BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Pada abad 19, hampir semua penyakit pada medula spinalis disebut mielitis. Dalam Dercum¶s Of Nervous Diseases pada 1895, Morton Prince menulis tentang mielitis trumatik, mielitis kompresif dan sebagainya, yaang agak memberikan kejelasan tentang arti terminologi tersebut. Dengan bertambah majunya pengetahuan neuropatologi, satu persatu penyakit di atas dapat diseleksi hingga yang tergolong benar-benar karena radang saja yang masih tertinggal. Dewasa ini istilah yang digunakan untuk dapat menunjukkan proses radang pada medulla spinalis adalah mielitis. Dan bila mengenai substansia grisea disebut poliomielitis, bila mengenai substansia alba disebut leukomielitis. Dan bila seluruh potongan melintang medula spinalis terserang proses radang maka disebut mielitis transversa. Bila lesinya multipleks dan tersebar sepanjang sumbu vertikel disebut mielitis diseminata atau difusa. Sedang istilah meningomielitis menunjukkan adanya proses radang baik pada meninges maupun medula spinalis, demikian pula denagn meningoradikulitis (meninges dan radiks). Proses radang yang hanya terbatas pada durameter spinalis disebut pakimeningitis dan bahan infeksi yang terkumpul dalam ruang epidural disebut abses epidural atau granuloma. Pembagian mielitis akut, subakut dan kronis berdasarkan perjalanan klinis penyakit yang berlangsung dengan, untuk akut beralngsung untuk sehari, 2 sampai 6 miggu dikatakan subakut serta lebih dari 6 minggu dikatakan sebagai kronik. Diagnosa dapat dilakukan dengan pemeriksaan secara Dilakukan pungsi lumbal , CT scan atau MRI, mielogram serta pemeriksaan darah. Penatalaksanaan hanyalah diberikan terrapin kortikosteroid dosis tinggi selama 10 hari dan penatalaksanaan penyebab mielitis.

1

Tujuan Makalah Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah: 1. gambaran klinis. 2 .B. 2. Sebagai tugas makalah yang diberikan selama menjalankan Program Pendidikan Profesi Dokter (P3D) di Departemen Neurologi. Manfaat Pembuatan Makalah Manfaat pembuatan makalah ini adalah sebagai penambah wawasan mengenai Mielitis. C. dan tatalaksana pada mielitis terutama mielitis transversa. epidemiologi. Mengetahui defenisi.

Kronik : Perjalanan klinis penyakit berkembang dalam waktu lebih dari 6 minggu. mielitis kompresif dan sebagainya. Bila mengenai substansia grisea disebut poliomielitis.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA A. Morton Prince menulis tentang mielitis trumatik. 2. Tetapi Adams dan Victor (1985) menulis bahwa mielitis adalah proses radang infektif maupun non-infektifyang menyebabkan kerusakan pada nekrosis pada substansia grisea dan alba. 3 . satu persatu penyakit di atas dapat diseleksi hingga yang tergolong benar-benar karena radang saja yang masih tertinggal. Dan bila seluruh potongan melintang medula spinalis terserang proses radang maka disebut mielitis transversa. bila mengenai substansia alba disebut leukomielitis. Menurut Plum dan Olsen (1981) serta Banister (1978) mielitis adalah terminologi nonspesifik. Dalam Dercum¶s Of Nervous Diseases pada 1895. Beberapa istilah lain digunakan untuk dapat menunjukkan dengan tepat. Menurut perjalanan klinis antar awitan hingga munculnya gejala klinis mielitis dibedakan atas : 1. distribusi proses radang tersebut. Dengan bertambah majunya pengetahuan neuropatologi. yang artinya tidak lebih dari radang medula spinalis. DEFENISI Pada abad 19. 3. hampir semua penyakit pada medula spinalis disebut mielitis. Akut : Simtom berkembang dengan cepat dan mencapai puncaknya dalam tempo beberapa hari saja. yaang agak memberikan kejelasan tentang arti terminologi tersebut. Sub Akut : Perjalanan klinis penyakit berkembang dalam waktu 2-6 minggu.

Sedang istilah meningomielitis menunjukkan adanya proses radang baik pada meninges maupun medula spinalis. a. demikian pula denagn meningoradikulitis (meninges dan radiks). Poliomielitis. Istilah mielopati digunakan bagi proses noninflamasi medula spinalis misalnya yang disebabkan proses toksis.Bila lesinya multipleks dan tersebar sepanjang sumbu vertikel disebut mielitis diseminata atau difusa. Mielitis sifilitika y y y y Meningoradikulitis kronik (tabes dorsalis) Meningomielitis kronik Sifilis meningovaskular Meningitis gumatosa termasuk pakimeningitis spinal kronik b. Herpes zoster c. metabolik dan nekrosis. Mielitis yang merupakan akibat sekunder akibat sekunder dari penyakit pada meningens dan medula spinals. Rabies d. echovirus b. B. KLASIFIKASI 1. Proses radang yang hanya terbatas pada durameter spinalis disebut pakimeningitis dan bahan infeksi yang terkumpul dalam ruang epidural disebut abses epidural atau granuloma. Mielitis tuberkulosa y y y Penyakit pott dengan kompresi medula spinalis Meningomielitis tuberkulosa Tuberkuloma medula spinalis 4 . Mielitis yang disebabkan oleh virus. Virus B 2. a. group A dan B Coxsackie virus. Mielitis piogenik atau supurativa y y y Meningomielitis subakut Abses epidural akut dan granuloma Abses medula spinalis c. nutrisional.

Virus ini juga termasuk salah satu virus yang terkecil. Infeksi parasit dan fungus yang menimbulkan granuloma epidural. sereblum. batang otak dan dapat pula mengenai mesensefalon.d. Tipe 2 yaitu Lanshing 3. 1. meningitis lokalisata atau meningomielitis dan abses. Terdapat 3 tipe virus polio yaitu: 1. Penyakit ini dilaporkan pada tahun 1840 oleh Jacob Heine lalu kemudian Medin pada tahun 1890 memberikan dasar epidemiologi penyakit ini. jadi ia termasuk virus yang filtrabel. ganglia basal dan motorik korteks serebri. mungkin karana imunitas pasif yang didapat dari ibu. C. Degeneratif atau nekrotik. a. 2. Tipe 1 yaitu Brunhilde. POLIOMIELITIS Poliomielitis anterior akuta (paralisis infantil. Mielitis (mielopati) yang penyebabnya tidak diketahui. 2. Penyakit polio jarang didapatkan pada usia di bawah umur 6 bulan. Kekambuhan sklerosis multipleks akut dan kronik c. Epidemiologi Goar (1955) dalam uraian tentang polio di negeri yang sedang berkembang dengan sanitasi berkesimpulan bahwa epidemi ditemukan 90% pada anak di bawah usia 5 tahun karena itulah dulu disebut paralisis infantil tapi bukan berarti poliomielitis tidak diketemukan pada orang dewasa. Pasca infeksiosa dan pasca vaksinasi b. Etiologi Virus polio adalah virus RNA yang termasuk kelompok enterovirus dan famili pikorna virus. Oleh karena itu dulu penyakit ini dikenal sebagai penyakit Heine-Medin. yang sering menyebakan paralisis. 3. penyakit Heinemedin) adalah suatu penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi virus polio dan mengakibatkan kerusakan pada sel motorik di kornu anterior medula spinalis. Tipe 3 yaitu Leon 5 .

tetapi tidak terdapat kekebalan silang. kehamilan. Masa inkubasi biasanya antara 4-17 hari. tapi bisa sampai 5 minggu. Diduga pada kasus-kasus yang menimbulkan paralisis. Viremia ini tidak menimbulkan gejala (asimtomatik) atau hanya sakit ringan saja. maka timbulnya penyakit polio dapat dicetuskan dengan adanya tindakan operasi pada daerah tenggorokan dan mulut seperti misalnya tonsilektomi dan ekstraksi gigi atau tindakan penyuntikan atau vaksinasi DPT. Setelah masuk kedalam tubuh. Patologi Pada awalnya. virus akan berkembang biak (multiplikasi) di jaringan limfoid tonsil atau pada plak peyer di traktus intestinalis kemudian ia akan menembus dinding usus dan melalui darah akan tersebar ke seluruh tubuh (viremia). 3. 3% mengalami infeksi sistemik. Patogenesis Poliomielitis merupakan penyakit yang sangat menular. kerja fisik yang berat atau keletihan. 95-99% pasien yng terinfeksi virus polio mengalami infeksi subkliik (asimtomatik). Virus ini hanya dapat dimusnahkan dengan cara pengeringan atau pemberian zat oksidator yang kuat seperti peroksida. virus mencapai sistem saraf secara langsung melalui darah atau secara retrograd melalui saraf tepi atau saraf simpatetik atau ganglion sensorik pada tempat ia bermultiplikasi yaitu pada traktus gastrointestinalis atau jaringan ekstraneural yang lain. Bila virus banyak didapat pada suatu daerah. Perubahan ini diikuti dengan multiplikasi virus dalam SSP lalu perubahan pada sel saraf ini berkembang dengan cepat diikuti dengan disintegrasi 6 . 4. Menurut Adams dan Victor (1985) dan Gilroy Dan Meyer (1979). 1% yang mengalami meningitis aseptik dan hanya 1% yang mengalami poliomielitis paralitik. atau kalium permanganat.Virus ini akan menimbulkan 3 macam antibodi. invasi virus menimbulkan reaksi inflamasi dengan kromatolisis substansia Nissi sel saraf. virus masuk ke dalam tubuh melalui saluran orofarings setelah ditularakan melalui cara oral-fekal.

Bentuk ini sering dijumpai pada anak-anak tapi pada penderita yang berusia lebih dari 15 tahun jarang dijumpai. Virus polio mempunyai predileksi pada kornu anterior medula spinalis. Pada fase kedua ini di jumpai gejala seperti fase pertama (prodromal) disertai dengan gejala neurologik ringan sakit kepala hebat. POLIOMIELITIS PREPARALITIK ATAU NONPARALITIK Setelah gejala prodormal seperti di atas dialami selama 3-4 hari lalu gejala tadi akan merada. dalam hal ini timbul gejala infeksi sistemik ringan karena terjadi viremia. Kemudian dapat dijumpai pula yang disebut poliomielitis abortif. timbullah gejala fase kedua. mialgia bertambah hebat. pilek. malaise. demam. anoreksia ) Semua gejala di atas tidak khas. talamus dan hipotalamus dan area motorik korteks serebri. Bentuk gejala seperti ini disebut difasik. Gambaran Klinis Seperti telah disebutkan di atas sebagian besar (95-99%) kasus poliomielitis merupakan infeksi subklinis atau asimtomatik. spasme otot fleksor paha. nyeri dan kaku pada otot kuduk dan punggung. batuk. erektor trunsi sehingga anak tidak 7 . muntah.Nukleus dan kemudian sel neuron mengalami nekrosis atau lisis komplet. Atrofi dan paralisis akan menetap bila kurang dari 10% neuron pada medula spinalis yang bersangkutan yang masih baik. mialgia atau faringitis ) Gastroenteritis ( mual. serebelum. 5. bila dari sikap berbaring ia hendak duduk maka kedua lutut akan fleksi sedang kedua lengan dalam sikap ekstensi pada sendi siku untuk dipakai menunjang kebelakang pada tempat tidur (tanda tripod). batang otak. Diagnosis pasti hanya dapat dibuat bila virus ditemukan pada usapan tenggorokan atau fese. Pada anak-anak. Gejala infeksi sistemik ringan ini seperti: y y Flu ( sakit kepala. dan setelah -10 hari penderita merasa lebih enak. Tanda ini timbul karena adanya spasme pada otot-otot paravertebral. namun infeksi ini telah mampu menimbulkan kekebalan alami. konstipasi diare.

Kelumpuhan otot wajah sering pula dijumpai. dari hapusan tenggorokan. Kadar protein berkisar antara 30-120 mg/100 ml pada minggu pertama tapi jarang melampaui 150 mg/100 ml. 6. Bentuk Bulbar sering menyebabkan kelumpuhan otot pada N. Empat puluh delapan jam setelah suhu kembali normal. Peningkatan jumlah sel mencapai puncaknya pada minggu pertama kemudian akan kembali normal setelah 2 atau 3 minggu. Pada stadium prepalitik atau paralitik dini lebih banyak ditemukan leukosit PMN tapi setelah 72 jam lebih banyak ditemukan limfosit. likuor dan fese.dapat melakukan gerak antefleksi kolumna vertebralis waktu hendak melakukan gerak dari berbaring ke sikap duduk. kadar protein yang meninggi ini bertahan selama 3-4 minggu. Ekstremitas inferior lebih sering terkena poliomielitis menimbulkan lebih berat pada otot-otot proksimal. 8 . bulbar (bulbospinal) dan ensefalitik. Yang paling berbahaya pada bentuk bulbar ini adalah pernafasan. Pemeriksaan likuor serebrospinalis menunjukkan adanya pleositosis. Laboratorium Virus polio dapat diisolasi dan dibiakkan dalam jaringan. Pola kelumpuhan bervariasi tapi hampir pasti tidak simetris. tapi kelumpuhan otot okuler jarang ditemukan. Paralisis timbul dalam waktu yang sangat cepat (beberapa jam-48 jam atau lebih lambat (10-12hari).IX dan X sehingga menimbulkan gangguan menelan dan disfonia. darah. biasanya tidak terdapat lagi progresivitas kelumpuhan. POLIOMIELITIS PARALITIK Secara klasik poliomielitis paralitik dibedahkan atas bentuk spinal. Disamping itu tanda tripod dapat pula dijumpai tanda kepala terkulai (Head Drop) yaitu bila penderita yang dalam sikap berbaring hendak kita tegakkan dengan cara menarik kedua ketiak atau lengan maka kepala penderita akan terkulai kebelakang (retrofleksi). jumlah sel berkisar antara 10-3000/ mm3 sedangkan tekanan tidak meningkat. kadar protein sedikit meninggi dan kadar glukosa serta elektrolit normal.

human 9 . transversal hanya menggambarkan posisi peradangan. Serangan peradangan bisa merusak atau menghancurkan myelin. influenza. sitomegalovirus. herpes simpleks. Ini menyebabkan kerusakan sistem saraf yang mengganggu inpuls antara saraf-saraf di sumsum tulang belakang dan seluruh tubuh. Meskipun hanya beberapa studi telah meneliti tingkat insiden. diperkirakan bahwa sekitar 1. dari sumsum tulang belakang. 2. termasuk untuk cacar dan rabies serta idiopatik. Agen infeksi yang dicurigai menyebabkan myelitis transversa termasuk varicella zoster. dan sekitar 33. yaitu. penyakit Lyme. reaksi kekebalan yang abnormal. atau segmen. Faktor predisposisi pada keluarga tidak jelas. 3. dan di semua ras. MIELITIS TRANSVERSA AKUT 1. Myelitis Transversa juga dapat terjadi sebagai komplikasi sifilis. Epidemiologi Myelitis Transversa terjadi pada orang dewasa dan anak-anak. Definisi Myelitis Transversa adalah kelainan neurologis yang disebabkan oleh peradangan di kedua sisi dari satu tingkat. Etiologi Para peneliti tidak yakin mengenai penyebab pasti transversa myelitis. campak. di seberang lebar dari sumsum tulang belakang. Epstein-Barr. Istilah myelitis mengacu pada radang sumsum tulang belakang. atau tidak cukup aliran darah melalui pembuluh darah yang terletak di sumsum tulang belakang. substansi lemak yang meliputi isolasi sel serabut saraf.400 kasus baru didiagnosis myelitis melintang setiap tahun di Amerika Serikat. echovirus.000 orang Amerika memiliki beberapa jenis kecacatan akibat gangguan ini. Myelitis transversa sering berkembang akibat infeksi virus.D. dan beberapa vaksinasi. di kedua jenis kelamin. Peradangan yang menyebabkan kerusakan yang luas pada medulla spinalis dapat diakibatkan oleh infeksi virus. Sebuah puncaknya pada tingkat insiden (jumlah kasus baru per tahun) tampaknya terjadi antara 10 dan 19 tahun dan 30 dan 39 tahun.

