PENGETAHUAN DASAR ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

Pengetahuan dasar ilmu kesehatan kulit dan kelamin meliputi : 1. Anatomi kulit 2. Fungsi Kulit 3. Anatomi alat kelamin 4. Mikrobiologi kulit 5. Mikrobiologi alat kelamin 6. Histipatologi kulit 7. Morfologi (ruam kulit) dan cara menegakkan diagnosis (pembuatan status) 8. Pengetahuan dasar imunologi I. ANATOMI KULIT Kulit merupakan bagian terluar dari tubuh manusia, bersifat elastis dan melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan. Beratnya 15% dari berat tubuh dengan luas 1,50-1,75 mm2. Tebal kulit bervariasi antara 0,5 mm – 6 mm. Paling tipis adalah kulit penis dan yang paling tebal di telapak tangan dan kaki. Kulit terbagi atas 3 lapisan pokok yaitu epidermis, dermis dan jaringan subkutis.

1

2

Epidermis Epidermis terbagi atas 3 lapisan : 1. Lapisan Basal atau Stratum Basale 2. Lapisan Malphigi atau Stratum Spinosum 3. Lapisan Granular atau Stratum Granulosum 4. Lapisan Tanduk atau Stratum Korneum Pada telapak tangan dan kaki dijumpai lapisan tambahan diatas lapisan granular yaitu stratum lusidum atau lapisan sel – sel jernih. Lapisan basal terdiri dari 1 lapis sel – sel kuboid yang tegak lurus terhadap dermis tersusun palisade ( seperti pagar ). Didalam sel-sel ini terdapat sitoplasma yang basofilik dengan inti yang besar, lonjong, berwarna hitam, sel – sel basal mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif. Pada lapisan basal ini terdapat melanosis yaitu sel dendrit yang membentuk melanin. Melanin berfungsi untuk melindungi kulit terhadap sinar matahari. Semua ras mempunyai jumlah melanosit yang sama. Perbedaan warna kulit bergantung pada kegiatan melanosit. Lapisan Malphigi, merupakan lapisan epidermis yang paling tebal dan kuat. Terdiri dari 4 – 8 sel poligonal yang dibagian atas menjadi lebih gepeng. Sel – sel ini mempunyai protoplasma yang menonjol dan terlihat seperti duri-duri. Sel-selnya mengandung banyak glikogen. Diantara sel-selnya terdapat sel Langerhans. Didapati jembatan antar sel yang merupakan desmosom yang penting dalam penyakit-penyakit imunologi karena sering ditimbun oleh Ig. Lapisan granular terdiri dari 2 – 3 lapisan tanpa inti, mengandung granula keratohialin, basofilik. Lapisan ini berfungsi sebagai filter U.V. Lapisan tanduk terdiri dari 20-25 lapis sel tanpa inti, gepeng, tipis dan mati. Pada bagian permukaan, sel-sel ini terus menerus mengelupas tanpa terlihat. Pada kulit normal pembentukan epidermis dari basal sampai stratum korneum berlangsung dalam 27 hari ( turn over time ). Histologi sel lendir adalah sama dengan kulit tetapi tidak mengandung lapisan granular dan lapisan tanduk kecuali di dorsum lidah dan palatum. Epidermis juga mengandung kelenjar ekrin, kelenjar apokrin, kelenjar sebasea, rambut dan kuku. Dermis Merupakan lapisan dibawah epidermis dan diatas jaringan sub kutan. Terdiri dari jaringan ikat yang dibagian atas terjalin rapat ( pars papilaris ) sedang di lapisan bawah terjalin lebih longgar ( pars retikularis ). Pars retikularis terdiri dari sel-sel penunjang, kolagen,

3

elastin dan retikulin. Pada lapisan ini didapati pula pembuluh darah, serabut saraf, rambut dan kelenjar keringat dan kelenjar sebasea. Jaringan Sub Kutis Merupakan lapisan yang langsung dibawah dermis. Batas antara sub kutis dan dermis tidak tegas. Mengandung banyak sel liposit yang menghasilkan banyak lemak yang disebut Panikulus Adiposa. Jaringan sub kutis banyak mengandung pembuluh darah , serabut saraf dan limfa, kandung rambut dan dilapisan atas jaringan ini terdapat kelenjar keringat. Fungsi jaringan sub kutis adalah untuk penyekat panas, bantalan terhadap trauma dan tempat penumpukan energi. Vaskularisasi kulit diatur oleh 2 pleksus yaitu pleksus superfisialis yang terletak di bagian atas dan pleksus profunda yang terletak pada sub kutis. Bergandengan dengan pembuluh darah ini, terdapat saluran limfa. Adneksa Kulit Adneksa kulit terdiri kelenjar kulit ( kelenjar ekrin, apokrin dan sebaseus ), rambut dan kuku. Kelenjar Kulit Kelenjar ekrin berbentuk spiral dan bermuara langsung ke permukaan kulit. Kelenjar ini terdapat di seluruh permukaan tubuh terutama di telapak tangan, kaki, dahi dan aksila. Sekresinya bervariasi pada tiap individu dan dipengaruhi oleh saraf kolinergik, rangsang panas, status emosional, dll. Sekretnya mengandung 99,5% air ditambah dengan sisa elektrolit, karbohidrat, asam amino, urea, laktat, amonia, hormon, obat, vitamin, dll dengan pH 4 – 6,8. Kelenjar ini berfungsi sebagai termoregulasi. Fungsi kelenjar apokrin pada manusia belum jelas benar. Kelenjar ini terdapat di aksila, areola mamma, anogenital, kelenjar mata, saluran telinga luar. Sekretnya kental, mengkilat, dipengaruhi saraf adrenergik dan ketokolamin dan pengeluarannya episodik, meskipun diproduksi terus menerus. Kelenjar ekrin dan apokrin baru berfungsi 40 minggu setelah kelahiran. Kelenjar sebasea merupakan kelenjar holokrin, terdapat diseluruh permukaan kulit kecuali telapak tangan dan kaki. Sekretnya disebut sebum, mengandung asam lemak bebas, skualen, wax ester dan kolesterol. Kelenjar ini aktif pada bayi, berkurang pada anak dan bertambah saat pubertas. Rambut 4

Rambut terdapat di seluruh permukaan kulit kecuali telapak tangan dan kaki, dorsal falang, distal jari tangan dan kaki, labium minor dan bibir. Ada 2 jenis rambut yaitu rambut velus ( lanugo ) yang halus, sedikit mengandung pigmen dan terdapat pada bayi dan rambut terminal yang lebih kasar , didapat pada dewasa. Rambut terdiri dari akar rambut yang terdiri dari sel-sel tanpa keratin dan batang rambut yang terdiri dari sel-sel keratin. Batang rambut adalah rambut yang muncul dari permukaan kulit. Akar dan bagian bawah kandung rambut mengandung sel-sel matriks rambut. Bagian dermis yang masuk kedalam kandung rambut disebut papil. Melanosit terdapat pada bagian atas kandung rambut dan menghasilkan pigmen yang memberi warna pada rambut. Pertumbuhan rambut berlangsung secara siklik dimana pada fase anagen ( 2-6 bulan ) rambut tumbuh dengan kecepatan 0,35 mm/hari diikuti fase katagen yang merupakan fase transisi istirahat dan akhirnya fase telogen ( istirahat ) yang berlangsung 3-4 bulan. 85% rambut berada dalam fase anagen dan 15% fase telogen. Kerontokan rambut 40-100 lembar/hari dianggap masih normal. Komposisi rambut terdiri dari karbon 50-60%, hidrogen 6,26%, nitrogen 17,14%, sulfur 5,0% dan oksigen 20,80%.

5

Fungsi kuku menjadi penting ketika mengutip benda-benda kecil. 3. Proteksi terhadap gangguan fisik dan mekanis dilaksanakan oleh stratum korneum pada telapak tangan dan kaki dan proses keratinisasi berperan sebagai barier mekanis. FUNGSI KULIT Kulit mempunyai fungsi bermacam-macam untuk menyesuaikan diri denga lingkungannya. amonia.Kuku Merupakan lempeng yang terdiri dari keratin yang tebal dan padat. Pembentuk vitamin D 8. Serabut elastis dan kolagen menyebabkan adanya elastisitas kulit dan lapisan lemak pada sub kutis juga sebagai barier terhadap tekanan. Kuku terdiri dari 2 bagian yaitu pinggir bebas. Peran dalam imunologi kulit 1. Fungsi Ekskresi Kelenjar kulit mengeluarkan zat dan sisa metabolisme seperti Na Cl. II. asam urat. Fungsi Absorbsi 6 . sinar ultraviolet dan mikro organisme. Sebagai pelindung ( proteksi ) 2. 2. Termoregulasi 7. suhu. Keratinisasi 5. Fungsi absorbsi 4. Proteksi tehadap radiasi dan sinar ultraviolet dilaksanakan oleh melanosit. badan kuku dan akar yang melekat pada kulit dan dikelilingi oleh lipatan kulit lateral dan proksimal. Kuku tumbuh dengan kecepatan 1mm/minggu. kimia. ketebalan stratum korneum dan asam uroleanat yang dijimpai pada keringat. Pembentuk pigmen 6. Proteksi terhadap gangguan kimia dilaksanakan oleh stratum korneum yang impermeabel terhadap berbagai zat kimia dan air serta adanya keasaman kulit. Fungsi Proteksi Kulit menjaga tubuh dari gangguan fisik. Kelenjar sebasea menghasilkan sebum yang berguna untuk menekan evaporasi air yang berlebihan. Kelenjar keringat mengeluarkan keringat beserta garam-garamnya. Fungsi ekskresi 3. kuku tangan tumbuh 2-3X lebih cepat dari kuku kaki. 1. urea. Persepsi 9.

hidrasi. umur. Kulit yang sekat tidak mudah menyerap air. larutan atau benda-benda padat dan lebih mudah menyerap cairan yang menguap. Absorbsi berlangsung melalui celah antar sel. metabolisme. Kemampuan absorbsi dipengaruhi oleh ketebalan kulit. trauma pada kulit dan jenis vehikulum.Fungsi absorbsi dimungkinkan dengan adanya permeabilitas kulit. 7 . menembus epidermis atau melalui muara saluran kelenjar. kelembaban.

Fungsi Keratinisasi Keratinisasi adalah proses diferensiasi sel-sel stratum basale menjadi sel-sel yang berubah bentuk dan berpindah ke lapisan atas menjadi sel-sel yang makin gepeng dan akhirnya mengalami deskuamasi. konduksi dan evaporasi. tipe. saluran limfatik kulit dan sel endotel kapiler khusus yang memiliki reseptor khusus untuk menarik sel limfosit T kedalam epidermis. ukuran. Peran dalam imunologi kulit Pada kulit didapat apa yang disebut SALT ( Skin Associated Lymphoid Tissue ) yang terdiri dari sel Langerhans. Sel 8 . rasa panas oleh badan Ruffini di dermis dan sub kutis. dingin dan rasa sakit. distribusi pigmen. Walaupun didapat pembentukan vitamin D ditubuh tapi kebutuhan ini belum cukup sehingga perlu pemberian vitamin D dari luar. 6. 7. Persepsi yang dapat diterima kulit adalah perabaan. rasa dingin oleh badan Krause dan rasa sakit oleh “ free nerve ending”. oksi Hb dan karoten. Fungsi Termoregulasi Pengaturan regulasi panas dilaksanakan oleh sekresi kelenjar keringat. jaringan sekitarnya bahkan sampai ke dermis. 8. Proses pembentukan melanin terjadi didalam melanosom yang terdapat dalam melanosit dan kemudian melalui dendrit-dendritnya membawa melanosom ke sel keratinosit. ketebalan kulit. panas. kemampuan pembuluh darah untuk berkontraksi dan vaskularisasi kulit yang banyak pada dermis. Fungsi Pembentukan Vitamin D Pembentukan Vitamin D berlangsung pada stratum spinosum dan stratum basale yaitu dengan mengubah 7 dehidro kolesterol dengan bantuan sinar ultraviolet B. Persepsi raba terletak pada badan taktil Meisnier yang berada di papila dermis dan Merkel Ranvier di epidermis. Warna kulit ditentukan oleh jumlah. Fungsi Pembentukan Pigmen Pembentukan pigmen kulit dilaksanakan oleh sel melanosit yang ada di stratum basale. Persepsi tekana oleh badan Vater Paccini di epidermis. Panas tubuh keluar melalui kulit dengan cara radiasi. reduksi Hb. 9. Fungsi Persepsi Fungsi persepsi dimungkinkan dengan adanya saraf sensori di dermis dan sub kutis. 5. tekanan. keratinosit. Saraf-saraf sensorik lebih banyak jumlahnya di daerah erotik. konveksi. Sel Langerhans berfungsi sebagai antigen presenting cell yang membawa antigen ke sel limfatik dalam reaksi alergi kontak.4. Proses keratinisasi ini berlangsung 14-21 hari dan memberi perlindungan kulit terhadap infeksi secara mekanis fisiologik.

keratinosit memproduksi cairan yang mengandung protein yang akan berikatan dengan antigen yang masuk ke epidermis untuk membentuk antigen kompleks yang potensial. SALT juga sangat penting untuk memonitor sel-sel ganas yang timbul akibat radiasi UV. Pars membranasea ini dilingkari otot sfingter uretra eksterna. Uretra pars prostatika terletak antara OUI dan fasia diafragmatika urogenital superior dengan panjang ± 3 cmdan merupakan bagian terlebar uretra. Uretra pars membranasea merupakan bagian uretra yang terpendek dan tersempit dan terdiri dari epitel transisional. Testis dan epididimis Uretra Adalah organ yang berbentuk huruf S terbalik dengan panjang ± 20 cm. ALAT KELAMIN LAKI-LAKI terdiri dari : 1. Uretra 2. Korpus spongiosum penis ( 1 ) yang meliputi penis 9 • . Prostat 4. Di bagian dorsolateral kanan & kiri terletak kelenjar bulbo uretralis Cowper. Uretra dibedakan atas uretra posterior ( terdiri atas pars prostatika dan pars membranasea ) dan uretra anterior ( pars spongiosa ). Penis Pada penis terdapat 3 badan penggembung ( erektil ) : 1. Bagian ini terdiri dari sel-sel transisional. terdiri dari sel-sel epitel torak kecuali 12mm terakhir dilapisi epitel gepeng berlapis. Sampai saat ini peranan SALT masih terus diselidiki. Di dinding atas dan sisi terdapat muara kelenjar uretra ( Littre ) yang mengarah ke muka. zat kimia maupun oleh virus onkogenik. ANATOMI ALAT KELAMIN Alat kelamin dibagi 2 yaitu alat kelamin laki-laki dan alat kelamin wanita. Uretra pare spongiosa merupakan bagian uretra ynag terpanjang. Duktus deferens 6. Penis 3. III. Vesikula Seminalis 5. terdapat antara Ostium Uretra Internum ( OUI ) dan Ostium Uretra Eksternum (OUE). Keratinosit juga memproduksi Limphokine Like Activity seperti Epidermal Thymocyte Activating Factor ( ETAF ) yang identik dengan IL-1 dan berbagai fungsi lain.

berbentuk lonjong dengan panjang 5 cm. Glans penis diliputi kulup (preputium) yang sebelah ventralnya berhubungan dengan glandula melalui frenulum prepusium dan pada kedua frenulum bermuara kelenjar sebasea yaitu glandula Tyson yang membentuk smegma. menyempit dan bersatu dengan saluran vesikula seminalis duktus ejakulatorius. Terdiri dari 2 lobus lateralis dan 1 lobus medialis dan bermuara pada uretra pars prostatika. kanan dan kiri. Bagian akhir melebar membentuk ampula duktus deferentis. 10 . Saluran ini berjalan naik dibelakang epididimis lalu ikut membentuk furikulus spermatikus. Korpus kavernosus berada disekitar akar penis masing-masing membentuk krus penis yang memperoleh fiksasi pada ramus inferior osis pubis dan ramus superior osis iskii. Prostat Terletak dibawah V.2.Urinaria. Vesikula Seminalis Ada 2. diatas diafragma urogenital meliputi bagian pertama uretra. Dari rete testis dilepaskan ± 20 saluran duktulus eferensis yang membentuk kutub atas epididimis lalu bersatu menjadi satu saluran yang berliku-liku dan membentuk kaput dan kauda epididimis. Korpus kavernosus penis ( 2 ) disebelah dorso lateral kanan dan kiri Korpus spongiosus penis pada ujung sebelah dalam membentuk bulbus penis (umbi zakar) dan pada ujung bebas menbentuk glans penis. Saluran keduanya bersatu dengan bagian akhir duktus deferan untuk membentuk duktus ejakulatorius. Duktus Deferens Merupakan pipa penghubung antara kutub dibawah epididimis dan alas prostat kanan dan kiri. Testis dan Epididimis Keduanya terbungkus dalam kantong buah zakar ( skrotum ) epididimis melekat pada permukaan posterolateral buah zakar testis.

Labium minor Berasal dari lipatan-lipatan urogenitalis kanan dan kiri yang pada wanita tidak bersatu digaris tengah. 11 . Dimuka keduanya bertemu membentuk preputium klitorides dan ke belakang bersatu dalam komisura posterior ( fourchette ) 4. tapi dalam perkembangan terjadi perbedaan. Muara saluran ini ditutupi lipatan-lipatan mukosa dan epitel kolumnar. Vagina 1. Kelenjar Bartholini Ada dua. 2. saluran kelenjar Bartholini dan ostium vaginae. Vestibulum pudenda ( serambi kemaluan ) Adalah ruiangan yang dibatasi kedua labium minora. Penyatuan kedua labium ini dibagian ventrokranial menjadi mons pubis atau mons veneris yang banyak mengandung jaringan lemak sub kutis. Klitoris ( kelentit ) Terletak dipertengahan labium minora kanan dan kiri terdiri dari jaringan erektil dan alat ini ekuivalen dengan penis pada pria. 6. bermuara dipermukaan dalam labium minus pada perbatasan antara 2/3 bagian depan dan 1/3 bagian belakang. Labium mayus Penyatuan labium mayus kanan dan kiri dibagian belakang bersatu pada pada komisura posterior ± 2. Sesudah pubertas bagian ini ditutupi rambut.5 cm didepan anus. 5. dan pada ruangan ini bermuara OUE. Dalam labium mayus terdapat jaringan lemak berbentuk kumparan. 3. Vulva Adalah organ genital eksternal wanita yang terdiri dari strukturstruktur sebagai berikut : Mons veneris dan labium mayus Kedua labium mayus pudenda masing-masing berasal benjolan genital kanan dan kiri yang pada pria menjadi skrotum. kelenjar Skene terletak disebelah kanan dan kiri lateral dari OUE dan salurannya bermuara di vestibulum vaginae OUE. Himen ( Selaput Dara ) Merupakan lipatan mukosa yang membatasi ostium vaginae pada gadis. Uretra Pada wanita panjangnya ± 3 cm.• ALAT KELAMIN WANITA Alat kelamin wanita dan pria mempunyai asal yang sama.

Tuba uterina dan Ovarium Melintang disisi kanan dan kiri rahim dengan panjang ± 12 cm terdiri dari pars uteri. Bagian atas korpus uteri disebut fundus uteri dan di kedua sudut fundus uteri bermuara saluran tuba ( tuba uiterina ) kedalam kavum uteri. Korpus uterus terdiri dari 3 lapisan yaitu : andometrium. Ovarium melekat pada permukaan belakang ligamentum latum uteri.Adalah saluran penghubung antara vestibulum pudenda dan servik uteri. Sekresi yang normal mengandung sel epitel. miometrium dan perimetrium. Vagina sendiri dari epitel gepeng berlapis dan mengandung banyak glikogen. dan fibrie. 12 . ampula. basil gram (+). Dibagioan dalam terdapat rongga rahim ( cavum uteri ).5 ) yang berperan mencegah infeksi. Dinding depan mempunyai panjang 9 cm dan yang belakang 14 cm. ismus.dan basil Döderlein. Uterus ( rahim ) Terdiri dari leher rahim ( serviks ) dan badan ( korpus ) uterus. Basil-basil ini akan memproduksi asam laktat sehingga pH vagina bersifat asam ( 4. Saluran ini dilapisi epitel torak berambut getar.

13 .

Serviks uteri : kelenjar –kelenjar iliaka dan kelenjar-kelenjar sepanjang aorta 14 . Ovarium : kelenjar sepanjang aorta abdominalis Uterus : FU : Ovarium Korpus uteri : kelenjar sepanjang aorta. ditampung kelenjar-kelenjar inguinal superfisial iliaka kadang-kadang ditampung kelenjar-kelenjar • .seminalis : ditampung kelenjar sakral iliaka eksterna. Pada Pria • Penis : medial eksterna. iliaka interna. v. Traktus horizontalis kelenjar inguinal superfisial dan kelenjarkelenjar inguinal dalam (profundus) 2.anyaman PGB dalam ditampung kelenjarkelenjar iliaka eksterna • Uretra : kelenjar inguinal superfisial medial. • Uretra : Pars spongiosa : kelenjar superfisial medial. inguinal dalam. Pada Wanita • Labium mayus : kelenjar inguinal superfisial medial. iliaka interna dan anorektal Testis dan epididimis : ditampung kelenjar-kelenjar sepanjang aorta abdominalis. • Prostata. kadangkadang oleh kelenjar iliaka eksterna. Kelenjar-kelenjar getah bening dalam panggul dan sepanjang aorta abdominalis yang terutama merupakan kelenjar-kelenjar regional bagi alat-alat reproduksi. kelenjar inguinal dalam interiliaka dan gluteal inferior. • Skrotum : ditampung kelenjar superfisial medial.anyaman PGB dangkal ditampung kelenjarkelenjar inguinal dalam medial. . 2.Pembuluh getah bening ( PGB ) dalam ditampung kelenjar inguinal dalam medial. • Labium minus : kelenjar inguinal superfisial medial.Sistem pembuluh getah bening dan kelenjar kelenjar getah bening alat kelamin Ada dua kelompok besar yaitu : 1. Kelenjar Bartholini : kelenjar-kelenjar vesikal anterior Klitoris : . kelenjar inguinal dalam dan kadang-kadang oleh kelenjar iliaka eksterna. 1. Pars prostatika dan membranasea ditampung kelenjar vesikal lateralis dan terus ke kelenjar iliaka interna. kelenjar inguinal superfisial dan interiliaka .

• Vagina : Bagian kranial : beranastomose dengan serviks uteri lalu ke kelenjar iliaka eksterna dan inter iliaka Bagian kaudal : kelenjar interiliaka gluteal interior dan beberapa kelenjar inguinal superfisial. Bagian dorsal : kelenjar anorektal 15 .

Derajat kekeringan kulit yang relatif dapat membatasi pertumbuhan kuman gram (-) 2. mineral yang merupakan hasil proses keratinisasi kulit dan apendiksnya. MIKROBIOLOGI KULIT Pada kulit manusia selalu terdapat kolonisasi bakteri. Pertahanan Kulit Perlindungan kulit terhadap mikro organisme dilaksanakan dengan berbagai mekanisme seperti : 1. 3. Merchionini mengemukakan adanya “acid mantle” yaitu keasaman kulit yang berfungsi dalam mekanisme pertahanan kulit. Frekuensi kontaminasi bakteri untuk menimbulkan penyakit pada kulit bergantung pada : . 4.Besarnya inokulasi .Imunitas hospes Bakteri patogen adalah bakteri yang dapat menimbulkan penyakit. Arnold. Karier ( pembawa kuman ) adalah hospes yang mengandung bakteri patogen tanpa gejala klinis yang ditimbulkan oleh bakteri tersebut. Bakteri normal dikulit Adanya bakteri penghasil antibiotika dapat menghambat pertumbuhan mikro organisme lain. Bakteri-bakteri ini ada yang bersifat komensal dan ada yang dapat menimbulkan penyakit pada kulit. Sekarang ini dikatakan bahwa yang bertanggung jawab terhadap perbedaan ukuran menghilangnya bakteri dari daerah asam atau alkali adalah desikasi. Mekanisme kimiawi Pada permukaan kulit terjadi pemecahan ester-ester sebum oleh flora komensal sehingga terbentuk asam-asam lemak bebas berantai karbon yang tidak jenuh dab asam-asam lemak ini beserta faktor kekeringan dapat mengeliminasi Staphylococcus aureus. Virulensi adalah perbedaan strain dalam suatu spesies patogen dan meliputi semua bahan-bahan yang ada dalam organisme tersebut pada lokasi yang baru. 16 . Keadaan kulit Ada berbagai teori. Adanya kolonisasi bakteri disebabkan permukaan kulit mengandung banyak bahan makanan yang berguna untuk pertumbuhan mikroorganisme seperti lemak.Tempat masuk kuman .IV. nitrogen. Fenomenan interfensi bakteri Bagaimana pengaruh supresif strain bakteri terhadap bakteri lain masih sulit diterangkan tetapi terdapat bukti bahwa kolonisasi 1 strain Staphylococcus dibeberapa tempat dapat menganggu kolonisasi strain lain.Virulensi organisme .

Adapun peranan flora normal ini adalah : 1. pembentukkan aceton dari glukosa. Corynaebacterinaceae 3. Tipe M3 : dominan pada kulit kepala dewasa 17 . Flora Transien Berasal dari luar kulit. Organisme erobik yang membentuk spora ( Bacillus sp. mudah dihilangkan dari kulitdengan cara menghapus dengan desinfektan. S I adalah Staphylococcus aureus. Staphylococcus. Corynaebacteria aerobic menyebabkan bau pada sekret kelenjar apokrin di ketiak. Pertahanan terhadap infeksi dengan jalan interfensi bakteri 2. Masing-masing genus terbagi lagi atas sub difisi berdasarkan kemampuan organisme memproduksi asam dari gula. S IV dapat meragi manitol secara erobik. Sarcina ) 2.Flora normal kulit Ada 2 jenis flora normal pada kulit yaitu flora transien dan flora residen. S II dan S V disebut Staphylococcus epidermidis. Streptococcus 3. Memproduksi asam lemak bebas C.) 2. Aerobic diphteroid Berdasarkan kemampuan membentk gluikosa dalam kondisi anerobik Micrococcaceae dibagi dalam genus Staphylococcus yang memberi reaki positif dan genus Micrococcacea yang memeberi reksi negatif. stabil di permukaan kulit kalau disucihamakan mudah kembali sepertti semula dan memperbanyak diri secara teratur. S II sampai V dapat diisolasi dari hampir setiap kulit normal. Basil gram negatif yang berasal dari daerah intertriginosa Flora Residen Hidup saprofit pada kulit normal. Famili Micrococcaceae ( termasuk Micrococcus. pembentukkan phosphatase. bersifat patogen. Neisseria 4. S I jarang sitemuksn dalam jumlah besar pada kulit normal dewasa. Micrococcus Tipe M1 dan M2 sering ditemukan didaerah intertriginosa. S IV adalah Strain yang memproduksi asam dari manitol secara erobik. tidak dapat memperbanyak diri dan jenis organismenya sangat banyak a.l : 1. Yang termasuk jenis flora ini adalah : 1.acnes dan Coccus gram (-) dapat menghidrolisis lemak sebum dan menghasilkan asam lemak bebas.

organisme grup Mima-Herellea. Pseudomonas aeruginosa dan 18 . aerobic diphtheroid merupakan genus yang non patogen. Organisme gram (-) Termasuk Escherechia coli. Jumlahnya bertambah setelah akil balik. Organisme ini adalah batang Gram (+). lebih sering ditemukan pada kulit normal daripada dermatitis Corynebacteria.• Tipe M7 : Sarcina Lutea. acnes merupakan flora residen di kulit terutama di folikel kelenjar sebum dan bertanggung jawab pada sebagian besar lipolisis dalam kanal folikel. C. Anaerobic diphtheroid C.

2.Umbilikus Dijumpai Staphylococcus aerus pada bayi segera setelah lahir. Micococci dan Coryneform.Meatus auditorium eksternum Didapati Micrococci. Enterococci dan eoliform . antara lain : 1. . MIKROBIOLOGI ALAT KELAMIN . Avidum dan spesies Acinetobacter. . Bila suhu luar dan kelembaban meningkat. Acnes. .Vulva Dijumpai organisme aerobik termasuk Microccoci. Diphtheroid.Flora pada orifisium tubuh . 19 . Abstinensia mandi : tidak meningkatkan jumlah mikroorganime. bahkan mungkin menyebabkan diseminasi flora dalam 1-2 jam. Staphylococcus (pada separuh sampel) dan kadang-kadang streptococcus pyogenes. candida albicans Faktor Modifikasi Telah diketahui adanya berbagai faktor yang mempengaruhi populasi mikroorganisme. tapi kemudian yang dominan adalah diphtheroid sedangkan micrococci menjadi berkurang. jumlah organisme juga meningkat. V. mandi mungkin hanya berpengaruh sesaat untuk mengurangi flora. Hidrasi yang meningkat juga menambah total flora yang bertambah mula-mula staphylococcus dan Micrococcus.Vagina Dijumpai basil doderlein. Juga ditemukan Streptococcus pyogenes.Aksila Dijumpai kolonisasi Staphylococci. . 3. Diphtheroid dan basil tahan asam non patogen. Musim hanya berpangaruh sedikit.Vestibulum nasi Organisme yang dijumpai adalah Micrococci. Bakteri lain adalah P. P.Uretra Dalam jumlah kecil dijumpai Microccoci dan Diphtheroid kemungkinan dijumpai Mycobacterium smegmatis pada sekret preputium pria dan wanita.

biasanya disertai rete ridge yang mendatar • Spongiosis : Penimbunan cairan diantara sel-sel epidermis sehingga celah diantara sel bertambah renggang • Degenerasi balon : Edema sel epidermis sehingga sel menjadi besar dan bulat. karena itu data klinis yang lengkap sangat membantu menentukan kesimpulan pemeriksaan HP. Di Epidermis • Hiperkeratosis : Penebalan lapisan korneum. Pada beberapa penyakit kulit. • Ortokeratosis : Hiperkeratosis dimana inti tidak terikat • Hipergranutosis : Penebalan lapisan granulosum • Hiperplasia : Penebalan epidrmia karena jumlah selnya yang bertambah • Akantosis : Penebalan lapisan spinosum • Hipoplasia : Penipisan epidermia karena jumlah selnya berkurang • Hipertrofi : Penebalan epidermia karena sel-selnya bertambah besar • Atrofi : Penipisan epidermia karena sel-selnya mengecil dan berkurang.VI. • Eksositosis : Sel-sel radang yang masuk kedalam epidermis dapat pula sel darah merah • Akantosis : Hilangnya daya kohesi antara sel-sel epidermis sehingga 20 . Pewarnaan rutin biasanya menggunakan Hematoksilin Eosin (HE). pewarna lain adalah Orsein dan Giemsa. pernyataan kulit normal dibutuhkan dan beberapa penyakit kulit lainnya. bahkan kadang-kadang diagnosis hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan HP. kulit normal tidak dibutuhkan. Kadang-kadang pula beberapa penyakit kulit memberi gambaran HP yang mirip. Jaringan yang sudah dipotong difiksasi dengan larutan fiksasi seperti formalin 10 % atau formalin buffer supaya menjadi keras dan sel-selnya mati. Perubahan Histopatologik 1. • Parakeratosis : Hiperkeratosis dimana inti sel masih terikat. HISTOPATOLOGI KULIT Pemeriksaan histopatologi (HP) kulit berperan penting dalam menunjang penegakan diagnosis disamping pemeriksaanpemeriksaan lain. lesi yang dibiopsi sebaiknya lesi primer. Potongan jaringan yang akan diperiksa didapat dengan cara biopsi dengan pisau ataupun plong (punch).

susunan berubah tampak lebih homogen dan eorinofilik seperti degenertasi hialin dengan jumlah fibroblas yang berkurang Pada proses peradangan dapat ditemukan dalam dermis infiltrasi berbagai sel radang seperti netrofil. kadang-kadang tidak nampak lagi. vesikal atau gula • • • didalam epidermis. Sel diskeratotik : Sel epidermis yang menjalani keratinisasi lebih awal sitoplasma eosinofilik dan intinya kecil. eosinofil. histiosit. plasma.. skleroderma dan jamur dalam. seperti eritema nodosum. limfosit. sehingga lambat laun dapat merusak susunan stratum basale yang mula-mula teratur sepert pagar menjadi tidak teratur Celah : ruangan tanpa cairan • 2. Dermis • Papilomatosis : Papil yang memanjang melampui batas permukaan kulit • Degenerasi hialin : kolagen yang bergabung dan warnanya lebih merah • Fibrosis : Jumlah kolagen yang bertambah serta susunannya berubah dan sel fibroblas bertambah banyak • Sklerosis : Jumlah kolagen bertambah. 21 .menyebabkan terbentuknya celah. Bila masuk ke dinding pembuluh darah : vaskulitis. Sel-sel ini dapat tersebar di dermis atau diantara serabut kolagen atau tersusun di sekitar pembuluh darah atau tersusun sejajar epidermis sehingga menyerupai pita ( likenoid ) atau membentuk bulatan dengan batas tegas ( nodular ). Nekrosis : Kematian sel atau jaringan setempat pada organisme yang masih hidup Degenerasi Hidropik : stratum basale :rongga-rongga dibawah atau diatas membawa basalis yang dapat bergabung dan terisi serum. Jaringan sub kutis Banyak penyakit kulit dengan kelainan yang lebih menonjol di jaringan sub kutis.

proses degeneratif. nekrosis jaringan atau vaskulitis. 22 .Kelainannya dapat berupa peradangan.

diameter > 0. Emil R Darwis Ruam Kulit Ruam kulit atau lesi kulit Untuk mempelajari ilmu penyakit kulit mutlak diperlukan pengetahuan tentang ruam kulit. ulkus.VII. bisa putih. krusta. Morfologi kelainan kulit adalah ilmu yang mempelajari ruam kulit (effloressensi kulit). pustul dan kista.5 cm Plak : penonjolan padat yang mendatar di atas permukaan kulit. Terminologi ruam kulit : Ruam primer : Makula : kelainan kulit berbatas tegas setinggi permukaan kulit berupa perubahan warna. inspeksi ruam dan palpasi. vesikel. RUAM KULIT DAN CARA PEMBUATAN STATUS Archianda Arsad. erosi. bula. Dan untuk menegakkan diagnosispun dimulai dengan melihat ruam kulit.gosokan) atau regresi alamiah dengan berlanjutnya waktu seperti : makula. merah dan hitam. Ruam primer adalah ruam kulit yang timbul pertama kali tidak dipengaruhi oleh trauma dan manipulasi (garukan. nodulus. Ruam kulit terbagi dua yaitu ruam primer dan ruam sekunder. plak. Papul : penonjolan padat di atas permukaan kulit. atau terbentuk akibat perkembangan waktu bisa berupa : skuama. sirkumskrip . urtika. coklat. 23 . dan sikatriks. Ruam sekunder timbul akibat garukan / gosokan ataupun lanjutan dari ruam primer. diameter < 0. nodus. Karena tahapan – tahapan pemeriksaannya adalah anamnesis. papula.5 cm.

Nodul : penonjolan padat di atas permukaan kulit.5 cm Pustul : vesikel berisi nanah Eritema : kemerahan pada kulit yang disebabkan pelebaran pembuluh darah kapiler Abses : kumpulan nanah dalam jaringan / dalam kutis atau subkutis 24 .5 cm tapi < 1 cm.5 cm. Nodus/tumor: masa padat sirkumskrip. diameter > 0. bisa encer atau semi solid Vesikel : gelembung berisi cairan jernih (serum) dengan diameter <0. sirkumskrip. Kista : suatu kantong yang berisi cairan. Bula : vesikel yang lebih besar dari 0. terletak di kutan atau subkutan diameter > 1 cm.

dasar dan isi ulkus Fissura : kulit terbelah secara linier. Ulkus : hilangnya jaringan yang lebih dalam dari ekskoriasi sehingga terbentuk pinggir. Krusta : cairan eksudat yang mongering. bisa mencekung (atrofik) atau meninggi (hipertrofik) 25 . hilang perlahan – lahan.Urtika : edema setempat yang temporer (berbentuk papul atau plak) timbul mendadak. misalnya kulit digaruk. Likenifikasi : perubahan kulit sehingga relief kulit makin jelas Sikatriks : relief kulit tidak normal akibat jaringan tidak utuh lagi dan timbul kumpulan jaringan ikat baru. Ekskoriasi : kehilangan jaringan lebih dalam dari erosi sampai ujung papilla dermis. vertikal pada epidermis dan dermis. Skuama : adalah lapisan stratum korneum yang terlepas dari kulit. dapat bercampur dengan kotoran. obat dsbnya. dinding. Ruam sekunder : Erosi : kehilangan jaringan yang tidak melampaui stratum basale.

Komedo : ruam akne yang non inflamasi yang timbul akibat tersumbatnya keratin di muara saluran pilosebasea.petekia (makula < 5mm) . tanpa inflammasi. Purpura terbagi 2 : 1. Purpura: petekie yang lebih lebar > 5 mm. Palpable papular : akibat kerusakan pembuluh darah oleh inflammasi (vaskulitis) Burrow :terowongan yang berkelok – kelok yang meninggi di epridermis superficial yang ditimbulkan oleh parasit. Nodul yang verukosa : nodul yang permukaannya verukosa. tidak memucat bila ditekan. misalnya pada veruka Teleangiectasi :pelebaran pembuluh darah kecil superficial (kapiler.Ruam khusus : Vegetasi : pertumbuhan berupa penonjolan – penonjolan bulat atau runcing menjadi satu Papul yang verukosa : papul yang permukaannya verukosa.ekimosis ( makula > 5mm) 2. 26 . diameter < 5 mm. Non palpable macula : . arteriol. akibat kerapuhan pembuluh darah. Petekie : keluarnya darah dari pembuluh darah ke dermis. misalnya pada veruka. dan venul) yang menetap pada kulit. karena itu. Non palpable macula : kerusakan pembuluh darah.

Ukuran pentul (pada miliaria rubra. Lesi target biasanya dijumpai di telapak tangan penderita eritema multiforme (gambaran seperti mata sapi). Dalam mendeskripsikan ruam (dalam pembuatan status) setiap ruam baik primer maupun sekunder haruslah dijabarkan dalam : bentuk. korporis. tumor. Psoriasis) 27 : sebesar jagung atau kacang . papula. nodula. morbili) lentikuler tanah (pada prurigo. plak. pustule. multiple (herpes zoster) : milier : sebesar kepala jarum . letak. Ruam : Primer : Ruam harus dideskripsikan/dijabarkan menurut : . vesikula. ptiriasis rosea) numuler : sebesar uang logam (Rp 100) (pada dermatitis numularis) Plakat : sebesar daun mangga (pada T. kista.Jumlah : tunggal (nodul). .Bentuk : makula. lingkaran ketiga adalah lingkaran eritema. lingkaran pertama mengandung purpura atau vesikel di bagian tengah yang dikelilingi oleh lingkaran pucat (lingkaran kedua). jumlah.Lesi target : terdiri dari 3 zona yang berbentuk lingkaran. susunan. dan gambaran.

psoriasis.Geografis mangga : lebih lebar dari daun ( T.Letak : Diskret : terpisah dekat (prurigo nodularis. T.Gambaran rosea) Kombiformis configuration ) : Ruam besar dikelilingi ruam – ruam kecil (dermatitis kontak. MH. kandidiasis intertrigo) Polisiklis satu (impetigo krustosa.Susunan : Soliter : sendiri (nevus) Berkelompok : (herpes zoster. dermatitis herpetiformis) Diseminata : menyebar rata ke seluruh permukaan tubuh tapi terpisah (varisela dan scabies) . korporis) Arsiner bulosa/krustosa) : setengah lingkaran (impetigo vesiko : beberapa lingkaran menjadi : (hen and chiken : beberapa ruam bergabung (herpes zoster) : merata sama besar. akne vulgaris) Konfluens . korporis. korporis. ptirisis 28 . Psoriasis) . versicolor. varisela ringan) Difus jaraknya (miliaria rubra. T. : Anuler : seperti cincin (T.

Gambaran : anuler (erosi). sirsiner. difus (skuama pada psoriasis eritrodermik). multipel (ulkus : milier (erosi. ulkus. korporis. korporis. erosi. numuler (sikatriks) plakat (hiperpigmentasi) . sikatriks.Ukuran simpleks) : tunggal (ulkus durum).Letak : diskret (krusta pada varisela). krusta. impetigo) : seperti peta (urtikaria.Sirsiner Geografis morbus Hansen) Lesi iris Folikuler : bulat seperti lingkaran (T. ekskoriasi. . TV. 29 . eskoriasis.Jumlah mole) . impetigo Bochardt) Sekunder : Ruam yang harus dideskripsikan/dijabarkan menurut . likenifiksi. : seperti mata (erithema multiforme) : mengikuti folikel rambut (keratosis folikularis. ulkus herpes lentikuler (ulkus pada ektima). berkelompok (ulkus herpes simpleks) diseminata (skuama. krusta.Susunan : soliter (ulkus durum). geografis. konfluens (impetigo) . arsiner.Bentuk : skuama. korimbiformis (sifilis std II). hiperpigmentasi. fisura. eksoriasis pada varisela) . T. polisiklis (impetigo).

eritem) Bercak – bercak : .putih .hitam (makula. insect bite : kudis – kudis (sikatriks) : Parut 30 .perak Skuama Krusta : koreng – koreng. koreng – koreng .putih .merah .warna kulit Benjolan / tumor .vegetasi. kista Vesikel : Gelembung – gelembung kecil berisi cairan Bula : Gelembung – gelembung besar berisi cairan Pustule : Gelembung – gelembung kecil berisi nanah .eritem milier) merah Bintik – bintik : .hitam (papel.putih . kudis – kudis Papel pada kasus prurigo.ANALOGI KATA DOMONKOS Keluhan objektif : (makula milier. bisul – bisul kecil Bula purulenta : Gelembung – gelembung besar berisi nanah Abses : bisul – bisul (besar) ketebalan :.sedang . kudis – kudis Erosi.tebal Sisik – sisik Warna : .hitam .tipis . tumor.merah - Nodul .putih .komedo) Bintil – bintil : . scabies.purpura. eskoriasi : lecet – lecet Ulkus : borok – borok.petechie.

likenifikasi. linear.(plak. dermatomal. generalisata. Ruam primer Bentuk Jumlah Gambara n Milier Soliter Difus Anuler Lentikule Berkelom Diskret Sirsiner r pok Konfluens Arsiner Numuler Diseminat Koalisi Geografis Plakat a Disemina me Geografis ta Gyrata Polisiklis Korimbifo rmis Lesi iris Ukuran Susunan Letak Macula Tunggal Hypopigme Buah ntasi Mulitipel Hyperpigme ntasi Kecoklatan Erithema Ruam sekunder Bentuk Jumlah Skuama Tunggal Tipis Buah Sedang Multipel Tebal Ukuran Milier Lentikuler Numuler Plakat Susunan Soliter Berkelom pok Diseminat Letak Difus Diskret Konfluens Koalisi Gambaran Anuler Sirsiner Arsiner Geografis 31 . keratosis) : Penebalan kulit / kulit menebal & mengeras (sclerosis) : Kulit mengeras (xerosis) : Kulit kering (edema) : Pembengkakan Keluhan subyektif : Rasa gatal (paling sering) Rasa panas (rasa terbakar) Rasa dingin (rasa geli) Rasa mencucuk Rasa menyengat Rasa menjalar Rasa sakit / nyeri / mendenyut Kebas /semut – semutan Kurang berasa Kepekaan kulit berlebihan Mati rasa (tidak berasa) STATUS DERMATOLOGIKUS Lokalisasi : Distribusi : lokal. regional. universal.

ukuran. batas. ukuran. fungsiolesa (rubor dan tumor). dan pembesaran kelenjar limfe) Prinsip – prinsip untuk menegakkan diagnosis (Looking Bill) • • • Riwayat penyakit à anamnesis Pemeriksaan fisik Terminologi ruam – ruam kulit masa lampau 32 .Penggunaan obat – obatan : *penyakit yang diderita *penyakit lain . kalor. indurasi. rubor. PALPASI : Untuk mencari tanda – tanda radang akut (dolor. fluktuasi.Kebiasaan Anamnesis tidak perlu terlalu rinci tetapi harus terarah kepada diagnosis banding.INSPEKSI : lokalisasi. bentuk.Penyakit pada anggota keluarga .fungsiolesa.Putih a Diseminat a me Circle Polisiklis Korimbifor mis Lesi iris Pemeriksaan dalam ruangan terang (kalau perlu pakai kaca pembesar) . CARA MEMBUAT DIAGNOSIS (PEMBUATAN STATUS) TAHAPAN – TAHAPAN UNTUK MENEGAKKAN DIAGNOSIS : ANAMNESIS : . . batas dan ruam khusus. penyebaran. tumor. penyebaran. PEMERIKSAAN : (Dalam ruangan terang.Penyakit yang diderita pasien pada .Riwayat penyakit .PALPASI : cari tanda-tanda radang akut : dolor.Keluhan . kalau perlu pakai kaca pembesar) INSPEKSI : Untuk melihat lokalisasi. fluktuasi dan pembesaran kelenjar limfa. kalor. indurasi. warna. bentuk. warna. ruam.

Bagian pemeriksaan fisik yang paling penting adalah INSPEKSI. dibuat diagnosis banding secara umum kemudian dipilih diagnosis yang paling tepat. pemeriksaan fisik.• • • Korelasi patologi – patologi klinik Distribusi ruam – ruam kulit Pemeriksaan lab Data dikumpulkan dari riwayat penyakit. RIWAYAT PENYAKIT à anamnesis (history taking) Pertanyaan pembuka adalah : o Apa problem kulit anda ? (keluhan utama) o Kapan mulai ? o Bagaimana perkembangannya ? o Bertambah baik atau makin parah ? o Bagaimana gejala – gejalanya ? gatal ? 33 . Pencatatan riwayat penyakit dibagi atas format pre-liminary dan format follow – up. kadang – kadang dibantu hasil pemeriksaan lab.

apa ada keturunan ? Varisela. lampu fluoresen. Ada 2 kegunaannya. Pemeriksaan ruam tidak usah memakai sarung tangan. ada kena apa ? DA.RIWAYAT PENGOBATAN : Telah diberi (pengobatan) apa ? Salep (bahan – bahan lain) atau obat makan / sistemik / topikal ? Tidak adanya menyebutkan dermatitis kontak oleh pemberian obat topikal tapi perlu dicari apa sebelumnya dermatitis kontak oleh getah pohon (gatal. yaitu untuk mengetahui tekstur dan konsistensi ruam serta untuk menenangkan pasien bahwa kita tidak takut menyentuh ruamnya karena pasien tidak mengidap penyakit menular yang berbahaya. kadang – kadang diperlukan kaca pembesar (Whichham striae) Sekalipun pemeriksaan fisik paling banyak tergantung pada inspeksi. misalnya DK tanya kerjanya. namun kita tidak boleh meninggalkan pemeriksaan palpasi. Pasien sering mengatakan “saya sudah pernah pakai obat ini tapi tidak ada hasilnya. NF. apa ada keluarga yang kena ? Pemeriksaan fisik (kulit) Pemeriksaan kulit sebaiknya dalam cahaya terang : cahaya matahari langsung. diberi salep yang ada komponen resep yang harus menimbulkan Akhirnya dalam pemberian ditanyakan obat yang sudah pernah dipakai / diperolehnya. supaya pertanyaan untuk anamnesis bisa lebih fokus. “ Dalam pembuatan status. Skabies. karena gatal). pasien akan menjadi cemas apabila kita memeriksa memakai sarung tangan (kecuali untuk pemeriksaan daerah anogenital) 34 . setelah mendapat data – data riwayat penyakit dan penelusuran di status) ruam – ruam anda (tapi telah belum dapat mendeskripsikannya sebaiknya menentukan diagnosis sementara atau sekurang – kurangnya DB nya .

dermatomal. Konfigurasi ruam – ruam kulit à dapat membantu diagnosis. ADAM MALIK MEDAN Ko asisten : Dokter : Tanggal: STATUS PENDERITA PENYAKIT KULIT Nama Umur Jenis Kelamin Bangsa/Suku Kawin/Tdk Kawin Agama Pekerjaan Kegemaran Alamat ANAMNESIS : Keluhan utama : : : : : : : : : : Riwayat Perjalanan Penyakit : Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat Penyakit Terdahulu : PEMERIKSAAN : 35 . misalnya herpes zoster. plak. Pemeriksaan laboratorik : dapat membantu diagnosis misalnya : ANA. KEDOKTERAN USU/RS H. vesikel. dstnya. berkelompok. Korelasi histopatologi-klinik : perobahan komponen – komponen kulit dengan timbulnya ruam kulit. misalnya hiperplasi kelenjar sebasea à papul. CONTOH BLANKO Status Penderita Penyakit Kulit (Form I) BAGIAN I. papula. PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN FAK. ini dapat membantu diagnosis. misalnya vesikel berkelompok (herpes) Distribusi ruam – ruam kulit : banyak penyakit kulit daerah yang terlibat pada lokasi tertentu. komedo.Terminologi ruam : istilah – istilah yang dipakai yaitu macula. STS.

Abdomen : .STATUS GENERALISATA : Keadaan Umum : . Darah .Nadi : .Esktremitas : 36 .Genitalia : .Pernapasan : : .Kesadaran : .Tek.Leher : .Suhu Badan : Keadaan Spesifik : .Kepala : .Gizi : .Thoraks : .

STATUS DERMATOLOGIKUS : Lokalisasi : Ruam : Primer : (Jabarkan sifat – sifatnya) Sekunder : (Jabarkan sifat – sifatnya) TES – TES YANG DILAKUKAN : PEMERIKSAAN LABORATORIK : Rutin : Khusus : RINGKASAN : DIAGNOSIS BANDING : DIAGNOSIS DIAGNOSIS SEMENTARA : PENATALAKSANAAN : Umum : Khusus : PEMERIKSAAN ANJURAN : PROGNOSIS : 37 .

e. ADAM MALIK MEDAN Ko asisten : Dokter : Tanggal : STATUS PENDERITA IMS Nama : Umur Jenis Kelamin Bangsa/Suku Kawin/Tdk Kawin Agama Pekerjaan Kegemaran Alamat : : : : : : : : ANAMNESIS : Keluhan utama : Keluhan tambahan : RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT : Masa inkubasi : Kontak seksual sebelum ada keluhan : dengan : hari/minggu/bulan y.l: Kontak seksual sesudah ada keluhan : dengan : Premedikasi/autoterapi : GAMBARAN KLINIK : o.TPHA : 38 . PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN FAK KEDOKTERAN USU/RS H. u./introitus vagina :sekret warna: sifat: glanspenis/vulva(labia mayora & labia minora): ektropion : disuri : dispareunia : ulkus : vesikel : vegetasi : lain – lain : PEMERIKSAAN LABORATORIK : Diplokokus Gram negatif : -VDRL : Yeast : Trichomonas : Leukosit : DIAGNOSIS BANDING : DIAGNOSIS : .CONTOH BLANKO Status Penderita Penyakit IMS (Form II) BAGIAN I.

lokalisasi ruam berturut – turut.PENGOBATAN : FOLLOW – UP : CARA MENGISI Status Penderita Penyakit Kulit I. Garis – garis indeks pada RPP menunjukkan kronologisasi waktu. berupa : keluhan objektif (ruam) + keluhan subjektif (rasa)+ lokalisasi ruam + lamanya timbul ruam. Aturan – aturan menyusun RPP : 1. Hubungannya dengan iklim (bila ada). tindakan (manipulasi) dan akibatnya (perbaikan. Hubungannya dengan obat – obatan yang dimakan atau dipakai. Hubungannya dengan penyakit sistemik. sudah diobati atau belum.keluhan yang menyebabkan penderita datang berobat. ANAMNESIS : Diperoleh dari : . perkembangan/perjalanan penyakit (cepat atau lambat. RPP ini berisi uraian tentang lama penyakit. Riwayat Perjalanan Penyakit (RPP) : RPP mulai dari awal/mula – mula timbul ruam / keluhan sampai sekarang disusun secara kronologis (ditandai dengan garis – garis indeks).pemburukan. bentuk mula – mula.penderita sendiri (autoanamnesis) dan/atau pengantarnya (alo-anamnesa) Keluhan utama : . Antar dua garis indeks dibentuk satu alinea yang disusun secara singkat dan rinci terdiri dari ruam – ruam. bila sudah bagaimana hasilnya. Hubungannya dengan makanan. hilang/timbul). IDENTIFIKASI : Status Penderita Penyakit Kulit Nama : Umur : Jenis Kelamin Bangsa/Suku Kawin/Tdk Kawin : Agama : Pekerjaan : : Kegemaran : : Alamat : II. 2.atau status quo/menetap secara objektif maupun subjektif). keluhan subjektif . Keluhan tambahan : Kadang – kadang ada/ diperlukan keluhan tambahan. 39 .

5. PEMERIKSAAN : 40 Tindakan Status Quo (keluhan (Manipulasi) Pemburukan objektif . Rumus : Perbaikan objektif (berkurangnya ruam) Perbaikan subjektif (berkurangnya rasa gatal) Keluhan Objektif menetap) Keluhan Subjektif (bertambahnya ruam) Pemburukan subjektif (bertambahnya rasa gatal) 3. singkat. Memakai bahasa yang sederhana. tepat. padat (jangan ada data yang tidak dicantumkan namun selektif mendengar keluhan – keluhan o. pada alinea ini rincian seperti pada alinea pertama tidak perlu diulang. jelas.s). apabila satu ruam (misalnya acne) mengalami perluasan atau timbul di bagian lain. Pada alinea berikutnya. III. 4. Riwayat Penyakit Terdahulu : Penyakit kulit yang mungkin berulang atau penyakit lain yang ada hubungannya dengan penyakit kulit yang sekarang. dst. penyakitnya tidak sembuh malah timbul pembengkakan.Misalnya : Tiga bulan yang lalu timbul bintil – bintil kemerahan disertai rasa gatal dikedua tungkai bawah oleh o. Riwayat Penyakit Keluarga : Mungkin penyakit keturunan atau keluarga sebagai sumber penularan.s diberi Kalpanax beberapa hari. Cukup dengan menyebut keadaan serupa timbul pula di … Misalnya : pada aline pertama telah dijabarkan rincian ruam dan keluhan dan seterusnya kemudian pada alinea kedua terjadi perluasan maka cukup ditulis : keadaan serupa timbul pula di punggung dan dada . Jarak waktu (urut – urutan kejadian) tidak boleh terlalu lama (selang beberapa bulan/ minggu/hari).

Nadi : : : .Pernafasan 41 .Ekstremitas : : : : : .Status Generalisata : Keadaan umum .Genetalia : .Abdomen : .Suhu badan Keadaan Spesifik : .Thorax : : : .Kepala .Gizi .Leher .Kesadaran . Darah .Tek.

generalisat a (kalau luas). Bisa juga cara simterikal (simtris/asi metris). Contoh : regio frontalis. Tapi yang paling baik kita pakai gabungan sistem regional digilir secara berurutan menurut sistem kranio-kauda. Bisa juga cara kranio kauda (dari ujung rambut ke ujung kaki). universal (seluruh/ha mpir seluruh tubuh). Ruam : 42 . Bisa berdasar regio (regional).Status Dermatologikus : Lokalisasi : mendeskripsikan Ada beberapa cara untuk Lokalisasi ruam. regio pubika. regio aksilaris. Bila ingin absolute memakai sistem absis & ordinat. dan lain-lain. regio umbilikalis. regio sternalis. regio inguinalis.

varisela ringan) Difus jaraknya (miliaria rubra. ptiriasis rosea) numuler : sebesar uang logam (Rp 100) (pada dermatitis numularis) Plakat : sebesar daun mangga (pada T. versicolor. akne vulgaris) Konfluens : beberapa ruam bergabung (herpes zoster) 43 : merata sama besar. kista. morbili) lentikuler tanah (pada prurigo. dermatitis herpetiformis) Diseminata : menyebar rata ke seluruh permukaan tubuh tapi terpisah (varisela dan scabies) .Letak : Diskret : terpisah dekat (prurigo nodularis. Psoriasis) : lebih lebar dari daun : sebesar jagung atau kacang Geografis mangga ( T. korporis.Primer : Ruam harus dideskripsikan/dijabarkan menurut : .Ukuran pentul (pada miliaria rubra.Bentuk : makula.Susunan : Soliter : sendiri (nevus) Berkelompok : (herpes zoster. Psoriasis) . pustule. tumor.Jumlah : tunggal (nodul). korporis. vesikula. . T. nodula. papula. . multiple (herpes zoster) : milier : sebesar kepala jarum . plak.

Bentuk : skuama. fisura.Gambaran rosea) : Anuler : seperti cincin (T. erosi. likenifiksi. : bulat seperti lingkaran (T.Jumlah mole) . korporis. MH. ulkus herpes 44 . . T. krusta. psoriasis. impetigo) : seperti peta (urtikaria. korporis) Arsiner bulosa/krustosa) Sirsiner Geografis morbus Hansen) Lesi iris Folikuler : seperti mata (erithema multiforme) : mengikuti folikel rambut (keratosis folikularis.. korporis.Ukuran simpleks) : tunggal (ulkus durum). T. eskoriasis. multipel (ulkus : milier (erosi. sikatriks. ekskoriasi. kandidiasis intertrigo) Polisiklis satu (impetigo krustosa. : setengah lingkaran (impetigo vesiko : beberapa lingkaran menjadi impetigo Bochardt) Sekunder : Ruam yang harus dideskripsikan/dijabarkan menurut . hiperpigmentasi. ulkus. TV. korporis. ptirisis Kombiformis : (hen and chiken configuration ) : Ruam besar dikelilingi ruam – ruam kecil (dermatitis kontak.

eksoriasis pada varisela) . berkelompok (ulkus herpes simpleks) diseminata (skuama. PEMERIKSAAN LABORATORIK Rutin : urin. difus (skuama pada psoriasis eritrodermik).Susunan : soliter (ulkus durum). misalnya : • Tes diaskopi (untuk membedakan purpura dengan eritema) • Tes Nikolsky (untuk diagnostik pemfigus) • Tes goresan lilin (untuk diagnostik psoriasis) • Tes Gunawan (untuk diagnostik Morbus Hansen) • Tes tempel (untuk diagnostik dermatitis kontak) • Tes kalium yodida (untuk diagnostik dermatitis herpertiformis) • Tes asetil kolin (untuk dermatitis atopik) • Tes dermografisme (untuk dermatitis atopik) V. TES – TES YANG DILAKUKAN Tes yang sesuai dengan jenis ruam / penyakit untuk membantu menegakkan diagnosis. polisiklis (impetigo). korimbiformis (sifilis std II). feses Khusus : kerokan kulit/ KOH (hifa/spora) Kerokan kulit/NaCl (sarkoptes) Kerokan kulit/BTA (M. arsiner.lentikuler (ulkus pada ektima). leprae) Serum dari lesi genital / Burry (spiroketa) Sekret uretra / gram (diplokokus) Tes serologik (sifilis) 45 . darah. numuler (sikatriks) plakat (hiperpigmentasi) . sirsiner.Gambaran : anuler (erosi). geografis. IV. krusta. konfluens (impetigo) .Letak : diskret (krusta pada varisela).

Contoh : Seorang laki – laki bangsa Indonesia. hitung eosinofil) VI. tegas dan jelas. suka Jawa.E. ptiriasis rosea. Pada pemeriksaan dermatologik didapatkan ruam papul – papul eritematus.Darah (sel L. tes Gunawan (-). tes – tes yang dilakukan. Penyusunan DD dibuat berurutan. pemeriksaan. Pada pemeriksaan kerokan kulit dengan KOH 10 % didapatkan hifa. maka dapat di DD dengan penyakit – penyakit golongan eritoskuamosa seperti : dermatomikosis. skuama. umur 25 tahun datang dengan keluhan adanya bintil – bintil disertai rasa gatal pada sela paha sudah 2 minggu. psoriasis dan Morbus Hansen. Misalnya : Kulit yang eritematus disertaai skuama – skuama. hasil pemeriksaan laboratorik dst. pemeriksaan dermatologikus. VII. IX. Kesemuanya ini harus dalam satu kalimat / alinea pendek . dan hal – hal yang negatif untuk menyingkirkan diagnosis banding yang diperoleh dari anamnesis. RINGKASAN Menyebutkan hal – hal yang positif (secara ringkas) yang menyokong untuk menegakkan diagnosis. Jika penyebab penyakit sudah diketahui (dari biopsy atau kultur) diagnosis pastipun telah dapat ditegakkan. padat. merupakan kesimpulan dari semua hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. Tes goresan lilin (-). pada regio inguinal. dimulai dari yang paling mendekati diagnosis. DIAGNOSIS SEMENTARA Diagnosis yang paling mungkin dari DD yang telah disusun (dipilih menempati rangking I). bagian tengahnya menyembuh. PENATALAKSANAAN 46 . DIAGNOSIS BANDING Diperlukan bila berdasarkan gambaran klinik meragukan untuk suatu diagnosis. dermatitis seboroika. VIII. plak di pinggir aktif.

PEMERIKSAAN ANJURAN Untuk mempertegas diagnosis atau untuk menyingkirkan atay memperkecil kemungkinan DD lain (biopsi. diet. dsb. adekuat tidaknya pengobatan dan kepatuhan penderita (pada anjuran/larangan dan pemakain obat). X. kultur). Khusus : anjuran / larangan. Bergantun kepada : Jenis penyakit. dll) Tindakan bedah kulit. buruk. PROGNOSIS Baik. : obat – obatan : sistemik (oral/ parenteral) Topikal : dermato terapi (salap kompres. Umum 2. 47 . untuk memperbaiki keadaan umum penderita (gizi jelek)hygiene jelek (kebersihan).1. XI. bedak kocok. cepat/lambatnya penanggulangan. sedang.

PEMERIKSAAN LABORATORIK 48 .CONTOH STATUS PENDERITA IMS II Form BAGIAN I. Sutomo 27 Medan Karyawan Bengkel Belum kawin : kencing nanah sejak 2 hari yang lalu : nyeri waktu kencing Keluhan tambahan III. RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT Masa inkubasi : 3 hari Kontak seksual sebelum ada keluhan : (+) dengan : WTS 5 hari /minggu/bulan y. Asisten : Penny S Dokter : Kelly Amin Tanggal : 10 Oktober 1983 STATUS PENDERITA IMS I.u.l Kontak seksual sesudah ada keluhan : (-). IDENTIFIKASI : Nama Kelamin Umur Bangsa / suku Agama Alamat Pekerjaan Perkawinan II. KEDOKTERAN USU / RS H. ADAM MALIK MEDAN Ko. dengan : Premedikasi /autoterapi: kapsul Penbritin IV. ANAMNESIS : Keluhan utama : : : : : : : : Sioedomo Halim Laki – laki 23 tahun Indonesia / Cina Budha Jl.e/introitus vagina: hiperemis Sekret : (+) warna : putih sampai kuning kehijauan Sifat : mukopurulen glans penis/vulva(labia mayora & labia minora) : edema ektropion : (+) disuria : (+) dispareunia : (-) ulkus : (-) vesikel : (-) vegetasi : (-) lain – lain (-) V. PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN FAK. GAMBARAN KLINIK o.

Diplokokus gram Yeast Trichomonas Lekosit VDRL (-) : positif : intrasel dan ekstra sel : negatif : negatif : penuh : belum diperiksa TPHA : belum diperiksa VI.Uretritis gonore anterior akuta . DIAGNOSIS VIII.5 hari lagi (klinis & lab) 49 . PENGOBATAN Follow up : Uretritis gonore anterior akuta : Tiamfenikol 3 gr/dosis tunggal : Kontrol 3.Uretritis non spesifik VII. DIAGNOSIS BANDING .

U Rapan Umur : 19 tahun Jenis Kelamin : Laki – laki Status : Belum menikah Bangsa/suku : Indonesia / Jawa Agama : Katholik Pekerjaan : Karyawan bengkel Kegemaran : Basket Alamat : Jl. . Asisten : K.Dua bulan yang lalu timbil bintil – bintil sebesar kacang hijau di daerah pantat bagian kiri disertai rasa gatal. ADAM MALIK MEDAN Form Ko.Tadi malam ruam kulit oleh o. Riwayat perjalanan penyakit : .s diberi afitson tapi tidak sembuh. ANAMNESIS :autoanamensis/alloanamnesis Keluhan utama : Timbul bintil – bintil kehitaman disertai rasa gatal di pantat sudah 2 bulan. oleh o. Panitera A. IDENTIFIKASI : Nama : K. malah meluas ke pantat sebelah kanan. Selam 18 Medan II. KEDOKTERAN USU/RS H. .CONTOH STATUS PENDERITA PENYAKIT KULIT I BAGIAN ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN FAK.N Dokter : Ermakulit Tanggal : 10 Oktober 1983 STATUS PENDERITA PENYAKIT KULIT I.s memakai krim Betason dari Apotek.s diberi oli sepeda motor (oli bekas yang masih panas) dan rasa gatal berkurang. tapi penyakitnya tidak berkuran atau berubah. malah timbul rasa perih.1 1/2 bulan yang lalu o. 50 . Keluhan tambahan : Timbul gelembung – gelembung berisi cairan disertai rasa panas di lokasi yang sama.

multipel. pembengkakan berwarna merah disertai rasa panas.t. .t.k . Riwayat penyakit terdahulu : III. multipel. milier.Edema. Tapi cuaca panas /berkeringat membuat penyakit o.t.Skuama.Abdomen: supel .Erosi. diskret.s juga ada yang menderita penyakit ini. diskret membentuk gambaran polisiklis dan geografis.k.kesadaran : baik .t.Nadi : 76 x/menit .Kepala : t. diskret .Ekstremitas:t. PEMERIKSAAN : Status Generalisata : Keadaan umum : baik Keadaan spesifik : .plague erithem 2 buah. multipel.k .k .Pernafasan : 24x/menit . di tengah lebih tenang ditandai makula erithema.s makin berkembang. sebesar milier sampai lentikuler. makanan dan obat – obat yang dimakan tidak ada hubungannya dengan penyakit o. .Leher : t. Pekerjaan.Gizi : sedang .- Tadi pagi timbul gelembung – gelembung.5 o C .t. Ruam sekunder : (sebutkan sifat – sifatnya) .Genetalia:t. . yang pinggirnya aktif ditandai papel – papel erithema sebesar milier sampai lentikuler.Suhu badan : 37. lentikuler. diskret 51 . dan rasa gatal semakin menghebat.k Status dermatologikus : Lokalisasi : regio glutea sinistra regio glute dextra Ruam primer : (sebutkan sifat – sifatnya) .Tekanan Darah: 120/80 mmHg .Vesikel. Riwayat penyakit keluarga : Abang dan adik o.s.Toraks : t.

diberi oli bekas timbul pembengkakan. VII. Pada pemeriksaan kerokan kulit dengan KOH 10 % dijumpai hifa panjang bersepta. Skabies VIII. darah. skuama. datang dengan keluhan bintil – bintil kehitaman disertai gatal di pantat sudah 2 bulan. PENATALAKSANAAN Umum : . papula. Pada pemeriksaan dermatologis dijumpai plaque. Dermatitis kontak 4. edema. DIAGNOSIS BANDING 1. vesikel. Kandidiasis kutis 3. tinja à tidak dilakukan Khusus : kerokan kulit dengan KOH 10 %. erosi. DIAGNOSIS SEMENTARA Tinea kruris + Dermatitis kontak IX. Tinea kruris + Dermatitis kontak 2. pada regio glutea sinistra dan dextra.IV. RINGKASAN : Seorang laki – laki bangsa Indonesia. umur 19 tahun. PEMERIKSAAN LABORATORIK : Rutin : urine. suku Jawa. Psorisasis vulgaris 5. diberi Betason N ruman makin luas. TES – TES YANG DILAKUKAN : Tes goresan lilin : negative Tes tempel : belum dilakukan V. dijumpai hifa panjang VI.stop pemakaian bahan luar yang dapat memperburuk keadaan 52 .

PEMERIKSAAN ANJURAN : XI. 4. eds. 6. Arnold HL. Fitzpatrick TB.. Principles of Dermatology. PK 1 : 15 000 selama 3 – 5 hari o Salep / krim Ketokonazol 1 % setelah lesi agak kemps/ kering/ setelah kompresi distop. X. New York : the Blakiston Div. 2nd ed. Odom RB. 24 – 25 53 .B. 2nd ed. Hochstein E. Marks JG. Dermatologic in general medicine. 2. Domonkos ND. Solomons B. Lecture notes on dermatology. Rubin AL. Fundamentals of dermatologic diagnosis.Oral : o Tablet Ketokonazol 1 x 200 mg/hari selama 3 – 4 minggu o Tablet Klortrimeton 3 x 4 mg / hari selama beberapa hari o Tablet Prednison 3 x 2. 1982 : 15 – 21. Lookingbill DP. Physical Diagnosis text book and work book in methods of clinical examination.5 mg / hari selama 3 – 5 hari o Kapsul Eritromisin 4 x 250 mg/ hari selama 5 hari Topikal : o Kompres sol. 5th ed. Phyladelphia : WB Saunders.hindari pakaian tebal. Andrews’ diseases of the skin 7th ed.. Singapore : PG Publishing Pte Ltd : 1983 : 12 – 7. 1979 : 10 – 36 3. In : Fitzpatrick TB etal. Phyladelphia : W. pakaian yang tidak menyerap keringat (nilon) Khusus : . New York Mc Graw-Hill. Practical dermatology. Phyladelphia : WB Saunders : 1 – 7/ 5. Mc Graw-Hill Book Co. Lewis GM. : 30 – 37. Saunders. PROGNOSIS : KEPUSTAKAAN : Baik 1.

merah .hitam .putih .merah - 54 .komedo) Bintil – bintil : .putih .purpura.eritem milier) merah Bintik – bintik : .petechie.ANALOGI KATA DOMONKOS Keluhan objektif : (makula milier.vegetasi.warna kulit .putih .hitam (papel.eritem) Bercak – bercak : .hitam (makula.

sedang . koreng – koreng . kudis – kudis Erosi. bisul – bisul kecil Bula purulenta : Gelembung – gelembung besar berisi nanah Abses : bisul – bisul (besar) ketebalan :.tebal Sisik – sisik Warna : .Nodul . kudis – kudis Papel pada kasus prurigo.tipis . insect bite : kudis – kudis (sikatriks) : Parut (plak. tumor.perak Skuama Krusta : koreng – koreng. kista Benjolan / tumor Vesikel : Gelembung – gelembung kecil berisi cairan Bula : Gelembung – gelembung besar berisi cairan Pustule : Gelembung – gelembung kecil berisi nanah . keratosis) : Penebalan kulit / kulit menebal & mengeras (sclerosis) : Kulit mengeras (xerosis) : Kulit kering (edema) : Pembengkakan Keluhan subyektif : Rasa gatal (paling sering) Rasa panas (rasa terbakar) Rasa dingin (rasa geli) Rasa mencucuk Rasa menyengat Rasa menjalar Rasa sakit / nyeri / mendenyut Kebas /semut – semutan Kurang berasa Kepekaan kulit berlebihan Mati rasa (tidak berasa) 55 . scabies.putih . eskoriasi : lecet – lecet Ulkus : borok – borok. likenifikasi.

STATUS DERMATOLOGIKUS Lokalisasi : Distribusi : lokal. universal. PENGETAHUAN DASAR IMUNOLOGI KULIT Sri Wahyuni Purnama PENDAHULUAN Kulit adalah ”end organ” untuk banyak kelainan yang diperantarai oleh proses imun. Ruam primer Bentuk Jumlah Gambara n Milier Soliter Difus Anuler Lentikule Berkelom Diskret Sirsiner r pok Konfluens Arsiner Numuler Diseminat Koalisi Geografis Plakat a Disemina me Geografis ta Gyrata Polisiklis Korimbifo rmis Lesi iris Ukuran Susunan Letak Macula Tunggal Hypopigme Buah ntasi Mulitipel Hyperpigme ntasi Kecoklatan Erithema Ruam sekunder Bentuk Jumlah Skuama Tunggal Tipis Buah Sedang Multipel Tebal Putih Ukuran Milier Lentikuler Numuler Plakat Susunan Soliter Berkelom pok Diseminat a Letak Difus Diskret Konfluens Koalisi Diseminat a Gambaran Anuler Sirsiner Arsiner Geografis me Circle Polisiklis Korimbifor mis Lesi iris VIII. Kulit bukan organ pasif dimana reaksi 56 . regional. dermatomal. linear. generalisata.

Sistem imun dalam tubuh mampu untuk mengenal serta membedakan berbagai macam benda asing sampai dengan pembedaan benda asing yang berasal dari tubuh sendiri (self) dan berasal dari luar tubuh (non self).Sebagian besar bakteri tidak dapat hidup untuk waktu yang lama oleh karena adanya asam laktat dan asam lemak dan kelenjar sebasea yang menyebabkan PH rendah. Pada manusia fagositosis terutama diperankan oleh sel mononuklear. RESPON IMUN Respon imun merupakan reaksi tubuh terhadap adanya benda asing. Jika benda asing masuk ke dalam tubuh. Sistem imun dibagi dalm 2 komponen. Demikian juga mukus yang dihasilkan oleh membran dalam tubuh. fagosist akan menyerang targetnya (berupa benda asing) melalui proses fagositosis. maka mekanisme pertahanan akan berperan yaitu ”enzym” untuk menghancurkannya dan melalui proses fagositosis.imun terjadi tetapi kulit berperan secara aktif terbukti dengan ditemukannya sel-sel imun (lymphoid dan sel langerhans) dan sel-sel yang menghasilkan sejumlah substansi yang mempengaruhi sel imun. Kejadian ini merupakan respon imun spesifik. yaitu: 1. saliva dan urine merupakan mekanisme mekanik pertahanan tubuh. memacu serangkaian kejadian yang menyebabkan destruksi. Pada respon imun turut berperan system seluler dan humoral. neutrofil dan eosinofil. Respon imun non spesifik Cara yang paling utama untuk menghindari infeksi adalah mencegah agar mikroorganisme tidak mempunyai jalan masuk ke dalam tubuh. Pertahanan utama tubuh adalah kulit yang jika masih intak merupakan barier impermeabel terhadap kebanyakan mikroorganisme. meliputi gamma globulin tertentu yang disebut imunoglobulin yang merupakan antibodi spesifik. Antigen akan berkontak dengan sel tertentu.degradasi atau eleminasi. terdiri atas respon imun spesifik dan respon imun non spesifik. air mata. Apabila terangsang. respon imun humoral. 57 . Respon imun spesifik Pemacunya disebut antigen yang dapat berupa bahan infeksiosa bahkan sering merupakan protein atau molekul lain.

vomitus. reaksi immediate) Reaksi ini ditandai dengan keluarnya sejumlah bahan (substansi) vasoaktif dari sel mast atau basofil yang mengikuti suatu reaksi antara antigen tertentu dengan antibodi. Ig G dan Ig M yang bersirkulasi bereaksi dengan permukaan antigen dan mengaktifkan sistem komplemen yang mengakibatkan kerusakan jaringan. Reaksi tipe I ( reaksi anafilaksis. tetapi dapat juga Ig G.diare. Kompleks imun ini juga akan mengaktivasi komplemen yang menyebabkan agregasi platelet dan pengeluaran enzym lisosom dan leukosit yang akan menimbulkan kerusakan vaskular.serotonin. Antibodi pada reaksi ini biasanya Imunoglobulin (Ig) E. nausea. 4. 3. Antigen adalah merangsang respon imun.hipotensi dan shock. 2. Contoh reaksi ini adalah pada penyakit pemfigoid bulosa.leukotrin dan prostaglandin reaksi tubuh terhadap hal ini berupa urtikaria. akan diperankan oleh limfosit serta produknya yang disebut sebagai limfokin dan menyebabkan reaksi-raeaksi hipersensitivitas tipe lambat. Antigen yang masuk akan berikatan dengan bagian Fc dari Imunglobulin yang melekat pada sel mast atau basofil.bronchospasm. dermatomiositis dan reaksi ARTHUS.2. apabila limfosit substansi yang tertentu mampu Coomb’s dan Gell membagi respon atas 4 tipe : 1. Sistem imun akan terangsang menagkap antigen. Reaksi tipe III ( reaksi kompleks imun ) Reaksi ini terjadi jika antigen dan antibodi yang bersirkulasi terdeposit ke jaringan menyebabkan peradangan. Antibodi yang berperan biasanya Ig G dan Ig M.edema laryngeal. Contoh reaksi ini : vaskulitis. respon imun seluler. Reaksi tipe IV ( hipersensitivitas tipe lambat) Reaksi ini diperantarai oleh sel limfosit yang telah tersensitisasi yaitu sel limfosit yang muncul pada kontak pertama dengan antigen sel limfosit yang telah tersensitisasi jika berinteraksi dengan antigen yang sama untuk kedua kalinya akan 58 . ini akan mengakibatkan degranulasi sel mast mengeluarkan histamin. lupus eritematosus sistemik. Reaksi tipe II ( reaksi sitotoksik) Reaksi ini muncul jika antigennya berupa membran plasma atau antigen bebas atau hapten yang diabsorpsi ke dalam membrane sel.

Sel langerhans berperan sebagai sel yang mempresentasikan antigen kepada sel limfosit dan menghasilkan interleukin.menyebabkan dikeluarkannya sejumlah limfokin menimbulkan reaksi. Keratinosit Sel-sel ini berperan pada proses imunitas dengan menghasilkan sejumlah sitokin-sitokin eradangan seperti interleukin. yang Sel-sel yang berperan dalam proses imunitas di kulit yaitu : 1. Contoh : dermatitis kontak alergi. Merupakan satu sel dendritik yang berasal dari sum-sum tulang ditandai dengan adanya organel sitoplasma dikenal sebagai granule ”Birbeck”. Sel limfosit T Sel limfosit T bersirkulasi pada kulit normal. 2. colonystimulating factor. Sel mast Sel mast merupakan sel residen yang dijumpai di dermis seperti juga makrofag.eicosanoid. Sel ini terperan pad reaksi inflamasi . dimana selsel ini akan mengeluarkan histamin. Ada beberapa subtipe limfosit T yaitu : • Sel T helper • Sel T sitotoksik • Sel T supresor • Sel T tersensitisasi 3. Keratinosit juga dapat mengekspresikan molekul MHC (Major Histocompatibility Complex) kelas II dan ICAM-1 (Intercelluler Adhesion Molecule) pada permukaannya. Sel langerhans epidermis berperan pada sistem imunitas seluler. dan enzymenzym lainnya. interferon dan eicosanoid. Sel langerhans. 59 . 4. eicosanoid dan tumor necrosis faktor. Sel ini berperan pada reaksi imun tipelambat.