You are on page 1of 288

Proceedings of International Seminar on

Sustaining Peace
in Aceh
Through the Integration of Local Values

EDITORS:
Muliadi Kurdi & Anton Widyanto

Prophetic Pragmatism: Post-Conflict


Educational Development in Aceh and Mindanao
Jeffrey Ayala Milligan

Civic Education in Post Conflict Area


Anton Widyanto

Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil


Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh
Fauzi Saleh

Membumikan Perdamaian dalam Bingkai


Syari’at Islam di Aceh
Muhibbuththabary

Promoting Peace Education Through


Multicultural Education in Aceh
Muhammad Thalal

Maslahah dalam Civil Society


Syamsuar Basyariah

published by
LEMBAGA KAJIAN AGAMA DAN SOSIAL (LKAS) BANDA ACEH
I nstitute for R eligious and S ocial Studies
in cooperation with
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) TEUNGKU DIRUNDENG
MEULABOH, ACEH BARAT
College for Islamic Studies
Proceedings of International Seminar on

Sustaining Peace in Aceh


Through the Integration of Local Values
Proceedings of International Seminar on

Sustaining Peace
in Aceh
Through the Integration of Local Values

EDITORS:
Muliadi Kurdi
Anton Widyanto
Proceedings of International Seminar on
Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local Values

First publication, October 2010

Editors
Muliadi Kurdi
Anton Widyanto

Contributors
Jeffrey Ayala Milligan, Anton Widyanto, Fauzi Saleh, Muhibbuththabary,
Kusmawati Hatta, Firdaus M. Yunus, M. Nasir Budiman, Muhammad Thalal,
Fuad Mardhatillah UY. Tiba, Asmawati, Abd. Wahid, Juhari Hasan,
Syamsuar Basyariah, Andi Nuzul, Syarifuddin, M. Jamil Yusuf

Cover design/layout
Khairul Umami

All rights reserved © 2010, LKAS Banda Aceh

Published by
Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh
Jl. Teungku Dihaji, Lr. Nyak Awan, Gg. Pawang Adam, No. 14, Lamdingin
Kecamatan Kuta Alam - Banda Aceh
E-mail: lkasnews@yahoo.co.id
www.lkas.org

in cooperation with
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tgk. Dirundeng
Jalan Teuku Umar Komplek Masjid Nurul Huda, No. 100. Meulaboh-Aceh Barat
Telp: 0655-7551591. Fax: 0655-7551591
E-mail: prodimu_stai@yahoo.co.id
Website: www.staidirundeng.ac.id

16 x 24 cm
xii + 272 pages

ISBN. 978-602-95838-7-8

Copyright and reprint permission


All rights reserved. This book, or parts thereof, may not be reproduced in any form
or by any means, electronic or mechanical, including photocopying, recording,
or any information storage and retrieval system now known or to be invented,
without written permission from the Publisher.
PREFACE
FROM THE PUBLISHER

In response to the dynamics of peace in Aceh post-MoU Helsinki, in


cooperation with STAI Tgk. Dirundeng, on May 23, 2010 the Institute for
Religious and Social Studies (LKAS) Banda Aceh, held the international
seminar in Meulaboh, West Aceh with the theme: Sustaining Peace in Aceh
Through the Integration of Local Values. The main aspects examined
in this seminar was the role and contribution of peace education in the
context of sustaining peace in Aceh. This aspect is very interesting to be
discussed considering that character building is one of the main tools
in the effort to continue peace in Aceh. Redesigning of a character—
including the character of pro-peace—merely can be made through the
education process and certainly is not an easy job as turning the palm of
the hand. Constant tenacity, patience and devoutness are needed from all
stakeholders in Aceh.
The book currently before your hand is a compilation of papers
presented in the international seminar. We intentionally publish the
proceedings in order to become a starting point for everyone concerned to
establish peace education as part of the Acehnese community. As a nation,
we must realize that history has always been a spirit in doing various
enlightening life towards par excellent. We are aware that this book is still

v
far from perfection, both in terms of printing quality and layout. For that,
we expect your understanding and forgiveness. We are very grateful to
the local government of Aceh Barat, STAI Teungku Dirundeng, Meulaboh,
contributors, editors, layout staff, as well as all the parties involved, either
directly or indirectly, in the success of this activity.
We hope that not only is this book to be a valuable documentation,
but also to continue to be a reflection for all of us in learning and
maintaining peace on the land of Iskandar Muda. Therefore, our ideals are
not empty of meaning in creating a brighter future and dignity for Aceh.
Happy reading!

Banda Aceh, October 2010


Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh

vi Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
PENGANTAR
KETUA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
TEUNGKU DIRUNDENG MEULABOH

Aceh adalah salah satu wilayah di Indonesia yang mengalami konflik


bersenjata berkepanjangan. Salah satu ekses dari konflik bersenjata ini
adalah runtuhnya nilai-nilai lokal (local values) di kalangan masyarakat
Aceh. Meski konflik bersenjata ini berakhir dengan ditandatanganinya MoU
Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005, namun suasana di masa-masa awal
pasca penandatanganan tersebut tidak serta merta menjadi benar-benar
damai. Masih rendahnya rasa kepercayaan antara pihak yang bertikai di
masa transisi menjadikan Aceh masih dikungkung ketercekaman. Namun
demikian kondisi ini seiring dengan berjalannya waktu menunjukkan
perkembangan positif. Kepercayaan antara pihak yang pernah bertikaipun
perlahan mulai tumbuh subur. Perkembangan ini tentu patut diapresisasi
secara positif. Salah satunya adalah dengan cara menghidupkan kembali
nilai-nilai islami dan kearifan lokal di Aceh. Hal ini tentu sangat krusial
mengingat Aceh menyimpan banyak sekali budaya atau nilai-nilai lokal
keacehan yang relevan dengan nilai-nilai Islam. Sejarahpun mencatat bahwa
antara Aceh dengan Islam bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat
dipisahkan.
Salah satu kiat menghidupkan nilai-nilai lokal di Aceh adalah dengan
merevitalisasi Pendidikan Kewarganegaraan yang ada di sekolah-sekolah.

vii
Nilai-nilai lokal seperti musyawarah, gotong-royong, menegakkan keadilan,
mementingkan persatuan, persamaan hak, persaudaraan, dan sekaligus
mementingkan kepentingan umum serta bertanggung jawab baik kepada
diri, masyarakat dan negara adalah aspek yang tidak bisa diabaikan. Nilai-
nilai ini semua relevan sekali dengan jiwa dan semangat syari’at Islam
yang berlaku di Provinsi Aceh. Ini juga juga merupakan bentuk masyarakat
madani yang pernah tersusun dengan rapi ketika Nabi Muhammad saw.
memimpin pemerintahan di negara Madinah selama 10 tahun.
Rajutan nilai-nilai tersebut di atas yang sama-sama bersumber dari
Alquran dan alhadis pada dasarnya tidak bertentangan dengan asas dan
prinsip yang ada dalam syariat Islam, Negara Kesatuan Republik Indonesia,
dan asas-asas pelaksanaan kemasyarakatan di Aceh. Hal ini juga sesuai
dengan spirit atau pesan dasar fiqh siyasah. Pengamalan nilai-nilai tersebut
akan berimplikasi pada lahirnya tiga kecerdasan dalam jiwa masyarakat Aceh
yang cinta damai yaitu kecerdasan spiritual, intelektual dan emosional, yang
kesemuanya berorientasi pada apa yang disebut dengan “titik ketuhanan”.
Dalam kerangka inilah seminar internasional Sustaining Peace in Aceh
through the Integration of Local Values menjadi sangat penting. Nilai-nilai
yang diangkat dalam pembahasan seminar ini diyakini dapat dijadikan
perekat antara Pemerintah Pusat (Jakarta) dengan Aceh, antara sesama
masyarakat Aceh, dan juga antarelemen pengikat antarbangsa. Lebih dari
itu, pesan utama yang disampaikan dari seminar internasional ini adalah
bahwa Aceh perlu membudayakan nilai-nilai tersebut sehingga perubahan
yang diinginkan di Aceh ke depan sesuai dengan rasa kemanusian manusia
sejagat.
Demikianlah pengantar ini kami sampaikan. Semoga sekelumit
pemikiran-pemikiran yang ada dalam buku ini maupun yang berkembang
selama dalam seminar dapat bermanfaat bagi pengembangan Aceh di masa-
masa mendatang. Amin ya Mujibas Sa’ilin.

Meulaboh, September 2010


Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)
Teungku Dirundeng Meulaboh,

Dr. Syamsuar Basyariah, M.Ag

viii Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
PENGANTAR
BUPATI ACEH BARAT

Konflik Aceh yang telah berlangsung puluhan tahun terbukti telah


menyebabkan runtuhnya berbagai sendi penting kehidupan masyarakat
Aceh baik dalam konteks bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara.
Namun sejak MoU Helsinki ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005,
apa yang masyarakat Aceh cari sudah menemukan titik temu. Perdamaian
yang sudah terjalin, sudah barang tentu harus disyukuri dan wajib diisi
dengan penguatan masyarakat sipil untuk membentuk kesatuan masyarakat
Aceh yang madani.
Dalam mewujudkan misi mulia ini, saya meyakini bahwa nilai-nilai
Islam dan kearifan lokal Aceh perlu dihidupkan. Nilai-nilai kearifan lokal
Aceh sangat penting untuk direvitalisasi oleh semua pengambil kebijakan
(stakeholder) dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan
menghidupkan budaya dan kearifan lokal, kelanjutan perdamaian Aceh
akan berlangsung secara kontinyu. Adanya keterkaitan erat antara nilai-nilai
lokal Aceh dan nilai-nilai Islam mengindikasikan bahwa semua masyarakat
Aceh harus melaksanakan syari’at Islam dengan baik dan benar dalam
kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan syariat Islam secara komprehensif di Aceh pada dasarnya
sejalan dengan pesan-pesan ilahiyah terkait dengan perdamaian. Oleh

ix
karena itu, perdamaian yang sudah terwujud di Aceh mutlak harus dijaga
dan dirawat dengan baik dan serius oleh semua elemen masyarakat Aceh.
Keseriusan dalam mempertahankan dan mengisi perdamaian ini tentu
akan berimbas secara positif bagi masyarakat Aceh untuk bisa mengejar
ketertinggalan dalam berbagai aspek yang diakibatkan konflik bersenjata
selama ini.
Selamat menelaah!

Meulaboh, September 2010


Bupati Aceh Barat

Ramli MS

x Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Contents

Preface from the Publisher v

Pengantar Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam


(STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh vii

Pengantar Bupati Aceh Barat ix

Jeffrey Ayala Milligan


Prophetic Pragmatism? Post-Conflic Educational Development
in Aceh and Mindanao 1

Anton Widyanto
Civic Education in Post Conflict Area 27

Fauzi Saleh
Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society
dalam Menjaga Perdamaian di Aceh 47

Muhibbuththabary
Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh 63

Kusmawati Hatta
Integrasi Civic Education dalam Pendidikan Formal
dalam Rangka Membangun Demokrasi Berkeadaban 81

xi
Firdaus M. Yunus
Konstruksi Kurikulum Pendidikan Damai di Aceh 91

M. Nasir Budiman
Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dalam Menjaga
Keberlangsungan Perdamaian di Aceh 103

Muhammad Thalal
Promoting Peace Education Through Multicultural
Education in Aceh 117

Fuad Mardhatillah UY. Tiba


Karekteristik Kebudayaan Aceh dan Implikasinya Terhadap
Kedamaian Hidup Masyarakat 129

Asmawati
Integrasi Pendidikan Damai dalam Membangun
Perdamaian di Aceh 141

Abd. Wahid
Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan
Otonomi Khusus di Aceh 153

Juhari Hasan
Pembelajaran Civic Education dalam Rangka Memperkuat
Demokratisasi di Aceh 169

Syamsuar Basyariah
Maslahah dalam Civil Society 179

Andi Nuzul
Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional 203

Syarifuddin
Pendidikan Karakter Solusi Pembentukan Manusia Aceh
yang Berkeadaban 221

M. Jamil Yusuf
Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan 243

xii Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Prophetic Pragmatism?
Post-Conflict Educational
Development in Aceh
and Mindanao

Jeffrey Ayala Milligan


Associate professor of philosophy of education and sociocultural/
international development education studies, Florida State University

Inquiry into the role of education before, during and after conflict
has grown in recent years in the hope of contributing to our understanding
of more effective means of preventing conflict through education or,
when conflict prevention fails, of maintaining or re-establishing effective
education during and after conflict (Sommers, 2002; Smith & Vaux, 2003;
Milligan, 2005; Davies, 2005). Such goals require, of course, a thorough
understanding of the specific socio-historical context of particular conflicts
and the roles education has played and might play in them, but they also
strongly suggest the necessity of a philosophical framework conducive to
understanding and developing strategic responses to common dimensions
of different conflicts while not losing sight of the critical particularities of
any single conflict.
In this essay, therefore, I will examine two cases of ethno-religious
conflict in Southeast Asia: Aceh, in far-western Indonesia, and Muslim
Mindanao, in the southern Philippines. Without, I hope, losing sight of
the important differences between these two cases, I will argue that their
similarities make the conflicts in Aceh and Mindanao useful comparative

1
Jeffrey Ayala Milligan

cases for the exploration and development of a philosophical framework


for understanding and responding to these and other similar conflicts. I
will argue that Cornel West’s (1989) conception of prophetic pragmatism
accounts for key socio-historical dimensions of both conflicts, that it is
adaptable to an Islamic religious context, that it anticipates many of the
postcolonial critiques of liberal developmentalism, and that it is consistent
with recent educational developments in Aceh and Mindanao. Thus, it
constitutes a useful basis for such a framework for these two cases and,
perhaps, other similar cases. I will conclude with a brief exploration of what
a prophetic pragmatic approach to education might mean in post-conflict
Aceh and Muslim Mindanao.

Separatist conflict in Aceh and Mindanao


The context of the separatist conflict in the Indonesian province of
Aceh has deep roots in the colonial and postcolonial history of the region.
Aceh is generally recognized as the site of the first introduction of Islam
into Southeast Asia and, by the 18th century, the site of an independent,
internationally recognized Muslim state (Riddell, 2006). Though hard-
pressed by the colonization of the region by Western powers, Aceh
maintained this independence until the early 20th century, when it was
finally brought under more or less effective Dutch control after more than
three decades of armed conflict with Dutch colonial forces (Alfian, 2006).
This relatively brief period of tenuous colonial control was brought to an
end by the Japanese occupation of Indonesia during World War II and the
successful Indonesian struggle for independence thereafter (Reid, 2006b).
This history of political independence and anti-colonial resistance, as well
as the ethnic distinctiveness of the Acehnese people constitute one of the
primary arguments of contemporary supporters of Acehnese independence
(Nielsen, 2002; Thaib, 2002).
A major theme of this discourse is the central role of Islam and Islamic
identity, not only in the cultural and political history of Aceh, but in more
contemporary explanations of Acehnese distinctiveness from a perceived
Java-centric Indonesian state as well and the rationales for independence that

2 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

follow from it. Thus Aceh is perceived to be the heir of an historical legacy
making it the site of a more orthodox Islamic identity than other regions
of Indonesia, the defense of which was a major motivation of resistance to
Dutch colonization (Alfian, 2006). The importance of religion as a factor in
the history of the Aceh conflict was reinforced in the immediate aftermath of
World War II during the so-called “social revolution,” in which supporters of
progressive ulama rooted in the network of Islamic educational institutions
in Aceh effectively ended the long political dominance of the traditional
political-economic elite and in the 1950s in Aceh’s prominent role in the
Darul Islam revolt, which pitted advocates of an Indonesian Islamic state
against the more secularist state emerging under Sukarno (Sulaiman, 2006;
Aspinall, 2006). While subsequent separatist rhetoric has been less explicitly
religious in its rationale for the independence struggle, resentment against
what is perceived as a neocolonialist imposition of a syncretic Javanese
culture continues to be a factor in the conflict (Chalk, 2001). Thus, while
religious identity may not be the only, or even the most important, element
of the conflict in Aceh, it has been and remains an important dimension
of the Acehnese’ sense of difference justifying the separatist struggle
(Salim, 2004). Therefore, a complete understanding of the conflict, and any
conceptualization of educational development in the region, must account
for the role of religion and religious identity.
As religious justifications for Acehnese independence receded, socio-
economic rationales assumed a new prominence in subsequent decades
(Salim, 2004; Sulaiman, 2006). Encouraged by the Indonesian government
in an effort to dilute Acehnese separatist sentiment, migrants from other
regions moved into Aceh to take advantage of new employment and other
economic opportunities in the province (Nielsen, 2002). This shift in the
ethnic balance of the population coincided with the development of the
natural gas and oil resources of the province, development which was
perceived to disproportionately benefit the national government rather than
the Acehnese people, thus contributing to a widespread sense of economic
exploitation (Sulaiman, 2006). This sense of alienation was exacerbated
further through the 1990s as the Indonesian government’s often heavy-

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 3
Jeffrey Ayala Milligan

handed and even brutal reaction to the armed separatist movement led to
frequent and well-documented human rights abuses (Aspinall, 2006). Thus
the Acehnese’ long-held sense of separateness from the larger Indonesian
state rooted in religion was reinforced by resentment against perceived
economic marginalization and anger over very real politico-military
repression (Nielsen, 2002).
The fall of the Suharto regime in 1998 has ushered in a new era
in Aceh’s relations with Indonesia. The on-going effort to democratize
Indonesian society, as well as the peace agreement signed between the
Indonesian government and the GAM in the aftermath of the 2004 tsunami,
has afforded a measure of political autonomy for the province while new
openings for political organization and expression have helped shift the
struggle for Acehnese independence from the military to the political arena
(Miller, 2006; Reid, 2006a). The push towards democratization has impacted
educational policy as well, leading to an on-going effort to decentralize
educational decision-making and a change in the focus of civic education
from an emphasis on the sameness of Indonesians in a unitary, organic
state to an emphasis on the knowledge and dispositions required for civic
engagement by citizens of a diverse democracy (Kalidjernih, 2005).
Thus the post-conflict context for educational re/development in Aceh
is marked by at least three critical elements intertwined with the problems of
poverty common to the rest of the country as well as the unique challenges
arising in the aftermath of the 2004 tsunami: 1) an historical sense of
difference grounded in religious identity, 2) a legacy of socio-economic
injustice, and 3) the challenge of transitioning from a repressive political
regime which suppressed difference in the interest of unity to a democratic
society which balances national unity with respect for individual liberty and
cultural diversity. Any strategy for post-conflict educational development
in Aceh would need to account in some way for all these elements.
Despite important differences, the experience of Muslim Mindanao
offers a number of striking parallels with the experience of Aceh. Like Aceh,
Muslim Mindanao’s history is a story of transformation from pre-colonial
cultural and religious prominence to post-colonial political and economic

4 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

marginalization (Majul, 1999; Vitug & Gloria, 2000). Like Aceh, western
Mindanao was the scene of the first introduction of Islam into the islands in
the 15th and 16th centuries and the most highly developed political entities in
the Sulu and Maguindanao sultanates. Unlike Aceh, Muslim Mindanao’s violent
confrontation with Western colonialism began much earlier and lasted much
longer. A series of relatively inconclusive military campaigns by the Spanish
colonial regime against different Muslim communities in Mindanao and
the Sulu archipelago were launched almost from the beginning of Spanish
occupation of the islands in the 16th century and carried on right up to the
end of Spanish rule in the late 19th century (Majul, 1999). However, by the
opening decade of the 20th century, as Aceh was losing its independence to
the Dutch, Muslim Mindanao was being brought under the effective control
of a Manila-based colonial government for the first time in its history by the
United States (Gowing, 1983). The legacy of this long conflict was a bitter
sense of separateness demarcated along religious lines: Muslim-Christian
became perhaps the most intractable cultural and political divide in colonial
and postcolonial Philippine society.
As in Aceh, both colonial and independent Philippine governments
attempted to effect the assimilation of a recalcitrant periphery by
encouraging the migration of poor Filipinos from overpopulated regions in
Luzon and the Visayas, shifting the population balance in most of Mindanao
in favor of Christian migrants. The resulting tensions over land and economic
opportunities, exacerbated by religious prejudice on both sides, erupted
into violent clashes between Muslim and Christian paramilitaries in the late
1960s. Out of this violence, and the Muslims’ powerful sense of religious,
cultural, and economic threat, the current Muslim secessionist movement
was born. Since then fighting between the Philippine Armed Forces and a
succession of Muslim secessionist groups has claimed more than 120,000
lives, displaced millions and caused untold economic devastation (George
1980; Vitug & Gloria, 2000).
While the conflict in Mindanao has been portrayed as religious,
it has had and has significant socio-economic dimensions. It was in part
sparked, for instance, by conflicts over ownership of land and is sustained

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 5
Jeffrey Ayala Milligan

by a powerful sense of economic deprivation, social exclusion, and political


marginalization (George, 1980; Vitug & Gloria, 2000). While religious
differences are equally, if not more, important, they have in fact provided
a convenient shorthand for identifying dividing lines, lines which have
enflamed the conflict, making it in many instances more virulent given
the long legacy of religious bigotry it taps into not only in the Philippines
but in the larger world as well. Thus religious identity and socio-economic
injustice are inextricably intertwined in Muslim Mindanao and therefore
critical to understanding the conflict there and the context it creates for
post-conflict educational re/development.
As in Indonesia, democratization in the Philippines after the fall of
Ferdinand Marcos in 1986 has created new challenges and opportunities
for post-conflict educational development in Mindanao (Blair, 2004). The
fall of Marcos led to the restoration of an admittedly imperfect democratic
rule and new, if still somewhat dangerous, space for an already vibrant civil
society. The return to democratic rule saw the creation of the Autonomous
Region in Muslim Mindanao, an attempt to allow greater political autonomy
without acceding to outright secession (Vitug & Gloria, 2000). As in Aceh,
democratization has created and creates the challenge of transitioning from
a highly centralized, paternalistic—if not outright authoritarian—political
culture to a genuinely democratic society.
In educational policy for post-conflict Mindanao, democratization has
created the challenge of transitioning from a long history of assimilationist
policies designed to ease separatist tensions by denying and erasing
cultural differences to educational policies that honor religious and cultural
differences and redress socio-economic inequities while preserving national
unity (Milligan, 2005). As in Aceh, the post-conflict educational landscape
of Muslim Mindanao is shaped not only by the challenges resulting from
endemic poverty but also by the long shadow of armed conflict rooted in
religious identity and a sense of socio-economic injustice as well as the
openings created by a democratizing multicultural society. Post-conflict
educational re/development in Muslim Mindanao must account for all of
these factors. To the extent that they coincide with elements of the post-

6 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

conflict educational terrain in Aceh and, perhaps, other post-conflict


situations, they constitute rudimentary criteria for the development and
evaluation of a philosophical framework for educational re/development in
similar post-conflict settings.

Prophetic pragmatism?
What perspective does Cornel West’s (1989) articulation of a prophetic
pragmatism bring to understanding these conflicts and to conceiving
educational re/development in their aftermath? First, West conceives of
prophetic pragmatism as a philosophical tool rooted in the tradition of
American pragmatism yet cognizant of the limitations of pragmatism in
understanding and responding to critical elements of modern experience.
Pragmatism’s contributions to West’s philosophical project are a non-
foundational epistemology and a coherence theory of truth which historicize
knowledge and truth claims. Drawing quite different conclusions from the
development of modern science in the 19th century than their epistemology-
obsessed philosophical brethren, pragmatists tended to view knowledge
as the by product of the application of a particular way of thinking—the
method of intelligence, or scientific method—to the solution of particular
problems that arise in the course of pursuing particular goals (Dewey, 1910).
Thus knowledge claims make no pretense of corresponding to the nature of
some ultimate reality; rather, they simply claim to work better than other
claims in solving particular problems and are held only so long as they are
not contradicted or improved upon by the results of future experience.
There are at least three consequences of pragmatism that appear to be
critical to West’s philosophical project. First, it historicizes knowledge and
truth claims and therefore undermines forms of absolutism. The body of
knowledge claims of a community depends upon what that community was
attempting to achieve in the particular circumstances of its own experience
at a particular time in its history. Since these goals change over time,
knowledge is historically and culturally contingent. Second, pragmatism re-
orients philosophical energies from the search for timeless truths to the
identification and solution of problems arising in human experience. Third,

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 7
Jeffrey Ayala Milligan

it shifts adjudication of competing knowledge claims from epistemological


grounds—which claim is true?—to ethical grounds—which claim represents
a more desirable conception of human flourishing? Thus pragmatism is a
philosophy oriented toward the critical understanding of and intervention
in individual and social experience.
For John Dewey, the most significant figure in the development of
pragmatism, democracy was the necessary socio-political environment for
the fullest flowering of the potential of human intelligence to solve social
problems because it permitted the greatest range of individual experience
and the freest communication of the consequences of that experience to
others, consequences that can then be used by others in the intelligent
solution of problems arising in their own experience. For Dewey, it also fore
grounded the importance of education as a mechanism for transmitting
the collective experience of a community in such a fashion that it equipped
the immature members of that society not with settled truths but with the
only freedom that matters, the freedom to frame and execute one’s own
purposes (Dewey, 1938). Thus Dewey’s contribution to pragmatism also
represents perhaps the most sustained, thorough, and explicit articulation
of the relationship between democracy and education available.
West’s articulation of prophetic pragmatism does not explore the
educational implications of pragmatism that occupied Dewey’s early work.
He focuses instead on its historicist undermining of absolutisms and the
implicit call for social critique imbedded in its engagement with human
experience. However, both elements of the pragmatist root of prophetic
pragmatism are deeply relevant to the post-conflict educational contexts
of Aceh and Mindanao in that they identify deep reservoirs of intelligent
reflection on and purposeful engagement with the problems that arise at
the crossroads of education, democracy, and critical social engagement.
For West, however, though the pragmatist philosophical tradition
is central to his project, it is inadequate on at least two counts. The first
of these inadequacies involves the social critique implicit in pragmatism,
which West finds analytically weak. It does not, in his estimation, adequately
explain the way social and economic inequality is created and sustained,

8 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

implying therefore that it cannot be as effective in redressing such social


problems as it might otherwise be. For this aspect of social analysis, West
argues that progressive Marxist—Gramscian—thought provides a more
robust analytical tool than pragmatism, that it in fact renders the criticism
implicit in pragmatism more explicit and thus useful. In this philosophical
tradition West finds a deep reservoir of sustained, thorough and explicitly
theoretical explanations of socio-economic inequality as well as a long
tradition of deliberate intervention in conditions of inequality in the interest
of radical change.
He is mindful, however, of the dogmatic potential in Marxist
metanarratives and the sordid history of the degeneration of libratory political
ideals into dictatorial political regimes. But it is here that the pragmatist
dimension of prophetic pragmatism complements the progressive Marxist
dimension: pragmatist historicism makes the prophetic pragmatist deeply
skeptical of absolutist pronouncements even as progressive Marxist
perspectives sharpen the pragmatist’s analysis of socio-economic inequality.
Thus pragmatism and Gramscian Marxism constitute two essential and
complementary elements of prophetic pragmatism. Taken together, they
embody important traditions of theory and practice on the understanding
of social inequality and the relationship between democracy and education,
two critical aspects of the post-conflict educational contexts of Aceh and
Mindanao described above.
Both, however, suffer from a common limitation which renders
them less effective as tools for understanding and intervening in human
experience: they are both more or less skeptical regarding traditional
religious belief. Marx famously dismissed religion as the opiate of the
masses while Dewey (1934) argued for the “surrender of the whole notion
of special truths that are religious by their own nature, together with the
idea of peculiar avenues to such truths” (33). West (1989) argues that such
hostility toward traditional religious belief renders progressives politically
impotent:
Since the Enlightenment…most of the progressive energies among
the intelligentsia have shunned religious channels. And in these

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 9
Jeffrey Ayala Milligan

days of global religious revivals, progressive forces are reaping the


whirlwind… The severing of ties to churches, synagogues, temples
and mosques by the left intelligentsia is tantamount to political
suicide (p. 234).
This political impotence is a consequence of the simple fact that, for
most people in the world, religion remains deeply important.
The culture of the wretched of the earth is deeply religious. To be
in solidarity with them requires not only an acknowledgement of
what they are up against but also an appreciation of how they cope
with their situation. This appreciation does not require that one
be religious...This appreciation also does not entail an uncritical
acceptance of religious narratives…Yet to be religious permits one to
devote one’s life to accenting the prophetic and progressive potential
within those traditions that shape the everyday practices and deeply
held perspectives of most oppressed peoples (West, 1989, p. 233).
West’s own prophetic pragmatism is engaged through the perspective
of his Christian faith, a faith which recognizes both the dignity of human
beings made in the image of God and the fallenness of imperfect human
beings prone to mistakes and injustice. This “Christian dialectic of human
nature” thus recognizes moral ideals toward which we are called to struggle
and aspire and the fact that we will inevitably fall short of those ideals
(West, 1982, p.17). It sustains a productive balance between idealism and
humility that keeps hope alive in the midst of tragic realities, thus providing
existential sustenance for those living on this side of paradise. It also provides
a framework for recognizing, criticizing, and transforming the varieties of
injustice that impede the fullest development of the fundamental dignity
of individual human beings. This is how the wretched of the earth copes
with its situation and the source of the prophetic and progressive potential
of religious traditions. Thus this third element of prophetic pragmatism
softens the religious skepticism of the first two by recognizing the power
of religious narratives to provide meaning and a sense of moral direction
for ordinary people that secular philosophies like pragmatism or Marxism
simply cannot match.

10 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

Again, however, West is mindful of the absolutist tendencies in


religious narratives that have often betrayed people of faith into violence
against others, oppression within and without, and moral and intellectual
arrogance. There is also the danger of an otherworldliness that ignores the
injustices of this world in the belief that they will be transformed in the next.
Here again the critical and productive tensions among the three elements of
prophetic pragmatism come into play. Pragmatic historicism buttresses the
moral and intellectual humility implicit in the Christian dialectic of human
nature against the temptations of moral certainty with a philosophical
recognition of the historical contingency of claims to know. Progressive
Marxist insight into the nature of socio-economic injustice sheds light on
its human causes and thus the human responsibility to address it in this
life rather than another. Each of the three elements—pragmatism, prophetic
religion, progressive Marxist thought—provides an essential perspective
that enhances the libratory potential of the other by counterbalancing
the pitfalls to which each is prey. Each of the three elements responds
in some fashion to the common aspects of the post-conflict contexts of
Aceh and Mindanao discussed above: religious identity, the legacy of socio-
economic injustice, and the question of the meaning of education in a
democratizing society. Thus, I believe, West’s prophetic pragmatism offers
a useful starting point for the development of a philosophical framework
for conceptualizing educational re/development in post-conflict settings
like Aceh and Mindanao.

Islamic prophetic pragmatism?


My claim that prophetic pragmatism offers a useful framework for
thinking about education in post-conflict Aceh and Mindanao requires
consideration of the question of whether its approach to these common
concerns is amenable to the values and conditions of Aceh and Mindanao,
a question which raises several obvious difficulties. For instance, West’s
articulation of prophetic pragmatism is clearly influenced by his own
Christian faith. To what extent, then, is it Christian? And how relevant can
it be in these Muslim communities, particularly in Mindanao where the long

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 11
Jeffrey Ayala Milligan

history of Muslim-Christian tensions has been such an important part of


the conflict? How acceptable to Muslims are Marxist—even progressive
Marxist—analyses of socio-economic inequality? And finally, pragmatism’s
assertion of the historical contingency of knowledge and truth claims would
seem to be deeply problematic to a religion whose adherents believe the
truth has been revealed to man by God and is contained in the sacred text
of the Qur’an. Is prophetic pragmatism flexible enough to withstand these
concerns about its applicability in Aceh and Mindanao?
First, West acknowledges that his prophetic pragmatism is expressed
through his Christian faith because that is what he has found meaningful.
Prophetic pragmatism, however, is not in itself Christian. It is possible,
he writes, “to subscribe to prophetic pragmatism and belong to different
religious and/or secular traditions” (West, 1989, p. 232). In describing
his philosophy as prophetic rather than Christian pragmatism, West is
consciously invoking the figure of the Old Testament prophets shared by
Judaism, Christianity, and Islam who came, not as fortune tellers or foretellers
of the future, but as social critics who called attention to the gap between
the moral ideals espoused by their communities and the realities of their
social practices and the consequences of those contradictions. Moreover, a
consequence of pragmatism for prophetic pragmatism is recognition that
the religious or secular narrative through which it is expressed by any one
individual or group of individuals is a consequence of the contingencies
of experience of that individual or group rather than the consequence of
possession of the truth. West’s prophetic pragmatism is Christian because
that is where he is culturally and in his own history and because that faith
provides meaning and sustenance for him, not because Christianity is true
and Judaism or Islam is not. Thus prophetic pragmatism is not a Christian
philosophical perspective. It might just as easily be manifested through
Judaism or Islam or even secular perspectives. So, from the perspective
of prophetic pragmatism, there is nothing to prevent an Islamic version of
prophetic pragmatism.
Might there be, however, Islamic objections to an Islamic prophetic
pragmatism? Is pragmatism’s claim regarding the contingency of knowledge

12 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

and truth claims problematic to Islam? It would certainly seem to be


antithetical to any fundamentalist expression of Islam, but it would be equally
antithetical to any fundamentalism, whether Jewish, Islamic, Christian, or
secular. And it is an open question whether all Muslims understand their
faith in such a fashion, and for those who do, whether it is necessarily so.
The first question is empirical and the second theological. Both are beyond
the scope of this essay. I can only point to individual Muslim scholars whose
work seems to suggest the possibility of an Islamic pragmatism. The late
Fazlur Rahman (1982), for instance, argued that the Qur’an should be read
as instances of revelation in response to particular needs and events in the
life of the Prophet and his followers; therefore, it was a mistake to read any
particular passage as stipulating some timeless and decontextualized code
of conduct. Rather, one needed to read and understand these instances of
revelation in their totality to understand the underlying ethical principles
that guided particular choices at a particular point in time. Then these
principles might be applied in a different socio-historical context where
they might, because of the different context, require different choices.
Rahman seems to be arguing for ethical coherence and consistency
over metaphysical certainty, which seems not unlike West’s (1985)
argument that pragmatism historicizes knowledge and shifts the grounds
for the adjudication of competing truth claims from epistemology to
ethics. Furthermore, the principle of intellectual humility, of the ultimate
inability of finite creatures to fully know the infinite, widely recognized
in Islam, would seem to reinforce Rahman’s argument for the primacy of
ethical coherence over the search for secure epistemic foundations, that, in
struggling to the best of our ability to know and do what is right, we may
be wrong. Such arguments suggest that one might hold to certain truths
on faith without assuming that there is any epistemic rationale for holding
them or assuming that someone else should hold them as well. And they
suggest that one may arrive at similar ethical conclusions from different
assumptions of truth. Thus prophetic pragmatists of different faiths, or
perhaps no religious faith, should be able to pursue common ethical goals.
Even if Islam and pragmatism are irreconcilable philosophically, it

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 13
Jeffrey Ayala Milligan

does not mean that one cannot be pragmatic in one’s practice of Islam.
Pragmatism, as a philosophy oriented toward the identification and solution
of problems in human experience, surely has much in common with Islam,
which, Rahman (1988) argues, “teaches and orients man to change things in
the world” (p. 5). For Dewey (1916), it was this concern with the intelligent
and ethical direction of human experience that led him to recognize the
important link between education and democracy. And in both areas as well
Muslim scholars are carefully and systematically exploring the meaning of
democracy and pragmatic approaches to education in the context of Islam,
thereby debunking caricatures of Islam promulgated by Muslim extremists
and western stereotypes (Hashim, 2004; El Fadl, 2004).
Finally, what of prophetic pragmatism’s deployment of progressive
Marxist thought in the analysis of socio-economic injustice? Obviously, socio-
economic justice and injustice are not the exclusive concerns of progressive
Marxist thinkers. They are and have always been concerns within Islam as
well. And the dialectic between what is and what might be is the basis of
critical social theory whether it is Christian (West, 1982), Islamic (Kazmi,
2000), or neo-Marxist (Freire, 1990). What is objectionable about Marxism
to people of faith, whether Muslim or not, is its materialist metaphysics,
the complete rejection of any reality other than the material world, which
constitutes the substitution of one faith for another. It is in this sense
another form of fundamentalism. However, pragmatism’s skeptical stance
towards such dogmatic claims in effect de-couples the methods of analysis
from the fundamentalist materialism people of faith find objectionable,
thus asking not whether Marxism’s account of reality is correct, but whether
its methods of analysis of certain social problems are useful. If they are
useful in understanding injustice and helping to realize ethical ends shared
by different faith traditions, then they need not be objectionable.
My object here is not to describe an Islamic prophetic pragmatism,
but rather to argue that such a possibility is entirely consistent from the
perspective of prophetic pragmatism and enough of a possibility from the
Islamic perspective to warrant rejecting any a priori claim that prophetic
pragmatism is not compatible with Islam or the Muslim societies of Aceh

14 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

and Mindanao. If, as I have argued, the constituent philosophical elements


of prophetic pragmatism address theoretically the major historical elements
of post-conflict Aceh and Mindanao; and if, as I have argued, prophetic
pragmatism is not incompatible with Islam itself or the Muslim cultures
of Aceh and Mindanao, then we must still ask whether and to what extent
a prophetic pragmatic philosophical framework avoids the neocolonial
tendencies of so many well-intentioned colonial and postcolonial efforts
toward educational development in parts of the world like Aceh and
Mindanao.

Prophetic pragmatism and the postcolonial critique


The time is long since passed when relations between the developed
and developing world could be seen as straightforward altruism on the part
of the former for the latter. Since at least the last half of the 20th century
an extensive body of literature by postcolonial critics has traced the ways
in which Western intellectual and economic discourses have developed and
been deployed to rationalize Euro-American domination and colonization of
the so-called Third World (Memmi 1965, Fanon 1965, Said 1979) and were
actually productive of the very underdevelopment that Western development
agencies and experts commit themselves to rectify (Frank 1966). And long
after the demise of formal colonialism, similar discourses continue to foster
unequal relations between the developed and developing world. Wallerstein
(1995) and Amin (2004), for instance, argue that Western liberalism, as a social
theory both engendered by and supportive of capitalist economic theory,
actually creates and sustains the socio-economic inequalities between the
developed and developing worlds that constitute a form of neocolonialism.
And Western education, widely seen as social good, is not entirely innocent
in this process. Shaped by the same intellectual and economic discourses, it
becomes a tool for shaping the thought of both the children of the colonized
and the children of the colonizers in ways that make inequality seem natural
(Mazrui 1979, Freire 1990, Willinsky 1999). How does prophetic pragmatism,
as a potential philosophical framework for educational development in
societies like Aceh and Mindanao, answer these challenges?

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 15
Jeffrey Ayala Milligan

While there are several different expressions of pragmatism, the


work of the American pragmatist, John Dewey, offers the most thorough
account of pragmatism as a social and political philosophy. While Dewey’s
pragmatist social philosophy shares liberalism’s concern with the freedom
of the individual, which both Wallerstein (1995) and Amin (2004) identify as
a key ideological component underlying capitalist economic theory, Dewey
(1916) puts forth a theory of individuality as a product of the interaction
between the individual and his or her environment, both natural and
social. The individual is of course shaped by her environment, but is not
determined by it since she is capable of intelligent actions in pursuit of
her own purposes that transform that environment, making of it a new
experience, which, in turn, becomes an object of the individual’s experience.
Thus, it is not possible to talk about the individual or individual freedom as
some metaphysical ideal to be imposed upon human experience or exported
from one society to another. Rather, both ideas emerge in the context
of particular communities at a particular time in pursuit of particular
purposes. To impose a conception of individuality and individual freedom
found meaningful in one social context to another is, as both Wallerstein
(1995) and Amin (2004) argue, an infringement on the community’s and its
members’ freedom to frame and execute their own purposes, whether it is
done in the name of tradition or in the name of development.
Such an infringement, as Dewey repeatedly points out, usually serves
the interests of those in power and is inimical to democracy in its fullest
sense as a mode of associated living and not simply the machinery of
elections and political parties, what Amin (2004) refers to as “low intensity
democracy” (p. 46). The achievement of democracy as a mode of associated
living requires a citizenry educated not simply in the authorized knowledge
of the powerful but rather in the skills and dispositions necessary to generate
their own knowledge in pursuit of their own ends and to communicate the
results of their experience to others. Therefore, Deweyan pragmatism rejects
the subordination of the individual or the community to a priori political or
economic theories, as Wallerstein (1995) and Amin (2004) argue American
liberal developmentalism is guilty of, in favor of the freedom of individuals

16 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

and communities to use theoretical as well as practical knowledge to


achieve their own, rather than others,’ purposes. Thus Dewey’s theory of
democratic education, which follows from his conception of the individual
and democratic society, answers Ali Mazrui’s (1979) call for postcolonial
knowledge production that can be the basis of “self generating additional
knowledge” in the Third World, “be mobilized to reduce the economic and
cultural dependency of the Third World on the industrial nations,” and “be
mobilized to improve the living standards of the peoples of the Third World,
enrich their lives and fulfill their creative potentialities” (p. 49). The social
and educational theory implicit in West’s (1989) revision of pragmatism are
thus antithetical to the sort of educational development carried on by the
liberal developmentalism criticized by Wallerstein (1995) and Amin (2004).
West’s (1989) prophetic pragmatism draws upon pragmatism’s
democratization of knowledge production in pursuit of local rather than
imposed purposes but rejects the anti-religious myopia of much Western
intellectual discourse. Prophetic pragmatism recognizes, as does pragmatism
itself, that knowledge is a product of purposeful action by individuals and
communities—hence it is culturally and historically contingent; however,
it also recognizes that religious belief is often a large part of the cultural
milieu that shapes those purposes. As Abu Nimer (1996, 2001a) argues,
both cultural practices and religious beliefs must be taken into account in
conflict resolutions practices. Moreover, Islam, according to Nimer (2001b),
contains within its belief system deep spiritual and theological resources in
support of peace and social justice among the ideals that frame individual
and communal purposes in the Muslim world, just as West’s prophetic
pragmatism anticipates. To ignore the centrality of religious ways of
knowing and being in the world in places like Mindanao and Aceh in the
promotion of development projects constitutes an ideological imposition on
such societies no different from those criticized by Wallerstein (1995), Amin
(2004), and others. Prophetic pragmatism, as a philosophical framework for
development in such societies, avoids this sort of imposition by explicitly
articulating a role for religious perspectives in development consistent with
the role they play in developing societies.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 17
Jeffrey Ayala Milligan

Prophetic Pragmatic Post-Conflict Education in Aceh and Mindanao?


What would educational re/development in Aceh and Mindanao from
a prophetic pragmatic philosophical perspective look like? A prophetic
pragmatic approach to the challenges of post-conflict education suggests a
rapprochement between development work and religion, a re-establishment
of ties with the mosques, churches, and synagogues that minister to the
spiritual and existential needs of a wretched of the earth that remains
deeply religious. It would require a much stronger dialogue between those
engaged in educational re/development in post-conflict settings and the
leaders of religious traditions which offer meaning and solace in the face
of tragedy and define the shape of a hoped for future in culturally relevant
terms. Such a rapprochement might restore a continuity of experience
between cultural/religious identity and social/educational change, thus re-
connecting, as West envisions, the tremendous motive power of religious
faith to efforts to improve the lives and prospects of people suffering in the
aftermath of conflict.
There is some evidence in both Mindanao and Aceh that recent
education development projects may be moving in a direction more like that
I am arguing for here. No longer able to ignore the role religion has played
in both conflicts, development efforts appear to be more and more inclusive
of religious organizations. In Mindanao, for instance, the separation of
secular and Islamic schooling, a consequence of the imposition of a form
of liberal political ideology under the American colonial regime (Milligan,
2004), has long been a source of disenchantment among Muslim Filipinos
with government education (Milligan, 2003). After a century-long effort to
use secular education to assimilate Muslim Filipinos into the mainstream of
Philippine society, the Philippine Department of Education initiated Project
Madrasah Education, an effort to integrate Islamic values into government
education in Muslim Mindanao while strengthening the secular curriculum of
the madaris so they might be accredited by—and thus subject to the oversight
of—the Department of Education. This effort reflects, and in some respects
is influenced by, the broader Islamization of society in Muslim Mindanao
(Milligan, 2006). International development projects, including some funded

18 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

by the U.S. Agency for International Development, have also targeted madaris
for educational development. Though the focus of such projects tends to
be the secular aspects of madrasah education, the recognition of Islamic
schools as a legitimate beneficiary of development assistance is a major
step toward acknowledging the role of religious institutions in the decision-
making of development efforts (Moulton & Dall, 2006).
Indonesia, by contrast, has less of a history of separation of religious
and secular education than does the Philippines, which was so deeply influ-
enced by American political ideology (Milligan, 2005). For most of the 20th
century the integration of secular and Islamic curricula in the education of
Indonesian youth was relatively uncontroversial (Asra, Afrianty & Hefner,
2007). These integrative tendencies began to be formalized in the 1970’s as
an agreement between the ministries of Religious Affairs and National Edu-
cation recognized degrees earned in madaris as equivalent to those earned
in government schools. By 1989 the madaris were recognized as part of the
national system of education while the Ministry of Religious Affairs under-
took reforms in Islamic higher education by opening “the teaching of the
classical Islamic sciences to historical and contextualizing methodologies,” a
key element of West’s prophetic pragmatism (Asra, et al., 2007, p.189).
In Aceh itself, the law creating the autonomous government of
Nanggröe Aceh Darussalam gave the province legal authority over the local
economy, the imposition of Islamic law, and education, thus paving the way
for an even greater integration of Islamic and government schooling in a
province that already exhibited one of the highest madrasah enrollment
rates in the country (Miller 2006; Asra et al., 2007). And as in Mindanao,
international development projects are targeting Islamic as well as more
secular educational institutions. The USAID-funded Decentralized Basic
Education, for instance, is working to improve instruction in subjects such
as mathematics, science, and social studies and to improve teacher training
in secular schools and madaris as well as Islamic and secular institutions of
higher education (Education Development Center, 2008).
Thus, events on the ground in both Mindanao and Aceh have, in recent
years, moved in directions that anticipate in some respects one of the key

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 19
Jeffrey Ayala Milligan

elements of a prophetic pragmatic perspective on educational development;


namely, explicit recognition of the legitimacy of religious perspectives on
the direction of educational development in democratic and democratizing
societies. A prophetic pragmatic perspective on post-conflict educational
development need not mean, however, a surrender of all influence on the
nature and direction of educational re/development to local religious voices.
Such voices can be absolutist and potential impediments to the fullest and
freest development of a society, particularly to certain vulnerable populations
like girls, religious and cultural minorities, gays and lesbians, etc. But rather
than dismiss religious belief in its entirety as an impediment to progressive
social change, as is all-to-often the case among what West called the secular
intelligentsia, the prophetic pragmatic perspective calls attention to the
fact that the most compelling arguments against the oppressive tendencies
of any religious tradition are most likely to be found within the religious
tradition itself. Thus, secular criticisms of such oppressive tendencies are
more likely to be effective in alliance with the more moderate voices within
religious traditions rather than in opposition to the religion itself. A prophetic
pragmatic approach to educational development in post-conflict settings
would, therefore, seek out, establish and cultivate an on-going cooperative-
critical dialogue with moderate religious voices. So, while it can be argued
that prophetic pragmatism, in some sense, describes what is happening on
the ground in educational development in Mindanao and Aceh, the explicit
articulation of a prophetic pragmatic theory of educational development in
both regions provides a framework that can guide the development of policies
and practices that recognize the legitimacy, indeed the indispensability, of
religious perspectives while protecting the growth of democratic social and
political arrangements against the anti-democratic tendencies of religious
dogmatism.
The success of such a project may require that the practice of prophetic
pragmatism differ somewhat from West’s philosophical articulation of
it. Pragmatism’s non-foundational epistemology and coherence theory of
truth may simply be unacceptable to the religious whose faith rests, in their
minds, not on socio-historical contingencies but rather on an acquaintance

20 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

with spiritual truth. But pragmatism’s theory of knowledge and truth


rests not so much on an absolute rejection of the possibility of truth but
rather on a practical intellectual humility regarding the possibility of ever
achieving it. It rests on recognition that we have often been wrong and that
we might be again, so it is not wise to hold on to any knowledge claim with
dogmatic certainty. Here, I believe, pragmatism stands on the same ground
as religious believers who humbly acknowledge the inability of imperfect
and finite creatures to fully know the truth as revealed by God, even as they
have faith in its existence. On the common ground of intellectual humility
secular and religious prophetic pragmatists can shift their energies from
epistemology to ethics, from a concern with being right to a concern with
doing good. And this shared concern with doing good need not subscribe to
the materialist ontology of Marxist—even progressive Marxist—thought to
ask the pragmatic question of whether or not its analysis of impediments to
doing good—social justice, economic equality, etc.—are useful to pursuing
the good. Thus a prophetic pragmatic approach to post-conflict educational
re/development in the religious contexts of Aceh and Mindanao does not so
much require agreement on the philosophical underpinnings of prophetic
pragmatism as West describes it as it requires practical solidarity with
religious voices in the pursuit of similar ethical goals.
Such ethical pursuit is necessarily dialectical. It requires the critical
understanding of what is in the light of what might be as well as the freedom
to struggle toward the realization of the latter. This dialectic is, as Dewey
recognized, a necessary condition of democracy, not simply as governing
machinery, but rather as a mode of associated living that enables the fullest,
freest, and, therefore, most effective exercise of human intelligence on social
problems like poverty, injustice, and conflict. Therefore, in acknowledging
the importance of religion in the lives of the “wretched of the earth” in
places like Aceh and Mindanao and seeking to re-establish common cause
with prophetic religious voices in the creation of just societies, prophetic
pragmatism offers a useful philosophical framework for conceptualizing
goals and practices for education continuous with the spiritual and material
experience of different post-conflict societies.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 21
Jeffrey Ayala Milligan

REFERENCES

Abu-Nimer, M. (1996). Conflict resolution approaches: Western and Middle


Eastern lessons and possibilities. American Journal of Economics and
Sociology55 (1), 35-52.
Abu-Nimer, M. (2001a). A framework for nonviolence and peacebuilding in
Islam. Journal of Law and Religion 15 (1/2), 217-265.
Abu-Nimer. (2001b). Conflict resolution, culture, and religion: Toward a
training model of interreligious peace building. Journal of Peace
Research 38(6), 685-704.
Alfian, T.I. (2006). Aceh and the holy war. In A. Reid (Ed.), Verandah of
violence: The background to the Aceh problem (pp. 109-120). Singapore:
Singapore University Press.
Amin, S. (2004). The liberal virus: Permanent war and the Americanization
of the world. New York: Monthly Review Press.
Aspinall, E. (2006). Violence and identity formation in Aceh under Indonesian
rule. In A. Reid (Ed.), Verandah of violence: The background to the
Aceh problem (pp. 149-176). Singapore: Singapore University Press.
Azra, A., Afrianty, D. & Hefner, R. (2007). Pesantren and madrasa: Muslim
schools and national ideals in Indonesia. In R. Hefner & M. Zaman
(Eds.), Schooling Islam: The culture and politics of modern Muslim
education (pp.172 198). Princeton: Princeton University Press.
Blair, H. (2004). Assessing civil society impact for democracy programmes:
Using an advocacy scale in Indonesia and the Philippines.
Democratization 11 (1), 77-103.
Chalk, P. (2001). Separatism and Southeast Asia: The Islamic factor in
southern Thailand, Mindanao, and Aceh. Studies in conflict and
terrorism 24, 241-269.
Davies, L. 2005. Schools and war: Urgent agendas for comparative and
international Education. Compare 35 (4), 357-371.
Dewey, J. (1910) How we think. Buffalo: Prometheus Books. Dewey, J. (1916).
Democracy and education. New York: The Free Press.
Dewey, J. (1934). A common faith. New Haven: Yale University Press.

22 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

Dewey, J. (1938). Experience and education. New York: Collier.


Education Development Center. (2008). Decentralized basic education.
Retrieved July 5, 2008 from the Education Development Center
website at http://www.dbe-usaid.org/index.cfm
El Fadl, K.A. (2004). Islam and the challenge of democracy. Princeton:
Princeton University Press.
Fanon, F. (1965/2005). The wretched of the earth. New York: Grove.
Frank, A. (1966). The development of underdevelopment. In D. Brydon.
(2000). Postcolonialism: Critical concepts, Vol. 5 (pp. 1784-1795). New
York: Rutledge.
Freire, P. (1990). Pedagogy of the oppressed. New York: Continuum.
George, T. (1980). Revolt in Mindanao: The rise of Islam in Philippine politics.
Kuala Lumpur: Oxford University Press.
Gowing, P. (1983). Mandate in moorland: The American government of
Muslim Filipinos, 1899-1920. Quezon City: New Day Publishers.
Hashim, R. (2004). Pragmatic education for the development of the Muslim
ummah. Paper presented at the Conference for Minority Affairs in the
Asia Pacific Region, Singapore.
Kalidjernih, F. K. (2005). Post-colonial citizenship education: A critical study
of the production and reproduction of the Indonesian civic ideal.
Unpublished doctoral dissertation, University of Tasmania, Launceton,
Tasmania, Australia.
Kazmi, Y. (2000). Historical consciousness and the notion of the authentic
self in the Qur’an: Towards an Islamic critical theory. Islamic studies
39 (3), 375-398.
Majul, C. (1999). Muslim Filipinos. Diliman: University of the Philippines
Press.
Mazrui, A. (1979). Churches and multinationals in the spread of modern
education: A third world perspective. Third World Quarterly 1 (1), 30-
49.
Memmi, A. (1965/1991). The colonizer and the colonized. Boston: Beacon
Press.
Miller, M.A. (2006). What’s special about special autonomy in Aceh? In A.
Reid (Ed.), Verandah of violence: The background to the Aceh problem

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 23
Jeffrey Ayala Milligan

(pp. 292-313). Singapore: Singapore University Press.


Milligan, J. (2003). Teaching between the cross and the crescent moon:
Islamic identity, postcoloniality and public education in the southern
Philippines. Comparative Education Review 47 (4), 468-492.
Milligan, J. (2004). Democratization or neocolonialism? The education of
Muslim Filipinos under U.S. military occupation, 1903-1920. History
of education 33 (4), 451-467.
Milligan, J. (2005). Islamic identity, postcoloniality and educational policy:
Schooling and ethno-religious conflict in the southern Philippines. New
York: Palgrave-Macmillan.
Milligan, J. (2006). Reclaiming an ideal: The Islamization of education in the
southern Philippines. Comparative Education Review 50 (3), 410-430.
Moulton, J. & Dall, F. (2006). Delivering educational services in fragile states:
lessons from four case studies. Washington, D.C.: Creative Associates
International.
Nielsen, M. L. (2002). Questioning Aceh’s inevitability: A story of failed
national integration? Global Political Network. Retrieved November 7,
2007 from http://www.globalpolitics.net.
Rahman, F. (1982). Islam and modernity: Transformation of an intellectual
tradition. Chicago: University of Chicago Press.
Rahman, F. (1988). Islamization of knowledge: A response. The American
journal of Islamic social science 5 (1), 3-12.
Reid, A. (2006a). Introduction. In A. Reid (Ed.), Verandah of violence: The
background to the Aceh problem (pp. 1-21). Singapore: Singapore
University Press.
Reid, A. (2006b). Colonial transformation: A bitter legacy. In A. Reid (Ed.),
Verandah of violence: The background to the Aceh problem (pp. 96-
108). Singapore: Singapore University Press.
Riddell, P. (2006). Aceh in the sixteenth and seventeen centuries: Serambi
Mekkah and Identity. In A. Reid (Ed.), Verandah of violence: The
background to the Aceh problem (pp. 38-51). Singapore: Singapore
University Press.
Said, E. (1979). Orientalism. New York: Vintage Press.
Salim, A. (2004). ‘Shari’a from below in Aceh (1930s-1960s): Islamic identity

24 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

and the right to self-determination with comparative reference to the


Moro Islamic Liberation Front (MILF). Indonesia and the Malay world
32 (92), 80-99.
Smith, A. & Vaux, T. (2003). Education, conflict and international development.
London: Department for International Development.
Sommers, M. (2002). Children, education and war: Reaching education for
all (EFA) objectives in countries affected by conflict. The World Bank,
Conflict Prevention and Reconstruction Unit Working Papers.
Sulaiman, M.I. (2006). From autonomy to periphery: A critical evaluation of
the Acehnese nationalist movement. In A. Reid (Ed.), Verandah
of violence: The background to the Aceh problem (pp. 121-147).
Singapore: Singapore University Press.
Thaib, L. (2002). Aceh’s case: A historical study of the national movement
for the independence of Aceh-Sumatra. Kuala Lumpur: University of
Malaya Press.
Vitug, M. & Gloria, G. (2000) Under the crescent moon: Rebellion in
Mindanao. Quezon City: Ateneo Center for Social Policy and
Public Affairs/Institute for Popular Democracy.
Wallerstein, I. (1995). After liberalism. New York: The New Press.
West, C. (1982). Prophesy deliverance! An Afro-American revolutionary
Christianity. Philadelphia: Westminster Press.
West, C. (1985). The politics of American neo-pragmatism. In J. Rajchman
& C. West (Eds.), Post-analytic philosophy. New York: Columbia
University Press.
West, C. (1989). The American evasion of philosophy: A genealogy of
pragmatism. Madison: University of Wisconsin Press.
Willinsky, J. (1999). Learning to divide the world: Education at empire’s end.
Minneapolis: University of Minnesota Press.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 25
Civic Education
in Post Conflict Area
(A Case Study in Aceh, Indonesia)

Anton Widyanto
Lecturer at IAIN Ar-Raniry and Researcher at LKAS Banda Aceh.
Graduated from Florida State University, USA

Introduction
Nanggroe Aceh Darussalam (most often simply called Aceh) is
located on the northern tip of the island of Sumatra in Indonesia. It is also
popularly called Serambi Mekah (the veranda of Mecca) because Islam was
first introduced to Aceh before spreading to other provinces in Indonesia.
Historically, the relationship between Islam and Acehnese culture is
something intertwined. Islam had been coloring their culture, custom, and
tradition for years. Thus, discussing about Aceh cannot be separated from
discussing about Islam.
Furthermore, history of Aceh is full of heroism. Aceh played important
role to struggle against colonization in Indonesia. With spirit of jihad,
Acehnese people fought to be free from Portuguese, Dutch, and Japanese
colonization. After Indonesian independence, the story of Aceh is still full
of blood. Aceh is one of several provinces in Indonesia that was trapped
in prolonged armed conflict against the Central Government of Indonesia
(Jakarta) for about 30 years. Thousands of people were killed either from
Darul Islam, GAM (the Free Aceh Movement), or Indonesian army.

27
Anton Widyanto

Interestingly, although Aceh has much diversity among ethnic groups


and cultures in its population, there is no armed conflict among them. The
conflict occurred during armed conflict was between some Acehnese and
non Acehnese people (mostly Javanese). Many of Javanese were expelled
from Aceh. However, there remain stereotypes and prejudices among the
groups. Furthermore, after the peace agreement, there has been significant
tension among them. Some districts want to be free from Aceh Province and
make another province. This is because they feel that they have been treated
“unfairly” by the Acehnese Government in terms of regional development.
Moreover, differences in culture also sharpen this tension.
Moreover, one of crucial constraints faced by Aceh Government
nowadays is concerning how Acehnese people can be integrated into one
nation, the Republic of Indonesia. Although the peace agreement between
GAM and the Republic of Indonesia was signed on August 15, 2005, some
people (particularly the combatants of GAM) still feel that it only benefits
some of them. Furthermore, some problems regarding the implementation
of the Act No. 11/2006 as a fruit of the peace agreement also makes the
integration still being challenge in Aceh. Consequently, the democratization
process in this province also still needs to be empowered.
Talking about democratization process through education in
Indonesia cannot be separated from discussing about civic education in
this country. During Soeharto’s era (the second president of the Republic
of Indonesia) or also known as the New Order regime, civic education
was called Pendidikan Pancasila. Pancasila is a philosophical concept
formulated by the first president of the Republic of Indonesia, Soekarno,
to unite Indonesian people who are diverse in terms of religions, ethnic
groups, languages, and cultures. It consists of five principles i.e. belief in
the one true God, just and civilized humanity, the unity of Indonesia,
democracy guided by the wisdom of representative deliberation, and social
justice for all Indonesians.
During the New Order (Orde Baru) Pendidikan Pancasila in schools
was used as a political tool under Soeharto’s regime to empower his
political position in Indonesia. In 1970s-1990s it was called Pancasila

28 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Civic Education in Post Conflict Area

Moral Education (Pendidikan Moral Pancasila). Then, based on curriculum


1994 it was changed to Pancasila, and Citizenship Education after 2004.
(Winataputra, 2003, p. 2).
This subject must be taught from elementary school until higher
education. Moreover, mostly its content was colored by Javanization which
means that only accommodated culture of Jawanese, rather than trying to
include other different cultures in Indonesia. This condition made other
people who are not Javanese upset. Hence, this subject became sensitive
to teach in provinces that have political conflict with the government of
Indonesia, like Aceh.
Regarding this, Munawar1 who works for the institution of education
quality assurance in Aceh told me that during armed conflict, it was very
dangerous to teach civic education in schools. This subject contains issue
of nationalism and patriotism which relate to jawanization. Since the Free
Aceh Movement had a vital agenda to free the Acehnese from Indonesia,
such issues were prohibited to teach in rural schools. Even in the time of
armed conflict in Aceh, the safety of teachers particularly in remote areas
could not be guaranteed. Many schools were burnt because they were
claimed as the propaganda of the Government of Indonesia. Many teachers
were asked to support the Free Aceh Movement by paying pajak nanggroe
(payments levied by the Free Aceh Movement).
Based on the condition above, in this research I would like to explore
this tension and how the Acehnese Government might try to solve it
especially through education. The main questions that I want to answer
in this research are: How is civic education taught in senior high school
in Aceh during and after armed conflict from 1976 to 2010? What are
problems faced by teachers in teaching civic education in Aceh and how
they solved them? What should teachers concern about civic education in
order to empower democratization in Aceh?

1
This name is a pseudonym.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 29
Anton Widyanto

The historical background of Aceh


Aceh before and after Indonesia’s independence
Geographically, Aceh is located in a very strategic place. It is
surrounded by Malacca Strait to the north and east. Hence, in the sixteenth
and seventeenth century, Aceh played an important role in international
trade. The Malacca Strait connects several areas and cultures including
India and China (Ahmad, 1972, Burger & Prajudi, 1962, Reid, 1995).
Before Islam came to Aceh, some Acehnese people followed pagan
religions, others were Hindu or Buddhists. There were many small Hindu
kingdoms established like Indrapuri, Indrapatra, Kroeng Raya, Pasei, and
Jeumpa (Peusangan) (Jacoeb, 1946, p. 11). All of these small kingdoms
continually fought to expand their rule. Finally, after Islam came to Aceh
and attracted many people because of its teachings that promote equality
and refuse castes, the influence of Hinduism and Buddhism was replaced
by Islam step by step.
There are three theories explaining how Islam came to Aceh. The first
theory says that Islam came to Aceh directly from Arabia; the second theory
says that it came from India and the third one says that it came from China.
Then, based on the conference of the history of Islam in Indonesia which was
conducted in Medan on March 17-20, 1963 and the conference of Islamic
history in Aceh on July 16, 1978, it was concluded that first, Islam came to
Indonesia in the first century of Islamic calendar (hijri) or around seventh
and eighth century A.D directly from Arabia; second, the first region where
Islam came into Indonesia was Aceh and the early Islamic kingdoms in Aceh
are Perlak, Lamuri, and Pasai; third, Islam was spread peacefully (Risalah
sejarah masuknya Islam di Indonesia, 1963; and Risalah sejarah masuk dan
berkembangnya Islam di Daerah Istimewa Aceh, 1978).
According to its history, the Kingdom of Aceh was founded in the
early sixteenth century. It was regarded as a powerful kingdom at that time.
Under Sultan Iskandar Muda, in the early seventeenth century, the kingdom’s
golden age came. He made Aceh one of the most important military and
trading powers in the region. Moreover, it maintained relations with foreign
powers including the Ottoman Empire, France, and Great Britain. When the

30 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Civic Education in Post Conflict Area

Dutch appended Aceh in 1874, the Acehnese started a guerilla war that
continued until 1912.
The armed conflict in Aceh after the independence of Indonesia in
1945 can be divided into two phases. The first phase of the conflict began
in 1953 when Indonesia experienced Darul Islam. These rebels wanted
to make Indonesia become an Islamic state. They were not only exist
in Aceh, but also in several other provinces in Indonesia including West
Java and Sulawesi (Sjamsuddin, 1985; Van Dijk, 1981). In Aceh’s case, the
rise of Darul Islam was because of two specific reasons: first, the use of
Pancasila philosophy as the basis of belief for Indonesia rather than Islamic
sharia’ (Islamic law); second, the fusion of Aceh into North Sumatera in
1950. Eventually this rebellion failed to achieve its goals. Through various
approaches including military operations and negotiations, this rebellion
was annihilated.
After that, in 1976 the second phase of the conflict began. In this
year, Hasan Tiro formed Free Aceh Movement (GAM), and declared the
independence of Aceh.
Basically, the relationship between the central government of the
Republic of Indonesia and Aceh local government during military conflict
was maintained. Nevertheless, this relationship could not run normally,
because there were military troubles coming from Free Aceh Movement.
Ironically, The Republic of Indonesia’s response to such separatist tensions
in Aceh and other provinces in defense of its conception of an organic,
unitary state has emphasized military repression and civic education
through a highly centralized educational bureaucracy (Kingsbury and
Aveling 2003, Bertrand 2004, Kalidjernih 2005). During President Soeharto
(the new order), Habibie (the reformation order), Abdurrahman Wahid,
and Megawati Soekarnoputri the approaches were still focused on military
operations. Factually, these approaches could not stop the Free Aceh
Movement’s actions effectively (ICG Asia Report N°17, Aceh: Why Military
Force Won’t Bring Lasting Peace, 12 June 2001). Moreover, the military
operations made the rebellions become more popular in Acehnese society.
For most Acehnese people, it was a symbol of struggle, because the military

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 31
Anton Widyanto

operations made many violations in terms of human rights, such as torture,


kidnapping, and rape.
Although there were several efforts to solve this conflict such
as Cessation of Hostilities Agreement (CoHA) between the Indonesian
government and the Free Aceh Movement (GAM) the conflict still continued
(ICG Asia Report, Indonesia Briefing. Jakarta/Brussels, 9 May 2003). This 30
year period of conflict not only affected the economy, but also influenced
the education sector as well. As part of this conflict, many schools were
burned and many teachers fled from this province.
However, on 26 December 2004 a big earthquake and tsunami struck
the Indian Ocean. Aceh felt the impact of this natural disaster as well.
It killed about 132,000 people with 37,000 missing, and also destroyed
hundreds of buildings including schools.
This giant disaster impacted the conflict between the warring factions
as well. It forced the Free Aceh Movement (GAM) and the Indonesian
Government to sit together and discuss another peace agreement in Helsinki.
Unlike the previous agreements, this new Memorandum of Understanding
was more successful. It is because of the commitment of both sides to finish
the conflict became stronger after the tsunami destroyed Aceh. Besides,
the implementation of the agreement was overseen by international
organizations. Therefore, both Indonesian Government and Aceh Free
Movement tried to maintain peace, because no one wanted their image
destroyed in front of international organizations.
Although there was still tension during post conflict phase, the number
was not significant. The integration of Free Aceh Movement combatants
to Acehnese society was problematic because many people still doubted
whether the peace agreement would endure or not. Nonetheless, after Act No.
11/2006 on Aceh government as a product of peace agreement in Helsinki
was implemented by the Government of the Republic of Indonesia, many
people become more optimistic. As a result, the regional election to elect
Aceh governor and heads of district ran successfully. Moreover, the general
election in 2009 to elect the president and the vice president of the Republic
of Indonesia and parliament members was also well conducted.

32 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Civic Education in Post Conflict Area

Diversity in Aceh
According to the recent data, Aceh consists of 18 districts and five
municipalities. They are West Aceh, North West Aceh, Aceh Besar, Aceh
Jaya, South Aceh, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Central Aceh, South East
Aceh, East Aceh, North Aceh, Bener Meriah, Bireuen, Gayo Lues, Nagan
Raya, Pidie, Pidie Jaya, Simelue, Kodya Banda Aceh, Kodya Sabang, Kodya
Lhokseumawe, Kodya Langsa, Kodya Subulussalam. Meanwhile, the total
number of Aceh population based on statistical data 2005 is 4,031,589
(http://www.datastatistik-indonesia.com/component/option,com_tabel/
kat,1/idtabel,111/Itemid,165/). Most of them are Muslims, and the rest
are Christians (either Catholic or Protestant), Hindu, Buddhists, and
Confucians.
The population consists of various ethnic groups including Suku
Aceh, Suku Gayo, Suku Alas, Suku Aneuk Jamee, Suku Melayu Tamiang,
Suku Kluet, Suku Devayan, Suku Sigulai, Suku Haloban dan Suku Julu. Most
of these ethnic groups have their own language and culture.
According to its long history in the past, Acehnese people are
descendants of various nations including Cham, Cochin China, and
Cambodia. Moreover, there were people who have descendants from Arabia
and India. The Arab people who came to Aceh were from Hadramaut
province (Yemen). It can be traced from the tribe names such as Al-Aydrus,
Al-Habsyi, Al-Attas, Al-Kathiri, Badjubier, Sungkar, Bawazier, etc, which still
exist in Aceh now. Meanwhile, the Indian descendants came from Gujarat
and Tamil. It can be seen from the variety of food in Aceh which is close
to the variety of Indian food. Furthermore, there are also Acehnese people
who have descendants from Portugal. They can still be found today in Kuala
Daya, Lamno. (http://www.id.indonesia.nl/content/view/186/89/)
There are several languages used by Acehnese people including
bahasa Aceh which is a part of Austronesian languages and used in most
Aceh districts; bahasa Gayo which is used in Central Aceh, Bener Meriah,
Gayo Lues and Serbajadi; bahasa Simeuleu which is used in Simeulue;
bahasa Melayu Tamiang which is used in Tamiang, East Aceh; bahasa Alas
and Aneuk Jamee which are used in South Aceh.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 33
Anton Widyanto

Civic education curriculum


The design of civic education curriculum is centralized in Jakarta.
Hence, it only gives little opportunity for local teachers to accommodate
local culture and history. Most teachers I interviewed said that there were
changes several times in civic education curriculum from PMP (Pendidikan
Moral Pancasila/ Pancasila Moral Education) to PPKN (Pendidikan Pancasila
dan Kewarganegaraan/Pancasila and Citizenship Education), and the
last is PkN (Pendidikan Kewarganegaraan/Citizenship Education). If PMP
emphasized moral aspect of citizenship that based on the Pancasila values,
and PPKN has additional aspects of citizenship, PkN is more stressed on
rights and responsibilities of citizen. This change can be traced from national
curriculum 1994, curriculum based competency, and curriculum 2006. It
basically was influenced by the change of political condition in Indonesia
particularly when Indonesia has been shifting from “military government”
(the New Order era), to “civil society government” (Reformation Era).
According to most of civic education teachers I interviewed, since it is
not included in subjects tested in national examination for class 12, students
are less interested in learning it. Moreover, the lack of accommodation
of local culture and history also makes this subject less interesting for
them. However, regarding this point, they usually include some issues on
Acehnese’s culture and history when they teach particular materials like
rights and responsibilities of citizen. The issues normally also come up
in student’s discussion in class. Interestingly, regarding the past armed
conflict issues in Aceh, some teachers argued that they did not agree to
be included in civic education materials. So, when the issue came up in
student’s discussion, they tried to stop it by shifting to another issue. The
reason why they did that because they did not want students to remember
the past conflict and want them to face the future of Aceh by positive
thinking. They afraid of emerging spirit to fight for Aceh freedom like in
the past. Fatimah said, “Most our students are victims of the past armed
conflict in Aceh, and if we discuss the past problems, their spirit to rebel
will grow up. So, I think, issues of the past armed conflict should not be
taught in class”.

34 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Civic Education in Post Conflict Area

However, some teachers said that teaching about the past armed
conflict is important. It will give them insights to analyze results of armed
conflict. What civic education teachers should teach is not about who is
wrong or right, but about the consequences of it. Moreover, students should
know how to solve conflicts. Thus, conflict resolution is something very
important here. By learning conflict resolution, it will prevent them to redo
what happened in the past armed conflict. Mila said, “We try to motivate
students not to be afraid to mention Gerakan Aceh Merdeka (GAM). I think
it is no problem to do that in class; although many people surround us were
GAM. We use to discuss conflict problems and consequences. Furthermore,
we also show pictures or movies we got from NGO to explain the negative
effects of the past armed conflict in Aceh; the position of GAM and TNI.
We do not discuss who is right and who is wrong. We show the impacts of
armed conflict and discuss why it happened in Aceh. We try as far as we
can. We try to be neutral in this case, but we still have to teach them”.
Still concerning the idea to include local culture and local history in
civic education such as the history of armed conflict in Aceh, MoU Helsinki,
or special autonomous for Aceh, many participants of this study informed
me that they never got any suggestion about it from parents. Although there
are meetings that include parents as school committee, usually the problems
discussed are related to school financial, school plans, or information about
some regulations. Many parents give their responsibilities to educate to
schools. Mila said, “Parents generally only focus on sending their children to
schools. So, if the question specifically asks whether parents ever suggested
including some materials in particular subjects, the answer is never. Usually
they are busy parents. Even, some of them say that it is up to school to
educate their children. They do not really care about what their children
learn at school”.

Civic education during and after armed conflict


As mentioned before, Aceh is one province in Indonesia that has
long experience in armed conflict. During armed conflict between GAM
and Indonesian National Army (TNI), most participants of this study whom

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 35
Anton Widyanto

I interviewed explained that civic education was “a dangerous” subject to


teach in schools in Aceh. It is because this subject teaches students to be
good citizens in Indonesian frame. In another word, it sends message not
to rebel Indonesia. This message was perceived as an opposite of their
mission to free Aceh from this country. Hence, since there were senior high
school students who were GAM followers, teaching this subject became
dangerous. Basically, not only civic education that was negatively perceived
by some students, but also other subjects that “colored” by Indonesian
ideology like Bahasa Indonesia, and Constitution. Syakur, told me that
before becoming a principal of MAN 2 Banda Aceh, he taught the subject
in MTsN (State Islamic Junior High School). He said that almost no one
brave to teach the subject. Hence as a new teacher who just moved from
another junior high school in East Aceh because of armed conflict, he was
offered by the principal to teach civic education. As a homeroom teacher of
class 10, he accepted the offer. He felt it was not easy to teach the subject
because many of his students who were followers of GAM rejected it. They
said that the subject has no significance at all to teach because they want
to be free from Indonesia. He said:
“…at first students rejected (civic education). Some of them said, “Why
should we study civic education, while we will free from Indonesia
and will have an independent state?” In brief, they could not accept
civic education. In fact, not only civic education or constitution that
they rejected, but also other subjects like Bahasa Indonesia. They
protested and have no will to study Bahasa Indonesia. According to
them, they should learn Bahasa Aceh because it will be a national
language if they free from Indonesia. That was what they thought at
that time. However, with all efforts, through various methods, I tried
to persuade them that civic education and constitution are important
subjects to learn”.
To solve the problem, Syakur offered them a discussion and debate
about the concept of state. He asked them several questions what they
knew about requirements to build an independence state. Since they only
sympathizers of GAM ideology and have few understanding about the

36 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Civic Education in Post Conflict Area

concept of state, they did not know how to answer those questions. Then, he
emphasized the importance of civic education and constitution subjects to
learn at schools. He explained that it would be useful for them who were GAM
followers and sympathizers since they wanted to free Aceh from Indonesia
and build an independence state. Without mastering the knowledge about
the concept of the state, they must have significant problems when they
could gain their freedom. After understanding the importance of the subject,
they finally could accept civic education. He said:
“Interestingly, what I remembered about, one time I asked them to
discuss with me in class. I asked them, “Ok, I do agree that you
want to build an independent state. As your civic education teacher,
I agree on that. However, my question is what do you know about
the requirements to build an independent state? At that time, they
could not answer the question. That makes sense because they only
get some “doctrines” about Aceh’s independence from their friends,
or others. When they could not answer my question, I told them that
civic education and constitution that we learn now is very important.
By learning this subject, you will be clever. If you are clever, you can
build an independent nation because you already knew the concept
of state. For instance you would know the system of the Republic
of Indonesia, the United States, or other states in Europe. You also
would know their concepts, systems, regulations, etc. Hence we will
know much and can conclude what state we should make for Aceh in
the future. Since that, they could accept civic education to be taught
in the school”.
The similar experience was also explained by Fatimah and Azizah.
Fatimah is a civic education teacher at MAN Rukoh Banda Aceh who has
been working for 11 years, while Azizah is a civic education teacher at
SMA 2 Peusangan, Bireuen, who has been working for 15 years. Fatimah
and Azizah told me that they ever felt a long hard period in teaching civic
education in their schools. Like Syakur, during armed conflict, some of
their students also rejected to learn the subject. More than that, Azizah was
ever threatened to be killed by her students who were GAM followers. The

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 37
Anton Widyanto

problem was not only related to the subject she taught, but also because his
husband was not Acehnese.
Fatimah said, “Usually our students who were followers of GAM have
only little knowledge and were influenced by their environments. They
hated me because I teach civic education. Nevertheless, I told them that
this subject is like a bridge for them. If you do not like it, that is your
right. Above all, you have to know about it. Wherever we are, we have to
know how to live as a citizen. So, if you do not like, once again, that is
your right. I just hope that you can answer questions asked in examination.
After exam, either you can use it or throw it away”. To solve the problem
Fatimah explained, “Normally, I called students who hated me and made
verbal abuses, then, I began to ask what they want. My heart was hurt by
their attitudes, but I was not angry at them. I asked them to express their
feeling. By that, usually they can understand my position”. Similarly, Azizah
also used method of discussion to solve rejection of her students on the
subject she taught. She said, sometimes she was afraid of students who
threatened her life. However, she tried to cope that by her believe in God.
She submitted to God’s fate for every problem she faced.
After the peace agreement between GAM and the Republic of Indonesia
was signed on August 15, 2005, civic education gradually became acceptable.
It does not mean that this subject became “a favorite” one, but this subject
has no risk to teach at senior high schools in Aceh anymore. This condition
cannot be separated from the peaceful situation after prolonged armed
conflict as a fruit of MoU Helsinki which is followed up by the Act No.
11/2006 on Aceh Government.
When I asked whether the materials in civic education are still
relevant for Aceh people nowadays, most civic education teachers said it
is still relevant. Fatimah said, “I think they are still relevant because during
armed conflict students were influenced by the condition outside school,
while now such influences do not exist”. Regarding this matter, Syakur
explained, “I think civic education is still relevant to teach in Aceh because
we have to know our government system. If we do not teach civic education,
perhaps students do not know what parliament is, or what kind of system

38 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Civic Education in Post Conflict Area

we use in our politics in Indonesia. All about it covered in civic education


materials. Hence, once again, civic education is still relevant for Aceh people
nowadays”.

Teaching strategy
Most participants of this study said that they often use lecturing as
a method to teach civic education. However, for some materials they also
use other methods such as discussion, and role play. Azizah explained,
“Mostly, I use lecturing in teaching civic education, and sometimes I use
discussion. I think other methods are not suitable to use in this school,
like learning outside class. I ever used it, but students are not seriously
involved”. Moreover, Fatimah told me, “There are some materials that not
suitable to teach by using particular method, for example materials on law.
Regarding law materials, I often ask my students to make role play in which
they can practice like in real court”.
From my observation, I saw students were not really care about
materials taught. Some of them were talking each other, especially who sat
in back raw of the classes. Some students who really paid attention to the
lecturing of teachers usually were girls. They usually like to sit in front raw
of the classes. Regarding this problem, Azizah said, “Usually students are
interested in learning civic education when we connect the materials to the
facts that we watch daily. So, whatever the materials are, if we connect them
to the facts surround us, they will be interested to learn. If we only focus on
what is written on the handbook, normally they are not interested. Hence it
really depends on teacher’s innovation”.
What Azizah said above is in line with what students told me in focus
group discussion. When I asked them about their impression to study civic
education, the answers were different. Some students said they were lack
enthusiasm to study materials that need memorization like the Acts or
constitution. However, they were interested in learning some topics related
to the daily problems like corruption, collusion, or human rights. This is
because they often watch those problems on TV, or they read on newspaper,
or internet.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 39
Anton Widyanto

Discussion
Findings explained above shows that teaching and learning civic
education in Aceh still have many problems. The problems can be classified
into three parts: problems with curriculum, problems with teaching strategy,
and problems with democratization.
Concerning problems with civic education curriculum, I think it is really
important to accommodate local cultures and history of Aceh. Based on the
interviews and focus group discussion I conducted, most civic education
teachers and principals hoped that civic education includes those materials.
However, since civic education curriculum is designed in Jakarta, what civic
education teachers need to do is improving the materials by connecting to
local culture and history.
This improvement is really possible, because according to the Act No.
11/2006 on Aceh Government Chapter 215 Number 1, “Education in Aceh
is a part of national education system that adjusted to the characteristic,
potentiality, and need of society”. Then, the local regulation (Qanun) No.
5/2008, Chapter 3 says, “Aceh is a province that constitutes of lawful society
that have specialties and particular authorities to manage and regulate
government affairs and the interest of local people in line with regulations
in the system of the Republic of Indonesia based on the Constitution of the
Republic of Indonesia 1945, which is leaded by a governor”. Moreover, these
specialties are strengthened by regulations on the division of education
management authorities. Chapter 5 of this Qanun says, “The Government
of Aceh and District Governments implement the specialty of Aceh in
education altogether and add local materials which are in line with Islamic
Shari’a”. Then, regarding curriculum, chapter 35 No. 4 says, “School or
madrasah curriculum at all kinds and levels can add local curriculum based
on local needs”. This regulation indicates clearly that Aceh has rights to
make innovation in education by including local curriculum. Several issues
like special autonomous, the system of local government such as Wali
Nanggroe (provincial head of Acehnese culture, custom, and tradition),
Tuha Peut (four important leadership elements in a sub district), Tuha lapan
(eight important leadership elements), or history of conflict in Aceh that

40 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Civic Education in Post Conflict Area

stresses on conflict resolution can be included either in local curriculum or


in the materials of civic education.
Next regarding problems with teaching strategy, I think civic education
teachers need to be trained in order to upgrade their capacity. Since civic
education is not a subject tested in the national examination, trainings for
teachers are rarely conducted. Moreover, meetings of subject teachers in
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP/Coordination Forum for Subject
Teachers) also not actively conducted. Training for teachers can be focused
on how to make civic education interesting to learn for students. The use
of lecturing as a principal method without combination with other methods
will make this subject boring for them. I think various methods related
to collaborative learning and learning by doing such as discussion, service
learning, field trips, and listening to the guest speakers can help teachers to
make civic education interesting.
Regarding the field trips students can learn about the judicial branch
and the court systems. Then, they can make a mock trial at school where
the students play part and they read the roles of different people. Then,
they can begin work on a more in depth mock trial where the students will
become the attorneys, the witnesses, and defendants. They can make up
their own questions. Teachers then can travel with students to the Court
House where will be in the real court room, with the real judge, and put the
entire trial on. The students will learn how the judge works, what goes in the
court room, court room etiquette, all of the players, and key components in
the court room. This of course will be very useful for them to understand
the judicial system in their country.
Furthermore, concerning service learning, teachers can make a project
assignment for students to do in society. They can choose what and where
they will conduct service learning. They can choose for example orphanage
residence, mosque, foundation, etc. By that they can experience and learn
directly how to live in different situations which will be very useful for their
future lives.
Furthermore regarding problems of democratization, according to
the Act No. 11/2006, Chapter 216 Number 1, “Every Acehnese has right to

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 41
Anton Widyanto

have qualified education with Islamic values in line with the development
of knowledge and technology”; Number 2, “Education which is indicated
in the number 1 must be done on democracy basis and justice along with
respecting human rights, Islamic values, culture, and diversity in the nation”.
This law clearly sends a message that democracy is an important basis to
build Aceh. However, it is also crucial to note that democracy in Aceh has
to respect human rights, Islamic values, culture, and diversity in Indonesia.
Based on the explanation above, I think what students need to learn
from civic education is how to be good citizens. Instead of memorizing
chapters of law, or Pancasila, it will be more useful if students can
understand how to be “citizens in a democracy, what role citizen play in
democracy, and how to fully and effectively meet their obligations to fulfill
those roles” (Burroughs, et. al, 2007-2008: 50). To implement this concept,
I think civic education teachers can ask students to make a mock general
election to educate them that one of their responsibilities is to elect their
leaders. Moreover, teachers also can ask students to do site visit to watch
directly how their representatives in Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(Regional People Representatives) doing their responsibilities. In line with
this, in more concrete way, students also can learn directly from student
government at schools.
All methods above are used because basically civic education should
not only be taught “in book”, but “in action”. This is what can be called as
applied civics.

Conclusion
From the explanation above it can be understood that civic education
is crucial to teach in Aceh. The historical background of Aceh which full of
blood must be replaced by democratization of its citizens. Hence, education
plays important part here, because through education students can learn
how to be good citizens. Moreover, they can also learn how to maintain
peaceful condition in Aceh. The Memorandum of Helsinki which was signed
on August 15, 2005 and followed up by the Act No. 11/2006 emphasizes
that the contemporary and future Aceh must be developed in the frame

42 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Civic Education in Post Conflict Area

of the Republic of Indonesia. Hence, to promote democratization in Aceh


civic education must be empowered through various ways. Regarding the
curriculum, civic education in Aceh should include local issues including
culture, special autonomous, and Aceh history. The history of conflict in
Aceh should be neutral and objective. It should be focusing on strengthening
human rights, and the consequences of past conflict, without blaming who
was right and wrong. Then, concerning teaching strategy, civic education
teachers in Aceh still need to be trained. The problems here are not only
concerning with the exclusion of this subject from national examination,
but also method of teaching used by the teachers. Civic education can be
interesting subject for students to learn if the teachers can connect materials
to factual condition in society. Hence, the improvisation of the teachers in
teaching this subject is really important. Next, regarding democratization
process in Aceh, students need to learn how to live in democratic society.
Therefore, it is important to teach them to be good citizens. It is can be
done by giving them opportunities to learn directly from environments
surround them.
Another aspect that needs to notice is concerning diversities in
Aceh. These diversities include ethnic groups, languages, religions, and
cultures. On the one hand, these diversities can be a positive power to
develop Acehnese society in the future. However, on the other hand, it
also can be negative potentialities that can destruct their future. To make
it positive power, it needs a strong commitment from the stakeholders to
implement multicultural education in schools. One possible way to do it
is by integrating multicultural education into civic education. I think with
Indonesian curriculum 2006 that allocates more dependency for teachers to
make innovation in teaching-learning process, this alternative is applicable.
To discuss about it more profoundly, I think there will be another research
conducted.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 43
Anton Widyanto

REFERENCES

Ahmad, Zakaria. (1972). Sekitar Keradjaan Atjeh dalam tahun 1520-1675


(About Acehnese kingdoms 1520-1675), Medan: Monora.
Argyris, C., Scho¨ n, D., (1974). Theory in Practice: Increasing Professional
Effectiveness. Jossey-Bass, San Francisco.
Bertrand, J. (2004). Nationalism and Ethnic Conflict in Indonesia. Cambridge:
Cambridge University Press.
Burger, D.H. & Prayudi. (1962). Sejarah Ekonomis-Sosiologis Indonesia (The
socio-economical history of Indonesia), Jakarta: Pradnyamitra.
Burroughs, et. al, Teaching for and about citizenship in a democratic society:
comparative views of a selected civic educators in the United States,
Europe, and Latin America. International Journal of Social Education,
Volume 22, Number 2, Fall 2007-2008, PP. 49-69.
Crystal, David S, and Matthew DeBell’s (2002). Sources of Civic Orientation
among American Youth: Trust, Religious Valuation, and Attributions
of Responsibility. Political Psychology. Vol. 23, No. 1 (March), pp. 113-
132.
Fieldman, Lauren, et.al (2007). Identifying Best Practices in Civic Education:
Lessons from the Student Voices Program. American Journal of
Education (November).
http://www.datastatistik-indonesia.com/component/option,com_tabel/
kat,1/idtabel,111/Itemid ,165/ retrieved on Nov 26, 2009.
http://www.id.indonesia.nl/content/view/186/89/ retrieved on Nov 26,
2009.
ICG Asia Report N°17. (2001). Aceh: Why Military Force Won’t Bring Lasting
Peace.
ICG Asia Report. (2003) Indonesia Briefing. Jakarta/Brussels.
Ismail Jacoeb. (1946). Atjeh.
Reid, Anthony. (1995). Winesses to Sumatra: A travelers Anthology. New
York: Oxford University Press.
Risalah sejarah masuknya Islam di Indonesia (The symposium on the history
of Islamic entrance to Indonesia). 1963.

44 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Civic Education in Post Conflict Area

Risalah sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Daerah Istimewa Aceh


(The symposium on the history of Islamic entrance and development
in the special region Aceh), 1978.
Rubin, Beth C. (2007). “There’s Still Not Justice”: Youth Civic Identity
Development Amid Distinct School and Community Contexts. The
College Record. Vol. 109, Number 2, February, pp. 449-481.
Kahne, Joseph, Bernadette Chi, Ellen Middaugh.(2006). Building Social
Capital for Civic and Political Engagement: The Potential of High-
School Civics Courses. Canadian Journal of Education. 29, 2: 387-409.
Kalidjernih, F. (2005). Post-Colonial Citizenship Education: A Critical Study
of the Production and Reproduction of the Indonesian Civic Ideal.
Ph.D. dissertation. Tasmania: University of Tasmania.
Kingsbury, D. and Aveling, H. (2003). Autonomy and Disintegration in
Indonesia. New York: RoutledgeCurzon.
Merriam, Sharan B. (1998). Qualitative research and case study applications
in education. San Fransisco: Jossey-Bass education series.
Nieto, Sonia & Patty Bode. (2008). Affirming diversity: The sociopolitical
context of multicultural education. New York: Pearson.
Sjamsuddin, Nazaruddin. (1985). The Republican Revolt: A Study of the
Acehnese Rebellion. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.
Van Dijk, C. (1981). Rebellion under the Banner of Islam: The Darul Islam in
Indonesia. The Hague: Martinus Nijhoff.
Westheimer, Joel and Joseph Kahne. (2004). What Kind of Citizen? The
Politics of Educating for Democracy. American Educational Research
Journal. Vol. 41. No. 2 (Summer), pp. 237-269.
Winataputra, U. S. (2003, September-October). Pendidikan Kewarganegaraan
untuk Perguruan Tinggi: Suatu Kerangka Acuan [Civic education
for higher education: A frame of reference]. Paper presented at
the Seminar Nasional III Pendidikan Kewargaan (Civic Education)
di Perguruan Tinggi [Third National Seminar on Civic Education in
Higher Education], Jakarta, Indonesia.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 45
Pendidikan Hukum dan
Pemberdayaan Civil Society dalam
Menjaga Perdamaian di Aceh

Fauzi Saleh
Dosen tetap pada Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry dan Peneliti
pada Lembaga Kajian Sosial dan Agama (LKAS) Banda Aceh.
Menyelesaikan pendidikan S-1 pada LIPIA dan STAI Az-Ziyadah,
Jakarta, S-2 pada Institut Ilmu Alquran, Jakarta, S-3 pada IAIN Ar-
Raniry, konsentrasi Fiqh Modern

Pendahuluan
Perdamaian yang dirasakan saat ini di Aceh merupakan sebuah
perjuangan panjang dengan segala dinamisasi dan fluktuasinya. Sebagai
tonggak sejarah yang sangat bermakna ini, maka segala daya dan usaha di
tempuh dengan berbagai jalan dan jalur agar perdamaian itu survive untuk
masa kini dan masa mendatang, kemudian menjadi warisan (inheritance)
yang sangat bermakna bagi generasi.
Masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan dan menjadi
stakeholder yang penting dalam konteks ini sekaligus sebagai element yang
amat dominan untuk memainkan peran dalam mewujudkan perdamaian
yang abadi. Masyarakat yang dimaksud adalah akumulasi dari sejumlah
individu yang berperadaban dan memiliki worldview yang luas, mampu
bersanding dan bertanding dalam kacah dunia global untuk berperan
dalam memakmurkan alam. Masyarakat yang menyadari dirinya sebagai
khalifah Allah di atas muka bumi yang menyayangi, lapang dada, empati,
peka, ta’awun (kooperatif) terhadap makhluk lain, mampu mengkondisi
alam yang aman dan damai bagi segenap penghuninya.

47
Fauzi Saleh

Wujud alam yang damai ini bermuara pada pemahaman dan ketaatan
setiap individu akan aturan-aturan baik yang bersifat normative dalam
artian memberikan bimbingan, arahan, sugesti dan petuah maupun bersifat
coercive yang berfungsi memaksa individu untuk mentaati kaidah dan
norma yang ada. Kebutuhan ini tentu berkait dengan domain hukum.
Proses sosialisasi hukum dimaksudkan pertama sekali untuk membentuk
masyarakat yang ideal dan harmoni. Masyarakat yang baik salah satu
indikatornya adalah mereka yang dapat hidup dengan teratur dan saling
menghormati antara satu dengan yang lain. Kehidupan yang mencerminkan
bahwa kebebasan individu selalu dikontrol dan dibatasi oleh kebebasan
orang lain.
Dalam konteks ini, pendidikan hukum menjadi bagian yang tak
terpisahkan dalam menata hidup dan kehidupan. Karenanya, perlu sebuah
kajian tentang pendidikan hukum dalam menguatkan civil society guna
mendukung perdamaian Aceh yang abadi.
Secara sistematis, makalah ini diawali dengan pendidikan hukum dan
urgensitasnya, lalu melihat bagaimana masyarakat yang diharapkan untuk
diperkuat sendi-sendinya. Dari uraian terakhir terdeskripsikan bagaimana
peran civil society yang sadar hukum dalam menjaga perdamaian di bumi
Serambi Mekkah ini.

Pengertian dan kontribusi pendidikan hukum


Secara kebahasaan, hukum berarti menetapkan sesuatu atas sesuatu
atau tidak menetapkankannya. (Azra, 2005: 46). Secara terminologi,
hukum (law) dapat dapat dilihat dari definisi yang ditulis oleh Sheryl J.
Grana, Jane C. Ollecen Burger and Hans Kelsen sebagai berikut, Law: any
written or positive rule or collection of rules prescribed under the authority
of the sate or nation, as by the people in its constitutution (Grana and
Burger, 1999: 16)
Dalam perspektif sociology hukum diartikan: law are rules that are
enforced and sanctioned by the authority of government. Then may or may
not be norms. Hukum adalah aturan-aturan yang dipaksan dan diberikan
sanksi (atas pelanggaran) oleh pihak yang berwenang dalam pemerintahan,

48 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh

baik bersifat norma atau bukan. Perlu dijelaskan lebih detail lagi bahwa
norma yang dimaksud adalah Norms: share rules of conduct that specify
how people ought to think and act.
Sementara norma adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku
untuk mengarahkan seseorang bagaimana seharus berpikir dan bersikap.
Dalam konteks ini, norma tidak sama dengan nilai. Perbedaan tersebut
dapat dipahami, sebagaimana dijelaskan Hans Kelsen, bahwa norma untuk
menjawab pertanyaan What ought to do (apa yang seharusnya dikerjakan)?
Sementara means (nilai) untuk menjawab: What must I do? (apa yang harus
saya lakukan)? Hal di atas menunjukkan bahwa norma lebih ditekankan
pada aspek moral dan akhlak, sedangkan nilai ditekankan pada aspek legal
formalnya. (Grana and Burger, 1999: 16 and Kelsen, 1991: 9)
Hukum adalah bentuk tulisan atau aturan positif atau sekumpualn
undang-undang di bawah kekuasaan Negara yang dicantumkan oleh
rakyat dalam konstitusinya. Sedang pendidikan hukum adalah pendidikan
diperuntukkan bagi seseorang yang ingin menjadi seseorang yang ahli
di bidang hukum maupun mereka yang secara sederhana bertujuan
menggunakan gelar hukumnya dalam beberapa tingkat, baik terkait dengan
hukum itu sendiri (seperti politik atau akademi) maupun bisnis.( http://
id.wikipedia.org )
Menurut Himahanto Juwana, pendidikan hukum ada dua macam, yaitu
pendidikan hukum yang bersifat akademis (pendidikan hukum akademis)
dan pendidikan hukum yang bersifat profesi (pendidikan hukum profesi.
Namun pendidikan hukum yang dimaksud di sini adalah proses transfer
informasi dan pengetahuan berkaitan dengan norma dan aturan (baca:
hukum) yang berlaku dalam Negara kepada kepada semua stakeholders.
Hal itu mengingat bahwa peranan hukum adalah untuk menjamin bahwa
pelaksanaan pembangunan baik materil maupun spiritual dapat berjalan
dengan cara yang teratur, tertib dan lancar. Perubahan yang teratur melalui
prosedur hukum, baik yang berwujud peraturan perundangan atau bewujud
keputusan badan-badan peradilan akan lebih baik daripada perubahan
yang tidak teratur dengan menggunakan kekerasan semata. (Atmodjahnawi,
1982: 71)

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 49
Fauzi Saleh

Dengan demikian, masyarakat diharapkan memahami bahwa hukum


tidak hanya tool of social control tetapi juga tool of social engineering sebagai
alat yang mampu merubah suatu keadaan masyarakat yang kurang baik
dan kurang maju serta dapat menciptakan nilai-nilai baru. Oleh karenanya,
hukum merupakan suatu alat yang tidak dapat diabaikan dalam proses
pembangunan. (Atmodjahnawi, 1982: 71)
Pendidikan hukum bagi masyarakat paling kurang memiliki dua
fungsi, pertama, mendapatkan ilmu pengetahuan tentang ilmu hukum
dan hukum Indonesia. Kedua, menghasilkan output yang berkarakteristik
tertentu seumpama mampu melihat peristiwa atau fakta lebih dari satu
perspektif, pandai beragumentasi baik lisan maupun tulisan, piawai dalam
menafsirkan kata-kata dan penuh ketelitian. (Juwana: 17)
Untuk maksud di atas, pendidikan hukum diarahkan kepada
pemahaman hukum bagi masyarakat dengan tiga kategori pertama,
pengetahuan yang menyangkut perundang-undangan (substantive law),
kedua, pengetahuan yang menyangkut dengan keterampilan sehingga setiap
individu masyarakat memiliki keahlian dalam menganalisa, melakukan
riset, menulis, mengargumentasikan serta memecahkan masalah. Ketiga:
pengetahuan yang memberikan wawasan agar masyarakat memiliki
perspektif teoritis dan transnasional. (Juwana: 17)
Untuk mewujudkan maksud di atas, maka mesti didukung oleh
langkah dan perangkat yang baik, yakni pemerintahan yang baik (behoorlijk
bestuur), peradilan yang baik (berhoorlijk), dan perundangan yang baik
(behoorlijk wetgevingi)( Atmodjahnawi, 1982: 73).

Pemberdayaan civil society


1. Civil society dalam perspektif historis
Ide civil society muncul di Eropa antara abad ke-17 dan abad ke-18,
ide itu muncul dari kondisi krisis dalam social order dan kebuntuan dalam
paradigma tentang order itu sendiri. Secara umum krisis di Eropa abad ke-
17 meliputi: komersialisasi tanah, tenaga kerja, dan modal; pertumbuhan
ekonomi pasar; abad penemuan/kebangkitan sains; hingga revolusi
kontinental Inggris dan Amerika.

50 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh

Konteks masyarakat yang mulai melepaskan diri dari dominasi


agamawan dan para raja yang berkuasa atas dasar legitimasi agama. Agama
saat itu mulai tersekularisasi dalam arti wewenang dan legitimasi kekuasaan
mulai dilepaskan dari tangan agamawan. Di Eropa itu pula tumbuh ide
demokrasi yang diawali dengan Revolusi Perancis (1789) dan tumbuh pula
sistem ekonomi kapitalisme yang liberalistik.   Civil society pada awalnya
sebagai gagasan adalah anak kandung filsafat Pencerahan (Enlightenment)
yang meretas jalan bagi munculnya sekularisme sebagai weltanschauung
yang menggantikan agama (gereja), dan sistem politik demokrasi sebagai
pengganti sistem monarkhi.
Civil society, yang sering diterjemahkan dengan masyarakat sipil,
yang terambil dari bahasa Latin ’civilas societas’. Secara historis karya
Adam Ferguson (1723-1816), dalam karya klasiknya, An Essay on History
of Civil Society (1767) merupakan salah satu titik asal penggunaan
ungkapan masyarakat sipil (civil society). Gagasan masyarakat sipil
merupakan tujuan utama dalam membongkar konsep masyarakat model
Marxisme. Masyarakat sipil menampilkan dirinya sebagai wilayah yang
mengedepankan kepentingan individual, pemenuhan hak-hak individu
secara bebas. Masyarakat sipil merupakan bagian dari masyarakat yang
menentang struktur politik (dalam konteks tatanan sosial yang monarkis,
feodal ataupun borjuis) serta membatasi diri dari lingkaran negara.
Civil Society juga sering diterjemahkan dengan ”masyarakat madani”
dalam bahasa Indonesia. Munculnya istilah ’masyarakat madani’ di Indonesia
adalah bermula dari gagasan Dato Anwar Ibrahim, ketika itu tengah
menjabat sebagai Menteri keuangan dan Asisten Perdana Menteri Malaysia,
ke Indonesia membawa istilah ”masyarakat madani” sebagai terjemahan 
“civil society”, dalam ceramahnya pada simposium  nasional dalam rangka
Forum Ilmiah pada acara festival Istiqlal, 26 september 1995. (http://dzmiko.
multiply.com) Meskipun sebagian berpendapat bahwa konsep ”masyarakat
madani” di Malaysia merupakan hasil pemikiran  Naquib al-Attas seorang
filosof kontemporer dari negeri jiran itu. (http://dzmiko.multiply.com)
Wacana civil society, sebenarnya mulai populer di Indonesia semenjak
akhir dasawarsa 1980-an. Nurcholis Madjid, misalnya, melakukan penafsiran

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 51
Fauzi Saleh

konsep civil society sebagai ‘masyarakat madani’, melalui pendekatan


semantik dan projecting back, yang merujuk kepada masyarakat Madinah
yang ditegakkan oleh Nabi Muhammad saw. (http://dzmiko.multiply.com)

2. Memahami civil society


Sebagaimana disebutkan di atas, civil society dalam bahasa Indonesia
diterjemahkan ”masyarakat madani”. Dalam bahasa Arab, kata “madani”
tentu saja berkaitan dengan kata “madinah” atau ‘kota”, sehingga masyarakat
madani biasa berarti masyarakat kota atau perkotaan. Meskipun begitu,
istilah kota di sini, tidak merujuk semata-mata kepada letak geografis, tetapi
justru kepada karakter atau sifat-sifat tertentu yang cocok untuk penduduk
sebuah kota. Dari sini kita paham  bahwa masyarakat madani tidak asal
masyarakat yang berada di perkotaan, tetapi yang lebih penting adalah
memiliki sifat-sifat yang cocok dengan orang kota, yaitu yang berperadaban.
Dalam kamus bahasa Inggris diartikan sebagai kata “civilized”, yang artinya
memiliki peradaban (civilization), dan dalam kamus bahasa Arab dengan
kata “tamaddun” yang juga berarti  peradaban atau kebudayaan tinggi.
(http://dzmiko.multiply.com)
Muhammad AS Hikam menguraikan lebih detail. Menurutnya, civil
society didefinisikan sebagai wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi
dan bercirikan, antara lain kesukarelaan (voluntary), keswasembadaan
(self-generating), dan keswadayaan (self-supporting), kemandirian tinggi
berhadapan dengan negara, dan keterikatan dengan norma atau nilai hukum
yang diikuti oleh warganya.
Sebagai sebuah ruang politik, civil society adalah suatu wilayah yang
menjamin berlangsungnya perilaku, tindakan dan refleksi mandiri, tidak
terkungkung oleh kondisi kehidupan material, dan tidak terserap di dalam
jaringan kelembagaan politik resmi. Di dalamnya tersirat pentingnya
suatu ruang publik yang bebas (the free public sphere), tempat di mana
transaksi komunikasi yang bebas bisa dilakukan oleh warga masyarakat.
(http://74.125.153.132)
Sebagaimana terma lainnya, civil society memiliki sisi yang pandang

52 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh

berbeda. Karenanya, konsep civil society1 memiliki banyak versi dan


interpretasi, kendatipun secara idelogis dapat digolongkan ke dalam dua
versi ideologis, yakni versi kapitalisme dan sosialisme. (http://dzmiko.
multiply.com)
Menurutt Kofi Anan mengatakan bahwa civil society merupakan satu
cara untuk memahami relasi antara individu dan negara yang melestarikan
kebebasan dan tanggungjawab.
Dari penjelasan di atas, masyarakat madani memiliki akar istilah
bahasa Indonesia serapan dari bahasa Arab. Latar belakang sosio-historis
Islam atas istilah ’madani’ sangatlah penting untuk memahami dinamika
(kemungkinan perubahan makna dari zaman ke zaman) serta penarikan
simpul makna  yang dikandungnya (relevan) saat ini.( (http://dzmiko.
multiply.com)
Sementara civil society pada awalnya memiliki akar yang berbeda
dengan masyarakat madani. Banyak orang memadankan istilah ini dengan,
civil society, societas civilis (Romawi) atau koinonia politike (Yunani).
Masyarakat madani merujuk pada  tradisi Arab-Islam sedang  civil society
tradisi Barat non-Islam. Perbedaan ini bisa memberikan makna yang berbeda
apabila dikaitkan dengan konteks istilah itu muncul. (http://dzmiko.
multiply.com)
Namun demikian, penggunaan istilah masyarakat madani  dan civil
society di Indonesia sering disamakan  atau digunakan secara bergantian.
1
Ahmad Baso menyimpulkan ada 5 (lima) teori civil society yang ada di Barat: Pertama,
teori Hobbes dan Locke, yang menempatkan civil society sebagai penyelesai dan peredam
konflik dalam masyarakat. Jadi, civil society disamakan dengan negara. Kedua, teori Adam
Ferguson, yang melihat civil society sebagai gagasan alternatif untuk memelihara tanggung
jawab dan kohesi sosial serta menghindari ancaman negatif individualisme, berupa
benturan ambisi dan kepentingan pribadi. Civil society dipahami sebagai entitas yang sarat
dengan visi etis berupa rasa solider dan kasih sayang antar sesama. Ketiga, teori Thomas
Paine, yang menempatkan civil society sebagai antitesis negara. Negara harus dibatasi
sampai sekecil-kecilnya, karena keberadaannya hanyalah keniscayaan buruk belaka
(necessary evil). Keempat, teori Hegel dan Marx, yang tidak menaruh‫آ‬  harapan berarti
terhadap entitas civil society. Konseptualisasi mereka tentang civil society bukan untuk
memberdayakannya atau menobatkannya, tetapi lebih untuk mengabaikan dan bahkan
melenyapkannya. Kelima, teori Tocquiville, yang menempatkan civil society sebagai
entitas untuk mengimbangi (balancing force) kekuatan negara, meng-counter  hegemoni
negara dan menahan intervensi berlebihan negara.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 53
Fauzi Saleh

Hal ini dirasakan karena makna diantara keduanya banyak mempunyai


persamaan prinsip pokoknya, meskipun berasal dari latar belakang system
budaya negara yang berbeda. ((http://dzmiko.multiply.com) Karena itu,
penulis menggunakan kedua istilah itu secara bergantian.
Masyarakat Madani merujuk kepada sebuah masyarakat dan negara
yang diatur oleh hukum agama, sedangkan masyarakat sipil merujuk
kepada komponen di luar negara. Istilah Madani, Madinah (kota) dan al-Din
(diterjemahkan sebagai agama) semuanya didasarkan dari akar kata d-y-n.
Kenyataan bahwa nama kota Yathrib berubah menjadi Madinah bermakna
di sanalah ad-Din (Syari’ah Islam) berlaku dan ditegakkan untuk semua
kelompok (kaum) di Madinah. (http://dzmiko.multiply.com)
Menilik pengalaman sosio-historis Islam, masyarakat madani
merupakan representasi dari masyarakat Madinah yang diwariskan Nabi
Muhammad SAW, yang oleh Robert N. Bellah, sosiolog agama terkemuka,
disebut sebagai masyarakat yang untuk zaman dan tempatnya sangat
modern, bahkan terlalu modern, sehingga sewafatnya Nabi, Timur tengah
dan umat manusia saat itu belum siap dengan prasarana sosial yang
diperlukan untuk menopang suatu tatanan sosial yang modern seperti yang
pernah dirintis Nabi SAW. (http://dzmiko.multiply.com)

3. Pemberdayaan civil society dalam Islam


Civil society telah menjadi tiang penyangga utama bangunan
demokrasi dan menjaga keseimbangan kehidupan berbangsa. Tanpa civil
society, bangunan demokrasi akan rapuh, negara pincang, dan penguasa
pun tak berdaya.( Rohaniwan, http://www.simpuldemokrasi.com)
Istilah civil society barangkali tidak terdapat dalam peradaban Islam
secara eksplisit. Namun, nilai-nilai universal dari terma tersebut tentu
terdapat dan dipraktikkan dalam Islam. Dalam tulisan ini, penulis mencoba
mencari padanan istilah tersebut bila dilihat dalam khazanah Islamiyyah.
Bila merujuk pemaknaan civil society yang disebutkan di atas, praktik
muslimin Madinah telah mendeskripsikan inti masyarakat yang dimaksud.
Sebagian para ahli menerjemahkan civil society sebagai masyarakat madani.
Kata “madani” itu sendiri dinisbahkan kepada “Madinah” telah melahirkan

54 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh

suatu kondisi masyarakat yang saling berbagi, bekerja sama, ta’akha


(bersaudara) dan berakhlak mulia kepada Allah dan kepada sesama.
Nilai-nilai di atas menjadi penting apalagi bila dikaitkan dengan
perkembangan zaman sekarang ini. Noktah-noktah Alquran antara lain
memerintahkan kepada umat manusia untuk memikirkan pembentukan
suatu masyarakat dengan kualitas-kualitas tertentu. Dengan demikian,
memungkinkan bagi umat Islam untuk merekonstruksikan suatu gambaran
tentang masyarakat ideal berdasarkan petunjuk dan bimbingan Alquran
(Al-Munawwar, 2005: 167)
Adapun terma yang dipakai untuk mengindikasikan masyarakat
utama itu seumpama ummat wahidah(Q.S. (2): 13; Al-Maidah (5): 48; Al-
Anbiya (21): 92), ummat wasata(Q.S. (2): 143), dan khayr ummat (Q.S (3):
110). Terma terakhir diberikan indikator : menyeru kepada kebaikan,
mencegah dari yang buruk dan beriman kepada Allah swt. (Al-Munawwar,
2005: 176)
Prinsip yang umat terbaik yang dirumuskan oleh Jam’iyyah Nadhatul
Ulama dalam mu’tamarnya ke XIII, tahun 1935 tercermin pada mabadi
berikut:
● al-siddiq : kejujuran, kebenaran, kesungguhnya dan keterbukaan.
Kejujuran adalah satunya kata dan perbuatan, ucapan dan pikiran
● al-amanah wa al-wafa bi al-‘ahd. Amanah meliputi beban yang
harus dilaksanakan baik dengan perjanjian atau pun tidak. Sedang
al-wafa’ bi al-‘ahd hanya berkaitan dengan perjanjian. Gabungan
kedua istilah tersebut berarti dapat dipercaya, setia dan tepat
janji
● al-‘adalah: mengandung pengertian objektif, proporsional dan
taat asas.
● al-ta’awun yang merupakan sendi utama dalam tata kehidupan
bermasyarakat. Manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan
orang lain. Pengertian al-ta’awun meliputi tolong menolong, setia
kawan, dan gotong royong dalam kebaikan dan taqwa
● al-istiqamah mengandung pengertian konsistensi, kesinambunga
dan berkelanjutan. (Al-Munawwar, 2005: 178-179)

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 55
Fauzi Saleh

Peran civil society untuk memelihara perdamaian dalam bingkai hukum


Melahirkan perdamaian merupakan hal yang sulit, tetapi akan lebih
sulit lagi menjaga dan memelihara perdamaian itu. Penulis berpendapat
bahwa perdamaian itu hanya mampu dilestarikan oleh orang yang merasa
pentingnya kondisi tersebut dalam payung hukum yang telah ditentukan.
Civil society merupakan masyarakat pilihan yang tahu akan hak dan
kewajiban bahkan menjadikan kepentingan publik di atas kebutuhan diri
dan golongan. Sesuai dengan bekal pendidikan hukum yang dimilikinya,
mereka akan sangat arif dalam mengkondisikan keadaan untuk menghindari
chaos (kekacauan) dan disorder (keadan yang tidak nyaman).
Penguatan civil society dalam memelihara perdamaian menjadi urgen
dikarenakan masih ada faktor-faktor internal-eksternal yang sering bersifat
pro-aktif, instrusif yang mengoyang perdamaian. Anak bangsa suatu saat
bisa terjebak pada labilitas, kerapuhan dan perpecahan di dalam, Maka hal
itu nanti akan mempengaruhi keutuhan masyarakat secara keseluruhan.
(Rais, 1998: 212)
Banyak hal-hal yang kecil berpotensi dan rawan terhadap gangguan
perdamaian. Pepatah Aceh mengingatkan hal tersebut, Asai cabok nibak
kudee, asai pakee nibak seunda, asai mukah nibak meuso, asai meulho nibak
dawa (asal borok dari kudis, asal pertengkaran itu dari senda, asal zina dari
cabul asal perkelahian dari pertengkaran). (Umar, 2008: 188-189)
Penguatan civil society dalam memelihara perdamaian melalui
kontribusinya sebagai berikut:
Pertama, memberikan kesadaran hukum kepada masyarakat akan
lebih tinggi, jika dapat memberikan pola yang rasional, dan tidak hanya
bergantung pada perasaan dan emosi seseorang. Jika emosi seseorang
ditimbulkan oleh sauna tertentu, maka apa yang disebut intituisi ini akan
menjadi sangat terpengaruh. (Sosrodihardjo, 1982: 13)
Kedua, memberikan kemampuan untuk berkontribusi dalam
penetapan dan pelaksanaan hukum termasuk memberikan perubahan
karena kondisi sosial yang berubah. (Sosrodihardjo, 1982: 13) Dengan
demikian, masyarakat dapat mengcounter kemungkinan terjadi conflicit
interest baik yang bersifat vertikal maupun horizontal.

56 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh

Ketiga, civil society dengan kapasitas pemahaman hukum yang


memadai diharapkan mampu menjadi problem solver bahkan ada sebagian
mereka menjadi theory builder. (Sosrodihardjo, 1982: 13) Dalam adat
orang Aceh, problem solver itu sudah dibangun dari tingkat bawah, yaitu
kampung. Perangkat kampong akan segera mengambil langkah-langkah
solutif bila terjadi hal-hal yang mengarah perpecahan dan mengganggu
perdamaian dalam masyarakat. Sebelum bola panas bergulir, masyarakat
dengan arahan tokoh-tokohnya mencari jalan alternative dan preventif
sehingga menghasilkan win-win solution.
Keempat: membangun civil society yang peka terhadap perubahan
dalam frame perdamaian. Pelestarian perdamaian dengan beradaptasi
dengan (1) perubahan sosial yang menyangkut tata nilai,2 sikap dan tingkah
laku manusia (2) perubahan untuk mampu bersanding dan bertanding
dengan daerah lain sehingga tidak melahirkan kesenjangan sosial; (3)
perubahan untuk mengembangkan kepribadiannya sendiri dan mengadakan
penyesuaian dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat modern3
Kelima, civil society mampu berperan dalam proses mobilisasi
proyek terapan didasari yang memungkinkan untuk membangun
kondisi damai, seirama dengan perkembangan dunia untuk menyerap
pengetahuan yang dapat merubah sikap dan perilaku.4 Untuk kebutuhan
tersebut, civil society harus mampu mengembangkan jaringan (network)

2
Ada tiga nilai yang merupakan sumber maka hidup; pertama creative values (nilai-nilai
kreatif) : bekerja dan serta melaksanana tugas dengan keterlibatan dan tanggung jawab
penuh pada pekerjaan. Kedua, experiental values (nilai-nilai penghayatan): menyakini
dan menghayati kebenaran, kebajikan, keindahan, dan keimanan serta nilai-nilai lain yang
dianggap berharga. Ketiga, additional values (nilai-nilai bersikap) menerima dengan tabah
dan mengambil sikap yang tepat terhadap penderitaan yang tdak dapat dihindari lagi setelah
berbagi upaya dilakukan secara optimal tetapi tak berhasil mengatasinya. Hanna Djumhana
Bastaman, “Makna Hidup bagi Manusia Modern”, dalam Muhammad Wahyuni Nafis (Ed.),
Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam (Jakarta: Paramadina, 1996), 148-149.
3
R. Suwondo Atmodjahnawi, “Pendidikan Hukum dalam RangkaPembinaan Hukum”
Anto Soemarman, Pendidikan Hukum untuk Memenuhi kebutuhan Masyarakat (Yogyakarta:
Pusat Penelitian dan PEngabdian Masyarakat Fakultas Hukum UII,1982), 59.
4
http://www.pendidikan-damai.org/files/Kurikulum%20Pendidikan%20Damai/9/h.%20
landasan%20filosofis.pdf

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 57
Fauzi Saleh

untuk sosialisasi nilai-nilai perdamaian dalam bingkai norma dan aturan


yang selama ini berlaku.
Keenam, upaya civil society yang mengarah pada pemberdayaan
sesama.5 Dakwah – bi al-lisan atau bi al-hal – yang selama ini sebagai
salah satu corong sosialisasi urgensitas perdamaian6 harus berorientasi
pada kaidah-kaidah dengan pendekatan religius – kultural. Masyarakat
sebagai mitra dakwah dapat menyentuh nilai-nilai sulhiyyah (perdamaian)
yang memandu mereka untuk menyelesaikan masalah kehidupan dengan
pendekatan dialogis berbasiskan ukhuwwah.
Kegiatan sosialisasi perdamian selama ini juga dikung oleh
komponen Civil Society Organizations (Organisasi-organisasi Masyarakat
Madani) di Aceh yang secara umum menyuarakan pandangan mengenai
perlunya penguatan masyarakat sipil pada masa pasca konflik. Penguatan
masyarakat sipil ini justru dalam konteks upaya memantapkan rekonsiliasi
dan keberlanjutan perdamaian ke depan.7
Dalam konteks ini, civil society dapat menjadi agent of change,
masyarakat pengubah. Civil society diharapkan menjadi wadah yang
mampu mengubah cara pikir dan worldview masyarakat dalam menyikapi
dan mengelola sebuah permasalahan dan perbedaan secara arif (bijaksana)
sehingga memberikan dampak positif baik bagi individu atau pun komunal.
Sebagai fungsi transformatif, civil society – melalui penguatan pendidikan
hukum – harus mampu menyampaikan dan menaburkan nilai sulhiyyah
dalam masyarakat8.

Penutup
Perdamaian merupakan prasyarat utama bagi suatu masyarakat
untuk membangun dan mengembangkan diri dan lingkungannya. Tanpa
5
Fuad Jabali dan Jamhari, IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia (Jakarta: Logos,
2002), 165.
6
M. Nasir Budiman, Pendidikan dalam Perspektif Alquran (Jakarta: Madani Press, 2001),
107.
7
http://www.escaeva.com/tips/12tips_mengirimkan_naskah.htm.
8
S. Nasution, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 22.

58 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh

rasa damai, semua perencanaan dan harapan akan sia-sia. Degradasi


pendidikan, ekonomi, social-budaya dan seterusnya termasuk di antara
dampak tidak adanya kondisi damai sehingga proses pembangunan
terhalangi karenanya.
Di antara element yang paling penting dan sekaligus terlibat untuk
menciptakan dan memelihara perdamaian adalah masyarakat. Masyarakat
yang dimaksud tentunya akumulasi individu yang baik, toleran, berjiwa
sosial dan peduli yang sekarang ini sering diistilah dengan civil society.
Kehidupan masyarakat ideal ini akan lebih tenteram bila diikat dengan
hukum yang memberikan guide untuk menggapai harapan cita-cita mereka.
Masyarakat yang diperkuat dengan pilar hukum ini diyakini mampu
berkiprah untuk memelihara perdamaian, dalam konteks ini di Propinsi
Aceh, untuk kemudian diwariskan kepada generasi yang akan datang. Dalam
bingkai hukum yang ditaati, setiap individu dalam meraih kesuksesan, tidak
individu atau kelompok mengganggu pihak lain. Korelasi yang dibangun
dalam masyarakat ini berdasarkan pada simbiosis mutualisme (saling
menguntung) dan reciprocal relationship (hubungan timbale balik) dengan
saling mengisi dan menyempurnakan. Kondisi yang demikian insya Allah
akan mengantarkan mereka ke suatu negeri ‘baldat tayyibat wa Rabb al-
Ghafur. Semoga!

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 59
Fauzi Saleh

DAFTAR PUSTAKA

Amin Rais. Tauhid Sosial. Bandung: Mizan, 1998.


Azymuardi Azra. Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2005.
Fuad Jabali dan Jamhari, IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia, (Jakarta:
Logos, 2002), h. 165
Hanna Djumhana Bastaman, “Makna Hidup bagi Manusia Modern”, dalam
Muhammad Wahyuni Nafis (Ed.). Rekonstruksi dan Renungan Religius
Islam. Jakarta: Paramadina, 1996.
Hans Kelsen. General Theory of Norms. Oxford: Clarendon Press, 1991.
Muhammad Umar. Darah dan Jiwa Aceh. Banda Aceh: Boebon Jaya, 2008.
M. Nasir Budiman. Pendidikan dalam Perspektif Alquran .Jakarta: Madani
Press, 2001.
R. Suwondo Atmodjahnawi, “Pendidikan Hukum dalam RangkaPembinaan
Hukum” Anto Soemarman, Pendidikan Hukum untuk Memenuhi
kebutuhan Masyarakat. Yogyakarta: Pusat Penelitian dan PEngabdian
Masyarakat Fakultas Hukum UII,1982.
S. Nasution. Sosiologi Pendidikan .Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
Said Agil Husin al-Munawwar. Hukum islam dan Pluralitas Sosial. Jakarta:
Penamadani, 2005.
Sheryl J. Grana and Jane C. Ollecen Burger. The Social context of Law. New
Jersey: 1999
Soedjito Sosrodihardjo. “Peranan Ilmu Pengetahuan Hukum dalam
Masyarakat” dalam Anto Soemarman, Pendidikan Hukum untuk
Memenuhi kebutuhan Masyarakat. Yogyakarta: Pusat Penelitian dan
Pengabdian Masyarakat Fakultas Hukum UII, 1982.
Talcott Parsons. “The Law and Social Control”, dalam William M. Evan, The
Sociolog of Law. London: Collier Macmillan Publisher, 1980.
Abu Fikri, Konsep Civil Society dalam perspektif islam: sebuah tinjaun
ideologis, http://www.gaulislam.com/konsep-civil-society-dalam-
perspektif-islam-sebuah-tinjaun-ideologis
Aloys Budi Purnomo Rohaniwan, http://www.simpuldemokrasi.com/

60 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh

dinamika-demokrasi/wacana-demokrasi/1305-ham-civil-society-dan-
demokrasi.html
http://74.125.153.132/search?q=cache:F3lNHdnRA2cJ:blog.unila.ac.id/
handayani/files/2009/08/civil-society-dan-masyarakat-madani.ppt+c
ivil+society+adalah&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id
http://dzmiko.multiply.com/journal/item/36
http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_hukum
http://www.pendidikan-damai.org/files/Kurikulum%20Pendidikan%20
Damai/9/h.%20landasan%20filosofis.pdf
http://www.escaeva.com/tips/12tips_mengirimkan_naskah.htm

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 61
Membumikan Perdamaian
dalam Bingkai Syari’at Islam
di Aceh

Muhibbuththabary
Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry. Menyelesaikan S-1,
S-2 dan S-3 di IAIN Ar-Raniry. Pernah menjabat sebagai Asisten
Direktur II Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry dan saat ini
menjabat sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry

Pendahuluan
Tahun 2005 merupakan tonggak bersejarah bagi Aceh. Ada dua hal
yang menjadi catatan sangat penting pada tahun tersebut. Pertama, pada
tahun tersebut Aceh mulai bergerak bangkit dari keterpurukan pasca
musibah gempa dan tsunami yang kejadiannya bukan hanya menghentak
dunia nasional tapi juga internasional. Aceh yang semula ”nyaris tertutup”
dari masuknya organisasi internasional telah berubah menjadi wilayah yang
terbuka. Kedua, pada tahun tersebut Aceh juga mendapat anugerah yang
luar biasa dari Allah Swt karena berhasil mewujudkan perjanjian damai
di Helsinki yang perlahan tapi pasti telah mengakhiri konflik bersenjata
yang telah berlangsung puluhan tahun lamanya. Sebuah proses panjang
pergolakan yang telah memakan banyak korban baik dari pihak angkatan
bersenjata Republik Indonesia, Gerakan Aceh Merdeka, maupun rakyat
biasa.
Proses terjadinya perjanjian damai tersebut memang bukan hal yang
mudah. Tapi dengan dilandasi itikad baik dari kedua belah pihak yang
berkonfrontasi, akhirnya perjanjian damaipun terwujud yang kemudian

63
Muhibbuththabary

ditindaklanjuti secara konkret oleh lahirnya Undang-Undang Nomor 11


Tahun 2006. Meski undang-undang dan perangkat perundang-undangan
yang kemudian menyertainya bukan berarti tidak memiliki kendala, namun
sejauh ini diskursus terkait solusinya senantiasa terjalin.
Hal terpenting yang menarik untuk diselami lebih lanjut dalam konteks
lokal Aceh pada dasarnya adalah terkait dengan bagaimana perdamaian
yang telah terwujud beberapa tahun lalu dapat dirawat dan dipertahankan
dengan baik. Hal ini tentu saja sangat krusial mengingat masyarakat Aceh
pada prinsipnya sudah jenuh dengan pertikaian berkepanjangan. Untuk itu
maka beragam faktor tentu perlu dipertimbangkan dengan baik. Salah satu
diantaranya adalah bagaimana menjaga perdamaian tersebut dalam bingkai
syari’at Islam. Krusialnya pembahasan mengenai hal ini dikarenakan
pembicaraan mengenai Aceh pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari
pembicaraan tentang ajaran dan nilai-nilai Islam dimana keduanya bisa
diibaratkan bagaikan dua sisi mata uang. Oleh sebab itu dalam makalah
ini penulis akan membahas persoalan perdamaian di Aceh dalam bingkai
syari’at Islam melalui pendekatan historis dan normatif. Perdamaian yang
penulis maksud di sini akan lebih dispesifikkan pada aspek pembinaan
kerukunan internal dan antar umat beragama di Aceh.

Aceh dan syarī‘at Islam: lintasan historis


Bagi Daerah Istimewa Aceh atau Rakyat Nanggroe Aceh Darussalam
(sebutan sekarang “Aceh”) pada umumnya, masalah penerapan Syarī‘at
Islam bukan merupakan persoalan yang baru, karena sejak abad VII H
agama Islam telah masuk ke daerah ini dan telah tumbuh menjadi kerajaan
Islam dan berkembang sampai abad XIV M. Hal itu sejalan dengan pandangan
bahwa “Dari penelitian sejarah, Hukum Islam (Syarī‘at Islam) telah ada di
Indonesia sejak bermukimnya orang-orang Islam di Indonesia”.1 Dengan
kata lain, keberadaan Syarī‘at Islam di ACEH bersamaan waktunya dengan
masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Meskipun ada di antara
para ahli yang berpendapat bahwa masuknya Islam ke Indonesia dari Arab,

Daud Ali, Kedudukan Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Indonesia (Jakarta: Yayasan
1

Risalah, 1990), 7

64 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

namun pada umumnya para ahli sejarah mengatakan bahwa “masuknya


Islam ke Indonesia bukan dari pusat lahirnya Agama Islam (Timur Tengah),
tetapi melalui Gujarat India”.2
Dari berbagai catatan sejarah masuk dan berkembangnya Islam
di Indonesia menyebutkan bahwa kerajaan Pasai adalah kerajaan Islam
pertama di Indonesia. Kerajaan ini berdiri sejak Raja Rajendra I dari India
(1023-1024) tidak berhasil menundukkan daerah itu. Ketika raja Rajendra
kehilangan dukungan dari penduduk setempat yang menyebabkan
kekalahannya, maka Malik al-Şalih menduduki tahta kerajaan. Malik al-
Şalih adalah raja yang pertama kali sebagai penguasa yang beragama Islam
menduduki kerajaan yang bernama Samudera Pasai. Di samping kerajaan
Samudera Pasai sebagai kerajaan pertama, sejarah juga mencatat kerajaan
Islam Aceh sebagai kerajaan yang menerapkan Syarī‘at Islam dengan
kuat, sehingga wilayah kerajaan Islam Aceh, baru dapat ditaklukkan oleh
penjajah secara keseluruhan setelah mengalami peperangan panjang yang
amat sulit.
Kehadiran Islam pada umumnya, tidak hanya di Samudera Pasai dan
Aceh saja, selalu disambut dengan akrab oleh penduduk setempat
dan umumnya berlainan sekali dengan tanggapan mereka terhadap
kehadiran agama lain. Sayang sekali sejarah memang tidak banyak
yang mengungkap perkembangan dan gerak secara nyata langkah-
langkah Islam di Samudera Pasai dan Aceh. Namun dari banyaknya
nama-nama Islam serta peninggalan-peninggalan yang bernilai
keislaman dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam pernah berlaku dan
tertanam kuat di sana.3

Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 44 Tahun 1999 Tentang


Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah Istimewa Aceh dan Undang-undang
Republik Indonesia Nomor: 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus
bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai provinsi Aceh serta Undang-
undang Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun 2006 merupakan payung

Hoesin Djajadiningrat, Islam di Indonesia, dalam Knet. W. Morgan (Ed.), Islam Jalan
2

Mutlak, Pembangunan (Jakarta: t.p , 1963), 55


Zainal Abidin Ahmad, Sejarah Islam dan Umatnya Sampai Sekarang (Ilmu Politik Islam
3

V) (Jakarta: Bulan Bintang,1979), 433

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 65
Muhibbuththabary

hukum dalam rangka pelaksanaan Syarī‘at Islam di ACEH. Dalam kaitan ini
disebutkan bahwa: Ketika Islam lahir pada abad VI Masehi, Aceh menjadi
wilayah pertama di Nusantara yang menerima Islam. Setelah melalui proses
yang panjang, Aceh menjadi sebuah kerajaan Islam pada abad VIII M yang
kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan yang maju pada abad XIV
M dan dari sinilah Islam berkembang ke seluruh Asia Tenggara.
Pada sekitar akhir abad XV orang-orang Barat memulai petualangannya
di Timur dan menguasi bebarapa wilayah yang ada di Nusantara, tetapi
Aceh tetap dibiarkan sebagai sebuah kerajaan yang berdaulat. Secara politis,
hubungan antara kerajaan Aceh Darussalam dengan Belanda cukup baik,
namun pada abad XIX mengalami krisis, meskipun dalam Traktat London
tanggal 17 Maret 1824 pemerintah Belanda berjanji kepada pemerintah
Inggris untuk tetap menghormati kedaulatan Aceh. Tetapi empat puluh
tahun kemudian, Belanda dengan licik berhasil meyakinkan Inggris untuk
tidak menghalangi keinginannya menguasi Aceh melalui Traktat Sumatera
tanggal 1 November 1871.4
Kehadiran Kompeni di Indonesia semula membawa missi perdagangan
untuk mencari keuntungan material dan kemudian berlanjut sebagai
penjajahan, namun karena agama yang mereka anut bukan agama Islam,
maka secara umum kehadiran mereka disambut dengan sikap apatis atau
kurang simpatik dan implikasinya kebudayaan mereka tidak dapat diterima
bagitu saja. Sehubungan dengan kehadiran mereka jauh belakangan
setelah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia, mereka terpaksa
menghormati Islam sebagai agama dan kemudian berusaha mempersempit
bidang-bidang tertentu ajaran agama Islam sebagai agama yang dianut
oleh rakyat Pribumi. Hal itu pula yang merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan “Pada waktu pemerintah Batavia mendesak Sultan ‘Alauddin
Mahmudsyah agar Sultan bersedia mengakui kedaulatan Hindia Belanda
atas wilayah Aceh, tuntutan itu secara mentah-mentah ditolak oleh Sultan
‘Alauddin Mahmudsyah. Penolakan itulah yang dipakai oleh Hindia Belanda

4
Himpunan Undang-undang, Peraturan Daerah, Instruksi Gubernur, Edaran Gubernur
dan Lain-lain Berkaitan Pelaksanaan Syarī‘at Islam (Provinsi Aceh: Dinas Syarī‘at Islam,
2002), 7 (Selanjutnya disingkat dengan Himpunan).

66 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

untuk menyatakan perang terhadap rakyat Aceh”.5


Penolakan terhadap eksistensi Hindia Belanda dimaksud dalam
perkembangan sesudahnya, berimplikasi terhadap keputusan penjajah
Hindia Belanda setelah ditanda tangani Traktat 1 November 1871 dengan
pemerintah Inggris untuk mengakui kedaulatan Aceh. Pada Tahun 1873
Belanda mulai menyerang Aceh dan mengakibatkan terjadinya perjuangan
rakyat Aceh melalui peperangan puluhan tahun, yang tidak hanya
menyebabkan timbulnya korban jiwa dan harta yang banyak, tetapi secara
politis mengakibatkan rakyat Aceh kehilangan kedaulatannya.
Ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17
Agustus 1945, masyarakat Aceh memberikan dukungan atas kemerdekaan
Indonesia, karena melekatnya perasaan senasib sepenanggungan di bawah
kekuasaan penjajah dengan segenap masyarakat yang berada di daerah
lainnya. Wujudnya rakyat Aceh dengan rela menyumbangkan jiwa raga
dan harta benda, demi tegak dan survivenya Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih, selama Revolusi Fisik pasca
kemerdekaan Indonesia, daerah Aceh merupakan satu-satunya wilayah
yang tidak dapat diduduki oleh Belanda, sehingga Aceh disebut sebagai
daerah modal bagi perjuangan bangsa Indonesia.
Atas perjuangan itu pula Aceh mendapat kedudukan tersendiri
sehingga dengan Peraturan Perdana Menteri Pengganti Peraturan
Pemerintah Nomor: 8/Des/WKPM/49 tanggal 17 Desember 1949,
Aceh dinyatakan sebagai satu Provinsi yang berdiri sendiri lepas dari
Provinsi Sumatera Utara. Namun setelah Republik Indonesia kembali
ke Negara Kesatuan, melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
undang Nomor: 5 Tahun 1950 status daerah Aceh kembali ditetapkan
menjadi salah satu keresidenan dalam Provinsi Sumatera Utara.
Ketetapan ini menimbulkan ketidakpuasan di kalangan pemimpin dan
rakyat Aceh, yang pada akhirnya menimbulkan gejolak perlawanan
pada tahun 1953 yang melibatkan hampir seluruh rakyat Aceh, baik
langsung maupun tidak langsung, sehingga Daerah Aceh kehilangan
peluang untuk menata diri.6
Untuk meredam gejolak dimaksud, secara politis pemerintah kembali

Hardi, Daerah Istimewa Aceh, Latar Belakang Politik dan Masa Depannya (Jakarta:
5

Karya Unipers, 1993), 17


Himpunan..., 8
6

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 67
Muhibbuththabary

merubah status keresidenan Aceh menjadi daerah otonom Provinsi Aceh


yang dituangkan dalam Undang-undang Nomor: 24 Tahun 1956 tentang
Pembentukan Daerah Otonom Provinsi Atjeh dan Perubahan Peraturan
Pembentukan Provinsi Sumatera Utara. Kebijakan itu ditindaklanjuti dengan
Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor: 1/Missi/1959, yang
meliputi agama, adat dan pendidikan. Namun pada masa pemerintahan
Orde Baru muncul kecendrungan pemerintah untuk melakukan pemusatan
kekuasaan dengan keluarnya Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 5
Tahun 1974 tentang Pokok Pemerintahan di Daerah, maka penyelenggaraan
keistimewaan Aceh tidak berjalan dengan semestinya, karena banyak hal
dalam Undang-undang dimaksud yang tidak sejalan dengan aspirasi dan
kehidupan rakyat di daerah.
Setelah jatuhnya rezim Orde Baru dan munculnya gerakan reformasi,
masalah keistimewaan Aceh mencuat kembali dalam panggung perpolitikan
Indonesia yang mengakibatkan lahirnya Undang-undang Republik
Indonesia Nomor: 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan
Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Dalam Undang-undang dimaksud selain
menambahkan peran ulama dalam kebijakan daerah, juga dalam penjelasan
Undang-undang disebutkan bahwa untuk menyusun penyelenggaraan
keistimewaan Aceh perlu dituangkan dalam suatu Undang-undang Klausal
penjelasan inilah yang melahirkan Undang-undang Republik Indonesia
Nomor: 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah
Istimewa Aceh sebagai Provinsi Aceh (ACEH). Kemudian lahir Undang-
undang Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan
Aceh yang memberi hak sepenuhnya bagi daerah untuk mengatur tatanan
kehidupan sesuai dengan Sosio Kultural masyarakatnya dalam bingkai
NKRI. Dengan Undang-undang ini tugas dan wewenang pemerintah Provinsi
Aceh menjadi lebih luas dan komprehensif, termasuk mengatur penerapan
Syarī‘at Islam.

Implementasi syarī‘at Islam di Aceh


Penerapan Syarī‘at Islam di Provinsi Aceh seperti yang diatur dalam
Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 44 Tahun 1999, Undang-

68 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

Undang Republik Indonesia Nomor: 18 Tahun 2001 tentang Otonomi


Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Aceh dan
kemudian lahir Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun 2006
tentang Pemerintahan Aceh merupakan suatu fenomena yang menarik dan
juga menantang. Undang-undang ini tidak hanya memberikan akses bagi
masyarakat yang tinggal di Serambi Mekkah untuk merealisasikan Syarī‘at
Islam dalam berbagai aspek kehidupan, tetapi juga secara politis merupakan
suatu keberhasilan masyarakat di Provinsi ini dalam mentransformasikan
Syarī‘at Islam ke dalam peraturan perundang-undangan. Berdasarkan hasil
wawancara dengan salah seorang anggota MPU ACEH yang menyatakan bahwa
keberhasilan ini juga dihadapkan kepada berbagai tantangan, terutama yang
menyangkut dengan kesiapan Pemerintah Daerah dan seluruh masyarakat
Aceh untuk mengimplementasikannya secara kaffah.7
Para pemerhati hukum Indonesia menilai penerapan Syarī‘at Islam di
Aceh merupakan peristiwa pertama pasca kemerdekaan Republik Indonesia,
dalam hal ini daerah ACEH yang berada dalam bingkai Negara Kesatuan
Republik Indonesia diberikan kewenangan untuk menerapkan suatu sistem
hukum (Syarī‘at Islam) yang relatif berbeda dengan hukum Nasional yang
mengenal sistem unifikasi hukum dalam negara yang berdasarkan Pancasila.
Namun sesungguhnya secara historis, bagi masyarakat Aceh penerapan
Syarī‘at Islam bukan merupakan hal yang baru, karena kultur masyarakat
Aceh sangat Islami dan tergolong fanatis. Begitu dekatnya masyarakat
Aceh dengan Islam, sehingga daerah ini sering dijuluki Serambi Mekkah.8
Ungkapan di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh salah seorang
sejarawan Aceh sebagai berikut:
Sejak Islam menapak di bumi Aceh, Islam dapat dikatakan telah senyawa
dengan rakyat Aceh. Semua kehidupan rakyat Aceh dipengaruhi dan
dituntun oleh Syarī‘at Islam. Terkenal pribahasa Aceh “Hukom ngon
Adat lage zat ngon sifeut”. Hukum yang dimaksudkan di sini adalah
hukum-hukum agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’ān dan Al-
Sunnah Nabi Muhammad SAW. Hukum ini adalah peraturan-peraturan
agama Islam yang dijaga dan dipelihara ketat oleh masyarakat Aceh.

Wawancara dengan Anggota MPU ACEH Tgk. H. Bardad tanggal 30 Januari 2007
7

Daud Rasyid, Republika, 13 Nopember 1999


8

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 69
Muhibbuththabary

Adat adalah tata kehidupan masyarakat sehari-hari dalam segala


lapangan kehidupan yang dipengaruhi oleh Syarī‘at Islam. Hukum
ditetapkan oleh ulama dan adat ditetapkan oleh penguasa. Bagi
masyarakat sulit sekali membedakan hukum dengan adat. Hukum
dengan adat telah sangat menyatu dalam menata masyarakat. Hal ini
berjalan ratusan tahun di dalam dinasti raja-raja Aceh, khususnya
kerajaan Aceh Darussalam.9

Ungkapan di atas selain menggambarkan perspektif masyarakat Aceh


dan boleh jadi bersifat apologis dan ethnosentris, namun fakta sejarah juga
menunjukkan bahwa Syarī‘at Islam telah berurat berakar dalam kehidupan
masyarakat Aceh. Hal itu pula yang menyebabkan munculnya tuntutan
masyarakat Aceh untuk menerapkan Syarī‘at Islam pasca kemerdekaan
Republik Indonesia, karena masyarakat Aceh menilai komitmen pemerintah
pusat sejak awal kemerdekaan tidak pernah terealisasikan.
Lahirnya Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 44 Tahun
1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh, seperti disebutkan
pada Pasal 3 ayat (1), merupakan legitimasi atau pengakuan dari bangsa
Indonesia yang diberikan kepada daerah karena perjuangan dan nilai-
nilai hakiki masyarakat yang tetap dipelihara secara turun temurun
sebagai landasan spritual, moral dan kemanusiaan. Sedangkan pada ayat
(2) disebutkan bahwa penyelenggaraan keistimewaan Aceh meliputi: (1)
Penyelenggaraan kehidupan beragama, (2) Penyelenggaraan kehidupan adat,
(3) Penyelenggaraan pendidikan, dan (4) Peran ulama dalam menetapkan
kebijakan daerah10. Kemudian diikuti lahirnya Undang-undang Republik
Indonesia Nomor: 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi
Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Aceh yang memberi legitimasi
kewenangan bagi daerah ini untuk mengatur tata kehidupannya dengan
tetap berpedoman pada Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Dalam proses selanjutnya, lahir pula Undang-undang Republik
Indonesia Nomor: 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh yang

Badruzzaman, A. Hasjmi: Aset Sejarah Masa Kini dan Masa Depan (Jakarta: Bulan
9

Bintang, 1994), 199-121.


10
Himpunan ..., 3

70 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

menegaskan bahwa Aceh adalah daerah provinsi yang merupakan kesatuan


masyarakat hukum yang bersifat istimewa dan diberi kewenangan khusus
untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam
sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan UUD
1945 (Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun 2006 Pasal 2
ayat 2). Untuk memenuhi maksud ini, di mana penyelenggaraan kehidupan
beragama harus diwujudkan dalam pelaksanaan Syarī‘at Islam, maka
langkah-langkah yang telah ditempuh oleh Pemerintah Daerah Aceh, yaitu
mengatur berbagai aspek pelaksanaan Syarī‘at Islam sebagai berikut:
1. Penetapan Peraturan Daerah
Seperti tertuang dalam Konsideran Peraturan Daerah Nomor: 5
Tahun 2000 tentang Pelaksanaan Syarī‘at Islam, disebutkan pada poin
(d) bahwa sebagai perwujudan keistimewaan di bidang penyelenggaraan
kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara, perlu diatur aspek-
aspek pelaksanaan Syarī‘at Islam yang wajib dijunjung dan diamalkan oleh
masyarakat di daerah Istimewa Aceh dan (e) bahwa untuk terwujudnya
kepastian hukum dalam pelaksanaan hak-hak Istimewa sebagai tersebut
di atas, perlu diatur pokok-pokok pelaksanaan Syarī‘at Islam di Provinsi
Daerah Istimewa Aceh dengan menetapkan suatu Peraturan daerah.11
Peraturan Daerah Nomor: 5 Tahun 2000 sebagai peraturan pelaksanaan
dari Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 44 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh dan Undang-undang Republik
Indonesia Nomor: 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi provinsi
ACEH, terdiri dari IX Bab dengan 24 Pasal, di mana Bab I tentang Ketentuan
Umum, Bab II Tujuan dan Fungsi, Bab III Kewajiban dan Pengembangan dan
Pelaksanaan Syarī‘at Islam, Bab IV Aspek Pelaksanaan Syarī‘at Islam, Bab V
Ketentuan Pidana, Bab VI Pengawasan dan Penyidikan, Bab VII Pembiayaan,
Bab VIII Ketentuan Peralihan dan Bab IX Penutup. Langkah berikutnya
adalah ditandai dengan lahirnya KEPGUB Nomor: 01 Tahun 2004 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Wilāyat al-Hisbah di ACEH.

Himpunan ..., 53
11

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 71
Muhibbuththabary

Kemudian lahir Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun


2006 tentang Pemerintahan Aceh yang merupakan penyempurnaan terhadap
Undang-undang sebelumnya. Semua Undang-undang ini merupakan mata
rantai bagi terwujudnya konsep pelaksanaan Syarī‘at Islam di ACEH secara
adil dan merata serta penuh rasa tanggung jawab.
2. Penataan hukum materil dan hukum formil
Meskipun Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun 2006
tentang Pemerintahan Aceh dianggap baru, namun dalam Undang-undang
Republik Indonesia Nomor: 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan
Keistimewaan Aceh yang telah ada sebelumnya menyebutkan, khususnya
dalam Bab III tentang Pelaksanaan Keistimewaan yang dalam pasal 4
disebutkan bahwa (1) Penyelenggaraan Kehidupan Beragama di Daerah
diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan Syarī‘at Islam bagi pemeluknya
dalam bermasyarakat. Wujud kongkrit pelaksanaannya tertuang dalam
PERDA Nomor: 5 Tahun 2000 yang dalam Bab IV Aspek Pelaksanaan Syarī‘at
Islam Pasal 5 ayat (1) Untuk mewujudkan keistimewaan Aceh di bidang
penyelenggaraan kehidupan beragama, setiap orang atau badan hukum yang
berdomisili di daerah, berkewajiban menjunjung tinggi pelaksanaan Syarī‘at
Islam dalam kehidupannya. (2) Pelaksanaan Syarī‘at Islam sebagaimana
dimaksudkan dalam ayat 1 meliputi: ‘aqīdah, ‘ibādah, mu‘āmalah, akhlak,
pendidikan dan dakwah Islamiyah/amar ma‘ruf nahi munkar, bait al-māl,
kemasyarakatan, syi‘ar Islam, pembelaan Islam, qada, jināyat. Munākahat,
dan mawāris. 12
Aspek-aspek pelaksanaan Syarī‘at Islam yang dimaksud dalam Pasal
5 ayat (2) di atas jauh lebih rinci dan meluas dari materi yang dikenal
secara luas dalam Fiqh Islam, yaitu meliputi bidang ibādah, mu‘āmalah,
munākahat dan jināyat. Salah satu materi yang menjadi aspek pelaksanaan
Syarī‘at Islam adalah pendidikan dan dakwah Islamiyah/amar ma‘ruf nahi
mungkar yang bukan saja sebagai kelengkapan dari aspek-aspek hukum,
melainkan menunjukkan adanya fungsi kontrol Pemerintah Daerah terhadap
pelaksanaan Syarī‘at Islam. Fungsi kontrol tersebut memberikan kewenangan

Himpunan ..., 56
12

72 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

kepada pemerintah daerah untuk: a. menata dan mengatur pelaksanaan


Syarī‘at, dan; b. menetapkan sanksi hukum terhadap pelanggarnya.
Dalam pelaksanaan dan penerapan Syarī‘at Islam secara kaffah seperti
tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor: 5 Tahun 2000 Bab IV Pasal 5
ayat (1) dan ayat (2) memerlukan norma-norma hukum yang lengkap, baik
yang menyangkut dengan hukum materil13 yang berisikan norma-norma
tentang hak dan kewajiban dalam kehidupan sehari-hari, maupun yang
menyangkut dengan hukum formil.14
Perlu juga ditambahkan bahwa dalam penerapan Syarī‘at Islam di
Aceh masih dihadapkan kepada berbagai persoalan yang menyangkut
dengan hukum materil. Karena Hukum Materil yang menyangkut dengan
berbagai aspek seperti dimaksud dalam Undang-undang di atas memerlukan
penataan kembali, sebab kitab-kitab fiqh klasik yang memuat Hukum
Materil dianggap tidak memadai, dan kalaupun ada juga tidak disajikan
secara sistematis.15 Selain itu, Hukum Formil juga masih sangat terbatas
dan perlu dikaji ulang serta ditulis sesuai dengan kondisi masyarakat
Aceh sebagai prototif masyarakat yang diberikan kewenangan menerapkan
Syarī‘at Islam di daerahnya pada saat ini dalam bingkai Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

Hukum materil (subtantive law) adalah hukum yang terdiri dari peraturan-peraturan
13

yang memberi hak dan memberi kewajiban. Setiap harinya orang dapat dikatakan selalu
berhubungan dengan hukum materil. Pemenuhan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari
dapat dikatakan seseorang menjalani hukum materil. Sudikno Mertokusumo, Mengenal
Hukum Suatu Pengantar (Yogyakarta: Liberty, 1986), 105
Hukum formil (adjective law) atau disebut juga hukum acara adalah aturan-aturan
14

permainan (rule of game) hakim dalam memeriksa dan memutuskan perkara di Pengadilan.
Hukum Materil selalu membutuhkan Hukum Formil. Kalau tidak demikian jika terjadi
pelanggaran Hukum Materil, orang akan leluasa melakukan perbuatan menghakimi sendiri.
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar..., 106
15
Perlu dijelaskan menunjuk kepada hukum materil yang sudah ada dalam kitab-kitab Fiqh
sangat tidak memadai, bahkan hal demikian itu dapat menimbulkan ketidakpastian hukum.
Secara fiqhiyah dalam sesuatu masalah selalu terdapat beberapa pendapat yang berbeda
antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu diperlukan adanya “tasyri‘”, yaitu membuat
peraturan perundang-undangan, baik bersumber kepada Wahyu (tasyri‘ samawi), maupun
berdasarkan akal dan penalaran (tasyri‘ wad‘i). Masjfuk Zuhdi, Pengantar Hukum Syarī‘ah
(Jakarta: Haji Masagung, 1990), 1

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 73
Muhibbuththabary

3. Sistem peradilan
Seperti telah dikemukakan bahwa dalam menerapkan berbagai
aspek Syarī‘at Islam seperti yang dimaksud dalam peraturan perundang-
undangan di atas, selain memerlukan penataan kembali berbagai persoalan
yang menyangkut dengan Hukum Materil dan Hukum Formil, berupa
Hukum Acara Pidana dan Perdata, juga memerlukan sistem peradilan
Syarī‘at yang berbeda dengan sistem peradilan yang diatur dengan Undang-
undang Republik Indonesia Nomor: 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.
Undang-undang ini hanya diberikan wewenang untuk mengatur berbagai
persoalan yang menyangkut dengan perceraian, kewarisan dan wakaf.
Pembentukan sistem peradilan merupakan bagian penting dari
tujuan penataan Hukum Materil dan Hukum Formil. Hanya saja jika ada
sistem peradilan yang tertata dengan baik, maka hukum dapat ditegakkan.
Penegakan hukum melalui implementasi Syarī‘at Islam di Aceh menjadi
wewenang pemerintah melalui pembentukan lembaga peradilan yang
dikenal dengan Mahkamah Syar‘iyyah (Undang-undang Republik Indonesia
Nomor: 44 Tahun 1999 Pasal 5, Undang-undang Republik Indonesia Nomor:
18 Tahun 2001 Pasal 25, Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 11
Tahun 2006 Pasal 228). Mahkamah Syar‘iyyah sebagai sistem peradilan yang
diterapkan di ACEH adalah sarana yang cukup penting untuk melindungi
terpenuhinya hak-hak warga negara serta terpeliharanya darah, kehormatan
dan harta benda.
Penataan lembaga-lembaga peradilan Mahkamah Syar‘iyyah pada
Tingkat Daerah dan Provinsi merupakan jawaban terhadap hajat hukum
masyarakat pencari keadilan di ACEH. Institusi Mahkamah Syar‘iyyah
secara konsepsional belum dijumpai dalam kitab fiqh klasik kecuali istilah
Qādi dan Qādi al- Qudāt yang dikenal dalam sejarah dinasti-dinasti Islam
terdahulu. Padahal dalam sistem peradilan saat ini memerlukan seperangkat
penegak hukum sebagai alat kelengkapan sistem peradilan seperti jaksa,
panitera, pengacara dan jurusita sebagai perangkat yang diberikan tugas
dan wewenang tertentu .
Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa penerapan Syarī‘at Islam di
Aceh bukan merupakan persoalan yang baru bagi masyarakat Aceh sesuai

74 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

dengan sejarahnya. Pemberlakuannya adalah tanggung jawab individu,


masyarakat dan negara. Hal ini, tentu saja diperlukan payung hukum secara
politis dari pemerintah pusat dan juga memerlukan kebijakan daerah.
Kebijakan itu menyangkut dengan penetapan Peraturan Daerah, penataan
Hukum Materil dan Hukum Formil serta membentuk sistem peradilan
yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya berbeda dengan sistem
peradilan yang telah diatur dalam Hukum Positif Indonesia.

Damai dalam bingkai syarī‘at Islam


Salah satu prinsip mendasar dari syari’at Islam adalah ditendensikan
untuk memberikan kemaslahatan dalam kehidupan manusia, baik dalam
konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara. Oleh
sebab itu, agar syari’at Islam salih li kulli zaman wa makan (senantiasa
selaras baik dalam konteks waktu dan tempat), maka diperlukan ijtihad-
ijtihad serius yang memerlukan dukungan, baik dari kalangan ulama
maupun umara.
Sehubungan dengan konsep di atas, terkait dengan inisiasi menjaga
perdamaian dan stabilitas kehidupan bermasyarakat dan beragama di
Aceh, secara konseptual dapat dirincikan bahwa Wajah Islam di pentas
global, agaknya selalu beriring dengan label anarkis dan anti kebebasan.
Cap fundamental, ektrim dan bahkan teroris seakan sangat akrab dengan
komunitas ‘orang’ yang memeluk Islam. Generalisasi perilaku ‘sekelompok’
muslim seringkali menjadi justifikasi muka Islam sebagai agama, sehingga
label-label negatif tadi selalu pantas untuk diembelkan dengan Islam.
Lantas, benarkah Islam sebagai dogma mempunyai agenda kekerasan?atau
justru Islam itu sebenarnya yang selalu membawa pesan perdamaian? Disini
penulis mencoba menelisik kebenaran asumsi-asumsi di atas.
Perdamaian merupakan hal yang esensial dalam kehidupan manusia,
karena dalam kedamaian itu terciptanya dinamika yang sehat, harmonis
dan humanis dalam setiap interaksi antar sesama. Dalam suasana aman dan
damai, manusia akan hidup dengan penuh ketenangan dan kegembiraan juga
bisa melaksanakan kewajiban dalam bingkai perdamaian. Oleh karena itu,
kedamaian merupakan hak mutlak setiap individu sesuai dengan entitasnya

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 75
Muhibbuththabary

sebagai makhluk yang mengemban tugas sebagai pembawa amanah Tuhan


untuk memakmurkan dunia ini. Bahkan kehadiran damai dalam kehidupan
setiap mahluk merupakan tuntutan, karena dibalik ungkapan damai itu
menyimpan keramahan, kelembutan, persaudaraan dan keadilan. Dari
paradigma ini, Islam diturunkan oleh Allah Swt. ke muka bumi dengan
perantaraan seorang Nabi yang diutus kepada seluruh manusia untuk
menjadi rahmat bagi seluruh alam, (Q.S. 21:107) dan bukan hanya untuk
pengikut Muhammad semata. Islam pada intinya bertujuan menciptakan
perdamaian dan keadilan bagi seluruh manusia, sesuai dengan nama
agama ini: yaitu al-Islām. Menurut Muhammad al-Ghazāli, dalam bukunya
al-Ta’aşşub wa al-Tasāmuh Bayn al-Masihiyah wa al-Islām, secara leksikal
dalam bahasa al-Qur`ān, Islam bukan nama dari agama tertentu, melainkan
nama dari persekutuan agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi dan dinisbatkan
kepada seluruh pengikut mereka.
Itulah misi dan tujuan diturunkannya Islam kepada manusia.
Karena itu, Islam diturunkan tidak untuk memelihara permusuhan atau
menyebarkan dendam kesumat di antara umat manusia. Konsepsi dan
fakta-fakta sejarah Islam menunjukan, bagaimana sikap tasāmuh (toleran)
dan kasih sayang kaum muslimin terhadap pemeluk agama lain, baik yang
tergolong ke dalam ahl al-Kitab maupun kaum mushrik, bahkan terhadap
seluruh makhluk, Islam mendahulukan sikap kasih sayang, keharmonisan
dan dan kedamaian.
Di antara bukti konkrit dari perhatian Islam terhadap perdamaian
adalah dengan dirumuskannya Piagam Madinah (al-sahifah al-madinah)
yang oleh kebanyakan penulis dan peneliti sejarah Islam serta para pakar
politik Islam disebut sebagai konstitusi negara Islam pertama. Piagam
Madinah menjadi instrumen penting atas kelahiran sebuah institusi yang
berorientasi pada perdamaian dan kebersamaan. Hal inilah yang menarik,
sehingga para pakar sejarah dan ilmuwan sangat interested terhadap
permasalahan ini. Karena lahirnya sebuah negara yang mengusung nilai-
nilai kemanusiaan, persamaan hak dan kebebasan kepada rakyatnya belum
pernah terjadi di seantero jagad raya ini, terlebih di kawasan Arab. Penting
untuk diingat, bahwa nilai-nilai kemanusiaan universal yang terkandung

76 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

dalam Piagam Madinah sangat jauh lebih tua ketimbang isu HAM yang
dijual oleh PBB yang tercermin dalam The Universal Declaration of Human
Right pada Desember 1948.
Dalam ungkapan teks agama, perdamaian sering dibahaskan dengan
al-aman, kemudian oleh ulama fiqh, dalam terjemahan sistem formalnya,
perdamaian sering dibahaskan dengan al-sulh, al-hudnah, al-mu’ahadah
dan aqd al-zimmah. Dalam kamus al-Muhith karangan Fairus Abadi, al-
sulh disepandankan dengan al-salam. Keduanya mempunyai arti yang sama
yaitu peace, yang jika diterjemahkan berarti perdamaian dan kerukunan.
Namun dalam terminologinya, al-şulh adalah perpindahan dari hak atau
pengakuan dengan konpensasi untuk mengakhiri atau menghindari
terjadinya perselisihan. Dari definisi ini dapat disimpulkan bahwa terjadinya
perdamaian setelah adanya pertikaian atau takut terjadinya perselisihan
dengan melakukan upaya preventif terhadap hal tersebut. Lain lagi menurut
Ibn Qudāmah, al-Sulh berarti sebuah kesepakatan (ma’āqadah) yang
berorientsi pada perbaikan antara dua pihak yang bertikai. Sedangkan Prof.
Zuhayli mendefinisikan al-Şulh sama dengan al-Hudnah yaitu berdamai
(muşalahah) dengan ahl al-harb (musuh perang) untuk menghentikan
perang dalam batas waktu tertentu dengan konpensasi dan tetap mengakui
agamanya atau tidak, meskipun tidak di bawah otoritas pemerintah
Islam. Sedangkan terminologi al-amān, adalah sebuah kesepakatan untuk
menghentikan peperangan dan pembunuhan dengan pihak musuh.
Dari beberapa definisi di atas, penulis menyimpulkan bahwa konsep
al-Şulh lebih umum, karena tidak spesifik berkaitan dengan perdamaian
dalam posisi sebagai lawan perang. Hal ini karena al-sulh merupakan
solusi atas dimensi konflik yang terjadi dalam semua lini interaksi sosial,
dari komunitas yang paling kecil hingga yang paling besar. Hal ini terlihat
dari beberapa bentuk klasifikasi “al-Sulh” yang di antaranya adalah:1)
Perdamaian antara penegak keadilan dengan kelompok separatis (ahl al-
baghy). 2). Perdamaian antara suami istri ketika takut terjadinya perceraian.
3). Perdamaian antara dua sengketa pembunuhan. 4).Perdamaian antara
kaum muslimin dengan kaum kafir. 5).Perdamaian dua sengketa dalam
harta. 6).Sedangkan al-amān terdiri dari dua bentuk, yaitu yang bersifat

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 77
Muhibbuththabary

khusus (khās) dan umum (‘ām). Perjanjian perdamaian yang bersifat khusus
yaitu yang terdiri dari kelompok dengan jumlah terbatas, sedangkan yang
umum adalah dari jumlah yang tidak terbatas dan yang berhak melakukan
negoisasi perundingan perdamaian adalah pemimpin.
Semua konsepsi pengertian perdamaian seperti yang tersurat di atas
merupakan wacana damai dari sudut pandang fiqhiyah (juristik), dan itu
umumnya masih dilatarbelakangi oleh adanya klasifikasi wilayah yang
berdasarkan identitas agama, seperti dār al-islām dan dār al-harb. Bahkan
lebih spesifik lagi, menurut Sidiq Hasan, bentuk wilayah Islam ada tiga
kategori, yaitu: (a. wilayah al-haram yang tidak boleh dikunjungi oleh kaum
kafir dalam kondisi apapun baik kafir dhimmi maupun harbi. (b). Hijaz
yaitu daerah yang meliputi Yamamah, Yaman, Najd dan Madinah. Daerah
kawasan ini boleh dikunjungi oleh kaum kafir dengan proses perizinan,
akan tetapi tidak boleh bermukim melebihi tiga hari seperti laiknya musafir.
(c). Seluruh daerah-daerah kawasan Islam. Daerah ini bermukim bagi kaum
kafir setelah ada perjanjian damai. (M Sidiq Hasan, al-Din al-Kholis, 1995).
Meskipun saat ini ada yang beranggapan bahwa klasifikasi itu tak lebih
dari fiksi belaka, mengingat realitas hubungan dunia global, hampir semua
negara dari pelbagai latar belakang ideologi telah menjamin persahabatan.

Penutup
Banyak kalangan memahami perdamaian sebagai keadaan tanpa
perang atau konflik. Pemahaman seperti ini merupakan contoh dari definisi
negatif perdamaian. Secara negatif, perdamaian hanya dimaknai sebagai
situasi absennya perang dan/atau berbagai bentuk kekerasan lainnya.
Pemahaman seperti ini memang sederhana dan mudah difahami, namun
melihat realitas yang ada, banyak masyarakat tetap mengalami penderitaan
akibat kekerasan yang tidak nampak dan ketidakadilan.
Melihat kenyataan ini, maka terjadilah perluasan definisi perdamaian
dan muncullah definisi perdamaian positif. Definisi positif dari perdamaian
adalah absennya kekerasan struktural atau terciptanya keadilan sosial.
Perdamaian dalam konsep ini meliputi semua aspek tentang masyarakat yang
baik, seperti: terpenuhinya hak asasi yang bersifat universal, kesejahteraan

78 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

ekonomi, keseimbangan ekologi dan nilai-nilai pokok lainnya. Berdasarkan


konsep ini, perdamaian bukan hanya merupakan masalah pengendalian
dan pengurangan tercapainya semua aspek tersebut, namun perdamaian
merupakan konsep yang cukup luas dan pencapaiannya membutuhkan
proses yang panjang. Untuk mencapai kondisi tersebut, kita memerlukan
suatu gerakan yang sinergis, bukan gerarakan yang terpisah-pisah. Maka,
gerakan yang memperjuangkan hak kaum puriveral, tuntutan supremasi
hukum, atau gerakan yang menentang pelanggaran hak azasi manusia, dan
sebagainya seharusnya tidak lagi dilihat sebagai suatu gerakan yang berdiri
sendiri-sendiri, melainkan suatu gerakan yang selaras dengan tujuan yang
sama, yaitu perdamaian yang dapat menjunjung tinggi dan menjaga hal-hal
yang berkaitan dengan: agama, jiwa, akal, harta dan keturunan (al-Ushul al-
Khamsah) umat manusia secara keseluruhan.
Nah, dari uraian tadi, akankah masih relevan untuk melabelkan Islam
dengan kekerasan? Atau justru, orang-orang yang menuding Islam sebagai
‘referensi’ kekerasan, merupakan kelompok yang sedang menciptakan
kekerasan itu sendiri! Wallahuá’lam.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 79
Muhibbuththabary

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Zainal Abidin. Sejarah Islam dan Umatnya Sampai Sekarang (Ilmu
Politik Islam V), Jakarta: Bulan Bintang,1979.
Ali, Daud. Kedudukan Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Indonesia, Jakarta:
Yayasan Risalah, 1990.
Badruzzaman, A. Hasjmi: Aset Sejarah Masa Kini dan Masa Depan, Jakarta:
Bulan Bintang, 1994.
Djajadiningrat, Hoesin. Islam di Indonesia, dalam Knet. W. Morgan (Ed.),
Islam Jalan Mutlak, Pembangunan, Jakarta: t.p , 1963.
Hardi, Daerah Istimewa Aceh, Latar Belakang Politik dan Masa Depannya,
Jakarta: Karya Unipers, 1993.
Himpunan Undang-undang, Peraturan Daerah, Instruksi Gubernur, Edaran
Gubernur dan Lain-lain Berkaitan Pelaksanaan Syarī‘at Islam, Provinsi
Aceh: Dinas Syarī‘at Islam, 2002.
Mertokusumo, Sudikno, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Yogyakarta:
Liberty, 1986.
Republika, 13 Nopember 1999.
Zuhdi, Masjfuk, Pengantar Hukum Syarī‘ah, Jakarta: Haji Masagung, 1990.

80 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Civic Education
dalam Pendidikan Formal
dalam Rangka Membangun
Demokrasi Berkeadaban

Kusmawati Hatta
Dosen Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Menyelesaikan
pendidikan S-1 pada Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, S-2 pada
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, jurusan Konseling,
S-3 pada University of Malaya, jurusan Konseling

Pendahuluan
Dalam undang-undang No 2 tahun 1989 dan Undang-Undang No
20 Sikdiknas tahun 2003 dinyatakan bahwa kurikulum setiap jenis dan
jenjang pendidikan termasuk pendidikan tinggi harus memuat pendidikan
kewarganegaran yang dalam kurikulum pendidikan tinggi merupakan salah
satu matakuliah umum (MKU). Seiring dengan perkembangan dan perubahan
politik dari era otoritarian ke era demokrasi, pendidikan kewarganaegaraan
melalui pendidikan kewiraan dianggap tidak relevan lagi diterapkan, karena
berbagai alasan antara lain: Pola pembelajarannya yang indoktrinatif dan
monolitik, muatan materi ajar yang sarat dengan kepentingan idologi rezim
Orde Baru (Orba), yang mengabaikan sisi afektif dan psikomotor, sehingga
dianggap pendidikan kewarganegaraan yang dimuat dalam mata kuliah
kewiraan sudah keluar dari semangat dan hakikat, sebagai pendidikan nilai
dan pendidikan demokrasi.
Melihat kenyataan tersebut, maka diperlukan upaya rekontruksi dan
orientasi pendidikan kewarganegaraan melalui matakuliah pendidikan
kewargaan (civic education) sebagai substitusinya.

81
Kusmawati Hatta

Upaya tersebut di atas, tidak terlepas dari ihktiar kalangan Perguruan


Tinggi untuk menemukan format baru yang dapat membangun bangsa dalam
menuju era demokrasi yang bermartabat. Ihktiar ini telah banyak dilakukan
sehingga pendidikan kewarganegaraan sampai kepada pendidikan civic
education (pendidikan kewargaan) sekarang ini merupakan salah satu hasil
dari segala upaya yang dilakukan untuk sampai kepada suatu pembelajaran
yang memuat segala macam persoalan masyarakat dan pemerintahan untuk
menuju kepada masyarakat madani.
Dalam sejarah bangsa Indonesia, pendidikan kewarganaegaraan sudah
banyak mengalami perubahan seperti pada tahun 1987/1962 matakuliah
yang mengemban misi khusus pendidikan demokrasi di namakan civics,
kemudian pada tahun 1964 pendidikan kemasyarakatan yang merupakan
integrasi sejarah, ilmu bumi dan kewarganegaraan, kemudian pada tahun
1968/1969 menjadi pendidikan kewargaan Negara, kemudian pada tahun
1973 menjadi pendidikan kewargaan Negara, civics dan hukum, pada tahun
1975/1984 menjadi pendidikan moral pancasila dan PMP, Pada tahun 1994
menjadi PPKn. Dan pada 1960-an Perguruan tinggi ada yang namanya
matakuliah Manipol, USDEK, Pancasila dan UUD 1945, Pada tahun 1970/1987
filsafat Pancasila, pada tahun 1989-1990-an pendidkan kewiraan, dan pada
tahun 2000 sampai sekarang disebut pendidikan kewarganegaraan.
Dari serentetan nama yang berubah, tidak terlepas daripada materi yang
memuat bagaimana meberikan pendidikan kepada masyarakat dengan harapan
dapat menuju masyarakat yang demokratis, penegakan HAM yang kuat dan
Negara hukum yang berwibawa, namun harapan tersebut tidak sepenuhnya
dapat diterapkan dan dapat berhasil, karena selama ini pembelajaran pen­
didikan kewarganegaran masih sarat dengan kepentingan golongan dan
sangat indoktrinatif sehingga belum dapat menyentuh kalbu dari pada bangsa
Indonesia, dalam membangun warga Negara yang demokrasi, oleh karena itu,
sekarang dicoba dengan nama dan materi yang lebih luas dengan metode
pengajarannya yang lebih kreatif, yang disebut dengan pembelajaran CE
(Civic education), dimana belajar dengan metode aktif learning. Pertanyaannya
adalah apa itu CE (civic education), kemana tujuan, apa materinya, sehingga
dikatakan ia berbeda dengan pendidikan kewarganagaraan.

82 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Civic Education dalam Pendidikan Formal dalam Rangka Membangun Demokrasi Berkeadaban

Beberapa istilah dan definisi mengenai civic education


Henry Randal Wait (1886) dalam penerbitan majalah the Citizen dan
Civics, merumuskan pengertian civics dengan the science of citizenship,
the relation of man, the individual, to man in organized collections, the
individual in his relation to the state. Dari definisi ini, Sumantri (2001: 281-
282) merumuskan Civics dengan ilmu kewarganegaraan yang membicarakan
hubungan manusia dengan manusia dalam kumpulan-kumpulan yang
terorganisasi (organisasi social, ekonomi, politik), dan hubungan manusia
dengan individu-individu dengan Negara. Kemudian dalam perkembangan
selanjutnya arti civics bukan hanya meliputi government saja, melainkan
kemudian ada yang disebut dengan comunity civics, economic civics atau
vocational civics. Dengan demikian hampir semua definisi civics pada
intinya menyebut government, hak dan kewajibannya sebagai warga dari
sebuah Negara.
Azyumardi Azra (2002) menyatakan bahwa, secara bahasa istilah Civic
Education oleh sebahagian pakar diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,
menjadi pendidikan kewargaan dan pendidikan kewarganegaraan. Akan
tetapi ianya sendiri dan Tim ICCE (Indonesian Centre for Civic education) UIN
Jakarta lebih menyebutkan Civic Education dengan pendidikan kewargaan.
Sementara pakar lainnya seperti Zamroni, Muhammad Norman, sumantri
dan Udin S dan Tim CICED (Centre Indonesian For Civic Education) lebih
kepada pendidikan kewarganegaraan.
Selanjutnya ia menyatakan bahwa istilah pendidikan kewargaan pada
satu sisi identik dengan pendidikan kewarganegaraan. Namun di sisi lain
istilah civic education secara subtantif tidak saja mendidik generasi muda
menjadi warga Negara yang cerdas dan sadar akan hak dan kewajibannya
dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tapi juga
merupakan penekanan dalam istilah pendidikan kewarganegaraan;
membangun kesiapan warganegara menjadi warga dunia (global society).
Dengan demikian secara subtantif pendidikan kewargaan lebih
luas cakupannya daripada pendidikan kewarganegaraan, seperti kajian
dan pembahasan tentang pemerintahan, konstitusi, lembaga-lembaga
demokrasi, rule of law, hak dan kewajiban warga Negara, proses demokrasi,

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 83
Kusmawati Hatta

partisipasi aktif dan keterlibatan warga Negara dalam masyarakat madani,


pengetahuan tentang lembaga-lembaga dan sistem yang terdapat dalam
pemerintahan, warisan politik, administrasi publik, sistim hukum, warga
Negara aktif, refleksi krisis, penyelidikan dan kerja sama, keadilan sosial,
pengertian antarbudaya dan kelestarian lingkungan hidup dan hak azasi
manusia.
Bila dilihat cakupan yang dikaji di dalam pendidikan kewargaan
yang begitu luas, maka sebenarnya apa kompetensi yang harus dicapai
dalam pendidikan CE ini?. Menurut Tim ICCE (2003) menyatakan ada tiga
kompetensi dasar yang harus di capai antara lain: Pertama, Civic knowledge
yaitu kemampuan penguasaan pengatahuan kewargaan yang terkait dengan
materi inti CE atara lain demokrasi, hak asasi manusia, dan masyarakat madani
(civil society). Kedua, Civic dispositions yaitu kemampuan dan kecakapan
sikap kewargaan antara lain pengakuan kesetaraan, toleransi, kebersamaan,
pengakuan keragaman, kepekaan terhadap masalah warganegara. Ketiga,
Civic skill yaitu kemampuan dan kecakapan mengartikulasikan keterampilan
kewargaan seperti kemampuan berpartisisfasi dalam proses pembuatan
kebijakan publik, kemampuan melakukan control terhadap penyelenggara
Negara dan pemerintah. Keluasan cakupan civic education ini telah membawa
intelektual berfikir lain, untuk mengembangkannya dalam dunia pendidikan
dan pembelajarannya, sehingga dapat mencapai tujuan secara optimal,
Ada lima tujuan dalam pembelajaran civic education yaitu: (1) untuk
membentuk kecakapan partisipatif yang bermutu dan bertanggung jawab
dalam kehidupan politik dan masyarakat, baik di tingkat lokal, regional,
nasional maupun global, (2) untuk menjadikan warga masyarakat yang baik
dan mampu menjaga kesatuan dan persatuan serta integritas bangsa, guna
mewujudkan Indonesia yang kuat, sejahtera dan demokratis, (3) untuk
menghasilkan mahasiswa yang berpikir komprehensif, analitis, kritis dan
bertindak demokratis,(4) untuk mengembangkan kultur demokrasi, yaitu
kebebasan, persamaan, kemerdekaan, toleransi, kemampuan menahan
diri, kemampuan melakukan dialog, negosiasi, kemampuan mengambil
keputusan, serta kemampuan berpartisispasi dalam kegiatan politik,
kemasyarakatan, (5) mampu membentuk mahasiswa menjdi good and

84 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Civic Education dalam Pendidikan Formal dalam Rangka Membangun Demokrasi Berkeadaban

responsible citizen (warganegara yang baik dan bertanggung jawab) melalui


penanaman moral dan keterampilan sosial, sehingga dapat memecahkan
persoalan-persoalan actual warga Negara, seperti toleransi, perbedaan
pendapat, bersikap empati, menghargai pluralitas, kesadaran hukum, tertip
sosial, menjunjung tinggi HAM, mengembangkan demokrasi dalam berbagai
kehidupan serta menghargai kearifan local.
Untuk mewujudkan itu semua, maka dirumuskanlah beberapa materi
ajar yang sinkron dan yang menjadi dasar yaitu demokrasi, hak asasi
manusia, dan masyarakat madani. Dari ketiga materi tersebut dijabarkan
lebih rinci seperti pendahuluan, identitas Nasional, Negara, kewarganegaraan,
konstitusi, demokrasi, otonomi daerah, good governance, hak asasi manusia
(HAM), dan masyarakat madani. Dengan demikian maka materi pendidikan
civic education diarahkan untuk Nation and charater building bangsa
Indonesia yang relevan dalam memasuki era demokratisasi.
Oleh karena itu, seharusnya pembelajaran ini, tidak hanya diberikan
pada jenjang perguruan tinggi saja, akan tetapi disemua jenjang pendidikan
formal, sehingga dapat lebih mudah untuk membangun bangsa yang
diinginkan.
Berdasarkan Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006, tentang standar
Kompetensi Kelulusan, dalam Point B tentang Standar Kompetensi Kelompok
Mata Pelajaran (SK-KMP), yang salah satunya adalah kewarganegaraan dan
kepribadian, yang tujuannya dikembangkan kepada membentuk peserta
didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.
Tujuan itu dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama, akhlak
mulia, kewarganegaraan, bahasa, seni dan budaya, dan pendidikan jasmani.
mengembangkan logika, kemampuan berpikir dan analisis peserta didik.
Pada satuan pendidikan SD/MI/SDLB/Paket A, tujuan ini dicapai melalui
muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam,
ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal yang
relevan.
Dengan tujuan yang dirumuskan tersebut di atas, maka sangat relevan
bila pendidikan civic education diintergarsikan kedalam mata pelajaran
yang ada di tingkat dasar, menengah, maupun tingkat atas, karena tujuan

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 85
Kusmawati Hatta

yang tersirat di dalam pembelajaran ini adalah bagaimana membangun


bangsa yang madani. Hal ini tidak mudah, tetapi diperlukan tenaga dan
perencanaan yang baik dan yang paling penting adalah dilakukan sejak dini
sehingga benar-benar menjadi kebiasaan dan tertanam di dalam sanubari
warga. Dengan demikian maka akan lahir warga Negara yang memiliki
integritas yang tinggi, bertanggung jawab, empati, dan selalu bersifat
demokratis dalam semua tindakan.

Urgensi intergrasi pendidikan kewargaan (civic education) dalam


membangun demokrasi berkeadaban
Edward L. Glaeser Giacomo, Ponzetto dan Andrei Shleifer (2005),
menyatakan bahwa Pendidikan dengan demokrasi sangat berkorelasi, karena
hasil temuan penelitian memperlihatkan bahwa tingkat pendidikan yang
tinggi akan menstabilkan demokrasi dalam masyarakat, dari pada yang tidak
berpendidikan. Almond dan Verba (1989, P.1) menyatakan dalam kajian
awal tentang hubungan antara tingkat pendidikan dengan angka partisipasi
politik, mendapati bahwa pendidikan sebagai penentu penting dari “budaya
kewarganegaraan” dan partisipasi dalam demokrasi politik “Orang tidak
berpendidikan atau orang dengan pendidikan yang terbatas akan berbeda
politik dari orang yang telah mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi
(hal 315)”. Oleh karena itu untuk merubah dan membangun bangsa, maka
harus membangun dan merubah paradigma dunia pendidikan.
Paradigma pendidikan dalam konteks suatu bangsa (nation) akan
menunjukkan bagaimana proses pendidikan akan berlangsung , yang
kemudian dapat diperidiksikan kualitas dan profil lulusan sebagai hasil
proses pendidikan. Dalam hal ini ada 4 hal yang menjadi dasar dan terkait
dengan pendidikan, yaitu: (1) peserta didik (siswa dan mahasiswa), (2) guru
dan dosen, (3) materi , dan (4) managemen pendidikan. Dalam pelaksanaan
pendidikan selama ini terdapat dua paradigma yang paradoksal, yaitu;
feodalistik dan humanistik.
Pertama, paradigma feodalistik mempunyai asumsi bahwa, lembaga
pendidikan merupakan tempat melatih dan mempersiapkan peserta
didik untuk menghadapi masa akan datang, oleh karena itu peserta didik

86 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Civic Education dalam Pendidikan Formal dalam Rangka Membangun Demokrasi Berkeadaban

ditempatkan sebagai objek semata di dalam pembelajaran, sedangkan


guru atau dosen merupakan satu-satunya sumber ilmu, kebenaran dan
informasi, sehingga berprilaku otoriter dan birokratis. Materi ajar di kemas
secara rigit sehingga memasung kreatifitas peserta didik, guru dan dosen.
Sementara itu manajemen pendidikan dan pembelajaran dibuat secara
sentralistik, birokratis dan monolitik, dan strategi pembelajarannya juga
sangat dogmatis, indoktrinatif dan otoriter.
Kedua, paradigm humanistic mempunyai asumsi bahwa peserta
didik adalah manusia yang mempunyai potensi dan karakteristik yang
berbeda-beda, oleh karena itu, peserta didik ditempatkan sebagai subjek
sekaligus objek pembelajaran, sedangkan guru dan dosen ditempatkan
sebagai fasilitator yang mempermudah penyerapan, dan dialog dari
peserta didik dalam pembelajaran. Materi ajar di susun berdasarkan pada
kebutuhan dasar (basic needs) peserta didik, bersifat fleksibel, dinamis dan
fenomenologis, sehingga materi tersebut bersifat kontekstual dan memiliki
relevansi dengan tuntutan dan perubahan social. Strategi pembelajarannya
bervariatif dan demokratis, sehingga mendorong terciptanya pembelajaran
yang hidup, kreatif dan inovatif. Sedangkan manajemennya di buat
berdasarkan desentralistik, tidak biokratik, tidak monolitik, dan mengakui
pluralistik.
Melihat kedua asumsi, dari dua paradigma pendidikan yang di
paparkan di atas, maka penulis menyatakan bahwa selama ini pembelajaran
di Indonesia lama sekali sudah menganut faham fiodalistik, dimana semua
system pendidikan, strategi dan manajemen di bangun dan dipaksakan
untuk mengikut kepada pembelajaran yang materi dibangun secara rigit,
strateginya otoriter dan biokratik, sangat monolotik, sehingga peserta didik
tidak memiliki daya kreatifitas yang dapat dikembangkan, karena selama
ini guru dan dosenlah yang berkuasa penuh atas peserta didik, apalagi
pelajaran pendidikan kewarganegaraan, yang memang terkait dengan
politik, demokrasi, hak asasi manusia, sudah pasti dibuat dan dikemas
untuk memenuhi kepentingan golongan. Oleh karena itu, mulai sekarang
dunia pendidikan harus dirubah dan diarahkan kepada paradigma yang
lebih manusiawi yaitu secara humanitik.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 87
Kusmawati Hatta

Paradigma ini akan merubah system pendidikan dan profil lulusan


dari peserta didik, karena disusun berdasarkan kebutuhan dan kepentingan
masyarakat, dengan membangun kultur yang lebih berkeadaban, seperti
masyarakat madani. Memang tidak mudah, perlu usaha yang sungguh-
sunguh dan terpadu antara pemerintah, masyarakat dan dunia pendidikan
sehingga membentuk segitiga yang dapat saling , membangun, mengontrol,
dan mengevaluasi agar mencapai suatu kekuatan yang solit. Dengan
demikian maka dunia pendidikan akan mengeluarkan peserta didik yang
ber kualitas dan berkeadaban yang tinggi dalam lingkungan pluralitas yang
beragam.
Untuk mengembangkan civic education agar lebih membumi, maka
perlu di lakukan integrasi ke dalam semua mata pelajaran yang ditetapkan
di dalam kurikulum pendidikan formal pada tingkat dasar, menengah dan
atas, sehingga pemahamannya dapat diserap di dalam berbagai pelajaran
yang diberikan pada peserta didik, hanya saja guru dan dosennya yang perlu
diberikan pelatihan bagaimana metode pembelajaran dengan menggunakan
paradigma humanistik, yang mungkin selama ini belum pernah dibiasakan
di dalam dunia pendidikan. John Dewey (1994) mendefinisikan pendidikan
sebagai akuisisi kebiasaan yang berpengaruh kepada penyesuaian individu
dengan lingkungannya. Jadi bila pembiasaan ini dilakukan dari awal
maka warga akan dapat menyesuaikan diri mengikuti lingkungan. Kalau
lingkungan dibangun dengan demokrasi maka lama kelamaan individu
akan menyesuaikan diri mengikuti arah tersebut. Pada saat ini lingkungan
yang dianggap paling sepurna sehingga dijadikan pedoman dan cita-cita
yang harus dicapai oleh setiap warga yaitu masyarakat madani.
Masyarakat madani bila dipahami secara sepintas merupakan format
kehidupan alternative ketika roda pemerintahan dijalankan tidak demokrasi
,semena-mena tanpa memperhatikan hak asasi manusia, maka dimunculkan
lah konsep yang mengedepakan semangat demokrasi, menjunjung tinggi
nilai-nilai hak asasi manusia, dengan pemberdayaan dan penguatan
masyarakat sebagai control dalam kebijakan-kebijakan yang dijalankan
pemeritahan, yang pada akhirnya akan terwujut kekuatan masyarakat
sipil yang mampu merealisasikan dan menegakkan konsep hidup, yang

88 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Civic Education dalam Pendidikan Formal dalam Rangka Membangun Demokrasi Berkeadaban

demokratis dan juga menjunjung tinggi HAM, seperti pada masa Rasulullah
Saw membangun ummadnya.
Ramlan Surbakti (2001) menyatakan bahwa masyarakat madani,
juga difahami sebagai tatanan kehidupan yang menginginkan kesejajaran
hubungan antar warga negara dengan Negara atas prinsip saling
menghormati, sehingga terbangun hubungan yang konsultatif bukan
konfrontatif. Mayarakat tidak hanya bersikap dan berprilaku sebagai citizen
yang memiliki hak dan kewajiban, melainkan juga harus menghormati
equal right, yang memperlakukan semua warga Negara sebagai pemegang
hak dan kebebasan yang sama.

Penutup
Untuk mengembangkan civic education tidaklah mudah, diperlukan
tenaga dan konsep yang matang sehingga tidak mengulang kesalahan yang
sama dalam dunia pendidikan. Pendidikan kewarganeagaraan yang selama
ini masih sangat sarat dengan indoktrinatif, monolitik, dan otokratik,
dengan system pembalajarannya sangat dogmatif, yang mengikut kepada
perkembangan politik, harus dirubah menjadi pendidikan kewargaan atau
yang disebut civic education yang mencoba membangun warga dengan
demokratis, dengan materi ajar yang lebih luas dan fleksibel, tidak monolitik,
tidak biokratik dan juga tidak otokratik.
Pendidikan dan pembelajarannya diarahkan kepada pengembangan
dan pemberdayaan peserta didik, sehingga dapat mengeksplorasikan
kreativitas daya cipta dan daya guna dalam dunia pendidikan. Managemen
pendidikannya dibangun secara desentralistik, materi ajarnya dirumuskan
berdasarkan basic needs peserta didik dan yang paling penting adalah dapat
diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran yang telah ditetapkan di
dalam kurikulum pendidikan, karena materinya yang universal dan luas
dalam melahirkan warga negara yang madani.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 89
Kusmawati Hatta

DAFTAR PUSTAKA

Azra Azyumardi (2002) Pendidikan Demokrasi dan Demokratisasi Di


Dunia Muslim, makalah disampaikan pada Seminar Nasional II “Civic
Education di Perguruan Tinggi” di Mataram. Tgl. 22-23 April.
Almond, Gabriel, and Sidney Verba (1989, 1 st st ed. ed. 1963), The Civic
Culture: Political Attitudes and Democracy in Five Nations. London:
Sage Publications
Edward L. Glaeser Giacomo, Ponzetto dan Andrei Shleifer. Why Does
Democracy Need Education, Harvard University and NBER, Harvard
University and Harvard University and NBER, 2005
John Dewey. Education as Growth, Capter 4: http://www.ilt.columbia.edu/
publications/dewey.html, 1994
Ramlan Surbakti. Outonomi Daerah Seluas-luasnya dan Faktor
Pendukungnya. Jakarta, 2001
Sumantri, Muhammad Numan. Mengagas Pembaruan Pendidikan IPS,
Bandung: Remaja Rosda Karya, 2001
TIM ICCE UIN Jakarta Pensisikan Kewargaan (Civic Education): Demokrasi,
Hak Asasi Manusia & Masyarakat Madani, 2003

90 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Konstruksi Kurikulum
Pendidikan Damai di Aceh
Studi Deskriptif Analitik Melalui Pendekatan
Kearifan Lokal

Firdaus M. Yunus
Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Pendidikan
(S1) diselesaikan pada Jurusan Aqidah Filsafat Fak. Ushuluddin IAIN
Ar-Raniry, (2000). Pendidikan (S2) pada Fakultas Ilmu Filsafat
(2003), dan pendidikan (S2) Sosiologi (2005) pada Universitas Gadjah
Mada (UGM) Yogyakarta

Pendahuluan
Pemberlakuan otonomi daerah dan perubahan pola kebijakan
pemerintah terhadap pendidikan nasional akhir-akhir ini dari sentralistik
yang serba terpusat, ke desentralistik diharapkan akan memberikan
kebebasan dan keleluasaan ruang gerak bagi lembaga-lembaga pendidikan.
Hal ini akan menjadi modal bagi lembaga-lembaga pendidikan untuk
menemukan bentuknya yang ideal sesuai dengan visi dan misi lembaga
pendidikan. Untuk meningkatkan kualitasnya dalam mengelola
pendidikan ke arah yang lebih baik, sistem sentralistik selain lamban
dalam mengantisipasi kebutuhan lingkungan pendidikan, sistem ini juga
memungkinkan terjadinya penyimpangan kebijakan pendidikan yang
berorientasi sebagai perpanjangan tangan birokrasi yang mematikan
prakarsa, partisipasi, inovasi, dan kreativitas peserta didik, masyarakat dan
pengelola pendidikan.
Usaha untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih bersemangat
tersebut, pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang
penyelenggaraan pemerintah daerah menggantikan Undang-Undang Nomor

91
Firdaus M. Yunus

5 tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah, dan Undang-


Undang Nomor 5 tahun 1979 tentang pemerintahan desa. Perubahan ini
memberikan setumpuk harapan bagi daerah untuk mengelola pendidikan
berkualitas, harapan ini sangat wajar mengingat manajemen pendidikan
yang selama ini bersifat sentralistik cenderung kurang mampu mendorong
terjadinya demokratisasi dan desentralisasi pendidikan. Dengan
desentralisasi pendidikan diharapkan akan mampu melahirkan kebijakan
yang dapat mengakomodir berbagai macam bentuk keragaman, perbedaan
kepentingan daerah, dan mendorong partisipasi masyarakat dalam
proses pendidikan, dan pada akhirnya akan mampu mengangkat kualitas
pendidikan yang selama ini di sana-sini masih bermasalah (HJ. Sriyanto,
2003 : 8-9).
Desentralisasi pendidikan, sampai saat ini masih tetap menyisakan
keraguan karena pemerintah pusat belum mau menyerahkan kewenangan
secara penuh kepada daerah untuk mengatur dan mengelola pendidikan
termasuk di dalamnya adalah membuat dan menentukan kurikulum. Bagi
pemerintah Aceh, kewenangan untuk mengelola pendidikan pada esensinya
sudah tertuang melalui pemberian otonomi khusus kepada Daerah
Istimewa Aceh melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001. Dengan
adanya otonomi khusus tersebut, pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam
sudah diberikan keleluasaan untuk menentukan arah pendidikan dengan
menetapkan qanun tentang penyelenggaraan pendidikan yaitu qanun
Nomor 23 Tahun 2002. Qanun tersebut telah mensyaratkkan bahwa
pendidikan Aceh boleh dilaksanakan sesuai dengan kurikulum lokal
(kurikulum berbasis syariat) sesuai standar nasional dan internasional.

Das sein dan das sollen pendidikan di Aceh


Diberikannya keluasaan dalam pengelolaan pendidikan kepada
Aceh yang dituangkan melalui qanun Nomor 23 Tahun 2002 sangat
menggembirakan kita semua, karena Aceh mendapat perlakuan khusus
dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia. Dalam merespon amanah
qanun tersebut pemerintah Aceh melalui dana otsus, APBA, APBN dan
bantuan dari negara-negara donor secara perlahan telah memperbaiki

92 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Konstruksi Kurikulum Pendidikan Damai di Aceh

infrastruktur sekolah, kampus maupun infrastruktur dinas-dinas pendidikan


di tingkat kabupaten kota hampir di seluruh Aceh. Disamping memperbaiki
infrastruktur, pemerintah Aceh telah meningkatkan anggaran pendidikan
dan memberikan beasiswa kepada putra putri terbaik Aceh untuk kuliah
di dalam maupun di luar negeri mulai tingkat sarjana sampai ke tingkat
doktoral dengan harapan agar dunia pendidikan Aceh lebih unggul dari
daerah-daerah lain di Indonesia.
Harapan besar pemerintah dan seluruh masyarakat Aceh sejak qanun
pendidikan diberlakukan belum sepenuhnya menampakkan hasil yang
optimal, mulai dari belum adanya kurikulum muatan lokal yang spesifik
sebagai jawaban bagi kebutuhan masyarakat lokal sampai pada rendahnya
mutu pendidikan. Hal ini berbanding terbalik dengan jumlah anggaran yang
dikucurkan oleh pemerintah Aceh yang jumlahnya jauh lebih besar dari
daerah-daerah lain di Indonesia. Kemudian yang lebih memilukan lagi dunia
pendidikan Aceh dikejutkan oleh banyak hal, mulai dari kecurangan ujian
nasional hampir setiap tahun, rendahnya kelulusan pada UMPTN sampai
pada rendahnya nilai akreditasi kampus. Realitas tersebut menimbulkan
pertanyaan mendasar: mengapa sekolah, atau kampus yang bangunannya
megah-megah belum sepenuhnya memuaskan masyarakat pada umumnya,
terutama sekali pada keluaran (output) kampus yang masih sulit untuk
bersaing dalam dunia kerja?
Lima tahun terakhir ini menjadi pelajaran paling berharga bagi
masyarakat Aceh yang sebagian besar tercengang melihat dan merasakan
kerasnya persaingan dunia kerja. Meskipun pekerjaan tersebut akan
dilaksanakan di depan mata, tetapi untuk masuk dan bekerja di sana
sangatlah sulit karena banyak kualifikasi persyaratan yang harus dipenuhi.
Semuanya membutuhkan skill dan ketelitian khusus. Kesempatan yang
terbuka lebar pasca konflik dan tsunami di Aceh tidak dengan serta merta
menyerap tenaga kerja lokal dari Aceh. Banyak tenaga lokal terkendala
oleh pengalaman, keahlian, dan relasi yang terbatas, sehingga tidak sedikit
yang menjadi penonton dari laju pertumbuhan pembagunan di kampung
halamannya sendiri (Firdaus M. Yunus, 2008: 142). Gambaran tersebut
sangat tepat digambarkan dengan hadih maja ‘buya krue tudong-dong buya

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 93
Firdaus M. Yunus

tamong meurasiki’ karena kita kalah dalam bersaing baik dari segi skill
maupun kualitas dengan tenaga kerja dari luar.
Pada dasarnya pangsa kerja terbuka untuk siapa saja, apalagi Aceh
hari ini menjadi salah satu wiilayah yang sudah menginternasional,
maka kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan tidak segampang
yang dibayangkan. Menghadapi fenomena yang demikian, maka aspek
pendidikan menjadi prioritas yang harus terpusatkan. Sektor pendidikan
harus menjadi sarana awal bagi pemecahan permasalahan-permasalahan
lokal masyarakat. Selama ini proses pendidikan banyak yang tidak
selaras dengan dinamika pembangunan lokal. Padahal proses pendidikan,
dalam artian pendidikan formal sesungguhnya diterapkan dalam rangka
memenuhi kebutuhan sumber daya manusia yang sanggup menyelesaikan
persoalan lokal, sehingga keluaran pendidikan merupakan orang-orang
yang sanggup untuk bersaing di dalam dunia kerja sekaligus mampu
memecahkan persoalan-persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat
(Firdaus M. Yunus, 2004: 97).
Pendidikan pada prinsipnya harus mampu menyadarkan dan
memengaruhi masyarakat, agar menjadi salah satu pelaksana misi
masyarakat. Untuk itu maka sejumlah perangkat pendidikan perlu
diperuntukkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat (Barnadib, 1996 : 15).
Pendidikan dengan demikian harus berdialektika dengan seluruh realitas
masyarakat. Tanpa semangat yang demikian maka pendidikan justru
menjadi alat untuk mencerabut masyarakat dari kultur yang diwarisinya.
Kemudian pendidikan harus mampu dan sekaligus bertanggung jawab
dalam menyelesaikan masalah dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal
ini perlu dilakukan agar pendidikan memiliki basis sosial dan basis budaya
dalam masyarakat.
Untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui pendidikan,
maka pemerintah dan seluruh elemen masyarakat harus mendukung
jalannya pendidikan di Aceh. Dengan majunya pendidikan, segala
ketertinggalan yang selama ini terasa di sana sini dapat diminimalisir
sesegera mungkin agar Aceh menjadi pusat kebudayaan dan pusat
peradaban bagi dunia baru Islam.

94 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Konstruksi Kurikulum Pendidikan Damai di Aceh

Konstruksi kurikulum damai berbasis kearifan lokal


Pemerintah dalam rangka mewujudkan cita-cita untuk mencapai tujuan
pendidikan nasional melalui berbagai jalur, jenis dan jenjang pendidikan
sudah beberapa kali melakukan perombakan dan perubahan kurikulum
ke arah yang lebih optimal, agar kurikulum yang ditetapkan mampu
menyesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan zaman. Kebijakan
pemerintah tersebut secara sistematis dilakukan sejak tahun 1975, 1984,
1994, dan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2001.
Penerapan kurikulum pendidikan tahun 1975, 1984, dan 1994 yang
dikembangkan oleh pemerintah pada masa Orde Baru dianggap terlalu
memberatkan siswa-siswi dan juga orang tua siswa-siswi terutama dalam
membeli buku teks. Padatnya kurikulum berakibat pada padatnya informasi
pada buku teks. Kurikulum yang demikian sering mendorong guru untuk
membahas seluruh pokok bahasan dengan cara tatap muka di kelas. Karena
kurikulum yang demikian telah mengharuskan kepala sekolah untuk
mendorong para guru untuk mempertimbangkan penjabaran materi dengan
mendahulukan materi yang dianggap penting. Para guru harus bekerja
keras untuk memilih dan memilah materi yang membutuhkan pendalaman
dan yang bisa diberikan kepada siswa di sekolah, dan apabila dirasakan
kurang maka guru sering memberikan penugasan baik di sekolah maupun
di rumah kepada siswa (J. Drost, 1998 : 117-120)
Kebijakan kurikulum seperti itu sangat memberatkan guru dan
siswa. Untuk itu, diperlukan adanya pengurangan jumlah mata pelajaran
sekaligus jumlah materi pada setiap mata pelajaran. Kemudian guru harus
memiliki kebebasan untuk menerapkan kurikulum dengan memperhatikan
kompetensi dasar minimum yang disyaratkan bagi para siswa, dan
kurikulum yang digunakan dalam pembelajaran harus ditentukan
bersama antara guru, siswa, bahkan masyarakat secara demokratis. Maka
isi kurikulum selalu harus kritis, di sini guru, dan siswa harus bekerja
sama dalam menentukan isi kurikulum yang mau dipelajari (Paul Suparno,
2001 : 24).
Kurikulum yang banyak dikembangkan selama ini merupakan
gambaran dari sistem pendidikan nasional yang membelenggu, karena

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 95
Firdaus M. Yunus

dalam manajemen pendidikan yang sentralistik, sekolah sebagai unit


pelaksana teknis berfungsi sebagai penyelenggara kurikulum nasional.
Orientasi pendidikan pada kebutuhan masyarakat, dilaksanakan dengan
penambahan kurikulum muatan lokal pada kurikulum nasional yang
sudah sarat dengan materi pelajaran, namun demikian kenyataan tersebut
tidak mampu menjadikan pendidikan berbasis masyarakat (community-
based education). Ketergantungan sekolah pada buku petunjuk pelaksana
dan petunjuk teknis dari pusat, mengakibatkan manajemen peningkatan
mutu pendidiakn berbasis sekolah tidak dapat terlaksana (Hari Suderadjat,
2004 : 4-5).
Kebijakan untuk menentukan kurikulum bersama pada masa
pemerintahan Orde Baru justru tidak pernah terjadi, sehingga telah
berimplikasi luas pada rendahnya mutu pendidikan di Indonesia secara
merata dalam semua jenjang pendidikan. Terpuruknya mutu pendidikan
Indonesia lebih disebabkan oleh banyak faktor, salah satu diantaranya adalah
terjadinya kekakuan pemerintah dalam menerapkan kebijakan mengenai
kurikulum pendidikan nasional, karena asumsi mengenai kurikulum
nasional adalah kurikulum dari pusat, sementara daerah meskipun
berpotensi untuk membuat dan mengembangkan kurikulum muatan lokal,
tetapi pemerintah belum memperbolehkan daerah untuk membuat maupun
menerapkan kurikulum muatan lokal. Menurut Mangunwijaya, pelaksanaan
kurikulum muatan lokal dalam suatu daerah tidak harus sama, tetapi lebih
baik disesuaikan menurut situasi masing-masing daerah, sehingga guru
dapat menyesuaikan isi sebagian kurikulum dengan suasana dan keperluan
khas daerah setempat (Y.B Mangunwijaya, 2003 : 98)
Pengembangan kurikulum harus didasarkan pada karakteristik,
kebutuhan dan perkembangan suatu daerah (Nana Syaodih Sukmadinata,
2001 : 201). Agar efektif dan efisien, desentralisasi kurikulum harus diikuti
dengan desentarlisasi sistem evaluasi agar setiap daerah dapat menentukan
sistem evaluasinya sendiri. Sehingga dengan demikian akan melahirkan
suatu keterbukaan yang dinamis dalam masyarakat, dan kurikulum yang
dijalankan diharapkan akan mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh
proses pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan.

96 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Konstruksi Kurikulum Pendidikan Damai di Aceh

Kehadiran kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang sekarang


diganti dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) secara
nasional merupakan jawaban bagi peningkatan mutu pendidikan menuju
ke era persaingan global. Untuk kepentingan teresebut pemerintah
memprogramkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai
acuan bagi pelaksana pendidikan untuk mengembangkan berbagai ranah
pendidikan dalam seluruh jalur pendidikan, khususnya dalam jalur
pendidikan sekolah. Hal ini terkait dengan “gerakan peningkatan mutu
pendidikan” (E. Mulyasa, 2003: 37) Berpijak dari kebijakan pemerintah
tentang kurikum seperti tergambar di atas semakin menunjukkan
bahwa kurikulum merupakan alat yang sangat penting (vital) bagi suatu
keberhasilan pendidikan, karena tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat
maka tujuan dan sasaran yang diinginkan akan sulit tercapai.
Kurikulum biasanya berkembang sejalan dengan perkembangan dan
praktek pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori yang
dianut. Menurut Mac Donald (1965: 3), sistem persekolahan terbentuk dari
mengajar, belajar, dan kurikulum. Mengajar merupakan kegiatan profesional
yang diberikan oleh guru. Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
siswa sebagai respon terhadap kegiatan mengajar yang diberikan oleh
guru. Keseluruhan pertautan kegiatan mengajar dan belajar, membutuhkan
kurikulum sebagai suatu rencana yang memberikan pedoman atau pegangan
dalam proses belajar-mengaja.
Sementara Beauchamp dalam Nana Syaodi Sukmadinata (2001: 3) lebih
memberikan tekanan bahwa kurikulum adalah suatu rencana pendidikan
atau pengajaran. Pelaksanaan rencana itu sudah masuk pengajaran,
selanjutnya kebaikan suatu kurikulum tidak dapat dinilai dari dokumen
tertulis saja, melainkan harus dinilai dari proses pelaksanaan fungsinya
di dalam kelas. Kurikulum bukan hanya rencana tertulis bagi pengajaran,
melainkan hanya sesuatu yang fungsional beroperasi di dalam kelas, yang
memberikan pedoman dan mengatur lingkungan kegiatan yang berlangsung
di dalam kelas.
Kurikulum dengan demikian menjadi unsur yang menentukan dalam
setiap pembentukan model pendidikan, karena tanpa adanya kurikulum

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 97
Firdaus M. Yunus

sulit rasanya bagi para perencana pendidikan mencapai tujuan pendidikan


yang diselenggarakannya. Mengingat pentingnya kurikulum, maka
kurikulum perlu dipahami dengan baik oleh semua pelaksana pendidikan
(Hj. Suyanto, 2000 : 59)
Kurikulum pada intinya memegang kedudukan kunci dalam
pendidikan, sebab kurikulum berkaitan dengan penentuan arah, isi dan
proses pendidikan, yang pada akhirnya akan menentukan bermacam-
macam kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Kurikulum juga
menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan, baik dalam lingkup kelas,
sekolah, daerah, wilayah, maupun nasional. Dengan demikian kebijakan
dalam pelaksanaan kurikulum harus memperhatikan implikasi secara lokal
maupun nasional.
Dewey mengatakan bahwa ada tiga butir pokok yang harus
diperhatikan dalam mengembangkan sebuah kurikulum di segala tingkat.
Pertama, hakikat dan kebutuhan siswa-siswi. Kedua, hakikat dan kebutuhan
masyarakat di mana siswa-siswi merupakan bagian dari masyarakat.
Ketiga, masalah pokok yang digumuli siswa-siswi untuk mengembangkan
diri sebagai pribadi yang matang dan mampu menjalin hubungan dengan
masyarakat (John Dewey, 1961 : 86). Dalam hal ini, penerapan kebijakan
pemerintah mengenai kurikulum tentu saja tidak boleh kaku, karena apabila
kurikulum yang diterapkan mengalami kekakuan maka akan berimplikasi
pada pelaksanaan pendidikan di sekolah.
Untuk dunia pendidikan Aceh, penerapan kurikulum muatan
lokal sudah menjadi keharusan dan tanggung jawab stakeholder dunia
pendidikan. Banyak muatan lokal yang terabaikan selama ini, seperti
belum adanya kurikulum bagi siswa yang mendiami di perdesaan. Selama
ini kurikulum yang diterapkan pada sekolah-sekolah di daerah perdesaan
mengikuti kurikulum perkotaan yang kadang kala sulit dijangkau oleh anak-
anak yang dikelilingi oleh areal pertanian dan lautan. Kemudian yang lebih
penting lagi adalah merancang kurikulum pendidikan damai, agar siswa/
mahasiswa serta masyarakat paham terhadap teori damai dan konflik.
Selama ini banyak masyarakat yang tidak mengetahui bagaimana cara
mengelola konflik dengan baik, sehingga konflik yang kecil menjadi besar

98 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Konstruksi Kurikulum Pendidikan Damai di Aceh

dan penyelesaianya menjadi berlarut-larut karena tidak ada manajemen


yang tepat dalam mengelola konflik.
Kurikulum pendidikan damai dibutuhkan bukan karena Aceh pernah
dilanda konflik, tetapi konflik merupakan realitas kehidupan yang muncul
setiap saat akibat benturan kepentingan, baik kepentingan sesaat maupun
kepentingan jangka panjang. Kurikulum pendidikan damai diharapkan
dapat berperan sebagai acuan bagi proses pendewasaan siswa/mahasiswa
serta masyarakat agar dapat membangun paradigma dan sikap kritis dalam
menyikapi setiap konflik tanpa kekerasan. Proses ini menggambarkan
bahwa makna hakiki pendidikan damai tidak hanya menyangkut aspek
kognitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik.
Kurikulum pendidikan damai disamping menyangkut ketiga aspek
di atas, kemudian juga berfungsi untuk menyampaikan, meneruskan atau
menstransmisikan nilai-nilai guna mengantarkan manusia ke arah kondisi
yang tenteram, saling menghormati, menghargai dan memberikan apresiasi
dalam kemajemukan dan kebhinekaan. Lebih dari itu juga mengajarkan
kearifan dalam menyikapi konflik sebagai sunnah Allah yang tidak harus
dihindari, akan tetapi perlu dikelola melalui pengembangan potensi-
potensi yang ada sehingga memberikan dampak positif bagi individu dan
masyarakat (Fauzi Saleh, 2005 : 23).
Tugas untuk membuat kurikulum tidak bisa dilakukan secara
sendirian tetapi harus melibatkan semua pihak. Hal ini penting agar muatan
lokal pada masing-masing daerah dapat terakomodir dengan baik, dengan
demikian kurikulum yang dihasilkan benar-benar menjadi patron bagi
guru, murid, dan masyarakat dalam memahami dan memaknai pentingnya
pendidikan dan pengajaran.

Penutup
Keresahan terhadap dunia pendidikan sudah sering dikritik oleh
pemerhati pendidikan di dunia manapun termasuk di Aceh. Para pemerhati
pendidikan di Aceh sering mengkritisi proses pendidikan yang masih
lamban di sana sini dan terkesan monoton. Pendidikan pada esensialnya
tidak boleh monoton, tetapi harus terbuka terhadap realitas sosial

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 99
Firdaus M. Yunus

kemasyarakatan. Kehadiran kurikulum pusat belum tentu sepenuhnya


cocok untuk diterapkan pada masing-masing daerah, terutama sekali bagi
daerah terpencil yang jauh dari pusat perkotaan. Bagi daerah seperti itu
kurikulum yang diterapkan tidak sepenuhnya kurikulum perkotaan akan
tetapi muatan lokal juga harus diperhatikan agar apa yang diharapan (das
sein) menjadi kenyataan (das sollen).
Pelaksanaan pendidikan, terutama di Aceh harus mengadopsi tiga
unsur, yaitu unsur muatan lokal, nasional, dan internasional, pengadopsian
ketiga unsur tersebut menjadi penting untuk menempatkan pendidikan
Aceh setara dengan daerah-daerah lain di Indonesia Untuk saat ini tidak
ada halangan bagi Aceh untuk tidak maju karena anggaran pendidikan yang
dialokasikan oleh pemerintahan Aceh sangat besar dan situasi Aceh untuk
memajukan pendidikan jauh lebih kondusif, sebab Aceh sudah melewati
masa-masa sulit baik pada saat konflik maupun pasca tsunami beberapa
tahun yang lalu.

