PART 1 NENEK SIHIR NAIK SAPU TERBANG

Banyak orang tua melarang anaknya bermain bersamanya. Bahkan, mereka menyebut Lauren kecil terkena kutukan. Suasana pantai sangat lengang. Hanya terdengar embusan angin sepoi-sepoi menerpa tubuh. Jiwa raga saya menyatu dengan alam. Hening, terasa damai. Hanya dalam hitungan detik, kedamaian yang saya rasakan itu tiba-tiba hancur berantakan, berhamburan. Sebuah bola api berwarna merah menyala muncul dari laut mendekati saya. Saya diam terpaku, mematung, tak sanggup lari. Di depan mata saya, bola api itu lantas meledak dengan dahsyat! Banyak sekali mayat di sekitar saya! Oh, Tuhan. akan ada bom... Bali! Seperti itulah penglihatan (vision) yang muncul dalam pikiran saya. Prosesnya sulit diduga, datang begitu saja. Begitu tiba-tiba, saat saya sedang melakukan meditasi di Pantai Kuta. Entah kenapa, saya dilanda perasaan yang begitu kuat bahwa akan ada sesuatu yang dahsyat menimpa Pulau Dewata. Empat hari setelah saya pulang ke Jakarta, terdengar berita menggemparkan itu. Sayangnya, tak banyak yang percaya ketika sebelumnya saya sempat memberi pernyataan melalui sebuah stasiun televisi di sana agar semua pihak berhati-hati. Mereka malah mengatakan, sebagai Pulau Dewata, Bali dilindungi banyak dewa-dewi. Jadi, tak usah cemas. Ya, wajar saja jika tak semua orang bisa menerima dan memahami vision saya itu. Bahkan, sejak kecil saya sudah tak asing lagi dengan perlakuan serta pandangan curiga orang-orang di sekitar. Banyak orang tua yang melarang anaknya berteman dengan saya. Mereka menganggap saya gadis kecil yang aneh. Ada juga yang tega mengatakan bahwa saya terkena kutukan, bahkan menjuluki saya "nenek sihir yang naik sapu terbang"! Padahal, apa yang harus saya lakukan? Menampiknya pun saya tak bisa. Karena, saat kejadian-kejadian aneh itu berlangsung, saya sendiri masih terlampau kecil untuk mengerti. Saya tidak menyadari bahwa sesungguhnya saya memiliki ’bakat’ untuk melihat masa depan, yang di kemudian hari sering disebut sebagai kekuatan supranatural.
Gadis Sebatang Kara di Tengah Perang

Lahir di Negeri Kincir Angin, di sebuah kota kecil Eindhoven, 23 Januari 1932, kisah hidup saya sedari kecil mungkin terdengar menyedihkan. Maklum saja, di usia tiga bulan saya sudah ditinggal Mama untuk selama-lamanya. Anna Breche, itu nama lengkap ibu saya. Sayangnya, saya tak sempat mengenal sosok beliau. Ayah yang saya panggil papa berasal dari Belgia, Lau Van Hooff, seorang arsitek. Karena tuntutan pekerjaannya, ia memboyong keluarganya ke Belanda. Tapi, saya juga tak lama merasakan kasih sayang ayah. Sejak Mama meninggal, Papa mengajak saya kembali ke Belgia, lalu beliau menikah lagi dengan adik ibu saya. Mereka

Bertahun-tahun kami menjadi sa-habat karena Bummel adalah pendengar yang baik. ketika saya berusia 10 tahun.. Saya tak begitu dekat mengenal mereka. ketika sedang enak-enaknya tidur.ha. Setelah berusia 6 tahun. agak rumit memang ’pohon keluarga’ saya. Belajar untuk tidak cepat putus asa dan sakit hati. bermain di alam. Saya masih ingat betul. boleh dibilang. Sementara. adik tiri saya.. kelinci. saya sudah berpikir keras tentang makna hidup ini. saya tak pernah menyadarinya sampai suatu ketika Papa meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. ’teman curhat’’ saya ketika berusia delapan tahun adalah seekor kodok hijau yang gendut. Namun.. wak. Kalau saya memetik kembang hanya untuk dibuang sia-sia. Paling-paling dia hanya berkomentar. tetapi lebih dalam hal pemikiran.. Papa juga memberikan tiga orang kakak tiri. Dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana.memberi saya seorang adik perempuan yang usianya hanya berbeda tiga tahun dari saya. anjing-. kucing. dan berteman dengan hewan --burung-burung. Opa dan Oma-lah yang mengasuh saya sejak kecil. Opa berdarah Persia-Prancis. terpaksa harus bangun karena alarm tanda bahaya berbunyi. Saya harus merelakan kepergian Oma Antoineta yang begitu saya cintai. "Wak. Bummel.." ketika saya asyik mengoceh panjang lebar dengannya. wak. Antoineta (yang juga tinggal bersama kami dan paling berperan penting dalam kehidupan masa kecil saya). Apalagi menyakiti sesama ciptaan-Nya. Keadaan juga mengharuskan saya menjadi gadis pemberani dan mampu hidup mandiri. dalam usia yang sangat dini. waktu itu juga masa perang (awal Perang Dunia II). dari perkawinan pertamanya (sebelum dengan ibu saya). Bukan soal fisik.. Apalagi.. apalagi membunuhnya.. Pendek kata. secara resmi saya memang tinggal bersama ’ibu kedua’ (yang juga bibi saya) dan Ria. Ha.. Saya sudah memikirkan hal-hal yang sebetulnya ’belum waktunya’ dipikirkan oleh anak-anak seusia saya. Nenek Antoineta-lah yang dengan sabar mengajari saya agar menjalani hidup apa adanya. sementara Oma berdarah Spanyol. Malam hari. Mungkin karena itu. Namun. dan kami semua harus masuk ke shelter (lubang perlindungan) bawah tanah.. dan tiga tahun kemudian. jangan me-mukul binatang. saya baru mengetahui bahwa orang-orang yang biasa saya panggil Opa dan Oma tersebut bukanlah kakek dan nenek kandung saya.. saya menjelma jadi anak yang tumbuh terlalu cepat. menceritakan semuanya secara terus terang. tanpa sadar sikap saya terbentuk menjadi keras. Menyendiri. Menerima dengan lapang dada segala keadaan. sesungguhnya saya adalah gadis kecil yang sensitif. . Sejak itu. selalu saya bawa ke tempat tidur dan menjadi teman bicara yang setia. Apalagi.. giliran Oma meninggalkan saya selamanya. Semua orang tidak bisa bebas ke mana-mana..adalah rutinitas sehari-hari. Hmm. Nenek buyut saya. Situasi perang juga menuntut kami harus mampu membela diri. Akibatnya.. itu nama yang saya berikan untuknya. Opa berpulang. Misalnya.ha. saya kena marah! Walau dari luar saya terlihat cuek dan senang berpenampilan tomboi (karena tidak suka pakai rok dan lebih klop berteman dengan anak laki-laki).

bagi saya beliau adalah seorang sufi yang bijaksana. menyuruh saya cepat-cepat keluar dari kelas. Usia saya baru 7 tahun ketika vision itu datang.!" Tapi. Tak sekadar pengganti orang tua dan teman. Mereka takut bakal terjadi sesuatu yang mengerikan. sehingga membuat saya mampu bertahan menghadapi cobaan demi cobaan. Tak lama kemudian. Oma Antoineta malah masih bisa bernyanyi. Singkat kata. kami pun mendengar kabar mengenaskan. Sambil menangis saya pulang ke rumah. akhirnya saya menyampaikan apa yang saya dengar kepada ibu guru. Contohnya. Nilai-nilai filosofis tertanam lewat cara hidupnya sehari-hari. ketika suatu hari ia mengalami musibah perampokan. Setiba di rumah. saya dimarahi dan diusir pulang. Saya . Oma pun tidak memercayai cerita saya. telinga saya tiba-tiba menangkap suara yang mengatakan. ketika Perang Dunia II belum lama pecah. Dia percaya pada semua perkataan saya. Untuk sesaat saya diam dan bimbang. Pada saat-saat seperti itu. ibu guru menganggap saya sedang mempermainkannya. hati saya biasanya jadi gundah gulana. tangis saya makin menjadi-jadi. Akibatnya. Saya duduk di bangku kelas satu SD dan sedang belajar di kelas bersama temanteman. saya sudah terlebih dulu mengetahuinya lewat ’penglihatan’ maupun ’pendengaran’. Berulang kali suara itu terdengar. Misalnya saja. Tiba-tiba terdengar suara bisikan di telinga saya. Dianggapnya saya sedang berkhayal. padahal lokasinya cukup jauh dari rumah kami! Duh! Mungkin. "Bu. Dialah satu-satunya orang yang mau menerima keberadaan saya apa adanya. Hal itu tidak sekadar firasat semata.Di usia 16 tahun. kita diminta cepat berkemas dari ruangan ini. Ketaatannya sebagai seorang muslimah menjadi panutan saya. tepatnya tahun 1939. Hanya Oma Antoineta yang menghibur saya. Saya pun keluar kelas dengan gelisah sekaligus sedih. "Ada tabrakan!" Setelah mendengar suara gaib itu. Sedih karena dianggap mengarang cerita bohong. tanpa saya tahu siapa yang mengucapkannya. itulah penyebab banyak orang tua keberatan anak-anaknya bermain dengan saya. kedisiplinan diri dan nilai-nilai yang ditanamkan Oma Antoineta sudah telanjur melekat kuat dalam diri saya. Oma Antoineta percaya pada ’keajaiban-keajaiban’ yang saya lihat dan rasakan. Hati saya pun terkoyak ketika kecelakaan itu sungguh terjadi.. termasuk suara-suara misterius yang saya dengar. Oma Antoineta menjadi orang yang paling memahami diri saya. saya tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. karena Oma ikut me-marahi saya. Prosesnya bahkan mence-ngangkan. Untunglah. Tapi. sebelum peristiwa-peristiwa aneh yang kerap tidak masuk akal itu benar-benar terjadi. Kita harus segera pergi harus.. sekolah saya hancur terkena bom! Ratusan orang tewas dalam peristiwa itu! Sejak saat itulah saya mulai menyadari bahwa diri saya berbeda. Terutama karena setelah itu masih terjadi lagi rentetan peristiwa yang sebelumnya sempat ’bermain-main’ di telinga dan pelupuk mata saya.

Bahwa saya selamat karena masih ada misi yang harus saya jalani dalam hidup. kedua orang teman yang terkurung bersama saya selama tiga hari tiga malam di dalam shelter.heran dan bertanya penasaran. saya mulai meyakini betul bahwa saya memiliki indra keenam yang tajam. Jadi. hal itu memang sudah saya sadari. Bahkan. "Apa Oma tidak sedih?" Jawaban beliau masih saya ingat sampai sekarang.” Entah berapa hari kami terkurung di dalam shelter itu. samar-samar saya masih sempat mendengar suara yang mengatakan bahwa belum saatnya saya mati. saat ditemukan. saya belum tahu bagaimana nasib kedua teman saya. meski saat itu saya belum tahu persis apa yang dimaksudkan dengan ‘tugas penting’ itu. soalnya saya sudah keburu kehilangan kesadaran. Tapi. Sangat mengerikan. Saat itu. Rasanya pita suara kami nyaris putus akibat berteriak-teriak minta tolong. tanpa seorang pun yang mende-ngar. Saya masih ingat betul ketika kami bertiga terkurung di dalam shelter yang runtuh. Bom peperangan yang bisa meledak sewaktu-waktu membuat saya pernah mengalami suatu kejadian yang sulit dipercaya. Hanya. bukan? Hal-hal yang dicontohkan Oma Antoineta membuat saya mampu melihat segala sesuatu dalam hidup ini dari sudut pandang yang berbeda. . saya sempat disangka sudah mati." katanya. “Kamu harus hidup. sebelum black out. pada saat yang tepat. dalam sekali falsafahnya. kami juga kehabisan persediaan bahan makanan dan minuman. "Aduh. Mungkin. PART 2 NENEK SIHIR NAIK SAPU TERBANG Banyak orang tua melarang anaknya bermain bersamanya. Saya beruntung karena tim SAR menemukan tempat perlindungan kami. Menurut Oma Antoineta. Bahkan. kalau mengingat kembali peristiwa itu. saya bersyukur karena bukan saya perampoknya. Bagaimana tidak. "kamu bisa bayangkan kalau saya perampoknya? Mengambil barang orang adalah dosa besar. baru saat berusia 12 tahun. yang tertutup rata oleh puing-puing bangunan yang hancur lebur akibat bom. Saya masih diizinkan untuk terus hidup. kondisi saya amat mengenaskan. Sampai detik ini. tahu-tahu saya sudah ada di rumah sakit. mereka menyebut Lauren kecil terkena kutukan. saya lalu menceritakan pesan dari ‘suara’ yang saya dengar itu." Nah. barang yang hilang itu bukan rezeki saya lagi. Apalagi. Hidup untuk Mengemban Misi Bahwa saya memiliki sesuatu yang lain dalam diri saya. Saat siuman. Kamu masih punya tugas penting di dunia ini…. tidak dapat diselamatkan lagi. Kepada Oma Antoineta. sudah saatnya berganti pemilik. saya sungguh merasa sangat bersyukur.

