M[OSSA1D 01F S1PYONAS1E

NeW5week 'MiElJch 1.51, H¥99
JI

THE ART OR WAR

MATA - MATA TERHANDAL DALAM SEJARAH DUNIA

Bab 1
PEMBANTAIAN MUNCHEN 1972

Bila dibandingkan dengan bentuk yang luwes dan anggun, yangvmerupakan ciri khas kebanyakan senjata genggam automatik pasukan Infanteri modern, maka Kalashnikov tampak amat pendek tak berbentuk. Senapan penyerang yang resmi disebut AK 47 ini konon diciptakan oleh seorang petani Siberia, sekurang-kurangnya menurut dongeng di seputar senjata teror intemasional yang paling populer ini. AK 47 bertampang sederhana dan kasar, Senjata sepanjang 74,5 em ini, batang dan pe· gangan pistolnya, terbuat dari kayu coklat tua yang dilengkapi dengan dua peralatan dari Iogam berwarna kelabu pudar. Bagian dari logam yang di tengah meliputi gagang dan mekanisme pelatuk, dengan rumah peluru yang mencuat ke bawah dan ke depan dengan lengkungan halus. Di dalamnya terdapat tigapuluh peluru kaliber 7,62 mm dengan mimis timah pendek berintikan baja penembus. Bila disetel untuk tembakan otomatis, Kalashnikov akan memuntahkan 100 butir peluru setiap menit dengan kecepatan 699 meter setiap detik, atau kira-kira 2560 kilometer setiap jam. Senjata ini dibuat dalam berbagai model di Uni Soviet dan di banyak negara blok Komunis yang lain. Bila digunakan dari jarak dekat, muntahan pelurunya dapat benar-benar membelah mangsa menjadi dua,
5

Pada tanggal 5 September 1972 beberapa pucuk senjata ini dikeluarkan dari pembungkus berpase1in dan diserahkan kepada delapan anggota Black September yang sedang berada dalarn perjalanan menuju 31 Connollystrasse, tempat menginap para atlet Israel di perkampungan Olympiade Munchen. Para fedayeen kata Arab, artinya "orang pengorbanan." Istilah yang acapkali dipakai oleh pejuang Islam pelaku teror untuk menampilkan dirinya, pada waktu itu belum dikenaI. Mereka pertama kali terlihat ketika sedang mengukur-ukur pagar kawat setinggi dua meter di Kusoczinskidamm pada pukul 04.00 dini hari. Tempat rnereka memasuki perkampungan Olympiade terletak kira-kira 50 meter jauhnya dari apartemen para atlet Israel. J arak 50 meter itu dapat ditempuh oleh sekelompok orang yang berjalan perlahan dan hati-hati dalam waktu satu atau dua me nit saja. Walaupun begitu, baru pada pukul 04.25 para teroris memasukkan sebuah kunci rahasia ke pintu masuk ruang depan Apartemen I di 31, Connollystrasse, Apakab mereka selama ini sudah menempatkan seseorang untuk membantu di dalam perkampungan Olympiade sendiri, orang hanya dapat mengira-ira, Orang yang pertama kali mendengar kehadiran mereka adalab Yossef Gutfreund, seorang wasit gular, si raksasa dengan berat barlan 187,5 kilogram. Sesaat mungkin ia mempertanyakan apakah suara yang didengamya itu suara seorang ternan sekamar. Pelatih gulat Moshe Weinberger memang diperkirakan datang agak malam sehingga ia membawa kunci duplikat. Namun, kata-kata Arab yang dibisik-bisikkan di balik pintu itu segera meyakinkan bahwa mereka ada daIam bahaya. Bahaya! Ya, kata itulah yang diteriakkannya daIam bahasa Ibrani untuk menyiagakan seorang ternan sekamar yang lain lagi. Sernentara dia sendiri menghempaskan seluruh bobot tubuhnya ke daun pintu yang perlahan-Iahan membuka. Selama beberapa detik berikutnya .delapan orang Arab mencoba mendorong pintu, beradu kuat dengan Gutfreund. Usaha yang dilakukan untuk rnendobrak sisi pintu itu begitu kuat sehingga merusak kancing pengaman maupun engsel-engselnya. Usaha itu pun berlangsung cukup lama sehingga seorang 6

ternan sekamar Gutfreund, pelatih angkat besi Tuvia Sokolovsky, sempat mendobrak jendela dan Iari menghindar, Empat penghuni Apartemen I yang lain lagi tidaklah begitu beruntung. Pelatih Iari Amitzur Shapira, guru anggar Andrei Spitzer, pelatih tembak Kehat Shorr dan hakim angkat besi Yaeov Springer ditodong senjata, Ialu ditampar bertubi-tubi. Mereka diane am untuk mernaksa mereka mengungkapkan tempat penginapan atlet-atlet Israel yang lain. Mereka masingmasing akan dibebaskan, asalkan mau mengetuk pintu apartemen yang dihuni orang Israel lainnya sehingga para fedayeen dapat masuk. Tetapi kepada Gutfreund, mereka tidak mau repot-repot mengajukan tawaran itu, Tanpa banyak bieara mereka me ngik at si raksasa seperti dalam Alkitab Samson dahuiu ditelikung oleh leluhur mereka yaitu orang-orang Filistin. Setelah mereka tidak mungkin lagi mengharapkan bantuan orang-orang Israel yang telah tertangkap itu untuk mencari atlet Israel lainnya, para teroris memutuskan untuk menjelajahi 31 Connol1ystrasse. Tempat itu juga dihuni oleh tim Olympiade Uruguay dan Hong Kong. Apartemen 2, 4 dan 5 telah terlewati, padahal di situ menginap delapan orang Israel. Tetapi mereka menangkap enam atlet di Apartemen 3. Atlet-atlet ini adalah pegulat Eliezer Halfin, Mark Slavin serta Gad Zobari, dan atlet angkat besi David Marc Berger, Zeev Friedman serta Yossef Romano. Namun sebelum mernasuki Apartemen 3, para terorls harus berhadapan den_gan peIatih gulat Moshe Weinberger, yang telah keluar agak larut malam dan pada waktu itu berlenggang kembali ke Connollystrasse. Weinberger kurang lebih bertubuh sarna dengan Gutfreund, sama-sarna talc rnudah ditaklukkan. Ia memukul jatuh seorang teroris, dan baru tak berdaya untuk sementara ketika sebutir peluru menghajar mukanya. Tetapi dalam keadaan terluka parah pun ia tak mau menyerah. Setelah atlet-atlet di Apartemen 3 dikuasai para teroris dan digiring kembali sepanjang Connellystrasse menuju Apartemen I, pegulat klas ringan Gad Zobari tiba-tiba melesat untuk melarikan diri. Para fedayeen menembakkan beberapa berondongan peluru dari senjata mereka.

7

Namun si pegulat berbadan kecil yang lari berzig-zag di tanah kompleks yang tak rata itu berhasil melepaskan diri, Weinberger rnenggunakan kesempatan ini untuk memegang seorang teroris pada rahangnya dan mencekamnya hingga tulangnya patah. Kemudian dihantamnya orang itu sampai tak sadarkan diri. Seorang teroris lain memuntahkan peluru ke dada Weinberger. Raksasa itu jatuh, Kini giliran atlet angkat besi Yossef Romano yang berusaha memhebaskan diri. Bersama ternan satu tim, David Marc Berger, ia mencoba lari ke jendela dapur Apartemen 1 sebelum para teroris sempat mengikat tangan dan kakinya. Karena usahanya tak berhasil, Romano rnernungut sebilah pisau yang kebetulan ada di meja dan menyabetkan pada seorang teroris sehingga terluka dahinya. Karena kesakitan orang Arab itu mundur tanpa menembak. Tetapi seorang teman di belakangnya cukup sigap; dan Romano pun menjadi korban Kalashnikov yang diberondongkan dari jarak begitu dekat. Menurut laporan, ketika para penolong pada hari berikutnya mencoba mernindahkan tubuh atlet itu, bagian pinggangnya telah terbabat putus. Weinberger ternyata belum tamat riwayatnya. Semangat juangnya pun belum habis. Ketika siuman, ia bukannya merangkak pergi dari Apartemen 1 melainkan berusaha menyerang para teroris sekali lagi. Karena terperanjat melihat tubuh besar berlumuran darah yang sempoyongan mendekati mereka, para fedayeen tidak langsung menembak. Bahkan Weinberger masih sempat memukul satu orang dan menghujamkan pisau dapur yang kebetulan diperolehnya ke lengan seorang lagi sebelum sebutir peluru bersarang di kepala raksasa itu dan menghabisi nyawanya. Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Dalam aksi pertama, yang berlangsung kira-kira dua puluh lima menit lam anya, para teroris Black September telah membunuh dua atlet Israel dan menangkap sembilan orang. Dua orang telah meloloskan diri. Mereka tidak berhasil mengetahui ternpat penginapan delapan atlet lsraellainnya dalam gedung itu. Dalam perkelahian se1ama dua puluh lima menit itu, pihak keamanan perkampungan Olympiade ternyata hanya menerima 8

laporan tentang adanya "suatu keributan" di sekitar BIok 31 Connollystrasse. Ini tidak mengherankan. Kebanyakan atlet dan petugas sedang tidur lelap. Keributan yang timbul sepotongsepotong: mula-mula terdengar teriakan, lalu tembakan, lalu hening, Orang yang terbangun karen a suara ribut itu tidak akan segera tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka akan memasang telinga sebentar, tidak mendengar apa-apa, dan mungkin terlelap kembaIi. Beberapa orang yang bangun dan menyelidiki keadaan juga tidak akan melihat apa-apa. Di perkampungan itu jarang ada malam berlalu tanpa pesta atau perayaan tertentu. Dalam kesempatan seperti itu tidak jarang orang menambah suasana meriah dengan petasan, bunga api dan bunyi-bunyian yang mereka sukai. Bagi para tetangga, tempat menginap para atlet Israel, keributan yang ditimbulkan oIeh para teroris itu mungkin dianggap keributan pesta sejenis, Bagaimanapun juga, orang yang menyelidiki keadaan pada pukul 04.55 pagi atau tak lama sesudah itu adalah seorang polisi keamanan Jerman Barat. Ia sendirian saja dan tak bersenjata. Ia mengelus walkie-talkienya dan bergumam, "Was soli das heissen?", kata-kata Jerman yang lebih kurang berarti "Apaapaan ini?", kepada teroris berkerudung yang berdiri di depan 31 Connollysstrasse. Orang Arab itu menghilang ke balik pintu tanpa menjawab. Sementara itu kedua orang Israel yang berhasillolos meneriakkan tanda bahaya. Seorang berteriak dari gedung yang ditempati tim Korea SeIatan dan lainnya dari ternpat penginapan tim Italia. Selang setengah jam kemudian, pihak yang berwenang menerima surat tuntutan para teroris yang telah diketik dalam bahasa Inggris beberapa kopi banyaknya. Para fedayeen juga melemparkan tubuh Moshe Weinberger yang sudah tidak bemyawa itu ke tengah jalan. Adapun tuntutan mereka adalah dilepaskannya 234 tawanan yang ditahan oleh "rezim militer di Israel." Nama para tawanan itu tercantum dalam daftar yang terketik pada beberapa lernbar. Para teroris juga menyebutkan beberapa orang yang ditawan oleh pemerintah federal Jerman Barat, Di antaranya terdapat para pernimpin Kelompok Baader-Meinhof, Ulrike 9

Meinhof dan Andreas Baader. Mereka telah ditangkap polisi Jerman pada bulan Juni tahun itu, Para teroris juga menghendaki disediakannya tiga pesawat terbang yang akan membawa mereka ke suatu "tujuan yang arnan" setelah tuntutan-tuntutan lainnya dipenuhi. Di tempat yang aman itu para atlet Israel akan mereka lepaskan. Pemyataan di atas memberikan tenggang waktu sampai pukul 09.00 pagi kepada pihak yang berwenang untuk menuruti tuntutan tersebut. Sesudah batas waktu itu mereka akan membunuh para sandera "sernuanya, sekaligus atau satu per satu." Tawar-rnenawar seperti biasanya terjadi. Para pejabat tinggi Jerman Barat menawarkan diri untuk menjadi tukaran bagi para sandera, suatu tindakan yang penuh keberanian di pihak orangorang itu, seorang menteri federal dan seorang menteri dari Bavaria, walikota perkampungan Olympiade, seorang bekas walikota, dan komisaris polisi kota MUnchen pada waktu itu. Tetapi para fedayeen tak mau menerima tawaran tersebut, Batas waktu diundur sampai tengah hari. Kanselir Jerman Barat Willy Brandt dikabarkan teIah menghubungi Perdana Menteri Israel Golda Meir lewat telepon. Mereka bercakap-cakap seIama sepuluh menit. Hasilnya dapat ditebak sebelumnya. Sikap Israel dalam menangani teroris sudah diketahui, Tidak ada tawar-rnenawar. Dalam keadaan apa pun. Walaupun para pejabat Jerman secara resmi tidak mencoba memberikan tekanan terhadap Israel, tetapi ada bukti bahwa mereka menganggap sikap Israel itu tidak perlu dan terlalu kaku sehingga rnembahayakan, Mengapa mereka tidak mau, misalnya, melepaskan selusin orang fedayeen yang mereka tawan? Mengapa mereka tidak mernberi peluang kepada para teroris untuk menyelamatkan muka, melepaskan para sandera, dart keluar dari Munchen? Orang Jerman, sebaliknya, bersedia rnenverahkan Ulrich Meinhof dan Andreas Baader kepada mereka. Pembicaraan terus berlangsung. Batas waktu ditunda bertahap-tahap sampai pukul 21.00 malam, Para teroris rnenurunkan tuntutan mereka. Meieka hanya minta sebuah pesawat terbang untuk pergi bersama para sandera ke Kairo, Di sana, dernikian kata mereka, para atlet itu akan dihabisi nyawanya kalau

10

pemerintah Israel bersikeras tak mau membebaskan orang-orang Palestina yang mereka tawan. Ini pun merupakan langkah mundur di pihak teroris yang semula mengatakan akan membunuh semua sandera kalau para tawanan tidak dibebaskan sebelum para teroris keluar dari Munchen. Pada pukul 20.00 malam makanan diantar kepada para teroris dan sandera mereka. Kanselir Brandt tampil di layar lV, rnenyesalkan kejadian itu dan menyatakan harapannya agar tercapai resolusi yang memuaskan dan juga mengusulkan agar Pesta Olympiade tidak ditunda, seperti diminta oleh pemerintah Israel untuk menghormati kedua atlet yang tewas dalam pedstiwa itu. Menurut pendapat Kanselir Brandt, ini akan merupakan suatu kernenangan bagi para teroris. Tentu saja orang dapat memandangnya dari sudut yang berbeda, Sebab dengan melanjutkan Olyrnpiade, yang dianggap sebagai lambang persaudaraan dan perdamaian, berarti seakan-akan pembunuhan itu tidak apaapa. Inilah yang dapat dipandang sebagai kemenangan tindakan teror. Bagaimanapun juga, bendera sernua negara peserta dikibarkan setengah tiang sampai pada siang itu. Artinya, sampai suatu delegasi yang mewakili negara-negara Arab mengajukan protes dan pihak Jerman mengalah dengan menaikkan benderabendera itu kembali ke puncak tiang. Sekitar pukul 22.20 malam dua buah helikopter, yang akan menuju lapangan udara Munchen Furstenfeldbruck, mengudara dari sebidang Iapangan rumput yang berpagar dekat pcrkampungan Olympiadc. Kedelapan fedayeen dan sanderanya yang berjumlah scmbilan orang telah diangkut ke lapangan rumput itu dengan sebuah bis V'"\t. Walaupun para penguasa Jerman Barat, dengan k esepakatan penuh pernerintah Israel, telah memutuskan bahwa mereka tidak akan membiarkan para teroris terbang ke Kairo memhawa para sandera, namun tidak ada usaha yang dilakukan untuk menyerbu para teroris pada waktu pemindahan sandera ke dalam helikopter. Bila ditinjau kembali, meninjau kembali selalu gampang, mungkin saat itulah kesempatan yang paling baik untuk melancarkan serbuan pernbebasan, Dan saat itu tidak dimanfaatkan, 11

Di lapangan udara "Furstenfeldbruck, kira-kira 24 kilometer jauhnya dari pusat kota Munch en , peristiwa berkembang dengan cepat. Dalam waktu 15 menit, kira-kira padajam 22.35 malam, kedua helikopter itu mendarat; yang satu membawa empat sandera, lainnya membawa lima sandera, Helikopter-helikopter itu mendarat sejauh kira-kira 100 meter dari sebuah pesawat jet 727 yang dengan jew telah disiapkan untuk mengangkut para teroris dan sanderanya ke Kairo, Empat fedayeen keluar dari helikopter untuk memeriksa pesawat itu: Selang lima menit, dalam penerangan yang kurang baik dan dari jarak yang jauh, lima penembak tepat J ernian menernbaki mereka, Ada teroris yang terkena, lainnya dengan cepat balas menembak. Keempat orang,Jerman yang mengawaki helikopter itu mencoba menghindar. Dua orang berhasiI. Lainnya terkena dan luka cukup parah. Para sandera Israel tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka semua duduk di kursi helikopter yang terparkir itu dengan kaki tangan terikat dan mata tertutup kain. Agak mengherankan juga bahwa para fedayeen tidak langsung membunuh mereka. Mungkin mereka berpikir bahwa membunuh mereka berarti membuang segala kesempatan untuk seIamat. Atau mungkin juga mereka itu terlalu sibuk membalas tembakan dan menghindari peluru para penembak tepat J erman, Eoleh jadi ada juga perasaan enggan membunuh sembiIan orang yang jelas-jelas tanpa daya: suatu hambatan naluri a1am yang tidak jarang me nahan tindakan pembunuh yang paling jahat sekalipun. Para fedayeen juga menolak seruan orang J erman untuk menyerah, walaupun mereka tabu bahwa cara itu akan menyelamatkan nyawa mereka, Tembak-menernbak itu berlangsung sekitar satu seperempat jam. Sampai larut malam orang be1um berhasil menjauhkan para teroris dari bawah helikopter. Lagi pula mereka terbatas daIam menggunakan senjata karena takut mengenai para sandera. Kira-kira tengah malam pihak Jerman memutuskan untuk melancarkan serangan infanteri dengan dukungan kendaraan berlapis baja. Begitu serangan ini dimulai, salah seorang teroris melemparkan sebuah granat tangan ke dalam helikopter yang berisi lima sandera Israel. Helikopter itu pun meledak

12

menjadi gumpalan api, Menit berikutnya dua orang teroris menembak dan membunuh keempat sandera yang berada di dalani helikopter lainnya. Ironisnya dalam peristiwa ini ialah seandainya serangan itu ditunda beberapa me nit saja, mungkin Zeev Friedman, Yacov Sprinier> Eliezer Halfin dan si raksasa Yossef Gutfreund masih sempat selamat. Keempat atlet Israel itu telah berhasil mengendurkan sedikit ikatan mereka, Ada tanda-tanda gigitan pada simpul tali besar yang mengikat mereka ke kursi. Sebentar rnereka akan berhasil melepaskan diri dan mengejutkan kedua teroris di luar helikopter, Tidak diragukan bahwa para atlet itu mencoba -rnerebut senjata para fedayeen dan rnembebaskan diri, Mengenai Amitzur Shapira, David Marc Berger, Andrei Spitzer, Mark Slavin dan Kehat Shorr dalam helikopter yang pertama, sulitlah mengatakan apa yang mungkin telah mereka lakukan. Tubuh mereka terbakar hangus hingga tidak dapat dikenali lagi. Dua dad lima orang fedayeen yang masih hidup terns bertahan. Satuan-satuan poIisi dan pengawas perbatasan menembak mati seorang dalarn waktu lima belas menit berikutnya. Dialah yang tadi tampak melemparkan granat ke dalam helikopter pertama. Namanya Essafadi atau "Issa." Kira-kira pada waktu itu pula mereka juga menangkap seorang teroris yang terluka berat. Ia bernama Badran, Dua orang lagi, el-Denawi dan "Samir" Talafik, dapat dibekuk. Mereka tidak menderita luka apa pun, tetapi berpura-pura mati. Teroris yang terakhir adalah seorang Ielaki kurus yang tak habis-habis merokok, Dia bernama Tony dan suka menyebut diri "Guevara." J elas ia rnemiliki, keberanian. Tony bertahan dengan cara berkelahi dan menghindar selama satu jam. Ia berhasil menembak lagi seorang pengawas perbatasan pada lehernya. Akhimya dia pun terpojok dan mati terkena peluru pada pukul 0 L30 dini han. Tamatlah sudah drama itu, Pada hari berikutnya Pesta Olah Raga Olympiade dilanjutkan, Tahun ini Uni Soviet merebut lima puluh medali emas. Amerika Serikat menduduki tempat kedua dengan jumlah tiga puluh tiga puluh tiga buah medali emas,

:a8i

13

Bab2

MEREKRUT AVNER

AVNER tahu lebih kurang apa isi surat yang dipegangnya, sebelum ia membuka amplopnya yang berwarna coklat. Sekurang-kurangnya ia tahu dad mana datangnya dan mengapa. Untuk hal-hal serupa itu, ia selalu clapat mengandalkan indera keenamnya. Memang begitulah, sebab kelima inderanya ticlaklah istimewa. Penglihatan matanya, yang cukup baik untuk keperluan hidup sehari-hari, dapat dikatakan sangat minim untuk pekerjaan 'hebat yang diimpi-impikannya: pilot pesawat ternpur, jago ternb ak yang jitu. Pendengarannya pun biasa-biasa saja. Juga indera sentuhnya tidak cukup peka untuk menjadikanoya ahli mesin. Tetapi indera keenamnya memang lain. Amplop coklat, seperti yang sedang dipeganginya saat itu, biasanya merupakan amplop standard pemerintah Israel. Tetapi pemerintah, bahkan angkatan bersenjata, tentu akan mernbubuhkan tanda tertentu di luarnya, Misalnya, departemen A, sedangkan amp lop ini palos saja. Suratnya sendiri berupa lima baris kalimat Inggris, terketik pada mesin tik bahasa Ibrani yang sudah tua dan kelihatannya cacad pada huruf m. Penulis mengatakan bahwa kalau Avner mau bckerja "you-ight wish to-eet-e on the corner of Frismah

15

and Dizengoff Street in Tel Aviv" (kau datang saja menemui saya di sudut Jalan Frishman dan Dizengoff di Tel Aviv). LaIu disebutkan waktu dan nama sebuah kedai minum, juga nomor telepon yang dapat dihubungi Avner kalau ia tidak tertarik atau menganggap waktunya kurang tepat, Di bawabnya tercantum, "Yours sincerely, -oshe Yohanan," sebuah nama yang tak ada artinya bagi Avner. Waktu itu awal bulan Mei 1969_ Avner, adalah seorang pemuda berusia 22 tahun yang berbadan sehat, Dia seorang sabra atau seorang Israel totok. Barusaja ia selesai rnenjalani dinas militemya dalam suatu satuan yang sangat elite. Ia telah ikut bertempur dalam Perang Enam Hari, seperti sesamanya yang lain. Ia menyandang pangkat Kapten dalam pasukan cadangan, seperti setiap orang yang telah menjalani dinas dalam satuan tersebut. Satuan Komando. "Right on," katanya dalam bahasa Inggris kepada diri sendiri sambil berjalan ke tingkat atas untuk mandi pancuran. Dua hal ini, mandi pancutan di tengah hari dan berkata "right on" adalah khas Avner, Coba dengar. Mungkin tidak ada pernuda lain dalam Angkatan Darat yang akan repot-repot memungut peti jeruk, tali dan gayung tua untuk mandi pancuran, Tanpa malu-malu, walaupun sernua ternan menertawakannya, ia mengikatkan alat mandi jinjingnya pada tank untuk dibawabawa dalarn ekspedisi di gurun. Selain itu, ia menyulap peti lain menjadi lubang pispot, dengan memberinya lubang yang rapi, Ke Gurun Negev! Avner tidak mau jongkok di pasir bagaikan seekor monyet dan mernbiarkan kumbang tahi _merayap-rayap ke pantatnya. Saya tidak memaksudkan bahwa kerapian itu sangat penting, Tetapi kebetulan Avner adalah orang yang rapi dan ia tidak rnalu karena kerapiannya. Bayangkan saja, dalam seluruh Angkatan Darat Israel dialah satu-satunya prajurit dalam seluruh Angkatan yan~ pada waktu pernbubaran pasukan dinll$ militer menyerahkan kembali perlengkapan prajuritnya dalam keada-

16

an mulus dan bersih seperti ketika barang-barang itu pertama -kali diserahkan empat tahun sebelumnya. Memang ini agak ber1ebihan. Tetapi, bertindak berlebihan memang juga merupakan ciri khas Avner. Ini terlihat pada hal lain. Sampai sekarang Avner belum pernah pergi ke Amerika Serikat. Tetapi menuru tapa yang selalu diceritakan oleh ibu Avner, kata yang pertama kali diucapkan Avner pada waktu ia masih bayi - yakni pada tahun 1947, hampir setahun sebelum Israel menjadi suatu negara - bukanlah "Mama" atau "Papa" melainkan "Amerika." Ini mungkin hanya cerita, tetapi kedengarannya memang benar, Yang jelas, khas Avner. Ketika Avner sudah cukup besar untuk berlari di jalan-jalan yang sepi dan terpanggang terik matahari di Rehovot karena takut ketinggalan pe~utaran film siang hari, Amerika memenuhi kehidupan batin dan khayalan Avner. Lana Turner, John Wayne, Rita Hayworth adalah tokoh impiannya. Dalam film-film itulah Avner mendapatkan kata-kata bahasa lnggris pertamanya, yang sejak itu selalu digunakan dengan penuh semangat dan penuh kecermatan seperti orang Israel lainnya, Dan tidak seperti bahasa Inggris sekolahan, bahasa Inggris Amerika dalam film-film terasa dapat dicecap dan disentuh. Orang dapat menguasainya dan dengan itu menjadi orang yang lain sekali, OK, mister, ini FBI; dan sebagainya. Bukan berarti bahwa Avner punya waktu terlalu banyak memikirkan hal-hal ito. Siapa yang dapat membuang-buang waktu dengan memimpi-mimpikan khayalan masa kanak-kanak, selagi ia harus menghadapi keputusan-keputusan penting masa remaja? Ia kini sudah keluar dari ketentaraan. Mereka telah merninta dia, membujuk dia, supaya tidak berhenti, Tetapi tidak. Empat tahun telah cukup. OK, sekarang mau apa? Mencari kerja? Kawin dengan Shosana? Atau mungkin mencoba masuk universitas? Avner telah selesai mandi. Badannya sejuk, bersih, segar sampai ke tulang. la memandang dirinya sesaat dalam cermin sebelum bersarung handuk. Ia menyerupai ayahnya, walau tidak mirip sekali, Badannya lebih kecil. Rambutnya lebih pirang. Walaupun apa yang

17

sudah dialami ayahnya telah mengubah dia dan membuat dia tampak jauh lebih tua daripada umur sebenarnya, Kini rambutnya hampir putih seluruhnya, Otot-ototnya digantikan oleh lemak, dan semangatnya - ah, ia mengalami berbagai zaman, yang baik, yang buruk. Ayah tentu tahu tentang amplop coklat yang terIetak di bangku kamar mandi itu, Tidak langsung. Tidak, Avner yakin benar. Ayah tidak akan pernah berbicara dengan mereka tentang dia. Bahkan sebaliknya. Ia akan melarang mereka, kalau ia tahu. "Kalian tidak akan mendapatkan anakku," begitu kirakira katanya kepada mereka. "Kecuali dengan melangkahi mayatku." Tetapi Avner tidak akan berkata apa-apa tentang surat itu kepada ayabnya. Ia sendiri yang akan mengatakan tidak kepada mereka. Sebelum ini, dua bulan yang lalu ia juga telah berbuat serupa di depan orang-orang Am an. "Kalau kau tidak mau tetap dalam ketentaraan sebagai anggota aktif, baiklah," kata mereka itu, "tetapi bagaimana kalau sebagai intelijen militer?" Tidak. Tidak, Terima kasih, kata Avner, Dan ia kini akan b erka ta tidak kepada - ash e siap a itu dalam amplop coklat di depannya. Namun ia akan pergi ke tempat yang disebutkan. Bagaimanapun juga ia harus berada di Tel Aviv pada hari Senin untuk menjernput Shoshana. Mengapa tidak rnelihat, siapa mereka itu, dan mendengarkan apa yang akan mereka katakan, Tidak ada salahnya, bukan? Telah dua bulan yang lalu Avner rnelamar pekerjaan di EI AI, angkutan udara nasional. Setiap orang mengatakan mustahil orang dapat masuk. Tetapi Avner telah mernasukkan suratsuratnya lewat b ibinva yang mcrnpunyai kenalan akrab di kantor pusat. Memang tidak ada harapan untuk menjadi awak pesawat terbang. Tentu saja, ia tidak akan lulus segala tes pengetahuannya. Lagi pula awak pesawat terbang haruslah orang dari angkatanrudara. Tetapi bekerja di EI Al masih bekerja pada angkatan udara. Baginya bekerja sebagai pramugara atau pegawai kan t or angkutan udara itu sudah cukup. Akan tiba kcscmpatan untuk bepergian, untuk keluar sebentar dari Israel, untuk me lihat dunia luar yang mengagumkan barang scbentar, 18

Atau, siapa tabu, di sana mungkin ia dapat bertemu dengan ternan-ternan lama semasa Iatihan dasar, yang kini berdinas eli angkatan udara! Mungkin mereka sekarang sudah rnenjadi penerbang EI AI. Siapa tahu, pada suatu ketika mereka akan membiarkan Avner melakukan pendaratan atau paling sedikit tinggal land as. Sambil duduk di kakus berselimut handuk, Avner terbayang melakukan pendaratan yang sempurna dengan Boeing 707. Pendaratan berjalan mulus. Roda-roda besar burung rahasia itu menyentuh landasan pacu dengan lembut bagaikan buIu jatuh, Tidak me ngherankan. [a te1ah berlatih mendarat di kamar mandi sejak usia sepuluh tabun. Avner menjalankan Boeingnya ke hangar, laIu menyikat gigi dan mengenakan baju. Ibu sedang berkunjung ke rumah seorang kenalan entah di mana. Shoshana ada di Tel. Aviv. Ayah - ya, Avner akan naik bis dari Rehovot ke rumah ayah, dan mungkin ia akan meminjam Citroen tuanya. Ia mempunyai cukup uang untuk naik bis. Uang memang tidak. sangat banyak. gunanya "pada hari Sabtu dj Israel. Hiburan hampir tidak ada, paling-paling ia dapat makan sandwich dingin di restoran, Tetapi ia akan senang sekali kalau dapat menggunakan Citroen itu pada hari Senin, tak peduli bahwa kendaraan itu merupakan mobil paling tua di Timur Tengah. Menjemput Shoshana dengan mobil akan jauh lebih baik daripada harus berjalan kaki. Begitulah acara perternuan mereka, sejak masa perkenalaan, gadis itu sendiri tidak begitu ambil pusing. Shoshana, gadis langsing, pucat, berambut pirang madu, yang wajahnya mempunyai ciri-ciri aristokrat ukiran batu Mesir itu hanya dari luarnya tampak aristokratik. Di hatinya, ia adalah sabra sejati. Tidak ada sifat lemah. Tidak ada uIah manja. Avner teringat ketika ia pertama kali datang ke rumah orang tua Shoshana: ia salah memilih kata. Mereka baru saja bertemu pertama kali malam yang LUu ill rumah seorang ternan, dan Avner tidak ingat nama gadis itu. Ketika ia mengetuk pintu, yang membuka adalah adik sepupu Shoshana. "Ya?" "E, anu ... Sang Putri ada?" 19

Kata itu sungguh tidak tepat untuk menggambarkan Shoshana -kecuali tampang wajabnya. Sang Putri? Bocah itu tidak tabu apa yang dimaksudkan Avner, Ia hampir saja menghempaskan daun pintu di depan hidungnya ketika, untung saja, Shoshana tumn dari tingkat atas. Andaikata gadis itu tidak muncul, Avner tentu tak berani mengetuk pintu kembali. Shoshana mengira bahwa ia akan diajak. nonton film, tetapi Avner harus kembali ke kesatuannya pada malam itu. Ia bam saja diterima dan tentunya ia tak akan mulai dinasnya dengan menyalahi tata tertib, tak peduli ada sang gadis atau tidak. "Kau harus kembali malam ini?" tanya Shoshana. "Yang lain semuanya pergi pada hari Minggu." "Bisa juga. Di ke satuanku, malam ini." "Baiklah, Kita jalan-jalan saja." Itulah pertemuan pertama mereka. Mereka beIjalan-jalan. Pada waktu itu Shoshana belum lagi berurnur 18 tahun, tetapi ia cukup tahu banyak untuk tidak bertanya lebih jauh. Di Israel, kalau seseorang masuk tentara, orang tak bertanya-tanya. Shoshana pun tidak. Satu kali pun tidak, setiapkali ia mendapat kesernpatan cuti beberapa hari lamanya. Berjalan-jalan, nonton film, rata-rata sebulan sekali. Katakanlah, sepuluh kali dalam setahun. Dalam waktu empat tabun, berarti empatpuluh kali berkancan, _ Dua puluh kali berjalan-jalan, dua puluh kali nonton film Kadang-kadang pada hari J umat ia membonceng kendaraan orang untuk pulang ke rumah ibunya di Rehovot. Ia tiba di rumah jam 23.00 malam atau tengah malam. "Hai, Ma, saya pulang," katanya sambiI menyandarkan bedilnya ke dinding, lalu merebahkan diri ke tempat tidur, Tentunya sesudah rnelepas pakaian seragamnya. Tetapi sekarang, hampir tiga tahun kemudian, masa depanlab yang harus menjadi pertimbangan. Ada satu jalan yang sederhana dan akan terasa wajar bagi kebanyakan ternan mereka. Untuk menjaIaninya, tempat telah tersedia, di balik sudut jaIan tempat sekarang Avner berdiri menunggu bis reyot yang akan dinaikinya, Paman Shoshana akan meminjamkan cukup banyak. uang untuk membangun rumah eli tempat yang sekarang kosong 20

itu. Sederhana saja bukan? Persahabatan Shoshana dan Avner telah teruji oleh waktu - atau teruji oleh dua puluh kali nonton film dan dua puluh kali j alan-j alan. Sebentar lagi Shoshana sudah menjadi guru. Avner? Paling sedikit dia sudah menjalani dinas militer, Banyak pasangan suami isteri yang berbahagia dalam perkawinan yang dibangun di atas harapan lebih tipis. Tetapi mereka itu tidak dibebani oleh gagasan tentang Frankfurt. Frankfurt adalah beban Avner seorang. Shoshana adalah seorang sabra tanpa noda, sabra empat generasi, walaupun bila dilihat latar belakangnya ia adalah orang Eropa juga, Tetapi bagi Shoshana itu tak menjadi soal. Dalam usianya yang dua puluh tahun, ia be1um pernah rnencicipi aroma hutan gelap seperti dalam dongeng. Salju hanyalah sepatah kata belaka baginya, sesuatu yang mungkin pernah dijumpai oleh beberapa temannya selama beberapa jam sewaktu musim din gin cukup menggigit. Tetapi Shoshana sendiri belum pernah melihatnya. Ia juga belum pernah melihat suatu kota yang umurnya Iebih dati dua puluh tabun. Kecuali, tentu saja, kota yang berumur dua ribu tahun. Tidak demikianlah Avner, Apa yang dialami oleh Avner pada tahun 1959, ketika ia barn berumur dua belas tahun, begitu mempesona dan merisaukan. Sukarlah menerangkannya dengan kata-kata, Karena lebih nyata, pengalaman itu terasa lebih mendalam. Ia tak mungkin mengenyahkannya sebagai khayalan belaka. Pengalaman itu tak dapat dijelaskan, Sesuatu yang tak mungkin dirarnalkan oleh ayah atau ibunya ketika mereka memutuskan untuk memo bawa dia dan adik laki-lakinya, Ber, mengunjungi kakeknya di Frankfurt. Apakah rnasalahnya kalau Avner mempunyai nenek moyang orang Eropa? Dia seorang sabra, seorang anak Timur Tengah, hasil berharga pertama dari pengumpulan orang-orang terbuang dari keempat penjuru dunia. Mengapa ia harus tidak kerasan di Palest ina? Kalau orang tua Avner mungkin masih menyimpan sedikit nostalgia, sedikit ketidakcocokan dengan rasa dan bau Timur Tengah, itu tentu wajar. Tetapi mengapa Avner juga harus menyimpan perasaan itu? Memang, perasaan

21

seperti itu tidak ada pada kebanyakan anak Israel asli, Tetapi Avner ternyata lain. Awalnya adalah suatu liburan biasa, Sernua dilakukan untuk kepentingan Avner, walaupun pada mulanya anak itu tidak peduli sedikit pun. Amerika memang menarik hatinya, tetapi Jennan tidak sedikit membangkitkan khayalan. Bahkan sebaliknya. Bukankah Jerman itu tempat hidup Nazi yang berusaha membunuh setiap orang Yahudi? Mengapa kakek, yang belum pernah dijumpai Avner, menghendaki kedatanganmereka semua ke sanasekarang? Tetapi mengherankan sungguh. Pada musim panas tahun 1959 itu, Avner menjumpai segala sesuatu yang dicintainya dalam hidup ini - termasuk hal-hal tercinta yang tak diketahuinya karena ia belum pernah menjumpainya. Semua tersedia baginya di satu kota seakan-akan dihimpun oleh seorang tukang sihir untuk dikagumlnya. Kelak, sesudah kembali ke Israel, Avner mencoba menggambarkan Frankfurt kepada teman-ternannya, tetapi sia-sia, Suatu imp ian, suatu- keajaiban. Pendeknya, kata-kata saja tidak dapat mengungkapkannya. Ia tidak tabu bagaimana akan rnemulai ceritanya. Bayangkan sehuah kota lebih besar daripada Tel Aviv. Sebuah kota yang scgala sesuatunya bersih. Sebuah kota yang orang-orangnya tidak harus berdesak-desakan di jalan. Segala sesuatunya serba besar dan penuh kesibukan, dengan cahaya lampu-lampu neon yang sangat cemerIang dan jutaan mobil di jalanan. Avner belum pemah melihat begitu banyak mobil. Seperti di Amerika saja, Dan tidak ada bangunan yang setengah jadi, tidak ada serakan bata pecah, tidak ada gundukan tanah, tidak ada parit tak tertutup yang harus dilintasi dengan bantuan papan. Kira-kira baru seminggu lam any a Avner berada di sana, ketika kakek memberi dia sebuah bungkusan. Di dalamnya terdapat sebuah radio transistor. Radio transistor! Bukannya Avner tidak tabu barang itu seperti dalam majalah Am erika. Tetapi bahwa kakek memberikan padanya barang tersebut seperti memberikan sebuah apel, benar-benar merupakan hal baru.

22

I

l'erpustakaan

ABRI

I

Di Israel, barang serupa itu hanya pantas diberikan kepada Ben Gurion! Tetapi bagian paling penting dalam "keajaiban" Frankfut adalah udaranya. Kata itulah yang masih dipergunakan Avner bertahun-tahun kemudian untuk menggambarkannya. Yang menarik bukan iklimnya. Avner mencintai iklim Israel, cahaya matahari dan langit biro. Ia mencintai pantai Ashdod, walaupun ia baru belajar berenang sesudah masuk tentara. Jelas ia lebih mencintai hari panas daripada hari dingin. J adi bukan iklim yang membuat ia terpesona. Udaranya. Bagi Avner, ada sesuatu dalam udara Frankfurt. Sesuatu yang bersih, renyah, melegakan, menyehatkan. Atau mungkin ada sesuatu yang tidak terkandung di dalarnnya: sesuatu yang bent, yang lernbab, yang menekan, yang mengancam. Temyata, seperti yang akan dirasakannya kelak, keadaan tersebut tidak hanya terdapat di Frankfurt, tetapi juga dalam udara kota-kota lain di Eropa Utara: di Amsterdam atau di Paris. Ia merasakannya pu~ di London. Dan di Amerikal "Bagaimana? Kau RlO'aasa senang datang ke mari?" tanya ayahnya, setelah mereka rnelewatkan waktu satu minggu di Frankfurt. "Kau senang?" "Senang sekali ." Ayah hanya tertawa. Tetapi ibu menanggapi reaksi Avner dengan perasaan senang bercampur tidak senang. "Ingat," kata ibu pada suatu ketika agak tiba-tiba dan dengan nada yang lebih tajam daripada biasanya. "Semua orang yang tampak ramah dan baik di jalan itu pernah mencoba menumpas keluarga ayahmu, dan keluargaku." '. Ah sudahlah, lupakan itu," kata ayah. "Saya hanya mencoba mengingatkan dia," jawab ibu. Avner tidak memerlukan peringatan itu. Di Rehovot hampit tidak ada hari yang lewat tanpa sebuah pelajaran tentang malapetaka itu, Tetapi Avner tetap mencintai Frankfurt. sebagaimana ia mencintai kota-kota Eropa lain yang akan dikunjunginya.

23

Pada hari yang dijadualkan untuk pulang ke Israel, nasib menghalangi mereka. Tampaklah oleh Avner bagaimana barang yang paling kecil mempengaruhi hal paling besar. Kelicinan lantai kamar mandi. Andaikata tidak ada sisa buih sabun di Iantai itu, Avner- tidak akan tinggal di Frankfut selama sepuluh bulan lagi. Ia tidak akan masuk sekolah di sana. Ia tidak akan belajar menggunakan bahasa Jerman seperti seorang asli. Seluruh hidupnya akan berbeda sama sekaIi. Apa yang terjadi pada waktu itu hanyalah suatu bunyi gedebug yang berat, dan kakek terduduk di lantai dengan kepala bergetar dan mulut mendesis bagaikan seekor ular karena sakit dan terkejut. Kakek telah terjatuh karena terpeleset ubin yang beberapa hari tidak disikat. Sebenarnya ia hanya terkilir, tetapi tidak mungkinlah mereka pergi ke bandar udara dan mernbiarkan orang tua itu menderita sendirian. Orang tua Avner rnemutuskan untuk tidak pulang dulu, Anak-anak dapat bersekolah di Frankfurt tahun itu. Mereka akan tinggal dan mengurusi kakek sampai ia pulih. Anehnya, ibu Avner, putri kakek sendiri, malah tampak paling sukar mengambil keputusan untuk tidak berangkat dulu. Dialah yang paling enggan tinggal. Ayah Avner tampak senang tinggal di Frankfurt. Menurut penglihatan Avner, yang tentu saja san gat senang atas dasar alasannya sendiri, ayah tidak akan keberatan kalau ia harus tinggal di Frankfurt selamanya. "Kit a dapat tinggal terus di sini," kata ayah kepada ibu ketika Avner kebetulan dapat mendengarnya. Pada saat itu mereka telah menyewa sebuah apartemen tak jauh dari rumah kakek. Avner telah masuk sekolah selama sebuIan lebih. "Gila apa!," tukas ibu. "Kenapa?" tanya ayah dengan pandangan terkejut yang tidak dibuat-buat, "Aku sendiri memang perlu pergi. Tetapi kau dan anak-anak .. " "Sudahlah, saya tak mau bicara soal itu." Dan ibu tidak. membicarakannya. Tidak pada waktu itu, Atau kapan pun. Bagi ibu, gagasan meninggalkan Israel untuk berlibur pun merupakan dosa besar, Berumah tangga dan membesarkan anak-anak di luar Israel, apa lagi di Jerman, sungguh24

l
j
\ 1

i

I
i

I

sungguh tak terpikirkan. Pada waktu-waktu lain, ibu adalah seorang wanita yang bersikap santai dan senang humor. Bahkan ia senang hal-hal lucu, suatu watak yang diwarisi Avner, Tetapi dalam masalah yang menyangkut patriotisme, ia sangat serius, Kapan saja pernbicaraan mengarah ke Israel, ia menjadi bersungguh-sungguh. Wajahnya yang hidup penuh gairah berubah jadi dingin penuh kepastian. Israel adalah suatu pewahyuan, suatu pengertian di luar benar-salah, suatu kepastian di luar baik dan buruk. Avner mengagumi ibunya daIam hal ini. MasaIahnya ialah bahwa ia juga mengagumi ayahnya. Ayah sangat berbeda dari ibu dalam sudut pandang ini. Siapa yang dapat mengatakan bahwa ayahnya tidak berjiwa patriot? Kalau ditanya soal itu, ia hanya akan mengangkat bahu dan melucu. Bertahun-tahun lamanya Avner belum mengetahui sejauh manakah ayahnya bersedia berkorban derni negerinya, Avner tidak mempunyai gambaran dan manakah ayah mendapat penghasihn. Katanya, ia bekerja di bidang usaha ekspor-impor, entah apa itu artinya. Tetapi ia tidak mempunyai jam-jam tetap. Selalu saja ayah bepergian, kadang berbulan-bulan, sejauh yang dapat diingat oleh Avner. Inilah salah satu yang mendukung penundaan pulang mereka. Selama mereka berada di Frankfurt, ayah tidak pemah bepergian sarna sekali, Ia harus bekerja. Tentu saja: mengadakan pertemuan dengan orang-orang di berbagai restoran, warung, atau kadang-kadang di sudut-sudut jalan. Sekali-sekali bahkan ia mengajak Avner ikut dalarn mobil. Mereka akan berkendaraan dengan santai dari Escherhein, tempat tinggal mereka di pinggiran yang sepi tenang, lalu berbelok di Kaiserstrasse atau Geothe Platz menuju pusat kota. Mereka berputar-putar saja sampai ayah rnelihat orang yang akan ditemuinya, Lalu ia akan mernarkir mobilnya. Sementara Avner disuruh menunggu, ayah turun dan mendekati orang itu untuk berbicara sepatah dua patah kata. Ada kalanya ayah menyerahkan amplop kepada temannya. Tak luput dari penglihatan Avner bahwa orang itu selalu melihat ke sana ke man deogan pandangan gelisah sebelurn menerirna amplop terse but dan memasukkan ke sakunya.

25

Orangnya senantiasa berbeda, tetapi pandangan itu selalu sama, Aneh! Pemah ia menanyakan hal itu kepada ayah. " Ayah, siapa orang itu?" "Ah, kenalan ayah. Urusan pekerjaan. Ini pukul berapa? Oh, barn pukul tiga, Kau mau nonton?" Dan mereka beranjak untuk pergi ke gedung bioskop, menonton film Alfred Hitchcock atau kadang-kadang film Western. SeIalu saja film Amerika, Ayah menyukai film Arnerika, Bukan main senang hati Avner! Hanya sayangnya, mereka san gat jarang nonton. Satu hal yang menyolok dalam penglihatan Avner ialah bahwa sebagai usahawan, ayahnya tidaklah kaya. Seorang usahawan seharusnya kaya, begitulah biasanya, Di Rehovot rnernang hal itu tidak kentara, Di sana tidak ada orang kaya, sekurang-kurangnya Avner belum melihat seorang pun. Usahawan di sana tidak me miliki mobil, misalnya, tetapi or'\1lZ lain juga tidak. Di sini, di Frankfurt, rnereka mernang mempunyai mobil, tetapi kebanyakan ayah anak-anak lain pun punya mobil. Ada beberapa yang rnobilnya lebih dari satu. Orang tua ternan terdekat mereka, Andreas, malah mernpunyai tiga mobil. Dan hanya di Frankfurtlah Avner mendengar orang tuanya berbicara soal uang. Hanya di sinilah Avner mendengar ayah menjawab dengan nada suara agak meninggi bila Avner menunjuk-nunjuk mainan di etalase taka: "Maaf, oak, Ayah tak dapat rnembelinya. Mungkin kelak kau akan mempunyai eukup uang untuk membelinya sendiri." Tetapi ini hanya mendung sangat kecil dalam eakrawala kehidupan mereka yang pada umumnya cerah, Walaupun ibu berpendapat lain, Avner segera memutuskan untuk mencurahkan minat sepenuhnya terhadap Frankfurt. Kini sedang musim dingin. Sesudah pulang sekolah ia keluar menuju Siedlung Hohenbliek untuk berrnain kereta luneur atau naik trem merah di Eschensheimer Landstrasse menuju taka American PX di sudut Adiekesallee. Itulah salah satu hal khusus di Frankfurt: markas besar NATO mernbuatnya hampir mirip Amerika, dengan sernua pelayan Amerika dan keluarga mereka yang ting26

I

gal berseberangan di Hugelstrasse, di daerah pinggir yang dinamakan Ginnheim. Mobil-mobil Amerika, klub, program radio, restoran dan film, semuanya Amerika, Tak lupa hot dogs dan French fries! Dan banyak anak mereka belajar di sekolah Avner. Itulah sebabnya ia sempat berternan dengan seorang gadis Amerika. Doris, si gadis berambut pirang yang populer, dan yang mengesankan karena Iebih tua. Umumya hampir empat belas tahun, sementara Avner barn dua belas lebih sedikit. Teman Avner, Andreas, berkata bahwa tak mungkin gadis itu mau pergi dengan dia. Tetapi Andreas Iupa akan kengototan Avner. Ia lupa bahwa Avner tak pernah mau rnenerima kalau seseorang menjawab tidak kepadanya. Ia akan terus bertekun dan bersikeras dengan gigih, tenang, kokoh tanpa rnengendur. Suatu kekerasan hati yang menghasilkan keajaiban dalam hubungan Avner dengan gadis-gadis. Dan tentu saja Avner memang cakap dan cekatan dengan penampilannya yang lebih dewasa dibanding umumya yang nyata. Dan ia juga dapat berbicara bahasa Inggris dengan lebih fasih dibanding remaja-remaja Jennan. Dernikianlah akhirnya berhasil juga ia mernboncengkan Doris, si gadis pirang Amerika, di atas kereta luncumya. Ia dapat merasakan payudara gadis itu yang tertekan lernbut pada punggungnya selagi mereka meluncur menuruni bukit berlereng curam di kaki Ludwig- Tieckstrasse, Langsung masuk semak-semak, Doris mengalami gores-mores begitu banyak akibat ranting-ranting semak sehingga gadis itu kapok pergi bersarna lagi, Ya, ia terlalu berani dalam usahanya membangkitkan kesan baik gadis itu terhadap dirinya. Pelajaran yang baik, Kalau kita berrnain untung-untungan dan gagal, orang tak akan terkesan. Bis Tel Aviv berhenti dengan bunyi rem rnenggerit dan debu panas yang menghambur bagaikan awan. Avner naik. Ya Tuhan, di manakah musim dingin Frankfurt itu sekarang? Apa gerangan yang terjadi dengan Doris si rambut pirang? Atau dengan Andreas, sahabat terbaiknya waktu itu, anak Iaki-laki dati keluarga kaya, anak laki-laki yang begitu dikagumi Avner karena tampangnya yang tampan dan tingkahnya yang sopan santun? Hubungan mereka telah terputus, Mula-mula mereka

27

masih berkirim-kiriman surat, tetapi sesudah itu tidak ada hubungan lagi. Lagi pula surat-menyurat tetap dari kibbutz bukanlah barang gampang. Soalnya, sekembali mereka ke Israel pada tahun 1961, ibu dapat bertindak sepenuhnya menurut kehendaknya. Ibu dapat Iebih bebas, demikian pikir Avner, karena pada waktu itu ayah sedikit banyak sudah tidak berperanan lagi, Ayah memang kembali ke Israel bersama mereka. Bahkan tinggal bersama mereka selama beberapa bulan di Rehovot. Tetapi kemudian usaha ekspor-impor itu mengharuskan dia pergi. Bukannya untuk beberapa bulan lamanya seperti yang sudab-sudab, melainkan untuk selama-lamanya. Pada watu itu Avner tidak tabu bahwa kepergian ayahnya adalah untuk selama-lamanya. Bahkan ibu dan ayah sendiri tidak tabu. Tetapi mereka tabu bahwa mereka akan berpisah lama. "Apa boleh buat," kata ayah, "Urusan usaha. Saya terpaksa pergi, oh, mungkin beberapa tahun lamanya." "Ke mana?" tanya Avner. "Jangan tanya. Ke mana saja. Urusan usaha." "Tetapi," kata ibu menyela, "ada berita bagus untukmu, Avner. Saya dan ayahrnu telab berusaha ke sana ke rnari dan berbicara dengan beberapa orang. Tidak jauh dari sini ada sebuah kibbutz besar, Kau diterima di sana." "Apa?" tanya Avner, tak percaya akan pendengarannya. "Kau diterima di sana. Kau diperbolehkan masuk sekolah di sana, Bulan depan." "Kalau itu yang kau kehendaki," kata ayah sambil memandang ibu. "Maksudku kalau kau mau." "Oh, bagaimana kau dapat berkata begitu," tukas ibu sebelum A vner sempat mem buka mulu tun tuk mengatakan sesua tu. "Tentu saja ia mau. Masuk kibbutz! Cita-cita paling besar bagi seorang anak laki-Iaki. Lagi pula. saya tidak mungkin sendirian mengurusi dua anak." "Nab?" tanya ayah. Hati Avner remuk-redam. Ia tak dapat percaya bahwa orang tuanya bersungguh-sungguh. Yang menjadi pikiran baginya bukan kibbutz itu, tetapi lebih-Iebih kesadaran bahwa

28

mereka mau menyuruh dia pergi dari rumah. Dahulu ketika waktunya pulang tiba, ia ingin tinggal di Frankfurt, tetapi memilih ikut pulang karena tidak mau ditinggal sendirian. Dan sekarang, sesudah bersusah-susah meninggalkan kota yang dikaguminya untuk kembali ke Rehovot yang sepi ini, mereka akan menyuruh dia pergi dari rumah. Tetapi kenapa? Apakah Ibu begitu membenci dia? Ah, ia tidak akan memberi ibu kepuasan dengan memperlihatkan betapa ia sangat mernbenci ibu pada waktu itu. "Baik," jawabnya sambil menunduk, memandang lantai. "Baiklah." "Nah, kata ibu. "Kalau begitu, beres." Hubungan antara Avner dan ibunya akan tetap begini selama hidup. Memang Avner akan insaf segera setelah rasa terguncangnya yang pertama bahwa ibu tidak bermaksud jelek dengan menyuruh dia pergi dari rumah untuk masuk kibbutz. Ia bahkan menjadi yak in bahwa kibbutz akan membawa kebaikan baginya. Indera keenamnya telah mengetahui ketulusan hati ibu. Avner merasakan antusiasme itu terhadap gagasan kibbutz. Tetapi bagaimana mungkin ibu begitu keliru mengenai dia? Mungkin Avnerlah yang hams .mernbuktikan bahwa ibunya keliru menilai dirinya. Kalau ia berpura-pura menerima baik keputusan ibunya - tidak, tidak hanya berpura-pura, tetapi sungguh-sungguh mencurahkan hati, bekerja lebih bersungguhsungguh dan lebih lama daripada semua anak lain, para kibbutznik sejati! ltulah jawabnya, Mereka akan mengakuinya. Mereka akan terpaksa menulis dan bercerita kepada ibu, betapa menonjolnya dia, Lalu ibu akan datang kepadanya dan meminta rnaaf Ibu akan minta dia agar kembali ke Rehovot, Suatu keputusan yang baik! Tetapi hampir seluruhnya akan menguap di jalanan panas berdebu _yangdilalui bisnya menuju Gedera. Kota kecil gersang itu bukanlah tujuan akhirnya. Kibbutz itu sendiri masih hams dicapai dengan perjalanan sekurang-kurangnya satu jam, melalui jalan tak beraspal yang berkelok-kelok di perbukitan rendah, ladang kapas dan kebun jeruk, menuju cakrawala bemoktah pohon-pohon ekaliptus.

29

Suhu udara yang panasnya sembilan puluh derajat seakan-akan dapat dilihat dari udara. Dan ternak yang bergerombol di kirikanan jalan tampak kurus kering. Benarkah binatang-binatang ini yang disebut sapi? Tetapi sapi adalah binatang yang gemuk dan ramah menurut apa yang dilihatnya dalam buku-buku gambar di sekolah. Juga di tanah pedesaan yang subur terpiara dengan b aik di Jerman. Yang membuat keadaan makin tidak baik ialah bahwa kibbutz itu sendiri baik. Avner harus mengakui hal ini pada dirinya. Tiada yang salah dengan jabat tangan ramah anakanak lain, dengan bangsal makan yang luas, dengan kereta makan yang penuh telur dan sayuran segar, dengan kamarkamar tidur mulus bersih tempat tiga empat anak tidur sekamar, lelaki atau perempuan. Semua ini baik, dan memberikan kekuatan kepada semua orang yang menyukainya, yang merasa krasan di dalamnya. Tetapi Avner dapat melihat bahwa ia tetap terasing. Ini dapat dilihat dari cara para kibbutznik memandang sepatu J ennan model mokasinnya, yang dibelikan ibunya di Frankfurt. Sernua anak yang lain memakai sepatu kerja, Seharusnya ibu tahu hal itu. Ada tiga hal yang dapat dilakukan seseorang hila dia merasa dirinya tidak diterima oleh ternan-ternan dalam lingkungannya, tetapi harus tetap tinggal di tengah lingkungan itu. Ia dapat bersikap menyendiri; ia dapat mencoba bergabung dengan suatu pernbalasan; ia dapat melebih-lebihkan keterpencilannya dan menampilkan diri sebagai penentang. Avner mernilih ketiga-tiganya, sering kali dalarn satu hari. Menyendiri adalah cara yang paling garnpang. Penyendirian ini tidaklah sepenuhnya. Orang lain tidak rnelihatnya. Cara ini Iebih merupakan kelembaman batin, dunia setengah sadar. Di situ khayalan-khayalan paling muluk dan beraneka ragam dapat tumbuh di atas kenyataan yang hanya tipis. Pada pukul 06.00 pagi "John Wayne" akan terbangun seperti setiap orang lain karen a mendengar bunyi terompet kapal meriam Inggris. Ia akan mandi dengan cepat, Ialu mernasukkan Colt 38 ke dalam sarong pestolnya dan rninum sedikit sari buah di ruang makan yang besar. Selama dua jam pelajaran pagi sebelum sarapan ia

30

akan melemparkan pandangan ramah lewat jendela ke arah para pekerja dalam ladang di kejauhan. Mereka it u aman, Letnan Kolonel Wayne rnempunyai rencana pertahanan yang ampuh, kalau orang Yordan datang menyerang dari timur. Bila ia memerintahkan, tank-tank akan muneul dari silo-silo bawah tanah yang terdapat di belakang kandang sapi. Tetapi tank-tank ini tidak akan melakukan serangan frontal seperti perkiraan orangorang Yordan itu, melainkan akan membuat gerak menyamping masuk kebun kapas. Di sana semak-semak akan membuka, begitu orang menekan sebuah tornbol. Maka akan tampaklah landasan sementara dati baja, Sayap akan mencuat dari tank-tank raksasa tadi dan menjadikannya pesawat pembom kecil yang memasuki landasan untuk kemudian mengudara dengan anggun dan gernuruh bising memasuki angkasa. Sang pahlawan, pernbela dan pelindung rakyat, si penem· bak tercepat di seluruh Timur Tengah, akan mernasuki pabrik pengalengan pada pukuI dua siang untuk memotong kuku-kuku ayam. Pada pukul empat ia akan muncul sebagai Avner si bandit. Seorang anak sangat nakal yang tidak. takut melawan peraturan dan tata tertib si penindas. Dia dan kelompoknya Itzig, Yochanan dan Tuvia si anak Yemen akan membuat onar di mana saja. Lihatlah Moshe si Muzhik yang sedang memasang bola lampu baru di atas taman. Bagaimana ia dapat rnencapai fitting yang letaknya tinggi itu? Ah orang Russia ini memang cerdik. Lihat sajalah. Walaupun tangganyajeIas tak nyampai karena terlaIu pendek, ia tidak hilang akal. Diletakkannya tangga itu di atas gerobak sampah yang ditarik kuda tua. Bagaimana kalau kuda itu ... tidak, binatang tua itu tak akan pernah bergerak. Ya, ia akan bergerak juga, kalau kita panaskan kawat ini dan kita tusukkan ke ekornya! Yang mengherankan ialah bahwa akibat ulah Avner dan kelompoknya tidak ada korban yang meninggal atau terluka parah selama empat tahun, Juga ketika Avner mendemonstrasikan can memelihara Iebab di depan klas dan karena "keliru" telah memasukkan sarang lebah yang galak. Juga ketika mereka membawa sapi jantan pinjaman kibbutz masuk kamar makan. Juga ketika mereka menyekap Moshe di dalam kamar dingin selama setengah hari. Yang ajaib Iagi, rnereka itu tidak pernah tertangkap.

31

Ironisnya, hukuman selalu datang bila Avner si bandit beralih jadi Avner si kibbutznik, Avner ternan yang bail c. Bila ia membubuhkan namanya pada papan tulis di kamar makan untuk bersuka rela melakukan pekerjaan ekstra di hari Minggu, katakan, membantu kibbutz tetangga dalam memungut panen, tetapi ditolak di depan semua anak yang lain. Yang benar saja, Tuan Mokasin, akan membantu apa kau di sana? Minta agar tangannya kena sabit? J angan kita menjadi tertawaan mereka. Kalau kau in gin sekali mernbantu, pergi saja ke kandang untuk memotong kuku ayam. John Wayne si jagoan dapat mengempur orang Yordan dan Avner si bandit besar selalu 1010s dari penangkapan. Tetapi Avner si kibbutznik memang tidak pernah menjadi tokoh yang menonjol. Ia mernang bukan petani tulen. Sebenamya ia bukanlab anak yang lemah atau lamban, walaupun ia memang kalah cepat dan kalab kuat dari anak-anak lain. Anak-anak yang dibesarkan di dekat parit-parit irigasi di tengah ladang. Anak-anak yang ia kagumi, tetapi juga ia benci. Lalu apa? Dia lebih pintar daripada mereka. Dia mengerti bahasa-bahasa lain, Jerman dan Inggris. Dia telab melihat apa saja, telah bergaul dengan orang Amerika, telah menjelajah separoh bumi ini. Bagi kibbutznik-kibbutznik yang menolak Avner ini, pergi dengan naik kereta keledai ke Bnei Re'em saja sudah merupakan perjalanan hebat. Mestinya mereka itu sangat terkesan oleh Avner. Sebelum ini ia tidak pemah mempunyai kesulitan untuk membuat anakanak terkesan, bahkan di Jerman, atau khususnya anak-anak perempuan. Tetapi entahlah, di Kibbutz ini orang tidak terkesan sarna sekali. Ia telah membawa radio transistornya, dan pada mulanya semua anak berkerumun untuk ikut mendengarkan. Tetapi sese orang di kant or segera menulis surat kepada ibu Avner supaya datang mengambilnya. Ini sebuah kibbutz. Di sini seorang anak tidak boleh mempunyai sesuatu yang tidak dipunyai oleh anak-anak lain. Dan minggu berikutnya ibu pun datang untuk mengambil radio itu. Radio kakek! Anak-anak yang tidak begitu menyukai Avner menyebur dia "Yekke Po tz." Yekke. Ini baru lagi yang dipelajari Avner

32

t,

Ii

.!

I

di kibbutz. Walau bagaimanapun, cepat atau lambat ia akan mengetahuinya juga. Sebagai anak yang dibesarkan di Rehovot, Avner menganggap bahwa semua orang Israel adalah orang Israel Tidak ada masalah ini-itu. Mungkin ada perbedaan sedikit antara sabra asli seperti dia, atau para pendatang yang menetap dari masa sebelum zaman kemerdekaan seperti orangtuanya, dan pendatang-pendatang bam yang tidak bisa bicara bahasa Ibrani sekalipun. Dan, ya, ada pula beberapa orang Israel, walaupun sangat jarang di Rehovot, yang taat kepada agama, yang tampil dan berperilaku seperti orang Yahudi di Diaspora, orang Yahudi pengembara, walaupun telah beberapa generasi larnanya menetap di Israel. Mereka mengenakan jubah hitam, topi berpinggir lebar dan anting-anting. Tetapi adanya Yekke - yang tennasuk dalam suatu cabang, tidak sarna dengan Israel begitu saja - tidak pernah terpikir oleh Avner. Bagaimanapun, di kibbutz Avner telah belajar mengetahui perbedaan antara berbagai tipe orang Israel, sesuai dengan kemauan mereka. Kebanyakan anak d.i kibbutz adalah orang Galicia yang oleh Avner diartikan sebagai orang Yahudi dari Eropa Timur yang kasar, ambisius dan tak tabu apa-apa. Sebaliknya dia, adalah Yekke, sabra berbudaya dan piawai yang berdarah Eropa Barat. Kedua istilah itu, sekurang-kurangnya dalarn pengertian Avner, menggambarkan sifat-sifat yang berkaitan dengan jiwa maupun geografi. Galicia, provinsi Polandia paling timur pada zaman Kekaisaran Austro-Hongaria lama, adalah tempat persemaian segala sifat orang Yahudi yang picik, bobrok, congkak, licik dan rendah. Harus diakui memang bahwa orang Galicia lebih pintar, penuh reka-daya dan tekun. Avner dengan jujur mengakui hal itu, Seringkali mereka merniliki rasa humor yang mengagumkan, Secara pribadi mereka dapat sangat berani dan dati luar tampak sangat setia kepada Israel, Tetapi mereka seiaIu mencari-cari kesempatan, Mereka tak. pemah mengerti hal-hal yang lebih luhur. Berdusta dan menipu adalah hal biasa bagi mereka. Mereka bersifat rnaterialistis, tak ada duanya. Mereka juga sangat lekat satu sama lain bagaikan kertas perekat, Mereka berpegang pada ungkapan-ungkapan seperti le'histader, "Mengu-

33

rusi diri sendiri," atau "membagi-bagi kue". Mungkin mereka tidak semuanya berasal dari Galicia. Tetapi kalau mereka merniliki sifat-sifat tersebut, mereka adalah orang Galicia. Orang Yekke datang ke Israel terutama dari Jerman atau negeri-negeri Eropa Barat yang lain, seperti orangtua Avner misalnya. Tetapi dari manapun datangnya, ciri khas mereka yang paling utama ialah bahwa mereka orang Yahudi yang telah menyesuaikan diri, Mereka tidak pernah hidup di ghetto, di shtetls. Mereka hanya sedikit memiliki naluri-bertahan binatang yang diburu-buru, naluri mengintip kesempatan yang terpaksa dikembangkan oleh orang Galicia untuk tetap hidup. Orang Yekke itu sopan, tertib, rapi dan bersih. Mereka mempunyai buku-buku di rumah. Mereka mendengarkan musik klasik. Yang lebih penting lagi, karena ada juga orang Galicia yang membaca buku dan mendengarkan musik merdu, bahwa orang Yekke mempunyai gagasan yang berbeda tentang kebudayaan Eropa. Mereka mengharapkan Israel menjadi semacam Skandinavia bagi orang Yahudi, dengan banyak orkes simfoni yang memainkan musik Beethoven dan galeri-galeri seni yang rnernamerkan lukisan Rembrandt. Orang Yekke juga mempunyai gagasan berbeda tentang sifat kemasyarakatan. Pada zaman sulit, mereka mau agar segala sesuatu dicatu, dan mereka akan antre secara teratur tertib. Mereka bersedia menerirna perintah, atau mernberi tetapi tidak rnenetapkan, menentukan atau memperalat. Mereka itu tepat memegang waktu, metodis, mungkin sedikit angkuh. Di kota Yekke Nahariya orang membangun rumah dalam deretan rapi, teratur bersih. Dalam banyak segi mereka itu lebih Jerman daripada orangJerman. Avner mengerti bahwa kecenderungan mengelompoknya orang Galicia tidaklah ditujukan kepadanya secara pribadi, Mereka akan mengurusi orang mereka sendiri, Dan dalam arti praktis "orang mereka sendiri" berarti orrang Yahudi Eropa Timur yang lain, terutama orang dari Polandia dan rnungkin Russia. Mereka itulah lingkaran gaib. Pekerjaan paling baik, kesempatan paling baik diberikan kepada mereka. Tampaknya pimpinan kibbutz mereka pegang untuk selama-lamanya. Kalau 34

orang sampai pada pertanyaan anak siapa yang akan dikirim ke sekolah kedokteran, misalnya, jangan pikirkan tingkat, jangan pikirkan kemampuan. Dari luar penentuan akan bersifat sangat demokratis, tentu saja. Seluruh kibbutz akan memberikan suara mengenai pertanyaan serupa itu dalam sidang umum. Tetapi orang boleh bertaruh habis-habisan sampai ke shekel terakhir bahwa yang akan mendapat kesempatan itu pastilah seorang Galicia. Tidak peduli tepat atau tidak, gagasan atau kesadaran ini, kalau kita mau menggunakan ungkapan Avner - muneul di benak Avner waktu di dalam kibbutz. Dan makin lama kesadaran ini akan makin kuat selama hidupnya dalam ketentaraan, dan seterusnya, Di Israel orang-orang Galicia memegang pimp in an, dan orang Yahudi lain- dari Jerman, Belanda atau Amerikatidak banyak berperanan. Orang Yahudi Timur hampir tidak diberi hak apa pun kalau orang menuruti kemauan orang Galicia. Kenyataan bahwa Avner sampai pada keyakinan ini tidaklah berarti bahwa ia Ialu merenung sedih, jengkel atau sakit hati, Bahkan sebaliknya. Baginya hanya ada satu hikmah. la akan bersaing dengan orang Galicia! Ia akan mengalahkan mereka dalam permainan yang mereka buat sendiri, Ia akan menjadi begitu unik, begitu istimewa, begitu tak terkalahkan dalam suatu bidang sehingga pada akhirnya ia akan berada di puncak, Di atas orang Galieia,di atas para kibbutznik. Tak peduli betapa pintar, betapa kuat, betapa penuh tekad dan betapa mereka itu tak mengindahkan moral. Ia akan menang. Mungkin dengan mengikuti langkah ayahnya. Sebab bagi seorang luar ada suatu cara untuk mendapatkan pengakuan di Israel. Juga bagi seorang Yekke potz, yang dalam hati merasa lebih krasan di Frankfurt. Caranya ialah menjadi seorang pahlawan. Seorang pahlawan sejati, seorang Har-Zion. Pada tahun berikutnya sebagai penghuni kibbutz, tahun 1964, barulah Avner mengetahui bahwa ayahnya seorang agen rahasia, la tabu tanpa ada orang yang mengatakannya. Kalanpun ada yang mernberitahukan, kata yang dipakai jelas bukan "agen". Ibunya mungkin berkata, "Ayah bekerja untuk pemerintah." Kalau yang mengatakannya orang lain, paling-paling

35

mereka akan berkata, "Oh, ia mengerjakan sesuatu, kau tahu, untuk Mossad." Kalau diterjemahkan secara harafiah, kata Ibrani itu berarti "Yayasan." Ada, misaInya, mossad untuk penelitian biokimia atau mossad untuk keamanan Ialu lintas. Tetapi kalau digunakan sebagai kata yang berdiri sendiri, Mossad mempunyai satu arti: organisasi yang relatif kecil, terjaga dengan ketat, sangat disegani, teramat rahasia, dan dipandang sangat penting bagi keamanan Israel. Di dalam asrama Avner terdapat beberapa anak yang orang tuanya bekerja di berbagai bidang jasa, Dua atau tiga orang bekerja dalam ketentaraan dengan pangkat tinggL Seorang adalah anggota Knesset, parlemen Israel. Dan ada pula satu anak yang ayahnya konon "mengerjakan sesuatu" untuk Massad. Pada suatu hari, ketika Avner kebetulan berdiri di luar gerbang utama bersama anak itu, ayah anak itu datang mengendarai mobil. Ia datang mengunjungi anaknya, Betapa besar keinginan Avner untuk dikunjungi ayahnya juga. Entah kapan itu akan terjadi, Lelaki itu turun dari mobil. Sebagai salam pertemuan, ia mengguncang-guncang anak itu pada bahunya dan menepuk-nepuk punggungnya beberapa kali. Lalu matanya menatap Avner, "Ini Avner," kata anaknya. "Hai, apa kabar nak," kata tamu itu sambil memegangi tangan Avner dan meremasnya sesaat, "Kau anak barn? Siapa nama ayahmu?" Avner menyebutkannya. "0," kata lelaki itu sambil memandangi Avner dengan sinar mata yang memperlihatkan perhatian. "Jaw kau anaknya. Sampaikan salamku kalau ia datang." "Bapak mengenal ayahku?" tanya Avner dengan heran karena tak menyangka. "Kenai dia?" jawab orang itu sambil menggandeng anaknya lewat pintu gerbang. Itu saja, tidak lebih. Kepala Avner jadi pusing memikirkan. Tentu saja, kenyataan bahwa seseorang yang konon bekerja untuk Mossad menyatakan kenai ayahnya beIum merupakan

36

bukti bahwa ayah Avner adalah seorang agen. Sarna sekali be-. lurn. Tetapi ada sesuatu dalam cara ayah temannya itu memandangi dia, dalam kilasan tanda mengenal yang seolah-olah berkata, "kita berternan." Indera keenam Avner mengatakan sesuatu kepastian yang mernbuat dia tidak ragu-ragu lagi, Ia selalu menghubung-hubungkan usaha "ekspor-impor" ayahnya, kepergiannya terus-menerus dan orang-orang di sudut jalan Frankfurt yang selalu memandang ke sana ke rnari sewaktu mengadakan perternuan. Avner hanya sekedar melihat dan menarik kesimpulan. Untuk mendapatkan kepastian Avner bertanya kepada ibunya secara sarnbillalu. "Bu, apakah ayah seorang mata-mata?" ..Apakah pikiranmu sudah kurang sehat?" kata ibu sambil memandang tajam ke kanan-kiri, "Ayolah, ibu, terus terang saja, Saya kan bukan anak kecil lagi. Di kibbutz banyak orang yang kenal dengan ayah. Apakah saya harus bertanya-tanya ke sana ke mari?" Itu ::indakan yang tak dapat dimaafkan. Avner tabu betul. "Dengarkan baik-baik. Kita bukan pemain film," kata ibu. "Di sini tidak ada mata-mata. Ayah bekerja dalam usaha ekspor-impor dan kadang-kadang ia bekerja untuk pemerintah. Kau tahu?" "Tentu," jawab Avner, "Nab, jelas kan," kata ibu lagi singkat. Jadi benarlah apa yang dipikirnya. Avner begitu berdebardebar sehingga seakan-akan ia mendengar degub jantungnya sendiri, Kini ia dapat memaafkan ayah yang telah mernbiarkan ibu menyuruh dia pergi dati rumah. Ini memang penting, tetapi belum yang terpenting. Sejak saat itu Avner merasa dirinya tidak nalar atau bahkan lebih dari kibbutznik yang terbesar, Dia, seorang Yekke potz, sarna dengan jagoan Galicia yang paling besarl Tetapi Avner tidak pernah berbicara tentang hal ito. Kalau ayah sekali-kali dapat datang berkunjung, mungkin Avner dapat membicarakannya. Dalam waktu empat tahun selama dia berada di kibbutz, Avner hanya sempat dua kali bertemu de-

37

ngan ayahnya, sewaktu Avner pulang liburan dan kebetulan ayah ada di Rehovot. Mereka hanya bertemu sebentar sekali karena ayah harus segera pergi Iagi ke Iuar Israel. Lagi pula selama ayah ada di rumah Avner tidak pemah sempat sendirian saja dengan ayah. Selalu ada yang lain. entah ibu yang sibuk mengerjakan ini-itu, entah adik kecil yang selalu rnengajaak dia berrnain. Tetapi kalau saja ayah sempat mengunjungi dia di kibbutz, mereka tentu akan sendirian saja, dan ia mungkin dapat bertanya-tanya lebih jauh kepada ayah. Tetapi sayang sekali ayah tidak pemah datang berkunjung. Barulah pada tahun 1969, ia dapat berternu dengan ayah setiap saat. Atau dengan apa yang tersisa dari ayah, seorang lelaki sakit-sakitan yang tak berdaya, Kini, setelah Avner berumur dua puluh dua, sudah menjadi kapten tentara cadangan dengan masa dinas empat tahun, ia dapat bertemu dengan ayah setiap saat. Tetapi semua sudah tidak jadi soal. Benarkah semua tidak jadi soal? Dengan tubuh kegerahan setelah bepergian dengan bis dari Rehovot, Avner membuka pintu gerbang. Pikirnya, ia ingin segera masuk kamar mandi. Tampaklah olehnya ayah di kursi kebun, tertidur. Dua ekor lalat hinggap di bibir gelas sari jeruk yang ada di meja, di dekatnya. Udara hari itu panas sekali, Ayah akhir-akhir ini bertambah gemuk. la bernafas berat dalam tidurnya. " Siang, ayah." "Hmm!" Orangtua itu membuka matanya. Mula-mula sebelah, laIu keduanya. Kebiasaan sejak dulu. Avner belum pernah rnelihat orang lain berbuat seperti itu. "Bagaimana siang ini yah?"
"Hrnm."

"Ayah
saya pakai?"

mau pakai Citroennya

malam minggu ini? Boleh

"Pakailah, Pakailah," jawab ayah batuk-batuk kecil. fa menggosok tenggorokannya sambil meluruskan duduknya eli kursi, "Pukul berapa ini?" Avner melihat jam tangann ya. "Lebih kurang tiga." 38

"Wilma ada?" tanya ayah. "Saya tidak tahu. Saya bam saja pulang. Saya tidak melihamya. " Wilma adalah istri baru ayah. Ia menikahinya di luar negeri setelah ayah cerai dengan ibu. Mungkin ini merupakan bagian usaha ayah, pikir Avner, Usaha "ekspor-impor," Mereka tidak berbicara tentang hal itu. Cerita resminya adalah bahwa ayah telah menikahinya,. lalu mereka bekerja sama, Tetapi kiranya sebaliknya dapat juga terjadi. Bagaimanapun juga, orang telah me nangkap ayah dan menjebloskannya ke penjara. Ketika ayah akhirnya bebas, mungkin satu setengah tahun yang lalu, tak lama sesudah Perang Enam Hari, ayah membawa Wilma pulang ke Israel. Avner agak menyukai wanita itu dan mengagurninya. Seorang nyonya, bukan orang Yahudi, "Bagaimana kabar ibumu?" tanya ayah. "Baik, ayah." Avner mengeluarkan amplop coklat itu dan menyerahkannya kepada ayah. Apapun kata ayah, Avner akan mengambil keputusan sendiri. Ayah mengenakan kacamatanya, lalu rnembaca isi surat dalam amp lop itu. Hanya empat baris, Mungkin ia membacanya dua kali. Satu menit lamanya ia tak berkata-kata. Nafasnya pun tampak terhenti. Satu-satunya suara yang terdengar di kebun hanyalah dengung lalat di atas gelas sari jeruk. Lalu ayah melipat surat itu dan mengembalikannya kepada Avner, "Tidak usah dijawab," katanya. Mendengar ayahnya berbicara dengan nada itu, Avner agak terkejut. "Mengapa?" ia bertanya. "Saya kan tidak dapat mengabaikannya begitu saja." "Jangan bodoh," kata ayahnya. "Apa kau memaksaku menelepon rnereka? Sampai mati ayah tak akan menyerahkan kau kepada mereka." Avner hampir tersenyum sendiri, walaupun ia sedang serius. Ayah telah menggunakan kata-kata tepat yang diperkirakan, bahkan dipastikan oleh Avner, Nah benar juga! "Ayah telepon mereka," kata Avner kepada av~ya. "dan 39

saya tak akan berbicara dengan ayah lagi. Biarkan saya menanganinya. .. "Kau akan berkata tidak?" "Tentu, saya akan berkata tidak." kata Avner, "Saya hanya ingin memperlihatkan hal itu kepada ayah, Itu saja." "Ini bukan Ielucon," kata ayah. "Mungkin kau men ganggapnya begitu. Tetapi ini sungguh-sungguh bukan lelucon -.Lihat ayahmu ini." Avner memandangi ayahnya. "Sudahlah, ayah," katanya sambil memgkul orangtua itu. "Jangan kawatir, Mungkin mereka telah bertindak kejam terhadap ayah. Tetapi dengar baikbaik, mereka tidak akan melakukan hal itu terhadap saya. Tidak pernah!" Avner akan selalu teringat percakapan itu sarnpai de tildetil terakhir. Panasnya udara, kursi kebun, pandangn mata ayah, lalat di bibir gelas sari jeruk. Dan ia tentu teringat perjalanannya mengendarai Citroen sesudah itu, Bagaimana ia menjemput Shosana, bagaimana mereka berciuman, berpegangan, menonton bioskop, tanpa mengatakan sesuatu kepadanya, Dan pada hari berikutnya, hari Senin, ia pergi ke kafe dekat sudut jalan Frishman dan Dizengoff. Pukul Hl.Ot) pagi tepat. Moshe Yohanan ternyata orangnya pendek, Mungkin hanya 100 sentimeter. Ia mengenakan bajuputih. Ia sedang membaca koran, dan begitu melihat Avner ia melambai, minta agar Avner duduk di dekatnya. Mereka berjabat tangan erat-erat, dan Avner mernesan dua cangkir es krim panili campur jeruk. Moshe Yohanan langsung memasuki pembicaraan. "Dengar," katanya, "apa yang akan saya katakan? Saya belum tabu apakah pilihan saya tepat. Kita masih harus mernastikan, Tetapi kalau pilihan ini tepat, negeri kita membutuhkan anda."

40

Bab3

MENGGEMBLENG
CALON AGEN

Andaikan ternan bibinya berhasil mencarikan pekerjaan eli EI AI, Avner tentu tidak akan memijat tombol lonceng Apartemen No.5 di tingkat dua sebuah gedung yang tidak istimewa di J alan Borochov. Seharusnya ia berkata kepada Moshe Yohanan, 'sudah lupakan '. Saya akan pulang saja. Apa pun yang ada di rumah ini, semuanya terlalu berbau tentara. Gadis muda yang mernbukakan pintu pun seperti tentara, walaupun ia mengenakan pakaian sipil. Ada sesuatu yang sangat ken tara bila orang melihat cara gadis itu menyerahkan setumpuk lembar kertas yang harus diisi Avner, Sikapnya serba tegas, seperlunya, tanpa senyuman. Avner diminta mengisi formulirformulir itu di sebuah meja kayu. Di kamar itu tidak ada perabotan lain kecuali dua kursi kayu itu. Avner memandangi daftar pertanyaan pada kertas-kertas di tangannya, setelah gadis itu menghilang di balik pintu yang tak dibubuhi tanda apa-apa. Pertanyaan No. 36 berbunyi : "Adakah sanak keluargamu yang hidup di Uni Soviet?" All, masih ada waktu untuk mengundurkan diri, Belum terlambat. Di antara daftar pertanyaan yang panjang itu ada beberapa yang sifatnya begitu prihadi sehingga menyengat naluri kebebasanoya. Tetapi bukan itu yang membuat Avner menjadi enggan. Ia

41

tidak senang dibuat repot oleh tetek-bengek. Terutarna tetekbengek yang masih terus dibadapinya. Entah surat isian yang masih harus dilengkapi, daftar tugas, peraturan, jadual, perintah. Semua cuti ditangguhkan sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Datanglah kembali pada pukul 06.00. Bosan. Empat tao hun sudah ia terikat oleh perintah-perintah begitu. Avner tidak pemah membenci angkatan bersenjata dengan alasan-alasan lumrah. Misalnya, ia mau saja berbaris menelurusi sebuah Israel pada waktu malam dengan membawa peralatan seberat dua puluh lima kilogram. Kalau separoh anggota yang mempunyai harapan diterima dalam komando seperti dia jatuh pingsan di tengah jalan, lalu harus diangkut dengan truk ke rumah sakit, itu bahkan Iebih balk. Soalnya, Avner sendiri tidak jatuh pingsan, walaupun ia tidak tennasuk di antara yang paling besar dan paling kuat. Ia tidak pernah ambruk. Ia juga muneul sebagai orang nomor satu dalam ujian menyelam, padahal ia baru rnulai belajai berenang setelah masuk ten tara. Akhimya dialah yang diterima dalam komando. Satu di antara kira-kira lima belas, dari seratus orang yang meneoba. Ia mengenakan lencana pasukan yang hanya setingkat di bawah pasukan paling terhonnat di Israel, yakni di bawah pilot pesawat tempur. Ia juga mau saja turun ke air diarn-diam dengan membawa sejumlah ranjau bermagnet, dalam keadaan medan seperti dalam Perang Enam Han. Tentu saja ia merasa takut. Hanya orang sinting tidak akan merasa takut, dan pasukan komando tidak pernab rnenerima orang sinting, Yang tidak disenangi Avner adalah air mandi yang tidak mernbuat orang jadi bersih, betapa pun lamanya orang mandi. Lalu, makan yang. tak layak dimakan. Makanan dingin yang tak termakan pada hari Sabtu atas petunjuk rabbi militer. Ia membenci birokrasi. Juga peraturan tentang segala sesuatu yang tidak ada hubungannya sarna sekali dengan keamanan atau efisiensi tempur. Cuti ditunda tanpa alasan, sekurang-kurangnya sejauh yang diketahui Avner. Penugasan didasarkan bukan atas pertanyaan, mana yang terbaik bagi satuan, rnelainkan sebagai ganjaran, hadiah atau hukuman. Dan ia rnembenci keharusan pulang dengan memboneeng kendaraan orang lewat, untuk sampai ke tempat tujuan dalam 42

waktu dua belas jam. Membuang-buang waktu saja, berdiri di pinggir jalan sampai ada warga masyarakat yang mau dinunuti. Yah, mungkin inilah nasib prajurit. Atau nasib pahlawan di seluruh dunia? Avner tidak mau bertengkar mengenai hal itu. Ia hanya tidak mau ikut menderita nasib itu, sekurang-kurangnya untuk sernentara. Mati bagi negara, kapan saja ia mall'. Tapi bepergian dengan mencari nunutan? Sekali-kali jangan sampai terjadi. Masih ada satu hal lagi yang membuat Avner bimbang untuk mengisi formulir yang dipegangnya. Memang, waktu sendirian di kebun rumahnya ia berkata kepada ayahnya, "Mungkin mereka telah menganiaya ayah. Tetapi mereka tidak akan melakukan hal itu terhadap saya." Itu hanya kata-kata, ucapan yang lebih terdorong oleh semangat daripada keyakinan. Avner tidak begitu yakin tentang apa yang dapat "mereka" lakukan terhadap dirinya. Sebenamya, ia pun tidak yakin tentang apa yang telah mereka lakukan terhadap ayahnya. Bicara sedikit, mungkin merupakan kebiasaan selama hidup. Tetapi ayahnya dapat dikatakan tidak menjelaskan apaapa kepada Avner setelah ia kembali ke Israel dengan istri barunya. Menikahi seorang istri baru bukanlah bigami, demikian katanya kepada Avner secara bergurau, sebab lelaki yang dahulu menjadi suami ibunya bukanlah lelaki yang memperistri Wilma di luar negeri. Satu di an tara kedua lelaki itu tidak mempunyai eksistensi yang sah. Ya, ia sudah dipenjarakan karena menjadi mata-mata untuk Israel. Sekurang-kurangnya, itulah yang dituduhkan orang. Dan kenyataannya? Apa menurut pendapatmu? Hubungan antara ayah Avner dan ibunya, bila dilihat secara lahiriah, tetap akrab. Ayah hampir setiap minggu datang ke rumah lama di Rehovot dan bercakap berjam-jam di dapur dengan ibu. Bila Avner berkata kepada ibunya bahwa sekarang "Ibu lebih sering berkumpul dengan ayah daripada ketika belum terjadi perceraian," ibu hanya mengangkat bahu, "Kau kira hal yang terpenting adalah "perasaanku'!" jawab ibu, "Dengarlah kataku, bukan itu!" Avner menafsirkan kata-kata ini bahwabagi ibunya, mene43

rima kehancuran perkawinan tanpa menjerit adalah suatu tugas lain sebagai patriot. Mengapa ia tidak mampu mengorbankan statusnya sebagai wanita bersuarni kaIau orang lain mengorbankan hidupnya demi Israel? Ia tidak akan pernah mengucapkan kata-kata yang menjelekkan suaminya, atau bahkan menjelek.kan Wilma. Ia memang menghindari pembicaraan tentang wanita itu. Dari sedikit ucapan yang menyangkut Wilma, ibu menyebut dia salah satu "hal yang harus diaIami ayahmu yang malang," seperti pengalamannya ditangkap dan dipenjarakan. Avner dapat memahami sikap ini, tetapi ia tidak dapat mencegah perasaan jengkelnya terhadap ibu. Rasanya ia lebih senang kalau ibu menjerit dan marah. Sikap ayah berbeda, Ia tidak menyembunyikan perasaan getir yang meliputi hat iny a, walaupun ia tidak berterus terang menjelaskan sebabnya. "Sudah, ya sudah!" katanya. "Ap ap un akan diberikan, selagi seseorang masih diperlukan. Ia akan disanjung dan entah apa lagi. Tetapi kini setelah ia tidak berguna lagi, mereka meludahi .... dia." Lalu ayah menambahkan, "I tu kalau beruntung masih hidup dan mereka dapat ludahi" Dan Avner ingin bertanya, "Siapa yang ayah maksudkan dengan mereka? Siapa mereka?" Tetapi ayah pasti tidak mau menjawab. Paling-paling dia' akan menjawab: "Orang itu ibaratjeruk. Ia akan diperas sampai kering. Sesudah itu dibuang." WaIaupun ayah tidak memberikan detil yang lebih jauh, maksudnya cukup jelas. Orang tua itu - ia sebenarnya belum tua, umumya baru limapuluh lima tahunan - te1ah menjadi seorang yang renta sekembalinya dari luar negeri. 1a hancur akibat sesuatu yang lebih dari interogasi dan sekapan penjara yang dialaminya, "Dilihat dari satu sudut pandang, maka hukuman penjara selama dua atau tiga tahun merupakan penderitaan yang sangat buruk," demikian kata ayab kepada Avner. "Tetapi dilihat dari sudut lain, pengalaman itu bukan apa-apa." Juga merosotnya kesehatan bukanlah penyebab pokok kehancuran ayah, walaupun ia harus terus-rnenerus berada eli bawah perawatan dokter. Mungkin kesulitan keuangan? Itu pun bukan 44
t_

penyebab utama, walaupun ia sangat kekurangan uang. Ia tidak mempunyai pekerjaan dan hanya mengandalkan uang pensiun yang tidak seberapa. Ia telah mencoba beberapa usaha sekembalinya ke Israel, tetapi tak berhasil. Masalah yang sebenarnya jauh lebih dalam, "Mereka menyuruh saya memunguti batu-batu berharga itu," kata ayah padasuatu hari kepada Avner, "Mereka mernbiarkan saya memeganginya, bermain-m ain dengannya sedikit. Semua batu berharga ini akan menjadi milikmu, kata rnereka, kalau kau mengeljakan ini-itu. Demikian seterusnya." "Lalu, ketika tiba saatnya saya mengetuk pintu mereka untuk mengambil apa yang telah merekajanjikan, mereka berkata, Maaf! Batu berharga yang mana? Kau siapa? Namamu siapa?" Avner yang tak menangkap maksud ayahnya sempat bertanya, "Apa maksud ayah?" Tetapi ayah hanya geleng-geleng kepala. Ayah menceritakan hal yang sebenarnya. Avner tidak meragukan kata-kata ayahnya. Tetapi itu rnungkin hanya kebenaran bagi ayah saya. Mungkin bukan kebenaran bagi setiap orang lain. Kalau itu kebenaran bagi semua orang, bagi segala zaman, lalu apa yang tinggal bagi dia si bocah kecil itu? Boeah yang tidak mempunyai bakat untuk jual-beli, tidak mernpunyai bakat untuk kirnia dan matematika? Apakah ia harus berada di Iuar lingkaran ajaib untuk selama-Iarrianya? Tidak boleh ~elihat Frankfurt lagi? Menumpang kendaraan lewat bersama Shoshana ke pantai di Ashdod seminggu sekali? Menunggu sampai ternan bibinya berhasil menearikan pekerjaan di EI AI? Tetap menjadi seorang Yekke potz yang baik, walaupun telah digembleng dalam kibbutz dan ketenteraan? Tidak berbuat apa-apa untuk dirinya dan untuk negerinya, selamanya, hanya karena ayah telah mengalami kegagaIan? Mungkin yang bersalah bukanlah "mereka," sekurang-kurangnya tidak seluruhnya. Mungkin ayah yang telah keliru menggunakan kesempatan, Avner menjawab pertanyaan dalarn formulir di atas meja kayu itu dan mengembalikannya kepada si gadis, Selang'beberapa menit ia dipersilahkan masuk pintu yang tak bertanda. Di ruang yang lain duduklah seorang setengah urriur di belakang 45

meja kayu sederhana. Sebuah lemari arsip tampak di sudut. Bagi tamu tersedia sebuah kursi kayu pula. Lelaki itu memandangi mata Avner dan menjabat tangannya dengan kuat, lalu mernpersilahkan dia mengambil tempat duduk di kursi, JOApakabar?" "Baik," jawab Avner agak terperanjat, "Dan ayahmu?" "Baik. Terima kasih." "Syukur, syukur," kata lelaki itu. "Dan bagaimana ... " di sini ia menyebutkan nama komandan kesatuan Avner dalam ketentaraan, Nama-nama perwira dalam satuan tempur seperti satuan Avner tidaklah dikenal oleh masyarakat umum. Avner agak ragu -mengapa orang itu menyebut-nyebutnya - entah untuk mengakrabkan hubungan, untuk rnencek kebenaran pernyataan Avner, atau untuk membuktikan bahwa ia mengenal Avner? Bagaimana juga, Avner memutuskan untuk memberikan jawaban seperlunya. "Baik-baik saja, ketika saya bertemu dia terakhir kali." "Itu pada bulan _ .. , tunggu dulu ... , Februari, kira-kira?" tanya orang itu lagi sambil menarik sebuah map tipis yang ada di mejanya. "Maret," jawab Avner dengan suara yang tidak memperlihatkan rasa dongkol atau terkesan. Sebenarnya ia merasakan keduanya. Mendongkol karena permintaan orang itu dan terkesan oleh kecermatannya. Mereka tentu telah melakukan penelitian dengan mencek segala sesuatu, namun mereka mau kepastian. Orang itu menawarkan'rokok. Avner menolak dan ia melihat bahwa yang lain juga tidak mengisap. Orang yang tidak merokok biasanya tidak menawarkan rokok, Maka ini pun rupanya merupakan cara mencek apakah Avner yang datang memang Avner yang mereka kenal dari keterangan. Kalau yang datang bukan Avner yang benar, mungkin ia akan menerima tawaran itu tanpa pikir panjang. Pintar, sunggub pintar! Suatu godaan yang hampir tak tertahankan - bagi Avner si bandit untuk berpura-pura rnenerima tawaran rokok itu, hanya untuk melihat apa reaksi pak tua itu. Tetapi Avner tidak melakukan itu. 46

Pekerjaan yang akan dijalaninya sangat menarik dan penting sekali bagi Israel. Ia akan mendapat keamanan dan pensiun di hari tua. Ada asuransi, jaminan kesehatan dan bahkan perawatan gigi. Mungkin ia akan banyak bepergian ke luar negeri. Ia akan melihat organisasi ini sebagai sebuah piramid, dernikian kata orang itu. Di bawah banyak orang, makin ke atas makin sedikit, dan yang di atas sangat sedikit, Tergantung pada dia sendiri, apakah ia akan mendapat kemajuan atau tidak, "Lihat saja, misalnya," kata orang itu bergairah. "Saya mulai dari bawah, dari tingkat paling bawah. Banyaklah yang saya alami sebelum saya sampai pada keadaan sekarang." Ya, keadaan apa? Avner berpikir sendiri. Seorang kakek tua, duduk di kursi kayu da1am kamar kecil pengap. mewawanearai eaIon anggota pada tahap paling awal. Apa yang mengesankan? Tetapi mau apa? Ruang sangat sederhana di J alan Borochov ini jelas hanya tingkat terbawah. Organisasi ini mungkin sangat hebat di tingkat atas. Tingkat atas, yang dikepaJai sang "John Wayne", mungkin sangat berbeda. Tetapi sesudah wawaneara itu, orang-orang dengan reneana hebat itu tidak memberikan kelanjutan. Tidak ada panggilan telepon, tidak juga surat. Tetapi pikiran Avner sama sekali belum sampai pada suatu keputusan. Dan baginya pada waktu itu, yang paling enak adalah rnernbiarkan segalanya berlalu, Waktu itu musim panas tahun 1969. "Belum ada berita apa-apa dari E1 AI?" tanya Shoshana, sesudah mereka melewatkan akhir pekan bersama seperti btasanya. "Mmm-mm," gumam Avner sambil menggelengkan kepala. "Habis enak-enak saja, sih I" Sementara Shoshana sendiri juga enak-enak saja, pertanyaan itu hanya basa-basi, Menjelang musim gugur, ia akan lulus dan berhak mengajar. Mereka tidak banyak bieara tentang perkawinan, tetapi tanpa kata-kata pun mereka sudah saling mengerti. Begitu Avner memperoleh pekerjaan, mereka akan mulai mencari apartemen. Mereka saling mencintai, Ketika Avner berdinas militer selama empat tahun, Shoshana tidak meneari 47

j

!

1
1

ternan lain. Kalau mereka sudah menikah, orang tua mereka akan membantu mereka mandiri. Tidak lucu kalau mereka tetap saja memakai mobil tua pinjaman untuk selama-lamanya. "Bukan El AI saja yang saya tunggu-tunggu," kata Avner kepada gadis itu, "Masih ada lagi yang lain." "Oh ya? Apa itu?" "Ah, pekezjaan untuk pemerintah. Cukup menarik kalau saja saya diterima. Saya sedang menunggu-nunggu jawaban." Avner tidak bercerita lebih jauh tentang pekerjaannya. Shoshana juga tidak bertanya. Inilah salah satu segi yang memo buat Avner tertarik pada gadis itu, Selain rambutnya yang coklat muda, raut mukanya yang anggun dan matanya yang biru jemih. Tetapi itu semua bukanlah yang paling menarik, Yang paling menarik. tidak mungkin dilukiskan dalam kata-kata. Telegram itu tiba di rumah ibunya sebulan lebih sesudahnya. Avner sudah hampir melupakan semuanya. Ia lebih menantikan jawaban dari El AI. Di sana, pekerjaan apa saja dapat memhawa dia ke mana-mana, entah pramugara, pegawai keuangan, atau awak pesawat terbang. Tetapi orang diJalan Borochov Itu, siapa tahu? Apartemen yang harus didatanginya menurut bunyi telegram itu tidak terdapat di J alan Borochov, tetapi sarna sederhananya. Di sana pun ia diterima oleh seorang gadis yang tidak tersenyum dan dipersilahkan masuk kamar lain lewat pintu yang tak bertanda pula. Meja, kayu di dalam ruangan itu seakan-akan yang dulu juga. Hanya orang yang duduk di sana berbeda. "lni menyangkut pekerjaan yang dulu kita bicarakan," kata orang itu. "Masih berminat?" "Masih.'· "Baik." kata orang itu seraya rnengam bit penanggalan yang ada di depannya. Ia melingkari suatu tanggal yang diperIihatkan kepada Avner. Lalu ia menyodorkan selembar kertas kepada
Avner,

"Pada tanggal itu, hubungilah alamat ini. Hafalkan lalu kembalikan kepada saya. OK. Pergilah sendirian, kendaraan urnum. Di alamat itu akan diberikan kursus Ada beberapa tes, Kursus akan ditutop dengan ujian. nya, akan kita lihat." 48

sekarang Pakailah singkat. Selebih-

Avner agak bimbang sebentar . ..Ada yang rnau ditanyakan?" "Anu .... apakah saya diterima?" tanyanya. "Artinya apakah saya mendapat gaji?" "Kau diterirna untuk latihan," jawab orang itu. "Tentu saja digaji. Kau akan masuk dalam staf sementara suatu dinas pelayanan umum, entah apa belum pasti. Tiap minggu kau akan menerima cek lewat pos. Ada lagi?" "Tidak, itu saja," kata Avner sambil bangkit. "Terima kasih. " "Selarnat." Orang itu menyodarkan tangan untuk menyalami Avner tanpa berdiri dari duduknya. Gadis tanpa senyum itu pun sudah membuka pintu. Pada menit berikutnya si agen Massad yang baru telah berdiri di jalan. Siang itu, dalam perjalanan bersama Shoshana dalam Citroen tua ayahnya, Avner tiba-tiba bertanya kepada Shoshana, apakah ia berminat untuk beremigrasi dari Israel? Ia sendiri tidak tahu dorangan apa yang membuat ia bertanya begitu, Dia sendiri heran. Shoshana memandangnya dengan mata penuh tanda tanya. "Tetapi, ke mana?" "Saya sendiri tidak tahu. J errn an, atau ke mana saja. Mungkin Amerika." "Maksudmu, u ntuk selarna-Iamanya ?" "Tentu saja untuk selama-Iamanya, Itulah yang namanya beremigrasi. '. Shoshana mulai tertawa. Mungkin agak tidak enak. "Kau bercanda. Mana mungkin," kata gadis itu. "Musim gugur mendatang. saya mulai mengajar. Orang-tua saya .... rumah kita .... "Ia memandang Avnerj lalu menambahkan: "Jangan cemas, Kau akan mendapat pekerjaan, cepat atau Iambat." Avner tidak berkata apa-apa. Tidak dikatakan kepada gadisnya bahwa ia sudah mendapatkan pekerjaan. bahkan mungkin pekerjaan yang baik. Tetapi tanpa mengenal ungkapan de jevu, ia diliputi perasaan bahwa ia sudah pemah mengalami saat seperti ini sebelumnya, Aneh, Ia tak dapat menjelaskannya kepada did sendiri. Namun malam itu, sebelum ia terle1ap tidur, hal itu terkilas dalam ingatannya. Ah ya, tentu saja. Saat itu

'1 .;;

49

ketika ayah bertanya kepada ibu, apakah ia mau diajak tinggal di Frankfurt? Waktu itu ibu menjawab, "Apa kau sudah gila?" Walaupun waktu yang ditentukan untuk latihan masih dua minggu lagi, Avner tak dapat menahan diri untuk merninjam lagi Citroen ayahnya dan pergi sendirian menuju distrik Tel Aviv Hakirya. Dari sana ia mengikuti jalan Haifa ke utara." Benaknya penuh pertanyaan. la sangat mengenal.daerah itu, tetapi tidak dapat mengingat satu gedung pun yang ~iU1tas untuk pusat latihan Mossad. 1a bolak-balik beberapa kali, tetapi tidak melihat apa-apa kecuali pemuda-pemuda seperti, mahasiswa yang sedang berjalan-jalan atau duduk-duduk berkelompok di telundak batu. Jalan itu berakhir pada sebuah lapangan yang dikelilingi pagar sederhana. Di tengah lapangan itu, tertanam ke tanah, terdapat sebuah kubah berbentuk jamur, Tampaknya seperti pabrik pembangkit Iistrik atilt· mungkin bagian atas suatu perlindungan anti serangan udara. Avner jadi bertanya-tanya, apakah ini merupakan ba~an test itu? J elas bahwa ia tidak dapat mulai dengan bertanya-t"",,va. Tetapi ia tidak mungkin kembali menemui orang di b;Ji~' cr·; ineja kayu itu . ,,;, dan mengatakan bahwa ia tak dapat menemukan tempatnya. Bahkan mungkin orang itu sudah tidak ada di sana lagi. Baik apartemen di Jalan Borochov maupun yang di tempat lain, tampak seakan-akan telah disewa untuk waktu yang sangat pendek. ) Suatu gagasan muncul, Ia memutar Citroennya dan rnengikuti jalan yang tadi dilewatinya sampai pada persilangan dengan jalan menunggu. Lalu lintas di sana tidak ramai, tetapi selarna beberapa saat beberapa mobil tampak keluar masuk jalan itu. Avner memperlihatkan mobil-mobil itu, tetapi tak berbuat apaapa. Ia menunggu isyarat dari indra keenamnya. i~ menunggu sesuatu untuk sampai pada suatu kesimpulan. . Mobil yang dinanti-nantinya baru muncul sejarn kernudian. Tidak ada sesuatu pun yang mernbedakannya dari mohil-mobil lain. Dua orang yang duduk di dalamnya mungkin profesor, bukan asisten. Ia tak. dapat rnenjelaskan.keyakinannva kecuali, seperti katanya kemudian, mobil pemerintah adalah mobil pe.t~~t~~ ... rnerintah, juga di Israel.,
»,

6

i

50

Avner mernbuntuti mobil pemerintah itu dari kejauhan mernasuki suatu jalan k ecil yang berkelok-kelok, Mobil tadi menuju pagar kawat di pinggir lapangan terbuka. Tetapi sebelum sampai, tiba-tiba mobil itll membelok ke kanan, seakanakan langsung ke dinding bangunan terakhir. Ternyata mobil tersebut bukannya menabrak dinding beton, mclainkan mernasuki srbuah gang sempit di antara gedung dan pagar kawat. Di ujung gang terdapat pintu geser yang digerakkan dengan listrik. Tampaklah oleh Avner pintu itu membuka perlahanlahan. Di balik pintu, jalan tiba-tiba menukik tajam sehingga mobil yang diikuti Avner seolah-olah menghilang ke bawah lapangan terbuka itu. Avner tidak terus mengikutinya. Dua minggu kemudian ia datang mclapor untuk mernulai latihannya. Di dalam kelompok Avner terdapat duabelas orang lain. Semua laki-laki dan kebanyakan sebaya dengan Avner. Hanya dua atau tiga orang yang tampak lebin tua. Salah satunya berumur kira-kira empat puluh tahun lebih. _.Jak ada satu orang pun yang telah dikenal oleh Avner. WaIau .. un rasa-rasanya di antara yang muda-muda ada . dua atau tiga orang yang pernah dilihatnya, mungkin dalam ketentaraan, pada suatu operasi gabungan. Hanya dati satuannya dulu ia tidak melihat seorang pun. Satu minggu kernudian ia rnenerima cek pembayaran pertamanya. Cek itu dikirirnkan oleh pengairan Tel Aviv ke Rehovot, Isinya 120 pound Israel. Tidak banyak. Orang akan berpikir dua kali untuk membangun keluarga dengan penghasilan sebesar itu, Tetapi, untuk sementara waktu, tidak jadi soal, Uang memang tidak pernah menjadi pusat perhatian Avner: Iebih-lebih pada masa i~u, Yang dipikirkan hanyalah cara hidup yang dapat memberikan gairah, perjalanan, kebebasan bertindak, dan mungkin nama yang dikagurni, Kebanyakan pelatihnya masih muda, mungkin empat atau lima tahun di atas Avner. Yang merupakan kekecualian daIam hal ini hanyaIah pelatih senjata api, seorang Iaki-laki bemama Dave. Dati wajahnya tampak ia berumur sekitar enam puluhan, namun badannya rr~ ih gesit dan kencang bagaikan seorang atlet dua puluhan sa [aranz Avner melihat orang dengan keadaan fisik sebaik dia.

51

Dave seorang bekas Marinir Amerika yang tak pernah dapat berbicara bahasa Ibrani dengan cukup baik. Avner, dan juga beberapa ternan yang lain, sebenamya senang berbicara dengan dia dalarn bahasa Inggris, tetapi Dave bersikeras untuk menggunakan bahasa Ibrani. "Kalian belajar menggunakan bedil, saya belajar menggunakan bahasa," katanya kepada Avner dengan bunyi kata yang diperpanjang seperti suara Pop eye pada waktu mereka bertemu pertama kali. Entah bagaimana, gaya bicara seperti itu memberikan wibawa tertentu pada suaranya, "Kita belajar bersama baik-baik, ya?" "Untuk saya, OK saja," jawab Avner, "Kau tentara, he?" tanya orang tua itu. "Mereka mengajar kau menembakdi dalam ketentaraan?" "Sekurang-kurangnya, mereka memberi kami senjata,' jawab Avner berhati-hati. "Kau membantu saya," kata Dave bersungguh-sungguh, "kau membantu diri sendiri, Lupakan bahwa kau pernah melihat senjata sebelurnnya, Anggap saja kau lihat senjata pertama .kali eli sini." Dari suatu sudut, dia benar. Walaupun Avner telah cukup banyak belajar menggunakan senjata yang disandang di sisi badan - bukankah ia bertugas dalam pasukan komando tetapi Avner be1um pemah belajar menembak seperti yang diajarkan si Pop eye ini. Sebagai langkah pertama, orang tua ini sangat fanatik dalam soal penyesuaian fisiko Bukan kekuatan, melainkan koordinasi. "Kau kira juara angkat besi dapat menjadi penernbak yang baik?" tanya Dave. "Juara angkat besi akan pandai menembak tahi kerbau. Tetapi bila kau ingin melempari musuh dengan batu, berlatihlah angkat besi, Dan kalau kau mau menembak musuh, berlatihlah lompat tali. Seperti gadis kecil." Selama sekurang-kurangnya satu jam setiap hari seluruh kelompok melakukan permainan itu dalam bangsal latihan di bawah tanah. Bayangkan, selusin calon agen dinas rahasia berlamp at tali bagaikan gadis-gadis sepuluh tahun. Dave tampaknya hampir secara rnistik percaya sekali bahwa ada hubungan antara Iompat tali itu dan kegesitan menggunakan senjata

52

tangan. Hal ini terungkap dalam kata-kata pelatihnya itu. Memang Dave mampu mengunjamkan paku ill dinding dari jarak 75 meter dengan peluru yang ditembakkan tangan kanan rnaupun kirinya. Tetapi bukan itulah yang menjadi tujuan mereka. Seperti kata Dave pula, "Bila kau mau menetnbak sasaran dengan tepat, masuklah ke sebuah klub Olympiade. Tetapi di sini, kita belajar ternbak tempur." Tembak tempur, menurut Dave, berarti mempelajari halihwal senjata lawan, "Apa kau kira lawan kita itu seperti sasaran diam yang menunggu saja sampai kau rnenemhak ilia?" tanya sang pelatih, "Ia akan menernbakmu lebih dulu, mungkin lebih jitu daripada tembakanmu. Kalau kau sudah belajar menembak, dan nasibmu balk, umurmu panjang, Tetapi belajarlah mengelak, umunnu akan lebih panjang lagi." Ini tidak berarti mengelakkan peluru, tentu saja - sebab hal itu jelas mustahil - meIainkan berarti berjam-jam duduk di dalam klas untuk belajar mengenal senjata dari gambar-gambar berwama maupun film slide. Kita pelajari setiap tipe senjata yang mungkin digunakan lawan. Sebab, seperti kata Dave, setiap tipe senjata mempunyai ciri-ciri khas tertentu. Dan mengetahui ciri-ciri tersebut dapat berarti menyelamatkan nyawa. "Peluru itu hukan lalat kuda yang mengiang-ngiang mengejarmu. Peluru itu meluncur lurus," Kalau kita mengenal senjata yang digunakan lawan, acapkali kita rnasih mempunyai saat sekejap untuk memastikan ke mana arab peluru lawan akan mengena, Dengan bergerak ke arab yang berlawanan, mungkin kita rnasih sempat menyelamatkan diri. "Kau lihat dia memegang revolver, misalnya, Kau cukup pintar. Kau tahu semua revolver hila ditembakkan bergoyang sedikit ke kanan, tak peduli penembaknya seorang jagoan sekalipun. Nab, bergeraklah ke kanan. KaIau kau bodoh, kau bergerak ke kiri, dan mampuslah kau. Tepat kena di sini, Seperti bingo. "Kata Dave sambil menonjokkan telunjuknya tepat di antara kedua mata Avner. Yang penting lagi ialah mengenali senjata kita sendiri. Pada waktu pertama kali bekas Marinir itu memperbolehkan anakanak didiknya memegangi senjata sungguhan, Avner agak ter-

I

53

cengang. Senjata yang dibagi Dave kepada mereka adalah Beretta semi automatik ked] kaliber 22. Ah, mungkin hanya untuk latihan menembak, pikir Avner, "Tidak. Inilah senjata dalam pekerjaan kalian selama-Iamanya," Menurut penjelasan yang diberikan Dave, dalam pekerjaan khusus seorang agen, jangkauan tembak dan daya tembus peIuru sebuah senjata api adalah soal kedua dibandingkan ketepatan, keredaman suara dan kemudahan untuk disembunyikan. Rupanya jalan pikiran ini, dan khususnya penggunaan Baretta-22, merupakan sumbangan orisinal Dave bagi persenjataan agen lapangan Mossad. Sebelum kedatangan Dave, agen-agen Israel menggunakan senapan angkatan darat dan polisi dengan kaliber yang lebih besar, seperti rnisalnya 32, 38 atau bahkan lebih : 45. "Mereka mengatakan kepada saya, apa gunanya kaIiber. 22? Kita butuh senjata yang besar," demikian cerita Dave. "Maka saya katakan pad a mereka, percayalah pada saya. Kita tak membutuhkan senjata besar." Dave bahkan minta agar beban peluru dikurangi; artinya, jumlah bahan peledak dalam selongsong peluru dikurangi. Akibatnya, peluru. 22 yang sudah kecil itu menjadi lebih lambat larinya. Jangkauannya pun Iebih pendek daripada peluru 22 biasa, Sebaliknya, peluru itu menghasilkan suara letupan Iebih Iemah kira-kira berbunyi pffm ._ bila ditembakkan. Dengan demikian tidak diperlukan peredam bunyi. Peluru itu dapat pula ditembakkan dalam rongga bertekanan tinggi di dalam pesawat terbang tanpa bahaya menembus dinding aluminium yang menyebabkan terjadinya reaksi tiba-tiba yaitu berupa ledakan karena tekanan udara yang mendadak turon, sehingga pesawat terbang dapat benar-benar meIedak di udara. Inilah sebabnya penggunaan senjata yang lebih besar dalam pesawat terbang jet modern sangat berbahaya. "Kalian mengkhawatirkan penggunaan senjata kecil?" tanya Dave. "Kilian menginginkan senjata yang lebih besar? Cobalah, kalau musuh kalian gajah? Kalau musuh kalian Tank? Kalau kalian menghadapi tank, senapan sebesar apa pun tidaklab cukup. Untuk melawan tank diperlukan bazooka. Tetapi kalau musuh kalian itu orang, pestol kecil pun cukup," 54

Dave juga tak sependapat dengan orang yang menganggap"~ kaliber 22. kurang cocok, karena jangkauan tembaknya kurang sekali. Yang mencernaskan hal ini adalah orang-orang yang telah dilatih dalam ketentaraan, Tetapi tugas agen lapangan sangatlah berbeda. Menurut pendapat Dave untuk melaksanakan pekerjaan tersebut tidak diperlukan latihan militer, Tentara dilatih untuk rnenjadi penembak yang tepat dan menembak musuh dari tempat sejauh satu setengah kilometer. Mereka dilatih untuk memuntahkan peluru tak terhitung banyaknya dengan sekali menarik picu. "Huh, kau agen besar di London," kata Dave penuh sindiran, "mungkin kau mau pistol mesin, Heckler atau Koch, senjata bagus yang rnenembakkan satu peluru tiap detik. Begitu ada orang memandangmu agak meneurigakan, kau bunuh. " Tentara atau polisi mengajar orang untuk mengokang senjata, memasang kait pengaman, lalu maju, dengan senjata di tangan. Dave menasehati, "Lupakan kait pengaman. Bagimu kait pengaman itu tidak. ada Kait serupa itu tidak selalu mencegah meletusnya senjata tanpa sengaja - niisalnya hila senjata itu terjatuh - tetapi mungkin juga akan mengganggu penggunaan senjata bila pada suatu hari kau tiba-tiba membutuhkannya. Dalam tugas kalian, jangan membawa senjata terkokang. J angan ada senjata di tangan, kecuali kalau kau mau menernbak. Belajarlah menarik senjata dan sekaligus menarik pengokang di atas laras, menggunakan kedua tangan. Berlatihlah melakukan itu sejuta kali. Berlatihlah terus sampai kau dapat melakukannya dengan satu gerakan yang lanear. Dan bila senjata itu ada di tangan, kau hams menernbak, J angan pernah menarik senjata tanpa menernbak. Itulah gunanya senjatamu." "Kau ini bukan polisi," kata Dave tandas. "Kau ini agen. Agen rahasia. Kau menarik senjata, kau orang jahat, samaranmu tersingkap. J angan pernah menarik senjata hanya untuk memperingatkan. Awas, jangan nakaI, saya punya senjata, Bukan begitu! Bila kau menarik senjata, kau harus menembak, Dan menernbak, untuk membunuh." "Itulah pelajaran pokok bagi kalian. Ulangilah terus. Tarik senjatamu hanya untuk menernbak, dan rnenembak hanya un-

55

tuk mernbunuh. Kalau seorang pcrampok minta dompetrnu, berikan. Minta sepaturnu, berikan. Minta bajumu, berikan. Biark an mcreka memukulmu, me nistamu, Tetapi karena suatu sebab kau tidak bisa me nverahkan apa yang dimintanya, bunuh dia. Jangan pcrnah mengeluarkan scnjata scbagai ancaman. Jangan mcnembak orang di kakinya. Kau bukan polisi: kau agen. Kau dibayar untuk tidak diketahui. Itu tugas nomor satu di atas scgalanya. Inilah pekerjaanmu." Dan kalau kau menarik picu, sclalu tariklah dua kali. Dave bersikap fanatik pula terhadap resep ini, Sarna pentingnya dengan latihan lompat tali. lnilah batu sandi tembak tempur dengan senjata apa pun, terutama 22. Kata sang bekas Marinir, tanganmu tak mungkin berada dalam posisi yang persis sarna kalau kau berhenti setelah menernbak. Tak peduli berapa lama kau berlatih. Tak seurang pun dapat menahan tangannya untuk tidak bergerak sedikit, walaupun secara tak sadar. Kalau incaranmu tepat pada tembakan pert ama, tembakan kedua akan mclesct bila kau berhcnti dulu. Tetapi kalau kau menarik picu dua kali, seketika, apa pun yang terjadi, akan ada dua peluru yang mcngenai sasaranmu. Asalkan tembakan pertama itu rnemang tepat. Kalau peluru pertama tidak kcna, tidaklah jadi soal apakah yang tidak mengena it u dua peluru atau hanya satu saja. Kalau kau meleset, kau dapat mernb etulkan bidikan dan menembakkan dua peluru lagi. Kalau ada waktu. Selalu dua peluru. Setiap kau rnenarik picu, tariklah dua kali. "lngat it.u," kata Dave, "Ingat itu dalam tidur. Selalu pffrn-pffm. J angan pernah hanva plfm. Itu tidak jitu, Pokoknya pffm-pffm, juga dalarn tidur ." Pada suatu ketika, bertahun-tahun sesudah latihan dasar terse b 11 t, A \'J1 cr b erju m pad cogan Dave di J alan J atotins ki, Tel Aviv. "Hai sobat lama?" kata orang Amerika itu dengan gembira. "Ap a kab ar? ~lasih ingat pffm-pffm? Hati-hati,jangan lup a: " Avrier tak pernah lupa. Ia buk an pencmbak dan berlatih. Ia hcrlatih berbakat alam, sebagai seorang tetap i ia telah berlatih Yekke yang baik dan

56

",
."

................

penuh kesadaran, Dan ia bisa menembak. Ia tidak pemah paling top di dalam kelompoknya, sebab untuk itu diperlukan satu ketajarnan mata, suatu kejelian, yang kebetulan mernang tidak dimiliki oleh Avner. Tetapi ia telah bertekad untuk maju dengan kemauan kerasnya. Dan ia berhasil, Ia belajar untuk tidak menembak terlalu dini dalam latihan ternpur, "Mungkin kau rnenganggap pe1urumu sebuah peluru kendali antar benua?" komentar Dave ten tang cara menembak serupa itu, Tetapi ia juga belajar mengatasi kekhawatiran bahwa tembakannya terlalu jauh dan meleset. "Memang, bila kau ternbak Iawan dengan laras menempel padanya pasti kena, tetapi dia akan rnenyepakmu begitu kuat sehingga kau jatuh terjengkang," nasehat Dave atas kesalahan seperti itu. Tetapi nasehat seperti itu tak perlu diulang-ulang bagi Avner. Sekurang-kurangnya, tidak pernah dua kali .. Latihan-Iatihan yang lain pun berjalan serupa bagi Avner, Fotografi. Komunikasi. Penggunaan bahan peledak. Avner tidak terlalu susah mengikutinya dibanding ternan-ternan sekelompoknya, karen a ia pemah rnempelajari hal itu dalam satuan komando dahulu. Pasukan komando harus menguasai pengetahuan dasar untuk menghancurkan lawan. Itulah bagian tugas mereka, Memang Avner belum ahli membuat born, misalnya, atau mengambil murangnya - kecuali mungkin born yang sangat sederhana. Yang perlu diketahui seorang anggota biasa hanyalah bagaimana menempatkan, memasangi sumbu dan menyiapkan suatu alat peledak. Pada tahap itu soalnya sederhana saja, Segala sesuatu telah tersedia dalam keadaan siap pakai - detonatomya, transmitternya, bahan pcledaknya. Segenggam bahan ini dapat meledakkan pintu sebuah Iemari besi, tetapi orang tak perlu terlalu berhati-hati. Orang dapat menjatuhkannya, memukulmukulnya, dan bahkan menggunakannya untuk mematikan rokok. Yang penting ialah bagaimana membentuknya - bahkan mewamainya kalau perlu - lalu melengkapinya dengan detonator dan menghubungkan tali kawatnya. Merah dengan rnerah, biru dengan biro. Gampang saja. Dokumen jauh Iebih rnenarik. Dalam bidang inilah Avner menonjol dibanding teman-temannya. Mungkin karena ada hu-

<,

57

bungannya dengan indra keenam. Yang dipelajari dalam hal ini bukanlah cara membuat dokumen palsu - sebab itu merupakan pengetahuan ahli yang tidak perlu diketahui terlalu mendalam oleh para agen - melainkan cara menggunakan dan mendeteksinya. Pengetahuan ini rurnit dan menuntut kemampuan untuk menghubung-hubungkan dan rnenarik kesimpulan, Pelatih bidang dokumen ini seorang Yahudi Argentina bemama Ortega. Seperti dikatakan oleh pelatih itu, yang paling berperanan adalah psikologi. Kita harus mengerti sedikit tentang kertas, dan mengerti hanyak ten tang orang. Sebelum mempelajari cara mendapatkan dan menggunakan dokumen palsu, demikian saran Ortega, agen lapangan hendaknya belajar hagaimana mengetahui adanya pemaIsuan. Tugas mereka sesungguhnya dalam Mossad bukanlah kontraintelijen di dalam negeri, untuk itu sudah ada organisasi lain bernama Shin Bet, tetapi kontraintelijen di luar Israel. Yang ternyata lebih penting adalah mengetahui kesalahan-kesalahan yang dilakukan orang lain dalam menggunakan dokumen. Dengan dernikian mereka dapat berhati-hati dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Sebagai contoh, Ortega menyerahkan sebuah paspor kepada setiap orang. Mereka masing-masing disuruh membuat perubahan kecil pada halaman manapun. Misalnya dengan menghaous .. suatu tanda baca pakai silet dan menggantinya dengan tanda baca yang lain. "Lakukan itu masing-masing pada halaman yang berbeda," kata pelatih itu, "dan pada waktu mengembalikan paspor itu pada saya, jangan katakan halaman berapa yang mengalami perubahan." Mereka berbuat seperti dip erintahkan. Ternyata Ortega dapat dengan seketika mengatakan halaman berapakah yang telah mengalami F, .rubahan, Hal itu dilakukan hanya dengan menaruh paspor itu terbuka di atas telapak tangannya. Pasporpaspor itu sendiri yang menunjukkan: tanpa kekecualian, semua ,paspor membuka pada halaman yang telah digarap secara tekun selama satu jam. "Tetapi sewaktu menaruh paspor itu," kata Ortega, "saya tidak rnelihatnya. "Saya melihat kalian." Soalnya, setiap paspor, juga tidak diapa-apakah, mungkin 5S

i

r

~

akan terbuka pada salah satu halamannya. Jadi, terbukanya halaman itu sendiri mungkin tidak berarti, kalau tidak menirnbulk an kerlipan pada mata pembawanya. Dan itulah yang paling dapat diharapkan, kerlipan mata, sebab seorang agen musuh tentu tidak begitu saja' kehilangan semangat lalu menangis. Tetapi kerlipan mata pun dapat tidak berarti apa-apa, atau sama sekali tak ada hubungannya dengan apa yang sedang dicari-cari. Mungkin orang itu sedang berusaha menyelundupkan rokok, misalnya. Nah, di sinilah indra keenam memegang peran. Seseorang yang tidak mernilik i indra keenam tak dapat menjadi agen yang baik, apakah sewaktu ia sedang mencoba mendeteksi dokumen palsu atau mencoba meloloskan dokumen palsu tersebut. Menurut Avner, di sinilah letak keindahan dan seninya pekerjaan sebagai agen di lapangan. Di sinilah dituntut banyak bakat. Kebetulan Avner mempunyai bakat itu secara berlimpah. Memang benar bahwa kemampuan dalam bidang yang tak menyenangkan seperti matematika dan ilmu pengetahuan kadangkadang sangat diperlukan pula. Ada beberapa peralatan kerja yang benar-benar-rumit, terutama alat-alat komunikasi. Ada alat transmisi yang dapat mengirim berita untuk selama berjam-jam dalam sekali pancar. Avner mengalarni banyak kesulitan ketika harus belajar membuat sandi dan mengurai sandi, Komputer tetap merupakan alat yang penuh teka-teki, Kemampuan ingatannya tidak bisa diandalkan dan koordinasi fisiknya hanya sedang-sedang saja, Bahkan dalam mengendarai mobil. ia lebih mengandalkan keberanian daripada kemahiran. Demikian juga kemampuannya dalam berbahasa Inggris maupun Jennan. La rnampu menangkap gambaran menyeluruh dengan cepat bila menghadapi sesuatu, tetapi ia tidak mc.npunyai kesabaran untuk mendalami detil-detilnya. T~pi, inilah yang menguntungkan, di dalam Massad ada juga peluang bagi orang-orang yang tidak memiliki bakat keahlian khusus. Mereka mempunyai cukup ban yak orang jenius untuk menafsirkan isyarat informasi atau ahli kimia yang akan menghabiskan masa hidupnya dengan mendekam eli laboratoriurn untuk menciptakan tinta yang tidak terlihat oleh mata,

»:

59

Mereka juga membutuhkan orang-orang yang mampu melihat segala sesuatu secara keseluruhan dengan cepat. Pria dan wanita seperti Avner yang mungkin tidak memiliki keunggulan dalam bidang tertentu, tetapi dapat menalar logis, tepat dan cepat. Avner memang menonjol dalam hal ini, la dapat menarik kesimpulan secara tepat dan cepat. Ada kalanya seolah-olah ada suara batin yang rnembisikkan kepadanya, "J angan pikirkan itu, tetapi awaslah terhadap yang ini." Entah pada waktu menghadapi kertas atau manusia, ia mampu rnenangkap tanda paling kecil pun yang harnpir tidak disadarinya. Ini terlihat, misalnya, dalam salah satu praktek dengan sebuah paspor Belgia. Ia tidak dapat segera mengatakan apa yang tidak heres dengan paspor itu - visanya kelihatan asli, warnanya tidak luntur waktu digosoknya denganjari, tebal kertasnya tampak seragam bila diterawangkan pada sinar - tetapi ada isyarat dalamkepala Avner yang mengatakan bahwa ada yang tidak beres. Ia harus mengambil keputusan dalam waktu kurang dari tigapuluh detik, seperti dalam keadaan sebenarnya di bandar udara. Misalnya, apakah ia harus menahan pemegang paspor itu ataukah membiarkan dia lewat. la mengamati paspor itu dan, benar juga - foto paspor itu! Kawat penjepitnya tampak berkarat seperti sebuah paspor yang su dah dua tahun lamanya dibawa-bawa dalam saku pemiliknya. Tetapi noda karat pada halaman sebelahnya tidak sama, Pasti ada perbedaan, karena fotonya diganti. Tidak mungkin mengembalikan jepitan itu pada tempat yang persis sama. Anver juga mempunyai keunggulan dalam melihat situasi dengan sapuan mata menyeluruh, bagaikan sapuan radar yang mencari-cari sesuatu yang tersembunyi. Untuk ini tidak ada pelajaran khusus, sebab sikap awas merupakan tuntutan dalam segala waktu dan keadaan bagi seorang agen. Dalam hal ini orang hanya cukup menggunakan biji mata yang selintas menyapu pandang ke seluruh lingkungan secara berulang. La tidak pemah boleh membiarkan perhatiannya terpaku pada suatu benda dalam waktu Iebih dari beberapa detik, Untuk rnembuat sapuan pandang mata ini menjadi kebiasaan dua puluh empat jam penuh, pelatih akan memasang perangkap-perangkap pada temp at dan waktu yang paling tak terduga, tennasuk orang-

60

r.

il

il
i\

orang di luar dinas yang berada di jalan-jalan Tel Aviv. la diajar menggunakan segala permukaan yang memantulkan cahaya ~ jendela toko, pintu mobil - sebagai cermin untuk senantiasa mengetahui apa yang terjadi di lingkungannya, tetapi tetap dengan sikap seolah tidak melihat apa-ap a. Kebiasaan ini dibawa seumur hidup oleh kebanyakan agen. Dan sebagai akibatnya, Avner segera menemukan hal lain lagi: bahwa kebiasaan ini dapat membuat si agen ketahuan. Misalnya, seorang agen jarang tersenyum. Bahkan, kebanyakan mernpunyai muka tanpa ekspresi, Sulit melihat keadaan di kanan kid kita terus-rnenerus tanpa meIibatkan bagian-bagian lain dari tubuh kita. Inilah pengetahuan tambahan yang disimpannya ke alam bawah sadarnya untuk dimanfaatkan di kemudian had. Sikap waspada itu tidak hanya terarah pada hal-hal yang mungkinIangsung mengenai atau mempengaruhi dirinya, tetapi juga inforrnasi apa pun yang mungkin dijumpainya, sebagai segi yang sangat penting dalam penggemblengan seorang cal on agen lapangan. Mungkin hal ini lebih ditandaskan daripada segi-segi lain, selama enam bulan pendidikan Avner di bawah atap berbentuk jamur itu , Bila sedang disuruh pergi ke mana-mana, mereka paling sering ditugaskan untuk melatih pengamatan. Mereka disuruh naik bis ke Haifa, duduk di serambi hotel sampai jam empat sore, Ialu pulang dan harus menceritakan apa yang dilihat. Tak sesuatu pun boleh dilewatkan. Tidak usah menyunting, tidak usah memutuskan mana yang penting dan mana yang tidak. Laporkan saja segala sesuatu yang tercatat dalarn ingatan, dan ingat segala sesuatu. Tentu saja, ini memerlukan daya ingat dan kesabaran segi Iernah Avner - tetapi ia jadi belajar banyak tentang sifat manusia. Seringkali, tanpa diketahui seorang calon, ternyata ada calon dad kelompok lain yang juga duduk di serambi hotel yang sama di Haifa. Kalau laporan merekajauh berbeda, mungkin pelatih akan berkata kepada anak didiknya, "Dengarkan, coba pergilah ke ruang sebelah dan lihatlah apakah semua sudah kau laporkan. " Biasanya, jawabnya sederhana saja. Salah seorang telah merasa hosan atau Japar selama waktu pengamatan dan pergi

61

sebentar untuk minum kopi dan rnencari makan. Agen juga manusia yang bisa kehabisan rokok, butuh pergi ke kamar kecil dan sebagainya. Namun faktor ini seringkali tidak dimasukkan dalam perhitungan seorang agen yang lain. Beberapa orang mempunyai daya imaginasi yang hidup dan cenderung melebihlebihkan atau bahkan mengarang sesuatu. Latihan-latihan ini tidak hanya sekedar melatih dan menguji daya pengamatan mereka, melainkan juga untuk mengetahui hal-hal tertentu pada diri mereka sebagai manusia. Apakah mereka cenderung menciptakan atau memperindah cerita dari pengamatan mereka? Dapatkah mereka membedakan an tara pengamatan dan khayalan? Dan kalau tahu ada kekurangaq, apakah mereka mengakuinya atau mencoba mernbuat pernbelaan dan berdalih? Hal ini sangat penting bagi suatu bidang Iatihan yang lain, di mana Avner mernpunyai modal yang sangat kuat, Bidang itu adalah latihan perencanaan, menyusun suatu operasi sandiwara: mernilih orang-orangnya, membuat daftar alat-alat bantu yang dibutuhkan, Ketetapan mernilih orang untuk fungsi tertentu dalam kelompok - tergantung dari kekuatan, keahlian, pepribadian - dapat merupakan kunei keberhasilan. Seperti yang segera dilihat oleh para p_e1atih, Avner memberikan perhatian pada sifat dan watak ternan-ternan latihannya dan mernberikan tugas yang cocok dalam operasi yang direncanakannya. Tetapi ia eenderung berbuat Iebih dari seperlunya saja. Kalau, rnisalnya, misi yang dikarangnya adalah memasuki suatu kedutaan di Roma seeara sembunyi-sembunyi dan menghancurkan ruang kornunikasinya, Avner akan meminta si agen yang tinggal di Roma untuk mernbuat laporan mendetil dari menit ke menit mengenai kegiatan rutin dalam kedutaan tersebut siang-malam dalamjangka waktu satu rninggu penuh. Tiga hari sebelum operasi, ia akan mengirim agennya yang paling tidak menonjol tetapi dapat dipercaya untuk rnembuat peta lalu lintas di semua jalan eli sekitar kedutaan. Kalau kedutaan khayalan itu rnenempati sebuah gedung sewaan klas tinggi, Avner akan menyamar sebagai seorang usahawan Jerman Barat yang berminat menyewa sebuah kamar di gedung yang sama, Dengan demikian ia rnemperoleh kesempatan untuk masuk di

62

semua lantai. Ia akan berusaha menggunakan orang sesedikit mungkin dalam setiap tahap operasi. Ia tidak akan mau repotrepot dengan memberikan penjelasan singkat kepada setiap orang yang ada di bawah pimpinannya secara pribadi, melainkan akan menunjuk orang yang paling teliti dan paling pintar pada tiap bidang untuk menjelaskan segala sesuatu yang perlu kepada yang lain-lain. Pada akhirnya, ia akan menutup rencananya dengan tanda tangan jelas yang mudah dibaca. Ia akan merasa bangga dan juga percaya bahwa kebanggaan terhadap rencananya sendiri itu penting. Pada suatu ketika, sewaktu sedang melihat-lihat rencananya sendiri itu penting. Pada suatu ketika, sewaktu sedang melihat-lihat rencana orang lain, pelatih mengangkat lembaran rencananya tinggi-tinggi dan berkata dengan menyindir: "Lihat! lnilah tanda tangan seorang pahlawan." Menurut Avner, benarlah kalau pelatih itu menyindir, Makin tidak jelas tanda tangan seseorang, makin kurang yakin orang ita akan keberhasilan rencananya sendiri, Avner memutuskan untuk kelak selalu dapat melihat tanda tangan pada reneana yang menugaskan dia ke suatu misi sebenarnya. Kalau ia dapat membaca nama perencananya tanpa kesulitan, besarlah kemungkinan bahwa ia akan kembali dengan selamat. Ini soal psikologis. Pada setiap bidang latihannya, hal yang paling mengesankan bagi Avner selalu apa-apa yang ditangkapnya sebagai psikologi di balik informasi. Mungkin informasinya sendiri sudah dilupakan sebentar saja, tetapi psikologinya akan tetap diingat. Soal detil-detiI tehnisnya, ia dapat selalu bertanya kepada orang lain atau melihat dalam rancangan. Tetapi psikologinya lebih penting. Dengan itu ia akan dapat menyusun informasi baru bagi dirinya. Misalrrya, Avner tidak pemah melupakan satu hal yang dikatakan sambil lalu oleh seorang pelatih ten tang dokumen, tetapi selalu diingat oleh Avner. Surat paIsu itu banyak macamnya, tergantung pada kegunaannya. Ada surat palsu dengan identitas tetap yang digunakan seorang agen bertahun-tahun lamanya dalam tugas di suatu temp at, tetapi ada juga yang digunakan dalam waktu sangat singkat - katakan, sebuah paspor

63

yang dicuri dari seorang turis dalam kamar kecil di bandar udara - mungkin untuk bisa lolos dari suatu perbatasan sekali saja, dalam keadaan darurat. Tetapi, demikian kata Ortega, yang lebih penting ialah kepercayaan kalian kepada siapa yang mernberikannya daripada mu tu dokumen itu sendiri. Dokumen tidak pernah berfungsi sendirian, tetapi selalu dalam kaitan dengan diri kalian sendiri, Kalau kalian kurang percaya pada surat kalian atau kepada orang yang memberikannya, turunkan derajat surat itu dari surat identitas tetap ke paspor sesaat. Sebaliknya, mungkin sebuah SIM curian dapat kalian gunakan lama kalau kalian menaruh kepercayaan pada surat itu, Selalu ada saja psikologi dalam setiap bidang tugas seorang agen lapangan. Dalam tugas melakukan pengamatan di Paris atau Amsterdam. sepasang muda-mudi tidak akan cepat menarik perhatian dibanding. katakanlah, seorang lelaki berjas hujan yang asyik membaca koran di serambi sebuah rumah minum. Tetapi eli Sicilia atau Corsica, berdiri sendirian saja mungkin malah tidak cepat menarik perhatian. Walaupun pasangan orang setengah baya merupakan pelaku paling baik di kebanyakan temp at di dunia, namun di sekitar Sorbonne yang lebih cocok adaIah pasangan mahasiswa muda, Dan ketika Avner untuk pertama kali diperintahkan supaya membuntuti pelatih mengemudinya yang duduk dalam mobil lain, ia mengira bahwa si pelatih akan menggunakan cara-cara tipuan untuk menghindari dia. Tetapi ternyata tidak. Orang itu mengemudikan mobilnya bagaikan seorang nyonya tua dengan memberikan sinyal setiap akan belok ke kanan atau ke kiri, Ia dapat terns membuntutinya sampai akhirnya sang pelatih melambatkan kendaraannya ketika lampu laIu lintas menyala kuning dan langsung melejit lagi tepat pada saat lampu berganti merah. Bagi Avner mustahillah mengejarnya tanpa rnembahayakan lalu lintas. Sederhana, tetapi mengesankan. Banyak ternan latih lainnya berharap mendapatkan peraturan yang keras dan prosedur yang tepat. Memang ada peraturan keras, tetapi bekerja menurut peraturan secara kaku dapat merupakan kesalahan yang paling mencelakakan bagi seorang agen. Agen bukanlah pekerja rutin. Dan inilah yang

64

membuat Avner sangat krasan, Rahasianya ialah mempelajari segala peraturan tanpa merasa terikat padanya. Dalam pekerjaan ini, orang yang dapat berimprovisasi dan selalu melakukan hal yang tak terduga akan berhasil mencapai puncak. Tidak seperti dalam ketentaraan, yang akhirnya merupakan milik para birokrat, pekerjaan ini adalah bagian mereka yang menyalahi kelaziman. Atau begitulah menurut keyakinan Avner. Setelah enam bulan pertama dilewatkan dengan baik, latihan diteruskan di lapangan. Bagi beberapa orang tentu sajal Untuk mulai tahap ini tidak ada ujian atau ulangan yang harus dilalui. Tugas latihan setiap hari merupakan ujian dan para pelatih selalu menilai pekerjaan anak didiknya, si calon agen. Avner tidak dapat mengetahui siap-siapa dalam kelompoknya yang "lulus" atau "gagal". Ini tidak pernah diberitahukan kepada orang lain, kecuali yang berkepentingan. Kalau sese orang tidak muncul dalam latihan, mungkin ia ditempatkan di bidang khusus yang lain atau mungkin ia diberi tugas lain. Tetapi boleh jad.i, la dinilai kurang mampu dan d.iberhentikan. Kalau ada ternan yang tidak lagi muncul daIarn latihan, kadang-kadang timbul kasak-kusuk di antara teman-temannya, tetapi secara resmi tidak ada pertanyaan ataupunjawaban. Sebelum beralih ke tahap latihan di lapangan ini, Avner diperintahkan untuk mengikuti beberapa penjelasan singkat, menyangkut prosedur-prosedur pekerjaan yang akan dij alankannya dan laporan yang harus dibuat. la mendapat informasi teknis yang menarik, meski tidak ada barang baru. Namun ada satu penjelasan yang istimewa. Avner tidak tahu apakah ia harus melupakan dan menganggapnya tidak penting ~ dari satu sudut, memang tampaknya lucu - atau ia harus menganggapnya sebagai aIamat buruk bagi masa depannya. Indra keenamnya mes rasakan sesuatu yang rupanya menjadi salah satu masalah yang disebut-sebut oleh ayahnya. Avner memutuskan untuk menertawakan saja, walaupun agak kecut, Orang yang memberikan penjelasan singkat waktu itu ranibutnya sudah putih di pinggiran kepalanya sehingga ia tampak seperti Ben Gurion, walaupun tanpa wibawa kharismatik pada tampang mukanya, Ia mempunyai raut wajah yang Iicik, Tubuh-

65

nya juga agak cebol, mungkin kutang dati satu setengah meter, sebab dari kursi putar tempat duduknya kaki orang itu hampirhampir tidak menyentuh lantai. Ia duduk di belakang meja yang tak. karuan isinya. Di jari-jarinya tampak. noda-noda nikotin tembakau, Matanya yang bening mengincar Avner dengan penuh selidik dad bawah alis mata yang kusut; satu alis melengkung tinggi bagaikan tanda tanya abadi. Wama kemejanya yang bercemang-cemong mungkin aslinya putih, Dia bukan sekedar orang Galicia, pikir Avner. Dialah biangnya orang Galicia! "Jadi kalian akan terjun ke luar," kata orang itu memulai penj elasann ya. "Itu baik sekali. Kini duduklah dan dengar kata-kataku, Ada beberapa hal yang akan saya katakan. "Pertama, jangan tersinggung oleh apa-apa yang akan saya katakan. Tidak ada maksud apa pun antara kalian dan saya; saya belum pernah melihatmu selama hidup. Apa yang saya katakan sekarang kepadamu, saya katakan kepada semua yang lain. "Kalian mungkin in gin tahu, buku-buku apakah yang berserakan di atas meja ini, Ini buku akuntansi. Lalu, apa yang saya kerjakan dengan huku-buku ini? Saya duduk-duduk di sini dan melihat-lihat buku ini untuk mengetahuai berapa banyak uang yang ke luar untuk kepentingan kalian, dan mengapa? "Saya merasa perlu mengatakan ini karena ada beberapa di antara ternan-temanmu yang menganggap kegiatan kalian ini wisata mewah yang dibiayai oleh Pemerintah, untuk kesenangan pribadi kalian. Nah, saya hanya mau mengingatkan bahwa pikiran itu tidak benar, Saya hanya mengingatkan satu kali; setiap orang hanya satu kali saya ingatkan. Saya tidak akan pernah memberi-tahumu Iagi. Yang saya minta hanya kwitansi. "Saya minta kwitansi bagi setiap jumlah uang yang kalian keluarkan dalam tugas. Kalau kalian naik taksi, baik, mintalah kwitansi. Kalau perIu mencarter perahu, baiklah, beri saya kwitansi. Kalau kau perlu bernafas dan itu membutuhkan biaya, beri saya kwitansinya. Kalau kau tidak rnelakukan itu, kau harus membayar dengan uangmu sendiri. "Dan kalau kau naik taksi, lebih baik hanyalah kalau tugas66

mu mernang memerlukannya. Sehab, saya akan bertanya, mengapa kau memilih naik taksi. Kalau kau dapat naik kereta api, naiklah kereta api, Gunakan bis seperti tiap orang lain. Berjalanlah. Kalau kau mengeluarkan uang, padahal menurut pendapat saya tugasmu tidak menuntut pengeluaran itu, kau akan terpaksa membayar dengan uang gajimu. Jangan salah mengerti! Kau perlu uang untuk melaksanakan tugasmu, beres, uang tersedia, pakailah. Pekerjaanmu itulah yang istirnewa; dirimu tidak. Di mataku, kau bukan pahlawan, apa pun yang kaulakukan. Kau bawa ke mari Hitler dengan tangan terborgol, saya akan tanya mana kwitansinya? Kau mengadakan hubungan telepon jarak jauh , saya akan bertanya: hubungan pribadi, dinas, dengan pacar? Sebab kalau mernang begitu, kau akan membayar dengan uangmu sendiri, "Saya katakan semua ini, karena beberapa temanmu menganggap dirinya bekerja pada Baron Rothschild. Boleh rnembeli apa saja,: Boleh mengeluarkan berapa saja. Apa yang harns saya katakan? Kalian bukannya bekerja pada Baron Rothschild. Kalian bekerja untuk negara. Dan bila dilihat dari sudut keuangan, kalian bekerja untuk saya." Si Galicia berhenti berbicara dan mengangkat mukanya. Ia memandang wajah Avner dengan rnata terpicing. "Nab, apa lagi," sarnbungnya. "Kalau ada yang kurang jelas, katakan." A vner b angki t lalu berdiri. "Saya rasa, sernua cukup j elas," jawabnya. Dalam hati ia berpikir: mau menjawab apa? Orang selalu menilai dengan ukurannya sendiri, Rupanya ganef galicia tua ini mau mencuri apa saja yang bisa dicurinya. Tentunya ia menganggap sernua orang mau berbuat seperti itu pula. Tetapi, rnengenai Avner, orang itu keliru sekali. Tidak hanya rnengenai Avner, tetapi mengenai kebanyakan ternan yang lain. Macam orang yang bersedia mencuri - apa lagi mencuri uang - tidak akan masuk suatu lembaga yang harns bekerja dua puluh ernpat jam siang-malam dengan upah 650 pound Israel sebulan. Omong kosong. Ujian resmisatu-satunya yang hams dijalani sebelum mereka ditugaskan ke lapangan adalah test-test psikologis. Rupa67

nya orang-orang di alas sana hanya tahu, apa sebenamya yang membuat mereka mau jadi agen di lapangan. Walaupun senantiasa terdengar gurauan - Kalian gila, mau melakukan ini - tapi tampak jelas bahwa kebanyakan ternan Avner menganggap diri mereka orang-orang yang normal. Avner, sekurang-kurangnya, menganggap dirinya sangat normal. Yang lain-lain yah, mungkin ada juga yang agak eksentrik. Tetapi tekanan pada test psikologis itu rupanya berbeda. Selalu saja Avner merasa bahwa beberapa test harus disesuaikan sedikit agar terasa coeok bagi dia. Bukan ujian untuk mengetahui daya tahan terhadap tekanan. Ia merasa ujian-ujian ini cukup kena. Menurut pendapat Avner, banyak yang masuk akal. Cukup menyenangkanlah baginya mengetahui bahwa dia dapat mengerjakan suatu seal rnaternatika - mata pelajaran yang tak pernah memberinya nilai baik, dalam suasana yang baik sekalipun - sesudah tidak makan dan tidur dua puluh empat j am lamanya. Dan jawaban, bahwa ia tidak hanya dapat, tetapi akan mengerjakannya dengan lebih baik dan Iebih cepat, sungguh menantang dan melegakan. Tetapi ada test-test lain yang harus dikerjakannya dengan pendengaran. Avner harus merasakan yang mereka kehendaki dan mencoba memberikan hal itu kepada mereka, tak peduli apakah yang dia berikan cocok dengan perasaannya sendiri atau tidak. intinya, menurut pengamatan Avner, ialah bahwa Massad sebenarnya tidak merasa bahagia bila agen·agennya mempunyai sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat yang justru menyebabkan dia dan mendorong dia ingin menjadi agen. Kedengarannya memang gila. Indra keenamnya mengatakan bahwa Massad tidak meng· hendaki peranan John Wayne', misalnya. Atau peranan si bocah Belanda sekalipun, Lebih tepatnya, rnereka hanya menghendaki peranan John Wayne yang seorang diri menghadapi kota penuh orang jahat, tetapi bukan John Wayne yang mencari-cari kesernpatan untuk melakukanitu sebagai si pahlawan nomor satu, Mereka membenci pahlawan. Kalau mungkin kata "membenci" terlalu keras, yah, mereka jelas tidak menyukai atau tidak mempercayai pahlawan, Avner dapat merasakan bahwa rnereka tidak menghendaki orang me-

68

..

nikrnati pekerjaannya lebih dari suatu batas tertentu. Rupanya rnereka bahkan tidak menghendaki orang menyimpan perasaan yang sangat membenci musuhnya. Seorang ternan Avner misalnya, seorang Yahudi dari Alexandria, sangat fanatik hila sedang berhicara tentang orang Arab. Tidak mengherankan sebab pada tahun 1949 seluruh keluarga ternan Avner itu telah dibantai oleh segerombolan orang Arab. Tetapi Anver dapat melihat dalam kilasan mata para pelatih bahwa si Yahudi Alexandira itu tidak akan menghadapi masa depan yang memuaskan sebagai agen Mossad, Agen yang ideal, dalam pandangan Mossad, adalah orang yang teliti, terpercaya dan tenang bagaikan sebuah mesin yang baik buatannya, Pada tingkat yang sarna, dia tidak boleh menyirnpan perasaan senang atau puas dengan pekerjaannya. Prestasi kerjanya tidak boleh tergantung pada bagaimana "perasaannya" mengenai tugas itu. Meski demikian ia tidak boleh bertindak tolol atau tanpa kepekaan, sebab dengan cara itu ia tidak akan memiliki daya reka dan kesetiaan yang dituntut oleh pekerjaannya. Ia haruslah seorang patriot yang penuh semangat, tetapi tanpa kefanatikan. la harus sangat pandai, tetapi tidak tertutup pada gagasannya sendiri. Ia haruslah pemberani bagaikan jagoan, tetapi penuh perhitungan bagaikan seorang akuntan. Pendek kata, ia harus menggabungkan berbagai sifat yang jarang atau hampir tak pernah terdapat sekaligus dalam satu orang. Menurut Avner, sernua itu impian kosong. Dia tidaklah seperti itu. Ternan-ternan lain yang dia kenaljuga tidak, Mereka itu, yah - terus terang saja, mereka itu sernua berbeda, sarna dengan orang· orang biasa di jalan-jalan Tel Aviv. Mereka berjiwa patriot, itu jelas, tetapi orang Israel manakah yang tidak berjiwa patriot. terutama pada tahun 1969? Walaupun begitu, kalatt orang seperti itu yang dikehendaki oleh para ahli psikologi Mossad, dialah orangnya. Ia akan selalu merasakan jawaban yang tepat. Tiada test psikologis yang akan menjadi penghalang baginya untuk mernasuki kehidupan yang penuh tantangan sebagai agen, Lain daripada itu, Almer tahu bahwa mereka tidak akan

69

kecewa te1ah memilih dia, tak peduli apakah mereka itu rnenyukai John Wayne atau tidak. Ia akan rnenjadi agen paling baik yang pernah mereka miliki, Ia akan menye1amatkan Israel seribu kali, walaupun tidak ada orang yang akan mengetahuinya. Nanti, sesudah menjalani dinas selama bertahun-tahun sebagai agen yang pantas dicontoh, Perdana Menteri menulis surat tanda terima kasih kepadanya, ia akan menunjukkan surat i,tu kepada ibunya. "Apa yang telah kau lakukan?", demikiaa wanita itu akan berseru keheran-heranan. Lalu ia akan menjawab, "Ah • ..saya tak dapat menceritakannya kepada ibu. Tetapi sebenarnya bukan apa-apa". Tentu saja, pada akhirnya Avner tidak mungkin mengetahui apakah ia telah berhasil mengelabuhi para psikolog Mossad atau tidak. Mungkin mereka tidak dapat melihat si boeah Belanda di dalam dirinya, ataumungkin saja mereka itu tahu tetapi menganggapnya tidak jadi soal. Bagaimanapun juga, rnereka membiarkan dia terbang dengan angan-angannya. Dan eukup harafiah. Tugas lapangannya yang pertama berlindung di bawah samaran karyawan El AI, perusahaan penerbangan yang tentu telah berhasil dirnasukinya kalau saja ternan bibinya bisa rnendapatkan lowongan di sana pada waktunya. Avner ditugaskan sebagai seorang polisi udara; salah seorang penjaga yang bertanggungjawab kearnanan di atas pesawat terbang. Orang lain rnungkin akan rnenganggap tugas ini sebagai perrnulaan, dari tingkat terbawah. Tetapi, bagi Avner pada waktu itu, tugas tersebut merupakan perwujudan suatu impian. Walaupun ia tidak terbang sebagai pilot, tetapi bagaimanapun juga ia terbang. Ia sudah rnerasa senang andaikata pesawat jetnya hanya tinggal landas, lalu mengangkasa memutari lapangan terbang dan mendarat lagi. Tetapi pesawat itu terbang lebih jauh, sangat jauh, ke semua temp at di seluruh duma. Dalam beberapa bulan, Avner telah dibawa terbang ke banyak kota besar di Eropa atas biaya pemerintah. Walaupun ia telah dilatih sebagai agen intelijen, tugasnya mula-mula tidak mencakup pekerjaan intelijen. Artinya, peketjaan intelijen rahasia yang biasa dikaitkan orang dengan kegiatan mata-mata. Sejauh yang dilihatnya, sesungguhnya tidak 70

banyaklah kegiatan mata-mata dalam pekerjaan inteIijen, titik. Tidak diragukan bahwa ada beberapa gen yang menyusup ke dalam posisi-posisi pemerintahan atau memotret rahasia militer. Contohnya, beberapa mata-mata hebat, seperti Eli Cohen yang banyak menjadi bahan cerita. Tetapi kebanyakan agen rupanya hanya mengerjakan hal-hal yang telah dilakukan Avner dalam latihannya selarn aini. Yang diharapkan dari Avner - selain bertindak sebagai pengawal para penumpang dan awak di atas pesawat EI Al - ialah mengawasi tempat-tempat umum secara diam-cliam. Tentu saja ia harus mernberikan Iaporan mendetil mengenai hasil pengamatannya. Di Paris, misalnya, ia telah melewatkan waktu sepanjang hari di bandar udara Orly. Ia telah meneliti bandar udara, dengan membuat catatan mengenai siapa yang ke luar, siapa yang masuk. Ia telah menggambarkan secara sangat terinci tipe kendaraan dinas yang dapat masuk ke pangkalan terbang. Ia mencatat lokasi kamera-kamera pengawas, dan apakah kamerakamera itu tampak benar-benar atau hanya tipuan. Dengan berpura-pura membuat film tentang beberapa pram u gari, ia merekam saat pergantian petugas pada beberapa temp at pemeriksaan bea-cukai dan paspor. Di Rorna, London atau Athena ia telah menghabiskan waktu pagi atau siang di luar kedutaan yang ditunjuk, Arab atau Russia. Ia diminta bertindak sernbunyi-sembunyi, tetapi mengenai bagaimana melaksanakan tugasnya tidak ada ketentuan. Di kota-kota wisatawan, seringkali tidak aneh bila orang dudukduduk sendirian di sebuah warung rninum, walaupun di London, akan lebih wajarlah bila menuntun anjing di taman di seberang sebuah kedutaan. Pada suatu ketika, di Rorna, ia menyewa truk, memasang tanda kerusakan, lalu duduk-duduk di lobang got dekat Kedu taan Libya. Kadang-kadang ia hanya ditugaskan untuk melaporkan saja lalu-lintas kendaraan yang ke luar masuk kedutaan dan mencatat nomor mobil yang datang atau diparkir di dekat kedutaan. Tetapi lebih sering ia diminta untuk menghafal muka orang dati sebuah foto dan melapor apakah ia melihat orang tersebut selagi dia masuk atau ke Iuar dari kedutaan, 71

Avner tidak diperintahkan untuk membuntutinya, cukup mendekatinya untuk meyakinkan bahwa ia tidak salah lihat. T~tapi ada kalanya pekerjaan yang dibebankan padanya tidak ubahnya hanya pekerjaan klerk. Mcnjadi pesuruh, mernbayar inforrnan, atau sepcrti yang kelak ia lakukan menyewa rumah-rumah yang aman dengan seorang gadis di London. Mereka harus mencari rumah yang paling sedikit dekat dengan dua jalan besar dan mereka hams menjaga agar rumah itu selalu mernpunyai persediaan yang cukup. Lingkungan yang dipilih adalah masyarakat klas menengah. Selagi menyewa, mereka berpura-pura sebagai suami-istri, Gadis itu sendiri tinggal di London secara tetap di suatu alamat yang lain, tempat ia menyimpan kunci-kunci rumah sewaan tersebut, sesuai dengan apa yang telah diinstruksikan. Avner menjalankan semua tugas ini seeara serius dan penuh semangat. Terus terang saja, ia menganggap tugas ini menyenangkan. Bila ia mendengar - memang benar dari waktu ke waktu bahwa salah seorang temannya mengikuti kursus lanjutan dalam bidang komunikasi, fotografi atau bahasa, yang jelas dimaksudkan sebagai persiapan untuk tugas penyusupan tingkat tinggi, penugasan perrnanen atau penempatan dalam jaringan intclijcn yang lebih rumit, ia sedikit pun tidak merasa iri, siapa yang mau mengikuti pendidikan lanjut dalam pernalsuan dokumen atau pembuatan born bila sebenarnya ia dapat melanglang buana setiap minggu dari kota besar yang satu ke kota besar yang lain? Tentu saja, kalau diperintahkan mengikuti pendidikan lanjut tertentu, ia akan berusaha sebaik mungkin. Tetapi ia cukup senang dengan keadaannya sekarang ini, dengan tugasnya duduk-duduk dalam kedai minum di Rorna atau menyampaikan amplop di Paris. Avner menghitung-hitung, kalau ia harus membayar sendiri biaya satu kali saja penerbangan yang dilakukannya setiap minggu sekarang ini, ia harus menabung selama setahun penuh, Sampai sekarang ia rajin mencari kwitansi untuk semua pengeluaran. Baginya, ini biasa. Bukankah ia seorang Yekke, searang yang selalu teliti? Tetapi pertemuannya dengan si Galicia tua di pusat Mossad itu telah membuat dia meneliti

72

1
1

;

1 J. ~I
I. ~

benar-benar setiap keping uang pemerintah yang dibelanjakannya. Bukan karena ia takut kepada si tuaitu, melainkan karena ia tidak mall membuat orang itu berpuas hati bisa menyalahkannya atau menemukan kwitansi pengeluaran yang tak semestinya. Bagi Avner lebih baik menggunakan uangnya sendiri untuk keperluan tugas daripada mendapat teguran serupa itu. Dalam usaha mendapatkan kwitansi ini, pemah di Paris tanpa sengaja tanda pembayaran segelas minuman sari nanas telah terjatuh. Untuk mendapatkannya kembali terpaksa ia mencari-cari di antara kaki para wisatawan yang memenuhi kedai tempat minum tadi, di seberang kedutaan Arab. Seperti orang kurang waras, pikir Avner. Masih untung bahwa musuh tidak mengetahui bagaimana orang-orang Galicia itu mengurusi Mossad, Kalau mereka tahu, mereka mungkin dapat menangkap agen Israel hanya dengan melihat seseorang memburu-buru tanda pembayaran senilai lima franc. Dati beberapa segi dapat dikatakan bahwa segal a sesuatu tidaklah berbeda dengan keadaan di dalam kibbutz. Dia adalah si Yekke di tengah-tengah orang Galicia. Sebenarnya, kenyataan bahwa dia seorang Yekke rnungkin merupakan suatu kelebihan di dalam Massad. Di dalam kibbutz orang-orang Galicia sebenarnya tidak membutuhkan dia. Mereka dapat menyelesaikan segalanya sendiri dengan Iebih baik. Tetapi di sini, khususnya di antara agen-agen lapangan yang bekerja di Eropa, menernpatkan seorang Yekke lain dari yang lain ini tidaklah merugikan. Sebab walaupun pintar dan berani, orang-orang Galicia tidak dapat mernbaur karena latar belakangnya. Dengan adatistiadat dan sikapnya yang khas, mereka memang tidak mudah menyesuaikan dengan lingkungan. Belum lagi dihadapkan masalah bahasa. Walaupun Israel sebagai keseluruhan merupakan masyarakat dengan banyak bahasa, sabra-sabra muda keturunan orangtua dan kakek-nenek di Eropa Timur jarang menggunakan bahasa asing dengan baik, sedang pemuda-pemuda Yekke pada umumnya cukup fasih berbahasa Jerman atau Perancis asli. Mereka tidak enggan memakai sepatu apa pun yang cocok dengan pakaian pengusaha.I!")

73

Bab 4 BERTEMU ANDREAS, KELOMPOK BAADER MEINHOFF

,
i
j

~ !\~ ~ " '1

!! ii
"

:1

I

Avner selalu kerasan tinggal di Eropa. Malah lebih kerasan di sana daripada di Israel. Ia senang berbeIanja, menyeberang jalan, memesan makan di restoran atau memanggil taxi dengan gaya orang Eropa. Cara orang Eropa berpakaian atau saling menyapa, cara kaum wanita membalas pandangan matanya, terasa sejalan dengan gagasannya tentang bagaimana manusia harus tampil dan bertingkah.Iaku. Walaupun ia hampir tidak pemah mernpelajari apa-apa ten tang seni, arsitektur atau sejarah Paris atau Roma, ia tabu banyak sekali tentang hotel-hotel yang murah tetapi bersih, tempat belanja yang memenuhi kebutuhan serta rute tercepat ke lapangan terbang di kota-kota lain. Ia tabu banyak tentang kedai minum dan kelab malam yang banyak dikunjungi wisatawan. Ia tabu jadwal perjalanan kereta api, jam' buka kantor pas dan suvenir murah. Dan' lebih-lebih ia senang berada di sebuah kota Eropa yang ramai, penuh kemajuan, Ia sungguh-sungguh menyukai perjalanan udara. Tam bah an lagi Avner mempunyai seseorang yang secara pribadi de kat dengan dia di Eropa, tidak seperti kebanyakan orang Israel asli, Sahabat karib semasa kecilnya ketika ia masih bersekolah di Frankfurt, Andreas. 75

Terns terang, dalam perjalanannya yang pertama kali ke Frankfurt ia bahkan tidak berpikir tentang Andreas. lni tidak aneh. Dalam waktu sebelas tahun setelah ia pulang dari Frankfurt, begitu banyak kejadian yang dialaminya --- kibbutz, Perang Enam Hari, Massad -- sehingga keeuali kenangannya tentang Kakek, Frankfurt hanya terpikir sebagai nama suatu tempat yang pernah dikenalnya. Tetapi ketika ia akan terbang kembali ke Tel Aviv, ia teringat akan Andreas. Dan perjaIanan berikutnya ia meneari alamat temannya itu di dalam buku telepon. Nama Andreas tidak terdapat di situ, tetapi yang tercantum nama arangtuanya. Rupanya orangtua Andreas tidak tahu di mana Avner dapat menemui anak mereka, Mungkin juga tidak mall mengatakannya. Tetapi mereka menunjuk seorang ternan lain, seorang wanita muda. Suara wanita itu sangat dingin dalam telepon dan mengatakan bahwa ia sarna sekali tidak kenal dengan Andreas. Avner, dengan indra keenamnya, menjawab pemyataan wanita itu sambil berkata, "Maaf, mungkin saya salah. Tetapi saya menginap di Holiday Inn, kamar empat-sebelas. Saya masih akan tinggal di Frankfurt sehari Iagi." Andreas meneiepon dia sekitar tengah malam. Sungguh mencengangkan: mereka dapat bereakap-cakap seakan-akan baru kemarin mereka berpisah. Mereka berkencan untuk bertemu pada keesokan l(arinya di sebuah kedai di Goethe Platz. Avner tiba sepuluh menit lebih cepat. Ini merupakan langkah rutin baginya, walaupun kali ini ia hanya akan menemui seorang bekas ternan sekolah. Yang datang cepat tidak akan menjumpai hal yang mengejutkan. Tetapi ia menjumpai kejutan besar. Dari sudut tempat Avner duduk, ia dapat mengenali Andreas, begitu temannya itu muncui, mungkin tiga puluh meter jauhnya dari tempat Avner. Namun ia mengenalinya bukan sebagai ternan sekolahnya dahulu. Ia mengenalnya sebagai salah satu di an tar a orang-orang yang fotonya telah diberikan kepadanya untuk dihafal, Seorang teroris Jennan yang kurang begitu penting. Seorang bekas mahasiswa, sekarang anggota Kelompok Baader-Meinhoff. Seorang prajurit, bukan tokoh pentolan, 76

Avner melihat Andreas herhenti, ragu-ragu, lalu mulai memandangi wajah semua orang yang duduk di serambi kedai. Avner mernbiarkan Andreas memandangi dirinya beberapa saat, sernentara dia sendiri mencoba menghimpun pikirannya. Pandangan Andreas akhirnya berhenti pada wajah Avner, dan ia me1angkah mendekat. "Avner?" tanya lirih. Avner telah mengambil keputusan. Ia bangkit dari kursinya, tertawa nyengir, dan mencpuk-nepuk punggung temannya dengan keras seperti pada masa kecil dahulu. Sungguh-sungguh suatu kebetulan, hanya orang tolol yang tidak menganggapnya dernikian. Andreas mengenal Avner hanya dengan nama kanak-kanaknya. Di dalam ketentaraan Avner telah mengubah namanya, seperti ternan-ternan yang lain. Ia juga tidak akan mengungkapkan pekerjaannya yang sebenarnya kepada Andreas. Sarna sekali tidak. Bahkan tidak akan dikatakan bahwa dia bekerja sebagai polisi udara di El AI. Yang paling gampang ialah tidak mengatakan apa-apa. Biarlah Andreas yang berbicara. Siapa tahu, dengan perantaraan ia dapat mempunyai kon tak yang berguna pada masa mendatang? Suatu pemikiran yang jauh menjangkau ke depan. Avner sendiri tidak tahu. Dalam waktu kurang dari dua tahun, seluruh hidupnya akan berubah karena itu. Tetapi siang itu , di kedai di Goethe Platz, mereka hanya minum bir dan bercerita-cerita ten tang masa yang lalu. Pembicaraan berkisarpada rnasa kecil mereka, tidak Icbih dari itu. Andreas hampir tidak mernberikan informasi apa-apa tentang dirinya. Ia kuliah di universitas, tetapi putus di tengah jalan, katanya, dan sedang berpikir untuk menjadi penulis. Avner pun sama-sama kaburnya dalam menjelaskan pekerjaannya. Ia banyak bepergian ke Eropa untuk kepentingan perusahaan barangbarang dari kulit di Israel. Pernbicaraan mereka tidak meoyentuh masalah politik. Sebelurn mereka berpisah, Andreas memo berikan nornor telepon yang dapat dihubungi Avner setiap saat, atau paling sedikit Avner dapat meninggalkan pesan pada nornor itu.

77

Sejak saat itu, setiap kali Avner bertugas di Frankfurt, ia selalu menghubungi temannya itu. Ada kalanya mereka itu minum-rninum hir, ada kalanya mereka hanya berbicara lewat telepon, Pokok pembicaraan utama selalu pengaJaman masa kecil, seakan-akan mereka itu orang-orang setengah umur, bukannya pemuda dua puluh tiga tahun. Avner merasa bahwa Andreas sedang berusaha dengan hati-hati untuk mernbangun kern bali persahabatan lama mereka. Tanpa mendorong-dorong, Avner membiarkan ternannya berbuat begitu. Suatu ketika, sewaktu Avner berkata kepada Andreas bahwa ia akan terbang ke Zurich, temannya itu minta kepadanya untuk mengeposkan sepucuk surat bagi dia dari Swiss. "lni surat untuk seorang gadis," kata Andreas. "Saya katakan bahwa saya akan pergi ke luar kota." Avner membawa surat itu dan memposkannya tanpa menanyakan isinya atau menyelidik i alamatnya. Ini suatu jasa baik; suatu piutang yang mungkin pada suatu hari akan ditagihnya. Sejak perternuan mereka yang pertama, Avner telah rnemutuskan hahwa ia tidak akan melaporkan kontaknya itu kepada Mossad. Di sini tidak ada masalah ketidak-setiaan, Ia rnelakukan sesuatu yang telah dikatakan oleh ayahnya. Ayahnya telah mengetahui pekerjaan baru Avner ketika anaknya itu baru beberapa lama memulai latihannva. Avner tidak bertenya bagaimana ayahnya tabu. Mungkin ternan- ternan lama di Mossad telah mengatakan hal itu padanva atau mungkin ia hanya menarik kesimpulan saja, "Bagaimana, kau senang bekerja di pengairan?" tanyanya kepada Avner pada suatu siang. Lalu ia menambahkan tanpa menunggu jawaban atas pertanvaannya, "Kau bodoh. Tetapi itulah hidupmu." "Itukah nasehat ayah yang terbaik?" tanya Avtter. Ayahnya menggelengkan kepala, "Kau tentu tak akan mendengarkan nasehatku yang paling baik," jawab ayah, "Maka tidak ada gunanya lagi saya katakan. Tetapi saya akan mernberikan nasehat yang nomor dua baiknya. Kalau sudah masuk, bekerjalah sungguh-sungguh. Ikuti segala sesuatu yang sudah digariskan. Jadilah si bocah jempolan. Tetapi jangan perlihatkan semua kartumu kepada mereka, Selalusimpanlah satu kartu tersembunyi. 78

..

Demikianlah Avner memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa mengenai Andreas. Dia rasa cukup arnan. Kalau ada seseorang yang melihat mereka berdua atau mengenali Andreas, dia hanyalah temannya pada masa kanak-kanak dahulu. Avner tidak sempat melihat bahwa temannya itu ternyata si teroris Baader-Meinhoff yang fotonya telah diberikan Mossad kepadanya. Alpa mungkin, tetapi tidak lebih dari itu. Risiko kecil untuk kartu joker yang mungkin sangat penting baginya kelak. Dua tahun lagi berlalu dengan cepat dan tanpa kejadian yang pantas dicatat dalam kehidupan Avner. Ia masih terus merasa senang dengan pekerjaannya. Atasannya pun rupanya cukup puas dengan prestasi kerjanya. Ia tetap hanya agen klas rendah, tidak terlibat dalam kalangan intelijen yang sungguhsungguh. Tetapi tugas yang dipikulkan kepadanya Iambat laun makin berarti, Sekali-sekali ia mendapat perintah untuk terbang dengan menggunakan paspor dinas ke sebuah ibu kota di Eropa, Athena atau London. Di sana kepala pusat Mossad setempat akan rnemberinya paspor dan identitas lain, katakanlah seorang usahawan Jerman Barat. Lalu ia harus menggunakan paspor itu untuk terbang ke sebuah kota lain, misalnya Zurich atau Frankfurt. Di sana ia akan bertemu dengan seorang agen Israel yang bekerja di suatu negara Arab -- biasanya dia seorang Yahudi Timur -- yang harus diberi dan dimintai keterangan. Biasanya, agen yang bekerja di negara-negara Arab dengan samaran identitas Arab tidak akan dipanggil pulang-ke Israel hanya untuk diberi atau dimintai keterangan rutin. Tindakan ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko ketahuan oleh seorang agen Arab, entah di Israel atau di Eropa, sewaktu ia naik sebuah pesawat yang bertujuan terbang ke Israel. Dinas-dinas intelijen kebanyakan negara bekerja dengan cara ini. Mereka melakukan tukar-menukar tiga perempat dari semua informasi rahasiarnereka di kota-kota wisata besar dunia, Avner mempunyai teori yang agak bernada sinis mengenai cara kerja tersebut, Untuk perternuan singkat secara sembunyisembunyi, Birmingham merupakan tempat yang sama baiknya dengan London, Nancy sarna baiknya dengan Paris, Tetapi mata-mata adalah manusia juga. Siapa yang mau tinggal semmg-

79

gu lamanya di Nancy, kalau ia dapat melewatkannya di Paris? Avner pasti tidak menolak cara kerja ini. Baginya, inilah salah satu keuntungan bekerja sebagai mata-mata. Banyak di antara tugas-tugas yang diberikan kepada Avner selama dua tahun ini menyangkut operasi pertahanan melawan teror, baik langsung maupun tidak langsung. Lingkaran terorisme internasional, terutama anti Israel, yang dimulai tidak lama sesudah Avner masuk Mossad pada musim panas tahun 1969. telah berkembang cepat menjadi unsur kehidupan tetap pada banyak negara. Sampai pada musim gugur tahun 1972. telah terjadi dua puluh kali lebih peristiwa besar yang melibatkan organisasi-organisasi pejuang Palestina saja, Sebelum musim gugur tahun 1972, kaum gerilyawan Palestina yang oleh Israel disebut teroris memusatkan serangan utama mereka pada angkutan udara dan fasilitas milik Israel maupun berbagai negara Barat, Pada tanggal 21 Februari 1970, empat puluh tujuh orang mati terbunuh ketika "General Command", suatu cabang Front Pembebasan Rakyat Palestina (PFLP) meledakkan sebuah pesawat jet Swissair dengan born ketika pesawat itu sedang tinggal land as eli Zurich. Pada hari yang sarna suatu ledakan born merusak sebuah pesawat Austria yang mengangkut kiriman pas ke Tel Aviv. Serangan-serangan ini terjadi dalam waktu beberapa jam saja setelah sebuah kelompok gerilyawan Palestina yang lain melemparkan granat ke dalam sebuah bus El Al di ban dar udara Munch en. Akibat ledakan granat ini, seorang penumpang tewas dan sebelas orang luka-luka, termasuk aktris Israel terkenal Hannah Marron, yang kakinya terpaksa dipotong. Kemudian, an tara tanggal 6 dan 9 September, tahun itu juga, lima pesawat terbang dibajak dalam suatu operasi besar Front Pernbebasan Rakyat Palestina, Hanya satu pesawat terbang, sebuah Boeing 707 milik El Al dengan jurusan Amsterdam, yang telah selamat ketika polisi udara menembak mati seorang pembajak dan menangkap ternannya, teroris wan ita bernama Leila Khaled. Para gerilyawan yang melakukan teror itu naik pesawat lain ke Kairo dan menghancurkannya, sementara riga pesawat lagi ditahan di landasan terbang tua Danwon's Field di Yordania bersama tiga ratus san80

i

!
~.

,
,

~ ,

dera yang akhirnya dilepaskan dengan tukaran sejumlah gerilyawan Palestina yang telah tertangkap sebelumnya di Swiss, Inggris dan J erm an Barat. Walaupun operasi kali ini berhasil, para pejuang Palestina itu akan segera mengalami akibatnya. Dalam waktu beberapa minggu, Raja Hussein dari Yordania mengusir sernua kelompok pejuang Palestina dari negerinya, dengan membunuh sejumlah anggotanya dalarn proses pengusiran tersebut, Tindakan ini kemudian mcnyebabkan pembentukan Black September, suatu organisasi teroris Palestina yang sangat fanatik. Tetapi tindakan teror bukanlah hasil ciptaan orang Palestina, dan juga bukan cip taan tahun 1960-an. Senjata teror politik ini mungkin tidak muncul selama beberapa dasawarsa lamanya. Tetapi tindakan teror ini kemudian ditemukan lagi oleh suatu generasi barn, dan bangsa atau gerakan yang biasanya dianggap terhorrnat telah menggunakannya pada suatu masa dalam sejarahnya. Satu-satunya penemuan yang dilakukan oleh Palestina pada tahun 1960-an akhir ialah bahwa Israel -- yang terIalu tegar untuk digempur dengan perang k onvensional atau serangan gerilya langsung -- ternyata mempunyai bagian yang agak rawan di Barat. Di antara orang-orang yang menemukan kenyataan ini termasuk seorang yang dahulu kuliah teknik di Universitas Stuttgart, Jerman Barat, yakni Aba a-Rahman (Yasser) Arafat. Walaupun tidak secra resmi merestui tindakan teror di luar Israel dan wilayah yang diduduki Israel, Arafat mulai menggunakan tindakan seperti itu, misalnya melalui AI Fatah sendiri (organisasi bersifat militer yang "maderat" pimpinan Arafat dalam PLO; yang be rart i "Perjuangan"). dan terutama meIalui Black September yang digunakan secara sernbunyisembunyi, sementara di luar mengingkari setiap kaitan dengan organisasi tersebu t. Serangan pertama AI Fatah terjadi pada tahun 1971 dalam operasi sabotase terhadap beberapa depot minyak di Rotterdam, Sesudah itu -sebagai balasan pembunuhan orangorang senegaranya oleh Raja Hussein -- terjadi Iagi serangan organisasi tersebut terhadap penerbangan dan kantor pemerintah Yordania di Kairo, Paris dan Roma. Melihat keberhasilan

81

Al Fatah, gerakan Black September melancarkan operasinya pertama kali pada akhir tahun yang sama, Pada bulan November anggotanya berhasil menembak mati Perdana Menteri Yordania di tangga Sheraton Hotel di Kairo. Kurang dari tiga mingo gu kemudian, di London, mereka menembak dan melukai duta besar y ordania, Zaid Rifai, Gerilyawan Black September tidaklah begitu berhasil dalam serangan pertama mereka terhadap Israel. Pada bulan Mei 1972 mereka membajak sebuah pesawatjet Belgia dan mencoba menerbangkannya ke Tel Aviv untuk menukarkannya dengan 3 I 7 orang gerilyawan PaIestina yang tersekap dalarn penjara Israel. Tetapi jumlah ini bahkan bertambah menjadi 319 orang ketika pasukan para Israel menyerbu pesawat dan menangkap dua orang di antara pembajak Black September itu, Operasi-operasi yang berhasil melawan Israel pada tahun itu terns dilancarkan oleh Front Pembebasan Rakyat Palest ina , kelompok teror internasional Palestina paling tua dan paling hesar yang didirikan oleh Dr. George Habash. Dalam operasi-operasi terornya pada waktu itu dipirnpin oleh Dr. Wadi Haddad. Dr. Haddad inilah yang pertama kali mengadakan persekutuan internasional untuk melakukan tindakan teror, Pada tanggal 31 Mei 1971;- ia mengirim riga pembunuh kamikaze dari Tentara Merah Jepang ke lapangan terbang Lod di Tel Aviv. Di sana ketiga pembunuh ini secara sisternatis mulai membantai rakyat dengan granat tangan dan berondongan senapan di terminal yang penuh orang. Operasi tersebut menelan korban 26 jiwa melayang dan 76 orang luka-luka, ironisnya, kebanyakan korban adalah peziarah Kristen dari Puerto Rico. Beberapa tugas yang diberikan kepada Avner adalah nong· krong di lapangan-lapangan udara Eropa dan mencoba mengenali calon-calon pelaku teror sebelum mereka sempat naik sebuah pesawat yang akan berangkat ke Israel. Tugas ini bukanlah pekerjaan tebak-tebakan belaka, tetapi memang hampir serupa itu. Para informan kadang-kadang akan memberitahu Mossad tentang ancaman akan adanya operasi teror, Tetapi tentunya keterangan mereka tidak secara tepat menunjuk di mana tempat akan dilancarkannya operasi itu, penerbangan mana

82

yang akan menjadi sasaran, atau berapa jumlah teroris yang akan bergerak dan siapa mereka itu, Pelaku teror itu menurut teori dapat berkebangsaan apa saja dan dapat berumur berapa saja. Mereka dapat laki-laki maupun perempuan, atau juga campuran. Dapat pula orang-orang itu membantu terorisme tanpa kesadaran penuh. Tidak semua operasi teroris berupa sabotase atau pembajakan pesawat saja, Beberapa teroris pergi ke mana-mana di Israel untuk melaksanakan berbagai tugas. Ada pula lainnya yang mencari orang-orang Arab Palestina di wilayah pendudukan untuk tujuan mata-rnata dan operasi sabotase. Massad telah rnernberikan gambaran, orang macam apakah yang patut dicurigai sebagai teroris. \\'alaupun sedikit sekali teroris yang cocok dengan gambaran tersebut dalam setiap detilnya, tetapi memang ada ciri-ciri khas yang boleh dikata terdapat pada semua teroris. Dari hasil interogasi para teroris yang telah tertangkap, misalnya, Massad mengumpulkan beberapa keterangan serupa, Maka lahirlah beberapa ciri khas mereka, Misalnya, bagaimana seorang gerilyawan Palestina melewatkan waktu empat puluh delapan jam menjelang pelaksanaan tugas mereka. Kecenderungan umum mereka ialah memanfaatkan kesernpatan dengan sepuas-puasnya, misalnya seperti tinggal di hotel paling bagus dan, sangat sering, dengan menghabiskan sernua uang mereka kecuali sejumlah kecil yang cukup untuk membeli tiket satu kali jalan ke Israel. Kebanyakan tidak berpikir untuk memesan hotel di negara yang akan mereka datangi dan juga tidak dapat menyebutkan alamat ternan atau kenalan yang akan mereka tumpangi. Ada pula kebiasaan menuju temp at tujuan secara tidak langsung, tetapi dengan berganti-ganti arah. Oleh sebab itu , kecurigaan langsung timbul bila sebuah tiket satu jalan ke Tel Aviv lewat Paris --Roma --Athena dibeli oleh seorang pemuda yang mengaku mahasiswa, tetapi tinggal di hotel paling mewah diJenewa dan tidak mernpunyai reneana akan menginap di mana di Israel nanati. Teroris terkadang juga berperilaku seperti biasanya orang yang sedang dalam ketegangan batin, Mereka biasanya bepergian dengan bawaan sedikit, tetapi cenderung untuk selalu merne-

83

gangi atau memangku tas atau kopor kecilnya; bukannya meletakkannya di kursi kosong di sebelahnya atau di lantai selagi duduk eli ruang tunggu bandar udara. Kalau mereka pengisap rokok, mereka akan ban yak menghabiskan rokok. Mereka mungkin juga sering pergi ke we. Jarang mereka membaca buku atau koran secara asyik, tetapi hanya membuka-bukanya tanpa perhatian sungguh-sungguh. Tentunya sulitlah bagi mereka itu memusatkan perhatian pada sesuatu. Dalam perjalanan menuju sasaran pembajakan biasanya mereka pergi bertiga atau berernpat, Selagi menunggu saat pemberangkatan mereka jarang duduk kumpul bersatu, tetapi sakan sering saling bertukar pandang. (Seorang agen :.Iossad yang mengenali seorang teroris dari sebuah foto di bandar udara Schiphol di Amsterdam secara mudah dapat mengetahui dua ternan teroris tersebut dengan mengikuti pandangan gelisah orang pertama itu}, Teroris rupanya juga menyukai tempat duduk dekat jendela, walaupun dari segi operasional tempat duduk di tengah akan lebih menguntungkan. Sernua ini tidak pasti, walaupun para ahli psikologi Mossad mengetengahkannya sebagai profil yang menonjol. Memang dari semua itu tidak ada yang terdengar ilmiah. Beberapa hanyalah kewajaran. Sulit menggunakan cara pengenalan tersebut tanpa adanya perasaan khusus, kemampuan menarik kesimpulan yang terdapat pada beberapa orang. Avner sendiri, yang telah berpuluh kali mendapat tugas seperti itu, pernah dua kali mernberikan tanda bahaya. Pertarna, ketika ia menernukan sernua tanda yang mirip ciri-ciri dari orang yang harus dicurigai, Tetapi pasangan muda yang dicurigainya itu ternyata tidak mernbawa apaapa kecuali sernacam tembakau, yang dalam bahasa Arab dinamakan kaif, dalam jumlah besar. Tangkapan Avner yang kedua sungguh-sungguh merupakan tangkapan besar. Orang itu temyata seorang perekrut calon teroris, Orang itu mempunyai tiket pergi-pulang, tidak merokok, tidak pernah pergi ke we, dan tidak berulang-ulang melemparkan pandang ke penurnpang lain yang duduk di ruang tunggu. Avner sendiri tidak dapat menerangkan apa yang telah menyuruh dia meneIepon Tel Aviv dan mengusulkan agar begitu tiba di Tel Aviv orang itu ditahan

84

dan diperiksa, Memang orang itu orang Arab, tetapi selain dia banyak pula penumpang Arab dalam penerbangan yang sarna. Tetapi tidak tepatlah mengatakan bahwa Avner rnenjadi seorang spesialis dalarn pekerjaan antiteroris. Selama ini ia masih terus ditugaskan melakukan pekerjaan-pekerjaan klas rendah menurut kebu tuhan , waktu dan tempat. Akan tetapi, dia sendiri tidak memandang sernua tugas itu sebagai pekcrjaan klas rendah. Lagi pula, pekcrjaan-pckerjaan tcrsebut biasanya hams dilakukan di Iuar negeri. ltu berarti ia harus terbang ke tempat tersebut. Pada akhir tahun 1971 ia bahkan ditugaskan ke ;":ew York. Inilah perjalanan paling hebat. lmpiannya terpenuhi, Ia tidak Iagi terbang sebagai polisi udara, tetapi tetap masih mendapat tugas-tugas k eamanan rlari waktu ke wak tu. Pernah ia ambil bagian dalam suatu opcrasi dengan tujuan rnenyelundupkan seorang pembelot Jerman Tirnur dari Jerman Barat. Avner scndiri tidak pernah diberitahu siapakah orang yang harus diselundupkannya itu. Tugas ini sungguh rumit, Tetapi pada akhirnya tugas Avner tidaklah rnacam-macam, kecuali hams menjalankan sebuah kendaraan penarik makanan penumpang penerbangan EI Al dari suatu lubang pada pagar lapangan terbang ke sebuah Boeing 707 yang telah menunggu. Avner tidak sekejap pun dapat melihat pelarian itu. Pada suatu kesempatan lain ia ditugaskan rnenjadi pengawa1 pribadi Golda Meir dalam suatu perjalanan ke Paris. Hubungan Avner dengan Shoshana, tidak menghadapi penghalang sedikit pun untuk pemikahan. Dan mereka pun menikah pada tahun 1971, ketika Avner masih terus menjalani latihannya di Iapangan. KaIau Shoshana tidak kawin, padahaI ia sudah lulus universitas, maka ada kemungkinan ia harus menjalani dinas rniliter, Walaupun hal ini tidaklah merupakan alasan utama mereka menikah, namun ini memang mempengarnhi pemilihan waktu pernikahan mereka, Avner, sebagaimana banyak lelaki lain, telah merasa cukup kalau mereka berhubungan tanpa adanya ikatan resmi, Avner tidak pemah berkhianat terhadap cintanya pada Shoshana selama ia dalam perjaIanan ke mana-mana. Tetapi ini tidak disebabkan karena ia telah buta terhadap wanita-wanita

85

cantik yang lain atau karena peraturan Mossad melarang anggotanya menyeleweng dengan wanita lain. Soalnya, hampir seluruh waktu dan perhatian Avner disita oleh tugasnya. Selain itu, ada perasaan enggan yang rnungkin ada hubungannya dengan ayah Avner. "Saya tidak akan melakukan apa yang dilakukan ayah. Saya mau rnenjalani hidup normal." Tetapi mungkin alasan pokok mengapa_ Avner enggan berhubungan dengan wanita lain adalah perasaan bahwa ia tidak rnempunyai kelebihan yang dapat digunakan untuk membuat wanita mengaguminya. Mereka harus terkesan, begitu bukan? Dan pasti banyak wanita akan terkesan kalau mereka tahu apa sebenamya pekerjaan Avner selama ini, Tetapi justru inilah yang tak dapat dia katakan kepada siapa pun. Orang lain mungkin dapat membuat wanita terkesan dengan berbicara soal-soallain, tetapi Avner tidak. Apa yang dilakukannya selama ini setiap ia melihat wanita yang sangat menarik adalah diam melongo seperti orang tolol. Sungguh gila, punya senjata ampuh untuk menaklukkan wanita tetapi tak dapat menggunakannya. Sebagai kornpensasi, Avner mengernbangkan suatu sikap yang agak menyepe1ekan wanita, Biia seorang temannya dalam suatu penerbangan melongo karena kagum rnelihat seorang gadis cantik jelita, Avner yang sebenarnya hampir tak dapat menahan hatinya, akan mengangkat bahu dan berkata: "Ah, lumayan." Shoshana lain, dia cantik. Mungkin bukan hanya cantik mempesona, tetapicantik rnendamaikan, Dan dia seorang sabra. Dia tidak perlu dibuat terkesan. Dia mengerti tanpa kata-kata. Dan walaupun Shoshana tidak pemah mengajukan pertanyaan, dia pasti dapat meraba apa pekerjaan Avner yang selalu bepergian ke m ana-rnana. Tetapi kalau ada yang bertanya kepadanya, gadis itu akan menjawab: "Oh, Avner bekerja untuk pemerintah." Di Israel bekerja untuk pemerintah cukup terhormat. Pemikahan mereka sungguh membahagiakan. Foto-foto menunjukkan betapa Avner yang kulitnya kecoklat-coklatan itu tersenyum Iebar dalam jas putihnya, Shoshana tampak sopan penuh misteri dalam gaun .putihnya yang panjang. Tamunya adalah para tetangga. teman-teman, bahkan riga empat orang

86

ternan lama dari kesatuannya dahulu ketika ia menjalani dinas militer. Di atas meja panjang terdapat kue pengantin yang rurnit buatannya dan berbotol-boto] anggur manis Israel berwarna coklat muda, Ibu tampak hadir, tentu saja, dan juga ayah, dengan sikapnya yang ramah seperti biasa di tengah orang banyak. Ayah datang dengan Wilma, istri barunya. Semua orang tampak sangat rukun, ramah. Ibu, ayah dan Wilma bahkan muncul bersarna dalam beberapa foto bersama, dengan orang tua Shoshana, walaupun ibu dan Wilma selalu memandang ke arah yang berlainan.

Bab 5
PENUGASAN GOLDA MEIR

Avner berada di Paris selama berlangsungnya pembantaian di Munchen. Ia terpaku di depan pesawat televisi, seperti kebanyakan orang Israel yang lain di manapun mereka berada. la terbang kembali ke Israel tepat pada waktu para korban sedang dimasukkan ke liang lahat. Penguburan mereka merupakan peristiwa kenegaraan yang penuh suasana resmi, Walaupun demikian Perdana Menteri Israel, Golda Meir, tidak tampak hadir, Alasan resmi bagi ketidakhadirannya adalah suasana duka pribadi. Ia baru saja ditinggaI mati seorang saudara perempuannya. Tetapi sementara orang di Israel mengira bahwa wanita itu sengaja absen karma tidak mall diludahi atau dilempari batu oleh orang-orang yang menyalahkan dia dalam peristiwa pembantaian di Munchen itu. Memang sebenarnya sedikit saja alasan untuk menyalahkan dia dalam tragedi tersebut. Tetapi kesedihan rakyat senegaranya sangat mendalam dan mereka sangat marah. Belum lagi duapuluh empat jam lamanya ia berada di Israel, Avner sudab diperintahkan ke luar negeri, Ka1i ini ke New York dengan tugas sebagai kurir yang kurang penting. Dalam keadaan biasa ia alan menyambut penugasan seperti itu dengan gembira dan berangkat dengan penuh semangat. Tetapi

89

l

kali ini ia sedang hanyut dalam suasana hati yang meliputi semua orang senegaranya. eO) Barn sekali ini ia merasa tidak krasan ill New York, di tengah hiruk-pikuk yang aeuh tak acuh. Pada hari Jum'at, dua minggu setelah serangan para teroris terhadap para atlet Olympiade kontingen Israel, Avner merasa senang dapat terbang lagi ke rumah, Seperti biasanya ia membawa aneka macarn suvenir sebagai oleh-oleh kaos untuk Shoshana, eantelan kunci dan wadah garam untuk ibu dan saudara-saudara istrinya, Bahkan Charlie, anjing herder Jermannya, rnendapat bagian sekotak tulang susu yang enak dikunyah dari New York. Shoshana dan Avner memanjakan anjing itu, Charlie adalah hadiah perkawinan dari ternan-ternan Avner pada masa dinasnya dulu. Mereka itu teringat akan eerita Avner tentang anjing kesayangannya pada masa kecil, Bobby,juga seekor anjing herder Jerman. Hari sudah agak Malam ketika pesawat Avner men dar at. Ia berharap akan dapat mengajak Shoshana makan Malam di restoran, walaupun di Israel orang tidak mungkin mendapatkan makanan panas pada hari Jum'at sesudah matahari terbenam. Ia sungguh tidak senang ketika tiba-tiba ia melihat kepaIa seksinya menjemput dia di gerbang lapangan terbang. "Senang di petjalanan?" tanya orang itu. "Va. Semua beres," jawab Avner. Ia tidak biasa disambut oleh seorang atasannya bila kembali dari mana pun, kecuali kalau mereka memang sedang mempunyai tugas tertentu di lapangan terbang. "Ada yang tidak heres? Saya sebenamya mau eepat-cepat pulang sebelum gelap." "Oh, bisa saja, Tidak ada apa-apa," jawab kepala seksinya, "Saya hanya akan mengatakan padamu, jangan membuat rencana apa-apa untuk besok pagi. Seseorang akan datang menjernpu tmu di rumah besok pada jam sernbilan." "Ada apa?" "Saya sendiri tidak tahu," jawab orang itu. "Bersiap-siap sajalah padajam sembilan pagi." Avner sungguh tidak senang. "Wah badan rasanya capai bukan main sesudah terbang dua

90

belas jam Saya mau cepat-cepat tidur ," "Tidur, sesore ini?" kata bossnya. "Tetapi, yah, siapa yang akan melarangmu? Benar juga. " Avner hampir saja lupa akan pembicaraan di lapangan terbang itu. Ia sudah memasuk-masukkan perlengkapan renang dalam tasnya pada keesokan harinya, ketika ia tiba-tiba teringat. Sabtu adalah hari pantai di Tel Aviv. "Ya ampun, hampir lupa," katanya kepada Shoshana, "Kita tak dapat pergi. Gila! Hampir jam sembilan lagi. Seseorang akan menjernputku dua menit lagi. " Seperti biasa, Shoshana tidak bertanya. Ia bahkan tidak mernperlihatkan perasaan kesal atau menyesal sedikit pun. Ia berdiri saja sambil memegangi cangkir kopi di mulut suaminya, yang mencoba minum sambil mengikatkan tali sepatunya. Bel pintu berdering pada pukul sembilan lewat satu menit. Avner me nuruni tangga rumah dua tingkatnya, dua telundak setiap Iangkah, sambil mengancingkan kemejanya, Di pintu rumah langkahnya mendadak terhenti. Ia kenal orang yang berdiri di depan ·pintu_ Keduanya saling mengangguk tanpa berkata-kata. Orang di luar itu juga agen rahasia, ·seperti Avner sendiri, tetapi dengan tugas permanen. Dialah sopir pribadi memune, boss Avner, J enderal Zvi Zamir, pucuk pimpinan Massad. Avner menyangka ini pasti keliru, salah alamat. "Kaukah yang tadi membunyikan bel rumahku?" tanya Avner masih sambil mengancingkan bajunya. Sopir itu mengangguk dan membuka pintu untuk Avner, Lalu ia mendahului ke jalan untuk membuka pintu mobil yang terparkir di pinggir jaIan. Orang yang duduk di belakang adalah Zamir sendiri, A vner bimbang. "Masuk. Ayo masuk," kata sang jenderal sambil melambaikan tangannya tidak sabar, Avner mengambil tempat duduk di belakang,. bersebelahan dengan pemirnpin Mossad. Pikirannya tak menentu. Sebelum ini ia sudah dua kali berjumpa dengan Zamir, Pertama, ketika ia dikenalkan secara singkat kepadanya bersama-sama dengan para agen muda yang lain. Dan kedua, k etika mereka kebetulan bepergian dengan pesawat terbang yang sarna ke Roma. Pada wak91

tu itu Zamir terbang sebagai penumpang dan dia scbagai po lisi udara. Mcreka bahkan sernpat berdialog beberapa patah kata. Dan sekarang Zamir duduk di sehelahnya di dalam mobil. \Valaupun begitu, ia ada di Israel, negara keeil, tempat tidak ada resmi-rcsmian dan sernua orang dianggap setingkat. Avner mcmang rnerasa tak mcnduga dan heran sendiri. Tetapi ia t idak lah seheran agen FBI tingkat rendah misalnya yang tibatiba duduk berdampingan dengan J. Edgar Hoover, pernimpinnva, Jarak sosial dan prof esional antara orang yang satu dan lainnya di Israel memang tidak besar seperti di negara-negara lain. Di Israel, mereka semua orang Yahudi. Semua sarna-sama berada di sckoci penyelamat yang sarna, dan masing-masing mengerjakan apa yang harus dik erjakan, Mobil mereka meluncur di sepanjang Jalan Hamasger. Sesudah me!ewati Derekh Kibbutz Galuyot, mobil berbelok ke timur masuk jalan besar, "Kita akan pergi ke Yerusalern," kata Zamir. Avner mengangguk. la merasa tidak perlu bertanya-tanya. la tentu segera mengetahui apa yang sedang dan akan dikerjakannya, Sesaat terpikir oJehnya bahwa ia mungkin telah melakukan kesalahan. Tetapi kalau begitu halnya, kesalahannya tentu besar sekali sehingga Zamir sendiri turun tangan. Avner tak dapat mernbayangkan keadaan itu. Maka ia tenang-tenang saja. J alan ke Yerusalem pada Sabtu pagi itu sepi sekali. Matahari akhir September rnasih teras a panas ketika mereka berangkat dari Tel Aviv pagi tadi, tetapi dalam waktu setengah jam, ketika mobil mereka mulai berjalan menanjak rnenaiki bukitbukit yang mengelilingi Yerusalern, udara terasa makin dingin. Avner senang sekali menyusuri jalan berbelok-belok menembus hutan yang tak begitu lebat di bebukitan Yerusalem, Ia menyukai batu-batuannya yang seperti berkaret dan cuacanya yang lebih lembut dan lebih kering. Bau lingkungan alamnya mengingatkannya pada hari-hari rnusim panas di Eropa yang terasa kering bersih, Di sana-sini, di sepanjang jalan besar, terdapat bekas-bekas "roti sandwich" - truk berlapis baja buatan dalam negeri, Truk-truk itu sisa konvoi pengirirnan persediaan dan perbekalan antara Yerusalem dan bagian-bagian lain negeri itu se-

92

lama Perang Kemerdekaan. Konvoi itu tidak jarang menjadi sasaran serangan para gerilyawan ketika mereka harus melewati wilayah Arab yang mernusuhi mereka. Kebanyakan orang Israel sudah begitu terbiasa dengan pemandangan itu, sehingga jaranglah yang me1emparkan pandangan untuk rnemperhatikannya lebih seksama. Tetapi Avner selalu merasakan pengaruh yang kuat, Zarnir tampak cukup ramah, tetapi perhatiannya lebih tertarik oleh hal lain. Selama perjalanan ia tidak banyak bicara. Paling-paling ia menanyakan kabar ayah Avner, Avner sudah jadi terbiasa dengan pertanyaan serupa, Ayahnya telah menjadi terkenal sejak ia ditangkap dan diadili, Hampir sarna terkenalnya dengan Eli Cohen. Ada artikel-artikel yang menceritakan jasa-jasanya bagi Israel. Bahkan ada sebuah buku tersendiri ten-tang dia, Tentu saja para penulis tidak banyak mengetahui kehidupan pribadinya, apa lagi perasaan-perasaan pribadinya, Nama yang dikenal umum bukanlah nama yang biasa dipakaioya ketika ia tioggal di Rehovot, Avner pun sewaktu menjalani dinas ~liter telah menggunakan nama lain. "Ia baik-baik saja," jawab Avner kepada Zamir. "Kesehatannya, Va, begitulah." j enderal itu mengangguk. "Katakan kepadanya, ya, ini benar-benar," sambung jenderal itu kepada Avner, "katakan, saya kapan-kapan akan singgah ke rumah ayahmu." "Wah, betapa senangnya ayah," jawab Avner sop an. Ia tidak clap at menerka, apakah ayahnya akan senang atau tidak mendengar janji itu, Ia malah mempunyai dugaan bahwa Zvi Zamir rnungkin termasuk di antara "mereka" yang disebutsebut oIeh ayahnya dengan nada getir. PerjaIanan selanjutnya mereka tempuh tanpa banyak bicara. jarak antara Tel Aviv dan Yerusalem, melintasi bagian sempit tanah Israel, dapat dilewati dalam waktu kira-kira satu jam bila sopir agak rnemacu kendaraannya. Pada hari 8abtu pagi itu mereka menempuhnya dalam waktu setengah jam saja. Hari belum pukul 10 pagi ketika mereka berhenti di depan sebuah gedung di pinggiran kota, Avner berpikir, ia tahu di mana kini mereka berada, walau-

93

pun ia hampir tidak perea ya. Mula- mula J enderal Zam ir, dan sekarang? Ia melempar pan dang kepada memune, tetapi pria itu telah keluar dan mobil dan memberi isyarat kepada Avner supaya mengikutinya. Seorang polisi berdiri di luar pintu gerbang yang dibukanya lebar-lebar ketika mereka mendekat, Avner mengikuti sang Jenderal dengan rasa setengah tak pereaya. Apartemen, kamar duduknya, sangat indah dalam gaya lamanya, walaupun tidak mewah. Avner merasa tidak ragu-ragu sedikit pun tentang tempat di mana mereka sekarang ini berada, tetapi ia tidak mau mengatakan pada dirinya sampai matanya terpancang pada foto-foto di dinding. Foto-foto Perdana Menteri sedang menggunting pita, atau lagi membungkuk menghormat Nehru, atau sedang berdiri di samping Ben-Gurian! Golda Meir sendiri masuk, Ketika wanita itu membuka pintu, Avner dapat melihat bahwa ia datang dari dapur. Agak membungkuk, mengenakan pakaian rumah, ia roelangkahkan kakinya yang bersepatu hitam. Diulurkan tangannya kepada Avner. "Apa kabar?" kata sang Perdana Menteri Israel. "Ayah. roll baik-baik saja?" Avner tidak tabu apa yang digumamkannya menjwab ucapan wanita itu. "Baik, baik," kata Golda Meir. "Syukurlah. Syukurlah. Kau sudah kenal dengan sernua orang di sini?" Baru ketika itulah Avner melihat bahwa di samping pengawal prioadi dan Jenderal Zamir masih ada seorang lelaki lagi di dalam karnar itu, Dia berseragam, dipundaknya tampak leneana Israel - gandum bertangkai ramping bersilang dengan tongkat ukur ahli teknik, Avner telah mengenal orang itu dari masa dinasnya dalam ketentaraan dahulu. Dialah Jenderal Ariel Sharon, salah seorang di antara pahlawan-pahlawan masa kecilnya, Mereka bersalaman. "Kau mau minum teh?" tanya Golda Meir. "Kopi? Atau mau sari buah saja?" Jenderal Sharon dan memune menarik kursi untuk tempat duduk mereka masing-masing, Sesudah ragu-ragu sesaat, Avner pun mengikuti contoh kedua orang itu. Ia tidak dapat memperkirakan sama sekali, untuk apa ia berada di tempat tinggal Golda Meir? Bahkan indra keenamnya kali ini tak membantu. Ia
94

memandang keheran-heranan ketika wanita itu pergi Iagi ke dapur dan kernudian keluar mernbawa sebuah nampan, lalu mulai menyiapkan cangkir dan cawan untuk membuat rninuman. PengawaI pribadi tadi tak tampak Iagi, J enderal Zamir dan J enderal Sharon bercakap-cakap lirih dan tidak menawarkan diri untuk mernbantu. Avner , bangkit, tetapi duduk kernbali ketika melihat wanita itu menggeleng mengetahui maksudnya, Avner memandangi rambutnya yang sukar diatur, jari-jernarinya yang kuat agak keperidek-pendek an, jam tangannya yang persegi bergaya lama - jam tangan laki-Iaki, Walaupun sudah pernah menjumpainya sebelurn itu, ketika Perdana Menteri terbang ke Paris dan ia bertugas sebagai agen keamanan, ia belum pernah benar-benar mengamati wanita itu, Ia jadi teringat kepada neneknva. Tetapi kemudian Avner pun yakin bahwa setiap orang yang melihat wanita ini tentu akan teringat kepada nenek masing-masing. Terutama ketika ia mulai mengirisiris ~pe1 dan menyodorkannya seiris-iris, mula-mula kepada J enderal Zamir lalu kepada semuanya seakan-akan mereka itu cucunya, Kemudian Perdana Menteri mulai bicara, Mula-mula Avner tidak dapat meinastikan siapa yang diajaknya bicara. Sesaat ia terpikir bahwa dialah yang diajak bicara, tetapi pandang matanya terarah ke tempat lain. Tetapi tampak pula bahwa ia tidak memandang ke arah Ariel Sharon maupun J enderal Zamir, Seakan-akan ia mengangkat matanya ke arah suatu titik di dinding di atas mereka, seperti sedang berbicara dengan seseorang di luar, kepada hadirin yang tak tampak. Mungkin ia sedang berbicara dengan seluruh kota Yerusalern, seluruh negeri, walaupun suaranya tetap lirih. Atau mungkin ia berbicara pada dirinya sendiri. Kebingungan Avner makin bertambah selama ia mendengarkan kata-kata wanita itu, Pikirannya penuh teka-teki. Itu timbul bukan karena apa yang dikatakan. Golda Meir berbicara dengan kata-kata sederhana, tegas, penuh perasaan, dan Avner- setuju dengan segala sesuatu yang diutarakan. Ia berbicara tentang sejarah. Ia berbicara tentang bagaimana, sekali lagi, orang Yahudi diserbu dan dibantai di mana-mana di se-

95

luruh dunia, hanya karena mereka ingin punya tempat tinggal. Ia berbicara tentang pembunuhan penumpang pesawat terbang serta awaknya yang tidak. bersalah di Athena, di Zurich, di Lad. Persis seperti tiga puluh tahun yang lalu, katanya, orang Yahudi dibelenggu, ditutup matanya dan dibantai di daratan Jerman, sementara orang-orang di bagian dunia yang lain sib uk b errnain voUy. Band mengumandangkan -lagu-Iagu riuh rendah, obor Olympiade menyala tinggi, sementara orang Yahudi pulang memanggul peti mati. Orang Yahudi terpenciI sendirian, seperti yang sudah-sudah. Tidak seorang pun mernbela mereka. Orang Yahudi harus bertahan dengan mengandalkan diri mereka sendiri. Negara Israel berdiri untuk membela orang Yahudi, dernikian kata Golda Meir, untuk menyelamatkan orang Yahudi dari musuh-musuh mereka, untuk mendapat suatu tempat berteduh yang damai di dunia ini, Tetapi selagi berperang pun, Israel selalu mencoba senantiasa melihat ke masa lalu. Israel tidak mau merendahkan diri ke tingkat musuh-musuhnya. Israel selalu mencoba mengekang diri, bahkan dalam membela anak-anaknya sekalipun, Israel berusaha untuk tetap bersih dalam tindakannya, untuk menye1amatkan anak-anaknya, dengan tetap berpegang pada hukum perilaku yang beradab. Tanpa kekejaman yang tidak perlu, Tanpa membahayakan jiwa pihak yang lain. Israel adalah negara yang tidak mengenal hukuman mati bagi teroris, penyabot atau mata-mata sekalipun. Dia sendiri, demikian kata Golda Meir, selalu menentang siapa saja yang mencaba membelokkan Israel dari jalan ini, Ia telah menge1uarkan veto terhadap setiap reneana yang akan melanggar satu hukum moral pun. Untuk pertama kali sejak mulai berbicara Perdana Menteri itu mengarahkan pandangannya langsung kepada Avner. "Saya akan memberitahukan kepada kalian," katanya, "bahwa saya telah mengambil suatu keputusan. Tanggung jawabnya berada di tangan saya seluruhnya." Ia bangkit dari tempat duduknya. "Ini keputusan saya," katanya lagi. "Kalian dapat memo bicarakannya." Golda Meir ke luar dari kamar itu. Avner terdiam bagaikan orang hilang akal Menurut pen-

96

dapatnya, sernua yang dikatakan wanita itu tentang Israel dan sejarah sernuanya benar, Tetapi mengapa Golda Meir rncnganggap perlu menceritakan hal itu kepadanya? At au kepada Ariel Sharon, atau kepada J enderal Zvi Zarnir? Mengapa pimpinan Massad membawa Avner ke Yerusalern pada hari Sabat sehingga ia dapat mendengar dari mulut Perdana Menteri segala sesuatu yang selalu dianggap sewajarnya olehnya dan oleh kehanyakan orang Israel? Lalu tentang keputusan itu, keputusan apa gerangan? Apa yang harus mereka rundingkan, sepert i yang telah dikatakan oleh Golda Meir? Suasana diam itu terpecah oleh kata-kata J enderal Sharon. "Seperti yang kau d':ngar tadi;" katanya, "apa yang akan terjadi di sin i sangatlah penting. Itu tidak perlu saya katakan. Kau sendiri tahu, kalau tidak untuk sesuatu yang sangat penting, tentunya kau tidak duduk-duduk di sin1." Avner mengangguk. "Pertanyaannya ialah,' demikian Sharon melanjutkan katakatanva, "apakah kau mau melaksanakan suatu misi? Misi sangat petiting, tentu saja, Itu tidak usah saya katakan. Yang perlu saya katakan ialah bahwa misi ini berbahaya. Misi ini akan merusak hidupmu secara total. Kau akan terpaksa meninggalkan negeri ini. Kau tidak akan kernbali, siapa tabu? Mungkin se1ama bertahun-tahun.' Avner tidak berkata apa pun. Sharon melernpar pandang ke arah Zamir, lalu meneruskan: "Kau tidak bjsa mernbicarakan hal ini dengan siapa pun, tentu saja. Kita mungkin akan mengatur kemungkinan bagi istrimu untuk menernui di Iuar negeri dari waktu ke waktu. Tetapi kau tetap akan menyimpan rahasia, juga terhadap istrimu tentang apa yang sedang kau kerjakan." Avner diam mernbisu. Beberapa detik lamanya, kedua jenderal itu pun tak membuka mulut. Kemudian Sharon menggumam, "Ah, seandainya sayalah yang mereka minta melaksanakan tugas ini," Avner seperti terbangun. Benaknya sebagian besar masih kosong, tetapi beberapa buah pikiran mulai bermunculan, Suatu tugas, tentu saja, pasti suatu tugas. Ia mestinya sudah menerka hal itu, Kalau tidak, untuk apa mereka membawa seorang agen 97

klas teri ke aparternen Golda Meir? Dan penting; tentu saja tugas penting. Tet api mengapa dia yang dipilih? Lalu tugas apa gerangan? Ia haIUS mengatakan sesuatu. Maka pertanyaan pertama yang rna suk kepalan ya langsung saj a diu t arakan: "Apakah harus saya sendirian?" Memune membuka rnulutnya pertama kali. "Tidak ," k atanya. "Tetapi itu tidak terlalu jadi soal sekarang. Apa jawabmu? Kau bersedia?" "Saya haru s ... " katanya ragu. "Sa ya hams berpikir-pikir. Bagaimana kalau seminggu lagi saya memberi jawaban?" Avner tidak mengerti apa yang membuat dia ragu-ragu. Mungkin indra keenamn ya berbicara lagi. Tetapi jelas bukan karena ia takut bahaya. Sampai sekarang Avner tidak begitu perduli, walaupun umumya sudah mencapai dua puluh lima, walaupun ia telah empat tahun lamanya menjalani dinas militer, ikut dalam Perang Enam Hari, dan melakukan tugas-tugas di luar negeri. Jadi, mengapa ia merasa bimbang? Shoshana mungkin? Shoshana memang sedang mengandung. Itu sudah diketahui Avner sejak beberapa bulan yang lalu. Perawakan Shoshana begitu langsing sehingga walaupun telah hamil sek ian bulan ia tidak menampakkan perubahan yang menyolok. Tetapi jclas bukan Shoshana yang membuat Avner jadi ragu. Bayangkanlah, dia, di apartemen Golda Meir, ditanya oleh pemimpin Mossad apakah dia bersedia menjalankan suatu tugas- dan ia ragu! J enderal Zarnir menggelengkan kepalanya. "Kau ku beri wak tu sa tu hari,' ka tanya. "Pikirlah. Siapa pun yang tidak. dapat mengambil keputusan dalam waktu satu hari, tidak. akan pernah bisa mengambilnya." Jenderal Sharon mengulurkan tangannya. "Mungkin saya tak akan sempat bertemu kau lagi," katanya kepada Avner, "maka ... saya ucapkan semoga kau bernasib baik." Ia memandangi mata Avner. "Good luck, apa pun keputusan yang kau ambil." Kalau saja ia dapat bertanya lebih jauh! Tetapi Ia tahu bahwa hal itu tidak. mungkin. Apakah ia akan mendapat tugas

98

seperti Eli Cohen? Atau tugas ayahnya? Apakah ia akan menjadi "orang-orang," dengan menggunakan identitas orang lain? Atau .... ? Golda Meir masuk kembali ke dalam ruangan. Lagi-Iagi pikiran Avner jadi kosong. "Nah, bagaimana?" tanya wanita itu, "Sudah beres?" "Beres," jawab Zamir singkat. Lalu ia menambahkan, "Kita akan mengetahuinya besok, tetapi .... heres." Walaupun pikirannya masih kacau, Avner dapat melihat bagaimana memune dan Perdana Menteri saling meIempar pandang. Ia melihat pula betapa wanita itu menggelengkan kepalanya sedikit seakan-akan berkata, "Nah, apa kataku, tidak gampang," dan sang jenderal membalas dengan pandangan yang seakan-akan berkata, "J angan khawatir, dengan orang ini atau orang lainn ya, kita akan ber hasil!" T etapi itu sem ua hanya khayalan Avner. Golda Meir - dan ini bukanlah khayalan belaka - melangkah mendekat dan merangkul Avner, lalu menggandengnya keluar dari kamar. Dan sambil berjalan di sepanjang gang, "Sampaikan salamku kepada ayahmu," kata Golda Meir, "dan juga kepada istrimu, siapa namanya? Ah ya, kepada Shoshana, Semoga nasib baik selalu berada di sisimu." Dan ketika wanita itu berjabat tangan dengan Avner, ia menambahkan, "Ingatlah hari ini, Yang akan kita lakukan sekarang ini akan mengubah sejarah Yahudi, Ingat itu, sebab kau adalah bagian dari sejarah itu." Avner tidak mencoba rnenjawab. Ia bingung, ia takut, ia terkesan, Tetapi ia juga sangat ingin tahu apa yang dibicarakan wanita ini, Avner mengharap agar pandangan matanya tidak kelihatan toloL Ia melihat saja ketika Golda Meir berjabat tangan dengan memune dan J enderal Sharon, lalu menghilang di balik pintu, Suara Jenderal Zamir yang dingin mernecah suasana sunyi; "Tentu saja kau mengerti bahwa ayahmu tidak perlu tahu pembicaraan kita !tari ini, J angan kau ceritakan apa pwt kepada ay ahmu , kepada istrimu atau siapa pun. Apapun keputusan yang akan kauambil, Apa yang terjadi di sini adalah urusan Per99

dana Menteri dan kita bertiga saja." Ia berhenti sejenak. "Nah, sekarang tunggu saya di mobil. Saya masih akan membicarakan beberapa hal lain ." Avner menunggu di dalam mobil. Ia masih tetap tak sepenuhnya percaya akan scmua yang terjadi, Pada zaman modem ini tidak biasalah seorang agen mendapat permintaan langsung dari seorang kepala negara, baik di Israel maupun di negaranegara lain. Dalam masyarakat yang lebih kuno mungkin saja pemimpin negara secara langsung berbicara dengan rakyatnya, bila masalahnya cukup besar. Tet api dalam masyarakat kompleks yang diorganisasi secara impersonal dewasa ini, hubungan serupa itu hampir tak terpikirkan. Rupanya - walaupun ini hanya perkiraan, dan Avner tak mungkin mengetahuinya pada waktu itu - Golda Meir mernilih, atau mendapat nasehat untuk memilih cara yang menyalahi kebiasaan itu guna memperlihatkan betapa luar biasanya perrnintaan yang akan diajukan kepada Avner. Mungkin Golda Meir sen-' diri merasa dan ia jelas telah berhasil membuat Avner merasa bahwa ia akan diminta untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dibebankan pada seorang tentara Israel pun sebelurnnya. Salah satu alasan untuk ini mungkin perasaan mendua orang Israel selama ini tentang setiap tindak kekerasan. Memang benar, Israel telah melancarkan tindakan kontra teror, tipu muslihat dan destabilisasi secara terpisah, lama sebelum terjadinya pernbantaian di Lad dan Munchen. Pada tahun 1956, misalnya, setelah Mesir membangkitkan semangat para fedayeen untuk menyerbu Israel, paket-paket berisi born telah menewaskan Letnan Kolonel Hafez dan Kolonel Mustapha, dua perwira intelijen Mesir yang bertanggung-jawab atas teror fedayeen. Tetapi operasi seperti itu rupanya se1alu Iebih banyak menimbulk an perbedaan pendapat di antara orang Israel daripada di kalangan orang negara-negara besar lain. Tidak hanya negara besar Uni Soviet, misalnya, tetapi juga Amerika Serikat dan Inggris, seIalu lebih dapat menerima dengan baik penggunaan kekerasan asalkan dilakukan demi kepentingan nasional. Suatu tradisi yang tidak pemah sepenuhnya diteri~a Israel. Agen yang "diberi izin membunuh" tidak akan pemah diterima dengan tangan terbuka di tengah rakyat Israel, 100

Sebab lain bagi kehadiran Golda Meir ~ dan ini pun tentu tidak diketahui aleh Avner pada waktu itu - mungkin adalah politik daJam tubuh Massad. Pada musim gugur tahun 1972 Jenderal Zamir diliputi mendung keprihatinan karen a ia tidak mampu mencegah serangan teroris seperti yang terjadi di Lad dan Munchen. J enderal Sharon Yariv, si spesialis intelijen militer, yang telah ditunjuk menjadi "pembantu khusus bagi urusan teroris," korion telab mengambil alih beberapa kekuasaan memune atas organisasinya. Kanan Yariv adalah anak emas Golda Meir. Kehadiran wanita itu pada pertemuan eli atas mungkin karen a anjuran Ya[iv. Mungkin pula Jenderal Zamir sendiri yang mengusulkannya, entah untuk melibatkan Perdana Menteri, entah untuk mernperlihatkan kepadanya usahanya yang telah dilakukannya sebagai pernimpm Massad, untuk rnelawan terorisme, suatu ancarnan yang berat dan yang pada musim gugu r tahu n 1972 te lab merongrong sern angat bangsa itu. Dari jendela mobil, Avner masih dapat melihat Sharon dan Zamir berdiri di luar gerbang. Mereka tampak berbicara lirih, tetapi dengan gerak tangan yang penuh semangat. Avner menarik nafas panjang dan mencoba mengendorkan sarafnya, Agaknya paling baik untuk itu ialah menghitung sampai seratus. Perlahan-lahan, Tanpa mernikirkan apa-apa. Hitungannya baru sampai delapan puluh tujuh ketika J enderal Zamir masuk mobil. J enderal Sharon telah menghilang. "Saya akan tetap di Yerusalern sehari ini," kata memune. "Sopir akan menurunkan saya, laJu rnengantarmu pulang ke Tel Aviv. Besok" - ia melihat jamnya - "besok tengah hari, datanglah ke kantor." Avner melihat jamnya sendiri. Pukul dua belas siang. Jenderal Zamir mernberi dia waktu dua puluh empat jam tepat. Tetapi sebenarnya Avner tidak membutuhkannya lagi. Ia sudah tahu apa yang akan dia katakan besok. Walaupun begitu, ketika rnereka berhenti eli tikungan jalan Tel Aviv, tidak dapat tidak timbullah pertanyaan daJam hati Avner, apakah orang-orang yang lewat mungkin melihat dia membuka pintu Dodge besar yang dikendarai oleh sopir pribadi. Dan kalau mereka rnelihat, apakah mereka sadar bahwa dialah 101

yang keluar dati mobil dinas Jenderal Zvi Zamir? Mungkin hanya pengkhayal yang berpikir tentang mengubah sejarah Yahudi, Tetapi nyatanya begitu. Pada saat itu kebetulan pikiran inilah yang mernenuhi pikiran Avner.

102

Bab6

EPHRAIM

Kira-kira sepuluh hari kemudian, pada siang hari tanggal 25 September 1972, Avner duduk.-duduk di ranjang sebuah hotel sederhana di J enewa. Hotel du Midi, sebuah hotel terhormat dan tidak menyolok, mempunyai wajah depan berwarna putih kemerah-rnerahan menghadap ke Place Chevelu, lapangan di pusat daerah pertokoan yang megah. Dari jendela kamarnya, Avner dapat melihat sedikit bangunan-bangunan suram kawasan bisnis di seberang Sungai Rhone yang tiba-tiba me1ebar menjadi sebuah danau yang -me ngagumkan, yakni Danau J enewa beberapz ratus meter di sebelah timur. Kota Swiss bagaikan sebuah rumah kaca, Orang-orang yang berada di kota itu menjaga did untuk tidak pernah melemparkan batu-batuan, Peraturan aneh itu jarang dilanggar orang. Atas kesepakatan yang tak diucapkan dari semua pihak, Jenewa telah menjadi suatu ternpat yang teratur tenang. Di tempat itu kekuatan-kekuatan pernbuat huru-hara internasional dapat berunding, menghimpun anggota dan memulihkan tenaga. Avner mengalihkan pandangannya ke dalam kamar. ~tanya terhenti pada empat orang yang memandang kembali ke arah dia dengan pandangan tenang dan penuh kepercayaan. Mereka menunggu Avner membuka pembicaraan, 103

Seminggu yang lalu, Avner belum tahu orang-orang ini. Kini mereka menjadi rekannya, menjadi regunya_ Dialah pernimpin mereka, Walaupun dia sendiri hampir tak dapat mempercayainya, dia bertanggungjawab memimpin tugas mereka, Sarnpai terlaksananya tugas itu, keempat orang asing ini diharapkan Iebih akrab dengan dia daripada orang lain mana pun. Lebih akrab daripada ibunya dan ayahnya. Lebih akrab daripada Shoshana. Lebih akrab daripada sahabat-sahabat karibnya, dahulu, bahkan chaoerium dalam kesatuannya sewaktu ia berdinas militer. Dia mempercayakan hidup matinya kepada mereka dan mereka mempercayakan hidup mati mereka kepadanya

Dalam waktu sepuluh hari terakhir ini terjadilah peristiwa yang begitu penuh makna dibanding yang pernah dialaminya selama bertahun-tahun, Hidupnya telah berubah dari detik yang satu ke detik berikutnya, walaupun tidak sepenuhnya eli luar kemauannyaa sendiri. Memang sebenamya ia telah sengaja memasuki keadaan serupa ini sejak ia keluar dari dinas ketentaraan. Tetapi semenjak Golda Meir mengucapkan selamat kepadanya, Avner merasa dirinya tak terkendali lagi. Bukannya dia takut. Ia hanya menyadari, hampir tanpa merasa dirinya terlibat, bahwa ia telah menentukan keputusan, Ia telah melompat dari kapal. Ia te1ah berada di air, dan air pasang akan membawanya ke tengah samudera. Senang atau tidak senang, ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk menghindar. Berenang melawan arus pasang jelastidak ada gunanya. Ketika ia pada tengah hari datang melapor ke kantor Jenderal Zamir di Tel Aviv, sehari setelah pertemuan di apartemen Golda Meir, memune tampak bersikap dingin dan hampir tak. berminat. "Ya?"
palanya

tanya jenderal

itu kepada Avner sambil mengangkat

ke-

"Saya menyediakan diri," kata Avner, Jenderal itu mengangguk. Ia mengangguk tanpa menunjukkan perasaan apa-apa, seakan-akan tidak mungkin ada jawaban lain. Avner tidak merasa heran, Orang Israel tidak. biasa melompat kagum atau terperanjat hila mendengar seseorang menyata-

104

4

kan diri bersedia melakukan tugas yang luar biasa atau berbahaya. Meski demikian, ia merasa agak kecewa. "Tunggu sebentar di luar," kata Jenderal Zamir. "Akan saya kenalkan seseorang kepadamu. Orang yang diperkenalkan pada Avner kira-kira setengah jam kemudian adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan gaya seorang profesor. Umumya kira-kira lima puluhan. Ia <igak membungkuk dan rambutnya sudah putih lebih tua dibanding usia sebenarnya. Garis mulutnya memberi kesan agak kurang ramah, tetapi matanya yang hitam tampak hidup. Temyata menyenan gkan. Lebih dati itu, sejak saat pertama kali mereka berjabatan tangan ia berbicara dengan Avner seakan-akan rnereka telah lama berkenalan. Ia memang tidak membangkitkan perasaan berkerabat pada diri Avner. J elas ia seorang Galicia seperti lainnya, tetapi Avner menyukainya. "Panggil saja Ephraim," kata orang itu kepada Avner. "Saya bertugas memberikan penjeJasan kepadamu tentang apa yang harus kaulakukan. Dengar, kita akan bersama-sama menca.ri cara terbaik. Tentunya banyak yang akan kautanyakan, dan saya mungkin tidak dapat menjawab semuanya. Kau harus bersabar, tidak tergesa-gesa. Ehm ... among-among, sudah makan? Kiranya yang paling baik kita cari makan dulu, ya kan? Mereka pun pergi makan. Selanjutnya, kedua orang itu herjalan-jalan lama di sepanjang pantai. Ephraim terus berbicara, Kelak sadarlah Avner bahwa walaupun sejak waktu lima rnenit yang pertama Ephraim telah menerangan apa tugas yang dipikulkan kepadanya,- ia belum sepenuhnya paham. Bahkan sampai dua hari berikutnya, ia belum sungguh-sungguh me-_ ngerti. Secara dangkal saja mungkin, tetapi secara mendalam dan mendasar ia rnasih kahur, Ketika Ephraim berkata, "Kami telah memutuskan untuk meghimpun satu tim guna menghancurkan kaum teroris di Eropa." Avner mengangguk setuju sepenuhnya. Memang sudah waktunya. Ia bahkan merasa agak lega sesudah mendengar bahwa tugas yang disanggupinya temyata bukan pekeIjaan matamata yang serba sepi sendiri. Bukan pekerjaan seperti yang telah dijalani ayahnya, dengan segala persiapan daIam soal bahasa 105

dan kriptagrafi. Satu tim itu baik. Cocok, Seperti apa yang dialaminya -dalam dinas ketentaraan. Eropa coeok juga buat dia. Mengenai kata "menghancurkan", bahasa Ibraninya rehashmid, itu kata biasa, Pi masa dinas militemya, ribuan kali kata itu muncu1 dalam penjelasan singkat sehari-hari, Kata itu dapat berarti serangan, pengintaian bersenjata, pengbancuran instalasi radar, depot logistik atau pusat komunikasL Baginya kata itu kata komando, yang berarti serbuan mendadak atau penangkapan tawanan, Kata serupa itu tidak. akan mengejutkan seorang hekas tentara dalam suatu kesatuan khusus. "Sekarang, sebelum kita bicara tentang tugas sebenamya," kata Ephraim, "k.ita akan bieara dulu ten tang prosedur." Prosedur itu mencakup keharusan bagi Avner untuk menjelaskan kepada Shashana bahwa ia ak.an pergi beberapa hari lamanya. Lalu ia harus pergi ke sehuah alamat di tengah kota Tel Aviv, Di sana, dalam sebuah apartemen hawah tanah - tingkat-tingkat d.i atasnya ditempati oleh suatu perusahaan pakaian - ia akan tinggal selama empat puluh delapan jam dengan Ephraim saja. Sekali-sekali Ephraim akan keluar selarna satu atau dua jam. Seiama Ephraim pergi, ia akan digantikan oleh se01'3..'1glain. "Untuk menemanimu," kata Ephraim. Orang itu sebenamya tidaklah menemani Avner, sebab ia harnpir tidak pemah buka mulut. Jelas ia ditempatkan di sana untuk menjaga agar Avner tidak pergi atau menggunakan telepon sampai penjelasan singkat itu selesai, Tugas penting pertama yang barus dilaksanakannya bagi Mossad adalah mengundurkan diri dari Massad. "Kontrak" pertama yang disodorkan Ephraim untuk ditandatanganinya tidak mencantumkan tugas apa-apa yang harus dilakukan oleh kedua pihak penandatangan kontrak.. Di dalamnya hanya tertera apa-apa yang tidak akan dilakukan oleh kedua pihak, Massad tidak akan menggunakan jasa pihak kedua. Mossad tidak akan memberinya keuntungan, atau pensiun, atau hantuan hukum. Mossad tidak. akan mengakui bahwa pihak kedua bekerja untuknya, Tidak akan ada bantuan berupa nasehat atau bantuan kesehatan, Dari pihak Avner, ia akan melepaskan segala tuntutan kepada pihak. pertama. Ia tidak akan minta bantuan Massad

106