Jurnol Pendidikon dan Z<ebudoyaan, No.

063, Tohun Ke-12,November 2006

Pengembangan KreativitasSiswa melalui Pertanyaan Divergen pada Mata Pelajaran llmu PengetahuanAlam (IPA)
Oleh Mariati"
Abstrak: Kreativitas sisiva sangar diperlirkan pada mata pelajaran IPA karena adanya nietode inquiry. Tetapi kenyataannya di kelas, kreativitas s w i n g tidak rampak pada pembelajaran. Tulisan in; merupakan dasar pemikiran bag; pelaksana kurikulirm di sekolah agar dapat meningkatkan krearisiras siswa di kelasnya. lnformasi tentang kreativitas diperoleh berdasarkan kajian literatur Data tenrang krearivirm diperoleh dan dianalisis dengan analisis deskriptif Hasil kajian ini menunjukkan bahiva pertanyaan divergen dalan~ larihan dan kegiatan pembelajaran dapar mengembangkan kreativitas sisiva.

Kafa Kunci: Pengembangan, Kreativiras, Divergen, dan Mata Pelajaran IPA. 1. Pendahuluan Pemberlakuan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) di sekolah mempunyai dampak bagi pembelajaran di mana pemberdayaan siswa merupakan ha1 yang diutamakan. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya disertai dengan hasil belajar (learning outcomes) yang diinginkan secarajelas. Hasil belajar yang akan dicapai dalam pembelajaran adalah pencapaian kompetensi dalam diri siswa melalui

sejumlah indikator.Agar tercapai h a d belajar siswa yang memadai dan kompeten, maka diperlukan adanya kreativitas dalam diri siswa. Beberapa hasil studi atau penelitian, antara lain Saefullab (2000), menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif antara kreativjtas dan hasil belajar. Semakin kreatif seorang siswa, semakin tinggi ha51 belajamya. Ada banyakcara agar siswa menjadi kreatif, agar siswa mempunyal daya imajinasi dalam

memberi respon atau gagasan umumnya cara memperoleh jawaban terhadap tugas atau pertanyaan yang dari pertanyaan atau tugas sudah diajukan kepadanya. Di sekolah, terperinci dalam LKS (lembar kerja biasanya respon siswa terhadap siswa). Bentuk pertanyaan yang pertanyaan ditekankan untuk sering digunakan adalah bentuk menemukan satujawaban yang benar pertanyaan konvergen yang tidak atau yang paling tepat terhadap suatu membuka peluang bagi siswa untuk persoalan. Hal ini disebabkan karena mengekspresikan kemampuannya. jenis pertanyaan yang sering LKS dengan bentuk tugas atau diajukan kepada siswa lebih dominan pertanyaan tertutup tersebut sangat pada jenis pertanyaan konvergen menuntun siswa untuk melakukan (termtup) yang hanya membutuhkan sesuatu, mengukur, mencatat dalam jawaban singkat yang bersifat tabel pengamatan, serta dalam ingatan atau hafalan. Cara membuat kesimpulan. LKS seperti ini memperoleh jawaban tersebut sering sering berperan sebagai resep karena kali telah ditentukan gum dan tidak sedikit sekali memberi peluang siswa boleh menyimpang dari cara itu. untuk berpikir secara bam atau trdak Kenyataan ini tentu saja menjadi pola biasa atau sedikit sekali memberi pembelajaran sehari-hari dengan cara peluang bagi siswa untuk menyeberpikir yang tidak merangsang lesaikan tugas dari berbagai sudut pemikiran kreatif, bahkan bisa pandang mereka. sebaliknya anak menjadi kaku dan Berdasarkan hal-ha1 yang sempit dalam cara berpikir dan disebutkan di atas, perlu dikaji lebih memecahkan masalah. dalam bagaimana pertanyaan atau Dalam matapelajaran IPA, selain tugas dalam bentuk pertanyaan dalam bentuk pertanyaan biasa di divergen (terbuka) yang diajukan kelas, siswa juga mengerjakan suatu pada siswa agar dapat mengemkegiatan eksperimen di laboratoriun. bangkan kreativitas siswa. Selayaknya kegiatan di laboratorium . A d a beberapa pertanyaan dapat menjadi wahana pengem- d a l a m permasalahan yang perlu bangan kreativitas karena adanya diimuskan, yaitu: (1) Bagaimana cara inqurry yang menantang siswa untuk untuk mengembangkan kreativitas berpikir, memberikan keluwesan siswa? (2) Apakah kreativitas siswa untuk berpendapat, berinisiatif, dan dapat berkembang melalui mata bertindak. Tetapi kenyatknya, pada pelajaran IPA? dan (3) Bagaimana
760
Jumol Pendidikon don Kebudo~~oon, 063, T o h m Ke-12, Nouember 2006 No.

cara merancang pembelajaran yang efektif yang menekankan pada bentuk pertanyaan divergen? Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk: (I) menggali informasi berdasarkan kajian pustaka tentang cara mengembangkan kreativitas dalam diri siswa, (2) menggali informasi berdasarkan kajian pustaka bahwa kreativitas siswa dapat berkembang melalui mata pelajaran IPA, dan (3) menemutunjukkan cara merancang pembelajaran yang efektif yang menekankan pada bentuk pertanyaan divergen. Kajian Literatur dan Pembahasan 2.1 Kreativitas Satu di antara rumusan tujuan pendidikan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Depdiknas, 2003) adalah pengembangan kreativitas peserta didik. Istilah kreativitas oleh Rhodes (dalam Munandar, 1993) disebut sebagai konsep 4P atau The Four Pk of Creativity, yaitu produk, proses, dorongan, dan pribadi. Kreativitas sebagai suatu produk adalah kemauan untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Sebagai suatu proses kegiatan berkreasi yang tidak pemah bosan membentuk kpmbinasi baru. Anak kreatif menunjukkan
2.

kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas (keaslian) dalam ungkapan dan gagasannya, dalam pemikiran, maupun perilakunya. Anak yang kreatif memiliki ciri-ciri kepribadian antara lain: (a) mempunyai rasa ingin tahu, (b) mempunyai daya imajinasi yang kuat, (c) mempunyai minat yang h a s , tekun, dan ulet dalam mengerjakan tugas. Ditinjau dari segi dorongan, dapat berupa dorongan dari dalam diri sendiri ataupun dorongan dari luar. Anak mempunyai keinginan dan kesempatan untuk menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Sumarjan (1983) menyatakan bahwa kreativitas merupakan sifat pribadi, bukanmerupakan sifatsosial yang dihayati masyarakat. Selanjutnya Semiawan et al. (1987) mendefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru atau melihat hubungan-hubungan baru antara halha1 yang sudab ada sebelumnya. Gibbs dalam studinya pada tahun 1972 (dtilam Amin, 1983) mengemukakan bahwa kreativitas mempunyai relevansi untuk proses pendidikan yang dapat dipupuk atau dikembangkan. Untukmengembangkan kreativitas siswa, guru perlu: (1) mengembangkan kepercayaan yang tinggi pada siswa untuk mengurangi
761

Jumol P e n d ~ d ~ l z don Kebudayodn. No. 063, Tohex Zieie-12,No~ember ar~ 9006

timbulnya rasa takut, (2) memberi semangat pada siswa dalam suatu komunikasi yang bebas dan terarah, (3) memperkenankan siswa untuk menentukan sendiri sasaran dan evaluasi terhadap dirinyasendiri, dan (4) pengawasan yang tidak terlalu ketat (kaku) dan otoriter. Disamping merupakan hakikat pendidikan, kreativitas juga merupakan kegiatan bermakna dan bermanfaat (baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya), menimbulkan rasa senang, kepuasan dan keberhasilan, serta mempunyai sikap ingin tahu, senang mencari hal-ha1 barn, serta merasa tertantang untuk menyelesaikan hal-ha1 yang rumit (Munandar, 1993). Oleh karena itu kreativitas perlu dipupuk untuk memungkinkan anak mewujudkan potensinya secara optimal. Selanjutnya dinyatakan bahwa ada beberapa cara guru untuk memupuk kreativitas siswa, yaitu: (1) menerima anak sebagaimana adanya, dengan segala kekuatan dan kelemahannya, (2) tidak terlalu cepat memberikan penilaian terhadap sikap dan perilaku anak, apalagi penilaian bempa kritik8 atau celaan, (3) memberikan peluang bagi anak untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya, dengan tetap mematuhi aturan'.yang berlaku dimasyarakat: Keseluruhan ha1
762

tersebut dapat dilakukan di sekolah dengan berbagai teknik. Ada beberapa teknik kreatif yang dapat dikembangkan di sekolah (Munandar, 1993) seperti teknik sumbang saran (brainstorming), pertanyaan divergen yang memacu gagasan, dan bermain peran. Sedangkan menurut Amin (1983), di samping teknik tersebut adalah membuat syair, membuat humor, membuat berbagai media, dan pendekatan inquiry. Pendekatan ini meningkatkan potensi intelektual, membantu siswa belajar melakukan penelitian, meningkatkan daya ingat, membuat proses pengajaran menjadi pembelajaran (student-cenlered) sebingga dapat membantu pembentukan sey-concept seseorang, mengembangkan kreativitas, menghindari proses belajar secara menghafal, serta memberikan lebih banyak kesempatan untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi. Semua teknik kreatif menuntut berpikir divergen, yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu mkalah dari berbagai sudut pandang dan dapat memberikan gagasan yang bervariasi. Good dan Brophy (1990) mengemukaan bahwa kreativitas adalahprosesberpikirdivergen yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinilitas dalam proses

Jurnal Pendidikaz dark Kebudowan, No. 063, Tahun Ke-12, Nouember 2006

berpikir. Sementara itu Munandar (1999) m e m u s k a n kreativitas secara operasional sebagai suatu proses yang tercermin dalam kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), keteraturan, dan orisinilitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, dan memperinci) suatu gagasan. Ada beberapa karakteristik kreativitas, yaitu: (1) kreativitas mempakan proses, bukan produk, (2) proses itu adalah proses yang terarah, apakah itu untuk kepentingan pribadi atau kelompok, (3) kreativitas merupakan suatu produk baru, berbeda, unik, apakah itu verbal atau non verbal, apakah itu konkrit atau abstrak, (4) kreativitas datang dari cara berpikir divergen, dan (5) kreativitas merupakan hasil dari berpikir kreatif. Munandar (1993) menyatakan bahwa berpikir divergen merupakan dasar berpikir kreatif karena memerlukan berbagai pilihan dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Pada umumnya proses pemikiran yang dilatih di sekolah terbatas pada kognisi, ingatan, dan berpikir konvergen, sedangkan berpiki divergen dan evaluasi kurang diperhatikan. Dalam struktur intelek yang dikembangkan Guilford (dalam Good dan Brophy, 1990) disebutkan bahwa berpikir divGgen mempunyai empat konten, yaitu semantik dan verbal (bempa kata-kata), simbolik atau visual (berupa lambang), figura (berupa gambar), dan behavioral atau berhubungan dengan kelakuan, perangai atau tingkah laku atau afektifyang mencerminkan sikap dan perasaan. Oleh karena itu kreativitas merupakan proses belajar dan bersikap kreatif. Selanjutnya Munandar (1993) menyatakan bahwa berpikir divergen memberikan bermacam-macam kemungkinan pilihan dalam memecahkan masalah berdasarkan informasi yang diberikan dengan penekanan pada keragaman jumlah dan kesesuaian. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa perumusan kreativitas sebagai berikut. Pertama, kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada. Biasanya orang mengartikan kreativitas sebagai daya cipta dan kemampuan untuk menciptakan halha1 yang baru. Kedua, secara operasional kreativitas d i m u s k a n sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan orisinilitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, dan merinci) suatu
763

Jurnal Pendidihan don ~ e b u d q o d nNo. 063, T o h m Ke-12, November 2006 ,

gagasan. Ketiga, kreativitas adalah berpikir divergen atau belpikiu kreatif, yaitu adanya kemampuan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah dengan penekanan pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban. Kemampuan ini juga berdasarkan data dan informasi yang tersedia. Semakin banyak kemungkinan jawaban yang diberikan semakin kreatiflah seseorang. Berpikir divergen merangsang anak menggunakan daya imajinasi yang lancar, fleksibel, dan orisinal dalam mengungkapkan gagasan yang bervariasi dalam memecahkan masalah. Pemikiran divergen berasal dari bentuk tugas atau pertanyaan divergen (terbuka) dimana setiap anak melihat masalah yang ada dari berbagai sudut pandang, tidak ada jawaban yang salah, munculnya keunikan dalam ungkapan gagasan, serta adanya berbagai pilihan dalam memecahkan masalah yang dihadapi. 2.2 BentukPertanyaan Divergen dan Konvergen Nitko (1996) menyatakan babww ketika merancang tugas atau pertanyaan dalam bentuk jawaban tertulis atau iisan, baik dalam kelompok atau indiv~du, dikenal dua jenis pertanyaan, yaitu pertanyaan
764

divergen (terbuka) dan pertanyaan konvergen (tertutup). Pada pertanyaan divergen siswa memberi jawaban dengan berbagai cara, misalnya membuat catatan, memberi jawaban yang bervariasi, memberi penjelasan, dan alasan. Ekspresi mereka dalam menyelesaikan masalah membentuk pola pikiu yang divergen. Pada tugas pertanyaan konvergen, siswa membentuk jawaban yang menyempit dan terarah pada satu jawaban yang benar. Carin dan Sund (1989) menyatakan bahwa ada dua klasifikasi bentuk pertanyaan, yaitu divergen dan konvergen. Pertanyaan divergen dapat meningkatkan respon siswa pada berbagai jawaban, sedangkan pertanyaan konvergen disebut pertanyaan tertutup karena diutamakan jawaban tunggal, spesifik, dan menguatkan pada satu jawaban yang benar. Perbedaan keduanya diberikan pada Gambar 1.

2.3 Pertanyaan Konvergen Kapan dan bagaimana pertanyaan k&ergen digunakan? Carin dan Sund (1989) menyatakan bahwa di dalam pembelajaran IPA kelas rendah di sekolah dasar biasanya diawali dengan pertanyaan konvergen, tetapi hams berpindah ke arab divergen dengan bertambahnya usia mereka. Pertanyaan konvergen mempunyai

Jumal ~ e n d ~ d ~ k a n d o n Kebudayooz,No. 063, T o h m Ke-12, November 2006

Pertanyam

<

Jawaban

Jawaban Jawaban

>
Pertanyaan

Jawabm

Gambar 1: Pola Pertanyaan Divergen dan Konvergen

beberapa tujuan, yaitu untuk mengevaluasi apa yang dilihat (diamati) siswa, apa yang diketahui siswa, atau yang mereka rasakan tentang suatu peristiwa. Pertanyaan konvergen juga mengasah ingatan atau bafalan. Oleh karena itu, pertanyaan konvergen disebut tuntunan mengikat karena siswa hams mengerjakan tugasnya sesuai dengan petunjuk dan tuntunan yang sesuai dengan kehendak dan sasaran yang akan dicapai dalam pembelajaran. Pertanyaan yang menuntun bahkan dimulai dari pertanyaan yang sangat konvergen yang cocokuntuk sekolah dasw kelas rendah. 2.4 Pertanyaan Divergen Sekarang ini bidang sains, teknologi, dan lingkungan sering membutuhkan lebib dari satu penyelesaian. Karena itu berpikir divergen merupakan kecakapan yang sangat saat

ini. Bagaimana guru mengajukan pertanyaan agar dapat merangsang berpikir divergen? Carin dan Sund (1989) menyatakan bahwapertanyaan divergen atau terbuka akan memberikan respon yang h a s dan dalam serta melibatkan siswa menjadi kreatifdan kritis. Penanyaan divergen merangsang siswa menjadi pengamat yang baik dan organisator yang baik, pada saat sekarang dan masa yang akan datang. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menuntun siswa dalam menemukan, melihat hubungan, membuat hipotesis, dan menarik kesimpulan dari data. Suatu pendekatan yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif a$ala"h pictorial riddle approach (Carin dan Sund, 1989). Suatu riddle biasanya bempa gambar, kemudian guru mengajukan pertanyaan berkaitan dengan riddle tersebut. Pictorial riddle pada Gambar 2
765

Jumol P e n d ~ d ~ h o n Kebadoymn, No. 063, T l u Ke-12, Norember 2006 don orn

Prrtanvaan Konvereen

Keteram~iian vane Muncul Pengamalan Deskripsi Pengamatadngatan Pengamataflngatan PengamatanIPerhandingan PengamatdPerbandingan

Benda apa yang ada pada gambar? Deskripsikan apa yang terjadi pada wadah I. Apa nama benda pada wadah 2? Wadah mana yang berisi seangga? &pa persamaan antam kejadian wadah I dm 2? &paperbedaan antara kejadian wadah I dm 2?

:ambar 2: PicforialRiddle dengan Pertanyaan Konvergen dan Divergen menunjukkan bahwa pertanyaan divergen menghasilkan banyak kegunaan dibandingkan dengan pertanyaan konvergen. Pada gambar terlihatjarum terapungdi atas airdan nyamuk berjalan di atas air. Siswa dihadapkan pada sesuatu yang bertentangan antara teori dan
Pertanyaan Divergen . .

kenyataan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Apabila pertanyaan divergen digunakan untuk menyelesaikan masalah pada Gambar 2, maka keterampilan yang muncul adalah sebagai berikut:

' i ~ & r a ilan yanz \lunrul m Apa )ang d ~ p a kamu kalakan tmrang k c d u a - ~ r b m d i n g a n t gambar? Membuat hipotesis Keadaan apa yang menyebabkan kejadian K tenebut? Mewhubunekan konseo Baeaimana kamu menuniukkan o r i n s i ~ IPA

1

.
dapat mengapung di air? Rancang percobaan seperti gamhar.

I

I Melakukan percobaan

766

Jurnol Pendrd~lzan don Kebudayoan. No 063, Tohon Ke-I2, November 2006

Pendekatan riddle menunjukkan bahwa pertanyaan konvergen mengevaluasi apa yang diamati siswa tentang suatu kejadian dan hanya mengevaluasi ingatan atau hafalan. Sebaliknya dengan mengajukan pertanyaan divergen siswa berada pada pemikiran tingkat tinggi dengan pemahaman yang dalam. Dalam pembelajaran harus ada keseimbangan antara konvergen dan divergen. Tetapi suatu studi menunjukkan bahwa 80% pertanyaan yang diajukan gum hanya jawaban singkat yang sederhana dari hafalad ingatan (Carin dan Sund; 1989). Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pertanyaan divergen memungkinkan siswa untuk berpikir kreatif, karena daya kreativitas siswa yang menunjuk pada kemampuan untuk berpiki yang lebih orisinal dibandingkan dengan kebanyakan siswa lain. Dalam berpikii kreatif sering disebut dengan berpikii divergen, yaitu corak berpikir yang mencari jalan-jalan baru, lebih-lebih dalam memecahkan masalah. Corak berpikir ini dibandingkan dengan berpikir konvergen, yaitu corak berpikir yang mengikuti jalur yang diketahui pasti akan membawa basil. Apabila dihubungkan dengan corak berpikir divergen, kreativitas siswa dapat dinilai dalam tiga komponen,

yaitu orisinalitas (sangat sedikit orang menghasilkan pikiran seperti itu), variasi (berapa jumlah jawaban yang berbeda), dan fleksibilitas (berapa jumlah golongan jawaban yang berbeda). Mata pelajaran IPA adalah salah satu mata pelajaran inti dalam kurikulum yang diberikan sejak pendidikan dasar. Pengembangan kemampuan siswa dalam bidang IPA dalam kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang tertuang pada kerangka dasar kurikulum (Pusat Kurikulum, 2002) bukanlah menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan sebanyak-banyaknya, tetapi lulusan yang memiliki keterampilan atau kemampuan serta sikap dan nilai untuk melanjutkan pendidikan serta memecahkan masalah yang dihadapinya untuk hidup di masyarakat. Untuk mencapai sasaran tersebut, yang ditekankan dalam pembelajaran bukanlah belajar apa yang harus dipelajari (learning what to be learnt), tetapi belajar bagaimana belajar,lrearning how to learn). Dalam KBK terjadi pergeseran pdradigma dari pendekatan pendidikan yang berorientasi masukan ke pendekatan pendidikan yang berorientasi hasil atau standar. Secara sederhana bergeser dari pertanyaan "apa yang harus diajarkan" ke
767

Jurnol Pendidikon dan Gbudoyodn, No. 063, T O ~ I O L Novenrbez- 2006 Ke-12,

pertanyaan tentang "apa yang hams menyatakan IPAsebagai cara mencari dikuasai anak". Melalui pendekatan tahu tentang alam secara sistematis ini guru tidak memberi "ikan" pada untuk menguasai pengetahuan, siswa untuk dimakan, tetapi "kail" konsep, prinsip. IPA merupakan agar ia mampu mencari ikan sendiri suatu proses penemuan yang sepanjang hidupnya. Pendekatan menjadi wahana bagi siswa untuk pembelajaran yang tepat untuk mempelajari diri sendiri dan alam mencapai kemampuan dasar adalah: sekitarnya. Pembelajaran yang (1) Pendekatan pembelajaran dua arah menekankan pada pengalaman dimana siswa belajar aktif (active langsung untuk mengembangkan learning approach) dalam berpikir, kompetensi agar siswa mampu merencanakan, dan bertindak; (2) memahami alam sekitar melalui Memfokuskan pembelajaran untuk "mencari tahu" dan "berbuat" mendeteksi kemampuan anak dari sehingga membantu siswa untuk pada mengetahui "anak tahu apa"; (3) memperoleb pemahaman yang lebih Memahami dan mengemukakan suatu mendalam'. Penguasaan berbagai gagasan dari pada mengingat konsep IPA memungkinkan siswa gagasan panjang dan memberikan untuk kreatif dalam menjelaskan jawaban benar pada ulangadtes. berbagai peristiwa alam yang dialami Terdapat tiga komponen pokok maupun yang dibaca dengan dalam IPA, yakni (1) proses atau gagasannya sendiri. metode inquiy berupa keterampilan Berdasarkan penjelasan di atas, proses penemuan; (2) produk, berupa proses pembelajaran IPA dalam KBK pengetahuan antar lain fakta, prinsip, tidak sekedar memperoleb product hukum, teori dan pemahaman suatu dalam wujud "awaban benar", tetapi konsep (ide); dan (3) sikap sebagai diperlukan suatu kreativitas dalam diri basil dari produk. Harlen (1986:2) siswa untuk mengungkapkan seorang ahli pendidikan IPA, kemampuannya dalam berbagai cara. menyatakan bahwa "Learning s p e r t i diungkapkan oleh Gordon science can bring a double benefit, (dalamAmim, 1983), proses kreativitas becauce science is both a method dapat dikembangkan melalui and a set of ideas; both a process pengajaran IPA. Proses tersebut and a product. " Makna ini termuat tercermin dalam metode inquiryyang dalam pengertian IPA pada KBK meliputi berbagai keterampilan proses '(Pusat Kurikulum: 2002) yang antara lain mengamati, menggo768
J~rzui Pmdcd~kon don Kebodoyaan, No. 063,Tahun Ke-12, Nwen~ber2006

longkan, merancang, membuat perbandingan, mengukur, mencari alasan, menunjuWtan persamaan dan perbedaan, mendemonstrasikan, menyajikan hasil pengamatan dalam bentuk tabel atau grafik, serta membuat kesimpulan terbadap suatu gejala. Pada umumnya orang tahu apa yang diartikan dengan kreativitas dan betapa penting kata itu dalam segala aspek kehidupan. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana orang selalu membicarakan agar anak menjadi kreatif, babkan dalam mengembangkan kreativitas bukan saja dalam dunia pendidikan, tetapi juga dalam segala aspek, baik dalam seni tari, seni lukis, memasak, mendesain, dalam perkembangan ilmu pengetahuan, maupun teknologi. Pentingnya kreativitas dalam pendidikan tercermin dalam tujuan pendidikan nasional yang dituangkan dalam Undang-Undang RI Nomor20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I1 Pasal 3 yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional antara lain adalah menghasilkan peserta didik yang kreatif. Bagaimana menghasilkan peserta didik yang kreatif? Menurut hemat penulis, peserta didik yang kreatif dapat dihasilkan dengan melibatkan mereka untuk aktif dalam pembelajaran. Hingga saat ini keterlibatan siswadalampembelajaran sangat kurang diakibatkan pola pembelajaran satu arah dengan menganggap guru satu-satunya sumber belajar. Pembelajaran didominasi oleb pertanyaan atau tugas-tugas dalam bentuk pertanyaan tertutup baik dalam proses maupun dalam hasil. Siswa sudah terpola dan diarahkan untuk memilih satu jawaban yang benar sehingga potensi siswa tidak dapat digali dan dikembangkan. Dikembangkannya potensi siswa karena siswa memasuki sekolah bukanlab seperti kertas putib yang berserah diri kepada guru untuk ditulis apa saja yang dikehendaki gum. Siswa ketika memasuki sekolah telah memiliki gagasan, pengalaman, dan konsep tentang lingkungan dan fenomena alam. Dengan kata lain, siswa telab memiliki potensi sebelum bersekolah. Siswaadalah subjekdidik yang mempunyai keunikan. Oleh karena itu perm guru adalah untuk melakiikan kegiatan yang mendorong m ~ r e k auntuk mengembangkan potensi yang ada. Dalam mata pelajaran IPA potensi tersebut dapat dikembangkan melalui inquiry. Kegiatan inquiy sehamsnya dapat mendorong dan mengarahkan siswa
769

Jurnol Per~didtkan don E&budoyob?r, No 063, Tahun Ke-12, Nouernber 2006

untuk terlibat secara aktif mengemukakan gagasan, merancang, membuat perbandingan, mengukur, mencari alasan, menunjukkan persamaan dan perbedaan, mendemonstrasikan, menyajikan hasil pengamatan dalam bentuk tabel atau grafik, serta membuat kesimpulan terhadap suatu gejala. Namun ha1 tersebutjarang terjadi di kelas. Siswa lebih sering menghafal fakta, menyebutkan satu jawaban yang paling tepat, dan kurang kreatif. Kurangnya kreativitas ini diyakini penulis sebagai akibat bentuk pertanyaan yang sering diajukan gum dalam pembelajaran, latihan-latihan pemecahan masalah, atau bentuk tes yang sering digunakan. Pembelajaran satu arah mendominasi sekolah di mana siswa pasif, hanya mendengarkan ceramah guru. Hal ini lebih diperparah lagi dengan respon siswa terhadap pertanyaan yang ditekankan pada menemukan satu jawaban yang benar atau yang paling tepat terhadap suatu persoalan. Caramemperolehjawaban tersebut sering sudah ditentukan guru dan tidak boleh menyimpang darisatu-satunyacaraitu. Hal initidak merangsangpemikiiankreatif, bahkan bisa sebaliknya: anak menjadi kaku dan sempit dalam cara berpikir dan memecahkanmasalah. ~itihan-latihan
770

,

biasanya hanyamemerlukan jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian yang hanya tertuju pada satujawaban yangpaling tepat. Siswa jarang mengemukakan gagasan, memberikan alasan atas pilihannya, sehingga seluruh kegiatan hanya membuat siswa berpikii konvergen yang hanya menguji ingatan atau hafalan saja. Gejala kurang kreatif lain ditemukan dalam kegiatan di kelas atau d i laboratorium. Dalam pembelajaran IPA sangat banyak ditemukan kegiatan mencari tahu dan menemukan tentang alam sekitar. Siswa sudah terbiasa menjajagi alam sekitar dan berinteraksi. Keadaan ini sebenarnya sudah merupakan potensi bagi siswa untuk dikembangkan. Tetapi kenyataannya kegiatan di kelas atau laboratorium bersifat konvergen yang berisi langkah atau prosedur kerja yang dituntun, misalnya: cocokkan, sambungkanlah, ikatkan, ukur, isikan dalam tabel, catat, hitung, sehingga siswa tidak ada peluang untuk melibatkan di. Kegiatan di sekolah kurang 'menantang siswa untuk berpikir divergen di mana gum memberikan pertanyaan dengan sedikit tuntunan saja. Tugas-tugas yang diajukan memberi peluang untuk melibatkan

Jurnal Pendidikan don Kebudosoan, No. 063, Tohun Ke-12, Nouember ZOO6

siswa dalam merancang percobaan, menentukan langkah kerja, membuat kesimpulan sendiri, serta mengomunikasikan hasilnya dengan katakatanya sendiri. Pertanyaan divergen ini mendorong siswa untuk bertanya dalam hati "mengapa langkah tersebut penting", mengekspresikan kemampuannya dalam keterampilan proses IPA. Dengan divergen siswa mempunyai keleluasaan berkreasi, memiliki daya imajinasi yang lancar, fleksibel, dan orisinal dalam mengungkapkan gagasan yang bervariasi dalam memecahkan masalah. Dengan berpikir divergen setiap anak dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang, ada banyak jawaban, tidak ada jawaban yang salah, serta munculnya keunikan siswa dalam ungkapan gagasan. Semuanya akan membawa siswa menjadi kreatif. Cara ini bagi siswa tidak menakutkan seperti tes tertulis yang hanya mempunyai satujawaban yang benar. Berdasarkan pemaparan di atas kreativitas dapat dikembangkan dalam diri siswa melalui bentuk pertanyaan divergen. Oleh karena itu, kajian ini memberikan masukan bagi gum agar terdorong untuk merencanakan kegiatan dan latihan pemecahan masalah dengan- menggunakan

pertanyaan divergen. Disamping itu perlu dikembangkan sikap terbuka, tidak mengancam, menerima, menyukai, mengurangi rasa takut, percaya pada diri sendiri, dan tidak mudah putus asa. Pada saat siswa berkembang pemikiramya, ia akan semakin kokoh, semakin berani mengambil resiko, dan dengan demikian ia lebih mungkin untuk menjadi kreatif. Manusia yang kreatif adalah manusia yang berharga, terlebih dalam era teknologi sekarang ini.

3. Simpulan danSaran 3.1 Simpulan Berdasarkan kajian dan pembahasan di atas dituliskan beberapa kesimpulan sebagai berikut: a. Kreativitas sangat penting dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk mengembangkan kreativitas dengan cara memberikan bentuk tugas yang divergen yang menantang siswa untuk berpikir div$en atau berpikir kreatif. b. Pendekatan pembelajaran yang tepat untukmencapai kompetensi .- IPA bukanlah pendekatan mengajar satu arab, tetapi pendekatan dua arah di mana siswa belajaraktif. S e l d proses

<

Jurnol Pendid~kon m Kebudoyodn, No. 063, Tohen Ke-12, Nouember 2006 d

771

pembelajaran di kelas seyogyanya diarahkan untuk mendorong agar siswa kreatif. Untuk mencapai ha1 tersebut siswa hams terlibat secara aktif mengembangkan keterampilan proses dalam inquiry melalui kegiatan mencari tahu dan berbuat yang meliputi menge-mukaan gagasan, merancang, membuat perbandigan, meng-ukur, mencari alasan, menun-jukkan persamaan dan per-bedaan, mendemonstrasikan, menyajikan hasil pengamatan dalam bentuk tabel atau grafik, serta membuat kesimpulan terhadap suatu gejala. Pem-belajaran IPA tidak sekedar memperolehproducrdalam wujud jawaban benar, tetapi kreativitas dapat berkembang ketika siswa mengungkapkan kemampuannya dalam memberikan berbagai jawaban. c. Kreativitas perlu dipupuk untuk memungknkan anak mewujudkan potensinya secara optimal. Beberapa cara guru untuk memupuk kreativitas siswa yaitu: (1) menerima anak sebagaiman9 adanya, dengan segala kekuatan dan kelemahannya, (2) tidak terlalu cepat memberikan peni-laian terhadap sikap danperilaku anak, apalagi penflaian b e ~ p kritik atau a

celaan, (3) memberikan peluang bagi an& untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
3.2 Saran Karena berpikir divergen sangat diperlukan untuk mengembangkan kreativitas, disarankan agar guru melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran, khususnya dalam membuat pertanyaan. Beberapa saran membuat pertanyaan yang baik antara lain: ( 1 ) Menghindari pertanyaan yang dapat dijawab dengan y a atau tidak, (2) Perhatikan kata yang mengawali pertanyaan karena kata itu menentukan bentuk jawabannya, (3) Jika jawaban berupa ya atau tidak h a m s digunakan, dapat dibuat menjadi divergen dengan menambahkan kata: Mengapa? Bagaimana Anda rahu? Bagaimana Anda menjelaskan ha1 tersebur? Apa alasan Anda memberikan jawaban tersebut? Misalnya: Apakah baking powder menghasilkan gas? Jika jawaban Y atau Tidak, maka harus a d"'jlanjutkan dengan: Bagaimana Anda merancang suatu percobaan untuk menguji ha1 remebut? (4) Membuat pertanyaan dimana siswa dapat menemukan. Misalnya: Apa yang dilakukan agar gaya magnet menjadi lebih kuaf? Atau

Bagaimana cara agar lampu dapat menyala lebih terang dengan menggunakan kawat, saklar, dan batere? (5) Membuat pertanyaan yang mengharuskan siswa untuk menemukan atau membandingkan. Misalnya: Dengan menggunakan berbagai benda dun seember air,

benda yang mana yang terapung atau tenggelam dalam air? dan (6) Sedikit mungkin menggunakan pertanyaan kenvergen tetapi lebih sering menggunakan pertanyaan divergen untuk mencapai respon pada tingkat yang lebih tinggi.

Pustaka Acuan Amin, Muhammad. 1983. Peranan Kreativitas dalam Pendidian. Suara Guru, 32(10): 27-37. Carin, A.A. dan Sund, B.R. 1989. Teaching Science through Discove?y Colombus Ohio: Merrill Publishing Company. Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-undangRINomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta. Good, L.T dan Brophy, E.J. 1990. Educational Psychology: A Realistic Approach. New York, Longman. Harlen, Wyne. 1986. Primary Science: Taking the Plunge. Great Britain: Heinemann Educational Books Ltd. Munandar, Utami. 1993. Pengembangan Kreativitas Anak Sekolah: Strategi dan Penerapannya Oleh GUN dan Orangtua. Jurnal Rehabilitasi dun Remediasi ( J w , 6(2): 1- 14. Munandar, Utami. 1999. Kreativitas dun Keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi dan Bakat. Jakarta: Gramedia. Nitko, J.A. 1996. Educational Assessment ofStudents. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall. Pusat Kurikulum. 2002. Kerangka dasar Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Balitbang Depdiknas. .. Saefullah. 2000. Hubzingan antara Kebiasaan Belajar dun Kreativitas dengan Universitas Negeri Hasil Belajar Siswa. Tesis Magisty ~indidikan, Jakarta Semiawan, C., Munandar, A S . dan ~ u n a n d a rS.C.U. 1987. Memupuk bakat , dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah. Jakarta: Gramedia. Sumarjan, Selo. 1983. Kreativitas: Suatu Tinjauan dari Sudut Sosiologi. Jakarta: Dian Rakyit.

-

Jurnol Pendrdtkan don &budayairn. No. 063, Tohun Ke-12, Nouember 2006

773