100 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Konstruksi Kurikulum Pendidikan Damai di Aceh

DAFTAR PUSTAKA

Dewey, John. Philosophy of education. New Jersey: Littlefeld Adam & Co, 1961
Drost, J. Sekolah mengajar atau mendidik?. Yogyakarta: Kanisius, 1998
Mac Donald, B. James. Educational models for instruction, Washington DC:
The Association for supervision and curriculum developmen, 1965
Mangunwijaya, Y.B. Impian dari yogyakarta. Jakarta: Gramedia, 2003
Mulyasa. E. Kurikulum berbasis kompetensi: konsep, karakteristik,
implementasi, dan inovasi. Bandung: Rosdakarya, 2003
Saleh, Fauzi. Konsep pendidikan dalam Islam. Banda Aceh: Yayasan Pena,
2005
Sriyanto. HJ. “Membaca kebijakan pemerintah terhadap pendidikan di era
desentralisasi”. dalam, Jurnal demokrasi, Volume I, No.2, 2003
Sukmadinata, Nana Syaodih. Pengembangan kurikulum teori dan praktek.
Bandung: Rosdakarya, 2001
Suparno, Paul. “Relevansi dan reorientasi pendididikan di Indonesia”, dalam
Basis, No. 01-02. Tahun ke 50, Januari-Februari, 2001
Suderadjat, Hari. Implementasi kurikulum berbasis kompetensi (KBK):
pembaharuan pendidikan dalam Undang-undang sisdiknas 2003.
Bandung: Cipta Cekas Grafika, 2004
Yunus, Firdaus M. Pendidikan berbasis realitas sosial, Paulo Freire, Y.B.
Mangunwijaya. Yogyakarta: Logung pustaka, 2004
__________. “Rehab rekon Aceh berbasis kearifan lokal, pendekatan filsafat
budaya dan filsafat pendidikan”, dalam filosofi pendidikan berbasis
syariat dalam education networks. Banda Aceh: Dinas Syariat Islam,
2008

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 101
Pengembangan Kurikulum
Muatan Lokal dalam Menjaga
Keberlangsungan Perdamaian
di Aceh

M. Nasir Budiman
Guru Besar Ilmu Pendidikan pada Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry
Banda Aceh. Pernah menjabat sebagai Asisten Direktur Bidang
Akademik pada Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry dan Pembantu
Rektor I periode 2005-2009

Pendahuluan
Indonesia terdiri dari lebih dari 3500 buah pulau yang dihuni oleh
berbagai suku bangsa yang mempunyai berbagai macam adat-istiadat,
bahasa, kebudayaan, agama, kepercayaan dan sebagainya. Berbagai
kekayaan alam baik yang terdapat di darat, laut, flora fauna dan berbagai
hasil tambang semuanya merupakan sumber daya alam yang semestinya
bisa dimanfaatkan dengan baik untuk kesejahteraan rakyatnya.
Kebudayaan nasional yang didukung oleh berbagai nilai kebudayaan
daerah yang luhur dan beradab yang merupakan nilai jati diri yang menjiwai
perilaku manusia dan masyarakat dalam segenap aspek kehidupan, baik
dalam lapangan industri, kerajinan, industri rumah tangga, jasa pertanian
(argo industri dan argo bisnis), perkebunan, perikanan peternakan,
pertanian holtikultura, kepariwisataan, pemeliharaan lingkungan hidup
sehingga terjadi kesesuaian, keselarasan dan keseimbangan yang dinamis.
Kurikulum kecuali mengacu pada karakteristik peserta didik,
perkembangan ilmu dan teknologi pada zamannya juga mengacu kepada
kebutuhan-kebutuhan masyarakat atau stakeholders. Penyusunan kurikulum

103
M. Nasir Budiman

atas dasar acuan keadaan masyarakat tersebut disebut “Kurikulum Muatan


Lokal“.
Sebagai acuan keadaan masyarakat provinsi Aceh yang pernah
terjadi konflik, dan musibah gempa bumi dan tsunami adalah hilangnya
persaudaraan (ukhuwah), kasih sayang, saling curiga, krisis kepercayaan,
dan berkembang pula budaya suka menerima daripada memberi, maka
program pengembangan kurikulum dalam menjaga keberlangsungan
perdamaian di Aceh menjadi sangat relevan dijadikan sebagai program
pendidikan muatan lokal di PTAI semacam STAI Tgk. Di Rundeng Aceh
Barat, provinsi Aceh. Maka yang menjadi masalah di sini adalah terkait
dengan prosedur pengembangan muatan lokal yang relevan dengan
kebutuhan daerah bagi PTAI di Aceh secara umum, khususnya di STAI Tgk
di Rundeng Meulaboh, Aceh Barat.

Pengertian muatan lokal


Kurikulum muatan lokal dimaksudkan ialah program pendidikan
yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam
dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah dan wajib dipelajari oleh
mahasiswa sesuai dengan karakteristik daerah.
Menurut sejarah, sebelum ada PTAI/Perguruan Tinggi Agama Islam
formal, pendidikan yang berprogram muatan lokal telah dilaksanakan oleh
para orang tua mahasiswa dengan metode drill dan trial and error serta
berdasarkan berbagai pengalaman yang mereka hayati. Tujuan pendidikan
mereka terutama agar anak-anak mereka dapat mandiri dalam kehidupan.
Bahan yang diajarkan ialah bahan yang diambil dari berbagai keadaan
yang ada di alam sekitar. Sedang kriteria keberhasilannya ditandai bahwa
”mereka telah dapat hidup mandiri dan/atau percaya diri, meningkat harkat
dan martabatnya”.

Tujuan kurikulum muatan lokal


Secara umum tujuan program pendidikan muatan lokal adalah
mempersiapkan mahasiswa agar mereka memiliki wawasan yang mantap
tentang lingkungannya serta sikap dan perilaku bersedia melestarikan

104 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dalam Menjaga Keberlangsungan Perdamaian di Aceh

dan mengembangkan sumber daya alam, kualitas sosial, dan kebudayaan


yang mendukung pembangunan nasional maupun pembangunan setempat.
Tujuan penerapan muatan lokal pada dasarnya dapat dibagi dalam dua
kelompok tujuan, yaitu tujuan langsung dan tujuan tidak langsung. Tujuan
langsung adalah tujuan dapat segera dicapai. Sedangkan tujuan tidak
langsung merupakan tujuan yang memerlukan waktu yang relatif lama
untuk mencapainya. Tujuan tidak langsung pada dasarnya merupakan
dampak dari tujuan langsung.
a. Tujuan langsung
1. Bahan pengajaran lebih mudah diserap oleh mahasiswa.
2. Sumber belajar di daerah dapat lebih dimanfaatkan untuk
kepentingan pendidikan.
3. Mahasiswa dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan
yang dipelajarinya untuk memecahkan masalah yang ditemukan
dalam masyarakat.
4. Mahasiswa lebih mengenal kondisi alam, lingkungan sosial dan
lingkungan budaya yang terdapat di daerahnya masing-masing.
b. Tujuan tak langsung
1. Mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan mengenai daerahnya.
2. Mahasiswa diharapkan dapat menolong orang tuanya dan
menolong dirinya sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan
hidupnya.
3. Mahasiswa menjadi akrab dengan lingkungannya dan terhindar
dari keterasingan terhadap lingkungan masyarakatnya sendiri.
Dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar maka besar
kemungkinan mahasiswa dapat mengamati, melakukan percobaan atau
kegiatan belajar sendiri. Belajar mencari, mengolah, menemukan informasi
sendiri dan menggunakan informasi untuk memecahkan masalah yang
ada di lingkungannya merupakan pola dasar dari belajar. Belajar tentang
lingkungan dan dalam lingkungan mempunyai daya tarik tersendiri bagi
seorang anak. Jean Piaget (1958) mengatakan bahwa semakin banyak
seorang anak melihat dan mendengar, maka semakin ingin ia melihat dan
mendengar serta berbuat.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 105
M. Nasir Budiman

Lingkungan secara keseluruhan mempunyai pengaruh terhadap cara


belajar seseorang. Benyamin S. Bloom menegaskan bahwa lingkungan sebagai
kondisi, daya dan dorongan eksternal dapat memberikan suatu situasi “kerja”
di sekitar mahasiswa. Karena itu, lingkungan secara keseluruhan dapat
berfungsi sebagai daya untuk membentuk dan memberi kekuatan/dorongan
eksternal untuk belajar pada seseorang. Landasan teoritik muatan lokal.
1. Tingkat kemampuan berpikir mahasiswa mengharuskan kita
menyajikan bahan kajian yang dapat mengembangkan kemampuan
berpikir dari tingkatan konkret sampai dengan tingkatan abstrak.
Pengembangan kemampuan berpikir ini ditunjang antara lain oleh
teori belajar dari Ausubel (1969) dan konsep asimilasi dari Jean
Piaget (1972) yang pada intinya menyatakan bahwa sesuatu yang
baru haruslah dipelajari berdasarkan apa yang telah dimiliki oleh
mahasiswa. Penerimaan gagasan baru dengan bantuan gagasan/
pengetahuan yang telah ada ini sebenarnya telah dikemukakan
oleh Johan Friedrich Herbart (1776-1841) yang dikenal dengan
istilah apersepsi.
2. Pada dasarnya anak-anak usia perguruan tinggi memiliki rasa
ingin tahu yang sangat besar tentang segala sesuatu yang terjadi di
lingkungan sekitarnya. Karena itu, mereka selalu akan gembira bila
dilibatkan secara mental, fisik dan sosialnya dalam mempelajari
sesuatu. Mereka akan gembira bila diberikan kesempatan untuk
menjelajahi lingkungan sekitarnya yang penuh dengan sumber
belajar. Dengan menciptakan situasi belajar, bahan kajian dan
cara belajar mengajar yang menantang dan menyenangkan maka
aspek kejiwaan mereka yang berada dalam proses pertumbuhan
akan dapat ditumbuhkembangkan dengan baik.
Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan.Tujuan
pendidikan muatan lokal tentu saja tidak dapat terlepas dari tujuan umum
yang tertera dalam GBHN. Adapun yang langsung dapat dipaparkan dalam
muatan lokal atas dasar tujuan tersebut di antaranya adalah :
a. Berbudi pekerti luhur, sopan santun daerah di samping sopan
santun nasional.

106 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dalam Menjaga Keberlangsungan Perdamaian di Aceh

b. Berkepribadian; punya jati diri dan punya kepribadian daerah


disamping kepribadian nasional
c. Mandiri: dapat mencukupi diri sendiri tanpa bantuan orang lain
d. Terampil, menguasai 10 segi PKK di daerahnya
e. Beretos kerja, cinta akan kerja, makanya dapat menggunakan
waktu sebaik-baiknya.
f. Profesional dalam bekerja dan bertanggung jawab
g. Produktif, dapat berbuat sebagai produsen dan bukan hanya
sebagai konsumen
h. Sehat jasmani dan rohani
i. Cinta lingkungan, dapat menumbuhkan cinta kepada tanah air.
j. Kesetiakawanan sosial, dalam hal bekerja manusia selalu
membutuhkan teman kerja, oleh karenanya akan terjadilah situasi
kerja sama dan gotong royong.
k. Kreatif dan inovatif untuk hidup, karena tidak pernah menyia-
nyiakan waktu luang, dan yang bersangkutan menjadi orang ulet,
tekun, rajin dan sebagainya
l. Mementingkan pekerjaan yang praktis; Menghilangkan gaps
antara lapangan teori dan praktik
m. Rasa cinta budaya damai dan nilai-nilai syari’at Islam.
Untuk penentuan muatan lokal yang relevan dengan kebutuhan
masyarakat, kiranya PTAI perlu bekerja sama dengan stakeholder, terutama
pemerintah daerah, instansi lain yang terkait, badan swasta dan masyarakat
agar muatan lokal dapat diterima sebagaimana mestinya.

Fungsi muatan lokal dalam kurikulum


● Fungsi Penyesuaian
Perguruan tinggi berada dalam lingkungan masyarakat. Karena
itu program-program perguruan tinggi harus disesuaikan dengan
lingkungan Demikian pula pribadi-pribadi yang ada dalam perguruan
tinggi hidup dalam lingkungan, sehingga perlu diupayakan agar
pribadi dapat menyesuaikan diri dan akrab dengan lingkungannya.
● Fungsi Integrasi

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 107
M. Nasir Budiman

Mahasiswa merupakan bagian integral dari masyarakat, karena itu


muatan lokal harus merupakan program pendidikan yang be rfungsi
untuk mendidik pribadi-pribadi yang akan memberikan sumbangan
kepada masyarakat atau berfungsi untuk membentukdan mengi
ntegrasikan pribadi kepada masyarakat.
● Fungsi Perbedaan
Pengakuan atas perbedaan berarti pula memberi kesempatan bagi
pribadi untuk memilih apa yang diinginkannya. Karena itu muatan
lokal harus merupakan program pendidikan yang bersifat luwes,
yang dapat memberikan pelayanan terhadap perbedaan minat dan
kemampuan mahasiswa. Ini tidak berarti mendidik pribadi menjadi
orang yang individualistik tetapi muatan lokal harus dapat berfungsi
mendorong pribadi ke arah kemajuan sosialnya dalam masyarakat.
Terdapat 4 Landasan Demografik, Keindahan, Bangsa dan Negara
Indonesia terletak pada keanekaragaman pola kehidupan dari beratus-
ratus suku bangsa yang tersebar di berpuluh-puluh ribu pulau dari
Sabang sampai dengan Merauke. Kekaguman terhadap bangsa dan negara
Indonesia telah dinyatakan oleh hampir seluruh bangsa di dunia, karena
keanekaragaman tersebut dapat dipersatukan oleh falsafah hidup bangsa
yaitu Pancasila. Keanekaragaman tersebut bukan saja ada pada bidang
budayanya saja, tetapi juga pada keadaan alam, fauna dan floranya serta
kehidupan sosialnya. Semuanya itu merupakan dasar yang sangat penting
dalam mengembangkan muatan lokal.
Selain landasan-landasan pemikiran tersebut di atas, pengembangan
muatan lokal juga didorong oleh kenyataan yang menunjukkan bahwa
banyak mahasiswa Perguruan tinggi Dasar terpaksa harus meninggalkan
bangku perguruan tinggi yang antara lain disebabkan oleh keadaan sosial
ekonomi orang tua mahasiswa, kurang sesuainya kurikulum perguruan
tinggi dengan kebutuhan mahasiswa.

Pengembangan muatan lokal


Bahan muatan lokal dapat tercantum pada intra kurikuler, makalah
ini menawarkan mata kuliah metodologi Penelitian berbasis Participatory

108 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dalam Menjaga Keberlangsungan Perdamaian di Aceh

Action Research dan ketrampilan, serta Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
Sedang bahan muatan lokal yang dilaksanakan secara ekstra kurikuler
bahan dikembangkan dari pola kehidupan dalam lingkungannya, termasuk
”pola budaya damai”.
Karena bahan muatan lokal sifatnya mandiri dan tidak terikat oleh
Kementerian Agama Jakarta, maka peranan dosen dalam melaksanakan
proses pembelajaran dalam muatan lokal ini sangat menentukan . Untuk
pengembangannya, langkah-langkah yang dapat ditempuh :
1. Menyusun Perencanaan Muatan Lokal
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran selalu menyangkut berbagai
unsur atau komponen. Menyusun perencanaan muatan lokal juga akan
menyangkut berbagai sumber, tenaga pengajar, metode, media, dana dan
evaluasi.
Merencanakan bahan muatan lokal yang akan diajarkan antara lain
dengan:
a. Mengidentifikasikan segala sesuatu yang mungkin dapat dijadikan
bahan muatan lokal
b. Menyeleksi bahan muatan lokal dengan kriteria sebagai berikut :
1) Sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
2) Tidak bertentangan dengan Pancasila dan aturan adat yang
berlaku.
3) Letaknya terjangkau dari perguruan tinggi.
4) Ada nara sumber baik di dalam maupun di luar perguruan
tinggi.
5) Bahan/ajaran tersebut merupakan ciri khas daerah tersebut.
c. Menyusun SAP yang bersangkutan
d. Mencari sumber bahan yang tertulis maupun yang tidak tertulis
e. Mengusahan sarana/prasarana yang relevan dan terjangkau.
2. Pembinaan Muatan Lokal
Pembinaan perlu ditangani oleh tenaga-tenaga yang profesioanal dan
dilakukan secara kontinyu, karena dalam pelaksanaan di lapangan kadang-
kadang mahasiswa lebih mahir dari pada dosennya, karena mahasiswa
sudah biasa melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dimaksud, misalnya

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 109
M. Nasir Budiman

anak petani, anak pengrajin, bengkel, peternak, anak ulama dan sebagainya,
yang akibatnya akan terjadi pembuangan tenaga, waktu dan biaya.
3. Pengembangan Muatan Lokal
Ada dua arah pengembangan dalam muatan lokal, yaitu :
a. Pengembangan untuk jangka panjang
Agar para mahasiswa dapat melatih keahlian dan keterampilan
yang sesuai dengan harapan yang nantinya dapat membantu
dirinya, keluarga, masyarakat dan akhirnya membantu
pembangunan agama dan keagamaan serta nusa dan bangsanya.
Oleh karena itu perkembangan muatan lokal dalam jangka
panjang harus direncanakan secara sistematik oleh perguruan
tinggi, keluarga, dan masyarakat setempat dengan perantara
pakar-pakar pada instasi terkait baik negeri maupun swasta.
Untuk muatan lokal di perguruan tinggi masih bersifat concentris,
kemudian dilaksanakan secara kontinyu di perguruan tinggi dan
akan terjadi konvergensi antar perguruan tinggi.
b. Pengembangan untuk jangka pendek
Perkembangan muatan lokal dalam jangka pendek dapat dilakukan
oleh perguruan tinggi setempat dengan cara menyusun kurikulum
muatan lokal kemudian menyusun SAP-nya dan direvisi setiap
saat.
Dalam Pengembangan selanjutnya ada dua hal yang perlu diperhatikan,
yaitu:
1. Perluasan muatan lokal
Dasarnya adalah bahan muatan lokal yang ada di daerah itu yang
terdiri dari berbagai jenis jenis muatan lokal misalnya : pertanian,
kalau sudah dianggap cukup ganti peternakan, perikanan,
kerajianan dan sebagainya. Siswa cukup diberi dasar-dasarnya saja
dari berbagai muatan lokal sedang pendalamanya dilaksanakan
pada periode berikutnya.
2. Pendalaman muatan lokal
Dasarnya adalah bahan muatan lokal yang sudah ada kemudian
diperdalam samapai mendalam, misalnya masalah pertanian

110 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dalam Menjaga Keberlangsungan Perdamaian di Aceh

dibicarakan dan dilaksanakan mengenai bagaimana cara


memupuk, memelihara, mengembangkan, pemasarannya dan
sebagainya. Oleh karena itu pelajaran ini diberikan pada siswa
yang telah dewasa.
Berhasil atau tidaknya pengembangan di perguruan tinggi tergantung
pada:
1) Kreativitas dosen.
2) Kesesuaian program
3) Ketersediaan sarana dan prasarana
4) Cara pengeloaan
5) Kesiapan mahasiswa
6) Partisipasi masyarakat setempat
7) Pendekatan pimpinan perguruan tinggi dengan nara sumber dan
instansi terkait
Adapun cara menentukan bahan pelajaran muatan lokal untuk satu
bidang studi dapat dilaksanakan dengan empat cara :
1. Bagi bidang studi yang sudah punya SAP, disusun pokok bahasan/
sub pokok bahasan, kemudian dipilih bahan mana yang berkriteria
muatan lokal.
2. SAP yang telah dipilih, sesuaikan dengan pola kehidupan
masyarakat.
3. Pola kehidupan dalam lingkungan alam, dijadikan sumber sebagai
SAP yang mungkin sesuai dengan SAP atau tidak sesuai dengan
SAP yang telah ada.
4. Pola kehidupan dalam lingkungan alam, dipilih unsur-unsurnya
yang perlu dimasukan dalam program pendidikan kemudian
dibuat SAP.

Ruang lingkup
Ruang lingkup muatan lokal adalah sebagai berikut:
1. Lingkup Keadaan dan Kebutuhan Daerah. Keadaan daerah adalah
segala sesuatu yang terdapat di daerah tertentu yang pada
dasarnya berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 111
M. Nasir Budiman

ekonomi, dan lingkungan sosial budaya. Kebutuhan daerah adalah


segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat di suatu daerah,
khususnya untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf
kehidupan masyarakat tersebut, yang disesuaikan dengan arah
perkembangan daerah serta potensi daerah yang bersangkutan.
Kebutuhan daerah tersebut misalnya kebutuhan untuk:
a. Melestarikan dan mengembangkan kebudayaan dan peradaban
daerah
b. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan di bidang
tertentu, sesuai dengan keadaan perekonomian daerah
c. Meningkatkan penguasaan bahasa Inggris untuk keperluan
sehari-hari, dan menunjang pemberdayaan individu dalam
melakukan belajar lebih lanjut (belajar sepanjang hayat)
d. Meningkatkan kemampuan berwirausaha
2. Lingkup isi/jenis muatan lokal, dapat berupa: ideologi dan bahasa
daerah, Bahasa Inggris, kesenian daerah, keterampilan dan
kerajinan daerah, adat istiadat, dan pengetahuan tentang berbagai
ciri khas lingkungan alam sekitar, serta hal-hal yang dianggap
perlu oleh daerah yang bersangkutan.

Pengembangan mata kuliah muatan lokal


Pemberlakuan KTSP membawa implikasi bagi perguruan tinggi
dalam melaksanakan KBM sejumlah mata kuliah, dimana hampir semua
mata kuliah sudah memiliki Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
Sedangkan untuk Mata kuliah Muatan Lokal yang merupakan kegiatan
kurikuler yang harus diajarkan di kelas tidak mempunyai Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasarnya. Hal ini membuat kendala
bagi perguruan tinggi untuk menerapkan Mata kuliah Muatan Lokal.
Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata
kuliah Muatan Lokal bukanlah pekerjaan yang mudah, karena harus
dipersiapkan berbagai hal untuk dapat mengembangkan Mata kuliah
Muatan Lokal. Ada dua pola pengembangan Mata kuliah Muatan Lokal
dalam rangka menghadapi pelaksanaan KTSP. Pola tersebut adalah:

112 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dalam Menjaga Keberlangsungan Perdamaian di Aceh

Pengembangan Muatan Lokal Sesuai dengan Kondisi Perguruan tinggi


Agama Islam saat ini.
Langkah-langkah pengembangan Mata kuliah Muatan Lokal bagi PTAI
yang perlu dikembangkannya, antara lain adalah:
1. Analisis Mata kuliah Muatan Lokal yang ada di perguruan tinggi.
Apakah masih layak dan relevan Mata kuliah Muatan Lokal
diterapkan di Perguruan tinggi? Ini kemudian dikelompokkan ke
dalam mata kuliah yang ada.
2. Substansi mata kuliah muatan lokal ditentukan oleh satuan
pendidikan, tidak terbatas pada mata kuliah keterampilan. Muatan
lokal merupakan bagian dari struktur dan muatan kurikulum
yang terdapat pada Standar Isi di dalam kurikulum tingkat satuan
pendidikan.
3. Keberadaan mata kuliah muatan lokal merupakan bentuk
penyelenggaraan pendidikan yang tidak terpusat, sebagai upaya
agar penyelenggaraan pendidikan di masing-masing daerah lebih
meningkat relevansinya terhadap keadaan dan kebutuhan daerah
yang bersangkutan. Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan
mutu pendidikan nasional sehingga keberadaan kurikulum
muatan lokal mendukung dan melengkapi kurikuiurn nasional.
4. Muatan lokal merupakan dimasukkan sebagai mata kuliah
lainnya, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis
muatan lokal yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat
menyelenggarakan satu mata kuliah muatan lokal setiap semester.
Ini berarti bahawa dalam satu tahun satuan pendidikan dapat
menyelenggarakan dua mata kuliah muatan lokal.

Penutup
Kurikulum muatan lokal ialah program pendidikan yang diisi dan
media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam dan lingkungan
budaya serta kebutuhan daerah dan wajib dipelajari oleh mahasiswa
didaerah mereka. Kurikulum muatan lokal pada hakikatnya diberikan

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 113
M. Nasir Budiman

bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sebagaimana


tercantum didalam GBHN.
Sebagai salah satu kurikulum baru dalam dunia pendidikan, Muatan
lokal dalam pembelajarannya banyak ditemukan kendala dan rintangan
yang ditemukan antara lain dari segi: peserta didik, guru, administrasi,
sarana dan prasarana, bahkan kurikulumnya sendiri. Tetapi kendala
tersebut lambat laun dapat diminimalisir dengan berbagai metode antara
lain dengan mengadakan pelatihan bagi para pengajar, lebih memantapkan
Syllabi dan SAP, serta dilaksanakan evaluasi yang berkesinambungan oleh
pihak yang profesional seperti Pusat Penjaminan Mutu, baik di tingkat
internal maupun eksternal.
Muatan lokal perlu untuk diberikan kepada peserta didik agar peserta
didik lebih mengetahui dan mencintai budaya daerahnya sendiri, berbudi
pekerti luhur, mandiri, kreatif dan profesional yang pada akhirnya dapat
menumbuhkan rasa cinta kepada budaya tanah air serta memungkinkan
mengawal keberlangsungan perdamaian di Aceh.

114 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dalam Menjaga Keberlangsungan Perdamaian di Aceh

DAFTAR PUSTAKA

Mohammad Ali. Pengembangan Kurikulum Sekolah.


Nana Syaodih Sukmadinata. Prinsip dan Landasan Pengembangan
Kurikulum.
Nasution, S. Asas-Asas Kurikulum.
_______ . Kurikulum dan Pengajaran.
Subandijah. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum.
Nana Sudjana. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum.
Hamid Syarif, A. Pengenalan Kurikulum.
_______ . Pengembangan Kurikulum.
Iskandar Wiryokusumo. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum.
Mulyasa, H.E. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Masnur Muslich. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) - Dasar
Pemahaman dan Pengembangan.
_______ . KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) - Pembelajaran
Berbasis Kompetensi dan Kontekstual.
Oemar Hamalik. Kurikulum dan Pembelajaran.
Wina Sanjaya. Kurikulum Dan Pembelajaran (Teori & Praktek KTSP).
Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah
Madrasah.
Muhaimin. Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP).
Dakir, H. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum.
Suryosubroto, H. Tatalaksana Kurikulum.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 115
Promoting Peace Education
Through Multicultural
Education in Aceh
Lessons Learned from the U.S. Context

Muhammad Thalal
Researcher at LKAS Banda Aceh, lecturer at IAIN Ar-Raniry Banda
Aceh, Master of Education in Curriculum and Instruction from Texas
A&M University, USA

Prologue
Aceh has been in an armed conflict for more than 30 years between
the Free Aceh Movement and the Government of Indonesia until eventually
the peace accord took place in Helsinki, Finland, on August 15, 2005. Barron
(from Conciliation Resources website) states that the conflict has killed
an estimated of 15,000 life, displaced over 100,000 people and caused a
widespread trauma to conflict survivors. Until the first half of 2003 when
the martial law was in effect, an estimated of 880 schools and education
facilities were closed due to damage. In addition, other important facilities
such as village health clinics, water and electricity infrastructures and
transportation were also directly damaged by the conflict.
Conflict is also claimed as the main caused to increase poverty
rates in the region. According the Barron, the poverty rates increased
significantly from 14.8 per cent in 1998 to 28.4 per cent in 2004, and by
2005, the poverty rates in rural areas of Aceh have achieved 36.2 per cent.
Aceh is one of the poorest provinces in Indonesia despite its large natural
resources including oil and gas reserves. Conflict and poverty have become

117
Muhammad Thalal

the causal factor in reducing the educational opportunity of children in


Aceh Province (Thalal, 155).
Efforts to promote peace education in Aceh has been started as
early as 2002 where a group of academics and activists created a peace
curriculum grounded in the Islamic core peace beliefs and rooted in the
Acehnese social and cultural values. The curriculum is targeted mainly
those under-educated rural Acehnese who experienced violence, inequity
and trauma during the conflict. Six basic principles form the foundation
for the curriculum were also employed namely: introspection and sincerity,
rights and responsibilities, conflict and Violence, democracy and justice,
plurality of creation, and paths to peace (Wells, 2002).
Aceh Province is a multi-ethnic province since it is inhabited by people
of different backgrounds and spoken languages. Although the majority
of population is Acehnese and main religion is Islam, other population is
also occupying the rural areas of Aceh Province such as Gayo, Javanese,
Alas, Singkil, Tamiang, Simeulue and Chinese (Thalal, 151). Hence, it is
essential that the promotion of peace education in Aceh Province regard
the background differences of all its inhabitants.
Despite the current effort to promote peace education by integrating
local values and religious beliefs (e.g. Wells, 2002), this paper is intended
to seek the possibility of promoting peace education in Aceh Province by
employing the multicultural education concept as it was applied before in
the United States. The concept reviewed is based on James Banks’ Handbook
of Research on Multicultural Education published in 2004. The discussion
is also supported by other relevant references in multicultural education.

The concept of multicultural education: bringing concept into practice


The purpose of multicultural education is to reform educational
domains so that students from diverse racial, ethnic, and social backgrounds
and also gender will achieve an equal opportunity in education (Banks,
2004, 3). This reform includes institutional changes in the curriculum, the
teaching materials, teaching and learning styles, the attitudes, perceptions,
behaviors, and the goals, norms and culture of the school.

118 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Promoting Peace Education Through Multicultural Education in Aceh

Banks (2004, 22) also conceptualizes five multicultural education


dimensions which are (1) content integration, (2) the knowledge construction
process, (3) prejudice reduction, (4) equity pedagogy, and (5) empowering
school culture and social culture. These dimensions are essential concepts
to explain better understanding about multicultural education theories. In
addition, Banks emphasized at the end of his research review that practice is
the most important action to be taken after its theories were conceptualized
and formulated. Multicultural education should be implemented broadly in
order to make meaningful change within the educational institutions.
In his other work, Banks (2002) states that multicultural education
is a reform movement to do some changes within educational institutions
to achieve acquaintance and understanding that will reduce pain and
discrimination faced by students of color (in the U.S. context) due to
their racial, physical and cultural differences. Similar to Banks, Cumming-
McCann (2003, 11) agrees that bringing multicultural education into
practice is very important to students so they will feel more confident
during the educational process. Implementing multicultural education
effectively will consume time, energy and a lot of work, but this task will
result in providing an opportunity for students of color to see the world as
a fair and equitable place.
It is clear that schools should be reformed in terms of emphasizing
multicultural education within the curriculum, teaching materials and
behaviors. It seems easy in concepts and theories, but when we are going
to implement these in the real life situation, practice will be very difficult.
Teaching in a multicultural class consisting a variety of ethnics and colors
is complicated, especially if teachers are not aware about multicultural
education issues. For instance, are they going to say during the teaching
and learning process that White is good and Black is evil? This will be
very painful to non-white students and will develop prejudice and hatred
among students.
Ladson-Billings (2004, 53) comes with some forms of multiculturalism
such as conservative multiculturalism, liberal multiculturalism, and left-
liberal multiculturalism. By using the works of McClaren (1994) and King

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 119
Muhammad Thalal

(2001), she points out that all forms are intended at different agendas. For
instance, although various ethnic groups have been represented in school
text and curriculum, the way people being represented may be conservative
or marginalizing without eliminating the privilege enjoyed by the dominant
class.
It is imperative to take into account five approaches in multicultural
education based on Sleeter and Grant’s classification which are: 1) teaching
the exceptional and the culturally different; 2) human relations; 3) single-
group studies to acquire knowledge, awareness, respect, and acceptance
of one group at a time; 4) multicultural education and; 5) education that
is multicultural and social reconstructionists (Gay, 2004, 42-43). Gay
(2004, 44) also states that the emphasis on critical analysis, knowledge
reconstruction, social transformation, and personal empowerment are
common themes in all approaches to multicultural education. She concludes
that multicultural education should be as interdisciplinary, integrative,
inclusive, comprehensive, transformative, liberative, and celebratory
enterprise. On the other hand, Bennett (2001, 175) describes a conceptual
framework illustrating the rich field of multicultural education in which she
categorizes 12 genres of research within four clusters: curriculum reform,
equity pedagogy, societal equity, and multicultural competence.

Critical Race Theory (CRT): Learning from the cases in the United States
Banks (2004, 57-58) explains that one of the theoretical frameworks
in the field of multicultural education is Critical Race Theory (CRT). In
this theory, one is not necessarily privileging race over class, gender or
other identity category. CRT includes some concepts: 1) the proposition
that racism is normal, ordinary, and natural; 2) the use of storytelling to
challenge racial oppression and; 3) the concept of interest convergence.
CRT has created a new way to analyze current practices in education by
connecting issues like school funding and school desegregation. Ladson-
Billings (2004, 61) emphasizes that CRT can be used as a theoretical tool for
revealing many types of inequity and social injustice.
Banks (1995, 391) also underlines that multiculturalism and

120 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Promoting Peace Education Through Multicultural Education in Aceh

multicultural education have different meanings. Multiculturalism is “a


term often used by the critics of diversity to describe a set of educational
practices they oppose. Whereas multicultural education is an idea,
educational reform and a continuing process that never ends within a
democratic and pluralistic society. The Critical Race Theory (CRT) has been
utilized by Solorzano, Ceja & Yosso (2000) as a framework to examine the
racial microagressions [subtle forms of racism] and how they influence the
campus racial climate. The study reveals that racial microagressions exist
in both academic and social spaces in the campus environment and have a
negative impact on the campus racial climate.

Awareness of language differences in multicultural education


Minami and Ovando (2004, 576) describe that children of many
bilingual and multilingual communities have experienced a shift to English
as the dominant language of the United States. The language shift is so
rapid that people of color cannot maintain informal communication in their
heritage languages even within the scopes of the family and their children
start to lose their native tongues or use the languages in the diglossic
situations.
In addition, Minami and Ovando (2004, 580-583) also stress the
importance of preservation of students of color’s languages and cultures
by empowering students of color, their parents, and their community.
Empowering students of color through bilingual education plays a crucial
role in supporting students of color maintain their ethnic identity while
at the same time introducing White students to languages and cultures of
students of color. In addition, parental and community participation in
students of color’s education will promote their achievement.
In supporting the above, Alba, Logan, Lutz, & Stults (2002) find in their
research that as of 1990, the rates of only English for the third generation
immigrants of a number of groups suggest that Anglicization occurred
almost similarly for Asians as it did for the Europeans who came to the U.S.
in the early twentieth century. However, the Anglicization is slower among
the descendants of Spanish speakers. Their research also shows that the

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 121
Muhammad Thalal

majority of third-and later-generation children speak only English at home,


which means that they will grow up to be English monolinguals with little
or no knowledge of their mother tongues.

Realizing the threat of stereotype in classroom diversity


Besides taking into account the language differences, stereotype is a
very important term to be regarded in multicultural education. It is a threat
and so dangerous to peace education. Steele (2004, 686) asserts stereotype
threat as a situational threat that can affect the members of any group
about whom negative or bad stereotype exists. In addition, the threat of
stereotypes can be sharply felt and hampers the academic achievement
of group members (p. 683). Steele’s definition of stereotype threat is as
follows: “the event of a negative stereotype about a group to which one
belongs becoming self-relevant, usually as a plausible interpretation for
something one is doing, for an experience one is having, or for a situation
one is in, that has relevance to one’s self definition.”
For instance, Steele explains stereotype threats experienced by
women in performing Math and African Americans on standardized tests.
His findings show that the gender difference conditions did not reduce
women’s performance in math (p. 689). On African American standardized
tests, he finds strong evidence of stereotype threat that Black greatly
underperformed White in the diagnostic condition but equaled them in the
nondiagnostic condition (p. 690). Therefore, stereotype threat is assumed to
have an everlasting effect on their academic achievement. As a support to
Steele, Aronson (2004) emphasizes that everyone is vulnerable to stereotype
threat. Studies indicate similar effects for women on math tests, Latinos on
verbal tests, and elderly on tests of short-term memory. He adds that even
groups who carry no historical stigma of inferiority can be impaired if one
arranges the situation to their disadvantage.
Schools, colleges, and universities in the United States are becoming
increasingly diverse due to the growth of people of color. Students come
from various linguistic, cultural, and educational backgrounds create a big
challenge for schools in providing equitable classrooms. Diverse students

122 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Promoting Peace Education Through Multicultural Education in Aceh

with different previous academic achievement make it very likely that they
will form a social ranking and once this status has formed, it has negative
consequences for behavior and learning (Cohen and Lotan, 2004, 737-738).
Caruthers (n.d.) suggests some action steps to improve the quality of
teacher and student interactions that range from exploring, understanding,
and acting. During the exploring phase, the teacher should emphasize the
belief that all students can learn. In understanding phase, the teacher uses
curriculum development skills to help students acquire and use knowledge
for instance by incorporating multicultural contents. Finally, in the acting
phase, the teacher focuses on learning, application, and assessment
strategies that provide opportunities to students to demonstrate their skills
in multiple settings.

Employing multicultural education to promote peace education in Aceh


Province
Meirio (2007) argues that peace education is urgent to be implemented
in Aceh Province especially after a 30 year of conflict in order to guarantee the
true peace. He targets the peace education into three community segments
namely ex-combatants, government officers especially military officers,
and civilian. He divides civilian into children and adult. Peace education
for adults can be held in non formal education premises such as meunasah
(prayer hall) and village halls. However, Meirio does not indicate further the
way to build peace education for children on schools. Therefore, it opens
the path in this section to employ multicultural education in promoting
peace education in Aceh Province especially to school students.
Based on Gay’s description and Bennett’s framework, multicultural
education can be viewed as a rich field of study that still requires many
researches and works that are not limited in the U.S. scope as it was reviewed
earlier in this paper, but in the whole world. As for teacher in a multicultural
nation of Indonesia, especially the Aceh Province, there is a necessity to
learn from the U.S. multicultural education practices in order to maintain
tolerance and intergroup harmony in Aceh Province after a long term of
armed conflict.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 123
Muhammad Thalal

Teacher in Aceh Province will need a tool to address ethnicity and


ethnic differences in classroom. It is possible that by utilizing the Critical
Race Theory (CRT), a teacher will be able to create a dynamic classroom that
challenges the old canon, stereotypes and dogmas. CRT will help teacher
to understand the multiple intersections of inequality and ethnicity and
improve a critical awareness in teacher and eventually in students. It will
result in the rise of awareness to respect other human being regardless their
looking as a member of specific ethnic group such as Aceh, Gayo or Singkil.
As a matter of fact, Steele (2004) seems to be right when he stated that
stereotypes are widely disseminated throughout the society. Stereotypes
are not also labeled to specific ethnicity but also to specific gender. Based
on own experience during high school time in Aceh, a male teacher always
tells classroom that female could not assume leadership in the society such
as governor, president and so forth because they are inferior to male. Before
the 2004 presidential election in Indonesia, some politicians postulated
religious verses from the Quran to deny a female presidential candidate.
When the writer was studying at Texas A&M University in the U.S. a male
teacher used to say that if Hillary Clinton is elected president, he will move
to Canada because the U.S. will be a weak country. It is not sure whether
his statement based on his doubt on Hillary’s capacity as professional or
because of Hillary’s gender. Anyway, based on the multicultural education
concept it is imperative to reduce the threats caused by stereotyping because
stereotype threats affect one’s performance.
From the need to reduce or if possible to eliminate stereotypes, peace
education must also take into account the maintenance of vernacular.
Maintaining the vernacular or first language is essential in multicultural
education. The shift to a dominant language is occurring in Aceh Province
since Bahasa Indonesia was pronounced as the only official and educational
language for the whole nation. The fact shows that Acehnese children
started to switch to the Bahasa Indonesia in their daily communication.
Frankly, most Acehnese of the old days are bilingual by nature since they
speak both Acehnese and Bahasa Indonesia. But currently, the vast majority
of Acehnese children start to maintain only the national language and the

124 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Promoting Peace Education Through Multicultural Education in Aceh

vernacular is soon will be forgotten. The loose of vernacular is a sign to a


loose of self-identity which will lead to another conflict in the future.
Cohen and Lotan (2004, 742-746) suggest two ways of “status
treatment” to create equal-status interaction in the classrooms and minimize
the problem of unequal access and learning for low-status students. This
status treatment seems appropriate to be applied in Aceh as well. The first
way is changing expectations for competence by utilizing multiple ability
treatment that highlights specific skills and abilities students need for their
particular tasks rather than assuming that all students can be ranked along a
single dimension of intelligence, and by assigning competence to low-status
students. Both methods will enhance the frequency of activity of low-status
students in their groups. The second way is transforming the classroom by
fostering cooperative learning among students, broadening the curriculum,
utilizing multiple intellectual abilities, and conducting group and individual
performance assessment.

Epilogue
As diversity is on the rise in Aceh Province, a school classroom is a
reflection of its population. Building peace education without taking into
account the diversity of current population in Aceh is likely to succeed
slowly. It should be agreed with Cohen and Lotan (2004) that classroom
is a powerful social system that can create status order much stronger
than race in affecting behavior in groups. Teachers should not assume that
specific students have low social status among their classmates since this
assumption will lower teacher’s expectations on their academic success and
will not help in sustaining the peace education in Aceh Province.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 125
Muhammad Thalal

REFERENCES

Alba, R., Logan, J., Lutz, A., & Stults, B. Only English by the third generation?
Loss and preservation of the mother tongue among the grandchildren
of contemporary immigrants. Demography, 39 (3), 467-484. Retrieved
on March 16, 2008, from Project MUSE, 2002
Aronson, J. (2004). Closing achievement gaps: The threat of stereotype.
Educational Leadership, 62 (3), 14-19.
Banks, J.A. Multicultural education and curriculum transformation. The
Journal of Negro Education, 64 (4), 390-400. Retrieved on February 2,
2008, from JSTOR database,1995
Banks, J. A. An introduction to multicultural education. Boston: Allyn and
Bacon, 2002
Banks, J. A. Multicultural education: Historical development, dimensions,
and practice. In J.A. Banks & C. A. M. Banks (Eds.), Handbook of research
on multicultural education (pp. 3-29). San Francisco: Jossey-Bass, 2004
Barron, Patrick. (n.d.). Managing the resources for peace: Reconstruction
and peacebuilding in Aceh. Conciliation Resources, retrieved on
May 20, 2010 from http://www.c-r.org/our-work/accord/aceh/
reconstruction.php.
Bennett, Christine. Genres of research in multicultural education. Review of
Education Research, 71 (2), 171-217. Retrieved on February 2, 2008,
from Sage Journals database, 2001
Caruthers, L. (n.d.). Classroom interactions and achievement. Retrieved
on March 19, 2008, from http://www.mcrel.org/PDF/Noteworthy/
Learners_Learning_Schooling/loycec.asp.
Cohen, E. G., & Lotan, R. A. Equity in heterogeneous classrooms. In J.A.
Banks & C. A. M. Banks (Eds.), Handbook of research on multicultural
education (pp. 736-750). San Francisco: Jossey-Bass, 2004
Cumming-McCann, Allison. Multicultural education: Connecting theory to
practice. Focus on Basics, 6B, 9-12, 2003
Gay, Geneva. Curriculum theory and multicultural education. In J.A. Banks &
C. A. M. Banks (Eds.), Handbook of research on multicultural education
(pp. 30-49). San Francisco: Jossey-Bass, 2004

126 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Promoting Peace Education Through Multicultural Education in Aceh

Ladson-Billings, Gloria. New directions in multicultural education:


Complexities, boundaries, and critical race theory. In J.A. Banks & C.
A. M. Banks (Eds.), Handbook of research on multicultural education
(pp. 50-65). San Francisco: Jossey-Bass, 2004
Meirio, Akbar. The urgency of peace education in Aceh. The Aceh Institute.
Retrieved on May 20, 2010 from http://www.acehinstitute.org, 2007
Minami, M. & Ovando, C. J.. Language Issues in Multicultural Contexts. In J.A.
Banks & C. A. M. Banks (Eds.), Handbook of research on multicultural
education (pp. 567-588). San Francisco: Jossey-Bass, 2004
Solorzano, D., Ceja, M., & Yosso, T. Critical race theory, racial microagressions,
and campus racial climate: The experiences of African American
college students. The Journal of Negro Education, 69 (1/2), 60-73.
Retrieved on February 2, 2008, from JSTOR database, 2000
Steele, C. M. A threat in the air: How stereotypes shape intellectual identity
and performance. In J.A. Banks & C. A. M. Banks (Eds.), Handbook
of research on multicultural education (pp. 682-698). San Francisco:
Jossey-Bass, 2004
Thalal, Muhammad. The future of Acehnese children: Equity and access to
primary schooling in Aceh province. At-Ta’dib 1(2), 150-159, 2009
Wells, Leah. Islamic peace education in Aceh. CommonDreams.org.
Retrieved on May 20, 2010 from http://www.commondreams.org/
views02/0718-08.htm, 2002, July 18

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 127
Karekteristik Kebudayaan
Aceh dan Implikasinya
Terhadap Kedamaian Hidup
Masyarakat

Fuad Mardhatillah UY. Tiba


Dosen tetap pada Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Menyelesaikan Master dalam bidang Filsafat Pendidikan pada McGill
University, Montreal, Canada

Pentingnya memahami suatu karakter dan identitas suatu etnis

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-


laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di
antara kamu. Sesungghunya Allah Maha Mengenal dan Maha Mengetahui”.
(Q.S. Alquran (49) :13)

Ayat di atas, adalah satu petunjuk Allah, menyangkut hal ikhwal alam
kodrat manusia dalam urusan bagaimana merajut dan membangun suatu
kehidupan bersama baik dalam konteks kehidupan antar individu maupun
antar kelompok masyarakat. Lebih tegasnya, di sini manusia harus dilihat
baik sebagai makhluk yang bersifat individual, yang memiliki egositas
(potensi dan kecendrungan untuk lebih mementingkan diri sendiri),
bersama sejumlah karakteristik individualnya yang juga saling berbeda
antara satu individu dengan individu lain. Maupun sebagai makhluk sosial
yang meniscayakan bahwa manusia tidak mungkin hidup sendiri-sendiri,

129
Fuad Mardhatillah UY. Tiba

yang maka kemudian melahirkan kehidupan perkelompokkan, yang antara


satu kelompok dengan kelompok lain juga saling berbeda.
Dalam ayat tersebut, Tuhan memberi pedoman kepada manusia yang
berpikir, bahwa eksistensi makhluk manusia memiliki sifat-sifat, hukum-
hukum dan norma-norma yang secara kodrati melekat sebagai suatu
keniscayaan universal.
Konsekwensi logisnya, kehidupan manusia yang berkelompok-
kelompok itu mensyaratkan perlunya membangun relasi, interaksi,
komunikasi, interkoneksi dan jejaringan dan kerjasama, untuk kemudian
satu sama lain hendaknya menjadi saling mengenal, mengerti dan
memahami, bersama segala bentuk keharusan sosiologis (sociological-
must) lainnya, seperti keharusan tolong menolong, berkorban, toleransi dan
akomodasi. Karena hal-hal tersebut adalah sangat berperan penting dan
berguna dalam membangun dan membina suatu tata kehidupan bersama
yang harmonis, saling mengayom dan mendamaikan.
Maka, bahwa sifat eksistensial umat manusia yang niscaya hidup
secara berkelompok-kelompok dan satu sama lain memiliki aneka
perbedaannya masing-masing itu, baik secara formal, simbolik, substansial
maupun esensial, adalah sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan,
dipahami dan disadari sebagai sesuatu yang absah, wajar dan logis-rasional.
Perbedaan-perbedaan yang ada dalam dan antar kelompok itu merupakan
suatu hasil konstruksi historisitas sosial yang berlangsung secara alamiah,
dan terbangun melalui proses-proses rasionalitas, emosionalitas dan
spiritualitas tertentu, baik yang tumbuh di dalam kelompoknya masing-
masing, maupun saat mereka harus hidup berdampingan dengan berbagai
kelompok lain yang ada di sekeliling eksistensinya. Dan secara tak terelakkan
semua proses tersebut membentuk perbedaan-perbedaan antar kelompok,
yang terus terjadi sepanjang sejarah sejak kelahiran dan hingga terbentuknya
kelompok (etnis) itu sendiri. Kemudian semua produk historisitas sosial
itulah yang turun temurun diwariskan secara transgenerasional, dari satu
generasi ke generasi selanjutnya, sepanjang sejarah eksistensinya.
Dari realitas pengalaman sejarah kehidupan berkelompok yang
panjang ini, terbentuklah berbagai unsur alam pikiran dasar yang meliputi:

130 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Karekteristik Kebudayaan Aceh dan Implikasinya Terhadap Kedamaian Hidup Masyarakat

world-view, common sense, kepercayaan, tata-nilai, upacara-upacara dan


prinsip-prinsip, system kebudayaan, mitologi, totemisme dan ritual. Semua ini
disepakati, dipercayai, dipegang-teguh dan diyakini secara bersama sebagai
kaedah-kaedah normatif yang mengikat dan mejadi elemen-elemen dasar
bagi konstruksi kehidupan bersama kekelompokan mereka. Kaedah-kaedah
normative ini, terkadang memiliki tingkat sakralitas tertentu, yang sangat
dipengaruhi oleh berbagai ajaran agama, latar filosofi kehidupan dalam
menata kehidupan bersama, yang kemudian dianggap agung, dimuliakan
dan muncul menjelma ke dalam dan mewarnai pola-pikir dan pola prilaku,
yang pada gilirannya menjadi kebiasaan kelompok, adat istiadat dan
kebudayaannya.
Oleh karenanya, faktor-faktor ethnografis yang saling berbeda antar
kelompok itulah yang kemudian mengisyaratkan perlunya jalinan hubungan
interaksional, yang satu sama lain harus melakukan aksi-aksi untuk saling
“kenal-mengenal,” yang hendaknya selalu dapat berlangsung secara kreatif,
inovatif dan produktif dari individu dan antar kelompok yang saling
berbeda-beda itu. Di sini, konteks interaksi kreatif, inovatif dan produktif
itu harus dipahami sebagai suatu kesediaan dan kerelaan, baik antar warga
dalam suatu kelompok etnis (ingroup relation), maupun antar kelompok
(outgroups relation). Di sini, setiap warga dan kelompok harus telah memiliki
dan menciptakan serbaneka cara atau jalan untuk mencari tahu secara
berkelanjutan, tentang seluk beluk satu sama lain, agar kemudian mereka
dapat saling “kenal-mengenal” tentang spesifikasi dan keunikan yang
dimiliki masing-masing kelompok, di luar kelompok dirinya sendiri.
Pada dasarnya, kesediaan untuk saling kenal-mengenal ini, hanyalah
suatu kegiatan saling belajar dan mempelajari belaka, tentang berbagai
keunikan masing-masing kelompok masyarakat etnis atau suku, yang
ternyata satu sama lainnya memang berbeda-beda dalam berbagai bentuk
perbedaan yang sangat variatif. Dari kegiatan belajar terhadap berbagai
bentuk perbedaan itu, diharapkan dapat menciptakan dan menumbuhkan
suatu kesadaran imajinatif, dimana setiap pribadi yang terpelajar itu mampu
selalu menyiapkan diri untuk bersedia memahami keberadaan orang-orang
lain dengan segala bentuk perbedaan yang berbeda dengan dirinya.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 131
Fuad Mardhatillah UY. Tiba

Kesadaran semacam itulah yang oleh Elene Scarry disebut spontaneous


imaginative, yang secara fungsional digunakan untuk memahami, mengerti
dan menghargai keragaman yang terdapat dalam kelompok-kelompok
masyarakat. Jika banyak dari warga terpelajar, termasuk para local
genius nya suatu kelompok masyarakat, memiliki kapasitas spontaneous
imaginative ini, maka dapat dipastikan akan tercipta suatu kesalingan
timbal-balik dalam jalinan komunikasi dan interaksi sosial yang konstruktif
dalam menyusun, membangun, dan membina suatu kehidupan bersama
yang penuh pengertian dan mendamaikan.
Semua pemikiran di atas sungguh merupakan cita-cita ideal kehidupan,
yang menjadi hukum kodrat atau natural-law dari makhluk manusia, yang
di satu sisi menunjukkan kodrat egosentrisme yang memusatkan segala
kesadarannya untuk lebih cendrung pada pementingan diri keakuannya.
Darisini menumbuhkan sifat-sifat alamiah manusia yang sangat cinta pada
diri sendiri (egoistic).1 Namun, di sisi yang lain, manusia juga memiliki
dimensi sosiologis bersama dengan segala keharusan altruistiknya, yang
juga merupakan kodrat alamiahnya. Dari dua sisi kodrati manusia yang
terkesan bertentangan secara diametral ini, terciptalah gaya tarik-menarik
yang cendrung membentuk polarisasi ekstrim antar kedua dorongan
kodrati tersebut. Disini, dorongan egoisme individual tampaknya seringkali
mampu membuat berbagai keharusan altruistik itu menjadi terpinggirkan
dan bahkan ekstrimnya boleh jadi menjadi terabaikan sama sekali.
Oleh karena itu, dari kecendrungan kepada dorongan egositas
individualisme tersebut, membentuk berbagai kesulitan atau hambatan
internal-psychologis, baik dalam konteks psychologi individual maupun

1
Secara fenomenologis, bahwa pementingan dan bahkan pengagungan terhadap diri
atau kelompok sendiri merupakan bagian dari ketaksadaran manusia yang seringkali
mempengaruhi pola-pola nilai dan ideologi seseorang atau dalam lingkup yang lebih
luas menjadi kesadaran suatu kelompok masyarakat etnis tertentu ketika ia berpikir,
mempertimbangkan dan bereaksi dalam merespon segala sesuatu yang berhubungan dengan
orang lain. Untuk kajian fenomenologi terntang ketaksadaran manusia ini, baca misalnya,
Alice Kasakoff, “Levi Strauss’ Idea of Social Unconscious: The Problem of Elementary and
Complex Structures in Gitksan Marriage Choice,” dalam Ino Rossi, (ed.), The Unconscious
in Culture, the Structuralism of Claude Levi Strauss in Perspective (New York: E.P Dutton
& Co, Inc, 1974), 143-165.

132 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Karekteristik Kebudayaan Aceh dan Implikasinya Terhadap Kedamaian Hidup Masyarakat

psychologi komunal (kekelompokan) dalam membangun kesediaan setiap


dirinya, untuk selalu berkenan mencoba mempelajari, mengenali, memahami
dan menghormati orang lain, dan/atau lebih luasnya kelompok lain (respect
for others). Dalam lingkaran kesadaran yang lebih luas, kecendrungan
egositas itu berakumulasi menjadi kesadaran kelompok, dan selanjutnya
menjadi kesadaran ethnografis dari suatu kelompok rumpun etnis/bangsa.2
Ketika perihal hakikat jati-diri manusia seperti yang telah diutarakan
di atas dihubungkan dengan terjadinya berbagai konflik, pertikaian dan
bahkan permusuhan umat manusia, maka faktor-faktor dan elemen-elemen
kodrati dari eksistensi manusia itu perlu dan penting untuk dicermati,
ditelusuri, diteliti, dipelajari, dipahami dan dihargai sedemikian rupa,
baik dalam konteks hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, maupun
dengan konteks kelembagaan kelompoknya (ingroup) dan dengan konteks
orang-orang di luar kelompoknya (outgroup).
Sebaliknya, dapat diyakini pula, bahwa harmoni yang misalnya
terbangun dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat, itu juga semestinya
dipahami sebagai adanya seperangkat world-view atau common sense yang
berlaku dan mengikat komitmen mereka dalam kebersamaan. Inilah yang
secara historis diturunkan untuk diterima, diwarisi, dipegang teguh secara
bersama oleh setiap warga suatu kelompok masyarakat sebagai tata-nilai,
karakter, sifat dan adat-istiadat. Dan kemudian digunakan sebagai patron
dalam membina suatu kelembagaan kehidupan bersama dalam kelompok
masyarakatnya.
Sementara adanya suatu harmoni dan kedamaian hidup berdampingan

2
Dalam konteks berbagai kesulitan yang mungkin mucul dalam membina kesediaan untuk
memikirkan orang atau kelompok lain, baik yang orang-orang dikenal (acquaintances) maupun
yang tidak dikenal (foreigners) lain, ada deskripsi dan ilustrasi menarik yang penting dibaca
dan direnungkan, sebut misalnya buah pikiran Elene Scarry, “The Difficulty of Imagining
Other Persons” dalam Eugene Weiner, (ed.), The Handbook of Interethnic Coexistence,
(New York: The Continuum Publishing Company, 1998), 40-62. Kesulitan tersebut potensial
untuk kemudian berkembang menjadi dorongan membenci eksistensi kelompok atau orang
lain, yang seterusnya dapat memuarakan aneka kekerasan. Untuk mengatasi kemungkinan
ekstrim tersebut, ia mengusulkan penting adanya semacam constitutional design, tempat
dimana spontaneous imaginative dapat berlangsung dan berkembang, dalam misalnya suatu
komunitas masyarakat di suatu negara atau antar negara/bangsa.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 133
Fuad Mardhatillah UY. Tiba

dengan kelompok-kelompok lain yang ada di sekelilingnya, adalah juga hasil


yang diperoleh setelah mereka satu sama lainnya saling mampu menghargai
world view mereka masing-masing, bersama seluruh turunan rasional
dan irrasionalnya, seperti system mitos dan tabu. Maka dari situ tumbuh
semacam kesepahaman yang dapat secara bersama dirumuskan menjadi
tata-nilai, prinsip dan cita-cita universal, seperti keadilan dan kesejahteraan,
dalam konteks kehidupan bersama antara kelompok masyarakat.
Maka dapatlah disimpulkan bahwa keharmonisan hidup umat manusia
yang memiliki sifat-sifat individual dan social, selalu sangat ditentukan
oleh sejauhmana setiap individu, baik secara sendiri-sendiri maupun
bersama-sama, mampu menempatkan kepentingan individualnya secara
tepat, seimbang dan tidak berlebihan serta sebanding dengan keharusan
mempertimbangkan kepentingan orang-orang lain atau kelompok-
kelompok lain.3

Metodologi dan pendekatan dalam memahami karakter dan identitas.


Sebelum memahami “karakter” dan “identitas” suatu kaum, kiranya
perlu lebih dulu dijelaskan apa batasan pengertian (definisi) yang sebenarnya
terkandung dalam ke dua kosa-kata tersebut. Sehingga jelas apa focus dan
objek yang ingin dicermati dalam konteks kehidupan kolektif perkauman
(etnis), baik secara personal maupun komunal. Dalam hal ini, karakter dan
identitas yang ingin ditelusuri itu, adalah sangat berhubungan dengan
persoalan bingkai pola-nilai yang menyifati dan menandai keberadaan
suatu kaum, dalam segala aktivitas dan aktualitas kehidupannya yang
multi aspek. Ini berarti bahwa, ketika seseorang berada di tengah orang-
orang lain (ingroup maupun outgroup), baik secara sadar maupun tak-
sadar, semua ucapan dan tindakannya selalu berlangsung bersama segala

3
Problem ketidak-seimbangan dan tarik-menarik antar kepentingan keakuan dan tuntutan
social inilah sering menjadi sumber masalah bagi munculnya suasana ketidak-damaian
dalam kehidupan masyarakat, dan dalam konteks kekelompokan antar kelompok untuk
dapat hidup berdampingan secara damai dan saling menguntungkan. Untuk mencermati
bagaimana sejarah imajinasi komunitas etnis tertentu dalam memahami keberadaan suatu
kelompok lain yang ada disekelilingnya, baca misalnya, Comaroff, Jean, Ethnography and
the Historical Imagination (Oxford, San Fransisco: Westview Press, 1992).

134 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Karekteristik Kebudayaan Aceh dan Implikasinya Terhadap Kedamaian Hidup Masyarakat

simbol dan substansinya, yang secara kolektif mencirikan sifat dan tanda
keberadaannya. Dengan demikian, sifat dan ciri yang dimiliki bersama itu
berlangsunglah proses identifikasi diri, bersama interpretasi dan interaksi
seseorang sebagai anggota dari suatu kaum atau kelompok masyarakat,
dalam menanggapi dan bertindak, dimana di dalamnya terdapat unsur-
unsur yang secara kolektif menjadi pengikat dan pemersatunya.4
Jadi batasan pengertian dari apa yang kita pahami dan sebut sebagai
karakter adalah, sifat-sifat atau watak-watak yang secara historis dimiliki para
warga suatu kaum. Sifat dan watak ini, pada awalnya tidak terbentuk begitu
saja, tetapi merupakan hasil yang terbentuk setelah adanya pertimbangan-
pertimbangan dan proses-proses rasionalitas betapapun dangkalnya. Maka
barangkali lebih banyak dipengaruhi oleh emosionalitas dan imagi-imagi
yang secara intriksik melekat dalam keinginan “ego-kolektif” suatu kaum.
Ini semua lantas membentuk semacam basic personality structure,5 dan
kemudian diwariskan secara transgenerasional.
Sifat dan watak yang terlahir dan terbentuk dari pertimbangan
dan proses-proses rasionalitas, emosionalitas dan imagi-imagi ini, secara
dominan kembali mempengaruhi pola-pikir dan pola manifestasinya dalam
peri-laku individu-individu dalam menyikapi berbagai suasana dan problema
hidup sehari-hari, dyang berjalan dalam rentangan sejarah eksistensinya
yang panjang, sehingga lepas dari segala kesadaran awal saat ia terbentuk

4
Melalui perspektif teori Interaksionisme Simbolis, dapatlah ditegaskan bahwa tindakan
sosial merupakan tindakan individu yang lahir dari hasil tafsiran, tanggapan dan peranan
seseorang yang sebelumnya telah memiliki warisan pola berpikir dan cara bertindak tertentu
yang kiranya sangat sulit untuk dirubah, tanpa adanya suatu pendekatan transformative
tertentu yang tepat, yang lebih dulu mampu memahami dan mempertimbangkan unsure-
unsur esensial yang terkandung di fdalam pola dan cara yang telah diwariskan itu. Untuk
lebih lanjut baca, misalnya, Margaret M. Poloma, (terj.), Sosiologi Kontemporer (Jogjakarta:
Yayasan Solidaritas Gadjah Mada, 1984), 268-278.
5
Basic Personality Structure merupakan suatu entitas kepribadian yang tersusun dari unsur-
unsur karakter dan identitas yang terdapat dalam pikiran setiap warga dari suatu kelompok
masyarakat etnis yang kiranya penting untuk dipahami. Namun, pemahaman itu bukan
dalam konteks penaklukan, tetapi lebih dalam konteks membangun harmoni, yang dapat
menghindarkan kita dari kemungkinan-kemungkinan konflik yang seharusnya tak perlu
terjadi. Untuk lebih detilnya, baca misalnya, Philip K. Bock, Continuities in Psychological
Anthropology, (San Franscisco: W.H. Freeman Company, 1980), khususnya, 85-95.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 135
Fuad Mardhatillah UY. Tiba

dulu. Maka para warga suatu kaum yang datang kemudian tidak lagi merasa
perlu mengkritisinya, namun dipakai begitu saja baik dalam konteks
dirinya sendiri sebagai individu, maupun dalam konteks sebagai warga dari
perkaumannya (etnis).
Dengan adanya konsep pemahaman sifat dan watak individual para
warga dari suatu kaum seperti itulah, menuntut para outsiders untuk
berkenan memberikan pertimbagan, pengertian dan penghargaannya.
Karena ini merupakan hasil konstruksi sosial alamiah, yang boleh
jadi juga rasional, adalah salah satu faktor penting yang perlu dimiliki
dan dihayati lebih dulu, ketika suatu konstruksi kehidupan bersama
secara berdampingan dari berbagai etnis ingin dibangun. Meskipun
kita menyadari, ada berbagai kesulitan yang dimiliki para outsiders
untuk membayangkannya dan sekaligus bersedia mempertimbangkan.
Khususnya ketika para outsiders merasa memiliki kekuasaan, dimana
ia kemudian berkeinginan membangun hegemoni atas keberadaan
kelompok-kelompok lain yang ingin dikuasai.
Untuk menjelajahi dan lantas memahaminya, berbagai karakter dan
identitas etnografis keacehan dapat digunakan pendekatan semiotika
bahasa yang perlambangannya tersusun dalam berbagai proverb atau
dalam ungkapan lokal disebut Hadih Madja yang telah eksis sejak ratusan
lalu dan hingga kini masih diakui oleh masyarakat Aceh sebagai sesuatu
yang wajar atau benar. Hadih Madja ini adalah suatu ungkapan padat
dan singkat yang mengandung kebenaran umum atau pembenaran yang
memiliki filosofi hidup tersendiri, yang lahir dari suatu kesadaran tentang
suatu aspek kehidupan, setelah berlangsung dalam rentangan sejarah yang
panjang. Sehingga semua ungkapan itu tidak lagi dimungkinkan untuk
diketahui siapa sesungguh penggagas dan pengucap pertamanya. Namun,
secara etnografis, hadith madja ini telah diterima masyarakat Aceh sebagai
sebuah kebenaran dan pembenaran yang muatan dan isinya dapat memberi
gambaran tentang karakter dan identitas etnis Aceh. Jadi kandungannya
dapat dipahami sebagai sebuah warisan yang diturunkan secara turun
temurun, meskipun untuk sebagiannya, pada hari ini barangkali, sudah
tidak lagi diterima sebagai kebenaran yang perlu dipertahankan.

136 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Karekteristik Kebudayaan Aceh dan Implikasinya Terhadap Kedamaian Hidup Masyarakat

Tetapi secara umum, banyak dari Hadih Madja ini yang masih sangat
diterima oleh masyarakat Aceh sebagai diktum aksiomatik, yang seringkali
memberi justifikasi terhadap prilaku budaya, meskipun terkadang sangat
tidak rasional, atau sangat emosional, namun cukup dipandang wajar.

Hubungan timbal-balik antara karakter/identitas dan perdamaian


Jika karakter yang menjadi identitas budaya suatu etnis itu ditelusuri
implikasi nya terhadap penciptaan suasana kehidupan bermasyarakat,
tentu akan memperlihat suatu hubungan timbal-balik dan kausalitas yang
amat dekat dan potensial, baik bagi membangun masyarakat yang damai
ataupun sebaliknya yang merusak perdamaian. Sebut saja misalnya sikap
keras yang muncul dalam sikap-sikap yang militan dan ekstrim (ni bak sihet,
leubeh got roe, ni bak puteh mata leubeh got puteh tuleung, dll) yang jika
dihubungkan dengan cara-cara menyelesaikan konflik yang sering muncul
dalam masyarakat, tentu saja kekerasan kemudian cendrung digunakan
dalam upaya menyelesaikan pertikaian. Ini tentu saja besar pengaruhnya
bagi rusaknya suasana hidup yang aman dan damai. Demikian pula, karakter
budaya yang suka berterus-terang, atau blak-blakan yang terkadang dapat
pula membuat situasi menjadi tegang dan bermusuhan.
Akan tetapi, dalam budaya Aceh, sebenarnya juga telah ada suatu
mekanisme penyelesaian konflik dengan menggunakan kearifan lokal sebagai
jalan penyelesaian-nya. Dengan metoda ini, kebijakan lokal menggunakan
mekanisme pengakuan bersalah dan pembayaran konpensasi sebagai jalan
untuk meniadakan permusuhan yang berkelanjutan antara para pihak yang
bertikai. Terlihat disini, bahwa di satu pihak terdapat budaya kekerasan
dalam masyarakat, namun di pihak lain terdapat kearifan local yang coba
menengahi pertikaian masyarakat yang secara tradisional telah diterima
masyarakat tempo dulu sebagai suatu dispute settlement.
Jadi dapatlah disimpulkan disini, bahwa ada sejumlah karakter
budaya Aceh yang punya potensi untuk merusak suasana damai dalam
suatu hubungan pergaulan, disaat satu sama lain tidak cukup paham
karakter kebudayaan dari masing-masing pihak dan tidak arif dalam
mencari penyelesaian.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 137
Fuad Mardhatillah UY. Tiba

Wali Nanggroe: sebuah alternatif pemersatu


Melihat pada konteks raison d’etre sebagai landasan keinginan
masyarakat Aceh terhadap institusi Wali Nanggroe, seperti yang tersebut
dalam UUPA (pasal 96, ayat 1), agaknya ada kebutuhan masyarakat Aceh
tentang perlunya lembaga yang berfungsi sebagai penjaga adat-istiadat, nilai-
nilai luhur kebudayaan dan sekaligus berfungsi sebagai lembaga pemersatu
masyarakat. Padahal dalam sejarah Aceh agaknya belum pernah dikenal
adanya lembaga semacam Wali Nanggroe ini. Yang pernah ada adalah
lembaga Qadhi Malikul Adil yang fungsinya lebih sebagai lembaga Yudikatif
yang punya wewenang untuk mendelegitimasi keputusan-keputusan politik
eksekutif (Sulthan).
Akan tetapi, lembaga Wali Nanggroe ini dipandang perlu keberadaannya
sekarang, setelah dirasakan adanya semacam ancaman memudar, melemah
dan bahkan cebdrung menghilangnya berbagai kekayaan adat dan budaya
Aceh di tengah budaya masyarakat Aceh hari ini, yang juga dirasa tidak
menyenangkan. Maka persoalannya adalah, sejauh mana fungsi lembaga
wali nanggroe dapat pula menjadi sebuah kekuatan yang berfungsi sebagai
perekat persatuan masyarakat Aceh dan sekaligus menjadi penjaga
perdamaian?

138 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Karekteristik Kebudayaan Aceh dan Implikasinya Terhadap Kedamaian Hidup Masyarakat

DAFTAR PUSTAKA

Amin, S.M. Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh. Jakarta: Soerongan, 1956.


Bernard, H. Russel. Handbook of Methods in Cultural Anthropology.
California: Altamira Press, 1998.
Carmejoole, P.J. Atjeh. Groningen, 1931.
Coakley, John. The Territorial Management of Ethnic Conflict. London: Frank
Cass and Co. Ltd., 1993.
Comaroff, Jean. Ethnography and the Historical Imagination. Oxford, San
Fransisco: Westview Press, 1992.
Flynn, Pierce J. The Ethnomethodological Movement, Sociosemiotic Interpre-
tations. New York: Walter de Gruyter & Co, 1991.
Forbes, H.D. Ethnic Conflict: Commerce, Culture, and the Contact Hypo-
thesis. New Haven. London: Yale University Press, 1997.
Fukuyama, Francis. The End of History and the Last Man. New York: the Free
Press, 1992.
Gellner, Ernest. Nations and Nationalism. Ithaca, NY: Cornell University
Press, 1983.
Ra’anan, Uri, et.al., (eds.), State and Nation in Multi-ethnic Societies. New
York: Manchester University Press, 1991.
Reid, Anthony J.S. The Contest of North Sumatra. Kuala Lumpur: Univer-sity
of Malaya Press.
Said, Muhammad. Centuries Along with the Acehnese History. Medan, 1961.
Siddiqi, Mazheruddin. The Quranic Concept of History. Karachi: Central
Institute of Islamic Research, 1965.
Stavenhagen, Rudolfo. Ethnic Question: Conflict, Development and Human
Rights. Tokyo: United Nation University Press, 1990.
Tiskov, Valery A., et.al, (eds.), Ethnicity and the Power in the Contemporary
World. Tokyo: United Nation University Press, 1994.
Weiner, Eugene. The Handbook of Interethnic Coexistence. New York:
Continuum Publishing Company, 1998.
Wicker, Hans-Rudolf. Rethinking Nationalism and Ethnicity, the Struggle for

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 139
Fuad Mardhatillah UY. Tiba

Meaning and Order in Europe. New York: Berg Publisher, 1997.


Willet, Cynthia. Theorizing Multiculturalism: A Guide to the Current Debate.
Massachusets: Blackwell Publisher, 1998.
Will, Kymlicka. Multicultural Citizenship. Oxford: Clarendon Press, 1995.
Wuthnow, Robert, et.al., (eds.). Cultural Analysis. London: Routledge, 1984.
Yinger, J. Milton. Ethnicity: Source of Strength? Source of Conflict?. New York:
State University of New York Press, 1994.

140 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Pendidikan
Damai dalam Membangun
Perdamaian di Aceh

Asmawati
Dosen tetap pada Fakultas Ekonomi, Universitas Abulyatama, Aceh.
Menyelesaikan S-1 pada Pendidikan Matematika Universitas Syiah
Kuala, S-2 pada Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Universitas
Syiah Kuala, sekarang sedang menyelesaikan program Doktor dalam
Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan pada Universitas Syiah
Kuala, Banda Aceh

Pendahuluan
Penandatanganan Nota Kesepahaman antara GAM dan Pemerintah RI
telah mengantarkan rakyat Aceh ke dalam babak baru yang dicita-citakan
yaitu perdamain. Namun demikian, damai yang telah tercapai barulah
damai dalam arti sempit (pasif) yaitu tidak ada lagi peperangan. Sementara
damai dalam arti luas (aktif) adalah damai yang memenuhi kondisi keadilan
sosial, kesejahteraan masyarakat, penegakan dan penghormatan hak azasi
manusia, perlu terus diupayakan pencapaiannya. Johan Galtung (seperti
ditulis Ghifarie 2010) mengartikan perdamaian sebagai tiadanya kekerasan
struktural, kultural, dan personal. Dengan demikian, menghilangkan semua
bentuk kekerasan tersebut harus merupakan agenda paling penting dalam
pembangunan Aceh pasca perjanjian damai. Ibarat pohon, perdamaian
Aceh merupakan pohon muda yang perlu dirawat agar tumbuh menjadi
pohon perdamaian yang kuat.
Terkait dengan perdamaian, Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu
Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) memberikan sejumlah karakteristik:
“1) perdamaian itu dinamis; 2) perdamaian itu merupakan penyelesaian

141
Asmawati

masalah yang adil tanpa kekerasan; 3) perdamaian itu menghasilkan


keseimbangan dalam interaksi sosial sehingga manusia hidup dalam relasi
yang harmonis; 4) perdamaian itu baik untuk masyarakat; 5) bila ada
kekerasan, tidak akan ada perdamaian; 6) supaya ada keseimbangan dalam
dinamika interaksi sosial, perdamaian harus berdiri di atas keadilan dan
kebebasan; 7) bila ada ketidakadilan dan ketidakbebasan, tidak akan ada
perdamaian” (Suparno, 2008).
Lebih lanjut tentang pentingnya membela perdamaian, Boutros-
Ghali (1993) menyatakan “Tanpa perdamaian tidak ada pembangunan
dan demokrasi. Tanpa pembangunan, basis demokrasi akan hilang
dan masyarakat cenderung jatuh dalam konflik. Dan tanpa demokrasi,
pembangunan berkelanjutan tidak akan terjadi, dan tanpa pembangunan
seperti itu, perdamaian yang panjang tidak dapat dipertahankan”. Dengan
demikian. dapat dikatakan bahwa karakter masyarakat dalam perdamaian
yang aktif adalah masyarakat yang terus melakukan perubahan-perubahan
untuk mencapai keadilan dan hidup harmonis tanpa ada kekerasan dalam
bentuk apapun.
Didasarkan pada karakteristik tersebut, maka dapat dikatakan
perdamaian itu sendiri merupakan suatu proses sekaligus juga tujuan,
karenanya membangun perdamaian atau peace building adalah proses yang
tak pernah berhenti. Heathershaw (2007) menyebutkan peace building dalam
praktek sebagai “travelling concept” yang akan menemukan pengertian
baru di wilayah mana ia diimplementasikan. Ini dapat diartikan bahwa
membangun perdamaian adalah proses yang terintegrasi dengan potensi
lokal, baik potensi yang dapat mendukung proses perdamaian maupun
potensi yang dapat memicu konflik kekerasan.

Masyarakat Aceh pasca konflik


Dalam konteks Aceh, harus disadari, konflik dengan kekerasan yang
berlangsung lebih dari tiga dasawarsa telah mengakibatkan pergeseran nilai
dalam masyarakat. Nilai-nilai yang dapat memperkuat kohesi sosial telah
luntur. Nilai kebersamaan, demokrasi dan gotong royong, mulai berganti
dengan nilai yang sangat mementingkan diri sendiri dan kelompok, egois

142 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Pendidikan Damai dalam Membangun Perdamaian di Aceh

dan tidak peduli pada kepentingan orang lain. Hubungan sosial mulai
berganti dengan nilai hubungan yang bersifat materi. Nilai musyawarah
dan demokrasi berganti dengan pemaksaan kehendak dan kekerasan.
Kemandirian dan sikap optimis mulai berganti dengan ketergantungan dan
sikap apatis. Dalam hal ini, Meirio (2007) menyatakan bahwa “di beberapa
tempat di Aceh, kini bisa dijumpai orang-orang yang mempunyai karakter
yang oleh Thomas Hobbes menyebutkannya sebagai “evil” yaitu orang-
orang yang tidak patuh pada aturan yang berlaku dan menghalalkan cara-
cara kekerasan untuk mencapai tujuan”.
Di sisi lain, kondisi masyarakat Aceh saat ini memperlihatkan
fenomena adanya segmen-segmen dalam masyarakat akibat konflik.
Pertama, yang paling dominan adalah kelompok yang merasa paling berjasa
dalam perjuangan mewujudkan Aceh seperti saat ini (dimana kekuasaan
yang lebih besar diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah Aceh dalam
mengurus pemerintahan sendiri dan pembagian hasil yang lebih besar dari
sumber daya hidrokarbon yang dimiliki). Kelompok ini, mempunyai akses
yang cukup baik pada kekuasaan, informasi dan sumber daya. Kedua, adalah
kelompok masyarakat yang merasa berjasa dalam perjuangan tetapi tidak
memiliki akses pada kekuasaan, informasi dan sumber daya. Kelompok
ketiga adalah mereka yang menjadi korban konflik baik langsung maupun
tidak langsung dan tidak mempunyai akses pada informasi, kekuasaan dan
sumber daya. Kelompok ini jumlahnya lebih besar. Keempat, kelompok
masyarakat profesional, yang memiliki akses tetapi terbatas pada sumber
daya, informasi dan kekuasaan.
Selain itu, bantuan langsung yang diberikan pemerintah kepada
masyarakat melalui badan-badan, dinas-dinas, atau organisasi non pemerintah,
disinyalir berpotensi memunculkan konflik baru dalam masyarakat
akibat adanya persaingan untuk mendapatkan bantuan, dan berdampak
memunculkan ketergantungan. Seringkali kita mendengar ungkapan “saya
juga korban tetapi belum pernah mendapat bantuan dari manapun”.
Ekses dari konflik dan perang sampai hari ini masih menyisakan
rasa sakit hati dan dendam di hati korban, terutama jika pelaku dengan
jelas diketahui dan tinggal bersama dalam satu wilayah. Hal ini berpotensi

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 143
Asmawati

menimbulkan ketegangan antar personal dan antar keluarga, jika tidak


diselesaikan dengan baik. Dendam juga bisa dialamatkan kepada institusi
atau pemerintah. Saya mengenal seorang ibu yang anaknya menjadi korban
penculikan dan hilang. Ibu itu mengetahui dengan pasti salah seorang yang
melakukannya. Meskipun pelaku itu juga menjadi korban dan telah meninggal,
tetapi ibu itu mengakui sulit melupakan dan merasa sakit hati pada keluarga
pelaku. Walaupun ia menyadari dan mengakui keluarganya sama sekali tidak
berdosa. Sebenarnya hanya satu keinginan ibu itu, yaitu mengetahui dimana
kuburan anaknya. Ini hanya satu contoh, masih banyak kejadian serupa
yang sampai hari ini belum diselesaikan, termasuk pelecehan seksual dan
perkosaan. Belum ada pengungkapan kebenaran dan rekonsiliasi.
Pergeseran nilai-nilai yang dianut, dan segmentasi yang tercipta dalam
masyarakat, memunculkan kekhawatiran tentang adanya kemungkinan
hasil pembangunan yang timpang. Dimana sebagian besar hasil-hasil
pembangunan hanya dinikmati dan dikuasai oleh sebagian kecil penduduk,
dan bagian terbesar penduduk hanya menikmati bagian sisa yang kecil
dari kue pembangunan. Pertumbuhan ekonomi misalnya, secara makro
kemungkinan akan cukup baik, tetapi soal pemerataan kemungkinan akan
sangat buruk. Hal ini akan memunculkan kemiskinan struktural yang parah
dan luas, selanjutnya dapat memberikan efek sangat yang buruk pada
pembangunan perdamaian. Karena bagaimanapun, kemiskinan adalah
suatu bentuk penjajahan non fisik. Aturan kelembagaan, dan kebijakan
sosial politik terkadang justru melestarikan dan memunculkan kemiskinan.
Ditambah lagi dengan adanya persoalan-persoalan masa konflik yang belum
menemukan penyelesaian dan keadilan, akan semakin berpengaruh buruk
pada pembangunan perdamaian.
Mengenai hubungan kemiskinan dan perdamaian, Paus Benedictus
seperti ditulis Wawan (2009) mengatakan, “kemiskinan kadang merupakan
suatu faktor pembentuk konflik”. Selanjutnya Ketua Komite Nobel
Norwegia tahun 2006, Ole Danbolt Mjoes, menegaskan,”perdamaian
yang berkelanjutan tak akan bisa diraih jika sebagian besar warga tidak
menemukan jalan untuk keluar dari jeratan kemiskinan”. Berikutnya,
Direktur Institut Norwegia untuk Masalah Internasional Sverre Lodgaard

144 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Pendidikan Damai dalam Membangun Perdamaian di Aceh

juga mengatakan, “Tantangan bagi perdamaian dunia makin berbeda dari


tahun ke tahun. Kita makin sadar bahwa ada gejala baru yang berdampak
negatif pada keamanan kita. Perdamaian tidak saja berupa ketiadaan perang
tetapi juga ketiadaan faktor-faktor yang menyebabkan perang, Salah satu
penyebab perang, yakni kelaparan dan kemiskinan, harus diatasi mulai dari
akarnya” (Kompas, 14 Oktober 2006). Membebaskan orang dari kemiskinan
adalah membebaskan orang dari kekerasan. Dan, membebaskan orang dari
kekerasan adalah modal menciptakan perdamaian. Singkatnya, seluruh
kebebasan, termasuk kebebasan dari kemiskinan pada masa sekarang
(terutama di negara-negara miskin) jauh lebih penting dari sekedar bebas
dari kekerasan dan perang. Mengatasi kemiskinan lebih penting dari
sekedar menghadirkan perdamaian. Dus, kalimat “apalah artinya damai jika
miskin,” sangat mewakili, demikian Tjakrawerdaja (2007).
Pendapat-pendapat tersebut semakin memberikan kesadaran
bahwa diperlukan suatu upaya yang sistematis untuk menjaga jangan
sampai pembangunan Aceh hanya terfokus pada pertumbuhan tanpa
mempertimbangkan faktor pemerataan (equity). Baik pemerataan antar
lapisan masyarakat/segmen maupun antar region. Bagaimanapun,
disparitas pembangunan antar region juga mungkin akan terjadi, dilihat dari
kondisi yang digambarkan di atas. Jika ini terjadi akan sangat berpotensi
mengancam upaya membangun perdamaian. Kesadaran akan adanya saling
ketergantungan antar region, sangatlah penting.

Pendidikan damai untuk membangun perdamaian


Seyogianya, membangun perdamaian harus merupakan konsep
yang terintegrasi dengan membangun bangsa (nation building) atau
pembangunan itu sendiri. Kegiatan membangun perdamaian merupakan
kerja yang terintegrasi dari banyak komponen dan dapat dilihat dalam tiga
aspek sebagai berikut:
1) Muatan
Muatan yang ingin diwujudkan antara lain adalah pemerintahan
yang baik (good governance), keteraturan dan penegakan hukum,
demokrasi partisipatif, pemenuhan hak asasi manusia, dan

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 145
Asmawati

kelestarian lingkungan hidup. Kelima komponen ini saling terkait.


Pemerintahan yang baik akan menjamin terbentuknya aturan
dan penegakan hukum yang jelas, pelaksanaan demokrasi yang
partisipatif, juga terpenuhinya hak-hak asasi manusia, lingkungan
hidup yang terjaga. Adanya aturan dan penegakan hukum, maka
demokrasi partisipatif dapat berjalan lancar, hak asasi manusia
dapat terpenuhi, sekaligus dapat mengontrol jalannya pemerintahan
dan kerusakan lingkungan. Terwujudnya demokrasi partisipatif
menjadi sarana untuk penyuaraan pemenuhan hak asasi manusia,
pengawasan pemerintahan, mengontrol penegakan hukum, dan
mengontrol eksploitasi lingkungan hidup. Terpenuhinya hak asasi
manusia menjadi dasar agar tiap individu dapat menjalankan
perannya dengan baik, yaitu menjalankan dan mengawasi jalannya
pemerintahan, menegakkan dan mematuhi hukum dan aturan serta
menegakkan demokrasi dan menjaga lingkungan hidup.
2) Hubungan
Hubungan yang dimaksud dalam membangun perdamaian adalah
kesetaraan peran dari semua pihak antar institusi dan antar
elemen dalam masyarakat, baik aparat pemerintahan, tokoh
masyarakat, para professional, pemuda, orang tua, dan anak-
anak, baik perempuan maupun laki-laki, kelompok minoritas
atau mayoritas, semuanya mempunyai kedudukan yang setara
dan sama-sama memiliki posisi penting dan berkontribusi dalam
membangun perdamaian.
3) Metode
Metode yang dipakai dalam membangun perdamaian adalah
metode-metode yang meninggalkan cara-cara kekerasan,
melibatkan semua pihak tanpa diskriminasi, dan memasukkan
aspek inter temporal, yang berarti membangun perdamaian bukan
hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan saat ini, akan tetapi
juga memikirkan kebutuhan generasi mendatang agar anak cucu
kita nanti juga masih dapat menikmati perdamaian.
Cara-cara nir-kekerasan tersebut, sangat terkait dengan pembentukan

146 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Pendidikan Damai dalam Membangun Perdamaian di Aceh

watak bangsa yang berperadaban serta bermartabat tinggi. Pendidikan


masih tetap menjadi andalan untuk membentuk karakter/watak tersebut. Di
sinilah urgensinya pendidikan damai (peace education). Hanya pendidikan
damai yang dapat menguatkan kembali nilai-nilai positif yang hidup dalam
masyarakat, mengembalikan hakekat manusia sebagai mahkluk sosial yang
cinta damai, memberikan pemahaman bahwa secara alamiah kehidupan
manusia saling tergantung secara local dan juga global, memahami
implikasinya dan tanggungjawabnya.
Pendidikan damai dan membangun perdamaian harus menjadi
bagian dari satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling
melengkapi. Ketika kita melaksanakan pendidikan damai, maka pada saat
itu pula kita melaksanakan kegiatan membangun perdamaian, demikian
juga sebaliknya ketika kita melakukan kegiatan membangun perdamaian,
saat itu pula kita memerlukan pendidikan damai.
Masyarakat yang hidup dalam suasana konflik yang berlarut-larut,
melihat dan merasakan ketidakadilan dan kekerasan, sedikit banyak akan
melahirkan pribadi yang egois, mau menang sendiri, merasa paling benar,
sulit menerima pendapat orang lain, curiga dan sulit menerima kelompok
yang dianggap berbeda, dan tentu saja sulit untuk berdemokrasi dan suka
kekerasan. Pendidikan damai menjadi sangat penting dalam hal ini untuk
mampu melakukan “switching mentality” dari mental kekerasan kepada
mental damai yang mengarah pada pembentukan budaya damai (culture of
peace). Dalam hal ini, Yusny Saby (2007) menyatakan bahwa konflik dan
damai adalah budaya yang dapat direkayasa.
Program pendidikan damai adalah salah satu cara merekayasa
budaya damai, sehingga mampu mengelola potensi kemajemukan dengan
credo non violence dan berbasis kearifan lokal dalam mereduksi potensi
konflik. Untuk menyukseskan program pendidikan damai, UNESCO
mengajukan sepuluh dasar budaya damai (Suparno, 2008), sebagai berikut:
(1) Terpenuhinya kebutuhan dasar, termasuk kebutuhan material, politis,
sosial, hukum, pendidikan, kesehatan dan sebagainya; (2) Pendidikan bagi
perubahan untuk meningkatkan nilai-nilai yang menentukan tindakan
manusia sehari-hari; (3) Terbebas dari mitos-mitos yang menyebabkan

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 147
Asmawati

manusia menghindari tangung-jawab; (4) Demilitarisasi pertahanan:


konflik tidak harus diselesaikan dengan kekuatan militer; (5) Tidak merasa
terancam; (6) Feminisasi budaya: ditandai otoritas sosial yang didominasi
pria; (7) Ketidakpatuhan sebagai kebijakan: kesadaran kritis untuk
menyelesaikan konflik; (8) Menghargai identitas kultural, menghilangkan
kebijakan imperialisme dan kolonialisme, dan menghindari kecenderungan
memaksakan terbentuknya sebuah budaya semesta; (9) Mengatasi logika
polarisasi blok, menerima dunia yang plural, dan membangun toleransi;
(10) Memberdayakan yang kecil.
Untuk menumbuhkan budaya damai tersebut pada masyarakat yang
pernah mengalami konflik, tentu memerlukan pendekatan yang berbeda
dengan situasi masyarakat sedang konflik, atau tidak pernah mengalami
konflik kekerasan. Materi pendidikan damai perlu disesuaikan dengan situasi
masyarakat yang menjadi sasaran. Demikian juga metode yang dipakai. Untuk
kasus Aceh yang baru lepas dari situasi perang dan sedang membangun
perdamaian, materi dasar pendidikan damai setidaknya harus mencakup: 1)
pendidikan untuk menghapus budaya perang dan kekerasan; 2) pendidikan
untuk resolusi konflik; 3) pendidikan untuk menghormati hak asasi manusia,
keadilan dan kesetaraan gender, demokrasi dan penegakan hukum; 4)
pendidikan untuk membangun sikap tolerans dan solidaritas antar budaya
dan etnik; 5) pendidikan untuk hidup penuh kasih sayang dan mempunyai
kepekaan sosial yang tinggi; 6) pendidikan untuk memelihara lingkungan
hidup baik lingkungan fisik maupun lingkungan social; 7) pendidikan untuk
menumbuhkan kesadaran akan adanya saling ketergantungan antar manusia
dan region, mengetahui implikasinya dan menerima tanggungjawabnya.
Ketujuh materi ini diberikan dengan tujuan akhir membangun perdamaian,
dan ketujuh materi ini tidak harus diberikan terpisah.
Kelompok sasaran pendidikan damai adalah seluruh masyarakat.
Menurut Meirio (2007) “pendidikan damai untuk masyarakat Aceh dapat
dibagi dalam tiga segmen besar yaitu aparatur pemerintahan termasuk
tentara dan polisi, mantan kombatan dan masyarakat umum”. Pembagian
kelompok sasaran yang lebih rinci juga diperlukan, karena modul-modul
pendidikan perlu dirancang sesuai dengan kelompok sasaran dimana modul

148 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Pendidikan Damai dalam Membangun Perdamaian di Aceh

tersebut akan diimplementasikan. Modul untuk aparat pemerintahan,


tentu berbeda strategi penyampaian materinya dengan modul yang
diperuntukkan bagi mantan kombatan, guru, dosen, anak sekolah atau
masyarakat akar rumput.
Perbedaan strategi penyampaian ini perlu dilakukan, mengingat
adanya perbedaan latar belakang dan perbedaan peran yang dimainkan
dalam membangun perdamaian. Namun demikian, setidaknya ada
tiga prinsip yang perlu diperhatikan dalam merancang sebuah modul
pendidikan damai: pertama, modul harus mampu memfasilitasi kelompok
sasaran untuk berpikir obyektif, kritis, kreatif, dan integratif tentang
akar aspirasi keadilan sosial. Kedua, mampu mengembangkan kesadaran
kritis sebagai acuan pengembangan sikap dan perilaku. Ketiga, dapat
membangun kemandirian dalam memetakan potensi ketidakadilan sosial,
serta berinisiatif mengelola kemajemukan berbasis kearifan lokal.
Membangun perdamaian berarti membangun bangsa. Membangun
bangsa berarti membangun setiap pribadi dalam masyarakat. Jadi,
membangun perdamaian berarti membangun setiap pribadi. Dengan
demikian. pendidikan damai harus menjangkau setiap pribadi yang
merupakan elemen masyarakat dengan metode atau pendekatan yang
mungkin berbeda. Anak usia sekolah harus mendapat pendidikan damai
di sekolah, tidak hanya pendidikan damai yang dipelajari sebagai ilmu
dan tertera secara eksplisit pada lembar kurikulum sekolah, tetapi harus
menghasilkan tindakan nyata berupa bangunan budaya sekolah sebagai
budaya damai. Untuk itu, diperlukan keteladanan dan proses pembelajaran
yang tidak hanya bertumpu pada aspek kognitif semata, aspek afektif dan
psikomotor juga harus menjadi perhatian utama.
Pendekatan yang dipakai kepada aparat pemerintahan, guru, dosen,
para professional, kombatan, masyarakat umum dapat melalui workshop,
diskusi, seminar, pelatihan, seni budaya dan bahan-bahan bacaan lainnya.
Seluruh kegiatan tersebut harus menimbulkan tindakan nyata berupa
perubahan prilaku keseharian dalam seluruh aktivitasnya ke arah budaya
damai. Karena, secara pedagogis, indikator efektivitas komunikasi dan
berpikir kritis yang paling penting adalah menimbulkan tindakan nyata.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 149
Asmawati

Pada aparat pemerintahan misalnya, tindakan nyata yang dihasilkan


dari proses pendidikan damai adalah menghasilkan rancangan pembangunan
dan proses pelaksanaannya yang mengedepankan aspek pemerataan (equity),
keseimbangan lingkungan hidup baik fisik maupun sosial, transparan dan
bebas dari KKN. Dengan kata lain menghasilkan rancangan pembangunan
yang sensitif konflik. Bagi guru dan dosen, tindakan nyata yang dihasilkan
dapat berupa prilaku disiplin, bertanggungjawab dan cara-cara mendidik
yang tanpa kekerasan, menyisipkan nilai-nilai budaya damai dalam setiap
materi yang diajarkan, bahwa setiap ilmu yang dipelajari mempunyai
relevansi dengan budaya damai dan pembangunan perdamaian. Demikian
juga bagi mantan kombatan, tentara, polisi tindakan nyata dapat berupa
tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan untuk pemaksaan kehendak,
cara musyawarah harus menjadi prioritas. Secara keseluruhan pendidikan
perdamaian harus menghasilkan masyarakat yang sejahtera, demokratis,
patuh pada aturan, hukum yang tertegakkan, dan yang terpenting tidak ada
kekerasan dalam berbagai bentuk, lebih tegas lagi menghasilkan budaya
damai.
Akhirnya, pendidikan damai dapat dilakukan oleh pemerintah, NGO,
LSM, partai politik, atau organisasi profesi, ormas dan masyarakat umum,
yang konsen pada membangun perdamaian.

Penutup
Dari pembahasan di atas maka beberapa simpulan yang dapat diambil
adalah sebagai berikut:
1. Pembangunan Aceh yang berkelanjutan dan bermartabat harus
dilakukan dalam kerangka membangun perdamaian.
2. Pendidikan damai harus merupakan kegiatan yang terintegrasi
dengan membangun perdamaian.
3. Pendidikan damai harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat
dengan strategi penyampaian yang sesuai.
4. Program pendidikan damai harus menghasilkan tidakan nyata
berupa terwujudnya budaya damai.

150 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Pendidikan Damai dalam Membangun Perdamaian di Aceh

DAFTAR PUSTAKA

Boutros,Ghali. Report on the Work of the Organization From the Forty-


seventh to the Forty-eight Session of the General Assemgly. New York.
United Nation, 1993
Ghifarie Ibn .Terorisme, Ketidakadilan, dan Pendidikan Perdamaian. Detik
com. Suara Pembaca, 2010
Heathershaw,John. Peacebuilding as Practice: Discourses from Post-conflict
Tajikistan. International Peacekeeping, Vol 14 no 2 April 2007
Kompas. M. Tunus Terima Nodel Perdamaian. Berita Utama, 14 Oktober
2006
Meirio,Akbar. Urgensi Pendidikan Damai di Aceh. Aceh Institute, 2007
Suparno, Pendidikan Damai Kunci Membentuk Manusia yang Berperadaban
dan Bermartabat. Disampaikan pada sambutan membuka Seminar
Nasional dan Diskusi Panel Pendidikan Damai. di Aula Utama UM, 22
Desember 2008.
Tjakrawerdaja,Subiakto. Nobel Kemiskinan. Gemari online, 16 Maret 2007
Yusni Saby, Konflik dan Damai Budaya yang Dapat Direkayasa. Pengantar
buku Pergulatan Panjang Budaya Damai dalam Masyarakat
Multikultural. Yayasan Pena dan IAIN Ar Raniry, 2007
Wawan.S. Melawan Kemiskinan Untuk Membangun Perdamaian, Pesan Bapa
Suci Paus Benedictus 1 Januari 2009. Wikimu, Kanal: Peristiwa (2009)

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 151
Integrasi Damai dalam
Pendidikan Islam Berasaskan
Otonomi Khusus di Aceh

Abd. Wahid
Dosen tetap Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Menyelesaikan studi S-1 di IAIN Ar-Raniry, S-2 di PPs IAIN
Ar-Raniry dan S-3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Email:
wahidarsyad@yahoo.com

Pendahuluan
Secara historis komunitas Aceh telah mengalami sejarah panjang
dari zaman sebelum masuknya Islam ke nusantara, masa Kerajaan Aceh,
dan masuknya Islam ke Aceh, masa kolonial, dan masa bergabungnya
Aceh ke dalam Negara Republik Indonesia NKRI. Salah satu hal yang
penting berkenaan dengan masyarakat Aceh adalah pengalaman konflik
dan perang yang berkepanjangan. Hal ini menimbulkan kesan dengan
bermacam-macam untuk menjuluki daerah atau untuk masyarakat Aceh,
seperti ”orang Aceh hobi perang”, ”orang Aceh keras kepala” bahkan ”Aceh
Pungoe” dan lain-lain.
Pada masa sekarang (2010), Aceh telah aman dan damai. Hal ini
merupakan anugerah Allah Swt. yang sangat berharga yang sangat penting
dipelihara agar damai tersebut dapat bertahan sampai masa-masa yang
tidak mengenal batasnya. Untuk itu, masyarakat bersama pemerintah yang
berkuasa memiliki kewajiban melalui berbagai pendekatan untuk menjaga
perdamaian tersebut agar tetap abadi sepanjang masa. Salah satu cara atau
pendekatan yang ditempuh oleh berbagai komponen masyarakat maupun

153
Abd. Wahid

pemerintah adalah, menghubungkan damai tersebut dengan pendidikan.


Istilah ini setidaknya masih tergolong baru, karena keadaan damai tersebut
belum begitu lama terjadi di Aceh.
Di samping itu, Aceh juga merupakan salah satu daerah yang memiliki
peran penting dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Hal
ini dikarenakan Aceh memiliki berbagai keunikan dibandingkan dengan
provinsi-provinsi lain di Indonesia. Salah satu hal terpenting dalam hal
perkembangan pendidikan Islam adalah ditetapkannya Aceh sebagai daerah
pemberlakuan syari’at Islam. Cakupan syari’at Islam yang dimaksudkan
bukan hanya dalam bidang hukum saja, tetapi mencakup berbagai aspek
kehidupan, termasuk pendidikan. Pada sisi lain, sistem pendidikan secara
nasional diatur oleh pemerintah pusat melalui lembaga Departemen
Pendidikan Nasional. Namun demikian, khusus dalam hal pendidikan
keagamaan terdapat kewenangan yang terbatas bagi Departemen Agama.
Seperti halnya di provinsi lain, lembaga-lembaga pendidikan di Aceh
juga terbagi dalam berbagai bentuk, seperti pendidikan umum di bawah
Departemen Pendidikan Nasional dan pendidikan khusus (keagamaan)
di bawah Departemen Agama. Di samping itu, terdapat juga lembaga-
lembaga pendidikan khusus seperti pendidikan kejuruan, dan profesi
dalam berbagai tingkatannya. Seiring dengan pemberlakuan Syari’at Islam
di Aceh, lembaga-lembaga pendidikan dimaksud tentu menjadi salah satu
aspek yang perlu diperbaharui dan disesuaikan dengan perkembangan
Daerah (Aceh).
Dalam pengembangan pendidikan yang bernuansa syari’at, tentu harus
melalui berbagai langkah yang sistematis dan strategis. Langkah-langkah
dimaksud adalah sebuah upaya penyesuaian konsep dan bentuk pendidikan
di Aceh dengan Undang-Undang Syari’at Islam. Pada sisi lain, Aceh juga
merupakan daerah Otonomi Khusus yang terjelma dalam ”Nanggroe Aceh
Darussalam”. Nuansa otonomi khusus, dalam hal-hal tertentu memiliki
hubungan yang erat dengan Syari’at Islam. Namun demikian, memerlukan
penelaahan secara mendalam untuk memperoleh suatu rumusan yang
merangkum ke dua Undang-Undang tersebut (Syari’at Islam dan Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam).

154 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh

Arah pengembangan pendidikan Islam di Aceh dipengaruhi oleh


pemberlakuan Undang-Undang nomor 18 tahun 2001 tentang ”Otonomi
Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam” pada tanggal 9 Agustus 2001 telah memberi kesempatan
kepada rakyat Aceh untuk membuat aturan hukum dan mengatur tata
kehidupan dalam wilayahnya, sejalan dengan undang-undang Negara
Republik Indonesia. Kesempatan ini menunjukkan bahwa pemerintah
daerah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dapat menetapkan
sejumlah peraturan daerah (Perda) dan qanun sebagai penjabaran Undang-
Undang nomor 18 tahun 2001 tersebut.
Ada beberapa Perda dan qanun yang telah disahkan, antara lain
Perda nomor 5 tahun 2000 tentang pelaksanaan syari’at Islam dan qanun
nomor 23 tahun 2002 tentang penyelenggaraan pendidikan. Pelaksanaan
syariat Islam yang termaktub dalam Perda nomor 5 tahun 2000 meliputi
aqidah, ibadah, mu’amalah, akhlak, pendidikan, dakwah islamiyah/amar
ma’ruf nahi mungkar, baitul mal, kemasyarakatan, syiar agama, pembelaan
Islam, qadha, jinayat, munakahat dan mawaris. (MPU, 2003: 27)
Untuk itu, dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah
berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, UU Nomor 44 Tahun
1999, tentang penyelenggaraan keistimewaan Aceh dan UU Nomor 18
Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh
sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dapat diterapkan secara luas
dalam masyarakat, di antaranya adalah pelaksanaan Syari’at Islam yang
diatur dalam Perda Nomor 5 Tahun 2001. Penerapan Syari’at Islam di NAD
merupakan fenomena menarik sekaligus menantang. Menantang di sini
dimaksudkan terutama kesiapan pemerintah NAD dan masyarakat dalam
menerima dan melaksanakan Syariat Islam secara kaffah, termasuk bidang
pendidikan yang berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan syari’at
Islam tersebut. Demikian juga dalam bidang pendidikan, pemerintah telah
mengambil kebijakan menyusun Qanun Nomor 23 tahun 2002 tentang
penyelenggaraan pendidikan.
Dalam Qanun Nomor 23 tahun 2002 tersebut dinyatakan bahwa
pendidikan provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) berdasarkan pada

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 155
Abd. Wahid

al-Qur’an dan al-Hadits, falsafah negara Pancasila, Undang-Undang Dasar


1945 dan kebudayaan Aceh. Pendidikan provinsi NAD berfungsi untuk
memantapkan iman dan taqwa kepada Allah SWT, mengembangkan
kemampuan, ilmu dan amal saleh dalam upaya meningkatkan mutu
kehidupan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam dalam rangka mewujudkan
tujuan pendidikan nasional. Lebih lanjut lagi tujuan pendidikan provinsi
NAD adalah untuk membina pribadi muslim seutuhnya, yang beriman dan
bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, demokratis, menjunjung
tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan hak asasi manusia, berpengetahuan,
berketerampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian baik dan
mandiri, mampu menghadapi berbagai tantangan global, dan memiliki
tanggung jawab kepada Allah Swt., masyarakat dan Negara (MPU, 2003:
223).
Bagaimanakah mengintegrasikan damai ke dalam ranah pendidikan?
Apakah harus dibuat kurikulum khusus dalam bentuk pelajaran damai?
Atau dapatkah damai itu diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran
yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan dari berbagai jenjang?
Tulisan ini, paling tidak berusaha mengemukakan beberapa pemikiran ke
arah itu.

Konsep pendidikan damai dalam ajaran Islam


1. Definisi pendidikan Islam
Pendidikan, secara etimologi berasal dari bahasa Inggris yaitu
education yang berarti bimbingan dan pertolongan yang diberikan kepada
orang lain, baik fisik maupun mental, dengan cara penuh tanggung jawab
untuk membawa orang lain agar mampu mencapai tingkat kehidupan
yang lebih baik secara benar dan wajar (Cryn dan Reksosiswoyo: 1989,
7). Menurut Kamus Bahasa Indonesia pendidikan diartikan sebagai suatu
pekerjaan (hal, cara dan sebagainya). Mendidik juga berarti pengetahuan
tentang mendidik atau pemeliharaan badan, batin, dan sebagainya (W.J.S.
Poerwadarminta: 1991, 250). Dalam bahasa Arab, istilah pendidikan sering
disebut tarbiyah yaitu isim mashdar dari rabba yarubbu yang berarti
mengasuh atau mendidik (Mahmud Yunus: 1988, 136).

156 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh

Dalam terminologi Islam, tidak semua ahli sepakat untuk menyebutkan


istilah tarbiyyah sebagai ungkapan bermakna pendidikan. Namun tidak
sedikit para ahli yang cenderung mengatakan bahwa kata tarbiyah sebagai
istilah yang paling cocok untuk memberi makna pendidikan.
Muhammad Naquib al-Attas, sebagaimana dikutip oleh Abuddin
Nata mengatakan bahwa penggunaan kata tarbiyah untuk pendidikan
merupakan istilah yang masih relatif baru dan merupakan terjemahan dari
kata education dalam bahasa Inggris. Menurutnya, istilah ini lebih bersifat
meniru konsep Barat dalam menjelaskan pendidikan kepada masyarakat.
Ia menambahkan bahwa istilah tarbiyah memiliki sasaran yang bersifat
umum yang meliputi semua jenis spesies makhluk hidup baik yang berakal
maupun tidak.
Untuk memperkuat pendapatnya al-Attas mengajukan sebuah konsep
pendidikan yang mengacu pada pemberian ilmu pengetahuan, pengalaman,
kepribadian dan sebagainya. Menurutnya, pendidikan Islam harus dibangun
dari paduan kata ’ilm (ilmu pengetahuan), ’adl (keadilan), ’amal (perbuatan/
tindakan), dan haq (kebenaran) serta segala sesuatu yang berkaitan dengan
kebenaran itu, seperti nalar, ’aql dan qalb (hati). Semua istilah tersebut
terangkum dalam kata al-adab (Syed Muhammad Naquib al-Attas: 1994,
65). Menurutnya istilah al-adab merupakan sebuah konsep tentang
pendidikan Islam. Dengan kata lain, menurut Naquib, istilah tarbiyah tidak
dapat dikatakan sebagai istilah yang bermakna pendidikan, tetapi al-adab.
Perbedaan pandangan dalam menetapkan suatu istilah, tentunya bukan
sesuatu yang harus ditolak, karena masing-masing penggagas memiliki
argumen tersendiri sebagai penguatnya.
Pendidikan dapat dipahami sebagai suatu proses belajar mengajar
dengan memanfaatkan fasilitas yang memadai dalam rangka meningkatkan
kemampuan (skill) orang lain atau anak didik sehingga mereka dapat tampil
dengan terampil sebagai pribadi-pribadi yang tangguh dan paripurna.
Dalam hal ini, Khursyid Ahmad (1992,14).berpendapat bahwa pendidikan
adalah suatu upaya menyampaikan informasi dan menyalurkan bakat
dalam rangka mengembangkan bakat yang tersembunyi.
Nampaknya, Khursyid lebih condong menggolongkan pendidikan

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 157
Abd. Wahid

sebagai suatu proses penggalian identitas diri manusia. Secara psikologis,


setiap individu itu pada dasarnya memiliki potensi luar biasa yang masih
tersembunyi. Potensi itu akan berkembang sesuai dengan tingkat rangsangan
yang diberikan terhadap individu yang bersangkutan. Untuk itu pendidikan
merupakan salah satu upaya merangsang seseorang agar potensi yang
masih tersembunyi itu nampak ke permukaan, sehingga lahirlah ia sebagai
individu yang sempurna.
Al-Nahlawi, seorang ulama dan pemikir Islam kontemporer, termasuk
tokoh yang setuju dengan konsep tarbiyah untuk menjelaskan pendidikan
secara menyeluruh, meskipun konsep ini lebih bersifat interpretative
(Abdurrahman al-Nahlawiy: 1983, 20). Ketika istilah tarbiyah ini diterima
menjadi konsep pendidikan dalam Islam, maka secara otomatis konsep
tersebut akan berbeda dengan istilah education dalam literatur Inggris.
Konsep education lebih bersifat umum dan cenderung berorientasi kepada
konsep-konsep Barat. Sedangkan tarbiyah merupakan konsep pendidikan
yang mengacu dan merujuk kepada Islam (al-Qur’an dan Sunnah) dan
hasil rumusan para ulama yang ahli di bidang ini. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa pendidikan Islam adalah suatu proses pencerahan yang
dilakukan baik secara formal atau tidak, sesuai dengan tuntunan dan
tuntutan ajaran Islam.
Berdasarkan objeknya, pendidikan Islam mengacu kepada dua
sasaran pokok, yaitu pendidikan yang bersifat pembinaan dan penajaman
wawasan intelektual dan pembinaan ketajaman spiritual. Ketajaman
intelektual diarahkan agar peserta didik itu mampu menggunakan akalnya
untuk memahami berbagai fenomena yang ada di alam ini sehingga mampu
menggali sumber daya alam yang ada, seperti belerang, minyak dan gas,
demi kesejahteraan masyarakat banyak. Di samping ketajaman intelektual,
ketajaman spiritual pun sangat dibutuhkan dalam rangka menemukan jati
diri manusia yang sesungguhnya. Melalui ketajaman spiritual ini manusia
akan menemukan tiga unsur kehidupan yang salng terkait satu dengan
yang lain, yaitu unsur alam, manusia dan Tuhan (Allah).
Dengan menyadari adanya ketiga elemen tersebut di atas maka
manusia akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa ia tidak berbuat apa-

158 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh

apa tanpa adanya Tuhan dan alam itu. Kesimpulan ini akan membawa
manusia semakin patuh dan tunduk terhadap semua perintah Tuhan.
Dengan ketundukan itulah maka kepada mereka diberi tugas oleh Allah
sebagai Khalifah di permukaan bumi. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa ketajaman intelektual akan mendorong manusia untuk menjadi
orang-orang yang cerdas dan kecerdasaran intelektual akan melahirkan
orang-orang yang tunduk (tawadhu’) dan rendah hati. Pintar, cerdas dan
tawadhu’ merupakan cita-cita mulia pendidikan Islam.

2. Definisi pendidikan damai


Istilah ”Pendidikan Damai” merupakan rangkai dua kata yang terdiri
dari ”pendidikan” yang dapat diartikan sebagai proses belajar mengajar,
kurikulum serta hal-hal lain yang berkaitan dengannya. Sedangkan ”damai”
dapat bermakna: tidak ada peperangan, tidak ada kerusuhan, aman,
tenteram, tenang serta rukun (Depdiknas, 2003, 263).
Dalam istilah al-Qur’an istilah yang dapat dikategorikan ungkapan
terhadap damai adalah: al-sulh. Kalimat ini juga berarti ”baik”. Di samping
itu damai juga terkandung dalam kalimat Islam itu sendiri, yaitu dari kata
salima, yaslamu, yang bermakna selamat, damai, sejahtera dan sebagainya.
Dengan demikian, pendidikan damai dapat diartikan dalam beberapa
makna, seperti: pendidikan bernuansa damai; pendidikan yang di dalamnya
terdapat pembelajaran tentang perdamaian; pendidikan yang di dalamnya
dibicarakan unsur-unsur perdamaian; pendidikan yang di dalamnya
terkandung unsur pembicaraan tentang bagaimana menjaga perdamaian,
dan lain-lain.

Pendidikan damai dalam koridor Undang-undang otonomi khusus


Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan wilayah paling ujung
sebelah Barat pulau Sumatera. Menurut catatan sejarah, ”letak Aceh di
bagian Barat dan wilayahnya memiliki dua muka laut (Samudera India dan
Selat Malaka)”… ”bahwa wilayah ini tempat singgah permulaan dari kegiatan
mondar mandir pelayaran antara kepulauan Indonesia dengan pelabuhan-

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 159
Abd. Wahid

pelabuhan sebelah Barat baik India, Parsi, Iraq, Arab, Afrika, (Madagaskar,
Abessinia) maupun Mesir, Rumawi dan Eropa lainnya (Muhammad Said:
1981, 17).
Dapatlah diperhitungkan bahwa Aceh merupakan wilayah Indonesia
yang pertama dikunjungi oleh para saudagar dari luar negeri. Menurut
catatan sejarah Islam masuk Nusantara dibawa oleh para saudagar Islam
yang berasal dari Gujarat–India. Kerajaan yang pertama dikunjungi adalah
kerajaan Peureulak, Lamuri dan Pasai.” Di sinilah mereka mendirikan
kerjaan Islam yang pertama di Nusantara dan pada akhirnya tersebut di
seluruh pelosok di Indonesia.
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah wilayah integral
Indonesia sejak perang kemerdekaan sampai dengan sekarang. Indonesia
telah menjadi sebuah negara berdaulat yang diproklamirkan pada tanggal
17 Agustus 1945. Aceh masih tetap dalam bingkai NKRI. Akan tetapi
pada tahun 1953-1960 terjadi suatu pergolakan politik di Aceh untuk
mendirikan Negara Islam Indonesia (Perang DI/TII). Pergolakan tersebut
berakhir dengan perjanjian antara pemerintah pusat dengan pimpinan
gerakan DI/TII yang dipegang oleh Muhammad Daud Beureu’eh. Karena ia
”menghendaki pelaksanaan unsur-unsur Syari’at Islam berlaku di Aceh”.
Dari perjanjian damai tersebut diberikan kepada kepada Aceh hak istimewa
untuk menjalankan ”unsur-unsur Syari’at Islam bagi Daerah Istimewa Aceh
di depan kaum muslimin ketika itu” (M. Kaoy Syah: 2000, 28).
Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang telah mendapat hak istimewa dari
Pemerintah Pusat sejak dikeluarkan ”Keputusan Perdana Menteri Republik
Indonesia No. I/MISSI/1959 (dikenal dengan Missi Hardi). Keistimewaan
tersebut meliputi bidang agama, adat istiadat dan pendidikan. Pada tahun
1999 pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan ”Undang-Undang No.
44 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam”. Undang-undang inilah sebagai payung hukum yang kuat
untuk menegakkan Syari’at Islam di Aceh sebagai salah satu propinsi yang
pertama dalam susunan propinsi di Indonesia. Di samping undang-undang
tersebut pelaksanaan Syari’at Islam perlu ada sebuah ketetapan khusus
dari pemerintah daerah berdasarkan fatwa Majelis Pertimbangan Ulama,

160 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh

sehingga menjadi tolak ukur yang jelas tentang syari’at itu sendiri untuk
dilaksanakan.
Melalui perjalanan sejarah yang melelahkan, akhirnya pada tahun
1999 yang lalu dikeluarkan Undang-undang No. 44 tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah Aceh dan ditambah dengan otonomi
khusus. Terlepas dari berbagai unsur politis yang mungkin saja ada, hal
itu merupakan sebuah kemenangan untuk menjalankan keistimewaan
yang pernah hilang. Di samping itu mewujudkan pemerintahan yang bersih
dan berwibawa, Syari’at Islam merupakan sebuah alternatif ideal untuk
segera diimplementasikan kepada seluruh aparatur pemerintah di bawah
pemerintahan Aceh.
Arah pengembangan pendidikan Islam di Aceh dipengaruhi oleh
pemberlakuan Undang-Undang nomor 18 tahun 2001 tentang ”Otonomi
Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam” pada tanggal 9 Agustus 2001 telah memberi kesempatan
kepada rakyat Aceh untuk membuat aturan hukum dan mengatur tata
kehidupan dalam wilayahnya, sejalan dengan undang-undang Negara
Republik Indonesia. Kesempatan ini menunjukkan bahwa pemerintah
daerah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dapat menetapkan
sejumlah peraturan daerah (Perda) dan qanun sebagai penjabaran Undang-
Undang Nomor 18 Tahun 2001 tersebut.
Ada beberapa Perda dan qanun yang telah disahkan, antara lain Perda
Nomor 5 tahun 2000 tentang pelaksanaan syari’at Islam dan qanun nomor
23 Tahun 2002 tentang penyelenggaraan pendidikan. Pelaksanaan syariat
Islam yang termaktub dalam Perda nomor 5 tahun 2000 meliputi aqidah,
ibadah, mu’amalah, akhlak, pendidikan, dakwah islamiyah/amar ma’ruf
nahi mungkar, baitul mal, kemasyarakatan, syiar agama, pembelaan Islam,
qadha, jinayat, munakahat dan mawaris.
Berkenaan dengan pengintegrasian damai, sejauh penelitian penulis,
tidak ditemukan secara langsung pasal-pasal atau qanun yang mengatur
tentang pendidikan berasaskan perdamaian, atau nilai-nilai perdamaian
dalam pendidikan di Aceh. Ada dua alternatif model integrasi damai
dalam pendidikan. Pertama, menjadikan semua mata pelajaran yang

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 161
Abd. Wahid

diajarkan kepada peserta didik sebagai media penyampaian tentang


makna perdamaian serta faktor-faktor yang dapat melestarikan damai
tersebut. Kedua, menciptakan suatu mata pelajaran sebagai media khusus
mengajarkan tentang perdamaian. Dalam konteks ini kedua alternatif
tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Opsi pertama
memiliki kelebihan antara lain tidak terganggunya kurikulum yang sudah
didesign sedemikian rupa, karena ia hanya membutuhkan beberapa menit
dalam semua pelajaran untuk menyampaikan pesan-pesan perdamaian.
Sementara kelemahannya adalah penyampaian yang terlalu singkat tidak
dapat memberikan informasi yang lengkap dan sempurna. Adapun kelebihan
opsi kedua adalah dapat tersampaikan informasi dan pesan-pesan serta hal-
hal lain yang berhubungan dengan damai karena disampaikan dalam waktu
yang khusus, akan tetapi hal ini akan menganggu kurikulum yang sudah
disusun sedemikian rupa, baik dalam hal keseimbangan materi maupun
jumlah jam pelajarannya. Untuk itu, ada baiknya hal ini dilakukan suatu
seminar yang melibatkan para ahli, untuk menghasilkan sebuah konsep
yang baku tentang pendidikan damai.
Kedua opsi tersebut, pada dasarnya juga bukan menjadi tujuan, tetapi
merupakan teknis saja. Dengan kata lain, dapat saja kedua opsi tersebut tidak
menjadi tumpuan pelaksanaan, namun yang terpenting adalah tercapainya
tujuan dan sasaran yang akan dicapai dalam pelaksanaan pendidikan damai.
Oleh karena itu, mengetahui tentang tujuan dari pendidikan damai juga
sesuatu yang sangat penting, sehingga mudah dalam menentukan metode
atau teknisnya. Di antara tujuan pendidikan damai dapat disebutkan seperti
berikut:
● Memperkenalkan nilai-nilai damai serta membangun budaya
damai pada anak-anak, guru, dan orangtua melalui majalah
Harmonis.
● Melatih guru untuk menggunakan alat bantu atau media belajar
mengajar yang menarik dan menyenangkan bagi anak.
● Meningkatkan akses pada anak-anak untuk mendapatkan media
belajar yang menarik dan menyenangkan. (World Vision, t.th)
Sedangkan dari segi tema-tema yang dapat diperkenalkan adalah

162 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh

sebagai berikut:
1. Menghargai Keanekaragaman (suku, budaya, agama, jenis kelamin)
2. Kerjasama
● Menyadari manusia sebagai makhluk sosial
● Mengakui bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan
kekurangan
● Adanya rasa ketergantungan antar manusia
● Saling tolong menolong
● Kerjasama untuk menghasilkan sinergi
3. Komunikasi
● Komunikasi berarti hubungan dua arah (Mendengar &
berbicara)
● Menghilangkan prasangka & curiga
● Menghilangkan Stereotype (Pelabelan)
● Empati (memahami perasaan)
● Persepsi (cara pandang) yang baik
● Saling percaya
4. Menjadi anak damai
● Mengenal dan menerima diri (Kelebihan dan kekurangan)
● Mengenal dan menerima orang lain apa adanya (dengan
kelebihan dan kekurangan)
● Berani minta maaf untuk mengakui kesalahan
● Tidak pelit dalam memberi maaf
● Pemecahan masalah secara kreatif
● Menyikapi masalah dan konflik
● Penyelesaian masalah dan konflik tanpa kekerasan (melalui
dialog)
● Menciptakan berbagai pilihan untuk menyelesaikan masalah
dan konflik . (World Vision, t.th)

Penutup
Pendidikan tentang pentingnya perdamaian tidak hanya menjadi
pembicaraan yang bersifat lokal, tetapi juga menjadi isu nasional dan

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 163
Abd. Wahid

internasional. Dalam sebuah dialog, penguasa negara adidaya pernah


dikejutkan oleh seorang pendidikan asal Indonesia dengan pernyataan
tentang betapa besarnya biaya perang yang dikeluarkan oleh Negara
Amerika itu, sementara di Indonesia memiliki jumlah lembaga serta peserta
didik yang kekurangan dana. Tokoh itu bernama Arief Rahman, Dosen
Universitas Negeri Jakarta. Saat berdialog dengan George W. Bush pada 20
Nopember lalu, ia memberikan gambaran bahwa Indonesia mempunyai
lebih dari 41 juta siswa yang harus kita didik dari TK sampai SMA, 2,1 juta
guru yang harus terus mengikuti perkembangan keilmuan dan harus terus
diperbaiki, dan 300.000 lembaga pendidikan yang harus terus ditingkatkan
kemampuannya. Seperti sejumlah tokoh lainnya yang diundang berdialog
dengan Bush, Arief hanya diberi waktu tiga menit untuk memaparkan
pemikirannnya. Ia lantas mengusulkan kepada sang presiden agar biaya
untuk peperangan di dunia ini sebaiknya dialihkan untuk pembangunan
pendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Gambaran ini, merupakan salah satu bukti, bahwa betapa pentingnya
mengintegrasikan damai dalam konsep dan tata laksana pendidikan, baik di
Aceh, maupun di Indonesia secara umum serta di berbagai belahan dunia.

164 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Syahrizal, dkk. Dimensi Pemikiran Hukum dalam Implementasi


Syari’at Islam di Aceh. Banda Aceh: Dinas Syari’at Islam, 2007
Abuddin. “Konsep Pendidikan Ibn Sina”, Disertasi. Jakarta: IAIN Syarif
Hidayatullah, 1997
--------------.Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: UIN Jakarta
Press, 2006
Alfian, Ibrahim. Perang di Jalan Allah. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987.
--------------.Wajah Aceh Dalam Lintas Sejarah. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi
dan Informasi Aceh, 1999
Ahmad, Khursyid. Principles of Islamic Education, terj. A.S. Robith, Surabaya:
Pustaka Progressif, 1992
Ali Hasan, M., dan Mukti Ali. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta:
Pedoman Ilmu Jaya, 2003
Amiruddin, A. Hasbi. Ulama Dayah: Pengawal Agama Masyarakat Aceh.
Lhokseumawe: Nadia Foundation, 2003
al-Attas, Syed Muhammad Naquib. The Concept of Education in Islam:
Frame Work for an Islamic Philosophy of Education, terj. Haidar Bagir,
Bandung: Mizan, 1994
Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara
Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Prenada Media, 2004
Budiman, M. Nasir. “Pendidikan Moral Qur’ani: Strategi Belajar Mengajar dan
Evaluasi pada MAN se Daerah Istimewa Aceh. Disertasi. Yogyakarta:
Pascasarjana IAIN Yogyakarta, 1998
--------------. Pendidikan dalam Perspektif Alquran. Jakarta: Madani Press, 2001.
Cryn dan Reksosiswoyo, Pengantar Pendidikan Pengajaran, Jakarta: Noor
Dhof, 1989
Djajadiningrat, P.A. Hoesein, , “Islam di Indonesia”, Dari Sini Ia bersemi.
Banda Aceh: Panitian Penyelenggara MTQ Tingkat Nasional, 1881
Fadjar, A. Malik. Madrasah dan Tantangan Modernitas. Bandung: Mizan,
1998

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 165
Abd. Wahid

Hasbullah. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia: Lintasan Sejarah


Pertumbuhan dan Perkembangan. Jakarta: Raja Grafindo Persada,
1999
Hasjmy, A., “Pendidikan Islam di Aceh dalam Perjalanan Sejarah”, Majalah
Sinar Darussalam, No. 63, Banda Aceh: Ar-Raniry Pos, 1975.
--------------.Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah. Jakarta: Beuna, 1983.
--------------.“Keistimewaan Aceh dalam Bidang Pendidikan”, Perkembangan
Pendidikan di Daerah Istimewa Aceh. Banda Aceh: Majelis Pendikan
Derah Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 1995.
Hurgronje, Snouck, Aceh di Mata Kolonialis, Jilid II. Jakarta: Yayasan Soko
Guru, 1985
Idris, Safwan. “Perkembangan Pendidikan Pesantren/Dayah: Antara Tradisi
dan Pembaharuan”, Perkembangan Pendidikan di Daerah Istimewa
Aceh, Banda Aceh: Majelis Pendikan Derah Provinsi Daerah Istimewa
Aceh, 1995
Ismail, Azman, dkk, Syari’at Islam di Nanggroe Aceh Darussalam, Banda
Aceh: Dinas Syari’at Islam, 2007
Maksum.“Transformasi Pendidikan Islam di Lingkungan Departemen
Agama pada Masa Orde Baru: Studi Tentang Pembaharuan Kurikulum
dan Kelembagaan Madrasah”. Disertasi, Jakarta: Pascasarjana IAIN
Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1998
MPU. Kumpulan Undang-Undang, Perda, Qanun dan Instruksi Gubernur
tentang Keistimewaan nanggroe Aceh Darussalam. Banda Aceh: MPU,
2003
Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan
Agama Islam di Sekolah, Bandung: Rosdakarya, cet. II. 2002
al-Nahlawiy, Abdurrahman. Pendidikan di Rumah-Sekolah dan Masyarakat,
terj. Shihabuddin. Jakarta: Gema Insani Press, 1983
Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai
Pustaka, 1991
Rijal, Syamsul, dkk. Dinamika Keagamaan dalam Pelaksanaan Syari’at
Islam, Banda Aceh: Dinas Syari’at Islam, 2007
--------------. Dinamika dan Problematika Penerapan Syari’at Islam. Banda
Aceh: Dinas Syari›at Islam, 2007

166 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh

Said, Muhammad. Aceh Sepanjang Abad. Medan: Penerbit Madju, 1981


Saleh, Abdul Rachman. Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa: Visi, Misi
dan Aksi. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006
Steenbrink, Karel A. Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19.
Jakarta: Bulan Bintang, 1984
Syah, M. Kaoy. Keistimewaan Aceh dalam Lintasan Sejarah, Proses
Pembentukan UU No. 44/1999. Jakarta: Pengurus Besar al-Jami’atul
Washliyah, 2000
Undang-Undang Sisdiknas 2003. Jakarta: Sinar Grafika, 2006
World Vision, KONSEP DASARIntegrasi Pendidikan Damai dalam KTSP SD
Melalui Majalah Harmonis Sebagai Sumber Belajar
dengan Metode PAKEM, t.th
Yunus, Mahmud. Kamus Arab – Indonesia. Jakarta: Yayasan Penyelenggaraan
Penterjemah Alquran, 1988

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 167
Pembelajaran Civic Education
dalam Rangka Memperkuat
Demokratisasi di Aceh

Juhari Hasan
Juhari Hasan merupakan Dosen Sosiologi dan Civic Education pada
Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Beberapa pelatihan
yang pernah diikuti antara lain: Studi Purna Ulama (SPU), IAIN Ar-
Raniry, tahun 1993-1994; Workshop for Lecturers on Civic Education,
UIN Jakarta, tahun 2001; Workshop for Lecturers on Civic Education,
IAIN Imam Bonjol Padang, tahun 2002 dan tahun 2003; Workshop
for Lecturers on Civic Education, Pusdiklat BPKP, Bogor, 2007;
dan Short Course on Community Development, McGill University,
Canada, 2008

Pendahuluan
Sepanjang sejarah, Aceh hampir tidak pernah sepi dari berbagai
konflik dan perang, seperti perang kemerdekaan melawan penjajah Belanda,
Jepang dan Portugis, Perang Cumbok, peristiwa DI/TII tahun1953, G.30 S/
PKI tahun dan Gerakan Aceh Merdeka pada tahun 1976 (A.Rani Usman,
2003 : 114 – 133; Anthony Reid, 2007 : 2-3).
Pergolakan politik yang terus menerus mewarnai kehidupan sosial di
Aceh telah mendorong masyarakatnya terjebak ke dalam situasi yang kurang
menguntungkan. Salah satu problema yang dirasakan hingga saat ini adalah
kurangnya sumber daya manusia (SDM) handal yang mampu memajukan
Aceh sejajar dengan daerah lain di Indonesia. Meskipun Provinsi Aceh
telah mendapatkan julukan sebagai daerah modal dan memiliki predikat
istimewa yang diukuhkan melalui surat keputusan Perdana Menteri
Republik Indonesia Mr. Hardi Nomor : 1/ Missi/ 1959 (T.M.Yunus Nagor,
1995 : 67) dan Pengesahan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang
keistimewaan Aceh serta Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang
Otonomi Khusus (Himpunan UU, Kepres, Perda/ Qanun, Ingub dan Edaran

169
Juhari Hasan

Gubernur : 2005 : 1 dan 12), namun kenyataan memperlihatkan bahwa


kehebatan Aceh saat ini tidak sehebat namanya.
Di samping lemahnya Sumber Daya Manusia, tidak berkembangnya
ekonomi kerakyatan, rendahnya pemahaman rakyat terhadap pendidikan
politik dan kekurangterbukaannya para tokoh agama dalam memahami dan
menghargai perbedaan yang ada baik secara tekstual maupun kontekstual
juga merupakan problema lain yang ikut mendorong mundurnya kehidupan
sosial di Aceh. Dalam situasi yang demikian, maka peluang bagi setiap
individu atau kelompok tertentu untuk mengklaim dirinya sebagai
kelompok paling sahih dan menolak keberadaan kelompok lain sebagai
kelompok yang tidak benar sangatlah terbuka lebar.
Klaim-klaim kebenaran yang terjadi di kalangan masyarakat, baik yang
berkaitan dengan urusan agama maupun politik merupakan fenomena dari
rendahnya sikap demokrasi yang diperlihatkan masyarakat baik ditingkat
grass root maupun di kalangan elite. Fenomena ini tidak saja didapati di
Aceh secara khusus, akan tetapi telah menjadi persoalan bangsa secara
nasional. Artinya, persoalan yang sama juga ditemukan di berbagai daerah
lain di Indonesia. Menyikapi berbagai persoalan bangsa yang ada, maka
pada tahun 2000 muncul gerakan intelektual di kalangan dosen IAIN Syarif
Hidayatullah Jakarta (sekarang Universitas Islam Negeri, disingkat UIN)
untuk menggalang kekuatan sehingga lahirlah mata kuliah Civic Education.
Pada tahun 2003 atas dukungan The Asia Foundation dan Indonesian
Centre for Civic Education (ICCE) mata kuliah ini mendapat pengesahan
resmi Menteri Agama Republik Indonesia sebagai pengganti mata kuliah
“Pendidikan Kewiraan” khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Islam
di Indonesia. Di antara tujuan mata kuliah ini adalah ingin mewujudkan
masyarakat Indonesia yang mampu mengembangkan kehidupan yang maju,
demokratis, adil dan beradab dengan selalu menjunjung tinggi hukum
dan HAM (Dede Rosyada, dalam A Ubaidillah: 2000:i). Sejak tahun 2000
kelompok ini telah berhasil membangun jaringan ke seluruh IAIN, UIN dan
STAIN se-Indonesia, termasuk IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dalam rangka
memperkuat civil society, penegakan HAM dan demokrasi di Indonesia yang
proses penegakannya diawali di kalangan mahasiswa.

170 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pembelajaran Civic Education dalam Rangka Memperkuat Demokratisasi di Aceh

Pola pembelajaran Civic Education bagi mahasiswa tidak bersifat


mendikte atau memaksakan kehendak dari si pengajar akan tetapi lebih
bersifat membuka wawasan mahasiswa untuk memahami dan menemukan
sendiri berbagai persoalan yang ada di lingkungannya (baik lingkungan
kampus maupun di sekitar tempat tinggal mereka), serta mendorong
mereka untuk mencoba menyelesaikan persoalan yang ada itu secara
demokratis, arif dan bijaksana.

Civic education di perguruan tinggi Islam


Istilah Civic Education berasal dari kata Civic yang berarti masyarakat
sipil atau warga negara dan education yang bermakna pendidikan (John
M.Echols dan Hassan Shadily, 2003: 115 dan 207). Bila kedua kata ini
digabungkan maka akan melahirkan makna pendidikan kewargaan.
Penggunaan Civic Education menjadi salah satu mata pelajaran pokok di
Perguruan Tinggi, khususnya Perguruan Tinggi Islam di Indonesia, telah
dimulai sejak tahun 2000.
Sebelum zaman reformasi, khususnya saat rezim orde baru berkuasa
istilah civic education sebagai sebuah mata pelajaran agaknya belum dipakai
di kalangan Perguruan Tinggi. Namun pendidikan hampir serupa ini telah
dipraktekkan dalam kurikulum nasional Indonesia seperti Pendidikan
Moral Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Kewiraan.
Pada dasarnya beberapa pelajaran tersebut menginginkan tumbuh dan
berkembangnya semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan
peserta didik. Namun pada akhirnya cenderung memperlihatkan sesuatu
yang berbeda, dimana kepentingan politik pro status quo agaknya menjadi
sangat dominan dalam proses pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan
formal. Fenomena ini dipersulit lagi dengan adanya doktrin-doktrin politik
yang mengarah pada hilangnya semangat berdemokrasi dan pengekangan
hak-hak azasi manusia yang seharusnya dijunjung tinggi.
Pola pembelajaran demikian semakin lama agaknya semakin
menutup kebebasan berpikir, berkreasi dan berdemokrasi baik di kalangan
mahasiswa, dosen maupun di kalangan pegawai negeri lainnya, sehingga
telah menampilkan gaya-gaya kepemimpinan yang cenderung militeristik,

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 171
Juhari Hasan

lemahnya penegakan hukum dan hak-hak azasi manusia yang akhirnya


telah menimbulkan ketidakpercayaan rakyat terhadap pemimpin mereka.
Karena itu dapat dikatakan bahwa, bila berangkat dari suatu kurikulum
dan pola pembelajaran yang berbasis kepentingan politik suatu kelompok
tertentu, maka akan berujung pada kehancuran suatu bangsa itu sendiri.
Gerakan mahasiswa yang menuntut presiden Soeharto turun tahta dan
segera melakukan reformasi total di segala bidang merupakan wujud
kekecewaan anak bangsa terhadap sistem kepemimpinan negara yang
cenderung mengabaikan nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan serta hak-
hak warga negara.
Berangkat dari fenomena sosial, ekonomi, hukum dan politik yang
kurang mengenakkan di zaman orde baru, maka muncul beberapa tokoh
yang menginginkan adanya pembaharuan kurikulum dalam rangka
mengembalikan harkat dan martabat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang
maju dan demokratis. Karena itu pada tahun 2000 muncul sebuah gerakan
reformasi kurikulum berbasis kenegaraan yang diprakarsai oleh Universitas
Islam Negari (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang diberi nama Civic
Education. Azyumardi Azra menyebutkan bahwa pada tingkat praktis UIN
Jakarta sejak tahun akademik 2000 mulai menyelenggarakan Pilot Project
mata pelajaran Civic Education sebagai pengganti mata kuliah Pendidikan
Kewiraan (Azyumardi Azra, 2007 : 2).
Pada tahun 2001 atas bantuan dari The Asia Foundation, pilot
Project ini diperluas sekaligus disosialisasikan ke seluruh UIN, IAIN dan
STAIN, yaitu 6 UIN, 14 IAIN dan 30 STAIN yang ada di Indonesia. Evaluasi
menyeluruh terhadap Pilot Project ini dilakukan di Mataram pada tahun
2004 dengan menghadirkan Menteri Agama, para Rektor dan ketua STAIN
se- Indonesia. Hasil evaluasi terhadap proses pembelajaran Civic Education
dengan mengedepankan strategi Active Learning, Learning by Doing dan
Contextual Teaching and Laerning (CTL) menunjukkan hasil yang sangat
baik dan menjanjikan dalam rangka mengajarkan Civic Culture di kalangan
mahasiswa (Azyumardi Azra, 2007 : 2). Berangkat dari evaluasi nasional
tersebut Menteri Agama telah mengesahkan Civic Education menjadi mata
kuliah pengganti Pendidikan Kewiraan yang selama ini dinilai kurang

172 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pembelajaran Civic Education dalam Rangka Memperkuat Demokratisasi di Aceh

memberikan wawasan demokrasi bagi peserta didik.


Adapun muatan kurikulum nasional pelajaran Civic Education dibagi
ke dalam 2 (dua) aspek, yaitu 3 (tiga) materi utama dan 5 (lima) materi
pendukung. Termasuk dalam materi utama adalah: (1) demokrasi, (2) HAM
dan (3) Masyarakat Madani. Sedangkan materi pendukung terdiri dari: (1)
Identitas Nasional dan Globalisasi, (2) Membangun Negara Berkeadaban,
(3) Konstitusi dan Tata Perundang-Undangan, (4) Otonomi Daerah Dalam
Kerangka NKRI, (5) dan Good and Clean Governance (A.Ubaedillah,dkk :
2006). Kedelapan materi tersebut dibahas secara bersama-sama antara
dosen dan mahasiswa dengan menempatkan mahasiswa dalam posisi
sebagai pencari informasi berdasarkan fenomena sosial yang ada
relevansinya dengan topik-topik yang dibahas. Dengan demikian melalui
proses pembelajaran dimaksud sekaligus telah mewariskan nilai-nilai
demokrasi dalam kehidupan mahasiswa.

Pembelajaran civic education sebagai wahana pendidikan demokrasi di


Aceh
Dalam kajian Civic Education ditemukan ada 3 (tiga) grand concept
yang sering dipakai dalam menjelaskan pendidikan kewargaan. Ketiga
konsep ini ditemukan dalam tulisan Udin Winataputra (2007: 12) yang
menyebutkan bahwa secara terminologis terdapat ada 3 (tiga) grand concept
yang sering dipakai dalam menjelaskan Pendidikan Kewargaan, yaitu Civics,
Civic Education dan Citizenship Education. Kata Civics merupakan istilah
yang paling tua sejak digunakan pertama kalinya oleh Chreshore pada
tahun 1886 yang berisi antara lain mempelajari hubungan antar warga
negara dan hubungan warga negara dengan negaranya. Hingga saat ini
istilah Civics masih digunakan sebagai nama mata pelajaran yang berdiri
sendiri atau terintegrasi ke dalam kurikulum sekolah lanjutan di Perancis,
Italia, Hongaria, Jepang, Netherlands, Spanyol, USA dan Singapore. Di
Indonesia sendiri istilah Civics ini pernah digunakan dalam kurikulum SMP
dan SMA pada tahun 1962, kurikulum SD pada tahun 1968 dan kurikulum
IKIP Bandung pada tahun 1973.
Pada tahun 1900-an diperkenalkan istilah Citizenship Education dan

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 173
Juhari Hasan

Civic Education di Amerika Serikat. Istilah Citizenship Education cenderung


dipakai secara lebih luas tidak saja dalam pendidikan formal akan tetapi
juga di luar pendidikan formal. Hal ini berbeda dengan Civic Education yang
cenderung digunakan dalam pendidikan formal semata. Namun – menurut
Udin (2007) – kini istilah Civic Education lebih banyak digunakan di USA
serta beberapa negara baru di Eropa timur yang mendapat pembinaan
profesional dari Centre for Civic Education dan Universitas mitra kerjanya
di Amerika. (Udin S Winataputra, 2007 : 13).
Secara paradigmatik, Civic Education memiliki visi formal pedagogik
dalam rangka mendidik warga negara yang demokratis dalam konteks
pendidikan formal. Dalam rangka menyukseskan pembangunan Indonesia
menuju masyarakat madani, maka pembelajaran Civic Education mengusung
beberapa orientasi, antara lain :
1. Orientasi sosio – pedagogis, yaitu suatu orientasi yang dicanangkan
dalam rangka menggali dan mengembangkan potensi setiap individu
dari peserta didik (mahasiswa) untuk tampil sebagai makhluk Tuhan di
satu sisi dan sebagai makhluk sosial di sisi lain. Sebagai makhluk Tuhan
maka individu yang bersangkutan diharapkan mampu menempatkan
dirinya menjadi individu yang taat dengan selalu menjunjung tinggi
nilai-nilai ilahiyat dalam hidupnya. Sedangkan sebagai makhluk sosial
diharapkan setiap peserta didik menjadi warga negara yang bertanggung
jawab, demokratis, religius, egaliter, solider, adil dan beradab.
2. Orientasi sosiokultural, yaitu membangun wawasan kebersamaan dan
partisipatif di kalangan anak didik. Mahasiswa diharapkan mampu
memfasilitasi dan berpartisipasi dalam mewujukan cita-cita, sistem
nilai dan kepercayaan, konsep, prinsip dan semangat demokrasi dalam
konteks pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia yang maju,
adil dan makmur (masyarakat madani) secara cerdas dan bersahaja.
3. Orientasi substanstif–akademik, yaitu ikut mengembangkan konsep-
konsep ilmiah berkaitan dengan kehidupan kewargaan sebagai sumber
pengetahuan Civic Education, baik berkenaan dengan kemaslahatan
warga negara maupun pengembangan budaya bangsa itu sendiri.
Orientasi ini dapat diwujudkan melalui aktivitas riset tentang berbagai

174 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pembelajaran Civic Education dalam Rangka Memperkuat Demokratisasi di Aceh

fenomena kebangsaan, terutama yang berhubungan dengan upaya-


upaya penegakan demokrasi, HAM dan masyarakat madani.
Ketiga orientasi agaknya menjadi modal dasar dalam membangun
tegaknya proses demokratisasi di Aceh. Konflik berkepanjangan yang
selama ini terjadi di Aceh agaknya juga bermuara pada rendahnya semangat
berdemokrasi yang dibangun oleh pemerintah pusat. Model pemerintahan
sentralistik yang diterapkan sejak pemerintahan Orde lama dan Orde Baru
terkesan telah memperkosa hak-hak demokrasi masyarakat sipil di berbagai
daerah, khususnya di Aceh. Inilah yang mendorong masyarakat Aceh
meneriakkan hak-haknya sebagai warga negara, namun teriakan itu kurang
terdengar oleh pemerintah pusat sehingga orang Aceh harus beberapa kali
berseteru dengan pemerintah pusat dalam bentuk pemberontakan (Mustafa
Abubakar, 2006 : 12, Ahmad Farhan Ahmid, 2006: bagian I).
Berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka menyelesaikan
konflik Aceh, terutama melalui pendekatan pertahanan keamanan
dengan menempatkan militer sebagai ujung tombak penyelesaian. Pola
penyelesaian demikian terbukti tidak efektif dan tidak membuahkan hasil
yang maksimal. Namun setelah melalui pendekatan musyawarah (dialog)
dengan mengedepankan nilai-nilai demokrasi maka kedamaian di Aceh
dapat dinikmati oleh seluruh komponen masyarakat (Ahmad Farhan Hamid,
2006 : 477) menjelaskan bahwa saling mempercayai dan membangun
kerjasama yang harmonis antara pihak yang bertikai merupakan kunci
untuk membangun dan menjaga keberlangsungan damai di Aceh.
Berpijak dari kenyataan yang ada dalam masyarakat Aceh, dapat
ditegaskan bahwa penegakan demokrasi yang sesungguhnya di Aceh
merupakan salah satu pilihan upaya yang sangat urgen bagi meningkatkan
kenyamanan dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Untuk itu
pemberian pemahaman yang komprehensif tentang makna demokrasi bagi
seluruh komponen masyarakat merupakan sesuatu yang mesti dilakukan.
Salah cara yang efektif untuk mensosialisasikan dan mewariskan nilai-nilai
demokrasi adalah melalui lembaga-lembaga pendidikan.
Perguruan Tinggi merupakan salah satu lembaga pendidikan formal
yang memiliki peran strategis untuk mewariskan nilai-nilai demokrasi

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 175
Juhari Hasan

dan kebangsaan bagi generasi muda. Pendidikan dimaksud adalah model


pendidikan yang berorientasi pada pembangunan karakter bangsa melalui
pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran
melalui cara-cara yang demokratis, kritis, partisipatif, kreatif dan moralis.
Dalam konteks ini proses belajar mengajar bukan lagi menjadi monopoli
guru atau dosen, akan tetapi menjadi milik bersama dan menjadikan proses
belajar mengajar sebagai wadah untuk berdialog, berdiskusi dan belajar
bersama (A.Ubaedillah dan Abdul Rozak, 2006: vii – viii).
Pola pembelajaran yang demikian dinilai sangat relevan bagi upaya
pengembangan pendidikan demokrasi di Aceh, sebab pengalaman belajar
di kelas dengan mempraktekkan demokrasi akan berpengaruh positif
terhadap proses transformasi nilai-nilai demokrasi yang diwujudkan
dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
sekolah atau Perguruan Tinggi merupakan laboratorium yang sangat
berguna untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan
memiliki komitmen menegakkan hukum, HAM dan demokrasi dengan
penuh tanggung jawab.

