P. 1
Philemon_Ginting

Philemon_Ginting

|Views: 3,448|Likes:
Published by Muhsin Rokan

More info:

Published by: Muhsin Rokan on Mar 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/24/2013

pdf

text

original

Pada awalnya dalam hukum pidana, yang dianggap sebagai subjek tindak pidana

hanyalah manusia sebagai natuurlijke-persoonen, sedangkan badan hukum atau rechts-

persoonen tidak dianggap sebagai subjek.179

Meskipun demikian, pada perkembangannya terjadi

perluasan terhadap subjek tindak pidana. Korporasi (badan hukum) merupakan suatu ciptaan

hukum yakni pemberian status subjek hukum kepada suatu badan, disamping subjek hukum yang

berwujud manusia alamiah. Dengan demikian badan hukum dianggap dapat menjalankan atau

melakukan suatu tindakan hukum.180

Perumusan tindak pidana dalam UU ITE selalu diawali dengan kata-kata ”setiap orang”

yang menunjukkan kepada pengertian orang. Namun dalam Pasal 1 sub 21 UU ITE ditegaskan,

bahwa yang dimaksud dengan ”orang” adalah orang, perseorangan, baik warga negara Indonesia,

warga negara asing, maupun badan hukum. Penegasan dalam pertanggungjawaban pidana

terhadap badan hukum juga terdapat dalam penjelasan Pasal 2 UU ITE yang menyatakan badan

hukum Indonesia maupun badan hukum asing yang memiliki akibat hukum di Indonesia

merupakan subjek tindak pidana U ITE. Demikian pula dalam Bab XI tentang ketentuan pidana,

dalam Pasal 52 ayat (4) yang mengatur tentang pertanggungjawaban korporasi. Dengan demikian

subjek tindak pidana (yang dapat dipidana) menurut UU ITE dapat berupa orang perorangan

maupun korporasi.

179

S.R Sianturi, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Alumni Ahaem – Petehaem,

Jakarta,1989, hal. 219.

180

Teguh Prasetya dan Abdul Hakim Barkatullah, Politik Hukum Pidana Kajian Kriminalisasi dan
Dekriminalisasi
, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005,hal.46.

cxxviii

Pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi mengenai ketentuan terhadap kapan

korporasi dikatakan telah melakukan tindak pidana dan siapa yang dapat dipertanggungjawabkan

tidak diatur secara jelas dan khusus dalam UU ITE, tetapi Penjelasan Pasal 52 ayat (4)

memberikan persyaratan terhadap subjek pertanggungjawaban korporasi untuk dikenakan sanksi

pidana adalah yang dilakukan oleh korporasi (corporate crime) dan/ atau oleh pengurus dan/ atau

staf korporasi.

Dapat dikenakannya sanksi pidana/ tindakan kepada pengurus korporasi dalam perkara

tindak pidana teknologi informasi cukup beralasan dan sesuai dengan rekomendasi Uni Eropa

(Council of Europe) mengenai Convention on Cybercrime , dalam Title 5. Ancillary liability and

sanctions , Article 12 – Corporate liability antara lain:

1. Dalam rekomendasi Uni Eropa yang kemudian dimasukkan dalam European Treaty

Series dengan Nomor 185 ditegaskan agar ada tindakan terhadap pengurus

perusahaan baik sebagai individu maupun perusahaan itu sendiri yang terlibat dalam

cybercrime (that legal persons can be held liable for a criminal offence established in

accordance with this Convention, committed for their benefit by any natural person,

acting either individually or as part of an organ of the legal person)

2. Kapasitas pengurus yang dapat dikenakan sanksi pidana dalam Convention on

Cybercrime , berdasarkan:

a. Power of representation of the legal person (mewakili korporasi);

b. Authority to take decisions on behalf of the legal person (mengambil

keputusan dalam korporasi);

c. Authority to exercise control within the legal person (melakukan pengawasan

dan pengendalian dalam korporasi) .

cxxix

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->