doc9

STUDI KOMPARASI HASIL BELAJAR GEOGRAFI ANTARA PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL PADA SISWA KELAS

XI PROGRAM ILMU SOSIAL SMA NEGERI 9 SEMARANG TAHUN 2006/2007

SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Geografi pada Universitas Negeri Semarang

Oleh
Oktia Fajri Puji Hidayati NIM.3201403064

FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN GEOGRAFI 2007

i

PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada: Hari Tanggal : Senin : 16 Juli 2007

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Eva Banowati, M. Si NIP. 131813652

Drs. Sutardji NIP. 130894849

Mengetahui, Ketua Jurusan Geografi

Dra. Erni Suharini, M.Si NIP. 131764047

ii

PENGESAHAN KELULUSAN
Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : Senin : 6 Agustus 2007

Penguji Skripsi

Drs. Sunarko, M. Pd NIP. 130812916

Anggota I

Anggota II

Dra. Eva Banowati, M. Si NIP. 131813652

Drs. Sutardji NIP. 130894849

Mengetahui, Dekan,

Drs. H. Sunardi, MM NIP. 130367998

iii

3201403064 iv . bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. baik sebagian atau seluruhnya. 16 Juli 2007 Oktia Fajri Puji Hidayati NIM. Semarang.PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri.

Nyu2n. Gun. yang terpenting ambillah hikmah dari semua itu ☺ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan…. menuntaskan pekerjaan dengan baik akan melenyapkan lelahnya jerih payah (Dr. Intana.dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (Q. Susy. Mba’e. nikmatnya beroleh kemenangan akan menghilangkan letihnya perjuangan. Leli. Ika. Inem dan seluruh teman-teman di Wisma Anggrek 5. Adi.Aidh bin Abdullah Al-Qurni) Dengan mengucap puji syukur kepada Allah. 2. Ndah dan teman-teman P. Ntho . Ruly. 3.MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto: ☺ Menyesali apa yang sudah terjadi tak akan dapat mengubah segalanya. Mba’ Rina dan De’ Fatih kalian penyemangatku. Mz Bom2. aku sayang kalian. muara doa sumber kekuatan.S 94:6) ☺ Manisnya keberhasilan akan menghapus pahitnya kesabaran. skripsi ini kupersembahkan untuk: 1. Mas . Nisa. terima kasih telah menjadi penyemangat 4. Ce2’. Fer2. Suliz. aku dan karya ini tak akan pernah ada. Ibu dan Bapak samudera kasih yang terbentang luas.Geo 03 Tanpa mereka. v . RV.

selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis selama proses penyusunan skripsi. Sri Santoso. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung skripsi ini tidak dapat terwujud. M. selaku Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu di kampus tercinta ini. Sudijono Sastroatmodjo. Dra. 6. selaku Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang yang telah memberikan ijin penelitian. Drs.Si. H.Si. Drs. H. Erni Suharini. 4. 5. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial UNNES yang telah memberikan ijin penelitian. selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis selama proses penyusunan skripsi.Si. Sutardji.KATA PENGANTAR Alhamdulillah. selaku Ketua Jurusan Geografi FIS UNNES yang telah memberikan ijin penelitian. Penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. M. Sunarko. 3. sehingga penyusunan skripsi ini akhirnya dapat terselesaikan. M. segala puji bagi Allah. Eva Banowati. 7. Drs.Pd selaku Dosen Penguji yang telah memberikan masukan dan bimbingan kepada penyusun untuk kesempurnaan skripsi ini. penguasa jagat raya yang tidak ada kekuasaan dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya. MM. Prof. Sunardi. 2. Drs. M. vi . Dr. Dra.

Pd. Semarang. S. 12. Seluruh guru dan pegawai SMA Negeri 9 Semarang yang telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan penelitian skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Siswa-siswa SMA Negeri 9 Semarang yang telah bersedia bekerjasama dalam pelaksanaan penelitian skripsi ini.Pd. Semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan skripsi ini. Slamet Panca Mulyadi. selaku Kepala SMA Negeri 9 Semarang yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk mengadakan penelitian di SMA Negeri 9 Semarang. 9.8. S. Anni Fadjarwati. 10. selaku guru mata pelajaran Geografi kelas XI program ilmu sosial SMA Negeri 9 Semarang yang telah membantu penulis selama proses penelitian. 11. Penulis 2007 vii .

II. 2007. Untuk menentukan kelas kontrol dan eksperimen. dan (2) hasil belajar mata pelajaran geografi. yaitu (1) pembelajaran berbasis masalah. M. kebenaran dari argument ini perlu dibuktikan melalui kegiatan penelitian agar diperoleh jawaban yang akurat. Universitas Negeri Semarang. Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah. Hasil belajar geografi. dari kedua kelas yang telah diambil sebagai sampel dilakukan random (acak). Sampel dalam penelitian ini adalah kelas XI IS 1 sebagai kelas Eksperimen dan kelas XI IS 3 sebagai kelas kontrol. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes dan lembar viii . Oleh karena itu peneliti menerapkan model pembelajaran berbasis masalah yang merangsang siswa untuk aktif dan kreatif dalam memecahkan permasalahan dunia nyata yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selama ini pembelajaran geografi yang dilaksanakan cenderung kearah pembahasan tematik teoritik dan text book oriented. sehingga terkesan bahwa bidang ini terdiri dari materi hafalan belaka.Si. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Adakah perbedaan hasil belajar geografi yang signifikan antara pembelajaran berbasis masalah dengan pembelajaran konvensional? (2) Hasil belajar manakah yang lebih baik antara yang menggunakan pembelajaran berbasis masalah atau pembelajaran konvensional? (3) Apakah dengan penerapan pembelajaran berbasis masalah siswa dapat mencapai ketuntasan belajar?. Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui adakah perbedaan hasil belajar geografi yang signifikan antara pembelajaran berbasis masalah dengan pembelajaran konvensional (2) Untuk mengetahui hasil belajar manakah yang lebih baik antara yang menggunakan pembelajaran berbasis masalah atau pembelajaran konvensional (3) Untuk mengetahui apakah dengan penerapan pembelajaran berbasis masalah siswa dapat mencapai ketuntasan belajar. pembelajaran konvensional. Sementara siswa diharuskan untuk menerima dan menghafal seluruh materi. Variabel penelitian ini. Drs. Pembelajaran Konvensional. Jurusan Geografi.ABSTRAK Oktia Fajri Puji Hidayati. Dra. Studi Komparasi Hasil Belajar Geografi Antara Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Pembelajaran Konvensional Pada Siswa Kelas XI Program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang Tahun 2006/2007. Namun. Sutardji. Pembimbing: I. Fakultas Ilmu Sosial. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI Program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang yang terdiri dari 4 kelas dengan jumlah keseluruhan 169 siswa. pembelajaran Geografi yang selama ini dilaksanakan di SMA Negeri 9 Semarang. sehingga hasil belajar yang diperoleh kurang memuaskan. Berdasarkan observasi awal dan informasi dari guru mata pelajaran geografi yang bersangkutan. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sample yaitu dengan mengambil dua kelas yang memiliki nilai rata-rata dan varians yang mendekati sama. terutama pada Kelas XI Program Ilmu Sosial masih disampaikan dengan pembelajaran konvensional menggunakan metode ceramah. Eva Banowati.

Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian uji perbedaan dua rata-rata data posttes sebesar 2.observasi.68 dan taraf signifikan 5%yang artinya tuntas belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar kelompok eksperimen yang diajar menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan kelompok kontrol yang diajar menggunakan model konvensional berbeda secara nyata. Hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol. Dalam pembelajaran.522 > harga kritik sebesar 1.62 daripada nilai rata-rata kelas yang diajar dengan pembelajaran konvensional yaitu 74.274 >harga kritik 1. guru perlu melibatkan siswa secara langsung serta dengan pembelajaran berbasis masalah siswa diharapkan lebih memahami permasalahan dunia nyata dan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil belajar yang di dapatkan oleh kelompok eksperimen terbukti memberikan kontribusi terhadap ketuntasan belajar siswa 14. ix .67. (3) Pembelajaran berbasis masalah mampu memberikan kontribusi terhadap ketuntasan belajar siswa.66 dengan taraf kepercayaan 5% yang artinya rata-rata hasil belajar kelompok kontrol dan eksperimen berbeda secara signifikan. (2) Hasil belajar Geografi pada siswa yang diajar menggunakan pembelajaran berbasis masalah nilai rata-rata kelasnya lebih baik yaitu 77. Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa: (1) Ada perbedaan hasil belajar Geografi antara pembelajaran berbasis masalah dengan pembelajaran konvensional yang berarti bahwa hipotesis alternative (Ha) yang diajukan diterima dan Hipotesis nol (Ho) ditolak. Sehingga disarankan pembelajaran berbasis masalah perlu dilaksanakan oleh guru. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dianalisis dengan uji-t dan teknik diskriptif.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………… PERSETUJUAN PEMBIMBING…………………………………….. PENGESAHAN KELULUSAN………………………………………. PERNYATAAN………………………………………………………... MOTTO DAN PERSEMBAHAN…………………………………….. PRAKATA……………………………………………………………... ABSTRAK……………………………………………………………... DAFTAR ISI…………………………………………………………... DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………….. DAFTAR TABEL…………………………………………………….. DAFTAR GAMBAR…………………………………………………...

i ii iii iv v vi viii x xii xiii xiv

BAB I : PENDAHULUAN…………………………………………… A. Latar Belakang Masalah…………………………………... B. Permasalahan……………………………………………… C. Penegasan Istilah………………………………………….. D. Tujuan Penelitian…………………………………………. E. Manfaat Penelitian………………………………………… F. Strategi Penelitian…………………………………………. G. Sistematika Skripsi………………………………………... BAB II : KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS…………………. A. Pembelajaran Geografi……………………………………. B. Pembelajaran Berbasis Masalah…………………………... C. Berpikir Kritis…………………………………………….. D. Pembelajaran Konvensional………………………………. E. Hasil Belajar Geografi……………………………………. F. Tinjauan Pokok Bahasan Persebaran Sumber Daya Alam di Indonesia dan Pemanfaatannya………………………... G. Hipotesis………………………………………………….

1 1 4 5 7 8 8 10 12 12 14 19 22 24

27 39

x

BAB III: METODE PENELITIAN………………………….............. A. Waktu dan Tempat Penelitian……………………………. B. Populasi, Sampel dan teknik Pengambilan Sampel…….. C. Variabel Penelitian……………………………………… C. Rancangan Penelitian …………………………………… D. Instrumen Penelitian……………………………………… 1. Tahap Pembuatan Soal Uji Coba……………………… 2. Tahap Pelaksanaan Uji Coba………………………….. 3. Tahap Analisis Uji Coba Tes………………………….. E. Metode Pengumpulan Data……………………………….. F. Teknik Analisis Data……………………………………… 1. Analisis Data Tahap Awal…………………………….. 2. Analisis Data Tahap Akhir……………………………. 3. Analisis Deskriptif Data Hasil Belajar Afektif dan Psikomotorik…………………………………………… BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN…………... A. Pelaksanaan……………………………………………….. B. Hasil Penelitian…………………………………………… 1. Data Objek Penelitian…………………………………. 2. Hasil Belajar Kognitif Pada Pretes dan Posttes……….. 3. Hasil Belajar Afektif…………………………………... 4. Hasil Belajar Psikomotorik……………………………. C. Pembahasan……………………………………………….. BAB V : PENUTUP………………………………………………….. A. Simpulan………………………………………………….. B. Saran………………………………………………………. DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………. LAMPIRAN-LAMPIRAN……………………………………………

40 40 40 43 44 48 48 49 49 55 56 56 61

65 66 66 72 72 79 80 82 84 90 90 91 92 95

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Rencana Pembelajaran Pada Kelompok Eksperimen………. Lampiran 2. Rencana Pembelajaran Pada Kelompok Kontrol……………. Lampiran 3. Kisi-kisi Soal Instrumen Uji Coba………………………….. Lampiran 4. Soal Instrumen Uji Coba……………………………………. Lampiran 5. Kunci Jawaban Soal Uji Coba……………………………… Lampiran 6. Lembar Jawab Soal Uji Coba………………………………. Lampiran 7. Analisis Uji Coba Soal……………………………………… Lampiran 8. Perhitungan Validitas Butir………………………………… Lampiran 9. Perhitungan Tingkat Kesukaran Soal………………………. Lampiran 10. Perhitungan Daya Pembeda Soal…………………………. Lampiran 11. Perhitungan Reliabilitas Instrumen………………………... Lampiran 12. Rangkuman Hasil Analisis Uji Coba Instrumen…………… Lampiran 13. Tabel Transformasi Soal Tes………………………………. Lampiran 14. Kisi-kisi Soal Tes Hasil Belajar……………………………. Lampiran 15. Soal Tes Hasil Belajar……………………………………… Lampiran 16. Kunci Jawaban Tes Hasil Belajar………………………….. Lampiran 17. Lembar Jawaban Tes Hasil Belajar………………………… Lampiran 18. Kisi-kisi Lembar Observasi Afektif Siswa………………… Lampiran 19. Kisi-kisi Lembar Observasi Psikomotorik Siswa………….. Lampiran 20. Data Nilai Raport Geografi Semester I…………………….. Lampiran 21. Uji Normalitas Data Nilai Raport Semester I……………… Lampiran 22. Uji Homogenitas Populasi…………………………………. Lampiran 23. Analisis Varians (Uji Kesamaan Keadaan Awal Dari Populasi)…………….. Lampiran 24. Uji Normalitas Data Pretes dan Posstes…………………… Lampiran 25. Uji Kesamaan Dua Varians Data Pretes dan Posstes……… Lampiran 26. Uji Kesamaan Dua Rata-rata Pretes……………………….. Lampiran 27. Estimasi Rata-rata Hasil Belajar Kelompok Kontrol dan Eksperimen…………………………………….

95 107 119 121 128 129 130 134 136 137 138 140 141 142 144 149 150 151 155 157 158 162

163 167 171 173

174

xii

198 203 204 xiii . Lampiran 32. 193 Lampiran 42.. 192 Lampiran 41. Dokumentasi Proses Pembelajaran Pada Kelas Eksperimen.... Lampiran 29. Uji Perbedaan Dua Rata-rata Hasil Posstes………………. Penilaian Terhadap Aspek Afektif Siswa Kelas Eksperimen………………………………………….....Lampiran 28. Peta Lokasi SMA Negeri 9 Semarang……………………… Lampiran 44.. Data Penilaian Afektif dan Psikomotorik Kelas Kontrol…. Surat Keterangan Penelitian………………………………. Data Penilaian Aspek Psikomotorik Kelas Eksperimen…… Lampiran 35. Penilaian Terhadap Aspek Psikomotorik Siswa Kelas Eksperimen…………………………………… Lampiran 37. Lampiran 30... 191 Lampiran 40. Artikel 2 Sebagai Sumber Belajar Siswa dalam Pembelajaran Berbasis Masalah…………………………… Lampiran 43.. Jadwal Penelitian…………………………………………… 176 177 178 179 184 185 186 187 188 189 190 Lampiran 39. Lampiran 34. Penilaian Terhadap Aspek Psikomotorik Siswa Kelas Kontrol………………………………………… Lampiran 38. Artikel 1 Sebagai Sumber Belajar Siswa dalam Pembelajaran Berbasis Masalah…………………………. Uji Ketuntasan Belajar……………………………………. Data Penilaian Aspek Psikomotorik Kelas Kontrol………. Lampiran 33. Lampiran 36. Dokumentasi Proses Pembelajaran Pada Kelas Kontrol……. Data Penilaian Afektif dan Psikomotorik Kelas Eksperimen…………………………………………. Penilaian Terhadap Aspek Afektif Siswa Kelas Kontrol…. Lampiran 31.

.... Rerata Nilai Tiap Aspek Afektif Pada Kelas Eksperimen…... Uji Kesamaan Dua Varians Data Pretes dan Posttes………. Rerata Nilai Tiap Aspek Psikomotorik Kelompok Kontrol…. Tabel 3. Tabel 20.. Tabel 19.. 83 18 23 41 42 44 45 60 67 70 72 73 74 75 76 77 78 79 81 81 83 xiv . Ringkasan Anava Uji Kesamaan Rata-rata Populasi…………. Tabel 18......... Pola Rencana Penelitian……………………………………… Tabel 6. Tabel 8. Tabel 12. Data Hasil Uji Normalitas Nilai Pretes dan Posttes………….. Jadwal Pelajaran Geografi Kelas Kontrol dan Eksperimen.. Tabel 17.. Tabel 14.... Tabel 2... Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah.. Rata-rata Nilai Rapor Semestar Ganjil Tahun 2006/2007…… Tabel 5..... Tabel 21.. Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-rata Data Pretes dan Posttes... Tabel 10. Tabel 11... Proses Pembelajaran Pada Kelompok Eksperimen…………. Deskripsi Data Pretes dan Posttes…………………………… Tabel 13... Jumlah Populasi………………………………………………. Tabel 16.... Hasil Uji Normalitas Nilai Rapor Geografi Semester 1…….. Hasil Uji Ketuntasan Belajar Kelas Eksperimen…………….. Tabel 15.............. Rerata Nilai Tiap Aspek Psikomotorik Kelompok Eksperimen…………………………………………………. Rencana Kegiatan Kelompok Kontrol dan Eksperimen……. Hasil Estimasi Rata-rata……………………………………. Tabel 7. Tabel 9. Rerata Nilai Tiap Aspek Afektif Pada Kelas Kontrol………..DAFTAR TABEL Hlm Tabel 1. Tabel 4.... Penerapan Metode Ceramah di Kelas………………………….. Proses Pembelajaran Pada Kelompok Kontrol……………….

Peta Persebaran Sumber Daya Alam hasil Tambang di Indonesia………………………………………… Gambar 3. 30 30 191 Gambar 4. Peta Lokasi SMA Negeri 9 Semarang……………… xv . Siswa Berdiskusi Untuk Mencari Pemecahan Masalah………. Guru Menjelaskan Materi Dengan Metode Ceramah…………. Gambar 2.DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Siswa Presentasi Hasil Karya yang Telah Dibuat……………… 191 Gambar 5. Peta Persebaran Sumber Daya Alam Hewani di Indonesia…. 192 Gambar 6.. Siswa Mengerjakan Lembar Kerja Siswa……………………… 192 Gambar 7.

Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. pendidikan merupakan sektor yang sangat penting dan strategis untuk meningkatkan sumber daya manusia yang bermutu. Dalam proses pembelajaran.BAB I PENDAHULUAN A. kepribadian. Untuk kepentingan itu. anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. 2007). pengendalian diri. Sesuai dengan Undang-undang No. otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya 1 . diantaranya melalui pendidikan dijenjang SMA. bangsa dan negara (Sanjaya. Latar Belakang Masalah Upaya pembangunan di bidang pendidikan masih perlu dilanjutkan untuk meningkatkan mutu pendidikan sehingga dapat mewujudkan manusia yang berkualitas tinggi. kecerdasan. masyarakat. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya.

2

dengan kehidupan sehari-hari. Kenyataan ini berlaku untuk semua mata pelajaran termasuk mata pelajaran geografi (Sanjaya, 2007). Geografi merupakan bagian dari ilmu sosial, keberadaan Geografi dalam struktur program pengajaran di SMA sangat penting untuk diajarkan, karena geografi memberi pengetahuan, pembentukan nilai dan sikap serta keterampilan kepada siswa yang secara langsung berinteraksi dengan lingkungan. Pada jenjang ini siswa mulai diajak untuk melakukan kajian materi menurut kaidah keilmuwan geografi yaitu; mengobservasi lingkungan sekitar, mendata, menganalisis dan menuangkan hasilnya dalam bentuk peta, tabel dan diagram (Siskandar, 2002). Dalam suatu proses belajar mengajar peran guru disekolah sangat dibutuhkan dalam membantu siswanya untuk mencapai hasil belajar yang optimal (Darsono, 2002). Tidak terkecuali pada pelajaran geografi, saat ini masih banyak siswa yang beranggapan bahwa pelajaran geografi hanya hafalan dan membosankan, sehingga tidak sedikit siswa yang hasil belajarnya rendah (Suharyono, 2005). Selama ini pembelajaran geografi yang dilaksanakan cenderung kearah pembahasan tematik teoritik dan text book oriented, sehingga terkesan bahwa bidang ini terdiri dari materi hafalan belaka. Sejalan dengan adanya perubahan paradigma dalam pengembangan kurikulum dari kurikulum yang semula berbasis pada materi ke kurikulum yang berbasis kompetensi, mengharuskan adanya perubahan metode dan pendekatan baru dalam pembelajaran geografi (Totok Gunawan, 2005).

3

Beberapa hasil pengamatan di sekolah dasar dan menengah di Indonesia menunjukkan ketidakmampuan anak-anak menghubungkan antara teori yang dipelajari dan bagaimana pengetahuan itu dimanfaatkan untuk memecahkan persoalan sehari-hari. Di sekolah anak-anak hanya memperoleh hafalan dengan tingkat pemahaman rendah. Anak-anak hanya tahu bahwa tugasnya adalah mengenal fakta-fakta, sementara keterkaitan antara fakta-fakta dan pemecahan masalah belum mereka kuasai. Untuk itu pemerintah banyak melakukan usaha perbaikan melalui kurikulum yang lebih memberdayakan anak. Dalam kurikulum tersebut guru dituntut untuk dapat memilih metode, strategi atau pendekatan pembelajaran yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai (Nurhadi, 2004). Berdasarkan hasil pengamatan dan informasi dari guru Geografi SMA Negeri 9 Semarang diketahui bahwa pembelajaran Geografi yang selama ini dilaksanakan di SMA Negeri 9 Semarang, terutama pada Kelas XI Program Ilmu Sosial masih diajar dengan pendekatan pembelajaran konvensional dengan metode ceramah, sehingga keaktifan siswa dalam proses pembelajaran masih rendah. Melalui model pembelajaran berbasis masalah, siswa dapat menggunakan fakta-fakta yang telah dipelajari untuk memecahkan persoalan sehari-hari. Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa dihadapkan pada masalah yang terjadi dalam masyarakat, dimana siswa diharapkan mampu menggunakan dan mengembangkan kemampuan dasar yang dimilikinya, serta dapat

menggunakan berbagai macam strategi untuk memecahkan masalah tersebut.

4

Melalui kegiatan ini siswa terlibat secara aktif dalam memecahkan permasalahan sosial yang dihadapi dalam masyarakat. Seluruh kegiatan siswa diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu, siswa dihadapkan pada situasi bermasalah agar mereka peka terhadap masalah. Kepekaan terhadap masalah akan timbul jika siswa dihadapkan pada situasi yang memerlukan pemecahan. Para guru hendaknya mendorong siswa untuk memahami masalah dan berupaya memecahkannya. Jika hal ini diterapkan dalam proses pembelajaran, maka siswa dapat berlatih dan membisaakan diri untuk aktif dalam proses belajar mengajar dan berpikir kritis secara mandiri, yang pada akhirnya pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dari uraian diatas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian eksperimen yang membandingkan hasil belajar siswa yang diajar

menggunakan pembelajaran konvensional dan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran berbasis masalah, dengan judul “Studi

Komparasi Hasil Belajar Geografi Antara Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Pembelajaran Konvensional Pada Siswa Kelas XI Program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang Tahun 2006/2007”.

B. Permasalahan Dari uraian pemilihan judul diatas, masalah yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Adakah perbedaan hasil belajar geografi pokok bahasan persebaran sumber daya alam di Indonesia dan pemanfaatannya yang signifikan

studi komparasi atau penelitian komparasi adalah penelitian yang berusaha menemukan persamaanpersamaan dan perbedaan-perbedaan tentang benda-benda. Studi Komparasi Menurut Aswarni Sudjud (1978). Penegasan istilah dalam judul ini adalah sebagai berikut: 1. 1998). terhadap suatu ide atau prosedur kerja. Apakah dengan pembelajaran berbasis masalah siswa dapat mencapai ketuntasan belajar? C. 2004). terhadap orang.5 antara pembelajaran berbasis masalah dengan pembelajaran konvensional pada siswa kelas XI Program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang? 2. Hasil belajar geografi Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Sudjana. tentang orang. peristiwa atau terhadap ideide ( Arikunto. kelompok. Dapat juga membandingkan kesamaan pandangan dan perubahan-perubahan pandangan orang. tentang ide-ide. group atau negara. terhadap kasus. kritik terhadap orang. Penegasan Istilah Supaya tidak terjadi kesalahan dalam mengartikan istilah-istilah yang digunakan dalam judul ini maka perlu adanya penegasan istilah. Hasil belajar manakah yang lebih baik antara yang menggunakan pembelajaran berbasis masalah atau pembelajaran konvensional? 3. . 2. tentang prosedur kerja.

6 Hasil belajar dalam penelitian ini adalah hasil belajar pada tes formatif mata pelajaran geografi pokok bahasan persebaran sumber daya alam di Indonesia dan pemanfaatannya yang dicapai oleh siswa Kelas XI Program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang tahun 2006/2007 yang diajar menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan model pembelajaran konvensional. serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Pembelajaran Konvensional Menurut Sudaryo (1990) bahwa secara tradisional (konvensional) mengajar diartikan sebagai upaya penyampaian atau penanaman pengetahuan pada anak. Pembelajaran berbasis masalah Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) yaitu suatu model pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah. 4. b. Pembelajaran Pembelajaran secara umum dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa. Pengajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah (Nurhadi. Pembelajaran Berbasis Masalah a. sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (Max Darsono. 2004). Dalam pengertian ini nak dipandang sebagai . 2000). 3.

pada kelas XI program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang. pengajaran berpusat pada guru (teacher oriented) dan guru memegang peranan utama dalam pembelajaran. Untuk mengetahui adakah perbedaan hasil belajar geografi pokok bahasan persebaran sumber daya alam di Indonesia dan pemanfaatannya yang signifikan antara pembelajaran berbasis masalah dengan pembelajaran konvensional pada siswa kelas XI Program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang. Siswa Kelas XI Program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang Siswa Kelas XI Program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang disini merupakan subyek penelitian.7 obyek yang sifatnya pasif. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. SMA Negeri 9 Semarang adalah tempat penelitian. Jadi dari judul di atas yang dimaksudkan adalah penelitian eksperimen yang membandingkan antara hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran berbasis masalah. . 5. Dalam pengajaran ini guru mengkomunikasikan pengetahuannya kepada siswa dengan teknik ceramah. D.

F. Manfaat Penelitian Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat. kemampuan bekerjasama dan kemampuan berkomunikasi yang dapat melatih serta merangsang siswa untuk mengembangkan daya nalar secara kritis yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar siswa. menumbuhkan kemampuan memecahkan masalah. Bagi siswa. pembelajaran berbasis masalah atau pembelajaran E. 2. yaitu: 1. efektif dan menarik dalam pembelajaran geografi. Bagi guru. Strategi Penelitian Pokok bahasan persebaran sumber daya alam di Indonesia dan pemanfaatannya merupakan materi geografi yang memerlukan hafalan dan pemahaman. 3. Untuk mengetahui apakah dengan pembelajaran berbasis masalah siswa dapat mencapai ketuntasan belajar. memberikan masukkan baru mengenai model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar dan pemberdayaan siswa. sehingga banyak siswa yang merasa bahwa pembelajaran pokok . 3. Untuk mengetahui hasil belajar manakah yang lebih baik antara yang menggunakan konvensional. Bagi Sekolah. Bagi Peneliti. memperoleh pengalaman dalam penerapan model pembelajaran yang kreatif. 4.8 2. sebagai calon guru memperoleh pengalaman baru yang dapat dijadikan acuan dalam perbaikan pengajaran.

Agar penelitian ini berjalan sesuai dengan tujuan dan permasalahan yang ada. Untuk menentukan kelas kontrol dan eksperimen dilakukan dengan cara random atau mengacak kedua kelas yang telah terpilih sebagai sampel. Sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu dilakukan observasi awal di sekolah penelitian. dan uji normalitas masingmasing kelas. maka perlu dirancang sedemikian rupa sehingga penelitian ini menjadi kondusif. perangkat tes uji coba. serta sarana dan prasarana yang mendukung penelitian. Untuk mengatasi kebosanan siswa dalam proses pembelajaran. Setelah itu membuat perangkat pembelajaran. yang kemudian dianalisis validitas. uji homogenitas populasi. kesamaan varians populasi. tingkat kesukaran dan reliabilitas soal. maka digunakan model pembelajaran berbasis masalah. yang sebelumnya telah diadakan perhitungan nilai rata-rata. permasalahan yang ada. yaitu dengan menguji normalitas. daya pembeda. adalah memberi perangkat tes sebagai pretes. varians dan perbedaan rata-rata hasil . Langkah awal sebelum perlakuan untuk masing-masing kelompok sampel. Dari hasil uji tersebut diambil dua kelas yang rata-rata dan varians nilainya mendekati sama dengan jumlah siswa yang sama sebagai sampel. Langkah berikutnya adalah pemilihan dua sampel penelitian sebagai kelas kontrol dan eksperimen dengan cara atau teknik purposive sample ( tujuan tertentu). Soal diuji coba pada kelas XI program ilmu sosial. Kemudian memeriksa kedua kelompok apakah keduanya berangkat dari keadaan awal yang sama atau tidak.9 bahasan persebaran sumber daya alam di Indonesia dan pemanfaatannya sangat membosankan. untuk mengetahui kondisi dan karakteristik siswa.

Pada akhir perlakuan. bagian isi dan bagian akhir skripsi. . Analisis yang dilakukan adalah uji perbedaan dua rata-rata. abstrak. daftar isi. kedua kelompok diberi perangkat tes sebagai posttes (tes formatif). halaman pernyataan. Bagian awal skripsi Terdiri dari. tujuan penelitian. motto dan persembahan. Dari data pretes dan posttes yang diperoleh. G. Dari analisis data tersebut akan diketahui hasil yang bisa membedakan hasil belajar untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. estimasi rata-rata dan uji ketuntasan belajar untuk kelompok eksprimen. bagian awal. 2. Untuk kelompok eksperimen diberi perlakuan dengan pembelajaran berbasis masalah dan kelompok kontrol dengan pembelajaran konvensional. Bagian isi skripsi BAB I Pendahuluan. Sistematika Skripsi Secara garis besar sistematika skripsi dibagi menjadi tiga bagian yaitu. halaman judul. halaman pengesahan kelulusan. memuat tentang latar belakang masalah. halaman persetujuan pembimbing.10 pretes kedua kelompok. penegasan istilah. manfaat penelitian. kemudian dianalisis. 1. prakata. Setelah itu kedua kelompok diberi perlakuan yang berbeda. daftar gambar dan daftar tabel. strategi penelitian dan sistematika skripsi. permasalahan. daftar lampiran.

BAB IV Hasil penelitian dan pembahasan yang memuat tentang hasil penelitian dan pembahasannya. terdiri dari tempat dan waktu penelitian. berpikir kritis. dan teknik analisis data. variabel penelitian. populasi. BAB III Metode penelitian. teknik pengumpulan data. pokok bahasan persebaran sumber daya alam di Indonesia dan pemanfaatannya. 3.11 BAB II Kajian pustaka dan hipotesis. terdiri dari pembelajaran geografi. serta hipotesis. hasil belajar geografi. BAB V Penutup meliputi simpulan dari hasil penelitian dan saran-saran untuk pihak yang terkait dengan penelitian. lampiran. pembelajaran berbasis masalah. Bagian akhir skripsi Pada bagian akhir skripsi disajikan daftar pustaka. gambar dan surat ijin penelitian. rancangan penelitian. sampel dan teknik pengambilan sampel. instrumen penelitian. Pembelajaran konvensional. .

pokok bahasan dan sub pokok bahasan harus disesuaikan dan diserasikan dengan tingkat pengalaman dan perkembangan mental anak pada jenjangjenjang pendidikan yang bersangkutan. Para pakar geografi pada seminar dan Lokakarya Peningkatan Kualitas Pengajaran Geografi di Semarang tahun 1988. Konsep Geografi tersebut secara jelas menegaskan bahwa yang menjadi objek studi geografi tidak lain adalah geosfer yaitu permukaan bumi yang hakikatnya merupakan bagian dari bumi yang terdiri atas atmosfer (lapisan udara). litosfer (lapisan batuan). telah merumuskan konsep geografi sebagai berikut: “ Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan. kewilayahan dalam konteks keruangan”. hidrosfer (lapisan air. 12 . Pembelajaran Geografi Secara sederhana pembelajaran Geografi adalah geografi yang diajarkan ditingkat sekolah dasar dan menengah. dan biosfer (lapisan kehidupan). perairan). Dengan demikian dapat diketengahkan disini bahwa pengajaran geografi hakikatnya adalah pengajaran tentang aspek-aspek keruangan permukaan bumi yang merupakan keseluruhan gejala alam dan kehidupan umat manusia dengan variasi kewilayahannya (Nursid Sumaatmadja. 1997). Karena itu penjabaran konsep-konsep.BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS A.

siswa diajarkan untuk menerapkan konsep-konsep yang telah diajarkan untuk memecahkan persoalan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses pembelajaran tidak ada satu strategi pembelajaran yang paling efektif yang dapat diterapkan oleh semua orang (guru dan siswa). interaktif. 1997). Sehubungan dengan pembelajaran geografi guru perlu mengenal dan dapat melaksanakan dengan baik berbagai pedoman tentang (1) strategi pembelajaran. karena proses pembelajaran menyangkut hal-hal yang situasional. Melalui model pembelajaran geografi berbasis masalah. (2) pendekatan pembelajaran. afektif. (3) metode pembelajaran. psikomotorik). dan kondisi subyek dan lingkungan yang berbeda. Demikian pula untuk pencapaian hasil belajar yang menyangkut pengetahuan. Melalui pembelajaran . akan kritis dan konsisten dalam bersikap. akan jujur dan lain sebagainya. yang tentunya telah dikuasai cara pengembangannya oleh para guru sebagai tenaga professional (Suharyono. Pembelajaran geografi tidak hanya mengandung nilai edukasi yang bersifat mencerdaskan siswa. serta (4) teknik pembelajaran (Nursid Sumaatmadja. Melalui pembelajaran geografi diharapkan dengan sendirinya para siswa akan cermat dalam melakukan pekerjaan. 2005).13 Pembelajaran geografi pada hakekatnya juga bukan sekedar pemahaman tentang konsep-konsep suatu materi tetapi lebih kepada penerapan konsep yang telah didapat kedalam situasi yang nyata. nilai dan keterampilan diperlukan starategi pembelajaran yang bervariasi. sikap. semua materi pokok bahasan dan semua capaian hasil belajar (kognitif.

Mengembangkan kemampuan mengambil kesimpulan yang masuk akal dari pengamatan 3. Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) yaitu suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah. Memperbaiki kecakapan menghafal 4. sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (Max Darsono. 2000). . Pembelajaran Berbasis Masalah Pembelajaran secara umum dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa. Belajar konsep-konsep dan teori (Hasyam Zaini. berpikir B. Pengajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah (Nurhadi. Tujuan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan kritis diantaranya adalah: 1. Mengembangkan kecakapan.14 geografi ini siswa dilatih untuk berpikir kritis dalam memecahkan suatu masalah. Mengembangkan kemampuan menganalisis 2. Belajar istilah-istilah dan fakta-fakta 6. 2002). serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. 2004). strategi dan kebiasaan belajar 5.

dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. dalam pembelajaran berbasis masalah selain mengorganisasikan prinsip-prinsip atau keterampilan akademik tertentu. dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain (Moffit. Pengajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain seperti pembelajaran proyek (Project-based teaching). Pembelajaran ini tidak dapat dilaksanakan jika guru tidak mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. 2002). Peran guru dalam pengajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah. Pendidikan berdasarkan pengalaman (Experience-based education). Intinya. Pengajuan pertanyaan atau masalah. . mengajukan pertanyaan. antara lain sebagai berikut: 1. Mereka mengajukan situasi kehidupan nyata yang otentik. Pendekatan ini mencakup pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan. mensintesa. 2001 dalam Depdiknas. pembelajaran ini juga berpusat pada pertanyaan/masalah yang secara pribadi bermakna untuk siswa. pembelajaran otentik (Authentic lerning) dan pembelajaran berakar pada kehidupan nyata (Anchored Instruction).15 Dalam hal ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan keterampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran. Dalam buku Nurhadi (2004) dijelaskan tentang ciri-ciri dari pembelajaran berbasis masalah. siswa dihadapkan pada situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat menantang siswa untuk memecahkannya.

melakukan eksperimen (jika diperlukan) dan merumuskan kesimpulan untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah yang nyata. antara lain: 1. Pengajaran berbasis masalah melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihan sendiri. siswa peran sebagai orang dewasa dengan melibatkan diri dalam pengalaman nyata atau simulasi dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri. Penyelidikan otentik. pemecahan masalah dan keterampilan intelektual. dalam pembelajaran berbasis masalah siswa dituntut untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata untuk menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. mengumpulkan dan menganalisis informasi. Ilmuilmu sosial). Dalam buku Nurhadi (2004) juga dijelaskan tentang beberapa keuntungan pembelajaran berbasis masalah. 4. Terintegrasi dengan disiplin ilmu lain. Matematika. mengembangkan hipotesis. Pengajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis. dan membuat ramalan. tetapi masalah yang akan diseleksi telah dipilih yang benarbenar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah itu dari banyak sudut pandang mata pelajaran lain. 3.16 2. dalam pembelajaran berbasis masalah siswa harus menganalisis dan mendefinisikan masalah. Menghasilkan produk atau karya dan mempresentasikannya. yang memungkinkan siswa menginterpretasikan dan . meskipun pengajaran berbasis masalah berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA.

Proses pembelajaran diarahkan agar siswa mampu menyelesaikan masalah secara sistematis dan logis. harus diselesaikan secara berkelompok. Dilihat dari aspek psikologi belajar pembelajaran berbasis masalah berdasarkan kepada psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar bukan semata-mata menghafal sejumlah fakta. tetapi suatu proses . Pembelajaran berbasis masalah mendorong siswa untuk bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Dalam penerapan pembelajaran berbasis masalah. 3. Karena dalam proses pembelajaran ini sebagian besar tugas yang ada. 4. Sintaks (alur proses) pembelajaran berbasis masalah biasanya terdiri atas lima tahap (Nurhadi. Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa secara bertahap dapat memahami peran penting aktivitas mental dan belajar yang terjadi di luar sekolah. Pengajaran berbasis masalah berusaha membantu siswa menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri. karena pembelajaran berbasis masalah memiliki unsur-unsur belajar magang yang bias mendorong pengamatan dan dialog dengan orang lain. guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menetapkan topik masalah. yang secara rinci disajikan pada tabel 1 (halaman 18). walaupun sebenarnya guru sudah mempersiapkan apa yang harus dibahas.17 menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun pemahamannya tentang fenomena tersebut. 2. 2004).

video dan model dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya Tahap-5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan . melaksanakan eksperimen. perkembangan siswa tidak hanya terjadi pada aspek kognitif. untuk mendapatkan penjelasan Tahap-4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan. untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Siswa secara aktif merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan. menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Guru membantu siswa untuk mengidentifikasi dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Tingkah Laku Siswa Siswa secara aktif terlibat pada aktivitas relevan masalah yang dipilihnya Siswa secara aktif mengidentifikasikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Siswa secara aktif mengumpulkan informasi yang sesuai. Melalui proses ini sedikit demi sedikit siswa akan berkembang secara utuh. tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotorik melalui penghayatan secara internal akan problema yang dihadapi (Sanjaya. video dan model dan saling membantu membagi tugas dengan temannya Siswa secara aktif melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan dan prosesproses yang digunakan Tahap-2 Mengorganisasikan siswa untuk belajar Tahap-3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai. Artinya. Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah Tahap Tahap-1 Orientasi siswa pada masalah Tingkah Laku Guru Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. siswa terlibat pada aktivitas relevan masalah yang dipilihnya. 2007). Tabel 1 . melaksanakan eksperimen.18 interaksi secara sadar antara individu dengan lingkungannya.

antara lain sebagai berikut: Tyler (1949) berpendapat bahwa pengalaman atau pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh keterampilan dalam pemecahan masalah dapat merangsang keterampilan berpikir kritis siswa. dengan menerapkan analisis yang kritis terhadap pemikiran. Anak harus diajari berpikir sendiri. dimana para siswa biasanya diharapkan akan menerima apa yang dikatakan kepada mereka sebagai kebenaran. terdapat beberapa ahli yang berpendapat tentang definisi berpikir kritis. analisis data. Berpikir kritis diperlukan dalam rangka memecahkan suatu permasalahan sehingga diperoleh keputusan yang cepat dan tepat. Penabur Benih Kreativitas”. Penilaian yang kritis terhadap informasi yang ada jarang diajarkan di sekolah. Berpikir Kritis Dalam Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Singaraja (2001). dan evaluasi data dengan mempertimbangkan aspek kualitatif serta melakukan seleksi atau membuat keputusan berdasarkan hasil evaluasi. pendapat dan usul-usul. tak peduli seberapapun besar kekuasaan sumbernya (Padji. Menurut Cabrera (1992) berpikir kritis merupakan aktivitas evaluatif untuk menghasilkan suatu simpulan Menurut Gerhard (1971) berpikir kritis merupakan suatu proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan data. dan mereka jarang dirangsang untuk mempertanyakan kebijakan yang diterima secara mendalam. Seperti yang dikemukakan oleh A.19 C. Chaedar Alwasialah (1996) dalam makalahnya yang berjudul “Pendidikan. . 1992).

dan memiliki komitmen terhadap kejelasan dan ketepatan aturan dalam menjalani kehidupan sosial. Pada sintesis siswa dapat menggabungkan atau menyusun kembali (reorganize) hal-hal yang spesifik agar dapat mengembangkan situasi baru. dan evaluasi konsep” (Sugiarti Henik. . seni. Tujuan pendidikan kritis-kreatif adalah terwujudnya generasi yang berpikir terbuka. Vincent Ruggiero (1988) mengartikan berpikir sebagai “segala aktivitas mental yang membantu merumuskan atau memecahkan masalah. 2005). Menurut Anuradha A. Dalam penggolongan Taksonomi Bloom.20 Menyatakan bahwa. objektif. dan studi akademik lainnya. Sedangkan evaluasi konsep untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menerapkan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki untuk menilai suatu kasus yang diajukan oleh penyusun soal (Arikunto. membuat keputusan atau memenuhi keinginan untuk memahami. Gokhle (2002) “Materi tentang pemikiran kritis yaitu materi yang melibatkan analisa. dan merenungkan tentang proses berpikir merupakan bagian dari berpikir dengan baik. Johnson (2007) dikemukakan bahwa berpikir kritis adalah berpikir dengan baik. Studi berpikir kritis lazimnya dikaitkan dengan disiplin psikologi. sintesis. pendidikan. berpikir adalah sebuah pencarian jawaban. Dalam buku Elaine B. pada tugas analisis ini siswa diminta untuk menganalisis suatu hubungan atau situasi yang kompleks atas konsep-konsep dasar. 2002). sebuah pencapaian makna.

para siswa dilibatkan dalam kegiatan mental yang mereka perlukan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam. 1. bahwa strategi pemecahan masalah dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan siswa dalam mengadaptasi situasi pembelajaran yang baru ( Sugiarti Henik. Apa masalahnya? 2. biasanya digabungkan untuk menentukan masalah. Tujuan dari berpikir kritis adalah untuk mencapai pemahaman yang mendalam. Pemahaman membuat kita mengerti maksud dari ide yang mengarahkan hidup kita setiap hari. 2005). siswa kemudian meneliti semua kemungkinan solusi yang ada. Johnson (2007) juga dikemukakan tentang empat langkah berpikir kritis untuk memecahkan masalah. Dalam buku Elaine B. Setelah menentukan masalah dan menyatakan hasil yang diinginkan. Pemahaman mengungkapkan makna dibalik suatu kejadian.21 Cara peningkatan keterampilan berpikir kritis menurut Christensen dan Marthin (1992). sekaligus alasan mengapa setiap solusi tersebut kemungkinan berhasil atau gagal. Apa kesimpulannya? Langkah pertama dan kedua menentukan apa yang salah dan hasil yang diinginkan. Solusi apa saja yang mungkin dan apa alasan yang mendukungnya? 4. Apa hasil yang saya cari? 3. Keempat langkah tersebut disajikan dalam bentuk pertanyaan karena dengan jawaban pertanyaan. .

Pembelajaran Konvensional 1. 1990). Vembriarto (1990) pengajaran tradisional adalah pengajaran yang diberikan pada siswa secara bersama-sama. pengajaran berpusat pada guru (teacher oriented) dan guru memegang peranan utama dalam pembelajaran. Sementara para siswa mendengarkan dengan tertib dan mencatat (Sudaryo. Dalam pengertian ini nak dipandang sebagai obyek yang sifatnya pasif. Metode Ceramah Ceramah didefinisikan sebagai usaha guru menyampaikan materi pelajaran melalui kegiatan berbicara.22 D. Dalam pengajaran ini guru mengkomunikasikan pengetahuannya kepada siswa dengan teknik ceramah. 2. 2004). Sedang menurut Ruseffendi pengajaran tradisional adalah pengajaran yang pada umumnya biasa kita lakukan sehari-hari (Nining. Menurut St. Pengertian pembelajaran konvensional Menurut Sudaryo (1990) bahwa secara tradisional (konvensional) mengajar diartikan sebagai upaya penyampaian atau penanaman pengetahuan pada anak. Penerapan metode ceramah dalam buku Sudaryo (1990) adalah sebagai berikut: . kadang-kadang diselingi menggunakan papan tulis dan kapur.

Mendengarkan uraian yang atau mencatat guru diberikan sepanjang waktu pelajaran yang tersedia 2. 3. Komunikasi searah.23 Tabel 2. Menempati tempat duduk yang tetap sepanjang waktu 5. 4. Kelebihan metode ceramah 1) Murah biayanya karena media yang digunakan hanya suara guru 2) Mudah mengulangnya kembali kalau diperlukan. yang harus dilaksanakan siswa. sebab guru sudah menguasai apa yang telah diceramahkan. Menempati kedudukan suatu yang tempat tetap mengemukakan pendapat sendiri atau bergerak dari kursi atau bangkunya. Aktif sendiri sepanjang waktu pelajaran 3. Mendominasi kelas. . Penerapan Metode Ceramah di Kelas Guru 1. Berbicara sepanjang waktu jam pelajaran tersedia 2. dalam arti tidak diberikan kesempatan untuk bertanya. Komunikasi searah. Mengikuti segala sesuatu yang ditetapkan guru 4. guru yang menentukan semua kegiatan Siswa 1. yaitu hanya dari guru kepada siswa (dibelakang meja guru) 5. Pasif. yaitu guru kepada siswa Sumber: Sudaryo (1990) a.

E. b. 3) Tidak memberikan kesempatan siswa untuk apa yang disebut “belajar dengan berbuat”. lebih mudah diterima dan diingat oleh siswa. Kekurangan metode ceramah 1) Tidak semua siswa memiliki daya tangkap yang baik. 6) Menjadikan siswa malas membaca isi buku. 5) Menimbulkan rasa bosan sehingga materi sulit diterima. Benyamin Bloom dalam . 4) Memberi peluang kepada siswa untuk melatih pendengaran. sehingga akan menimbulkan verbalisme 2) Agak sulit bagi siswa mencerna atau menganalisis materi yang diceramahkan bersama-sama dengan kegiatan mendengarkan penjelasan atau ceramah guru. Hasil Belajar Geografi Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Sudjana. 5) Siswa dilatih untuk menyimpulkan pembicaraan yang panjang menjadi inti. 4) Tidak semua guru pandai melaksanakan ceramah sehingga tujuan pelajaran tidak dapat tercapai. mereka mengandalkan suara guru saja (Nining. 2004).24 3) Dengan penguasaan materi yang baik dan persiapan guru yang cermat bahan dapat disampaikan dengan cara yang sangat menarik. 2004).

sintesis. analisis. kemampuan membedakan secara visual. aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah) misalnya kondisi fisik sakit- . Faktor internal Yaitu faktor yang berasal dari diri siswa terdiri dari dua aspek. yakni sebagai berikut: 1. 1. Ranah Psikomotorik Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemampuan bertindak. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh banyak faktor. Ranah Afektif Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan. Menurut Muhibbin (2001). Ada enam aspek yaitu gerak reflek. Ketiga ranah ini menjadi obyek penilaian hasil belajar.25 Sudjana (2004). Hasil belajar kognitif diukur pada awal dan akhir pembelajaran. penilaian. dan evaluasi. sedang untuk ranah afektif dan psikomotorik diukur pada saat proses pembelajaran. pemahaman. dan internalisasi. Ranah Kognitif Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek. organisasi. ketrampilan kompleks dan ketrampilan komunikasi. 2. ketrampilan di bidang fisik. 3. faktor-faktor yang mempengaruhi dapat dibedakan menjadi tiga macam. jawaban atau reaksi. afektif dan psikomotorik. keterampilan gerakan dasar. yaitu: pengetahuan atau ingatan. aplikasi. membagi hasil belajar menjadi tiga ranah yaitu kognitif.

Tujuan pendidikan di sekolah menurut Bloom mencakup aspek kognitif. minat. dan emosi. bakat. Hasil belajar merupakan hasil belajar yang . motivasi. alat-alat belajar. 3. Sedangkan faktor lingkungan non sosial misalnya gedung sekolah. Sedangkan geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan. Dan aspek psikologis (yang bersifat rohaniah) misalnya. Dalam hal ini. tempat tinggal keluarga siswa dan waktu belajar yang digunakan siswa juga dapat berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Karena faktor-faktor tersebut diatas maka hasil belajar masing-masing siswa berbeda satu sama lainnya. kewilayahan dalam konteks keruangan. Faktor pendekatan belajar Pendekatan belajar merupakan jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran. 2. afektif dan psikomotorik. keadaan cuaca saat belajar. guru yang profesional harus dapat mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukkan kegagalan dalam belajar. Faktor eksternal Faktor dari luar diri siswa yang mempengaruhi hasil belajar antara lain kondisi lingkungan di sekitar siswa yang meliputi lingkungan sosial dan non-sosial. kecerdasan.26 sakitan atau cacat pada fisik. Lingkungan sosial sekolah seperti guru. staf administrasi dan teman-teman sekolahnya.

