Fleksibilitas dan proses marginalisasi buruh

By. Me (Watashi – Ue)

 Kemudahan

bagi perusahaan untuk mengubah jumlah buruh, jenis pekerjaan, jam kerja untuk menekan upah (mudah rekrut, mudah pecat dan murah).  Juga berarti, meminimalkan aturan, upah, dan kontrol terhadap serikat buruh.

Ciri pasar kerja yang lentur

Jenis-jenis fleksibilitas hubungan industrial: teori dan praktek organisasi  Fleksibilitas fungsional: elastisitas
 

  

produksi dan desain pekerjaan >multiskillingmultitasking Fleksibilitas skill: tuntutan bagi buruh untuk menyesuaikan jenis pekerjaan/produk baru Fleksibilitas jumlah tenaga kerja: kemampuan perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan skala pekerjaan Fleksibilitas pola kerja: magang, buruh musiman Fleksibilitas upah: minimalisasi komponen upah pokok Mobilitas geografis: penyesuaian pasar kerja terhadap sumber-sumber produksi lainnya:

 Kemajuan

teknologi produksi  Liberalisasi pasar (modal, finansial, tariff, WTO)  Kompetisi global: terkait dengan proteksionisme  Reformasi organisasi produksi  Kompetisi produk dan perubahan cuaca market global  De-industrialisasi: runtuhnya sektor produksi  Pengalihan risiko bisnis dari korporasi ke buruh, keluarga dan negara  Privatisasi layanan publik

Faktor-faktor pendorong fleksibilitas

 Upah

yang semakin tidak cukup untuk hidup atau de-humanisasi upah dan proses produksi  Aneka rupa monster ketidakpastian kerja  Komodifikasi buruh dalam bentuk agen/outsourcing tenaga kerja, muncul makelar transaksi hubungan industri dari yang mendistorsi hingga men-destruksi

Apa yang tersisa bagi buruh?

Apa yang tertanggung oleh Serikat Buruh?
 Kehilangan

anggota  Makin sulitnya membangun organisasi  Semakin rumitnya membaca peta advokasi  Individualisasi hubungan industrial sebagai bentuk penghancuran kolektivitas kekuatan serikat buruh

sejumlah besar

Apa yang paling extrim dari hiruk pikuk liberalisasi ini bagi merekrut dan memecat buruh?  Semakin mudahnya

buruh Indvidualisasi sebagai bentuk kontrol baru dan sekaligus pelemahan serikat secara tersembunyi Upah (minimum) yang semula sebagai bentuk perlindungan negara semakin menjadi pengganti aus mesin produksi Perubahan cara pandang terhadap buruh: hubungan industri hanya dihitung dari sisi rugi-laba semata. Perubahan cara pandang terhadap kesejahteraan pada umumnya

Apa yang perlu kita gali tentang upah dalam pusaran fleksibilisasi?  Cara pandang terhadap buruh dan
upah: seperti apa status upah menurut buruh, serikat buruh, pengusaha dan pemerintah? Upah sebagai income? Upah sebagai ongkos? Upah sebagai basic security?  Kebijakan upah: Seperti apa dan dalam bentuk apa kebijakan upah dari waktu ke waktu?  Institusionalisasi upah: siapa saja dan pihak mana saja yang paling berkepentingan menentukan upah?  Upah dalam praktek sehari-hari: Komponen, sistem pengupahan dst.

faktor-faktor apa saja yang turut menentukan upah?
 Faktor

eksternal: sejauhmana kaitan antara besaran upah dengan policy politik pemerintah? Siapa saja pelakunya? Apa modusnya? Upah dan investasi (asing). Upah dan global divison of labour  Faktor internal: Sejauhmana kaitan upah dengan praktek outsourcing? Upah dan informalisasi? Upah dan rantai

Upah dan kesejahteraan
 Kesejahteraan

adalah salah satu prasarat survivalitas hidup, kesejahteraan dijamin bila ada income yang diperoleh dari pendapatan yang didapat dari upah sebagai hasil produksi dan hubungan industrial  Sudahkah upah yang diterima sudah memenuhi unsur kesejahteraan buruh? Apa saja ukuran yang dapat dijadikan acuan?  Instrumen apa yang tersedia untuk menyejahterakan buruh dalam hubungan industrial?

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful