemuliaannya semakin
mendekat. Dalam cahaya inilah kita mulai memahami kedalaman
dan kuasa dari perkataannya di Yohanes 17:5. Dengan tabah Yesus
meminta kepada Bapa untuk “memuliakan aku” sekarang, dan
kemuliaan apa lagi yang bisa diberikan kepadanya di saat genting
dalam “sejarah keselamatan” itu selain “peninggian”-nya melalui
kematian di kayu salib, yang selanjutnya akan dibenarkan dengan
“dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa”
(Rm.6:4)? Kata “sekarang” (nun, “pada saat ini”) yang mengawali
kalimat di Yohanes 17:5 (“Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah aku
di hadirat-Mu”), bukan sekadar kata pengantar hiasan, tetapi
menunjuk secara khusus kepada momen saat itu: ia meminta supaya
pemuliaannya menurut rencana Yahweh, yang ditetapkan “sebelum
dunia ada”, untuk dimulai sekarang. 24 Di sini kita melihat kelayakan
Kristus untuk menerima hormat dari khalayak di surga yang
memberitakan, “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk
menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan
hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!” (Why.5:12)

“Tu[h]an yang mulia”, 1Korintus 2:8; Yakobus 2:1

M engingat pembahasan mengenai “kemuliaan” (Yoh.17:5) di
atas, maka ini tempat yang tepat untuk menyisipkan sebuah

24
Faktor waktu juga terlihat dalam kalimat sebelumnya: “Aku telah
memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau
berikan kepadaku untuk kulakukan”, Yoh.17:4.
406 The Only True God

pembahasan atas gelar “Tu[h]an yang mulia” yang muncul hanya di
dua tempat dalam PB (1Kor.2:8; Yak.2:1). Pertama-tama kita
pertimbangkan yang ada di surat Paulus:
7
Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang
tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah
disediakan Allah bagi kemuliaan kita.
8
Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenal hikmat ini,
sebab sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalib-
kan Tu[h]an yang mulia.
9
Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat
oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang
tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang
disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”
[Yes.64:4]
Kita melihat bahwa gelar “Tu[h]an yang mulia” itu terselip di antara
dua ayat yang berbicara tentang kemuliaan yang telah disiapkan
Allah untuk orang beriman (“kemuliaan kita”, ay.7), yaitu untuk
“mereka yang mengasihi Dia” (ay.9); dan Ia mempersiapkannya
“sebelum dunia dijadikan” (ay.7). Ini menerangkan bahwa Yesus
adalah “Tu[h]an yang mulia” justru karena melalui Kristus Yahweh
Allah membuat kemuliaan ini tersedia untuk “mereka yang
mengasihi Dia”, artinya, Allah memuliakan Yesus sebagai “Tu[h]an”
yang mulia, dan melalui dia Allah menggenapi tujuan mulianya di
dalam semua orang percaya. Namun kaitannya dengan “kemuliaan”
dalam Injil Yohanes (dipahami dalam istilah “ditinggikan”) tidak
boleh dilewatkan sebab, seperti di Injil Yohanes, Paulus di sini
berbicara tentang “penguasa-penguasa zaman ini” yang
“menyalibkan Tu[h]an yang mulia”. Karena itu, “Tu[h]an yang
mulia” dan “penyaliban” terkait secara tak terpisahkan. Seperti di
Filipi 2:9-11, ia adalah “Tu[h]an yang mulia” karena ia disalibkan.
Menggunakan “Tu[h]an yang mulia” sebagai gelar ilahi, yang kita
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 407

lakukan sebagai trinitarian, berarti merenggut gelar itu dari konteks
Paulinnya dan, dengan demikian, menyalahgunakannya.
Dalam PL, Yahweh dilukiskan sebagai “Raja Kemuliaan”:
“Siapakah itu Raja Kemuliaan?” “Yahweh, jaya dan perkasa!
Yahweh, perkasa dalam peperangan!” (Mzm.24:8). Namun hal ini
tidak ada gunanya bagi trinitarianisme karena untuk mengiden-
tifikasikan Yesus sebagai Yahweh tidak memenuhi tujuan trinitaris:
itu hanya akan membingungkan “Pribadi Pertama” dengan “Pribadi
Kedua” dari Allah Trinitas.
G.G. Findlay (mantan Professor of Biblical Literature, Exegesis,
and Classics, Headingley College, UK) mengamati dengan tepat,
“Ungkapan kurios tēs doxēs (‘Tu[h]an yang mulia’) bukanlah
padanan untuk Ke-Allahan Kristus; ia menandakan segenap
keagungan Tu[h]an yang berinkarnasi, yang disalibkan oleh orang
bijak dan orang besar dunia” (The Expositor’s Greek Testament,
tentang 1Kor.2:8). Namun walaupun benar gelar “Tu[h]an yang
mulia” tidak mengandung referensi kepada keilahian Kristus,
apakah mungkin ia mengandung referensi kepada kemuliaan
Yahweh yang tinggal dalam Kristus melalui inkarnasi? Sarjana PL
yang terkenal, W.E. Oesterley, berpendapat memang demikian, dan
membahas hal ini dengan cukup panjang lebar dalam tafsirnya atas
surat Yakobus, khususnya Yakobus 2:1. Ayat ini diterjemahkan
secara beragam dalam terjemahan-terjemahan modern yang
berbeda. Masalah utama adalah cara menerjemahkan frasa Yunani
dalam ayat ini, yang bila diterjemahkan secara harfiah adalah “our
Lord Jesus Christ of glory” (τοῦ κυρίου ἡμῶν Ἰησοῦ Χριστοῦ τῆς
δόξης). Berikut ini adalah beberapa contoh:

ESV: “My brothers, show no partiality as you hold the faith in
our Lord Jesus Christ, the Lord of glory” (juga RSV). Ini
memberikan paralel yang jelas untuk 1Korintus 2:8, tetapi
masalah dengan terjemahan ini adalah kata “Tu[h]an” muncul
408 The Only True God

dua kali sedangkan dalam teks Yunaninya hanya muncul
sekali.

NIV: “My brothers, as believers in our glorious Lord Jesus
Christ, don’t show favoritism.” Di sini “of glory” diambil
sebagai genitif deskriptif, karena itu “glorious”.

NJB: “My brothers, do not let class distinction enter into your
faith in Jesus Christ, our glorified Lord.”

Tidak peduli bagaimana Yakobus 2:1 diterjemahkan, kata-kata “the
glory” (tēs doxēs) memang muncul dalam teks Yunani, dan tentang
hal ini W.E. Oesterley menulis,

‘Ciri Yahudi yang sangat kental dari Surat itu cukup
memastikan bahwa sang penulis di sini tengah merujuk
kepada konsepsi Yahudi yang terkenal tentang Syekinah.
Syekinah (dari akar kata skn “tinggal”) menandakan hadirat
Allah yang kelihatan yang tinggal di antara manusia. Ada
beberapa referensi kepadanya dalam PB selain nas ini, Lukas
2:9; Kisah 7:2; Roma 9:4; bdk. Ibrani 9:5; juga Targum, mis., di
Targ. Onkelos kepada Bil.6:25dyb. “wajah (dalam arti
penampilan atau hadirat) Tuhan” disebut sebagai Syekinah.
Sebuah konsepsi yang lebih materialistis dijumpai dalam
Talmud di mana Syekinah muncul dalam hubungannya
dengan manusia sebagai seorang yang berurusan dengan yang
lain; mis., di Sota, 3b, dikatakan bahwa sebelum Israel berbuat
dosa, Syekinah berdiam dengan setiap orang secara
independen, tetapi setelah mereka berbuat dosa Syekinah itu
diambil; Pirqe Aboth, 3:3: “Rabi Chananiah ben Teradyon
[hidup pada abad ke-2 M] berkata, Dua orang yang duduk
bersama dan sibuk dengan perkataan Torah mempunyai
Syekinah di antara mereka” (bdk. Mat.18:20). Dengan
demikian, Syekinah digunakan oleh orang Yahudi sebagai
suatu ungkapan tidak langsung sebagai pengganti Allah,
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 409

hadirat ilahi yang terlokalisir… Jika penafsiran kita akan doxa
(‘kemuliaan’) itu benar maka ini berarti bahwa makna frasa…
Iēsou Xristou tēs doxēs (‘Yesus Kristus yang mulia’) bebas dari
ambiguitas, viz., “…Percaya kepada Tu[h]an kita Yesus
Kristus, sang Syekinah” (secara harfiah “kemuliaan itu”); ini
justru adalah pemikiran yang sama yang terkandung dalam
kata-kata, “dia yang menjadi cahaya kemuliaan-Nya…”’
(Ibr.1:1-3). (The Expositor’s Greek Testament, tentang Yakobus
2:1)

Oesterley memulai pembahasannya tentang “kemuliaan” sebagai
merujuk kepada Syekinah dengan sebuah referensi kepada “ciri
Yahudi yang sangat kental” dari surat Yakobus, tetapi itu tidak
mungkin lebih Yahudi daripada Paulus, sebab Paulus bisa berbicara
dengan bangga tentang dirinya sebagai “orang Ibrani asli” (Flp.3:5);
karena itu, apa yang benar untuk Yakobus juga benar untuk Paulus.
Jadi sangat menarik Oesterley menunjuk ke Roma 9:4 sebagai
sebuah contoh dalam tulisan Paulus di mana “kemuliaan itu”
(seperti di Yak.2:1 dan 1Kor.2:8) adalah Syekinah: “Sebab mereka
adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan
mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan
hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji” (Rm.9:4). Tidak mudah
untuk menemukan penjelasan lebih baik atas “kemuliaan” dalam
ayat ini, sebagaimana diperlihatkan oleh buku-buku tafsir lain.
Syekinah akan dibahas dengan lebih rinci dalam buku ini.

Yohanes 17:22—kesatuan Yesus dengan Bapa
“Dan aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang
Engkau berikan kepadaku, supaya mereka menjadi satu, sama
seperti kita adalah satu”.
410 The Only True God

Kesatuan Yesus dengan Bapa merupakan argumen lain yang
digunakan oleh trinitarianisme, yang begitu saja berasumsi bahwa
kesatuan membuktikan kesetaraan. Asumsi itu sama sekali tidak
benar. Hal ini semestinya jelas terlihat dalam terang 1Korintus
6:16,17, tetapi kita tidak mengindahkannya:

1Korintus 6:17, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada
Tu[h]an, menjadi satu roh dengan dia.”

Ikatan kesatuan antara orang beriman dengan Tu[h]an pada intinya
sama dengan yang ada di Yohanes 17:22, tetapi tak seorang pun akan
begitu congkak sampai mengira bila ikatan kesatuan dengan Tu-
[h]an ini menyiratkan kesetaraan orang beriman dengan dia.

Yohanes 17:23—Yesus berkata bahwa Bapa mengasihi
kita sama seperti Ia mengasihi dia

M ari kita pertimbangkan pernyataan Yesus yang mencengang-
kan di Yohanes 17:23 bahwa Bapa mengasihi kita sama
seperti Ia telah mengasihi Yesus sebagai Anak-Nya, dan bahwa hal
ini harus dinyatakan kepada dunia. Setiap orang beriman sangat
mengenal Yohanes 3:16, “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini,
sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal”, tetapi
berapa banyak orang yang mengetahui 17:23, “Engkau mengasihi
mereka, sama seperti Engkau mengasihi aku”? Bapa mengasihi dunia
sampai-sampai mengorbankan apa yang paling dikasihi-Nya Sendiri,
Anak-Nya; betapa lagi Ia mengasihi mereka yang telah berpaling
dari zaman sekarang ini dan disatukan dengan Dia dalam Kristus?
Jawaban yang kita temukan adalah bahwa Ia mengasihi mereka sama
seperti Ia mengasihi Kristus!
Memang menakjubkan, akan tetapi, setelah merenungkannya
lebih lanjut jelaslah bila hal itu pun tak terelakkan. Mengapa?
Apakah mungkin bahwa Bapa, setelah menyatukan murid-murid
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 411

dengan Kristus sebagaimana Tubuh dengan Kepala, lantas akan
lebih mengasihi Kepala daripada Tubuh? Apalah artinya Kepala
tanpa Tubuh? Karena kepala memperoleh kepenuhan dan
keutuhannya di dalam tubuh. Lagipula, ini adalah Tubuh yang
dijadikan oleh Yahweh melalui Kristus menurut rencana kekal-Nya,
dan demikian menyatakan kuasa dan hikmat-Nya, seperti tertulis di
Efesus 3:21 “bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat (Tubuh) dan di
dalam Kristus Yesus (Kepala) turun-temurun sampai selama-
lamanya. Amin.”
Bahwa Allah mengasihi mereka yang ada di dalam Kristus, sama
seperti Ia mengasihi Kristus, sudah tentu menjadi penyebab untuk
bersukacita—bersukacita di dalam Tuhan yang mengasihi kita itu.
Kasih-Nya yang tak terkatakan inilah yang menjadi penyebab untuk
kita bersukacita di dalam Dia dalam segala kondisi hidup yang harus
kita alami di dunia. Inilah alasan bagi nasihat Paulus untuk
“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan:
Bersukacitalah!” (Flp.4:4). Paulus sudah menasihati jemaat di Filipi
“bersukacitalah dalam Tuhan” di Filipi 3:1. Namun frasa ini tidak
muncul di tempat lain dalam PB. Akan tetapi, frasa itu muncul 9 kali
(4 kali dalam kitab Mazmur) dalam PL. Harus diperhatikan pula
bahwa dalam setiap contoh PL, “Tuhan” adalah “TUHAN”, yaitu
Yahweh. Surat Filipi ditulis dalam kerasnya kondisi penjara Romawi,
maka sangat mungkin bila Habakuk 3 ada dalam pikiran Paulus
secara khusus:
17
Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak
berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-
ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba
terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam
kandang, 18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam Yahweh,
beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
412 The Only True God

Bahkan ketika tidak ada apa-apa untuk disoraki dalam situasi
kehidupan kita, Yahweh Sendiri senantiasa menjadi penyebab dari
sukacita kita, karena Ia telah mengasihi kita sama seperti Ia
mengasihi Anak-Nya yang terkasih, dan kita adalah yang terkasih di
dalam Kristus Yesus, yang adalah “kemuliaan anugerah-Nya, yang
dengannya Dia telah merahmati kita di dalam Yang Terkasih” (Ef
1:6, ILT)—kita adalah yang terkasih di dalam Yang Terkasih!
Yang Terkasih merupakan kepala komunitas yang terkasih, yaitu
jemaat. Akibatnya, kita menganggap pasti istilah “jemaat Kristus”.
Saya sungguh terkejut ketika mendapati istilah ini tidak ada dalam
PB! Sebaliknya, istilah “jemaat Allah” dijumpai 7 kali dalam PB.
Konsep bahwa jemaat merupakan kepunyaan Allah sebagai milik-
Nya yang unik telah menjadi asing untuk kebanyakan dari kita,
sebab kita pun agaknya telah lupa bahwa Kristus sendiri adalah milik
Allah (1Kor.3:23). Di sini kita bisa melihat contoh lain bagaimana
trinitarianisme mempengaruhi pemahaman kita akan penyataan
Alkitabiah, dalam contoh ini konsep kita tentang sesuatu yang
begitu dasariah seperti jemaat. Kita terus berbicara tentang “jemaat
Kristus” sedangkan dalam PB istilah itu tidak pernah dipakai sama
sekali!

Pelayanan Kristus dan jemaat mencapai puncaknya
ketika Yahweh Allah ditinggikan sebagai “semua di
dalam semua”

S alah satu tempat di mana Paulus membuat referensi kepada
“Jemaat Allah” adalah 1Korintus 15:9. Banyak kebenaran
penting dinyatakan secara unik dalam pasal ini. Di sini kebenaran
bahwa Allah (Yahweh) sendiri adalah yang tertinggi di atas segala
sesuatu, termasuk sang Anak, dinyatakan dengan terang-benderang.
Beralih dari satu hal penting ke hal penting yang lain kita tiba di
ay.28: “Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 413

Kristus, maka ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan dirinya di
bawah Dia (Allah, sang Bapa, ay.24), yang telah menaklukkan segala
sesuatu di bawahnya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua.”
Ayat ini sangat problematik untuk saya selaku trinitarian, demikian
juga untuk semua trinitarian, karena di situ dinyatakan dengan
gamblang bahwa bahkan otoritas yang dijalankan Anak hingga saat
itu akan dikembalikan kepada Bapa, Yahweh Allah, dan “ia sendiri
sebagai Anak akan menaklukkan dirinya di bawah Dia”.
Tentu saja, cara biasa yang digunakan untuk keluar dari kesulitan
adalah dengan memakai gaya “bicara ganda” yang dikenal baik oleh
kita semua, yaitu, dengan berargumentasi bila hal itu tidak berlaku
kepada Yesus sebagai Allah, tetapi hanya sebagai manusia saja.
Namun argumen ini mengabaikan setidaknya dua masalah serius:
(1) meskipun istilah “Anak” tidak muncul di tempat lain dalam pasal
ini, istilah itu justru muncul dalam ayat krusial ini! Hal ini terjadi
seolah-olah Allah dapat meramalkan gaya bicara ganda ini! “Anak”
justru merupakan gelar yang digunakan oleh trinitarian untuk
merujuk kepada “Allah-Anak”; (2) ayat ini berbicara tentang masa
depan, bukan masa lalu, sewaktu “Anak” (dalam arti trinitaris)
menaklukkan dirinya sendiri kepada Allah sang Bapa sebagai
manusia Kristus Yesus (Flp.2:6-8). Lagipula, hal yang menariknya
adalah sekalipun Kristus ditinggikan oleh Allah Bapa setelah
kematian dan kebangkitannya (Flp.2:9-11), akan tetapi dalam
tatanan kekal “ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan dirinya di
bawah Dia”; sebab esensi dari realitas kekal adalah Allah sendiri
yang “semua di dalam semua” (1Kor.15:28). Yahweh Allah yang
dari-Nya segala sesuatu berasal, dan yang kepada-Nya segala sesuatu
akan kembali, pada akhirnya akan diakui dan dimuliakan sebagai
yang mutlak segalanya bagi setiap orang dalam setiap aspek—
“semua di dalam semua”.
Dalam PB, sasaran tunggal dari pelayanan Kristus adalah
peninggian Yahweh Allah sendiri sebagai yang tertinggi di atas sega-
414 The Only True God

lanya. Ketika tujuan ini berhasil dicapai, selesai pulalah
pelayanannya. Ini berarti pelayanannya yang mulia itu pelayanan
“terbatas waktu” (“time-limited”); ia tidak berlanjutan tanpa
mencapai sebuah kesimpulan: ada satu sasaran khusus yang hendak
dicapainya dan, sekali tercapai, pekerjaan Kristus akan berakhir pada
saat itu. Sebuah pekerjaan yang berlangsung tanpa batas waktu
adalah pekerjaan yang tidak pernah mencapai sebuah kesimpulan;
tetapi tidak demikian halnya dengan Kristus. Sekali umat manusia
berhasil ditebus, maka karya penebusan dan keselamatan telah
berakhir. Sekali dosa telah ditebus untuk selamanya, pekerjaan imam
besar kita Yesus Kristus telah selesai, dan pelayanan pengorbanan di
Bait Allah tidak lagi diperlukan. Imam besar tidak lagi mempunyai
tugas lebih lanjut. Namun karena kita belum mencapai
kesempurnaan (Flp.3:12) dan oleh karena itu, bisa bersalah karena
melakukan dosa yang tidak disengaja, imam besar kita terus
bersyafaat untuk kita (Ibr.7:25; 1Yoh.2:1), dan ia akan terus berbuat
demikian hingga kita disempurnakan pada hari itu saat “kita akan
menjadi sama seperti dia” (1Yoh.3:2).
Demikian pula, sekali pendamaian itu tercapai maka tidak
diperlukan lagi seorang pengantara (1Tim.2:5). Lagipula,
keselamatan dalam PB itu melampaui pendamaian kepada anugerah
yang menjadikan kita “anak-anak Allah” (Rm.8:16), “dan jika kita
adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris” (Rm.8:17) dan, tentu
saja, tidak ada anak yang membutuhkan pengantara untuk datang
kepada ayahnya. Jadi seorang pengantara yang baik (seperti dokter
yang baik) berhasil “membuat dirinya kehilangan pekerjaan” dengan
membawa perdamaian. Inilah kemuliaan dan keindahan Kristus
sebagai pengantara, yang kepadanya semua orang yang telah
didamaikan akan tetap bersyukur selamanya, memuji Allah yang
menyediakan bagi umat manusia seorang pengantara hebat seperti
itu.
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 415

“Anak” di 1Korintus 15:28 tentunya digunakan secara biasa
sebagai gelar sang Mesias, atau “Kristus”, dan dalam arti ini tidak
menimbulkan masalah apa-apa. Sebaliknya, ia menekankan kejayaan
penggenapan pelayanan Mesianik Kristus Yesus, seperti yang
dinyatakan di ay.24, “Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana
ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah ia
membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan”,
yaitu, setiap kekuatan yang menolak untuk takluk kepadanya.
Semuanya ini mempunyai sasaran terakhir “supaya Allah (Bapa)
menjadi semua di dalam semua”. Monoteisme Perjanjian Baru yang
mutlak ini nyaris tidak dapat dibuat lebih jelas lagi.

Yohanes 20:28

T rinitarian selalu menunjuk kepada Tomas yang menyembah
Yesus dengan ucapan, “Tu[h]anku dan Allahku” (Yoh.20:28).
Barangkali mereka menyangka Tomas tidak mengetahui atau
menghiraukan apa yang telah dikatakan Yesus kepada si iblis ketika
ia dicobai: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus
menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya (monos) kepada Dia
sajalah engkau berbakti (atau beribadah, Flp.3:3; Kis.26:7 bdk.
Ibr.9:9; 10:2; latreuō “beribadah atau bersujud, menyembah”, Greek
Lexicon oleh Thayer)’”, Matius 4:10; Lukas 4:8? Atau mungkin
Tomas tidak tahu ajaran Yesus, atau doanya yang dipanjatkan
kepada “satu-satunya Allah yang benar” (Yoh.17:3)? Mungkinkah
trinitarian beranggapan Tomas bukan seorang Yahudi atau
monoteis? Apakah Yesus sudah melupakan ajarannya sendiri dan,
karena itu, tidak menegur Tomas? Pemikiran seperti ini keluar dari
sentuhan dengan fakta-fakta Alkitabiah. Masalah dasariah dengan
penafsiran trinitaris adalah mereka selalu mengabaikan konteks dari
ayat yang digunakan, atau lebih tepat, disalahgunakan. Adalah fakta
mendasar di dalam ilmu penafsiran bahwa “teks tanpa konteks
416 The Only True God

menjadi sebuah preteks.” Perkataan Tomas hanya dapat dipahami
secara tepat di dalam seluruh konteks Injil Yohanes. Di sini kita
hanya bisa mempertimbangkan beberapa hal relevan secara
langsung:
Percakapan yang mengesankan antara Yesus dengan murid-
muridnya tidak lama sebelum penyalibannya tak pelak telah terpatri
dalam ingatan Tomas, yaitu tentang melihat Bapa, yang tak lain dan
tak bukan adalah Yahweh:
Yohanes 14: 8 Kata Filipus kepadanya: “Tu[h]an, tunjukkanlah
Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”
9
Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama aku bersama-
sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal aku? Siapa
saja yang telah melihat aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana
engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
10
Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan
Bapa di dalam aku? Apa yang aku katakan kepadamu, tidak
aku katakan dari diriku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di
dalam aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.
11
Percayalah kepadaku bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di
dalam aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena
pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.”
Mengingat percakapan di atas, ketika Tomas melihat Kristus yang
tersalib—yang kini “telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh
kemuliaan Bapa” (Rm.6:4)—berdiri di hadapannya, kata-kata Yesus
“siapa saja yang telah melihat aku, ia telah melihat Bapa” secara
harfiah kini “menjadi hidup” di hadapan matanya. Sekarang ia
melihat sang Bapa di dalam Kristus dan berseru “Tu[h]anku dan
Allahku!”, sebuah ucapan yang siap keluar dari mulut seorang
Yahudi ketika melihat penglihatan seperti itu. Ini menggemakan
kata-kata Yesaya, “Namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 417

Yahweh semesta alam! (Yes.6:5). Tentu saja Tomas berbicara
mewakili semua rasul lain di dalam ruangan itu.
Hendaknya juga diperhatikan bahwa alasan yang diberikan Yesus
atas ucapan bahwa siapa saja yang telah melihat dia telah melihat
Bapa terungkap dalam kata-kata, “Aku di dalam Bapa dan Bapa di
dalam aku” yang dinyatakan dua kali (Yoh.14:10,11), dengan
demikian menekankan pentingnya penjelasan itu. Pernyataan yang
diulangi ini tidak dimaksud hanya untuk menegaskan keakraban
hubungannya dengan Bapa dalam bahasa metaforis tetapi untuk
menyatakan sebuah kenyataan rohaniah sejati, yaitu sang Bapa
hidup di dalamnya dan “Bapa, yang tinggal di dalam aku, Dialah
yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya” (ay.10). Dengan kata
lain, keberdiaman Bapa di dalamnya merupakan realitas rohaniah
yang dinamis dari kehidupan dan pelayanan Yesus. Dari pihak
Yesus, ia hidup sepenuhnya di dalam sang Bapa yang dalam
pelaksanaannya berarti hidup sepenuhnya di bawah otoritas-Nya:
“Apa yang aku katakan kepadamu, tidak aku katakan dari diriku
sendiri” (ay.10).
Keberdiaman Bapa di dalam Yesus merupakan sesuatu yang
disebut Yesus bukan saja pada akhir pelayanannya di bumi tetapi
sudah sejak permulaan. Tomas pasti teringat bahwa Yesus sudah
berbicara tentang tubuhnya sebagai bait Yahweh (Yoh.2:19), terlebih
lagi karena apa yang dikatakan Yesus itu dikutip di sidang
pengadilan untuk mencelakakan dia (Mat.26:61; Mrk.14:58). Dan
karena tubuh Yesus adalah bait suci Yahweh, jelaslah Yahweh
tinggal di dalam dia secara jasmaniah (Kol.2:9). Berkenaan dengan
kebangkitan, di Yohanes 2:22 dinyatakan secara khusus bahwa
“Karena itu, sesudah ia bangkit dari antara orang mati, murid-
muridnya teringatlah bahwa hal itu telah dikatakannya, dan mereka
pun percaya kepada Kitab Suci dan kepada perkataaan yang telah
diucapkan Yesus.” Bukankah Tomas salah satu murid yang teringat
dengan hal itu? Dan bukankah pengalaman mengejutkan melihat
418 The Only True God

Kristus berdiri di depan dia karena telah dibangkitkan oleh kuasa
Yahweh—seperti yang dikatakan Yesus akan terjadi—telah
menyebabkan Tomas melontarkan pujian dan pujaan kepada
Yahweh dengan kata-kata yang kerap ditujukan kepada-Nya oleh
umat-Nya, “Tu[h]anku dan Allahku”? Mengingat fakta-fakta ini,
mana yang lebih mungkin: Tomas menyembah Yesus, ataukah Allah
yang telah membangkitkan Yesus menurut firman-Nya?
Sebagai seorang monoteis, Tomas hanya dapat menujukan kata-
kata “Tu[h]anku dan Allahku” itu kepada Yahweh. Namun
signifikansi dari pengakuan itu terletak pada kenyataan bahwa
Tomas kini menyadari bahwa Yahweh memang telah datang ke
dunia secara jasmaniah di dalam manusia Yesus sang Mesias, dan
“tinggal di antara kita” (Yoh.1:14). Frasa “Yahweh (TUHAN)
Allahku” dijumpai tidak kurang dari 36 kali dalam PL; jadi frasa itu
merupakan suatu bentuk sapaan yang kerap digunakan untuk
Yahweh, dan dengan demikian, gampang sekali keluar dari mulut
seorang Yahudi.
Pertimbangkan pula fakta bahwa orang-orang Yahudi berdoa
menghadap bait suci (ketika masih berdiri di Yerusalem) dan
“tempat maha kudus”nya. Hal ini dilakukan sesuai dengan Kitab
Suci, seperti terlihat dalam doa Salomo pada saat pentahbisan bait
suci itu seperti tercatat dalam 2Tawarikh 6 (BIS):

20
“Semoga dari tempat kediaman-Mu di surga Engkau
mendengar dan mengampuni aku serta umat Israel, umat-Mu
itu, apabila kami menghadap rumah ini dan berdoa kepada-
Mu.”
26
“Apabila umat-Mu berdosa kepada-Mu dan Engkau
menghukum mereka dengan tidak menurunkan hujan, lalu
mereka bertobat dari dosa mereka dan menghormati Engkau
sebagai TUHAN, kemudian menghadap ke Rumah-Mu ini
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 419

serta berdoa kepada-Mu, 27 ya TUHAN di surga, dengarkanlah
mereka. Dan ampunilah dosa hamba-hamba-Mu umat Israel.”
29
“semoga Engkau mendengarkan doa mereka. Kalau dari
antara umat-Mu Israel ada yang dengan bersedih hati berdoa
kepada-Mu sambil menengadahkan tangannya ke arah
Rumah-Mu ini, 30 kiranya Engkau di dalam kediaman-Mu di
surga mendengar serta mengampuni mereka. Hanya Engkau-
lah yang mengenal isi hati manusia. Sebab itu perlakukanlah
setiap orang setimpal perbuatan-perbuatan-nya”.

Ketika umat Yahudi memanjatkan doa-doa mereka dengan
menghadap bait suci, apakah mereka sedang berdoa kepada bait suci
itu atau kepada Dia yang Hadirat-Nya ada di dalam bait suci
(2Taw.6:2)? Tomas akhirnya memahami kebenaran yang dikatakan
Yesus di Yohanes 2:19 tentang dirinya sebagai bait Allah, dan
pengajarannya tentang Bapa sebagai yang berbicara dan bertindak di
dalam dirinya. Kini setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri
penggenapan bait suci (Yesus) setelah dibangkitkan oleh kuasa
Yahweh Allah dan sekarang berdiri di hadapannya, apakah aneh
bagi dia untuk berseru “Tu[h]anku dan Allahku”? Lantas, mengapa
trinitarian harus beranggapan bahwa kata-kata Tomas itu tidak
dialamatkan kepada Yahweh, yang kini telah menjadi Tu[h]an dan
Allahnya melalui Yesus secara eksperiensial?
Hal lain yang tampaknya tidak sanggup dimengerti oleh pikiran
trinitaris yang telah terindoktrinasi, sekalipun hal tersebut terlihat
dengan gamblang di sepanjang PL, adalah bahwa gelar “Tuhan
Allah” merupakan cara standar untuk menyebut Yahweh. Tanpa
perlu merujuk kepada teks Ibrani, siapa pun bisa melihat bahwa
“TUHAN Allah” atau “Tuhan ALLAH” (di mana kata yang tertulis
dalam huruf kapital mewakili nama “Yahweh”) muncul dalam 383
ayat di ESV (210 kali dalam kitab Yehezkiel saja!). Akan tetapi,
“Tuhan” dan “Allah” muncul dengan frekuensi jauh lebih besar
420 The Only True God

ketika keduanya dipakai secara terpisah meski berdekatan, seperti
halnya seruan Tomas, di mana “Tuhan” dan “Allah” dikaitkan
dengan kata penghubung “dan”. Jadi ketika “Tuhan” dan “Allah”
tidak tergabung sebagai satu gelar “Tuhan Allah”, tetapi tetap
muncul bersama dalam ayat yang sama, hitungannya segera
meningkat menjadi 2312 kali (ESV), 281 kali dalam kitab Ulangan
saja, dan 110 kali dalam kitab Mazmur. (Dua angka terakhir
merujuk kepada jumlah ayat. Dari segi jumlah hits, angkanya
menjadi 487 di Ulangan dan 133 di Mazmur.)
Semua ini berarti seruan Tomas merupakan sesuatu yang datang
langsung dari Alkitab Ibrani, dan yang spontan akan keluar dari
mulut siapa saja yang menekuni PL. Hal yang juga jelas adalah
bahwa “Tuhan” dan “Allah” merupakan gelar yang dikenakan
kepada Yahweh, terutamanya ketika dipakai dalam kombinasi. Oleh
karena itu, menerapkan kombinasi ini kepada Yesus tidak
membuktikan Yesus itu Allah, tetapi hanya akan membuktikan
Yesus adalah Yahweh. Akan tetapi, ini bukan “bukti” yang ingin
dicapai oleh trinitarian karena akan merancukan “Allah-Bapa”
dengan “Allah-Anak”.
Singkatnya, Yohanes 20:28 sama sekali tidak bernilai untuk
trinitarianisme. Namun apa yang memang diberitakan adalah bahwa
Tomas telah menyadari realitas Yahweh di dalam dan melalui
Kristus. Ia melihat “kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita”
(Yes.35:2). Kata-kata yang diucapkan Tomas mengingatkan kita
pada kata-kata dalam kitab Mazmur seperti, “Terjagalah dan
bangunlah membela hakku, membela perkaraku, ya Allahku dan
Tuhanku! Hakimilah aku sesuai dengan keadilan-Mu, ya TUHAN
Allahku” (Mzm.35:23,24).
Mengingat bukti Alkitabiah, apakah kita masih bersikeras bahwa
ucapan Tomas di Yohanes 20:21 ini merujuk kepada Yesus? Atau,
apakah kata-kata itu dialamatkan kepada Allah sebagai respon dari
penampilan Yesus kepada Tomas, yang merupakan sebuah
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 421

pengalaman teramat luar biasa? Dalam dunia sekular dewasa ini,
adalah hal biasa untuk orang berteriak “Allahku!” ketika terkejut.
Kita merasa muak dengan teriakan macam ini yang keluar dari
mulut orang tidak beriman; tetapi tidakkah ada situasi di mana
seorang beriman boleh membuat seruan seperti itu kepada Allah,
terutamanya ketika—dalam perkataan C.S. Lewis—“dikejutkan oleh
kegembiraan”?

Yohanes 21:17, “Tu[h]an, engkau tahu segala sesuatu”
‘Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak
Yohanes, apakah engkau mengasihi aku?” Petrus pun merasa
sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah
engkau mengasihi aku?” Dan ia berkata kepadanya: “Tu[h]an,
engkau tahu segala sesuatu, engkau tahu bahwa aku mengasihi
engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Peliharalah domba-domba-
ku.”’

Kata-kata “Tu[h]an, engkau tahu segala sesuatu” telah digunakan
oleh sejumlah trinitarian untuk mendukung kemahatahuan Yesus.
Hal ini bisa dianggap sebuah contoh dari membuat “sekepal menjadi
gunung” (dengan mengubah yang relatif menjadi yang mutlak),
karena dalam konteks ini artinya tidak lebih dari “Engkau mengenal
aku luar dalam; engkau tahu, bahwa aku mengasihi engkau”.
Mengubah sebuah pernyataan terkait dengan Petrus menjadi sebuah
pernyataan tentang pengetahuan absolut adalah ciri khas
argumentasi trinitarian. Itu juga berlawanan dengan pernyataan
Yesus sendiri bahwa ada hal penting yang tidak diketahuinya, yakni,
saat akhir zaman dan kedatangan anak manusia; hal ini hanya
diketahui oleh Bapa, Dia sajalah yang memiliki pengetahuan absolut
akan segala sesuatu:
422 The Only True God

Matius 24:36-37, “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak
seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan
Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri. Sebab sebagaimana
halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada
kedatangan Anak Manusia [yaitu kedatangannya tidak akan
terduga, ay.38].”

Elisa disebut mengetahui segala sesuatu yang dibicarakan oleh raja
Siria berkenaan dengan rencananya melawan Israel. Akibatnya,
Israel selalu diperingati sebelumnya oleh nabi itu dan mereka selalu
siap menghadapi serangan-serangan Siria. Dibingungkan oleh
kenyataan ini, raja itu berusaha mencari tahu apakah ada orang
dalam yang tengah mengkhianati rencananya melawan Israel.
Kemudian ia diberitahu apa yang menjadi sumber masalah
sebenarnya, “Elisa, nabi yang di Israel, dialah yang memberitahukan
kepada raja Israel tentang perkataan yang diucapkan oleh tuanku di
kamar tidurmu.” (2Raj.6:12)
Apa yang dapat Allah lakukan melalui orang yang sepenuhnya
tunduk kepada Dia sangat menakjubkan, dan Alkitab memberikan
banyak contoh akan apa yang telah digenapi Allah melalui orang-
orang setia. Tak pelak, Yesus dikaruniai pengetahuan akan segala
sesuatu yang diperlukan untuk menunaikan misinya demi menda-
maikan umat manusia dengan Allah; sehingga tidak diragukan bila
jauh lebih banyak yang diwahyukan kepadanya daripada yang
diwahyukan kepada Elisa. Yesus, sebagai satu-satunya manusia
sempurna, tentu saja unik di antara manusia, dan melalui dia Allah
sanggup menggenapi karya-Nya untuk “mendamaikan dunia
dengan diri-Nya” (2Kor.5:19), dengan “mengadakan pendamaian
oleh darah salib Kristus” (Kol.1:20).
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 423

Pentingnya Pengajaran tentang Kristus dalam kitab
Kisah Para Rasul

P esan-pesan dalam kitab Kisah Para Rasul diberikan segera
setelah pencurahan Roh pada hari Pantekosta, dan karena itu
disampaikan sebagai akibat langsung dari pemenuhan Roh Kudus—
jadi pesan-pesan itu haruslah determinatif guna memahami pribadi
Kristus. Akan tetapi, sulit menemukan satu petunjuk pun atas
keilahian Kristus dalam kitab Kisah Para Rasul, sementara
kemanusiaannya terlihat jelas. Oleh karena keilahian Kristus yang
ditengarai itu bukan sebuah faktor dalam khotbah apostolik paling
awal dalam kitab Kisah Para Rasul, dan sesungguhnya, tidak di
manapun dalam kitab itu, maka tidak ada apa-apa yang relevan
terhadap trinitarianisme untuk dibahas dalam kitab penting ini.
Namun ada suatu pengamatan terkait yang penting yang harus
dipertimbangkan baik-baik: Jemaat diperlengkapi dengan kuasa dari
atas pada hari Pantekosta, dan keluar memberitakan Injil dalam
kuasa itu hingga ke ujung bumi. Kuasa itu tidak lagi tampak dalam
jemaat-jemaat dewasa ini, dan ini jelas berkaitan dengan kenyataan
bahwa sekarang ini jemaat memberitakan pesan yang dilandasi oleh
teologi dan Kristologi yang berbeda dengan yang diwartakan dalam
kitab Kisah Para Rasul.

Roma 9.5

K arena tidak adanya tanda baca dalam teks Yunani, maka
makna yang berasal dari teks itu bergantung pada cara si
penerjemah memilih tempat untuk membubuhkan tanda bacanya.
Cara-cara yang mungkin dalam penerjemahan Roma 9:5 dibuat
amat jelas oleh NIV:

“Theirs (i.e. of the Jews) are the patriarchs, and from them is
traced the human ancestry of Christ, who is God over all, for-
424 The Only True God

ever praised! {Or Christ, who is over all. God be forever praised!
Or Christ. God who is over all be forever praised!} Amen.”

Merekalah (yakni, orang Yahudi) yang empunya bapa-bapa
leluhur, dan dari mereka ditelusuri jalur keturunan Kristus,
yang adalah Allah di atas segalanya, terpujilah selama-
lamanya! {Atau, Kristus yang di atas segalanya. Terpujilah
Allah selama-lamanya! Atau, Kristus. Allah yang di atas
segalanya terpujilah selama-lamanya} Amin.”

Kedua terjemahan alternatif itu, yang pada hakikatnya tidak berbeda
karena keduanya mengatributkan pujian kepada Allah, bukan
Kristus, dicetak dalam tanda kurung. Sebagai terjemahan trinitaris,
NIV menempatkan terjemahan yang mereka sukai pada teks utama.
Versi Alkitab trinitaris lainnya jelas-jelas mengikuti pilihan ini,
kecuali RSV:

“to them belong the patriarchs, and of their race, according to
the flesh, is the Christ. God who is over all be blessed for ever.
Amen (Merekalah yang empunya bapa-bapa leluhur, dan dari
ras mereka, yang menurut daging, adalah Kristus. Allah yang
di atas segala sesuatu terpujilah selama-lamanya. Amin).”

Terjemahan RSV (dan terjemahan-terjemahan dalam tanda-
kurung NIV) sudah pasti merupakan terjemahan yang tepat karena
tiga alasan yang sangat kuat:
(1) Paulus jelas-jelas telah mendeklarasikan monoteismenya di
beberapa tempat, dan di 1Korintus 8:6 ia menyatakan dengan
gamblang bahwa “bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa,
yang dari Dia berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup,
dan satu Tu[h]an saja, yaitu Yesus Kristus, yang melalui dia segala
sesuatu telah dijadikan dan yang karena dia kita hidup”. Karena itu,
Paulus tidak akan pernah menyebut Yesus sebagai “Allah”. Yesus
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 425

secara konsisten adalah “Tu[h]an” dalam tulisan Paulus. Berikut ini
adalah contoh-contoh lain dari monoteisme Paulus:

1Timotius 1:17, “Hormat dan kemuliaan sampai selama-
lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tidak
tampak dan yang esa (monos)! Amin.”

1Timotius 6: “15 yaitu saat (kedatangan Kristus yang kedua,
ay.14) yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya
(monos) dan penuh berkat, Raja di atas segala raja dan Tuan di
atas segala tuan. 16 Dialah satu-satunya (monos) yang tidak
takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak
terhampiri. Tidak seorangpun pun pernah melihat Dia dan
memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah
hormat dan kuasa yang kekal!”

(2) Kata-kata pujian yang persis sama seperti di Roma 9:5, “yang
harus dipuji sampai selama-lamanya”, merujuk kepada Yahweh
Allah di teks Yunani dari 2Korintus 11:31, “Allah, yaitu Bapa dari
Yesus, Tu[h]an kita, yang terpuji sampai selama-lamanya”. Oleh
karena itu, kata-kata tersebut tidak ditujukan kepada Yesus di Roma
9:5; Yesus adalah penyebab pujian itu, bukan sasaran. Agar mudah
membandingkan, kedua teks itu ditempatkan berdampingan:

Roma 9.5: ho ōn (epi pantōn theos) eulogētos eis tous aiōnas

2Korintus 11.31: ho ōn eulogētos eis tous aiōnas

Terlepas dari kata-kata yang ditempatkan dalam tanda-kurung guna
memudahkan perbandingan, frasa “yang terpuji sampai selama-
lamanya” itu persis sama dalam kedua ayat tersebut. Di 2Korintus
11:31 (ESV) rujukan kepada Allah sebagai “Allah, yaitu Bapa dari
Yesus” dibuat sebelum frasa ini, sedangkan di Roma 9:5 rujukan
kepada Allah ditempatkan di dalam frasa itu sebagai Dia yang “di
atas segala sesuatu” (epi tantōn theos). Oleh karena sang Rasul meng-
426 The Only True God

gunakan frasa ini khusus untuk “Allah, yaitu Bapa dari Yesus” di
2Korintus 11:31, maka tidak ada alasan untuk mengira ia merujuk
kepada Yesus sebagai “Allah di atas segala sesuatu” di Roma 9:5.
Frasa semacam ini tidak akan diterapkan kepada siapa pun juga oleh
orang Yahudi mana saja, termasuk Paulus, selain kepada Yahweh.
(3) Memeriksa soal tersebut di dalam surat Roma itu sendiri, hal
yang membuatnya tidak terbantahkan adalah (a) frasa yang sama
yang diterjemahkan di sini sebagai “dipuji selama-lamanya”
(eulogētos eis tous aiōnas) juga diterapkan kepada Yahweh Allah
sebagai sang Pencipta “yang harus dipuji selama-lamanya. Amin”
(Rm 1:25). Dan (b) kata penutup “Amin” merupakan fitur istimewa
dari pujian kepada Yahweh Allah dalam surat Roma yang muncul
lima kali. Terlepas dari Roma 1:25 dan 9:5, ada pula yang berikut ini:

Roma 11:36, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia (Yahweh
Allah, bdk. ay.33dyb.), dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi
Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.”

Roma 15:33, “Allah, sumber damai sejahtera, menyertai kamu
sekalian! Amin.”

Roma 16:27, “bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh
hikmat, melalui Yesus Kristus: Segala kemuliaan sampai
selama-lamanya! Amin.”

Dalam semua ayat di surat Roma ini, Yahweh Allah adalah sasaran
pujian, dan tidak ada alasan apa pun untuk menduga bila Roma 9:5
merupakan sebuah pengecualian.

Surat Ibrani

U mat Israel juga dikenal sebagai “umat Ibrani” atau “umat
Yahudi”, jadi surat kepada orang Ibrani ini ditulis oleh orang
Yahudi untuk orang Yahudi. Apa yang tampaknya tidak mampu
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 427

dipahami oleh kaum trinitarian adalah bahwa orang Yahudi,
terutamanya pada abad pertama, adalah orang-orang monoteis
sejati; jadi baik penulisnya maupun para pembacanya tidak punya
urusan apa-apa dengan trinitarianisme, yang tidak bisa didamaikan
dengan monoteisme Alkitabiah. Oleh karena itu, sebenarnya sia-sia
untuk mencoba menggali teks-teks bukti dari kitab Ibrani; hal inilah
yang telah saya usahakan pada waktu dulu, dan dengan demikian
mengetahuinya secara langsung. Hal ini hanya dapat dicapai melalui
penyalahtafsiran yang bebal atau dengan eisegesis, yang merupakan
praktik lazim trinitaris, yaitu dengan membacakan dogma mereka
sendiri ke dalam teks.
Pasal pertama surat Ibrani—tempat di mana trinitarian berusaha
menghimpun teks-teks bukti—merupakan koleksi nas-nas Mesianik
dari PL yang digunakan oleh orang-orang beriman Yahudi untuk
meyakinkan sesama orang Yahudi bahwa Yesus adalah sang Mesias.
Tentu saja nas-nas PL ini umumnya dikenal baik oleh orang Yahudi
dan, oleh karena itu, sangat berguna sebagai sarana dalam
membahas kemesiasan Yesus. Jadi surat kepada orang Ibrani ini jelas
mempunyai sasaran yang sama dengan Injil Yohanes, yakni untuk
meyakinkan orang Yahudi (dan orang lain) bahwa “Yesuslah
Kristus, Anak Allah” (Yoh.20:31). Kata “Anak” sudah tampil di awal
surat Ibrani (1:2); tetapi surat ini memiliki tema-tema penting lain
yang sama dengan Injil Yohanes, khususnya tentang Kristus sebagai
“anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh.1:29,36).
Kristus sebagai kurban penghapus dosa yang abadi merupakan tema
utama surat Ibrani; tema utama lainnya, yang berkaitan erat dengan
yang sebelumnya, adalah kenyataan unik bahwa Kristus merupakan
kurban sekaligus imam besar! Yohanes 17 kerapkali disebut sebagai
“Jesus’ high priestly prayer” (“doa keimaman Yesus”).
Titik temu lain antara surat Ibrani dengan Injil Yohanes adalah
penekanan atas kepercayaan atau iman. “Percaya” adalah kata kunci
dalam Injil Yohanes (pisteuō, 98 kali, jauh lebih sering daripada kitab
428 The Only True God

PB mana pun), sedangkan “iman” merupakan kata kunci dalam
surat Ibrani (pistis, 32 kali), khususnya berfokus pada pasal 11, di
mana setiap contoh adalah tentang iman pada Yahweh. Tidak
diragukan bahwa surat Ibrani dan Injil Yohanes bukan saja memiliki
persamaan dalam tema-tema utamanya, tetapi juga bersatu dalam
komitmennya kepada monoteisme.
Istilah “Anak” dalam bahasa Ibrani merujuk kepada sang Mesias
tetapi, tidak perlu dikatakan, trinitarian ingin mengartikannya
sebagai “Allah-Anak”, yang tak pernah terbersit dalam benak orang
Yahudi, dan tentunya bukan itu maknanya dalam surat Ibrani
ataupun di tempat lain dalam Alkitab. Namun sebagai trinitarian
kita mengira Ibrani 1:8 menyediakan teks bukti yang bagus sekali
untuk keilahian Yesus. Kita tidak menghiraukan fakta bahwa itu
adalah kutipan dari Mazmur 45:6, dan kita pun tidak terlalu peduli
dengan maknanya dalam konteks mazmur tersebut:
8
“Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘Takhta-Mu, ya Allah, tetap
untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanmu
adalah tongkat kebenaran.
9
Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab
itu Allah, Allahmu telah mengurapi engkau dengan minyak
sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu.’”
(Ibr.1:8,9; Mzm.45:6,7)

Jika kita simak Ibrani 1:9 kita melihat di situ dikatakan—tentang
Anak—“Allah, Allahmu telah mengurapi engkau”; kata “mengurapi”
adalah makna kata “Mesias” dalam bahasa Ibrani, dan makna kata
“Kristus” dalam bahasa Yunani; jadi ciri Mesianik nas ini (dan
Mazmur 45 secara keseluruhan) dinyatakan secara eksplisit.
Mazmur 45 merupakan sebuah kidung tentang penobatan raja
Israel, yang sesudah diurapi oleh Yahweh, bertindak sebagai hamba
dan wakil Yahweh. Jadi jika kata-kata di Ibrani 1:8, “Takhtamu, ya
Allah”, diterapkan kepada raja Mesianik itu, maka kata “Allah”
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 429

semestinya ditulis dengan “allah” dan dipahami menurut artinya di
Yohanes 10:34,35 (mengutip Mzm.82:1,6,7) di mana kata tersebut
merujuk kepada para hamba dan perwakilan Allah. Para sarjana PL
menyadari kenyataan bahwa dalam terang monoteisme PL, “ya
Allah” di Mazmur 45:6 hanya bisa diterapkan dalam arti itu, yang
tercermin dalam sebagian terjemahan:

“Your divine throne endures for ever and ever. Your royal
scepter is a scepter of equity (Takhta ilahimu tetap untuk
selama-lamanya. Tongkat kerajaanmu adalah tongkat
keadilan)” (RSV)

“Your throne is from God, for ever and ever, the sceptre of your
kingship a sceptre of justice (Takhtamu berasal dari Allah,
untuk selama-lamanya, tongkat kerajaanmu adalah tongkat
keadilan)” (NJB)

Robert Alter (Professor of Hebrew and Comparative Literature pada
University of California, Berkeley) menerjemahkan baris pertama
menjadi “Your throne of God is forevermore (Takhtamu dari Allah
ada selama-lamanya)” dan berkomentar, “Sebagian orang
mengartikan bahasa Ibrani di sini sebagai “Takhtamu, ya Allah,”
tetapi adalah sebuah anomali untuk menyapa Allah di tengah-tengah
puisi itu karena seluruh mazmur itu ditujukan kepada raja atau
mempelainya” (The Book of Psalms, A Translation with
Commentary, Norton, 2007).
Ibrani 1:10-12 mengutip Mazmur 102:26-28 dari Septuaginta.
Mazmur 102:2: “Yahweh, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku
minta tolong sampai kepada-Mu!” Seluruh mazmur itu merupakan
sebuah doa kepada Yahweh, yang disebut berkali-kali dalam doa ini.
Ini berarti bahwa “Tuhan” di Mazmur 102:26 dan Ibrani 1:10 hanya
bisa merujuk kepada Yahweh. Mengapa nas ini dimasukkan ke
dalam koleksi nas-nas Mesianik PL yang ada dalam Ibrani 1?
430 The Only True God

Apakah dalam rangka mempertegas kepastian janji di Ibrani 1:8
bahwa “takhtamu tetap untuk seterusnya dan selamanya”? Atau,
apakah juga ada pengakuan akan hubungan unik antara Yahweh dan
Yesus dalam arti Yohanein di mana Firman/Memra Yahweh
menjelma dalam Yesus?
Besar kemungkinan pengarang surat Ibrani memahami Yesus
dari segi Memra dan Syekinah. Hal ini bisa dipastikan mengingat
Ibrani 1:2,3. Ay.3 berbicara tentang Yesus sebagai “cahaya kemuliaan
Allah” yang bisa seyogyanya dipahami oleh orang-orang Yahudi
sebagai sebuah rujukan kepada Syekinah Allah. Frasa berikutnya
berbicara tentang Yesus sebagai gambar keberadaan Allah yang
sesungguhnya; Kristus sebagai gambar Allah telah dibahas dalam
kajian ini. Lalu nas itu mengatakan, “menopang segala yang ada
dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan”. Hal yang menarik
adalah “firman” di sini bukan logos tetapi rhēma. rhēma adalah kata
yang digunakan dalam PL Yunani untuk “firman” Allah di Yesaya
55:11. Nas penting ini (Yes 55:10, 11) dibahas secara rinci dalam bab
7 (‘Asal-usul “Firman itu” dari Perjanjian Lama’). Sebagaimana
diketahui luas, PL Yunani merupakan Alkitab yang dipakai pada saat
itu oleh para pembaca surat Ibrani (dan orang-orang beriman lain
yang berbahasa Yunani); jadi pemakaian kata rhēma bisa berfungsi
untuk menunjukkan bahwa Ibrani 1:3 mengacu kepada Yesaya
55:11.
Di sisi lain, kemanusiaan Kristus lebih ditekankan dalam surat
Ibrani dibandingkan dengan surat-surat PB lain. Ibrani 1:3 juga
berbicara tentang Yesus yang “mengadakan penyucian dosa”.
Terdapat penekanan kuat kepada darah pengorbanan dalam surat
Ibrani: “darah” dalam arti ini adalah salah satu kata kunci dalam
surat itu, dan jauh lebih sering muncul di sini daripada kitab-kitab
PB lainnya: 21 kali. (“Darah” muncul 19 kali dalam kitab Wahyu,
tetapi sebagian besar merujuk kepada darah sebagai akibat dari
penghakiman ilahi atas dunia ini.) “Darah dan daging” merupakan
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 431

cara yang lazim digunakan oleh Kitab Suci untuk merujuk kepada
manusia (Ibr.2:14; Mat.16:17; 1Kor.15:50; Ef.6:12). Dari sini terlihat
jelas bahwa kemanusiaan Kristus secara mutlak esensial untuk
“mengadakan penyucian dosa” demi keselamatan umat manusia.
Bertolak-belakang dengan ini, tidak pernah dikatakan di manapun
dalam surat Ibrani, ataupun dalam PB, bahwa Yesus harus menjadi
Allah dalam rangka mengadakan penyucian dosa atau “memberikan
nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat.20:28;
Mrk.10:45).

Monoteisme kitab Wahyu

K itab Wahyu Yohanein dianggap memiliki “Kristologi tinggi”,
terutamanya karena apa yang tampak seperti gelar-gelar ilahi
yang diberikan kepada Kristus dalam kitab itu. Sebagai tulisan PB
terkini, kitab itu diperkirakan mengandung Kristologi PB yang
paling maju. Kita akan melihat ciri-ciri kuncinya dengan cermat. Hal
pertama yang mencolok bagi pembaca kitab Wahyu adalah fakta
bahwa gelar yang diberikan kepada Yesus melebihi semua gelar lain
adalah “Anak Domba” (arnion); kata ini muncul 29 kali dalam kitab
Wahyu, tetapi ada kali dipakai untuk antikristus yang juga tampil
sebagai anak domba (Why.13:11), atau bisa disebut “anti anak-
domba”. Ini berarti terdapat 28 (= 4x7) rujukan kepada Anak
Domba, dan angka ini cocok sekali dengan pola angka 7 dalam kitab
Wahyu. Dengan demikian, Anak Domba merupakan deskripsi Yesus
paling utama dalam kitab itu. Penjelasannya juga diberikan secara
eksplisit dalam kitab itu, sebab Anak Domba dilukiskan sebagai dia
yang “disembelih” dan, oleh darahnya, telah menebus orang-orang
kudus (Why.1:5).
Hal yang diketahui oleh setiap orang beriman Yahudi adalah
bahwa kurban anak domba itu haruslah “tidak bercacat atau bercela”
jika ingin dipersembahkan di dalam Bait Allah, artinya, kurban itu
432 The Only True God

haruslah sempurna untuk memenuhi syarat sebagai kurban. Apa arti
semuanya ini semestinya sudah jelas: Yesus adalah kurban sempurna
itu untuk umat manusia. Dengan kata lain, kitab Wahyu adalah
mengenai Kristus sebagai manusia sempurna. Anak Domba adalah
lambang sempurna dari manusia sempurna itu!
Sesuai dengan itu, keilahian Kristus bukanlah sesuatu yang
muncul dalam kitab Wahyu. Hal ini terlihat sangat jelas dari fakta
bahwa “Anak Domba” itu tidak pernah menjadi satu-satunya
sasaran pemujaan atau pujian; ia selalu dan hanya dipuja bersama-
sama dengan Allah, dan hal itu pun hanya terjadi 2 atau 3 kali.
Dalam satu peristiwa kelihatannya seolah-olah Anak Domba itu
sendiri menjadi sasaran pemujaan meskipun kata “menyembah”
tidak dipakai (5:8dyb.) tetapi di ay.13 Allah dipuja bersama dengan
Anak Domba itu, dan pada akhir bagian teks itu kata “menyembah”
digunakan kemungkinan besar sehubungan dengan Allah bersama
dengan Anak Domba (ay.14, tetapi bdk. paragraf berikutnya).
Adalah signifikan bahwa kata “menyembah” (proskuneō) dipakai
8 kali dalam kitab Wahyu dengan mengacu kepada Allah sendiri,
dan tidak pernah kepada Anak Domba sendiri. Hanya dalam satu
peristiwa kata tersebut bisa, dan memang mungkin, merujuk kepada
Allah dan Anak Domba bersama-sama (5:14). Ketidakpastian yang
diungkapkan dengan kata “bisa” dalam kalimat terdahulu didasari
oleh cara kata “menyembah” dipakai dalam kitab Wahyu secara
keseluruhan: Pertimbangkan saja misalnya, pemandangan penyem-
bahan di Wahyu 7:9-12 di mana khalayak yang tidak terhitung
jumlahnya itu mempersembahkan pemujaan dan pujian “bagi Allah
kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba” (ay.10).
Kemudian, tepat di ayat berikutnya (ay.11)—sebuah kejutan besar
untuk saya—semua makhluk rohaniah dari tingkatan tertinggi di
surga “tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah”
(tanpa merujuk kepada Anak Domba yang baru saja disebut di ayat
sebelumnya), dan mempersembahkan sebuah doksologi rangkap-
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 433

tujuh kepada Dia sendiri (“Allah kita sampai selama-lamanya”,
ay.12).
Meskipun Anak Domba itu dikatakan mempunyai semacam
posisi sentral di takhta Allah (7:17), yang harus dimengerti sebagai
otoritas untuk menjalankan pemerintahan Allah atas segala sesuatu
sebagai perwakilan-Nya; ia tidak pernah menjadi satu-satunya
sasaran penyembahan. Bahkan tepat dalam nas di mana ayat ini
(Why.7:17) muncul, kita membaca (ay.15), “mereka berdiri di
hadapan takhta Allah dan melayani (latreuō) Dia siang malam di
Bait Suci-Nya. Ia yang duduk di atas takhta itu akan
membentangkan kemah-Nya di atas mereka”. Anak Domba disebut
di bagian pertama dari ay.17, tetapi bagian teks itu diakhiri dengan
merujuk kembali kepada Allah sendiri.
Sesuatu yang sangat mirip dengan contoh-contoh sebelumnya
dijumpai di Wahyu 22:3, “Tidak akan ada lagi yang terkutuk. Takhta
Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-
hamba-Nya akan beribadah (latreuō) kepada-Nya.” Ini adalah satu-
satunya tempat lain dalam kitab Wahyu di mana kata latreuō
(berbakti dalam arti religius dan karena itu dapat berarti ‘menyem-
bah’, mis. Rm.12:1) muncul; yang lain ada di 7:15 yang dikutip
dalam paragraf sebelumnya. Dalam kedua ayat itu kita membaca
kata-kata “beribadah kepada-Nya (tunggal)” Tidak ada masalah
dengan 7:15 karena hanya Allah yang disebut di situ; tetapi
perhatikan bahwa di 22:3 terdapat rujukan kepada keduanya Allah
dan Anak Domba, kemudian perhatikan bentuk tunggal ganda:
“hamba-hamba-Nya (t.) akan beribadah kepada-Nya (t.)” Karena hal
ini adalah gema dari 7:15, maka tidak diragukan bahwa rujukan itu
adalah kepada Allah. Jadi meskipun Anak Domba itu dikaruniai
tempat di atas takhta Allah (Why.3:21), Allah masih tetap Satu-
satunya yang disembah. Pola dalam kitab Wahyu ini memper-
lihatkan betapa Allah-sentrisnya kitab itu.
434 The Only True God

Di seluruh Wahyu 4, Tuhan Allah Mahakuasa (ay.8) adalah satu-
satunya sasaran penyembahan. Pasal 5 adalah kelanjutan atau
perluasan dari pemandangan surgawi di pasal 4. Hal ini berarti
pemujaan terhadap Anak Domba terjadi di dalam konteks
penyembahan kepada Dia yang duduk di atas takhta yang disebut di
4:2 dan 5:13, dan bukan kejadian terpisah.
Jika seluruh bukti kuat akan teosentrisitas kitab Wahyu ini masih
belum cukup mengejutkan saya—oleh karena latar belakang dan
penekanan trinitaris saya yang kuat atas Kristosentrisitas—dalam
proses penyelidikan saya menemukan lebih banyak kejutan lagi.
Misalnya, melihat pemandangan penyembahan di Wahyu 15:1dyb.,
“Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa… Raja segala bangsa” sekali lagi
adalah satu-satunya sasaran penyembahan, tetapi hal yang
mengagetkan saya adalah nyanyian penyembahan ini adalah
“nyanyian Anak Domba”, yang di ayat yang sama dibandingkan
dengan “nyanyian Musa”—nyanyian yang diajarkan Musa kepada
umat Israel untuk memuji dan menyembah Yahweh (Kel.15:1-18).
Dengan kata lain, Anak Dombalah yang mengajar orang-orang
kudus untuk menyembah (proskuneō muncul di ay.4) “Tuhan, Allah,
Yang Mahakuasa”!
Ini juga bukan satu-satunya contoh. Pada akhir kitab Wahyu, kita
membaca bahwa Yohanes merasa begitu dibanjiri dengan segala
yang telah diwahyukan kepadanya melalui malaikat istimewa itu
(yang telah ditugasi untuk melayani dia sebagai pemandu surgawi)
hingga ia “sujud di depan kaki malaikat, yang telah menunjukkan
semuanya itu kepadaku, untuk menyembahnya. Tetapi ia berkata
kepadaku: ‘Jangan berbuat demikian... Sembahlah Allah!’” (22:8,9).
Tidak ada apa-apa yang luar biasa dengan kata-kata malaikat itu
sampai kita membaca “Aku, Yesus, telah mengutus malaikatku
untuk bersaksi tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat”
(22:16). Apakah artinya ini? Ini berarti malaikat ini bukan hanya
salah satu dari sekian banyak malaikat di surga melainkan malaikat
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 435

Yesus, yang diutus secara khusus oleh dia. Malaikat Yesus inilah
yang memerintahkan Yohanes untuk menyembah Allah sendiri.
Instruksi ini konsisten dengan pemakaian kata “menyembah”
(proskuneō) dalam kitab Wahyu secara keseluruhan, di mana Tuhan
Allah Mahakuasa selalu menjadi sasaran sentral dari penyembahan
(4:10; 7:11; 11:16; 14:7; 15:4; 19:4,10; 22:9). Monoteisme Kitab
Wahyu yang konsisten itu sekarang seharusnya terlihat sangat jelas
kepada kita; dan kita tidak perlu terkejut ketika menjumpai hal yang
sama juga benar dengan seluruh tulisan Yohanein. 25

25
Catatan atas Wahyu 22:8: kita sudah melihat bahwa dalam kitab Wahyu
kata “menyembah” tidak pernah digunakan kecuali sehubungan dengan Allah
sendiri, tetapi anehnya Yohanes berkata: “aku sujud di depan kaki malaikat,
yang telah menunjukkan semuanya itu kepadaku, untuk menyembahnya”
(Why.22:8). Hal ini tampaknya nyaris tidak terpahami, terutamanya
mengingat fakta bahwa penyembahan kepada malaikat merupakan salah satu
hal yang dikutuk di Kolose 2:18,19; dan hal itu pun sama sekali tidak cocok
dengan monoteisme kitab Wahyu sendiri. Tampaknya satu-satunya cara hal
itu bisa dipahami dalam konteks ini adalah dalam cahaya yang dikatakan
segera sebelum ini, “Tuhan, Allah yang memberi roh kepada para nabi, telah
mengutus malaikat-Nya untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya apa
yang harus segera terjadi” (Why.22:6). Tampaknya Yohanes mungkin
mengira bahwa apa yang ditunjukkan oleh kata-kata itu adalah bahwa
malaikat yang berdiri di depan dia itu tidak lain dan tidak bukan adalah
“malaikat Yahweh”, yang sering disebut dalam PL, yang merupakan
pengejawantahan dari Yahweh Sendiri. Sekitar 8 ayat kemudian barulah
dinyatakan kepada Yohanes bahwa malaikat itu sebenarnya adalah malaikat
yang diutus oleh Yesus (Why.22:16); jadi malaikat ini tentu saja adalah salah
satu dari malaikat Allah tetapi bukan “malaikat Yahweh” itu yang terkenal
dalam PL.
436 The Only True God

Wahyu 1

W ahyu 1 merupakan nas lain yang digunakan untuk mendu-
kung pra-eksistensi dan keilahian Yesus. Namun pelukisan
Yesus sebagai imam besar di surga dalam pasal ini tidak
menyediakan dasar apa pun untuk mendukung pra-eksistensinya
karena penglihatan itu dilihat lama sesudah kebangkitan dan
peninggian Yesus. Sebenarnya gambaran itu sangat mirip dengan
pelukisan “seorang seperti anak manusia” (kata-kata yang sama di
Why.1:13; juga 14:14) di Daniel 7:13. Terdapat juga rujukan yang
sama kepada “kedatangannya dengan awan-awan” (Why.1:7).
James Dunn mengusulkan bahwa sebagian dari bahasa dalam
Wahyu 1 mengingatkan kita kepada deskripsi dari penglihatan akan
malaikat dalam kesusastraan kuno. Daniel, misalnya, melukiskan
sebuah penglihatan seperti berikut, 10:5,6:

“5 kuangkat mukaku, lalu kulihat, tampak seorang yang
berpakaian kain lenan dan berikat pinggang emas dari ufas. 6
Tubuhnya seperti permata Tarsis dan wajahnya seperti cahaya
kilat; matanya seperti suluh yang menyala-nyala, lengan dan
kakinya seperti kilau tembaga yang digilap, dan suara
ucapannya seperti gaduh orang banyak” (Dan.10:5,6)

The Expositor’s Commentary menerangkan, “Ay.5-6 kemungkinan
merupakan deskripsi paling rinci dalam Kitab Suci tentang rupa
seorang malaikat”. Perhatikan deskripsinya, “matanya seperti suluh
yang menyala-nyala”, penafsir Expositor’s mengatakan bahwa
‘Wahyu 1:14 menyatakan bahwa Kristus tampil di depan Yohanes
dengan “mata... bagaikan nyala api”’.
Namun ada persamaan penting lain yang tidak disebut oleh buku
tafsir ini, misalnya:
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 437

• Daniel 10:5, “ikat pinggang dari emas murni” (BIS), bdk. Wahyu
1:13, “Di dadanya ia memakai tutup dada emas” (BIS) bdk.
“dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas”.
• Daniel 10:6: “kakinya seperti kilau tembaga yang digilap” bdk.
Wahyu 1:15: “kakinya berpijar seperti tembaga yang dibakar”
(BIS) bdk. “kakinya mengkilap bagaikan tembaga membara di
dalam perapian”.
• Daniel 10:6, “suaranya terdengar seperti suara orang banyak”
(BIS) bdk. “suara ucapannya seperti gaduh orang banyak”, bdk.
Wahyu 1:15 “suaranya bagaikan desau air bah”. Kata-kata yang
diterjemahkan dengan “suara orang banyak” bisa merujuk kepa-
da suara kerumunan orang, bunyi air (mis. hujan), atau bahkan
bunyi roda kereta, sebagaimana disebutkan di The Expositor’s
Commentary.
Dengan demikian, Wahyu 1 tentu saja melukiskan Kristus yang
bangkit itu dalam istilah kemegahan dan kemuliaan makhluk
surgawi tetapi tidak menyediakan dasar untuk keilahiannya.
Sebenarnya seorang malaikat lain dilukiskan dengan kata-kata yang
hampir sama dengan Wahyu 10. Lagi-lagi saya mengutip The
Expositor’s Commentary atas Daniel 10:4dyb.: “Perhatikan Wahyu
10:1, di mana malaikat itu dilukiskan berselubungkan awan, dengan
pelangi di atas kepalanya, mukanya bersinar seperti matahari, dan
kakinya bagaikan tiang api—sebuah deskripsi dengan persamaan
mencolok dengan deskripsi di kitab Daniel.”
Oleh karena The Expositor’s Commentary telah menyinggung
Wahyu 10:1, perhatikan pula, bahwa deskripsi malaikat ini mengata-
kan bahwa “mukanya sama seperti matahari”, yang adalah gambaran
dari muka Kristus, sebagaimana dilukiskan di Wahyu 1:16.
Namun persamaan antara penglihatan di Daniel 10 dan Wahyu 1
semakin meluas. Terdapat juga persamaan dari segi dampaknya
438 The Only True God

kepada Daniel dan Yohanes: “dan tidak ada lagi kekuatan padaku…
jatuh pingsanlah aku tertelungkup dengan mukaku ke tanah” Daniel
10:8,9, yang tidak terlalu berbeda dari “sujudlah aku di depan
kakinya sama seperti orang yang mati” (Why.1:17). Lagi-lagi, dalam
kedua kejadian itu, sebuah tangan di taruh ke atas mereka sementara
orang yang mereka lihat itu berbicara kepada mereka.
Mengingat semua ini, tak pelak bila Kristus dilukiskan dengan
menggunakan istilah-istilah malaikat di Wahyu 1. Namun termasuk-
nya gelar “Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir” (Why.1:17), yang
kemungkinan adalah sebuah gelar ilahi, bisa mengusulkan bahwa
sebuah referensi kepada “malaikat Tuhan” PL dimaksudkan. Akan
tetapi, “Yang Awal dan Yang Akhir” adalah sebuah gelar yang
dipakai untuk Kristus pada tiga kesempatan (1:17; 2:8; 22:13),
meskipun tidak pernah kepada Allah dalam kitab Wahyu.
Namun kemungkinan ada sebuah hubungan dengan Yesaya 41:4,
“Aku, Yahweh, yang pertama dan yang terakhir, Akulah Dia” (ILT),
tetapi, pelbagai terjemahan menggarisbawahi ketidakpastian
maknanya, seperti: “Aku, TUHAN, yang terdahulu, dan bagi mereka yang
terkemudian Aku tetap Dia juga” (LAI) dan “Aku, TUHAN, Akulah
yang pertama, dan tetap ada sampai penghabisan” (BIS). Meskipun
demikian, terdapat kesejajaran yang amat dekat antara Yesaya 44:6
dan 48:12 dalam susunan kata.
Namun kita perlu berhati-hati ketika mencoba membuktikan satu
pokok teologis dengan menggunakan gelar-gelar serupa. Misalnya,
setiap murid sejati disebut “terang dunia” oleh Yesus (Mat.5:14), dan
ia juga menyebut dirinya sendiri dengan gelar yang sama persis,
“terang dunia” (Yoh.8:12; 9:5). Berdasarkan hal ini dapatkah kita
memperdebatkan bahwa jika Yesus itu Allah, maka kita pun adalah
Allah? Jika tidak, lalu mengapa diasumsikan bahwa ketika sebuah
gelar ilahi dikenakan kepada Kristus, hal itu mesti berarti ia adalah
Allah? Jika dalam hal “terang dunia”, kita mengerti bahwa kita
adalah “terang dunia” karena Roh Kristus yang mendiami kita
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 439

bersinar melalui kita dengan terang Kristus, maka bukankah hal
yang sama berlaku untuk Kristus? Kristus adalah “Yang Awal dan
Yang Akhir” berdasarkan kenyataan bahwa Bapa yang mendiami dia
adalah “Yang Awal dan Yang Akhir”. Hal penting yang mendasar ini
begitu saja diabaikan oleh trinitarian. Lagipula, seperti biasanya,
trinitarian, entah dengan disengaja entah dengan ceroboh,
mengabaikan fakta bahwa ketiga ayat di kitab Yesaya (yang disebut
dalam paragraf sebelumnya) merujuk kepada Yahweh sebagai “yang
awal” dan “yang akhir”, jadi untuk menyamakan identitas rujukan di
kitab Wahyu dengan kitab Yesaya hanya berakibat pada
pengidentifikasian Yesus sebagai Yahweh dan, seperti telah kita lihat
sebelumnya, ini bukan hasil yang ingin dicapai oleh trinitarian
karena akan berakibat pada pengurangan Pribadi Pertama dan
Kedua dari Allah Trinitas menjadi satu pribadi yang sama, dengan
demikian, meniadakan Trinitas.
Lagipula, “yang awal” dan “yang akhir” dalam kitab Yesaya
memuat sebuah arti khusus yang tidak mungkin berlaku kepada
Kristus di kitab Wahyu. Misalnya Yesaya 43:10b,11: “Sebelum Aku
tidak ada Allah dibentuk [oleh karena itu Yahweh adalah “yang
awal”], dan sesudah Aku tidak akan ada lagi [oleh karena itu Yahweh
adalah “yang akhir”]. Aku, Akulah Yahweh dan tidak ada
juruselamat selain dari pada-Ku.” Di sini artinya terlihat jelas:
Karena Ia adalah yang awal sekaligus yang akhir, Ia adalah satu-
satunya Allah dan Juruselamat. Dengan kata lain, “yang awal” dan
“yang akhir” merupakan cara lain untuk mewartakan monoteisme
mutlak.
Dari pembahasan paragraf-paragraf terdahulu kita bisa
menyimpulkan bahwa Kristus memang mungkin dilukiskan sebagai
“malaikat Tuhan” dalam Wahyu 1, sebuah epifani Yahweh. Jika
eksegesis terdahulu ada pada jalur yang benar, maka ini
menunjukkan sebuah kaitan antara Kristus dalam PB dengan
malaikat Tuhan dalam PL, sekalipun Wahyu 1 bisa jadi merupakan
440 The Only True God

satu-satunya rantai penghubung semacam itu dengan malaikat
Tuhan.

Allah dan Anak Domba dalam kitab Wahyu

K
indah.
ita bisa melihat dalam kitab Wahyu bagaimana frasa “bagi
kemuliaan Allah, Bapa” (Flp.2:11) dinyatakan dengan kejelasan

Banyak rujukan telah dibuat kepada kitab Wahyu karena
Kristologi trinitaris menganggapnya lahan subur untuk menggali
teks-teks bukti tanpa menghiraukan konteks di mana mereka
ditemukan, yaitu tema-tema utama kitab Wahyu begitu saja diabai-
kan, dan teks-teks disobek keluar dari konteks. Misalnya, mereka
seharusnya telah mengamati bahwa Yahweh Allah sajalah yang
disebut sebagai “Dia yang duduk di atas takhta” tidak kurang dari 12
kali dalam kitab Wahyu. “Takhta” merupakan kata kunci dalam
kitab Wahyu, muncul 47 kali dalam 37 ayat; merupakan lambang
kekuasaan, otoritas, dan kedaulatan. Kebanyakan dari rujukan
kepada “takhta” merujuk kepada takhta Allah, yaitu, kepada
kerajaan dan kedaulatan-Nya; tetapi beberapa merujuk kepada
otoritas yang didelegasikan oleh Allah. Di 2:13 bahkan ada sebuah
rujukan kepada “takhta Iblis”; ia selalu berusaha merebut kekuasaan
pemerintahan Allah.
Yesus, sebaliknya, selalu berupaya hidup dalam ketaatan total
kepada Bapanya (bdk. Why.1:6; “Allah dan Bapanya”), sebab ia “taat
sampai mati” (Flp.2:8), sebuah kebenaran yang ditangkap oleh
gambaran “Anak Domba yang disembelih” dalam kitab Wahyu.
Jelaslah bahwa oleh karena hal ini (bdk. Flp 2:9-11) tampillah
gambar yang sungguh-sungguh indah pada bagian kesimpulan dan
akhir dari kitab Wahyu itu di mana Allah terlihat berbagi takhta-
Nya dengan Anak Domba: “Malaikat itu juga menunjukkan kepada
saya sungai yang airnya memberi kehidupan. Sungai itu gemerlapan
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 441

seperti kristal dan mengalir dari takhta Allah dan Anak Domba itu”
(Why.22:1; BIS, bdk. ay.3). Pembagian takhta Allah ini menggenapi
apa yang dikatakan oleh Yesus di Wahyu 3:21, “Siapa yang menang,
ia akan kududukkan bersama-sama dengan aku di atas takhtaku,
sebagaimana akupun telah menang dan duduk bersama-sama
dengan Bapaku di atas takhta-Nya.” Ini juga berarti takhta yang
dikaruniakan kepada Yesus pada dasarnya adalah takhta Bapa. Frasa
“takhta Allah dan Anak Domba itu” hanya muncul dalam dua ayat
kitab Wahyu ini.
Seperti sudah kita catat sebelumnya, “Anak Domba” sebagaimana
diterapkan kepada Yesus muncul 28 kali (4x7) dalam kitab Wahyu
dan, oleh karena itu, merupakan salah satu kata kunci. Anak Domba
yang disembelih itu melukiskan Kristus sebagai kurban penghapus
dosa melalui kematian dan kebangkitannya. Setelah menunaikan
dengan setia misi yang dipercayakan kepadanya oleh Allah Bapa
kita, ia dikaruniakan untuk duduk di atas takhta Allah (bdk. Flp.2:9-
11 lagi), sama seperti mereka semua yang menang akan dikaruniai
tempat di atas takhta Kristus (Why.3:21). Petrus di Kisah 2:36 mem-
beritakan bahwa “Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan
itu, menjadi Tu[h]an dan Kristus”, yang menyebabkan Paulus
berbicara tentang Yesus sebagai “Tu[h]an Yesus Kristus”. Perhatikan
lagi bahwa Allah yang telah menjadikan dia Tu[h]an. Kekuasaan
sebagai Tu[h]an dianugerahkan kepadanya oleh Allah, demikian
pula dengan kemesiasannya (Kristus). Kita yang dibesarkan sebagai
trinitarian tidak boleh melupakan hal ini jika kita tidak ingin
menyimpang lagi dari kebenaran firman Allah.
Dalam Kitab Wahyu, sasaran utama dari penyembahan adalah
Allah, Bapa kita. Hal ini secara khusus dinyatakan, sesungguhnya,
diperintahkan di Wahyu 22:9, “Sembahlah Allah”. Ini menjadi lebih
signifikan ketika kita menyadari bahwa di sini Kristuslah yang
tengah berbicara melalui malaikatnya (Why.22:16).
442 The Only True God

Banyaknya rujukan kepada “takhta” Allah di kitab Wahyu
berbicara tentang pemerintahan-Nya yang universal; dengan
demikian, kita diingatkan oleh “kerajaan Allah” yang begitu pokok
dalam ajaran Yesus. “Kerajaan Allah” adalah istilah yang muncul 31
kali dalam ajaran Yesus dalam Injil Lukas; padanannya “kerajaan
surga” juga muncul 31 kali dalam Injil Matius, di mana “surga”
merupakan metonim untuk “Allah”. Ini berarti kekuasaan pemerin-
tahan Allah merupakan sebuah unsur yang sentral dalam ajaran
Yesus. Dari sini semestinya jelas bahwa Yahweh Allah Sendiri adalah
hal pokok dalam ajaran Yesus. Pernahkah terlintas dalam pikiran
kita bahwa meninggikan Yesus ke tingkat kesetaraan dengan
Yahweh Allah itu berlawanan dengan ajarannya? Dan jika dengan
berbuat demikian kita tidak menaati Yesus, apa yang akan terjadi
kepada kita pada Hari itu?

“Allah” dalam kitab Wahyu adalah Yahweh

H al ini dibuat jelas pada bagian paling awal dari kitab Wahyu:
“Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia,
yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang” (Why.1:4) dan
juga di ay.8, “Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang
akan datang, Yang Mahakuasa.” Hal ini mudah dikenali, seperti
yang diamati oleh para komentator Alkitab, sebagai padanan dari
Keluaran 3:14, “Firman Allah kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU’.
{Atau AKU AKAN MENJADI APA YANG AKU AKAN MENJADI}
Lagi firman-Nya: Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu:
‘AKULAH AKU’ telah mengutus aku kepadamu”. Hal ini juga
mengingatkan kita kepada deskripsi Allah seperti “dari selama-
lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah” (Mzm.90:2);
“Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada… dan tahun-
tahun-Mu tidak berkesudahan” (Mzm.102:26,27); dan “Bahwasanya
Aku, Yahweh, tidak berubah” (Mal.3:6).
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 443

Deskripsi ilahi yang sama, seperti di Wahyu 1:4,8, juga muncul
dengan indahnya di 4:8 seperti berikut, “dengan tidak berhenti-
hentinya mereka berseru siang dan malam: ‘Kudus, kudus, kuduslah
Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan
yang akan datang!’”. Kata “kudus” yang diucapkan tiga kali ini
mengingatkan kita kepada penglihatan di Yesaya 6. Gelar “Tuhan
Allah” adalah gelar familier untuk Yahweh dalam PL.
Dalam PB, kata “Mahakuasa” (pantokratōr) sebagai sebuah gelar
untuk Yahweh hanya muncul di kitab Wahyu, sebanyak 9 kali (1:8;
4:8; 11:17; 15:3; 16:7; 16:14; 19:6; 19:15; 21:22; di luar itu gelar
tersebut muncul dalam sebuah kutipan PL di 2Kor.6:18).
Pantokratōr kerapkali muncul dalam PL Yunani (termasuk
Apokrifa), di mana kata itu muncul 181 kali, dan digunakan untuk
menerjemahkan dua gelar Yahweh: “Tuhan semesta alam” dan El-
Shaddai. Gelar itu dipakai 55 kali dalam kitab Zakaria yang relatif
pendek, di mana gelar tersebut biasanya menerjemahkan “Yahweh
Sabaoth” (NJB, atau “the LORD of hosts” dalam kebanyakan versi
lain, tetapi “the Almighty” dalam NIV). “Sebab itu katakanlah
kepada mereka: Beginilah firman TUHAN semesta alam:
Kembalilah kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN semesta alam,
maka Akupun akan kembali kepadamu, firman TUHAN semesta
alam” (Za.1:3).
“Shaddai” muncul 48 kali dalam Alkitab Ibrani, 31 kali di kitab
Ayub: “Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah;
sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa. {Ibr:
Shaddai; di sini dan di seluruh kitab Ayub}” (Ayb.5:17). Kata itu
pertama kali muncul di Kejadian 17:1, “Yahweh menampakkan diri
kepada Abram dan berfirman kepadanya: ‘Akulah Allah Yang
Mahakuasa (Ibr: El-Shaddai), hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak
bercela’”, dan Kejadian 28:3, “Moga-moga Allah Yang Mahakuasa
{El-Shaddai} memberkati engkau, membuat engkau beranak cucu
dan membuat engkau menjadi banyak”. Ketika kita melihat contoh-
444 The Only True God

contoh ini, mau tidak mau kita dikejutkan oleh keakraban “yang
Mahakuasa” berhubungan dengan manusia kendati keagungan serta
kuasa-Nya yang tak terbayangkan. Hal ini menjadi ciri menyolok
dari Yahweh yang jelas terlihat di sepanjang Alkitab. Dalam kitab
Wahyu kita melihat sang Mahakuasa dengan akrab terlibat dengan
kejadian-kejadian di dunia ini, dan Ia menggunakan sarana-sarana
yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya bagi umat
manusia.
Kita sudah mencatat bahwa “takhta” adalah salah satu kata kunci
dalam kitab Wahyu. Konsep Allah yang duduk di atas takhta-Nya
dan memerintah atas dunia dan alam semesta kerapkali muncul
dalam PL, khususnya kitab Mazmur: “Yahweh sudah menegakkan
takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu”
(Mzm.103:19); “Engkau, ya Yahweh, bertakhta selama-lamanya,
takhta-Mu tetap dari masa ke masa!” (Rat.5:19) Di Matius 5:34 Yesus
berbicara tentang langit sebagai “takhta Allah” dan bumi sebagai
“tumpuan kaki-Nya” (Mat.5:34,35).
Hal yang secara khusus relevan untuk kitab Wahyu adalah
penglihatan Yesaya akan Allah yang duduk di atas takhta-Nya,
“Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas
takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi
Bait Suci” (Yes.6:1); dan terlebih lagi oleh karena ay.3, “Dan mereka
(yaitu para Serafim, ay.2) berseru seorang kepada seorang, katanya:
‘Kudus, kudus, kuduslah Yahweh semesta alam, seluruh bumi penuh
kemuliaan-Nya!’”; kata “Kudus” yang diulang tiga kali ini
digemakan di Wahyu 4:8: “dan dengan tidak berhenti-hentinya
mereka berseru siang dan malam: ‘Kudus, kudus, kuduslah Tuhan
Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang
akan datang!’”. Takhta itu (Yeh.1:26), dalam penglihatan yang sering
disebut sebagai “penglihatan kereta” Yehezkiel, adalah juga suatu
penglihatan akan takhta Yahweh: “Seperti busur pelangi, yang
terlihat pada musim hujan di awan-awan, demikianlah kelihatan
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 445

sinar yang mengelilinginya. Begitulah kelihatan gambar kemuliaan
Yahweh” (Yeh.1:28).

“Aku mengangkat engkau sebagai Allah” (Kel.7:1)—
seorang manusia yang dilantik untuk berfungsi sebagai
wakil Allah untuk melaksanakan tujuan-Nya

D alam suasana surgawi kitab Wahyu terdapat sesuatu yang
tampak ilahi tentang Yesus sang Anak Domba. Barangkali
inilah yang memberikan kesan bahwa kita bisa menemukan materi
untuk memperlihatkan doktrin keilahiannya. Kita begitu saja
berasumsi bahwa gelar-gelar yang disandangkan kepadanya adalah
gelar-gelar ilahi, seperti “Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir”
(Why.1:17, yang sudah kita bahas di tempat lain dalam kajian ini),
dan terkejut ketika setelah dianalisa ternyata gelar-gelar itu belum
tentu ilahi. Hal ini menimbulkan pertanyaan berikut: “Apakah
pengaruniaan gelar-gelar ilahi kepada Yesus, seperti ‘Tu[h]an’,
berarti ia harus disembah setingkat dengan Yahweh Allah?” Kita
mengira jawabannya harus “ya”, tetapi dengan mengejutkan kita
mendapati bahwa jawaban yang diberikan kitab Wahyu tidak sesuai
dengan dugaan kita.
Ternyata, ada sesuatu mengenai pewahyuan tentang Yesus yang
telah gagal kita lihat, dan oleh karena itu, memahaminya secara
salah. Dalam hal keserupaan dengan Allah, ada persamaan yang
menyolok dengan kasus Musa di mana Allah berkata, “Aku akan
menjadikan engkau seperti Allah di hadapan raja” (Kel.7:1; BIS)
atau, “Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun”. Status
dan otoritas ilahi Allah sendiri dianugerahkan kepada Musa,
sehingga interaksi antara Musa dan Firaun kini menjadi interaksi
antara Allah dan Firaun, yang adalah raja dunia sejauh umat Israel
yang hidup di Mesir. Kini Musa datang kepada Firaun bukan hanya
sebagai seorang hamba atau nabi Allah (seperti seseorang yang
446 The Only True God

memiliki kuasa dan otoritas untuk bertindak dalam Nama Allah),
tetapi ia adalah Allah sejauh Firaun. Namun hal yang sama juga
benar dengan hubungan antara Musa dan Harun (dan oleh karena
itu dengan keimaman) Keluaran 4:16, “Ia harus berbicara bagimu
kepada bangsa itu, dengan demikian ia akan menjadi penyambung
lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya.” Dengan
demikian, penganugerahan status ilahi kepada seseorang sama sekali
bukanlah hal baru dalam Kitab Suci. Yesus justru menegaskan fakta
ini di Yohanes 10:34,35 dengan mengutip Mazmur 82:6.
Kita sudah mempertimbangkan Mazmur 45 (NIV: “nyanyian
perkawinan” bagi raja Israel) di mana sang raja (ay.2) disebut
sebagai “Allah” di ay.7. Namun ayat yang berikutnya membuat jelas
bahwa “Allah” atau “allah” ini bukan Allah tertinggi, sebab “Allah
Yang Mahatinggi” (Mzm.78:35,56; dst.) itu adalah “Allahmu” yang
telah menganugerahkan kepada “allah” ini sebuah kedudukan yang
“melebihi teman-teman sekutumu” (Mzm.45:8). Deskripsi atau gelar
“Mahatinggi” (Elyôn, ‫ )ﬠֶלְ יוֹן‬diterapkan kepada Yahweh 53 kali
dalam PL, 22 kali dalam kitab Mazmur. Raja Israel tidak pernah
disembah, demikian juga dengan yang terbesar dari umat Israel
sekalipun, Musa. Ini adalah karena pada akhirnya, Yahweh sendiri
adalah Raja Israel yang sebenarnya dan, sebagai Yang Mahatinggi, Ia
sendiri adalah sasaran penyembahan. Lihat saja, misalnya, deklarasi
agung ini: “Beginilah firman Yahweh, Raja dan Penebus Israel,
Yahweh semesta alam: ‘Akulah yang terdahulu dan Akulah yang
terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.’” (Yes.44:6); dan
lagi-lagi: “Yahweh telah menyingkirkan hukuman yang jatuh
atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni Yahweh,
ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi.”
(Zef.3:15) Mungkin semua ini akan membantu kita untuk lebih
memahami fakta bahwa dalam monoteisme Alkitabiah, tak
seorangpun, tidak peduli betapa tingginya ia diagungkan oleh
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 447

Allah—dan Yesus pasti lebih ditinggikan daripada siapa pun juga—
bisa pernah menjadi sasaran penyembahan alih-alih Yahweh.
Semua contoh ini menunjukkan bahwa Allah yang transenden
menjalankan karya penyelamatan-Nya secara imanen melalui bejana
kudus yang telah dipilih-Nya. Yesus adalah orang yang dipilih-Nya
(“Yang Kupilih”, Luk.9:35; bdk. Luk.23:35, dalam bahasa Yunani)
dari semua orang. Dalam PB kita melihat bahwa Allah melakukan
segala sesuatu di dalam dan melalui Yesus Kristus, oleh karena itu
kita sering membaca istilah familier “di dalam Kristus” dan “melalui
Kristus” dalam surat-surat Paulus. Akan tetapi, kita cenderung lupa
bahwa Kristus adalah bejana pilihan Allah untuk menjalankan
tujuan-tujuan kekal Allah (bukan Kristus).
Contoh lainnya, yang menjadi subjek pembahasan dalam kesusas-
teraan Yahudi, adalah malaikat menakjubkan yang diangkat Allah
untuk memimpin umat Israel melalui padang gurun dan menjaga
mereka sepanjang perjalanan. Hal yang luar biasa dengan malaikat
ini ialah bahwa ia merupakan penjunjung Nama Allah, “Nama-Ku
ada di dalam dia” (Kel.23:21). Dari ay.22 jelaslah bahwa menaati dia
sama artinya dengan menaati Allah, sebab Allahlah yang berbicara
dan bertindak di dalam dia dan melalui dia. Sejauh umat Israel,
malaikat itu adalah Allah Sendiri berdasarkan fakta bahwa ia adalah
penjunjung Nama Allah. Meskipun demikian, tidak pernah terlintas
kemungkinan untuk menyembah malaikat ini, karena mereka
“harus beribadah kepada Yahweh, Allahmu” saja (ay.25).
Persoalannya bagi kita adalah kita telah begitu terindoktrinasi
oleh trinitarianisme sehingga kita merasa lebih mudah untuk
menerima diteisme atau triteisme, berkenaan dengan Kristus,
daripada monoteisme. Pikiran kita telah begitu terbelenggu oleh
bentuk politeisme trinitaris itu sehingga, ketika dibebaskan, kita
malah tidak tahu apa yang harus dipikirkan. Sama seperti
narapidana yang menghabiskan sebagian besar hidup mereka di
dalam penjara sehingga, ketika dibebaskan, mereka tidak tahu harus
448 The Only True God

ke mana dan, oleh karena itu, memilih untuk kembali ke penjara
sebagai satu-satunya tempat tinggal yang mereka kenal. Untuk
menghindari kesalahan yang sama, kita perlu mengasihi kebenaran-
Nya berapa pun harganya, karena jalan yang sesak dan sempitlah
yang membawa kita kepada hidup.

Apa yang dapat kita perbuat dalam situasi saat ini
dengan jemaat?

A pakah ada sesuatu yang dapat kita lakukan untuk mencegah
agar kita tidak tergelincir kembali ke dalam kekeliruan? Oleh
anugerah Allah, ada. Sebagai murid Yesus, kita bisa belajar menjadi
seperti dia dalam pengabdiannya yang tulus iklas kepada Bapa.
Seluruh PB menyaksikan bahwa ia mengasihi Bapanya dengan
segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatannya (Mat.22:37;
Mrk.12:30; Luk.10:27). Apa yang diajarkannya untuk kita lakukan, ia
lakukan sendiri terlebih dahulu. Apabila kita mengasihi Allah, Bapa
kita, dengan cara ini kita akan mendapati hati kita sepenuhnya
dipersatukan dengan Kristus, karena dialah yang mengajarkan dan
mempraktikkannya. Lagipula, mengasihi sang Bapa sebenarnya
tidak sulit bila kita menyadari bahwa Dialah yang terlebih dahulu
mengasihi kita (1Yoh.4:19) dan Ia mengasihi kita hingga “tidak
menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkannya bagi kita
semua” (Rm.8:32; bdk. Yoh.3:16). “Lihatlah, betapa besarnya kasih
yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-
anak Allah!” (1Yoh.3:1)—“Kita telah mengenal dan telah percaya
akan kasih Allah kepada kita” (1Yoh.4:16).
Sedangkan untuk doa, kita bisa belajar untuk berseru kepada
Allah, Bapa kita, dengan mengucapkan “Abba, Bapa” sama seperti
Yesus sendiri berdoa (Mrk.14:36), dan sebagaimana Roh Allah, “Roh
yang menjadikan kamu anak Allah”, memampukan kita untuk
berdoa (Rm.8:14,15). Galatia 4:6 berbunyi, “Karena kamu adalah
Bab 4 — Penuhanan Trinitaris akan Kristus 449

anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita,
yang berseru (krazō adalah kata yang kuat, mengungkap intensitas):
‘ya Abba, ya Bapa!’” Kata-kata ini menerangkan bahwa jika Roh
Kristus ada di dalam kita, kita akan memanggil atau berseru dari hati
kita, “ya Abba, ya Bapa”. Penting juga untuk diperhatikan bahwa
ayat ini menyatakan bahwa bukan Anak yang mengutus Roh-Nya ke
dalam hati kita, tetapi Allah Bapa kita Sendirilah yang melakukan
hal ini.
Lebih lanjut, kita bisa belajar merenungkan hal-hal surgawi
dengan merenungkan, misalnya, adegan surgawi yang dilukiskan di
Wahyu 4 dan 5, dengan memperhatikan bagaimana khalayak di
surga menyembah “Dia yang duduk atas takhta” (Yahweh Allah,
sang Bapa, dilukiskan dengan cara ini sebanyak 12 kali dalam kitab
Wahyu). “Takhta” adalah salah satu kata kunci dalam kitab Wahyu,
yang muncul 47 kali (dari semuanya itu, 14 kali di Wahyu 4, dan 5
kali di Wahyu 5). Sebagaimana disebutkan di atas, Anak Domba
dikaruniakan untuk duduk dengan Allah Bapa kita di atas takhta-
Nya, sama seperti para pemenang akan dikaruniakan untuk berbagi
takhta Kristus dengan dia (Why.3:21). Sesudah pembukaan meterai
di Wahyu 5, Anak Domba dipuji dan dipuja bersama-sama dengan
Allah. Dengan membayangkan adegan penyembahan yang indah itu,
dan dengan mempelajari makna doksologi yang disebut di
dalamnya, kita bisa belajar untuk menyembah dengan cara surgawi
itu, sebab bukankah hal-hal ini dituliskan sebagai pelajaran bagi
kita? Paulus menasihati kita untuk memikirkan perkara yang di atas
(Kol.3:2). Wahyu 4 dan 5 tentu saja bisa menbantu kita melakukan
hal ini secara lebih mendalam.
Mungkin penglihatan surgawi tentang penyembahan seperti
itulah yang mengihami Paulus untuk menulis doksologi yang
demikian indah, “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya
bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tidak tampak dan
yang esa! Amin” (1Tim.1:17). Kita mungkin bertanya-tanya apa
450 The Only True God

yang menyebabkan dia tiba-tiba melontarkan doksologi ini di
tengah-tengah penulisan suratnya. Apakah mungkin karena rujukan
kepada hidup kekal di ayat sebelumnya? Akankah hati kita juga akan
melonjak memuji Allah Bapa kita begitu kita memikirkan hidup
kekal? Janganlah kita juga mengabaikan penegasan monoteistisnya
yang kuat tentang “satu-satunya (monos) Allah (theos)” di tengah-
tengah doksologi itu.
Bab 5

Yahweh dalam Alkitab
Ibrani

“Yahweh” dalam Alkitab Ibrani (“Perjanjian Lama”)

N ama Yahweh (‫יהוה‬, YHWH) muncul 6828 kali dalam PL.
Jumlah ini tidak termasuk 49 kemunculan “Yah”, seperti di
Keluaran 15:2, Mazmur 68:5, dan juga banyaknya ungkapan
“Haleluya” atau Halelu-Ya (“puji Yahweh”) dalam kitab Mazmur.
(Jika kita mencakupkan sufiks–ya (=Jah atau Yah) dalam nama-
nama seperti Yesaya dan Yeremia, dan prefiks Ye- atau Yo- (mis.
Yehu, dan Yosafat “Yahweh menghakimi”), jumlahnya akan jauh
meningkat.) Oleh karena itu, seluruh rujukan kepada Yahweh dalam
PL itu berjumlah kira-kira 7000.
Kata “Allah”, Elohim (‫)אלהים‬, ditemukan 2600 kali. Namun,
sebagian besar dari jumlah itu merujuk kepada ilah-ilah lain yang
452 The Only True God

disebut dalam PL. Jadi jumlah rujukan kepada “Allah” dalam PL
(jika tidak mencakup rujukan kepada ilah lain) adalah kira-kira 1/3
dari jumlah rujukan kepada “Yahweh”. Keunggulan jumlah dari
nama “Yahweh” itu terlihat nyata. Kombinasi “Yahweh (‘TUHAN’)
Allah (Elohim)” (‫ )יהוה אלהים‬muncul 891 kali dalam 817 ayat.
Dari angka-angka ini jelaslah Yahweh merupakan Nama yang
paling dominan dalam PL. Lagipula, tidak di manapun juga terdapat
tanda adanya pribadi lain yang setara dengan Yahweh, atau ada lebih
dari satu pribadi di dalam Yahweh Sendiri.

Apa yang akan dilakukan oleh trinitarian dengan
Yahweh?

H al yang paling menakjubkan adalah fakta bahwa Nama-Nya
tidak muncul dalam versi-versi utama Alkitab Inggris
meskipun begitu dominan; sebenarnya nama itu justru telah
dihapuskan dari semua versi itu! (New Jerusalem Bible (NJB)
merupakan sebuah pengecualian.) Situasi ini sangat mendukung
tujuan trinitaris karena dengan demikian ia dapat menghindari
pertanyaan penting ini: Bagaimana persisnya trinitarianisme dapat
diselaraskan dengan Yahweh? Kenyataannya adalah: trinitarianisme
tidak memiliki jawaban atas pertanyaan ini! Ini dikarenakan
Yahweh—yang secara konsisten dinyatakan sebagai satu-satunya
Allah yang benar, dan selain Dia tidak ada yang lain—tidak dapat
diselaraskan dengan skema teologi trinitaris. Usaha untuk
mengidentifikasikan Yahweh sebagai “Bapa” dalam Allah Trinitas,
yang selain Dia masih ada dua pribadi yang setara dengan-Nya—
sesuatu yang keji bagi Yahweh, merupakan sebuah tipuan belaka,
sebagaimana semestinya diketahui oleh setiap orang yang pernah
membaca PL, tetapi karena dibutakan oleh dogma trinitaris, gagal
untuk melihatnya atau mau melihatnya.
Bab 5 — Yahweh dalam Alkitab Ibrani 453

Seorang trinitarian harus menghadapi kenyataan bahwa ia
diperhadapkan dengan sebuah pilihan jelas: Yahweh, atau Trinitas
tetapi tidak keduanya. Allah itu esa, atau tiga. Trinitarianisme
berusaha memiliki kedua-duanya, yaitu mendapatkan yang terbaik
dari kedua dunia, monoteisme dan trinitarianisme, dengan
mengurangkan “Allah” menjadi “kodrat ilahi” yang dibagi bersama
oleh tiga pribadi. Hasil akhir dari usaha menunggangi dua kuda
sekaligus tidak sulit dibayangkan; dan nasib rohaniah dari mereka
yang mengira bahwa mereka dapat memperoleh yang terbaik dari
dua dunia yang sama sekali bertentangan (monoteisme versus
politeisme trinitaris) juga tidak sulit diramal. Dari sudut pandang
Kitab Suci, adalah sangat bodoh jika kita mengira kita dapat
menghindar dari pilihan itu, karena hasil akhirnya akan menjadi
bencana. Elia meletakkan pilihan itu di hadapan umat Israel di
gunung Karmel: “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan
bercabang hati? Kalau Yahweh itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau
Baal, ikutilah dia.” (1Raj.18:21) Namun jauh sebelum kejadian luar
biasa di atas gunung Karmel itu, Yosua sudah memanggil umat
Israel untuk berhadapan dengan pilihan yang sama, “pilihlah pada
hari ini kepada siapa kamu akan beribadah” (Yos.24:15). Ia
membuat pendiriannya sendiri dengan jelas di hadapan semua
orang, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada
Yahweh!” Semoga Tuhan memberikan kepada kita keberanian
untuk membuat pendirian yang sama hari ini.

Nama “Yahweh”

P ada masa PB, kaum Yahudi (termasuk anggota jemaat Yahudi)
kebanyakannya sudah mengenal Alkitab Ibrani karena dibaca
secara teratur di sinagoga (Luk.4:16dyb.). Namun kaum Yahudi
Helenistik (orang Yahudi yang dibesarkan dalam masyarakat
dan/atau budaya Yunani) kurang fasih berbahasa Ibrani, sehingga
454 The Only True God

harus bergantung pada Septuaginta (LXX) yang menerjemahkan
YHWH (Yahweh) sebagai “Tu[h]an” (kurios); hal ini sesuai dengan
praktik di masa Pembuangan dan pasca-Pembuangan untuk tidak
mengucapkan atau melafalkan Nama Allah karena takut memper-
lakukan Nama-Nya “dengan sembarangan” (Kel.20:7). Alkitab-
alkitab Inggris (kecuali New Jerusalem Bible) mengikuti Septuaginta
dalam menerjemahkan YHWH dengan “TU[H]AN”, tetapi dengan
menulisnya dalam huruf kapital (yang menjadi tidak relevan bila
diucapkan). The Theological Wordbook of the Old Testament
(TWOT) menyatakan, “Hanya di masa pra-PB nama personal Allah
[Yahweh] digantikan dengan gelar yang kurang intim ădōnāy (Yun.:
kurios) ‘Tu[h]an’.”
TWOT pun memuat pengamatan instruktif tentang “Yahweh”
sebagai berikut:

“Kitab Suci berbicara tentang Tetragrammaton (YHWH)
sebagai ‘nama yang mulia dan dahsyat [menakjubkan]’
(Ul.28:58), atau hanya dengan ‘nama itu’ (Im.24:11). Namun
nama itu menandakan kedekatan Allah, kepedulian-Nya kepa-
da manusia, dan penyataan janji penebusan-Nya. Dari
Kejadian 1 sampai Kejadian 2:3, istilah umum elōhîm
“ketuhanan,” itu pantas untuk Allah yang transenden di dalam
penciptaan; tetapi di Kejadian 2:4-25 Yahwehlah, Allah yang
imanen dalam penyataan di Eden itu” (TWOT, ‫( יָהּ‬yāh)
Yahweh, huruf miring ditambahkan).

Akibat dari rasa takut bangsa Yahudi untuk melafalkan Nama Allah
adalah bahwa pelafalan Nama-Nya tidak lagi dikenal seiring dengan
waktu, atau setidaknya, menjadi tidak pasti. Nama Allah sekarang
umumnya tidak dikenal oleh kebanyakan orang Yahudi dan umat
Kristen. Bagi mereka, Allah itu tidak bernama! Namun Kitab Suci
berkata, “barangsiapa yang berseru kepada nama Yahweh akan
diselamatkan” (Yl.2:32; Kis.2:21; Rm.10:13). Bukankah seharusnya
Bab 5 — Yahweh dalam Alkitab Ibrani 455

kita bertanya: Bagaimanakah mereka akan berseru kepada Nama-
Nya bila mereka tidak tahu nama itu? Sebab, ayat itu tidak hanya
berkata, “Berseru kepada Allah”, melainkan berseru kepada “Nama-
Nya”. Frasa “Nama Yahweh” (shem YHWH) muncul 97 kali dalam
Alkitab Ibrani. Jika berseru kepada nama-Nya adalah soal yang
berkaitan dengan keselamatan manusia, maka menghilangkan
nama-Nya dari pemakaian sehari-hari adalah suatu kegilaan.
Lagipula, siapakah yang memberi perintah untuk tidak melafalkan
Nama Ilahi itu? Siapakah yang berotoritas untuk melarang
pemakaian Nama-Nya? Tampaknya mustahil untuk melacak asal-
usul larangan pemakaian Nama Yahweh. Perkembangannya terjadi
seperti cara menyebarnya kabar angin, asal-usulnya tidak lagi
diketahui—meskipun salah, tetap dipercaya!
Namun penyebaran “kabar angin” atau, lebih tepatnya,
kebohongan ini (karena bukan saja tidak mendapat pengesahan di
dalam firman Allah, tetapi bertentangan dengannya), telah
membawa bencana rohani, khususnya bagi jemaat. Untuk sekarang
ini, satu-satunya Allah yang benar itu telah dihilangkan Nama-Nya,
sesungguhnya, dirampok Nama-Nya! Paling tidak orang Yahudi
masih menyapa Dia dengan gelar “Adonai” (“Tu[h]an”). Namun
bagi orang Kristen, “Tu[h]an” adalah bentuk sapaan untuk Yesus
Kristus sehingga Yahweh betul-betul dibiarkan tanpa gelar tertentu!
Sebagian orang Kristen merujuk kepada-Nya sebagai “Bapa” tetapi,
tentu saja, dalam arti trinitaris di mana “Bapa” adalah salah satu dari
tiga pribadi, dan dengan demikian, membentuk sepertiga dari
Trinitas. Akan tetapi, penggunaan gelar “Bapa” ini pun tidak
diterapkan secara konsisten karena sebagian orang Kristen juga
menggunakan istilah itu untuk Yesus, menurut penafsiran mereka
atas “Bapa yang kekal” di Yesaya 9:5. Jadi Yahweh dibiarkan tanpa
Nama atau gelar tertentu di dalam jemaat! Sungguh suatu situasi
yang mengejutkan! Akan tetapi, tampaknya hanya beberapa orang,
jika ada, di dalam jemaat yang telah mengamati parahnya kondisi
456 The Only True God

rohaniah jemaat sekarang ini. Tampaknya ini mengindikasikan
adanya semacam kekebasan, kebutaan, atau bahkan kelumpuhan
rohaniah yang telah menguasai jemaat. Kita mungkin bertanya-
tanya: Di manakah orang-orang milik Yahweh, yang peduli dengan
Nama-Nya dan kemuliaan-Nya?
Umat Kristen menyanyikan himne, “Betapa manisnya nama
Yesus terdengar di telinga orang yang percaya” tanpa merasa
terganggu bila Nama Yahweh yang mulia dan indah itu telah
diasingkan ke tempat terlupakan. Yang menjadi misteri adalah
mengapa terjemahan-terjemahan Inggris (kecuali Jerusalem Bible)
memilih untuk mengikuti Septuaginta sedangkan yang tengah
mereka terjemahkan itu bukan Septuaginta melainkan Alkitab
Ibrani?! Lagipula, saya tidak menyadari adanya orang Kristen yang
pernah menganggap diri mereka terikat dengan fatwa orang Yahudi
untuk tidak melafalkan Nama itu. Septuaginta adalah terjemahan
Yunani dari Perjanjian Lama yang ditulis oleh para penerjemah
Yahudi di Aleksandria (Mesir) selama abad ke-2 sM guna memenuhi
kebutuhan orang Yahudi berbahasa Yunani yang tidak lagi akrab
dengan bahasa Ibrani. Mereka juga ingin memperkenalkan Kitab
Suci mereka kepada dunia non-Yahudi. Para penerjemah ini, terikat
dengan tabu pasca-Pembuangan di antara orang Yahudi yang
melarang pelafalan Nama “Yahweh”, menggantikannya dengan
“Adonai” (Tu[h]an). Apa alasan atau dalih penerjemah Kristen
untuk mengikuti tabu ini? Apakah karena kebetulan lebih sesuai
dengan trinitarianisme?
Sedangkan untuk nama Yesus yang “indah” itu, sebenarnya
Yahwehlah yang membuat nama itu indah, karena “Yesus” dalam
bahasa Ibrani berarti “Yahweh menyelamatkan” atau “Yahweh
adalah keselamatan”, atau “keselamatan” yang disediakan Yahweh;
jadi berseru kepada nama Yesus secara tidak langsung berarti
berseru kepada Nama Yahweh. Namun umat Kristen tidak
memikirkan Yahweh ketika berdoa kepada Yesus, jadi itu tidak akan
Bab 5 — Yahweh dalam Alkitab Ibrani 457

sama dengan berseru kepada Nama Yahweh. Akan tetapi, umat
Kristen mengira bahwa ketika mereka berdoa kepada Yesus mereka
tengah berdoa kepada Allah, yaitu, kepada “Allah-Anak” dalam
istilah trinitaris. Dan karena bagi mereka Yesus adalah Allah, apa
perlunya mereka mempunyai Yahweh?
Sedangkan untuk kata “Yehovah”, BDB (Hebrew and English
Lexicon of the Old Testament) menerangkan asal-usul kata itu di
gereja Barat: “Pelafalan Yehovah tidak dikenal hingga 1520, ketika
diperkenalkan oleh Galatinus; tetapi kata itu disanggah oleh Le
Mercier, J. Drusius, dan L. Capellus, sebagai bertentangan dengan
kelayakan gramatikal dan historikal.” Walaupun demikian, terjema-
han Darby, yang dibuat pada akhir abad ke-19, memakai kata ini
untuk menggantikan “Yahweh”, demikian juga dengan terjemahan
bahasa Cina (Union).

Pelafalan Nama itu
Catatan: Sebagian pembaca mungkin mendapati sebagian
materi dalam bagian teks pendek berikut ini bersifat terlalu
teknis. Bagian teks ini dimasukkan demi keutuhan, dan demi
memudahkan mereka yang menginginkan informasi semacam
itu tetapi tidak memiliki akses kepada karya-karya referensi
yang disinggung di sini.

P elafalan nama “Yahweh” tampaknya cukup beralasan karena
bagian pertama “Yah” (‫ )יָהּ‬kerapkali muncul dalam penggunaan
puitis (38 kali dalam kitab Mazmur, 2 kali dalam kitab Keluaran, dan
2 kali dalam kitab Yesaya = 42 kali dalam PL). Kita mengenal hal ini
dengan baik dari kata “Haleluya”, di mana “ya” dalam bahasa Ibrani
sama dengan “Yah”. Ini pun muncul dalam banyak nama Alkitabiah,
mis. Yesaya, Yeremia, dst., dan juga dalam bentuk yang dipendekkan
dalam Yosua=Yeshuah (“Yesus” dalam bahasa Yunani).
458 The Only True God

BDB, Hebrew and English Lexicon, juga mencatat: “Ἰαβέ, [Iabe]
dari Teodoret dan Epifanius yang tradisional”. Begitu pun, The
Theological Wordbook of the OT (TWOT) mengatakan, “Teodoret
pada abad ke-4 menyatakan bahwa orang-orang Samaria
melafalkannya ‘iabe’. Klemens dari Aleksandria (awal abad ke-3)
mengucapkannya sebagai ‘iaoue’.” Beberapa sumber lebih awal
tampaknya tersedia untuk para pemimpin gereja ini (orang-orang
Samaria dalam halnya dengan Teodoret).
‘Iabe’ (Ἰαβέ) dilafalkan “Yaveh”, dan merupakan padanan dari
“Yahweh” karena huruf Ibrani ‫“( ו‬w”) dilafalkan sebagai “v” dalam
bahasa Inggris (“w” dalam bahasa Jerman juga diucapkan seperti “v”
dalam bahasa Inggris), sedangkan huruf Yunani Koine “b”
kemungkinan dilafalkan seperti “v” dalam bahasa Inggris, yang
masih tetap dilafalkan seperti itu dalam bahasa Yunani modern.

Makna “Yahweh”

P ada umumnya diakui bahwa makna Nama “Yahweh” diberikan
di Keluaran 3:14: ‘Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH
AKU.” {Atau AKU AKAN MENJADI APA YANG AKU AKAN
MENJADI} Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang
Israel itu: ‘AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.’
Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “Aku ada(lah)” ada
dalam kala imperfek. Itu sebabnya di sini NIV dikutip untuk
memperlihatkan bahwa apa yang diterjemahkan sebagai “I am who I
am (Aku adalah Aku)” dapat juga diterjemahkan sebagai “I will be
what I will be (Aku akan menjadi apa yang aku akan menjadi)”
(sebagaimana terlihat di bagian pinggir halaman berbagai
terjemahan lain. Ini juga cara Luther (1545 Alkitab Jerman)
menerjemahkannya: “Ich werde sein, der ich sein werde.”) Demikian
pula, The Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament
Bab 5 — Yahweh dalam Alkitab Ibrani 459

(Koehler dan Baumgartner): “‫אֶ הְ יֶה ְאַשֶׁ ר אֶ הְ יֶה‬, I shall be who I shall
prove to be, Keluaran 3:14.”
Dalam bagian terdahulu, perhatian diberikan kepada pengamatan
penting dalam The Theological Wordbook of the Old Testament
(TWOT) bahwa Nama “Yahweh” menandakan imanensi-Nya,
kedekatan-Nya dengan manusia: “Kitab Suci berbicara tentang
Tetragrammaton [YHWH, Yahweh] sebagai ‘nama yang mulia dan
dahsyat [menakjubkan]’ (Ul.28:58), atau hanya dengan ‘nama itu’
(Im.24:11). Namun nama itu menandakan kedekatan Allah,
kepedulian-Nya kepada manusia, dan penyataan janji penebusan-
Nya.” (TWOT, ‫( יָהּ‬yāh) Yahweh)
Tentang Keluaran 3:14, TWOT menyimpulkan bahwa Nama
“Yahweh” mengungkapkan “hadirat setia”-Nya dengan umat-Nya:

“Janji Allah kepada Musa yang dibuat segera sebelumnya
adalah, ‘Bukankah Aku akan menyertai engkau?’ (Kel.3:12).
Jadi, penegasan Allah dalam ay.14 tampaknya mengatakan,
‘Aku yang hadir adalah Aku’ Memang, janji dasariah dari
perjanjian-Nya adalah, ‘Aku akan mengangkat kamu menjadi
umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu’ (Kel.6:7; dst.;
kontras dengan Hos.1:9); jadi ‘Yahweh,’ ‘hadirat setia,’ adalah
kodrat atau nama perjanjian Allah (Kel.6:2,4; Ul.7:9;
Yes.26:4).” (TWOT, ‫( יָהּ‬yāh) Yahweh; cetak miring dari saya) 26

Begitupun BDB Hebrew and English Lexicon: “‫[ יהוה‬YHWH]…
26

diberikan (di) Kel.3:12-15 sebagai nama Allah yang menyatakan Dirinya
kepada Musa di Horeb, dan dijelaskan seperti berikut: � ָ‫ אֶ הְ יֶה ﬠִ מּ‬I shall be
with thee (ay.12), yang tersirat dalam ‫ אֶ הְ יֶה ְאַשֶׁ ר אֶ הְ יֶה‬I shall be the one who
will be it ay.14a (yaitu: dengan-Mu ay.12) dan kemudian disingkat menjadi
‫אֶ הְ יֶה‬ ay.14b (yaitu dengan-Mu ay.12), yang kemudian diberikan dalam
bentuk nominal ‫ יהוה‬He who will be it ay.15 (yaitu dengan-Mu ay.12).”
460 The Only True God

Mengomentari Keluaran 3:14, Prof. Robert Alter memberikan
pengamatan berguna berikut:

“’Ehyeh-’Asher-’Ehyeh [“I AM WHO I AM” dalam kebanyak-
an terjemahan Inggris]. Respon Allah mungkin memberi
Musa lebih daripada yang dimintanya—bukan saja sebuah
nama yang memberi identifikasi ilahi tetapi sebuah misteri
ontologis ilahi dari karakter yang paling menakutkan. Sejak itu
sungai tinta telah mengalir dalam refleksi teologis dan analisa
filologis atas nama ini. Kata-kata berikut terbatas pada
pertimbangan yang terakhir, yang bagaimanapun juga
menyediakan landasan bagi yang terdahulu. ‘I-Will-Be-Who-I-
Will-Be’ merupakan susunan yang paling masuk akal,
meskipun kata pada bagian tengah ’asher, bisa berarti ‘what’
ketimbang ‘who’, dan terjemahan umum ‘I-Am-That-I-Am’
tidak bisa dikecualikan. (‘Will’ digunakan di sini ketimbang
‘shall’ karena bahasa Ibraninya kedengaran seperti sebuah
penegasan dengan tekanan, bukan sekadar sebuah
pengumuman.) Karena sistim kala bahasa Ibrani alkitabiah
tidak sepenuhnya sesuai dengan sistim kala bahasa Inggris
modern, maka sangat mungkin juga untuk menafsirkan nama
ini sebagai ‘I Am He Who Endures.’ Konsensus kuat dari
kesarjanaan alkitabiah adalah bahwa pelafalan asli dari nama
YHWH yang digunakan Allah di ayat 15 adalah ‘Yahweh’.” (R.
Alter, The Five Books of Moses, Norton, 2004; cetak miring
ditambahkan)

Pengamatan Alter bahwa apa yang dinyatakan Yahweh kepada Musa
“bukan saja sebuah nama yang memberi identifikasi ilahi tetapi
sebuah misteri ontologis ilahi dari karakter yang paling menakutkan”
adalah pengamatan yang penting. Ini berarti Nama itu menyatakan
sesuatu tentang natur dari Wujud-Nya atau Pribadi-Nya. “I-Will-Be-
Who-I-Will-Be”, misalnya, menunjukkan natur yang tak berwaktu
Bab 5 — Yahweh dalam Alkitab Ibrani 461

atau kodrat kekal dari Wujud-Nya, sebagaimana diungkapkan juga
oleh “I Am He Who Endures.” Ini menyiratkan kendali penuh akan
masa depan, yang selanjutnya menyiratkan kemahakuasaan. Namun
Alter menunjukkan bahwa kata Ibrani “’asher, dapat berarti ‘what’
ketimbang ‘who’”. ‘Apa’ dengan kuat menunjuk kepada unsur
ontologis dalam Nama ilahi itu. Namun Keluaran 3:14 tampaknya
tidak menyatakan ‘apa’ dari karakter ilahi itu secara eksplisit. Hal
inilah yang justru dilakukan dengan luar biasanya kemudian di kitab
Keluaran.
Ketika Yahweh pertama-tama muncul kepada Musa di Keluaran
3, Musa begitu kagum hingga nyaris tidak dapat menahan penyataan
lebih penuh dari Wujud ilahi itu ketimbang apa yang sudah
diberikan kepadanya. Di Keluaran 34 kita menjumpai Musa yang
siap dan antusias untuk menerima penyataan lebih penuh akan
Pribadi dan karakter ilahi-Nya. “Berjalanlah Yahweh lewat dari
depannya dan berseru: ‘Yahweh, Yahweh, 27 Allah penyayang dan
pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya’”
(Keluaran 34:6). Lima unsur penting tentang karakter Yahweh
dinyatakan di sini, yang memberikan pandangan unik dan
mendalam kepada sifat Wujud batiniah-Nya. Hati kita juga menjadi
tenteram mengetahui bahwa kelima unsur karakter-Nya itu
dilandasi kuat oleh komitmen tak kenal kompromi terhadap
keadilan dan kebenaran yang akan menumpas kejahatan hingga
tuntas (Kel.34:7). Mengetahui bahwa inilah karakter Allah yang
menciptakan segalanya, dan yang tengah mengerjakan tujuan-tujuan
kekal-Nya bagi ciptaan-Nya, pastilah membangkitkan semangat kita
dengan harapan dan keberanian.

27
Pemberitaan ganda dari Nama Yahweh seperti ini tidak dijumpai di
manapun juga. Hal ini unik dalam PL. Fakta bahwa ia diberitakan oleh
Yahweh Sendiri menandakan signifikansi luar biasa dari penyataan-diri yang
tercatat dalam nas ini.
462 The Only True God

Penyataan yang diberikan di Keluaran 34:6 memuat kepentingan
dasariah untuk monoteisme Alkitabiah sebagaimana dapat dilihat
dari fakta bahwa hal itu digemakan di seluruh Alkitab Ibrani tidak
kurang dari 9 kali 28. Kasih setia Yahweh merupakan tema yang
kerapkali muncul dalam PL, dan diungkapkan dengan indahnya
oleh kata-kata dalam kitab Yeremia ini, “Aku mengasihi engkau
dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku
kepadamu” (Yer.31:3).
Gema akan kasih-setia Yahweh juga terdengar di seluruh PB, di
mana kasih penebusan Allah dalam Kristus adalah unsur kuncinya,
yang diabadikan oleh Yohanes 3:16 yang terkenal itu. Kasih-setia
Yahweh tercermin dengan kuatnya di dalam pribadi Kristus yang,
sebagai gambar Allah yang kelihatan, mengejawantahkan kasih Allah
di atas salib melalui dia “yang telah mengasihi aku dan menyerahkan
dirinya untuk aku” (Gal.2:20).

Keluaran 3:14 dalam Alkitab Yunani
Kita memperoleh wawasan lebih jauh tentang bagaimana Nama
“Yahweh” dipahami oleh mereka yang membaca Perjanjian Lama
bahasa Yunani (LXX), yang merupakan Alkitab jemaat mula-mula
berbahasa Yunani. Bagian pertama dari Keluaran 3:14 berbunyi,
“Firman Allah kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU (ἐγώ εἰμι ὁ ὤν,
egō eimi ho ōn)’.” Pentingnya kata-kata itu tidak terletak pada “Aku
(egō eimi)” yang pertama, tetapi pada “Aku” yang kedua yang
menerjemahkan kata-kata yang berbeda “ho ōn” (“dia yang adalah”),
sebab teks Yunaninya memuat, “Aku adalah ho ōn” (ὁ ὤν, harf. ‘Dia
yang adalah’ atau ‘Yang ada’). Sekarang perhatikan baik-baik bagian

Kel.34:6; Bil.14:18; Neh.9:17; Mzm.86:15; 103:8; 145:8; Yl.2:13; Yun.4:2;
28

Nah.1:3.
Bab 5 — Yahweh dalam Alkitab Ibrani 463

kedua dari Keluaran 3:14, “Beginilah kaukatakan (Musa) kepada
orang Israel itu: ‘Ho ōn telah mengutus aku kepadamu.” Hal yang
muncul dari teks Yunaninya adalah pemahaman bahwa Yahweh
adalah yang kekal, yang ada dengan sendirinya; yang tidak
berhutang eksistensi-Nya kepada siapa pun, tetapi sebaliknya, adalah
sumber terutama dari segala sesuatu yang ada.
Kitab Wahyu merujuk kepada “Tuhan Allah”, “yang Mahakuasa”,
tiga kali dengan deskripsi “Dia, yang ada dan yang sudah ada dan
yang akan datang”, sebuah deskripsi yang memberi ungkapan yang
bermakna untuk Nama “Yahweh”:

Wahyu 1:4, “Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di
Asia Kecil: Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu,
dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan
datang”.

Wahyu 1:8, “‘Aku adalah Alfa dan Omega,’ firman Tuhan
Allah, ‘yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang,
Yang Mahakuasa.’”

Wahyu 4:8, “Keempat makhluk itu masing-masing bersayap
enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan
mata, dan tanpa berhenti-hentinya mereka berseru siang dan
malam: ‘Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang
Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan
datang.’”

Dari pembahasan ini jelas bahwa “Yahweh” bukanlah nama biasa.
Sebuah nama biasa seperti “Tini” atau “Tono”, misalnya, sama sekali
tidak menyatakan apa-apa tentang orang itu kepada kita. Bertolak-
belakang dengan itu, Nama “Yahweh” adalah sebuah penyataan-diri,
yang menyatakan sifat serta karakter-Nya yang unik. Dengan demi-
kian, “Yahweh” merupakan nama yang paling menonjol dan
istimewa dalam Alkitab Ibrani (yang oleh umat Kristen disebut
464 The Only True God

“Perjanjian Lama”) bukan saja karena jumlah frekuensinya (hampir
7000 kali) tetapi karena nama itu menyatakan karakter yang indah
dari satu-satunya Allah yang benar. Nama ini adalah Firman par
excellence dari PL. Jadi tidak mengherankan bila Nama ini
merupakan kata yang mendasari “Firman itu” dalam Prolog
Yohanes.

Antropomorfisme sehubungan dengan Yahweh

H al yang telah lama sekali diperhatikan oleh mereka yang
membaca PL adalah deskripsi Yahweh yang sangat “antropo-
morfis”, yaitu melukiskan Dia dalam bahasa yang membuat Dia
tampak seolah-olah seperti seorang manusia. Jika Kitab Suci
memang adalah firman yang diilhami Allah, yang kita percayai
sebagai kebenaran, maka kita harus berhati-hati dalam
menggunakan istilah “antropomorfis”, karena penggunaan istilah ini
biasanya menyiratkan bahwa pengarang manusia itu tengah
melukiskan Yahweh dalam istilah-istilah manusia, yaitu bahwa ini
adalah karya manusia yang berupaya melukiskan Yahweh dalam
istilah manusia. Namun jika Kitab Suci diilhami oleh Allah maka ini
berarti bahwa Yahwehlah (bukan pengarang manusia) yang tengah
berbicara tentang Dirinya dalam istilah manusia.
Apakah artinya ini? Apakah Yahweh sedang menggunakan
deskripsi manusia untuk membuat diri-Nya dipahami oleh kita?
Namun ketika berbuat demikian, bukankah ada bahaya kita akan
salah memahami, alih-alih memahami, deskripsi tersebut dengan
mengartikannya secara harfiah dan beranggapan bila apa yang kita
baca adalah deskripsi Yahweh yang sebenarnya? Namun apakah
mungkin Yahweh Sendiri tidak takut dengan kemungkinan “salah
paham” seperti itu? Sesungguhnya, apakah mungkin memahami
Yahweh seperti ini sama sekali bukan salah paham, tetapi justru
itulah yang dimaksudkan oleh Yahweh? Artinya, Yahweh
Bab 5 — Yahweh dalam Alkitab Ibrani 465

melukiskan Dirinya dengan istilah manusia karena itulah caranya
Dia berhubungan dengan Adam dan Hawa, dengan Abraham (mis.
Kej.18:1dyb.), dan dengan yang lain. Bisa dikatakan Ia merendahkan
Dirinya untuk berhubungan dengan mereka pada tingkat mereka.
Sebenarnya, jika kita membuang unsur manusia dari bahasa Kitab
Suci dalam cerita-cerita ini, lantas bagaimana kita harus memahami
semua itu? Apa yang akan muncul dari sebuah penyampaian yang
membuang unsur manusia dari kisah-kisah itu? Apakah pertemuan
antara Yahweh dan manusia itu semacam pertemuan remang-
remang seperti bertemu dengan hantu? Mengapa begitu sulit untuk
kita membayangkan Yahweh muncul dalam rupa manusia? Dan
menurut Kitab Suci apakah sama sekali mustahil bila rupa manusia
itu sebenarnya adalah rupa-Nya? Tidakkah Kitab Suci menandaskan
bahwa manusia dibuat dalam gambaran dan kemuliaan Allah
(1Kor.11:7, dst.)?
Dengan membuang kemungkinan bahwa Yahweh sebenarnya
memiliki rupa “manusia”, maka kita harus mencari penjelasan lain
untuk apa artinya kita diciptakan dalam gambar-Nya, dan pelbagai
penjelasan telah ditawarkan, tetapi tak satu pun yang memuaskan,
atau paling tidak menawarkan penjelasan yang bisa diterima secara
parsial.
Apakah tidak benar untuk mengatakan bahwa kita ada dalam
rupa “ilahi” karena kita telah diciptakan dalam gambar-Nya,
daripada Yahweh muncul dalam rupa “manusia”? Jika hal ini benar
menurut Kitab Suci, maka kesenjangan antara Allah dan manusia,
dari sudut pandang Allah, tidaklah sebesar yang kita duga. Jadi, alih-
alih berbicara tentang Allah yang muncul secara antropomorfis kita
dapat mengatakan bahwa manusia diciptakan secara teomorfis, hal
yang dinyatakan secara eksplisit oleh Kitab Suci.
Elliot R. Wolfson (Professor of Hebrew Studies dan Director of
Religious Studies di New York University) dalam eseinya ‘Yudaisme
466 The Only True God

dan Inkarnasi’, dalam Christianity in Jewish Terms (Westview Press,
2000), menulis,

“Kita harus membedakan antara larangan menggambarkan
Allah dengan menggunakan gambaran dan klaim bahwa Allah
tidak dapat berejawantah dalam sebuah tubuh. Kita boleh
menduga, sebagaimana bukti Alkitab memang mengusulkan
demikian, bahwa Allah mampu mengambil rupa badaniah,
walaupun rupa itu tidak boleh diwakili dengan gambar.

“Banyak nas Kitab Suci Ibrani mengandaikan konsepsi Allah
yang antropomofis. Lagipula, konsepsi ini didasarkan pada
gagasan bahwa Allah bisa mengambil bentuk inkarnasional
yang dapat dilihat dan didengar oleh manusia. Tidak ada
alasan untuk menduga, seperti para apologis Yudaisme pada
masa pertengahan dan modern, bahwa pelukisan Allah yang
antropomorfis dalam Kitab Suci harus diperlakukan secara
figuratif atau alegoris. Di sini saya akan mengutip sebuah
contoh yang saya pandang sebagai sebuah ilustrasi mencolok
dari pemikiran inkarnasional dalam agama alkitabiah. Dalam
narasi tentang pergumulan Yakub dengan seorang ‘manusia’
misterius, yang secara eksplisit diidentifikasi sebagai Elohim
dan yang oleh karena dia nama Yakub diganti menjadi Israel,
Yakub disebut telah menamai tempat teofani itu ‘Peniel,’ sebab
ia telah melihat Elohim berhadapan muka (va-yikra ya’akov
shem ba-makom peni’el ki ra’iti elohim panim el panim
Kej.32:30). Pengantropomorfisasian Allah dalam teks alkita-
biah ini mengemukakan bahwa di Israel purba sebagian orang
percaya yang ilahi bisa tampil dalam rupa yang kelihatan dan
konkret. Jadi masalahnya bukan bagaimana seseorang
berbicara tentang Allah, tetapi bagaimana Allah dialami di
alam fenomenal. Menurut pengertian ini, cukup jelas bahwa
untuk beberapa kasus, antropomorfisme dalam Kitab Suci
Ibrani memang menyiratkan unsur inkarnasi.” (hlm.242)
Bab 5 — Yahweh dalam Alkitab Ibrani 467

“Terdapat banyak bukti bahwa konsepsi alkitabiah (pada
berbagai tahapan yang tercermin dalam lapisan-lapisan
redaksional Kitab Suci) memelihara kemungkinan Allah
menampilkan dirinya dalam rupa antropomofis. Misalnya,
Allah acapkali dilukiskan dengan istilah-istilah agung: dalam
teofani yang dikisahkan di Keluaran 24:10-11, dalam pengliha-
tan Yesaya akan Allah yang bertakhta di dalam bait suci (6:1-
3), dalam penglihatan Yehezkiel akan kemuliaan yang
bertakhta di atas kereta perang (pasal 1 dan 10), dan dalam
penglihatan apokaliptik Daniel akan Yang Lanjut Usianya
(7:9-10). Epifani-epifani dari yang ilahi dalam rupa manusia
ini memiliki tekstur nyata yang biasanya dihubungkan dengan
tubuh yang terbuat dari daging dan tulang. Tentu saja, Allah
Israel bukanlah sebuah tubuh dalam arti ini, tetapi ini tidak
mengurangi sifat somatis dari penampilan ilahi yang terbukti
dalam berbagai tahap dari sejarah kanon alkitabiah.”
(hlm.243)

Hal yang selalu menyita perhatian setiap pembaca Taurat yang
cermat —Pentateukh—adalah betapa “manusia”-nya penampilan
Yahweh dalam penyataan diri-Nya. Di situlah terpapar keindahan
dan kuasa penyataan diri-Nya, karena dengan demikian Ia menutup
jarak antara Dia dengan kita, menyatakan imanensi-Nya yang
luarbiasa yang, anehnya, lebih suka dihapus oleh para teolog karena
mereka lebih memilih transendensi-Nya, seolah-olah mereka merasa
adalah tugas mereka untuk melindungi Allah dari kita, yaitu dari
kita yang datang terlalu dekat kepada-Nya!
Antropomorfisme Alkitabiah ini juga ditangani dengan cara lain,
yaitu dengan menyatakannya sebagai bahasa mitologis, ditulis
dengan cara yang hampir sama dengan cerita anak-anak. Kalau
tidak, ia juga bisa dibaca sebagai karya sastra fiksi, seperti mereka
“yang siap membaca Alkitab dengan cara yang hampir sama seperti
membaca Shakespeare” (Harold Bloom, The Book of J, Grove Press,
468 The Only True God

1990, hlm.12). Buku Bloom yang lebih baru adalah Jesus and
Yahweh, The Names Divine (Riverhead Books, 2005; Bloom adalah
Professor of Humanities pada Yale University). Dalam buku yang ini
ia menyatakan bahwa ia bukan seorang percaya; jadi dengan cara
apa lagi ia membaca Alkitab selain sebagai karya sastra? Apakah kita
dapat mendemitologisasi bahasa Alkitabiah, dan jika demikian, apa
artinya itu? Makna atau signifikansi apa yang dimilikinya sebagai
karya sastra?
Hal yang diakui oleh Prof. Bloom adalah bahwa serangan
terhadap “antropomorfisme” Alkitabiah berakar dalam pemikiran
Yunani:

“Filsafat Yunani menuntut keilahian yang tidak memiliki ciri
manusia, dan kaum Helenis Yahudi berusaha dengan sia-sia
untuk menyesuaikan, dengan mengalegorisasikan Yahweh
yang berjalan dan yang berargumen [?], yang makan dan yang
beristirahat, yang memiliki lengan dan tangan, wajah dan kaki.

“Filo dari Aleksandria, pendiri dari yang saya kira harus
disebut teologi Yahudi, secara khusus merasa terganggu
dengan Yahwehnya J, karena Allahnya Filo tidak mempunyai
keinginan manusia ataupun rupa manusia, dan tidak memiliki
perasaan, baik itu marah ataupun kasih. Namun bahkan rabi-
rabi besar yang kurang Platonis dari abad kedua T.U. [Tarikh
Kristen] di Palestina sekalipun cenderung memperdebatkan
kesulitan-kesulitan yang sama ini, sebagaimana dinyatakan
dalam perselisihan yang terkenal antara Akiba dan koleganya
Ismail, yang juga mengikuti prosedur alegoris demi
menghapus yang antropomorfik.” (The Book of J, hlm.24).

Bagaimanapun juga, tampak jelas bahwa manusia mengalami
kesulitan mempercayai bahwa Allah bisa atau mau berjalan dan
berbicara dengan manusia seperti yang dilukiskan dalam kitab
Kejadian— hal itu mustahil, menurut mereka. Mengapa? Tidakkah
Bab 5 — Yahweh dalam Alkitab Ibrani 469

mereka percaya bahwa bagi Allah segala sesuatu itu mungkin? Dia
itu transenden, tetapi apakah tidak imanen?
Tidak lama sebelum naskah buku ini dikirim ke penerbit, saya
menjumpai karya yang menarik oleh James L. Kugel (Professor of
Hebrew Literature pada Harvard University) berjudul The God of
Old: Inside the Lost World of the Bible, 2003, tepat pada waktunya
untuk menyisipkan sebuah referensi dari karya itu di sini.
Sebagaimana ditunjukkan dari judul dan sub-judul bukunya, tesis
buku ini mengatakan bahwa konsep Allah sebagaimana terlihat di
bagian awal Alkitab, di mana Allah berinteraksi dengan manusia,
belakangan digantikan oleh konsep Allah yang kosmis dalam arti Ia
menjadi terlalu besar untuk berinteraksi dengan manusia lemah
dalam cara yang dilakukan oleh “Allah purba”. Karena itu, Allah
Alkitab yang bisa dan akan muncul kapan saja dalam dunia manusia
telah menjadi suatu ide dari “dunia Alkitab yang telah hilang”.
Begini caranya Kugel melukiskan dunia Alkitab:

Saya rasa ada satu perbedaan penting antara cara kebanyakan
orang dewasa ini (sesungguhnya, dimulai sejak pengarang
Hikmat Salomo “yang ditulis tepat sebelum awal zaman
umum”, hlm.21) telah terbiasa dalam memahami hal yang
rohaniah dengan cara memahami hal yang sama itu pada
zaman Israel purba, setidaknya dalam teks-teks yang telah kita
periksa. Dalam Alkitab tidak terdapat dua alam, dunia ini dan
dunia lain, yang spiritual dan yang materiil—atau sebaliknya,
kedua alam ini tidak terpisah secara rapi tetapi saling
bersilangan. Allah muncul di sudut jalan, berpakaian seperti
manusia biasa… Ia muncul dalam semak menyala yang nyata
di kaki sebuah gunung [ketika Ia pertama-tama berbicara
kepada Musa]” (hlm.35).

Kugel menunjuk kepada kenyataan bahwa dalam dunia Alkitab,
Allah menampakkan diri-Nya kepada manusia. Ia menyebut tentang
470 The Only True God

usulan purba bahwa nama Israel berarti “seorang manusia yang
melihat Allah” dari bahasa Ibrani ’ish ra‘ah [atau ro’eh] ’El (The God
of Old, hlm.101,230).
Harga rohaniah dari hilangnya konsep Alkitabiah dari “dunia
Alkitab” ini diungkapkan dengan berani dan cukup satiris oleh
sarjana Yahudi yang besar G. Scholem:

“Para filsuf dan teolog [dari abad pertengahan] merasa
prihatin pertama dan terutama dengan kemurnian konsep
Allah dan bertekad untuk melepaskannya dari segala unsur
mitos dan antropomorfis. Namun tekad untuk… menafsir
ulang pernyataan-pernyataan antropomorfis yang
serampangan dari teks alkitabiah dan bentuk-bentuk populer
dari ekspresi religius dari segi teologi yang dimurnikan ini
cenderung mengosongkan konsep Allah… Harga dari
kemurnian Allah adalah hilangnya realitas hidup-Nya. Apa
yang menjadikan Dia Allah yang hidup… justru adalah apa
yang memungkinkan manusia melihat dia muka dengan
muka.” (G.Scholem, Kabbalah and Myth, dikutip oleh Kugel
dalam The Allah of Old, hlm.201)

Kekuatan dan sindiran dari pernyataan Scholem dapat dipahami
dengan lebih baik jika kata “kemurnian” dan “serampangan” dibaca
dalam tanda petik.

“Antropomorfisme” Alkitabiah versus Kristologi Trinitaris

K ita telah melihat bahwa Alkitab Ibrani dapat berbicara tentang
“tangan” Allah, atau “kaki”-Nya, dan bahkan “wajah”-Nya
dalam apa yang disebut “antropomorfisme”. Sebenarnya, Yahweh
Semesta Alam bahkan digambarkan sebagai “pahlawan perang”
(Kel.15:3). Dia tampak kepada Abraham dalam rupa manusia.
Mungkin Dia juga tampak sebagai “malaikat Yahweh”, yang
Bab 5 — Yahweh dalam Alkitab Ibrani 471

umumnya dikenal sebagai teofani, yang terlihat dalam rupa manusia.
Penampakan Yahweh dalam rupa manusia berkali-kali tercatat
dalam Kitab Suci, terutamanya dalam Pentateukh. Dengan
demikian, imanensi Yahweh secara kuat ditekankan dalam kitab-
kitab Perjanjian Lama yang lebih awal. Akan tetapi, transendensi-
Nya tidak terhilang. Ketika umat manusia, dan Israel khususnya,
semakin tenggelam dalam ketidaktaatan dan dosa, jarak antara
manusia dengan Allah menjadi semakin lebar; dan kita melihat di
Perjanjian Lama bahwa Allah tampak menjadi semakin jauh, dan
hadirat-Nya menjadi lebih sulit ditemukan: “Sungguh, Engkau Allah
yang menyembunyikan diri, Allah Israel, Juruselamat” (Yes.45:15).
Namun hal ini berubah dengan kedatangan Yesus Kristus. Allah
datang untuk menyelamatkan umat-Nya seperti yang dikatakan-Nya
melalui hamba-hamba-Nya para nabi. Pesan yang mengejutkan dari
Injil dan PB itu adalah bahwa Allah telah melakukan apa yang telah
Ia janjikan: Yahweh Sendiri datang di dalam Kristus “supaya dunia
diselamatkan melalui dia” (Yoh.3:17). Namun Ia datang ke dunia
incognito, yaitu tanpa menyatakan identitas-Nya, maka “dunia tidak
mengenal-Nya” (Yoh.1:10).
Yohanes, khususnya dalam Prolognya (1:1-18), menyatakan hal
ini dengan sejelas mungkin dan sesederhana mungkin. Pesannya
adalah bahwa Allah, di dalam penyataan diri-Nya yang dinamis yang
disebut Firman (Memra), telah datang ke dunia dalam wujud
manusia Yesus sang Mesias. “Daging” atau tubuh Yesus adalah Bait
di mana Allah berdiam, itulah sebabnya Yesus bisa berbicara tentang
tubuhnya sebagai bait Allah (Yahweh), Yohanes 2:19. Allah, di satu
sisi, datang ke dunia ini di dalam Kristus supaya melalui Kristus Ia
mendamaikan dunia dengan diri-Nya sendiri (2Kor.5:19); dan
manusia Kristus Yesus itu, di lain sisi, hidup dan mati untuk
membawa kita kepada Allah.
Supaya jelas, kita bisa mengatakannya seperti ini: Sebagai trinita-
rian kita percaya bahwa “Allah-Anak” menjadi seorang manusia
472 The Only True God

yang disebut “Yesus Kristus” untuk menyelamatkan kita. Ajaran
Alkitabiah, yang sama sekali bertolak-belakang, mengatakan bahwa
Allah Bapa kita (Yahweh) datang ke dunia dengan mendiami
“manusia Kristus Yesus” sebagai bait-Nya yang hidup. Hal ini Ia
lakukan dalam rangka menyelamatkan kita dengan menyatukan kita
dengan Kristus melalui iman supaya kita sendiri menjadi bait-bait
yang hidup melalui penyatuan yang menyelamatkan itu
(1Kor.3:16,17; 6:19). Pendek kata, trinitarianisme mengajarkan
inkarnasi Pribadi Kedua dari Trinitas. Tujuan kajian ini adalah
untuk memperlihatkan bahwa PB memberitakan kedatangan Pribadi
“Pertama” dan Yang Esa, satu-satunya Allah, Yahweh, ke dalam
Tubuh Kristus.

Transendensi-imanensi

S ekarang mari kita mempelajari beberapa contoh bagaimana
Allah mendekat kepada manusia. Dalam bagian berikut ini saya
mengutip sebagian petikan dari transkrip sebuah sesi pengajaran
yang saya berikan sekitar setahun yang lalu kepada sekelompok
pemimpin jemaat. Petikan dari pesan tersebut berikut ini telah
disunting dan diringkas untuk dimasukkan ke dalam kajian ini,
tetapi gaya bahasa percakapannya tetap dipertahankan.

— Awal Petikan Transkrip —

Sekarang mari kita berusaha memahami Yahweh Allah sebagai yang
imanen dan juga transenden menurut pemahaman Alkitabiah,
bukan transenden menurut pengertian orang Yunani: Allah yang
“unsur-unsur manusianya telah dihapus” (a “dehumanized” God).
Cobalah memahami Dia sebagai yang imanen dalam arti “sangat
dekat”, atau dengan perkataan Yakub dalam pengalaman penuh
Bab 5 — Yahweh dalam Alkitab Ibrani 473

kekagumannya di kitab Kejadian 28:16, “Sesungguhnya Yahweh ada
di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” Cobalah membaca
kembali Alkitab sekali lagi, tanpa konsep lama Anda akan Allah
transenden yang tinggi dan jauh di surga. Bacalah kembali dan
lihatlah apa yang sedang Anda baca. Ketika saya membacanya
kembali, saya terkejut dengan apa yang saya baca. Mari kita coba
membaca sedikit dari kitab Kejadian. Mari kita kembali ke kitab
Kejadian dan melihat apakah Anda sungguh-sungguh mengenal
Alkitab Anda sebaik yang Anda kira. Bagaimanapun juga, Anda
sudah melayani selama ini; Anda pasti mengenal Alkitab Anda,
bukan? Kembalilah ke Kejadian 1 untuk melihat apakah Allah itu
sedemikian terpencil, sedemikian transenden, sedemikian jauh. Nah,
di ay.27 dikatakan:

Kejadian 1:27, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut
gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-
laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

“Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya”. Mengapa Anda
menciptakan seseorang menurut gambar Anda? Agaknya, supaya
Anda dapat berkomunikasi dengan orang itu, bukan? Dapatkah
Anda memikirkan sebab-sebab lain mengapa Allah menciptakan
kita menurut gambar-Nya? Untuk apa lagi kalau bukan untuk
bersekutu dengan kita?
Hal berikutnya yang sangat menyentuh dan tidak pernah
menyambar hati saya sebelumnya adalah ini: Setelah Allah mencip-
takan manusia, apa yang Ia lakukan? Ia memberkati mereka. Hal ini
tidak pernah menyambar saya sebelumnya; seolah-olah saya belum
pernah melihat ayat ini sebelumnya. Ia memberkati mereka! Itulah
hal pertama yang dilakukan Allah untuk manusia. Ia memberkati
kita. Lihat ay.28:
474 The Only True God

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada
mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah
bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut
dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang
merayap di bumi.” (Kej.1:28)

Apakah Allah sangat terpencil? Apakah Allah jauh?