1. Contoh. 2. 2004). Tinjauan Pokok Bahasan Persebaran Sumber Daya Alam di Indonesia dan Pemanfaatannya. Oleh karena itu. nilai sumber daya alam juga ditentukan oleh nilai kemanfaatannya bagi manusia. K. sumber daya alam diklasifikasikan sebagai berikut: a. Penggolongan Sumber Daya Alam Berdasarkan bagian atau bentuk yang dapat dimanfaatkan.27 berkaitan dengan aspek kognitif. F. Hasil belajar geografi dalam penelitian ini adalah sebagai hasil belajar mata pelajaran geografi. Pengertian sumber daya alam ditentukan berdasarkan kegunaannya bagi manusia. lahan yang subur dapat dijadikan daerah pertanian potensial sehingga merupakan sumber daya alam yang tinggi nilainya (Wardiyatmoko. siswa Kelas XI Program Ilmu Sosial semester 2 pokok bahasan Persebaran Sumber Daya Alam di Indonesia dan Pemanfaatannya di SMA Negeri 9 Semarang tahun 2006/2007 yang diajar menggunakan pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional. Sumber daya alam materi b. Sumber daya alam hayati . Pengertian sumber daya alam Sumber daya alam adalah semua kekayaan berupa benda mati maupun benda hidup yang berada di bumi dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.

1) Pembaruan dengan reproduksi. Dengan demikian. selalu terjadi pembaruan. karena hewan dan tumbuhan dapat berkembang biak sehingga jumlahnya selalu bertambah. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources) Berdasarkan daya pakai dan nilai konsumtifnya. Sumber daya alam ruang e.28 c. Sumber daya alam waktu Berdasarkan pembentukannya. Sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources) Pembaruan dapat terjadi dengan dua jalan. 2) Pembauran dengan adanya siklus. sumber daya alam dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. yaitu secara reproduksi atau dengan adanya siklus. b. sumber daya alam ini dibedakan menjadi dua macam: . Sumber daya alam energi d. Beberapa sumber daya alam. a) Pencemaran udara akan menurunkan kualitas atmosfer bumi b) Penebangan hutan dapat menurunkan kualitas air tanah dan menimbulkan banjir. Aktivitas manusia seperti berikut dapat menurunkan kualitas dan kuantitas sumber daya alam. misalnya air dan udara terjadi dalam proses yang melingkar membentuk siklus. Pembaruan ini terjadi pada sumber daya alam hayati.

Contoh: emas. timah putih. Contoh: batu bara. 11 tahun 1975 tentang pertambangan. permata. belerang dan sebagainya. . wolfram. 3. Golongan C. Persebaran Sumber Daya Alam a. seng. Golongan B. b. Bahan galian ini penting untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. mangaan. yaitu golongan bahan galian strategis. alumunium. 2) Sumber daya alam yang cepat habis. mika. kwarsa. lempung. perak. bahan galian diklasifikasikan menurut kepentingannya bagi Negara sebagai berikut: a. Golongan A.29 1) Sumber daya alam yang tidak cepat habis. yaitu golongan bahan galian vital. besi. Sumber daya alam hayati Sumber daya alam hayati terdiri dari sumber daya alam hewani dan nabati. nikel dan sebagainya. asbes dan sebagainya. tembaga. yaitu bahan galian yang tidak termasuk ke dalam golongan A maupun B. kaolin. magnesium. minyak bumi. Bahan galian ini penting untuk pertahanan/keamanan Negara atau untuk menjamin perekonomian Negara. Contoh: Pasir. Dalam Undang-undang No. c. bahan radioaktif.

Peta Persebaran Sumber Daya Alam Hewani di Indonesia Sumber: Wardiyatmoko. K (2004) b. Peta Persebaran sumber daya alam hasil tambang di Indonesia Sumber: Wardiyatmoko.30 Gambar 1. Persebaran hasil tambang Persebaran hasil tambang di Indonesia adalah sebagai berikut: Gambar 2. K (2004) .

Riau. Cirebon. selanjutnya diekspor. Kutai dan Balikpapan d) Pulau Irian: Sorong 2) Gas alam Gas alam cair diproduksi di Arun dan Badak. 3) Batu Bara Daerah tambang batu bara di Indonesia adalah: a) Ombilin (Sumatera Barat) menghasilkan batu bara muda yang sifatnya mudah hancur b) Bukit Asam (Palembang) menghasilkan batu bara muda yang sudah menjadi antrasit karena pengaruh magma.31 1) Minyak bumi Daerah-daerah penghasil minyak bumi di Indonesia adalah: a) Pulau Jawa: Cepu. Pulau Bunyu. c) Kalimantan Barat. b) Pulau Sumatera: Palembang (sungai Gerong dan sungai Plaju). Kalimantan Timur. dan Wonokromo. Kalimantan Tengah. dan Jambi (Dumai) c) Pulau Kalimantan: Pulau Tarakan. antara lain ke Jepang. Aceh dan Papua (Irian Jaya) 4) Tanah liat Tanah liat banyak terdapat di dataran rendah Pulau Jawa dan Sumatera. . Kalimantan Selatan (Pulau Laut/Sebuku) d) Jambi.

Batu ini banyak terdapat di Pegunungan Seribu dan pegunungan Kendeng. Bangka. Belitung dan Bengkulu. Batuan ini banyak terdapat di daerah sekitar pegunungan di Sumatera 6) Gamping (Batu kapur) Terbentuk dari pelapukan sarang binatang karang. Belitung. pantai. dan di Kolaka (Sulawesi Selatan) 10) Tembaga Tembaga terdapat di Tirtomoyo dan Wonogiri (Jawa Tengah).32 5) Kaolin Kaolin terbentuk dari pelapukan batu-batuan granit. dan Singkep. Muara Sipeng (Sulawesi). Pasir kuarsa banyak terdapat di Banda Aceh. dan danau. 7) Pasir kuarsa Terbentuk dari pelapukan batuan yang hanyut lalu mengendap di daerah sekitar sungai. dan Tembagapura (Irian Jaya) 11) Emas dan Perak Tambang emas dan perak terdapat di daerah-daerah sebagai berikut: a) Tembagapura di Papua (Irian Jaya) . 9) Nikel Nikel terdapat di sekitar Danau Matana. 8) Timah Daerah penghasil timah di Indonesia adalah Pulau Bangka. Danau Towuti.

kerusakan sumber daya alam diakibatkan oleh pengelolaan tanpa .33 b) Batu Hijau di NTB c) Tasikmalaya dan Jampang di Jawa Barat d) Simau di Bengkulu e) Meulaboh di Nanggroe Aceh Darussalam 12) Belerang Belerang terdapat di kawasan gunung Talaga Bodas (Garut) dan di kawah gunung berapi. Kerusakan Sumber Daya Alam Ketidakseimbangan antara jumlah penduduk dan persediaan sumber daya alam dapat merubah lingkungan hidup. Gunung Ijen. Perubahan sebagai akibat dari aktivitas manusia ini dapat berupa dampak baik dan buruk. Maluku b) Grafit. Pulau Hoi (Halmahera) dan Karang Nunggal (sebelah selatan Tasikmalaya). 15) Hasil tambang lainnya a) Asbes terdapat di Halmahera. terdapat di Payakumbuh dan sekitar Danau Singkarak. Sumatera Barat c) Wolfram di Pulau Singkep (Riau) 4. seperti di Dieng (Jawa Tengah) 13) Mangaan Mangaan terdapat di Kliripan (Yogyakarta). dan Banyumas. Umumnya. 14) Fosfat Terdapat di Cirebon.

Tempat yang ditinggalkan menjadi kurang subur. karena saat hujan pupuk akan terbawa oleh air dan mengalir ke saluran irigasi. Hal ini akan menyebabkan banjir dan pada musim kemarau akan mengalami kekeringan. Pertanian dan perikanan Penggundulan hutan merupakan salah satu contoh kerusakan yang diakibatkan oleh kegiatan pertanian ladang berpindah. saat musim hujan. tetapi sisa atau buangan limbah dari teknologi dapat mengubah lingkungan menjadi buruk. akan terjadi proses pengikisan tanah permukaan yang intensif. Teknologi dan Industri Perkembangan teknologi yang cepat mempermudah manusia dalam mengolah alam. Bentuk-bentuk kerusakan sumber daya alam di Indonesia antara lain sebagai berikut: a.34 perhitungan. Kegiatan penangkapan ikan dengan pukat harimau atau juga penggunaan bahan peledak menyebabkan punahnya berbagai jenis ikan diperairan. Pemberian pupuk pestisida maupun obat penyemprot hama pada akhirnya akan menimbulkan resistensi terhadap suatu jenis hama. Dampak lain penggunaan pestisida adalah mengganggu ekosistem perairan. b. Akibat lebih jauh. .

Pencemaran ini menimbulkan gangguan terhadap mutu lingkungan. Banjir merupakan genangan air. Macam-macam pencemaran adalah sebagai berikut: 1) Pencemaran udara 2) Pencemaran suara 3) Pencemaran air 4) Pencemaran tanah d. meliputi daerah yang cukup luas karena sungai tidak lagi mampu menampungnya. air dan tanah) karena adanya unsur-unsur baru atau meningkatnya sejumlah unsur tertentu.35 c. Faktor-faktor yang menyebabkan banjir. Banjir Banjir sering terjadi saat musim hujan. antara lain: 1) Penggundulan hutan secara tidak terencana 2) Pembuangan sampah di sembarang tempat 3) Sulit meresapnya air hujan ke dalam tanah di daerah perkotaan karena tanah perkotaan banyak tertutup semen beton dan aspal 4) Rusaknya tanggul-tanggul sungai dan banyaknya sungai yang dangkal dengan aliran sungai yang berkelok-kelok . Pencemaran Pencemaran (polusi) adalah peristiwa berubahnya keadaan alam (udara.

banyak tanah yang patah 3) Gempa bumi di laut dapat mengakibatkan tsunami g. Kerusakan lingkungan akibat angin topan antara lain: 1) Permukiman penduduk rusak 2) Membahayakan penerbangan udara 3) Merusak areal hutan 4) Bila bersifat kering dan panas dapat merusak tanaman h.36 e. Musim kemarau Musim kemarau yang terik dan panjang dapat merusak lingkungan hidup. f. debu dan batu juga dapat merusak lingkungan sekitarnya. antara lain: 1) Tumbuh-tumbuhan banyak yang mati 2) Sumber-sumber air banyak yang kering sehingga merugikan pertanian dan perikanan . Gunung meletus Material letusan gunung berapi seperti larva dan lahar panas. rumah penduduk dan bangunan lainnya rusak 2) Permukaan bumi berserakan. Gempa bumi Gempa bumi adalah suatu getaran atau gerak kulit bumi sebagai akibat tenaga endogen. Angin topan Angin topan adalah angin yang berhembus dengan kecepatan yang sangat kuat. lahar dingin. Kerusakan lingkungan akibat gempa antara lain: 1) Jalan raya. jembatan.

Pemanfaatan Sumber Daya Alam Secara Ekoefisien Dalam memanfaatkan sumber daya alam. besi. Pengembangan daerah aliran sungai d. Pengelolaan Sumber Daya Alam Berdasarkan Prinsip Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjutan Beberapa hal yang dapat diusahakan untuk menjaga kelestarian sumber daya alam adalah sebagai berikut: a. Bahan bahan tersebut antara lain. Sengkedan c. potongan kain. serbuk gergaji. . alumunium. 5. Penertiban pembuangan sampah 6. 2004). Pembangunan yang berkelanjutan bertujuan pada terwujudnya keberadaan sumber daya alam untuk mendukung kesejahteraan manusia. Penghijauan dan reboisasi b. seng. kaleng. kaca dan kulit. Pengolahan air limbah e. 7. tidak merusak ekosistem. logam. K. kardus. plastik.37 3) Kebakaran hutan (Wardiyatmoko. Artinya. pengambilan secara efisien dan memikirkan kelanjutan sumber daya alam tersebut. manusia perlu berdasar pada prinsip ekoefisien. Pengelolaan Sumber Daya Alam Berdasarkan Prinsip Daur Ulang Proses daur ulang adalah pengolahan kembali suatu masa atau bahan-bahan bekas dalam bentuk sampah kering yang tidak mempunyai nilai ekonomis menjadi suatu barang yang berharga dan berguna bagi kehidupan manusia. kertas.

mesin-mesin dan alat rumah tangga. bahan bakar kendaraan 2) Gas alam. bahan bakar. penerangan rumah. obat-obatan. industri pesawat terbang. protein. prioritas utama pengelolaan sumber daya alam adalah pada upaya pelestarian lingkungan. industri barang-barang perunggu dan kuningan (Wardiyatmoko. K. bahan mentah untuk cat. tenaga penggerak mesin. 5) Tembaga. 2) Tumbuhan dimanfaatkan untuk sumber sandang 3) Tanaman hias 4) Bahan baku mebel 5) Untuk keperluan industri b. bahan bakar rumah tangga dan industri 3) Batu bara. Penanfaatan sumber daya alam nabati 1) Tanaman sebagai sumber karbohidrat.38 Hal itu berarti. Pemanfaatan sumber daya alam barang tambang 1) Minyak bumi. 2004). a. 4) Aluminium. vitamin dan mineral. mobil. lemak. untuk bahan kabel. . wangi-wangian dan bahan peledak. Pemanfaatan sumber daya alam hewani 1) Sumber pangan dan sandang 2) Benda seni dan kerajinan tangan c.

39 G. Ha : Ada perbedaan hasil belajar Geografi pokok bahasan persebaran SDA di Indonesia dan pemanfaatannya antara pembelajaran berbasis masalah dengan pembelajaran konvensional pada siswa kelas XI program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang tahun 2006/2007. Hipotesis Mengacu pada tinjauan pustaka dan hasil penelitian yang relevan maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan hasil belajar Geografi pokok bahasan persebaran SDA di Indonesia dan pemanfaatannya antara pembelajaran berbasis masalah dengan pembelajaran konvensional pada siswa kelas XI program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang tahun 2006/2007. .

Waktu penelitian Penelitian di SMA Negeri 9 Semarang ini dilaksanakan mulai tanggal 3. Tempat penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 9. Penelitian ini dilaksanakan dalam 6 pertemuan yang tiap minggunya terdiri dari 3 jam pelajaran (3 X 45 menit) sehingga keseluruhan proses penelitian menghabiskan waktu 9 jam pelajaran (9 X 45 menit).BAB III METODE PENELITIAN A. B. Jl Cemara Padangsari Banyumanik Semarang Telp (024) 747812. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas XI Program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang tahun pelajaran 2006/2007. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 1. yang terdiri dari 4 kelas. 2. 40 . Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian (Arikunto. Waktu dan Tempat Penelitian 1. 1998). Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada lampiran 43 halaman 203.27 Maret 2007 atau selama 25 hari. Populasi.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampel (Arikunto. XI-IS 2. b. Jumlah Populasi No 1 2 3 4 Kelas XI-IS 1 XI-IS 2 XI-IS 3 XI-IS 4 JUMLAH Jumlah Siswa 42 44 42 41 169 Kelompok 1 2 3 4 Sumber: SMA Negeri 9 Semarang Tahun 2007 2.41 Tabel 3. Prosedur pengambilan sampelnya sebagai berikut: a. dan XI-IS 4. Sampel dan teknik pengambilan sampel Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto. XI-IS 3. 1998). 1998). untuk memudahkan tiap-tiap kelas dianggap menjadi kelompok. Siswa Kelas XI Program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang terdiri atas 4 kelas yaitu kelas XI-IS 1. Tujuan dari pengambilan sampel dengan teknik purposive adalah pengambilan sampel dari populasi yang memiliki kesamaan dengan populasinya atau dapat mewakili populasi (sampel representatif). . Dari kelas tersebut. sebelum di ambil sebagai sampel terlebih dahulu dianalisis nilai raport mata pelajaran geografi Kelas XI Program Ilmu Sosial semester 1 (ganjil) untuk mengetahui nilai rata-rata kelas pada tiap kelompok.

1996).96 3.07 69.48 Sumber: SMA Negeri 9 Semarang tahun 2007 Berdasarkan nilai rata-rata kelas.42 Dengan menggunakan rumus: X = f1 x1 f1 Keterangan: x1 : nilai raport f1 : frekuensi untuk nilai x1 yang bersesuaian (Sudjana. Tabel 4. Berdasarkan perhitungan.89 69.81 69.37 4. Hal ini dapat dilihat dari data nilai rapor semester ganjil dengan rata-rata seperti pada tabel 4. ditentukan kelas kontrol dan kelas eksperimen dengan cara random atau mengacak kedua kelas tersebut. Keempat kelas anggota populasi tersebut mempunyai kondisi yang relatif sama. Sehingga kedua kelas tersebut diambil sebagai sampel. . Dari kedua kelas yang terpilih. Rata-rata Nilai Rapor Semester Ganjil Tahun 2006/2007 No Kelas N Rata-rata Varians 1 2 3 4 XI IS 1 XI IS 2 XI IS 3 XI IS 4 42 44 42 41 70.93 3. hasil nilai raport geografi semester ganjil yang nilai rata-ratanya mendekati sama adalah kelas XI-IS 1 dan kelas XI-IS 3.34 3. maka kelas yang mempunyai nilai rata-rata kelas sama atau mendekati sama diambil sebagai sampel karena keduanya dianggap mempunyai kemampuan awal yang sama. c.

dengan menggunakan rumus: F= S12 2 S2 Keterangan: S12 : varians kelompok I 2 S 2 : varians kelompok II Kriteria Fhitung < Ftabel maka kedua kelompok dinyatakan homogen (sama) (Sudjana. Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran halaman 162 . 1998).43 Dari hasil random ditentukan kelas XI-IS 3 dijadikan sebagai kelas kontrol dan kelas XI-IS 1 dijadikan sebagai kelas eksperimen. dengan menganalisis nilai raport mata pelajaran geografi kelas sampel yaitu Kelas XI Program Ilmu Sosial semester 1 SMA Negeri 9 Semarang. Variabel Penelitian Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto. d. Dari hasil perhitungan diketahui bahwa kedua kelas sampel memiliki keadaan yang homogen. C. yang artinya sampel tersebut berangkat dari keadaan awal yang sama. 1996). Sebelum memberi perlakuan terhadap sampel terlebih dahulu dilakukan uji homogenitas untuk mengetahui apakah sampel yang diambil mempunyai tingkat homogenitas yang sama. Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah: .

perlakuan dan posttes.44 1. dengan pola sebagai berikut: Tabel 5. Pada pokok bahasan persebaran sumber daya alam di Indonesia dan pemanfaatannya kelas kontrol dikenakan pendekatan . 2. Rancangan Penelitian Rancangan eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Simple randomized design. Pola Rancangan Penelitian Kelompok Kontrol Eksperimen Pretes T1 T1 Perlakuan X Y Posttes T2 T2 Sumber: Sutrisno Hadi (2004) Keterangan: X Y T1 T2 : Pembelajaran dengan model konvensional : Pembelajaran dengan model berbasis masalah : Pretes : Posttes Kegiatan yang akan dilakukan dalam masing-masing kelas pada dasarnya sama yaitu pretes. Variabel Bebas Yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional. namun perlakuan yang diterapkan pada kedua kelas berbeda. C. Variabel terikat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar mata pelajaran geografi pokok bahasan Persebaran Sumber Daya Alam di Indonesia dan Pemanfaatannya.

4.Pretes Pertemuan 2 Guru menjelaskan materi sesuai dengan rencana pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran berbasis masalah. Rencana Kegiatan Kelompok Kontrol dan Eksperimen No 1 2 Pertemuan Ke1 2. Guru mengorientasikan siswa pada masalah . a.45 pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru mata pelajaran geografi di SMA Negeri 9 Semarang yaitu pendekatan konvensional (ceramah) sedangkan pada kelas eksperimen diajarkan dengan pembelajaran berbasis masalah. pokok bahasan Persebaran Sumber Daya Alam Di Indonesia Dan Pemanfaatannya 3 6 Posttes Sumber: Hasil penelitian tahun 2007 1.3. Kegiatan Pretes Pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah pada kelas eksperimen dan penerapan metode konvensional pada kelas kontrol. Adapun rancangan kegiatan yang dilakukan pada masing-masing kelas adalah sebagai berikut: Tabel 6. Tahap implementasi pembelajaran berbasis masalah pada kelompok eksperimen Pertemuan 1 .5.

Siswa secara berdiskusi menganalisis artikel dan mencari pemecahan masalah dalam artikel. e. Pertemuan 3 Siswa mempresentasikan hasil diskusi didepan kelas. Pertemuan 4 Siswa melanjutkan presentasi artikel 1 Guru menjelaskan materi sesuai dengan rencana pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran berbasis masalah. mengawasi dan membantu siswa yang kesulitan menyelesaikan masalah yang diajukan. Guru mendorong siswa untuk melakukan diskusi dengan kelompoknya g. Siswa melaporkan hasil diskusi dalam bentuk laporan kelompok. Guru membagikan seperangkat pembelajaran yang meliputi kartu permasalahan (artikel 2 yang terdiri dari 3 jenis tema yang berbedabeda) dan papan nama kelompok.46 b. Guru berkeliling membimbing. Guru membagikan seperangkat pembelajaran yang meliputi kartu permasalahan (artikel 1) yang terdiri dari 3 jenis tema yang berbeda dan papan nama kelompok. Guru membagi siswa dalam 8 kelompok. f. tiap kelompok terdiri dari 5-6 siswa c. . Guru membantu siswa dalam menyiapkan hasil pemecahan masalah dalam lembar presentasi h. a. Guru mengorientasikan siswa pada masalah b. d.

Tahap implementasi pembelajaran konvensional pada kelompok kontrol Pertemuan 1 Pretes Pertemuan 2 a. Guru mendorong siswa untuk melakukan diskusi dengan kelompoknya f. Guru menugaskan siswa untuk mengerjakan soal-soal latihan Pertemuan 3 a. Guru berkeliling membimbing. e. Guru menjelaskan tentang penggolongan sumber daya alam dan persebarannya di Indonesia b. Siswa melaporkan hasil diskusi dalam bentuk laporan kelompok. Tanya jawab c. Pertemuan 5 Siswa mempresentasikan hasil diskusi artikel 2 Pertemuan 6 Posttes (ulangan formatif) 2. Menyimpulkan materi pelajaran Pertemuan 4 a. Guru menjelaskan tentang kerusakan sumber daya alam . Siswa secara berdiskusi menganalisis artikel dan mencari pemecahan masalah dalam artikel. Guru menjelaskan pengertian sumber daya alam dan penggolongannya b.47 c. mengawasi dan membantu siswa yang kesulitan menyelesaikan masalah yang diajukan. d.

Sebelum soal itu digunakan terlebih dahulu di uji cobakan dan dianalisis. Posttes D. Membahas soal latihan di buku paket Pemkot b. Menyimpulkan materi pelajaran Pertemuan 6 a. Adapun dalam pembuatan instrumen ini diperlukan beberapa tahap antara lain: 1.48 b. Penugasan mengerjakan soal latihan di buku paket Pemkot Pertemuan 5 a. Tahap pembuatan soal uji coba Langkah yang dilakukan dalam tahap ini adalah sebagai berikut: a Mengadakan pembatasan materi Materi yang dijadikan sebagai bahan tes adalah materi “ Persebaran Sumber Daya Alam di Indonesia dan Pemanfaatannya” yang . Tanya jawab c. Guru menjelaskan tentang pemanfaatan sumber daya alam secara ekoefisien b. Tanya jawab c. Instrumen Penelitian Alat yang digunakan dalam pengumpulan data adalah seperangkat soal pokok bahasan “Persebaran Sumber Daya Alam Di Indonesia Dan Pemanfaatannya”.

b Menentukan tipe soal Bentuk soal yang akan digunakan adalah tes objektif dengan pilihan ganda dengan tiap butir soalnya dilengkapi dengan 4 pilihan jawaban. Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan/kesahihan suatu instrumen (Arikunto. Suatu tes dikatakan baik sebagai alat ukur hasil belajar harus memenuhi persyaratan tes yaitu validitas. Tahap analisis uji coba soal Hasil uji coba kemudian dianalisis dan siap digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa dari kelompok penelitian. reliabilitas. Soal dikatakan . 1998). 3. c Menentukan jumlah butir soal dan alokasi waktu d Menentukan jenjang kognitif soal Butir soal yang terdapat dalam perangkat yang akan diuji cobakan terdiri dari 3 jenjang kognitif yaitu ingatan (C-1). pemahaman (C-2). Tahap pelaksanaan uji coba soal Untuk mengetahui mutu perangkat tes. soal-soal yang telah dibuat diuji cobakan terlebih dahulu kepada siswa diluar sampel. tingkat kesukaran dan daya pembeda soal. a.49 merupakan bagian dari mata pelajaran Geografi Kelas XI Program Ilmu Sosial semester 2 berdasarkan kurikulum 2004 (KBK). dan aplikasi (C-3) e Menentukan kisi-kisi soal f Penyusunan butir soal 2.

1) Validitas isi soal Untuk memenuhi validitas isi soal. sebelum instrumen disusun. 2) Validitas butir soal Validitas butir soal dihitung dengan rumus: rpbis = M p − Mt St p q Keterangan: rpbis Mp Mt St = koefisien korelasi biserial = rata-rata skor dari subyek yang menjawab benar = rata-rata skor total = standar deviasi dari skor total = proporsi siswa yang menjawab benar p ⎛ banyaknya siswa yang menjawab benar ⎜p= ⎜ jumlah seluruh siswa ⎝ q = proporsi siswa yang menjawab salah ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ (q = 1 − p ) (Arikunto. 2005) . peneliti menyusun kisi-kisi soal terlebih dahulu berdasarkan kurikulum yang berlaku. Validitas ada dua macam yaitu validitas isi soal dan validitas butir.50 valid jika soal tersebut dapat mengukur apa yang ingin diukur. Dalam penelitian ini yang diukur adalah hasil belajar kognitif siswa.

16. 9. yaitu soal nomor 1. 10. 19. 24. 11. Berdasarkan uji coba soal yang telah dilaksanakan dengan N = 42 dan taraf signifikan 5% di dapat rtabel = 0. 32. 30. 21.51 Hasil rxy dikonsultasikan dengan r yang sesuai pada tabel harga koefisien korelasi r hitung>r tabel pada taraf signifikan 5% maka dapat dikatakan valid (Arikunto. 1998) M Vt . Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 7 halaman 130. 34. 17. 22. Hasil uji coba dari 35 soal. 31. 23. 20. 29. 4. 28. 1998). 26. Rumus yang digunakan adalah rumus K-R. 21 : ⎛ k ⎞⎛ M (k − M ) ⎞ ⎟ r11 = ⎜ ⎟⎜1 − k (Vt ) ⎟ ⎝ k − 1 ⎠⎜ ⎠ ⎝ Keterangan: r11 k = reliabilitas instrumen = banyaknya butir soal = skor rata-rata peserta tes = variansi soal (Arikunto. diperoleh 29 soal yang valid. 18.304. 13. 3. 12. 15. 14. 25. 7. b. Reliabilitas Reliabilitas menunjukkan pada pengertian bahwa suatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik. 5.

2 0.8 0.8 < r11 < 1.2 < r11 < 0.8 yang termasuk kategori sangat tinggi.6-0.52 Dengan kriteria pengujian: Kriteria r11 < 0.6 < r11 < 0. : Jumlah benar pada butir soal pada kelompok bawah.8 dan terletak pada interval 0.6 0. : Banyaknya siswa pada kelompok atas : Banyaknya siswa pada kelompok bawah .4 < r11 < 0. Rumusnya sebagai berikut: IK = JB A + JB B JS A − JS B Keterangan : IK JBA JBB JSA JSB : Indeks/ tingkat kesukaran soal : Jumlah benar pada butir soal pada kelompok atas. Perhitungan selengkapnya lihat pada lampiran 11 halaman 138. c. Tingkat kesukaran Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal disebut indeks kesukaran.4 0.0 = Sangat rendah = Rendah = Sedang = Tinggi = Sangat tinggi Dari hasil perhitungan tingkat reliabilitas diketahui bahwa r11=0.

23.70 < IK <1.00 < IK < 0. 9. 12. 19. 17.JB B JS A Keterangan : DP JBA JBB : Daya Pembeda : Jumlah benar pada butir soal pada kelompok atas : Jumlah benar pada butir soal pada kelompok bawah . d. 29.00 IK = 1. 31. 13. 20.53 Kriteria IK = 0. 32. 25. 33. Soal dengan kategori mudah ada 24 soal yaitu 1. sedang dan sukar.70 Soal sedang 0. 3. Untuk kategori sukar ada 5 soal yaitu 8. Hal ini dapat dilihat pada lampiran 9 halaman 136. 11. 22. 10.00 Soal mudah Soal terlalu mudah (Suherman. 1990). 14. 34. 26. 24. 15. 28. 5. 21. 6. dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Seluruh kelompok tes dibagi 2 kelompok atas dan bawah 2) Seluruh peserta diurutkan mulai dari skor teratas sampai terbawah 3) Menghitung indeks deskriminasi soal dengan rumus sebagai berikut: DP = JB A .30 Soal sukar 0. 27.00 Soal terlalu sukar 0. Soal dengan kriteria sedang ada 6 soal yaitu 18. 7.30 < IK < 0. Berdasarkan hasil uji coba dari 35 soal diperoleh soal yang mudah. Daya pembeda soal Digunakan untuk membedakan antara siswa yang pandai dan tidak pandai. 35. 4. 2. 30. 16.

40 < DP < 0. 7. 29. 10. 21. 23. 6. 27.00 < DP < 0. tingkat kesukaran dan daya pembeda. 31. 5. 22. 11. mengingat waktu pengambilan pretes dan posttes dalam waktu 40 menit.20 < DP < 0. Hal ini dapat dilihat pada lampiran 10 halaman 137. Soal dengan kategori cukup ada 24 soal yaitu nomor 1. 4. 19.70 0. 33. 12. Hasil analisis uji coba tes Dengan memperhatikan segenap aspek analisis item. 16. Berdasarkan hasil uji coba dari 35 soal diperoleh 2 soal yang mempunyai daya beda baik yaitu nomor 28. 35. 13.40 0. 15. 32. baik validitas. 17.00 0. Soal dengan kategori jelek ada 9 yaitu nomor 2. 26. maka dari 35 butir soal yang diujicobakan ada 25 item dari 35 item yang layak dipakai yaitu dengan kriteria valid dan daya pembeda yang tidak jelek (lihat tabel rangkuman analisis uji coba pada lampiran 12 halaman 140).70 < DP ≤ 1. reliabilitas. 30. 24. 20. 34. 4. 14.00 Sangat jelek Jelek Cukup Baik Sangat baik (Suherman. 8. 1990). Untuk keperluan pengambilan data berikutnya digunakan 25 soal. 18. 3. Tabel transformasi dapat dilihat pada lampiran 13 halaman 141. 9.54 JSA : Banyaknya Siswa kelompok atas Kriteria DP ≤ 0. .20 0. 25.

Pretes dilaksanakan untuk memperoleh data hasil belajar siswa kelas XI program Ilmu Sosial semester genap SMA Negeri 9 Semarang sebelum diberi materi persebaran sumber daya alam di Indonesia dan pemanfaatannya. 1998). . Tes ini dilakukan pada awal pertemuan (pretes) dan pada akhir pertemuan (posttes) atau disebut juga tes formatif. Dokumentasi Dokumentasi dari asal katanya dokumen. menggali informasi melalui studi pustaka. memecahkan masalah. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Observasi Metode ini dilakukan untuk mengambil data nilai psikomotorik dan nilai afektif. 2. yang artinya barangbarang tertulis (Arikunto.55 E. Tes Metode tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada pokok bahasan persebaran sumber daya alam di Indonesia dan pemanfaatannya baik yang diajar dengan pembelajaran berbasis masalah maupun yang diajar dengan pembelajaran konvensional. Metode dokumentasi dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan data tentang nilai raport semester 1 mata pelajaran geografi Kelas XI Program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang dan mengambil beberapa gambar saat proses belajar mengajar berlangsung baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. 3. Pada nilai psikomotorik aspek yang diobservasi meliputi aspek.

minat. Uji normalitas dihitung dengan menggunakan rumus Chi-square (chikuadrat) yaitu: χ2 = ∑ i =1 n (Οi − Εi )2 Εi . F. Observasi dilakukan pada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan eksperimen. kecakapan bertanya di dalam kelas. dan nilai. Analisis data tahap awal Data yang digunakan untuk uji tahap awal ini adalah nilai raport mata pelajaran geografi semester 1 kelas XI program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang. Uji Normalitas Data nilai semester yang terkumpul harus merupakan suatu jenis interval yang tersusun dalam satu distribusi frekuensi terlebih dahulu.56 menemukan informasi melalui studi pustaka. a. Sedangkan untuk nilai afektif aspek yang diobservasi meliputi aspek sikap. mecakapan berkomunikasi secara lisan. Uji normalitas dilakukan untuk memenuhi persyaratan penggunaan rumus statistik inferensial untuk menguji hipotesis yang ada dalam sebuah penelitian. Teknik Analisis Data 1.

Dengan n adalah banyaknya data.57 Keterangan: Oi Ei N = frekuensi pengamatan = frekuensi yang diharapkan = banyaknya kelas interval X2 = Chi-kuadrat Untuk α =5% dengan kriteria yang digunakan adalah jika χ2hitung<χ2tabel maka data tersebut berdistribusi normal (Nurgiyantoro. yaitu: Banyaknya kelas = 1+ 3. b) Menentukan banyak kelas interval dengan aturan struges.3 log n . bentuk data interval yaitu dengan cara: a) Menentukan rentang yaitu selisih data terbesar dengan data terkecil. c) Menentukan panjang kelas interval (P) P= ren tan g Banyaknya kelas d) Memilih ujung bawah kelas interval pertama yang dapat ditentukan dengan data terkecil atau nilai data yang lebih kecil dari data terkecil. Dalam melakukan uji chi kuadrat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Mengelompokkan data dari nilai rapot semester 1. tetapi selisihnya harus kurang dari panjang kelas. . 2002).

Uji homogenitas sampel Sebelum melakukan uji hipotesis terlebih dahulu melakukan uji homogenitas data tes hasil belajar nilai raport geografi semester 1 kelas XI program ilmu sosial. 8) Menentukan chi-kuadrat χ2 = ∑ i =1 n (Οi − Εi )2 Εi b. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang diambil memiliki tingkat homogenitas yang sama. 1996). .58 2) Menentukan rata-rata dari data interval dengan rumus: X = ∑f ∑f i xi i 3) Menentukan simpangan baku dari data interval dengan rumus berikut: S = S2 ⎡ n∑ fi S =⎢ ⎢ ⎣ 2 n(n − 1) xi − (∑ f i 2 xi ) ⎤ ⎥ ⎥ ⎦ 4) Menentukan batas-batas interval 5) Menentukan angka standar dengan rumus: Z= X−X S 6) Menentukan luas daerah 7) Menentukan frekuensi harapan yang merupakan hasil kali antara luas daerah dengan jumlah peserta (Sudjana. yang artinya sampel tersebut berangkat dari keadaan awal yang sama.

Langkah-langkah pengujian hipotesis: 1) Menentukan jumlah kuadrat rata-rata (RY) (∑ X ) RY = n 2 . c.59 Langkah-langkah perhitungannya adalah sebagai berikut: 1) Menghitung S 2 dari masing-masing kelas 2) Menghitung varians gabungan dari semua kelas dengan rumus: S 2 ∑ (n − 1)S = ∑ (n − 1) i i 2 i 3) Menghitung harga satuan B dengan rumus B = (log S 2 )∑ (ni − 1) 4) Menghitung nilai statistik chi-kuadrat X 2 dengan rumus X 2 = (In 10 ){B − ∑ (ni − 1)log Si2 } ( ) Keterangan: S 2 = varians gabungan dari semua sampel Si2 = varians masing-masing kelompok atau kelas X 2 tabel dengan dk = k – 1 dan taraf signifikan 5% jika X 2 hitung < X 2 tabel. maka homogen (Sudjana. Uji kesamaan keadaan awal populasi Hipotesis yang diajukan Ho : μ1 = μ 2 = μ3 = μ 4 Ha1 : paling sedikit satu tanda sama dengan tidak berlaku. 1996).

60 2) Menentukan jumlah kuadrat antar kelompok (AY) (∑ X ) AY = i 2 ni − RY 3) Menentukan jumlah kuadrat total (JK tot) 2 JKtot = ∑ X tot − ∑X N tot 4) Menentukan jumlah kuadrat dalam (DY) DY = JK tot – RY – AY 5) Membuat tabel ringkasan anava Tabel 7. Ringkasan Anava Uji Kesamaan Rata-Rata Populasi Sumber variasi Rata-rata Antar Kelompok Dalam Kelompok Total dk 1 k-1 i JK RY AY KT K = RY:1 A = AY : (k-1) F ∑ (n − 1) DY ∑n ∑X i D = DY : (∑ (ni − 1)) 2 A D Sumber: Sudjana (1996) Keterangan: RY = jumlah kuadrat rata-rata = (∑ X ) 2 n 2 AY JK tot DY ( X) = jumlah kuadrat antar kelompok = ∑ i ni − RY = jumlah kuadrat total = ∑X 2 i = jumlah kuadrat dalam = JK tot – RY – AY .

− − s s < μ < x + t0. Uji ini menggunakan rumus Chi kuadrat sama dengan rumus yang digunakan pada analisis tahap awal. Rumus yang digunakan: x − t0.975(υ ) . 1996). Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui kenormalan data.975(υ ) . apabila Fhitung < Ftabel dengan dk1 = (k .1) berbanding dk2 = ∑ (n − k ) . n n Keterangan: − x to . a. 2. Data yang digunakan adalah data pretes dan posttes kelas kontrol dan eksperimen.61 Hasil uji F dikonsultasikan dengan Ftabel. b. maka dapat disimpulkan bahwa Ho diterima yang berarti sampel mempunyai kondisi awal yang relatif sama ( Sudjana. Estimasi rata-rata hasil belajar Estimasi rata-rata hasil belajar ini digunakan untuk mengetahui rata-rata perolehan nilai hasil belajar kedua kelas. Analisis data tahap akhir Untuk uji tahap akhir ini digunakan data hasil belajar siswa setelah dilakukan eksperimen.975(υ ) = rata-rata hasil belajar = nilai t didapat dari tabel normal baku untuk peluang (Sudjana. 1996) .

F= Varians Terbesar Varians Terkecil .62 c. menguasai kompetensi pembelajaran minimal 65% dari seluruh tujuan pembelajaran (Mulyasa. Uji ketuntasan belajar Seorang peserta didik dipandang tuntas belajar jika ia mampu menyelesaikan. Uji kesamaan dua varian Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah kedua kelompok mempunyai varians data hasil belajar yang sama atau tidak. Dalam uji digunakan data hasil belajar dari kedua kelompok. d. dk = (n-1) (Sudjana. Hipotesis yang akan diuji: Ho : µ ≤ 65 (Belum mencapai ketuntasan belajar) Ha : µ≥ 65 (sudah mencapai ketuntasan belajar) Rumus yang digunakan adalah: x − μ0 t= S n − Keterangan: x = rata-rata hasil belajar − S = simpangan baku n = banyaknya siswa Kriteria pengujian adalah tolak H0 jika thitung>ttabel dan terima Ha dalam hal lainnya. 1996). 2003). Dengan taraf nyata α = 5%.

Rumus Hipotesisnya adalah: H 0 : μ1 ≤ μ 2 H a : μ1 > μ 2 Uji hipotesis dilaukan dengan statistik satu pihak. n 2 −1) (Sudjana. yaitu pihak kanan. Rumus tdata yang dipergunakan sangat ditentukan oleh hasil uji kesamaan dua varians antara kedua kelompok tersebut. Uji Perbedaan dua rata-rata Uji perbedaan dua rata-rata merupakan uji hipotesis yang berguna untuk mengetahui apakah hasil belajar kedua kelompok berbeda secara signifikan dan manakah yang lebih baik antara kelompok kontrol dan eksperimen. Jika variansi antara kedua kelompok tersebut sama maka rumus yang digunakan: t= x1− x2 1 1 s + n1 n2 Dengan: s 2 (n1 − 1)s12 + (n2 − 1)s22 = n1 + n2 − 2 . 1996).63 Kriteria: H0 ditolak kika F≥ F1 / 2α (υ1υ 2 ) Terima H0 jika F(1α )( n1−1) < F < F1 / 2α ( n1−1. e. Kriteria pengujian adalah: Hipotesis Ha diterima jika tdata< ttabel.

1996). Apabila kedua kelompok variansinya berbeda maka uji t yang digunakan adalah: t' = x1 − x2 s12 s2 2 + n1 n2 Kriteria pengujiannya adalah tolak Ho jika diperoleh: t' > w1t1 + w2t2 w1 + w2 Dengan w1 = s12 s2 . w2 = 2 n1 n2 t2 = t(1−α )(n 2 −1) t1 = t(1−α ) (n1−1) Keterangan: − x1 − = Nilai rata-rata kelompok 1 = Nilai rata-rata kelompok 2 = varians data pada kelompok 1 = varians data pada kelompok 2 = banyaknya subjek pada kelompok 1 = banyaknya subjek pada kelompok 2 x2 S12 S22 n1 n2 Apabila data tidak berdistribusi normal maka pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan statistik non parametrik (Sudjana. 1996). .64 Terima Ho jika –t1-1/2α(n-1+n2-2) < t < t1-1/2α(n1+m2-2) (Sudjana.

digunakan data hasil belajar afektif dan psikomotorik. yang bertujuan untuk mengetahui nilai afektif dan psikomotorik siswa baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Jumlah responden 2006) . digunakan rumus: Rata-rata nilai afektif kelas = Jumlah nilai (Ngalim Purwanto. Rumus yang digunakan adalah: Nilai = jumlah skor × 100 skor total Untuk menghitung rata-rata nilai afektif dan psikomotorik masing-masing kelas. Analisis Deskriptif Data Hasil Belajar Afektif dan Psikomotorik Pada analisis tahap akhir ini. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif.65 3.

Dengan demikian populasi juga bersifat homogen.81). Kedua kelas yang memiliki rata-rata dan varians hampir sama adalah adalah kelas XI IS-1 dan XI-IS 3. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3 – 27 Maret 2007 di SMA Negeri 9 Semarang pada siswa kelas XI program Ilmu Sosial tahun 2006/2007. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampel atau sampel bertujuan yaitu agar sampel yang diambil representatif. dipercaya 95% data homogen atau populasi berangkat dari keadaan awal yang sama. Oleh karena itu. Pelaksanaan Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang terbagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dari hasil pengacakan di dapat 66 . peneliti terlebih dahulu melakukan pengacakan atau random. selain itu varians kedua kelompok juga mendekati sama sehingga sampel dapat diambil secara acak dengan asumsi kedua kelas harus homogen dan memiliki varians yang mendekati sama atau seluruh populasi memiliki kemungkinan yang sama untuk diambil sebagai sampel. Untuk penentuan kelas kontrol dan eksperimen.980)< χ 2 tabel (7. Hasil tes homogenitas populasi diperoleh χ 2 data (1. dalam penelitian ini diperlukan nilai raport geografi semester 1 seluruh kelas XI program Ilmu Sosial agar dapat diketahui homogenitas dan varians dari populasi tersebut.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.

kedua kelompok baik eksperimen maupun kontrol melalui tiga tahap yang sama yaitu pretes. pretes pada kelompok kontrol dilakukan pada tanggal 5 Maret 2007 dan pada kelompok eksperimen dilakukan pada tanggal 7 Maret 2007. Pada tabel 8 dicantumkan jadwal pelajaran pada kontrol dan kelas eksperimen.67 kelas kontrol XI-IS 3 dan kelas eksperimen XI-IS 1. . pembelajaran dan posttes. Akan tetapi model pembelajaranyang diterapkan pada kedua kelompok berbeda yaitu pada kelompok kontrol menggunakan pembelajaran konvensional dan pada kelompok eksperimen menggunakan pembelajaran berbasis masalah. Posttes diadakan untuk mengetahui hasil belajar siswa pada pokok bahasan persebaran sumber daya alam di Indonesia dan pemanfaatannya setelah mengikuti pembelajaran. Pretes digunakan untuk mengetahui kemampuan awal siswa tentang pokok bahasan persebaran sumber daya alam di Indonesia dan pemanfaatannya sebelum diadakan pembelajaran. sebagai berikut: Tabel 8 . Jadwal Pelajaran Geografi Kelas Kontrol dan Eksperimen Kelas XI IS 1 Hari Rabu Jumat XI IS 3 Senin Rabu Sumber: SMA Negeri 9 Semarang Tahun 2007 Jam ke4 1-2 1-2 1 Pada prinsipnya. posttes kelompok kontrol dilakukan pada tanggal 26 Maret 2007 sedang posttes kelompok eksperimen dilaksanakan pada tanggal 23 Maret 2007.

Waktu pembelajaran yang digunakan dari kedua kelompok relatif sama yaitu 9 jam pelajaran dengan 6 kali pertemuan termasuk pretes dan posttes. 1. guru . Sebelum pembelajaran berbasis masalah dilaksanakan. Guru memberikan apersepsi untuk mengetahui kesiapan siswa dan mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa tentang materi persebaran sumber daya alam di Indonesia dan pemanfaatannya. Proses Pembelajaran Pada Kelompok Eksperimen Pada penelitian ini kelompok eksperimen adalah kelas XI-IS 1. dengan memberikan permasalahan di dunia nyata dalam bentuk artikel yang disebut sebagai kartu permasalahan. proses pembelajaran membahas tentang materi pelajaran. Proses pembelajaran dilakukan di ruang kelas dan perpustakaan SMA Negeri 9 Semarang. untuk pertemuan berikutnya dilaksanakan proses belajar mengajar dengan pendekatan berbasis masalah.68 Perbedaan yang mendasar dari kedua kelompok yaitu dalam perlakuan yang diberikan pada saat pembelajaran. Setiap 1 jam pelajaran dengan alokasi waktu 45 menit. Setelah diadakan pretes. khususnya pada kelas XI program Ilmu Sosial. Adapun jadwal penelitian lihat pada lampiran 38 halaman 190. Diawal pembelajaran diadakan pretes terlebih dahulu untuk mengetahui keadaan awal siswa. sedang pada kelompok kontrol dengan pembelajaran konvensional yang selama ini telah digunakan oleh guru mata pelajaran geografi di SMA Negeri 9 Semarang. Pada kelompok eksperimen diberi perlakuan dengan pembelajaran berbasis masalah yang menggunakan artikel sebagai sumber belajar. Pada tahap selanjutnya.

Selama proses pembelajaran guru mengawasi. Pada pertemuan berikutnya hasil karya tersebut dipresentasikan di depan kelas. Dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 95. Pada tiap akhir pertemuan guru dan siswa menyimpulkan seluruh kegiatan diskusi yang telah dilakukan. Tahap akhir dari penelitian ini. Artikel 1 dan artikel 2 yang disajikan kepada 8 kelompok ini memiliki 3 tema yang berbeda. Pada pembelajaran selanjutnya siswa ditugaskan untuk membuat hasil karya berupa laporan kelompok yang berisi hasil diskusi dan studi pustaka yang telah dilakukan. Untuk lebih jelasnya. Posttes ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi yang telah diajarkan. proses pembelajaran pada kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel 9 berikut: . memberikan bimbingan serta pengarahan kepada siswa yang mengalami kesulitan atau kurang memahami materi.69 membagi siswa dalam kelompok-kelompok. Pembelajaran ini dilakukan setiap pertemuan dengan materi yang ada dalam rencana pembelajaran. diadakan posttes pada tanggal 23 Maret 2007. Kelompok yang terbentuk ada 8 kelompok. masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 siswa. Tiap-tiap kelompok ditugaskan untuk menganalisis permasalahan yang ada dalam artikel yang telah disediakan dan mencari alternatif pemecahan masalah dengan berdiskusi dan studi pustaka.

23 Maret 1) Apersepsi 2006 2) Memilih 2 kelompok untuk presentasi hasil karya 3) Menyimpulkan hasil diskusi dan presentasi 4) Posttes Sumber: Hasil penelitian tahun 2007 . 6) Guru membagikan kartu masalah 2 (Artikel 2) kepada tiap-tiap kelompok yang telah dibentuk pada pertemuan terdahulu. 4) Guru membagikan kartu permasalahan yang berupa artikel 1 (lihat lampiran 44) 5) Siswa secara berkelompok melakukan analisis dan mencatat hasil analisis dalam bentuk laporan Rabu. 21 Maret 1) Apersepsi 2007 2) Melanjutkan diskusi analisis artikel melalui studi pustaka. 4) Tanya jawab mengenai materi persebaran SDA di Indonesia dan Pemanfaatannya. Rabu. 7) Guru menugaskan kepada siswa untuk menganalisis artikel secara berkelompok. 9 Maret 2007 Kegiatan Pretes 3 4 5 6 1) Apersepsi 2) Mengorientasikan siswa pada masalah yang berkaitan dengan persebaran SDA di Indonesia dan pemanfaatannya. 7 Maret 2007 Jumat. Proses Pembelajaran Pada Kelompok Eksperimen No 1 2 Hari/Tanggal Rabu. 5) Guru mengarahkan siswa pada masalah baru atau Artikel 2 (lihat lampiran 45). 3) Tanya jawab tentang hasil presentasi dan pemecahan masalah dalam artikel 1.70 Tabel 9. 4) Menyimpulkan hasil diskusi dan tanyajawab Jumat. 3) Guru membagi siswa dalam 8 kelompok. 1) Apersepsi 16 Maret 2007 2) Melanjutkan presentasi hasil analisis kartu masalah 1 (Artikel 1) 3) Menyimpulkan hasil presentasi. dan menyusun laporan Jumat. 1) Apersepsi 14 Maret 2007 2) Menunjuk beberapa kelompok untuk presentasi hasil analisis artikel 1.

guru memberikan rangkuman materi pelajaran agar mempermudah siswa dalam proses pembelajaran. diadakan posttes untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi yang telah diajarkan. disini siswa mendengarkan dan mencatat materi yang disampaikan guru. Guru menerangkan dan menyampaikan materi di depan kelas dengan metode ceramah. Pada awal pembelajaran diadakan pretes terlebih dahulu untuk mengetahui keadaan awal siswa. Pada pertemuan berikutnya guru dan siswa mengevaluasi atau membahas soal tersebut. Selanjutnya guru memberikan apersepsi untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa tentang materi persebaran sumber daya alam di Indonesia dan pemanfaatannya. .71 2. guru memberikan soal-soal latihan dari buku Pemkot dan buku paket lainnya. Pada tahap akhir. Kemudian pada pertemuan berikutnya. Proses Pembelajaran Pada Kelompok Kontrol Pembelajaran pada kelompok kontrol menggunakan model konvensional. Pembelajaran ini dilakukan pada setiap pertemuan dengan materi yang telah tercantum pada rencana pembelajaran (lampiran 2 halaman 107). proses pembelajaran pada kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel 10. dimana pembelajaran berpusat pada guru dan guru menggunakan metode tradisional yaitu ceramah dan penugasan. Untuk lebih jelasnya. Selanjutnya.

Proses Pembelajaran Pada Kelompok Kontrol No 1 2 Hari/Tanggal Senin. 14 Maret 2007 5 Rabu. Hasil Penelitian 1. 12 Maret 2007 4 Rabu. 7 Maret 2007 Kegiatan Pretes 1) Apersepsi 2) Guru menjelaskan pengertian sumber daya alam dan penggolongannya 3) Guru menugaskan siswa untuk mengerjakan soal-soal latihan 1) Apersepsi 2) Guru menjelaskan tentang penggolongan sumber daya alam dan persebarannya di Indonesia 3) Tanya jawab 4) Menyimpulkan materi pelajaran 1) Apersepsi 2) Guru menjelaskan tentang kerusakan sumber daya alam 3) Tanya jawab 4) Penugasan mengerjakan soal di buku paket Pemkot 1) Apersepsi 2) Guru menjelaskan tentang pemanfaatan sumber daya alam secara ekoefisien 3) Tanya jawab 4) Menyimpulkan materi pelajaran 1) Apersepsi 2) Membahas soal di buku paket Pemkot 3) Posttes 3 Senin. Hasil Uji Normalitas Nilai Raport Geografi Semester 1 Hasil uji normalitas nilai raport geografi semester 1 kelas XI program ilmu sosial terangkum pada tabel 11 di bawah ini: . 21 Maret 2007 6 Senin. Data Obyek Penelitian a.72 Tabel 10. 26 Maret 2007 Sumber: Hasil Penelitian tahun 2007 B. 5 Maret 2007 Rabu.

81 XI IS 4 2844 41 69. Suatu populasi dikatakan homogen jika χ 2 hitung < χ 2 tabel .81 dengan demikian χ 2 hitung < χ 2 tabel . sehingga untuk analisis data digunakan statistik parametrik.4 12.93 7.2942 Sumber: Hasil Penelitian tahun 2007 Terlihat dari tabel tersebut. Dari perhitungan didapat χ 2 hitung sebesar 1.4750 3. Hasil Uji Normalitas Nilai Raport Geografi Semester 1 Sumber Variasi ΣX n X S2 S XI IS 1 2943 42 70.8 15. sehingga populasi dinyatakan mempunyai tingkat .48 7.6845 3.1 18.9 15.73 Tabel 11.8484 4. nilai χ 2 hitung < χ 2 tabel dengan taraf signifikan α = 5% yang berarti data-data tersebut berdistribusi normal.81 XI IS 3 2932 42 69. Hasil Uji Homogenitas Populasi Nilai Raport Geografi Semester 1 Rumus Bartlet dengan uji Chi kuadrat digunakan untuk mengetahui bahwa populasi bersifat homogen atau tidak homogen.1222 4.7131 1.81 Kelas XI IS 2 3075 44 69. b.0878 3.6986 5. Hasil perhitungan normalitas nilai raport geografi semester 1 kelas XI program ilmu sosial SMA Negeri 9 Semarang tahun 2006/2007 dapat dilihat pada lampiran 21 halaman 158.81 χ 2 tabel α = 5% χ 2 hitung 3.96 7.980 dan χ 2 tabel sebesar 7.34 7.

berarti tidak terdapat perbedaan rata-rata dari keempat kelompok anggota populasi sehingga sampel dapat diambil berdasarkan tujuan bahwa sampel harus memiliki keadaan awal yang sama. Hasil Uji Kesamaan Keadaan Awal Populasi Berdasarkan perhitungan diperoleh Fhitung = 0. Diskripsi Hasil Pretes dan Posttes Hasil pretes dan posttes dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel 12 berikut: Tabel 12. sesuai dengan tujuan pengambilan sampel. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 22 halaman 162.57 Sumber: Hasil Penelitian tahun 2007 .92 24.19 Posttes 77.05)(3:165)=2. untuk α = 5% dengan dk pembilang = k-1= 4-1=3 dan dk penyebut = n-k = 165 diperoleh F2 (k-1)(n-k)=F(0. Perhitungan dapat dilihat pada lampiran 23 halaman 163. Deskripsi Data Pretes dan Posttes Sumber variasi Ratarata Varians Standar Deviasi 4.42 18. c.67 Peningkatan 16.72 20.73 5.10 Posttes 74. Hasil Belajar Kognitif Pada Pretes dan Posttes a.74 Kelompok Eksperimen Pretes 58. 2.66.35 5.2385.74 homogenitas sama.35 4.89 32.55 18.83 25.05)(3:165).04 4.97 4.62 Peningkatan 19.40 Kelompok Kontrol Pretes 58. Kriteria pengujian Ho diterima apabila Fhitung<F2 (k-1)(n-k) karena Fhitung<F(0.

81 7.10 dengan varians 18. rata-rata yang diperoleh meningkat menjadi 77.35.6117 7.4417 dk 3 3 3 3 χ 2 tabel 7. Rata-rata pretes pada kelompok kontrol adalah 58.75 Tabel 12 tersebut menyatakan bahwa rata-rata pretes pada kelompok eksperimen adalah 58.19 dengan varians 18.72 dan standar deviasinya 4.81 7. Dapat dilihat pada lampiran halaman 166.35. Setelah diterapkan pembelajaran berbasis masalah pada kelompok eksperimen. Pada kelompok kontrol diterapkan metode pembelajaran konvensional yang dapat meningkatkan nilai rata-rata menjadi 74. b.81 7.4015 7.73.62 dengan varians 32.83 dan standar deviasi 5.97. Data Hasil Uji Normalitas Data Pretes dan Posttes Kelompok Eksperimen Data Pretes Posttes Kontrol Pretes Posttes χ 2 hitung 6. .5499 7.89 dan standar deviasi 4. Hasil Uji Normalitas Data Pretes dan Posttes Hasil uji normalitas data pretes dan posttes kedua kelompok terangkum dalam tabel 13 di bawah ini: Tabel 13.92 dan standar deviasi 4.81 Kriteria Normal Normal Normal Normal Sumber: Hasil Penelitian tahun 2007 Perhitungan uji normalitas data pretes dan posttes dapat dilihat pada lampiran 24 halaman 167.67 dengan varians 24.

Dengan demikian analisis data selanjutnya digunakan statistika parametrik.86 Kriteria Kelompok eksperimen dan kontrol mempunyai varians yang sama 18.86 Sumber: Hasil Penelitian tahun 2007 Berdasarkan hasil uji kesamaan dua varians untuk data pretes antara kelompok eksperimen dan kontrol diperoleh Fhitung (1.328 yang menunjukkan bahwa antara kelompok eksperimen dan kontrol mempunyai varians data posttes yang sama. yang berarti bahwa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol mempunyai varians data yang sama. Tabel 14. . Hasil Uji Kesamaan Dua Varians Data Pretes dan Posttes Uji kesamaan dua varians untuk data pretes dan posttes pada kedua kelompok terangkum dalam tabel 14 dan pergitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 25 halaman 171. Uji Kesamaan Dua Varians Data Pretes dan Posttes Data Pretes Kelompok Eksperimen Kontrol Posttes Eksperimen Kontrol S2 dk Fhitung 1.86) dengan dk (41) dan taraf siknifikan 5%.89 41 18.001 Ftabel 1.72 41 1. c.001)<Ftabel (1.76 Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh χ 2 hitung untuk setiap data lebih kecil dari χ 2 tabel dengan dk (3) dan α = 5% yang berarti data tersebut berdistribusi normal.83 41 24. Sedangkan hasil uji kesamaan dua varians data posttes antara kelompok eksperimen dan kontrol diperoleh Fhitung<Ftabel dengan dk (41) yaitu 1.92 41 32.328 1.

522 1.77 Jadi.10 82 Posttes Eksperimen Kontrol 77.66 Kelompok eksperimen dan kontrol mempunyai nilai rata-rata yang relatif sama Kelompok kontrol dan eksperimen memiliki rata-rata yang relatif berbeda. Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-rata Data Pretes dan Posttes Uji perbedaan dua rata-rata peningkatan hasil belajar dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan rata-rata pretes maupun posttes pada kedua kelompok. sedangkan perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 28 halaman 176.67 2. dari hasil perhitungan uji kesamaan dua varians diketahui bahwa data pretes dan posttes antara kelompok eksperimen dan kontrol memiliki varians yang relatif sama.99) dengan dk = 82 menunjukkan bahwa kedua kelompok mempunyai rata-rata yang relatif sama atau dapat dikatakan . d. Tabel 15. sehingga untuk menguji perbedaan rata-rata selanjutnya digunakan uji t. Hasil uji t terangkum dalam tabel 15. Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-rata Data Pretes Dan Posttes Data Kelompok Rata.62 74.100 1.19 58. Sumber: Hasil Penelitian tahun 2007 Berdasarkan hasil uji t untuk data pretes diperoleh thitung (0.100)<ttabel (1.66 0.dk thitung ttabel Kriteria rata Pretes Eksperimen Kontrol 58.

Hasil Estimasi Rata-rata Kelompok Rata-rata Batas bawah Eksperimen Kontrol 77.40 76.67 75. Hasil Estimasi Rata-rata Hasil Belajar Data Pretes dan Posttes Estimasi rata-rata dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prediksi rata-rata yang mungkin dicapai apabila dilakukan pembelajaran seperti pada kelompok eksperimen atau kelompok kontrol pada populasi. Dari data posttes menunjukan thitung (2. Dari estimasi ini diperoleh rata-rata batas bawah dan rata-rata batas atas.522)>ttabel (1.62 74. Dengan demikian kelompok yang diajar dengan pembelajaran berbasis masalah mempunyai rata-rata hasil belajar yang lebih baik daripada kelompok yang menggunakan metode konvensional. dan hasilnya sebagai berikut. e. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kelas kontrol dan eksperimen. Tabel 16.22 Sumber: Hasil Penelitian tahun 2007 .83 73.78 bahwa kelompok eksperimen dan kontrol berangkat dari kondisi awal yang sama.66) dengan dk yang sama (82).12 µ Batas atas 79.

diperoleh thitung 14. Hasil Uji Ketuntasan Belajar Data Posttes Kelas Eksperimen Kelompok Eksperimen Rata-rata posttes 77. yang diperoleh dari hasil rata-rata data posttes kelompok eksperimen. Hasil Uji Ketuntasan Belajar Posttes Uji ini dilakukan untuk mengetahui ketuntasan belajar masingmasing kelompok setelah dilakukan pembelajaran.79.73 n 42 dk 41 thitung 14. .68 Kriteria Tuntas belajar Sumber: Hasil Penelitian tahun 2007 Berdasarkan hasil uji t dari uji ketuntasan belajar untuk kelompok eksperimen. Perhitungan lebih lengkap lihat pada lampiran 27 halaman 174. dan perhitungannya dapat dilihat pada lampiran 29 halaman 177.274>ttabel 1.22.68 yang berarti bahwa hasil belajarnya lebih dari 65 atau telah mencapai ketuntasan belajar.83 .79 Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat diprediksi bahwa rata-rata yang mungkin dicapai pada populasi (siswa kelas XI Program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang) apabila dilakukan pembelajaran berbasis masalah berkisar antara 75. f.274 ttabel 1. Tabel 17. Adapun hasil dari uji ketuntasan belajar ini terangkum dalam tabel 17.62 Standar Deviasi (s) 5.40 dan apabila dilakukan pembelajaran secara konvensional akan diperoleh rata-rata berkisar 73.12 – 76.

sikap dan nilai. Hasil rata-rata nilai afektif siswa pada kedua kelompok Nilai afektif siswa diperoleh dari jumlah skor tiap aspek dibagi dengan skor total dikali dengan seratus. Rata-rata nilai tiap aspek afektif pada kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel 18 dibawah ini: . Perincian nilai afektif siswa pada kelompok eksperimen dapat dilihat pada lampiran 31 halaman 179. Pada kelompok eksperimen.8. rata-rata nilai afektif siswa mencapai 63. b. Pada tiap aspek dianalisis diskriptif yang bertujuan untuk mengetahui aspek mana yang tinggi dan mana yang rendah.9. Hasil rata-rata tiap aspek afektif siswa pada kedua kelompok Aspek afektif yang digunakan untuk menilai siswa kedua kelompok terdiri dari 3 spesifikasi yaitu. Perincian niali afektif siswa pada kelompok kontrol dapat dilihat pada lampiran 30 halaman 178.80 3. Hasil Belajar Afektif a. minat. Dari ketiga spesifikasi tersebut dijabarkan menjadi sepuluh aspek penilaian afektif. Pada kelompok kontrol ratarata nilai afektif siswa mencapai 59.

262 3.405 4.786 2. Tabel 19.857 2.024 2.000 3.262 2.143 Kehadiran di kelas 1 Keseriusan siswa dalam mengikuti pelajaran 2 Keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar 3 Kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran 4 Kelengkapan buku catatan atau buku penunjang 5 Tanggung jawab 6 Interaksi siswa dengan guru 7 Ketelitian mengerjakan tugas dari guru 8 Bekerjasama 9 10 Kerapian Sumber: Hasil Penelitian tahun 2007 .071 3.81 Tabel 18.143 3. rata-rata nilai tiap aspek terangkum pada tabel 19.786 3.809 Kehadiran di kelas 1 Keseriusan siswa dalam mengikuti pelajaran 2 Keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar 3 Kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran 4 Kelengkapan buku catatan dan buku penunjang 5 Tanggung jawab 6 Interaksi siswa dengan guru 7 Ketelitian mengerjakan tugas dari guru 8 Bekerjasama 9 10 Kerapian Sumber: Hasil Penelitian tahun 2007 Berdasarkan tabel 18 tampak bahwa dari kesepuluh aspek yang diukur rata-rata nilai tertinggi pada aspek kelengkapan buku catatan dan buku penunjang yang mencapai 4. Rerata Nilai Tiap Aspek Afektif Siswa Pada Kelompok Eksperimen No Aspek Rata-rata 4.286 1.095 2. Rerata Nilai Tiap Aspek Afektif Pada Kelas Kontrol No Aspek Rata-rata 4. Pada kelas eksperimen.333 4.095.119 sedangkan aspek yang nilai rata-ratanya paling rendah pada keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang mencapai 1.048 1.857 3.024 3.119 3.547 3. Untuk perhitungan lebih lengkap dapat dilihat pada lampiran 33 halaman 185.

547.29. Rata-rata nilai tiap aspek psikomotorik pada kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel 20. Pada kelompok kontrol ratarata nilai psikomotorik siswa mencapai 31. b. Hasil rata-rata nilai psikomotorik siswa pada kedua kelompok Nilai psikomotorik siswa diperoleh dari jumlah skor stiap aspek dibagi dengan skor total dikali seratus. rata-rata nilai psikomotorik siswa mencapai 56. 4. Untuk perhitungan selengkapnya lihat pada lampiran 32 halaman 184. Hasil nilai rata-rata tiap aspek psikomotorik siswa pada kedua kelompok Aspek psikomotorik yang digunakan untuk menilai siswa pada kedua kelompok ada lima aspek. Perincian nilai psikomotorik dapat dilihat pada lampiran 38 halaman 207.05. Hasil Belajar Psikomotorik a. .024 sedangkan aspek yang paling rendah adalah kelengkapan catatan dan buku penunjang yang mencapai 2.82 Berdasarkan tabel tampak bahwa rata-rata nilai tertinggi pada aspek keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang mencapai 4. Perincian nilai psikomotorik siswa pada kelompok eksperimen dapat dilihat pada lampiran 34 halaman 186. Pada kelompok eksperimen.

571 1.476 Menggali informasi melalui studi pustaka 1 Menemukan informasi melalui studi pustaka 2 Memecahkan masalah 3 Kecakapan berkomunikasi secara lisan 4 Kecakapan bertanya di dalam kelas 5 Sumber: Hasil Penelitian tahun 2007 Beradasarkan tabel diatas tampak bahwa dari kelima aspek psikomotorik yang diukur rata-rata nilai tertinggi pada aspek menggali informasi melalui studi pustaka yaitu mencapai 1.952 1 Menggali informasi melalui studi pustaka 2 Menemukan informasi melalui studi pustaka 3 Memecahkan masalah 4 Kecakapan berkomunikasi secara lisan 5 Kecakapan bertanya di dalam kelas Sumber: Data Primer hasil penelitian tahun 2007 Berdasarkan tabel 21 tampak bahwa rata-rata nilai tertinggi pada aspek kecakapan berkomunikasi secara lisan yaitu mencapai 3.738 1.310 1. Rerata Nilai Tiap Aspek Psikomotorik Kelompok Kontrol No Aspek Rata-rata 1.667 1.738. sebagai berikut: Tabel 21.83 Tabel 20.000 2. Untuk perhitungan lebih lengkap lihat lampiran 37 halaman 189. Pada kelompok eksperimen.811 2.00 sedangkan aspek yang paling rendah yaitu pada kemampuan . Rerata Nilai Tiap Aspek Psikomotorik Siswa Kelompok Eksperimen No Aspek Rata-rata 2.833 2.714 3. rata-rata nilai tiap aspek psikomotorik terangkum dalam tabel 21. sedangkan aspek yang paling rendah yaitu pada kecakapan berkomunikasi secara lisan yaitu mencapai 1.310.

karena kedua kelompok memang belum pernah mengikuti pembelajaran pada materi tersebut. C. Setelah dilakukan pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah pada kelompok eksperimen.62. Dengan uji kesamaan dua varians.001 dan Ftabel dengan dk pembilang = 41 dan dk penyebut = 41 serta taraf signifikan (α) = 5% (0. Pada kelompok kontrol yang diajar dengan menggunakan metode pembelajaran konvensional. Berdasarkan uji perbedaan dua ratarata menunjukan bahwa thitung (2. diperoleh Fhitung = 1.522)>ttabel (1.714.19 sedangkan pada kelompok kontrol mencapai 58. yang berarti bahwa kedua kelompok memiliki varians data yang sama dan berangkat dari kondisi yang sama pula. Hal ini menunjukkan bahwa Fhitung lebih kecil dari Ftabel. rata-rata hasil posttes atau tes formatif yang diperoleh mencapai 77.67. Untuk perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 36 halaman 188.86. Dari data tampak bahwa tingkat kesiapan siswa untuk mengikuti pembelajaran pada materi persebaran sumber daya alam di Indonesia dan pemanfaatannya masih kurang.10. Pembahasan Berdasarkan data pada kondisi awal. menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan awal kelompok eksperimen yang diketahui dari nilai pretes mencapai 58.84 memecahkan masalah yaitu sebesar 2. rata-rata hasil posttes atau tes formatifnya hanya mencapai 74.05) adalah 1.66) dengan dk = 82 dengan taraf signifikan 5% yang berarti terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar yang .

Pada kelompok eksperimen yang diajar dengan pembelajaran berbasis masalah terbukti memberikan kontribusi terhadap ketuntasan belajar siswa berdasarkan uji ketuntasan belajar kelompok eksperimen yaitu thitung 14. Hal ini sejalan dengan pendapat Heinich.67).62) dari pada kelompok kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional (74. dapat menghapus anggapan bahwa materi geografi hanya bersifat hafalan. “field trip”. dramatisasi).274>ttabel 1. serta lebih memotivasi siswa untuk ikut aktif dalam proses pembelajaran. demonstrasi. . Artikel sebagai sumber belajar mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata sehingga siswa secara tidak langsung dapat menerapkan teori yang telah dipelajari untuk memecahkan berbagai permasalahan yang ada dalam kehidupan nyata. maka situasi pengajarannya itu akan meningkatkan kegairahan dan minat siswa tersebut dalam belajar. Sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh para ahli psikologi Jerome Bruner dalam Prayitno (1989) bahwa kalau dalam belajar siswa dapat diberi pengalaman langsung (melalui media.85 signifikan antara kelompok kontrol dan eksperimen dengan nilai rata-rata kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol. Proses pembelajaran pada kelompok eksperimen dengan model pembelajaran berbasis masalah memiliki rata-rata hasil belajar yang lebih tinggi (77. hal ini terjadi karena adanya penggunaan media artikel dan digunakannya metode diskusi dan tanya jawab.68 yang berarti bahwa hasil belajarnya lebih dari 65 atau telah mencapai ketuntasan belajar.

Aktivitas yang dilakukan siswa pada pembelajaran berbasis masalah hampir diseluruh proses pembelajaran. Tingkat keaktifan siswa pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada pembelajaran kelompok kontrol. Dengan adanya keaktifan dalam diskusi untuk memecahkan masalah dalam artikel tersebut akan menumbuhkan motivasi belajar yang tinggi pada siswa dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap hasil belajar. sehingga mengurangi kesalahpahaman siswa dalam mempelajarinya dan memberikan pengalaman-pengalaman yang nyata yang merangsang aktivitas diri sendiri untuk belajar. fungsi guru hanya sebagai fasilitator. Dalam pembelajaran ini. mencari pemecahan masalah yang dihadapi dalam artikel baik secara berdiskusi maupun mencari informasi melalui studi pustaka. Mulai dari mencari sumber belajar yang relevan dengan materi. hingga menyimpulkan seluruh kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan oleh siswa. guru menciptakan strategi yang tepat agar siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi.86 Molenda dan Russel dalam Prayitno (1989) yang menyatakan bahwa media pengajaran dalam pembelajaran dapat mengkongkritkan ide-ide atau gagasan yang bersifat konseptual. Pada pembelajaran kelompok eksperimen. yaitu memberikan bimbingan/pengarahan seperlunya kepada siswa. . Keaktifan siswa lebih ditekankan pada proses pembelajaran. mampu menerapkan teori yang telah didapat dalam kehidupan nyata. serta mengantisipasi kebosanan siswa yang biasa terjadi pada pembelajaran konvensional. yang pada akhirnya mempengaruhi hasil belajar siswa. sehingga siswa tergugah untuk melakukan kegiatan belajar.

04. Dengan model pembelajaran ini siswa juga diberikan pengalaman langsung untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di dunia nyata dengan menerapkan teori yang telah didapatkan. karena dalam media artikel sudah dicantumkan tugas-tugas yang harus diselesaikan masing-masing kelompok. keseriusan dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran yaitu dengan keaktifan siswa . hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa pada kedua kelompok teramati. Selama proses pembelajaran hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa teramati dari kehadiran. dan kelompok eksperimen rata-rata nilai psikomotorik mencapai 56. Pada persiapan pembelajaran.87 Pembelajaran berbasis masalah menggunakan media artikel ini juga memungkinkan guru untuk lebih dapat mengawasi dan memberikan bimbingan serta pengarahan kepada siswa. sehingga pada pertemuan berikutnya siswa mempunyai kesempatan untuk mencari dan mempelajari buku penunjang yang berhubungan dengan materi tersebut. Dari pengamatan peneliti pada saat proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah. Untuk kelompok eksperimen mencapai 63.9. guru mengkaitkan materi yang dipelajari siswa dengan kehidupan nyata yang dibawa ke dalam kelas.28. Dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah ini. Penilaian dilakukan dengan dibantu oleh guru pembimbing dari SMA Negeri 9 Semarang dan seorang observer dari Universitas Negeri Semarang. Rata-rata hasil belajar afektif pada kelompok kontrol adalah 59. siswa telah diberitahu mengenai materi yang akan dibahas. Rata-rata hasil belajar psikomotorik kelompok kontrol adalah 31.8.

Sikap dalam berkomunikasi secara lisan atau kemampuan bertanya dan menjawab pertanyaan masih rendah.024 dan pada penilaian psikomotorik aspek kecakapan berkomunikasi secara lisan paling tinggi yaitu . Hal ini disebabkan pada kelompok kontrol proses pembelajarannya menggunakan model konvensional yaitu guru memberikan ceramah dan catatan kepada siswa sehingga catatan pada kelompok kontrol lebih lengkap.738 siswa mendapatkan informasi dari buku-buku yang ada. Rendahnya kemampuan berkomunikasi secara lisan disebabkan karena siswa hanya mendengarkan ceramah. hal ini bertujuan untuk mengetahui aspek mana saja yang paling tinggi dan aspek mana yang paling rendah. Pada kelompok kontrol penilaian afektif aspek kelengkapan catatan dan buku penunjang paling tinggi yaitu 4. Sedangkan pada aspek psikomotoriknya nilai rata-rata yang paling tinggi adalah pada aspek menggali informasi melalui studi pustaka 1. mencatat dan mengerjakan soal-soal yang diberikan guru dan kurangnya komunikasi antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa pada saat pembelajaran. penilaian afektif aspek keaktifan dalam kegiatan belajar mengajar paling tinggi yaitu 4. Pada akhir pembelajaran hasil belajar afektif dan psikomotorik dapat dilihat dari kemampuan dan keseriusan siswa dalam memcahkan masalah.. Tiap aspek afektif dan psikomotorik untuk tiap kelompok yang diamati dinilai. Sehingga siswa dituntut untuk dapat berkomunikasi secara lisan dengan etika dan sikap yang benar.119.88 dalam mengajukan dan menjawab pertanyaan yang muncul selama pembelajaran berlangsung. Pada kelompok eksperimen.

89 3.0. siswa dituntut untuk bisa memahami permasalahan yang ada dalam artikel serta mengkaitkan pengetahuan yang telah di dapat untuk memecahkan permasalahan yang ada dalam artikel tersebut. Hal ini dikarenakan pada proses pembelajaran berbasis masalah. hal ini dapat diketahui dari rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen yang lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Pembelajaran berbasis masalah dapat menjadi pilihan alternatif model pembelajaran yang terbukti mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Guru mengorientasikan siswa pada masalah. memberikan intruksi. mengawasi dan membimbing selama proses pembelajaran berlangsung. Dari berbagai penjabaran diatas. . secara umum menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah sangat berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar. hanya mendapat sedikit ceramah dari guru.

Hasil belajar Geografi pada siswa yang diajar menggunakan pembelajaran berbasis masalah nilai rata-rata kelasnya lebih baik yaitu 77.67. Ada perbedaan hasil belajar Geografi pokok bahasan persebaran sumber daya alam di Indonesia dan pemanfaatannya antara pembelajaran berbasis masalah dengan pembelajaran konvensional pada siswa kelas XI program Ilmu Sosial SMA Negeri 9 Semarang. 3. Adapun perbedaannya dapat dilihat dari hasil penelitian terdapat perbedaan rata-rata nilai posttes antara kelompok kontrol dan eksperimen.522) > ttabel (1.62 daripada nilai rata-rata kelas yang diajar dengan pembelajaran konvensional yaitu 74. 2. Pada kelompok eksperimen rata-rata sebesar 77. Pembelajaran berbasis masalah mampu memberikan kontribusi terhadap ketuntasan belajar siswa.62 dan pada kelas kontrol nilai rata-ratanya 74. 90 .BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan.67. dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1.66) dengan dk 82 dan taraf signifikan 5% yang artinya ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kelas kontrol dan eksperimen. Berdasarkan hasil perhitungan dengan statistik uji-t untuk uji perbedaan dua rata-rata didapat thitung (2.

guru dituntut kreativitasnya agar siswa dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik. . sehingga siswa merasa tertarik untuk mengikuti pelajaran yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 2. Melalui pembelajaran berbasis masalah siswa diharapkan lebih memahami permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan dapat menghubungkan antara teori yang telah dipelajari di sekolah dengan masalah nyata yang ada.91 B. Guru perlu melibatkan peran serta siswa secara langsung dalam pembelajaran. Saran Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: 1. Dalam pembelajaran. 3. untuk mendapatkan pemecahannya. karena dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Guru diharapkan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.

2005.. Singaraja: Unit Penerbitan Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja Johnson. ‘ Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa SMPN I Tambakromo Kabupaten Pati Melalui Pembelajaran Matematika Berbasis Masalah’. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu Mulyasa. Metodologi Research Edisi ke-4. Yogyakarta: Andi Henik Sugiyatri. Semarang: Jurusan Geografi FIS-UNNES. Skripsi. Yogyakarta: Bumi Aksara .. 17 Desember 2005 Darsono... Psikologi Belajar... 2003. Semarang : FMIPA Universitas Negeri Semarang Ibrahim.. S. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Kurikulum Berbasis Kompetensi.. 2001. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja.... Semarang: IKIP Press Gunawan.. E.. B. 2003. 2000. 2007. Elaine..... ‘Pendekatan dan Model Pembelajaran Geografi di Sekolah Berbasis Kompetensi’ Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Model Pembelajaran Geografi Dalam Konteks Era Global.. Jakarta: Prestasi Pustaka Budi. dkk.. Belajar Dan Pembelajaran.. Max... 2005... Muslimin...92 DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Metode Belajar Berpikir Kritis Dan Inovatif. Bandung: Mizan Learning Center (MLC) Muhibbin. S. 2000. 1998. Jakarta: Bumi Aksara . ‘Langkah-langkah Efektif Kualitas Pembelajaran Geografi di Sekolah dan Perguruan Tinggi’ Makalah disajikan pada Seminar Nasional Model Pembelajaran Geografi Dalam Konteks Era Global. 2005.. Jakarta: Rineka Cipta Bachman.. Semarang: Jurusan Geografi FIS-UNNES. Pembelajaran Berdasarkan Masalah.. 2005.. Bandung: Rosda Karya . 2004. 2005. Edmund.. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Evaluasi Program Pendidikan.. Terjemahan Ibnu Setiawan. Totok.. 17 Desember 2005 Hadi.. Apik. Syah... Sutrisno. Surabaya: UNESA-University Press IKIP Negeri Singaraja.. Contextual Teaching & Learning Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. 2004.

SLTA Dalam Rangka Menyongsong Kurikulum 2004. Nursid. Bandung: Wijayakusuma Sumaatmadja. 1990. 2007. Semarang: Jurusan Geografi FIS-UNNES. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. 2004. 1983. Kurikulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Remaja Rosdakarya Suharyono. Jakarta: Kencana Pranada Media Group Siskandar. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Jakarta: Depdikbud Purwanto. Bandung: Tarsito Sudjana. SLTP. Strategi Belajar Mengajar. dkk. 1996. Semarang: IKIP Press Semarang Sudjana. Makalah disajikan pada Seminar Nasional. Skripsi. Elida. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Geografi SMA Untuk Kelas XI Program Ilmu Sosial.93 Murdi Hastutu. 2004. Metode Statistika. Ngalim. Nana. Jurusan Geografi FIS UNNES 20 Maret 2002 Sudaryo. Motivasi Dalam Belajar. Petunjuk Praktis Untuk Melaksanakan Evaluasi Pendidikan Matematika. Studi Komparasi Hasil Belajar Antara Pembelajaran Kontekstual Dengan Pembelajaran Konvensional Pada Siswa Kelas 1 Semester 2 SMP Negeri 1 Bawang Banjarnegara Tahun Pelajaran 2003/2004. 2004. 2002. 1997. Statistik Terapan Untuk Penelitian Ilmu-ilmu Sosial. 2006. 1990. 2005. Bandung: PT. 2004. K. Erman dan Yaya Sukjaya. Jakarta: Erlangga . Jakarta: Bumi Aksara Wardiyatmoko. Pemantapan Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Geografi SD. Wina. ‘Model Pembelajaran Geografi Dalam Konteks Era Global’. Nining. dkk. 17 Desember 2005 Suherman. Metodologi Pengajaran Geografi. 2002. Makalah Disajikan dalam SEMLOK Nasional. Semarang : FIS Universitas Negeri Semarang Nurgiyantoro. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Nurhadi. Jakarta: Grasindo Prayitno. Bandung: PT. K. Remaja Rosdakarya Sanjaya.

Semarang : FMIPA Universitas Negeri Semarang Zaini. Hesyam. Yogyakarta : CTSD . Purwanti. Strategi Pembelajaran Aktif Di Perguruan Tinggi. Pemanfaatan CD Interaktif Pada Pendekatan Pakem Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMA Materi Pokok Hidrokarbon. Skripsi.94 Widhy H. 2005. 2002.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful