teks tertulis: Yohanes Sanaha Purba - teks fotografis: FX. Dwi Putranto & Danang W.

Nugroho

Menunda pemaknaan atas humanisme merupakan spirit yang menjiwai proses pengerjaan film dokumenter ini. Penundaan1 ini sangat menyenangkan karena terma Humanisme menjadi begitu lepas bebas untuk dimain-mainkan dalam berbagai bentuknya tanpa takut melanggar apa yang ’sebenarnya’ dimaksud dengan Humanisme. Meskipun harus diakui bahwa melanggar sesuatu yang ’benar’ memiliki bentuk kesenangannya sendiri. Setidaknya kami merasakan sensasi menyenangkan untuk bermain-main dengan kata ’Humanisme’ yang rasa-rasanya bersifat ’angker’ bahkan penuh dengan makna ’adiluhung’ dalam praktik pendidikan dari jaman ke jaman. Sebagai upaya untuk menghindar dari jerat pendefinisian Humanisme, film ini berjuang membasiskan dirinya pada penglihatan subyektif para pembuatnya atas geliat humanisme. Geliat tidak menandakan sebuah pengertian yang hidup, namun sekedar kumpulan kisah yang lahir dari keseharian para manusia (narasumber) yang mengidealkan humanisme dalam kekaryaannya. Humanisme sendiri tidak taken for granted dalam diri para narasumber, melainkan berangkat dari pengalaman-pengalaman perjumpaan dengan tokoh Driyarkara baik langsung2 ataupun tidak langsung3 dalam keseharian mereka. Pengalaman-pengalaman perjumpaan itu membangun suatu nilai bahkan keyakinan tertentu yang membantu mereka dalam memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan kerja mereka, Sanata Dharma, sebuah perguruan tinggi yang berdiri sejak tahun 1955 di Yogyakarta.

Dalam setiap peristiwa, ketegangan antara ’yang mereka yakini’ dan ’yang ternyata terjadi’ menjadi suatu momentum historis yang melibatkan kedirian mereka dalam perannya masing-masing baik sebagai dosen, karyawan maupun mahasiswa. Namun momentum itu sekedar menjadi ’Momentopname’4 yang tidak mengartikan secara keseluruhan atas apa yang terjadi, melainkan justru menjadi partikel-partikel pengalaman yang terpisah namun juga menyatu. Disebut terpisah karena setiap momentum dialami secara berbeda dalam ruang dan waktu dimana narasumber hidup, sedangkan disebut menyatu karena setiap momentum mengacu pada ketegangan yang sama (tidak identik) antara ’yang ideal’ dan ’yang pragmatis’. Keseluruhan dari Momentopname itulah yang akan membantu kita untuk memahami geliat humanisme tanpa harus mengamininya dalam pemaknaan ’kebenaran’ atas humanisme. Menghadapi hasil wawancara bersama para narasumber yang terkumpul di meja kerja merupakan suatu proses yang tidak mudah. Para pembuat film dokumenter ini harus dihadapkan pada relung penulisan sejarah Sanata Dharma yang layaknya dokumentasi sejarah institusi, bersifat kronologis bahkan diakronis. Lebih sulit lagi ketika kehendak riset film ini mengacu kepada jejak sejarah wacana humanisme yang secara kontinual diproduksi bahkan direproduksi di Sanata Dharma sejak tahun 1955. Akhirnya, mau tidak mau, para pembuat film harus kembali mengumpulkan setiap artefak humanisme yang tersebar baik dalam bentuk foto, dokumen, video dan rekaman-rekaman tertulis atas pemikiran Driyarkara. Artefak-artefak tersebut kemudian dipertemukan sesekali pula dibenturkan dengan data primer hasil wawancara bersama para narasumber.

Selanjutnya, dalam proses kodifikasi dan identifikasi data-data terkumpul, tantangannya adalah menemukan punctum5. Dalam proses riset itu, kami menemukan bagaimana geliat makna humanisme justru muncul dalam setiap momentum pengalaman para narasumber ketika menjumpai peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam (1) dinamika kerja sehari-hari, (2) dinamika manajerial dan (3) dinamika penentuan orientasi pendidikan. Ketiga wilayah itu sarat akan berbagai peristiwa yang melibatkan pergulatan batin antara yang diimpikan (ideal) dan yang harus dilakukan (pragmatis). Dualisme antara yang ideal dan yang pragmatis bukan persoalan yang mudah dilalui oleh setiap narasumber. Pada satu sisi mereka pun hidup di tengah jaman yang terus berubah dan menuntut setiap manusia untuk mempertahankan hidupnya baik secara eksistensial maupun ekonomis. Kebertahanan sebuah institusi menuntut kemampuan teknis6 yang lihai ketika sedang berenang di antara arus tuntutan pasar maupun negara. Persaingan dan kompetisi dalam dunia pendidikan tinggi semakin memudahkan kita terperosok dalam hominisme yang sifatnya lebih personalisasi (bukan personisasi)7. Ketegangan antara kehendak ideal dan kewajiban pragmatis bergeser (terinternalisasi) dari pergulatan sosial dalam tubuh institusi menuju kepada pergulatan dalam diri para narasumber. Dalam praktek keseharian, dualisme itu menjadi sebuah dualitas yang menyatu membentuk pemahaman mereka akan humanisme. Humanisme tidak selalu ditempatkan pada wilayah-wilayah yang ideal saja namun juga tepat bila diletakkan dalam kerangka yang pragmatis. Salah satu tidak mampu berdiri sendiri, baik yang ideal maupun yang pragmatis, keduanya adalah kesatuan yang menyeluruh dari suatu proses pemaknaan hidup para narasumber sebagai Driyarkarian.

Untuk itulah, film dokumenter ini dijuduli ’Dwaita-Adwaita’. Sebuah terma Hindu kuno yang dihidupkan dengan cara berbeda oleh Driyarkara. Bila pada wilayah religi Hindu, terma itu mencoba memahami Tuhan yang mendua (personal dan impersonal) namun menyatu dalam keseluruhannya, Driyarkara justru meletakkan ’DwaitaAdwaita’ dalam upaya untuk memahami ke-ada-an manusia. Menurut Driyarkara, “Manusia sungguh-sungguh merupakan kesatuan, tetapi juga merupakan susunan (composition).”8

“Jelaslah sekarang apa yang kita maksud dengan dwaita-adwaita, artinya: manusia merupakan ’keduaan’ atau ’kedwian’, jadi dwaita; tetapi dia juga kesatuan, atau ’adwaita’. Sejarah memperlihatkan bahwa filsafat yang menyatakan bahwa manusia itu dua barang tentulah kandas. Demikianlah nasib filsafat Plato, demikian juga Descartes, dan lain-lain.”9

Dalam Semiotika Negativa, suspensi bertujuan untuk membangun sebuah momen ketidakpastian, mendebarkan, penantian, dan harapan. (Sunardi, 2002, hlm. 323) Sebuah saat dimana penonton film mempunyai kesempatan menghela napas, bukan untuk menanti kedatangan makna melainkan mengucapkan ”sayonara” pada makna humanisme, bukan saat untuk mencocokkan antara signifier dan signified melainkan mencari signifier baru dari humanisme. Bukan pencarian struktur yang pasti melainkan membiarkan lahirnya struktur yang baru dalam memahami humanisme (324).
1

yang berarti sebuah titik dimana kita dipaksa berhenti untuk mengonsentrasikan perhatian kita pada hal-hal yang barangkali tidak menonjol namun bisa menimbulkan desire atau mourning yang mendalam. (Sunardi, 2002, hlm. 196-197) “Teknik adalah unsur dalam kehidupan manusia seluruhnya, jadi tidak hanya terbatas dalam lapangan ekonomi saja. Kesenian, permainan, bahasa, mengatur negara, bahkan wilayah yang disebut sangat rohani, seperti hidup keagamaan, semua itu dijalankan dengan teknik.” (Karya Lengkap Driyarkara, 2006, hlm. 536-537)
6

Melalui pengalaman perjumpaan langsung dengan Driyarkara; sebagai mahasiswanya maupun rekan kerjanya.
2

Melalui pemikiran-pemikiran Driyarkara yang terus dihidupkan dalam berbagai bentuk wacana di lingkungan Sanata Dharma dari masa PTPG hingga Universitas.
3

“Misalnya joget atau tari. Tari itu merupakan keseluruhan, kesatuan. Disitu setiap gerak hanya merupakan momen yang harus dipandang dalam keseluruhan. Momen itu dapat difoto ’Momentopname’! Tetapi dengan sendirinya juga menjadi ’putus’ dari keseluruhannya dan tidak lagi berupa joget.” (Karya Lengkap Driyarkara, 2006, hlm. 105)
4 5

“Namun hendaknya diperhatikan disini istilah personisasi yang memuat pengertian filosofis supaya tidak dikacaukan dengan ’personalisasi’ yang merupakan istilah psikologi populer yang sering diterapkan juga dalam dunia pendidikan dewasa ini, yang mau mengarahkan pembentukan kepribadian sekedar dalam rangka pergaulan dan hubungan sosial dengan mengembangkan cara-cara penampilan yang menarik.” (Karya Lengkap Driyarkara, 2006, hlm. 13)
7 8 9

(Karya Lengkap Driyarkara, 2006, hlm. 104) (Karya Lengkap Driyarkara, 2006, hlm. 108)

Mengacu pada istilah punctum dalam Semiotika Negativa

pestateks
celebrate the pluralism of cultural texts!

w w w. p e s t a t e k s . w o r d p r e s s . c o m