Serial : Perahu Kertas

Judul : Lingkaran Suci

PART 1: Lingkaran Suci Amsterdam, Juni 1999… Tidak ada alasan untuk meninggalkan Amsterdam pada musim panas. Inilah masa terbaik untuk bersepeda di sekitar Leidseplein dan Dam Square sambil menikmati sinar matahari yang merupakan surga tahunan bagi warga kota. Ia masih ingin duduk di pinggir pantai Blomendahl berbekal kanvas dan alat lukis, atau menikmati koffee verkeerd di salah satu kafe di 9 Straatjes dari pagi hingga sore bersama buku sketsanya. Sambil mengosongkan baris terakhir bukunya dari hambalan yang bergantung di samping tempat tidur, pertanyaan yang sama seminggu terakhir ini berulang dalam kepalanya: umurku baru jalan delapan belas, tapi kenapa aku merasa terlalu lelah untuk semua ini? Pintu di balik punggungnya berderit pelan. “Nee, Keenan. Jangan bebani kopermu dengan buku. Biar Oma yang kirim semua bukumu ke Jakarta.” Keenan tersenyum tipis, urung membereskan buku-buku tadi. Hatinya terusik. Oma mengatakan itu seolah-olah ia tak akan pernah kembali ke rumah ini. Keenan tahu saat ini akan hadir tak terelakkan. Hanya keajaiban yang bisa membatalkannya kembali ke Indonesia. Bertahun-tahun, Keenan berharap dan berdoa keajaiban itu akan datang. Keajaiban tak datang-datang. Hanya sesekali telepon dari Mama yang memuji sketsa-sketsa yang ia kirim, tanpa ucapan tambahan yang menyiratkan kalau ia bisa terus tinggal di Amsterdam, menemani Oma yang berjuang agar tidak digusur ke panti jompo karena dianggap terlalu tua untuk hidup sendiri, melukis di salah satu bangku di Vondelpark, tumbuh besar menjadi seniman seperti mereka yang ia kagumi dan banyak berseliweran di kota ini. Keajaiban yang dimiliki Keenan punya tanggal kadaluarsa. Cukup enam tahun saja. Orang tuanya bertengkar hebat seminggu sebelum akhirnya memutuskan bahwa ia, anak pertama mereka, dilepas ke negeri orang. Padahal Keenan tidak merasa di negeri orang. Bukankah di kota ini Mamanya dilahirkan dan menjadi seniman, sampai akhirnya pergi ke Indonesia dan berhenti menjadi seniman? Keenan tidak tahu persis apa yang terjadi. Bagaimana mungkin orang tuanya, sumber dari bakat melukis yang mengalir dalam darahnya, justru ingin memadamkan apa yang mereka wariskan? Papa khawatir Amsterdam akan menghidupkan seorang seniman dalam diri anaknya. Kenapa Papa takut? Keenan dulu bertanya. Karena otakmu terlalu pintar untuk cuma jadi pelukis, jawab ayahnya. Keenan pun bertanya-tanya, haruskah dia mulai menyabotase nilai-nilainya sendiri di sekolah agar Papanya keliru? Tapi, untungnya, sebelum itu terjadi, Papa dan Mama sepakat. Dia diizinkan bersekolah di Amsterdam untuk enam tahun. Hanya enam tahun. Dua ribu lebih hari berlalu dan Keenan merasa enam tahun sesingkat kedipan mata. “Mungkin ini saja yang sebaiknya kamu bawa, vent,” Oma menyerahkan dua buah buku bertuliskan 2500 Latihan Soal UMPTN, “supaya jij bisa belajar di pesawat.” “Ja, Oma.” Keenan menyambut dua buku tebal itu dan berencana untuk meninggalkannya di kolong tempat tidur begitu Oma keluar kamar nanti. “Oma tunggu kamu di meja makan, ya.” Perempuan tua itu berdiri, membereskan blus motif paisley-nya yang berkerut, mengencangkan jepit yang mencapit rambutnya yang sudah putih tapi masih lebat. Oma tersenyum. Keriput tidak menyusutkan kecantikan dari wajahnya. Oma sangat mirip Mama. Keenan mendadak merasakan kangen yang menjadikan kepulangannya ke Jakarta tidak terlalu buruk. “Oma jadi masak?” “Bruineboon dan kaas brodje. Sesuai pesananmu. Oma kan niet ferget, vent. Oma selalu pegang janji.” Satu malam pada musim dingin pertamanya di rumah ini, pemanas rumah mereka rusak. Oma mendekapnya dan membungkusnya dalam selimut tebal. Mereka berdua bertahan seperti itu di sofa. Menunggu pagi. Untuk pertama kalinya juga mereka merasakan kedekatan seperti dua

sahabat yang saling menjaga. Malam itu, Oma janji tidak akan menangis kalau satu saat Keenan pulang ke Indonesia. Dan Keenan pun ikut berjanji tanpa tahu betapa beratnya memegang janji itu. Keenan memandangi neneknya yang berjalan menuju meja makan. Sudut mulut Oma selalu tampak tersenyum dan membuat air mukanya selalu ramah, langkahnya masih tegap meski memelan setahun belakangan ini. Dari celah pintu yang sedikit membuka, Keenan memandangi Oma membereskan taplak meja yang sudah rapi dan duduk menatap sup kacang merah yang mengepul di wajahnya. Sekalipun samar, Keenan dapat melihat mata tua itu berkaca-kaca, dan dalam gerakan cepat Oma tampak menyusut sesuatu dari ujung matanya. Keenan menutup pintu kamar. Tak lama, seluruh ruangan itu tampak kabur. Berkali-kali Keenan mengerjapkan mata, tapi air di pelupuknya seperti tidak bisa berhenti. ====== Jakarta, Juli 1999… Cewek bertubuh mungil itu tak henti-hentinya bergerak, berjingkat, kadang melompat, bahkan kakinya menendangi udara. Padahal kegiatannya hanyalah mengemas buku ke dalam dus, tapi dia memutuskan untuk mengombinasikannya dengan berjoget. Kupingnya tersumbat earphone yang mengumandangkan musik new wave koleksi abangnya. Dia baru lulus SMA sebulan yang lalu, tapi selera musiknya sama dengan anak SMA lima belas tahun yang lalu. Semua orang selalu bilang, yang namanya Kugy itu luarannya doang up-to-date, tapi dalamannya out-of-date. Yang dikatai malah cuek cenderung bangga. Kugy tetap bersikeras bahwa musik tahun ’80, terkecuali fashion¬-nya, sangat keren dan jenius. “Karma-karma-karma-karma-karma Chameleon… you come and go… you come and gooo…” Kugy mengipas-ngipas sebuah buku sambil menandak-nandak. Ia berusaha keras tidak melihat cermin, karena kelebatan bayangannya saja sudah membuat ia ingin terpingkal-pingkal sendiri. Jelek banget. Dari luar, adik perempuannya, Keshia, mengetuk-ngetuk pintu. Setelah semenit tidak ada hasil, Keshia yang tidak sabar mulai menggedor-gedor. “Kugy! Telepon! Woi! Ada telepon, tuh!” Ada suara dewasa berceletuk pelan dari belakang. “Kak Kugy.” Keshia melirik ibunya sambil melengos. Beliau tidak bosan-bosannya mengingatkan untuk memanggil Kugy dengan tambahan ‘kak’. Masalahnya, kelakuan kakak perempuannya yang satu itu kurang layak untuk menyandang titel ‘kakak’. Pintu penuh stiker di hadapan Keshia membuka. Kugy melongok dengan sebelah earphone-nya menjuntai. Bukannya buru-buru mengangkat telepon, dia malah menengok ke ibunya dulu, “Ma, gimana kalau aku ganti nama jadi Karma? Kan tetap dari ‘K’. Jadi nggak menyalahi aturan rumah ini.” Keshia ikut menengok ke ibunya dengan tatapan putus asa, “Tuh, kan, Ma? Dia aneh banget, kan?” Ibunya hanya mengangkat bahu sambil terus membaca. “Punya anak lima saja manggilnya suka ketukar-tukar, apalagi ada yang mau ganti nama. Malas, ah. Nanti saja kalau Mama sudah tua, sudah pikun. Jadi nggak ngaruh. Mau Karma, kek, mau Karno… terserah.” Keshia dibuat melongo. Dia mulai menyadari dari mana keanehan Kugy itu berasal. Dengan logat British yang dibuat-buat, Kugy menjawab telepon. “Haluuu? Karma Chameleon speaking. Who is this?” Ada beberapa detik kosong sampai terdengar jawaban dari ujung telepon. “Gy? Noni, nih. Emang lu sangka siapa yang nelepon? Ratu Inggris?” Mendengar suara Noni, mata Kugy langsung berbinar. Noni adalah sahabatnya sejak kecil. Dialah orang yang paling menunggu-nunggu Kugy selesai berkemas supaya bisa langsung cabut ke Bandung. Noni juga orang yang paling repot, persis seperti panitia penyambutan di kampung yang mau kedatangan pejabat tinggi. Dia yang mencarikan tempat kos bagi Kugy, menyiapkan jemputan, bahkan menyusun daftar acara mereka selama seminggu pertama. Singkatnya, Noni adalah seksi sibuknya. “Jadi ke sini, nggak? Entar kamar kos lu keburu gua lego ke orang lain!” Suara Noni yang melengking tajam begitu kontras menggantikan suara Boy George yang halus dari kuping Kugy. “Santailah sedikit, Bu Noni. Legalisasi STTB ke sekolah aja gua belum sempat…”

“HA? Orang lain tuh sudah dari berabad-abad yang lalu legalisasi STTB-nya, tahu!” “Itu jelas nggak mungkin. Yang namanya STTB baru ada waktu angkatan abang gua sekolah…” “Kapan mulai beres-beres, Gy? Buku-buku lu yang banyak banget itu dipaket aja ke Bandung, nggak usah bawa sendiri. Bagasi mobilnya Eko kan kecil, nanti nggak bakal muat. Lu bawa bajubaju aja, ya? Tiket KA udah pesan, belum? Lagi penuh lho. Ntar terpaksa beli di calo. Sayang duit.” “Non, lu tuh lebih cerewet dari tiga nyokap gua dijadiin satu. Serius.” “Minggu depan, pokoknya nggak mau tahu, lu udah harus udah sampai di Bandung. Mobil Eko udah gua suruh masuk bengkel dulu biar nggak mogok pas ngejemput lu ke stasiun. Habis itu kita langsung aja keliling buat belanja kebutuhan lu. Kamar lu udah gua sapu-sapu sejak kemarin. Pokoknya tahu beres, deh.” “Tapi lu juga lebih rajin dari tiga pembantu gua dijadiin satu.” “Dasar anak gila!” “Kurang ajar lagi…” “Iya! Kurang ajar!” “Gimana sih, gua. Payah banget.” Noni tiba-tiba tertawa. “Kok lu jadi marahin diri lu sendiri!” “Iya, ya?” Kugy ikut tertawa. “Supaya mengehemat energi lu, Non. Kan lu udah capek bantuin gua. Udah capek ngurusin si Eko dan Fuad-nya yang ngadat melulu itu…” “Emang! Kadang-kadang mendingan nge-date pake sepeda kumbang daripada Fiat kuning itu. Lebih sering si Fuad mogok daripada si Kombi kawin.” “Wuahaha! Parah banget, dong! Mending kalo Fuad bisa beranak, minimal kalian bisa jadi peternak Fiat…” Kugy tergelak-gelak. Komba dan Kombi adalah pasangan hamster peliharaan Noni dan pacarnya, Eko. Pasangan Komba dan Kombi ini tidak henti-hentinya beranak sampaisampai Noni dan Eko sempat punya profesi baru yakni pedagang hamster. “Ya udah, minggu depan pokoknya gua tunggu di Bandung, ya. Jangan lupa: STTB, pesan tiket KA, packing, paketin buku-buku lu, payung lipat yang dulu lu pinjam, jaket jins gua—masih di lu kan, ya? Terus…” Kugy menjauhkan gagang telepon sebentar dari kupingnya, menunggu sayup suara Noni selesai bicara sambil pindah-pindah saluran teve. “Gy? Udah dicatat semua? Kugy?” Kugy buru-buru menyambar telepon kembali. “Siap! Sampai ketemu minggu depan, ya!” ======= Saat pembicaraan telepon itu usai, Kugy terkikik-kikik sendiri. Sahabatnya yang satu itu memang luar biasa. Keluarganya sendiri bahkan tidak usah repot mengurus ini-itu ketika Kugy harus bersiap kuliah di Bandung. Noni membereskan hampir segala persiapan Kugy dengan baik dan sukarela. Dari mereka kecil memang selalu begitu. Orang-orang bilang, Noni seperti mengasuh adik, padahal mereka seumuran. Noni yang anak tunggal dan Kugy yang dari keluarga besar adalah sahabat karib yang saling melengkapi sejak TK. Kedua ayah mereka sama-sama merintis karier di perusahaan yang sama, dan hubungan kedua keluarga itu terjalin akrab semenjak hari pertama mereka berjumpa. Seperti disengaja, kedua ayah mereka pun selalu ditugaskan berbarengan. Noni dan Kugy tumbuh besar bersama, selalu tinggal di kompleks yang sama, pindah dari satu kota ke kota lain hampir selalu bersamaan: Ujung Pandang, Balikpapan, Bontang, dan berakhir di Jakarta tahun 1995. Pada tahun itu, untuk pertama kalinya mereka berpisah. Ayah Noni yang duluan pensiun, memilih tinggal di Subang untuk menghabiskan hari tuanya, dan Noni kemudian disekolahkan di Bandung. Sementara ayah Kugy tinggal di Jakarta bersama keluarganya. Meski Noni selalu tampak lebih dewasa dan teratur ketimbang Kugy yang serampangan, sesungguhnya Kugy memiliki keteguhan yang tidak dimiliki Noni. Sejak kecil, Kugy tahu apa yang dimau, dan untuk hal yang ia suka, Kugy seolah-olah bertransformasi menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Pilihannya mengambil jurusan Sastra adalah buah dari cita-citanya yang ingin jadi penulis dongeng. Pilihannya kuliah di kota lain adalah buah dari khayalannya untuk hidup mandiri. Di luar dari perilakunya yang serba spontan, Kugy merencanakan dengan matang perjalanan hidupnya. Ia tahu alasan di balik semua langkahnya, dan benar-benar serius menangani impiannya.

Dengan rajin ia mengikuti segala perlombaan menulis di majalahmajalah.. dari kemarin begadang terus. Meski berair cokelat. Waktu itu keluarganya masih tinggal . “Eh.. sampai buku dongeng klasik bergambar yang mahal. bertanya-tanya pada dirinya sendiri: apakah ia salah karena tidak merasakan kebahagiaan yang sama? Apakah ia puas atas kesuksesannya menyenangkan orang lain? Dan apakah ia cukup berduka atas pengkhianatannya pada diri sendiri? Di depan kanvas. yang lalu dituangkan ke dalam bentuk artikel yang serius. sampai bukunya terus bertambah banyak. Kok kayaknya kita yang lebih antusias menunggu pengumuman UMPTN daripada pesertanya sendiri. kendati jalan yang ditempuhnya harus berputar-putar. “Kita bangunkan saja dia. Langkah-langkah beratnya hilir mudik sedari tadi. hingga mereka tersudut dan tidak ada cara lain agar berhenti dikejar-kejar selain mengembalikan buku. Kugy ingat betul bagaimana sejarah kebiasaan itu bermula.Dari SD. bahwa memang cuma ada satu nama seperti itu: K E E N A N. Keenan menerawang di atas tempat tidur.” Padahal Keenan sudah tahu apa yang terjadi. “Gimana. Kugy melakoni dengan tekun segala kegiatan yang ia anggap menunjang cita-citanya. Kugy juga tahu itu. Kasihan Keenan. hanya berbalutkan kaos putih polos dan celana olah raga. Kugy menyusun balok demi balok mimpinya. Jadilah Kugy pemilik taman bacaan termuda di kompleksnya. *** Dua belokan dari rumah Kugy. Tercetak jelas. Seperti predator di hutan rimba. Dari mulai buku-buku stensilan. ======= Jakarta. pria itupun meyakinkan dirinya berkali-kali. “Ini namanya! Dia masuk!” istrinya berseru dengan suara tercekat sambil menunjuk satu nama. yang tinggi dan masih tegap untuk umurnya yang memasuki kepala lima. “Ah. Kugy menjadi Pemimpin Redaksi majalah sekolah dari mulai SMP sampai SMA. Untuk itu sepanjang hidupnya Kugy berupaya membuktikan bahwa ia bisa mandiri dari buku dan menulis. arus kali itu mengalir lancar dan tidak mampat seperti kebanyakan kali di kota Jakarta. sih. Sambil meringkuk dan memeluk lutut. Seperti balap lari. Agustus 1999. ia selalu menemukan air mengalir dekat rumahnya. sekaligus yang tergalak. Badannya. lalu bekerja sebaik dan sekeras mungkin. Ma?” tanya pria itu dengan gelisah. Biar dia tidur sepuas-puasnya. Ia dikenal sebagai pionir dengan ide-ide segar bagi kehidupan buletin sekolah. Dalam kamarnya yang bergabung dengan taman bacaan di loteng rumah.” ujarnya tidak sabar. Antara percaya dan tidak. mata Keenan terpaku. Seolah-olah ada yang menginginkan agar kebiasaannya yang satu itu terus berjalan. itu.” jawab istrinya santai.” dumel suaminya. Semakin ia beranjak besar. “toh hari ini dia sudah membuat kita semua lega. untuk akhirnya keluar menjadi juara. Penulis dongeng bukan salah satunya. ada sebuah kali. Tidak mungkin menutup telinga dari suara apa pun di rumah mungil ini. “Palingan juga masih tidur. Ia akan menulis dongengnya sendiri. di manapun ia tinggal. Kugy rajin menabung. Kemudian investasi itu ia putarkan lagi melalui usaha penyewaan.” istrinya menyergah dengan senyum mengembang. mereka buru-buru ke pintu depan dan langsung membuka halaman tengah koran yang padat dengan barisan nama-nama. “Keenan mana. Tidak semua orang menganggap menjadi penulis dongeng layak disebut sebagai cita-cita. ia nekat memburu para figur publik betulan untuk diwawancarai dengan pendekatan yang profesional. Suatu hari ia bukan hanya seorang kolektor buku dongeng. Kugy menyadari sesuatu ketika baru pindah ke Jakarta. nggak usah. dan semua hasil tabungannya dibelikan buku cerita anak-anak. ia memburu para penyewa ‘nakal’ dengan sepeda mininya. Mendapatkan lembar kosong itu sebagai jawaban pertanyaan hatinya. Konsentrasinya lebih terpusat pada dua gelas berisi kopi susu panas yang sedang ia aduk. Sampaisampai Kugy hapal juri-juri mana yang biasa dipakai dan bagaimana seleranya. Kugy sadar bahwa sebuah cita-cita yang dianggap layak sama dengan profesi yang pasti menghasilkan uang. korannya datang!” seru istrinya ketika ia mendengar gesekan kertas koran di depan pintu.

Terlalu lama ia lupa tugasnya sebagai mata-mata dunia air. Kugy tidak ingat kapan terakhir ia menghanyutkan perahu di sana. atau bahkan tidak sampai sama sekali. Tapi kamu harus mandi dulu baru bisa ikut antar abangmu ke stasiun.di Ujung Pandang. Termasuk rumah mereka yang dekat kali di Jakarta. “Tapi jelek-jelek gitu. Entah kenapa. Hampir setiap sore Kugy selalu mampir ke pantai. Namun kebiasaan itu mengendur seiring waktu. Adalah Karel. Barulah Kugy teryakinkan. Pikirannya melayang pada surat-surat dan foto-foto yang sering diselipkan di tasnya oleh cewek-cewek di sekolah. Kugy kecil lalu berkhayal kalau dirinya adalah anak buah Neptunus yang diutus untuk tinggal di daratan. Sampai ketemu. Saya pindah ke Bandung. “Air empang bakal sampai ke laut?” Karel mengangguk lagi. rumah mereka yang berpindah-pindah selalu dekat sesuatu yang mampu meyakinkan Kugy bahwa surat-suratnya tetap sampai pada Neptunus. Anak lak-laki itu melihat sekeliling dengan khawatir. Ia ngambek berkepanjangan sampai akhirnya Karel menjelaskan bahwa selama ada aliran air. Berbarengan dengan batu. dan ia menebak-nebak mana yang kira-kira ditemukan oleh abangnya. Rumah asri yang terletak di daerah hijau di Jakarta Timur itu tampak lengang. Nan. bahwa surat-suratnya sampai ke laut sudah dalam bentuk serpihan mikron yang tak lagi bermakna. “Air selokan bakal sampai ke laut?” Karel masih mengangguk. Perlahan. kepergiannya kali ini menggerakkan ia kembali menulis. Namun Kugy tak terganggu. Sebuah surat pendek berisi sebaris kalimat: Nus. Simbolnya air. ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celana. Mama sudah kayak resepsionis pribadi ngangkatin telepon buat . Kugy percaya bahwa ia harus menulis surat untuk Neptunus dan melaporkan apa saja yang terjadi dalam hidupnya. Kendati bukan lagi dekat laut. yang pertama kali memberi tahu bahwa zodiak Kugy adalah Aquarius. Ia mengirim suratnya yang pertama saat mulai bisa menulis sendiri. abangnya yang paling besar. Rumah mereka yang berseberangan dengan laut membuat Kugy kecil banyak menghabiskan hari-harinya di pantai.” Muka Jeroen bersemu merah. ========== Napasnya baru melega ketika mobil orang tuanya ternyata masih terparkir di dalam garasi. daun. Semua aliran air akan menuju ke laut. Namun Kugy juga tidak bisa menjelaskan bagaimana di lubuk hatinya ia masih ingin percaya. “Untung kamu tidak di sini. “Mam! Keenan belum berangkat. begitu kata Karel sambil menyusutkan linangan air mata di pipi Kugy. mengirimkan surat-surat berisi cerita atau gambar untuk Neptunus. Sebuah perahu kertas. sebuah perahu kertas melaju tak terganggu.” Keenan melangkah ke luar dari kamarnya dan nyengir melihat adiknya yang dekil bermandikan keringat. I’ll find my stream. Ia tidak bisa menjelaskan bagaimana dengan menyaksikan perahu-perahu kertas itu hanyut terbawa air bisa membuat batinnya damai. dan segala yang dicemplungkan tangan-tangan kecil di sebelahnya. Ibunya tersenyum dan menggeleng. kan?” tanyanya seketika. yang artinya tak ada pantai lagi dekat rumah. Matanya tak lepas mengamati aliran air cokelat di bawah kakinya. Hiruk-pikuk kerumunan anak kampung dari pelosok gang berdengung di telinganya. kail. di manapun itu. “Air sungai bakal sampai ke laut?” Karel mengangguk. Pagi itu ia berdiri di tepi kali. Langkahnya pun meringan saat ia membuka pintu. Kugy melipat surat itu menjadi perahu lalu dihanyutkan ke laut. memastikan. “Belum. Mam. Kugy tetap bisa mengirim surat ke Neptunus. Kugy yang beranjak besar pun sadar bahwa besar kemungkinan Neptunus itu tidak ada. Garis-garis mukanya yang tegas dan runcing dikombinasikan dengan kulit putih tapi gosong kemerahan akibat terpaan sinar matahari membuatnya persis seperti turis peselancar di pinggir pantai Kuta. Seorang anak SMP berambut ikal tampak berlari dan bergegas memasuki pagar rumahnya yang terbuat dari kayu bercat putih. Kugy protes keras saat keluarga mereka harus pindah kota. Seperti matamata yang rutin melapor ke markas besar. Jeroen banyak yang naksir.

Jeroen yang ekstrovert. Noni terpaksa mengambil tindakan lebih ekstrem. Yuk. . dan lebih senang menyendiri untuk melukis. gelagapan. deh. dan kini ia mencoba celah lain. Sementara Keenan yang introvert. aku nanti bisa kasih tahu Mas Eko yang mana. Agustus 1999… Tidak ada yang lebih dahsyat daripada gabungan gerimis hujan di luar dan selimut hangat di dalam kamar.” Ibu mereka tersenyum melihat usaha keduanya. Ayahnya menghela napas. “Alasan kamu memang masuk akal. adalah cetak biru ayahnya. “Nah! Itu dia. Namun Keenan dan Jeroen saling menjaga dan mengagumi seperti magnet yang lekat erat. “Nggak bisa. Semasa SD. tidak menyukai keramaian. Jeroen seperti orang patah hati ketika Keenan harus pergi ke Amsterdam. Cahaya dari luar seketika menerangi kamarnya yang temaram. Dan Keenan menyayangi Jeroen lebih dari apa pun. Bonus hujan. Ketemu Mas Eko. mata terpejam sebelah dan rambut semrawut. “Non. Kami terakhir ketemu kan waktu SD!” Jeroen langsung menyambar senang. halus. Permohonannya sudah ditolak mentah oleh ayahnya. Pa. “Penyerangaaan! Invasi ruang privaaaat!” “Nggak usah berlagak. Langkah tergesa dan suara bernada tinggi mengacaukan suasana hening yang membungkus Kugy seperti kepompong. Meringkuk di tempat tidur sepanjang sore sambil bermimpi indah adalah misinya sore itu. Memangnya kenapa?” “Saya nggak ingat mukanya. oke. Eko adalah sepupu Keenan yang tinggal di Bandung dan mereka akan berkuliah di kampus yang sama. Ia pun telah izin dari kantornya demi melepas Keenan ke Bandung. aku bolos sehari. Sayangnya. yuk!” Selimut yang tampak menggunduk itu tak bergerak. “Sudah. “Mam. lagi! Harusnya lu masuk ke sini pun jalannya pake lutut dan sungkem dulu ke kaki tempat tidur…” “Kita jemput sepupunya Eko ke stasiun. berhubung kamar kita bakal sebelahan setidaknya dalam empat tahun ke depan. Eko udah di depan. Mam! Kalau aku ikut. Kamu harus sekolah. yakni lewat ibunya. Ada suasana mendung yang seketika menggantung di ruangan itu. Demikian prinsip Kugy. ia lupa mengunci pintu. dan menyadari betapa berbeda keduanya.dia. Dan ujung matanya menunjuk ke sudut yang penuh sesak oleh tumpukan dus berisi alat lukis. senang bergaul dan berorganisasi.” rengek Jeroen.” “Mama yakin saya dijemput Eko?” tanya Keenan. “Gy. Bandung. Si Fuad nggak bisa dimatiin. Baru sekarang lagi mereka akan bertemu setelah terpisah sekian lama.” jawab ibunya sambil mengerling ke arah Jeroen. cepetaaan!” Kugy menyahut dengan gumaman tak jelas.” timpal ibunya. Kugy menghindar. diplomatis. Jam lima keretanya nyampe. dan Keenan melihatnya dengan jelas. atletis. Tidur siang adalah momen sakral buat gua. dan kini ia harus melepas abangnya lagi untuk bersekolah di Bandung. Aku juga mau ke Bandung. Tapi Eko sudah Mama pesankan untuk bawa tulisan nama kamu. Keenan adalah idolanya nomor satu. “Itu saja?” “Sisanya dipaket ke Bandung. “Ya iyalah. Roen. Mama sudah telepon langsung ke Eko. Nan?” tanyanya sambil meraih kunci mobil dari meja. Sayang. Kedua mata Kugy terbuka. Jadi biarpun kalian tidak hafal muka. deh. gua jelaskan satu aturan yang sangat penting. entar mogok. Lu mau pakai baju yang mana? Biar gua siapin. “Gy! Bangun! Pergi.” Noni seperti tak mendengar khotbah penting Kugy. bangun. kalian pasti akan bertemu. “Semua barang kamu sudah siap. Nan.” Kugy terduduk dengan paksa. Bagi Jeroen.” celetuk ibunya lagi. Kenapa kok gua harus ikut? Itu kan sepupu si Eko. sebelum Eko pindah dari Jakarta. Satu demi satu pun melanjutkan kegiatannya masing-masing tanpa suara. Ayo. “Bentar… bentar. Dengan gesit ia menyingkap selimut dan memercik-mercikkan air dari gelas di sebelah tempat tidur. ibunya tetap menggeleng. Keenan dan Eko bersahabat karib. dan melangkahlah keluar ayahnya yang masih berkemeja dan dasi lengkap. yuk. adalah cetak biru dirinya. Diam-diam ia mengamati kedua anak laki-lakinya yang terpaut jarak umur enam tahun. dia juga pasti sama. Riak pada air mukanya tidak bisa disembunyikan.” Keenan berdiri di samping satu travel bag. Terdengar suara pintu kamar membuka.

lu yang pacarnya si Eko. Eko juga mulai khawatir. “Gy! Lu kayak karung gombal! Keren!” teriak Eko sembari merogoh-rogoh ransel mencari kamera. Namun Kugy berjalan mantap ke luar menantang dunia. Noni dan Kugy sudah mulai resah. ketinggalan. dan kaos kegedean bertuliskan “Lake Toba” yang sudah tipis dan lentur seperti lap dapur. “Tenang… muka sepupuku tuh unik. Non. “Waktu SD. “Sip. tapi mereka belum juga menemukan objek jemputannya. Eko nyengir masam. pose!” Dengan cepat Kugy langsung membengkungkan kedua lengannya seperti atlet binaraga. Belum lagi. ya makin senanglah dia. mukanya hepi gitu…” Noni menunjuk Kugy yang sedang mematut-matut diri di spion mobil Eko. Gy? Dan gua nggak bisa matiin mesin mobil karena takut mogok. Bajunya mendekati compang-camping. *** Lautan penumpang kereta api telah melewati tiga sekawan itu sejak sepuluh menit yang lalu. “Hehe. dong.” “Orang gila lu layanin. Noni memandang temannya dengan khawatir. Gy. Jadi kuli gampang haus! Yuk!” Jawaban tegas Kugy menuntaskan kontroversi sore itu. “Lu yakin dia pakai KA jam lima? Kok nggak muncul-muncul?” tanya Kugy pada Eko yang celingak-celinguk tiada henti. kan. mendingan lu konversi jadi duit terus beliin gua minum. Kugy dan Noni langsung berpandang-pandangan. Jaket jins kegombrongan milik Karel yang digondol Kugy detik-detik terakhir sebelum dia berangkat ke Bandung itu pun tentu tidak membantu. jangan gitu-gitu amat. Standar majalah. dan meluncurlah Fiat 124S kuning itu memecah air di atas jalanan kota Bandung yang basah. dan mulai tertawa-tawa bahagia tanda menikmati. Kuli dorong mobil. “Siap… satu. Lihat tuh. “Jadi… gua dibangunin dari tidur suci gua untuk jadi cadangan tenaga ngedorong si Fuad?” “Ya iyalah. sementara Kugy bergegas ke arah muka stasiun. ya?” “Oh. Ko.” kata Eko penuh penekanan. “Mau pakai baju yang mana?” “Yang ini!” Kugy menunjuk pakaian yang menempel di tubuhnya.” Eko menjawab setengah menggumam.” Kugy menganga tak percaya. Tapi gua akan merelakan lima menit buat lu untuk ganti baju. mulai menyadari betapa aneh dandanannya. gua nggak tahu mukanya. Ayo. kenapa gua harus dilibatkan segala?” Kugy berseru putus asa. “Kok kamu nggak bawa tulisan atau apa. Lu ngambek. Celana batik selutut yang sudah mengusam. Gua cuma berdandan sesuai kasta gua aja. Rambut sebahu Kugy sebagian naik ke atas seperti disasak setengah jadi. Untuk dorong kita butuh tenaga. “10R lah. enggak.” “Ampun. ya… hmm…” “Kapan kalian terakhir ketemu?” tanya Kugy. nanti gua pajang di mading kampus. ========== “Yah. tiga. Kalau lu mau. “Lu tahu betapa gua menghargai setiap liter bensin. Gua cetak 5R. kok… pokoknya gimana. kek?” cecar Noni. “Gua yakin dia pakai kereta yang ini.” Eko tersenyum puas. Kalo mogok harus ada yang dorong. Melihat itu. deh! Kalau bilang dari tadi kan aku bisa cari kertas sama pulpen!” omel Noni. dong. disambut Eko yang kontan meringkukringkuk tertawa melihat pemandangan nyentrik itu. dua. Noni memutuskan untuk lanjut mengomel.” “HAH?” teriak Kugy dan Noni hampir berbarengan. jam tangan plastik Kura-kura Ninja yang nyaris tak pernah lepas dari pergelangan tangannya. Masalahnya. “Daripada bensin lima menit lu habiskan buat tunggu gua ganti baju. Lalu sendal khusus kamar mandi dari bahan plastik berwarna pink elektrik seolah menyempurnakan ‘keajaiban’ penampilan Kugy sore itu. cabut!” sahut Kugy seraya menyambar jaket jins di gantungan. Buat apa lagi?” “Nggak sopan. Dia sebetulnya sudah bisa menduga pilihan Kugy. “Soalnya… Si Fuad ngadat lagi. bener-bener nggak sopan! Gua cuma dianggap kuli dorong mobil…” sambil menggerutu Kugy bangun. .

Sambil tertawa riang. Perempuan mungil setinggi dagunya. “KO! Siapa nama sepupu lu?” “Keenan!” “KEENAN?” Bersamaan dengan itu muncul serombongan orang yang menghalangi pandangan keduanya. “Eko?” panggilnya setengah meragu.” Keenan mulai bingung menjelaskan. Namun dalam hati ia tahu. Siapa tahu memang dia pakai KA yang lain. Kugy berharap ia tak salah mendengar. Baru saja Keenan mau mengucap ‘permisi’ untuk yang kedua kalinya. Pinjam hp ya. Keenan mengamati dengan saksama. melihat Kugy di bilik informasi sedang menguasai mikrofon. “Keenan?” Eko membalas sama ragunya. ia tidak keberatan salah dikenali. Berusaha sangar. Kugy membalikkan badan. ditunggu oleh saudara Eko yang ciri-cirinya sebagai berikut: rambut cepak berjambul Tintin. Kugy pun hanya mengangguk kecil. Keenan merasa sumbernya adalah perempuan yang sedang bergerak ke arahnya. tegas Kugy dalam hati. sekali lagi. matanya tertumbuk pada wajah yang kali ini rasanya ia sungguhan kenal. “Permisi…” Kugy berhenti. “Aku coba telepon ke rumah tanteku. tertegun menatap orang yang tahu-tahu muncul di sampingnya dan kini menghadang persis di hadapan. Tepatnya. “Keenan… Keenan…” ulangnya sendirian sambil terus berjalan. Tak lama seorang petugas datang tergopoh-gopoh untuk mengendalikan situasi. Ragu. seorang pemuda yang berdiri tak jauh dari mereka pun ikut melongok. Suasana mulai lengang. tinggal segelintir orang yang tersisa. Ternyata ia berhadapan dengan anak kucing yang berusaha jadi singa. Keenan mengamati sekali lagi. pakai kaos Limpbizkit. kedua mata membelalak seperti mengancam. saudara Keenan. nih.Dari jauh. kelihatan seperti anak SMP. Lebih baik konsentrasi mencari sepupu Eko nan malang. “Haha… salah sendiri posnya ditinggal…” Dari arah lain. “Panggilan untuk Keenan penumpang KA Parahyangan dari Jakarta. Setengah mati Keenan menahan senyum gelinya yang spontan ingin membersit. . kulit cokelat sedang. deh. Berusaha melupakan apa yang ia baru lihat. Keduanya menoleh ke belakang. lalu berjalan lagi ke arah bilik informasi yang menjadi tujuannya. mata besar bulu mata lentik. ia tidak akan pernah melupakan wajah itu. seseorang merasa namanya dipanggil. Tak jauh dari sana. ia pun memotivasi diri. ditemani oleh dua cewek cakep…” Noni dan Eko melongo. Kugy menghampiri Noni dan Eko. akhirnya berjalan ke teras depan stasiun. Non. tinggi 175 cm.” Sambil memberengut. karena tiba-tiba terdengar suara yang sangat ia kenal bergaung lewat speaker seantero stasiun. Namun harus selalu waspada dengan semua makhluk sok akrab. sepupu dari Eko Kurniawan. Keenan mendekati. Seorang anak kurang ajar rupanya telah menjajah daerah kekuasaannya saat ia pergi sebentar ke kamar mandi barusan. ya. rambut seperti orang baru kesetrum. ========= Noni dan Eko yang mulai putus asa menunggu di tempat sama. Laki-laki tadi adalah makhluk tertampan yang pernah ia temui sejak tokoh Therrius dalam komik Candy-candy. Saya pikir tadinya kamu… emm… maaf. dan akhirnya hanya tersenyum lebar lalu ambil langkah seribu. Noni menyerahkan ponselnya. “Ada apa. gaya berbusana tidak ada juntrungnya. Ia yakin belum pernah berkenalan dengan cewek satu itu seumur hidupnya. Namun tangannya tergantung di udara. Dan kini orang itu yakin bahwa perempuan aneh yang kini tengah diusir petugas itu memang orang sama yang memanggil namanya tadi. Pulsa cekak. menjajarkan langkahnya dengan kaki kecil yang melangkah besarbesar dan terburu-buru. Sejujurnya. ya?” tanya Kugy dengan suara dibesar-besarkan. ia belum pernah menemukan orang dengan penampilan seaneh itu. Napasnya baru lepas setelah ia yakin orang itu sudah hilang jauh di balik punggungnya. Mendadak Keenan menyesal telah memanggil. Tak hanya Noni dan Eko yang ikut menoleh. “Nggak pa-pa. tampak satu sosok mendekati mereka bertiga. Saya salah mengenali orang.

Eeeh… emang dasar si Fuad. Percaya dirinya sudah kembali. Wajahnya bersemburat merah saat ia mengulurkan tangan. Dalam ingatan Keenan. Tak lama kemudian. “Gimana. Hanya sorot matanyalah yang tak berubah. sementara ketiga temannya mendorong di belakang. terus mereka butuh aku untuk dorong mobil kalau-kalau mogok. Bukan manusia. bangga. Kugy yang tahu-tahu melempem seperti kerupuk disiram air. Akhirnya kenalan juga. “Dari dulu dia udah hancur gini belum dandanannya?” celetuknya sambil menunjuk Kugy. kurus dengan tungkai-tungkai panjang. “Halo…” “Hai. malah lebih mirip pelatih fitness. Dan dulu dia galak banget. Keenan adalah anak bule berambut kecokelatan. yang dari Belanda itu lho. Eko adalah anak berbadan besar cenderung tambun.” Keenan ikut menambahkan. juga bersamaan.” “HAH? Kok bisa?” “Biasa. bersorot mata teduh dan selalu tersenyum ramah. *** Dering telepon meraung-meraung di koridor kos-kosan itu sejak tadi. Keenan pun tak akan mengenali sepupunya jika saja tidak menemukan kedua mata bundar yang dinaungi bulu-bulu lentik yang sejak dulu menjadi ciri khas Eko. ingatan mereka berkejaran menuju ke sembilan tahun lalu. beneran mogok dia. tapi jarang bicara. malas mempermasalahkan apakah dua orang itu serius atau bercanda. sampai akhirnya Fiat itu berhasil kembali melaju dengan tenaga mesin. Noni. “Bener juga kata Tante Lena. “Mungkin kita sudah ketemu di kehidupan lampau…” timpal Kugy cepat.” “Memangnya kalian udah ketemu?” komentar Eko melihat pemandangan ganjil itu. Betulan seperti anak kucing. seolah mereka telah berkenalan jauh lebih lama dan bukannya barusan. tapi jelas suara lantangnya yang berfungsi sebagai mandor. “Hai. Jos…” “Kamu baru jogging? Tumben rajin. Kugy ikut mengekeh. hujan kembali mengguyur kota Bandung. menyadari bahwa sejak tadi mereka ternyata berdiri bersisian. Baru dorong mobil. Jarak sembilan tahun itu seketika melumer ketika keduanya berdekapan sambil tertawa bersama. sementara ekspresi Keenan seperti orang menangkap basah sesuatu. Seketika ada keakraban yang juga mencairkan jarak dan waktu di antara mereka berempat. Tubuh mungil Kugy diapit oleh kedua lelaki besar di kirikanan. yang sejak kecil membuat Keenan tampak lebih dewasa dari umurnya.” ============= . “Sudah!” ralat keduanya lagi. “Belum!” Keduanya menjawab kompak. selalu!” Keenan nyengir. sih?” Eko dan Noni mulai merasa ada konspirasi di balik ini semua.” “Hai.” “Bukan. Eko melengos melihat keduanya. Nan. Ini cewek gua.Keduanya tercenung memandangi satu sama lain. Dan mereka tertawa lagi. mantap. “Oh. Dan ini sahabatnya Noni…” Hanya Kugy yang tampak menyimpan kepanikan saat berkenalan dengan Keenan. bersahutan dengan derap kaki yang berlari dan teriakan berulang-ulang: “Nggak usah diangkaaat! Itu buat sayaaa!” Kugy menyambar kop telepon dan terengah menyapa. lu udah makin kayak seniman sekarang!” seru Eko sambil menepuk bahu Keenan. Ia berteriak-teriak sekuat tenaga untuk membakar semangat. Mereka berdua berpandangan lalu tertawa. Gede banget. “Yup. periang. “Hai. Noni di belakang kemudi. rambutnya yang diikat tak lagi cokelat melainkan hitam pekat. Fuad lagi penyakitan. Dan sekarang Keenan menjulang tinggi dan tegap. Sebuah Fiat warna kuning terang tampak berusaha keras keluar dari parkiran stasiun. Dalam ingatan Eko. “Kenalin. bermata cantik seperti anak perempuan dengan bulu mata lebat dan lentik. Dalam koridor memori masing-masing. sementara Eko harus jemput sepupunya ke stasiun. yang membuatnya dulu dipanggil ‘Si Cowok Cantik’. Sayang. tampak terjurai sedikit melewati pundak. Sekarang sepupunya sudah tidak bulat lagi seperti bola.” “Hah?” “Hujan-hujanan lagi. Kugy…” Keenan tersenyum lebar menyambut tangan mungil dengan muka yang kini merunduk malu itu.

Ia memang tak akan pernah bisa menang jika beradu mulut dengan Joshua. pacarnya sejak dua tahun terakhir. Udah sering kamu dikerjain mobil satu itu.” Ojos menghela napas. Salah satu trik yang dipelajari Kugy kalau Ojos sedang kambuh cerewetnya adalah menjauhkan sedikit gagang telepon lalu mencari kesibukan lain. dan seikat mawar putihnya berantakan tergencet punggung orang di Metro Mini... jangan percaya deh sama si Fuad. rambut rapinya layu ditimpa air hujan. lain kali kamu naik taksi aja ke mana-mana. Nanti kalau kamu flu gara-gara kehujanan.” “Ogah. “Gy? Kugy? Denger nggak?” Kugy tersadar dan buru-buru mendekatkan gagang telepon. apa? Masa kamu yang mereka andalkan? Di stasiun kan banyak kuli. Dan kali itu. kapan dong kamu beli hp baru? Masa kalau mau telepon harus ke kosan terus. melainkan seseorang yang siap berkorban demi pilihan hatinya. Datanglah Ojos di depan pintu. membawakan seikat bunga. basah kuyup karena gengsi bawa payung. begitu juga dengan teman-teman Ojos. Kendati begitu. Kugy tak akan pernah lupa hari mereka jadian. memangnya si Eko atau si Fuad bisa gantiin kamu kuliah?. nanti masuk angin. mobilnya yang keren. Oh. Kugy sendiri tak pernah menganggap Ojos serius mendekatinya karena menyadari betul perbedaan mencolok di antara mereka berdua. Kugy tak sadar. Hampir dua tahun mereka pacaran. Membukakan pintu. Di mata Ojos. Keduanya bertolak belakang hampir dalam segala hal. Pada akhirnya Kugy luluh sendiri melihat keteguhan dan keseriusan Ojos berjuang mendapatkan hatinya. ngemodal dikit. Kalau dorong Fuad. Mungkin karena Kugy begitu berbeda dengan semua cewek yang pernah dipacarinya. hujan pun turun sama lebatnya. ah. kok. tapi ia berasal dari kutub yang berbeda. bukan lagi anak manja yang dipujapuja satu sekolah. kan?” “Iya. Kugy melihat Ojos dengan pandangan lain. sikapnya justru membuat Ojos semakin penasaran. Yang dorong beneran kan Eko sama sepupunya. Putus asa. dan sikapnya yang sesuai primbon Prince Charming. Kugy menunggu sambil memanyunkan mulut dan memeras ujung-ujung kaosnya yang basah.” “Jos. Buktinya. Bayar kek buat dorong mobil. tahu jawabnya. ya. dia harus merelakan namanya yang indah ‘dirusak’ menjadi “Ojos”. Cukup banyak penyesuaian yang mereka pelajari selama dua tahun ini. Ia dianggap duta besar dari semua makhluk aneh di sekolah. dan makan malam di restoran mewah bertemankan sinar lilin. dan kini ia masih asyik memeras ujung-ujung bajunya. Joshua pun seringkali mati kutu jika berhadapan dengan Kugy. Di sisi yang berbeda. “Ya udah. Dan Ojos keburu menerima tantangan Kugy untuk bertandang ke rumahnya pakai angkot. adalah standar prosedur Ojos. Bagi Kugy. ungkapan “opposite attract” adalah yang paling sempurna untuk menggambarkan dinamikanya dengan Ojos. sementara cewek-cewek lain sibuk mencari muka hanya supaya Ojos mau mengajak mereka makan atau nonton barang sekali saja. Ojos yang perhatian dan cerewet kadang-kadang berfungsi sebagai penata hidupnya dan kaki-kaki yang membantunya menjejak bumi saat terlalu lama berada di dunia khayal. itu dia!” Dan banjiran kalimat berikutnya terus mengalir tanpa jeda. Aku cuma nyumbang spirit sama akting ngedorong doang. Ganti baju gih. Ojos begitu terkesima melihat bagaimana Kugy begitu santai dan berani menjadi dirinya sendiri. Di mata Kugy. Tak ada satu pun temannya yang percaya bahwa keduanya bisa jadian. dan mereka tetap dua manusia yang bertolak belakang.“Gila ya si Eko! Nggak ada orang lain. udahannya malah suka dijajanin minum sama Eko. Kugy yang cuek dan seenaknya terkadang menjadi pengingat bagi dirinya untuk bersikap santai dan terbuka bagi segala kejutan dalam hidup. Terserah. Naik taksi mahal. siiih…” “Nah. Kan enakan . “Kenapa? Sori tadi kresek-kresek…” “Tadi aku bilang. dan hanya Kugy satu-satunya di dunia yang berani melakukan itu. atau Kugy.” “Tapi tetap hujan-hujanan. bagaimana mungkin Prince Charming dan Mother Alien bisa bersatu? Tidak juga Ojos. Dan hati Kugy pun akhirnya memilih. Pada sore itu. Ojos yang necis dan jago basket adalah pujaan banyak cewek di sekolah karena kegantengannya. nggak pa-pa. Semuanya tak habis pikir. Kugy pun termasuk sosok populer di sekolah karena aktivitas dan pergaulannya yang luas. Kugy dikenal dengan julukan Mother Alien.

ya. Gabung.” Noni angkat tangan. kan? Hebat nggak ceritaku? Jos? Halo?” Ojos tersadar dan buru-buru mendekatkan gagang telepon. Seru banget! Ya udah.” ujar Kugy sambil terkekeh. Dia kan jelmaan lu dalam bentuk laki-laki. Jadi gini. dengan dus pizza kosong sebagai pusat seperti kawanan Indian yang mengelilingi api unggun. Kamu kan hebat.” “Kamu lagi bikin cerita apa?” “Aku lagi bikin cerpen. “Waktu SD gua pernah ikut drama sekolah. yang jujur. “Kugy… giliran lu kasih ide. takjub. Oh. Sebuah teve yang tak ditonton menyala dengan suara sayup.” “Terima kasih ya. kali ini aku mau coba kirim ke majalah. sebetulnya gua kurang setuju. Baru saja Kugy hendak bangkit berdiri. Selama ini ia terpaksa menggantungkan nasib pada feeling. Bye!” “Dah!” balas Kugy. “Diomelin sama Ojos. tampak karton besar berisi pizza menganga terbuka.” Semua terkikik-kikik. Ya. ya? Hmm. yakni menjauhkan gagang telepon sedikit dan mencari kesibukan lain. waktu itu ada malam .” celetuk Kugy. aku juga lagi bikin dongeng tentang sayur-sayuran.” “Pasti dimuat. ========== Di ruangan tamu yang digunakan bersama itu. Jadi ada penghasilan. lalu tokoh antagonisnya penyihir namanya Nyi Kunyit dari negeri Rempah…” Ojos punya trik jika Kugy sedang berceloteh tentang dunia khayal yang ia tak mengerti. dari mulai urusan memencet nomor sampai menerima telepon. tokoh utamanya Pangeran Lobak dari kerajaan Umbi. Lengkap dengan kumis palsu. Oooh. Lipsync lagu Meggy Z.” Mereka tergelak-gelak. Semua terlongo. ya!” “Maaf. Hmm. Ceweknya siapa dulu…” “Oh. “Itu memang apesnya lu aja. dan tak berhasil menghindari telepon-telepon yang tak diinginkan karena tidak tahu siapa gerangan yang meneleponnya. Empat orang duduk di lantai. tahu-tahu sebuah handuk telah dilemparkan ke pangkuannya. Kugy kehabisan banyak pulsa karena salah sambung. “Wow! Gila. Lagian kalo buat hp kayaknya nggak akan dikasih. ya?” tanya Noni yang sudah berdiri di depan Kugy. Alhasil. sebutkan hal paling aneh yang pernah kita lakukan. biasalah.” Ponsel Kugy yang keluaran empat tahun yang lalu sudah tak berfungsi lagi layarnya. “Yah. Kayak nggak tahu aja. Rencananya Eko dan Keenan mampir ke sini pakai angkot. Noni berpikir sejenak. termasuk yang sudah paling aneh sekalipun untuk ukuran orang normal. Lengkap dengan joget. “Jadi. Malu minta sama Bokap. “Secara fisik lu memang kurang cocok. Non. Ojos mulai membuka-buka tumpukan majalah otomotif di hadapannya. Non. Aku lagi bikin cerita nih. Kalau dimuat.” Giliran Keenan. kamu mandi. Besok aku telepon lagi ya. Dan untung di gua. Tuhan! Makan gratis! Nggak pakai dorong!” Kugy melonjak girang dan menghilang di balik pintu kamar mandi. honornya cukupan beli hp baru. “karena bagi Kugy semua hal nggak ada yang aneh. Melihat reaksi itu. nanti kita jalan kaki aja cari yang dekat-dekat. Jos. Besok masuk bengkel dulu. Keenan merasa perlu memberikan penjelasan. dan dapat peran jadi… Pak Raden. ============ “Aku nabung dulu. berbincang asyik sambil tertawa-tawa. atau pesan makanan lewat telepon.” “Tapi karakter pas banget.” Pengakuan Keenan disambut sunyi. gih. termasuk Kugy. “Nanti malam diajak makan sama Eko. yuk. Ayo. Di lingkaran suci ini. “Oh. “Pakai Fuad lagi?” “Fuad ko’it. Sayang. ya.” Kugy menelan ludah. sementara mulutnya sesekali membuka.” “Oke. ya? Hmm…” “Seru. “Hmm.ngobrol di kamar. ya.

“ayo. “Ini abangku paling besar. giliran kamu. Giliran Kugy. “Pinginnya. Dulu aku sering ke taman bacaannya dia.” Keenan melihat sekitar. Dan adik bungsuku. Kalau begitu. kan? Tantangan ini memang nggak relevan buat si Kugy. “Silakan masuk. Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang diprakarsai oleh Eko. dong. “Terima kasih. tampak terkesan. Ini abangku yang cuma beda setahun sama aku. berhubung segala sesuatu yang berhubungan dengan gua sesungguhnya keren adanya. terima kasih.” “Lagu yang mana?” “Sakit Gigi. Saya nggak sangka. “Kenapa? Kamarku rapi. “Mau dibantu.” desak Eko tak sabar. gua diminta menyumbangkan satu kesenian yang khas Indonesia. “… alien.” “Kugy suka kirim surat ke Dewa Neptunus. sudah saatnya kalian tahu bahwa gua ini sebetulnya…” Kugy menahan napas. nih. Alis Keenan seketika bertemu. Satu sekolah ikut joget.” Keenan terbahak keras. Bisa naksir karena setiap ketemu Kugy selalu pas dia lagi baca buku. *** “Permisi. “Terus. Tak lama. ya?” cetusnya dari dalam benaman bantal. Meneer.kesenian di sekolah gua di Amsterdam. tujuannya lu kirim surat apa?” “Teman-teman. “Lho. Lama banget. waktu aku se-SMP sama dialah. Ko.” Kugy pun segera membukakan pintu. “Keluarga besarku. “Ayo. “Yo! Brotha’!” Kugy kontan menjabat tangan Keenan. sih. pikirnya. Yah. ya? Nggak matching sama yang punya.” “Dengan segala hormat.” Kugy langsung duduk tegak dan menjelaskan dengan semangat. Non. Susah banget. bentar. Betul kata Noni. Kevin. “Gimana caranya?” “Oh. Eko membelesakkan kepalanya ke dalam bantal. Ajaib. The ‘K’ family. Belum pulang?” tanya Kugy sambil melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat. dong.” paparnya. “Kok gua serasa ada di tengah alien nation gini. “Tapi. Boleh masuk?” Kugy yang sedang mengetik di komputer terkejut melihat Keenan muncul di pintu kamarnya yang setengah terbuka. “Kamu pernah naksir Kugy? Kapan?” “Yah. karena semua aliran air bermuara ke laut. Nama depannya dari ‘K’ semua. Langsung menyesal. Karin. Begitu ngobrol… bubar jalan!” Eko tergelak-gelak. sebelum aku pindah ke Bandung. kok. Keshia.” Kugy menjelaskan. “Please. Gua sebetulnya anak Neptunus yang dikirim ke Bumi untuk jadi mata-mata.” jawab Keenan jujur. Karel.” Sunyi lagi. diikuti Kugy yang sampai terguling di lantai. sih. Mukanya berkerat-kerut tanda berpikir keras. “Sama. Lima bersaudara. Matanya lalu berlabuh pada sebuah figura berisikan foto keluarga Kugy. ya gua hanyutkan di laut. yang lain mengikuti.” Keenan membungkuk hormat. Tapi mereka suka banget. waktu rumah gua masih di dekat pantai. Dulu. “Betul.” sahut Keenan. dan Eko yang harusnya lebih aneh karena bisa suka sama orang aneh juga jadi nggak aneh.” . tapi hal paling aneh yang pernah gua lakukan adalah… naksir Kugy. Malam itu ditutup dengan Keenan yang memperagakan lipsync lagu “Sakit Gigi”-nya Meggi Z. dan karena mereka tahu gua dari Indonesia. Anak itu berpikir keras.” kata Noni lagi. Sementara mulut Noni menganga tak percaya. Gua juga Aquarius. zodiak gua Aquarius. berhubung hampir semua yang ia lakukan cenderung aneh. pemenang lingkaran suci kali ini adalah…” “Keenan!” Mereka bertiga berseru kompak. “Bentar. Cuma bingung juga bengong di luar. Sesudah itu dihanyutkan saja di segala aliran air. Tapi nggak enak ganggu yang pacaran. Kakak perempuanku. “dan. Kugy berdehem. cuma itu yang gua bisa. susah sekali memilih satu.” ungkap Noni sambil menahan geli. SECARA KEBETULAN SEKALI. Gy?” Tahu-tahu Noni memberi usul. Tenang.” gumam Kugy. kan?” Kugy menambahkan dengan mata berbinar-binar. gampang.” “Iya. jadi gua nggak aneh.

” “Banyak penulis cerita dongeng yang bisa terkenal. punya penghasilan yang jelas.” “Intinya adalah: semua itu nggak matching! Antara umurku. Hobi sejak kecil. dosen kek. seolah-olah hendak menjawab pertanyaan klasik yang sudah ia hafal mati jawabannya. Peri Seledri.” “Tapi kamu yang paling cantik. kamu suka nulis dongeng. “Sebentar. Nggak ada masalah. Siapa tahu Eko bentar lagi mau pulang.” Mendadak kerongkongan Kugy seperti tercekat.” “Jadi… kamu ingin menjadi sesuatu yang bukan diri kamu dulu. “aku nggak tahu kamu selama ini ada di planet mana. untuk akhirnya menjadi diri kamu yang asli. Orang-orang di lingkunganku kepingin jadi juara menulis cerpen di majalah dewasa.” Keenan terdiam. aku bisa nulis dongeng sesuka-sukaku. Yang di rumah jauh lebih banyak.” “Tulisan kamu udah banyak?” “Kalo kuantitas sih banyak.” “Tepatnya. Nggak bisa makan. Di umurku. “Asal kamu tahu. dan banyak lagi tokoh-tokoh sejenis.” Kugy tergelak.” gumamnya.” “Kenapa gitu?” =========== “Siapa sih yang mau baca dongeng?” Kugy terkekeh lagi. Di kepalanya melintas gulungan-gulungan kanvas bertorehkan lukisan yang ia tinggalkan di Amsterdam.” “Saya masih nggak ngerti. tapi penulis dongeng bukan pekerjaan ‘serius’. “Waktu aku kecil. Dan bukannya tulisan baru bermakna kalau ada yang baca?” Kugy tertawa kecil. profilku. cuma segelintir penulis yang bisa cari makan dari nulis tok. umurku 18 tahun. baru setelah itu… TER-SE-RAH. supaya punya pembaca. dan nggak harus jadi guru TK dulu untuk punya pembaca. ya?” “Iya. di negara ini.” “Tadi kamu makan pizza. tapi di planet bernama Realitas ini. kisah dewasa…” “Banyak cerita dongeng yang isinya kisah cinta. punya cita-cita ingin jadi penulis dongeng masih terdengar lucu. Masih untung nggak jadi Karbol.” “Kata Eko. Penyihir Nyi Kunyit.” nada suara Kugy mulai tinggi.” “Aku harus bisa mandiri. kepingin jadi penulis serius dan dihargai sebagai penulis serius. Minimal dongengku bisa dibacakan di kelas.” sergah Kugy. ya.” Keenan pun berjalan ke arah pintu. lalu orang-orang mulai percaya. “Sejauh ini sih cuma dinikmati sendiri aja. atau juara lomba novel Dewan Kesenian Jakarta. Setidaknya. tapi pembaca nggak ada. Begitu sudah besar begini. kan? Artinya kamu bisa makan. Sementara isi kepalaku cuma Pangeran Lobak. “Mungkin aku harus jadi guru TK dulu. kuliah jurusan Sastra. copy writer di biro iklan kek. ya. cukup lama hingga suasana di kamar itu terasa menjengahkan. demi mengalihkan pembicaraan.“Nama kamu yang paling unik. Memang begitu aturan mainnya. tajam. “Keenan. “Betul.” Senyum simpul mengembang di wajah Kugy. penulis dongeng terdengar konyol dan nggak realistis. “kayaknya waktu itu orang tuaku habis bahan. jadi wartawan kek. “aku mau kasih pinjam kamu sesuatu. dan isi kepala ini. Apalagi kalau mau jadi penulis dongeng! Sekalipun aku serius mencintai dongeng. ========= .” Ia lalu membuka lemari kecil di bagian bawah meja belajarnya dan mengeluarkan bundel tebal berukuran A-4 yang dijilid ring logam. kalau memang harus begitu jalannya. harusnya aku nulis kisah cinta. Baru nanti setelah mapan. Keduanya membisu. cita-citaku. kenapa enggak?” “Bukannya itu yang nggak matching?” tanya Keenan lagi. pembuktian yang harus aku raih. yang paling aneh. aku harus jadi penulis serius dulu. “Aku tunggu di luar. “Ini sebagian kecil koleksiku. Kebanyakan dari mereka punya pekerjaan lain. aturan mainnya ya begitu. kisah remaja. Tangannya serta merta menunjuk ke arah rak buku tempat koleksi komik dan buku dongengnya berbaris rapi.” Keenan melipat tangannya di dada. dan itu menjadi pembuktian yang dianggap sah. begitu?” “Yah.

Perjalanan. abangku. Keenan membuat puluhan sketsa sekaligus. Aku senang sekali dapat peti itu. September 1999… Dari kejauhan Kugy seketika bisa mengenali sosok itu. katanya begitu. Aku juga nggak tahu kenapa bisa tergerak meminjamkannya sama orang yang baru aku kenal tadi sore. Sepanjang malam. Keenan baru berhenti. . Bertahun-tahun. Aku menulis dengan super semangat. “Makasih. Diusapnya sampul depan bundel itu dengan hatihati. Silakan kamu baca-baca. Sama seperti Neptunus yang tidak ada. Sebagian besar naskah itu ditulis Kugy menggunakan komputer. Tubuh yang menjulang tinggi dengan rambut melewati bahu yang diikat satu. dan aku bertekad untuk mengisinya ulang dengan naskah-naskah dongeng buatanku. dan ia memutuskan untuk bertanya. “Aku punya peti kuno. kehilangan kata-kata. Di sampul depannya tertulis: “Kumpulan Dongeng Dari Peti Ajaib – Oleh: Kugy Karmachameleon”. ke bawah tanah tempatnya Joni Gorong si undur-undur penggali. Peti itu bukan peti harta karun.. Dia memilih tidak ikut opspek daripada kehilangan kuncirnya itu—satu-satunya peninggalan dari Amsterdam yang terbawa sampai ke Bandung. Di punggungnya tergandul ransel merah marun dengan emblem huruf “K” warna hitam yang dijahit di tengah-tengah. Setiap helai bernapaskan semangat dan rasa percaya yang begitu kuat. Dia satu-satunya yang berambut gondrong di tengah anak-anak angkatan baru yang dipotong cepak karena opspek. ============ Judul : Bulan. Perjalanan. Bersambung ke PART 2: Bulan.” Keenan menatap Kugy. tapi ada banyak juga yang ia tulis dengan tangan. “Baru mandi. supaya peti itu kembali berisikan sesuatu. membuat ilustrasi atas tokoh-tokohnya sendiri. Kita PART 2: Bulan. Keenan lalu meraih buku sketsanya yang masih baru. Anak ini adalah penulis yang luar biasa. “Nama lengkap kamu Kugy Karmachameleon?” “Bukan. Kita.” Kugy menatap Keenan tajam. Saat ayam berkokok dari kejauhan. Perjalanan. Ada rasa haru yang merembes ketika Keenan melihat usaha Kugy itu. dikasih sama Karel. Keenan terjaga hingga larut. dan ia mulai menggambar dengan tekun. Kita Bandung. Namun ada satu hal yang mengusik Keenan. Dan jadilah bundel itu.” ucap Kugy pelan. Ia tenggelam dalam dunia khayal Kugy yang membawanya jauh ke Negeri Antigravitia yang menggantung di selapis langit sebelum bulan. atau jadi sampah yang bikin sungai banjir. Kay…” “Hey… another Kay. Karel bilang. Kamu bisa kembalikan kapan pun kamu mau.” Keenan kembali kehilangan kata-kata.Keenan menerima bundel yang disodorkan padanya. “Barang itu belum pernah berpindah tangan sebelumnya. ke dunia sayur mayur tempat Wortelina menjadi penari balet yang ternama. dan surat-surat saya yang mungkin cuma jadi mainan ikan. Tersadar bahwa baru kali itulah ia menggambar begitu banyak untuk seseorang yang baru dikenalnya tadi sore. meraih peralatannya yang masih tersimpan di dalam tas. “dan itulah kenyataan di planet bernama Realitas ini.” “Jauh. peti itu diambil dari perahu karam. Bukan juga dari kapal karam. Bahkan beberapa kali Kugy kedapatan mencoba menggambar. di Jakarta.” Keenan tertawa lebar sambil sekilas mengacak rambut Kugy. di Jalan Surabaya. ya?” *** Malam itu. “Hey.. tapi dia sama sekali tidak bisa menggambar. Kugy Alisa Nugroho. Bentuknya kayak peti harta karun yang ada di komik-komik. Dan maaf kalau tadi aku…” “Baru beberapa tahun yang lalu aku tahu kalau peti itu dibeli Karel dan ayahku di toko barang antik. komentarnya dalam hati. Keenan menyadari betapa berharganya bundel yang ada di tangannya itu. Keheningan kembali membungkus ruangan itu. dan isinya gulungan-gulungan naskah sejarah yang jadi hancur karena terendam air laut.

” Keenan menyalami Kugy. yang sudah ia siapkan di dalam ranselnya dan ia bawa setiap hari.” Keenan menerimanya dengan mata berbinar. kayaknya aku nggak akan ketemu kamu di mana-mana lagi. Sesungguhnya. Mereka lalu duduk di pojok dekat jendela. ya?” Keenan menebarkan pandangannya ke sekitar. lalu mencabut dua pisang susu yang bergantung di sebelah kepalanya. “Kecil-kecil makannya banyak juga.” sahut Kugy. kejutan baru lagi. ya. “Aku memang sudah mengusulkan ke Mamaku untuk ganti nama jadi Karma. Akhirnya Kugy mencomot satu lagi pisang susu. “Kamu memang makhluk penuh kejutan. Kugy bahkan sempat curiga jangan-jangan Keenan sebetulnya kuliah lewat jalur universitas terbuka. Ia tersadar.” Muka Kugy memerah. ya?” “Aku suka lukisan-lukisan kamu. *** Warung nasi dengan dinding bambu itu tampak padat. “Segitu kelihatannyakah?” “Oh. ya?” “Bukan. “Ini. pekerjaan mengkhayal dan menulis ternyata juga butuh asupan kalori tinggi. Mendadak ia merasa gugup.” Mendadak Kugy merasa mati gaya. kok bisa bilang bagus…” “Saya bukan ngomongin cerpen kamu. “Baca aja belum. Kalau bukan kita berempat punya ritual nonton midnight setiap Sabtu. Keenan berhenti sejenak untuk membaca plang yang tergantung di pintu: Warteg Pemadam Kelaparan. “Kugy Karmachameleon… jadi penulis betulan. “… tadaaa!” “Handphone?” Keenan memicingkan mata. “Tumben aku ketemu kamu di kampus. “Tergantung siapa yang ngajak. Selamat. Jangan ngaku anak kampus deh kalau belum pernah ke sana…” “Enak banget. “Jawaban yang salah.” Kugy tampak gelagapan. Tapi belum ada tanggapan. Benar-benar tidak tahu harus merespons apa. kamu penulis yang sangat bagus.” “Oh. Honornya cukup buat beli hp baru dan traktir kamu makan siang sekarang. “Hasil keringat sendiri! Cerpenku dimuat.” “Wah. nih?” “Ada satu tempat makan yang wajib dijajal.” komentarnya. ya. jelas sekali. “Menurut survei: selain narik becak. Pantesan nraktir…” gumam Keenan sambil mengekeh pelan. Hampir setiap hari ia melewati fakultas Ekonomi. tapi dongeng-dongeng kamu.” “Oh! Aku masih punya kejutan lain. Mati langkah. bersebelahan dengan pisang susu yang digantung bertumpuk. Dan hampir setiap hari ia melongok untuk melihat keberadaan ransel merah marun bertuliskan huruf “K” itu. Keenan sungguhan terpana melihat nasi yang menggunung sampai nyaris tumpah dari pinggiran piring Kugy. “mau baca cerpennya. Sibuk.” Dalam hati Kugy ingin berkata. Hebat. Orang-orang berderet memilih makanan yang disajikan prasmanan. dan kamu kelihatan agak cemerlang dari biasa. mengangkat bahu sekilas. “Baru!” Kugy tertawa lebar.” .” “Jadi. Keenan menatap adegan itu dengan decak kagum. Harusnya: tergantung siapa yang bayar.” Kugy manyun lagi. pantas saja.” “Saya boleh kasih tahu kamu sesuatu? Menurut saya.ya?” Kugy langsung manyun. tempat Keenan berkuliah. aku sudah siapkan satu untuk kamu. sih? Lapar berat. Kugy lalu membongkar tasnya dan menyerahkan majalah yang sudah agak ringsek itu. satu hal langka telah terjadi: dirinya salah tingkah. “Kamu terakhir makan kapan. “Kalau makan siang di kampus—masih berminat?” tanya Kugy. Mengunyahnya lahap. salah satu alasan ia sering lewat-lewat fakultas Keenan adalah untuk memberikan majalah yang memuat cerpennya. Murah banget.” Kugy tergelak. Rambut kamu masih basah. dong. “Aku di kampus hanya seperlunya aja. Nggak terlalu suka nongkrong-nongkrong.” Kugy menggelengkan kepala. Sebentar…” Kugy merogoh kantong depan ranselnya. saya bakal ditraktir.

Boleh juga teorinya. ia seperti tergerak untuk menanyakan sesuatu.” Keenan garukgaruk kepala. yuk. “Ini judulnya: Sunset from the Rooftop… ini judulnya: Heart of Bliss… yang ini: The Shady Morning… yang ini: Silent Confession… dan ini…” “Yang ini yang paling aneh. itu sih mission impossible. menunjuk lukisan yang hanya seperti gradasi warna dan garis-garis halus seperti larik-larik kapas. kita ke tempatku.” “Lukisan yang satu ini jangan dipikir. tidak melihat perintang apa-apa. “sebetulnya ini gambar apa.” Ia lalu mengangkat . Ia merasa wajahnya semakin panas. kita dibikin amnesia. Supaya seru.” “Kamu… sebetulnya terpaksa kuliah di sini. sebelum dikirim ke Bumi. menerangi beberapa spot tempat lukisan-lukisan Keenan yang terpaku di dinding atau diberdirikan begitu saja di atas lantai. “dan ini lebih pantas disebut galeri ketimbang kamar kos…” Keenan membawa Kugy berkeliling melihat lukisan-lukisannya. Cuma.” katanya mantap. Mana mungkin ketebak. “ini kebetulan yang aneh.” “Gila. Lantas terdengar napasnya mengembus. “Boleh tahu kapan kamu melukisnya?” “Waktu tahu saya lolos UMPTN. habis makan siang. sementara kesempatannya tidak pernah dikasih. Kamar dengan ubin abu-abu itu tampak lengang karena tidak banyak perabot. ia membalik lukisan yang berdiri di lantai itu. Rel-rel kawat bersaling silang di bawah plafon dengan lampu-lampu halogen kecil yang bergantungan. cita-cita. tempat kos Keenan hanya diisi oleh beberapa orang saja. Lama. dan meja belajar besar tempat alat-alat gambar Keenan berjajar rapi. *** Tempat kos Keenan terletak agak jauh dari kampus mereka. dan setengah berbisik ia mengucap. Berbeda dengan tempat kos Kugy dan Noni yang padat. Mendadak ia mensyukuri celetukan asalnya tadi.” ujarnya pendek. Harus membuktikan bahwa saya bisa mandiri lewat melukis. Dia tidak melihat batas apa-apa. dan keinginan orang tua. apalagi kalau udah lihat. Keenan menatap Kugy balik. dan omongannya semakin ngaco.” Kugy nyengir. Sebuah rumah peninggalan zaman Belanda yang dikelilingi pepohonan rindang. Tidak yakin apakah pertanyaan itu pantas ditanyakan. tapi untuk yang satu ini aku nggak mau menggunakan kemampuan telepati.” Kugy mengangguk. Aku akan kasih lihat beberapa lukisanku. tapi Seni Rupa…” gumam Kugy sambil pelan-pelan melangkah masuk. “Nggak matching. Ada senyum spontan yang tak bisa ia tahan.” “Ehm. Apa perasaan yang muncul ketika kamu lihat lukisan ini? Itulah judulnya. Kugy melongo. dan menunjuk judul yang tertera di baliknya. Lalu ia memejamkan mata. Kamar-kamarnya berukuran luas dengan langit-langit yang tinggi.” Kugy menggeleng.” Pandangan Kugy yang tadi melekat pada lukisan perlahan beralih pada Keenan. hanya satu tempat tidur. Belum lihat aja suka. kita dibekali telepati. terbersit senyum getir di wajahnya. seperti orang pameran. Bebas. Perlahan. namanya. Mendadak ia ingin cepat-cepat menuntaskan makan siang ini. Ini pasti karena kita dulunya sama-sama utusan Neptunus. Napas Kugy seketika tertahan ketika pintu besar itu terbuka dan Keenan menyalakan sakelar lampu.” Kugy menatap lukisan itu lekat-lekat. tapi mulutnya seperti tak bisa ditahan. lemari pakaian kecil yang di atasnya diletakkan sebuah mini compo. “Bebas. “antara minat. “Yang lain ada gambar orangnya semua. “Bisa jadi. ===== “Nan… harusnya kamu bukan kuliah Manajemen. “Kalau gitu. tidak terikat oleh Bumi. “Aku nggak percaya kebetulan.” “Tebak judulnya apa.” Kugy terkekeh sendiri. Keenan manggut-manggut.” potong Kugy. ya?” “Lukisan ini menggambarkan sudut pandang seekor burung di angkasa saat terbang. “Freedom?” “Sumpah… saya sama sekali nggak sangka kamu bisa menebak setepat itu. tapi harus dirasa.“Memangnya kamu udah lihat?” “Belum. Waktu itu. Cuma ini yang nggak ada.” Giliran Keenan yang terpaku. Total. Justru itu. ya?” ucap Kugy hati-hati.

Membuka lembar demi lembar. kita memang harus punya koneksi kayak Mas Ito. mendapatkan Kugy yang sudah berlinangan air mata. Kugy meraih buku itu. tidak juga dirinya sendiri.” Ingatan Kugy kembali ke momen di kamar kosnya dulu. Kugy dan Keenan di bangku belakang. “Hihi. Eko mengemudi. Seorang pria kurus berkaca mata menyambut mereka. Kugy terisak. Tahu-tahu Keenan meliriknya balik. Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita.” Air muka Keenan kembali menghangat. antara ketawa dan menangis. di sampingnya ada Noni yang tengah bertelepon dengan seseorang. “Buku itu buat kamu. mencari semacam petunjuk entah apa. Makanya saya tergerak untuk bikin sketsa. Gambarnya kena. ============ Fiat kuning itu berdesakan dengan mobil-mobil lain yang menyusuri jalan Dago pada malam Minggu. Mas Ito berhasil dapat empat tiket. Hidup Mas Ito!” seru Eko. tanpa tahu apa yang membuat keempat anak itu tertawa. “Untuk sementara… aku cuma bisa kasih kamu ini. Ia sendiri tak mengerti. Sepuluh menit kemudian. Sebatang pisang susu yang dibawa dari Pemadam Kelaparan. “Nggak percaya kalau kita bisa telepati. “Ini buat Mas Eko sama Mbak Noni. “Cerita kamu yang bagus. “Mungkin harus dengan cara yang kamu bilang dulu. mobil itu memasuki parkiran Bandung Indah Plaza. dan suka menyambi menjadi pengantre tiket bioskop buat mereka. saya mau kasih hadiah. “Ini…?” Keenan menunjuk satu per satu sketsa tersebut. Cepat-cepat Kugy membuang muka ke sembarang arah.” komentar Eko geli. menemukan mesin popcorn sebagai objek perhatian baru . kita berempat nanti bisa jadi double date beneran. “Nggak pa-pa. “Gara-gara keseringan nonton midnight bareng. “Oke. Keduanya diam bergeming.” ia menyerahkan dua tiket.” Keenan menerima benda yang disodorkan Kugy. Dan keempatnya pun langsung bergegas ke lantai paling atas. Setetes air tiba-tiba jatuh di lembar sketsanya. Noni mematikan ponselnya dengan lega. Di hadapannya terbentang lembar pertama buku sketsa yang dibuka Keenan. Ambil aja.” Tak ada yang bisa menahan Kugy untuk memeluk Keenan.bahu.” “Amin!” Terdengar Keenan menyahut dari belakang. ya? Aku tuh bukan nebak. barisan agak depan. “Makasih…” bisiknya nyaris tak terdengar. Inspiratif. Tapi lumayan daripada lu manyun. Dan kesunyian yang sama kembali membungkus mereka. ia melirik Keenan yang berjalan di sampingnya. kok.” ucapnya sambil tersenyum kecil. Empat-empatnya tertawa lagi. ya? Sori…” Kugy sibuk menyeka air mata di pipinya. Maaf. Perlahan. Mencari sesuatu. Pelukan spontan itu hanya berlangsung dua detik karena Kugy langsung beringsut mundur dengan muka merah padam. lalu tertawa bersama. Mas Ito. Mas Ito menerima honornya lalu berlalu dari sana. sih. Barulah ia mengerti. “Dan… karena kamu sudah berhasil menebak judul lukisan ini. “nah. Aku cengeng. Gy. Sampai akhirnya Kugy memecah kekakuan itu dengan merogoh saku celananya. demi bisa menjadi diri kita lagi. “Hidup!” Terdengar Kugy menyahut dari belakang. sesungguhnya waktu itu Keenan membicarakan dirinya sendiri. ini buat Mas Keenan dan pacarnya…” Keempatnya saling berpandangan. “Guys. “Pangeran Lobak… Peri Seledri… Wortelina… Nyi Kunyit… Joni Gorong… Hopa-Hopi… dan ini lembah tempat mereka tinggal…” dengan asyik Keenan menjelaskan. Aku anggap kita impas. penjaga toko kaset langganan Eko. Diam-diam. antara rikuh dan tak tahu harus berbuat apa. ya? Tapi… seumur hidup belum pernah ada yang membuatkan ilustrasi buat dongengku… bagus banget lagi… aku… nggak tahu harus ngomong apa…” Keenan tersenyum. Justru… kamu nggak pa-pa?” tanya Keenan khawatir. nggak masalah. “Gawat. Tapi Kugy sedikit merasa terusik dengan celetukan itu. “Aduh.” “Ini… boleh aku pinjam dulu?” Kugy mendekap buku itu di dadanya dengan penuh harap. tauk… tapi…” celotehan Kugy tahu-tahu berhenti. Keenan kontan terdiam dan mendongak.” “Sebagai geng midnight yang profesional.

“Mudah-mudahan dia tidak akan merepotkan…” “Keenan tidak pernah merepotkan. sudah ada Eko dan Noni berdiri sambil mengacungkan tiga lembar tiket bioskop. lalu menggandeng tangannya. Saat ia sampai. Right on time. “My man. “Ko. Tadi aku ketiduran. sudah pasti kuterima. “Mau popcorn. Jakarta. Oktober 1999… Sudah cukup lama perempuan itu berdiri dekat pesawat telepon di ruang tamunya sendiri. Gua beli popcorn dulu bareng Kugy. tapi filmnya belum mulai. Satu-satunya kesempatan Kugy naik kasta dari Pemadam Kelaparan. “Gua baru tahu Kugy punya pacar. Kugy merasa tak punya pilihan selain mengangguk. Adri sudah kasih izin…” “Oke. lu duluan aja. “Poyaaan… ada telepon dari Jakartaaa…” Telepon itu kembali diangkat dan kali ini terdengar suara lelaki menyapa.yang lebih aman. “Kalau Ojos sih pasti candle light dinner gitu. “Yuk. Kapan pun dia ingin ke mari. Bandung. Ayahnya memberi izin Keenan ke mari.” kata Keenan pada Eko yang berjalan di depannya. tapi tetap ia merasa hal ini tidak mudah.” Terdengar suara gadis remaja di ujung sana. Tangannya memegang sebuah buku telepon yang terbuka. Lena pun tahu sudah saatnya pembicaraan itu disudahi. Kugy tak yakin apakah Keenan menyadari perubahan yang terjadi. Biasaaa…” seloroh Noni. Sejenak sunyi. Di liburan semesternya nanti. ia pun melenggang menuju ruangan teater bersama Noni. Puluhan tahun telah berlalu.” sambut Eko. Bisa bicara dengan Pak Wayan? Ini dari Ibu Lena. deh…” “Iya. “Tapi aku tidak enak kalau tidak langsung minta izin sama kamu. menyusuli orang-orang yang berdiri diam di kanan-kiri. “Sori banget telat.” Keenan berujar ringan pada Kugy. Ada yang kurang di situ. Dalam hati. kok. Gy?” Keenan bertanya.” Lagi-lagi nada itu tegas memotong. sungguh Kugy berharap langkahnya yang berubah tersendat dan otot tangannya yang berubah tegang tidak terdeteksi. “Lena?” Suara lelaki itu terdengar tak yakin.” “Cuma satu yang ingin aku pastikan. Kalau bukan demi sopan santun.” Setiap kata dilontarkan dengan kaku.” kata Noni.” Sunyi lagi. Oktober 1999… Keenan menaiki anak tangga eskalator sekaligus dua-dua. “Wayan?” panggilnya hati-hati.” Eko terkekeh. pikirnya. “Sip!” jawab Eko.” timpal Eko. Sambil menelan ludah.” potong Wayan. Kening Keenan berkerut. kan?” “Sudah. Keenan terdiam sejenak. Minuman buat kamu udah aku beliin. Seluruh keluargaku di sini malah senang kalau dia datang.” ujar Keenan dengan napas yang masih terengah. “Terima kasih kalau begitu. Ini rumahnya juga. Di Jakarta?” . “Iya. Jadi nggak mungkinlah gabung sama geng midnight kita ini. Apa kabar?” “Kabar baik. menunjukkan sekantong plastik berisi minuman kotak dan makanan ringan. berusaha tiba di lantai paling atas secepat-cepatnya. “Si Kecil mana?” “Kugy kedatangan tamu agung dari Jakarta. sebetulnya aku tidak harus melakukan ini. “Selamat sore. seolah Wayan ingin percakapan itu cepat usai. Tidak ada masalah lagi kalau begitu.” Tak lama terdengar sayup suara gadis itu memanggil. Tiba-tiba ia tersadar sesuatu. Pintu bioskopnya udah dibuka. Jakarta. dia kepingin sekali pergi ke tempatmu di Ubud…” “Keenan sudah lama bilang. Tumben sekali kamu telepon.” nada itu berubah tegas. “Aku mau bicara soal Keenan. lagi ngapelin dia ke Bandung. “Tenang. Lena menghela napas. ini Lena. jemarinya bergerak-gerak tanda gelisah. selamat sore. akhirnya ia membulatkan tekad dan memencet tombol-tombol itu: 0-3-6-1… “Halo. Sejak waktu dia di Amsterdam. si Ojos.” “Keenan sudah kuanggap seperti anakku sendiri. dia juga pernah meneleponku soal itu. ya. “Tamu agung? Maksudnya?” “Cowoknya dia.

Merenungi kata demi kata yang ia menusuknya bagai hunusan pedang es.” “Tentang?” “Mmm…” Kugy berpikir sejenak. Nggak kurang. tapi… hehe… kok. ya itulah opini saya.” Keenan menarik napas panjang untuk kedua kali. Tak lama kemudian. tauk.” “Galak. dong!” seru Kugy mantap.” Kugy tersenyum lebar. Namun entah kenapa. Telentang menghadap langit-langit kamar kosnya dengan pikiran yang terus berputar dan hati yang teraduk-aduk. dan Keenan hanya mengikuti dari belakang dengan mulut terkunci. Tapi saya merasa dongengdongeng kamu jauh lebih otentik. “Berarti Ojos bukan cuma galak kayak MENWA. “Ke semua teman ceweknya enggak. “Aku masih kenyang.Noni mengangguk. menyukai dan memuji-muji cerpennya. Gy. dan Kugy tetap berdiri di tempatnya. Padam. “Boleh jujur?” tanyanya. ya? Itu karena Ojos bisa mendeteksi. sih… cuma penasaran aja. Banyak tugas. “Harus. semua orang terdekatnya termasuk Ojos. Ke semua teman cowoknya? Wuiiih… galakan Ojos daripada MENWA kampus. “Makasih udah jujur. Sori ya.” Kugy mengangguk kecil. “Enggak. Nada ceria yang ia hafal. tapi juga sensi kayak herdernya polisi…” Percakapan itu berlanjut terus hingga keduanya memasuki ruangan bioskop.” ucapnya pelan. “No problemo.” Ada letupan dalam hati Kugy yang mendadak seperti dibanjur air. Ia tak mengerti mengapa komentar Keenan meninggalkan dampak yang begitu dalam.” Seluruh persendian tubuh Kugy serasa dikunci. Membuatnya bungkam tanpa bisa melawan. “Hai. tapi ya udah. Derap langkah setengah berlari yang khas. Nggak pa-pa. kali ini Keenan agak enggan menoleh ke belakang. Ditariknya napas dalam-dalam sebelum ia akhirnya membalikkan punggung. Kata-kata Keenan seolah menyulapnya menjadi patung. Keenan pamit pulang. dan lebih mencerminkan kamu yang sebenarnya. . filmnya? Noni sampai kemimpi-mimpi gitu. Ia juga tak mengerti mengapa ia begitu menunggu-nunggu pendapat Keenan. aku nggak gabung. “Saya nggak suka. Air mukanya seketika berubah.” ledek Noni sambil menoyor bahu Eko. ah…” sanggah Noni. “Pacarnya dari SMA. ya?” Keenan menimpali ringkas. Ia cuma bisa merasakan air ludahnya tertelan seperti bola bakso yang tak sempat terkunyah. Menyakitkan sekaligus membekukan. kamu belum komentar. lebih orisinal.” “Hai. Udah makan malam belum? Pemadam Kelaparan yuk…” dengan semangat tinggi Kugy menyerocos. *** “KEENAN!” Suara yang ia kenal. dan harus cepat pulang. dan hanya Keenan yang begitu tegas dan tanpa tedeng aling-aling menyatakan tidak suka.” ============ “Pengalaman pribadi. nggak lebih.” Eko menambahkan. “sebetulnya sih aku kepingin ngobrol. Gimana malam Minggu kemarin? Seru ya. Dalam cerpen itu. Ironisnya. “Maaf ya. Yang saya temukan adalah penulis yang pintar merangkai kata-kata. cowok-cowok mana yang diam-diam naksir Kugy. “nggak maksa. *** Malam itu Kugy terjaga lama di tempat tidur. nantinanti aja. meski ia berusaha tampil tenang. “Ungkit teruuuus!” Eko tergelak. hai. “mmm… udah hampir dua minggu aku kasih majalah yang ada cerpenku itu.” Kugy mesem-mesem. Kalau memang kamu kepingin saya jujur. Gy. tapi nggak ada nyawa. seolah pendapat manusia satu itulah yang terpenting. “Buat orang yang nggak tahu kamu. saya tidak menemukan diri kamu. cerpen itu mungkin bagus.

Seharian Kugy bertanya dan bertanya: apa yang salah? Bagaimana mungkin Keenan menyebutnya penulis yang cuma pintar merangkai kata tapi tak bernyawa? Padahal ia setengah mati mengerjakan cerita pendek itu. Jadi mau ikut ke Jakarta pakai mobil gua. sebagaimana ia tahu Keenan sedang mengenakan kemeja jins lengan panjang yang dulu dipakai saat menggandeng tangannya di bioskop. Bim. Untuk apa. sementara dalam cerpennya ia bercerita untuk memuaskan orang lain. yang melengkapi kecurigaannya selama ini. Dalam cerpen itu. Keenan yang sudah menunggu di teras depan langsung menghampiri bagasi mobil dan memasukkan tasnya. Ia hafal mati formula dan teori dari pedoman membuat cerita yang baik dan benar. Hanya segelintir yang tersisa.” Bimo terkekeh. Ia menulis dengan plot yang sudah diatur apik. Keenan ganti menatap Eko. muncul sambil menenteng travel bag. Namun semua itu melekat dalam memorinya. ngerem di kamar kayak beruang. dan kembali ia rasakan perih sayatan kata-kata Keenan. Kugy mulai menyadari sesuatu. ia seperti berjalan meniti tali. teman kos-nya. deh. dan mulai membaca dari awal hingga akhir. berhati-hati dan penuh kendali. Dan ada satu perbedaan yang kini menjadi sangat jelas baginya: dalam dongengnya ia bercerita untuk memuaskan dirinya sendiri. Tungkai kakinya yang panjang membuat lututnya selalu nyaris beradu dengan jok depan. Desember 1999… Tempat kos yang lengang itu semakin terasa sepi karena hampir semua penghuninya sudah kembali ke kota masing-masing untuk menikmati liburan semester. Fuad dititip ke Noni dan lu pulang ke Jakarta hari ini sama gua. Sebersit perasaan aneh menyusupi hati Kugy. Kugy mengamati dan mengingat itu semua.” Bimo yang sudah mau beranjak pergi mendadak menahan langkahnya. Namun kali ini ia ikut merasakan kebenarannya. sesuka hati. Aku tukeran tiket sama Eko.” “Untuk?” “Kata anak-anak. Jadi Eko nemenin gua dulu di Bandung. IP lu tertinggi satu angkatan. ia seolah berlari bebas. dan juga membacanya saksama. ya… selamat.” “Ternyata gua baru bisa ke Subang lusa. seperti teringat sesuatu. Salam buat anak-anak. *** Begitu Fiat kuning itu menepi. Nan. Lalu ia menyalakan komputer. Nggak percuma lu disebut Siluman Kampus. ya. Kugy mengamati. Siluman Kampus. nggak? Masih ada tempat untuk satu lagi. Keenan hanya tersenyum sekilas.” jawab Kugy berseri-seri.” Keenan menggeleng. Udah beli tiket. entah harus merasa bangga atau tersindir. kerjanya pulang melulu. ia pun tak mengerti. Keenan mengempaskan tubuhnya di jok belakang. “Oh. Tapi baru sore ini Kugy merasakan adanya alasan lain. membuka salah satu file dongengnya. Setiap kata dipilihnya dengan cermat dan teliti. Pintu kamarnya yang setengah terbuka tahu-tahu terbuka lebar. Ingatannya pun kembali mundur ke siang tadi. Membuka majalah yang memuat cerpennya. Gua pakai kereta api nanti sore. “Hai. dan itu memang dibuktikan oleh IP tertinggi yang diraihnya. “Hai. Dalam dongengnya. Sebagaimana ia mengamati sepatu Keenan yang kali ini tampak baru dicuci bersih. Bimo. tanpa bisa ia .” Keenan berkata pendek. “Gua pikir. Setiap konflik dimunculkan dengan momen yang sudah diperhitungkan. telah lama menghantuinya. Ia merasa dihindari oleh Keenan. Mungkinkah selera Keenan yang ‘salah’? Kugy terduduk tegak. Tadinya Kugy berasumsi bahwa sebulan ini Keenan banyak menyendiri karena belajar matimatian.” Noni menjelaskan. Tapi ia cukup suka sebutan itu. ia tersadar akan satu sosok yang tidak ia duga kehadirannya. Keenan memasukkan barang-barang terakhirnya sebelum tas itu resmi diamankan dengan gembok kecil. Baru setelah membuka pintu. “Nggak. Oke. Nan. Nan. sebagaimana ia hafal aroma sampo yang meruap dari rambut Keenan yang tergerai. ========= Bandung. Tanpa banyak bicara. Dengan ekor matanya. “Oh. “Kugy? Kamu ke Jakarta hari ini juga?” tanya Keenan heran.

berkali-kali.” Kugy tersenyum lebar. belum lagi bersisir-sisir pisang susu yang kuning masak tampak bergelantung di kayu penyangga tendanya. dan mukanya seperti orang ekstase. “Ada apa?” Keenan ikut melihat ke sekeliling. menuju jalanan pedesaan yang setengah becek. Saya juga nggak bakal lupa. Keenan menyimpulkan bahwa kereta itu sudah berhenti lama di sana. warung. Di sebuah warung. cep. Keduanya langsung mengobrol dan tertawatawa. Awan mendung yang sejak tadi bergelantungan mulai merintikkan selapis gerimis tipis. “Gerimis. dan pisang… dahsyat. tak habis pikir bagaimana mereka bisa berakhir di tempat yang sama tanpa janjian. Baru saja Keenan hendak duduk di bangku kayu itu. lampu templok. Saat matanya membuka. Langit mulai remang. Ada kereta yang anjlok. Keenan mendengar petugas tadi memperingatkannya. Ia pun duduk di sebelah Kugy dan memesan secangkir kopi panas. kereta itu memang sedang berhenti di sebuah stasiun kecil. Kereta itu bahkan belum menempuh separuh perjalanan. Bahwa ada keanehan yang terjadi antara mereka berdua. Kugy termangu. “Hmm. tiba-tiba dari sisi seberangnya muncul kepala dan kedua tangan mungil yang sedang meraih pisang susu. kilau di matanya kian bersinar tertimpa sinar lampu. Setiap detik . Keenan berhenti. pertanda sore mulai menua. Ia merasa tergerak untuk mengatakan sesuatu. Jadi kita tertahan di sini. mereka duduk diam. Keenan pun memutuskan untuk keluar dan bertanya langsung pada petugas. Wajahnya tampak siaga seolahseolah sesuatu akan menyeruak muncul. Radar Neptunus—mungkin?” cetus Keenan.” Petugas stasiun itu menjelaskan. Ia terbangun oleh karena haus yang menggigit dan hening yang dirasakan terlalu lama dari seharusnya. “Ini bau tanah yang baru kena hujan… kecium. Di atas kepalanya tergantung plang: Stasiun Citatah. Namun Kugy tak tahu harus memulai dari mana. “Kugy?” “Hei! Udah bangun? Kok bisa nyampe sini juga?” Kugy heran bukan main. “Bau ini… kamu cium. mencari sesuatu yang sekiranya membuat perasaannya tertarik. Begitu juga Kugy dengan teh panasnya. apakah intuisinya benar? Bahwa Keenan dengan halus telah menghindarinya. tanpa menyadari ibu pemilik warung sudah mulai was-was melihat kelakuan mereka. Namun ia merasa kakinya terundang untuk keluar. “Mangga. Keenan menyeruput kopinya perlahan. Dan matanya tertumbuk pada pelataran depan stasiun. nggak?” Kugy mengendus-endus. Dari kasak-kusuk orang di sekeliling. Ia ingin bertanya. dan mulai ikut menghirup. kopi. tapi entah apa.” Mendengar itu. Den. “Stasiun Citatah. berhiaskan satu-dua warung kopi yang mulai menyalakan lampu petromaknya untuk menyambut gelap malam. “Gy… tambah lagi wangi kopi. nggak?” Kugy lantas menghirup napas dalam-dalam. dan… kamu. Meski dianjurkan menunggu di dalam kereta. Belum ada pemberitahuan. Keenan merasa tak ingin kembali ke sana cepat-cepat. “Sebentar… sebentar…” tiba-tiba Kugy memotong pembicaraan. Aku nggak bakal lupa kombinasi ini. nih… hmmm… enaaak…” Kugy mencomot kulit pisang. “Kamu kentut?” “Bukan!” Kugy memberengut. ngopi dulu. “Muhun.kendalikan. Dan Kugy tidak ada di sebelahnya. antara geli dan takjub. dan keterlambatan ini mulai menggelisahkan banyak penumpang. mungkin setengah jam sampai sejam. Kembali dalam keheningan. “Sedaaaaap…” gumamnya. Penasaran. Aneka gorengan yang terpajang di sana tampak menarik. tapi lidahnya kelu. “Tambah lagi nih wangi pisang… asoooy…” ======== Keduanya sibuk membaui ini-itu. Keenan ikut mengendus. wangi tanah kena hujan. Namun kali ini hening itu tidak menjengahkan. Ia mengedarkan pandangan. “Cep! Jangan jauh-jauh!” Sayup.” Ibu tua pemilik warung menyapa ramah. *** Keenan memejamkan matanya sejak sepuluh menit pertama kereta api itu bertolak dari stasiun Bandung.

Tanpa bisa ditahan.” gumamnya lambat.” tiba-tiba Kugy memecah sunyi. Mereka berdua. keduanya berdiri sejenak. jalan kita mungkin berputar. Ingin rasanya ia membungkus bisikan Keenan tadi. Di gang antar gerbong yang sempit dan berguncang keras. Ada seseorang yang berjalan di sebelah Kugy.” Senyum mengembang di wajah Keenan. kita jadi diri kita sendiri.” Ojos meraih pinggang Kugy. Dan Ojos tidak merasa nyaman. di mana kelemahanku. Namun sesuatu di balik kekacauan berbusana itu yang membuat ia mencuat di mana pun ia berada. kita…” Baru ketika duduk di bangkunya yang bersebelahan dengan jendela. Meski tempat mereka berdiri sangat berisik. “Jos. Mereka berdua pun beranjak dari sana. perjalanan. lalu menghampirinya setengah berlari.” Keenan langsung mengulurkan tangan dan tersenyum ramah. untuk cari pengakuan doang…” Keenan mengangkat kepalanya. mungkin aku nggak akan menyadari itu semua. “Makasih. seperti tetes hujan yang kini turun satu-satu. Satu saat. Tiga kata yang tak sepenuhnya ia pahami. sih. Rambut sebahunya yang tergerai beradu dengan ransel besar yang seolah menenggelamkan tubuh kecilnya. menyimpannya di hati. atau untuk mereka berdua. Aku bikin cerita itu untuk cari duit. Entah Keenan berbisik untuknya. dan terasa sesekali wajah Keenan menyentuh rambutnya. membaui aroma minyak wangi yang samar tercium dari kemejanya. tapi nyata ia alami saat ini. Saya yakin. bahkan ketika Keenan sudah pamit pulang dan membalik pergi. “Hai. kenalin. Nggak berarti aku bakal berhenti nulis cerpen sama sekali. kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri. Ini sepupunya Eko…” “Keenan. *** Sudah sejam Ojos menunggu di kafe itu. Segera ia beranjak dari sana dan menunggu di mulut pintu keluar. Tanpa terburu-buru.” Kugy menghela napas. Tapi sekarang aku bisa melihat diriku apa adanya. Hangat. Jangan lupa…” Kugy menempelkan kedua telunjuknya di ubun-ubun seperti antena. “Sampai ketemu semester depan. Ojos mengamati. segala macam minuman dan donat aneka rasa sudah ia pesan sampai perutnya penuh sesak. Kalau bukan karena kamu berani jujur sama aku. Kugy merasa pelupuk matanya menghangat. Matanya memicing. dan pandangannya berkaca-kaca. ia melepaskan ransel dari bahu Kugy lalu menyampirkan barang besar itu di bahunya. dan mengecupnya di pipi. Sebelah tangannya tak lepas merangkul Kugy. “aku nggak menjadi diriku sendiri. Namun dengan jelas Kugy menangkap tiga kata yang dibisikkan Keenan: “Bulan. kamu akan jadi penulis dongeng yang hebat. Perjalanan. “Gy. situasi yang tidak aman. kaki mereka menjejak gerbong. untuk dirinya sendiri. belum lagi jaket jins yang sudah bisa dipastikan hasil minjam saking kebesarannya. Kugy dapat mendengar Keenan berbisik di sela-sela rambutnya yang berkibar ditiup angin. Joshua. Sigap. Dan akhirnya bergaunglah pengumuman bahwa kereta Parahyangan yang ditumpangi Kugy telah tiba. “Ojos!” Kugy melambaikan tangan. melukis. Keningnya semakin berkeriut.” “Selamat melukis. menulis… satu saat nanti. ya. Gelombang yang mengisyaratkan ketidakberesan. Ada gelombang yang tertangkap oleh radarnya. “Radar Neptunus…” ia lalu ikut menempelkan kedua telunjuk di ubun-ubun. “Hi. Kugy bisa merasakan jarak Keenan yang begitu dekat di punggungnya. Orang yang tidak ia kenal. Bulan. Menapaki tanah becek dengan hati-hati. Tepat sebelum kereta berjalan. ========= .bergulir sejuk dan khidmat. Dari jarak seperti ini pun Ojos bahkan sudah bisa melihat hidupnya binar kedua mata itu. Gy. “Gerimis. babe. ya. seperti menjalankan scanning. entah kapan. tapi satu saat.” Ojos menyambut tangan itu. dan di mana kekuatanku. Seperti mengucap doa. pandangan matanya mengembara. Dari jauh Ojos sudah bisa mengenali sosok mungil itu. menatap balik pada Kugy yang tengah menatapnya lekat-lekat. Selamat menulis. Seketika Keenan tertawa renyah. “Nan… kamu benar soal cerpenku itu. Dari jauh terdengar pengumuman bahwa kereta akan segera diberangkatkan. Saksama. Mata Ojos tak lepas mengamati itu semua. merasakan hangat kehadirannya. Kugy menyadari bahwa bulan bersinar benderang di angkasa. tawanya yang lepas tanpa beban… kening Ojos tahu-tahu berkerut. seperti mengeja.

Dan sekarang saya cuma minta satu minggu…” “Memangnya kamu kuliah buat saya?” sergah ayahnya. Saya cuma minta waktu tambahan satu minggu di tempat Pak Wayan. Ibu mereka sesekali menimpali. Saya nggak minta buku apa-apa. Nan?” tanya ayahnya sambil meminum teh itu sedikit demi sedikit. Saya nggak minta komputer baru.” “Saya mau minta waktu. seolah menghadapi pertanyaan retoris yang semua orang di situ tahu jawabnya. Saya nggak minta kendaraan. “Keenan punya pengumuman buat kamu.” “Dia minta waktu lebih lama di Ubud…” Lena berusaha menjelaskan. Tawa canda yang tadi semarak seperti menguap tanpa bekas.” Cangkir teh itu segera diletakkan di meja. Tamu itu sudah Papa suruh datang ke kantor saja. tapi ia rela mengorbankan beberapa hari liburannya demi menghabiskan waktu bersama Keenan. “Mmm… IP-ku 3. ya…” “Pa. hanya menghela napas. “Apa pun yang kamu butuh.” Lena menambahkan dengan senyum berseri. “Maksud kamu?” “Saya minta ekstra seminggu dari jatah liburan kuliah.” ayahnya geleng-geleng kepala. ditambah sedikit manggut-manggut. “Sudah kubilang kamu memang cocok kuliah di Ekonomi.” sahut ayahnya datar. Begitu juga dengan Jeroen yang bahkan sudah siap packing sejak dua hari yang lalu. Lalu… kamu malah minta hadiah berupa… bolos kuliah?” Keenan mengangguk lagi. Keenan melirik ibunya. barusan kamu bilang mau meningkatkan IP kamu sampai 4.” “Nan. “Aku ngerti maksudnya. katanya. “Aneh. “Maaf ya. Nanti Papa siapkan. seperti ragu untuk bicara. Empat orang duduk kaku tanpa suara. *** Semua perlengkapannya sudah terkemas rapi. “Aku yakin Keenan nanti bisa mengejar ketinggalan satu minggunya. Dia akan menemani abangnya beberapa hari di Ubud. Terdengar suara pintu depan terbuka. “lalu.” “Oh. dan seseorang memasuki ruang makan. satu kursi masih kosong.7 semester ini. “Buat Papa.Meja makan dengan empat kursi itu baru diisi tiga orang.” Nada bicara Keenan mulai mengeras. Keenan tak menjawab. Dua bersaudara lakilaki itu mengobrol tanpa henti seolah sudah tahunan tak bertemu. Namun ada kepuasan yang tak bisa disembunyikan membersit di wajahnya. “Hai.” potong ayahnya tajam. “Terserah. jangan mulai sok pintar. Dibukanya buku kecil berisikan daftar nomor telepon teman-temannya.” Lena tersenyum sambil menuangkan teh panas ke cangkir suaminya. gimana itu bisa terjadi kalau belum apa-apa langsung bolos seminggu?” “Saya kan cuma bilang: mungkin.” sahut suaminya setengah menggumam. tuh. berganti dengan ketegangan yang sunyi. Nggak ngerti. Dan kamu sudah membuktikan itu di semester ini. . “Tapi minta bolos itu namanya ‘macam-macam’. semester depan kira-kira bisa?” “Mungkin.3 lagi untuk IP sempurna. kuliah kamu harus jadi prioritas.” “Tertinggi di angkatannya. gitu?” Keenan mengangguk.” “It’s okay. buku-buku referensi… bilang saja. 0. komputer baru. suasana di meja makan itu terasa semarak. Seminggu lagi! Buat apa sih kamu lama-lama amat di Ubud?” “Saya udah kasih enam bulan buat Papa. atau ikut tertawa bersama.” jawab Keenan pendek. duduk di kursi keempat.” akhirnya Lena berkata. kalian jadi menunggu. “Halo…” Suara remaja cewek menyambutnya. mencari satu nama. Meski hanya bertiga. “Bagus. “Kamu minta izin seminggu bolos kuliah. ya? Apa. Jeroen mengaku bisa mati bosan di Ubud yang sepi. Pa…” Jeroen dan Keenan menyapa. tapi dia maksa datang ke sini karena udah nggak ada waktu lagi. saya nggak minta macam-macam. lalu berdiri dan pergi. Hanya ada satu hal yang Keenan ingin lakukan sebelum dia pergi ke bandara sebentar lagi. sebelum menyusul teman-temannya yang study tour di Kuta.

” Terasa ada sesuatu yang mengaliri darahnya. tapi serasa waktu telah melemparkan jangkarnya dan berhenti di sana. bahkan pengrajin perhiasan. dan Keenan mengenal sosok pria itu sejak kecil. bukannya nggak boleh. Pertemuannya dengan Pak Wayan terbilang jarang.” akhirnya terdengar suara Kugy menyapa. “Kaos barong udah punya lima. Ia bertemu dengan pria itu hanya jika ibunya mengunjungi pameran lukisan Pak Wayan di galeri di Jakarta. Rame banget di rumah kamu. Keenan bahkan berkorespondensi dengan beberapa keponakan Pak Wayan yang seumur dengannya. Desember 1999… Meski terletak di Desa Lodtunduh yang agak jauh dari pusat kota. Sekilas Kugy melihat bayangannya di lemari kaca. baru kali inilah Keenan bertemu langsung dengan Pak Wayan lagi. lalu terduduk lama. Kugy merasa ingin terus tersenyum. berlatar belakang sekian banyak orang yang berbicara.” ============ “Sip.” Mata Kugy membundar seketika. Tiap hari memang begini. Terasa ada sesuatu yang menariki kedua ujung bibirnya.” “Oh…” “Habis ini saya juga mau telepon Eko atau Noni. Keenan langsung jatuh cinta pada tempat itu. Sesuatu yang harus dibikin. di sebuah tanah berbukit berlembah yang dilewati sungai dengan luas hampir lima hektar. Cuma aneh aja. Pamitan juga. tari. tempat yang selama ini cuma ia lihat dari fotofoto yang dikirimi Pak Wayan. “Gy… udah harus cabut. Kugy merasa hangat.” Dan telepon itu ditutup dari ujung sana. dan merasa tolol sendiri. Lalu terdengar langkah kaki berderap menuruni tangga. lagi di atas. Keduanya tak berhenti berkorespondensi. sekaligus mengisi baterainya untuk berbulan-bulan ke depan. Ibunya adalah sahabat lama Pak Wayan. “Saya mau ke Bali. “saya janji. “Gy! Lama amat sih? Berak. Percakapan telepon barusan tak sampai dua menit.“Selamat pagi. Ia merasa bisa tinggal selamanya di sana. Bukan aneh gimana. Apa. Sampai ketemu semester depan.” “Oke. Ada yang mendalami lukis. “Keenan?” “Iya. patung. Semua anggota keluarga itu menjadi seniman-seniman besar. “Sesuatu yang nggak boleh dibeli.” Keenan tersenyum. enggak. bisa bicara dengan Kugy?” Suara dari ujung sana terdengar riuh. tuh!” Ada suara laki-laki menimpali. Di sana tinggallah Pak Wayan dan keluarga besarnya. “kamu… apa kabar? Kok. Sejak pindah ke Amsterdam. “Hai. ya? Ngaku!” “Halo. Kugy meletakkan gagang telepon dengan hati-hati. dan mereka akrab seperti saudara meski belum pernah . Sampai ketemu semester depan. sarung pantai ada tiga.” “Jadi dicolong?” Kugy tergelak. Keenan selalu mengirimkan foto-foto lukisannya. semua orang di Ubud tahu keberadaan kompleks keluarga satu itu. “Mau oleh-oleh apa?” “Hmm. Baik-baik. ukir. “Bukan. ya. Ubud. Sori nggak bisa telepon lama-lama. Lagi ada acara?” “Oh.” Kugy tertawa kecil. kembali ke ruang keluarga rumahnya. Inilah kunjungan pertamanya ke Desa Lodtunduh. Dan kini perlahan Kugy mencabut jangkar tadi. tapi amat membekas di hati. tumben telepon? Hehe. miniatur papan surfing ada satu…” “Kacang asin?” “Aku tahu!” seru Kugy. Satu bulan di tempat keluarga Pak Wayan membayar seluruh kerinduan Keenan terhadap seni. lho. ya? Telepon. begitu juga dengan Pak Wayan. ya?” Kugy berpikir-pikir. Mau pamitan.” gugup Keenan menambahkan. mungkin sampai sebulan. “Enak aja. kembali bersama kegaduhan yang rutin berlangsung di sana. Cuma… yah…” Kugy mulai salah tingkah. nih. Gy. tauk! Bentaaar!” “Berarti siapa tuh yang di kamar mandi? Kok bau? Woi! Ada yang kentut. sih. “Kugyyy! Telepooon!” “Di kamar mandi kayaknya!” Terdengar ada suara perempuan yang menyahut. Seolah-olah semua ragam seni di Bali memiliki wakilnya masing-masing di keluarga tersebut.

“Tertarik belajar mahat. pusatnya seni patung. malam tahun baru 2000… Keenan memutuskan keluar dari ‘gua beruang’-nya. Mumpung bapaknya si Banyu juga lagi di sini. Warsita. dan Rahasia Hati Jakarta. kayu belalu. Ia memfotokopi semua sketsa-sketsa dari Keenan.” “Dicoba saja. serta ranting-ranting.. Siapa tahu cocok…” Banyu ikut menimpali. Printer kecil di kamarnya tak henti-henti berbunyi. Banyu. “Sudah. tempat Keenan jongkok di sebelah Banyu dengan mata nyaris tak berkedip. *** Menjelang petang. dan Rahasia Hati. kayu suar. Kugy mulai menggabungkan teks-teks dongengnya dengan sketsa-sketsa Keenan. Setelah semua siap. Sampai larut malam ia tak keluar-keluar dari sana. lalu memotongnya menjadi kotakkotak. menyiapkan perkakas yang ia butuhkan. “Ini jari kuas. . “Cuma mengagumi. Keenan melihat sekelilingnya. membuat semacam buku buatan tangan. Hampir setiap kafe dipadati pengunjung yang sampai tumpah ruah ke trotoar jalan. Di studio itulah Pak Putu dan anaknya... Nan. terkadang ia merasa cukup puas hanya menontoni aneka kegiatan seni yang dilakukan sanak-saudara itu. Tak lama kemudian. Mereka bertiga bahkan harus bicara dengan berteriakteriak. dan Rahasia Hati PART 3: Wanda. Bonggol-bonggol kayu dan perkakas pahat yang berserakan. tunggu apa lagi. dan mulai memahat. mobil-mobil bahkan nyaris tak bergerak. Nan? Serius sekali. dan beberapa elemen tambahan seperti akar. Pak Wayan berdiri tak jauh dari sana. Setelah membolak-balik beberapa bahan. yang sedang mengerjakan pesanan patung. Tanggal yang hanya terpaut sehari dari ulang tahunnya sendiri. turun gunung dari Ubud. kayu ketapang. Ia pun kembali menontoni Banyu dengan setia. Kali ini ia cuma sendirian di sana. Memulai dari yang kecil. Saya belum pernah coba.” sambil mesem-mesem Keenan berkata. Bukan jari perkakas. Hanya terpisahkan sepetak taman dengan studio lukis Pak Wayan. oke. Ia kembali seperti anak sekolah yang punya tugas prakarya. Desember 1999… Kugy punya kesibukan baru sekarang. Poyan. Keenan mengambil posisi.” Keenan tertawa ringan. Keenan mengenali beberapa.. salah satu keponakan Pak Wayan. Dan ia mengerjakan setiap detail dengan sepenuh hati. serat. mencetak seluruh dokumen dongengnya. Warsita. Biar sajalah itu jadi jatahnya Banyu dan bapaknya. Keenan kembali masuk ke studio patung keluarga Pak Putu. Bersambung ke : PART 3: Wanda. kayu kamboja. biasa bekerja. Ada satu tanggal yang menginspirasinya untuk membuat buku itu. Kugy sudah melingkari tanggal itu di kalendernya. Seharian ini ia cuma menguntit Banyu. Malam ini ia ikut dengan Banyu dan Agung ke Kuta untuk bertahun baru. Poyan sendiri— bisa memahat?” Pak Wayan gantian tertawa sambil memampangkan kedua telapaknya. Ada kayu sonokeling. Kedatangannya kali ini memang lebih terasa seperti mengunjungi keluarga di kampung halaman.” Pak Wayan ikut memanas-manasi. Tidak setiap hari Keenan menghabiskan waktunya untuk melukis. ========== Judul : Wanda.bertemu langsung. Ada banyak bahan-bahan mentah berbagai ukuran yang teronggok di sana. Hari ini saya nonton dulu aja. Keenan akhirnya mengambil sepotong kayu yang berukuran agak kecil. Jalan Legian penuh sesak dengan orang-orang. Tanggal itu jugalah yang mendorongnya untuk bekerja dengan semangat penuh. “Oke. Kuta. pikirnya.. Karyanya mereka ini bahkan disegani di Desa Mas. Warsita. Air mukanya mulai menunjukkan ketertarikan. Jadi kamu bisa tanyatanya. Poyan.

“Jadi, kita mau ke mana?” seru Banyu pada keduanya. Mobil mereka sudah diparkir di sebuah rumah dan mereka memutuskan untuk jalan kaki. Keenan mengangkat bahu, berdiri di pinggir jalan saja sudah terasa sedang berpesta saking ramainya. Sejujurnya, ia malah ingin cepat pulang ke Lodtunduh. Agung menunjuk satu kafe di pojokan jalan. “Ke situ saja! Itu tempatnya Parta, teman saya, kita pasti bisa dapat meja!” Mereka bertiga akhirnya bergerak menuju kafe temaram berhiaskan ornamen-ornamen Buddha yang hanya beberapa puluh meter dari tempat mereka berdiri tadi. Namun langkah Keenan sempat tersendat ketika ia melihat wartel kecil yang menyempil di antara toko-toko. “Agung, Banyu, sebentar ya. Nggak sampai lima menit!” seru Keenan sambil memasuki wartel itu. Ada satu bilik yang kosong. Keenan segera merogoh dompetnya, mencari catatan kecil yang ia selipkan. Nomor telepon selular yang ia hubungi tersambung ke kotak suara. Ia mencoba satu nomor lagi. “Halo…” Keenan masih ingat suara itu. Suara yang juga mengangkat telepon darinya terakhir kali. “Halo, bisa bicara dengan Kugy?” “Sebentar, ya,” suara itu menyahut manis. Dan saat kop telepon dijauhkan, suara manis itu berubah menjadi teriakan lantang, “Kugyyy! Buat kamu lagi, nih! Capek deh ngangkatin telepon buat orang lain terus! Kok nggak ada yang telepon aku sih dari tadi?” “Udah, terima nasib aja!” Ada satu orang terdengar menyahut. “Dasar ABG. Entar tuaan dikit kamu bakal males terima telepon, tauk.” “Kalo teleponnya buat orang lain melulu, nggak usah nunggu tua, sekarang juga udah males.” Lalu terdengar suara derap kaki menuruni tangga. Sejenak kemudian telepon itu berpindah tangan. “Halo?” Keenan spontan tersenyum. Sepotong ‘halo’ yang baru saja ia dengar sudah cukup membuat suasana hatinya kembali cerah. “Kamar kamu di lantai atas, ya? Saya selalu dengar kamu lari-lari turun tangga.” “Keenan?” Kugy hampir melonjak dari tempat duduknya. “Hai! Apa kabar?” “Kabar baik. Saya lagi di Kuta, mau tahun baruan dengan keponakan-keponakannya Pak Wayan. Tadi tiba-tiba inget kamu, dan kepingin telepon. Saya pikir kamu nggak bakal ada di rumah. Nggak ada acara?” “Tawaran banyak, tapi aku tolak semua,” Kugy terkekeh. “Ada acara di rumah?” “Nggak juga. Aku lagi ada kerjaan.” Mata Keenan membesar, “Sebegitu pentingnya sampai melewatkan tahun baruan segala?” “Hmm… begitulah,” jawab Kugy sambil melirik jemarinya yang masih bersaputkan sisa lem akibat kegiatan tempel menempelnya sejak beberapa hari terakhir. “Di sini kan lebih awal sejam, dan sebentar lagi udah mau jam 12. Jadi… selamat tahun baru, ya, Kecil. Jangan cepat gede, nanti nggak seru lagi.” Entah mengapa, omongan Keenan yang setengah bercanda itu malah membuat Kugy terharu. “Makasih. Selamat tahun baru juga,” ucapnya setelah menelan ludah terlebih dulu. “Saya sebetulnya pingin cerita banyak. Tapi begitu nelepon, malah bingung. Mungkin nanti aja kalau kita ketemu di Bandung lagi, ya.” Dalam hati, Kugy merasakan sebersit kecewa. Agaknya percakapan telepon ini tidak akan lebih dari dua menit lagi. “Oleh-oleh buatku—nggak lupa, kan?” “Kaos barong?” gurau Keenan, yang langsung disahut gelak tawa di ujung sana. Sementara itu pikirannya melayang pada satu benda yang hampir tak lepas dari tangannya beberapa hari terakhir ini, yang membuat Pak Wayan dan Banyu geleng-geleng kepala saking seriusnya Keenan mengulik benda satu itu, bolak-balik dihaluskan dan disempurnakan setiap hari. “Pokoknya kamu utang Pemadam Kelaparan kalau sampai nanti cuma bawain kaos barong, atau sarung pantai, atau miniatur papan surfing…” “Kacang asin?” “Seneng amat sih sama kacang asin.” “Saya bakal bawain itu semua, plus sesuatu yang saya bikin. Jadi, kita tetap nge-date ke Pemadam Kelaparan. Gimana?” “Setuju,” ujar Kugy berseri-seri.

Tak lama kemudian, telepon itu disudahi. Kembali Kugy melirik jam. Dugaannya benar. Telepon dua menit itu kembali terjadi. Dan kembali Sang Waktu membuang sauhnya, berhenti di sana. Dan kembali Kugy mendapatkan dirinya tertambat dalam ruang dan waktu yang membeku, tempat segala kenangan tentang mereka dikristalkan. ========== Bandung, Januari 2000… Tiga orang itu menduduki meja kebangsaan mereka dengan membawa piring masing-masing. Ketiganya juga membawa kisah masing-masing seputar kegiatan mereka selama liburan semester. Eko memulai dengan menceritakan program penyembuhan yang telah dijalani Fuad. “Fuad udah ganti mesin, ibarat orang nyawanya diganti baru. Sekarang Fuad bodinya doang 124, tapi isinya udah Mirafiori.” “Yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah…?” “Statistik mogok Fuad akan menurun dan hidup kalian lebih tenteram,” demikian penutup dari Eko. “Horeee!” Kugy dan Noni bersorak. “Lu ngapain aja, Gy?” tanya Noni. “Gua banyak di rumah. Merenungi nasib.” “Nggak ada yang lebih menarik?” Eko melengos. “Gua juga lagi bikin…” Kugy terdiam sejenak, merasa tidak perlu melanjutkan. “Gantung amat,” celetuk Noni. “Lu ngapain aja, Non?” Kugy balas bertanya, cepat-cepat mengalihkan bola panas itu. Wajah Noni seketika cerah seperti disorot lampu, seperti ia hendak menyampaikan berita spektakuler yang disimpannya sejak tadi. “Gua udah cerita dikit ke Eko soal ini, dan dia juga setuju kalo rencana ini sangat brilian.” Mata Kugy ikut berbinar. Duduknya menegak. “Kayaknya seru nih…” desisnya penasaran. “Dimulai dengan Latar Belakang Masalah,” celetuk Eko. “Oke. Latar Belakang Masalah. Ehm. Jadi begini,” Noni mulai memaparkan, “selama ini ada ketimpangan di geng kita. Lu punya pacar, gua punya pacar, cuma Keenan doang yang jomblo. Dan anak itu kayaknya terlalu antisosial untuk cari pacar sendiri. Jadi…” Napas Kugy mendadak tertahan. “Jadi… Neng satu ini mau mencoba peruntungannya jadi Mak Comblang,” timpal Eko seraya menyentuh sekilas ujung hidung Noni. “Gua punya saudara, sepupu nggak langsung sih, tapi hubungan kita lumayan deket. Dia lama tinggal di Melbourne. Sekarang ini dia lagi cuti kuliah, pulang ke Indonesia buat magang di perusahaan bokapnya. Dia mau main ke Bandung minggu depan. Pas banget momennya dengan Keenan pulang dari Bali,” Noni melanjutkan. Badan Kugy rasanya semakin tidak rileks. “Terus?” tanyanya. “Terus… ya, mereka berdua mau dipertemukan, gitu lho, Jeng Kugy,” Eko menyambar. “Memangnya Keenan mau dicomblangin gitu? Kok gua nggak yakin,” kata Kugy. Ia sungguh tidak bisa memaksakan diri untuk tampak antusias dengan proyek Noni. “Jangan ketahuan, dong. Semuanya harus na-tu-ral,” Noni mengeja, “yang tahu percomblangan ini cukup kita bertiga doang.” “Kalian berdua aja, deh. Gua nggak bakat nyomblangin orang. Statistik kegagalan gua seratus persen,” sahut Kugy malas. Tubuhnya yang tadi tegak kini kembali bersandar ke kursi. “Lu kok pesimis gitu, Gy,” tukas Eko. “Bayangkan, nanti kita bisa triple-date. Gua en Noni, lu dan Ojos, Keenan dan—siapa namanya?” “Wanda.” “… dan Wanda. Seru, kan?” “Yah, gua hargai optimisme lu. Tapi udahlah, mereka berdua ketemu aja belum. Belum tentu nyantol. Nggak usah mengkhayal triple-date dulu,” kata Kugy, hampir tak bisa menutupi nada suaranya yang berubah ketus. “Bukannya elu yang selama ini seorang pengkhayal profesional? Aneh,” komentar Eko. Noni terkekeh, “Kalo cuma soal nyantol, gua yakin mereka bakal nyantol.” “Oh, ya?” Kugy menyahut sangsi.

“Lihat aja nanti,” Noni tersenyum simpul. *** Bukan hanya karena pembicaraan di Pemadam Kelaparan tadi siang, sudah beberapa minggu belakangan ini Kugy merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Meski rasanya sudah di ujung lidah, Kugy belum bisa menguraikan apa yang sesungguhnya terjadi. Tidak juga pada dirinya sendiri. Ia merasa sudah saatnya bicara dengan seseorang. Kugy berharap bisa memperoleh kejelasan dengan setidaknya memberanikan diri untuk bercerita. Diketuknya pintu Noni yang setengah terbuka, “Non… lagi sibuk?” Noni tengah berbicara dengan seseorang di ponselnya. Namun isyarat tangannya menyuruh Kugy untuk masuk. Kugy pun duduk menunggu di sudut tempat tidur. “Oke… weekend depan udah pasti, ya? Perlu dijemput? Ya. Nanti aku sama Eko jemput kamu ke hotelmu aja, baru kita jalan bareng. Iya… nanti ada teman-temanku juga. Oke. Sampai ketemu, ya! Take care… bye!” Noni meletakkan ponselnya, “Sori, Gy. Aku baru teleponan sama Wanda. What’s up?” Mendengar nama itu, kembali rasa tidak nyaman merambati tubuh Kugy. Ia merasa makin tidak beres. Ditatapnya Noni yang juga menatapnya dengan tatapan menunggu. Entah kenapa, tibatiba Kugy merasa Noni bukanlah orang yang tepat untuk diajak bicara masalah ini, tidak dengan adanya proyek percomblangan yang sepertinya betul-betul diseriusi sahabatnya itu. “Kenapa, Gy?” Noni bertanya lagi. “Nggak. Nggak jadi. Gua lupa mau ngomong apa. Hehe. Sori,” Kugy pun bangkit berdiri. “Yakin?” Noni mengamati air muka sahabatnya. “Hari ini lu banyak gantung, deh.” “Mungkin udah saatnya gua bertobat dan banyak berbuat baik,” cetus Kugy asal sambil nyeloyor pergi. “Dasar gila,” Noni nyengir, lalu menutup pintu kamarnya. =========== Lewat pukul lima, Kugy baru sampai ke tempat kosnya. Ia baru saja kembali dari pertemuan klub Kakak Asuh yang mengundangnya untuk menjadi pengajar sukarela di sebuah sekolah dasar darurat. Sekolah itu akan dinamai “Sakola Alit” dan akan mengambil tempat di alam terbuka di daerah perbukitan Bojong Koneng. Tepatnya, mereka tak punya dana cukup untuk menyewa bangunan dan terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar di saungsaung ladang atau di bawah pohon. “Kamu nggak percaya kan di kota secanggih Bandung ini masih ada anak-anak yang nggak bisa baca tulis, padahal umur mereka sudah sembilan-sepuluh tahun?” kata Ami pada Kugy di pertemuan tadi. “Jadi, kita harus mulai dari mana?” Kugy bertanya. “Kita akan bagi tiap kelas sesuai kemampuan mereka masing-masing. Kelas paling dasar hanya akan belajar membaca, menghitung, dan menggambar. Persis pelajaran anak TK. Tapi dalam satu kelas umurnya bisa bervariasi, dari mulai empat tahun sampai sepuluh tahun.” Kugy terdiam mendengar penjelasan itu. Matanya tak lepas mengamati foto-foto anak-anak yang akan dibina oleh Ami dan teman-temannya. “Kamu pikirkan dulu aja, Gy. Kita berkomitmen mengajar mereka empat hari seminggu. Jadi lumayan menyita waktu.” “Berapa sukarelawan yang sudah terkumpul sekarang?” “Dua orang, termasuk aku.” “Anak yang harus diajar?” “Dua puluh dua.” Kugy terdiam lagi. “Oke, saya kabari dalam minggu ini, ya.” Sepanjang perjalanannya pulang, Kugy tak bisa menanggalkan wajah anak-anak itu dari ingatannya. Perhatiannya baru teralih saat ia membuka pintu kamar dan melihat ada setumpuk benda asing di tempat tidur. Kugy menyalakan lampu. Matanya pun terbelalak. “Nooon!” kontan Kugy berteriak. Terdengar ada suara yang menyahut dari kamar sebelah. Tak lama, Noni muncul di pintu. “Keenan ke sini?” tanya Kugy segera. “Iya, tadi dia mampir sama Eko, cari kamu, tapi nggak ada. Dia titip oleh-oleh, tuh. Udah lihat, ya?

shall we?” Wanda memutar tubuhnya menghadap Noni. ini Wanda. Gy?” Noni melongok ke kamar Kugy dan sedikit terperanjat. nggak?” “Mau! Mau!” Kugy menjawab setengah berseru. Perasaannya campur aduk. *** Dari dalam kamar. Dan ketika tiga orang itu pergi. Dan Kugy akhirnya memutuskan sesuatu. Kugy meringkuk di tempat tidurnya semalaman. Setiap inci penampilan Wanda seperti direncanakan dengan matang.Kugy mengangguk. Gantian Eko yang lantas mendelik penuh maksud. “Gua nyusul bentar lagi. Baju terbaik yang pernah ia miliki dan tak pernah keluar lemari saking istimewanya. Wanda senang lukisan juga. Gy. Sepatu hak lima sentinya tampak serasi dengan tas kecil yang ia pegang. Kugy membuka laci meja belajarnya. membuat alasan palsu yang membatalkan kepergiannya ke tempat kos Keenan. ia mendengar langkah-langkah kaki mendekati kamarnya. Dan semua itu membuat Kugy terpaku. *** “Udah siap. “Nan.” “Nggak… biasa aja. Kalian duluan aja ke depan. Keenan berkenalan dengan Wanda. seperti melumpuhkan sistemnya. Tak sabar rasanya menanti malam datang. nggak? Nah.” Gugup. “Oh. “Maaf agak berantakan. “Si Kecil mana?” tanya Keenan langsung.” Eko tertawa. Ada kegelisahan yang nyaris tak bisa ia tahankan. kok. sori. membuka pintu. “tapi lebih sesuai dengan fitrah lu. Dia pokoknya ngerti banget soal yang seni-seni gitu. Ketika Noni sudah keluar. Kamu pernah dengar Galeri Warsita di Menteng.” ia mengulang namanya dengan nada merdu bak resepsionis kantor. Wanda ceritanya lagi hunting lukisan di Bandung. Rambut panjang itu tampak tertata rapi seperti baru keluar dari salon. Keenan sudah bisa mendengar Fuad menepi. Terdengar suara hak sepatu beradu dengan ubin dari kejauhan. “tumben lu agak cakepan. Masuk. lho. Tampak barisan kuku terlapis cat biru metalik yang berkilau tertimpa sinar lampu.” Noni menyerocos seperti tukang obat sedang promosi. Segala sesuatu tentang Wanda. menemui teman-temannya yang sudah menunggu di mobil. ========= Dengan gestur agak kaku. Kugy pun menyadari. dan aneka kemungkinan yang bisa terjadi malam ini. Keenan pun segera berdiri. Kugy mengempaskan tubuhnya ke tempat tidur. menuju arah mereka. guys. Sesuatu serasa merekah di hatinya. Ia ganti menatap Noni dan Eko. Tubuh semampai itu melangkah anggun dalam jins ketat dan tank-top. yuk…” gelagapan Keenan menyilakan sambil membuka pintunya lebar. Di atasnya tergeletak papan surfing mini dan sekotak kacang asin. meminta penjelasan. ya. Kugy menyambar jaket jins Karel dan buru-buru mengenakannya. Ia berlari ke depan. Mau ikut.” Noni berkata. ayah Wanda itu pemiliknya. Semilir parfum floral tercium di udara tiap kali perempuan itu bergerak.” ujar Kugy. “Sorry. Tak sanggup menyembunyikan kegembiraan yang membeludak. “Non. bola mata Wanda dilapisi kontak lens biru yang serasi dengan warna kukunya. Kugy merapikan baju terusan hitam selututnya. Satu hal yang rasanya mustahil dilakukan Kugy. kenalin. Belum sempat beres-beres setelah pulang dari Bali…” . rencana Noni. Tampak Noni dan Eko nyengir selebar-lebarnya. Kugy menerima uluran tangan Wanda. Sejenak ia menyadari detak jantungnya yang sedikit bertambah cepat. Sebagai ganti. “Nanti malam aku sama Eko janjian mau ke tempat kosnya. Ini sepupu gua. seolah mengantisipasi sesuatu. Sepupuku dari Melbourne.” Tiba-tiba sesosok perempuan tak dikenal muncul di balik punggung Eko dan Noni. Tahu-tahu. meminta diundang masuk. Sekadar mengecek buku buatan tangannya yang kini sudah rampung. Wanda. I just dropped my contact. menatap kaos putih bergambar barong dan sarung hitam bercorak yang terlipat rapi. “Gy. Gua bilang juga ke dia kalo lu hobi melukis. Tak lama. Pintu terbuka. “Yaaah… rusak lagi. “Wanda. deh. Untung ketemu lagi…” Keenan terheran-heran melihat seorang cewek tinggi tak dikenal berjalan ke arah mereka dengan mata berkedip-kedip seperti orang kelilipan.

Wanda langsung menerobos masuk. melonjaklah Kugy dari tempat tidur. Wanda dan Keenan mengobrol soal dunia lukisan dengan asyiknya hingga tak menggubris desakan Noni dan Eko untuk makan malam di luar. “Menurut kamu—lukisan-lukisan ini cukup layak masuk galeri?” “Layak?” kali ini Wanda mendongak menatap Keenan. Such a shame. “harusnya kamu cari nafkah dari melukis. Wanda itu kurator muda. ya?” Alis Keenan mengangkat. mendetail. Noni menjulurkan sebelah tangannya diam-diam. Saat pintu kamar sebelahnya kedengaran membuka. “Kamu pelukis potret yang sangat bagus.” kata Noni sambil melirik Kugy yang bersandar di dinding sambil menguap-nguap dan garuk-garuk kepala. Ia mulai melangkah mendekati Wanda dan menyimak ucapannya sungguh-sungguh. Perhatiannya begitu terpusat seolah yang lain sudah melesak ke perut Bumi dan tinggal ia sendiri bersama lukisan-lukisan Keenan. Sementara dilihatnya Eko dan Noni mesem-mesem di pojok kamar. Abstrak kamu juga sangat kuat. siapa lagi yang peduli soal seru dan nyambung… dan benak Kugy pun tak berhenti bicara. Kugy terkekeh. kamu menggabungkan lukisan potret dengan abstrak dalam satu frame. kita dianggurin kayak cicak. “kamu sangat. Biasanya. dia melihat kualitas yang lain… tapi cowok tetap saja cowok… tapi mungkin Wanda membosankan. nih. “Optimis banget sih ente.” Wanda tersenyum tipis. dan nggak nyambung… tapi kalau secantik itu. Tidak mungkin ada cowok normal yang tidak tertarik dengan Wanda… tapi Keenan mungkin beda. Malam itu. Matanya sudah terkunci pada lukisan-lukisan yang menyebar di seluruh penjuru ruangan itu. “gimana debut Mak Comblang kita? Sukses?” “Dari skala 1-100. Misi mereka berhasil. Bak seorang kurator profesional. Bokapnya yang punya Galeri Warsita di Menteng. dan gua sama Eko akhirnya minggat ke warnet.” Kugy menguap lagi. Berdiri di dekat pintu kamarnya dengan lagak malas-malasan. Keenan menelan ludah. Impressive. Tadi nulis dulu.” Air muka Keenan berubah seketika. masih iseng-iseng.” “Ah. yang ada kita batal makan ke luar. akurat.” ============ . “Kamu—sudah pernah pameran?” tanya Wanda pada Keenan. Gila. tergelak halus. Gy? Tadi katanya banyak kerjaan. ia menelaah lukisan demi lukisan dengan teliti. tapi pikirannya tetap terikut dengan Fuad. nggak seru. pelukis hanya kuat di salah satu.” cetus Noni mantap. “awalnya memang si Keenan kayak sedikit alergi. Noni dan Eko terpaksa menggantungkan nasib perut mereka pada Mas-Mas pengantar pizza. Kugy tetap terjaga di kamar. sangat berbakat.Tanpa menunggu penjelasan Keenan selesai. Kunjungan ini mendadak menjadi menarik. guratan dan garis kamu tegas. terus sakit perut. cuma order pizza. Semua objek kamu hidup.” jelas Noni dengan senyum kemenangan.” tutur Wanda dengan decak kagum. “Baru mau tidur. dan menciptakan seribu satu skenario tentang apa gerangan yang terjadi malam ini. tapi begitu Wanda mulai ngomentarin lukisannya… dia berubah kayak orang disirep! Saking lupa daratannya mereka berdua ngobrol. *** Sejak tadi. Baru kali itu seseorang mengomentari lukisannya dengan sangat serius. Yang 5 sisanya hanya untuk jaga-jaga siapa tahu Keenan atau Wanda mendadak amnesia. “Belum…” “Lukisan kamu sudah pernah masuk galeri?” “Belum…” Keenan menggeleng lagi. terus mau tidur cepat. menuju tempat kos Keenan. “Belum tidur. mengajak Eko bersalaman. Emangnya Keenan mau sama tipe cewek Barbie kayak Wanda gitu?” “Kugy sayang. Keenan merasakan banyak tanda tanya di udara malam ini.” “Oh. Dan uniknya. nilai gua 95. Sambil menyuap potongan pizza ke mulut. Berbagai kegiatan sudah ia lakukan untuk mendistraksi. “saya melukis hanya karena hobi aja. tapi kamu kuat di keduanya. Dengan bingung Keenan memandangi kegiatan Wanda yang menekuni lukisannya seperti hendak menelanjangi.

Kugy pun bergegas menyiapkan ‘ruang kelas’-nya. “hari ini baru ada lima belas anak. Ia harus berbuat sesuatu. Ini adalah hari pertama mereka resmi mengajar di Sakola Alit. Ada sesuatu yang remuk di hati Kugy. “Neng Ami… kumaha. Diantar ku Bapa. apa pun caranya. Terpaksa ia membungkus es batu dalam sapu tangan lalu mengompreskannya ke mata.” buru-buru Pak Somad mematikan rokoknya lalu mulai memanggili anak-anak yang tercerai-berai di sekitar masjid. hingga kesedihan itu tak tertanggungkan lagi.” sahut Pak Somad. Banyak anak kecil berlarian di sekitarnya. Ia ingin melupakan pedih itu. ya?” “Oh. Sekumpulan anak itu akhirnya dibagi dalam tiga kelas. kok. *** Pagi itu. Seorang bapak berpeci yang sedang duduk sambil merokok. banyak yang sambil kerja juga. Ia lalu teringat sesuatu. Matahari pagi terasa hangat menyentuh kulit muka setelah sekian lama mereka terperangkap dalam mobil. sampailah mereka di sebuah masjid. Sambil menenteng masing-masing sebuah papan tulis kecil dan menyandang ransel yang penuh sesak dengan alat tulis dan buku-buku. “Muhun. ini Kugy. dan Ical sejenak saling berpandangan sebelum mereka menuruni jalan tanah itu. Semuanya mengaku tidak bisa membaca dan menulis. Kugy. Kita mulai sekarang aja. “Pak Somad ini yang membantu mengumpulkan anak-anak dari kampung sini. dibenamkannya lagi dus kecil itu di dalam tumpukan benda lain.” “Nggak apa-apa. Setelah sepuluh menit berjalan kaki. Menggelar tikar plastik untuk mereka semua duduk. Perasaan itu.” Ami memperkenalkan ketiga temannya satu per satu. Ami kebagian di saung besar. melirik buku dongeng buatannya yang kini tergeletak di meja. Sejenak Kugy mengangkat mukanya. Butir demi butir air mata pun mulai melelehi pipinya. ============= Angkutan kota Colt L-300 yang sudah tua dan kepayahan nanjak itu hanya mengantarkan mereka bertiga sampai ke mulut sebuah jalan setapak. Dan segala keresahan dan kebingungannya selama ini juga ikut memuncak. Kugy bangun dengan mata sembap. Ical mendapat tempat di sebuah saung agak kecil yang terpisah sekitar seratus meter. Kugy membuka salah satu dus lalu menjebloskan benda itu di sana. Namun terasa tawar dan sumbang. Tidak ada yang bisa membayangkan apa yang akan mereka hadapi. Tak lama. Di hadapannya kini sudah ada lima anak dari mulai umur empat sampai sembilan tahun. ini teman-teman saya yang nanti ikut ngajar. Kugy mengambilnya dari dalam laci. Saungnya di sebelah mana. ketiga orang itu mulai melangkah memasuki jalan menurun yang dinaungi rimbunan pohon bambu di kiri-kanan. Dan tawaran Ami mendadak menjadi tiket keluar yang paling baik. Dan Kugy pun membenamkan mukanya kembali ke dalam guling. Neng? Damang?” Bapak itu menjulurkan ujung tangannya untuk menyalami Ami. Kugy ingin sekali melupakan benda itu. Sementara ini. Ia harus mencari kesibukan. Aku udah memutuskan… iya… aku mau jadi pengajar di Sakola Alit. Mendadak ia merasa bodoh. dan Kugy kebagian di bawah pohon. Buku itu tampak buruk.” Ami lalu gantian mengenalkan. Sisanya mungkin baru besok atau lusa. Kugy mengembuskan napas lega. Belum cukup puas. menyandarkan papan tulisnya di pohon. Ia langsung mengernyit. dan pecahan-pecahannya seolah menyebar ke seluruh tubuh. mangga. ia membuka catatannya lalu memencet sederet nomor di ponselnya. Maklum. meledak. Jengah melihat hasil karyanya sendiri. “Pak Somad. dan membagikan buku serta alat tulis. Lidahnya seperti kelu untuk memberi tanggapan apa pun. cepat-cepat bangkit berdiri dan menyambut mereka. Sejenak Kugy menghela napas. membuatnya meringkuk memeluk guling menahan pedih. mangga. Mulai secepatnya bisa? Iya… aku siap. untuk pertama kalinya Kugy menyadari… ia telah jatuh cinta pada Keenan. Ami. Neng. mereka-reka harus . kenalkan. Sebuah benda buatannya yang sudah terbungkus rapi dengan kertas kado.Kugy ikut tertawa. Akhirnya ia memilih permisi tidur. mereka pun berjalan beramai-ramai menuju sebuah saung yang berukuran cukup besar di pinggir ladang cabe. “Ami? Hai. Dalam benaman guling itu.” Setelah pembicaraan itu selesai. Membuka lemari pakaiannya yang bergabung dengan beberapa dus kecil berisi barang-barang bekas. Dengan satu mata yang terbuka. Pak.

Mia.” jawabnya. saya setuju. Menurut saya dia sangat gifted. melangkah masuk bersama mitranya. Wanda mengangguk mantap. yang juga sudah puluhan tahun menjadi kolektor karya seni. Ran. “Wah. Saya lihat dia seperti masih mencari identitas.” jawab Wanda lagi.” Hans geleng-geleng kepala. Dia yang temannya Noni di Bandung itu. Tapi. *** Laki-laki setengah baya itu berjalan menuju ruang kantornya yang terletak di bilangan Menteng. ============ “Iya. “Belum. Jakarta Pusat.” Hans berdehem. “dia bahkan nggak mau kasih aku sneak preview.” “Siapa namanya? Keenan?” tanya Syahrani sambil membaca-baca data yang sudah dipersiapkan Wanda di meja. “kalau soal dia berbakat. “Pagi. pak. termasuk proyektor yang sudah menyala dan terhubung ke laptop-nya. Ia sudah menduga pertanyaan itu pasti muncul. dari setengah jam yang lalu malah. Karyanya segar. Semuanya tampak sudah rapi ia persiapkan. “Tante Rani. “Pernah masuk di galeri mana?” Syahrani ikut bertanya. hingga foto demi foto berlalu. Wanda langsung menghampiri Syahrani dan memeluknya. “Selamat pagi. Napasnya sejenak dihela sebelum mulai memberikan ulasan. ya? Let’s see what she got. Otentik? Bisa jadi.” “Oh.” “Morning. anak ini kelihatannya masih berproses dan belum mencapai titik kematangannya sebagai pelukis. Wanda sudah di dalam?” “Sudah. otentik. Papimu cerita. lalu dia langsung menghilang. “How’s our prodigy? Dia telepon aku semalam. “Sudah pernah pameran?” tanya ayahnya. ada yang langsung merobek kertas dari bukunya dan bikin kapalkapalan. Kantornya hanya satu ruangan dari keseluruhan galeri yang luas itu. Sepertinya dia semangat banget. Pak Hans. I miss you so much…” “Miss you too. dan begitulah ia biasa berkantor sehari-hari. Syahrani. Syahrani dan Hans berpandang-pandangan. Tadi pagi kami sarapan bareng di rumah. hanya seoles tipis lipstik warna merah tua. Gimana pameran patung Teguh di Jerman? Sukses?” Hans menyapa mitranya.” Syahrani tersenyum dan menggosokkan kedua telapak tangannya seolah hendak mengantisipasi sebuah kejutan. Dengan manajemen yang baik. Pertanyaan kedua yang pasti muncul.” “Tapi kali ini dia agak aneh. Wanda tampak sedikit tegang. Kasih satu- . Selendang batik membungkus lehernya seperti syal. Pantas tadi langsung hilang dari rumah sehabis sarapan.” seorang perempuan setengah baya berkacamata menghampiri mereka. dan ada juga yang menatapnya bergeming seperti melihat hantu. Ia hanya mengenakan kemeja linen dan celana kain.” Laki-laki itu melirik jam tangannya.” sapa Kugy semanis mungkin. “Belum pernah. “Met pagi. Hans. Hans pun membuka pintu kantornya yang sedari tadi tertutup. dear.” Syahrani tertawa ringan. kamu semangat banget mau presentasi pagi ini. Wanda memulai dengan karya pelukis paling senior terlebih dahulu. menurut saya dia bisa punya prospek luar biasa. Wajahnya yang cerah nyaris tanpa make-up. tuh. Keringat dingin Kugy menetes. dan akhirnya menikah dengan seorang perupa terkenal. dan Wanda tiba pada koleksi terakhirnya. Ternyata sudah duluan ke mari.” kata Syahrani sambil menjawil pipi Wanda. Morning. They love it. Wanda menyambut keduanya dengan senyum merekah. Tak ada yang menjawab. Ada yang asyik mencari kutu di kepala temannya. Ia menjalankannya hanya berdua dengan sahabatnya. Galeri miliknya memang merupakan galeri terbesar di Jakarta.memulai dari mana. Dari setengah jam yang lalu. Katanya banyak dapat lukisan bagus di Bandung. lalu tanpa banyak bicara ia langsung memulai mempresentasikan slide-slide foto lukisan yang sudah ia persiapkan. “Selamat pagi. rajin banget dia. “Well. then. ada yang kerjanya teriak-teriak terus memanggili temannya di saung sebelah. “Yang ini adalah karya pelukis muda.” Wanda berkata sambil melirik ayahnya. Mia.” sekretarisnya menyapa. “Wonderful. those strange bules. Wanda menghela napas. Papi.

” Hans tersenyum kecil.” Ekspresi Wanda seketika berubah. dan aku nggak mau ganggu. tapi sorot mata Keenan begitu menusuk.dua tahun lagi. ya?” “Kesal—soal apa?” tanya Kugy tegang. kan?” .” potong Keenan. Gy. kok.” kata Keenan dengan nada menyesal. Rambut sebahu yang tergerai. “Kamu ke mana aja?” “Ada…” jawab Kugy bergumam. “Ulang tahun kamu udah lewat. tapi mentah. “Waktu itu kan pas Wanda datang lagi ke Bandung. “aku kan udah bilang. Sayang. ya.” Wanda menyambar tegas. “Nggak tahu. kamu sahabat saya. Mulutnya siap membuka.” cepat Syahrani menambahkan sambil tertawa halus.” sahut ayahnya santai. tapi nggak ada salahnya galeri ini juga memulai membuka peluang untuk pelukis baru. Kita lihat saja nanti perkembangannya. “raw—mentah. nggak sempat kasih selamat. Dan saya pikir dia layak diberi kesempatan. tapi saya yakin dia punya sesuatu. “Oke. Keenan mulai berpikir barangkali sudah saatnya ia menyerah dan pulang. dan kamu nggak pernah nongol. “maaf ya. Dia seperti orang yang sungguh-sungguh kehilangan. tapi ia kehilangan kemampuannya berkata-kata. Meski ia masih terusik dengan apa yang dilontarkan padanya barusan. karena justru nggak mau ganggu makanya aku—” “Kamu sebetulnya kesal sama saya. saya tuh nggak pernah betah lama-lama di kampus. “Bercanda. ransel yang tampak tidak proporsional karena ukurannya terlalu besar untuk tubuh pemakainya… “Kugy!” Keenan berseru. Tapi waktu itu aku udah titip pesan ke Eko. “Ulang tahun kamu juga. Syahrani sekilas memeriksa data Keenan sekali lagi.” Kugy gantian menyambar. “Papi. Namun ia mengedarkan pandangannya sekali lagi. Kugy memejamkan mata sebelum berbalik dan menyetel muka polos. nunggu di tempat yang sama.” ujar Keenan. Papi. Terpaksa Keenan mengejar dan menarik tangannya. Bandung. ya?” Baru pertama kali itu Kugy mendengar nada bicara Keenan terdengar agak emosional. Pertanyaan itu dilontarkan dengan halus.” “Saya setuju dengan semua poin kamu. “Anak ini memang berbakat. dan Kugy merasa seperti tertuduh.” balas Kugy pelan. “Heloooo! Rekan agen! Apa kabar?” Keenan menatapnya tak percaya. Akhirnya. Ada selembar foto Keenan di samping lukisannya yang ikut dilampirkan di sana. “Bukan gara-gara komentar saya soal cerpen kamu itu. Dia bagus.” Napas Wanda melega. “kamu sibuk banget.” Hans mengangkat bahunya ringan. “Sudah ada berapa puluh pelukis baru yang antre ingin masuk sini dan kita tolak. Hans.” “Nggak bisa ngomong sendiri?” Kugy menelan ludah. “tapi ada faktor lain yang bisa jadi pertimbangan.” Kugy terdiam. Tapi gara-gara nyariin kamu. nggak mungkin saya—” “Nan. Kalian berempat kan ada acara sendiri—” “Dan saya ngundang kamu juga. Februari. Warsita memang terkenal dengan koleksi karya-karya pelukis mapan. “Lumayan…” Kugy kembali menjawab dengan suara berkumur. 2000… Rasa pegal yang mulai menyerang kakinya menunjukkan bahwa sudah cukup lama ia berdiri di sana. “saya nggak pernah bikin acara itu untuk eksklusif berempat. lalu kenapa yang satu ini bisa mendapat perkecualian?” “Karena dia berbeda.” Syahrani angkat bicara. mungkin dia baru layak masuk ke Warsita. tidak lagi kalem seperti biasa. Mulutnya mengerut. Yang dipanggil malah terus berjalan. He’s like a raw diamond…” “Persis. “Gy. senyum puas yang menyembul di wajahnya sungguh tak bisa disembunyikan. Ini bisa jadi kredit buat kita jika kelak pelukis ini berkembang bagus. Yang jelas alasan ‘nggak mau ganggu’ itu kok kedengarannya agak basi. yaitu kejelian Wanda melihat talenta baru. kadang-kadang sahabat yang baik itu justru harus tahu diri. tampak sekelebat siluet yang ia cari.” Muka Wanda langsung merah padam. jaket jins yang hampir setiap hari dipakai. “Karena… I think our Wanda likes him. meneliti wajah-wajah yang lalu-lalang di sekitarnya. Keenan mengangkat bahu. hampir setiap hari saya nongkrong di sini.

Tampak rombongan Eko muncul di tangga eskalator. Nan. Ikut. Saya traktir. Kugy. Hebat. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Dan tidak ada manusia lain yang paling ideal untuk menemaninya makan siang selain Keenan. ya. Justru alasan jujurnya yang bakal jadi juara basi. ya. “Sejak kapan nama saya jadi Keenan—apa tadi? Kleptomania?” “Resmi ditasbihkan barusan. “Hmm… sori. Moga-moga nggak ada yang ketiga kali. Kamu selalu ditanyain sama Mas Ito. Seperti merapal mantra. Aku usahain.” kembali setengah berkumur Kugy berkata.” Tanpa beban. ya?” Keenan sejenak terdiam mendengar respons Kugy. tuh. sampai-sampai dia harus mulai mengerahkan beberapa teman untuk ikut membantu.” ucapnya pelan. kamu akan terjebak terus. sambil mengusahakan senyum lebar di mulutnya. Mentang-mentang ganteng. deh. Aku harus cabut. “Mas Ito.” sahut Kugy cepat. Katanya weekend ini Wanda mau datang lagi ke Bandung. matanya terus menekuni aspal. Dua ratus persen pasti nggak bakalan ikut. “Malam minggu ini kita mau nonton midnight kayak biasa. Ito menyerahkan tiket itu masing-masing dua lembar ke tangan Eko dan Keenan.” Kugy nyengir. Kugy tak berani menatap Keenan langsung. Udah. ya. Transaksi pun berjalan seperti biasa. Perasaan seperti tertuduh itu kembali menyerangnya.Kugy menggeleng. yuk. ya!” kali ini ia sungguhan tulus mengatakannya. Mana mungkin bisa jujur. Ini sudah menjadi pekerjaan tetapnya hampir setiap malam Minggu. banyak teman-teman Eko lainnya yang juga ikut memakai jasanya. “Wah! Selamat. “Nama saya Wanda. sambungnya dalam hati. jangan aneh-aneh. “Mungkin berlima. ada janji dengan Ami dari Klub Kakak Asuh.” ucap Kugy dengan nada yang dibuat serileks mungkin. “Memangnya—kamu pernah pacaran sama Kugy?” tanya Wanda pelan.” Eko mulai protes. “Lukisan saya bakal masuk ke Galeri Warsita. cantik-cantik lagi. Ada beberapa helai tiket lagi tersimpan di kantong belakang kiri dan kanan. ini buat Mas Keenan dan… Mbak Pacar Baru. Sejak Eko sering menitip beli tiket midnight.” “Makan bareng.” celetuk Wanda sambil mengerling ke arah Keenan yang berdiri di sebelahnya dengan muka memerah.” Keenan menambahkan. tahu beliin tiket bioskop aja. “Beneran… aku ikut senang. “Udah dua kali kamu ngomong ‘kapan-kapan’ ke saya hari ini. “gara-gara itu Wanda bolak-balik terus ke Bandung. “Hebat Mas Keenan. Tapi nggak pa-pa juga kalau disebut ‘Mbak Pacar Baru’.” Mata Kugy membeliak. Kamu memang pantas kok masuk galeri besar. pacarnya ganti-ganti. ya. “Mas Ito!” Pria itu menoleh. =============== Bandung. “Saya sebetulnya punya sesuatu buat kamu. Maret 2000… Pria berkacamata itu sudah siaga berdiri dengan empat tiket bioskop di tangan. dan cepat-cepat ia berlalu dari sana. dan cepat-cepat mereka berlalu dari hadapan Mas Ito sebelum manusia itu terus mengorek-ngorek info tak penting. Kugy mengulang-ulang kalimat itu dalam hatinya. batinnya. Pemadam Kelaparan?” Kugy menghela napas. “Mbak Kugy nggak pernah ikut lagi. ini buat Mas Eko dan Mbak Noni. Kalau nggak begini. Mereka berempat spontan tertawa.” “Lihat nanti. Mas. Kakinya melangkah besar-besar. yuk. Kapan-kapan. “Duluan.” ============ Keenan tergelak. Kapan-kapan aja. Tadinya saya mau kasih untuk hadiah ulang tahun kamu…” “It’s okay.” “Kita—berempat?” Kugy bertanya hati-hati. Cuma masalah waktu. Mas Keenan? Resmi putus nih ceritanya?” Ito mesemmesem dengan tatapan haus gosip. . “Nah.” Ito masih terus berkomentar. “Keenan Aquaneptuniamania… jadi pelukis beneran.

Ojos pernah bercanda. mesin popcorn yang sama. Kamu harus istirahat. tempat yang sama. orang yang bergandengan dengan tangannya waktu itu adalah Kugy. Semua ini terasa seperti dejavu. hari ini malam Minggu. Oom-ku baru beli apartemen di daerah Orchard. Ojos tak membayangkan akan bisa membaca sepuluh persen saja dari jumlah buku yang dibaca Kugy. “Mau baca juga. “Nggak ada. Itu karena anakonda di perutku juga tambah besar…” “Gy. mata bundarnya tampak serius menekuni buku J. habis itu nggak pernah keluar kamar. Ruangan itu kembali hening. ada faktor sibuk dan sok sibuk.” Eko menambahkan sambil terkekeh. Lama. Jos? Aku ada Donal Bebek…” Ojos menggeleng.Keenan hanya menggeleng. dan ruangan itu kembali hening. Ojos mengamati wajah pacarnya sejak tadi. “Gy…” “Hmm?” “Are you okay?” Kugy menatap Ojos. Seumur hidupnya. Ojos kembali mengamati. Masa sih kamu nggak bisa kasih?” “Jos. Jos?” “Kamu jadi lebih diam akhir-akhir ini.” “Tapi kamu sekali-sekali harus memperhatikan diri kamu juga.” Noni bercerita. Kugy kembali tenggelam dalam bacaannya. Sebagai jawaban.” “Iya.” Wanda tahu-tahu menggamit tangannya.” “Kamu sibuk banget ngurusin sekolah itu. Bedanya.” “Bukan. Anak-anak itu…” Kugy berdecak.” “Nggak mau. celana pendek batiknya yang berkeriut-keriut. Entah kenapa. Weekend aja. Malam Minggu. “Kugy dan Keenan pacaran itu selamanya hanya akan ada di otak Mas Ito seorang. dan aku bareng sama kamu. “Tauk tuh Kugy. buku setebal itu lebih cocok buat senjata melawan anjing galak ketimbang buat bacaan. Kugy pun kembali pada bacaannya. aku serius. sekalipun tahu bahwa temannya hanya bercanda.” tandas Kugy. dan ia pun tersadar bahwa Wanda memperhatikannya saksama sejak tadi. Rambutnya yang semakin panjang. Keenan seolah terempas ke lorong waktu. Emangnya dia ngajar sampai malam? Emangnya ada layar tancap midnight di Bojong Koneng? Kalo kata gua. yuk. kaos “Lake Toba”—seragam tidur favoritnya—sudah semakin lusuh.” “Jos.” “Aku bayarin. Kugy pun mengangkat mukanya. are you okay?” Keenan tersentak dengan pertanyaan Wanda yang tiba-tiba. Pulangnya sore terus. dan mereka berdua berjalan menuju mesin popcorn di dekat sana. Kenapa. Dia jadi guru relawan buat sekolah darurat gitu. yuk. “Nan. Keenan merasa tersentil dengan ucapan Eko. Mulai merasa diamati. Keenan tersenyum sekilas.” “Liburan apa?” “Kita ke Singapur.” “Waktu kamu dari Senin sampai Jumat dihabiskan buat anak-anak itu. Badan kamu sampai habis. I’m okay. Bandung. Ada yang kamu pikirin?” Kugy seperti tersentak mendengar pertanyaan itu. Kita bisa stay di sana. “… oke?” Tak lama. “Aneh. “kadang-kadang aku yang merasa banyak belajar dari mereka. “Beli popcorn.” “Nggak punya uang. dong. R. Palingpaling soal Sakola Alit.” Eko menimpali lagi. Dalam hatinya. ia tidak berselera untuk panjang lebar menjelaskan. “I’m okay. hampir tiap hari ngajar. April 2000… Sambil rebahan di atas karpet.” “Makanku tetap sadis. Ia mengenal adegan ini. “Gy…” “Hmm?” “Kamu butuh liburan. Aku cuma minta satu weekend doang. kok. tapi aktivitas kamu juga gila-gilaan. Kamu tambah kurus. Sibuk banget sekarang. Tolkien yang tebalnya minta ampun. tapi cepat ia tersenyum. gitu.” “Aku betah ngajar di sana. R. Apa bedanya?” .

” ========== Ojos melengos. kan?” Kening Noni kontan berkerut. *** Dibutuhkan waktu delapan kali pertemuan untuk meluluhkan hati mereka. dan Kugy pun diajari secara tidak langsung istilah-istilah Sunda oleh anak-anak itu. Hampir semuanya terus-terusan menggunakan Bahasa Sunda. “Hebat banget sih lu. Informasi Noni terasa membawa sedikit ketenangan bagi Ojos. Bahasa Sunda Kugy yang centang prenang menjadi salah satu hiburan favorit mereka. deh. sampai gua bela-belain bangun nyubuh begini. ya? Mereka udah jadian?” “Belum. Jos. Keenan malah lagi naksir-naksiran sama sepupu gua yang dari Melbourne itu. Tiap hari kayaknya dia kecapean kali. tapi nggak ada apa-apa.” Namun ingatan Ojos kembali ke adegan di stasiun Gambir malam hari itu. Non?” “Kenapa memangnya?” “Lu kan tiap hari ketemu dia. tapi kecemasan itu tak sepenuhnya hilang. “nggak lagi dekat sama cowok lain. “gua lho Mak Comblang-nya. Sorot mata Kugy.” “Selain Sakola Alit.” “Maksud lu—Kugy?” “Itu dia yang pingin gue tanya sama lu. tapi karena dia janji menemui Noni yang rutin lari pagi di Gasibu. Dalam hatinya.“Kamu nggak bareng sama aku. Sama gua aja jadi jarang ngobrol. sorot mata Keenan. “Dia kenapa sih. Jos. “setahu gua. “Aduuuh… lu kena sindrom Mas Ito juga ternyata. Baru malamnya nonton midnight kok bisa sih paginya udah jogging lagi. Kugy akhirnya menemukan cara lain untuk memotivasi mereka belajar membaca. suka jadi asyik sendiri. sih?” Noni berpikir sejenak. anak-anak itu mau lebih banyak memakai bahasa Indonesia.” “Lu tenang aja. “Masih kurang kurus nih. Alhasil. Non. “Gue titip Kugy.” Ojos pun menghela napas. seperti ingin mengungkapkan sesuatu yang lebih berat lagi. “Cowok lain? Setahu gua nggak ada.” Ojos kelihatan menimbang-nimbang.” “Oh. Radarnya tak pernah salah.” “Siapa tuh Mas Ito?” “Never mind. tolong kabarin gue.” Noni mengibaskan tangannya. Tak lama. “Mmm. Merasa ada yang aneh nggak. Nongkrong di dekat penjual minuman sambil menunggu Noni menyelesaikan putaran terakhirnya. murid-murid Kugy yang kini berjumlah sebelas orang itu. mereka berdua memang dekat.” komentar Ojos. Temen lu tuh yang jadi kurus padahal nggak jogging. kira-kira ada faktor lain nggak?” Noni berpikir lagi. Lagi kejar target. ya. Dia memang jarang jalan sama kita sih akhir-akhir ini. Sementara Kugy sama sekali tidak bisa berbahasa Sunda. Kini. nyambung. Kalo ada yang penting-penting doang. Kalau ada ada apa-apa. Kugy membawa setumpuk buku-buku dongeng . lalu mengangkat bahu. Mungkin Kugy memang lagi fokus banget ke kegiatan barunya itu. sih. Noni pun datang menghampiri. Setelah dua minggu. Paling bentar lagi. Selain menjadikan dirinya sendiri dagelan. Sibuk sama Ami di Sakola Alit. masing-masing pihak mulai saling mempelajari.” Ojos berkata pedas. “Dia…” Ojos seperti berat mengatakannya. Sedikit di antara mereka yang lancar berbahasa Indonesia. Non. Kan dia memang gitu anaknya. Awalnya. dan gaya antena yang seolah-olah merupakan bahasa sandi antara mereka berdua. maka Ojos pun dengan terpaksa menyeret badannya untuk menyetir ke daerah Gedung Sate. Tidak biasanya Ojos bangun sepagi itu. *** Hari Minggu pagi. “kamu bareng sama Tolkien!” Dan ia pun bangkit berdiri. ya. “Apa lagi sih yang mau dikurusin? Dasar cewek-cewek. “Kalo dengan Keenan… dia nggak—” Spontan. Nggak ngerti gue. Noni tergelak. Kalo udah suka sesuatu. langsung menenggak air mineral botol yang sudah disediakan Ojos.” Tak lupa ia menambahkan dengan nada bangga. Dua kilo lagi. meninggalkan ruang itu dan Kugy yang termangu.” Noni terkekeh. sampai hampir tersedak. Ojos yakin ia tak pernah salah.

” “Ya. kembali Kugy duduk di saung kecilnya. deh.” puji Ical. lu. dan menenggelamkan diri dalam dunia baru ini. Setiap hari sepulang sekolah. kok.. Donal Bebek dan Mickey Mouse pun hanya sebatas tahu gambar di kaos saja. Kugy bersorak gembira. Siapa juga yang nggak terketuk hatinya lihat gambar lu itu. dan tokoh-tokoh hewan yang diadopsi dari peliharaan mereka di rumah. Sejak hari itu. alias jadi Jenderal. Sepertinya ia tahu siapa yang Ical maksud. Tak heran. menuliskan kisah petualangan Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Gambar ayam purbakala ini cukup gua. “Ngapain. Kugy tak tahu harus lari ke mana lagi. Sore itu. Maka hari itu. adalah anak yang paling tua dan disegani di antara murid-murid lain. Palmo si Kambing Nekat. lalu matanya melirik ilustrasi buatan Kugy. Melihat Pilik begitu antusias. “tapi jangan dipaksain pakai gambar. ia menuliskan petualangan mereka dalam sebuah buku tulis. Pilik. Dia satu kos sama Bimo. metode dongeng lu sukses berat. Usianya sembilan tahun. Mungkin dia bisa sekali-sekali kita undang jadi guru gambar di sini.Tiba-tiba tangannya berhenti.” Jantung Kugy seketika seperti ditusuk. kata Ami. anak-anak itu selalu riuh bersorak-sorai dan bertepuk tangan menyemangati satu sama lain ketika mereka bergiliran membaca dongeng mereka sendiri. terbentuklah: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. “gua lagi iseng-iseng bikin ilustrasi. Prajurit Timah. sobat gua. Ada juga Hogi si Ayam Jago Keramat. tertawa keras-keras. dengan catatan: ia harus jadi tokoh utama. gua tahu diri.. Puteri Salju. setiap kali mereka berhasil naik tingkat membaca. setelah semua muridnya pulang. Tapi gagal total. Susah payah ia berlari.” ujar Ical geli. Pilik menjadi sahabat setianya. Seminggu pertama. deh. “Untuk soal satu itu. menghindar... Anak itu. Kugy habis diplonco oleh Pilik.” “Anak Seni Rupa? ITB?” “Bukan. Gogog si Anjing Ahli Berenang. Dalam hatinya. ======== Kugy akhirnya membuat perjanjian dengan anak-anak itu. tapi Kugy tahu anak itu sesungguhnya cerdas dan berjiwa pemimpin. dan belum bisa baca tulis. Kalau sampai itu terjadi. Kendati dengan kemampuan baca yang terbata-bata. Dan tersadarlah ia. “Setuju! Jenderal Pilik! Siapa yang mau ikutan lagi?” tanya Kugy pada semua. . “Bu Kugy! Saya mau jadi Jenderal!” Seorang anak mengacungkan tangannya sambil membusungkan dada ketika Kugy pertama kali menceritakan rencananya itu di depan kelas. Dan setiap hari pula. jago banget ngegambar. Dan Kugy menjadi idola mereka semua. Gua pikir Pak Somad lagi razia saung. Dari kejauhan terdengar kokok ayam jago yang lantang. “Eh. Tiba-tiba saja. Kugy ikut tersenyum.” Kugy tergelak. maka Kugy membuatkan dongeng tentang mereka.klasik. “Lho… kok jadi kayak Stegosaurus…” gumamnya sendirian. lengkap dengan ornamen-ornamen pendukung yang ada dalam kehidupan mereka. dan Tuhan aja yang tahu. si Ical. “Nanti gua coba hubungi lewat Bimo. Gy?” Kugy nyaris terlonjak kaget mendengar suara yang tiba-tiba muncul dari belakang. Bersambung ke PART 4: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit.” “Gua punya teman. Kugy menyempatkan diri bermain bersama mereka di kampung. orang itu akan diundang lagi untuk bergabung. mengomentari Kugy dengan Bahasa Sunda yang tak dimengertinya tapi Kugy sadar sedang diperolok-olok. dan tokoh-tokoh dongeng klasik lainnya.. Walau sempat mangkel luar biasa. Seluruh tokohnya diambil dari masing-masing anak. kuliah di Manajemen. Ia tak berhenti-henti berceletuk.. yang lain pun langsung ikut mengajukan diri. termasuk koleksi Donal Bebeknya yang berjubel. “Hogi…” gumam Kugy. tapi senyuman itu sudah berubah masam. Anak kampus kita. bahwa dunia kanak-kanaknya dan dunia anak-anak di Sakola Alit sangat jauh berbeda. Cinderella. Dan tangannya spontan mencoret-coret gambar ayam jantan dengan bulu-bulu hitam berkilau yang mekar sempurna. Piliklah yang paling bersemangat menyambut ide dongeng Kugy. Gy. Terkaget-kagetlah Kugy ketika mengetahui bahwa anak-anak itu tidak mengetahui sama sekali keberadaan Thumbelina.” Kugy terkekeh.

“Hi. Gy. Kali ini baju Wanda serba silver. Sore ini akan ada acara high tea di galeri untuk memperkenalkan koleksi barunya Warsita. meminum bercangkir-cangkir teh dan mengenyangkan perutnya dengan kue-kue yang tinggal comot dari tempat ia berdiri. Namun bukan jatahnya untuk bisa minggat hari ini. “Kalian aja yang turun. Masa kita nggak bangga sebagai sahabat-sahabatnya?” Meski mukanya kurang rela. lengkap dengan penganan kecil yang ditata apik di nampan-nampan perak.” . “Jadi gini. Minggat dari Wanda yang seperti artis ibukota siap naik panggung. Titik!” Namun bukan jatahnya Kugy untuk bisa kabur hari ini. “Kita cuma mampir bentar. “Kalian kok tega. Saat Fuad tiba di pelataran parkir galeri. Riasan wajahnya lengkap seperti penyanyi mau pentas. Ia harus pasrah dengan kaos eks-panitia Fun Bike yang sablonannya sudah memudar dan sudah resmi tercantum dalam daftar “calon lap mobil” Ojos yang siap diculik dari lemari pakaiannya setiap saat. dong. bikin rugi panitia. “bayangin. ia pasti akan lebih membenahi dandanannya. “Hai. Mei 2000… Kugy tidak bisa lari kali ini. Nanti bakal ada pelukis-pelukis. sih?” Kugy bertanya setengah protes. “Emang kamu nggak boleh dikasih makan gratis. pertama kali lukisannya masuk galeri. cuma sekitar empat puluh orang yang diundang…” “Empat puluh?” Kugy setengah berteriak. Kugy tak bisa menghindar ketika Noni mengajaknya mampir ke Galeri Warsita. Gara-gara pulang ke Jakarta nebeng Fuad yang kini sudah bisa menempuh perjalanan luar kota. Kita harus menunjukkan dukungan kita pada Keenan. kan? Ngelihat lukisannya dipajang terus kita pulang?” Kugy memastikan sekali lagi. Masa gentar sama acara gitu doang? Bukan acara besar. Ia hanya malas menghadapi adegan-adegan yang sekiranya bakal pedas di mata. mereka bertiga langsung disambut oleh Wanda dan Keenan yang datang semobil dan juga baru parkir. *** Di pojokan itu. Kata Wanda. Sayang.” Kugy tersenyum masam. kok. dari Noni dan Eko yang tampaknya sangat bangga dengan keberhasilan proyek perjodohan mereka. serasi dengan tas. Eko sedikit terbatuk. eeh… langsung ke galeri besar kayak gitu. kok…” “Kagak ada!” tukas Kugy. “Lu adalah manusia paling cuek dan pe-de yang gua tahu. “Gua pokoknya tunggu di mobil!” “Yah… jangan gitu. sih! Bilang-bilang. “Beli lukisan? Kagak mampu. kurator…” Kugy langsung pucat pasi. Ini hari bersejarah buat dia. Keenan langsung menghampiri Kugy dengan semringah. dan kuku-kuku. wartawan. sepatu. dong! Gua kayak napi buron begini…” Kepala Eko langsung menoleh ke belakang. Nggak semua pelukis muda bisa punya kesempatan kayak Keenan. Kalau saja ia tahu akan dibawa ke Galeri Warsita dulu.” Wanda menyapa mereka. Rasanya ingin ia menciut jadi semut lalu minggat dari situ.” “Saya juga enggak. Lihat lukisan Keenan? Udah sering. apa?” “Ini namanya: support. Ada sebersit penyesalan di hatinya. Lu kelihatan oke. Kugy melirik bajunya sendiri. Jadi. “Apa maksud dan tujuan kita ke sana. kolektor. Gy. terdapat meja besar tempat berbagai aneka teh dan minuman dihidangkan. Thanks ya udah mampir. Saya nggak nyangka kamu ikut. Gy.=========== Judul : Jenderal Pilik dan Pasukan Alit PART 4: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit Jakarta. guys.” Noni berpidato. Di sanalah Kugy bercokol. salah satunya ya lukisan Keenan. dalam hati Kugy setuju dengan semua yang diucapkan Noni. Namun bukan jatahnya untuk tampil siap hari ini. gua tunggu di mobil. dari Keenan yang berkemeja rapi dan terlihat sangat tampan. dari pemandangan jemari Wanda yang melingkar di lengan Keenan.

“Ehm. lukisan kamu yang paling bagus dari semua yang ada di galeri ini. dan membiarkan Keenan melesat ke arah pintu depan. Ibunya yang keturunan Belanda tampak lebih cantik dari foto.” tambahnya sambil mesem-mesem. Ada yang melonjak dalam hatinya.” Tawa Kugy masih berlanjut. Kugy sudah pernah melihat keluarga Keenan dari foto. menyalami mereka satu-satu dengan senyuman cantik.” gumam Keenan balik. Ada seorang anak remaja laki-laki berambut keriting yang ikut bersama mereka. Matanya ikut mengamati. “Keluargaku datang. Tante. “Ini modus operasi standar mahasiswa kurang gizi…” Kugy menyahut susah payah. tapi berangsur hambar. Cukup pakai hati aja. mukanya mirip Keenan tapi dengan kulit lebih gelap. napas Kugy langsung menghela. “mmm… tapi aku nggak ngerti apaapa soal lukisan.” kata Eko yang muncul di sampingnya bersama Noni. langsung berpandang-pandangan mendengar nada mencurigakan yang terlontar dari ibunya Keenan. Mata Kugy tak bisa lepas dari kuku-kuku bercat perak yang melingkar erat di lengan Keenan seumpama rantai besi itu. apa kabar?” Eko menyapa ketiganya. Dia bisa melihat apa yang terjadi di masa depan…” Kugy menelan ludah. Mulut Kugy langsung manyun. Tante. “Mas Ito nyangka kita putus. “Setuju. tampak seseorang yang ikut bergabung. ya? Kugy nyengir lebar. “Jadi… kamu—” Namun arah mata Keenan mendadak berubah. “Hahaha… mungkin cuma Mas Ito yang tahu kapan kita jadian. Noni…” “Ini Kugy. yah. “Kamu nggak perlu ngerti lukisan untuk suka lukisan. tapi baru kali inilah ia melihat langsung. . “Itu ortunya Keenan. “Keenan cerita banyak tentang kamu. Selalu ada kesejukan yang mengaliri tubuhnya tiap kali melihat tatapan itu.” sapa Lena sambil memeluk keponakannya. karena kamu sahabatku. dia nyangka saya pacaran sama Wanda. “Ooh… ini yang namanya Kugy?” Ketiga anak itu. yang lain enggak… haha…” Semua orang di situ ikut tertawa. antara gugup dan senang.” Eko memperkenalkan Kugy yang berdiri di belakangnya. “Aku terharu lihat lukisan kamu dipajang tadi. “Tante Lena.” ajaknya sambil menarik lengan Keenan hingga semua orang terpaksa ikut bergerak. mari saya antar keliling. berbaju serba putih. Lena langsung menoleh ke arah Keenan. Ini sih cuma selera. Keenan menatapnya hangat. Wanda. Bersamaan dengan itu. Eko.” ucap Kugy polos. Buatku. Dan kini keduanya menatap objek yang sama. “hai.” Teh yang baru diseruput Kugy nyaris tersembur lagi keluar dari mulutnya. dengan rambut panjang yang digelung ke atas. “Kalo aku jadi cowok… bego banget kalo nggak suka sama Wanda…” gumam Kugy. aku tinggal dulu.” Mendengar kalimat Keenan. “Iya. Tahu-tahu tangan Kugy ada yang menarik. ya. “Mungkin aja cowok sebego itu ada. “kamu—nggak tertarik pacaran sama Wanda?” Keenan tak langsung menjawab. Oom. Sahabatnya Noni.” Kugy mau tak mau tersenyum. Jeroen. Kugy. “Siapa tahu Mas Ito itu sebenarnya cenayang. Gy…” =========== Kugy terpaksa mengangguk.” Kugy pun kontan berdehem. “Saya senang kamu bisa datang.Kugy menoleh. Keenan balik tersenyum. Matanya beralih pada Wanda yang berdiri di ujung ruangan dan tampak sibuk berbicara dengan orang-orang. “Jeroen…” desis Kugy sendirian. Darah Kugy terasa berdesir. Sini. dan mungkin. Kugy mengikuti arah mata Keenan. Tante…” “Keenan kagum sekali dengan cerita-cerita buatan kamu. Sori. gua kenalin. menelan apa yang ingin ia ucapkan. Oom Adri. Katanya kamu suka menulis cerita.” ia pun menimpali pelan. mulutnya masih penuh dengan kue. kecuali Wanda. Dia memang fans saya. Ayahnya menjulang tinggi seperti Keenan. mendapatkan Keenan yang sudah berdiri di sampingnya. Tapi sayangnya sampai sekarang cuma dia doang yang nge-fans. “Hai. kita berdua aja enggak tuh…” “Sekarang. plus Wanda. hingga akhirnya surut sama sekali. juga tampak gagah dengan jas biru tua yang dipadu dengan jins. “Tante.

Dia bangun semuanya sendiri dari nol. dan Jeroen. apa yang sebenarnya paling kamu inginkan?” Keenan menoleh. yang saya suka cuma melukis. “aku mau lihatlihat lebih lama di sini.” Wanda menyambung. Terserah kalian.” Keenan tersenyum sekilas.” “Papa kamu pasti punya bisnis sendiri. Jeroen tampak gelagapan. Seolah ada awan mendung yang menggantunginya dan tak kunjung-kunjung pergi bahkan hingga acara sore hari itu selesai. Tahunya…” “Kamu malah ketemu aku. Dan aku pingin banget serius di bisnis seni.” jawabnya tegas. “Oke. Kunyahan Kugy langsung berhenti mendengar itu.” Wanda tersenyum.” Lena berkata pada suaminya. langsung menyibukkan diri dengan kegiatan mengunyah. ekspor-impor. “Kamu duluan saja. menatap Wanda lekat-lekat. tapi sejak menikah Mama berhenti. Meski Keenan berusaha bersikap wajar. “Ik ben erg trots op jou.” Suasana tak nyaman itu diselamatkan oleh seorang pelayan yang hadir di antara mereka dan menawarkan makanan dan minuman. ya?” “Iya. Silakan saja lihat-lihat. ya?” tanya Wanda memecah keheningan.” ujar ayah Keenan lagi. Mungkin dia merasa terancam. Kugy. aku suka dengan bisnisnya Papi. Eko. silakan saja. Papa nggak kepingin saya tinggal terus di Amsterdam karena takut saya jadi seniman. kan?” . Papa pikir dengan saya kuliah Manajemen. “Dan ketika lukisan saya bisa masuk ke galeri sebesar Warsita. *** Wanda tak langsung beranjak sesudah mengantar ibu dan adiknya Keenan pulang. “Dari kecil. ia benar-benar berlalu dari tempat itu. bertemankan dua gelas air putih yang sedari tadi tak mereka sentuh. Wanda meletakkan tangannya di atas tangan Keenan. Keenan menggeleng. “Mmm… nggak ada apa-apa lagi. kamu nanti ikut saya?” tanya ayahnya. kamu bisa mandiri. Ada ketegangan yang merembet seketika dan menginfeksi semua. ya? Kita harus ke mana lagi sekarang?” tanya ayah Keenan pada Wanda. Dri. hobi melukis bisa hilang dengan sendirinya. Getir. “Begitu ada kesempatan. Kok. Mungkin Oom dan Tante mau minum? Kita ada teh.” “Naik apa kalian nanti? Memangnya Keenan ada kendaraan?” “Nanti pakai mobil saya. Sementara suaminya hanya berdiri bergeming. wine…” “Maaf. Keempatnya tampak berkilau disorot oleh lampu halogen. di bawah pergola yang beratapkan tanaman merambat dengan bunga-bunga putih yang menjuntai. I know the pressure. ya?” “Mama bisa pulang dengan saya. Wanda menatapnya bingung. “Jeroen. Dan saya anak tunggal.Tibalah mereka di depan empat lukisan Keenan yang sudah terbingkai indah dan tergantung rapi di panel. “Ayah kamu nggak setuju kamu melukis. Cuma masalah waktu.” “Dengan melukis. Aku nanti ikut Keenan. Pa. kamu tahu?” ============ “Papi saya juga sama. Oom. Oom. aku juga harus kerja keras membuktikan pada Papi dan Tante Rani kalau aku sanggup ikut menjalankan Warsita. Terdengar suara Lena yang tercekat. Satu-satunya yang bikin saya bertahan hanya karena saya masih bergantung pada Papa. saya nggak takut ninggalin ini semua. Tapi tetap saja. Ia dan Keenan duduk di beranda depan. “Nan. dia punya perusahaan trading. berarti tinggal tunggu siapa yang mau beli lukisan-lukisan itu. nggak tahu kenapa. Aku yakin sama kemampuan kamu. dan mata itu berkaca-kaca. Saya belum mandiri. Seketika Lena merangkul Keenan dan berbisik. Noni.” kata ayahnya singkat. “Lena. vent. “Kita sebetulnya senasib.” Perlahan. “Yah. Papa kayak alergi sama segala sesuatu yang ada hubungannya dengan lukisan.” sambar Keenan. saya yakin Papa shock. “Mmm… aku mau jalan-jalan sama Mas Eko dulu.” “Ada agenda apa lagi. Kalau Papa mau duluan. saya nggak bisa terlalu lama. kalau boleh saya tahu. semua yang di sana merasakan perubahan sikapnya.” ucapnya setengah berbisik. lima belas menit lagi kita jalan. Keenan menghela napas. “Menjadi diri saya sendiri. Mama bangga sekali. Tak lama. “untungnya. Tapi.” Wanda cepat menimpali. Mamaku juga dulu pelukis.

Keenan masih terlalu muda dan belum punya rekor yang meyakinkan. tapi kali ini ia tak lagi melihat daftar yang sudah disusunnya. dia memang masih baru. yang namanya Keenan. Dan mereka berjalan kaki lagi menuju ladang cabe tempat saung mereka mengajar. Wanda sudah tiba di galeri. Ical nunggu kita di sana. Berpikir dan berpikir. Ical sudah menunggu mereka.” Ical menambahkan. Ia lantas terdiam dan matanya menerawang. Dari sana. . Dibeli oleh empat orang yang berbeda.” Ami menjelaskan. tapi gue nggak bisa pakai data gue sendiri. tapi kita satu pun nggak ada yang bisa. ya? Gue cuma butuh data lo doang buat customer list gue. sudah sempat dilihat? Iya. ya? Gue cuma pinjam data doang. Tak satu pun dari mereka yang tertarik untuk berinvestasi pada lukisan Keenan.” ujar Bimo sambil menyibak dedaunan bambu yang menggempur mereka dari kiri-kanan. Boleh. =========== Bandung. Asal lu muncul sekali-sekali aja. Gue mau beli lukisan. semalaman Wanda terbaring di tempat tidurnya. kamu bisa datang. Jemarinya kembali menari di atas tuts telepon. Karena ceritanya kamu pengajar tamu.” tangan Ical lalu menunjuk pohon beringin besar yang dibawahnya terdapat sepuluhan anak lesehan di atas tikar. “Anak-anak ini semangat banget pingin belajar gambar. kok…” Dalam waktu singkat. tapi otaknya berputar keras memikirkan sesuatu. otaknya pun berputar lagi. Belum. Juni 2000… Jip CJ-8 yang dikendarai Bimo berhenti di sebuah posyandu yang punya parkiran cukup untuk satu mobil. ya. Ayahnya benar. terus nanti ada masjid. “Pasha. Wanda. Dari katalog baru kita. would like to ask you for a favor. ini gue. Hatinya mendadak trenyuh. lho. menandai sederet nama. Tante? Kalau aku sih rekomen pelukis baru. Di masjid yang dimaksud. Tangan kecilnya bergerak-gerak lincah seperti sedang memeragakan sesuatu. Ia meneleponi teman-temannya sendiri. Tersusunlah sebuah rencana yang akan ia jalankan secepatnya. Wanda menggigiti bibirnya. “Kata Ical. Katalog Warsita yang baru sudah diterima? Di bagian belakang ada koleksi dari pelukis baru.“You’re absolutely right. Semua orang yang ia kontak adalah pemain-pemain lama yang sudah terbiasa mengoleksi lukisan pelukis ternama. Alasannya semua sama. “Kugy ngajar di sana. Wanda menelaah daftarnya sekali lagi. tapi…” Seharian. atas nama lo boleh. hingga akhirnya ia menyerah. Tidak ada keharusan waktu atau apa pun. Oom. “Kita nggak ada ikatan apa-apa. dia belum pameran. *** Dari jam setengah sepuluh pagi. Keenan membayangkan si kecil Kugy yang menempuh jalan ini setiap harinya demi mengajar. Say? Thanks…” “Virna? Dear. Gue minta tolong. Menelusuri daftar panjang jaringan kolektor dan pelanggan Warsita. “Itu tempat gua ngajar. Keenan bisa melihat siluet Kugy yang memunggunginya. Barulah Wanda menyadari tantangan yang dimaksud ayahnya. kira-kira sreg sama yang mana. namanya Keenan. Nan. mereka pasti udah seneng.” Wanda mengangguk.” Ical menunjuk saung kecil yang terletak di tengah bukit. Oom. Dari kejauhan. Jemarinya yang lentik mulai menarinari di atas tuts telepon. Wanda dengan tekun meneleponi satu-satu orang yang ada dalam daftarnya. Di kepalanya. Bimo dan Keenan harus berjalan kaki menelusuri setapak tanah yang sempit dan cukup curam. Wanda tak sabar menunggu pagi tiba. mereka tiba di sebuah saung bambu. menghubungi nama-nama itu satu per satu. Tak lama. Sekembalinya dari rumah Keenan. kira-kira sepuluh menit. Galeri Warsita bukanlah tempat yang cocok untuk lukisan Keenan. Tante Lien? Ini Wanda dari Warsita. ada di bagian belakang. Ada Ami yang langsung menyambut Keenan dan Bimo. Mmm. kapan pun kamu mau ngajar. Tante. “Oom Halim? Ini Wanda. kok…” “Apa kabar. Tapi prospeknya bagus. kita ikutin jalan ini. Namun kesemuanya dibayar oleh satu orang yang sama: Wanda. Nggak… lo nggak perlu beli lukisan… tapi ceritanya elo yang beli. setidaknya untuk masa sekarang ini. empat lukisan Keenan terjual sudah. Ia harus mengubah strateginya. Jadi.

“Bebas. “Satu menit itu enam puluh detik. Terserah kamu aja. ayo?” Keenan bertanya seraya bersiaga di samping kertas besar dan spidol yang sudah berdiri tegak di atas sandaran kayu yang ia bawa. Mereka bersorak-sorai kesenangan. Jadi kalian harus berhitung satu sampai enam puluh. Kedua tungkai kaki yang rasanya tak asing. “Hmm. Oke. Namanya… Kang Keenan!” Keenan mengernyit.” jawab Ami. Keenan sudah ongkang-ongkang kaki. Sepasang sepatu yang ia kenal. kehadiran Keenan di tengah mereka bak seorang superstar di antara para pemuja.” sapa Keenan dengan posisi tegap seperti perwira. “Oh. ya. Saya Jenderal Pilik. “Pasukaaan… tungguan euy!” Keenan menoleh ke arah Kugy. Tapi semua harus ikut menghitung. tapi tak urung ia mengangguk. Cepat-cepat. “Apa tuh ‘Hogi’?” bisiknya pada Kugy. “Satu menit teh sakumaha?” Pilik bertanya kembali.” Kugy terkikik.” Keenan menunjuk ke arah pohon beringin. “Pisang susu. “Kata sandi?” tanya Kugy. “Gambar si Hogi!” seorang anak berteriak. pokoknya ganteng. Langsung terlontarlah bertubitubi permintaan berikutnya untuk Keenan. barudak! Satu… dua… tiga… empat… lima…” Beramai-ramai mereka menghitung sampai enam puluh. besar. “Gua ke sana dulu. “Eh. Tempat yang paling ingin ia datangi sejak tadi. “Kang Keenan sering-sering datang.” Kugy tampak berpikir keras. Silakan bergabung. Di hitungan keempat puluhan. Tiap gambar selalu disambut cengangan kagum dan sorak-sorai. “Kalian mau dibuatkan gambar apa. Keenan mengernyit untuk yang ketiga kali. disambut pekik tawa yang lain. Dan mereka menerimanya dengan bangga seolah baru mendapat tanda tangan dari bintang film terkenal. Mukanya serius. “Gambar robot!” “Gambar pesawat!” “Gambar Pak Somad!” Seharian itu Keenan meladeni permintaan mereka. Masih dalam posisi menungging dengan kedua tangan membentuk tanduk.“Gua ngajar di kelas siapa dulu. Siaaap?” “SIAAAP!” Anak-anak itu menjawab serempak. Gambar ayam pesanan mereka sudah siap. “Ayam jago. ya?” pinta Pilik sambil memasukkan gulungan gambar dari Keenan ke dalam tasnya yang terbuat dari karung bekas tepung terigu. ya. Hari itu. ikuti saya. Tapi begitu . atau memang kamu selalu berjodoh dengan orang-orang aneh. Ical dan Ami saling berpandangan. “Rangginang?” Seorang anak berceletuk. Yang belum bisa. nih?” tanya Keenan seraya menyandangkan ransel berisi peralatan gambar yang sudah ia bawa. Gambar-gambar yang ia buat terpaksa dibagi-bagikan untuk mereka bawa pulang. Dulu kami sempat jadi musuh bebuyutan. “Saya nggak ngerti. “Anak-anaaak! Kita kedatangan guru tamu. Tercenganglah anak-anak itu melihat gambar ayam yang tampak hidup muncul di hadapan mereka dalam waktu singkat. Oke?” Kugy lalu beralih lagi pada murid-muridnya. barengbareng semuanya. mendapatkan Keenan yang tersenyum simpul sambil membuat tanda antena dengan kedua jarinya. Tong hilap!” Pilik membusungkan dadanya lalu menjabat tangan Keenan dengan mantap. “Siap berhitung. “Anak itu memang ‘ajaib’.” Keenan tak sepenuhnya paham apa yang dimaksud Pilik. Kugy berdiri. “Agen Keenan Klappertaartmania siap beroperasi. Ia lantas berlari-lari kecil menyusul teman-temannya. Dia bisa gambar apa saja yang kalian mau—dalam waktu tidak lebih dari satu menit!” Keenan mengernyit lagi. “Nanti bikinin gambar saya sama Pasukan Alit. Kamu belum tahu Kang Keenan ini bisa apa. Kugy terpaku saat mengenali ransel marun berinisial “K” yang tahu-tahu muncul di depan mukanya. Nama itu terdengar aneh di kupingnya. *** Keenan muncul tepat saat Kugy sedang beraksi sebagai domba Garut siap ngamuk yang ceritanya akan dikalahkan oleh Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. entah kamu yang selalu berhasil membuat orang-orang jadi kebawa aneh.” Mukanya berubah cerah seperti biasa. Pilik. hitam.

Aku cuma saksi mata yang kebetulan numpang lewat. saya kehilangan kamu. mereka jadi percaya diri. ia tidak tahu harus merespons apa. Sebentar lagi kamu bakal jadi pelukis profesional.berhasil kutaklukkan. Dia bilang.” ucap Keenan akhirnya. terus kamu pameran. Kugy menyambar sesuatu dari dalam tasnya bagaikan menghunus pedang.” Tiba-tiba Kugy merasa dagunya diangkat. “Sesama agen harus saling mendukung. “Kamu hebat. Mereka berdua hanya saling menatap tanpa suara. Tokohnya adalah murid-muridku sendiri. Agen Poffertjesmania!” seru Kugy. Waktu aku di Warsita. sesuatu yang mereka kenal. Sorot mata Keenan seperti merenggut semua perbendaharaan kata di benaknya. punya harga diri. “yang namanya bus satu perusahaan itu tidak boleh saling menyalip. Red Riding Hood… tapi. tapi ia harus tetap mengucapkannya. begitu aku bisa membuat sesuatu dari dunia mereka sendiri. atau Elmo. harapan. di tangannya tergenggam sebuah buku tulis lecek. Nan. keliling-keliling. Matanya berkilat-kilat pertanda semangatnya menyala-nyala. karena mereka semua nurut sama Pilik. Makanya kita dikirim ke mari oleh Neptunus. “Ini rahasianya. “Gy. Aku janji akan membuatkan dongeng tentang mereka. Dan Kugy menatap balik kedua mata jernih itu tanpa ada rasa jengah. Kamu sudah ketemu orang yang bisa mendukung impian kamu. Agen Karmachameleon?” Keenan bertanya dengan tampang serius. “Lihat. saya nggak ngerti kamu ngomong apa. Nan. Kamu nggak akan sempat lagi gambar di bawah pohon seperti begini. ada Hogi si Ayam Jago Keramat… Palmo si Kambing Nekat… Gogog si Anjing Ahli Berenang… Somad Sang Pendekar Tanpa Tanda-Tanda…” Kugy memperlihatkan halaman demi halaman dengan semangat. kamu harus meluangkan waktu banyak untuk nambah koleksi. “itu memang keajaiban. Akhirnya. “Mereka yang hebat. Lama mereka terdiam. Dan sebentar lagi kamu berhasil. sungguh. kalo kamu memang ingin serius jadi pelukis.” Keenan menatap kilauan di bola mata Kugy. Ini adalah seri petualangan yang kubuat selama aku mengajar di sini.” kali ini Kugy merasa kata-kata itu membebani mulut. Tapi aku merasa bersyukur banget punya kesempatan ini. Kembali menemukan tatapan Keenan yang menembus jantung. Saya bisa merasakan.” “Apa rahasianya.” Kugy menggeleng. Hanya serangga-serangga pohon yang terdengar bersahut-sahutan. Kugy memilih untuk menunduk. yang seolah hendak menjebol dadanya. Semua tokoh-tokoh dalam serial ini aku ambil dari kehidupan mereka sendiri. Nggak tahu kita bisa bertahan di sini sampai kapan. “cita-cita hidup kamu lebih penting dari apa pun. Kugy merasa matanya akan berkaca-kaca. dan kesempatan yang sekarang ini sedang datang untuk saya. aku sempat dengar Wanda cerita. Kamu berhasil memancing karakter mereka keluar. Hasilnya. supaya nanti mereka bisa baca kisah petualangan mereka sendiri. Tersadar bahwa napasnya sedari tadi ikut tertahan karena terhanyut cerita Kugy. semangat…” Kugy sampai berhenti mengatur napasnya. anak-anak tadi nyaman banget dengan diri mereka sendiri. “kayak ada keajaiban. Kayak ada kebanggaan.” decaknya. Satu kelas juga ikutan kompak.” Keenan pun menghela napas panjang. “perjalananku masih panjang dibanding kamu. “Apa itu? Manual Manusia Aneh?” Kugy langsung duduk di samping Keenan. Dulu mereka males banget belajar baca.” tutur Kugy dengan nada yang dibuat setenang mungkin. ========== Dengan tak kalah serius. terus aku bikin perjanjian dengan mereka. Dan mereka cuma bengong waktu aku kasih tahu soal Snow White. Hanya angin yang berbunyi lewat gemerisik daun. Punya kebanggaan.” ucap Keenan lembut. Peter Pan. mendadak kayak ada sesuatu yang dihidupkan dalam diri mereka. Barney. Dan jadilah ide ini: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. “Saya kehilangan kamu. Dan. “anak-anak ini nggak kenal yang namanya Teddy Bear. nyaris berbisik. ia sungguh tak tahu harus bilang apa lagi. Kamu menghilang akhir-akhir ini. Kita ini punya misi. Nih. sekarang malah jadi kompak banget sama aku.” . cita-cita saya. seiring dengan arus perasaan yang begitu kuat.” Kugy menelan ludah. Jangan sampai rusak di tengah jalan hanya gara-gara kita cuma menuruti keinginan sendiri doang. “makasih kamu udah mau ngertiin soal impian saya. Tapi di luar itu semua. tapi mereka harus mau belajar baca.

Mumpung sekarang lagi low-season. Sebetulnya Kugy sudah ingin protes. Keenan tak bisa menebak makhluk apa itu yang berusaha digambar Kugy kalau saja ia tak melihat tulisan “Hogi” di bawahnya. “Sebagai bonus sudah booking aku seharian ini. Jadi nggak perlu kayak pindang di belakang. hari ini saya mau seharian booking kamu.” gumam Keenan. ya. Mi. Tulisan Kugy mampu menghadirkan ril film di otaknya. lalu lepas. “Kamu juga. Keenan tak bisa berhenti membaca. Makasih untuk semuanya. Langit mulai gelap dan lampulampu di taman depan mulai menyala. Menggambar manusia berpeci dengan struktur tak proporsional.” “Coba kontak ke manajer saya dulu. Aku juga seneng banget hari ini. Perhatiannya tahu-tahu tertumbuk pada coretan tangan Kugy. Aku lagi nulis di buku baru. “Gy… tapi ini harta karun kamu…” “Nggak pa-pa. Di beberapa halaman berikutnya. pulang. Namun ia yakin degup jantungnya terdengar saat tubuhnya direngkuh oleh Keenan tadi. “Yakin.” ajak Ami sambil terkekeh. persis orang salah tingkah. Keenan tersenyum samar dan mengacak rambut Kugy sekilas. “Gy. Nadanya terasa berat. kok. Kecil. Beberapa detik kemudian. Buku itu udah habis. Kita naik angkot aja. Hingga perlahan panas tubuh Keenan mulai merambat. Dari guratannya. Keenan membuka buku tulis pemberian Kugy. yang memutar alur cerita dan menghidupkan tokoh-tokohnya seolah mereka semua mewujud nyata. “sekarang kamu tahu di mana markasku. Dilihatnya kontras antara Keenan yang tampak yakin dan Kugy yang ragu. .” Kugy nyengir sambil mendorong bahu Keenan pelan. Mereka berjalan-jalan ke toko buku.” Terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. ya. Di depan gerbang besi bercat putih itu mereka berdua berdiri. Nan. “Saya dan Kugy pulang naik angkot. namanya Mami Noni. bersama-sama. hingga genggaman jari Keenan di dagunya lepas. Ami muncul dari arah belakang. “Yuk!” Kugy bangkit berdiri. dan dengan segenap hati ia mulai meresapi bahwa dirinya sedang dipeluk. iseng-iseng ke Kebun Binatang di Taman Sari. Oke?” “Yakin?” tanya Ami lagi. Kita sesak-sesakan aja berlima kayak pindang. “Aku nggak ke mana-mana. Keenan tampak terkejut menerimanya. Sejenak sekujur tubuh Kugy kaku bagai papan. ========= Sisa hari itu mereka habiskan di jalan. sangat menyenangkan.Halus. Hari ini sangat. mencairkan otot-otot Kugy yang tadi terkunci. memejamkan kelopak matanya yang tadi terbuka. jadi bisa dapat harga murah. dan Kugy terpana ketika ia sudah ada dalam rengkuhan Keenan. “Kamu baik-baik. “Kecil.” Kugy menggumam balik.” “Tapi… masa buku yang lama ini dikasih ke saya?” Keenan masih tak percaya. saya pulang dulu. pelukan itu melonggar. Ia membaca kisah demi kisah.” jawab Kugy lirih sembari mengusahakan sebuah senyum. Matanya pun masih membelalak. aku ada kenang-kenangan untuk kamu. seolah sedang mencipta lukisan mahakarya. Tahu-tahu tangan Keenan menahannya. Rasa haru tahu-tahu merembesi hati Keenan.” Kugy akhirnya bersuara. Ami!” Setelah bayangan Ami menjauh. Kakinya pun terasa berat untuk bergerak. apa gerangan yang terjadi. Tinggal cari aku di bawah pohon ini.” Kugy menyerahkan buku lecek berisikan kisah petualangan Pilik.” ucap Keenan. Serta-merta lengan Keenan terentang. Sahut-sahutan serangga malam lamat-lamat terdengar. Kalian duluan aja pakai mobil Bimo. “Dah. yuk? Mumpung Bimo masih nungguin di depan. Keenan bisa membayangkan betapa Kugy berusaha keras untuk menggambar. tapi genggaman tangan Keenan yang mencengkeram kuat di pergelangannya seperti mengisyaratkan dia untuk diam di tempat. hingga akhirnya Keenan mengantar Kugy pulang ke kosannya. Tergelak-gelak sendiri. Keenan melepaskan genggamannya. Pikirannya bertanya-tanya. ngopi sore di Dago. *** Di bawah sinar lampu mejanya. Tidak yakin Keenan mendengar suaranya atau tidak.” ucap Kugy berseri-seri. Berderetlah tulisan tangan kecil-kecil dan rapi seperti dicetak. Kugy menjauhkan wajahnya. sebagaimana ia juga mendengar degup jantung Keenan. “Sebagai upah kamu ngilang. dan di bawahnya tercantum keterangan “Somad Sang Pendekar”. Mata itu menatap Kugy lekat sebelum akhirnya ia membalikkan punggung dan pergi. tampak Kugy mencoba lagi. “Cuma itu yang bisa aku kasih. Ia bisa membayangkan air muka Kugy yang serius.

Are you straight?” Keenan tergelak pelan. Keenan tak tahu pasti. Di era milenium ini.” Eko cengengesan. Sejak ia pulang ke Indonesia. Sebetulnya. Apa itu. dia yang bela-belain nyusulin. Tapi kayaknya penting banget. menari dan menoreh di atas kekosongan. Tapi… untuk jadian…” Keenan menghela napas. udah saatnya lu punya hp. “Man! Kalo ternyata lu bukan gay. “Gua sebetulnya lebih tertarik dengan… kenapa lu bisa tahu-tahu nanya gitu?” Keenan bertanya balik. Gua sadar itu.” “Males. Apa yang bisa bikin lu nggak yakin.” “Anyway yang kedua: lu sebetulnya udah jadian belum sama Wanda?” Kali ini Keenan melepaskan mukanya dari bantal. Dia bilang. gua ngerasa nyambung banget. Jelas-jelas kalian nyambung. Dia baik. Namun malam ini ia merasakan dorongan itu. “Anyway. untuk urusan seni.” . “Gile. “Wow. Baru bangun lu?” “Hmm. “Nan. “Kata Bimo udah beberapa hari ini lu nggak kuliah. masih dengan rambut acak-acakan dan mata setengah terbuka. udah berapa malam Minggu dia yang datang ke Bandung ngapelin lu? Lu bertapa di gua beruang berapa hari doang aja. lu suka nggak sih sama dia?” Eko bertanya lagi. Nan. oke?” “Ogah. “Mana gua tahu. Ada sesuatu tentang dia yang gua belum yakin. siang ini gua nganterin lu ke toko hp. gua datang ke sini sebetulnya sebagai pengantar pesan dari Wanda yang udah berapa hari ini nyariin elu. Lukisan belum selesai yang keren gila. Keenan berdiri di hadapannya. ya. dewasa. hingga sesuatu itu mewujud perlahan di atas kanvasnya. Dan jelas-jelas… dia… Wanda. dia punya kabar super penting buat lu. Ia hanya memasrahkan tangan-tangannya bergerak.” Keenan menggumam. Eko tidak kaget melihat betapa sepinya tempat kos itu. oke. Urusan cantik? Nggak usah diperdebatkan. ia duduk tegak di atas tempat tidur. Lukisan baru? Ckckck… sadis. Orang buta juga mungkin tahu kalo dia cantik. “Oke. Seolah ada sesuatu yang meminta dijemput olehnya. kos-kosan baru kembali berpenghuni setelah sore. Yang aneh justru ketika tahu bahwa salah satu penghuni di kosan itu malah ada di tempat. Dia juga banyak bantu gua. lu adalah cowok hetero yang sangat nggak tahu diri. Lazimnya. sungguh absurd adanya kalo lu nggak punya hp. udah hampir lima bulan kalian kenal dan jalan bareng. gitu! Kurang apa lagi sih cewek satu itu? Cowok sehat mana yang nggak ngiler ngacak-ngacak tanah lihat dia?” tutur Eko berapi-api. Kening Eko kontan berkerut. “Sooo?” “So—what?” Keenan menyahut polos. belum pernah lagi Keenan tergerak untuk membuat lukisan baru. Gua ralat pertanyaan gua.Buku itu pun ditutup. “Terakhir gua cek sih iya. Sama sekali gua nggak ada masalah dengan Wanda. Boss?” Tangan Keenan menunjuk ke arah kanvas. dan lu bener. Keenan melukis dan melukis. bahkan dialah orang yang paling berjasa buat karier lu. Jadi. Pokoknya ada sesuatu yang rasanya belum… pas. pintar. “nggak tahu. sih?” Keenan menggeleng. apalagi penghuninya pun memang cuma lima orang. Lalu Keenan menggeser kursinya ke depan kanvas kosong yang stand by di sebelah meja. lalu kembali mengempaskan tubuhnya ke tempat tidur.” “Ada apa. tapi lu nggak bisa dihubungi. ============ Pukul dua siang. udah saatnya lu jujur sama gua. Dan. Perlahan. Lukisan keren gila. Belum butuh. Kenapa bisa gitu. “Dasar seniman gaptek. Bahkan sudah berhari-hari tidak muncul di kampus sama sekali. “Well.” Keenan menjawab dengan suara berkumur karena mulutnya masih membenam di bantal.” Eko menatapnya tak percaya.” “Harus ada sesuatu yang nggak beres kalo lu sampe nggak suka sama Wanda. hingga pagi tiba.” “Gua bukannya nggak suka. “Yang itu belum selesai…” “Wah. “Nggak tahu. Pintu kamar itu dibukakan dari dalam.” Eko berdecak kagum. Dia juga bilang. ya?” Eko mengangkat bahu. sore ini Wanda bakal datang ke Bandung khusus buat nemuin lu. Sudah lama kanvas itu kosong. Jelasjelas dia selalu bela-belain nemuin lu.

Sesuatu yang benar-benar menjadi kekuatan kamu.” “Nan… this is it. “You look very handsome as well. dengan rok jins mini yang memamerkan tungkainya yang jenjang. gosh.” panggilnya merdu. Untuk pertama kalinya Keenan dipaksa berhadapan dengan perasaannya. Dan akhirnya ia berhasil. “Well. Your signature. Wanda. Wanda memberanikan diri untuk pergi ke tempat Keenan sendirian tanpa dipandu Eko dan Noni. Wanda tersenyum sendiri saat tiba di depan pintu gerbang tempas kos Keenan.” bisik Wanda. Wanda. kita berdua kayak bendera. Riasannya masih sempurna. Nyerah!” ia pun bangkit berdiri. ia mendekap Wanda sepenuh hati. Kamu cantik banget. pintu itu terbuka. “Kejutan buatku?” Keenan tak menjawab. “Lukisan kamu di Warsita… laku terjual. Keenan melepaskan jemarinya yang digenggam Wanda. Wanda tersipu. Beberapa detik kemudian.” Di tangan Keenan. “Keenan? It’s me. Akibat pembicaraan itu. Keenan mengulang-ulang kalimat itu dalam hatinya. “Dan kalo digabung. akhirnya Keenan pergi makan ditemani sepupunya. “Oh. Papi pasti akan berkomentar lain kalau lihat lukisan kamu yang ini…” “Memangnya Papi kamu sempat berkomentar apa soal lukisan saya?” Wanda langsung kelihatan gelisah. kalo lu ternyata nggak punya feeling sama dia.” ucapnya malu-malu. “this is the real YOU. Tak sabar rasanya ia mengumumkan kabar baik itu. Kali ini Keenan yang mematung lama. nggak.” Wanda merapatkan tubuhnya. ia berharap-harap cemas tidak tersasar.Eko mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. “Yang jelas. barulah Keenan termenung di kamarnya. Semuanya tampak beres. Namun sepulangnya Eko. “Nyerah. menyambutnya dengan senyum lebar. apalagi ngasih harapan. Menatap lukisan di hadapannya tanpa berkedip. saya punya kabar yang lebih penting lagi buat kamu. lalu mengarahkan langkah gadis itu ke hadapan kanvas.” “Maksud kamu?” ============== Wanda memegangi dadanya yang terasa sesak oleh rasa kagum. ya? Mmm. Your X-factor. “Oh. *** Malam ini. Lukisannya… empatempatnya… laku terjual. “masuk. “saya nggak bisa bilang apa-apa lagi. Lama Wanda mematung. Ready?” Keenan mengangguk. Siap dikerek. Ia tahu betul apa artinya itu. tapi Papi bilang kamu masih harus menggali potensi kamu lagi untuk menemukan… apa.” Keenan tertawa renyah. Kaki Wanda pun berjinjit. Keenan. Tak ada yang bisa mengukur kebahagiaan yang ia rasakan. yang mengenakan kemeja putih dengan wajah bersih sehabis mandi. jangan juga lu ngegantungin. Empat-empatnya. “Hai. Saya ada kejutan buat kamu. Diketuknya pintu itu hati-hati. Setelah itu.” Siang itu. Sepanjang jalan. Wanda mengecek bayangannya di kaca sebelum masuk. Ia hanya menangkupkan kedua tangannya di atas mata Wanda.” puji Keenan tulus.” “Kamu kok nggak pernah cerita soal itu?” Cepat Wanda mengutas sebuah senyum lalu menggenggam tangan Keenan. Papi suka lukisan kamu. deh. “Kamu suka? Baru banget aku selesaikan. kamu menemukannya di lukisan ini. tenggelam lebih dalam ke pelukan Keenan. Wanda menyelipkan selembar cek atas nama Galeri Warsita. ia jadi terpicu untuk merenungkan lebih dalam perihal hubungannya dengan Wanda. senyum senangnya tak bisa dibendung. Bajunya kali ini serba merah. Mereka tak lagi membahas masalah tadi. Tak lupa. “Ini sudah lebih dari . Nggak fair buat Wanda. Langkah terakhir menuju impiannya terwujud sudah.” desisnya. “Makasih untuk kesempatan yang kamu kasih. Perlahan.” Wanda memekik kecil. barulah Keenan melepaskan tangannya. Berusaha mencerna kata-kata Wanda yang rasanya sangat sulit dipercaya. Dan menurut saya. yuk. dan ia berbisik tepat di kuping Keenan. Napas Wanda sontak tertahan. Sebagai ganti.

Risih dengan posisi Wanda yang tahu-tahu menempel seperti anak kangguru. “Wanda. Saya nggak mau kamu salah paham. Ditatapnya mata perempuan itu dalam-dalam sambil bertanya. Ketulusan.” bisiknya lembut. prospek kamu luar biasa. “Nan. “Have I been embarassing myself? Jadi… kamu… nggak suka sama aku?” “Bukan gitu. Tapi… rasanya. “aku boleh pindah duduk di dekat kamu. I’m a professional. Bedanya. “Selama ini kamu bantu saya karena lukisan saya—atau karena saya?” Wanda menelan ludah. Keenan dan Wanda memilih pergi ke restoran di pinggir kota Bandung. Wanda leluasa menumpangkan setengah tubuhnya ke badan Keenan. Maksud saya. kan? Aku pikir.” sahut Wanda seraya mempererat pelukannya. Saat itu juga Keenan langsung merasa tubuhnya berubah kaku. kamu perhatian.” ujar Keenan kikuk. Kombinasi antara langit malam. Sekalipun masih samar. Sesuatu terasa bergetar dalam hatinya.” sergah Keenan cepat. *** Malam itu. selama ini kita berdua… memang…” kalimat Wanda mulai tersendat. Tatapan Keenan melunak dengan sendirinya.” desisnya. “Never mind. Barangkali. “Ehm. sori banget. Sedari tadi dilihatnya Wanda mengusap-usap lututnya yang terbuka. di daerah pegunungan yang berpemandangan lampu kota. Semua ucapan kamu barusan bikin hati aku sakit. Sesuatu yang belum pernah ia temui sebelumnya.” Wanda mengangguk. pikirnya. matanya berkaca-kaca.” Sebelum diiyakan. Di bangku panjang mirip sofa itu. “Lumayan. Wanda sudah duluan beranjak ke sebelah Keenan. serta merta Keenan merangsak mendekat. Pelukannya pun melonggar. bahkan lebih dari yang kamu sadari. “Lukisan kamu sangat bagus. perasaan kamu sendiri gimana?” tanyanya. aku udah kerja keras untuk kamu dan lukisan kamu. “Kamu kedinginan?” tanya Keenan khawatir. mencari sesuatu yang selama ini belum ia temukan. perasaan kamu sendiri gimana?” Wanda mengulang pertanyaan persis sama yang diajukan Keenan tadi. ia mengutarakannya bahkan dengan lebih tenang dan percaya diri. remang kafe tenda itu. membuat ia tampak sangat cantik di mata Ojos yang tak lepas . “I’m in love with you. kita belum pernah sepakat untuk pacaran. “Terus. ya. Tak siap mengantisipasi. itulah ketulusan yang dicarinya. kamu banyak banget bantuin saya… tapi. tenang dan tajam.” Tatapan Keenan yang menghunjam sama sekali tidak berkurang intensitasnya. Jelas dan tegas. =========== “Terus. Begini lebih hangat. “Are you okay? Kamu risih ya kalo pacaran di depan umum?” Seketika Keenan melepaskan lengan-lengan Wanda yang membelit tubuhnya. memangnya kita harus langsung pacaran?” Bibir Wanda kontan mengatup.” Mendengar itu. Namun poros tubuhnya tetap tegang pertanda tak nyaman. Tubuhnya beringsut menjauh. Meski duduk di bagian dalam restoran.” Wanda akhirnya berkata. “gimana mungkin saya nggak suka sama kamu? Kamu baik. Air muka Wanda langsung berubah. “Keenan. gugup. rahangnya tampak mengeras. Tapi itu semua nggak ada hubungannya dengan perasaan aku.cukup. dan tanpa ragu lengannya langsung melingkar memeluk pinggang Keenan. Lama sudah Keenan berusaha menyelami dua bola mata yang selalu dilapisi kontak lens berwarnawarni itu. kalau memang kamu kedinginan kamu bisa pakai jaket saya.” ucapnya hati-hati. Giliran Keenan yang menelan ludah. Keenan kehilangan argumen. sampai Wanda terlonjak kaget. angin dingin tetap terasa menusuk saat semilirnya menyentuh kulit. Sudah tak bisa mundur. Wanda pun memberanikan diri menentang sorot mata Keenan. *** Cahaya lilin yang kekuningan menerpa wajah Kugy. Keenan merasa ada sesuatu yang barusan muncul dalam diri Wanda. dan cahaya lilin. “Well… nggak semua pacaran harus dimulai dengan proses nyatain. Wanda mulai merasakan sinyal itu. Namun ia berusaha keras mengendalikan kegentarannya.

“Memangnya—mau berangkat kapan?” “Kita berangkat bulan depan. Tak habis akal. Keenan menemaninya berjalan hingga ke lobi. Jos.” kata Keenan. “So. Mata Kugy memicing. aku yang arrange. “Maksud kamu ke Singapur? Aku kan udah bilang. “Nggak. ya.” ujarnya pelan. “masa aku malah disamain sama bencong?” “Lho.mengamati sejak tadi. “Mikirin apa.” Tiba-tiba. daripada kehilangan momen sama kamu.” Kugy menghela napas. kedua tangannya lantas digantungkan di leher Keenan.” potong Kugy. Dilihatnya ekspresi Ojos yang sangat berharap. Tepatnya. “cuma ngingetin aja. Perapian yang menyala di sana tampak mulai menyurut apinya. ia menarik lepas tangan Wanda. “Jos… kamu beliin aku tiket?” “Nggak ada lagi alasan untuk kamu ngomong enggak. Bentar lagi taksi saya juga dateng. Saya tunggu di sini. Pakai rok mini malam-malam gini hanya disarankan bagi yang udah kebal dan terlatih nahan angin kayak bencong-bencong di Veteran. Wanda menggeleng. Sorot matanya melayang jauh entah ke mana. *** Hampir tengah malam saat sedan hitam itu kembali memasuki halaman parkir hotel di daerah Ciumbuleuit tempat Wanda menginap. “Enggak. ya? Maaf. gimana?” “Berdua?” “Kita bisa pergi rame-rame. Cabut hari Jumat. Wajah pacarnya itu juga kelihatan sendu. di sana kita berdua bisa bener-bener rileks. Pingin banget deh kita jalan bareng ke mana. Seluruh tubuhnya dijalari hawa bahagia yang terasa . mengecup jemarinya pelan. “Kamu ke kamar aja duluan. Gy? Wuf… wuf… wuf…” Kugy pun tertawa. Nanti aku langsung antar kamu ke Bandung pakai mobil. “tabunganku sih ada. Lembut. bawa jaket atau sweater.” “Kamu ada masalah?” Kugy menggeleng. Dua lembar tiket pesawat. Perasaanku suka agak aneh aja belakangan ini. “Please. “Mmm. Akhir-akhir ini aku memang lagi agak tulalit. aku merasa kita kurang banget quality time berdua. tapi bukan buat liburan. ya. kok nggak romantis banget sih sama aku. Ojos meletakkan sesuatu di atas meja.” Meski api perapian berada beberapa meter di belakang.” “Ada hubungannya dengan aku?” Kugy lama menatap Ojos sebelum akhirnya menjawab.” rajuk Wanda manja.” “Gy. kok. “Kita jalani pelan-pelan. Oke?” tegas Ojos dengan senyum mengembang. Pokoknya semua beres.” “Nggak… nggak harus Singapur. pulang Minggu. Memasang muka memelas seperti anak anjing hilang induk.” “Lain kali itu kapan?” pancing Wanda lagi. “Kenapa? Aku sering ngelamun. dan mengangguk.” “Kamu tuh. Yang jelas. Kamu tinggal bawa tas sama badan doang. Kakinya berangsur maju. nggak tahu. siapa yang nyamain?” Keenan tergelak pelan. Piano grand hitam yang semalaman tadi berdenting pun sudah terkunci. tapi tampak jelas mata Wanda berbinar benderang. kita—pacaran?” Keenan tersenyum simpul. “Lain kali. sih?” Kugy sedikit tersentak. Anak-anak di Jakarta pada pingin cabut. ingat-ingat kalo ini kota Bandung. Malam Minggu depan?” Wanda langsung berseri-seri. Aku mau nabung beli laptop. aku nggak mau. liburan kek…” Kugy melengos. Sofa-sofa kosong tanpa tamu. Dinginnya malam bahkan sirna. Keenan pura-pura berpikir dengan muka jahil. “Aku mendingan kedinginan di sini. Kalo ke Bali aja. Namun senyumnya berangsur terbit melihat tampang Ojos yang cemberut. have fun—” “Aku nggak punya uang. Ojos lantas mengambil tiket itu dari meja lalu menempelkannya di jidat. lain kali kamu lebih baik pakai celana panjang.

Terus. Keenan ngomong gini ke Wanda: ‘nggak mungkin saya nggak suka sama kamu. “Kamu nggak perlu pulang malam ini ke kos. Nggak bisa ditebak maunya apa. coba? Emang dia makhluk aneh sih. dan terdengar jelas di kupingnya waktu itu. gitu. “tadi Wanda sama Keenan kencan berdua. Baru saja ia mau berbalik melangkah. sih? Ini kan proyek kita bersama.” Tanpa menunggu reaksi lebih panjang lagi dari Noni. Mak Comblang Milenium. “Pelan-pelan. nite. Terlintas jelas di kepalanya sore hari di Galeri Warsita. mulai tak sabar. cuma berdua. ya? Nggak kuat niiih…” “Lu kebelet pipis?” tanya Kugy. Tapi apapun yang terjadi gua ikut senang. lu kok nggak kasih selamat atau apa gitu ke gua?” Noni bertanya heran melihat reaksi Kugy yang dingin. Tiba-tiba ia teringat seseorang. membuka sendiri gembok pagar tempat kosnya. Wanda. “Congrats. Malam ini juga. Mata sahabatnya itu membelalak segar seperti baru makan rujak cabe. Yang ada Pemadam Kelaparaaan ‘mulu!” “Terus. Aduuuh… seneng banget gua…” Noni terkikikkikik sendiri. “Terus?” tanyanya lagi. ia berdiri mematung. Ngapain lagi gua tanya-tanya?” ujar Noni sewot. Oh my God… gila. “Di dekat perapian.” Keenan hanya tersenyum lalu mengecup halus keningnya. Terus. Noni. Gy… nggak ada siapa-siapa lagi… cuma mereka berdua… duh.” tuturnya ringkas. “Lu kok nggak antusias. pakai perapian segala. Bahkan untuk menyalakan lampu saja. tirai-tirai sudah tertutup. mengatur antara tawa dan kata-kata yang berbalapan di mulutnya. Wanda masih terpaku di tempatnya. “Gy. “Terus. Kugy tak punya daya. ya. pintu Noni terbuka. Taksi yang dipesan Keenan sudah datang. apa yang diucapkan Keenan… Kugy menggeleng. nih! Nggak pernah ngajak gua ke tempat kayak gitu. Terus. Kugy merasa sebagian dari dirinya menguap. Nite. Gua baru ditelepon sama Wanda. Rasanya ingin ia melesat menembus atap saking gembiranya.” Tak lama. Geli gua dengernya. saat Keenan dan ia sama-sama memandangi Wanda dari kejauhan. habis ditembak gitu. Eko payah. Kamu bisa di sini sama aku. saat Keenan berkata bahwa ia kehilangan dirinya. Hampa. nggak tahu gimana.” Kugy menggeleng kecil. Kok bukan si Keenan yang nembak duluan. Deretan kamar di koridor itu sudah gelap.’ Ya iyalaah! Lucu banget deh si Keenan. gila. “Gua masuk duluan. tahu-tahu tangannya ditahan. mereka pulang ke hotelnya Wanda. Menutup pintu.begitu hangat. Sementara itu mulut Kugy seperti memahit. “Bukan. Ia harus menelepon Noni. Terdengar suara mobil memasuki pelataran lobi. Dalam gelap. “Seingat gua. bahkan terdengar suara bernada tinggi khas Noni yang sedang mengobrol dengan terpekik-pekik. Non?” desak Kugy. taksi itu melaju pergi meninggalkan hotel. Capek banget. Kugy takkan lupa cara Keenan menatapnya… . lagi jatuh cinta. Di tempat yang segitu romantis. Terus…” Noni mengambil napas. Jantungnya terasa berdebar lebih kencang menunggu kelanjutan cerita Noni. “Ta-daaaa! Proyek berhasil! Canggih banget gua jadi Mak Comblang!” ia lalu menari-nari kecil. “Gy! Tebak apa yang baru saja terjadi! Tadiii… barusaaan… malam iniii… aduh. kayak elu. kedua tangannya menempel di pipi. “Mereka jadian. ini romantis banget…” Noni menarik napas. =========== Kugy merogoh kantongnya dan mengambil anak kunci kecil itu. barangkali waktu itu ia salah menangkap. atau ia salah berharap… melintas jelas di kepalanya siang hari di bawah pohon beringin dekat ladang cabe. Ia sudah mengantisipasi kepulangannya yang larut malam dan sudah mengajukan dirinya sebagai juru kunci malam ini. nggak boleh berisik.” kata Noni berseri-seri. “You know what?” Wanda berkata lirih. pokoknya Wanda akhirnya nembak si Keenan… monyong. melihat Noni yang sampai membungkuk-bungkuk seperti menahan sesuatu. Baru saja tangannya mau mendarat di handel pintu kamarnya. itu proyek lu dan Eko. apa lagi ceritanya?” “Lu bayangin aja sendiri. Bikin susah aja. ya? Dasar cowok-cowok sekarang. Namun dilihatnya lampu kamar Noni masih menyala. Kugy langsung melangkah masuk ke kamarnya.

Juli 2000… Layar ponselnya yang berwarna tiba-tiba menyala.” Duduk Wanda menegak. ingatannya berlabuh pada bisikan Keenan yang ia simpan. Sweetie. Nan?” ujar Wanda dengan penekanan. siap.” jawab Keenan akhirnya. Kamu harus siapkan dua puluhan lukisan. “just kidding. barangkali waktu ia salah melihat.” potong Wanda. just… love me. Jakarta. separuh menyindir. “Wanda. tiga puluh lebih bagus. barangkali waktu itu ia salah. Membayangkannya saja terasa begitu pedih di mata. saya ngerasa nggak enak…” “Nan. Lama-lama aku biasa. Okay?” Terdengar sunyi di ujung sana. Wanda melengos. Aku nggak minta apa-apa. aku mau panjangin cuti kuliahku satu semester lagi. Kamu nggak bisa main-main. Kamu lagi ngapain? I miss you already. ditutupnya pintu kamarnya yang tadi setengah membuka. Kita ngomongin yang lain aja kalo gitu.” tegas Keenan. pembicaraan mereka lancar lagi seperti air. saya beneran nggak tahu mau ngomong apa. “Kamu akan menggantungkan diri sepenuhnya ke penjualan lukisan kamu. perjalanan.” Terdengar napas panjang Keenan mengembus. Tapi nggak di depan aku.” “Kamu tahu apa artinya itu. Mungkin kamu ekspresifnya hanya di depan kanvas. “Aku kasih kamu waktu enam bulan. “Hai. Kamu harus rajin melukis di Bandung. Katanya profesional. Semangatnya memuncak. Bulan yang sama ada di angkasa malam ini. kamu udah banyak banget bantuin saya… kadang-kadang. Demi kamu. “Sejak tahu lukisan saya laku. Wanda sedikit gondok. Kugy menggeleng lagi.” Tanpa menunggu terlalu lama. “Nggak pa-pa. yang ia kenang hampir setiap malam. degup jantung yang terasa berdenyut bersama… Kugy pun menggeleng. kamu telepon aku untuk urusan bisnis doang?” Keenan kontan nyengir. gimana?” “Ide bagus. dong. kok. Dan terlintaslah petang di pintu gerbang. “Jadi. Kugy mengusap matanya yang basah. bentar lagi aku mau atur supaya kamu bisa pameran.” Wanda berkata. Wajah Wanda sekonyong-konyong cerah bagai matahari siang bolong. Namun rasanya lain sekali. Kamu nggak perlu merasa nggak enak. “Jangan sensitif gitu. “kalo aku sayang dan yakin sama seseorang. air mata itu tak kunjung berhenti mengalir.” Wanda tertawa ringan.” “Ya. Kamu ke sini. Saya cuma mau minta pendapat kamu aja. Bulan. Sayang. “Nan?” panggil Wanda. Bayangan akan pameran membuat darah Keenan terpompa adrenalin. Tiga kata yang selalu menjadi penyejuk bagi hatinya.” “Saya memang nggak main-main.” Tawa Wanda pudar. udah. dong. aku nggak akan tanggung-tanggung. kalau saya bikin lukisan serial dengan tema yang sama. Ia ingin menikmati telepon itu tanpa diganggu. kita. “Ya udah. Sekali. Mau ngomongin apa?” tanya Wanda ketus. “Jalan apa maksud kamu?” ============== “Saya cuma mau melukis. atau lagi-lagi salah berharap. Aku lagi bengong di kamar. “Kamu mau ngomong sesuatu… atau… speechless?” “Sori.” jawabnya mantap. bahwa di lukisan saya yang terbaru ada karakter yang berbeda dengan lukisan saya yang lain. Terakhir. “Justru karena itu saya telepon kamu sekarang. Dan walau akhirnya percakapan telepon itu ditutup dengan manis. kan. this is how I am. Dua kali. “Dan aku juga nggak main-main soal pameran. Sigap. Karena. “Oke. saat ia mendapatkan dirinya dipeluk.” sambung Wanda. “Saya kepikir apa yang pernah kamu bilang.” Di ujung sana. Mungkin sudah saatnya saya mempertimbangkan untuk mandiri. Sunyi lagi di ujung sana. Saya juga ngerasa gitu.Kugy pun menggeleng. kayaknya aku malah bikin kamu nggak nyaman. Dan berapa kali pun ia mengusap. Selama ini ia salah. Ia mulai terganggu dengan . perspektif saya benar-benar berubah. Saya merasa makin yakin untuk mengambil jalan ini. Selesai semester ini saya akan coba bicara sama Papa untuk nggak usah meneruskan kuliah.” komentar Wanda pendek. Keenan pun tertawa.

ya. “Wah.sikap Keenan yang seolah jengah setiap kali percakapan mereka mulai menyinggung soal perasaan. mereka pasti nggak semangat. Kugy pun tak kalah. Virna? What’s up? Hmm. “aku nggak ambil pusing. Dan pencariannya pun berakhir di kamarnya sendiri: kolong tempat tidur. Ini akan menjadi pengalaman yang baru buat mereka. Kamu tuh panutan mereka. Kenapa?” “Aku—ada janji mau ke luar kota.” Kugy bertepuk-tepuk tangan saking gembiranya.” Ami terkekeh. Hari ini kita tentukan siapa-siapa yang ikutan. Tahu sendiri seleranya kayak apa.” Kugy berpikir keras. ekspresi mukanya berubah. Jadi kita berdua sama-sama nggak bisa nampung. pasti semangat mereka terpacu lagi untuk serius sekolah.” Wanda berdecak kesal. Jika ia memutuskan untuk membatalkan kepergiannya ke Bali. Ical bahkan sampai berlari mengelilingi saung sambil bersorak-sorai. Ini bukan masalah teknik. Jadi. “Sebentar… Sabtu depan?” “Iya. Gantung di kamar mandi. ya. Keenan menuliskan judul: “Jenderal Pilik dan Pasukan Alit”. dan lomba mengarang. Tapi aku usahakan banget untuk ikut. “Cuma nitip gitu aja masa nggak bisa. ya. sih? Lo taro di kamar tidur lo. Di bagian belakang kanvas.” kata Ami penuh harap. Gy. Sebetulnya Pasha juga sama. kek.” Ami menggigit bibirnya. Bukan cuma soal menemani. Say. It’s okay. Sori. “Ya udah. “Lombanya kapan dan di mana. Lukisan dengan objek sebelas anak kecil. Ponsel Wanda berdering lagi. *** Di saung tempat Ami mengajar. “Kasih waktu sampai Senin. Di Taman Lalu Lintas. “Siap tempur!” Kugy berseru. entah apa yang akan terjadi malam ini. Mi?” “Hari Sabtu minggu depan.. Gy. kek.” Selepas telepon dari Virna usai.” Beberapa saat kemudian. kita diizinkan ikut karena mereka simpati. Mencari ‘tempat persembunyian’ yang aman. “di tempat lo masa nggak ada space? Rumah lo kan segedegede apaan tauk. Dari pertama kali mereka dekat hingga resmi jadian pun.” “Bukan gitu. Ojos sedang dalam perjalanan ke Bandung. deh. ketiganya berkumpul. dan seorang anak dengan topi caping hadir di depan barisan sebagai pemimpin. “Aku tahu. Dia nggak demen lukisan modern. “Asyiiik! Mereka semua pasti senang banget bisa sekalian main di sana. atau kasihan. Ami bahkan seperti ingin menangis ketika hendak menyampaikan kabar yang sudah ia simpan sejak tadi. ikutan di belakangnya. Wanda berkeliling rumahnya sendiri. Besok gue suruh orang untuk ambil lagi.” sahut Virna. kita berdua pasti kerepotan. Sekalian lukisan yang ada di Pasha.” “Lo pikir itu poster ukuran A3? Lagian dinding rumah gue itu dikuasai nyokap gue.” Virna membela diri. atau karena mereka juga yakin kita nggak bakal menang. lomba menyanyi pupuh Sunda. Kalau tanpa kamu.. Karena hari Senin kita udah harus mulai nyiapin anak-anak. Gy. *** Keenan berdiri memandangi lukisannya sendiri. gue emang lagi bete. .” “Please. Kugy teringat sesuatu. “Kugy. Kugy melirik jam tangannya.” lanjut Ami lagi. What? Duh. ya. tapi kalau anak-anak tahu kamu nggak akan ikut. lukisan kudalah… ikan koi… nenekkakek gue.” Kugy dan Ical langsung melonjak kegirangan. Dia nggak enak aja sama lo. Masalahnya—” Wanda cepat-cepat menelan kembali kata-katanya. =========== Keenan memperhatikan guratan kuasnya sendiri. deh…” “Sori banget. Perihal ini cukup dia sendiri yang tahu. kita akan ikut lomba baca puisi. “Ya. lo bikin gue tambah bete. Ini bukan soal dan menang. Ical… Sakola Alit akhirnya diloloskan untuk ikut perlombaan antar SD se-Kecamatan. “gue bener-bener nggak ada tempat buat nyimpan lukisan itu. belum pernah satu kali pun Keenan mengungkapkan perasaannya secara terbuka. Tapi ketika anak-anak Alit bisa partisipasi dan ketemu dengan peserta dari sekolah lain. Seolah-olah kata ‘cinta’ dan ‘sayang’ ada dalam daftar tabu Keenan. Sepuluh sedang berbaris melingkar.

dirinyalah yang menjadi penemu harta karun itu. .” jawab Kugy asal. bahwa buku tulis itu merupakan harta yang harusnya disimpan Kugy sendiri. Nggak mungkin kalau aku sampai nggak ikut. sampai bubaran bioskop.” “Nggak ada urusan punya pacar atau enggak. Terus meraba-raba momen yang kira-kira tepat untuk menjadi celahnya bicara pada Ojos. “Saya diajak dong. Tidak tahu harus bereaksi apa. Kita liburannya kapan-kapan aja ya—” “Gue nggak yakin yang namanya ‘kapan-kapan’ itu bakal ada. Suka ya suka aja.” potong Ojos dengan nada tinggi. Ini edisi lama. Tapi aku benar-benar nggak bisa. Kami berdua cuma sahabatan. Buku tulis kumal yang diberikan Kugy beberapa bulan yang lalu. melambaikan tangan dengan tawa lebar. Ini pacar barunya. Mbak? Kok udah nggak pernah nonton midnight rame-rame lagi? Mas Eko seringnya berdua doang sama Mbak Noni.” tiba-tiba Kugy menceplos. Mas Ito itu mungkin orang paling sok tahu sedunia. makan malam. Mbak?” Ojos dan Kugy serentak membeku kaku mendengar omongan Mas Ito yang tanpa tedeng alingaling itu. Kalau Ojos sudah mulai memakai “gue-lo” padanya. Ojos memasang muka cemberut. Aku tahu kamu udah beli tiket dan udah siapin semuanya. agen pengantre tiket langganannya Eko. Keenan akhirnya menyimpulkan dalam hati. Matanya lantas tertumbuk pada satu benda di meja belajarnya. tapi aku yakin dia punya alasan sampai bisa bilang begitu. mengamati sekali lagi. kan? Dia juga suka sama lo?” Kugy menatap Ojos. Kugy telah mewariskan sesuatu sesuatu yang sangat berharga. “Aku nggak bisa ikut ke Bali.” “Kita udah ganti aktivitas. Sekarang seringnya main gapleh rame-rame. Duluan. Mas.” jawabnya pendek. “Tentang apa?” balas Kugy pelan. Lo suka sama dia. Bungkam seribu bahasa. Mas. Bersambung ke PART 5: Tragedi Pesta Noni. “Kirain gara-gara Mbak Kugy sama Mas Keenan putus. Ada sesuatu dalam objek-objek itu yang membuat lukisan yang satu ini mencuat dibandingkan lukisan-lukisannya yang lain. “Bukan.. deh. Sesuatu yang membangkitkan gejolak dalam batin siapa pun yang melihatnya. Keenan udah punya pacar. lalu menggandeng tangan Ojos pergi dari situ. Sesuatu yang meremangkan bulu kuduk. Saat mobilnya sampai di depan tempat kos Kugy. Aku juga udah punya pacar. ============== Judul : Tragedi Pesta Noni PART 5: Tragedi Pesta Noni Film komedi yang ditonton mereka barusan bahkan tak sanggup membuat tawanya lepas seperti biasa. Kugy berada dalam status siaga. Lukisan ini begitu berenergi. “Sakola Alit ikut perlombaan antar SD hari Sabtu depan. Kugy terdiam. dari mulai saat perjalanan. Udah.. Kehidupan. “Gy. barulah Ojos bersuara. Mbak!” Mas Ito terbahak. Ada kehidupan yang dipancarkan dengan sangat kuat dan menyentuh. Banyak hal berkecamuk di benaknya. “Jos. Ia bahkan kaget sendiri begitu kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya. terus pada punya pacar baru. Keenan teringat apa yang pernah ia ucapkan. Memangnya ada apa antara kamu dan Keenan?” Kugy diam sejenak.. “Mbak Kugy!” Tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya. kelompoknya jadi pecah. Sepanjang malam. Perasaannya mulai tidak enak. “Ada sesuatu yang belum pernah kamu bilang ke aku.. Terdengar Ojos menghela napas berat. Kugy pun balas melambai. Ojos menggeleng. tapi lidahnya seperti kelu. Kugy menoleh. Nggak lebih. Mas Ito. “What?” Ojos tersentak. ya!” Kugy buru-buru menyudahi.pikirnya. Ia melangkah mundur. “Gue mungkin orang paling cemburuan di dunia. berarti anak itu marah betulan.” tandas Ojos lagi. dan aku perlu tahu?” tanyanya. “Nggak ada apa-apa. melebihi perkiraan mereka berdua. nggak kurang. “Ke mana aja. Jujur aja. Tak pernah ia sangka. tapi radar gue nggak pernah salah. Sepanjang perjalanan.

Sebelum keluar dari mobil. Cuma gue yang usaha buat kita berdua. “Apa pun perasaanku sama Keenan. Ini namanya memojokkan!” seru Kugy putus asa. lo tuh terbang. kita bikin semuanya sederhana aja. Kugy pun berlari masuk. Sesak di dadanya tak tertahankan lagi. Gy. “Mmm… gua perhatiin. sementara dulu kan lu Miss Matching abis. gue selalu berusaha ngejer dunia lo. “Dari pertama kita jadian. “Gue tunggu lo di airport hari Sabtu pagi. Ojos menatap pacarnya dalam-dalam. Sejak lo di Bandung. sekarang baju lu . atau semuanya selesai sampai di sini. nanti gue yang atur. lalu menyerahkan catatannya pada Noni. Penampilannya juga makin lama makin kayak mandor. Ia sudah tahu apa yang akan ia putuskan. ============= Kedua pasangan itu akhirnya memutuskan untuk menghabiskan malam Minggu mereka dengan berkumpul bersama di tempat kos Keenan.” ucapnya lirih. dibantu oleh Wanda yang terkenal sebagai party maker handal. menerobos kamarnya. “Karena kalo lo emang sayang sama gue. Lo kayak punya dunia sendiri. “Pergi dengan gua hari Sabtu. gue masih di Bumi. Noni dan Wanda tampak serius berdiskusi. “Lo suka sama Keenan. “Kenapa harus pakai ultimatum begini. Karena acara itu cukup besar. sih? Kenapa nggak bisa diundur aja? Ini bukan pilihan. Kayaknya cuma gue yang usaha buat ngertiin lo. atau lo tetap di Bandung. Tapi lo bukan cuma lari. Kugy terdiam lagi.” Ojos menandaskan ulang. ia sadar baru saja menyenggol dawai Wanda yang paling sensitif. Noni mempersiapkan dari jauh-jauh hari. Kalo lo nggak datang.” “Excuse me?” Wanda mendelik. ia menggeleng. tapi prioritas buat gue di hidup elo. Gy? Lagi-lagi gue yang harus berkorban. Hanya terdengar isakan pelan. Gy? Lo jatuh cinta sama dia?” Linangan air mata di pipi Kugy makin deras. gue ngerasa makin terpinggir. aku sayang banget sama kamu…” “Ini memang bukan cuma soal Keenan. Pilih yang mana?” Ojos bertanya lugas. cocok dengan konsep garden party yang ingin dibuat Noni. “Coba perjelas. Dada Kugy terasa makin sesak. Ojos membukakan pintu Kugy. Namun mulut jahilnya tak sanggup diberangus. suasana di dalam mobil itu pengap oleh berbagai macam emosi dan perasaan. lo udah bisa tahu jawabannya. Rumah di daerah Kebayoran Baru itu punya taman yang luas. Dan ia menangis untuk perpisahan yang belum terjadi. semua kenangan mereka selama hampir tiga tahun terkilas balik. Dan lo suka lupa. “Bikin acara beginian doang sih makanan gue sehari-hari. lalu berkata pelan. Wanda sibuk mencatat ini-itu. Perlahan. “Pokoknya kalo lo ada detail tambahan lagi. dan Kugy menangis sepuasnya.” Eko yang sedang selonjoran sambil memainkan gitar pun ikut berceletuk. Sebaliknya. makin hari dandanan lu makin santai. Air mata Kugy mulai merembesi pipi. Dalam waktu yang sedemikian singkat. kabarin aja. Gimana kita bisa terus jalan kalo tempat kita berpijak aja beda. Dua kotak martabak asin dan manis yang sudah hampir ludes isinya mengambil tempat di tengah lingkaran mereka duduk.” Meski keduanya sama-sama membisu. “Buset… lu gape banget. suara itu bergetar.“Gue capek jadi nomor kesekian dalam hidup lo. “kuku lu udah nggak warna-warni. Namun mulutnya masih belum bisa berkata-kata. Noni berencana untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-20 bulan September depan di rumah Wanda.” tutur Ojos getir. yakni masalah penampilan. Satu demi satu.” Wanda tersenyum bangga. Jos. Gy. berarti semuanya selesai.” Mata Kugy mulai terasa panas.” Noni terkagum-kagum membaca catatan Wanda. Dadanya mulai terasa sesak. Namun akan terjadi. apa yang dimaksud dengan ‘penampilan mandor’?” Permainan gitar Eko langsung memelan.” Eko cengengesan. Namun nada itu terdengar perih. Berangkat hari Sabtu depan sama gue. Kaki gue masih di tanah. Sekarang juga. Sekarang. Hampir semua acara di Warsita gue yang koordinasi. “Diam-diam ternyata Wanda punya bakat mandor. sih.” gumam Ojos pahit. Akhirnya. Kugy menatap Ojos sekali lagi dengan matanya yang basah. kan. “Tapi… tapi aku bener-bener nggak bisa berangkat Sabtu depan nanti… apa kita nggak bisa pergi hari lain—” “Sederhana.

but I’m not stupid. “Kamu ada apa sama Kugy?” Wanda malah bertanya balik. Hanya kamu sendiri yang bisa. jadi trademark!” cibirnya sewot. Ia memilih membuka buku sketsa lalu asyik mencorat-coret. don’t you?” Wanda bertanya tajam. Memangnya aku separah itu?” gerutu Wanda panjang lebar. mau enggak.” potong Keenan tegas. “Wanda. tinggal Keenan yang kena getahnya. Kalau kamu merasa begitu soal saya dan Kugy. kan dingin…” “Woi! Ada perbedaan besar antara berdandan praktis dan berdandan a la Kugy. “Sebetulnya gua yang minta ke Wanda. Keenan cepat-cepat berusaha menetralisasi. kalau di Bandung mendingan pakai baju yang praktis-praktis aja. You have feelings for her. dongkol.” Noni pun tak dapat menahan tawa kecilnya. dia lebih cocok di kategori yang kedua. Keenan mengerutkan kening. saya terima. Noni juga. hehe. Gila aja…” “Ngapain sih masalah gitu doang diributin?” Keenan mendongak. Dadanya turun naik saking emosinya. memang saya buat lukisan itu dari cerita yang Kugy buat tentang anak-anak di sekolahnya. “Aku udah lihat judul lukisan kamu yang baru. kamu juga baik-baik aja. ini mulai konyol. Keenan menghela napas. Hanya . Saya nggak bisa mengubah anggapan kamu. Kali ini Keenan terdiam. Apalagi melihat Eko yang langsung terbahak-bahak mendengar celetukan Noni. Saya nggak bisa bikin kamu yakin sama saya. “Wanda. Keenan menatap Wanda lama. mukanya menunjukkan bahwa ia mulai terganggu. “Hihi… bener banget kata Eko. Namun Wanda seperti tak mau berhenti. Itu juga kalo emang kepepet. suasana hatinya rusak berantakan sudah. Pantes aja. Merajuk. Baju-baju dapet minjem!” Ekspresi Wanda berubah drastis. Kugy kan ancur banget—” “Buat saya. Kalo kata gua. kaos gede banget itu lu dapet dari mana?” “Punya Keenan. Sepanjang sisa malam itu. Menjadi pendengar sekaligus tempat sampah yang baik. Wanda terdiam. dia baik-baik aja. Muka Wanda kontan memerah. nyama-nyamain aku sama Kugy. kan? Kamu terinspirasi gara-gara dia? Hebat banget itu anak sampai dibikinkan lukisan segala. I tell you this: you will fail! Karena aku bukan dia. Dandanan lu makin mirip Kugy. saya mungkin kolokan. Tuh. sementara Eko dan Noni pamit pulang duluan.kayaknya kegedean semua—kalo dulu kekecilan.” ujar Wanda sinis. “Don’t you?” cecar Wanda lagi. sebetulnya gua juga udah pingin komentar. dan nggak akan pernah mau jadi dia!” Wanda menandaskan. Kamu cuma cemburu berlebihan—” ========== “You’re damn right I am! Dan udah selayaknya saya cemburu. formulanya udah sama. Terus?” “Nan. “Aku cuma sebel aja. ‘Alit’ itu nama sekolah tempat Kugy ngajar. kamu bebas percaya apa pun yang kamu mau. Sementara kalo Kugy itu udah jadi style.” Eko ngakak-ngakak lagi. Aku lihat gimana cara kamu melihat dia. “Inget nggak waktu Kugy datang ke Warsita? Emangnya mungkin aku pakai baju kayak gitu? Idih. “Iya. Wan. Sudah hampir sejam topik omelan Wanda tidak berubah. Melihat itu. Mau Miss Matching. Keenan tak berkomentar dan membiarkan Wanda melampiaskan kekesalannya. I’m not blind.” “Jaket yang tadi lu pake punya siapa?” “Punya Keenan. “Nyebelin banget sih Eko! Sok ngerti fashion. Meski ia berusaha ikut tertawa. saya nggak ambil pusing. “Buat saya. “Aku cuma sekali-sekali doang pakai baju kamu. Memangnya kamu pikir aku nggak tahu kalo kamu sebenarnya sedang berusaha mengubah aku jadi dia? Well. Baju-baju yang kamu suruh aku pakai… dan sekarang lukisan itu. Kok.” “Tapi Kugy kan—” “Sebenarnya kamu ada apa sih sama Kugy?” Keenan bertanya agak keras. dibandinginnya sama Kugy. Kayak dia aja yang paling bener pakai baju.

Keenan! Aku nggak butuh maaf kamu. Gua dan Eko juga ngerasa kehilangan elu. Non. mukanya panik. hingga akhirnya Wanda menyerah. tetap Keenan tak bisa memaksakan mulutnya mengatakan apa-apa. Wanda menepis tangan Keenan yang mencoba menggamit bahunya. berusaha menenangkan isakannya yang terus menjadi. “Emang udah saatnya kali.” Tampang Noni langsung berubah serius. Dalam sekejap. lu sahabat gua.” kata Noni kecewa. kali ini gua ngelihat lu memang jadi berubah. Hanya embusan udara kosong yang terbata-bata.kamu sendiri yang bisa. kalian tuh cocok banget…” Kugy tersenyum getir. menghiraukan kepalan-kepalan tinju lemah yang dilancarkan Wanda dengan frustrasi. Dia ngerasa ada sesuatu yang aneh. Keenan menahan tangannya. Gy? Kok lu nggak terbuka sama gua? Gua kan sayang banget sama kalian berdua. Rasa bersalah yang sangat kuat terasa memenuhi seluruh rongga tubuhnya sampai ke tulang.” Noni terdiam sejenak. bikin orang-orang ngiri.” Keenan tampak terkejut mendengar tantangan Wanda. Kita semua kehilangan Kugy yang dulu. Semua ini kayak bom waktu yang tinggal tunggu meledak. “Kok jawaban lu gitu sih. Jarak mereka hanya terpaut sekian senti. Sorot matanya memburu Keenan ke dasar hatinya yang terdalam. Non.” bisik Wanda. dan tak bisa lagi Keenan menghindar. Ia hanya menarik Wanda ke arahnya. Wanda menggigit bibirnya yang bergetar menahan tangis. Agustus 2000… Terdengar langkah kaki berlari di koridor. dan ia merasa sesak luar biasa.” Wanda lantas menentang mata Keenan lurus-lurus. I just want you to love me. lalu mengangguk kecil. Kugy menatap Noni tanpa bersuara. Aku hanya mau dengar kamu bilang tiga kata itu. Gua ikut sedih. Wanda langsung menyambar tasnya dan berlari menuju pintu. Nan. Namun setelah sekian lama. “Bullshit. “Ada yang bisa kamu lakukan supaya aku yakin. dan dia udah lama ngomong ke gua. “Lu putus sama Ojos?” tembaknya tanpa basabasi. gua harus jujur sama lu. “gua nggak enak ngomong gini. Namun kedua mata mereka telanjur beradu. “Kalian kan pasangan legendaris. dan ternyata langkah itu berhenti di depan pintu kamarnya. Keenan terus berharap dalam hati. deh. Kok lu nggak langsung bilang sama gua? Sebetulnya kalian ada apa. “Ya. “Gy. ========== Bandung. Mulut Keenan tampak setengah membuka. and say that you love me. “lihat ke mataku.” sahutnya pendek. Tapi sebagai sahabat. sih? Lu kenapa?” Pertanyaan Noni berentet seperti peluru senapan otomatis. jemarinya tak henti membelai rambut Wanda. semoga itu cukup. Kugy benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Tapi terus terang. Gua sama Ojos itu bedanya kayak langit dan sumur. “Mau saya antar pulang?” Keenan bangkit berdiri. “It’s so simple. Gua pasti belain elu. tauk. Baru kali itu Keenan merasa sedemikian pilu. Why can’t you just love me?” Lagi. berusaha memeluk Wanda yang meronta. Kenapa? Kok bisa? Gua baru teleponan sama Ojos. jangan pergi… maafin saya…” Bercampur dengan senggukan. Ia hanya mengangkat bahu. Dan yang membuat hatinya lebih pedih lagi. isakannya meledak. semakin lama semakin dekat.” Lama Kugy membisu. Keenan tak bisa menjawab. Dia sedih banget. Menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Keenan. “Maaf? Damn it.” ucapnya datar. Ojos juga ngerasa gitu. Hanya lengannya yang semakin erat mendekap. “Please. “Wanda… saya mohon. Wanda berteriak. otot-otot mukanya tegang seperti bersiap mengatakan sesuatu. Dalam benaknya ia berusaha keras untuk merangkai penjelasan demi . ampun. Lu kayak sengaja menarik diri. Secepat kilat. Menyusul ketukan bertubi di pintu. Air matanya pun tak terbendung lagi.” desis Wanda. matanya tak lepas dari layar komputer. meski desakan itu begitu kuat. “Masuk…” kata Kugy. “Gy!” Noni menerobos masuk. tetap tak ada sepatah kata keluar.

========== Lena pun tak bisa menahan diri lagi. Saya mau beres-beres sekarang. tapi kata-kata Kugy seperti membungkam mulutnya. “bukan itu jalan hidup yang saya mau. “Lena… lihat anak kamu. Kalau memang itu yang kamu mau. bukan begitu cara menyelesaikan masalah ini. bukan yang saya mau. Noni pun bangkit berdiri.” “Keenan! Let op je woorden!” Lena menyambar seketika. “Adri! Kamu juga jangan ikutan ngawur. ia paling tidak tahan mendengar orang bertengkar. Dan saya tidak akan membebani Papa lagi. duduk lagi. Ojos. saya bukannya mau menyakiti kalian berdua dengan keputusan saya ini.” kata Kugy akhirnya. Semua sudah bercampur aduk. kok. saya berhenti membiayai kamu. dan garang. Sama seperti sahabatnya. mengeraskan rahangnya kuat-kuat. Eko. “tapi gua baik-baik aja.” ujarnya tertahan. “bawa sini kalkulator! Kita hitung-hitungan siapa yang keluar biaya paling besar. tapi saya betulbetul tidak bisa memaksakan diri lagi. Sementara hati saya ada di tempat lain. Biarkan dia pergi. Saya nggak kuat meneruskan sesuatu yang saya nggak suka.” “Apa sih masalah kamu? Tanpa banyak usaha saja kamu bisa dapat IP paling tinggi! Apa susahnya kamu teruskan kuliah?” tanya ayahnya gemas. “ga niet al te ver. Agustus 2000… Atmosfer di ruangan itu terasa mengimpit. Het is goed zo. Saya tidak mau tahu lagi. tapi yang ia temukan hanya sebongkah benang kusut. Kita bicarakan lagi semua ini baik-baik…” Keenan malah ikut bangkit berdiri. “Kamu—kamu belum tahu seujung kuku pun tentang hidup! Jangan pikir saya terkesan dengan usaha kamu yang sok kepingin mandiri itu. Kamu urus diri kamu sendiri. “Saya ingin berhenti kuliah mulai dari semester depan.” ujarnya tenang. Bisa nggak kamu bayar Papa untuk menggantikan uang sekolah kamu dari cek yang kamu terima dari Warsita? Ayo! Kita hitung!” Dari wajahnya. Jakarta. Dia nggak mikir bahwa saya. Namun Kugy tak tahu harus ke mana mencari. “Ini bukan soal uang.” sela Keenan tegas. Pasti ada jalan keluar yang lebih baik. Sama seperti gua menerima lu. Mandirilah sana. Keenan tampak sudah mau meletus. lalu pulang ke Bandung. Jangan kelewatan…” Adri pun sontak bangkit berdiri. Non. “Sudah. “Sampai kapan pun saya nggak bisa menggantikan semua yang sudah Papa kasih. ia pun merasakan kehilangan itu. Lena sudah ingin berbicara. menatap anaknya tak percaya.” . Pa. Keenan… apa adanya. Ibunya duduk di tengah-tengah seumpama wasit tinju yang mengamati pertarungan dengan tegang. Kamu nggak tahu apa yang kamu hadapi di luar sana—” “Sorrie. Terserah. Memang itu yang saya inginkan. Semua terlalu kusut baginya. Saya akan cari uang dan membiayai hidup saya sendiri. Ia mengerti kehilangan yang dimaksud Noni. Kamu nggak tahu apa-apa!” “Saya cukup tahu bahwa hidup yang sekarang ini saya jalankan adalah hidup yang Papa mau. Ma. “Thanks for your concern. tapi ia menahan diri. Di meja makan segi empat yang kosong tanpa makanan itu. Silakan kamu rasakan sendiri hidup yang sebenarnya. Sementara Jeroen mengurung diri di kamar. tapi tangan suaminya terangkat menahannya. bapaknya. Ia tak tahu lagi harus memulai dari mana.” Keenan menyahut pelan.” ujarnya dingin. dia pikir dia siapa? Berani-berani minta berhenti kuliah hanya gara-gara lukisannya laku segelintir.” Adri tertawa kecil.” Jelas terlihat ekspresi protes di muka Noni.” Adri menyahut.” Suara Adri terdengar tegas.penjelasan. Menurut gua. Tapi saya benar-benar nggak kuat lagi untuk pura-pura betah kuliah. Tapi inilah gua. menggeleng-gelengkan kepalanya. silakan. Mulai detik ini. Gua nggak tahu Kugy yang dulu itu yang mana.” kata Keenan getir. “Kamu tahu apa tentang hidup? Kamu masih dua puluh tahun. “Inilah yang membuat saya nggak pernah setuju dia pergi ke Amsterdam! Ini!” ayah Keenan berkata lantang. Pa.” ayahnya lalu menoleh pada Keenan. sudah setengah mati banting tulang buat bayar seluruh biaya sekolahnya dari dia kecil sampai sekarang. “jangan ditahan-tahan. “Whatever. Sekilas ia melihat bayangannya di cermin. ya terimalah gua apa adanya. Keenan dan ayahnya duduk berhadap-hadapan. “Ya. Kugy termenung di kursi komputernya. “Itu bukan dunia saya. Gy. “Oke. itu yang bisa kita lakukan sebagai sahabat. Pintu kamar itu kembali menutup. Kalau memang ternyata berubah. “ayo.” “Adri! Keenan! Kalian berdua sama saja. dalam. keras kepala dan gengsi tinggi!” protes Lena.

“Angkatan kita akan kehilangan silumannya. Terkadang. dan menelan kembali semua ucapannya. Kasihani orang-orang kayak gua yang IP-nya satu koma gini.” “Eko?” Keenan menggeleng. “Siapa aja yang udah tahu lu di sini?” “Belum ada siapa-siapa lagi. Keenan merasakan kebebasan. kan?” Keenan tersenyum. Udara panas ini akan ia hirup sampai entah berapa lama. Eko yang juga ikut menghilang.Namun baik Keenan maupun ayahnya tidak tertarik untuk duduk kembali. Yang jelas. Buru-buru Bimo membuka pintu agar udara segar masuk. inilah rasanya hal paling benar yang pernah gua lakukan. “Gua juga nggak ngerti ini gila atau malah waras. Keduanya tetap berdiri di tempat masing-masing dengan sorot mata beradu.” “Gua mohon jangan.” Bimo menghela napas seraya menepuk bahu Keenan. Selama libur jeda semester ini. ia merasa keputusannya itu adalah usaha pelarian dari suasana tidak enak yang mengungkungnya dari sana-sini. Dibantu Bimo. Udah tahu harus cari gua ke mana.” Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sadar bahwa ia tengah melakukan perombakan hidup besar-besaran. siapa yang akan kembali ke pintu rumah ini. Sepulang dari kampus dan mengajar di Alit.” ucap Adri dingin. Sepeninggalnya Bimo. merengek minta maaf. tapi Bimo merasa lebih baik menunda hingga saat yang tepat. gua pasti bisa bantuin lu. Segalanya berubah sekarang. tapi gua salut sama keberanian lu. kek. Ia hanya berniat mencairkannya jika kelak kondisinya sudah sangat kepepet.” Keenan hanya nyengir sambil mengusap-usap kepalanya sendiri. Bimo meletakkan dus yang terakhir ke lantai. Lebih baik membenamkan diri dalam pelajaran dan tugas menumpuk ketimbang berhadapan dengan Noni yang menjaga jarak. Namun langkahnya yang gegap gempita berangsur menjadi pelan dan berjingkat ketika ia melihat si Fuad terparkir di halaman tempat kosnya. Lena. Keenan pun pindah dari tempat kosnya dulu ke tempat kos yang jauh lebih kecil. ketimbang melulu keputusan akademis. dan perasaan bersalahnya pada Ojos yang belum surut-surut juga. IP terbaik dua semester berturut-turut. “Lu adalah orang paling gila yang pernah gua tahu. Kugy benar-benar penat dan ingin langsung cepat mendarat di kasur. bolak-balik Keenan mengurus surat pengunduran dirinya ke bagian administrasi kampus. “entah itu karena lu nekat atau bloon. di dalam sebuah gang di daerah Sekeloa. Keenan tersenyum samar. Sehati-hati mungkin. “Laat maar zitten. Agustus 2000… Sekembalinya ke Bandung. gua malah jadi macan kampus. Sebagai konsekuensinya. dan tak lama kemudian ia pamit pulang. eeh… malah cabut! Transfer ilmu dulu. Banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Namun Keenan tahu ia tak bisa mundur lagi. Nan. . Kucing-kucing yang berjemur di atap tetangga akan menjadi teman setianya. Bentar lagi ada cewek-cewek angkatan baru. Keenan yang lebih tak tentu rimbanya. Kita lihat saja nanti. “Siapa tahu setelah nggak jadi mahasiswa. itu menjadi petunjuknya untuk tidak perlu bilang pada siapa-siapa soal kepindahan Keenan. Namun untuk pertama kalinya setelah pulang ke Indonesia. Keenan hanya mengandalkan sisa tabungan pribadi yang ia miliki. kita lihat saja nanti. Juntaian tali jemuran yang saling silang di depan jendelanya akan menjadi pemandangan rutin setiap hari. dan gua nggak mau bersaing sama lu. “Ya. *** Kugy memutuskan mengambil semester pendek bulan ini. Barang-barangnya yang padahal tak banyak itu bahkan mendadak terasa menyesaki saking kecilnya kamar itu. Kamar kos kecil itu bahkan terlalu sesak rasanya menampung mereka berdua. Perasaannya bercampur antara semangat sekaligus gentar. Keenan tak menunda-nunda lagi rencananya.” Bandung.” Bimo tergelak. Keenan mulai menata ulang hidupnya di Bandung.” “Lu emang sinting nggak kepalang. Keenan termenung di kamar barunya yang terletak sendirian di loteng. yang ongkos sewanya berkali lipat lebih murah dibandingkan tempat kosnya yang dulu. Cek dari Warsita tak disentuhnya sama sekali. “Tenang. Kugy menyelinap masuk menuju kamarnya. Bagi Bimo. Selama gua masih di Bandung. ia tahu dirinya tidak bisa lagi bergaya hidup seperti dulu. monyong!” Bimo tergelak lagi.

oke?” kata Noni ceria. ‘Nyet. Jantungnya terasa mengkeret sekian senti. ya. Masa lu belum tahu. “Gua pasti datang. ya? Pingin cepat lulus terus ninggalin kita. ya?” “Datang ke mana?” tanya Kugy. Seulas senyum mulai terbit di wajahnya. Lu adalah sobat gua terlama.” Kugy membalas tersenyum.” jawab Kugy mantap. Ke mana aja. Sebagian anak-anak dari Bandung juga pada ikut. ya?” Eko menoyor jidat Kugy pelan. Noni tertawa. Ko. Gua kan di sini terus. “Sibuk boleh sibuk. seolah-olah menunjukkan fakta bahwa Kugy secara ironis malah menjadi orang yang belakangan tahu. Kata anak-anak. Kugy menyadari betul maksud yang tersimpan di balik intonasi Noni. Semua teman gua udah pada tahu. “huuuh… curang. dia mau siap-siapin acaranya…” Mendengar Eko berbicara dengan seseorang. tiap kali gua ke sini lu juga nggak pernah ada. minjem halaman rumahnya Wanda yang segede setan. gua juga nggak nyaman jadi dingin-dinginan sama lu begini. “Kayaknya kalian berdua perlu bicara.” kata Noni. Wanda yang jadi EO-nya. “Dah. “Yup. “Rumah Wanda?” ia berusaha meyakinkan pendengarannya.“Gy!” Eko muncul di hadapannya dari balik pintu kamar Noni.” “Iya. Benaknya seketika . tanpa mempedulikan pelototan dari kedua perempuan itu. nggak?” “Anything. “Tapi. Gua juga minta maaf kalau terlalu nyampurin urusan lu sama Ojos. Baru pulang?” sapanya enggan. Please?” Noni memohon. Tiap gua ajak pergi lu nggak pernah mau.” jawab Kugy jujur. sih?” Eko berdecak gemas. “Kecuali kalo lagi berburu pisang. kok. “Hei. Mudah-mudahan. Gy! See you next week!” Kugy balas melambai. Terasa ada beban baru yang menghunjam pundak Kugy begitu tahu di mana pesta itu diadakan.” Ia pun langsung melenggang dari sana. deh. Pokoknya bakal mantap banget. ya. sih? Kangen tauk. “Sori ya. Jujur. Gy. Gy. Noni ikut menongolkan diri.” jawab Kugy setengah bergumam. gua tahu pembicaraan kita terakhir agak kurang enak. Bertepatan dengan Kugy yang sudah membuka handel pintu kamar.” bisiknya. “Masa? Kok. tapi minggu depan sempatkan datang. Sangat berarti buat gua kalo lu bisa hadir. dan gua nggak berhak ngutak-ngatik. Lu tahu gua dari kecil sampai umur kepala dua begini. “Gua cabut ke Jakarta dulu. Gy.” Noni mengangkat mukanya dan menatap Kugy.” sambung Eko lagi. Sekali lagi maaf ya. Jangankan untuk main dengan Eko dan teman-temannya yang lain. Noni langsung menghambur memeluk Kugy. Mau tak mau Kugy melayani dulu basa-basi itu.” katanya sambil nyengir lebar. ya? Seru.” bisik Kugy lagi. lu ambil SP. “Dia kan mau bikin acara di Jakarta. Mukanya tampak berubah ketika tahu orang yang ngobrol dengan Eko ternyata Kugy. gede-gedean. dan tak mungkin ia marah berlama-lama. dong. tidur siang pun sudah jadi kesempatan langka baginya. gua boleh request sesuatu. ========= “Ultah Noni. “It’s okay. sama kalian. Gua bikin garden party. “Iya. Ia pun menyadari dirinya terlalu sayang pada makhluk aneh di hadapannya itu. gua juga kangen. Kayaknya memang gua yang nggak sensitif dan jadi terlalu cuek sama lu. Gua tunggu minggu depan di rumah Wanda. Non. Tapi gua sibuk banget belakangan ini. Kita justru mau berangkat ke Jakarta sore ini. Non. Gimanapun juga. “Katanya minggu depan mau bikin acara. Lama memandangi Noni yang berlari-lari kecil dengan riang gembira sampai bayangan sahabatnya itu menghilang di balik pintu gerbang. “Lu kali yang ngilang. Eko melihat Noni dan Kugy bergantian. Gua yakin lu pasti punya alasan lu sendiri. Anak-anak yang dari Jakarta udah mau dateng. Tugas lu tinggal datang dan having fun. ya!” Kugy menelan ludah. lu tetap sahabat gua. Gua tunggu di depan aja.” Kugy mencoba membuka pembicaraan. “Manusia satu ini… lama ngilang. “Hai. “Gua minta lu datang ke pesta ultah gua minggu depan.” sahut Noni dengan penekanan. “Jangan ngilang lagi ya.

bergegas pergi. Di depan pintu. Terperanjatlah ia melihat Wanda sedang berbelanja. “Ya udah. Di sini enak juga kok kalo sudah malam. Wan. Kugy memanfaatkan waktu luang itu sebaik-baiknya. Keenan mengeraskan rahangnya. Saya mau pulang sendiri aja. “Saya bisa antar kamu pulang ke hotel kalau memang kamu udah nggak betah di sini. Mungkin Eko dan Noni memang benar… kamu memang… aneh!” Punggung itu lantas berbalik sekaligus. “Keluargaku punya villa di Puncak. Kugy masuk ke kamarnya dengan langkah terseret. tangannya tak hentihenti mengipas-ngipas muka. Bandung memang lebih sejuk dibandingkan Jakarta. Namun ia memilih untuk tidak menahannya dan membiarkan Wanda pergi.” Keenan tersenyum. Setelah seharian bermalas-malasan dan main ke warnet.” ujar Keenan sambil membuka jendela dan pintu lebar-lebar agar ada angin yang berembus masuk. kamu ngapain sampai harus tinggal di tempat kayak gini? Aku hargai banget keberanian kamu untuk berhenti kuliah demi serius melukis. terserah. “You know what. ya?” kata Wanda ketus seraya melipat tangannya di dada. Oke?” “Nggak usah. saya pasti cari tempat tinggal yang lebih baik. Sambil bersenandung. Oke?” “Kamu nanti nginap di mana kalau di Jakarta? Kamu kan nggak bisa pulang ke rumahmu. jadi kamu harus ikut-ikutan melarat. Kamu harus nunduk—” Namun Wanda sudah tak mau dengar apa-apa. Bisa lihat langit luas. Nanti aku yang carikan tempat. tapi kamar Keenan yang berada di loteng dan beratapkan asbes itu terpanggang sinar matahari siang hingga terasa panas dan pengap. Kita ketemu besok untuk bareng ke Jakarta. membayangkan suasana pesta itu nanti. seolah mengumpulkan kesabaran. “Nggak tahu. Wanda pun bangkit berdiri. Suara hak sepatunya terdengar beradu buruburu dengan tangga. *** Kesempatan untuknya libur akhirnya tiba. “Wan… hati-hati…” Terdengarlah suara batok kepala beradu dengan kayu. Kugy . Dan saya bisa mempersiapkan diri untuk melukis tanpa banyak diganggu. Sore ini terasa semakin penat.” “Nggak usah. Aku bukain kamar di hotel. Aku yakin Papi bakal kasih izin. “Atap di atas tangga itu rendah banget. Mukanya merah padam. Nanti aku bisa bilang Papi kalo kamu mau tinggal di situ dulu buat melukis. =========== Wanda nyaris pingsan ketika dibawa masuk ke tempat kos Keenan yang baru. Kita ketemu besok. Tapi saya nggak mikirin itu dulu sekarang. “mau coba?” Wanda melengos. Kugy menenteng keranjang belanjanya ke bagian minuman untuk memborong jus buah kesukaannya. melukis sebanyakbanyaknya. mengambil minuman yang sama. menghela napas panjang. Yang penting saya mempersiapkan diri untuk pameran. Antara kepanasan dan kesal. Nan? Aku udah nggak bisa ngitung berapa cowok yang setengah mati berjuang ngedeketin aku hanya untuk dapat sepuluh persen perhatian yang aku kasih ke kamu. “Nan. Biaya hidup di sini lebih murah. tapi… ini… ekstrem namanya! Kamu ke Jakarta aja. begitu saya sudah punya cukup modal dari hasil penjualan lukisan. tahu-tahu Wanda berbalik. Keenan kontan meringis.bergerak maju ke depan. Kugy pergi ke supermarket sendirian untuk mengisi lemari makanannya yang sudah kosong. tinggal selonjoran aja di luar. ya? Aku nanti temenin kamu. Saya tinggal di tempat Bimo.” Mendengar jawaban Keenan. Walaupun cuma sehari. “Saya lebih baik di Bandung. Kekesalannya dengan tempat itu lengkap sudah.” bujuk Wanda sambil sesekali melap wajahnya sendiri dengan tisu. “Gimana mungkin kamu melukis di tempat busuk begini?” tukas Wanda. “Mau berapa lama kamu tinggal di sini?” Keenan mengangkat bahu. Keenan tahu Wanda sedang merajuk. Yang pasti.” katanya pendek.” “Mentang-mentang objek lukisan kamu anak-anak melarat. Untung saja ia masih sanggup mengumpulkan kekuatan untuk bertahan duduk di atas kasur tipis di itu. dan aneka pemandangan yang sekiranya akan menusuk mata.

“Hai. Ia pun patah hati mengetahui kedekatan Wanda dan Keenan yang sedemikian dalam. Noni. Karena sesudah itu kami berdua harus keliling bareng untuk promosi lukisannya. “Sampai kapan di Bandung?” “Nanti juga pulang ke Jakarta. mukanya tampak prihatin. “Salam buat Keenan kalo gitu.cepat-cepat kabur ke area lain. Yang dari Bandung kalo tahu-tahu pada ngebatalin pergi gimana. dengan jalur belanja yang sama pula. sekaligus kecewa karena tak diberi tahu langsung. Dan dia pindah kos. Kasihan. “Memangnya dia pindah dari tempat kosnya?” Senyum manis kembali menghiasi muka Wanda. Ternyata ia salah. “Kugy?” Suara itu menyapa sekaligus bertanya.” Kugy akhirnya berkata pelan. Kugy berjalan pulang untuk menenangkan hatinya yang bergejolak. bareng sama aku. Selama ini ia menyangka punya tempat spesial dalam hidup Keenan. “dia masih ribut sama keluarganya gara-gara keputusannya berhenti kuliah. Ada aku. Kalo sebanyak itu sih dia pasti butuh bantuan. ya? Kalo tahu-tahu nanti sepi gimana. Langkah itu terdengar semakin dekat. Kening Wanda berkerut.” Kugy terkekeh. aku dan Keenan.” tuturnya ringan. di belakangnya. Mendadak. Dia mau total melukis. September 2000… Halaman luas dengan kolam renang itu mulai dipenuhi orang-orang yang berseliweran.” Kugy membalas dengan senyum yang lebih manis. Keenan…” celetuk Eko. Aku cuma lewat aja. segala sesuatu harus sempurna dan bebas error. dia kan suka kerja sampai malam. Menghadapi Wanda dengan tawa selebar mungkin. Kugy mencomot segagang sapu. “Kamu nggak tahu. Nanti saya bantu ngabisin deh. Kugy berusaha mengingat-ingat mimpi sial apa yang dialaminya tadi malam hingga hari ini bisa berbelanja di supermarket yang sama dengan Wanda. Ko? Kok. Wanda. Jangan segalanya dipikirin. “Kamu datang ke acaranya Noni. Spontan. Terpaksa. “Anak-anak pasti datang nggak. kan? It’s going to be fun. Kan udah banyak yang bantuin. Wanda! Belanja sapu juga?” “Nggak. Namun perasaannya mengatakan bahwa Wanda juga berjalan ke arah yang sama. Buat nyapu jalan?” “Buat terbang. Wanda mengangguk. suka nggak ada makanan. Wanda sedang berjalan tepat ke arahnya. Tak bisa menghindar lagi. Tahu-tahu sikutnya disenggol oleh Eko. “Wah. “sapunya gede banget.” Kugy lama terdiam. Kugy sungguhan kaget dengan keputusan Keenan. ya?” rentet Noni gelisah. ya?” ucapnya terbata. Kugy merasa bodoh. Di area perabot rumah tangga. nih. Kugy hanya berdoa supaya Wanda tidak mengenali sosoknya. Melindungi mukanya di balik ijuk hitam. Sesudah itu dia akan pindah ke Jakarta.” Wanda tersenyum manis. Kugy pun terpojok. “Kamu tuh. Benang kusut itu terasa tambah kusut. “selain aku.” Mulut Kugy otomatis menganga.” “Aku usahakan. Di kelompok perkawanan mereka. dan Kugy yang dikenal sebagai Miss Freaky. Noni menyandang gelar sebagai Miss Stress. Dirinya kini tak lebih dari figuran tak berarti. Oborobor taman mulai dipancangkan. Makanya…” Wanda mengembuskan napas panjang. Bareng Keenan. dia nggak punya siapa-siapa lagi sekarang. . Jakarta. “Keenan berhenti kuliah? Kok—dia—nggak kasih tahu.” jawab Kugy ringkas. sampai jam segini masih belum ada yang nelepon atau kasih kabar. Noni menyaksikan persiapan acaranya sendiri dengan muka tegang.” ujar Wanda sambil mengangkat bahu. “Anyway. rileks dong. selain Wanda yang dijuluki Miss Matching. dia lagi sibuk mempersiapkan diri buat pameran. Kugy menurunkan gagang sapu itu. Aku lagi belanja buat dia. Ia pun pamit pergi dari situ.” Wanda lantas menunjukkan keranjangnya yang sudah penuh sesak. dan meja-meja berisi makanan mulai mengambil posisi. Eko. Berusaha mencerna keterangan Wanda satu per satu. Ia tak bisa mendefinisikan perasaannya. Wanda tampak yang paling sibuk hilir mudik mengatur ini-itu. “Memangnya kamu tahu tempat tinggal dia yang baru?” Kugy gantian terheran-heran. Bagi Noni. ======= “Kayaknya dia cuma kasih tahu orang-orang dekat aja. Gy. ya? Keenan udah berhenti kuliah. Sayang. akan jadi host-nya.

“Kamu jangan bikin tambah tegang. Namun muka Noni masih seperti baju tak disetrika. Dan makin genaplah kesimpulan sahabatnya itu bahwa ia memang berubah. come on. Jika ia datang. Sementara Noni menggeleng. Lunglai. Telepon di tempat kos juga nggak ada yang angkat. Membayangkan apa yang terjadi jika ia tidak datang. Meski . girl! Have fun! Kenapa sih muka lo kusut banget?” tanya Wanda seraya menenggak isi gelas yang ditolak Noni.” Wanda cekikikan sendiri. Untuk kesekian kalinya. dong!” Noni cemberut. Nggak ada yang tahu pasti. “Pastilah. Eko menelan ludah. sekaligus apa yang terjadi ia jika hadir di pesta itu.” “Medalinya udah siap. ini khusus buat kita doang. Jika ia tidak datang. bertuliskan: Sahabat Terbaik dan Terawet. September 2000… Halaman itu kini dipadati manusia.” katanya dengan muka enggan. dia nggak jadi ke Jakarta. dan nggak pulang dulu.” Wanda menyambut mereka dengan dua gelas berisi champagne. “Kita mulai aja tiup lilinnya. Lilin dan obor menyala di segala sudut.“Ya udah.” Eko tertawa. ya mendingan bercandalah…” “Kugy datang kan. Sudah sedari tadi seharusnya ransel itu terisi. “Oh. kan. aku punya bonus buat kalian. Kekecewaan tak bisa disembunyikan dari wajahnya. menyadari betapa manusia satu itu telah mengacaukan hidupnya. Kugy tahu bahwa ia akhirnya memilih tidak pergi. menghindar.” “Keterlaluan deh Kugy…” Noni berkata lirih. Baru kali itu ia menyadari betapa dalam perasaannya untuk Keenan dan betapa jauh hatinya telah jatuh.” jawab Eko. Wanda berdiri di sana sambil senyum-senyum. Mungkin nggak jadi. Kalaupun iya. “Kata orang rumahnya. “Medali yang mau dikasih ke Kugy udah ada. pasti langsung ke sini. berusaha setenang mungkin. lalu mengempaskan tubuhnya ke kasur. “MUNGKIN. membuat ia kehilangan kemampuannya untuk cuek dan berlagak tak peduli. Sudah sedari tadi pula dirinya harus bersiap dan berangkat ke stasiun kereta. Dan sebagai kesimpulan. Eko mengambil satu gelas. Semuanya udah siap. kan?” Wanda pun meletakkan gelasnya yang sudah kosong dalam sekejap itu. oke?” Eko berusaha meredam kegelisahan pacarnya. Non…” bisiknya sendirian. Noni. Setengah dari dirinya pun takjub dan terpana. Namun sedari tadi Kugy diam di tempat duduknya. melemparkannya ke lantai. “Maaf ya. Ko?” “Beres!” Bandung. Makan sampai bego. Keenan telah membuatnya seperti orang lumpuh. Terdengar suara seseorang memanggil mereka dari kejauhan. Ssst. Aku ambil satu botol dari lemarinya Papi. diam-diam ya. dan menjauh. “Udah telepon ke rumahnya? Dia udah sampai?” tanyanya resah. Noni pasti kecewa.“Hi guys. “Hp-nya mati dari tadi. Gila aja kalo sampai dia nggak muncul. Setengah dari dirinya kesal sendiri. yuk?” ajak Noni langsung. ============== Jakarta. Wan. dibercandain kamu stres juga. “Oke. Noni mendatangi Eko. Memastikan barang itu ada. September 2000… Sudah setengah jam lebih Kugy memandangi ransel besarnya yang tergeletak di lantai dalam keadaan kosong. yuk!” seru Wanda. ya?” kata Noni sambil menggigit kukunya. “Nggak jadi ke Jakarta?” Mata Noni membelalak. aku udah tahu kamu! Ditanggapin kamu tetap stres. hatinyalah yang remuk. Musik berdegup dari pengeras suara. “Buat lu aja. lho. Semua orang tampak menikmati suasana. “Soalnya. Ko?” Tangan Eko spontan merogoh ke kantong belakangnya. kita pesta sendiri aja. “Dom Perignon. Sebuah medali emas yang mereka berdua pesan di toko olahraga. Kugy membuka jaketnya. Noni punya ide sejak lama ingin mengalungkan medali-medalian untuk Kugy pada pesta ulang tahunnya yang ke-20 ini sebagai tanda persahabatan mereka. Noni berjalan ke dekat meja tempat kuenya nanti dipajang. “Noni! Eko! Bentar lagi tiup lilin! Siap-siap di dekat sini.

Masih untung larinya cuma tiduran. Wanda menyapa Keenan. dan sebagian besar adalah pegawai-pegawai dari rumah Wanda sendiri. mengajak Wanda pergi. “are you jealous?” “Dari yang saya lihat. wah… kita semua pasti kena.” “Siapa?” Eko tak langsung menjawab. “I can’t walk…” bisiknya di kuping Keenan. “Oke. “Kalau kamu masih bisa joget. Keenan seketika mengenali keduanya: Wanda dan Ivan. “Dia di mana?” Eko mengangkat bahu. Sekarang. Berat tubuhnya seketika dijatuhkan ke dekapan Keenan. “Kamu nggak seharusnya minum sebanyak itu. lalu menutup pintu kamarnya.” ujar Keenan seraya membukakan pintu kamar itu. “Mendingan lu cari dia sekarang dan langsung antar ke kamarnya.” dengan nada tegas.” Wanda menyambut tangan Keenan sambil sempoyongan. “Hi. ia mengeluarkan sebotol Dom Perignon yang sudah tiga perempat kosong. Nan. “Pakai aja medalinya buat ganjal meja. Yang ganjil hanyalah Noni yang menghilang dengan cepat hingga acara usai lebih dini dari yang diperkirakan. gua cari dia. ya. Segelintir orang saja yang tersisa. Whassup…” sapanya. dan malah tersenyum. Mandi air panas dulu kalau perlu. Minum air putih yang banyak. “Nan… jangan cepat-cepat dong. kamu pasti masih bisa jalan. Keenan pun menghentikan langkahnya. nggak ngadu-ngaduin kepala ke tembok.” Keenan cepat mengedarkan pandangannya. ia terus berjalan dengan irama yang sama. babe… kamu ke mana aja?” Berseri-seri. “Migraine. kenapa sih?” tegurnya pedas. Kalau sampai Oom Hans lihat anaknya mabok champagne hasil curian. Noni pun melengos. Penyebab utamanya karena kamu kebanyakan minum. Keenan tak menjawab. diiringi alunan musik dari plat yang masih aktif berputar. Sesampainya di depan kamar Wanda. Noni mana. Dan ada kakaknya yang nemenin juga. ia tidak yakin benda satu itu akan punya manfaat malam ini. Wanda tertawa ringan. dan senyumnya terus melebar. “Saya pulang dulu. Kontrol sedikit. Sebagian besar tamu yang diundang dari luar Jakarta tidak datang.” “What?” Wanda langsung menarik Keenan masuk.” tandas Keenan lagi. udah pasti botol ini kering sampai tetes terakhir. kok. “Ko. “Ah. Dan yang paling fatal adalah ketidakhadiran Kugy. Pukul sepuluh. Dari bawah kolong meja. Tinggal jadi vas bunga. dan langsung buru-buru melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Wanda.” tandasnya langsung. Wanda pun berusaha mengikuti langkah Keenan. atau karena—Ivan?” tanya Wanda. hampir semua tamu sudah pulang. “aku antar kamu ke kamar. kamu mabok. Keenan melepaskan rangkulan Wanda lalu menggandengnya. “kayaknya justru elu yang harus ngejagain seseorang. Wanda menatap lurus-lurus mata Keenan. Wanda. Namun keempat sekawan itu mampu bersandiwara dengan baik.” Eko melengos.” rajuknya. Tangannya langsung merentang. Ayo. Namun Keenan tak menghiraukan. “Hai. Ivan cuma efek samping. hingga tamu-tamu yang hadir merasa pesta itu berjalan baik-baik saja. berusaha santai. he wouldn’t know the difference. “Kamu nggak . “biasalah. “Tadi udah tidur.” “Wanda…?” Keenan terenyak. Keenan mendatangi Eko yang sedang ikut gotong-royong membereskan kursi. DJ pesta malam itu. dan tangannya tak lepas menggiring Wanda. Susah payah. si Miss Stress satu itu.” “Lu yakin Noni nggak apa-apa?” Eko mengangguk.medali itu telah terparkir dengan baik di kantongnya. “Kalo tadi nggak gua sita. Justru Ivan yang kelihatan tersentak. “Kamu marah karena aku minum.” gumamnya seraya ngeloyor pergi.” *** Tampak siluet dua orang sedang berjoget di pojokan dekat kolam renang. Papi lebih jago membaca lukisan daripada anaknya sendiri…” “Kamu harus istirahat. Kamu beruntung ayah kamu belum pulang. “Wanda. Gerakannya tampak terhuyung-huyung. sih?” tanyanya. =============== Tidak ada yang tahu bahwa sebetulnya pesta ulang tahun Noni itu sudah rusak berantakan.” jawabnya. Prosesi penyerahan medali “Sahabat Terbaik dan Terawet” yang telah disiapkan matang oleh Noni tidak terjadi.

Nanar. “Aku tuh kayak pacaran sama homo. udah. Wanda lantas membungkuk. You never did! Padahal gue udah mati-matian mengusahakan segalanya buat elo! Gue udah mau kasih semuanya buat elo!” Keenan terdiam. merekah kian besar. Keenan menahan napas. seketika lututnya terasa lemas.” “Taik! You’re such a hypocrite!” teriak Wanda kesal. Aku cuma ingin nolong kamu…” katanya terbata. Keenan menatap Wanda.” Keenan berkata lagi. “Karena… lukisan lo dibeli sama GUE! Puas?” Keenan mematung. Ditepiskannya tangan Keenan dengan kasar. Kamu istirahat malam ini. You never wanted me. dan bukannya saya nggak ngerti kesempatan apa yang saya punya. “Forget it. Sontak. “Gue nggak mabok aja lo nggak pernah mau! Nggak usah pakai alasan sober atau enggak. “Kamu bisa bayangin apa yang dilakukan cowok kayak Ivan kalau dia punya kesempatan ini? Di kamar ini. Keenan! There will be no tomorrow for you!” Dengan gerakan sempoyongan. tolong dengar baik-baik. “dan saya nggak kita melakukan hal yang bodoh hanya karena kamu mabok. tangannya mengacung tegas menunjuk ke arah pintu.” ujar Keenan setengah mengeluh. menghubungkannya dengan intuisi yang selama ini tak pernah bisa ia jelaskan. that’s why. Kerongkongan Keenan seperti tercekat. Berusaha mencerna kalimat Wanda. ia berusaha menarik Wanda dan mendekapnya. lalu menarik keluar gulungan-gulungan karton besar yang kelihatan membungkus sesuatu.boleh pulang!” Sejenak Keenan melirik pintu yang sudah tertutup di balik punggungnya. You never loved me. berdua sama aku?” bisiknya dengan bibir yang ditempelkan di atas bibir Keenan. menyibak bed cover tempat tidurnya yang menjuntai menyentuh lantai. Saya akan mampir ke sini lagi besok…” “Apa bedanya besok sama malam ini? Emangnya kalau besok lo jadi mau sama gue?” sambar Wanda dengan nada yang semakin tinggi. Perasaannya langsung tak enak. Peristiwa demi peristiwa terhubung. dan kini berdiri lurus-lurus di hadapan. Dan seperti membaca gerak mata Keenan. Dengan gerakan sekaligus. Keenan serta merta memalingkan muka. “Wanda. sana!” Wanda berteriak marah. Wanda pun tertawa lepas. Kepalanya berputar. Bukannya saya nggak mau. Lembut. Dan kamu kan pacarku. Jumlah lukisannya yang dipajang di Galeri Warsita dan dilaporkan telah laku terjual. But you’re drunk. dan ia seolah menyaksikan sebuah kebohongan menggelembung. Pikirannya merangkaikan semua kejadian selama ini. Wanda merangkul leher Keenan. ya. balik ke kotak sabun busuk itu! Pergi!” Keenan menghela napas panjang. dan perlahan timbul rasa panik di hatinya. Keenan merasa kebohongan ini terlalu gigantis untuk ia cerna. “Nan… aku nggak bermaksud jahat. menarik jauh lehernya. Walaupun ia tahu Wanda tidak sedang dalam keadaan sepenuhnya sadar. Diambilnya satu gulungan itu. tahu nggak!” katanya lantang. Jantungnya berdegup kencang.” “Karena kamu lagi nggak sober. I want you to stay. tak kuat melihat Wanda. “Pulang aja ke Bandung. bahwa ia tidak sungguh-sungguh mengucapkan itu semua. membuka sedikit lapisan karton pembungkusnya. Berusaha mencamkan pada dirinya sendiri bahwa Wanda sedang dipengaruhi alkohol. ========== “Gue nggak butuh dihibur! Gue nggak butuh dikasihani! Gue ogah terus ngemisngemis perhatian sama lo kayak orang nggak punya harga diri! Pergi. This is not right. Hatinya . “Ambil ini! Bawa pulang lagi!” Wanda mengempaskan benda-benda itu. Wanda cepat menyelinap dan bersandar menghalangi pintu. “Why? Kenapa harus pergi? Aku mau kamu temenin aku. Dengan nada sewajar mungkin. Wanda menyaksikan betul perubahan air muka itu. kenapa lukisan saya bisa ada di sini?” tanyanya dengan suara tertahan. Berusaha memahami apa yang sesungguhnya terjadi. “Ya. Namun Wanda sudah terlalu emosional. Keenan berusaha pamit dengan sopan. tak urung kata-kata itu kembali mengusik rasa bersalahnya. Keenan menyadari jumlah gulungan karton itu pun persis sama… empat. Begitu Keenan tahu bahwa gulungan itu adalah kain kanvas.” Mendengar perkataan Keenan. “Tolong jelaskan sebisa kamu. “Wanda… please… jangan kayak anak kecil… saya harus pergi.

” katanya lirih. Petugas lain pun datang untuk mengambil gulungan-gulungan itu. Lama Keenan membiarkan Wanda tersedu-sedan sambil meratapkan segala penyesalannya. Setelah formulir dikembalikan. Tepatnya. Terasa celana panjangnya melembap karena air mata. hingga perlahan.. Namun apakah ia sungguhan siap. Namun Keenan tak mampu bereaksi apa-apa. Kemarahannya yang tadi meledak-ledak dengan esktrem berganti menjadi tangis tersengguksengguk. lukisanlukisan itu akan berada di tangan yang baik. Kegalauan yang ia rasakan ternyata melampaui amarah. Matanya melirik Wanda yang menangis menjadi-jadi sambil merangkul erat pahanya. Galeri Warsita. Utuh. memeluk kaki Keenan. “Formulirnya sudah selesai?” Petugas itu bertanya sambil melirik formulir yang sedari tadi diberikannya pada Keenan tapi tak kunjung diisi. mata Keenan tak lepas mengawasi.” gumamnya. dan papan berhuruf warna-warni yang tergantung di pintu sudah bertuliskan: NONI ADA. anything… kamu boleh marah-marah kayak apa aja. Sudah tiga hari sejak pesta ulang tahun itu. September 2000… Ada lima silinder karton yang sudah dibawanya ke kantor ekspedisi itu: empat lukisan yang ia bawa dari rumah Wanda. tak tahu harus bilang apa. melampaui segala reaksi emosi yang ia kenal. rasa percaya dirinya. “Ubud – Bali.” Sambil sedikit manyun. Sekarang cahaya lampu sudah membayang dari tirai jendela. “Keenan… please. Dengan berat. “bisa tolong ditempel stiker ‘fragile’? Dan tolong jangan kena air. Kugy memandangi kamar itu dengan hati kecut. say something. Keenan tak berani lagi memeriksa. Pak…” jawab Keenan. dan satu ikut ditambahkannya: lukisan “Jenderal Pilik dan Pasukan Alit”.” sela Keenan cemas. Dan saya akan bawa pulang lagi semua lukisan ini. aku sayang banget sama kamu… don’t leave. cek itu. ingin bicara pun tidak. air mata pun mulai membasahi mata Wanda.. dan Keenan merasa benarbenar seperti hendak melepaskan mereka ke khayangan. Dipanggulnya keempat lukisan itu. “Ada yang bisa dibantu lagi?” Keenan menggeleng. dan baru malam ini Noni kembali dari Jakarta. please…” Wanda tahu-tahu melorot. Tapi kamu nggak akan pernah bisa membeli saya. ========== Judul : Bintang di Ubud PART 6: Bintang di Ubud Setengah jam yang lalu. ya? Tiga-empat hari sudah sampai. lalu menariknya lagi untuk kembali berdiri. pada lukisannya. . Saat ini. ia telah mengucapkan selamat tinggal pada impiannya. “Pak… tolong hati-hati.” desis Keenan sambil membuka pintu. Sejenak lagi. Seiring dengan kedoknya yang ikut meluruh. Mereka belum bicara lagi sejak itu.. Wanda menatapnya pilu. Dilihatnya sekali lagi kelima silinder yang sudah tergulung dan terikat rapi itu. aku rela.teraduk-aduk. aku siap terima. Please understand. tapi jangan pergi…” Keenan memungut gulungan-gulungan itu dengan hati remuk redam. Wanda.. kelima lukisannya akan berlayar ke Pulau Dewata. Yang ia tahu dan yakini. “Uang kamu akan saya kembalikan. Sampai hari ini pun lidahnya masih kelu. “Nan… jangan pergi…” “Kamu bisa beli lukisan-lukisan ini. Entah kapan bisa melihatnya lagi. Bersambung ke PART 6: Bintang di Ubud.. Kugy tak punya cukup keberanian untuk menghubungi Noni. Keenan melepaskan rangkulan tangan Wanda di kakinya. keyakinannya untuk melukis… impiannya musnah satu demi satu dalam hitungan detik. Bandung. “Nan… I’m sorry… aku tahu itu salah. petugas tadi mengecek sekali kelengkapan isian Keenan. kamar itu masih gelap. petugas itu pun menyiapkan stiker-stiker petunjuk yang diminta Keenan.. berjalan pergi dan tak menoleh lagi. itulah yang lebih penting. Dalam hati. Kembali Keenan hanya mematung. Sampai kelima benda itu dimasukkan ke dalam gudang. “Sebentar. bersimpuh di atas kedua lututnya. akhirnya ia melengkapi formulir pengiriman paket tersebut.

karena saya harus lihat langit. menyadari bahwa ada Kugy sedang berdiri di koridor. Sayup-sayup terdengar lagu dari kaset yang diputar di kamarnya: “Fare thee well my bright star It was a brief. Namun sudah terlambat untuk bergerak ke mana-mana. Memandang angkasa malam adalah pelipur sederhana yang membantunya sedikit merasa lebih baik. Jangan masuk angin dulu. melirik pun tidak. dan tak lebih dari sebuah drama besar. Kesedihan yang mereka berdua simpan dan tak tuntas terungkapkan.” Terduduklah Keenan di dekat jemuran yang bisa ia datangi dengan cuma membuka jendela kamar. Dan Keenan merasa seperti aktor malang yang bermimpi melampaui skenarionya. Keberadaan Sakola Alit dan konsistensi Ami dan kawankawan akhirnya menarik simpati penduduk sekitar. Berkat gotong-royong warga. Mereka khawatir kegiatan belajar mengajar di Sakola Alit terganggu karena musim hujan sudah tiba. Kini ia yakin itu. tapi kakinya terasa kaku. Beberapa kolor dan jins tidak kering yang masih diangin-anginkan. Non…” Dengan suara pelan dan sedikit bergetar.” Mendadak sesuatu menyusupi hampanya. berbisik sendirian. semuanya lebur dan tampak kabur dari mata yang basah oleh air mata. Tidak ada apa-apa harusnya berarti tidak ada masalah. *** Pukul sepuluh malam. Namun kedua kakinya hanya sanggup mengantarkannya ke atap itu. Keenan tak keberatan dengan rasa lapar ini. Keenan menepuk-nepuk pelan perutnya. Noni mengangkat mukanya sedikit. Oktober 2000… Kugy tak bisa melupakan pagi ini. itulah bagian dari konsekuensi yang harus ditanggungnya dengan mengirit setiap rupiah dari sisa uangnya yang tak seberapa lagi. Uang memang tidak akan pernah bisa jadi ukuran. langit tampak berhiaskan saling-silang tali jemuran. saat Oma memasakkannya sup kacang merah yang mereka nikmati dalam hening. Untuk pertama kalinya ia pindah mengajar ke saung baru yang dibangun oleh orang-orang kampung. Akhirnya Kugy masuk ke kamarnya. Kugy pun tersentak. Termasuk rasa sakit. Ia berjalan keluar seolah Kugy tak punya wujud. Kugy menyapa. Tak punya rasa percaya… tak ada kebanggaan… hampa. Di sana ia bisa memandang hamparan atap rumah lain beserta pendar-pendar lampu di rimba gang yang padat ini. Ingatan akan Oma dan langit malam berbaur. sebuah perang dingin resmi dimulai. Kalau bisa. Tiba-tiba wajah neneknya di Amsterdam melintas. Keenan menengadah. mata Noni berpaling ke arah lain. Cepat. Masa gemilang itu datang. lalu bergerak ke atas menatap serakan bintang di langit. Keenan teringat hari terakhir mereka bersama. Tak bisa lebih jauh lagi. Sesungguhnya. satu saung baru didirikan. Kugy menelan ludah. brilliant miracle dive that which I look up to and I clung to for dear life … your last dramatic scene against a night sky stage. Dan kembali Keenan merenung: bagaimana hampa bisa menyakitkan? Hampa harusnya berarti tidak ada apa-apa. ia ingin mengirim kembang tanda duka cita. Namun tak ada yang bisa mengobati kekosongan jiwanya. sementara mereka tahu bahwa ada kelas yang selama ini dijalankan di bawah pohon. tapi rasa percaya? Seluruh uang di dunia ini tidak cukup membelinya. Dan entah kapan akan berakhir. Lambungnya riuh rendah seolah tengah berlangsung pertandingan bola. meninggalkan semuanya tanpa kecuali. pikirnya. sekejap. “Hai. Dari tempat ia duduk. Rasa percaya dan uang ada di dimensi yang sama sekali lain. . “Sabar. Dan rasa kosong ini lebih menyakitkan dari apa pun. Ia tak punya cukup nyali. Terakhir dia makan adalah tadi siang. dan tampaknya lambungnya tak akan mendapat olahan baru sampai besok siang lagi.Pintu itu membuka. Ia sadar. Rasa sedih. Bandung. Noni keluar dari dalam membawa kantong sampah yang siap dibuang. Tidak apa-apa. ya. Noni tak menjawab. Ludahnya terasa memahit. Keenan menatap pendar-pendar lampu rumah. Baginya. Nasi bisa dibeli. Baru kali ini ia merasa prihatin pada dirinya sendiri. Sempat melintas di pikirannya untuk mengejar Noni dan berbicara lebih panjang. pikir Keenan getir. Keenan mengkhayalkan bisa kembali ke sana malam ini.

Meski semua anak senang dan bersemangat dengan tempat baru mereka, tak urung muka anakanak pagi itu kusut karena hari ini mereka belajar perkalian dan pembagian. Kugy mengamati anak didiknya yang tampak mutung dan tak bergairah. Ia sendiri pun mulai ikut putus asa. Belum berhasil mendapatkan cara yang lebih kreatif untuk mengajar. Tiba-tiba seorang muridnya, Dodi, berlari ke arah saung dengan tergesa. Wajahnya berseri-seri, tangannya menunjuk ke arah belakang. Tawanya merekah, memampangkan gigi serinya yang ompong. “Bu Ugiiii… ada Pak Guru Rangginang…” serunya lantang. Rangginang? Kugy bertanya dalam hati. Saat ia melongok ke arah yang ditunjuk Dodi, sadarlah ia siapa yang dimaksud anak itu. Dan sungguhan Kugy tak siap. “Keenan…” desisnya. Sejenak Kugy menunduk, memejamkan mata, berusaha mengumpulkan tenaga dan kekuatan. Dalam sekejap, tawa segar muncul di wajahnya, dan ia pun menyapa dengan ceria, “Halo, Pak Guru! Selamat datang di kelasku yang baru!” ========= Keenan tersenyum. Ada kehangatan yang seketika memenuhi rongga hatinya melihat tawa lebar Kugy yang khas. Keenan menamakannya “tawa pengampun”, karena layaknya matahari yang tak menyimpan memori ataupun dendam dan senantiasa memandikan Bumi dengan sinarnya, tawa itu pun membawa efek yang sama bagi dirinya. Kehangatan yang lahir tanpa pretensi. Tanpa perlu usaha. Pengampunan murni. Setelah Keenan mendekat, barulah Kugy menyadari perubahan yang terjadi. Keenan tampak lebih kurus. Dan kedua matanya menunjukkan bahwa ia lelah. Kugy pun menyadari, perubahan yang sama juga terjadi pada dirinya sendiri. “Apa kabar, Kecil?” sapa Keenan. “Kamu kok tambah kecil…” “Pemadam Kelaparan baru naikin harga soalnya, jadi asupan makanan ke badanku agak berkurang,” Kugy terkekeh. “Kamu juga kurusan. Kamu baik-baik?” Keenan mengangkat bahu sambil nyengir. “Lumayan,” jawabnya singkat. Kehadiran Keenan seketika membawa suasana berbeda. Semua anak merasa Keenan adalah penyelamat yang akan membebaskan mereka dari pelajaran yang memusingkan pagi itu. Pilik langsung menandak-nandak kegirangan sambil berteriak, “Gambar! Gambar! Gambar!” Kugy menggeleng-gelengkan kepala, “Nggak, nggak! Kalian tetap harus belajar Matematika…” Ucapan Kugy disambut riuh protes. Keenan mengambil sepotong kapur dan mulai menggambar. Dengan cepat, ia menggambar enam layang-layang. “Ayo, dihitung, layang-layangnya ada berapa?” Anak-anak itu berhitung dari satu sampai enam. “Sekarang… Pilik ceritanya harus bagi dua layang-layang ini dengan Dodi,” Keenan menarik garis, “Jadi, Pilik punya berapa, dan Dodi punya berapa?” “Tiga!” Mereka menjawab serempak. Di sudut saung Kugy tersenyum. Tampaknya hari itu ia harus membiarkan kelasnya diambil alih oleh Keenan. *** Kelas Kugy bubar agak lebih siang dari biasanya. Seperti biasa, layaknya penggemar bertemu idola, dengan berbagai cara anak-anak itu menahan Keenan lebih lama agar lebih banyak menggambar. Sebubarnya anak-anak, Kugy dan Keenan gotong royong membereskan saung. “Kadang-kadang aku berharap kamu jadi pengajar tetap di sini,” kata Kugy. “Supaya?” “Ya, supaya anak-anak ada yang mengajarkan menggambar, dan sepertinya lewat gambar banyak sekali cara pengajaran kreatif yang bisa kamu lakukan, yang aku sendiri nggak sanggup…” “Oh. Kirain biar kita tiap hari ketemu,” celetuk Keenan jahil. Kugy tergelak. “Ya, itu boleh juga jadi bonus. Aku nggak keberatan ketemu kamu tiap hari.” “Saya juga enggak.” Keduanya terdiam sejenak. Kugy tahu-tahu meletakkan ransel yang tadinya sudah siap disandangkan di bahu. “Kamu ke mana aja sih, Nan?” “Ada,” sahut Keenan setengah menggumam. “Kok nggak bilang-bilang kamu pindah tempat kos?”

“Ceritanya panjang, Gy.” “Kamu bisa mulai cerita sekarang…” tegas Kugy sambil duduk bersila. “Saya udah nggak kuliah lagi dari awal semester. Saya mengundurkan diri,” Keenan bercerita sekenanya. “Ya, aku tahu. Dari Wanda…” Kugy menyahut lirih. “Keluarga kamu gimana? Mereka setuju?” “Saya belum ketemu mereka lagi. Ayah saya sangat tidak setuju pastinya.” Lama Kugy termenung. Segaris senyum lalu membersit di wajahnya. “Kamu berani banget, Nan. Aku salut. Akhirnya, demi melukis kamu mengambil keputusan sebesar itu,” ucapnya tulus. “Saya nggak melukis lagi.” Kugy nyaris mencelat dari lantai. “Ke—kenapa?” tanyanya terbata. “Saya salah selama ini, saya pikir melukis adalah jalan hidup saya, tapi ternyata bukan,” jelas Keenan dengan datar. “Tapi… bukannya kamu mau pameran? Aku sempat ketemu Wanda, dan dia cerita kalau kamu lagi konsentrasi melukis, terus kamu bakal keliling-keliling, pindah ke Jakarta…” Keenan tersenyum samar. “Dia cuma bercanda. Pameran, galeri, keliling-keliling… semuanya cuma bercanda.” “Aku nggak ngerti…” Kugy menggelengkan kepala, “maksud kamu… kamu ditipu sama Galeri Warsita?” “Oom Hans sejak awal sebetulnya nggak setuju lukisan saya masuk ke Warsita, karena menurutnya karya saya belum matang. Tapi karena Wanda yang minta, lukisan saya bisa lolos.” “Iya… tapi kan… lukisan kamu pada akhirnya laku. Empat-empatnya dibeli orang! Itu kan berarti bukti kalau lukisan kamu memang diminati!” “Oleh satu orang tepatnya,” Keenan berkata getir, “Wanda. Dia yang ternyata membeli semua lukisan saya, dan disembunyikan di rumahnya. Saya nggak sengaja tahu. Dia yang kelepasan gara-gara mabok waktu ulang tahun Noni.” Kugy menatapnya tak percaya, “Jadi… selama ini…” “Selama ini semuanya nggak lebih dari cerita cewek kaya yang jatuh hati sama seorang pemimpi. Tapi ini bukan salah siapa-siapa kok, Gy,” Keenan tersenyum samar, “saya nggak menyalahkan Wanda, apalagi Oom Hans. Saya yang terlalu bego.” “Bukan berarti kamu harus mengorbankan impian kamu gitu aja dong, Nan. Masa cuma garagara seorang Wanda kamu jadi berhenti melukis…” protes Kugy tak tertahankan. “Ini bukan masalah Wanda,” potong Keenan keras, “kamu bisa bayangin? Saya sudah mengundurkan diri dari sekolah, saya sudah keluar dari rumah. Dengan naif dan yakinnya saya merasa bisa membuktikan sama keluarga saya, sama orang-orang, kalau saya mampu mandiri dari melukis—” “Ya kalo gitu buktikan, dong!” tukas Kugy balas memotong, “Kenapa malah berhenti?” Kugy menatap Keenan tak mengerti, “Nan, kamu adalah pelukis paling hebat yang saya tahu. Terserah Oom Hans mau ngomong apa, Wanda punya motivasi apa, kolektor-kolektor itu punya penilaian apa… buat saya, kamu melukis dengan seluruh jiwa kamu, dan itu yang penting!” ========== “Gy… kalau saya memang pelukis yang sehebat yang kamu kira, udah dari duludulu Oom Hans langsung meloloskan lukisan saya. Nggak usah pakai dibujuk-bujuk sama Wanda segala. Dan kalau memang saya pelukis yang sebagus yang kamu kira, waktu pameran katalog barunya Warsita sudah pasti ada yang membeli lukisan saya. Nggak perlu Wanda yang sampai pura-pura beli.” “Jadi, cuma gara-gara penilaian satu galeri, dan sekelompok orang yang entah siapa, kamu mengorbankan semua mimpi kamu. Gitu?” Nada bicara Kugy mulai menajam. “Wake up, Gy,” Keenan melengos, “Warsita bukan sekadar galeri. Dan orang-orang itu adalah kolektor lukisan yang berpengalaman. Kamu atau Eko bisa aja bilang lukisan saya bagus karena kalian teman-teman saya. Tapi orang-orang itu lebih tahu.” Kugy menggeleng lagi. “No. YOU wake up! Nggak peduli galeri bilang apa, nggak peduli orangorang itu punya pengalaman apa, harusnya kamu yakin sama diri kamu sendiri.” “Bener banget,” balas Keenan tegas. “Saya harus bangun dan lihat kenyataan. Dan ini realitasnya. Lukisan saya cuma jadi sarana seorang Wanda yang cuma mau pe-de-ka-te. Dan ketololan sayalah yang memungkinkan dia melakukan itu semua.”

“Kamu bilang ini bukan masalah Wanda, tapi dari tadi kamu bolak-balik selalu kembali mengungkit dia dan galerinya. Justru aku yang nggak melihat bahwa ini soal Wanda atau Warsita. Ini adalah soal kamu dan keyakinan kamu!” ujar Kugy setengah mengeluh. “Nan… selama ini kamu yang menginspirasi aku untuk tetap yakin pada impian-impianku. Gara-gara kamu aku semangat bikin dongeng lagi. Aku nggak rela kamu menyerah gitu aja—” “Saya nggak pernah minta jadi panutan siapa-siapa. Nggak usah menambah beban saya dengan omongan seperti itu!” Keenan menukas. Setengah membentak. Seketika Kugy bungkam. Dengan sedikit gemetar, tangannya membereskan sisa barangnya yang tercecer, lalu ia menyandangkan tasnya di bahu. Bersiap pergi dari situ. “Ternyata selama ini saya ketinggian menilai kamu…” desisnya tanpa lagi menatap Keenan. Tak lama, langkahlangkahnya yang besar membawa Kugy dengan cepat menghilang di balik rimbunan bambu. Ia berjalan buru-buru tanpa menoleh. Di tempatnya, Keenan duduk diam dan hanya sanggup menatapi. Banyak kata yang ia sesali tapi telanjur terucap. Namun untuk menahan Kugy, ia bahkan tak punya percaya diri yang cukup untuk itu. Angin dingin yang berembus menyentuh kulitnya seolah menembusi pori, memasuki nadi, dan meninggalkan perasaan kehilangan yang menjalar ke seluruh tubuh. Mendadak, Keenan menggigil. Tak hanya kehilangan, ia pun merasa ditinggalkan. ========== Sendirian di kamarnya, Kugy mulai menulis seperti orang kesetanan. Malam itu ia berniat menumpahkan semuanya dalam lembaran-lembaran kertas kosong. Dalam sekejap, bidang petak putih itu terisi penuh oleh tulisan tangannya. Sambil menulis, tak jarang air matanya ikut terselinap, meninggalkan jejak-jejak tinta yang memecah di atas kertas. Kugy tak tahu itu air mata sedih atau marah, dan ia tak lagi peduli. Baru pada lembar ketiga, kecepatan menulisnya mulai melambat. Perasaan yang tadi campur aduk mulai menunjukkan wajah aslinya. Seharusnya ia bersukacita saat tahu hubungan Keenan dan Wanda usai. Seharusnya ia lega ketika tahu Keenan tidak jadi pindah ke Jakarta dan meninggalkan dirinya karena sibuk mempromosikan lukisan. Tapi ternyata tidak. Kugy pun tersadar, inilah patah hati yang sesungguhnya. Hatinya pernah hancur ketika tahu Keenan harus bersama orang lain, tapi hatinya baru benar-benar patah ketika tahu bahwa Keenan bukanlah sosok yang selama ini ia cinta. Pada lembar ketiganya, Kugy mulai menangis sedih. Tidak banyak lagi yang ia tulis. Hanya beberapa baris penyesalan. Kugy menyadari, selama ini ia telah menciptakan sendiri ilusi tentang Keenan dan mencintai ilusi itu. Kenyataannya, Keenan rapuh dan lemah. Terdengar suara pintu di kamar sebelah membuka. Tak lama, terdengar langkah Noni di koridor. Mendengar suara-suara itu, Kugy menelan ludahnya yang terasa pahit. Tak hanya ia kehilangan cintanya, ia pun telah kehilangan Noni dan Ojos gara-gara cinta itu. Orang-orang yang ia cinta. Dilipatnya lembar-lembar kertas tadi, membentuknya menjadi tiga perahu kertas. *** Di seberang kampus, ada sebuah pemukiman yang dilewati kali. Itulah aliran air terdekat yang bisa Kugy temukan. Pagi itu, sebelum kuliah, Kugy menyempatkan diri mampir ke kali. Terdapat beberapa anak kecil yang sedang menangkapi impun. Kugy beringsut maju, menjauhi mereka. Ia tak ingin misi pentingnya gagal secara prematur hanya karena anak-anak tadi tak jadi menangkapi impun, dan malah lebih tertarik pada barang yang ingin ia hanyutkan. Setelah merasa di jarak aman, barulah Kugy berhenti dan mendekat ke tepi kali. Dari dalam ranselnya, ia mengeluarkan tiga perahu kertas. Tak ada saluran lain, tak ada teman bicara lain… hanya Neptunus, batinnya. Satu demi satu, ia pun mengapungkan perahu-perahu kertasnya ke kali. Sesuatu seperti lepas dari hatinya seiring dengan melajunya perahu-perahu tadi. Kugy merasa lebih lega bernapas. Sekian lama sudah ritual ini terkubur, dan dibutuhkan sekian banyak peristiwa untuk membangkitkannya kembali. Kugy lupa betapa melegakannya perasaan ini, saat cerita dan beban hatinya dihanyutkan air menuju lautan. Betapapun jauhnya perjalanan itu. Bandung, November 2000… Hari pertama di bulan November. Keenan dikagetkan oleh kedatangan Bimo yang muncul di tempat kosnya pagi-pagi.

Pak Wayan sudah mengatakan bahwa lukisan itu tidak dijual. tapi orang itu benar-benar gigih dan bersikeras ingin membeli. Alamat pengirim di sampul belakang amplop itu mengonfirmasi dugaannya. “Kalau soal enak. menyilakan Bimo masuk.” Bimo menyerahkan sepucuk amplop putih. Kali ini dengan lebih lambat. Ia menimang-nimang amplop itu.“Hai. Bim. ========== Keenan memandangi kertas-kertas di pangkuannya. Seketika Keenan terenyak ketika menyadari apa kertas itu. Kapan lu terakhir makan enak?” Keenan berpikir. Namun Pak Wayan tidak berhasil menghubungi Keenan untuk bertanya langsung. iya. Nan. Mungkin hampir dua minggu. tapi kata hatinya mengatakan untuk melepaskan . Dan baru sekarang gua baru sempat ke sini. lukisan itu mencuri perhatian seorang kolektor lukisan dan ia tertarik ingin membeli. Sori. Tapi kalau enak dan mahal… hmm… gua sampai udah nggak inget terakhir kapan. Beberapa minggu kemudian. Kedatangan Bimo benar-benar terasa bagai angin segar di tengah atmosfer jiwanya yang pengap. Pak Wayan menceritakan betapa kagetnya dia ketika dikirimi lukisan-lukisan Keenan yang seperti jatuh dari langit saking tak terduganya.” jelas Bimo. hanya tersenyum. Masuk. dikirimkan ke alamat kosnya yang lama. Salah satu lukisan Keenan yang paling disuka oleh Pak Wayan lantas diberi rangka kayu dan dipajang begitu saja di studionya. “Gua mau ngasih ini.” sapa Keenan seraya membuka pintu kamarnya lebih lebar. Nan. Otak udah ciut!” Bimo terkekeh. “Nggak apa-apa. Pikirannya masih berusaha mencerna dan hatinya berusaha beradaptasi dengan berbagai lonjakan perasaan yang sontak muncul ketika membaca surat dari Pak Wayan. Ia lelah berharap. kosan ini kagak punya telepon! Nan… nan… kayaknya lu udah kekurusan sampai otak lu agak ciut…” “Oh. Terdapat dua lembar kertas surat bertulis tangan dan selembar kertas tambahan. “Siap! Mahal dan enak it is then!” *** Acara sarapan bersama Bimo ternyata berlanjut hingga menjelang sore. “Sarapan. Harusnya gua aja yang ambil ke sana. yuk. Tanpa pikir panjang lagi. ia lama menyendiri dan mengurung diri bak seorang pertapa. Keenan pun mematung. “Hai. Untuk kedua kalinya. Sejak insiden di rumah Wanda. Tapi baru sampai ke tangan gua semingguan yang lalu. Tempat ini pun butuh angin segar setelah seharian tertutup dan terpapar panas matahari siang. Bim. ya. lalu menggelengkan kepala. Pak Wayan lalu minta maaf jika dirinya lancang. Sekalipun di surat pengantarnya Keenan menuliskan sejelas-jelasnya bahwa itu semua adalah kenang-kenangan sekaligus tanda terima kasih untuk apa yang didapatnya selama di Bali. Keenan tersadar betapa ia merindukan kebersamaan semacam itu.” Keenan. orang itu seperti terkena cinta buta. Nan… apa kab—?” Bimo sampai menghentikan kalimatnya ketika sepenuhnya menyadari apa yang ia lihat. Nggak perlu sampai lu ke sini…” Bimo tergelak. Surat dari Pak Wayan di Ubud. Pak Wayan bilang. Keenan kembali menjenguk kampus dan nongkrong seharian bersama teman-teman lamanya. seolah menyesali pikirannya sendiri. Langsung dibacanya surat itu dengan tergesa-gesa. lu kurus banget. Keenan menggeleng sendirian. kayaknya sih makanan gua enakenak aja. “gila. “Sebetulnya udah cukup lama. Keenan membuka surat itu. Keenan membuka jendela kamar kosnya lebar-lebar. yuk. Keenan menerima surat itu dan seketika mengenali tulisan tangan yang tertera. Pak Wayan merasa ada sesuatu yang luar biasa yang telah terjadi dalam hidup Keenan. “Surat ini kapan sampai?” tanya Keenan. Thanks. Lama. Bener juga…” Keenan ikut mesem-mesem. Gua yang traktir. bertanyatanya adakah surat itu menjadi angin segar berikutnya. Setelah selesai. Ia jatuh hati habis-habisan pada lukisan Keenan. “Lha! Lu bisa tahu adanya surat ini dari mana? Telepati? Hp lu kagak punya. Itu adalah komentar klasik yang selalu ia terima setiap kali bertemu dengan teman kampusnya. yang berdiri di pintu. Keenan membaca surat tersebut.

Dan saya nggak mungkin kembali ke penjara yang sama. “Tolong baca ini. Namun kalimat satu itu terus mengiang-ngiang: Kapan kamu pulang ke rumahmu di Ubud? Jakarta. trauma. Pak Wayan menulis: “… seperti cinta yang satu hari bertalian tanpa bisa dijelaskan. Sekalipun saya sendiri ingin sekali menyimpannya.” Lama Lena tercenung. ada semacam kelegaan karena ia tahu anaknya akan terjaga dengan baik. Ma. Ia seketika tahu arti pertemuan ini. Di luarnya saja dia keras. kok.” Lena pun mulai membaca. tapi sebenarnya dia kehilangan sekali sama kamu…” Keenan tersenyum tipis.” Keenan menelan ludah. “Saya ada satu permintaan lagi. ya? Jangan bikin susah Pak Wayan. “Kamu bisa pulang kapan pun kamu mau. Papa kamu pasti melunak. Keenan terpaksa mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum bisa lanjut berkata-kata. Suara Lena bergetar saat ia mengucap. sampai akhirnya kepalanya mengangguk. saya juga tidak mau menghambat rezeki kamu. Sangat kentara ibunya berusaha kelihatan tegar demi dirinya. Banyak yang berkecamuk di benaknya. “Tapi… kamu… sehat-sehat kan. Keenan bangkit berdiri. Menyadari betapa bocah kecilnya telah tumbuh besar menjadi seorang laki-laki dewasa yang memiliki jalan hidup sendiri. Hanya hening dan air mata yang jatuh sesekali dari mata keduanya. Keenan pun terpaksa membiarkan ibunya menghabiskan seperempat jam pertama pertemuan mereka untuk menangis. November 2000… Perempuan itu tidak sanggup menahan aliran air matanya. berusaha santai. Pandangannya mulai mengabur.” Lena merasa dadanya sesak. Percaya sama Mama. menuju tempat dan kehidupan yang ia pilih. Dan ia masih merenung.” Lena langsung tersentak. Ini jalan hidup saya. Ia mengeluarkan amplop berisi surat dari Pak Wayan dan menyerahkannya pada ibunya. saya nggak pernah sakit. “lusa saya berangkat. Mereka berjanji bertemu pada jam di mana semua orang sedang berada di luar rumah. Dari nol lagi.” jawab Keenan. Napas panjangnya menghela ketika ia sampai pada akhir surat. Dalam suratnya. ========= . “Saya ingin ketemu Mama hari ini bukan karena saya kepingin pulang ke rumah. Saya kenal baik dengan orang yang membeli lukisan kamu itu. Tolong beri kabar secepatnya setelah kamu menerima surat ini. “Saya benar-benar ingin memulai halaman baru. dan ia hanya sendirian.” Lena menatap anaknya lurus-lurus dari matanya yang tersaput air. tapi karena cinta. yang mampu membendung kepakan sayap-sayap itu. saya merasa lukisan itu menemukan jodohnya.” Kembali Keenan memandangi selembar kertas yang diselipkan di dalam dua lembar surat tadi. “Sehat. Namun kali ini. Tapi… saya justru ingin pamit. “Pamit? Ke mana?” Keenan tak segera menjawab. Langit jingga berganti hitam. Hal-hal yang tadinya tak terlintas dan tak digubris. Berat.” Keenan lanjut membaca: “Lukisan yang satu itu memang sangat bagus dan rohnya kuat. Ada keraguan. Mata Keenan mulai panas. Di sana dituliskan keterangan: Pembelian lukisan: “Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Perpisahan yang kedua kali akan segera terjadi. Biarpun jadi kurus gini. Dia membelinya bukan semata-mata untuk investasi. dan saya yakin lukisan itu berada di tangan yang baik. Cukup Mama yang tahu. dan mendekapnya erat. “Saya akan tinggal dengan Pak Wayan. Mengecup kening ibunya. Setiap bulir detik bergulir penuh arti.” Sisa hari itu dihabiskan Keenan dalam perenungan. dan gentar. Kapan kamu pulang ke rumahmu di Ubud? Saya dan keluarga besar di sini selalu mengharapkan kamu pulang. Sejenak lagi Keenan terbang dengan sayapnya.” ujar Keenan mantap. Nan?” Lena kemudian bertanya patah-patah. Selembar cek senilai lima juta rupiah. Semoga uang ini bisa bermanfaat banyak. “Baik-baik di sana. Ma.lukisan Keenan pada orang tersebut. Mam. Sore berganti malam. Tidak dirinya. Bahkan Jeroen nggak perlu tahu. Ma…” “Apa itu?” “Tolong jangan bilang siapa-siapa saya ada di Ubud. Hatinya seketika tersayat dan teriris melihat anaknya sendiri muncul sembunyi-sembunyi seperti narapidana yang kabur dan enggan tertangkap. Perlahan. atau siapa pun.

seluruh sistemnya seolah melepas beban dan ketegangan yang menumpanginya sejak berangkat. Keenan ikut terkekeh. Nanti malam baru dibangunkan untuk makan sama-sama.” Keenan menjawab dengan anggukan semangat. rupanya ada yang harus cepat-cepat kita kasih makan sebelum dia dilirik sama anjinganjing seluruh Bali karena disangka tulang berjalan.” Hati Keenan berdesir mendengarnya. tampak Pak Wayan dan keponakannya. kenalkan. Dan sesosok asing yang sedari tadi berdiri malu di pojok. Agung. menunggu di terminal. apalagi kalau bisa sekarang. “Beli! Apa kabar?” Banyu. yang . kemeja. *** Mobil itu tiba di sebuah gerbang kayu tinggi yang diapit pohon-pohon rindang dan semak-semak tanaman rambat yang tumbuh besar dan rapat. “Luhde juga akan tinggal di sini.” Alis Keenan sedikit berkerut.” Keenan pun menyerahkan sekantong besar aneka makanan yang ia sempatkan beli di toko oleh-oleh sebelum menaiki bus kemarin. Pak. hingga lelah tubuhnya pun akhirnya terasa.” sambar Ibu Ayu. ini Luhde Laksmi. Disusul Pak Putu ayahnya Banyu. Ia sama sekali tidak keberatan dengan ide itu. Terdapat pula sekurang-kurangnya tiga studio kerja besar yang menampung segala macam aktivitas dan barang-barang seni yang digarap oleh keluarga seniman itu. Menatap Keenan sambil setengah menunduk.” celetuk Pak Nyoman. adik Pak Wayan yang juga sama-sama pelukis. November 2000… Dua puluh jam Keenan terduduk dalam bus yang mengantarkannya dari Bandung hingga terminal Ubung.” Pak Wayan tergelak seraya merangkul Keenan erat-erat. Bu. lalu yang lainnya. Pak Wayan tidak melebih-lebihkan ketika mengatakan bahwa seluruh keluarganya telah menunggu. ya?” ujar Ibu Ayu berseri. “Ini. “Setuju. Napas Keenan sontak tertahan melihat gerbang kayu itu lagi. sementara Agung dengan gesit langsung berlari menghampiri Keenan dan membantu membawakan tasnya. ya?” “Boleh. dan udeng. Ia pun tersadar betapa ia merindukan konsep itu: pulang. Sesuatu dalam perjalanan ini membuatnya gelisah sekaligus bersemangat. “Di jalan saya nggak bisa tidur. Seperti habis baru selesai upacara. Rumahnya yang baru. kok. sesuatu yang besar akan menantinya di Ubud. Keenan harus terenyak haru ketika melihat keluarga Pak Wayan berkumpul di teras saat mobil mereka tiba di halaman depan kompleks itu. Nan. adik ipar Pak Wayan sekaligus ibu kandung dari Agung. jangan lupa nanti siapkan minum. Di balik gerbang kayu itu langsung terlihat puncak pura yang mencuat hingga tampak dari jalan. Keponakan saya dari keluarga di Kintamani. “Saya senang sekali kamu pulang ke sini.” jawab Keenan dengan tawa lebar. Dalam hati ia pun merasa. Serta merta terbit tawa cerah di wajah Pak Wayan. Haru.Ubud. Begitu kakinya kembali ke rumah ini. “Tidur dulu saja. “Luhde!” pangil Ibu Ayu. Lagi-lagi. Tapi rasanya masih oke. “Mata kamu kelihatan capek sekali. Keenan langsung mengenali dua sosok yang sama-sama tinggi besar itu hilir mudik memakai setelan lengkap: sarung.” jelas Pak Wayan. matanya tetap membeliak terjaga. Keluarga di Ubud sudah menunggu.” Pak Wayan terkekeh. “tolong kamu antar Keenan dulu. “Kamar kamu yang dulu sudah dibersihkan. “Agung. Bu. Poyan. tertutup orang-orang. Keenan menyadari. ini adalah salah satu keputusan terbesar yang pernah dibuatnya selama hidup. Pak Made Suwitna. Terima kasih banyak. Saya nggak nolak dikasih makan.” sahut Keenan. karena katanya Keenan sudah mau tinggal terus di sini. Buat semua yang di sini. menyeruak keluar. salah satu keponakan Pak Wayan yang akrab dengan Keenan. Rencananya begitu. saya bawakan oleh-oleh sedikit dari Bandung. Dia dititipkan oleh bapaknya. “Iya. “Keenan. Ia tak bisa membendung senyum yang menyungging otomatis di mulutnya. “Wah! Kamu harus cepat istirahat kalau gitu. langsung menyongsong dan merangkul Keenan dengan hangat. dan… keluarga. Saya belum tidur dari kemarin. Sekarang ditambah lemari pakaian. Bu. Wajah-wajah yang tak asing. Nama itu asing. Di lahan hektaran itulah tinggal keluarga besar Pak Wayan dalam beberapa rumah terpisah. Dari jendela bus. Selama dua puluh jam. “Poyan! Agung!” Keenan melambaikan tangan begitu menginjakkan kaki ke tanah.

“Harusnya. diam. Kamu pacarku. saking ketakutannya kijang itu sama singa.” “Terus… hubungannya apa dengan aku?” “Pernah nggak kamu kepikir. “Males nggak lu kalo dia tampangnya kayak gitu tiap hari. “Kamu nggak kehilangan. Kugy tuh udah berubah banget. Sekilas. Tajam. dilihatnya Kugy baru saja pulang.” ujar Pak Wayan sambil menepuk bahu Keenan. Sudah terlalu lelah ia bermimpi. Ko. Meski ia berkata dengan volume pelan. Namun. “Lagaknya saja pemalu. Ingat?” Keenan mengangguk. Dia malah nggak bisa ngapa-ngapain. Kugy sahabatku. Dibiarkannya Noni kembali sibuk dengan mulutnya yang memberengut.” jawab Eko setengah melengos. Aku kan jadi serba salah mau menempatkan diri. ============ Bandung.” ucap Luhde sambil cepat-cepat berjalan. Memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. udah. “Habis mau gimana? Apa kamu nggak lihat kayak apa dia sekarang? Negurnya aja males. Masih ada beberapa kelompok teman yang sering jalan bareng dengan mereka. “Udah deh. Tapi dengan cepat. kek. Dia jadi kaku. kijang yang larinya cepat kayak kilat.” Noni mengangkat bahu. Sejenak ia memperhatikan Luhde. Ada sesuatu yang tak asing dari sosok yang baru pertama kali ia temui itu. Santai saja. .” celetuk Noni lagi. sepupu Pak Wayan yang juga koreografer tari Bali yang sangat terkenal. ia kembali meneruskan kegiatannya melipat baju. Keenan menatap wajah-wajah itu sekali lagi. saking merasa bersalahnya Kugy sama kamu. tapi terdengar jelas suara itu begitu bening seperti embun.” “Kenapa ya dia?” “Sejak ngajar di Alit.” sambung Pak Wayan lagi sambil terkekeh. Nan. Luhde mengangguk. dia jadi kayak kijang itu. Keenan tertegun. Belakangan ini kegiatan mereka sudah banyak bergeser. “Mau sampai kapan sih kalian diem-dieman begini?” Tiba-tiba Eko berceletuk. Udah pasti kita nggak akan bisa balik lagi kayak dulu. Ya. Aku juga nggak ngerti. ngajak aku ngobrol pelan-pelan. Mukanya yang lucu kini mengeras sehingga kelihatan judes. saking merasa salah sama kamu. Saya antar. seakan-akan beban dunia ada di pundaknya. “Maksud kamu—aku dan Kugy?” “Iya. dia malah kehilangan kemampuannya untuk lari. November 2000… Eko memandangi Noni yang sedang membereskan isi lemari pakaiannya. Noni terpaku sejenak. dia jadi berubah banget. Eko menengok sedikit ke luar. Luhde seperti remaja perempuan pada umumnya. Bukan sebaliknya!” Eko terdiam. Ia dan Noni lebih banyak menghabiskan waktu berdua.” Dagu Noni menunjuk ke arah jendela. muram. Waktu kamu liburan terakhir kali kemari. kek…” Noni balik menatap Eko. Pendiam. Dengan sungkan. meski tampak ringkih dan pemalu. “kamu tahu nggak. Padahal dia banyak tahu. Aku sih merasa percuma. “Non…” ucapnya pelan setelah sekian lama hening. tapi rasanya tidak pernah lagi sama. minta maaf karena nggak datang ke acaraku. kedua mata besar itu berbinar penuh rasa ingin tahu. Tapi itu refleks yang nggak bisa dia lawan. Dan dia kayaknya nggak mau terbuka sama aku. Muka Luhde langsung memerah. Beli.” sahut Keenan. tapi kalian nggak saling ngomong. Nanti malam kita bicara-bicara lagi. Yang mencuat adalah rambut panjangnya yang dibiarkan terurai melewati bahu hingga menyerupai selendang hitam yang menggantung hingga pinggul. terus putus sama Ojos.” Eko menatap Noni lurus-lurus. “Memangnya enak apa kayak begini? Padahal kalian satu kos. apa? Kenapa sih kamu nggak coba ngedeketin dia. Ia ingat Pak Made. dan menutup diri. Tubuhnya mungil. “Panggilnya ‘Keenan’ saja. Matanya cekung seperti orang kelelahan.datang berkunjung waktu tahun baru. Dia malah nggak bisa gerak sama sekali. dia yang coba ngedeketin aku. dan sikap malu-malunya membuat ia tampak makin ringkih. Entah apa. Kamu tidak perlu ke manamana lagi. “Istirahat dulu. ngajak ngobrol pelan-pelan. bisa beku kayak patung kalau ketemu singa…” “Kamu nggak nyambung!” “Maksudku. Ia lebih mirip rumah angker. bukan karena dia yang kepingin. “Mari.

“Ini… . Sejenak. Meninggalkan Eko yang terbengong-bengong sendiri. Ko. akhirnya semua lukisannya adalah gambar sesajen. Dan mendadak. Ia mendekati kanvas kosong di hadapan Keenan.” Luhde pun beringsut. termasuk kekosongan sekalipun.” Noni gantian terdiam lama.” Dan usai berkata demikian. Bertanya-tanya. Keenan mulai merasa tak ada bedanya dengan gerombolan ayam kampung yang dipelihara Pak Wayan di halaman belakang. “Luhde… saya benarbenar nggak tahu harus mulai dari mana… saya… bahkan nggak yakin saya bisa melukis lagi…” susah payah Keenan berkata. Sepanjang hayatnya melukis. tapi sekalinya ngomong kok pintar banget. Sekalipun setiap hari ia berusaha membantu pekerjaan rumah apa pun sebisanya. “Kalau Keenan sudah dapat satu ‘jodoh’-nya. November 2000… Di dalam naungan bale. bukan melukis. Selama tiga minggu. =========== “Seperti Poman. Kalau Poyan. “Kamu nggak sayang waktu. dari belakang punggungnya. Jadi. Noni bergegas pergi meninggalkan kamarnya. Dan lukisannya dari ke hari akan semakin bagus. Di hadapannya sudah ada kanvas polos. siapapun tidak akan bisa memulai sesuatu. Keenan otomatis menoleh ke belakang. sih. pasti mereka akan menemukannya. Barangkali Pak Wayan cuma membutuhkan kehadiran mereka. Beli Banyu. apa gerangan yang ia lakukan hingga Noni sebegitu korslet. Kugy memang nggak pernah salah. Kebaikan dan ketulusan Pak Wayan beserta seluruh keluarganya justru membuat ia semakin tidak enak hati. Keenan tertegun. “Pelukis yang baik bisa mengungkapkan semuanya. kan?” dengan asyik. apa? Karena dari tadi berarti kamu cuma melihat saya melamun. duduk di sebelah Keenan. Namun belum ada secercah pun dorongan di hatinya. di sampingnya berserakan semua peralatan melukis. mereka akan melukis berdasarkan sumber yang sama. Di mata kamu. Tiba-tiba. Sudah lama ia ingin bicara dengan seseorang tentang kesulitan dan tekanan yang ia alami. Kalau mereka mau bertekun sekaligus berserah. inspirasinya adalah sesajen. ia pun bergumam. dijual telurnya tidak. “Hai. Mungkin hal seperti itu yang perlu Keenan cari. Disembelih tidak. Jodoh? “Setiap pelukis pasti memiliki ‘jodoh’-nya masing-masing. Iya. sekalipun lukisannya abstrak. “Kamu tuh… pendiam. “Sudah—dari tadi.” Keenan melongo. tapi sumber inspirasinya sebenarnya adalah corak kain Bali. sambil melipat bajunya yang terakhir. Perhatikan saja semua lukisannya. Lalu. Keenan diam mematung. “Please deh. “Kalau pelukis-pelukis di sini biasanya punya satu sumber inspirasi. Sama sekali tidak menyangka ucapan sedemikian bijak dan bernas akan meluncur dari mulut gadis tujuh belas tahun di hadapannya. Seharusnya ia… berkarya. Kali ini Keenan tidak tahan lagi. hanya dibiarkan saja berkeliaran bebas sampai tua. pasti tangannya langsung lancar. Tuan Puteri. terdengar sesuatu bergesek dengan lantai kayu.” dengan suaranya yang lembut dan lirih Luhde berkata. Sesuatu menyesak di dadanya. Tapi justru dengan begitu. Dan bukan untuk itu ia seharusnya di sini. Keenan merasa gerombolan ayam itu bahkan lebih berguna dari dirinya. Luhde berceloteh. Kadangkadang kanvas kosong juga bersuara. suara mereka. Terkadang.” Luhde tersenyum.” jawab Luhde terbata. Keenan jangan cepat putus asa.” lanjut Luhde lagi. ia hanya menumpang tidur dan makan. hari ini Luhde muncul seperti malaikat penolong yang mengetuk pintu pertahanannya.” Kembali Keenan terpana mendengar kata-kata Luhde. Nggak usah sok nganalisis kayak psikolog. Tanpa kekosongan. Keenan mulai merasa lelah dan frustrasi dengan semua ini. tetap ia tidak merasa berguna. Dari dulu kamu memang selalu ngebelain dia. Ubud.” Keenan tergelak lagi. “Saya mau lihat Keenan melukis. mereka bisa mencapai tingkat penjiwaan paling tinggi. Kaget melihat Luhde sudah duduk bersimpuh di tangga bale. Luhde tak langsung merespons. gerak-gerik mereka untuk menghidupkan suasana. Tiap pagi ia menyiapkan perangkat yang sama di tempat yang sama. Kok bisa parkir di situ? Kapan munculnya?” Keenan menyapa sambil tertawa. Ini adalah minggu ketiga ia tinggal di Lodtunduh. Luhde pun sama kagetnya.Dia jadi takut ngedeketin kamu. inspirasinya adalah upacara adat. Tampangnya langsung pucat seperti maling tertangkap basah.

Dulu. Ia mulai merasa harus sejenak mengambil ‘cuti’ singkat dari aktivitas kreatifnya yang sangat menggebu-gebu selama sebulan terakhir. di bale yang sama. Luhde tersenyum menatap pamannya. Daya khayalnya tergantikan oleh rangkaian pikiran logis yang bekerja mekanis bagai robot untuk belajar. dengan jarak hanya satu kamar dengan Noni yang sudah tak pernah bicara dengannya. Cerita hatinya pada Neptunus yang entah ada entah tidak. Bali mulai dipenuhi oleh turis. Kugy pun merasa sudah berada di puncak ketidaknyamanan tinggal di tempat kosnya. Keenan harus percaya itu. Kugy pun nyaris berhenti menulis. Dia mulai kembali seperti Keenan yang dulu. tangan mungil Kugy yang menari-nari di tiap lembarnya. Berbaring telentang menghadap langit. Satu perahu kertas terlipat di dalam kantongnya. “Poyan…” bisiknya pada Pak Wayan.” ucap Luhde sambil menundukkan kepala dan menangkupkan tangannya di depan dada. “Saya akan berdoa supaya Keenan cepat menemukan bintangnya.anggaplah ini langit…” katanya seraya menyentuhkan jemarinya di kanvas. Keenan tak beranjak dari sana. Kalau Keenan bisa menyibak awan-awan itu. ========== Bandung. Kugy kembali bisa bernapas lega. seolah mengetahui arah pikiran Luhde. sambil menyandang ransel besar yang gemuk terisi buku. Hubungannya dengan Noni tidak berubah. Hatinya kembali lapang. Diam-diam. Desember 2000… Setiap pagi. Hawa liburan pun ikut merasuk pada Keenan. Belakangan. Sampai senja. Setiap kali melihat perahu kertasnya bergerak terbawa arus kali. Satu benda yang sama selalu menemaninya.” komentar Pak Wayan. Tidak mungkin selamanya ia berlagak seolah-olah Noni tidak tampak. “sepertinya langit ini kosong. Luhde diam mengamati bale itu. Kugy berjalan cepat meninggalkan tempat kos yang sepi ditinggal para penghuninya untuk berlibur. Tak lama. Kisah-kisah petualangan Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Ia benar-benar tidak buang waktu. Dan dari sekian banyak bintang. Jari dan kuas itu tak pernah berhenti menari-nari. Kini fokusnya hanya satu: cepat lulus. Kugy mulai mencari tempat kos baru yang akan segera ia tempati begitu semester baru dimulai. mencari sesuatu di sana. keresahan batinnya. Ubud. Tapi kita tahu.” *** Akhir Desember tiba. Awan-awan itu akhirnya berhasil tersibak. Tidak ada lagi liburan di agendanya. Lukanya juga mulai sembuh. dan hanya belajar. Sebuah buku tulis lecek penuh tulisan tangan. ia lebih sering . Tak jadi masalah. Bahkan tidak terhingga banyaknya. meninggalkan Keenan sendirian lagi di bale. Termasuk kerinduannya pada Keenan. menorehkan garis dan warna. Wajahnya berseri-seri. belajar. Kugy bahkan merasa surat-surat itulah yang membuat dirinya mampu bertahan waras dan kuat. langit tidak pernah kosong. dan setiap harinya Keenan bertemu dengan langit bersih yang siap dilukisi. Hampir tidak ada lagi yang menahannya di Bandung. Sebagian besar impiannya. selain kampus dan Sakola Alit. Keenan akan menemukan banyak sekali bintang. Langit ini cuma tertutup awan. Ia mengambil mata kuliah sebanyakbanyaknya di semester pendek. dan kerinduannya pada semua yang dulu begitu indah. Ia terlalu capek untuk itu. maka hanya akan terbaca satu paragraf pendek: Neptunus. ya. akan ada satu yang berjodoh dengan kita. Dari teras rumah utama. semua nelayan yang sedang mencari arah akan diberi petunjuk oleh bintang di langit. Andai perahu itu dibuka. Semoga dia menemukan bintangnya dan kembali menemukan jalannya pulang. “Keenan sudah menemukan bintangnya. dan mencoba melihat jauh ke balik awan. kanvas demi kanvas mulai terisi. ia beringsut menuju tangga. masa-masa bahagia persahabatannya sudah tidak ada lagi. “Dia luar biasa berbakat. Ada banyak bintang. Ia bercerita soal keluh-kesahnya. Akan ia apungkan di kali nanti sebelum pergi ke kampus. Tak peduli lagi dengan ambisinya menjadi penulis dongeng. Sahabat yang dikenalnya sejak kecil sekarang telah menjadi orang asing. termasuk Ubud. Satu-satunya kegiatan menulis yang tersisa hanyalah perahu-perahu kertas yang diapungkannya di kali. Desember 2000… Pagi-pagi.

lukisan kamu punya roh yang kuat. Matanya melirik ke arah Pak Wayan. kalau boleh tanya balik.” sahut Keenan sambil tersenyum lebar. ini penggemar fanatik lukisanmu. kemungkinan besar Jakarta. Necis meski hanya memakai kaos polos dan jins. Namun sore itu. malah bisa mengundang orang untuk masuk ke dunia kamu. Jadi saya punya koleksi lengkap. dia memasuki galeri. ikut senyum-senyum. “Keenan… bangun! Di galeri ada tamu yang mau ketemu kamu. saya nggak bisa memilih. Saya sudah hobi koleksi lukisan sejak lama. Ada seorang laki-laki muda yang berdiri di sampingnya. menurut saya. “Nah. saya harus mengambil dua lukisan saja hari ini. Rasanya tetap seperti monumen tersendiri. jadinya. Perjalanan dari rumah Pak Wayan ke galeri hanya tiga menit. Itu pengalaman apresasi yang luar biasa. “Keenan. Mas.” “Terima kasih. Lebih mirip ilustrasi.” Keenan menelan ludah. tidur siangnya terganggu. “berapa harganya?” Keenan menelan ludah lagi. Tidak umum. Keenan langsung memperkenalkan diri. “Ada tamu siapa. “Lukisan kamu makin matang sekarang. sebenarnya semua lukisan ini rangkaian cerita. dan tanpa pretensi. Untuk pertama kalinya ia melihat ada orang yang menyukai lukisannya dengan tulus. “Betul sekali. nanti dapat diskon. “Pertama. “Tidak terlalu susah kan menentukan harga karya sendiri? Butuh pembiasaan. dan ini yang paling penting. tapi tidak terasa seperti ilustrasi.” pria itu tertawa ringan. lukisan yang bagus adalah lukisan yang bisa membuat orang merenung. ilustratif. “Jujur. ini dia pelukisnya. Kamu perlu tahu. Datang jauhjauh dari Jakarta untuk menanyakan karyamu yang baru. Seolah mengantisipasi pertanyaan yang sudah lama ia siapkan jawabannya. Ketiga.” puji pria itu. Rapi. Tidak tahu harus bagaimana menanggapi itu semua. Orisinal. saya kepingin beli semuanya. Poyan?” tanyanya sembari menggosok-gosok mata. Dari pengamatan sekian detik. tapi makin lama . “tapi. dan tampak Banyu sudah siap dengan sepeda motor untuk mengantarkannya ke galeri. seolah meratap minta tolong. Wajah itu bersih dan tampan. menemui Pak Wayan. “Lukisan mana yang kira-kira Mas suka?” tanyanya sopan. “Saya nanti nyusul!” teriak Luhde berbarengan dengan suara deruan motor Banyu yang segera melesat menuju galeri dengan Keenan terbonceng di belakang. Saya yang beri tahu kalau kamu sudah kembali tinggal di sini. gaya melukis kamu itu fresh.” canda Keenan sambil terkekeh. Badannya tiba-tiba diguncang oleh Luhde. sebetulnya apa sih yang membuat Mas tertarik dengan lukisan saya?” Pria itu menghela napas. tangannya sudah ditarik oleh Luhde.” sambung pria itu lagi. Keenan bisa menyimpulkan ia pasti datang dari kota besar di luar Bali. Tanpa bisa mengurai apa gerangan yang terjadi. Hanya saja dalam bentuk lukisan. tulus. Pria itu menebar pandangannya. menyapu lukisan-lukisan Keenan yang terpajang mengitari tempat mereka berdiri. Kedua. *** Selembar cek bertuliskan 12 juta tergeletak di atas meja. “saya terkagum-kagum sejak tadi.” “Kalau beli banyak. Kalau boleh saya tanya. Dan bagi saya. Tokohtokohnya sama.tertidur di bale ketimbang melukis. Baru bangun tidur! Hahaha…” Pak Wayan malah menertawakannya keras-keras. Tema lukisan yang saya buat disesuaikan dengan ceritanya. Kalau bisa.” “Itu dia masalahnya. Tapi pastinya saya akan mengoleksi lebih banyak lukisan kamu. Tapi lukisan kamu bukan cuma membuat orang merenung. “Dengan sangat terpaksa. ya?” ======== Keenan mengangguk-anggukkan kepala bersemangat. cuma petualangannya saja yang beda-beda. sambil berjalan ke arah lukisan yang ia pilih. tak mampu menyembunyikan rasa senang dan bangga yang seketika menyeruak di hatinya. tema lukisan kamu unik. yang membeli lukisanmu pertama kali. Keenan membuka matanya. Masih sambil agak terhuyung. Ayo… bangun!” Dengan berat. jarang sekali ada lukisan yang punya ketiga unsur tadi sekaligus. Saya terinspirasi oleh seri petualangan anak-anak karya sahabat saya. Tubuhnya tegap dan terawat. Luar biasa.” Tergopoh-gopoh. Keenan bahkan belum sempat mengumpulkan nyawanya. dan bukan pelengkap sesuatu. “saya jadi nggak bisa milih.

Kening Kugy berkerut. Saya nggak tahu harus bilang apa.” cetus Kevin asal. Tampak Luhde keluar pelan-pelan sambil tersenyum malu. “Aduh. Tiba-tiba Kugy terduduk tegak. sambil mengomentari apa pun yang muncul di layar kaca lalu tertawa-tawa sendiri. Tapi tidak sekarang. jempolnya memencet tombol merah. sih?” Kugy mulai membongkari bantal-bantal sofa. malam tahun baru 2001… Sebagian besar keluarganya tengah berkumpul di depan teve. menggenggamnya sambil menundukkan kepala. Gy! Apaan sih. tauk!” omel Kevin. Ia tidak yakin apakah nomor itu masih berlaku. makan cemilan. “Luhde. Kalau Poyan nggak keberatan. Oke?” ujarnya tegas. nggak ada itu. Poyan. Keenan geleng-geleng kepala.” “Nggak mungkin! Pantatku sensitif. “Hp-ku bunyi. Bisakah ia berbicara? Sanggupkah ia…? Tidak. Rasanya ada sesuatu di sana. Keenan merasa tak punya pilihan selain mengangguk. kok. Rasanya tidak ada yang lebih menyenangkan selain selonjoran kaki di sofa. Sambil duduk di tepi pantai Jimbaran. dan kamu sudah seperti anakku sendiri. Pesan itu tidak dibalas. Ganteng. “kayaknya didudukin sama kamu. napasnya satu-satu!” Wajah Lude kian merah jambu. *** Lena membuka pintu kamarnya. “Jangan mau sama yang kayak kita-kita ini.” Dengan cepat. Saya bisa cari rezeki dari karyaku sendiri. ada desakan kuat untuk… ia memencet tombol hijau bergambar simbol telepon… connecting. Lima menit sebelum pergantian tahun. bener. Berjalan menghampiri mereka. benar itu si Keenan. Keenan melirik jam di ponselnya. mendapatkan suaminya masih terduduk di depan teve yang . Tidak banyak data nomor telepon yang tersimpan di ponselnya. malam tahun baru 2001… Akibat desakan semua orang. Kantongnya sakit asma. Namun matanya tak lepas mengamati deretan angka itu. “Nggak. “Poyan… terima kasih sekali buat semuanya. ia menimang-nimang benda kecil yang masih terasa asing di tangannya. Dalam hatinya. sini kamu. Kamu pelukis baru. Selain tidak ada undangan. Namun entah mengapa. Kalau memang saya benar-benar butuh bantuanmu. ia tertegun sendiri.” komentar Kevin pendek. ayo berdiri bentar. Jempolnya bergerak. mencari satu nama itu. ia sama sekali tidak sepakat dengan pamannya. Keenan akhirnya setuju membeli ponsel. “Saya masih nggak percaya. Keenan memejamkan mata. “Nih. “Eh. “Hp-ku di mana.” Kugy mendorong tubuh kakaknya.” Tiba-tiba Keenan mengambil tangan Pak Wayan. Jangan pikirkan dulu soal keuntungan galeri. Kugy pun mengirim pesan: Ini siapa? Satu jam berlalu. cari yang seperti itu. Hanya keluarga di Bali dan beberapa nama yang ia pindahkan dari buku alamatnya yang lama. saya akan bilang. “Kev. berlomba dengan suara ombak yang terdengar dari depan. sukses.” Pak Wayan tertawa kecil. ya?” “Bukan. ia pun malas keluar. panik. Kecil? Mendadak Keenan gelisah. Suara di belakangnya makin hingar-bingar. atau melakukan apa. Jakarta. nih! Nyodok-nyodok nggak jelas! Ganggu. Kugy termasuk yang berkumpul di depan teve. Disconnecting. saya ingin membagi setengah dari penjualan ini dengan galeri. Itu suara dari teve. “Kenapa ngintip? Naksir sama tamu tadi. Tapi Kugy tidak menyerah. Kok malah ngintip dari situ. Nanti kalau kamu cari jodoh. Keenan mengamati lekat satu kata itu berkedip dan berpendar di layarnya. masih muda… cinta seni lagi!” celetuk Pak Wayan sambil terbahak. Pasti kerasa kalo ada yang ganjal. kamu butuh uang itu untuk bekalmu.” Pak Wayan memanggil keponakannya yang sedari tadi hanya berdiri mengamati dari balik partisi. Dan begitu nama itu muncul di layar. Batinnya menyapa spontan: Apa kabar kamu. Sebagian yang beracara sedang asyik bermalam tahun baru di berbagai tempat. Ia terus mendorong tubuh Kevin dan mencari-cari di sela-sela sofa. Pak Wayan menggeleng. ya?” goda Keenan. Ini pertama kalinya saya lihat langsung ada orang yang beli lukisan saya. kan? Huuuh! So much for sentivity! Diet aja dulu biar pantatnya kecilan!” Kugy langsung mengecek hp-nya yang ditemukan persis di bawah Kevin. “Ng… enggak!” bantah Lude.nanti kamu makin pintar. ============ Ubud. Nomor yang tak ia kenal.

“Monyet. ========= Judul : Lembaran Baru Kugy PART 7: Lembaran Baru Kugy Bandung. Walaupun gua sebetulnya pingin banget bisa ngobrol dan dekat sama elu kayak dulu. Bersambung ke PART 7: Lembaran Baru Kugy. kan?” “Bantuin beresin buku sambil bayarin gua makan nanti malam. “Sebentar lagi. Adri kembali menatap teve dengan pandangan kosong. “Selamat datang di jebakan Batman!” Tak lama kemudian. Setiap sore. “kenapa?” “Nggak pa-pa. dibarengi senyum cerah yang langsung mengembang tanpa bisa ia tahan. “Spada! Yu-huu! Kulonuwun!” Terdengar teriakan manusia yang menganggu gendang telinga. keduanya sudah berjongkok sambil membereskan sisa barang Kugy yang masih berserakan di lantai. “Noni tahu lu ke sini. Tapi nanti gua bilang ke dia. Eko? Benar saja. Pria itu mendongak sejenak. “Ada yang perlu gua bantu. Dalam kesunyian. Hingga pada satu titik rasanya tidak lagi tertahankan. Keenan… di mana kamu sekarang. Setengah mati.. Jarak tempat kosnya kini lebih dekat ke kampus. Tapi ia memilih untuk tidak mempermasalahkan dan kembali ke kamar. Mother Alien!” “EKO?” Kugy tercengang seperti betulan melihat alien. Belum semua juga barang-barangnya tertata dengan rapi.. Lena mengintip layar teve sekilas. “Nggak. lu ikut ngejauhin gua.” Kugy terbahak keras. “Sini lu. Sepi ini. Acara tevenya bagus.” dumelnya. ia mulai menikmati kesendirian ini. Begitu pintu dibuka. “yang begini nih yang bikin orang nyesel. “Adri. “Kok—tahu gua di sini?” “Tanya sama anak-anaklah. dan mau nggak mau harus mempertimbangkan perasaan dia.” jawab Eko.” sahutnya sungguh-sungguh. gila!” Dengan gerakan cepat Eko merangkulkan tangannya ke leher Kugy dan mengacak-acak rambutnya. tapi yah. seperti yang ia lakukan sedari berjam-jam yang lalu.. Mereka berdua tertawa-tawa.” katanya sambil menguap. nggak. “Gua juga kangen sama elu. Kugy masih menyesuaikan diri dengan lingkungan dan suasana yang berbeda. oke?” jawabnya lugas. yuk. Ko?” Tiba-tiba Kugy bertanya. Nanti saya nyusul kalau sudah selesai.” jelas Kugy lirih.” jawab Eko ringan. “Yes?” tanya Eko lagi. . “Selama ini gua ngira. Sepeninggal istrinya. menimbang-nimbang apakah akan meneruskan kalimatnya atau tidak. Kenangan. lho. tampaklah Eko dengan cengiran lebarnya yang khas. mendapatkan istrinya sudah berkimono dengan muka mengantuk. Gy? Lu pasti masih beres-beres. Tidak yakin dengan arti ‘bagus’ yang dimaksud oleh suaminya.” Kugy menghela napas. sehingga Kugy makin leluasa untuk bolak-balik.” Eko langsung memonyongkan mulut. Jadi kepingin nengok. Adri berusaha menahan. “gua tadi tiba-tiba inget elu. Kugy segera meletakkan buku-bukunya dan bergegas menuju pintu. karena lu pacarnya Noni. Keenan. Januari 2001… Belum genap seminggu kepindahannya ke tempat kos baru.. Kamu duluan saja tidur.menyala. Dalam ketiadaan. pertanyaan. kamu belum mau tidur? Sudah jam dua pagi. Kangen gua. Dan. gua ngerti posisi lu yang serba sulit. Di dalam kepalanya ada program yang berjalan sendiri. Nak? Bertahun baru di mana? Apakah kamu kesepian? Kelaparan? Kedinginan? Dan ia hanya bisa menyapa dan menanyakan itu semua dalam hati. “Hai. Kugy menyicil beresberes sendirian. Pas dengan programnya yang ingin secepatcepatnya lulus. entah mengapa. Dan sebutir air mata pun bergulir di pipinya.. Mmm…” Kugy menghentikan kegiatannya sejenak. lamunan tentang satu orang.

nggak?” “Lu nggak bawa Fuad?” “Ada. gua mulai merasa gua yang sial?” Ubud. I Wayan Keenan. membaur bersama mereka tanpa merasa risih dan canggung. Dengan cepat. senyumannya sirna. monyong! Udah gua bantuin lu beres-beres. dan lu sahabat baik gua. Luhde mulai menasihati. gua nggak mau mencampuri urusan kalian berdua. nih. Dan walaupun dia pacar gua. Gua nggak tahu sampai berapa lama. tanpa gua harus keseret-seret konflik lu sama Noni. Lapar. ============== Namun. Februari 2001… Sebuah halaman baru resmi terbuka untuknya.” Kugy terdiam. gua minta tolong lu buat dorongin dikit. Makan. dan apa yang barusan lu bilang. Jadi. “Lu aja sama keluarga melankolis lu yang beresin. ia tak pernah luput membantu keluarga Pak Wayan. Gua bisa temenan sama lu. “Boleh. Ajarin. dari mulai upacara ngagah hingga ngaben. Jika tak sedang pergi ke mana-mana. Gua percaya kalian akan punya jalan sendiri untuk menyelesaikan masalah kalian. ya!” Luhde berdehem.” “You know what. ngunjungin lu sekali-sekali. “Makasih. ada recehan buat angkot. gua nggak pernah bisa membayangkan jadi melankolis di depan lu. Ko. Ko…” Kugy tergelak-gelak di lantai. paling gua titip Fuad dulu di depan. dia langsung mogok gitu.” ucapnya setengah berbisik. “Cang bojok…” . Karena setidaknya gua punya jarak yang lumayan netral untuk bisa dekat sama lu lagi. “seumur hidup. seorang anak yang selalu ia dambakan dan bisa ia banggakan. Apa pun yang terjadi di antara kalian berdua. jujur. dong.” Dengan gayanya yang dewasa. Pak Wayanlah yang paling bahagia dengan kehadiran anggota keluarga baru ini. ternyata bisa memahat dengan halus. Pak Wayanlah yang merasa paling tersanjung. Gy?” Eko menatapnya lurus-lurus. sesekali ikut nonton sabung ayam. nggak akan mengubah arti lu dan Noni buat gua.” Eko terkekeh. Jika tak sibuk melukis. dengan fasih Keenan memakai udeng dan sarung Bali ke mana-mana. Keenan hanya menghabiskan waktunya di bale. Ia lebih banyak berteman dengan pemuda-pemuda asli. “Sekarang ini Noni masih berproses menyembuhkan sakit hatinya. ia mempelajari ukiran-ukiran dasar Bali seperti patra kuta mesir.” Eko tersenyum kecil. Bahkan kemampuannya melebihi senimanseniman muda setempat yang sering berlatih di studio keluarga Pak Wayan. Tapi begitu nyampe di depan kos lu. yang tak hanya berbakat di seni lukis. disuruh traktir lu makan.” Alhasil. kamar gua kan belum beres?” protes Kugy. “Gua seneng dan lega lu akhirnya pindah kos. Sepanjang hari kegiatannya tak pernah lepas dari berkesenian dan berupacara. atau sekadar mengobrol dengan Luhde yang selalu setia menemaninya. taluh kakul. yuk!” Eko bangkit berdiri. gua bisa tetap dekat dengan kalian berdua. tapi… kedatangan lu hari ini. Yang penting buat gua sekarang. Keenan yang terbengong-bengong mendengar nama barunya itu. nanti pas mau pulang. dan mimpi buruk gua sudah akan dimulai sebentar lagi. dari semua orang. Keenan menjalankan hidup dengan ritme baru. Kini.“Tapi. Ketika lukisan Keenan dipuji-puji orang. dan lu udah berhasil gua jebak dua kali! Ini pertanda buruk buat hidup lu. “Tahun ini baru jalan sepuluh hari. Kehilangan kata-kata. Gua juga kehilangan banget sama lu. Tanpa ragu dan permisi dulu. dan gua temenan sama lu dari kita ingusan.” tantang Keenan. Ya?” Kugy memandang Eko geram. Noni pacar gua. “Lho. layaknya anggota keluarga yang lain. Namun dalam hitungan detik. sesuai dengan apa yang selama ini kita semua jalankan. Melukis. Keenan. “Yup. gua kehilangan banget sama kalian berdua. adalah hal terindah dalam hidup gua sepanjang tahun ini. “Keenan harus mulai belajar bahasa Bali. ia selalu mengenalkan Keenan dengan berkata: “Niki putran titiange ane lanang. “Kok. “Sialan… tahun ini kan baru jalan sepuluh hari! Terang aja gua jadi yang paling indah. “Eh. Keenan sudah dianggap putranya sendiri. lagi! Keparaaat!” Tawa mereka berdua pecah seketika. dan pungelan. “Coba ikuti saya.

” “Kapan-kapan. Keenan pun terpaku. Selama kita cuma diam dan nggak berbuat apa-apa.“Cang bojok…” “… care bojog. Keenan telah bercerita banyak dari lukisannya. Begitu juga dengan Luhde. dari diamnya. Mungkin memang tak perlu ia mengetahui. lalu Keenan buatkan lukisan. Keenan tidak menjawab. Saya bukan bermaksud lancang. boleh nggak aku boleh dikenalkan dengan dia?” Kali ini Keenan mendongak. bisa begini. Mungkin nggak kamu stres tentang sesuatu.” Dengan patuh dan serius. “Oooh… iya. ya?” “Iya. deh. selamanya dia tetap jadi hantu.” “Pintar. Jakarta. siapa sih yang menulis buku itu?” tanyanya sehati-hati mungkin.” komentar Luhde lagi. Nanti seperti Keenan dan temannya. Keenan gantian manggut-manggut. lalu terbahak-bahak sendiri. saya perhatikan. bisa jadi karena faktor stres. semua orang bisa bikin macam-macam.” jawab Keenan pendek.” “Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir.” “Dia sahabat saya waktu kuliah. mengadu matanya langsung dengan Luhde. tanpa harus banyak usaha. “Untuk soal yang satu itu. “tapi… kalau boleh tahu. Keenan mengikuti.” Tawa Luhde kontan berhenti. Namun nada pahit yang terlontar dari kalimat terakhir Keenan tadi membuat ia urung mengungkapkannya. Kegiatan kamu juga nggak banyak berubah. ya?” “Dulu sih iya. sih? Padahal kamu selalu dibawakan makan dari rumah. Hanya memahami. Lena membaca lagi lembaran hasil laboratorium yang baru saja dianalisis dokter beberapa menit yang lalu. Saya sendiri sering terpesona dengan kata-kata kamu. “Maksud kamu?” “Tadi dokter bilang. Kan katanya mau jadi penulis terkenal. Cuma saya yang tidak seperti mereka. “Artinya apa?” tanya Keenan. “Kok. sih. “Maaf. Tapi.” puji Keenan tulus.” ucap Luhde cepat.” Luhde manggut-manggut sambil menahan senyum.” Keenan terkekeh. Jadi.” Lena geleng-geleng kepala sendiri. “Iya. Saya menulis cerita.” “Kalian pasti sangat dekat. nulis aja. yang sepertinya pun tidak berencana untuk melontarkan kalimat. terus berceloteh. Memang. “Udah deh. “Di keluargaku. Beli Banyu pandai memahat. “Artinya: saya jelek seperti monyet!” serunya. Lebih dari yang Keenan sadari. dari kesehariannya.” Keenan tersentak dengan ucapan Luhde yang sama sekali tidak ia duga. Karena tanpa perlu berkata-kata. aku harus bisa melukis kata-kata seindah lukisan. Beli Agung pandai melukis. dan membuat kata-kata menari gemulai seperti tarian. Aku nggak ngerti. “Makanya. mengukir kata-kata secantik ukiran. menurut Poyan. “Memangnya ada sesuatu yang aku nggak tahu?” Adri menyalakan mesin mobil. saya nggak bisa janji. “Dan… kamu sering mengingatkan saya pada seseorang. yang membuat suaminya diolehi-olehi sederet resep obat dan beraneka petuah ini-itu.” Ucapan Luhde seperti membekukan udara. Keenan nggak bisa melukis kalau buku itu nggak ada di dekat-dekat Keenan. Nggak akan pernah jadi kenyataan. semua kakak kandung saya penari hebat. “Cang bojok care bojog. kamu tuh nggak pantes jahilin orang.” Luhde tersenyum. Tawa Luhde menyembur. ya. Kamu punya bakat itu. pertanyaan yang sudah ia tumpuk dan simpan sejak lama. “Sahabat kamu itu perempuan.” “Saya setuju dengan Poyan.” Masih banyak pertanyaan yang terpendam dalam benak Luhde. Luhde yang tidak menyadari perubahan itu. “Soalnya. dan . Februari 2001… Sekeluarnya dari ruang itu.” “Kenapa?” “Karena saya nggak yakin akan ketemu dia lagi. “Orangnya pasti pintar dan jiwanya halus. aku bisa melukis sekaligus mengukir kata-kata.

Luhde berubah menjadi gadis remaja yang pemalu. “Lho. Luhde mengangkat baki berisi cangkir-cangkir kopi itu dan berlalu dari sana. Luhde membalik badan. Dan ia nyaris menumpahkan termos berisi air panas yang sedang ia pegang.” Luhde tambah kuat menggelengkan kepala. Pahatan itu berbentuk hati yang . ya?” tembak Keenan langsung. “Ah. yang memunculkan serakan bintang tak terhingga banyaknya.” tuturnya dengan nada sesal. “Semua lukisan saya dibuat dengan sepenuh hati. Kalau memang tidak mungkin. oleh kecantikan Luhde yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Atau kalau kamu mau dibuatkan khusus. kok. “Mau delapan belas tahun. Begitu saya melihatnya. Ubud.” komentar suaminya sambil melengos. menikmati jernih dan luasnya angkasa. “Saya ingin. Dan Luhde pun mengutas senyum. ya? Udah bukan anak kecil lagi. “Saya cuma ingin menyimpannya. satu karya Keenan yang dibuat dengan sepenuh hati. Cepat. “Enggak. “Enggak… nggak mau!” Tangannya sekarang sudah menutup muka. Menatap langit malam yang jernih. saya juga bersedia melukis untuk kamu. Jernih dan jelas.” katanya pelan. memikirkan orang yang sama. Yang satu itu… indah sekali. Maaf ya kalau saya sering lancang sama Keenan. juga tidak apa-apa. “Kamu mau kado apa? Lipstik? Parfum?” Luhde tersipu. “Oke. memegang kedua bahunya. “Keenan kok tahu? Diberi tahu siapa?” ========= “Banyu. Keenan duduk sendirian dengan posisi menengadah. Berpikir. yuk. Satu hal tidak pernah lepas dari pikirannya. maunya apa? Buku?” Luhde terdiam sejenak. Atau mau dibeliin baju? Nanti kita cari ke Kuta. karena tiba-tiba Keenan muncul dari belakang.kamu belum cerita ke aku?” tanya Lena lagi. Kalau kamu menginginkan salah satu di antaranya.” Luhde menggeleng lembut. rasanya tak sanggup ia penuhi. Jadi. Ia bisa memilih tidak terbuka pada dokter.” Sepanjang perjalanan. tapi cuma bisa dinikmati sendiri. Kegiatan rutinnya setiap hari. seseorang masih berada di luar kamarnya. Tapi ada satu yang berbeda.” godanya. tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Wajahnya sekonyong-konyong cerah. dalam kompartemen pikirannya. Satu dilema besar menyerang hatinya. “Nggak ada apa-apa. oke. Keenan tertegun di tempat. ========= Ubud. Tidak ada maksud lain. Ardi menyadari sesuatu. Keenan menelan ludah. Dan kedua. menggerogotinya dari dalam secara pelan-pelan. Pelan-pelan. saat semua orang sudah terlelap. “Hei.” ucap Luhde. minggu depan kamu ulang tahun. Pertama. “Saya sudah tahu. “Semua lukisan itu dibuat dengan cinta Keenan pada seni. kenapa? Kan biasanya perempuan seusia kamu mulai kepingin dandan. Sesuatu yang ia buat setahun lebih yang lalu.” ujarnya sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi. nih. Maret 2001… Luhde sedang menyeduhkan kopi sore bagi seluruh keluarga. Ia ingin mengenang malam-malam seperti ini. Dan dia menjadi indah karena Keenan membuatnya dengan cinta yang lebih dalam dari sekadar cinta Keenan pada seni. ia menurunkan kedua tangannya dari pipi. Sesuatu yang tak pernah ia sempat berikan.” Keenan pun tersenyum. Maret 2001… Malam menjelang petang. Dilema yang sebelumnya tak pernah ada. oleh kalimat yang meski ia pahami betul maksudnya. Keenan. Saya nggak mau yang seperti itu. kamu boleh pilih yang mana aja. Dalam sekejap. Di tangannya tergenggam sebuah pahatan kayu sebesar genggaman tangan. saya sampai menitikkan air mata. saat ia berbaring di atap kamarnya di Bandung. stres apa? Sekarang semua penyakit dibilangnya gara-gara stres.” Kali ini Keenan kehilangan kemampuan untuk merespons. Keenan terenyak. Satu senyum yang mengubah wajah lucunya menjadi cantik dan… dewasa. Sesuatu yang ia bersihkan hampir setiap hari. bahkan istrinya.

Diamati dan dirabanya lagi relief itu. makanya gua ngebut gila-gilaan. “Kabur apaan. Gy… waaah…” Eko geleng-geleng kepala.” bisiknya. Begitu rapi dan detail. yang seketika melantunkan bebunyian merdu. “Selamat ulang tahun…” Bandung. Namun ia masih belum ingin beranjak. “Terus… semester depan lu udah bisa skripsi?” Kugy mengangguk sambil tersenyum-senyum kecil. leher Keenan sampai sakit selama satu minggu. tersembunyilah dua inisial yang kalau diamati dengan saksama baru terbaca: K & K. Ekolah satu-satunya sahabat terdekat baginya sekarang. Bercampur dengan satu lagu yang dulu ia putar hampir tiap malam saat memahat sendirian di sini. suka rajin nggak kira-kira. Nggak sopan! Dan ini nggak elu banget!” Kugy memperlebar cengirannya.dipenuhi relief abstrak menyerupai gelombang air di seluruh permukannya. lalu berkata lirih. Ia tersenyum sendirian mengingatnya. Ketika membuatnya. Menggoyangkan kentongankentongan bambu yang tergantung di tepi atap. Keenan meletakkan pahatan kayu tadi di sebelah Luhde. Gy! Mana pernah lu segila ini sama sekolah? Napsu banget sih pingin cepet beres! Ini nggak normal. Baru sekali itu Keenan merasakan perihnya perpisahan yang dilakukan sendirian. sudah saatnya ia melepaskan bayangan itu. Keenan tahu kamar itu tidak dikunci. perlahan menggeser jernih langit malam dan bintang-bintang. sekalipun Kugy adalah bayangan terindah yang pernah hidup dalam hatinya. Matanya mendelik penuh arti. hanya untuk didengar dirinya sendiri. Mei 2001… Eko kembali janjian dengan Kugy di Pemadam Kelaparan. Keenan bergidik kedinginan saat angin itu mengembusi kulitnya. *** Hari hampir pagi. tauuuk!” omel Eko panjang lebar. selama ini kita temenan sejak SMP masih belum cukup untuk lu memahami gua luar dalam. Kokok ayam sudah terdengar dari berbagai jurusan. “Wah. terdengar bunyi angin yang bertiup bagai seruling. Meresapi perih yang merasuki seluruh sel tubuh. Keenan mulai bersenandung: “And my bitter pill to swallow is the silence that I keep/ That poisons me. Apa yang ia rencanakan membuat Eko tercengang-cengang. Justru gua pingin cepat-cepat keluar. lu kalo udah terobsesi sama sesuatu memang kayak orang kesurupan jin Prambanan. Dan ia pun tidak berniat membangunkan si empunya kamar. tubuhnya terbungkus selimut sampai leher. Makan siang bersama. Keenan teringat kata-kata Luhde.” Namun sesuatu tersentil di dalam hatinya oleh ucapan Eko barusan. Siang itu. maksudnya ‘nggak elu banget’ itu. Namun ia pun tahu. Mendadak. Ia teringat bebunyian itu. Di antara motif gelombang air tadi. dan rambutnya yang panjang tergerai bebas di atas bantal. Tampak Luhde tertidur pulas dengan wajah damai. Semburat matahari mulai terlihat. “Kecil… mungkin ini memang bukan untuk kamu.” Eko mengeluarkan ‘ooh’ panjang. pada wujud yang tak lebih dari bayangan. Sebuah ritme baru yang benar-benar menjadi oase bagi Kugy setelah sekian lama. nih?” Kugy mengerutkan kening. sih. Tapi… ini tuh. “Jadi… ceritanya ada yang mau kabur dari sesuatu. Melangkah sepelan mungkin. “Berarti. Kugy terbahak. “ini kurang ajar namanya. ia telah memelihara sebuah cinta pada kenangan. apa?” “Gua tahu. Menyisakan suara bambu dan suara-suara dalam kepalanya. Keenan memejamkan mata. Dan selama ini. Kugy membahas rencana pengambilan SKS-nya dua semester ke depan. I can’t swim free/ The river is too deep/ I am no worse in love with your ghost/ In love with your ghost…” Nada terakhirnya menggantung di udara. Kenangan hanyalah hantu di sudut pikir. “Coba tolong diperjelas. ia membuka pintu kayu itu. Gua napsu pingin cepet lulus bukan karena gua cinta kuliah. “Bangké tokek! Jadi lu ngajuin seminar dari semester ini?” Mata Eko seperti mau lompat keluar dari wadahnya. Hati-hati. seperti yang biasa mereka lakukan setidaknya dua kali seminggu belakangan ini. . Lagu yang selalu mengingatkannya pada orang yang sama. Keenan mengecup pelan pahatannya. Pelan. Dengan gerakan serba lambat karena tak ingin menimbulkan suara. bidang akademis formal.

Nggak ada bekas! Gila. Jarang sekali ia keduluan oleh pembeli lain. Kok bisa gitu.” Lama Kugy menatap Eko. Namun.Air muka Eko berubah serius. “Tapi gua masih berminat kok jadi temen lu lamaan dikit. “I love you. Ia bahkan seolah-olah membaca siklus kreativitas Keenan. “Marah-marah kayak gitu pertanda sayang. too. Keenan sendiri merasa lucu ketika tahu lukisannya menjadi perebutan dan perbincangan. Kita juga tidak pernah bisa mengendalikan pendapat kurator. gua cuma mau tanya satu hal: ada apa dengan lu sejak setahun yang lalu? Lu berubah drastis. sih? Gua nggak ngerti…” tahu-tahu Eko mendongak menatap Kugy. ya?” Hati Kugy seperti kena setrum di gardu listrik begitu mendengar nama itu disebut. ya.” kata Eko tiba-tiba.” gumam Kugy pendek. Sebisa mungkin. ya. Gy. “Sori. Gua tahu lu bukan tipe orang yang dikit-dikit curhat.” Kugy tertawa. Pembeli lukisannya yang pertama. Sama seperti jodoh. Gua masih belum bisa cerita. kekhawatiran kamu ada benarnya. “Gy. Tapi. menarik diri. Di hadapannya terbuka buku tabungan yang baru dibukakan oleh Pak Wayan. tauk. ia berusaha tampak tenang dan tak terpengaruh. Kering. Mereka itu musiman seperti buah. Tapi tidak selalu itu berarti kamu harus mencari objek atau sumber inspirasi baru. please. Beberapa kolektor yang pernah membeli karyanya dengan rajin menanyakan lukisannya yang terbaru. Dan tiba-tiba Keenan tergerak untuk bertanya. ia merasa lumpuh. “Gua kangen Keenan. nggak bisa tanya keluarganya yang di Jakarta?” “Keluarganya aja nggak tahu dia di mana. dan peminat baru yang tertarik pada karyanya juga terus bertambah. Jadi. “Poyan… apa jadinya kalau saya tahu-tahu mentok? Jenuh? Atau… gimana kalau orang-orang itu yang bosan dengan lukisan saya?” Pak Wayan terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu.” “Terserah. apa?” “Kangen.” sahut Eko seraya mengangkat bahu. “Dia ke mana. lagi-lagi.” “Diem!” Ubud. tidak lagi berkarya. Ko.” jawab Pak Wayan sambil tersenyum lebar.” “Sayang-sayang… nyebelin lu. Mungkin karena sayang. gua juga nggak akan maksa. ia bertahan di galeri Pak Wayan di Ubud. Kadangkadang. “tapi. deh. Keduanya terdiam. “Itu anak kayak hilang diculik UFO. tapi timbul gelombang besar dalam hatinya. “tapi gua juga nggak keberatan dengan kondisi sekarang. Di tenggorokannya sudah membuncah aneka cerita yang siap muntah keluar. Namanya mulai beredar di kalangan galeri dan kolektor. “elu berdua tuh emang orang aneh! Yang satu udah minggat. ya syukur. Oktober 2001… Tidak sampai setahun. atau mungkin karena pada dasarnya gua hobi mengoleksi spesies langka dan jelek kayak elu. Lukisan Keenan mulai ramai dibicarakan orang. “Kita memang tidak pernah bisa menduga selera kolektor.” “Oh. selama ini gua lebih banyak nunggu bola. Sepertinya ia terobsesi untuk mengumpulkan seri lengkap dari lukisan serial Keenan yang sekarang mulai digunjingkan di mana-mana. Kalo enggak. “Lu nggak kangen masa-masa geng midnight kita jaman dulu. Kugy pun menggeleng sambil tersenyum tipis.” jawab Kugy pelan. Nan. Lebih lega. Sebenarnya diri kita sendirilah yang paling susah diduga. dan kita nggak pernah tahu kenapa.” sahut Eko sambil manyun. rasanya lebih enak malah.” =========== Eko menghela napas panjang. Meski air mukanya tak berubah. yang satu niat kabur! Kenapa sih lu pada?” Kugy tak kuat menahan senyum melihat sewotnya Eko. Namun Keenan belum berminat untuk masuk ke pasaran galeri Jakarta. “Lu kan sepupunya. Kalo lu mau cerita. Kalau punya . “Akan ada satu saat kamu akan bertanya: pergi ke mana semua inspirasiku? Tiba-tiba kamu merasa ditinggal pergi. Hanya bisa diam. Namun tidak yang segesit kolektor yang satu itu. tanpa bisa bersuara. Setelah mengalami masa-masa tersulitnya di Bandung. Ia menarik kursi lalu duduk di hadapan Keenan. ia tak pernah bermimpi akan punya uang sebanyak itu. gua nggak pernah mau tanya macem-macem sama lu karena gua menghargai privacy lu.

Keenan tertawa kecil. kali ini saya benar-benar berharap surat ini betulan sampai ke laut. suara ombak adalah lagu alam yang paling merdu. “Terima kasih udah mau dititipin Luhde. “Maaf. ke dalam sebentar. Luhde menghadiri sebuah pesta. Supaya Jenderal Pilik bukan cuma hidup di buku tulis itu.” “No problem.masalah. Mengkhayalkan bentangan laut luas dan suara ombak. Kugy lalu mendekapkan surat itu di dadanya. Sedang apa kamu sekarang. Nggak pa-pa. Titip salam. ya. suara ombak adalah lagu alam yang paling merdu. Untuk pertama kalinya. Memejamkan mata. tapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya. Awas kalo nggak disampein. Setelah sekian lama merenung. Saya kehilangan sekali. Kenapa begitu? Karena saya kepingin jujur: saya kangen sekali. Dan. Mengerti kamu?” Karena tidak yakin. dan banyak kejutan. Khusus untuk malam ini. Cerita-cerita itu menjadi sumber inspirasi kamu. Sanur. Kamu dicari Pak Wayan. Baru siang nanti ia bisa menghanyutkannya di kali dekat rumah.” sahut pria itu sambil melempar senyum. ya. “Nan. =========== Jakarta. Sekarang kamu sedang menjalin cinta dengan Jenderal Pilik. Halaman belakang yang langsung menghadap pantai memungkinkannya untuk sejenak menikmati keluasan ini tanpa perlu diusik kerumunan orang. Napas Keenan menghela panjang. betapa dalam makna yang tersembunyi dari percakapan sore itu. malam ini dia dekat sekali dengan laut. Jodohmu. Keenan kembali diingatkan. “Begini. Namun di hadapannya terletak secarik kertas dan pulpen. Namun ia tak menduga. Dua kali tahun baru ia lewatkan tanpa resolusi apa-apa.” ajak pria itu. Diikuti dengan suara perempuan yang juga memanggil namanya. Seru kok ngobrol sama Luhde. memikirkan sosok satu itu. Berbeda dengan kebiasaannya yang gemar melakukan ritual menulis target dan khayalan di atas kertas lalu menyembunyikannya di satu tempat untuk dibaca lagi pada malam tahun baru berikutnya. Persis seperti Santai yang gemar menyembunyikan tulang di satu tempat. Pak Wayan berpikir sejenak. Pintar. ayo. meski tanpa perahu… aku sangat kehilangan kamu. Dan Kugy kini merasa mendengar ombak bersahutan. malam tahun baru 2002… Di tepi pantai. “Tidak apa-apa. melainkan di hati kamu. Ia begitu bersinar dan ceria malam ini. kan? Tapi rasa cinta kamu yang harus diperbarui. Kugy memilih tetap terjaga di teras depan. Hanya saja bukan untuk resolusi. Cinta bisa tumbuh sendiri. Keenan melamun menatap ombak laut. malam tahun baru 2002… Saat semua orang rumahnya sudah tertidur. Mas. dari tadi saya ditemani ngobrol. . Semoga nggak kapok. cinta itu harus dipelihara. Saya sempat keluar sebentar dan ninggalin kamu. Selama Jenderal Pilik belum benar-benar hidup dan mendarah daging bersama kamu. tidak berarti harus cari pacar baru. Ia pernah bilang pada Keenan. Di mana pun kamu… semoga pesan ini sampai. yang sedari tadi tertidur santai di kakinya. Kamu pasti senang sekali kalau bisa di sini… dekat dengan laut… kamu pernah bilang. Kugy pun menyambar pulpen dan mulai menulis: Neptunus. Mengerti?” Kali ini Keenan mengangguk. Sementara Luhde langsung beringsut ke sisi Keenan dan merangkul lengannya.” Luhde melirik pria di sebelahnya. ia sedang berada di tengah-tengah pesta tahun baru di rumah milik teman baik Pak Wayan. Kugy melipat kertas itu menjadi perahu. Keenan memilih untuk menggeleng. kan?” kata Keenan seraya mengelus pelan punggung tangan Luhde. Kecil? “Keenan!” Suara seorang pria memanggilnya. untuk satu hari ia kembali gali dan nikmati. Saya mogok jadi agen. Menyadari bahwa akan selalu ada saat di mana ia merasa harus berhenti. saya merasa. selama itu kamu harus selalu hati-hati. Bertemankan obat nyamuk bakar dan Santai. apalagi kalau tidak dipelihara. ia harus memikirkan cara lain. Namun yang paling membahagiakannya adalah semata-mata ia bisa melewatkan pengalaman pertama ini dengan Keenan. anjing basset cokelatnya.

” “Koleksi kaos panitia aja lu bilang prestasi! Kev… Kev…” celetuk Kugy. gih. bilangnya karena jadi panitia Fun Bikelah… lomba caturlah… pameran motor… kejuaraan bulutangkis… fashion show… kok. “Jadi panitia.” Karel mengangkat alis.” kata Kugy sambil tersenyum sekilas.” cetus adik bungsunya. Ya terang aja dia cepet kuliahnya. Ada temanku yang sedang berencana bikin perusahaan advertising sendiri. udah pensiun. Gy?” tanya Karel. adik lakilakinya. Tapi kurang tinggi. Nggak ada kegiatan lain. sisa tiupan terompet kertas masih terdengar.” Karin menambahkan sambil terkekeh. lu bikin kaosnya.” komentar ayahnya sambil lalu. penuh prestasi.” ralat Kugy sebal. Siapa tahu kamu bisa . “Tukang dongeng!” Kevin menepukkan tangan. dong!” “Kerja apa?” Ibunya bertanya. Kev. “Kevin – Si Panitia Sejuta Event. ya. Setiap kali datang ke Bali. Dari kejauhan. seperti refleks putri malu yang langsung menguncup jika tersenggol. gue kan gaul. ============= Jakarta. “emangnya enak cepet kerja? Kerja tuh capek. “Oke. pria itu selalu mampir ke galeri.” Kevin membela diri. Namun dalam hatinya. Luhde langsung menunduk tersipu. Dialah pembeli lukisan Keenan yang pertama. “Heh! Yang penting hasil akhir!” balas Kevin. “Kamu berminat kerja di bidang apa. “tukang…” “Tukang ban. “Tumben Kugy mikirin duit. tauk. tuh?” protes Kevin. “Terus. entar hasilnya kayak Karin.” “Lu bukannya mau jadi… apa dulu. Kembali mengingatkannya bahwa tahun baru telah dimulai. Menghadap ke depan. kalo udah tua. tapi kalau bisa bukan wartawan. siapa tahu dia butuh copy writer. kastanya segitu terus.” “Iya. tuh? Tukang…” Kevin berusaha mengingat-ingat. Kamu tuh kok jadi panitia terus toh? Bentar-bentar minta izin nggak kuliah. “Hmm… yang pasti harus ada nulis-nulisnya. “Gy… Gy…” Kevin gantian geleng-geleng. “Jadi.” “Elu yang obesitas!” Karin mendelik ke arah Kevin. Panitiaaa… terus!” Kugy terpingkal-pingkal. “Nah. Sambil berjalan. Januari 2002… Kugy telah lulus seminar dengan nilai A. Keriuhan dan lemparan celetukan menjadi ciri khas setiap kali “The K Family” berkumpul. “Entar aja. Gy?” tanya kakak perempuannya. “Yup!” “Keviiin… kok lu lelet. Karin. Kepalanya pun kembali berputar. mana ada duitnya.Hampir otomatis. aku akan bantu cariin. Keshia. pria itu bukan orang sembarangan. “Gue bukannya gemuk. Kalah sama Kugy yang S1. Ada rasa getir di mulutnya saat kalimat itu terucap. ia senang bukan main. Pada Minggu siang itu. badannya tinggal tulang sama dosa doang. dan kini ia dan Keenan tak ubahnya dua orang sahabat. Kalo dikerjain sekarang. Keenan menyempatkan diri untuk menoleh ke arah laut untuk terakhir kalinya. Gy?” tanya Karel lagi. Ia tahu. “Lu lihat dong.” timpal Karin lagi sambil menjitak kepala Kevin.” cetus Keshia lagi. kakakku sayang. Mereka bertiga lalu kembali ke rumah. Kugy kan nerd. sambil cekikikan. “Sekarang aku udah realistis. siiih? D3 tapi udah mau empat tahun dan masih belum menunjukkan gejala kelulusan. pria itu bahkan memilih bertahun baru bersama mereka di Bali. “Kerja. semester depan kamu tinggal skripsi. nggak ada habisnya.” ujarnya. “Itu dia!” “Juru dongeng. Dan malam ini. karena aku nggak terlalu bakat di jurnalistik. Enakan juga kuliah. abangnya yang paling besar. “Lu tuh yang aneh! Nggak asik jadi manusia! Baru kuliah tiga tahun udah mau skripsi! Apaan. Nanti aku tanyakan. Pa. Nanti acara apapun lu cukup pakai satu kaos itu aja. Tuh. “Itu namanya nggak menikmati hidup…” “Memangnya sesudah lulus nanti. menyempatkan waktu untuk berjalan-jalan dan ngobrol bersama Keenan dan keluarganya. Dan ia merayakannya dengan pulang ke Jakarta setelah berbulan-bulan tidak pernah pulang. seluruh anggota keluarganya komplet berkumpul di ruang teve. kamu mau ngapain. Lembaran baru telah dibuka.

sekarang udah ngomong nggak usah digaji. Saya mau menulis cerita anak-anak. berlabuh. Lebih baik. ya?” “Iya. Gy! Mana bisa kaya?” komentar Kevin sambil tertawa-tawa. De. Poyan bisa merasakan perubahan di antara kalian…” Kening Luhde berkerut tanda protes. Meskipun sudah dibelikan satu set komputer. Ia tahu kisah yang dimaksud pamannya. Jatuh sedikit-sedikit.” Pak Wayan dengan lugas berkata. Noni mengajar les privat untuk anak-anak SMP. Tangan mungil itu tampak asyik mencorat-coret di atas noteblock tebal yang selalu dibawanya ke manamana. Luhde tetap lebih suka menuliskan cerita dengan tangan.” Wajah Luhde seketika bersemburat merah.” Pak Wayan tertegun. Seminggu sekali ia pergi ke rumah salah satu murid lesnya untuk mengajar. Hatimu sudah ingin pergi ke satu tempat. Poyan. Namun senyum samar di wajahnya itu terlihat getir.magang dulu. seratus ribu aja sekali. Ubud. sekarang lu udah punya rumah sendiri kaliii…” Karin tertawa lebih keras lagi. Noni menunggu di teras depan. Perlahan. menuju hari pertamanya bekerja.” Luhde langsung meletakkan pulpennya. Belajar dari pengalaman pamanmu sendiri…” ujar Pak Wayan lembut. Yang penting kamu selesaikan skripsi kamu dulu semester ini. Menyadari bayang-bayang apa yang dimaksud oleh pamannya. Dasar lu mental relawan. “Non—” . “De. sambil nunggu wisuda. =========== “Hati-hati. Apapun… di mana pun itu… yang penting ia bisa keluar dan membuka halaman baru.” kata Karel. seraya duduk depan Luhde. Tanpa bayang-bayang siapapun. menuju kelulusannya. Ditepuknya bahu Luhde pelan.” kata Luhde. Poyan yang paling dekat kalian berdua. Mei 2002… Eko terlambat datang lagi. sedang nulis cerita apa kamu?” tanya Pak Wayan lembut. Kedua orang itu lantas duduk berhadapan. “Kamu masih serius ingin jadi penulis. Tapi. Jika Pak Wayan sudah mulai bicara dalam bahasa Bali padanya. “Baru semenit yang lalu ngaku-ngaku realistis. kamu sudah mulai dewasa. Dengan wajah memberengut dan tangan melipat di dada. “Lagak lu… kayak panitia ada uangnya aja! Kalo dari kepanitiaan lu yang seabrek itu ada duitnya. Pelan-pelan. keseriusan dalam nadanya. “Siapa—?” “… kamu dan Keenan. perjalanan hati itu bukannya tanpa risiko. “Poyan mengerti. Menyadari apa yang selama ini telah ia usahakan dan upayakan dengan sepenuh hati. “Tidak mudah menjadi bayang-bayang orang lain. Melihat pemandangan itu. dan menetap. Matanya pun terasa panas. seolah-olah ia tengah mencurahkan seluruh hidup dan jiwanya ke dalam kertas. “Maksud Poyan apa?” “Dari semua orang di rumah ini. Refleks yang selalu terjadi ketika ia malu atau risih. Setengah tahun terakhir ini. Hanya matanya saja yang mengerjap gugup. Eko sudah langsung membaca nasib apa yang akan menimpanya. nanti Keenan yang buatkan gambarnya. Dipandanginya lagi Luhde dengan matanya yang berbinar penuh semangat. menutup bukunya. “Cerita anak-anak. Terakhir. jangan sekaligus. Poyan. Beberapa tasnya yang berisi kertas-kertas dan buku-buku sudah terparkir di dekat kaki kursi. Luhde mematung lama di tempatnya. Maret 2002… Pak Wayan memandangi keponakan perempuannya yang tengah tekun menulis di bale.” lanjut Pak Wayan lagi. “Mau! Mau! Nggak digaji dulu juga nggak apa-apa!” sahut Kugy bersemangat. matanya berlabuh pada buku tulisnya sendiri. Namun pikiran Kugy sudah terbang jauh. Luhde tak bersuara lagi. tunggu sampai hatinya sembuh dan memutuskan dalam keadaan jernih. berarti pamannya itu sedang ingin membicarakan sesuatu yang serius. dan tangannya terus menulis. lalu beranjak pergi dari sana. Merenungi sekian banyak hal yang otomatis berseliweran di dalam kepalanya jika hal satu itu disentuh. Padahal Noni sudah harus berangkat dari tempat kosnya sejak sepuluh menit yang lalu. Bandung. Luhde mengangguk. “De… Poyan ka ngomong kejep.

dong. juga sambil berjoget kecil. “Aman terkendali?” tanya Eko. “Sebetulnya… ada. Ia pun mengembuskan napas panjang.” “Udah deh. “Gua bener-bener berutang budi sama lu. “Buat gua? Please?” Dari semua kemungkinan permintaan Eko. Nggak tahu apa jadinya skripsi ini kalo nggak ada lu. ngomel-ngomel. termasuk dirinya.” sambar Noni ketus. Baikan lagi. Bandung.” Eko berubah serius. dong. Yang ada gua pingin nyolok mata lu. “Eh. dong! Aku bantuin! Kamu kenapa. *** Pintu itu membuka. =========== “Delapan-enam.” “Sori banget. Kamu ke mana. “Ya. Nggak tahu apa jadinya deh kalo sampai harus ngetik ulang lagi. Hatinya siap. Gua nggak nyangka sobat gua jadi salah satu segelintir gerombolan laknat yang lulus di bawah empat tahun. Lebih baik kamu marah-marahin aku daripada aksi bisu gitu.” Kugy menjawab mantap sambil mengacungkan jempol. Tapi janji adalah janji. “Kalo ada apapun yang bisa gua bantu buat lu. Bergegas menuju Fuad dengan mulut terkunci rapat. Komandan. jangan sok melankolis di depan gua. Jadi tadi dia panik banget.” “Siapa takut?” kata Eko sambil mengentak-entakkan kepala. I owe you one.” Mendadak Kugy menghentikan joget prajuritnya. Oke?” katanya lembut.” “Anything. “Ko… makasih. bilang dong! Aku bisa naik angkot kok. Non. “Gua juga nggak jamin kalian langsung bisa akur. Malah bikin hidupku tambah repot!” tukas Noni pedas seraya terus berjalan. Kugy paling enggan membayangkan yang satu itu. udah gua bilang. Aku udah telat banget. atau naik taksi. Eko mematikan mesin. Gila. Memastikan segala sesuatunya siap. sementara dia kan udah mau sidang dua minggu lagi. aku bawain…” “Nggak usah.” Sambil menenteng tas-tasnya sendirian dengan susah payah. Noni pun keluar dari mobil. “Udah. sih?” “Tadi ada emergency. Gy. baru ketemu aku lagi.” Eko terkekeh. termasuk catatan-catatan yang sudah ia buat untuk menjawab aneka pertanyaan saat sidang. atau nebeng sama siapa kek.” “Gua minta lu bicara sama Noni setelah lu sidang. Musik ini pun terasa makin sedap. Non…” “Kalo kamu memang nggak sanggup jemput. langsung pergi aja. gih. kita bikin koreografi gitu. kamu tungguin aja tuh Kugy selesai sidang. “Lebih baik.” Noni pun terdiam. Eko bolak-balik ke tempat kos Kugy dengan alasan membantu anak itu skripsi. Kayak joget prajurit.” kata Kugy lagi.” Mendengar itu. Tapi kalo gini kan jadwalku jadi berantakan.” ia berkata sungguhsungguh. “Non! Tunggu. nih. Noni pun diam membisu. ya. Ia pun mengangguk.Noni mengangkat semua barang bawaannya. dan menatap Noni dengan putus asa. dan aku nolongin dia bawain komputernya ke tempat servis. gua ceritanya goyang-goyang kagum gitu. Fuad berhenti di tepi pagar rumah yang dituju. Kamu kan biasanya maki-maki. Gua pingin minta tolong sesuatu. “Gua serius. yuk. Tapi setidaknya lu nyoba satu kali untuk bicara sama dia. Maksud gerakan kepala ini nih. “Lihat nih. gila. sih?” Eko buru-buru keluar dari mobil menyusul Noni yang berjalan cepat seperti orang minggat. please let me know. “Non… ngomong. Ada apa?” . sudah beberapa minggu belakangan ini. “Sini. Untung datanya bisa selamat. Ko. Soriii… soriii…” Eko memohon-mohon ampun. ya. Ia ingat. Percuma kalo sekarang-sekarang. sih. dan Noni langsung menyambutnya dengan ucapan datar. Sepanjang jalan dari tempat kosnya menuju rumah murid lesnya. Kasihan muridmuridku jadi nungguin. berpikir. apa kek… jangan diam gitu. Juni 2002… Sambil diiringi album Duran-duran dan berjoget-joget kecil. “Emergency apa?” “Komputernya Kugy sempat crashed. Buang-buang waktu. Bahkan pernah satu kali Eko terpaksa membatalkan janji kencannya dengan Noni karena membantu Kugy mengetik sampai malam. Kugy mengecek lagi kelengkapan dokumennya untuk presentasi besok. Eko pun berhenti bergoyang. Diam.

pandangan yang sama-sama kosong. “kamu bisa datang untuk kasih support. Kamu kenapa. terus dua-duanya sama-sama keras kepala.” “Delapan-enam.” bisiknya terharu. awas lu ya. kenapa sih?” Eko mengerutkan alis.” jawab Noni pendek. Eko. Dengan dua gelas jus buah di tangan masing-masing.” sela Eko. “Nih. gua malah ngelihat di mukanya tergambar huruf C… atau bahkan nggak lulus? Huuu… tegang. Suaranya bergetar-getar. “Kooo… gua nggak percaya…” “Nilai lu paling tinggi. Eko menganga tak percaya. Berhubung hanya ada tiga nama di sana. dengan cepat Kugy menemukan namanya.” katanya berseri. Tidak banyak bicara. sih. Saya . Aku nggak berpihak. kan?” Noni setengah mati menahan tangis. jangan pakai acara nangis segala. Kugy membalik badan. Gy…” bisik Eko yang berjalan di belakang Kugy. tahu-tahu melongokkan kepalanya dari dalam kantor. Ko?” Noni berdecak tidak sabar. Silakan baca sendiri.” “Dia atau kamu yang seneng?” “Non! Kalian tuh temenan udah berapa tahun. Iya. Dia pasti seneng banget kalo kamu ada. yaitu: dia NGGAK JELAS! That’s it!” tegas Noni. Kalo bukan karena lu. “Ngaku aja. “Nggak penting. Dia nggak pernah salah buat kamu. Apa yang selama ini ia tahan-tahan akhirnya keluar juga. “Lu bisa mulai dengan jadi sopir. justru aku kepingin kalian—” “Kamu tuh naif atau pura-pura polos. saya tempel. nih. “Dan yang bikin semua ini makin-makin menyebalkan adalah karena kamu selalu ada di pihak dia!” “Noni… itu nggak benar sama sekali. Kugy menutup mulutnya dengan kedua tangan. petugas administrasi yang sudah akrab dengan Kugy. Ia dan Eko sama-sama tercengang. “selama Kugy belum sidang. Matanya sudah mau terjun bebas keluar. “Kok. Eko merogoh kantong. “A—plus?” teriak Eko.” kata Mas Danar sambil merekatkan kertas hasil nilai pengumuman tiga sidang yang digelar tadi pagi. kan? Dan sebagian dari diri kamu yang tergila-gila sama Kugy tuh nggak berubah. “eh.” Kugy menyahut sigap. “Sama-sama. Kamu selalu memuja dia. gua yang mengabdi jadi kacung lu. Gy. ya. Spontan. apapun juga nggak jadi penting…” “Besok dia sidang. Ada Ami. “Mari. sih?” “Tanya sama diri kamu sendiri! Kamu tuh KENAPA?” seru Noni putus asa. Iya. Mereka berdua duduk di bangku taman dekat ruang sidang. Memeluk Eko erat. “Dari muka Mas Danar kayaknya lu dapet A. ya. “Sesudah ini. Ko. Bimo. jangan sampai bikin gua malah terharu atas kesialan gua selama ini…” Perlahan. ia pun mendekap Kugy balik. pintu itu tak membuka. Pintu itu pun membanting di depan muka Eko. Hanya Eko yang menunggu sampai pengumuman sidang. “Thank you. Kugy melepaskan pelukannya. Komandan. tahu-tahu diem-dieman. dan kamu pacarku. gua nggak akan mungkin bisa berhasil hari ini. “Ngaku apa?” “Kamu naksir dia dari SMP. Eko sempat tersentak kaget dengan reaksi yang tiba-tiba itu. monyong! Kampret! Bangsat! Hebat banget sih luuu!” Eko berteriak kesenangan sambil menggoyang-goyang bahu Kugy. tapi sebagian hati kamu selalu ada buat Kugy. Non?” tanya Eko hati-hati. “Buatku. menyerahkan kunci mobil. Ical. Namun lambat laun badannya yang mengunci mulai mengendur. Gua hepi banget buat lu…” tahu-tahu satu tangannya menjitak kepala Kugy pelan. menunggu dengan tegang. deh. masalahnya selalu jelas. Saya kasih makan. Mas Danar. Dan seberapa kali pun dia mengetok dan memanggil-manggil. Aku tahu kamu sayang banget sama aku. Udah cukup gua jadi kacung lu dua bulan.“Kamu masih marah. “Non! Dia sahabatku! Aku sayang banget sama manusia gila itu! Tapi bukan sayang yang seperti kamu sangka. “Gy… pengumumannya udah keluar!” panggilnya. sih? Masa kalah sama masalah beginian doang? Masalahnya apa juga nggak jelas. Heran.” Eko mulai dongkol. dan beberapa teman lain.=========== Sidang yang dilakukan secara terbuka itu ditonton oleh teman-teman terdekat Kugy. Ampun. saya antar. Ko…” Kugy melangkah sambil meringis-ringis.

semua itu udah jadi sejarah. seseorang mengamati keduanya berjalan berangkulan. Kugy mengetuk pintu. “Gy. *** Rasanya sudah lama sekali Kugy tidak ke tempat itu. Belagak temen. Sama sekali tidak menyangka kedatangan Kugy. memandangi sudut-sudut di tempat kos itu. Ingin sekali rasanya ia muntahkan semua kekesalannya selama ini seperti berondongan peluru. Dadanya naik turun.. Kugy berdiam sebentar. menahan tangis. Noni hanya menggeleng. pintu membuka. lu bakal tahu menempatkan posisi lu di mana. dan tampaklah Noni yang terkejut bukan main. Namun Kugy tidak tahu pasti apa.” dengan nada secerah mungkin Kugy bercerita. Non. tiba-tiba. Namun apa yang dilihatnya barusan memupuskan keduanya. Kalo lu memang punya hati. Tapi nanti tetap saja Komandan yang bayar. tersenyum selebar mungkin. “Non… sebenarnya gua pingin bicara sesuatu sama lu. Namun ia pun tak tahu harus memulai dari mana. Dan tak lama lagi ia akan meninggalkan kota ini. ia merasa menyesal atas tuduhannya pada Eko. “Ada yang bisa gua bantu. Kugy mengangkat kedua sudut bibirnya tinggi-tinggi. Jauh lebih mudah buat gua. gua mulai coba magang sambil nunggu wisuda. Karena gua nggak punya tempat buat lu lagi. Boleh masuk?” tanyanya hati-hati. tapi makan temen. Tak berapa lama. Sekilas membaca tulisan: NONI ADA. Kugy lalu menggeleng kepala sendirian. Dulu kita semua juga gitu. terus lu merasa lebih. nggak?” Kugy menawarkan diri. karena lu memanfaatkan semua kelebihan lu untuk kepentingan lu sendiri…” Noni berkata dengan suara tertahan. sepertinya cinta itu tidak hanya searah. Ia berharap seandainya saja bisa terbang dan cepat-cepat pergi dari tempat itu. Selama ini gua bingung mulai dari mana…” terbata-bata Kugy berusaha menjelaskan. selain posisi itu. Tapi gua lagi banyak kerjaan. “Hmm. Noni berusaha keras untuk tetap kuat berjalan pergi dengan tegak. Eko memang mencintai Kugy. karena gua sayang banget sama lu. “Gua nggak ada .. Noni.” Sesuatu seperti menyodok hatinya tiba-tiba. gua harus mengakui lu lebih cantik. dan tetap belum ia temukan maksud Noni yang sebenarnya. Dan. Rumah pertamanya di Bandung. memahami. Dan gua merasa lebih baik hubungan kita kayak gini aja. Dan. Hanya menatap Kugy dengan tatapan tidak mau diganggu. Sudut-sudut yang membangkitkan rentetan kenangan di benaknya. Tapi baru kali ini gua sakit hati sama lu. ia juga tergerak untuk menemui Kugy ke kampus demi memberikan dukungan. Kembali melangkah menuju kamar itu. tapi nggak makan temen. “Kenapa gitu. “Helo. Gua sarankan lu pilih yang kedua. “Selamat buat kelulusan lu. Noni berhasil melawan itu semua untuk akhirnya datang ke kampus dan mencari Kugy ke ruang sidang. seolah-olah ingin menepis sesuatu. Gy. gua hargai maksud lu. Dan Karel udah cariin gua kerja di Jakarta. gua mau pamitan. Namun Noni bergeming di tempatnya.” katanya dengan nada datar. Tapi jangan gara-gara cuma tinggal dia sendirian yang masih nganggap lu.” sela Noni. Berusaha mencerna. Dari kejauhan. Sori. total!” Kugy sampai menahan napas saking kagetnya. tapi gua nggak mau sirik sama lu.” “Bawahan ngehe emang lu!” semprot Eko sambil tergelak. Non?” Rahang Noni mengencang. dari apa yang ia lihat barusan. Gua pingin kita temenan lagi kayak dulu. lu serba bisa. Gua mau minta maaf atas semuanya. Ia tidak kuat lagi. Atau jadi orang asing. Dengan segala kegentaran dan keengganan yang padahal masih membebani hatinya. “Seumur hidup gua temenan sama lu. “Gua tahu Eko memang simpati sama kondisi lu. “Gua lulus sidang tadi pagi. Non! Apa kabar?” Noni tidak bereaksi sama sekali. sekalian pingin ngobrol-ngobrol aja. Tempat yang dihuninya dua tahun bersama Noni. Jadi. “tapi buat gua. Sebagian dirinya remuk ketika melihat satu hal yang paling ia takutkan ternyata menjadi kenyataan. Pagi tadi. Buat elu. ============ Kugy terlongo mendengar kalimat-kalimat itu.” “Non… lu salah sangka. lebih pintar. Dan mungkin buat Eko.kasih minum. Dia sayang sama lu.

” eja Karel penuh penekanan.” Kugy menghela napas. jaket jins Karel yang nyaris menutup tubuhnya seperti sarung hp. “Yang ancur adalah mata lu dan wawasan busana lu selama ini. Ada yang salah dengan rok selutut yang dikenakannya. Jakarta. ia berkemas-kemas. segala kenangan dan perkara yang hanya akan membebani hatinya. Hati Noni langsung tertusuk mendengarnya. Dan Kugy bakal ditempatkan di bagian kreatif. apa yang Noni kira. kita udah kayak kakak-adik. Kugy pun membalikkan badan. supaya tampak menarik. Elu cuma perlu tahu diri. kemeja putih peninggalan penataran P-4. Barangkali inilah rekor terlama ia bercermin. berangkat. Pulang. ia merasa ada yang benar-benar tidak beres. sekarang lu ngerti. Non… maksud lu kejadian tadi siang di kampus? Gua tuh… ya ampun. “Kamu—nggak salah info. dengan sepatu hak lima senti yang menempel di kakinya. enak dilihat. ini namanya STYLE. fine. Sekarang tinggal gimana elunya aja. dengan rambutnya yang mendadak bervolume karena di-rol sejak pagi tadi. mengingat perjalanannya setahun ke belakang. Eko selalu punya hati buat lu. Gy. So. Kegiatan yang telah dilakukannya bolak-balik sejak setengah jam yang lalu. “Astaga. Ia akan pulang ke Jakarta secepat mungkin. deh. Kugy pun mengangguk. yang juga merupakan penyalur semua barang yang kini ada di badannya itu. . “bukan fa-shion e-di-tor! Juga bukan re-sep-sio-nis! Dan bukan S-P-G!” Karin mendelik sewot. ya begini dandanannya!” Karel. Kalo orang mau ngantor.” Giliran Kugy bersorak girang. ============ “Fine. lu nggak perlu membela diri kayak gitu. Malam itu Kugy pun memutuskan. dan profesional. please?” “Karin. masalahnya di sini adalah kesenjangan selera. “Iya. meminta pendapat semua. Kugy. “gua sobatan sama Eko udah hampir sepuluh tahun. Begitu sampai di tempat kosnya. jangan jadikan adik kita menjadi kelinci percobaan fashion-mu. aku udah sering ke kantor advertising tempat Kugy nanti kerja. Tidak ada lagi yang menahannya di sini. Bosnya aja ngejins kalo ke kantor.” cetusnya dingin. Masih nganggap gua ada atau enggak. Mana bisa lu samain hubungan gua dan Eko dengan hubungan lu dan Ojos?” “Kalo lu memperhitungkan perasaan gua. please. oke? Sesuatu yang bukan keahlian kamu. Jangan sok polos. Dalam hal ini. “Gua kok ancur banget. Karel bengong menatap adik perempuannya. dan tak lupa. sih?” keluhnya pada Karin. Namun ia berusaha tampak tegar. dua tahun ke belakang. “Nah. oke?” balas Karel tegas. Noni resmi menjadi satu di antaranya. ya?” Ia pun berlari-lari masuk kamar untuk ganti baju.” Karin melengos. dengan clutch bag itu. Non…” Kugy nyaris kehilangan kata-kata. “Hore! Jadi aku pakai bajuku aja. So… leave it to the expert. berdiri dengan rok panjang hitam yang dibelinya untuk sidang skripsi.niatan kayak gitu sama sekali… nggak pernah ada apa-apa di antara gua dan Eko selain temenan doang…” “Sekarang gua tanya sama lu. lebih baik gini. “udah jelas. yuk—” Kalimatnya terhenti. “Itu adalah hal paling tolol yang pernah gua denger dari lu.” ucapnya pelan. Namun hari ini. “pernah nggak Ojos menemani gua dengan setianya berminggu-minggu? Pernah nggak gua meluk-meluk Ojos di depan umum?” Kugy terkesiap. I am the expert. Kugy. melongok dari pintu. apa yang Noni lihat. yang baru selesai sarapan. kan. jam tangan Kura-kura Ninja-nya yang mencuat hingga rasanya menggaplok mata. Sama sekali. ia buang jauh-jauh. Selama ini bahkan ia jarang menggunakan jasa cermin karena tidak terlalu peduli apa yang dilihatnya di sana. Malam itu juga. Gy? Kamu bakal jadi co-py-wri-ter.” potong Noni tajam. Berusaha setengah mati memahami apa yang tengah terjadi. “Karel. tiga tahun ke belakang… mendadak ia lelah luar biasa. “Kalo gini gimana?” ia berdiri di ruang makan. “Gy. Agustus 2002… Kugy mematut-matut diri di kaca. Kugy tidak buang waktu. kan? Kenapa gua tadi bilang nggak ada yang perlu diubah dari hubungan kita? Lebih baik gini.” Pintu itu pun ditutup. Tak lama Kugy kembali dari kamarnya.

Remi. sementara departemen kreatif menghuni lantai dua. ya. Kaku. Rasanya semua itu baru kemarin ia alami. Kugy mengamati kantor itu sejenak. dan seorang copy writer senior bernama Iman. Sakola Alit. meminta pertolongan.” tambahnya pada Kugy. “resume kamu juga sangat bagus.” kata Karel lagi. dengan wajah tampan dan segar seperti baru keluar dari tempat fitness. dengan mudah Kugy menyimpulkan bahwa pemilik kantor ini pun seorang pencinta seni. Dan dari terlihatnya barang-barang seni di manamana. ============= Judul : Si Ninja Asmara PART 8: Si Ninja Asmara Jakarta. Sambil menunggu bersama Karel di sofa depan.” Remi tergelak..” ia berkata ramah sambil menjabat tangan Kugy. mata Kugy tak henti-hentinya jelalatan ke sana ke mari.. “Kugy.” ujar Remi santai. dengan sebuah meja dan satu set komputer. Mendadak. Desainnya serba minimalis. Remi benar. dan lebih berantakan. deh. “Karel! Hai!” Karel langsung bangkit berdiri. kok.” Karel menggeleng cepat. Kugy membayangkan sosok Remigius Aditya yang jauh lebih tua. Saya kenalin dulu sama tim yang lain. Suasana lantai bawah lebih tertib dengan orang-orang yang berbaju lebih rapi. “Kita lagi banyak banget proyek baru. *** Sebelum masuk. Please. “Remigius. ini adik gua. panggil ‘Pak’ Remi. Masih terbayang jelas suasana kampus. Interiornya tidak kalah memukau. gedung mungil dua lantai itu sangat artistik dan bergaya galeri. Dari mulai pencahayaan hingga furnitur. “yuk. Kugy menempati satu pojok berpartisi. Ia resmi menyandang titel pegawai termuda karena dialah satu-satunya yang bekerja dengan status magang sambil menunggu ijazah. tapi ada aksen warna-warna berani seperti pintu dan kusen serba merah.. Berlokasi di derah perumahan Jakarta Selatan. Tertera tulisan besar berwarna merah di dinding batu: AdVocaDo. urakan. kenalin. Namun kehadiran orang itu memang seketika mengubah atmosfer ruangan. Karel. Dalam benaknya. media campaign. Kugy ingin terbang ke Bandung saat itu juga. Segalanya masih serba baru. Kantor itu pun dilingkungi taman tropis bergaya Bali yang rimbun dan asri. Kugy.. berpenampilan gaul dengan kemeja lengan pendek. “Makasih banget ya buat kesempatannya. pokoknya kenyang.” Kugy ikut tersenyum. “panggil aja Remi. Matanya langsung melirik Karin. “dan kamu masuk pada saat yang tepat. seseorang berjalan keluar menghampiri mereka. Tapi ternyata pemilik biro iklan AdVocaDo ini masih sangat muda. Lantai bawah menjadi lantai area untuk bagian account. kamu bisa mulai sekarang. Jarang sekali ia terkesiap melihat seseorang. patungpatung logam dengan lapis alumunium cemerlang. Kugy segera tahu bahwa selera pemiliknya di atas rata-rata. sementara lantai dua hingar-bingar.” Karel menyorongkan Kugy ke muka. “Mudah-mudahan dia nggak malumaluin. September 2002… Kugy tak percaya bisa lolos dari sebulan pertamanya di AdVocaDo. dan keduanya berangkulan akrab.” Kugy bisa merasakan telapak tangannya berkeringat pertanda gugup. Kugy ditempatkan di satu tim yang dikepalai seorang creative director yang juga membawahi beberapa tim lain di AdVocaDo. jins hitam. “No… no. mengagumi calon kantor barunya.” “The K family? Gua percayalah. Tim yang ia tumpangi terdiri dari seorang art director bernama Siska.” ia memperkenalkan diri. “Remi. Tak lama. “No. Ia menyadari sesuatu. Ia memang langsung sibuk luar biasa.Karel menelan ludah.” “Oh. tempat kosnya.” Remi tertawa. Kugy spontan ikut berdiri. Sebentar-sebentar ada yang nongol di balik . Sudah bisa dipastikan kamu langsung sibuk. Dan sekarang ia sudah memulai sesuatu yang sama sekali baru. ya?” Kugy terlongo. Bersambung ke PART 8: Si Ninja Asmara.

Jam kerjanya pun tak tentu. Kugy pun harus menghadapi berondongan pertanyaan dari keluarganya yang begitu bersemangat dengan karier barunya. Remi menggeleng. real caramel. Begitu sampai di rumah. menurut kamu gimana?” Mendengar namanya disebut. Dan kayaknya nggak cocok buat profil segmen yang mereka tembak. “Saya pingin tahu pendapat yang belum bicara. Kalo bukan narasi atau teks grafis.” “Kalo konsep tim kita sih lebih condong ke narasi. dan kelopak setengah menggantung pertanda ngantuk nyaris pingsan. semua pertanyaan itu ia jawab dengan dengkuran. Tapi.” sambil menyerahkan setumpuk dokumen. kita maju pakai yang mana. Kugy merasa lebih tepat disebut senior office girl ketimbang seorang junior copy writer. “Teman-teman.” “Iya. Kugy terduduk tegak. rasanya. saya cuma mau ngingetin kalo mereka memang sengaja pitching dengan produk yang susah. siang ini ia harus terjebak dalam rapat internal. ya?”. Gina. nih? Tim saya.” Remi berpikir. Namun. “Sorry. gimana kerjaan lu? Betah.” Muka-muka protes langsung bermunculan. nggak?”. Tammies Bar – cokelat Swiss. memotong. seketika kantuknya melesat kabur. begitu yang satu ini gol. “Denger-denger bos lu ganteng. padahal ia sudah mau mati bosan. dari tim lain. blablabla… kita push aja semuanya. Remi menebarkan pandangan. Tahun ini produsennya mau launching empat produk di Indonesia. Dan semua itu kelak berguna jika ia memutuskan untuk bikin kios fotokopi sendiri. supaya mengakomodir maunya klien yang kepingin fitur produknya bisa maksimal keluar. di akhir pekan besok. Kecuali yang satu itu. kan mau kliennya gitu. Pikirannya sudah melayang ke akhir hari. sih. tolong fotokopi ini semua. Remi menghela napas. Setidaknya. tolong di-scan ya. Sebentar-sebentar ada saja yang mengusiknya untuk bertanya. Kugy berusaha memasang tampang menyimak. menggeletak di sofa ruang tamu dan tertidur sampai pagi. “Tapi teks ini catchy banget. Kadang-kadang. Kadang. dan melalap tumpukan komik Jepangnya yang sudah begitu banyak tertunda. Iman berusaha keras meyakinkan Remi atas usulan konsepnya. “Iya. Sambil mengaduk-aduk secangkir kopinya. tapi sebenarnya iya. ke tempat tidur. karena berarti selepas hari ini ia akan punya dua hari untuk bermalas-malasan. supaya ada ruang buat visual. ya. karamelnyalah. tapi. account director. dan itu pun hanya karena sudah ada office boy dan office girl. apa lagi?” desak Iman. tolong gambar yang udah ditandain. Sementara para office boy dan office girl sudah bisa pulang dari jam enam sore. “Gy. “Gy. wafernya. Tammies Bar cuma kasus uji coba doang. bahkan harus mengulang lagi dari awal. Udah banyak iklan produk sejenis yang pakai angle sama. padahal saat presentasinya nanti ia tidak pernah diikutsertakan. crispy wafer. kita mau buat dummy storyboard. gambar kemasannya. *** Jumat. “Gy. ya? Saya kok merasa belum… kena. tanpa bermaksud bikin kalian tambah stres. bermain dengan Santai.” sambil menyerahkan setumpuk majalah dan gunting kecil. Mata Remi pun tertumbuk pada Kugy yang tampak mengaduk-aduk kopi di ujung meja sana. tim terakhir yang juga presentasinya ditolak mentah-mentah oleh Remi. Tapi… kenapa. udah bikin iklan apa aja. hazelnut crème. Kugy merasa. diguntingin ya. Sementara Kugy tahu keterlibatannya tak akan lebih dari menggunting dan men-scan. atau Fani?” tanya Tasya. ah. Dia pingin kualitas cokelatnya tersampaikan. ia terbebas tugas karena belum ada lagi pitching yang mendesak. Kugy selalu menjawab apa adanya. ya?” . Hari yang paling ditunggu oleh Kugy. Kugy kadang harus menetap sampai jam sebelas malam. “Basi. Kerja keras mereka beberapa hari bisa jadi percuma. guys. “Kenapa… pendapat? Tentang apa. semua produk mereka bakal lari ke kita. berdehem. satu-satunya pekerjaan yang belum diperintahkan padanya adalah membuat kopi atau teh. Kugy. Memang banyak yang terpaksa dipersingkat. dengan satu siku menopang dagunya yang sudah mau rubuh. Tapi pesannya kan tetap jelas. “Gy. “Gy. Iman. Bos. apalagi kalau sudah menjelang presentasi pada klien. bahwa selama bekerja di AdVocaDo ia semakin ahli menggunting. membahas sebuah produk permen cokelat yang berencana akan kampanye besar-besaran.” “Jadi. Tapi sekaligus yang paling menentukan. dan cekatan memfotokopi.” usul Fani. Saya masih belum puas.partisinya. nih?”.” sambil menyerahkan setumpuk gambar. tatapan-tatapan gelisah yang menunggu keputusannya.

tapi gua optimis bisa banget dikejar. gua juga nggak tahu. Terlalu ganas dan buas untuk diberi jawaban ‘tidak tahu’. “Tiga konsep tadi memang padat info. Tammies Bar. Terakhir. Langsung jalan. dengan Remi yang bagaikan guru killer yang siap menghukum. menatap Kugy hangat dan menepuk ringan bahunya. visual persis dengan apa yang dideskripsikan Kugy. Kugy memilih untuk menceletukkan apapun yang lewat di pikirannya pertama kali.Yang lain langsung cekikikan melihat pemandangan komikal itu. mencari kamar tempat Adri diobservasi. lalu berjatuhanlah butiran rice crispy. Siap-siap presentasi. Tak lama.” Tasya mengakui. Dan muncul satu kalimat: Kelezatan Tanpa Banyak Kata. balasnya dalam hati. ya. Kugy diam sejenak. “Pe-er berat memang jadi di visual. “Ekonomis pula. tapi cerewet. Nggak usah pakai jingle. Mukanya masih tidak rela. tanpa suara. Apa pendapat kamu?” Remi mengulang. Kali ini kantuknya benar-benar sirna. Kugy terdiam. “Tagline-nya oke. “Menurut saya. Semuanya hanyut bersama visualisasi ide Kugy dalam pikiran mereka masing-masing. “memorable. Kelezatan Tanpa Banyak Kata. Di kamar itu. tiga-tiganya standar. Benar-benar hiburan. Suara itu menajam. lalu mencairlah lapisan cokelat.” lanjutnya lagi. Wajahnya pucat. Alasan kamu?” tanya Remi penasaran.” “Jujur. Nggak bikin ngiler. sekaligus hari pertamanya sungguhan “bekerja”. Cekakak-cekikik di ruang itu makin menjadi. ========== “Iklan Tammies Bar. tapi tidak… muncullah selapis wafer. Remi menepukkan tangannya ke meja. “Nggak standar. Diikuti oleh semua mata. Gy. Suara ketawa-ketiwi sontak lenyap. overdub. Tatapan tajam menghunjam Kugy dari kiri-kanan.” Gina terkekeh. “… and good job. Muka-muka jahil tadi berubah serius dalam sekejap. seperti teve kita mendadak mati. saya nggak kepingin beli. tuh.” Iman melirik ke arah Remi. Dan ketegangan yang tadi mengunci tubuhnya berangsur mencair. deal. lalu mengalirlah hazelnut crème. dan sebagainya. Biasa-biasa aja soalnya. *** Lena langsung melesat ke rumah sakit begitu ia mendapat kabar dari kantor suaminya. Kita harus membuat Tammies Bar ini bikin orang penasaran dan kepingin coba. Namun tampak .” Fani berkata lirih. “Mmm… saya nggak suka tiga-tiganya. “Saya suka efek teve mendadak mati itu. tapi ia sungguhan suka.” Kugy merasa darahnya mendadak hangat. Ngebayanginnya aja ngiler. seolah menjelaskan pada anak kecil. Done. yang mudah-mudahan masih tersimpan di kepalanya. Terpaksa ia melanjutkan. sunyi. Tammies Bar. suaminya terbaring dalam posisi setengah duduk. ya? Khusus untuk pitching ini. Kalau saya jadi penonton. Good luck. masih dengan seragam sekolah. “Oke. “Sip. lalu melelehlah caramel. Namun semua orang di ruangan itu sudah menanti jawabannya seperti singa-singa kelaparan. tuh. saya mau Kugy jadi project leader.” Iman tidak tahan lagi. Setengah berlari. Tinggal dia yang belum bersuara. tanpa musik. Tapi sudah kepalang basah untuk mundur. Secara visual. “Oh! Masih ngomongin yang tadi?” sahut Kugy polos. Tapi realisasi konsepnya gimana?” cetusnya dengan nada tinggi.” celetuk Siska. dan Kugy mulai sadar apa yang barusan ia utarakan. “Teori sih gampang. Sumpah. gua kayaknya jadi pingin beli. lalu cokelat itu membeku. kakinya melangkah terburu-buru di koridor. Kugy sadar. memeras otaknya agar memutar balik memori tentang rapat yang sudah berlangsung sejak sejam yang lalu itu. Mukanya berangsur berseri. Jeroen pun datang menyusul. plus konsekuensinya. menutupi semuanya.” akhirnya ia berkata.” Suasana hening tadi kian beku. tiga-tiganya memenuhi syarat tapi nggak nendang. barangkali inilah akhir kariernya menjadi petugas prakarya AdVocaDo. Dan akhirnya. “Gini… bayangkan: tiba-tiba muncul background hitam. Antara Kugy yang bagaikan murid tertangkap basah tidur di kelas.” Remi pun berdiri. pikir mereka semua. “Menurut kamu… dari ketiga konsep tadi… mana… yang… paling mengena?” Remi sengaja melambatkan tempo bicaranya. cokelat itu terbungkus. lalu selapis wafer lagi. Namun sunyi yang kali ini lain.” Ruangan itu tetap sunyi.

“De. Dan nggak tahu kenapa. semuanya baikbaik saja. kian merasuk. Aneh rasanya kamu nggak ada menemani saya di sini. kamu kok lama banget sih perginya?” ujar Keenan seraya menarik tangan Luhde. Tapi sebentar juga normal lagi kok. “Semuanya akan normal lagi…” Ia mengulang. kepala saya rasanya kosong. berusaha menenangkan anaknya. Tubuh Luhde mengunci kaku. Nggak ada yang mengalir keluar seperti biasanya.” ucapnya lagi sambil mengelus lengan istrinya dengan sebelah tangan. Ada yang salah. pemandangan itu. Sepertinya ada yang kurang. Fisioterapi beberapa minggu aja pasti udah bisa normal lagi. Keenan mulai resah. apa yang tersembunyikan.” ucap Luhde. Nih… tangan yang kanan tahu-tahu aja nggak bisa gerak. kok saya nggak bisa melukis hari ini. Keenan hanya menunggu. ya?” sahut Keenan. ya. ya?” “Dia tadi pergi ke pura kota. pikir Keenan. Perasaan itu sungguh asing. ini lebih dari sekadar masalah fisioterapi. atau stres. kita memang nggak janjian. “Aku nggak pa-pa. Namun badannya bolakbalik terus seperti kepanasan. Langit sore yang cerah pun tak ada makna baginya hari ini. “Nggak. lebih seperti untuk menenangkan dirinya sendiri. Matanya memejam. kekhawatiran mendalam yang terpancar di mukanya tak bisa disembunyikan.. “Papa kenapa? Sakit apa?” tanya Jeroen panik. ya?” Tiba-tiba Keenan bersuara.” “Wajar kalau Keenan jenuh. Tak pernah membayangkan kata-kata itu akan terlontar dari mulut Keenan. meski ia juga berusaha tampak tenang. “Damai sekali rasanya kalau sudah begini…” gumam Keenan.” jawab Banyu sambil terus melenggang. sayang. Tapi hari ini rasanya aneh. dan menunggu. Betul. dan menunggu… “Keenan… kamu cari saya. menikmati sunyi dan kehadiran satu sama lain dengan caranya masing-masing. Namun dibiarkannya Keenan yang tampak begitu rileks beralaskan simpuhan kakinya. ============= Ubud. Bahkan menakutkan. atau…” Lena bahkan tak sanggup menyelesaikan kalimatnya karena masih terengah dan shock. ia dikejutkan lagi dengan Keenan yang tahu-tahu merebahkan kepala di pangkuannya. Sedari tangannya sudah mengenggam kuas blok. “Hati saya rasanya hampa. “Banyu! Luhde ke mana.” Luhde menelan ludah. mukanya lega bukan main. Mmm… memangnya kita janjian?” Keenan tertawa lepas. ya?” Suara Luhde muncul dari belakang. Luhde terkejut dengan sambutan ekstra hangat itu. “Macam-macam. baru kali ini Keenan merasa buntu. Belum usai kagetnya. saya merasa kehilangan kamu. Pelan-pelan. Biasanya jika dia ada di sini. Tangannya seperti lumpuh. Ma?” Jeroen gantian bertanya pada ibunya. Tampak Banyu berjalan melewati bale. Namun tak sesapu pun warna yang tergores di sana. September 2002. siapa-siapa.. Barangkali karena belum ada Luhde. “Keenan sudah menunggu dari tadi? Maaf. Sejak ia kembali melukis lagi dua tahun lalu. Baginya. Lena termenung. “De. “Nggak pa-pa… cuma stroke ringan. Akhirnya ia memutuskan untuk berbaring. Namun rasanya tak bisa menunjuk apa-apa. Mereka pun lama terbungkus keheningan. Padahal sebenarnya . dan apa yang masih akan terus membayangi keluarga mereka dari hari ke hari.jelas ia berusaha kelihatan baik-baik saja. “Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar hitam yang kosong. Lambat laun. “Hai. Adri bisa melihat itu. “tapi… gimana kalau ternyata bukan sekadar jenuh? Mungkin nggak saya—” Dan Keenan rasanya tidak bisa meneruskan ucapannya. Serta merta Keenan bangkit. Keresahan itu makin tidak tertahankan. “Stroke itu kenapa sih. Keenan langsung memanggilnya. Sebentar lagi pulang. Lena… Jeroen…” sambutnya dengan senyum yang dipaksakan muncul. Bisa karena terlalu capek. Kanvas putih sudah siap di hadapannya. Sudah berbulan-bulan hampir tidak pernah berhenti berkarya. Keenan dapat merasakan energi kegelisahan yang bergerak menyusupi tubuhnya. Ini udah mulai bisa gerakin jari dikit-dikit. Ia lebih mengkhawatirkan apa yang tak terucap.” jawab Adri. “Mungkin saya jenuh. berusaha membiasakan dirinya dengan kondisi itu.

Kugy langsung mendapat pesan untuk menemui Remi di ruangannya. Keenan dapat merasakan apa yang ia rasakan. sudah empat hari terakhir ia masuk kantor di atas pukul sebelas siang. Kugy keluar dari ruangan itu.” Remi menyambutnya dengan ceria. Tak lama. Tapi…” Gina berdehem. Kembali ke pojok kecilnya. Mereka mau launch kampanye besar-besaran. Mereka berdua kembali ke dalam keheningan. badan saya rasanya capek banget. sesudah presentasi. *** Sudah setengah jam Kugy menunggu taksinya yang tak kunjung datang. Kugy melirik jam. Ia hanya ingin duduk tenang di jok belakang. ya? Rabu gaul?” Kugy . Berpakaian lebih rapi dari biasa. Gy. semua ini terlalu lucu baginya. Belum pernah ia mendengar Keenan mengutarakan perasaannya segamblang itu. September 2002… Begitu kakinya melangkah ke lobi kantor. Klien kita suka banget sama konsep kamu. Akibat persiapan presentasi Tammies Bar. Kamu memang harus jaga kesehatan. menelusuri rambut Keenan. Ide kamu fresh. dan justru karena kamu anak baru. saya pikir.” jelas Kugy polos. Kamu punya karakter yang pas untuk spirit klien ini. ia sudah ingin melorot ke lantai. “Katanya mau pulang cepat. Kemarin. Silakan masuk. Saya agak telat. Keenan mengembuskan napas panjang. darling? Ya. Jadi. out of the box. “Tapi… saya belum pengalaman… presentasi aja baru ikutan sekali…” “Kan kamu punya tim. Namun ia berusaha setengah mati menunjukkan muka serius.” papar Remi lugas. “Mereka juga kepingin jalan dengan kita untuk semua produk barunya.” Kugy menoleh ke samping. Namun Kugy terlalu lelah untuk mencoba alternatif lain selain taksi. Dia—punya tim? Dari tukang fotokopi. Bintang kamu tetap ada di sana. Kugy berusaha mencerna ucapan yang barusan ia dengar. Dan jarang-jarang juga kita punya klien yang memilih untuk nggak ‘main aman’. ya. Soalnya…” Gina tersenyum simpul. “Congrats. Cekakak-cekikik sendirian sepuasnya di sana. ia melirik Remi.” cetus Remi dibarengi senyum kecil. satu tangannya bergerak.” jawab Kugy. ya. “Taksiku belum datang-datang. Remi tengah berdiri di sisinya. bahkan kalau mungkin tertidur. di rumah saya sengaja tidur terus.” Remi melanjutkan. konsep yang out of the box. kamu belum banyak distorsi ini-itu. sejelas itu. Inilah risiko jika pulang pada waktu standar orang-orang bubaran kantor. “Sori.” ujar Gina sambil tertawa ringan. “mereka kepingin ide yang secemerlang Tammies Bar. kalau kita meeting lagi. ========= Jakarta. Belum pernah Luhde merasa sebahagia ini. dan Kugy benar-benar tidak sanggup membuka mata sebelum jam delapan pagi. “Oke. terpingkal-pingkal. mereka pasti bantu kamulah. Namun sepotong bisikan itu terasa bergaung memenuhi seluruh pelosok ruang batin Luhde.” Kugy menghela napas. berharap bahwa memang benar demikian. Kugy tidak heran kalau hari ini ia bakal dapat teguran. “jadi—” “Jadi. Digenggamnya tangan Luhde. Di dalam ruangan itu ternyata juga sudah ada Gina. Setiap malam ia harus bekerja sampai larut. “Saya? Tapi… kok… kenapa saya?” “Karena. takut sakit. “mau ada acara lagi. fresh.” bisiknya. “Tammies Bar gol. dalam setiap gerakan jemarinya.tidak. saya pikir kamu punya syarat itu semua. tiba-tiba sekarang dia punya tim sendiri? Dalam hatinya. “Siang. lalu diletakkan di atas dadanya. “Oh. Luhde berharap. Jadi. Bumi hanya sedang berputar. sinergi mereka dan kamu bakal cocok banget. Walaupun ia tahu Remi dan Gina tidak main-main.” Luhde melanjutkan dengan lembut. Kugy.” Kugy ternganga. yakni kompetisi kendaraan umum yang sangat ketat. bingung mau berkomentar apa. kamu punya kerjaan lain selain ngelamun dan nahan ngantuk. “Nggak tahu apa jadinya kalau nggak ada kamu. Perlahan. “Kita mau kamu yang jadi project leader untuk produk-produk mereka. Bener-bener jangan sampai sakit. dan tahu-tahu sudah sampai di rumah. Membelainya dengan penuh perasaan. account director. jadi…” Remi langsung menyambar. yaaa!” Gina menambahkan.

Itu unik.” Kugy menjelaskan. “Tadinya memang mau ada appointment.” Remi berkata tenang. Alunan musik berkumandang sayup.” Sebentar kemudian. “Memang dulu kamu udah lahir waktu zamannya lagu ini?” “Ya udahlah. “Kamu buru-buru banget harus pulang?” Remi bertanya. itu baru namanya cuma modal beruntung. ya? Saya antar sekalian. Dan sebelum Kugy merancang basa-basi untuk merespons ajakan tersebut. “Kita mampir ke sana dulu aja. baby. right round. Mendingan kita tunggu sampai agak lengang baru jalan lagi. Keberatan. right round. modal saya sebetulnya cuma beruntung—” Remi langsung menggeleng. ya.” “Oke. Intuisi saya bisa membaui ‘keanehan’. Tapi dibatalkan. Kugy memasuki mobil Remi dengan sedikit canggung. ia juga diantar pulang dan diajak nongkrong oleh bos nomor satunya. Namun Remi tampak datar dan biasa-biasa saja. Wangi jok kulit meruap bercampur pengharum mobil.” Kugy tergelak. Remi menunjuk sebuah kafe yang terletak di tepi jalan. pikirnya. “Tunggu di sini. Remi sudah keburu berbicara pada Anita. “You spin me right round… baby. dan nggak biasa.” Dan sebelum Kugy sempat membuka mulut. “Tapi orang-orang bilang saya memang kelainan. Kembali lagi bersama mobilnya di pelataran lobi. mendadak telinga Kugy siaga. dan sepiring besar kentang goreng. Saya orang yang sangat apresiatif terhadap segala sesuatu yang unik. Namun dalam hatinya ia tercengang-cengang sendiri.” Kugy cuma bisa manggut-manggut pelan tanpa suara. Remi sudah keburu berkata. Mulutnya pun langsung ikut bernyanyi. “Memangnya kenapa?” “Macetnya parah. Nggak bisa denger yang lain. saya nggak salah pilih. Saya sadar banget. Hari yang aneh. round round…” “Kok—kamu tahu grup ini? Suka New Wave juga?” tanya Remi. aneh. dan jadilah kamu di posisi kamu yang sekarang. yuk? Taksinya di-cancel aja. “Dalam kasus saya. Dan ternyata betul. mengamati lalu lintas yang padat dan nyaris tidak bergerak di jam bubaran kantor ini.” “Bagi saya. dua porsi es krim. Tak hanya ia tiba-tiba naik pangkat drastis. hidup terlalu singkat untuk dilewatkan dengan biasa-biasa saja. Yang orang-orang seperti kamu butuhkan sebenarnya cuma kesempatan. resepsionis kantor. dari dulu nggak berubahberubah sampai sekarang. Walaupun Remi senantiasa bersikap rileks kepada para bawahannya. Saya ambil mobil. Kamu mau pulang. “Remi. Tapi kamu lain. nggak tahu kenapa. dan selera musik saya. Kugylah yang akhirnya memutuskan untuk meredam kecanggungannya sendiri. dia sudah menghilang. nih.” Kugy mengangkat bahu ringan. hanya seratus meter dari posisi mobil mereka. mereka tak ubahnya dua teman sebaya yang berbincang asyik tanpa jarak dan hierarki.terkekeh. Kugy tetap sungkan jika harus diantar pulang oleh bosnya sendiri. nggak?” “Nggak…” Kugy menggeleng pelan. untuk membatalkan pesanan taksi Kugy. “Iya. Dan. Kugy pun melempar pandangannya ke jendela sebagai distraksi.” Kugy pun tersenyum simpul. yuk? Kopinya lumayan enak. “Kalau kamu menang lotere. hanya tinggal menunggu Kugy melangkah masuk. *** Selepas dua cangkir cappuccino. makasih ya untuk kesempatannya jadi project leader. “Dead Or Alive?” tanyanya langsung. Saya kayak stuck di musik ’80. like a record. Mobil itu bersih sekali. “mungkin karena itu juga saya mau terima kamu kerja di AdVocaDo. Tak sabar rasanya ingin menulis surat laporan untuk Neptunus. takjub.” Remi pun manggut-manggut setuju. kata ‘unik’ itu seringnya merupakan ungkapan halus dari kata ‘aneh’.” ================ Senyum Kugy melebar tanpa bisa ia tahan. pintu depan yang sudah dibukakan. Kamu hanya tinggal jadi diri kamu sendiri. Karel sudah bilang kalau kamu memang unik. Ini tuh musik yang saya dengar dari kecil. Terlalu salah tingkah untuk berkata apaapa. Kugy lupa . kamu memang punya bakat alam. “tapi saya nggak terlalu kaget.

” katanya pada Remi. Sebagai teman. jadi agen apa ya cocoknya?” “Agen BULOG… kerjanya nimbang beras. Dan Noni merasa ketiban sial karena mau tak mau menjadi orang yang harus ketitipan barang Kugy yang ketinggalan. Akhirnya ia membuka laci meja belajarnya. Noni pun kembali menyambar sapu yang tersandar di dinding. Seperti biasa. sampai terpingkal-pingkal. Tadinya mau kubuang. Kenapa?” “Mbak. “Mulai menyesal kan merekrut aku jadi pegawai?” Kugy bertanya kocak sambil berkacak pinggang. pasti semuanya juga kumakan. Kalau Libra.” balas Remi yang sedari tadi menghitungi cangkang kerang. Bentuknya mirip buku atau album foto. Ellen. tapi Noni ragu. tadi aku baru beres-beres lemari. Noni menyambutnya dengan kening berkerut. tauk.” Noni menelan ludah. Dan Kugy kalah telak. kayaknya saya mulai menyesal…” Remi terkekeh geli. Benda itu cukup tebal dan berat. ya? Kita dinner di restoran seafood. Remi bereaksi dari mulai mendengarkan serius. Aku menemukan ini. “tapi nggak pa-pa. Isinya cuma kertas-kertas sama barang-barang bekas gitu. Mahasiswa angkatan baru bernama Ellen yang sekarang menghuni kamar sebelahnya sedang berdiri sambil memegang sesuatu di tangannya. Tak sempat bersiap dan tak sanggup melawan. “Saya belum pernah lihat barang ini sebelumnya. Makasih ya. kamu kasih saya apa? Air laut?” “Seafood.” Kugy menggeleng dengan tampang serius. iya. pikirnya. “Iya. Besok malam. Kotak persegi panjang berlapis kertas kado warna biru polos. melongo. “buat teman makan nasi. Nanti kalau ketemu orangnya akan saya tanyakan. dan kasta pangkat mereka yang bagaikan bumi dan langit—yang satu anak magang lulus kemarin sore.” Kugy merasa kejadian di lobi tadi berulang. ia bercerita dengan gaya pendongengnya yang semangat dan berapi-api. Jakarta. dengan sigap dan lihai Remi sudah memasukkan serangan berkali-kali. September 2002… “Permisi… Mbak Noni?” Noni yang sedang menyapu kamarnya langsung menyandarkan sapunya ke dinding dan menghampiri pintu. “Kamu kalah dua. “Susah. “Yang dulu tinggal di kamar ini kan temannya Mbak Noni. tanpa ia sempat mengambil kuda-kuda. kamu kalah tiga.” “Boleh. Ellen. Jika diibaratkan permainan silat. Salah satu syarat dasar jadi agen Neptunus adalah berzodiak Aquarius. Nggak usah dipikirin. Mbak…” Ellen menyerahkan benda yang dipegangnya. Gimana? Keren nggak. saya tetap merasa kamu salah satu aset paling menjanjikan yang pernah saya temukan.” Sepeninggal tetangga barunya. kepalanya pun mengangguk. tapi ketimpangan porsi dari restoran ini. Kalau di piringku ada ekstra sepuluh kerang. Saya kasih kamu nasi. Bandung. tersenyum.” protes Kugy. “Sebagai pegawai. Jadi kita asas saling membutuhkan aja. saya simpan saja. Sudah pasti barang ini milik Kugy. toh? Apalagi saya. Perlahan. Kugy bercerita dari mulai masa kecilnya hingga terdampar di AdVocaDo karena kesenangannya berurusan dengan kata-kata. “Kalo itu bukan salahku. Kita jalan jam 7-an aja dari kantor. “Tapi di klasemen kerang rebus. Terus ada satu dus yang ketinggalan. Ada yang enak banget di Radio Dalam. Selintas terbersit keinginan untuk membuka bungkusan itu. tuh?” “Oke.” kata Ellen lagi. Gy. sih. “tapi saya juga mau dong jadi agen rahasia Neptunus…” “Zodiak kamu apa?” “Libra. menyimpan benda itu di sana. Mbak. Karena agen Neptunus juga butuh makan nasi.perbedaan umur mereka yang terpaut delapan tahun. . September 2002… Kugy menghitungi cangkang udang di kedua piring mereka. ya? Mungkin itu punya dia.” “Kayaknya nggak imbang. Noni menimang-nimang benda itu di pangkuannya sambil merenung.” jawab Kugy mantap. yang satunya lagi pemilik perusahaan. tapi untungnya aku sempat periksa lagi.

” kata Remi seraya menyambar selembar pamflet menu yang tergeletak sebagai alas makan di atas meja. keduanya beranjak dari sana.” Remy mengangkat bahu. ya. Yang itu udah lolos. saya lebih kepingin ditemani makan lagi sama agen kamu yang satu itu. Sopan. ruangan itu jadi temaram. “Gy. andaikan agen nonAquarius ingin bergabung. “Dalam primbon peraturan agen. sebentar. sekaligus ingin mengusir. Kugy tak bisa menentukan mana yang lebih dominan. Dengan cekatan.” tambah Remi lagi. mengambil pulpen dari tasnya. deh. diikuti sorot mata yang menghangat. “Belum disusun sampai syarat ketiga… hehe. makanku udah cukup banyak nggak buat jadi agen Neptunus?” “Sebentar. kegugupan. siap menutup pintu. membuka lipatan kertas. diperbantukan penerangan lampu jalan: Makasih sudah mengirimkan agen Kugy ke kantor saya.” ujar Remi santai. entah kenapa. boleh. Terakhir. bentar.” “Bye!” Kugy melambaikan tangan. Dan sorot mata itu.” “HRD-nya payah!” omel Remi bercanda. Oktober 2002… . Sambil menahan tawa geli.” Kugy berpikir. Keduanya pun baru tersadar.” sela Remi. ya. dan tak lama kemudian jadilah sebuah perahu. menulis sebentar di atas dashboard. “Jadi. Saya ingin kirim pesan buat Neptunus. ia tersenyum lebar-lebar. “Buat kamu hanyutkan besok. Mudah-mudahan dia mau. ya. lalu ia menyalakan lampu mobil. “Wah! Hebat!” Kugy bertepuk tangan. Apa syarat berikutnya?” Kugy berpikir lagi. “namanya juga usaha. Kugy memandangi lagi piring-piring kosong hasil perjuangan mereka sejam terakhir. “Saya mulai optimis. ============= Jakarta. Kugy pun mematung bersama selembar kertas di tangannya.“Itu namanya nasib!” Remi nyengir. Tanpa menunggu lebih lama. restoran itu sudah mau tutup.” Remi menjawab halus. Kedua. kamu boleh baca isi pesan saya. Nanti dikabari lagi. ya. berarti kamu harus nulis sesuatu di kertas ini. “Padahal udah semangat. dan juga… rasa senang. dan membuat malam ini menjadi malam yang sangat menyenangkan.” Pintu pun membuka. tapi… aku coba.” katanya sambil menyerahkan perahu kertas yang tadi ia lipat di restoran. dan setengah kaki Kugy sudah melangkah keluar. Mas. “Ini buat apa?” tanya Kugy heran. Saya nggak kepingin-kepingin amat kok jadi agen. Di hatinya terasa ada kebingungan. membaca tulisan Remi yang tertera di bagian belakang pamflet restoran. Gy. menyusul. ya. Sabar… sabar. Bye. Titip ini. Entah namanya apa. “Dan karena kamu kurirnya. Para pelayan sudah berdiri memandangi mereka dengan senyum dipaksakan. dan berpikir. maka syarat-syaratnya adalah: pertama.” Kugy mengangguk. harus jago makan seafood…” ========== “Oke. dong. “Nanti aku sampaikan. harus bisa bikin perahu kertas…” “Sini. Kugy merasa satu-satunya penawar yang jitu adalah… tidur. Kugy tertegun melihat gradasi perubahan itu. “makasih ya makan malamnya. sini. saya buktikan. kian membuat Kugy gugup. nih. Beberapa lampu dimatikan. kok. “Sebetulnya dilarang melakukan surat menyurat sampai lamaran kerja positif dikabulkan. nih!” “Secepatnya saya bawa perihal persyaratan ini ke forum departemen HRD.” kata Remi sebelum Kugy keluar dari mobil. Tiba-tiba Remi menahannya. Sampai besok. “Oke. “It’s okay. Kugy menyadari dirinya mulai gugup. “Mmm… pesan? Well. saya tulis dulu. Cuma nggak janji lhooo…” Kugy tertawa. Mendadak. “Syarat kedua lolos!” Remi menggosokkan kedua telapak tangannya dengan mata berbinar. “No problem. ia melipat-lipat kertas itu. “Salam untuk Karel. Kugy tiba di rumahnya pukul sebelas lebih. Memandangi mobil itu melaju hingga hilang di tikungan jalan.” sahutnya cepat.” ujar Kugy sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan Remi. melipat ulang perahu itu dan memberikannya kepada Kugy. Kamu lolos. Ketiganya bercampur jadi satu. dibukanya lipatan-lipatan perahu kertas itu.

dari mulai yang senior sampai sesama anak bawang. Mau cari makan aja. ya. “Sialan. serta makananmakanan ringan berukuran mungil yang diedarkan di atas baki. Semua orang kelihatannya tidak ada yang bermuka kelaparan seperti dirinya. Dinding sekarang pada punya kuping.” “Iyalah. Ini kan zaman inner beauty. Sedari tadi penganan yang disuguhkan adalah gelas-gelas berisi anggur merah dan putih. deh. Kugy berdecak takjub atas kegesitan Remi dalam hatinya.” “Oke. “Cari yang lebih serius. segede-gedenya toket. Mereka yang baru bergabung berkesempatan untuk sejenak menyerobot. Manusia satu itu seperti madu yang dikerubungi para lebah. Entah karena mereka lebih berpengalaman sehingga sudah mengantisipasi dengan makan malam duluan. Tampak jelas mereka berusaha sekali mencuri perhatian Remi dengan mengobrol. tuh…” Mereka tergelak bersama. Sambil menunggu Remi. tapi manusia itu sudah lenyap di kerumunan orang. “Ini wine lounge. sih? Akhirnya kan yang ngaruh tetap faktor kepala. Dan Kugy tambah gelisah ketika menyadari bahwa Remi keluar dari lingkaran lebahnya. Iman kontan tertawa. Melihat langsung tokoh-tokoh yang selama ini hanya ia kenal namanya saja. Saya pamit duluan. Jantungnya seperti menciut mendadak.” Kugy menjawab dengan cengiran lebar. atau apa pun. inilah malam pertamanya bergaul dan berinteraksi dengan sesama pekerja periklanan.” “Iye. Semuanya tidak ada yang ia kenal. Acara yang berlangsung di sebuah wine lounge itu dihadiri seratus orang lebih.” “Well. Thanks infonya. Makin ganteng tuh orang!” “Gua mau dikerem seminggu sama dia. Sebagai anak baru dan anak bawang. Gila. ya. ngomong iya aja belum. Buru-buru. Ia menebar pandangan. Yang jelas. “Iman… di sini nggak bisa pesan nasi. nih. mau dibawa sampai mana. Namun sesudah satu tiket sosial itu berlalu.Untuk pertama kalinya Kugy ikut acara gathering biro-biro periklanan. Namun dengan cepat. Ketemu di pintu depan. Yang melingkarinya semua perempuan. Dan kalo udah jam segini kayaknya mereka udah nggak menyediakan makan besar. deh. Gy? Nggak mingle?” tanya Remi yang sekarang sudah berdiri di sampingnya. maksudnya apa yang ada di ‘inner’-nya baju elo!” .” “Bo. Kugy bisa mengikuti pembicaraan massal yang sedang terjadi di sana.” “Gua sebulan. atau pergaulan dan wine kadang-kadang bisa mengenyangkan perut. “Fisik lo!” “Tapi. Kugy membuang muka. entah apa yang mengarahkan tatapan Remi. nggak bakalan lama. Kugy tergagap mau mengatakan sesuatu. ya? Lima belas menit? Saya pamitan dulu sama orang-orang. oke. please. Kugy menontoni itu sampai akhirnya tersenyum geli. ia pun pergi ke toilet. cium pipi kiri-kanan.” sahut Kugy sambil menepuk perutnya. “Tuh…” Remi menunjuk baki berisi roti-roti mungil dan keripik yang disajikan sejumput-sejumput di mangkok kertas. Kecuali kalo lu keluar dan cari nasi goreng di pinggir jalan. ya?” bisiknya pada Iman. nggak sampai pacaran. “anakonda-ku mulai aksi huruhara. Malu-maluin.” Beberapa dari mereka langsung mangap. Kayaknya nggak mungkin lagi disumpal makanan basi-basi.” jawab Kugy sedikit manyun. tiba-tiba saja matanya menemukan Kugy yang tengah mengamatinya. atau melucu. Perut Kugy yang belum diisi nasi mulai menunjukkan reaksi pemberontakan. AE-nya ViaAd? Dia sempat sukses lho nge-date sama Remi. maksud gua. dan berkenalan dengan orang-orang dari berbagai kantor. hanya sekadar supaya Remi mengalihkan sebentar tatapannya dan meladeni barang satu atau dua kalimat. mereka kembali harus menunggu ‘giliran’. cuma sebatas kencan doang.” “Saya temani. “Haa? Sandy?” “Damn! Lucky girl!” “Faktor bemper depan.” Remi pun melesat pergi. berjalan menuju tempat ia berdiri. Tahu-tahu. Di depan cermin. sekumpulan perempuan sedang berjajar memperbaiki dandanan mereka. “Lagi cari makanan. siapa pun yang cuma modal bodi doang. sambil melingkarkan tangan mereka sejenak di pinggang Remi. Hayo?” “Lu tahu Sandy. “Kok sendirian. tidak baginya. Matanya lantas tertumbuk pada Remi. pikirnya. Neng.

” Bertepatan dengan itu. Tatapan yang sama ketika Remi memberikan perahu kertas di mobilnya beberapa minggu yang lalu. Sebelum janur kuning berdiri.” Remi tersenyum sambil melengos.” kata Remi lembut. Dengan dirinya. Kamu bisa jadi diri sendiri. Dalam hatinya. Semua cerita sudah habis ia wujudkan ke dalam . ========== “Dahsyat. kompetisi masih terbuka!” “Hari giniii… janur kuning udah nggak ngaruh! Sebelum BENDERA KUNING berdiri. Ubud. makan kamu. nggak ngaruhlah kalo pun dia lagi ada pacar.” Kugy menahan napas. Semua halaman sudah habis ia baca. Kugy ragu bisa keluar dari toilet tadi dalam keadaan utuh. “Mereka yang justru nggak tahu betapa berharganya kesempatan ini buat saya. ah…” katanya seraya celingak-celinguk mencari pelayan. “sampai ada forum arisan yang bahas kamu di toilet tadi. ‘Alpukat’ adalah julukan bercanda untuk AdVocaDo.” komentar Remi lagi. Kugy tidak bisa memutuskan haruskah ia merasa beruntung atau justru sial.” sahut Kugy. “setidaknya bagi mereka. Kalo tanganku dibelek. “Aku mau pesan juga.” katanya seraya mengibaskan tangan. Kugy langsung memalingkan kepalanya ke arah tembok.” cepat-cepat ia menambahkan. tapi kok muat sih makanan sebanyak itu?” Remi tak habis pikir. “Setuju. antara melanjutkan atau tidak. November 2002… Keenan membolak-balik buku tulis itu dengan resah. Antara masih lapar dan upaya mengompensasi salah tingkah. ketemunya juga usus. Tapi saya bingung. sehingga mukanya belum dikenal dalam lingkup pergaulan periklanan. Tapi…” Kugy mencoba menelan tawanya. “Jadi. Tak lama. “Ususku di mana-mana. “Cewek-cewek pasti ngiri sama kamu. *** Kugy baru saja melahap tandas sepiring nasi goreng. sih.Mereka tertawa lagi. saya juga.” Kugy terkikik geli. “Saya lebih senang kalau kamu nggak nyadar.” seloroh Kugy. Dan menurut saya itulah yang paling menyenangkan dari pertemuan kita selama ini. “justru karena teman makanku. kompetisi tetap terbuka! Haha!” “Najis lo!” Seusai mendapat gilirannya masuk ke kamar mandi. “Malam ini aku bisa bilang kalo ucapan kamu ada benarnya. Spontan. kan?” Tiba-tiba satu orang berceletuk. Kugy menelan ludah. “… betapa berharganya kesempatan ini. Kugy bersyukur dengan status anak barunya. Kugy langsung menyantap dengan lahap. “Bo. menjadi diri sendiri itu memang yang paling enak. Diam-diam. ya. Dan kembali Kugy merasakan kegugupan sama menyerangnya. “Maksud kamu?” “Aku baru sadar aku sedang makan dengan the most wanted eligible bachelor yang dipuja-puja dan diperebutkan hampir semua cewek di acara tadi.” ia menyahut sekenanya. Dengan Remi.” Remi mengerutkan keningnya. dan ia sudah ngiler melihat roti bakar yang dipesan Remi. Hawa di dalam toilet itu pengap rasanya. tapi bukan karena faktor makanku. “Apa. ia mulai merasa ada yang tidak beres dengan ini semua. Bukan karena temperatur. Mata-mata gua di Alpukat sih belum ngelapor apa-apa. bahkan berkali-kali dan tak terhitung lagi. Kugy cepat-cepat menyelinap keluar. larinya ke mana semua. ia memesan setampuk roti bakar dan segelas cokelat panas. ya? Badan sekecil gitu. “Memang. Remi pun berkata ringan. Andaikan perempuan-perempuan itu tahu bahwa dalam lima menit dirinya akan keluar makan bersama Remi. Sambil menyeruput teh panas. “tapi lucu aja. Melihat bagaimana Remi begitu diminati. tapi karena persaingan ketat demi atensi seorang Remigius Aditya. manusia itu sebegitu populernya. tawa Kugy menyembur. Karena kayaknya cuma aku satu-satunya yang nggak nyadar betapa…” nada itu meragu. roti bakarnya datang. Sungguh ia tidak sangka. nggak ada anak Alpukat. Remi menatap Kugy. Nggak penting. sekarang Remi lagi nggak deket sama siapa-siapa? Still eligible?” “Kayaknya masih.” “Eh.

ia sadar. Satu kenyataan yang begitu mengerikan. “tapi kalau kamu belum merasa siap. Hanya menunduk dan memandangi lantai kayu di bawah kakinya.” “Sebenarnya—” susah payah Keenan berusaha menguraikan kebekuan yang menghadangnya selama ini. Jangan bebani dirimu seperti ini. Dan ingat.lukisan. saya tahu. tertatih-tatih. Bahkan bertahun-tahun. “Gus. Bebunyian yang kini bahkan terasa perih menusuk hatinya. Sudah ratusan kali ia coba. saya merasa nggak berguna tinggal di sini. tidak apa-apa. Tidak satu kali pun saya pernah mensyaratkan sesuatu supaya kamu bisa tinggal di sini. “Gus. Semilir angin mengembus. Namun. buku itu harus ada yang meneruskan. kamulah yang berusaha mencari ‘bintang’ baru. Meskipun begitu. Atau. menggoyang kentongan bambu. Tapi tidak tahu mulai dari mana… saya …” matanya mengerjap-ngerjap bingung. Poyan. “Objek lukisan kamu selama ini sudah senyawa dengan kamu. Sekarang ini. Melukis atau tidak. Dan itu jugalah yang ia sudah hadapi dua bulan terakhir ini. Hampir semua orang berkomentar senada. Gus. Saya tidak akan memaksa. Kini ia sudah kembali berdiri tegak. Tepat dua tahun ia memulai segalanya di bale ini. Setergantungkah itu dia? Setelah diam beberapa saat. Luka yang sama pernah dialaminya. Dan lelah itu tak kunjung pergi meskipun ia sudah sarapan dan senam ringan. Ia bangun pagi dengan rasa lelah yang luar biasa. Adri tetap memilih pergi ke kantor. “Mau tidak mau. Dan bukannya itu juga jalan yang kamu pilih?” Kepala Keenan semakin dalam merunduk. “Semuanya hilang. kehadiranmu berarti buat kami. Tapi bukan berarti kita harus menyerah. membawanya pada satu kesimpulan. bahwa ia tidak ada apa-apanya tanpa buku itu. November 2002… Sejak pagi tadi. Bukannya Keenan tidak mencoba berimajinasi di luar buku Kugy. “Buku itu habis.” Jauh di dalam hatinya. Hatinya tambah remuk mendengar itu semua. jodoh saya. bersabar.” Setengah meratap. Keenan rasanya tak sanggup berkata-kata. “Kamu bisa cerita apa saja pada Poyan. ikuti saja…” Pak Wayan menepuk lembut bahu Keenan. Melukis adalah jalan yang saya pilih. Bagaimana bisa ia menjelaskan bahwa semua yang ia lukis adalah karya Kugy di sebuah buku tulis kumal. Tepat dua tahun sejak kedatangannya ke Lodtunduh. Poyan. “Ketidaktahuan adalah awal yang baik. =========== “Ada apa dengan kamu. Ia tidak ingin Lena curiga dan mempertanyakan soal . Keenan tampak seperti boneka rapuh yang pecah jika sedikit saja tersentil.” ucap Pak Wayan sehati-hati mungkin. Jalan itu akan terbuka dengan sendirinya. Rumahmu di sini. melewati mereka berdua. Kamu kembali seperti waktu pertama kali datang kemari. Mengerti maksudku? Tidak mudah. Kanvas kosong.” kata Pak Wayan lagi. nanar menatap pria yang sudah dianggapnya ayah sendiri. Yang tersisa dari buku itu hanyalah selembar terakhir yang kosong. Pak Wayan terkesiap. Poyan. ia berusaha bangkit. semua pelukis pernah mengalami apa yang kamu hadapi sekarang. Jakarta. Gus. Keenan mendongak. Keenan berkata. bintang yang sama tak akan pernah kembali untuk yang kedua kali. Dan semua pujian yang orang sampaikan untuk lukisannya kini justru terasa menyudutkan. seperti yang biasa ia lakukan setiap hari untuk menyegarkan badannya. Dan kalau saya nggak menghasilkan apa-apa. Ini rumahmu. memohon pertolongan. Puluhan tahun yang lalu. inspirasinya. Kenapa kamu harus bingung mau melukis apa?” Dan dirinya hanya bisa diam. Gus? Kenapa kondisimu menurun sekali. Ngerti? Jangan bebankan hal seperti itu pada dirimu sendiri. Susah payah. Saya pun pernah.” bisiknya. Kamu tidak usah lari lagi. tapi tetap saja tidak bisa. Semuanya! Begitu saja! Saya nggak bisa melukis. Bukan dirinya yang ikut dalam petualangan itu. Pak Wayan pun berkata pelan. Saya nggak tahu harus melukis apa lagi. Adri merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Segala sesuatu diawali dengan tidak tahu. Pak Wayan sangat memahami kepedihan Keenan. “sebenarnya saya ingin bicara. Hatinya gentar membayangkan bahwa segalanya pun bisa berakhir di sini. mencari sesuatu yang baru untuk menggantikan bintang hatinya. bukan dirinya yang menulis semua cerita itu.” tegas Pak Wayan. terimalah saja kalau kamu belum bisa melukis lagi. semua orang di sini sudah menganggap kamu keluarga. dan ketika semua kisah dalam buku itu habis… habislah inspirasinya.

Keenan tersenyum. Namun bibirnya tak kuasa membentuk senyuman. De. Duduk di hadapan gadis itu.” ucapnya tulus. di mana pun. Adri segera memencet tombol speaker karena tangannya tak bisa lagi memegang telepon.” Tangan Luhde yang tadinya sibuk bergerak langsung berhenti. Keenan meletakkan kuas yang sedang ia pegang. Bagi Kugy. Jakarta. Benar-benar berusaha. Ia ingin terbebas dari buku itu. mereka pergi bersama untuk makan malam. Kugy duduk di jok depan mobil Remi menjadi sebuah pemandangan yang disaksikan hampir setiap hari oleh satu kantor.kesehatannya jika ia memilih beristirahat di rumah. Antara bahagia. Luhde menduduk. mencurahkan apa pun yang ia mampu dan ia sanggup berikan. Remi adalah teman jalan yang begitu menyenangkan hingga membuatnya tak lagi peduli akan kompetisi di . Keenan menahan napas melihat keindahan yang terbentang di hadapannya. Keenan mencamkan pada dirinya sendiri bahwa jiwa seorang seniman adalah jiwa yang bebas. Tubuhnya terbujur kaku. terperangah. “Saya melukis untuk kamu.” katanya setengah berbisik. Dalam kekagetannya. Si Ninja Asmara sendiri tak peduli. Baru kali itulah ia mendengar Keenan mengungkapkan perasaannya. Dua tahun ia berharap. Dengan pelan dan khidmat. Adri melorot jatuh ke lantai. Langsung dan sederhana. Kugy juga punya julukan baru. “Makasih.” Suara sekretarisnya terdengar dari interkom telepon. Pak Ong. mengamati Luhde yang dengan tekun mencuci kuas-kuasnya. “Maaf. Ada Luhde yang duduk setia di sampingnya. Desember 2002… AdVocaDo kini punya topik hangat yang selalu diulas siapa pun. Dua tahun ia mendekat. dan kapan pun: Kugy. =========== Ubud. Julukan itu khusus diperolehnya karena tidak ada satu pun yang menyangka sarjana kemarin sore berjam tangan Kura-kura Ninja telah berhasil mematahkan hati banyak perempuan yang selama ini mengincar Remi. sepertinya saya harus menelepon Anda kembali… saya…” Dan tiba-tiba sesuatu seperti menyapu seluruh tubuhnya. ada kehangatan yang merekah dan menjalari tubuhnya. ada telepon dari Pak Ong dari Malaysia. Buku tulis itu disimpannya di kamar dan tak pernah ia bawa lagi ke mana-mana. tangan kanannya yang memegang gagang telepon tahu-tahu gemetar. Setelah dua menit berbicara. Tidak hanya populer karena dianggap prodigy atas ide-idenya yang gila. Sudah saatnya. Dan dalam hitungan detik. gemetar itu berubah menjadi bergetar. Satu pekerjaan yang sudah biasa ia lakukan sejak kecil dengan telaten karena sering membantu saudara-saudaranya yang pelukis. Sesuatu mendorongnya untuk bergerak mendekati Luhde. tapi Keenan juga melukis untuk diri Keenan sendiri. Keenan berkata. tugasnya yang bertumpuk terlampau menyita waktu dan tak sempat lagi ia memikirkan lejitan kariernya yang mengagetkan semua orang. Kedekatan Remi dan Kugy selama dua bulan terakhir sudah terlalu kentara untuk diabaikan. haru. Mengecup lembut bibir Luhde. Dan sesuatu menggerakkannya untuk terus mendekat. Adri mengangkat telepon dan mulai berbicara dengan relasinya. “Kuas-kuasnya saya bersihkan. Luhde mendongak. Luhde mengangkat mukanya perlahan-lahan. Hampir setiap hari Remi terlihat mengantar Kugy pulang. Jantungnya seperti berhenti berdegup. “Kamu seperti malaikat…” Kalimat itu terlontar begitu saja tanpa bisa ia tahan. Dan sejenak ia berhenti. Desember 2002… Kali ini Keenan berusaha. Dan baginya. “Ya. Memutuskan bahwa ia tidak akan menyerah kalah pada kebuntuannya.” kata gadis itu sambil mengambili kuas-kuas Keenan yang sudah mengeras. yakni “Si Ninja Asmara”.” sahut Keenan. Ekspresi murni yang bergerak dari hati. dan melukis. “Saya senang melihat Keenan melukis lagi. bahkan tak menyadari bahwa dirinya tengah jadi sorotan. ya. Dua tahun ia menanti. “Titiang tresne teken Luhde. dan tersipu. Menatap mata Keenan dengan perasaan campur aduk. Pipinya bersemu merah.” Cepat. mengisap kekuatannya. “Pak Adri. bukan jiwa yang terpenjara atau tergantung. Sementara itu. Tak bergerak lagi. Setidaknya dua atau tiga kali dalam seminggu. Dalam sekejap. Keenan pun melukis.

gih. saya Kugy…” katanya sambil mengangguk.” jawab Kugy. Kugy mengangguk. merapatkan tubuh Kugy ke arah tubuhnya. Malam itu. menggamit dan menarik tangan Kugy keluar. Remi berdiri dengan senyuman karismatiknya. Tahu-tahu. dong. ya…” ia berkata dengan nada seramah mungkin seraya berlalu dari sana. “Iya. nggak tahu. Kugy mencoba mundur. Ada sekelompok perempuan yang juga ia kenali. “Nggak pacaran kok…” Kugy menggelengkan kepala. teman-teman kantornya berencana untuk clubbing ramai-ramai. “Ng—nggak. “Remi ke mana? Kok nggak bareng?” Seseorang yang lain lagi bertanya. Baru saja ia mencoba melangkah ke arah lain. pinjam Kugy-nya. Akhirnya bergabunglah ia dengan segerombolan orang dalam gelap remang diiringi dentuman musik yang menekan jantung. “Yang lagi magang di AdVocaDo.luar sana. Meski tadinya enggan. sih? Susuknya keluaran dari dukun mana. Senyum yang tidak menyenangkan. “What a show! Benar-benar ide jenius!” . Jeng?” Yang bertanya pun tergelak sendiri. “Kamu yang namanya Kugy?” Salah satu dari mereka bertanya. sih? Susuknya keluaran dari dukun mana. pandangannya pun beralih ke arisan toilet. Dan jemarinya membelai rambut depan Kugy. Kugy. keduanya tertawa terpingkal-pingkal. Kugy mengamati muka itu. Curiga. Jimat dese tuh jam tangannya. Namun ia menjaga agar kekagetannya tidak terbaca. yuk. yang cuma numpang berdiri sejak tadi. lho! Makanya lu semua pada beli. Kugy tidak merasa ada dalam sebuah kompetisi apa-apa. ada lengan yang menyeruak lingkaran itu. Kugy mulai merasa terintimidasi dengan percakapan setengah bercanda setengah cari gara-gara tersebut. Sementara hampir semua orang sudah pindah medan kesadaran. jangan salah. Kugy lalu tersenyum manis pada Remi. kok bisa. dan Kugy tak bisa bergerak. badannya berbenturan dengan bahu seseorang. dan mengenalinya sebagai anggota arisan toilet. Namun.” Lalu. Dirinya tidak merasa punya target atau agenda untuk dekat dengan Remi. Kugy bisa bertahan agak lama malam ini karena ia sudah datang dengan persiapan makan malam sebelumnya. dengan rencana kabur secara bertahap. “Yuk. you know!” Dan mereka tertawa. lewat dua jam. Bingung. “Pulang. Remi memeluk pinggang Kugy dengan luwes. Lu cari jam Spiderman. ya. Banyak wajah-wajah yang tak asing. “Sori. Cari di Pasar Baru. Arisan toilet. baginya semua itu mulai tidak lucu. Kugy didaulat untuk ikut. Jeng?” Yang bertanya pun tergelak sendiri. Kebanyakan ia temui waktu acara gathering bulan lalu.” katanya ringan. yaa!” Ucapan itu dibarengi dengan senyum. “Lihat nggak muka cewek yang tadi berdiri sebelahku? Asli kayak cicak buntutnya copot!” seru Kugy sambil memegangi perutnya yang terkocok. kok bisa. sori…” Kugy refleks meminta maaf. ia mulai gelisah. ia sedang dikepung. kan?” Ada yang bertanya lagi. lu cari jam Barbie… pokoknya jam plastik yang norak!” “Menurut majalah Vogue. “Eh. “Udah lama pacaran sama Remi?” Nada itu ketus dan menusuk. Selamat. =========== “Iya. “Kalo iya juga nggak pa-pa. dan ternyata berbenturan lagi dengan badan seseorang. lu Superman. sudah ada sosok baru yang menghalangi jalannya. jangan jadi minder gitu. that is so 2002. Ia kepingin kabur secepatnya. Ia mulai tidak nyaman dengan interogasi ini. Namun langkahnya dibendung dari kanan-kiri. Tak hanya mereka yang terlongo. Kugy benarbenar tidak tahu apa maksud mereka. “duluan. menjadi pihak terasing karena ‘nggak nyambung’. Tahu-tahu. menggenggam balik tangan Remi yang melingkar di pinggangnya. Semuanya mengalir begitu saja. Kugy pun kaget bukan main. “Iya.” katanya dengan anggukan kecil. Akhirnya Kugy pun tersadar. Perut kenyang tidak berarti menjadi betah. seolah sudah ratusan kali melakukannya. Dan urat cueknya terlalu kuat untuk memusingkan apa kata orang. Kugy menjuluki dalam hati. menatap mereka semua dengan sopan. Yang jelas. Pelan-pelan ia beringsut. “Sori. Sesampainya di luar.

Untungnya klien-klien saya yang lama terus mendukung. Iklan yang saya buat juga sukses. =========== . dan kamu juga sukses di bidang yang kamu cintai. semuanya berhasil. Orang tua saya. Dan mereka berjalan menuju parkiran. “Ini dunia saya. Mereka semua bilang. saudara-saudara saya. “Pelukis? Kok—bisa?” “Lukisan adalah hiburan saya yang paling menyenangkan.” Kugy terdiam. Berjalan ke luar. terus saya kasih ide-ide untuk bisnis mereka. “Tapi. makanya AdVocaDo bisa seperti sekarang. barulah jelas suara apa itu. Semua yang diceritakan Remi mengingatkannya pada seseorang. Terus saya pernah nggak sengaja jadi project leader satu produk. “Baru jam satu.” “Mungkin.” celetuk Kugy. matanya berbinar. “Kalau saya jadi tukang bubur. “Kalau kamu? Kalau dilahirkan lagi. Pasti banyak banget yang ngiri sama kamu. dapat klien yang gede banget. Kamu mencintai pekerjaan kamu.” Remi menjelaskan. “Ikan paus. “yang jelas saya cuma ngiri sama satu…” “Siapa?” “Pelukis. Pelan-pelan. “kamu orang yang sangat. dan mereka suka banget sama ide saya.Remi melihat jam tangannya. Makan bubur dulu. Desember 2002… Luhde terbangun lebih pagi dari biasanya. Ia ingat sederet plakat penghargaan Remi terpajang di dinding kantor.” Kugy berdecak kagum. Saya lalu keluar dari tempat kerja saya yang lama. Keenan tengah berdiri… menyobek lukisannya sendiri. sangat beruntung.” Kugy seperti tersentil mendengarnya.” Ubud. Tiba-tiba saja ia terlonjak dari tempat tidur. yuk. tiap mereka bikin apa saja. Dan terkejutlah Luhde ketika melihat apa yang terjadi. coba-coba bikin sendiri. Gantian mengamati Remi yang masih menghabiskan buburnya. Mereka pasti ngiler luar biasa.” “Boleh. nih. Belum ada siapa-siapa yang terlihat. tangan Remi tak lepas-lepas dari pinggangnya.” ujar Remi yang sedari tadi memperhatikan Kugy. cemas dan takut. Namun kupingnya mendengar sesuatu. saya sering bantu event sekolah atau kampus. Tangannya masih menggenggam kanvas yang sudah tercabik menjadi dua.” “Wow. “Kenapa kamu?” Keenan tertegun melihat Luhde yang muncul tanpa diduganya. “Sejak kapan sih kamu tertarik ke dunia advertising?” tanyanya penasaran. Dari arah bale. “Ke—kenapa lukisannya disobek?” Luhde bertanya.” Kugy manggut-manggut.” jawab Keenan datar. “para pelukis itu bisa melahirkan dunia baru lewat jiwa mereka… berkata-kata dengan gambar… warna… komposisi…” ia menghela napas panjang. “Keenan!” seru Luhde sambil tergopoh berlari naik ke bale. ia bangkit dari tempat tidur. dari dalam club tadi sampai mobil. saya kepingin jadi pelukis. jadi junior art director. Perasaannya tak enak. saya bakal jadikan kamu brand ambassador. Remi menggeleng. *** Bubur yang tadi menggunung di mangkok sudah lenyap. Saya mulai magang seperti kamu. Dari kecil saya tuh udah jago bikin dagangan orang laku. Saat ia mendekat. mereka suka iseng tanya sama saya. Saya malah dapat award tahun itu. Lukisan yang baru dibuatnya beberapa hari lalu. yang tersisa hanyalah lapisan tipis. dan kepingin nambah biarpun udah kenyang. eh… semuanya sukses. yang itu pun masih disendoki Kugy dengan semangat. ini memang pekerjaan yang selalu kamu inginkan? Atau ada passion lainkah?” tanya Kugy lagi. “Dari lulus kuliah. Dan saya cuma minta kamu makan persis kayak gitu di depan pengunjung. “Dasar orang iklan. “kalau saya dilahirkan kembali. “Lukisan ini nggak bagus.” Remi mengangkat bahu. dan sesudahnya hampir setiap tahun dapat penghargaan terus. Barulah Kugy menyadari sesuatu. mau jadi apa?” Kugy menjawab mantap.” kata Kugy riang. Entah kenapa. Waktu sekolah dan kuliah juga sama. Dan saya puas banget mengerjakannya. Kamu dapat omzet sepuluh persen dan makan gratis sesering dan sebanyak apa pun yang kamu. Gy. dulu Remi dianggap prodigy dunia periklanan.

tersenyum. Bercerita. Sesekali terjaga dan membuka mata. “Masih pagi sekali. “Kkk… kk… kee…” Lena terkesiap. Anginnya dingin. Lena pun terenyak di tempat duduknya. mengeluarkan bunyi kerongkongan yang tertahan. “Aku ingin di sini. Dokter bahkan meragukan kondisinya akan kembali seratus persen seperti semula. yang jauh lebih mudah dihadapi ketimbang wajah Luhde yang pilu. Di ruangan itu. Adri berusaha setengah mati untuk mengucapkan satu kata itu: “Kkk… kee… nan…” Begitu kata itu terucap.” Cuma itu yang Keenan bisa bilang. sampai akhirnya ekor matanya menangkap sesuatu. dan sebagian dirinya tidak terima. bahkan . Ia sungguh tak mengerti. “Apa yang bisa aku bantu. dan hari ini ia sudah mulai siuman. hanya dirinya dan suaminya yang terbaring tak bersuara. Saat seperti inilah baru sepi itu terasa.” kata Keenan lirih. Dengan suara terimpit dan belenggu fisik yang tak memungkinkannya untuk berbicara. “Iya. Memeluknya perlahan dari belakang. De. Jakarta. didekatinya sosok itu. Lena membelai wajah suaminya. Tapi tak ada satu bunyi pun yang keluar. tak satu kali pun Adri membahas masalah Keenan. Adri tidak menunjukkan kepedulian sama sekali tentang keberadaan Keenan. Keenan? Itukah penyebabnya? Selama ini. Desember 2002… Lena termenung di pinggir tempat tidur rumah sakit. Mudah-mudahan keajaiban ini berlanjut. “Kenapa dirusak?” tangisnya lagi. Sejak Keenan pergi. “Aku di sini… kamu akan sehat lagi… kamu akan baik-baik lagi seperti dulu…” Mata itu mengerjap lebih cepat. Dan ia putuskan untuk berbisik di telinganya. Kelopak mata suaminya kembali membuka. Stroke yang kali ini menyerangnya jauh lebih kuat dibandingkan serangan yang pertama. apa. Otot-otot wajahnya kembali menegang. Adri baru melewati masa kritis selama dua hari.“Tapi… itu lukisan Keenan yang pertama lagi setelah sekian lama… dan menurutku. Mata itu mengerjap. Membenamkan air matanya di sana. “Karena… lukisan itu…” Keenan tergagap. Lena mulai membaca sorot yang gelisah itu. dan berbisik di telinga suaminya. lukisan itu bagus… apanya yang salah?” ratap Luhde kebingungan. Kamu masuk ke kamar lagi saja. mata Adri kembali memejam. Hati-hati. lantas mengenggam tangan yang terasa kaku bagai kawat itu. Jeroen baru akan kembali ke rumah sakit setelah jam sekolahnya usai nanti siang. saya nggak bisa melukis seperti dulu lagi. otot-otot muka Adri mulai bergerak. kata mereka lagi. Memohon. Untuk pertama kalinya Keenan melukis untuk dirinya… dan lukisan itu berakhir dengan tercabik menjadi dua. kenyataan bahwa Adri masih hidup pun sudah harus dikategorikan sebagai keajaiban. Menatap pekarangan yang sepi. Mulut itu bergetar. bahkan mengingatkannya berkali-kali untuk tidak pernah mencari Keenan. sampai anak itu yang menghubungi mereka duluan. Lena bangkit berdiri. Membelai-belai rambut suaminya. Bahkan. Sedikit demi sedikit. Lena segera menatapnya. mereka bilang. Dibutuhkan keajaiban. Semakin sarat dengan pesan. Tangannya langsung memencet tombol untuk memanggil perawat. “De. “Kata siapa? Keenan nggak boleh ngomong begitu! Kamu harus kasih kesempatan pada diri kamu sendiri! Kenapa lukisannya harus dirusak?” desak Luhde bercampur tangis. Berbulan-bulan fisioterapi pun paling hanya akan mengembalikan delapan puluh sampai sembilan puluh persen kondisi suaminya. “Hai…” sapanya lembut.” bisik Luhde. Ia pun membalikkan punggungnya. meski tubuh itu tetap kaku seperti papan. Bagaimana bisa ia mengungkapkannya tanpa menghancurkan hati Luhde? Bahwa lukisan itu tak memiliki nyawa dan kekuatan yang sama? Bahwa lukisan itu tak sanggup menggerakkan dan mewakili hatinya sebagaimana lukisan-lukisannya yang dulu? Dan Luhde pun tak bisa lagi berkata-kata. Adri? Kamu mau bilang apa?” Lena mendekatkan kupingnya ke depan mulut Adri agar bisa mendengar lebih jelas. Dri?" Dengan segala daya yang entah dari mana. menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini belum terjawab: ada apa sebenarnya? Apa yang selama ini kamu sembunyikan? Apa yang bisa kubantu? Lama Lena berdiri seperti itu. terus membelai-belai halus. tak bisa menjelaskan. Direbutnya cabikan kanvas itu dari tangan Keenan.

Perjalanan yang mencabik-cabik hatinya sejak tadi akhirnya tiba di puncak. Segalanya meluruh di hadapan perempuan itu. Sebelum melangkahkan kaki ke gerbang luar. Dialah satu-satunya yang tahu pasti bahwa anak itu baik-baik saja. Ia harus menjemput Keenan pulang. Sesaat. Penjaga rumah yang membukakan pintu meminta Lena untuk menunggu di teras depan. dalam sikap tak mau tahu dan tak mau peduli. pikir Lena. Mendadak. “Adri kena stroke.” sapanya dengan senyum. “Sebentar. Sejak pernikahannya dengan Adri. suaminya bertahan dalam ketidaktahuan. saat ia masih melukis. bahkan dirinya tak lagi sama jika Lena ada. melihat begitu banyak hal yang dapat membangkitkan kenangan-kenangan yang selama ini sudah berhasil ia kubur rapatrapat. Tak lama. ia sudah kembali pulang. Wayan. saat ia masih bersama Wayan.. Padahal. terdengar langkah-langkah yang mendekati. Lepas dari tempat ini. Mama juga . Bahkan dari tempo berjalannya. kamu pernah bilang.menyebut namanya pun tidak. bersisian dengan laut. Mencamkan dalam hatinya bahwa ia datang kemari hanya untuk menjemput anaknya. dan tibalah ia di bandara Ngurah Rai. “Saya mau ketemu dengan Keenan.. Lena sudah tahu siapa gerangan yang datang menghampiri. kamu tidak mau pulang ke penjara yang sama.” ucap Lena lagi. Ia merasa tersesat di rumahnya sendiri. memanggil Keenan. Lepas dari kenangan ini. dan akhirnya tergerogoti dari dalam oleh pertanyaan yang tak ada jawaban: di mana Keenan? Tak ada jalan lain. Ia tidak tahu kekuatan mana yang sanggup menahannya tetap berdiri tegak. Lena belum pernah menginjakkan kakinya lagi ke Pulau Bali... Lena tak sanggup membayangkan apa rasanya di perjalanan nanti. disambut alunan musik tradisional yang sayup-sayup berkumandang dari kotak-kotak pengeras suara.. Dua puluh satu tahun yang lalu adalah terakhir kalinya. Meter demi meter. “Halo. Lena diserang perasaan bersalah yang mendalam. Nanti malam. selama ini. ibunya akan duduk bersama dia di bale. Seolah-olah memorinya sudah ia ringkus dan bekukan hingga satu hari nanti.. =========== Judul : Reuni Kelompencapir PART 9: Reuni Kelompencapir. ia bahkan merasa sedang bermimpi. saat Keenan yang kembali ke rumah dan memohon maaf. Lena duduk terlebih dahulu untuk menenangkan diri. mungkin saja Adri terus bertanya-tanya.” kata Pak Wayan. Perasaan yang luar biasa asing meliputinya begitu pesawat yang ditumpanginya siap mendarat. Lena tidak tahu kekuatan mana yang bisa menggiring dirinya kembali ke sana. Kangen dan pilu bercampur jadi satu. sesuai dengan apa yang dimauinya. Pijakan kakinya seolah ingin membelesak menembus lantai. Sampailah ia di gerbang depan rumah itu.. Pak Wayan berjalan ke belakang. untuk sekadar mampu berdiri tegak menunggu pintu itu terbuka. Mengingatkan dirinya untuk tidak terbelenggu perasaan-perasaan yang tak menentu. Lama. Kenangan saat ia masih tinggal di pulau ini. Bersambung ke PART 9: Reuni Kelompencapir. “Mama ingat.. Cukup itu yang perlu ia ingat. Lena tidak pernah tahu apakah dirinya siap kembali ke sini. “Apa ada masalah?” tanya Pak Wayan dengan suara tertahan. perasaan menyesal. Kekuatannya. *** Tak pernah terlintas di benak Keenan. bertemankan angin dan suara kentongan bambu. saya panggilkan. pertahanannya.” jelas Lena pendek. Dialah satu-satunya yang tahu ke mana Keenan pergi. Ada perasaan ingin berbalik pulang. *** Menit demi menit. sekaligus rasa rindu yang hebat. yang hanya akan menjebaknya ke dalam perangkap masa lalu. Pak Wayan tertegun. Sementara. Meski limbung.

sudah membuat diri saya lebih berarti.” bisiknya. ya? Mama nggak bisa tinggal lebih lama lagi. “Maaf. akan saya penuhi sebisa saya. Seluruh badannya lumpuh. mengecek kamar itu sekali lagi. Sikap Luhde yang demikian justru membuat hatinya tambah hancur. Mama. “mari. Saya nggak bisa apaapa untuk bantu Mama. nanti kami kirimkan ke Jakarta.” Keenan mendekap Luhde. Seutas senyum haru muncul di wajah Luhde.” “Mama cuma butuh kamu ada. “Tunggu saya. nanti bisa menyusul. Ia menyerahkan setumpuk baju yang sudah dilipat rapi pada Keenan. Tak ada rengekan. Begitu ayah saya sembuh. Kalau memang tidak terlalu berat. Dengan tegar dan tenang. De. Tapi. Tanpa perlu dibuktikan. Diletakkannya kembali tas yang sudah diangkat Luhde.” =========== “Luhde. Sekalipun Keenan sudah lama kasih ini untuk saya.” Keenan mengangkat dagu Luhde. Perih sekali rasanya harus jujur.” Luhde menunduk. saya janji akan pulang kemari.” Hati Keenan remuk redam mendengarnya.” “Luhde Laksmi. “Saya akan kembali ke sini.” ia mengangguk mantap. Mama nggak mungkin pulang ke Jakarta tanpa kamu. Di sini pun saya nggak bisa melukis lagi. matanya mulai berkaca-kaca. Nggak mungkin saya membiarkan Papa. bisa Keenan bawa malam ini juga. . “dan itu juga yang dibutuhkan Papamu. sekalian dengan barang-barang yang lain. Cuma kamu yang dia tunggu. “Ini yang terakhir dari lemari. jangan bicara seperti itu. “Ikuti saja kata hati kamu. Itu saja. Apa pun yang Papa minta. Kalau tidak. Titiang me janji. Lembut seolah mendekap kapas putih yang halus. “kalau memang kamu tidak kembali. Luhde menatap Keenan. ya? Mendengar Keenan punya niat begitu.” “Kita berangkat malam ini pakai pesawat terakhir.” Luhde menyerahkan benda itu ke genggaman tangan Keenan. Keenan mengangguk.ngerti. “Keenan nggak percaya. Luhde melepaskan pelukan Keenan. “Semuanya sudah siap. Sebentar saja Keenan ada di sini. Keenan bangkit dan merangkul ibunya. “Apa pun. “saya hanya nggak kebayang apa yang saya kerjakan nanti di Jakarta. tolong. Saya udah nggak kuliah. Saya akan kembali untuk kamu. “Saya pasti pulang. Nan. menatapnya lurus-lurus.” ulang Keenan lagi. “Saya tahu. ya. lihat ini baik-baik. Cuma nama kamu yang dia sebut. Kalau memang masih ada yang ketinggalan. Hari itu Luhde menjelma menjadi perempuan dewasa pada usianya yang baru sembilan belas tahun.” Luhde menebarkan pandangannya. Perlahan. Ma. selalu saya merasa benda ini bukan milik saya. Entah kenapa. Seketika Keenan mengenali benda yang diberikan Luhde.” ucap Keenan sungguh-sungguh.” tegas Lena.” Keenan menerimanya dengan pilu. Saya janji. bahkan pertanyaan. *** Perpisahan yang terjadi begitu cepat tak diduga-duga ternyata sanggup membuat seorang Luhde bertransformasi. Hati tidak bisa bohong.” Lena menggenggam tangan anaknya. ia membantu Keenan bersiap. mencari barang-barang yang masih terlupa. atau rajukan. Ke mana pun itu. dan keluarga saya sudah kembali baik-baik.” Keenan tak tahan lagi.” potong Luhde. Ma. Tapi mungkin Keenan yang belum yakin. Seolah ia sudah bersiap untuk hari itu tiba.” ucap Keenan seraya mengambil kedua tangan Luhde dan mengecupnya. “Ini… kamu bisa bawa lagi. “Kenapa dikembalikan ke saya? Ini untuk kamu. saya bantu sebagian. dan Jeroen. suaranya mulai gemetar. “Saya beres-beres sekarang juga.” Lena berkata. saya nggak bisa kasih apa-apa… dibandingkan dengan semua yang sudah kamu kasih selama saya di sini…” “Kamu sudah pernah ada juga sudah cukup.” bisik Keenan tepat di kupingnya. Ia pun terperanjat.” ucapnya lirih. sekaligus erat seolah ia tak ingin melepas. tapi dia bisa mengucapkan nama kamu.” ujarnya pelan. “Saya akan kembali. benar-benar sudah lebih dari cukup untuk saya. saya mengerti. “Semua barang Keenan yang ada di studio sudah dibereskan oleh Beli Agung. yang Papa butuhkan dari saya. inilah rumahmu sekarang. Ia meraih sesuatu yang sejak tadi dibawanya dalam bungkusan kain. berat.

” Seiring dengan aliran kalimat yang telah dipendamnya puluhan tahun. kemudian menggeser kursi. adalah cinta kedua terindah yang pernah kualami setelah kamu. Aku tidak mungkin mengorbankan Keenan dalam perutku. tidak lagi penting buatku sekarang. lalu dibukanya telapak tangan Luhde. “Aku harus meninggalkan kamu waktu itu. Dalam beberapa jam. Biar saja dia memandang aku tak lebih dari sekadar sahabat lama orang tuanya. Dalam dekapan Keenan. yang mendengar suara langkah kaki. *** Ia tahu waktunya tak banyak. langsung menoleh ke belakang. Kalian sudah membuktikannya dengan bertahan bersama sekian lama. Keenan. “Semoga Adri cepat sembuh. Wayan lalu berjalan menghampirinya. seolah tak mau berpisah. lalu berbalik pergi. Aku berterima kasih untuk kesempatan yang kamu dan Adri berikan. Aku mengerti. Sekarang aku pun merasa cukup. duduk di bale. Sesuatu telah hilang. kamu. Dan aku bahagia kamu memilih untuk mempertahankan Keenan. tapi tak ada air mata yang keluar. sehingga dia bisa menjadi bagian hidupku seperti sekarang. ya. terlepas dari darahnya yang seperti berhenti mengalir hanya dengan duduk sedekat ini dengan perempuan yang begitu dicintainya. aku belajar memaafkan diriku. . Tangisan yang harus kembali dikuburnya dalam-dalam. “kamu hanya perlu mendengar. Dan ia lebih kaget lagi ketika mendapatkan Wayan sedang berjalan mendekatinya. Lena. karena ia tahu. Semua orang bisa merasakannya.” “Wayan…” sergah Lena. Wayan sadar ia tak punya kesempatan lain selain saat ini.” Wayan pun beranjak berdiri. Semuanya aku lepaskan untuk kamu. Sesuatu seolah membuncah ingin keluar dari dadanya. Dan apa yang ingin kusampaikan tidak banyak. “hati kamu mungkin memilihku. Sebulir air mata mengalir di pipinya. Tetap tak ada air mata yang keluar. tapi ia pun tahu kesempatan ini mungkin tak akan ada lagi.” Wayan mengatur napasnya yang menyesak. perempuan itu akan kembali hilang dari hidupnya. hatinya melega.” Wayan memberanikan diri menatap ke dalam mata Lena. Tangisan yang selamanya harus terkurung dalam kesunyian. Aku tahu. dan duduk di hadapannya. Aku menyayangi dia seperti anakku sendiri. Lena. Mengecup bibirnya. Ia mengelus sekilas punggung tangan Lena di atas meja.Dibukanya bungkusan kain yang menutupi ukiran itu. Kadang. “Ini. Tapi hati juga bisa bertumbuh dan bertahan dengan pilihan lain. Meski seluruh sel tubuhnya tergetarkan oleh perasaan gentar. Erat. “semoga Adri cepat sembuh. Lena nyaris tak bisa berdiri dan berucap. “Kamu tidak perlu bicara apa-apa. *** Suasana di rumah itu tak lagi sama. Selepas kepergian Keenan dan Lena. kemudian ia letakkan ukiran itu di atasnya. Tidak akan ada yang ketiga kali. Kami semua mendoakan dari sini.” kata Wayan segera. dan Lena tengah menunggu sendirian di serambi rumah utama. Wayan merasa tubuhnya menghangat.” Lena merasakan kedua matanya panas. Aku senang dia mampu menyayangi dan mengurusmu dengan baik.” ucap Keenan seraya mengelus rambut Luhde. “Saya pergi. Saya berikan pada kamu untuk yang kedua kalinya. Lena kembali duduk sendirian di serambi. dan semua yang dulu kita lalui. “Dua puluh tahun aku habiskan cuma untuk melupakan kamu. “Jangan pernah beri tahu Keenan kalau aku sangat mencintai ibunya.” Keenan pun tersenyum. Adri. Lewat kehadiran Keenan. meski hatinya kembali menangiskan tangisan panjang yang telah menghantuinya puluhan tahun. Luhde mendekap ukiran itu di dadanya. hati tidak pernah bisa berbohong. Lena. begitu saja sudah cukup. Keenan masih membereskan barang-barangnya di kamar. Ia harus bicara.” “Antara aku dan Adri waktu itu—” “Apa pun yang terjadi antara kalian berdua. Dan keputusanku bukan karena Adri… bukan karena hatiku yang memilih dia… tapi karena kandunganku…” “Lena… sudah.” Wayan tersenyum tipis.” “Kamu nggak perlu minta apa-apa. tinggallah Luhde dan Pak Wayan. dan mendekapnya sekali lagi. Tapi tidak sedetik pun aku menyesal. sebagaimana hatiku selalu memilihmu.” kata Pak Wayan. “aku minta maaf. Luhde ikut tersenyum.

Kegaduhan pun berlanjut. Poyan berdiam dalam kesendirian dan kenangan. Sengaja malam-malam supaya nggak ganggu orang kerja. Sederhana. Dari pria itulah ia belajar tentang kekuatan hati. belum pernah ia terpana seperti ini. Lebih baik hidup sendiri daripada hidup dalam kebohongan. Ia tidak bermaksud membuat pamannya bertambah sedih. Ia bahkan sempat berhenti bertahun-tahun. Seolah hatinya direnggut oleh lukisan itu. Semenjak pamannya berpisah dengan Lena. Tersebar di kolektor atau tersimpan entah di mana. Luhde memandangi punggung pamannya dengan perasaan sesal. Yang jelas. begitu kata mereka yang tahu. hanya karena ia tak sanggup menahan diri untuk bertanya.” sela Pak Wayan. Dalam hati. Dan hari ini. Bu. hatinya ikut diuji. memecah keheningan. Bahkan cukup bagi Poyan untuk mencintai Keenan seperti anaknya sendiri. Lukisan Poyan yang dulu jauh lebih bagus. “Dari rumah Pak Remi. =========== “Jadi… itu meme-nya Keenan. Poyan terkenal dengan lukisan-lukisan upacara Balinya. Tak lama. pamannya tidak pernah lagi melukis seperti dulu. Perempuan yang begitu dicintai Poyan dan tak pernah bisa dimilikinya. begitulah definisi Poyan atas kisah cintanya dengan Lena. Lekat. Baginya. Seakan-akan ia ada di sana. tapi orang-orang terdekatnya tahu. Sesuatu dalam lukisan itu terasa tak asing. Satu-satunya lukisan potret Lena yang masih disimpan oleh pamannya. Desember 2002… Kugy terpaksa pulang larut lagi dari kantor.” lanjut Luhde sambil membayangkan wajah di lukisan pamannya. Tidak pernah sama sekali.” satpam itu menjelaskan. katanya. objek itu hanyalah pelarian belaka. Entah ke mana lukisan-lukisan itu sekarang. Lena puluhan tahun yang lalu. Mulutnya pun menganga. Poyan hanya melukis perempuan. meski karena kehadiran Keenanlah ia harus berpisah dengan Lena. ya. Lena. Jakarta. pamannya pernah berkata.” ujar Luhde.Berselimutkan kabut tebal perasaan mereka masing-masing. “Ini—ini lukisan dari mana. tapi begitu bernyawa dan bersuara. begitu kata pamannya selalu. Tiba-tiba pintu terbuka. ia nyaris tidur duduk di sofa lobi saking letihnya. “Cantik. Dan dari satu lukisan yang tersisa itulah Luhde mengenalnya. bermain . Ia memilih hidup sendiri dan tidak menikah dengan perempuan mana pun juga. Kugy tergerak untuk berdiri dan ikut melihat. Sambil menunggu taksi pesanannya. Luhde memandangi punggung pamannya yang kian menghilang di gelap malam dan bersaru dengan bayangan pepohonan. De. bermain bersama hewanhewan. Dulu. lalu memasangkan lukisan yang baru di sana. Ia menyesal telah menambahkan duka yang tak perlu. Kugy bersyukur semua orang itu cepat berlalu dan ia bisa berdiri sendirian di sana. Dari semua lukisan yang dulu ia buat. kekuatan mencinta. “tidak ada gunanya lagi. “Ya! Ya! Geser kiri sedikit… kebanyakan… ya! Ya! Kasih kanan bawah… stop! Cukup! Mantap!” “Wuih… cakepan gambar yang baru. Bintang jatuh yang menggelincir pergi dari tangannya dan tak pernah lagi bisa ia tangkap. Tampak satpam kantor mengarahkan mereka untuk mencopot lukisan besar di dinding belakang meja resepsionis. satpam itu dengan semangat memberi komando. Menatap lukisan yang diterangi lampu spot itu sepuasnya. Mereka membawa lukisan besar yang terbungkus karton. pria itu tidak pernah jatuh cinta lagi.” Laki-laki itu pun berdiri dan berjalan menjauh. Seumur hidupnya.” satpam itu lantas berkomentar diiringi decak kagum. menguak luka-luka berumur puluhan tahun. Pak?” tanyanya tergagap. Disuruh dipindahin ke sini. Sama cantiknya dengan yang di lukisan Poyan. “Kenapa Poyan tidak kasih lihat lukisan itu ke meme-nya Keenan? Kapan lagi dia datang kemari? Bagaimana kalau dia tidak pernah ke sini lagi…” “Sudahlah. nih. dan ia terperangkap dalam magis sebuah kehidupan lain. hanya satu yang masih disimpannya. menyesah kabut yang bergantung sejak mereka pertama kali duduk di sana. Satu perempuan yang sama. Cintanya pada Lena cukup untuk menemaninya sekali dan selamanya. Dan sepanjang hidupnya. Kawanan anak kecil. Kedatangan Lena tadi pastinya sudah memporak-porandakan hati pamannya. Lena adalah yang terakhir dan tak tergantikan. rombongan pengangkut tersebut pergi. empat orang masuk dengan suara gaduh.

“Nan. Ma. Keenan tahu persis bagaimana kantor itu bergantung pada ayahnya. keajaiban yang dulu disebut-sebut oleh dokter. Kakinya . meski tahu bahwa cepat atau lambat mereka berdua harus membicarakannya. Dengan kaki telanjang. Menanggalkan kuas. Keenan mengembuskan napas lega. terasa hangat di kulit. Desember 2002… Baru sehari Keenan tiba di Jakarta dan langsung menunggui di rumah sakit terus menerus. Tak pernah ia bayangkan. Tak ada yang bisa menggantikan posisinya. kehadiran Keenan seolah menyulut api semangat hidupnya. Ia tahu betapa mahal pengorbanan yang diberikan anaknya. Tak lepas mengamati dan mengawasi. Berharap dirinya tak perlu mengucapkan satu permintaan itu. sih…” omelnya pelan seraya menyeka matanya yang tahu-tahu basah. Keluarganya kembali utuh. tapi untuk sekarang. Usaha trading yang dijalankan ayahnya itu murni miliknya seorang. ============ Jakarta. “Nan… Mama tahu kita tidak punya banyak pilihan. walaupun waktu sudah bergerak lebih sejam dari tengah malam.” Namun bersamaan dengan mengucapkan kalimat itu. tapi cepat atau lambat pasti akan terungkap. Terperangah. citacitanya. “Dari semua orang di dunia ini yang bisa Papamu percaya untuk menggantikan dia. dan hampir selalu ada perkembangan baru dalam hitungan jam. besok Papa boleh kita bawa pulang. Termasuk kita.” lanjut Keenan. “Mama sudah dapat rekomendasi suster yang bisa bantu merawat Papa di rumah. pria yang begitu gagah. Dialah orang nomor satu dan penentu di kantor tersebut. kanvas.” Kugy terkaget sendiri. “Waktu berjalan terus tanpa mau tahu.” “Ma…” Keenan ingin bertanya sesuatu. Tidak ada nama tertulis. dan gesit.” Lena pun menunduk. Dokter seketika melihat perbaikan yang pesat dari kondisi ayahnya. Satu hal yang selama ini mengganjal dan sudah menyesak ingin keluar. Keenan duduk sejak kemarin malam. Kugy duduk di ayunan. Hanya inisial kecil di ujung kanan bawah: KK. menggenggam tangan anaknya. Pintu membuka pelan. telah hadir. hati Lena pun tersayat. Di tepi tempat tidur ayahnya berbaring. “Saya nggak tahu harus mulai dari mana.bersama. Air mukanya tampak mulai segar.” Keenan tiba-tiba berujar lirih. Lena mendongak. Tapi saya akan coba sebisa saya. “kok jadi nangis. ragu. Ia teringat Sakola Alit. Ia telah menjemputnya pulang. hanya kamu orangnya. Jakarta. Namun Keenan tahu namanyalah yang selalu disebut. kalau enggak… semuanya berantakan. Nan. Ia yakin. ia pun menghindari pembahasan mengenai hal satu itu. bisa terbaring tak berdaya seperti itu. Pilik.” potong Keenan. Matanya lalu mencari-cari nama pelukis di bidang besar indah itu. duduk di hadapan Keenan. “kantornya Papa siapa yang ngurus?” Itulah satu pertanyaan yang paling enggan ia tanyakan. Ma. “Aduh. Meski Adri belum bisa bicara dan bergerak banyak. Harus ada yang mau mengambil alih. Lena mempererat genggaman tangannya. malam tahun baru 2003… Semilir angin pantai mengembus halus. Lena lalu menggeser kursi. Fisioterapinya juga sudah bisa dimulai pelan-pelan. dan kecintaannya. Lena sedang mengurus izin agar suaminya bisa dibawa pulang ke rumah. merasakan kebahagiaan dan cerahnya dunia mereka. Kugy tak sanggup lagi membendung haru. tapi ia tak pernah tega memintanya pada Keenan. Keenan ingin memastikan dirinya ada setiap kali ayahnya membuka mata dan memanggil dengan suara lemah yang lebih berupa erangan. lebih baik kita fokus saja pada kesehatan Papa.” katanya berseri-seri. Ekspresi Lena kontan berubah drastis. Kamu nggak perlu terlalu memikirkan soal kantor—” “Papa sudah satu minggu lebih di sini. Kamu pasti bisa. energik. “Saya akan menggantikan Papa. Entah berapa lama kantor itu bisa bertahan tanpa kehadiran ayahnya. Keenan terpaksa membunuh semua mimpinya. Dan tiba-tiba hatinya dilanda rindu yang luar biasa dalam. Murid-muridnya. Sama seperti Keenan. Lena masuk dengan hati-hati.

” “Nggak usah nunggu tahun depan kalo cuma mau ke Sanur. terjadi perseteruan hebat.” kata Remi sambil tersenyum. “Kamu…” suara itu bergetar. “Ke mana pun itu. dong. Ombaknya jauh lebih merdu dari ini. lalu berjalan menghampiri Kugy. ia tahu persis siapa yang ia idamkan. Dengan gugup. impikan. Pikirannya berusaha mencerna apa yang dikatakan Remi. dan terjangkau. Kaku. aku mengkhayal tahun baruan di pantai—dari teras rumah. Lagu alam paling merdu.” Kugy mengangguk lucu. Remi lalu membungkukkan badannya. “Iya. “Sumpek. “Yup. kok nggak di dalam?” Kugy membalikkan badan. “Kamu jadi kelihatan kayak anak kecil kalau duduk di ayunan. Remi telah memutarnya hingga mereka berdua kini berhadapan.” “Mmm… bulan depan?” “Ayo. seolah mengumpulkan kekuatan untuk bicara. dari mulai hari ini sampai nggak tahu kapan. Mau kapan? Yuk. saya tahu ini semua menyalahi etika perkantoran mana pun. kalau cuma karena itu saya jadi nggak jujur pada hati saya sendiri. dari mulai warung nasi goreng sampai pantai Sanur… kapan pun itu. Berdasarkan inisiatif beberapa orang. Menyewa satu cottage besar dan membuat acara sendiri. semuanya tak jelas lagi.” Kugy terkesiap. selama bisa bareng sama kamu. dan harapkan. Ancol dulu.” Tampak air muka Remi berubah. “Remi… kamu itu… atasanku…” ujarnya terbata.” “Tahun lalu. memainkan pasir dengan jemarinya. mendorong ayunannya pelan. “kamu… bukan cuma bikin saya kagum. bukan mimpinya. buat saya itu lebih nggak masuk akal. “Tahun ini kesampaian. “… kamu adalah alasan baru saya ke kantor setiap hari. ia membuang pandangannya sebentar ke arah lain. Sebelum ini. Tahun lalu saya juga tahun baruan di pantai. Mendengar kata ‘pacaran’. Mulutnya setengah membuka.” “Setuju.” Kugy tergelak. mudah-mudahan tahun depan bisa upgrade jadi Sanur. Remi begitu dekat. sekalipun hatinya sudah tahu. Remi mengangguk. saya mau. Sudah lama tahu.” ================ Kugy menelan ludah. “Tapi… kamu… temannya Karel…” “Kamu ada masalah kalau pacaran sama cowok yang lebih tua? Pacaran sama teman abang kamu?” Remi tersenyum simpul. tapi tak ada kata-kata yang terlontar. “Hei. yang disambut oleh sebagian besar lainnya yang kebetulan tidak punya acara khusus. nggak ada perlawanan banget. mengatur napasnya. ya? Di mana?” “Di Sanur.” Giliran Kugy yang kehilangan pertahanan. Remi hadir dalam hari-harinya. menunjuk cottage yang hingar bingar oleh anak-anak kantor. saya temenin.mengayuh setengah menyeret. dengar suara laut. . Dalam hatinya.” cetus Remi yang berdiri di belakangnya. Untuk pertama kalinya ia berhadapan dengan sebuah dilema yang sebelumnya tak pernah ada. tapi juga jatuh cinta. mendekatkan wajahnya pada wajah Kugy. menenangkan jantungnya yang juga berdebar tak karuan. Namun. Tapi.” “Oh. Kugy berusaha menenangkan hatinya. kini. “Iya. Juga mempersulit diri saya sendiri. mereka bertahun bersama di Ancol. Saya mempersulit posisi kamu.” “Kok ‘ayo’ terus. sih? Kamu nih. enak di sini.” “Tengah tahun?” “Ayo. “Saya ada masalah pacaran dengan siapa pun kalau saya belum benar-benar tahu apa yang sebenarnya dia rasakan. kehilangan kemampuan untuk berpura-pura tenang. Akhirnya bisa ke pantai juga.” Kugy terkekeh. Berusaha sebisa mungkin menatap Remi dengan tenang dan berkata tanpa gemetar. kini terlihat gelisah. nyata. Yang ia tahu. Dan tiba-tiba kursi ayunannya berputar. jantung Kugy berdegup lebih kencang dan tubuhnya mengunci. “Minggu depan?” “Ayo.” jawab Remi pendek. Kamu bikin saya semangat… bikin saya ketawa… bikin saya kepingin melakukan banyak hal… bikin saya nyaman…” Remi berhenti sejenak. Manusia yang biasanya selalu tampil rileks dan luwes.

melihatnya sesekali. “Non. Penyakit yang selalu diprotes Eko dan memberi ia predikat “Si Tukang Pulung”. Kugy sering menuliskannya di buku-buku dongeng koleksinya.B Yeats: “Mari terus maju. Sebuah bingkisan berwarna biru yang tertinggal di kamar Kugy lalu dititipkan padanya. hai Juru-juru Dongeng! Tangkaplah setiap sasaran tujuan hati. Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita. duganya dalam hati. Namun untuk pertama kalinya. Keenan malah merasa mereka menjauh. Ia hanya ingin menyimpannya. tiba-tiba matanya terbentur pada satu barang yang ia jebloskan di laci berbulan-bulan yang lalu tanpa pernah dilirik lagi. Membaca dari matanya. hanya dipamerkannya ke beberapa orang. Seperti malam ini. menghampiri wajah Kugy. Dalam hati. Dilema hatinya telah usai.“Kamu sadar nggak. Januari 2003… Hari pertama perkuliahan setelah liburan selesai. Sebuah scrapbook. Menghanyutkannya di air laut. Kamarnya sudah seperti gudang yang sesak dengan barang-barang yang bertahun-tahun lagi tak terpakai tapi dibiarkan bertahan hanya karena ia selalu sayang membuang barang. Di dalamnya direkatkan potongan-potongan gambar. Biarpun barang ini tercecer bahkan gelagatnya seperti dibuang. Namun suara yang sama seolah mengingatkan Kugy akan sesuatu. Menciumnya dengan segala perasaan yang selama ini ia pendam. Noni membukanya. Noni seketika mengenali tulisan itu. yang tertinggal atau sengaja ditinggal oleh Kugy. Kugy kecil amat bangga dengan kutipan itu. Ia hanya berharap Remi bisa melihat itu. Noni mulai menyortir dan mengepak buku-buku perkuliahan awal yang sudah tidak dibutuhkannya lagi. tapi Kugy sudah. Waktu itu Kugy bilang padanya. Noni tidak akan mengeceknya jika saja ujung kertas putih yang diselisipkan di sana . mendaratkan bibirnya di atas bibir Kugy. Hatinya telah memilih. dan juga Eko.” bisik Remi halus. tanpa pernah tahu apakah nomor itu masih berlaku atau tidak. Sebuah kutipan dari W. Menimang-nimang telepon selularnya di genggaman. Tulisan tangan Kugy. Bandung. Keenan berdiam sendirian. Noni pun mengenali cerita-cerita yang ditulis di sana. Hari pertama dari semester terakhir bagi Noni. segala sesuatunya benar. Meski kini jarak mereka mendekat. Kugy tidak yakin dirinya bisa berkata-kata. Entah kenapa. =============== Di sampul paling belakang. aku ingin jadi Juru Dongeng. Segala sesuatunya ada. Merelakannya lepas bersama malam di ujung tahun. Dan jangan takut. sih? Saya tergila-gila sama kamu. terlekatlah fotokopi tulisan tangan Kugy sewaktu kecil. termasuk dirinya. Setiap gambar bersebelahan dengan cerita yang ditulis tangan. tapi Noni mengurungkan niat itu. terdapat selipan yang bisa dipakai untuk menyimpan sesuatu. tidak lagi terpisah lautan. Suara ombak yang menyapu dari belakang menyelimuti mereka berdua dalam alunan merdu yang tak berkesudahan. terutama pada bukubuku yang ia anggap spesial. ia mengucapkan selamat tinggal pada satu nama yang begitu lama melekat di hatinya. kamu jauh sekali rasanya. Melepaskannya pada angin dan ombak.” Noni ingat. pikir Noni. Semoga kamu masih mengingat saya. tanpa pikir panjang. Tanpa judul. Pasti ini kado dari Ojos. tetap ini urusan pribadinya. Kumpulan cerita yang dibuat Kugy bertahun-tahun tanpa pernah ia publikasikan. Ia bergerak mendekat. Kugy melihat sosok di hadapannya itu dalam makna yang berbeda. Nomor satu itu selalu disimpannya. Remi pun tersenyum lembut. Noni mengambil benda itu dan meletakkannya di pangkuan. *** Di teras rumahnya. Seakan mendengar apa yang tak terucap. Melihat sederet nomor yang sedari tadi terpampang di layar ponselnya dan tak kunjung ia hubungi. Tapi… masa aku mau simpan terus di sini? Akhirnya. Noni pun hafal tulisan itu. Di halaman pertama. Kecil.” Sementara Noni sendiri belum mengerti maksud tulisan itu apa. Sudah hampir setengah jalan ia menyortir. Tangannya bergerak ingin membuka.

Noni merangkaikan semuanya. sepatu loafer. Ko?” “Barusan Nyokap kasih tahu. pokoknya aku acak-acak tuh anak!” Eko berteriak kegirangan. mengapa Kugy akhirnya memilih pisah dengan Ojos. “Oh. aku tidak takut lagi menjadi pemimpi. “Aku mau minta maaf.” Giliran Eko yang terenyak. Siapa yang ulang tahun? Noni lantas membuka kartu itu dan membaca tulisan Kugy: Hari ini aku bermimpi. Bersama kamu. mengapa Kugy tidak datang ke pestanya. Jeroen selalu menyempatkan diri untuk menungguinya. “Pas banget ya dia pulang? Jadi. Keenan udah di Jakarta!” Noni terenyak. Aku bermimpi bisa selamanya menulis dongeng. aku ingin memberi judul bagi buku ini. Pelan-pelan. Noni segera keluar kamar. “Noon… Nooon…” panggilnya sambil berlari. Pelan-pelan. Asli. ya? Kamu mau ikut ketemu Keenan?” “Aku mau ketemu Kugy.” Jakarta. mengapa Kugy seperti orang tertekan. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk memendam dan diam. Ia bangun setiap pagi dan bekerja di kantor ayahnya. kemeja rapi. Buku ini pasti diperuntukkan bagi Keenan. perasaan sedahsyat apa yang mendorongnya. Hari ini aku juga bermimpi. Setiap pagi. Selamat Ulang Tahun. Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita. segala sesuatunya benar. dia bisa dateng ke acara kita bulan depan. Aku bermimpi menuliskan buku dongeng pertamaku. Aku bermimpi bisa berbagi dunia itu bersama kamu dan ilustrasimu. Sejak kamu membuatkanku ilustrasi-ilustrasi ini. Karena hanya bersama kamu. segalanya terasa dekat. Celana kain. selama ini ternyata dia di Bali. Satu-satunya hiburan yang membuat hatinya sejuk hanyalah pemandangan ayahnya yang kian membaik dari hari ke hari. “Kamu… yakin? Kamu udah siap?” Noni mengangguk. “aku pokoknya harus ketemu manusia itu. berisi sehelai kartu. Diselipkannya lagi kartu itu dengan hati-hati. Sudah seminggu ini ia menjalankan rutinitas yang sama. demi mengobrol . Tak jarang ia pulang setelah makan malam. di kursi roda. ia melepas Keenan pergi dengan senyum. “Dia—di Jakarta? Pulang ke rumahnya?” “Iya. segala sesuatunya ada. ia paham.” “Ko… aku juga mau ke Jakarta.tidak menyembul keluar. Tak mungkin salah lagi. Keenan! Noni langsung menduganya. *** Eko berlari tergopoh-gopoh menuju kamar Noni seusai memakirkan Fuad di halaman depan. Semuanya. Belum pernah sedekat ini. Noni tahu. Menatap bayangannya yang terbungkus dalam kostum yang terasa asing. “Kenapa. Berkendara bersama jutaan manusia Jakarta lain yang pergi bekerja dan pulang pada waktu yang sama. Keputusannya untuk segera mengambil alih tugas ayahnya telah menyita semua energi dan fokusnya. Diambilnya kertas itu.” Eko menjelaskan dengan semangat. Dia pulang karena Oom Adri sakit parah. Noni melihat tanggal yang tertera di sudut kanan atas: 31 Januari 2000. Ia bahkan belum merasa meluangkan waktu yang cukup untuk hidup di rumah. Noni cukup mengenal Kugy untuk mengetahui kedalaman kata-kata yang ditulisnya. Januari 2003… Keenan memandangi bayangannya sendiri dalam cermin yang tergantung di tembok kamarnya.” Noni berkata lirih. bersama orang tua dan adiknya. Selain untuk menyiasati macet. Kata Nyokap. mengapa waktu dulu Kugy selalu menghindar. Dan jika ia pulang. bahkan menetes. Betapa waktu berjalan cepat di sini. ia bahkan mengantongi sehelai dasi yang kadang-kadang dibutuhkan. Tangannya yang memegang kartu itu mendadak melemas. Pelan-pelan. Berlari dan membanjir. Sebuah amplop putih. “Happy Birthday?” gumam Noni sendirian. Noni sampai ingin menangis karena miris. Bersama kamu. aku merasa mimpiku semakin dekat. Jauh berbeda dengan hari-harinya di Ubud di mana waktu terasa hanya berjalan. begitu banyak yang harus ia pelajari.

gua selalu merasa ada di bawah bayang-bayang lu… makanya. disimpan. “Gyyy!” Suara itu kian melengking. Namun. Hari kemerdekaan bagi Kugy. Ia bahkan belum mengontak siapa pun. Ia terduduk langsung. Noni mulai menangis. Keenan meraupkan tangannya ke muka. Non.” katanya getir. Dan mengukur dari matanya yang masih sangat berat. pikir Kugy. Perlahan. tak satu pun teman dan saudaranya yang ia sempat temui. ========== Hari Minggu. Tiga tahun. Noni menggeleng. tapi… mana mungkin! Kugy lantas menarik selimutnya lebih tinggi. Dan tak lama. Lu ambil lagi aja. Gua cemburu ngelihat persahabatan kalian. Dan Mamanya yang selalu memastikan segalanya baik. Non… tapi gua ngerasa nggak bisa apa-apa ketika lu dan Eko berencana untuk mengenalkan Wanda ke Keenan… dan gua lihat misi kalian berhasil… sementara gua sendiri masih pacaran sama Ojos… gua bingung mau bilang apa. Sebegini lama kita sahabatan. Dan serta merta. “Nggak semestinya buku ini kembali ke gua. sebersit perasaan yang selalu bercokol dan mengusiknya dari waktu ke waktu. Mendadak. atau diapain kek.” Kugy tercengang melihat benda itu kembali ke hadapannya. Badai besar seketika menyapu hatinya. “Dan soal Eko…” Tangis Noni meledak tak tertahan. satu penghapus besar yang bisa membersihkan otaknya dari kenangan itu. ngelihat kalian tetap deket.sebentar sebelum tidur. Begitu keluar dari Pulau Bali. Ini gua bungkus ulang. “Non?” gumamnya tak percaya. . kamu kenapa?” Kugy bertanya bingung. Kepala Kugy pelan menggeleng. Masih linglung. Siap meledakkan tangis berikut. Mengecek bayangannya sekali lagi. Terlalu lama ia hilang hingga Keenan tidak tahu harus memulai dari mana. Sementara gua sama elu malah jauh. begitu Eko kelihatannya masih merhatiin dan dekat sama elu. Gy. Noni mendekapnya. segalanya cukup. Gua kepaksa buka. lalu meraih tasnya. “Gua baru ngerti sekarang. Di angkasa… di awan… di jalanan… semua memori dan perasaan seolah berlomba-lomba untuk bangkit. “Gyyy… banguuun! Banguuun! Wooiii!” Kugy seketika curiga dirinya masih mimpi. “Bangun dooong! Tega banget sih. Sori banget untuk semuanya. Dalam arti. Lengkaplah mimpi aneh ini. gua udah jauh-jauh dateng. ia bisa tidur semerdekamerdekanya. “Gy… maafin gua. Kugy tahu bahwa hari masih terlalu pagi untuk bangun. kok. bahunya diguncang-guncang seseorang. Dan gua baru ngerti… sori. mau bersikap apa… lebih baik gua jauh sekalian dari kalian semua…” Mata Kugy mulai berkaca-kaca. Barang ini ketinggalan di kamar kos lu yang lama. Keenan gemas sendiri. yang membuatnya terkadang merasa bersalah pada Luhde. “Non. tiba-tiba. terserah. Noni melepaskan rangkulannya. nih!” Kugy memaksakan kelopak matanya membuka. “Kenapa lu nggak pernah ngomong. Kemudian berangkat pergi. “Tiga tahun—apaan?” Kugy tambah bingung. Sedapat mungkin tidak menginginkannya. pasti nggak begini…” “Sebetulnya gua selalu pingin kasih tahu. “Gy… gua yang harus minta maaf soal itu. Mengapa dia begitu susah dilupakan? Ia lalu bangkit berdiri. Berharap dengan demikian. Dan betapa ia merindukannya.” bisik Noni di kupingnya. Berharap andai ada satu cara. menyerahkan sebuah bungkusan pada Kugy. ia sudah merasa dihadapkan lagi dengan segala kenangan tentang Kugy. tetap Keenan tidak menginginkannya. Masuk ke dalam pusaran waktu Jakarta yang cepat. Gy? Kalau dulu gua tahu tentang perasaan lu. Selain keluarganya. “Maaf. Ia teringat sepupunya satu itu. ya…” kata Noni di sela isakannya. Ia hafal betul teriakan-teriakan barbar itu. gua nggak pernah mau mengakui kalau gua selalu cemburu sama lu. reaksi gua jadi berlebihan… padahal dia nggak ada maksud apa-apa. ya.” Noni menerangkan sambil berurai air mata. Gy. Walaupun kini kemungkinan untuk bertemu Kugy jauh lebih besar. Eko. Napasnya mendadak menghela. bayangan itu terenyahkan jauh-jauh. Kugy… Keenan pun terduduk di tempat tidur.

gua ajak dia. So happy for you. “Berita serius. Hanya memeluk Noni dan mengusap-usap punggung sahabatnya. “Buku itu hanya bisa gua kasih ke seseorang yang bakal mengisi hati gua selamanya.” sahut Noni. Ia lalu menggeleng. dong! Jangan setengah-setengah gitu!” tukas Kugy sok galak. dari dulu. dengan gerakan gesit ia mengalungkan sesuatu di leher Kugy.Kugy tak sanggup bicara lagi. Non… gua lebih siap kalo lu sebenarnya Batman…” desis Kugy akhirnya. Kamu berhasil jadi juara satu. Noni menyadari perubahan air muka sahabatnya. ampun. Non? Yang jelas. Eko langsung bertemu muka dengan tantenya yang sedang menyirami tanaman pot di sekitar gazebo taman. Tiba-tiba. Gua bahagia. too. Kenalin. “Monyong!” makinya pelan.” ucap Noni sambil tersenyum ceria. Non. Nanti pas acara tunangan lu. “Lu—lagi jatuh cinta.” Noni terpingkal-pingkal sambil menghapusi air matanya. “Tante Lena!” panggilnya. “but. *** Sesampainya di depan pagar rumah itu. Mencairkan apa yang sudah membeku selama hampir tiga tahun. “Selamat ya. oke. Tidak ada yang menggeser posisi lu buat gua. gua dan Eko merasa lu dan Keenan adalah pasangan paling serasi. sepertinya orang itu bukan dia. lu akan kasih buku itu ke Keenan?” Wajah Kugy berubah serius. Biarlah Kugy tahu sendiri satu saat nanti. Sama siapa. Setengah mati menahan haru.” “Makasih. ya? Sialan. ya?” “Asyiiik!” Noni bertepuk tangan. Ingin rasanya mengatakan pada Kugy. lu Inem Pelayan Seksi! Bisa-bisanya jadian sama bos sendiri.” “Pastilah. yah. “Dasar orang gila… gua kangen banget sama lu!” Kugy tersenyum. eh. “Siapaaaa?” “Bos gua sendiri! Haha!” Kugy tertawa-tawa. Sahabat Terbaik dan Terawet. bahwa Kugy kini berada satu kota dengannya. jadi…” Noni berdehem.” Kugy melongo. “Selamat. siap mendengar. Non. Gy?” “Asal lu juga maafin gua. Namun lidahnya kelu. “Serius. “Bahwa lu sebenarnya Batman?” Noni nyaris tersedak karena ledakan tawa yang bentrok dengan isak tangis. dua sahabat gua bisa jalan bareng sejauh ini. Emang udah jatah kalian berdua untuk saling menghancurkan hidup satu sama lain. Ia kelihatan berbungabunga. dong.” selorohnya. “Jadi. Noni mengernyit. Gy. Dan. Kalian tuh sama-sama aneh… ancur… nggak jelas—” “Lu memuji atau menghina sih. “Gua… kok… kayaknya lebih siap kalo lu sebenarnya Batman. you know what? Sebetulnya. giliran gua mau kasih tahu sesuatu. eh… apaan. “Berhubung ortu-ortu udah mendesak. hayo? Bilang!” “Non… aku punya pacar!” Kugy lalu jingkrak-jingkrak sendiri. Noni nyengir. “bulan Februari depan.” kata Kugy lirih. “I’m happy for you.” Kugy tersenyum cerah. “Gua juga mau kasih tahu sesuatu…” bisik Noni. Apa kabar kamu?” . Noni menjerit histeris. nih?” Kugy kaget dengan benda asing yang tahu-tahu tergantung di lehernya. Apa?” Kugy melipat tangannya. bahwa Keenan telah pulang. You guys truly deserve it. “kalian memang pasangan paling serasi. kalau satu saat kesempatannya ada. Ngehe emang lu!” tapi tak lama Noni ikut tertawa. kegirangan. “Sekarang. “Kalo gua Batman. Napasnya langsung tertarik ulur panjang-panjang. batinnya. “Lu maafin gua kan. gua dan Eko tunangan. Tergerak sekali lagi untuk memeluk Noni. Lena segera meletakkan penyemprot di tangannya. dan menghampiri Eko dengan tangan membentang. Gy. you know lah.” Noni terdiam. nih…” “Oke. tepat pada hari Valentine. =========== Kugy membaca tulisan di medali emas itu. “Eh. “Ekooo… ya. Keduanya berpelukan lama.

” Keenan mengangguk sepakat. Ko. Kugy udah lulus dari tahun lalu. ‘best man’ dan ‘tukang cincin’ itu adalah dua hal yang nggak nyambung. Namun Eko juga ragu. “Di perusahaan advertising.” Eko memonyongkan mulut.” Keenan mengangkat alis. “Jangan ge-er. Saling tercengang dan takjub atas cerita masing-masing. melainkan gara-gara ia kini . “Mama kasih tahu aku. Ajaib nggak. Pada hari ulang tahunnya. dan tak henti-hentinya saling mengumpat. Tepat waktu. Sesuailah dengan bidangnya. Tak lama kemudian. Refleks berikutnya adalah meminta maaf pada tantenya. batin Eko. gua sih berharap ini cuma sementara. Keenan masih belum bisa bereaksi netral dengan memori malam satu itu. gua nggak ada pilihan.” “Nan? Hello? Please. “Jadi. Alias… tukang cincin. Tante… itu bukan memaki. Hari gini nulis dongeng! Lu kata kita hidup di negeri peri?” Eko terbahak. Dalam hati. Kugy bersyukur. “Hadir? Setelah ngilang segitu lama. dong?” “Lu bakal jadi best man gua di sana. Apa pun yang bisa gua bantu. “Abis ngapain. sih. Sukses pula. Ada sentakan dalam hatinya begitu mendengar nama itu disebut. oke?” Keenan tersenyum. “Jadi.” “Rujukan? Memangnya mereka kenapa?” tanya Keenan. ya?” gumamnya. berpelukan. tanpa lu perlu ngapa-ngapain. Keenan dan Eko. Rekan alien lu. Tapi. Yang jelas. good luck buat Februari.” Keenan berkata. “Satu kehormatan buat gua.” Tawa Keenan menyembur. “Kugy? Kerja di mana dia?” tanya Keenan. Eko gantian menepuk bahu sepupunya. Badannya langsung menegak. Itu saja sudah cukup. “Kenapa bisa gitu. tubuh Kugy menyerah kalah. “Kapan ya gua bisa ketemuan sama lu dan Noni? Kita jalan ke mana kek…” “Siap! Apalagi Noni dan Kugy baru rujukan. Ia sudah mendengar desas-desus bahwa satu kantor bermaksud mengerjainya habis-habisan hari ini. “TOKAI BERANTAKAN!” Spontan. Kugy sudah punya kehidupan sendiri. “Lha elu… siapa yang bakal nyangka seorang Keenan bisa jadi businessman di ibukota?” Sentakan kedua dalam hatinya. Masih ada yang lebih gila daripada gua. Udah kerja. deh. let me know. katanya Keenan—” “SETAN ALAS KEPARAT!” Tahu-tahu ada suara keras yang berteriak dari arah rumah. Tante. Ia ingin bilang. mereka masuk ke rumah. Jadi copywriter. “sejak kapan juga hidup lu normal?” “Good point. Eko membalas. “Well. dan isu utamanya justru bukan dalam rangka perayaan ulang tahun. “Anyway. Jika ada satu hal yang ia dambakan. tertawa-tawa. bahwa Noni telah bercerita padanya soal kado ulang tahun yang tak pernah sempat Kugy berikan. Eko sudah keburu ditubruk dan dirangkul.” Eko berpikir sejenak.” tutur Eko. asal lu tahu. apakah hal itu ada gunanya. “Biasa aja kali. tapi ungkapan sayang—” Sebelum kalimatnya selesai.” Eko balas merangkul tantenya. rasanya hidup gua kembali normal. gua bakal membiarkan lu CUMA hadir?” Eko melengos. Tapi ngelihat lu doang. Nyaris tiga tahun! Bayangin aja. harusnya… ‘ring man’?” *** Setelah berminggu-minggu kerja lembur.“Baik.” ujar Keenan seraya merangkul bahu Eko. tapi standarlah. dan bagaimana perasaan tersebut menjadi alasan utamanya untuk menyingkir dari pertemanan mereka waktu itu. Eko tak menjawab.” Sentakan yang ketiga kali. berat. Kalaupun Keenan harus tahu. Kugy terpaksa meringkuk di tempat tidur karena sakit flu. maap. Setelah kenyang bertukar makian. Gua pasti hadir. Kan pas. hanya mengangkat bahu. man. sepanjang siang keduanya bertukar cerita. Lena meringis-ringis sendiri mendengar pertukaran makian antara kedua anak itu. ya. hanyalah mereka berempat bisa bersahabat lagi. gitu. Keluarga gua nggak punya pilihan. tuh. “Maap. tuh. biarlah ia tahu sendiri. lu skripsi semester ini? Tengah tahun lulus? Yeah! Welcome to the real world!” Keenan menepuk bahu Eko. tuh. “Gua pikir bidang dia adalah nulis dongeng. “Gua ngerti. tentang perasaan yang Kugy pendam bertahun-tahun. ya.” “Gombal gila. untuk sekarang ini. ke kamar Keenan. “Lu nggak tahu? Sejak pesta ultahnya Noni mereka nggak pernah ngomongan lagi. Keenan sudah punya kekasih di Ubud.

Tiba-tiba terdengar suara ketokan di pintu. tuh. ternyata masih. ================= Jakarta. tuh! Apa-apaan sih pakai prosesi ginian segala?” “Kenapa memangnya? Ada masalah?” Kugy menggeleng cepat. “ini… hadiah ulang tahun untuk kamu. dan mencintainya. Remi? Kue tart? Remi masuk hati-hati. Terakhir. Februari 2003… Jumat sore.resmi menjadi pacar bosnya kantor. membawa kue tart cokelat kecil dengan satu lilin yang menyala.” Kali ini Kugy hanya dimampukan untuk diam dan menelan ludah. bernyanyi pelan. Namun pintu itu tetap membuka. kangen laut. Kugy-ku. Kugy jatuh cinta pada gaun itu karena potongannya yang sederhana hingga ia tak canggung untuk berangkat dari kantor dengan gaun itu. Dan ia baru saja keluar dari toilet untuk berganti baju dan berdandan sebisanya. Ulang tahunnya hanyalah alat tumpangan strategis di mana semua kawannya punya kesempatan untuk meluapkan emosi dan ekspresi apa pun atas hubungan barunya dengan Remi. Acara pertunangan Noni dan Eko dimulai dua jam dari sekarang. Seuntai gelang yang terdiri dari batu-batu mungil berwarna biru cemerlang. “tukang khayal tapi kena jurus cemen gini aja kikuk. “Masih kenyang! Aku makan malamnya nanti aja!” seru Kugy tanpa beranjak dari kasur. sekaligus cukup mewah hingga ia tidak perlu merasa minder untuk menghadiri resepsi pertunangan sekalipun. Sesederhana itu. Berhubung tak sempat lagi pulang ke rumah. Remilah Pangeran Sejatinya. Kugy melirik jam.” ujarnya pelan. Apalagi setelah kamu muncul bawa kue dan bunga barusan. Ia mengenakan gaun velvet warna biru. “Makasih. ya. “Aku nggak tahu kamu sedang pakai jurus apa.” Kugy menempelkan telapak tangannya di keningnya sendiri.” lantas Remi mengeluarkan kotak hitam ramping dari kantong celananya.” ia menerangkan. Kugy sudah membawa semua perlengkapannya ke kantor. tolong dipakai. Antara kaget dan ingin tertawa. “Selamat ulang tahun ya. dengan wajah bersinar diterangi lilin kecil. Seharian penuh ia hanya teronggok di tempat tidur. Kikuk kalo diperlakukan kayak gini. Keenan mungkin adalah Pangerannya saat ia masih berumur 18 tahun. “Iya. Dan muncullah Remi.” “Saya nggak pakai jurus apa-apa. ada.” Kugy terkekeh. kok. Bahkan belum pukul tujuh malam. “Benda ini barangkali nggak akan matching dengan jam Kura-kura Ninja kamu. ia mengenakan gelang lapis lazuli yang dihadiahkan Remi. Jadi. “Ini namanya batu lapis lazuli. Namun inilah kenyataan sederhana yang membangunkannya dari tidur panjang dalam alam dongeng. dan kemudian meniup lilin yang disorongkan ke mukanya. tawa Kugy langsung lepas. Tapi rasanya aku udah baikan. Ia lalu menggerakkan tubuhnya yang masih lemah untuk mendekap Remi seerat mungkin. menimpuk pakai telor. Kugy mematut diri di kaca.” balas Remi geli. tapi… aku belum pernah dapat hadiah seindah ini. “Kamu. Kugy menikmati betul istirahat ini.” Dalam dekapan Remi. Entah itu sekadar mengucapkan selamat. ya?” Remi lalu memasangkan gelang itu di pergelangan kiri Kugy. kalau kamu kangen pantai. pipinya merah padam. ya?” ia lantas mengecup kening Kugy. “Aku malu. Badan kamu masih hangat. bertimbunkan bantal dan guling. “Aku punya sesuatu yang bisa bikin kamu sejukan. Gaun pertama yang dibelinya lagi setelah bertahun-tahun. Ia nyata. mengecek penampilannya sekali lagi. Gy. “Happy birthday to you… happy birthday to you…” ========== Kugy langsung terduduk tegak. “I just love you. Kugy mengangkat badannya sedikit. seikat bunga aster segar.” Kugy terbengong-bengong melihat kotak yang terbuka di hadapannya. Namun ia terpaksa menunggu Remi menyelesaikan dulu lagunya. “Kenapa lagi sekarang?” Remi tersenyum seraya mengelus pipi Kugy. “warna birunya paling menyerupai biru laut dalam. Tapi. Usai lilin itu padam. Sebuah dongeng indah. Kugy menyadari sesuatu. dan seterusnya.” Remi balas berbisik. . Lumayan ada bahan ledekan. Aku akan pakai tiap hari.” bisik Kugy. “Kamu. Kelamaan jomblo. kamu bisa lihat warna birunya di gelang ini. membanjur air.

Ia ingin melihat pertukaran cincin itu dari dekat. ya? Untung masih keburu. dan akhirnya ia tiba di sebelah Eko dan Noni. Noni terlihat begitu cantik dalam kebaya merah jambu. Hanya satu orang yang mampu membuatnya seperti itu. Kugy lalu menghampiri Remi ke ruangannya. Ibunya Eko. “Tapi—tapi kan kamu udah janji mau nemenin aku! Kita kan janjian dari dua minggu yang lalu!” Remi menghampiri Kugy. I’ll make it up to you. dan bagaimana orang itu tertawa… cara ia menatap Eko dan Noni… matanya yang bersinar hangat… Kugy menggelengkan kepala sendirian. “Gy.” “Ha?” Kugy berseru kaget. Saya janji. Cukup satu benda mungil itu saja melingkar di pergelangannya. kamu… sumpah.” ujarnya sambil mengusap gelang biru yang melingkar di pergelangan Kugy. Demi apa pun. hanya saling lempar senyum dan kode-kode jarak jauh.” Remi yang sedang berbicara di ponsel. “Dan yang kedua?” “Saya nggak bisa ikut. Pertama. Apalagi kerumunan sanak saudara yang berbaris di paling depan adalah lapisan yang paling alot untuk ditembus. Giliran otot muka Noni yang melonggar ketika melihat Kugy tahu-tahu menyeruak muncul dari kerumunan orang. kotak cincinnya. dan langsung melesat memasuki rumah Eko. meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang berhalusinasi atau kena tipuan optik. saya pasti pergi. yang juga baru datang.” Kugy merasa keputusan itu sudah final dan tak ada gunanya lagi dia merengek dan berkeluhkesah. Dan orang itu tak perlu melakukan apa-apa lagi selain hadir dan ada. Tante Erni. Ketika kedua mata mereka akhirnya saling menemukan. barulah keduanya yakin bahwa mereka . Ini. Ini nggak mungkin. Kugy mengerjapkan mata. Ayo. kalau memang saya bisa. “Kok bengong?” Napas panjangnya menghela. Juga tidak yakin dengan penglihatannya. pikirnya lega. “Malam ini saya diwakili oleh si kecil ini aja. cantik banget…” Senyum Kugy tambah semringah. Kugy mengangguk. Pertukaran cincin pun akan segera dimulai. meremas kedua bahunya. melambai-lambai kecil. Jadi nggak ada waktu lagi. “Yuk?” Kugy mengajak sekali lagi sambil tersenyum lebar. Acaranya kan mulai setengah tujuh. Tapi mereka sudah tak sempat lagi mengobrol. yuk. Kugy sangat mengenali orang yang berdiri di sebelah Eko. masuk dari sini. *** Keenan tergopoh-gopoh keluar dari mobil. Remi tidak bisa ikut dan dirinya harus mencoba realistis. Remi mengambil tangan Kugy dan menciumnya. Keenan menyusup dan menyisip punggung orang-orang. kamu pegang. Apa yang ia lihat terlalu indah untuk dipercaya. Bos mereka harus ke luar negeri besok pagi. terpaksa menyudahi pembicaraannya cepat-cepat. Ia tertegun. Seluruh rongga tubuhnya seketika teraliri oleh hawa hangat. “Remi. Namun Kugy tak mau kehilangan momen. yang menyerahkan kotak cincin padanya. Perlahan. ya.” Kugy sudah mau nangis rasanya. Tak terbayang jika Kugy kembali menghilang dan melewatkan pertunangannya. Rasanya begitu utuh dan damai. berjuang untuk bisa menembus kerumunan tamu. Manusia satu itu muncul juga. udah jam lima. Acaranya sudah mulai. Pada saat yang bersamaan. dan Eko terlihat gagah dengan setelan jasnya. Macet lho di jalan.” seru Tante Erni seraya menyerahkan kotak kecil ke tangan Keenan. saya bengong karena dua hal. “Remi… tapi ini sobat-sobatku dari kecil… aku kepingin banget ngenalin kamu ke mereka… dan acara ini penting buatku…” “Gy. Seluruh otot muka Eko langsung melonggar ketika melihat Keenan akhirnya hadir tepat waktu. Tapi saya benar-benar nggak bisa. Dan seketika… napasnya tertahan.Kugy pun tersenyum puas. Kugy. Dari pintu depan. Namun Keenan masih terlalu sukar memercayai matanya. nih. “Nan! Oalah! Kena macet. menatap Kugy sambil tercekat. sudah menunggunya di pintu belakang. barusan banget agency dari Vector Point telepon. Kugy menarik napas haru. Semua orang menanti keluarnya kotak kecil yang akan dibuka oleh Eko. ia langsung merasa segalanya sempurna. dan Remi menggigit bibirnya gelisah. sebuah intuisi menggiring mata Keenan memandang ke arah tempat Kugy berdiri. sori. mereka ingin aku presentasi final ke klien kita hari ini. “Oke.

“Kita salamin mereka. Panik. ya?” sahut Keenan diikuti tawanya yang renyah. Namun seperti terhipnotis. “Baik. bahwa Keenan tak pernah berhenti membuatnya terpukau. Rambut Keenan. “Kamu ke mana aja?” tanya Kugy akhirnya. Kugy tak menjawab.” Eko langsung menggamit tangan Noni. “Makan. Kamu kaget. yang juga tak kunjung disentuh.” Keenan berkomentar ragu-ragu. Eko dan Noni berlalu dari hadapan Kugy dan Keenan. kini pendek dan rapi. “kalian makan dulu kek. Dari monyet sampai jadi manusia cantik bergaun beludru. nih. setelah sekian lama pertanyaan itu menggantung di benaknya. Itu dia. Hanya itu yang sanggup ia jawab. Pandangan keduanya terhalangi orang-orang yang lalu lalang di antara mereka berdua. Berbekalkan dua gelas es. Evolusi itu memang terjadi. Eko dan Noni sudah melambai-lambai melihat Kugy dan Keenan yang berjalan menghampiri.” seloroh Keenan diikuti gelakan tawa. “Nggak pa-pa. ya?” “Nggak. “my ring worm. Keenan terperanjat dengan kehilangan tiba-tiba itu. ya?” Buru-buru.” jawab Keenan jujur.” “Aduh! Senang. tapi begitu susah untuk diungkap. Saya juga nggak kepingin makan. ya! Kita ngumpul lagi berempat!” Noni berseru gembira. mereka kembali terdiam. “Woi! My Ring Man! Dan elu…” Eko merangkul Kugy. Keenan ikut tersenyum. Keenan merasa bagaikan melangkah di lautan kala badai. secepat-cepatnya dan sejauh-jauhnya. “Panitia reuninya canggih. Sebuah perasaan kehilangan yang rasanya tak siap dialaminya lagi. karena ia tak mungkin mengatakan jawaban yang jujur. Bahwa Keenan kelihatan begitu lain. Muka keduanya cerah bukan main. Dalam ruang batinnya yang kini berkecamuk. “Sori.” Kugy mencoba tersenyum. Kugy menggeleng. “Apa kabar?” Hanya itu yang sanggup ia katakan. “Iya. Detik itu juga Kugy rasanya ingin lari. kerumunan orang mendesak mereka. tak ada ruang lagi untuk memikirkan makanan. memecah kecanggungan yang sudah mulai terasa melumpuhkan. Keenan meminta maaf. nanti kalo udah agak sepi kita ngumpul berempat. Rasa laparnya sudah mencelat hilang begitu ia melihat Kugy tadi. Namun pada saat yang bersamaan. Meninggalkan mereka berdua dengan segala kecanggungan yang ada. yang dulu dibiarkan tumbuh panjang. Gy?” Keenan menawarkan.” jawab Kugy pendek.” “Iya. Para tamu mulai bergerak menyalami Eko dan Noni.” Keenan mengangguk. . “Bentar lagi. “akan ketemu kamu format kayak begini.” Kugy membuka suara. enggan. setuju. Akhirnya mereka berdua duduk di taman belakang rumah Eko. Namun dengan cepat. ya?” Dan cepat-cepat.” ia tersenyum lalu mengerling pada Keenan yang mengenakan jas tiga kancing warna hitam dengan dasi berwarna perak platina. mendekat. Kamu lapar. “Saya juga nggak nyangka ketemu kamu dalam… gaun. sambungnya dalam hati. Nan. “Kamu membuat saya yakin bahwa Charles Darwin memang benar. persis.” ajak Keenan sambil terus menggandeng tangan Kugy. “Oke. Gy. ya? Nggak nyangka! Nggak ada pertanda nggak ada berita. =========== Tiba-tiba. ngobrol kek. basa-basi.” “Monyet!” semprot Kugy sambil tertawa. membuat anak itu berseru kaget karena tiba-tiba badannya tertarik maju. kedua kakinya seperti beku. bersosialisasi dululah. “Kugy?” panggilnya pelan. deh.tidak berhalusinasi. kakinya terus digerakkan untuk melangkah. “Ya. yuk. Kugy memandangi keduanya dengan tawa lebar sekaligus tatapan penuh tanya. “Nggak pantes. Tertancap kaku di lantai tempat ia berdiri. “Aku nggak nyangka. tahu-tahu kita berempat lagi. Suara-suara yang menderu dalam batin masingmasing masih terlampau bising. ia lantas meraih tangan Kugy. Senyuman mereka pertama kali lagi setelah sekian lama. biasaaa…” ujar Eko sambil cengengesan. Dan Kugy tetap mematung seperti itu ketika Keenan akhirnya bergerak mendekat. Kamu makin cantik. kita berdua keliling-keliling dulu. Kebingungan sendiri atas reaksinya tadi.

buat apa kembali ke sini?” Suara Kugy kini terdengar perih. Kejujuran memang kadang menyakitkan. Dan meski hatinya telah ia jaga rapi untuk seseorang yang menantinya nun jauh di sana. “tapi. Kugy menghela napas. “Yang jelas. ngilang dan liburan. Lapis lazuli?” Kugy tersentak mendengar komentar Keenan yang tak terduga. Gy. “Ke Bali.” kata Kugy sungguh-sungguh. perlahan ia menatap Keenan. Ayah saya sakit. nggak ada kabar.“Ke Bali. “bukan Neptunus yang kasih. nggak?” tanyanya dengan nada yang diupayakan terdengar ringan. Lumpuh karena stroke. Papa sedang terapi terus.” “Dia serius sama kamu?” Kugy mengangkat bahu.” “Copy writer juga?” “Dia atasanku. Mungkin aku yang memang terlalu berharap.” Kali ini Keenan bahkan tak tergerak untuk menyahuti apa pun.” sahut Keenan pendek. mudah-mudahan nggak untuk selamanya. “Ini gelang yang paling cocok buat agen rahasia Neptunus. Tatapan Kugy menyadarkannya bahwa hatinya ingin berada di dua tempat. getir.” “Aku turut prihatin. kondisinya udah jauh lebih baik. Teman kerja?” “Iya. apa adanya. “Pacar saya sekarang memang orang Bali asli. Jemari Kugy bergerak. Gy.” Keenan mengeluarkan ‘oh’ pendek yang kedua kali. aku nggak pernah main-main.” lanjutnya tegas. tanpa kabar. Nan. Keenan telah memilih untuk meninggalkan mereka semua. “Bukan. itu adalah pilihan yang terbaik pada saat itu. mengamati gelangnya lebih saksama. Gilirannya. Tidak ada yang salah. Ia cuma mengangguk. Kugy rasanya tak sanggup untuk lanjut bertanya. sesudah kamu itu akan pergi lagi? Ikut suara hati kamu lagi?” Keenan terdiam. berusaha menyamarkan getaran dalam suaranya. Kugy menghela napas. ada yang nyantol.” jawab Keenan pahit. “Oh. “Pacarku yang kasih. berusaha mencari kekuatan di sana. Keenan mengangguk. terus kamu tinggal ngomong ‘ke Bali’ kayak orang baru pulang liburan. Itu adalah pilihannya. “Kalau gitu. “Saya pergi untuk memulai sesuatu yang baru. Dan bagaimanapun cara kepergian saya. “saya sekarang kerja di kantor ayah saya. “Kenapa meninggalkan pilihan hati kamu?” “Saya pulang untuk keluarga saya. batin Kugy. meninggalkan dirinya. ya. Ia menimang-nimang dari celah mana pertanyaan ini bisa dilontarkan.” jawabnya spontan. saya mungkin nggak akan pernah kembali ke sini lagi. Kalaupun saya sekarang memang mengambil alih posisinya.” Kugy menimpali datar. dong?” “Iya. Terlalu banyak kisah yang tertunda. kalau ayah kamu baikan. Aku benar-benar nggak tahu kalau ayah kamu sakit. “Gelang kamu bagus. Begitu saja? Semudah itu kamu ngilang. Lebih cepat dia tahu. Ia tak tahu lagi harus mengawali dari mana. Saya nggak menyesal sedikit pun. jujur.” ucap Keenan sambil tersenyum kecil.” Keenan menatap Kugy balik. kan?” Kugy menggeleng. “Terus… kenapa kamu kembali lagi ke sini? Apa karena pilihan hati kamu juga?” tanya Kugy pelan. Saya nggak sekadar pergi. ia melirik Kugy.” jawab Keenan lugas. “berarti dia memahami kamu dengan baik. tapi sesuatu dalam nada suaranya terasa tajam menukik. lebih baik. menggenggam untaian batu kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Lebih tua.” Keenan menjawab. “Perempuan Bali kan ayu-ayu. pertemuan singkat dengan Kugy langsung menjungkirbalikkan apa yang selama ini ia bangun dengan hatihati dan susah payah. Batinnya berteriak semakin menjadi-jadi. Saya pergi ke mana suara hati saya memilih. Buat apa dia kembali? Buat apa muncul sejenak lalu menghilang lagi nanti? Sementara sejenak saja kehadiran Keenan mampu mengobrak-abrik seluruh tatanan hatinya. Kugy tersenyum pahit mendengar jawaban itu. dan tak bisa menolak ketika Keenan meraih pergelangannya. bukan kesalahannya. Keponakannya Pak . “Nggak semudah itu. =========== Melihat Keenan yang membisu. Kalau bukan karena itu.

“Oh. “Bukan. “Gua kok lebih setuju memakai tema ‘Alien Ressurection’. “Terus minum kopi tubruk sama singkong goreng. Selama mereka tidak lagi menyentuh urusan hati mereka yang paling dalam. rumah Keenan yang mendapat giliran. saya kangen banget sama kamu. baik tulisan maupun lisan. Akhirnya. Sepiring singkong goreng buatan Tante Erni. “Gimana kalo reuni ini kita buat dengan tema… Kelompencapir?” Eko mengernyit melihat keduanya. status agen rahasiaku nggak berlaku. “Nah. semua kembali normal. Tak lama. cerita pekerjaan Kugy di kantor… dan pembicaraan mereka seakan tak ada habisnya. bahas harga sayur mayur dan jadwal panen ladang…” Keenan melanjutkan. Empat cangkir minuman panas. Kehidupan agen rahasia tidak lagi seru tanpa kehadiranmu!” Mendadak. “Kecil. sekarang kamu pikir. “Gerah ya pake baju begini? Coba bisa pake kaos sama sarung. tentang perjalanan dan kehidupan Keenan di Lodtunduh.” Kugy merasa mulutnya mendadak pahit. “Woi. dan langsung lari ke dalam rumah. sekadar untuk memberikan kesan wajar. Dan baginya itu pertanda bahwa Keenan mulai kerasan hidup di Jakarta. Gimana caranya saya bisa eksis terus jadi agen. semua baik-baik saja.. cuma kamu doang? Tanpa kamu. Saking senangnya. Setidaknya dua minggu sekali mereka menyempatkan untuk bertemu. “Jenius!” seru Kugy. membuktikan bergulirnya malam yang terlalu cepat untuk mereka berempat. “Dia masih muda. tapi kepribadiannya sangat dewasa. ayam jantan berkokok dari kejauhan.” ujarnya langsung. Mereka berempat kini duduk bersama di atas ubin. tapi ia tidak sanggup. Kugy tersenyum lebar.Wayan.” Eko mengeluh sambil membuka jasnya.. Keenan menatap Kugy sejenak. Ngobrol dengan dia… rasanya kayak lagi baca buku petuah-petuah bijak. kita kan cuma berempat?” tanya Keenan.” ucapnya tak tertahankan. ya!” Noni berkata pada Eko. ya. Empat-empatnya bengong melihat meja makan yang penuh sesak itu. Setengah mati cari mitra kerja. Sudah lama ia tidak melihat Keenan bergaul dengan teman-teman lamanya. ya?” “Aku setuju dengan ide Kelompencapir! Aku pinjam kostum ke Mama kamu. Terlalu singkat untuk mengiringi obrolan mereka dan kerinduan mereka akan satu sama lain. Tak terasa. Seperti kamu.. “Ini sih makanan buat skala kendurian!” .” Ingin rasanya Kugy berkomentar.. berusaha antusias. Jakarta. Tanpa terasa. jemarinya kembali bergerak. tamu di rumah Eko sudah menyusut setengahnya. Ada sayatan perih di hatinya.. Dia bisa menulis apa saja. Kugy berkata riang. ya? Dia suka nulis apa?” “Dia…” Keenan menerawang. “Ma. nih. Lena rela membikinkan begitu banyak makanan sampai-sampai meja makannya nyaris tak muat lagi. Maret 2003… Kegiatan Noni dan Eko di kampus yang mulai melonggar memungkinkan mereka berempat cukup sering berkumpul. Perkumpulan Orang Aneh! Udah ngabisin nasi berapa piring?” Eko tiba-tiba menepak punggung keduanya dari belakang. Dan minggu ini. Lena sangat gembira menyambut mereka semua. “dia sastrawati sejati. Suasana menjadi lengang. Dan kini mereka bebas berbicara apa pun. “Aku senang kamu pulang. dengerin radio AM.. Tanpa sepenuhnya ia sadari. sementara satusatunya orang di dunia yang menganggap saya agen rahasia Neptunus. Tapi sekarang ini dia kepingin menulis cerita anak-anak. ============ Judul : Janji Jendral Pilik PART 10: Janji Jenderal Pilik. menggenggam gelangnya. Bersambung ke PART 10: Janji Jenderal Pilik. Malam berlalu terlalu cepat.” “Pelukis juga?” timpal Kugy. Tampak Noni datang menyusul. Kembali lagi membawa empat kaos dan empat sarung. semua pakaian mereka berganti. Dia suka menulis.” Keenan menjawil ujung hidung Kugy.

“Saya ingin meminjam satu hal lagi dari kamu. “Jeroen?” Eko benar-benar pangling. ia hanya diam dan menatap. “Ayahnya Keenan sekarang sudah bisa jalan lagi. Keenan menatap Kugy dalam-dalam. Telepon krang-kring terus nyariin Jeroen.” Keenan menambahkan. “Kamu—pelihara apaan bisa jadi segede gini?” Jeroen terkekeh. Tangannya sudah bergerak lancar memutar roda. Keenan menggeleng mantap. “dan kamu akan tahu kenapa.” Kerongkongan Kugy tercekat. Tanpa bisa dibendung. hal ini sangat pribadi. “Buku ini pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup saya. Air matanya selalu turun dari muara yang paling bening. Malam ini terlalu berharga untuk dilewatkan dengan kepedihan. karena ini memang milik kamu.” Lena mendelik. Itu untuk mengompensasi Abangnya yang nasibnya agak lain. Adri pun minta dibantu berdiri. saya sebenarnya pingin ngomong sesuatu.” sambar Eko. Kenangan demi kenangan menerpanya. Ini rupanya pengorbanan Keenan.“Nggak pa-pa. Bahkan tangisannya tetap yang paling indah bagi Keenan. Ia tersenyum. tapi artikulasinya sudah jelas dan mendekati normal. Tinggal ia. Mendadak muncul sayatan perih lagi di hatinya. Saya cuma tidak mau memberi tahu kamu dengan cara yang biasabiasa aja. Bagi saya. Keenan lupa memperhitungkan peliharaan kita semua.” Lena menerangkan dengan bangga. Jeroen sudah masuk SMA sekarang. Ia berjalan hati-hati menuju kursi. *** “Kalian duluan. tak percaya ia akan melihat buku itu lagi. Termasuk dirinya sendiri. Kugy memang tak berubah.” “Lho. air matanya bergulir.” ujar Keenan di beranda depan.” “Untuk?” Dan Kugy melihat Keenan mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. “Jadi… selama ini. kendati ada berjuta hal yang ia ingin lakukan untuk memuja keindahan itu. Mudahmudahan memang tidak untuk selamanya—sekalipun itu berarti Keenan mungkin akan pergi lagi entah ke mana. bahkan menyinggung secuil pun tentang dunia satu itu. Dengan tersiksa. “Memang nih anak satu. saya harus berterima kasih sama kamu. hampir menyamai tinggi badannya. Tiba-tiba terdengar suara roda berputar. Tante. Tante. lalu melepas keduanya pulang. “Pelihara grup ronggeng. Kugy kontan tidak karuan. Biar gua yang nganterin Kugy. “Jenderal Pilik?” tanyanya bergetar. Noni punya keluarga singa. “Nggak ngerepotin?” Kugy menyusul bertanya. “Kugy pelihara anakonda. dan bebunyian serangga malam. Besok pagi kan kalian masih harus ke Bandung. Makanya saya nggak pingin ngomong di depan Noni dan Eko. Namun Kugy memilih untuk mengindahkan. hampir semua sudah bisa kembali seperti dulu. Pusing deh. Anak SMP yang kecil itu kini sudah menjulang tinggi. Sudah lama sekali tidak ada yang mengatakan hal itu padanya. kamu menyimpan buku ini terus? Waktu kamu di Bali juga?” “Dan saya baca hampir tiap hari. “Kamu sadar nggak? Kamu akan jadi penulis dongeng yang luar biasa. “Gy. Benda yang ia bawa sejak mereka beranjak ke serambi tadi. Jantungnya berdegup kencang.” timpal Eko lagi. Buku kumal itu diterimanya dengan perasaan campur aduk. Kugy mengamati semua itu dengan saksama. Namun tak mungkin Keenan mengungkapkannya. Ia tersenyum ramah menyapa semuanya. Jadi seimbang. Kugy. saya pelihara ular naga. Tante di rumah merangkap resepsionis. “Gy.” Kugy tambah bingung. “Yakin?” tanya Noni dan Eko hampir berbarengan. nggak pa-pa. Tapi barang ini harus saya kembalikan lagi. deh. Sesampainya di dekat meja. Ayah Keenan keluar dari kamarnya. Keenan ngasuh rombongan tunawisma—” “Mas Eko!” Jeroen keluar dari kamarnya. Keenan menahan napas melihat pemandangan di hadapannya. dan hanya menyangkut kita berdua. Dan orangnya beda-beda semua.” Keenan berkata lembut. Pacarnya banyak bener.” Keenan lalu menyerahkan sebuah buku tulis yang kini sudah kumal. “Kamu sudah meminjamkan sesuatu yang sangat berharga buat saya.” ucap Keenan separuh berbisik. Walaupun bicaranya agak pelan. Kugy tercengang. “Saya ingin .” Meski tetap tampil tenang. tapi masih pelan-pelan.

Nanti kamu akan ngerti kenapa buku itu begitu penting buat hidup saya. Tak ada ladang. sampai nanti kamu kembali lagi ke sini. kasih tahu saya. “kok. Aturan kedua: hp mati. Bener-bener harus jam tujuh. Tak lama kemudian. Aturan pertama.” gumamnya. terus ke arah utara. mereka berangkat dari rumah Kugy. “Ternyata kamu memang serius gilanya. Harusnya ide menjenguk ini munculnya dari aku.” gumam Keenan sambil melihat sekeliling.” “Siap. rumput-rumput pun sudah gundul. “Tujuan pertama pagi ini: Bandung. tapi tak urung kepalanya mengangguk. Hamparan tanah merah terbentang luas. Hanya truk-truk besar. mereka mencari penduduk yang masih tersisa. Tak ada rumah penduduk. ya?” tanya Keenan ketika melihat plang posyandu yang dulu menjadi patokannya. “aturan saya. Sakola Alit hilang tanpa bekas. daerah ini kayaknya berubah. yang hampir ketemu tiap hari selama dua tahun.” Mobil Keenan mendekati lokasi kampung Pilik. Oke. Masih dengan rambut basah dan mata yang melek terpaksa. membawa beberapa baju cadangan.” Keenan menyahut santai.” kata Kugy. ya?” sapa Kugy dengan jalan yang masih sedikit sempoyongan. Pemandangan yang mereka temui kian asing saja. di sebelah posyandu itu ada saung dari kayu yang merangkap pos ronda. Udah?” Keenan mengecek. Kugy keluar. seperti sering dilalui kendaraan. tak terawat. Gy: percaya sama saya. setelah mendeteksi keanehan yang terjadi. dan para pekerja yang hilir mudik di lahan besar itu. dan bertanya sana-sini.meminjam satu hari saja. Kugy ikut menebarkan pandangan. Kapan kamu bisa. “Ieu Neng. membuat semuanya kelihatan lebih gersang. Sinar matahari menerpa langsung. Dulu. Keenan benar. Pukul tujuh kurang lima. Tanpa buang waktu. semen. “Hari ini cuma ada satu aturan yang berlaku. . Jalan setapak menuju Sakola Alit sudah kelihatan. “ngomong-ngomong.” “Bagus.” “Ke Bandung? Pilik?” Kugy terperangah. *** Hari Sabtu pagi. Kugy dan Keenan melongo melihat itu semua. Daerah itu sudah berubah. Dari mulai ruang tamu ini. “Iya… tapi. Mereka berpapasan dengan banyak pekerja yang mengangkuti pasir. kamu kepikir buat jenguk Pilik segala. “Nan. Sepanjang jalan. Pak?” tanya Keenan. mesin beckhoe.” Beberapa menit kemudian. =============== “Pokoknya hari ini tugas kamu cuma satu.” “Aku mau diperbudak seperti Eko dan Fuad memperbudakku bertahun-tahun. Saung kayu yang biasanya digawangi oleh Mang Sukri kini sudah tak ada. guru mereka. batu-batu. kita mau ke mana. “Rumah-rumah di sini pada ke mana.” Kugy tak paham apa yang Keenan maksud.” jawab salah satu orang yang berhasil Kugy cegat. “Horeee!” teriaknya sambil melompat-lompat di tempat duduknya. deh. Keenan sudah nongkrong di ruang tamu Kugy. Mereka berdua keluar dari mobil. ya?” Kugy celingukan. ya?” tanya Kugy lunglai. Satu mobil terguncang-guncang. “Nan. Dan terkejutlah mereka ketika setengah kampung tempat Pilik bermukim sudah rata dengan tanah. Seorang pengangkut kayu bakar. sih?” Keenan nyengir. Posyandu itu pun tampak sepi. Kita jenguk Pilik. “Gy. biasanya ada pos jaga Mang Sukri di sini… ke mana. bade didamel janten perumahan.” “Udah. “hal itu juga bagian dari kejutan hari ini. aku nggak ngerti. Saya ingin mengajak kamu ke satu tempat. Kugy keasyikan mengobrol sampai-sampai tak sadar mobil itu sudah sampai di mulut tol Cikampek. menembusi jantung kota Bandung. “Aku harus parkir di sini kan. Jalan setapak menuju Sakola Alit menjadi lebih besar. “Udah. *** Sudah tiga jam mereka menempuh perjalanan. Seperti sudah tak terpakai berbulan-bulan.” ujar Keenan sok tegas. sih? Padahal kamu cuma dua kali ketemu mereka. Sekumpulan pohon bambu rimbun yang biasanya meneduhi mobil yang parkir di tempat itu sudah tidak ada lagi. Mereka mulai menapaki jalan.

Menangiskan semua penyesalan yang tersisa dalam hatinya. Malah lebih buruk. “Kamu tahu tempatnya.” . Ada beberapa gubuk yang berdiri di pinggir kali tersebut.” Dengan prihatin. ada sesuatu yang tidak beres.” sahut Keenan lirih. Pak Usep anu gaduh kebon sampeu?” “Muhun. “Upami Bapa terang teu Pak Usep ayeuna di mana?” Dengan agak terbata-bata. kebisingan pembangunan real estate itu hanya terdengar sayup-sayup. “Pak Usep mah kagusur ka caket susukan. lalu membenamkan kepalanya dalam rengkuhan Keenan. “Coba kalau aku sempat nengokin dia… aku beneran nggak tahu. rambutnya yang gundul. muhun. Sesekali burung berseliweran. Sebuah makam seadanya. merangkul Kugy yang bersimpuh sambil terisak. Pilik beristirahat di sana. yang akan dihadiahkan bagi Pilik dan Sakola Alit. lalu hinggap di atas nisan kayu yang terpancang di hadapan mereka berdua. Harusnya kesempatan itu ada. Semuanya berputar bagaikan ril film dalam kepala Kugy.“Atos ngaralih. dan akhirnya tubuh kecilnya menyerah. “Duka atuh. *** Kembali hanya mereka berdua ditemani embusan angin dan gemerisik bambu. dan sinar matanya yang cerdas. dan menderita tifus tiga bulan yang lalu tanpa mampu mencari pertolongan medis. “Bu Ugi… si Pilik. “Itu Pak Usep!” Kugy berseru. Uang yang ia sisihkan dari hasil penjualan lukisannya selama ini. serta kenyataan hidup seorang anak bernama Pilik bin Usep yang harus tergusur karena keluarganya tak punya bukti kepemilikan tanah. “Neng Ugi!” Pak Usep tak kalah terkejut. “Kita susul ke sana. kondisi Pilik turun drastis. harus tinggal dalam sebuah gubuk di pinggir pembuangan sampah. “Aku sering kangen sama Pilik… sama anak-anak… tapi aku udah nggak pernah sempat lagi nengok mereka… aku masih punya satu buku tulis petualangan Pasukan Alit yang bahkan mereka belum sempat baca…” tangis Kugy lagi. Keindahan dunia Jenderal Pilik dan Pasukan Alit yang terwujudkan dalam semua karyanya. keduanya bergegas pergi. aya guru-guruna Pilik!” Seorang ibu berdaster lusuh keluar dari situ. Seketika itu juga. Sadayana atos digusur. Ia langsung melongok ke dalam gubuknya. Yang tersisa hanya kenangan suaranya yang gaduh.” Kugy mengangguk-angguk antusias. Kugy tahu benar ‘susukan’ yang dimaksud. Keenan terduduk pilu. ============ Di tangannya. Gy?” tanya Keenan. Ia sudah bisa membayangkan kondisi seperti apa yang dihadapi Pilik dan keluarganya. Gy. Kugy dan Keenan tahu. Nan… aku juga hilang kontak dengan Ami… padahal… Pilik… mestinya dia punya kesempatan… anak itu pintar…” Kugy berkata tersendat-sendat. Setelah mengucapkan terima kasih. Da paburencay…” Ia mengangkat bahu. Sementara seribu satu penyesalan muncul di benak Keenan. “Oh. Satu-dua orang tampak lalu lalang di sekitar gubuk. berkicau. Keenan menggenggam sebuah buku tabungan. yuk. Kugy mengangguk. “kamu jangan berhenti menulis. Bu…” tangisnya serta merta. Seolah melihat malaikat. Dari tempat mereka berdiri. memeluknya erat. Sebuah kali kecil yang nyaris kering dan kotor.” gumamnya. Pak Usep bilang. “Ke mana?” desak Kugy lagi. “Bu… bu… kadieu. Kugy berusaha berkomunikasi dalam bahasa Sunda. menyadari betapa ironisnya realitas saat bersanding dengan dunia dongeng. ia menghambur ke arah Kugy. enggal! Ieu. Pak Usep hanya bisa diam dan tertunduk sedih. bapak itu berkata. Gubuk-gubuk reot yang tak layak disebut rumah. Neng.” Bapak itu menjawab seraya merentangkan tangannya. Dan bayangan Kugy tidak salah. Dengan getir ia memandangi nisan itu. tak sampai seminggu. “Satu saat mereka pasti baca. Anu putrana namina Pilik. Tempat itu tidak terlalu jauh dari pembuangan sampah. Neng. larinya yang gesit. Pilik pergi membawa mimpinya untuk bisa masuk SMP. Tubuhnya berguncang. Cep.

Kugy menyadari bahwa Keenan tidak ada di sampingnya. “cheers.” Keenan tersenyum sambil mengusap pelan tangan Kugy. Kugy langsung berlari kecil menghampirinya. Aturan hari ini masih berlaku. Saat yang mereka butuhkan hanyalah alam dan satu sama lain. bareng Bimo dan anak-anak kampus. Belum tuntas rasa kagetnya. enjoy.” “Lalu… kita mau ngapain lagi sekarang?” Kugy mengusap wajahnya. Namun ia juga getir melihat kenyataan bahwa niat baik mereka semua tak sanggup menolong Jenderal Pilik. Kugy keluar dari mobil. Tak cukup kemauan.” Keenan tersenyum lebar. membawa mereka begitu jauh. Menyala bagai disulut api.” Kugy terkekeh. Kugy menoleh ke samping. Antara haru. Agen Keenan Simalakamania. Tertidur pulas dengan sandaran jok merebah ke belakang. Baru sekarang bisa kembali lagi. Tak lama. Uang ini sudah saya anggap menjadi hak mereka. Tersadarlah bahwa mobil itu tengah terparkir di atas tebing berumput hijau. Matanya terbuka ketika mobil Keenan akhirnya berhenti. lalu terus ke Selatan menuju Pameungpeuk. saling memecah dan mengempas. “Saya masih mau mengajak kamu ke satu tempat. “Nan? Kita sebenarnya di mana. Cepat-cepat. Realitas dan dongeng terpisahkan tabir yang rasanya tak akan pernah bisa ia tembus. Kugy tak menyangka betapa kisah yang ia tulis telah berperan begitu besar dalam hidup Keenan. “Kamu akan kasih uang ini ke mereka. Gy. *** Kugy tertidur separuh terakhir perjalanan entah ke mana itu.” “Cheers. ============ Kugy termenung melihat buku tabungan yang dibawa Keenan. “ini bagian dari peraturan saya hari ini. Beraneka ragam perasaan melanda hatinya. membentuk segomplok awan hitam yang sejenak memenuhi langit. Sontak. “saya nggak mungkin menyimpannya lagi. Ia terharu dengan kesungguhan Keenan untuk berterima kasih padanya.” jawab Keenan tegas. Pertama-tama. Ke Pak Usep. “Ya. Kugy mengangguk pasrah. Ia hanya tahu bahwa mobil mereka pergi mengarah kota Garut. sih?” Kugy bertanya keras. Muka protesnya perlahan berubah. Namun waktu berjalan dan Bumi berputar. Menghayati keluasan . Bertahun-tahun pingin ke sini lagi. Arakan-arakan awan tampak merona jingga ditelan ufuk Barat. Sama kamu. Kugy terduduk. Keenan merasa terempas kembali ke masa lalu. Pak Somad. Saya langsung jatuh cinta. Kugy mengambil minuman yang disodorkan Keenan. “Selamat datang di Ranca Buaya. aku harus mengakui. So. Saya pernah ke pantai ini nggak sengaja. Kugy mendengar bunyi deburan ombak yang dahsyat dari arah bawah. Kala ia dan Kugy masih berbagi mimpi yang sama.” Ia lalu menyorongkan minuman dingin yang dibawanya dalam cool box. Sisanya ia tak sadarkan diri. beralaskan rumput dan bertemankan dua minuman kaleng dingin. Apa pun rencana Keenan. “Well.Sesaat. lalu keluar dari kota Bandung. Kugy hanya bisa terduduk di atas rumput. terkejut. yaitu kamu harus rela diculik ke mana pun. Di hadapannya terhampar laut luas. tampak ombak berputar dan berpusar. menikmati matahari terbenam hingga pupus ditelan malam. ia hanya ingin diam di mobil dan mengikuti ke mana arah nasib membawanya. Kugy masih harus terpana melihat ratusan kelelawar yang tiba-tiba mengepak bersamaan dari bawah tebing. Langit berwarna kemerahan. mobil SUV itu pergi meninggalkan daerah Bojong Koneng. Tampak Keenan melambaikan tangan dari sebuah saung beratapkan ilalang.” Keduanya lalu duduk di pinggir tebing. Kedua. tapi nggak pernah sempat. Saat sebuah momen sederhana bersama Kugy dapat mengkristal dan hidup lestari dalam hatinya. Penat. Dan di bawah sana. “Kecil!” Suara Keenan berteriak memanggilnya. Terkesiap dengan semua keindahan yang mendadak hadir di depan matanya. dan semua keluarga Pasukan Alit yang kena gusur. Ketiga. ini adalah penculikan yang sangat menyenangkan. Kugy melihat angkasa luas yang terbentang dari kaca mobil. Ia tak punya cukup tenaga untuk protes. dan getir. menyapu hamparan karang dengan buih putih. pada Sakola Alit. Nan?” tanya Kugy. dan Pasukan Alit.

ini ungkapan terima . Alamiah dan juga terapeutik karena punya efek refleksiologis. Kugy dan Keenan akhirnya berkesempatan untuk merendam kaki mereka dalam air laut. “Hotel bintang lima lewaaat…” desah Kugy seraya memejamkan mata. “Kamu kok—?” “Kamu boleh menganggap ini hadiah ulang tahun tertunda. malah terkikik-kikik geli. nggak nyesel kan diculik?” Kugy berhenti mengunyah. “Nggak usah banyak tanya adalah salah satu aturan yang berlaku hari ini. menuju bagian pantai landai tempat beberapa pedagang makanan berjualan. nggak?” “Setuju. Di bagian itu. Ia sudah memasuki mangkok yang kedua. kamu boleh menganggap ini perayaan kecil reuni kita berdua. Mendadak. Iya. “Kalo boleh tahu. “Naaan! Kamu ngapaiiin?” teriak Kugy.Samudera India yang membentang dari tempat mereka duduk. ampun! Kamu ada rencana nukang kok bawa sekop segala?” Kugy tergelak. Keenan melirik bungkusan bekas mie instan yang masih tergeletak di meja. tak ada lagi orang di sana. maksud kamu hari ini sebetulnya apa sih. sambil terus menimbuni Kugy dengan pasir yang disendoknya dengan ember. Yang dikubur tidak protes. sih?” Masih dalam posisi telentang menghadap langit.” celetuknya.” kata Kugy yakin.” *** Pantai Ranca Buaya hampir seluruhnya dibingkai oleh hamparan karang. SUV itu turun dari tebing. kamu boleh menganggap ini apa pun…” Keenan beringsut mendekat. “Dua puluh meter ke depan. Lagu alam paling merdu. “Jadi… kita masih pindah tempat lagi?” Keenan mengangguk. Dan bulan bersinar megah dalam masa purnamanya.” komentar Kugy seraya melahap mie rebus yang dipesannya. “Mau dibikinin tempat tidur nggak?” Keenan bertanya. masih tersisa sebagian kecil pantai kosong yang tidak diparkiri perahu. “Kamu ngapain. “faktor pertama adalah nggak makan dari siang. tempat tidur refleksi. Ini namanya hotel bintang sejuta. ============ Setelah kenyang bermain ombak.” seperti tukang obat Keenan menerangkan. Butiran pasir yang menghambur menggelitik saraf-saraf kulitnya. “Ini tempat tidur yang nggak bisa didapatkan di hotel termahal sekalipun. “Beresin dulu makannya. kan?” Keenan tersenyum penuh kemenangan. spontan. Tapi nggak sekarang. “Jelas lewatlah.” sahut Keenan. lalu sibuk mengerjakan sesuatu. ada bedanya.” Keenan pun bergerak ke mangkoknya yang kedua. tubuhnya terangkat. tubuhnya mengempas kembali ke pasir. luas kamar seluas-luasnya. kembali membawa ember kecil dan sekop. “yang jelas. Keenan lalu ikut berbaring di sebelahnya. tampak mengkilap disepuh buih ombak. Dekat dari sana. Tempat tidur pasir. yang letaknya persis di depan warung-warung makanan. Madam? Asyik. Karang-karang kecil bermunculan. “Ini… adalah mie instan paling enak yang pernah aku coba seumur hidup. dan nggak di sini. Menjelang gelap. “Gimana caranya?” Keenan melesat ke mobilnya. kecuali satu cerukan yang dipakai sebagai pelabuhan kapal nelayan. Taburan bintang muncul tanpa perlawanan awan. Selain mereka berdua. Beberapa detik kemudian. dan live music nonstop… suara ombak. Malam yang masih muda terlihat jernih. Keenan menggendongnya tanpa disangka-sangka. ke dalam sebuah lubang dangkal. Restoran paling mahal di Jakarta aja kalah sama warung ini. menatap lekat Kugy yang telentang tertutup pasir. “Gimana tempat tidurnya. “room service-nya Indomie rebus sama teh tawar. faktor kedua adalah… ini warung dengan pemandangan terindah yang pernah aku kunjungi. sejenak menatap Kugy. Nan?” Keenan ikut berhenti. Nanti saya kasih tahu. Setelah tubuhnya tertimbun pasir. di atas pasir pecahan kerang berwarna krim kekuningan.” Kugy sontak menoleh. “Ya. Kugy mendamparkan tubuhnya di atas pasir. Ratusan anak ombak berkilau perak ditimpa sinar bulan. “jadi. “Emang.” Mata Kugy langsung membeliak.” Keenan menjawab santai. ya?” “Jelas ada. Kugy bertanya. “Kenyang begini… paling enak tidur.

lalu perlahan Keenan bergerak ke belakang punggung Kugy. “Ke mana pun hidup membawa kita berdua. Gy. Makasih. Gimana kalau kita pulang besok subuh menjelang sunrise?” “Terus. Sementara bulan masih menyala perak.” Keenan menarik tangan Kugy lembut. keindahan pagi yang sejak tadi ia nikmati tiba-tiba memperoleh saingan. memeluk Kugy dari belakang. Keenan pun menoleh. Jantungnya berdebar kencang dan rasanya ia ingin mencelat keluar dari tempat tidur pasirnya. dan memasuki rongga mulutnya. “Panitianya canggih. Terserah kamu. perjalanan ke sini kan butuh enam jam dari Bandung. “Buka mulut kamu…” Dengan lembut.” Sambil mengunyah. “Saya bawa sesisir. Oke? Sekarang. Tapi ia tak bisa bicara lagi karena sudah mulutnya sudah penuh terjejal. Tak jauh darinya. ya. nih. dan penghuninya entah ada di mana. Bundar bagaikan sebutir mutiara di tengah luasnya langit. Madam Kecil. tak juga bicara.” lanjut Keenan lagi. Di kupingnya. deh. “Gy. Dalam kondisi mata terpejam. Menyadari Kugy yang ada di dekatnya. kamu harus percaya sama apa yang kusuruh. Air muka Keenan berubah serius.” Keenan pergi lagi ke mobilnya. menyisakan jejak malam dan kawanan bintang. Angkasa seperti terbelah dua. Main course udah. Saat ia menoleh ke samping.” Keenan menggeleng. Rambutnya yang halus berkibar ditiup angin. kembali membawa dua sleeping bag. ya? Gimana caranya?” “Berdoa. tapi Kugy sungguhan tidak sanggup bergerak. Aturannya juga sama. Izinkan saya seperti ini sebentar aja. Kugy hafal bau itu. “kalau aku sih pinginnya di sini. tampak siluet Keenan tengah berdiri menghadap pantai. Kugy berkomentar. “Saya yang berterima kasih. dan sebagian lagi masih biru tua.kasih untuk semua inspirasi berharga yang sudah kamu kasih untuk saya. “Radar Neptunus. tersenyum padanya.” “Pagi. terus apa lagi sesudah ini?” tanya Kugy.” “Oh. Keenan berkata. “Selamat pagi. sleeping bag Keenan sudah tergulung rapi. Kalau kita paksakan malam ini pasti capek banget. Napasnya yang terasa hangat meniupi kulit mukanya. “Kita bisa gelar ini di saung belakang. tuh.” bisiknya. Kamu kok ingat semuanya sih. Kugy membuka mulutnya perlahan. Tak bisa bergerak. Tiga jam lagi ke Jakartanya.” “Hmm… hmmm…” Kugy berpikir-pikir. Keenan meminta. Mendapatkan Kugy yang samar diterangi sinar bulan. saya harus . aman nggak. atau di pantai juga boleh. Dan timbunan pasir yang mengurungnya semakin membuat ia merasa tak berdaya. sekarang dessert. Kugy membuka mata dan menemukan langit yang sudah semu kemerahan. Moga-moga kamu senang ya di sini. hanya menatap balik wajah Keenan yang memayunginya dengan jarak yang begitu dekat. Kamu paling suka sama suara ombak. Di matanya. ================= “Sini. Napasnya yang tadi tertahan seketika melega.” celetuknya ringan. Sesuatu menyentuh bibirnya. ia dapat jelas merasakan wajah Keenan mendekat. “Ini—” Kugy hampir tak sanggup melanjutkan. Kugy pun berjalan mendekati pantai. Cepat-cepat ia mengeluarkan diri dari sleeping bag. Meneer Penculik. “aturan terakhir yang nggak boleh kamu protes.” *** Tak ada yang membangunkannya.” Keenan tertawa kecil. Ragu.” jawab Keenan mantap. Nan?” Keenan menempelkan kedua telunjuknya di ubun-ubun menyerupai antena. merangkulkan kedua tangannya. Dan saya masih punya satu hadiah lagi. tutup mata. kok. kan?” “Tenang. “panitia penculikan juga sudah mengantisipasi soal keamanan. ya?” “Aman. tapi. Saya penculik bertanggung jawab.” Kugy menurut meski gugup bukan main. rekan agenku.” Kugy merasa sekujur tubuhnya kaku. “Oke. Madam Kecil. “Kecil… saya selalu ingat kata-kata kamu. “Pisang susu kesukaanmu. kita tidur di mana? Nggak beneran di ‘tempat tidur’ ini. “ini hadiah paling indah yang pernah aku terima seumur-umur. Semu kemerahan di ufuk timur.” Kugy menyapa balik seraya berjalan ke sisi Keenan.

kepalanya justru makin pusing.” “Wah. barangkali ia sudah berkata-kata dengan nada tinggi. Barangkali Noni tahu sesuatu?” “Sebetulnya yang dimaksud Keshia dengan ‘teman kampus’ itu ya termasuk saya juga.” kata Noni jujur. Mas Remi. omongan Noni tidak membuat Remi bertambah tenang. membawa apa yang tak terucap. yang andai saja bisa dilepas. betul. saya tadi dapat nomor telepon kamu dari adiknya Kugy. Ini dengan Noni?” Suara cowok yang tidak ia kenal. *** Noni mengerutkan kening saat melihat nomor tak dikenal menghubungi ponselnya. “Sekali lagi kamu ngilang begitu. “Mas Remi. Nama itu tidak asing. Kalau boleh. Kugy.” kata-kata itu akhirnya meluncur. Pukul sebelas malam. Gy.” Noni terkekeh. Tapi bukan itu yang jadi masalah. Meski hanya sesaat.” sahut Noni sambil nyengir. karya kamu menjadi inspirasi terbesar saya. lalu bagaikan gelombang air bisikan itu mengalir. Remi. Mau tanya. Aku ke Bandung… dan tahu-tahu bekas muridku meninggal… jadi aku…” “Oke. kira-kira kamu tahu nggak Kugy di mana? Seharian ini hp-nya nggak aktif. saya ingin terus berbagi karya dengan kamu. sampai akhirnya berlabuh di hati. aku terima. bahkan tiga puluh detik aja. Aku nggak mungkin bilang.” “Ke mana ya dia? Kok sampai ngilang tanpa kabar?” tanya Remi cemas. Keenan memperat pelukannya.” “Oh!” Noni kaget sendiri. Demi Pilik. Yang ia tidak sangka-sangka adalah Remi meneleponnya tanpa hujan tanpa angin. Sebaliknya. “ini dengan siapa?” “Ini Remi…” Remi berpikir sejenak. dan orang rumahnya nggak ada yang tahu dia pergi ke mana. Kugy pasti baik-baik aja. akan membuat keadaan ini jauh berbeda. Dan demi kamu. Kecil. . Tanpa disadari. Tapi hari ini setahu saya nggak ada jadwal ngumpul.” Kugy balas berbisik. “Semuanya mendadak. Jelas ia berusaha meredam emosinya. Sori. “dalam keadaan mati. “mmm… pacarnya Kugy. kalo kata aku. ia bisa mencicipi keabadian. “kita dulu punya geng berempat gitu. nggak bisa ngapa-ngapain. “Remi… sori…” “Kamu sadar. “Maaf ya ganggu malam-malam. “Demi Pilik. yang pertama kali Kugy lakukan adalah menelepon Remi. Aku memang teledor. “Soalnya hp-ku ketinggalan di kamar. “Kamu udah nyiksa saya.jujur. Belakangan memang lumayan sering main bareng lagi. Dan reaksi pertama yang ia terima adalah dimarahi. Denyutnya terasa satu-satu. tapi menusuk. Namun ia memutuskan untuk mengangkatnya. sih. Gy. Kugy sudah menyebutkannya berkali-kali. “Kata adiknya. selain nyariin kamu ke siapa pun yang saya bisa. Kugy lagi sering ngumpul sama teman-teman kampusnya.” Terdengar sunyi dari ujung sana. tuh. “Aku mau. nggak? Satu menit telepon dari kamu. saya juga nggak tahu. Entah mengapa. “Kamu sadar apa yang kamu perbuat pada saya?” tanya Remi dengan suara tertahan.” bisik Keenan. Menikmati denyutan hening. asal kamu mau melukis lagi.” “Aku mau. Karena hanya saat mereka bersama. “Iya. Dia kan memang suka aneh. selain nunggu kabar dari kamu—yang saya tunggu sampai subuh dan belum ada juga. Keheningan seakan memiliki jantung. Sejenak berayun di udara. ============== Sesampainya di rumah. Apa yang bikin kamu sampai nggak kasih kabar sama sekali? Apa yang terjadi sampai hp kamu nggak aktif sehari semalam?” “Soalnya…” Kugy memejamkan mata kuat-kuat. apa pun alasan kamu. “Halo?” “Hai. Besok paling juga udah muncul lagi.” “Iya… aku tahu… tapi…” “Kamu keterlaluan.” Remi berkata dingin.” kata Noni. Demi kamu.” Kugy terkesiap. Bikin saya stres. lalu helaan napas panjang. mau nggak kamu nulis dongeng lagi?” Kugy menelan ludah.

Gy, dan ada apa-apa dengan kamu, saya nggak yakin bisa memaafkan diri saya sendiri.” “Remi… aku nggak kenapa-napa, kok…” “Dan gimana caranya saya tahu itu kalau kamu nggak bisa dihubungi? Percuma, Gy.” Kugy tak bisa berkata apa-apa. “Gy, satu hari kamu akan sadar bahwa saya nggak bisa kehilangan kamu. Kamu… terlalu berharga buat saya. Kamu nggak bisa membayangkan betapa kesiksanya saya kemarin. Tolong, jangan pernah lagi kamu ngilang kayak gitu.” Tanpa bisa Kugy kendalikan, air mata tahu-tahu saja merembesi pipinya. Ucapan Remi menyadarkannya akan sesuatu. “Ya, udah. Yang penting kamu udah kembali. Nggak ada yang lebih penting dari itu,” Remi berkata, seolah menasihati dirinya sendiri, “kamu sehat, Sayang? Capek? Masih sedih?” “Aku baik-baik,” Kugy berkata dengan nada tertekan, berusaha meredam jejak tangisnya. “Nanti malam saya ke rumah, ya.” “Iya. Aku tunggu, ya,” Kugy menyahut. Dan begitu telepon dari Remi berakhir, ia terduduk lama, mengusapi air matanya yang turun satu-satu, tapi seperti tak mau berhenti. Ia menyadari, semalam ia telah berkesempatan untuk pulang ke negeri dongengnya. Sebuah dunia yang sempurna dan perasaan cinta yang rasanya abadi. Namun, inilah kenyataan yang sesungguhnya. Inilah hidup yang ia jalani. Meski tak seindah negeri dongeng, tapi dirinya sudah memilih. Pahit, Kugy menyadari bahwa Keenan hanyalah pangeran negeri dongengnya. Kisah mereka berdua hidup dalam khayalan indah yang tak mungkin terwujud. Remi adalah kenyataannya. Dekat, terjangkau, dan jelas-jelas mencintainya. Kugy tidak yakin bisa memaafkan dirinya sendiri jika ia harus menyakiti Remi. Ketidakjujurannya kali ini sudah lebih dari cukup. *** Hari Senin. Menjelang pulang kantor, Keenan tidak tahan lagi. Setelah menahan berjam-jam tidak menghubungi anak satu itu, sistem tubuhnya seolah mengisyaratkan kehausan yang amat sangat. Sekadar untuk mendengar suaranya, tawanya, cekikiknya. Ia lantas menghubungi ponselnya. “Hai, Madam Kecil. Lagi ngapain?” “Meneer Penculik!” Suara itu terdengar begitu riang. “Aku masih di kantor. Dan baru mikirin kamu. Tadinya aku mau sms.” “Oh, ya?” Gantian suara Keenan yang menjadi riang. “Ada apa, Gy?” “Siap-siap, ya,” Kugy berdehem, “hari ini… aku nulis lagi! Serial Jenderal Pilik is baaack!” teriaknya. Bola mata Keenan seketika berbinar-binar. Sesuatu tersulut dalam hatinya begitu mendengar teriakan Kugy. “Gy, saya punya ide, dengar baik-baik ya, nanti kasih tahu pendapat kamu, sejujur-jujurnya…” kata Keenan serius. “Setiap kamu selesai menulis satu kisah, saya akan membuatkan ilustrasinya dalam bentuk lukisan. Saya nggak tahu persis gimana bentuk akhirnya, entah jadi buku atau pameran, atau keduanya, yang jelas kita kerja bareng. Selama ini Jenderal Pilik cuma dikenal lewat lukisan saya aja, tapi orang-orang nggak tahu ide pelopornya apa. Menurut saya, sudah saatnya kamu juga tampil keluar, sebagai pencipta serial cerita Jenderal Pilik dan Pasukan Alit.” Kugy terenyak. “Jadi—kita—punya karya bersama?” ucapnya tak percaya. “Kugy, sebelum kamu tahu pun, bagi saya, kita sudah berkarya bersama. Bedanya, kali ini kita melangkah bareng-bareng. Itu pun kalau kamu memang bersedia, Gy. Akan jadi satu kehormatan besar buat saya.” Dengan penuh kesungguhan, Keenan berkata. Lama Kugy tidak menyahut. Ia butuh waktu untuk mencerna semua itu. Mendadak, impiannya terasa mendekat, terasa mungkin. Sesuatu yang tadinya ia pikir terlalu tinggi dan muluk, tiba-tiba membumi. Berada tepat di hadapan. Dan yang ia butuhkan hanya keberanian untuk melangkah. “Oke. Kapan kita mulai?” Mantap, Kugy akhirnya bersuara. =================== Jakarta, April 2003… Dibutuhkan seminggu untuk Kugy menyelesaikan setiap seri Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Dan itu mengharuskan Keenan untuk menjemput naskah baru setiap minggunya. Khusus untuk serial satu ini, Kugy menulis dengan tangan dalam buku tulis, sebagaimana yang dilakukannya di

Sakola Alit dulu. Baru setelah itu, Keenan menyuruh sekretarisnya untuk mentranskrip naskah Kugy ke dalam dokumen komputer. Dibutuhkan banyak jam di kantor yang seharusnya diperuntukkan untuk bekerja, tapi kini Kugy bajak untuk berkhayal dan menulis serialnya. Omongan-omongan sumbang mulai muncul dari sana-sini. Sindiran-sindiran halus menjadi rutinitas baru yang ia terima setiap hari. “Yah, gitu deh, fenomena anak bau kencur, semangatnya juga tai-tai ayam.” “Otak brilian tapi nggak didukung profesionalisme sama aja bo’ong.” “Prodigy ternyata punya jadwal kadaluarsa juga, ya.” Dan kuping Remilah yang paling panas mendengar semua itu. Ia tahu persis kemampuan Kugy. Kalau saja anak itu sedikit berusaha, semua pekerjaannya akan kelar dalam sekejap mata. Masalahnya, fokus Kugy tersedot tanpa sisa untuk sesuatu yang ia tidak tahu. Jika di kantor, Kugy selalu kedapatan bekerja di mejanya dengan sungguh-sungguh, tapi tugasnya tidak ada yang selesai. Hari ini Remi terpaksa menegur Kugy. “Gy, saya udah nggak bisa minta waktu tambahan lagi ke klien. Mereka udah harus syuting seminggu lagi. Nggak bisa enggak. Tapi sampai sekarang, storyboard belum ada, konsepnya juga masih gonta-ganti melulu. Kamu kan project leader. Keputusan harus datang dari kamu. Kalo kamu nggak bisa fokus, satu tim kamu berantakan.” Kugy bergeming menatap Remi. Entah bagaimana harus mengatakannya, bahwa ia memang belum mengerjakan apa pun sampai detik ini. Entah bagaimana bisa mengungkapkan bahwa Remi sudah saatnya untuk tidak terlalu bergantung padanya, tidak terus-terusan menjadikannya project leader, karena Kugy sendiri tidak bisa mengendalikan energi dan perhatiannya yang terisap ke dalam pusaran kuat dimensi Jenderal Pilik. Rasanya ia seperti zombie di kantor. Tubuhnya ada di sana, tapi cangkang kosong belaka. Sementara isinya berada di tempat lain, mengerjakan hal lain. “Kamu ada masalah apa, sih?” tanya Remi lagi. Mata Kugy mulai berkedip-kedip, tanda ia berpikir keras. “Aku sedang ada proyek baru…” katanya pelan. “Proyek?” Remi mengerutkan alis. “Aku sedang bikin serial dongeng.” Remi seketika mengembuskan napas panjang, mengusap-usap wajahnya. “Gy, kayaknya saya nggak perlu mengingatkan kamu soal prioritas. Kamu udah cukup gede untuk bisa menyusun skala prioritas kamu sendiri. Yang saya khawatirkan, kamu nggak bisa memilah antara profesi dan… hobi,” ujarnya tajam, “saya nggak kepingin ngomong begini. Tapi kamu digaji di sini untuk menciptakan konsep iklan, bukan jadi penulis dongeng. Terserah kalau di rumah kamu mau menghabiskan semalam suntuk untuk bikin dongeng. Tapi bukan di sini. Tugas kamu di sini adalah memenuhi target dan deadline kamu… tepat waktu.” Kugy hanya bisa diam. Ia sadar diri, posisinya sangat lemah. Tidak ada gunanya membela diri. Dari kaca mata apa pun, ia jelas bersalah karena mengesampingkan pekerjaannya. “Jadi kapan storyboard bisa beres?” “Secepatnya.” “Sore ini. Sebelum jam enam.” Tegas, Remi menutup pembicaraan mereka. *** Pukul setengah enam sore, Kugy menyerahkan hasil pekerjaannya. Remi membolak-balik sketsa-sketsa itu. “Ternyata… kalau memang kamu mau, kamu bisa, kan?” katanya sambil tersenyum kecil. Kugy balas tersenyum. Tawar. “Malam ini kita dinner, yuk? Seafood?” Kugy mengangguk. Samar. Malam itu, di restoran seafood langganan mereka, Remi memutuskan untuk mendesak Kugy agar bicara sejujur-jujurnya. Digenggamnya kedua tangan Kugy erat-erat, “Kali ini, kamu harus terbuka, ya,” ucapnya sungguh-sungguh, “sebetulnya kamu punya masalah apa?” Kugy menatap Remi, kembali dengan tatapan yang sama. Begitu banyak yang ingin terucap, tapi tidak bisa diungkap. Ia tidak yakin Remi akan mengerti. “Nggak ada masalah. Aku cuma keasyikan nulis dongeng. Kamu benar, kok. Masalah saya barangkali hanya nggak bisa memilah mana hobi dan mana profesi.

“Gy, sebenarnya kamu masalah nggak dengan kondisi kita yang sekantor?” Kugy menggeleng perlahan. “Sekantor dengan kamu memang mengundang banyak tantangan, tapi nggak pernah jadi masalah buatku,” gumamnya. “Kamu nggak ada masalah dengan siapa pun di kantor?” “Nggak, sama sekali,” jawab Kugy lagi. “Kamu udah nggak betah kerja?” Kali ini Kugy tertohok. Ia merasakan kebenaran dalam kalimat Remi. “Dari kecil, satu-satunya yang aku kepingin hanyalah jadi penulis dongeng,” akhirnya Kugy berusaha menguraikan kejujuran yang selama ini begitu sukar ia bagi, “aku tahu, kedengarannya pasti konyol, bego, infantil. Mana ada orang sampai umur segini masih punya cita-cita kayak gitu. Mungkin aku juga kedengaran nggak tahu diri. Aku punya kerjaan sebagus ini, tapi malah disia-siakan. Tapi… belakangan ini, aku menyadari sesuatu. Aku nggak bisa maksain diri menyukai apa yang sebetulnya bukan minatku, walaupun aku mampu. Aku juga nggak bisa pura-pura lupa dengan cita-citaku, impianku. Biarpun satu dunia ngegoblok-goblokin aku, tapi… memang ini yang aku mau. Aku pingin jadi penulis dongeng. Dari dulu sampai sekarang… nggak berubah.” ========== “Jadi, demi cita-cita itu, kamu mau mengorbankan karier kamu?” Remi bertanya hati-hati. “Kalau memang perlu, iya, aku mau,” Kugy mengangguk pasti. “Kalau ada satu celah kecil untuk aku bisa mewujudkan impianku, pasti aku akan kejar. Dan untuk itu, aku rela meninggalkan kerjaanku sekarang. Dan, Remi, celah itu akhirnya ada. Aku memang belum bisa cerita banyak. Tapi, yang jelas, aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.” “Kamu yakin?” desak Remi lagi. “Aku yakin, satu saat, apa yang sekarang kamu bilang hobi, akhirnya bisa jadi profesiku yang baru. Barangkali uangnya nggak banyak, tapi aku nggak peduli,” Kugy menghela napas, “mungkin kamu nggak bakalan pernah ngerti—” “Saya ngerti,” sergah Remi. “Saya justru sangat mengerti,” ulangnya penuh penekanan. “Kamu mau resign, Gy?” Tatapan Kugy berubah nanar. Dalam sekejap, semua yang telah ia lewati terkilas balik dalam benaknya. Setahun terakhir kariernya di AdVocaDo, pertemuannya dengan Remi, semua konsep yang berhasil ia cetuskan, semua proyek yang berhasil ia pimpin, begadang bermalam-malam, hari-hari kurang tidur, arisan toilet, perahu kertas yang dititipkan Remi padanya, malam bersejarah di pinggir Pantai Ancol, dan kini ia harus kembali berhadapan dengan Remi untuk satu keputusan besar. Meninggalkan AdVocaDo. Tempat ia bersuaka saat ingin meninggalkan kehidupan lamanya di Bandung. Dengan berat, Kugy mengangguk. “Aku merasa lebih baik tidak bertahan.” “Saya nggak akan menghalangi kamu.” Seketika, ada beban raksasa yang terangkat dari hatinya. Kugy sendiri tidak menyangka sedemikian besar arti keputusannya itu. Senyum cerah terbit alamiah di wajahnya. Sekujur tubuhnya terasa hangat. Ia menggenggam balik tangan Remi, mengecupnya. “Remi… makasih kamu udah mengerti. Aku nggak tahu lagi harus bilang apa.” “Kamu memang nggak perlu bilang apa-apa. Sebagai atasan, saya sedih karena kehilangan salah stau anak buah terbaik. Tapi sebagai orang yang mencintai kamu, saya bahagia karena kamu berhasil memilih yang terbaik untuk hidup kamu,” Remi tersenyum lembut. “Aku akan menyelesaikan semua proyek yang udah setengah jalan. Baru sesudah itu aku resmi mengundurkan diri. Kalo gitu gimana, Sayang?” Kugy bertanya dengan ekspresi jenaka. Remi menggeleng. “Kalo cuma itu patokannya, seminggu lagi juga kamu udah bisa kelarin semuanya. Kamu… akan aku tahan sampai… hmm,” Remi senyum-senyum kecil, “sampai outing kantor ke Bali. Bulan Mei ini.” “Oho-ho, kalo urusan outing sih, udah nggak jadi pegawai pun aku dengan nggak tahu malunya bakal tetap ikutan,” Kugy terbahak. Sisa malam pun mengalir dengan indah. Remi sendiri tersadar akan sesuatu malam ini. Keputusan Kugy untuk keluar dari AdVocaDo ternyata melegakan hatinya, tanpa ia duga-duga. Untuk pertama kalinya, Remi merasa bebas untuk mencintai Kugy tanpa ada beban apa-apa. Untuk pertama kalinya, ia terbebas dari keterikatan profesional yang selama ini membayangi

“Jakarta itu seberapa jauh dari sini. Lebih baik di sini.” kata Wayan lagi. Dan ia menyadari segala keterbatasan kondisi mereka. Dengan mengandalkan semua tabungannya. “Kamu—kenapa bisa ada di sini?” tanya Keenan takjub. biar . “Ada apa. Hanya satu carik kertas bertuliskan alamat rumah Keenanlah yang menjadi patokannya. menunggu Keenan yang datang.” katanya langsung. Luhde kenal betul wajah itu. Poyan sedang pergi ke Lombok selama seminggu. dan itulah kesempatannya untuk melaksanakan perjalanan nekat ini. tekadnya semakin bulat untuk membahagiakan dan mendukung Kugy. ia menyelinap keluar dari studio pamannya. Lega bukan main. Rindunya seolah tak terperi. Ia lantas melirik keponakannya. satu tangannya lagi menenteng kantong plastik berisi oleh-oleh. Lena menatap gadis di hadapannya. Luhde teringat tabungannya yang tak seberapa. Luhde memejamkan mata. seolaholah ingin meyakinkan sekali lagi bahwa Luhde memang ada. Ia tidak punya secercah bayangan pun tentang kondisi kota Jakarta selain apa yang dilihatnya di teve. “Selamat sore. mengelus pipi Luhde. Menutupi kakinya yang kedinginan dengan jaket. Seorang perempuan membuka pintu. Ubud. Luhde tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat jika ia sampai tidak menemukan alamat rumah Keenan. Hatinya tersiksa bukan main. Mei 2003… Uangnya hanya tersisa seratus ribu rupiah. Dari sekian bulan mereka resmi berpacaran. Perlahan.” Luhde menjawab. belum pernah ia menginjakkan kaki ke luar Pulau Bali. Melihat Keenan kembali di hadapannya. Jakarta. Luhde terperanjat mendengar omongan yang tak disangka-sangka itu. Remi belum pernah sebahagia dan seringan ini melangkah. Walaupun hanya sebentar. “Mari. *** Keenan seperti melihat hantu ketika mendapatkan Luhde berdiri di teras depan rumahnya. Luhde bahkan tak mampu bergerak. Keenan turun dari mobil. Luhde hanya bisa berdoa. Dini hari. “Kalau dengan bus?” “Sehari semalam. Dan malam itu. Sementara ia hampir saja menabrak tembok garasi saking kagetnya. Seumur hidupnya. ia terlindungi selama perjalanan ini.” sapanya sopan. Poyan?” “Kalau naik pesawat hanya satu setengah jam. Berusaha tidak memikirkan hal-hal lain kecuali berada di rumah Keenan sore nanti. Ibu. Nasibnya terselamatkan sudah. Sudah berbulan-bulan ia tidak melihat Keenan.” kata pamannya sambil terus melukis. kan? Luhde?” “Betul. “Kamu mau ke Jakarta? Buat apa? Nggak ada gunanya. “Luhde?” desis Keenan. Hanya bola matanya saja yang kian bersinar mengikuti setiap gerak Keenan yang melangkah mendekatinya. Bu. Dalam hati. lalu mengambil tas komputer yang tersampir di bahu Keenan. Cepat-cepat. Luhde meringkuk sendirian di atas kursi kayu di dek kapal. De?” Luhde sejenak ragu untuk meneruskan atau tidak. Luhde memencet bel rumah serba putih itu. “Kamu—keponakannya Wayan. Luhde berangkat naik bus ke Jakarta. selama setahun kemarin mereka bertemu setiap hari tanpa kecuali. ke mana pun kekasihnya ingin melangkah dan menggapai impiannya. Tergopoh-gopoh. Sementara. Satu tangannya menenteng tas berisi baju. Nyaris tak percaya. Berdiri santun menyambut kedatangannya.hubungan mereka. ================ Selat Sunda. Mei 2003… Tekad hatinya bulat sudah. Gadis itu tersenyum. Dengan segala keletihan akibat perjalanan panjang dan jantung yang berdebar-debar tegang. Namun rasanya Luhde tak mampu bertahan sebegini lama tanpa bertemu Keenan. sambil memandangi lautan dari atas feri yang menyeberangkannya ke Pulau Jawa. April 2003… “Poyan…” Luhde memanggil pamannya hati-hati.

” ucapnya sambil melirik Keenan malu-malu. Dah.” “Oh. *** Minggu malam. nih. “Nggak masalah. canggung. Tapi rasanya malah lebih enak. Kabar baik.” ujar Keenan sambil menyeka butir keringat di pelipis Luhde.” Detik itu juga Keenan langsung mendekap Luhde. Lagi-lagi. rekan agen. dan Kugy akan punya bahan ejekan baru yang bisa dipakainya untuk mengerjai Keshia.” “Ya.” “Untung bukan. Tapi.” =============== “Dah. Sampai ketemu dua minggu lagi. Senyum lebar seketika menghiasi wajah Kugy.” “Lho? Kenapa?” Luhde bertanya heran. Dan ia hanya bisa menerima dan mengikhlaskannya.” “Memang enggak. “Angin di sini nggak seperti di Ubud. “Nan. Soalnya. berarti. kenapa kok kamu nggak bisa malam ini? Ada urusan?” “Saya ada tamu dari Bali.” Kugy mengulang. “Hai. Gy.” Keenan menerangkan dengan semangat. Kugy merasa tertampar oleh kenyataan. Ia tahu. Jangan-jangan… “Saya berhasil menghubungi salah satu kolektor lukisanku yang punya penerbitan buku. “soalnya bisa dekat dengan kamu. Kugy tak sabar menunggu Minggu malam tiba. katanya? Kugy menjerit dalam hati. mencari kekuatan. “No problemo!” dalam hati Kugy bangga dengan nada suaranya yang terdengar wajar.” Suara Keenan terdengar kaku.” “Oooh…” gumam Kugy panjang.” Kugy tiba-tiba merasa dadanya sesak. Sejak pagi hingga petang. “Jam berapa mau ke sini. minggu depan malah aku yang pergi. proyek ini juga bubar jalan. Udah siap tugas belum?” Kugy menyapa ceria.” kata Keenan dengan nada serileks mungkin. ya? Ke mana?” “Ada acara outing bareng kantor. ia belum mendapat kabar apa-apa dari Keenan. Menikmati tiupan angin malam Jakarta yang hawanya sedang suam-suam. kalau boleh tahu. deh. “Halo. Mungkin baru minggu depan. “Ya udah. *** Di gazebo taman rumah Keenan. Namun pada saat yang bersamaan. Matanya terpejam sebentar. Salam buat…?” “Luhde. Hati mereka telah memilih. Dia sangat tertarik waktu saya kasih tahu soal proyek kita. ya. minggu depan juga nggak apa-apa. “mungkin sesudah kamu pulang. “pacar saya yang dari Ubud. mereka duduk berdua. Sebuah ritual yang ditunggutunggu Kugy setiap minggunya. Salam buat Luhde. Kecil.” “Saya merasa bersalah sama kamu.” Keenan terkekeh. berarti kita agak mulur. Gy. Sama sekali tidak menyangka. ke Bali. Kalau memang ternyata dia tertarik menerbitkan. Gy. ia bahagia bukan main mendengar kabar dari Keenan tentang kemungkinan serialnya diterbitkan menjadi buku. seolah terpisahnya banyak sekat. “Malam ini saya nggak bisa.” Otot Kugy menegang. Suara Keenan terdengar begitu jauh sekarang.” Keenan berkata. berarti kita makin dekat lagi dengan impian kita punya karya bareng. adiknya. saya bisa kasih kamu kabar baik. “kalo kamu hancur berantakan. “Mmm…” Keenan mengembuskan napas berat dan panjang. Sementara dirinya sendiri diam-diam punya kesempatan mengisi baterai hati untuk seminggu ke depan. sekarang aku udah meledak. ya. andaikan aku mercon.” Kugy menutup telepon rumahnya pelan-pelan. Seakan hidup ingin mengingatkannya bahwa ada sekat antara mereka berdua yang tak ditembus. dan Keshia. Namun Kugy merasa ada yang aneh dengan hari Minggu ini. Keenan akan muncul di depan pintu.” Bali? Keenan menelan ludah. ya. “tapi.” Kugy ikut tertawa. percakapan tadi juga membuatnya sedih. “Oke. Akhirnya Kugy memutuskan untuk menelepon duluan.saya yang bawakan. Dan dia fans berat Jenderal Pilik sejak lama. . “Kamu kepanasan. Maaf. Hari ini telah menjadi hari penjemputan naskah. “Oke. Nan?” tanya Kugy lagi. langsung mengeluarkan sejuta gaya demi menarik perhatian Keenan yang ditaksirnya diamdiam.

“Tapi… kita pergi ke mana?” Remi hanya tersenyum tanpa menjawab. Asal kamu mengizinkan saya mengantar ke Lodtunduh. “Males belanja. Entah apa artinya ini. belum satu kali pun saya sempat ngajak kamu jalan-jalan. Ia kelihatan bergembira. “Kamu akan saya antar. dilanjutkan dengan makan malam di Jimbaran. acara kita adalah shopping di Kuta. Biar saya di sana cuma sebentar.” Kugy berbisik pada Remi. pipinya bersemu merah. Udah berat-berat pinjam kamera dari Karel. Saya yang datang mendadak. Nggak seperti di Ubud. Gimana?” “Laksanakan!” seru Kugy berapi-api. “Asyik!” Ide itu langsung disambut gembira oleh Kugy. panitia rombongan. “Pinginnya ngapain. Di Kuta sih mau motret apa? Toko?” Bola mata Remi berkilat. lebih baik saya yang ke Bali. Wayan pun menemukan oase yang selama ini ia rindukan. mencoba jet ski. riang. saya di sini kerja. jadi sebelum Poyan sampai—” “Lusa kamu pulang. Saya janji. Bisa bantu meme-nya Keenan. Keenan jangan merasa bersalah. seperti mendapat ide.” cetus Luhde. Tak hanya Luhde yang merasa bahagia dengan kepulangan Keenan. “Keenan—akan ikut ke Bali?” Keenan tertawa kecil sambil mengangkat bahu. Kamu udah hampir tiga hari di Jakarta.” sela Luhde. Luhde…” Keenan geleng-geleng kepala seraya mengelus-elus rambut Luhde yang tergerai.” “Luhde. Kita bisa bareng terus seharian. Sehabis melayang-layang di udara dengan parasailing. “Kapan Poyan pulang?” “Tiga hari lagi. uangnya bahkan tak cukup untuk naik bus yang nyaman. tapi dari tadi belum sempat hunting objek foto. Nanti malam tinggal nyusul mereka ke Jimbaran.“De. ia mencemplung ke laut dengan banana boat yang terguling dua kali. Mata Luhde membundar. “Perhatian. Kita cari transport di pinggir jalan.” potong Keenan tegas. Kamu cuma nungguin saya pulang kantor setiap hari.” Pengumuman itu langsung disambut dengan riuh rendah. Bagaimana mungkin.” “Saya sama sekali nggak keberatan. nggak akan membocorkan rahasia ini pada Poyan. dong?” “Aku pingin motret. Baru semalam.” Dani. tapi anak itu tidak terganggu. Keenan dan Banyu sedang pergi ke Denpasar. Lusa saya pulang. “sehabis dari sini. Keenan terkesiap. Saya sering diajak jalan-jalan di sekitar sini. Gimana kalau Poyan tahu?” “Saya akan pulang sebelum Poyan kembali dari Lombok. sekarang ini saya sudah meledak saking bahagianya. cemas. Ngantor. dan apa saja yang tersedia. kamu kok bisa nekat ke Jakarta sendirian. Ubud. terus cabut. “saya senang di sini. Dan. Semua orang tahu penyebabnya: Keenan. ia mendengar kalimat serupa terlontar dari mulut Kugy. teman-teman semua. tapi kita akan punya waktu seharian. di hari kerja. Sudah seharian ia dijemur. sudah lebih dari cukup.” sahut Luhde cepat. Mei 2003… Beberapa hari ini tampak perubahan besar pada Pak Wayan. ah. biar hanya tigaempat jam sehari saya bisa ketemu Keenan. pakai bus. jadi memang sudah risiko saya. Meski ia sadar semua itu hanya akan berlangsung dalam hitungan hari saja.” Keenan melanjutkan.” “Kalau saya petasan. Siang itu. Mei 2008… Matahari yang terik membuat pipi Kugy seperti tomat ranum. “Daripada kita di Jakarta berhari-hari dan cuma punya waktu bareng tiga-empat jam. Ia tetap lincah ke sana kemari mencoba segala macam permainan. “Kita kabur aja. Kita ke Bali pakai pesawat. “Saya masih nggak habis pikir. Jeroen juga baik. Semenjak Keenan menginjakkan kaki ke Lodtunduh. hari-hari bersantai di bale sambil mengobrol seharian dengan Keenan pun kembali lagi. mengurus tiket pulangnya ke Jakarta . “Gimana caranya?” “Gampang. kembali berbicara melalui TOA. Luhde menatap Keenan. dan bersemangat. yuk.” ia berbisik balik. Dan tidak boleh lagi pakai bus. Kuugy dengan semangat mencoba semuanya. Sanur.

saya menghargai masalah itu. akrab. dan berhenti berkarya. ditambah dengan kenyataan bahwa sekarang Keenan juga ada di Bali. Sudah berbulan-bulan Wayan menutupi kabar tentang Keenan dari semua kolektor yang menghubunginya.” ================== “Mari. saya minta maaf. Pak?” Pak Wayan menghela napas. Usai melihat semua.” akhirnya Pak Wayan berkata. Masuk dulu. entah bagaimana caranya. sudah. “Pak. Dan betapa kagetnya ia ketika mengenali sosok yang keluar dari pintu depan. “Lukisan Keenan belum ada lagi. Bersambung ke PART 11: kejujuran Yang Tertunda.” “Ya. Tapi teman saya mau jalan-jalan sendiri sambil foto-foto.. “Terima kasih.” jawabnya singkat. Keenan bukan sekadar pelukis yang lukisannya saya beli. Kebetulan aja kantor saya minggu ini lagi outing ke Bali. Ia berharap Remi dan Keenan dapat bertemu kembali.yang mengalami penundaan. dia sudah saya anggap adik saya sendiri. Namun Remigius memang berbeda. Sudah lama sekali sejak terakhir karya dia dijual di sini. “Ke mana saja? Lama sekali nggak muncul. Pak Wayan keluar menghampiri. Sendirian. saya akan menghubungi kamu secepatnya. Remi.” kata Pak Wayan lagi. “Eh. ================= Judul : Kejujuran Yang Tertunda . Kalau dia setuju. Sebuah mobil Kijang yang tidak ia kenal tahu-tahu menepi di depan galeri. Kalau teman rombongan yang lain sekarang sedang di Kuta.. Mereka lalu berjalan bersama mengitari galeri itu. kamu sendirian kemari?” “Berdua. Saya heran. Kedua pria itu saling merangkul. Pak?” “Keenan… hmmm… dia…” Pak Wayan tampak ragu-ragu. Pak Wayan menikmati sore harinya di galeri. Jadi.. Kami berteman baik. “Remi? Apa kabar? Kapan sampai di Bali? Kok nggak kasih kabar sebelumnya?” tanyanya langsung memberondong. Tergugah melihat kesungguhan Remi. Saya sangat menunggu kabar soal Keenan. sekalian lihat-lihat. kok dia menghilang begitu saja. Saya akan minta izin dulu untuk memberi tahu nomor kontaknya ke kamu. “Wah. “Memang rencananya mau kasih kejutan untuk Pak Wayan. “Sebenarnya dia menghilang ke mana sih. Begini saja.” Remi menatap lelaki itu lekat.. sejak tahun ini pekerjaan di kantor banyak sekali. Ini masalah janji.” Remi tertawa. Dulu dia pernah berpesan agar saya tidak memberi tahu siapa pun tentang kepergiannya. Sementara Luhde sedang pergi ke pura. jadi saya bisa kabur sebentar mampir ke sini.” ajak Pak Wayan segera. sembari Pak Wayan menerangkan satu demi satu lukisan yang terpampang. Wayan tidak nyaman dengan semua ini. Dalam hatinya. mari. bagi saya. Hampir setahun dia berhenti. pikirnya. Pak.” jelas Remi seraya melangkah masuk ke dalam galeri.” kata Remi lagi. Remi belum menyerah juga. Pak. dan harus kembali ke rumahnya. “Belum ada. Remi pun bertanya. “dia ada urusan keluarga yang sangat mendesak akhir tahun kemarin. Pak. Tapi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful