AKHLAQ TERPUJI

JAUHI SIKAP TERCELA
Rasulullah SAW selalu menganjurkan kepada setiap penganut Islam untuk menjauhi delapan sikap tercela yang manakala ada dapat menyebabkan tampilnya bencana, baik dalam hubungan seorang ataupun masyarakat dan negara. Delapan sikap yang mesti di jauhi itu adalah ; 1.Selalu merasa sedih dan kecewa, yang senantiasa menyisakan sikap putus asa dan akibatnya menyerahkan segala sesuatu tanpa berusaha. 2. Perasaan gelisah, seakan selalu dikejar bayangbayang. 3. Lemah, baik fisik (jasad), perasaan (kalbu) ataupun akal fikiran, yang berujung dengan menjadikan diri siap untuk di tindas orang lain, 4. Malas, sehingga tertutupnya pintu keberhasilan. 5. Sikap pengecut, yang menghambat diri untuk berusaha secara sungguh-sungguh.
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

1

MAS’OED ABIDIN

6. Bakhil, yang akibatnya dapat tidak menghiraukan keadaan keliling, hapusnya solidaritas, hilangnya kepedulian. Sikap bakhil dapat pula berdampak kepada pengejaran kesenangan (harta) duniawiyah tanpa 7. menghiraukan dalam atau kepentingan orang lain yang dan (individualistis), Selalu cengkeraman ukuran tak seukuran hutang, berakibat kepatutan, kurangnya kepantasan

bayang-bayang

dengan badan. 8. Berada dalam penindasan orang lain, sebagai konsekwensi sebelumnya. Bila kita meneliti dan memahami langkah yang telah kita tempuh selama ini, setidaknya dalam waktu tigapuluh dua tahun masa yang telah berlalu, maka sesungguhnya kedelapan sikap tercela ini telah menghimpit bangsa ini melalui penerapan cara-cara amat sistimatik seakan dipaksanakan harus berlaku sejak dari kekuasaan atas hingga lapis terbawah. Bangsa yang besar ini menjadi sangat kecil tatkala penipuan dalam slogan demi pembangunan dibenarkan penipuan sebagai suatu keharusan, dan penindasan hak-hak masyarakat dianggap sebagai logis dari ketujuh sikap tercela

2

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

suatu kewajaran. Nilai-nilai kepatuhan ditampilkan dalam bentuk memutar-balikan perintah menjadi pembenaran tindakan dalam disiplin birokrasi, yang terlihat pada kepatuhan kepada atasan bahkan menduduki posisi tertinggi melebihi ketaatan kepada Allah SWT. Semuanya merupakan sebahagian bukti dari sikap lemah dan putus asa. Akibatnya masyarakat akan bertumbuh menjadi pengecut, harus n’rimo apa adanya, tanpa keinginan untuk membantah, dikerangkeng pada perangai Asal Bapak Senang. Sebetulnya, ABS perlu, bila artinya adalah “Asal Bangsa ini Sejahtera”. Menjauhi kedelapan perangai ini menjadi suatu kewajiban asasi dalam hidup manusia sebagai “hamba Allah”. Dapat dilakukan dengan aktifitas amaliah yang terpadu terarah (sustained) secara pasti dengan penerapan disiplin beragama dalam kerangka “iman dan taqwa”. Upaya lainnya juga dengan cara melazimkan do’a (munajat) kepada Allah SWT pada setiap pagi dan petang. Diantara do’a munajat yang di ajarkan Rasulullah SAW tersebut untuk kita amalkan adalah, ”Allahumma, wahai ALLAH, sungguh aku berlindung kepada MU dari pada rasa sedih atau kecewa (alNUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

3

MAS’OED ABIDIN

hammiy)

dan

gelisah

(al-hazniy).

Dan

akupun

berlindung kepada MU, wahai Allah, dari watak yang penuh dengan kelemahan (al-‘ajziy) serta sifat kemalasan (al-kasali). Dan, aku pun juga memohon kepada Engkau, wahai Allah, perlindungan dari sikap pengecut (al-jubniy) dan bakhil (al-bukhliy). Aku pun berselindung cengkeraman penindasan kepada hutang lain orang MU, wahai Allah dari dan (ghalabatid-dayni) (qahriy

ar-rijaal)”. (Do’a

ma’tsur dari HR.Bukhari Muslim). Ditengah bangsa kita mengalami masa ujian sekarang ini (chaos politik, ekonomi, sosial dan budaya), dan dirasakan adanya upaya pemaksaan dari pihak lain, ekonomi diantaranya dengan nasional, upaya label di menguasai/membeli penyelematan Indonesia

termasuk

dalamnya rencana privatisasi BUMN – di antaranya PT.Semen Padang -- dengan keinginan menguasai lebih dari 51% saham nasional, maka sebaiknya do’a ini kembali dilazimkan membacanya setiap pagi dan sore. Do’a munajat ini harus pula di iringi usaha sekuat tenaga dan secara bersama-sama menghilangkan sifat-sifat tercela ini dengan memulai dari diri sendiri, untuk mengerjakan apa yang dapat

4

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

dan bermanfaat untuk orang banyak dengan modal (self-help) di keliling kita. Modal kerjasama, besar kesetia itu, adalah kawanan, kesepakatan, seia-sekata

(ukhuwwah), sumber daya (alam dan manusia) dalam suatu ikatan kebangsaan sebagai Rahmat Allah, serta selalu memohon pertolongan dari Allah SWT. Sebab, yang ada itu sebenarnya sudah teramat cukup untuk memulai. Semoga Allah selalu meredhai.***

JANGAN MENJADI ORANG ANIAYA
Dikala Nabi Ibrahim AS di uji oleh Allah Subhanahu wata'ala, tentang ketabahan-nya, 5

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

MAS’OED ABIDIN

kerelaan berkorban, keteguhan pendirian, sikapnya dalam memuliakan tetamu, berbuat baik sesama kerabat, perintah dan Allah kesiapannya dan dalam melaksanakan ketergantungan melepaskan

kepada perintah materi (kebendaan), ternyata ia lulus dari ujian yang berat itu. Ujian jiwa ini, secara beruntu dia alami, dan sungguh pun berat, dia berhasil melaluinya. Ketabahannya terbukti, dikala ia dihadapkan kepada pilihan dibakar di dalam sebuah unggun-api, Oleh Namrudz -- Maharaja Nebucadnear -- yang menguasai Mesopotamia. perannya Dakwah Atau kedudukan yang layak di sisi sang penguasa, manakala ia berkenan menggantikan Ilallah memilih kepada melaksanakan Ilalmaal Dakwah (perjuangan serba

mendapatkan harta). Terbukti, Ibrahim A.S. lebih menegakkan kebenaran dengan tipuan. Dia menang, dan imbalannya api unggun yang bergejolak membakar setiap kayu kering yang bersilang, tak dinginlah dan mempan menyentuh sehelai rambut selamatkan tubuh Ibrahim dari Ibrahim A.S sesuai dengan firman Allah, "wahai api, gejolakmu yang membakar". Kerelaannya berkorban, tak tertandingi hingga

6

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

kini.

Anak

kesayangannya

satu-satunya

(Ismail,

Alahisalaam), rela di korbankan, untuk disembelih untuk memenuhi tuntututan atau melaksanakan perintah Allah Yang Maha Rahman. Akhirnya pengorbanan diterima, anaknya tidak jadi menemui korban penyembelihan. Tetapi diganti dengan ternak sembilahan yang besar, sebagai jawaban kerelaan yang tulus mengikuti perintah Allah. Peristiwa ini dinukilkan oleh Allah di dalam firman-Nya, kerelaan "akhir, kerelaan Ibrahim menyahuti ternak panggilan kami, berkorban karena mengharapkan Kami, diganti dengan seekor sembelihan yang sempuna besarnya". Keteguhan pendiriannya, tidak pula diragukan. Ayahnya (Azar), yang selalu berpegang pada tradisi lama (menyembah tradisi berhala), itu. diajaknya supaya meninggalkan Kebiasaan memohon

kepada "yang bukan Tuhan" itu, merupakan watak yang tidak pantas dimiliki oleh manusia yang berakal. Padahal, manusia itu sendiri ada, dan ditengah alam ini, justru karena "rahmat" dan "rahim" dari Allah (sang Khalik). Penghambaan kepada materi, menyebabkan lahirnya sesuatu bencana. Materi adalah sesuatu
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

7

MAS’OED ABIDIN

rahmat dari Allah. Karena itu, seharusnya materi itu dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran bagi manusia sekelilingnya. Benda hanya alat. Bukan tujuan, apalagi sesuatu sembahan yang berakibat rela diperbudak (benda) oleh tidak materi. sesuai Mempertahankan dengan harkat materi

kemanusiaan. Kesadaran seperti ini (yang amat sesuai dengan fithrah manusia), selalu disampaikan oleh Ibrahim kepada ayahnya (Azar). Namun selalu ditolak. Akhirnya, Ibrahim memilih berpisah dari keyakinan "tradisional bapaknya yang salah pilih itu. Namun dalam itu tetap berkata, sebagaimana kepada dalam diulangkan cerita oleh Allah (Subhanahu Wa Ta'ala) Firman-Nya, Selamt "Ibrahim berkata ayah, ayahnya, tinggal (wahai

keyakinan tradisional ayah yang tak dapat dirobah lagi, nanti akan selalu memohonkan keampunan (untuk ayah) kepada Tuhan-ku karena sesungguhnya Tuhan-ku masih sayang kepada-ku". (Al-Qur'an, S. 18, ayat 47). Sikapnya dalam memuliakan tetamu, juga menjadikan pujian. Dia tidak pernah menolak tamu yang diharapkan bantuannya. Dia selalu tanggap dengan kesulitan orang lain. Bahkan dia lebih

8

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

senang berbuat untuk kesenangan orang lain, dalam batas-batas hubungan yang harmonis dan saling menghormati. Hingga seketika dia didatangi tujuh pemudah untuk menguji kedermawanannya, -- ada kebiasaan Nabi Ibrahim Alaihi Salam yang belum akan berkenan melepas tetamunya sebelum lebih dahulu kepada mereka disuguhkan hidangan, sebagai tanda kemuliaan dari tuan rumah -- namun pemuda-pemuda ini menolak jamuan ini dengan halus -karena mereka sebetulnya bukanlah manusia biasa yang perlu makan dan minum – dan kelak ternyata ketujuh tetamu terhormat ini adalah para Malaikat utusan Allah Subhanahu wa ta'ala. Demikian, rangkaian kisah ini diulangkan kembali kepada ummat Muhammad (shallallahu'alaihi sallam) dalam Al Quranul Majid). Berbuat baik sesama kerabat, merupakan perangai yang teramat mulia. Walaupun dia sudah dipuji dengan segala kehormatan, serta dan diberi gelar-darjah "Khalilul-lah, mendapatkan wa

kehormatan, dan bagai "pimpinan" bagi ummat manusia, dia masih memohonkan kepada Allah, kiranya penghargaan sedemikian tidak hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri.
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

9

MAS’OED ABIDIN

Ibrahim 'Alaihis-salam, masih mempersoalkan "bagaimana halnya dengan -- kaum kerabat -- anak keturunanku. Memperhatikan kaum kerabat, lebih tinggi nilainya, daripada hanya sekedar memperjuangkan kemenangan sendiri, atau hanya bertolak kepada kepentingan pribadi. Jika manusia secara umum telah terperosok kepada hanya untuk kepentingan sendiri-sendiri, tanpa mengindahkan kepentingan orang banyak, maka tentulah bencana akan datang tindih bertindih. Orang yang hanya suka mempertahankan kepentingan orang individu, tanpa mempertimbangkan dari Allah Yang petisi Ibrahim, banyak, tepat diberikan cap sebagai orang

aniaya –dzalim -- menurut istilah Subhanahu wa ta'ala menjawab

Maha Rahman. Karena itulah secara tegas, Allah tentang "dzurriyat" -- anak cucunya -- ini, dengan sebuah ketegasan yang pasti "janji-ku" – yakni janji dari Allah -- untuk memberikan kepada manusia darjah pimpinan dan panutan itu, tidak akan kena mengena kepada orang-orang yang dzalim (aniaya), walaupun dia dari keturunan Ibrahim sekalipun". Kesiapannya dalam melaksanakan perintah

10

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

Allah, inilah kepada Nabi

yang kelak menjadikan peringatan Muhammad (Shallallahu'alaihi was

Sallam), untuk mengikuti jejak langkah perilaku Nabi Ibrahim (selaku panutan dari akhlaq Al Qur'an). Allah tegaskan dalam Firman-Nya Q.S. XVI, An-Nahl, ayat 160-162, "Sungguh Ibrahim itu, adalah contoh dari sosok ummat yang "patuh", siap melaksanakan perintah Allah, lurus dan jujur, dalam setiap tindak perbuatan, Allah. Dia juga sosok ummat yang pandai berterima kasih, serta memelihara ni'mat Allah. Merupakan seseorang yang terpilih tindakannya dan terpuji perangainya dan selalu mendapatkan bimbingan dan selalu pula berusaha memimpin kejalan yang benar dan lurus. Karena itu, dia mendapatkan kehidupan dunianya aman tentram. Akhirnya, di-akhirat -- pada kehidupan yang menjadi tujuan setiap makhluk yang hidup di dunia sekarang ini --, dia akan kami tempatkan bersama orang-orang shalih yang terpilih. Kepada Nabi Muhammad SAW diwahyukan
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

dan

dia

tidak

tergolong

kepada

orang-orang "musyrik" yang suka menyekutukan

11

MAS’OED ABIDIN

supaya mengikuti jejak langkah perangai mulai yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim, yaitu patuh, jujur, pandai berterima kasih, berkasih sayang sesama anggota, keluarga dan masyarakat, pandai-pandai memilih tindakan yang tidak sampai merugikan orang lain, selalu berusaha memimipin ummat ke jalan yang benar, dan di atas segalanya "berpegang teguh kepada Hidayah Agama Allah".

12

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

Umat Seimbang
Dan sesungguhnya Kami telah muliakan anak cucu Adam (umat manusia). Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (yakni dimudahkan kehidupan manusia baik di darat ataupun di laut), Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (Al Q.S.17, Al Isra’, ayat 70) Betapa Maha indahnya pernyataan Khalik Yang Menjadikan. Pernyataan makhluk tentang utama. kesiapan Memiliki

umat manusia untuk hidup di atas dunia. Manusia dipersiapkan sebagai segala kelebihan. Secara fisik, tubuhnya lengkap, kuat, cantik, penuh gaya. Spiritnya (jiwanya) disempurnakan dengan akal dan pikiran. Memiliki keinginan dan kecerdasan
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

13

MAS’OED ABIDIN

– inteligensia --, segala yang

rasa – emosional --, dan memiliki diingini. Manusia dianugerahi umat yang

dorongan-dorongan – nafsu -- untuk mewujudkan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Dengannya manusia dapat menjadi memiliki keseimbangan -- ummatan wasathan --. Alampun dijadikan bersahabat dengan manusia. Segala sesuatu yang ada disediakan untuk sebesarbesar manfaat bagi hidup manusia. Laut dan darat adalah arena kehidupan, turun temurun. Di sana manusia berkiprah – dapat meng-exploitasi alam -selama hayat di kandung badan. Patah tumbuh hilang berganti, dari generasi ke generasi. Melaksanakan pembangunan, perombakan ke arah yang lebih baik dan menjalankan reformasi. Reformasi boleh di dalam bimbingan dalam Tuhan selalu suatu berasas horizontal. Artinya, tidak satu kewajibanpun tinggalkan memenuhi kewajiban lain. Manusia diminta untuk senantiasa akrab dan menjaga fungsi alam -- laa tabghil fasaada fil ardhi – artinya jangan buat bencana di permukaan bumi. Alam itu berperan pula menjaga keberadaan manusia, memberikan keselamatan terhadap

14

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

kehidupan itu sendiri. Demikianlah satu siklus hidup yang aman dan menjanjikan kesejahteraan sepanjang masa. Bumi akan di wariskan kepada hamba-hamba Allah yang baik-baik atau shaleh -Innal ardha yaritsuhaa ‘ibadiyas-shalihin --. Apabila suatu ketika keseimbangan ini terganggu, penyebabnya tiada lain adalah hasil kurenah – perbuatan -- tangan manusia sendiri. “Zhaharal fasaadu fil barri wal bahri bimaa kasabat aydin-naas, li yudziiqahum ba’dal-ladzii ‘amiluu, la’allahum yar-ji’un ” Artinya ” Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”.
Rum, ayat 41). (QS. 30, Ar-

Demikianlah suatu sunnatullah -- undangundang baja alam -- yang akan berlaku sepanjang perjalanan alam fana ini, hingga kiamat datang menjelang. Suatu peringatan supaya manusia tetap bersiteguh hati dalam memelihara perannya, sebagai khalifah fil ardhi. Untuk menata kehidupan ini tetap berjalan seimbang, maka Khalikul “alam Allah Rabbun Jalil
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

15

MAS’OED ABIDIN

memberikan pedoman – hidayah -- yang jelas dan terang. Berakar kepada kebenaran – al haq -- dari Allah dan berakhir dengan kebenaran dari Allah juga. Itulah ‘Aqidah Tauhid’. Aqidah tauhid memiliki perbedaan kontras dengan ilmu (knowledge). Ilmu berawal dari ragu dan berujung kepada keraguan yang lebih besar. Aqidah tauhid tidak sama dengan falsafah yang berisi tanya dari awal dan akan berakhir dengan tanya yang lebih besar di ujungnya. Aqidah tauhid (keyakinan kepada kekuasaan Allah yang mutlak, Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Esa dan Maha Kuasa akan melahirkan sikap tunduk dan taat. Sehingga gagasan pikiran, akhirnya maupun tumbuh hasil kesediaan dan manusia menyerahkan segala kemampuan akal dan observasi eksperimentasi kepada kekuasaan Allah dengan pernyataan yang bersih, “Wahai Allah, Rabbanaa, tidak ada satupun yang Engkau jadikan ini sia-sia”
(QS 3: 190).

Tatkala itulah ilmu memperoleh kebenaran. Dalam buhul aqidah tauhid inilah mendapatkan keseimbangan hidup yang Mukmin prima.

16

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

Sehingga bila melihat satu bencana mereka yakin itu hanya sebatas ujian dari Allah, yang menuntutnya bertindak lebih baik dan hati-hati di masa mendatang. Pada manusia hatinya kutub yang berbeda, berbarislah dirinya mereka ini (dari yang dari mengingkari keberadaan Untuk dunia

sebagai makhluk Tuhan. Tetapi mereka tutup mata keberadaan-Nya. mata hatinya di berlakulah ketentuan Allah: Dan barang siapa yang membutakan petunjuk Allah), niscaya di akhirat nanti dia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar. (QS 17: 72) Manusia seperti itu akan merasakan azab menyiksa kehidupan. Mereka akan sesak dada dan mengumpat kiri-kanan. Mereka linlung keseimbangan kehidupan. Karena itu kembalilah kepada Allah, supaya Allah senantiasa memberikan perlindungan- Nya selalu. di tengah-tengah kehilangan percaturan

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

17

MAS’OED ABIDIN

AL-QUR'AN MAMPU MENGANGKAT DERAJAT MANUSIA

"Dan tiadalah kami mengutus kamu (wahai

18

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

Muhammad), melaintkan untuk (menjadi) Rahmat bagi Semesta Alam". (QS. 21 - Al Anbiya - ayat 107). Sungguh benar, kedatangan Nabi Muhammad SAW menjadi rahmat bagi seluruh alam. Jika Nabi Muhammad tidak diutus sebagai Rasul, maka Al-Qur'an pun tidak akan pernah ada. Dengan sendirinya, kita tidak akan tahu, bagaimana keadaan manusia selanjutnya. Sebab, kebuasan binatang adalah biasa, tetapi kebuasan manusia menyiakan sebuah persoalan. Apalagi jika sampai terhadap kepada lainnya. persoalan Demikian perkosaan pula manusia alam dengan

sekeliling, pasti akan rusak di obrak-abrik oleh kebejatan moral manusia. Karena itu, kita harus bersyukur kepada Allah, yang mengutus Muhammad dengan disertai Al-Qur'an. Al-Qur'an mampu mengangkat derajat yang hina, kepada derajat yang paling mulia di antara makhluk yang ada. Rahmat Setiap Rasul membawa rahmat bagi ummat manusia. Dengan sejarah yang disampaikannya dari Allah yang mengutusnya. Tetapi, rahmat yang dibawa Rasul-Rasul pendahulu, sebelum Muhammad
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

19

MAS’OED ABIDIN

SAW, hanya terbatas kepada kaumnya semasa saja. Nabi Muhammad membawa rahmat bagi 15 seluruh ummat manusia, tidak hanya di zaman dia diutus (semasa hidupnya semata). Tetapi telah abad berlalu, akan berlaku selalu sepanjang masa, berabad-abad mendatang, hingga datangnya batas kiamat. Ajarannya pun, tidak hanya terbatas bagi lingkungan tanah kelahirannya, tetapi melingkupi seluruh sudut bumi, dan lagi universal. Kalau kita mau meneliti sejarah kemanusiaan, mulai manusia pertama, dan kita bandingkan dengan keadaan manusia kita sekarang, banyak hal yang kita temui untuk dikaji dan diteliti. Kita sependapat, jumlah manusia masa lalu, lebih sedikit dari manusia masa kini. Secara macro, jumlah manusia selalu bertambah. Penduduk bumi, semakin padat, dan bahkan dijadikan salah satu pasal dari problema yang mendunia. Bahkan setiap detik, jumlah manusia di dunia makin bertambah. pun, Ilmu kedokteran memperpanjang yang usia berkembang, mengantisipasi angka kematian. Ilmu kedokteran berusaha manusia, melalui program peningkatan kesehatan, dan pemeliharaannya. Jumlah penduduk dunia pada

20

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

tahun 1980 (satu dasawarsa) lalu, terang berbeda dengan jumlah penduduk dunia hari ini (1992). Tendensinya meningkat. Satu ukuran bagi kesejahteraan hidup manusia. Bila kita sadar, mencoba mengambil garis balik penduduk dunia dari masa ke masa, kita pasti akan melihat jumlah penduduk manusia di dunia, angkanya terus menurun. Semakin jauh kita mundur, semakin sedikit jumlah yang kita hitung. Akhirnya, kita sampai kepada hitungan awal, hanya dua orang saja (Adam dan Hawa). Dari merupakan sinilah sesuatu pertambahan yang sangat penduduk alami, itu, sebagai cikal bakalnya. Pertambahan penduduk, sesuai dengan hukum alam, terdiri dari dua jenis manusia lelaki dan wanita. Bahkan, Al-Qur'an menjelaskan lebih rinci, diawali dari manusia seorang diri (Adam), kemudian daripadanya dijadikan seorang pasangan (Hawa). Dari keduanya berkembangbiaklah manusia, hingga kini, esok dan seterusnya. (lihat QS.4 An-nisa' - ayat 1). Bahasa Manusia ditakdirkan untuk menjadi penduduk
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

21

MAS’OED ABIDIN

bumi. Dia ditugaskan untuk membina segala sesuatu yag ada di sekelilingnya, untuk menunjang suatu peradaban sesuai dengan harkat kemanusiaan. Manusia memerlukan alat untuk menyampaikan maksudnya. Harus ada penyampaian dan alat untuk saling berhubungan, satu sama lain. Tanpa adanya hubungan hubungan ini, pembinaan akan tidak peradaban terjadi. ada, dan Jika kemanusiaan, tidak pernah

(komunikasi)

barangkali

hakekat manusia dalam hidupnya, akan sangat lain bentuk dan perwujudannya. Bahasa merupakan alat penghubung paling pokok. Bahasa adalah alat untuk menyampaikan perasaan dan pengertian, juga anjuran. Para ilmuwan menyebutkan, bahwasanya bahasa adalah "anak kisah". Mana ibu kandung bahasa itu? Ibu kandung bahasa adalah percakapan, atau kata-kata kepada yang kita, diucapkan. kisah Alam tentang menceritakan anak yang suatu

dilahirkan "tuli". Karena tidak tidak mendengar induk bahasa sejak mulai lahir, maka dia akan bisu. Dia tidak akan menggunakan bahasa ucapan, tetapi hanya bahasa isyarat. Dia tidak akan mampu

22

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

mengutarakan maksud dan keinginannya dengan ucapan kata-kata. Menurut saya, bahasa pembicaraan tidak ada kaitannya dengan persoalan darah, keturunan, daerah asal, bahkan juga tidak oleh ras maupun bangsa. Sebuah misal saja, jika kebetulan saya mengambil seorang anak berdarah di bangsawan, dan keturunan Arab dengan ibu Cina, yang tadinya melangsungkan perkawinan Amerika, keturunannya yang dilahirkan di Swiss, sejak mulai lahir saya bahwa ke Minangkabau, dilingkungan keluarga saya yang Minang, dan saya besarkan dia di daerah yang sellau memakai bahasa Minang, ketika ia mulai pandai berucap, dia akan memakai bahasa Minang. Bahasa yang sering didengar, itulah yang dipakai sebagai bahasanya. Dengan demikian, tidak ada gunanya memakai bahasa yang tinggi, kepada orang yang belum pernah mendengar bahasa itu. Kandungan makna yang tinggi Al itupun, Qur'an tidak akan dapat dalam diresapinya. Maka mustahillah kiranya, jika ada menuntut, kiranya diturunkan bahasa Yunani kepada seorang utusan bernama Muhammad SAW, yang nyatanya berbahasa dengan
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

23

MAS’OED ABIDIN

bahasa Arab. Lebih jauh,

Inilah satu ke'arifan Allah, yang mustahillah dalam tidak tahu, pula, jika Al-Qur'an yang bentuk

diajarkannya sesuai dengan harkat kemanusiaan. disampaikan mansiapun Luar Biasa Kejadian manusis sungguh luar biasa. Kita yakin, manusia pertama itu, benar-benar ada. Dan dia pasti tidak kera, juga tidak monyet, ataupun onta. Manusia pertama itu adalah manusia juga, seperti kita. Itu pasti. Sebelum ada dibumi, jelas ada pendahulu kita. Hubungan terpendek, adalah ibu dan bapak kita masing-masing. Bersambung terus ke atas, hingga sampai pada manusia asal, manusia pertama. Hukum ini, berterima dalam jalur pikiran manusia. Sebelum kita ada, kita tidak mengetahui, kita ada dimana, bahkan tidak tahu bagaimana keadaan kita. Alangkah minimnya ilmu kita tentang diri kita ini, sebelumnya. Namun kita yakin, keberadaan kita melalui satu proses "kelahira". Tidak seorang manusia pun, yang keberadaannya di sini, tanpa melalui "rahim ibu". Walaupun di dalam bahasa Malaikat,

bagaimana

kaedah-kaedah induk bahasa Malaikat itu.

24

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

penciptaan "bayi tabung" sekalipun hingga hari ini. Sungguh luar biasa, penciptaan manusia, yang mengetengahkan satu proses, dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Tidak kah hal ini mengundang kita untuk merenungkan keberadaan kita sekarang? Dan banyak lagi pertanyaan yang tindih bertindih. Akhirnya, hanya bermuara kepada Maha Suci Allah, Maha Pencipta. Tidak ada taranya Demikian juga, tentan "anak kisah" yang menemani kita sepanjang usia, yaitu bahasa, yang bermuara karena adanya kata-kata. Terpikirkanlah, bagaimana permulaannya? demikian saja? pertama sekali ? Setiap kali kita mempergunakannya setiap kali pula kita alpa mensyukurinya. Berbahasa, adalah nikmat Allah yang tidak ada taranya. Kita lupa berterima kasih, karena kita tidak mau memperhatikan semua ciptaan Allah. Keinginan lahirnya Apakah Siapakah kata-kata bahasa yang itu itu pada terwujud

mengajarkannya

untuk mengucapkan terima kasih, tidak pernah keluar dari diri kita, karena tidak pernah tahu,
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

25

MAS’OED ABIDIN

karena kita tidak mengerti apa yang harus diberi ucapan terima kasih. Akal kita menjadi beku, karena kita tidak berkehendak menyelidiki nikmat Allah. Kita telah mengabaikan ilmu, yang merupakan pemberian Allah, hingga kita termasuk juga orang-orang yang tak berilmu untuk itu. Orang yang tak berilmu, pada hakekatnya adalah orang yang tidak berakal. Orang yang tak berakal, adalah orang yang tak pernah mengucapkan terima kasih. Disinilah terletak areal-agama. Bahwa agama itu, hanya bagi orang-orang yang berakal. Ujungnya manusia yang tak pandai berterima kasih kepada Allah Yang Maha Menjadikan manusia itu sendiri, kasih, bagaimana akan dapat dituntut dengan untuk bentuk berterima kasih kepada semua manusia sendiri ? Terima dibuktikan ketundukkan, penghambaan dan pengabdian.

Merasa diri kecil dihadapan Yang Maha Pemberi, Maha Rahman dan Maha Rahim. Penghambaan, merupakan bukti dari sebuah kecintaan yang luhur, siapapun yang mencintai sesuatu, berarti dianya bersedia memperhambakan lahir, seiring diri kepada yang dicintainya. Bahasa dengan keberadaan

26

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

manusia. Kemudian kehidupan berkembang, dengan bertambahnya bangsa dan panjangnya masa yang dilalui. "Dan Dia (Allah) ajarkan kepaa Adam nama-nama (benda) seluruhnya" (QS. 2 kali didiami manusia Al-Baqarah, ayat 31). (Adam). Allah Peristiwa ini, sudah lama terjadi. Sejak bumi pertama pertama mengajarkan yang mampu Manusia pengertian-pengertian menyerap pun dibedakan ilmu, dengan tentang kemudian makhluk

benda-benda, memberikan kepada mengungkapkan dalam berbicara.

manusia akal,

lainnya, diantaranya dengan kemampuan berbicara, dan mensyukuri ni'mat Allah. Al-Qur'anlah pertama kali mengajarkan kepada kita, Allah mengajarkan pertama kali pula melalui kepada manusia, ilmu berkata-kata, pengenalan benda-benda.

Karena itu, menurut hemat saya, bagaimanapun bentuk ilmu pengetahuan pada saat sekarang dan masa datang. Al-Qur'an tetap sebagai sumber segala ilmu dan pengetahuan. Al-Qur'an akan tetap menjadi penuntun manusia, agar tidak terjerumus kepada dalamnya jurang kehinaan.

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

27

MAS’OED ABIDIN

Berbeda dengan ciptaan manusia Ajaran Ilmu agama, sangat berbeda kepada dengan persoalan ilmu-ilmu pengetahuan ciptaan manusia. pengetahuan, mengarah yang khas duniawi, bersifat mengembangkan teori, mengadakan eksperimen, tidak mampu merobah watak manusia secara utuh. Ilmu pengetahuan hanya kepada mampu siapa memindahkan yang "pengetahuan", Ilmu mempelajarinya.

pengetahuan kedokteran, hanya mampu mengubah sesuai dengan kepentingan ilmu itu sendiri. Ajaran Agama, mengarah kepada perubahan watak manusia, yang berpengaruh kepada tingkah laku dalam kehidupan. Ajaran agama, akan mengikat gerak dan jalan manusia. Ilmu pengetahuan agama, akan berpindah kepada orang yang mempelajarinya, dengan suatu tuntutan agar orang mengubah sikap dan tingkah lakunya, sesuai dengan perintah agama (perintah-perintah menunjukkan Nya), untuk setiap persoalan kehidupan hidup manusia. Dapatlah dikatakan, Ajaran agama, seluruh problematik manusia, berikut cara penyelesaiannya. Ajaran agama (yang bersumber dari Allah, dengan pedomannya Al Qur'an), berperan

28

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

menyembuhkan penyakit yang melanda masyarakat manusia, yang melanda masyarakat manusia, lantaran kejahatan atau kerusakan moral manusia sendiri. Segala penyakit dan wabah yang merusak nilai-nilai kemanusiaan, akan disembuhkan secara total oleh ajaran agama, jika masyarakat manusia itu benar-benar thaat mengikuti ajaran agama (Allah) itu. Ajaran agama, itu berperan sebagai penangkal ancaman kerusakan dan kebejatan yang melanda masyarakat manusia. "Dan kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman". (QS.17 Al Isra', ayat 82). Syifaa-un atau penawar, adalah pengobatan dari segala penyelewengan dan kejahatan yang berjangkit di tengah kehidupan manusia. Rahmatan, atau "rahmat", adalah penangkal, pencegah datangnya penyakit, yang merusak di kita, nilai-nilai kemanusiaan itu. Kitapun, selalu sebagai manusia, berada permukaan dunia ini, memmemilikii satu tugas suci, memelihara nilai-nilai kemanusiaan dengan cara yang ditetapkan oleh Maha Pencipta.
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

29

MAS’OED ABIDIN

"Dan tidaklah diciptakan manusia, juga jin, melainkan hanya untuk pengabdian kepada KU (AllahO)", (Al-Qur'an). Pengabdian kepada Allah (beribadah), adalah memfungsikan aqal, dan menempatkan manusia pada konsentrasi yang benar. Jelaslah agama tidak hanya berurusan dengan masalah akhirat semata, namun juga mengatur hakekat hidup manusia di dunia. Sebuah pertanyaan, sudahkah kita hidup sesuai dengan harkat itu? Demikian Allah memanggil dengan penuh kasih sayang-Nya masihkan kita mengelak jauh dari Ajaran agamaNya? Sahutlah segera dengan amal kebaikan.

Bukakan Pintu Hati Penyelenggaraan technis; 1. Buka kan "pintu hati" dan "pintu rumah" kita bagi mereka yang memerlukan bantuan dalam rangka pemulihan ini. Tunjukkan minat kepada keadaan mereka dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. usaha-usaha memerlukan

beberpa hal, baik yang bersifat psychologis ataupun

30

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

Andaikata pun kita belum dapat memberikan bantuan kepada mereka sewaktu itu juga, sekurangkurangnya sokongan moril kita harus berikan. Hidupkan harapan mereka kepada kekuatan kerahiman Ilahi, suburkan kepercayaan mereka kepada kekuatan yang ada pada diri agar kita ketika itu, dengan hati yang lebih lega. Hati yang lebih lega dan kembali berisi harapan niscaya akan menambah himmah mereka untuk bekerja terus. Sekurang-kurangnya, akan menambah daya tahan mereka dan menghindarkan diri mereka pada perbuatan-perbuatan yang menyalahi hukum Syar'iy atau duniawi. Sekali-kali jangan mereka meninggalkan kita dengan bermacam-macam perasaan, yang mematahkan hati mereka untuk menjumpai kita kembali. 2. Untuk kelancaran usaha pemulihan, diperlukan cara pencatatan yang sederhana dari mereka yang bertebaran semacam hubungan itu, itu mengenai dan diperlukan namany, untuk alamatnya, kecakapannya lain-lainnya. Catatan-catatan memudahkan dengan

menghubungkan

mereka

bermacam-macam bidang pekerjaan, sewaktu-waktu

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

31

MAS’OED ABIDIN

kita mengetahui terbukanya sesuatu kesempatan bekerja atau sumber pencaharian, yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuan mereka. 3. Kumpulkan sebanyak-banyaknya bahan informasi dengan mempertajam mata dan telinga dengan hubungan korespondensi untuk mengetahui dimana ada, atau akan ada kesempatan penyaluran tenagatenaga tersebut baik dalam ataupun di luar daerah. 4. Ada seseorang telah terbuka kesempatan

penyalurannya dalam suatu bidang pekerjaannya, janga lupa ; a. meamanatkan kepadanya, supaya dia benarbenar membuktikan mempertinggi kesungguhannya mutu dan senantiasa pekerrjaannya Dia harus

dibidang yang akan ditempuhnya itu.

membuktikan bahwa dia adalah salah seorang dari golongan yang menjunjung tinggi nilai-nilai hidup, seperti kejujuran dan budi akhlak-akhlak pekerti yang baik. b. Memesankan kepadanya, supaya bila apabila dia sudah mendapat sumber pencahariannya, jangan dia sendiri tenggelam di dalamnya. Akan tetapi di samping pekerjaannya, hendaklah dia berusaha

32

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

sedapat mungkin, merintiska jalan bagi temanteman yang masih bertebaran. 5. Tunjukkan minat kepada usaha-usaha yang telah atau sedang dilaksanakan oleh seseorang atau sekelompok berupa perusahaan sendiri, umpamanya dibidang pertanian, peternakan atau perusahaan kecil dan sebagainya. Mereka ini termasuk golongan yang berani merintis dan memmemilikii inisiatif. Gembirakan berilah diselenggarakan semangat dengan bekerja tenaga mereka sendiri dan atau

dorongan kepada perusahaan kecil yang

bersama itu. Kumpulkan bahan-bahan mengenai tata kerja dan pengalaman mereka masing-masing yang dapat pula dipergunakan sebagai pedoman bagi teman-teman mereka yang ingin menempuh bidan itu pula. 6. Di dalam beberapa hal, dalam pekerjaan semacam ini mungkin diperlukan menghubungi instansiinstansi resmi. Tidak usah ragu-ragu atau khawatir bila untuk ini diperlukan menghubungi instansiinsntansi itu. Hubungi mereka secara sopan, zakelijk dan correct, dengan tidak menggadaikan martabat pribadi.

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

33

MAS’OED ABIDIN

Ada dua cara yang dimanapun juga tidak akan mendapatkan penghargaan, yakni ; cara sembrono yang tak tahu aturan, dan cara pengemis yang mintak-mintak dikasihani. 1. Barangkali timbul pertanyaan; Kalau demikian macamnya usaha-usaha yang harus diselenggarakan mengingat teman-teman yang banyak itu, lalau bagaimana kita sendiri ? Jawabnya; Sudah tentu masing-masing kita perlu mengusahakan agar dapur tetap berasap. Ini kewajiban kita sebagai kepala keluarga. Tetapi dalam pada itu, sudah menjadi pembawaan bagi seorang pemimpin bila ia hendak dianggap sebagai pemimpin bahwa dia terus memikirkan bagi umat dan yang mengikhtiarkan kesejahteraan

dipimpinnya, di samping itu berusaha memenuhi kewajiban terhadap diri dan rumah tanggannya sendiri dengan sesatpun tidak memutuskan harapan atau ma'unah dan kerahiman Ilahi dalam keadaan bagaimanapun. Amal dan ikhtiar kita dalam dua bidang

kewajiban ini senantiasa

sejalan dan berjalin.

Terkadang-kadang titik berat itu mungkin berkisar-

34

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

kisar di antara dua bidang itu, menurut tuntutan keadaan disesuatu waktu. Tetapi kedua-duanya tetap terjalin, dalam bagaimanapun juga. Malah justeru di sa'at serba sulit itulah Umat menghajatkan benar bahwa para pemimpin mereka dapat dirasakan berada ditengah-tengah mereka dalam suka dan duka, dalam arti; tetap bersamasama menghadapi persoalan mereka walaupun mereka tahu bahwa para pemimpin mereka itu tidak dapat, dengan serta merta, mengatasi berbagai kesulitan-kesulitan yang mereka alami. "KAMU HANYA AKAN DAPAT PERTOLONGAN (DARI ILAHI) DENGAN, (MENOLONG KAUM YANG LEMAH DI ANTARA KAMU", Ini adalah Sunnatullah.

"TIAP-TIAP KAMU ADALAH PEMIMPIN, DAN TIAPTIAP PEMIMPIN AKAN DIMINTAK PERTANGGUNGAN JAWAB ATAS PIMPINANNYA". Bukanlah demikian peringatan Rasul ?

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

35

MAS’OED ABIDIN

2. Pemikiran-pemikiran (idea) yang tersebut pada pasal-pasal diatas itu belumlah komplet dan limitatif, yakni tidaklah terbatas hingga itu saja. Satu dan lainnya dikemukakan pemikiran. sebagai Kita daya penggugah percaya pikir daya dan cipta sambil pengantar kepada

pengalaman-pengalaman kesempurnaan berjalan. lagi

masing-masing kita yang sama-sama menghadapi dalam praktiknya,

Mungkin pula dari apa yang tersebut diatas timbul pendapat seolah-olah apa yang dikemukakan itu adalah barang lama, tidak ada yang baru. Syukurlah kalau ternyata itu semua adalah halhal yang sudah lama dikerjakan orang, dan lantaran itu tentu, kitapun dapat mengerjakannya, asal mau. Yang sudah terang ialah, bahwa barang yang lama itu tetap bagi kita akan baru, selama kita tidak atau belum kerjakan. Barangkali juga dirasakan, bahwa di antara halhal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya. Semboyan kita ialah ;

36

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

- Yang mudah sudah dikerjakan orang - Yang sukar kita kerjakan sekarang - Yang "tak mungkin" kita kerjakan besok - Dengan mengharapkan hidayat Ilahi. "Katakanlah : Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat"!

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

37

MAS’OED ABIDIN

MERASAKAN LEZAT HUBUNGAN ROHANI
Hubungan jiwa antara pemimpin dan yang dipimpin tidak dijalin dengan suatu pidato jawaban yang panjang-panjang, resepsi. supaya sesuai gayung satu dengan sambut, seperti yang sering di dengar dalam acara-acara Akan tetapi melalui perhubungan rohani yang teguh dan ikhlas, yang terbit dari cita-cita hendak bersama-sama dalam kegembiraan dan kedukaan, hendak sesakit dan sesenang, hendak sehidup dan semati. Berbahagialah ummat yang seorang pemimpin dan yang memmemilikii hubungan bathin seperti itu, dengan dicintainya pula perasaan perasaan satu ada suka duka di di mencintainya. umaat pemimpin waktu zaman yang tempat senang, susah. Beruntunglah mengarahkan menunjukkan Alangkah

ditengah-tengahnya

lezatnya hubungan rohani semacam itu,

hubungan rohani yang terbit dari se-cita-cita dan

38

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

se-aqidah. Hubungan rohani yang seperti itu bertambah dalam artinya dan tidak kurang kekuatannya bila datang marabahaya yang menimpa satu ummat. Sebab dalam kenang-kenangan ummat itu kesusahan yang sama diderita lebih dalam bekasnya daripada kesenangan yang sama-sama dirasai. Pertalian rohani yang seperti itu terbit dari satu hubungan yang rapat berdasar kepada sama harga menghargai. Timbul dari nasib yang satu, dari kebudayaan yang satu, yang telah terjalin dan berlapis dalam sejarah ummat sampai menjadi satu pusaka lama harta bersama, aqidah yang sama sama hendak diperlindungi dan dipertahankan. Apabila cita-cita dan pertalian rohani itu sudah menjadi ikatan yang dipertalikan oleh perjalanan sejarah, maka waktu malapetaka datang menimpa tidak ada beban berat yang tak mungkin terpikul, tak ada korban besar yang tak mungkin direlakan oleh semua yang ada dalam ikatan, untuk memelihara keselamatan bersama untuk mencapai kejayaan bersama. Sungguh lezat seperti itu. Akan tetapi hubungan rohani yang Luruskan Niat kelezatannya tidak mungkin 39

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

MAS’OED ABIDIN

dikecap selama belum lengkap syarat dan rukunnya, yaitu aqidah dan ukhuwwah. Suatu bentuk dan susunan hidup berjamaah yang diredhai Allah yang dituntut oleh syari'at Islam, mengikuti jejak Risalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dengan tuntutan Kitabullah. Kita sekarang merintis merambah jalan guna menjelmakan hidup berjamaah sedemikian yang belum kunjung terjelma di negeri kita ini, kecuali dalam khutbah alim ulama, pepatah petitih ahli adat, dan pidato para cerdik cendekia. Kita rintiskan dengan cara dan alat-alat sederhana tetapi dengan api cita-cita yang berkobar-kobar dalam dada kita semula. Ia murah, tapi Tak masing-masing. Ini nawaitu kita dari tak dapat dibeli. Ia dekat, tapi tak mungkin dicapai, sebelum terpenuhi bahan dan ramuannya. mempan disorongkan dengan perintah halus atau yang semacamnya itu. Kita jagalah agar api nawaitu itu jangan padam atau berobah di tengah jalan. Kita ikatkan ukhuwwah yang ikhlas bersendikan Iman dan Taqwa. Maka, tidak seorang pun yang berpikirkan sehat di terhadap negeri kita ini yang akan keberatan penjelmaan masyarakat yang semacam
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

40

AKHLAQ TERPUJI

itu. Nilai amal kita, besar atau kecil, terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai pula dengan tinggi atau rendahnya mutu niat orang yang mengejar hasil itu. Amal kita yang sudah dan kita kerjakan tetapi tujuan nawaitu nya kita anjak. Semoga dijauhkan Allah jualah kita semua dan keluarga kita dari kehilangan nawaitu di tengah jalan. Amin.

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

41

MAS’OED ABIDIN

BULATKAN PERSAUDARAAN

Telah beberapa masa zaman berganti. Empat dasawarsa telah ditempuh. Semuanya sudah dilalui dengan memperoleh pengalaman-pengalaman berharga yang mahal, telah kita sirami dengan keringat dan air mata, sehingga dengan demikian tumbuhlah semangat dalam hati; "rasa berpantang putus asa, bertawakkal dalam melakukan kewajiban sepenuh hati, dengan tekad tidak berhenti sebelum sampai, yang ditujukan

42

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

kepada keridhaan Allah jua". Dalam perjalanan di "rimbo masang", sesudah semua orang turun meninggalkan tempat ijok, dalam keadaan sulit dan jumlah jamaah kecil hanya tujuh orang dalam perjalanan perjuangan menentang resiko untuk menghidupkan perjuangan, kebulatan tekad itu tumbuh dengan hasil musyawarah juga. Hanya maupun dengan untuk memelihara bulat persaudaraan kita dalam ikatan jamaah, baik sebagai perseorangan kesejahteraan masyarakat bersama seluruhnya. Tidak aa tempat dalam hidup jamaah itu ber-belakang-belakangan, hidup dengan tidak indah meng-indahkan antara satu dengan yang lain, apalagi hidup bertentangan, hidup berebutan, yang seorang mengharapkan untung atau merasa bangga atas kerugian orang yang lain. Tolong menolong adalah adat dunia yang hendak selamat! Bukan perebutan hidup yang harus menjadi pokok pangkal dari pada hidup berjamaah baik, itu, melainkan berlomba-lomba dalam Hadist; "Sebaik-baik manusia ialah orang yang paling
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

berbuat

membanyakkan

manfaat bagi sesama manusia seperti tersebut

43

MAS’OED ABIDIN

banyak bermanfaat bagi sesama manusia". Adalah satu rahasia yang akan menyampaikan manusia kepada suatu kemenangan. Kemenangan itu adalah kelanjutan dan buah dari pada jihad, seperti beras menjadi tiada beras. manusia buahnya batang padi padi. akan akan pulalah Mustahillah menemukan mustahillah orang menanam tiada

Maka yang

demikian

berjijad

mendapatkan kemenangan. "Dan berjihadlah pada jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad! Dia telah memilih kamu. Tuhan tiada menjadikan sesuatu kesukaran dan kesempitan dalam agama! Ikutilah agama orang tuamu Ibrahim. Allah telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (demikian pula) dalam (Al-Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu. Dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia (bahwa kamu adalah Muslim). Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. DIA adalah pelindungmu! Maka DIA lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong". (QS. Al Hajj:78). Kini telah datang lengan waktunya bagi ummat bekerja menyingsingkan bajunya

44

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

sungguh-sungguh, merampungkan

sekian banyak

bengkalai yang belum jadi. Permulaan jadi adalah meninggalkan enggan dan nilai, menyalakan giat dan shabar memikul tugas kewajiban. Maka ada baiknya bila seorang mengambil pelajaran dari kesulitan-kesulitan dan kepayahan yng telah diderita oleh kaum-kaum yang telah lalu itu, dan memperhatikan bagaimanakah ikhtiar mereka menyelesaikan tiap-tiap kesulitan itu, baik berhasil atau tidak. Dengan demikian kita akan lebih tenang berhadapan dengan bermacam-macam arus dikeliling kita. Dan akan lebih teguh pendirian kita, bilamana pada satu masa berjumpa dengan gelombang yang mungkin datang menjelma pula pada tiap-tiap zaman yang mendapat giliran dari Ilahi. MULAI DARI APA YANG DAPAT Tokoh-tokoh masyumi sudah dibebaskan dari penjara, tetapi tetap diawasi ketat. Media massa diminta supaya tidak menyiarkan Bagaimana umumm, pendapat menerobos tokoh-tokoh kuliah Masyumi.

blokade ini. Memanfaatkan forum-forum khutbah, subuh, ceramah mengantisipasi 45

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

MAS’OED ABIDIN

perkembangan-perkembangan maupun di luar negeri. Dakwah.1

aktual

di

dalam

Disiarkan melalui Brosur

Da'wah yang diterbitkan oleh Sekretariat Dewan Dengan cara kerja seperti itu, tidak mengherankan kalau kadang-kadang informasi Dewan Dakwah ke daerah, lebih cepat ketimbang informasi pemerintah pusat. Orang banyak bertanya-tanya, dari mana Dewan Dakwah memiliki dana. Kalau boleh terus terang, kita tidak memiliki dana. Tetapi, itulah. Kalau kita mulai kita mulai mengerjakan sesuatu, ada saja orang yang membantu. Untuk memutar stensil kita numpang. Kemudian Persatuan Dagang Tanah Abang (Perpeta) menyumbang sebuah mesin stensil, Syamsuddin seorang dermawan mewakafkan sebuah mesin tik dan tape recorder, ada yang menyumbang kertas, menyumbang stensil, menyumbang tinta untuk mengoreksi, dan lain-lain. Banyak modal terkumpul, semuanya betul-betul dari ummat. Bapak Natsir selalu mengatakan, "Tiap-tiap kita adalah dai

1. Juru bicara kita waktu itu, selain Pak Natsir sendiri, ialah Pak H.M. Rasjidi, Pak Abdullah Salim, Pak Muchtar Lintang, Pak Sjafruddin Prawiranegara, Buya Malik Ahmad, Kiai Taufiq, dan lain-lain 46
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

pengemban tugas dakwah. Tukang becak yang muslim, memmemilikii tugas dakwah. Ialah menjemput dan mengantar pulang ustadz dalam suatu pelaksanaan dakwah. Saudara merbot masjid mungkin buta huruf, tidak dapat membaca dan menulis. Tetapi, tugas membersihkan masjid, mengurus air masjid, menjaga keamanan sandal, adalah termasuk pelaksanaan dakwah. Merbotlah yang mengurus semua itu. Dengan tugas itu, merbot menjadi dai. Yang jadi pejabat atau pegawai, dia adalah dai. Karena dengan kedudukannya, pelaksanaan dakwa dapat berjalan lancar. Yang

kaya, yang mendapat kekayaan dari Allah swt, mungkin tidak dapat naik mimbar, tetapi dengan infaknya dia menjadi dai". MPRS akan bersidang. Kepada para anggota MPRS itu hendak disampaikan pengertian bahwa demokrasi itu hanya dapat hidup kalau dijalankan di bawah hukum. Pak Natsir berpidato tentang "Demokrasi di Bawah Hukum". Naskah pidato tersebut kepada para anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Semesta (MPRS). Bagaimana cara membagikannya? Anak-anak Pelajar Islam Indonesia (PII). Biar kami yang mengantarkan

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

47

MAS’OED ABIDIN

ke penginapan para anggota MPRS.2 antara lain dengan mobil salah seorang Wakil Ketua MPRS, Subchan Z.E. Pidato Pak Natsir tersebut perlu rasanya disampaikan sebagai sumbangan pikiran dari Dewan Dakwah. Kepada seorang pengusaha ditawarkan. "Tolonglah Saudara menjadi dai. Dai untuk masalah politik yang tinggi". "Tolonglah cetak ini, 2000 eksemplar. Kepada para anggota MPRS. "Kalau demikian, saya biayai, selesai dicetak, berdatanglah para pemuda siap mengantarkan ke alamat-alamat di tempat mereka menginap. Maka sampailah brosur kita ke tangan para anggota MPRS. Si kaya telah memberikan uangnya. Si pemuda pelajar memberi tenaganya. Diwaktu itu, orang masih takut terlibat politik. Dewan Dakwah memperingatkan, terutama kepada para dai, "Kalau memang Saudara-saudara merasa tidak perlu ikut berpolitik, biar tidak usah berpolitik. Tetapi saudara-saudara jangan buta politik. Kalau Saudara-saudara buta politik, Saudara-saudara akan dimakan oleh politik. "Inilah juga di antara yang

2. M.Natsir, Demokrasi di Bawah Hukum, Media Da'wah, Jakarta, Cetakan Pertama, 1407/1987, 29 halaman. 48
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

disampaikan oleh Dewan Dakwah. Dewan Dakwah selalu ikut memberikan sumbangan (RUU) pemikiran. Perkawinan, Rancangan Undang-undang

Pendidikan Moral

Pancasila (PMP), RUU Sistem

Pendidikan Nasional, RUU Peradilan Agama. Dengan cara 24 jam, kita mengembangkan Dewan Dakwah. Otak Dewan Dakwah ini Pak Natsir, Buchari Tamam kepala dapurnya dan para pemuda sebaga tenaga lapangan. pengaderan. Dewan Dakwah juga melakukan kepada Pembinaannya diserahkan

Ikatan Masjid Indonesia (IKMI). Kita sangat terkesan cara kerja Pak Natsir. "Yang mudah kita kerjakan sekarang. Yang sulit kita kerjakan besok. Yang mustahil kita kerjakan kemudian. "Jadi, Pak Natsir tidak pernah mengenal berpikir putus tentang asa dalam Dia me-laksanakan program. Pak Natsir tak pernah memulainya degan dana. memulainya dengan membuat rencana. Mulai dulu, dari yang kecil. Kalau sudah dimulai, nanti akan bertemua dengan berbagai masalah. Yang mula-mula dikerjakan Dewan Dakwah hanyalah memperbanyak khutbah. Dengan itu Pak Natsir memulai kontak dengan teman-teman di segala penjuru. Dana kegiatan ada dikantong 49

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

MAS’OED ABIDIN

pendukung, kebulatan Faidzaa

mereka tekad 'azamta

akan

ikhlas

mengeluarkan rencana. Allah. kurang 'ala semula

untuk nasional

melaksanakan yang

fatwakhal

Masalah-masalah

mendapat perhatian kita

angkat ke permukaan Dewan

dengan cara positif. Dewan Dakwah datang dengan model alternatif seragam yang Islami.3 Dakwah bukan organisasi politik, tetapi dari segi dakwah kita tidak dapat berpangku tangan. Selepas dari tahanan rezim Orde Lama, Pak Natsir mengunjungi berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dan sambutan yang diterima Pak Natsir, selalu meriah. Kenyataan-kenyataan tersebut segera saja melenyapkan isu bahwa Pak Natsir telah kehilangan tempat di hati umat akibat peristiwa PRRI. Yang terjadi justru kebalikannya. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sampai sekarang dan insya Allah sampai kapanpun, tetap membangun umat, sesuai kemampuan maksimal yang kita miliki. Beberapa Kegiatan Usaha-usaha yang telah digarap. Yang

3. Uraian Mohammad Natsir tentang Q.S. Al-Ankabut: 69, lihat antara lain Serial Media Dakwah No. 190 Ramadhan 1410/April 1990, halaman 36-37. 50
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

Pertama, mem-perluas pengertian dakwah bahwa dakwah luas artinya. Mencakup selurus aspek kehidupan Q.S Al-Anfal ayat 24. Bapak Natsir sebagai ketua Dewan Dakwah mengungkapkan sejarah, bahwa dakwah pada hakikatnya ialah kelanjutan dari risalah Nabi Besar Muhammad SAW. Rasulullah diutus oleh Allah SWT kepada masyarakat manusia di dunia, tujuannya ialah untuk menggarap selurus aspek kehidupan. Yang kedua, mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat pembinaan masyarakat. Dewan Dakwah datang mengingatkan kembali, masjid merupakan pusat pembinaan umat, sesuai fungsi masjid yang diteladankan oleh Rasulullah SAW. Dewan Dakwah memberi contoh dengan berkantor di masjid Al-Munawarah. Dari sudut kecil itulah digarap semua kegiatan Dewan Dakwah. Yang Ketiga, Dewan Dakwah memberi pengertian kepada jamaah bahwa tugas dakwah adalah fardhu ain bagi setiap muslim. Yang keempat, menggiatkan kegiatan dan meningkatkan Ulama-ulama mutu dan dakwah. dai dari Dewan Dakwah berusaha meningkatkan mutu dan dakwah. daerah-daerah diadakan diskusi untuk memperluas
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

51

MAS’OED ABIDIN

pengertian

mereka

tentang

dakwah.

Untuk

membuka cakrawala pemikiran yang selama ini terbelenggu oleh ketakutan, tekanan komunis dan Orde Lama yang diktator. Untuk menggarap dakwah di daerah-daerah rawan, seperti daerah transmigrasi dan daerah-daerah ter-belakang, disedikan para dai yang dilatih khusus antara sebulan sampai dua bulan di Pesantren Pertanian "Daarul Fallah", Ciampea, Bogor, untuk meningkatkan bagi tinggi, pelajaran mahasiswa Dewan dan di pendidikan agama

perguruan-perguruan

Dakwah

menatar dosen-dosen mata kuliah umum dengan maka kuliah agama Islam. Kita juga mencari kontak ke luar negeri untuk mendapatkan buku-buku standar di bidang agama. Sesungguhnya upaya pengadaan perpustakaan Islam telah dirintis oleh Dewan Dakwah sejak 24 tahun yang lalu. Dewan Dakwah juga berpikir untuk menggerakkan dakwah bil hal. Dengan cara membangun masjid-masjid sebagai Sumatera Pesantren markas Barat, perjuangan di Jawa umat. Membangun di di Riau, di madrasah-madrasah, membangun rumah sakit di Tengah, Fallah" Lampung. Lembaga-lembaa pendidikan keterampilan Pertanian "Darul Bogor.

52

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

Lembaga Keterampilan di Batu Marta Sumatera Selatan. Yang yang kelima, akan meningkatkan merusak dan usaha mencuri pembentengan/pembelaan akidah umat. Berkeliaran hama-hama tanaman kita. Hama yang kita maksud ialah berupa para penyebar agama selain Islam. Sekularisme, orientalisme, komunisme, marksisme, serta pemikiran-pemikiran yang menyempal yang pada Islam Jamaah, Inkarussunah, Isa Bugis, Syi'ah, dan lain-lain. Masalah al ghazwul fikr (perang pemikiran). Dewan Dakwah mengambil peranan khusus. Dijawab oleh Pak Rasjidi dengan tulisan, tampil pula Pak Natsir, Pak Zainal Abidin Ahmad, Pak Sjafruddin Prawiranegara, Pak Bahder Djohan, Pak Deliar Noer dan Pak Daud Ali. Dilanjutkan lagi oleh generasi yang lebih muda para alumni Timur Tengah. Buah tangan mereka yang memperkaya khazanah perpustakaan Islam, melalui Dewan Dakwah. Walau secara berkecil-kecil di markas Dewan Dakwah Pusat sudah ada beberapa penerbitan yaitu Media Dakwah, Suara Masjid, Sahabat, Bulletin Dakwah, Serial Khutbah Jum'at, lengkap dengan toko bukunya. Menghadapi perang pemikiran, Dewan Dakwah bahkan telah membentuk tim "Ghazwul Fikri". Dalam soal difa'
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

53

MAS’OED ABIDIN

(pembelaan) mencanangkan menantang. terbuka dicanangkan

ini Pada

diawal difa', akhirnya dan

Dewan malah banyak

Dakwah banyak juga apa yang yang yang telah

jihad

hatinya,

mendukung

Dewan

Dakwah.

Walaupun

banyak korban jatuh, tetapi kesadaran tidak pernah terlambat, asal mau memburu ketinggalan. Yang Islamiyah keenam, al'Alamiyah. membangkitkan Membangkitkan ukhuwah ukhuwah

Islamiyah internasional. Di seluruh dunia ada umat Islam. Di lima benua ini ada umat Islam. Jumlahnya hampir seperempat penduduk bumi. Lebih kurang satu milyar. Membangkitkan kesadaran inipun dilakukan oleh Dewan Dakwah dengan mengadakan perjalanan muhibbah ke negara-negara Islam di seluruh dunia. Terutama ke Timur Tengah, ke Saudi Arabia, ke Kuwait, ke Libya, ke Irak, ke Palestina melihat langsung keadaan umat Islam di sana. Dewan Dakwah menggerakkan bantuan umat apa Islam saja. Indonesia, mengumpulkan

Tumbuhlah rasa ukhuwah Islamiyah internasional, bagaimana nasib umat Islam di Indonesia? Dewan Dakwah kita mengungkapkan di belahan kepada lain, saudara-saudara dunia

54

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

bagaimana ghazwul fikr yang tengah melanda umat Islam di Indonesia dewasa ini. Umat Islam yang masih terikat kebodohan. Disamping miskin sarana-sarana dakwah, langkanya dai yang terampil, rumah sakit tempat penampungan pasien yang lemah yang sering jadi sasaran empuh missi dan zending. Dakwah paling sedikit telah mengirim 500 pelajar ke berbagai negeri di Timur Tengah. Beberapa ratusan masjid yang dibangun oleh Dewan Dakwah dengan bantuan saudara-saudara kita di Timur Tengah, terutama dari Kuwait, dan Saudi Arabia. Inilah hasil ukhuwah Islamiyah internasional. Tidak Hanya Timur Tengah Waktu Kotobato, -- kota universitas Islam di Filipina Selatan dibakar habis oleh pasukan Ferdinand Marcos yang Katolik --, kita kirimkan Qur'an itu untuk mengganti Qur'an yang terbakar di universitas Islam Filipina Selatan. Tumbuhlah lagi ukhuwah Islamiyah dengan tetangga kita di utara itu kita lakukan dalam membina ukhuwah Islamiyah internasional. Menuju Ummat Teladan
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

55

MAS’OED ABIDIN

Dewan hal-hal yang

Dakwah

tidak

hanya

membangun juga

kongkrit.

Dewan

Dakwah

menyebarkan ide. Ide yang telah dikembangkan oleh Dewan Dakwah, telah tumbuh di hati masyarakat. Seperti kampus rumuah sakit, pesantren, kebun-kebun dan lain-lain. pecontohan, sekolah keterampilan, Islamic Centre, pendidikan, penerbitan, Semuanya itu memmemilikii jamaah. Mereka itu dapat diikat dalam kejamaahan. Mungkin sudah ada yang mulai dibina. Tetapi mereka baru merasa terikat oleh rumah sakit, madrasah, atau pesantrennya saja. Belum merasa terikat sebagai keluarga besar kejamaahan Dewan Dakwah. Padahal lembaga-lembaga itu dibangun oleh Dewan Dakwah. Kalau kerja sama telah dapat kita wujudkan, keadaan akan lebih menguntungkan. Yang telah memberi buah demikian besar kepada kaderisasi dan pembangunan sarana dakwah di tanah air. Katakanlah kita mewujudkan kekeluargaan Dewan Dakwah dengan mengikat amal-amal nyata yang telah sama-sama kita bangun. Apa yang telah kita kerjakan dapat berkembang dengan sebaik-baiknya, sehingga terwujudlah kekeluargaan Dewan Dakwah

56

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

yang berupa ummat tauladan di Indonesia di masa datang.

LUNANG YANG MALANG

LUNANG Silaut suatu daerah yang dipilih untuk transmigrasi dari puluhan deretan kawasan
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

57

MAS’OED ABIDIN

transmigrasi lain di Indonesia. Lunang berlahan gambut, yang konon gambut di lahan itu lebih dalam dari lahan bergambut lainnya di Indonesia, Wallahualam bis sawab. Di lahan bergambut itu, dibuat parit-parit yang dalamnya cukup memadai untuk irigasi dan mengendalikan air ketika banjir. Kadang-kadang air bah yang datang saat hujan lebat tiada henti, saluran itu tidak pula mampu menahannya. Airnya memang merah kehitam-hitaman, sesuai dasar tanah gambut yang ada di kawasan itu. Rasanya tentu tidak tawar seperti air tawar di kawasan minum lain. air itu, Namun bila demikian, kemarau air di sanalah yang masyarakat Lunang mencuci dan mandi. Terkadang panjang mengeringkan sumber datang menerpa.

Sementara hujan tak kunjung tiba. Mereka menjadi "terpaksa" meminum air yang tidak lazim untuk dikosumsi. Persis seperti musafir kehausan di padang tandus, yang tidak menemukan setetas airpun. Bila perlu 'air kencing' sendiri diminum pelepas haus. Suatu yang luar biasa. Naif sekali bila si musafir dicap sebagai kelompok peminum air kencing. demikian juga halnya masyarakat Lunang

58

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

yang malang, terpaksa meminum air hitam pekat yang bukan sebuah kebiasaan. Pada beberapa daerah seperti Silaut I, III dan IV telah dibuat pompa air dengan Reservoir dan disalurkan memakai pipa. Di kawasan ini permasalahan masyarakat Lunang Silaut

sebelumnya cukup teratasi. Namun kadangkala peralatan PDAM itu, dapat saja tidak berfungsi karena aus atau pipanya pecah karena kurangnya perawatan dan sebagainya. Bila musim panas melanda, sumber air di kawasan tersebut menghilang dan kering. Malanglah nasib masyarakat Lunang Silaut, padi ditanam tidak menjadi, jagung disemai tidak berbuah. Kecuali ubi yang paling murah tumbuh, akan tetapi hasilnya kecil-kecil hanya cukup untuk pengisi perut di kala lapar. Masyarakat Lunang yang orang Jawa itu, kini telah menjadi Sebelum anak kemenakan tidak orang Minangkabau. memakan transmigrasi terbiasa

gaplek. Walaupun dapat mereka memaknnya. Selera mereka sama dengan warga kota lainnya, memakan nasi sebagai makanan pokok.
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

59

MAS’OED ABIDIN

Akan Transmigrasi

tetapi,

setelah

sampai

di

lahan

Lunang Silaut, padi yang mereka

harapkan untuk menjadi nasi tidak menjadi. Al hasil, mereka banyak yang tidak tahan. Ada yang kembali ke Jawa dan ada yang lari ke kota menjual tenaga untuk mendapatkan sesuap nasi dan nafkah keluarga. Apaboleh dikata. Sementara masyarakat yang tetap bertahan di Lunang Silaut, berjuang melawan kesulitan itu. Mereka tetap tabah dengan takdir yang menimpanya. Meskipun kadang-kadang gaplek atu thiwul sebagai makanan pokok pengganti. Namun mereka tetap mengayun cangkul ke ladang dan sawah yang mereka garap untuk menyambung hidup. Kalau nanti ada hasil, terkadang mereka tidak dapat menikmatinya secar penuh, karena mereka ada kebutuhan lain dalam hidupnya. Akhirnya makanan asli mereka mereka. tatap Akan bertahan tetapi, dengan makanan gaplek dan thiwul. malang sekali. Gaplek bukan pengganti dikala tidak ada lagi beras yang akan menjadi nasi. Pemerintah telah mencoba untuk mengentaskan kemiskinan (baca: menghapuskan

60

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

kemiskinan) melalui transmigrasi, tetapi hasilnya akan dinikmati warga transmigrasi itu dalam jangka panjang, itupun bila ladang dan kebun yang mereka olah dapat menghasilkan dengan baik. Ataukah mereka harus menunggu, setelah lahan mereka menjadi kebun kelapa sawit? Kini apa yang hendak dikata, di tengah malangnya masyarakat Lunang, mengetuk hati nurani kita sebagai seorang muslim. Kewajiban kitalah sebagai saudaranya seakidah yang memiliki kemampuan melebihi mereka untuk membantunya. Bukankah kemampuan kita membantu mereka itu sebagai perwujudan kekuatan kita? Justru lemahlah kita bila kemampuan yang kita memilikii tidak disalurkan mengatasi kelemahan mereka orang-orang yang dilanda kemiskinan itu. Ingatlah peringatan Allah dalam Al Al Quran surat Al Ma'uun ayat 1 ."Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama?" ***

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

61

MAS’OED ABIDIN

BANTULAH SAUDARAMU
ALLAH AKAN MEMBANTU KAMU Alhamdulillah, sekali-kali walaupun hanya satu jam kita sudah mulai bertemu dengan Matahari. Warnanya tidak lagi kelabu walaupun asap belum habis. Sekali-kali hujan pun mulai turun pada beberapa tempat. Namun asap belum juga reda. Warna Matahari masih kemerahan, mengingatkan kita tentang pahitnya warna kehidupan di desa-desa terpencil yang terseok-seok akibat kemarau panjang. Diantaranya Lunang Silaut. Penduduknya sudah mulai minum air kubangan bercampur luluk karena air bersih sulit dicari. Sebatas pemberitaan Surat Kabar di daerah ini, terungkap pula kabar

62

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

bahwa bantuan air harus dibayar masyarakat Rp. 2.500 bagi yang memerlukan. Mungkin ini sekedar untuk membantu ongkos membawa dari tempat yang jauh sampai ke Lunang Silaut. Wajar saja untuk membawanya dengan mobil tentu diperlukan bensin. Suatu hal yang lumrah saja sebenarnya. Akan tetapi dalam kasus Lunang menjadi terasa berat karena sebahagian masyarakatnya telah mulai memakan nasi campur ubi. Bagi mereka sangat tidak mampu untuk membeli air. Keprihatian lembaga-lembaga Islam termasuk Muhammadiyah Wilayah Sumatera Barat berupa ajakan agar kita memperlihatkan rasa ukhuwah yang mendalam sesama Muslim dengan segera mengumpulkan dana bantuan untuk masyarakat di daerah sulit itu, perlu disahuti. Makin cepat makin baik. Yang diperlukan umat kita di Lunang Silaut hari ini bukanlah pakaian, melainkan yang bertalian dengan perut dan makanan. Kebutuhan vital untuk hidup. Syukur juga musibah ini tidak terjadi selama pemilu 1997. Bila terjadi pada saat-saat kampanye, rasanya tidak perlu risau benar, karena kita yakin bantuan akan berdatangan dari segala pihak, 63

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

MAS’OED ABIDIN

terutama yang sedang melaksanakan kampanye. Dikala maraknya kampanye menggigit suara umat sudah selesai, beban ini terpulanglah kepada lembaga-lembaga organisasi kemasyarakatan – seperti Muhammadiyah umpamanya -- yang

berkewajiban memperhatikan umat yang sedang dihimpit kesusahan. Organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga kemasyarakatan ini berkewajiban setiap saat memikirkan keadaan masyarakatnya, tidak hanya dalam bentuk temporer (sesaat) tetapi sepanjang masa. Inilah resiko logis bagi suatu organisasi kemasyarakatan amanah umat. Bila kita sadari, dana yang dapat kita ulurkan itu banyak tersedia. BAZIS umpamanya dapat saja mengeluarkan sebahagian Zakat yang dikumpulkannya untuk orang-orang yang sangat memerlukan air dan makanan supaya masyarakat di desa yang sulit itu tidak menjadi kelaparan dan kehausan. Bila kita bersedia membuka khazanah para Muhsinin masa lalu, kita dapat belajar kepada isteri Harun Al-Rasyid (hanya sekedar contoh) yang yang besar yang menyandang

64

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

bersedia

menjual dengan

barang membuat hari

perhiasannya sebuah ini, parit

menggantinya dapat

(saluran) air menuju kota Madinah. Dan manfaatnya dirasakan sampai walaupun berabad-abad telah berlalu. Selama orang masih tetap meminum air yang dialirkan tersebut, jelas pahalanya selalu mengalir pula kepadanya (ini adalah sesuai menurut keyakinan aqidah Islam). Untuk kasus Lunang kabarnya sudah lama dimintakan perbaikan-perbaikan sumur air sebelum terjadi kemarau panjang. Bila itu terlaksana dari dahulu, tentu masyarakat tidak akan terlalu susah pada hari ini. Akan tetapi entah karena keterbatasan dana atau masih menunggu sebuah keputusan, perbaikan tersebut tak kunjung terjawab. Akibatnya sangat fatal, air habis tatkala kemarau panjang datang dan asap ikut membantu cuaca makin kering. Ironis sekali. Tidak berapa lama lagi MTQ tingkat Sumatera Barat akan kita laksanakan. Sarana dan prasarananya sudah kita persiapkan. Sebatas berita Surat Kabar juga terdapat pastinya kita belum tahu. Bila sebahagian kecil saja dari bahagian panitia dan kontraktor ini dapat dialirkan berbentuk air ke
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

65

MAS’OED ABIDIN

Lunang Silaut, tentu masyarakat disana tidak akan kehausan. Bersediakan kita mengulurkan tangan untuk itu? Pertanyaan ini hanya dapat dijawab dengan Perlu perbuatan. kita ingat Mudah-mudahan bahwa membantu masa orang kekeringan tidak akan lama. lemah sebenarnya membuktikan bahwa kita adalah kuat. Dan membiarkan orang yang lemah menjerit dengan kelemahannya, sebenarnya memberi tahu orang lain bahwa kita lebih lemah dari mereka. Keengganan memperhatikan orang yang lain dapat berakibat Allah lupa memperhatikan kita.

Nabu

Muhammad

Shalallahu

'alaihi

wassallam menasehatkan kita semua dengan sabda beliau yang sangat dalam : Man lam yahtamma bi ammril Muslimin falaisa minhum, Artinya : Yang tidak mau tahu urusan sesama umat
Muslim sebenarnya tidak pantas disebut kelompok Muslim. Demikianlah Rasulullah SAW Mudah-mudahan kita tidak tergolong kedalam klasifikasi yang disebut Rasulullah SAW ini. Mari kita bantu Saudara kita yang kita. sebenarnya Dan kita sangat menunggu bantuan sukseskan

66

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

bersama program yang sudah di gerakan oleh Muhammadiyah Wilayah Sumatera Barat.

Redha Allah
Keberhasilan dakwah banyak di tentukan oleh indahnya hubungan sesama didalam pergaulan sehari-hari. Du'aat (juru dakwah) di lapangan medan
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

67

MAS’OED ABIDIN

dakwah tidak boleh menyendiri, apalagi tidak mau menyayangi masyarakat yang di dakwahinya. Satu keberhasilan du'aat banyak ditentukan oleh kesediaannya menerima dan mengormati jamaah yang datang mengunjunginya karena satu keperluan dakwah. Du'at (juru dakwah) adalah pengayom, dan panutan.Tempat bertanya, dan tempat mengadukan masaalah pelik yang tak mungkin dapat di selesaikan oleh jamaah secara sendiri. Sikapnya dalam memuliakan tetamu (jamaahnya), senantiasa akan menjadikan pujian dan ukuran akhlaknya. Seorang juru dakwah semestinya merasa senang dalam menerima tamu yang datang kearena dakwahnya. Dia tidak boleh menolak tamu yang mengharapkan bantuannya. Dia harus selalu tanggap dengan kesulitan orang lain. Bahkan dia memiliki doromngan kuat berbuat untuk kesenangan orang lain, dalam batasbatas hubungan yang harmonis kemampuan bantuan yang adalah dan yang dapat saling ada di menghormati. padanya. berikan du'at Sebatas (juru

Sekecil-kecil

dakwah)

semangat,

68

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

dorongan, perhatian.

atau

hanyak

senyum

dan

pernuh

DI BAWAH NAUNGAN SYARI'AT ISLAM
"ORANG-orang yang beriman dan tidak

mencampurkan keimanannya dengan keaniayaan (kedzaliman), untuk mereka keamanan, dan mereka (golongan) yang memproleh petunjuk (hidayah)". (Q.S VI-Al An'aam, ayat 82). Tahun demi tahun telah kita lepas. Setiap tahun baru dimulai, kita bukan dengan harapan-harapan. Sesuatu yang baik dari tahun silam, menjadi dambaan. Namun kecemasan selalu menghantui kita. Karena hilangnya keamanan dan ketertiban. Hampir pada setiap sudut duni pada tahun yang baru kita lepas-terjadi kemelut. Kadang-kadang juga terjadi di samping kita. Kemelut yang selalu berakhir dengan terinjaknya martabat kemanusiaan. Hilangnya keamanan dan rusaknya nilai-nilai kehidupan, yang manusiawi. Dalam setiap keadaan terjadi kedzaliman atau keaniayaan. Dalam berbagai bentuk. Dia tampil ke
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

69

MAS’OED ABIDIN

permukaan bertepatan dengan saat-saat manusia meninggalkan mencecerkan Agama-NYA aturan-aturan. hukum-hikum (Syari'at Islam). Atau Allah dikala dan orang syari'at Allah

Peringatan

Subhanahu wa ta'ala, menyebutkan : Senantiasa orang-orang kafir (orang-orang yang meninggalkan hukum-hukum Allah) itu, ditimpa bahaya, sebab perbuatan mreka sendiri, bahkan tiba bahaya itu dekan rumah mereka (dalam negeri sendiri), sehingga datang janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak pernah memungkiri janji." (Q.S. XIII-Ar-Ra'ad, ayat 31). Janji Allah, berupa munculnya rasa takut karena ulah manusia jua. Hilangnya tauhid bertukar syirik, merupakan aman salah lantaran satu penyebabnya. kufur. Hilangnya tumbuhnya

Terbangnya iman dari lubuk hati, sirna-lah aman dari kehidupan. Merajalelanya kedzaliman disebabkan lupa kepada hukum-hukum Allah (hududallah). Kebahagiaan manusia dan lingkungan yang aman terancam punah. Tanaman kehidupan yang baik tak kunjung menjadi kenyataan. Semuanya terjadi karena kesalahan manusia semata. Ukuran "benar-nya suatu kebenaran sering diukur dari

70

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

kualitas pelakunya. Kualitas kebenaran terabaikan. Kualitas kebenaran, ukurannya adalah syari'at (aturan-aturan) Agama Allah (Islam). Asasnya adalah iman dan taqwa kepada Allah semata. Realisasi taqwa adalah kerelaan melaksanakan hukum Allah Yang Maha Kuasa. Suka atau tidak. Di dalam syari'at itu, tercakup semua aturan, yang menyangkut harkat kemanusiaan. Semua kaedahnya tertera dengan jelas, didalam syariat Islam. Iman, tidak berarti hanya sekedar percaya kepada adanya Allah, tanpa diikuti serta perilaku. Perilaku itu berupa amal-shaleh. Unsurnya adalah ikhlas, bersih dan lurus. Ukurannya, sesuai dengan kehendak Allah - yang dimanisemata. Amal, merupakan konsekwensi logis dari iman. Aktivitas; sedemikian, melahirkan ibadah-ibadah yang benar. Teguh dan kokoh pada setiap perintah Allah. Terjauh dari semua unsur keaniayaan. Baik itu menyangkut hubungan individu, atau hubungan yang luas, hubungan masyarakat. Sampai kepada suatu tatanan aturan kehidupan (syari'at), yang ruang menyeluruh. lingkungannya Suatu

universal.

Tidak

membedakan 71

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

MAS’OED ABIDIN

pangkat dan derajat. Tidak mengenal perbedaan bangsa dan bahasa. Pelaksanaan aturan-aturannya tidak hanya terbatas pada kedudukan elit, juga tidak pada perbedaan kulit. Dengan penerapan iman secara benar dan utuh ini, muncullah suatu sistem keadilan yang indah. Terpatri dalam sejarah, tentang kisah Al Makhzumiyan, sosok seorang pembesar (Quraisy) yang terpandang. Dikala ia melakukan tindak pencurian, korupsi dan manipulasi pada jabatannya semasa itu. Dia ditangkap, diadili dan dijatuhi hukuman. saja Hukuman potong ampunan tangan. (grasi) termasuk Beberapa kepada seorang pemuka Quraisy berpendapat, sebaiknya diajukan permohonan Muhammad Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wasallam). Mengingat Al-Makhzumiyan anggota keluarga Quraisy yang disegani. Lagi pula Muhammad Rasulullah SAW, juga seorang putra Quraisy yang "terbaik" situasi dan ini...," Quraisy syari'at fikiran mulia. yang yang "Kita coba usulan lainnya. ditimpakan. Quraisy memanfaatkan demikian

pemimpin-pemimpin merubah putusan jalan

Hubungan keluarga dan tali darah, mungkin dapat Demikianlah pembesar

72

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

umumnya waktu itu. Diutuslah seorang shahabat yang dikenal dekat dengan Muhammad SAW, sebagai perantara. Usamah bin Zaid, pilihan yang tepat. Dia akan dipilih menjadi utusn menghadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, mengajukan permohonan "maaf" dari sang koruptor al Makhzumiyah ini. Hubungan "kekerabatan" ditampilkan Shahabat dan kenalan, dipilihkan sebagai formula pembuka jalan. Demi nama baik keluarga Quraisy, kiranya Al-Makhzumiyah tidak jadi dijatuhi hukuman. Setidak-tidaknya agar hukuman kepadanya menjadi ringan. Jangan ditimpakan hukum "potong tangan", yang hidup. Tatkala permohonan seperti itu disampaikan oleh Usamah bin Zaid kepada Rasulullah SAW, mukanya berubah merah padam. Beliau menjadi marah, lantas balik bertanya. Satu pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Adakah kalian meminta keringanan dari suatu ketetapan dari satu keputusan yang telah ditetapkan oleh Allah....???" Usamah bin Zaid, dan juga para sahabat
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

dapat

dianggap

"mempermalukan

seumur

73

MAS’OED ABIDIN

lainnya menjadi terdiam dan kecut. Rasulullah SAW menyampaikan pidato dihadapan orang banyak, yang pada waktu itu. Amanat Amanat yang berisikan garis-garis yang jelas. itu menjelaskan

tentang cara-cara menumbuhkan aman. Tentang penyebab hilangnya stabilitas. Tentang penerapan nilai-nilai keadilan dalam mencapai kemakmuran. Tentang kemakmuran yang adil, yang didambakan setiap insan, dalam setiap kurun. Sabda Rasullullah SAW ini pendek dan padat, jelas lagi bernas. Isinya menembus jauh relung-relung dihampir atau hati nurani insani. Jika diterapkan tidak akan ada lagi para pencoleng. Tidak akan ada pula ditemui lagi para koruptor dan pencuri, yang dapat berlindung dengan aman, karena tak terjangkau tangan-tangan hukum. Rasulullah SAW bersabda, Kehancuran sebelum penerapan kesalahan telah kamu, hukum. yang telah menimpa ummat hanya (karena) yang atau ketimpangan melakukan adalah beri Andaikata

(pencurian)

korupsi, kalian

orang-orang terpandang di kalangan mereka, kalian membebaskannya (mereka kekebalan hukum). Tetapi kalau yang melakukan

74

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

pencurian (korupsi) adalah orang-orang yang lemah (rakyat kebanyakan saja) diantara kamu, disaat itu (serta merta) kamu terapkan (kamu tegakkan) hukum dengan pasti. (Terjadilah apa yang terjadi, pudarnya kepastian hukum, dan hilanglah sumber keadilan). Demi kemuliaan Allah, andaikata Fathimah Binti Muhammad -putri Rasulullah sendiri -melakukan pencurian, pasti akan aku potong juga tangannya". (Al Hadist). Terlihat di sini bagaimana halus dan tegasnya Syari'at agama Islam. Suatu kepastian hukum, tanpa membedakan pelakunya. Keadilan yang tidak mengena perbedaan peradilan. Pernilaian tidak di titik beratkan kepada siapa pelakunya, tetapi kepada apa yang dilakukannya. Dari sini lahirlah keadilan. Dari sini pula tercipta keamanan yang kemudian menelorkan kebahagiaan. Setiap orang tidak cemas akan perkosaan haknya. Setiap pemerkosa hak, tidak akan merasa aman dari tangan-tangan hukum, karena yang merasa memiliki oleh hak-hak istimewa. "Kepastian hukum" diterapkan Syari'at akan melahirkan "kesejahteraan" secara individu atau pun bermasyarakat. Tumbuh pulalah
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

75

MAS’OED ABIDIN

satu perlombaan yang sehat. Saling memelihara tegaknya aturan. Sama-sama terpelihara karena tegaknya aturan-aturan itu. Sama-sama bahagia dalam membangun, sama-sama pula dalam membangun kebahagiaan. (Syari'at Islam memulai langkahnya dengan nasehat. Nasihat itu ditujukan untuk seluruh manusia. Mencakup seluruh segi kehidupan. Sumbernya pun jelas. Nasihat yang berpangkal dari Allah (Al Qur'an). Merujuk kepada contoh dan petunjuk pelaksanaan dari Muhammad Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam), yang dikenal sebagai Sunnah Rasul. Mematuhi Allah berarti mematuhi sunnah Rasulullah. Satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan. Tidak dapat diingkari atu ditolak. Ad-dien (Syari'at agama Islam) itu adalah nasehat. (Mau'izhah Hasanah). Kami bertanya, ata dasar apa wahai Rasulullah?" . Dengan tegas Rasulullah SAW menjawab .." dari Allah dan dengan Kitabullah (Al-Qur'an), dan Sunnah Rasul. Kemudian dengan (dalam kesepakatn setiap pimpinan-pimpinan mereka-dunia ummat dan urusan

akhirat-berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah Nabi). (Al

76

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

Hadist). Dengan patokan ini, para Shahabat ber-baiat kepada Rasulullah agar tegaknya Syari'at Islam itu dengan sempurna. Di antara isinya, para Shahabat tidak akan syirik --tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun --, dan tidak akan melakukan pencurian, serta akan selalu menjauhkan diri dari perbuatan korupsi, manipulasi dalam bentuk dan kesempatan apapun. Tidak berzina, yang melingkupi kepada pergaulan bebas, sehingga

kaburnya batas-batas antara yang boleh dan yang tidak. Terutama dalam hubungan manusia berlainan jenis. Tidak membunuh anak, baik itu secara penanaman nilai-nilai fikrah yang tidak agamis. Semuanya dijalankan melalui jalur Nasihat Agama, mencakup syari'at Islam.

TEGURAN DAN
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

77

MAS’OED ABIDIN

NASIHAT PERTANDA KASIH SESAMA MUSLIM
Diriwayatkan, ketika Khalif UMAR bin Khatab (Ra), dimabil sumpah jabatannya, beliau menutup dengan sebuah pesan amanat. Pesan amanat ii ternukil dalam pidato pelantikan Khalifah. Intisarinya sama dengan yang diucapkan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddieq Pesan itu yang digantikan "minta Umar bin ada Khattab R.A. berbunyi, supaya tegoran, jika ternyata Khalifah berbuat salah". Maka bangunlah seorang dari hadirin, seorang rakyat biasa - rakyat jelata -, menanggapi lantas berkata" "Demi Allah, jika kedapatan oleh kami ketidakjujuran pada dirimu, kami akan betulkan dia dengan pedang".. Memang tajam kata-kata yang diucapkan

78

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

seorang awam ini. Disahuti langsung ajakan Khalif Umar (RA), untuk meminta ditegor, justru di tengah upacara pelantikan Khalif itu sendiri. Suatu keadaan yang memang langka ditemui. Umar bin Khatab (RA), yang dikenal sebagai seorang yang berwatak "kertas", bahkan berdarah panas di antara para sahabat, memperlihatkan "jiwa besar" dengan serba ketenangan menghadapi ucapan semacam itu. Jawaban Khalfah Umar bin Khatab, merupakan "kata berjawab, gayung bersambut". Terjalinlah satu tali halus tetapi kokoh, antara pemimpin dengan ummat yang dipimpinnya. Khalif Umar bin Khatab berkata. "Demi Allah, Segala puji bagi Allah, yang telah menjadikan di tengah Umar bin Khattab, seorang yang sanggup membetulkannya dengan pedang (jika umar yang berbuat memang kesalahan)".. amat besar Seketika manfaatnya itu, bagi terbentuklah apa yang disebut "social responsibility" kelancaran tugas-tugas pemerintahan. Sebuah pernyataan Pada kali lain, Khalifah Umar bin Khattab (RA), hendak menyampaikan sebuah "statement" kepada
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

79

MAS’OED ABIDIN

ummatnya. Ditengah-tengah majelis pertemuan itu, Khalifah Umar memulai dengan kata pembuka, "Dengarlah dan ta'atilah..." Tiba-tiba seorang dari hadirin ditengah Majelis Khalifah ini, berdiri dan menginterupsi, "Tidak akan kai dengarkan dan juga tidakan kami ta'ati.." "Kenapa Tidak???", Kata, Khalifah Umar bin Khattab. "Kami dari pakaian mau, ini?" lebih dahulu asalnya (Disaat itu Khalif engkau Khalifah menjelaskan, memperoleh mana

memakai pakaian yang tidak berasal dari distribusi, yang dibagikan secara merata kepada Umum. Umar sedang memakai pakaian dari bahan lain. Pada hal sebetulnya, perawakan Umar yang berbadan kekar dan tinggi itu tidak dapat memakai pakaian yang didistribusikan, lantaran kekecilan). Mendengar "koreksi" ini, Khalifah Umar bin Khattab seorang orang (RA) yang besar tidak menjadi meradang, sifat atau membanggakan kedudukan posisinya. Dia bukanlah berkuasa dan dengan "pantang Mendengar tersinggung, tidak boleh diganggu gugat". Khalif berjiwa besar. pertanyaan setajam itu, Khalif Umar bin Khattab

80

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

memanggil

anaknya

(Abdullah

Ibnu

Umar

bin

Khattab R.A 'Anhuma) sambil "tersenyum", dengan penuh kewibawaan, Khalif bertanya. "Wahai Ibni Umar, dapatkah ku minta Allah jadi RA. Maka Abdullah Ibnu Umar (putra Khalifah) menjelaskan kepada hadirin, pakaian yang dipakai Khalifah adalah pakaian kememilikiannya, pakaian yang dihadiahkannya kepada Khalifah yang juga "ayah kandungnya" sendiri. Karena tersebut ternyata sangat cocok dengan ukuran badan Umar bin Khattab RA. Anggota Majelis yang bertanya tadi, serta merta berkata: "(Kalau demikian), teruskanlah perintahmu wahai Khalifah, maka kami akan dengarkan dan kami akan ta'ati. (Insya Allah). Demikianlah satu "cuplikan" sejarah, peri kehidupan para sahabat Rasulullah yang masih mengalami masa-masa "nubuwwah". Para sahabat saling memupuk "dhamir" masyarakat (social responsibility). Mereka memulai dengan menawarkan diri sendiri jadi sasaran "amar ma'roef dan nahi 81 saksi atasmu, mengenai pakaian-ku ini?". "Terangkanlah, apa ini pakaianmu?", tanya Umar,

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

MAS’OED ABIDIN

moenkar",

guna

menyuburkan

kekuataan

pengendalian diri (self control) dan pengkoreksian diri dari masyarakat (social control). Hal itu terjadi, karena teramalkannya dengan sungguh-sungguh Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala), "(tetapi) hendaklah kami bertolong-tolongan atas kebaikan dan bakti (ketakwaan), dan janganlah kamu bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan permusuhan, dan hendaklah kamu takut kepada Allah, karena sesungguhnya Allah itu sangat keras siksanya" (QS.V Al-ma'idah, ayat 2) Tegur Sapa "Ta'awun tegoran. terhadap (saling pertolongan), "tegoran" yang sebuah diartikan melakukan aktivitas konkret. Dia dapat bersifat koreksian dan Bukanlah pribadi sebuah seseorang sebagai satu tanda kebencian atu permusuhan kesalahan itu sendiri. Tidak harus diartikan demikian. Maka titik tolak kita sebagai seorang Muslim dan Muslimah dalam melakukan tugas "tegur-sapa" (istilah di Minangkabau-nya, senteng babilai/singkek ba-uleh ta-tuka ba-anjak/ba-rubah basapo), karena "rasa kebencian" semata. Bukan didorong "rasa

82

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

benci".

REFLEKSI IBADAH KURBAN

IBADAH KURBAN, mengikut millah Nabi Ibrahim AS (37) secara lengkap di sebutkan dalam QS.Shaffat ayat 100-113, suatu simbol taqarrub serta tafakkur (memikirkan)

(mendekatkan),

tadzakkur (mengingat) terhadap nikmat Allah, yang

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

83

MAS’OED ABIDIN

telah

di

tetapkan

sebagai

manasik

(ketetapan

syari’at) kepada setiap umat dari Allah SWT.1 Maka ibadah kurban, sebenarnya merupakan suatu “persembahan kepada Allah Yang maha Kuasa” sebagai perwujudan ketaatan ‘abid (abdi, hamba) dengan kemampuan menunaikan ajaran agamanya, dan kesiapan menterjemahkan secara hakiki istilah kurban itu. Karena itu, ada beberapa ahli fiqh Islam meletakkan ibadah kurban ini tidak hanya sebatas sunnat muakkad, tetapi ada yang meletakkan pada taraf wajib bagi yang mampu 2.
1 Dalam sebuah hadist disebutkan, tatkala para shahabat bertanya “Maa haa dzihi al-adhaa-hiy? (apa artinya udh-hiyah (memotong hewan kurban) itu?) maka Rasulullah SAW menjawab “Sunnatu abii-kum Ibrahim”(Sunnah atau ketentuan dari Bapakmu Ibrahim AS), (HR.Ahmad dan Ibnu Majah). • Lihat juga peristiwa kurban Ibrahim dalam QS.37,As-Shaffat, ayat 100-113. • Al Al Quran Surat Hajj (22) ayat 34 menyebutkan dengan terang; “wa likulli ummatin ja’alnaa mansikan, liyadzkurusmallahi ‘alaa maa razaqakum min bahiimatil-an’aami, fa ilaahukum ilaahun waahidun, falahuu aslimuu, wa bassyiril mukhbitiina”, artinya “dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan kurban, supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah di rezekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu adalah Tuhan Yang Satu (Allah SWT), karena itu berserah dirilah kepada Nya. Dan beri kabar gembiralah kepada orang-orang yang tunduk dan patuh (kepada Allah)”. 2 a. Sabda Rasulullah SAW; “ man wajada sa’ata li-an yudhah-hiya falam yudha-hiy fala yaqrubanna mushalla-na” (HR.Ahmad dan Ibnu Majah), artinya “ siapa yang telah memiliki kesanggupan untuk

84

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

Refleksi dari ibadah ini adalah lahirnya sikap pengorbanan yang tulus, penuh kerelaan dengan kesadaran yang tinggi sebagai pembuktian tanggung jawab makhluk terhadap khaliknya. MAKNAWI IBADAH adalah lahirnya watak positif sebagai hasil jalinan hubungan komunikatif dengan ma’bud (hablum minallah), membentuk sisi kejiwaan (psychological side-effect) yang terlihat jelas pada sikap;

• ikhlas (bersih), redha (siap sedia), shabar (tahan
uji), istiqamah (disiplin), qanaah (hemat), jihad (rajin dan berani), taat (setia), syukur nikmat (pandai berterima kasih), yang merupakan dasarberkurban dan tidak mau melaksanakan kurban, maka janganlah di hampiri tempat shalat kami”, untuk bahan penilitian lihat juga Nailul Authar V; 197-200, dan Al Majmu’ syarah Al Muhadzdzab VII; 382-386, dan Al Fath-hul Rabbani XIII; 57-60, dan Takmilul Fath-hul Qadir IX; 504-509, atau Subulus Salam 89-91. • Kurban, bermakna “persembahan kepada Allah Yang maha Kuasa” (KUBI,1996 hal 744), berkurban artinya mempersembahkan kurban kepada Yang maha Kuasa, sebagai suatu tuntutan ajaran agama terhadap seseorang yang mampu (lihat KBIK,1995, hal 802). • Korban adalah kata kurban yang telah berobah makna, maka berkorban berarti menantang derita bahkan kematian untuk sesuatu tujuan yang sangat mulia atau ditujukan kepada sesuatu yang sangat di cintai, dan “pengorbanan” adalah hal, cara, hasil dari pekerjaan mengorbankan sesuatu itu (KUBI,hal: 718). Lihat Cyril Glasse,”Ensiklopedia Islam”, Ed.Indonesia, Jakarta 1996, hal 331-332 NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

85

MAS’OED ABIDIN

dasar akhlaq mulia dan menjadi tugas pokok risalah keutusan Muhammad SAW 3. IBADAH mengeratkan hubungan mu’amalah,

atau hubungan sosial kemasyarakatan (social effect), yang terlihat nyata pada ;

• jalinan tugas-tugas kebersamaan (hablum minannaas), kesediaan meringankan beban orang lain, peduli dengan kaum fuqarak wal masakin, sedia memikul beban secara bersama,

• hidup

dengan

prinsip

ta’awunitas

(saling

menolong, bekerja sama dan sama-sama bekerja). Untuk itu, Allah menyediakan balasan (pahala) ibadah kurban ini berupa “hasanah pada setiap helai bulu ternak yang di korbankan” , dan merupakan amalan yang paling di senangi Allah di yaumunnahar (hari raya kurban), inilah puncak kegembiraan muttaqin (orang yang mawas diri)
4

.

3 Sabda Rasulullah SAW “Innama buits-tu li utammi makarimul akhlaq” artinya “ aku di utus untuk membentuk akhlaq mulia (bagi setiap manusia)” (Al Hadist). 4 * Firman Allah menyatakan; • “wal-budna ja’alnahaa lakum min sya’aaril^lahi lakum fiiha khairun, fa^dzkurus-mallahi ‘alaiha shawaaffa. Fa idza wajabat junuubuha fakuluu minha wa ath’imul^qaani’a wal mu’tarra. Kadzalika sakh-kharnaha lakum, la’allakum tasykuruna”, artinya,

86

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

Di simpulkan,

HIKMAH

ibadah

5

adalah

pembuktian yang nyata dari;

1. tauhidiyah (shalat, nusuk, hidup-mati), ditujukan
kepada Allah, dengan sikap prilaku hubbullah, menghidupkan sunnah al muwahhidin, dan

“Dan Kami telah jadikan untuk kamu unta-unta (hewan ternak) itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kabikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Dan kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta (fakir miskin). Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepadamu, mudah-mudahan kamu bersyukur”( QS.22:36). • Sabda Rasul; “maa lanaa minha?”, tanya sahabat, Rasulullah menjawab :”bi kulli sya’ratin hasanatun”, artinya “pada setiap helai bulu ternak yang di kurbankan itu, untukmu ada kebaikan” (HR.Ahmad dan Ibnu Majah). • Sabda Rasul; “maa ‘amal ibnu Adama yauman-nahri ‘amalan ahabba ila^llahi min hiraaqati damin, wa innahu lata’tii yaumal qiyamati bi qurunihaa wa adzlaafihaa wa asy’arihaa; wa inna^ddama layaqa’u minal^lahi bi makaanin qabla an yaqa’a ‘alaal-ardhi, fa thibuu bihi nafsan”, artinya “tidak ada satu amalan anak cucu Adam yang paling disenangi Allah di hari nahar (hari raya kurban) adalah menumpahkan darah menyembelih hewan kurban. Kurban itu akan mendatanginya di hari kiamat lengkap dengan tanduk, kuku dan kulit (bulunya). Darah dari hewan yang di kurbankan itu telah diletakkan Allah pada satu tempat (terpilih) sebelum tertumpah ke bumi, maka bahagiakanlah diri-diri (orang yang berkurban) itu” (HR.At Turmudzi dan Ibnu Majah). 5 Hikmah, adalah kemampuan mengetahui rahasia syari’at (hukum agama) dan mengenal faedah dari pengamalan perintah-perintah agama sebagai makhluk yang telah dijadikan oleh Khalik; • Firman Allah; “Ya Ayyuha^lazdiina amanuu quu anfusakum wa ahlikum naaran, wa quduhan^nasu wal hijarah, ‘alaihaa NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

87

MAS’OED ABIDIN

membudayakan

mawaddah

wa

rahmah

(hubungan kasih sayang sesama manusia) 6,

2. syukur atas nikmat Allah, berarti tunduk, cinta,
pengakuan, memuji, dan mempergunakan di jalan yang di redhai Allah
7

,

malaaikatun ghiladzun syadidun laa ya’shuna^llaha maa amarahum, wa yaf’aluuna maa yukmaruuna”, artinya “Hai orangorang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS,66, At- Tahrim,ayat 6). 6 QS.Al An’am, ayat 162. • Lihat, QS.(3) Ali Imran ayat 14 tentang “hubbusy-syahawat”, • QS(9), At-Taubah, 24, tentang orang fasik (sangat mencintai dunia) yang tidak akan mendapatkan pertolongan Allah dan akhirnya menuju kehancuran. • Hadist Rasul “laa yu’minu aahadukum hatta yakuuna^llahu wa rasuluhu ahabba ilaihi mimma siwaa humaa”, artinya “belum beriman seseorang diantara kamu hingga Allah dan Rasul lebih dia cintai dari apapun selain keduanya” (HR.Bukhari Muslim). • Sunnah al Muwahhidin, adalah contoh keikhlasan para pendahulu, lihat juga kisah Ibrahim QS.(37) Ash-Shaffat 100-111. 7 Al Ghazali, dalam Ihya’ VI:79, menyebutkan syukur itu memiliki tiga rukun, (1) ilmu (tauhidullah), (2) sikap jiwa (hal gembira menerima pemberian Allah, tanpa mengomel), (3) amal (kemampuan meningkatkan nikmat kearah yang lebih positif)

88

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

3. taqwa (mawas diri) kepada Allah dengan tafakkur
(berfikir) dan tadzakkur (berzikir) atas hidayahNya, dan ihsan
8

yaitu sikap peduli sesama.

Masaalah berat dalam kehidupan masyarakat modern adalah menurunnya kualitas manusia secara ijtima’iy (kemasyarakatan). MODERNISASI telah mendorong umat manusia menggapai tingkat kehidupan duniawi (materiil) dengan menghidangkan hidup nyata yang lebih baik dari sebelumnya. Percepatan ini dimungkinkan oleh

8 8 Ihsan, merasa di awasi oleh Allah, setiap gerak menjadi sangat terkendali, • “al ihsaan an ta’buda Allaha ka annaka tarahu, fa in lam takun tarahu fainnahu yaraaka”, (HR.Bukhari,Muslim). • Ihsan (perbuatan baik), untuk semua makhluk, disebutkan dalam sabda Rasul Allah SAW “Inna^llaha katabal-ihsan ‘alaa kulli syay-in, fa in qataltum fa ahsinul-qithlata, wa idza dzabahtum fa ahsinu^dzabha, wal-yuhidda ahadukum bisyafratuhu wal-yurih dzabihatahu” (HR.Muslim), yakni ada kewajiban jika membunuh secara ihsan (baik), menyembelih dengan baik (ihsan), dan tajamkan pisau, sempurnakan sembelihan. • Lihat juga QS.Qashash ayat 77, kewajiban ihsan di seluruh segi kehidupan duniawi; • QS.(3) Ali Imran 134-135, tentang ciri-ciri muhsinin; • QS.Al Baqarah (2) ayat 195, pada dasarnya menyuruh berinfaq dijalan Allah, peduli terhadap dhu’afak (orang lemah). NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

89

MAS’OED ABIDIN

penguasaan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kebodohan serta segala keterbelakangan yang mendera umat Islam di berbagai belahan dunia saat ini sangat wajar dipulangkan kepada umat Islam, dan menekankan supaya benar-benar menjadikan ajaran Allah sebagai sumber keberkatan kehidupannya. Sebaliknya, umat Islam itu maupun sebagai aparat pemerintahan maupun sebagai rakyat biasa, sangat wajar berusaha terus-menerus menimba ilmu pengetahuan yang ada dalam kitab suci AlAl Quran. Serta menjadikan AlAl Quran benar-benar sebagai pedoman hidup untuk memacu dan menciptakan kesejahteraan di dunia maupun di akhirat. Pernyataan Rasulullah SAW menyebutkan bahwa keberhasilan manusia hanya dengan ilmu, "Siapa yang inginkan dunia dia harus peroleh dengan ilmu, siapa yang inginkan akhirat juga harus direbut dengan ilmu, dan siapa yang inginkan keberhasilan kedua-duanya (dunia dan akhirat) maka keduanya harus direbut dengan ilmu" (Al Hadist). Sementara Firman Allah menegaskan, "Allah menganugerahkan al hikmah (ilmu, kefahaman mendalam tentang Alqur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang IA

90

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi Al Hikmah (ilmu) itu, maka ia benar- benar telah di anugerahi karunia (nikmat) yang banyak. Dan hanya orang- orang yang berakal- lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman- firman Allah)" (Al Baqarah, QS. 2 ayat 269). Kalaulah umat Islam masih saja "mendua", maksudnya tidak sepenuh hati menjadikan Alqur'an sebagai pedoman hidup, maka selama itu pulalah umat Islam akan ditimpa berbagai macam kegelisahan dengan berbagai bentuk penderitaan. Sebab, umat Islam yang menderita itu, tidak dapat dilepaskan dari keingkarannya pada kebenaran ayat-ayat Alqur'an. Oleh sebab itu, marilah kita benar-benar menjadikan Alqur'an sebagai pedoman hidup yang membawa kesejahteraan secara keseluruhan. Semua di lakukan mengharap redha Allah sebagai aplikasi terutama dari nilai AlAl Quran.

Sejak sangat

dari

permulaan lapangan

abad warna

lalu,

terasa

perkembangan

komunikasi

informasi kehidupan

mempengaruhi

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

91

MAS’OED ABIDIN

sosial-ekonomi, globalisasi.

apalagi

dalam

menatap

arus

Selain berkembang kearah yang positif, tidak jarang dampak negatif menyertai, tatkala kesiapan moral spiritual tidak di seiringkan dengan laju perkembangan material. Laju pertumbuhan materiil yang tidak di imbangi kesadaran akhlaq mulia (moralitas spiritual) akhirnya menyisakan “limbah budaya” yang berpengaruh pada penurunan kualitas manusia. Limbah budaya, tampak pada perilaku yang tidak normatif, seperti kehidupan materialistis tanpa mengindahkan batas-batas antara halal dan haram, antara boleh dan tidak. Memisahkan nilai-normatif dalam aktifitas hidup manusia, kualitas dengan mengabaikan pasti dominasi moral agama yang sebelumnya telah di jadikan ukuran manusiawi, akan mengundang bencana berupa krisis citra kemanusiaan. Hajat hidup tidak semata pemenuhan kebutuhan materiil, malah lebih oleh kepuasan spiritual yang melahirkan rasa aman, yang tenteram. Merebut rasa bahagia dan hidup materi semata dengan

menghalalkan serba cara, dapat menghapuskan

92

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

kecintaan

terhadap

sesama

manusia

dengan

hilangnya kerukunan dan kesantunan. Nilai-nilai halus kemanusiaan akan terusik dan terabaikan, manakala aktifitas kehidupan semata bersandar kepada penataan individualistik dengan anggapan bahwa kehidupan ukhrawi tidak kena mengena (tidak relevan) dengan kegiatan duniawi (paham sekularisme). Akibat lebih jauh, manusia leluasa merampas hak orang lain untuk "struggle for life". Muaranya adalah kehidupan akhirnya hedonistik, pergaulan berkembangnya tak bermoral hilangnya kriminalitas, (a-moral), sadisma,

mengundang

kepercayaan di tengah pergaulan hidup, kemudian menjelma menjadi krisis (dharra’) yang sulit di atasi. TANTANGAN HIDUP dan situasi krisis betapapun hanya sesama dapat teratasi luhur), oleh adanya tauhid, (rela kepedulian tawadhu’ berkurban), dalam wawasan taqarrub

(pengabdian

amanah (jujur beramal), tazkiyatun-nafsi (bersih bertindak), ta-allaful qulub (bersatu hati), tawakkal (berserah diri dengan usaha), sebagai akhlaq ibadah

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

93

MAS’OED ABIDIN

kepada Allah, yang merupakan refleksi dari ibadah kurban. Ingin mendapatkan sesuatu secara mudah tanpa harus mengerahkan potensi secara optimal akan mengundang kehidupan tanpa kewajaran, dapat menghilangkan hak esensial manusia. Disamping dapat pula menghapus atau penghormatan meluncurnya manusia nilai-nilai terhadap sesama,

kualitas manusia, dengan kehidupan liberalis yang menjangkiti sebahagian negeri maju, dan bergerak sangat cepat sebagai limbah budaya di tengah arus globalisasi. Kenyataan ini menyertai juga gerak ekonomi yang tidak lagi merujuk kepada kemashalahatan orang banyak, tetapi mengarah kepada penumpukan keuntungan pribadi semata.

Usaha antisipasi berupa saringan (filterisasi) terhadap perkembangan negatif yang membahayakan pertumbuhan generasi bangsa dimasa depan. Filterisasi yang di kehendaki adalah kebijakan memanfaatkan nilai- nilai luhur dengan upaya menerapkan nilai normatif di tengah kehidupan berperi 94 kemanusiaan yang

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

beradab,

dan

menitik (gotong

beratkan royong),

gerakan dengan

kebersamaan

memelihara nilai-nilai luhur adat (puncak-puncak kebudayaan) yang didasarkan atas perbuatan terpuji, serta panduan ajaran agama yang mengajarkan akhlak mulia (akhlaqul-karimah),

secara berkelanjutan (sustained). Suatu kenyataan bahwa pergolakan

kompetitif di era globalisasi akan di dominasi oleh pemilik ilmu pengetahuan dan teknologi yang berpeluang menguasai dunia abad mendatang. Penguasaan ilmu pengetahuan (hikmah) adalah bagian memotivasi akomodatif integral dari Pola Al Qurani (Muslim) yang secara tinggi berkemampuan manusia

mengantisipasi langkah zaman jauh ke depan. Pengembangan (diantaranya pengetahuan berisi untuk Pola tauhidiyah, mendukung Al Qurani

ukhuwwah, amaliyah
95

keakhiratan, jihadun fii sabilillah, cinta ilmu

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

MAS’OED ABIDIN

duniawi), jelaslah alternatif generasi paling bangsa

merupakan salah satu tepat ini. karena Dengan bermuatan demikian

hidayah dan dipercayai ummat terbanyak dari berpotensi besar menopang laju pembangunan bangsa dan negara tercinta, serta merupakan langkah positif kedepan guna menatap perubahan zaman.
Wa hamdulillahi Rabbil 'Alamien.

96

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

BADAGANG JO "MANGGALEH"

"Badagang" bagi orang Minang sudah dikenal sejak lama. Malah dianggap "identik dengan sebutan yang melekat kepada "Orang Minang" itu. Karena bagi orang Minang, kiranya "Badagang" adalah suatu kebaikan, suatu idaman dan bukan suatu celaan. Di Minangkabau kata-kata "dagang" menyimpan banyak makna. Terkandung fasafah hidup yang utuh dan hidup. Dagang di Minangkabau, tidak hanya berarti "bussiness" (bisnis) tok. Kata ini dapat mengandung makna "marantau", dengan tujuan yang pasti "mencari". Dapat dalam arti sempit, sekedar mencari bekal untuk hidup sementara, dapat berarti mencari "kehidupan" dalam arti yang luas. Jadi jelas tidak hanya terbatas kebiasaan menyangkut (menggaet) materi semata. Bussines is only bussiness, kurang melekat di Minangkabau.
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

97

MAS’OED ABIDIN

Di "Ranah" ini, anak dagang tidak dianggap orang buangan. Dia dihormati sebagaimana adanya seorang manusia. Memiliki hak-hak tertentu. Mereka tidak akan dihardik atau dipermalukan. Dibuatkan "surau" tersendiri, bahkan diberi nama "surau dagang". Penilaian orang Minang terhadap orang dagang, tidak terbatas kepada "negeri asal" si anak dagang, tetapi kepada "kebaikan perilakunya di ranah ini, serta hasil karya-karyanya yang diterima sebagai memikul "menantu" tugas-tugas atau bahkan dipercayakan Duduak didalam "negeri".

samo-randah, tagak samo tinggi. Penilaian ini, dikarenakan "orang Minang" suka balai", "badagang". "manggaleh". Badagang, Jual beli, juga berarti "berdagang" dalam arti yang sering dipakai ditangah tukar-menukar, dagang babelok, bertoko, dengan seluruh transaksi yang mencakup "rugi-laba". "MANGGALEH", suatu kosa-kata jarang tersua dalam penggunaan bahasa lain di Nusantara. Tepat dikatakan, yang tersua hanya dalam penggunaan istilah orang-Minang, atau merupakan saja yang kata-kata yang "khas". Dari mana asalnya, kapan mulai penggunaannya, apa-apa terkandung

98

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

dalam pesan kata ini, belum sempa diselidiki secara tuntas. Mungkin suatu ketika perlu dibahas, dalam sebuah forum "seminar" tentang "aspek manggaleh bagi orang Minang". Manggaleh didalam paham orang Minang, adalah memelihara sebuah amanah. Mungkin, asal katanya dari "galeh" atau gelas", yang diyakini sebagai satu produk "pecah-belah". Sebagai mana lazimnya, sebuah produk pecah-belah, sudah pasti "mau pecah" dan "dapat belah". Lebih jauh dapat berserakan, sudah hancur berantakan, maka tidak mungkin dipertautkan lagi. Karena itu, memegang gelas (manggaleh) perlu ada kiat, yakni "hati-hati" dan "selalu pandai memelihara". Maklumlah yang dibawa adalah "barang yang mudah pecah, mudah pula hancur", perlu sekali "ketelitian". Kepada "Orang Minang" yang akan memulai "badagang", dalam arti yang luas, dipesankan sebuah petuah dari orang tua-tua "HIYU BALI, BALANAK BALI, IKAN PANJAG BALI DAHULU, (dihulu)", yang kemudian dirangkaikan dengan sebuah pesan (falsafah hidup), "IBU CARI, DUNSANAK CARI, INDUAK SAMANG CARI DAHULU". Terkandung sebuah kaedah merantau bagi setiap putra Minang. Kalau 99

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

MAS’OED ABIDIN

dikampung halaman ditinggalkan ibu, maka ditanah perantauan ibupun harus dicari. Pelajarannya ialah, pandai menghormati "orang-tua" dimana saja. Selanjutnya "dunsanak" dengan pengertian "teman sejawat", teman sama besar "sepergaulan", bahkan "sesama tempat tugas", harus dianggap sebagai saudara sendiri". Makanya, telah menjadi kenyataan selama diperantauan itu, orang itu, orang Minang sering berkata "urang lain (terasa akrab) Labiah dari dunsanak kaitannya (dikampung dalam sendiri)". Kemudian yang ialah berikut, diperlukan "induak samang" yang erat istilah Bussiness-man, "teman-berusaha". Selama pesan-pesan ini kita anggap sebagai falsafah terlihat dengan "badagang" bahwa membawa Atau bagi orang Minang, fasilitas" lebih maka atau dahulu orang Minang "modal dengan tidak berdagang

"kartebeletje".

"menggadai" dan "menjual" harta pusaka, sebagai "modal akumulasi". Sama sekali tidak tersua hal seperti ini. Setidak-tidaknya semasa-doeloe. Orang Minang dalam "badagang" dengan arti "manggaleh", memulai dari yang kecil menuju besar. Bukan dari besar, dengan manggulung dan melahap

10 0

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

sesama

besar.

Kita

sangat

setuju

dengan

argumentasi AA.NAVIS (Singgalang, No. 6187 Tahun XXIII, Sabtu 3 Agustus 1991/ 22 Muharram 1412, sebagai pengungkapan "moral bisnis" dibawah judul wawancara "Orang Minang Tak Pandai Bisnis Besar" (?), dimana AA. Navis berkata "URANG MINANG ITU PAIBO". Caranya, ialah "SENTENG BABILAI, SINGKEK BA-ULEH, BATUKA BA-ANJAK, BARUBAH BASAPO". Prinsipnya, sama-sama bekerja mencapai tujuan, bekerja sma mengangkat beban, saling mau perbaikan jika terlihat satu kesilapan. Kemudian dilanjutkan dengan sesuatu yang lebih "esensial" JO (mendasar) KEKEK MAKO-NYO CARI kata orang JO NAN kini. "ANGGANG KA-PANTAI MAKAN, TABANG SINGKEK DICITO".

KADUO-NYO,

PANJANG SAMPAI

PA-ULEH-KAN,

Semua potensi yang ada, dalam hidup (badagang) digali dan dipertemukan, untuk mencapai suatu "kesuksesan" tanpa harus mengorbankan rasa persaudaraan, bahkan selalu menghargai "existensi" sebagaimana adanya. Karena itu, orang Minang" masih memakai kaedah-kaedah seperti "ADAIK pergaulan yang nyaman, HIDUIK TOLONG 101

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

MAS’OED ABIDIN

MANOLONG, ADAIK MATI JANGUAK MANJANGUAK, ADAIK LAI BARI MAMBARI, ADAIK TIDAK SALING MANYALANG (BA-SELANG-TENGGANG)". Dan bagaimanapun itu, TIKU? MANGKO Minang rensi", kemelut yang terjadi, dalam "sikap-paibo" NAK RANG API masih tercermin

peri-kehidupan bermasyarakat luas ("PAWAG BIDUAK PANDAI MANDAYUANG karenanya dengan dengan MANALUNGKUIK, BASILANG KAYU DALAM TUNGKU DISINAN KA-IDUIK", umum sendiri masyarakat (perlombaan lawan). Dikunci SABALUN INGEK-INGEK dengan NAN satu KA-PAI, perhatian : INGEK ABIH, NAN KANAI, KALIMEK SABALUN AGAK-AGAK secara maju

kaedah/falsafah ini, hanya mengenal "kompetisi" menjatuhkan semua seteru (apa itu kawan bahkan

KATINGGA !!! Jeli dan jelimet dengan perhitungan matang tentang manfaat sebuah tindakan, bagi yang badagang (manggaleh) maupun korong kampung yang ditinggalkan. Teranglah sudah, disini kita menemui suatu "mental-climate", suatu iklim (suasana) sikap jiwa yang indah, subur dan bersih. Manusia Minang tidak

10 2

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

hanya berpandangan sebagai "homo-ekonomicus" semata dengan mengabaikan "nilai-nilai budaya" yang diwarisinya. Bahkan tidak economics-animals. Namun, tidaklah pula bearti, bahwa "orang Minang" tertutup untuk menerima semua sistem yang dari luar, selama sistem itu baik, berguna dan menunjang pencapaian suatu keberhasilan, selama dapat dikaitkan kepada "pantas" dan "patut". Mereka "badagang" dengan sebuah kompas yang jarumnya di arahkan "DIMA BUMI DI-PIJAK, DI-SINAN LANGIK DI-JUNJUNG", artinya penyesuaian, situasional dan kondisional. Karena ini, mereka maju dan berkiprah disegala bidang. Sebuah mental-climate yang benar-benar indah, sesuai dengan "agama" dan adatnya. Syara' mamutuih, adat mangato. Badagang jo Manggaleh, bagi putra Minangkabau sejak dahulu, dimulai dengan apa yang ada. Yang ada itu, ialah "alam" (alam takambang jadi guru), dan potensi-manusiawi. Secara awal ditanamkan "percaya diri" untuk melaksanakan idea "self-help", kata para ekonomi dewasa ini. Mencukupkan dari apa yang ada, "tulang delapan karat" dan "moralitas" dengan panduan "Agama" serta "Adat". Adat dan Agama
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

berjalin 103

MAS’OED ABIDIN

berkelindan membentuk watak yang produktif , menuju "self-help" (menolong diri sendiri). Kemudian meningkat kepada "mutual-help", berkiprah saling membantu orang keliling. TA'AA WANUU'ALAL BIRRI (bantu-membantu, suatu division of jelas ta'awun labour ini mutual-help) menurut akan dalam keahlian berdampak pembagian pekerjaan (albirri/kebaikan). Membentuk masing-masing,

percepatan mutu yang dihasilkan. Kemudian akan menuju "take-off" dengan serba keberhasilan. Kerjasama yang terjalin rapi, dengan memfungsikan potensi yang riil, sungguh merupakan "kiat" keberhasilan manajemen. TUKANG NAN TIDAK MAMBUANG KAYU, NAN BUNGKUAK KA-SINGKA BAJAK, NAN LURUIH KA-TANGKAI SAPU, SA-TAMPOK KA-PAPAN TUAI, NAN KETEK PA-PASAK SUNTIANG". Konklusinya, tidak ada yang terbuang, semua dapat dimanfaatkan sesuai kematangan dan kemampuan masing-masing, akan mengangkat "orang Minang" nan-badagang dari self-help kepada mutual-help itu. Manajemen seperti ini, terlihat nyata dalam usaha "lapau nasi" yang sangat digandrungi oleh pedagang Minang. Sejak dari "dapur", hingga ke lemari pajangan, sampai "kemeja hidangan" yang terakhir

10 4

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

"penerimaan Seluruhnya

uang" berjalan secara

(banking/accounting). otomatis, teratur,

sama-sama bekerja (sama memmemilikii kewajiban), dan dengan kerjasama itu, akhirnya kelak berhak mendapatkan pembagian, sesuai dengan modalnya masing-masing (tenaga, waktu dan uang). Tanpa exploitasi, tapi mutual-help dalam arti hakiki. Bentuk inilah yang secara akademis, kelak berkembang , dan dikembangkan menjadi satu bentuk "koperasi", dan sejarah Indonesia mencatat, mungkin bukan secara kebetulan, kalau Bapak Koperasi Indonesia adalah dengan putra Minangkabau, Kiat ideal MOHAMMAD sesuai HATTA sekali (allahuyarham). bentuk mutual-help,

perekonomian

menentang

kapitalis (materi untuk materi), yang jelas dinegara kita ini sikap menumpuk modal hanya pada satu tangan dan untuk kemakmuran pihak konglomerat saja, pasti tidak akan diterima keberadaannya. Ada dua "pemeo" yang paling menyakitkan hati orang Minang, yaitu kalau dia dituduh tanpa badagang-cino". Sebuah usaha

memperhatikan kaedah-kaedah, terbenam dalam usaha mencari hidup dan berebut hidup, dan tidak ada kampung tempat pulang. Terbenam 105

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

MAS’OED ABIDIN

diperantauan, tidak ingat lagi anak kemenakan, tidak pernah berbuat baik ke-korong kampung, tidak pula mau tahu dengan lingkungan. Untuk mengantisipasi pemeo ini, dipesankan melalui petuah "HUJAN AMEH DI NAGARI URANG, HUJAN BATU DIP-NAGARI AWAK, KAMPUANG HALAMAN DIKANA JUO". Karena itu, materi hasil "badagang" tidaklah untuk kesejahteraan sendiri, pemilik modal, tetapi harus dinikmati juga oleh "orang kampung" nan jauah dimato. Pemeo kedua, yang menyakitkan itu, ialah "di-pagaleh-kan urang". Yakni kehilangan jati-diri, yang dapat berakibat lebih fatal terhadap orang Minang itu sendiri (nan-di-pagalehkan urang), dapat berbuat itu. Jelaslah sudah, bahwa "badagang" jo "manggaleh" bagi orang Minang, memiliki falsafah mendalam, dan berurat berakar baginya dalam memilih secara teliti penerapan kiat manajemen yang tengah berkembang. seseorang adalah yang Karena akhir dari atau yaitu keberhasilan "manggaleh" "badagang" help", "menjual kampung halaman" untuk dimasa kepentingan orang lain (penjajah/kolonial)

"selfess

10 6

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

kesediaannya

membantu

orang

lain

(kampung

halaman dan karib kerabat) dengan cara ikhlas (ihsan) tanpa memerlukan balasan apa-apa. Atau, sebagai kata orang "INDAK BA-UDANG DIBALIK BATU", itulah selfess help, menurut istilabh orang berilmu. Sesuai dengan Firman Allah, "WA AHSIN KAMAA AHSANALLAHU ILAIKA WALAA TABHIL FASAA DA FIL ARDHI", artinya "Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah (yang menciptakan manusia) telah memberikan segala bentuk kebaikan kepada kamu, tanpa (yakni berbuat selfless-help, membantu mengharapkan

balasan). Dan Ingatlah, jangan sekali-kali kamu menjadi penabur bencana dipermukaan bumi; (Q.S. XXVIII Al-Qashash, ayat 77). Sekarang mampu-kah orang Minang masakini mengulang sejarah, mengelola Bisnis Besar, seperti masa lalu??? Jawabnya, tidaklah mustahil, kalau ada kemauan dan memiliki kesempatan. "MAMUTIAH CANDO RIAK DANAU, TAMPAK NAN DARI MUKO-MUKO, BATAHUN-TAHUN DIDALAM LUNAO, NAMUN NAN INTAN BACAYO JUO". Alhamdulillah, orang Minang sampai kini, 107

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

MAS’OED ABIDIN

masih memiliki "piala" yang belum berpindah ke tangan "pandai orang lain, yaitu orang BAKARIH Minang masih hidup", RAJO "ALAH SAMPORONO, BASARAB

BINGKISAN RUMIK".

MAJO-PAIK,

TUAH

BAKARANO, DEK PANDAI BATENGGANG DI NAN Kuncinya, barangkali pertajamlah observasi, tingkatkan daya-fikir, dinamiskan daya-gerak, perhalus raso pareso, perkembang daya-cipta, dan bangkitlah kembali kemauan. Insya Allah, "Innallaha ma'ana", Allah akan selalu menyertai kita. Amin.

MEKARKAN SENYUM
10 8
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

-- MENYAMBUT HARI JADI KOTA PADANG --

7 Agustus 1969, tigaratus duapuluh dua tahun silam, Padang dibanjiri darah, Loji Belanda, benteng kolonial di mulut muaro Padang diserang. Orang Padang tidak menerima kehadiran penjajah Belanda menginjakkan kakinya ditanah ini. Dilihat dari segi persenjataan, jelas Belanda diwaktu itu lebih kuat, karena memang sengaja tentang ke Nusantara ini untuk suatu maksud yang pasti, "menjajah" negeri ini. Pemuka masyarakat yang arif, mengerti bahwa hidup dibawah satu sistem penjajahan, adalah menyakitkan. Hilangnya kemerdekaan lebih pahit dari hilangnya nyawa. Walaupun perang ini tidak kunjung dimenangkan selama lebih dari 275 tahun sesudah itu, akan tetapi "genderang perang" telah ditabuh. Keris dan pedang, telah berbicara menyambut kehadiran penjajah di pantai Padang, yang selama ini tenang mengalun. Sejak itu "ombak Purus" beralun keras menghempas pantai, sampai derunya dirasakan ketengah jantung Minangkabau, ke darat "Luhak Nan Tigo", yang akhir kelak terjajaki
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

109

MAS’OED ABIDIN

juga oleh kaki penjajah (kolonial Belanda). Akan tetapi, peristiwa perlawanan orang Padang itu, sudah cukup luasnya daerah kekuasaan jajahannya. Setapak demi setapak seperti terungkap dalam bahasa "seperti belanda meminta tanah". Namun, kekuasaan hinggag 160 tahun sesudah itu, kolonial Belanda tetap digugat oleh

patriot-patriot bangsa, seperti oleh Tuanku Nan Renceh dari Kamang, Tuanku Imam Bonjol dari Malampah, hingga merebak kepada Perang Paderi, yang meminta tidak sedikit nyawa serdadu Belanda yang berguguran. Sayang bukti-nyatanya sekarang, sudah hampir tiada, karena lajunya pembangunan. Tidak ada lagi "kuburan Belanda" berbekas hingga kini. Karena pada areal kuburan Belanda itu, telah terbangunkan "Gedung "Terminal Lintas tiga" Andalas", Kantor atau Kanwil megah berlantai

Depdikbud Propinsi Sumatera Barat. Itu juga terjadi, nun jauh disana diseberang Pantai seorang Padang, Kapitan asli" dipantai Pulau Sipora, dimana oleh tidak Kompenie Mentawai, telah justru dibunuh karena

"penduduk

berkenan menerima kehadiran mereka. Ditempat itu, kini hanya ditemui sebuah bangunan Sekolah Dasar

11 0

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

Sipora. Tuanku limopuluah, Miskin di Pandai Sikek, Tuanku Sumanik di Tanah Datar, Tuanku Piobang di Luhak memperkuat barisan menentang kehadiran "penjajah" di Ranah Minang ini. Yang kelak tercatat dalam sejarah. Bahwa salah seorng pewaris keturunan Pagaruyung, yakni Sultan Alam Begagarsyah terpaksa dibuang oleh penjajah ke Betawi, karena dianggap non-cooperative dengan penjajah kolonial dimasanya. Pandam pekuburannya menjadi saksi bisu bahwa "orng Minang" konsekwen menentang penjajah dari bumi pertiwi. Jasadnya terkubur di Tanah Kusir, Betawi. Hari bersejarah itu, (7 Agustus 1969), tetap diingat sebagai "hari jadi" Kota Padang, Kota tercinta Sejati. Di dalam alam pembangunan "orde baru" ini, Kota Padang telah membangun diri. Nafas warga kota berdenyut "membangun" dan "menata" kotanya tercinta. Tidak hanya sebagai "pusat perdagangan" dan pintu masuk Sumatera Barat dari laut atau udara, dengan Taluak Bayua dan Tabiang. Malah berkembang menjadi "kawasan Industri" dan "kawasan pendidikan".
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

111

MAS’OED ABIDIN

Kemajuan yang diperoleh saat ini, merupaakn salah satu jawaban terhadap "citra" yang dipercikkan oleh pendahulu, sejak 322 tahun silam. Padang akan maju dengan usaha warganya sendiri, tidak oleh kekuatan dari luar. Dikala warganya saling berlomba, mengisi pembangunan di bidang "fisik" dan "mental" sesuai tuntutan zaman, baik itu secara sendiri (individu) maupun berwawasan lingkungan, maka penghargaan demi penghargaan telah diraih. Sedari pengakuan sebagai kota terbersih dengan "adipura", hingga terhadap Indonesia. itu. Tiga anugerah kenegaraan warga yang tertinggi yaitu satu lalu, keberhasilan Diyakini, ratus dua kotanya, memelihara tahun yang

"ADIPURA KENCANA" dari Kepala Negara Republik bahwa puluh "keberhasilan" lebih sulit dari merebut keberhasilan pejuang-pejuang patriot bangsa telah merebutnya dengan ujung keris, ujung tombak, dan bahkan nyawa sendiri. Kemudian, pembangunan" telah Mereka berhasil memulai, dan kemudian dilanjutkan oleh generasi penerus. "pahlawan-pahlawan mengisinya dengan ujung

pacul, ujung linggis, ujung sapu dan ujung pena.

11 2

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

AKHLAQ TERPUJI

Hingga secara fisik, yang ditanam mudah berubah. Untuk memeliharanya, amat diperlukan "ujung bibir" dan "ujung lidah". Ujung bibir, ialah "senyum cerah", yang dewasa ini terasa sudah sangat mahal harganya di Padang Kota Tercinta, ditengah pasar raya, agaknya sudah sulit mendapatkan senyum yang cerah itu, karena dikantongnya ada kekuasaan uang. Sering terjadi, sang suami pulang manis, kantor dan ibu dan tidak lagi membawa dan senyum dirumah bawahan

menunggu tanpa senyum sama sekali. Tiada senyum merekah antara atasan dikantor-kantor, karena hubungan komunikatif tidak lagi beredar "insaniyah", tetapi berdasarkan peralatan yang serba "sophisticated" (canggih). Demikian juga terjadi antara guru dan murid, antara kedua orang tua dan anak, malah antara "imam" dan "makmum". Seolah-olah istilah yang dikenal hanya "perintah", lain tidak. Bukanlah, Nabi Muhammad (Shallallahu'alaihi wa sallam), telah mengingatkan kita, bahwa "TABASSUMUKA LIWAJHI AKHIIKA LAKA SHADAQATUN", yang maknanya, "SENYUM MANIS MENGHIAS WAJAHMU, YANG ENGKAU PERLIHATKAN KEPADA TEMANMU-SUNGGUH ITU BAGIMU ADALAH
NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI

113

MAS’OED ABIDIN

SHADAQAH". Murahkanlah senyum sesama warga kota, hingga hidup ini jadi bermakna. Demikian bimbingan hadist Nabi. Selanjutnya, "ujung lidah" adalah "ucapan yang baik". Nabi Muhammad SAW, mengingatkan bahwa "MAN KAANA YU'MINU BILLAHI WAL YAUMIL AAKHIR, FAL YAQUL KHAIRAN AW LIYASHMUTH". Artinya, "SIAPA YANG PERCAYA KEPADA ALLAH DAN HARI AKHIRAT, HENDAKLAH DIA BERKATA YANG BAIK-BAIK (MENYENANGKAN LAWAN BICARA) ATAU (KALAU TIDAK SANGGUP), SEBAIKNYA DIAM SAJA" (Al Hadist). Pepatah Minang melestarikannya dibawah ungkapan kata, "MULUIK MANIH KUCINDAN MURAH, PANDAI BAGAUL SAMO GADANG" Mulut yang manis dalam bertegur sapa, senyum yang selalu menghias bibir, keakraban sesama teman sejawat, adalah kunci keberhasilan pemeliharaan "Adipura Kencana". Dengan kedua sikap ini, kita sambut "hari jadi" Padang Kota Tercinta Sejati. Dengan arti "Sejahtera, Aman, Tertib dan indah" yang sejati. Mudah-mudahan.

11 4

NUANSA KEHIDUPAN ISLAMI