Rencana Besar Pengembangan Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI

Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI

Analisis Sistem
SDM, Dana Organ, Lab
Survei skala nasional Studi Kohort Riset terobosan

Input

Proses
Iklim ilmiah: PIB Pelatihan Seminar

Output

Outcome
HAKI Patent Jurnal ilmiah

SDM Balitbangkes
• Peneliti:  >50% peneliti S3  Profesor Riset >>  Peneliti minimal S2  PhD by research (kerjasama dengan UI, UGM, UNAIR dan PT lainnya)  S1 didorong ke S2 • Struktural: Eselon 4 minimal S2 • Litkayasa: Pengelola peralatan, semua peneliti bisa akses

SDM Peneliti Balitbangkes
• • • • • • • 4 27 43 176 53 132 182 Profesor Riset S3 / Doktor Sedang S3 S2 / Master Sedang S2 S1 / Sarjana S1 (PNS / CPNS)

Dana
• DIPA, diusahakan naik • Donor agencies dan kerjasama dengan luar negeri (USAID, Ausaid, JICA, EU, Unicef, UNFPA, WHO, GTZ, dll) • Advokasi, peningkatan dana daerah untuk Balitbangda/penelitian lokal • PNBP penelitian & pelatihan • Patent, bila sudah ada royalti  untuk riset

Organisasi
• Loka (eselon 4)  Balai (eselon 3). Tahun
ini 2 loka dinaikkan menjadi Balai • Usulan Balai Baru:
– Balai Gizi & Makanan – Balai Alat Kesehatan

• Kedudukan Balai:
– Bagian Balitbangkes untuk survei nasional – “Center of excellent” suatu topik tertentu

• Jejaring dengan PT, Balitbangda dan Lembaga Penelitian lainnya

Organisasi
Perlu ditambah UPF: • UPF Laboratorium, mengkoordinir beberapa lab yang terpisah • UPF Manajemen Data, mengelola data penelitian (SKRT, risksdas, rifas, rikus, penelitian di tiap satker) • UPF Penerbitan, diluar Badan tetapi „membawa‟ nama Balitbangkes  Koperasi Balitbangkes?

Laboratorium
• BSL-3: fasilitas yang bisa dimanfaatkan secara bersama, forum BSL-3 • Penguatan lab satker: alat dilengkapi, pemeliharaan dicukupi, kalibrasi secara rutin, akreditasi/sertifikasi • Jejaring lab PINERE, penguatan surveilans berbasis lab  web-based surveilans • Semua loka/balai, ikut dalam jejaring lab PINERE

Iklim ilmiah
• Pertemuan ilmiah berkala, diusahakan tiap hari Rabu (di Badan), Kamis (di Pusat) • Jurnal Balitbangkes: – Tiap Pusat/Babe menerbitkan jurnal – Jurnal bahasa Inggris sekarang 1 (HSJI), sebaiknya tiap Pusat/Babe punya jurnal bahasa Inggris – Jurnal bahasa Indonesia, diperbanyak sesuai substansi – Semua jurnal  akreditasi

Iklim ilmiah
• Menyelenggarakan pelatihan “scientific writing”: untuk jurnal bhs. Inggris dan Indon • Tiap penelitian selesai: – Laporan akhir penelitian (bukan SPJ) – Draft tulisan untuk jurnal (langsung dimuat atau ikut “scientific writing” dulu) – Set database  dikelola oleh UPF Manajemen Data • Menerapkan “English day” • Mengembangkan “free tobacco office”

Pelatihan
• Peneliti: – Basic training for researcher – Intermediate training for researcher – Advanced training  spesifik • Struktural/administrasi  pelatihan manajemen dan keuangan • Litkayasa  pelatihan teknis dan biosafety & biosecurity

Seminar
• Menjadi penyaji pada seminar internasional • Balitbangkes menyelenggarakan seminar internasional, minimal 1 kali/tahun • Pusat menyelenggarakan simnas sesuai bidangnya Tahun 2011: • Reg. Meeting on Traditional Medicine di Solo (awal Nop) • Simnas 7  international conference di Bali, bekerjasama dengan IAKMI, dll (akhir Nop)

Optimalisasi Peran Organisasi Non Struktural dalam Balitbangkes
• Komisi Etik: mencakup juga metodologi • PPI: memberdayakan peneliti  mampu membuat protokol penelitian yang bagus. • Komisi Ilmiah: Membuat agenda & roadmap penelitian Merapikan protokol penelitian lintas puslit Memprogramkan pemuatan tulisan di jurnal internasional Mengembangkan iklim ilmiah

Optimalisasi Peran Organisasi Non Struktural dalam Balitbangkes
Kelompok peneliti: • Sesuai kepakaran • Sesuai bidang • Sesuai minat (KPS: kelompok peneliti seminat: Kespro, malaria, hipertensi, dst) HKI (hak kekayaan intelektual): • Wajib dilibatkan dalam pembahasan proposal  melihat kemungkinan HKI • HKI harus segera diurus

Ruang lingkup penelitian
• Riset skala nasional
– Riskesdas berbasis komunitas – Riskesdas fasilitas – Riskesdas khusus

• Riset terobosan  produk:
– Diagnostik, vaksin, obat – Model intervensi – Formula – Produk huku: legislasi – Kohort  standar dan model intervensi

Riskesdas
1. Riskesdas berbasis komunitas (Rikom):  Peta masalah kesehatan antar kab/kota  IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masy.) 2. Riskesdas berbasis fasilitas (Rifas):  Peta kinerja semua Rumah Sakit & Puskesmas  IKRS (Indeks Kinerja Rumah Sakit)  IK Puskesmas (Indeks Kinerja Puskesmas) 3. Riskesdas khusus (Rikus):  Peta pencemaran yang berdampak kesehatan  IPPI (Indeks Penanggulangan Pencemaran Industri)  Peta sosbud yang berdampak kesehatan

Riskesdas
Ke 3 Riskesdas dilakukan secara bergantian, sehingga tiap tahun ada survei skala besar. • Tiap Riskesdas mempunyai kegiatan: 1. Persiapan (setahun sebelumnya) 2. Pelaksanaan dan pelaporan 3. Analisis lanjut (tahun sesudahnya) •

Survei Berkala
Kegiatan 2010 2011 2012 2013 2014

Persiapan

Rifas

Rikus
Rifas Rikom

Rikom
Rikus Rifas

Rifas
Rikom Rikus

Rikus
Rifas Rikom

Pelaksanaan dan Rikom Laporan Analisis Lanjut

Keterangan: Rikom: Riskesdas berbasis komunitas Rifas : Riskesdas berbasis fasilitas Rikus : Riskesdas khusus (pencemaran & sosbud thd kes)

Studi Kohort
• Dilakukan untuk menentukan besarnya insidens penyakit. • Bisa digunakan untuk menghasilkan nilai standar yang pas untuk Indonesia • Bisa untuk menentukan keeratan hubungan kasualitas antara pajanan dan penyakit • Dilakukan untuk masalah kesehatan / penyakit menahun yg prevalensinya tinggi. • Cocok untuk tumbuh-kembang anak, penyakit tidak menular (hipertensi, diabetes melitus, sindroma metabolik lainnya), dll.

Studi Kohort
• Sekali diputuskan, harus diikuti dalam jangka waktu yang lama, misalnya 10 – 20 tahun. Perlu komitmen kuat dan konsisten • Bisa dikembangkan model intervensi yang sekaligus diuji di lapangan, misalnya melalui field experiment Produknya: • Nilai standar asli Indonesia • Model intervensi berbagai penyakit

Studi kohort
• Mulai tahun 2011 • Ada 2 jenis studi kohort: – Studi kohort tumbuh kembang anak (dari janin hingga anak) – Studi kohort sindroma metabolik  penyakit degeneratif • Balitbangkes memelihara kerangka kohort-nya, siapapun bisa mengisi substansi studi kohort

8 Fokus Kementerian Kesehatan
1.Peningkatan kesehatan ibu, bayi dan balita; 2.Perbaikan status gizi masyarakat; 3.Pengendalian penyakit menular serta penyakit tidak menular, diikuti penyehatan lingkungan; 4.Pemenuhan, pengembangan dan pemberdayaan SDM kesehatan;

8 Fokus Kementerian Kesehatan
5. Peningkatan ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan, keamanan, mutu & penggunaan obat serta pengawasan obat dan makanan; 6. Pengembangan sistem Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas); 7. Pemberdayaan masy. & penanggulangan bencana dan krisis kesehatan; 8. Peningkatan pelayanan kesehatan primer, sekunder dan tersier.

P1

P2

P3

P4

FOKUS I
Peningkatan kesehatan ibu, bayi dan balita Menurunkan AKI & AKB

P5

P6

P7

P8

Terobosan Kemenkes
1. Jaminan Kesehatan. 2. Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). 3. Pemenuhan SDM Kesehatan, khususnya di DTPK. 4. Penanganan Daerah Bermasalah Kesehatan. 5. Obat & alkes di seluruh sarana kesehatan. 6. Reformasi Birokrasi Kesehatan. 7. World Class Hospital.

P1

P2

P3

P4

Terobosan 1
Jaminan Kesehatan sebagai bagian dari SJSN Universal Coverage

P5

P6

P7

P8

Fulcrum, Agenda Riset, Roadmap
• Fulcrum: menampilkan keterkaitan antara topik besar penelitian dengan sub-topik penelitian yang lebih rinci • Agenda riset: menampilkan jenis kegiatan riset dan waktu pelaksanaannya, dan bisa berkala (Riskesdas, Rifas, Rikus) • Roadmap: merupakan agenda riset khusus untuk produk terobosan (misalnya vaksin Dengue, obat malaria, dll)

Roadmap tiap fokus/terobosan
• Membentuk working group per fokus/ terobosan, sub-working group pada tiap penyakit/masalah • Memfasilitasi working group dan subworking group untuk merumuskan roadmap Indonesia (bukan roadmap Kemenkes) • Memfasilitasi jejaring penelitian menerapkan penelitian sesuai roadmap • Melakukan koordinasi agar penelitian dilaksanakan sesuai roadmap

Penyakit Menular
Tim pakar sudah dikumpulkan, kesepakatan membentuk 7 “working group”: • Malaria  vaksin & obat? • Avian Influenza / ILI  vaksin? • Dengue / Demam berdarah  vaksin? • AIDS / HIV  vaksin & obat? • Tuberkulosis  diagnostik & vaksin? • Rabies  vaksin? • Diare (Rotavirus)  vaksin?

DHF (public health)
• Pemetaan vektor seluruh Indonesia • Model “integrated vector management” antar wilayah, sampai tuntas, layak terap • Pengembangan model lain sebagai perbaikan 3M plus • Clinical trial obat peningkatan daya tahan tubuh (sudah ada tawaran untuk melakukan hal ini dari Indofarma)

Penyakit tidak menular
• Kohort sebagai wahana pengembangan intervensi • Modelnya mengurangi faktor risiko • Perkembangan iptek  dikembangkan media interaktif mengurangi risiko penyakit • PJK  merokok, hiperkolesterolemia, pola makan, aktivitas fisik, dll • Bila tidak merokok, risiko PJK turun sekian %, ditambah aktivitas fisik, turun sekian %

Tanaman Obat dan Obat Tradisional
• Maping data dan kualitas tanaman obat • Identifikasi sampai level molekuler (penting untuk kepemilikan) • Teliti khasiatnya (bahan aktif maupun ramuannya) • Saintifikasi jamu: mulai dari hipertensi, hiperglikemia, hiperkolesterolemia, hiperurisemia , lalu dilanjutkan secara bertahap • Dokter yang dilatih SJ meningkat secara bertahap

RS dengan yan alternative medicine
1. RS Persahabatan (Herbal) 2. RS Kanker Dharmais (Herbal, Akupuntur) 3. RSUD Dr Soetomo (Herbal , Akupunktur) 4. RSUD Dr Saiful Anwar Malang (Herbal, Akupunktur) 5. RSUP Dr Sardjito Yogyakarta (Herbal) 6. RSUP Sanglah Denpasar (Herbal dan Hiperbarik) 7. RS dr Pirngadi Medan (Herbal, Akupunktur) 8. RSO Prof Dr. R Soeharso Solo (Herbal, Akupuntur) 9. RSUP Dr Suraji Tirtonegoro Klaten (Herbal, Akupunktur) 10. RSUP dr. Wahidin Sudiro Husodo Makassar (Hiperbarik) 11. RS TNI AL Mintoharjo Jakarta (Hiperbarik) 12. RSUP Prof Dr.RD Kandou (Hiperbarik)

Jalur Saintifikasi Jamu
Tanaman Obat Zat aktif Obat Modern

Yankes Modern
Yankes komplementer

Jamu (dokter)

Saintifikasi Jamu Permenkes: lityan Rumah Sakit

Jamu tersaintifikasi

Jamu (non-dokter)

Yankes Tradisional

Sosial budaya -- kesehatan
• Tahun 2012 pemetaan kaitan sosbud – kesehatan secara nasional • Pilih yang berdampak negatif pada kesmas • Pilih salah satu, dilakukan systematic behavioral change program (sosiolog, anthropolog, pemberdayaan masyarakat), dibuat tahapan per tahun • Pilih satu lagi yang lain, rencanakan perubahan secara sistimatik

Batasan DBKBK
• Daerah Bermasalah Kesehatan Berat (DBKB) adalah daerah kabupaten atau kota yang mempunyai nilai IPKM < (rerata IPKM – 1 SD) masing2 kelompok (kabupaten atau kota). Sebagian besar pada kab/kota miskin dan ada juga pada kab/kota non-miskin • Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK) adalah daerah kabupaten atau kota yang nilai IPKM > DBKB, tetapi < rerata IPKM dan pendataan sosial ekonomi (PSE) > rerata untuk masing2 kelompok kabupaten dan kota

Batasan Ko-BK/B
Kab/Kota Kota IPKM > Rerata Rerata < IPKM < (Rerata – 1SD) IPKM < (Rerata – 1SD) PSE < Rerata < 8,66 26 PSE > Rerata > 8,66 22 Total

48

22
4

6
11

28
15

Subtotal

52

39

91

Batasan Ka-BK/B
Kab/Kota Kabupaten IPKM > Rerata Rerata < IPKM < (Rerata – 1SD) IPKM < (Rerata – 1SD) Subtotal PSE < Rerata < 21,01 108 PSE > Rerata > 21,01 57 165 Total

75
12 195

57
40 154

132
52 349

Batasan Ka-BK/B
Kab/Kota Kabupaten IPKM > Rerata Rerata < IPKM < (Rerata – 1SD) IPKM < (Rerata – 1SD) Subtotal PSE < Rerata < 21,01 PSE > Rerata > 21,01 Total

F

E

165

D
B
195

C
A
154

132
52 349

Kategorisasi Ka/Ko-DBK/B
Kategorisasi DBK/B Kabupaten BKB Miskin (A) Kabupaten BKB Non-Miskin (B) Kabupaten BK (C) Jumlah KaBK/B Kota BKB Miskin (A) Kota BKB Non-Miskin (B) Kota BK (C) Jumlah KoBK/B Jumlah KaKoBK/B Jumlah 40 12 57 109 11 4 6 21 130

PDBK
• PDBK, merupakan pengembangan, jadi dikoordinir oleh Badan Litbang • Polanya adalah pendampingan intensif, pendamping memberikan alternatif solusi, pemda menentukan pilihan solusi • Bentuknya studi operasional, setiap saat bisa dilakukan modifikasi intervensi  pendamping eselon 1/2 unsur program, pakar & peneliti • Tiap kab/kota ada seorang peneliti (PJT Kab/Kota) yang juga bertugas mendokumentasikan PDBK di kab/kota yang bersangkutan

Keberhasilan PDBK
• Proses pendampingan dilakukan 3-5 tahun • Indikator keberhasilan dilihat salah satunya dengan perubahan IPKM • Bila IPKM meningkat, pembangunan kesehatan berhasil. • IPKM menurun berarti kurang berhasil. Harus dilakukan perbaikan kebijakan dan program • Untuk memacu pembangunan kesehatan, akan disediakan IPKM Award

Badan Litbang Kesehatan dan percaturan internasional
1. Menyelenggarakan “international conference” (Simnas  internasional) 2. Meyelenggarakan “international training” (Riskesdas, Rifas, BOK, dll) 3. Menerbitkan tulisan ilmiah di jurnal internasional 4. Menerbitkan jurnal internasional 5. Setiap unit eselon 2 Balitbangkes menjadi Collaborating Center WHO (WHO CC)

Outcome
HAKI:  copy right • IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat) • Software “Perhitungan Kebutuhan SDM Berdasarkan SPM” • IKRS (Indeks Kinerja Rumah Sakit) • IKPusk (Indeks Kinerja Puskesmas) • IPPI (Indeks Penanganan Pencemaran Industri)

Outcome
Patent: • Galaktomanan • Rumput laut • Bioyodium • Alat deteksi sisa pestisida dalam ruangan • Ramuan buah sirih sebagai anti malaria • Buah krangean

Outcome
Patent: • Probiotik dari susu kedelai • Alat untuk mengetahui daya repelensi obat terhadap serangga • Formulasi makanan untuk balita di daerah endemis GAKI • Sequensing DNA virus dengue subtype Dens 1  kandidat vaksin / diagnostik kit

You never walk alone

Terima kasih

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful