1

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah Alam Indonesia kaya akan beraneka ragam tumbuhan yang merupakan salah satu sumber senyawa kimia alam hayati yang dikenal dengan istilah “Natural Product Chemistry”. Tumbuhan merupakan gudang bahan kimia yang paling lengkap. Berpuluh-puluh bahkan mungkin beribu-ribu komponen kimia terkandung di dalam tumbuhan. Ada komponen kimia yang bersifat racun, ada juga yang bersifat menyembuhkan penyakit sehingga digunakan sebagai obat. Pencarian bioaktif yang berasal dari tumbuhan tropis selalu mendapat perhatian, terutama jenis tumbuhan yang memiliki nilai ekonomi sebagai bahan obat-obatan seperti: antikanker, antibakteri, antivirus, antioksidan, dan antiAIDS. Senyawa bioaktif seperti golongan alkaloid merupakan senyawa organik yang memiliki keaktifan fisiologis yang berguna sebagai bahan baku obat. Meniran (Phyllanthus niruri L.) adalah salah satu tumbuhan yang sangat potensial sebagai penghasil obat. Bagi sebagian besar masyarakat pedesaan, tumbuhan meniran sudah cukup dikenal sebagai salah satu tumbuhan liar yang berkhasiat mengobati. Akan tetapi, pengetahuan mereka tentang khasiat meniran hanya sedikit saja. Setelah meniran diuji secara klinis oleh tim kedokteran dari berbagai belahan dunia, akademisi mengetahui bahwa meniran adalah salah satu kekayaan alam yang terabaikan atau bahkan kurang dapat perhatian selama ini. Meniran merupakan salah satu jenis tumbuhan yang sering digunakan oleh masyarakat untuk obat. Menurut Heyne (1987), tumbuhan ini di daerah Jawa disebut “meniran” dikarenakan bentuk buahnya seperti menir (butiran beras). Tumbuhan ini merupakan terna semusim, tumbuh liar di hutan, di ladang, semaksemak, sepanjang jalan, pinggir sungai, pinggir pantai, tanah berumput, gembur atau bebatuan pada dataran rendah sampai pada ketinggian 1.000 m diatas permukaan laut.

2

Selain tempuyung, meniran atau menir juga merupakan tumbuhan liar berkhasiat mengobati yang sering dibuang ketika membersihkan pekarangan. Hanya masyarakat di pedesaan yang sudah mengenal meniran sebagai tumbuhan bermanfaat bagi kesehatan. Tidak sedikit dari mereka sebagai pengguna jamu mengkonsumsi meniran. Apabila kita berada di pekarangan rumah yang dipenuhi rerumputan, maka kita akan menemukan tumbuhan liar yang mirip dengan pohon asam kecil “bonsai”. Tingginya tidak lebih dari dua jengkal tangan. Meniran merupakan satu dari banyak tumbuhan obat yang terdapat di Indonesia yang mampu meningkatkan ketahanan tubuh. Pada saat banyak penyakit sulit disembuhkan dengan obat modern dan memerlukan biaya yang cukup tinggi, pengobatan dengan bahan-bahan alami bisa menjadi alternatif penyembuhan yang tidak kalah manjur. Apalagi saat ini banyak tumbuhan obat tradisional sudah diuji secara klinik untuk mengetahui komposisi, kandungan, dan efek farmakologinya. Dibandingkan obat-obatan dokter dengan resep ketat, pengobatan dengan bahan tumbuhan ini relatif aman dan tidak berefek samping yang membahayakan (Jaka Sulaksana, 2004). Selain itu, tumbuhan obat bisa juga dibudidayakan untuk keperluan pengobatan dan menjaga kesehatan seumur hidup. Menurut banyak literatur dan jurnal, lebih dari 1.000 jenis tumbuhan obat di Indonesia, termasuk meniran sudah diteliti. Kekayaan tumbuhan obat yang berasal dari berbagai tipe ekosistem hutan sudah diidentifikasi dan diinventarisasi sebanyak 1.845 jenis. Hal ini sangat membantu pengadaan bahan baku obat tradisional di negeri ini. Seperti diketahui, 90% bahan baku obat-obatan modern berasal dari luar negeri. Beberapa jenis penyakit yang terbilang baru di dunia kedokteran yang menggemparkan dunia, seperti kanker dan SARS, diketahui dapat dilawan dengan mengkonsumsi tumbuhan meniran, baik daun, batang, maupun akarnya. Sementara beberapa jenis penyakit berat, seperti: hepatitis dan demam berdarah, juga dapat ditanggulangi dengan ramuan yang salah satunya menggunakan

3

meniran. Beberapa pengalaman penderita penyakit telah membuktikan khasiat meniran. 1.2. Ruang Lingkup Masalah Tumbuhan meniran telah diketahui mengandung senyawa flavonoid dan saponin, namun kandungan kimia lainnya belum diketahui. Pada umumnya tumbuhan meniran yang dapat digunakan sebagai obat mempunyai rasa yang pahit dan pada umumnya alkaloid-alkaloid yang mengandung atom N memiliki rasa pahit dan juga mempunyai aktifitas fisiologis yang juga dapat digunakan menjadi obat. Penelitian ini akan mencoba melihat apakah ada senyawa alkaloid dari tumbuhan meniran (Phyllanthus niruri L) dengan menggunakan pelarut etanol. 1.3. Batasan Masalah Penelitian ini dibatasi pada isolasi dan identifikasi senyawa alkaloid dari tumbuhan meniran dengan metode ekstraksi sokhletasi dengan menggunakan pelarut etanol. Ekstrak etanol dilanjutkan dengan identifikasi cara uji kimia dengan uji warna HNO3 dan pereaksi Mayer, Dragendorff, Wagner, dan Bouchardat dan dengan Spektrofotometer IR dan GC–MS. 1.4. Rumusan Masalah Alkaloid merupakan suatu senyawa yang bersifat basa karena memiliki pasangan elektron bebas pada unsur N. Sebagai basa, alkaloid biasanya diekstraksi dari tumbuhan dengan menggunakan pelarut alkohol di dalam kondisi asam. Dengan demikian alkaloid dapat bereaksi dengan asam. Maka yang menjadi rumusan masalah adalah: “Adakah senyawa alkaloid dalam ekstrak etanol?” 1.5. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: 1. Mengisolasi alkaloid dari tumbuhan meniran dengan metode ekstraksi sokhletasi.

4

2. Melakukan uji kualitatif senyawa alkaloid dari tumbuhan meniran dengan uji kimia. 3. Mengidentifikasi alkaloid hasil isolasi dengan spektrofotometer IR dan GC–MS. 1.6. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat : 1. Sebagai pelatihan bagi peneliti untuk memisahkan senyawa bahan alam. 2. Sebagai pengetahuan dasar bagi peneliti lanjutan tentang jenis alkaloid. 3. Sebagai informasi ilmiah pada bidang kimia bahan alam dan pada bidang farmasi dalam upaya pengembangan kimia alkaloid dalam tumbuhan meniran sebagai obat. 4. Untuk lebih memperkuat nilai ilmiah dari khasiat yang dimiliki oleh tumbuhan meniran sebagai obat alami.

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tumbuhan Meniran 2.1.1. Asal-Usul dan Penyebaran Meniran adalah tumbuhan yang sebenarnya tumbuh liar dan mudah ditemui di pekarangan rumah, kebun, atau hutan. Meniran tumbuh subur di tempat lembab dan berbatu, seperti di tepi sungai, pantai, semak, lahan bekas sawah, ladang, tanah terlantar diantara rumput atau selokan. Tumbuhan ini merupakan salah satu dari 700 jenis genus Phyllanthus yang banyak tumbuh di Asia seperti Indonesia, China, Filipina, dan India. Tumbuhan ini berasal dari Asia tropik yang tersebar di seluruh daratan Asia termasuk Indonesia. Kini tumbuhan ini tersebar ke benua Afrika, Amerika, dan Australia. Meniran tumbuh di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut. Beberapa jenis tumbuhan ini sudah digunakan sejak 2.000 tahun lalu untuk pengobatan tradisional Ayurveda di India. Beberapa genus Phyllanthus yang memiliki khasiat menyembuhkan diantaranya Phyllanthus urinaria, Phyllanthus niruri, dan Phyllanthus amarus. Di daerah tertentu, meniran dikenal dengan nama lokal setempat, misalnya child pick a back (Inggris), chamber pitter (Alabama, USA), quebra pedra (Brazil), pitirishi/budhatari (India), hurricane weeds (Bahama), dukung anak (Malaka), stone breaker (Amerika Selatan), zhen chu cao, ye xia zhu (China), meniran (Jawa), dan gasau madungi (Ternate). (Jaka Sulaksana, 2004) Di Indonesia dikenal dalam beberapa nama daerah, seperti: Sumatera Jawa Sulawesi Maluku : ba’me tano, sidukung anak, dudukung anak, baket sikolop : meniran ijo, meniran merah, memeniran : bolobungo, sidukung anak : gosau ma dungi, gosau ma dungi roriha, belalang bahiji

(Agus dan Fauji, 2004)

6

2.1.2. Morfologi dan Karakteristik Botani Iklim tropis merupakan syarat tumbuh bagi meniran. Tumbuhan meniran memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. Batang tumbuhan tidak bergetah, basah, tumbuh tegak, bercabang, berbentuk bulat, tinggi 30 – 50 cm, dan berwarna hijau muda. 2. Daun bersirip genap dan setiap satu tangkai terdiri dari daun majemuk yang mempunyai ukuran kecil berbentuk bulat telur. Panjang 5 mm dan lebar 3 mm. Pada bagian bawah daun terdapat bintik berwarna kemerahan. 3. Bunga melekat pada ketiak daun dan menghadap ke arah bawah. Warna bunga putih kehijauan. Bunga ini tumbuh subur sekitar bulan April – Juni. 4. Buah berbentuk bulat pipih berdiameter 2 – 2,5 mm, licin, berbiji seperti bentuk ginjal, keras, dan berwarna cokelat. Buah tumbuh sekitar bulan Juli – November. 5. Akar meniran berbentuk tunggang (tap root), yaitu akar utama yang pada umumnya merupakan pengembangan radikula lembaga, tumbuh tegak ke bawah, dan bercabang. Pada tumbuhan meniran dewasa, panjang akar dapat mencapai 6 cm. Warna akar putih kekuningan. Akar meniran berfungsi untuk memperkuat berdirinya tumbuhan serta menyerap air dan unsur hara. (Jaka Sulaksana, 2004) 2.1.3. Klasifikasi Botani Meniran yang banyak ditemukan di Indonesia adalah Phyllanthus niruri dan Phyllanthus urinaria. Perbedaan keduanya terdapat pada warna batangnya. Phyllanthus niruri berwarna hijau pucat, sedangkan Phyllanthus urinaria berwarna hijau kemerahan. Keduanya memiliki daun yang kecil dan lonjong. Tumbuhan meniran termasuk dalam famili Euphorbiaceae. Klasifikasi meniran sebagai berikut:

7

Kingdom Subkingdom Superdivisi Divisi Kelas Subkelas Ordo Famili Genus Spesies

: : : : : : : : : :

Plantae Tracheobionta Spermatophyta Magnoliophyta Magnoliopsida Rosidae Euphorbiales Euphorbiaceae Phyllanthus Phyllanthus niruri L.

Gambar 2.1. Tumbuhan Meniran

2.1.4. Efek Farmakologi Meniran merupakan salah satu tumbuhan yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Khasiatnya telah terbukti ampuh mengobati penyakit hepatitis. Selain mengobati lever yang terkena serangan virus hepatitis, meniran juga terkenal sebagai pembangkit libido. Khasiat lainnya adalah peluruh air seni, gangguan saluran pernapasan, kencing manis, diare, demam, penyakit kelamin, dan cacar.

8

Penelitian terbaru tentang meniran mengungkapkan bahwa tumbuhan ini bisa membantu mencegah berbagai macam infeksi virus dan bakteri serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Pada intinya, selain berkhasiat sebagai antikanker, meniran juga berkhasiat sebagai imunoterapi atau terapi adjuven mendampingi obat kanker lainnya. (Jaka Sulaksana, 2004) Meniran berbatang hijau kemerahan (Phyllanthus urinaria) ataupun meniran berbatang hijau pucat (Phyllanthus niruri) mempunyai khasiat yang hampir sama. Secara etnomedisinal, meniran digunakan masyarakat di berbagai belahan dunia. Di Indonesia sendiri, meniran telah digunakan secara turuntemurun dan diyakini dapat menyembuhkan penyakit malaria, sariawan, mencret, sampai nyeri ginjal. Bila dicampur dengan pegagan, meniran bisa digunakan untuk mengobati kencing batu. Sementara di Thailand, meniran dimanfaatkan untuk mengobati demam dan sebagai deuretik. Dalam pengobatan tradisional India (ayurveda) yang telah digunakan selama lebih dari 2.000 tahun yang lalu, meniran secara luas dimanfaatkan untuk pengobatan penyakit kuning (jaundice), diabetes, kencing nanah, gangguan menstruasi, serta gangguan pada kulit seperti bengkak dan gatal-gatal. Di India, secangkir rebusan daun meniran diminum untuk mengobati diare. Hal ini mungkin disebabkan oleh daun meniran yang mengandung senyawa-senyawa antibakteri seperti filantin, hipofilantin, nirantin, dan nirtetralin. (Jaka Sulaksana, 2004) Di Amerika Selatan, meniran digunakan untuk mengatasi oedema, kelebihan asam urat, pengobatan batu ginjal, batu empedu, flu, dan demam. Di samping itu, digunakan juga sebagai deuretik dan infeksi saluran kemih. Orangorang Peru menggunakan meniran untuk menghancurkan dan mengeluarkan batu ginjal dan batu empedu. Hal ini juga dipercaya dapat merangsang poduksi empedu dan meningkatkan fungsi hati serta kandung empedu. Sering juga ditemukan, rebusan meniran yang dicampur dengan air jeruk dipakai sebagai tonikum untuk penderita lever dan diabetes. Selain itu manfaat lain dari meniran adalah mengobati sakit maag, melancarkan air seni, menghancurkan batu ginjal, menghancurkan batu empedu, mengobati sakit malaria, menghilangkan nyeri

9

haid, menurunkan berat badan, menghilangkan jerawat, menyembuhkan sakit gigi, antitusif (pereda batuk), menyembuhkan luka bakar, dan mengobati sakit ayan. (Jaka Sulaksana, 2004) 2.1.5. Kandungan Kimia Pada Botani Khasiat meniran tidak terlepas dari kandungan kimianya. Adapun kandungan kimia tumbuhan meniran adalah: Lignan, terdiri dari filantin, hipofilantin, nirantin, nirtetralin, nirfilin, filtetralin, lintetralin, isotetralin, dan filnirurin. Flavonoid, terdiri dari kuersetrin, isokuersetrin, rutin, astragalin, nirurin, dan nirutenin. Alkaloid, terdiri dari sekurinin, norsekurinin, filantosida. Steroid, terdiri dari estradiol dan sitosterol. Lipid, terdiri dari asam risinoleat, asam linoleat, asam linolenat, asam detriankontanoat. (Jaka Sulaksana, 2004) 2.2. Alkaloid Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh senyawa alkaloid berasal dari tumbuhtumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Semua alkaloid mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang biasanya bersifat basa dan dalam sebagian besar atom nitrogen ini merupakan bagian dari cincin heterosiklik. Pada waktu yang lampau sebagian besar sumber alkaloid adalah pada tumbuhan berbunga, angiosperma (Familia Leguminoceae, Papavraceae, Ranunculaceae, Rubiaceae, Solanaceae, Berberidaceae) dan juga pada tumbuhan monokotil (Familia Solanaceae dan Liliaceae). Pada tahun-tahun berikutnya penemuan sejumlah besar alkaloid terdapat pada hewan, serangga, organisme laut, mikroorganisme dan tumbuhan rendah. Beberapa contoh yang terdapat pada berbagai sumber adalah isolasi muskopiridin dari sebangsa rusa; kastoramin dari sejenis musang Kanada; turunan Pirrol-Feromon seks serangga; Saksitoksin-

10

Neurotoksik konstituen dari Gonyaulax catenella; pirosiamin dari bacterium Pseudomonas aeruginosa; khanoklavin-I dari sebangsa cendawan, Claviceps purpurea; dan likopodin dari genus lumut Lycopodium. Karena alkaloid sebagai suatu kelompok senyawa yang terdapat sebagian besar pada tumbuhan berbunga, maka para ilmuwan sangat tertarik pada sistematika aturan tumbuhan. Kelompok tertentu alkaloid dihubungkan dengan famili atau genus tumbuhan tertentu. Berdasarkan sistem Engler dalam tumbuhan yang tinggi terdapat 60 order. Sekitar 34 daripadanya mengandung alkaloid. 40% dari semua famili tumbuhan paling sedikit mengandung alkaloid. Namun demikian, dilaporkan hanya sekitar 8,7% alkaloid terdapat pada disekitar 10.000 genus. Kebanyakan famili tumbuhan yang mengandung alkaloid yang penting adalah Liliaceae, Solanaceae dan Rubiaceae. Famili tumbuhan yang tidak lazim yang mengandung alkaloid adalah Papaveraceae. Dalam kebanyakan famili tumbuhan yang mengandung alkaloid, beberapa genus mengandung alkaloid sedangkan genus yang lain tidak mengandung alkaloid. Suatu genus sering menghasilkan alkaloid yang sama, dan bahkan beberapa genus yang berbeda dalam suatu famili dapat mengandung alkaloid yang sama. Sebagai contoh hiossiamin diperoleh dari tujuh genus yang berbeda dari famili tumbuhan Solanaceae. Di lain pihak alkaloid yang lebih kompleks, seperti vindolin dan morfin, sering terdapat dalam jumlah yang terbatas pada satu spesies atau genus tumbuhan. Di dalam tumbuhan yang mengandung alkaloid, alkaloid mungkin terlokasi (terkonsentrasi) pada jumlah yang tinggi pada bagian tumbuhan tertentu. Sebagai contoh: reserpin terkonsentrasi pada akar (hingga dapat diisolasi) Rauvolfia sp; Quinin terdapat dalam kulit, tidak pada daun Cinchona ledgeriana; dan morfin terdapat pada getah atau latex Papaver samniferum. Pada bagian tertentu tumbuhan tidak mengandung alkaloid tetapi bagian tumbuhan yang lain sangat kaya alkaloid. Namun ini tidak berarti bahwa alkaloid yang dibentuk di bagiam tumbuhan tersebut. Sebagai contoh dalam species Datura dan Nicotiana dihasilkan dalam akar tetapi ditranslokasi cepat ke daun, selain itu alkaloid juga dalam biji (Nux vomica, Areca catechu), buah (Piperis nigri ), daun (Atropa

11

belladona), akar dan rhizoma (Atrpa belladona dan Euphorbia ipecacuanhae) dan pada kulit batang (Cinchona succirubra). Fungsi alkaloid ini bermacam-macam diantaranya sebagai racun untuk melindungi tumbuhan dari serangga dan binatang, sebagai hasil akhir dari reaksi detoksifikasi yang merupakan hasil metabolit akhir dari komponen yang membahayakan bagi tumbuhan, sebagai faktor pertumbuhan tanaman dan cadangan makanan. (http://nadjeeb.files.wordpress.com/2009/03/alkaloid.pdf) Hampir semua alkaloid yang ditemukan di alam mempunyai keaktifan biologis tertentu, ada yang sangat beracun tetapi ada pula yang sangat berguna dalam pengobatan. Misalnya kuinin, morfin, dan stiknin adalah alkaloid yang terkenal dan mempunyai efek fisiologis dan psikologis. Alkaloid dapat ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan seperti biji, daun, ranting dan kulit batang. Alkaloid umumnya ditemukan dalam kadar yang kecil dan harus dipisahkan dari campuran senyawa yang rumit yang berasal dari jaringan tumbuhan. 2.2.1. Klasifikasi Senyawa Alkaloid Alkaloid tidak mempunyai tatanama sistematik, oleh karena itu, suatu alkaloid dinyatakan dengan nama trivial, misalnya kuinin, morfin, dan stiknin. Hampir semua nama trivial ini berakhiran –in yang mencirikan alkaloid. Sistem klasifikasi menurut Hegnauer, alkaloid dikelompokkan sebagai: a. Alkaloid sesungguhnya Alkaloid sesungguhnya adalah racun, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas fisiologi yang luas, hampir tanpa terkecuali bersifat basa; lazim mengandung nitrogen dalam cincin heterosiklik; diturunkan dari asam amino; biasanya terdapat “aturan” tersebut adalah kolkhisin dan asam aristolokhat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki cincin heterosiklik dan alkaloid quartener, yang bersifat agak asam daripada bersifat basa. b. Protoalkaloid Protoalkaloid merupakan amin yang relatif sederhana dimana nitrogen dan asam amino tidak terdapat dalam cincin heterosiklik. Protoalkaloid

12

diperoleh berdasarkan biosintesis dari asam amino yang bersifat basa. Pengertian ”amin biologis” sering digunakan untuk kelompok ini. Contohnya adalah meskalin, ephedin dan N,N-dimetiltriptamin. c. Pseudoalkaloid Pseudoalkaloid tidak diturunkan dari prekursor asam amino. Senyawa biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloid yang penting dalam khas ini, yaitu alkaloid steroidal. Contohnya: konessin dan purin (kaffein). Berdasarkan atom nitrogennya, alkaloid dibedakan atas: a. Alkaloid dengan atom nitrogen heterosiklik Dimana atom nitrogen terletak pada cincin karbonnya. Yang termasuk pada golongan ini adalah: 1. Alkaloid Piridin-Piperidin Mempunyai satu cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen. Struktur inti:
Reduksi N Piridin N H Piperidin

Golongan ini dibagi dalam 4 sub golongan: Turunan Piperidin, meliputi piperini yang diperoleh dari Piperis Nigri Fructus; yang berasal dari tumbuhan Piperis nigri (famili: Piperaceae) berguna sebagai bumbu dapur. Turunan Propil-Piperidin, meliputi konini yang diperoleh dari Conii Fructus; yang berasal dari tumbuhan Canium maculatum (famili: Umbelliferae) berguna sebagai antispasmodik dan sedatif. Turunan Asam Nikotinan, meliputi arekolin yang diperoleh dari Areca Semen; yang berasal dari tumbuhan Areca catechu (famili: Palmae) berguna sebagai anthelmentikum pada hewan.

13

-

Turunan Pirinin dan Pirolidin, meliputi nikotin yang tobaccum (famili: Solanaceae) berguna sebagai

diperoleh dari Nicoteana Folium; yang berasal dari tumbuhan Nicotiana antiparasit, insektisida, dan antitetanus. 2. Alkaloid Tropan Mengandung satu atom nitrogen dengan gugus metilnya (N-CH3). Alkaloid ini dapat mempengaruhi sistem saraf pusat termasuk yang ada pada otak maupun sumsum tulang belakang. Struktur inti: N CH3

-

Hiosiamin dan Skopolamin

Berasal dari tumbuhan Datura stramonium, D. Metel (fam: Solanaceae), tumbuh pada daerah yang memiliki suhu yang panas, daun dan bijinya mengandung alkaloid Skopolamin; berfungsi sebagai antispasmodik dan sedatif. Kokain ini berfungsi sebagai analgetik narkotik yang Senyawa

menstimulasi pusat syaraf, selain itu juga berfungsi sebagai antiemetik dan midriatik. Zat ini bersal dari daun tumbuhan Erythroxylum coca, E. Rusby dan E. Novogranatense (fam: Erythroxylaceae). Kokain lebih banyak disalahgunakan (drug abuse) oleh sebagian orang dengan nama-nama yang lazim dikalangan sebagainya. Atropin, Apotropin, dan Belladonina Atropa dari bahasa Yunani yaitu terdiri dari kata “Atropos” yang berarti tidak dapat dibengkokkan atau disalahgunakan, ini mereka seperti snow, shabu-shabu, crak dan

14

disebabkan karena belladona merupakan obat yang sangat beracun dan dapat menyebabkan kematian.
3. Alkaloid Quinolin

Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen. Struktur inti:

N

-

Kinina, Kinidina, Sinkonidin, Sinkonidina

Senyawa ini pada umumnya berguna sebagai antimalaria, alkaloid ini terdapat pada kulit batang (cotex) dari tumbuhan Cinchona succirubra (famili: Rubiaceae). Ada beberapa jenis dari Cinchona diantaranya C. Calisaya yang berwarna kuning berasal dari Peru dan Bolivia, C. Officinalis dan C. Ledgeriana lebih banyak di Indonesia yang ditanam di pulau Jawa. Akronisina Berasal dari kulit batang tumbuhan Acronychia bauery (famili: Rutaceae), berfungsi sebagai antineoplastik yang telah diuji cobakan pada hewan dan diharapkan mampu merupakan obat yang efektif untuk kemoterapi neoplasma pada manusia. Camptothecin Diperoleh dari buah, sebagian kayu atau kulit dari pohon Camptotheca acuminata (famili: Nyssaceae), suatu pohon yang secara endemik tumbuh di daratan Cina. Ekstrak dari tumbuhan ini ternyata mempunyai keaktifan terhadap leukemia limpoid. Viridicatin Merupakan subtansi antibiotik dari mycelium jamur Penicillium viridicatum (famili: Aspergillaceae), senyawa ini aktif untuk semua jenis Plasmodium (kecuali P. vivax) penyebab malaria.

15

Penggunaan

senyawa

ini

memiliki

efek

samping

berupa

Cindronism yaitu pendengaran berkurang.
4. Alkaloid Isoquinolin

Mempunyai 2 cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen. Struktur inti:

N

-

Morfin

Morfin diperoleh dari biji dan buah tumbuhan Papaver somniferum dan P. Bracheatum (famili: Papaveraceae) Emetina Senyawa ini berfungsi sebagai emetik dan ekspektoran, diperoleh dari akar tumbuhan Cephaelis ipecacuanha dan C. Acuminata (famili: Rubiaceae) Hidrastina dan Karadina Senyawa ini berasal dari tumbuhan Hydrastis canadensis (famili: Ranunculaceae) dikenal pula sebagai Yellowroot; bagian yang digunakan berupa umbi akar berkhasiat sebagai adstrigensia pada radang selaput lendir. Beberina Berupa akar dan umbi akar dari tumbuhan Berberis vulgaris (dari Oregon), B. Amition (dari Himalaya), dan B. aristaca (India) dari famili: Berberidaceae yang berguna sebagai zat pahit/amara dan antipiretik. 5. Alkaloid Indol Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 cincin indol.

16

Struktur inti:

N H

-

Reserpina

Merupakan hasil ekstraksi dari akar tumbuhan Rauwolfia serpentine dari suku Apocynaceae yang terkadang bercampur dengan fragmen rhizima dan bagian batang yang melekat padanya. Senyawa ini berfungsi sebagai antihipertensi. Vinblastina, Vinleusina, Vinrosidina, Vinkristina Diperoleh dari tumbuhan Vinca rosea, Catharanthus roseus (famili: Apocynaceae) berupa herba yang berkhasiat sebagai antitumor. Striknina dan Brusina Berasal dari tumbuhan Strychnos nux-vomica dan S. ignatii (famili: Loganiaceae) yang terdapat di Filipina, Vietnam dan Kamboja. Bagian tanaman yang diambil berupa ekstrak biji yang telah kering dengan khasiat sebagai tonikum dalam dosis yang kecil sedangkan dalam pertanian digunakan sebagai ratisida (racun tikus). Fisostigmina dan Eserina Simplisianya dikenal dengan nama Calabar bean, ordeal bean, chop nut dan split nut berupa biji dari tumbuhan Physostigma venenosum (famili: Leguminosae) yang berkhasiat sebagai konjungtiva pengobatan glaukoma. Ergotoksina, Ergonovina, dan Ergometrina Alkaloid ini asalnya berbeda dibandingkan dengan yang lain, sebab berasal dari jamur yang menempel pada sejenis tumbuhan gandum

17

yang

kemudian

dikeringkan.

Jamur

ini

berguna

sebagai

vasokonstriktor untuk penyakit migrain yang spesifik dan juga sebagai oxytoksik. Kurare Diperoleh dari kulit batang Stricnos crevauxii, C. Castelnaci, C. Toxifera (fam: Loganiaceae) dan Chondodendron tomentosum (famili: Menispermaceae) yang berguna sebagai relaksan pada otot. 6. Alkaloid Imidazol Berupa cincin karbon mengandung 2 atom nitrogen. Struktur inti:
N N H

Lingkaran Imidazol merupakan inti dasar dari pilokarpin yang berasal dari daun tumbuhan Pilocarpus jaborandi atau Jaborandi rermambuco, P. Microphylus atau J. marashm, dan P. Pinnatifolius atau J. Paraguay dari famili: Rutaceae yang berkhasiat sebagai konjungtiva pada penderita glaukoma. 7. Alkaloid Lupinan Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom N, Struktur inti:

N

Alkaloid ini ditemukan pada Lunpinus luteus, Cytisus scopartus (famili: Leguminocaea) dan Anabis aphylla (famili: Chenopodiaceae)

18

berupa daun tumbuhan yang telah dikeringkan berkhasiat sebagai oksitoksik. 8. Alkaloid Steroid Mengandung 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen dan 1 rangka steroid yang mengandung 4 cincin karbon. Struktur inti:
CH3 CH3

Alkaloid steroid terbagi atas 3 golongan yaitu: Golongan I : Sevadina, Germidina, Germetrina, Neogermetrina, Gemerina, Neoprotoperabrena, Veletridina. Golongan II : Pseudojervina, Veracrosina, Isorobijervosina. Golongan III : Germina, Germidina, Germitrina, Protoveratrin, Sevadina, Jervina, Rubijervina, Isoveratromina, Banyak ditemukan pada famili: Solanaceae, Zigadenus venenosus. 9. Alkaloid Amina Golongan ini tidak mengandung N heterosiklik. Banyak yang merupakan tutrunan sederhana dari feniletilamin dan senyawasenyawa turunan dari asam amino fenilalanin atau tirosin. Struktur inti:

19

HO NH2

NH2 COOH

Feniletilamin

Fenilalanin

-

Efedrina

Berasal dari herba tumbuhan Ephedra distachya, E. Sinica dan E. Equisetina (famili: Gnetaceae) berguna sebagai bronkodilator. Kolkisina Alkaloid ini berasal dari biji tumbuhan Colchicum autumnalei (famili: Liliaceae) berguna sebagai antineoplasmik dan stimulan SSP, selain pada biji kormus (pangkal batang yang ada di dalam tanah) tumbuhan ini juga mengandung alkaloid yang sama. d-Norpseudo Efedrina Alkaloid ini diperoleh dari daun-daun segar tumbuhan Catha edulis (famili: Celastraceae). Nama lain dari tumbuhan ini adalah Khat atau teh Abyssina, tumbuhan ini berupa pohon kecil atau semak-semak yang berasal dari daerah tropik Afrika Timur. Khasiat dari simplisia ini adalah stimulan pada SSP. Meskalina Diperoleh dari sejenis tumbuhan cactus Lophophora williamsii (famili: Cactaceae) dikenal dengan nama Peyote yang dapat menyebabkan halusinasi dan euphoria. 10. Alkaloid Purin Mempunyai 2 cincin karbon dengan 4 atom nitrogen. Struktur inti:

20

N N

N N H

Susunan inti heterosiklik yang terdiri dari cincin pirimidin yang tergabung dengan Imidazole Kafeina (1,3,7 trimetil Xanthin) Alkaloid ini diperoleh dari biji kopi Coffe arabica, C. Liberica (famili: Rubiaceae) mengandung kafein. Aksi dari kopi pada prinsipnya di dasarkan pada daya kerja kafein, yang bekerja pada susunan syaraf pusat, ginjal, otot-otot jantung. Selain tumbuan kopi ada tumbuhan lain yang juga mengandung caffein seperti camellia sinensis (famili: Theaceae), cola nitida
(famili: Starculiaceae).
O H3C N N CH3 Kafeina CH3 N N

O

-

Theobromina (3,7 dimetil Xanthin) dari biji tumbuhan Theobroma cacao (famili:

Diperoleh
O HN O N CH3

Sterculaceae) yang berguna sebagai diuretik dan stimulan SSP.
CH3 N N

Theobromina

21

-

Theofilina (1,3 dimetil Xanthin)

Merupakan isomer dari Theobromina yang berguna sebagai bronkodilator dan diuretik.
O H3C N N CH3 Theofilina H N N

O

b.

Alkaloid tanpa atom nitrogen yang heterosilik

Dimana, atom nitrogen tidak terletak pada cincin karbon tetapi pada salah satu atom karbon pada rantai samping. 1. Alkaloid Efedrin (Alkaloid Amina) Mengandung 1 atau lebih cincin karbon dengan atom Nitrogen pada salah satu atom karbon pada rantai samping. Termasuk Mescalin dari Lophophora williamsii, Trichocereus pachanoi, Sophora secundiflora, Agave americana, Agave atrovirens, Ephedra sinica, Cholchicum autumnale. 2. Alkaloid Capsaicin Dari Chile peppers, genus Capsicum. Yaitu: Capsicum pubescens, Capsicum baccatum, Capsicum annuum, Capsicum frutescens, Capsicum chinense. Klasifikasi alkaloid dapat dilakukan berdasarkan beberapa cara yaitu: 1. Berdasarkan jenis cincin heterosiklik nitrogen yang merupakan bagian dari struktur molekul. Berdasarkan hal tersebut, maka alkaloid dapat dibedakan atas beberapa jenis seperti alkaloid pirolidin, alkaloid piperidin, alkaloid isokuinolin, alkaloid kuinolin dan alkaloid indol. Struktur masing-masing alkaloid tersebut adalah sebagai berikut:

22

N H Pirolidin

N H Piperidin Isokuinolin

N

N Kuinolin Indol

N H

2. Berdasarkan jenis tumbuhan dari mana alkaloid ditemukan. Cara ini digunakan untuk menyatakan jenis alkaloid yang pertama-tama ditemukan pada suatu jenis tumbuhan. Berdasarkan cara ini, alkaloid dapat dibedakan atas beberapa jenis yaitu alkaloid tembakau, alkaloid amaryllidaceae, alkaloid erythrine dan sebagainya. Cara ini mempunyai kelemahan yaitu: beberapa alkaloid yang berasal dari suatu tumbuhan tertentu dapat mempunyai struktur yang berbedabeda. 3. Berdasarkan asal-usul biogenetik. Cara ini sangat berguna untuk menjelaskan hubungan antara berbagai alkaloid yang diklasifikasikan berdasarkan berbagai jenis cincin heterosiklik. Dari biosintesa alkaloid, menunjukkan bahwa alkaloid berasal dari hanya beberapa asam amino tertentu saja. Berdasarkan hal tersebut, maka alkaloid dapat dibedakan atas tiga jenis utama yaitu: a. Alkaloid alisiklik yang berasal dari asam-asam amino omitin dan lisin. b. Alkaloid aromatik jenis fenilalanin yang berasal dari fenilalanin, tirosin dan 3,4-dihidrofenilalanin. c. Alkaloid aromatik jenis indol yang berasal dari triptofan.

23

Sebagian besar alkaloid mempunyai kerangka dasar polisiklik termasuk cincin heterosiklik nitrogen serta mengandung substituen yang tidak terlalu bervariasi. Atom nitrogen alkaloid hampir selalu berada dalam bentuk gugus amin (-NR2) atau gugus amida (-CO-NR2) dan tidak pernah dalam bentuk gugus nitro (NO2) atau gugus diazo. Sedangkan substituen oksigen biasanya ditemukan sebagai gugus fenol (-OH), metoksi (-OCH3) atau gugus metilendioksi (-O-CH2-O). Substituen-substituen oksigen ini dan gugus N-metil merupakan ciri sebagian besar alkaloid. Pada alkaloid aromatik terdapat suatu pola oksigenasi tertentu. Pada senyawa-senyawa ini gugus fungsi oksigen ditemukan dalam posisi para atau posisi para dan meta dari cincin aromatik. Sistem klasifikasi yang paling banyak diterima adalah menurut Hegnauer, dimana alkaloid dikelompokkan atas: 1. Alkaloid Sesungguhnya Alkaloid ini merupakan racun, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas fisiologis yang luas, hampir tanpa terkecuali bersifat basa, umumnya mengandung nitrogen dalam cincin heterosiklik, diturunkan dari asam amino, biasanya terdapat dalam tanaman sebagai garam asam organik. Beberapa pengecualian terhadap aturan tersebut adalah kolkhisin dan asam aristolokhat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki cincin heterosiklik dan alkaloid quarterner yang bersifat agak asam daripada bersifat basa. 2. Protoalkaloid Protoalkaloid merupakan amin yang relatif sederhana dimana nitrogen asam amino tidak terdapat dalam cincin heterosiklik. Protoalkaloid diperoleh berdasarkan biosintesa dari asam amino yang bersifat basa. Pengertian amin biologis sering digunakan untuk kelompok ini. Contohnya adalah meskalin, ephedin, dan N, N-dimetiltriptamin.

24

3. Pseudoalkaloid Pseudoalkaloid tidak diturunkan dari prekursor asam amino. Senyawa ini biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloid yang penting dalam kelompok ini yaitu alkaloid steroidal (contohnya: konessin), dan purin (contohnya: kafein). 2.2.2. Sifat Fisika dan Kimia Alkaloid Pada umumnya alkaloid mempunyai 1 atom N meskipun ada beberapa yang memiliki lebih dari 1 atom N seperti pada Ergotamin yang memiliki 5 atom N. Atom N ini dapat berupa amin primer, sekunder maupun tersier yang semuanya bersifat basa (tingkat kebasaannya tergantung dari struktur molekul dan gugus fungsionalnya). Kebanyakan alkaloid yang telah diisolasi berupa padatan kristal tidak larut dengan titik lebur yang tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Sedikit alkaloid yang berbentuk amorf dan beberapa seperti; nikotin dan koniin berupa cairan. Kebanyakan alkaloid tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa yang kompleks, species aromatik berwarna (contoh berberin berwarna kuning dan betanin berwarna merah). Pada umumnya, basa bebas alkaloid hanya larut dalam pelarut organik, meskipun beberapa pseudoalkalod dan protoalkaloid larut dalam air. Garam alkaloid dan alkaloid quartener sangat larut dalam air. Kegunaan alkaloid bagi tumbuhan adalah sebagai pelindung dari serangan hama, penguat tumbuhan dan pengatur kerja hormon. Alkaloid sangat penting dalam industri farmasi karena kebanyakan alkaloid mempunyai efek fisiologis. Kebanyakan alkaloid berupa padatan kristal dengan titik lebur yang tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Dapat juga berbentuk amorf dan beberapa seperti nikotin dan koniin berupa cairan. Kebanyakan alkaloid tak berwarna, tetapi beberapa senyawa kompleks spesies aromatik berwarna. Pada umumnya basa bebas alkaloid hanya larut dalam pelarut organik meskipun beberapa Pseudoalkaloid dan Protoalkaloid larut dalam air. Garam alkaloid dan alkaloid quarterner sangat larut dalam air.

25

Alkaloid bersifat basa yang tergantung pada adanya pasangan elektron pada nitrogen. Jika gugus fungsional yang berdekatan dengan nitrogen bersifat melepaskan elektron maka ketersediaan elektron pada nitrogen naik dan senyawa lebih bersifat basa. Sebagai contoh: gugus alkil. Hingga trietilamin lebih basa daripada dietilamin dan senyawa dietilamin lebih basa daripada etilamin. Sebaliknya, bila gugus fungsional yang berdekatan bersifat menarik elektron (contoh: gugus karbonil), maka ketersediaan pasangan elektron berkurang dan pengaruh yang ditimbulkan alkaloid dapat bersifat netral atau bahkan bersifat sedikit asam. Sebagai contoh: senyawa yang mengandung gugus amida. Kebasaan alkaloid menyebabkan senyawa tersebut sangat mudah mengalami dekomposisi terutama oleh panas dan sinar dengan adanya oksigen. Hasil reaksi ini sering berupa N-oksida. Dekomposisi alkaloid selama atau setelah isolasi dapat menimbulkan berbagai persoalan jika penyimpanan berlangsung dalam waktu lama. Pembentukan garam dengan senyawa organik atau anorganik sering mencegah dekomposisi. Secara umum sifat-sifat senyawa alkaloid: Alkaloid mengandung atom C, H, O dan pada umumnya juga mengandung atom N Alkaloid memiliki rasa pahit sebagai rasa yang khas, aktif secara fisiologis dan sebagian sangat beracun Alkaloid dapat dikristalisasi dan beberapa diantaranya mempunyai bentuk amorf Alkaloid yang membentuk kristal umumnya berwarna putih Alkaloid dengan asam akan membentuk garam yang akan larut dalam air, tetapi hampir tidak larut dalam pelarut organik Alkaloid akan dibebaskan dari garamnya dengan penambahan alkali Alkaloid memperlihatkan tipe stereoisomer dan umumnya bersifat optis aktif Alkaloid dapat diendapkan oleh reagent Mayer, Wagner, Dragendorff, dan Bouchardat

26

2.3. Alkohol Alkohol sebagai senyawa yang dapat dianggap turunan dari air. Hal ini dapat dilihat dari struktur molekul air dari alkohol. Alkohol terjadi jika satu atom hidrogen dari air diganti gugus alkil atau aril.
H O H R O H

air

alkohol

2.3.1. Klasifikasi Alkohol Berdasarkan strukturnya alkohol dapat digolongkan menjadi alkohol primer, alkohol sekunder, dan alkohol tersier. 1. Alkohol primer (10) adalah alkohol yang gugus hidroksil (-OH) terikat pada atom karbon primer. Atom karbon primer adalah atom karbon yang hanya mengikat satu atom karbon lain. Contoh: CH3 CH2 etanol (10) 2. Alkohol sekunder (20) adalah alkohol dimana gugus hidroksil terikat pada atom karbon sekunder. Atom karbon sekunder adalah atom karbon yang mengikat dua atom karbon lain. Contoh: CH3 CH CH3 2-propanol (20) OH atom karbon sekunder OH atom karbon primer

27

3. Alkohol tersier (30) adalah alkohol dimana gugus hidroksil terikat pada atom karbon tersier. Atom karbon tersier adalah atom karbon yang mengikat tiga atom karbon lain. Contoh: CH3 CH3 CH CH3 2-metil-2-propanol (30) 2.3.2. Sifat-Sifat Alkohol Alkohol dapat membentuk ikatan hidrogen antara molekul-molekulnya, maka titik didih alkohol lebih tinggi daripada titik didih alkil halida atau eter yang bobot molekulnya sebanding. Alkohol berbobot molekul rendah larut dalam air, kelarutan dalam air ini langsung disebabkan oleh ikatan hidrogen antara alkohol dan air. Bagian hidrokarbon suatu alkohol bersifat hidrofob yakni menolak molekul-molekul air. Makin panjang bagian hidrokarbon ini akan makin rendah kelarutan alkohol dalam air. Bila rantai hidrokarbon cukup panjang, sifat hidrofob ini dapat mengalahkan sifat hidrofil (menyukai air) gugus hidroksil. Percabangan meningkatkan kelarutan alkohol dalam air. Bertambah banyaknya gugus –OH juga menaikkan hidrofilitas dan kelarutan. (Fessenden, 1983) 1. Metanol (metil alkohol) • • • • • • Memiliki rumus molekul CH3OH Memiliki berat molekul 32,07 Memiliki titik didih 64,50C Larut sempurna dalam air Bersifat racun bila dibandingkan dengan etanol Memiliki rumus molekul C2H5OH OH atom karbon tersier

2. Etanol (etil alkohol)

28

• • • •

Memiliki berat molekul 46,07 Memiliki titik didih 78,30C Larut sempurna dalam air Biasa disebut “alkohol” untuk minuman keras

2.4. Uji Kualitatif Senyawa Alkaloid Beberapa pereaksi pengendapan digunakan untuk memisah-misahkan jenis alkaloid. Pereaksi sering didasarkan pada kesanggupan alkaloid untuk bergabung dengan logam yang memiliki berat atom tinggi seperti merkuri, bismut, tungsten, atau jood. Pereaksi-pereaksi yang sering digunakan untuk mengidentifikasi senyawa alkaloid yaitu pereaksi Dragendorff, pereaksi Mayer, pereaksi Wagner, pereaksi Bouchardat, dan pereaksi HNO3. • Pereaksi Dragendorff mengandung kalium jodida dan bismut nitrat dalam asam klorida pekat yang akan memberikan endapan warna merah bata. • • Pereaksi Mayer mengandung merkuri klorida dan kalium jodida yang Pereaksi Bouchardat mirip dengan pereaksi Wagner dan mengandung akan memberikan endapan warna putih. kalium jodida dan jood. Kedua pereaksi ini akan memberikan endapan warna coklat untuk senyawa alkaloid. • Adanya senyawa alkaloid pada tumbuhan dapat juga diuji dengan HNO3 pekat. Pereaksi ini akan memberikan warna larutan menjadi merah. Tabel pereaksi warna dan pengendapan untuk senyawa alkaloid Pereaksi Larutan Warna 1. HNO3 pekat Pengendapan 1. Dragendorff 2. Wagner Merah Merah bata Coklat Warna Endapan

29

3. Mayer 4. Bouchardat

-

Putih Coklat

2.5. Peralatan Yang Digunakan Untuk Identifikasi 2.5.1. Kromatografi Kolom Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Pada kromatografi, komponen-komponennya akan dipisahkan antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat. Kromatrografi kolom menunjukkan adanya prinsip yang sama dengan kromatografi lapis tipis yang dapat diterapkan pada skala besar untuk pemisahan campuran. Kromatografi kolom seringkali digunakan untuk pemurnian senyawa di laboratorium. Berbagai ukuran kolom dapat digunakan, dimana hal utama yang dipertimbangkan adalah kapasitas yang memadai untuk menerima sampel-sampel tanpa melalui fase diamnya. Merupakan aturan praktis yang umum bahwa panjang kolom harus sekurang-kurangnya 10 kali dari ukuran diameternya. Bahan pengemasnya suatu adsorban seperti alumina atau resin penukar ion, dimasukkan dalam bentuk suspensi ke dalam porsi fase gerak dan dibiarkan diam di dalam hamparan basah dengan sedikit cairan. 2.5.2. Kromatografi Lapis Tipis Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu kromatografi yang berdasarkan adsorbsi, tahapan analisis kromatografi lapis tipis sama seperti pada kromatografi kertas. Kelebihan kromatografi lapis tipis dibandingkan dengan kromatografi kertas adalah waktu elusi yang relatif lebih pendek dan dapat digunakan untuk analisis kuantitatif.

30

Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponen-komponennya. Deteksi noda pada kromatografi lapis tipis terkadang lebih mudah dari pada kromatografi kertas karena noda tidak berwarna atau tidak berpendar jika dikenai sinar UV (ultraviolet) dan dapat ditampakkan dengan cara papan pengembang uap iod akan bereaksi dengan komponen. Komponen sampel baik secara kimia atau berdasarkan kelarutan membentuk warna-warna tertentu. (http://www.greenhati.blogspot.com/2009/01/kromatografi-lapis-tipis.html) Adsorban dilapiskan pada lempeng kaca yang bertindak sebagai fase diam. Fase gerak akan merayap sepanjang fase diam dan terbentuklah kromatogram kecepatan tinggi. Kelebihan kromatografi lapis tipis yang lain adalah pemakaian pelarut dan cuplikan yang jumlahnya sedikit dan mudah untuk memperoleh kembali senyawasenyawa yang terpisahkan. Kromatografi lapis tipis menunjukkan berbagai gerakan pelarut, pelarut mengalir ke atas melalui lapisan, menguap dari lapisan sebelah bawah garis pelarut dan terserap oleh lapisan di sebelah atas garis depan. Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara menaik (ascending) atau karena pengaruh gravitasi pada pengembangan secara menurun (descending). (Ibnu Gholib Gandjar, 2007) Sampel yang berupa campuran senyawa organik diteteskan di dekat salah satu lempengan dalam bentuk larutan dengan jumlah kecil. Noda sampel dikeringkan, kemudian sisi lempengan tersebut dicelupkan ke dalam fase gerak yang sesuai. Pelarut organik naik di sepanjang lapisan tipis zat padat di atas lempengan dan bersamaan dengan pergerakan pelarut tersebut zat terlarut sampel dibawa dengan laju yang tergantung pada kelarutan zat terlarut tersebut dalam fase gerak dan interaksinya dengan zat padat. Setelah garis depan pelarut bergerak sekitar 10 cm, lempengan dikeringkan dan noda-noda zat terlarutnya diperiksa seperti pada kromatografi kertas. Pemisahan dapat dikerok dari lempengan dengan

31

menggunakan spatula. Zat terlarutnya akan terelusi dari bahan padat bersamasama pelarutnya dan konsentrasi dari larutan ditentukan dengan spektrofotometer. Sifat umum dari penyerap-penyerap untuk kromatografi lapis tipis adalah mirip dengan sifat-sifat penyerap untuk kromatografi kolom. Dua sifat yang penting untuk penyerap adalah besar partikel dan homogenitasnya karena adhesi terhadap penyokong sangat bergantung kepada kedua sifat itu. Contoh penyerap yang digunakan untuk pemisahan dalam kromatografi lapis tipis ialah silika gel atau alumina. Silika gel kebanyakan digunakan dengan diberi pengkilat (binder) yang dimaksud untuk memberikan kekuatan pada lapisan dan menambah adhesi pada gelas penyokong. Silika ini digunakan untuk memisahkan asam amino, alkaloid, gula, asam, lemak, lipida, minyak essensial, anion dan kation organik, sterol dan terpenoid. Selain silika ada juga penyerap lainnya seperti alumina, bubuk selulosa, pati, dan sphadex. Harga Rf merupakan parameter karakteristik kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis. Harga ini merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu senyawa pada kromatogram dan pada kondisi konstan merupakan besaran karakteristik dan reprodusibel. Harga Rf didefenisikan sebagai perbandingan antara jarak senyawa dari titik awal dan jarak tepi muka pelarut dari titik awal. Rf = jarak titik tengah noda dari titik awal / jarak tepi muka pelarut dari titik awal Faktor-faktor yang mempengaruhi harga Rf adalah: Pelarut atau fase bergerak Sifat dari penyerap Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap Ukuran dari bejana Derajat kejenuhan dari uap dalam bejana yang digunakan Jumlah cuplikan yang digunakan Suhu dan kesetimbangan Struktur kimia dari senyawa yang dipisahkan

32

Yang menyebabkan warna dari senyawa-senyawa pada kromatografi lapis tipis adalah perbedaan tingkat kepolaran warna dari senyawa-senyawa yang sejauh mana tingkat kepolaran itu mempengaruhi perbedaan atau pemisahan yang ditandai dengan tebentuknya spot-spot senyawa dalam kromatografi lapis tipis itu tergantung dari migrasi pelarut (fase gerak) terhadap fase diamnya, yaitu kromatografi lapis tipis tersebut. 2.5.3. Spektroskopi Infra Merah Spektroskopi infra merah adalah salah satu metode yang sangat penting dalam kimia modern, terutama dalam analisis struktur senyawa organik. Spektra IR memberikan informasi tentang jenis gugus fungsional yang terdapat dalam suatu senyawa sehingga dapat diperkirakan gugus-gugus apa saja yang terkandung dalam senyawa tersebut. Inframerah mempunyai λ yang lebih panjang dibanding UV–Vis, sehingga tenaga radiasinya lebih kecil. Tenaga infra merah hanya dapat menyebabkan vibrasi ikatan pada molekul. Energi vibrasi dari kebanyakan molekular adalah berhubungan dengan infra merah dari spektrum elektromagnetik. Bila sinar infra merah dilewatkan melalui senyawa organik maka sebagian dari frekuensi sinar diserap, dan yang lain diteruskan ataupun ditransmisikan. Frekuensi adsorbsi IR dilaporkan sebagai bilangan gelombang atau wave number yaitu jumlah gelombang per cm. Bagian utama dari spektrofotometri infra merah adalah sumber cahaya infra merah, monokromator, dan detektor. Cahaya dari sumber dilewatkan melalui cuplikan, dipecah menjadi frekuensi dalam monokromator yang diukur oleh detektor. Banyaknya gugus identik dalam sebuah molekul mengubah kuat reaktif pita absorbsinya dalam suatu spektrum. Misalnya, suatu gugus tunggal dalam sebuah molekul menghasilkan absorbs yang agak kuat, sedangkan absorbsi suatu gugus CH tunggal relatif lemah. Tetapi jika suatu senyawa mempunyai banyak ikatan CH, maka efek gabungan dari absorbsi CH ini adalah akan menghasilkan suatu puncak yang bersifat medium bahkan kuat. Gugus fungsi yang akan dicari

33

dari senyawa yang telah diisolasi adalah gugus fungsi : N – H (3.400 cm -1), C = O (1.640 cm-1), C = C (1.500 cm-1), CH3 (1.380 cm-1), C – H (1.200 cm-1), C – O (1.160 cm-1), C – H (880 cm-1). 2.5.4. Kromatografi Gas – Spektroskopi Massa (GC – MS) Spektroskopi massa terdiri dari beberapa komponen yaitu sistem masukan cuplikan, sumber ion, penganalisis massa, detektor sinyal dan rekorder. Sistem pemasukan cuplikan dapat dan berasal dari kromatografi gas disebut gas. Gabungan (Gas spektrofotometer massa kromatografi GC–MS

Chromatography Mass Spectroscopy). Spektra massa merupakan output dari pengukuran spektroskopi massa. Metode spektroskopi massa ini didasarkan pada pengubahan komponen cuplikan menjadi ion-ion gas dan memisahkannya berdasarkan perbandingan massa terhadap muatan (m/e). Bila suatu molekul berbentuk gas disinari oleh elektron berenergi tinggi di dalam sistem hampa maka terjadi ionisasi ion molekul tak stabil pecah menjadi ion-ion yang lebih kecil. Lepasnya elektron dari molekul menghasilkan radikal kation (M+). Ion molekular M+ biasanya terurai menjadi sepasang pecahan/fragmen yang dapat berupa radikal dan ion atau molekul yang kecil dan radikal kation, M+ m+1 + m-2 atau m+1 + m. Ion-ion molekular, ion-ion pecahan dan ion-ion radikal pecahan dapat dipisahkan oleh pembelokan dalam medan magnet yang dapat berubah sesuai dengan massa dan muatan mereka dan menimbulkan arus ion pada kolektor yang sebanding dengan limpahan relatif mereka. Dalam penelitian akan ditentukan massa senyawa yang telah diisolasi, puncak dasar dan fragmen-fragmen molekul. Spektrum massa merupakan rangkaian puncak-puncak yang berbeda-beda tingginya. Puncak yang paling tinggi dari spektrum massa disebut base peak. Spektrum massa fragmen-fragmen yang kecil berasal dari tumbukan-tumbukan elektron dengan molekul induk. Jadi, spektrum massa dipakai untuk menentukan berat molekul atau rumus molekul atau juga mengidentifikasi senyawa dari pola fragmentasinya. Pola fragmentasi

34

dipergunakan untuk mengidentifikasi senyawa, juga memungkinkan terhadap pengenalan gugus fungsi dengan melihat puncak-puncak fragmentasi spesifik.

BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimen dengan tahaptahap sebagai berikut: penyediaan sampel, test kualitatif secara uji fitokimia dengan menggunakan pereaksi-pereaksi untuk senyawa alkaloid, isolasi dan identifikasi senyawa alkaloid dari tumbuhan meniran. 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di laboratorium kimia FMIPA UNIMED dan menggunakan spektroskopi IR dan GC–MS di laboratorium kimia instrumen FMIPA UPI Bandung. Penelitian ini dimulai bulan Agustus – Oktober 2010. 3.3. Populasi dan Sampel • Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tumbuhan meniran yang ada di kota Medan.

35

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tumbuhan meniran yang ada di Kecamatan Medan Perjuangan.

3.4. Alat dan Bahan 3.4.1. Alat • Batang pengaduk • Batang statif • Beaker glass • Corong Buchner • Corong kaca • Corong pisah • Erlenmeyer • GC–MS Shimadzu QP 5050A • Gelas ukur • Kondensor refluks • Labu alas bulat 3.4.2. Bahan • Biji meniran (500 g) • Aquades • Bismut subnitrat (p.a) • Metanol (p.a) • NH4OH (10%) • I2 (p.a) 3.5. Prosedur Kerja 3.5.1. Penyediaan Sampel Biji meniran sebanyak 500 g dicuci dengan aquades, dan dikeringkan di dalam oven pada temperatur 400C selama 4 hari. Setelah kering dihaluskan, • Kloroform (p.a) • Silika gel GF 254 • HgCl2 • KI (p.a) • HNO3(p.a) • Labu ukur • Neraca analitik • Oven • Penangas air • Penjepit tabung • Pipet tetes • Pipet volume • Rotary evaporator • Spektrofotometri IR • Tabung reaksi • Termometer

36

kemudian dikeringkan kembali selama 1 hari pada suhu yang sama. Serbuk halus yang diperoleh akan digunakan untuk penelitian selanjutnya. 3.5.2. Pembuatan Larutan Pereaksi • Pereaksi Dragendorff Sebanyak 8 gram KI dilarutkan dalam 20 mL aquades. 0,85 gram bismut subnitrat dilarutkan dalam 40 mL aquades, kemudian kedua larutan ini dicampurkan dan diencerkan sampai volumenya 100 mL, kemudian disimpan dalam botol berwarna gelap. • Pereaksi Mayer Sebanyak 1,3 gram HgCl2 dilarutkan dalam 60 mL aquades. 5 gram KI dilarutkan dalam 10 mL aquades, kemudian kedua larutan ini dicampurkan dan diencerkan sampai volumenya menjadi 100 mL. • Pereaksi Wagner Sebanyak 2 gram KI dilarutkan dalam 45 mL aquades, lalu ditambahkan 1,27 gram I2, dikocok sampai homogen, diencerkan sampai volumenya 100 mL, kemudian disimpan dalam botol berwarna gelap. • Pereaksi Bouchardat Sebanyak 4 gram KI dilarutkan dalam 50 mL aquades, ditambahkan 2 gram iodium sedikit demi sedikit hingga larut, lalu diencerkan dengan aquades sampai volumenya 100 mL. 3.5.3. Prosedur Isolasi Senyawa Alkaloid dari Daun Meniran 3.5.3.1. Ekstraksi Sampel • Serbuk kering sebanyak 160 g dibasakan dengan menambah larutan basa lemah NH4OH 10%, sampai serbuk terendam semua (volume ammoniak ± 300 mL), diaduk dengan menggunakan magnetik stirer selama ± 2 jam. • Setelah itu larutan basa tersebut ditambah dengan kloroform sebanyak 100 mL, didiamkan selama 1 – 2 hari, kemudian digojlok dengan

37

menggunakan corong pisah selama ± 1 jam. Didiamkan dalam corong pisah sampai terbentuk 2 fase, setelah terbentuk diambil fase kloroformnya. • Fase basa yang tertinggal ditambah lagi dengan kloroform sebanyak 100 mL dan diberikan perlakuan yang sama. Selanjutnya semua fase kloroform yang didapat dikumpulkan menjadi satu untuk dievaporasi sampai agak kental. • Setelah agak kental, diuapkan untuk mendapatkan ekstrak yang lebih pekat lagi dalam oven pada suhu 450C. 3.5.3.2. Analisis Kolom • Kolom dipasang tegak lurus dan diisi dengan fase gerak, larutan metanol : ammoniak (100 : 1,5) V/V ke dalam kolom hingga ¾ kolom, lalu memasukkan fase diamnya silika gel sedikit demi sedikit hingga pada ketinggian fase gerak. • Selanjutnya memasukkan ekstrak yang lebih kental dan pekat pada permukaan fase diam yang sudah rata. Menambahkan lagi serbuk silika gel hingga ketebalan 1 cm. Menambahkan fase gerak hingga serbuk silika gel terendam, lalu didiamkan selama 24 jam. • Mengalirkan fase gerak pada kecepatan 20 tetes per menit. Fraksi-fraksi yang keluar ditampung dalam botol masing-masing 2 mL. Setiap interval 8 – 10 botol diuji dengan KLT menggunakan eluen metanol : ammoniak (100 : 1,5) V/V, dan diuji dengan menggunakan reagen alkaloid. Botol yang diperkirakan positif mengandung alkaloid dikumpulkan menjadi satu dan kemudian diuapkan hingga terbentuk kristal dan ditimbang beratnya. • Kristal yang diperoleh kemudian dianalisis dengan IR dan GC–MS. 3.5.3.3. Analisis KLT

38

• Silika gel sebanyak 30 gram dibuburkan dengan aquades, lalu diaduk sampai merata, selanjutnya dituangkan ke dalam speader dengan membuat lapisan tipis pada plat kaca. • Dibiarkan selama beberapa menit lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 1100C dalam posisi horizontal selama 10 menit, kemudian diaktifkan dengan mengubah posisinya menjadi vertikal selama 30 menit pada suhu yang sama, kemudian didinginkan dan siap digunakan. • Bejana kromatografi diisi dengan metanol : ammoniak (100 : 1,5) V/V. • Ekstrak kloroform yang diperoleh ditotolkan pada plat kaca dan dimasukkan ke dalam bejana kromatografi hingga menghasilkan beberapa noktah. • Plat dikeluarkan dari bejana dan dikeringkan pada temperatur kamar (270C), harga Rf masing-masing noktah dicatat dengan membandingkan jarak noktah tersebut dengan jarak yang ditempuh eluen dari batas penotolan.

3.5.3.4. Test Kualitatif Senyawa Alkaloid Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 2 mL pereaksi Dragendorff lalu dimasukkan 1 mL ekstrak kloroform. Diamati endapan yang terbentuk. Hal serupa dilakukan dengan menggantikan jenis pereaksi Mayer, Wagner, Bouchardat, dan juga uji warna dengan HNO3 pekat.

3.5.3.5. Jadwal Penelitian Penelitian direncanakan dilakukan selama 3 (tiga) bulan dengan perincian: Tabel 3.5. Kegiatan Penelitian No 1 Kegiatan Penelitian Persiapan Penelitian: - Pemesanan zat dan bahan Tahun 2010 Pada Bulan 8 9 10 ///

39

2 3 4 4 5 6 7

- Pembuatan larutan - Penyediaan sampel Ekstraksi sampel Analisis Kolom Analisis KLT Test Kualitatif Alkaloid Analisis IR Analisis GC - MS Pengolahan hasil dan pembahasan Segar Biji Meniran
Biji Kering Serbuk Kering Ekstrak Ekstrak Pekat

/// /// /// /// /// /// /// /// ///

Endapan

Ekstrak Pekat

Ekstrak dan Endapan 3.5.3.6. Diagram Alir Penelitian

Filtrat

Dicuci dan diovenkan 400C (4 hari) Endapan

Dihaluskan dan dikeringkan 400C (1 hari) Filtrat Endapan Dibasakan dengan ammoniak 10%, diaduk selama ±2 jam Residu ditambah dengan kloroform, diamkan 1 – 2 hari Digojlok dengan corong pisah selama ± 1 jam Ekstrak Kloroform fase kloroform dikumpulkan untuk dievaporasi Ekstrak Pekat Kloroform Diuapkan dalam oven pada suhu 450C

Fraksi Tambahkan NH4OH sampai pH = 10, diamkan 1 malam Residu Kristalisasi

Uji Titik Leleh

Analisis IR

Analisis GC-MS

40

Pisahkan endapan dengan sentrifusi

Dicuci dengan NH4OH sentrifusi Keringkan di oven (400C)

hijau kekuningan,

Larutkan dalam CHCl3, disaring

Uji warna, pekatkan dengan evaporator

Isolasi dgn kromatografi kolom, absorben silika gel, eluen CH3OH:NH4OH (100:1,5) V/V Pekatkan Test Alkaloid

Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian DAFTAR PUSTAKA Anonim 1, (1995), Farmakope Indonesia, Edisi keempat, Depkes RI, Jakarta Anonim 2, (2006), Ekstrak Meniran Optimalkan Kekebalan, http://www. stimuno.com/index.php?mod=press&id=55 Anonim 3, (2009), Kromatografi, http://rgmaisyah.wordpress.com/2009/ 10/10/kromatografi-lapis-tipis-thin-layer-chromatography/ Anonim 4, (2009), Kromatografi Kolom, http://www.chem-is-try.org/ materi kimia/instrumen analisis/kromatografi kolom Anonim 5, (2009), Kromatografi Lapis Tipis, http://greenhati.blogspot. com/2009/01/kromatografi-lapis-tipis.html

41

Anonim 6, (2009), Meniran, si Peningkat Sistem Imun, http://herbal369. blogspot.com/2009/07/meniran-si-peningkat-sistem-imun.html Day and Underwood, (1999), Analisis Kimia Kuantitatif, Edisi keenam, Erlangga, Jakarta Fessenden R.J. dan Fessenden J.S., Kedua, Erlangga, Jakarta (1983), Kimia Organik, Edisi

Ibnu Gholib Gandjar, Abdul Rohman, (2007), Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta Jaka Sulaksana, S.P., M.Si., (2004), Meniran Budi Daya dan Pemanfaatan Untuk Obat, Penebar Swadaya, Jakarta Lenny Sovia, S.Si, M.Si, (2006), Senyawa Flavonoida Fenilpropanoida dan Alkaloida, Karya Ilmiah, FMIPA, USU, Medan Roy J. Gritter, James M. Bobbit, Arthur E.S., (1991), Pengantar Kromatografi, Penerbit ITB, Bandung Sastrohamidjojo. H., (1985), Spektroskopi, Liberty, Yogyakarta Simanjuntak B., Dra., MS. dan Sianipar H., Drs., M.Sc, (2006), Kimia Organik III, FMIPA UNIMED, Medan Sitorus M., Drs., M.Si dan Purba J., Drs., M.Si, (2006), Kimia Organik II, FMIPA UNIMED, Medan Widayati Panca, (2008), Efek Ekstrak Etanol Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.) Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Mencit Putih Jantan Galur BALB-C Hiperurisemia, Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta Widodo Nanang, (2007), Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Alkaloid Yang Terkandung Dalam Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus, Skripsi, FMIPA, UNS, Semarang

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.