Baru seminggu di sana. saya sangat hemat dalam urusan keuangan.00 sore.. saya sekolah sampai pukul 15. kalau tidak rajin menuntut ilmu. dari hari ke hari hidup saya lebih banyak diisi dengan belajar dan bekerja. Kehidupan seperti itu berlangsung selama beberapa tahun.00 saya kembali bekerja sebagai kasir di toko sepatu hingga pukul 20. Pernahkah saya jatuh cinta? Ha. dia mengatakan. deh.. sehingga saya masih bisa menabung.. saya pun berjuang matimatian bekerja membanting tulang. rasanya saya tidak pernah mengalami yang namanya ‘cinta .30 pagi saya sudah berjalan kaki menahan hawa dingin menuju ke tempat kerja.. Makan dan rekreasi bukanlah prioritas saya. itu jalan terbaik agar hidup keponakannya tertata lebih baik. saya benar-benar tak punya waktu lagi untuk bersenang-senang seperti remaja lainnya. apa yang akan saya miliki kelak? Kesadaran untuk giat menuntut ilmu ini secara tidak langsung muncul akibat dorongan dari adik tiri saya. saya memutuskan untuk… kabur! Berbekal tekad bahwa saya mampu menghidupi diri sendiri. Walaupun prestasi tidak terlalu istimewa. sebagai keturunan kaum gypsy. orang berpikir demikian. Beruntung biaya sekolah gratis. Jadi. Tinggal di asrama sama saja memasung kebebasan hakiki saya. pukul 05. ha. Sejak Oma Antoineta meninggal dunia.00 malam. Ya. kami memang dianugerahi bakat khusus untuk bisa melihat masa depan. Dengan roti dan secangkir minuman di tangan.Saya agak terhibur karena Oma Antoineta ternyata mendukung saya sepenuhnya. saya tidak pernah ting-gal kelas. sejak itulah. saya tahu betul apa yang saya inginkan. jika mengetahui masa remaja saya yang tidak seperti remaja pada umumnya. Berpesta dansa atau bergaul hura-hura nyaris tidak pernah saya lakukan.. tidak bagi saya. Saya bersyukur bisa hidup mandiri dan tidak putus sekolah. Mungkin dia berpikir. Tak jarang sambil terkantuk-kantuk karena kecapekan. Saya hanya bertekad. yang penting saya bisa membayar kos dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.” Mungkin. melainkan perjuangan dan kegigihan diri saya sen-diri. Oma Antoineta tidak ingin kekuatan itu malah menjadi beban bagi saya. ”Kakak sekolah.. Karena itulah. Namun. Sebagai ‘pelakon utama’. Pekerjaan pertama saya adalah pencuci piring restoran. seorang bibi berbaik hati memasukkan saya ke sebuah asrama. Ria selalu bilang. Sedikit waktu yang tersisa di malam hari saya gunakan untuk belajar. Tak apa. Setelah ditinggal pergi oleh orang-orang tercinta. orang akan berpikir. alangkah keringnya masa remaja saya. Tapi. untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa saya memiliki indra keenam yang harus digunakan dengan tanggung jawab yang besar! Masa Remaja yang Hilang Benarkah saya kehilangan masa remaja? Bisa jadi. Dengan mata berbinar. Bukan kehidupan teratur pemberian orang lain yang bisa mem-bahagiakan saya. Harus diakui. Pukul 17. ha. biar pintar. Selesai bekerja beberapa jam. saya tidak tahan hidup di asrama.

apalagi kepada pria. Mulanya saya menolak karena sudah terbiasa hidup sendiri. ternyata ada saja orang berhati emas yang punya andil memajukan kehidupan saya. Dia bertemu saya setelah saya lulus dari sekolah menengah. Van der Berg yang saya cintai dan hormati. saya bisa menekuni ilmu para-psikologi di Universitas Leuven. dan Belgia. Prof. Untuk kesekian kalinya saya harus kehilangan orang yang saya sayangi. Van der Berg.monyet’. yang memiliki jurusan para-psikologi. Belanda. saya juga punya teman dekat di klub hand ball (semacam permainan kasti). Bahkan.tidak memiliki keturunan. hidup ini memang ajaib. ada masa-masa saya dekat dengan beberapa pemuda. Jujur saja. kabarnya. apa. Setelah belajar sembari bekerja selama dua tahun di Prancis. karena tidak mendapatkan jawaban memuaskan. kehidupan yang keras membuat saya tumbuh menjadi gadis yang sulit untuk bermanja-manja. memang. saya sempat ‘lupa’ bahwa sebetulnya saya punya kemampuan khusus. Katanya. bukan saudara. Tak cuma berperan sebagai ayah angkat. baru perguruan tinggi di Prancis. Profesor Van der Berg adalah seorang ahli parapsikologi dari Universitas Leuven. cuma begitu. Menjelang kepulangan saya itulah. Seperti . hati saya luluh juga. atas budi baiknya pula. Di Eropa. Tapi. meninggal dunia. ya. bahwa dengan menekuni ilmu parapsikologi. Tidak pernah benar-benar berpacaran. saya bisa mengenal kehidupan di Afrika dan mempelajari manfaat ramuan obatobatan di sana. Van der Berg juga sudah saya anggap sebagai mentor yang rajin meyakinkan saya. melihat ketulusan mereka. ‘cinta kingkong’. Bukan sanak. Van der Berg. Pria yang baik hati itu --bersama istrinya-. Saya punya teman khusus di kolam renang (karena waktu itu saya gemar berenang). Saya baru tersadarkan kembali setelah bertemu dengan Prof. akhirnya tiba waktunya saya kembali pulang ke Leuven. saking sibuknya memenuhi kebutuhan perut. Bahkan. untuk membantu saya menemukan jawaban yang selama ini saya cari. Tetapi. dia menangkap sinar pada diri saya. yang pada dasarnya merupakan ilmu psikologi eksperimental. Lagi-lagi hati saya hancur. aduh… saya tidak bisa! Kepincut Pria Indonesia Kalau dipikir-pikir. Prof. tapi saya tidak punya kemampuan untuk mengasahnya! Selama itu saya memang menjalani hidup apa adanya. Ada bakat spesial yang tersembunyi. dan mengajak saya untuk tinggal bersama mereka. Namun. saya bisa menerima diri saya secara apa adanya dengan lebih baik. Bila harus menunduk malu-malu atau mengalah pada anak laki-laki. sih. Sekali waktu saya terpikir juga untuk mengetahui. atau apa pun namanya. Tapi. misi penting yang harus saya lakukan di dunia ini? Saya memang pernah mendatangi sejumlah orang tua yang. akhirnya semua itu terlupakan begitu saja. Saya juga bisa pergi ke Prancis untuk belajar ilmu para-psikologi. Bersama Prof. mengalir seperti air. Walaupun saya hidup sebatang kara. memiliki kemampuan paranormal.

Namanya Natakusuma. maupun budaya. saya jadi ketagihan rendang! . Bahkan. akhirnya saya berhasil menaklukkan kedua hambatan tersebut. Ya. sikap saya yang enggan melakukan sungkem. kelahiran Bandung. kehidupan di Eropa seusai perang kondisinya sangat berat bagi saya untuk bisa meneruskan studi. saya kehilangan semangat belajar. Tapi. namun tak pernah terpikir selintas pun untuk tinggal di sana….. saya menyalami tangan mertua sebagai tanda hormat perkenalan. PART 3 KULIHAT MAUT ‘MENGHAMPIRI’ SUAMI & ANAKKU Ditinggal lebih dahulu oleh suami dan anak semata wayangnya. Mirip adegan sinetron. hati saya berdebar kencang. Tidak pernah saya bayangkan bahwa saya akan menetap di negeri orang. kami menjadi dekat. di kemudian hari. saya lakukan dengan sepenuh hati. di usia 20 tahun. membuatnya nyaris menyerah. terutama belajar bahasa Indonesia dan mencicipi beragam makanannya. tekad saya untuk melebur dalam tata cara Indonesia yang lain. Tapi. Kisah pertemuan kami sangat romantis. Namun.. terutama karena kami memiliki minat yang sama. Sementara. inikah yang namanya jatuh cinta? Setelah pertemuan pertama itu. sampai saat ini saya anti melakukan sungkem! Ha. Tepatnya tahun 1953. Malah. Dalam keterpurukan hati itulah saya justru dipertemukan dengan seorang pria. Ketika akhirnya pemuda itu melamar saya untuk menjadi istrinya. saya meninggalkan negeri kelahiran saya menuju Indonesia. Ada kejadian lucu ketika saya bertemu pertama kali dengan keluarga suami di Bandung. Entah berapa lama keadaan itu berlangsung. akhirnya saya tahu juga (melalui cerita suami). saya tak mampu menolak. Belakangan saya tahu bahwa dia berasal dari Indonesia. makanan. Lho? Rupanya.. Tanpa ragu. sedapat mungkin saya berusaha menggunakan bahasa Indonesia. bahasa. Sejak awal kedatangan ke Indonesia. Saya mengatakan kepada suami agar jangan berbicara menggunakan bahasa Belanda dengan saya. saya pelan-pelan berusaha beradaptasi. kurang berkenan di hati keluarga suami. bahwa sebenarnya saya tergolong menantu ‘kurang ajar’. Ah.ha…ha. Tahun 1952.layang-layang yang putus talinya di udara. Walau demikian. Mereka memang menerima saya dengan baik. saat mata saya bertatapan dengannya.. saya resmi menjadi istrinya dan diboyong ke Indonesia.. Tanpa sengaja tangan kami saling bersentuhan ketika mengambil sebuah buku dengan judul yang sama! Hmm. Tuhan memang Mahabesar. Indonesia. Sebuah negara yang pernah saya lihat di peta. Di tempat yang serba asing ini. Dengan kekerasan hati. Pemuda berkulit cokelat dan berambut hitam pekat itu adalah mahasiswa jurusan arsitektur di universitas Leuven. saya berkenalan di perpustakaan kampus. mau bagaimana lagi? Untuk urusan sungkem-sungkeman ini saya memang belum mampu melakukannya.

Ia lalu menyuruh saya tidur lebih dulu. Baru pada tahun 1958. Nata sangat memahami ‘bakat’ saya. saya keukeuh melarangnya berangkat ke Bali. menyarankannya agar memeriksakan jantungnya ke dokter. ketika Nata sedang asyik menggambar. Saya kan bukan pasienmu. Duh. tanpa mengindahkan saran saya yang serius. Mario Lorens Natakusuma. kami terus berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lain. beberapa bulan kemudian. Tapi. “Ah. Nata ingin agar potensi saya bisa terus diasah. Tanjung Karang. Peristiwa itu akhirnya terjadi pada tanggal 23 Februari 1973. Lagi-Lagi Kehilangan Bulan Desember yang basah. Tetapi. Saya melihat Nata tertidur pulas sekali.” candanya. Sore itu kami sedang duduk bersama di beranda rumah. di Jakarta. saat kami sudah kembali sudah kembali ke Ibu Kota. lahir di RS Xaverius. Proyek dari istana yang sedang digarap Nata sontak berantakan “Maafkan saya. Untunglah dia mau mendengarkan. lama sekali tidak bangun-bangun? Sebuah perasaan aneh yang sulit dilukiskan membuat saya tiba-tiba nyeletuk. Tiba-tiba saya ‘melihat’ pemandangan yang tidak biasa. Apa yang bisa saya lakukan selain memaafkannya? Kekuatan supranatural saya memang sulit untuk dipahami. Nata malah marah besar dan mengatakan agar saya tidak usil menyerempet urusan politik! Saya ingat benar. dan terjadi kekacauan di mana-mana. tentu saja Nata. Sebelumnya saya sudah memperingatkan dia agar segera tidur. Sawo. Saya sedih karena suami sendiri tidak memercayai saya. kami memulai rumah tangga dari nol dengan menyewa sebuah garasi di Jl. Lampung Utara. tahun 1972. Selama ini kamu kan tahu saya sehat-sehat saja. suami saya. Selama lima tahun. belum punya apa-apa. dia pernah juga mengabaikan saran saya.mengajak saya pindah ke Kotabumi. Jakarta Pusat. di akhir September. meletus peristiwa G-30S. katanya dia belum mengantuk. dua minggu sebelum Gunung Agung di Bali meletus (1961). Putra kami. ada-ada saja. Dia selalu berpikir positif. bagaimana saya harus menjelaskan bahwa saya tidak berkelakar? Saya benar-benar ‘melihatnya’…. Karena itu. saya memintanya agar tidak menerima borongan pekerjaan dari Istana Negara. Matanya terpejam dan mulutnya tersenyum damai. Bahkan. bahkan tanpa ragu pernah mempertemukan saya dengan Pak Rahim. menikmati kehidupan berumah tangga yang harmonis. mengapa ia tertidur di kursi. Misalnya. Namun. saat itu bulan Januari tahun 1965. ia juga mau mendengarkan nasihat saya yang melihat sesuatu tentang dirinya. Saya bangkrut karena tidak mau mendengarkan kamu.Sebagai arsitek yang baru lulus. yang dirombak menjadi paviliun. Benar saja. suami saya --yang saat itu bekerja sebagai pemborong bangunan-. Itulah saat-saat paling bahagia dalam hidup saya. seorang para-normal terkenal tahun 1960-an.” akhirnya dia mengaku bersalah dan minta maaf pada saya. Menteng. dan saya tidak ingin suami saya terlibat. Tiga minggu lamanya Nata mendiamkan saya. Selama dua tahun kami tinggal di daerah perkebunan. Berulang kali saya . sehingga ia luput dari musibah. Saya cemas karena ‘melihat’ suatu kekacauan akan terjadi.

Saya sudah melihat dan merasakan apa yang akan terjadi. tabrakan. dalam keadaan seperti ini --luntang-lantung tanpa pekerjaan di negeri orang-. Pukul 03. aduh. berlutut. Saya merasa hidup sudah tak lagi bermakna. Matanya terpejam dan mulutnya tersenyum damai. saya sendiri sudah lama merasakannya.benar-benar menguras habis tenaga dan pikiran saya. saya khusyuk berdoa. Pulas sekali. Hati saya pun mendadak pedih luar biasa. tolong berikan saya kemampuan untuk bertahan dan berjuang agar dapat mengubah kehidupan saya. kalau saya memang masih punya tugas (tiba-tiba saya teringat lagi saat-saat terbebas dari timbunan shelter yang roboh akibat bom). jauh sebelum penderitaan itu datang. karena saya sudah mentok. bahwa masih ada pertolongan dari-Nya.mondar-mandir ke ruang kerjanya. Mungkin. Satusatunya perhiasan yang tersisa hanyalah sebuah cincin kawin. Dia meninggalkan banyak utang sehingga rumah kami pun ikut disita. karena harus membiayai hidup saya dan . Semua harta disita oleh bank karena perusahaan yang didirikan Nata bangkrut. ketika mendatanginya. dan kepergian orang-orang tercinta! Derita ini terlalu berat bagi saya! Sepeninggal suami. sampai akhirnya saya benar-benar ketiduran. Namun. menangis sejadi-jadinya. Selanjutnya. Jadi. Tetapi. Bencana alam. Tapi. Saya berdoa. Saya tahu bahwa dia sudah pergi. bisa-bisanya saya ‘berani mati’ mengadakan perjanjian dengan Sang Pencipta? Mungkin. dan bernegosiasi dengan-Nya. Saya merasa tidak kuat lagi menjalani hidup. saya mendapati dia sedang tertidur di kursi. sungguh. Kalau dipikir-pikir kembali. saya sungkan. terus terang saya menjadi gamang. sekarang. jika memang saya tidak dibutuhkan lagi di dunia. di titik inilah saya hampir saja menyerah. itulah jawaban Tuhan untuk saya. tanpa Nata di samping saya. saya keluar dari rumah dengan perasaan nelangsa luar biasa. karena sebelumnya saya sudah terbiasa hidup mandiri. Mungkin. Jakarta Selatan. Kok. Bersamanya. saya menjalani hidup apa adanya. Beruntung seorang teman berbaik hati meminjamkan uang untuk menyewa sebuah kamar di kawasan Kalibata.42 dini hari saya terbangun dan menggerutu karena melihat lampu di ruang kerja Nata masih menyala terang. rasanya malam itu saya nyaris gila. dan itu saya lakoni dengan lapang dada. saya bingung mau pergi ke mana? Apakah saya harus pulang kembali ke Belanda? Merepotkan keluarga suami. Berat dan ringan kami jinjing dan pikul bersama. Tapi. kekacauan politik yang mengerikan. saya tinggal berdua dengan Mario. Ditinggal suami untuk selamanya tanpa harta sepeser pun. Rasanya. Hanya dengan sebuah koper berisi pakaian dan menggandeng si kecil Mario. Malam itu juga. tolong ambil saya secepatnya. persis seperti yang pernah saya ‘lihat’ sebelumnya. Saya memohon kepada-Nya. anak sema-ta wayang kami yang masih kecil. sebelum meninggalkan rumah kami yang penuh kenangan. Selama ini saya sudah sering berpindahpindah rumah mengikuti suami.

Mula-mula yang datang hanya satu dua orang per hari. memuat berita tersebut. apakah ini jawaban yang saya tunggu-tunggu selama ini? Inikah misi pen-ting yang harus saya emban? Entah bagaimana ceritanya. sebagai paranormal! Terus terang. Apa pun rela saya lakukan asalkan halal. mengetahui hari esok? Sekian lama saya sudah mengalaminya sendiri. Bahkan. dan tinggi besar pula. Sebuah harian ibu kota. berambut pirang. Yang penting. saya lantas disentakkan oleh suatu realitas bahwa ternyata saya juga bisa. “Tidak usah berpikir yang bukan-bukan. sih.” Kalimat yang dia ucapkan intinya hampir sama dengan dukungan suami saya selama ini. tegas. mereka curiga karena saya wanita asing. kamu justru punya banyak kesempatan untuk membantu orang lain. Saya tidak punya ambisi untuk memanfaatkan talenta saya untuk dikomersialkan. Tak jarang saya menerima perlakuan tidak menyenangkan. mengapa harus disembunyikan? Toh. Tanpa mengharapkan imbalan sepeser pun saya bersedia membantu untuk ‘melihat’ siapa yang terlibat dalam perampokan tersebut. saya menjajakan kopi bubuk.” katanya. ”Kamu itu memiliki potensi luar biasa. saya memutuskan lebih baik buka praktik di rumah saja. sekaligus selaksa penderitaan. Buana Minggu. saya berusaha untuk bangkit lagi. . mereka sampai ‘mengejar’ saya ke rumah. Berbekal kekuatan supranatural yang sulit saya jelaskan. dengan menjalani profesi paranormal. rencana Tuhan kembali bekerja di dalam kehidupan saya. mulanya saya merasa keberatan. saya mampu memperoleh sedikit keuntungan. bahkan dari pintu ke pintu. Mengapa orang lain yang lebih beruntung dari saya justru ingin merasakannya? Namun. Mengasah potensi. Tuhan. Pedagang kopi yang baik hati itu (dan tahu tentang ‘bakat’ saya) lantas mengajak saya untuk membantu direktur pabrik yang sedang mengalami kesulitan. terjadi perampokan di sebuah pabrik di Cibinong. Bahkan. Dari teman ke teman. Lagi pula.Mario. membantu orang banyak melalui ‘bakat’ saya ini. akhirnya jadi juga saya menerima tawaran untuk ‘buka praktik’ di Tanah Abang. Pada tahun 1978. akhirnya diketahui bahwa dalang perampokan adalah satpam pabrik itu sendiri. Saking banyaknya. Sampai pada suatu hari. Namun. Ah. pengasuh harian itu menawarkan sebuah pekerjaan yang tak pernah saya bayangkan. pedagang kopi yang akhirnya menjadi teman baik saya itu menyarankan agar saya memanfaatkan potensi khusus itu. sampai akhirnya menjadi banyak sekali. Mungkin. Saya mulai berjualan pakaian dan berbagai barang kebutuhan sehari-hari. yang sudi memercayakan saya untuk ikut berjualan. Setelah enam bulan di Tanah Abang. Rupanya. hal-hal seperti itu tak saya ambil hati. apa enaknya. Hasilnya hanya menimbulkan banyak kejadian aneh. saya bertemu dengan seorang pedagang kopi. yaitu ‘buka praktik’ di kantor mereka di kawasan Tanah Abang.

Dari kamar kontrakan di Kampung Melayu. tapi mengapa rasanya saya tidak merasa asing dengan sosoknya? Seolah kami pernah bertemu di suatu masa. Dia lantas mengingatkan bahwa usia Hendrik jauh lebih muda daripada saya. ketika dia menjawab. yakin. saya tidak pernah mengenal dia. Ketemu Jodoh Lagi Berangsur-angsur. saya memang sangat percaya pada karma dan reinkarnasi. saya dan Hendrik harus menyelesaikan karma.. “Mana bisa?” katanya. hati saya langsung berdetak kencang.” jawab saya. “Kamu percaya reinkarnasi?” Entah kenapa. Bahkan. Sejak lama dia memang tertarik mendalami seni. Hal itu juga yang Hendrik yakinkan kepada saya. rasanya kamu pernah menjadi saudara saya. ketika setelah 12 tahun mengarungi perairan Samudra Indonesia. Toh. statusnya pun masih bujangan! Dianggapnya saya hanya berkelakar. saya lantas mengatakan kepada seorang teman (yang juga merupakan teman Hendrik) bahwa saya dan Hendrik memang berjodoh. kehidupan saya menjadi lebih baik.. Di sinilah. saya akhirnya bisa mengontrak rumah di kawasan Kebon Baru. Tebet. bukan? Terbukti. Tugas saya hanya mendampingi dan memberikan yang terbaik untuk bekal kehidupannya kelak. Teman saya malah tertawa.” saya mengatakan lebih lanjut. saya spontan bertanya seperti itu kepadanya. ratusan tahun silam. Saya juga tidak pernah melarangnya untuk bergabung dengan Bengkel Teater pimpinan Rendra. Hendrik Pasaribu. Yogyakarta. Pohon pepaya tidak mungkin berbuah pisang.” Saya ingat betul. “Inikah jalan untuk mencari nafkah dari-Nya yang harus saya tempuh?” Apalagi. hidupnya adalah miliknya sendiri. ikut tertawa. Saya dan Hendrik Pasaribu ternyata benar berjodoh. ketika para klien memberi imbalan tanpa saya minta. Sungguh mati. itulah yang akan kita petik. Apa yang kita tanam. karena kamu seperti tidak asing lagi bagi saya. Prinsip saya dalam mendidik anak.Dan. ”ya. Ketika melihat pemuda lulusan AIP angkatan tahun 1974 itu memasuki pintu rumah saya.” ujar saya. “Di kehidupan sebelumnya.. Dan. suatu hari. membuatnya nyaris menyerah. saya berkenalan dengan seorang pelaut ganteng asal Tapanuli. saya pun mulai berpikir secara rasional. ya. ”Saya juga merasa aneh. mengada-ada. PART 4 KULIHAT MAUT ‘MENGHAMPIRI’ SUAMI & ANAKKU Ditinggal lebih dahulu oleh suami dan anak semata wayangnya. Ya. “Kita buktikan saja. “Laki-laki ini akan menjadi suami saya. Bedanya sampai 15 tahun. bukan milik saya. saat itu Mario sedang membutuhkan biaya besar untuk mendaftar ke ASRI. terutama seni rupa. “ “Ya. tak kalah antusias. melalui seorang teman.” katanya. .

Duh. entah kenapa. Saya berdoa agar kami sekeluarga terhindar dari malapetaka. di saat usia saya hampir setengah abad! Kebahagiaan saya makin bertambah ketika Mario juga akhirnya menikah dengan pujaan hatinya. walaupun (setelah ketemu saya) dia sudah kembali berlayar selama enam bulan. wanita mana yang hatinya tidak meleleh mendengar janji seperti itu? Hendrik yang saya kenal kemudian memang akhirnya menjadi sahabat baik saya. saat saya melihat Mario . Mario.” katanya. Mario menghadiahi kami dua orang cucu lelaki yang tampan: Nuh Prabawa dan Kreshna. Saya dan Hendrik Pasaribu menikah 29 Mei 1982. Ada sebuah rumah yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Di altar itulah saya pernah ‘melihat’ peti mati itu! Ya. Berturut-turut. tiba-tiba saja ia berubah wujud menjadi tengkorak! “Duh. saya baru menyadari bahwa saya tidak asing lagi dengan rumah itu. Dan. kamukah yang berada dalam peti mati di altar rumah itu?” batin saya bertanya-tanya. di altar rumah itu saya melihat ada sebuah peti mati. sekelebat saya melihat Mario mendatangi saya. “Saya ingin membina rumah tangga bersamamu dengan kesadaran dan komitmen penuh. Mario. dia tiba-tiba menjelma di dalam benak saya. selama berbulan-bulan. Sebelum menikah dengan saya. Mario datang minta izin main band bersama teman-temannya ke luar kota. Tapi. tegas. itulah yang akhirnya mendekatkan kami sebagai suatu keluarga yang utuh. tanpa diduga saya harus pindah rumah lagi ke Jalan Klingkit. Cobaan Berat Itu Datang Lagi Vision yang menghampiri saya tidak pernah diundang datangnya.akhirnya dia memutuskan untuk berlabuh total. cobaan apa lagi yang akan datang menimpa saya? Saya lantas berdoa habishabisan. hampir sepanjang hari. Apalagi. Namun. Menteng Atas. di bulan Juni tahun 1982 dan 1983. Namun. dan melamar saya untuk menjadi istrinya! Hendrik mengatakan. Mereka kerap bercanda bersama. saya mencoba menghilangkan resah yang mendera akibat bayangan buruk itu. Sampai suatu saat. Saat itu saya melakukan suatu hal yang tak pernah saya lakukan sebelumnya. sekuat daya. Tuhan. Baik dalam keadaan senang maupun sedih. yang menjadi pertanda buruk. Dan. Kami bahkan seperti saudara saja (selain tentunya sebagai kekasih!). sisi lain diri saya menyadari sepenuhnya bahwa saya tak akan pernah bisa mampu menolak takdir yang akan datang! Malam. Saya menonton televisi sendirian di ruang tamu. Hendrik berteman cukup baik dengan Mario dan ia memanggilnya ‘Bung Hendrik’. Mungkin. Rumah itu besar dan memiliki halaman yang luas. rumah itu memiliki altar. Setelah seminggu berada di sana. Nama cucu per-tama saya itu diberi oleh Rendra. mendukung sepenuhnya. Lalu. 3 Oktober 1985. Saat sedang menantikan kelahiran cucu kedua di rumah sakit itulah saya kembali mendapat pertanda tidak enak. Putra saya. nyatanya dia selalu ingin pulang ke pelukan saya.

Kehilangan Mario adalah pukulan terberat bagi saya. Nuh baru berusia 1 tahun 3 bulan. Entah berapa lama saya berkubang dalam penderitaan. kedua cucu saya yang tampan. Akhirnya dia pun pergi setelah mencium kening saya dengan lembut. Saya menantang. dia kembali lagi. untuk kesekian kalinya. Dan. Sebelum meninggal. nyaris tanpa jeda? Mengapa Dia begitu senang mempermainkan hidup saya. cucu saya. dia sempat berpesan. juga harus diambil-Nya begitu cepat. sementara suami saya bergegas ke kantor polisi. dan membuat saya sempat kehilangan tujuan hidup. Saya ingin menangis sejadi-jadinya. Mario kecelakaan! Dia mengalami luka parah dan ketiga teman yang sedang bersamanya langsung meninggal dunia! Bergegas saya lari ke RS Tangerang. Benar saja. ter-senyum. Mario!” Tiba-tiba saja saya melarangnya. seolah saya boneka yang bisa Dia mainkan seenaknya? Bahkan.00 pagi. saya berteriak. Mereka masih sangat membutuhkan saya. telepon di rumah saya berdering.” katanya. Lalu. sekali lagi Engkau mengambil permata hati saya. harta saya satu-satunya yang tersisa. jantung saya tiba-tiba terasa sakit sekali. Ya. PART 5 Kematian Mario. dia pergi. Saya hampir pingsan ketika mendapati Mario yang sedang kritis. Tapi. dan Kreshna. dimintanya untuk selalu menemani saya. Saya pun memberontak kepada-Nya. Mengapa Dia tak henti ‘membanting’ saya. masih ada Hendrik. Kabar itu disampaikan pihak kepolisian. berada dalam bimbingan saya.mendatangi saya dari pintu masuk.” katanya. Saat itu. Saya tahu sesuatu akan terjadi menimpanya. “Mereka harus selalu di bawah bimbingan Mami. dia koma dan tidak pernah sadarkan diri lagi. Saya tak mungkin membatalkan kontrak. Ia malah tertawa melihat kecemasan saya yang berlebihan. benar-benar meludeskan cadangan daya tahan saya. saya tidak bisa berbicara apa-apa lagi ketika dia berpesan bahwa saya tidak boleh lagi menonton teve sendirian seperti ini.. Juga dua bocah kecil. Tuhan ‘Meledek’ Saya Tapi. Tuhan. agar kedua anak lelakinya yang masih kecil. . Setelah sampai di muka pintu pagar. Suatu hal yang juga tak pernah saya lakukan sebagai orang tua. merangkul dan mencium saya berulang kali. Mario memang sudah berpisah dari istrinya. suami saya. “Jangan pergi. ah. Mami? Jangan bercanda. Menimbulkan luka berdarah yang tak terperikan. Bahkan.. putra tunggal saya. saya juga tahu pasti. 2 tahun 3 bulan. Setelah itu. seolah ditusuk pisau belati yang sangat tajam. saya tidak mampu mencegahnya! Bahkan. Nuh dan Kreshna. yaitu melarang anak untuk melakukan sesuatu yang dia inginkan. Pukul 08. Putra semata wayang saya akan pergi jauh. Mario. Membuat saya tambah yakin bahwa Mario memang akan pergi. Mereka anak Mami dan Bung. “Ada apa. Nuh dan Kreshna. saya masih diberi kesempatan bertemu dengannya dalam keadaan hidup.. bahkan saya memaki-Nya.

saya juga tahu. Sementara. kalau saya tidak segera bangkit dari kesedihan. Namun. membuat saya benar-benar merasa lengkap sebagai seorang ibu sekaligus nenek. juga komitmennya. Selamanya. saya sudah tahu keteguhan hatinya. tumbuh gigi. benar kata pepatah. berkat dukungan Hendrik pula. Tanpa terasa. mereka selalu menghadirkan bayang-bayang Mario di pelupuk mata saya. dia masih muda dan bujangan. Toh. Tak dapat disangkal. dua bocah cilik itu kini sudah menjelma jadi pemuda yang tampan. dan saling gontok-gontokan berebut mainan. ditambah dengan kesibukan mengurus Nuh dan Kreshna. Dia ‘meledek’ saya. saya begitu mencintai mereka. Di tengah kegalauan dan kesedihan saya. Di satu sisi. dan usia saya jauh lebih tua darinya. Di sisi lain. Dan. ia tidak pernah mempermasalahkan semua itu. anehnya. untuk memulai hidup baru. kehadiran mereka ibarat nyala pelita yang menghangatkan rumah dan hati kami. merayakan pesta ulang tahun mereka. untunglah Hendrik selalu mendukung. Dia menikahi janda dengan satu anak. sangat besar.” Amanat terakhir Mario itu terus terngiang di telinga saya. Tapi. Pesan itu pulalah yang membuat saya berusaha keras untuk bangkit dan membenahi hidup serta hati saya yang hancur lebur. bagaimana nasib mereka kelak? Bukankah sebelum meninggal. Ya. Malammalam penuh tangis bayi. seperti halnya sebuah keluarga. “Jangan-jangan Tuhan sedang mengajak saya bercanda. Mario berpesan agar saya selalu menjaga kedua putranya sebaik mungkin? “Mereka adalah anak-anak Mami dan Abang juga…. tapi menggantinya dengan dua anak lelaki sekaligus!” Stroke Menyerang ‘Mami’ dan ‘Bapak’ adalah panggilan sayang Nuh dan Kreshna kepada saya dan Hendrik. waktu akan menyembuhkan luka. saya harus mengurus bayi lagi. kami juga sering tamasya bersama. Hendrik sangat menyayangi mereka seperti anak sendiri. akhirnya saya bisa mengembalikan rasa humor saya. Rasanya baru kemarin saya melihat keduanya belajar jalan. Yang pertama kali saya lakukan adalah mencoba menerima kenyataan. perlahan-lahan saya bisa melupakan kesedihan saya. lama-kelamaan saya makin menikmatinya. Dengan berlalunya waktu.Sang istri memutuskan meninggalkan Mario (berikut kedua anaknya). Bayangkan. Sungguh tidak mudah! Hari-hari saya seolah berjalan bagai siput. Sejak menerima lamarannya. Mario sudah meninggal dan tidak akan pernah kembali ke pelukan saya lagi. Berserah diri dan bersyukur. mungkin itulah kunci utama saya bisa tetap bertahan. saya mengasuh dua bocah lelaki itu. Tanpa bantuan baby sitter. Menemani jalan-jalan. tak jarang hati saya tercabik. . atau sekadar memasakkan makanan kesukaan keduanya. Menatap kedua bocah kecil itu. Ketika Nuh dan Kreshna masih kecil. Dia mengambil Mario. di usia hampir setengah abad. sehingga kemungkinan kami tidak mendapatkan keturunan. Namun. berlalu sudah.

saya senang bisa menolong sesama. kesibukan itu juga membawa konsekuensi tersendiri. tujuh hari dalam seminggu. sebelumnya. Saya jadi sering lupa pada usia. tiba-tiba saja tubuh saya tidak bisa bergerak. Ya. dan melakukan meditasi bersamanya.” “Tumben. mau tolong saya nggak? Saya kepingin ke kamar mandi. kalau dihitung-hitung. sebelum hari itu datang. Ya. Bukan karena alasan materi semata. Dan. saya dinyatakan menderita… stroke! Kaki dan tangan saya yang sebelah kiri menjadi lumpuh mati rasa. hampir setiap malam saya bermimpi hal yang sama. Ternyata. saya tidak tahu bahwa peristiwa dalam mimpi itu terjadi di Pulau Dewata. ketika saya mau bangun ke kamar mandi untuk buang air kecil. masih mengantuk. selalu mandiri melakukan segala sesuatu. saya tidak tahu. terus terang. tepatnya 23 November 2005. Karena itu. Dan. bukankah itu hal yang sama? Semula.” jawabnya. saya melayani klien dan pasienpasien saya. profesi saya sebagai paranormal pun makin bersinar. Sementara. Ah. Padahal. pagi itu juga saya langsung dilarikan ke RS Mitra Internasional Jatinegara. saya terpaksa membangunkan Hendrik yang masih tidur nyenyak. Tapi. suami saya sedang menjalani prosesi pembakaran jenazah. saya sudah ‘tahu’ bahwa saya akan jatuh sakit. orang makin banyak datang mencari saya untuk minta bantuan.Sederet mimpi buruk yang menghantui saya bertahun-tahun pun sirna. Seiring dengan itu. saya memang percaya reinkarnasi. ratusan tahun yang lalu. yaitu Nuh dan Kreshna. sampai akhirnya saya bertemu seorang pedande (pendeta Hindu Bali). . Padahal. tapi saya sungguh senang menjalaninya. karena ramalan-ramalan saya dianggap jitu. lebih dari itu. Ya. Melelahkan memang. Dan. ”Mami takut apa?” “Saya… saya tidak bisa jalan!” Akhirnya saya mengaku bahwa tubuh saya kaku dan tak bisa digerakkan sama sekali. saya tidak munafik bahwa saya memang perlu uang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan membesarkan kedua cucu saya. saya pun dengan sengaja mengabaikan vision tentang diri sendiri. dan sebisanya tidak meminta bantuan orang lain. apakah mimpi buruk itu hilang karena saya akhirnya menemukan harta lain yang tak kalah berharga. Pendeknya. saya benar-benar pernah hidup di Bali. pada dasarnya saya adalah orang yang sangat aktif dan tidak bisa diam. setiap harinya saya bisa melayani 20 orang. “Pak. Karena tuntutan ke toilet tak tertahankan lagi. benar saja. saya juga percaya. saya dibuang ke laut dan suami saya dibakar. Namun. karena sebelum terkena stroke. Bayangkan. Dari hasil pemeriksaan lengkap. Mendengar rintihan saya. Bali. Saya sangat tersiksa. Pagi itu. Mungkin. pura dalam mimpi saya adalah Pura Batu Bulan di daerah Gianyar. Saya dibuang dari ketinggian sebuah pura ke laut.

. Jadi. Selain itu.ha. Ya. saya tidak terima tamu. kalau saya diminta menyantet orang atau menyembuhkan seseorang dengan memindahkan penyakitnya ke dalam telur. saya bersyukur bisa merasakan sakit seperti ini. kini saya juga harus membatasi diri dalam menerima tamu. dan Minggu. Sesungguhnya. Selingkuh. orang tua dan anak. PART 6 Enggan disebut Paranormal Bukannya bangga dikenal sebagai paranormal kondang. Setiap orang harus bisa mengubah nasibnya sendiri. Kalaupun ada yang membutuhkan semacam ‘pegangan’. Beraneka masalah harus saya hadapi. Kesannya. fisik maupun psikis. . saya tidak pernah suka disebut paranormal.. saya merasa mereka datang kepada saya hanya karena membutuhkan seseorang yang mau menyediakan telinga untuk mendengarkan curhat mereka. sebetulnya saya justru lebih senang bila dikenal sebagai konsultan pribadi. ilmu yang saya pakai jauh dari ilmu klenik atau guna-guna ilmu hitam. Dan. bukan tergantung pada saya. karena pernah merasakan sendiri bagaimana menderitanya orang yang kena stroke. Walaupun belum sempurna. Solusi yang saya tawarkan sebenarnya tidak macam-macam.. sekarang saya sudah merasa jauh lebih sehat. ya? Kayak dukun! Ha. kok.. wah. bagian kiri tubuh saya yang lumpuh akhirnya bisa normal kembali. berkat tekad yang kuat untuk sembuh. Sabtu. karena pada akhirnya saya mampu bersabar sampai ke ujung-ujung rambut…. minta dicarikan jalan keluar. abnormal alias tidak normal. jelas saya tidak bisa! Dan. Saya hanya membantu mengarahkan. Tidak mudah menyandang gelar paranormal papan atas di negeri ini.Alhamdulillah.. Laurentia. Saya pun membatasi jumlah klien. Pengambilan keputusan tetap ada di tangan mereka. itulah yang saya cantumkan di kartu nama saya: Ny. serta menjalani terapi secara disiplin. Terkadang. seolah tak ada artinya. hubungan antara suami dan istri. banyak sekali orang yang stres akibat harus memikul beban hidup di luar batas kemampuan mereka. Belum lagi mereka yang menderita sakit. kalau sudah mendengarkan berbagai keluhan mereka.. pegangan itu sebetulnya sekadar sugesti diri agar mereka menjadi lebih percaya diri saja. Rabu. hanya 4 – 5 orang saja per hari. Ya. hingga terkadang ingin bunuh diri. Ya. rasanya segudang beban hidup yang pernah saya alami. Ya. Aduh. Adviser. karier...Tidak semuanya butuh lembaran kartu tarot dan vision ramalan. tentu akan saya berikan semampu saya. setiap penderitaan pasti ada hikmahnya. kalau boleh jujur.. kalau dibilang tarif saya mahal (satu juta rupiah untuk setengah jam konsultasi). dan sebagian besar adalah persoalan keluarga.ha. mungkin. Jujur saja. rezeki. Dan. kini saya belajar menjadi orang yang jauh lebih sabar. Mereka yang datang kepada saya kebanyakan adalah orang-orang yang memerlukan pertolongan. Cukup empat hari seminggu. hingga masalah narkoba.

Lihat saja dandanan saya sehari-hari. saya ‘melihat’. mbok. Lagi pula. tumbuh menjadi pria sejati yang tahu persis ke mana kaki mereka hendak melangkah. Alam sudah berteriak-teriak. ”Kata Mama Lauren. dan buah. sering kali saya tidak bisa menolak jika ada klien yang hanya mampu membayar sebatas kemampuan mereka. Kalau dia terlalu sibuk. Malah. Harta Paling Berharga Usia saya sekarang hampir 76 tahun. Rasanya tidak ada lagi yang ingin saya raih. jelas tarif saya kalah jauh dari mereka. atau perabot kristal. Berulang kali saya tuturkan lewat media. sebenarnya ulah manusia sendiri yang membuat hidup ini menjadi makin berat. misalnya Ki Joko Bodo. Nuh (kini 24) dan Khresna (23). sepotong daging rendang. Manusia dan manusia itu sendiri. saya cuma senyum kalau ada teman yang nyeletuk. tapi manusia masih juga tidak menyadarinya. “Kata Mama Lauren. saya hanya bisa mengelus dada sembari tertawa kalau ada orang yang berani memakai nama saya untuk tujuan tertentu. baru-baru ini santer beredar kabar. apalagi merugikan pihak-pihak tertentu. karena lebih menyukai tempe. wah. Misalnya. kadang-kadang saya suka iseng mengirim SMS kocak padanya. Kedua cucu saya tahu betul sifat omanya. tasnya nggak ganti-ganti?” Pemborosan yang tidak perlu bukanlah gaya hidup saya. Hal itu senantiasa saya sadari. Sudah terlalu banyak gosip di negeri ini. misalnya dengan membuat klarifikasi secara terbuka. mau tak mau saya harus membersihkan nama saya. Kebutuhan untuk hidup mewah juga tak pernah ada di benak saya. Saya cukup bahagia.saya ndak mau comment apa pun. Sesama makhluk hidup. kecuali melihat kedua permata hati saya. Sejak dulu saya terbiasa hidup hemat. Karenanya. Punya mobil dan rumah mewah. tahu.” Kalau sudah begitu. Vision yang saya lihat selalu memiliki keterkaitan satu sama lain. Bumi makin panas dan berbagai bencana alam terjadi (hmm. bertuliskan alamat . I’m not playing God. Makanya. Manusia dan hewan. Mengapa harus saling menyakiti? Menjalani profesi sebagai paranormal. “Kok. Tas dan sepatu saya bukan yang bermerek. Dan. sungguh saya tak mau gegabah. Manusia dan alam. orang sering menyebut saya ‘bule aneh’. bisa keluar dengan tersenyum. sayur. tak pernah terpikirkan sedikit pun. Saya dan Hendrik hanya sekadar mengarahkan. Dia juga pemain sinetron dan jagoan breakdance. Nuh kini sudah kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Jurusan Periklanan Universitas Paramadina Jakarta. Dibandingkan rekan-rekan saya seprofesi. jika melihat klien yang menangis saat masuk ke ruang praktik saya. Kacang merah sisa sup bisa saya daur ulang menjadi es kacang merah. Ketupat sisa Lebaran yang belum basi saya keringkan jadi semacam rengginang. my God! Kapan saya pernah bicara seperti itu? Saya tidak pernah ingin bikin sensasi yang meresahkan masyarakat. di Dunia Fantasi akan ada wahana yang rusak dan berbuah bencana!” Oh. kalau kepingin banget. jangan ditambah embel-embel. masih ada 12 gunung lagi yang akan meletus di tahun 2008).

Kreshna (yang memilih jurusan dan universitas yang sama dengan kakaknya). saya menyarankan agar Kreshna jangan ke luar kota.saya harus rela melepaskan mereka. Hingga kini. Mami kangen kejailanmu. secinta apa pun saya kepada Nuh dan Kreshna. bukankah hidup selalu berputar silih berganti? Ada waktu untuk menggenggam. Dua puluh lima tahun menikah... pulang. ya. saya tidak mau mengatakan apa yang saya lihat secara gamblang. betul kan... Sesekali..ha. suatu hari kelak mereka akan membina keluarga masingmasing.ha.rumah disertai embel-embel. Bahkan. mereka juga tak sepenuhnya mau menuruti anjuran saya. Misalnya.. Hendrik tidak segan membantu mengetikkan materi ramalan saya di komputer. Saya menyadari. saya masih terus belajar dari kehidupan. Ya. saya dan Hendrik merayakan perkawinan perak. Tapi. mereka juga suka meminta saya meramalkan nasib mereka. Lagi pula. Untung hanya ringan saja. . “Ini alamat rumah kalau-kalau kamu lupa. pada 29 Mei 2007 lalu. Eh. kini juga sudah bekerja sebagai DJ. ada waktu untuk melepaskan…. dia bandel. ikut ke luar kota mendampingi saya talk show dan seminar. Kuncinya simpel saja: harus punya kesadaran akan tanggung jawab masing-masing. Yang tak kalah saya syukuri.” Ha. dia mengalami kecelakaan. dan --lagi-lagi-. Nah. Kalau sempat. nyatanya sampai sekarang perkawinan kami adem ayem saja. pada bulan puasa lalu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful