1

Kriteria yang harus dipenuhi dalam pemiliha masalah antara lain ; a. Dari sudut peneliti (Subyektif) ;  Kesesuaian dengan bidang keilmuan peneliti  Bekal kemampuan teoritis  Penguasaan metode  Biaya dan waktu dan  Alat-alat pendukung lainnya
b. Dari sudut masalah (Obyektif) adalah untuk ;

Pengembangan teori Pemecahan msalah-masalah praktis Sedangkan munculnya masalah tersebut dapat dilatarbelakangi oleh teoritis maupun praktis. Maksud dari pernyataan tersebut dapat dilatarbelakangi oleh teoritis adalah suatu masalah yang akan dipecahkan melalui penelitian secara teoritis adalah didukung oleh teori-teori yang ada, yang telah dirumuskan dari para ahli (terdahulu) ; Adapun yang dimaksud masalah tersebut dapat dilatarbelakangi secara praktis adalah bahwa masalah yang hendak diteliti pada akhirnya dapat dipergunaka untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi dilapangan. Contoh judul yang dilatarbelakangi secara teoritis dan praktis – secara ringkas (Uraia disesuaikan dengan Judul Tesis masing-masing)

2

Kerangka teoritis (ladasan teori) dalam penelitian dapat dibahas dari landasan filosofis Aksiologis – Ontologi – Epistemologi. Jelaskan landasan filosofis tersebut !.
a. Aksiologi adalah menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan?

Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?

b. Ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud

yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir, merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?.
c. Epistemologi berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya

pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?. Mengapa ke-3 landasan filosofis tersebut harus dipergunakan, jelaskan argumen saudara !. Karena ketiga landasan filosofis tersebut merupakan pilar dasar untuk mendapatkan (menemukan) atau mengembangkan kebenaran suatu ilmu. Artinya suatu ilmu dapat benar apabila dapat dipertanggungjawabkan baik secara Ontologi, epistemologi maupun aksiologis. Aksiologi dalam penguasaan metode penelitian ;
    Dapat mempergunakan dalam penelitian secara benar. Melakuka analisis data sesuai denga fenomena. Dapat memaknai data sesuai dengan konteks dan setting tempat penelitian. Melakukan interpretasi atas dasar emik dan etik secara proporsional.

Ontologis dalam penguasaan metode penelitian ;
 Merupakan penelitian dimana para peneliti perlu memahami fenomena sosial dari sudut di pelaku itu sendiri ;  Dalam kegiatannya menekankan perlunya cara mengumpulkan data diskriptif, tingkahlaku, simbol kata-kata da hasil kerja manusia ;  Penelitian kualitatif merupakan perubahan pendekatan penelitian positivistik.

Epistemologi dalam penguasaan metode penelitian kualitatif ;
     Mengosongkan pikiran peneliti ; Peneliti sebagai instrumen ; Menyatu dengan responden ; Metode wawancara dan observasi ; Menangkap fenomena ;

Terkait dengan soal no.1 (judul) – Jelaskan kerangka teoritis secara ringkas (ditinjau menurut 3 landasa filosofis) !.

3

Berdasarkan identifikasi permasalahan dan kajian teori, maka dapat ditentukan metode penelitian. Jelaskan metode penelitian !. Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Jelaskan komponen-komponen apa saja yang ada dalam penelitian !. Adapun komponen-komponen yang ada dalam penelitian antara lain ;
1. Rasional ; artinya obyek masalah yang diteliti dapat terjangkau oleh penalaran manusia ; 2. Empiris ; artinya masalah yang diteliti dapat terjangkau oleh pancaindra manusia ; 3. Sistematis ; artiya dalam melakukan penelitian haruslah mengikuti langkah-langkah yang

logis. Berdasarkan permasalahan dan kajian teoritis pada soal 1 dan 2 tersebut, coba aplikasikan dalam metode penelitian !.

1

1. Setiap proses pembelajaran di kelas, guru dituntut memiliki faktor internal dan eksternal.
a.

Yang termasuk faktor internal adalah ; 1) Internal skill (sesuai dengan profesi) 2) Informasi verbal (Lugas, jelas dan terang) 3) Strategi kognitif (Memilih metode)

b.

Yang termasuk faktor eksternal antara lain adalah ;
4) Kontigrity (kedekatan)

5) Repetisi (pengulangan kembali) 6) Reifocement (penguatan pengetahuan thdp yang lalu)
7) Change behaviour (perubahan tingkah laku)

Pejelasan ;
1) Seorang guru dlm mengajarkan suatu ilmu harus sesuai dengan profesi (keahlian)

yag dimiliki sehingga guru akan mampu menguasai terhadap bidang ilmu yang diajarkan serta memiliki pengetahuan yang luas dan mantap terhadap materi pelajaran yang diajarkan. 2) Ketika guru ketika mengajar harus ingat jelas dan terang, sehigga akan memudahkan siswa dalam menangkap materi pelajaran yang disampaikan dan peserta didik akan dengan mudah untuk memahaminya. 3) Pendidik (guru) perlu menggunakan metode dalam melaksanakan kegiatan pendidikan, penggunaan metode yang bervariasi dalam setiap proses pembelajaran dapat menjadikan peserta didik termotivasi untuk berperan aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar (pembelajaran) yang berlangsung. 4) Pendidik (guru) memiliki kasih sayang yang besar kepada peserta didik, sehingga dari kondisi tersebut akan tumbuh kedekatan emosional antara peserta didik dengan pendidik (guru). 5) Guru dalam pembelajaran perlu memberikan pegulangan kembali terhadap materimateri yag telah disampaikan, sehingga siswa akan menjadi lebih faham dan jelas terhadap materi yang telah diajarkan.

6) Guru perlu memberikan penguatan atas materi yang telah disampaikan sehingga akan tumbuh keyakinan/kepercayaan dalam diri siswa. 7) Guru harus memberikan contoh suri tauladan yang baik kepada siswa, sehingga dapat merubah perilaku siswa kearah yang lebih baik. Pendidik tidak hanya mewarnai dengan tindakan dan tingkah laku dengan nilai dan norma, namun juga menerapkan pada kehidupan sehari-hari peserta didik. Seperti ; sifat/sikap sopan santun, disiplin, jujur, rendah hati, menghargai pendapat orang lain, ramah tamah dan lain sebagainya.
2

2. Prinsip-prinsip pelaksanaan pendidikan meliputi :
a.

Peserta didik. Habitat pendidik adalah selalu didalam kencah pendidikan peserta

didik. Oleh karenanya sebagai pendidik yang terpanggil akan tugasnya, perhatian utama dalam hidupnya adalah tentang sifat-sifat yang dimiliki peserta didik. Dengan memahami sifat-sifat peserta didik dan kebiasaan belajarnya maka guru sebagai pendidik akan dapat membimbing peserta didik secara lebih efektif.
b.

Kebebasan dan keterikatan peserta didik. Manusia adalah makhluk individu

sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu peserta didik memilki kebebasan pribadi untuk mengekspresikan gagasan/pemikiran atau kemauannya. Kebebasan pribadi tersebut harus dihargai, diarahkan dan difasilitasi, meskipun tetap dituntut adanya kebebasan yang bertanggung jawab. Sedangkan sebagai makhluk sosial yang demokratis peserta didik terikat oleh peraturan dan kesepakatan-kesepakatan bersama dalam komunitasnya sehingga dituntut adanya toleransi. Untuk itu didalam proses pendidikan peserta didik perlu diberi kesempatan untuk berlatih belajar bagaimana hidup dalam kelompok.
c.

Faktor motivasi dalam pendidikan. Salah satu fungsi yang melekat pada diri

pendidik adalah sebagai motivator anak didik agar memiliki semangat dan kemauan belajar yang lebih tinggi. Sepanjang masa sekolah faktor motivasi memegang peranan yang besar untuk menjaga kelangsungan belajar siswa dalam tingkatan kesungguhan belajar yang tinggi.
d. 3

Azaz aktivitas dalam kegiatan pendidikan. Pada hakekatnya belajar adalah

wujud keaktifan siswa walaupun derajatnya tidak sama antara siswa satu dengan yang lain dalam suatu proses belajar mengajar di kelas. Kata “aktivitas” dapat dalam bermacam-macam bentuk seperti : mendengarkan, menulis, melakukan sesuatu, atau berdiskusi. Disamping itu terdapat pula aktivitas tidak dapat dilihat dengan mata atau tidak dapat diamati, misalnya : menggunakan hasanah pengetahuannya untuk

memecahkan masalah, memilih torema-teorema untukmembuktikan proposisi, malkukan asimilasi dan atau akomodasi untuk memperoleh ilmu pengetahuan baru.
e.

Kewibawaan

dan

tanggung

jawab

pendidik.

Agar

proses

pendidikan/pembelajaran dapat berhasil, maka seorang pendidik harus memiliki kewibawaan dan tanggung jawab. Kewibawaan dapat dimiliki oleh seorang pendidik karena turunan atau charisma, tepapi dapat pula diusahakan melalui kegiatan atau perbuatan yang diupayakan oleh pendidik sendiri. Cara yang ditempuh agar seorang pendidik berwibawa antara lain melalui penampilannya, penguasaan iptek, cara pendekatan, cara berbicara dan kejujurannya. Disamping itu seorang pendidik juga dituntut tanggung jawab untuk dapat mengembangkan potensi peserta didik secara optimal melalui prinsip-prinsip paedagogik. 3. Batas-batas pendidikan yang mewarnai hasil pendidikan meliputi :
a.

Faktor anak. Anak merupakan individu yang sedang tumbuh dan berkembang

yang memiliki potensi, kemauan dan watak tertentu. Tiap individu memerlukan bantuan orang lain yaitu pendidik untuk membimbing pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan tahap perkembangan anak (development task), sehingga terjadi perbedaan individual.
b.

Faktor pendidik. Pendidik adalah individu yang mampu melakukan tindakan

mendidik dalam satu situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Individu tersebut adalah orang dewasa yang bertanggung jawab, sehat jasmani dn arohani, mampu berdiri sendiri dan mampu menanggung resiko dari segala perbuatannya. Selain itu pendidik juga harus sabar,, jujur, susila, ahli, trampil, adil, kasih sayang dan luas cakrawala pandangannya
c.

Jarak/kedekatan antara anak didik dengan pendidik. Proses pendidikan akan

terjadi jika ada pergaulan antara anak didik dengan pendidik. Dalam pergaulan ini terjadi tatap muka antara anak didik dengan pendidik, sehingga seorang pendidik harus menyadari bahwa agar proses pendidikan ini dapat berhasil, maka harus ada kedekatan dengan anak didik untuk memahami karakteristik anak didik dan mampu melaksanakan proses pendidikan yang dilansi rasa kasih saying.
d.

Faktor alam lingkungan. Faktor alam lingkungan meliputi : (1) alam fisis yang

berupa flora, fauna dan benda-benda yang secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan pengaruh pada proses pendidikan, (2) alam teknis yang merupakan hasil

manipulasi manusia untuk mendukung proses pendidikan (3) alam sosial yang muncul akibat pergaulan antar individu yang kondusifitasnya juga berpengaruh pada pendidikan.
4. Orang yang memiliki kewibawaan yaitu orang yang dapat mempengaruhi orang lain

melalui sikap dan tingkah laku yang megandung kepemimpinan dan penuh daya tarik. Dengan demikia pendidik yang berwibawa seorang pendidik yang mampu mempengaruhi peserta (anak) didik melalui sikap dan tingkah laku yang mengandung kepemimpian, seperti ; membimbing, mengayomi dan pengarahan dengan penuh daya tarik, sehingga peserta (anak) didik dapat mencapai perubahan tingkah laku sebagaimana yang diharapkan. Kewibawaan proses pendidik harus dilandasi rasa cinta kasih, mengandung unsur menuntun anak menuju kemandirian. Seorang pendidik harus memiliki kewibawaan dan tanggung jawab yang datang dengan sendirinya dengan tanpa dibuat-buat. Sebab kewibaan itu adalah suatu kestabilan/kemantapan yang dimiliki dan harus ada pada diri seorang pendidik. Selain itu, suatu hal yang tak kalah pentingnya dalam untuk menghantarkan keberhasilan proses pendidikan yaitu keterkaitan dangan tanggung jawab. Pendidik harus mempunyai rasa tanggung jawab yang besar terhadap anak didiknya. Pendidik yang mempunyai rasa tanggung jawab yang besar terhadap anak didiknya akan selalu memandang bahwa anak didik merupakan aset penting sebagai pewaris bangsa dlm proses regenerasi dng generasi tua yang kelak akan menentukan perjalanan asib bangsa di masa yang akan datang. 5. Aliran-aliran pendidikan meliputi :
a.

Aliran Empirisme; aliran ini menyatakan bahwa anak yang baru lahir

diibaratkan meja lilin yang masih putih bersih (tabula rasa), sehingga pendidik dapat menulis atau menggambar apa saja diatasnya. Perkembangan anak ditentukan oleh pengaruh dari luar atau lingkungan tempat mereka dibesarkan. Dari lingkungan anak banyak
b.

memperoleh

pengalaman,

dan

pengalaman

inilah

yang

membentuk

kepribadiannya. Aliran Nativisme; aliran ini berpendirian bahwa anak yang lahir telah memiliki bakat atau pembawaan tertentu, sehingga pengaruh dari luar termasuk pendidikan tidak berperan apa-apa. Anak lebih baik dibiarkan saja, sebab nanti kepribadiannya akan terbentuk dengan sendirinya.

c.

Aliran Naturalisme; aliran ini menyatakan bahwa alam memiliki peran yang

besar dalam perkembangan anak, sehingga alam dimana anak berada sangat mempengaruhi perkembangan anak.
d.

Aliran Konvergensi; aliran ini berpandangan bahwa terbentuknya kepribadian

anak ditentukan oleh dua faktor yaitu bakat dan lingkungan. Aliran ini merupakan perpaduan antara aliran nativisme dan empirisme, oleh karena itu pendidik perlu mengetahui bakat/pembawaan anak, kemudian memberikan pengaruh sesuai dengan bakatnya.

Manajemen pendidikan dipandang sebagai ilmu seni dan profesi :

Nanang Fattah (1999 : 1) menunjuk sebutan manajemen sebagai ilmu, kiat, dan profesi. Ketiga istilah ini masing-masing diambil dari pendapat Luther Gulick dan Follet. Gulick menyatakan bahwa manajemen dikatakan sebagai ilmu karena ia dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Manajemen dalam peranannya sebagai ilmu, dilengkapi dengan teori-teori. Manajemen menjadi ilmu, jika teori-teori yang menunjangnya mampu menuntun manajer memberi kejelasan tentang kegiatan yang memungkinkan mereka meramalkan dampak dari perilaku dan kegiatannya. Follet menyebut manajemen sebagai kiat atau seni. Disebut demikian, karena manajemen mencapai sasaran melalui cara-cara mengatur orang lain menjalankan tugas. Cara mengatur orang adalah sebuah seni, dan pekerjaan seni adalah pekerjaan memfungsikan intuisi. Dengan demikian, selain bersifat ilmiah, banyak unsur manajemen merupakan kiat khusus para manajer. Untuk itu, seorang manajer mesti memiliki tiga aspek penting yang membentuknya memiliki kemampuan intuisi untuk mewujudkan manajemen sebagai seni. Tiga aspek penting itu adalah : pandangan, pengetahuan teknis, dan komunikasi. Seorang manajer diharapkan memiliki pandangan jauh ke depan tentang bagaimana menggerakkan organisasi. Pandangan jauh ke depan ini ditunjang dengan pengetahuan teknis yang cukup, sehingga permasalahan yang muncul akan dapat diatasi dengan bekal pengetahuan teknis. Oleh karena itu, manajer harus banyak belajar, mengikuti pelatihan manajemen, dan selalu menggali hal-hal baru yang muncul dalam khasanah perkembangan manajemen. Manajemen dikatakan sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai prestasi manajer. Profesi adalah suatu pekerjaan yang menuntut persyaratan tertentu (Nanang Fattah, 1999 : 3). Seorang manajer harus mempunyai kompetensi : konseptual, sosial (hubungan manusiawi), dan teknikal. Kemampuan membuat konsep, perencanaan, penilaian awal, analisis lingkungan, dan sebagainya merupakan kemampuan konseptual. Hubungan manusiawi atau sosial diwujudkan melalui komunikai dan jalinan keterhubungan unsur-unsur baik yang ada di dalam organisasi maupun di luar organisasi

Konsep : • Kepemimpinan : Sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat kepribadian, termasuk kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan orang2 yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya.

Decision maker : Menurut Ngalim Purwanto bahwa pengamilan keputusan kerupakan kegiatan dalam aktivitas kepemimpinan. Cara pengambilan keputusan yang

dilakukan oleh seorang pemimpin menunjukkan gaya kepemimpinannya. Dengan demikian, pengambilan keputusan merupakan fungsi kepemimpinan yang turut menentukan proses dan tingkat keberhasilan kepemimpinan itu.

Human Relation : Peran yang harus dijalankan oleh individu dalam organisasi dalam rangka menyampaikan sebagian informasi yang dikumpulkan kepada para individu atau pihak-pihak di luar organisasi. • Organisasi : Sistem terpadu yang di dalamnya terdapat subsistem dan komponenkomponen yang saling berhubungan. Setiap hubungan yang terjadi merupakan kerjasama diantara subsistem yang ada, sehingga tercipta saling ketergantungan kuat secara internal dan hubungan terpadu secara eksternal. • Komunikasi : Proses menyampaikan suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk member tahu atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui media. • Administrasi : Proses kegiatan yang terdapat dalan suatu organisasi melalui kerjasama antarpersonal yang berhubungan dengan pelaksanaan visi dan misi suatu institusi atau lembaga tertentu. Jika digambarkan eksistensi dan keterkaitan antara administrasi manajemen,leadership dan human relation adalah sebagai berikut :(1979 : 74 – 75) Organisation Administration Management Leardership Human Relation Gambar 1. Letak administrasi dalam Organisasi Dari gambar di atas jelaslah bahwa dalam sebuah organisasi apapun, apakah dalam bidang pendidikan, perusahaan, pemerintahan, atau dalam sebuah organisasi besar atau kecil sangat diperlukan adanya administrasi (Oteng Sutrisna 1987). Administrasi dalam arti luas (bersifat manajerial) atau dalam arti sempit (bersifat administratif), kedua- duanya sangat diperlukan dalam sebuah organisasi. Karena administrasi di sini merupakan hayat, ruh, penggerak atau motor bagi dinamika organisasi. Administrasi dalam arti dinamis ini diperlukan, oleh karena kita maklumi bahwa dalam setiap organisasi sudah tentu terdapat beberapa unsur atau komponen yang menjadikan terbentunya sebuah organisasi. Unsur atau komponen dimaksud adalah : Man, Money, Machine, Matrial danMethod