BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kabupaten Natuna merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.Natuna merupakan kepulauan paling utara di selat Karimata. Di sebelah utara, Natuna berbatasan dengan Negara Vietnam dan Kamboja, di bagian barat dengan Singapura, Malaysia, Riau,di bagian timur dengan Negara Malaysia Timur dan Kalimantan Barat, dan di selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi. Sejarah Kabupaten Natuna tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kabupaten Kepulauan Riau, karena sebelum berdiri sendiri sebagai daerah otonomi, Kabupaten Natuna merupakan bagian dari wilayah Kepulauan Riau. Kabupaten Natuna dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. 53 Tahun 1999 yang disahkan pada tanggal 12 Oktober 1999, dengan dilantiknya Bupati Natuna Drs. H. Andi Rivai Siregar oleh Menteri Dalam Negeri ad intrem Jenderal TNI Faisal Tanjung di Jakarta. Begitu juga halnya dengan perkembangan kesenian di Kabupaten Natuna tidak bisa terlepas dari provinsi induknya ± Provinsi Riau. Di Provinsi Riau terdapat dua jenis teater tradisi, yaitu teater tradisi Mak Yong dan teater Bangsawan.Mak Yong adalah seni teater tradisional masyarakat Melayu yang tumbuh dan berkembang di negara1

negara bagian Malaysia dan di Kepulauan Riau. Hal ini disebabkan karena letak geografis dan kultur kebudayaan antara dua daerah yang berbeda negara itu saling berdekatan dan memiliki persamaan. Pementasan Mak Yong di Kepulauan Riau dengan memakai topeng, berbeda dengan Malaysia yang tanpa memakai topeng. Pertunjukan Mak Yong menggabungkan berbagai unsur upacara keagamaan, lakon, tari, musik dengan vokal atau instrumen dan naskah yang sederhana.Tokoh utama pria dan wanita keduanya dibawakan oleh penari wanita.Selain itu ada juga tokohtokoh lain yang muncul dalam cerita ini misalnya pelawak, dewa, jin, pegawai istana, dan binatang. Pertunjukan Mak Yong diiringi alat musik seperti rebab, gendang, dan tetawak1. Sementara itu, Teater Bangsawan lebih mudah dipahami sebagai perintis dari perkembangan teater Indonesia ke arah teater modern. Hanya saja Teater Bangsawan belum menggunakan naskah tertulis seperti naskah well made play pada teater konvensional. Naskahnya hanya menceritakan garis besar atau plot dari sebuah cerita yang akan dipentaskan. Teater Bangsawan atau Wayang Bangsawan merupakansalah satu teater tradisi yang hidup di Kepulauan Riau dan Kepulauan Lingga, Indonesia, serta berkembang pula di kawasan Malaysia dan Brunei Darussalam.Teater tradisi ini dapat dimainkan oleh semua lapisan masyarakat.

1

alat musik seperti gong, tetapi bentuknya lebih kecil.

2

Pertunjukan Teater Bangsawan menggabungkan unsur musik, drama dan tari serta mengangkat kisah-kisah di lingkungan istana.Cerita-cerita yang sering diangkat adalah kisah tentang Hang Tuah Lima Bersaudara, Sultan Mahmud Mangkat Dijulang dan Laksamana Bintan. Menurut sejarah, teater ini dikembangkan oleh masyarakat Persia atau Parsi yang pindah ke India karena pertentangan ideologi di tanah airnya. Teater ini selanjutnya berkembang di Pulau Penang, Malaysia dan menyebar pula ke Indonesia, termasuk Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Tetapi teater ini lebih lekat dengan kebudayaan Riau.Di Malaysia, teater ini pada awalnya dinamakan Wayang Parsi.Kemudian kelompok wayang asal Persia ini pulang ke India dan menjual peralatan pertunjukan kepada seorang Malaysia, Mohamad Pushi.Sejak saat itu, Mohamad Pushi mengganti nama teater itu menjadi Teater Bangsawan. Kabupaten Natuna sebagai daerah pemekaran baru telah melakukan berbagai pembangunan terhadap berbagai infrastruktur untuk membenah diri sebagai sebuah kabupaten.Pembangunan ini tentunya didukung oleh APBD Kabupaten Natuna yang sangat besar yaitu sekitar 2 triliun per tahunnya. Bentuk dari pembangunan di bidang fisik dapat dilihatdari pengadaankompleks kantor bupati, pengadaan jalur transportasi laut dan udara, dan lain-lain. Semuanya itu merupakan contoh dari pembangunan yang telah dilakukan di Kabupaten Natuna.Namun, pembangunan fisik ini seharusnya diseimbangkan dengan pembangunan di bidang kebudayaannya.Tujuan

daripembangunan di bidang kebudayaan merupakan suatu usaha untuk membentuk

3

identitas kedaerahan Natuna sebagai bagian daribangsa Indonesia. Pembangunan di bidang kebudayaan ini dirasakan sangat penting disebabkan letak geografis Kabupaten Natuna yang merupakan salah satu wilayah terluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.Sehingga wilayah Natuna sangat rawan terhadap invasi dari negara-negara asing. Selain itu, sumber daya alam di daerah Natuna yaitu minyak dan gas bumi yang melimpah ruah menjadi faktor pendukung akan timbulnya suatu perselisihandengan negara-negara asing terhadap letak integritas wilayah Natuna sebagai bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perwujudan akan identitas bangsa melaluisuatu jenis kesenian tradisi yang ada di daerah Natuna, maka diharapkan nantinyaakan timbul kesadaran masyarakat setempat dan bangsa-bangsa asing bahwa Natuna merupakan bagian yang tidak bisa terlepaskan dari integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di Kabupaten Natuna terdapat berbagai jenis kesenian tradisi, baik dari jenis musik, tarian, maupun teater tradisi.Khusus untuk teater tradisi, di Kabupaten Natuna sebenarnya ada dua bentuk teater tradisi, yaitu teater tradisi Mendu dan Lang Lang Buana.Teater tradisi Mendu cukup dikenal oleh masyarakat di gugusan kepulauan ini dan telah dibukukan serta dijadikan bahan penelitian ilmiah. Istilah µMendu¶ berasal dari kata µmenghibur rindu¶. Pada zaman dahulu para saudagar, nelayan dan petani sangat senang menghibur diri pada malam hari sebagai pelepas lelah setelah mereka bekerja keras pada siang hari.Mereka memainkan musik, nyanyian, berpantun sebagai pelepas rindu pada kampung halaman.Lama-kelamaan kata menghibur rindumereka 4

singkat dengan sebutan Mendu dan akhirnya menjadi tontotan yang cukup digemari oleh masyarakat Kepulauan Natuna. Permainan Mendu merupakan pemaparan cerita yang dilakukan di lapangan terbuka dan menggabungkan unsur-unsur akting, tarian, nyanyian dan musik.Para pemainnya bermain dengan dialog yang disertakan dengan gerakan yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi tarian.Walaupun demikian,unsur tari dalam seni pertunjukan Mendu bukan sekadar tempelan atau selingan saja, melainkan sebagai unsur yang saling berhubungan dengan unsur-unsur seni lainnya yang utuh pada pertunjukan Mendu.Masih kurangnya perhatian pemerintah daerah Kabupaten Natuna terhadap kesenian tradisi yang ada di daerah ini, sehingga akhirnya membuat teater tradisi Mendu ini pun telah mulai punah oleh perkembangan zaman. Salah satu contohlain yang sangat memprihatinkan dari kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap kesenian tradisi dapat dilihat dari hampir hilangnya salah satu teater tradisi yang dulu pernah menjadi primadona di daerah Ranai 2 . Teater tradisi Lang Lang Buana merupakan salah satu teater tradisi yang lahir dan tumbuh di desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna.Teater tradisi ini dulunya merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Natuna.Namun untuk saat sekarang ini, teater tradisi Lang Lang Buana sudah tidak pernah dipertunjukkan lagi selama 22 tahun.

2

Sekarang menjadi ibukota Kabupaten Natuna

5

Lang Lang Buana merupakannama salah satu bentuk teater tradisi, nama grup dan nama judul lakon yang dipentaskan serta nama salah satu tokoh yang ada di di dalam lakon tersebut. Memang sangat jarang terjadi penyatuan sebutan istilah pada teater tradisi di Indonesia. Contohnya teater tradisi Wayang Bangsawan, nama grup Indra Bangsawan, judul lakonLaksamana Hang Tuah dan memang ada nama tokoh µHang Tuah¶ di dalam lakon tersebut. Hal serupa terjadi pada teater tradisi Mendu yang tumbuh dan berkembang di Natuna juga, tepatnya di Pulau Laut. Mendu merupakan jenis teater tradisi dan salah satu judul lakon yang dipentaskan serta nama tokoh utama di dalam lakon tersebut, namun nama grupnya beraneka ragam. Hal ini mungkin terjadi karena hanya ada satu grup yang membawakan lakon Lang Lang Buana dan grup ini hanya memiliki satu judul lakon saja yaitu µLang Lang Buana¶. Sebab lainnya mungkin dikarenakan kebiasaan masyarakatnya yang suka menamakan jenis sesuatu dengan menyebutkan nama merek atau brand imagenya. Seandainya kita ke Ranai, lalu ingin mencari tempat penyewaan motor. Tentunya di sini akan terjadi misunderstanding di dalam istilah µmotor¶. Orang Ranai menyebutkan kata µmotor¶ untuk mengatakan µpompong atau perahu bermotor¶, sedangkan mereka menyebutkan motor dengan istilah µHonda¶. Teater tradisi Lang Lang Buana dicetuskan oleh Datok Kaya Wan Mohammad Benteng sekitar akhir abad ke-19.Beliau adalah penguasa yang memimpin daerah Ranai pada masa dulu.Kekuasaan ini diatur oleh ³yayasan adat´ yang telah ada sejak kekuasaan Kerajaan Riau Lingga.Setelah beliau wafat, teater tradisi ini diteruskan

6

oleh anaknya ± Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid ± sekitar tahun 1930. Pada masa kejayaannya, teater tradisi Lang Lang Buana merupakan media hiburan yang paling diminati oleh masyarakat Natuna.Hal ini disebabkan oleh bentuk penyajiannya yang lebih interaktif dibandingkan dengan teater tradisi Mendu. Faktor lainnya disebabkan karena belum adanya alternatif hiburan bagi masyarakat Natuna, seperti radio dan televisi. Perkembangan teater tradisi ini pada saat sekarang sungguh sangat

memprihatinkan.Dampak ini disebabkan oleh tidak adanya regenarasi pemain, perubahan pola pandang masyarakat pendukungnya terhadap bentuk hiburan dan masih kurangnya peranan pemerintah daerah di dalam melestarikan teater tradisi ini. Keberadaan Kabupaten Natuna sebagai daerah penghasil migas, memungkinkanagar kendala-kendala terhadap perkembangan teater tradisi seperti ini bisa diatasi dengan adanya upaya bersama untuk mengangkat jati diri bangsa.Contoh kongkritnya bisa dilakukan dengan cara mengaktifkan kembali kelompok teater tradisi ini dan merekontruksi teater tradisi ini sesuai dengan perkembangan zaman agar teater tradisi Lang Lang Buana mampu menjawab kebutuhan zaman. Perwujudan dari upaya-upaya seperti yang tertera di atas, maka ke depannya masyarakat Natuna menemukan suatu identitas daerah berlandaskan latar belakang budayanya yang nantinya akan menjadi icon kesenianKabupaten Natuna.

Upayamerekontruksiteater tradisi Lang Lang Buana juga merupakan sebuah upaya di

7

dalam menjawab tantangan terhadap integritas wilayah Natuna di dalam keutuhanNKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Pemilihan teater tradisi Lang Lang Buana sebagai icon daerah Natuna disebabkan karena di dalam pertunjukannya terdapat begitu banyak pesan-pesan moral yang berlandaskan budaya Melayu Kepulauan.Selain itu, unsur-unsur pertunjukan yang ada di dalamnya merupakan wujud dari khazanah budaya masyarakat Melayu Kepulauan. Usaha-usaha yang dilakukan tentunya harus didorong oleh kepedulian dan kemauan bersama untuk mewujudkan sebuah icon daerah yang mampu diterima oleh masyarakat luas bahkan samapai ke taraf internasional.Hal ini harus segera dilakukan karena menyangkut identitas kita sebagai bangsa yang besar.Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan melestarikan budaya dari para leluhurnya.

1.2 Masalah Penelitian Berdasarkan latar belakang di atas, penulis terdorong untuk perlu

mendokumentasikan secara tertulis tentang teater tradisi Lang Lang Buana di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

8

1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan secara tertulis tentang teater tradisi Lang Lang Buana di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan

Riau.Pendokumentasian tertulis ini dijabarkan secara deskriptif untuk menjelaskan bagaimana sejarah munculnya teater tradisi Lang Lang Buana di Kabupaten Natuna dan bagaimana bentuk penyajian pertunjukan dan unsur-unsur di dalam teater tradisi Lang Lang Buana.Kisi-kisi tentang pendeskripsian ini dijelaskan secara kontekstual berkaitan dengan latar belakang budaya masyarakat Natuna dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan teater tradisi Lang Lang Buana.

1.4 Manfaat Penelitian Ada pun manfaat dari penelitian ini adalah : 1.4.1 ManfaatAkademis Manfaat akademis dari penelitian ini adalah sebagai sebuah usaha untuk menambah khazanah budaya dari seni pertunjukan Nusantara.

1.4.2 Manfaat Praktis Adapun manfaat praktis dari penelitian ini sebagai bahan utama untuk

merekontruksidan mewujudkannya di dalam sebuah pertunjukan teater tradisi Lang 9

Lang Buana dikotaRanai. Diharapkan nantinya akan muncul generasi-generasi penerus dari teater tradisi tersebut.

1.5 Kerangka Konsep Di dalam menyusun hasil penelitian ini, penulis memaparkannya di dalam bentuk pendeskripsian dari data yang ada di lapangan.Deskripsi adalah upaya pengolahan data menjadi sesuatu yang dapat diutarakan secara jelas dan tepat dengan tujuan agar dapat dimengerti oleh orang yang tidak langsung mengalaminya sendiri. Deskripsi ini diperlukan agar peneliti tidak melupakan pengalamannya dan agar pengalaman tersebut dapat dibandingkan dengan pengalaman peneliti lain, sehingga akan lebih mudah untuk dilakukan pemeriksaan dan kontrol terhadap deskripsi tersebut. Pada umumnya deskripsi menegaskan sesuatu, seperti: apa sesuatu itu kelihatannya, bagaimana bunyinya, bagaimana rasanya, dan sebagainya. Selain itu, penulis juga memakai sejumlah konsep lain untuk menjawab pertanyaanpertanyaan penelitian di atas. Konsep-konsep tersebut adalah : 1) Kebudayaan; 2) Kesenian; 3) Seni Pertunjukan; 4) Teater Tradisi; dan 5) Folklor. Terdapat begitu banyak pengertiaan tentang kebudayaan.Budaya secara harafiah berasal dari bahasa Latin yaitu µColere¶ yang artinya mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang. Di dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut µculture¶ yang artinya mengolah atau mengerjakan. Sementara itu, budaya atau kebudayaanjuga berasal dari bahasa Sansekerta yaitu µbuddhayah¶ yang merupakan bentuk 10

jamak dari buddhi yang berarti ³budi´ atau ³kekal´. Kebudayaan menurut ilmu antropologi pada hakikatnya adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dalam belajar (Koentjaraningrat,1996:72). Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat.Sehingga segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Kebudayaan merupakan kesuluruhan yang kompleks, di mana di dalamnya terdapat unsur-unsur yang menopang kehidupan bagi kelangsungan umat manusia. Menurut Kluckhohn (dalam Koentjaraningrat, 1996:80-81), menemukan bahwa terdapat tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia yang disebut sebagai isi pokok dari setiap kebudayaan, yaitu: bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi dankesenian. Kesenian memiliki peran penting di dalam kebudayaaan.Oleh sebab itu, kesenian dalam wujudnya menampakkan pesan-pesan budaya dari masyarakat pendukungnya melalui hasil karya yang tercipta.Pesan-pesan ini didapat dari peninggalanpeninggalan leluhur yang terwujud dalam tata cara adat istiadat, baik melalui visual (artefak, relief, bangunan dan lain-lain), verbal (petuah, pantun, dongeng, legenda dan lain-lain) maupun yang berbentuk naskah tertulis. Penjelasan di atas juga dijelaskan oleh Umar Kayam dalam bukunya ³Seni, Tradisi, Masyarakat´ yang mengatakan :

11

Kesenian tidak pernah berdiri lepas dari masyarakat.Sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan, kesenian adalah ungkapan kreativitas dari kebudayaan itu sendiri.Masyarakat yang menyangga kebudayaan ± dan dengan demikian juga kesenian ± mencipta, memberi peluang untuk bergerak, memelihara, menularkan, mengembangkan untuk kemudian menciptakan kebudayaan baru lagi. (Kayam, 1981:38)

Kesenian

di

suatu

etnik

tertentu

biasanya

berpedoman

kepada

sistem

budayanya.Kesenian itu berpedoman kepada sistem pengetahuan, kepercayaan, nilai, norma-norma yang hidup dalam budaya masyarakat pemilik kesenian tersebut. Namun tidak dapat dipungkiri dengan berkembangnya zaman maka kesenian di suatu etnik tertentu bisa saja berubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan zaman.Saat sekarang ini,kesenian di suatu etnik tertentu telah dipengaruhi oleh unsur budaya yang berasal dari agama (Hindu, Budha, Islam, Kristen) atau budaya asing. Seni pertunjukan adalah karya seni yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. Seni pertunjukan biasanya melibatkan empat unsur: waktu, ruang, tubuh si seniman dan hubungan seniman dengan penonton. (http://id.wikipedia.org/wiki/Seni_pertunjukan) Seni Pertunjukan merupakan bagian dari kesenian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat.Di dalam bermasyarakat dibutuhkan adanya komunikasi antar individunya. Seni Pertunjukan menjadi salah satu cara menyampaikan ekspresi seseorang dalam berhubungan dengan orang lain. Sehingga Seni Pertunjukan

12

merupakan

kesenian

yang

kolektif

±

membutuhkan

orang

lain

dalam

penyampaiannya. Seni pertunjukan di Indonesia tidak dapat terpisahkan dari kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di masing-masing daerah. Di Indonesia, seni pertunjukan memiliki ciri-ciri umum seperti yang dikatakan oleh Drs. Jabatin S. Bangun : Seni pertunjukan Indonesia memiliki ciri-ciri umum ; 1. Holistik, mencakup keseluruhan dari unsur-unsur yang ada di dalamnya; teater, tari, musik. 2. Kontekstual, penyajiannya berdasarkan kebutuhan. Seperti ritual agama, peristiwa daur hidup dan lain-lain. 3. Berkembang/berubah, seni pertunjukan itu mengalami perkembangan dan perubahan karena adanya persinggungan dengan kebudayaan lain 4. Tradisi lisan, penyebarannya melalui mulut dari generasi ke generasi, melalui kegiatan nyantrik«.´3 Memahami teater tradisi tentunya tidak terlepas dari kata µtradisi¶ itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tradisi adalah segala sesuatu (seperti: kepercayaan, kesenian, kebiasaan, ajaran) yang dianut secara turun temurun dari nenek moyang.

3

Penulis mendapatkan pengertian ini saat mengikuti mata kuliah Seni Pertunjukan Indonesia I pada tahun ajaran 2010/2011. Dosen Drs. Jabatin S. Bangun.

13

Sementara itu, teater merupakan bagian dari kesenian. Pengertian µseni tradisi¶ dapat diambil dari kesimpulan yang ditulis oleh A. Kasim Achmad di dalam bukunya ³Mengenal Teater Tradisi di Indonesia´ yang mengatakan: ³Seni tradisi merupakan seni yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita dari kelompok masyarakat etnik lingkungannya, yang memiliki struktur yang baku dan merupakan pakem yang selalu dianut oleh seniman lingkungan etnik yang bersangkutan.´ (Achmad, 2006:4) Penjelasan dari pengertian-pengertian di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa teater tradisi adalah suatu kesenian pada masyarakat tertentu yang dipengaruhi oleh budaya lingkungannya dan diajarkan secara turun temurun sesuai dengan pakempakem yang telah baku. Secara umum, teater tradisional di Indonesia lahir dari sastra lisan.Selanjutnya dari sastra lisan ini lahir bentuk teater tutur yang dipertunjukkan hanya dengan dituturkan.Pada tahap berikutnya, teater tutur ini berkembang menjadi teater tradisi dengan berbagai macam bentuk.Bertolak dari pengertian di atas, maka diperlukannya suatu disiplin ilmu lain, yaitu folklor. Dengan disiplin ilmu ini, maka lebihmemudahkan penulis di dalam memahami suatu jenis kesenian tradisi yang sudah hampir punah dan tidak memiliki data tertulis sama sekali. Sehingga teknik pengumpulan datanya hanya melalui wawancara dengan para pelaku teater tradisi Lang Lang Buana maupun masyarakat pendukung kesenian tersebut.Folklor adalah sebagian kebudayaan suatu koletif, yang tersebar dan diwariskan secara turun-

14

temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device). (Danandjaja, 2002:1-2).

1.6 Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam menyusun skripsi ini adalah penelitian lapangan dan studi kepustakaan.Penelitian ini bersifat deskriptif dan analitik.Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan teknik wawancara dengan informan terpilih yang notabene adalah penggiat teater tradisi Lang Lang Buana dan masyarakat yang peduli terhadap teater tradisi ini serta penggalian literatur yang mendukung.Data-data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode deduktif terhadap fakta-fakta emperik yang penulis temukan di lapangan. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan atau pendokumentasian seperti teknik pengumpulan di dalam menyusun sebuah naskah folklor. (Danandjaja,2002:12). Hal ini disebabkan karena tidak adanya bukti tertulis maupun di dalam bentuk gambar (visual) tentang teater tradisi Lang Lang Buana. Penulis menggunakan penelitan yang bersifat penelitian di tempat (field

work).(Danandjaja,2002:193).Teknik penelitian yang dilakukan penulis di dalam pengumpulan data adalah tehnik wawancara dengan pewaris aktif (active bearer) dan pewaris pasif (passive bearer)(Danandjaja,2002:28)dari teater tradisi Lang Lang 15

Buana. Wawancara yang dilakukan bersifat wawancara yang terarah (directed) dan yang tidak terarah (non directed). Para narasumber terdiri dari : 1. Pak Amar, umur 64 tahun, pekerjaan wiraswasta. Sekarang ini beliau tinggal di desa Semempang, Ranai. Sejak berumur 8 tahun, beliau telah aktif sebagai pemain teater tradisi Lang Lang Buana.beliau belajar dari Pak Sahir ± murid dari Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid. 2. Pak Anwar, umur 60 tahun, pekerjaan wiraswasta. Beliau tinggal di desa Setedong, kecamatan Tanjung Tmur Laut, Ranai. Beliau juga merupakan pemain teater tradisi Lang Lang Buana yang diajarkan oleh ayah saudaranya ± Pak Sahir. 3. Pak Bujang Ahmad, 60 tahun, pekerjaan wiraswasta. Beliau tinggal di kota Ranai. Dulunya beliau adalah seorang seniman dari berbagai jenis kesenian tradisi yang ada di Natuna. 4. Wan Suhardi, umur 47 tahun, bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Departemen Agama Kabupaten Natuna. Beliau adalah cucu dari Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid. 5. Hadisun, S.Ag, umur 38 tahun. Beliau adalah Kepala bidang Kebudayaan Dinas Pemuda, Olah raga, Pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Natuna. Sebenarnya ada dua cara penelitian lapangan yaitu teknik wawancara dan pengamatan.Namun di dalam kasus ini, penulis tidak dapat melakukan teknik pengamatan disebabkan karena tidak adanya lagi pementasan teater tradisi ini.Kendala initidak menjadi halangan untuk mengumpulkan data yang 16

rasional,empirisdan sistematis.Selanjutnya. peneliti melakukan pengujian kebenaran data wawancara dengan cara mengecek kepada informan lain berdasarkan pertanyaan yang sama. Adapun alat bantuan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah tape recorder dan handycam untuk pembuatan perekaman suara dan gambar hidup. Penelitian ini dimulai dari bulan Agustus 2010 di kota Ranai, Kabupaten Natuna. Pada bulan ini, penulis mencari informasi tentang para narasumber melalui Wan Suhardi.Bulan September-November, penulis berada di Jakarta untuk mencari referensi-referensi yang mendukung sebagai bahan tambahan di dalam penelitan lapangan. Pada bulan Desember, penulis kembali lagi Kabupaten Natuna untuk melakukan penelitian.

1.7 Rencana Isi Penelitian ini akan dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian pra bab dan bagian isi. Bagian yang merupakan pra babberisi halaman judul, halaman pengesahan, halaman persembahan,abstrak, kata pengantar, dan daftar isi. Bagian kedua adalah bagian isi yang dibagi di dalam empat bab. Bab 1 berisi tentang: 1. Latar belakang masalah, sub ini menjelaskan tentang mengapa topik penelitian masih cukup relevan dan menarik untuk diteliti. 2. Masalah penelitian, mengangkat tentang pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut penelitian ini. 17

3. Tujuan penelitian, merupakan titik tolak dari penulis untuk menetukan jawaban dari hasil penelitian ini. 4. Manfaat Penelitian, merupakan penjabaran tentang manfaat yang bisa diperoleh dari penelitian ini, baik itu manfaat teoritis maupun manfaat praktis. 5. Kerangka Konsep, berisi konsep yang digunakan penulis di dalam penelitian ini dan referensi-referensi yang digunakan. Daftar referensinya didapat dari buku, koran, majalah, makalah, blog internet, dan lain-lain. 6. Metode penelitian, menjelaskan metode yang digunakan dalam pengumpulan datadata untuk penelitian ini. 7. Rencana isi, berisi tentang sistematis penulisan skripsi ini. Di dalam Bab 2 membahas mengenai Kabupaten Natuna dilihat dari latar belakang kebudayannya dan eksistensi teater tradisi Lang Lang Buana di Kabupaten Natuna. Bab 3 membahas mengenai teater tadisi Lang Lang Buana secara menyeluruh, baik ditinjau dari bentuk pertunjukannya maupun unsur-unsur teater yang terdapat di dalamnya. Pembahasan bab ini berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan masyarakat pendukungnya dan para pelaku teater tradisi ini. Bagian terakhir merupakan bab 4 yang berisi bagian penutup yang di dalamnya terdapat kesimpulan akhir dari penelitian yang telah dilakukan dan saran-saran untuk menghidupkan kembali teater tradisi Lang Lang Buana ini.

18

BAB 2 KEBERADAAN TEATER TRADISI LANG LANG BUANA DI KABUPATEN NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU

2.1 Sekilas Tentang Kabupaten Natuna Suatu jenis kesenian tradisi tentunya tidak bisa terlepas dari budaya masyarakat pendukungnya.Untuk memahami teater tradisi Lang Lang Buana, ada baiknya mengenal latar belakang daerah Kabupaten Natuna di mana teater tradisi ini tumbuh dan berkembang.Selain itu, mengenal latar belakang budaya masyarakat

pendukungnya juga merupakan suatu hal yang penting untuk menggambarkan tentang teater tradisi Lang Lang Buana ini.

2.1.1 Sejarah Terbentuknya Kabupaten Natuna Sejarah Kabupaten Natuna tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kepulauan Riau, karena sebelum berdiri sendiri sebagai daerah otonomi, Kabupaten Natuna merupakan bagian dari Kabupaten Kepulauan Riau. Berdasarkan Surat Keputusan Delegasi Republik Indonesia Provinsi Sumatera Tengah tanggal 18 Mei 1956 menggabungkan diri ke dalam Wilayah Republik Indonesia dan Kepulauan Riau yang diberi status Daerah Otonomi Tingkat II 19

yang dikepalai Bupati sebagai Kepala Daerah yang membawahi 4 Kewedanan sebagai berikut : ‡ Kewedanan Tanjungpinang, meliputi Kecamatan Bintan Selatan, Bintan Timur, Galang, Tanjungpinang Barat dan Tanjungpinang Timur. ‡ Kewedanan Karimun meliputi wilayah Kecamatan Lingga, Kundur dan Moro. ‡ Kewedanan Lingga meliputi wilayah Kecamatan Lingga, Singkep dan Senayang. ‡ Kewedanan Pulau Tujuh meliputi wilayah Kecamatan Jemaja, Siantan, Midai, Serasan, Tambelan, Bunguran Barat dan Bunguran Timur. Kewedanan Pulau Tujuh yag membawahi Kecamatan Jemaja, Siantan, Midai, Serasan, Tambelan, Bunguran Barat dan Bunguran Timur beserta Kewedanan lainnya dihapus berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau tanggal 9 Agustus 1964 No. Up/247/5/165. Berdasarkan ketetapan tersebut, terhitung tanggal 1 januari 1966 semua daerah administratif kewedanan dalam Kabupaten Kepulauan Riau dihapus. Tertulis dalam sejarah bahwa di Kabupaten Natuna yang dulunya bernama Pulau Tujuh sebelum bergabung dalam Kepulauan Riau, telah memerintah beberapa orang ³Tokong Pulau´ (istilah yang diberikan kepada Datok Kaya di wilayah Pulau Tujuh).Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ³Tekong´ memiliki persamaan arti dengan Nakhoda,seorang yang memegang peranan dalam mengendalikansebuah

20

kapal atau perahu layar. Di dalam pembicaraan sehari-hari, ³Tokong´ artinya tanah busut yang menonjol ke permukaan laut atau tanah kukup atau batu karang yang menonjol di permukaan laut yang sangat berbahaya untuk lalu lintas kapal yang melewati area tersebut. Julukan Tokong Pulau yang diberikan kepada Datok Kaya di Pulau Tujuh mengibaratkan seorang pemimpin yang mengendalikan pemerintahan di wilayah terkecil yang waktu itu diberi hak oleh Sultan Riau sesuai ketentuan ³Yayasan Adat´ yang sudah ada pada saat itu. Silsilah dari keturunan Datok Kaya di wilayah Pulau Tujuh merupakan asal-usul orang ternama di wilayahnya dengan memiliki adat yang telah diatur sejak dahulu.Datok Kaya ynag dipilih ini memimpin wilayahnya dengan disetujui oleh penguasa Belanda setelah mendapat restu dari Sultan Riau pada masa itu. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Ketua Adat Melayu Natuna, terdapat beberapa gelar yang diberikan di dalam pembagian wilayah kekuasaan dari Datok Kaya Pulau Tujuh.Pembagiannya sebagai berikut : 1. Wilayah Pulau Siantan, dipimpin oleh Pangeran Paku Negar dan Orang Kaya Dewa Perkasa. 2. Wilayah Pulau Jemaja, dipimpin oleh Orang Kaya Maharaja Desa dan Orang Kaya Lela Pahlawan.

21

3. Wilayah Pulau Bunguran, dipimpin oleh Orang Kaya Dana Mahkota dan dua orang Penghulu serta satu orang Amar Diraja. 4. Wilayah Pulau Subi, dipimpin oleh Orang Kaya Indra Pahlawan dan Orang Kaya Indra Mahkota. 5. Wilayah Pulau Serasan, dipimpin oleh Orang Kaya Raja Setia dan Orang Kaya Setia Raja. 6. Wilayah Pulau Laut, dipimpin oleh Orang Kaya Tadbir Raja dan Penghulu Hamba diraja. 7. Wilayah Pulau Tambelan, dipimpin oleh Petinggi dan Orang Kaya Maha Raja Lela Setia. Orang-orang kaya seperti yang disebutkan di atas merupakan penguasa yang memerintah di wilayah Pulau Tujuh pada zaman dahulu.Mereka ini berkuasa dimasing-masing wilayah secara turun-temurun sampai pada akhir kekuasaannya. Seiring dengan semangat otonomi daerah maka terbentuklah Kabupaten Natuna berdasarkan Undang-undang No. 53 Tahun 1999 dari hasil pemekaran Kabupaten Kepulauan Riau yang terdiri dari enam kecamatan yaitu Kecamatan Bunguran Timur, Bunguran Barat, Midai, Serasan, Jemaja, Siantan dan ditambah Palmatak sebagai kecamatan yang baru dimekarkan. Sehingga sekarang ini Kabupaten Natuna memiliki

22

7 kecamatan, sedangkan Tambelan masih berada di wilayah Kabupaten Kepulauan Riau.

2.1.2 Keadaan Alam Letak Kabupaten Natuna secara geografis sangatlah strategis karena berada di antara jalur perdagangan internasional. Kabupaten Natuna merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan beberapa negara tetangga : Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Selatan Sebelah Barat : Vietnam dan Kamboja : Malaysia Timur dan Kalimantan Barat : Kecamatan Tambelan Kepulauan Riau : Semenanjung Malaysia dan Pulau Bintan

Secara geografis letak Kabupaten Natuna berada di antara 2 Lintang Utara sampai dengan 5 Lintang Utara dan 104 Bujur Timur sampai dengan 110 Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Natuna terdiri dari daratan dan perairan yang luas wilayahnya mencapai 141.891,2 km. Luas daratannya hanya 3.235,2 km atau 2,28 % dari luas wilayah secara keseluruhan dan terdiri dari 271 pulau besar dan kecil yang tersebar di Lautan Cina Selatan.

23

Pulau-pulau yang ada di Kabupaten Natuna dapat dikelompokkan dalam tiga gugusan pulau besar, antara lain : 1. Gugusan Pulau Anambas, terdiri dari Pulau-pulau Siantan dan Jemaja yang kaya dengan sumber daya alam minyak bumi. 2. Gugusan Pulau Natuna, terdiri dari Pulau Sedanau, Bunguran, Midai dan Pulau Laut. 3. Gugusan Pulau Serasan, terdiri dari Pulau Serasan, Subi Besar dan Subi Kecil.

2.1.3 Latar Belakang Budaya Bentuk kebudayaan di Kabupaten Natuna secara umum merupakan kebudayaan Melayu Kepulauan. Seiring berjalannya waktu dan terjadinya hubungan perdagangan dengan bangsa lain, maka terjadi penetrasikebudayaan yang berlangsung dengan damai. Oleh sebab itu, kesenian di Kabupaten Natuna banyak dipengaruhi oleh bangsa Arab dan negara-negara semenanjung seperti Siam (Thailand), Cina, Kamboja dan Vietnam. Menurut sejarahnya, penetrasi ini terjadi karena Natuna dari zaman Majapahit merupakan daerah persinggahan para pedagang dan pelayar. Di sini terjadi sistem barter barang bawaan para pedagang dan pelayar dengan makanan dan minuman dari masyarakat setempat. Bukti ini bisa dilihat dari adanya peninggalan barang-barang keramik dari Dinasti Tsung dan Dinasti Ming yang terdapat di Natuna. Penetrasi yang

24

terjadi dari bangsa Arab dan atau Islami dapat dilihat dari bentuk-bentuk kesenian yang menggunakan alat-alat musik dari Arab dan syair-syair lagu yang bernuansa Islami, seperti Berdah, Hadrah, Rebana, Kompang dan syair-syair lagu yang islami. Namun pada tahap selanjutnya, kesenian seperti ini telah membaur dengan kesenian Melayu sehingga disebut sebagai kesenian Melayu Kepulauan. Melihat dari bentuk penetrasi yang terjadi antara Natuna dengan negara-negara lain melalui sebuah hubungan perdagangan, maka secara garis besarnya penetrasi kebudayaan yang terjadi di Natuna merupakan penetrasi damai (penetration pasifique). Sementara itu, bentuk kesenian yang merupakan dampak dari penetrasi kekerasan (penetration violante)sama sekalitidak terjadi di Kabupaten Natuna. Bukti kongkrit dari penetrasi budaya yang terjadi dengan negara-negara semanjung seperti Siam dapat dilihat dari kesenian teater tradisi Mendu.Sebenarnya terdapat banyak versi tentang asal teater tradisi Mendu, ada yang mengatakan dari Kalimantan Barat dan Malaysia.Namun fakta lapangan yang telah diteliti oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Natuna menyebutkan bahwa teater tradisi Mendu berasal dari Siam.Bukti yang menguatkan fakta iniadalah adanya hikayat cerita yang mempunyai keterkaitan kisah dengan Negara Siam, seperti adanya kisah tentang gajah putih yang merupakan simbol dari Negara Thailand (Siam). Pada awalnya, Mendu tumbuh dan berkembang di daerah Pulau Laut yang secara geografis merupakan perbatasan dengan Negara Thailand.Menurut informasi masyarakat setempat, kisah Mendu diangkat memang bertujuan untuk lebih 25

mengeratkan

hubungan

peradaban

Natuna

dengan

Siam,

Vietnam

dan

Kamboja.Hubungan ini terjadi jauh sebelum Natuna masuk ke wilayah Kerajaan Riau Lingga.Bukti otentiknya terdapat pada buku sejarah yang ada di Negara Thailand.

a. Adat Istiadat Latar belakang dari adat istiadat masyarakatKabupaten Natuna merupakan perpaduan antara budaya Melayu dengan budaya bangsa Arab dan negara-negara semenanjung (Thailand, Vietnam, Kamboja, Cina).Hal ini disebabkan karena adanya hubungan perdagangan yang terjadi antara Natuna dengan negara-negara tersebut.Hubungan perdagangan ini telah terjadi cukup lama, bahkan sebelum Natuna masuk ke wilayah Kerajaan Riau Lingga. Suku bangsa di Natuna merupakan bangsa Melayu pada umumnya.Namun terjadi pergeseran terhadap budaya Melayu itu sendiri.Masyarakat yang memiliki kehidupan di daerah perairan atau pinggir pantai, lantas menyebut diri mereka dengan sebutan masyarakat Melayu Kepulauan.Selanjutnya hal ini membuat perbedaan antara masyarakat Melayu Daratan dengan masyarakat Melayu Kepulauan. Sebagian besar masyarakat Melayu Kepulauan adalah masyarakat yang sangat menjaga adat istiadatnya, terutama adat keislaman.Hal ini tercermin dalam bentuk keseniannya yang senantiasa bertolak pada hal-hal yang bersifat religi.Tetapi di dalam keadaan tertentu, hal-hal yang berbau mistik masih berlangsung karena 26

karakteristik masyarakatnya yang cenderung memakai naluri dan insting dari pada pemikiran yang lebih rasional.

b. Agama Pada umumnya, agama yang berkembang di Natuna adalah agama Islam yang dibawa oleh para pedagang dari Arab.Penggambaran jelasnya dapat dilihatpada kesenian tradisi yang ada di Natuna.Produk-produk seni tradisi yang lahir di Natuna banyak dipengaruhi oleh perpaduan antara budaya asli daerah dengan kepentingankepentingan dari penyebaran agama Islam. Keidentikan budaya Melayu adalah peleburan budaya dan nilai norma agama Islam. Hal ini bisa dilihat dari lahirnya beragam bentuk kreatifitas kesenian sebagai bagian dari wujud kebudayaan Melayu Kepulauan. Sejak penyebaran Islam, peradaban yang dikembangkan lebih pada apa yang diajarkan Islam. Komunikasi juga mengarah pada kebenaran ajaran Islam. Sebagai salah satu contoh penetrasi dari budaya Arab dan atau Islami adalah kesenian tradisi Berdah.Pertunjukan Berdah ini biasanya dimainkan pada saat upacara perkawinan masyarakat Natuna. Bentuk penyajiannya dengan menabuh gendang berdiameter 40-60 centimeter, sambil melantunkan zikir-zikir pujian kepada Allah SWT dengan harapan kedua mempelai yang mengarungi kehidupan baru mendapat berkah dan lindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Berdah ini dilakukan setelah 27

upacara akad nikah dimulai, waktunya sekitar setelah sholat isya sampai waktu sholat subuh.Berdah ini diakhiri dengan melakukan shalat subuh berjamaah.

c. Mata Pencaharian Dilihat dari keadaan alam wilayah Natuna yang merupakan daerah kelautan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pada umumnya mata pencaharian masyarakatnya adalah perikanan. Selain itu, daerah Natuna juga merupakan salah satu daerah program transmigrasi yang telah berlangsung sejak pemerintahan Orde Baru.Dengan berkembangnya Natuna sebagai kabupaten yang memiliki hasil migas terbesar di Indonesia, maka mata pencaharian penduduknya juga berkembang. Kabupaten Natuna diakui sebagai daerah penghasil migas sejak tahun 2002.Padahal eksploitasi terhadap sumber daya alam berupa minyak dan gas di Natuna telah berlangsung sejak tahun 1969.Sejak saat itu, daerah Natuna dipenuhi oleh berbagai macam aktifitas ekonomi dengan banyaknya pendatang dari luar daerah Natuna.Para pendatang iniberprofesi di berbagai bidang, seperti pedagang, pegawai negeri sipil, dan lain-lain.

28

d. Bahasa Berlandaskan bahwa budaya Melayu Kepulauan yang menjadi latar belakang kebudayaan di Natuna, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu.Namun bahasa Melayu yang ada di Natuna berbeda dengan bahasa Melayu pada umumnya.Bahkan di setiap pulau yang ada di Natuna memiliki berbagai macam bahasa Melayu yang berbeda-beda.Bahasa Melayu Ranai cukup jauh berbeda dengan bahasa Melayu Midai, Serasan dan pulau-pulau lainnya. Contohnya, kata µtidak ada¶ di Ranai diucapkan dengan dengan kata µndek de¶, di Midai dengan kata µndak isik¶ dan di Serasan dengan kata µnaroh¶. Begitulah sedikit contoh yang menyatakan bahwa Natuna memiliki beragam sub-budaya yang mendukungnya.

2.1.4 Jenis-jenis Kesenian Di Kabupaten Natuna terdapat beberapa jenis kesenian tradisi seperti Hadrah, Mendu, Berdah, Kompang, Lang Lang Buana dan lain-lain. Secara garis besar, kesenian tradisi yang cukup mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah Natuna adalah tari danmusik tradisi yang telah dikreasikan. Hal ini bisa dilihat dari prestasi yang diperolehpada event-event tingkat nasional.Sanggar Tari Kabupaten Natuna pernah mendapatkan Juara II Tingkat Provinsi dan selama dua tahun berturut-turut mendapat peringkat III Nasional. Sementara itu, seni pertunjukan yang berbentuk teater seperti Mendu dan Lang Lang 29

Buana masih sangat kurang diperhatikan oleh pemerintah Kabupaten Natuna.Hal yang lebih memprihatinkan yaitu teater tradisi Lang Lang Buana terakhir melakukan pementasan pada tahun 1989.Hal ini berarti teater tradisi ini telah cukup lama tidak dipertunjukkan lagi.Sebenarnya teater tradisi ini dulunya pernah menjadi primadona tontonan masyarakat Natuna pada sekitar tahun 1940-1980.Teater tradisi Lang Lang Buana hanya ada di daerah Bunguran Timur (Ranai) dan hanya ada satu kelompok yang menggelarkan pertunjukan teater tradisi ini.Hal ini berbeda dengan teater tradisi Mendu yang penyebarannya lebih menyeluruh ke pulau-pulau lain seperti Pulau Midai, Pulau Laut, Serasan dan Bunguran Barat.Selain itu, kelompok-kelompok dari teater tradisi Mendu hampir ada di setiap kecamatan.Namun sekarang ini, secara perlahan-lahan kelompok-kelompok dari teater tradisi ini juga terkena imbas dari perkembangan zaman.

2.2 Sejarah dan Eksistensi Lang Lang Buana 2.2.1 Sejarah Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa pelaku teater tradisi ini yang menjelaskan bahwa teater tradisi Lang Lang Buana diprakasai oleh Datok Kaya Wan Mohammad Benteng.Pada waktu dulu, Datok Kaya ini adalah tokoh yang memimpin di daerah Ranai.Sistem pemerintahan diatur oleh Datok Kaya yang memimpin wilayahnya dengan disetujui oleh penguasa Belanda setelah mendapat restu dari Sultan Riau yang

30

memerintah pada masa itu. Datok Kaya Wan Mohammad Benteng juga merupakan pemimpin dari kelompok teater tradisi yang secara spontan diberi nama ³Lang Lang Buana´, sesuai dengan nama tokoh sentral yang ada di dalam lakon sekaligus judul dari lakon itu sendiri. Secara terperinci, tidak ada yang mengetahui kapan tepatnya teater tradisi Lang Lang Buana ini berdiri dan atas dasar apa pertunjukan ini dicetuskan. Sebagai garis besarnya, sejarah teater tradisional di Indonesia dapat ditarik kesimpulannya dari penjelasan A. Kasim Achmad di dalam bukunya ³Mengenal Teater Tradisional di Indonesia´ : Sejarah teater tradisional dimulai sejak sebelum jaman Hindu. Pada jaman itu, ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual, hingga unsur teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. (Achmad, 2006:36)

Secara umum, pengembangan teater tradisional di Indonesia menuju ke bentuk pementasannya yang bermain di atas panggung ± seperti halnya dengan Lang Lang Buana ± dapat pula diambil kesimpulan bahwa kehidupan teater tradisional berkembang dengan datangnya pengaruh budaya lain yang masuk ke Indonesia. hal ini disebabkan karena Indonesia merupakan jalur persinggahan pelayaran dari negara lain. Maka terjadinya pengadaptasian dengan budaya asli Indonesia.Teater Bangsawan merupakan perintis menuju ke pertunjukan yang menggunakan panggung. (Achmad,2006:29-34).Tetapi berdasarkan hasil wawancara dengan para 31

pemain kesenian ini,teater tradisi Lang Lang Buana sama sekali tidak memiliki keterikatan langsung dengan teater Bangsawan. Menurut cerita sejarahnya, teater tradisi Lang Lang Buana lebih dulu lahir dibandingkan dengan Teater

Bangsawan.Sejak kelahirannya, pementasannya memang dilakukan di atas panggung, meskipun bentuk panggungnya belum berbentuk panggung yang layak untuk sebuah pementasan.Teater Bangsawan mulai dikenal oleh masyarakat Natuna sekitar pada tahun 1970. Penggunaan panggung yang tidak menginjak tanah ini semata-mata karena syarat pementasannya yang tidak membenarkan para pemainnya untuk menginjak tanah selama pertunjukan berlangsung.Persyaratan ini sungguh sangat berbeda dari teater tradisi Mendu yang sama-sama tumbuh dan berkembang di daerah Natuna. Untuk lebih jelasnya tentang hal ini, Pak Amar mengatakan : Cerita Lang Lang Buana tu tak boleh di tanah.Karena orang kayangan. Orang keindraan sana tidak dibenarkan untuk menginjak tanah di bumi ini. Tapi kalau Mendu yang ndak boleh di panggung, dia harus main di tanah4

Sejak wafatnya Datok Kaya Wan Mohammad Benteng, kepemimpinan teater ini diteruskan kepada anaknya ± Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid yang berprofesisebagai seorang guru SR (Sekolah Rakyat).Pada saat itu, Di pulau Ranai

4Berdasarkan

hasil wawancara dengan Pak Amar.Pada tanggal 16 Desember 2010 di desa Semempang.

32

hanya ada satu sekolah yang berada di desa Tanjung. Jarak antara desa Tanjung dengan desa Kelanga tidak begitu jauh.Di desa Kelanga inilah, Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid mulai mengajak dan melatih masyarakat setempat untuk terlibat di dalam pementasan teater tradisi Lang Lang Buana. Pada masa kepemimpinan Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid, pertunjukan teater tradisi Lang Lang Buana sangat digemari oleh masyarakat Ranai.Beliau juga yang membuat catatan yang berisi tentang alur cerita Lang Lang Buana.Sekitar tahun 1946, kelompok teater tradisi ini telah melakukan pertunjukan berkeliling kampung.Sebagai seorang Khalifah5,Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid sekaligus merangkap sebagai Syeh6.

2.2.2 Eksistensi a. Pebandingan Masa Dulu dan Sekarang Teater tradisi Lang Lang Buana dulunya merupakan tontonan primadona masyarakat Ranai.Hal ini disebabkan pada saat itu daerah ini belum memiliki media hiburan praktis seperti televisi dan radio.Sehingga teater tradisi ini merupakan salah satu
5Orang yang dipercaya untuk memimpin kelompok teater tradisi Lang Lang Buana. 6Ada

dua pengertian Syeh .Pertama, orang yang mempunyai kekuatan gaib untuk melindungi pemain dari pengaruh jahat selama pertunjukan berlangsung.Kedua, sebutan untuk roh makhluk halus yang masuk ke dalam tubuh pemain selama pertunjukan berlangsung.

33

alternatif hiburan, selain Mendu.Penggambaran kebutuhan hiburan seperti ini juga dijelaskan oleh A. Kasim Achmad di dalam bukunya ³Mengenal Teater Tradisional di Indonesia : Di jaman lampau, masih jarang atau bahkan belum ada hiburan masyarakat di pedesaan, belum ada film atau televisi.Untuk memenuhi kebutuhan bersantai, diperlukan adanya hiburan.Masyarakat di pedesaan yang umumnya berprofesi sebagai petani, berusaha mengadakan ³pertunjukan´ untuk menghibur kelompok mereka sendiri. (Achmad, 2006:91).

Pada masa itu, masyarakat beramai-ramai datang untuk menyaksikan pertunjukan Lang Lang Buana.Walaupun perjalanannya harus ditempuh dengan berjalan kaki, namun antusiasme penontonnya tidak berkurang.Pertunjukannya yang berlangsung tujuh malam selalu dipadati oleh penonton. Pementasan-pementasan yang dilakukan bukan hanya di sekitar pulau Ranai, tetapi sampai ke pulau-pulau lainnya seperti Pulau Tiga, Kelarik, Sedanau, Midai dan Serasan.Padahal jarak yang ditempuh harus menggunakan perahu kecil dan membutuhkan waktu cukup lama. Para pelaku teater tradisi ini menggunakan dana sendiri untuk memenuhi kebutuhan pementasan dan akomodasi selama perjalanan. Setibanya di daerah tujuan, mereka melakukan pementasan secara sukarela tanpa memungut bayaran. Setelah Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid wafat, kelanjutan dari teater tradisi ini diteruskan oleh Pak Sahir yang merupakan salah satu murid dari Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid. Pewarisan kepemimpinan teater tradisi Lang lang Buana ini 34

tidak sangat mudah. Seorang Khalifah yang ditunjuk merupakan orang yang layak untuk memimpin.Khalifah yang dipilih harus menguasai mantra yang diturunkan secararahasiaoleh Khalifah sebelumnya. Pentingnya untuk menjaga mantra ini dijelaskan oleh Pak Amar : Kalau dulu, kalau lah disalin langsung diganti.Misalnya saya dah berhenti betul, itu siapa yang saya tengok yang layak untuk mengganti saya.Nah, di situ saya turunkan. Tak sembarang orang yang dikasih tu7

Cara pengajaran seperti ini juga dijelaskan oleh Putu Wijaya dalam bukunya µTeater Spiritual¶ : Dalam teater tradisional Indonesia, istilah penyutradaraan sebenarnya tidak dikenal.Di dalam teater tersebut dikenal µpelatih¶ yang sekaligus bertindak sebagai µguru¶.Orang ini tidak hanya melatih keterampilan, tetapi juga seringkali membentuk kepribadian seniman. Praktek latihan dan proses berguru tidak dilakukan dengan cara duduk di dalam kelas dalam jadual-jadual yang pasti, tapi dalam bentuk magang atau nyantrik sekaligus menjadi asisten dan pembantu pribadi. (Wijaya, 1999:159)

Dampak dari cara pengajaran seperti ini, makaKhalifah penerus tentunya belajar tentang semua unsur-unsur teater tradisi ini berdasarkan pengalamannya selama menjadi pemain. Pada jaman kepemimpinan Pak Sahir, kaum perempuan masih belum boleh bermain di dalam teater tradisi ini.Sehingga peran tokoh wanita yang ada di dalam lakon Lang Lang Buana, seluruhnya dimainkan oleh laki-laki. Pertunjukannya masih berlangsung
7Berdasarkan

hasil dengan wawancara dengan Pak Amar.Pada tanggal 26 Desember 2010 di desa

Kelanga.

35

selama tujuh malam berturut-turut, namun pernah juga dimainkan selama tiga malam berturut-turut. Untuk acara perkawinan, biasanya teater tradisi ini dipentaskan selama tiga malam.Pementasannya bertujuan untuk memeriahkan suasana sebelum hari perkawinan berlangsung.Sementara itu, pementasan untuk acara perayaan

berlangsung selama tujuh malam.Selama itu pula para pemain hanya mendapatkan bayaran berupa makan dan minum di rumah orang yang melangsungkan perkawinan.Hal ini wajar terjadi karena pada dasarnya teater tradisi di Indonesia ± khususnya di pedesaan ± melakukan pementasan bukan bertujuan untuk menghasilkan uang. Di dalam bukunya ³Mengenal Teater Tradisional di Indonesia´, A. Kasim Achmad menjelaskan : Sifat kegotongroyongan dalam masyarakat terasa sangat menonjol.Dalam menyiapkan pertunjukan teater rakyat, semua dilakukan dengan saling membantu.Pembiayaan untuk keperluan pertunjukan ditanggung oleh yang ingin mengadakan pertunjukan, yaitu orang yang punya hajat, orang terpandang yang mampu untuk membiayainya. (Achmad, 2006:85).

Cerita yang dimainkan masih tetap berpegang pada catatan yang ditulis oleh Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid.Hampir tidak ada perubahan pada jalan cerita dan tata cara pementasannya.Masyarakat di Ranai sangat memegang teguh keyakinan yang diturunkan oleh para leluhurnya. Dengan kata lain, teater tradisi adalah teater dalam suatu masyarakat yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang pada suatu etnik tertentu dan memiliki pakem yang selalu dianut oleh seniman di lingkungan etnik tersebut.

36

Setelah Pak Sahir wafat, teater tradisi ini dilanjutkan oleh para muridnya ± Pak Amar, Pak Anwar, Pak Bujang Isa, Pak Darmawan dan Pak Hasyim. Mereka inilah yang terus tetap mencoba untuk menjaga kelestarian warisan leluhur ini. Pada tahap selanjutnya, telah terjadi sedikit perubahan pada bentuk penyajian pementasan teater tradisi Lang Lang Buana.Setelah Pak Sahir wafat, kaum perempuan telah boleh ikut bermain di dalam pertunjukan Lang Lang Buana dan waktu pementasannya telah dipersingkat.Pertunjukan untuk acara perkawinan hanya berlangsung selama satu malam saja.Sementara itu, durasi pertunjukan untuk acara perayaan telah disingkat menjadi tiga malam.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Teater Tradisi Lang Lang Buana Perubahan pola pandang masyarakat untuk memenuhi kebutuhan terhadap hiburan terjadi setelah adanya alternatif hiburan seperti radio dan televisi.Masyarakat lebih suka berdiam diri di rumah sambil mendengarkan radio atau pun menonton televisi.Namun hal ini bukan menjadi penyebab teater tradisi Lang Lang Buana tidak lagi melakukan pementasan selama 22 tahun.Sebenarnya minat masyarakat Natuna terhadap teater tradisi ini masih cukup besar.Kesimpulan ini dapat diambil dari pernyataan yang diucapkan oleh Pak Anwar: Kalau masyarakat di Natuna, di Ranai ni, rasa-rasa kalau kami buka cerite 37

Lang Lang Buana, siape yang dengar mungkin berkunjung ke tempat kami main tok.8

Kendala yang paling utama adalah tidak adanya regenerasi pemain.Hal ini disebabkan oleh berkurangnya minat dari generasi sebelumnya untuk kembali bermain di dalam teater tradisi Lang Lang Buana.Hal ini diungkapkan oleh Pak Amar

yangmengatakan: Jadi, kalau sekarang ni kadang-kadang mereka tu ndak mau. Dari pemainpemainnya tu tak mau lagi diajak untuk main.Dia lebih senang nonton tipi.Gengsi, kuno, katanya.Kadang-kadang kita sebagai untuk mimpin ini, untuk mengajak mereka bermain kadang-kadang jadi sakit hati.9

Kendala perkembangan seperti ini memang biasa terjadi pada hampir semua kesenian tradisi di Indonesia.Regenarasi pemain merupakan faktor penting yang

mempengaruhi perkembangan suatu kesenian tradisi. Sebenarnya ada tiga tonggak penyangga yang membuat suatu kesenian tradisi itu akan selalu ada. Pertama, regenerasi pemain.Kedua, apresiasi masyarakat pendukungnya.Ketiga, peran serta pemerintah di dalam menjaga kelangsungan suatu kesenian tradisi.Ketiga faktor ini saling berkaitan.10

8Berdasarkaan

hasil wawancara dengan Pak Anwar.Pada tanggal 15 Desember 2010 di desa

Setedong.
9Berdasarkan
10

hasil wawancara dengan Pak Amar.Pada tanggal 16 Desember 2010 di desa Kelanga.

Penulis mendapatkan pengertian ini saat mengikuti mata kuliah Apresiasi Seni I pada tahun ajaran 2009/2010. Dosen Drs. H. S. Taryanto.

38

Faktor ketiga yaitu peran serta pemerintah - khususnya pemerintah daerah Natuna ± di dalam menjaga kelestarian teater tradisi ini dirasakan masih sangat kurang. Mereka lebih memfokuskan pengembangan pada kesenian tradisi taridan musik yang telah dikreasikan. Sementara itu, kesenian tradisi yang berbentuk teater seperti Mendu dan Lang Lang Buana memang sangat kurang diperhatikan.Bahkan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan KabupatenNatuna ± Bapak Hadisun, S.Ag ± juga mengakuinya : Dan memang secara keseluruhan, Lang Lang Buana ini sampai sekarang tidak terorganisasi.Nah, itu seperti yang saya katakan tadi, ini mungkin masukan buat kita coba sedapat mungkin Lang Lang Buana ini hidup lagi.11

11

Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Hadisun, S.Ag.pada tanggal 20 Desember 2010 di kompleks kantor Bupati Natuna ± Bukit Arai.

39

BAB 3 BENTUK DAN UNSUR-UNSUR TEATER TRADISI LANG LANG BUANA

3.1 Bentuk Pertunjukan Pada umumnya bentuk penyajian teater tradisi di Indonesia didasarkan pada kebiasaan bermain yang mentradisi dengan mengikuti pakem yang sudah digariskan oleh generasi sebelumnya.Para pelaku teater tradisi Lang Lang Buana memang secara turun-temurun sangat memegang teguh prinsip-prinsip dasar pementasan yang diturunkan oleh guru mereka. Di dalam menyampaikan ceritanya, teater tradisi Lang Lang Buana menggunakan multi media ekspresi terpadu (Integrated multy media expression) 12 , di mana di dalamnya terdapat berbagai unsur yang menyatu.Teater tradisi Lang Lang Buana menggabungkan unsur-unsur ritual, lakon, tari, nyanyian dan musik yang menjadi satu kesatuan di dalam pementasannya. Lakon yang dibawakan oleh teater tradisi Lang Lang Buana berisi cerita petualangan seorang pemuda untuk mewujudkan mimpinya memperistri seorang tuan puteri di

12

Diktat dari mata kuliah Teater Asia untuk semester III pada tahun ajaran 2009/2010. Pengertian ini tercantum dalam Bab I tentang Mengenal Timur dan Barat. Dosen A. Kasim Achmad.

40

kayangan. Gaya penyajian ceritanya bisa dikatakan merupakan penggabungan dari tragedi dan komedi. Sebenarnya di dalam pementasan teater tradisi belum mengenal istilah gaya permainan tragedi maupun komedi. Mereka bermain lebih banyak dengan menggunakan gayalawakan
13

yang merupakan gaya permainan yang hampir

dilakukan dalam setiap pertunjukan teater tradisional di Indonesia. Bahkan porsi lawakan ini sering berlebihan dan selalu mengikuti keinginan penonton.Biasanya terdapat beberapa tokoh yang berperan untuk menghidupi suasana lawakan ini di dalam pertunjukannya.Semakin banyak penonton yang tertawa, maka semakin bertambah pula lawakan yang disuguhkan oleh di dalam pementasannya.

3.1.1 Alur Cerita Cerita petualangan seorang pemuda untuk memperistri seorang tuan puteri di kayangan yang ada dalam lakon Lang Lang Buana ini pernah dibuat catatan yang ditulis oleh Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid. Catatan tersebut berisi tentang garis besar dari lakon yang dipentaskan.Lakon ini dulunya dipentaskan selama tujuh malam berturut-turut. Setelah beliau wafat, catatan itu diturunkan kepada muridnya ± Pak Sahir.Sejak teater tradisi ini tidak pernah dipentaskan lagi, catatan ini disimpan oleh Pak Wan Suhardi yang merupakan cucu dari Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid.

13Gaya

lawakan yang disebut farce (banyolan) adalah gaya permainan komedi yang berlebihan, kasar dan banyak menggunakan kelucuan yang mengutamakan gerak lahiriah.

41

Sekitar belasan tahun yang lalu, Pak Wan Suhardi dan temannya ± Pak Baharudin ± telah berencana untuk mementaskan kembali teater tradisi ini. Disebabkan oleh beberapa kendala, pementasan itu batal terlaksana.Sejak saat itu, catatan tersebut disimpan oleh Pak Baharudin. Dari hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa catatan itu telah hilang.Saat ditanyakan keberadaannya pada Pak Baharudin, dengan jujur dia berkata bahwa catatan itu sudah tidak ada lagi. Secara garis besarnya, kisah ini menceritakan tentang perjalanan seorang pemuda bernama Indra Bumaya dalam mewujudkan mimpinya untuk memperistri seorang puteri yang bernama Tuan Puteri Kesuma Dewi. Keteguhan niatnya ini muncul setelah seorang Peri dari kayangan menyisipkan gambar wajah tuan puteri itu di dalam mimpinya. Adapun niat dari Peri ini adalah untuk membalas kekesalannya pada seorang raja tertua di keindraan/kayangan. Sehabis bangun dari mimpinya, ia bertekad untuk mencari tuan puteri yang ada di dalam mimpinya tadi. Tuan puteri ini merupakan anak dari salah satu raja di kayangan ± Raja Puspa Indra. Awalnya Indra Bumaya ini dulunya merupakan seorang pemuda keturunan raja di kayangan. Di masa mudanya, ia telah berbuat suatu tingkah/ulah yang kurang menyenangkan bagi Raja Lang Lang Buana sebagai penguasa tertinggi di kayangan. Maka pemuda ini dikutuk oleh Raja Lang Lang Buana dengan menjatuhkannya kebumi. Sesampainya di bumi, ia dilahirkan sebagai manusia yang baru.

42

Selama perjalanannya, Indra Bumaya mendapatkan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Peri.Perjalanan ini melewati tujuh kerajaan yang berisi berbagai rintangan dan halangan. Setiap ia tiba di sebuah kerajaan, maka ia akan berguru dengan raja dari kerajaan tersebut. Setelah berguru dan diangkat menjadi anak oleh raja, maka ia akan diberikan bekal untuk bisa meneruskan perjalanannya. Bekalnya itu berupa ilmu kesaktian maupun sebuah alat gaib yang sewaktu-waktu akan berguna di dalam perjalanannya. Selain itu, ia juga akan mendapatkan petunjuk selanjutnya yang harus dilewati untuk bisa sampai ke kayangan. Penyusunan alur cerita ini berdasarkan hasil wawancara dengan para pelaku teater tradisi ini.Kendala keterbatasan data dan ditambah dengan faktor ingatan dari para narasumber yang telah berumur rata-rata 60 tahun ke atas, maka cerita Lang Lang Buana yang sebenarnya dimainkan selama tujuh malam berturut-turut ini tidak bisa diceritakan secara mendetail. Namun, penyusunan alur cerita ini dirasakan sudah cukup memadai untuk bisa dipentaskan kembali sebagai sebuah langkah awal di dalam upaya merekontruksi teater tradisi ini sesuai dengan tuntunan

zaman.Pemilahan-pemilahan alur cerita ini juga dirasakan cukup sesuai dengan perencanaan pementasan yang hanya berlangsung selama satu malam. Untuk pengumpulan data dari alur cerita Lang Lang Buana, penulis lebih menitikberatkan pada kejadian-kejadian yang dianggap tidak akan mengurangi bahkan merubah dari bangunan dramatik yang terdapat di dalam lakon Lang Lang Buana. Berikut ini adalah alur cerita yang dapat disimpulkan oleh penulis berdasarkan hasil 43

wawancara dengan beberapa narasumber: 1. Suasana di salah satu kerajaan di keindraan/kayangan. Seorang raja bersabda-peri kepada para pegawainya. Ia menanyakan tentang perihal apa yang sedang terjadi di keindraan ini. Seorang menteri menjelaskan bahwa telah terjadi kekacauan disebabkan oleh seorang Peri. Alasan Peri ini membuat kekacauan karena anaknya telah diambil begitu saja oleh Raja Puspa Indra menjadi Inang kerajaan tanpa bermusyawarah terlebih dahulu dengannya. 2. Setelah membuat kekacauan di kayangan, Peri ini turun ke bumi. Ia bermaksud ingin membalas dendam terhadap perbuatan Raja Puspa Indra yang semenamena. Adapun caranya yaitu ia memasukkan secara gaib µsebuah foto¶ seorang tuan puteri yang cantik jelita di dalam mimpi seorang pemuda yang bernama Indra Bumaya. Tuan puteri yang ada di dalam mimpi Indra Bumaya adalah anak dari Raja Puspa Indra. dengan cara ini, diharapkan nantinya Raja Puspa Indra akan mendapatkan malu karena mempunyai menantu µorang bumi¶ dan bukan dari keturunan raja kayangan. 3. Setelah bangun dari tidurnya, Indra Bumaya langsung tergila-gila pada tuan puteri yang hadir di dalam mimpinya. Tanpa berpikir lagi, ia memutuskan niatnya untuk bisa bertemu dengan tuan puteri tersebut dan mempersuntingnya untuk dijadikan istri. 4. Di dalam pengembaraan untuk mewujudkan mimpinya tadi, Indra Bumaya bertemu dengan Peri. Setelah berbincang menanyai maksud dan tujuan pengembaraan dari Indra Bumaya, Peri memberi petunjuk bahwa 44

sesungguhnya tuan puteri yang dicari itu berada di kayangan. Untuk bisa naik ke kayangan, Peri memberi petunjuk kepada Indra Bumaya agar dia menemui Raja Lang Lang Buana. 5. Kerajaan pertama yang ditemuinya adalah sebuah kerajaan yang diperintah oleh Raja Marak Emas. Kerajaan ini berada di tengah-tengah lautan berapi. Meskipun pada awalnya terjadi sedikit perselisihan, namun akhirnya Raja Marak Emas mengangkat Indra Bumaya sebagai anaknya. Raja Marak Emas sangat menyayanginya sehingga meminta Indra Bumaya untuk tetap tinggal di kerajaan ini dan bersedia untuk menjadi pewaris tahta kerajaan ini. Tetapi niat Indra Bumaya telah bulat, ia harus menemui tuan puteri yang ada di dalam mimpinya. Raja Marak Emas pun merelakan anak angkat kesayangannya melanjutkan kembali perjalanannya dengan terlebih dahulu membekalinya dengan berbagai ilmu kesaktian. Berangkatlah Indra Bumaya mengikuti arah kaki menuntunnya. 6. Setelah mengembara sekian lama, sampailah dia di suatu kerajaan yang dihuni oleh bangsa Jin. Kerajaan ini berada di atas gunung yang berbatu dan dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raja Jin Firma Logam. Di tempat ini, Indra Bumaya harus mengambil suatu alat yang bernama µJabul Hikmat¶. Alat ini berguna sebagai penunjuk arah untuk menemukan tangga naik ke kayangan. Raja Jin Firma Logam menantang Indra Bumaya jika ia ingin mendapatkan alat tersebut. Ternyata Raja Jin Firma Logam sebenarnya hanya ingin menguji kegigihan Indra Bumaya dalam mewujudkan mimpinya. Setelah itu, Raja Jin Firma Logam membiarkan Indra Bumaya melanjutkan perjalanannya. 45

7.

Perjalanan Indra Bumaya selanjutnya melewati suatu hutan belantara. Di sini ia bertemu dengan para hantu penghuni hutan itu. Terjadi pertengkaran yang kocak antara Indra Bumaya dengan para hantu penghuni hutan tersebut. Akhirnya datang Peri yang menyudahi pertengkaran konyol itu. Selanjutnya, Peri memberi petunjuk agar Indra Bumaya pergi menemui Raja Jin Firma Gangga di tasik µJanang Lera¶.

8.

Setibanya di tasik µJanang Lera¶, dia tidak menemui satu orang pun di sekitar daerah itu. Maka dia bertapa sambil berhanyut di atas sehelai daun teratai. Di dalam pertapaannya itu, Raja Firma Gangga datang memberi ilmu kesaktiannya sebagai tambahan bekal perjalanannya menuju ke kayangan.

9.

Pengembaraan Indra Bumaya berlanjut melewati sebuah padang µantah berantah¶. Dari kejauhan ia melihat seorang puteri yang sedang duduk seorang diri. Puteri itu terlihat terkejut ketika Indra Bumaya datang menghampirinya. Setelah terjadi pembicaraan antara keduanya, puteri yang bernama Cendra Lela Nurlela ini memohon agar Indra Bumaya mau mengangkat dia sebagai saudara. Indra Bumaya menyetujuinya. Duduklah mereka berdua di tengah-tengah padang µantah berantah¶.

10. Disaat mereka sedang asyik bercengkrama, tiba-tiba datang seorang pemuda yang bernama Johan Safri. Ternyata pemuda ini adalah tunangan dari puteri Cendra Lela Nurlela. Dia pergi ke padang itu dengan maksud ingin berburu dan sekaligus ingin menemui tunangannya. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat tunangannya sedang duduk bercengkrama dengan seorang pemuda yang tidak 46

dikenalinya. Tanpa bertanya terlebih dahulu, Johan Safri langsung menyerang Indra Bumaya. Terjadilah pertempuran yang sangat sengit di padang itu dikarenakan mereka berdua memiliki kesaktian ilmu yang sama-sama kuat. 11. Pertempuran yang begitu dahsyat ini membuat daerah itu goncang. Berita pertempuran itu terdengar sampai ke kayangan. Raja Lang Lang Buana yang merupakan raja tertinggi di seluruh kayangan akhirnya turun ke bumi untuk meleraikan mereka berdua. Setelah diceritakan perkara yang sebenarnya, Johan Safri meminta maaf kepada Indra Bumaya karena ia telah salah paham. Untuk menembus kesalahannya, Johan Safri berjanji bersedia menemani Indra Bumaya mewujudkan mimpinya bertemu dengan Tuan Puteri Kesuma Dewi. Indra Bumaya pun mengangkat Johan Safri sebagai saudaranya. 12. Sampailah Indra Bumaya dan Johan Safri di puncak gunung berapi. Di tempat ini terdapat suatu kerajaan yang bernama Kerajaan Dewa Sakti. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raja Indra Sakti. Sebelum bertemu dengan Raja Indra Sakti, Indra Bumaya dan Johan Safri mendapatkan rintangan dari Jin penghuni gunung berapi. Namun rintangan ini dapat diatasinya. 13. Setelah bertemu dengan Raja Indra Sakti, ia menceritakan maksud dan tujuannya agar bisa naik ke kayangan dan bertemu dengan tuan puteri yang ada di dalam mimpinya. Melihat ketulusan dan keseriusan pemuda ini, Raja Indra Sakti mengangkat Indra Bumaya menjadi anak angkatnya. Dia mengajarkan pada Indra Bumaya berbagai ilmu kesaktian sebagai bekal selama perjalanan dan memberi sebuah alat gaib yang bernama µBaqdi Zarah¶. Alat ini nantinya akan berfungsi 47

sebagai tangga untuk bisa naik ke kayangan. 14. Sebelum meninggalkan Kerajaan Dewa Sakti, Indra Bumaya dibelah dadanya. Pembedahan ini bertujuan untuk membersihkan tubuh dan jiwanya dari darah kotor yang telah ada sejak ia tinggal di bumi. Tanpa pembedahan ini, mustahil ia akan bisa naik ke kayangan. Untuk bisa naik ke kayangan, tubuh dan jiwa harus bersih dari segala kotoran yang ada di bumi. 15. Dengan berbekal ilmu dan alat yang diberi oleh para raja selama perjalanannya, maka berangkatlah Indra Bumaya dan Johan Safri menuju ke suatu padang yang ditunjuk oleh µJabul Hikmat¶ tadi. Di padang ini, Indra Bumaya melempar

µBaqdi Zarah¶ tadi dan seketika muncullah tangga naik menuju ke kayangan. 16. Segera setelah sampai di kayangan, mereka mencari tahu keberadaan Tuan Puteri Kesuma Dewi dan cara agar bisa bertemu lagsung dengannya. Tuan Puteri Kesuma Dewi telah diasingkan oleh ayahndanya ± Raja Puspa Indra ± di sebuah Mahligai yang berada di atas ketinggian. Ternyata pada saat itu, tuan puteri telah ditunangkan dengan seorang anak raja di kayangan. Untuk mengelabui dari ketatnya penjagaan para pengawal di dalam dan di luar Mahligai, maka mereka memutuskan menggunakan ilmu kesaktian untuk bisa berubah wujud. Indra Bumya berubah menjadi seorang anak kecil dan Johan Safri berubah menjadi seorang nenek tua. 17. Setelah berubah wujud, mereka menari di dalam taman bunga yang berada tidak jauh dari Mahligai. Kemahiran mereka menari membuat heboh orang-orang yang sedang berada di situ. Tidak membutuhkan waktu yang lama, orang-orang 48

semakin ramai berkumpul di taman bunga itu untuk menyaksikan kebolehan seorang nenek tua dan cucunya menari. 18. Kehebohan yang terjadi di taman bunga itu juga diketahui oleh inang-inang. Inang pengasuh langsung melaporkan perihal itu kepada Tuan Puteri Kesuma Dewi. Mendengar kabar itu, tuan puteri memerintahkan para pengawal menjemput nenek tua itu dan cucunya naik ke Mahligai untuk menghibur dirinya. 19. Sesampainya di atas Mahligai, cucu dari nenek tua ini membuat ulah. Ia bertingkah tidak mau menari. Bila cucunya tidak mau menari, maka nenek tua itu pun tidak mau menari. Nenek tua ini menjelaskan kepada tuan puteri mengapa alasan cucunya tidak mau menari. Cucunya itu minta digendong. Tuan puteri menyuruh inang pengasuh untuk menggendong anak kecil itu, namun anak kecil itu menolaknya. Mau tidak mau, akhirnya tuan puteri sendiri yang menghampiri anak kecil itu untuk digendong. Setelah digendong oleh tuan puteri, nenek tua itu pun menari. 20. Alangkah kagetnya Tuan Puteri Kesuma Dewi ketika menyadari perubahan wujud yang terjadi pada anak kecil yang digendongnya. Sekarang ini dihadapannya berdiri seorang pemuda yang gagah dan tampan. Seorang pemuda yang selama ini selalu hadir di dalam mimpinya. Kedua sejoli ini pun langsung jatuh cinta. Suasana di dalam Mahligai pada saat itu penuh dengan kegembiraan. Inang-inang pun turut menari bersama dengan nenek tua tadi. 21. Tiba-tiba tunangan Tuan Puteri Kesuma Dewi datang. Melihat tunangannya sedang duduk bermesraan dengan seorang pemuda, maka kemurkaan pun tidak 49

dapat dielakkan. Terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat di dalam Mahligai itu. Pertempuran ini terasa tidak seimbang, kekuatan ilmu yang dimiliki Indra Bumaya sungguh sangat menyulitkan bagi tunangan tuan puteri ini. 22. Di dalam keadaan yang hampir terdesak, datanglah Raja Puspa Indra untuk membantu calon menantunya. Pertempuran yang terjadi pun semakin bertambah dahsyat. 23. Raja Lang Lang Buana yang merupakan raja tertinggi di kayangan ini datang meleraikan pertempuran itu. Setelah pertempuran ini dapat dihentikan, Raja Lang Lang Buana memerintahkan agar mereka berdamai. Namun, tunangan tuan puteri ini tidak mau berdamai. Ia masih berniat untuk melanjutkan pertempuran ini. Penolakan ini membuat Raja Lang Lang Buana marah besar. Dia langsung mengutuk tunangan tuan puteri itu. Kutukan yang pertama, dia dilemparkan ke bumi. Kedua, dia diptuskan hubungan pertunangannya dengan Tuan Puteri Kesuma Dewi. 24. Selanjutnya, Raja Lang Lang Buana merestui pertunangan antara Indra Bumaya dan Tuan Puteri Kesuma Dewi. Akhirnya, mereka menemukan pasangan jiwa masing-masing yang selama ini hanya ada di dalam mimpi. Mereka pun hidup bahagia di kayangan.

50

3.1.1 Tata Cara Pementasan Seperti yang telah disebutkan di sub bab2 sebelumnya bahwa para pelaku teater tradisi Lang Lang Buana sangat memegang teguh terhadap tata cara pementasan yang telah diyakininya dari sejak dulu. Selama ini belum ada perubahan yang signifikan pada tata cara pementasan teater tradisi Lang Lang Buana. Syarat pementasan yang tidak bisa dirubah dari teater tradisi Lang Lang Buana adalah pertunjukannya harus dilakukan di atas panggung.hal ini semata-mata disebabkan karena para pemainnya tidak boleh menginjak tanah selama pertunjukan berlangsung. Kalau pemainnya mnginjak tanah, maka akan terjadi suatu malapetaka yang mengakibatkan pertunjukan ini tidak bisa dipentaskan. Menurut penjelasan para pelaku teater tradisi ini, tubuh mereka dimasuki roh dewa-dewa dari kayangan selama pertunjukan berlangsung.Dewa-dewa dari kayangan ini tidak dibenarkan untuk menginjakkan kakinya di bumi. Bahkan bila ada pemain yang ingin buang air kecil, ia sebelumnya harus meminta izin kepada Khalifah. Bila hal ini dilanggar, maka pemain yang bersangkutan akan mendapatkan berbagai halangan seperti sakit perut, kepala pusing dan sebagainya. Secara logika, hal ini sungguh tidak masuk akal.Namun penuturan dari narasumber sangat menitik-beratkan pada persyaratan ini. Sebelum pertunjukan dilangsungkan, pertama-tama sekali harus dilakuan ritual untuk memanggil syeh dari kayangan agar bisa masuk ke tubuh para pemain dan agar pertunjukan ini diberkati sehingga tidak ada halangan selama pertunjukan berlangsung.Ritual ini dimulai dengan mengumpulkan seluruh pemain di atas 51

panggung. Kemudian seorang Khalifah membawa semangkuk beras kuning dan sepucuk mayang pinang, lalu ia membaca sebuah mantra dengan lirih. Setelah selesai membaca mantra, beras kuning ditaburkan di sekeliling panggung. Mayang pinang tadi dibuka dan isinya langsung diguncangkan kepada seluruh pemain. Setelah itu, para pemain kembali ke belakang panggung untuk menanti mulainya pertunjukan. Setelah penonton berkumpul, pertunjukan pun dimulai.Pertama-tama, seluruh pemain kembali lagi ke atas panggung.Mereka memasuki panggung dengan menari tarian inai.Setelah semuanya berdiri sejajar, satu-persatu pemain memperkenalkan tokoh yang dimainkannya kepada penonton.Setelah tahap ini selesai, para pemain kembali lagi ke belakang panggung.Hanya pemain yang ada di adegan pertama saja yang tetap tinggal di atas panggung. Selanjutnya pertunjukan pun berlangsung dari adegan per adegan, babak per babak. Biasanya di dalam satu malam, pertunjukan berlangsung selama 4 jam. Dimulai dari setelah sholat Isya hingga menuju waktu tengah malam.Namun pertunjukan bisa saja terus berlangsung hingga melewati waktu tengah malam.Hal ini disebabkan karena dialog yang diucapkan oleh para pemain selalu merupakan improvisasi dan terus berkembang sesuai dengan respon dari penonton.Malam berikutnya, tata cara yang sama kembali dilakukan. Begitulah seterusnya sampai pada malam yang ketujuh.Tata cara ini tidak mengalami perubahan, meskipun pada perkembangan teater tradisi Lang Lang Buana telah terjadi peringkasan waktu pertunjukannya yang hanya berlangsung selama 3 malam.

52

3.1.3 Peruntukan Pertunjukan Mengutip keterangan dari sebuah buku yang berjudul ³Mengenal Teater Tradisional di Indonesia´, A. Kasim Achmad mengutarakan: Teater tradisional sering dipakai untuk keperluan media pengemban kekuatan magis dan gaib, sering pula berfungsi sebagai media penghubung dengan alam gaib.Kesenian pada jaman itu bukan semata-mata sebagai perwujudan dari dorongan untuk mengungkapkan rasa keindahan yang bergejolak dalam jiwa seorang seniman, tetapi diutamakan sebagai hiburan dan media pelengkap untuk keperluan yang bersifat seremonial dalam adatistiadat dan keagamaan. (Achmad, 2006:103)

Pengutaraan dari peruntukan di atas memang lebih menitik-beratkan pada proses lahirnya teater tradisional di Indonesia pada umumnya. Untuk teater tradisi Lang Lang Buana sendiri, peruntukan pertunjukannya mungkin saja disebabkan oleh keperluan seremonial seperti yang dijelaskan di atas. Menurut cerita masyarakat setempat, di daerah Ranai ini terdapat pemukiman dari sejenis makhluk halus yang tinggal di atas gunung Bedong.Perihal tentang makhluk halus ini bukanlah lagi menjadi mitos.Hampir semua masyarakat di Kabupaten Natuna mengetahui hal ini, bahkan di antara beberapa dari mereka sudah pernah mengalami kejadian bertemu dengan makhluk halus ini.Tetapi hanya orang-orang terpilih yang bisa mengalami kejadian seperti itu.Bahkan ada juga masyarakat setempat yang kawin dengan makhluk halus ini.Masyarakat setempat menyebut jenis makhluk halus inidengan istilah µOrang Bunian¶.Mereka ini hidup seperti layaknya kehidupan manusia.Mereka memiliki pasar, rumah, menikah, melahirkan dan lain53

lain sebagainya.Ciri khas dari Orang Bunian ini adalah pakaiannya yang selalu menggunakan baju berwarna hijau. Hubungan baik yang terjadi antara masyarakat di daerah Ranai dengan Orang Bunian ini telah berlangsung lama sejak zaman dahulu.Mereka sering membantu bilamana memang dipanggil oleh penguasa daerah Ranai ± Datok Kaya - pada zaman dulu. Melihat fenomena ini, rasanya tidak menutup kemungkinan bila peruntukan dari pertunjukan teater tradisi Lang Lang Buana merupakan suatu seremonial sebagai penghubung dengan dunia gaib.Hal ini diperkuat oleh kostum pementasan yang dipakai harus ada berwarna hijau.Menurut pengakuan dari pelaku teater tradisi ini, pemilihan warna ini disebabkan agar syeh atau roh lebih cepat masuk ke dalam tubuh pemain. Perumpamaan di atas memang sangat sulit dibuktikan oleh logika karena menyangkut hal-hal yang bersifat gaib.Selanjutnya, teater tradisi Lang Lang Buana dipertunjukkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap hiburan.Hal ini disebabkan karean adanya dorongan dari masyarakat untuk keperluan mengibur diri mereka di waktu senggang setelah seharian bekerja keras di laut maupun di ladang. Pada masa kejayaannya, Teater tradisi lang Lang Buana dipertunjukan untuk menghibur masyarakat yang sedang melangsungkan acara pernikahan dan hajatan lainnya. Teater tradisi ini juga dipertunjukan untuk memeriahkan suasana pada perayaan hari-hari besar masyarakat setempat.

54

Peruntukan yang teramat penting dari teater tradisi adalah sebagai µalat dokumentasi hidup¶.Maksudnya, teater tradisi ini digunakan sebagai alat pengingat dari warisan tradisi nenek moyang. Melalui pertunjukan teater tradisi, maka akan tercermin perilaku serta tata cara kehidupan masyarakat di masa lampau. Warisan budaya ini mengandung banyak hal, antaranya ciri kedaerahan yang khas, cara berpikir menurut sistem nilai yang berlaku pada saat itu.

3.2 unsur-unsur Pertunjukan Sebuah teater yang dikatakan berfungsi bilamana unsur-unsur yang terdapat di dalamnya masih berjalan dan mempunyai hubungan yang saling berkaitan.Unsurunsur yang ada di dalam teater tradisi bukan hanya sebagai pelengkap suatu pertunjukan, melainkan hubungan yang tidak dapat terpisahkan dari teater itu sendiri. Teater tradisi lang Lang Buana memiliki unsur-unsur yang menopang lakon yang dalam pertunjukannya. antara lain adalah : 3.2.1Tata Panggung Pada umumnya teater tradisional di Indonesia bisa melakukan pementasan di mana saja.Pertunjukannya bisa dilakukan di lapangan terbuka atau di pekarangan rumah dan dilakukan dalam bentuk arena.Namun tidak begitu halnya pada teater tradisi Lang Lang Buana yang mengharuskan pertunjukannya dilakukan di

55

ataspanggung,meskipun panggungnya berada di ruangan terbuka. Pada waktu dulu, panggungnya dibangun dari papan dengan bentuk seadanya.Ukuran panggungnya tidak memiliki ketentuan khusus.Panggung yang didirikan disesuaikan dengan keadaan tempat (space) di mana hajatan itu berlangsung. Perlengkapan dan sarana pementasan yang digunakan cukup sederhana. Di depan panggung terdapat layar utama yang betuliskan µLang Lang Buana¶ dan gambar seekor burung elang. Layar di belakang panggung dijadikan background yang menunjang latar belakang suasana dari babak per babak yang dilakonkan. Ada tiga layar yang dilukis sesusai kebutuhan lakon LangLang Buana, yaitu layar kerajaan, layarpadang rumput atau hutan dan layar gunung. Layar ini silih berganti ditukar dengan menggunakan katrol.Pertunjukan yang berlangsung pada malam berikutnya masih menggunakan layar yang sama. Agar lebih bisa mendukung suasana dari layar yang digunakan, mereka menambahkan ornamen-ornamen yang didapat dari alam sekitarnya.Contohnya, apabila layarnya suasana di hutan, mereka menambahkan pohon pisang atau sejenisnya di atas panggung. Penggunaan properti juga cukup sederhana. Kadangkala di beberapa adegan, properti tidak ada samasekali. Namun, ada juga properti yang memang harus diadakan, seperti µBaqdi Zarah¶, µJabul Hikmat¶, dan lain-lain sebagainya.Oleh disebabkan minimnya properti ini, maka imajinasi penonton akan lebih berkembang. Penerangan menjadi sangat penting karena pertunjukannya berlangsung di malam hari.Biasanya lampu yang digunakan dapat berupa obor, lampu petromax, 56

atauyang lainnya. Lampu khusus untuk sarana kelengkapan panggung seperti lampu yang bisa memberi efek dramatik sama sekali tidak ada. Lampu yang digunakan semata-mata untuk keperluan penerangan saja.

3.2.2 Tata Busana dan Tata Rias Pada masa itu, perlengkapan pentas berupa kostum tidak bisa berbuat banyak. Maksudnya, para pemain menggunakan kostum pementasan menurut apa yang ada saja. Penggunaan kostum bukanlah hal terlalu sangat diperhatikan.Hal ini disebabkan keterbatasan jenis pakaian yang ada. Hasil Wawancara dengan beberapa narasumber menunjukkan bahwa baju kurung µteluk belanga¶ menjadi pilihan yang paling sering digunakan oleh para pemain pada saat itu. Baju kurung ini terdiri dari celana, kain sampin, dan songkok atau ikat kepala. Kain sampin biasanya memiliki warna dan corak yang sama dengan baju atasannya. Baju kurung ini merupakan baju yang biasa digunakan oleh masyarakat Melayu pada waktu dulu sebagai pakaian di dalam kehidupan sehari-hari. Baju kurung yang dipakai oleh kaum perempuan biasanya dipasangkan dengan sarung, dan sarung itu sendiri dikenakan dengan ikatan "ombak mengalun" yaitu lipatan kain yang berlipit-lipit (berombak-ombak).Lipatan ini ada di bagian kiri atau kanan badan.Kain sarung ini atau disebut juga µkain dagang¶ merupakan kain yang digunakan sebagai kerudung di saat bepergian.Hal ini dimaksudkan untuk melindungi 57

diri dari terik matahari.Apabila berada di dalam ruangan, maka µkain dagang¶ diikatkan pada pinggang atau disangkutkan di lengan. Pemilihan warna kostum menjadi suatu hal yang harus diperhatikan.Warna kostum yang paling sering digunakan adalah warna hijau.Menurut penuturan dari para narasumber, pemilihan warna hijau ini agar syeh/roh dari kayangan lebih cepat masuk ke dalam tubuh para pemain. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Pak Anwar: Bajunye tadi kata orang hijau pucuk pisang. Kalau kite pakai baju pucuk pisang tok, dia pun cepat kite rasakan kite taka da di alam kita agek.14

Selama pertunjukan berlangsung di dalam satu malam, para pemain tidak melakukan pergantian kostum.Perubahan kostum terjadi pada pertunjukan malam berikutnya, namun pergantian itu hanya terjadi pada warnanya saja. Contohnya, pada malam pertama menggunakan baju kurung µteluk belanga¶ warna hijau, malam kedua menggunakan baju kurung dengan jenis yang sama tetapi berwarna kuning.Perubahan warna kostum ini secara silih-berganti berlangsung sampai pementasan malam yang ketujuh.Berikut ini adalah contoh dari baju kurung µteluk belanga¶ yang dipakai oleh kaum pria dan wanita:

14

Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Anwar, pada tanggal 15 Desember 2010 di desa Setedong.

58

Foto 1 Baju kurung µteluk belanga¶ pria

Sumber: ilustrasi pribadi

Foto 2 Baju kurung µteluk belanga¶ wanita

Sumber: ilustrasi pribadi 59

Baju kurung seperti gambar di atas biasanya digunakan untuk kostum yang dipakai oleh Indra Bumaya, Johan Safri dan pemain-pemain yang lain. Kadangkala, Indra Bumaya dan Johan Safri menggunakan ikat kepala pada babak tertentu. Sementara itu, untuk baju kurung yang digunakan oleh para raja dan tuan puteri juga hampir sama, hanya ditambah dengan pernak-pernik seperti mahkota dan selendang. Kostum paling rumit pembuatannya terjadi pada baju yang dipakai oleh Raja Lang Lang Buana.Ia menggunakan baju yang menyerupai jubah panjang hingga ke mata kaki.Selain itu, Raja Lang Lang Buana juga memakaisayap yang terbuat dari sehelai kain.Sayap ini dipasang di belakang baju jubah panjang tersebut. Raja Lang Lang Buana memakai mahkota yang berbentuk seperti kepala seekor burung elang.Pada waktu dulu, mahkota ini dibuat dari kulit labu yang isinya telah dibuang.Labu ini dilukis hingga menyerupai bentuk kepala seekor elang.Pada perkembangan selanjutnya, pembuatan mahkota ini diganti dengan menggunakan gabus putih yang dilukis menyerupai kepala elang. Berikut ini contoh ilustrasi dari kostum Raja Lang Lang Buana berdasarkan hasil pemaparan dari para narasumber:

60

Foto 3 Kostum Raja Lang Lang Buana

Sumber: ilustrasi pribadi

Selama pertunjukan berlangsung, para pemain tidak memakai alas kaki, baik yang berbentuk sandal maupun sepatu.Hampir tidak ada perubahan yang berarti pada unsur kostum dari awal teater tradisi Lang Lang Buana muncul hingga sampai masa terakhir pertunjukannya tidak pernah dipertunjukkan lagi.Hal ini berbeda dengan perubahan kostum yang terjadi pada teater tradisi Mendu.pada awalnya, teater tradisi Mendu juga menggunakan kostum yang hampir sama dengan teater tradisi Lang Lang Buana. Namun pada perkembangan selanjutnya, teater tradisi Mendu banyak dipengaruhi oleh Wayang Bangsawan.Perubahan ini bisa dilihat dari kostum yang digunakan penuh gemerlapan, manik-manik, memakai kacamata, sepatu, gelang dan lain-lain sebagainya.

61

Pada saat itu, fungsi tata rias sebagai salah satu unsur pendukung di dalam pertunjukan teater tradisi Lang Lang Buana masih belum dilakukan secara maksimal.Para pemain berdandan seadanya sesuai dengan perlengkapan tata rias yang tersedia.Ketika para pemainnya semuanya masih laki-laki, penggunaan tata rias ini hanya dilakukan padapara pemain yang berperan sebagai tokoh perempuan. Sementara itu, para pemain yang memerankan tokoh laki-laki, penggunaan tata rias ini hanya berupa kumis atau jenggot yang dilukis dengan menggunakan alat rias seadanya.

3.2.3 Unsur Musik Iringan musik merupakan unsur pertunjukan yang tidak dapat terpisahkan dari pementasan teater tradisi Lang Lang Buana.Musik bukan hanya berperan sebagai pengiring yang menghidupkan suasana pertunjukan, tetapi juga menunjukan dari etnik mana teater tradisi ini berasal.Perlengkapan alat musik dan irama yang digunakan dalam pertunjukan teater tradisi Lang Lang Buana adalah irama musik Melayu. Alat-alat musik yang digunakan adalah biola, gendang dan gong. Menyanyi merupakan cara untuk mengungkapkan dialog dalam bentuk

lain.Sayangnya, peneliti tidak dapat menotasikan musik dan lirik lagu yang digunakan dalam pementasan teater tradisi Lang Lang Buana.Menurut pengakuan dari Pak Amar bahwa catatan lirik lagu disimpan oleh Bujang Isa.Peneliti tidak bisa melakukan wawancara langsung dengan Bujang Isa disebabkan beliau sudah tidak 62

tinggal lagi di pulau Ranai. Secara garis besarnya, lagu-lagu yang digunakan pada pementasan teater tradisi Lang Lang Buana adalah lagu air mawar, lemak lamun, lakau, kawang, mak inang, laili dan melur. Lagu-laguan ini dipakai sesuai dengan adegan yang sedang berlangsung di atas panggung. Urutan lagu ini dirincikan sebagai berikut: y Lagu air mawar adalah lagu yang dinyayikan pada adegan pembuka pertunjukan. Lagu ini didendangkan pada saat para pemain masuk ke atas panggung sambil menari untuk memperkenalkan tokoh yang diperankannya. Lagu ini dinyanyikan oleh seseorang yang berada di luar panggung/di tempat pemain musik. y Lagu lakau adalah lagu yang digunakan saat seorang raja bersabda-peri kepada para menterinya. Sebelum raja mengucapkan dialognya, ia harus bersabda-peri menggunakan lagu lakau ini. Lagu lakau ini juga dikenal sebagai lagu keras. Maksudnya, bukan alunan musiknya yang keras, namun penggunaan kata-katanya yang kurang lembut dibandingkan dengan balasan lagu yang dipakai oleh para menteri dan keluarga raja. Pada tahap perkembangan selanjutnya, kadangkala lagu lakau ini tidak digunakan. Apabila tidak menggunakan lagu ini, maka Raja akan berucap ³pendek kisah saja´ sebelum memulai mengucapkan dialognya. y Lagu kawang adalah lagu yang dinyanyikan oleh para menteri sebelum membalas ucapan raja. Lagu kawang ini lebih lembut dibandingkan dengan lagu lakau. Menurut bahasa di dalam lakon, arti dari kata µkawang¶ adalah merendahkan diri. Apabila Raja tidak memakai sabda-peri untuk memulai dialognya, maka para menteri juga membalasnya dengan tidak menggunakan lagu kawang ini. 63

y Lagu lemak lamun adalah lagu yang dinyanyikan oleh permaisuri kepada raja, anak raja kepada ayahandanya. Lagu ini merupakan balasan dari lagu lakau. Lagu ini disebut juga lagu lembut karena kata-kata yang digunakan lebih halus dibandingkan dengan lagu lakau. Lagu lemak lamun ini juga dinyanyikan oleh Indra Bumaya bila ia menghadap seorang raja. y Lagu mak inang adalah lagu yang dinyanyikan oleh para dayang dan inang pengasuh setiap mereka turun ke taman untuk menghibur tuan puteri. Lagu ini dinyanyikan sambil para dayang dan inang pengasuh menari tarian selendang mak inang. y Lagu laili adalah lagu yang mengiring setiap kedatangan raja menuju ke singgasananya. Lagu ini hanya tidak dinyanyikan dengan kata-kata, hanyaberupa iringan alunan musik dari biola, gendang dan gong. y Lagu melur adalah lagu yang dipakai pada saat terjadinya adegan

pertempuran.Lagu ini dengan lagu laili, hanya berupa iringan alunan musik dari biola, gendang dan gong.

3.2.4 Unsur Tarian Unsur tarian juga tidak dapat terpisahkan dari pertunjukan teater tradisi Lang Lang Buana.Tarian ini ditujukan untuk lebih menghidupkan suasana di atas

panggung.Kadangkala tarian ini digunakan untuk menyimbolkan suatu kejadian yang diperagakan dengan gerakan. Pada saat melakukanpenelitian di lapangan, peneliti memang tidak meminta agar narasumber memperagakan gerakan dari tarian64

tarian yang ada di dalam pementasan teater tradisi Lang Lang Buana.Hal ini disebabkan oleh pertimbangankeadaan fisik dari para narasumber yang telah berumur di atas 60 tahun. Namun secara umum, dapat diambil kesimpulan bahwa gerakan pada tari-tarian Melayu hampir tidak berbeda jauh bentuknya antara tari yang satu dengan yang lainnya.Berikut ini beberapa tarian yang terdapat di dalam pertunjukan teater tradisi Lang Lang Buana, yaitu: y Tari inai adalah tari yang mengiring para pemain naik ke atas panggung untuk memperkenalkan diri pada adegan pembuka lakon Lang Lang Buana. Tari ini diiringi oleh lagu air mawar. y Tari selendang mak inang adalah tari yang diringi lagu mak inang di saat para dayang dan inang pengasuh menemani tuan puteri untuk bersenang-senang di taman bunga. y Tari laili adalah tari yang diiringi dengan lagu yang sama, yaitu lagu laili. Tari ini dilakukan untuk mengiringi kedatangan raja menuju singgasana kerajaan. y Tari perang adalah tari yang diiringi lagu melur. Tari ini dilakukan di saat setiap terjadinya adegan pertempuran. Tari ini digunakan untuk menyimbolkan adegan perang yang sedang berlangsung. Adegan perangnya tidak diperagakan dengan pencak silat, tetapi menggunakan tari perang ini.

65

3.2.5 Penonton Secara umum, seni pertunjukan terdiri dari adanya cerita, adanya tempat pertunjukannya dan adanya penonton.Di dalam teater tradisi, peranan penonton sangat menetukan. Tanpa disadari, para penonton secaa tidak langsung juga ikut bermain dengan memberikan respon terhadap apa yang sedang terjadi di atas pentas. Di dalam pertunjukan teater tradisi Lang Lang Buana terjadi interaksi antara pemain dan penonton.interaksi ini terasa begitu akrab, sehingga hampi tidak ada batas antara penonton dengan pemain. Meskipun pertunjukan teater tradisi Lang Lang Buana dilakukan di atas panggung yang membuat adanya level ketinggian antarapemain dengan penonton, namun µkeakraban¶nya dirasakan tidak berkurang. Perlengkapan properti pementasan seperti meja dan kursi yang seketika waktu bisa berubah fungsinya sesuia dengan kebutuhan pertunjukan.Perubahan fungsi suatu benda ini terjadi hanya dengan ucapan dari dialog yang disampaikan oleh pemain tentang keadaan, kejadian atau pun tempat kejadian yang sedang

berlangsung.Contohnya, sebuah meja bisa berubah fungsi menjadi µperahu¶ atau sebuah kayu bisa berubah fungsi menjadi µpedang. Perubahan fungsi ini akan membuat imajinasi penonton lebih berkembang. Khayalan para

penontonsecaralangsung dapat mengikuti kejaidan yang sedang berlangsung di atas pentas.

66

Selain itu, hubungan keakraban antara pemain dan penonton ini berlangsung disebabkan para penonton memiliki andil di dalam terjadinya sebuah pertunjukan. Sebelum pertunjukan teater tradisi Lang lang Buana dilangsungkan pada malam hari, para penonton bersama-sama membangun pentas untuk tempat pertunjukan itu pada siang harinya.

67

BAB 4 PENUTUP

4.1 Kesimpulan Teater tradisi Lang Lang Buana merupakan salah satu jenis kesenian tradisi yang pernah ada di Kabupaten Natuna.Teater tradisi ini diciptakan oleh seorang Datok Kaya yang memimpin daerah Ranai pada masa itu, yaitu Datok Kaya Wan Mohammad Benteng.Namun untuk saat sekarang ini, teater tradisi Lang Lang Buana sudah tidak pernah dipentaskan selama 22 tahun. Dampak ini sangat memungkinkan bahwa nanti ke depannya teater tradisi Lang Lang Buana akan punah. Oleh sebab itu,penulis mencoba untuk membuat dokumentasi tertulis tentang teater tradisi ini. Pengumpulan data untuk pendeskripsian teater tradisi Lang Lang Buana ini hanya diperoleh dari hasil wawancara dengan para pemain dan masyarakat setempat yang memiliki kepedulian terhadap teater tradisi ini. Sementara itu, bukti otentik seperti catatan tertulis maupun foto dan video 15 yang mendukung sama sekali tidak ada. Sehingga, pendeskripsian terhadap teater tradisi Lang Lang Buana ini masih dirasakan cukup kurang. Akan tetapi, penulis mencoba berusaha semaksimal

15Hal

ini disebabakan olehsebelum Natuna berubah menjadi sebuah kabupaten.Pulau Ranai merupakan daerah yang paling tertinggal dibandingkan dengan pulau-pulau yang lainnya.

68

mungkin untuk mewujudkannya di dalam bentuk dokumentasi tertulis tentang teater tradisi Lang Lang Buana. Pendokumentasian tertulis ini dirasakan sangat perlu segera dilakukan. Apabila tidak segera dilakukan, maka secara perlahan-lahan kita akan kehilangan salah satu khazanah dari seni pertnujukan Nusantara. Hal ini disebabkan karena data yang berbentuk tradisi lisan ini tersimpan dalam memori para pewarisnya yang telah berumur 60 tahun ke atas.Sungguh sangat disayangkan apabila sebuah kesenian tradisi hilang begitu saja, tanpa ada seorangpun yang peduli untuk tetap melestarikannya. Tentunya dokumentasi tertulis ini diharapkan bisa menjadi bahan awal untuk kembali mengadakan pergelaran langsung teater tradisi Lang Lang Buana.Meskipun penulis menyadari bahwa masih diperlukan adanya penambahan data untuk mewujudkannya sebagai sebuah pementasan yang utuh. Namun kendala seperti ini dengan sendirinya akan bisa teratasi bila proses latihan telah mulai berlangsung. Sejatinya, teater tradisi yang kita kenal sekarang ini lahir dari situasi sosial tertentu yang berbeda dengan kondisi sekarang.Apabila teater tradisi Lang Lang Buana dipentaskan sesuai dengan format aslinya, tentu tidak akan banyak menarik minat publik. Secara perlahan-lahan hal iniakan mengubahnya menjadi ragam seni yang layak dimuseumkan.Oleh sebab itu, perlu diadakannya perubahan dalam

69

menampilkan bentuk pementasan teater tradisi Lang Lang Buana sesuai dengan tuntutan masyarakat saat sekarang ini. Menggali kembali akar sejarah teater tradisi Lang Lang Buana merupakan langkah awal untuk melakukan perubahan. Selain itu, mengenal asal-asul dan mencari unsurunsur asli teater tradisi ini merupakan salah satu cara untuk menemukan format dasarnya. Teatertradisi Lang Lang Buana memerlukan pendekatan baru dan perencanaan jangka panjang.Para pemerhati dan penggiat teater tradisiharus menghidupkan kembali teater tradisi ini dengan perspektif baru dan mengaitkannya dengan isu-isu aktual yang sedang berkembang saat ini. Memperkenalkan teater tradisi Lang Lang Buana kepada masyarakat merupakan jalan terpenting untuk mempertahankan kelangsungan hidup teater tradisi tersebut.Oleh sebab itu, teater tradisi Lang Lang Buana memerlukan promosi, namun upaya itu tidak cukup hanya dengan menggandalkan persepsi klasik dan tradisional.Kita mesti menciptakan perubahan struktural dalam substansi teater tradisi Lang Lang Buana, namun dengan tetap mempertahankan secara utuh kaidah pementasan, sehingga bisa terwujud pengalaman baru.Bahkan dalam beberapa hal, format dari pementasan teater tradisi Lang Lang Buana harus dirubah juga.Masyarakat sekarang sangat berbeda dengan tipe masyarakat puluhan tahun yang lalu.Mereka memiliki tuntutan dan selera yang baru pula.Oleh karena itu, teater tradisi mesti menggarap persoalan hidup yang dirasakan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Inovasi-inovasi semacam iniakanbisa menjamin kelestarian teater tradisi Lang Lang Buana dan

70

menjaganya untuk generasi mendatang.

4.2 Saran-saran Teater tradisi Lang Lang Buana merupakan bagian dari identitas budaya dan menjadi kekayaan kultural bagi masyarakat pendukung kesenian tradisi tersebut.Meski demikian, perlu diadakannya perubahan dalam menampilkan seni pentas tersebut sesuai dengan tuntutan masyarakat sekarang ini.Selain itu, memadukan teater tradisional dengan sentuhan modern yang lebih inovatif seperti penggunaan tata cahaya, dekorasi, dan lain-lainnya merupakan salah satu cara untuk membuat seni pentas tradisional terlihat makin menarik. Sebagai wujud dari kepedulian penulis yang notabene adalah putra asli daerah Natuna, maka penulis mencoba untuk menghidupkan kembali teater tradisi Lang Lang Buana.Adapun kiat-kiat yang digunakan adalah dengan cara merekontruksi teater tradisi Lang Lang Buana sesuai perkembangan zaman.Tentunya upaya rekontruksi ini tidak mengurangi esensi yang ada di dalam lakon Lang Lang Buana ini.Tahap selanjutnya, penulis dan para pewaris teater tradisi ini berencana untuk melakukan pementasan kembali teater tradisi Lang Lang Buana dengan para pemain dari generasi muda.Diharapkanke depannya akan tumbuh kesadaran dari para generasi muda untuk menghargai dan melestarikan khazanah budaya dari para leluhurnya.

71

Upaya-upaya di atas tentunya tidak akan bisa terjadi tanpa adanya kesadaran bersama untuk mewujudkan pementasan kembali teater tradisi Lang Lang Buana ini. Peran serta pemerintah daerah Natuna memiliki andil yang cukup besar untuk mewujudkan harapan ini.Pemerintah daerah Natuna harus menyadari bahwa pementasan kembali teater tradisi Lang Lang Buana merupakan suatu hal yang dilakukan untuk mengangkat identitas bangsa dari warisan para leluhur.Apalagi ditambah dengan belum adanya suatu icon kesenian Natuna yang bisa dikenal oleh masyarakat luas dan sesuai dengan perkembangan zaman. Perwujudan icon kesenian ini nantinya akan bermanfaat untuk menambah nilai jual dari sektor pariwisata daerah Natuna. Tentunya upaya ini tidak hanya sampai pada pelaksanaan pementasan teater tradisi Lang Lang Buana.Upaya selanjutnya adalah membentuk sanggar seni kelompok teater tradisi Lang Lang Buana dan mengadakan event-event secara rutin untuk mengenalkan teater tradisi ini kepada masyarakat, baik di dalam daerah maupun di luar daerah Natuna.Selain itu, perlu juga diadakan penyuluhan-peyuluhan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat Natuna agar menyadari bahwa pentingnya menghargai dan menjaga kesenian tradisi daerah.Apabila upaya-upaya ini bisa diwujudkan, maka teater tradisi Lang Lang Buana atau bahkan kesenian tradisi lainnya jugaakan tetap terus bisa bertahan mengikuti perkembangan zaman.

72

Daftar Pustaka

Achmad, A. Kasim. Mengenal Teater Tradisional di Indonesia. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta. 2006. Al Barry, M. Dahlan. Kamus Ilmiah Popular.Surabaya: Arkola. 2001. Danandjaja, James. Folklor: ilmu gossip, dongeng, dam lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Gratifi. 2002. Dinas Pemuda,Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Natuna. Buku PanduanWisata Natuna.Natuna. 2010 Harymawan, RMA. Dramaturgi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 1986 Kayam, Umar. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan. 1981 Keraf, Gorys. Komposisi. Jakarta: Nusa Indah. 1979 Koentjaraningrat. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT Gramedia. 1977 Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rhineka Cipta. 1996. Wijaya, Putu. Teater Spiritual. Jakarta: Grafiti. 1999

73

74

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful