ARTIKEL SEAWEED Website : www.rumputlaut.org Email : seaweed_undip@yahoo.

com

Anggaran Budi Daya Laut Naik

JAKARTA

(Ant):

Komisi

IV

DPR

akan

membicarakan

masalah

pembinaan budi daya rumput laut dengan tiga kementerian, yaitu Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. "Kita akan bicara dengan ketiga menteri itu. Komisi IV akan

memperjuangkan peningkatan anggaran untuk pembinaan budi daya laut. Kita akan membuat percontohan-percontohan. Mudah-mudahan tahun 2007 bisa dibuat daerah percontohan budi daya laut yang anggarannya dari ketiga kementerian tersebut," kata Wakil Ketua Komisi IV DPR Mindo Sianipar di Jakarta, Senin (3-4). Mindo menyampaikan hal itu sebagai ketua tim kunjungan kerja Komisi IV DPR ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, pekan lalu. Dalam kunjungan itu Mindo Sianipar berdialog dengan petani budi daya rumput laut di Gerupuk, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Anggota tim kunker ke Lombok terdiri dari Gde Sumarjaya Linggih (FPG), Mustika Rahim (F-PG), I Waya Sugiana (F-PD), dan Joseph William Lea Wea (F-BPD). Mindo mengatakan pemerintah harus fokus dalam membina petani budi daya rumput laut. "Jangan seluruh Nusantara ini dijadikan daerah percontohan budi daya rumput laut," katanya. Mindo yang juga Wakil Ketua Komisi IV DPR dari Fraksi PDI Perjuangan menjelaskan, pembinaan tersebut mencakup pelatihan dalam hasil olahan rumput laut agar masyarakat tidak hanya menjual produk primernya saja tapi menjual produk olahan sehingga bisa mendatangkan keuntungan yang lebih besar. "Dengan produk olahan itu, petani bisa menjualnya ke pasaran bebas," ujar Mindo.

1

ARTIKEL SEAWEED Website : www.rumputlaut.org Email : seaweed_undip@yahoo.com

Menurut anggota tim kunker Yoseph Wiliam Lea Wea (F-BPD), Dinas Kelautan dan Perikanan harus aktif membina petani agar mereka dapat meningkatkan hasil budi daya rumput laut. Pendapat yang sama disampaikan Mindo Sianipar. Menurut dia, pembinaan kepada petani harus dilakukan terus-menerus oleh ketiga kementerian, jangan hanya sekejap. Mindo menambahkan pembinaan teknisnya oleh Departemen Kelautan dan Perikanan, tapi begitu masuk ke produk olahan, pembinaan dilakukan Departemen Perindustrian, sementara unit usahanya dilakukan Kementerian Koperasi dan UKM. "Jadi, ketiga kementerian itu harus berkoordinasi," ujar Mindo. Mindo mengatakan dalam dialog di Lombok tersebut, petani

mengeluhkan sulitnya memasarkan hasil budi daya rumput laut dan belum adanya rekayasa teknologi budi daya rumput laut dan hasil olahannya. "Kami butuh pembinaan dari Dinas Perikanan dan Kelautan, tidak hanya mengenai budi daya tapi termasuk pengolahannya," kata Mindo menyuarakan salah seorang petani di Lombok. Para petani rumput laut, kata Mindo, juga mengeluhkan makin sempitnya ruang gerak pembudidayaan rumput laut. Karena itu, mereka meminta agar pemerintah segera menyelesaikan RUU Tata Ruang. "Jika RUU tersebut tidak segera diselesaikan, dikhawatirkan kawasan laut akan dipakai pariwisata. Ke mana kita nanti mencari makan, kalau semua kawasan laut dicaplok pariwisata?" kata seorang petani budi daya rumput laut sebagaimana dituturkan Mindo.

2

ARTIKEL SEAWEED Website : www.rumputlaut.org Email : seaweed_undip@yahoo.com

Kaya Rumput Laut Di lain pihak, peneliti Puslit Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Kresno Yulianto mengatakan laut Indonesia kaya rumput laut (makroalgae), tapi potensinya tidak dimanfaatkan maksimal, khususnya jenis rumput laut cokelat yang mengandung alginat. Terbukti, rata-rata kebutuhan alginat mencapai 2.000 ton per tahun yang seluruhnya diimpor. "Di Indonesia, makroalgae cokelat belum sampai tahap industri, bahkan pabrik alginat belum ada, jadi kebutuhan alginat untuk industri seluruhnya berasal dari impor," kata Kresno di sela persiapan Jeparatech Expo 2006 di Kantor LIPI Jakarta, Senin. "Kebutuhan alginat bagi industri di Indonesia pada 1998, misalnya 1.480.100 kg diimpor dari sejumlah negara seperti AS, Cina, Jepang, Prancis dengan nilai 6.374.122 dolar AS," ujarnya. Padahal, sumber rumput laut cokelat, seperti jenis rumput laut lainnya, tersebar di seluruh pantai pulau-pulau Indonesia dan melimpah pada musim tertentu, ujarnya. "Ditambah lagi, teknologi proses rumput laut menjadi alginat, 90 persen juga telah dikuasai. Bahkan, LIPI mampu menghasilkan alginat yang bagus melalui hasil penelitiannya," katanya. Alginat yang bersifat hidrofolik, koloid, tidak berbau dan tidak beracun, ujarnya, banyak dimanfaatkan berbagai jenis industri makanan, tekstil, kosmetik, kimia, film, dan lainnya sebagai penstabil, pengental, pengemulsi, pelapis, pengikat, penggelembung, dan lain-lain. Ia memberi contoh alginat mampu mengikat air pada makanan untuk mempertahankan jaringan selama pembekuan, menghasilkan tekstur yang lembut pada kue, penggetahan lapisan gula dan roti agar tak

3

ARTIKEL SEAWEED Website : www.rumputlaut.org Email : seaweed_undip@yahoo.com

mudah pecah, melindungi pemanasan yang tiba-tiba, menstabilkan rasa, mengemulsi lemak pada daging dan pembalut sayuran, menstabilkan kekentalan pada bubur, jus buah, dan saus. Juga dimanfaatkan sebagai pencapan rata dan jelas pada cetak tekstil, penetrasi yang bagus pada lem, mempertahankan kelembapan dan elastisitas kulit, dan lain-lain. Makroalgae yang biasa dimanfaatkan industri antara lain makroalgae merah yang mengandung koloid agar, mengandung koloid karaginan, dan makroalgae cokelat yang mengandung alginat. Pada Jeparatech Expo 2006 yang akan dilaksanakan di Jepara, Jawa Tengah, pada 10--15 April 2006, akan digelar lokakarya dan pameran tentang pengembangan wilayah, termasuk topik mengenai pembudidayaan rumput laut dan produksi alginat. n E-3

4

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful