HANDBOOK OF MORAL AND CHARACTER

Larry P. Nucci
University of Illinois at Chicago

Darcia Narvaez

University of Notre Dame

Banyak pihak sepakat kalau sekolah harus berperan penting bagi pengembangan dan pembentukan karakter siswa. Di antara karakter tersebut adalah kejujuran, hormat kepada orang lain, demokrasi, hormat kepada orang yang berbeda latarbelakang dan ras, serta toleransi. Namun, dukungan untuk pendidikan moral ini menimbulkan kontroversi seputar makna dan bentuk praktik pendidikan moral itu sendiri. Ini berkaitan dengan budaya generasi muda Amerika dan orang Amerika pada umumnya. Para penganut social konservatif menganggap kondisi sekarang sebagai periode kehancuran social (Bennett, 1998; Putnam, 2003) dan krisis yang melanda generasi muda (Bennett, 1992; Himmelfarb, 1994; Wayne, 1987). Hal ini menuntut perlunya pendidikan karakter yang kembali kepada nilai – nilai moral tradisional (Bennett, 1992; Wynne & Ryan, 1993). Kalangan politik sayap kiri Amerika memandang kalau masyarakat Amerika sekarang ini sedang mengalami perubahan social yang cepat di mana banyak sekali terjadi ketidakadilan social; seperti diskriminasi rasisme dan gender (Turiel, 2002). Tujuan handbook ini adalah untuk membahas hal – hal yang tidak sekedar wacana seperti di atas. Buku ini adalah kumpulan penjelasan tentang pendidikan moral & karakter dari para peneliti yang ahli di bidang tersebut. Berikut penjelasannya.

1

BAGIAN I DEFINISI PENDIDIKAN MORAL SEJARAH, FILOSOFI, TEORI DAN METODOLOGI Perdebatan seputar pendidikan moral dibagi ke dalam 3 dimensi. Pertama, anggapan yang mengatakan bahwa moralitas dan pengembangan karakter berpusat pada cultivation of virtues (pemeliharaan nilai – nilai kebaikan). Anggapan ini mengacu pada Aristoteles yang menekankan pentingnya pembentukan sikap awal dan pengaruh kelompok social. Kedua, asumsi yang mengatakan bahwa moralitas adalah fungsi penilaian dalam suatu konteks. Asumsi ini mengacu pada argument filosofis dari etika kaum rasionalis yang menekankan pada justifikasi tindakan moral berdasarkan prinsip keadilan (Rawls, 2001). Fokusnya adalah pemikiran kritis yang berasal dari konsep Piaget (1932) dan pendekatan Socrates terhadap pendidikan. Ketiga, asumsi yang menekankan pentingnya peran emosi. Ini didasarkan pada konsep tentang care ethic (etika kepedulian), attachment theory dan pendidikan spiritual yang akan dijelaskan di bagian 2 & 3. Bagian I terdiri atas 8 bab. Di bab 1, penulis membahas dasar filosofis, historis, dan metodologi seputar pendidikan moral dan karakter. Bab 2, yaitu Philosophical Moorings oleh Thomas Wren akan membawa kita pada aliran pemikiran filosofis tentang pendekatan tradisional dan pengembangan terhadap pendidikan moral.

2

Di bab 3, Daniel Lapsley membahas wacana tentang kebaikan (virtues) dan alasan (reason) yang menyinggung dasar filosofis dan psikologis tentang hubungan antara moralitas dan diri sendiri. Bab 4 membahas konsep Kohlberg tentang pendekatan terhadap pendidikan moral. Di bab 5 & 6, James Arthur dan David Carr membahas pendekatan tradisional dan kebaikan terhadap pendidikan moral. Mereka menjelaskan tentang analisa Kohlberg mengenai batasan teori moral berbasis kebaikan. Di bab 7, Kenneth Strike membahas peran masyarakat dalam membentuk kehidupan moral siswa. Bab 8 membahas riset oleh James Leming tentang kurangnya dampak praktik pengajaran karakter dan moralitas yang dilakukan di kelas.

BAGIAN II HUBUNGAN DI SEKOLAH DAN KELAS Bagian ini membahas lingkungan social dan afektif kelas; serta bahwa hubungan social di sekolah dapat mempengaruhi pembentukan moralitas dan karakter. Bagian ini terdiri atas bab 9, 10, 11, 12, 13 dan 14. Di bab 9, Nel Noddings membahas teori kepedulian/pengaturan (care theory) sebagai hal penting dalam perkembangan moral dan tindakan etis. Teori ini berasal dari konsep Caroll Gilligan dan gerakan feminisme; namun oleh Noddings, teori tersebut dimodifikasi menjadi kerangka filosofis yang komprehensif. Noddings menjelaskan

3

tentang hakikat pengaturan kelas dan sekolah serta membahas hal – hal yang diperlukan oleh guru dan semua pihak yang terlibat dalam bidang kepedulian. Di bab 10, Marilyn Watson memperluas konsep kepedulian sebagai apa yang disebut dengan classroom relationship based on trust (hubungan kelas yang berdasarkan kepercayaan). Yang ditekankan adalah kebutuhan siswa tingkat dasar untuk membangun hubungan yang manis dengan pihak bersangkutan. Di bab ini, Watson menjelaskan pendekatan terhadap struktur kelas dan manajemen sikap yang disebut developmental discipline (disiplin pengembangan) yang menyangkut motivasi intrinsic anak untuk mandiri, rasa memiliki dan kompetensi. Di bab 11, David & Roger Johnson membahas secara terperinci bagaimana menggunakan struktur kooperatif kelas dengan benar dan riset tentang dampak struktur tersebut terhadap perkembangan moral dan social siswa. Di bab 12, Clark Power dan Ann Higgins-D’Allesandro melakukan review tentang implementasi komunitas sekolah dan riset tentang efektifitas pendekatan ini terhadap pendidikan moral. Di bab 13, Maurice Elias, Sarah Parker, Megan Kash, Roger Weissberg dan Mary Utne O’Brien menjelaskan hubungan antara program SEL (social and emotional learning = pembelajaran emosi dan social) dengan pendidikan moral dan karakter. Di bab 14, Stacey Horn, Christopher Daddis dan Melanie Killen membahas bagaimana hubungan dengan teman di sekolah berimplikasi terhadap perkembangan moral dan social.

4

Di bab 17. Di bab 16. Di bab 15. Di bab 19.BAGIAN III PENDEKATAN KONTEMPORER Bab – bab di bagian ini focus pada pendekatan kontemporer tentang pendidikan karakter dan moral. 17. 5 . 19. 21 dan 22. dan Vladimir Khmelkov menjelaskan bahwa kebaikan moral seperti kejujuran dan keadilan harus didukung oleh tindakan kebaikan seperti perseverance (terus berusaha walaupun banyak kesulitan) dan hard work (kerja keras). Larry Nucci membeberkan garis besar sebuah program riset selama 3 tahun yang menunjukkan bahwa konsep moralitas (keadilan. kesejahteraan manusia) bersifat universal dan membentuk suatu system konseptual yang berbeda dengan isu personal. 16. Carolyn Hildebrant dan Betty Zan membahas asumsi teoritis dan praktik kelas mengenai pendekatan berbasis perkembangan terhadap perkembangan moral anak. Darcia Narvaez garis besar riset secara kognitif dan neurobiologis untuk membuat rekomendasi terhadap perkembangan karakter moral. Di bab 18. 18. Thomas Lickona. Anne Colby me-review riset yang menjelaskan dampak pengalaman kampus terhadap perkembangan moral dan keterlibatan sipil dari generasi muda. 20. preskripsi religi dan konvensi. Matthew Davidson. Di bab 20. Bagian ini terdiri atas bab 15. Victor Battistich mengemukakan penjelasan komprehensif mengenai program CDP (child development project = proyek perkembangan anak) dan hasil evaluasi program tersebut yang memperlihatkan bahwa membangun komunitas kepedulian di sekolah adalah penting agar perkembangan emosi siswa menjadi lebih baik.

dan John Toumbourou menjelaskan tentang positive youth development (perkembangan karakter positif generasi muda). dan bukti yang menjelaskan kalau pengalaman di luar kelas dapat membentuk perkembangan moral dan karakter generasi muda. Victor Battistich dan Melinda Bier menjelaskan hasil analisa komprehensif mengenai praktik dan kebijakan pendidikan moral dan karakter. Di bab 23. Richard Catalano. Bagian 4 ini menjelaskan bagaimana program formal untuk layanan masyarakat. BAGIAN IV PENDIDIKAN MORAL & CHARACTER DI LUAR KELAS Perkembangan moral dan pembentukan karakter anak serta orang dewasa bukan murni berasal dari sekolah. Daniel Hart. Kyle Matsuba. 6 . 24.Di bab 21. Di bab 24. penyalahgunaan obat terlarang. Di bab 22. ada penjelasan tentang pendekatan terhadap pengajaran moral dan karakter yang dikembangkan oleh Rachel Kessler dan kawan – kawan di Passage Ways Institute yang focus pada hubungan antara spiritualitas dan religiusitas. David Hawkins. dan kejahatan di jalanan. termasuk mereka yang suka terlibat dengan anggota gang. 25. menjelaskan elemen dalam program yang efektif. dan Robert Atkins menjelaskan tentang arti service learning (pembelajaran bagi masyarakat) dan service learning (layanan pembelajaran) dan civic engagement (keterlibatan masyarakat sipil). Marvin Berkowitz. pembelajaran informal melalui media dan media pembelajaran lain di luar kelas bisa mempengaruhi perkembangan moral dan karakter. Bagian ini terdiri atas bab 23. 26 dan 27.

Hal ini dibahas oleh David Shields dan Brenda Bredemeier di bab 25.Banyak yang mengatakan kalau olah raga dapat membentuk karakter. dan alat elektronik lainnya ketimbang melakukan sesuatu di kelas. temuan riset. Di bab 28. Di bab 26. Generasi muda di Negara – Negara berkembang sering menghabiskan waktu dengan menonton TV. dan memberikan panduan bagaimana memperlakukan media agar bisa berkontribusi terhadap perkembangan moral dan pembentukan karakter generasi muda. 29 dan 30. yaitu media. computer. Mereka berkomunikasi melalui media elektronik dan mengumpulkan informasi dari internet dan outlet media lain. Jim Lies. Di bab 27. Hogan dan Strasburger menjelaskan tentang tantangan tersebut. Muriel Bebeau dan Verna Monson membahas riset mengenai dampak pendidikan professional terhadap perkembangan moral professional kesehatan. Mereka menjelaskan perkembangan karakter dan moral dalam kaitannya dengan konteks olah raga. Marjorie Hogan dan Victor Strasburger menjelaskan tentang tantangan yang bisa menimpa pendidikan karakter generasi muda. Semua media ini bisa mempengaruhi sosialisasi anak. HP. 7 . Kendall Cotton Bronk dan Jennifer Menon Mariano menjelaskan peran positif masyarakat dalam membentuk karakter generasi muda. BAGIAN V ISU PROFESSIONAL Di bagian ini ada penjelasan tentang praktik dan pengalaman pendidikan yang dirancang untuk memberikan dampak terhadap perkembangan moral dan karakter generasi muda serta anak – anak. Bagian ini terdiri atas bab 28.

Merle Schwartz di bab 29. Merle mengatakan bahwa program pendidikan guru sekarang tidak memiliki komponen formal dalam upaya membekali mereka dengan dasar pengetahuan dan alat untuk meng-integrasikan pendidikan moral & karakter ke dalam praktik pengajaran dan rencana pembelajaran (RPP) sehari – hari. Yang ditekankannya adalah otonomi dan tanggungjawab moral dalam profesi guru. menjelaskan analisa tentang kondisi sekarang dalam upaya mempersiapkan guru pre-service untuk terlibat dalam pendidikan moral dan karakter. Di bab 30. Elizabeth Campbell membuat analisa tentang dimensi etikal pengajaran dan bagaimana rasanya menjadi seorang guru. 8 .

Secara eksplisit. tradisi filosofis berasal dari Buddhisme. apa yang baik bagi masyarakat maka baik juga untuk anak – anak kita. Dilihat dari luar. pendidikan moral merupakan hal penting bagi control social dan alat realisasi diri. begitu juga sebaliknya. Ketika Buddha duduk di bawah pohon Bodhi beberapa tahun sebelum Socrates lahir di Yunani. dia tiba – tiba mengalami sesuatu luar biasa yang menandakan bahwa dia akan menjadi Buddhist dalam sejarah perkembangan manusia. FILOSOFIS DAN METODOLOGIS 2 PHILOSOPHICAL MOORINGS (Mata Rantai Filosofis) Thomas Wren Loyola University Chicago Pendidikan moral dan moralitas bisa dilihat dari segi internal dan eksternal. Sementara di Asia. baik filsuf maupun kalangan pendidik serta orang tua. Dari dalam. tradisi filosofis berasal dari Yunani.I DEFINISI BIDANG PENDIDIKAN KARAKTER & MORAL: LANDASAN SEJARAH. moralitas adalah cara bergaul dengan orang lain. moralitas adalah bergaul dengan diri sendiri. Dengan sesuatu luar biasa tersebut maka datanglah pencerahan (enlightenment) bagi kondisi manusia yang sedang 9 . beranggapan bahwa 2 fungsi moralitas tersebut (control social & alat realisasi diri) saling menopang satu sama lain. BUDDHA DAN YUNANI Di Barat. Mari kita bahas Buddha dulu. Semua pihak.

Ajaran Yunani memandang pencerahan sebagai wisdom (kebijaksanaan). sementara ajaran Yunani bersifat sistematik. Hinayana & Mahayana. 8 Jalan Kebaikan itu adalah: 10 . yaitu know thyself (kenali dirimu) atau gnothi seaution. dan diserap oleh filsuf pra-Socrates yaitu Thales dan Phytagoras dan Socrates sendiri. Sepanjang hidupnya. ditempel di pintu masuk kuil Appollo. Motto Yunani. dalam semua interpretasi. motto Lose thyself (kosongkan dirimu) adalah pesan dari the Noble Eightfold Path (8 jalan kebaikan) yang merupakan bagian tradisi Buddha. Contohnya. rangkaian 8 dimensi yang membutuhkan perkembangan simultan. jalan Buddha sangat berbatu (ex: lebih ascetic = tidak menghendaki kesenangan fisik). Hinayana menekankan pada asal muasal doktrin pencerahan sebagai agenda perkembangan manusia. 8 Jalan Kebaikan di-interpretasikan dalam berbagai cara. dewa kebijaksanaan. Setelah kematian Buddha. Namun. virtuous action (tindakan kebaikan) dan concentration (konsentrasi).menderita. perampingan dari 3 kategori dasar. sebagai rangkaian tahapan progresif yang dilalui oleh tindakan seseorang. sementara Buddha menganggapnya sebagai pengosongan diri atau nirvana. sementara Mahayana menekankan bahwa setiap individu harus bekerja sebagai sebuah kelompok dalam rangka memperoleh pencerahan. lahirlah 2 sekte keagamaan. Ada perbedaan antara ajaran Buddha dengan Yunani. Buddha terus mengajarkan nilai – nilai kebaikan yang pada akhirnya membentuk budaya Hindu. pencerahan dipandang sebagai pencapaian progresif. Sebaliknya. yaitu wisdom (kebijakan). Sophia.

penderitaan disebabkan oleh hasrat. Walaupun Yunani tidak memiliki kata khusus untuk self (diri). SOCRATES & PLATO Bagi Socrates (469 – 339 SM) & Plato (428 – 347 SM). 11 . namun melibatkan pengetahuan tentang Ideal of Forms (bentuk ideal) dan tahapan perkembangan tertinggi manusia. hasrat harus bisa dikendalikan bukan dipuaskan dan ini bisa dilakukan dengan mengikuti 8 Jalan Kebaikan. yaitu knowledge of the good (pengetahuan tentang sesuatu yang baik). di mana ego harus dihilangkan Kita harus ingat bahwa pesan Buddha adalah kita harus menghilangkan ide tentang diri (self) karena entitas itu tidak pernah ada. jalan menuju pencerahan itu tidak melibatkan pengetahuan khusus tentang self (diri). • • • • Right values (nilai kebenaran) – komitmen untuk tumbuh dalam kesederhanaan Right speech – berbicara kebenaran Right action – bertindak dengan benar tidak menyakiti orang lain Right livelihood – melakukan pekerjaan yang tidak membahayakan diri sendiri atau orang lain • • • Right effort – selalu berupaya meningkatkan diri Right mindfulness – melihat sesuatu dengan benar dan penuh kesadaran Right meditation – meraih pencerahan. namun mereka menganggap manusia sebagai sebuah self yang mengandung thing (sesuatu). baik positif atau negative.• Right Viewpoint (sudut pandang yang benar) – memahami 4 kebaikan (bahwa semua pengalaman itu menyangkut penderitaan.

3 MORAL SELF-IDENTITY AS THE AIM OF EDUCATION 12 . maka itu salah. Ada ambiguitas dalam istilah reason (alasan) yang digunakan oleh Aristoteles dalam konteks kebaikan dan karakter moral. & objek yang dapat diraba (Objek fisik. & pemikiran rasional Konsep matematika. yaitu bahwa reason adalah realita transcendent (berada di luar jangkauan nalar biasa) yang selalu berada di bawah kebenaran. Kedua. Menurut Aristoteles. Kadang. perkembangan manusia bergerak ke depan. Jadi.Doktrin tentang Ideal of Forms ini dikembangkan oleh Plato melalui berbagai dialognya yang dikenal dengan the Divided Line (garis yang dibagi – bagi). hidup manusia dipenuhi oleh pemerolehan karakter (habituation). ada 2 bagian penting dalam konsep perkembangan manusia menurut Aristoteles. Melalui hal ini. Perkembangan ini bersifat goal-seeking (mencapai tujuan). sementara di lain waktu. melihat gambar = eikasia) Gambar objek fisik) ARISTOTELES Aristoteles (384 – 322 SM) adalah muridnya Plato. hidup manusia disesuaikan dengan alasan (conformity with reason). dia mengutip konsep reason menurut Plato. Pertama. jika karakter yang baik tidak diiringi dengan alasan. bentuk terendah) = dianoia) Persepsi (persepsi langsung = pistis. Aristoteles mengartikan reason sebagai sifat bawaan kognitif seseorang. Berikut tabelnya: Ways of knowing (cara mengetahui) Objects of knowledge (objek pengetahuan) Pemikiran intelektual (pengetahuan Bentuk (Kebaikan. bentuk tertinggi langsung = episteme.

Kita memiliki motif dan hasrat yang membangun kemauan dan tindakan.”menjadi seorang diri berkaitan dengan keberadaan dalam ruang isu moral. orang yang memiliki sifat terpuji. menolak rokok. Lapsley & Narvaez. mengurangi emisi karbon). 2004) tercermin dalam tren etika kontemporer yang menghasilkan hubungan erat antara pertimbangan moral dan personal (Flanagan & Rorty. kita ingin memiliki hasrat tertentu (ex: ingin mengadakan amal. Identitas diri moral dalam psikologi perkembangan (Blasi. Taylor (1989: 12) mengatakan. artinya. Bab ini akan menjelaskan tentang kerangka kualitas moral seseorang dalam terminology literature psikologis mengenai identitas dan diri. Kita berharap bahwa anak – anak melakukan hal yang benar demi alasan yang benar pula.(identitas diri moral sebagai tujuan pendidikan) Daniel K. namun hasrat tersebut tidak efektif. 1993. Second-order desire (kemauan kedua) adalah kemauan untuk hal – hal tertentu atau yang oleh Frankfurt (1971) disebut dengan second-order volitions. 1990. hanya bagian dari kemauan kita.” TEORI SELF-IDENTITY Terdapat hubungan tematik antara teori identitas diri moral dalam psikologi dengan komponen etika kontemporer. 1989). Contoh. Konsep penghubungnya adalah Harry Frankfurt (1971) tentang bagaimana kemauan (will) dibangun oleh second-order desires (hasrat kedua). yang kepribadiannya sesuai dengan etika. Firstorder desire (hasrat pertama) adalah kemauan terhadap segala hal. Lapsley University of Notre Dame Banyak orang tua yang menginginkan agar anaknya menjadi orang baik. Taylor. 13 .

ketika kita menginginkan hasrat itu bisa menuntun kita pada all the way to action (semua tindakan) (Frankfurt. Menurut Frankfurt (1971). dan ingin agar hal tersebut diimplementasikan dalam kehidupan. mana yang tinggi dan mana yang rendah. dan motif. Seorang wanton tidak peduli dengan keinginan hasratnya. yang artinya. ditentukan oleh pemikiran tentang sesuatu yang signifikan bagi kita. 1971: 8). karakteristik. seorang individu itu adalah orang yang terlibat dalam strong evaluation (evaluasi yang sangat teliti).Namun.dengan second-order desires yang dipengaruhi oleh teori identitas diri moral baik dalam filosofi (Taylor. yang memiliki second-order volitions disebut person (orang). tidak peduli dengan kemauannya. maka di saat inilah kita memiliki second-order volition. mana yang buruk dan mana yang baik. Orang yang evaluasinya tinggi (strong evaluator) adalah mereka yang selalu membuat penilaian etis tentang first-order desires. Identitas kita ditentukan oleh strong evaluation. Seorang person memperhatikan jenis hasrat. Frankfurt (1971) membedakan antara first. KARAKTER MORAL 14 . to know who I am (untuk tahu siapa diri saya) adalah bagian dari to know where I stand (tahu di mana saya berada). 2005). sementara yang tidak punya disebut wantons. menurut Taylor (1989). Contohnya. Menurut Taylor (1989: 27). Strong evaluator selalu memilah – milah antara sesuatu yang berharga dengan yang tidak berharga. to be willed (dikehendaki). 2004. 1989) maupun psikologi (ex: Blasi.

keramahan. Integritas bisa dianggap sebagai tanggungjawab (responsibility) ketika kita melakukan tindakan pengontrolan diri dalam meraih tujuan moral. yang mengacu pada konsistensi diri. Integritas dirasakan sebagai identitas (identity) ketika kita membangun konstruksi pemaknaan diri (self-meaning) disertai keinginan. tetap melakukan tugas.dengan lower-order virtues (kebaikan tingkat tinggi dan rendah). menolak rayuan. Higher-order vitues memiliki 2 bagian. Mampu memecahkan masalah. Blasi (2005) menyebut bagian pertama sebagai will power (control diri). kejujuran. Sementara higher-order virtues memiliki generalitas yang lebih luas dan bisa diaplikasikan ke dalam berbagai situasi. Semua sifat tersebut biasanya untuk merespon situasi tertentu. kebaikan. Bagian kedua dari higher-order virtues adalah integrity (integritas/kejujuran). menentukan tujuan. ulet dan disiplin merupakan skill dari willpower. dapat diandalkan. bertanggungjawab. menghindari kerusakan. Lower-order virtues contohnya adalah empati. Sebagai control diri. Namun. tulus dan selalu menghindari kebohongan merupakan bagian dari integritas. Menjadi orang yang selalu memegang janji. keadilan. keinginan. jujur kepada orang lain.Karakter moral seseorang terdiri atas virtues (kebaikan). willpower adalah jenis keterampilan yang memudahkan pengaturan diri dalam proses problem-solving. menurut Blasi (2005) penting untuk membedakan higher. giat dsb. 4 15 .

di mana dia berada dalam kungkungan ketika melawan apa yang dinamakan konvensi social arbitrer. Sebagai siswa SMA selama Perang Dunia II. di mana dia bisa menyaksikan berakhirnya perang dan bertemu dengan para korban yang selamat dari holocaust (pembunuhan besar – besaran terhadap kaum Yahudi yang dilakukan oleh Hitler). Pada usia 18.PENDIDIKAN MORAL DALAM TRADISI PERKEMBANGAN KOGNITIF: IDE REVOLUSIONER LAWRENCE KOHLBERG John Snarey Peter Samuelson Georgia State University Emory University Untuk mengapresiasi ide Lawrence Kohlberg mengenai pendidikan. bukannya mengikuti teman sekolahnya yang bergabung dengan Ivy League College. Dia masuk ke sekolah elit di Massachussetts. Kohlberg kembali ke Eropa sebagai anggota awak kapal Paducah. Kapal tersebut diubah namanya menjadi S.S Redemption oleh Haganah (angkatan militer Yahudi) dan berupaya untuk menyelamatkan pengungsi Yahudi Eropa 16 . Setelah menjalankan tugasnya. hak istimewa. 2006). begitu dia dipanggil. Kohlberg malah bergabung dengan Marinir Amerika dan dan berkeliling Eropa. mari kita mulai dengan sejarah hidup Kohlberg. Laurie kecil. suka bergaul dengan kalangan atas (high class) yang mengutamakan kebebasan individu. perkembangan dan kognisi moral. dan ekonomi kapitalis. dia mengikuti European Jewry (kelompok Yahudi Eropa) dan mulai mempelajari warisan keyahudiannya. Sebagai anak paling kecil dari 4 bersaudara yang lahir dari ibu Kristen dan ayah Yahudi. Pengalaman perang Kohlberg semakin menguatkan simpati Zionisnya dan memberinya pandangan tentang moral untuk mengatur identitasnya (Snarey & Hooker.

Para awak. 2000. Apakah menyelamatkan kaum Yahudi merupakan bagian dari upaya moral dibandingkan patuh pada hukum? Kohlberg mengiyakannya dan berpartisipasi dalam civil disobedience (perlawanan dari warga sipil terhadap hukum) – yaitu melanggar hukum Inggris (menyelamatkan pengungsi Yahudi berarti melawan hukum) secara sengaja demi melakukan apa yang disebut tujuan moral yang lebih tinggi (a higher moral purpose). apakah menyelamatkan korban yang selamat dari Holocaust di Eropa dengan mengusir penduduk asli Arab Palestina dari tanah leluhurnya merupakan sebuah resolusi? Apakah cara ini merupakan metode dari Haganah? Kohlberg kemudian menjawabnya dengan moral reasoning (alasan moral) tahap 4. karena tidak mau dihadapkan pada konsekuensi dari civil disobedience. dengan bantuan Haganah. Kohlberg berhasil melarikan diri dan menuju Palestina. dan ikut mendirikan Negara Israel (Brabeck. Kohlberg bercita – cita menjadi pengacara atau ahli psikologi klinik sebagai cara untuk mengabdikan diri dalam bidang keadilan social. Meskipun demikian. Kemudian dia masuk pada program doctoral psikologi. yang berdasarkan 17 . Snarey. Semasa kuliah. di mana dia tertarik pada bidang psikologi dan filosofi. Kohlberg. 1982. 1991a).S Redemption kemudian dicegat sekitar 10 mil dari pesisir pantai Palestina. Kohlberg menyelesaikan disertasi doctoral-nya di usia 31. Kapal S. 3 bulan kemudian. Power. Mereka semua diberangkatkan ke Cyprus. bersembunyi dengan cara berbaur dengan para pengungsi yang berjumlah sekitar 1500 orang. berada di sana selama PD II pada 1948.melalui blockade Inggris dan mendaratkan mereka di Palestina dan wilayah control Inggris. 1948. muncul suatu dilemma moral. Kohlberg muda ikut berperan dalam menyelamatkan para korban yang selamat dari Holocaust dan mendirikan Negara Israel.

yaitu dilemma yang menjadi bagian dari proses alami seseorang. Disertasi Kohlberg waktu itu mengemukakan 6 tahap perkembangan kognitif tentang moral judgement (penilaian moral). Anak – anak itu ditanya. Pengalamannya semasa perang meruntuhkan nilai – nilai yang sudah ada yang pada gilirannya. Haruskah kita meninggalkan nilai – nilai yang sudah ada (misalnya. melanggar hukum Inggris) tapi tidak sesuai dengan nilai – nilai baru (ex: demi menyelamatkan pengungsi Yahudi yang selamat dari Holocaust)? Menurut perspektif kita. norma dan pelajaran moral yang diperoleh dari proses enculturation bisa dibenarkan jika kondisinya seperti pengalaman yang dihadapi oleh Kohlberg. Kohlberg meng-identifikasi perbedaan usia dalam kompleksitas alasan moral untuk menjustifikasi jawaban pertanyaan tersebut. TEORI KOHLBERG TENTANG 3 MODEL PERKEMBANGAN 18 .”Haruskah seorang suami mencuri obat untuk menyelamatkan istrinya atau haruskah dia mematuhi hukum dan membiarkan istrinya mati karena tidak ada obat? Mengapa dan mengapa tidak?” Sambil mengkaji jawaban dari anak – anak tersebut. di mana seseorang meng-konstruksi pemahaman kompleksnya mengenai moralitas (Arnold. itulah dilemma yang tergambar dalam pengalaman Kohlberg. Dilemma ini bisa disebut indoctrination atau enculturation. Kohlberg berkomitmen untuk melakukan persamaan hak asasi dan kehormatan manusia. 2000: 336). Dilemma yang dihadapi seorang suami tadi merupakan gambaran dilemma pribadi yang dihadapi oleh Kohlber ketika dia hendak menyelamatkan para korban selamat Holocaust dan membangun sebuah Negara baru (Israel) meskipun hal tersebut bertentangan dengan hukum Inggris.pada interview terhadap 84 anak muda di Chicago tentang beberapa dilemma moral. Nilai.

• Social system & conscience maintenance 19 . 3 model tersebut adalah: (1) moral stages (tahapan moral). 6 tahap tersebut adalah: • Obedience & punishment orientation Di sini. Di tahap ini. • Instrumental purpose & exchange Di sini. Seseorang sudah menyadari kalau kepentingannya itu bisa bertentangan dengan orang lain. terjadi pertukaran instrumental: jika kau melukaiku maka aku pun akan melukaimu. seseorang mungkin tidak menyadari kalau kepentingannya itu bisa bertolak belakang dengan orang lain. yang disebut moral adalah menyesuaikan kehendak dengan keinginan orang lain. yang disebut moral itu adalah mengikuti aturan hukum. Yang mengendalikan perkembangan moral adalah struktur pemikiran moral dalam membuat pengalaman menjadi lebih bisa diterima. (2) moral types (tipe moral) dan (3) moral atmosphere (atmosfir moral). • Mutual interpersonal expectation. Di sini. Apapun yang kita lakukan harus disesuaikan agar tidak bertentangan dengan orang lain. good relations Di sini.DAN KOGNISI MORAL Model Kohlberg mengenai perkembangan moral merupakan kontribusi terbesarnya terhadap psikologi moral. yang disebut moral itu adalah berupaya tidak melanggar hukum atau menghindari kontak fisik dengan orang lain. Moral stages Kohlberg berpendapat kalau perkembangan penilaian moral berlangsung dalam 6 tahap.

Untuk menjadi warganegara yang baik. • Universal ethical principles Yang disebut moral di sini dipandu oleh prinsip etika universal yang menghasilkan keputusan untuk memastikan kehormatan manusia dan memperlakukan mereka sebagaimana mestinya. • Prior right & social contract Di sini. yaitu tipe A & tipe B.Di sini. Moral types Kohlberg menjelaskan tentang dua tipe moral. yang disebut moral adalah kesadaran bahwa nilai dan aturan bersifat relative bagi sebuah kelompok dan nilai relative ini berada dalam hak asasi manusia. menghargai moral autonomi dan kehormatan sebagai Tugas moral sebagai kewajiban Preskriptivity Universality Kewajiban instrumental atau hipotetikal moral Setiap orang memiliki penilian Generalisasi pandangan berdasarkan kepentingan yang Tidak bersandar pada otoritas atau 20 Freedom pribadi Dasar eksternal . seperti hak hidup dan kebebasan. yang disebut moral adalah melaksanakan kewajiban masing – masing. maka kita harus melakukan hal – hal yang benar. Berikut adalah tabelnya: Criteria Hirarki Tipe A (heteronomous) Tipe B (autonomous) Tidak ada hirarki moral yang Hirarki nilai moral yang jelas. jelas Intrinsicality kewajiban preskriptif adalah yang dipandang utama Pandangan instrument tentang Seseorang seseorang sebagaimana adanya.

KONSEP KOHLBERG TENTANG 3 METODE PENDIDIKAN MORAL 3 metoede pendidikan menurut Kohlberg adalah Moral Exemplars. Kohlberg tahu bahwa konteks utama perkembangan moral adalah kelompok masyarakat. 1989).Mutual respect Reversibility Constructivism Choice memvalidasi penilaian Kepatuhan unilateral Memandang suatu tradisi eksternal Kerjasama di antara pihak yang sama dilemma Memahami perspektif orang lain yang fleksibel hanya dari satu sudut pandang Pandangan kaku mengenai Pandangan aturan Tidak memilih keadilan dalam mengenai aturan hal Memilih solusi sebagai keadilan Moral atmosphere Menurut Kohlberg (1980. Moral exemplars Menurut Kohlberg. yaitu dengan melakukan observasi/mencontoh terhadap individu yang mem-praktikkan prinsip moral (Bigelow. moral exemplars merupakan alat pedagogis dalam mendukung sosialisasi dan meningkatkan perkembangan moral. moral atmosphere adalah iklim moral atau budaya moral suatu komunitas di mana mereka saling berbagi nilai normative dan harapan. 1985) dkk (Power. Dilemma Discussion dan Just Community. 2001). Higgins & Kohlberg. 21 . Ini adalah metode pendidikan moral secara langsung.

dan Joan akhirnya dipecat dari pekerjaannya. meskipun dianggap melanggar hukum. King adalah contoh utama dari tahap tertinggi alasan bermoral karena kemauannya untuk memperjuangkan hak asasi manusia bagi kaum kulit hitam yang tertindas atau kalangan bawah. sementara siswa grup control mengalami beberapa perubahan. yang berupaya memfasilitasi perkembangan tahapan moral di antara siswa kelas 6 melalui diskusi mingguan tentang dilemma moral hipotetis (Blatt & Kohlberg. Kohlberg (1981: 132) juga menjelaskan tentang tindakan Martin Luther King.Dalam salah satu bab penutup Essays on Moral Development: the Psychology of Moral Development (1984: 486 – 490). salah satu mahasiswa Kohlberg di program doctoral. Tindakan Joan ini karena didasarkan atas penghormatan terhadap hak asasi dan kehormatan seseorang. Ini jelas melanggar hukum. pendidikan moral yang pertama dilakukan adalah melalui eksperimen oleh Moshe Blatt. Jr. 22 . yang bekerja di pengadilan setempat. Blatt menemukan bahwa 1/3 siswa di grup eksperimen mengalami kemajuan perkembangan tahapan moral. Dilemma discussions (pembahasan tentang dilemma moral) Sekitar 10 tahun setelah Kohlberg (1985) menjelaskan konsep model tahapan moral. 1975). Dr. Joan. Pelajaran yang didapat dari orang ini adalah prinsip universal keadilan yang merupakan kulminasi perkembangan moral. Kohlberg dan co-author Ann Higgins mengemukakan contoh dari seorang wanita berusia 32 tahun bernama Joan. pernah membiarkan seorang ward (anak yang berada di bawah perlindungan hukum pengadilan) untuk pergi dari perlindungan hukum menuju tempat lain demi meraih kehidupan yang lebih baik bahkan Joan memberinya uang tambahan.

berbagi pemahaman (ex: Ashley. maukah kau menjelaskan kepada kelompok apa yang sudah dikatakan oleh Benjamin?). (4) teman siswa merupakan guru terbaik atau rekan untuk berkomunikasi. Dari penjelasan di atas. Pertanyaan lainnya adalah menyangkut pembahasan Socratic (ex: apakah melanggar hukum itu bisa dibenarkan? Apa yang terjadi bila seseorang melanggar hukum dan hal itu membuat dia senang?). Dalam mempersiapkan dilemma discussion.Kohlberg dkk mengimplementasikan metode ini melalui integrasi dilemma discussion ke dalam kurikulum sekolah pada bidang studi humaniora (ex: kesusasteraan) dan ilmu social (ex: sejarah). Pertanyaan yang diajukan kepada siswa yaitu alasan why (mengapa) mereka memilih suatu posisi. bisa kita simpulkan bahwa (1) dilemma discussion adalah metode yang berguna bagi pendidikan pengembangan moral. 1976. dilemma kehidupan nyata lebih efektif untuk pengembangan moral. Georg Lind (2007) juga menjelaskan tentang pentingnya mengatur struktur dan organisasi diskusi dilemma moral. (2) dibandingkan dilemma hipotetis. apa pendapatmu mengenai penjelasan Benjamin tadi?). 1987). Pertanyaan lainnya adalah meminta siswa untuk memperjelas makna (ex: Elizabeth. Kohlberg & Lickona. Kohlberg dkk mengajari para guru bagaimana cara menyelenggarakan moral dilemma discussion (diskusi dilemma moral) (ex: Fenton & Kohlberg. maksudmu apa ketika menggunakan kata “keadilan”?). Diskusi tentang dilemma atau masalah kehidupan nyata merupakan metode pendidikan moral yang masih digunakan sampai sekarang. atau interaksi antar siswa. 23 . (3) terdapat zone of proximal development (konsep vygotsky tentang perkembangan kognitif) di mana dilemma discussion bisa meningkatkan perkembangan moral secara maksimal. khususnya tentang perspektif masing – masing (ex: Ashley.

Just community schools Kohlberg menciptakan metode ini pada musim semi 1974. Dia mendapatkan dana untuk melatih para guru SMA dalam pendidikan moral. Siswa. 1989: 64): • Sekolah tersebut diatur oleh demokrasi langsung. & Kohlberg. yaitu rapat siswa dengan staf sekolah untuk memutuskan kebijakan dan praktik sekolah yang berkaitan dengan isu keadilan dan komunitas. Higgins. dan kebebasan dari gangguan fisik atau verbal Kunci utama dari Just Community Schools adalah rapat mingguan komunitas. yang diatur oleh prinsip berikut (Power. hormat kepada orang lain. Hasilnya adalah Cluster School. Tujuan umumnya adalah menciptakan solidaritas komunitas di antara siswa – untuk menciptakan suatu atmosfir moral – melalui praktik demokrasi (membahas segala keputusan yang berkaitan dengan moral. membahas tentang hak tanggungjawab setiap anggota • Guru dan siswa memiliki hak sama. termasuk kebebasan berbicara. guru dan orang tua Ada kontrak social yang dilakukan oleh para anggota. Semua isu utama akan dibahas dan diputuskan pada rapat mingguan komunitas di mana setiap anggota (guru dan siswa) akan melakukan voting • • Ada sejumlah komite yang akan diisi oleh siswa. dilakukan secara demokrasi). guru dan orang tua serta Kohlberg melakukan rapat untuk merancang sekolah baru. Fungsi rapat ini adalah konteks untuk membahas masalah moral. 5 PENDEKATAN TRADISIONAL TERHADAP PENDIDIKAN KARAKTER DI INGGRIS RAYA DAN AMERIKA Canterbury Christ Church University 24 James Arthur .

25 . setiap sekolah memiliki tujuan untuk mengembangkan karakter. Namun. pendidikan karakter tidak lagi didasarkan pada ajaran Kristen. dan Founding Fathers memandang kalau pendidikan moral merupakan cara untuk membentuk generasi muda menjadi warga Negara yang baik. Pendekatan tradisional terhadap pendidikan karakter terus berlanjut pada abad 20 tanpa mengacu pada ajaran Kristen. tidak ada hubungan antara pelatihan karakter dengan perilaku actual. Inkuiri ini tampaknya membantah kalau tidak semua hal bisa disebut karakter. riset ini mempengaruhi konsep Lawrence Kohlberg dan ahli riset perkembangan moral lainnya. perilaku moral seseorang tidak sama dari satu situasi ke situasi lain. Kedua. pendidikan karakter didasarkan atas teologi. Secara signifikan. dan terakhir bahwa semua orang pasti pernah berbuat cheating (nyontek) walaupun sedikit.Pendidikan karakter berakar pada system persekolahan negeri Amerika. Hartshorne dan May menggunakan profil orang yang dewasa secara moral sebagai model dan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada generasi muda seputar masalah pencurian. Hasil riset tersebut menunjukkan kalau perilaku moral itu hadir dalam situasi tertentu. Selama masa colonial. menjelang akhir abad 19. Kesimpulannya. Di abad 18 & 19. Salah satu investigasi riset tentang pendidikan karakter adalah The Character Education Enquiry yang dilakukan di Amerika oleh Hugh Hartshorne dan Mark May (1928 – 1939). pertama. Namun. tidak ada hubungan antara perkataan seseorang tentang moralitas dengan cara mereka bertindak. nyontek dan berbohong. metodologi riset inkuiri tersebut sangat terbatas. Ketiga. Hasil riset tersebut merupakan tantangan bagi pihak yang berupaya mengajarkan karakter kepada anak – anak. suatu ajaran Protestan yang mendominasi pada waktu itu.

Namun. Menurut Carr. Budaya dan social menjadi lebih pluralistic sehingga sekolah menjadi lebih sensitive terhadap heterogenitas siswa. Kohlberg (1984) mungkin merupakan ahli teori perkembangan yang paling berpengaruh dan dia percaya bahwa pengetahuan tentang kebaikan dibangun dalam kemajuan kognitif logis melalui 6 tahap perkembangan. Keberhasilan Jean Piaget. Pendekatan kognitif terhadap pendidikan moral – pendidikan karakter – lebih sesuai dengan tradisi liberal pemikiran kritis ketimbang pendekatan berbasis kebaikan. Orang Skotlandia lainnya. Bahkan beberapa ahli meng-klaim keabsahan aplikasi metode ini. David Carr (2002) justru berpendapat kalau teori tersebut digunakan untuk mendukung pendekatan progresif terhadap pendidikan di mana yang ditekankan adalah pilihan gaya hidup. Tema ini sesuai dengan tuntutan budaya pada waktu itu. Sampai saat ini para ahli psikologi kognitif banyak menekankan pada perkembangan struktur berpikir moral yang melandasi pengambilan keputusan. Hal ini tidak mengindahkan perspektif para ahli tradisional yang berupaya mengajarkan siswa tentang pengetahuan. dan Erik Erikson disebabkan oleh tema mereka mengenai perkembangan.Pada 1950an. psikologi kognitif menjadi suatu disiplin yang popular di bidang pendidikan. seorang Skotlandia. pendekatan progresif menolak perspektif tradisional karena tidak bisa memprediksi tujuan pengembangan manusia dank arena pendekatan tersebut meragukan nilai dan pengetahuan yang diterima. Pandangan kaum sekuler James Barclay. Lawrence Kohlberg. David Fordyce berbicara tentang 26 . nilai dan kebaikan masyarakat sipil. mengatakan bahwa seseorang bisa menjadi asalkan dia memiliki karakter yang kuat karena segala tindak – tanduk guru merupakan teladan bagi siapa saja.

seorang professor filsafat moral di University of Glasgow pada 1747. dan cooperative learning (pembelajaran kooperatif). Semenjak 1960an. Dia ingin mendalami tentang hakikat diri kita sebagai manusia. Pendekatan kontemporer terhadap pendidikan karakter Pendekatan kontemporer terhadap pendidikan karakter di sekolah – sekolah dipengaruhi oleh teori perkembangan kognitif. metode pengajaran progresif menekankan pada child-centered learning (pembelajaran yang berpusat pada siswa). Ada juga kritikan terhadap hubungan antara ajaran agama dengan karakter. 27 . Kesimpulannya. David Hume dan Jeremy Bentham mengatakan bahwa moralitas tidak memerlukan konsep keagamaan. Pendidikan adalah mengenai pengetahuan dan bebas dari nilai sementara agama berkaitan dengan dogma dan tergantung pada nilai. pembelajaran melalui pengalaman. John Locke juga percaya kalau pembentukan karakter lebih penting ketimbang kemampuan intelektual. Gagasan ini menganggap guru sebagai pendidik professional yang harus menanamkan nilai – nilai karakter kepada siswa. Francis Hutcheson. terutama tentang motif dan perilaku. netralitas. menganjurkan agar studi tentang karakter dilakukan secara lebih mendalam. Yang diperlukan adalah studi objektif tentang hakikat manusia. Mereka juga menjelaskan 12 rekomendasi dan 18 praktik dalam pendidikan karakter. di antaranya: problem-solving. mereka mengatakan kalau pendidikan karakter itu bisa berhasil bila di-implementasikan secara efektif. Berkowitz dan Bier (2005) menganalisa sejumlah riset empiric untuk meneliti apakah pendidikan karakter itu berhasil atau tidak.perkembangan imajinasi anak dalam hal moral sehingga beranggapan kalau pengajaran moral secara formal tidak berpengaruh terhadap pembentukan karakter yang baik.

dan lingkungan lainnya di mana siswa terlibat di dalamnya. resolusi konflik. juga berperan terhadap perkembangan karakter. Suzanne Rice (1996) mengatakan bahwa sekolah bertanggungjawab pengembangan karakter siswa. namun jika John Dewey benar. karena guru tidak men-cap sesuatu sebagai immoral (tidak bermoral). Dia menjelaskan model pendidikan dan pengembangan karakter yang dia sebut sebagai IEE (integrative ethical education = 28 . Sekolah hanyalah bagian dari lingkungan siswa. Narvaez (2005: 154 – 155) mengatakan bahwa pendidikan karakter harus didasarkan atas riset yang sah secara psikologi. Nyatanya. mereka takut dikatakan diskriminatif. tidak ada kesepakatan untuk menentukan mana karakter yang baik dan karakter yang buruk. Banyak yang berpendapat kalau pengajaran moral merupakan tanggungjawab orang tua bersama masyarakat dan dalam masyarakat yang multi-kultural. Carr dan Steutel (1999) mengatakan kalau pendidikan karakter seharusnya didasarkan atas komitmen terhadap etika kebaikan. Menurutnya. dan keterampilan hidup.empati. Banyak guru berpendapat kalau kurikulum pengajaran karakter moral di sekolah sangat terbatas. keterampilan social. Terdapat juga perkembangan pola pikir pendidikan mengenai perbaikan moral. tanggungjawab ini merupakan milik semua lembaga pendidikan. kebaikan itu dikembangkan dan dipertahankan dalam interaksi dengan semua lingkungan social dan fisik seseorang. Kebanyakan guru belum mau mengadopsi pendekatan etika kebaikan dalam pendidikan karakter karena belum memahami wacana etika kebaikan sepenuhnya. guru tidak memberi penilaian terhadap bahasa resmi yang digunakan siswa. menciptakan kedamaian. namun belum banyak guru yang memahami kompleksitasnya. Meskipun pendekatan etika kebaikan digunakan dalam pendidikan sekarang.

pendidikan etika yang bersifat integratif) yang menganggap karakter sebagai sejumlah komponen skill yang bisa dipelihara sampai tingkatan tertinggi. pendidikan karakter harus menjadi bagian dari kebijakan sekolah. pendidikan karakter seharusnya dianggap sebagai pendidikan tindakan. Semua pendekatan ini telah diaplikasikan di sekolah – sekolah Amerika dan keberhasilannya beragam. pendidikan karakter harus melibatkan semua komunitas local dan sekolah. Siswa belajar dari berbagai pengalaman dan membangun dasar pengetahuan yang bisa digunakan dalam pengalaman belajar praktis yang otentik. Dari teori ini. tidak hanya sebatas wacana. Thomas Rusnak (1998: 3 – 4) mengemukakan sebuah pendekatan pendidikan karakter yang mengatakan bahwa thinking (pemikiran) – apa yang harus dilakukan atau dipelajari. Keenam. Kedua. Pendekatan ini memerlukan lingkungan sekolah yang terstruktur dengan baik di mana siswa bisa memahami dan mengembangkan skill serta memperoleh kesempatan untuk mem-praktikan moral yang baik. ada 6 prinsip yang diperoleh. Dia mengatakan kalau perkembangan karakter anak berlangsung mulai dari tingkat pemula sampai tingkat ahli. dan action (tindakan) harus diaplikasikan ke dalam tindakan. Ketiga. Keempat. feeling (perasaan) – mengapresiasi apa yan dipelajari. namun juga berupaya mengintegrasikan pendidikan karakter dengan sains kognitif. pendidikan karakter dibentuk dan dibangun oleh lingkungan sekolah. 29 . Narvaez menjelaskan kalau pendekatannya tidak hanya tentang kemampuan intelektual atau kompetensi teknis semata. Pertama. pendidikan karakter seharusnya tidak boleh dianggap sebagai suatu bidang studi. Kelima. pendidikan karakter harus dilakukan oleh guru tanpa harus terpaku pada kurikulum yang ada.

Elemen penting di fase ini adalah alasan moral. dan kemampuan untuk memperoleh pengetahuan diri melalui evaluasi dan mengkaji. yaitu (1) pengajaran tentang dasar kebaikan dan nilai.Bill Puka (2000: 131) menjelaskan tentang 6 metode pendidikan karakter. Siswa mempelajari kebaikan melalui proses pengambilan keputusan yang rasional. yang melibatkan skill tertentu. pengambilan keputusan. Lickona selanjutnya mengembangkan model ini. tindakan tergantung pada kemauan. peduli dan menyayangi orang lain merupakan hal penting dalam tindakan moral. Siswa juga harus mengembangkan kompetensi untuk melakukan kebaikan. (2) pengajaran kode perilaku. Kevin Ryan & Thomas Lickona (1987: 20ff) mengemukakan model pengembangan karakter yang melibatkan 3 elemen dasar – pengetahuan. (5) mencontoh sifat teladan dalam sejarah. 6 PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI UPAYA 30 . (3) bercerita tentang pelajaran moral. Kemauan artinya bahwa siswa harus bisa mengendalikan keinginan dan ketakutan diri agar tahu bagaimana bertindak dengan benar. Ketiga. kompetensi dan kebiasaan seseorang. domain afektif. yang melibatkan perasaan simpati. (6) sekolah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk mempraktikan sifat dan nilai kebaikan. dan mereka harus terus melakukan tindakan kebaikan ini agar menjadi bagian dari kebiasaan diri. Kedua. perasaan dan tindakan. siswa mempelajari warisan konten moral. (4) memberikan contoh teladan tentang nilai dan sifat yang baik. Pertama. kesusasteraan dan agama.

Teori etika klasik – deontologi ajaran Kant dan Utilitarianisme – dianggap sebagai salah satu upaya untuk mengabadikan sifat bawaan karakter. banyak pihak menginginkan kalau pendekatan pendidikan karakter dapat menjanjikan perubahan perilaku manusia ke arah yang lebih baik. sementara penjelasan tentang bagaimana manusia meng-internalisasikan prinsip moral merupakan bagian dari inkuiri empiric (psikologi). keberanian dan sebagainya. hubungan pemahaman moral terhadap sifat bawaan karakter seperti kejujuran. teori Kant dan Utilitarianisme mengenai karakter moral telah banyak dikembangkan (ex: Kant. kriminal. Tidaklah mengherankan kalau pendidikan karakter banyak mendapatkan dukungan politik. Kebaikan dan karakter Mungkin sebaiknya kita harus mengkaji dulu masalah teoritis. manusia lebih menginginkan solusi yang cepat & tepat dalam mengatasi perilaku yang buruk daripada terlibat dalam pencarian teori. Dari perspektif ini.UNTUK MENGABADIKAN KEBAIKAN Pendidikan Moral: Prinsip dan Praktik Karl Marx berpendapat kalau filsafat bukan untuk menafsirkan dunia. kita harus membedakan antara etika kebaikan dengan teori kebaikan. namun justru untuk merubah dunia (Marx. Dari perspektif politik. keadilan. Di sebuah dunia yang dipenuhi oleh masalah social dan politik (perang. alienasi dan keputusasaan). 1968: 30). 1999). 1964. integritas. 31 . Pertama. Ada yang mengatakan kalau “tata bahasa” moral diatur oleh teori kebaikan. disfungsi individu. Etika dan teori kebaikan berhubungan dengan fungsi dan relevansi sifat bawaan karakter terhadap asosiasi dan kehidupan moral. Munzel. sikap anti-sosial.

Contoh. disebut sebagai arête (bahasa yunani). etika kebaikan merupakan jenis teori kebaikan yang menjadikan studi karakter moral menjadi lebih logis. arête 32 . untuk memahami hakikat ikan beserta fiturnya. untuk memahami fungsi makhluk hidup. kita mungkin pertama meng-observasi bahwa ikan adalah sesuatu yang perlu hidup dan bergerak di lingkungan perairan. Pendekatan umum Aristoteles terhadap biologi adalah teleologis. begitu juga bagi makhluk hidup lainnya.”Tujuan fundamental mereka apa?” “Apa yang mereka perlukan untuk mencapai tujuan tersebut?” Menurut sudut teleologis. Secara sederhana. pendekatan Aristoteles terhadap studi kebaikan manusia lebih bersifat quasi-biologis. teori deontologist dan utilitarian dimulai dengan menanyakan jenis pemikiran apa yang dibutuhkan oleh seseorang agar tindakannya menjadi lebih bermoral. seekor ikan pasti perlu sirip dan insang agar bisa berenang di perairan yang luas. dalam bahasa Inggris. properti yang berfungsi untuk membantu ikan mengarungi perairan. Teori Aristoteles tentang karakter moral Pada dasarnya.Teori Kant dan Utilitarianisme bukanlah bentuk etika kebaikan. Bagi Aristoteles. Secara umum. Kita lalu meneliti bahwa untuk melakukan hal tersebut secara efektif. Aristoteles memulainya dengan pertanyaan. Contoh. entitas atau properti. seperti insang dan sirip. teori etika Aristoteles merupakan ragam etika naturalistic. pertanyaan ini saling berkaitan. Arête adalah sesuatu yang menciptakan keberhasilan atau kebaikan. Aristoteles menganggap kualitas moral merupakan fitur hakikat manusia yang tidak jauh beda dengan makan dan bernafas. Kita lalu menjelaskan bahwa fungsi sirip dan insang tersebut adalah untuk membantu ikan mengarungi perairan. Pendeknya. orang jujur adalah orang yang terbiasa berpikir secara benar dalam situasi yang membutuhkan kejujuran.

manusia adalah hewan social (zoon politikon) sehingga kebahagiaan atau kehidupannya tidak terlepas dari orang lain.diartikan sebagai virtue (kebaikan). dalam pandangan ini. karena keberhasilan manusia dalam mengarungi kehidupan bisa terjadi bila mereka mempraktikan kebaikan moral. manusia adalah hewan yang berpikir – sebutannya adalah Nicomachean Ethics – tujuan akhir manusia mengarungi kehidupan bisa ditemukan melalui kontemplasi (penghayatan). kebaikan moral dan intelektual tersebut bisa dianggap sebagai arête hakikat manusia. insang dan hal penting lainnya yang menciptakan keberhasilan bagi suatu spesies dan spesies lain. keadilan. pertama. analisa Aristoteles tentang hakikat manusia dalam kebaikan moral tergantung pada ide tentang tujuan manusia itu sendiri. kerendahan hati dan keberanian. upaya untuk mengabadikan kebaikan moral adalah kita harus melatih dan membiasakan diri melakukan kebaikan – sama seperti jika seseorang ingin 33 . Kebaikan. karakter dan pendidikan Menurut Aristoteles. Aristoteles juga menjelaskan dua fitur keberhasilan manusia. kedua. Singkatnya. jadi yang termasuk arête pada ikan adalah sirip. Arête memiliki konotasi yang lebih luas yaitu excellence (kemuliaan). manusia harus mempraktikan kebaikan moral agar bisa berhasil mengarungi kehidupan. Maka. seperti kejujuran. menurut Aristoteles kita harus menanyakan tujuan umum dan tujuan akhir perilaku manusia. sama seperti fitur – fitur yang dibutuhkan oleh ikan dalam mengarungi perairan. untuk memahami kebaikan moral manusia. Namun konsekuensinya. maka.

maka dia harus terus berlatih bermain musik. semua kejelekan moral. seperti hamil di luar nikah. 7 SEKOLAH. Upaya pertama dalam mengabadikan kebaikan itu adalah bersikap rendah hati atau melakukan pengendalian diri (self-control). seperti keadilan. Dalam mengajarkan kebaikan moral kepada generasi muda. akan bisa diatasi. Dengan rendah hati dan control diri. kasih sayang dan dukungan yang mengindikasikan bahwa mekanisme utama pedagogis dan psikologis adalah modeling atau exemplification (memberikan contoh teladan).menjadi musisi yang baik. KOMUNITAS DAN PENDIDIKAN KARAKTER Kenneth A. sekolah atau konteks lainnya. baik guru maupun orang tua harus memberikan contoh teladan karakter yang baik. Dari sinilah. dan penyalahgunaan obat terlarang yang suka terjadi di masyarakat kontemporer. Hal tersebut merupakan bukti dari kegagalan dalam menerapkan disiplin diri baik di keluarga. kita akan bisa melakukan kebaikan moral lainnya. Upaya lain untuk mengabadikan kebaikan moral adalah pendidikan orang tua yang mengajarkan nilai – nilai keberanian. Strike Syracuse University 34 . pelecehan seksual. kebijaksanaan atau bahkan keberanian.

1982). Individu. Pandangan tentang pendidikan moral yang menekankan otonomi dan kritik terhadap tradisi membuat anggota komunitas menjadi individu yang abstrak. 1999). yang tidak lagi memiliki akar nilai tradisi. di mana cirinya adalah kebebasan dan persamaan (Sandel. Tidak ada prinsip universal yang terus ada di sepanjang waktu dan semua tempat (Nagel. di mana yang ditekankan adalah kurikulum akademik sekolah. Namun. 1986). Inisiasi ke dalam komunitas melibatkan pembelajaran norma dan nilai kebaikan yang berkontribusi terhadap perkembangan rasa keadilan. Normation memerlukan dukungan norma yang kuat dari komunitas. KRITIK KAUM KOMUNITARIAN (COMMUNITARIAN) TENTANG SEKOLAH: MENGAPA SEKOLAH KESULITAN DALAM MEMBERIKAN NORMA Kaum komunitarian mengklaim bahwa nilai kebaikan dan keadilan terletak pada tujuan. Versi pertama meng-kritik praktik liberal dan beranggapan bahwa praktik ini mencerminkan teori liberal. Pendidikan adalah inisiasi ke dalam praktik dan komunitas yang mendukung praktik tersebut. Kaum komunitarian menganggap kalau 35 . Michael Walzer (1995: 54) mengatakan bahwa kritik kaum komunitarian terhadap liberalisme itu ada 2 versi. tradisi dan atribut komunitas. Proses inisiasi ini disebut normation (Green. Dalam sebuah paper berjudul The Communitarian Critique of Liberalism. sekolah bukanlah komunitas yang kuat dan terkadang memberikan norma yang salah.Bab ini membahas peran komunitas dalam pendidikan karakter. akan berubah menjadi egois dan berkembang menjadi individu yang posesif.

dan agen eksistensial yang dilindungi oleh hak paten (inalienable rights). baik laki – laki maupun perempuan dipisahkan dari ikatan social. Versi kedua mengklaim bahwa teori liberal salah meng-interpretasi kehidupan nyata sehingga tidak mungkin seseorang memiliki visi liberalisme. Mereka mengatakan bahwa kalangan liberal menginginkan kalau norma keadilan harus menjadi norma bagi setiap orang dalam masyarakat pluralis. Liberalisme membuat manusia tidak lagi memiliki akar nilai tradisi dan membuat mereka menjadi makhluk yang abstrak. Kaum liberal memandang budaya sebagai kata pertama yang berkaitan dengan keadilan namun mereka tidak bisa menjamin validitas kata ini. dan kemampuan untuk memiliki rasa keadilan. contohnya. 2 kemampuan ini harus 36 . Walzer mengatakan kalau 2 versi ini tidaklah konsisten namun masing – masing versi tersebut sebagian ada yang benar. Kaum liberal memiliki kepentingan lain dalam bentuk dan praktik budaya. Mungkin perselisihan antara kaum komunitarian dengan liberalisme modern berhubungan dengan universalisme moral. namun. Jadi. Namun. kaum liberal mendukung praktik dan bentuk budaya yang bisa menjamin terciptanya warganegara liberal yang baik. Semua manusia.masyarakat Barat adalah “rumah” bagi individu yang terisolasi. Rawls (1971). komunitas dan tradisi menjadi liberal. Liberalisme dihubungkan dengan view from nowhere (pandangan yang tidak jelas asal usulnya). kaum egois rasional. karakterisasi seperti ini dibantah oleh kalangan liberal. mengklaim kalau semua orang memiliki 2 kemampuan yang menjelasakan mereka sebagai manusia: kemampuan untuk mengetahui konsep tentang kebaikan. kaum liberal takut kalau budaya.

terutama kalangan anak. Marlboro. dan Budweiser senantiasa hadir di tengah – tengah masyarakat. tradisi dan komunitas ini bisa dianggap berharga. SUV. ada keterkaitan antara perkembangan manusia menjadi warganegara yang baik dengan kemampuan mereka dalam mengarungi kehidupan. Heavy Metal (jenis musik rock). Budaya. tradisi dan komunitas yang ada bagi manusia. secara konstan. Masyarakat harus mampu memilah kekayaan budaya tersebut dengan cara memilih mana yang bernilai dan mana yang tidak. Mungkin kritik dari kaum komunitarian yang bisa ditujukan kepada kaum liberal adalah seperti ini: mengembangkan rasa keadilan dan konsep kebaikan akan sangat bergantung pada internalisasi sumber intelektual dan cultural yang terdapat di berbagai budaya. Warganegara yang baik diciptakan oleh budaya liberal dan kemampuan mengarungi kehidupan dibentuk oleh budaya yang baik. tradisi dan komunitas menjadi lebih bisa diterima tapi tidak autoritatif. Sumber budaya yang melanda masyarakat liberal senantiasa hadir tanpa ada quality control (kendali mutu).dikembangkan. Untuk bisa memilah dan memilih secara bijaksana maka kita membutuhkan norma dan kritera pengakuan. Hip Hop (jenis musik yang disukai anak gaul). diterima atau bahkan autoritatif. tradisi dan komunitas.” Maka di sini. Lebih jauh. Anak tidak terlahir secara rasional. Shakespeare. Playboy (majalah porno). Bach (ahli composer musik klasik). kita harus bisa memilah dan memilih produk tersebut secara bijaksana. Tuhan. Memahami 37 . Liberalisme bisa menciptakan institusi dan praktik yang membuat kekayaan budaya. Perkembangan ini tergantung pada hakikat dan kualitas budaya. Semua produk budaya modern tersebut tidak memakai cap value (nilai/harga) di “kerah bajunya.

Mereka memahami nilai – nilai norma melalui keluarga. sekolah bisa mengajarkan keterampilan pada siswa sehingga mereka bisa memasuki dunia kerja dengan mudah. Oleh karena itu. masyarakat liberal pluralisme memiliki criteria tersendiri mengenai nilai kebaikan dan keadilan. Siswa diajarkan kalau mereka berada dalam persaingan dengan orang lain demi meraih kesempatan dan melakukan kebaikan. mereka mengklaim bahwa sekolah negeri memiliki visi tentang masyarakat di mana setiap individu berusaha meraih keberhasilan 38 . masyarakat dan budaya sekitar tempat mereka hidup. Tindakan yang dilakukan anak sebetulnya tidak berdasarkan pada norma. Tentu saja.rasionalitas. Bryk. Anak – anak mempelajari norma dan criteria dengan cara mencontoh nilai norma yang dipraktikan oleh kerabat terdekat. norma dan criteria pengakuan merupakan artifak cultural yang ditemukan oleh manusia dan kita mempelajarinya dari orang lain. Maksudnya. Kelompok inilah yang memberi pemahaman tentang nilai kepada anak. Pertama. nilai keterampilan ini sangat berharga. Kita mungkin berharap kalau sekolah bisa mengadopsi konsep budaya yang mengajarkan nilai kebaikan. harapan terbesar terhadap sekolah adalah siswa bisa memiliki etos kerja. Lee dan Holland (1993: 318 – 319) menjelaskan beberapa poin berikut terkait budaya di sekolah negeri. Secara kompetitif. meskipun demikian. maka kaum liberal harus bisa memastikan kalau anak – anak hidup di tengah komunitas yang menawarkan nilai – nilai kebaikan dan juga harus menjamin kalau komunitas tersebut bisa menanamkan nilai norma kepada anak – anak. Jika ini benar. kita harus mengkaji hal tersebut secara lebih mendalam dan bijaksana. Inilah kebenaran inti dari komunitarianisme.

individualistis dan materialistis. pelajaran tersebut tidak berhubungan dengan tujuan pendidikan liberal seperti kewiraan dan kewarganegaraan. Namun. Kedua. 39 . mereka harus bisa memberikan dukungan otoritatif terhadap norma tersebut. Karena merupakan gambaran masyarakat. Ketiga. liberalisme bisa saja melemahkan masyarakat dalam memberikan dukungan otoritatif tersebut. tracking dan tugas yang diberikan guru. Jika masyarakat berhasil menanamkan nilai kebaikan tersebut. dan di mana siswa mempelajari keterampilan memanipulasi system demi kepentingan mereka sendiri. di mana otoritas moral diganti dengan otoritas birokratik. justru dianggap sebagai inti kapitalisme manusia dan dasar keamanan serta kesejahteraan (National Commission. Ironisnya. substansi kurikulum sekolah ini didominasi oleh kurikulum akademik. maka mereka harus berada di lingkungan masyarakat yang berfungsi sebagai “alat transmisi norma” yang menanamkan nilai – nilai keadilan dan kebaikan. Jika demikian. Jika seorang anak harus menjadi warganegara yang baik dan memiliki pemahaman tentang kebaikan. kesusasteraan dan sejarah. 1983). matematik. maka sekolah tampaknya mencerminkan nilai – nilai ini. maka siswa akan didominasi oleh etos kerja pasar sehingga membuat mereka menjadi individu yang lebih egois dan posesif ketimbang individu yang memiliki nilai – nilai kebaikan. Namun. melalui beberapa praktik seperti kurikulum. sekolah menerapkan aturan yang tidak dipandang sebagai konsep keadilan atau moral.sambil mengejar kepentingan diri mereka sendiri. terdiri atas pelajaran yang dianggap sebagai bagian dari pendidikan seni liberal: sains. Norma institusional bersifat kompetitif. sekolah berupaya untuk mendistribusikan keberhasilan social.

Bahkan mungkin menolaknya.Argument di atas bukan klaim kaum komunitarian bahwa individu yang egois dan posesif merupakan nilai inti liberlisme atau inti konsep liberal mengenai individu. nilai pasar bisa dikatakan sebagai nilai paten. 40 . Ini tidak benar. Liberalisme tidak mendukung hal ini. Yang benar adalah bahwa di komunitas liberal kapitalis dan komunitas yang mendukung nilai kebaikan di mana anak – anak dibesarkan.