tampaknya memainkan peran penting dalam menyebabkan kerusakan pada saraf tulang belakang.immunodeficiency virus (HIV). atau iskemik. Meskipun peneliti belum mengidentifikasi mekanisme yang tepat bagaimana terjadinya cedera tulang belakang dalam kasus ini. 10 . 3. Pada penyakit autoimun. Pembuluh darah membawa oksigen dan nutrisi ke jaringan saraf tulang belakang dan membawa sisa metabolik. hepatitis A. mereka tidak dapat memberikan jumlah yang cukup sarat oksigen darah ke jaringan saraf tulang belakang. sel saraf dan serat mungkin mulai memburuk relative dengan cepat. dan rubella. Bakteri infeksi kulit. punya penyakit jantung. mungkin rangsangan sistem kekebalan sebagai respon terhadap infeksi menunjukkan bahwa reaksi kekebalan tubuh mungkin bertanggung jawab.menyebabkan kerusakan myelin dalam sumsum tulang belakang Beberapa kasus myelitis transversa akibat dari malformasi arteriovenosa spinal (kelainan yang mengubah pola-pola normal aliran darah) atau penyakit pembuluh darah seperti aterosklerosis yang menyebabkan iskemia. Iskemia dapat terjadi di dalam sumsum tulang belakang akibat penyumbatan pembuluh darah atau mempersempit. Ketika arterivenosus menjadi menyempit atau diblokir. sistem kekebalan tubuh. atau baru saja menjalani operasi dada atau abdominal. dan Mycoplasma pneumonia. Kerusakan ini dapat menyebabkan peradangan luas. yang biasanya melindungi tubuh dari organisme asing. atau faktor-faktor lain yang kurang umum. infeksi telinga tengah (otitis media). penurunan tingkat normal oksigen dalam jaringan sumsum tulang belakang. dalam beberapa kasus. Patogenesis Pasca-kasus infeksi mekanisme sistem kekebalan tubuh yang aktif akibat virus atau bakteri. Kebanyakan orang yang mengembangkan kondisi sebagai akibat dari penyakit vaskular melewati usia 50. kadang-kadang menyebabkan myelitis transversal. keliru menyerang jaringan tubuh sendiri. menyebabkan inflamasi dan. Ketika wilayah tertentu dari sumsum tulang belakang menjadi kekurangan oksigen.

empat ciri-ciri klasik myelitis transversa yang muncul: (1) kelemahan kaki dan tangan. demam. atau kesemutan) di kaki. Dari berbagai macam gejala. sehingga pakaian atau sentuhan ringan dengan jari signifikan menyebabkan rasa tidak nyaman atau sakit (suatu 11 . Tergantung pada segmen tulang belakang yang terlibat. Awalnya. dan kehilangan nafsu makan. (3) perubahan sensorik. dan (4) disfungsi pencernaan dan kandung kemih. tiba-tiba paresthesias (sensasi abnormal seperti membakar.4. atau pembakaran untuk menggambarkan gejala mereka. sakit kepala. Paraparesis sering berkembang menjadi paraplegia. Kebanyakan pasien akan mengalami berbagai tingkat kelemahan di kaki mereka. dan paraparesis (kelumpuhan parsial kaki). Gejala awal biasanya mencakup lokal nyeri punggung bawah. (2) nyeri. Dan mengakibatkan gangguan genitourinary dan defekasi. hilangnya sensorik. Sampai 80 persen dari mereka yang myelitis transversa memiliki kepekaan yang meningkat. sensasi yang memancarkan bawah kaki atau lengan atau di sekitar dada. menggelitik. dingin. perasaan umum tidak nyaman. beberapa pasien mungkin juga akan mengalami masalah pernapasan. menusuk. yang mengharuskan pasien untuk menggunakan kursi roda. Banyak pasien juga melaporkan mengalami kejang otot. Nyeri adalah gejala utama dari myelitis transversa pada sepertiga sampai setengah dari semua pasien. Rasa sakit dapat dilokalisasi di punggung bawah atau dapat terdiri dari tajam. beberapa juga mengalaminya di lengan mereka. Gambaran klinis Myelitis transversa dapat bersifat akut (berkembang selama jam sampai beberapa hari) atau subakut (berkembang lebih dari 2 minggu hingga 6 minggu). kesemutan. orang-orang dengan myelitis transversal mungkin menyadari bahwa kaki mereka tampak lebih berat dari biasanya. Pasien yang mengalami gangguan sensoris sering menggunakan istilah istilah seperti mati rasa. Perkembangan penyakit selama beberapa minggu sering mengarah pada kelumpuhan penuh dari kaki.

diikuti oleh mati rasa dan kelemahan otot kaki yang akan menjalar ke atas. inkontinensia. 5. jenis kelumpuhannya adalah flaksid serta pola gangguan sensibilitasnya di samping mengenai kedua tungkai juga terdapat pada kedua lengan. Pungsi lumbal dapat dilakukan pada mielitis transversa biasanya tidak didapati blokade aliran likuor. Lesi kompresi medula spinalis dapat dibedakan dari mielitis karena perjalanan penyakitnya tidak akut sering didahului dengan nyeri segmental sebelum timbulnya lesi parenkim medula spinalis. infeksi epidural dan polineuritis pasca infeksi akut (Sindrom Guillain Barre). Selain itu pada pungsi lumbal 12 . Berbeda dengan sindrom Guillain Barre di mana dijumpai peningkatan kadar protein tanpa disertai pleositosis. Banyak juga mengalami peningkatan sensitivitas terhadap perubahan suhu yang ekstrem atau panas atau dingin. 6. dan sembelit. Diagnosa Mielitis transversa harus dibedakan dari mielopati komprensi medula spinalis baik karena proses neoplasma medula spinalis intrinsik maupun ekstrensik.keadaan yang disebut allodynia). Perjalanan penyakit Gejala biasanya dimulai dengan nyeri punggung yang timbul secara tibatiba. Selama perjalanan penyakit. Lokasi terhambatnya impuls saraf pada medula spinalis menentukan beratnya gejala yang timbul. pleositosis moderat (antara 20-200 sel/mm3) terutama jenis limfosit. sebagian besar orang dengan myelitis transversa akan mengalami satu atau beberapa gejala. protein sedikit meninggi (50-120 mg/100 ml) dan kadar glukosa normal. Dan pada sindrom Guillain Barre. kesulitan buang air kecil. Gangguan pada genitourinary dan gastrointestinal mungkin melibatkan peningkatan frekuensi dorongan untuk buang air kecil atau buang air besar. Gejala tersebut bisa semakin memburuk dan jika menjadi berat akan terjadi kelumpuhan serta hilangnya rasa disertai dengan hilangnya pengendalian pencernaan dan kandung kemih. ruptur diskus intervertebralis akut.

8 mg/kg/hari dalam waktu 30 menit. 7. Bila terjadi hiperhidrosis dapat diberikan propantilinbromid 15 mg sebelum tidur. Glukokortikoid dapat diberikan dalam bentuk prednison oral 1 mg/kg berat badan/hari sebagai dosis tunggal selama 2 minggu lalu secara bertahap dan dihentikan setelah 7 hari. Konstipasi dengan pemberian laksan. Penatalaksanaan Pemberian glukokortikoid atau ACTH. Pencegahan dekubitus dilakukan dengan alih baring tiap 2 jam. Bila tidak dapat diberikan per oral dapat pula diberikan metil prednisolon intravena dengan dosis 0. penderita diberi diet rendah garam dan simetidin 300 mg 4 kali/hari atau ranitidin 150 mg 2kali/hari. 13 . Disamping terapi medikamentosa maka diet nutrisi juga harus diperhatikan. Setelah masa akut berlalu maka tonus otot mulai meninggi sehingga sering menimbulkan spasme kedua tungkai. lalu 20 unit dua kali per hari (selama 4hari) dan 20 unit dua kali per hari (selama 3 hari). Untuk mencegah efek samping kortikosteroid. hal ini dapat diatasi dengan pemberian Baclofen 15-80 mg/hari. atau diazepam 3-4 kali 5 mg/hari. mielogram serta pemeriksaan darah. 125 gram protein. Pemasangan kateter diperlukan karena adanya retensi urin. 1 gram tiap malam). Selain itu ACTH dapat diberikan secara intramuskular denagn dosis 40 unit dua kali per hari (selama 7 hari). vitamin dosis tinggi dan cairan sebanyak 3 liter per hari diperlukan. Selain itu sebagai alternatif dapat diberikan antasid per oral. biasanya diberikan pada penderita yang datang dengan gejala awitanya sedang berlangsung dalam waktu 10 hari pertama atau bila terjadi progresivitas defesit neurologik. Dilakukan pungsi lumbal .dijumpai blokade aliran likuor dengan kadar protein yang meningkat tanpa disertai adanya sel. CT scan atau MRI. Rehabilitas harus dimulai sedini mungkin untuk mengurangi kontraktur dan mencegah komplikasi tromboemboli. dan untuk mencegah terjadinya infeksi traktus urinarius dilakukan irigasi dengan antiseptik dan pemberian antibiotik sebagai prolifilaksis (trimetroprim-sulfametoksasol.

A. 2. Gangguan sensibilitas C. Gejala biasanya dimulai dengan nyeri punggung yang timbul secara tibatiba. A. B. diikuti oleh mati rasa dan kelemahan otot kaki yang akan menjalar ke atas. Sub Akut : Perjalanan klinis penyakit berkembang dalam waktu 2-6 minggu. Gejala tersebut bisa semakin memburuk dan jika menjadi berat akan terjadi kelumpuhan serta hilangnya rasa disertai dengan hilangnya pengendalian pencernaan dan kandung kemih. Gangguan genitourinaria & defekasi y Segmen medulla spinalis yang sering terkena antara segmen thoracal 2 ± thorakal 6 14 . mialgia. y Perjalanan penyakit akut. malaise. 3. Akut : Simtom berkembang dengan cepat dan mencapai puncaknya dalam tempo beberapa hari saja. Perjalanan penyakit y Pasca infeksi / pasca vaksinasi mulai timbul deficit neurology setelah 5 ± 10 hari. Kronik : Perjalanan klinis penyakit berkembang dalam waktu lebih dari 6 minggu. Kelemahan ekstremitas B.BAB 3 KESIMPULAN Menurut perjalanan klinis antar awitan hingga munculnya gejala klinis mielitis dibedahkan atas : 1. Deficit neurologik berupa. 50% timbul dalam waktu 12 jam 75% timbul dalam waktu 24 jam y y Mula mula berupa demam.

8 mg/kg/hari dalam waktu 30 menit. Pemberian glukokortikoid atau ACTH. biasanya diberikan pada penderita yang datang dengan gejala awitanya sedang berlangsung dalam waktu 10 hari pertama atau bila terjadi progresivitas defesit neurologik. CT scan atau MRI. Selain itu sebagai alternatif dapat diberikan antasid per oral 15 .Diagnosa dapat dilakukan dengan pemeriksaan secara Dilakukan pungsi lumbal . lalu 20 unit dua kali per hari (selama 4hari) dan 20 unit dua kali per hari (selama 3 hari). Glukokortikoid dapat diberikan dalam bentuk prednison oral 1 mg/kg berat badan/hari sebagai dosis tunggal selama 2 minggu lalu secara bertahap dan dihentikan setelah 7 hari. Selain itu ACTH dapat diberikan secara intramuskular denagn dosis 40 unit dua kali per hari (selama 7 hari). Untuk mencegah efek samping kortikosteroid. mielogram serta pemeriksaan darah. penderita diberi diet rendah garam dan simetidin 300 mg 4 kali/hari atau ranitidin 150 mg 2kali/hari. Bila tidak dapat diberikan per oral dapat pula diberikan metil prednisolon intravena dengan dosis 0.

McGraw-Hill.Cetakan ke 2 .html Sidharta. Available from : http://www. Transverse Myelitis Fact Sheet Available from : http://www.com/doc/2581918/KerrCurrent-therapy-chapter-withfigures?secret_password=&autodown=pdf National Institute of Neurological disorder and stroke. 2000.scribd. Transverse Myelitis.DAFTAR PUSTAKA Christine Weile.ninds.com/mmpe/sec16/ch224/ch224b. 1985. Victor and Adam.gov/disorders/transversemyelitis/detail_transversemye litis. Adam and Victor`s Principals of Neurology 7th Edition.com/pmr/topic6. 16 . 2009. Acute transverse myelitis. Jakarta. Available from : http://www.nih.htm. 2009. 2001.htm The Merck Manuals Online Medical Library: The Merck Manual for Healthcare Professionals. 2008. Acute Poliomyelitis.emedicine.merck. Priguna. Johnson et all. Neurologi Klinis Dalam Praktek Umum.Available from : http://www.