You are on page 1of 560

The Only True God

Sebuah Kajian Monoteisme Alkitabiah

Eric H.H. Chang

“The Only True God” Edisi PDF

B uku yang ditulis oleh Eric H.H. Chang ini, aslinya diterbitkan sebagai buku cetak (Borobudur Publishing ISBN 978-979-25-

2709-4), sekarang dirilis sebagai ebook PDF gratis. Sekalipun gratis, ebook ini masih dilindungi hak cipta, dan belum dilepas ke domain umum. Oleh karena itu, ebook ini tidak boleh didistribusikan kecuali dengan ketentuan berikut: (i) tidak dikenakan biaya; (ii) file PDF-nya tidak diubah dengan cara apapun dari bentuk aslinya seperti yang dirilis oleh website Cahaya Pengharapan Ministries. Untuk mengunduh salinan resmi yang terbaru, silakan mengunjungi http://cahayapengharapan.org/ (Di website ini, Anda akan menemukan materi Alkitabiah yang lain.) Edisi PDF ini, untuk sementara waktu, mengandung hanya Bab 1 sampai Bab 6 dari buku asli. Bab-bab selanjutnya (7-10), yang

mengkaji Yohanes 1:1,14 dengan rinci, masih ditahap pengerjaan dan akan dirilis nanti. Para pembaca yang ingin mendapatkan edisi lengkap ini bisa mengecek website kami dari waktu ke waktu, atau meninggalkan alamat email di cpm@cahayapengharapan.org. Para pembaca yang merasa tidak nyaman membaca dari komputer tablet atau laptop, bisa membeli edisi cetaknya dari website ini. Buku ini dirilis ke publik dengan kerinduan yang sama yang selalu dimiliki Eric Chang, yaitu demi kemuliaan Allah dan pembangunan umat-Nya dalam Yesus Kristus.

Cahaya Pengharapan Ministries Juni 2016

Catatan Editor

E book PDF ini mengandung teks yang sama seperti buku cetak yang asli, dengan beberapa perubahan: (i) font dan format yang

baru; (ii) penerjemahan yang lebih jelas; (iii) beberapa kesalahan pengetikan telah diperbaiki; (iv) bookmark PDF telah ditambahkan. Selain perbaikan umum yang disebut di atas, terdapat juga tiga perbaikan khusus yang dilakukan untuk menyelaraskannya dengan subjek buku, yaitu monoteisme Alkitabiah. Hal ini dilakukan demi menghindari salah paham. Yang pertama menyangkut terjemahan kata Lord untuk Yesus. Kata bahasa Inggris Lord yang sering dipakai untuk menyapa Yesus, yang sekaligus menjadi gelar kehormatan Yesus seperti dalam “the Lord Jesus Christ”, merupakan terjemahan dari kata Yunani kurios. Siapa saja yang mengenal bahasa Inggris dan bahasa Yunani akan tahu bahwa kata Lord dan kurios memiliki makna yang luas dan paling tepat diterjemahkan sebagai “Tuan”, tetapi “Tuhan” bukanlah salah satu maknanya. “Tuan” merupakan sebuah kata yang bebas diterapkan kepada manusia biasa dalam bahasa apa pun. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti utama bagi “Tuhan” adalah sesuatu yg diyakini, dipuja dan disembah oleh manusia sebagai yg Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb. Arti sekundernya didefinisikan sebagai sesuatu yg dianggap sbg Tuhan. Ini bukan maknanya Lord dalam bahasa Inggris maupun kurios dalam bahasa Yunani. Padanan Yunani untuk definisi yang diberikan oleh KBBI adalah theos bukan kurios. Dengan kata lain, kurios adalah salah satu gelar yang dipakai bagi theos tetapi itu tidak berarti semua yang disebut kurios itu adalah “Tuhan”.

Atas pertimbangan ini, dan juga demi keselarasan dengan isi dan maksud buku ini, kata “Tuhan” yang diterapkan pada Yesus dalam Alkitab Indonesia akan ditulis sebagai “Tu[h]an”. Yang kedua menyangkut pronomina untuk Yesus. Demi membedakan Yesus dari Allah, semua pronomina untuk Yesus akan ditulis dalam huruf kecil sesuai dengan tulisan penulis dan juga kutipan-kutipan dari Alkitab. Hanya pronomina untuk Allah saja yang akan ditulis dalam huruf besar. Akan tetapi, apabila buku ini mengutip dari buku-buku karya orang lain, tidak ada perubahan akan dilakukan pada pronominanya. Terakhir, nama “Yahweh” akan dikembalikan kepada kutipan Perjanjian Lama yang mengandung tetragramaton, YHWH. Semua kutipan Kitab Suci dalam buku ini diambil dari ALKITAB © LAI 2001 (TB) atau Perjanjian Baru TB Edisi 2 © LAI 1998 (TBR), kecuali dinyatakan lain. Selain TB dan TBR, Alkitab yang banyak juga dikutip ialah Kitab Suci Indonesian Literal Translation (KS-ILT Edisi-2). Kutipan dari Alkitab ini akan ditandai dengan (ILT). Alkitab ini mengandung beberapa ciri khas, dan salah satunya ialah pemakaian kata Ibrani yang tidak diterjemahkan, tetapi ditransliterasikan, Elohim. Mengingat kata Elohim masih terdengar asing di telinga masyarakat, kami menghindar dari memakai istilah tersebut dengan mengutip Alkitab versi ini yang tersedia di program SABDA Version 4.30 sebagai Modified Indonesian Literal Translation. Kutipan dari program SABDA ini akan ditandai dengan (MILT).

Chuah SC 20 Juni 2016

Buku Sekuel

Buku Sekuel “The Only Perfect Man” adalah lanjutan dan pasangan dari karya Eric H.H. Chang yang

“The Only Perfect Man” adalah lanjutan dan pasangan dari karya Eric H.H. Chang yang sebelumnya, “The Only True God”. Sementara karya yang sebelumnya berpusat pada Yahweh sebagai “satu- satunya Allah yang benar” (Yoh.17:3), karya baru ini berpusat pada Yesus Kristus, Anak Allah dan satu-satunya manusia sempurna yang pernah hidup di muka bumi ini. Lebih dari itu, Allah telah meninggikan dia di sebelah kanan-Nya sebagai wakil- mutlak-Nya. Oleh karena itu, sub judul buku ini, “Kemuliaan Allah pada Wajah Yesus Kristus”

(2Kor.4:6).

Untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang buku ini, silakan mengunjungi http://cahayapengharapan.org/id/toko-buku/. Anda dapat membaca Pratinjau buku di situ.

The Only True God: Sebuah Kajian Monoteisme Alkitabiah Eric H.H. Chang Copyright © 2011, 2016 Eric H.H. Chang dan Christian Disciples Church

Edisi 1.0 adalah edisi cetak 2011 yang asli yang diterbitkan oleh Borobudur Publishing Edisi 1.1 adalah edisi ebook PDF Juli 2016

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam terbitan ISBN: 978-979-25-2709-4 Desain Sampul by Chris Chan

Pemberitahuan Hak Cipta untuk Edisi 1.0

Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penulis/penerbit sesuai dengan Undang-undang Hak Cipta.

Pemberitahuan Hak Cipta untuk Edisi 1.1

Dilarang memodifikasi atau mengubah ebook PDF ini dalam cara apa pun dari bentuk aslinya yang dirilis oleh website Cahaya Pengharapan Ministries. Dilarang mendistribusi file PDF ini kecuali dengan ketentuan berikut: (i) tidak dikenakan biaya; (ii) file PDF-nya ada dalam bentuk asli.

Untuk mengunduh salinan resmi yang terbaru, silakan mengunjungi http://cahayapengharapan.org/.

Foto halaman berikut: Lake Memphremagog, Quebec, Canada

DEDIKASI

Hormat dan kemuliaan sampai selama- lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tidak nampak dan yang esa! (1Timotius 1.17)

Ucapan Terima Kasih

D engan rasa penghargaan dan terima kasih yang mendalam, saya ingin mengakui kelimpahan dorongan (secara langsung

atau tidak langsung) dari ratusan rekan sekerja dalam jemaat-jemaat kami di seluruh dunia. Meskipun mereka terheran-heran dan malah terkagum-kagum ketika saya mulai menguraikan Kitab Suci di dalam cahaya monoteisme Alkitabiah, mereka tetap berpandangan terbuka dan suportif, serta bertekad bulat mencari kebenaran menurut Kitab Suci. Keterbukaan pikiran yang demikian, atau apa yang dapat digambarkan sebagai “keterbukaan hati”, sungguh- sungguh bukan sesuatu yang boleh dianggap enteng, khususnya di antara mereka (termasuk diri saya) yang sejak semula telah diasuh dalam trinitarianisme. “Keterbukaan hati” di sini berarti: saya melihat di dalam diri mereka bukan hanya keterbukaan pikiran secara mental atau intelektual saja, tetapi juga suatu keterbukaan rohaniah yang lebih dalam terhadap firman Allah dan, di atas segalanya, Allah yang hidup. Bagi saya, kiranya tidak ada keterangan memadai atas sikap luar biasa ini, kecuali kenyataan bahwa anugerah satu-satunya Allah yang benar melimpah ke atas mereka dan memenuhi mereka dengan kasih supernal (dari atas) kepada Dia dan kebenaran-Nya. Saya berhutang terima kasih juga kepada Bentley Chan. Ia merupakan salah satu contoh dari orang-orang yang saya rujuk di atas. Dengan tidak tanggung-tanggung ia mencurahkan segenap tenaganya selama proses penerbitan buku saya yang terdahulu,

Becoming a New Person. Sekarang, lebih dari semua itu, sekali lagi saya diberi kehormatan memperoleh partisipasinya yang cakap dan kompeten dalam mempersiapkan buku ini untuk penerbit. Dengan

senang hati ia menerima tugas sulit ini, yang antara lain, terdiri dari:

pengoreksian bacaan, pengaturan format, pemberian saran-saran bermanfaat, dan penyusunan Indeks Kitab Suci. Siapakah yang dapat sepenuhnya membalas dia kecuali Tuhan sendiri? Atas permintaan saya, dua rekan sekerja saya, Agnes S.L. Lim dan Lee Sen Siou, dengan senang hati menerima tugas sulit memeriksa setiap pemunculan kata “Memra” (“Firman”) dalam Targum-targum Aram dari Pentateukh (“kelima kitab Musa”). Atas jerih-payah mereka, saya ingin menyatakan rasa penghargaan yang sepenuh hati. Bahasa Aram merupakan bahasa yang digunakan di Tanah Suci pada masa Yesus dan jemaat awal. Oleh karena itu, penting untuk kita mengetahui bagaimana orang-orang zaman itu mengerti kata “Firman” supaya kata “Firman” yang terdapat dalam Yohanes 1:1,14 bisa dimengerti dengan lebih baik. Kedua ayat ini amat kritis untuk kajian kita ini. Namun, karena seluruh hasil penelitian itu terlalu besar untuk dicakupkan sepenuhnya dalam buku ini, hanya kitab Kejadian dan Keluaran saja yang dimasukkan. Itupun harus dengan mengeluarkan teks asli Aramnya. Karya mereka ditemukan dalam Lampiran 12. Bentley menyumbangkan bagian pendahuluannya yang mudah diikuti dan informatif. Adalah sebuah kealpaan jika saya tidak memaktubkan rasa terima kasih dan penghargaan atas dukungan ketabahan doa istri saya hari demi hari. Saya kira hanya di alam baka saja saya baru akan mengetahui seberapa besar hutang budi saya atas doa syafaat yang ia panjatkan dengan tiada putus. Tentu saja, dukungan ini diberikan dengan limpah dalam kehidupan rumah-tangga kami sehari-hari, antara lain, dalam hal menyiapkan makanan. Ketika waktunya makan, seringkali saya hanya dapat datang setelah makanannya dingin, oleh karena upaya merampungkan sebagian naskah. Namun, tidak sekali pun ia menunjukkan kejengkelan karena harus menghangatkan makanan itu kembali. Saya bersyukur karena

anugerah-Nya yang ditampakkan dalam kehidupan istri saya bagi kemuliaan-Nya. Akhirnya, seluruh proses penulisan buku ini, dari awal hingga akhir, telah menjadi suatu pengalaman luar biasa akan Allah yang hidup. Hari demi hari, sesudah dianugerahi tidur yang lelap dan segera setelah terjaga (terkadang dimulai sebelum sepenuhnya terjaga), saya akan diberi sesuatu yang dapat digambarkan sebagai “sebuah aliran pemikiran” tentang apa yang harus saya tulis pada hari itu. Selanjutnya, saya akan menghabiskan sebagian besar sisa hari itu untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Hal seperti ini tidak terjadi setiap hari, tetapi saya rasa benar terjadi 50% atau lebih selama masa penulisan yang sekitar satu tahun lamanya ini. Di samping itu, pada beberapa kesempatan saya dituntun pada penemuan materi yang penting bagi karya ini (yang membawa sukacita besar bagi saya), materi yang tanpa saya sadari telah tersedia sebelumnya. Meskipun saya telah dianugerahi kehormatan khusus mengalami Allah berulang-kali dalam pelbagai situasi dalam kehidupan saya, proses penulisan buku ini, meskipun seringkali melelahkan secara mental dan fisik (saya juga masih harus melaksanakan tanggung jawab administratif selama periode itu), terutamanya telah menjadi suatu pengalaman yang sungguh- sungguh unik akan Allah yang hidup. Kepada Dia, TUHAN Allah, saya di sini ingin memaktubkan pujian dan pemujaan sepenuh hati.

Teks Alkitab Terjemahan Baru (TB) © LAI 1974 dan Teks Perjanjian Baru (TB) Edisi 2 © LAI 1997 merupakan versi yang paling banyak dipakai dalam buku ini. Bila ada versi lain yang dipakai, versinya akan tercantum. Versi yang dipakai dalam Lampiran 12 adalah Kitab Suci Indonesian Literal Translation (ILT).

ILT – Indonesian Literal Translation (Edisi 2) MILT – Modified Indonesian Literal Translation 2008 KSKK – Kitab Suci Komunitas Kristiani 2002 BIS – Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari 1985 ITL – Alkitab Terjemahan Lama 1958

Daftar Isi

Ucapan Terima Kasih

10

Prakata

16

Pendahuluan

18

Bab 1

Monoteisme Yesus dan Rasul-rasulnya yang Eksplisit

72

Bab 2

Hanya Manusia Sempurna Dapat Menjadi Juruselamat Dunia

196

Bab 3

Menilai Kembali Pemahaman Kristen akan Manusia

281

Bab 4

Penuhanan Trinitaris akan Kristus

349

Bab 5

Yahweh dalam Alkitab Ibrani

451

Bab 6

Kekristenan telah Kehilangan Akar Yahudinya – Konsekuensi Serius

517

Bab 7

Asal Usul “Firman” dalam Yohanes 1:1 dari Perjanjian Lama

-

Bab 8

“Firman” adalah “Memra”

-

Bab 9

Memandang Lebih Dekat Yohanes 1:1

-

antara kita” di dalam Kristus

Lampiran 1

Pentingnya Mazmur 2 guna memahami gelar “Anak Allah”

-

Lampiran 2

Yohanes 8:58

-

Lampiran 3

Apakah Paulus menolak Hukum Taurat dan kebenarannya?

-

Lampiran 4

Beberapa pengamatan tentang Targum

-

Lampiran 5

Catatan eksegesis atas Yohanes 12:41

-

Lampiran 6

“Firman Allah” dalam Wahyu 19:13

-

Lampiran 7

Kesejajaran antara “Firman itu adalah Allah” dengan 2Korintus 3:17

-

Lampiran 8

Filipi 2:6,7 – Lebih banyak bukti dari Alkitab Ibrani

-

Lampiran 9

Mazmur 107:19,20

-

Lampiran 10

Beberapa pemikiran tentang kelahiran Yesus dari Perawan

-

Lampiran 11

Konflik Kristologis di antara umat Trinitarian

-

Lampiran 12

Memra dalam Targum

-

Prakata

B uku ini ditulis bagi pembaca umum. Oleh sebab itu, istilah- istilah teologis dan teknis sedapat mungkin dihindari. Tujuan

karangan ini adalah untuk mengkaji monoteisme dalam Alkitab, dengan perhatian khusus kepada ayat-ayat atau teks-teks yang digunakan untuk menyangga doktrin trinitaris, guna melihat apa sebenarnya yang dikatakan oleh teks-teks ini bila tidak memasukkan gagasan-gagasan ataupun memaksakan doktrin-doktrin kedalamnya. Untuk mengerjakan hal ini dengan baik, biasanya kita perlu mengkaji Kitab Suci dalam bahasa-bahasa aslinya, dan bukan hanya melalui berbagai terjemahan saja, karena sebuah terjemahan tidak dapat sepenuhnya mengeluarkan makna dan nuansa teks asli. Ketika membahas teks asli dalam bahasa Ibrani dan Yunani, setiap upaya akan dilakukan untuk menolong para pembaca yang tidak terbiasa dengan bahasa tersebut supaya dapat memahami alur pembahasannya. Kata-kata Ibrani dan Yunani akan ditransliterasikan (kecuali jika kata-kata itu ada dalam teks karya referensi yang dikutip dalam buku ini) sehingga sang pembaca mempunyai sedikit gambaran tentang pelafalannya. Namun, eksegesis yang bersifat teknis sejauh mungkin akan dihindari bila hal itu dipandang sulit diikuti oleh pembaca umum. Namun, hal ini kadang-kadang tidak dapat dihindari karena para sarjana, dan orang lain yang lebih memahami Kitab Suci, juga memerlukan materi yang relevan untuk melihat keabsahan eksegesis yang disajikan. Sebagian dari materi ini barangkali terlalu teknis bagi pembaca biasa, yang

mungkin mau melompati bagian-bagian ini dan membaca bagian selanjutnya. Catatan kaki akan dibuat seminimal mungkin. Bagi mereka yang memiliki wawasan yang lebih luas dalam bidang Studi Alkitab, mungkin berguna jika saya menyatakan bahwa pada umumnya saya sependapat dengan karya Prof. James D.G. Dunn dari Durham, Inggris. Komitmennya kepada akurasi dalam eksegesis, bersama dengan penolakannya untuk membiarkan dogma menguasai eksegesis, merupakan komitmen saya juga. Oleh sebab itu, tidak heran jika kesimpulan saya sering kali tidak jauh berbeda dari kesimpulannya. Meskipun saya belum membaca semua buku karangannya, materi yang relevan untuk buku ini dapat ditemukan terutamanya dalam karangannya Christology in the Making dan The Theology of Paul the Apostle. Akan tetapi, pernyataan di atas semata- mata menyangkut metodologi, dan sama sekali tidak bermaksud menyiratkan persetujuan total dalam intisari. Prof. Dunn tidak melihat naskah ini sebelum diterbitkan. Ketika frekuensi statistik dari kata tertentu diberikan, statistik tersebut selalu berdasarkan bahasa Ibrani atau Yunani dari teks aslinya, dan bukan terjemahan Inggrisnya. Akhirnya, penulis ini menganggap kajian ini sebuah kajian atas Alkitab sebagai Firman dari Allah, bukan kajian tentang gagasan dan pendapat dari para pengarang keagamaan zaman purba semata- mata. Oleh sebab itu, keyakinannya adalah: Allah berbicara kepada umat manusia melalui orang-orang yang dipilih-Nya, yang dengan setia menyampaikan pesan dan kebenaran-Nya. Dan hal ini bersandar pada keyakinan (yang berakar dari pengalaman pribadi) bahwa Allah itu nyata, dan bahwa Ia terlibat secara pribadi dan aktif dalam ciptaan-Nya. Keterlibatan dan kegiatan-Nya yang personal terungkapkan dengan sepenuhnya dan secara unik di dalam Yesus Kristus, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Pendahuluan S ebelum kita mulai mengkaji lebih lanjut monoteisme dalam Alkitab, baiklah kiranya dinyatakan dari
Pendahuluan S ebelum kita mulai mengkaji lebih lanjut monoteisme dalam Alkitab, baiklah kiranya dinyatakan dari
Pendahuluan
S ebelum kita mulai mengkaji lebih lanjut monoteisme dalam
Alkitab, baiklah kiranya dinyatakan dari awal bahwa

monoteisme merupakan hal yang sentral di dalam hati dan pikiran Yesus–monoteismelah yang diajarkan Yesus, monoteismelah yang mendasari ajarannya. Sebenarnya, kata “monoteisme” muncul dalam Alkitab dari perkataan Yesus sendiri, yang ia ucapkan dalam doanya kepada Allah, sang Bapa, “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh.17:3). Kata “monoteisme” terdiri dari dua kata Yunani: “monos” (“hanya, sendiri”, dan sebagaimana dijelaskan dalam Leksikon Yunani-

Inggris BDAG: “dengan fokus sebagai satu-satunya”), dan “theos” (“Allah”). Kedua kata inilah yang ditemukan dalam perkataan Yesus yang diucapkan kepada Bapa, “satu-satunya (monos) Allah (theos) yang benar”. Penting pula diperhatikan dengan seksama bahwa perkataan Yesus di Yohanes 17:3 bertalian dengan hidup kekal, dan hal ini

Pendahuluan

19

mencakup dua komponen penting: (1) “bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar” dan (2) “Yesus Kristus yang telah Engkau utus”. Memiliki hidup kekal bukanlah sekadar perkara “percaya pada Yesus”, seperti yang sering dikatakan oleh banyak penginjil. Yesus sendiri mengatakan bahwa seseorang pertama-tama harus mengenal satu-satunya Allah yang benar, dan berikutnya mengenal dia (Yesus) juga sebagai yang diutus oleh satu-satunya Allah itu. Perhatikan pula, Yesus tidak berkata apa-apa tentang soal “percaya” (yang oleh banyak penginjil didefinisikan dengan bebas sesuka hati mereka). Kata yang dipakai adalah “mengenal”, yang mengandung makna jauh lebih kuat daripada “percaya”. Secara statistik, kata “mengenal” (ginōskō) merupakan kata kunci dalam Injil Yohanes (muncul 58 kali), hampir tiga kali lebih banyak daripada Injil Matius (20 kali), hampir lima kali lebih banyak daripada Injil Markus (12 kali), dan lebih dari dua kali lipat lebih banyak daripada Injil Lukas (28 kali). Leksikon Perjanjian Baru Yunani-Inggris standar (BDAG) memberi definisi primer atas ginōskō sebagai berikut: “sampai kepada pengetahuan akan seseorang atau sesuatu, tahu, tahu tentang, berkenalan dengan.” Berkenalan dengan seseorang berarti menjalin suatu hubungan personal dengan orang itu. Berapa banyakkah orang Kristen yang bisa berkata bahwa mereka memiliki hubungan semacam ini dengan satu-satunya Allah yang benar, dan dengan Yesus Kristus? Menurut perkataan Yesus, hidup kekal bergantung sepenuhnya kepada hal ini. Oleh karena itu, “percaya” (kata kunci lain dalam Injil Yohanes) harus didefinisikan dalam istilah “mengenal” Allah dan Yesus Kristus. Demikian pula, orang-orang yang mengira bahwa monoteisme Alkitabiah tidak esensial untuk keselamatan sebaiknya membaca kembali Yohanes 17:3 dengan lebih teliti. Perkataan Yesus begitu terang hingga tidak perlu dijelaskan dengan menggunakan teknik-teknik linguistik yang rumit. Yesus menyatakan dengan gamblang bahwa hanya ada satu Allah, yang dia

20

The Only True God

panggil “Bapa”, dan dia menyuruh murid-muridnya memanggil Dia dengan cara yang sama (“Bapa kami di surga”). Yesus mengakui dirinya sebagai orang yang diutus oleh “satu-satunya Allah yang benar”. Oleh karena itu, seharusnya jelas nyata kepada siapa saja yang betul-betul mendengarkan ucapan Yesus bahwa jika sang Bapa adalah satu-satunya Allah yang benar, maka tidak ada yang lain yang dapat eksis sebagai Allah di samping-Nya. Dari perkataan Yesus seharusnya jelas nyata bahwa ia secara pasti mengecualikan dirinya dari klaim keilahian (deity) melalui kata “monos” atau “satu-satunya” yang merujuk kepada sang Bapa. Namun kita dicegah dari mendengarkan dia karena kita telah terbenam dalam trinitarianisme seumur hidup kita. Umat Kristen sudah mencapai kondisi rohani di mana kita memanggil Yesus “Tu[h]an, Tu[h]an” tetapi tidak mendengar ataupun melakukan apa yang dikatakannya (Luk.6:46, bdk. Mat.7:21,22). Kita sudah menjadi terbiasa memaksakan doktrin-doktrin kita sendiri ke dalam ajarannya, dan ketika doktrin- doktrin tersebut tidak sesuai dengan perkataan Yesus, kita mengabaikan saja apa yang dikatakan olehnya. Namun, suka atau tidak, monoteisme merupakan bagian paling akar dari kehidupan dan pengajaran Yesus. Itulah kenyataannya, dan kita akan mempertimbangkan hal ini dengan lebih matang dalam bagian berikut. Yesus (di Mrk.12:29) juga secara eksplisit mengesahkan deklarasi yang sentral kepada iman bangsa Israel: “Dengarlah, hai orang Israel:

Yahweh itu Allah kita, Yahweh itu esa!” (Ul.6:4). Perkataan ini mengungkapkan monoteisme iman Israel yang tidak mengenal kompromi tersebut. Ini segera diikuti oleh perintah, “Kasihilah Yahweh, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Ul.6:5). Kata “segenap” rangkap tiga ini mencakup pengabdian total manusia terhadap Allah, menjadikan Dia satu-satunya sasaran penyembahan dan cinta kasih. Menariknya, di bibir Yesus, kata “segenap” itu menjadi

Pendahuluan

21

rangkap empat: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk.12:30); “dengan segenap akal budimu” ditambahkan, dengan demikian mempertinggi intensitas pengabdian terhadap Yahweh Allah. Yesus menggambarkan perintah ini (Ul.6:4,5) sebagai perintah yang “terutama” atau “paling penting” (Mrk.12:29,31). Perintah ini menjadikan Yahweh satu- satunya sasaran pengabdian total. Memang, dalam prakteknya, kita tidak mungkin mengasihi lebih dari satu pribadi dengan keseluruhan diri kita. Konsisten dengan hal ini, hendaknya dicatat bahwa dalam ajaran Yesus, ia tidak pernah menjadikan dirinya sendiri fokus pengabdian yang maha-melingkupi, sebab itu akan bertentangan dengan ajaran- nya bahwa hanya Yahweh saja yang patut diberi dedikasi tunggal. Kehidupan Yesus sendiri sepenuhnya mengikhtisarkan dan menela- dankan pengabdian yang total terhadap Yahweh. Kehidupannya selalu konsisten dengan pengajarannya. Yesus pasti kecewa dan sedih karena para pengikutnya yang kemudian telah gagal menghayati teladan dan ajarannya, dan justru malah menjadikan dia pusat peribadahan dan penyembahan, dan mengira dengan berbuat demikian mereka telah menghormati dan menyenangkan hatinya. Monoteisme Yesus juga diungkapkan dengan jelas di Yohanes 5:44, “Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah (theos) yang Esa (monos)?” Para penulis Perjanjian Baru, sebagai murid-murid Yesus yang sejati, dengan setia menegaskan monoteismenya. Demikian Rasul Paulus berkata di 1Timotius 1:17, “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah (theos) yang kekal, yang tidak nampak dan yang esa (monos)! Amin.” Roma 16:27, “bagi Dia, satu-satunya (monos) Allah (theos) yang penuh hikmat, melalui Yesus Kristus: Segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.”

22

The Only True God

Demikian pula dalam surat Yudas: “Allah (theos) yang esa (monos), Juruselamat kita melalui Yesus Kristus, Tu[h]an kita, bagi Dialah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.” (Yud.1:25) Jemaat awal mengungkapkan iman monoteistiknya dalam doksologi- doksologi yang amat indah, atau dalam puji-pujian di muka umum yang dipersembahkan kepada Allah. Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa Alkitab sama sekali bersifat monoteistik, dan hal yang terutamanya signifikan bagi umat Kristen adalah fakta bahwa Yesus sendiri hidup dan mengajar sebagai seorang monoteis. Meskipun musuh-musuhnya berusaha keji menghancurkannya dengan tuduhan palsu bahwa ia telah berhujat (yang mendatangkan hukuman mati di Israel) oleh karena mengklaim kesetaraan dengan Allah, fakta yang tercantum dalam kisah-kisah Injil adalah: tidak sekali pun ia pernah mengklaim dirinya setara dengan Allah. Sesungguhnya, bukti Injil menunjukkan bahwa musuh-musuhnya mengalami kesulitan besar membuat Yesus secara terbuka mengakui dirinya sebagai Mesias, yaitu raja Mesianik yang dinanti-nantikan itu, apalagi sebagai Allah! Sebagaimana dinyatakan di Filipi 2:6, ia “tidak menganggap bahwa menjadi setara dengan Allah adalah sesuatu yang harus dirampas” (MILT). Namun anehnya, inilah tepatnya yang dilakukan oleh para trinitarian atas nama Yesus! Kita bersikeras memaksakan kepadanya apa yang ia sendiri tolak! Namun, masalah dasariah yang ditimbulkan dengan mengangkat Yesus ke tingkat keilahian adalah terciptanya situasi di mana paling sedikit ada dua pribadi yang sama-sama Allah; ini membawa trinitarianisme ke dalam konflik dengan monoteisme Alkitab. Perkara untuk monoteisme Alkitabiah itu seteguh batu karang dan tidak memerlukan pembelaan sama sekali. Trinitarianismelah yang berada dalam posisi bagaikan telur di ujung tanduk, sehingga tidak heran apabila buku demi buku bersubjek Trinitas telah

Pendahuluan

23

diterbitkan dalam usaha untuk menemukan semacam pembenaran dari Kitab Suci. Untuk memeras doktrin trinitaris dari Alkitab monoteistik, para trinitarian membutuhkan sebanyak mungkin peranti hermenetis (sebagaimana dapat dilihat dari buku-buku itu), karena itu merupakan suatu usaha membuat Alkitab mengatakan apa yang tidak dikatakannya. Saya tahu—saya sudah melakukan hal ini hampir sepanjang hidup saya oleh karena trinitarianisme yang telah ditanamkan ke dalam diri saya sejak masa bayi rohani, yang telah saya telan mentah-mentah. Berikut ini kita akan memeriksa argumen-argumen trinitaris yang utama di dalam cahaya Kitab Suci. Lebih penting lagi, kita akan melihat apakah ajaran trinitaris telah mengakibatkan hilangnya ajaran Alkitabiah yang benar tentang Allah dan keselamatan manusia, sebab kekeliruan selalu dipertahankan dengan mempertaruhkan kebenaran. Hanya setelah kita melepaskan apa yang batil barulah kita dapat mulai melihat apa yang benar.

Tentang buku ini

S ebagian besar dari kajian ini tersita oleh pembahasan Injil Yohanes, karena Injil tersebut merupakan Injil yang paling

diandalkan oleh trinitarianisme untuk mendukung argumen- argumennya. Hal ini benar terutamanya untuk bagian teks yang oleh para pakar dianggap sebagai himne yang tertanam dalam Prolog Injil Yohanes (Yoh.1:1-18), secara khusus ayatnya yang pertama (Yoh.1:1). Nas lain dalam Perjanjian Baru yang oleh beberapa sarjana juga dianggap sebagai kidung tentang Kristus, dan berkepentingan dengan trinitarianisme ditemukan dalam Filipi 2 (ay.6-11). Kolose 1 (terutamanya ay.13-20) dan Ibrani 1 merupakan nas lain yang banyak digunakan oleh para trinitarian. Nas-nas ini dan lainnya akan dibahas lebih singkat karena penafsiran trinitaris atas semua nas-nas ini bergantung secara langsung atau tidak

24

The Only True God

langsung pada penafsiran Yohanes 1:1. Sekali Yohanes 1:1 terlihat jelas tidak mendukung penafsiran trinitaris, maka akan segera jelas pulalah bahwa teks-teks lainnya pun tidak mendukung trinitarianisme. Namun, kita akan memeriksa beberapa teks bukti kunci, sebelum mengkaji Yohanes 1:1 dengan lebih mendalam dan rinci, untuk menyingkapkan kekeliruan interpretatif dan eksegetisnya. Mengenai Yohanes 1:1, perkara trinitarisnya bersandar pada asumsi bahwa “Firman itu” adalah Yesus Kristus (Firman = Yesus Kristus), dan, karena itu, pra-keberadaan Firman berarti pra- keberadaan Yesus. Anehnya, tak seberkas bukti pun yang disodorkan dari Injil Yohanes untuk membuktikan persamaan atau identifikasi ini. Setelah diteliti lebih dekat, ternyata kegagalan serius dalam menyediakan bukti bagi persamaan tersebut tidaklah mengherankan, sebab memang tidak ada bukti semacam itu, karena tidak terdapat persamaan antara Firman itu dengan Yesus Kristus dalam Injil Yohanes. Persamaan tersebut merupakan sebuah asumsi belaka. Adalah sebuah kejutan besar untuk menyadari bahwa dogma yang selama ini kita genggam dengan begitu erat sebagai trinitarian, sebenarnya bersandar pada sebuah asumsi tak berdasar. Sesungguhnya, di luar Yohanes 1:1 dan 1:14, “Firman itu” tidak lagi disebut dalam Injil Yohanes, sedangkan “Yesus Kristus” tidak disebutkan sampai 1:17 pada akhir Prolog (ay.1-18). Satu-satunya kaitan antara “Firman itu” dengan Yesus Kristus ditarik dari Yohanes 1:14, “Firman itu telah menjadi manusia (“daging”), dan tinggal di antara kita”. “Daging” dalam Alkitab merupakan suatu cara menggambarkan hidup manusia. Firman itu masuk ke dalam hidup manusia (“menjadi daging”) dan berdiam di antara kita. Namun, hal yang tidak dikatakan oleh ayat ini adalah: “Yesus Kristus menjadi manusia (“daging”)”; dan inilah tepatnya hal yang begitu saja diasumsikan oleh penafsiran trinitaris. Tentu saja, kita tahu bahwa “Yesus” merupakan nama yang diberikan kepadanya pada

Pendahuluan

25

saat kelahirannya (Mat.1:21), tetapi, apakah dasarnya untuk berasumsi bahwa “Kristus yang pra-eksisten telah menjadi daging”? Gagasan “Kristus yang pra-eksisten” ini didasari oleh asumsi bahwa Yesus Kristus dan Firman yang pra-eksisten itu satu dan sama; namun faktanya adalah tidak di manapun dalam Injil Yohanes Firman itu disamakan dengan Yesus. Dengan kata lain, Yesus dan Firman itu tidak satu dan sama. Apakah atau siapakah Firman yang pra-eksisten itu? Inilah pertanyaan yang perlu kita kaji dengan cermat. Jika Yohanes bermaksud mengidentifikasikan Firman itu sebagai Yesus, lalu kenapa ia tidak melakukan identifikasi tersebut? Satu jawaban untuk pertanyaan ini dapat ditemukan dari tujuan yang dipaparkan dalam Injil Yohanes. Injil ini (berbeda dengan trinitarianisme) tidak bertujuan untuk membuat orang mempercayai Yesus sebagai Firman yang pra-eksisten, tetapi sebagai “Kristus”. Hal ini dapat dipastikan dengan mudah karena Injil ini merupakan satu-satunya Injil yang tujuan penulisannya dicatat dengan jelas: “tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam namanya” (Yoh.20:31). Gelar “Kristus” adalah padanan Yunani untuk “Mesias”, sebuah gelar yang amat signifikan bagi orang Yahudi, tetapi sayangnya, hampir tidak berarti apa-apa bagi orang non-Yahudi.

“Anak Allah”

“Anak Allah” adalah gelar mesianik lain yang diturunkan dari Mazmur 2 (khususnya ay.7,12), di mana raja Daud yang dijanjikan akan dianugerahi suatu hubungan dengan Allah seperti hubungan antara seorang anak dengan ayahnya. Tepatnya, hubungan yang intim antara Yesus dengan Allah dalam Injil Yohanes memberi bukti yang tak bisa dipungkiri akan dirinya sebagai Mesias; dan memper-

26

The Only True God

cayai Yesus sebagai Kristus/Mesias, “Juruselamat dunia” (Yoh.4:42) artinya “memiliki hidup dalam namanya”. Dengan demikian, dari pernyataan tujuan yang dipaparkan dalam Injil Yohanes, jelas sekali bahwa mempercayai Yesus sebagai Firman yang pra-eksisten itu bukanlah tujuan Injil ini. Jadi, kita harus mempertimbangkan dengan seksama apa yang dimaksud dengan “Firman itu”, dan mengapa Injil Yohanes dimulai dengan merujuk kepadanya. Seseorang mungkin bertanya, “Jika Injil Yohanes ditulis bagi orang-orang non-Yahudi, lalu mengapa istilah seperti ‘Mesias (Kristus)’ dan ‘Anak Allah’ dipakai?” Pertanyaan ini menyatakan asumsi lain, yakni, Injil ini ditulis bagi orang-orang non-Yahudi. Bahkan dengan mengasumsikan tanggal penulisan Injil Yohanes yang jauh kemudian (setelah th. 90 M), hendaknya diingat bahwa jemaat yang bermula sebagai jemaat Yahudi (baca bagian pertama kitab Kisah Para Rasul), secara predominan masih berciri Yahudi menjelang akhir abad pertama, khususnya dalam cara pemikiran mereka yang monoteistik. Pada suatu waktu, walaupun jauh lebih awal dari akhir abad pertama, Rasul Paulus perlu memperingatkan orang beriman bukan Yahudi di Galatia agar tidak disunat (Gal.5:2- 4, dsb.)! Paulus harus mengingatkan mereka bahwa sunat berkaitan dengan ikatan perjanjian Allah yang terdahulu dengan umat Yahudi, dan oleh karenanya, tidak relevan kepada orang-orang non-Yahudi dan ikatan perjanjian yang baru. Para penginjil pertama yang memberitakan kabar baik kepada orang-orang kafir adalah orang Yahudi, sama seperti Rasul Paulus. Jadi, mereka pasti sudah pernah menjelaskan arti istilah seperti “Mesias/Kristus” kepada para pendengarnya. Seperti Yohanes, mereka pun pasti pernah menjelaskannya dengan istilah “Juruselamat dunia” (Yoh.4:42), pemberi air hidup (Yoh.4:14) dsb., yang dapat dipahami dengan mudah, baik oleh orang Yahudi maupun non-Yahudi. Namun, sejalan dengan waktu dan dengan meluasnya jemaat-jemaat ke seluruh penjuru dunia, dan jemaat

Pendahuluan

27

Kristen hampir secara eksklusif telah menjadi jemaat bukan Yahudi, arti konsep-konsep kunci seperti “Mesias” mulai menjadi kabur, atau malah terlupakan. Banyak orang beriman non-Yahudi, malah sebagian besar dari mereka, menganggap “Kristus” hanya sebagai nama-diri lain dari Yesus. Tiga abad kemudian, gelar Mesianik “anak Allah” itu dibalik sehingga menjadi gelar ilahi “Allah-Anak”, sebuah istilah yang sama sekali asing kepada Yohanes atau Paulus atau setiap penulis Perjanjian Baru lainnya! Hanya dalam sekitar seratus tahun setelah kematian dan kebangkitan Kristus, pertumbuhan pesat jemaat di dunia telah menghasilkan satu hal yang tidak diinginkan: gereja tidak lagi mempertahankan pertaliannya dengan akar-akar Yahudinya. Akibatnya, arti istilah-istilah dan konsep-konsep yang dahulu amat dikenal baik oleh orang beriman Yahudi mula-mula, sekarang menjadi kabur atau malah tidak lagi dikenal oleh rata-rata orang Kristen. Selain istilah umum seperti “Kristus”, yang sulit dijelaskan artinya oleh rata-rata orang Kristen dewasa ini, asal-usul dan arti “Firman itu” kelihatannya telah menghilang dengan cepat.

“Firman itu”

H al ini mengakibatkan spekulasi yang nyaris tidak habis- habisnya tentang “Firman itu” (Yunani: “Logos”) dan tentang

apakah Yohanes (atau siapa saja yang menulis himne yang digabungkan ke dalam Prolog Injil itu) mengambilnya dari filsafat Yunani atau ajaran Yahudi. Namun, para sarjana trinitarian mendapati semuanya itu tidak menolong, karena baik dari sumber Yahudi maupun Yunani tidak ditemukan "Firman” atau "Logos” sebagai tokoh ilahi personal yang sesuai dengan "Allah-Anak”. Akhirnya, sebagian sarjana pergi sejauh untuk mengusulkan bahwa Yohanes sendirilah yang telah menciptakan gagasan adanya suatu Logos personal; usul ini dibuat bermartabat dengan diberi istilah

28

The Only True God

cukup keren “sintesis Yohanein” (“the Johannine synthesis”), tetapi tanpa mampu memberi bukti apa-apa atas keabsahannya. Hal ini dapat dilihat dalam buku-buku tafsir atas Injil Yohanes. Buku ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa kita tidak perlu mengambil tindakan putus asa sampai mengarang-ngarang asal-usul Firman Yohanein seperti ini. Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah dengan mendapatkan sedikit pengetahuan akan jemaat induk berbahasa Aram tempat Yohanes dan para rasul mula- mula berasal. Kita perlu mempelajari fakta-fakta dasar, antara lain, bahasa Aram merupakan bahasa ibu yang dipakai oleh Yesus, yaitu bahasa yang umum dipakai di Palestina pada masa Kristus, dan dipakai untuk waktu yang cukup lama, baik sebelum dan sesudah masa Yesus. Itu sebabnya mengapa banyak kata Aram masih ditemukan di dalam Injil (Mrk.5:41 merupakan satu contoh terkenal). Dapat dipastikan bahwa Yesus, dan para rabi pada umumnya, dapat membaca Alkitab Ibrani; tetapi tidak diketahui apakah ia berbahasa Yunani. Dengan beberapa pengecualian, rata-rata orang Yahudi di Palestina pada masa Yesus tidak berbahasa Ibrani. Alkitab Ibrani harus diterjemahkan ke dalam bahasa Aram (bahasa yang serumpun dengan bahasa Ibrani tetapi berbeda darinya) sewaktu didaraskan di depan orang-orang yang berkumpul di sinagoga setiap minggu. Kata bahasa Aram untuk “terjemahan” adalah “targum”. Hal yang penting bagi kita adalah fakta bahwa “Firman” merupakan istilah yang dikenal baik oleh rakyat Israel pada masa Kristus, karena “Firman” adalah "Memra” dalam bahasa Aram, dan kata ini sering muncul dalam terjemahan-terjemahan (atau targum-targum) Aram, yang rutin mereka dengar di sinagoga. Kita akan meneliti kata “Memra” dengan cukup rinci untuk melihat kepentingannya dalam mengerti pesan dari Injil Yohanes. Yang paling penting, kita akan melihat bahwa sesungguhnya tidak ada cara lain untuk memahami arti “Firman itu” (Logos)

Pendahuluan

29

dengan tepat (yaitu, jika kita tidak berbelok ke filsafat Yunani ataupun versi Yahudi dari filsafat Yunani oleh Filo), selain daripada menemukan artinya dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) dan terjemahan Aramnya, yaitu Targum. Jika kita meneliti Kitab Suci kita akan mendapati bahwa “Firman” di Yohanes 1:1, "Firman” dalam Perjanjian Lama seperti di Mazmur 33:6, Hikmat dalam kitab Amsal (khususnya Ams.8:30), dan Firman (Memra) dalam Targum, semua pada intinya memiliki arti yang sama—sebagaimana bisa diduga dari ciri Kitab Suci yang konsisten sebagai Firman Allah. Kitab Suci tidak membiarkan kita dibingungkan oleh arti-arti yang bertentangan dan tidak sepadan.

Kitab-kitab Suci

Mengenai “Kitab Suci” atau “Kitab-kitab Suci”, penting untuk dipahami bahwa kata-kata ini adalah istilah yang digunakan dalam Perjanjian Baru untuk merujuk kepada Alkitab Ibrani, yang disebut “Perjanjian Lama” oleh umat Kristen. Bisa dimaklumi bila kaum Yahudi merasa keberatan Alkitab mereka disebut demikian karena kata “lama” cenderung menyiratkan sesuatu yang antik, dan karena itu kelewahan atau usang. Tentu saja, “lama” bisa juga bermakna “berasal dari zaman purba” dan karena itu harus diperlakukan dengan hormat, akan tetapi ini tidak mengesampingkan makna “lama” lainnya yang lebih kentara. Saya memakai istilah “lama” di sini dengan kesadaran penuh bahwa istilah tersebut memang tidak memadai dan tidak pantas. Saya hanya menggunakannya karena inilah istilah yang secara universal dimengerti oleh umat Kristen, dan juga karena fakta bahwa pada saat ini tidak ada istilah lain yang umum diterima di antara umat Kristen sebagai penggantinya. Jika istilah “Alkitab Ibrani” digunakan tanpa disertai penjelasan lanjutan maka istilah ini bisa dipahami sebagai Alkitab dalam bahasa Ibrani. Dewasa ini istilah “Kitab-kitab Suci” (baik dalam bentuk tunggal

30

The Only True God

maupun jamak) dipahami mencakup “Perjanjian Lama” dan “Baru”. Jadi, sebelum ditemukannya terminologi baru, seperti “Kitab-kitab Suci terdahulu” dan “Kitab-kitab Suci kemudian” (yang akan digunakan sekali-sekali dalam buku ini), untuk sementara ini saya terpaksa harus terus mengggunakan terminologi tersebut yang diterima secara umum di antara umat Kristen; dan saya mohon kesabaran para pembaca Yahudi. Menggunakan istilah “Kitab-kitab Suci Yahudi” pun tidak banyak menolong karena “Perjanjian Lama” dan juga sebagian besar dari Perjanjian Baru (kecuali Lukas dan Kisah Para Rasul) ditulis oleh orang Yahudi; ini merupakan sesuatu yang mudah dilupakan oleh orang Kristen. Jadi, ketidak-pantasan penggunaan istilah “Perjanjian Lama” bukan hanya karena istilah ini tidak bisa diterima oleh umat Yahudi, tetapi juga karena ini bukan cara para penulis Perjanjian Baru merujuk kepada Alkitab Ibrani. Dalam “Perjanjian Baru”, yang “Lama” selalu dirujuk sebagai “Kitab Suci” (mis. Mrk.12:10; Yoh.2:22; Rm.4:3; 1Ptr.2:6; atau “Kitab-kitab Suci”, mis. Mat.21:42; Rm.1:2); istilah ini muncul tidak kurang dari 50 kali. Perlu diingat bahwa “Kitab Suci” merupakan satu-satunya Alkitab yang dimiliki gereja awal. Kitab-kitab Injil dan surat-suratnya baru pertama kali digabungkan ke dalam satu jilid dan dipakai oleh gereja-gereja sekitar 150 tahun setelah masa pelayanan Kristus di muka bumi. Salah satu dari koleksi paling mula-mula ini tercantum dalam Kanon Muratorian (th. 170-180 M), yang masih belum mencakup seluruh karangan Perjanjian Baru seperti yang kita miliki saat ini. Para sarjana (terutamanya sarjana PL) sudah lama menyadari adanya masalah dengan istilah “Perjanjian Lama”. Jadi, apa yang saya katakan di sini bukanlah sesuatu yang orisinal. Namun hal ini penting sehubungan dengan tema-tema yang akan dibahas karena itu adalah penunjuk lain atas penyimpangan Kekristenan dari akar- akar Alkitabiah dan Yahudinya. Seorang sarjana Kristen yang berpandangan keras akan hal ini adalah Garry Willis, Professor of

Pendahuluan

31

History Emeritus di Northwestern University, yang dalam bukunya yang terbaru, What Paul Meant, menulis, “Bagi Paulus tidak ada yang namanya ‘Perjanjian Lama’. Seandainya ia tahu kalau karangan-karangannya akan digabungkan menjadi sesuatu yang disebut Perjanjian Baru, ia tidak akan mengakuinya jika sekiranya itu dimaksudkan untuk menolak, atau mengsubordinasikan satu- satunya Kitab Suci yang ia tahu, satu-satunya firman Allah yang ia kenal, Alkitabnya.” (What Paul Meant, Penguin Books, 2006, hlm. 127 dyb.)

Tema-tema dalam kajian ini

B uku ini membahas tiga tema utama dalam Alkitab yang paling berkepentingan bagi umat manusia:

(1) Ada satu, dan hanya satu, Allah yang benar, yang adalah Pencipta segala yang ada. Penyataan diri dari Allah ini tercatat bagi kita pertama-tama dalam Alkitab Ibrani (yang disebut “Perjanjian Lama” oleh umat Kristen), dan berikutnya dalam Perjanjian Baru. Jemaat Kristen lahir di Yerusalem, dan kelahirannya dilukiskan dalam kitab Kisah Para Rasul. Jemaat itu adalah jemaat Yahudi, dan oleh kare- nanya, bersifat monoteistik yang tidak mengenal kompromi. Namun, jemaat Kristen non-Yahudi, yang tidak mempunyai komitmen demikian kepada monoteisme, dan yang sejak sekitar pertengahan abad ke-2 telah lepas dari induk Yahudinya, mulai mengembangkan suatu doktrin yang menyatakan bahwa ada lebih dari satu pribadi yang adalah Allah. Gereja non-Yahudi telah mengambil langkah pertama yang besar untuk menjauhi monoteisme ketika di Nikea pada 325 M mereka mendeklarasikan bahwa doktrin ini mewakili iman gerejanya. Buku ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa, baik dalam Perjanjian Lama maupun

32

The Only True God

Baru, sama sekali tidak ada dasar untuk kompromi ini dengan politeisme, yang menyamar sebagai semacam “monoteisme”.

(2) “Satu-satunya Allah yang benar”, sebagaimana Yesus memanggil Dia (Yoh.17:3), merupakan Allah yang sangat mempedulikan ciptaan-Nya, khususnya manusia dan kesejahteraannya. Ia menciptakan umat manusia dengan suatu rencana kekal. Oleh karena itu, sejak awal penciptaan manusia kita melihat Dia terlibat secara intim dengan manusia. Keterlibatan-Nya yang luar biasa dalam penyelamatan satu umat yang terjerat dalam kesengsaraan perbudakan di Mesir; dan pemeliharaan-Nya akan segala kebutuhan mereka selama 40 tahun mengembara di padang gurun Sinai yang mengerikan, merupakan sebuah kisah yang diceritakan berulang- ulang, bukan saja di Israel tetapi di seluruh dunia. Dalam kisah tersebut kita juga mendapati Allah sendiri tinggal bersama dengan umat Israel, hadirat-Nya diam di antara mereka dalam kemah yang lebih dikenal dengan sebutan “tabernakel” (atau “Kemah Suci”) (bdk. Yoh.1:14, “berdiam”, “berkemah”). Ia hadir bersama mereka dan memimpin mereka melewati padang gurun dalam tiang awan pada siang hari dan tiang api pada waktu malam. Melalui semua ini Ia telah menunjukkan bahwa Ia bukan Allah yang transenden dalam arti Ia menjaga jaraknya dari manusia, tetapi sebaliknya melibatkan diri-Nya secara sangat “bersahaja” (down to earth). Tentu saja, Allah sebagai Pencipta seluruh umat manusia tidak hanya peduli dengan bangsa Israel tetapi dengan seluruh umat manusia. Oleh sebab itu, terdapat isyarat-isyarat penting, terutamanya diberikan melalui nabi-nabi Perjanjian Lama, bahwa Allah akan datang pada suatu saat sedemikian rupa sehingga “seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama” (Yes.40:1- 5). Bahkan lebih mengagumkan lagi, Ia akan datang ke dunia dalam rupa seorang manusia. Ini tampak jelas terungkapkan dalam pernyataan profetis yang dimasyhurkan oleh kartu-kartu Natal

Pendahuluan

33

(Yesaya 9:5, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebut orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”). Namun anehnya, gereja non-Yahudi trinitarian telah memutuskan bahwa Ia yang datang ke dunia ini bukanlah Dia yang disebut “satu-satunya Allah yang benar” oleh Yesus (Yoh.17:3), dan yang secara konsisten dipanggilnya “Bapa”, melainkan seorang pribadi lain yang disebut “Allah-Anak”—sebuah istilah yang tidak dapat ditemukan di manapun dalam Alkitab. Tujuan buku ini adalah untuk menunjukkan bahwa sejumlah kecil ayat dalam Perjanjian Baru yang dikemukakan para trinitarian untuk mendukung doktrin mereka itu tidak memberikan bukti eksistensi “Allah-Anak”, atau bahwa Yesus Kristus adalah Allah-Anak. Tidak diragukan sama sekali bahwa para penulis Perjanjian Baru adalah orang-orang monoteis, dan karena itu tidak ada cara yang benar untuk menghasilkan doktrin trinitaris dari karangan-karangan monoteistik—kecuali dengan memaksakan penafsiran secara tidak benar ke dalam teks.

(3) Rencana Allah untuk menyelamatkan manusia dari kesengsaraan (karena kegagalannya mengakui Dia sebagai Allah, Roma 1:21) bu- kanlah sebuah rencana yang dirancang secara mendadak tanpa dipikirkan dahulu, melainkan sesuatu yang telah terpadu ke dalam rencana kekal-Nya bagi seluruh ciptaan menurut pra-pengetahuan- Nya. Ini berarti rencana-Nya untuk menyelamatkan manusia sudah ada “sebelum permulaan zaman” (2Tim.1:9). Dalam rencana ini tokoh kuncinya ialah seorang manusia yang telah dipilih-Nya yang diberikan-Nya nama “Yesus” (Mat.1:21; Luk.1:31). Nama ini penting karena artinya “Yahweh menyela- matkan” atau “Yahweh adalah keselamatan”. Orang Kristen berbicara seolah-olah Yesus sendiri adalah penyelamat, tetapi

34

The Only True God

sebenarnya ia adalah penyelamat karena “Allah ada di dalam Kristus ketika mendamaikan dunia dengan diri-Nya sendiri” (2Kor.5:19, MILT). Yesus sendiri terus mengulangi hal ini dengan berbagai cara dalam Injil Yohanes, yakni, segala sesuatu yang ia katakan dan perbuat sebenarnya dilakukan oleh “sang Bapa” di dalam dia (Yoh.14:10, dsb.). Hal itu dikarenakan Allah hidup di dalam Yesus dengan cara yang belum pernah dilakukan-Nya dalam sejarah manusia. Inilah yang membuat Yesus betul-betul unik dibanding siapa pun yang pernah hidup di muka bumi ini, dan itu juga sebabnya mengapa ia menikmati suatu hubungan spiritual yang intim dan unik dengan Allah seperti hubungan seorang anak dengan ayahnya. Itulah sebabnya ia disebut “anak Allah”, yang dalam Alkitab tidak pernah berarti “Allah-Anak”. Oleh karena hubungannya yang unik dengan sang Bapa, tiga kali dalam Injil Yohanes ia disebut “satu-satunya Anak Allah” atau “Anak Allah yang unik” (Yoh.1:14; 3:16,18). Dalam hubungan yang tidak pernah terjadi sebelumnya ini, atas ikhtiar Yesus sendiri, ia hidup dalam ketaatan penuh kepada Allah sebagai Bapa, dan memilih menjadi “taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp.2:8). Melalui “ketaatan satu orang banyak orang menjadi orang benar” (Rm.5:19), yang berarti bahwa dia menyelesaikan keselamatan manusia melalui kematiannya di kayu salib. Dengan cara inilah Allah mendamaikan segalanya dengan diri-Nya melalui Kristus. Lagi pula, oleh karena ketaatannya kepada Allah, Allah “sangat meninggikan dia dan mengaruniakan kepadanya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tu[h]an,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp.2:9-11). Allah mengaruniakan kepada Yesus hormat setinggi-tingginya. Itulah sebabnya kita menyebut dia “Tu[h]an”.

Pendahuluan

35

Pergeseran fokus yang serius dalam Gereja non-Yahudi

Akan tetapi, gereja non-Yahudi yang kemudian, telah gagal (sengaja atau tidak) untuk membedakan perbedaan yang signifikan antara kata “Tu[h]an” (“Lord”) yang disandangkan kepada Yesus dan “TU[H]an” (“LORD”) yang disandangkan kepada Allah (sama seperti kata “lord” dalam bahasa Inggris, kata Yunani kurios digunakan dalam kedua kasus), meskipun dalam bahasa Yunani (seperti bahasa Inggris) kata kurios mempunyai beberapa tingkatan makna: bisa digunakan sebagai gelar kesopanan yang artinya kira- kira “tuan”; itulah caranya seorang budak memanggil majikannya, atau seorang istri memanggil suaminya, atau seorang murid gurunya (seperti dalam bahasa Inggris “master” untuk “schoolmaster”), sedangkan dalam Perjanjian Lama Yunani (LXX) kata ini biasa digunakan untuk memanggil Allah. Dengan demikian, gereja non- Yahudi yang kemudian dengan mudah beralih dari berbicara tentang Yesus sebagai “Tu[h]an” menjadi Yesus sebagai “Allah”. Inilah salah satu alasan utama mengapa gereja non-Yahudi pada abad ke-4 tidak mengalami banyak kesulitan dalam memproklamirkan Yesus Kristus sebagai “Allah-Anak”, pribadi kedua dalam “Ke-Allahan” (“Godhead”). Dengan demikian, lahirlah “trinitarianisme” sebagaimana dikenal dewasa ini. Dari sudut pandang Alkitabiah, konsekuensi yang amat serius dari semua ini adalah bahwa Allah (sang Bapa) telah dikesampingkan atau dipinggirkan oleh penyembahan kepada Yesus sebagai Allah, hal yang telah mendominasi gereja. Sekilas pandang buku-buku pujian Kristiani modern langsung menyingkapkan siapakah sasaran utama dari doa dan penyembahan Kristiani. “Sang Bapa” telah dibiarkan memegang peranan yang relatif sampingan. Yesus telah menggantikan Bapa dalam kehidupan Kristiani sebab, bagi mereka, Yesuslah Allah itu. Rasul Paulus, yang dalam surat- suratnya berulang-kali menulis tentang “Allah dan Bapa Tu[h]an

36

The Only True God

kita, Yesus Kristus” (Rm.15:6; 2Kor.1:3, dsb.), akan gemetar dengan pemikiran bahwa gereja Kristen masa depan akan mengganti “Allah Tu[h]an kita Yesus Kristus” sebagai sasaran penyembahan yang utama, dengan menyembah Yesus sendiri sebagai Allah, malah dengan mengutip (atau lebih tepatnya, salah mengutip) surat- suratnya (khususnya Flp.2:6 dyb.)! Jika Yesus dapat menjadi sasaran penyembahan, lalu mengapa tidak ibunya, Maria, yang dideklarasikan menjadi “bunda Allah” oleh gereja non-Yahudi, dan yang benar-benar disembah oleh sebagian besar gereja Kristen? Sebab, jika Yesus adalah Allah, maka Maria bisa sepantasnya disebut “bunda Allah”. Meskipun Maria belum dideklarasikan menjadi Allah, kelihatannya ini tidak diperlukan mengingat fakta bahwa sebagai “bunda Allah” ia tampak berkedudukan di atas Allah. Di dalam gereja Maria biasanya digambarkan sedang memangku bayi Yesus; gambaran yang mengusulkan bahwa sang ibu lebih besar daripada bayinya, sekalipun bayi itu adalah Allah! Tidak heran bila begitu banyak orang Kristen berdoa kepada Maria sebagai orang yang memiliki pengaruh yang amat besar selaku ibu atas anaknya. Tujuan buku ini adalah untuk memberi peringatan bahwa gereja Kristen telah menyimpang dari kebenaran yang ditemukan dalam firman Allah, yakni Alkitab. Semua orang yang mengasihi Allah dan kebenaran-Nya akan membaca kembali Kitab-kitab Suci dengan seksama untuk mencari kebenaran bagi diri mereka sendiri, dan dengan demikian kembali kepada “Allah Penyelamat kita”, “yang telah menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan anugerah-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman” (2Tim.1:9). Oleh sebab inilah kita menghormati Yesus sebagai “Tu[h]an”— tetapi selalu sedemikian rupa "bagi kemuliaan Allah, Bapa kita” (Flp.2:11). Prof. Hans Küng mengatakan hal yang sama dengan

Pendahuluan

37

memakai istilah teologis, “kristosentrisitas Paulus tetap berasaskan pada dan mencapai puncaknya lagi dalam teosentrisitas keras” (Christianity, hlm.93 dyb., huruf tebal darinya).

Kesimpulan

S ebagai kesimpulannya, maksud tujuan buku ini adalah untuk menangkap makna ajaran Alkitabiah yang terangkum di

1Timotius 3:16 (ILT), yakni, “Dia telah dinyatakan dalam daging” dalam pribadi “manusia Kristus Yesus” (1Tim.2:5). Bahwa rujukan di sini adalah pada Allah yang telah menyatakan diri-Nya di dalam daging terlihat jelas dari fakta berikut: Untuk mengatakan bahwa seorang manusia telah “dinyatakan” dalam daging tidaklah terlalu masuk di akal. Lagipula, Kristus tidak disebut dalam kedua ayat sebelum ini, tetapi Allah disebut dua kali dalam ayat sebelumnya. Jadi, siapa lagi “Dia” di 1Timotius 3:16 kalau bukan Allah? Jika memang Allah yang telah dinyatakan dalam daging, maka ini dengan tepat dapat digambarkan sebagai sebuah “rahasia agung”, seperti yang dikatakan ayat itu. Tepatnya rahasia inilah bahwa Allah “tinggal di antara kita” (Yoh.1:14) “dalam Kristus” (istilah yang sering sekali muncul dalam karangan Paulus—73 kali, tidak termasuk “dalam dia”, dst., lebih dari 30 kali), sama seperti ketika Ia tinggal di antara umat Israel, yang perlu kita pertimbangkan dengan seksama. Allah melakukan

ini “di dalam Kristus ketika mendamaikan dunia dengan diri-Nya sendiri” (2Kor.5:19, MILT). Tentu saja, trinitarianisme pun percaya bahwa Allah “telah dinyatakan dalam daging”, tetapi Allah yang telah dinyatakan itu adalah “Allah-Anak”, tanpa mempedulikan fakta bahwa tidak ada pribadi seperti ini di manapun dalam Alkitab. Akibatnya, mereka telah mengesampingkan satu-satunya Allah yang benar, yang oleh Yesus dipanggil “Bapa”, sebagai Dia yang datang ke dunia “dalam Kristus” demi keselamatan kita. Atau, dengan

38

The Only True God

menggunakan istilah-istilah teologis Prof. Küng, trinitarianisme telah menggantikan “teosentrisitas” Alkitabiah dengan “kristosentrisitas” mereka. Namun apakah pengertian “Allah (Yahweh) telah dinyatakan di dalam daging” itu benar-benar tepat? Ini betul-betul sebuah pernya- taan mengguncang yang amat menakjubkan, dan sebuah pernyataan yang perlu kita periksa dengan rinci dalam halaman-halaman berikut.

Apakah kita sungguh-sungguh monoteis?

Kita semua adalah orang-orang monoteis: umat Kristen menganggap dirinya orang monoteis. Kekristenan mengklaim dirinya iman yang monoteistik. Namun kenapa? Bagaimana mungkin agama yang tidak menaruh imannya semata-mata dan secara eksklusif pada satu Allah yang personal, tetapi mempercayai tiga pribadi yang semuanya sama-sama Allah, masih mengklaim dirinya iman yang monoteistik? Dari definisinya, “monoteisme” bermakna “kepercayaan pada Allah yang tunggal: kepercayaan bahwa hanya ada satu Allah” (Encarta Dictionary). Definisi ini sama dalam setiap kamus. Namun, kepercayaan pada tiga pribadi ilahi yang setara bukanlah kepercayaan pada “Allah yang tunggal”, ataupun bahwa “hanya ada satu Allah”. Sebagaimana telah kita catat, kata “monoteisme” berasal dari kata Yunani “monos” (satu) dan “theos” (Allah). Allah yang telah menyatakan diri-Nya dalam Alkitab Ibrani telah menyatakan diri- Nya dengan Nama agung “YHWH”, yang disetujui oleh para pakar pada umumnya dengan pelafalan “Yahweh”. Makna Nama-Nya selalu menjadi pokok pembahasan, tetapi maknanya kira-kira “Aku adalah Aku”, atau “Aku akan menjadi siapa Aku akan menjadi” (Lih. Kel.3:14), atau menurut PL Yunani (LXX) nama itu mengandung makna “Yang Sudah Ada” (ho ōn), yang mengemukakan bahwa Ia

Pendahuluan

39

ada secara abadi dan bahwa Ia adalah sumber segala yang ada. Perjanjian Lama mengakui adanya satu Allah yang personal saja, yaitu Yahweh, sebagai satu-satunya Allah yang benar. Nama-Nya yang muncul 6828 kali itu adalah sentral kepada keseluruhan Alkitab Ibrani. Namun, kebanyakan umat Kristen tampaknya sama sekali tidak menyadari kenyataan sederhana ini. Yahweh mutlak adalah satu-satunya (monos) Allah (theos) yang dinyatakan dalam Alkitab. Barangkali ada “banyak ilah dan banyak tuhan” yang dipercayai orang (1Kor.8:5,6), tetapi sejauh wahyu Alkitabiah, Yahweh adalah, menurut Yesus, “satu-satunya Allah yang benar”. Yesus sudah pasti mengajarkan monoteisme, tetapi pertanyaannya adalah: apakah kita sebagai murid-muridnya sungguh-sungguh orang monoteis? Perlu dipahami dengan jelas bahwa monos bukan kata yang dapat direntangkan maknanya menjadi sebuah kelompok yang terdiri dari beberapa pribadi, suatu kumpulan yang terdiri dari beberapa entitas, atau suatu golongan yang terdiri dari sejumlah tokoh. Berikut definisi monos menurut Kamus PB Yunani-Inggris BDAG yang berwenang: “1. sebagai satu-satunya entitas dalam suatu golongan, satu-satunya, sendiri kata sifat a. dengan fokus sebagai satu-satunya. 2. penanda batasan, satu-satunya, sendiri, [monon] jenis netral, dipergunakan sebagai kata keterangan.” Kata “Allah” dan istilah “satu-satunya Allah” dalam Perjanjian Baru, tanpa dapat disangsikan selalu merujuk kepada Allah dari PL, Yahweh. Lalu mengapa nama “Yahweh” tidak muncul dalam PB seperti dalam Alkitab Ibrani? Jawaban kepada pertanyaan ini terletak pada dua kenyataan penting:

(1) Dampak yang meluluh-lantakkan dari Pembuangan ke atas Israel sebagai sebuah bangsa akhirnya membuat mereka insaf. Bangsa Israel mulai menyadari bahwa alasan dari pembuangan dahsyat itu dan kehancuran mereka sebagai sebuah bangsa bersandar pada fakta

40

The Only True God

bahwa selama ini mereka telah melakukan perzinahan rohaniah dengan bersikeras menyembah ilah-ilah lain di samping Yahweh (salah satunya yang paling dikenal ialah Ba’al). Mereka telah melawan peringatan yang diberikan berulang kali oleh nabi-nabi Yahweh, yang secara jelas menyatakan bahwa Yahweh akan mengirim mereka ke pembuangan karena pemberontakan mereka terhadap-Nya dan penyembahan mereka kepada berhala. Setelah mengalami fakta bahwa Yahweh telah menepati janji-Nya, dan melihat dengan mata mereka sendiri apa yang Ia katakan akan terjadi memang telah terjadi, dan setelah merasakan kerasnya hukuman Allah, mereka kembali ke keruntuhan tanah Israel pasca masa pembuangan sebagai umat terhukum yang mulai saat itu dan seterusnya tidak akan lagi menyembah Allah lain selain Yahweh saja. Mereka menjadi begitu takut akan Dia sehingga mereka menahan diri dari mengucapkan Nama-Nya yang agung. Sejak saat itu mereka menyebut-Nya dengan memakai gelar “Tu[h]an” (adonai). Lagipula, umat Yahudi tidak akan pernah lagi menyembah Allah lain selain Adonai Yahweh, sekalipun jika Allah itu disebut “Anak” Yahweh (yang tidak disebut di manapun dalam PL), ataupun jika Allah itu disebut “Roh” Yahweh, yang disebut beberapa kali dalam PL tetapi tidak pernah dianggap sebagai pribadi terpisah di samping Yahweh. Itu sebabnya kita bisa memastikan bahwa para penulis PB berkebangsaan Yahudi tidak mungkin orang trinitarian; kita sudah melihat sejumlah contoh dalam PB tentang semangat monoteisme mereka yang begitu berapi-api. 1

1 Untuk alasan ini juga, umat Yahudi sejak berabad-abad yang lalu hingga kini tidak menganggap umat trinitarian sebagai orang-orang monoteis sejati meskipun mereka mencoba untuk sedapat mungkin bersikap damai. (Sebuah contoh bagus dari sikap damai mereka ditunjukkan dalam buku Christianity in Jewish Terms (diedit oleh Tikva Frymer-Kensky dst., Westview Press, 2000), yang berupa dialog antara para pakar Yahudi dan Kristen. Sulit untuk membayangkan dialog damai yang serupa antara pakar Muslim dan Kristen

Pendahuluan

41

(2) Selama 70 tahun masa pembuangan (disebut Penawanan Babilonia) ke negeri asing yang penduduknya berbahasa Aram, generasi orang Yahudi yang berikut berbahasa Aram setempat, bukan bahasa Ibrani (sama seperti umat Yahudi yang hidup di AS atau Eropa saat ini berbahasa setempat dan pada umumnya tidak bisa berbahasa Ibrani). Para ahli Taurat, para pakar Alkitab, masih membaca Alkitab Ibrani (sama seperti kebanyakan rabi di seluruh dunia saat ini), dan mengajar Alkitab di sinagoga, tetapi kebanyakan orang awam tidak lagi memahami bahasa Ibrani, jadi bagian-bagian Alkitab yang didaraskan di sinagoga harus diterjemahkan ke dalam bahasa Aram. Berikut penjelasan Encarta, “Ketika Penawanan Babilonia berakhir pada abad ke-6 sM, bahasa Aram telah menggantikan bahasa Ibrani sebagai bahasa percakapan umum, maka timbul kebutuhan untuk menjelaskan makna bacaan-bacaan dari Kitab Suci.” (Microsoft Encarta Reference Library 2005. © 1993- 2004 Microsoft) Untuk kajian kita ini, penting untuk mencamkan fakta bahwa dalam targum-targum (terjemahan-terjemahan) Aram dari Alkitab Ibrani, Nama Allah yang kudus “Yahweh”, oleh karena rasa takzim, telah diganti dengan istilah “Memra”, yang dalam bahasa Aram bermakna “Firman”. Dengan demikian, setiap orang Yahudi Palestina tahu bahwa “Memra” adalah rujukan metonimik (kata yang digunakan ganti orang atau hal yang dimaksudkan sesungguhnya) untuk “Yahweh”. Memra seringkali muncul dalam Targum Aram, sebagaimana dapat dilihat dari Lampiran 12 pada akhir buku ini.

42

The Only True God

Monoteisme dalam Alkitab

Monoteisme Alkitab mutlak tidak mengenal kompromi. Saya tidak tahu seorang pun sarjana Alkitab yang menyangkali fakta ini. Oleh sebab itu, kita tidak perlu membenarkan diri sewaktu mengajarkan monoteisme Alkitabiah. Orang yang mempergunakan Alkitab untuk mengajarkan sesuatu selain daripada monoteismelah yang perlu mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka. Umat Kristen trinitaris cenderung mendudukkan diri di antara umat Yahudi dan Muslim sebagai orang monoteis. Masalahnya adalah, baik Yudaisme maupun Islam tidak mengakui Kekristenan trinitaris sebagai agama yang betul-betul monoteistik, tanpa menghiraukan klaim-klaim Kristiani. Apapun artinya “monoteisme” Kristiani itu, baik umat Yahudi maupun Muslim tidak menerima agama tersebut sebagai monoteistik menurut Kitab Suci mereka. Apakah mereka bersikap keterlaluan?

Bagaimana buku ini ditulis

B uku ini bukan hasil dari sebuah rencana untuk meniadakan atau menggelincirkan trinitarianisme. Ia mengambil bentuk

sebagai hasil dari keprihatian penginjilan yang sungguh-sungguh untuk membawa Injil keselamatan kepada semua bangsa dan kerinduan untuk Tuhan datang kembali. Kedua hal itu dikaitkan dalam perkataan Yesus di Matius 24:24, “Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” “Kedatangan yang kedua” dan “akhir zaman” dikaitkan bersama di Matius 24:3, dan kedua peristiwa ini dikaitkan dengan pemberitaan Injil secara universal. Fakta yang tak terbantahkan adalah bahwa sebagian besar dari dunia belum terjangkau oleh Injil. Umat Muslim saja terdiri lebih dari 1,000,000,000 (satu miliar) orang. Lagipula, Islam adalah agama yang paling pesat bertumbuh di dunia, jadi angka ini akan terus

Pendahuluan

43

bertambah di tahun-tahun mendatang. Sebuah laporan BBC pada Desember 2007 mengatakan bahwa pemeluk agama Islam bertambah tiga kali lipat di Eropa selama 30 tahun terakhir. Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel di koran Church of England yang mengungkapkan pandangan bahwa pada tingkat pertumbuhan Islam pada saat ini, tidak lama lagi Inggris akan menjadi negara Muslim. Apa artinya semua ini? Bukankah ini berarti Matius 24:14 tidak hanya tidak digenapi, tetapi harapan penggenapannya menjadi semakin jauh, dan bersamanya harapan Kedatangan Kedua juga menjadi semakin pudar? Bukankah ini jelas-jelas berarti bahwa bukan saja gereja telah gagal menggenapi Amanat Agung, tetapi kemungkinan akan penggenapannya juga semakin lama semakin berkurang (oleh karena perkembangan peristiwa-peristiwa di dunia)? Ditambah lagi dengan fakta sejarah bahwa, berkenaan dengan Islam, Kekristenan telah gagal secara menyedihkan untuk membuat dampak injili ke atas Islam selama kurun waktu lebih dari 1400 tahun semenjak lahirnya agama tersebut. Dimulai pada abad ke-7 dan ke-8, terkejar oleh meluasnya kekuatan-kekuatan Islam, Kekristenan mundur dan kehilangan pusat-pusat pentingnya di seluruh Afrika Utara, Timur Tengah (termasuk Yerusalem dan Tanah Suci), dan yang kini disebut negara Turki (yang sekali waktu adalah pusat Kekristenan yang penting), dan juga daerah-daerah luas ke arah timurnya. Diperhadapkan dengan realitas yang keras ini, bagaimanakah Amanat Agung (Mat.28:18-20) dapat digenapi? Ditambah lagi dengan pertengkaran internal di antara umat Kristen, baik sepanjang sejarah gereja maupun saat ini. Sebagian umat Kristen merasa seolah-olah adalah urusan mereka untuk mencap orang lain yang tidak sepaham dengan pandangan doktrinal mereka sebagai “orang sesat” atau “bidah”, malah untuk hal-hal seperti “sekali selamat, selalu selamat”, atau “jaminan keselamatan kekal”, seringkali dengan pengertian yang sangat kabur tentang pokok ajaran Kitab Suci atau

44

The Only True God

yang berhubungan dengannya. Kita diingatkan akan peristiwa pengepungan Yerusalem, yang bahkan ketika tentara Romawi tengah memperketat cengkeraman besinya atas kota itu pada th. 70 sM, sekelompok orang Yahudi di dalam kota itu masih saling bertengkar, saling berkelahi, malah saling membunuh satu sama lain oleh karena perselisihan pendapat yang begitu runcing atas pelbagai topik, sampai akhirnya prajurit Romawi menerjang masuk dan membakar kota tersebut, dan Bait Suci tempat Yesus dahulu mengajar pun hangus dilalap api! Jadi, situasi yang ada di dunia dan di dalam gereja saat ini menyisakan rasa optimisme yang sangat kecil akan penggenapan perkataan Yesus di Matius 24:14, jika semuanya dibiarkan tetap berjalan seperti ini. Tepatnya dalam usaha mencari jawaban atas kegagalan gereja untuk menjangkau umat Muslim dengan kabar baik inilah timbul suatu kebutuhan untuk menanyakan apa yang bisa diperbuat, dan juga apakah ada sesuatu yang salah dengan cara kita memahami dan menyajikan kabar baik selama ini.

Riwayat Pribadi

S aya menulis sebagai seorang yang dahulunya seorang trinitarian sejak menjadi seorang Kristen di usia 19 tahun—suatu periode

yang menjangkau lebih dari lima puluh tahun lamanya. Selama hampir empat dasawarsa melayani sebagai gembala, pemimpin gereja, dan guru banyak orang yang telah melayani purna waktu, saya mengajarkan doktrin trinitaris dengan semangat berapi-api, sebagaimana dapat disaksikan oleh orang-orang yang mengenal saya. Trinitarianismelah yang saya minum bersama dengan susu rohani ketika saya masih seorang bayi rohani. Selanjutnya, dalam studi-studi Alkitabiah dan teologis, minat saya terfokus pada Kristologi yang saya kejar dengan intensitas yang cukup tinggi. Hidup saya terpusat pada Yesus Kristus. Saya mempelajari dan

Pendahuluan

45

berupaya mempraktekkan pengajarannya dengan pengabdian sedalam-dalamnya. Artinya, dalam praktek saya merupakan seorang monoteis yang mengabdi kepada suatu monoteisme yang mana Yesus adalah Tuhan dan Allah saya. Pengabdian yang intens kepada Yesus seperti ini mau tidak mau menyisakan sedikit ruang baik untuk sang Bapa maupun Roh Kudus. Jadi, meskipun dalam teorinya saya percaya akan adanya tiga pribadi, dalam prakteknya sebenarnya hanya ada satu pribadi saja yang sungguh-sungguh penting: Yesus. Saya memang menyembah satu Allah, dan satu Allah itu adalah Yesus. Satu-satunya Allah yang dinyatakan dalam Perjanjian Lama, yaitu

Yahweh, dalam prakteknya telah digantikan oleh Allah-Yesus Kristus, Allah-Anak. Sebagian besar umat Kristen berbuat hal yang serupa, jadi mereka dengan mudah dapat memahami apa yang saya katakan. Sekitar tiga tahun yang lalu saya merenungkan pertanyaan ini:

Bagaimanakah kabar baik dapat diperkenalkan kepada umat Muslim? Saya mendapati bahwa iman Kristiani saya disertai oleh semacam prasangka terhadap umat Muslim, yang harus diatasi jika saya ingin memahami dan menjangkau mereka. Namun, segera sesudah itu saya pun menyadari bahwa begitu saya mengatakan sesuatu tentang Trinitas, atau mengatakan bahwa Yesus itu adalah Allah, semua komunikasi dengan orang Muslim akan terputus seketika. Tentu saja, hal yang sama juga berlaku kepada umat Yahudi. Jadi bagaimanakah mereka bisa dijangkau? Kita sudah melihat kata-kata Yesus, “Injil kerajaan ini harus diberitakan dahulu ke seluruh dunia sebagai kesaksian bagi semua ”

bangsa, dan kemudian akan datang kesudahannya

(Mat.24:14).

Kita hanya perlu memandang situasi di dunia untuk melihat betapa sulitnya memberitakan kabar baik ke negara-negara Muslim yang banyak jumlahnya. Hal yang sama juga benar untuk bangsa Israel. Ini berarti bahwa berdasarkan kata-kata Yesus di Matius 24, akhir

46

The Only True God

zaman tidak bisa datang dan Yesus tidak bisa kembali, karena Injil tidak bisa dikabarkan kepada bangsa-bangsa tersebut. Kebanyakan orang Kristen tampak nyaris tidak menyadari sama sekali, atau pun mempedulikan hal-hal demikian. Oleh sebab itu, nyaris tidak ada keprihatinan untuk menjangkau umat Muslim. Kebanyakan orang Kristen tidak tahu apa-apa tentang agama Islam, selain itu juga tidak tertarik dengan mereka dan keselamatan mereka. Pada umumnya hanya ada sedikit semangat atau nyala api spiritual dalam gereja-gereja. Apakah ada masalah rohaniah yang lebih mendalam di dalam gereja itu sendiri yang terletak pada akarnya? Jika kita mempertimbangkan hubungan antara Islam dengan Kekristenan dalam sejarah, kita ingat bahwa hanya tiga ratus tahun setelah Syahadat Nikea ditetapkan dalam gereja (yang memprokla- mirkan Allah terdiri dari tiga pribadi alih-alih satu), Islam tampil ke atas pentas sejarah dunia. Sekali lagi Islam memproklamirkan monoteisme radikal yang telah diproklamirkan dalam Alkitab Ibrani. Sejak saat itu dan seterusnya, Kekristenan yang telah tersebar luas dengan cepat ke segala penjuru dunia selama tiga abad pertama, sekarang terdorong mundur ketika berhadapan dengan kekuatan- kekuatan Islam monoteistik. Adakah pesan rohaniah untuk kita di sini? Jika ada, dapatkah kita melihatnya? Saya mulai sadar bahwa saya perlu menilai kembali apakah kita orang Kristen sungguh-sungguh adalah orang monoteis. Apakah kita benar-benar telah setia kepada wahyu Alkitabiah? Banyaknya buku-buku yang dikarang oleh para teolog Kristen yang berusaha untuk menerangkan dan membenarkan “monoteisme Kristiani” menandakan adanya persoalan: Mengapa begitu banyak upaya dibutuhkan untuk menerangkan atau membenarkan “monoteisme” macam ini? Pada saat saya sedang memikirkan kembali pertanyaan “monoteisme Kristiani” ini saya membaca ulang sebuah monograf akademis yang saya miliki. Monograf ini adalah koleksi esai para

Pendahuluan

47

teolog trinitarian baik yang Protestan maupun Katolik mengenai monoteisme. Saya segera melihat bahwa para penulis tersebut memiliki satu persamaan: mereka jelas sekali terlihat tidak nyaman dengan monoteisme; beberapa diantaranya bahkan mengkritik secara terbuka. Ketika saya memeriksa pemikiran saya sendiri, saya pun meng- insafi bahwa trinitarianisme yang dianuti saya pada dasarnya tidak kompatibel dengan monoteisme Alkitabiah. Maka saya merasa perlu memeriksa kembali perkara ini. Bila kita mempercayai tiga pribadi yang terpisah, berbeda dan setara satu dengan yang lain, yang masing-masing adalah Allah sepenuhnya, yang bersama-sama membentuk “Ke-Allahan” (Godhead), bagaimana mungkin kita masih dapat berbicara tentang iman pada “Allah yang secara radikal monoteistik” (Yahweh) yang dinyatakan dalam Alkitab Ibrani— kecuali jika kita menggunakan istilah “Allah yang secara radikal monoteistik” dengan arti yang berbeda dari arti yang ditemukan dalam Alkitab? (Istilah “Allah yang secara radikal monoteistik” dipinjam dari artikelnya Profesor David Tracy dari Chicago dalam bukunya Christianity in Jewish Terms, 2000, Westview Press, hlm.82- 83; buku ini terdiri dari tulisan para sarjana Yahudi dan Kristen.) Sampai saat itu dengan penuh keyakinan saya percaya bahwa saya mampu mempertahankan trinitarianisme berdasarkan teks-teks Perjanjian Baru yang begitu saya kenal baik. Namun, pertanyaan yang lebih mendesak sekarang adalah: Bagaimanakah caranya teks- teks ini diterangkan kepada umat Muslim yang tulus ingin mengenal Isa (sebutan mereka untuk Yesus) dan yang bahkan bersedia membaca Injil, yang telah disahkan oleh Al-Qur’an? Yang mengejutkan saya adalah: sekali saya mulai menyisihkan prasangka serta pra-konsepsi dan menilai kembali setiap teks guna melihat apa yang sesungguhnya dikatakan di situ, dan bukan dengan interpretasi kita sebagai seorang trinitarian, pesan yang muncul dari teks itu ternyata tidak sama dengan perkiraan saya. Hal ini terutamanya

48

The Only True God

benar untuk Yohanes 1:1. Oleh karena trinitarianisme saya yang tertancap dalam, proses ini berakhir dengan pergumulan panjang (yang disertai kerja sangat keras) untuk mencari kebenaran pesan Alkitabiah. Beberapa dari hasil upaya itu tertuang dalam buku ini. Biarlah setiap pembaca menilainya sendiri dengan seksama, dan kiranya Allah mengaruniakan terang-Nya kepada kita, yang tanpanya kita tidak dapat melihat. Ketika saya pertama-tama menghadapi tantangan menilai kembali trinitarianisme dalam terang Alkitab, dan kemudian membagikan terang itu kepada siapa saja yang sudi menerimanya, saya pikir saya seorang diri mengambil pendirian ini. Namun, ketika saya sedang mempersiapkan penerbitan naskah ini, saya terkejut ketika secara kebetulan menemukan karya teolog terkenal Hans Küng, dan mendapati bila ia sudah terlebih dahulu menyatakan bahwa doktrin Trinitas itu “tidak alkitabiah” dalam karyanya yang berjudul Christianity: Essence, History, and Future, yang diterbitkan pada tahun 1994. Sekarang saya tahu bahwa ia bukan satu-satunya teolog dogmatis Katolik terkemuka yang membuat penegasan ini. Teolog sistematis K-J Kuschel, dalam kajian mendalam berjudul Born Before All Time? The Dispute over Christ’s Origin yang diterbitkan pada tahun 1992, telah menyatakan hal yang sama. Tentu saja, dengan ditemukannya dukungan yang tidak diduga, terutamanya dari sarjana yang memiliki kualitas dan keberanian yang luar biasa ini, sangatlah membesarkan hati. Dan meskipun pengerjaan naskah saat itu sudah hampir rampung, saya mendapatkan buku-buku tersebut tepat pada waktunya sehingga masih sempat menyisipkan sejumlah kutipan dari buku-buku mereka ke dalam buku ini. Mengenai Trinitas, misalnya, dalam satu bagian teks yang berjudul “Tidak ada doktrin Trinitas dalam Perjanjian Baru”, Prof. Küng dengan tegas menyatakan “Walaupun memang benar di seluruh Perjanjian Baru ada kepercayaan pada Allah sang Bapa, pada

Pendahuluan

49

Yesus sang Anak dan Roh Kudus Allah, tetapi tidak terdapat doktrin tentang satu Allah dalam tiga pribadi (wujud), tidak ada doktrin tentang ‘Allah Tritunggal’, ‘Trinitas’.” (Christianity, hlm.95)

Rintangan-rintangan yang menghadapi kita ketika mempertimbangkan Monoteisme Alkitabiah

(1) Perlunya membereskan setumpukan prakonsepsi yang disebab- kan oleh indoktrinasi: Misalnya, kita yang berbahasa Inggris berbicara tentang Roh dengan memakai kata ganti “he”, karena ketika kita membaca Perjanjian Baru kita mendapati Roh disebut seperti itu. Kebanyakan orang Kristen, karena tidak mengenal bahasa Yunani, tidak mengetahui bahwa kata untuk Roh, pneuma, adalah kata yang berjenis netral, dan oleh sebab itu harus diterjemahkan dengan kata ganti “it”. Bahkan setelah mempelajari bahasa Yunani pun kita masih tetap berbicara tentang Roh sebagai “he” karena menurut doktrin trinitaris, Roh itu adalah pribadi yang terpisah dan berbeda, yang setara dengan kedua pribadi lainnya dalam Trinitas, yaitu Bapa dan Anak. Inilah sebabnya mengapa semua terjemahan Inggris menerjemahkan kata pneuma yang berjenis netral sebagai “he”. Hal ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan tatabahasa yang tepat tetapi berkaitan sepenuhnya dengan dogma Kristiani. Hal yang sama juga berlaku untuk gagasan “Trinitas”. Di India terdapat sejumlah besar dewa, tetapi ada tiga dewa yang menduduki tempat teratas. Ketiga dewa itu saling berbagi “hakikat” kedewaan yang sama; kalau tidak mereka tidak akan dianggap dewa sama sekali. Jika orang-orang di India yang menyembah ketiga dewa tertinggi ini disebut orang politeis oleh umat Kristen, lalu dalam hal apa konsep trinitaris Kristiani berbeda dari konsep trinitaris orang India? Apakah hanya karena ketiga pribadi dalam Trinitas Kristiani itu lebih dekat hubungannya satu sama lain, misalnya, antara “Bapa”

50

The Only True God

dan “Anak” (bagaimana dengan “Roh”)? Indoktrinasi memiliki pengaruh kuat yang membuat kita bersikeras bahwa trinitarianisme mewakili monoteisme—sesuatu yang ditolak oleh orang-orang monoteis sejati seperti umat Yahudi dan umat Muslim. Jika dalam diri kita masih tersisa sedikit akal logis kita akan segera melihat bahwa seandainya Allah-Bapa, Allah-Anak, dan Allah-Roh itu ada, maka menurut dogma ini jelas nyata ada tiga Allah. Akan tetapi, tampaknya kita tidak mampu menghadapi fakta gamblang ini secara jujur! Di sini kita melihat daya indoktrinasi dan kemampuannya untuk mengalahkan pemikiran logis. Bagi mereka yang pernah melihat cara kerja indoktrinasi, ini bukanlah hal baru. Hal seperti ini sudah terjadi bahkan dalam sejarah baru-baru ini: idealisme gila seperti Nazisme dan impiannya untuk membangun sebuah utopia seribu tahun, yaitu sebuah cita- cita yang antara lain mewajibkan pembasmian bangsa Yahudi, yang dianggap sebagai sampah kemanusiaan yang menjangkiti ras manusia, atau paling tidak ras Arya. Hanya indoktrinasi melalui propaganda besar-besaran yang dapat membujuk orang berpikir segila itu. Banyak pula orang yang pernah mengalami proses cuci-otak yang diperkenalkan oleh komunisme Stalin. Mereka hanya diperbolehkan berpikir dengan pola yang sudah ditetapkan sebelumnya; yang lain akan mendatangkan hukuman berat, termasuk pengurungan dan hukuman mati. Ketika berbicara tentang membatasi pikiran bebas, gereja sendiri mempunyai sejarah panjang yang gelap. Begitu gereja menetapkan doktrinnya, seperti Syahadat Nikea dan Khalkedon pada abad ke-4, perbedaan pendapat tidak diperbolehkan dan akan diganjar dengan ekskomunikasi, yang sebenarnya berarti mengutuk orang itu ke dalam neraka. Tidak ada yang lain lebih serius dari itu, kematian jasmaniah pun tidak. Penindasan gerejawi macam ini berkembang menjadi penyiksaan badani yang kejam, kerapkali berpuncak pada

Pendahuluan

51

kematian, selama masa Inkuisisi yang dikenakan gereja kepada orang-orang yang telah dikutuk sebagai bidat. Bahkan dewasa ini pun tidak sedikit orang Kristen yang mengira bila mereka memiliki semacam hak ilahi untuk mencap orang Kristen yang tidak sepaham dengan pandangan doktrinal mereka dengan sebutan “sesat”, “sekte” atau, seperti sebelumnya, “bidat”. Dengan demikian, orang-orang yang mengangkat dirinya sebagai pembela iman ini melanjutkan tradisi panjang gereja non-Yahudi dengan konflik-konflik doktrinal yang saling mematikan, yang di mata dunia nyaris bukan demi kemuliaan Allah, belum lagi bagaimana Allah memandang semua ini. Namun terlepas dari tekanan-tekanan luar yang memaksa kita menuruti dogma tertentu adalah kenyataan bahwa kita sendiri telah diyakinkan bahwa doktrin itu benar. Sepanjang kehidupan Kristen kita, kita telah belajar untuk membaca Alkitab dengan cara tertentu yang diyakini sebagai satu-satunya cara yang tepat untuk mema- haminya. Jadi, sekarang Alkitab dipahami hanya dengan cara itu dan, sebaliknya, apa saja yang kita baca semakin meyakinkan kita bahwa cara yang diajarkan kepada kita itu adalah cara yang tepat. Dengan demikian, kita sendiri telah memperkuat iman kepercayaan kita ke dalam doktrin tertentu itu, terutamanya di saat kita sendiri menjadi guru dan mengajarkan doktrin itu kepada orang lain, malah dengan berusaha mencari keterangan yang lebih meyakinkan ketimbang keterangan yang sudah diajarkan kepada kita. Di sini saya berbicara dari pengalaman pribadi sebagai seorang guru. Akibat dari semua ini adalah ketika saya membaca Perjanjian Baru, mau tidak mau saya membaca setiap nas dengan cara yang sudah diajarkan kepada saya, yang selanjutnya diperkuat dengan argumen-argumen baru yang telah saya kembangkan sendiri. Sebagaimana seorang guru yang rajin, saya berusaha membuat perkara trinitaris ini semeyakinkan mungkin. Saya sudah mempelajari dan mengajarkan Alkitab sebagai sebuah kitab

52

The Only True God

trinitaris; jadi bagaimanakah mungkin saya sekarang memahaminya di dalam cahaya monoteisme? Ambillah, sebagai contoh, Filipi 2:6-11, teks terkenal yang selalu digunakan oleh trinitarian untuk membuktikan bahwa Kristus adalah Allah-Anak. Prof. M. Dods merangkum teks itu sebagai berikut: “Kristus digambarkan [dalam nas ini] meninggalkan kemuliaan yang semula dinikmatinya dan kembalinya setelah tugasnya di bumi selesai dan sebagai buah hasil kerja itu” (The Gospel of John, The Expositor’s Greek NT, hlm.841). “Kemuliaan” yang ditinggalkan oleh Kristus itu adalah “kemuliaan ilahi”, sebagaimana dinyatakan dalam kalimat Dods yang berikut. Itulah caranya kita semua memahami teks ini sebagai trinitarian. Tidak pernah terpikirkan oleh kita bahwa interpretasi ini adalah hasil dari terlalu banyak membacakan ke dalam teks apa yang tak tertulis di situ. Kata “kemuliaan”, misalnya, tidak muncul di manapun dalam teks ini (atau bahkan dalam pasal ini) sehubungan dengan Kristus, apalagi istilah “kemuliaan ilahi”. Istilah “kemuliaan ilahi” di sini bukan berarti kemuliaan Allah Bapa (lih. Flp 2:11), melainkan “Allah-Anak”, suatu istilah yang tidak muncul di manapun dalam Kitab Suci. Sekali lagi, kata-kata kunci seperti “meninggalkan” dan “kembali” juga tidak ada dalam nas tersebut, tetapi dibacakan kedalamnya. Untuk mengatakan Yesus “tidak menganggap bahwa menjadi setara dengan Allah adalah sesuatu yang harus dirampas”, seperti dikatakan di Filipi 2:6 (MILT), sama sekali berbeda dari mengatakan “meninggalkan kemuliaan ilahi”- nya. Lagipula, nas di Filipi 2:6-11 itu sama sekali tidak berkata apa-apa tentang Kristus yang “kembali” kepada “kemuliaan yang semula dinikmatinya” (Dods). Yang dikatakan adalah sesuatu yang sangat berbeda, yang seharusnya dapat dilihat sendiri: “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan dia dan mengaruniakan kepadanya nama di atas segala nama” (Flp.2:9). Di sini sama sekali tidak ada gagasan

Pendahuluan

53

kalau ia hanya sekadar menerima kembali apa yang pernah dimilikinya semula; untuk berkata demikian artinya membuat tidak bermakna fakta bahwa ia “sangat ditinggikan” Allah. Dengan demikian rangkuman Dods atas teks Filipi ini benar- benar tidak memuat apapun yang berasal dari teks itu sendiri! Tanpa malu-malu trinitarianisme telah dibacakan ke dalamnya. Namun sebagai orang trinitarian kita tidak memperhatikan ketidaksesuaian yang serius antara penafsiran kita dengan teks-teks Alkitabiah yang semestinya kita tafsirkan. Ini dikarenakan kita tidak tahu cara mem- baca teks selain dengan cara yang telah diajarkan kepada kita. Di sini kita tidak akan mengkaji Filipi 2 dengan rinci, tetapi beberapa poin yang terdapat dalam nas terkenal ini akan dipakai sebagai contoh dari fakta bahwa membaca Alkitab dengan kacamata trinitaris telah menjadi kebiasaan kita. Terlepas dari tugas sulit mempelajari kembali cara membaca Alkitab di dalam cahaya yang baru, yaitu cahaya monoteisme, ada lagi faktor lain yang menurunkan motivasi, yaitu faktor tekanan- tekanan luar seperti dijuluki “bidat”, hal yang menakutkan bagi kebanyakan orang Kristen. Hanya karena menyatakan bahwa Alkitab bersifat monoteistik karena Alkitab adalah firman dari “satu- satunya Allah yang benar” orang lantas bisa dijuluki “bidat” oleh gereja menunjukkan betapa jauhnya gereja telah menyimpang dari firman Allah. Hanya keberanian dari Allah untuk menghadapi kebenaran, sesungguhnya, untuk mencintai kebenaran di atas segala-galanya, yang akan memampukan kita mengenal Dia yang disebut “Allah yang benar”. Dengan demikian, saya akan mengakhiri bagian ini dengan kata-kata dari Yesaya 65:16, “Siapa yang memberkati dirinya sendiri di bumi, akan memberkati dirinya sendiri dalam Allah yang benar, dan siapa yang dilaknat di bumi, akan di ambil sumpah oleh Allah yang benar, karena kesesakan yang dahulu telah dilupakan, dan karena mereka telah disembunyikan dari mata-Ku.” (MILT)

54

The Only True God

(2) Terlepas dari masalah-masalah serius dari indoktrinasi dan tekanan sebaya, ada masalah lain yang tak kalah seriusnya, yakni, kita tidak lagi memiliki gagasan-gagasan dan konsep-konsep yang dikenal baik oleh orang-orang yang pertama membaca PB: konsep- konsep umum seperti Logos atau Memra, Syekinah, dan terutamanya Nama Allah, Yahweh. Semuanya itu telah menjadi asing bagi kebanyakan orang Kristen. Untuk memahami Alkitab, konsep-konsep ini perlu dipelajari dan bagi kebanyakan orang hal itu sendiri merupakan sebuah tantangan. Dewasa ini hanya sedikit orang Kristen yang tahu akan hal semendasar seperti fakta bahwa Nama Allah dalam Alkitab Ibrani adalah “Yahweh”, yang dibacakan “Adonai” oleh orang Yahudi kare- na rasa takzim, yang artinya “Tuan”. Biasanya kata ini diterje- mahkan sebagai “LORD” dalam kebanyakan Alkitab Inggris (dengan pengecualian New Jerusalem Bible, yang memakai “Yahweh”). Nyaris tak satu pun orang Kristen yang tahu berapa kali Nama “Yahweh” muncul dalam Alkitab Ibrani. Mereka terkejut ketika diberitahu bahwa Nama itu muncul 6828 kali. Bila bentuk pendek dari Nama itu juga dihitung (seperti kata Haleluyah, di mana ‘Yah’ mewakili Yahweh dan Haleluyah berarti “Puji Yahweh”), jumlah pemunculan- nya melonjak menjadi sekitar 7000 kali. Tidak ada nama lain yang menyaingi frekuensi pemunculan ini dalam Alkitab. Jelas sekali ini menunjukkan bahwa Yahweh melingkupi baik pusat maupun lingkar Alkitab; pada hakekatnya, Ia adalah “semua dalam semuanya” (1Kor.15:28). Perlu pula dicatat bahwa kata “Yahweh” juga ditemukan dalam PB, terutamanya dalam pelbagai tempat yang mengutip PL. Kata “Adonai” (metonim Yahudi untuk “Yahweh”) muncul 144 kali dalam Complete Jewish Bible. Dalam Salkinson-Ginsburg Hebrew New Testament, “Yahweh” muncul 207 kali.

Pendahuluan

55

Namun, perkaranya jauh melampaui frekuensi statistik Nama Yahweh dalam Alkitab. Keindahan karakter Yahweh yang luar biasa sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab merupakan hal yang teramati oleh sedikit orang Kristen. Keindahan karakter-Nya yang terlihat dari belas kasihan-Nya, hikmat-Nya, dan kuasa-Nya yang dipakai untuk keselamatan manusia, sudah dinyatakan dalam kitab Kejadian, di mana kita dapat mengamati tingkat keintiman yang mengejutkan dari interaksi-Nya dengan Adam dan Hawa, yang tampaknya dikunjungi-Nya secara teratur “pada waktu hari sejuk” (Kej.3:8) di Taman Eden, yang telah Ia “buat” (Kej.2:8) untuk mereka. Setelah mereka berbuat dosa, Ia malah membuatkan pakaian untuk menutupi mereka (Kej.3:7,21). Kasih sayang dan kuasa penyelamatan Yahweh terlihat dalam skala besar ketika Ia menyelamatkan orang Israel dari perbudakan di Mesir. Ia memimpin sekitar 2.000.000 orang Israel melalui padang gurun yang mengerikan hingga tiba di tanah Kanaan, dan menyediakan segala kebutuhan mereka selama 40 tahun. Kita akan mempertimbangkan hal-hal tersebut dengan lebih menyeluruh dalam bab 5; di sini kita hanya menyebutkan bahwa kualitas-kualitas yang sama dari karakter Yahweh dinyatakan lagi dalam Injil melalui kehidupan dan perbuatan Yesus Kristus, yang dalam dirinya seluruh kepenuhan Yahweh diam. (Kol.1:19; 2:9)

(3) Berbicara tentang “Allah” pun malah menjadi persoalan karena bagi orang trinitarian kata itu bisa merujuk kepada salah satu dari ketiga pribadi, atau ketiganya sekaligus. Dengan demikian, Allah itu tiga serangkai, yaitu, sebuah kelompok yang terdiri dari tiga entitas atau pribadi. Kita bahkan tidak bisa berbicara tentang Allah sebagai Bapa tanpa disertai asumsi trinitarian bahwa kita sedang berbicara tentang sepertiga dari Trinitas yang dipanggil “Allah Bapa”, atau bahkan tentang Yesus sebagai “Bapa”, karena banyak orang Kristen juga menyandangkan gelar ini kepadanya. Lantas, bagaimana

56

The Only True God

caranya kita bisa berbicara tentang “satu-satunya Allah yang benar” tanpa disalah-pahami oleh orang trinitarian? Tampaknya jalan keluar satu-satunya ialah dengan memakai nama yang diwahyukan oleh-Nya sendiri: “Yahweh”, atau bahkan dengan “Yahweh Allah” (YHWH Elohim), istilah yang muncul 817 kali dalam PL.

Beberapa fakta sejarah yang penting

A dalah fakta sejarah bahwa Syahadat trinitaris Nikea ditetapkan pada tahun 325 M (dan Syahadat Konstantinopel pada tahun

381 M), yaitu sekitar 300 tahun setelah masa Kristus. Ini berarti trinitarianisme menjadi syahadat resmi gereja tiga abad sesudah masa Yesus Kristus. Begitu juga adalah fakta sejarah bahwa Yesus dan para rasulnya semua adalah orang Yahudi, dan bahwa jemaat awal yang didirikan di Yerusalem (dikisahkan dalam kitab Kisah Para Rasul) adalah jemaat Yahudi. Ini berarti jemaat yang paling mula-mula itu semuanya terdiri dari orang-orang monoteis. Para sarjana dengan jujur mengakui “monoteisme PB yang keras (dalam Injil Yohanes, lih. khususnya 17:3)”, meminjam kata-kata H.A.W. Meyer (Critical and Exegetical Handbook to the Gospel of John, hlm.68). Ini berarti ketika kita memahami PB secara monoteistik, atau menjelaskannya dengan cara itu, kita berbuat demikian sesuai dengan ciri sejatinya. Begitulah caranya PB semestinya dimengerti dan diuraikan. Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang Yohanes 1:1 atau bagian lain dari PB dalam pengertian monoteistik, kita sama sekali tidak perlu membenarkan apa-apa, dan tidak ada perkara yang perlu dibela sama sekali. PB bukanlah sebuah dokumen politeistik ataupun trinitaris yang perlu diterangkan secara monoteistik. Jika ini yang kita lakukan maka kita harus membuat pembenaran atas tindakan kita serta membela perkara kita. Namun, kebalikannyalah yang benar.

Pendahuluan

57

Berkenaan dengan PB, trinitarianismelah yang sedang disidangkan:

ia harus menjelaskan mengapa ia telah menginterpretasikan Firman Allah yang monoteistik secara politeistik, sehingga sama sekali memutar-balikkan ciri dasariahnya. Namun apakah umat trinitarian bukan orang monoteis? Sebagai trinitarian kita berargumen bahwa kita adalah orang monoteis, bukan orang politeis, karena kita percaya pada satu Allah dalam tiga pribadi. Kita menutup mata (dan telinga) terhadap fakta yang seharusnya nyata-nyata jelas: Jika Bapa adalah Allah, dan Anak adalah Allah, dan Roh adalah Allah, dan ketiganya setara dan kekal bersama, maka kesimpulan yang tak dapat dipungkiri adalah: ada tiga Allah. Jadi, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa kita masih percaya pada satu Allah? Hanya dengan satu jalan: definisi kata “Allah” harus diganti—dari “Pribadi” menjadi “Hakikat” (atau “Kodrat”) ilahi, yang dibagi bersama oleh ketiga pribadi tersebut. Akan tetapi, fakta sederhananya adalah bahwa Allah dalam Alkitab itu sebenarnya suatu Jatidiri yang sangat personal dan bukan sekadar “hakikat”, tidak peduli sehebat apa hakikat itu. Namun, trinitarianisme telah mengubah konsep Alkitabiah akan Allah dengan secara lancang memperkenalkan politeisme ke dalam gereja dengan berkedok sebagai “monoteisme”. Dengan berbuat demikian mereka telah mengubah makna kata “Allah”.

Pergeseran Halus dari Monoteisme ke Triteisme Trinitaris

Kita sudah memperhatikan fakta sejarah bahwa sejak masa Kristus hingga ke masa Syahadat Nikea terdapat selang waktu 300 tahun lamanya. Selama tiga abad itu gereja mengalami perubahan funda- mental yang lambat tetapi pasti, yaitu perpindahan dari monoteisme ke politeisme. Alasan historis bagi perubahan ini tidak sulit dipahami. Ketika jemaat awal, dengan kuasa Roh Allah, memproklamirkan Injil yang monoteistik secara dinamis ke seluruh

58

The Only True God

dunia Yunani-Romawi yang politeistik dan banyak orang datang kepada Tuhan, banyak orang beriman non-Yahudi yang datang ke gereja tidak sepenuhnya menanggalkan cara berpikir mereka yang politeistis. Dengan berkembangnya jemaat di seluruh dunia, orang non-Yahudi mulai menguasai gereja, hingga akhirnya orang Yahudi hanya menjadi kaum minoritas di kebanyakan gereja di luar Palestina. Menjelang paro abad ke-2, ketika Kekristenan berpisah dengan Yudaisme, perpisahan dengan monoteisme Alkitabiah menjadi kenyataan dalam faktanya jika bukan dalam namanya. Menjelang awal abad ke-3 M sulit menemukan satu saja nama orang Yahudi di antara para pemimpin gereja daerah (waktu itu disebut “uskup”). Gereja sekarang kokoh berada di bawah kepemimpinan orang-orang non-Yahudi. Para pemimpin ini telah bertumbuh dalam lingkungan agama dan budaya di mana terdapat “banyak ilah dan banyak tuhan” (1Kor.8:5), dan “ilah-ilah” serta “tuhan-tuhan” agama orang Yunani dan Romawi pada dasarnya adalah manusia-manusia yang diagungkan oleh orang banyak sebagai pahlawan. “Jadi, jiwa-jiwa yang lebih baik akan melewati masa peralihan dari manusia menjadi pahlawan dan dari pahlawan menjadi setengah dewa; dan dari setengah dewa, beberapa di antaranya, setelah jangka pemurnian yang panjang, akan sepenuhnya saling berbagi dalam keilahan” (Plutarch [c. 46-120 M], dikutip dalam Greek-English Lexicon, BDAG, θεότης). Aleksander Agung dan beberapa kaisar Romawi dihormati sebagai ilah. 2

2 Dalam kenyataannya, sebagaimana dikenal luas, sebagian orang Romawi juga tidak keberatan memasukkan Yesus sebagai satu ilah di antara banyak ilah di kuil Romawi. Hal yang membuat mereka marah ialah penolakan orang Kristen mula-mula untuk mengakui kaisar sebagai ilah. Hal ini berakibat kepada beberapa peristiwa penganiayaan terhadap orang Kristen, karena penolakan mereka untuk menyembah kaisar dianggap sebagai bukti ketidaksetiaan kepada pemerintahan Romawi. Namun, di pihak mereka, orang Kristen sudah tentu, tidak terlalu merasa senang dengan sebagian orang

Pendahuluan

59

Apapun alasan-alasan lain yang menyebabkan gereja secara berangsur menyimpang dari monoteisme (bdk. Jews and Christians:

the parting of the ways AD 70 to 135, ed. James D.G. Dunn), dengan diresmikannya Syahadat Nikea dan Syahadat Konstantinopel tiga abad sesudah masa Kristus, jelaslah bahwa Kristus sekarang dinyata- kan sebagai Allah, setara dan kekal bersama dengan dua pribadi lain dalam Ke-Allahan (Godhead). Allah bukan lagi satu Jatidiri yang personal tetapi sebuah kelompok yang terdiri dari tiga pribadi yang sama-sama setara. Ini berarti makna kata “Allah” telah berubah dari satu Pribadi ilahi menjadi tiga pribadi ilahi yang berbagi satu “hakikat” ilahi (Latin, substantia; Yunani: hupostasis; juga, ousia 3 ). Oleh sebab itu, proklamasi Alkitabiah yang fundamental untuk iman Alkitabiah baik dalam PL maupun PB, yang diungkapkan dengan jelas dalam kata-kata: “Dengarlah hai Israel, TUHAN (Yahweh) Allah kita, TUHAN (Yahweh) itu Esa” (Ul.6:4; Mrk.12:29) pada hakikatnya telah diubah menjadi: “Dengarlah, hai Gereja, Tuhan Allahmu itu TIGA.” Dengan adanya perubahan ini maka seluruh ciri dari Monoteisme Alkitabiah, yang menyatakan satu Allah yang personal, berubah menjadi suatu “monoteisme” yang mana “Allah” bukan lagi satu pribadi melainkan suatu “hakikat” yang dibagi bersama oleh tiga pribadi.

Roma yang tidak keberatan memuliakan Yesus sebagai ilah di samping ilah- ilah mereka yang lain. Dan jika para pemuja berhala saja rela mengakui keagungan Yesus dengan memberikannya tempat di antara ilah-ilah mereka, mengapa orang Kristen (non-Yahudi) tidak rela memuliakan dia dengan cara yang sama, yaitu, sebagai Allah? Hal ini membantu membuka jalan untuk trinitarianisme. 3 Hupostasis dan ousia pada mulanya adalah sinonim, kata yang pertama Stoa dan yang terakhir Platonis, yang artinya, eksistensi nyata atau esensi, dari suatu benda.” J.N.D. Kelly, Early Christian Doctrines, hlm.129.

60

The Only True God

Sejak permulaan abad ke-3, Origenes, “bapa” terkemuka Gereja Yunani dan guru di sekolah katekismus di Aleksandria, sudah mendeklarasikan, “Kami tidak takut berbicara tentang dua Allah

dalam satu pengertian, dan satu Allah dalam pengertian lain” (J.N.D. Kelly, Early Christian Doctrines, hlm.129). “Kami tidak takut

tentang dua Allah”: Betapa beraninya, atau mestikah kita

berkata, betapa lancangnya?! Pintu air politeisme (dibalik samaran

selubung tipis “monoteisme trinitaris”) sekarang telah terbuka lebar. Dalam kurun waktu kurang dari 200 tahun semenjak masa Kristus, gereja non-Yahudi dengan berani telah menentang monoteisme Alkitabiah, dan memulai tradisi panjang menggunakan gaya bahasa

ambigu (bermakna-ganda, taksa): “dalam satu pengertian

pengertian lain”. Pengertian yang mana? Allah orang Kristen non- Yahudi, dari segi pribadi, ada dua (atau tiga, resmi sejak 381 M); dari

segi hakikat: satu. Namun, biarlah dipahami dengan jelas bahwa sejauh menyangkut penyingkapan Alkitabiah, entah dalam Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, tidak ada dua Allah (atau tiga) dalam pengertian apa pun. Orang-orang yang peduli dengan kebenaran Alkitabiah akan menolak gaya bicara trinitaris yang ambigu, karena merasakan adanya kebohongan di situ. Hanya ada satu Allah yang benar, dan Nama-Nya adalah Yahweh! Siapa saja yang mengabarkan Allah lain di samping Dia pasti harus mempertangggung-jawabkan perbuatannya pada Hari itu. Meskipun sengaja mengubah cara kata “Allah” didefinisikan dan difahami merupakan perkara yang teramat serius, keseriusan perkara itu tidak berakhir di situ. Dalam kenyataannya, deklarasi trinitaris itu sama sekali bertolak-belakang dengan pernyataan ilahi bahwa “Yahweh (TUHAN) itu ESA”, Ul.6:4. Yahweh adalah satu Jatidiri, satu Entitas, satu Pribadi, sebagaimana jelas terlihat dalam Alkitab Ibrani; dan dalam Perjanjian Baru pun tidak ada bedanya, sebagaimana akan kita lihat. Oleh sebab itu, makna keesaan Allah

dalam

berbicara

Pendahuluan

61

dalam Alkitab bukanlah sesuatu yang bisa ditawar-tawar atau dikompromikan. Makna keesaan Yahweh didefinisikan dengan kejelasan mutlak, dan tidak menerima kompromi yang mengusulkan bahwa keesaan- Nya adalah “kesatuan di dalam keragaman” yang membuka kemungkinan mencakup satu atau dua pribadi lain di samping Yahweh. Kitab Suci dengan tegas menyatakan: “Tuhanlah Allah; tidak ada yang lain kecuali Dia” (Ul.4:35). Atau, dengan kata-kata Yahweh sendiri, “tidak ada Allah selain dari pada-Ku, Allah yang adil dan Juruselamat; tidak ada yang lain kecuali Aku. Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah, dan tidak ada yang lain” (Yes.45:21,22). Dalam dua ayat ini saja “tidak ada yang lain” diulang sebanyak tiga kali. Frasa itu diulang berkali-kali lagi di bagian lain Kitab Suci; kita akan memiliki kesempatan untuk kembali kepada nas-nas tersebut dalam kajian ini. Paling khususnya, deklarasi trinitaris ini mentah-mentah membantah penegasan Yesus sendiri atas Ulangan 6:4 bahwa Yahweh itu esa. Pada kesempatan ketika seorang ahli Taurat bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?” Yesus menjawab, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu Esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu.” (Mrk.12:28-30) Siapa yang diacu sebagai “Tuhan Allahmu” benar- benar jelas; dalam Perjanjian Lama frasa yang muncul lebih dari 400 kali itu merupakan bentuk rujukan standar kepada Yahweh. Akan tetapi, kelompok pemimpin gereja di Nikea itu, yang agaknya mengakui Yesus sebagai “Tu[h]an”, tidak takut (seperti dinyatakan oleh Origenes sebelumnya) menentang tuan mereka dan menuntut gereja harus percaya bahwa Allah itu lebih dari satu pribadi. Ini mengingatkan kita akan kata-kata Yesus, “Dan mengapa

62

The Only True God

kamu berseru kepadaku: Tu[h]an, Tu[h]an, padahal kamu tidak melakukan apa yang aku katakan?” (Luk.6:46) Bila sang guru mengajarkan bahwa Allah itu esa, bagaimanakah semestinya tang- gapan murid-muridnya yang sejati? Dan jika kita tidak melakukan apa yang ia katakan, tidakkah kita akan mendengar ia berkata, “Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapanku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Mat.7:23). Atau, apakah kita mengira ia akan merasa senang karena kita telah mengangkatnya hingga setara dengan Yahweh, sama seperti orang-orang yang ingin memahkotai dia dan menjadikannya raja dengan paksa di Yohanes 6:15: “Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa dia dengan paksa untuk menjadikan dia raja, ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri”? Sebagai umat trinitarian kita meninggikan Yesus hingga setara dengan Yahweh walaupun ia sendiri tidak sekalipun pernah meng- klaim sebagai Allah, seperti dinyatakan di Filipi 2:6 bahwa ia “tidak menganggap bahwa menjadi setara dengan Allah adalah sesuatu yang harus dirampas.” (MILT) Menariknya, kata yang diterjemahkan sebagai “dirampas” dalam ayat ini merupakan kata yang sama yang diterjemahkan sebagai “membawa dengan paksa” (harpazo) di Yohanes 6:15 yang dikutip di atas. Yesus tidak pernah berusaha merebut dengan paksa, atau merampas, kesetaraan dengan Allah. Kita akan kembali ke Filipi 2 dalam kajian ini. Trinitarianisme juga bersikeras menjadikan Roh Tuhan (Yahweh) pribadi yang terpisah dan berbeda dari Yahweh. Siapapun yang mengenal Perjanjian Lama dengan baik akan mendapati hal ini agak aneh. Umat Yahudi pasti bertanya-tanya apakah umat Kristen sung- guh-sungguh memahami Alkitab atau tidak. Untuk memperdebatkan bahwa Roh Yahweh, adalah pribadi yang berbeda dan terpisah dari-Nya adalah sama seperti memperdebatkan bahwa “roh manusia” (1Kor.2:11; Ams.20:27; Pkh.3:21; Za.12:1) adalah

Pendahuluan

63

individu yang terpisah dan berbeda yang hidup di dalam dia, atau hidup dengan dia sebagai pribadi yang lain! Sayangnya, ini bisa dipandang benar untuk orang yang menderita penyakit skizofrenia, tetapi untuk mengemukakan bila demikian halnya dengan Allah adalah kegilaan, atau lebih parahnya, penghujatan. “Allah itu Roh” (Yoh.4:24) sebagaimana dikatakan Yesus, akan tetapi, tanpa ragu kita menyatakan bahwa Roh Allah, Roh Tuhan, Roh Kudus itu sebenarnya adalah pribadi yang berbeda dari-Nya. Malangnya, sebagai orang trinitarian, kita telah begitu terbiasa dengan pengajaran seperti ini sehingga tidak lagi mampu melihat kekonyolannya (absurdity). Kita meyakinkan diri sendiri bahwa kita tentu tidak sebodoh itu. Masalahnya bukan kebodohan melainkan kebutaan—dan kita mengira hanya orang Yahudi sajalah yang mengalami kebutaan (Ef.4:18; Rm.11:25, khususnya berkenaan dengan Yesus sebagai Mesias)! Oleh karena Alkitab itu nyata-nyata bersifat monoteistik (sehingga sebuah uraian secara monoteistik atasnya tidak memerlukan pembenaran apapun), maka berikut ini adalah sebuah upaya untuk mempelajari bagaimana memahami Kitab Suci dengan semestinya: secara monoteistik. Ini bukan tugas yang mudah untuk seorang yang telah berkecimpung dalam trinitarianisme seperti diri saya. Akan tetapi, hal ini harus dilaksanakan oleh anugerah Allah, demi menangkap kebenaran-Nya. Sudah saatnya kita “menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN (Yahweh)” (Rat.3:40).

“Monoteisme” Trinitaris

“M onoteisme” trinitaris hanya dapat memenuhi syarat sebagai monoteisme dengan mengubah definisi kata “mono-

teisme”. Ini kurang lebih sama dengan mengatakan kalau malaikat

adalah manusia, dengan mengubah makna kata “manusia” sehingga

64

The Only True God

juga mencakup malaikat. Ini ibarat mengubah peraturan permainan dengan menaruh tiang-tiang gawangnya lebih jauh sehingga kita bisa mencetak angka. Ini tidak bisa diterima oleh mereka, seperti umat Yahudi (dan umat Muslim), yang tahu bahwa argumentasi semacam ini merupakan sebuah penyangkalan akan monoteisme radikal dalam Firman Allah, yang tidak mengenal kompromi. Jadi, bagaimana mungkin trinitarianisme yang mengklaim bahwa Allah itu bukan satu pribadi tetapi tiga pribadi yang sama-sama setara, tetap mengklaim dirinya monoteistik? Jawaban sederhananya adalah dengan mengubah makna kata “monoteisme” sedemikian rupa sehingga satu Allah itu tidak lagi dipahami sebagai satu Pribadi tetapi sebagai satu “hakikat”, hakikat keilahian atau “ke-allahan” (“godhead”). Kamus Encarta mendefinisikan “godhead” dengan “keadaan sebagai Allah atau ilah; kodrat atau esensi sebagai yang ilahi; juga disebut ‘kualitas ilahi’”. Setiap ilah dalam politeisme adalah ilah karena mereka saling berbagi “keadaan sebagai ilah”, yakni, “hakikat” kualitas ilahi. Jika tidak demikian, bagaimana lagi mereka bisa menjadi ilah? Begitu juga, kita adalah manusia karena kita saling berbagi kualitas manusiawi; kita berbagi “hakikat” kemanusiaan. Jika tidak demikian, bagaimana lagi kita bisa menjadi manusia? Jadi, apa yang telah diperbuat oleh trinitarianisme adalah mengu- rangi arti kata “Allah” dari sebuah rujukan kepada TUHAN Allah dalam Alkitab menjadi suatu kelompok yang terdiri dari tiga tokoh yang saling berbagi “hakikat” ilahi, agak seperti tiga orang manusia yang saling berbagi “hakikat” manusiawi (“keadaan menjadi manusia”, Encarta). Kata “Allah” dikurangi artinya menjadi suatu “keberadaan diri”, bukan suatu pribadi. Allah yang dinyatakan dalam Alkitab telah dikurangi (de-personalized) menjadi “hakikat” ilahi untuk membuka jalan bagi dua pribadi ilahi lain untuk berbagi dalam “satu hakikat” itu. Satu hakikat, atau satu kodrat inilah yang dimaksud dengan “monoteisme” trinitaris.

Pendahuluan

65

Entah sang trinitarian menyadarinya atau tidak (besar kemungkinan tidak), ketika ia berdoa kepada “Allah” ia tidak berdoa kepada suatu pribadi khusus tetapi kepada suatu “keberadaan diri” yang dipercayainya terdiri dari tiga pribadi. Tidak heran kalau tidak banyak orang yang berdoa kepada Bapa, dan kebanyakannya barangkali berdoa kepada Yesus (seperti yang saya lakukan dahulu), dan banyak juga yang berdoa kepada Roh Kudus (seperti yang dilakukan oleh kaum karismatik). Lantas, dari mana datangnya konsep monoteisme yang telah disimpangkan ini? Para trinitarian sudah tentu mengklaim konsep itu berasal dari Perjanjian Baru. Yohanes 1:1 merupakan ayat tunggal paling penting yang mereka gunakan untuk membela perkara mereka. Itu sebabnya kita akan mengkaji ayat ini dengan sangat rinci. Jika ayat ini tidak bisa dipergunakan untuk mengesahkan trinitarianisme, maka perkara dengan dogma ini akan runtuh. Ayat-ayat lain dalam PB yang diandalkan oleh trinitarianisme juga akan kita selidiki. Ayat-ayat tersebut termasuk satu bagian kecil dari Filipi 2, sebagian dari Kolose 1, beberapa ayat di Ibrani 1 dan kitab Wahyu. Namun, penafsiran trinitaris atas nas- nas ini sangat bergantung pada penafsiran atas Yohanes 1:1, jadi sesudah makna ayat ini menjadi jelas, makna dari nas-nas lainnya pun akan relatif lebih mudah dimengerti. Karya ini memiliki tujuan yang jauh lebih penting daripada sekadar menggugurkan dogma trinitaris. Pengguguran trinitarian- isme itu akan membersihkan jalan kepada pewartaan sebuah pewahyuan indah yang telah disamarkan oleh doktrin trinitaris, yakni, satu-satunya Allah yang benar itu—yang menyatakan Dirinya dengan Nama Yahweh (YHWH), “Aku adalah Aku” (Kel.3:14), yang melalui nabi agung Yesaya menyatakan bahwa Ia akan datang kepada umat-Nya (Yes.40), dan yang melalui nabi PL terakhir Maleakhi, menyatakan bahwa Ia dengan tiba-tiba (tanpa terduga) akan datang ke bait-Nya—Ia memang telah datang di dalam pribadi

66

The Only True God

Yesus Kristus sebagaimana dinyatakan dalam kitab-kitab Injil. Penyataan yang mengejutkan inilah yang telah disamarkan oleh trinitarianisme. Pribadi yang pertama (dan satu-satunya) itulah yang telah datang ke dunia dalam Kristus, bukan “pribadi kedua” sebagaimana yang dibayangkan. Kita akan melihat semua ini dengan lebih lengkap setelah penafsiran trinitaris atas Kitab Suci dievaluasi.

Mengapa orang Kristen percaya adanya Trinitas?

Seandainya dalam Alkitab terdapat satu ayat saja yang dengan gamblang dan eksplisit menyatakan “Yesus Kristus adalah Allah” maka seluruh masalah ini akan langsung diselesaikan, dan diskusi lebih lanjut tidak lagi dibutuhkan. Namun, faktanya adalah: tidak ada pernyataan semacam itu dalam Kitab Suci. Kalau begitu, mengapa kita tidak tutup saja perkara ini oleh karena tidak cukup bukti? Yah, hal tersebut tidak sesederhana itu; tradisi gerejawi yang panjang dan rumit berperan di balik semua ini. Mengapa umat Katolik Roma percaya pada Trinitas? Mereka mempercayainya karena itu adalah doktrin resmi Gereja Katolik. Bagi umat Katolik Roma gereja adalah suara Allah di muka bumi. Jika Anda berharap untuk diselamatkan, Anda harus menelan mentah-mentah apa yang diajarkan oleh gereja. Bahwa pemimpin-pemimpin gereja Katolik adalah wakil-wakil Allah di muka bumi, dan bahwa mereka berkuasa menjalankan apa yang mereka anggap sebagai kehendak Allah dalam segala hal yang berkenaan dengan iman dalam gereja, sudah berlangsung lama dalam tradisi dan sejarah gerejawi. Oleh sebab itu, sekelompok pemimpin gereja (disebut “uskup”) berkumpul di Nikea pada tahun 325 M yang didanai oleh kaisar Roma Konstantinus (yang mengklaim sudah menjadi seorang Kristen tetapi baru dibaptis menjelang kematiannya). Konstantinus memberikan kepada mereka tugas yang mengandung signifikansi historis terbesar, yaitu

Pendahuluan

67

membuat ketetapan atas pandangan-pandangan tentang Yesus Kristus yang berbeda-beda dan saling bertentangan itu serta menentukan bagaimana relasinya dengan Allah, yang menjadi topik hangat dalam gereja saat itu dan mengancam kesatuan dan ketentraman yang diharapkan oleh Konstantinus dalam kekaisarannya. Akhirnya para pemimpin gereja (yang sempat saling bersitegang) di Nikea membuat ketetapan yang kita kenal sebagai Syahadat Nikea yang mendeklarasikan bahwa keilahian (deity) Yesus wajib dipercayai oleh umat Kristen. Atas dasar apa deklarasi ini dibuat? Inilah pertanyaan penting yang perlu ditanyakan. Apakah didasari oleh Alkitab, atau paling tidak oleh PB? Tidak, syahadat ini tidak mengandung satu rujukan pun kepada Alkitab. Jadi, berdasarkan wewenang dari siapa? Dari para pemimpin gereja ini, yang menganggap diri mereka bertindak demi Nama Allah untuk gereja- Nya. Wewenang gereja semacam ini baru pertama kali ditantang beberapa ratus tahun yang lalu (pada abad ke-16) oleh Martin Luther, yang sendiri seorang Katolik Roma, yang juga seorang biarawan Agustinian. Betapa lancangnya seorang biarawan rendahan bangkit melawan kekuatan lembaga Katolik yang besar! Luther berani melakukan hal ini atas dasar Perjanjian Baru yang telah ia pelajari dengan tekun. Ketika tengah membaca surat-surat Paulus matanya menangkap kata-kata “dibenarkan oleh iman”. Ia menyadari bahwa hal ini bertentangan dengan ajaran gereja Katolik pada masa itu yang mengajarkan orang untuk mencari “pahala” demi memperoleh pengampunan dosa. Berdasarkan kebenaran ini, yaitu dibenarkan oleh iman, Luther mengambil pendirian yang berani melawan seluruh kekuatan gereja; dan dari pendirian yang berani ini lahirlah Reformasi. Meskipun frasa “dibenarkan oleh iman” hanya muncul beberapa kali dalam surat-surat Paulus (Rm.3:28; 5:1; Gal.2:16; 3:24), gagasan

68

The Only True God

yang dikemukakan oleh kata-kata itu mempunyai dasar yang lebih luas dalam ajaran Paulus tentang keselamatan, dan juga dalam ajaran Perjanjian Baru. Pendirian Luther yang berani ini mengandung signifikansi yang amat besar, yaitu sejak saat itu ajaran-ajaran gereja bisa ditantang berdasarkan Kitab Suci, yaitu firman Allah. Gereja dan para pemimpinnya tidak lagi bisa menyombongkan diri dengan wewenang mengajarkan segala hal yang berkenaan dengan iman tanpa perlu mempertanggung- jawabkannya dengan firman Allah. Sayangnya, situasi di Gereja Katolik sampai saat ini tetap belum berubah, karena wewenang gereja (yaitu para pemimpin dan tradisinya) masih lebih diutamakan daripada Kitab Suci. Seluruh perhatian Luther telah tersita dengan perkara “dibenarkan oleh iman”. Mengingat komitmennya kepada Kitab Suci sebagai wewenang tertinggi untuk gereja, kita hanya bisa bertanya-tanya apa yang kira-kira muncul dalam benaknya atas pertanyaan yang mengawali bagian ini—“Mengapa orang Kristen percaya pada Trinitas”—bila tidak di manapun dalam Kitab Suci frasa “Yesus adalah Allah” dapat ditemukan? Tanpa pernyataan-pernyataan eksplisit yang menyatakan Yesus sebagai Allah, gereja hanya dapat mengggunakan ayat-ayat yang tampaknya menyiratkan keilahian Yesus untuk merangkai doktrin Trinitas. Di atas dasar yang rapuh inilah doktrin tersebut dibangun, dan ayat-ayat inilah yang perlu kita selidiki dalam kajian ini. Lagipula, apa yang biasanya tidak diketahui oleh rata-rata orang Kristen adalah bahwa tidak ada kekompakan di antara para sarjana mengenai makna dari banyak ayat kunci yang digunakan oleh trinitarianisme. Bahasan-bahasan intelektual ini sering ditemukan dalam buku-buku pintar dan artikel-artikel yang pada umumnya tidak terjangkau dan/atau sebagian besarnya tidak dipahami oleh orang awam. Kebanyakan orang Kristen menganggap bila perkara trinitarianisme ini sudah “siap dipakai”, sudah dituntaskan sejak

Pendahuluan

69

dahulu kala dan tidak dapat diragukan lagi. Dengan demikian, mereka akan terkejut bila membaca pernyataan berikut dalam Greek-English Lexicon oleh Thayer: “Entah Kristus disebut Allah harus ditentukan dari Yoh.1:1; 20:28; 1Yoh.5:20; Rm.9:5; Tit.2:13; Ibr.1:8 dyb., dst.; masalah ini masih diperdebatkan di antara para teolog.” (Greek-English Lexicon, θεός, sec.2). Namun, jika frasa “dibenarkan oleh iman” ini tertera secara eksplisit dalam surat Roma dan Galatia sebagaimana dilihat oleh Luther, maka pernyataan “TUHAN itu esa” tentunya tidak kurang eksplisit, dan frasa itu bergema di seluruh Perjanjian Lama dan Baru. Yesus menyebutnya perintah yang “terutama” atau “yang paling penting” (Mrk.12:29).

Kesimpulannya: Perbedaan dasariah antara trinitarianisme dan monoteisme

S ambil kita melanjutkan kajian Kitab Suci dalam buku ini, penting sekali untuk dipahami dengan baik bahwa apa yang

sedang kita lakukan di sini bukan semata-mata sebuah kajian tentang penafsiran-penafsiran yang berbeda-beda tetapi tentang perbedaan dasariah dalam cara berpikir di tingkat rohaniah, perbedaan sudut pandang yang total dalam melihat Kitab Suci, dan sesungguhnya, dalam melihat segala sesuatu. Kita bisa memandang segalanya secara monoteistik, yakni dari kebenaran bahwa segala sesuatu berasal dari satu-satunya Allah yang benar dan kembali kepada-Nya sedemikian rupa Ia menjadi titik pusat dan lingkar dari segala yang ada—sehingga Ia menjadi titik fokus kehidupan kita; atau, kita memandang segalanya secara politeistik, yakni, dari sudut pandang bahwa ada lebih dari satu Allah atau lebih dari satu pribadi yang adalah Allah. Lalu pertanyaannya adalah: yang mana satu menjadi fokus kehidupan kita? Oleh karena kita tidak bisa berpegang baik kepada lebih dari satu titik fokus, maka tidak peduli

70

The Only True God

titik fokus mana yang kita pilih, titik fokus itu tidak akan bisa menjadi satu-satunya yang kita pilih, karena itu tidak pernah bisa sesuai dengan monoteisme Alkitabiah. Trinitarianisme berbicara tentang tiga pribadi yang semuanya sama-sama Allah, kemudian mengklaim suatu tempat dalam monoteisme dengan mengubah definisi Allah menjadi “kodrat ilahi”, “hakikat” atau “Ke-Allahan” (“Godhead”) yang dibagi oleh ketiga pribadi itu; yang artinya tentu saja bahwa “Ke-Allahan” ini sama sekali tidak identik dengan satu-satunya Allah yang personal dalam Alkitab. Di mana ada kepercayaan kepada lebih dari satu pribadi sebagai Allah, itulah politeisme menurut definisi. Hal yang perlu kita sadari adalah bahwa pada hakikatnya trinitarianisme adalah iman yang berbeda dari monoteisme Alkitabiah. Jadi di sini kita bukan tengah berurusan dengan masalah penafsiran Alkitabiah yang relatif sederhana, tetapi dengan masalah iman Alkitabiah yang jauh lebih dalam. Dengan kata lain, yang menjadi taruhan di sini adalah iman yang sejati atau palsu, bukan semata-mata penafsiran Alkitab yang benar atau salah. Iman sejati atau palsu, menurut Kitab Suci, adalah perkara hidup atau mati. Jika pengalaman umat Israel dijadikan sebagai titik acuan, maka transisi dari politeisme dan pemberhalaan ke monoteisme bukanlah suatu hal yang mudah. Ini jelas melibatkan apa yang oleh Rasul Paulus disebut “pembaruan pikiran” (Rm.12:1,2). Hal ini bukan sesuatu yang dapat dicapai hanya dengan mengubah cara berpikir di tingkat rasional atau intelektual. Yang harus terjadi adalah sebuah perubahan di tingkat rohaniah, dan ini hanya bisa dilakukan oleh pekerjaan Allah sendiri di dalam diri kita. Kita tahu dari pengalaman betapa sulitnya mengubah sebuah kebiasaan. Sebagai trinitarian kita telah dilatih untuk memahami setiap nas dalam Alkitab dari sudut pandang trinitaris, yaitu satu- satunya sudut pandang yang kita ketahui. Kita sudah terbiasa melihat setiap ayat dari sudut pandang penafsiran trinitaris.

Pendahuluan

71

Sekalipun pada akhirnya kita dapat melihat bahwa penafsiran yang berbeda itu yang lebih tepat, itu sendiri tidak menyelesaikan persoalan yang lebih mendalam akan jenis iman yang memberi ungkapan kepada penafsiran tersebut. Jadi, sekali lagi, persoalannya bukan semata-mata penafsiran mana yang tepat, tetapi yang mana satu iman yang sejati. Dalam bab-bab berikut penafsiran trinitaris atas teks-teks tertentu akan diambil dari karya-karya referensi trinitaris yang berwenang. Kita akan menemukan bahwa penafsiran atas teks-teks itu mau tidak mau dikendalikan oleh iman kepercayaan dari para penulis. Dengan kata lain, bukan Kitab Suci yang mengendalikan kepercayaan atau dogma, tetapi dogma yang mengendalikan penafsiran. Hal ini biasanya dilakukan hampir tanpa disadari (sebagaimana saya ketahui dari pengalaman) oleh karena kepercayaan bahwa hal itu harus dipahami secara demikian, yakni, kita percaya bila ini merupakan satu-satunya cara yang tepat untuk memahaminya. Tentu saja tidak ada niat sama sekali untuk menyesatkan diri sendiri ataupun orang lain; iman kitalah yang menetapkan cara kita memahami segala sesuatu. Oleh sebab itu, pada dasarnya ini adalah persoalan iman.

Bab 1 Monoteisme Yesus Kristus dan Para-Rasul yang Eksplisit
Bab 1
Monoteisme Yesus
Kristus dan Para-Rasul
yang Eksplisit

“Syema” dalam ajaran Yesus: Markus 12:29

Jawab Yesus: “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa.”

D i sini Yesus mengutip Syema (dari kata Ibrani shama, mendengar) dari Ulangan 6:4, yang didaraskan oleh umat

Yahudi setiap hari. Akan tetapi, bagaimanakah kata-kata “Tuhan itu

esa” seharusnya dimengerti?

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

73

Saya

akan

mengutip

diskusi

dari

karya

referensi

Theological

Wordbook of the Old Testament (TWOT) dengan entri דחַ אֶ , (’ehad, satu):

“Sebagian sarjana merasa bahwa, meskipun kata ‘satu’ berbentuk tunggal (’ehad memiliki bentuk jamak, ’ahadim, mis. Kel.12:49; bdk. Bil.15:16), pemakaian kata itu memperbolehkan adanya doktrin Trinitas. Sementara benar bahwa doktrin ini dipertandakan dalam PL, ayat itu berpusat kepada kenyataan bahwa ada satu Allah dan Israel berhutang kesetiaan secara eksklusif kepada dia (Ul.5:9; Ul.6:5). PB pun bersifat monoteistik keras sementara pada saat yang sama mengajarkan keragaman di dalam kesatuan (Yak.2:19;

1Kor.8:5-6).

“Berbagai kesulitan leksikal dan sintaktis dari Ulangan 6:4 dapat dilihat dari banyaknya terjemahan yang diajukan untuk ayat ini dalam NIV. Pilihan ‘the LORD is our God, the LORD alone’ mendapat dukungan baik dari konteks luas kitab itu maupun konteks langsung. Ulangan 6:4 berfungsi sebagai mengantar untuk menyemangati bangsa Israel agar mematuhi perintah untuk “mengasihi (Tuhan)” (ay.5). Gagasan bahwa Tuhan adalah satu-satunya Allah Israel sesuai sekali dengan perintah itu (bdk. Kid.6:8 dyb.). Lagipula, kedua gagasan ini, yakni, hubungan unik antara Tuhan dengan bangsa Israel, dan kewajiban Israel untuk mengasihi dia, merupakan keprihatinan utama dari amanat-amanat Musa dalam kitab itu (bdk. Ul.5:9 dyb.; Ul.7:9; Ul.10:14 dyb., 20 dyb., Ul.13:6; Ul.30:20; Ul.32:12). Akhirnya, Zakharia menggunakan teks tersebut dengan arti berikut ini, dan menerapkannya secara universal sehubungan dengan eskaton: “Maka TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya’ (Za.14:9).”

74

The Only True God

Dalam paragraf pertama dari TWOT yang dikutip di atas, “sebagian sarjana” (tidak semuanya, atau mungkin malah tidak banyak) “merasa” (apakah ini soal perasaan pribadi?) bahwa kata “satu” dalam bentuk tunggal “memperbolehkan adanya doktrin Trinitas berdasarkan keragaman di dalam kesatuan” (disebut dalam paragraf TWOT yang terdahulu). Persoalannya adalah PL sama sekali tidak menyebutkan adanya keragaman apapun di dalam Yahweh. Jadi, atas dasar apakah persisnya perasaan dari “sebagian sarjana” itu? TWOT selanjutnya membuat pernyataan “sementara benar bahwa doktrin ini (yaitu, doktrin Trinitas) dipertandakan dalam PL”, tetapi tak satu ayat pun diberikan sebagai bukti atas pernyataan tersebut. Faktanya, jangankan mempertandakan trinitarianisme dalam PL, menemukan bayang-bayang saja pun sulitnya setengah mati! Saya sendiri sudah berupaya menemukan bayang-bayang tersebut! Para trinitarian telah mencoba menunjuk kepada istilah- istilah seperti Syekinah, memra, dst. yang seringkali muncul dalam sastra Alkitabiah Yahudi, tetapi mengabaikan fakta bahwa istilah- istilah itu bukanlah hypostasis-hypostasis atau pribadi-pribadi dalam sastra tersebut; dengan demikian semuanya ini hanyalah soal membacakan trinitarianisme ke dalam gagasan-gagasan dan nama- nama itu (satu lagi contoh eisegesis). Eisegesis trinitaris jugalah yang harus digunakan jika kita ingin menemukan “keragaman di dalam kesatuan” (yaitu keserbaragaman pribadi di dalam satu Allah) di Yakobus 2:19 dan 1Korintus 8:5-6 (yang dikutip oleh TWOT dalam paragraf pertama), bahkan dengan sambil mengakui “PB pun bersifat monoteistik keras”. Tidaklah mengherankan bila TWOT tidak berusaha menerangkan bagaimana PB bisa dibilang bersifat monoteistik “keras” jikalau ia mengajarkan keserbaragaman pribadi di dalam Ke-Allahan. TWOT menyadari bahwa sebagian besar para pembacanya adalah orang trinitarian yang toh tidak akan meminta keterangan!

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

75

Bagaimana sebenarnya Yakobus 2:19 (“engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja”, εἷς ἐστιν ὁ θεός), yang jelas-jelas sekali menunjuk kepada Ulangan 6:4 (κύριος εἷς ἐστιν), justru bisa digunakan sebagai bukti untuk “keragaman di dalam kesatuan” dalam diskusi Ulangan 6:4 agak sulit untuk dimengerti. Untuk mengharapkan bahwa “satu” bukan berarti “satu” secara harfiah, tetapi sesuatu yang menyerupai “kesatuan”, yang didalamnya bisa terdapat keragaman atau keserbaragaman pribadi, sungguh-sungguh adalah harapan yang sia-sia. Kata “kesatuan” itu sendiri sudah menyiratkan keserbaragaman; jika hanya ada satu negara-bagian (state) saja kita tidak bisa menyebut “United States” (atau Amerika Serikat, yang terdiri dari banyak negara-bagian yang dipersatukan). Lagipula, persoalannya dengan trinitarianisme adalah bahwa kita akan mengalami kesulitan menemukan bahkan satu pertanda dalam PL atas keserbaragaman pribadi di dalam Yahweh Sendiri, karena Ulangan 6:4 berbicara tentang Yahweh (“LORD” dengan huruf kapital dalam kebanyakan terjemahan bahasa Inggris, dan “TUHAN” dalam terjemahan Indonesia); dan jika tidak ada keserbaragaman seperti itu, maka tidak ada gunanya berbicara tentang “kesatuan”. TWOT juga mengutip 1Korintus 8:6 (ἀλλ’ ἡμῖν εἷς θεὸς ὁ πατὴρ, ‘namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa’) yang, sama seperti Yakobus 2:19, menggemakan Ulangan 6:4 dan, oleh sebab itu, tidak bisa dikutip secara sah sebagai bukti untuk mendukung apa yang disebut “mengajarkan keragaman di dalam kesatuan” (TWOT paragraf pertama), atau akan menjadi debat kusir. Di sisi lain, TWOT tidak memberi tahu pembacanya bahwa pesan dari Ulangan 6:4 juga digemakan dalam ayat-ayat PB yang lain, misalnya, Galatia 3:20 (ὁ δὲ θεὸς εἷς ἐστιν, ‘sedangkan Allah adalah satu’), Roma 3:30 (εἴπερ εἷς ὁ θεὸς, ‘Allah memang satu’), dan 1Timotius 2:5 (εἷς γὰρ θεός, ‘karena Allah itu esa’). Namun ayat-

76

The Only True God

ayat ini memang menegaskan pernyataan yang diakui TWOT bahwa PB itu bersifat “monoteistik keras”. Untuk bersikap adil terhadap TWOT, setelah menyatakan bahwa doktrin Trinitas dipertandakan dalam PL, TWOT mengenyam- pingkan doktrin itu dengan kata “sementara”, yang menunjukkan bahwa doktrin itu tidak ada kaitannya dengan arti Ulangan 6:4, dan menyatakan sebaliknya bahwa “ayat itu berpusat kepada kenyataan bahwa ada satu Allah”. Pernyataan ini selanjutnya dikembangkan dalam paragraf TWOT berikutnya yang memilih terjemahan untuk Ulangan 6:4 yang berbunyi, “the LORD is our God, the LORD alone (TUHAN itu Allah kita, TUHAN sendiri)”. Yaitu, ungkapan “the LORD is one (TUHAN itu satu)” dimengerti sebagai “the LORD alone (TUHAN sendiri)”. “TUHAN sendiri” tentunya adalah terjemahan yang tepat karena “TUHAN itu esa” sudah pasti tidak berarti “satu dari sekian banyak” ataupun, seperti yang telah kita lihat, suatu kesatuan dari keserba- ragaman pribadi, karena memang tidak ada “keragaman” semacam itu yang tersirat dalam PL. “TUHAN sendiri” cocok sekali dengan konteks ayat ini yang intinya adalah bahwa Yahweh, TUHAN, adalah satu-satunya Pribadi yang kepada-Nya “Israel berhutang kesetiaan secara eksklusif” (TWOT paragraf pertama di atas yang juga mengutip Ul.5:9 dan 6:5 sebagai pendukung). “Gagasan bahwa Tuhan adalah satu-satunya Allah Israel sesuai sekali dengan perintah itu (bdk. Kid.6:8 dyb.)” (TWOT paragraf kedua). TWOT layak dipuji karena dalam kesempatan ini, alih-alih kecondongannya pada pemahaman trinitaris, TWOT mencari ekse- gesis yang setia kepada konteks Ulangan 6:4. Namun, ada sebuah kesalahan fundamental yang melekat pada seluruh diskusi yang diberikan dalam TWOT, dan dalam diskusi oleh para trinitarian pada umumnya, yaitu kegagalan dalam melihat apa sebenarnya yang dinyatakan oleh Ulangan 6:4: “TUHAN Allah kita, TUHAN itu esa”. Keprihatinan trinitarian adalah apakah Allah

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

77

dapat dimengerti sebagai “esa” dalam arti kesatuan multi-pribadi. Akan tetapi, kata “esa” dalam Syema menerangkan kata “Yahweh” (TUHAN), bukan kata “Allah”. Apakah trinitarianisme ingin memperdebatkan Yahweh sebagai Jatidiri yang terdiri atas tiga- pribadi? Jika demikian, Yahweh itu bukan hanya Bapa saja, tetapi juga tiga-tiganya di dalam Trinitas! Dengan demikian, ketiga pribadi itu semuanya adalah penjelmaan dari satu Yahweh (yang dalam teologi disebut “Modalisme” atau “Sabelianisme”). Atau, apakah para trinitarian ingin tetap bersikeras bahwa Yahweh dalam Alkitab Ibrani adalah jatidiri yang multi-pribadi, bertentangan dengan Alkitab sendiri? Jika tidak, lalu apa maksud seluruh diskusi panjang lebar tentang “kesatuan” dan “keragaman” sehubungan dengan yang “esa” di Ulangan 6:4?

Argumen palsu bahwa "satu" berarti "kesatuan"

I ni merupakan argumen yang sering digunakan di kalangan trinitarian, yang saya gunakan juga di masa lalu, setelah meneri-

manya tanpa memeriksanya dengan teliti. Argumen ini terdengar mengesankan bagi orang Kristen rata-rata karena disebut didasarkan pada makna kata Ibrani untuk “satu” (דחַ אֶ , ’ehad) yang membuatnya kedengaran sarjanawi, dan karena ia tidak mengenal bahasa Ibrani, ia tidak dapat mengecek keabsahannya. Sebagaimana telah kita lihat di atas, TWOT menyiratkan pengartian ini ketika mengatakan bahwa ia “memperbolehkan” gagasan “keragaman dalam kesatuan”; tetapi TWOT tidak memberikan bukti leksikal apa pun untuk pernyataan ini. Oleh karena pentingnya argumen tersebut bagi banyak trinitarian, di sini saya akan melukiskan fitur-fitur yang menonjol dari argumen ini. Inti dari argumen ini adalah seperti berikut:

78

The Only True God

Dalam penggunaan bahasa Ibrani kata ’ehad menyiratkan kesatuan bukan penunggalan (singularity) karena “satu” mengandung lebih dari satu unsur di dalamnya, misalnya, “Jadilah petang dan jadilah pagi, satu hari” (Kej.1:5, NASB; tetapi “satu hari” lebih baik diterjemahkan sebagai “hari pertama”, seperti dalam kebanyakan terjemahan yang lain). Ayat yang sangat penting untuk argumen ini adalah Kejadian 2:24 ketika Adam dan Hawa bersama-sama membentuk “satu daging” (tetapi bdk. 1Kor.6:16,17 yang menerapkannya kepada kesatuan rohaniah antara orang beriman dengan Tuhan). Kemah itu dibuat menjadi sebuah struktur terpadu oleh sejumlah pengait: Keluaran 36:18, “Dibuat oranglah lima puluh kaitan tembaga untuk menyambung tenda-tenda kemah itu, sehingga menjadi satu.” Contoh lain dapat ditemukan dalam nubuat Yehezkiel tentang penyatuan kerajaan utara dan selatan menjadi satu (Yeh.37:15-22). Jadi kesimpulannya adalah mengatakan tentang Allah sebagai “satu” menyiratkan Ia adalah kesatuan lebih dari satu pribadi, dan bahwa Yesus Kristus, “Allah-Anak”, tercakup dalam kesatuan itu, menurut penafsiran trinitaris atas PB.

Pada dasarnya, itulah argumen untuk Trinitas dari kata 'ehad. Kelihatannya cukup mengesankan—sampai kita memeriksa rincian leksikalnya. Kata Ibrani untuk “satu” ini dipakai sebanyak 971 kali dalam Alkitab Ibrani, jadi ada banyak bahan yang tersedia untuk menilai argumen trinitarisnya. Bila kita melakukan hal ini maka dalam waktu singkat kita akan menemukan bahwa semua argumen tadi sebenarnya semu; satu lagi kasus pembelaan palsu yang menyesatkan—mengumpulkan bukti yang mendukung argumen sendiri dan mengabaikan bukti kuat yang bertentangan. Kita tidak perlu melihat setiap satu dari 971 pemunculan itu karena hanya dengan memeriksa beberapa ayat saja akan segera terlihat bahwa kata 'ehad dengan pasti digunakan dalam arti “ketunggalan”

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

79

(“singleness”). Satu cara yang cepat untuk melihat sendiri fakta ini adalah dengan mencari kata “single” dalam terjemahan Inggris seperti ESV dan kemudian melihat kata dalam bahasa Ibraninya yang diterjemahkan sebagai “single”. Dalam banyak kesempatan akan terlihat bahwa kata 'ehad-lah yang diterjemahkan sebagai “single”, tanpa menyiratkan adanya gagasan kesatuan. Berikut ini adalah beberapa contoh:

Keluaran 10:19, “Not a single locust was left in all the country of Egypt.” Atau “tidak ada satu belalangpun yang tinggal di seluruh daerah Mesir.”

Keluaran 25:36, “the whole of it a single piece of hammered work of pure gold”; atau “semuanya itu haruslah dibuat dari sepotong emas tempaan yang murni”.

Ulangan 19:15, “A single witness shall not suffice” atau “Satu orang saksi saja tidak dapat menggugat”.

1Samuel 26:20, “the king of Israel has come out to seek a single flea”; atau, “raja Israel datang untuk membunuh seekor kutu” (BIS).

Tidak satu pun dari contoh-contoh di atas memunculkan gagasan kesatuan dalam kata ’ehad; sebaliknya, sebuah singularitas (“singul- arity”) yang sederhanalah yang diungkapkan. Ada banyak contoh lain dari kata ’ehad yang mengungkapkan singularitas tetapi terjemahannya tidak memakai kata “single”, misalnya, Kej.27:38; 40:5; Kel.14:28; Yos.23:10; Hak.13:2; 1Taw.29:1; 1Raj.4:22 (5:2 dalam beberapa versi); Yes.34:16, dsb. Apa yang muncul dari kajian leksikal ini adalah bahwa kata ’ehad dapat dipakai untuk merujuk kepada sebuah struktur komposit (cth. kemah suci) dan juga kepada sebuah singularitas sederhana (cth. seorang saksi). Gagasan “kesatuan” tidak melekat pada kata itu sendiri tetapi ditentukan oleh konteks. Jadi,

80

The Only True God

pemeriksaan atas pemakaiannya dalam bahasa Ibrani menunjukkan bahwa kata “’ehad” tidak berbeda dari pemakaiannya dalam bahasa Inggris (atau berbagai bahasa lain). Dengan demikian, “satu” dalam bahasa Indonesia bisa dipakai dalam pengertian kolektif seperti dalam “satu keluarga”, atau sebagai singularitas sederhana seperti dalam “satu individu”. Baik dalam bahasa Ibrani, bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia, gagasan keserbaragaman atau singularitas tidak melekat pada kata “satu”; itu ditentukan dari konteks atau cara kata “satu” dipakai. Lagipula, sementara kata “satu” dapat dipakai dalam arti kolektif seperti “satu keluarga” atau “satu perusahaan”, hal itu sendiri tidak menyiratkan kesatuan dalam keluarga atau perusahaan itu. Sebuah keluarga bisa mengalami perselisihan, dan sebuah perusahaan malah dapat hancur karena perpecahan; jadi, istilah kolektif seperti “satu keluarga” atau “satu perusahaan” dengan sendirinya tidak membuktikan adanya kesatuan. Jika kata ’ehad tidak membuktikan kesatuan bahkan ketika dipakai sebagai istilah kolektif, maka ini semakin memperjelas bahwa gagasan kesatuan tidak melekat pada kata ’ehad ketika dipakai sendirian (seperti di Ul.6:4), tetapi harus diberikan oleh kata-kata lain baik secara eksplisit ataupun implisit. Misalnya, dalam kalimat “mereka disatukan sebagai satu orang”, kesatuan dinyatakan secara eksplisit oleh kata “disatukan”, bukan oleh kata “satu”, yang di sini mengungkapkan singularitas. Gagasan kesatuan yang sama dapat diungkapkan secara implisit dengan mengatakan “seluruh bangsa itu bangun sebagai satu orang” (Hak.20:8 ESV), di mana gagasan kesatuan diungkapkan oleh keserbaragaman dari “seluruh bangsa” yang bergabung bersama dengan sehati sepikir seperti “satu orang”. Dalam kedua kesempatan di atas kata “satu” mengungkapkan ketunggalan, sedangkan gagasan kesatuan harus diberikan oleh kalimat itu secara keseluruhan. Seharusnya jelas sekarang bahwa kita tidak boleh memperdebatkan

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

81

adanya semacam gagasan kesatuan yang melekat pada kata Ibrani ’ehad. Oleh karena itu, adalah sebuah kesalahan besar untuk membangun sebuah teologi berdasarkan kata ’ehad yang diartikan secara keliru sebagai kesatuan. Memperdebatkan “Ke-Allahan” sebagai sebuah kesatuan entitas (terdiri lebih dari satu pribadi) berdasarkan ciri leksikal 'ehad adalah argumen yang palsu. Sayangnya, trinitarianisme didirikan di atas argumen yang palsu seperti ini. Di Ulangan 6:4 Yahweh dinyatakan sebagai ’ehad, dan baik konteks langsung maupun konteks umum PL menunjukkan dengan jelas bahwa Yahweh adalah “satu” dalam arti singularis sebagai satu-satunya Allah. Di dalam PL orang sulit menemukan bahkan bayangan dari individu ilahi lain yang dikatakan eksis dalam “hakikat” (menggunakan istilah trinitaris) yang sama dari satu- satunya Allah—yang tentu saja merupakan istilah yang bertentangan: Jika ada pribadi lain dalam “hakikat”-Nya, maka Ia bukan satu-satunya Allah. Sekali lagi di sini kita melihat kemustahilan dari usaha mengekstrak trinitarianisme dari monoteisme sejati.

Ulangan 6:5 meniadakan apa saja selain monoteisme

Bahwa Yahweh saja merupakan satu-satunya Allah telah dinyatakan dengan tegas di Ulangan 6:4. Namun, apa yang umumnya diabaikan, terutama oleh trinitarian, adalah bahwa perintah yang dikeluarkan segera sesudah penegasan itu semakin memperkuat penegasan tersebut sedemikian rupa sehingga meniadakan semua pilihan lain selain monoteisme “radikal” yang ditegaskan tanpa kompromi.

Ulangan 6:5, “Kasihilah Yahweh, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”

82

The Only True God

Kata “segenap” yang diulang tiga kali ini, yang meliputi diri manusia secara keseluruhan, tidak lagi menyisakan apa-apa untuk mengasihi ilah yang lain. Perhatikan bahwa perintah ini tidak memungkinkan trinitarianisme untuk berfungsi, karena seberapa pun besarnya usaha kita, kita tidak mungkin dapat mengasihi tiga pribadi yang berbeda dengan “segenap” kita secara serentak. Kita memang bisa mengasihi banyak orang, tetapi tidak dalam cara yang dituntut di sini. Itu sebabnya kenapa kebanyakan orang trinitarian yang paling bersungguh-sungguh (seperti saya dahulu) akhirnya mengasihi Yesus secara intens dan terkonsentrasi, menjadikan dia sasaran utama dari pengabdian dan doa kita. Adalah mustahil dalam praktek untuk memberikan pengabdian yang sama besarnya kepada Bapa dan kepada Roh. Dengan demikian, tanpa disadari kita telah hidup dalam ketidaktaatan kepada perintah terutama dari pengajaran Kitab Suci, karena Yesus sang Mesias bukanlah “Yahweh Allahmu”, yang sendiri seharusnya menjadi satu-satunya sasaran pengabdian kita. Saya tidak tahu akan adanya sarjana Alkitab yang menegaskan, atau mau menegaskan, bahwa Yesus adalah Yahweh. Lebih penting lagi, ketiga Injil Sinoptik semuanya mencatat bahwa Yesus sendiri mengajarkan Ulangan 6:5 sebagai perintah agung dan terutama dari “hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat.22:40): Matius 22:37; Markus 12:30; Lukas 10:27. Namun, bukannya mengasihi “Yahweh Allahmu”, kita memilih untuk mengasihi Yesus sebagai sasaran utama dari pengabdian kita, tanpa menghiraukan pengajarannya. Tidakkah ini seharusnya membuat kita merenungkan kembali kata-katanya, “Mengapa kamu berseru kepadaku: Tu[h]an, Tu[h]an, padahal kamu tidak melakukan apa yang aku katakan?” (Luk.6:46) Kira-kira apa konsekuensinya dari ketidaktaatan semacam itu? Yesus tidak membiarkan para pendengarnya berada dalam kegelapan: “Banyak orang akan berkata kepadaku pada hari itu:

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

83

Tu[h]an, Tu[h]an, bukankah dalam namamu kami telah bernubuat, dan dalam namamu kami mengusir setan, dan dalam namamu kami melakukan banyak mukjizat? Dan pada waktu itu aku akan menyatakan kepada mereka: Aku tidak pernah mengenal kamu, enyahlah dari padaku, kamu yang mengerjakan kedurhakaan!” (Mat.7:22,23 ILT) Bukankah mereka yang tidak menaati perintah sentral yang agung dari Ulangan 6:4,5 secara akurat dilukiskan sebagai “yang mengerjakan kedurhakaan”, yakni, mereka yang tidak mengindahkan perintah atau hukum Allah, khususnya perintah yang digambarkan oleh Yesus sebagai “yang terutama” (Mrk.12:29)?

Syema

K ita telah melihat bahwa Yesus sepenuhnya mengesahkan Syema. Yang menarik adalah bagaimana ahli taurat yang

bercakap-cakap dengan Yesus memahami apa yang dikatakan Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar katamu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.” (Mrk.12:32) Perhatikan dengan baik: “Benar katamu itu bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.” Perhatikan juga, “Dia esa” disamakan dengan “tidak ada yang lain kecuali Dia”; pernyataan yang satu menjelaskan pernyataan yang satunya lagi. Yesus sama sekali tidak membantah interpretasi ahli taurat itu atas apa yang dikatakannya. Sebaliknya, ia memuji ahli taurat tersebut, “Engkau tidak jauh dari kerajaan Allah!” (ay.34). Mengapa ahli taurat itu masih belum berada di dalam kerajaan? Karena ia masih belum percaya bahwa Yesus adalah sang Mesias; tanpa iman ini ia tidak dapat diselamatkan (Yoh.20:31). Kata-kata ahli taurat di Markus 12:32 menggemakan Ulangan 4:35: “TUHANlah (Yahweh) Allah; tidak ada yang lain kecuali Dia”. Bandingkan:

84

The Only True God

Yesaya 45:5, “Akulah Yahweh dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah.

Yesaya 45:14, “tidak ada yang lain; di samping Dia tidak ada Allah!

Yesaya 45:18, Akulah Yahweh dan tidak ada yang lain.”

Yesaya 45:21b,22, “Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, Yahweh? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku! Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.

Yesaya 46:9, “Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah, dan tidak ada yang seperti Aku”.

Yesaya 46:5, “Kepada siapakah kamu hendak menyamakan Aku, hendak membandingkan dan mengumpamakan Aku, sehingga kami sama?”

Yesaya 40:25, “Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus.”

Keluaran 8:10, “tidak ada yang seperti Yahweh, Allah kami.”

Keluaran 9:14, “bahwa tidak ada yang seperti Aku di seluruh bumi.”

1Samuel 2:2, “Tidak ada yang kudus seperti Yahweh, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau.”

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

85

Yeremia 10:6, “Tidak ada yang sama seperti Engkau, ya Yahweh! Engkau besar dan nama-Mu besar oleh keperkasaan.”

Daftar referensi yang panjang (meskipun tidak lengkap) ini dengan tegas meneguhkan dua hal: (1) Yahweh adalah satu-satunya Allah yang benar; tidak ada Allah selain Dia; (2) Ia tidak ada bandingannya dan tidak ada yang menyamai. Bandingkan kedua peneguhan ini dengan deklarasi trinitaris yang sama sekali bertentangan bahwa ada dua pribadi ilahi lain selain Yahweh, dan keduanya setara dengan Dia. Lancang benar, orang-orang politeis trinitarian dari gereja non- Yahudi! Tentu saja, penegasan-penegasan keras dalam Alkitab Ibrani ini awalnya ditujukan terhadap penyembahan berhala yang menjamur di Israel, yang akhirnya membawa mereka kepada pemusnahan sebagai sebuah bangsa pada masa Pembuangan. Akan tetapi, gereja non-Yahudi jelas-jelas tidak belajar apa-apa dari bencana yang menimpa Israel. Namun, gereja non-Yahudi tidak bisa berdalih mengingat banyaknya pernyataan-pernyataan monoteistik dalam PB, termasuk pengajaran eksplisit dari Yesus sendiri ( Mrk.12:29 dyb.; Yoh.5:44; 17:3). Dialog antara Yesus dengan ahli taurat tentang “perintah yang paling utama” (Mrk.12:28 dyb.) merupakan dialog khas antara seorang Yahudi dengan seorang Yahudi, dan nas ini adalah salah satu dari sekian banyak dalam Injil yang menegaskan pernyataan Martin McNamara bahwa Yesus adalah “seorang Yahudi tulen. Bahasa dan alam pikirannya adalah Yahudi.” (Targum and Testament, hlm.167), dan tidak ada usaha dari kita dalam menampilkan dirinya sebagai Kristus berambut pirang dan bermata biru, atau apa saja, dapat mengubah fakta tersebut. Sebagaimana terlihat dari dialog dengan ahli taurat itu, Syema’ mewakili unsur utama dari iman Yahudi. Dalam kalimat pembuka

86

The Only True God

dari artikel “Syema” dalam Jewish Encyclopedia kita membaca bahwa Syema’ “didaraskan sebagai pengakuan iman Yahudi”—itulah pengakuan iman mereka. Pengakuan iman ini harus didaraskan setiap hari oleh setiap orang Yahudi baik pada pagi hari maupun pada petang hari. Seberapa pokoknya Syema’ ini untuk iman Yahudi dilukiskan dalam Jewish Encyclopedia seperti berikut:

‘Itulah seruan-perang dari imam yang memanggil bangsa Israel untuk mengangkat senjata melawan musuh (Ul xx.3; Sotah 42a). Itulah kata terakhir dari orang sekarat dalam pengakuan imannya. Syema’ ada di bibir orang-orang yang menderita dan disiksa demi Taurat. R. Akiba dengan tabah menahan siksaan sementara dagingnya dicabik-cabik oleh sisir besi, dan tewas sambil mendaraskan “Syema’”. Ia menyuarakan kata terakhir dari kalimat itu, “Ehad” (satu) dengan hembusan nafas terakhirnya (Ber. 61b). Dalam setiap penganiayaan dan pembunuhan masal, dari masa Inkuisisi sampai pembantaian Kishinef, “Syema’ Yisrael” telah menjadi kata-kata terakhir di bibir orang-orang yang sekarat. “Syema’ Yisrael” adalah kata sandi yang membuat seorang Yahudi mengenali seorang Yahudi lainnya di setiap belahan bumi.’

Sekali gereja non-Yahudi beranjak dari unsur utama iman Alkitabiah ini—yakni monoteisme Alkitab Ibrani—dengan secara resmi memasang Allah yang multi-personal dalam Syahadat Nikea pada tahun 325 M, di mana “Allah” bukan lagi satu Pribadi tetapi sekarang menjadi suatu “hakikat” (ousios)—sebuah pelukisan untuk Allah yang sama sekali asing bagi Alkitab—dengan cara demikian gereja telah menyangkal Syema’, yaitu, “bahwa Dia esa, dan tidak ada yang lain kecuali Dia”. Dengan demikian, mereka pun telah menyangkal ajaran Yesus. Apakah mereka yang menyangkal ajaran tuannya dapat disebut murid-muridnya? Oleh sebab itu, barangkali

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

87

tidak terlalu mengejutkan bila dewasa ini tidak banyak orang Kristen yang menyebut dirinya murid-murid Yesus. Syema’ (Ul.6:4) mendeklarasikan: “Dengarlah, hai orang Israel:

TUHAN [Yahweh] itu Allah kita, TUHAN [Yahweh] itu esa!” Di pihak lain, trinitarianisme mendeklarasikan: “Dengarlah hai Gereja, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu tiga.” (Makna dasar kata “Trinitas: 1. tiga: sebuah kelompok yang terdiri dari tiga. 2. ketigaan (Threeness): kondisi keberadaan sebagai tiga pribadi atau tiga benda [abad ke-13, Melalui bahasa Perancis Kuno trinite, dari Latin trinitas, dari trinus ‘lipat tiga’]” Encarta Dictionary, demikian juga The Concise Oxford Dictionary, dsb.) Ini merupakan dua pernyataan yang sama sekali berbeda, secara fundamental tidak kompatibel, dan saling eksklusif. Kesesuaian macam apa yang mungkin ada antara sebuah syahadat yang di satu sisi berbicara tentang kesatuan sebuah kelompok yang terdiri dari tiga pribadi yang sama-sama setara, sama-sama kekal dalam Ke- Allahan, dan di sisi lain, sebuah deklarasi bahwa Yahweh adalah satu-satunya Allah tanpa ada yang menyamai? Orang yang bersikeras akan adanya kesesuaian antara syahadat yang bertentangan tentang Allah ini pasti sudah kehilangan kemampuan berpikirnya. Mengapa Syema’ itu begitu relevan bagi kita? Pertama, karena itu adalah deklarasi monoteisme yang fundamental, dan kedua, karena jemaat Allah yang sejati adalah perwujudan “Israel milik Yahweh” (Gal.6:16); “Lagipula, jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan ahli waris menurut janji Allah.” (Gal.3:29); “Sebab orang Yahudi sejati bukanlah orang yang lahiriah Yahudi dan sunat sejati bukanlah sunat yang dilakukan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah orang yang tidak tampak keyahudiannya dan sunat sejati ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara harfiah. Pujian bagi orang seperti ini datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” (Rm.2:28,29)

88

The Only True God

Perintah Pertama

Keluaran 20:3 “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” “Ku” yang berbicara di sini diperkenalkan di dua ayat pertama:

Keluaran 20:1, Lalu Allah mengucapkan segala firman ini, 2 “Akulah Yahweh Allahmu”.

Seandainya, menurut para trinitarian, Yesus adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah, dan keduanya adalah pribadi sama seperti Bapa (Yahweh), maka mereka mengakui dua pribadi lain sebagai Allah di samping Yahweh. Ini jelas-jelas melanggar Perintah Pertama. Kita sudah melihat bahwa Yesus dengan tegas mengesahkan Syema yang mencakup semua perintah termasuk, tentunya, Perintah Pertama. Namun Yesus tidak hanya menegaskan monoteisme yang tercantum dalam Syema secara terbuka, monoteisme Yesus tidak diungkapkan dengan lebih kuat di manapun juga selain dalam doanya kepada Bapa di Yohanes 17: “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (ay.3)

A pakah Matius 28:19 bertentangan dengan monoteisme Yesus? Teks ini digunakan seolah-olah teks ini adalah sebuah rumus

trinitaris. Itulah caranya kita sebagai orang trinitarian diajar untuk berpikir, dan kita seringkali mendengarnya dipakai dalam berbagai upacara penting, seperti dalam upacara pernikahan dan kematian, tetapi terutamanya dalam upacara baptisan, sebab ayat itu berbunyi,

“Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan baptis- lah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. Kata-kata yang segera menyusul di ayat berikutnya, “dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu” (ay.20), biasanya tidak terlalu banyak diperhatikan, paling tidak komitmen Yesus kepada monoteisme yang tercantum dalam Syema.

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

89

Namun, apakah Yesus bertentangan dengan dirinya sendiri di Matius 28:19? Kita akan melihat dalam bagian selanjutnya bahwa para sarjana trinitarian pun tidak berani berkata demikian.

Matius 28:19 sebagai teks-bukti untuk trinitarianisme

19 Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Matius 28:19-20)

H .A.W. Meyer dalam buku tafsirnya Critical and Exegetical Handbook of the Gospel of Matthew membahas ayat ini

dengan panjang lebar. Ia mengklaim bahwa meskipun Nama itu berbentuk tunggal, kita “tentu saja” harus membaca kelanjutannya sebagai “dan dalam nama Anak, dan dalam nama Roh Kudus.” Akan tetapi, argumen Meyer ini sebenarnya luar biasa kosong. Untuk sekadar menyatakan bahwa “εἰς τό ὄνομα (eis to onoma, ke dalam Nama), tentu saja, harus dipahami berada juga di depan του υἱοῦ (tou huiou, sang Anak) dan ἁγίου πνεύματος (hagiou pneumatos, sang Roh Kudus)”, adalah serampangan. Bagaimana mungkin sebuah pernyataan penting dibenarkan hanya dengan sebuah “tentu saja”? Apa yang dibuktikan oleh “tentu saja” itu? Tidak apa-apa pun. Namun, ada satu alasan untuk “tentu saja” ini—sebab ini adalah “tentu saja” sejauh menyangkut trinitarianisme, jadi “tentu saja” ini berasal dari dogma trinitaris. Bahkan seorang eksegete seperti Meyer (perhatikan kata “Exegetical” di judul buku tafsirnya) di sini mengizinkan dogma untuk menentukan karyanya, yang saya akui telah saya lakukan juga di masa lalu. Begitulah kuatnya cengkeraman dogma atas kita.

90

The Only True God

Dalam upaya untuk menyediakan rujukan silang yang menyangga argumentasinya, Meyer mengutip Wahyu 14:1 (“namanya dan nama Bapanya”), akan tetapi, tampaknya ia tidak melihat bahwa ayat ini adalah bukti yang persis bertolak-belakang dengan kesimpulan yang ingin ia buat, karena “namanya” dan “nama Bapanya” disebut secara terpisah di Wahyu 14:1, sedangkan hanya satu nama yang disebut di Matius 28:19. Demikian juga, jika Yesus berniat untuk ketiga nama itu semuanya diucapkan dalam pernyataan baptisan maka ia akan mengatakannya secara eksplisit (seperti di Why.14:1), “dalam nama Bapa, dan dalam nama Anak, dan dalam nama Roh Kudus” (sebagaimana dilakukan di beberapa gereja), atau lebih singkat, “In the names of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit”. Argumen Meyer ditolak oleh The Expositor’s Greek Testament:

“Tidak dikatakan dalam nama-nama, dsb., ataupun dalam nama Bapa, dan nama Anak, dan nama Roh Kudus.—Maka mungkin bisa disimpulkan adanya gagasan ketritunggalan yang membentuk sebuah Kesatuan Ilahi di waktu yang bersamaan. Namun, ini barangkali membacakan terlalu banyak ke dalam kata-kata itu daripada yang dimaksudkan.” (Bagian tafsir ini ditulis oleh A.B. Bruce, yang ketika itu menjabat sebagai professor of apologetics, Free Church College, Glasgow, Skotlandia.) Komentar Bruce yang jujur ini (yang saya cetak miring) patut dihargai, karena ia pun seorang trinitarian, akan tetapi dengan jujur ia meragukan bila ayat ini dapat digunakan sebagai argumen untuk gagasan Trinitas itu. Untuk bersikap adil terhadap Meyer, ia akhirnya mengakui bahwa ayat ini tidak boleh digunakan sehubungan dengan doktrin Trinitas. Ia menulis, “Kita harus berhati-hati dalam memanfaatkan bentuk tunggal ini untuk digunakan secara dogmatis sebagai argumentasi baik untuk mendukung (Basilides, Jerome, Teofilakt) atau menentang (pengikut-pengikut Sabellius) doktrin Trinitas yang

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

91

ortodoks.” Ia pun menolak pandangan trinitaris sarjana Jerman yang bernama Gess:

Kita harus sama-sama mewaspadai pandangan Gess, yang berpendapat bahwa Kristus abstain dari menggunakan kata- kata “dari Allah Bapa,” dst. [yaitu, Allah-Anak dan Allah-Roh Kudus] karena ia menganggap gelar Allah itu juga milik Anak dan Roh Kudus.

Mengapa Meyer menolak interpretasi Gess, padahal itu adalah penafsiran lazim dalam ajaran trinitaris? Itu karena sebagai seorang eksegete Meyer menyadari bahwa dalam pengajaran Yesus, “Ia tidak pernah diketahui mengklaim nama θεός (theos, Allah) baik untuk dirinya sendiri maupun untuk Roh Kudus” (kutipan ini diambil dari catatan kaki 1, hlm.302, cetak miring dari dia, transliterasi dan terjemahan dalam kurung dari saya). Pengamatan Meyer yang terakhir ini: “Ia (Yesus) tidak pernah diketahui mengklaim nama θεός, baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk Roh Kudus”, merupakan pengamatan yang sangat penting untuk memahami Yesus dan ajarannya dengan tepat. Fakta inilah yang akhirnya mencegah Meyer dari mempergunakan Matius 28:19 sebagai argumen untuk Trinitas. Lalu apakah pemahaman Meyer sendiri atas Trinitas sehubungan dengan Matius 28:19? Pandangannya adalah “Nama” (tunggal) itu “dimaksudkan untuk menunjukkan kodrat hakiki dari Pribadi- pribadi atau Jatidiri-jatidiri yang berkaitan dengan baptisan” (hlm.303); tetapi ia juga mengatakan bahwa “Pribadi-pribadi atau Jatidiri-jatidiri” itu tidak setara dalam kedudukan mereka relatif satu sama lain, karena Anak tunduk kepada Bapa, dan Roh tunduk kepada Bapa dan Anak. Jadi mereka berbagi “kodrat hakiki” yang sama (yang juga disebut “hakikat” pada abad ke-3 dan ke-4 dan selanjutnya) tetapi mereka tidak setara. Pandangan ini diungkapkan di berbagai bagian dari keterangan Meyer dalam buku tafsirnya.

92

The Only True God

Saya mengutip karya Meyer di sini karena, meskipun ia termasuk ke dalam generasi sarjana yang lebih awal, penguasaannya akan Perjanjian Baru Yunani dan pengetahuannya berkenaan dengan Perjanjian Baru Yunani secara umum nyaris tidak dapat disamai. Buku-buku tafsir eksegetisnya sebanyak 20 jilid atas Perjanjian Baru Yunani (aslinya ditulis dalam bahasa Jerman dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris) tersedia dalam edisi cetak ulang baru-baru ini. Masih banyak karya referensi lain yang bisa dikutip dan dibahas, tetapi itu akan melampaui ruang lingkup buku ini. Namun jika, seperti yang ditunjukkan oleh Prof. A.B. Bruce, lebih banyak yang dibacakan ke dalam Matius 28:19 oleh trinitarian daripada yang dimaksudkan, lalu apa arti yang dimaksud Yesus dalam mengajarkan bahwa murid-murid baru harus dibaptis dalam satu Nama Allah itu? Untuk pertanyaan ini Bruce tidak memberi jawaban. Namun, apakah Tu[h]an membiarkan kita tanpa jawaban? Sama sekali tidak, jawabannya tersedia jika kita menyimak perkataannya dengan saksama, karena itu berkaitan dengan karakter dasariah dari pelayanannya. Lalu kenapa kita dibaptis ke dalam satu Nama itu? Satu Nama itu dalam Kitab Suci, hanya bisa merujuk kepada Nama Yahweh, yang oleh Yesus secara konsisten dipanggil “Bapa”. Alasan mengapa Yesus hanya menyebut satu Nama di Matius 28:19 mulai terlihat dengan terang ketika kita mulai memahami intisari dari pengajarannya. Pertimbangkan nas-nas berikut:

Yohanes 5:43, “Aku datang dalam nama Bapaku dan kamu tidak menerima aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia.” Di sini Yesus menyatakan secara kategoris bahwa ia tidak datang dalam namanya sendiri.

Yohanes 10:25, Yesus menjawab mereka: “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan dalam nama Bapaku,

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

93

itulah yang memberikan kesaksian tentang aku.” Yesus tidak melakukan pekerjaan-pekerjaannya (termasuk mujizat- mujizat, dst.) dalam namanya sendiri, tetapi dalam nama Bapa.

Yohanes 12:13, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong dia sambil berseru-seru: “Hosana! Terpu- jilah dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Kata- kata ini muncul dalam keempat Injil)

Yohanes 12:28, “Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Lalu terdengarlah suara dari surga: “Aku telah memuliakannya, dan Aku akan memuliakannya lagi!” Memuliakan nama Bapa adalah tujuan seluruh hidup dan pelayanan Yesus.

Yohanes 17:6, “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepadaku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepadaku dan mereka telah menuruti firman-Mu.” Kehidupan dan pekerjaan Yesus adalah untuk mengenalkan Yahweh Allah (“menyatakan nama-Mu”) kepada murid-muridnya.

Yohanes 17:11, “Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan aku datang kepada- Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama- Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. 4

4 Yesus yang menjadi “satu” dengan Bapa di sini dikaitkan dengan penerimaan “nama-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku”. Yang sama berlaku untuk murid-muridnya; sebab bagaimana lagi mereka bisa “dipelihara dalam nama-Mu” kecuali jika mereka ada di bawah Nama-Nya atau menyan- dang Nama-Nya (kurang lebih seperti istri yang menyandang nama suaminya)? Menerima Nama-Nya berarti menerima “kemuliaan”-Nya [untuk persamaan antara “nama” dan “kemuliaan”, bdk. mis. Mzm.102:15; Yes.42:8;

94

The Only True God

Yohanes 17:11 menunjukkan dengan tajam kebenaran menyolok yang diungkapkan dalam ayat ini: bahwa Bapa telah memberikan Nama-Nya, atau wewenang-Nya, kepada Yesus; ia bertindak dalam Nama Bapa, bukan dalam namanya sendiri. “Nama” di sini merujuk kepada wewenang Bapa, bukan kepada sebuah gelar. Oleh kuasa dari wewenang itulah para murid dilindungi.

Yohanes 17:12, “Selama aku bersama mereka, aku memelihara mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku;” Kata-kata ini menekankan kembali apa yang telah dikatakan di ayat sebelumnya.

Yohanes 17:26, “dan aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepadaku ada di dalam mereka dan aku di dalam mereka.” Yesus tidak memberitakan dirinya sebagai pokok utama dari pesannya, tetapi dengan setia mem- proklamirkan Bapa kepada mereka. Ia menyatakan bahwa ia akan terus melakukan hal ini (yaitu sesudah kematian dan kebangkitannya) supaya kasih Bapa untuk Yesus akan dicurahkan ke dalam hati murid-muridnya (bdk. Rm 5:5).

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa seluruh pelayanan Yesus berpusat pada melakukan segala sesuatu dalam nama Bapanya, bukan dalam namanya sendiri. Ia tidak pernah meninggikan dirinya, tetapi selalu meninggikan Bapanya. Oleh karena inilah (“Aku

43:7; 48:11; 59:19; Yer.13:11; dst.]; Yesus menerima kemuliaan Bapa (Nama) dan juga memberikannya kepada murid-muridnya: “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepadaku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu” (Yoh.17:22). Ini penting untuk pemahaman kita atas Matius 28:19, karena untuk dibaptis dalam, atau ke dalam, Nama Bapa artinya datang di bawah Nama-Nya sebagai milik kepunyaan-Nya (1Ptr.2:9), dipersatukan dengan-Nya, dan dengan demikian berada di bawah pemeliharaan “Nama-Mu (Nya)”.

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

95

senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya”, Yoh.8:29) Bapa memuliakan Yesus, menjadikan dia objek dari iman bagi keselamatan, dan tidak memberikan nama lain yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kis.4:12); dan Bapa berkenan menjawab doa- doa yang dipanjatkan dalam nama Yesus (Yoh.15:16; 16:23-26). Oleh karena Yesus datang dalam Nama Bapa sebagai orang yang diutus Bapa, dan oleh karena ia selalu berfungsi dalam Nama Bapa, tidak dalam namanya sendiri, maka sudah dapat diduga bila Yesus memerintahkan agar baptisan dilakukan dalam Nama Bapa. Oleh karena Anak (dan Roh, bdk. Yoh.14:26, dst.) melakukan pekerjaannya dalam Nama Bapa, maka, dalam terang pengajaran Yesus, jelaslah mengapa hanya satu Nama saja yang disebut di Matius 28:19. Bahwa Yesus datang dalam nama Tuhan (Yahweh) disebut dua kali dalam Injil Matius (Mat.21:9; 23:39), dan sekali dalam masing-masing dari ketiga Injil lainnya. Dalam Matius jugalah Yesus mengajar murid-muridnya untuk berdoa, “Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu” (Mat.6:9). Jika demikian halnya, yaitu baptisan itu pertama dan terutama adalah ke dalam Nama Bapa, sedangkan Anak dan Roh digolongkan di bawah Nama yang satu itu, maka bukankah kita juga dibaptis ke dalam Anak dan Roh Kudus karena kedua-duanya disebutkan dalam ayat ini? Namun tidak di manapun dalam PB disebutkan lagi bahwa kita “dibaptis ke dalam Roh Kudus” (βαπτίσειν ἐις πνεύματι ἁγίῳ). Preposisi ἐν (en, dalam) di ἐν πνεύματι (en pneumati) di 1Korintus 12:13 tentu saja berkasus instrumental dalam makna dan paling tepat diterjemahkan sebagai “oleh Roh” atau “melalui Roh”; kemungkinan besar itulah artinya juga di Matius 3:11 dan beberapa kutipannya dalam PB. Akan tetapi, PB secara pasti menegaskan bahwa kita “dibaptis ke dalam Kristus”: Rm.6:3; Gal.3:27: dan dengan demikian kita disatukan dengan dia dalam kematian dan kehidupannya.

96

The Only True God

Di kitab Kisah Para Rasul ada beberapa rujukan kepada baptisan “dalam nama Yesus Kristus” (Kis.2:38; 8:16; 10:48; 19:5). Ini sudah tentu bukan berarti orang dibaptis hanya ke dalam nama Yesus saja, dengan secara terang-terangan mengabaikan perintah Yesus untuk membaptiskan dengan deklarasi triadik seperti yang diberikan di Matius 28:19. Bahkan sampai hari ini pun saya belum mengetahui adanya gereja yang membaptis orang dalam nama Yesus saja. Di kitab Kisah Para Rasul, rumus “dalam nama” (mis. Kis.3:6; 9:27,28; 16:18) artinya bertindak dalam atau di bawah wewenang seseorang, dalam hal ini, bertindak dalam wewenang Yesus untuk melakukan baptisan seperti yang ia perintahkan kepada murid-muridnya. “Dalam nama” merupakan istilah kunci di kitab Kisah Para Rasul; dan sama seperti Yesus yang selalu hidup dan bekerja dalam Nama Bapa, demikian pula murid-muridnya selalu berfungsi dalam nama Yesus, yang olehnya mereka hidup di bawah nama Bapa: “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tu[h]an Yesus, sambil mengucap syukur melalui dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol.3:17); “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tu[h]an kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.” (Ef.5:20).

Pemikiran lanjutan tentang Matius 28:19

B egitu terlepas dari “pesona” (Gal.3:1, “Siapa yang telah mempesonakan kamu?”) trinitarianisme, kita bertanya-tanya

bagaimana orang bisa sampai mengira bila ayat ini, Matius 28:19, memberi dukungan kepada Anak sebagai “sama-sama setara dengan Bapa”. Kita hanya perlu menanyakan: Apa yang mendahului pernyataan dalam ayat ini? Ayat 18 menyatakan “Kepadaku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah…”

“Segala kuasa” diberikan kepada Anak oleh siapa? Tentu saja oleh Bapa. Lalu bagaimana mungkin ia yang bertindak dengan otoritas

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

97

yang diberikan kepadanya oleh pribadi lain dinyatakan setara dengan yang memberikan otoritas itu? Seandainya ia setara, maka ia dapat menjalankan otoritasnya sendiri dan tidak perlu bergantung kepada otoritas yang diberikan itu. Semuanya ini seharusnya sudah cukup jelas. Namun, bukankah dalam keadaan “terpesona” seseorang tidak bisa melihat apa yang jelas? Oleh karena otoritas itu datangnya dari Bapa, maka jelaslah bahwa ia yang berfungsi dalam otoritas itu berfungsi dalam nama dari otoritas yang olehnya ia berwenang untuk berfungsi, dan dalam kasus ini nama Bapa. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila satu nama saja yang disebut, dan mengingat ayat yang mendahuluinya nama itu pasti adalah Nama Bapa. Ini berarti Anak dan Roh berfungsi di bawah Nama Bapa, karena satu nama berarti satu pribadi, bukan tiga. Yesus menjelaskan dengan gamblang bahwa ia tidak datang dalam namanya sendiri (Yoh.5:43; 10:25), dan bahwa Roh datang dari Bapa (Yoh.15:26); dengan demikian mereka berfungsi di bawah satu Nama, yaitu Nama Bapa (Yahweh). Berkenaan dengan Matius 28:19, apa yang telah dibahas semestinya sudah konklusif. Namun, kita bisa mempertimbangkan pokok berikut untuk memperlihatkan kelalaian yang disengaja dari argumentasi trinitaris. Berkaitan dengan hal ini, pertimbangkan kutipan dari Mishnah ini: “Rabi Yehuda berkata, ‘Belajarlah dengan seksama, karena kesalahan yang tidak disadari dalam pembelajaran akan diperhitungkan sebagai pelanggaran sembrono’”. (Aboth 4:13). H. Danby, editor Mishnah berkata (dalam catatan kaki) bahwa Rabi Yehuda adalah “guru yang paling sering disebut (sekitar 650 kali) dalam Mishnah”, menunjukkan bahwa perkataannya dianggap bijak dan berbobot, dan karena itu harus diperhatikan. Trinitarian seharusnya faham bahwa jika Matius 28:19 ingin dipakai sebagai bukti yang sah untuk Trinitas, mereka pertama-tama perlu membuktikan dengan jelas bahwa “Anak” dalam Injil Matius adalah nama ilahi. Jika tidak, sekalipun dua dari Pribadi itu ilahi

98

The Only True God

tetapi tidak bisa dibuktikan bahwa yang ketiga juga ilahi, maka jelaslah tidak ada dukungan perkara yang bisa dibuat untuk Trinitas. Lagipula, hanya istilah “Anak” yang ringkas saja yang muncul dalam ayat ini; dapatkah diasumsikan begitu saja bahwa yang dimaksud adalah “Anak Allah”, bukan “Anak Manusia”? Pertanyaan ini penting pertama-tama karena Yesus tidak pernah berbicara tentang dirinya sebagai Anak Allah; sebab meskipun istilah “Anak Allah” muncul 10 kali dalam Injil Matius, di mana 9 kalinya merujuk kepada Yesus, tetapi tidak satu pun dari pemunculan itu dipakai oleh Yesus untuk merujuk kepada dirinya sendiri. Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk menduga bila ia memakai gelar itu untuk dirinya sendiri di Matius 28:19. Istilah “Anak Manusia”, yang muncul 28 kali dalam Injil Matius, merupakan gelar yang dipilih oleh Yesus untuk merujuk kepada dirinya sendiri. Oleh sebab itu, bukankah wajar inilah yang dimak- sudkan dengan “Anak” di Matius 28:19? Sekalipun jika kita berasumsi bahwa yang dimaksud Yesus adalah Anak Allah, bertentangan dengan pemakaian konsistennya di Matius, kita masih perlu membuktikan bahwa “Anak Allah” itu sebuah gelar ilahi. Dengan meneliti bukti dalam Matius, paling banyak dapat ditunjukkan bahwa itu adalah sebuah gelar kehormatan dan pengagungan rohani. Kita sama sekali tidak dapat membuktikan keilahian gelar “Anak Allah” dalam arti merujuk kepada Allah atau kepada pribadi lain yang setara dengan Dia. Di Ucapan Bahagia Yesus menyatakan, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat.5:9). Perhatikan bahwa dari sembilan contoh, di mana gelar “Anak Allah” dikenakan kepada Yesus, dua contoh yang pertama adalah perkataan Iblis yang terkenal “jika engkau adalah Anak Allah” yang diucapkan pada waktu Pencobaan (Mat.4:3,6); contoh yang berikutnya diucapkan oleh dua laki-laki yang kerasukan setan di Matius 8:29; tiga contoh lainnya dipakai dalam bentuk cemoohan

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

99

di bibir musuh-musuhnya (26:63; 27:40,43). Hanya dua kali gelar itu keluar dari bibir murid-muridnya (14:33; 16:16); dan terakhir, dari mulut kepala pasukan pada saat penyaliban Yesus (27:54). Yesus tidak pernah memakai gelar ini untuk dirinya sendiri dalam Injil Matius; dan dari total sepuluh kali hanya dua yang diterapkan pada Yesus oleh murid-muridnya, yang tampaknya menunjukkan bahwa gelar ini bukan gelar pilihannya. Di Matius 14:33 para pengikutnya menyatakan bahwa ia adalah anak Allah setelah peristiwa meredakan badai; Petrus mengakui dia sebagai “Mesias, Anak Allah yang hidup” (16:16) di mana “Anak Allah” merujuk kepada “Mesias”, sebagaimana halnya dengan nas paralel di Lukas 9:20; imam besar mendesak Yesus untuk menyatakan di bawah sumpah apabila ia adalah “Mesias, Anak Allah” (26:63), tetapi Yesus tetap menolak memberikan jawaban langsung, menyebut dirinya seperti biasa dengan gelar “Anak Manusia” (ay.64); dua kali Yesus diejek sebagai “Anak Allah” sementara ia tergantung di atas kayu salib (27:40,43). Contoh terakhir keluar dari mulut kepala pasukan Romawi dan beberapa prajuritnya ketika mereka mengalami gempa bumi pada saat kematian Yesus dan mengakui dia sebagai sang (atau, seorang) Anak Allah (Mat.27:54). Apakah yang dimaksudkan oleh para prajurit Romawi dengan istilah itu? Nas paralelnya di Injil Lukas memberikan sebuah jawaban: “Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar” (Luk.23:47). Dengan demikian, kesimpulan dari survei dalam Injil Matius ini tidak memberikan bukti bahwa Anak Allah merujuk kepada suatu makhluk ilahi yang berada pada kedudukan yang setara dengan Allah. Pertimbangan yang seksama atas bukti yang ada menunjukkan tidak adanya dasar untuk mengklaim bahwa Matius 28:19 mendukung doktrin Trinitas.

100

The Only True God

Hal yang jelas ditunjukkan oleh rumus pembaptisan itu adalah bahwa Bapa merupakan sumber keselamatan kita, dan Anak adalah dia yang melaluinya keselamatan dibuat tersedia bagi umat manusia dan, yang ketiga, Roh Allah Yahweh terlibat di dalam seluruh proses keselamatan kita. Analisa ini didasari oleh prinsip fundamental yang dinyatakan dengan gamblang di 1Korintus 8:6, “namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa kita, yang dari Dia berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tu[h]an saja, yaitu Yesus Kristus, yang melalui dia segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena dia kita hidup.” Semuanya berasal dari Bapa, melalui Anak, oleh Roh Allah. Inilah prinsip yang terlihat di seluruh PB.

2Korintus 13:13

Hal yang sama berlaku untuk 2Korintus 13:13: “Anugerah Tu[h]an Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”. Dalam penulisan Paulus, “Tu[h]an Yesus Kristus” bukanlah sebuah gelar yang menempatkan dia setara dengan Allah, tetapi berbeda dari “satu Allah” itu sebagaimana terlihat di 1Korintus 8:6, di mana ia menyatakan bahwa bagi kita hanya ada “satu Allah saja, yaitu Bapa, dan satu Tu[h]an saja, yaitu Yesus Kristus” atau, dengan memakai kata-kata dari 1Timotius 2:5, “Karena Allah itu esa dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”. 2Korintus 13:13 tidak bernilai untuk trinitarianisme karena baik “Bapa” maupun “Anak” tidak disebut. Fakta bahwa Yesus disebut sebelum Allah menunjukkan bahwa “anugerah” dan “kasih” di sini ada hubungannya dengan keselamatan, karena tak seorang pun datang kepada Bapa kecuali melalui Kristus (Yoh.14:6); karena Allah dalam hikmat-Nya yang kekal telah memutuskan bahwa “di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

101

yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis.4:12). Dalam pengalaman keselamatan, kita datang kepada Kristus terlebih dulu, dan melalui dia kita mengalami kasih Allah, dan kemudian barulah kita mengalami Roh-Nya bekerja dalam hidup kita. Lagipula, Paulus tidak tahu apa-apa tentang trinitarianisme; penegasannya tentang “satu Allah” (Rm.16:27; Rm.3:30; 1Kor.8:6; 8:4; Ef.1:3; 3:14; 4:6; 1Tim.1:17; 2:5, dst.) membuktikan bahwa imannya dengan teguh berakar dalam monoteisme PL yang tak kenal kompromi. Yesaya 45 merupakan salah satu pasal yang menyatakan mono- teisme yang tak kenal kompromi ini. Sewaktu berhadapan dengan pemujaan berhala bangsa Israel, Yahweh mendeklarasikan sebanyak tiga kali dalam dua ayat (ay.21,22) bahwa Ia adalah satu-satunya Allah yang ada:

20 “Berhimpunlah dan datanglah, tampillah bersama-sama, hai kamu sekalian yang terluput di antara bangsa-bangsa! Tiada berpengetahuan orang-orang yang mengarak patung dari kayu dan yang berdoa kepada allah yang tidak dapat menyelamatkan. 21 Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku! 22 Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.”

102

The Only True God

Keakraban Rasul Paulus dengan pasal ini tercermin dari surat-surat- nya: Kol.2:3 – Yes.45:3; Rm.9:20 – Yes.45:9; 1Kor.14:25 – Yes.45:14; Rm.11:33 – Yes.45:15; dan Rm.14:11; Flp.2:10-11 – Yes.45:23.

Gelar “Tu[h]an Yesus Kristus”

G elar ini cukup dipastikan berasal dari pengajaran gereja paling mula-mula. Gelar ini muncul dalam pesan yang dikhotbahkan

oleh Petrus setelah Pentakosta di Kisah Para Rasul 2:36, “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tu[h]an dan Kristus.” Perhatikan ketiga kata dalam huruf miring yang jika digabungkan membentuk gelar “Tu[h]an Yesus Kristus”. Jadi gelar ini bukanlah ciptaan Paulus tetapi merupakan salah satu anugerah yang telah ia “terima” (1Kor.15:3). Dari Kisah 2:36 kita melihat bahwa Allahlah yang membuat Yesus menjadi “Tu[h]an”; oleh karena itu tidak ada soal tentang kesetaraan hakiki dengan Allah. Oleh sebab itu, 2Korintus 13:13 tidak bisa dipakai untuk menyangga doktrin Trinitas. Hal yang ditegaskan secara konsisten dalam surat-surat Paulus adalah bahwa Allah mengerjakan penebusan kita di dalam dan melalui Kristus, dan mengerjakan pengudusan kita di dalam dan melalui Roh.

Yesus tidak pernah mengklaim gelar “Allah” untuk dirinya sendiri

S ebelumnya kita telah mencatat pernyataan yang dibuat oleh Dr. H.A.W. Meyer: “Ia (Yesus) tidak pernah diketahui mengklaim

nama θεός (theos, Allah) baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk

Roh Kudus”. Tidak ada sarjana Alkitab yang mempertanyakan kebe- naran dari ketegasan ini, karena ia dengan tepat mencerminkan

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

103

kebenaran Alkitabiah tentang perkara ini. Kebenaran ini sangat penting untuk dengan tepat memahami Yesus dan pengajarannya. Namun jika Yesus sendiri tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Allah, umat Kristen tetap saja bersikeras memanggilnya “Allah” sekalipun hal ini bertentangan dengan sikap dan pengajaran Yesus sendiri, dan khususnya bertentangan dengan monoteisme Yesus sendiri. Seperti orang-orang di Yohanes 6 yang ingin menjadikan Yesus raja secara paksa, umat Kristen menjadikan dia Allah secara paksa. Ini tidak dilakukan oleh Yohanes atau oleh “komunitas Yohanein”. Ketika membahas pesan Yesus dalam Injil Yohanes, teolog sistematik Jerman Karl-Josef Kuschel bertanya, “Apakah Yesus mengabarkan bahwa ia adalah Allah? Apakah murid-murid Yesus menuhankan pahlawan mereka?” Atas pertanyaan-pertanyaan ini ia menjawab:

‘Pertama, tidak mungkin ada pertanyaan apakah teks menunjukkan bahwa Yesus menuhankan dirinya sendiri di sini. Yesus tidak pernah menyatakan dirinya sebagai “Allah”, tetapi sebaliknya dimengerti oleh komunitas pasca Paskah, dalam “Roh”, sebagai firman Allah dalam sebuah pribadi… Yang kedua, para murid Yesus pun tidak pernah mengklaim bahwa Yesus adalah Allah; mereka juga tidak menuhankan pahlawan mereka. Tidak di manapun juga Kristus Yohanein pernah muncul sebagai Allah kedua di samping Allah. Dalam Injil Yohanes pun, dapat dianggap pasti bahwa Allah (ho theos) adalah sang Bapa, dan sang Anak adalah yang telah ia utus, pewahyu-Nya: “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh.14:28). Pengakuan Tomas yang terkenal, “Tu[h]anku dan Allahku” (Yoh.20:28), juga harus dipahami dalam pengertian ini; yang mencerminkan bahasa doa (!), yang dengan jelas merujuk kepada Kristus yang telah bangkit dan yang mengandaikan pengutusan Roh (Yoh.20:22). Isinya tidak

104

The Only True God

menyatakan perubahan apapun atas pernyataan-pernyataan kristologis yang sebelumnya (yang mengarah kepada, misalnya, penuhanan Kristus atau penggantian Allah oleh Kristus), melainkan sebuah konfirmasi atas apa yang diperkenalkan dalam prolog dan yang juga akan dinyatakan di bagian akhir dari surat 1Yohanes (5:20), bahwa “Allah sungguh-sungguh telah menjadi kelihatan dalam rupa Yesus” (H.Strathmann), bahwa “Yesus itu transparan kepada sang Bapa sebagai pewahyu-Nya” (Rahner dan Thuesing, A New Christology, 180. Tentang Yohanes 1:1, Thuesing (ibid.) dengan meyakinkan menyatakan bahwa “Logos” di sini bukan mode subsistensi kedua dari Trinitas, tetapi firman Allah yang memberi pewahyuan’.)’ (K-J Kuschel, Born Before All Time? hlm.387 dyb.)

Namun Yesus bukan saja tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Allah, ia malah enggan berbicara tentang dirinya sebagai Mesias di depan umum. Fakta ini jelas nyata dalam kitab-kitab Injil. Sarjana Jerman Wrede menyebutnya “rahasia Mesianik” (“the Messianic secret”), dan “rahasia” ini menjadi topik dari begitu banyak diskusi terpelajar dalam buku-buku dan artikel-artikel. Hal yang perlu kita perhatikan di sini adalah jika Yesus menolak mengakui kemesiasan- nya di depan umum, terlebih lagi ia tidak akan membuat klaim apapun sebagai Allah! Namun orang Kristen, sementara mengakui bahwa Yesus tidak pernah menerapkan kata “Allah” kepada dirinya sendiri, memperde- batkan bahwa beberapa ucapannya mengandung klaim implisit terhadap keilahian. Satu pernyataan seperti itu yang mereka petik ialah: “Aku dan Bapa adalah satu”. Jika kita setia kepada sikap Yesus yang menolak mengklaim status ilahi, maka jelaslah bila setiap inter- pretasi atas kata-kata Yesus harus mengesampingkan klaim implisit atau klaim halus sebagai Allah. Jika kita dapat sekali saja melepaskan kebiasaan membacakan penafsiran trinitaris kita ke dalam teks yang

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

105

kita baca dalam kitab-kitab Injil, kita akan melihat bahwa “kesatuan” dengan Allah yang dibicarakan oleh Yesus bukanlah kesatuan eksklusif antara dia dengan Bapa, tetapi suatu kesatuan yang mencakup semua orang beriman; dan justru kesatuan yang inklusif dari semua orang beriman dengan dirinya dan dengan Allah inilah yang didoakan oleh Yesus di Yohanes 17:11,22: “supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” Jika kesatuan dengan Allah berkaitan dengan menjadi Allah, maka semua orang beriman akan menjadi Allah melalui kesatuan ini!

Antikristus: satu-satunya pribadi di Perjanjian Baru yang mengklaim dirinya sebagai Allah

Yesus tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Allah; hanya ada satu pribadi saja yang disebut dalam Perjanjian Baru yang akan membuat klaim ini: antikristus, si “manusia durhaka” (“Man of Lawlessness”). Mengapa umat trinitarian bersikeras mengatakan bahwa Yesus mengklaim dirinya sebagai Allah (konon dengan pernyataan- pernyataan “Akulah”, yang akan kita bahas di bawah ini), padahal ia sama sekali tidak membuat klaim seperti itu? Di 2Tesalonika 2:3,4 dikatakan tentang “manusia durhaka” (ay.3), bahwa ia akan “menyatakan diri sebagai Allah”—seorang manusia yang mempro- klamirkan dirinya sebagai Allah adalah tanda utama yang digunakan oleh mereka yang sudah pernah diajar untuk mengenali dia (ay.4). Apakah kita sungguh-sungguh ingin mengklaim bahwa sebenarnya inilah yang dilakukan oleh Kristus sendiri, dan “manusia durhaka” itu akan menirunya? Jika Kristus tidak pernah membuat klaim semacam itu, maka kepalsuan klaim dari “manusia durhaka” itu akan dengan mudahnya terekspos. Namun, jika orang banyak sudah menerima klaim trinitaris bahwa Yesus mengklaim dirinya sebagai Allah (atau sekalipun jika ia tidak membuat klaim tersebut, bagaimanapun juga

106

The Only True God

dalam kenyataannya ia adalah Allah), maka tidaklah mengherankan bila banyak orang akan beranggapan bahwa antikristus ini, yang pada akhir zaman mengklaim dirinya sebagai Allah, bisa jadi adalah Kristus yang telah datang kembali, dan oleh karenanya ditipu oleh antikristus. Harus diingat bahwa antikristus jelas tidak akan menyatakan dirinya sebagai “manusia durhaka” atau “pembinasa keji”, melainkan sebagai Kristus sejati, sang juruselamat dunia, yang membawa “perdamaian dan keamanan” (1Tes.5:3) ke dunia ini. Sekarang mari kita lihat lagi 2Tesalonika 2:4: “yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah hingga ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah.” Perhatikan bahwa antikristus menentang semua allah lain, sehingga meninggikan dirinya sebagai satu-satunya sasaran penyembahan yang benar—sekali lagi hal yang tidak pernah dilakukan oleh Yesus, tetapi sebaliknya, pada waktu pencobaan ia sudah menyatakan (Mat.4:10), “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis:

‘Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!’ (Ul.6:13)”. Betapa besar perbedaannya dengan antikristus! Perhatikan juga bahwa “ia duduk di Bait Allah” (ay.4) yang, tentu saja, menegaskan klaimnya sebagai Allah; karena jika ia adalah Allah maka di mana lagi tempat duduknya kalau bukan di dalam bait Allah? Dari semua ini kita bisa melihat dengan mudah bahwa jika Kristus mengklaim dirinya sebagai Allah, dan antikristus pun berbuat hal yang sama seperti dia, maka tanda pengenal utama dari antikristus akan hilang. Lalu bagaimana antikristus bisa dikenali bila ia datang, terutamanya bila kedatangannya akan disertai oleh “tanda-tanda dan mujizat-mujizat” yang dahsyat? 2Tesalonika 2:9:

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai berbagai perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu”.

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

107

Musuh-musuh Yesus menuduhnya mengklaim kesetaraan dengan Allah

Ada dua nas utama dalam Injil, keduanya di Injil Yohanes, yang mencatat bahwa musuh-musuh Yesus menuduhnya telah secara tidak langsung mengklaim kesetaraan dengan Allah. Keduanya merupakan “nas konflik” yang mengungkapkan sikap permusuhan dari para musuh Yesus dengan membuat tuduhan serius bahwa Yesus menyiratkan bila ia memiliki kesetaraan dengan Allah. Tentu saja, itu adalah tuduhan sebesar tuduhan menghujat, yang menurut Hukum Yahudi diganjar dengan hukuman mati. Begitulah besarnya permusuhan mereka terhadap dia karena tidak menaati hukum Taurat sesuai pandangan mereka, khususnya aturan hari Sabat, sehingga mereka berupaya mencari jalan untuk membunuhnya. Inilah konteks tuduhan penghujatan yang dilemparkan kepada- nya. Kita sudah berulangkali memperhatikan bahwa Yesus tidak pernah mengklaim kesetaraan dengan Allah. Sebaliknya, ia sangat menekankan ketergantungan dan ketundukannya kepada Allah. Tidak ada Injil yang menonjolkan pengajarannya tentang hal ini dengan lebih kuat selain Injil Yohanes. Maka seharusnya jelas bagi siapa saja yang tanpa prasangka membaca Injil Yohanes bahwa tuduhan menyetarakan dirinya dengan Allah, yang merupakan penghujatan, adalah tuduhan yang nyata-nyata palsu yang dirancang untuk memastikan kematiannya sebagaimana dinyatakan dengan gamblang di Yohanes 5, bahwa para musuhnya “makin berusaha untuk membunuhnya” (ay.18). Namun hal yang paling anehnya, dari sudut pandang eksegesis Alkitabiah, para trinitarian menganggap tuduhan palsu itu benar! Bagaimanapun juga, inilah yang dituntut oleh dogma trinitaris. Mereka tidak terlalu peduli apakah Yesus sendiri menerima tuduhan itu atau tidak. Jawabannya atas tuduhan tersebut cukup jelas untuk dilihat oleh semua orang.

108

The Only True God

Yohanes 5

15 Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada para pemuka Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia.

16 Karena itu, para pemuka Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.

17 Tetapi ia berkata kepada mereka: “Bapaku bekerja sampai sekarang, maka akupun bekerja juga.”

18 Sebab itu, para pemuka Yahudi makin berusaha untuk membunuhnya, bukan saja karena ia melanggar peraturan Sabat, tetapi juga karena ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapanya sendiri dan dengan demikian menyamakan dirinya dengan Allah.

19 Lalu (oun, ‘oleh karena itu’) Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya aku berkata kepadamu, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri, jikalau ia tidak meli- hat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”

Lalu apa tanggapan Yesus atas gugatan yang dituduhkan kepadanya bahwa ia “menyamakan dirinya dengan Allah” (ay.18)? Hanya kebutaanlah yang menghalangi kita dari melihat bahwa jawabannya adalah penolakan mentah-mentah atas tuduhan kesetaraan karena, sebaliknya, “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri”; ia mengikuti Bapa dengan sepenuhnya, sebab ia melakukan “hanya” “apa yang dikerjakan Bapa”. Bagaimanakah mungkin suatu penolakan atas tuduhan kesetaraan dapat dibuat lebih kuat dari ini? Berhubungan dengan Allah sebagai Bapa sesungguhnya adalah unsur utama dalam kehidupan dan pengajaran Yesus. Sejak awal dalam pelayanannya ia mengajari murid-muridnya untuk berbicara kepada Allah sebagai “Bapa”, mengajari mereka untuk berdoa, “Bapa kami di surga”. Ini juga bukan sesuatu yang sama sekali unik untuk Yesus seolah-olah itu suatu bentuk panggilan yang belum dikenal

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

109

untuk Allah; frasa ini muncul dalam PL: Yesaya 64:8, “Tetapi seka- rang, ya TUHAN (Yahweh), Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu”, dan “Aku telah menjadi bapa Israel”, Yer.31:9; bdk. Mal.1:6. Dan Israel berkali-kali disebut sebagai “anak” Allah (Kel.4:22,23; Ul.14:1 “anak-anak” dalam teks Ibrani dan Yunani; demikian juga Yes.1:2). Allah adalah “Bapa kami” secara kolektif, maka Ia pun “Bapaku” secara individu; karena bagaimana mungkin Dia dapat disebut “Bapa kami” jika Dia bukan “Bapaku”? Jadi, Yesus yang menyebut Allah sebagai “Bapanya” seharusnya tidak menjadi isu untuk orang Yahudi, selain daripada anggapan bila ia terlalu menekankan bentuk sapaan untuk Allah ini dalam cara yang bagi mereka dirasakan terlalu intim sehingga tidak takzim. Namun, ini tidak layak disebut mengklaim kesetaraan dengan Allah, yang berarti penghujatan. Ini semua menunjukkan dengan amat nyata bahwa seluruh episode ini adalah suatu usaha dari para pemimpin bangsa itu untuk dengan segala cara mengarang tuduhan palsu terhadap Yesus agar ia dijatuhkan hukuman mati, dan mengenyahkan orang yang mereka anggap pembuat keonaran besar, sebuah duri dalam daging.

Yohanes 10 27 Domba-dombaku mendengarkan suaraku dan aku mengenal mereka dan mereka mengikut aku,

28 dan aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganku.

29 Bapaku, yang memberikan mereka kepadaku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.

30 Aku dan Bapa adalah satu.

110

The Only True God

31 Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus.

32 Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapaku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku?”

33 Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan dirimu Allah.”

34 Kata Yesus kepada mereka: “Bukankah ada tertulis dalam kitab Tauratmu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah?

[Mzm.82:6]

35 Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan,

36 masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena aku telah berkata: Aku Anak Allah?

37 Jikalau aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapaku, janganlah percaya kepadaku,

38 tetapi jikalau aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepadaku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam aku dan aku di dalam Bapa.”

Usaha yang kedua kalinya ini untuk mendakwakan tuduhan penghujatan terhadap Yesus berangkat dari kegagalan mereka dalam memahami kata-kata Yesus “Aku dan Bapa adalah satu” (ay.30). Seperti para trinitarian, entah bagaimana, mereka membaca adanya klaim kesetaraan dengan Allah di dalam kata-kata ini, meskipun Yesus telah mengatakan segera sebelum itu bahwa “Bapaku lebih besar daripada siapapun” (ay.29). Apakah kita mengira “siapapun” di sini tidak termasuk Yesus sendiri? Bukankah maknanya cukup

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

111

jelas: Tak ada seorang pun yang lebih besar daripada Bapaku? Atau dengan memakai kata-kata Paulus, Bapa adalah Allah “yang ada di atas segala sesuatu, yang harus dipuji sampai selama-lamanya” (Rm.9:5). Dengan menyatakan bahwa “Bapa”, bukan Anak, “lebih besar daripada siapapun” berarti Yesus telah menutup segala klaim terhadap kesetaraan. Ia menaruh perkara ini di tempat yang tidak bisa diperdebatkan lagi ketika menyatakan, “Bapa lebih besar daripada aku” (Yoh.14:28). Perhatikan bahwa seluruh isu dalam bagian teks ini dari Yohanes 10 berkisar seputar penghujatan: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah, karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan dirimu Allah” (ay.33); dan lagi, “Engkau menghujat Allah” (ay.36), semuanya itu dengan niat yang dinyatakan di depan umum untuk melempari dia dengan batu sampai mati. Yesus menolak tuduhan mereka justru karena, bertentangan dengan tuduhan mereka, ia tidak pernah membuat klaim kesetaraan dengan Allah. Yesus menjelaskan apa yang dimaksud dengan “Aku dan Bapa adalah satu” dengan kata-kata berikut, “supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam aku dan aku di dalam Bapa” (ay.38). Namun, penjelasan ini barangkali kurang terang untuk mereka, setidaknya sampai mereka mendengar pengajarannya di Yohanes 15:1 dyb. berkenaan dengan kesatuan hidup dengan Bapa yang mencakup para murid. Yesus juga menjelaskan bahwa dengan mengatakan “Aku adalah Anak Allah” ia menunjuk kepada dirinya sebagai dia “yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia” (ay.36) dan hal ini, sebagaimana ditunjukkan olehnya, tidak bisa didakwa sebagai penghujatan. Sebab dalam sejarah Israel ada orang- orang lain yang juga telah dikuduskan dan diutus oleh Allah kepada umat-Nya, terutamanya Musa. Akan tetapi, hukum Taurat bahkan

112

The Only True God

menyebut para pemimpin yang lebih kecil daripada Musa sebagai “para allah” karena mereka bertindak sebagai wakil Allah di bawah wewenang firman-Nya. Dengan demikian Yesus menunjukkan dengan jelas dan tajam bahwa tuduhan mereka sama sekali tidak berdasar.

”Anak Allah”

I stilah “anak Allah” bukanlah hal baru bagi umat Yahudi. Istilah ini ditemukan dalam PL, di mana Israel disebut “anak” Allah

(Kel.4:2,23; Yes.1:2; Yer.31:9; Hos.11:1, bdk. Mat.2:15). Jadi, apa sebenarnya maksud tuduhan yang dibuat-buat ini? Sederhananya begini: Yesus dituduh telah memakai istilah “anak Allah” bukan menurut pengertian konvensional tetapi sebagai klaim kesetaraan dengan Allah—klaim yang menghujat dan ganjarannya adalah hukuman mati menurut hukum Taurat (Yoh.19:7). Luar biasanya, trinitarianisme sependapat dengan musuh-musuh Yesus bahwa ia membuat klaim tersebut! Berdasarkan tuduhan palsu inilah Yesus dihukum mati melalui penyaliban (Yoh.19:6, juga ay.15 dyb. Mrk.14:64; Mat.26:65,66). Namun menurut trinitarianisme, tuduhan terhadap Yesus yang mengklaim kesetaraan dengan Allah itu benar; jika memang demikian, maka menurut hukum Yahudi ia pantas disalib, karena klaim Yesus tidak memberikan pilihan lain kepada Sanhedrin (yakni Mahkamah Agama, badan hukum tertinggi di Israel) selain menghukum mati Yesus. Namun cerita-cerita Injili tentang pengadilan Yesus jelas menun- jukkan bahwa Yesus dihukum dan dieksekusi atas dasar tuduhan- tuduhan palsu yang dibuat oleh saksi-saksi palsu. Kitab-kitab Injil tidak ada yang menegaskan bila Sanhedrin berbuat hal yang benar menurut hukum Taurat. Matius menyatakan hal tersebut dengan sangat jelas:

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

113

59 Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya ia dapat dihu- kum mati, 60 tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. (Mat.26:59,60a)

Seharusnya jelas nyata bagi setiap orang yang perseptif bahwa jika Yesus memang telah mengklaim kesetaraan dengan Allah, maka apa gunanya mencari bukti palsu dan saksi-saksi palsu? Bahkan saksi- saksi palsu tidak berhasil mengarang suatu perkara yang meyakinkan sebagaimana ditunjukkan oleh Matius 26:60 dyb. Akhirnya, karena frustasi tidak bisa menemukan tuduhan sah atas Yesus, mereka menuduhnya telah menghujat oleh karena klaimnya sebagai Mesias—yang di bawah hukum Taurat tidak diganjar dengan hukuman mati! Berikut ini adalah adegannya sebagaimana dilukiskan dalam Injil Matius (pasal 26):

62 Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepadanya:

“Tidakkah engkau memberi jawaban atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap engkau?”

63 Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada- nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.”

64 Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.”

65 Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujatnya.

66 Bagaimana pendapat kamu?” Mereka menjawab: “Ia harus dihukum mati!”

Perhatikan bahwa Yesus diminta untuk mendeklarasikan di bawah sumpah apakah ia “Kristus”, yaitu Mesias, Anak Allah (ini adalah

114

The Only True God

gelar lain untuk Mesias, yang akan dibahas dengan lebih menye- luruh berikut ini). Mengapa imam besar itu tidak menanyakan saja kepadanya apakah ia mengklaim kesetaraan dengan Allah, yang memang telah dituduhkan kepadanya di depan umum? Jawabannya mudah, sebagaimana telah kita lihat, mereka tidak bisa melemparkan tuduhan ini kepada Yesus meskipun dengan memakai saksi-saksi palsu; jadi jelaslah bahwa ia tidak pernah membuat klaim semacam itu, dan akan menyangkalnya lagi jika ditanyai. Luar biasanya, bahkan untuk pertanyaan apakah ia Mesias Yesus pun menolak memberikan jawaban langsung, menjawab hanya dengan “Engkau telah mengatakannya”, yakni, itu adalah kata- katamu, bukan kata-kataku. Dan berpaling dari gelar “Anak Allah” ia malah merujuk dirinya dengan gelar yang lebih disukainya, yaitu “Anak Manusia” (ay.64), yang menunjuk kepada nubuatan mesianik di Daniel 7:13: “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia”. Bagaimana tepatnya ini bisa menjadi hujatan di bawah Hukum Yahudi tidak jelas sama sekali, dan berjilid-jilid diskusi terpelajar tentang pengadilan Yesus tersedia bagi mereka yang ingin mengejar perkara ini lebih jauh. Namun yang jelas Sanhedrin bertekad untuk membunuh Yesus dengan atau tanpa bukti yang diperlukan. Hal yang penting untuk tujuan kita adalah menunjukkan dari cerita-cerita Injili bahwa dakwaan-dakwaan yang dituduhkan kepada Yesus bahwa ia mengklaim kesetaraan dengan Allah tidak bisa bertahan sekalipun dalam persidangan yang bersikap sangat bermusuhan dengannya, yakni Sanhedrin. Di dalam cahaya kisah- kisah Injil, tidak bisa dimengerti bagaimana para trinitarian bisa mengabaikan bukti dari kitab-kitab Injil dan bersikeras bahwa Yesus memang mengklaim kesetaraan dengan Allah. Tentu saja Yesus mengklaim keintiman istimewa dengan Allah sebagai Bapa karena Logos Allah berinkarnasi di dalam dia

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

115

(Yoh.1:14); tetapi yang menjadi tujuannya, baik melalui kehidupan ataupun kematiannya, adalah untuk membawa murid-muridnya ke dalam keintiman (atau kesatuan) yang serupa dengan Bapa, sehingga mereka pun akan mengenal Dia sebagai Bapa dan hidup dalam hubungan Bapa-anak dengan-Nya; ini adalah unsur sentral pengajaran Yesus dalam Injil Yohanes. Pelayanan Yesus dimaksudkan untuk membawa para murid (“yang Bapa berikan kepadaku”) ke dalam hubungan yang serupa:

“Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepadaku [kemuliaan apa lagi selain kemuliaan keputraan?], supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna,” Yoh.17:22,23; bdk.14:20). Pelukisan hubungan rohaniah yang begitu mendalam dalam arti menjadi satu dengan Allah dipakai untuk menjebaknya dengan tuduhan menyetarakan dirinya dengan Allah.

Arti “Anak Allah” yang diterapkan kepada Yesus

K ita sudah melihat bahwa Yesus tidak pernah mengklaim sebagai Allah dalam semua kitab Injil, dan kata “Allah” tidak

dipakai untuk mengacu kepadanya di bagian PB selebihnya (kecuali dalam beberapa terjemahan modern, dalam dua atau tiga ayat, kata “Allah” mengacu kepada Yesus; kita akan memeriksa terjemahan- terjemahan itu nanti). Kita pun telah melihat bahwa istilah trinitaris “Allah-Anak” tidak ditemukan di manapun juga dalam Alkitab. Jadi, dari mana datangnya istilah ini? Jawaban singkatnya, tentu saja, istilah ini sebuah ciptaan trinitaris. Istilah ini menjadi populer

karena kemiripannya yang menyesatkan dengan gelar “anak Allah” yang memang muncul dalam PB; dalam benak orang-orang yang tidak terlalu tajam pemikirannya, kedua istilah ini dapat dengan mudah menjadi rancu dalam bahasa Inggris. “God the son” (“Allah-

116

The Only True God

Anak”) membalikkan “the son of God” (“anak Allah”) dengan membuang kata “of”. Perubahan-perubahan penting ini kelihatan- nya sepele, terutama untuk bahasa (seperti bahasa Mandarin) yang sintaksisnya memerlukan pembalikan susunan kata dalam proses penerjemahan. Hal ini mungkin juga terjadi dalam bahasa Inggris jika “the son of God” diterjemahkan sebagai “God’s son”; itulah caranya istilah tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin. Namun semirip-miripnya “God’s son” dengan “God the son”, makna keduanya sama sekali berbeda. Tepatnya perbedaan inilah yang dengan mudahnya dilewatkan (terutama oleh orang Kristen rata- rata), sehingga menghasilkan kesalahan serius. Apa arti “Anak Allah” di dalam PB? Sekilas pandang bukti Alkitabiah menunjukkan bahwa itu adalah sebuah gelar Mesias, Raja Israel yang dinanti-nantikan, yang juga akan menjadi “juruselamat dunia” (Yoh.4:42; 1Yoh.4:14). Ini sama sekali tidak ada sangkut- pautnya dengan gagasan trinitaris akan suatu tokoh ilahi yang disebut “Allah-Anak”. Gelar Alkitabiah ini diturunkan dari mazmur Mesianik penting, Mazmur 2, di mana (ay.7) Yahweh berbicara kepada raja Davidik, “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan (yaitu Aku telah menjalin suatu hubungan denganmu seperti hubungan antara Bapa dengan anak; dan semenjak saat itu Raja- Mesias akan bertakhta di bumi dalam Nama Yahweh untuk menaklukkan musuh-musuh kebenaran, bdk. Mzm.2:9; 110:1; 1Kor.15:25-28) pada hari ini (hari pengurapan dan penobatan)”. Frasa Mesianik “Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini” menandakan asal mula frasa “Anak Tunggal Allah” (Yoh.1:18; 3:16) yang sering dikutip oleh trinitarian tanpa mempedulikan asal mulanya, dengan memaksakan makna dogmatis mereka sendiri kedalamnya. Faktanya adalah Mazmur 2:7 berulang-kali diterapkan kepada Yesus dalam Perjanjian Baru:

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

117

Kisah 13:33, “telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang tertulis dalam mazmur kedua: Engkaulah Anak-Ku! Aku telah menjadi Bapamu pada hari ini.”

Yang menarik dan signifikan tentang ayat ini adalah bahwa kebangkitan Yesus dari antara orang mati dilihat sebagai titik penggenapan Mazmur 2:7, titik di mana ia “diperanakkan” sebagai “anak”, ketika ia diurapi dan dinobatkan sebagai raja. Menariknya, ayat yang sama diterapkan kepada Yesus di Ibrani 5:5 sehubungan dengan penunjukannya sebagai Imam Besar supaya, seperti Melkisedek (Ibr.7:1), ia menjadi raja dan juga imam:

Ibrani 5:5, Demikian pula Kristus tidak memuliakan dirinya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepadanya: “Engkaulah Anak-Ku! Engkau telah menjadi Anak-Ku pada hari ini”…

Dari semua ini jelaslah bahwa “Anak Allah” merupakan sebuah gelar dari sang Mesias dalam Alkitab, dan jangan dirancukan dengan “Allah-Anak” trinitaris itu. Beberapa referensi tambahan sudah cukup untuk menetapkan fakta ini:

Yohanes 1:34, “Aku telah melihatnya dan memberi kesaksian:

Ia inilah Anak Allah.”

Apa maksud Yohanes Pembaptis dengan gelar ‘Anak Allah’? Dari ayat 41 (“Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)” murid- muridnya jelas sekali memahami siapa yang dimaksudkannya.

Yohanes 1:49, Kata Natanael kepadanya: “Rabi, Engkau Anak Allah, engkau Raja orang Israel!”

118

The Only True God

Kata-kata di atas menunjukkan bahwa untuk Natanael (dan umat Yahudi umumnya), ‘Anak Allah’ berarti ‘Raja orang Israel’, satu lagi gelar lain dari Mesias. Kaitan antara Raja keturunan Daud yang dijanjikan itu, sang Mesias, dengan gelar “Anak Allah” juga terlihat jelas dari nas berikut ini di Matius 27:

41 Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan dia dan mereka berkata:

42 “Orang lain ia selamatkan, tetapi dirinya sendiri tidak dapat ia selamatkan! Jika ia Raja Israel, baiklah ia turun dari salib itu, maka kami akan percaya kepadanya.

43 Ia mempercayakan dirinya pada Allah: Biarlah Allah men- yelamatkan dia sekarang, jikalau Allah berkenan kepadanya! Karena ia telah berkata: Aku Anak Allah.

Hendaknya diingat bahwa nas di atas terdapat dalam Injil Matius, bukan Injil Yohanes, jadi ‘Anak Allah’ di sini tidak mengandung konotasi yang sama dengan yang terdapat dalam Injil Yohanes, dan tentunya dalam Injil Matius sama sekali tidak ada pernyataan klaim kesetaraan dengan Allah. Oleh sebab itu, kita harus menanyakan apa yang dipahami oleh para imam kepala dan ahli Taurat dengan istilah tersebut, dan mengapa mereka mengaitkannya secara sengaja dengan ‘Raja Israel’, meskipun dalam ejekan? Sekali lagi, jawabannya adalah: ‘Anak Allah’ dan ‘Raja Israel’ keduanya adalah gelar mesianik. Namun, mereka menolak Yesus sebagai Mesias Israel; mereka melihat dia sebagai Mesias palsu, dan karena itu, mereka menganggap dia sangat berbahaya secara politik, sebagaimana ditunjukkan oleh sambutan meriah orang banyak ketika Yesus memasuki Yerusalem. Pemerintahan Romawi juga selalu takut akan pemberontakan politik, jadi para pemimpin Yahudi memanfaatkan rasa takut itu, dan mendesak mereka untuk menyalibkan Yesus.

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

119

Markus 15:32, “Baiklah Mesias (Kristus), Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya.” Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan dia mencela dia juga.

Anak Allah, raja Mesianik Israel

B ahwa gelar “anak Allah” merupakan gelar yang terkenal bagi sang Mesias terlihat dari ayat-ayat berikut yang menunjukkan

bahwa kedua gelar “Kristus” (atau “Mesias”) dan “anak Allah” kerapkali dipakai bersama: Mat.16:16; 26:63; Mrk.1:1 (“anak Allah” tidak ditemukan dalam dua teks Yunani purba yang penting, yang disebut unsial); Luk.4:41; Yoh.11:27; 20:31; Rm.1:4; 1Kor.1:9; 2Kor.1:19; Gal.2:20; Ef.4:13; 1Yoh.5:20; 2Yoh.1:3,9—semuanya 14 kali (atau 13 jika Mrk 1:1 tidak termasuk). Dari ayat-ayat ini, terutama ayat-ayat Injil di mana “Kristus” dan “anak Allah” diucapkan bersama-sama sebagai dua bagian dari satu gelar yang sama, semestinya amat jelas sekarang bahwa sang Mesias disebut “anak Allah”, berdasarkan “anak-Ku engkau” di Mazmur 2:7 yang diucapkan kepada raja keturunan Daud. Mengenai ayat ini, Robert Alter, Professor of Hebrew and Comparative Literature dari University of California, Berkeley, baru-baru ini menulis, “adalah hal biasa di Timur Dekat purba, hal yang mudah diadopsi oleh bangsa Israel, untuk membayangkan raja sebagai anaknya Allah” (The Book of Psalms, A Translation with Commentary, Norton, 2007; tentang Mzm.2 sehubungan dengan gelar “anak Allah” lihat pembahasan lebih lengkap di Lampiran 1). Untuk mempertimbangkan arti gelar “anak Allah” dengan lebih seksama, saya mengutip dari artikel James Stalker dalam International Standard Bible Encyclopedia (ISBE):

120

The Only True God

Dalam Kitab Suci gelar itu diberikan kepada bermacam orang untuk pelbagai alasan. Pertama, gelar itu diterapkan kepada para malaikat, seperti di Ayub 2:1 dikatakan “datanglah anak- anak Allah menghadap Yahweh”; mereka boleh jadi disebut demikian karena mereka adalah makhluk ciptaan Allah, atau karena, sebagai makhluk rohani, mereka menyerupai Allah yang adalah roh. Yang kedua, di Lukas 3:38 gelar itu diterapkan kepada manusia pertama; dan dari perumpamaan Anak yang Hilang bisa diperdebatkan kalau gelar itu berlaku kepada semua orang. Yang ketiga, gelar itu diterapkan kepada bangsa Ibrani, seperti di Kel.4:22, Yahweh berkata kepada Firaun, “Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung,” alasannya karena Israel adalah sasaran dari kasih dan pilihan Yahweh yang istimewa. Yang keempat, gelar itu diterapkan kepada raja-raja Israel, sebagai perwakilan dari bangsa yang terpilih. Dengan demikian, di 2Sam.7:14, Yahweh berkata tentang Salomo, “Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku”; dan, di Mzm.2:7, penobatan seorang raja diumumkan dalam sebuah ramalan dari surga, yang berkata, “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” Akhirnya, dalam Perjanjian Baru, gelar tersebut diterapkan kepada semua orang kudus, seperti di Yoh.1:12, “Tetapi semua orang yang menerimanya diberinya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namanya;” Karena gelar itu memiliki jangkauan aplikasi seluas ini, maka jelaslah bahwa Keilahian Kristus tidak dapat disimpulkan hanya dari fakta bahwa ia diterapkan kepada Yesus’ (Penebalan huruf ditambahkan demi kejelasan; cetak miring dari saya).

Akan tetapi, sebagai seorang trinitarian, Stalker tidak akan bersedia untuk mengakui apa yang dinyatakan di kalimat terakhir dari petikan ini. Sesungguhnya, sebagaimana dapat diduga, ia tidak akan

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

121

menyimpulkan artikelnya sampai ia bisa menemukan jalan untuk membalikkan “anak Allah” menjadi “Allah-Anak”. Untuk mencapai hal ini, banyak argumentasi semu yang menyertainya. Dalam paragraf berikutnya, Stalker menulis (agaknya dengan sedikit nada tidak setuju) “adalah wajar untuk berasumsi bila pene- rapan gelar itu kepada Yesus berasal dari salah satu pemakaiannya [empat] di Perjanjian Lama; dan yang hampir secara universal dite- tapkan oleh kesarjanaan modern sebagai pemakaian yang keempat yang disebut di atas—yaitu kepada raja-raja Yahudi.” Namun, apakah Stalker bersedia mengambil pendirian (yang mustahil baginya) bahwa gelar “anak Allah” sebagaimana diterapkan kepada Yesus tidak berakar dalam PL? Karena terburu-buru ingin membuktikan keilahian Kristus ia tidak memberitahu kita! Sebagai contoh argumentasi semu saya hanya akan mengutip yang berikut:

“Ketika Yesus membangkitkan pengakuan besar dari kedua belas muridnya di Filipi Kaisaria, pengakuan itu diberikan dalam bentuk sederhana oleh dua penulis Sinoptik, ‘Engkaulah Mesias!’ (Mrk.8:29; Luk.9:20); tetapi Matius menambahkan, ‘Anak Allah yang hidup’ (Mat.16:16). Kerapkali dikatakan bahwa paralelisme Ibrani memaksa kita menganggap kata-kata ini hanya sebagai padanan untuk gelar ‘Mesias.’ Namun, ini bukan sifat dari paralelisme, yang umumnya memasukkan ke dalam istilah kedua dari istilah paralelnya sesuatu yang melebihi apa yang diungkapkan dalam istilah pertama. Adalah cukup sesuai dengan sifat paralelisme jika istilah kedua menyediakan alasan untuk istilah pertama. Artinya, Yesus adalah sang Mesias oleh karena Ia adalah Anak Allah.”

Argumentasi Stalker terdiri dari dua langkah. Pertama, ia membuat pernyataan, “Kerapkali dikatakan bahwa paralelisme Ibrani

122

The Only True God

memaksa kita menganggap kata-kata ini hanya sebagai padanan untuk gelar ‘Mesias’”. Stalker menerima paralelisme ini, tetapi itu tidak membawanya terlalu jauh. Ia ingin mengatakan bahwa “Anak Allah” berarti lebih dari “Mesias”. Seberapa lebihnya? Jelas, ia ingin mengatakan bahwa gelar itu artinya “Allah-Anak”; dan sekalipun ia tidak memakai istilah trinitaris ini, ia berulang-kali berbicara tentang “keilahian” Kristus. Jadi, bagaimana membuat “Anak Allah” berarti lebih dari “Mesias (Kristus)”? Itulah langkahnya yang berikut. Langkah Stalker yang kedua adalah mengklaim secara dogmatis bahwa paralelisme Ibrani “umumnya memasukkan ke dalam istilah kedua dari istilah paralelnya sesuatu yang melebihi apa yang diungkapkan dalam istilah pertama”, tetapi gagal memperlengkapi pembacanya dengan setidaknya satu referensi Alkitabiah untuk memperkuat pernyataan tersebut. Bagaimanapun juga, ini adalah sebuah “ensiklopedi”, jadi, tidaklah terlalu berlebihan untuk mengharapkan adanya sebuah referensi pendukung. Kita harus mempertanyakan keabsahan pemahaman Stalker akan “sifat paralelisme (Ibrani)”. Pertama, dua gelar yang disebut secara berturutan (seperti di Mat.16:16) tidak dengan sendirinya memben- tuk “paralelisme”. Paralelisme adalah sebuah fitur dalam puisi Ibrani, dan untuk membentuk paralelisme puitis memerlukan lebih dari sekadar menempatkan dua gelar secara berturutan. Stalker ternyata tidak pernah berkonsultasi kepada karya standar atas subjek ini, seperti karya E.W. Bullinger, Figures of Speech used in the Bible (hlm.349-362), yang dapat menyelamatkan dia dari konsepsi-kon- sepsi yang salah tentang paralelisme Alkitabiah. Namun, sekalipun tanpa mempelajari contoh-contoh dari paralelisme PL, seandainya saja Stalker mengecek bukti PB akan gelar-gelar Yesus bila digunakan secara berturutan, ia akan melihat bahwa tidak ada “istilah kedua” yang melebihi “istilah pertama” untuk dibicarakan:

Dalam surat-surat Paulus, misalnya, gelar “anak Allah” disebut

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

123

sebelum gelar “Mesias (Kristus)”. Lihat contohnya di 2Korintus 1:19 (bdk. 1Kor.1:9; Ef.4:13), “Anak Allah, Yesus Kristus (Mesias)”; di sini “Yesus sang Mesias” merupakan “istilah kedua”, yang menurut Stalker mengungkapkan “sesuatu yang melebihi apa yang diungkapkan dalam istilah pertama”, sehingga dengan demikian, (menurut argumennya) akan berlawanan dengan Matius 16:16! Artinya, berdasarkan argumen Stalker, Yesus sang Mesias berarti sesuatu yang lebih dari dirinya sebagai “Anak Allah”! Barangkali kita bisa dimaafkan karena mengakui sudah cukup jenuh dengan argumentasi tak berdasar yang konyol seperti ini, yang sayangnya, cukup mencirikan trinitarianisme. Saya menyertakannya di sini sebagai contoh untuk menunjukkan bagaimana trinitarian biasanya memperdebatkan perkara mereka. Akan tetapi, apa yang tidak bisa dipungkiri oleh Stalker adalah adanya persamaan yang nyata antara gelar “Anak Allah” dan “Mesias (Kristus)” dalam Kitab Suci. Namun, ia berupaya sekuat tenaga membuat “anak Allah” berarti sesuatu yang lebih daripada “Mesias”, barangkali karena pemahaman yang tidak memadai akan gelar “Mesias” dalam Kitab Suci, tetapi terlebih lagi karena ia ingin berusaha membuat “anak Allah” berarti “Allah-Anak” sesuai dengan dogma trinitaris. Akan tetapi, ia seharusnya bisa melihat bahwa sekalipun jika benar bahwa istilah kedua dalam sebuah paralelisme mengungkapkan “lebih” (daripada apa yang ada dalam istilah pertama), yang “lebih” itu tidak akan pernah dapat membalikkan “anak Allah” menjadi “Allah-Anak”. Namun, sayangnya, eksegesis dibuat takluk kepada dogma dan ditekan untuk berbicara bahasa trinitarianisme. Dengan demikian, segala cara dihalalkan demi mencari bukti. Seorang sarjana lain, James Crichton, dalam artikelnya tentang “Mesias” di International Standard Bible Encyclopedia menulis,

124

The Only True God

“Tidak diragukan bahwa ‘Anak Allah’ dipakai sebagai sebuah gelar Mesianik oleh umat Yahudi pada masa Tu[h]an kita. Imam besar di hadapan Sanhedrin mengenalinya sebagai itu (Mat.26:63). Gelar itu diterapkan juga dalam arti resminya kepada Yesus oleh murid-muridnya: Yohanes Pembaptis (Yoh.1:34), Natanael (Yoh.1:49), Maria (Yoh.11:27), Petrus (Mat.16:16, meskipun tidak dalam paralel). Pemakaian Mesianik ini berdasarkan Mzm.2:7; bandingkan 2Sam.7:14.”

Crichton, seperti Stalker, adalah seorang trinitarian (kalau tidak artikelnya tidak akan diterbitkan oleh ISBE) dan, sebagaimana dapat diduga, mempertahankan bahwa Yesus “setara dengan Bapa”, tetapi ia melihat bahwa bukti PB mengharuskan pengakuan bahwa “anak Allah” merupakan sebuah gelar Mesianik. Untuk menyimpulkan dan meringkas bagian ini, saya mengutip kesimpulan pembahasan Dr. Karl-Joseph Kuschel, seorang teolog sistematis Jerman, mengenai hubungan antara gelar “anak Allah” dan gagasan Kristus yang pra-eksisten atau ilahi. Kuschel menulis:

“Sekarang apa artinya semua ini untuk pertanyaan mengenai hubungan antara menjadi Anak Allah dan pra-eksistensi Kristus? Di sini kita juga dapat menetapkan sebuah konsensus di luar batasan pengakuan [denominasi].

“1. Sepadan dengan asal-usul Yahudinya (ideologi kerajaan) gelar “Anak Allah” tidak pernah dikaitkan dengan keberadaan surgawi sebelum kala atau dengan keilahian.

“2. Yesus tidak berbicara tentang dirinya sebagai Anak Allah, ataupun mengatakan sesuatu tentang keputraan yang pra- eksisten. Andaikanlah, komunitas pasca-Paskah berbahasa Aram paling awal mengakui Yesus sebagai Anak Allah, tetapi sejalan dengan Perjanjian Lama mereka tidak memasukkan

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

125

pernyataan

pengakuan ini.

apa

pun

tentang

pra-eksistensi

ke

dalam

“3. Fondasi dasar dari pembicaraan pasca-Paskah tentang Yesus sebagai Anak Allah tidak terletak pada ‘kodrat ilahi’ Yesus, pada suatu keputraan ilahi yang pra-eksisten, tetapi pada praktek dan pengajaran Yesus sendiri semasa di bumi:

dalam hubungannya yang unik dengan Allah, yang biasa disapanya sebagai ‘Abba’, dalam suatu keakraban yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Terakhir tapi bukan yang akhir, seperti sudah kita dengar, di Israel gelar “anak Allah” sebagian besar merujuk kepada martabat dan kuasa yang unik dari penguasa politik tertinggi.” Born Before All Time?, hlm.238.

Akhirnya, patut dicatat bahwa walaupun Al Qur’an memang berbicara tentang Yesus (Isa) sebagai Mesias (Masih), Al Qur’an mutlak menolak gelar Mesianik PB “anak Allah”. Alasannya mudah dilihat dari artikel-artikel ISBE ini yang menghalalkan segala cara untuk membalikkan “anak Allah” menjadi “Allah-Anak”. Akibat yang menyedihkan dari semua ini adalah umat Muslim menolak PB secara keseluruhan, dan dengan demikian menolak pesan keselamatan yang ada dalam sang Mesias (Kristus). Jika mereka bisa diyakinkan bahwa “anak Allah” dalam PB adalah sebuah gelar Mesias (Masih) dan tidak berarti “Allah-Anak”, mereka tidak mempunyai alasan untuk menolaknya. Kita pun harus diingatkan lagi bahwa tidak di manapun dalam PB kepercayaan pada keilahian Kristus diperlukan untuk keselamatan; itu adalah sesuatu yang dipaksakan oleh dogma Kristiani, bukan oleh firman Allah. Dengan bersikeras bahwa Yesus adalah “Allah-Anak”, orang Kristen telah menutup pintu keselamatan bagi orang Muslim melalui iman pada Kristus, sebagai sang Mesias atau “anak Allah” menurut arti Mesianik yang tepat (Yoh.20:31). Apakah umat Kristen dapat

126

The Only True God

berkata pada umat Muslim pada Hari itu, “aku bersih dari darah siapa pun juga” (Kis.20:26)?

Injil-injil Sinoptik

P embaca PB yang jeli mau tidak mau akan memperhatikan bahwa dalam tiga Injil pertama (disebut “Injil-injil Sinoptik”

karena ketiganya memiliki sudut pandang yang sama akan pribadi dan pekerjaan Yesus) hampir tidak ada apapun yang bermanfaat bagi trinitarianisme. Seharusnya menjadi keprihatinan serius bagi trinitarian bahwa tiga dari empat Injil yang ada tidak dapat digunakan untuk mendukung argumen keilahian Kristus yang begitu sentral bagi dogma mereka. Banyak di antara kita melihat fakta ini sebagai trinitarian, dan meskipun agak dibingungkan olehnya, dan sekalipun tidak dapat memberikan jawaban memuaskan kepada pertanyaan mengapa hal yang begitu penting (bagi kita) seperti keilahian Kristus diabaikan begitu saja oleh Sinoptik, kita tidak bisa berbuat banyak selain mengangkat bahu. Maka, Injil Yohanes menjadi Injil kesayangan trinitarian, karena kita mengira kita bisa menggali teks-teks bukti dari Injil ini sepuas hati kita. Itulah sebabnya kita akan memfokuskan sebagian besar dari kajian kita kepada Injil Yohanes. Kita akan melihat bahwa sekalipun benar bahwa perspektif Injil Yohanes berbeda dari perspektif Sinoptik, pada intinya tidak terdapat perbedaan apa-apa sehubungan dengan pribadi Yesus dan pekerjaannya. Mengenai soal perspektif, ajaran Yesus dalam Injil- injil Sinoptik berpusat pada “Kerajaan Surga” (Injil Matius) atau “Kerajaan Allah” (Lukas); jelas sekali Injil Matius ditujukan kepada khalayak Yahudi, jadi kata “surga” dipakai untuk merujuk kepada “Allah”, yakni, Yahweh. Di Yohanes, ajaran Yesus menyatakan “hubungannya yang unik dengan Allah”, dan juga bagaimana melalui dia kita juga dapat menjalin sebuah hubungan yang hidup

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

127

dengan Allah. Namun kebenaran ini juga muncul pada suatu bagian dalam Injil Matius: “Semua telah diserahkan kepadaku oleh Bapaku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat.11:27; 28:18; bdk. Yoh.3:35; 5:21-27; 13:3; 17:2; juga Yoh.10:15; 14:9). Matius 11:27 telah digambarkan ibarat “petir Yohanein di siang bolong”. Di sini kita melihat cara familier Yesus menyapa Allah sebagai “Bapaku” seperti di Injil Yohanes. Di sini juga kita lihat keintiman yang mendalam dari pengenalan timbal-balik yang ditunjukkan dengan menyebut Allah sebagai “Bapa” (atau Abba). Sebab, kecuali jika ada pengenalan timbal-balik, maka tidak ada keintiman yang dapat dibicarakan. Ketika Yesus mewahyukan Bapa kepada kita, kita dengan demikian ditarik ke dalam pengenalan timbal-balik itu yang memperkenankan kita memanggil Allah sebagai “Bapa kami” (sebagaimana diajarkan Yesus kepada murid- muridnya, Mat.6:9), bukan sekadar formalitas, tetapi dalam keintiman sebuah hubungan Bapa-anak. Ayat Matius ini berperan untuk menegaskan bahwa tidak ada perbedaan esensial antara Sinoptik dan Injil Yohanes berkenaan dengan perihal siapa Yesus.

Ucapan-ucapan “Akulah” (“I am”) —Apakah Yesus mengklaim sebagai Allah?

S ebagai trinitarian kita menggunakan ucapan-ucapan “Akulah” (“I am”) di Injil Yohanes sebagai senjata ampuh untuk

“membuktikan” keilahian Kristus, yaitu, bahwa Yesus adalah Allah. Kita gagal secara menyedihkan untuk melihat bahwa ini

merupakan salah satu argumen paling dungu yang bisa dikembangkan. Mengapa? Karena hanya ada dua cara untuk memahami ucapan “Akulah” dari Yesus ini:

128

The Only True God

(1) Yesus sedang memakai istilah itu secara biasa seperti yang digunakan dalam percakapan sehari-hari (mis. “Aku adalah seorang pelajar”, “Aku adalah orang Indonesia”, dst.), dan dengan demikian ia sedang membuat pernyataan tentang dirinya sebagai sang Mesias, sang Juruselamat, atau

(2) Yesus sedang memakai “Akulah” dalam arti khusus, yaitu merujuk kepada Keluaran 3:14 di mana ia tampil sebagai gelar bagi Yahweh; dan jika demikian halnya, maka entah Yesus sedang mengklaim sebagai Yahweh, atau Yahwehlah yang sedang berbicara melalui dia.

Apakah “Akulah” dipahami sebagai (1) atau (2), tak satu pun dari alternatif ini menyediakan bukti bahwa Yesus adalah Allah (yaitu Allah-Anak) karena, menurut pemakaian (1), cara biasa, ia berbicara selaku “manusia Kristus Yesus”, dan menurut pemakaian (2), rujukan khusus itu adalah untuk Yahweh, Allah Bapa. Oleh karena itu, ucapan-ucapan “Akulah” Yesus sama sekali tidak menyodorkan bukti apa-apa tentang keilahian Yesus sebagai Allah-Anak dalam skema trinitaris. Sekarang kita akan mempertimbangkan (1) dan (2) dengan lebih teliti dalam terang bukti Injil. Namun kita juga akan mengingat kemungkinan Yesus memakai “Akulah” pada beberapa kesempatan dalam arti biasa atau umum dan pada kesempatan lain dalam arti khusus.

Bagaimana memahami dengan tepat pemakaian “Akulah” oleh Yesus?

(1) “Akulah” sebagaimana dipakai dalam artinya yang normal atau biasa dalam percakapan sehari-hari, di mana Yesus berbicara sebagai seorang manusia sejati, tetapi secara khususnya sebagai “sang Kristus”, yang berarti “sang Mesias.”

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

129

Untuk menempatkan perkara ke dalam konteks yang tepat kita harus memperhitungkan sekian banyak ayat ketika Yesus sebagai “Anak” mengungkapkan ketergantungan dan ketundukan totalnya kepada Bapa (Yoh.3:35; 5:22,27,36; 6:39; 12:49; 13:3; 17:2,7,8, dst.). Dalam semua ayat ini kata didōmi (‘memberi’) digunakan untuk mengungkapkan fakta bahwa segala sesuatu yang dimiliki oleh Anak, ia terima dari sang Bapa yang memberikan semua ini kepadanya. “Akulah” (egō eimi, tensa kini) muncul 24 kali dalam Injil Yohanes, di mana 23 kali dipakai oleh Yesus dan sekali oleh orang buta yang disembuhkan Yesus (Yoh.9:9). Jadi, sebenarnya bukan 7 “Akulah” (yang diketahui oleh kebanyakan orang Kristen), tetapi 23 yang mengacu kepada Yesus. Secara statistik, frekuensi “Akulah” menunjukkan bahwa frasa itu termasuk kosakata khusus dalam Injil Yohanes, jika dibandingkan dengan kitab-kitab lain: Matius 5 kali; Markus: 3; Lukas: 4; Kisah Para Rasul: 7; Wahyu: 5: jumlahnya = 24, jumlah yang sama dengan Injil Yohanes. Dengan kata lain, separuh dari seluruh pemunculan egō eimi dalam Perjanjian Baru ada di Injil Yohanes. Lalu, apa tujuan dari sekian banyak “Akulah” dalam Injil Yohanes? Jawabannya tentu saja ada pada pernyataan tujuan Injil itu, “tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya kamu memperoleh hidup dalam namanya” (Yoh.20:31). Bukankah bentuk persona ke-3 dari “Akulah” ialah “Dialah”? Jadi, tujuannya adalah untuk mengumumkan bahwa “dialah”, yaitu, dia (Yesus) ialah sang Kristus, Anak Allah itu. Namun, ketika Yesus berbicara, “dialah” tentu saja harus ada dalam bentuk “akulah”. Kata “Kristus” (Yunani untuk “Mesias”) muncul 18 kali dalam Injil Yohanes, tetapi hanya keluar sekali dari mulut Yesus sendiri, dan itu ada dalam doanya kepada Bapa di Yohanes 17:3. Ketika diminta di Yohanes 10:24 untuk menyatakan secara gamblang

130

The Only True God

apakah ia Kristus, ia menjawab, “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan dalam nama Bapaku, itulah yang memberikan kesaksian tentang aku” (ay.25). Ia memang telah mengatakannya kepada mereka, tetapi tanpa memakai gelar “Kristus”; ia membiarkan mukjizat-mukjizat “memberikan kesaksian tentang aku”. Lagipula, alih-alih gelar “Kristus”, ia menggambarkan pelayanan Kristus, sang Mesias, dengan istilah-istilah metaforis seperti “gembala”, “terang dunia”, dst., masing-masing diawali dengan “Akulah”. Namun yang jelas adalah ia memang mengakui bahwa ia adalah Kristus, meskipun pada umumnya ia menolak menyatakannya secara eksplisit. “Sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa akulah dia (egō eimi), kamu akan mati dalam dosamu” (Yoh.8:24). Alasannya mengapa perlu mempercayai bahwa dia adalah Mesias/Kristus yang dijanjikan itu adalah “supaya karena percaya kamu memperoleh hidup dalam namanya” (Yoh.20:31)—hal ini penting untuk keselamatan. Namun, mempercayai bahwa Yesus adalah Allah bukan syarat untuk kesela- matan di manapun juga dalam Perjanjian Baru. Trinitarianisme telah memaksakan kepada jemaat suatu persyaratan untuk keselamatan tanpa pembenaran dari Firman Allah, dan ini merupakan hal yang sangat serius. Dalam nas berikut di Yohanes 8 kita dapat melihat cara Yesus yang khas dalam memakai “Akulah” (egō eimi), biasanya diterjemahkan sebagai “I am he” (“akulah dia”) sebagaimana diharuskan oleh kaidah linguistik Inggris:

24 “Karena itu tadi aku berkata kepadamu bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa akulah dia (egō eimi), kamu akan mati dalam dosamu.”

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

131

25 Lalu kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau?” Jawab Yesus kepada mereka: “Apa yang telah kukatakan kepadamu sejak semula? 26 Banyak yang harus kukatakan dan kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia yang mengutus aku, adalah benar, dan apa yang kudengar dari Dia, itulah yang kukatakan kepada dunia.”

27 Mereka tidak mengerti bahwa ia berbicara kepada mereka tentang Bapa.

28 Maka kata Yesus: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa akulah dia (egō eimi), dan bahwa aku tidak berbuat apa-apa dari diriku sendiri, tetapi aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaku.”

Perhatikan baik-baik, Yesus mengatakan kepada orang Yahudi bahwa mereka harus percaya bahwa “akulah (dia)” jika mereka tidak mau mati dalam dosa-dosa mereka. Maka, sebagaimana bisa kita duga, mereka segera menanyakan dia, “Siapakah engkau?” (ay.25) tetapi, sekali lagi, ia menolak memberi jawaban eksplisit atas pertanyaan tersebut, dengan kata lain, dia menolak untuk berkata “Akulah Mesias” atau “Akulah Anak Allah”. Ia hanya menyatakan “apa yang kudengar dari Dia (Bapa, ay.27), itulah yang kukatakan kepada dunia” (ay.26). Di sini, seperti di bagian lain dalam Injil Yohanes, Yesus menekankan subordinasinya yang total kepada Bapa, sampai-sampai ia tidak berkata apa-apa selain apa yang disampaikan Bapa kepadanya (ay.28). Akan tetapi, di ayat 28 Yesus sekali lagi merujuk kepada dirinya sebagai “akulah (dia)”, tetapi kali ini ia berbicara tentang dirinya sebagai “Anak Manusia”. Dalam bahasa Yunani gelar tersebut tidak ditulis dengan huruf kapital; huruf kapital diberikan oleh para penerjemah, tentu saja dengan niat supaya istilah tersebut dipahami sebagai sebuah gelar mesianik. “Anak manusia” merupakan gelar

132

The Only True God

yang lebih disukai oleh Yesus untuk dirinya sendiri dalam keempat Injil (semuanya 74 kali: Mat:27 kali; Mrk:14; Luk:22; Yoh:11). Baik dalam bahasa Aram maupun bahasa Ibrani (juga Ibrani modern) “anak manusia” adalah istilah lazim untuk “manusia” (bdk. Ef.3:5). Hal ini tidak diketahui oleh kebanyakan orang Kristen, sehingga mereka beranggapan bila itu semestinya semacam gelar istimewa, dalam hal ini, sebuah gelar mesianik. Sebenarnya, secara linguistik sudah cukup tepat jika Yohanes 8:28 diterjemahkan seperti berikut, “Apabila kamu telah meninggikan Manusia itu (atau, manusia), barulah kamu tahu, bahwa akulah dia (egō eimi)”. Entah “anak ma- nusia” itu sebuah gelar mesianik atau bukan dibahas dalam sejumlah besar buku dan artikel, tetapi hal itu tidak berkaitan secara langsung dengan kajian ini. Yang perlu kita camkan di sini adalah bahwa Yesus jelas menginginkan para pendengarnya (yang kebanyakan, seperti dirinya, berbicara bahasa Aram sebagai bahasa ibu) memperhatikan dia menyatakan dirinya sebagai “sang manusia”, atau “sang Manusia”. Yang ingin saya tekankan berdasarkan nas ini di Yohanes 8, dan juga pemakaian lain dari “Akulah” dalam ucapan Yesus, adalah bahwa “Akulah” dalam Injil Yohanes dengan sendirinya adalah sebuah pernyataan mesianik justru karena itu menggemakan “dialah” dari Yohanes 20:31: “tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya kamu memperoleh hidup dalam namanya”—Dialah Kristus. Dengan demikian, “akulah” = “dialah”. Jadi, di Yohanes 8:28, misalnya, Yesus adalah Kristus/Mesias terlepas dari apakah “anak manusia itu” dimengerti sebagai sebuah gelar mesianik atau bukan. Oleh karena itu, di Yohanes 8 ini, seperti juga dalam nas-nas lain, “Akulah” merupakan sebuah penegasan mesianik yang implisit, bukan sebuah klaim terhadap gelar milik Yahweh. Tentu saja adalah sebuah kesalahan untuk segera berasumsi bahwa setiap pemunculan dari ke-23 “Akulah” dalam Injil Yohanes

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

133

harus dimengerti secara mesianik. Prinsip dasar yang menguasai semua eksegesis adalah bahwa konteks merupakan faktor penentu dalam menetapkan arti dari nas yang sedang dipertimbangkan.

“Akulah” di Yohanes 14:6

Ketundukan Kristus kepada Bapa menonjol dengan kejelasan yang sempurna di seluruh Injil Yohanes. Dalam retrospeksi saya sekarang menginsafi betapa aneh untuk Yohanes 14:6 (“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup”), misalnya, dikutip oleh trinitarian sebagai bukti atas keilahian dan kesetaraan Kristus dengan Allah Bapa. Orang tidak perlu menjadi pemikir yang mendalam atau luar biasa perseptif untuk melihat bahwa “jalan” adalah sarana untuk mencapai tempat tujuan, bukan tempat tujuan itu sendiri; jalan adalah cara untuk sampai ke tujuan, bukan akhir dari tujuan itu sendiri. Sewaktu kita dalam perjalanan, apakah kita begitu terpikat dengan jalan itu sampai kita tidak bisa melihat ke mana jalan itu membawa kita? Dan ke manakah Kristus, Jalan itu, membawa kita? Ayat yang sama (Yoh.14:6) memberi jawabannya: Membawa kita kepada Bapa, karena “tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui aku.” Kristuslah Jalan itu—‘melalui aku”— tempat tujuannya adalah “Bapa”: “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya ia membawa kita kepada Allah” (1Ptr.3:18). “Jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh.14:6): dalam Injil Yohanes ketiga unsur ini—jalan, kebenaran, dan hidup—adalah aspek-aspek dari satu realitas. Firman itu datang ke dalam Kristus (Yoh.1:14) untuk membawa kita kepada Allah; oleh sebab itu, dia adalah jalan yang melaluinya kita datang kepada Allah. Firman menyelesaikan misi ini karena ia adalah kebenaran, seperti kata Yesus, “Firman-Mu adalah kebenaran” (Yoh.17:17). Melalui “firman kebenaran” (Ef.1:13) ini yang diwartakan sebagai kabar baik kita diselamatkan.

134

The Only True God

Atau, dalam istilah kelahiran kembali, “Ia (Allah) memilih untuk melahirkan kita melalui firman kebenaran” (Yak.1:18, diterjemahkan dari NIV; terjemahan ini didukung oleh BDAG). Kristus, yang di dalamnya logos berinkarnasi (Yoh.1:14), mewujudkan “firman kebenaran” yang telah disediakan Allah demi keselamatan kita. Demikian juga dengan “hidup”, sebagaimana diterangkan dengan jelas di 1Yoh.1:1, “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman (logos) hidup—itulah yang kami tuliskan kepada kamu.” Logos hidup itu telah menjadi kelihatan dan nyata di dalam pribadi Kristus; Firman telah datang ke dunia untuk menjadi Jalan kepada Bapa, sesungguhnya satu-satunya jalan, sebab “tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui aku” (Yoh.14:6), maka dia adalah “jalan itu”. Kebenaran dan hidup, seperti jalan, bukanlah tempat tujuan atau akhir dari tujuan itu sendiri; mereka adalah sarana yang digunakan oleh Allah untuk membawa kita kepada diri-Nya Sendiri. Ini bisa diungkapkan melalui kata-kata Paulus, “Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya melalui Kristus (jalan, dan kebenaran dan hidup)” (2Kor.5:19). Melalui Firman itulah Allah, dalam cinta kasih-Nya, menyediakan bagi kita kebenaran dan hidup dari “keselamatan yang abadi” (Ibr.5:9) dalam Kristus. Justru karena itulah Allah adalah sasaran utama dari pujian dan penyembahan dalam Alkitab. Namun mengapa setiap kali kita melihat atau mendengar pernyataan Yesus dalam bentuk “Akulah jalan…” kita menganggap bahwa ia sedang menegaskan, atau mengklaim, keilahian? Apakah bukan karena kita telah begitu dipenuhi dengan ajaran trinitaris sehingga kita tidak dapat memahami kata-kata tersebut dengan cara lain? Jika Yesus sekadar ingin mengatakan bahwa ia adalah jalan kepada Allah, apakah ada cara lain untuk mengatakannya selain dari

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

135

“Akulah (egō eimi) jalan”? Jika saya berkata “Akulah orang Cina”, apakah “Akulah” dalam kalimat ini menyiratkan bahwa saya sedang membuat klaim keilahian? Di Yohanes 9:9, ketika orang-orang memperdebatkan apakah orang buta itu benar-benar orang yang disembuhkan oleh Yesus, ia sendiri memastikan fakta tersebut dengan kata-kata “Akulah (egō eimi)”, yaitu mengatakan secara tegas, “Akulah orangnya dan bukan orang lain.” Adalah lucu jika ada yang mengemukakan bahwa dengan mengatakan “Akulah” orang yang dulunya buta itu sedang membuat klaim implisit sebagai Allah! Memang benar bahwa dalam bahasa Yunani, “Akulah” dalam Injil Yohanes mengandung ciri penegas, yang menegaskan bahwa Yesus merupakan satu-satunya jalan; sama seperti “Akulah pintu” (Yoh.10:7,9) berarti “akulah orangnya, bukan orang lain, yang adalah pintu.” Namun, pintu, seperti jalan, merupakan sarana yang digunakan orang untuk keluar masuk rumah atau lapangan berpagar. Pintu bukanlah rumah; jika tidak ada rumah atau lapangan berpagar, maka tidak perlu ada pintu. Demikian juga, bila tidak ada tempat tujuan, tidak perlu ada jalan. Mengingat pembahasan di atas, tidak perlu diragukan lagi bahwa “Akulah” dalam “Akulah jalan” dari Yohanes 14:6 berciri mesianik, sama seperti Yohanes 8:24 dan 28; dan tentunya bukan klaim terhadap keilahian.

“Akulah kebangkitan dan hidup” (Yohanes 11:25)

Trinitarian tidak akan ragu mengutip kata-kata tersebut sebagai “bukti” bahwa Yesus adalah Allah. Namun, seperti biasanya, mereka tidak mau repot-repot melihat konteksnya. Kata-kata itu diucapkan kepada Marta, dan ketika Yesus menanyakan apakah ia mempercayai pernyataannya ini dan juga pernyataan-pernyataan mengejutkan lain yang diucapkan segera sesudahnya, ia berkata:

“siapa saja yang percaya kepadaku, ia akan hidup walaupun ia sudah

136

The Only True God

mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” Jawaban Marta bukanlah, “Ya, aku percaya engkaulah Allah” tetapi “Ya, Tu[h]an, aku percaya, bahwa engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia.” (Yoh.11:25-27). Dengan kata lain, Marta tidak melihat perkataan Yesus sebagai suatu klaim terhadap keilahian melainkan sebuah pernyataan mesianik yang diiyakannya. Sebagai seorang Yahudi Marta tahu, tidak seperti kebanyakan orang non-Yahudi yang tidak tahu, bahwa “Anak Allah” bukanlah sebuah gelar ilahi dalam Alkitab tetapi sebuah gelar Mesias yang didasari oleh Mazmur 2:7. Namun bukankah Yesus mengatakan ini pada peristiwa kebangkitan Lazarus? Tentu saja. Akan tetapi, jika pertanyaan ini menyiratkan bahwa membangkitkan orang mati adalah bukti dirinya sebagai Allah, maka ini memperlihatkan ketidaktahuan yang luar biasa akan Alkitab. Itu bukan satu-satunya peristiwa dalam Alkitab tentang orang mati dibangkitkan. Sebenarnya ini bukan kali pertama Yesus membangkitkan orang mati. Jauh sebelum masa Yesus, Elia juga membangkitkan seorang anak yang sudah mati dan tidak satu pun orang Yahudi yang pernah menganggap hal itu bisa digunakan sebagai bukti bahwa Elia adalah tokoh ilahi! Kisah tentang perbuatan Elia itu tercatat di 1Raj.17:17 dst., dan mengandung kesamaan dengan kisah Yesus membangkitkan anak seorang janda di kota Nain sebagaimana dilukiskan di Lukas 7:11- 17. Poin-poin utama dari kesamaan adalah: (1) kedua peristiwa itu ada hubungannya dengan kehilangan seorang janda; (2) kematian dari anak satu-satunya; (3) kata-kata pada akhir kisah Injil Lukas setelah orang mati itu dihidupkan kembali, “Yesus menyerahkannya kepada ibunya” (Luk.7:15), menggemakan apa yang dilakukan Elia setelah anak itu dibangkitkan: ia membawanya turun dari kamar atas, tempat di mana ia membawa anak itu dan berdoa kepada Yahweh, dan mengembalikannya kepada ibunya. Mungkin saja kata-

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

137

kata di Lukas artinya tidak lebih daripada Yesus mengembalikan anak itu kepada sang ibu, tetapi tidak menutup kemungkinan bila Lukas juga memang berniat menyiratkan suatu rujukan kepada nabi besar Elia itu. Kemungkinan ini menjadi lebih besar sambil kita membaca kisahnya, sebab segera setelah pernyataan di Lukas 7:15 kita membaca, “Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: ‘Seorang nabi besar telah muncul di tengah- tengah kita,’ dan ‘Allah telah datang untuk menyelamatkan umat- Nya’”. Intinya peristiwa kebangkitan anak muda itu dari kematian tidak menyebabkan orang Yahudi menganggapnya sebagai bukti keilahian Yesus, melainkan sebagai bukti bahwa “seorang nabi besar (seperti Elia) telah muncul di tengah-tengah kita” dan bahwa “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya”, sama seperti ketika Ia menyelamatkan Israel dari penyembahan berhala melalui Elia, khususnya melalui peristiwa terkenal di atas gunung Karmel. Sebagaimana akan kita lihat berkali-kali dalam kajian ini, trinitarian terus-menerus memasukkan klaim keilahian ke dalam ucapan- ucapan dan tindakan-tindakan Yesus padahal ia sama sekali tidak bermaksud seperti itu dan orang-orang yang hadir waktu itu pun tidak menarik kesimpulan itu. Akan tetapi, orang banyak yang menyaksikan Yesus membangkit- kan orang mati itu memang mengakui bahwa di dalam Yesus “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya”. Kata yang diter- jemahkan sebagai “datang untuk menyelamatkan” atau “melawat” (ILT) di Lukas 7:15, adalah episkeptomai yang bisa berarti melawat orang sakit (mis. Mat.25:36,43), jelas bukan saja sebagai kunjungan kesopanan tetapi dengan niat untuk menolong sedapat mungkin; secara signifikan, kata ini juga digunakan dalam arti “mengawasi, tampil untuk menolong” (BDAG) di Keluaran 3:16 (segera sesudah penampakan diri Yahweh kepada Musa sebagai “AKU ADALAH AKU” di 3:14), ketika Musa diperintahkan untuk menyampaikan

138

The Only True God

pesan ini: “Pergilah dan kumpulkanlah semua pemimpin Israel. Umumkanlah kepada mereka bahwa Aku, Yahweh, Allah nenek moyang mereka, Allah Abraham, Ishak dan Yakub, sudah menam- pakkan diri kepadamu. Beritahukanlah mereka bahwa Aku sudah datang kepada (episkeptomai) mereka dan sudah melihat bagaimana mereka diperlakukan oleh bangsa Mesir” (BIS, lih. pula Kel.4:31). Keluaran adalah suatu kejadian yang berkepentingan besar untuk pemahaman pesan Injil Yohanes, sebagaimana akan kita lihat. Adalah juga salah bila mengemukakan bahwa Yesus mengklaim keilahian dengan kata-kata “Akulah kebangkitan dan hidup”, karena klaim seperti itu akan berlawanan sama sekali dengan pengajaran Yesus sendiri yang eksplisit dan tegas tentang monoteisme (Mrk.12:29; Yoh.5:44), dan fakta bahwa baginya sang Bapa adalah “satu-satunya Allah yang benar” (Yoh.17:3). Lagipula, ia membuatnya segamblang mungkin bahwa “apa yang aku katakan kepadamu, tidak aku katakan dari diriku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan- Nya” (Yoh.14:10). Diterapkan kepada Yohanes 11:25, apa lagi artinya kalau bukan sang Bapalah yang tinggal di dalam Kristus, dan bahwa sang Bapa merupakan sumber dan kuasa dari “kebangkitan dan hidup” yang datang melalui Kristus?

Apakah “Akulah” dipakai dalam arti khusus (yaitu, merujuk kepada Yahweh) dalam beberapa ucapan Yesus?

Yesus berulang-kali menegaskan bahwa Bapa adalah sumber dari segala sesuatu yang dilakukannya. Ia tidak mengerjakan dan menga- takan “apapun dari dirinya sendiri”. Apa lagi artinya itu kalau bukan perbuatan dan perkataannya adalah apa yang Bapa, yang tinggal di dalam dia, ungkapkan melalui dia? Ini dinyatakan di Yohanes 5:19:

‘Lalu Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya aku berkata kepada- mu, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri,

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

139

jikalau ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang diker- jakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”’ Juga Yohanes 5:30, “Aku tidak dapat berbuat apa-pun dari diriku sendiri”. Yohanes 8:28, “Aku tidak berbuat apa-apa dari diriku sendiri, tetapi aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaku.” Ucapan-ucapan ini jelas berarti bahwa sang Bapa Allah, Yahweh, bertindak dan berbicara melalui Yesus. Apakah ada buktinya dalam perkataan Yesus? Barangkali pernyataan berikut adalah satu contohnya:

John 8.58: ‘Jesus said to them, “Truly, truly, I say to you, before Abraham was, I am.”’

Yohanes 8:58, Kata Yesus kepada mereka: “Sesungguhnya aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, [akulah].”

Untuk memahami ayat ini, ada dua pilihan: (1) Mengambil “akulah” dalam ayat ini sebagai rujukan kepada Keluaran 3:14 atau kepada Yesaya 43:10,11. Kita harus menyadari bahwa ini berarti kita mengatakan bahwa Yesus mengklaim dirinya sebagai Yahweh— yaitu sebuah klaim yang tidak ingin dibuat oleh trinitarian, karena jika Yahweh memiliki kedudukan dalam Trinitas, maka kedudukannya adalah sebagai “Allah Bapa”, bukan “Anak”. (2) Mengambilnya dalam arti Yahweh berinkarnasi di dalam “manusia Kristus Yesus”, dan di sini Ia dengan gamblang tengah berbicara di dalam Yesus dan melalui Yesus. Secara eksegetis pilihan yang terakhir ini tentu saja tidak mustahil; tetapi tetap saja akan berlawanan dengan trinitarianisme. Mengapa kita mengatakan bahwa pilihan alternatiflah yang mungkin, yaitu, bahwa Yahwehlah Dia yang sedang berbicara melalui Yesus dengan kata-kata, “Sebelum Abraham ada, akulah”? Hal ini dimungkinkan karena dua alasan terkait:

140

The Only True God

(1) Sang Bapa “diam” atau “tinggal” di dalam Kristus, tergantung pada terjemahan mana yang Anda baca. Kata-kata tersebut pada dasarnya mengandung makna yang sama, dan menerjemahkan kata Yunani menō. “Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam aku? Apa yang aku katakan kepadamu, tidak aku katakan dari diriku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.” (Yoh.14:10)

(2) Yesus menegaskan dengan berbagai cara bahwa “firman yang kamu dengar itu bukanlah dari aku, melainkan dari Bapa yang mengutus aku” (Yoh.14:24); “Sebab aku berkata-kata bukan dari diriku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus aku, Dialah yang meme- rintahkan aku untuk mengatakan apa yang harus aku katakan dan aku sampaikan.” (Yoh.12:49)

Dengan menggabungkan kedua poin di atas, tentu bukan mustahil bila Yohanes 8:58 merupakan sebuah contoh di mana sang Bapa, Yahweh, berbicara melalui Yesus dengan kata-kata “Akulah”. Dan Ia tentu ada sebelum Abraham dalam pengertian apa pun dari kata “sebelum”. 5 Contoh lain di mana kita mungkin dapat mendengarkan suara Yahweh berbicara melalui Yesus adalah Yohanes 10:11,14 “Akulah gembala yang baik”, yang dengan jelas mencerminkan kata-kata masyhur dari Mazmur ke-23, “TUHAN (Yahweh) adalah gemba- laku”. Sulit untuk menghindari kesimpulan bahwa sebuah identifikasi yang disengaja memang dimaksudkan, sebuah identifikasi yang diperkuat oleh ayat terkenal dan indah yang lain:

“Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati- hati.” (Yes.40:11)

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

141

Yohanes 2:19 tampaknya menyediakan contoh lain dari Bapa yang sedang berbicara melalui Yesus. Di sini “aku adalah” bukan dalam bentuk kala masa kini tetapi dalam bentuk kala masa depan “aku akan”. Ayat itu berbunyi: ‘Jawab Yesus kepada mereka:

“Runtuhkan Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.”’ Maknanya dijelaskan dalam dua ayat berikutnya, “Tetapi yang dimaksudkannya dengan Bait Allah ialah tubuhnya sendiri” (Yoh.2:21). Nah, fakta pentingnya adalah bahwa Kitab Suci dengan suara bulat menyatakan bahwa sang Bapalah, Allah, yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Hal ini dinyatakan berkali-kali di Kisah Para Rasul (2:24,32; 3:15,26; 4:10; 5:30; 10:40; 13:30,37 dst.); dan di Roma 10:9, iman yang percaya bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati adalah suatu keharusan untuk keselamatan (lih. lebih lanjut 1Kor.6:14; Gal.1:1; Kol.2:12; 1Ptr.1:21, dst.). Dalam PB ada banyak rujukan kepada kebangkitan Yesus, tetapi tak satu pun yang berbicara tentang Yesus membangkitkan dirinya sendiri dari antara orang mati; itu adalah perbuatan Allah. Hal ini dituntaskan dengan meyakinkan oleh fakta bahwa di dalam nas ini juga—tepat pada ayat berikutnya—ditegaskan bahwa Bapalah yang membangkitkan Yesus: Yohanes 2:22 “Jadi kemudian, sesudah Yesus dibangkitkan dari mati, teringatlah pengikut-pengikutnya bahwa hal itu pernah dikatakannya. Maka percayalah mereka kepada apa yang tertulis dalam Alkitab dan kepada apa yang dikatakan oleh Yesus” (BIS). Frasa “Yesus dibangkitkan” menerjemahkan ēgerthē, yaitu aoristus pasif dari egeirō, yang menegaskan bahwa Allahlah yang membangkitkan dia dari antara orang mati. Semua ini membawa kepada kesimpulan yang tak terelakkan bahwa “Aku” dalam frasa “Aku akan mendirikannya kembali” adalah sebuah contoh penting dari Bapa, Yahweh, yang berbicara di dalam dan melalui Yesus.

142

The Only True God

Kekeliruan penggunaan trinitaris “Akulah” sebagai bukti keilahian Yesus

Haruslah diingat bahwa untuk mengatakan bahwa Yahweh, sang Bapa, berbicara melalui Yesus yang Ia diami, adalah sangat berbeda dari pemakaian “Akulah” oleh trinitarian untuk memperjuangkan keilahian Yesus. Trinitarian harus mengerti bahwa

Jika dengan “Akulah” Yesus mengklaim dirinya sebagai Allah, maka secara khusus ia mengklaim dirinya sebagai Yahweh!

Klaim trinitaris bahwa “Akulah” dalam Injil Yohanes harus dimengerti sebagai klaim Yesus sebagai Allah, berhadapan dengan banyak masalah. Apakah mereka ingin mengatakan bahwa Yesus, alih-alih Bapa, adalah Yahweh? Atau, apakah mereka ingin mengatakan bahwa ada tiga (atau dua?) pribadi yang adalah Yahweh? Ini melanggar pernyataan monoteis PL. Namun, bukan itu saja, ini akan membuat perkataan Yesus sendiri dalam Injil Yohanes menjadi tidak berarti, misalnya, “Bapa lebih besar daripada aku” (Yoh.14:28), jika “aku” dimengerti sebagai “Akulah” yang ilahiah itu. Sesuai konteks Yohanes 14 kita harus percaya pada Allah dan juga pada Yesus (14:1, bdk. ay.10,11); dan Yesus ingin kita mengerti bahwa, sebagai objek dari iman dan kepercayaan kita, sang Bapa lebih besar daripada dia. Apa lagi maksudnya kalau bukan itu? Mengenai Yohanes 14:28, Dr. Kuschel mengutip karya seorang teolog Jerman, W. Thuesing:

“W. Thuesing, ‘Die Erhoehung der Verherrlichung’ [‘The Exaltation of Glorification’], hlm.206-14, kh. 210, [di mana ia] sudah mengatakan semua yang perlu dikatakan: ‘Apa maksud klausa “sebab Bapa lebih besar daripada aku?” Itu harus ditafsirkan dari segi hubungan antara Bapa dan Anak yang dilukiskan di bagian lain dari Injil itu; dibandingkan dengan Anak, Bapa adalah sosok yang selalu memberi, yang

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

143

memegang inisiatif, yang mengeluarkan perintah. Anak selalu mendengarkan dan menerima dari Bapa; ia memenuhi kehendak Bapa, ia menyelesaikan apa yang dimulai oleh Bapa—tetapi tidak sebaliknya. Frasa “lebih besar” juga muncul di bagian lain dalam Perjanjian Baru, tetapi bukan sebagai perbedaan metafisik atau kualitatif, melainkan sebagai pengungkapan suatu hubungan superordinasi dan subordinasi.” (K-J Kuschel, Born Before All Time? Bagian Dua, B, VII, catatan kaki 74, hlm.637, kata-kata dalam tanda kurung siku ditambahkan).

Trinitarianisme, yang berkeras secara dogmatis akan kesetaraan dari ‘pribadi-pribadi’ ilahi itu, telah membuatnya sangat sulit bagi kita untuk menerima pengajaran yang sangat gamblang dan eksplisit dalam Injil Yohanes tentang subordinasi Anak kepada Bapa. Kita dibuat merasa telah mempermalukan atau menghina Anak jika kita mengakui bahwa ia adalah subordinat Bapa—meskipun Anak itu sendiri yang menegaskan subordinasinya; dengan mengsubordinasi- kan Yesus, sebenarnya bukan kami yang lancang. Akhirnya, trinitarian sepertinya tidak dapat memutuskan apakah Yesus mengklaim sebagai Yahweh (sekalipun ia bahkan tidak menyatakan dirinya sebagai Mesias secara terbuka) atau sebagai anak Yahweh (“anak Allah”). Banyak trinitarian yang begitu bingung dengan persoalan ini sehingga dalam kekaburan mereka kelihatannya ingin mengambil semacam perpaduan dari keduanya! Sekalipun tidak sesuai dengan Kitab Suci, dogma trinitaris sebenarnya rutin memanjakan gaya bicara ganda seperti ini, yang sekarang menyatakan Yesus adalah Allah dan juga kemudian menyatakan ia adalah Anak Allah—hal ini, tentu saja, adalah hal yang kami kenal baik karena kami sendiri sebagai trinitarian juga telah melakukannya.

144

The Only True God

Siapakah tepatnya “Bapa” yang sangat kerap dibicarakan oleh Yesus dalam Injil Yohanes?

“B apa”, yang mengacu secara khusus kepada Allah, termasuk kosa kata khusus dari Yohanes; kata itu adalah sebuah kata

kunci dalam pengajaran Yesus. Statistik menyatakan hal ini dengan jelas: “Bapa” muncul dalam Injil Matius: 23 kali (dalam 21 ayat); Markus: 3 kali (termasuk “Abba” di 14:36); Lukas: 12 kali (dalam 9 ayat); dan Yohanes: 114 kali (dalam 97 ayat). 6 Dari angka-angka tersebut segera terlihat bahwa pemunculannya dalam Injil Yohanes sekitar 5 kali lebih banyak daripada Injil Matius, dan Matius adalah kitab yang lebih panjang daripada Yohanes. Jelaslah, “Bapa”, yang merujuk pada Yahweh Allah, selalu ada dalam ucapan Yesus, dan juga di dalam hati dan pikirannya. Di sini kita tidak bisa memeriksa kesemua 114 referensi kepada “Bapa” dalam Injil Yohanes, tetapi kita akan merangkum beberapa poin utama. Siapakah “Bapa” dalam pengajaran Yesus menjadi jelas dari nas- nas berikut:

(1) Ialah Allah Israel, Yahweh, yang disembah dalam Bait Suci di Yerusalem, tetapi akan disembah secara universal “dalam roh dan kebenaran”.

Yohanes 4:

21 Kata Yesus kepadanya (perempuan Samaria): “Percayalah kepadaku, hai perempuan, saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. 22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.

6 Statistik yang diberikan di sini adalah berdasarkan referensi yang diberikan dalam Modern Concordance to the New Testament, Michael Darton, editor, Doubleday, 1976, yang pada dasarnya bisa diandalkan.

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

145

23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa mencari orang-orang yang menyembah Dia secara demikian.

Semua ayat ini adalah tentang penyembahan; Bapa sendiri adalah objek penyembahan baik bagi orang Yahudi maupun orang Samaria; Ia disembah di Yerusalem, yaitu, di Bait Suci. Jadi, rujukan itu tanpa diragukan adalah kepada Allah Israel, Yahweh. Yesus pun berbicara tentang Dia sebagai “Allah Bapa” (Yoh.6:27).

Berikut beberapa lagi pengamatan kunci mengenai “sang Bapa”:

(2) Ia adalah “Yang ada dengan sendirinya” (“self-existent One”), sang Pencipta, yang telah menganugrahkan kepada Yesus kuasa untuk melaksanakan kehendak-Nya baik dalam kebangkitan maupun penghakiman:

Yohanes 5:26, “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam dirinya sendiri.”

“Bapa” adalah sumber hidup, karena Dialah satu-satunya yang “mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri”. Secara signifikan, itulah artinya deskripsi Nama Yahweh di Keluaran 3:14 sebagai “AKU ADALAH AKU” (sebagaimana tercermin dalam LXX, ho ōn). Ia tidak memperoleh hidup dari siapa pun juga, tetapi semua yang hidup menerima hidupnya dari Dia; karena Ia adalah sang Pencipta, sang Absolut sehubungan dengan segala yang ada. Ia telah memilih menurut kedaulatan kehendak-Nya untuk mengaruniakan kepada Anak untuk mempunyai hidup dalam dirinya dan untuk menyalurkan hidup kepada setiap orang yang mendengarkan suaranya (Yoh.5:25). Penting untuk diperhatikan bahwa Yesus

146

The Only True God

menjelaskan bahwa hidup yang ada padanya itu telah diberikan (didōmi) kepadanya oleh Bapa; bukan sesuatu yang dimilikinya sendiri. Tentu saja, ini bertentangan dengan Kristologi trinitaris. Poin penting ini, yaitu, bahwa segala sesuatu yang dimiliki oleh Yesus ia terima dari sang Bapa, diulangi lagi di ayat berikutnya:

Yohanes 5:27, “Ia telah memberikan kuasa kepadanya untuk menghakimi, karena ia adalah Anak Manusia.”

Di sini, kata “memberikan” (didōmi) dipakai lagi, sekarang dengan mengacu kepada otoritas atau kuasa (exousia) yang dianugrahkan kepadanya oleh Bapa untuk menjalankan penghakiman. Kedua kata ini, “memberikan” dan “kuasa” adalah dua kata yang sama persis dalam teks Yunani yang muncul di Matius 28:18: “Yesus mendekati mereka dan berkata: ‘Kepadaku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.’” Konteks di Yohanes 5 (ay.24-29) adalah tentang kebangkitan yang akan datang (ay.29) dan penghakiman (ay.27). Ayat-ayat tersebut dapat juga berfungsi sebagai konteks dari Matius 28:18. Pernyataan-pernyataan Yesus dengan jelas menegaskan fakta bahwa semua yang ada padanya itu diberikan kepadanya dengan murah hati oleh sang Bapa. Pernyataan yang maha-melingkupi di Yohanes 5:30 mengalir secara logis dari penegasan itu: “Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diriku sendiri; aku menghakimi sesuai dengan apa yang aku dengar, dan penghakimanku adil, sebab aku tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku.” Sungguh sulit untuk dimengerti bagaimana orang yang mendengarkan perkataan Yesus dalam ayat-ayat ini bisa memaksakan kalau Yesus mengklaim kesetaraan dengan sang Bapa.

(3) Sang Bapa telah mengutus Yesus sebagai “juruselamat dunia” (Yoh.4:42) agar umat manusia tidak dihukum pada hari

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

147

penghakiman melainkan menerima hidup kekal. Yesus melaksanakan hal ini dengan (1) menyatakan sang Bapa kepada semua orang yang mencari Dia (Yoh.14:9), dan (2) menjadi “anak domba Allah”, anak domba yang disediakan oleh Bapa Sendiri sebagai korban untuk dosa, untuk “menghapus dosa dunia”

(Yoh.1:29).

Sebagaimana bisa dilihat di Yohanes 5:30, “Aku tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku”, Yesus berbicara tentang Bapa yang mengutus dia untuk menye- lesaikan pekerjaan yang telah dipercayakan kepadanya. Bahwa Allah yang mengutus dia adalah suatu hal yang diulang berkali-kali oleh Yesus dalam Injil Yohanes. Yesus hidup dengan kesadaran yang mendalam akan misi yang telah dipercayakan Bapa kepadanya.

(4) Poin-poin di atas digabungkan dalam doa Yesus di Yohanes 17:3:

“Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Dasar bagi seluruh pengajaran Yesus dalam Injil adalah penegasan bahwa Bapa ialah “satu-satunya Allah yang benar”. Namun, “Allah-Bapa” (Yoh.6:27, yakni, Yahweh) yang dibicarakan oleh Yesus tidak boleh dirancukan dengan “Allah-Bapa” trinitaris, yang bukan “satu-satunya Allah yang benar”, tetapi hanya satu dari tiga pribadi, dan dengan demikian membentuk sepertiga dari “Ke-Allahan” trinitaris. Trinitarianisme memakai istilah-istilah yang sama dengan istilah-istilah yang dipakai dalam Alkitab tetapi sering kali dengan makna yang sama sekali berbeda. Pengaburan makna sedemikian atas istilah-istilah penting ini dapat mengakibatkan pemikiran yang keruh. Oleh karena itu, kita perlu mengecek dengan seksama makna yang tepat dari istilah-istilah yang sedang digunakan ketika membahas trinitarianisme.

148

The Only True God

Allah dan Bapa Tu[h]an kita Yesus Kristus

“Allah dan Bapa Tu[h]an kita Yesus Kristus” merupakan sebuah bentuk rujukan penting kepada Allah yang ditemukan di Rm.15:6; 2Kor.1:3; 11:31; Ef.1:3; 1Ptr.1:3. Kelima referensi tersebut menunjuk- kan bahwa frasa ini merupakan sebuah deskripsi Allah yang terkenal di gereja PB dan bahwa Allah yang mereka sembah itu memang adalah “Allah dan Bapa Tu[h]an kita Yesus Kristus”. Bagi kita yang dibesarkan dalam trinitarianisme, sang “Bapa” langsung dihubungkan dengan “Allah-Anak”, sedangkan dalam PB “Bapa” adalah istilah yang dimengerti sehubungan dengan “anak Allah”, gelar sang Mesias atau Kristus. Gelar ini selanjutnya digabungkan ke dalam gelar “Tu[h]an Yesus Kristus”, yang bagi seorang berbahasa Ibrani adalah “Tu[h]an Yesus sang Mesias” (lih. mis. Salkinson-Ginsburg Hebrew NT). Bagi orang-orang yang tidak berbahasa Ibrani, gelar “Kristus” itu telah menjadi semacam nama keluarga sehingga signifikansi aslinya telah hilang. “Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tu[h]an dan Kristus” (Kis.2:36) dan setidaknya justru karena alasan ini Ia adalah keduanya “Allah dan Bapa dari Tu[h]an kita Yesus”. Hal ini membuat jelas bahwa gereja awal tidak memandang kata “Tu[h]an” sebagai gelar ilahi dalam pengertian trinitaris. Betapa berbedanya keadaan dewasa ini karena orang Kristen tidak bisa memikirkan Yesus sebagai “Tu[h]an” kecuali dalam pengertian bahwa ia adalah Allah. Hal ini menunjukkan bagaimana pemikiran trinitaris telah menjadikannya hampir mustahil bagi kita membaca PB kecuali di dalam bahasa dan kategori trinitaris. Umat Kristen sudah terikat untuk membaca PB melalui kacamata trinitaris. Kecuali jika kita, oleh anugerah Allah, dibebaskan dari belenggu ini, kita tidak akan pernah dapat memahami firman Allah dengan tepat, selain dengan istilah-istilah yang telah disimpangkan secara serius. Seberapa besarkah dampaknya kondisi yang menyedihkan dan berbahaya ini atas kondisi rohaniah gereja saat ini, bila gereja tidak

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

149

lagi bisa memahami firman Allah sebagaimana mestinya? Mereka menyembah tiga pribadi alih-alih satu, dan kebanyakannya hanya satu—Yesus. Bertolak-belakang tajam dengan ini, dalam PB jemaat menyembah “Allah dan Bapa Tu[h]an kita, Yesus Kristus”. Atau sebagaimana dikatakan oleh sang Rasul, “aku sujud kepada Bapa”

(Ef.3:14).

Akan tetapi, bagaimana kita dapat mendamaikan, di satu sisi, gagasan trinitaris bahwa Yesus setara dengan Yahweh, dan di sisi lain, fakta bahwa Yahweh adalah Allahnya Yesus? Apakah sekali lagi dengan memakai gaya bicara ganda (double-talk): yang terakhir berlaku kepada Yesus sebagai manusia, bukan sebagai Allah (jika tidak Yahweh akan menjadi Allahnya Allah!)? Dengan kata lain, trinitarianisme mengharuskan Yesus dibagi dua bila menyangkut eksegesis ayat-ayat dalam Kitab Suci: Di satu tempat sesuatu dikatakan yang berlaku kepada Yesus sebagai manusia, dan di tempat lain sesuatu dikatakan yang berlaku kepadanya sebagai Allah. Dengan cara meloncat bolak-balik seperti inilah dogma itu dipertahankan. Akan tetapi, pemisahan Allah dengan manusia di dalam Kristus trinitaris sebenarnya tidak diizinkan oleh syahadat trinitaris itu sendiri, karena pemisahan Allah dengan manusia di dalam Kristus seperti inilah yang dikutuk sebagai bidat dengan nama “Nestorianisme”, yang mengakibatkan pengucilan. “Eutikianisme dan Nestorianisme akhirnya dikutuk di Konsili Khalkedon (451 M), yang mengajarkan satu Kristus dalam dua kodrat dipersatukan dalam satu pribadi atau hypostasis, tetapi tetap ‘tanpa kerancuan, tanpa perubahan, tanpa pembagian, tanpa pemisahan!’” (Evangelical Dictionary of Theology, W.A. Elwell, Baker, Art. tentang Kristologi, hlm.225; cetak miring ditambahkan). Dengan demikian, sifat pertentangan-diri dari trinitarianisme ter- ungkap oleh gaya bicara bertentangan (double-talk) trinitaris. Karena seandainya Allah dan manusia dalam Kristus dapat dipisahkan dengan mengatakan ayat ini berlaku kepada Yesus

150

The Only True God

sebagai manusia tetapi ayat itu berbicara tentang Yesus sebagai Allah, maka ia bukan lagi satu pribadi melainkan dua, dan ini bertentangan dengan dogma trinitaris bahwa Yesus adalah keduanya “Allah sejati, manusia sejati” dalam satu pribadi. Namun, teori itu satu hal, prakteknya lain lagi. Diperhadapkan dengan masalah- masalah yang tak teratasi dalam terang Alkitab monoteistik yang tak kenal kompromi, trinitarian terpaksa bermain sulap interpretatif untuk menyangga dogma mereka. Mari kita ambil satu poin penting yang fundamental sebagai contoh. Satu hal yang sangat sering dinyatakan tentang Yesus adalah kematian penebusannya. Namun seandainya Yesus adalah Allah, maka ia tidak bisa mati; jika ia bisa mati, maka ia bukan Allah. Karena satu kebenaran dasariah tentang Allah dalam Alkitab ialah bahwa Dia itu abadi, kekal dan tidak takluk kepada maut (Ul.33:27; Mzm.90:2, dst.); hal ini tidak diragukan sama sekali sejauh Alkitab mencatat. Paulus berbicara tentang Allah sebagai “satu-satunya yang tidak takluk kepada maut” (1Tim.6:16). Segala sesuatu akan berlalu, tetapi Allah tetap selamanya, “tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan”

(Mzm.102:25-27).

Jadi trinitarianisme diperhadapkan dengan pertanyaan:

Bagaimana mungkin Yesus mati tetapi dia juga Allah? Untuk itu tidak ada jawaban lain selain mengatakan: Yesus mati sebagai manusia, bukan sebagai Allah. Inilah gaya bicara ganda yang tak terelakkan. Lalu, apa jadinya dengan syahadat trinitaris yang dinyatakan di Khalkedon: “Satu Kristus dalam dua kodrat (perhatikan bagaimana Allah disebut dengan istilah “kodrat”) dipersatukan dalam satu pribadi… tanpa pembagian, tanpa pemisahan”? Jelaslah, dogma ini benar-benar mustahil untuk dipertahankan dalam terang wahyu Alkitab tentang Allah. Lagipula, seandainya Yesus adalah Allah, maka istilah “Allah Tu[h]an kita Yesus Kristus” berarti bahwa Allah adalah Allah dari Allah! Aduh, trinitarianisme! Karena, mau tidak mau, ini akan

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

151

membangkitkan pertanyaan: “Allah” macam apa Yesus trinitarianisme ini? Karena Allah memang dikenal sebagai “Allah segala allah” (Ul.10:17; Mzm.136:2; Dan.2:47; 11:36), tetapi siapa “segala allah” ini harus kita biarkan untuk ditemukan jawabannya oleh para trinitarian.

Allah sebagai Allah dan Bapanya Yesus—dan kita; Yohanes 20:17

Istilah “Allah dan Bapa” muncul 12 kali dalam PB; 6 berkaitan dengan Kristus, dan 6 yang sisa berkaitan dengan orang-orang beriman. Semua referensi tersebut dikutip lengkap di sini:

Allah sebagai Allah Tu[h]an kita Yesus Kristus, atau “Allahnya”:

Roma 15:6, “sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tu[h]an kita, Yesus Kristus.”

2Korintus 1:3, “Terpujilah Allah, Bapa Tu[h]an kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh kemurahan dan Allah sumber segala penghiburan”.

2Korintus 11:31, “Allah, yaitu Bapa dari Yesus, Tu[h]an kita, yang terpuji sampai selama-lamanya [bdk. Rm.9:5], tahu, bahwa aku tidak berdusta.”

Efesus 1:3, “Terpujilah Allah dan Bapa Tu[h]an kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga”.

1Petrus 1:3, “Terpujilah Allah dan Bapa Tu[h]an kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah membuat kita lahir kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada hidup yang penuh pengharapan”.

152

The Only True God

Wahyu 1:6, “dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapanya, bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.”

Allah sebagai Allah dan Bapa kita:

Galatia 1:4, “yang telah menyerahkan dirinya karena dosa- dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita”.

Efesus 4:6, “satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam semua.”

Filipi

lamanya! Amin.”

4:20,

“Dimuliakanlah

Allah

dan

Bapa

kita

selama-

1Tesalonika 1:3, “Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tu[h]an kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita”.

1Tesalonika 3:11, “Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tu[h]an kita, membukakan bagi kami jalan kepadamu”.

1Tesalonika 3:13, “Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tu[h]an kita, dengan semua orang kudus-Nya.”

Para sarjana Muslim telah menuduh Paulus sebagai orang yang menuhankan manusia Yesus dengan menjadikan dia Allah-Anak, dan dengan demikian, Paulus menjadi pendiri sejati agama Kristen seperti yang ada hari ini. Namun, terlepas dari fakta bahwa istilah “Allah-Anak” tidak pernah dipakai oleh Paulus, dari daftar ayat-ayat di atas tentang “Allah dan Bapa” akan segera terlihat dengan jelas

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

153

bahwa kebanyakan dari rujukan kepada Allah sebagai “Allah Yesus Kristus” itu ditemukan dalam surat-surat Paulus (4 dari 6 ayat), dan ia menulis dengan cara yang persis sama tentang Allah sebagai Allah kita (seluruh 6 ayat). Yesus berbicara tentang Allah sebagai “Allahku” (Yoh.20:17; Mat.27:46 = Mrk.15:34); kata-kata ini menggemakan Mzm.22:1, tetapi tidak dengan demikian kehilangan signifikansinya. Di Yohanes 20:17, Yesus berkata kepada Maria Magdalena, “Janganlah engkau memegang aku terus, sebab aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudaraku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang aku akan pergi kepada Bapaku dan Bapamu, kepada Allahku dan Allahmu.” Hal ini tercermin dengan kuatnya di Wahyu 3:12 ketika Kristus yang telah bangkit itu berbicara tentang “Allahku” sebanyak empat kali dalam satu ayat ini:

“Siapa yang menang, ia akan kujadikan tiang di dalam Bait Suci Allahku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan kutuliskan nama Allahku, nama kota Allahku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari surga dari Allahku, dan namaku yang baru.”

Arti ayat ini pada hakikatnya tidak akan terpengaruh jika alih-alih “Allahku” cukup dibaca “Allah” saja. Jadi, apa yang ditampilkan dengan jelas sekali adalah penegasan dari Kristus bahwa Allah adalah Allahnya dalam cara yang paling personal yang dapat dinyatakan. Hal ini sangat penting untuk memahami Kristologi kitab Wahyu (bdk. pula 3:2). Sebagai trinitarian kita berpendapat bahwa frasa “Bapaku dan Bapamu”, “Allahku dan Allahmu”, membedakan Yesus dari kita karena ia tidak berkata “Bapa kita”, “Allah kita”. Namun kita menga- baikan kenyataan bahwa dalam kalimat yang sama ia juga berkata “pergilah kepada saudara-saudaraku”; apakah ia dengan demikian juga membedakan dirinya dari mereka? Jika demikian, bagaimana?

154

The Only True God

Tidakkah ia juga yang berkata bahwa semua orang yang melakukan kehendak Allah adalah saudara-saudaranya (Mat.12:48,49; Mrk.3:34,35; Luk.8:21), yang berarti semua orang yang melakukan kehendak Allah akan mengalami Allah sebagai Bapa? Bahwa Yesus menggenapi kehendak Bapa secara lebih sempurna daripada saudara-saudaranya tidak diperselisihkan, tetapi apakah itu membuat Allah menjadi Bapanya dengan cara yang berbeda? Namun di sini, sebagaimana di bagian lain, kita membacakan trinitarianisme kita ke dalam teks itu, dan dogma kita menuntut adanya pembedaan antara kemanusiaan kita dan kemanusiaan Kristus, karena Kristus bukan manusia sama seperti kita: ia adalah Allah-manusia, Allah dan manusia di dalam satu pribadi. Ini berarti ia bukan sungguh-sungguh manusia seperti kita. Selanjutnya ini berarti dalam mentalitas trinitaris Yesus itu cenderung lebih dipandang sebagai Allah daripada sebagai manusia; kemanusiaannya dibayangi oleh keilahiannya. Ini menimbulkan pertanyaan apakah Yesus trinitaris itu hanyalah sekadar sebuah tubuh manusia yang kepribadiannya digerakkan oleh kodrat ilahinya. Kristus trinitaris adalah Allah, tetapi dapatkah dikatakan dengan jujur bahwa ia itu “benar-benar manusia”? Allah-manusia, dalam kasus seperti ini, bukanlah seorang manusia seperti kita. Jadi trinitarianisme harus mengubah definisi Alkitab dari “Allah” dan “manusia” untuk memuat Yesus yang mereka tuhankan! Jika kita memberi kebebasan kepada diri kita sendiri untuk mendefinisikan istilah-istilah Alkitab dengan cara apa saja sesuai dengan tuntutan dogma kita, maka kita telah memilih untuk memperlakukan Alkitab semau kita. Namun apa lagi yang bisa diharapkan bila dasar batu karang monoteisme Alkitabiah itu, di mana Yahweh adalah satu-satunya Allah, telah ditolak demi tiga pribadi yang berbagi dalam satu hakikat ilahi? Sebagai akibatnya, “eksegesis” trinitaris atas Yohanes 20:17 menengarai bahwa “Bapa” juga harus dimengerti dalam arti yang berbeda-beda; jadi ketika Yesus berkata “Bapaku”, ia diduga sengaja

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

155

membedakan hubungannya dengan Bapa dari hubungan murid- muridnya dengan Bapa dengan istilah “Bapamu”. Logika macam apa ini! Namun pembacaan teks secara gamblang (tanpa kacamata

trinitaris) menunjukkan bahwa justru kebalikannyalah yang benar:

apa yang dimaksudkannya adalah bahwa mulai saat ini, oleh kuasa

kebangkitan dan oleh Roh Kudus yang akan segera disalurkannya kepada mereka (Yoh.20:22), murid-muridnya akan tahu bahwa

“Bapaku” adalah “Bapamu”. Ini mengingatkan kita akan kata-kata indah di Kitab Rut, ketika Rut berkata kepada Naomi, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan

di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam:

bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku.” (Rut 1:16) Ini membawa kita kepada “jantung” dari pelayanan Yesus, yang tujuannya digambarkan oleh Rasul Petrus sebagai “membawa kita kepada Allah” (1Ptr.3:18). Untuk mencapai hal ini, Yesus melakukan dua hal yang menuntut sebuah respon: pertama, Yesus memanggil pendengarnya untuk “marilah kepadaku” (Mat.11:28; Yoh.1:39; 5:40; 6:44,65) dan, kedua, ia memanggil kita dengan kata-kata, “ikutlah aku” (Mat.10:38; Mrk.8:34; Yoh.10:27, dst.); atau sederhananya, “datanglah ke mari dan ikutlah aku” (Mat.19:21; Luk.18:22). Sering kali “ikutlah aku” sudah menyiratkan “marilah kepadaku”; dan “ikutlah aku” kerap kali muncul dalam keempat Injil (Mat: 6 kali; Mrk: 4; Luk: 4; Yoh: 6 = 20 kali dalam Injil). Kedua langkah tersebut mendefinisikan sifat pemuridan dalam Perjanjian Baru. Ucapan Rut kepada Naomi secara tepat dipandang mengungkapkan hakikat dan karakter dari pemuridan. Hasil dari dibawa kepada Allah melalui Yesus adalah bahwa kita mengenal Allah sebagai Bapa kita dengan cara yang sama seperti Yesus mengenal Allah sebagai Bapa. Setiap orang Kristen telah mempelajari doa “Bapa Kami” (Mat.6:9-13) sejak masa kanak-kanak. Doa ini sering didaraskan dalam ibadah gereja. Namun, berapa

156

The Only True God

banyak orang yang benar-benar mengenal Allah sebagai Bapa? Apa artinya “membawa kita kepada Allah” kalau bukan membawa kita untuk mengenal Allah, agar kita memanggil-Nya “Abba, Bapa” dari hati kita (Gal.4:6; Rm.8:15), persis seperti Yesus yang juga memanggil-Nya “Ya Abba, ya Bapa” (Mrk.14:36)? Ia datang untuk menyelamatkan kita, dan inilah arti “diselamatkan”. “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh.17:3) Kata “mengenal” (ginōskō) adalah kata kunci dalam tulisan Yohanes; kata ini muncul dalam Injil Yohanes dan Pertama Yohanes jauh lebih sering daripada kitab PB lainnya (Yoh: 57 kali; Mat: 20; Mrk: 12; Luk: 28; Kis: 16; Rm: 9; 1Yoh: 25). Thayer’s Greek Lexicon memuat artikel yang panjang dan instruktif untuk kata ginōskō (kenal) yang dimulai dengan, “Khususnya γινώσκω [ginōskō] berke- nalan dengan, mengenal, digunakan dalam PB untuk pengetahuan tentang Allah dan Kristus, dan tentang hal-hal yang berkaitan dengan mereka atau yang keluar dari mereka; a. τόν Θεόν [ton theon], satu Allah yang sejati itu, berlawanan dengan politeisme orang kafir: Rm.1:21; Gal.4:9; juga Yoh.17:3”. Dalam membahas berbagai kata Yunani untuk kata “kenal”, Thayer membuat sebuah pengamatan yang penting tentang arti ginōskō: “pengetahuan berdasarkan pengalaman pribadi” (huruf miring ditambahkan).

Persoalan pelik tentang “dua kodrat” dalam pribadi Kristus, sang “Allah-manusia”

D alam teologi Kristen, topik yang mengandung kepentingan khusus adalah “Kristologi”, yang terutama berkaitan dengan

persoalan pelik tentang bagaimana harus memahami Yesus Kristus yang memiliki dua “kodrat”, Allah dan manusia, di dalam satu pribadi. Masalah ini tidak berasal dari Perjanjian Baru tetapi sejak

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

157

Yesus dituhankan sebagai Allah oleh gereja non-Yahudi; hanya setelah itu masalah ini menjadi genting bagi Kekristenan. Mau tidak mau, penuhanan Yesus menjadi Allah telah menciptakan sebuah situasi di mana sekarang ada lebih dari satu pribadi yang disebut Allah, dan hal ini membawa konsekuensi serius: yaitu kesangsian terhadap monoteisme. Gereja non-Yahudi menyadari sepenuhnya fakta bahwa Alkitab itu monoteistik, jadi bagaimana gereja masih dapat mempertahankan suatu bentuk monoteisme, sementara di saat yang bersamaan keilahian Kristus sebagai Allah-Anak? Sebagian pemimpin gereja memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap monoteisme; sebagian lainnya bersikeras pada kedudukan Kristus sebagai Allah. Sebagai akibatnya, sejarah Kristologi ditandai oleh, sebagaimana dapat diduga, konflik, perpecahan, dan pengucilan (bahkan uskup-uskup saling mengucilkan satu sama lain!) Akhirnya, pandangan bahwa Yesus adalah Allah keluar sebagai pemenang dalam gereja non-Yahudi. Hal seperti ini tidak mungkin terjadi di jemaat Yahudi awal. Lalu, bagaimana dengan monoteisme? Yah, Allah dikurangkan dari satu Pribadi menjadi satu “hakikat”. Hal ini muncul cepat sekali di gereja non-Yahudi, tidak lama setelah gereja kehilangan pertalian dengan gereja induk Yahudinya. “Bapa” Latin terkemuka, Tertulianus (th. 155-220 M), menaruh perkara itu seperti berikut, “Allah adalah nama dari hakikat itu, yaitu, keilahian” (J.N.D. Kelly, Early Christian Doctrines, hlm.114). Pengaruh Tertulianus dapat dilihat dari pengamatan Kelly, “Paus [Dionysius] mungkin telah menyimpulkan, atas dasar-dasar etimologi yang meyakinkan, bahwa hypostasis adalah padanan kata Yunani untuk substantia, yang dipelajarinya dari Tertulianus, menandakan kenyataan konkret yang tak terpisahkan dari ke-Allahan” (Kelly, Doctrines, hlm.136). Tanpa membahas lebih jauh akan kerumitan, dan liku-liku dari sejarah Kristologi, cukup untuk diketahui bahwa posisi doktrinal gereja dewasa ini pada intinya tetap sama seperti Tertulianus, yaitu, “ketiga

158

The Only True God

pribadi Ke-Allahan saling berbagi hakikat yang sama” (W.A. Elwell, Evangelical Dictionary of Theology, “Substance”) Mengapa trinitarian berbicara tentang Yesus sebagai “Allah- manusia”? Karena mereka mengklaim bahwa ia memiliki dua “kodrat”, satu ilahi dan satu manusiawi: Bagaimana kedua kodrat itu berhubungan satu sama lain di dalam dia? Jawaban yang diberikan pada Konsili Khalkedon (451 M) menyatakan bahwa kedua kodrat itu eksis bersama “tanpa kerancuan, tanpa perubahan, tanpa pembagian, tanpa pemisahan” di dalam satu pribadi. Ini seakan- akan menunjukkan adanya perpaduan dua kodrat yang sama sekali berbeda dan terpisah di dalam pribadi Yesus. Bagaimana “pribadi” seperti ini, yang pada dasarnya adalah dua pribadi, dapat berfungsi sama sekali tidak dijelaskan, dan tak pelak, tidak dapat dijelaskan. Jadi, ini dimasukkan ke dalam alam “misteri” teologis—sesuatu yang efektif menghentikan orang dari bertanya lebih lanjut. Rupanya pribadi Yesus ini harus begitu saja diterima sebagai sebuah enigma. Pribadi yang ada di tengah-tengah iman trinitaris itu harus tetap dalam keadaan tak terpahami, setidaknya berkenaan dengan bagaimana ia dapat bertindak sebagai pribadi yang disebut Allah dan manusia sekaligus. Pernyataan Khalkedon memang tidak dapat dipahami jika pernyataan tersebut dianggap memberi referensi yang berarti kepada suatu pribadi nyata. Apa adanya, pernyataan itu tidak lebih daripada sebuah tuntutan dogmatis yang dibuat oleh sebuah majelis gereja di Khalkedon pada abad ke-5. Tuntutan itu sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat dari Kitab Suci, akan tetapi dinyatakan oleh gereja trinitarian sebagai batu ujian dari ortodoksi Kristen. Namun pertanyaan yang dapat dan harus diajukan adalah apakah ini pengajaran yang Alkitabiah ataukah hasil dari kebingungan manusia karena tidak memahami pewahyuan Alkitabiah? Dari abad ke abad, banyak trinitarian merasa tidak puas percaya pada “suatu” Kristus yang pada dasarnya tak terpahami, sebuah

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

159

enigma. Banyak yang lebih menyukai gagasan Yesus sebagai Allah yang berinkarnasi di dalam tubuh seorang manusia. Setidaknya pandangan ini kelihatannya masuk akal. Dalam pandangan mereka tentang Kristus, Allah (Anak, bukan Bapa) telah mengambil-alih kedudukan dalam konstitusi manusia yang biasanya ditempati oleh “roh manusia”. Gagasan ini didukung oleh apa yang dalam teologi dikenal sebagai “Kristologi Aleksandria” 7 . Menurut gagasan ini, Yesus mempunyai tubuh daging sama seperti kita, tetapi pribadi yang bertindak di dalamnya adalah Allah-Anak (kalau tidak maka ada dua pribadi yang bertindak di dalam satu pribadi itu—mirip dengan skizofrenia!); di dalam Kristus “Allah-Anak” telah mengambil alih (apapun artinya, atau, dari sudut pandang lain, menggantikan) roh manusia. Dengan demikian, ia sama seperti kita di tingkatan daging, tetapi “Allah-Anak”lah yang hidup di dalam daging itu. Dengan cara ini ia bisa dianggap “Allah sejati dan manusia sejati”. Di sini kita tidak akan membahas soal “Allah sejati”, tetapi dapatkah seseorang yang dibentuk seperti itu disebut “manusia sejati” sekalipun jika ia memiliki tubuh manusia yang nyata? Tentunya tidak sulit untuk dilihat oleh siapapun (kecuali jika kita sengaja bersikap buta) bahwa tidak ada manusia yang juga sekaligus Allah dapat sungguh-sungguh disebut manusia tanpa mendefinisi ulang istilah “manusia” menjadi sesuatu yang berbeda dari arti sebe- narnya. Kita mungkin tidak tahu banyak, tetapi kita adalah manusia, jadi sekalipun jika kita tidak tahu apa-apa, setidaknya kita tahu betul seperti apa manusia itu. Itulah sebabnya kita tahu apa pun Allah- manusia itu, ia bukan manusia seperti kita, ia sama sekali bukan salah satu dari kita.

7 Untuk diskusi yang lebih lengkap tentang konflik trinitaris antara aliran Aleksandria dan Antiokhia, lihat Lampiran 11.

160

The Only True God

Berbicara tentang Allah dan manusia dalam istilah “kodrat” bukanlah cara yang tepat untuk melanjutkan pemeriksaan kristologis. Namun, tidak sulit untuk memahami mengapa trinitarian terpaksa memakai istilah ini. Sebenarnya Allah dan manusia hanya pantas dibicarakan dalam istilah “pribadi”. Berbicara tentang manusia dengan istilah “kodrat” berarti berbicara tentang ciri-ciri dan kualitasnya, bukan tentang dirinya sebagai suatu “pribadi”. Namun pemikiran trinitaris tentang Kristus sebagai “Allah-manusia” menjadikannya mustahil untuk berbicara tentang Allah dan manusia dalam istilah “pribadi” karena, jika tidak, Kristus akan menjadi dua pribadi: Allah dan manusia! Namun berbicara tentang Allah sebagai “hakikat” atau “kodrat” sebenarnya merupakan penghinaan terhadap Allah, dan mereka yang berbuat demikian tanpa disadari sedang bermain-main dengan “api yang menghanguskan” (Ul.4:24; 9:3; Yes.33:14; Ibr.12:29). Di dalam Alkitab, Allah jelas bukan sekadar “kodrat” atau “hakikat”. Lagipula, memiliki “kodrat ilahi” tidak menjadikan Allah, jika tidak, maka berdasarkan 2Petrus 1:4 kita pun adalah ilahi. Begitu juga, sekadar memiliki “kodrat” atau “esensi” manusia tidak menjadikan seseorang manusia; melainkan, oleh karena kita adalah manusia (atau pribadi) maka kita memiliki kodrat manusia. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “kodrat”? Agaknya ini merujuk kepada hal-hal seperti sifat intrinsik, temperamen, atau kualitas esensial. “Kualitas-kualitas” seperti itu dalam manusia berasal dari kemanusiaannya, tetapi keadaannya sebagai manusia tidak berasal dari kualitas-kualitas tersebut. Dengan demikian, mendahulukan “kodrat” daripada manusianya sama saja dengan “mendahulukan kereta daripada kudanya”. Seekor binatang bisa saja memperlihatkan ciri-ciri atau perilaku manusia (“nyaris manusia”) tetapi itu tidak menjadikannya manusia. Apa yang dimaksud dengan “kodrat ilahi” di 2Petrus 1:4 sangat jelas dari konteksnya, yang menjelaskan bahwa kualitas-kualitas moral dan spiritual Allah

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

161

tersedia bagi kita (bdk. “buah Roh”, Gal.5:22) sebagai akibat dari menjadi manusia baru dalam Kristus (2Kor.5:17). Dengan demikian, mengatakan bahwa Yesus memiliki kodrat ilahi tidak sama dengan mengatakan bahwa ia adalah Allah. Jelas sekali, apa yang disebut “kodrat” oleh trinitarian adalah sesuatu yang lebih menyerupai “hakikat”. Namun, sekali lagi, Allah bukanlah sebuah hakikat, demikian juga manusia. Seseorang itu lebih daripada sekadar “hakikat”nya, apapun itu. Bisa dikatakan bahwa seseorang itu lebih daripada jumlah hakikat-hakikat, atau kodrat-kodrat, atau sifat-sifatnya. Dengan terminologi-terminologi yang kabur seperti “kodrat” dan “hakikat”, tidaklah mengherankan bila doktrin dua-kodrat Kristus menjadi masalah berduri dalam gereja sejak masa Nikea dan seterusnya, yang berakibat pada kerancuan, perselisihan, konflik dan perpecahan. Adakah jalan keluar untuk masalah yang diciptakan oleh gereja itu sendiri? Kitab Suci berbicara tentang “Roh Allah” dan juga “roh manusia” (Ams.20:27; Pkh.3:21; Za.12:1, dst.). Dapatkah kita berbicara tentang “roh” dalam istilah “kodrat”? Jika ya, maka “roh manusia” akan sama dengan “kodrat” manusia, sebagai satu unsur dasariah dari konstitusi manusia. Akan tetapi, sebagaimana diketahui setiap orang, dalam konstitusi setiap manusia juga terdapat “daging”, dan “daging” ini pun merupakan unsur penting dari konstitusi manusia. Daging begitu mendefinisikan manusia, dan begitu dasariah terhadap karakter dan sifat manusia, sehingga Alkitab berbicara tentang eksistensi manusia cukup dengan istilah “daging” (mis. Yes.40:6; Yoh.1:14). Namun jika “daging” mendefinisikan kehidupan manusia, dan jika manusia juga memiliki “roh” yang juga integral kepada “kodrat”nya sebagai manusia, maka manusia memiliki dua “kodrat”: daging dan roh. Jika memang demikian halnya, ini berarti Yesus sebagai Allah-manusia memiliki tiga “kodrat”: daging dan roh manusia ditambahkan kepadanya sebagai Allah-Anak! Ini nyaris

162

The Only True God

tidak bisa dianggap sebagai manusia sejati tanpa mengubah definisi dari makna menjadi “manusia”. Satu solusi adalah dengan menyarankan bahwa Allah-Anak, sebagai Roh, telah menggantikan roh manusia di dalam Yesus. Akan tetapi ini tidak benar-benar menuntaskan masalah, karena sekarang manusia itu minus “roh” manusia, dan dengan demikian, tetap bukan manusia sungguh-sungguh, bukan “manusia sejati”. Dari semua ini jelas bahwa trinitarianisme, dengan menuhankan Kristus sebagai Allah, telah menciptakan sebuah masalah yang jelas-jelas tidak ada jalan keluarnya. Allah dan manusia tidak dapat dipersatukan atau digabungkan seperti yang dibayangkan oleh trinitarianisme dalam gagasan “Allah-manusia”. Seandainya mereka tidak menciptakan masalah ini, maka tidak ada yang perlu mencari solusi. Ini bukanlah masalah Perjanjian Baru melainkan sebuah masalah yang diciptakan oleh gereja non-Yahudi.

Jika Yesus adalah Allah, lalu bagaimana dengan keselamatan manusia?

M asalahnya bahkan lebih rumit daripada itu: Seandainya Yesus adalah Allah, maka mustahil untuk dia berbuat dosa, karena

Allah bahkan tidak bisa dicobai untuk berbuat dosa (Yak.1:13), apalagi berbuat dosa. Bagaimana mungkin dia yang tidak mampu berbuat dosa beridentik dengan orang-orang berdosa dan menjadi perwakilan mereka? Hanya dia yang mampu berbuat dosa (seperti Adam) tetapi tidak melakukannya—yang tanpa dosa bukan karena tidak dapat berbuat dosa, melainkan tidak berbuat dosa, yang berhasil sedangkan Adam gagal—hanya pribadi seperti itulah yang dapat mati bagi orang-orang berdosa. “Melalui ketaatan satu orang banyak orang menjadi orang benar” (Rm.5:19), tetapi jika ia taat karena ia tidak dapat dicobai, atau berbuat dosa, maka tidak ada artinya berbicara tentang “ketaatannya”.

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

163

Justru hal yang menakjubkan tentang Yesus sebagai Juruselamat kita adalah ini: ia bisa saja berbuat dosa, tetapi ia tidak; ia bisa saja tidak menaati Bapa, tetapi ia tetap taat dalam segala keadaan. Jika itu bukan hal yang paling menakjubkan, lantas apa? Siapa saja yang pernah dengan serius menghadapi tantangan dalam menjalani kehidupan yang berkenan kepada Allah pasti akan dibuat kagum dengan keajaiban kehidupan Yesus yang sempurna. Bahkan seorang dengan tingkat kerohanian seperti Paulus mengakui, “Bukan seolah- olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya”

(Flp.3:12).

Apakah ada jawaban dalam Kitab Suci untuk masalah ini? Petunjuk pertama dapat ditemukan di Yohanes 1:18 “di pangkuan Bapa” yang mengungkapkan keakraban yang sangat dalam dengan Yahweh; dibandingkan dengan keakraban ini, Yohanes yang ada “di pangkuan” Yesus (Yoh.13:23) hanyalah cerminan redup. Ada suatu kedalaman dari kesatuan dengan Yahweh yang diungkapkan lewat ucapan: “Engkau di dalam aku dan aku di dalam Engkau”. Sebagian orang percaya pernah mengecap sedikit dari kenyataan yang diung- kapkan oleh, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia” (1Kor.6:17), karena hal ini bukan sekadar status melainkan sebuah realitas pengalaman (sama seperti menjadi “satu daging” melalui pernikahan bukan sekadar status melainkan sebuah realitas yang dialami). Namun kita tidak sepenuh- nya memahami seperti apa kesatuan macam itu dalam kesempur- naannya. Akan tetapi, dalam hal Yesus kesatuan rohaniah dengan Yahweh ini menghasilkan suatu kedinamisan dalam kehidupannya yang dibuktikan oleh kehidupannya yang sempurna tanpa cacat. Seandainya gereja non-Yahudi mengerti bahwa realitas dalam Kristus itu bukan semacam kesatuan metafisik lewat penggabungan dua “hakikat” atau “kodrat” dalam Kristus (“kesatuan hipostatik” menurut terminologi trinitaris), dan seandainya mereka dapat dibe-

164

The Only True God

baskan dari pemikiran politeistis (“tiga Pribadi”) dan filosofis Yunani, dan menangkap kedalaman dan kuasa dari kesatuan rohaniah (“satu roh”, 1Kor.6:17), maka mereka pasti akan dapat memahami kebenaran Kitab Suci tentang pribadi Kristus dan kesatuannya dengan sang Bapa. Kata-kata indah dari Ulangan 33:12 berlaku kepada Yesus pada kedalaman yang tidak berlaku kepada siapa pun, “Kekasih Yahweh … diam di antara bahu-bahu-Nya.” (NAU) Sesungguhnya itulah artinya berada “di pangkuan Bapa”! Hidup “di dalam Dia” menurut ajaran Yesus.

Kristologi trinitaris: masalah yang jauh lebih serius untuk dipikirkan

N amun masih ada sebuah masalah yang jauh lebih serius yang ditimbulkan oleh kristologi trinitaris: penyatuan antara Allah

dan manusia yang sedemikian rupa sehingga Allah benar-benar menjelma ke dalam sebuah tubuh manusia secara permanen, dan dengan demikian menjadi seorang manusia, sehingga Allah dapat disebut sebagai manusia—seorang manusia tertentu bernama Yesus Kristus. Trinitarianisme disajikan sedemikian rupa sehingga Anselmus dapat berbicara tentang Allah yang menjadi manusia (dalam bukunya yang terkenal Cur Deus Homo?). Ini jauh melampaui antropomorfisme. Adalah satu hal untuk berkata bahwa Allah tampil dalam bentuk manusia di Perjanjian Lama, tetapi untuk berkata bahwa Allah menjadi seorang manusia seperti yang dipikirkan oleh trinitarianisme, adalah hal yang sama sekali berbeda. Ada baiknya kita mempertimbangkan apakah kita telah melangkah terlalu jauh dengan dogma Kristiani kita, sampai-sampai melanggar sifat Allah yang transenden; dan apakah imanensi-Nya telah diseret ke level sehingga para teolog tidak ragu-ragu berbicara tentang Allah yang tak takluk maut itu disalibkan dan mati di atas

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

165

kayu salib (bdk. J. Moltmann, The Crucified God). Sayangnya, trinitarianisme telah memungkinkan cara bicara seperti ini tentang Allah. Batas yang memisahkan Allah dan manusia bukan saja telah dikaburkan tetapi telah diruntuhkan. Ada beberapa hal yang tidak bisa dibenarkan betapa pun besarnya rasa takzim kita. Siapa saja yang sungguh-sungguh telah menangkap jiwa pewahyuan Allah dalam Perjanjian Lama pasti akan gemetar berbicara tentang Allah yang disalibkan dan mati layaknya manusia fana. Namun trinitarianisme telah membuat kita begitu mati rasa sampai kita berani berbicara seperti itu bahkan tentang Allah, yang menurut Kitab-kitab Suci dianggap penghujatan. Kita berani menginjak tempat yang tidak berani didekati oleh malaikat (bdk. surat Yudas). Karena karya ini berciri eksegetis dan ekspositoris, dan tidak dimaksudkan sebagai risalah teologis, pertanyaan di atas akan saya tinggalkan sebagai bahan renungan.

Kesatuan rohaniah—bentuk kesatuan yang tertinggi

K arena tidak rohaniah, kita lamban menyadari bahwa kesatuan rohaniah adalah bentuk kesatuan yang paling tinggi; tidak ada

yang lebih tinggi. Malah, sejak abad ke-5 (Konsili Khalkedon, 451 M) dan seterusnya, gereja non-Yahudi secara resmi menuntut keyakinan pada sebuah syahadat yang menyatakan “penyatuan dua kodrat (dyo physes), yakni kodrat keilahian dan kodrat kemanusiaan, ke dalam satu hypostasis atau pribadi Yesus Kristus” (“Hypostatic Union”, Evangelical Dictionary of Theology, W.A. Elwell, Ed.). Perhatikan bahwa apa yang ditegaskan secara eksplisit adalah penyatuan Allah dan manusia melalui penyatuan “kodrat keilahian dan kodrat kemanusiaan”. Seandainya maksudnya adalah untuk menyatakan penyatuan Allah (sekali pun jika yang dimaksud adalah “Pribadi Kedua”) dengan manusia dalam Kristus, kenapa tidak dinyatakan saja dengan

166

The Only True God

gamblang? Kenapa memakai istilah “dua kodrat”? Karena seharusnya jelas bahwa “kodrat” dari suatu pribadi bukanlah pribadi itu seutuhnya. Dan jika yang dimaksud adalah pribadi itu seutuhnya, kenapa berbicara hanya tentang “kodrat”nya? Di 2Petrus 1:4 kita pun dinyatakan sebagai orang-orang yang “mengambil bagian dalam kodrat ilahi (physis, kata yang sama dengan “kodrat” dalam syahadat itu)”. Apakah memiliki “kodrat ilahi” menjadikan kita Allah atau setara dengan Allah, atau menjadi bagian dari “Trinitas”? Tentu saja tidak. Lalu kenapa memiliki “kodrat” ilahi mengangkat Kristus menjadi Allah, atau menunjukkan bahwa ia adalah salah satu anggota dari “Ke-Allahan”? Dan karena “kodrat” tidak sama dengan pribadi itu seutuhnya, maka bukankah penyatuan dari “dua kodrat” dalam satu pribadi semacam ini akan menghasilkan suatu pribadi yang bukan sungguh- sungguh Allah dan juga bukan sungguh-sungguh manusia? Akan tetapi, dengan cara demikian trinitarianisme ingin menandaskan bahwa ia itu “sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia”! Bagaimana gereja bisa berakhir dalam keadaan yang begitu membingungkan? Ini disebabkan oleh kegagalan dalam memahami kebenaran Kitab Suci bahwa kesatuan rohaniah (“satu roh”, 1Kor.6:17) merupakan bentuk kesatuan yang paling tinggi dan mendalam; yang menyebabkan mereka mencari semacam kesatuan “hakikat” atau “kodrat” secara metafisis dalam pribadi Kristus, sehingga terciptalah istilah “kesatuan hipostatik”, yang mereka anggap sebagai kesatuan yang lebih tinggi. Namun, sebagaimana telah kita lihat, kesatuan dari “dua kodrat”, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia, hanya berarti pribadi yang bersangkutan memiliki atribut-atribut yang diwakili oleh “kodrat-kodrat” itu. Akan tetapi, apa yang ingin ditegaskan oleh syahadat Khalkedon melalui doktrin “kesatuan hipostatik” adalah bahwa Allah dan manusia sungguh-sungguh dipersatukan di dalam Kristus sehingga

Bab 1 — Monoteisme Yesus yang Eksplisit

167

“kodrat manusia secara tidak terpisahkan bersatu untuk selama- lamanya dengan kodrat ilahi di dalam satu pribadi Yesus Kristus, tetapi masing-masing kodrat itu tetap berdiri sendiri, utuh, dan tidak berubah, tanpa campuran atau kerancuan sehingga pribadi yang satu itu, Yesus Kristus, sungguh-sungguh Allah dan sungguh- sungguh manusia” (“Hypostatic Union”, Evangelical Dictionary of Theology, W.A. Elwell, Ed.). Bagaimana mungkin seseorang memiliki kodrat yang “seutuhnya” tanpa memiliki pribadi yang seutuhnya? Apa yang gagal dilihat oleh trinitarian adalah bahwa hanya dalam hal kesatuan rohaniah sajalah Allah dan manusia bisa bersatu sedemikian rupa sehingga tetap “berdiri sendiri, utuh, dan tidak berubah, tanpa campuran atau kerancuan” dalam satu pribadi:

1Korintus 6:17 “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Lagipula, gagasan “kesatuan kodrat” yang metafisis semacam ini (apapun artinya itu) mau tidak mau mengkompromikan kemanu- siaan Kristus, dan ini menimbulkan konsekuensi soteriologis yang paling serius. Akan tetapi, Gereja bersikeras dengan dogmanya, dan menga- baikan fakta bahwa doktrin Alkitabiah tentang keselamatan telah dikompromikan, tetapi kebanyakan orang Kristen tidak menyadari hal ini. Adalah penting untuk kita menyadari bahwa seorang Kristus yang bukan sungguh-sungguh manusia tidak dapat menyelamatkan mereka yang sungguh-sungguh manusia. Justru karena Kristus Yesus ialah sungguh-sungguh manusia maka ia dapat sungguh- sungguh menyelamatkan kita. Tak seorang pun yang “sungguh- sungguh Allah” dapat menjadi “sungguh-sungguh manusia”. Itu juga sebabnya setiap bahasan tentang makna Logos di Yohanes 1 harus mempertimbangkan kebenaran ini, dan tidak membiarkan dirinya terbawa oleh gagasan-gagasan dan opini-opini metafisis.