BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang.

Bronchopneumonia adalah radang paru- paru yang mengenai salah satu atau beberapa lobus paru – paru yang ditandai dengan adanya bercak – bercak infiltrate (whalley & wong 1996). Bronchopneumonia bisa disebabkan oleh bakteri, virus, jamur maupun oleh karena benda asing. Factor yang mempengaruhi timbulnya bronchopneumonia adalah daya tahan tubuh yang menurun, karena malnutrisi, penyakit menahun. Manifestasi kliniis dari bronchopneumonia adalah badan panas, batuk, sesak, sakit kepala, nyeri otot, anoreksia, dan pada thorax foto ditemukan bercak – bercak infiltrate. Masalah keperawatan yang bisa muncul pada kasus ini adalah tidak efektifitasnya jalan nafas, gangguan pertukaran gas, deficit volume cairan, resiko tinggi pemenuhan nutrisi, intoleran aktifitas, kurangnya pengetahuan. Dalam hal ini masalah utama yang muncul adalah tidak efektifnya bersihan jalan nafas. Berdasarkan data yang tercatat pada kasus bronchopneumonia ini adalah pada tahun 2009 sebanyak 327 kasus, sedangkan tahun 2010 ini sebanyak 378 kasus. Dalam hal ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. Maka dari itu perlu adanya perhatian karena pada anak – anak yang mengalami bronchopneumonia perkembangan anak. Bronchopneumonia merupakan infeksi sekunder yang menyebabkan system pertahanan tubuh terganggu. Kuman masuk melalui saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan pada bronchus dan alveoli. Inflamasi bronchus tersebut ditandai dengan panas tinggi, gelisah, dyspneu, takipneu, nafas dangkal, cuping hidung, batuk kering kemudian produktif. Jika infeksi meningkat produksi eksudat intra alveolus meningkat dan akhirnya terjadi jika sering kambuh bisa mempengaruhi

1

retensi mucus. Peningkatan retensi mucus ini menyebabkan ketidakefektifan bersihan jalan nafas. Bronchopneumonia pada anak merupakan kasus yang cukup sering. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas merupakan masalah utama yang sering muncul. Adapun penatalaksanaan dalam hal ini adalah : istirahat cukup, simptomatik terhadap batuk (bronchodikitor), antibiotic, pemberian O2 pada pasien yang sesak nafas, serta pemberian fisioterapi dada dan latihan batuk efektif. Sebagai tenaga paramedic mempunyai peran yang sangat penting untuk keberhasailan penatalaksanaan ini.

1.2.

Rumusan Masalah. 1. Bagaimana karakteristik penyakit bronchopneumonia. 2. Factor apa saja yang mempengaruhi terjadinya bronchopneumonia 3. Upaya apa saja yang dilakukan untuk mengatasi masalah – masalah yang terjadi pada kasus bronchopneumonia. 4. Sejauh mana keberhasilan yang telah diberikan.

1.3.

Tujuan.

1.3.1. Tujuan Umum. Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada kasus bronchopneumonia yang terjadi pada anak. 1.3.2. Tujuan Khusus. 1. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada klien anak dengan bronchopneumonia. 2. Mahasisiwa mampu merumuskan masalah dan mendiagnosa klien dengan bronchopneumonia.

2

3. Mahasiswa mampu menentukan intervensi pada klien dengan bronchopneumonia. 4. Mahasiswa mampu melaksanakan implementasi pada klien dengan bronchopneumonia. 5. Mahasiswa mampu mengevaluasi keberhasilan dari tindakan keperawatan pada klien dengan bronchopneumonia. 6. Mahasiswa mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan pada klien dengan bronchopneumonia.

BAB II BRONCHOPNEUMONIA 2.1. Pengertian.

Bronchopneumonia adalah radang paru – paru yang mengenai satu atau beberapa lubus paru yang ditandai dengan adanya bercak – bercak infiltrate. (whalley & wong, 1996). Bronchopneumonia adalah frekuensi komplikasi pulmonary, batuk produktif, yang lama, tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat, nadi meningkat, pernapasan meningkat (suzunne G. bare. 1993). Bronchopneumonia disebut juga pneumonia lobularis, yaitu radang paru – paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, Jmur dan benda – benda asing (Sylvia Anderson, 1994).

2.2.

Etiologi. a. Bronchopneumonia yang disebabkan oleh bakteri : Diplococcus pneumonia, pneumococcus, streptococcus hemoliticus, streptococcus aureus, haemophillus influenza, basillus friendlander
3

(klebsiella pneumoni), mycobacterium tubercolosis. b. Bronchopneumonia yang disebabkan oleh virus : Respiratory syntical virus, virus influenza, cytomegailo virus. c. Bronchopneumonia yang disebabkan oleh jamur : Citoplasma capsulatum, criptococcus nepromas, blastomices,

dermatices, cocerdirides immitis, aspergillus sp, candida albicans, mycoplasma pneumonia. d. Bronchopneumonia yang disebabkan oleh aspirasi benda asing.

Factor lain yang mempengaruhi timbulnya bronchopneumonia adalah daya tahan tubuh yang menurun missal karena akibat malnutrisi, penyakit menahun, pengobatan antibiotic yang tidak sempurna.

4

2.3.

Patofisiologi.
System pertahanan normal

Terganggu

Organisme masuk melalui jalan nafas

Bronchopneumonia

(panas tinggi, gelisah, dyspneu, takipneu, nafas dangkal cuping hidung, batuk kering kemudian produktif)

Infeksi paru

Eksodut intra alveolus

Pertukaran gas

retensi mucus

gang bersihan jalan nafas

O2 Menurun

sesak

Hiperventilasi

sesak

perubahan pola nafas

5

2.000 / m  Thorax foto.  Pengambilan secret secara bronoscopy dan fungsi pari untuk preparasi langsung.  Badan panas 39° .5.  Kesulitan menelan.  Nyeri otot.  Secara laboratorik ditemukan leukositosis 15.  Anoereksia.000 – 40.4.  Nafas bunyi. jika pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsolidasi pada satu atau beberapa lobus. brakan dan test resistensi dapat menemukan atau mencari etidoginya. Manifestasi Klinis. Terdapat bercak – bercak infiltrate pada satu atau beberapa lobus.  Perkasi pada paru redup.  Biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan atas. Pemeriksaan penunjang.  Auskultasi : ronchi basah yang halus dan nyaring.2. 6 .  Sakit kepala.40° C  Nafas sesak dan cepat.  Batuk non produktif.

2. Abses paru. Definisi. A. Meningitis. 3. Empisema. Adalah pengembangan paru – paru yang tidak sempurna akibat kurangnya mobilisasi / reflek batuk hilang.8. 1. Oksigen. 2. 1. Simptomatik terhadap batuk : bronchodilator 3. 2. 7 . Antibiotic. Fisioterapi dada. 4. Komplikasi.2.7. Pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang. Endokarditis 6. Penatalaksanaan.6. Infeksi sistemik 5. Ketidakefektifan Jalan Nafas. 2. Istirahat cukup. 5. Suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura. Atelektasisi. 4.

terdapat benda asing pada jalan nafas. 8 .  Obstruksi jalan nafas : Lingkungan : merokok. alergi jalan nafas.  Fisiologi : Disfungsi neuromuscular. hiperplasi dinding bronchial. Posisi tubuh. B. C. Tanda Dan Gejala. sekresi pada bronki.         Ansietas. pengumpulan secret. Penurunan energy / kelelahan. Kerusakan muskulus skeletal Imaturitas neurologist. perokok Spasme jalan nafas. PPOK.  pasif. Factor Yang Berhubungan. Deformitas tulang dan dinding dada. Nyeri.Ketidakmampuan untuk membersihkan secret atau obstruksi saluran pernafasan guna mempertahankan jalan nafas yang bersih. asma. infeksi. menghirup asap rokok. trauma. Hiperventilasi. mucus berlebihan adanya jalan nafas buatan. dan eksudat pada alveoli.

Cyanosis. berirama terdengar pada saat ekspirasi. Bunyi nafas tambahan (mengi). 9 . Mekanisme ini dibantu oleh kontraksi maksimal otot – otot ekspirasi. Dispenia. Sputum. Batuk. larynx. Dispenia : adalah suatu perasaan subyektif tentang kesulitan. Mekanisme fisiologi yang berperan untuk terjadinya batuk adalah inspirasi dalam yang diikuti oleh penutupan glottis sesaat. 5. Batuk terjadi bila ada stimulasi dari reseptor batuk yang terletak di pharynx.1. Batuk adalah merupakan suatu reflek untuk membantu pengeluaran ssekresi dan benda – benda asing dari batang tracheobroncheal dan paru – paru. Cyanosis adalah kebiru – biruan kulit dan selaput lender yang terjadi apabila kadar hemoglobin dalam darah berkurang. Biasanya terjadi pada pasien bronkokantritis. 3. Tujuan batuk adalah untuk menimbulkan aliran udara yang keras melalui jalan nafas serta mendorong mucus atau benda asing keluar dari system pernafasan. diikuti ekspirasi keras dan tiba – tiba. ketidaknyamanan / kesulitan dalam bernafas. menjadikan petunjuk adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan ventilasi dan kemampuan memenuhi kebutuhan tersebut. 4. 2. Nebgi adalah bunyi yang mempunyai puncak yang tinggi. bronchos dan paru – paru.

mengambil posisi tiga titik. nafas pendek. 6. penurunan ventilasi semenit. Bradipnea (pernafasan lambat). Karakteristik. 1.Sputum adalah suatu sekresi yang lekat berasal dari batang tracheobronchial. irama kedalaman pernafasan abnormal. D. a. sinus pada reaksi paru – paru terhadap setiap iritan yang kambuh secara kontan. peningkatan diameter anterior & posterior. ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekresi jalan nafas. Mayor & Minor 1. frekuensi. Mayor : Batuk tidak eektif. ortopnea. tidak ada batuk. Subyektif & obyektif. fase ekspirasi yang lama. Takipnea (pernafasan cepat). b. nafas cuping hidung. E. penurunan tekanan inspirasi / ekspirasi. Intervensi. kapasitas vital. mulut pharynx. hidung. Obyektif : Perubahan gerakan dada. 2. Frekuensi pernafasan. 2. Subyektif : Diapnea. 10 . Minor : Bunyi nafas abnormal.

f. 5. gelisah sianosis. Adanya riwayat infeksi saluran pernafasan sebelumnya : batuk. pernafasan cepat dan dangkal. Batuk produktif.1. Auskultasi paru : ronchi basah. Demam. sianosis. 4. 2. 2. Auskultasi bunyi nafas d. pemeriksaan cuping hidung. pernafasan cuping hidung. mual dan muntah. Asuhan Keperawatan Pada Anak dengan Bronchopneumonia. Riwayat kesehatan : 1. b.a. Pengelolaan jalan nafas.9. Pemeriksaan penunjang : 11 . Anorexia. 2. Pengkajian a. Pemantauan pernafasan c. Bantu latihan nafas abdomen. Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas : malnutrisi. takipnea. b. Pemeriksaan fisik : 1. Pertahankan polusi lingkungan minimum. pilek. c. 3. demam. Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernafasan. sukar menelan. 2. Kaji posisi yang nyaman e.9.

Kemampuan memahami tindakan. konsolidasi terbesar pada kedua paru. Kesiapan / kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya. 3.1. 2. 5. 2. Laborat : leukositosis. Diagnose keperawatan. 4. 2. 2. d. Usia tingkat perkembangan.2. Pengetahuan keluarga / orang tua : 1. 1. Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan secret. Pengalaman terpisah dari keluarga / orang tua.9. 3. Pengalaman keluarga tentang penyakit saluran pernafasan 3. Deficit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan. 12 . Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan kapiler alveoli. e. Thorax foto : bercak – bercak putih. Factor psikologis : 1. Mekanisme koping. Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit saluran pernafasan. 2.

pernafasan dangkal. 13 . Tujuan : mencapai bersihan jalan nafas yang efektif.9. R/ bunyi nafas bronchial juga terjadi pada area kosolidasi. 2) Auskultasi area paru. 1. 3) Ajari klien teknik batuk efektif dan latihan nafas sering. catat adanya bunyi nafas. R/ takipnea. Intervensi : 1) Kaji frekuensi / kedalaman pernafasan dan gerakan dada.4. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. 2. dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dinding dada / cairan paru. Criteria hasil : bunyi nafas bersih. tidak cyanosis. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan secret. tidak ada dispneu. Intervensi. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoereksia. 6. 5.3. Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan dengan kurangnya interpretasi.

GDA dalam rentang normal. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan kapiler alveoli. 4) Berikan cairan hangat (minum hangat ) ± 2500 cc / hari. Tujuan : Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi Criteria hasil : Tidak ada gejala distress pernafasan.R/ nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum. R/ memudahkan pengenceran dan pembuangan secret. kedalaman dan kemudahan bernafas. 5) Berikan fisioterapi dada dan nebulizer. R/ manifestasi distress pernafasan tergantung pada derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum. Intervensi : 1) Kaji frekuensi. ekspektoran. bronkodikator. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas yang alami. R/ dapat menurunkan spasme bronkus dengan pengeluaran secret. R/ cairan yang hangat memobilisasi dan mengeluarkan secret. 6) Beri obat – obatan : mukolitik. analgesic. 14 . 2.

7) Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi. 5) Observasi suhu badan. 6) Pertahankan istirahat tidur. membrane mukosa dan kuku catat adanya sianosis. Dorrong menggunakan teknik relaksasi. bingung dan sumnolen dapat menunjukkan hipoksemia / penurunan oksigenasi serebral. R/ Demam tinggi sangat meningkatkkan kebutuhan metabolic dan kebutuhan oksigen dan mengganggu oksigenasi seluler. R/ gelisah. nafas dalam dan batuk efektif. 3) Kaji status mental. 15 . 4) Awasi frekuesnsi jantung / irama. R/ Mencegah terlalu lelah. R/ Takikardi biasanya ada sebagai akibat demam / dehidrasi tetapi dapat sebagai respon terhadap hiposekmia. 8) Kaji tingkat ansietas. dan menurunkan kebutuhan / konsumsi oksigen untuk memudahkan perbaikan infeksi. R/ Meningkatkan inspirasi maksimal. mudah terangsang. meningkatkan pengeluaran secret untuk memperbaiki ventilasi.2) Observasi warna kulit. R/ sianosis menunjukkan vasokontriksi atau respon tubuh.

Observasi distensi abdomen. Tujuan : Menunjukkan keseimbangan hasil. R/ Tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan pasokan O2 diatas 60 mmHg. tanda vital stabil. Distensi abdomen 16 . 3) Jadwalkan pengobatan pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan. 3. R/ Bunyi usus mungkin menurun / tidak ada bila proses infeksi berat / memanjang. R/ Menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini. bau. 2) Bantu kebersihan mulut. Criteria hasil : Membran mukosa lembab. R/ Menghilangkan tanda bahaya. turgor kulit baik.R/ Ansietas adalah manifestasi masalah psikologi sesuai dengan respon fisiologi terhadap hipoksia. 9) Berikan terapi oksigen. Intervensi : 1) Identifikasi factor yang menimbulkan mual / muntah. dapat menurunkan rasa mual. 4) Auskultasi bunyi usus. rasa. R/ Pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah. Deficit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan.

mempertahankan BB. pengobatan aerosol. ukur BB dasar. Criteria hasil : Peningkatan nafsu makan. Tujuan : Pemenuhan nutrisi terpenuhi. 17 . Intervensi : 1) Identifikasi factor yang menimbulkan mual / muntah. nyeri. tindakan aerosol. R/ Meningkatkan intake meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali. 4. R/ Menghilangkan rasa bau dari lingkungan pasien dan dapat menurunkan mual. mis : sputum banyak. 2) Berikan / bantu kebersihan mulut setelah muntah. drainase postural dan sebelum makan. R/ Pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoereksia.terjasi sebagai akibat menelan udara / menunjukkan pengaruh toksin bakteri pada saluran GI. dispnea berat. R/ Evaluasi kondisi kronis dapat menimbulkan malnutrisi. 6) Evaluasi status nutrisi umur. 5) Beri makanan kecil dan sering.

R/ Menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini. Criteria hasil : Tidak ada kelemahan berlebihan. Tujuan : pengaruh toksin Peningkatan toleransi terhadap aktifitas. R/ Bunyi usus mungkin menurun / tak ada bila proses infeksi berat. 5. dan atau makanan yang menarik bagi pasien. Intervensi : 18 . Distensi abdomen terjadi sebagai akibat menelan udara atau menunjukkan bakteri pada saluran GI. 6) Evaluasi status nutrisi umum. R/ Tindakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat kembali. observasi / palpasi distensi abdomen. 5) Berikan makan porsi kecil dan sering. 4) Auskultasi bunyi usus. R/ Adanya kondisi kronis dapat menimbulkan malnutrisi. rendahnya tahanan terhadap infeksi. tidak ada dipsnea. tanda vital normal. ukur BB dasar. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.3) Jadwalkan pengobatan pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan.

meningkatkan istirahat. R/ minimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. 2) Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. tidur di kursi. 3) Bantu klien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur. 6. catat laporan dispnea. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan. R/ Menurunkan stress dan ransangan berlebihan. R/ Menetapkan kemampuan / kebutuhan klien dan memudahkan pilihan intervensi. peningkatan kelemahan. Dorong penggunaan manajemen stress dan pengalih yang tepat. 4) Bantu klien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur. menghemat energy untuk penyembuhan. R/ klien mungkin nyaman dengan kepala tinggi.1) Evaluasi klien terhdap aktivitas. perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas. 5) Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. Tujuan : 19 . Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan dengan kurangnya interpretasi. atau menunduk ke depan meja atau bantal. R/ tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolic.

Pengetahuan orang tua bertambah. Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan. Intervensi : 1) Kaji fungsi normal paru. Identifikasi perawatan diri dan kebutuhan / sumber pemeliharaan rumah. R/ informasi dapat meningkatkan ansietas koping dan dan membantu berlebihan. Criteria hasil : Menyatakan pemahaman kondisi. 2) Diskusikan aspek ketidakmampuan dari penyakit. menurunkan masalah 3) Berikan informasi dalam bentuk tertulis dan verbal. 4) Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif / latihan pernafasan. R/ Kelemahan dan depresi dapat mempengaruhi kemampuan untuk mengasimilasi informasi / mengikuti program medic. R/ Meningkatkan pemahaman situasi yang ada dan penting menghubungkannya dengan program pengobatan. lamanya penyembuhan dan harapan kesembuhan. dan pengobatan. patologi kondisi. proses penyakit. R/ menghindari resiko besar untuk kambuh bila sudah sembuh. 20 .

S Tempat / tanggal lahir : Surabaya.2006 Umur Jenis kelamin Tanggal MRS Tanggal pengkajian : 4 tahun : Laki . Nama : An. BAB III TINJAUAN KASUS PENGKAJIAN PADA ANAK I. membatasi terpajan pada pathogen.5) Tekankan perlunya melanjutkan terapi antibiotic selama periode yang dianjurkan. R/ dapat mencegah kekambuhan dan mengatasi komplikasi. 7) Tekankan pentingnya melanjutkan evaluasi medic dan imunisasi dengan tepat.laki : 7 – 9 – 2010 : 9 – 9 – 2010 21 . R/ Meningkatkan pertahanan alamiah / imunitas. mempengaruhi pertahanan alamiah / imunitas. membatasi terpajan pada pathogen. R/ Penghentian dini antibiotic dapat mengakibatkan iritasi mukosa bronkus. 6) Buat langkah untuk meningkatkan kesehatan umum dan kesejahteraan. dan menghambat makrofag alveolar. 12 – 10 . Identitas Klien.

Prenatal : selama hamil ibu klien tidak pernah mengalami gangguan.Pekerjaan ayah Pekerjaan ibu Alamat Kultur Agama Pendidikan Diagnose medis II. Riwayat kehamilan dan kelahiran. Klien minum ASI. 22 . imunisasi TT tidak pernah. Lama keluhan : 5 hari Upaya yang dilakukan : oleh ibu klien diberi obat batuk. Imunisasi : BCG. DPT I. Polio I. : Wiraswasta : Ibu Rumah Tangga : Surabaya : China : Budha : TK A : Bronchopneumonia Alasan kunjungan / keluhan utama. IV. Riwayat kesehatan sekarang. Heb I. Klien batuk. Natal : klien lahir secara SC : BB : 2800 gr PB : 48 Cm AS : 8 – 9 Postnatal : hari ke – 3 setelah kelahiran klien mengalami icterus. III.

 Imunisasi : BCG. Klien pernah MRS sebelumnya karena GEA. Riwayat kesehatan masa lampau. batuk. Riwayat genogram. : ayam. Riwayat psikososial. DPT I II III.  Tindakan (mis : Operasi) Klien tidak pernah dioperasi. Klien seringkali mengalami batuk pilek. N : 120 x / menit Rr : 22 x / menit. Ibu klien biasa member obat batuk yang beredar di pasaran. pilek.  Alergi Makanan Obat  Kecelakaan : Klien tidak pernah mengalami kecelakaan. V.8 ° C. VII. telur : tidak ada VI. seafood. sputum berlebihan. Polio I II III.Klien panas selama 5 hari.  Obat – obat yang digunakan.  Penyakit yang pernah diderita. Tidak terkaji. Obs : S : 37. 23 . Hepatitis.  Pernah dirawat di RS.  Yang mengasuh. Campak.

susu habis 150 cc mengatakan malas makan. Kebutuhan dasar. Sangat baik. 3. Alat – alat makan : piring dan sendok. minum susu 4 – 5 x/ hari @250 cc 1. ibu. Menurut ibu klien anak yang periang dan aktif.  Pembawaan secara umum. kakek. 2. VIII. Klien mempunyai hubungan yang baik dengan kakaknya dan orang tua. dan tidak ada pantangan makan.  Hubungan dengan teman sebaya. perut mual. Rumah klien berada di lingkungan yang bersih  Jumlah orang yang tinggal bersama klien di rumah : 4 orang. menurut ibu klien mempunyai banyak teman.½ porsi saja. Ayah.  Pola makan : 3x sehari 1 porsi. klien sendiri. Makan yang disukai : hamper semua makanan klien mau. 24 .  Lingkungan rumah. karena klien hanya mau menghabiskan makanan ¼ . Selera makan : sehat : selera makan klien baik Sakit : agak berkurang.Klien diasuh oleh ibu dibantu oleh baby sitter  Hubungan anak dengan anggota keluarga.

Mandi 2x / hari cuci rambut 2 hari sekali.00 (300cc) malam : 17.00 (300cc) : siang : 12. Sakit : selama sakit. klien dibantu oleh ibu klien / perawat. Jam makan pagi : 07.00 (300cc)  Pola tidur Sehat Sakit  Aktivitas bermain Sehat Sakit  Personal hygiene Sehat : : biasanya klien tidur tanpa dibacakan cerita : klien tidur seperti biasanya. : : klien suka bermain : klien malas beraktifitas.00 5.00 & 21.  Pola eliminasi : sehat sakit BAB : Frekuensi Warna Konsistensi : : : 2x / hari kuning kecoklatan lembek 1x / hari kecoklatan lembek 25 . gunting kuku 5 hari sekali. dan untuk personal hygiene klien masih dibantu baby sitter terutama toileting.00 malam : 18. Minum susu Pagi 08.4. : : klien oleh ibu dibiasakan gosok gigi pada waktu mandi dan sebelum tidur.00 : siang : 13.

Kepala dan Rambut. Mulut dan tenggorokan. GCS 456 : S : 36. : tidak ada benjolan dan nyeri tekan Klien pilek dan ibu mengatakan kalau batuk sputum tidak bisa keluar. Tanda – tanda vital : : 6 – 8x / hari kuning jernih : cukup. h. Rr : 28x / mnt c. terdapat secret. composmentis. : kedua mata simetris. g. Palpasi e. 26 . gigi bersih tenggorokan kemerahan. bentuk bulat. warna hitam. Inspeksi : Rambut bersih. Inspeksi Palpasi : bentuk simetris. Pemeriksaan fisik. Hidung. Pemeriksaan thorax / dada. tidak ada bekas luka. pendek. TB / BB d. Keadaan umum. b.BAK : Frekuensi Warna 24 jam IX. a. Inspeksi : Mulut bersih. : tidak ada benjolan ataupun rasa nyeri. Mata. : tidak ada benjolan Inspeksi Palpasi f.5° C N : 120x/ mnt : 95 cm / 17 kg.

Isnpeksi : dada simetris. Integamen. tidak ada bekas luka. Maskuloskeletal. Inspeksi Palpasi : tidak ada bekas luka. : bentuk simetris gerak normal. Pemeriksaan jantung. : tidak ada benjolan. n. j. Palpasi Auskultasi : tidak ada benjolan. : ronchi + i. Anus. Pemeriksan abdomen. dangkal. Inspeksi Palpasi Auskultasi : tidak ada bekas luka. tidak ada bekas luka. Anggota gerak bawah : bentuk simetris bisa berjalan normal. : anus bersih. : genetalia bersih. Inspeksi l. : Tidak ada benjolan. tidak ada hemorrhoid. o. Inspeksi m. tidak ada 27 . nafas cepat. Auskultasi : irama jantung teratur. Pemeriksaan genetalia. : bising usus normal 30x / menit k. Anggota gerak atas bekas luka. Pinggang.

c. Motorik kasar : Klien bisa melompat dengan kedua kaki. Neurologi. Bahasa : Klien dapat menyebut warna.Inspeksi Palpasi p. kuku bersih. Anggota gerak bawah : reflek patella kanan kiri positif. Pemeriksaan tingkat perkembangan. lembut. b. XI. Adaptasi social : Menurut ibu klien. dan bisa mengambil makan sendiri. Reflek trisep kanan kiri positif. Klien tidak mengalami masalah dalam perkembangannya. bisa mengerti pembicaraan. Kesimpulan dari pemeriksaan perkembangan. a. Motorik halus : Klien bisa menggambar bentuk manusia meskipun tidak sempurna. menghitung kubus. d. berdiri dengan 1 kaki. XII. tidak kering. klien bisa menggosok gigi sendiri berpakaian tanpa bantuan. : kulit bersih. Data subyektif : 28 . Anggota gerak atas : reflek bisep kanan kiri positif. mencontoh gambar yang ada. : turgor kuit normal. Kesimpulan. X.

000/ ul) : 33. 9 g/dl : 13. HB : 10. ronchi +/+.5 ° C N : 120x / menit Rr : 32x / menit. anak malas beraktifitas. (150cc) konjungtiva merah muda. wheezing -/-.9 BB : 15 kg. anaknya malas makan. sputum sulit keluar.000 / ul (150. nafsu makan menurun. S : 36. Data obyektif : Batuk.Ibu klien mengatakan anaknya batuk. XIII. dan mual. pilek. anak makan ¼ porsi. nafas cepat dan dangkal. Tgl 5 – 9 – 2010.2 vol % : 67 mg/ dl (33 – 45 vol %) ( <6 ) 29 . nafas cepat. Inforrmasi tambahan / laborat.000/ ul) : 413. hasil thorax bronchopneumonia.000 – 11. susu habis separo porsi. HB Leukosit Trombosit HCT CRD : 10.000–400.230 / ul (11 – 15 g/dl) (4.

pilek. 5 °C 32x / menit Hasil thorax foto tgl 7/9/10 : bronchopneumonia. hasil lab tgl 5/9/10 : HB : 10. O : setiap makan habis ¼ porsi. anak malas beraktifitas BB : 15 kg.s UMUR : 4 Thn Tgl Jam Pengelompokan Data Kemungkinan Penyebab Masalah Ketidakefektifan bersihan jalan nafas NO REG : 0610146217 8/9/10 08. konjungtiva merah muda. minum susu hanya separo 150 cc biasanya 300cc.10 S : ibu klien mengatakan anaknya Nafsu malas makan. ronchi +/+. O : batuk. wheezing -/-.00 S : ibu klien mengatakan anaknya Penumpukan batuk. S : 36. Rr : 08. sputum sulit keluar. ibu klien sputum / secret mengatakan nafasnya cepat. ibu klien mengatakan menurun nafsu makan menurun dan anak mual.9 gr/dl. dan dangkal. nafas cepat. makan Gangguan pemenuhan nutrisi 30 . sputum tak keluar.ANALISA DATA NAMA : An. anak terlihat mau muntah. tugor kulit elastic. N: 120x/ menit.

konjungtiva merah muda. anak terlihat mau muntah. nafasnya cepat. wheezing -/-. hasil lab tgl 5/9/10 HB : 10. BB 15 kg.5 °C N : 120x/ menit. nafas cepat dan dangkal. Tgl 8/9/10 No I Diagnosa Keperawatan Menurut Prioritas Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan secret ditandai dengan ibu klien mengatakan anaknya batuk.DIAGNOSA KEPERAWATAN NAMA :An. T. sputum tidak keluar. anak malas beraktifitas. dan Rr : 32x / menit. minum susu hanya 150 cc (biasanya 300cc). ronchi +/+. 31 . S : 36. batuk. S UMUR : 4 Thn. pilek. sputum sulit keluar. setiap makan ¼ porsi. hasil thorax tgl 7/9/10 Bronchopneumonia kiri.9 gr/dl. turgor kulit elastic.T NO REG : 0610146217 II Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d nafsu makan menurun yang ditandai dengan ibu klien mengatakan nafsu makan anak menurun dan perut mual.

32 .

33 .

34 .

35 .

36 .

37 .

TINDAKAN KEPERAWATAN Nama : An.40 Memberikan posisi yang dirasa nyaman oleh anak dengan posisi ½ duduk Respon : anak mau tidur dengan posisi ½ duduk. Respon : klien minum air hangat habis 50cc dan mau minum obat 08.30 Melakukan auskultasi di area paru Respon : klien mau dilakukan pemeriksaan 09. T. ventolin 1/3. PZ 10 tts.00 Melakukan observasi TTV : S : 36. Reg : 0610146217 TINDAKAN KEPERAWATAN Memberikan penjelasan pada ortu mengenai penyebab sesak nafas karena penumpukan sputum. 38 .T 07. Respon : klien harus dipegangi mamanya karena menangis.5 °C menit.30 No. 08.10 Memberikan therapy nebulier dengan bisolvon 5 tts. Respon : ortu klien mengerti tentang penjelasan pentugas dan mampu menjelaskan kembali. S Umur : 4 Thn TGL 8/9/10 NO I JAM 07.30 Memberi munim air hangat pada klien dan puyer batuk. Rr : 32x / menit N : 120x / Respon : klien mau diobservasi 09.

25 Melakukan fisiotherapi dada. 12.3 °C Respon : klien tidak menolak saat diobservasi.  Melakukan dapping dan vibrasi Respon : klien menolak. karena batuk – batuk terus akhirnya muntah keluar slym mukopuralent 12.  Memberikan posisi duduk tegak.09. Rr : 28x / menit. Respon : klien mau minum obat dengan air hangat 50cc 39 . S : 36. N : 109x /menit.30 Memberikan therapy oobat baruk dan minum dengan air hangat.00 Melakukan observasi tanda – tanda vital.

Respon : klien disuapi mamanya. Respon : klien mau ditimbang. 08.35 TINDAKAN KEPERAWATAN Memberikan penjelasan pada ortu tentang penyebab nafsu makan.30 Member susu 300 cc T.15 Menimbang BB klien : 15 Kg.15 Mennyajikan makanan dalam porsi kecil dan hangat. Reg : 0610146217 40 . 12. Respon : ibu kooperatif dan bisa diajak kerjasama. S Umur : 4 Thn. TGL 8/9/10 NO II JAM 07. 09. hangat dan diberi hiasan. 07. makan habis ¼ porsi.50 Memberikan makan dalam porsi kecil.TINDAKAN KEPERAWATAN Nama : An.T NO. mual.40 Mengajak ibu klien diskusi untuk membicarakan menu makanan yang disukai oleh klien.40 Memberikan kumur air hangat. Respon : klien mau melakukan kumur – kumur dengan air hangat. Respon : ortu klien mengerti tentang penjelasan petugas dan mampu menjelaskan kembali 07. 12. Respon : klien mau menghabiskan porsi makannya 1/3 porsi dengan disuapi 08.00 Memberikan therapy vitamin pada klien Respon : klien mau minum vitamin.

12.Respon : klien habis 150 cc.40 Mengobservasi intake dan output. Makan pagi 1/3 porsi. 41 . siang ¼ porsi.

Reg : 0610146217 A : masalah belum teratasi. T. O : Batuk. 5. Turgor kulit elastid. P : rencana 1. dihentikan. II 13. 7. 3. S Umur : 4 Thn. P : rencana 1. 8 dilanjutkan 42 . kadang langsung ditelan oleh klien. Rencana 2. TGL 8/9/10 NO DX I JAM 13. Rr : 28x / menit. Ibu mengatakan klien batuk. Anak malas beraktivitas. wheezing -/-. A : masalah belum teratasi. S : 36. N : 109x / menit. 5. ronchi +/+. 9 dihentikan Rencana : 2.3 ° C.EVALUASI Nama : An. 4. 6. sputum keluar makoparulent. 4. dilanjutkan.T NO. 6. Ibu mengatakan anaknya masih mual.00 S : ibu mengatakan klien masih malas makan. 8. terdapat sekret. 3. O : makan pagi & siang habis 1/3 dan ¼ porsi Susu : habis 150 cc. BB : 15 Kg. 7.00 EVALUASI S : ibu mengatakan klien masih sesak.

dilanjutkan. N : 108x / menit. 5. TGL 8/9/10 NO DX I JAM 07.30 EVALUASI S : ibu klien mengatakan batuk sudah ada dahak yang keluar tapi hanya sedikit.memberikan posisi duduk tegak. 5 ° C Rr : 28x / menit. Respon : klien berontak saat dinebulizer sehingga harus dipegangi oleh mamanya. 7. Rr : 28 – 30x /menit Respon : klien tidak menolak saat diobservasi. O : S : 36. S : 36° C N : 112x /menit. 10 tts. 09. .melakukan claping dan vibrasi. 4. T. ronchi +/+. ventolin 1/3 fls. sod. tidak ada cyanosis. 6.00 : melakukan observasi TTV. terbatuk dan keluar slym dan ditelan. P :Rencana 2.T No. I : 08. 08. 43 . A : masalah belum teratasi.CATATAN PERKEMBANGAN Nama : Anak. S Umur : 4 Thn. Reg : 061014621 Nafas dangkal.15 : melakukan fisio tx nafas .00 : Memberikan therapy nebulizer dengan bisolvon 5 tts. Respon : klien mau dilakukan fisio tx nafas.

8 dilanjutkan I : 08. ibu mengatakan klien kadang masih mual.00 S : ibu mengatakan klien tidak mau menghabiskan porsi makannya. Respon : klien makan disuapi ibunya habis 1/3 porsi 12. E : ibu klien mengatakan masih batuk slym bisa keluar 13.00 ronchi +/+. A : masalah belum teratasi.30 : mengobservasi intake dan output. 7. Respon : makan pagi habis 1/3 porsi siang 1/3 porsi. 09.00 : memberikan fx vitamin. 6. wheezing -/Masalah teratasi sebagian.09. Respon : klien makan disuapi ibunya habis 1/3 porsi. 4. 5.00 : mengajak anak bermain sambil memberikan minum susu. E : klien mau beraktifitas. Respon : klien mau minum susu habis 200 cc. 12. II 07. O : makan hanya habis 1/3 porsi. 10. P : Rencana : 2.40 : memberikan makan hangat dalam porsi kecil dan diberi hiasan.30 : memberikan tx cap batuk Respon : klien mau meminum obatnya. mau minum susu 44 .00 : memberikan makan hangat dan porsi kecil. Respon : anak mau minum vitaminnya.

08. ventolin 1/3 fls.30 : memberikan terapi cap. TGL 10/8/10 NO DX I JAM 07. Memberikan posisi duduk tegak. S Umur : 4 Thn.6. Respon : klien mau dilakukan fisio tx dada. O : S : 36° C N : 105x / menit.T No. Ronchi minimal. Respon : klien mau minum obat 13.30 EVALUASI S : ibu klien mengatakan batuk dan dahaj terkadang bisa keluar. Reg : 061014621 45 .4.15 : melakukan fisiotherapi nafas. slym sudah bisa keluar. Rr : 28x / menit Nafas agak dangkal.Masalah teratasi sebagian. Melakukan claping dan vibrasi. Batuk. pz 10 tts. wheezing -/Masalah teratasi sebagian T. CATATAN PERKEMBANGAN Nama : Anak. tidak cyanosis A : masalah belum teratasi.00 E : ibu klien mengatakan masih batuk. P : rencana 2.00 : memberikan nebulizer dengan bisolvon 5 tts.7 dilanjutkan I :08.5. 08. wheezing -. ronchi +/+. Respon : klien mau dinebulizer.

P : rencana 2.30 : member therapi vitamin Respon : klien mau meminum vitaminnya. 46 . 4. Respon klien menghabiskan porsi makannya ½ orsi dengan disuapi ibunya. Respon : makan pagi habis ½ porsi. siang 1/3 porsi E : klien lebih periang. mau minum susu dan makan Masalah teratasi sebagian. 8 dilanjutkan I : 08.00 : member klien makan porsi kecil dan hangat Respon : klien habis 1/3 porsi.30 : mengobservasi intake dan output. 6. 7. 09. O : sisa porsi makan tinggal ½ porsi A : masalah teratasi sebagian.II 07. 08. 5.00 : member makan hangat porsi kecil. 12.40 S : ibu mengatakan klien pagi ini menghabiskan ½ porsi makanannya dan minum susu 200 cc. 12.00 : member minum susu pada klien 500 cc Respon : klien menghabiskan 250 cc.

deficit volume cairan. nafsu makan menurun. Pada kasus nyata data yang didapat oleh penulis seperti pada paragraph I. Pada masalah ketidak efektifan jalan nafas. gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. nafas cepat dan dangkal. kurangnya pengetahuan orang tua. frekuensi irama kedalaman pernafasan abnormal. auskultasi area paru. anak malas. bakteri. ketidak mampuan untuk mengeluarkan sekresi jalan nafas. anak malas makan. gerakan dada. S adalah batuk. catat adanya bunyi nafas. minum susu habis1/2. perut mual. Pada teori bronchopneumonia karakteristik yang bisa terjadi adalah batuk non produktif. nyeri otot. Hal ini menunjukkan tidak adanya kesenjangan antara teori dan kasus nyata.BAB IV PEMBAHASAN Pada bab pembahasan ini penulis mencoba membandingkan antara teori dan kasus nyata mengenai bronchopneumonia pada anak. sedangkan masalah penyertanya adalah gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Secara teori pada ketidakefektifan jalan nafas terdapat data mayor batuk tidak efektif. nafas cepat dan sesak. intoleran aktifitas. ajari klien teknik batuk efektif dan latihan 47 . Sedangkan pda kasus nyata didapatkan masalah keperawatan yang prioritas adalah ketidakefektifan jalan nafas. tidak ada batuk. makan habis ¼ porsi. Bronchopneumonia bisa disebabkan oleh karena virus. Dari data pengkajian di atas masalah yang ada pada teori adalah tidak efektifnya bersihan jalan nafas. gangguan pertukaran gas. menunjukkna data mayor dan data minor pada masalah ketidakefektifan jalan nafas. sputum sulit keluar. kesuiltan menelan. data minornya adalah bunyi nafas abnormal. pada auskultasi paru ditemukan ronchi basah. Sedangkan pada kasus nyata penulis mendapatkan karakteristik gejala pada An. jamur ataupun oleh karena aspirasi benda – benda asing. terdapat ronchi. pilek sputum sulit keluar. secara teori intervensi yang diberikan adalah : kaji frekuensi / kedalaman pernafasan.

Tapi kesenjangan tersebut bukanlah masalah utama. nebulizer. ekspektoran. Jika penulis observasi ada beberapa kesenjangan yang ada pada intervensi secara teori dan kasus nyata. Penulis juga melihat keberhasilan dari tujuan yang diharapkan baik oleh klien dan keluarga maupun oleh penulis sendiri. anak tidak cyanosis. analgesic. suction bila perlu. tetapi apabila dilihat perkembangan klien dari awal pengkajian : hari I – III. auskultasi area paru. brio bat : mukolitik. fisioterapi dada. ronchi minimal. penulis memperoleh hasil evaluasi sebagai berikut : anak masih batuk tapi sputum keluar. kondisi klien mengalami perubahan dan menjadi lebig baik. memberi posisi yang nyaman pada klien. melakukan fisioterapi dada dan nebulizer. memberi minum hangat pada klien. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam. observasi TTV dan tanda cyanosis. 48 . beri cairan hangat. bronchodilator. Dalam hal ini meskipun klien belum sembuh total. Lagipula pelaksanaan intervensi pada kasus nyata penulis sesuaikan dengan situasi dan kondisi pada klien yang notabane masih berusia 4 tahun. memberikan obat batuk. Sedangkan pada kasus nyata intervensi yang dilakukan penulis adalah : member penjelasan pada ortu klien mengenai penyebab sesak nafas. kaji frekuensi pernafasan.nafas. karena tujuan intervensi secara teori dan kenyataan adalah sama yaitu jalan nafas jadi efektif.

jumlah makanan yang dimakan. memberikan obat batuk. intervensi yang penulis lakukan adalah memberi penjelasan pada ortu klien mengenai penyebab penyebab sesak nafas. Setelah melakuakan askep pada An. terdapat ronhi. Sedangkan intervensi yang penulis lakukan pada gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah. beri penjelasan pada ortu klien tentang penyebab . thorax poto menunjukkan bronchopneumonia. anak malan beraktifitas. Dari data pengkajian yang penulis lakukan pada An. hasil HB 10.BAB V 5. ronchi +/+. ajarkan ibu untuk memberikan makanan secara bertahap . dan tujuan dilakukan tindakan. dan tanda cyanosis. suction bila perlu. memberikan minum air hangat pada klien. observasi intake dan output. timbang BB. membei posisi yang nyaman pada klien. sajikan makanan dalam kedaan hangat. 49 . minim susu ½ porsi. nafas cepat dan dangkal. Pada masalah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan naas. Dari data tersebut penulis mendapati dua masalah keperawatan yaitu : ketidakefektifan jalan nafas dan gangguan pemenuhan nutrisi dari kebutuhan tubuh. S dengan bronchopneumonia selama 3 hari penulis akhirnya dapat menyimpulkan semua kegiatan yang sudah penulis lakukan. kaji frekuensi dan pernafasan.1. Dari hasil evaluasi didapatkan data sebagai berikut : klien masih batuk. libatkan ortu dalam pemilihan menu diit klien. KESIMPULAN. nebulizer. auskultasi area paru. jaga kebersihan mulut. anak malas makan. kaji distensi abdomen. melakukan fisioterapi dada. masalah teratasi sebagian. S dengan bronchopneumonia didapatkan klien tersebut batuk. 9 gr/dl. observasi TTV. memberikan vitamin. Penulis melakukan pelaksanaan intervansi pada kedua masalah tersebut selama 3 hari. BB. sputum bisa keluar.ual. sputum sulit keluar.

2. 5. 5. Ortu harus tanggap dan segera membawa anaknya ke dokter apabila didapati tanda – tanda bronchopneumonia. Meskipun demikian kondisi klien menunjukkan kemajuan yang berarti. 50 . masalah teratasi sebagian. SARAN.1. kemudian semua kegiatan yang dilakukan didokumentasikan oleh penulis.2.2. Dari hasil tersebut penulis mengambil kesimpulan bahwa tindakan yang dilakukan penulis mengatasi masalah keperawatan sebagian. Perawat mampu melakukan observasi tanda – tanda virtal sesak dan cyanonsis sehingga perawat mampu memberikan asihan keperawatan pada klien dengan bronchopneumonia. Bagi Keluarga KLien / Ortu.2.sedangkan pada masalah kedua adalah : klien lebih periang.3. 5. Masalah ketidakefektifan jalan nafas marupakan masalah yang diprioritaskan oleh perawat dan harus ditangani dengan tepat dan benar agar sesak berkurang dan sputum bisa keluar. mau minum susu dan makan.2. Bagi Perawat. 5.

3. Perawatan anak sakit. 51 . Jakarta 1947.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta 2001. 4. jilid II. Douglas. H. M. KApita selekta kedokteran. Jakarta 2000. Jakarta 1996. 2. Syaifullah Noer dkk. Ngastuyah. buku kedokteran EGC. Rencana asuhan keperawatan. medis Aesculapius FKUI. Marlin E. Ilmu Penyakit Dalam I. Arief Mansyoer dkk. buku kedokteran EGC. buku penerbit FKUI. Edisi III.