Penutup
Istilah Civic Education berasal dari kata Civic yang berarti masyarakat
sipil atau warga negara dan education yang bermakna pendidikan. Bila kedua
kata ini digabungkan maka akan melahirkan makna pendidikan kewargaan.
Pengesahan Civic Education menjadi salah satu mata pelajaran pokok di
Perguruan Tinggi – khususnya Perguruan Tinggi Islam seperti UIN, IAIN
dan STAIN di Indonesia. Di antara tujuan pembelajaran Civic Education di
Perguruan Tinggi adalah menumbuhkembangkan semangat berdemokrasi
dan saling menghargai perbedaan di kalangan mahasiswa sebagai penerus
estafet kepemimpinan bangsa.
Proses pembelajaran Civic Education dititikberatkan pada 3 (tiga)
orientasi utama, yaitu : (1) Orientasi sosio – pedagogis, yaitu suatu orientasi
yang dicanangkan dalam rangka menggali dan mengembangkan potensi
setiap individu untuk tampil sebagai makhluk Tuhan yang taat dengan
selalu menjunjung tinggi nilai-nilai Ilahiyat dalam hidupnya. Sedangkan

176 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pembelajaran Civic Education dalam Rangka Memperkuat Demokratisasi di Aceh

sebagai makhluk sosial diharapkan setiap peserta didik menjadi warga


negara yang bertanggung jawab, demokratis, religius, egaliter, solider, adil
dan beradab. (2) Orientasi Sosio – Kultural, yaitu membangun kebersamaan
dan semangat partisipatif di kalangan anak didik. Mereka diharapkan
mampu memfasilitasi dan berpartisipasi dalam mewujukan cita-cita,
sistem nilai dan kepercayaan, konsep, prinsip dan semangat demokrasi
dalam kontek pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia yang maju,
adil, makmur dan beradab. (3) Orientasi substanstif – Akademik, yaitu ikut
mengembangkan konsep-konsep ilmiyah berkaitan dengan kehidupan
kewargaan sebagai sumber pengetahuan Civic Education, baik berkenaan
dengan kemaslahatan warga negara maupun pengembangan budaya bangsa
itu sendiri. Orientasi ini dapat diwujudkan melalui aktivitas riset tentang
berbagai fenomena kebangsaan, terutama yang berhubungan dengan upaya-
upaya penegakan demokrasi, HAM dan masyarakat madani.
Pendidikan Civic Education yang berorientasi pada pembangunan
karakter bangsa dengan menempatkan peserta didik sebagai subjek
pembelajaran melalui cara-cara yang demokratis, kritis, partisipatif, kreatif
dan moralis merupakan salah satu model pembelajaran yang sangat efektif
dalam rangka mewariskan nilai-nilai demokrasi di kalangan anak didik.
Dalam konteks ini proses belajar mengajar bukan lagi menjadi monopoli
guru atau dosen, akan tetapi menjadi milik bersama dan menjadikan
proses belajar mengajar sebagai wadah untuk berdialog, berdiskusi dan
belajar bersama
Model pembelajaran demikian tentu sangat relevan bagi upaya
pengembangan pendidikan demokrasi di Aceh, sebab pengalaman belajar
di kelas dengan mempraktekkan demokrasi akan berpengaruh positif
terhadap proses transformasi nilai-nilai demokrasi yang diwujudkan
dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
sekolah atau Perguruan Tinggi merupakan Laboratorium yang sangat
berguna bagi mempersiapkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan
memiliki komitmen menegakkan hukum, HAM dan demokrasi dengan
penuh tanggung jawab.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 177
Juhari Hasan

DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi. “Pendidikan Kewargaan: Tinjauan Politik”, Makalah


Tidak Diterbitkan, disampaikan pada Seminar RUU Pendidikan
Kewarganegaraan, Jakarta, 2007
Bakar, Mustafa Abu. Aceh Lon Damai Aceh Merdeka Abadi. Banda Aceh: BRR
NAD – Nias, 2006
Echols, John dan Hassan Shadly. Kamus Inggris – Indonesia, Jakarta:
Gramedia, 2003
Hamid, Ahmad Farhan. Jalan Damai Nanggroe Endatu. Jakarta: Suara Bebas,
2006
Nagor, M Yunus. Melestarikan Tiga Keistimewaan Aceh. Banda Aceh: Citra
Karya, 1995
Reid, Anthony. Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur
Sumatra hingga Akhir Kerajaan Aceh. Jakarta: Yayasan Obor, 2007
Ubaedillah, A. dan Abdul Rozak. Demokrasi, Hak-Hak Azasi Manusia dan
Masyarakat Madani. Jakarta: ICCE – UIN, 2006
Usman, A Rani. Sejarah Peradaban Aceh. Jakarta:Yayasan Obor, 2003
Winataputra, Udin S. “Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Alternatif
Pembelajaran Demokrasi, HAM dan Civil Society”, Makalah tidak
Diterbitkan, disampaikan Workshop for Lecturers on Civic Education,
Jakarta, 2007
-----------. Himpunan UU, Kepres, Perda/ Qanun, Ingub dan Edaran Gubernur,
Dinas Syariat Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2005

178 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Maslahah dalam Civil Society
(Kajian dalam Perspektif Fiqh Siyasah untuk
Konstribusi Perdamaian Aceh)

Syamsuar Basyariah
Ketua STAI Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat.
Menyelesaikan Sarjana (S-1) pada Fakultas Dakwah, Magister
(S-2) Konsentrasi Penyiaran dan Penerangan Agama Islam pada
Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, dan Doktor (S-3) pada IAIN Ar-
Raniry, konsentrasi Fiqh Modern

Pendahuluan
Mashlahah mursalah adalah suatu kemaslahatan yang tidak
disinggung oleh syara’ dan tidak pula terdapat dalil-dalil yang menyuruh
untuk mengerjakan atau meninggalkannya. Namun, jika dikerjakan akan
mendatangkan kebaikan yang besar atau kemaslahatan. Mashlahat mursalah
disebut juga mashlahat yang mutlak. Karena tidak ada dalil yang mengakui
kesahan atau kebatalannya. Jadi pembentuk hukum dengan cara mashlahat
mursalah semata-mata untuk mewujudkan kemaslahatan manusia dengan
arti untuk mendatangkan manfaat dan menolak kemudharatan dan
kerusakan bagi manusia.
Para ahli usul al-fiqh mengemukakan beberapa pembagian maslahah,1
Kemaslahatan manusia itu mempunyai tingkatan-tingkatan. Tingkatan
pertama lebih utama dari tingkatan kedua dan tingkat yang kedua lebih
utama dari tingkatan yang ketiga. Tingkatan-tingkatan itu, antara lain:

1
Abu Ishaq al-Syatibi, al-Muwafaqat fi Usul al-Syari‘ah (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1973),
8-12. Abu Hamid al-Ghazali al-Mustasyfa fi ‘Ilm al-Usul, Jilid I (Beirut: Dar al-Kutub al-
Islamiyyah, 1983),139.

179
Syamsuar Basyariah

Tingkatan pertama yaitu tingkatan dhurari, tingkatan yang harus ada.


Tingkatan ini terdiri atas lima tingkatan pula, tingkatan pertama lebih utama
dari yang kedua, yang kedua lebih utama dari yang ketiga dan seterusnya.
Tingkatan-tingkatan itu adalah memelihara agama; memelihara jiwa;
memelihara akal; memelihara keturunan; dan memelihara harta. Sementara
tingkat yang kedua adalah tingkat yang diperlukan (haji), dan tingkat ketiga,
adalah tingkat tahsini. Dengan demikian kata Asafri Jaya Bakti, “Tidak
terwujudnya aspek daruriyyah dapat merusak kehidupan manusia dunia
dan akhirat secara keseluruhan. Pengabaian terhadap aspek hajiyyah, tidak
sampai merusak keberadaan lima unsur pokok, akan tetapi hanya membawa
kepada kesulitan bagi manusia sebagai mukallaf dalam merealisasikannya.
Sedangkan pengabaian aspek tahsiniyyah, membawa upaya pemeliharaan
lima unsur pokok tidak sempurna.”2 Ketiga kemashalahatan ini perlu
dibedakan, sehingga seorang muslim dapat menentukan prioritas dalam
mengambil suatu kemaslahatan. Kemaslahatan daruriyyah harus lebih
didahulukan daripada kemaslahatan hajiyyah dan kemaslahatan hajiyyah
lebih didahulukan dari kemaslahatan tahsiniyyah.3 Dengan demikian, berarti
telah menempatkan kemaslahatan pada tempat yang proporsional.
Di antara contoh mashlahat mursalah adalah usaha khalifah
Abu Bakar mengumpulkan Alquranyang terkenal dengan jam’ul Quran.
Pengumpulan Alquran ini tidak disinggung sedikitpun oleh syara’, tidak
ada nash yang memerintahkan dan tidak ada nash yang melarangnya.
Setelah terjadi peperangan Yamamah banyak para penghafal Alquranyang
mati syahid (± 70 orang). Umar bin Khattab melihat kemaslahatan yang
sangat besar pengumpulan Alquranitu, bahkan menyangkut kepentingan
agama (dhurari). Seandainya tidak dikumpulkan, dikhawatirkan Alquran
akan hilang dari permukaan dunia nanti. Karena itu Khalifah Abu Bakar
menerima anjuran Umar dan melaksanakannya.
Demikian pula tidak disebut oleh syara’ tentang keperluan mendirikan
rumah penjara, menggunakan mikrofon di waktu adzan atau shalat jama’ah,

Asafri Jaya Bakri, Konsep Maqasid Syari‘ah Menurut al-Syatibi, Cet. I (Jakarta:
2

RajaGrafindo Persada, 1996), 72.


3
Nasrun Haroen, Ushul Fiqh I, Jil. I, Cet. II (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), 116.

180 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Maslahah dalam Civil Society

menjadikan tempat melempar jumrah menjadi dua tingkat, tempat sa’i dua
tingkat, tetapi semuanya itu dilakukan semata-mata untuk kemashlahatan
agama, manusia dan harta.
Dalam mengistinbatkan hukum, sering kurang dibedakan antara
qiyas, istihsan dan mashlahat mursalah. Pada qiyas ada dua peristiwa atau
kejadian, yang pertama tidak ada nashnya, karena itu belum ditetapkan
hukumnya, sedang yang kedua ada nashnya dan telah ditetapkan hukumnya.
Pada istihsan hanya ada satu peristiwa, tetapi ada dua dalil yang dapat
dijadikan sebagai dasarnya. Dalil yang pertama lebih kuat dari yang kedua.
tetapi karena ada sesuatu kepentingan dipakailah dalil yang kedua. Sedang
pada mashlahat mursalah hanya ada satu peristiwa dan tidak ada dalil yang
dapat dijadikan dasar untuk menetapkan hukum dari peristiwa itu, tetapi
ada suatu kepentingan yang sangat besar jika peristiwa itu ditetapkan
hukumnya. Karena itu ditetapkanlah hukum berdasar kepentingan itu.
Imam al-Ghazali menggunakan istilah istishlah sebagai kata yang sama
artinya dengan mashlahat mursalah.

Dasar hukum
Para ulama yang menjadikan mashlahat mursalah sebagai salah satu
dalil syara’, menyatakan bahwa dasar hukum mashlahat mursalah adalah
sebagai berikut:
a) Persoalan yang dihadapi manusia selalu tumbuh dan berkembang,
demikian pula kepentingan dan keperluan hidupnya. Kenyataan
menunjukkan bahwa banyak hal-hal atau persoalan yang tidak terjadi pada
masa Rasulullah, kemudian timbul dan terjadi pada masa-masa sesudahnya,
bahkan ada yang terjadi tidak lama setelah Rasulullah meninggal dunia.
Seandainya tidak ada dalil yang dapat memecahkan hal-hal yang demikian
berarti akan sempitlah kehidupan manusia. Dalil itu ialah dalil yang dapat
menetapkan mana yang merupakan kemaslahatan manusia dan mana
yang tidak sesuai dengan dasar-dasar umum dari agama Islam. Jika hal itu
telah ada, maka dapat direalisir kemaslahatan manusia pada setiap masa,
keadaan dan tempat.
b) Sebenarnya para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan para ulama

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 181
Syamsuar Basyariah

yang datang sesudahnya telah melaksanakannya, sehingga mereka dapat


segera menetapkan hukum sesuai dengan kemaslahatan kaum muslimin
pada masa itu. Khalifah Abu Bakar telah mengumpulkan AIquran, Khalifah
Umar telah menetapkan talak yang dijatuhkan tiga kali sekaligus jatuh
tiga, padahal pada masa Rasulullah hanya jatuh satu, Khalifah Utsman
telah memerintahkan penulisan Alquran dalam satu mushaf dan Khalifah
Ali pun telah menghukum bakar hidup golongan Syi’ah Rafidhah yang
memberontak, kemudian diikuti oleh para ulama yang datang sesudahnya.
c) Obyek mashlahat mursalah
Yang menjadi obyek mashlahat mursalah, ialah kejadian atau
peristiwa yang perlu ditetapkan hukumnya, tetapi tidak ada satupun
nash (Alqurandan Hadits) yang dapat dijadikan dasarnya. Prinsip ini
disepakati oleh kebanyakan pengikut madzhab yang ada dalam fiqh,
demikian pernyataan Imam al-Qarafi ath-Thufi dalam kitabnya Mashalihul
Mursalah menerangkan bahwa mashlahat mursalah itu sebagai dasar untuk
menetapkan hukum dalam bidang mu’amalah dan semacamnya. Sedang
dalam soal-soal ibadah adalah Allah untuk menetapkan hukumnya, karena
manusia tidak sanggup mengetahui dengan lengkap hikmah ibadat itu. Oleh
sebab itu hendaklah kaum muslimin beribadat sesuai dengan ketentuan-
Nya yang terdapat dalam Alquran dan Hadis.
Menurut Imam al-Haramain: Menurut pendapat Imam asy-Syafi’i dan
sebagian besar pengikut Madzhab Hanafi, menetapkan hukum dengan
mashlahat mursalah harus dengan syarat, harus ada persesuaian dengan
mashlahat yang diyakini, diakui dan disetujui oleh para ulama.

Seluk beluk civil society


Sebagai sebuah gagasan, civil society adalah produk pengalaman
sejarah, yakni sejarah masyarakat Barat. Sepanjang sejarahnya, civil society
mengalami pelbagai model pemaknaan, sejalan dengan keragaman dan
dinamika pemikiran serta keragaman dan dinamika konteks kesejarahan
tempat pemikiran itu diterapkan. Dalam sejumlah literatur, terdapat
sejumlah model pemaknaan civil society.
Pemahaman yang paling kuno, civil society dipahami sebagai sistem

182 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Maslahah dalam Civil Society

kenegaran. Civil society identik dengan state (Negara).4 Pemahaman demikian


dikembangkan oleh Aristoteles dan lain-lain. Pada paruh kedua abad ke-18,
Adam Ferguson (1767)5 lebih memaknai civil society sebagai visi etis dalam
kehidupan bermasyarakat untuk memelihara tanggung jawab sosial yang
bercirikan solidaritas sosial dan yang terilhami oleh sentiment moral serta
sikap saling menyayangi antar warga secara alamiah. Ketiga, Thomas Paine
(1792) mulai memaknai civil society dalam posisi diametral dengan Negara,
bahkan civil society dinilai sebagai antitesis Negara. Negara harus dibatasi
sampai sekecil-kecilnya, karena keberadaannya hanyalah keniscayaan
buruk (necessary evil)6 belaka. Civil society harus lebih kuat dan mengontrol
Negara demi keperluannya.
Bila Karl Marx menempatkan civil society pada basis material, Gramsci
menaruhnya pada superstruktur, berdampingan dengan Negara yang
ia sebut sebagai political society. Civil society adalah tempat perebutan
posisi hegemonik di luar kekuatan Negara. Di dalamnya, aparat hegemoni
mengembangkan hegemoni untuk membentuk consensus dalam masyarakat.
Mohammad AS. Hikam7mengkatagorikan Hegel, Karl Marx, dan
Gramsci ini sebagai pemakna civil society dalam pengertian ”elemen
ideology kelas dominant”. Itulah model keempat pemaknaan civil society.
Model terakhir ini kemudian diperkaya oleh Hannah Arendt dan Juergen
Habermas dengan ”ruang publik yang bebas” (the free public sphere). Dengan
demikian, terwujudnya ruang publik yang bebas merupakan elemen utama
dalam perjuangan pembentukan civil society.

4
Istilah Civil Society (koinonie politike, societas civilis, buergarliche gesellschaft, civil
society, societa civile), dipakai secara bergantian dengan state (polis, civitas, etat, staat,
state, dan stato). John Keane, “Despotism and Democracy The Origins and Development of
The Distinction Between Civil Society and The State 1750-1850”, dalam John Keane (ed.),
Civil Society and The State New European Perspectives, (New York: Verso, 1988), 35.
Ernest Gellner, Membangun Masyarakat Sipil Prasyarat Menuju Kebebasan (Bandung:
5

Mizan, 1995), 68-90.


6
John Keane, Civil Society and … , 45.
7
Muhammad AS. Hikam, Civil Society dan Masyarakat Indonesia, makalah seminar
“Mencari Konsep, Keberadaan, dan Strategi Mewujudkan Civil Society di Indonesia” oleh
LP3ES dan YAPPIKA, Jakarta, 14 April 1998, 5-8.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 183
Syamsuar Basyariah

Civil society model Tocqueville sebagai rekonstruksi pengalaman


Amerika dan kemudian tumbuh di Eropa inilah yang selanjutnya menjadi
basis kehidupan demokrasi modern, yang berlandaskan prinsip toleransi,
desentralisasi, kewarganegaraan, aktivisme dalam ruang publik, sukarela,
swasembada, swadaya, otonom, dan konstitusionalisme. Secara institutional,
civil society mewujud dalam berbagai asosiasi yang dibuat masyarakat di
luar pengaruh Negara. Misalnya, lembaga swadaya masyarakat, organisasi
sosial dan keagamaan, paguyuban, kelompok kepentingan, partai politik,
hingga organisasi yang awalnya dibentuk Negara, namun berfungsi sebagai
pelayan masyarakat, seperti Konnas HAM di Indonesia.
Masyarakat madani yang dikenal dari bahasa asalnya civil society
berasal dari bahasa Latin “civilis,” yang berarti warga, diterjemahkan dengan
bermacam-macam. Diperkenalkan pertama kali oleh Anwar Ibrahim,8 dan
kemudian dipopulerkan oleh cendekiawan muslim, pakar fiqh siyasah
dusturiyyah, Nurcholish Madjid. Nurcholish Madjid juga menterjemahkan
dengan bahasa yang sama “masyarakat madani.” Terjemahan ini
dipromosikan Nurcholish Madjid dan sangat kuat diterima oleh Tim Nasional
Reformasi Menuju Masyarakat Madani semasa B. J. Habibie.9 Dalam buku
kecil Ringkasan Eksekutifnya, disimpulkan antara lain: “Untuk menghindari
perdebatan yang berkepanjangan dan tidak perlu, maka “masyarakat
madani.” 10
disepakati sebagai terjemahan dari “civil society.” Walaupun

8
Dalam ceramahnya pada Simposium Nasional dalam rangka Festival Istiqlal di Jakarta,
26 September 1995, Anwar Ibrahim-saat itu masih menjabat sebagai Menteri Keuangan dan
Timbalan Perdana Menteri Malaysia-memperkenalkan istilah “masyarakat madani” untuk
civil society yang memang sudah berkembang di Malaysia. Dawam Rahardjo, “Masyarakat
Madani ... , 1.
Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani, Transformasi Bangsa Menuju
9

Masyarakat Madani (Jakarta: Sekretariat Tim Madani, kantor Sekwapres, 1999), 2-3.
10
Nurcholish Madjid tidak menterjemahkan civil society dengan masyarakat sipil karena
dikhawatirkan akan bertentangan dengan masyarakat militer. Hal ini dipertegas oleh
Azyumardi Azra, yang katanya “sejauh yang saya ketahui, dia tidak mempersoalkan antara
sipil dengan militer. Cak Nur tetap menolak keterlibatan militer di dalam politik. Masyarakat
madani, bagi dia adalah tegaknya nilai-nilai keadaban, apakah melalui lembaga pemerintah
atau non pemerintah sehingga civil society bisa hidup. Ada law and order.” Azyumardi Azra,
Islam Substantif: Agar Umat Tidak Menjadi Buih, Cet. I (Bandung: Mizan, 2000), 313.

184 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Maslahah dalam Civil Society

wacana tentang masyarakat madani belum berumur panjang, namun cita-


cita untuk mewujudkan masyarakat madani telah berkembang sejak zaman
pergerakan kemerdekaan.” Satu konsep pentingnya adalah fungsi relasional
“negara vs masyarakat,” yakni melindungi individu, sebagai suplementer
kepada tugas negara, dan sebagai pengisi atau komplemen “terhadap hal-
hal penting dalam kehidupan sosial yang berada di luar jangkauan atau
perhatian negara.”11
Bagaimana Nurcholish Madjid mengartikan masyarakat madani?.
Masyarakat madani menurut Nurcholish terdiri dari dua kata yakni
“masyarakat” dan “madani.” “madani” berasal dari kata ‘Arab al-madaniyyah
yang artinya peradaban. Dalam bahasa Inggris, istilah yang sepadan dengan
ini adalah kata civility yang berarti “keadaban.” Dalam bahasa ‘Arab modern,
terjemahan civil society adalah al-mujtama‘ al-madani.
Nampak jelas bahwa dalam konteks ini yang menjadi kata kunci
bagi Nurcholish Madjid adalah “Madinah” yang secara etimologis berarti
“kota.” Dalam literatur bahasa ‘Arab, kata ini bermakna “pola hidup
berperadaban,” yang karena itu, istilah madaniyah berarti “peradaban.”
Dengan mengutip Ensiclopedia Britannica, Nurcholish Madjid mengatakan
bahwa kata ini pun dipergunakan dalam bahasa Ibrani menjadi Madinah,
madinat, atau medinat, dan mengalami perubahan makna menjadi “negara.”
Dalam bahasa Ibrani, nama resmi Israel adalah Madinat Israel atau Medinat
Yisra’il. Kesimpulannya, istilah Madinah, erat kaitannya dengan “negara.”
Setidaknya “negara-kota” yang menyiratkan pentingnya aspek keadaban,
dan dalam bahasa ‘Arab hal tersebut adalah madaniyah atau dalam bahasa
Inggris disebut civility.12
Selanjutnya, dalam membahas atau merumuskan masyarakat madani,
Nurcholish Madjid sering mengintegralistikkan antara tiga kata yakni
masyarakat madani, civility, dan demokrasi.13 Dalam pandangan Nurcholish

Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani, Transformasi Bangsa … . 2-3.


11

Nurcholish Madjid, “Asas-asas Pluralisme dan Toleransi dalam Masyarakat Madani,”


12

Makalah yang disempurnakan dari pidato Halal bi Halal KAHMI, Jakarta, 11 Syawal
1419/28 Januari 1999, 1-2.
13
Reformasi tidak dapat dipisahkan dari demokrasi. Tetapi demokrasi, menurut suatu

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 185
Syamsuar Basyariah

Madjid, jika demokrasi-sebagaimana dipahami di negara maju-harus


mempunyai “rumah,” maka rumahnya adalah “masyarakat madani” atau
“civil society,” sementara “civility” merupakan kualitas etik yang dimiliki
oleh masyarakat itu sendiri,14 seperti toleransi, keterbukaan, kebebasan, dan
tanggung jawab. Bagaimana keterkaitan masyarakat madani dengan civility?
Eksistensi masyarakat madani, lebih jauh, tegas Nurcholish Madjid sangat
determinan oleh sejauh mana kualitas civility tersebut dimiliki warganya.
Civility mengandung makna toleransi, kesediaan pribadi-pribadi untuk
menerima berbagai macam pandangan politik dan tingkah laku sosial, juga
kesediaan untuk menerima pandangan bahwa tidak selalu ada jawaban
yang benar15 atas suatu masalah.16
Di atas segalanya, rumusan yang diajukan oleh Nurcholish Madjid
harus diberi perhatian secara lebih luas. Sebagian besar melalui rumusannya,
wacana tentang civil society dengan terjemahan “masyarakat madani”
akhirnya dapat diterima banyak kalangan di Indonesia.17 Bahkan, dalam
beberapa hal, rumusan Nurcholish Madjid itulah yang menandai titik akhir

analisis pengamat sosial politik, tidak mungkin berlangsung jika civil society lemah
dalam berhadapan dengan negara. Demokrasi akan berlangsung jika civil society kuat
dalam berhadapan dengan negara. Mengenai pengertian dan konsep demokrasi dan nilai-
nilainya yang dimaksudkan Nurcholish Madjid telah dikaji dalam bentuk tesis oleh Anas
Urbaningrum (mantan Ketua Umum PB HMI-sekarang Ketua DPP Partai Demokrat)
dengan judul Islamo-Demokrasi: Pemikiran Nurcholish Madjid, Cet. I (Jakarta: Republika,
2004).
Nurcholish Madjid, Cita-cita Politik Islam Era Reformasi, Cet. I (Jakarta: Paramadina,
14

1999), 144-149.
Kebenaran manusia dalam pandangan Nurcholish Madjid bersifat relatif, sementara
15

kebenaran absolut hanya ada di tangan Tuhan. Jadi dengan demikian, kata Nurcholish
Madjid “tidak ada klaim kebenaran.”
16
Nurcholish Madjid, Cita-cita Politik … ,148.
Suatu isu penting dalam “Konstitusi Madinah” adalah persamaan semua warga, sebagai
17

elemen pokok civil society atau “masyarakat madani” satu terjemahan yang dipromosikan
Nurcholish Madjid dan sangat kuat diterima oleh Tim Nasional Reformasi Menuju
Masyarakat Madani semasa B. J. Habibie. Tim Nasional Reformasi menuju Masyarakat
Madani, Transformasi Bangsa menuju Masyarakat Madani, (Jakarta: Sekretariat Tim
Madani, kantor Sekwapres, 1999).

186 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Maslahah dalam Civil Society

dari usaha merumuskan visi tentang civil society bagi kalangan muslim.18
Ketika para intelektual dan aktivis lain seperti Mohammad AS Hikam,
Dawam Rahardjo, dan Mansour Fakih mengalami kesulitan mendasar untuk
menarik wacana civil society ke dalam konteks kesejarahan Islam, karena
keyakinan mereka bahwa tradisi Islam tidak memiliki pengalaman historis
mengenai hal tersebut, Nurcholish Madjid secara meyakinkan meminjam
istilah Anwar Ibrahim dan kemudian melacak akar-akar sejarah sosial Islam
dari konsep tersebut.
Hal inilah yang agaknya membuat banyak orang merasa bahwa
ternyata Islam memiliki fondasi yang kuat dalam apa yang sekarang
disebut civil society. Melalui tangan Nurcholish Madjid, istilah “masyarakat
madani” seakan-akan mendapatkan kesejatian dan daya tarik yang
ampuh.19Kemudian dari hasil bacaan dan pengamatan Hendro Prasetyo,
Ali Munhanif, dan kawan-kawan, mengatakan “wacana tentang masyarakat
madani kemudian menjadi semakin dekat dengan wacana keagamaan
Islam. Inilah salah satu yang akhirnya menjadi acuan bagi banyak orang
untuk tidak lagi ragu mensandingkan wacana tentang civil society dan
pesan-pesan sosial politik Islam.”20
Atas dasar penjelasan di atas, dalam sebuah wawancara dengan Ahmad
Baso, yang direkam kembali oleh Hendro Prasetyo, Ali Munhanif, dan kawan-
kawan, bahwa rumusan Nurcholish Madjid tentang masyarakat madani
menyebabkan “banyak kalangan intelektual-aktivis Islam tidak lagi mengalami
stigma intelektual ketika berbicara mengenai wacana tersebut, dimana
sebutan-sebutan yang kental dalam nuansa civil society dari pengalaman
sejarah sosial Eropa, seperti masyarakat borjuis, sekuler, liberalisme, dan
kritik terhadap institusi dan kekuasaan, muncul.”21 Di sini masyarakat madani

Ahmad Baso, Civil Society versus Masyarakat Madani: Arkeologi Pemikiran Civil
18

Society dalam Islam Indonesia (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999).


19
Hendro Prasetyo, Ali Munhanif, dkk., Islam dan Civil Society … , 169.
20
Nurcholish Madjid, “Asas-asas Pluralisme … , 1-2.
21
Hendro Prasetyo, Ali Munhanif, dkk., Islam dan Civil Society … , 169.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 187
Syamsuar Basyariah

dengan ciri khas22 terpokok menjadikan kehidupan masa Nabi Muhammad


sebagai teladan tentu memiliki nilai tambah tersendiri dibanding dengan
gerakan civil society kalangan lain yang lebih banyak mendasarkan diri pada
pengisian makna dari konsep-konsep dan pengalaman Barat. Dengan bahasa
lain, dalam konsep civil society kelihatan nuansa agama yang tidak dominan,
dan itu berarti belum mencapai tingkat civility.23
Nabi Muhammad telah merintis dan memberi teladan kepada
umat manusia dalam membangun masyarakat madani (masyarakat yang
berperadaban) dengan mereformasi sosio-kultural masyarakat Yasthrib
yang kering dari nilai-nilai etika, dan tidak mengindahkan hak-hak azasi
perorangan serta suatu tatanan masyarakat yang kacau. Perubahan
mendasar yang dipelopori Nabi Muhammad ini, kata Nurcholish Madjid
mengantarkan masyarakat Yasthrib kepada suatu tatanan masyarakat
berperadaban (ber-madaniyyah), masyarakat yang tunduk dan patuh
kepada ajaran kepatuhan (al-Din) dan dinyatakan dalam supremasi hukum
dan peraturan.24 Usaha Nabi Muhammad itu disebut juga sebagai proses
pembinaan kesadaran dan perpecahan dengan mencari dan mengaktualkan
kembali petunjuk Allah, sehingga mentransformasikan masyarakat Arab
menjadi masyarakat madani. Proses ini dapat dikatakan sebagai proses
yang relatif panjang, sebab lebih kurang dua puluh tiga tahun lamanya Nabi
Muhammad berjuang untuk itu.25

Ciri-ciri mendasar masyarakat madani yang dibangun Nabi Muhammad menurut


22

Nurcholish Madjid di antaranya: 1). Egalitarianisme; 2). Penghargaan kepada orang


berdasarkan prestasi (bukan kesukuan, keturunan, ras, dan sebagainya); 3). Keterbukaan
partisipasi seluruh anggota masyarakat; 4). Penegakan hukum dan keadilan; 5). Toleransi
dan pluralisme; 6). Musyawarah. Nurcholish Madjid, Adi Suryadi Culla, Masyarakat
Madani: Pemikiran, Teori, dan Relevansinya dengan Cita-cita Reformasi, Cet. II, (Jakarta:
RajaGrafindo Persada, 1999), 193.
Ahmad Baso, Civil Society versus Masyarakat Madani: … , 254.
23

Nurcholish Madjid, “Masyarakat Madani dalam Perspektif Agama dan politik, Asas-Asas
24

Pluralisme dalam Masyarakat Madani”. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional di


Auditorium IAIN Jakarta 22 Pebruari 1999, 1.
Safwan Idris, “Menuju Masyarakat Madani dengan Bimbingan al-Qur’an”, makalah
25

disampaikan pada acara Ceramah Nuzul Quran 17 Ramadhan 1419 H/4 Januari 1999 M di
masjid Istiqlal Jakarta.

188 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Maslahah dalam Civil Society

Setelah mencapai tingkat kemapanan, nama Yathrib dirubah Nabi


Muhammad menjadi “Madinah”26 artinya “kota,” kemudian sering dilengkapi
menjadi “al-Madinah al-Nabiy,” sampai sekarang terkenal dengan nama “al-
Madinah al-Munawwarah.”27 Secara konvensional, perkataan “Madinah”
diartikan dengan “kota,” tetapi secara ilmu kebahasaan perkataan itu
mengandung makna peradaban. Dalam bahasa ‘Arab, untuk “peradaban”
digunakan kata-kata “madaniyyah” atau “tamaddun,”28 selain kata hadarat.
Berangkat dari pengertian kata tersebut, Nurcholish Madjid
memandang tindakan Nabi Muhammad merubah nama “Yathrib” menjadi
“Madinah” pada dasarnya adalah pernyataan niat, atau proklamasi,
bahwa Nabi Muhammad bersama pendukungnya (Muhajirin dan Ansar)
hendak mendirikan dan membangun masyarakat yang berperadaban (ber-
madaniyyah),29 sehingga perubahan nama memiliki makna yang integral
dan sesuai dengan karakter masyarakatnya.
Cita-cita fiqh siyasah dusturiyyah Nurcholish Madjid ingin mewujudkan
masyarakat Islam (Islamic society) yang dalam wacana lain sering disebut
“masyarakat madani” yang ia terjemahkan dari “civil society.” Civil society
menurut Nurcholish Madjid sebagaimana dikutip Ernest Gellner adalah
“produk Barat.” Tetapi secara substansial paradigma nilai masyarakat madani
itu telah terdapat dalam ajaran Islam. Adanya hubungan konseptual antara
civil society dengan nilai-nilai dasar Islam, dalam perspektif Nurcholish
Madjid dapat ditemukan dalam seluk-beluk demokrasi.

26
Sebelumnya bernama Yathrib. Yathrib sebuah nama yang mengandung konotasi pagan,
dan kemudian berubah menjadi Madinat al-Nabiy (kota Nabi) paska hijrahnya Rasulullah
ke negeri ini. Cyril Glassie, The Concice Encyclopedia of Islam, (London: Stacey
International, 1989), h. 226. Madinah mempunyai 29 nama, dimana salah satunya adalah
Yathrib.
Diterimanya perubahan nama dari Yathrib menjadi Madinah al-Nabiy atau Madinah
27

al-Munawwarah sebagai bentuk penghormatan terhadap Nabi Muhammad. Badri Yatim,


Sejarah Peradaban Islam, Cet. IX (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999), 25.
28
Wahbah Zuhaily membedakan pengertian antara term tamaddun dan madaniyyah.
Tamaddun berarti juga modernisasi atau kosmopolitansi, sementara madaniyyah merupakan
fisik kosmopolitansi. Fisik, sarana perhubungan yang dapat diterima.
29
Nurcholish Madjid, Cita-cita Politik … , 164.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 189
Syamsuar Basyariah

Masyarakat madani memiliki banyak ide (bersifat kelompok atau


lokal) tentang kiat-kiat membangun negara, sementara negara adalah
representasi ide universal yang bertugas melindungi kepentingan politik
warganya dan berhak penuh untuk intervensi ke dalam civil society. Dengan
demikian, civil society adalah entitas yang cenderung melumpuhkan diri
sendiri (myself crippling entity),30 dan karenanya memerlukan tuntunan
negara lewat kontrol hukum, administrasi, dan politik.
Intervensi negara dalam wilayah masyarakat, bagi Nurcholish
Madjid, bukanlah tindakan illegitimate. Karena negara adalah pemilik ide
universal, dan hanya pada dataran negara, politik bisa berlangsung murni
serta utuh. Selain itu, masyarakat madani atau civil society modern pada
kenyataannya tidak mampu mengatasi kelemahannya sendiri serta tidak
mampu mempertahankan keberadaannya bila tanpa keteraturan politik
dan ketertundukan pada institusi lebih tinggi, yakni negara.
Demokrasi dalam pandangan Nurcholish Madjid berfungsi sebagai
the rule of game. Tentu saja demokrasi digunakan sebagai mekanisme
untuk mengoreksi “kesalahan-kesalahan pelaksanaan pemerintahan
dan penggunaan kekuasaan ditinjau dari sudut kepentingan rakyat dan
ketentuan-ketentuan konstitusional.”31 Jika demikian, demokrasi akan
berkembang secara dinamis, dan karenanya pula perlu pengawasan yang
lestari dengan mengikutsertakan semua warga negara dalam keterbukaannya
sistem demokrasi. Keikutsertaan masyarakat menyebabkan demokrasi itu
tidak statis. Ukurannya adalah proses progresif yang mengikuti suatu garis
kontinum. Jadi kata Nurcholish Madjid “antara keadaan masyarakat kita
sekarang ini (das Sein) dan keadaan demokratis yang kita kehendaki (das
Sollen) tidak bisa kita ukur jarak ruang atau waktunya.”
Selanjutnya, Nurcholish Madjid mengatakan bahwa “suatu masyarakat
tidak demokratis jika tidak ada proses demokratisasi. Sebaliknya, cukuplah
suatu masyarakat disebut demokratis, jika terdapat proses demokratisasi
yang lestari dan konsisten.” Proses seperti ini, lanjutnya, adalah bisa

30
John Keane, Civil Society and … , 50.
31
Nurcholish Madjid, Cita-cita Politik … , 69.

190 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Maslahah dalam Civil Society

diukur atau diketahui dalam beberapa “check-list,” terutama bagaimana


kita mengembangkan nilai-nilai yang merupakan implikasi masyarakat
demokratis seperti nilai-nilai tawhid, hak-hak asasi manusia, kebebasan
menyatakan pendapat, kebebasan berserikat, tertib dan keadilan hukum,
perwujudan, kesempatan yang merata, dan seterusnya.32Nilai-nilai ini jika
diaplikasikan dalam kehidupan, diyakini akan membawa pelakunya kepada
kemaslahatan.

Maslahah dalam civil society


Maslahah dalam ushul fiqh terbagi tiga macam sebagaimana yang telah
diuraikan di atas. Ketika kajian fiqh siyasah dikaitkan dengan maslahah,
maka ternyata dalam fiqh siyasah dapat juga dimasukkan ketiga macam
mahlahah yang terdapat dalam pembahasan ushul fiqh yaitu Daruriyyah
(primer), Hajiyyah (sekunder), dan Tahsiniyyah (tertier). Berdasarkan
pembahasan yang telah lalu, ditemukan sejumlah nilai-nilai civil society
yang relevan dengan maslahah sebagimana terdapat pada tabel berikut:

Nilai-nilai Civil Society Berdasarkan Maslahah

No. Macam-macam Maslahah Nilai-nilai Civil Society


1. Daruriyyah (primer) Tawhid
2. Hajiyyah (sekunder) Keadilan, musyawarah, amanah,
kebebasan, persaudaraan, penegakan
hukum, persamaan, HAM, dan nilai
pertanggung jawaban publik.

3. Tahsiniyyah (tertier) -

Dilihat dari macam-macam maslahah yang terbagi kepada tiga


yaitu maslahah daruryyah, hajiyyah, dan tahsiniyyah, maka nilai-nilai
civil society dapat digolongkan kepada dua macam maslahah. Pertama,
maslahah daruriyyah dan yang termasuk di dalamnya hanya satu yaitu
prinsip pokok atau tawhid. Kedua, maslahah hajiyyah dan yang termasuk

32
Nurcholish Madjid, Cita-cita Politik …, 70-71.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 191
Syamsuar Basyariah

dalam kelompok ini adalah nilai-nilai keadilan, musyawarah, amanah,


kebebasan, persaudaraan, penegakan hukum, persamaan, HAM, dan prinsip
pertanggung jawaban publik.

Kesesuaian Nilai-nilai civil society dengan Maqasid Syar‘iyyah

No. Nilai-nilai Civil Cociety Maqasid syar‘iyyah


1. Tawhid Hifz al-din
2. Keadilan Hifz al-mal
3. Musyawarah Hifz al-‘aql
4. Amanah Hifz al-mal
5. Kebebasan Hifz al-nafs
6. Persaudaraan Hifz al-nasl
7. HAM Hifz al-nasl
8. Persamaan Hifz al-mal
9. Pertanggung jawaban publik Hifz al-din

Konsep dan penerapan nilai utama (tawhid) yang baik dikaitkan


dengan maqasid syar‘iyyah pada tabel di atas termasuk katagori Hifz al-
din (menjaga agama). Adapun penerapan nilai-nilai pendukung (keadilan,
musyawarah, amanah, kebebasan, persaudaraan, persamaan, dan nilai
pertanggung jawaban publik) dikaitkan dengan maqasid syar‘iyyah
termasuk katagori hifz al-mal (menjaga harta).
Penerapan nilai musyawarah termasuk katagori hifz al-‘aql (menjaga
akal) dan nilai persaudaraan termasuk katagori hifz al-nasl (menjaga
keturunan). Sementara penerapan prinsip pendukung (HAM) yang dikaitkan
dengan maqasid syar’iyyah termasuk katagori hifd al-nafs (menjaga jiwa).33
‘Illatnya karena manusia adalah makhluk paling mulia dan ciptaan Allah
tertinggi. Maka memelihara, menjaga dan melindungi jiwa serta memenuhi

Dibandingkan dengan Ahmad Farrag, ‘Ali Shari‘ati, Brugger, Hohfeid, Jack Donnelly,
33

Muhammad Arkoun, A. Gewirth, C.R. Beitz, McClosky, dan Feinberg, Nurcholish Madjid
dalam pandangan M. M. Billah “belum mengelaborasi implikasi pandangannya tentang
konsep manusia itu ke dalam pemikiran tentang hak asasi manusia, kecuali amat sekilas
mendaftar beberapa hak secara tersurat.” M. M. Billah, “Refleksi atas Pemikiran HAM Cak
Nur,” dalam Abdul Halim, (Editor): Menembus Batas Tradisi, Menuju Masa Depan yang
Membebaskan: Refleksi atas Pemikiran Nurcholish Madjid, Cet. I (Jakarta: Penerbit Buku
Kompas, 2006), 254.

192 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Maslahah dalam Civil Society

hak-hak dasarnya merupakan kewajiban bersama masyarakat Aceh.


Sebagai gambaran, Aceh yang sebelumnya pernah disebut dengan
nama Daerah Istimewa Aceh (1959-2001) dan Nanggroe Aceh Darussalam
(2001-2009) adalah sebuah provinsi di Indonesia dan merupakan provinsi
paling barat di Indonesia. Aceh memiliki otonomi yang diatur tersendiri,
berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia, karena alasan
sejarah. Daerah ini berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara,
Samudra Hindia di sebelah Barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan
Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan. Ibu kota Aceh ialah Banda
Aceh. Pelabuhannya adalah Malahayati-Krueng Raya, Ulee Lheue, Sabang,
Lhokseumawe dan Langsa. Aceh merupakan kawasan yang paling buruk
dilanda gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Beberapa tempat di pesisir
pantai musnah sama sekali. Yang terberat adalah Banda Aceh, Aceh Besar,
Aceh Jaya, Aceh Barat, Singkil dan Simeulue.
Aceh mempunyai kekayaan sumber alam seperti minyak bumi dan
gas alam. Sumber alam itu terletak di Aceh Utara dan Aceh Timur. Aceh juga
terkenal dengan sumber hutannya, yang terletak di sepanjang jajaran Bukit
Barisan, dari Kutacane, Aceh Tenggara, Seulawah, Aceh Besar, sampai Ulu
Masen di Aceh Jaya. Sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Gunung
Leuser (TNGL) juga terdapat di Aceh Tenggara. Pada zaman kekuasaan
zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, Aceh merupakan
negeri yang amat kaya dan makmur. Menurut seorang penjelajah asal
Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh di zaman tersebut, kekuasaan
Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau. Kekuasaan Aceh pula meliputi
hingga Perak. Kesultanan Aceh telah menjalin hubungan dengan kerajaan-
kerajaan di dunia Barat pada abad ke-16, termasuk Inggris, Ottoman, dan
Belanda.
Kesultanan Aceh terlibat perebutan kekuasaan yang berkepanjangan
sejak awal abad ke-16, pertama dengan Portugal, lalu sejak abad ke-
18 dengan Britania Raya (Inggris) dan Belanda. Pada akhir abad ke-18,
Aceh terpaksa menyerahkan wilayahnya di Kedah dan Pulau Pinang di
Semenanjung Melayu kepada Britania Raya. Pada tahun 1824, Persetujuan
Britania-Belanda ditandatangani, di mana Britania menyerahkan wilayahnya

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 193
Syamsuar Basyariah

di Sumatra kepada Belanda. Pihak Britania mengklaim bahwa Aceh adalah


koloni mereka, meskipun hal ini tidak benar. Pada tahun 1871, Britania
membiarkan Belanda untuk menjajah Aceh, kemungkinan untuk mencegah
Perancis dari mendapatkan kekuasaan di kawasan tersebut.
Kesultanan Aceh merupakan kelanjutan dari Kesultanan Samudera
Pasai yang hancur pada abad XIV. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau
Sumatera dengan ibu kota Kutaradja (Banda Aceh). Dalam sejarahnya yang
panjang itu (1496 - 1903), Aceh telah mengukir masa lampaunya dengan
begitu megah dan menakjubkan, terutama karena kemampuannya dalam
mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, komitmennya dalam
menentang imperialisme bangsa Eropa, sistem pemerintahan yang teratur
dan sistematik, mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan,
hingga kemampuannya dalam menjalin hubungan diplomatik dengan
negara lain.

Analisis
Dua sejarah Aceh yang masih segar dalam ingatan masyarakat kita,
sekaligus menjadi sejarah dunia, yaitu komflik Aceh yang berkepanjangan
mencapai puluhan tahun, telah menelan korban dalam jumlah yang banyak,
perusakan pembangunan fisik yang tidak terelakkan, suasana kehidupan
yang mencekam, masyarakat hidup penuh ketakutan. Dan peristiwa Tsunami
26 Desember 2004 telah membuat Aceh lebih hancur berantakan. Kuburan
Massal dimana-mana menjadi bukti sejarah sepanjang masa untuk dikenang.
Dua perintiwa ini mengundang perhatian dunia luar dari berbagai arah.
Sejumlah besar negara-negara seketika itu tiba di tanah rencong dengan misi
kemanusiaan, membantu dan menghibur masyarakat yang lagi mengalami
keguncangan yang memilukan dan luka yang sangat dalam.
Belum lagi usai konflik di tengah-tengah masyarakat Aceh, ditambah
dengan amukan gelombang air laut, membuat Aceh menjadi lebih parah.
Sebagian warga yang ikut dibawa bersama air bah berkata “kiamat telah
tiba”. Aceh benar-benar hancur dan lumpuh. Banda Aceh sebagai pusat kota
provinsi Aceh, biasanya sarat dengan kurumunan manusia dengan berbagai
aktifitas menjadi kota mati seketika.

194 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Maslahah dalam Civil Society

Di sela-sela pemulihan Aceh dari amukan stunami yang dahsyat,


berbagai pihak terus berjuang berusaha mencari solusi bagaimana Aceh bisa
dipulihkan kembali dari peristiwa demi peristiwa yang menderanya. Melalui
sebuah perjalanan panjang, yang difasilitasi komunitas Internasional, Aceh
dapat dirujuk kembali kepangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). 15 Agustus 2005 merupakan awal perdamaian Aceh, tepatnya pukul
15.00 Wib dan pukul 11.00 waktu Helsinki Finlandia. Ribuan masyarakat
Aceh menyambut gembira menyaksikan penandatanganan MoU perdamaian
GAM dan Pemerintah RI. Mulai saat itu dan seterusnya masyarakat Aceh
akan hidup dalam kedamaian. Jauh dari kesengsaraan yang telah dialami
selama 30 tahun.
Seiring berjalannya MoU, selama itu pula perdamaian terbangun
dengan baik di Aceh. Perlahan-lahan iklim damai mulai dirasakan masyarakat.
Suasana mulai berubah, kondusif dan menyenangkan. Masyarakat terlihat
bersemangat membangun kembali Aceh Baru. Hal ini tentunya tidak terlepas
dari bantuan berbagai lembaga seperti AMM, BRA, dukungan masyarakat
Aceh, masyarakat internasional, NGO dan KPA. Namun, yang menjadi
pertanyaan kita hari ini adalah “Mampukan masyarakat Aceh, Pemerintah
dan GAM melestarikan perdamaian dengan berbagai persoalan yang ada?”
Tidak ada pilihan lain untuk menjawab pertaanyaan di atas, selain
“harus mampu”. Harus mampu membangun strategi .dalam menata
kehidupan Aceh ke arah yang lebih baik dalam era damai menjadi sebuah
tuntutan mutlak. Rakyat Aceh telah lama merindukan kedamaian di
bumi tercinta ini. MoU telah membuka jalan sekaligus menjadi dasar
bagi penyusunan sistem pemerintah Aceh yang demokratis dan sistem
pengelolaan anggaran yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat. MoU
membuka kesempatan Aceh untuk mengelola kekayaan alam, budaya dan
sumber daya manusia untuk keluar dari jeratan kemiskinan dan ketidak
adilan. Serta keluar dari berbagai bentuk kekerasan dan teror.
Hasil sosialisasi MoU Helsinki, melahirkan RUUPA dan telah menjadi
UUPA No. 11 Tahun 2006 sebagai dasar konstitusional dalam perwujudan
perdamaian, keadilan dan kesejahteraan. Membangun dan menata kembali
Aceh dalam bentuk yang bermartabat serta mampu bersaing dengan

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 195
Syamsuar Basyariah

wilayah lain di Indonesia dalam berbagai bidang dan dunia internasional di


era kontemporer yang serba kompetitif.
Perdamaian Aceh berjalan sudah lebih 5 tahun. Perkembangan yang
terjadi cukup dinamis, baik politik, ekonomi, keamanan dan rencana-
rencana Aceh ke depan. Salah satu yang terpenting, Aceh telah mampu
melewati pilkada 2006 dengan suasana yang aman dan kondusif. Seluruh
rakyat bisa ikut serta memberikan suara secara bebas tanpa intervensi dari
pihak mana pun. Ini menunjukkan perdamaian di Aceh benar-benar tercipta
dan terpelihara dengan baik.
Keberhasilan Aceh baru yang bermartabat, terletak ditangan rakyat
Aceh. Bagaimana rakyat Aceh bisa menghargai dan memaknai pentingnya
sebuah perdamaian. Karena tanpa perdamaian mustahil pembangunan
menuju arah perbaikan dan kemajuan bisa digapai. Dunia pendidikan
bisa ditingkatkan, kesejahteraan semakin merata, keadilan bisa dirasakan
diberbagai tingkat lapisan masyarakat. Melalui suasana perdamaianlah
Aceh akan bangkit dari keterpurukan dan kehancuran yang selama ini
melandanya. Berbagai elemen yang ada turut membantu melestarikan
perdamaian secara bersamaan, yaitu dengan mendukung berkembangnya
sistem politik baru yang demokratis, ruang gerak dan pertisipasi terbuka
dan keamanan yang perlahan-lahan membaik serta ikut pula perbaikan
perekonomian.
Suasana perdamaian yang saat ini dimiliki rakyat Aceh, membuat
mereka lebih kreatif, inovatif, produktif dalam melahirkan ide-ide
barunya untuk membangun Aceh ke depan. Berbagai jenis usaha mulai
bermunculan kembali di Aceh. Berbagai bidang usaha digeluti masyarakat
tanpa rasa takut dan was-was. Kehidupan dan aktifitas malam hari menjadi
pulih kembali. Artinya, rakyat Aceh aktif mendukung pemerintah Aceh
mewujudkan masyarakat sejahtera dan makmur. Demikian juga di bidang
pendidikan, masyarakat Aceh terlihat begitu antusias mendukung kemajuan
pendidikan. Masyarakat di seluruh Aceh sadar akan pentingnya kemajuan
pendidikan untuk memajukan anak bangsa. Hal ini terlihat seperti lahirnya
Universitas-Universitas, sekolah tinggi-sekolah tinggi seperti di wilayah
Barat Aceh, telah lahir, menampakkan diri dan sekaligus memantapkan

196 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Maslahah dalam Civil Society

dirinya sebagai Universitas Teuku Umar, dan Sekolah Tinggi Agama Islam
Teungku Dirundeng Meulaboh yang berdiri tahun 1986. Tidak hanya itu, di
berbagai wilayah kabupaten/kota dalam jumlah yang banyak juga terdapat
sekolah tinggi-sekolah tinggi. Hal ini terbuka peluang bagi masyarakat luas
untuk dapat menikmati dunia pendidikan secara menyeluruh.
Perdamaian yang saat ini dirasakan rakyat Aceh, tidak menutup
kemungkinan sewaktu-waktu suasana kekacauan akan muncul kembali.
Terlebih lagi pemilu 2011 yang sudah di ambang pintu. Jumlah partai
yang ikut dalam pemilihan umum lebih dari 40 partai dan diperkirakan
pemilukada 2011 kalau tidak menurun drastis, kemungkinan akan
bertambah. Tentunya saingan para elit politik semakin ketat untuk menuju
kursi panas. Kondisi ini membuka peluang terwujudnya pertikaian internal,
yang kadangkala juga bisa membesar menjadi pertikaian eksternal. Situasi
buruk biasanya diawali dengan terjadinya polarisasi yang tajam ditingkat
elit politik karena sibuk memperebut sumberdaya politik dan ekonomi.
Situasi ini bisa memperkeruh pedamaian Aceh, karena itu perlu diwaspai.
Dalam perspektif Islam, antara kandidat pimpinan bersama seluruh
pendukungnya dengan kandidat pimpinan lain bersama seluruh pendukung
mereka harus saling menghargai, saling menghormati, tidak menghardik
serta melakukan intimidasi terhadap calon dan pendukung yang lain. Apa
lagi melakukan fitnah, dilarang oleh Allah (Q. S. al-Hujarat/49: 10-13). Visi
dan misi serta program strategi masing-masing kandidat melalui dengan
cara-cara yang baik dan santun serta mudah dipahami. Situasi seperti ini
perlu dipelihara dan dilestarikan dibumi persada agar perdamaian Aceh
abadi.
Kesejahteraan masyarakat dalam suatu wilayah pemerintahan atau
suatu daerah sangat ditentukan oleh peraturan dan kebijakan yang ada
dalam daerah tersebut. Keadaan ini dapat di capai bila pemimpin dan para
pembantunya mempunyai kapasitas dan kapabilitas untuk melaksanakan
pemerintahan yang sungguh-sungguh, berlaku adil, dan senantiasa
memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Masyarakat dapat
memperoleh segala imformasi yang dibutuhkan dengan mudah. Terjalinnya
komonikasi yang harmonis dan merasa saling membutuhkan.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 197
Syamsuar Basyariah

Sesungguhnya terbentuk masyarakat Aceh Baru adalah sumbangan


terbesar terhadap proses pembentukan masyarakat baru di Indonesia.
Dinamika sosial-politik dan budaya yang terjadi Aceh telah menjadi
modalitas untuk pembentukan masyarakat Indonesia yang baru dan
modern. Apa yang terjadi di Aceh saat ini, memberi ispirasi pula pada dunia
dalam mgupayakan rehabilitasi dan konstruksi pasca bencana alam besar
dan perdamaian. Rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi modali awal yang
diberikan dunia menuju Aceh baru dan masyarakat Indonesia Baru. Karena
itu, kesadaran akan solidaritas kemanusiaan secara universal bersifat
mutlak. Perdamaian, menunjukkan bahwa kontinuitas Indonesia tidak lagi
diurus dengan senjata tetapi dengan hati.
Sejak tahun 1976, organisasi pembebasan bernama Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) telah berusaha untuk memisahkan Aceh dari Indonesia
melalui upaya militer. Pada 15 Agustus 2005, GAM dan pemerintah Indonesia
akhirnya menandatangani persetujuan damai sehingga mengakhiri konflik
antara kedua pihak yang telah berlangsung selama hampir 30 tahun. Pada
26 Desember 2004, sebuah gempa bumi besar menyebabkan tsunami yang
melanda sebagian besar pesisir barat Aceh, termasuk Banda Aceh, dan
menyebabkan kematian ratusan ribu jiwa.
Di samping itu, telah muncul aspirasi dari beberapa wilayah Aceh,
khususnya di bagian barat, selatan dan pedalaman untuk memisahkan diri
dari Aceh dan membentuk provinsi-provinsi baru. Pasca Gempa dan Tsunami
2004, yaitu pada 2005, Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh
Merdeka sepakat mengakhiri konflik di Aceh. Perjanjian ini ditandatangani
di Finlandia, dengan peran besar daripada mantan petinggi Finlandia, Marti
Ahtisaari.
Proses perdamaian Aceh difasilitasi oleh Crisis Management Initiative
(CMI) yang bermarkas di Finlandia. Adapun tahap tahap menuju perdamaian
melalui pembentukan Komisi Keberlanjutan Perdamaian Aceh (Cospa),
Badan Reintegrasi-Damai Aceh (BRA), Kesepakatan Damai 15 Agustus 2005,
Perjanjian Penghentian Permusuhan (Coha), Jeda Kemanusiaan.
Perdamaian Aceh tidak berjalan mulus, bahkan mengalami berbagai
hambatan seperti milisi di Aceh, terhambatnya proses demokrasi yang

198 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Maslahah dalam Civil Society

sehat, institusi politik yang belum mapan, masih adanya pelanggaran


HAM, tata kelola pemerintahan yang masih kotor, law inforcement yang
lemah, pembangunan ekonomi yang masih belum merata, pelaksanaan dan
penerapan syariat Islam belum maksimal, tuntutan pemekaran provinsi
Aceh yaitu pemekaran provinsi Aceh Lauser Antara (ALA) dan Aceh Barat
Selatan (ABAS) masih mengental.
Damai Aceh Baru perlu diwujudkan, dipertahankan, dan dirawat agar
selalu eksis, dan kokoh. Pesan terakhir Hasan Tiro (85) sebelum meninggal
dunia adalah menyangkut perdamaian Aceh. Pendiri Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) ini ingin perdamaian terus terjaga di bumi Serambi Makkah.
”Dia sudah melihat kedamaian di Aceh. Hasan Tiro ingin perdamaian
ditumbuhkembangkan, karena perdamaian ini yang ditunggu-tunggu rakyat
Aceh,” kata pendiri Institut Perdamaian, Farid Husein.
Aceh Baru pasca MoU Helsinki di Finlandia itu diharapkan senantiasa
berpijak pada nilai-nilai yang pernah ditawarkan dan dipraktikkan pada
masyarakat Madinah ketika dipimpin oleh Nabi Muhammad. Nilai-nilai civil
soceity tersebut di antaranya ialah nilai-nilai tawhid, keadilan, ukhuwwah,
persatuan, HAM, dan pertanggung jawaban publik. Nilai-nilai ini harus
dipraktikkan oleh masyarakat Aceh Baru karena relevan dengan budaya/
kearifan lokal orang Aceh yang berjalan seiring antara syari’at dengan adat.
Semua orientasi adat/budaya orang Aceh, begitu juga dengan orientasi
akhir dari syari’at Islam adalah terwujudnya lima kemashlahatan yaitu
kemashlatan agama, kemashlahatan jiwa, kemashlahatan akal, kemashlatan
keturunan, dan kemashlahatan harta benda. Terwujudnya tujuan syara’ ini
sekaligus dapat terjawab qaidah ushul fiqh “adh-dhararu yuzal” artinya
kemudharatan harus dihilangkan. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa dengan mempraktikkan nilai-nilai masyarakat madani/civil soceity,
masyarakat Aceh Baru akan mampu memberantas kemudharatan yang
dapat merusak agama, akal, jiwa, keturunan, dan harta, yang sudah tentu
dengan konsekwensi logisnya, kemashlahatan atau konsep mashlahah
mursalah dapat terimplementasi.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 199
Syamsuar Basyariah

DAFTAR PUSTAKA

Abu Hamid al-Ghazali. al-Mustasyfa fi ‘Ilm al-Usul, Jilid I. Beirut: Dar al-
Kutub al-Islamiyyah, 1983
Abu Ishaq al-Syatibi. al-Muwafaqat fi Usul al-Syari‘ah. Beirut: Dar al-Ma’rifah,
1973.
Adi Suryadi Culla. Masyarakat Madani: Pemikiran, Teori, dan Relevansinya
dengan Cita-cita Reformasi, Cet. II. Jakarta: RajaGrafindo Persada,
1999
Adi Suryadi Culla.“Masyarakat Madani dalam Perspektif Agama dan
politik, Asas-Asas Pluralisme dalam Masyarakat Madani”. Makalah
disampaikan pada Seminar Nasional di Auditorium IAIN Jakarta 22
Pebruari 1999
Ahmad Baso. Civil Society versus Masyarakat Madani: Arkeologi Pemikiran
Civil Society dalam Islam Indonesia. Bandung: Pustaka Hidayah, 1999
Anas Urbaningrum. Islamo-Demokrasi: Pemikiran Nurcholish Madjid, Cet. I.
Jakarta: Penerbit Republika, 2004
Asafri Jaya Bakri. Konsep Maqasid Syari‘ah Menurut al-Syatibi, Cet. I. Jakarta:
RajaGrafindo Persada, 1996
Azyumardi Azra. Islam Substantif: Agar Umat Tidak Menjadi Buih, Cet. I.
Bandung: Mizan, 2000
Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam, Cet. IX. Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 1999.
Cyril Glassie. The Concice Encyclopedia of Islam. London: Stacey International,
1989.
Ernest Gellner. Membangun Masyarakat Sipil Prasyarat Menuju Kebebasan.
Bandung: Mizan, 1995
John Keane. “Despotism and Democracy The Origins and Development
of The Distinction Between Civil Society and The State 1750-1850”,
dalam John Keane (ed.), Civil Society and The State New European
Perspectives. New York: Verso, 1988
M. M. Billah. “Refleksi atas Pemikiran HAM Cak Nur,” dalam Abdul Halim, (Ed.),
Menembus Batas Tradisi, Menuju Masa Depan yang Membebaskan:

200 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Maslahah dalam Civil Society

Refleksi atas Pemikiran Nurcholish Madjid, Cet. I. Jakarta: Penerbit


Buku Kompas, 2006.
Muhammad AS. Hikam. Civil Society dan Masyarakat Indonesia, makalah
seminar “Mencari Konsep, Keberadaan, dan Strategi Mewujudkan Civil
Society di Indonesia” oleh LP3ES dan YAPPIKA. Jakarta, 14 April 1998
Nasrun Haroen. Ushul Fiqh I Jilid I, Cet. II. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997
Nurcholish Madjid. “Asas-asas Pluralisme dan Toleransi dalam Masyarakat
Madani,” Makalah yang disempurnakan dari pidato Halal bi Halal
KAHMI, Jakarta, 11 Syawal 1419/28 Januari 1999
----------------. Cita-cita Politik Islam Era Reformasi, Cet. I. Jakarta: Paramadina,
1999.
Safwan Idris. “Menuju Masyarakat Madani dengan Bimbingan Alquran”,
makalah disampaikan pada acara Ceramah Nuzul Alquran17
Ramadhan 1419 H/4 Januari 1999 M di Masjid Istiqlal Jakarta
Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani. Transformasi Bangsa
Menuju Masyarakat Madani. Jakarta: Sekretariat Tim Madani, Kantor
Sekwapres, 1999

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 201
Hukum Islam di Tengah
Bangunan Sistem Hukum
Nasional
(Penguatan Civil Society dan Supremasi
Hukum di Aceh dalam Bingkai NKRI)

Andi Nuzul
Dosen Ilmu Hukum pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
(STAIN) Watampone, Sulawesi Selatan. Menyelesaikn S-1 pada IAIN
Alauddin, Watampone (1978), S-2 pada UGM (2003), S-3 pada UGM
(2009) jurusan Ilmu Hukum

Pendahuluan
Reformasi Hukum merupakan salah satu amanat penting dalam
rangka pelaksanaan agenda reformasi nasional. Di dalamnya tercakup
agenda penataan kembali berbagai institusi hukum dan politik mulai dari
tingkat pusat sampai ke tingkat pemerintahan desa (gampong), pembaruan
berbagai perangkat peraturan perundang-undangan mulai dari UUD sampai
ke tingkat Peraturan Desa, dan pembaruan dalam sikap, cara berpikir dan
berbagai aspek perilaku masyarakat hukum kita ke arah kondisi yang
sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Menurut Jimly Asshiddiqie,1
agenda reformasi hukum tercakup pengertian reformasi kelembagaan
(institutional reform), reformasi perundang-undangan (instrumental
reform), dan reformasi budaya hukum (cultural reform). Pendekatan yang
dikemukakan Jimly ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari teori
1
Jimly Asshiddiqie, “Hukum Islam Dan Reformasi Hukum Nasional”, disampaikan dalam
Seminar Penelitian Hukum tentang Eksistensi Hukum Islam Dalam Reformasi Sistem
Nasional, diselenggarakan oleh BPHN Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia,
di Jakarta, 27 September, 2000, 7, http://www.theceli.com/dokumen/produk/jurnal/jimly/
j011.htm#_ftn1 (Down load, Juni 2009).

203
Andi Nuzul

L.M. Friedman bahwa dalam rangka membangun sistem hukum yang kuat
dan demokratis harus tertuju pada 3 aspek dasarnya yaitu struktur hukum;
substansi hukum dan kultur hukum2.
Hukum Islam di Indonesia tidak ada yang meragukan eksistensinya,
kecuali jika masih ingin mempercayai teorinya Receptie Snouck Hurgronje3.
Akan tetapi kini muncul pertanyaannya, bagaimana membumikan hukum
Islam dalam sistem hukum di Indonesia?, Atau dalam kerangka kebijakan
otonomi daerah, sejauhmana hukum Islam dapat didesentralisasikan.

Perkembangan eksistensial hukum Islam


1) Otonomi daerah dan desentralisasi sistem hukum
Berdasarkan konsep kekuasaan yang diatur dalam Pasal 7 ayat (1) UU
No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, kemudian UU ini diganti
dengan UU No. 32 tahun 2004, di mana kekuasaan peradilan termasuk
urusan yang ditentukan sebagai kewenangan pemerintahan pusat.
Masalahnya, apakah yang dimaksudkan dengan peradilan itu mencakup
pula pengertian substansi hukum yang dijadikan pegangan dalam proses
peradilan. Jika kekuasaan peradilan dipahami dalam pengertian institusi
peradilan yang terstruktur mulai dari Pengadilan tingkat Pertama sampai
ke tingkat Mahkamah Agung, maka pembinaan administrasinya dan
pengelolaan sistem peradilannya tentu tidak dapat didesentralisasikan.
Karena kekuasaan peradilan itu, sesuai ketentuan UUD 1945, berpuncak
pada Mahkamah Agung yang mandiri. Bahkan, berdasarkan ketentuan
UU No.4 Tahun 2004, baik urusan acara peradilan maupun administrasi
peradilan, dikembangkan menjadi satu atap di bawah Mahkamah Agung

2
Riedman, M. Lawrence, 2001, American Law An Introduction,( Second Edition),
diterjemahkan oleh Wishnu Basuki dengan judul, “Hukum Amerika Sebuah Pengantar,
Cet. I (Jakarta: Tatanusa, tt), 8-9.
3
“Hukum yang hidup dan berlaku di kalangan rakyat Indonesia (pada waktu itu: bumi
putra) adalah hukum adat. Hukum Islam meresepsi terhadap hukum adat. Hukum Islam
hanya mempunyai kekuatan berlaku jika hukum adat menghendakinya”, Andi Nuzul, 2008,
Pengaruh Ajaran Hukum Kewarisan Bilateral Hazairin Terhadap Pembaruan Hukum
Kewarisan Islam Di Indonesia, Hasil Penelitian yang dibiayai DIPA STAIN Watampone
Tahun 2008, 48.

204 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

(one roof sysiem of judicial). Akan tetapi, dalam hubungannya dengan materi
hukum dan budaya hukum sebagai dua komponen penting dalam sistem
peradilan nasional dan sistem hukum nasional secara keseluruhan, tidak
ada ketentuan yang menegaskan keharusan untuk diseragamkan di seluruh
wilayah hukum Republik Indonesia. Karena pada dasarnya yang menjadi
tujuan ideal dari hukum adalah “untuk mencapai kesempurnaan hidup atau
ketertiban masyarakat”4
Dalam hubungannya dengan pertanyaan sejauhmana sistem hukum
Islam dapat didesentralisasikan guna mencapai tujuan ideal dari sistem
hukum yang memiliki dasar yang kuat dalam kehidupan masyarakat, maka
ada baiknya kita telusuri beberapa ketentuan baik yang bersumberkan dari
UUD tahun 1945 maupun berbagai turunannya.
Dalam Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua UUD 1945 dinyatakan:
“Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali
urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan
Pemerintah Pusat. Kemudian dalam Pasal 18 A UUD tahun 1945 menyebutkan,
“Bahwa hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah
provinsi, kabupaten, dan kota, atau antara provinsi dan kabupaten dan kota,
diatur dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah”. Bahkan
dalam ayat (6) Pasal 18 A tersebut dinyatakan pula, “Pemerintahan daerah
berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk
melaksanakan otonomi dan tugas perbantuan”. Kemudian dalam Pasal 18 B
ayat (1) dinyatakan secara tegas: “Negara mengakui dan menghormati satuan-
satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa
yang diatur dengan undang-undang”. Selanjutnya pada ayat (2) dinyatakan:
“Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum
adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai
dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”. Kemudian ketentuan Pasal
UUD Tahun 1945 di atas diadopsi secara penuh masuk dalam ketentuan
Pasal 2 ayat (8 dan 9) UU No. 32 tahun 2004.

Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum, Sebuah Pengantar, Cet. I (Yogyakarta:


4

Liberty, 1996), 8.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 205
Andi Nuzul

Dengan demikian UUD Tahun 1945 mengakui dan menghormati


pluralisme hukum dalam masyarakat, meskipun sistem peradilan nasional
bersifat terstruktur dalam kerangka sistem nasional, namun materi hukum
yang dijadikan pegangan oleh para hakim dapat dikembangkan secara
beragam. Apalagi secara historis, sistem hukum nasional Indonesia seperti
dikenal sejak lama memang bersumber dari berbagai sub sistem hukum,
yaitu sistem hukum Barat, sistem hukum Adat, dan sistem hukum Islam,
ditambah dengan praktik-praktik yang hidup dalam masyarakat dipengaruhi
oleh berbagai perkembangan hukum nasional sejak kemerdekaan dan
perkembangan-perkembangan yang diakibatkan oleh pengaruh pergaulan
bangsa Indonesia dengan tradisi hukum dari dunia internasional.
Dalam dunia yang terus berubah ke arah hubungan-hubungan yang
makin saling mempengaruhi seperti sekarang ini, tidak mungkin dapat
menolak ide-ide dan norma-norma hukum yang berasal dari tradisi dan
praktek hukum negara-negara lain yang mempengaruhi sistem hukum
nasional kita. Demikian pula keragaman tradisi hukum yang tumbuh
dan hidup dalam pergaulan masyarakat kita sendiri yang sangat plural
dari Sabang sampai ke Merauke, tidak mungkin diabaikan jika sistem
hukum nasional kita diharapkan dapat bekerja secara efektif sebagai
instrumen untuk menciptakan kedamaian dan keadilan dalam kehidupan
bersama. Oleh karena itu, sumber-sumber tradisi hukum adat (kearifan
lokal) masyarakat kita yang masih menjadi kesadaran hukum, sumber-
sumber tradisi hukum yang dihayati secara mendalam dalam keyakinan
keagamaan masyarakat kita, dan bahkan sumber-sumber norma hukum
yang sama sekali asing sekalipun, sepanjang memang kita butuhkan
dan tidak melemahkan persatuan dan kesatuan sebagai substansi NKRI
untuk mewujudkan keadilan dan kebenaran serta kedamaian hidup, tidak
mungkin ditolak pemberlakuannya dalam kesadaran hukum masyarakat
dan bangsa kita.

2) Pengakuan secara filosofis, sosiologis dan ketatanegaraan atas


hukum Islam
Dari sejarah hukum diketahui bahwa hukum Islam secara yuridis

206 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

telah berdiri sendiri untuk waktu yang cukup lama. Reglement op het beleid
Regeering van Nederlandhschi atau disingkta RR yang di muat dalam
Staatsdblad Hindia Belanda 1885 No. 2 Pasal 75 ayat (2), menyebutkan
bahwa, Hakim Indonesia hendaknya memberlakukan undang-undang
agama dan kebiasaan penduduk Indonesia. Bahkan dalam Pasal 78 RR
ayat (2) ditegaskan lagi bahwa jika terjadi perkara perdata anatara sesama
orang Indonesia atau yang dipersamakan dengan mereka, maka mereka
tunduk pada putusan hakim agama atau kepala masyarakat mereka
menurur undang-undang agama atau ketentuan-ketentuan lama mereka5
Namun dalam kenyataan sejarah pula, hubungan antara hukum adat dan
hukum Islam telah memperlihatkan hubungan yang tidak harmonis antara
keduanya, sehingga melahirkan beberap teori6, yang menunjukkan bentuk
pemberlakuan hukum Islam dalam kaitannya dengan hukum adat.
Dalam rangka mewujudkan sistem hukum Islam dalam bangunan sistem
hukum nasional, perlu ditelaah mengenai berbagai aspek perkembangan
eksistensial hukum Islam baik secara empiris, filosofis maupun secara
ketatanegaraan dalam kaitannya dengan pelaksanaan agenda reformasi
hukum nasional yang sekarang tengah berlangsung. Di satu segi, hukum
Islam perlu dijadikan objek penelaahan, karena ia berasal dari kesadaran
keyakinan bagi umat Islam Indonesia. Oleh karena itu agenda pembaruan
atau reformasi hukum nasional juga mencakup pengertian pembaruan
terhadap hukum Islam itu sendiri. Jangan sampai, misalnya, karena
kesibukan dalam memikirkan keseluruhan sistem hukum nasional yang
perlu direformasi, atau kesibukan kita disita oleh berbagai kasus kejahatan
besar di negara kita ini yang modus operandinya bermacam-macam yang
menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, menyebabkan kita
lalai memperhitungkan faktor sistem hukum Islam yang sangat penting.
Artinya dalam keseluruhan bangunan sistem hukum Nasional yang sedang
mengalami proses transformasi menuju ke masa depan yang diharapkan

Syahrizal, Hukum Adat Dan Hukum Islam Di Indonesia, Cet. I (Batuphat-Lhokseumawe:


5

Yayasan Nadiya, 2004),159-160.


6
Teori reception in complexu; teori receptie; teori reception a contrario; teori otoritas
penataan hukum dan teori eksistensi, Syahrizal, Hukum Adat …,160-187.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 207
Andi Nuzul

akan menjadikan hukum sebagai satu kesatuan sistem yang ‘supreme’


dalam bangunan NKRI.  
Secara instrumental telah banyak ketentuan perundang-undangan
Indonesia yang telah mengadopsi berbagai materi hukum Islam ke dalam
pengertian hukum nasional. Secara institusional, eksistensi Pengadilan
Agama sebagai warisan penerapan sistem hukum Islam sejak zaman pra
penjajahan Belanda, juga terus dimantapkan keberadaannya dan menjadi
bukti historis. Bahkan secara sosiologis-empirik, praktek-praktek penerapan
hukum Islam itu di tengah-tengah masyarakat juga terus berkembang dan
makin lama makin meningkat dan meluas ke sektor-sektor kehidupan
hukum yang sebelumnya, belum diterapkan menurut ketentuan hukum
Islam. Misalnya perkembangan ekonomi kesyariahan, perda tentang zakat
dan penegakan norma-norma agama dibeberapa tempat di wilayah NKRI,
serta beberapa qanun (perundang-undangan) yang lahir di provinsi NAD.
Perkembangan itu semua, bahkan turut berpengaruh terhadap kegiatan
pendidikan hukum di tanah air, sehingga kepakaran dan penyebaran
kesadaran mengenai eksistensi hukum Islam itu di Indonesia makin
meningkat pula dari waktu ke waktu.
Dengan ruh reformasi yang tercetus tahun 1998, memungkinkan
fungsi peradilan dan penyelelesaian sengketa hukum selain tergantung
pada lembaga peradilan, juga berkaitan dengan sistem penyelesaian
sengketa dengan menggunakan mekanisme ‘Alternative Dispute Resolution’
(ADR) seperti melalui penggunaan fungsi lembaga arbitrase dan hakim
perdamaian seperti di desa ataupun dengan menggunakan jasa para
tokoh dan pemimpin informal yang dipercaya oleh masyarakat, seperti
para ulama dan guru. Karena itu, perlu ditelaah pula sejauhmana sistem
hukum Islam dapat berperan dalam pengembangan pemikiran dan praktek
mengenai penyelesaian sengketa hukum melalui mekanisme alternatif ini.
Menurut Jimli Ash-Shiddieqy7 bahwa, “di bidang ini, ia telah memprakarsai
pembentukan Badan Arbitrase Mualamat Indonesia (BAMUI) yang dewasa ini
telah menjalankan fungsinya dalam menyelesaikan berbagai kemungkinan

7
Jimly Ash-shiddiqie, “Hukum Islam …, 2..

208 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

timbulnya sengketa mu’amalat antara lembaga perbankan syari’ah


dengan para nasabahnya. Misalnya, ketentuan mengenai hal ini selalu
dicantumkan dalam naskah kontrak antara Bank Mu’amalat Indonesia
dengan para nasabahnya. Diharapkan semua kontrak yang dibuat antara
perusahaan yang menerapkan prinsip syari’at Islam dengan para nasabah
atau pelanggannya, dapat mengaitkan ketentuan mengenai penyelesaian
sengketa di antara mereka dengan fungsi Arbitrase Mu’amalat ini”. Hanya
saja menjadi masalah sampai sampai saat ini, meskipun peradilan agama
telah berkembang fungsi dan peranannya, terutama masuknya ekonomi
syariah dalam deretan kewenangannya, tapi dikesani sebagian besar para
hakim peradilan agama belum siap secara mandiri dan professional dalam
menghadapi kasus-kasus baru yang muncul dalam penyeleseaian sengketa
syariah itu. Termasuk tidak kesiapan Mahkamah Agung untuk menerima
Sarjana yang bertitel Sarjana Ekonomi Islam (SEI) luaran Perguruan Tinggi
Islam (UIN. IAIN, dan STAIN) sebagai hakim di peradilan agama, mengingat
karena dalam Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman (Pasal 12
UU No. 3 Tahun 2006), maupun dalam Undang-Undang Advokat (UU No. 18
tahun 2003) masih tetap meneguhkan bahwa yang memenuhi syarat untuk
menjadi hakim dan pengacara dalam lingkup peradilan agama adalah
hanyalah yang memiliki gelar/titel Sarjana Hukum Islam (S.HI), dan Sarjana
Hukum (SH) yang menguasai hukum Islam.
Pemberlakuan Hukum Islam di bidang mu’amalat dapat dikatakan
telah mempunyai kedudukannya yang tersendiri. Dalam hukum perdata
Islam--hukum ekonomi Islam, telah lahir beberapa unadng-undang yang
berkaitan perekonomian umat, misalnya UU zakat (UU No 38 tahun
1999), Perwakapan (UU No. 41 tahun 2004), dan sejak tahun 1992 telah
diundangkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan,
kemudian undang-undang ini diubah dengan Undang-Undang Nomor 10
Tahun 1998. Dalam UU Perbankan Indonesia tersebut telah mengakomodir
lahirnya BMT dan Bank Syariah. Dalam undang-undang tersebut secara tegas
mengakui keberadaan bank yang berdasarkan prinsip syariah di samping
bank konvensional. Sebagai tindak lanjut dari keluarnya Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 waktu itu, pemerintah mengeluarkan PP nomor 72

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 209
Andi Nuzul

tahun 1992 tentang Bank berdasarkan Bagi Hasil. Bahkan saat ini sudah ada
RUU Perbankan Syariah yang merupakan RUU inisiatif DPR Komisi XI. 8
Sebelum berlakunya UU tentang Perbankan Tahun 1992, ketentuan
hukum Islam di bidang perbankan belum diakui dalam kerangka sistem
hukum nasional. Namun, sejak diberlakukannya UU tentang Perbankan
1992 yang diikuti dengan terbitnya Peraturan Pemerintah dalam rangka
pelaksanaannya, maka sistem operasi Bank Mua’malat Indonesia
berdasarkan syari’at Islam diakui secara hukum. Sejak itu, berkembang
luas praktek penerapan sistem mu’amalat itu dalam sistem perekonomian
nasional dan praktek dunia usaha. Dapat dilihat perkembangan Bank
Perkreditan Syari’ah yang berjumlah ratusan. Meskipun konsep pokoknya
sendiri, yaitu konsep Bank Perkreditan Rakyat (BPR), di kemudian hari dinilai
kurang berhasil, tetapi aspek penerapan hukum mu’malat dalam sistem
operasional Bank Perkreditan Rakyat (BPR) tersebut telah memperlihatkan
kenyataan mengenai pemberlakuan aspek hukum syariatnya.9Lembaga-
lembaga pembiayaan lainnya seperti ‘Baitul Maal wa al-Tamwil” (BMT) yang
kadang-kadang di beberapa daerah disebut Balai-usaha Mandiri Terpadu
(BMT) yang dibina dan dikembangkan oleh Pusat Inkubasi Bisnis Usaha
Kecil (PINBUK) yang bernaung di bawah Yayasan Inkubasi Bisnis Usaha
Kecil (YINBUK). Yayasan ini didirikan oleh Ikatan Cendekiawan Muslim se-
Indonesia (ICMI) bersama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Bank
Mu’amalat Indonesia (BMI). Di samping itu, atas prakarsa Pengurus ICMI,
telah pula didirikan usaha asuransi yang menjalankan prinsip syari’at
(takaful) dengan nama Takaful Umum dan Takaful Keluarga yang berdiri
berdasarkan sistem syari’at Islam. Bahkan, Pemerintah sendiri telah pula
mengembangkan Bank Pemerintah tersendiri yang menggunakan sistem
syari’ah, yaitu dengan berdirinya Bank Syari’ah Mandiri10.
Kita bayangkan betapa ironisnya Indonesia yang negara agraris namun

8
.Abdul Ghofur Anshori, Peradilan Agama di Indonesia: Pasca UU No. 3 Tahun 2006
(Sejarah, Kedudukan, & Kewenangan) (Yogyakarta: UII Press, 2007), 59.
9
. Ibid., 3.
10
Jimly Asshiddiqie, “Hukum Islam…, 4

210 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

impor pangannya luar biasa. Setiap tahun 25% daging sapi yang kita makan
harus didatangkan dari luar. Se­banyak 30% gula, 2% beras, 90% bawang putih,
70% susu, dan juga 70% kacang kedelai untuk membuat tahu-tempe, dibeli
dari luar ne­geri. Celakanya lagi, Indonesia yang luas laut­annya dua pertiga
dari daratan, ternyata harus mengimpor 50% garam dari mancanegara11.
Haruskah kita masih mempertahankan sis­tem yang eksploitatif ini? Tentu
jawabnya tidak! Sistem ekonomi demikian itu tak cocok dengan ni­lai-nilai
yang dianut sebagian besar masya­rakat Indonesia. Modal sosial bangsa kita
harus diopti­malkan. Semangat gotong royong perlu lebih dikedepankan
ketimbang persaingan bebas yang mematikan.
Prinsip ekonomi yang meng­arah pada keadilan harus menjadi arah
kebi­jakan pemerintah, ekonomi kita harus melibatkan dan mengop­
timalkan sumber-sumber milik sendiri, termasuk sumberdaya manusia
(SDM) dan hal demikian merupakan inti bagian dari sistem ekonomi Islam.
Ekonomi basis Syariah merupakan suatu perekonomian yang orien­tasinya
pada keterlibatan orang banyak dalam aktivitas ekonomi, yakni aktivitas
produksi, akti­vitas konsumsi dan aktivitas distribusi. Hal yang berbe­da
dengan ekonomi kapitalistik, yang bias pada konglomerat, dan kepentingan
individual lebih dominan serta mengejar keuntungan secara berlebihan.
Ekonomi yang kapitalistik menomor­satukan pengejaran keuntungan
tanpa batas dengan cara bersaing, kalau perlu saling me­matikan (free fight
competition). Sebaliknya, dalam perekonomian syariah semangat yang lebih
menonjol adalah bekerja sama, karena hanya melalui kerja sama berdasar
asas kekeluargaan tujuan usaha dapat dicapai.
Dengan situasi yang tidak menentu saat ini, kita tidak hanya merespons
dengan kebijakan-­kebijakan jangka pendek sebagai “pemadam kebakaran”,
atau merespons situasi yang dalangnya di negeri lain. Kita harus melakukan
kaji ulang sistem dan praktik ekonomi nasional secara mendasar, kembali
membangun ekonomi de­ngan nilai-nilai Islam dan kearifan lokal, atau
nilai-nilai keindonesiaan, dan nilai-nilai religiusitas, atau nilai-nilai yang
dianut oleh sebagian besar warga bangsa ini yang didasarkan atas asas

Edy Suandi Hamid, “Ekonomi Pancasila” Kedaulatan Rakyat, 26 Oktober 2008: Tahun
11

LXIV No. 28). http:Iiwww.kr.co.id).

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 211
Andi Nuzul

usaha bersama berdasar atas semangat kekeluargaan. Ibaratnya antara


pembangunan hukum ekonomi dengan aktivitas ekonomi yang dijalankan
para ekonom seperti pepatah yang mengatakan het recht hinkt achter de
feiten aan sehingga hukum tertatih tatih di belakang pelaku ekonomi yang
terus maju bergerak cepat dan seolah-olah telah meninggalkan prinsip-
prinsip hukum ekonomi yang “adil berimbang (equilibrium) di bawah panji-
panji ketauhidan”12. Akibatnya terjadi kesenjangan dalam masyarakat
yang pada gilirannya melahirkan realita kehadiran konglomerat dan kaum
melarat, dan tatanan hukum ekonomi telah jauh dari prinsip-prinsip dasar
Pasal 33 ayat (1) UUD Tahun 1945 bahwa, “Perekonomian disusun sebagai
usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”.
Beberapa hukum pokok (basic law) di bidang hukum ekonomi
warisan kolonial Belanda, seperti BW (Burgerlijk Wetboek/KUHPerdata) dan
WvK (Wetboek van Koophandel/KUH Dagang) masih tetap berlaku. Pada hal
hukum Barat (BW dan WvK) menurut sejarahnya bukan diciptkan untuk
bangsa Indonesia, apalagi setelah kemerdekaan. Pandangan individualiasme,
dan materialisme satu bukti ke arah itu, tidak mampu mengantarkan bagi
masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraannya di bidang ekonomi.
Di satu sisi hukum Adat bangsa Indonesia yang masih tradisional,
yang sifatnya tidak tertulis, yang menentukan perjanjian sebagai perbuatan
riil, konkret, dan tunai, hanya mengatur kegiatan ekonomi lokal masyarakat
tradisional. Hukum Adat (bersifat lokal) tersebut tidak mungkin mampu
mengatur segala kebutuhan dan kegiatan ekonomi global pada masyarakat
dunia modern, seperti perdagangan internasional, pasar saham, perbankan,
perkreditan, perdagangan lewat electronic/internet (E- Commerce), dan
seterusnya.
Oleh karena dalam pembangunan hukum, tak terkecuali pada
bidang hukum ekonomi ada tiga hal penting yang harus dibenahi, yaitu
struktur hukum (legal structure) meliputi institusi/lembaganya, termasuk
aparatnya, jadi bagian dari rangka, bagian yang tetap bertahan lama, bagian
yang memberi semacam bentuk dan batasan terhada keseluruhan, misalnya

Muhammad dan Alimin, Etika Dan Perlindungan Konsumen Dalam Ekonomi Islam,
12

Cet. I (Yogyakarta : BPFE Yogyakarta, 2004,), 38-40.

212 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

kedudukan peradilan, berapa seharusnya hakim agung, yuridiksinya,


bagaimana badan legislatif ditata, dsb; Kemudian subtansi hukum (legal
substantive), berupa aturan norma, pola perilaku nyata manusia yang
berada dalam sistem itu, atau produk/materi hukum yang dihasilkan
oleh orang yang berada dalam sistem itu, atau keputusan yang mereka
keluarkan, atau aturan baru yang mereka susun; serta kultur hukumnya
(legal culture), berupa suasana pikiran sosial dan atau kekuatan sosial yang
menentukan bagaimana hukum digunakan atau dimanfaatkan, dihindari
atau pun disalahgunakan Pendeknya ketiga unsur sistem hukum ini dapat
diibaratkan, struktur hukum adalah mesin; substansi adalah apa yang
dihasilkan atau dikerjakan oleh mesin tersebut, sedangkan budaya hukum
adalah apa saja atau siapa saja yang memutuskan untuk menghidupakan
dan mematikan mesin itu (Friedman, M. Lawrence: 2001).
Dari gambaran sistem hukum di atas, maka sebetulnya dapat
dipahami bahwa kemauan politik bangsa menentukan supremasi tidaknya
sistem hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena dengan
kemauan politik dari bangsa ini akan mendorong lahirnya berbagai
kebijakan di bidang hukum untuk kemaslahatan, termasuk bidang hukum
ekonomi. Bukankah ada pendapat yang mengatakan bahwa hukum yang
dibuat pada hakikatnya tiada lain adalah produk politik, karena itu politik
hukum yang banyak menentukan arah pengembangan sistem hukum yang
akan diberlakukan. Oleh karena itu, hukum ekonomi Islam sebagai salah
satu pilihan alternatif dalam mengatasi krisis perekonomian di negara
Indonesia, mengingat bahwa hukum ekonomi Islam menganut sistem
keseimbangan dalam mengelola asset perekonomian dan pelaku ekonom,
memperhatikan keseimbangan aspek individu dan aspek publik.

3) Bentuk peraturan hukum (Qanun).


Memang benar, berdasarkan prinsip ‘lex superiore derogat lex infiriore’
maka secara hirarkis peraturan perundang-undangan yang tingkatannya
di bawah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang tingkatannya
lebih tinggi. Akan tetapi, dalam hukum juga berlaku prinsip ‘lex specialis
derogat lex generalis’ yang berarti bahwa peraturan yang khusus dapat

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 213
Andi Nuzul

mengesampingkan berlakunya suatu peraturan yang bersifat umum.


Kecenderungan desentralisasi dan keragaman sistem hukum itu
berkembang sesuai dengan prinsip ‘lex specialis derogat lex generalis’ yang
dikenal dan diakui sebagai doktrin yang universal dalam hukum. Akan
tetapi, semua ini haruslah kita lihat sebagai elemen substantif dari sistem
hukum kita itu. Aspek substansi itu masih harus ditata dan dilembagakan
dalam bentuk-bentuk hukum yang memang disepakati bersama secara
demokratis. Dalam UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-Undangan, dalam Pasl 7 ayat (1) disebutkan jenis-
jenis peraturan yang dapat dijadikan dasar dalam pelaksanaan hukum dan
peraturan, mencakup UUD tahun 1945, Undang-Undang, Perpu, Peraturan
Pemerintah, Keputusan Presiden, dan Peraturan Daerah. Kemudian dalam
7 ayat (2) tersebut ditegaskan bahwa Peraturan Daerah meliputi Perda
Provinsi, Perda Kabupaten/Kota, dan Peraturan Desa. Perda merupakan
peraturan untuk melaksanakan aturan hukum di atasnya, dan menampung
kondisi khusus dari daerah yang bersangkutan.
Dengan pentingnya posisi hukum Islam dalam menambah khasanah
wawasan sistem hukum nasional yang sebagian dari bidang-bidang
hukumnya masih di cita-citakan (ius constituendum), maka pilihannya
adalah apakah materi hukum Islam bersifat integrasi atau mandiri dalam
perwujudannya?
Terintegarsinya hukum Islam masuk melebur menjadi norma dalam
hukum nasional seperti sejak lama dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun
1960 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Agararia; hukum Perkawinan
berdasarkan UU No. 1 tahun 19974; UU tentang Perbankan Tahun 1992
yang sudah diperbaharui pada tahun 1998. Atau ke depan perlunya Undang-
Undang Hukum Kewarisan dengan corak bilateral yang sejak tahun 1960
melalui TAP MPRS No. II/1960 dengan memperhatikan aspek agama dan
kearifan lokal yang masih hidup dalam masyarakat sudah lama diamanatkan.
Sedangkan kalau norma hukum Islam menjadi bersifat mandiri, maka hukum
Islam berlaku intern bagi penganutnya, dan tidak boleh dipaksakan kepada
penganut agam lain, seperti keberlakuan INPRES No. 1 tahun 1991 mengenai
Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang materi hukumnya meliputi Perkawinan,

214 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

Kewarisan; UU Haji; UU Zakat. Kini persoalan yang harus disikapi secara


cermat dan konfrehensif serta penuh hati-hati yaitu, pemberlakukan hukum
Islam dalam bidang hukum publik terutama dalam kontek hukum pidana
Islam, umpamanya hukum rajam, hukum cambuk, qisash yang embrio
pengamalannya telah terbangun di Aceh dengan bersenjatakan pada UU
Pemerintahan NAD (UU No. 11 thn 2006), jo UU RI No. 18 tentang Otonomi
Khusus Bagi Provinsi Daerah Aceh Sebagai Provinsi NAD; jo Qanun Provinsi
NAD No. 10 Tahun 2002 Tentang Peradilan Syariat Islam. Sebab sebagai
negara (Indonesia) yang berpenduduk mayoritas muslim, tidak ada yang
menafikan kedudukan hukum Islam dalam tata hukum Indonesia, kecuali
jika orang tersebut adalah antek-antek C.v. Vollen Hoven dan Snouck
Hurgronje, karena dijamannyalah hukum Islam di keluarkan dari tata hukum
Hindia Belanda. Akan tetapi perdebatan utamanya sekarang terletak pada
cara-cara penerapan norma hukum Islam, misalkan haruskah qisash, rajam,
potong tangan; cambuk, atau qisash diyat dsb.

4) Membangun kesadaran hukum bagi masyarakat Aceh


Apa yang diuraikan di atas pada pokoknya menyangkut agenda
penataan kembali institusi hukum dan pembaruan berbagai perangkat
perundang-undangan yang diperlukan dalam upaya membangun sistem
hukum nasional di Provinsi Aceh yang sesuai dengan tuntutan perkembangan
zaman dan kesadaran berhukum masyarakatnya. Tujuannya tidak lain juga
adalah membangun kembali civil society yang pernah porak poranda pada
masa Daerah Operasi Militer (DOM) dan bencana Stunami. Oleh karena itu,
agenda pembangunan hukum di Aceh adalah untuk penguatan civil society
dalam bingkai NKRI. Jadi apapun nantinya yang dicapai dari keberhasilan
membangun sistem hukum yang bersendikan syariat di Aceh dalam upaya
rekonstruksi dan penguatan civil society pasca DOM atau bencana Tsunami
tersebut adalah menguatkan Aceh sebagai bagian NKRI. Akan tetapi reformasi
atau pembangunan hukum termasuk reformasi kelembagaan (institutional
reform) dan reformasi perundang-undangan (instrumental reform) di Aceh
tersebut tidak akan dapat diharapkan berfungsi efektif apabila kesadaran
hukum dan budaya hukum masyarakat tidak menunjang. Karena itu, perlu

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 215
Andi Nuzul

dikembangkan upaya-upaya pembinaan dan pembaruan yang sistematis


dan terarah mengenai oreintasi pemikiran, pendidikan hukum, sikap tindak,
dan kebiasaan berperilaku dalam kehidupan masyarakat luas (cultural
reform) di Aceh. 
Sikap menghormati hukum dan orientasi berpikir dan bertindak
yang selalu didasarkan atas hukum masih harus dibina dan dikembangkan
menjadi kebiasaan hidup rakyat Indonesia. Di tengah isu hak asasi manusia
(HAM) yang dewasa ini menghantui cara berpikir hampir semua orang,
juga perlu disadari secara berbanding lurus mengenai pentingnya dimensi
kewajiban dan tanggungjawab asasi manusia (TAM). Sejatinya hukum dan
keadilan justeru terletak pada keseimbangan dinamis dalam hubungan
antara hak dan kewajiban yang tidak dapat dilepaskan dari kepentingan
para subjek hukum dalam arti sempit ataupun kepentingan masyarakat
pada umumnya13. 
Pembinaan kesadaran hukum dan budaya hukum masyarakat di
Aceh itu perlu dikembangkan, baik melalui saluran pendidikan masyarakat
dalam arti yang seluas-luasnya maupun melalui saluran media komunikasi
massa dan sistem informasi yang menunjang upaya pemasyarakatan dan
pembudayaan kesadaran hukum yang luas. Sudah saatnya semua pihak
menanamkan keyakinan yang sunguh-sungguh mengenai pentingnya
menempatkan hukum sebagai “kalimatun sawa’” atau ‘pegangan normatif’
tertinggi dalam kehidupan bersama14 sebagai panglima dalam kehidupan
bersama. Demokratisasi hukum harus tetap teguh dalam prinsip-prinsip
keadilan, kejujuran, keberpihakan pada kebenaran, bukan demokratisasi
atas nama kebebasan yang kebabalasan yang sering diperontonkan baik oleh
elit politik, elit penguasa, juga pada kelompok masyarakat. Hukum yang
tertinggi adalah perilaku yang mengenal hak dan kewajiban secara baik.
Pengakuan terhadap sistem hukum Islam sebagai bagian tak
terpisahkan dari sistem hukum nasional, akan berdampak sangat positif
terhadap upaya pembinaan hukum nasional. Setidak-tidaknya, kita dapat

13
Jimly Asshiddiqie, “Hukum Islam …, 7.
14
Ibid.

216 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

memastikan bahwa di kalangan sebagian terbesar masyarakat Indonesia


yang akrab dengan nilai-nilai Islam, kesadaran kognitif dan pola perilaku
mereka dapat dengan mudah memberikan dukungan terhadap norma-
norma yang sesuai dengan kesadaran dalam menjalankan syari’at agama.
Dengan demikian, pembinaan kesadaran hukum masyarakat dapat lebih
mudah dilakukan dalam upaya membangun supremasi hukum di masa
yang akan datang. Hal itu akan sangat berbeda jika norma-norma hukum
yang diberlakukan justru bersumber dan berasal dari luar kesadaran hukum
masyarakat.

Penutup
Secara filofos, teoritik dan empirs, perkembangan ke arah adopsi
yang makin luas terhadap sistem hukum Islam ke dalam bangunan
sistem hukum nasional yang bersesuaian dengan dinamika kesadaran
hukum dalam masyarakat Indonesia, yang dituangkan dalam berbagai
bentuk peraturan perundang-undangan serta diwujudkan dalam esensi
kelembagaan hukum yang dikembangkan dapat dikaitkan pula dengan
pertimbangan-pertimbangan yang bersifat, historis, sosiologis dan filosofis
serta ketatanegaraan.
Secara umum dapat diakui bahwa UUD Tahun 1945 mengakui dan
menganut ide ketauhidan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara. Ide ketauhidan itu tidak saja ditegaskan dalam rumusan
Pembukaan UUD Tahun 1945 yang menyebut secara eksplisit adanya
pengakuan ini, tetapi juga dengan tegas mencantumkan Ketuhanan Yang
Maha Esa itu sebagai sila pertama dan utama dalam rumusan Pancasila.
Bahkan, dalam Pasal 29 UUD 1945, ditegaskan pula bahwa negara
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Juga dalam Pasal 9 UUD Tahun
1945 disebutkan bahwa setiap Presiden dan Wakil Presiden sebelum
memangku jabatan diwajibkan untuk bersumpah menurut agama “Demi
Allah”. 
Ide Ketauhidan yang dikaitkan dengan ide Ke-Maha Kuasaan Tuhan
yang tidak lain merupakan gagasan Kedaulatan Tuhan dalam pemikiran
kenegaraan Indonesia. Namun, prinsip Kedaulatan Tuhan itu berbeda dari

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 217
Andi Nuzul

paham teokrasi barat yang dijelmakan dalam kekuasaan Raja,15 maka dalam
sistem pemikiran ketatanegaraan berdasarkan UUD 1945, hal itu dijelmakan
dalam prinsip-prinsip kedaulatan rakyat. Selanjutnya, prinsip kedaulatan
rakyat dijelmakan ke dalam sistem kelembagaan Majelis Permusyawaratan
Rakyat (MPR) yang selanjutnya akan menentukan haluan-haluan dalam
penyelenggaraan negara berupa produk-produk hukum tertinggi, yang akan
menjadi sumber bagi penataan dan pembinaan sistem hukum nasional. MPR-
lah yang dijadikan sumber kewenangan hukum bagi upaya pemberlakuan
sistem hukum Islam itu dalam kerangka sistem hukum nasional.
Dari perspektif hukum Islam, proses pemikiran yang demokratis
yang berhubungan erat dengan penafsiran inovatif terhadap ayat al-Quran
yang mewajibkan ketaatan kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada ‘ulul
amri’. Pengertian ‘ulul amri’ yang seringkali disalahpahami sebagai konsep
mengenai ’pemimpin’ (waliyu al-amri), justeru dipahami sebagai konsep
mengenai “perwakilan kepemimpinan” atau “para pemimpin yang mewakili
rakyat” (ulul amri)16. Karena itu, konsep parlemen dalam pengertian modern
dapat diterima dalam kerangka pemikiran hukum Islam, melalui mana
norma-norma hukum Islam itu diberlakukan dengan dukungan otoritas
kekuasaan umum, yaitu melalui pelembagaannya menjadi ‘qanun’ atau
peraturan perundang-undangan negara. Karena itu, dapat dikatakan bahwa
eksistensi hukum Islam dalam kerangka Sistem Hukum Nasional Indonesia
(SHNI) sangat kuat kedudukannya, baik secara historis, empiris dan filosofis,
politits, maupun juridis. Oleh karenanya meluasnya kesadaran mengenai
reformasi hukum nasional di NAD dewasa ini justeru memberikan peluang
yang makin luas bagi sistem hukum Islam untuk berkembang makin luas
dalam upaya memberikan sumbangan terhadap perwujudan penguatan
civil society dan penegakan supremasi hukum di Aceh dalam bingkai NKRI.

15
Ibid., 9.
16
.Ibid.

218 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

DAFTAR PUSTAKA

Anshori, Abdul Ghofur. Peradilan Agama Di Indonesia: Pasca UU No. 3


Tahun 2006 (Sejarah, Kedudukan, & Kewenangan). Yogyakarta: UII
Press, 2007
Friedman, M. Lawrence American Law An Introduction,( Second Edition),
diterjemahkan oleh Wishnu Basuki dengan judul, “Hukum Amerika
Sebuah Pengantar, Cet. I Jakarta: Tatanusa, 2001
Hamid, Edy Suwandi. “Ekonomi Pancasila” Kedaulatan Rakyat, 26 Oktober
2008 Tahun LXIV No. 28). : http:Iiwww.kr.co.id.
Jimly Asshiddiqie. “Hukum Islam Dan Reformasi Hukum Nasional”,
disampaikan dalam Seminar Penelitian Hukum tentang Eksistensi
Hukum Islam Dalam Reformasi Sistem Nasional, diselenggarakan oleh
BPHN Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, di Jakarta, 27
September, 2000, http://www.theceli.com/dokumen/produk/jurnal/
jimly/j011.htm#_ftn1 (Down load, Juni 2009).
Mertokusumo, Sudikno. Penemuan Hukum, Sebuah Pengantar, Cet. I.
Yogyakarta: Liberty, 1996
Muhammad, dan Alimin. Etika Dan Perlindungan Konsumen Dalam Ekonomi
Islam, Cet. I. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta, 2004.
Nuzul, Andi, 2008, Pengaruh Ajaran Hukum Kewarisan Bilateral Hazairin
Terhadap Pembaruan Hukum Kewarisan Islam Di Indonesia, Hasil
Penelitian yang dibiayai DIPA STAIN Watampone Tahun 2008.
Qanun Prov. NAD Nomor 10 Tahun 2002 tentang Peradilan Syariat Islam.
Syahrizal. Hukum Adat Dan Hukum Islam Di Indonesia, Cet. I. Batuphat-
Lhokseumawe, NAD: Yayasan Nadiya, 2004
Undang-undang Dasar Tahun 1945.
Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh
Undang-undang Nomor 18 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi
Provinsi NAD

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 219
Pendidikan Karakter
Solusi Pembentukan Manusia
Aceh yang Berkeadaban

Syarifuddin
Dosen pada Fakultas ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dan
pengurus Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh

Pendahuluan
Bicara tentang pendidikan, tidak hanya secara nasional, namun secara
lokal ke-Acehan, bertolak dari paham tentang manusia adalah hal yang sangat
wajar, karena manusia merupakan pokok utama persoalan pendidikan.
Menurut Aristoteles, hanya manusia yang membutuhkan pendidikan. Para
dewa, sebagai makhluk rohani, sudah sempurna dan tidak membutuhkan
pendidikan lagi, sementara binatang merupakan makhluk yang nasibnya
sudah ditentukan, maka juga tidak membutuhkan pendidikan. Jadi, hanya
manusia yang memerlukan pendidikan.
Banyak hal yang diasumsikan oleh filsafat pendidikan sebagai
prasyarat. Pertama, manusia mempunyai kesadaran yang membuat
dirinya mampu mengambil jarak dari yang lain dan dari dirinya sendiri.
Dalam proses pendidikan kesadaran berperan penting dalam mengetahui
diri sebagai subjek dan keistimewaannya dibandingkan dengan makhluk
lain. Kedua, manusia mempunyai, atau setidaknya, merasakan adanya
kebebasan. Hal ini erat berkaitan dengan konsep pendidikan sebagai
dorongan dan kemampuan untuk menentukan pilihannya. Ketiga, karena

221
Syarifuddin

adanya kemampuan untuk memilih, ia pun peka dan peduli akan nilai-nilai
dan dapat membandingkan yang baik dan buruk. Dan keempat, pilihan ke
arah yang baik berlangsung terus tiada henti. Hal ini membawa manusia
pada keterbukaan pada yang transenden, kesediaan untuk melangkah ke
depan yang belum diketahuinya. Kesadaran, kebebasan, peduli nilai, dan
keterbukaan atau orientasi ke depan ini merupakan hal-hal yang mendasar
dalam proses pendidikan (A. Sidiarja, Basis: 2007).
Aktivitas pendidikan sejak awal telah menjadi cara bertindak dari
sebuah masyarakat. Dengan pendidikan, para pendahulu melanggengkan
warisan budaya mereka. Kepada generasi yang lebih muda, mereka
mewariskan nilai-nilai yang menjadi bagian penting dari kultur masyarakat.
Jika tidak ada proses pewarisan itu, nilai-nilai yang menghidupi kebudayaan
masyarakat terancam punah. Karena itu, pendidikan mempunyai peran
vital sebab tidak hanya menentukan keberlangsungan masyarakat, namun
juga mengukuhkan identitas sebuah masyarakat. Belakangan pendidikan
dikeluhkan tanpa visi dan tanpa tujuan yang jelas. Berbagai macam
perubahan dalam bidang pendidikan justru semakin membebani peserta
didik. Apalagi ditambah dengan situasi sosial dan kultural masyarakat
akhir-akhir ini kian mengkhawatirkan. Berbagai macam peristiwa juga kian
merendahkan harkat dan derajat manusia.
Di samping ditagih hasilnya berupa sumber daya manusia yang siap
pakai, belakangan ini pendidikan banyak ditagih tanggung jawabnya dalam
membentuk manusia. Tingginya pelanggaran moral dalam masyarakat,
buruknya etika kehidupan dan tensi kesenjangan sosial yang menganga,
dan korupsi yang kian merajalela menyebabkan orang bertanya mana
tanggung jawab pendidikan. Ada masalah apa dengan pendidikan formal
sehingga tidak mampu memberikan kontribusi yang nyata dalam dinamika
dan gerak masyarakat.
Banyak penyebab mengapa pendidikan kita dalam konteks lokal
tidak mampu memelihara nilai-nilai lokal yang sebenarnya amat luhur
bagi pembentukan jati diri bangsa, sedangkan dalam konteks global kita
seperti anak ayam kehilangan induk. Dari segi tradisi pendidikan, jika
dibandingkan dengan negara-negara maju, kita memiliki tradisi yang relatif

222 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

muda. Perencanaan dalam pendidikan baru dilaksanakan pada pertengahan


abad XX. Sebelumnya, kita sibuk dengan perang dan pergulatan mencapai
kemerdekaan (Mujiran, Media Indonesia: 2007).
Oleh karenanya, karakter merupakan struktur antropologis manusia.
Pendidikan karakter akan memberikan bantuan sosial agar individu dapat
tumbuh dalam menghayati kebebasannya dalam hidup bersama dengan
orang lain di dunia. Pendidikan karakter di Indonesia telah lama berakar
dalam tradisi pendidikan. Ki Hadjar Dewantara, Soekarno, Hatta dan lain-
lain, telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai
pembentuk kepribadian dan integritas bangsa sesuai dengan konteks dan
situasinya (Koesoema, A: 2007, 7). Karakter sebagai struktur antropologis
melihat bahwa karakter bukan sekadar hasil dari sebuah tindakan,
melainkan secara simultan merupakan hasil dan proses. Dinamika ini
menjadi semacam dialektika terus-menerus dalam diri manusia untuk
menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasannya. Karakter
mrupakan kondisi dinamis struktur antropologis individu, yang tidak
mau sekadar berhenti atas determinasi kodratinya, melainkan juga sebuah
usaha hidup untuk menjadi semakin integral mengetasi determinasi alam
dalam dirinya demi proses penyempurnaan diri secara terus-menerus
(Koesoema A, Basis, 2007)

Karakter
Pada prinsipnya, istilah karakter menimbulkan ambiguitas. Secara
etimologi berasal dari bahasa Yunani karasso, berarti cetak biru, format
dasar, sidik seperti misalnya dalam sidik jari. Karakter adalah sesuatu yang
tidak dapat dikuasai oleh intervensi manusiawi, sebagaimana ganasnya laut
dengan gelombang pasang dan angin yang menyertainya. Memahami karakter
seperti laut, karena laut tidak terselami dan tidak dapat diintervensi. Oleh
karenanya, berhadapan dengan apa yang memiliki karakter, manusia tidak
dapat ikut campur tangan atasnya. Manusia tidak dapat memberikan bentuk
atasnya, sama seperti bumi, karena manusia tidak dapat membentuknya
sebab bumi memiliki karakter berupa sesuatu. Namun sekaligus, bumi itu
sendirilah yang memberikan karakter pada realitas lain.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 223
Syarifuddin

Tentang ambiguitas terminologi karakter, memiliki dua cara


interpretasi atau karakter tersebut dapat dilihat melalui dua hal, yaitu
pertama, sebagai sekumpulan kondisi yang telah diberikan begitu saja,
atau telah ada begitu saja, yang lebih kurang dipaksakan dalam diri kita.
Karakter yang demikian dianggap sebagai sesuatu yang telah ada. Kedua,
karakter juga dapat dipahami sebagai tingkat kekuatan melalui mana
seorang individu mampu menguasai kondisi tersebut. Karakter yang
demikian ini sebagai sebuah proses yang dikehendaki (willed) (Koesoema
A, Basis: 2007).
Karakter adalah titian ilmu pengetahuan (knowledge) dan keterampilan
(skill). Pengetahuan tanpa landasan kepribadian yang benar akan
menyesatkan dan keterampilan tanpa kesadaran diri akan menghancurkan.
Karena itu, karakter menjadi prasyarat dasar dan integral. Karakter itu
akan membentuk motivasi, pada saat yang sama juga karakter dibentuk
dengan metode dan proses yang bermartabat. Karena itu, karakter bukan
sekadar penampilan lahiriah, melainkan secara implisit mengungkapkan
hal-hal tersembunyi. Itu sebabnya orang mendefinisikan karakter sebagai
“siapa anda dalam kegelapan” (character is what you are in the dark).
Oleh karenanya, jika pembentukan karakter yang sehat dan benar itu
membutuhkan suatu proses (Sixtus Tanje, Seputar Indonesia, 2007).
Secara bebas karakter dapat diartikan sebagai sifat-sifat dasar yang ada
dalam diri manusia. Begitu mendasarnya sifat ini sehingga dapat menjadi
suatu ciri atau karakter yang sangat kuat dari setiap individu. Sebagai suatu
sifat, karakter dapat dibentuk. Pembentukan karakter seseorang terjadi
karena pengaruh lingkungan dan proses pendewasaan pribadi seseorang.
Mengingat bahwa sebagian besar waktu menjelang seseorang mencapai
titik tersebut dihabiskan di lingkungan sekolah, suka atau tidak suka
pembentukan karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh karakter tempat
orang tersebut bersekolah. Karakter suatu sekolah juga merupakan suatu
hasil pembentukan dari proses yang terus bekesinambungan mulai dari visi
pendiri sekolah tentang pembentukan sekolah tersebut. Visi merupakan
suatu gambaran tentang apa yang ingin dicapai dengan pendirian sekolah
(Francesco Marianti, Basis: 2007).

224 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

Pemaknaan pendidikan bagi pengembangan karakter


Pendidikan merupakan suatu aktivitas dalam rangka mengembangkan
seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup (Zuhairini
dkk, 1997:149). Dengan kata lain pendidikan tidak hanya berlangsung
dalam kelas, akan tetapi juga dapat berlangsung di luar kelas. Demikian juga
pendidikan merupakan tidak hanya bersifat formal, tetapi juga mencakup
non-formal dan informal (Muslim, 2007:1). Pendidikan juga sebagai proses
timbal balik dari tiap pribadi manusia dalam rangka penyesuaian dirinya
dengan alam semesta dan temannya. Pendidikan merupakan perkembangan
yang terorganisasi dan kelengkapan dari semua potensi-potensi manusia,
moral, intelektual dan jasmani (fisik), oleh dan untuk kepribadian
individunya dan kegunaan yang diharapkan demi menghimpun semua
aktivitas tersebut bagi tujuan akhir hidupnya. Demikian juga pendidikan
adalah proses, di mana potensi-potensi kemampuan kapasitas manusia
yang mudah dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan supaya disempurnakan
oleh kebiasaan sedemikian rupa dan dikelola oleh manusia untuk menolong
orang lain atau dirinya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan (Brubacher:
1950, 371).
Pendidikan diyakini sebagai usaha sadar, terarah, dan disertai dengan
pemahaman yang baik untuk menciptakan perubahan-perubahan yang
diharapkan pada perilaku individu, dan selanjutnya pada perilaku jamaah
atau komunitas di mana individu tersebut hidup (Afifi, 1964:163), hal ini
termasuk dalam usaha internalisasi pendidikan karakter terhadap peserta
didik, di mana sebagian pakar dalam dunia pendidikan menganggap
telah terjadi pergeseran makna atau arah perubahan yang menjadi tujuan
pendidikan sudah jauh panggang daripada api.
Masalah pendidikan merupakan masalah yang berhubungan langsung
dengan kehidupan manusia, merupakan usaha manusia dewasa yang telah
sadar akan kemanusiaannya, dalam membimbing, melatih, mengajar, dan
menanamkan nilai-nilai serta dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi
muda, agar nantinya menjadi manusia yang sadar dan bertanggung jawab
akan tugas-tugas hidupnya sebagai manusia sesuai dengan hakikat dan
ciri-ciri kemanusiaannya (Zuhairini, 1997:11). Dengan demikian pendidikan

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 225
Syarifuddin

mencakup seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia. Maka, sangat


dibutuhkan materi-materi pendidikan yang dapat berperan untuk mengatasi
problema yang dihadapi subyek didik dan masyarakat dalam kehidupannya
(Muslim: 2007, 11).
Menurut Komaruddin Hidayat (Kompas: 2005), ketika pendidikan
tidak lagi menempatkan prinsip-prinsip moralitas agung sebagai
basisnya, maka yang akan dihasilkan adalah orang yang selalu mengejar
materi untuk memenuhi tuntutan physical happiness yang durasinya
hanya sesaat dan potensial membunuh nalar sehat dan nurani. Padahal,
aktualisasi nilai kemanusiaan membutuhkan perjuangan hidup sehingga
seseorang akan merasa lebih berharga dan bahagia saat mampu meraih
kebahagiaan nonmateri, yaitu intellectual happiness, aesthetical happiness,
moral happiness, dan spiritual happiness. Pendidikan yang sehat adalah
yang secara sadar membantu anak didik bisa merasakan, menghayati,
dan menghargai jenjang makna hidup dari yang bersifat fisikal sampai
yang moral, estetikal, dan spiritual. Peradaban dunia selalu dibangun oleh
tokoh-tokoh moral-spiritual, yang dihancurkan politisi dan teknokrat yang
mabuk kekuasaan.
Selama ini produk pendidikan amat kurang membantu pertumbuhan
spiritualitas anak sehingga mereka sulit mengagumi keramahan langit
terhadap bumi, gemercik air, festival awan, kekompakan hidup dunia
semut, dan perilaku alam lain yang semua itu merupakan ayat-ayat Tuhan
dan bacaan terbuka yang amat indah. Ini semua disebabkan kesalahan
proses pendidikan yang kita dapat, yang hampir melupakan dimensi akal
budi dan emosi serta tidak memandang alam sebagai entitas yang hidup.
Pendidikan kita kurang mengajarkan bagaimana bersahabat dan berdialog
dengan kehidupan secara menyeluruh.
Berdasarkan persoalan-persoalan tersebut, maka arah pencapaian
pendidikan harus ditata kembali, apalagi istilah pendidikan selama ini
agak sulit dirumuskan secara pasti karena bermakna ganda atau lebih.
Ketidakjelasan makna pendidikan, menurut M.D. Dahlan disebabkan karena
pengertiannya yang berbeda-beda, adakalanya pendidikan dipandang
sebagai:

226 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

a. Persekolahan yang mencakup segala kegiatan di lembaga


pendidikan, seperti taman kanak-kanak, sekolah, perguruan
tinggi, dan akademisi;
b. Pembelajaran berkenaan dengan keterampilan tertentu atau
pelatihan di lokasi tertentu;
c. Pelatihan tingkah laku tertentu yang seyogyanya dimiliki oleh
siswa;
d. Proses penanaman sikap, keyakinan, dan nilai tertentu yang
diperoleh melalui berbagai kegiatan sosial di sekolah.
Fenomena inilah yang menuntut untuk segera menafsirkan pendidikan
secara luas, sehingga pengertian pendidikan tidak hanya dibatasi sebagai
schooling, tetapi memerlukan pengertian pendidikan yang integral, baik itu
pengertian yang bersifat teoritis dan bersifat praktis sekaligus. Pendidikan
integral ini haruslah mendasarkan sistem pendidikannya pada norma atau
landasan hukum tertentu tanpa harus menafikan adanya proses lanjut yaitu
aspek pelaksanaannya (Ma’arif: 2005,74).
Untuk memahami pengertian pendidikan dengan benar, pendidikan
dapat dibedakan dari dua pengertian, yaitu pengertian yang bersifat teoritis
filosofis dan pengertian pendidikan dalam arti praktis. Pendidikan dalam
arti teoritis filosofis adalah pemikiran manusia terhadap masalah-masalah
kependidikan untuk memecahkan dan menyusun teori-teori baru dengan
mendasarkan kepada pemikiran normatif, spekulatif, rasional empirik,
rasional filosofis, maupun historis filosofis. Sedangkan dalam arti praktis,
adalah suatu proses pemindahan pengetahuan ataupun pengembangan
potensi-potensi yang dimiliki subjek didik untuk mencapai perkembangan
secara optimal, serta membudayakan manusia melalui proses transformasi
nilai-nilai yang utama (Thoha, 1996:98).
Berdasarkan kedua sifat pengertian pendidikan tersebut, perlu definisi
pendidikan yang tepat dalam menghadapi era globalisasi yang serba terbuka
dan pergeseran nilai termasuk dalam dunia pendidikan dewasa ini. Menurut
Ibrahim Ismat Muthawi’ dalam Syamsul Ma’arif (2005:76), pendidikan harus
diartikan sebagai proses menumbuhkan sisi-sisi kepribadian manusia
secara seimbang dan integral. Dalam terminologi H.A.R. Tilar (2000:56),

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 227
Syarifuddin

pendidikan merupakan proses pembudayaan. Artinya, antara pendidikan


dan kebudayaan terdapat hubungan yang saling berkaitan. Tidak ada
kebudayaan tanpa pendidikan dan begitu pula tidak ada praksis pendidikan
di dalam vakum tetapi selalu berada di dalam lingkup kebudayaan yang
konkret. Pendidikan memang bukan hanya menghasilkan manusia yang
pintar yang terdidik tetapi yang lebih penting ialah manusia yang terdidik
dan berbudaya (educated and civilized human being) pendidikan dapat kita
segarkan maknanya sebagai sebuah proses humanisasi dan hominisasi
seseorang yang berlangsung di dalam lingkungan hidup keluarga dan
masyarakat yang berbudaya, dan suatu proses pembudayaan yang diarahkan
kepada berkembangnya kepribadiaan seseorang yang demokratis (Tilar,
2000:89).
Pendidikan harus dipandang sebagai upaya pendewasaan moral,
sosial, ekonomi yaitu bahwa pendidikan seyogyanya menghasilkan
manusia yang memiliki pandangan dan pegangan hidup tertentu serta
mampu membuat keputusan normatif, mampu menjadi warga negara yang
konstruktif, produktif, dan turut bertanggungjawab atas kelangsungan
hidup masyarakatnya; mampu mencakup wilayah mikro (sempit, seperti
latihan pemecahan masalah, penguasaan pengoperasian mesin baru)
maupun makro (luas, seperti pendidikan sepanjang hayat, pendidikan massa
dan politik). Sekaligus pendidikan dipandang sebagai upaya penguatan rasa
kebangsaan, keagamaan, dan kesetiakawanan kelompok (Ma’arif: 2005, 79).
Dengan demikian, pendidikan di samping harus mentransfer pengetahuan
(transfer of knowledge), sekaligus harus transfer of value seperti sikap
dapat menghargai pluralitas, kebhinnekaan, dan keragaman. Pengertian
pendidikan semacam inilah yang sangat dibutuhkan pada era sekarang,
untuk menciptakan perdamaian dunia.
Sifat hakiki dari pendidikan adalah bahwa pandangannya selalu
tertuju ke masa depan. Pendidikan adalah potensi pembuat cetak biru masa
depan yang dikehendaki dan direncanakan, bukan sekadar masa depan
yang kebetulan dan tiba-tiba menyerbu. Pendidikan hari ini harus mampu
mengembangkan segala potensi untuk generasi sekarang, tetapi tetap
memungkinkan generasi berikutnya untuk lebih lanjut membangun masa

228 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

depan mereka. Pendidikan hari ini adalah usaha membangun masa depan
(Surakhmad: 2009, 22-23).

Pendidikan karakter
Berbicara tentang pendidikan karakter, ada dua sisi yang mesti
menjadi pertimbangan. Pertama, pendidikan senantiasa berkaitan dengan
dimensi sosialita manusia. Manusia sejak kelahirannya telah membutuhkan
kehadiran orang lain dalam menopang hidupnya. Pendidikan merupakan
usaha sadar yang ditujukan bagi pengembangan diri manusia secara utuh,
melalui berbagai macam dimensi yang dimilikinya (religius, moral, personal,
sosial, kultural, temporal, institusional, relasional, dan sebagainya) demi
proses penyempurnaan dirinya secara terus-menerus dalam memaknai
hidup dan sejarahnya di dunia ini dalam kebersamaan dengan orang lain.
Sedangkan karakter lebih bersifat subjektif, sebab berkaitan dengan struktur
antropologis manusia dan tindakannya dalam memaknai kebebasannya,
sehingga ia mengukuhkan keunikannya berhadapan dengan orang lain.
Karena itu, pendidikan karakter merupakan keseluruhan dinamika
relasional antarpribadi dengan berbagai macam dimensi, baik dari dalam
maupun dari luar dirinya, agar pribadi itu semakin dapat menghayati
kebebasannya, sehingga ia dapat semakin bertanggung jawab atas
pertumbuhan dirinya sendiri sebagai pribadi dan perkembangan orang lain
dalam hidup mereka (Koesoema A., Basis, 2007)
Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh, telah menggagas
sebuah terobosan dalam dunia pendidikan tahun 2010 yaitu mengenai
Pendidikan Karakter untuk Keberadaban Bangsa. Hal ini merupakan suatu
kejutan serta keprihatinan seorang menteri dalam melihat kondisi dan situasi
keberadaan sistem pendidikan di Indonesia selama ini. Sindrom trapped in
a comfort zone dalam dunia materialistik, yang hanya melahirkan orang-
orang pinter secara IQ namun miskin karakter dan buta mata batin, sudah
mendesak untuk direvolusi. Pendidikan yang cuma melahirkan manusia
mesin dengan mengabaikan nilai-nilai kearifan, kejujuran, kesantunan budi,
sudah tidak layak menjadi cita-cita. Disinilah penanaman nilai-nilai luhur
kemanusiaan dengan berorientasi pada sistem pendidikan, kurikulum

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 229
Syarifuddin

maupun metode pembelajarannya untuk bagaimana memanusiakan


manusia harus senantiasa dihidupkan dan diinternalisasikan dalam setiap
mata pelajaran. Gagasan besar Menteri Pendidikan untuk menjadikan
pendidikan karakter sebagai titik balik membangun peradaban bangsa,
sejatinya juga menjadi agenda besar para pemangku kepentingan, untuk
diimplementasikan dengan serius dan berkelanjutan pada setiap jenjangnya
(Lailan F. Saidina, 2010).
Pendidikan adalah usaha sistematis dengan penuh kasih untuk
membangun peradaban bangsa. Di balik sukses ekonomi dan teknologi
yang ditunjukkan oleh negara-negara maju, semua itu semula disemangati
nilai-nilai kemanusiaan agar kehidupan bisa dijalani lebih mudah, lebih
produktif, dan lebih bermakna. Namun banyak masyarakat yang lalu gagal
menjaga komitmen kemanusiaannya setelah sukses di bidang materi, yang
oleh John Naisbit diistilahkan High-Tech, Low-Touch. Yaitu gaya hidup yang
selalu mengejar sukses materi, tetapi tidak disertai dengan pemaknaan
hidup yang dalam. Akibatnya, orang lalu menitipkan harga dirinya pada
jabatan dan materi yang menempel, tetapi kepribadiaannya keropos.
Seseorang merasa diri hebat dan berharga bukan karena kualitas
pribadinya, tetapi jabatan dan kekayaan, meski diraih dengan cara yang tidak
terhormat. Pribadi semacam ini oleh Erich Fromm disebut having oriented,
bukan being oriented, pribadi yang obsesif untuk selalu mengejar harta dan
status, tetapi tidak peduli pada pengembangan kualitas moral (Hidayat,
Kompas: 2005). Terhadap persoalan-persoalan yang berkembang khususnya
persoalan dalam dunia pendidikan dewasa ini, maka pendidikan karakter
bisa menjadi sarana penyembuh penyakit sosial karena akan menghasilkan
peserta didik sebagai pribadi yang kokoh dan tahan uji. Pendidikan
karakter dapat menjadi sarana masyarakat keluar dari beragam masalah
yang mencengkeramnya. Situasi sosial yang kacau menjadikan pendidikan
karakter relevan untuk dilaksanakan (Mujiran, Media Indonesia: 2007).
Untuk memahami pendidikan karakter secara lebih utuh dan
menyeluruh, maka perlu melihat kembali bagaimana gagasan dasar tentang
manusia. Jika pendidikan merupakan proses pemanusiaan, atau humanisasi
dan proses pembudayaan, mengkritisi pemahaman tentang manusia

230 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

merupakan langkah awal yang tidak dapat ditinggalkan jika gagasan kita
tentang pendidikan karakter ingin solid dan memadai. Driyarkara (2006:
285) sebagaimana dikutip oleh Doni Koesoema A (Basis: 2009), membedakan
pemahaman tentang keberadaan manusia sebagai individu dan persona.
Manusia sebagai individu bersifat tertutup dalam dirinya sendiri.
Sedangkan persona atau sebagai pribadi memiliki sifat terbuka terhadap
orang lain dan dunia. Karenanya individu bersifat unik, tidak ada duanya
dan khas. Sedangkan dengan persona, individu bertransaksi dengan
individu lain dalam kebersamaan dalam rangka membangun dunianya.
Individu yang memiliki sifat tertutup, bisa dilepaskan dari masyarakat dan
tetap eksis dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, dalam berhubungan
dan berinteraksi dengan orang lain, akan selalu muncul konflik antara
kebutuhan dasar manusia sebagai individu maupun pribadi. Namun, justeru
dalam dinamika inilah manusia perlu menempatkan proses pembentukan
dirinya sebagai manusia berkarakter.
Menurut Brooks an Goble sebagaimana dikutip Koesoema A (2007:116),
menyebutkan pendidikan karakter yang diterapkan dalam pendidikan dasar
dan menengah merupakan daya tawar berharga bagi seluruh komunitas.
Peserta didik mendapatkan keuntungan dengan memperoleh perilaku dan
kebiasaan positif yang mampu meningkatkan rasa percaya diri dalam diri
mereka, membuat mereka lebih hidup, bahagia, dan produktif. Tugas guru
menjadi lebih ringan dan lebih memberikan kepuasan ketika peserta didik
memiliki disiplin yang besar di dalam kelas. Orang tua bergembira ketika anak-
anak mereka bergembira untuk belajar, menjadi lebih sopan dan produktif.
Para pengelola sekolah menyaksikan berbagai macam perbaikan dalam hal
disiplin, kehadiran, beasiswa, pengenalan nilai-nilai moral bagi siswa maupun
guru demikian juga berkurangnya tindakan vandalisme di sekolah.
Secara ringkas, pendidikan karakter diaktualisasikan dalam tindakan
mengajarkan. Dalam pendidikan karakter, tugas pendidikan adalah
mengajarkan nilai-nilai sehingga anak didik mempunyai gagasan konseptual
tentang nilai-nilai pemandu perilaku yang bisa dikembangkan dalam
karakter pribadi. Pendidikan dalam hal ini adalah proses diseminasi nilai
yang tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas dengan

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 231
Syarifuddin

memanfaatkan semua unsur lain dalam dunia pendidikan yang membantu


peserta didik. Aspek yang tidak kalah penting adalah menempatkan
pendidikan karakter bagi pendidik sendiri. Pendidikan karakter terutama
merupakan tuntutan bagi kalangan pendidik sendiri. Keteladanan memang
menjadi salah satu hal klasik bagi berhasilnya sebuah tujuan pendidikan
karakter (Mujiran, Media Indonesia: 2007).
Menurut Lickona dkk (2007) terdapat sebelas prinsip agar pendidikan
karakter dapat berjalan secara efektif, yaitu
1. Kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja
pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik,
2. Definisikan ‘karakter’ secara komprehensif yang mencakup
pikiran, perasaan, dan perilaku,
3. Gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif
dalam mengembangkan karakter,
4. Ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian,
5. Beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral,
6. Buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang
menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter,
dan membantu siswa untuk berhasil,
7. Usahakan mendorong motivasi diri siswa,
8. Libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan
moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter
dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang
membimbing pendidikan siswa,
9. Tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan
dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter,
10. Libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam
upaya pembangunan karakter,
11. Evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidikan
karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang
baik.
Khoiruddin Bashori (2010), Pengamat dan Psikolog Pendidikan,
dalam tulisannya Menata Ulang Pendidikan Karakter Bangsa, menganggap

232 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

bahwa pendidikan karakter penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika


inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa
hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja
pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan
sebagai basis karakter yang baik. Sekolah harus berkomitmen untuk
mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai dimaksud,
mendefinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam
kehidupan sekolah sehari-hari, mencontohkan nilai-nilai itu, mengkaji
dan mendiskusikannya, menggunakannya sebagai dasar dalam hubungan
antarmanusia, dan mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebut di
sekolah dan masyarakat. Yang terpenting adalah semua komponen sekolah
bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten
sesuai dengan nilai-nilai inti.
Karakter yang baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan
berdasarkan nilai-nilai etika inti. Karenanya, pendekatan holistik dalam
pendidikan karakter berupaya untuk mengembangkan keseluruhan
aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral. Seswa
memahami nilai-nilai inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya,
mengamati perilaku model, dan mempraktekkan pemecaham masalah
yang melibatkan nilai-nilai. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti
dengan mengembangkan ketrampilan empati, membentuk hubungan yang
penuh perhatian, membantu menciptakan komunitas bermoral, mendengar
cerita ilustratif, dan merefleksikan pengalaman hidup. Sekolah yang telah
berkomitmen untuk mengembangkan karakter melihat diri mereka sendiri
melalui lensa moral, untuk menilai apakah segala sesuatu yang berlangsung
di sekolah mempengaruhi perkembangan karakter siswa. Di samping itu,
sekolah dan keluarga perlu meningkatkan efektifitas kemitraan dengan
merekrut bantuan dari komunitas yang lebih luas (bisnis, organisasi pemuda,
lembaga keagamaan, pemerintah dan media) dalam mempromosikan
pembangunan karakter. Kemitraan sekolah-orang tua ini dalam banyak
hal sering kali tidak dapat berjalan dengan baik karena terlalu banyak
menekankan pada penggalangan dukungan finansial, bukan pada dukungan
program.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 233
Syarifuddin

Urgensi pendidikan karakter, lokal ke-Acehan


Secara lingkup lokal Aceh, persoalan yang dihadapi dunia pendidikan
pada prinsipnya juga tidak jauh beda di tempat lain, hanya saja bagaimana
cara pendidikan dapat mensinergiskan budaya lokal dalam menerapkan
suatu sistem pendidikan. Perkembangan perjalanan pendidikan di suatu
daerah tidak lepas dari sistem budaya yang berlaku di suatu daerah,
tinggal saja bagaimana menggagas sistem pendidikan sehingga di suatu
daerah tanpa menggilas budaya lokal dan cita-cita dari sistem pendidikan
juga dapat berjalan sebagaimana mestinya. Pada prinsipnya tujuan dari
pelaksanaan pendidikan sebagaimana dijelaskan di atas juga sama, yaitu
dalam rangka mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang
berjalan seumur hidup, sebagai proses timbal balik dari tiap pribadi manusia
dalam rangka penyesuaian dirinya dengan alam semesta dan temannya,
perkembangan yang terorganisasi dan kelengkapan dari semua potensi-
potensi manusia, moral, intelektual dan jasmani (fisik), oleh dan untuk
kepribadian individunya dan kegunaan yang diharapkan demi menghimpun
semua aktivitas tersebut bagi tujuan akhir hidupnya.
Maksud pendidikan lokal ke-Acehan adalah pendidikan yang
membantu siswa berkembang seturut dengan talenta dan bakatnya, dan
sesuai dengan kebutuhan budaya lokal. Di setiap daerah memiliki ciri khas
pengembangannya sesuai dengan kultur budaya daerahannya demikian juga
perkembangan iklim di suatu daerah. Bila kemampuan intelektualias seorang
siswa memang rendah, maka keterampilan lainlah yang dikembangkan
atau kalau ternyata seorang siswa mempunyai karakter yang baik, maka
sisi itulah yang akan dikembangkan. Dengan demikian, tiap pribadi anak
yang memang unik akan dapat berkembang secara optimal sesuai dengan
kepribadiannya atau potensi lokal wilayahnya. Melihat Indonesia yang
begitu bervariasi, sekolah lokal kiranya perlu lebih digalakkan. Menurut
Paul Suparno (Basis: 2009) ada beberapa hal yang mempunyai keuntungan
dalam menggalakkan sekolah lokal, yaitu:
1. Semua anak bisa maju untuk menemukan potensi dan
keterampilannya yang unik dan dapat mengembangkannya
dengan optimal.

234 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

2. Sekolah dapat dengan sungguh memainkan perannya membantu


siswa secara riil, memperkuat yang lemah dan memberi
kesempatan untuk berkembang pada keunikan dan keunggulan
lokal.
3. Sistem ini juga memberi kesempatan pada semua pihak untuk
lebih menghargai perbedaan dan kepekaan pada yang lemah.
4. Pembelajaran untuk menghargai potensi lokal berarti memperkuat
ketahanan hidup masyarakat setempat karena tidak harus
tergantung pada pihak lain sehingga tidak ketakutan untuk tetap
hidup sebagai dirinya sendiri yang autentik secara damai dan
gembira.
Selanjutnya Doni Koesoema A (Basis: 2007), memberikan panorama
tentang urgensi pendidikan karakter, faktor-faktor yang menyebabkan
pendidikan karakter mengalami kemunduran, dan tujuan pendidikan
karakter. Menurut beliau ada dua macam paradigma dalam pendidikan
karakter. Pertama, memandang pendidikan karakter dalam cakupan
pemahaman moral yang sifatnya lebih sempit (narrow scope to moral
education). Paradigma ini lebih memandang pendidikan karakter berkaitan
dengan bagaimana menanamkan nilai-nilai tertentu dalam diri anak didik di
sekolah. Dan yang kedua, melihat pendidikan karakter dari sudut pandang
pemahaman isu-isu moral yang lebih luas, terutama melihat keseluruhan
peristiwa dalam dunia pendidikan itu sendiri (educational happenings).
Integrasi atas kedua paradigma inilah yang melahirkan gagasan baru
tentang pendidikan karakter sebagai pedagogi yang akan menyertakan tiga
sebagai mantra pertumbuhan manusia, yaitu individu, sosial dan moral.

Individu, sosial, dan moral


Pada dasarnya, penerapan program pendidikan karakter dalam setiap
lembaga pendidikan tidak dapat melepaskan diri dari tiga hal, yaitu individu,
sosial, dan moral. Secara historis, tiga hal ini tidaklah muncul begitu saja.
Ketiga hal itu bermula dari kelahiran pendidikan baru yang dipelopori oleh
Rousseau, terlepas dengan hadirnya berbagai macam kritik secara positif
atau negatif, namun hal ini merupakan suatu sumbangan besar Rousseau

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 235
Syarifuddin

dalam membuka mata kita akan adanya relasi negatif yang terjadi antara
masyarakat dan individu.
Dalam Emile, sebagai mana dikutip oleh seorang pengamat
pendidikan Doni Koesoema A (2007: 22-23), Rousseau menegaskan bahwa
secara kodrat manusia itu baik, namun masyarakatlah yang membelenggu
individu itu sehingga ia menjadi manusia yang bertumbuh semakin
menjauh dari kodratnya. Melalui Emile Rausseau menegaskan bahwa ada
hubungan erat antara lembaga pendidikan, kultur politik, kehidupan sosial,
dan pertumbuhan individu. Agar manusia itu bertumbuh sesuai dengan
kemampuan kodratnya, maka pendidikan semestinya melepaskan belenggu-
belenggu sosial dan membiarkan alam berkembang menjadi guru. Inilah
yang kemudian berkembang menjadi sebuah pendidikan negatif, yaitu
sebuah pendidikan yang mencoba menghilangkan hal-hal yang menghalangi
siswa untuk belajar secara mandiri sesuai dengan kemampuan alamiahnya.
Jika alam itu adalah guru, manusia akan semakin dapat menemukan
kebaikan di dalam dirinya. Belajar sesuai dengan perkembangan kodrat
manusia lantas menjadi semacam prinsip dasar bagi sebuah pendidikan
yang membebaskan.
Pendidikan karakter memberikan perhatian pada perkembangan
individu, meletakkannya dalam kerangka matriks sosial (tatana sosial dalam
masyarakat), melalui interpretasi nilai, semakin mengukuhkan diri manusia
sebagai makhluk yang bermoral. Fenomena ini menjadikan setiap pendidikan
karakter memiliki fungsi pedagogis. Melepaskan salah satu matra (individual,
sosial, dan moral) dari tiga matra penting yang sangat fundamental bagi
pendidikan karakter membuat setiap usaha pengembangan pendidikan
karakter menjadi timpang, superfisial dan tidak efektif. Pendidikan karakter
sebagai sebuah pedagogi memberikan prioritas utama pada pendidikan
karakter dari sudut pandang pemahaman isu-isu moral yang lebih luas,
terutama melihat-isu-isu moral dalam keseluruhan peristiwa yang terjadi di
dunia pendidikan itu sendiri (educational happenings).
Pendidikan karakter apa pun yang diterapkan di dalam sekolah
tidak dapat melepaskan diri dari konteksnya yang lebih luas, terlebih
struktur-struktur yang mempengaruhi bagaimana seorang individu yang

236 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

terlibat dalam dunia pendidikan berperan sebagai subjek moral yang


aktif. Jika dimensi moral itu dilepaskan dari konteks kelembagaan di
mana seorang individu itu menghayati kebebasan dan tanggung jawabnya,
usaha menerapkan pendidikan karakter dalam konteks sekolah menjadi
inkonsisten dan parsial. Pendidikan karakter jika dipahami terlepas dari
peristiwa-peristiwa dalam dunia pendidikan itu sendiri akan menjadi sebuah
gerakan yang stagnan, buang energi, tenaga, pikiran dan biaya. Pendidikan
karakter sebagai sebuah pedagogi memberikan ruang pertumbuhan bagi
setiap individu dalam lembaga pendidikan untuk bertumbuh secara integral
sebagai manusia yang menghayati nilai, khususnya nilai-nilai moral, nilai
religius dan nilai-nilai kewarganegaraan (Koesoema A, Basis: 2007).
Sejatinya pendidikan karakter harus mulai dibangun sejak
dari rumah, untuk selanjutnya dikembangkan di sekolah. Di sinilah
penanaman nilai-nilai luhur kemanusiaan dengan berorientasi pada
sistem pendidikan, kurikulum maupun metode pembelajarannya untuk
bagaimana memanusiakan manusia harus senantiasa dihidupkan dan
diinternalisasikan dan setiap mata pelajaran, sehingga pendidikan tidak
lagi berpisah dari kehidupan.
Gagalnya pendidikan di Indonesia (sebagaimana menjadi wacana
beberapa pakar pendidikan mengakui bahwa sistem pendidikan yang telah
ada, khususnya dalam bidang kepribadian/karakter telah gagal dilakukan)
menghasilkan manusia yang kurang berkarakter masih bisa diperdebatkan.
Bahkan kegagalan pendidikan ini dianggap karena pendidikan nasional
cenderung hanya menonjolkan pembentukan kecerdasan berpikir dan
menepikan penempatan kecerdasan rasa, kecerdasan budi, bahkan
kecerdasan batin. Dari sini lahirlah manusia-manusia yang berotak pintar,
manusia berprestasi dari secara kuantitatif akademik, namun tiada
kecerdasan budi sekaligus sangat berkegantungan, tidak merdeka mandiri.
Kurang berhasilnya sistem pendidikan membentuk sumber daya manusia
dengan karakter yang tangguh, berbudi pekerti luhur, bertanggung jawab,
berdisiplin, dan mandiri, terjadi hampir di semua lembaga pendidikan baik
negeri maupun swasta, baik yang berbasis agama maupun umum. Lebih
lanjut upaya nation character building sesuai dengan nilai-nilai budaya

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 237
Syarifuddin

bangsa Indonesia terkesan tidak berjalan seperti yang diinginkan (Djudjun


Djaenuddin Supriadi, Penabur Jakarta: 2009).
Menurut Doni Koesoema A, pendidikan karakter jika ingin efektif
dan utuh mesti menyertakan tiga basis desain, tanpa tiga basis tersebut
maka program pendidikan karakter di sekolah hanya akan menjadi wacana
semata, tiga basis desain tersebut adalah; Pertama, desain pendidikan
karakter berbasis kelas. Desain ini berbasis pada relasi guru sebagai pendidik
dan siswa sebagai pembelajar di dalam kelas. Konteks pendidikan karakter
adalah proses relasional komunitas kelas dalam konteks pembelajaran.
Relasi guru-pembelajar bukan monolog, melainkan dialog dengan banyak
arah sebab komunitas kelas terdiri dari guru dan siswa yang sama-sama
berinteraksi dengan materi. Memberikan pemahaman dan pengertian akan
keutamaan yang benar terjadi dalam konteks pengajaran ini, termasuk di
dalamnya pula adalah ranah noninstruksional, seperti manajemen kelas,
konsensus kelas, dan lain-lain, yang membantu terciptanya suasana belajar
yang nyaman.
Kedua, desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Desain
ini mencoba membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter
anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu
terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa. Untuk menanamkan nilai
kejujuran tidak cukup hanya dengan memberikan pesan-pesan moral
kepada anak didik. Pesan moral ini mesti diperkuat dengan penciptaan
kultur kejujuran melalui pembuatan tata peraturan sekolah yang tegas dan
konsisten terhadap setiap perilaku ketidakjujuran.
Ketiga, desain pendidikan karakter berbasis komunitas. Dalam
mendidik, komunitas sekolah tidak berjuang sendirian. Masyarakat di luar
lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum, dan negara, juga
memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan
karakter dalam konteks kehidupan mereka. Ketika lembaga negara lemah
dalam penegakan hukum, ketika mereka yang bersalah tidak pernah
mendapatkan sanksi yang setimpal, negara telah mendidik masyarakatnya
untuk menjadi manusia yang tidak menghargai makna tatanan sosial
bersama.

238 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

UNESCO juga menegaskan bahwa fungsi utama pendidikan


menurutnya adalah learning to know (belajar untuk tahu), learning to
do (belajar untuk berbuat), learning to live together (belajar untuk hidup
bersama-sama). Untuk persoalan ini, sekolah memiliki peran besar
dalam membentuk karakter individu-individu yang dididiknya secara
klasikal. Sekolah diharapkan mampu menjadi guiding light bagi generasi
muda penerus bangsa. Sekolah juga berfungsi membentuk akhlak anak
didik sehingga menjadi manusia berbudi pekerti yang luhur. Pendidikan
seharusnya mengajarkan kepada setiap anggota masyarakat untuk dapat
menghargai kemajemukan dan membekali mereka dengan kemampuan
untuk hidup bersama secara rukun sebagai sesama umat manusia. Kalau
pendidikan memang disepakati sebagai upaya dan tugas kultural untuk
melahirkan manusia berwatak dan merdeka mandiri, maka mengakaran,
pengasahan, dan pemekaran rasa justru menemukan lahan suburnya lewat
pengalbuan rasa estetis sejak dini. Pendidikan yang berfungsi memekarkan
rasa menjadi penting dipertimbangkan kembali, karena dengan pendidikan
olah rasa dapat menjadikan manusia memperoleh kepekaan terhadap
masalah dan menjadikan manusia dapat berpikir (bercipta) unggul dan
berkarsa tangguh tidak semena-mena pada pihak lain (Ma’arif: 2005, 86-87).

Penutup
Akhirnya dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwa pendidikan
dan berfunsi sebagai berikut, yaitu: pertama, menjaga kebudayaan suatu
masyarakat dan memindahkannya kepada generasi berikutnya. Sekolah
merupakan agen sosialisasi yang utama dan tempat di mana orang
mempelajari prinsip-prinsip yang akan mendasari perilakunya sebagai warga
masyarakat. Kedua, education had to be tied to life if it was to be effective.
Schooling found its justification in serving all areas of life, not simply the
narrawly intellectual and cultural. Ketiga, sekolah dan atmosfirnya harus
mampu mewujudkan jalan kepada peserta didik menuju kehidupan secara
personal dan sosial.
Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai sebuah bantuan sosial
agar individu itu dapat bertumbuh dalam menghayati kebebasannya

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 239
Syarifuddin

dalam hidup bersama dengan orang lain dalam dunia yang dihadapinya.
Pendidikan karakter bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan
yang berkeutamaan. Pendidikan karakter tidak hanya berurusan dengan
penanaman nilai bagi siswa, namun lebih jauh merupakan sebuah usaha
bersama untuk menciptakan sebuah lingkungan pendidikan di man setiap
individu dapat menghayati kebebasannya sebagai sebuah prasyarat bagi
kehidupan moral yang dewasa.

240 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

DAFTAR PUSTAKA

Afifi, al-Hadi, Muhammad. Al-Tarbiyah wa al-Taghoyyur al-Tsaqafi. Kairo:


Maktabah Angelo al-Mishriyyah, 1964
Brubacher, John S. Modern Philosophies of Education. New York: McGraw
Hill-Book, 1950
Dewey, John. Democracy and Education. New York: Mac-millan, 1916
Driyarkara. Karya lengkap Driyarkara. Essai-Essai Filsafat Pemikir yang
Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya. Disunting oleh Sudiarja,
A., Budi Subanar, G., Sunardi, St., & Sarkim, T (Eds). Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2006
Koesoema A, Doni. Driyarkara: Transformasi Sosial Pendidikan, BASIS, Edisi
September-Oktober 2009
----------------. http://pendidikankarakter.org/index.php?p=2_2
----------------. Pendidikan Karakter di Zaman Keblinger: Mengembangkan
Visi Guru sebagai Pelaku Perubahan dan Pendidik Karakter. Jakarta:
Grasindo, 2009
----------------. Pendidikan Karakter, Strategi Mendidik Anak di Zaman Global.
Jakarta: Grasindo, 2007
----------------. Tiga Mantra Pendidikan Karakter, BASIS, Edisi Juli-Agustus
2007.
Ma’arif, Syamsul. Pendidikan Pluralisme di Indonesia. Yogyakarta: Logung
Pustaka, 2005
Mujiran, Paulus. “Pentingnya Pendidikan Karakter di Sekolah”, dalam Media
Indonesia, 24 November 2007.
Muslim, Bukhari. Konsep Kurikulum Pendidikan Barat Menurut Perspektif
Pendidikan Islam (Tinjauan Terhadap Filsafat Progressivisme),
Banda Aceh: Ar-Raniry Press IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh
bekerjasama dengan AK Group Yogyakarta, 2007.
Muthawi’, Ibrahim. Ushul al-Tarbiyyah. Cet. I. Kairo: Dar al-Ma’arif, 1979
Sudiarja, A., Driyarkara: Pendidikan Kepribadian Nasional. BASIS. Edisi Juli-
Agustus 2007

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 241
Syarifuddin

Suparno, Paul. “Pendidikan Global vs Pendidikan Lokal”, dalam BASIS, Edisi


Juli-Agustus 2009
Supriadi, Djudjun Djaenudin. Program Pendidikan Karakter di Lingkungan
BPK , Tabloid Penabur Jakarta, Edisi Maret-April 2009
Surakhmad, Winarno. Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi. Jakarta:
Penerbit Buku Kompas, 2009
Tanje, Sixtus. Pengembangan Karakter. Seputar Indonesia, Edisi 9 Desember
2007.
Tilar, H.A.R. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta,
2000
Zuhairini dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1997

242 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Urgensi Pendidikan
Nilai Untuk Aceh Damai
Berkelanjutan

M. Jamil Yusuf
Dosen tetap Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam pada Fakultas
Dakwah IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh. Menyelesaikan
sarjana (S1) pada Fakultas Tarbiyah (1984), melanjutkan studi S2
pada Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Program Studi
Bimbingan dan Konseling (2000) dan melanjutkan Program S3
pada Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Program Studi
Bimbingan dan Konseling (2007)

Pendahuluan
Di Eropa, gerakan pemikiran mengenai urgensi pendidikan nilai telah
dimulai sejak berakhirnya Perang Dunia I ketika mereka menyaksikan
berbagai kehancuran yang ditimbulkan oleh perang tersebut. Dalam Perang
Dunia I jutaan manusia mati sia-sia. Lalu orang-orang ketika itu saling
menyapa “apa yang terjadi di antara kita?.” Dalam berbagai kesempatan,
mereka memperbincangkan tentang sesuatu yang lebih bernilai dari sekedar
kelimpahan materi, kehebatan sains dan teknologi, kemampuan militer dan
kekuatan ekonomi. Namun demikian, sebagai bagian dari tabi’at manusia
bahwa ia mudah lupa terhadap sesuatu. Penyesalan orang Eropa pada akhir
Perang Dunia I (1914-1918) itu dalam waktu kurang dari seperempat abad
lenyap ditelan masa dengan terjadinya Perang Dunia II (1941-1945) yang
jauh lebih dahsyat daripada perang-perang sebelumnya.
Begitu selesai Perang Dunia II, terus terjadi Perang Dingin (1945-1989)
yang hampir saja membawa manusia pada konflik nuklir yang diprediksikan
bisa membuat permukaan bumi ini menjadi rawa-rawa. Selama Perang
Dingin, isu-isu tentang nilai, moral, etika kehidupan, termasuk kelestarian

243
M. Jamil Yusuf

lingkungan hangat diperbincangkan. Di samping itu, studi polemologi –


yang mengkhususkan diri pada asal usul, hakikat dan dimensi-dimensi
perdamaian serta cara menciptakannya— menjadi isu yang sangat populer.
Masyarakat pun menjadi sangat sensitif terhadap isu-isu apa pun yang
bermuatan nilai. Begitu juga halnya ketika umat manusia menyambut
datangnya abad 21, di mana majalah Newsweek pernah menurunkan
laporan utama yang mengevaluasi perjalanan manusia selama abad 20.
Dalam laporan tersebut disimpulkan bahwa selama abad ke-20 manusia
lebih banyak menggunakan waktunya untuk saling berperang daripada
untuk saling mewujudkan perdamaian.1 Di samping itu, isu pendidikan
nilai ini juga ada kaitannya dengan isu perbincangan masalah kecerdasan
emosional (Emotional Intelligence/Quotient, SI/EQ). Masalah SI/EQ ini telah
mengambil alih popularitas perbincangan mengenai intelegensi intelektual
(Intellegence Quotient, IQ) yang telah begitu lama mendominasi arena
psikologi sejak dasawarsa kedua abad ke-20.2
Di Indonesia, masalah pendidikan nilai juga lama menjadi tema
sentral untuk diperbincangkan, tetapi pada implementasinya belum digarap
secara serius dalam setiap gerak langkah pendidikan. Begitu juga halnya,
dalam gerak langkah pendidikan di Aceh dapat dikatakan belum ada
gerakan yang sistematis untuk penerapan pendidikan nilai. Dalam beberapa
tahun terakhir ini memang ada arus pemikiran dalam dunia pendidikan
di Indonesia untuk memberikan perhatian yang proporsional terhadap
dimensi-dimensi nilai dari tujuan pendidikan, bersama-sama dengan aspek
pengetahuan dan keterampilan. Sejak akhir dasawarsa 1970-an, para ahli
mulai secara sungguh mengembangkan teori pendidikan yang menekankan
pada aspek nilai dan sikap. Sedangkan dalam referensi Barat, gerakan ini
ditandai dengan munculnya teori confluence education, affective education
atau values education.
Dilihat dari sudut pandang kehidupan masyarakat Aceh pasca

1
Rohmat Mulyana, Mengaktualisasikan Pendidikan Nilai (Bandung: Alfabeda, 2004), ii-
iii.
J.P. Chapplin, Kamus Lengkap Psikologi (Alih bahasa) Kartini Kartono (Jakarta:
2

RajaGrafindo Persada, 2006), 253.

244 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

penandatangan perjanjian di Helsinki, maka urgensi pendidikan nilai terletak


pada upaya mengokohkan keyakinan peserta didik supaya mereka berbuat
kebenaran, kebaikan dan keindahan, yang keberhasilannya diukur pada
tema-tema nilai yang universal. Idealnya, akibat dari proses pendidikan dan
pengajaran yang dilaluinya, —dengan program rehabilitasi dan rekonstruksi
sarana dan prasara pendidikan terutama pasca konflik dan tsunami,
mereka mampu berpikir logis dan menggunakan berbagai pengetahuan
dan keterampilan untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Dengan
kecerdasan, kemudahan teknologi dan kecukupan sarana pendidikan,
seyogianya mereka nantinya lebih bijak dan arif dalam menempuh kehidupan
ini. Dalam kenyataan sekarang ini, ada sebagian lulusan yang kualitas
kemanusiaannya lebih rendah dibandingkan dengan kemajuan berpikir dan
teknologi yang dicapainya. Seharusnya dengan keadaan hidup yang telah
diperbaiki dan dibangun kembali (rehab rekons) itu dapat mewujudkan
suatu kehidupan yang aman dan damai serta lebih arif dan bijak dalam
mempersiapkan diri untuk membangun masa depan.
Begitu pentingnya pendidikan nilai seperti digambarkan di atas, maka
seyogianya masalah ini memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dan
terintegrasi. Dengan demikian, pandangan monolistik dengan melimpahkan
tanggung jawab pendidikan nilai kepada guru bidang studi pendidikan
agama saja, tentunya sudah tidak relevan lagi. Dalam kajian ini ditekankan
pada upaya menemukan pandangan komplementer (tanggung jawab
bersama) untuk penerapan pendidikan nilai. Dengan demikian, diharapkan
dengan kualitas kepribadian, moral, pengetahuan dan keterampilan yang
dimiliki peserta didik dapat menjadi salah satu pilar terwujudnya Aceh
damai berkelanjutan.

Urgensi pendidikan nilai


Pertimbangan nilai merupakan peristiwa yang selalu dialami dalam
kehidupan seseorang. Pertimbangan nilai dapat terjadi pada setiap
persoalan kehidupan, mulai dari persoalan yang sederhana sampai pada
persoalan yang amat kompleks. Bayi yang menangis untuk mendapat
perhatian, pembeli yang memilih barang di pasar atau politisi yang berdebat

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 245
M. Jamil Yusuf

mengenai persoalan bangsa, itu semua melibatkan persoalan nilai. Beberepa


pertimbangan nilai dapat terjadi pada persoalan-persoalan kecil, seperti
apakah seseorang memilih minum kopi, teh dingin, teh panas atau teh
tawar ketika ia hendak memesan minumannya. Bisa jadi dalam beberapa
pertimbangan itu terdapat nilai ekonomi, kesehatan atau nilai pergaulan/
persahabatan. Begitu pula halnya pertimbangan nilai mengambil peranan
penting ketika seseorang menentukan pilihan-pilihan strategis dan memiliki
dampak besar bagi kehidupan secara keseluruhan, baik individu, masyarakat
dan bangsa. Individu memiliki pertimbangan nilai tersendiri ketika ia hendak
menjalani hidup sebagai ilmuwan, pengusaha, memasuki dunia politik, dunia
seni, memasuki dunia olahraga professional atau ketika seseorang memilih
berbeda pendapat dan pandangan, bahkan peperangan.
Pada prinsipnya, kehidupan selalu menuntut untuk menentukan
pilihan atas dasar acuan nilai baik-buruk, benar-salah dan sebagainya.
Sejak zaman filsafat Yunani, persoalan nilai telah diangkat dalam kerangka
teoritik. Sekurang-kurangnya sejak zaman Plato, ide ”baik” ditempatkan
paling atas dalam hirarki ide-ide. Karena itu, kajian tentang nilai merupakan
kajian yang sudah sangat tua usianya. Namun pada akhir abad ke-19, kajian
tentang nilai semakin mendapat uraian mantap dalam filsafat akademis,
yang akhirnya melahirkan satu cabang filsafat baru yang disebut aksiologi
atau teori nilai.3 Teori nilai yang meliputi keaslian, hakikat, pengelompokan,
dan tempat kemudian mendapat perhatian yang cukup besar dalam kajian
para sarjana, yang akhirnya menjadi kajian yang amat menarik dewasa ini.
Masalah etika sebagai kajian nilai dalam tindakan manusia dan estetika
sebagai kajian nilai dalam seni merupakan dua masalah penting dalam
kajian urgensi pendidikan nilai ini.
Dalam masyarakat yang statis, nilai diletakkan dalam kebiasaan dan
tradisi. Dalam masyarakat seperti itu, mereka menerima dan mengikuti
nilai-nilai yang dirujuk dengan penuh kesadaran dan ketaatan. Berbeda
dengan masyarakat modern yang kehidupannya cepat berubah, nilai sering
muncul sebagai topik kontroversial dan menyebabkan konflik. Peristiwa-

3
Bertens, Etika, Seri Filsafat Atma Jaya 15 (Jakarta: Gramedia, 1999), 20.

246 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

peristiwa yang terjadi di berbagai daerah, seperti konflik di Poso, Maluku,


Aceh dan pro kontra masalah ”pornoaksi” dan ”pornografi” di DPR RI
beberapa waktu yang lalu merupakan fenomena yang amat nyata tentang
pertentangan nilai. Pertentangan itu muncul disebabkan oleh perbedaan
pertimbangan nilai, perbedaan rujukan nilai dan perbedaan kepentingan.
Di samping itu, masalah standar nilai benar salah, baik buruk, indah
tidaknya suatu tindakan ditempatkan pada kategori interpretasi yang
subyektif. Nilai itu sebenarnya merupakan makna yang terkandung di
balik fenomena kehidupan seseorang. Dengan kata lain, nilai adalah
makna yang mendahului fenomena kehidupan itu. Pada waktu nilai itu
berubah, fenomena kehidupan pun mengikuti perubahan nilai tersebut.
Demikian pula sebaliknya, jika fenomena kehidupan itu berubah, maka
nilai cenderung mengikutinya.
Oleh karena itu, salah satu cara mengamati nilai dapat dilakukan
dengan memperhatikan fenomena yang lahir dalam kehidupan individu
dan masyarakatnya. Dalam konteks ini, ada beberapa hal penting yang
terjadi dalam kehidupan masyarakat Aceh akhir-akhir ini dan menjadikan
kehidupan masyarakat Aceh sudah jauh berubah dari sebelumnya.
Pertama, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek)
telah membawa masyarakat Aceh pada umumnya ke dalam kancah
kehidupan modern. Kehidupan modern yang ditandai oleh kemajuan Iptek
yang demikian cepat, sering kali membuat sebagian anggota masyarakat
mendadak kaget dengan perubahan-perubahan yang terjadi di sekeliling
mereka. Mengapa demikian, dapat disimak dari pendapat Rohmat Mulyana
yang menyatakan bahwa jumlah penemuan di akhir abad ke-20 sama
banyaknya dengan jumlah penemuan sepanjang sejarah umat manusia.
Di samping itu, diperkirakan bahwa 90% dari semua ilmuwan yang pernah
dilahirkan di dunia ini, sekarang mereka itu masih hidup dan sedang
produktif bekerja untuk berbagai penemuan ilmiah berikutnya.4 Dengan
kemajuan Iptek benar-benar telah mengubah tatanan kehidupan menjadi
serba mudah dan instant. Namun di balik perubahan tatanan kehidupan

4
Rohmat Mulyana, Mengaktualisasikan..., 99-100.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 247
M. Jamil Yusuf

yang bersifat material ini sering menimbulkan konflik nilai yang amat rumit
dipecahkan.
Kedua, dengan perkembangan globalisasi di mana masyarakat Aceh
merupakan bagian yang tak terpisahkan daripadanya, maka persoalan
pendidikan merupakan salah satu pilar utama yang perlu ditumbuh
kembangkan. Secara filosofis Socrates menegaskan bahwa pendidikan itu
merupakan proses pengembangan manusia ke arah kearifan (wisdom),
pengetahuan (knowledge) dan etika (conduct). Oleh karena itu, membangun
aspek kognisi, afeksi dan psikomotor secara seimbang dan berkesinambungan
adalah nilai pendidikan yang paling tinggi. Zaim Elmubarok menyebut ketika
Uni Sovyet meluncurkan pesawat luar angkasanya yang pertama Spotnic
tanggal 4 Oktober 1957, lalu dengan segera Amerika Serikat menghadang
karena—Amerika Serikat sebagai negara dengan kemampuan teknologi
tinggi— merasa dipecundangi oleh Uni Sovyet.5
Presiden Amerika Serikat ketika itu langsung membentuk tim khusus
(special unit) guna merespon perkembangan yang terjadi di Uni Sovyet.
Tim ini tidak dimaksudkan untuk menandingi kecanggihan teknologi Uni
Sovyet, tetapi secara khusus dibentuk untuk meninjau kembali kurikulum
pendidikan di AS mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai tingkat
perguruan tinggi. Dalam waktu yang singkat tim ini membuat sebuah
statemen yang amat mengejutkan, yakni kurikulum pendidikan Amerika
sudah tidak layak pakai dan segera harus direvisi. Amerika pun melakukan
pembaharuan di bidang pendidikan mulai dari kurikulum, mata pelajaran,
tenaga pengajar, sarana pendidikan sampai kepada sistem evaluasi. Usaha
yang amat berani ini segera membuahkan hasil yang luar biasa. Salah
satu indikatornya, tanggal 14 Juli 1969 Amerika berhasil menempatkan
manusia pertama di permukaan bulan. Dengan indikator ini sekaligus
menempatkan Amerika Serikat berhasil mengungguli teknologi Uni Sovyet
dalam masa 12 tahun.
Pada kejadian yang hampir serupa juga pernah terjadi di Jepang seusai
kekalahan mereka dalam Perang Dunia II dengan dijatuhkan bom atom di

Zaim Elmubarok, Membumikan Pendidikan Nilai: Mengumpul yang Terserak,


5

Menyambung yang Terputus dan Menyatu yang Tercerai (Bandung: Alfabeta, 2008), 4.

248 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

Hiroshima dan Nagasaki tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Keadaan Jepang


ketika itu praktis lumpuh dalam segala segi kehidupan. Bahkan Kaisar
Jepang kala itu menyatakan bahwa mereka sudah tidak punya apa-apa
lagi kecuali tanah dan air. Dalam suasana duka yang mendalam itu, Kaisar
memanggil para pejabat yang ada dan bertanya: ”berapa orang guru yang
masih hidup?” Ini merupakan pertanyaan yang amat sederhana ketika itu,
tetapi mengandung makna yang amat mendalam dalam bidang pendidikan
dan memberikan kontribusi yang amat signifikan bagi kemajuan teknologi
Jepang di masa sekarang. Jepang secara amat terprogram dan sistematis
membenahi sistem pendidikannya pada semua jenjang pendidikan. Dengan
pembenahan awal yang dimulai pada bidang pendidikan, Jepang berhasil
bangkit dari keterpurukan menjadi negara yang kuat dalam bidang teknologi,
ekonomi, komunikasi dan kemajuan bidang pendidikan itu sendiri, bahkan
menjadi pesaing utama bagi Amerika Serikat.
Ketiga, jika Jepang dibom tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 dibandingkan
dengan Indonesia yang merdeka tanggal 17 Agustus 1945, maka kedua
negara ini dapat digolongkan sama-sama memulai pembenahan diri dari
keterpurukan pada waktu yang bersamaan. Pada tahun 2009 ini (dalam
masa 64 tahun) kedua profil negara ini memperlihatkan dua kondisi yang
saling bertolak belakang. Jepang kini tampil sebagai negara maju, kuat
dan rakyatnya sejahtera, sementara Indonesia masih menamakan diri
sebagai negara berkembang, dililit oleh utang, upah buruh yang rendah,
mayoritas rakyatnya miskin harus diberi bantuan langsung tunai, para
birokrat masih miskin appresiasi dan bergelimang dengan korupsi serta
haus kekuasaan.
Salah satu contoh kemajuan pendidikan di Jelang adalah berubahnya
pengertian ”buta huruf” dari ”tidak bisa tulis baca dan berhitung”
menjadi ”tidak bisa menggunakan komputer untuk berbagai kepentingan
kehidupan”. Sedangkan di Indonesia pengertian ”buta huruf” masih abadi
seperti pengertian semula ketika Indonesia baru merdeka tahun 1945,
yakni ”tidak bisa membaca, menulis dan berhitung”. Bahkan pada tingkat
regional di Aceh baru-Baru ini, hasil survey Yayasan Anak Bangsa (YAB)
pada empat SD di Kecamatan Banda Sakti dan Kecamatan Muara Dua,

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 249
M. Jamil Yusuf

Kota Lhokseumawe ditemukan 112 murid kelas IV s/d VI yang tidak bisa
membaca dan tidak bisa menulis.6 Oleh karenanya, program pemberantasan
buta aksara (Program Paket A) masih merupakan program prioritas untuk
pendidikan luar sekolah di Aceh. Anehnya, belum ada suatu kebijakan
khusus dari Pemerintah Daerah, termasuk Pemerintah Kabupaten/Kota
dalam era otonomi ini yang secara tegas menyatakan bagaimana program
ini disukseskan dan kapan ia akan berakhir.
Keempat, dengan memperhatikan fakta sejarah yang ada, maka
agenda kebangkitan dan kemajuan Aceh harus diletakkan pada pendidikan
yang memiliki nilai-nilai tertentu bagi terwujudkan kondisi Aceh yang
damai secara berkelanjutan. Begitu sentralnya peranan pendidikan bagi
kebangkitan dan kemajuan ini, maka krisis multidimensi separah apapun
akan dapat diatasi jika dimulai dengan membenahi bidang pendidikan
secara terprogram dan sistematis. Dalam hal ini Mohd. Djawad Dahlan
mengatakan ”Kita memiliki orang-orang terdidik lulusan perguruan
tinggi yang jauh lebih banyak sepanjang sejarah. Namun, kemanusiaan
kita berpenyakit. Jadi, sekarang bukan pengetahuan yang kita butuhkan.
Kemanusiaan kita membutuhkan sesuatu yang spiritual”. Perguruan tinggi
telah banyak mencetak manusia yang tidak utuh, manusia bernalar tinggi
tetapi berhati kering, mereka meraksasa dalam teknik, tetapi merayap
dalam etika dan moral. Di mana-mana tersebar orang intelek yang pongah
dengan IPTEK, mereka bingung dalam menikmati hidup selaku hamba
Allah.7
Lebih lanjut Mohd. Djawad Dahlan menyebut bahwa hakikat
pengembangan SDM harus bertumpu pada pendidikan akhlak dan moral
bangsa. Jika pada bidang ini berhasil, kita mudah mengembangkan
keunggulan di bidang lainnya. Ini penting, karena fenomena yang ada di
tengah-tengah masyarakat mengisyaratkan: ”semakin banyak orang pandai,

6
Surat Kabar Harian Serambi Indonesia, ”Banyak Murid SD Tak Bisa Membaca”, tanggal
22 Juli 2009, 22.
7
Mohamad Djawad Dahlan, "Warna Arah Bimbingan dan Konseling Alternatif Di Era
Globalisasi" (Bandung: Psikopedagogia: Jurnal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Vol.
2 nomor 3, Mei 2001), 139-140.

250 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

semakin sulit dicari orang jujur”. Jadi, agar kita lebih manusiawi, dibutuhkan
sesuatu yang sifatnya ruhaniah.8 Atas dasar tuntutan dan harapan inilah,
maka ada dua hal yang patut dipertanyakan di sini, yakni: (1) apa kesalahan
dalam sistem pendidikan yang ada sehingga tidak mampu menyiapkan
manusia berakhlak tinggi dan unggul di bidang keahliannya; dan (2) sistem
pendidikan seperti apakah yang dapat memenuhi harapan itu? Adakah
kesalahan dalam sistem pendidikan yang ada sehingga menyebabkan tak
selarasnya antara ilmu yang dimiliki oleh para lulusan dengan rendahnya
akhlak yang dimilikinya itu. Di sinilah letak urgensinya pendidikan nilai
bagi kelangsungan hidup paserta didik di masa depan.

Pendidikan nilai dan implikasi-implikasinya


Pada intinya nilai terdiri dari dua kategori, yakni nilai-nilai nurani
(values of being) dan nilai-nilai memberi (values of giving). Nilai-nilai nurani
adalah nilai yang ada dalam diri individu kemudian berkembang menjadi
perilaku dan menjadi cara individu itu memperlakukan orang lain. Yang
termasuk ke dalam nilai-nilai nurani, yakni kejujuran, keberanian, cinta
damai, disiplin, kesesuaian dan kepantasan. Sedangkan nilai-nilai memberi
adalah nilai yang seyogianya dipraktikkan atau diwujudkan oleh setiap
individu untuk kemudian ia akan menerima sesuai dengan apa yang ia
praktikkan. Di antara nilai-nilai yang termasuk kategori ini adalah kesetiaan,
kepercayaan, saling menghormati, kasih sayang, baik hati, ramah, berlaku
adil, kepedulian dan sebagainya. Terkait dengan persoalan nilai ini, UNESCO
menekankan pentingnya martabat manusia (human dignity) sebagai nilai
tertinggi. Penghargaan terhadap martabat manusia dipandang sebagai nilai
yang tidak terbatas dan dapat mendorong manusia untuk memilih nilai-
nilai dasar yang terkait dengannya, di antaranya nilai dasar kebenaran,
kesehatan, kasih sayang, spiritual, tanggung jawab sosial, efesiensi ekonomi,
nasionalisme dan nilai dasar solidaritas global.
Di samping itu, UNESCO telah merumuskan empat pilar pendidikan
yang inovatif dan relevan untuk pengembangan pendidikan nilai, yakni

8
Ibid, 140-141.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 251
M. Jamil Yusuf

belajar mengetahui (learning to know), belajar berbuat (learning to do),


belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be) dan belajar hidup bersama
(learing to live together). Apabila empat pilar pendidikan ini diartikulasikan
dalam pendidikan nilai, maka pendidikan nilai dituntut untuk menyediakan
suasana kondusif bagi perkembangan peserta didik.9 Penyediaan suasana
kondusif ini dalam sistem pendidikan formal di Aceh dapat ditempuh
melalui peningkatan pemahaman dan kesadaran terhadap nilai dengan
cara-cara sebagai berikut:
1. Peserta didik dibimbing dan dilatih untuk memperluas wawasan
pengetahuannya tentang nilai, sehingga mereka dapat memberikan
alasan-alasan moral sebelum mereka dituntut untuk melakukan suatu
perbuatan atau tindakan. Dengan demikian, proses belajar untuk
mengetahui (learning to know) terhadap nilai kebenaran, kebaikan dan
keindahan dapat diterapkan dalam suasana yang penuh pemahaman
dan kesadaran.
2. Peserta didik dibimbing dan dilatih untuk memiliki keterampilan
melakukan suatu tindakan atau perbuatan dari apa yang diyakininya
sebagai nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Tindakan atau
perbuatan ini adalah dua hal yang selalu melekat dalam realitas
kehidupan seseorang. Oleh karenanya, belajar bertindak dan berbuat
itu merupakan belajar mengalami kehidupan yang sebenarnya.
Jadi, membimbing dan melatih peserta didik untuk mampu berbuat
dan bertindak (learning to do) itu harus memiliki landasan empirik
yang kuat sesuai dengan kultur budaya dan pengalaman hidup
yang sesunguhnya serta memiliki signifikansinya terhadap prediksi
keterampilan perilaku yang dibutuhkan untuk hidup di masa depan.
3. Peserta didik dibimbing dan dilatih untuk memiliki sifat-sifat baik
dan melekat pada diri mereka. Nilai-nilai yang diputuskan oleh
peserta didik itu untuk selalu diwujudkan dalam suatu perbuatan
atau tindakan nyata, maka keberlangsungan perwujudannya itu
haruslah sepanjang hayat. Untuk itu, proses pendidikan nilai

Rohmat Mulyana, Mengaktualisasikan..., 172.


9

252 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

memerlukan tingkat konsistensi, intensitas dan frekuensi yang tinggi


dalam pembiasaannya mengenai hal-hal yang diputusan sebagi benar,
baik, indah dan bermoral. Dengan demikian, belajar untuk menjadi
dirinya sendiri (learning to be) itu harus benar-benar melalui proses
internalisasi yang mendalam dan berkesinambungan. Mohamad
Surya menyebut salah satu tugas hidup yang perlu dibimbing dan
dilatih dalam bidang ini adalah regulasi diri, yakni peserta didik
mampu mengatur diri sendiri, seperti dalam hal: (1) mewujudkan
dan mempertahankan harga diri; (2) pengendalian diri; (3) keyakinan
dan harapan yang realistik; (4) spontanitas dan respon emosionalnya
secara tepat; (5) stimulasi intelektual, pemecahan masalah dan
kreativitas; (6) rasa humor; dan (7) kesegaran jasmani serta mampu
menumbuh kembangkan kebiasaan hidup sehat.10
4. Peserta didik dibimbing dan dilatih untuk hidup secara harmonis
dalam lingkungannya. Setiap individu sebenarnya tidak dapat hidup
tanpa orang lain dan selalu mempunyai kepentingan terhadap individu
lainnya (hidup sebagai anggota masyarakat). Untuk itu, peserta didik
sebagai anggota masyarakat dituntut mampu menampilkan perilaku-
perilaku yang baik dan benar, sehingga dapat hidup harmonis
dalam lingkungan masyarakatnya serta tidak merugikan orang
lain. Dalam penerapan pendidikan nilai ini selain menitik beratkan
pada kemampuan peserta didik untuk kebebasan memilih, keaslian
tindakan dan konsistensi, juga dititik beratkan pada pelibatan
berbagai pihak, seperti keluarga, masyarakat dan dinas/intansi
terkait untuk turutserta memfasilitasi peserta didik dapat belajar
hidup bersama (learning to live together). Lebih lanjut Mohamad
Surya juga menekankan pentingnya peserta didik dibimbing dan
dilatih untuk mampu mengemban tugas hidup bidang persahabatan,11
yakni membangun hubungan sosial antar individu dalam masyarakat
dengan suatu komitmen bersama atas dasar keakraban dan saling

10
Mohamad Surya, Psikologi Konseling (Bandung: Pustaka Bani Quraisy,2003), 204.
Ibid, 205.
11

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 253
M. Jamil Yusuf

pengertian. Dalam persahabatan ini, peserta didik akan memperoleh


dukungan sosial, dukungan emosional, dukungan informasl dan
sebagainya.

Program aksi bagi Aceh damai berkelanjutan


Sejalan dengan beberapa implikasi pendidikan nilai bagi pengembangan
martabat manusia dan nilai-nilai dasar yang terkait dengannya sebagaimana
dikemukakan di atas, maka di sini diajukan beberapa program aksi
pendidikan nilai bagi masyarakat Aceh, yang dalam kajian ini ditekankan
pada aspek penanaman nilai-nilai religius, nilai kewirausahaan dan praktik
pendidikan tanpa kekerasan. Dengan fokus pada tiga aspek ini memang
diakui belum menyentuh secara menyeluruh upaya-upaya mewujudkan
Aceh damai secara berkelanjutan. Namun demikian, setidak-tidaknya jika
tiga aspek ini diterapkan secara baik, sistematis dan berkesinambungan
juga memberikan kontribusi siginfikan untuk Aceh damai itu dari sisi
peranan pendidikan formal di sekolah.
Pertama, menanamkan nilai-nilai Islami sebagai pandangan hidup
peserta didik. Mohamad Djawad Dahlan menyebut bahwa adanya perbedaan
pandangan hidup berdampak besar terhadap penerapan pendidikan
nilai yang dikembangkan di negara itu12. Sejalan dengan pernyataan ini
dapat dilihat misalnya, Amerika Serikat menganut sistem liberal yang
menganggap tinggi nilai individu. Kebenaran dipandangnya tidak mutlak.
Individu berhak menginterpretasi terhadap kebenaran, bahkan nilai sebagai
individu mendapat perlindungan hukum. Implikasi pendidikannya adalah
individu diberi berbagai alternatif yang dapat dipilihnya. Artinya individu
dihadapkan pada berbagai model cara hidup dan cara menyelesaikan
masalahnya. Lain halnya di negara komunis yang menganggap adanya
kebenaran negara. Yang benar ialah komunisme. Nilai sebagai individu
tidak begitu tinggi, sehingga pendidikan lebih melihat individu sebagai
makhluk biologis. Dalam prinsip pendidikan, tingkah laku individu
dibentuk berdasarkan upaya rekayasa dan pengkondisian lingkungan.

Mohamad Djawad Dahlan, Beberapa Pendekatan dalam Penyuluhan (Konseling):


12

Psikoanalisa, Berpusat Pada Klien, Terapi Tingkah Laku (Bandung, Diponegoro, 2005), 19.

254 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

Berbeda halnya dengan Indonesia yang menganut adanya kebenaran mutlak


yang berasal dari Tuhan YME. Kebenaran mutlak tersebut menentukan pola
tingkah laku manusia, melalui proses pengembangan potensi yang memiliki
kebebasan untuk berkembang. Implikasi pendidikan adalah individu perlu
diberi rambu-rambu untuk menuju kepada kemutlakan dan diharapkan
dapat menemukan makna dirinya selaku hamba dari Pencipta Kemutlakan,
yakni Allah Swt.
Kedua, menanamkan nilai kewirausahaan (entrepreneurship) ke
dalam diri peserta didik. Idealnya, ketika seseorang lulus menjadi sarjana
misalnya, adalah merupakan suatu prestasi yang amat membanggakan.
Namun bila dalam waktu yang lama belum mendapat pekerjaan, maka rasa
bangga itu akan luntur dan berbalik menjadi rasa malu, stress yang akan
berlanjut menjadi frustasi. Situasi ini akan diperparah lagi, karena sebagian
besar para lulusan perguruan tinggi di Aceh, --meski belum dilakukan
survey yang mendalam--, adalah berjiwa ”pencari kerja”. Jiwa ”pencari
kerja” ini sebagian besar disebabkan oleh sistem pembelajaran di Aceh
pada umumnya bersifat mendorong peserta didiknya untuk cepat lulus dan
segera ”mencari kerja”. Para lulusan kurang mendapat pembinaan untuk
menjadi lulusan yang mampu menciptakan lapangan kerja untuk diri sendiri
dan membuka lapangan kerja baru yang bisa menyerap banyak tenaga kerja
dari masyarakat sekitarnya.
Oleh karena itu, ada satu hal yang perlu diluruskan dalam tradisi
penyelenggaraan pendidikan di Aceh, yakni lembaga pendidikan merupakan
lembaga paling efektif untuk proses menanamkan nilai-nilai kewirausahaan.
Untuk kasus perguruan tinggi, di tengah suasana semakin sulitnya mencari
pekerjaan bagi para lulusannya, telah muncul beberapa perguruan tinggi
di kota-kota besar yang berusaha membuka progran studi baru yang
berbasis pada ekonomi dan bisnis dengan soft skill wirausaha. Soft skill
merupakan keterampilan yang bersifat invisible dan tidak langsung atau
segera, misalnya kemampuan beradabtasi, komunikasi, kepemimpinan,
pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan conflict resolution.
Sebagian dari program studi yang baru dibuka itu, menawarkan materi-
materi kuliah dengan muatan ekonomi dan bisnis yang lebih variatif untuk

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 255
M. Jamil Yusuf

memenangkan persaingan global yang semakin ketat.13


Di samping itu, juga ditemukan sejumlah perguruan tinggi baru
dengan amat berani menawarkan bahwa nilai-nilai kewirausahaan
menjadi jiwa dari perguruan tinggi tersebut. Artinya tidak hanya dalam
muatan materi kuliahnya saja sebagai soft skill, namun juga metode
pembelajarannya pun mengutamakan nilai-nilai kewirausahaan. Mengapa
demikian? Karena suatu masyarakat tidak akan maju jika hanya mampu
menghasilkan sarjana ”pencari kerja”. Sebaliknya, akan menjadi masyarakat
yang makmur, jika mampu menghasilkan para lulusan yang tidak hanya
sebagai intelektual tetapi juga mampu ”menciptakan” lapangan pekerjaan.
Dengan demikian, program aksi yang penting difokuskan di sini adalah
nilai-nilai kewirausahaan harus menjadi arah pengembangan paradigma
baru pendidikan di Aceh. Dengan terbukanya berbagai lapangan kerja, para
pemuda lebih berpeluang untuk mengembangkan karirnya. Ini sekaligus
menjadi faktor yang mendukung peningkatan pendapatan, membuat hidup
masyarakat menjadi sejahtera, aman dan damai.
Ketiga, program aksi berikutnya adalah menerapkan praktik
pendidikan sekolah tanpa kekerasan. Dengan praktik tak ada kekerasan
di sekolah, baik guru maupun peserta didik harus berusaha menghindari
diri dari kebiasaan buruk berlaku kasar ketika proses belajar mengajar
berlangsung maupun dalam pergaulannya di lingkungan sekolah. Dengan
motto tak ada kekerasan ini merupakan disiplin serius yang harus ditegakkan
oleh setiap sekolah di Aceh. Hal ini penting, mengingat pengalaman konflik
masa lalu yang amat melelahkan dan pengalaman psikologis peserta didik
akibat gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004. Dari pengalaman yang
tak ada kekerasan inilah diharapkan manajemen sekolah menebarkan
kredo/motto non-violence kepada senegap warga masyarakat luas, baik
melalui rapat-rapat komite sekolah maupun dari mulut ke mulut terutama
melalui penuturan peserta didik berbasis pengalaman mereka belajar di
sekolah dalam suasana yang menyenangkan.
Mengapa masalah praktik pendidikan sekolah tanpa kekerasan

Surat Kabar Media Indonesia, ”Jika Jiwa Wirausaha Jauh Panggang dari Api”, tanggal
13

30 April 2009, 23.

256 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

ini dipandang penting untuk ditumbuhkembangkan, karena di berbagai


media massa sering dilaporkan bahwa tindak kekerasan dari pihak sekolah
terhadap peserta didiknya masih kerap terjadi. Sebagai contoh kasus,
dugaan tindak kekerasan terhadap peserta didik yang dilakukan oleh guru
pada SMAN I Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara. Seperti diberitakan
oleh Surat Kabar Harian Serambi Indonesia, bahwa Mutia Phonna (15 tahun)
ditampar dan ditarik pada jilbabnya oleh guru hingga ia tersungkur ke
lantai. Akibatnya, Mutia Phonna harus dirawat di RS Kesrem Lhohseumawe
karena mengalami infeksi telingan.14
Dalam konteks kasus seperti di atas, maka seyogianya guru mampu
menampilkan diri sebagai sosok pendidik teladan, dipercaya dan ditiru
tingkah lakunya oleh peserta didik.15 Oleh karena itu, guru adalah digugu
dan ditiru. Ungkapan semacam ini merupakan gambaran idealisme guru.
Idealnya untuk Aceh damai berkelanjutan, ungkapan ini perlu dicanangkan
menjadi suatu model praktik pendidikan sekolah tanpa kekerasan,
yakni guru sebagai pendidik profesional harus selalu memikirkan dan
merenungkan perilaku diri sendiri dalam proses pembelajaran. Mengapa
demikian, karena apa saja yang dilakukan guru akan dijadikan teladan tidak
hanya oleh peserta didiknya, tetapi oleh masyarakat di sekitarnya. Model
praktik pendidikan tanpa kekerasan adalah model yang sangat umum dan
dapat diamati dalam kehidupan pendidikan sekolah sehari-hari. Di samping
itu, perlu juga dikembangkan model pendidikan yang sifatnya tersirat dalam
berbagai pepatah budaya yang secara umum mudah dipahami oleh setiap
orang. Di antaranya, pepatah ”jika guru kencing berdiri, murid kencing
berlari”.
Dalam proses sosio-kultural, maka pendidikan nilai religius,
kewirausahaan dan praktik pendidikan tanpa kekerasan ini selanjutnya
diintegrasikan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam suatu lingkungan
kultural tertentu, yakni adat budaya masyarakat Aceh. Oleh karena itu, perlu

Surat Kabar Harian Serambi Indonesia, ”Pendidikan Harus Bebas dari Tindak
14

Kekerasan”, tanggal 28 Juli 2009, 1.


Wakhid Akhdinirwanto dan Ida Ayu Sayogyani, Cara Mudah Mengembangkan Profesi Guru
15

(Yogyakarta: Pengurus Wilayah Agupena DIY dan Sabda Media, 2009), 16.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 257
M. Jamil Yusuf

adanya komitmen dan kesepakatan antara pihak sekolah dan masyarakat


setempat —yang dalam praktik sekarang ini disebut Komite Sekolah, untuk
merumuskan dan mendukung penerapan nilai-nilai yang harus diajarkan
kepada peserta didik dan peranan-peranan yang harus dimainkan oleh
pihak sekolah dan oleh masyarakatnya.

Penutup
Manusia adalah makhluk sosial, tidak ada orang yang dapat hidup
tanpa orang lain. Bayi yang baru lahir perlu kepada pertolongan ibunya untuk
menyusui, makan, tidur, istirahat dan lain-lain. Setelah bayi agak besar,
ia perlu kepada kawan-kawan untuk bermain. Di sekolah ia perlu kepada
bantuan guru untuk mempelajari bermacam-macam ilmu pengetahuan.
Ketika remaja, ia perlu kepada teman sebaya untuk bertukar pikiran dan
menyampaikan isi hati serta perasaan. Setelah dewasa ia perlu berkeluarga
dan membina rumah tangga yang harmonis dan bahagia. Dalam dunia
kerja ia perlu kerjasama dengan teman-temannya untuk meningkatkan
penghasilan dan kesejahteraan. Ketika usia lanjut ia perlu bantuan orang
lain, terutama sanak keluarga untuk menikmati hari-hari tuanya. Bahkan
ketika meninggal dunia pun ia perlu bantuan orang lain untuk menyelesaikan
masalah-masalah yang berkaitan dengan tajhiz janazah, penyelesaian
harta warisan, utang piutang dan sebagainya. Dalam berbagai interaksi
itu, adanya konflik antar manusia adalah merupakan masalah yang amat
penting untuk dihindari. Dalam hubungan antar manusia, konflik bermakna
perlawanan atau bentrokan yang terjadi antara dua orang atau lebih karena
adanya faktor-faktor pemicunya. Beberapa faktor itu, antara lain adanya
perilaku seseorang yang mengganggu orang lain, persaingan tidak sehat
dalam memenuhi kebutuhan atau mereka tidak memiliki kesamaan persepsi
mengenai nilai-nilai kebenaran, keadilan, kebaikan dan keindahan, tidak
terkecuali dengan konflk yang terjadi di Aceh beberapa waktu yang lalu.
Penerapan pendidikan nilai dalam sistem pendidikan sekolah di Aceh
haruslah menyentuh aspek filosofi tujuan pendidikan, yakni memanusiakan
manusia, membangunan manusia paripurna dan membentuk insan kamil
atau manusia seutuhnya. Salah satu indikatornya adalah menjadi individu

258 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

yang secara gigih memperjuangkan hak-haknya dan secara arif pula


menghormati hak-hak orang lain. Kegagalan pendidikan yang paling fatal
adalah ketika produk didik (para lulusan) tidak lagi memiliki kepekaan
nurani yang berlandaskan nilai-nilai religiusitas, moralitas dan sence of
humanity. Ketika para lulusan pendidikan tidak lagi peduli, bahkan secara
tragis berusaha menafikan eksistensi kemanusiaan orang lain, seperti
intimidasi, penculikan, penghilangan dan pembunuhan, maka produk
pendidikan yang dihasilkan itu telah berada pada tingkat yang sangat
rendah dan menakutkan.
Oleh karena itu, dengan penerapan nilai-nilai Islami, diharapkan masa
depan kehidupan peserta didik menjadi terarah dan tidak salah kaprah.
Dengan penerapan nilai keriwausahaan, diharapkan peserta didik memiliki
kemampuan dan keterampilan berkiprah dalam kancah persaingan global,
mampu bekerja dengan penghasilan yang layak dan memenuhi kebutuhan
kehidupan, bahkan siap menciptakan lapangan pekerjaan. Demikian pula
dengan penerapan praktik pendidikan tanpa kekerasaan, diharapkan
peserta didik dapat menghayati indahnya kehidupan, cinta damai, hidup
harmonis, dan suka menebarkan kasih sayang. Mereka menjadi tidak
suka kepada permusuhan, pertikaian, pembunuhan dan berbagai tindak
kekerasan lainnya.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 259
M. Jamil Yusuf

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, Etika. Seri Filsafat Atma Jaya 15. Jakarta: Gramedia, 1999.
J.P. Chapplin. Kamus Lengkap Psikologi (Alih bahasa) Kartini Kartono.
Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006
Mohamad Djawad Dahlan. ”Warna Arah Bimbingan dan Konseling Alternatif
Di Era Globalisasi”. Bandung: Psikopedagogia: Jurnal Psikologi
Pendidikan dan Bimbingan, Vol. 2 nomor 3, Mei 2001
Mohamad Djawad Dahlan. Beberapa Pendekatan dalam Penyuluhan
(Konseling): Psikoanalisa, Berpusat Pada Klien, Terapi Tingkah Laku.
Bandung, Diponegoro, 2005
Mohamad Surya. Psikologi Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy,2003
Rohmat Mulyana. Mengaktualisasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeda,
2004
Surat Kabar Harian Serambi Indonesia. ”Banyak Murid SD Tak Bisa Membaca”,
tanggal 22 Juli 2009
Surat Kabar Harian Serambi Indonesia. ”Pendidikan Harus Bebas dari Tindak
Kekerasan”, tanggal 28 Juli 2009
Surat Kabar Media Indonesia. ”Jika Jiwa Wirausaha Jauh Panggang dari
Api”, tanggal 30 April 2009
Wakhid Akhdinirwanto dan Ida Ayu Sayogyani. Cara Mudah Mengembangkan
Profesi Guru. Yogyakarta: Pengurus Wilayah Agupena DIY dan Sabda
Media, 2009
Zaim Elmubarok. Membumikan Pendidikan Nilai: Mengumpul yang Terserak,
Menyambung yang Terputus dan Menyatu yang Tercerai. Bandung:
Alfabeta, 2008

260 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
YAYASAN PENDIDIKAN TEUKU UMAR JOHAN PAHLAWAN
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
TEUNGKU DIRUNDENG MEULABOH
IZIN DIRJEN PENDIDIKAN ISLAM NOMOR: Dj.1/201/2008
ALAMAT: JALAN T.UMAR KOMPLEK NURUL HUDA MEULABOH TELP. (0655) 7551591

SURAT KEPUTUSAN
KETUA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
YAYASAN PENDIDIKAN TEUKU UMAR JOHAN PAHLAWAN
NOMOR : 379 /STAI-YPTU-JP/KEP/2010

TENTANG

PANITIA PELAKSANA SEMINAR INTERNASIONAL


STAI TEUNGKU DIRUNDENG MEULABOH TA 2009/2010

KETUA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM TEUNGKU DIRUNDENG MEULABOH


Menimbang : a. Bahwa dalam Pelaksanaan Seminar Internasional Sekolah Tinggi
Agama Islam Teungku Dirundeng Meulaboh, maka perlu dibentuk
Panitia Pelaksana Seminar Internasional tahun 2010.
b. Bahwa untuk maksud tersebut perlu ditetapkan dalam suatu Surat
Keputusan.

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan


Nasional
2. Peraturan Pemerintah Nomor. 60 Tahun 1996 tentang Perguruan
Tinggi
3. Akte Notaris Nomor 155 Tahun 2009 tentang Pembentukan
YAPENTU-JP
4. Surat Keputusan Yayasan Pendidikan Teuku Umar Johan Pahlawan
Nomor: 01/YPTU/KPTS/2010 Tentang Pengangkatan Pimpinan
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh .

Memperhatikan : 1. Hasil rapat Pimpinan STAI Teungku Dirundeng Meulaboh tanggal 14


April 2010.

MEMUTUSKAN
Menetapkan :
Kesatu : Membentuk panitia pelaksana Seminar Internasional tahun 2010 STAI
Teungku Dirundeng Meulaboh sebagaimana dalam Surat Keputusan ini.

261
Lampiran

Kedua : Panitia Pelaksana melaksanakan tugas-tugas yang menyangkut dengan


Pelaksanaan Seminar Internasional tahun 2010 dan melaporkan secara
tertulis kepada Ketua STAI Teungku Dirundeng Meulaboh.

Ketiga : Segala biaya akibat dikeluarkannya Surat Keputusan ini dibebankan


pada anggaran STAI Teungku Dirundeng Meulaboh tahun 2010.

Keempat : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan
apabila terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diperbaiki
sebagaimana mestinya.

Ditetapkan : Di Meulaboh
Pada Tanggal : 14 April 2010.
K e t u a,

DR. SYAMSUAR, M.Ag


Nik : 0502050

262 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Lampiran

Lampiran : Surat Keputusan Ketua STAI Tgk. Dirundeng Meulaboh


Tentang : Panitia Pelaksana Seminar Internasional 2010.
Nomor : 379 /STAI-YPTU-JP/KEP/2010.
Tanggal : 14 April 2010.

No Nama Panitia Jabatan dalam Panitia


I Ramli, MS (Bupati Aceh Barat) Pembina
II H. T. Bustami Puteh, SE (Ketua Yayasan) Penasehat
III Dr. Syamsuar, M.Ag (Ketua STAI) Penanggung Jawab
IV Usamah El-Madny (Ketua LKAS) Pengarah
V Erizar, M.Ed Ketua Umum
Asmawati, MA Wk Ketua
VI T. Mairizal, MA Sekretaris Umum
Suharman, M.Si Wk Sekretaris
VII Sunarto. S.Ag Bendahara
VIII Amrizal Hamsa, S.HI Koordinator Kesekretariatan
Nurhayati. A.Md Anggota
Hanifuddin Jamin Sda
Zulhanli Sda
IX Muchsinuddin, S.Ag Koordinator Akomodasi dan Publikasi
Junlizar Anggota
Banta Ali, Lc Sda
X Dra. Syarifah Rohana,S.Pd Koordinator Konsumsi
Dra. Mariani Anggota
Safrida, A.Md Sda
Maidijar Sda

Ditetapkan : Di Meulaboh
Pada Tanggal : 14 April 2010.
K e t u a,

DR. SYAMSUAR, M.Ag


Nik : 0502050

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 263
TERM OF REFERENCE INTERNATIONAL SEMINAR ON PROMOTING CIVIC EDUCUATION AS A PEACE
BUILDING TOWARDS CIVIC SOCIETY CONSTRUCTION IN ACEH

264
Lampiran

PERSON
NO DATE/DAY TIME ACTIVITIES SPEAKERS MODERATORS
IN CHARGE
1 8.30-9.30 PEMBUKAAN PANITIA PANITIA
2 9.30-11.00 EMPOWERING CIVIC EDUCATION DR. JEFFERY MILLIGAN ANTON WIDYANTO, S.Ag, M.Ag PANITIA
3 11.00-11.30 INTEGRASI PERDAMAIAN DALAM PROF. DR. WARUL WALIDIN AK, MA MULIADI KURDI, S.Ag, M.Ag PANITIA
KURIKULUM PKN DI ACEH
4 11.30-12.00 PENGEMBANGAN KURIKULUM PROF. DR. M. NASIR BUDIMAN, MA SUHARMAN, M.Si PANITIA
MUATAN LOKAL DALAM MENJAGA
KEBERLANGSUNGAN PERDAMAIAN
DI ACEH

Proceedings of International Seminar on


5 12.00-12.30 TANYA JAWAB/DISKUSI
6 12.30-14.00 LUNCH BREAK
7 14.00-14.30 PENDIDIKAN HUKUM DAN DR. FAUZI SALEH, Lc, MA ASMAWATI, MA PANITIA
PEMBERDAYAAN CIVIL SOCIETY

SUNDAY, 23 MAY 2010


DALAM PERDAMAIAN DI ACEH
8 14.30-15.00 MEMBUMIKAN PERDAMAIAN ACEH DR. H. MUHIBUTHTHABARY, M.Ag MUKHSINUDDIN, S.Ag PANITIA
DALAM BINGKAI SYARI'AT ISLAM
9 15.00-15.30 TANYA JAWAB/DISKUSI
10 15.30-16.00 BREAK

SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES


11 16.00-17.00 PENUTUPAN DAN PENYELESAIAN
ADMINISTRASI

KETUA PANITIA,

ERIZAR, M.Ed
Lampiran

Direktur LKAS Banda Aceh, Usamah El-Madny, menyampaikan sambutan pada pembukaan International
Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local Values di Meulaboh, Aceh Barat.

Ketua STAI Teungku DIrundeng, Dr. Syamsuar Basyariah, M.Ag, menyampaikan sambutan pada
pembukaan International Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local Values
di Meulaboh, Aceh Barat.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 265
Lampiran

Direktur LKAS Banda Aceh, Usamah El-Madny, menyerahkan buku terbitan LKAS kepada perwakilan
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat pada International Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through
the Integration of Local Values di Meulaboh, Aceh Barat.

Para peserta International Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local
Values di Meulaboh, Aceh Barat.

266 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Lampiran

Direktur LKAS Banda Aceh, Usamah El-Madny, menyerahkan buku terbitan LKAS kepada Prof. Jeffrey
Ayala Milligan, Ph.D, associate professor Florida State University, pada International Seminar on
Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local Values di Meulaboh, Aceh Barat.

Para peserta International Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local
Values di Meulaboh, Aceh Barat.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 267
Lampiran

Anton Widyanto (translator LKAS) pada International Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through
the Integration of Local Values di Meulaboh, Aceh Barat.

Pengurus LKAS Banda Aceh dan STAI Teungku Dirundeng berfoto bersama pemateri International
Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local Values di Meulaboh, Aceh Barat.

268 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Profil Lembaga

LKAS
singkatan dari Lembaga Kajian Agama dan Sosial.
Didirikan di Banda Aceh, Provinsi Aceh pada
Kamis, 22 Desember 2008 bertepatan dengan
25 Dzulhijjah 1429 H dengan akte notaris Sabaruddin Salam, SH, SpN No.
97 Tahun 2008. Tujuan didirikan lembaga ini antara lain ingin mewujudkan
pencerahan kehidupan sosial-keagamaan bagi masyarakat dalam berbagai
aspeknya. Diharapkan LKAS mampu menjadi lembaga professional dalam
internalisasi nilai-nilai agama, sosial, moral dan pendidikan masyarakat.
Sesuai dengan tujuan dimaksud LKAS membentuk beberapa divisi antara
lain: Divisi Penelitian dan Pengkajian. Divisi ini bertugas melaksanakan
riset, seminar, dan forum diskusi ilmiah di bidang agama, pendidikan
dan sosial kemasyarakatan yang meliputi seluruh realitas kehidupan
dalam berbagai dimensinya sekaligus merumuskan solusi atas masalah-
masalah aktual dari problematika yang berkembang. Divisi Pelatihan.
Divisi ini bertugas memberikan jasa training, workshop, training of trainer
bagi pemberdayaan sumber daya manusia dalam berbagai aspek. Divisi
Perberdayaan Perempuan dan Anak. Divisi ini bertugas mengadakan
kegiatan-kegiatan pemberdayaan perempuan dalam bidang pendidikan,
professionalisme, persamaan hak dan keadilan. Di samping itu divisi ini
bertugas mengadakan kegiatan pemberdayaan dan pendidikan anak melalui
partispasi masyarakat agar tercipta percerahan bagi masa depan anak-anak.
Divisi Pendidikan Politik. Divisi ini bertugas meningkatkan pemahaman
dan wawasan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan sehingga
tumbuh dan berkembang sistem pendidikan politik yang jujur, adil dan
bermartabat. Divisi Kemitraan. Divisi ini bertugas membangun kerja sama
dalam internalisasi nilai-nilai sosial dan agama dengan Pemerintah Aceh,
LSM, NGO dan lembaga swasta lainnya. Divisi Penerbitan dan Publikasi.
Divisi ini bertugas menerbitkan buku-buku, jurnal ilmiah dan artikel-artikel
yang sangat berguna bagi masyarakat. Di samping itu divisi ini bertugas
mengadakan publikasi lembaga dan melaksnakan kegiatan-kegiatan
kelembagaan. Dalam menjalankan tugas sesuai yang telah ditentukan maka
setiap devisi telah diisi oleh tenaga profesional dan proporsional yang
terdiri dari Philosophy of Doctor (Ph.D), Doktor, Master (MA) dan Magister.
Umumnya pengurus LKAS di samping berprofesi sebagai dosen pada IAIN Ar-
Raniry Banda Aceh dan Universitas Syiah Kuala, mereka juga pernah bekerja
pada NGO dan lembaga-lembaga swasta lainnya. LKAS hingga hari ini telah
menerbitkan beberapa karya penting antara lain: Aceh di Mata Sejarawan;

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 269
Profil Lembaga

Rekonstruksi sejarah sosial Budaya karya Muliadi Kurdi, Materi Khutbah


Jumat karya Muliadi Kurdi & Usamah El-Madny, Anthropomorphisme Al-
Juwayni karya Dr. Muhibbuththabary,M.Ag, Menalar Hukum Tuhan karya
Jabbar Sabil,MA, Pembaharuan Hukum Islam karya Prof. Dr. Mukhsin Nyak
Umar,MA. Karya yang akan terbit antara lain: Ensiklopedi Ulama Besar
Aceh karya Tim LKAS, Nikah Sirri karya Dr. Fauzi Saleh, Lc, MA & Muliadi
Kurdi,S.Ag, M.Ag, Pertalian Darah Menurut Hazairin karya Prof. Dr. Al Yasa’
Abubakar,MA, Toponimi Aceh karya LKAS, Konsep Pemikiran Pendidikan
Prof.Dr. Safwan Idris,MA. Selain itu, LKAS telah menerbitkan sejumlah jurnal
dan buletin seperti jurnal Progresif, Bidayah STAI Teungku Dirundeng, At-
Tasri’ STAI Teungku Dirundeng, At-Ta’dib STAI Teungku Dirundeng, At-
Tanzir STAI Teungku Dirundeng, Peunawa dan lain-lain.

270 Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES
Profil Lembaga

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)


Teungku Dirundeng Meulaboh adalah sebuah Perguruan Tinggi Islam di
pantai Barat, Aceh. Lembaga yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan
Teuku Umar Johan Pahlawan ini berdiri pada tahun 1986. STAI memiliki
tiga Program Studi yaitu Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah), Mu’amalah/
Ekonomi Islam (Syari’ah), dan prodi Komunikasi Penyiaran Islam (Dakwah).
Sistem yang diterapkan STAI adalah perkuliahan regular dan non regular.
Sejak berdiri, lembaga ini semakin ramai diminati oleh mahasiswa. Jumlah
mahasiswa yang sedang kuliah di perguruan tinggi tahun pelajaran
2010/2011 berkisar 1.925 orang. Tercatat sejak berdiri hingga Juni 2010
lembaga ini telah tujuh kali mewisudakan sarjana (S1) dengan jumlahnya
mencapai 1.450 orang. Pada tahun 2000 sampai 2010 STAI memperoleh
nilai akreditasi dengan peringkat B. Jumlah tenaga pengajar/dosen 93 orang
dengan 38 dosen tetap. Dosen luar biasa 20 orang dengan rincian Professor
5 orang, Doktor 8 orang, dan dosen S2 berjumlah 32 orang. STAI memiliki
tiga kampus yaitu Kampus A lokasi Komplek Masjid Nurul Huda Meulaboh,
Kampus B di Desa Gampa, dan Kampus C di Alue Peunyarieng dengan
jumlah areal 75 Hektar. Kelompok belajar terdiri dari 35 unit dengan waktu
belajar pagi dan sore. Tahun 2010 STAI memberikan beasiswa kepada tiga
dosen untuk melanjutkan program S3 ke dalam dan luar negeri. Dalam
bidang penerbitan sejak dua tahun terakhir STAI bekerjasama dengan LKAS
Banda Aceh telah mampu melahirkan empat jurnal ilmiah masing-masing:
At-Tanzir (Prodi KPI), At-Tasyri’ (Prodi Mu’amalah), At-Ta’dib (Prodi PAI),
dan Bidayah (jurnal ilmiah institusi). Semua jurnal itu diharapkan dapat
sebagai media peningkatan kualitas dosen di sekolah tinggi ini. Sejak berdiri
hingga saat ini STAI telah diisi oleh dua pimpinan antara lain: Drs. H. Razali
Azis (mantan Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh), Ketua STAI
pada periode pertama dan setelah itu hingga sekarang ini STAI dipimpin
Dr. Syamsuar Basyariah, M.Ag.

Proceedings of International Seminar on


SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES 271
Proceedings of International Seminar on

Sustaining Peace
in Aceh
Through the Integration of Local Values

We present this work as a starting point for everyone who cares in establishing
peace education as part of the Acehnese community. As a nation, we should realize
that history will always be our spirit in enlightening our life towards par excellent. In
addition to be a precious documentation, this work is expected to be a reflection in
learning and mantaining peace on the land of Iskandar Muda to achieve a brighter
and more prestigious future for Aceh.

Sengaja kami suguhkan karya ini agar menjadi starting point bagi para pihak yang
peduli untuk menjadikan pendidikan damai bagian dari masyarakat Aceh. Sebagai
bangsa, kita harus sadar sejarah yang senantiasa menjadi semangat dalam
melakukan berbagai pencerahan kehidupan menuju par excellent. Di samping
menjadikan dokumentasi berharga, karya ini diharapkan menjadi bahan renungan
dalam menghikmahi serta memelihara perdamaian dan kedamaian di bumi
Iskandar Muda ini. Semoga masa depan Aceh lebih cerah dan bermartabat.

published by
ISBN 978-602-95838-7-8
LEMBAGA KAJIAN AGAMA DAN SOSIAL (LKAS) BANDA ACEH
I nstitute for R eligi o u s a n d S o c i a l S t u d i e s
in cooperation with
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) TEUNGKU DIRUNDENG
9 786029 583878 MEULABOH, ACEH BARAT
College for Islami c S t u d i e s