Sustaining Peace in Aceh

Through the Integration of Local Values
EDITORS:

Proceedings of International Seminar on

Muliadi Kurdi & Anton Widyanto Prophetic Pragmatism: Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao
Jeffrey Ayala Milligan

Civic Education in Post Conflict Area
Anton Widyanto

Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh
Fauzi Saleh

Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh
Muhibbuththabary

Promoting Peace Education Through Multicultural Education in Aceh
Muhammad Thalal

Maslahah dalam Civil Society
Syamsuar Basyariah

published by

LEMBAGA KAJIAN AGAMA DAN SOSIAL (LKAS) BANDA ACEH
I nstitute for R eligious and S ocial Studies

in cooperation with

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) TEUNGKU DIRUNDENG MEULABOH, ACEH BARAT
College for Islamic Studies

Through the Integration of Local Values

Sustaining Peace in Aceh

Proceedings of International Seminar on

Sustaining Peace in Aceh
Through the Integration of Local Values

Proceedings of International Seminar on

EDITORS:

Muliadi Kurdi Anton Widyanto

Proceedings of International Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local Values First publication, October 2010

Editors Muliadi Kurdi Anton Widyanto Contributors Jeffrey Ayala Milligan, Anton Widyanto, Fauzi Saleh, Muhibbuththabary, Kusmawati Hatta, Firdaus M. Yunus, M. Nasir Budiman, Muhammad Thalal, Fuad Mardhatillah UY. Tiba, Asmawati, Abd. Wahid, Juhari Hasan, Syamsuar Basyariah, Andi Nuzul, Syarifuddin, M. Jamil Yusuf Cover design/layout Khairul Umami

All rights reserved © 2010, LKAS Banda Aceh Published by Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh Jl. Teungku Dihaji, Lr. Nyak Awan, Gg. Pawang Adam, No. 14, Lamdingin Kecamatan Kuta Alam - Banda Aceh E-mail: lkasnews@yahoo.co.id www.lkas.org in cooperation with Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tgk. Dirundeng Jalan Teuku Umar Komplek Masjid Nurul Huda, No. 100. Meulaboh-Aceh Barat Telp: 0655-7551591. Fax: 0655-7551591 E-mail: prodimu_stai@yahoo.co.id Website: www.staidirundeng.ac.id

16 x 24 cm xii + 272 pages ISBN. 978-602-95838-7-8

Copyright and reprint permission All rights reserved. This book, or parts thereof, may not be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, including photocopying, recording, or any information storage and retrieval system now known or to be invented, without written permission from the Publisher.

PREFACE FROM THE PUBLISHER

In response to the dynamics of peace in Aceh post-MoU Helsinki, in cooperation with STAI Tgk. Dirundeng, on May 23, 2010 the Institute for Religious and Social Studies (LKAS) Banda Aceh, held the international seminar in Meulaboh, West Aceh with the theme: Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local Values. The main aspects examined in this seminar was the role and contribution of peace education in the context of sustaining peace in Aceh. This aspect is very interesting to be discussed considering that character building is one of the main tools in the effort to continue peace in Aceh. Redesigning of a character— including the character of pro-peace—merely can be made through the education process and certainly is not an easy job as turning the palm of the hand. Constant tenacity, patience and devoutness are needed from all stakeholders in Aceh. The book currently before your hand is a compilation of papers presented in the international seminar. We intentionally publish the proceedings in order to become a starting point for everyone concerned to establish peace education as part of the Acehnese community. As a nation, we must realize that history has always been a spirit in doing various enlightening life towards par excellent. We are aware that this book is still

v

far from perfection, both in terms of printing quality and layout. For that, we expect your understanding and forgiveness. We are very grateful to the local government of Aceh Barat, STAI Teungku Dirundeng, Meulaboh, contributors, editors, layout staff, as well as all the parties involved, either directly or indirectly, in the success of this activity. We hope that not only is this book to be a valuable documentation, but also to continue to be a reflection for all of us in learning and maintaining peace on the land of Iskandar Muda. Therefore, our ideals are not empty of meaning in creating a brighter future and dignity for Aceh. Happy reading!

Banda Aceh, October 2010 Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh

vi

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

PENGANTAR
KETUA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) TEUNGKU DIRUNDENG MEULABOH

Aceh adalah salah satu wilayah di Indonesia yang mengalami konflik bersenjata berkepanjangan. Salah satu ekses dari konflik bersenjata ini adalah runtuhnya nilai-nilai lokal (local values) di kalangan masyarakat Aceh. Meski konflik bersenjata ini berakhir dengan ditandatanganinya MoU Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005, namun suasana di masa-masa awal pasca penandatanganan tersebut tidak serta merta menjadi benar-benar damai. Masih rendahnya rasa kepercayaan antara pihak yang bertikai di masa transisi menjadikan Aceh masih dikungkung ketercekaman. Namun demikian kondisi ini seiring dengan berjalannya waktu menunjukkan perkembangan positif. Kepercayaan antara pihak yang pernah bertikaipun perlahan mulai tumbuh subur. Perkembangan ini tentu patut diapresisasi secara positif. Salah satunya adalah dengan cara menghidupkan kembali nilai-nilai islami dan kearifan lokal di Aceh. Hal ini tentu sangat krusial mengingat Aceh menyimpan banyak sekali budaya atau nilai-nilai lokal keacehan yang relevan dengan nilai-nilai Islam. Sejarahpun mencatat bahwa antara Aceh dengan Islam bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Salah satu kiat menghidupkan nilai-nilai lokal di Aceh adalah dengan merevitalisasi Pendidikan Kewarganegaraan yang ada di sekolah-sekolah.

vii

Nilai-nilai lokal seperti musyawarah, gotong-royong, menegakkan keadilan, mementingkan persatuan, persamaan hak, persaudaraan, dan sekaligus mementingkan kepentingan umum serta bertanggung jawab baik kepada diri, masyarakat dan negara adalah aspek yang tidak bisa diabaikan. Nilainilai ini semua relevan sekali dengan jiwa dan semangat syari’at Islam yang berlaku di Provinsi Aceh. Ini juga juga merupakan bentuk masyarakat madani yang pernah tersusun dengan rapi ketika Nabi Muhammad saw. memimpin pemerintahan di negara Madinah selama 10 tahun. Rajutan nilai-nilai tersebut di atas yang sama-sama bersumber dari Alquran dan alhadis pada dasarnya tidak bertentangan dengan asas dan prinsip yang ada dalam syariat Islam, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan asas-asas pelaksanaan kemasyarakatan di Aceh. Hal ini juga sesuai dengan spirit atau pesan dasar fiqh siyasah. Pengamalan nilai-nilai tersebut akan berimplikasi pada lahirnya tiga kecerdasan dalam jiwa masyarakat Aceh yang cinta damai yaitu kecerdasan spiritual, intelektual dan emosional, yang kesemuanya berorientasi pada apa yang disebut dengan “titik ketuhanan”. Dalam kerangka inilah seminar internasional Sustaining Peace in Aceh through the Integration of Local Values menjadi sangat penting. Nilai-nilai yang diangkat dalam pembahasan seminar ini diyakini dapat dijadikan perekat antara Pemerintah Pusat (Jakarta) dengan Aceh, antara sesama masyarakat Aceh, dan juga antarelemen pengikat antarbangsa. Lebih dari itu, pesan utama yang disampaikan dari seminar internasional ini adalah bahwa Aceh perlu membudayakan nilai-nilai tersebut sehingga perubahan yang diinginkan di Aceh ke depan sesuai dengan rasa kemanusian manusia sejagat. Demikianlah pengantar ini kami sampaikan. Semoga sekelumit pemikiran-pemikiran yang ada dalam buku ini maupun yang berkembang selama dalam seminar dapat bermanfaat bagi pengembangan Aceh di masamasa mendatang. Amin ya Mujibas Sa’ilin.

Meulaboh, September 2010 Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh,

Dr. Syamsuar Basyariah, M.Ag

viii

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

PENGANTAR
BUPATI ACEH BARAT

Konflik Aceh yang telah berlangsung puluhan tahun terbukti telah menyebabkan runtuhnya berbagai sendi penting kehidupan masyarakat Aceh baik dalam konteks bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara. Namun sejak MoU Helsinki ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005, apa yang masyarakat Aceh cari sudah menemukan titik temu. Perdamaian yang sudah terjalin, sudah barang tentu harus disyukuri dan wajib diisi dengan penguatan masyarakat sipil untuk membentuk kesatuan masyarakat Aceh yang madani. Dalam mewujudkan misi mulia ini, saya meyakini bahwa nilai-nilai Islam dan kearifan lokal Aceh perlu dihidupkan. Nilai-nilai kearifan lokal Aceh sangat penting untuk direvitalisasi oleh semua pengambil kebijakan (stakeholder) dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan menghidupkan budaya dan kearifan lokal, kelanjutan perdamaian Aceh akan berlangsung secara kontinyu. Adanya keterkaitan erat antara nilai-nilai lokal Aceh dan nilai-nilai Islam mengindikasikan bahwa semua masyarakat Aceh harus melaksanakan syari’at Islam dengan baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan syariat Islam secara komprehensif di Aceh pada dasarnya sejalan dengan pesan-pesan ilahiyah terkait dengan perdamaian. Oleh

ix

karena itu, perdamaian yang sudah terwujud di Aceh mutlak harus dijaga dan dirawat dengan baik dan serius oleh semua elemen masyarakat Aceh. Keseriusan dalam mempertahankan dan mengisi perdamaian ini tentu akan berimbas secara positif bagi masyarakat Aceh untuk bisa mengejar ketertinggalan dalam berbagai aspek yang diakibatkan konflik bersenjata selama ini. Selamat menelaah!

Meulaboh, September 2010 Bupati Aceh Barat

Ramli MS

x

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Contents

Preface from the Publisher Pengantar Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh Pengantar Bupati Aceh Barat Jeffrey Ayala Milligan Prophetic Pragmatism? Post-Conflic Educational Development in Aceh and Mindanao Anton Widyanto Civic Education in Post Conflict Area Fauzi Saleh Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh Muhibbuththabary Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh Kusmawati Hatta Integrasi Civic Education dalam Pendidikan Formal dalam Rangka Membangun Demokrasi Berkeadaban

v

vii ix

1 27

47 63

81

xi

Firdaus M. Yunus Konstruksi Kurikulum Pendidikan Damai di Aceh M. Nasir Budiman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dalam Menjaga Keberlangsungan Perdamaian di Aceh Muhammad Thalal Promoting Peace Education Through Multicultural Education in Aceh Fuad Mardhatillah UY. Tiba Karekteristik Kebudayaan Aceh dan Implikasinya Terhadap Kedamaian Hidup Masyarakat Asmawati Integrasi Pendidikan Damai dalam Membangun Perdamaian di Aceh Abd. Wahid Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh Juhari Hasan Pembelajaran Civic Education dalam Rangka Memperkuat Demokratisasi di Aceh Syamsuar Basyariah Maslahah dalam Civil Society Andi Nuzul Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional Syarifuddin Pendidikan Karakter Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban M. Jamil Yusuf Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

91

103

117

129

141

153

169 179 203

221 243

xii

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

Jeffrey Ayala Milligan
Associate professor of philosophy of education and sociocultural/ international development education studies, Florida State University

Inquiry into the role of education before, during and after conflict has grown in recent years in the hope of contributing to our understanding of more effective means of preventing conflict through education or, when conflict prevention fails, of maintaining or re-establishing effective education during and after conflict (Sommers, 2002; Smith & Vaux, 2003; Milligan, 2005; Davies, 2005). Such goals require, of course, a thorough understanding of the specific socio-historical context of particular conflicts and the roles education has played and might play in them, but they also strongly suggest the necessity of a philosophical framework conducive to understanding and developing strategic responses to common dimensions of different conflicts while not losing sight of the critical particularities of any single conflict. In this essay, therefore, I will examine two cases of ethno-religious conflict in Southeast Asia: Aceh, in far-western Indonesia, and Muslim Mindanao, in the southern Philippines. Without, I hope, losing sight of the important differences between these two cases, I will argue that their similarities make the conflicts in Aceh and Mindanao useful comparative

1

Jeffrey Ayala Milligan

cases for the exploration and development of a philosophical framework for understanding and responding to these and other similar conflicts. I will argue that Cornel West’s (1989) conception of prophetic pragmatism accounts for key socio-historical dimensions of both conflicts, that it is adaptable to an Islamic religious context, that it anticipates many of the postcolonial critiques of liberal developmentalism, and that it is consistent with recent educational developments in Aceh and Mindanao. Thus, it constitutes a useful basis for such a framework for these two cases and, perhaps, other similar cases. I will conclude with a brief exploration of what a prophetic pragmatic approach to education might mean in post-conflict Aceh and Muslim Mindanao. Separatist conflict in Aceh and Mindanao The context of the separatist conflict in the Indonesian province of Aceh has deep roots in the colonial and postcolonial history of the region. Aceh is generally recognized as the site of the first introduction of Islam into Southeast Asia and, by the 18th century, the site of an independent, internationally recognized Muslim state (Riddell, 2006). Though hardpressed by the colonization of the region by Western powers, Aceh maintained this independence until the early 20th century, when it was finally brought under more or less effective Dutch control after more than three decades of armed conflict with Dutch colonial forces (Alfian, 2006). This relatively brief period of tenuous colonial control was brought to an end by the Japanese occupation of Indonesia during World War II and the successful Indonesian struggle for independence thereafter (Reid, 2006b). This history of political independence and anti-colonial resistance, as well as the ethnic distinctiveness of the Acehnese people constitute one of the primary arguments of contemporary supporters of Acehnese independence (Nielsen, 2002; Thaib, 2002). A major theme of this discourse is the central role of Islam and Islamic identity, not only in the cultural and political history of Aceh, but in more contemporary explanations of Acehnese distinctiveness from a perceived Java-centric Indonesian state as well and the rationales for independence that

2

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

follow from it. Thus Aceh is perceived to be the heir of an historical legacy making it the site of a more orthodox Islamic identity than other regions of Indonesia, the defense of which was a major motivation of resistance to Dutch colonization (Alfian, 2006). The importance of religion as a factor in the history of the Aceh conflict was reinforced in the immediate aftermath of World War II during the so-called “social revolution,” in which supporters of progressive ulama rooted in the network of Islamic educational institutions in Aceh effectively ended the long political dominance of the traditional political-economic elite and in the 1950s in Aceh’s prominent role in the Darul Islam revolt, which pitted advocates of an Indonesian Islamic state against the more secularist state emerging under Sukarno (Sulaiman, 2006; Aspinall, 2006). While subsequent separatist rhetoric has been less explicitly religious in its rationale for the independence struggle, resentment against what is perceived as a neocolonialist imposition of a syncretic Javanese culture continues to be a factor in the conflict (Chalk, 2001). Thus, while religious identity may not be the only, or even the most important, element of the conflict in Aceh, it has been and remains an important dimension of the Acehnese’ sense of difference justifying the separatist struggle (Salim, 2004). Therefore, a complete understanding of the conflict, and any conceptualization of educational development in the region, must account for the role of religion and religious identity. As religious justifications for Acehnese independence receded, socioeconomic rationales assumed a new prominence in subsequent decades (Salim, 2004; Sulaiman, 2006). Encouraged by the Indonesian government in an effort to dilute Acehnese separatist sentiment, migrants from other regions moved into Aceh to take advantage of new employment and other economic opportunities in the province (Nielsen, 2002). This shift in the ethnic balance of the population coincided with the development of the natural gas and oil resources of the province, development which was perceived to disproportionately benefit the national government rather than the Acehnese people, thus contributing to a widespread sense of economic exploitation (Sulaiman, 2006). This sense of alienation was exacerbated further through the 1990s as the Indonesian government’s often heavyProceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

3

Jeffrey Ayala Milligan

handed and even brutal reaction to the armed separatist movement led to frequent and well-documented human rights abuses (Aspinall, 2006). Thus the Acehnese’ long-held sense of separateness from the larger Indonesian state rooted in religion was reinforced by resentment against perceived economic marginalization and anger over very real politico-military repression (Nielsen, 2002). The fall of the Suharto regime in 1998 has ushered in a new era in Aceh’s relations with Indonesia. The on-going effort to democratize Indonesian society, as well as the peace agreement signed between the Indonesian government and the GAM in the aftermath of the 2004 tsunami, has afforded a measure of political autonomy for the province while new openings for political organization and expression have helped shift the struggle for Acehnese independence from the military to the political arena (Miller, 2006; Reid, 2006a). The push towards democratization has impacted educational policy as well, leading to an on-going effort to decentralize educational decision-making and a change in the focus of civic education from an emphasis on the sameness of Indonesians in a unitary, organic state to an emphasis on the knowledge and dispositions required for civic engagement by citizens of a diverse democracy (Kalidjernih, 2005). Thus the post-conflict context for educational re/development in Aceh is marked by at least three critical elements intertwined with the problems of poverty common to the rest of the country as well as the unique challenges arising in the aftermath of the 2004 tsunami: 1) an historical sense of difference grounded in religious identity, 2) a legacy of socio-economic injustice, and 3) the challenge of transitioning from a repressive political regime which suppressed difference in the interest of unity to a democratic society which balances national unity with respect for individual liberty and cultural diversity. Any strategy for post-conflict educational development in Aceh would need to account in some way for all these elements. Despite important differences, the experience of Muslim Mindanao offers a number of striking parallels with the experience of Aceh. Like Aceh, Muslim Mindanao’s history is a story of transformation from pre-colonial cultural and religious prominence to post-colonial political and economic

4

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

marginalization (Majul, 1999; Vitug & Gloria, 2000). Like Aceh, western Mindanao was the scene of the first introduction of Islam into the islands in the 15th and 16th centuries and the most highly developed political entities in the Sulu and Maguindanao sultanates. Unlike Aceh, Muslim Mindanao’s violent confrontation with Western colonialism began much earlier and lasted much longer. A series of relatively inconclusive military campaigns by the Spanish colonial regime against different Muslim communities in Mindanao and the Sulu archipelago were launched almost from the beginning of Spanish occupation of the islands in the 16th century and carried on right up to the end of Spanish rule in the late 19th century (Majul, 1999). However, by the opening decade of the 20th century, as Aceh was losing its independence to the Dutch, Muslim Mindanao was being brought under the effective control of a Manila-based colonial government for the first time in its history by the United States (Gowing, 1983). The legacy of this long conflict was a bitter sense of separateness demarcated along religious lines: Muslim-Christian became perhaps the most intractable cultural and political divide in colonial and postcolonial Philippine society. As in Aceh, both colonial and independent Philippine governments attempted to effect the assimilation of a recalcitrant periphery by encouraging the migration of poor Filipinos from overpopulated regions in Luzon and the Visayas, shifting the population balance in most of Mindanao in favor of Christian migrants. The resulting tensions over land and economic opportunities, exacerbated by religious prejudice on both sides, erupted into violent clashes between Muslim and Christian paramilitaries in the late 1960s. Out of this violence, and the Muslims’ powerful sense of religious, cultural, and economic threat, the current Muslim secessionist movement was born. Since then fighting between the Philippine Armed Forces and a succession of Muslim secessionist groups has claimed more than 120,000 lives, displaced millions and caused untold economic devastation (George 1980; Vitug & Gloria, 2000). While the conflict in Mindanao has been portrayed as religious, it has had and has significant socio-economic dimensions. It was in part sparked, for instance, by conflicts over ownership of land and is sustained
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

5

Jeffrey Ayala Milligan

by a powerful sense of economic deprivation, social exclusion, and political marginalization (George, 1980; Vitug & Gloria, 2000). While religious differences are equally, if not more, important, they have in fact provided a convenient shorthand for identifying dividing lines, lines which have enflamed the conflict, making it in many instances more virulent given the long legacy of religious bigotry it taps into not only in the Philippines but in the larger world as well. Thus religious identity and socio-economic injustice are inextricably intertwined in Muslim Mindanao and therefore critical to understanding the conflict there and the context it creates for post-conflict educational re/development. As in Indonesia, democratization in the Philippines after the fall of Ferdinand Marcos in 1986 has created new challenges and opportunities for post-conflict educational development in Mindanao (Blair, 2004). The fall of Marcos led to the restoration of an admittedly imperfect democratic rule and new, if still somewhat dangerous, space for an already vibrant civil society. The return to democratic rule saw the creation of the Autonomous Region in Muslim Mindanao, an attempt to allow greater political autonomy without acceding to outright secession (Vitug & Gloria, 2000). As in Aceh, democratization has created and creates the challenge of transitioning from a highly centralized, paternalistic—if not outright authoritarian—political culture to a genuinely democratic society. In educational policy for post-conflict Mindanao, democratization has created the challenge of transitioning from a long history of assimilationist policies designed to ease separatist tensions by denying and erasing cultural differences to educational policies that honor religious and cultural differences and redress socio-economic inequities while preserving national unity (Milligan, 2005). As in Aceh, the post-conflict educational landscape of Muslim Mindanao is shaped not only by the challenges resulting from endemic poverty but also by the long shadow of armed conflict rooted in religious identity and a sense of socio-economic injustice as well as the openings created by a democratizing multicultural society. Post-conflict educational re/development in Muslim Mindanao must account for all of these factors. To the extent that they coincide with elements of the post-

6

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

conflict educational terrain in Aceh and, perhaps, other post-conflict situations, they constitute rudimentary criteria for the development and evaluation of a philosophical framework for educational re/development in similar post-conflict settings. Prophetic pragmatism? What perspective does Cornel West’s (1989) articulation of a prophetic pragmatism bring to understanding these conflicts and to conceiving educational re/development in their aftermath? First, West conceives of prophetic pragmatism as a philosophical tool rooted in the tradition of American pragmatism yet cognizant of the limitations of pragmatism in understanding and responding to critical elements of modern experience. Pragmatism’s contributions to West’s philosophical project are a nonfoundational epistemology and a coherence theory of truth which historicize knowledge and truth claims. Drawing quite different conclusions from the development of modern science in the 19th century than their epistemologyobsessed philosophical brethren, pragmatists tended to view knowledge as the by product of the application of a particular way of thinking—the method of intelligence, or scientific method—to the solution of particular problems that arise in the course of pursuing particular goals (Dewey, 1910). Thus knowledge claims make no pretense of corresponding to the nature of some ultimate reality; rather, they simply claim to work better than other claims in solving particular problems and are held only so long as they are not contradicted or improved upon by the results of future experience. There are at least three consequences of pragmatism that appear to be critical to West’s philosophical project. First, it historicizes knowledge and truth claims and therefore undermines forms of absolutism. The body of knowledge claims of a community depends upon what that community was attempting to achieve in the particular circumstances of its own experience at a particular time in its history. Since these goals change over time, knowledge is historically and culturally contingent. Second, pragmatism reorients philosophical energies from the search for timeless truths to the identification and solution of problems arising in human experience. Third,
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

7

Jeffrey Ayala Milligan

it shifts adjudication of competing knowledge claims from epistemological grounds—which claim is true?—to ethical grounds—which claim represents a more desirable conception of human flourishing? Thus pragmatism is a philosophy oriented toward the critical understanding of and intervention in individual and social experience. For John Dewey, the most significant figure in the development of pragmatism, democracy was the necessary socio-political environment for the fullest flowering of the potential of human intelligence to solve social problems because it permitted the greatest range of individual experience and the freest communication of the consequences of that experience to others, consequences that can then be used by others in the intelligent solution of problems arising in their own experience. For Dewey, it also fore grounded the importance of education as a mechanism for transmitting the collective experience of a community in such a fashion that it equipped the immature members of that society not with settled truths but with the only freedom that matters, the freedom to frame and execute one’s own purposes (Dewey, 1938). Thus Dewey’s contribution to pragmatism also represents perhaps the most sustained, thorough, and explicit articulation of the relationship between democracy and education available. West’s articulation of prophetic pragmatism does not explore the educational implications of pragmatism that occupied Dewey’s early work. He focuses instead on its historicist undermining of absolutisms and the implicit call for social critique imbedded in its engagement with human experience. However, both elements of the pragmatist root of prophetic pragmatism are deeply relevant to the post-conflict educational contexts of Aceh and Mindanao in that they identify deep reservoirs of intelligent reflection on and purposeful engagement with the problems that arise at the crossroads of education, democracy, and critical social engagement. For West, however, though the pragmatist philosophical tradition is central to his project, it is inadequate on at least two counts. The first of these inadequacies involves the social critique implicit in pragmatism, which West finds analytically weak. It does not, in his estimation, adequately explain the way social and economic inequality is created and sustained,

8

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

implying therefore that it cannot be as effective in redressing such social problems as it might otherwise be. For this aspect of social analysis, West argues that progressive Marxist—Gramscian—thought provides a more robust analytical tool than pragmatism, that it in fact renders the criticism implicit in pragmatism more explicit and thus useful. In this philosophical tradition West finds a deep reservoir of sustained, thorough and explicitly theoretical explanations of socio-economic inequality as well as a long tradition of deliberate intervention in conditions of inequality in the interest of radical change. He is mindful, however, of the dogmatic potential in Marxist metanarratives and the sordid history of the degeneration of libratory political ideals into dictatorial political regimes. But it is here that the pragmatist dimension of prophetic pragmatism complements the progressive Marxist dimension: pragmatist historicism makes the prophetic pragmatist deeply skeptical of absolutist pronouncements even as progressive Marxist perspectives sharpen the pragmatist’s analysis of socio-economic inequality. Thus pragmatism and Gramscian Marxism constitute two essential and complementary elements of prophetic pragmatism. Taken together, they embody important traditions of theory and practice on the understanding of social inequality and the relationship between democracy and education, two critical aspects of the post-conflict educational contexts of Aceh and Mindanao described above. Both, however, suffer from a common limitation which renders them less effective as tools for understanding and intervening in human experience: they are both more or less skeptical regarding traditional religious belief. Marx famously dismissed religion as the opiate of the masses while Dewey (1934) argued for the “surrender of the whole notion of special truths that are religious by their own nature, together with the idea of peculiar avenues to such truths” (33). West (1989) argues that such hostility toward traditional religious belief renders progressives politically impotent: Since the Enlightenment…most of the progressive energies among the intelligentsia have shunned religious channels. And in these
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

9

Jeffrey Ayala Milligan

days of global religious revivals, progressive forces are reaping the whirlwind… The severing of ties to churches, synagogues, temples and mosques by the left intelligentsia is tantamount to political suicide (p. 234). This political impotence is a consequence of the simple fact that, for most people in the world, religion remains deeply important. The culture of the wretched of the earth is deeply religious. To be in solidarity with them requires not only an acknowledgement of what they are up against but also an appreciation of how they cope with their situation. This appreciation does not require that one be religious...This appreciation also does not entail an uncritical acceptance of religious narratives…Yet to be religious permits one to devote one’s life to accenting the prophetic and progressive potential within those traditions that shape the everyday practices and deeply held perspectives of most oppressed peoples (West, 1989, p. 233). West’s own prophetic pragmatism is engaged through the perspective of his Christian faith, a faith which recognizes both the dignity of human beings made in the image of God and the fallenness of imperfect human beings prone to mistakes and injustice. This “Christian dialectic of human nature” thus recognizes moral ideals toward which we are called to struggle and aspire and the fact that we will inevitably fall short of those ideals (West, 1982, p.17). It sustains a productive balance between idealism and humility that keeps hope alive in the midst of tragic realities, thus providing existential sustenance for those living on this side of paradise. It also provides a framework for recognizing, criticizing, and transforming the varieties of injustice that impede the fullest development of the fundamental dignity of individual human beings. This is how the wretched of the earth copes with its situation and the source of the prophetic and progressive potential of religious traditions. Thus this third element of prophetic pragmatism softens the religious skepticism of the first two by recognizing the power of religious narratives to provide meaning and a sense of moral direction for ordinary people that secular philosophies like pragmatism or Marxism simply cannot match.

10

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

Again, however, West is mindful of the absolutist tendencies in religious narratives that have often betrayed people of faith into violence against others, oppression within and without, and moral and intellectual arrogance. There is also the danger of an otherworldliness that ignores the injustices of this world in the belief that they will be transformed in the next. Here again the critical and productive tensions among the three elements of prophetic pragmatism come into play. Pragmatic historicism buttresses the moral and intellectual humility implicit in the Christian dialectic of human nature against the temptations of moral certainty with a philosophical recognition of the historical contingency of claims to know. Progressive Marxist insight into the nature of socio-economic injustice sheds light on its human causes and thus the human responsibility to address it in this life rather than another. Each of the three elements—pragmatism, prophetic religion, progressive Marxist thought—provides an essential perspective that enhances the libratory potential of the other by counterbalancing the pitfalls to which each is prey. Each of the three elements responds in some fashion to the common aspects of the post-conflict contexts of Aceh and Mindanao discussed above: religious identity, the legacy of socioeconomic injustice, and the question of the meaning of education in a democratizing society. Thus, I believe, West’s prophetic pragmatism offers a useful starting point for the development of a philosophical framework for conceptualizing educational re/development in post-conflict settings like Aceh and Mindanao. Islamic prophetic pragmatism? My claim that prophetic pragmatism offers a useful framework for thinking about education in post-conflict Aceh and Mindanao requires consideration of the question of whether its approach to these common concerns is amenable to the values and conditions of Aceh and Mindanao, a question which raises several obvious difficulties. For instance, West’s articulation of prophetic pragmatism is clearly influenced by his own Christian faith. To what extent, then, is it Christian? And how relevant can it be in these Muslim communities, particularly in Mindanao where the long
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

11

Jeffrey Ayala Milligan

history of Muslim-Christian tensions has been such an important part of the conflict? How acceptable to Muslims are Marxist—even progressive Marxist—analyses of socio-economic inequality? And finally, pragmatism’s assertion of the historical contingency of knowledge and truth claims would seem to be deeply problematic to a religion whose adherents believe the truth has been revealed to man by God and is contained in the sacred text of the Qur’an. Is prophetic pragmatism flexible enough to withstand these concerns about its applicability in Aceh and Mindanao? First, West acknowledges that his prophetic pragmatism is expressed through his Christian faith because that is what he has found meaningful. Prophetic pragmatism, however, is not in itself Christian. It is possible, he writes, “to subscribe to prophetic pragmatism and belong to different religious and/or secular traditions” (West, 1989, p. 232). In describing his philosophy as prophetic rather than Christian pragmatism, West is consciously invoking the figure of the Old Testament prophets shared by Judaism, Christianity, and Islam who came, not as fortune tellers or foretellers of the future, but as social critics who called attention to the gap between the moral ideals espoused by their communities and the realities of their social practices and the consequences of those contradictions. Moreover, a consequence of pragmatism for prophetic pragmatism is recognition that the religious or secular narrative through which it is expressed by any one individual or group of individuals is a consequence of the contingencies of experience of that individual or group rather than the consequence of possession of the truth. West’s prophetic pragmatism is Christian because that is where he is culturally and in his own history and because that faith provides meaning and sustenance for him, not because Christianity is true and Judaism or Islam is not. Thus prophetic pragmatism is not a Christian philosophical perspective. It might just as easily be manifested through Judaism or Islam or even secular perspectives. So, from the perspective of prophetic pragmatism, there is nothing to prevent an Islamic version of prophetic pragmatism. Might there be, however, Islamic objections to an Islamic prophetic pragmatism? Is pragmatism’s claim regarding the contingency of knowledge

12

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

and truth claims problematic to Islam? It would certainly seem to be antithetical to any fundamentalist expression of Islam, but it would be equally antithetical to any fundamentalism, whether Jewish, Islamic, Christian, or secular. And it is an open question whether all Muslims understand their faith in such a fashion, and for those who do, whether it is necessarily so. The first question is empirical and the second theological. Both are beyond the scope of this essay. I can only point to individual Muslim scholars whose work seems to suggest the possibility of an Islamic pragmatism. The late Fazlur Rahman (1982), for instance, argued that the Qur’an should be read as instances of revelation in response to particular needs and events in the life of the Prophet and his followers; therefore, it was a mistake to read any particular passage as stipulating some timeless and decontextualized code of conduct. Rather, one needed to read and understand these instances of revelation in their totality to understand the underlying ethical principles that guided particular choices at a particular point in time. Then these principles might be applied in a different socio-historical context where they might, because of the different context, require different choices. Rahman seems to be arguing for ethical coherence and consistency over metaphysical certainty, which seems not unlike West’s (1985) argument that pragmatism historicizes knowledge and shifts the grounds for the adjudication of competing truth claims from epistemology to ethics. Furthermore, the principle of intellectual humility, of the ultimate inability of finite creatures to fully know the infinite, widely recognized in Islam, would seem to reinforce Rahman’s argument for the primacy of ethical coherence over the search for secure epistemic foundations, that, in struggling to the best of our ability to know and do what is right, we may be wrong. Such arguments suggest that one might hold to certain truths on faith without assuming that there is any epistemic rationale for holding them or assuming that someone else should hold them as well. And they suggest that one may arrive at similar ethical conclusions from different assumptions of truth. Thus prophetic pragmatists of different faiths, or perhaps no religious faith, should be able to pursue common ethical goals. Even if Islam and pragmatism are irreconcilable philosophically, it
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

13

Jeffrey Ayala Milligan

does not mean that one cannot be pragmatic in one’s practice of Islam. Pragmatism, as a philosophy oriented toward the identification and solution of problems in human experience, surely has much in common with Islam, which, Rahman (1988) argues, “teaches and orients man to change things in the world” (p. 5). For Dewey (1916), it was this concern with the intelligent and ethical direction of human experience that led him to recognize the important link between education and democracy. And in both areas as well Muslim scholars are carefully and systematically exploring the meaning of democracy and pragmatic approaches to education in the context of Islam, thereby debunking caricatures of Islam promulgated by Muslim extremists and western stereotypes (Hashim, 2004; El Fadl, 2004). Finally, what of prophetic pragmatism’s deployment of progressive Marxist thought in the analysis of socio-economic injustice? Obviously, socioeconomic justice and injustice are not the exclusive concerns of progressive Marxist thinkers. They are and have always been concerns within Islam as well. And the dialectic between what is and what might be is the basis of critical social theory whether it is Christian (West, 1982), Islamic (Kazmi, 2000), or neo-Marxist (Freire, 1990). What is objectionable about Marxism to people of faith, whether Muslim or not, is its materialist metaphysics, the complete rejection of any reality other than the material world, which constitutes the substitution of one faith for another. It is in this sense another form of fundamentalism. However, pragmatism’s skeptical stance towards such dogmatic claims in effect de-couples the methods of analysis from the fundamentalist materialism people of faith find objectionable, thus asking not whether Marxism’s account of reality is correct, but whether its methods of analysis of certain social problems are useful. If they are useful in understanding injustice and helping to realize ethical ends shared by different faith traditions, then they need not be objectionable. My object here is not to describe an Islamic prophetic pragmatism, but rather to argue that such a possibility is entirely consistent from the perspective of prophetic pragmatism and enough of a possibility from the Islamic perspective to warrant rejecting any a priori claim that prophetic pragmatism is not compatible with Islam or the Muslim societies of Aceh

14

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

and Mindanao. If, as I have argued, the constituent philosophical elements of prophetic pragmatism address theoretically the major historical elements of post-conflict Aceh and Mindanao; and if, as I have argued, prophetic pragmatism is not incompatible with Islam itself or the Muslim cultures of Aceh and Mindanao, then we must still ask whether and to what extent a prophetic pragmatic philosophical framework avoids the neocolonial tendencies of so many well-intentioned colonial and postcolonial efforts toward educational development in parts of the world like Aceh and Mindanao. Prophetic pragmatism and the postcolonial critique The time is long since passed when relations between the developed and developing world could be seen as straightforward altruism on the part of the former for the latter. Since at least the last half of the 20th century an extensive body of literature by postcolonial critics has traced the ways in which Western intellectual and economic discourses have developed and been deployed to rationalize Euro-American domination and colonization of the so-called Third World (Memmi 1965, Fanon 1965, Said 1979) and were actually productive of the very underdevelopment that Western development agencies and experts commit themselves to rectify (Frank 1966). And long after the demise of formal colonialism, similar discourses continue to foster unequal relations between the developed and developing world. Wallerstein (1995) and Amin (2004), for instance, argue that Western liberalism, as a social theory both engendered by and supportive of capitalist economic theory, actually creates and sustains the socio-economic inequalities between the developed and developing worlds that constitute a form of neocolonialism. And Western education, widely seen as social good, is not entirely innocent in this process. Shaped by the same intellectual and economic discourses, it becomes a tool for shaping the thought of both the children of the colonized and the children of the colonizers in ways that make inequality seem natural (Mazrui 1979, Freire 1990, Willinsky 1999). How does prophetic pragmatism, as a potential philosophical framework for educational development in societies like Aceh and Mindanao, answer these challenges?
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

15

Jeffrey Ayala Milligan

While there are several different expressions of pragmatism, the work of the American pragmatist, John Dewey, offers the most thorough account of pragmatism as a social and political philosophy. While Dewey’s pragmatist social philosophy shares liberalism’s concern with the freedom of the individual, which both Wallerstein (1995) and Amin (2004) identify as a key ideological component underlying capitalist economic theory, Dewey (1916) puts forth a theory of individuality as a product of the interaction between the individual and his or her environment, both natural and social. The individual is of course shaped by her environment, but is not determined by it since she is capable of intelligent actions in pursuit of her own purposes that transform that environment, making of it a new experience, which, in turn, becomes an object of the individual’s experience. Thus, it is not possible to talk about the individual or individual freedom as some metaphysical ideal to be imposed upon human experience or exported from one society to another. Rather, both ideas emerge in the context of particular communities at a particular time in pursuit of particular purposes. To impose a conception of individuality and individual freedom found meaningful in one social context to another is, as both Wallerstein (1995) and Amin (2004) argue, an infringement on the community’s and its members’ freedom to frame and execute their own purposes, whether it is done in the name of tradition or in the name of development. Such an infringement, as Dewey repeatedly points out, usually serves the interests of those in power and is inimical to democracy in its fullest sense as a mode of associated living and not simply the machinery of elections and political parties, what Amin (2004) refers to as “low intensity democracy” (p. 46). The achievement of democracy as a mode of associated living requires a citizenry educated not simply in the authorized knowledge of the powerful but rather in the skills and dispositions necessary to generate their own knowledge in pursuit of their own ends and to communicate the results of their experience to others. Therefore, Deweyan pragmatism rejects the subordination of the individual or the community to a priori political or economic theories, as Wallerstein (1995) and Amin (2004) argue American liberal developmentalism is guilty of, in favor of the freedom of individuals

16

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

and communities to use theoretical as well as practical knowledge to achieve their own, rather than others,’ purposes. Thus Dewey’s theory of democratic education, which follows from his conception of the individual and democratic society, answers Ali Mazrui’s (1979) call for postcolonial knowledge production that can be the basis of “self generating additional knowledge” in the Third World, “be mobilized to reduce the economic and cultural dependency of the Third World on the industrial nations,” and “be mobilized to improve the living standards of the peoples of the Third World, enrich their lives and fulfill their creative potentialities” (p. 49). The social and educational theory implicit in West’s (1989) revision of pragmatism are thus antithetical to the sort of educational development carried on by the liberal developmentalism criticized by Wallerstein (1995) and Amin (2004). West’s (1989) prophetic pragmatism draws upon pragmatism’s democratization of knowledge production in pursuit of local rather than imposed purposes but rejects the anti-religious myopia of much Western intellectual discourse. Prophetic pragmatism recognizes, as does pragmatism itself, that knowledge is a product of purposeful action by individuals and communities—hence it is culturally and historically contingent; however, it also recognizes that religious belief is often a large part of the cultural milieu that shapes those purposes. As Abu Nimer (1996, 2001a) argues, both cultural practices and religious beliefs must be taken into account in conflict resolutions practices. Moreover, Islam, according to Nimer (2001b), contains within its belief system deep spiritual and theological resources in support of peace and social justice among the ideals that frame individual and communal purposes in the Muslim world, just as West’s prophetic pragmatism anticipates. To ignore the centrality of religious ways of knowing and being in the world in places like Mindanao and Aceh in the promotion of development projects constitutes an ideological imposition on such societies no different from those criticized by Wallerstein (1995), Amin (2004), and others. Prophetic pragmatism, as a philosophical framework for development in such societies, avoids this sort of imposition by explicitly articulating a role for religious perspectives in development consistent with the role they play in developing societies.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

17

Jeffrey Ayala Milligan

Prophetic Pragmatic Post-Conflict Education in Aceh and Mindanao? What would educational re/development in Aceh and Mindanao from a prophetic pragmatic philosophical perspective look like? A prophetic pragmatic approach to the challenges of post-conflict education suggests a rapprochement between development work and religion, a re-establishment of ties with the mosques, churches, and synagogues that minister to the spiritual and existential needs of a wretched of the earth that remains deeply religious. It would require a much stronger dialogue between those engaged in educational re/development in post-conflict settings and the leaders of religious traditions which offer meaning and solace in the face of tragedy and define the shape of a hoped for future in culturally relevant terms. Such a rapprochement might restore a continuity of experience between cultural/religious identity and social/educational change, thus reconnecting, as West envisions, the tremendous motive power of religious faith to efforts to improve the lives and prospects of people suffering in the aftermath of conflict. There is some evidence in both Mindanao and Aceh that recent education development projects may be moving in a direction more like that I am arguing for here. No longer able to ignore the role religion has played in both conflicts, development efforts appear to be more and more inclusive of religious organizations. In Mindanao, for instance, the separation of secular and Islamic schooling, a consequence of the imposition of a form of liberal political ideology under the American colonial regime (Milligan, 2004), has long been a source of disenchantment among Muslim Filipinos with government education (Milligan, 2003). After a century-long effort to use secular education to assimilate Muslim Filipinos into the mainstream of Philippine society, the Philippine Department of Education initiated Project Madrasah Education, an effort to integrate Islamic values into government education in Muslim Mindanao while strengthening the secular curriculum of the madaris so they might be accredited by—and thus subject to the oversight of—the Department of Education. This effort reflects, and in some respects is influenced by, the broader Islamization of society in Muslim Mindanao (Milligan, 2006). International development projects, including some funded

18

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

by the U.S. Agency for International Development, have also targeted madaris for educational development. Though the focus of such projects tends to be the secular aspects of madrasah education, the recognition of Islamic schools as a legitimate beneficiary of development assistance is a major step toward acknowledging the role of religious institutions in the decisionmaking of development efforts (Moulton & Dall, 2006). Indonesia, by contrast, has less of a history of separation of religious and secular education than does the Philippines, which was so deeply influenced by American political ideology (Milligan, 2005). For most of the 20th century the integration of secular and Islamic curricula in the education of Indonesian youth was relatively uncontroversial (Asra, Afrianty & Hefner, 2007). These integrative tendencies began to be formalized in the 1970’s as an agreement between the ministries of Religious Affairs and National Education recognized degrees earned in madaris as equivalent to those earned in government schools. By 1989 the madaris were recognized as part of the national system of education while the Ministry of Religious Affairs undertook reforms in Islamic higher education by opening “the teaching of the classical Islamic sciences to historical and contextualizing methodologies,” a key element of West’s prophetic pragmatism (Asra, et al., 2007, p.189). In Aceh itself, the law creating the autonomous government of Nanggröe Aceh Darussalam gave the province legal authority over the local economy, the imposition of Islamic law, and education, thus paving the way for an even greater integration of Islamic and government schooling in a province that already exhibited one of the highest madrasah enrollment rates in the country (Miller 2006; Asra et al., 2007). And as in Mindanao, international development projects are targeting Islamic as well as more secular educational institutions. The USAID-funded Decentralized Basic Education, for instance, is working to improve instruction in subjects such as mathematics, science, and social studies and to improve teacher training in secular schools and madaris as well as Islamic and secular institutions of higher education (Education Development Center, 2008). Thus, events on the ground in both Mindanao and Aceh have, in recent years, moved in directions that anticipate in some respects one of the key
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

19

Jeffrey Ayala Milligan

elements of a prophetic pragmatic perspective on educational development; namely, explicit recognition of the legitimacy of religious perspectives on the direction of educational development in democratic and democratizing societies. A prophetic pragmatic perspective on post-conflict educational development need not mean, however, a surrender of all influence on the nature and direction of educational re/development to local religious voices. Such voices can be absolutist and potential impediments to the fullest and freest development of a society, particularly to certain vulnerable populations like girls, religious and cultural minorities, gays and lesbians, etc. But rather than dismiss religious belief in its entirety as an impediment to progressive social change, as is all-to-often the case among what West called the secular intelligentsia, the prophetic pragmatic perspective calls attention to the fact that the most compelling arguments against the oppressive tendencies of any religious tradition are most likely to be found within the religious tradition itself. Thus, secular criticisms of such oppressive tendencies are more likely to be effective in alliance with the more moderate voices within religious traditions rather than in opposition to the religion itself. A prophetic pragmatic approach to educational development in post-conflict settings would, therefore, seek out, establish and cultivate an on-going cooperativecritical dialogue with moderate religious voices. So, while it can be argued that prophetic pragmatism, in some sense, describes what is happening on the ground in educational development in Mindanao and Aceh, the explicit articulation of a prophetic pragmatic theory of educational development in both regions provides a framework that can guide the development of policies and practices that recognize the legitimacy, indeed the indispensability, of religious perspectives while protecting the growth of democratic social and political arrangements against the anti-democratic tendencies of religious dogmatism. The success of such a project may require that the practice of prophetic pragmatism differ somewhat from West’s philosophical articulation of it. Pragmatism’s non-foundational epistemology and coherence theory of truth may simply be unacceptable to the religious whose faith rests, in their minds, not on socio-historical contingencies but rather on an acquaintance

20

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

with spiritual truth. But pragmatism’s theory of knowledge and truth rests not so much on an absolute rejection of the possibility of truth but rather on a practical intellectual humility regarding the possibility of ever achieving it. It rests on recognition that we have often been wrong and that we might be again, so it is not wise to hold on to any knowledge claim with dogmatic certainty. Here, I believe, pragmatism stands on the same ground as religious believers who humbly acknowledge the inability of imperfect and finite creatures to fully know the truth as revealed by God, even as they have faith in its existence. On the common ground of intellectual humility secular and religious prophetic pragmatists can shift their energies from epistemology to ethics, from a concern with being right to a concern with doing good. And this shared concern with doing good need not subscribe to the materialist ontology of Marxist—even progressive Marxist—thought to ask the pragmatic question of whether or not its analysis of impediments to doing good—social justice, economic equality, etc.—are useful to pursuing the good. Thus a prophetic pragmatic approach to post-conflict educational re/development in the religious contexts of Aceh and Mindanao does not so much require agreement on the philosophical underpinnings of prophetic pragmatism as West describes it as it requires practical solidarity with religious voices in the pursuit of similar ethical goals. Such ethical pursuit is necessarily dialectical. It requires the critical understanding of what is in the light of what might be as well as the freedom to struggle toward the realization of the latter. This dialectic is, as Dewey recognized, a necessary condition of democracy, not simply as governing machinery, but rather as a mode of associated living that enables the fullest, freest, and, therefore, most effective exercise of human intelligence on social problems like poverty, injustice, and conflict. Therefore, in acknowledging the importance of religion in the lives of the “wretched of the earth” in places like Aceh and Mindanao and seeking to re-establish common cause with prophetic religious voices in the creation of just societies, prophetic pragmatism offers a useful philosophical framework for conceptualizing goals and practices for education continuous with the spiritual and material experience of different post-conflict societies.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

21

Jeffrey Ayala Milligan

REFERENCES
Abu-Nimer, M. (1996). Conflict resolution approaches: Western and Middle Eastern lessons and possibilities. American Journal of Economics and Sociology55 (1), 35-52. Abu-Nimer, M. (2001a). A framework for nonviolence and peacebuilding in Islam. Journal of Law and Religion 15 (1/2), 217-265. Abu-Nimer. (2001b). Conflict resolution, culture, and religion: Toward a training model of interreligious peace building. Journal of Peace Research 38(6), 685-704. Alfian, T.I. (2006). Aceh and the holy war. In A. Reid (Ed.), Verandah of violence: The background to the Aceh problem (pp. 109-120). Singapore: Singapore University Press. Amin, S. (2004). The liberal virus: Permanent war and the Americanization of the world. New York: Monthly Review Press. Aspinall, E. (2006). Violence and identity formation in Aceh under Indonesian rule. In A. Reid (Ed.), Verandah of violence: The background to the Aceh problem (pp. 149-176). Singapore: Singapore University Press. Azra, A., Afrianty, D. & Hefner, R. (2007). Pesantren and madrasa: Muslim schools and national ideals in Indonesia. In R. Hefner & M. Zaman (Eds.), Schooling Islam: The culture and politics of modern Muslim education (pp.172 198). Princeton: Princeton University Press. Blair, H. (2004). Assessing civil society impact for democracy programmes: Using an advocacy scale in Indonesia and the Philippines. Democratization 11 (1), 77-103. Chalk, P. (2001). Separatism and Southeast Asia: The Islamic factor in southern Thailand, Mindanao, and Aceh. Studies in conflict and terrorism 24, 241-269. Davies, L. 2005. Schools and war: Urgent agendas for comparative and international Education. Compare 35 (4), 357-371. Dewey, J. (1910) How we think. Buffalo: Prometheus Books. Dewey, J. (1916). Democracy and education. New York: The Free Press. Dewey, J. (1934). A common faith. New Haven: Yale University Press.

22

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

Dewey, J. (1938). Experience and education. New York: Collier. Education Development Center. (2008). Decentralized basic education. Retrieved July 5, 2008 from the Education Development Center website at http://www.dbe-usaid.org/index.cfm El Fadl, K.A. (2004). Islam and the challenge of democracy. Princeton: Princeton University Press. Fanon, F. (1965/2005). The wretched of the earth. New York: Grove. Frank, A. (1966). The development of underdevelopment. In D. Brydon. (2000). Postcolonialism: Critical concepts, Vol. 5 (pp. 1784-1795). New York: Rutledge. Freire, P. (1990). Pedagogy of the oppressed. New York: Continuum. George, T. (1980). Revolt in Mindanao: The rise of Islam in Philippine politics. Kuala Lumpur: Oxford University Press. Gowing, P. (1983). Mandate in moorland: The American government of Muslim Filipinos, 1899-1920. Quezon City: New Day Publishers. Hashim, R. (2004). Pragmatic education for the development of the Muslim ummah. Paper presented at the Conference for Minority Affairs in the Asia Pacific Region, Singapore. Kalidjernih, F. K. (2005). Post-colonial citizenship education: A critical study of the production and reproduction of the Indonesian civic ideal. Unpublished doctoral dissertation, University of Tasmania, Launceton, Tasmania, Australia. Kazmi, Y. (2000). Historical consciousness and the notion of the authentic self in the Qur’an: Towards an Islamic critical theory. Islamic studies 39 (3), 375-398. Majul, C. (1999). Muslim Filipinos. Diliman: University of the Philippines Press. Mazrui, A. (1979). Churches and multinationals in the spread of modern education: A third world perspective. Third World Quarterly 1 (1), 3049. Memmi, A. (1965/1991). The colonizer and the colonized. Boston: Beacon Press. Miller, M.A. (2006). What’s special about special autonomy in Aceh? In A. Reid (Ed.), Verandah of violence: The background to the Aceh problem
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

23

Jeffrey Ayala Milligan

(pp. 292-313). Singapore: Singapore University Press. Milligan, J. (2003). Teaching between the cross and the crescent moon: Islamic identity, postcoloniality and public education in the southern Philippines. Comparative Education Review 47 (4), 468-492. Milligan, J. (2004). Democratization or neocolonialism? The education of Muslim Filipinos under U.S. military occupation, 1903-1920. History of education 33 (4), 451-467. Milligan, J. (2005). Islamic identity, postcoloniality and educational policy: Schooling and ethno-religious conflict in the southern Philippines. New York: Palgrave-Macmillan. Milligan, J. (2006). Reclaiming an ideal: The Islamization of education in the southern Philippines. Comparative Education Review 50 (3), 410-430. Moulton, J. & Dall, F. (2006). Delivering educational services in fragile states: lessons from four case studies. Washington, D.C.: Creative Associates International. Nielsen, M. L. (2002). Questioning Aceh’s inevitability: A story of failed national integration? Global Political Network. Retrieved November 7, 2007 from http://www.globalpolitics.net. Rahman, F. (1982). Islam and modernity: Transformation of an intellectual tradition. Chicago: University of Chicago Press. Rahman, F. (1988). Islamization of knowledge: A response. The American journal of Islamic social science 5 (1), 3-12. Reid, A. (2006a). Introduction. In A. Reid (Ed.), Verandah of violence: The background to the Aceh problem (pp. 1-21). Singapore: Singapore University Press. Reid, A. (2006b). Colonial transformation: A bitter legacy. In A. Reid (Ed.), Verandah of violence: The background to the Aceh problem (pp. 96108). Singapore: Singapore University Press. Riddell, P. (2006). Aceh in the sixteenth and seventeen centuries: Serambi Mekkah and Identity. In A. Reid (Ed.), Verandah of violence: The background to the Aceh problem (pp. 38-51). Singapore: Singapore University Press. Said, E. (1979). Orientalism. New York: Vintage Press. Salim, A. (2004). ‘Shari’a from below in Aceh (1930s-1960s): Islamic identity

24

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Prophetic Pragmatism? Post-Conflict Educational Development in Aceh and Mindanao

and the right to self-determination with comparative reference to the Moro Islamic Liberation Front (MILF). Indonesia and the Malay world 32 (92), 80-99. Smith, A. & Vaux, T. (2003). Education, conflict and international development. London: Department for International Development. Sommers, M. (2002). Children, education and war: Reaching education for all (EFA) objectives in countries affected by conflict. The World Bank, Conflict Prevention and Reconstruction Unit Working Papers. Sulaiman, M.I. (2006). From autonomy to periphery: A critical evaluation of the Acehnese nationalist movement. In A. Reid (Ed.), Verandah of violence: The background to the Aceh problem (pp. 121-147). Singapore: Singapore University Press. Thaib, L. (2002). Aceh’s case: A historical study of the national movement for the independence of Aceh-Sumatra. Kuala Lumpur: University of Malaya Press. Vitug, M. & Gloria, G. (2000) Under the crescent moon: Rebellion in Mindanao. Quezon City: Ateneo Center for Social Policy and Public Affairs/Institute for Popular Democracy. Wallerstein, I. (1995). After liberalism. New York: The New Press. West, C. (1982). Prophesy deliverance! An Afro-American revolutionary Christianity. Philadelphia: Westminster Press. West, C. (1985). The politics of American neo-pragmatism. In J. Rajchman & C. West (Eds.), Post-analytic philosophy. New York: Columbia University Press. West, C. (1989). The American evasion of philosophy: A genealogy of pragmatism. Madison: University of Wisconsin Press. Willinsky, J. (1999). Learning to divide the world: Education at empire’s end. Minneapolis: University of Minnesota Press.

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

25

Civic Education in Post Conflict Area

(A Case Study in Aceh, Indonesia)

Anton Widyanto
Lecturer at IAIN Ar-Raniry and Researcher at LKAS Banda Aceh. Graduated from Florida State University, USA

Introduction Nanggroe Aceh Darussalam (most often simply called Aceh) is located on the northern tip of the island of Sumatra in Indonesia. It is also popularly called Serambi Mekah (the veranda of Mecca) because Islam was first introduced to Aceh before spreading to other provinces in Indonesia. Historically, the relationship between Islam and Acehnese culture is something intertwined. Islam had been coloring their culture, custom, and tradition for years. Thus, discussing about Aceh cannot be separated from discussing about Islam. Furthermore, history of Aceh is full of heroism. Aceh played important role to struggle against colonization in Indonesia. With spirit of jihad, Acehnese people fought to be free from Portuguese, Dutch, and Japanese colonization. After Indonesian independence, the story of Aceh is still full of blood. Aceh is one of several provinces in Indonesia that was trapped in prolonged armed conflict against the Central Government of Indonesia (Jakarta) for about 30 years. Thousands of people were killed either from Darul Islam, GAM (the Free Aceh Movement), or Indonesian army.

27

Anton Widyanto

Interestingly, although Aceh has much diversity among ethnic groups and cultures in its population, there is no armed conflict among them. The conflict occurred during armed conflict was between some Acehnese and non Acehnese people (mostly Javanese). Many of Javanese were expelled from Aceh. However, there remain stereotypes and prejudices among the groups. Furthermore, after the peace agreement, there has been significant tension among them. Some districts want to be free from Aceh Province and make another province. This is because they feel that they have been treated “unfairly” by the Acehnese Government in terms of regional development. Moreover, differences in culture also sharpen this tension. Moreover, one of crucial constraints faced by Aceh Government nowadays is concerning how Acehnese people can be integrated into one nation, the Republic of Indonesia. Although the peace agreement between GAM and the Republic of Indonesia was signed on August 15, 2005, some people (particularly the combatants of GAM) still feel that it only benefits some of them. Furthermore, some problems regarding the implementation of the Act No. 11/2006 as a fruit of the peace agreement also makes the integration still being challenge in Aceh. Consequently, the democratization process in this province also still needs to be empowered. Talking about democratization process through education in Indonesia cannot be separated from discussing about civic education in this country. During Soeharto’s era (the second president of the Republic of Indonesia) or also known as the New Order regime, civic education was called Pendidikan Pancasila. Pancasila is a philosophical concept formulated by the first president of the Republic of Indonesia, Soekarno, to unite Indonesian people who are diverse in terms of religions, ethnic groups, languages, and cultures. It consists of five principles i.e. belief in the one true God, just and civilized humanity, the unity of justice for all Indonesians. During the New Order (Orde Baru) Pendidikan Pancasila in schools was used as a political tool under Soeharto’s regime to empower his political position in Indonesia. In 1970s-1990s it was called Pancasila Indonesia, democracy guided by the wisdom of representative deliberation, and social

28

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Civic Education in Post Conflict Area

Moral Education (Pendidikan Moral Pancasila). Then, based on curriculum 1994 it was changed to Pancasila, and Citizenship Education after 2004. (Winataputra, 2003, p. 2). This subject must be taught from elementary school until higher education. Moreover, mostly its content was colored by Javanization which means that only accommodated culture of Jawanese, rather than trying to include other different cultures in Indonesia. This condition made other people who are not Javanese upset. Hence, this subject became sensitive to teach in provinces that have political conflict with the government of Indonesia, like Aceh. Regarding this, Munawar1 who works for the institution of education quality assurance in Aceh told me that during armed conflict, it was very dangerous to teach civic education in schools. This subject contains issue of nationalism and patriotism which relate to jawanization. Since the Free Aceh Movement had a vital agenda to free the Acehnese from Indonesia, such issues were prohibited to teach in rural schools. Even in the time of armed conflict in Aceh, the safety of teachers particularly in remote areas could not be guaranteed. Many schools were burnt because they were claimed as the propaganda of the Government of Indonesia. Many teachers were asked to support the Free Aceh Movement by paying pajak nanggroe (payments levied by the Free Aceh Movement). Based on the condition above, in this research I would like to explore this tension and how the Acehnese Government might try to solve it especially through education. The main questions that I want to answer in this research are: How is civic education taught in senior high school in Aceh during and after armed conflict from 1976 to 2010? What are problems faced by teachers in teaching civic education in Aceh and how they solved them? What should teachers concern about civic education in order to empower democratization in Aceh?

1

This name is a pseudonym.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

29

Anton Widyanto

The historical background of Aceh Aceh before and after Indonesia’s independence Geographically, Aceh is located in a very strategic place. It is surrounded by Malacca Strait to the north and east. Hence, in the sixteenth and seventeenth century, Aceh played an important role in international trade. The Malacca Strait connects several areas and cultures including India and China (Ahmad, 1972, Burger & Prajudi, 1962, Reid, 1995). Before Islam came to Aceh, some Acehnese people followed pagan religions, others were Hindu or Buddhists. There were many small Hindu kingdoms established like Indrapuri, Indrapatra, Kroeng Raya, Pasei, and Jeumpa (Peusangan) (Jacoeb, 1946, p. 11). All of these small kingdoms continually fought to expand their rule. Finally, after Islam came to Aceh and attracted many people because of its teachings that promote equality and refuse castes, the influence of Hinduism and Buddhism was replaced by Islam step by step. There are three theories explaining how Islam came to Aceh. The first theory says that Islam came to Aceh directly from Arabia; the second theory says that it came from India and the third one says that it came from China. Then, based on the conference of the history of Islam in Indonesia which was conducted in Medan on March 17-20, 1963 and the conference of Islamic history in Aceh on July 16, 1978, it was concluded that first, Islam came to Indonesia in the first century of Islamic calendar (hijri) or around seventh and eighth century A.D directly from Arabia; second, the first region where Islam came into Indonesia was Aceh and the early Islamic kingdoms in Aceh are Perlak, Lamuri, and Pasai; third, Islam was spread peacefully (Risalah sejarah masuknya Islam di Indonesia, 1963; and Risalah sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Daerah Istimewa Aceh, 1978). According to its history, the Kingdom of Aceh was founded in the early sixteenth century. It was regarded as a powerful kingdom at that time. Under Sultan Iskandar Muda, in the early seventeenth century, the kingdom’s golden age came. He made Aceh one of the most important military and trading powers in the region. Moreover, it maintained relations with foreign powers including the Ottoman Empire, France, and Great Britain. When the

30

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Civic Education in Post Conflict Area

Dutch appended Aceh in 1874, the Acehnese started a guerilla war that continued until 1912. The armed conflict in Aceh after the independence of Indonesia in 1945 can be divided into two phases. The first phase of the conflict began in 1953 when Indonesia experienced Darul Islam. These rebels wanted to make Indonesia become an Islamic state. They were not only exist in Aceh, but also in several other provinces in Indonesia including West Java and Sulawesi (Sjamsuddin, 1985; Van Dijk, 1981). In Aceh’s case, the rise of Darul Islam was because of two specific reasons: first, the use of Pancasila philosophy as the basis of belief for Indonesia rather than Islamic sharia’ (Islamic law); second, the fusion of Aceh into North Sumatera in 1950. Eventually this rebellion failed to achieve its goals. Through various approaches including military operations and negotiations, this rebellion was annihilated. After that, in 1976 the second phase of the conflict began. In this year, Hasan Tiro formed Free Aceh Movement (GAM), and declared the independence of Aceh. Basically, the relationship between the central government of the Republic of Indonesia and Aceh local government during military conflict was maintained. Nevertheless, this relationship could not run normally, because there were military troubles coming from Free Aceh Movement. Ironically, The Republic of Indonesia’s response to such separatist tensions in Aceh and other provinces in defense of its conception of an organic, unitary state has emphasized military repression and civic education through a highly centralized educational bureaucracy (Kingsbury and Aveling 2003, Bertrand 2004, Kalidjernih 2005). During President Soeharto (the new order), Habibie (the reformation order), Abdurrahman Wahid, and Megawati Soekarnoputri the approaches were still focused on military operations. Factually, these approaches could not stop the Free Aceh Movement’s actions effectively (ICG Asia Report N°17, Aceh: Why Military Force Won’t Bring Lasting Peace, 12 June 2001). Moreover, the military operations made the rebellions become more popular in Acehnese society. For most Acehnese people, it was a symbol of struggle, because the military
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

31

Anton Widyanto

operations made many violations in terms of human rights, such as torture, kidnapping, and rape. Although there were several efforts to solve this conflict such as Cessation of Hostilities Agreement (CoHA) between the Indonesian government and the Free Aceh Movement (GAM) the conflict still continued (ICG Asia Report, Indonesia Briefing. Jakarta/Brussels, 9 May 2003). This 30 year period of conflict not only affected the economy, but also influenced the education sector as well. As part of this conflict, many schools were burned and many teachers fled from this province. However, on 26 December 2004 a big earthquake and tsunami struck the Indian Ocean. Aceh felt the impact of this natural disaster as well. It killed about 132,000 people with 37,000 missing, and also destroyed hundreds of buildings including schools. This giant disaster impacted the conflict between the warring factions as well. It forced the Free Aceh Movement (GAM) and the Indonesian Government to sit together and discuss another peace agreement in Helsinki. Unlike the previous agreements, this new Memorandum of Understanding was more successful. It is because of the commitment of both sides to finish the conflict became stronger after the tsunami destroyed Aceh. Besides, the implementation of the agreement was overseen by international organizations. Therefore, both Indonesian Government and Aceh Free Movement tried to maintain peace, because no one wanted their image destroyed in front of international organizations. Although there was still tension during post conflict phase, the number was not significant. The integration of Free Aceh Movement combatants to Acehnese society was problematic because many people still doubted whether the peace agreement would endure or not. Nonetheless, after Act No. 11/2006 on Aceh government as a product of peace agreement in Helsinki was implemented by the Government of the Republic of Indonesia, many people become more optimistic. As a result, the regional election to elect Aceh governor and heads of district ran successfully. Moreover, the general election in 2009 to elect the president and the vice president of the Republic of Indonesia and parliament members was also well conducted.

32

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Civic Education in Post Conflict Area

Diversity in Aceh According to the recent data, Aceh consists of 18 districts and five municipalities. They are West Aceh, North West Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, South Aceh, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Central Aceh, South East Aceh, East Aceh, North Aceh, Bener Meriah, Bireuen, Gayo Lues, Nagan Raya, Pidie, Pidie Jaya, Simelue, Kodya Banda Aceh, Kodya Sabang, Kodya Lhokseumawe, Kodya Langsa, Kodya Subulussalam. Meanwhile, the total number of Aceh population based on statistical data 2005 is 4,031,589 (http://www.datastatistik-indonesia.com/component/option,com_tabel/ kat,1/idtabel,111/Itemid,165/). Most of them are Muslims, and the rest are Christians (either Catholic or Protestant), Hindu, Buddhists, and Confucians. The population consists of various ethnic groups including Suku Aceh, Suku Gayo, Suku Alas, Suku Aneuk Jamee, Suku Melayu Tamiang, Suku Kluet, Suku Devayan, Suku Sigulai, Suku Haloban dan Suku Julu. Most of these ethnic groups have their own language and culture. According to its long history in the past, Acehnese people are descendants of various nations including Cham, Cochin China, and Cambodia. Moreover, there were people who have descendants from Arabia and India. The Arab people who came to Aceh were from Hadramaut province (Yemen). It can be traced from the tribe names such as Al-Aydrus, Al-Habsyi, Al-Attas, Al-Kathiri, Badjubier, Sungkar, Bawazier, etc, which still exist in Aceh now. Meanwhile, the Indian descendants came from Gujarat and Tamil. It can be seen from the variety of food in Aceh which is close to the variety of Indian food. Furthermore, there are also Acehnese people who have descendants from Portugal. They can still be found today in Kuala Daya, Lamno. (http://www.id.indonesia.nl/content/view/186/89/) There are several languages used by Acehnese people including bahasa Aceh which is a part of Austronesian languages and used in most Aceh districts; bahasa Gayo which is used in Central Aceh, Bener Meriah, Gayo Lues and Serbajadi; bahasa Simeuleu which is used in Simeulue; bahasa Melayu Tamiang which is used in Tamiang, East Aceh; bahasa Alas and Aneuk Jamee which are used in South Aceh.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

33

Anton Widyanto

Civic education curriculum The design of civic education curriculum is centralized in Jakarta. Hence, it only gives little opportunity for local teachers to accommodate local culture and history. Most teachers I interviewed said that there were changes several times in civic education curriculum from PMP (Pendidikan Moral Pancasila/ Pancasila Moral Education) to PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan/Pancasila and Citizenship Education), and the last is PkN (Pendidikan Kewarganegaraan/Citizenship Education). If PMP emphasized moral aspect of citizenship that based on the Pancasila values, and PPKN has additional aspects of citizenship, PkN is more stressed on rights and responsibilities of citizen. This change can be traced from national curriculum 1994, curriculum based competency, and curriculum 2006. It basically was influenced by the change of political condition in Indonesia particularly when Indonesia has been shifting from “military government” (the New Order era), to “civil society government” (Reformation Era). According to most of civic education teachers I interviewed, since it is not included in subjects tested in national examination for class 12, students are less interested in learning it. Moreover, the lack of accommodation of local culture and history also makes this subject less interesting for them. However, regarding this point, they usually include some issues on Acehnese’s culture and history when they teach particular materials like rights and responsibilities of citizen. The issues normally also come up in student’s discussion in class. Interestingly, regarding the past armed conflict issues in Aceh, some teachers argued that they did not agree to be included in civic education materials. So, when the issue came up in student’s discussion, they tried to stop it by shifting to another issue. The reason why they did that because they did not want students to remember the past conflict and want them to face the future of Aceh by positive thinking. They afraid of emerging spirit to fight for Aceh freedom like in the past. Fatimah said, “Most our students are victims of the past armed conflict in Aceh, and if we discuss the past problems, their spirit to rebel will grow up. So, I think, issues of the past armed conflict should not be taught in class”.

34

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Civic Education in Post Conflict Area

However, some teachers said that teaching about the past armed conflict is important. It will give them insights to analyze results of armed conflict. What civic education teachers should teach is not about who is wrong or right, but about the consequences of it. Moreover, students should know how to solve conflicts. Thus, conflict resolution is something very important here. By learning conflict resolution, it will prevent them to redo what happened in the past armed conflict. Mila said, “We try to motivate students not to be afraid to mention Gerakan Aceh Merdeka (GAM). I think it is no problem to do that in class; although many people surround us were GAM. We use to discuss conflict problems and consequences. Furthermore, we also show pictures or movies we got from NGO to explain the negative effects of the past armed conflict in Aceh; the position of GAM and TNI. We do not discuss who is right and who is wrong. We show the impacts of armed conflict and discuss why it happened in Aceh. We try as far as we can. We try to be neutral in this case, but we still have to teach them”. Still concerning the idea to include local culture and local history in civic education such as the history of armed conflict in Aceh, MoU Helsinki, or special autonomous for Aceh, many participants of this study informed me that they never got any suggestion about it from parents. Although there are meetings that include parents as school committee, usually the problems discussed are related to school financial, school plans, or information about some regulations. Many parents give their responsibilities to educate to schools. Mila said, “Parents generally only focus on sending their children to schools. So, if the question specifically asks whether parents ever suggested including some materials in particular subjects, the answer is never. Usually they are busy parents. Even, some of them say that it is up to school to educate their children. They do not really care about what their children learn at school”. Civic education during and after armed conflict As mentioned before, Aceh is one province in Indonesia that has long experience in armed conflict. During armed conflict between GAM and Indonesian National Army (TNI), most participants of this study whom
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

35

Anton Widyanto

I interviewed explained that civic education was “a dangerous” subject to teach in schools in Aceh. It is because this subject teaches students to be good citizens in Indonesian frame. In another word, it sends message not to rebel Indonesia. This message was perceived as an opposite of their mission to free Aceh from this country. Hence, since there were senior high school students who were GAM followers, teaching this subject became dangerous. Basically, not only civic education that was negatively perceived by some students, but also other subjects that “colored” by Indonesian ideology like Bahasa Indonesia, and Constitution. Syakur, told me that before becoming a principal of MAN 2 Banda Aceh, he taught the subject in MTsN (State Islamic Junior High School). He said that almost no one brave to teach the subject. Hence as a new teacher who just moved from another junior high school in East Aceh because of armed conflict, he was offered by the principal to teach civic education. As a homeroom teacher of class 10, he accepted the offer. He felt it was not easy to teach the subject because many of his students who were followers of GAM rejected it. They said that the subject has no significance at all to teach because they want to be free from Indonesia. He said: “…at first students rejected (civic education). Some of them said, “Why should we study civic education, while we will free from Indonesia and will have an independent state?” In brief, they could not accept civic education. In fact, not only civic education or constitution that they rejected, but also other subjects like Bahasa Indonesia. They protested and have no will to study Bahasa Indonesia. According to them, they should learn Bahasa Aceh because it will be a national language if they free from Indonesia. That was what they thought at that time. However, with all efforts, through various methods, I tried to persuade them that civic education and constitution are important subjects to learn”. To solve the problem, Syakur offered them a discussion and debate about the concept of state. He asked them several questions what they knew about requirements to build an independence state. Since they only sympathizers of GAM ideology and have few understanding about the

36

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Civic Education in Post Conflict Area

concept of state, they did not know how to answer those questions. Then, he emphasized the importance of civic education and constitution subjects to learn at schools. He explained that it would be useful for them who were GAM followers and sympathizers since they wanted to free Aceh from Indonesia and build an independence state. Without mastering the knowledge about the concept of the state, they must have significant problems when they could gain their freedom. After understanding the importance of the subject, they finally could accept civic education. He said: “Interestingly, what I remembered about, one time I asked them to discuss with me in class. I asked them, “Ok, I do agree that you want to build an independent state. As your civic education teacher, I agree on that. However, my question is what do you know about the requirements to build an independent state? At that time, they could not answer the question. That makes sense because they only get some “doctrines” about Aceh’s independence from their friends, or others. When they could not answer my question, I told them that civic education and constitution that we learn now is very important. By learning this subject, you will be clever. If you are clever, you can build an independent nation because you already knew the concept of state. For instance you would know the system of the Republic of Indonesia, the United States, or other states in Europe. You also would know their concepts, systems, regulations, etc. Hence we will know much and can conclude what state we should make for Aceh in the future. Since that, they could accept civic education to be taught in the school”. The similar experience was also explained by Fatimah and Azizah. Fatimah is a civic education teacher at MAN Rukoh Banda Aceh who has been working for 11 years, while Azizah is a civic education teacher at SMA 2 Peusangan, Bireuen, who has been working for 15 years. Fatimah and Azizah told me that they ever felt a long hard period in teaching civic education in their schools. Like Syakur, during armed conflict, some of their students also rejected to learn the subject. More than that, Azizah was ever threatened to be killed by her students who were GAM followers. The
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

37

Anton Widyanto

problem was not only related to the subject she taught, but also because his husband was not Acehnese. Fatimah said, “Usually our students who were followers of GAM have only little knowledge and were influenced by their environments. They hated me because I teach civic education. Nevertheless, I told them that this subject is like a bridge for them. If you do not like it, that is your right. Above all, you have to know about it. Wherever we are, we have to know how to live as a citizen. So, if you do not like, once again, that is your right. I just hope that you can answer questions asked in examination. After exam, either you can use it or throw it away”. To solve the problem Fatimah explained, “Normally, I called students who hated me and made verbal abuses, then, I began to ask what they want. My heart was hurt by their attitudes, but I was not angry at them. I asked them to express their feeling. By that, usually they can understand my position”. Similarly, Azizah also used method of discussion to solve rejection of her students on the subject she taught. She said, sometimes she was afraid of students who threatened her life. However, she tried to cope that by her believe in God. She submitted to God’s fate for every problem she faced. After the peace agreement between GAM and the Republic of Indonesia was signed on August 15, 2005, civic education gradually became acceptable. It does not mean that this subject became “a favorite” one, but this subject has no risk to teach at senior high schools in Aceh anymore. This condition cannot be separated from the peaceful situation after prolonged armed conflict as a fruit of MoU Helsinki which is followed up by the Act No. 11/2006 on Aceh Government. When I asked whether the materials in civic education are still relevant for Aceh people nowadays, most civic education teachers said it is still relevant. Fatimah said, “I think they are still relevant because during armed conflict students were influenced by the condition outside school, while now such influences do not exist”. Regarding this matter, Syakur explained, “I think civic education is still relevant to teach in Aceh because we have to know our government system. If we do not teach civic education, perhaps students do not know what parliament is, or what kind of system

38

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Civic Education in Post Conflict Area

we use in our politics in Indonesia. All about it covered in civic education materials. Hence, once again, civic education is still relevant for Aceh people nowadays”. Teaching strategy Most participants of this study said that they often use lecturing as a method to teach civic education. However, for some materials they also use other methods such as discussion, and role play. Azizah explained, “Mostly, I use lecturing in teaching civic education, and sometimes I use discussion. I think other methods are not suitable to use in this school, like learning outside class. I ever used it, but students are not seriously involved”. Moreover, Fatimah told me, “There are some materials that not suitable to teach by using particular method, for example materials on law. Regarding law materials, I often ask my students to make role play in which they can practice like in real court”. From my observation, I saw students were not really care about materials taught. Some of them were talking each other, especially who sat in back raw of the classes. Some students who really paid attention to the lecturing of teachers usually were girls. They usually like to sit in front raw of the classes. Regarding this problem, Azizah said, “Usually students are interested in learning civic education when we connect the materials to the facts that we watch daily. So, whatever the materials are, if we connect them to the facts surround us, they will be interested to learn. If we only focus on what is written on the handbook, normally they are not interested. Hence it really depends on teacher’s innovation”. What Azizah said above is in line with what students told me in focus group discussion. When I asked them about their impression to study civic education, the answers were different. Some students said they were lack enthusiasm to study materials that need memorization like the Acts or constitution. However, they were interested in learning some topics related to the daily problems like corruption, collusion, or human rights. This is because they often watch those problems on TV, or they read on newspaper, or internet.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

39

Anton Widyanto

Discussion Findings explained above shows that teaching and learning civic education in Aceh still have many problems. The problems can be classified into three parts: problems with curriculum, problems with teaching strategy, and problems with democratization. Concerning problems with civic education curriculum, I think it is really important to accommodate local cultures and history of Aceh. Based on the interviews and focus group discussion I conducted, most civic education teachers and principals hoped that civic education includes those materials. However, since civic education curriculum is designed in Jakarta, what civic education teachers need to do is improving the materials by connecting to local culture and history. This improvement is really possible, because according to the Act No. 11/2006 on Aceh Government Chapter 215 Number 1, “Education in Aceh is a part of national education system that adjusted to the characteristic, potentiality, and need of society”. Then, the local regulation (Qanun) No. 5/2008, Chapter 3 says, “Aceh is a province that constitutes of lawful society that have specialties and particular authorities to manage and regulate government affairs and the interest of local people in line with regulations in the system of the Republic of Indonesia based on the Constitution of the Republic of Indonesia 1945, which is leaded by a governor”. Moreover, these specialties are strengthened by regulations on the division of education management authorities. Chapter 5 of this Qanun says, “The Government of Aceh and District Governments implement the specialty of Aceh in education altogether and add local materials which are in line with Islamic Shari’a”. Then, regarding curriculum, chapter 35 No. 4 says, “School or madrasah curriculum at all kinds and levels can add local curriculum based on local needs”. This regulation indicates clearly that Aceh has rights to make innovation in education by including local curriculum. Several issues like special autonomous, the system of local government such as Wali Nanggroe (provincial head of Acehnese culture, custom, and tradition), Tuha Peut (four important leadership elements in a sub district), Tuha lapan (eight important leadership elements), or history of conflict in Aceh that

40

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Civic Education in Post Conflict Area

stresses on conflict resolution can be included either in local curriculum or in the materials of civic education. Next regarding problems with teaching strategy, I think civic education teachers need to be trained in order to upgrade their capacity. Since civic education is not a subject tested in the national examination, trainings for teachers are rarely conducted. Moreover, meetings of subject teachers in Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP/Coordination Forum for Subject Teachers) also not actively conducted. Training for teachers can be focused on how to make civic education interesting to learn for students. The use of lecturing as a principal method without combination with other methods will make this subject boring for them. I think various methods related to collaborative learning and learning by doing such as discussion, service learning, field trips, and listening to the guest speakers can help teachers to make civic education interesting. Regarding the field trips students can learn about the judicial branch and the court systems. Then, they can make a mock trial at school where the students play part and they read the roles of different people. Then, they can begin work on a more in depth mock trial where the students will become the attorneys, the witnesses, and defendants. They can make up their own questions. Teachers then can travel with students to the Court House where will be in the real court room, with the real judge, and put the entire trial on. The students will learn how the judge works, what goes in the court room, court room etiquette, all of the players, and key components in the court room. This of course will be very useful for them to understand the judicial system in their country. Furthermore, concerning service learning, teachers can make a project assignment for students to do in society. They can choose what and where they will conduct service learning. They can choose for example orphanage residence, mosque, foundation, etc. By that they can experience and learn directly how to live in different situations which will be very useful for their future lives. Furthermore regarding problems of democratization, according to the Act No. 11/2006, Chapter 216 Number 1, “Every Acehnese has right to
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

41

Anton Widyanto

have qualified education with Islamic values in line with the development of knowledge and technology”; Number 2, “Education which is indicated in the number 1 must be done on democracy basis and justice along with respecting human rights, Islamic values, culture, and diversity in the nation”. This law clearly sends a message that democracy is an important basis to build Aceh. However, it is also crucial to note that democracy in Aceh has to respect human rights, Islamic values, culture, and diversity in Indonesia. Based on the explanation above, I think what students need to learn from civic education is how to be good citizens. Instead of memorizing chapters of law, or Pancasila, it will be more useful if students can understand how to be “citizens in a democracy, what role citizen play in democracy, and how to fully and effectively meet their obligations to fulfill those roles” (Burroughs, et. al, 2007-2008: 50). To implement this concept, I think civic education teachers can ask students to make a mock general election to educate them that one of their responsibilities is to elect their leaders. Moreover, teachers also can ask students to do site visit to watch directly how their representatives in Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Regional People Representatives) doing their responsibilities. In line with this, in more concrete way, students also can learn directly from student government at schools. All methods above are used because basically civic education should not only be taught “in book”, but “in action”. This is what can be called as applied civics. Conclusion From the explanation above it can be understood that civic education is crucial to teach in Aceh. The historical background of Aceh which full of blood must be replaced by democratization of its citizens. Hence, education plays important part here, because through education students can learn how to be good citizens. Moreover, they can also learn how to maintain peaceful condition in Aceh. The Memorandum of Helsinki which was signed on August 15, 2005 and followed up by the Act No. 11/2006 emphasizes that the contemporary and future Aceh must be developed in the frame

42

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Civic Education in Post Conflict Area

of the Republic of Indonesia. Hence, to promote democratization in Aceh civic education must be empowered through various ways. Regarding the curriculum, civic education in Aceh should include local issues including culture, special autonomous, and Aceh history. The history of conflict in Aceh should be neutral and objective. It should be focusing on strengthening human rights, and the consequences of past conflict, without blaming who was right and wrong. Then, concerning teaching strategy, civic education teachers in Aceh still need to be trained. The problems here are not only concerning with the exclusion of this subject from national examination, but also method of teaching used by the teachers. Civic education can be interesting subject for students to learn if the teachers can connect materials to factual condition in society. Hence, the improvisation of the teachers in teaching this subject is really important. Next, regarding democratization process in Aceh, students need to learn how to live in democratic society. Therefore, it is important to teach them to be good citizens. It is can be done by giving them opportunities to learn directly from environments surround them. Another aspect that needs to notice is concerning diversities in Aceh. These diversities include ethnic groups, languages, religions, and cultures. On the one hand, these diversities can be a positive power to develop Acehnese society in the future. However, on the other hand, it also can be negative potentialities that can destruct their future. To make it positive power, it needs a strong commitment from the stakeholders to implement multicultural education in schools. One possible way to do it is by integrating multicultural education into civic education. I think with Indonesian curriculum 2006 that allocates more dependency for teachers to make innovation in teaching-learning process, this alternative is applicable. To discuss about it more profoundly, I think there will be another research conducted.

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

43

Anton Widyanto

REFERENCES
Ahmad, Zakaria. (1972). Sekitar Keradjaan Atjeh dalam tahun 1520-1675 (About Acehnese kingdoms 1520-1675), Medan: Monora. Argyris, C., Scho¨ n, D., (1974). Theory in Practice: Increasing Professional Effectiveness. Jossey-Bass, San Francisco. Bertrand, J. (2004). Nationalism and Ethnic Conflict in Indonesia. Cambridge: Cambridge University Press. Burger, D.H. & Prayudi. (1962). Sejarah Ekonomis-Sosiologis Indonesia (The socio-economical history of Indonesia), Jakarta: Pradnyamitra. Burroughs, et. al, Teaching for and about citizenship in a democratic society: comparative views of a selected civic educators in the United States, Europe, and Latin America. International Journal of Social Education, Volume 22, Number 2, Fall 2007-2008, PP. 49-69. Crystal, David S, and Matthew DeBell’s (2002). Sources of Civic Orientation among American Youth: Trust, Religious Valuation, and Attributions of Responsibility. Political Psychology. Vol. 23, No. 1 (March), pp. 113132. Fieldman, Lauren, et.al (2007). Identifying Best Practices in Civic Education: Lessons from the Student Voices Program. American Journal of Education (November). http://www.datastatistik-indonesia.com/component/option,com_tabel/ kat,1/idtabel,111/Itemid ,165/ retrieved on Nov 26, 2009. http://www.id.indonesia.nl/content/view/186/89/ retrieved on Nov 26, 2009. ICG Asia Report N°17. (2001). Aceh: Why Military Force Won’t Bring Lasting Peace. ICG Asia Report. (2003) Indonesia Briefing. Jakarta/Brussels. Ismail Jacoeb. (1946). Atjeh. Reid, Anthony. (1995). Winesses to Sumatra: A travelers Anthology. New York: Oxford University Press. Risalah sejarah masuknya Islam di Indonesia (The symposium on the history of Islamic entrance to Indonesia). 1963.

44

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Civic Education in Post Conflict Area

Risalah sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Daerah Istimewa Aceh (The symposium on the history of Islamic entrance and development in the special region Aceh), 1978. Rubin, Beth C. (2007). “There’s Still Not Justice”: Youth Civic Identity Development Amid Distinct School and Community Contexts. The College Record. Vol. 109, Number 2, February, pp. 449-481. Kahne, Joseph, Bernadette Chi, Ellen Middaugh.(2006). Building Social Capital for Civic and Political Engagement: The Potential of HighSchool Civics Courses. Canadian Journal of Education. 29, 2: 387-409. Kalidjernih, F. (2005). Post-Colonial Citizenship Education: A Critical Study of the Production and Reproduction of the Indonesian Civic Ideal. Ph.D. dissertation. Tasmania: University of Tasmania. Kingsbury, D. and Aveling, H. (2003). Autonomy and Disintegration in Indonesia. New York: RoutledgeCurzon. Merriam, Sharan B. (1998). Qualitative research and case study applications in education. San Fransisco: Jossey-Bass education series. Nieto, Sonia & Patty Bode. (2008). Affirming diversity: The sociopolitical context of multicultural education. New York: Pearson. Sjamsuddin, Nazaruddin. (1985). The Republican Revolt: A Study of the Acehnese Rebellion. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. Van Dijk, C. (1981). Rebellion under the Banner of Islam: The Darul Islam in Indonesia. The Hague: Martinus Nijhoff. Westheimer, Joel and Joseph Kahne. (2004). What Kind of Citizen? The Politics of Educating for Democracy. American Educational Research Journal. Vol. 41. No. 2 (Summer), pp. 237-269. Winataputra, U. S. (2003, September-October). Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi: Suatu Kerangka Acuan [Civic education for higher education: A frame of reference]. Paper presented at the Seminar Nasional III Pendidikan Kewargaan (Civic Education) di Perguruan Tinggi [Third National Seminar on Civic Education in Higher Education], Jakarta, Indonesia.

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

45

Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh

Fauzi Saleh
Dosen tetap pada Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry dan Peneliti pada Lembaga Kajian Sosial dan Agama (LKAS) Banda Aceh. Menyelesaikan pendidikan S-1 pada LIPIA dan STAI Az-Ziyadah, Jakarta, S-2 pada Institut Ilmu Alquran, Jakarta, S-3 pada IAIN ArRaniry, konsentrasi Fiqh Modern

Pendahuluan Perdamaian yang dirasakan saat ini di Aceh merupakan sebuah perjuangan panjang dengan segala dinamisasi dan fluktuasinya. Sebagai tonggak sejarah yang sangat bermakna ini, maka segala daya dan usaha di tempuh dengan berbagai jalan dan jalur agar perdamaian itu survive untuk masa kini dan masa mendatang, kemudian menjadi warisan (inheritance) yang sangat bermakna bagi generasi. Masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan dan menjadi stakeholder yang penting dalam konteks ini sekaligus sebagai element yang amat dominan untuk memainkan peran dalam mewujudkan perdamaian yang abadi. Masyarakat yang dimaksud adalah akumulasi dari sejumlah individu yang berperadaban dan memiliki worldview yang luas, mampu bersanding dan bertanding dalam kacah dunia global untuk berperan dalam memakmurkan alam. Masyarakat yang menyadari dirinya sebagai khalifah Allah di atas muka bumi yang menyayangi, lapang dada, empati, peka, ta’awun (kooperatif) terhadap makhluk lain, mampu mengkondisi alam yang aman dan damai bagi segenap penghuninya.

47

Fauzi Saleh

Wujud alam yang damai ini bermuara pada pemahaman dan ketaatan setiap individu akan aturan-aturan baik yang bersifat normative dalam artian memberikan bimbingan, arahan, sugesti dan petuah maupun bersifat coercive yang berfungsi memaksa individu untuk mentaati kaidah dan norma yang ada. Kebutuhan ini tentu berkait dengan domain hukum. Proses sosialisasi hukum dimaksudkan pertama sekali untuk membentuk masyarakat yang ideal dan harmoni. Masyarakat yang baik salah satu indikatornya adalah mereka yang dapat hidup dengan teratur dan saling menghormati antara satu dengan yang lain. Kehidupan yang mencerminkan bahwa kebebasan individu selalu dikontrol dan dibatasi oleh kebebasan orang lain. Dalam konteks ini, pendidikan hukum menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam menata hidup dan kehidupan. Karenanya, perlu sebuah kajian tentang pendidikan hukum dalam menguatkan civil society guna mendukung perdamaian Aceh yang abadi. Secara sistematis, makalah ini diawali dengan pendidikan hukum dan urgensitasnya, lalu melihat bagaimana masyarakat yang diharapkan untuk diperkuat sendi-sendinya. Dari uraian terakhir terdeskripsikan bagaimana peran civil society yang sadar hukum dalam menjaga perdamaian di bumi Serambi Mekkah ini. Pengertian dan kontribusi pendidikan hukum Secara kebahasaan, hukum berarti menetapkan sesuatu atas sesuatu atau tidak menetapkankannya. (Azra, 2005: 46). Secara terminologi, hukum (law) dapat dapat dilihat dari definisi yang ditulis oleh Sheryl J. Grana, Jane C. Ollecen Burger and Hans Kelsen sebagai berikut, Law: any written or positive rule or collection of rules prescribed under the authority of the sate or nation, as by the people in its constitutution (Grana and Burger, 1999: 16) Dalam perspektif sociology hukum diartikan: law are rules that are enforced and sanctioned by the authority of government. Then may or may not be norms. Hukum adalah aturan-aturan yang dipaksan dan diberikan sanksi (atas pelanggaran) oleh pihak yang berwenang dalam pemerintahan,

48

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh

baik bersifat norma atau bukan. Perlu dijelaskan lebih detail lagi bahwa norma yang dimaksud adalah Norms: share rules of conduct that specify how people ought to think and act. Sementara norma adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku untuk mengarahkan seseorang bagaimana seharus berpikir dan bersikap. Dalam konteks ini, norma tidak sama dengan nilai. Perbedaan tersebut dapat dipahami, sebagaimana dijelaskan Hans Kelsen, bahwa norma untuk menjawab pertanyaan What ought to do (apa yang seharusnya dikerjakan)? Sementara means (nilai) untuk menjawab: What must I do? (apa yang harus saya lakukan)? Hal di atas menunjukkan bahwa norma lebih ditekankan pada aspek moral dan akhlak, sedangkan nilai ditekankan pada aspek legal formalnya. (Grana and Burger, 1999: 16 and Kelsen, 1991: 9) Hukum adalah bentuk tulisan atau aturan positif atau sekumpualn undang-undang di bawah kekuasaan Negara yang dicantumkan oleh rakyat dalam konstitusinya. Sedang pendidikan hukum adalah pendidikan diperuntukkan bagi seseorang yang ingin menjadi seseorang yang ahli di bidang hukum maupun mereka yang secara sederhana bertujuan menggunakan gelar hukumnya dalam beberapa tingkat, baik terkait dengan hukum itu sendiri (seperti politik atau akademi) maupun bisnis.( http:// id.wikipedia.org ) Menurut Himahanto Juwana, pendidikan hukum ada dua macam, yaitu pendidikan hukum yang bersifat akademis (pendidikan hukum akademis) dan pendidikan hukum yang bersifat profesi (pendidikan hukum profesi. Namun pendidikan hukum yang dimaksud di sini adalah proses transfer informasi dan pengetahuan berkaitan dengan norma dan aturan (baca: hukum) yang berlaku dalam Negara kepada kepada semua stakeholders. Hal itu mengingat bahwa peranan hukum adalah untuk menjamin bahwa pelaksanaan pembangunan baik materil maupun spiritual dapat berjalan dengan cara yang teratur, tertib dan lancar. Perubahan yang teratur melalui prosedur hukum, baik yang berwujud peraturan perundangan atau bewujud keputusan 1982: 71)
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

badan-badan peradilan akan lebih baik daripada perubahan

yang tidak teratur dengan menggunakan kekerasan semata. (Atmodjahnawi,

49

Fauzi Saleh

Dengan demikian, masyarakat diharapkan memahami bahwa hukum tidak hanya tool of social control tetapi juga tool of social engineering sebagai alat yang mampu merubah suatu keadaan masyarakat yang kurang baik dan kurang maju serta dapat menciptakan nilai-nilai baru. Oleh karenanya, hukum merupakan suatu alat yang tidak dapat diabaikan dalam proses pembangunan. (Atmodjahnawi, 1982: 71) Pendidikan hukum bagi masyarakat paling kurang memiliki dua fungsi, pertama, mendapatkan ilmu pengetahuan tentang ilmu hukum dan hukum Indonesia. Kedua, menghasilkan output yang berkarakteristik tertentu seumpama mampu melihat peristiwa atau fakta lebih dari satu perspektif, pandai beragumentasi baik lisan maupun tulisan, piawai dalam menafsirkan kata-kata dan penuh ketelitian. (Juwana: 17) Untuk maksud di atas, pendidikan hukum diarahkan kepada pemahaman hukum bagi masyarakat dengan tiga kategori pertama, pengetahuan yang menyangkut perundang-undangan (substantive law), kedua, pengetahuan yang menyangkut dengan keterampilan sehingga setiap individu masyarakat memiliki keahlian dalam menganalisa, melakukan riset, menulis, mengargumentasikan serta memecahkan masalah. Ketiga: pengetahuan yang memberikan wawasan agar masyarakat memiliki perspektif teoritis dan transnasional. (Juwana: 17) Untuk mewujudkan maksud di atas, maka mesti didukung oleh langkah dan perangkat yang baik, yakni pemerintahan yang baik (behoorlijk bestuur), peradilan yang baik (berhoorlijk), dan perundangan yang baik (behoorlijk wetgevingi)( Atmodjahnawi, 1982: 73). Pemberdayaan civil society 1. Civil society dalam perspektif historis Ide civil society muncul di Eropa antara abad ke-17 dan abad ke-18, ide itu muncul dari kondisi krisis dalam social order dan kebuntuan dalam paradigma tentang order itu sendiri. Secara umum krisis di Eropa abad ke17 meliputi: komersialisasi tanah, tenaga kerja, dan modal; pertumbuhan ekonomi pasar; abad penemuan/kebangkitan sains; hingga revolusi kontinental Inggris dan Amerika.

50

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh

Konteks masyarakat yang mulai melepaskan diri dari dominasi agamawan dan para raja yang berkuasa atas dasar legitimasi agama. Agama saat itu mulai tersekularisasi dalam arti wewenang dan legitimasi kekuasaan mulai dilepaskan dari tangan agamawan. Di Eropa itu pula tumbuh ide demokrasi yang diawali dengan Revolusi Perancis (1789) dan tumbuh pula sistem ekonomi kapitalisme yang liberalistik. Civil society pada awalnya sebagai gagasan adalah anak kandung filsafat Pencerahan (Enlightenment) yang meretas jalan bagi munculnya sekularisme sebagai weltanschauung yang menggantikan agama (gereja), dan sistem politik demokrasi sebagai pengganti sistem monarkhi. Civil society, yang sering diterjemahkan dengan masyarakat sipil, yang terambil dari bahasa Latin ’civilas societas’. Secara historis karya Adam Ferguson (1723-1816), dalam karya klasiknya, An Essay on History of Civil Society (1767) merupakan salah satu titik asal penggunaan ungkapan masyarakat sipil (civil society). Gagasan masyarakat sipil merupakan tujuan utama dalam membongkar konsep masyarakat model Marxisme. Masyarakat sipil menampilkan dirinya sebagai wilayah yang mengedepankan kepentingan individual, pemenuhan hak-hak individu secara bebas. Masyarakat sipil merupakan bagian dari masyarakat yang menentang struktur politik (dalam konteks tatanan sosial yang monarkis, feodal ataupun borjuis) serta membatasi diri dari lingkaran negara. Civil Society juga sering diterjemahkan dengan ”masyarakat madani” dalam bahasa Indonesia. Munculnya istilah ’masyarakat madani’ di Indonesia adalah bermula dari gagasan Dato Anwar Ibrahim, ketika itu tengah menjabat sebagai Menteri keuangan dan Asisten Perdana Menteri Malaysia, ke Indonesia membawa istilah ”masyarakat madani” sebagai terjemahan “civil society”, dalam ceramahnya pada simposium nasional dalam rangka Forum Ilmiah pada acara festival Istiqlal, 26 september 1995. (http://dzmiko. multiply.com) Meskipun sebagian berpendapat bahwa konsep ”masyarakat madani” di Malaysia merupakan hasil pemikiran Naquib al-Attas seorang filosof kontemporer dari negeri jiran itu. (http://dzmiko.multiply.com) Wacana civil society, sebenarnya mulai populer di Indonesia semenjak akhir dasawarsa 1980-an. Nurcholis Madjid, misalnya, melakukan penafsiran
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

51

Fauzi Saleh

konsep civil society sebagai ‘masyarakat madani’, melalui pendekatan semantik dan projecting back, yang merujuk kepada masyarakat Madinah yang ditegakkan oleh Nabi Muhammad saw. (http://dzmiko.multiply.com) 2. Memahami civil society Sebagaimana disebutkan di atas, civil society dalam bahasa Indonesia diterjemahkan ”masyarakat madani”. Dalam bahasa Arab, kata “madani” tentu saja berkaitan dengan kata “madinah” atau ‘kota”, sehingga masyarakat madani biasa berarti masyarakat kota atau perkotaan. Meskipun begitu, istilah kota di sini, tidak merujuk semata-mata kepada letak geografis, tetapi justru kepada karakter atau sifat-sifat tertentu yang cocok untuk penduduk sebuah kota. Dari sini kita paham bahwa masyarakat madani tidak asal masyarakat yang berada di perkotaan, tetapi yang lebih penting adalah memiliki sifat-sifat yang cocok dengan orang kota, yaitu yang berperadaban. Dalam kamus bahasa Inggris diartikan sebagai kata “civilized”, yang artinya memiliki peradaban (civilization), dan dalam kamus bahasa Arab dengan kata “tamaddun” yang juga berarti (http://dzmiko.multiply.com) Muhammad AS Hikam menguraikan lebih detail. Menurutnya, civil society didefinisikan sebagai wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan, antara lain kesukarelaan (voluntary), keswasembadaan (self-generating), dan keswadayaan (self-supporting), kemandirian tinggi berhadapan dengan negara, dan keterikatan dengan norma atau nilai hukum yang diikuti oleh warganya. Sebagai sebuah ruang politik, civil society adalah suatu wilayah yang menjamin berlangsungnya perilaku, tindakan dan refleksi mandiri, tidak terkungkung oleh kondisi kehidupan material, dan tidak terserap di dalam jaringan kelembagaan politik resmi. Di dalamnya tersirat pentingnya suatu ruang publik yang bebas (the free public sphere), tempat di mana transaksi komunikasi yang bebas bisa dilakukan oleh warga masyarakat. (http://74.125.153.132) Sebagaimana terma lainnya, civil society memiliki sisi yang pandang peradaban atau kebudayaan tinggi.

52

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh

berbeda. Karenanya, konsep civil society1 memiliki banyak versi dan interpretasi, kendatipun secara idelogis dapat digolongkan ke dalam dua versi ideologis, yakni versi kapitalisme dan sosialisme. (http://dzmiko. multiply.com) Menurutt Kofi Anan mengatakan bahwa civil society merupakan satu cara untuk memahami relasi antara individu dan negara yang melestarikan kebebasan dan tanggungjawab. Dari penjelasan di atas, masyarakat madani memiliki akar istilah bahasa Indonesia serapan dari bahasa Arab. Latar belakang sosio-historis Islam atas istilah ’madani’ sangatlah penting untuk memahami dinamika (kemungkinan perubahan makna dari zaman ke zaman) serta penarikan simpul makna multiply.com) Sementara civil society pada awalnya memiliki akar yang berbeda dengan masyarakat madani. Banyak orang memadankan istilah ini dengan, civil society, societas civilis (Romawi) atau koinonia politike (Yunani). Masyarakat madani merujuk pada tradisi Arab-Islam sedang civil society tradisi Barat non-Islam. Perbedaan ini bisa memberikan makna yang berbeda apabila dikaitkan dengan konteks istilah itu muncul. (http://dzmiko. multiply.com) Namun demikian, penggunaan istilah masyarakat madani dan civil society di Indonesia sering disamakan atau digunakan secara bergantian.
1

yang dikandungnya (relevan) saat ini.( (http://dzmiko.

Ahmad Baso menyimpulkan ada 5 (lima) teori civil society yang ada di Barat: Pertama, teori Hobbes dan Locke, yang menempatkan civil society sebagai penyelesai dan peredam konflik dalam masyarakat. Jadi, civil society disamakan dengan negara. Kedua, teori Adam Ferguson, yang melihat civil society sebagai gagasan alternatif untuk memelihara tanggung jawab dan kohesi sosial serta menghindari ancaman negatif individualisme, berupa benturan ambisi dan kepentingan pribadi. Civil society dipahami sebagai entitas yang sarat dengan visi etis berupa rasa solider dan kasih sayang antar sesama. Ketiga, teori Thomas Paine, yang menempatkan civil society sebagai antitesis negara. Negara harus dibatasi sampai sekecil-kecilnya, karena keberadaannya hanyalah keniscayaan buruk belaka (necessary evil). Keempat, teori Hegel dan Marx, yang tidak menaruh‫ آ‬harapan berarti terhadap entitas civil society. Konseptualisasi mereka tentang civil society bukan untuk memberdayakannya atau menobatkannya, tetapi lebih untuk mengabaikan dan bahkan melenyapkannya. Kelima, teori Tocquiville, yang menempatkan civil society sebagai entitas untuk mengimbangi (balancing force) kekuatan negara, meng-counter hegemoni negara dan menahan intervensi berlebihan negara.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

53

Fauzi Saleh

Hal ini dirasakan karena makna diantara keduanya banyak mempunyai persamaan prinsip pokoknya, meskipun berasal dari latar belakang system budaya negara yang berbeda. ((http://dzmiko.multiply.com) Karena itu, penulis menggunakan kedua istilah itu secara bergantian. Masyarakat Madani merujuk kepada sebuah masyarakat dan negara yang diatur oleh hukum agama, sedangkan masyarakat sipil merujuk kepada komponen di luar negara. Istilah Madani, Madinah (kota) dan al-Din (diterjemahkan sebagai agama) semuanya didasarkan dari akar kata d-y-n. Kenyataan bahwa nama kota Yathrib berubah menjadi Madinah bermakna di sanalah ad-Din (Syari’ah Islam) berlaku dan ditegakkan untuk semua kelompok (kaum) di Madinah. (http://dzmiko.multiply.com) Menilik pengalaman sosio-historis Islam, masyarakat madani merupakan representasi dari masyarakat Madinah yang diwariskan Nabi Muhammad SAW, yang oleh Robert N. Bellah, sosiolog agama terkemuka, disebut sebagai masyarakat yang untuk zaman dan tempatnya sangat modern, bahkan terlalu modern, sehingga sewafatnya Nabi, Timur tengah dan umat manusia saat itu belum siap dengan prasarana sosial yang diperlukan untuk menopang suatu tatanan sosial yang modern seperti yang pernah dirintis Nabi SAW. (http://dzmiko.multiply.com) 3. Pemberdayaan civil society dalam Islam Civil society telah menjadi tiang penyangga utama bangunan demokrasi dan menjaga keseimbangan kehidupan berbangsa. Tanpa civil society, bangunan demokrasi akan rapuh, negara pincang, dan penguasa pun tak berdaya.( Rohaniwan, http://www.simpuldemokrasi.com) Istilah civil society barangkali tidak terdapat dalam peradaban Islam secara eksplisit. Namun, nilai-nilai universal dari terma tersebut tentu terdapat dan dipraktikkan dalam Islam. Dalam tulisan ini, penulis mencoba mencari padanan istilah tersebut bila dilihat dalam khazanah Islamiyyah. Bila merujuk pemaknaan civil society yang disebutkan di atas, praktik muslimin Madinah telah mendeskripsikan inti masyarakat yang dimaksud. Sebagian para ahli menerjemahkan civil society sebagai masyarakat madani. Kata “madani” itu sendiri dinisbahkan kepada “Madinah” telah melahirkan

54

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh

suatu kondisi masyarakat yang saling berbagi, bekerja sama, ta’akha (bersaudara) dan berakhlak mulia kepada Allah dan kepada sesama. Nilai-nilai di atas menjadi penting apalagi bila dikaitkan dengan perkembangan zaman sekarang ini. Noktah-noktah Alquran antara lain memerintahkan kepada umat manusia untuk memikirkan pembentukan suatu masyarakat dengan kualitas-kualitas tertentu. Dengan demikian, memungkinkan bagi umat Islam untuk merekonstruksikan suatu gambaran tentang masyarakat ideal berdasarkan petunjuk dan bimbingan Alquran (Al-Munawwar, 2005: 167) Adapun terma yang dipakai untuk mengindikasikan masyarakat utama itu seumpama ummat wahidah(Q.S. (2): 13; Al-Maidah (5): 48; AlAnbiya (21): 92), ummat wasata(Q.S. (2): 143), dan khayr ummat (Q.S (3): 110). Terma terakhir diberikan indikator : menyeru kepada kebaikan, mencegah dari yang buruk dan beriman kepada Allah swt. (Al-Munawwar, 2005: 176) Prinsip yang umat terbaik yang dirumuskan oleh Jam’iyyah Nadhatul Ulama dalam mu’tamarnya ke XIII, tahun 1935 tercermin pada mabadi berikut: ● al-siddiq : kejujuran, kebenaran, kesungguhnya dan keterbukaan. Kejujuran adalah satunya kata dan perbuatan, ucapan dan pikiran ● al-amanah wa al-wafa bi al-‘ahd. Amanah meliputi beban yang harus dilaksanakan baik dengan perjanjian atau pun tidak. Sedang al-wafa’ bi al-‘ahd hanya berkaitan dengan perjanjian. Gabungan kedua istilah tersebut berarti dapat dipercaya, setia dan tepat janji ● al-‘adalah: mengandung pengertian objektif, proporsional dan taat asas. ● al-ta’awun yang merupakan sendi utama dalam tata kehidupan bermasyarakat. Manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Pengertian al-ta’awun meliputi tolong menolong, setia kawan, dan gotong royong dalam kebaikan dan taqwa ● al-istiqamah mengandung pengertian konsistensi, kesinambunga dan berkelanjutan. (Al-Munawwar, 2005: 178-179)
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

55

Fauzi Saleh

Peran civil society untuk memelihara perdamaian dalam bingkai hukum Melahirkan perdamaian merupakan hal yang sulit, tetapi akan lebih sulit lagi menjaga dan memelihara perdamaian itu. Penulis berpendapat bahwa perdamaian itu hanya mampu dilestarikan oleh orang yang merasa pentingnya kondisi tersebut dalam payung hukum yang telah ditentukan. Civil society merupakan masyarakat pilihan yang tahu akan hak dan kewajiban bahkan menjadikan kepentingan publik di atas kebutuhan diri dan golongan. Sesuai dengan bekal pendidikan hukum yang dimilikinya, mereka akan sangat arif dalam mengkondisikan keadaan untuk menghindari chaos (kekacauan) dan disorder (keadan yang tidak nyaman). Penguatan civil society dalam memelihara perdamaian menjadi urgen dikarenakan masih ada faktor-faktor internal-eksternal yang sering bersifat pro-aktif, instrusif yang mengoyang perdamaian. Anak bangsa suatu saat bisa terjebak pada labilitas, kerapuhan dan perpecahan di dalam, Maka hal itu nanti akan mempengaruhi keutuhan masyarakat secara keseluruhan. (Rais, 1998: 212) Banyak hal-hal yang kecil berpotensi dan rawan terhadap gangguan perdamaian. Pepatah Aceh mengingatkan hal tersebut, Asai cabok nibak kudee, asai pakee nibak seunda, asai mukah nibak meuso, asai meulho nibak dawa (asal borok dari kudis, asal pertengkaran itu dari senda, asal zina dari cabul asal perkelahian dari pertengkaran). (Umar, 2008: 188-189) Penguatan civil society kontribusinya sebagai berikut: Pertama, memberikan kesadaran hukum kepada masyarakat akan lebih tinggi, jika dapat memberikan pola yang rasional, dan tidak hanya bergantung pada perasaan dan emosi seseorang. Jika emosi seseorang ditimbulkan oleh sauna tertentu, maka apa yang disebut intituisi ini akan menjadi sangat terpengaruh. (Sosrodihardjo, 1982: 13) Kedua, memberikan kemampuan untuk berkontribusi dalam penetapan dan pelaksanaan hukum termasuk memberikan perubahan karena kondisi sosial yang berubah. (Sosrodihardjo, 1982: 13) Dengan demikian, masyarakat dapat mengcounter kemungkinan terjadi conflicit interest baik yang bersifat vertikal maupun horizontal. dalam memelihara perdamaian melalui

56

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh

Ketiga, civil society dengan kapasitas pemahaman hukum yang memadai diharapkan mampu menjadi problem solver bahkan ada sebagian mereka menjadi theory builder. (Sosrodihardjo, 1982: 13) Dalam adat orang Aceh, problem solver itu sudah dibangun dari tingkat bawah, yaitu kampung. Perangkat kampong akan segera mengambil langkah-langkah solutif bila terjadi hal-hal yang mengarah perpecahan dan mengganggu perdamaian dalam masyarakat. Sebelum bola panas bergulir, masyarakat dengan arahan tokoh-tokohnya mencari jalan alternative dan preventif sehingga menghasilkan win-win solution. Keempat: membangun civil society yang peka terhadap perubahan dalam frame perdamaian. Pelestarian perdamaian laku manusia (2) perubahan dengan beradaptasi dengan (1) perubahan sosial yang menyangkut tata nilai,2 sikap dan tingkah untuk mampu bersanding dan bertanding dengan daerah lain sehingga tidak melahirkan kesenjangan sosial; (3) perubahan untuk mengembangkan kepribadiannya sendiri dan mengadakan penyesuaian dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat modern3 Kelima, civil society mampu berperan dalam proses mobilisasi proyek terapan didasari yang memungkinkan untuk membangun kondisi damai, seirama dengan perkembangan dunia untuk menyerap pengetahuan yang dapat merubah sikap dan perilaku.4 Untuk kebutuhan tersebut, civil society harus mampu mengembangkan jaringan (network) Ada tiga nilai yang merupakan sumber maka hidup; pertama creative values (nilai-nilai kreatif) : bekerja dan serta melaksanana tugas dengan keterlibatan dan tanggung jawab penuh pada pekerjaan. Kedua, experiental values (nilai-nilai penghayatan): menyakini dan menghayati kebenaran, kebajikan, keindahan, dan keimanan serta nilai-nilai lain yang dianggap berharga. Ketiga, additional values (nilai-nilai bersikap) menerima dengan tabah dan mengambil sikap yang tepat terhadap penderitaan yang tdak dapat dihindari lagi setelah berbagi upaya dilakukan secara optimal tetapi tak berhasil mengatasinya. Hanna Djumhana Bastaman, “Makna Hidup bagi Manusia Modern”, dalam Muhammad Wahyuni Nafis (Ed.), Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam (Jakarta: Paramadina, 1996), 148-149.
2

R. Suwondo Atmodjahnawi, “Pendidikan Hukum dalam RangkaPembinaan Hukum” Anto Soemarman, Pendidikan Hukum untuk Memenuhi kebutuhan Masyarakat (Yogyakarta: Pusat Penelitian dan PEngabdian Masyarakat Fakultas Hukum UII,1982), 59.
3

http://www.pendidikan-damai.org/files/Kurikulum%20Pendidikan%20Damai/9/h.%20 landasan%20filosofis.pdf
4

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

57

Fauzi Saleh

untuk sosialisasi nilai-nilai perdamaian dalam bingkai norma dan aturan yang selama ini berlaku. Keenam, upaya civil society yang mengarah pada pemberdayaan sesama.5 Dakwah – bi al-lisan atau bi al-hal – yang selama ini sebagai salah satu corong sosialisasi urgensitas perdamaian6 harus berorientasi pada kaidah-kaidah dengan pendekatan religius – kultural. Masyarakat sebagai mitra dakwah dapat menyentuh nilai-nilai sulhiyyah (perdamaian) yang memandu mereka untuk menyelesaikan masalah kehidupan dengan pendekatan dialogis berbasiskan ukhuwwah. Kegiatan sosialisasi perdamian selama ini juga dikung oleh komponen Civil Society Organizations (Organisasi-organisasi Masyarakat Madani) di Aceh yang secara umum menyuarakan pandangan mengenai perlunya penguatan masyarakat sipil pada masa pasca konflik. Penguatan masyarakat sipil ini justru dalam konteks upaya memantapkan rekonsiliasi dan keberlanjutan perdamaian ke depan.7 Dalam konteks ini, civil society dapat menjadi agent of change, masyarakat pengubah. Civil society diharapkan menjadi wadah yang mampu mengubah cara pikir dan worldview masyarakat dalam menyikapi dan mengelola sebuah permasalahan dan perbedaan secara arif (bijaksana) sehingga memberikan dampak positif baik bagi individu atau pun komunal. Sebagai fungsi transformatif, civil society – melalui penguatan pendidikan hukum – harus mampu menyampaikan dan menaburkan nilai sulhiyyah dalam masyarakat8. Penutup Perdamaian merupakan prasyarat utama bagi suatu masyarakat untuk membangun dan mengembangkan diri dan lingkungannya. Tanpa Fuad Jabali dan Jamhari, IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia (Jakarta: Logos, 2002), 165.
5

M. Nasir Budiman, Pendidikan dalam Perspektif Alquran (Jakarta: Madani Press, 2001), 107.
6 7 8

http://www.escaeva.com/tips/12tips_mengirimkan_naskah.htm. S. Nasution, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 22.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

58

Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh

rasa damai, semua perencanaan dan harapan akan sia-sia. Degradasi pendidikan, ekonomi, social-budaya dan seterusnya termasuk di antara dampak tidak adanya kondisi damai sehingga proses pembangunan terhalangi karenanya. Di antara element yang paling penting dan sekaligus terlibat untuk menciptakan dan memelihara perdamaian adalah masyarakat. Masyarakat yang dimaksud tentunya akumulasi individu yang baik, toleran, berjiwa sosial dan peduli yang sekarang ini sering diistilah dengan civil society. Kehidupan masyarakat ideal ini akan lebih tenteram bila diikat dengan hukum yang memberikan guide untuk menggapai harapan cita-cita mereka. Masyarakat yang diperkuat dengan pilar hukum ini diyakini mampu berkiprah untuk memelihara perdamaian, dalam konteks ini di Propinsi Aceh, untuk kemudian diwariskan kepada generasi yang akan datang. Dalam bingkai hukum yang ditaati, setiap individu dalam meraih kesuksesan, tidak individu atau kelompok mengganggu pihak lain. Korelasi yang dibangun dalam masyarakat ini berdasarkan pada simbiosis mutualisme (saling menguntung) dan reciprocal relationship (hubungan timbale balik) dengan saling mengisi dan menyempurnakan. Kondisi yang demikian insya Allah akan mengantarkan mereka ke suatu negeri ‘baldat tayyibat wa Rabb alGhafur. Semoga!

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

59

Fauzi Saleh

DAFTAR PUSTAKA
Amin Rais. Tauhid Sosial. Bandung: Mizan, 1998. Azymuardi Azra. Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2005. Fuad Jabali dan Jamhari, IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia, (Jakarta: Logos, 2002), h. 165 Hanna Djumhana Bastaman, “Makna Hidup bagi Manusia Modern”, dalam Muhammad Wahyuni Nafis (Ed.). Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam. Jakarta: Paramadina, 1996. Hans Kelsen. General Theory of Norms. Oxford: Clarendon Press, 1991. Muhammad Umar. Darah dan Jiwa Aceh. Banda Aceh: Boebon Jaya, 2008. M. Nasir Budiman. Pendidikan dalam Perspektif Alquran .Jakarta: Madani Press, 2001. R. Suwondo Atmodjahnawi, “Pendidikan Hukum dalam RangkaPembinaan Hukum” Anto Soemarman, Pendidikan Hukum untuk Memenuhi kebutuhan Masyarakat. Yogyakarta: Pusat Penelitian dan PEngabdian Masyarakat Fakultas Hukum UII,1982. S. Nasution. Sosiologi Pendidikan .Jakarta: Bumi Aksara, 1995. Said Agil Husin al-Munawwar. Hukum islam dan Pluralitas Sosial. Jakarta: Penamadani, 2005. Sheryl J. Grana and Jane C. Ollecen Burger. The Social context of Law. New Jersey: 1999 Soedjito Sosrodihardjo. “Peranan Ilmu Pengetahuan Hukum dalam Masyarakat” dalam Anto Soemarman, Pendidikan Hukum untuk Memenuhi kebutuhan Masyarakat. Yogyakarta: Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Hukum UII, 1982. Talcott Parsons. “The Law and Social Control”, dalam William M. Evan, The Sociolog of Law. London: Collier Macmillan Publisher, 1980. Abu Fikri, Konsep Civil Society dalam perspektif islam: sebuah tinjaun ideologis, http://www.gaulislam.com/konsep-civil-society-dalamperspektif-islam-sebuah-tinjaun-ideologis Aloys Budi Purnomo Rohaniwan, http://www.simpuldemokrasi.com/

60

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Hukum dan Pemberdayaan Civil Society dalam Menjaga Perdamaian di Aceh

dinamika-demokrasi/wacana-demokrasi/1305-ham-civil-society-dandemokrasi.html http://74.125.153.132/search?q=cache:F3lNHdnRA2cJ:blog.unila.ac.id/ handayani/files/2009/08/civil-society-dan-masyarakat-madani.ppt+c ivil+society+adalah&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id http://dzmiko.multiply.com/journal/item/36 http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_hukum http://www.pendidikan-damai.org/files/Kurikulum%20Pendidikan%20 Damai/9/h.%20landasan%20filosofis.pdf http://www.escaeva.com/tips/12tips_mengirimkan_naskah.htm

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

61

Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

Muhibbuththabary
Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry. Menyelesaikan S-1, S-2 dan S-3 di IAIN Ar-Raniry. Pernah menjabat sebagai Asisten Direktur II Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry dan saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry

Pendahuluan Tahun 2005 merupakan tonggak bersejarah bagi Aceh. Ada dua hal yang menjadi catatan sangat penting pada tahun tersebut. Pertama, pada tahun tersebut Aceh mulai bergerak bangkit dari keterpurukan pasca musibah gempa dan tsunami yang kejadiannya bukan hanya menghentak dunia nasional tapi juga internasional. Aceh yang semula ”nyaris tertutup” dari masuknya organisasi internasional telah berubah menjadi wilayah yang terbuka. Kedua, pada tahun tersebut Aceh juga mendapat anugerah yang luar biasa dari Allah Swt karena berhasil mewujudkan perjanjian damai di Helsinki yang perlahan tapi pasti telah mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung puluhan tahun lamanya. Sebuah proses panjang pergolakan yang telah memakan banyak korban baik dari pihak angkatan bersenjata Republik Indonesia, Gerakan Aceh Merdeka, maupun rakyat biasa. Proses terjadinya perjanjian damai tersebut memang bukan hal yang mudah. Tapi dengan dilandasi itikad baik dari kedua belah pihak yang berkonfrontasi, akhirnya perjanjian damaipun terwujud yang kemudian

63

Muhibbuththabary

ditindaklanjuti secara konkret oleh lahirnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006. Meski undang-undang dan perangkat perundang-undangan yang kemudian menyertainya bukan berarti tidak memiliki kendala, namun sejauh ini diskursus terkait solusinya senantiasa terjalin. Hal terpenting yang menarik untuk diselami lebih lanjut dalam konteks lokal Aceh pada dasarnya adalah terkait dengan bagaimana perdamaian yang telah terwujud beberapa tahun lalu dapat dirawat dan dipertahankan dengan baik. Hal ini tentu saja sangat krusial mengingat masyarakat Aceh pada prinsipnya sudah jenuh dengan pertikaian berkepanjangan. Untuk itu maka beragam faktor tentu perlu dipertimbangkan dengan baik. Salah satu diantaranya adalah bagaimana menjaga perdamaian tersebut dalam bingkai syari’at Islam. Krusialnya pembahasan mengenai hal ini dikarenakan pembicaraan mengenai Aceh pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari pembicaraan tentang ajaran dan nilai-nilai Islam dimana keduanya bisa diibaratkan bagaikan dua sisi mata uang. Oleh sebab itu dalam makalah ini penulis akan membahas persoalan perdamaian di Aceh dalam bingkai syari’at Islam melalui pendekatan historis dan normatif. Perdamaian yang penulis maksud di sini akan lebih dispesifikkan pada aspek pembinaan kerukunan internal dan antar umat beragama di Aceh. Aceh dan syarī‘at Islam: lintasan historis Bagi Daerah Istimewa Aceh atau Rakyat Nanggroe Aceh Darussalam (sebutan sekarang “Aceh”) pada umumnya, masalah penerapan Syarī‘at Islam bukan merupakan persoalan yang baru, karena sejak abad VII H agama Islam telah masuk ke daerah ini dan telah tumbuh menjadi kerajaan Islam dan berkembang sampai abad XIV M. Hal itu sejalan dengan pandangan bahwa “Dari penelitian sejarah, Hukum Islam (Syarī‘at Islam) telah ada di kata lain, keberadaan Syarī‘at Islam di ACEH bersamaan waktunya dengan
1

Indonesia sejak bermukimnya orang-orang Islam di Indonesia”.1 Dengan masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Meskipun ada di antara para ahli yang berpendapat bahwa masuknya Islam ke Indonesia dari Arab, Daud Ali, Kedudukan Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Indonesia (Jakarta: Yayasan Risalah, 1990), 7

64

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

namun pada umumnya para ahli sejarah mengatakan bahwa “masuknya Islam ke Indonesia bukan dari pusat lahirnya Agama Islam (Timur Tengah), tetapi melalui Gujarat India”.2 Dari berbagai catatan sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia menyebutkan bahwa kerajaan Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini berdiri sejak Raja Rajendra I dari India (1023-1024) tidak berhasil menundukkan daerah itu. Ketika raja Rajendra kekalahannya, maka Malik al-Şalih menduduki tahta kerajaan. Malik alkehilangan dukungan dari penduduk setempat yang menyebabkan

Şalih adalah raja yang pertama kali sebagai penguasa yang beragama Islam
Islam Aceh sebagai

menduduki kerajaan yang bernama Samudera Pasai. Di samping kerajaan Samudera Pasai sebagai kerajaan pertama, sejarah juga mencatat kerajaan kuat, sehingga wilayah kerajaan Islam Aceh, baru dapat ditaklukkan oleh kerajaan yang menerapkan Syarī‘at Islam dengan

penjajah secara keseluruhan setelah mengalami peperangan panjang yang

amat sulit. Kehadiran Islam pada umumnya, tidak hanya di Samudera Pasai dan Aceh saja, selalu disambut dengan akrab oleh penduduk setempat dan umumnya berlainan sekali dengan tanggapan mereka terhadap kehadiran agama lain. Sayang sekali sejarah memang tidak banyak yang mengungkap perkembangan dan gerak secara nyata langkahlangkah Islam di Samudera Pasai dan Aceh. Namun dari banyaknya nama-nama Islam serta peninggalan-peninggalan yang bernilai keislaman dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam pernah berlaku dan tertanam kuat di sana.3 Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 44 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah Istimewa Aceh dan Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai provinsi Aceh serta Undangundang Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun 2006 merupakan payung Hoesin Djajadiningrat, Islam di Indonesia, dalam Knet. W. Morgan (Ed.), Islam Jalan Mutlak, Pembangunan (Jakarta: t.p , 1963), 55
2

Zainal Abidin Ahmad, Sejarah Islam dan Umatnya Sampai Sekarang (Ilmu Politik Islam V) (Jakarta: Bulan Bintang,1979), 433
3

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

65

Muhibbuththabary

hukum dalam rangka pelaksanaan Syarī‘at Islam di ACEH. Dalam kaitan ini disebutkan bahwa: Ketika Islam lahir pada abad VI Masehi, Aceh menjadi yang panjang, Aceh menjadi sebuah kerajaan Islam pada abad VIII M yang

wilayah pertama di Nusantara yang menerima Islam. Setelah melalui proses kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan yang maju pada abad XIV M dan dari sinilah Islam berkembang ke seluruh Asia Tenggara. Pada sekitar akhir abad XV orang-orang Barat memulai petualangannya di Timur dan menguasi bebarapa wilayah yang ada di Nusantara, tetapi Aceh tetap dibiarkan sebagai sebuah kerajaan yang berdaulat. Secara politis, hubungan antara kerajaan Aceh Darussalam dengan Belanda cukup baik, namun pada abad XIX mengalami krisis, meskipun dalam Traktat London tanggal 17 Maret 1824 pemerintah Belanda berjanji kepada pemerintah Inggris untuk tetap menghormati kedaulatan Aceh. Tetapi empat puluh tahun kemudian, Belanda dengan licik berhasil meyakinkan Inggris untuk tidak menghalangi keinginannya menguasi Aceh melalui Traktat Sumatera tanggal 1 November 1871.4 Kehadiran Kompeni di Indonesia semula membawa missi perdagangan untuk mencari keuntungan material dan kemudian berlanjut sebagai penjajahan, namun karena agama yang mereka anut bukan agama Islam, maka secara umum kehadiran mereka disambut dengan sikap apatis atau kurang simpatik dan implikasinya kebudayaan mereka tidak dapat diterima bagitu saja. Sehubungan dengan kehadiran mereka jauh belakangan setelah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia, mereka terpaksa menghormati Islam sebagai agama dan kemudian berusaha mempersempit bidang-bidang tertentu ajaran agama Islam sebagai agama yang dianut oleh rakyat Pribumi. Hal itu pula yang merupakan salah satu faktor yang menyebabkan “Pada waktu pemerintah Batavia mendesak Sultan ‘Alauddin Mahmudsyah agar Sultan bersedia mengakui kedaulatan Hindia Belanda atas wilayah Aceh, tuntutan itu secara mentah-mentah ditolak oleh Sultan ‘Alauddin Mahmudsyah. Penolakan itulah yang dipakai oleh Hindia Belanda Himpunan Undang-undang, Peraturan Daerah, Instruksi Gubernur, Edaran Gubernur dan Lain-lain Berkaitan Pelaksanaan Syarī‘at Islam (Provinsi Aceh: Dinas Syarī‘at Islam, 2002), 7 (Selanjutnya disingkat dengan Himpunan).
4

66

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

untuk menyatakan perang terhadap rakyat Aceh”.5 Penolakan terhadap eksistensi Hindia Belanda dimaksud dalam perkembangan sesudahnya, berimplikasi terhadap keputusan penjajah Hindia Belanda setelah ditanda tangani Traktat 1 November 1871 dengan pemerintah Inggris untuk mengakui kedaulatan Aceh. Pada Tahun 1873 Belanda mulai menyerang Aceh dan mengakibatkan terjadinya perjuangan rakyat Aceh melalui peperangan puluhan tahun, yang tidak hanya menyebabkan timbulnya korban jiwa dan harta yang banyak, tetapi secara politis mengakibatkan rakyat Aceh kehilangan kedaulatannya. Ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, masyarakat Aceh memberikan dukungan atas kemerdekaan Indonesia, karena melekatnya perasaan senasib sepenanggungan di bawah kekuasaan penjajah dengan segenap masyarakat yang berada di daerah lainnya. Wujudnya rakyat Aceh dengan rela menyumbangkan jiwa raga dan harta benda, demi tegak dan survivenya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih, selama Revolusi Fisik pasca kemerdekaan Indonesia, daerah Aceh merupakan satu-satunya wilayah yang tidak dapat diduduki oleh Belanda, sehingga Aceh disebut sebagai daerah modal bagi perjuangan bangsa Indonesia. Atas perjuangan itu pula Aceh mendapat kedudukan tersendiri sehingga dengan Peraturan Perdana Menteri Pengganti Peraturan Pemerintah Nomor: 8/Des/WKPM/49 tanggal 17 Desember 1949, Aceh dinyatakan sebagai satu Provinsi yang berdiri sendiri lepas dari Provinsi Sumatera Utara. Namun setelah Republik Indonesia kembali ke Negara Kesatuan, melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang Nomor: 5 Tahun 1950 status daerah Aceh kembali ditetapkan menjadi salah satu keresidenan dalam Provinsi Sumatera Utara. Ketetapan ini menimbulkan ketidakpuasan di kalangan pemimpin dan rakyat Aceh, yang pada akhirnya menimbulkan gejolak perlawanan pada tahun 1953 yang melibatkan hampir seluruh rakyat Aceh, baik langsung maupun tidak langsung, sehingga Daerah Aceh kehilangan peluang untuk menata diri.6 Untuk meredam gejolak dimaksud, secara politis pemerintah kembali Hardi, Daerah Istimewa Aceh, Latar Belakang Politik dan Masa Depannya (Jakarta: Karya Unipers, 1993), 17
5 6

Himpunan..., 8
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

67

Muhibbuththabary

merubah status keresidenan Aceh menjadi daerah otonom Provinsi Aceh yang dituangkan dalam Undang-undang Nomor: 24 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Provinsi Atjeh dan Perubahan Peraturan Pembentukan Provinsi Sumatera Utara. Kebijakan itu ditindaklanjuti dengan Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor: 1/Missi/1959, yang meliputi agama, adat dan pendidikan. Namun pada masa pemerintahan Orde Baru muncul kecendrungan pemerintah untuk melakukan pemusatan kekuasaan dengan keluarnya Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 5 Tahun 1974 tentang Pokok Pemerintahan di Daerah, maka penyelenggaraan keistimewaan Aceh tidak berjalan dengan semestinya, karena banyak hal dalam Undang-undang dimaksud yang tidak sejalan dengan aspirasi dan kehidupan rakyat di daerah. Setelah jatuhnya rezim Orde Baru dan munculnya gerakan reformasi, masalah keistimewaan Aceh mencuat kembali dalam panggung perpolitikan Indonesia yang mengakibatkan lahirnya Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Dalam Undang-undang dimaksud selain menambahkan peran ulama dalam kebijakan daerah, juga dalam penjelasan Undang-undang disebutkan bahwa untuk menyusun penyelenggaraan keistimewaan Aceh perlu dituangkan dalam suatu Undang-undang Klausal penjelasan inilah yang melahirkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Aceh (ACEH). Kemudian lahir Undangundang Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh yang memberi hak sepenuhnya bagi daerah untuk mengatur tatanan kehidupan sesuai dengan Sosio Kultural masyarakatnya dalam bingkai NKRI. Dengan Undang-undang ini tugas dan wewenang pemerintah Provinsi Syarī‘at Islam. Aceh menjadi lebih luas dan komprehensif, termasuk mengatur penerapan

Implementasi syarī‘at Islam di Aceh

Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 44 Tahun 1999, Undang-

Penerapan Syarī‘at Islam di Provinsi Aceh seperti yang diatur dalam
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

68

Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

Undang Republik Indonesia Nomor: 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Aceh dan kemudian lahir Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh merupakan suatu fenomena yang menarik dan masyarakat yang tinggal di Serambi Mekkah untuk merealisasikan Syarī‘at juga menantang. Undang-undang ini tidak hanya memberikan akses bagi Islam dalam berbagai aspek kehidupan, tetapi juga secara politis merupakan suatu keberhasilan masyarakat di Provinsi ini dalam mentransformasikan wawancara dengan salah seorang anggota MPU ACEH yang menyatakan bahwa

Syarī‘at Islam ke dalam peraturan perundang-undangan. Berdasarkan hasil keberhasilan ini juga dihadapkan kepada berbagai tantangan, terutama yang Aceh untuk mengimplementasikannya secara kaffah.7 menyangkut dengan kesiapan Pemerintah Daerah dan seluruh masyarakat Para pemerhati hukum Indonesia menilai penerapan Syarī‘at Islam di

Aceh merupakan peristiwa pertama pasca kemerdekaan Republik Indonesia, dalam hal ini daerah ACEH yang berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia diberikan kewenangan untuk menerapkan suatu sistem hukum (Syarī‘at Islam) yang relatif berbeda dengan hukum Nasional yang mengenal sistem unifikasi hukum dalam negara yang berdasarkan Pancasila. Namun sesungguhnya secara historis, bagi masyarakat Aceh penerapan Syarī‘at Islam bukan merupakan hal yang baru, karena kultur masyarakat Aceh sangat Islami dan tergolong fanatis. Begitu dekatnya masyarakat Aceh dengan Islam, sehingga daerah ini sering dijuluki Serambi Mekkah.8 Ungkapan di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh salah seorang sejarawan Aceh sebagai berikut: Sejak Islam menapak di bumi Aceh, Islam dapat dikatakan telah senyawa dengan rakyat Aceh. Semua kehidupan rakyat Aceh dipengaruhi dan dituntun oleh Syarī‘at Islam. Terkenal pribahasa Aceh “Hukom ngon Adat lage zat ngon sifeut”. Hukum yang dimaksudkan di sini adalah hukum-hukum agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’ān dan AlSunnah Nabi Muhammad SAW. Hukum ini adalah peraturan-peraturan agama Islam yang dijaga dan dipelihara ketat oleh masyarakat Aceh.
7 8

Wawancara dengan Anggota MPU ACEH Tgk. H. Bardad tanggal 30 Januari 2007 Daud Rasyid, Republika, 13 Nopember 1999
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

69

Muhibbuththabary

Adat adalah tata kehidupan masyarakat sehari-hari dalam segala lapangan kehidupan yang dipengaruhi oleh Syarī‘at Islam. Hukum ditetapkan oleh ulama dan adat ditetapkan oleh penguasa. Bagi masyarakat sulit sekali membedakan hukum dengan adat. Hukum dengan adat telah sangat menyatu dalam menata masyarakat. Hal ini berjalan ratusan tahun di dalam dinasti raja-raja Aceh, khususnya kerajaan Aceh Darussalam.9 Ungkapan di atas selain menggambarkan perspektif masyarakat Aceh

menunjukkan bahwa Syarī‘at Islam telah berurat berakar dalam kehidupan dan boleh jadi bersifat apologis dan ethnosentris, namun fakta sejarah juga masyarakat Aceh untuk menerapkan Syarī‘at Islam pasca kemerdekaan masyarakat Aceh. Hal itu pula yang menyebabkan munculnya tuntutan Republik Indonesia, karena masyarakat Aceh menilai komitmen pemerintah pusat sejak awal kemerdekaan tidak pernah terealisasikan. Lahirnya Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh, seperti disebutkan pada Pasal 3 ayat (1), merupakan legitimasi atau pengakuan dari bangsa Indonesia yang diberikan kepada daerah karena perjuangan dan nilainilai hakiki masyarakat yang tetap dipelihara secara turun temurun sebagai landasan spritual, moral dan kemanusiaan. Sedangkan pada ayat (2) disebutkan bahwa penyelenggaraan keistimewaan Aceh meliputi: (1) Penyelenggaraan kehidupan beragama, (2) Penyelenggaraan kehidupan adat, (3) Penyelenggaraan pendidikan, dan (4) Peran ulama dalam menetapkan kebijakan daerah10. Kemudian diikuti lahirnya Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Aceh yang memberi legitimasi kewenangan bagi daerah ini untuk mengatur tata kehidupannya dengan tetap berpedoman pada Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Dalam proses selanjutnya, lahir pula Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun 2006
9

tentang Pemerintahan Aceh yang

Badruzzaman, A. Hasjmi: Aset Sejarah Masa Kini dan Masa Depan (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), 199-121.
10

Himpunan ..., 3
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

70

Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

menegaskan bahwa Aceh adalah daerah provinsi yang merupakan kesatuan masyarakat hukum yang bersifat istimewa dan diberi kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan UUD 1945 (Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun 2006 Pasal 2 beragama harus diwujudkan dalam pelaksanaan Syarī‘at Islam, maka mengatur berbagai aspek pelaksanaan Syarī‘at Islam sebagai berikut: 1. Penetapan Peraturan Daerah langkah-langkah yang telah ditempuh oleh Pemerintah Daerah Aceh, yaitu Tahun 2000 tentang Pelaksanaan Syarī‘at Islam, disebutkan pada poin (d) bahwa sebagai perwujudan keistimewaan di bidang penyelenggaraan aspek pelaksanaan Syarī‘at Islam yang wajib dijunjung dan diamalkan oleh ayat 2). Untuk memenuhi maksud ini, di mana penyelenggaraan kehidupan

Seperti tertuang dalam Konsideran Peraturan Daerah Nomor: 5

kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara, perlu diatur aspekmasyarakat di daerah Istimewa Aceh dan (e) bahwa untuk terwujudnya

di atas, perlu diatur pokok-pokok pelaksanaan Syarī‘at Islam di Provinsi Daerah Istimewa Aceh dengan menetapkan suatu Peraturan daerah.11 Peraturan Daerah Nomor: 5 Tahun 2000 sebagai peraturan pelaksanaan Keistimewaan Aceh dan Undang-undang dari Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan

kepastian hukum dalam pelaksanaan hak-hak Istimewa sebagai tersebut

Republik

Indonesia Nomor: 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi provinsi ACEH, terdiri dari IX Bab dengan 24 Pasal, di mana Bab I tentang Ketentuan Pelaksanaan Syarī‘at Islam, Bab IV Aspek Pelaksanaan Syarī‘at Islam, Bab V Umum, Bab II Tujuan dan Fungsi, Bab III Kewajiban dan Pengembangan dan

Ketentuan Pidana, Bab VI Pengawasan dan Penyidikan, Bab VII Pembiayaan, Bab VIII Ketentuan Peralihan dan Bab IX Penutup. Langkah berikutnya adalah ditandai dengan lahirnya KEPGUB Nomor: 01 Tahun 2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Wilāyat al-Hisbah di ACEH.
11

Himpunan ..., 53
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

71

Muhibbuththabary

Kemudian lahir Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh yang merupakan penyempurnaan terhadap rantai bagi terwujudnya konsep pelaksanaan Syarī‘at Islam di ACEH secara adil dan merata serta penuh rasa tanggung jawab. 2. Penataan hukum materil dan hukum formil Meskipun Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dianggap baru, namun dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh yang telah ada sebelumnya menyebutkan, khususnya dalam Bab III tentang Pelaksanaan Keistimewaan yang dalam pasal 4 diwujudkan disebutkan bahwa (1) Penyelenggaraan Kehidupan Beragama di Daerah dalam bentuk pelaksanaan Syarī‘at Islam bagi pemeluknya Undang-undang sebelumnya. Semua Undang-undang ini merupakan mata

PERDA Nomor: 5 Tahun 2000 yang dalam Bab IV Aspek Pelaksanaan Syarī‘at Islam Pasal 5 ayat (1) Untuk mewujudkan keistimewaan Aceh di bidang berdomisili di daerah, berkewajiban menjunjung tinggi pelaksanaan Syarī‘at Islam dalam kehidupannya. (2) Pelaksanaan Syarī‘at Islam sebagaimana dimaksudkan dalam ayat 1 meliputi: ‘aqīdah, ‘ibādah, mu‘āmalah, akhlak, kemasyarakatan, syi‘ar Islam, pembelaan Islam, qada, jināyat. Munākahat, dan mawāris. 12 Aspek-aspek pelaksanaan Syarī‘at Islam yang dimaksud dalam Pasal pendidikan dan dakwah Islamiyah/amar ma‘ruf nahi munkar, bait al-māl,

dalam bermasyarakat. Wujud kongkrit pelaksanaannya tertuang dalam

penyelenggaraan kehidupan beragama, setiap orang atau badan hukum yang

5 ayat (2) di atas jauh lebih rinci dan meluas dari materi yang dikenal

secara luas dalam Fiqh Islam, yaitu meliputi bidang ibādah, mu‘āmalah, Syarī‘at Islam adalah pendidikan dan dakwah Islamiyah/amar ma‘ruf nahi

munākahat dan jināyat. Salah satu materi yang menjadi aspek pelaksanaan mungkar yang bukan saja sebagai kelengkapan dari aspek-aspek hukum, pelaksanaan Syarī‘at Islam. Fungsi kontrol tersebut memberikan kewenangan
12

melainkan menunjukkan adanya fungsi kontrol Pemerintah Daerah terhadap

Himpunan ..., 56

72

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

Syarī‘at, dan; b. menetapkan sanksi hukum terhadap pelanggarnya.

kepada pemerintah daerah untuk: a. menata dan mengatur pelaksanaan

tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor: 5 Tahun 2000 Bab IV Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) memerlukan norma-norma hukum yang lengkap, baik yang menyangkut dengan hukum materil13 yang berisikan norma-norma

Dalam pelaksanaan dan penerapan Syarī‘at Islam secara kaffah seperti

tentang hak dan kewajiban dalam kehidupan sehari-hari, maupun yang menyangkut dengan hukum formil.14 Perlu juga ditambahkan bahwa dalam penerapan Syarī‘at Islam di

Aceh masih dihadapkan kepada berbagai persoalan yang menyangkut dengan hukum materil. Karena Hukum Materil yang menyangkut dengan berbagai aspek seperti dimaksud dalam Undang-undang di atas memerlukan penataan kembali, sebab kitab-kitab fiqh klasik yang memuat Hukum Materil dianggap tidak memadai, dan kalaupun ada juga tidak disajikan secara sistematis.15 Selain itu, Hukum Formil juga masih sangat terbatas dan perlu dikaji ulang serta ditulis sesuai dengan kondisi masyarakat Syarī‘at Islam di daerahnya pada saat ini dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
13

Aceh sebagai prototif masyarakat yang diberikan kewenangan menerapkan

Hukum materil (subtantive law) adalah hukum yang terdiri dari peraturan-peraturan yang memberi hak dan memberi kewajiban. Setiap harinya orang dapat dikatakan selalu berhubungan dengan hukum materil. Pemenuhan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari dapat dikatakan seseorang menjalani hukum materil. Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar (Yogyakarta: Liberty, 1986), 105 Hukum formil (adjective law) atau disebut juga hukum acara adalah aturan-aturan permainan (rule of game) hakim dalam memeriksa dan memutuskan perkara di Pengadilan. Hukum Materil selalu membutuhkan Hukum Formil. Kalau tidak demikian jika terjadi pelanggaran Hukum Materil, orang akan leluasa melakukan perbuatan menghakimi sendiri. Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar..., 106
14

Perlu dijelaskan menunjuk kepada hukum materil yang sudah ada dalam kitab-kitab Fiqh sangat tidak memadai, bahkan hal demikian itu dapat menimbulkan ketidakpastian hukum. Secara fiqhiyah dalam sesuatu masalah selalu terdapat beberapa pendapat yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu diperlukan adanya “tasyri‘”, yaitu membuat peraturan perundang-undangan, baik bersumber kepada Wahyu (tasyri‘ samawi), maupun berdasarkan akal dan penalaran (tasyri‘ wad‘i). Masjfuk Zuhdi, Pengantar Hukum Syarī‘ah (Jakarta: Haji Masagung, 1990), 1
15

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

73

Muhibbuththabary

3. Sistem peradilan Seperti telah dikemukakan bahwa dalam menerapkan berbagai aspek Syarī‘at Islam seperti yang dimaksud dalam peraturan perundangundangan di atas, selain memerlukan penataan kembali berbagai persoalan yang menyangkut dengan Hukum Materil dan Hukum Formil, berupa Hukum Acara Pidana dan Perdata, juga memerlukan sistem peradilan Syarī‘at yang berbeda dengan sistem peradilan yang diatur dengan Undangundang Republik Indonesia Nomor: 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Undang-undang ini hanya diberikan wewenang untuk mengatur berbagai persoalan yang menyangkut dengan perceraian, kewarisan dan wakaf. Pembentukan sistem peradilan merupakan bagian penting dari tujuan penataan Hukum Materil dan Hukum Formil. Hanya saja jika ada Penegakan hukum melalui implementasi Syarī‘at Islam di Aceh menjadi wewenang pemerintah melalui pembentukan lembaga peradilan yang Nomor: 44 Tahun 1999 Pasal 5, Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 18 Tahun 2001 Pasal 25, Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun 2006 Pasal 228). Mahkamah Syar‘iyyah sebagai sistem peradilan yang diterapkan di ACEH adalah sarana yang cukup penting untuk melindungi terpenuhinya hak-hak warga negara serta terpeliharanya darah, kehormatan dan harta benda. Penataan lembaga-lembaga peradilan Mahkamah Syar‘iyyah pada Tingkat Daerah dan Provinsi merupakan jawaban terhadap hajat hukum masyarakat pencari keadilan di ACEH. Institusi Mahkamah Syar‘iyyah secara konsepsional belum dijumpai dalam kitab fiqh klasik kecuali istilah Qādi dan Qādi al- Qudāt yang dikenal dalam sejarah dinasti-dinasti Islam terdahulu. Padahal dalam sistem peradilan saat ini memerlukan seperangkat penegak hukum sebagai alat kelengkapan sistem peradilan seperti jaksa, panitera, pengacara dan jurusita sebagai perangkat yang diberikan tugas dan wewenang tertentu . Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa penerapan Syarī‘at Islam di
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

sistem peradilan yang tertata dengan baik, maka hukum dapat ditegakkan.

dikenal dengan Mahkamah Syar‘iyyah (Undang-undang Republik Indonesia

Aceh bukan merupakan persoalan yang baru bagi masyarakat Aceh sesuai

74

Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

dengan sejarahnya. Pemberlakuannya adalah tanggung jawab individu, masyarakat dan negara. Hal ini, tentu saja diperlukan payung hukum secara politis dari pemerintah pusat dan juga memerlukan kebijakan daerah. Kebijakan itu menyangkut dengan penetapan Peraturan Daerah, penataan Hukum Materil dan Hukum Formil serta membentuk sistem peradilan yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya berbeda dengan sistem peradilan yang telah diatur dalam Hukum Positif Indonesia. Damai dalam bingkai syarī‘at Islam Salah satu prinsip mendasar dari syari’at Islam adalah ditendensikan untuk memberikan kemaslahatan dalam kehidupan manusia, baik dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara. Oleh sebab itu, agar syari’at Islam salih li kulli zaman wa makan (senantiasa selaras baik dalam konteks waktu dan tempat), maka diperlukan ijtihadijtihad serius yang memerlukan dukungan, baik dari kalangan ulama maupun umara. Sehubungan dengan konsep di atas, terkait dengan inisiasi menjaga perdamaian dan stabilitas kehidupan bermasyarakat dan beragama di Aceh, secara konseptual dapat dirincikan bahwa Wajah Islam di pentas global, agaknya selalu beriring dengan label anarkis dan anti kebebasan. Cap fundamental, ektrim dan bahkan teroris seakan sangat akrab dengan komunitas ‘orang’ yang memeluk Islam. Generalisasi perilaku ‘sekelompok’ muslim seringkali menjadi justifikasi muka Islam sebagai agama, sehingga label-label negatif tadi selalu pantas untuk diembelkan dengan Islam. Lantas, benarkah Islam sebagai dogma mempunyai agenda kekerasan?atau justru Islam itu sebenarnya yang selalu membawa pesan perdamaian? Disini penulis mencoba menelisik kebenaran asumsi-asumsi di atas. Perdamaian merupakan hal yang esensial dalam kehidupan manusia, karena dalam kedamaian itu terciptanya dinamika yang sehat, harmonis dan humanis dalam setiap interaksi antar sesama. Dalam suasana aman dan damai, manusia akan hidup dengan penuh ketenangan dan kegembiraan juga bisa melaksanakan kewajiban dalam bingkai perdamaian. Oleh karena itu, kedamaian merupakan hak mutlak setiap individu sesuai dengan entitasnya
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

75

Muhibbuththabary

sebagai makhluk yang mengemban tugas sebagai pembawa amanah Tuhan untuk memakmurkan dunia ini. Bahkan kehadiran damai dalam kehidupan setiap mahluk merupakan tuntutan, karena dibalik ungkapan damai itu menyimpan keramahan, kelembutan, persaudaraan dan keadilan. Dari paradigma ini, Islam diturunkan oleh Allah Swt. ke muka bumi dengan perantaraan seorang Nabi yang diutus kepada seluruh manusia untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, (Q.S. 21:107) dan bukan hanya untuk pengikut Muhammad semata. Islam pada intinya bertujuan menciptakan agama ini: yaitu al-Islām. Menurut Muhammad al-Ghazāli, dalam bukunya perdamaian dan keadilan bagi seluruh manusia, sesuai dengan nama nama dari persekutuan agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi dan dinisbatkan kepada seluruh pengikut mereka. al-Ta’aşşub wa al-Tasāmuh Bayn al-Masihiyah wa al-Islām, secara leksikal dalam bahasa al-Qur`ān, Islam bukan nama dari agama tertentu, melainkan Itulah misi dan tujuan diturunkannya Islam kepada manusia. Karena itu, Islam diturunkan tidak untuk memelihara permusuhan atau fakta-fakta sejarah Islam menunjukan, bagaimana sikap tasāmuh (toleran) menyebarkan dendam kesumat di antara umat manusia. Konsepsi dan dan kasih sayang kaum muslimin terhadap pemeluk agama lain, baik yang tergolong ke dalam ahl al-Kitab maupun kaum mushrik, bahkan terhadap seluruh makhluk, Islam mendahulukan sikap kasih sayang, keharmonisan dan dan kedamaian. Di antara bukti konkrit dari perhatian Islam terhadap perdamaian adalah dengan dirumuskannya Piagam Madinah (al-sahifah al-madinah) yang oleh kebanyakan penulis dan peneliti sejarah Islam serta para pakar politik Islam disebut sebagai konstitusi negara Islam pertama. Piagam Madinah menjadi instrumen penting atas kelahiran sebuah institusi yang berorientasi pada perdamaian dan kebersamaan. Hal inilah yang menarik, sehingga para pakar sejarah dan ilmuwan sangat interested terhadap permasalahan ini. Karena lahirnya sebuah negara yang mengusung nilainilai kemanusiaan, persamaan hak dan kebebasan kepada rakyatnya belum pernah terjadi di seantero jagad raya ini, terlebih di kawasan Arab. Penting untuk diingat, bahwa nilai-nilai kemanusiaan universal yang terkandung

76

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

dalam Piagam Madinah sangat jauh lebih tua ketimbang isu HAM yang dijual oleh PBB yang tercermin dalam The Universal Declaration of Human Right pada Desember 1948. Dalam ungkapan teks agama, perdamaian sering dibahaskan dengan al-aman, kemudian oleh ulama fiqh, dalam terjemahan sistem formalnya, perdamaian sering dibahaskan dengan al-sulh, al-hudnah, al-mu’ahadah dan aqd al-zimmah. Dalam kamus al-Muhith karangan Fairus Abadi, alsulh disepandankan dengan al-salam. Keduanya mempunyai arti yang sama yaitu peace, yang jika diterjemahkan berarti perdamaian dan kerukunan. pengakuan dengan konpensasi untuk mengakhiri atau menghindari Namun dalam terminologinya, al-şulh adalah perpindahan dari hak atau Ibn Qudāmah, al-Sulh berarti sebuah kesepakatan (ma’āqadah) yang dengan melakukan upaya preventif terhadap hal tersebut. Lain lagi menurut berorientsi pada perbaikan antara dua pihak yang bertikai. Sedangkan Prof. (muşalahah) dengan ahl al-harb (musuh perang) untuk menghentikan Zuhayli mendefinisikan al-Şulh sama dengan al-Hudnah yaitu berdamai

terjadinya perselisihan. Dari definisi ini dapat disimpulkan bahwa terjadinya perdamaian setelah adanya pertikaian atau takut terjadinya perselisihan

perang dalam batas waktu tertentu dengan konpensasi dan tetap mengakui agamanya atau tidak, meskipun tidak di bawah otoritas pemerintah Islam. Sedangkan terminologi al-amān, adalah sebuah kesepakatan untuk menghentikan peperangan dan pembunuhan dengan pihak musuh. Dari beberapa definisi di atas, penulis menyimpulkan bahwa konsep al-Şulh lebih umum, karena tidak spesifik berkaitan dengan perdamaian dalam posisi sebagai lawan perang. Hal ini karena al-sulh merupakan solusi atas dimensi konflik yang terjadi dalam semua lini interaksi sosial, dari komunitas yang paling kecil hingga yang paling besar. Hal ini terlihat dari beberapa bentuk klasifikasi “al-Sulh” yang di antaranya adalah:1) Perdamaian antara penegak keadilan dengan kelompok separatis (ahl albaghy). 2). Perdamaian antara suami istri ketika takut terjadinya perceraian. 3). Perdamaian antara dua sengketa pembunuhan. 4).Perdamaian antara kaum muslimin dengan kaum kafir. 5).Perdamaian dua sengketa dalam harta. 6).Sedangkan al-amān terdiri dari dua bentuk, yaitu yang bersifat
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

77

Muhibbuththabary

khusus (khās) dan umum (‘ām). Perjanjian perdamaian yang bersifat khusus yaitu yang terdiri dari kelompok dengan jumlah terbatas, sedangkan yang umum adalah dari jumlah yang tidak terbatas dan yang berhak melakukan negoisasi perundingan perdamaian adalah pemimpin. Semua konsepsi pengertian perdamaian seperti yang tersurat di atas merupakan wacana damai dari sudut pandang fiqhiyah (juristik), dan itu umumnya masih dilatarbelakangi oleh adanya klasifikasi wilayah yang berdasarkan identitas agama, seperti dār al-islām dan dār al-harb. Bahkan lebih spesifik lagi, menurut Sidiq Hasan, bentuk wilayah Islam ada tiga kategori, yaitu: (a. wilayah al-haram yang tidak boleh dikunjungi oleh kaum kafir dalam kondisi apapun baik kafir dhimmi maupun harbi. (b). Hijaz yaitu daerah yang meliputi Yamamah, Yaman, Najd dan Madinah. Daerah kawasan ini boleh dikunjungi oleh kaum kafir dengan proses perizinan, akan tetapi tidak boleh bermukim melebihi tiga hari seperti laiknya musafir. (c). Seluruh daerah-daerah kawasan Islam. Daerah ini bermukim bagi kaum kafir setelah ada perjanjian damai. (M Sidiq Hasan, al-Din al-Kholis, 1995). Meskipun saat ini ada yang beranggapan bahwa klasifikasi itu tak lebih dari fiksi belaka, mengingat realitas hubungan dunia global, hampir semua negara dari pelbagai latar belakang ideologi telah menjamin persahabatan. Penutup Banyak kalangan memahami perdamaian sebagai keadaan tanpa perang atau konflik. Pemahaman seperti ini merupakan contoh dari definisi negatif perdamaian. Secara negatif, perdamaian hanya dimaknai sebagai situasi absennya perang dan/atau berbagai bentuk kekerasan lainnya. Pemahaman seperti ini memang sederhana dan mudah difahami, namun melihat realitas yang ada, banyak masyarakat tetap mengalami penderitaan akibat kekerasan yang tidak nampak dan ketidakadilan. Melihat kenyataan ini, maka terjadilah perluasan definisi perdamaian dan muncullah definisi perdamaian positif. Definisi positif dari perdamaian adalah absennya kekerasan struktural atau terciptanya keadilan sosial. Perdamaian dalam konsep ini meliputi semua aspek tentang masyarakat yang baik, seperti: terpenuhinya hak asasi yang bersifat universal, kesejahteraan

78

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Membumikan Perdamaian dalam Bingkai Syari’at Islam di Aceh

ekonomi, keseimbangan ekologi dan nilai-nilai pokok lainnya. Berdasarkan konsep ini, perdamaian bukan hanya merupakan masalah pengendalian dan pengurangan tercapainya semua aspek tersebut, namun perdamaian merupakan konsep yang cukup luas dan pencapaiannya membutuhkan proses yang panjang. Untuk mencapai kondisi tersebut, kita memerlukan suatu gerakan yang sinergis, bukan gerarakan yang terpisah-pisah. Maka, gerakan yang memperjuangkan hak kaum puriveral, tuntutan supremasi hukum, atau gerakan yang menentang pelanggaran hak azasi manusia, dan sebagainya seharusnya tidak lagi dilihat sebagai suatu gerakan yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan suatu gerakan yang selaras dengan tujuan yang sama, yaitu perdamaian yang dapat menjunjung tinggi dan menjaga hal-hal yang berkaitan dengan: agama, jiwa, akal, harta dan keturunan (al-Ushul alKhamsah) umat manusia secara keseluruhan. Nah, dari uraian tadi, akankah masih relevan untuk melabelkan Islam dengan kekerasan? Atau justru, orang-orang yang menuding Islam sebagai ‘referensi’ kekerasan, merupakan kelompok yang sedang menciptakan kekerasan itu sendiri! Wallahuá’lam.

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

79

Muhibbuththabary

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Zainal Abidin. Sejarah Islam dan Umatnya Sampai Sekarang (Ilmu Politik Islam V), Jakarta: Bulan Bintang,1979. Ali, Daud. Kedudukan Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Indonesia, Jakarta: Yayasan Risalah, 1990. Badruzzaman, A. Hasjmi: Aset Sejarah Masa Kini dan Masa Depan, Jakarta: Bulan Bintang, 1994. Djajadiningrat, Hoesin. Islam di Indonesia, dalam Knet. W. Morgan (Ed.), Islam Jalan Mutlak, Pembangunan, Jakarta: t.p , 1963. Hardi, Daerah Istimewa Aceh, Latar Belakang Politik dan Masa Depannya, Jakarta: Karya Unipers, 1993. Himpunan Undang-undang, Peraturan Daerah, Instruksi Gubernur, Edaran Gubernur dan Lain-lain Berkaitan Pelaksanaan Syarī‘at Islam, Provinsi Aceh: Dinas Syarī‘at Islam, 2002. Mertokusumo, Sudikno, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Yogyakarta: Liberty, 1986. Republika, 13 Nopember 1999. Zuhdi, Masjfuk, Pengantar Hukum Syarī‘ah, Jakarta: Haji Masagung, 1990.

80

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Civic Education dalam Pendidikan Formal dalam Rangka Membangun Demokrasi Berkeadaban

Kusmawati Hatta
Dosen Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Menyelesaikan pendidikan S-1 pada Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, S-2 pada Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, jurusan Konseling, S-3 pada University of Malaya, jurusan Konseling

Pendahuluan Dalam undang-undang No 2 tahun 1989 dan Undang-Undang No 20 Sikdiknas tahun 2003 dinyatakan bahwa kurikulum setiap jenis dan jenjang pendidikan termasuk pendidikan tinggi harus memuat pendidikan kewarganegaran yang dalam kurikulum pendidikan tinggi merupakan salah satu matakuliah umum (MKU). Seiring dengan perkembangan dan perubahan politik dari era otoritarian ke era demokrasi, pendidikan kewarganaegaraan melalui pendidikan kewiraan dianggap tidak relevan lagi diterapkan, karena berbagai alasan antara lain: Pola pembelajarannya yang indoktrinatif dan monolitik, muatan materi ajar yang sarat dengan kepentingan idologi rezim Orde Baru (Orba), yang mengabaikan sisi afektif dan psikomotor, sehingga dianggap pendidikan kewarganegaraan yang dimuat dalam mata kuliah kewiraan sudah keluar dari semangat dan hakikat, sebagai pendidikan nilai dan pendidikan demokrasi. Melihat kenyataan tersebut, maka diperlukan upaya rekontruksi dan orientasi pendidikan kewarganegaraan melalui matakuliah pendidikan kewargaan (civic education) sebagai substitusinya.

81

Kusmawati Hatta

Upaya tersebut di atas, tidak terlepas dari ihktiar kalangan Perguruan Tinggi untuk menemukan format baru yang dapat membangun bangsa dalam menuju era demokrasi yang bermartabat. Ihktiar ini telah banyak dilakukan sehingga pendidikan kewarganegaraan sampai kepada pendidikan civic education (pendidikan kewargaan) sekarang ini merupakan salah satu hasil dari segala upaya yang dilakukan untuk sampai kepada suatu pembelajaran yang memuat segala macam persoalan masyarakat dan pemerintahan untuk menuju kepada masyarakat madani. Dalam sejarah bangsa Indonesia, pendidikan kewarganaegaraan sudah banyak mengalami perubahan seperti pada tahun 1987/1962 matakuliah yang mengemban misi khusus pendidikan demokrasi di namakan civics, kemudian pada tahun 1964 pendidikan kemasyarakatan yang merupakan integrasi sejarah, ilmu bumi dan kewarganegaraan, kemudian pada tahun 1968/1969 menjadi pendidikan kewargaan Negara, kemudian pada tahun 1973 menjadi pendidikan kewargaan Negara, civics dan hukum, pada tahun 1975/1984 menjadi pendidikan moral pancasila dan PMP, Pada tahun 1994 menjadi PPKn. Dan pada 1960-an Perguruan tinggi ada yang namanya matakuliah Manipol, USDEK, Pancasila dan UUD 1945, Pada tahun 1970/1987 filsafat Pancasila, pada tahun 1989-1990-an pendidkan kewiraan, dan pada tahun 2000 sampai sekarang disebut pendidikan kewarganegaraan. Dari serentetan nama yang berubah, tidak terlepas daripada materi yang memuat bagaimana meberikan pendidikan kepada masyarakat dengan harapan dapat menuju masyarakat yang demokratis, penegakan HAM yang kuat dan Negara hukum yang berwibawa, namun harapan tersebut tidak sepenuhnya dapat diterapkan dan dapat berhasil, karena selama ini pembelajaran pendidikan kewarganegaran masih sarat dengan kepentingan golongan dan sangat indoktrinatif sehingga belum dapat menyentuh kalbu dari pada bangsa Indonesia, dalam membangun warga Negara yang demokrasi, oleh karena itu, sekarang dicoba dengan nama dan materi yang lebih luas dengan metode pengajarannya yang lebih kreatif, yang disebut dengan pembelajaran CE (Civic education), dimana belajar dengan metode aktif learning. Pertanyaannya adalah apa itu CE (civic education), kemana tujuan, apa materinya, sehingga dikatakan ia berbeda dengan pendidikan kewarganagaraan.

82

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Civic Education dalam Pendidikan Formal dalam Rangka Membangun Demokrasi Berkeadaban

Beberapa istilah dan definisi mengenai civic education Henry Randal Wait (1886) dalam penerbitan majalah the Citizen dan Civics, merumuskan pengertian civics dengan the science of citizenship, the relation of man, the individual, to man in organized collections, the individual in his relation to the state. Dari definisi ini, Sumantri (2001: 281282) merumuskan Civics dengan ilmu kewarganegaraan yang membicarakan hubungan manusia dengan manusia dalam kumpulan-kumpulan yang terorganisasi (organisasi social, ekonomi, politik), dan hubungan manusia dengan individu-individu dengan Negara. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya arti civics bukan hanya meliputi government saja, melainkan kemudian ada yang disebut dengan comunity civics, economic civics atau vocational civics. Dengan demikian hampir semua definisi civics pada intinya menyebut government, hak dan kewajibannya sebagai warga dari sebuah Negara. Azyumardi Azra (2002) menyatakan bahwa, secara bahasa istilah Civic Education oleh sebahagian pakar diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, menjadi pendidikan kewargaan dan pendidikan kewarganegaraan. Akan tetapi ianya sendiri dan Tim ICCE (Indonesian Centre for Civic education) UIN Jakarta lebih menyebutkan Civic Education dengan pendidikan kewargaan. Sementara pakar lainnya seperti Zamroni, Muhammad Norman, sumantri dan Udin S dan Tim CICED (Centre Indonesian For Civic Education) lebih kepada pendidikan kewarganegaraan. Selanjutnya ia menyatakan bahwa istilah pendidikan kewargaan pada satu sisi identik dengan pendidikan kewarganegaraan. Namun di sisi lain istilah civic education secara subtantif tidak saja mendidik generasi muda menjadi warga Negara yang cerdas dan sadar akan hak dan kewajibannya dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tapi juga merupakan penekanan dalam istilah pendidikan kewarganegaraan; membangun kesiapan warganegara menjadi warga dunia (global society). Dengan demikian secara subtantif pendidikan kewargaan lebih luas cakupannya daripada pendidikan kewarganegaraan, seperti kajian dan pembahasan tentang pemerintahan, konstitusi, lembaga-lembaga demokrasi, rule of law, hak dan kewajiban warga Negara, proses demokrasi,
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

83

Kusmawati Hatta

partisipasi aktif dan keterlibatan warga Negara dalam masyarakat madani, pengetahuan tentang lembaga-lembaga dan sistem yang terdapat dalam pemerintahan, warisan politik, administrasi publik, sistim hukum, warga Negara aktif, refleksi krisis, penyelidikan dan kerja sama, keadilan sosial, pengertian antarbudaya dan kelestarian lingkungan hidup dan hak azasi manusia. Bila dilihat cakupan yang dikaji di dalam pendidikan kewargaan yang begitu luas, maka sebenarnya apa kompetensi yang harus dicapai dalam pendidikan CE ini?. Menurut Tim ICCE (2003) menyatakan ada tiga kompetensi dasar yang harus di capai antara lain: Pertama, Civic knowledge yaitu kemampuan penguasaan pengatahuan kewargaan yang terkait dengan materi inti CE atara lain demokrasi, hak asasi manusia, dan masyarakat madani (civil society). Kedua, Civic dispositions yaitu kemampuan dan kecakapan sikap kewargaan antara lain pengakuan kesetaraan, toleransi, kebersamaan, pengakuan keragaman, kepekaan terhadap masalah warganegara. Ketiga, Civic skill yaitu kemampuan dan kecakapan mengartikulasikan keterampilan kewargaan seperti kemampuan berpartisisfasi dalam proses pembuatan kebijakan publik, kemampuan melakukan control terhadap penyelenggara Negara dan pemerintah. Keluasan cakupan civic education ini telah membawa intelektual berfikir lain, untuk mengembangkannya dalam dunia pendidikan dan pembelajarannya, sehingga dapat mencapai tujuan secara optimal, Ada lima tujuan dalam pembelajaran civic education yaitu: (1) untuk membentuk kecakapan partisipatif yang bermutu dan bertanggung jawab dalam kehidupan politik dan masyarakat, baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun global, (2) untuk menjadikan warga masyarakat yang baik dan mampu menjaga kesatuan dan persatuan serta integritas bangsa, guna mewujudkan Indonesia yang kuat, sejahtera dan demokratis, (3) untuk menghasilkan mahasiswa yang berpikir komprehensif, analitis, kritis dan bertindak demokratis,(4) untuk mengembangkan kultur demokrasi, yaitu kebebasan, persamaan, kemerdekaan, toleransi, kemampuan menahan diri, kemampuan melakukan dialog, negosiasi, kemampuan mengambil keputusan, serta kemampuan berpartisispasi dalam kegiatan politik, kemasyarakatan, (5) mampu membentuk mahasiswa menjdi good and

84

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Civic Education dalam Pendidikan Formal dalam Rangka Membangun Demokrasi Berkeadaban

responsible citizen (warganegara yang baik dan bertanggung jawab) melalui penanaman moral dan keterampilan sosial, sehingga dapat memecahkan persoalan-persoalan actual warga Negara, seperti toleransi, perbedaan pendapat, bersikap empati, menghargai pluralitas, kesadaran hukum, tertip sosial, menjunjung tinggi HAM, mengembangkan demokrasi dalam berbagai kehidupan serta menghargai kearifan local. Untuk mewujudkan itu semua, maka dirumuskanlah beberapa materi ajar yang sinkron dan yang menjadi dasar yaitu demokrasi, hak asasi manusia, dan masyarakat madani. Dari ketiga materi tersebut dijabarkan lebih rinci seperti pendahuluan, identitas Nasional, Negara, kewarganegaraan, konstitusi, demokrasi, otonomi daerah, good governance, hak asasi manusia (HAM), dan masyarakat madani. Dengan demikian maka materi pendidikan civic education diarahkan untuk Nation and charater building bangsa Indonesia yang relevan dalam memasuki era demokratisasi. Oleh karena itu, seharusnya pembelajaran ini, tidak hanya diberikan pada jenjang perguruan tinggi saja, akan tetapi disemua jenjang pendidikan formal, sehingga dapat lebih mudah untuk membangun bangsa yang diinginkan. Berdasarkan Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006, tentang standar Kompetensi Kelulusan, dalam Point B tentang Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran (SK-KMP), yang salah satunya adalah kewarganegaraan dan kepribadian, yang tujuannya dikembangkan kepada membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Tujuan itu dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama, akhlak mulia, kewarganegaraan, bahasa, seni dan budaya, dan pendidikan jasmani. mengembangkan logika, kemampuan berpikir dan analisis peserta didik. Pada satuan pendidikan SD/MI/SDLB/Paket A, tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal yang relevan. Dengan tujuan yang dirumuskan tersebut di atas, maka sangat relevan bila pendidikan civic education diintergarsikan kedalam mata pelajaran yang ada di tingkat dasar, menengah, maupun tingkat atas, karena tujuan
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

85

Kusmawati Hatta

yang tersirat di dalam pembelajaran ini adalah bagaimana membangun bangsa yang madani. Hal ini tidak mudah, tetapi diperlukan tenaga dan perencanaan yang baik dan yang paling penting adalah dilakukan sejak dini sehingga benar-benar menjadi kebiasaan dan tertanam di dalam sanubari warga. Dengan demikian maka akan lahir warga Negara yang memiliki integritas yang tinggi, bertanggung jawab, empati, dan selalu bersifat demokratis dalam semua tindakan. Urgensi intergrasi pendidikan kewargaan (civic education) dalam membangun demokrasi berkeadaban Edward L. Glaeser Giacomo, Ponzetto dan Andrei Shleifer (2005), menyatakan bahwa Pendidikan dengan demokrasi sangat berkorelasi, karena hasil temuan penelitian memperlihatkan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi akan menstabilkan demokrasi dalam masyarakat, dari pada yang tidak berpendidikan. Almond dan Verba (1989, P.1) menyatakan dalam kajian awal tentang hubungan antara tingkat pendidikan dengan angka partisipasi politik, mendapati bahwa pendidikan sebagai penentu penting dari “budaya kewarganegaraan” dan partisipasi dalam demokrasi politik “Orang tidak berpendidikan atau orang dengan pendidikan yang terbatas akan berbeda politik dari orang yang telah mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi (hal 315)”. Oleh karena itu untuk merubah dan membangun bangsa, maka harus membangun dan merubah paradigma dunia pendidikan. Paradigma pendidikan dalam konteks suatu bangsa (nation) akan menunjukkan bagaimana proses pendidikan akan berlangsung , yang kemudian dapat diperidiksikan kualitas dan profil lulusan sebagai hasil proses pendidikan. Dalam hal ini ada 4 hal yang menjadi dasar dan terkait dengan pendidikan, yaitu: (1) peserta didik (siswa dan mahasiswa), (2) guru dan dosen, (3) materi , dan (4) managemen pendidikan. Dalam pelaksanaan pendidikan selama ini terdapat dua paradigma yang paradoksal, yaitu; feodalistik dan humanistik. Pertama, paradigma feodalistik mempunyai asumsi bahwa, lembaga pendidikan merupakan tempat melatih dan mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi masa akan datang, oleh karena itu peserta didik

86

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Civic Education dalam Pendidikan Formal dalam Rangka Membangun Demokrasi Berkeadaban

ditempatkan sebagai objek semata di dalam pembelajaran, sedangkan guru atau dosen merupakan satu-satunya sumber ilmu, kebenaran dan informasi, sehingga berprilaku otoriter dan birokratis. Materi ajar di kemas secara rigit sehingga memasung kreatifitas peserta didik, guru dan dosen. Sementara itu manajemen pendidikan dan pembelajaran dibuat secara sentralistik, birokratis dan monolitik, dan strategi pembelajarannya juga sangat dogmatis, indoktrinatif dan otoriter. Kedua, paradigm humanistic mempunyai asumsi bahwa peserta didik adalah manusia yang mempunyai potensi dan karakteristik yang berbeda-beda, oleh karena itu, peserta didik ditempatkan sebagai subjek sekaligus objek pembelajaran, sedangkan guru dan dosen ditempatkan sebagai fasilitator yang mempermudah penyerapan, dan dialog dari peserta didik dalam pembelajaran. Materi ajar di susun berdasarkan pada kebutuhan dasar (basic needs) peserta didik, bersifat fleksibel, dinamis dan fenomenologis, sehingga materi tersebut bersifat kontekstual dan memiliki relevansi dengan tuntutan dan perubahan social. Strategi pembelajarannya bervariatif dan demokratis, sehingga mendorong terciptanya pembelajaran yang hidup, kreatif dan inovatif. Sedangkan manajemennya di buat berdasarkan desentralistik, tidak biokratik, tidak monolitik, dan mengakui pluralistik. Melihat kedua asumsi, dari dua paradigma pendidikan yang di paparkan di atas, maka penulis menyatakan bahwa selama ini pembelajaran di Indonesia lama sekali sudah menganut faham fiodalistik, dimana semua system pendidikan, strategi dan manajemen di bangun dan dipaksakan untuk mengikut kepada pembelajaran yang materi dibangun secara rigit, strateginya otoriter dan biokratik, sangat monolotik, sehingga peserta didik tidak memiliki daya kreatifitas yang dapat dikembangkan, karena selama ini guru dan dosenlah yang berkuasa penuh atas peserta didik, apalagi pelajaran pendidikan kewarganegaraan, yang memang terkait dengan politik, demokrasi, hak asasi manusia, sudah pasti dibuat dan dikemas untuk memenuhi kepentingan golongan. Oleh karena itu, mulai sekarang dunia pendidikan harus dirubah dan diarahkan kepada paradigma yang lebih manusiawi yaitu secara humanitik.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

87

Kusmawati Hatta

Paradigma ini akan merubah system pendidikan dan profil lulusan dari peserta didik, karena disusun berdasarkan kebutuhan dan kepentingan masyarakat, dengan membangun kultur yang lebih berkeadaban, seperti masyarakat madani. Memang tidak mudah, perlu usaha yang sungguhsunguh dan terpadu antara pemerintah, masyarakat dan dunia pendidikan sehingga membentuk segitiga yang dapat saling , membangun, mengontrol, dan mengevaluasi agar mencapai suatu kekuatan yang solit. Dengan demikian maka dunia pendidikan akan mengeluarkan peserta didik yang ber kualitas dan berkeadaban yang tinggi dalam lingkungan pluralitas yang beragam. Untuk mengembangkan civic education agar lebih membumi, maka perlu di lakukan integrasi ke dalam semua mata pelajaran yang ditetapkan di dalam kurikulum pendidikan formal pada tingkat dasar, menengah dan atas, sehingga pemahamannya dapat diserap di dalam berbagai pelajaran yang diberikan pada peserta didik, hanya saja guru dan dosennya yang perlu diberikan pelatihan bagaimana metode pembelajaran dengan menggunakan paradigma humanistik, yang mungkin selama ini belum pernah dibiasakan di dalam dunia pendidikan. John Dewey (1994) mendefinisikan pendidikan sebagai akuisisi kebiasaan yang berpengaruh kepada penyesuaian individu dengan lingkungannya. Jadi bila pembiasaan ini dilakukan dari awal maka warga akan dapat menyesuaikan diri mengikuti lingkungan. Kalau lingkungan dibangun dengan demokrasi maka lama kelamaan individu akan menyesuaikan diri mengikuti arah tersebut. Pada saat ini lingkungan yang dianggap paling sepurna sehingga dijadikan pedoman dan cita-cita yang harus dicapai oleh setiap warga yaitu masyarakat madani. Masyarakat madani bila dipahami secara sepintas merupakan format kehidupan alternative ketika roda pemerintahan dijalankan tidak demokrasi ,semena-mena tanpa memperhatikan hak asasi manusia, maka dimunculkan lah konsep yang mengedepakan semangat demokrasi, menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia, dengan pemberdayaan dan penguatan masyarakat sebagai control dalam kebijakan-kebijakan yang dijalankan pemeritahan, yang pada akhirnya akan terwujut kekuatan masyarakat sipil yang mampu merealisasikan dan menegakkan konsep hidup, yang

88

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Civic Education dalam Pendidikan Formal dalam Rangka Membangun Demokrasi Berkeadaban

demokratis dan juga menjunjung tinggi HAM, seperti pada masa Rasulullah Saw membangun ummadnya. Ramlan Surbakti (2001) menyatakan bahwa masyarakat madani, juga difahami sebagai tatanan kehidupan yang menginginkan kesejajaran hubungan antar warga negara dengan Negara atas prinsip saling menghormati, sehingga terbangun hubungan yang konsultatif bukan konfrontatif. Mayarakat tidak hanya bersikap dan berprilaku sebagai citizen yang memiliki hak dan kewajiban, melainkan juga harus menghormati equal right, yang memperlakukan semua warga Negara sebagai pemegang hak dan kebebasan yang sama. Penutup Untuk mengembangkan civic education tidaklah mudah, diperlukan tenaga dan konsep yang matang sehingga tidak mengulang kesalahan yang sama dalam dunia pendidikan. Pendidikan kewarganeagaraan yang selama ini masih sangat sarat dengan indoktrinatif, monolitik, dan otokratik, dengan system pembalajarannya sangat dogmatif, yang mengikut kepada perkembangan politik, harus dirubah menjadi pendidikan kewargaan atau yang disebut civic education yang mencoba membangun warga dengan demokratis, dengan materi ajar yang lebih luas dan fleksibel, tidak monolitik, tidak biokratik dan juga tidak otokratik. Pendidikan dan pembelajarannya diarahkan kepada pengembangan dan pemberdayaan peserta didik, sehingga dapat mengeksplorasikan kreativitas daya cipta dan daya guna dalam dunia pendidikan. Managemen pendidikannya dibangun secara desentralistik, materi ajarnya dirumuskan berdasarkan basic needs peserta didik dan yang paling penting adalah dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran yang telah ditetapkan di dalam kurikulum pendidikan, karena materinya yang universal dan luas dalam melahirkan warga negara yang madani.

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

89

Kusmawati Hatta

DAFTAR PUSTAKA
Azra Azyumardi (2002) Pendidikan Demokrasi dan Demokratisasi Di Dunia Muslim, makalah disampaikan pada Seminar Nasional II “Civic Education di Perguruan Tinggi” di Mataram. Tgl. 22-23 April. Almond, Gabriel, and Sidney Verba (1989, 1 st st ed. ed. 1963), The Civic Culture: Political Attitudes and Democracy in Five Nations. London: Sage Publications Edward L. Glaeser Giacomo, Ponzetto dan Andrei Shleifer. Why Does Democracy Need Education, Harvard University and NBER, Harvard University and Harvard University and NBER, 2005 John Dewey. Education as Growth, Capter 4: http://www.ilt.columbia.edu/ publications/dewey.html, 1994 Ramlan Surbakti. Outonomi Daerah Pendukungnya. Jakarta, 2001 Seluas-luasnya dan Faktor

Sumantri, Muhammad Numan. Mengagas Pembaruan Pendidikan IPS, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2001 TIM ICCE UIN Jakarta Pensisikan Kewargaan (Civic Education): Demokrasi, Hak Asasi Manusia & Masyarakat Madani, 2003

90

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Konstruksi Kurikulum Pendidikan Damai di Aceh

Studi Deskriptif Analitik Melalui Pendekatan Kearifan Lokal

Firdaus M. Yunus
Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Pendidikan (S1) diselesaikan pada Jurusan Aqidah Filsafat Fak. Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, (2000). Pendidikan (S2) pada Fakultas Ilmu Filsafat (2003), dan pendidikan (S2) Sosiologi (2005) pada Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta

Pendahuluan Pemberlakuan otonomi daerah dan perubahan pola kebijakan pemerintah terhadap pendidikan nasional akhir-akhir ini dari sentralistik yang serba terpusat, ke desentralistik diharapkan akan memberikan kebebasan dan keleluasaan ruang gerak bagi lembaga-lembaga pendidikan. Hal ini akan menjadi modal bagi lembaga-lembaga pendidikan untuk menemukan bentuknya yang ideal sesuai dengan visi dan misi lembaga pendidikan. Untuk meningkatkan kualitasnya dalam mengelola pendidikan ke arah yang lebih baik, sistem sentralistik selain lamban dalam mengantisipasi kebutuhan lingkungan pendidikan, sistem ini juga memungkinkan terjadinya penyimpangan kebijakan pendidikan yang berorientasi sebagai perpanjangan tangan birokrasi yang mematikan prakarsa, partisipasi, inovasi, dan kreativitas peserta didik, masyarakat dan pengelola pendidikan. Usaha untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih bersemangat tersebut, pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang penyelenggaraan pemerintah daerah menggantikan Undang-Undang Nomor

91

Firdaus M. Yunus

5 tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah, dan UndangUndang Nomor 5 tahun 1979 tentang pemerintahan desa. Perubahan ini memberikan setumpuk harapan bagi daerah untuk mengelola pendidikan berkualitas, harapan ini sangat wajar mengingat manajemen pendidikan yang selama ini bersifat sentralistik cenderung kurang mampu mendorong terjadinya demokratisasi dan desentralisasi pendidikan. Dengan desentralisasi pendidikan diharapkan akan mampu melahirkan kebijakan yang dapat mengakomodir berbagai macam bentuk keragaman, perbedaan kepentingan daerah, dan mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan, dan pada akhirnya akan mampu mengangkat kualitas pendidikan yang selama ini di sana-sini masih bermasalah (HJ. Sriyanto, 2003 : 8-9). Desentralisasi pendidikan, sampai saat ini masih tetap menyisakan keraguan karena pemerintah pusat belum mau menyerahkan kewenangan secara penuh kepada daerah untuk mengatur dan mengelola pendidikan termasuk di dalamnya adalah membuat dan menentukan kurikulum. Bagi pemerintah Aceh, kewenangan untuk mengelola pendidikan pada esensinya sudah tertuang melalui pemberian otonomi khusus kepada Daerah Istimewa Aceh melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001. Dengan adanya otonomi khusus tersebut, pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam sudah diberikan keleluasaan untuk menentukan arah pendidikan dengan menetapkan qanun tentang penyelenggaraan pendidikan yaitu qanun Nomor 23 Tahun 2002. Qanun tersebut telah mensyaratkkan bahwa pendidikan Aceh boleh dilaksanakan sesuai dengan kurikulum lokal (kurikulum berbasis syariat) sesuai standar nasional dan internasional. Das sein dan das sollen pendidikan di Aceh Diberikannya keluasaan dalam pengelolaan pendidikan kepada Aceh yang dituangkan melalui qanun Nomor 23 Tahun 2002 sangat menggembirakan kita semua, karena Aceh mendapat perlakuan khusus dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia. Dalam merespon amanah qanun tersebut pemerintah Aceh melalui dana otsus, APBA, APBN dan bantuan dari negara-negara donor secara perlahan telah memperbaiki

92

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Konstruksi Kurikulum Pendidikan Damai di Aceh

infrastruktur sekolah, kampus maupun infrastruktur dinas-dinas pendidikan di tingkat kabupaten kota hampir di seluruh Aceh. Disamping memperbaiki infrastruktur, pemerintah Aceh telah meningkatkan anggaran pendidikan dan memberikan beasiswa kepada putra putri terbaik Aceh untuk kuliah di dalam maupun di luar negeri mulai tingkat sarjana sampai ke tingkat doktoral dengan harapan agar dunia pendidikan Aceh lebih unggul dari daerah-daerah lain di Indonesia. Harapan besar pemerintah dan seluruh masyarakat Aceh sejak qanun pendidikan diberlakukan belum sepenuhnya menampakkan hasil yang optimal, mulai dari belum adanya kurikulum muatan lokal yang spesifik sebagai jawaban bagi kebutuhan masyarakat lokal sampai pada rendahnya mutu pendidikan. Hal ini berbanding terbalik dengan jumlah anggaran yang dikucurkan oleh pemerintah Aceh yang jumlahnya jauh lebih besar dari daerah-daerah lain di Indonesia. Kemudian yang lebih memilukan lagi dunia pendidikan Aceh dikejutkan oleh banyak hal, mulai dari kecurangan ujian nasional hampir setiap tahun, rendahnya kelulusan pada UMPTN sampai pada rendahnya nilai akreditasi kampus. Realitas tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa sekolah, atau kampus yang bangunannya megah-megah belum sepenuhnya memuaskan masyarakat pada umumnya, terutama sekali pada keluaran (output) kampus yang masih sulit untuk bersaing dalam dunia kerja? Lima tahun terakhir ini menjadi pelajaran paling berharga bagi masyarakat Aceh yang sebagian besar tercengang melihat dan merasakan kerasnya persaingan dunia kerja. Meskipun pekerjaan tersebut akan dilaksanakan di depan mata, tetapi untuk masuk dan bekerja di sana sangatlah sulit karena banyak kualifikasi persyaratan yang harus dipenuhi. Semuanya membutuhkan skill dan ketelitian khusus. Kesempatan yang terbuka lebar pasca konflik dan tsunami di Aceh tidak dengan serta merta menyerap tenaga kerja lokal dari Aceh. Banyak tenaga lokal terkendala oleh pengalaman, keahlian, dan relasi yang terbatas, sehingga tidak sedikit yang menjadi penonton dari laju pertumbuhan pembagunan di kampung halamannya sendiri (Firdaus M. Yunus, 2008: 142). Gambaran tersebut sangat tepat digambarkan dengan hadih maja ‘buya krue tudong-dong buya
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

93

Firdaus M. Yunus

tamong meurasiki’ karena kita kalah dalam bersaing baik dari segi skill maupun kualitas dengan tenaga kerja dari luar. Pada dasarnya pangsa kerja terbuka untuk siapa saja, apalagi Aceh hari ini menjadi salah satu wiilayah yang sudah menginternasional, maka kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan tidak segampang yang dibayangkan. Menghadapi fenomena yang demikian, maka aspek pendidikan menjadi prioritas yang harus terpusatkan. Sektor pendidikan harus menjadi sarana awal bagi pemecahan permasalahan-permasalahan lokal masyarakat. Selama ini proses pendidikan banyak yang tidak selaras dengan dinamika pembangunan lokal. Padahal proses pendidikan, dalam artian pendidikan formal sesungguhnya diterapkan dalam rangka memenuhi kebutuhan sumber daya manusia yang sanggup menyelesaikan persoalan lokal, sehingga keluaran pendidikan merupakan orang-orang yang sanggup untuk bersaing di dalam dunia kerja sekaligus mampu memecahkan persoalan-persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat (Firdaus M. Yunus, 2004: 97). Pendidikan pada prinsipnya harus mampu menyadarkan dan memengaruhi masyarakat, agar menjadi salah satu pelaksana misi masyarakat. Untuk itu maka sejumlah perangkat pendidikan perlu diperuntukkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat (Barnadib, 1996 : 15). Pendidikan dengan demikian harus berdialektika dengan seluruh realitas masyarakat. Tanpa semangat yang demikian maka pendidikan justru menjadi alat untuk mencerabut masyarakat dari kultur yang diwarisinya. Kemudian pendidikan harus mampu dan sekaligus bertanggung jawab dalam menyelesaikan masalah dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini perlu dilakukan agar pendidikan memiliki basis sosial dan basis budaya dalam masyarakat. Untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui pendidikan, maka pemerintah dan seluruh elemen masyarakat harus mendukung jalannya pendidikan di Aceh. Dengan majunya pendidikan, segala ketertinggalan yang selama ini terasa di sana sini dapat diminimalisir sesegera mungkin agar Aceh menjadi pusat kebudayaan dan pusat peradaban bagi dunia baru Islam.

94

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Konstruksi Kurikulum Pendidikan Damai di Aceh

Konstruksi kurikulum damai berbasis kearifan lokal Pemerintah dalam rangka mewujudkan cita-cita untuk mencapai tujuan pendidikan nasional melalui berbagai jalur, jenis dan jenjang pendidikan sudah beberapa kali melakukan perombakan dan perubahan kurikulum ke arah yang lebih optimal, agar kurikulum yang ditetapkan mampu menyesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan zaman. Kebijakan pemerintah tersebut secara sistematis dilakukan sejak tahun 1975, 1984, 1994, dan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2001. Penerapan kurikulum pendidikan tahun 1975, 1984, dan 1994 yang dikembangkan oleh pemerintah pada masa Orde Baru dianggap terlalu memberatkan siswa-siswi dan juga orang tua siswa-siswi terutama dalam membeli buku teks. Padatnya kurikulum berakibat pada padatnya informasi pada buku teks. Kurikulum yang demikian sering mendorong guru untuk membahas seluruh pokok bahasan dengan cara tatap muka di kelas. Karena kurikulum yang demikian telah mengharuskan kepala sekolah untuk mendorong para guru untuk mempertimbangkan penjabaran materi dengan mendahulukan materi yang dianggap penting. Para guru harus bekerja keras untuk memilih dan memilah materi yang membutuhkan pendalaman dan yang bisa diberikan kepada siswa di sekolah, dan apabila dirasakan kurang maka guru sering memberikan penugasan baik di sekolah maupun di rumah kepada siswa (J. Drost, 1998 : 117-120) Kebijakan kurikulum seperti itu sangat memberatkan guru dan siswa. Untuk itu, diperlukan adanya pengurangan jumlah mata pelajaran sekaligus jumlah materi pada setiap mata pelajaran. Kemudian guru harus memiliki kebebasan untuk menerapkan kurikulum dengan memperhatikan kompetensi dasar minimum yang disyaratkan bagi para siswa, dan kurikulum yang digunakan dalam pembelajaran harus ditentukan bersama antara guru, siswa, bahkan masyarakat secara demokratis. Maka isi kurikulum selalu harus kritis, di sini guru, dan siswa harus bekerja sama dalam menentukan isi kurikulum yang mau dipelajari (Paul Suparno, 2001 : 24). Kurikulum yang banyak dikembangkan selama ini merupakan gambaran dari sistem pendidikan nasional yang membelenggu, karena
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

95

Firdaus M. Yunus

dalam manajemen pendidikan yang sentralistik, sekolah sebagai unit pelaksana teknis berfungsi sebagai penyelenggara kurikulum nasional. Orientasi pendidikan pada kebutuhan masyarakat, dilaksanakan dengan penambahan kurikulum muatan lokal pada kurikulum nasional yang sudah sarat dengan materi pelajaran, namun demikian kenyataan tersebut tidak mampu menjadikan pendidikan berbasis masyarakat (communitybased education). Ketergantungan sekolah pada buku petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis dari pusat, mengakibatkan manajemen peningkatan mutu pendidiakn berbasis sekolah tidak dapat terlaksana (Hari Suderadjat, 2004 : 4-5). Kebijakan untuk menentukan kurikulum bersama pada masa pemerintahan Orde Baru justru tidak pernah terjadi, sehingga telah berimplikasi luas pada rendahnya mutu pendidikan di Indonesia secara merata dalam semua jenjang pendidikan. Terpuruknya mutu pendidikan Indonesia lebih disebabkan oleh banyak faktor, salah satu diantaranya adalah terjadinya kekakuan pemerintah dalam menerapkan kebijakan mengenai kurikulum pendidikan nasional, karena asumsi mengenai kurikulum nasional adalah kurikulum dari pusat, sementara daerah meskipun berpotensi untuk membuat dan mengembangkan kurikulum muatan lokal, tetapi pemerintah belum memperbolehkan daerah untuk membuat maupun menerapkan kurikulum muatan lokal. Menurut Mangunwijaya, pelaksanaan kurikulum muatan lokal dalam suatu daerah tidak harus sama, tetapi lebih baik disesuaikan menurut situasi masing-masing daerah, sehingga guru dapat menyesuaikan isi sebagian kurikulum dengan suasana dan keperluan khas daerah setempat (Y.B Mangunwijaya, 2003 : 98) Pengembangan kurikulum harus didasarkan pada karakteristik, kebutuhan dan perkembangan suatu daerah (Nana Syaodih Sukmadinata, 2001 : 201). Agar efektif dan efisien, desentralisasi kurikulum harus diikuti dengan desentarlisasi sistem evaluasi agar setiap daerah dapat menentukan sistem evaluasinya sendiri. Sehingga dengan demikian akan melahirkan suatu keterbukaan yang dinamis dalam masyarakat, dan kurikulum yang dijalankan diharapkan akan mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan.

96

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Konstruksi Kurikulum Pendidikan Damai di Aceh

Kehadiran kurikulum berbasis kompetensi (KBK)

yang sekarang

diganti dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) secara nasional merupakan jawaban bagi peningkatan mutu pendidikan menuju ke era persaingan global. Untuk kepentingan teresebut pemerintah memprogramkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai acuan bagi pelaksana pendidikan untuk mengembangkan berbagai ranah pendidikan dalam seluruh jalur pendidikan, khususnya dalam jalur pendidikan sekolah. Hal ini terkait dengan “gerakan peningkatan mutu pendidikan” (E. Mulyasa, 2003: 37) Berpijak dari kebijakan pemerintah tentang kurikum seperti tergambar di atas semakin menunjukkan bahwa kurikulum merupakan alat yang sangat penting (vital) bagi suatu keberhasilan pendidikan, karena tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat maka tujuan dan sasaran yang diinginkan akan sulit tercapai. Kurikulum biasanya berkembang sejalan dengan perkembangan dan praktek pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori yang dianut. Menurut Mac Donald (1965: 3), sistem persekolahan terbentuk dari mengajar, belajar, dan kurikulum. Mengajar merupakan kegiatan profesional yang diberikan oleh guru. Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh siswa sebagai respon terhadap kegiatan mengajar yang diberikan oleh guru. Keseluruhan pertautan kegiatan mengajar dan belajar, membutuhkan kurikulum sebagai suatu rencana yang memberikan pedoman atau pegangan dalam proses belajar-mengaja. Sementara Beauchamp dalam Nana Syaodi Sukmadinata (2001: 3) lebih memberikan tekanan bahwa kurikulum adalah suatu rencana pendidikan atau pengajaran. Pelaksanaan rencana itu sudah masuk pengajaran, selanjutnya kebaikan suatu kurikulum tidak dapat dinilai dari dokumen tertulis saja, melainkan harus dinilai dari proses pelaksanaan fungsinya di dalam kelas. Kurikulum bukan hanya rencana tertulis bagi pengajaran, melainkan hanya sesuatu yang fungsional beroperasi di dalam kelas, yang memberikan pedoman dan mengatur lingkungan kegiatan yang berlangsung di dalam kelas. Kurikulum dengan demikian menjadi unsur yang menentukan dalam setiap pembentukan model pendidikan, karena tanpa adanya kurikulum
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

97

Firdaus M. Yunus

sulit rasanya bagi para perencana pendidikan mencapai tujuan pendidikan yang diselenggarakannya. Mengingat pentingnya kurikulum, maka kurikulum perlu dipahami dengan baik oleh semua pelaksana pendidikan (Hj. Suyanto, 2000 : 59) Kurikulum pada intinya memegang kedudukan kunci dalam pendidikan, sebab kurikulum berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan, yang pada akhirnya akan menentukan bermacammacam kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Kurikulum juga menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan, baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah, wilayah, maupun nasional. Dengan demikian kebijakan dalam pelaksanaan kurikulum harus memperhatikan implikasi secara lokal maupun nasional. Dewey mengatakan bahwa ada tiga butir pokok yang harus diperhatikan dalam mengembangkan sebuah kurikulum di segala tingkat. Pertama, hakikat dan kebutuhan siswa-siswi. Kedua, hakikat dan kebutuhan masyarakat di mana siswa-siswi merupakan bagian dari masyarakat. Ketiga, masalah pokok yang digumuli siswa-siswi untuk mengembangkan diri sebagai pribadi yang matang dan mampu menjalin hubungan dengan masyarakat (John Dewey, 1961 : 86). Dalam hal ini, penerapan kebijakan pemerintah mengenai kurikulum tentu saja tidak boleh kaku, karena apabila kurikulum yang diterapkan mengalami kekakuan maka akan berimplikasi pada pelaksanaan pendidikan di sekolah. Untuk dunia pendidikan Aceh, penerapan kurikulum muatan lokal sudah menjadi keharusan dan tanggung jawab stakeholder dunia pendidikan. Banyak muatan lokal yang terabaikan selama ini, seperti belum adanya kurikulum bagi siswa yang mendiami di perdesaan. Selama ini kurikulum yang diterapkan pada sekolah-sekolah di daerah perdesaan mengikuti kurikulum perkotaan yang kadang kala sulit dijangkau oleh anakanak yang dikelilingi oleh areal pertanian dan lautan. Kemudian yang lebih penting lagi adalah merancang kurikulum pendidikan damai, agar siswa/ mahasiswa serta masyarakat paham terhadap teori damai dan konflik. Selama ini banyak masyarakat yang tidak mengetahui bagaimana cara mengelola konflik dengan baik, sehingga konflik yang kecil menjadi besar

98

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Konstruksi Kurikulum Pendidikan Damai di Aceh

dan penyelesaianya menjadi berlarut-larut karena tidak ada manajemen yang tepat dalam mengelola konflik. Kurikulum pendidikan damai dibutuhkan bukan karena Aceh pernah dilanda konflik, tetapi konflik merupakan realitas kehidupan yang muncul setiap saat akibat benturan kepentingan, baik kepentingan sesaat maupun kepentingan jangka panjang. Kurikulum pendidikan damai diharapkan dapat berperan sebagai acuan bagi proses pendewasaan siswa/mahasiswa serta masyarakat agar dapat membangun paradigma dan sikap kritis dalam menyikapi setiap konflik tanpa kekerasan. Proses ini menggambarkan bahwa makna hakiki pendidikan damai tidak hanya menyangkut aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik. Kurikulum pendidikan damai disamping menyangkut ketiga aspek di atas, kemudian juga berfungsi untuk menyampaikan, meneruskan atau menstransmisikan nilai-nilai guna mengantarkan manusia ke arah kondisi yang tenteram, saling menghormati, menghargai dan memberikan apresiasi dalam kemajemukan dan kebhinekaan. Lebih dari itu juga mengajarkan kearifan dalam menyikapi konflik sebagai sunnah Allah yang tidak harus dihindari, akan tetapi perlu dikelola melalui pengembangan potensipotensi yang ada sehingga memberikan dampak positif bagi individu dan masyarakat (Fauzi Saleh, 2005 : 23). Tugas untuk membuat kurikulum tidak bisa dilakukan secara sendirian tetapi harus melibatkan semua pihak. Hal ini penting agar muatan lokal pada masing-masing daerah dapat terakomodir dengan baik, dengan demikian kurikulum yang dihasilkan benar-benar menjadi patron bagi guru, murid, dan masyarakat dalam memahami dan memaknai pentingnya pendidikan dan pengajaran. Penutup Keresahan terhadap dunia pendidikan sudah sering dikritik oleh pemerhati pendidikan di dunia manapun termasuk di Aceh. Para pemerhati pendidikan di Aceh sering mengkritisi proses pendidikan yang masih lamban di sana sini dan terkesan monoton. Pendidikan pada esensialnya tidak boleh monoton, tetapi harus terbuka terhadap realitas sosial
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

99

Firdaus M. Yunus

kemasyarakatan. Kehadiran kurikulum pusat belum tentu sepenuhnya cocok untuk diterapkan pada masing-masing daerah, terutama sekali bagi daerah terpencil yang jauh dari pusat perkotaan. Bagi daerah seperti itu kurikulum yang diterapkan tidak sepenuhnya kurikulum perkotaan akan tetapi muatan lokal juga harus diperhatikan agar apa yang diharapan (das sein) menjadi kenyataan (das sollen). Pelaksanaan pendidikan, terutama di Aceh harus mengadopsi tiga unsur, yaitu unsur muatan lokal, nasional, dan internasional, pengadopsian ketiga unsur tersebut menjadi penting untuk menempatkan pendidikan Aceh setara dengan daerah-daerah lain di Indonesia Untuk saat ini tidak ada halangan bagi Aceh untuk tidak maju karena anggaran pendidikan yang dialokasikan oleh pemerintahan Aceh sangat besar dan situasi Aceh untuk memajukan pendidikan jauh lebih kondusif, sebab Aceh sudah melewati masa-masa sulit baik pada saat konflik maupun pasca tsunami beberapa tahun yang lalu.

100

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Konstruksi Kurikulum Pendidikan Damai di Aceh

DAFTAR PUSTAKA
Dewey, John. Philosophy of education. New Jersey: Littlefeld Adam & Co, 1961 Drost, J. Sekolah mengajar atau mendidik?. Yogyakarta: Kanisius, 1998 Mac Donald, B. James. Educational models for instruction, Washington DC: The Association for supervision and curriculum developmen, 1965 Mangunwijaya, Y.B. Impian dari yogyakarta. Jakarta: Gramedia, 2003 Mulyasa. E. Kurikulum berbasis kompetensi: konsep, karakteristik, implementasi, dan inovasi. Bandung: Rosdakarya, 2003 Saleh, Fauzi. Konsep pendidikan dalam Islam. Banda Aceh: Yayasan Pena, 2005 Sriyanto. HJ. “Membaca kebijakan pemerintah terhadap pendidikan di era desentralisasi”. dalam, Jurnal demokrasi, Volume I, No.2, 2003 Sukmadinata, Nana Syaodih. Pengembangan kurikulum teori dan praktek. Bandung: Rosdakarya, 2001 Suparno, Paul. “Relevansi dan reorientasi pendididikan di Indonesia”, dalam Basis, No. 01-02. Tahun ke 50, Januari-Februari, 2001 Suderadjat, Hari. Implementasi kurikulum berbasis kompetensi (KBK): pembaharuan pendidikan dalam Undang-undang sisdiknas 2003. Bandung: Cipta Cekas Grafika, 2004 Yunus, Firdaus M. Pendidikan berbasis realitas sosial, Paulo Freire, Y.B. Mangunwijaya. Yogyakarta: Logung pustaka, 2004 __________. “Rehab rekon Aceh berbasis kearifan lokal, pendekatan filsafat budaya dan filsafat pendidikan”, dalam filosofi pendidikan berbasis syariat dalam education networks. Banda Aceh: Dinas Syariat Islam, 2008

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

101

Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dalam Menjaga Keberlangsungan Perdamaian di Aceh

M. Nasir Budiman
Guru Besar Ilmu Pendidikan pada Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Pernah menjabat sebagai Asisten Direktur Bidang Akademik pada Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry dan Pembantu Rektor I periode 2005-2009

Pendahuluan Indonesia terdiri dari lebih dari 3500 buah pulau yang dihuni oleh berbagai suku bangsa yang mempunyai berbagai macam adat-istiadat, bahasa, kebudayaan, agama, kepercayaan dan sebagainya. Berbagai kekayaan alam baik yang terdapat di darat, laut, flora fauna dan berbagai hasil tambang semuanya merupakan sumber daya alam yang semestinya bisa dimanfaatkan dengan baik untuk kesejahteraan rakyatnya. Kebudayaan nasional yang didukung oleh berbagai nilai kebudayaan daerah yang luhur dan beradab yang merupakan nilai jati diri yang menjiwai perilaku manusia dan masyarakat dalam segenap aspek kehidupan, baik dalam lapangan industri, kerajinan, industri rumah tangga, jasa pertanian (argo industri dan argo bisnis), perkebunan, perikanan peternakan, pertanian holtikultura, kepariwisataan, pemeliharaan lingkungan hidup sehingga terjadi kesesuaian, keselarasan dan keseimbangan yang dinamis. Kurikulum kecuali mengacu pada karakteristik peserta didik, perkembangan ilmu dan teknologi pada zamannya juga mengacu kepada kebutuhan-kebutuhan masyarakat atau stakeholders. Penyusunan kurikulum

103

M. Nasir Budiman

atas dasar acuan keadaan masyarakat tersebut disebut “Kurikulum Muatan Lokal“. Sebagai acuan keadaan masyarakat provinsi Aceh yang pernah terjadi konflik, dan musibah gempa bumi dan tsunami adalah hilangnya persaudaraan (ukhuwah), kasih sayang, saling curiga, krisis kepercayaan, dan berkembang pula budaya suka menerima daripada memberi, maka program pengembangan kurikulum dalam menjaga keberlangsungan perdamaian di Aceh menjadi sangat relevan dijadikan sebagai program pendidikan muatan lokal di PTAI semacam STAI Tgk. Di Rundeng Aceh Barat, provinsi Aceh. Maka yang menjadi masalah di sini adalah terkait dengan prosedur pengembangan muatan lokal yang relevan dengan kebutuhan daerah bagi PTAI di Aceh secara umum, khususnya di STAI Tgk di Rundeng Meulaboh, Aceh Barat. Pengertian muatan lokal Kurikulum muatan lokal dimaksudkan ialah program pendidikan yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah dan wajib dipelajari oleh mahasiswa sesuai dengan karakteristik daerah. Menurut sejarah, sebelum ada PTAI/Perguruan Tinggi Agama Islam formal, pendidikan yang berprogram muatan lokal telah dilaksanakan oleh para orang tua mahasiswa dengan metode drill dan trial and error serta berdasarkan berbagai pengalaman yang mereka hayati. Tujuan pendidikan mereka terutama agar anak-anak mereka dapat mandiri dalam kehidupan. Bahan yang diajarkan ialah bahan yang diambil dari berbagai keadaan yang ada di alam sekitar. Sedang kriteria keberhasilannya ditandai bahwa ”mereka telah dapat hidup mandiri dan/atau percaya diri, meningkat harkat dan martabatnya”. Tujuan kurikulum muatan lokal Secara umum tujuan program pendidikan muatan lokal adalah mempersiapkan mahasiswa agar mereka memiliki wawasan yang mantap tentang lingkungannya serta sikap dan perilaku bersedia melestarikan

104

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dalam Menjaga Keberlangsungan Perdamaian di Aceh

dan mengembangkan sumber daya alam, kualitas sosial, dan kebudayaan yang mendukung pembangunan nasional maupun pembangunan setempat. Tujuan penerapan muatan lokal pada dasarnya dapat dibagi dalam dua kelompok tujuan, yaitu tujuan langsung dan tujuan tidak langsung. Tujuan langsung adalah tujuan dapat segera dicapai. Sedangkan tujuan tidak langsung merupakan tujuan yang memerlukan waktu yang relatif lama untuk mencapainya. Tujuan tidak langsung pada dasarnya merupakan dampak dari tujuan langsung. a. Tujuan langsung 1. Bahan pengajaran lebih mudah diserap oleh mahasiswa. 2. Sumber belajar di daerah dapat lebih dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan. 3. Mahasiswa dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajarinya untuk memecahkan masalah yang ditemukan dalam masyarakat. 4. Mahasiswa lebih mengenal kondisi alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya yang terdapat di daerahnya masing-masing. b. Tujuan tak langsung 1. Mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan mengenai daerahnya. 2. Mahasiswa diharapkan dapat menolong orang tuanya dan menolong dirinya sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. 3. Mahasiswa menjadi akrab dengan lingkungannya dan terhindar dari keterasingan terhadap lingkungan masyarakatnya sendiri. Dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar maka besar kemungkinan mahasiswa dapat mengamati, melakukan percobaan atau kegiatan belajar sendiri. Belajar mencari, mengolah, menemukan informasi sendiri dan menggunakan informasi untuk memecahkan masalah yang ada di lingkungannya merupakan pola dasar dari belajar. Belajar tentang lingkungan dan dalam lingkungan mempunyai daya tarik tersendiri bagi seorang anak. Jean Piaget (1958) mengatakan bahwa semakin banyak seorang anak melihat dan mendengar, maka semakin ingin ia melihat dan mendengar serta berbuat.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

105

M. Nasir Budiman

Lingkungan secara keseluruhan mempunyai pengaruh terhadap cara belajar seseorang. Benyamin S. Bloom menegaskan bahwa lingkungan sebagai kondisi, daya dan dorongan eksternal dapat memberikan suatu situasi “kerja” di sekitar mahasiswa. Karena itu, lingkungan secara keseluruhan dapat berfungsi sebagai daya untuk membentuk dan memberi kekuatan/dorongan eksternal untuk belajar pada seseorang. Landasan teoritik muatan lokal. 1. Tingkat kemampuan berpikir mahasiswa mengharuskan kita menyajikan bahan kajian yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir dari tingkatan konkret sampai dengan tingkatan abstrak. Pengembangan kemampuan berpikir ini ditunjang antara lain oleh teori belajar dari Ausubel (1969) dan konsep asimilasi dari Jean Piaget (1972) yang pada intinya menyatakan bahwa sesuatu yang baru haruslah dipelajari berdasarkan apa yang telah dimiliki oleh mahasiswa. Penerimaan gagasan baru dengan bantuan gagasan/ pengetahuan yang telah ada ini sebenarnya telah dikemukakan oleh Johan Friedrich Herbart (1776-1841) yang dikenal dengan istilah apersepsi. 2. Pada dasarnya anak-anak usia perguruan tinggi memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar tentang segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Karena itu, mereka selalu akan gembira bila dilibatkan secara mental, fisik dan sosialnya dalam mempelajari sesuatu. Mereka akan gembira bila diberikan kesempatan untuk menjelajahi lingkungan sekitarnya yang penuh dengan sumber belajar. Dengan menciptakan situasi belajar, bahan kajian dan cara belajar mengajar yang menantang dan menyenangkan maka aspek kejiwaan mereka yang berada dalam proses pertumbuhan akan dapat ditumbuhkembangkan dengan baik. Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan.Tujuan pendidikan muatan lokal tentu saja tidak dapat terlepas dari tujuan umum yang tertera dalam GBHN. Adapun yang langsung dapat dipaparkan dalam muatan lokal atas dasar tujuan tersebut di antaranya adalah : a. Berbudi pekerti luhur, sopan santun daerah di samping sopan santun nasional.

106

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dalam Menjaga Keberlangsungan Perdamaian di Aceh

b. Berkepribadian; punya jati diri dan punya kepribadian daerah disamping kepribadian nasional c. Mandiri: dapat mencukupi diri sendiri tanpa bantuan orang lain d. Terampil, menguasai 10 segi PKK di daerahnya e. Beretos kerja, cinta akan kerja, makanya dapat menggunakan waktu sebaik-baiknya. f. Profesional dalam bekerja dan bertanggung jawab sebagai konsumen h. Sehat jasmani dan rohani i. j. Cinta lingkungan, dapat menumbuhkan cinta kepada tanah air. Kesetiakawanan sosial, dalam hal bekerja manusia selalu membutuhkan teman kerja, oleh karenanya akan terjadilah situasi kerja sama dan gotong royong. k. Kreatif dan inovatif untuk hidup, karena tidak pernah menyianyiakan waktu luang, dan yang bersangkutan menjadi orang ulet, tekun, rajin dan sebagainya l. Mementingkan pekerjaan yang praktis; Menghilangkan gaps antara lapangan teori dan praktik m. Rasa cinta budaya damai dan nilai-nilai syari’at Islam. Untuk penentuan muatan lokal yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, kiranya PTAI perlu bekerja sama dengan stakeholder, terutama pemerintah daerah, instansi lain yang terkait, badan swasta dan masyarakat agar muatan lokal dapat diterima sebagaimana mestinya. Fungsi muatan lokal dalam kurikulum ● Fungsi Penyesuaian Perguruan tinggi berada dalam lingkungan masyarakat. Karena itu program-program perguruan tinggi harus disesuaikan dengan lingkungan Demikian pula pribadi-pribadi yang ada dalam perguruan tinggi hidup dalam lingkungan, sehingga perlu diupayakan agar pribadi dapat menyesuaikan diri dan akrab dengan lingkungannya. ● Fungsi Integrasi
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

g. Produktif, dapat berbuat sebagai produsen dan bukan hanya

107

M. Nasir Budiman

Mahasiswa merupakan bagian integral dari masyarakat, karena itu muatan lokal harus merupakan program pendidikan yang be rfungsi untuk mendidik pribadi-pribadi yang akan memberikan sumbangan kepada masyarakat atau berfungsi untuk membentukdan mengi ntegrasikan pribadi kepada masyarakat. ● Fungsi Perbedaan Pengakuan atas perbedaan berarti pula memberi kesempatan bagi pribadi untuk memilih apa yang diinginkannya. Karena itu muatan lokal harus merupakan program pendidikan yang bersifat luwes, yang dapat memberikan pelayanan terhadap perbedaan minat dan kemampuan mahasiswa. Ini tidak berarti mendidik pribadi menjadi orang yang individualistik tetapi muatan lokal harus dapat berfungsi mendorong pribadi ke arah kemajuan sosialnya dalam masyarakat. Terdapat 4 Landasan Demografik, Keindahan, Bangsa dan Negara Indonesia terletak pada keanekaragaman pola kehidupan dari beratusratus suku bangsa yang tersebar di berpuluh-puluh ribu pulau dari Sabang sampai dengan Merauke. Kekaguman terhadap bangsa dan negara Indonesia telah dinyatakan oleh hampir seluruh bangsa di dunia, karena keanekaragaman tersebut dapat dipersatukan oleh falsafah hidup bangsa yaitu Pancasila. Keanekaragaman tersebut bukan saja ada pada bidang budayanya saja, tetapi juga pada keadaan alam, fauna dan floranya serta kehidupan sosialnya. Semuanya itu merupakan dasar yang sangat penting dalam mengembangkan muatan lokal. Selain landasan-landasan pemikiran tersebut di atas, pengembangan muatan lokal juga didorong oleh kenyataan yang menunjukkan bahwa banyak mahasiswa Perguruan tinggi Dasar terpaksa harus meninggalkan bangku perguruan tinggi yang antara lain disebabkan oleh keadaan sosial ekonomi orang tua mahasiswa, kurang sesuainya kurikulum perguruan tinggi dengan kebutuhan mahasiswa. Pengembangan muatan lokal Bahan muatan lokal dapat tercantum pada intra kurikuler, makalah ini menawarkan mata kuliah metodologi Penelitian berbasis Participatory

108

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dalam Menjaga Keberlangsungan Perdamaian di Aceh

Action Research dan ketrampilan, serta Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Sedang bahan muatan lokal yang dilaksanakan secara ekstra kurikuler bahan dikembangkan dari pola kehidupan dalam lingkungannya, termasuk ”pola budaya damai”. Karena bahan muatan lokal sifatnya mandiri dan tidak terikat oleh Kementerian Agama Jakarta, maka peranan dosen dalam melaksanakan proses pembelajaran dalam muatan lokal ini sangat menentukan . Untuk pengembangannya, langkah-langkah yang dapat ditempuh : 1. Menyusun Perencanaan Muatan Lokal Dalam pelaksanaan proses pembelajaran selalu menyangkut berbagai unsur atau komponen. Menyusun perencanaan muatan lokal juga akan menyangkut berbagai sumber, tenaga pengajar, metode, media, dana dan evaluasi. Merencanakan bahan muatan lokal yang akan diajarkan antara lain dengan: a. Mengidentifikasikan segala sesuatu yang mungkin dapat dijadikan bahan muatan lokal b. Menyeleksi bahan muatan lokal dengan kriteria sebagai berikut : 1) Sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan peserta didik. 2) Tidak bertentangan dengan Pancasila dan aturan adat yang berlaku. 3) Letaknya terjangkau dari perguruan tinggi. 4) Ada nara sumber baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi. 5) Bahan/ajaran tersebut merupakan ciri khas daerah tersebut. c. Menyusun SAP yang bersangkutan d. Mencari sumber bahan yang tertulis maupun yang tidak tertulis e. Mengusahan sarana/prasarana yang relevan dan terjangkau. 2. Pembinaan Muatan Lokal Pembinaan perlu ditangani oleh tenaga-tenaga yang profesioanal dan dilakukan secara kontinyu, karena dalam pelaksanaan di lapangan kadangkadang mahasiswa lebih mahir dari pada dosennya, karena mahasiswa sudah biasa melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dimaksud, misalnya
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

109

M. Nasir Budiman

anak petani, anak pengrajin, bengkel, peternak, anak ulama dan sebagainya, yang akibatnya akan terjadi pembuangan tenaga, waktu dan biaya. 3. Pengembangan Muatan Lokal Ada dua arah pengembangan dalam muatan lokal, yaitu : a. Pengembangan untuk jangka panjang Agar para mahasiswa dapat melatih keahlian dan keterampilan yang sesuai dengan harapan yang nantinya dapat membantu dirinya, keluarga, masyarakat dan akhirnya membantu pembangunan agama dan keagamaan serta nusa dan bangsanya. Oleh karena itu perkembangan muatan lokal dalam jangka panjang harus direncanakan secara sistematik oleh perguruan tinggi, keluarga, dan masyarakat setempat dengan perantara pakar-pakar pada instasi terkait baik negeri maupun swasta. Untuk muatan lokal di perguruan tinggi masih bersifat concentris, kemudian dilaksanakan secara kontinyu di perguruan tinggi dan akan terjadi konvergensi antar perguruan tinggi. b. Pengembangan untuk jangka pendek Perkembangan muatan lokal dalam jangka pendek dapat dilakukan oleh perguruan tinggi setempat dengan cara menyusun kurikulum muatan lokal kemudian menyusun SAP-nya dan direvisi setiap saat. Dalam Pengembangan selanjutnya ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu: 1. Perluasan muatan lokal Dasarnya adalah bahan muatan lokal yang ada di daerah itu yang terdiri dari berbagai jenis jenis muatan lokal misalnya : pertanian, kalau sudah dianggap cukup ganti peternakan, perikanan, kerajianan dan sebagainya. Siswa cukup diberi dasar-dasarnya saja dari berbagai muatan lokal sedang pendalamanya dilaksanakan pada periode berikutnya. 2. Pendalaman muatan lokal Dasarnya adalah bahan muatan lokal yang sudah ada kemudian diperdalam samapai mendalam, misalnya masalah pertanian

110

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dalam Menjaga Keberlangsungan Perdamaian di Aceh

dibicarakan

dan

dilaksanakan

mengenai

bagaimana

cara

memupuk, memelihara, mengembangkan, pemasarannya dan sebagainya. Oleh karena itu pelajaran ini diberikan pada siswa yang telah dewasa. Berhasil atau tidaknya pengembangan di perguruan tinggi tergantung pada: 1) Kreativitas dosen. 2) Kesesuaian program 3) Ketersediaan sarana dan prasarana 4) Cara pengeloaan 5) Kesiapan mahasiswa 6) Partisipasi masyarakat setempat 7) Pendekatan pimpinan perguruan tinggi dengan nara sumber dan instansi terkait Adapun cara menentukan bahan pelajaran muatan lokal untuk satu bidang studi dapat dilaksanakan dengan empat cara : 1. Bagi bidang studi yang sudah punya SAP, disusun pokok bahasan/ sub pokok bahasan, kemudian dipilih bahan mana yang berkriteria muatan lokal. 2. SAP yang telah dipilih, sesuaikan dengan pola kehidupan masyarakat. 3. Pola kehidupan dalam lingkungan alam, dijadikan sumber sebagai SAP yang mungkin sesuai dengan SAP atau tidak sesuai dengan SAP yang telah ada. 4. Pola kehidupan dalam lingkungan alam, dipilih unsur-unsurnya yang perlu dimasukan dalam program pendidikan kemudian dibuat SAP. Ruang lingkup Ruang lingkup muatan lokal adalah sebagai berikut: 1. Lingkup Keadaan dan Kebutuhan Daerah. Keadaan daerah adalah segala sesuatu yang terdapat di daerah tertentu yang pada dasarnya berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

111

M. Nasir Budiman

ekonomi, dan lingkungan sosial budaya. Kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat di suatu daerah, khususnya untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat tersebut, yang disesuaikan dengan arah perkembangan daerah serta potensi daerah yang bersangkutan. Kebutuhan daerah tersebut misalnya kebutuhan untuk: a. Melestarikan dan mengembangkan kebudayaan dan peradaban daerah b. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan di bidang tertentu, sesuai dengan keadaan perekonomian daerah c. Meningkatkan penguasaan bahasa Inggris untuk keperluan sehari-hari, dan menunjang pemberdayaan individu dalam melakukan belajar lebih lanjut (belajar sepanjang hayat) d. Meningkatkan kemampuan berwirausaha 2. Lingkup isi/jenis muatan lokal, dapat berupa: ideologi dan bahasa daerah, Bahasa Inggris, kesenian daerah, keterampilan dan kerajinan daerah, adat istiadat, dan pengetahuan tentang berbagai ciri khas lingkungan alam sekitar, serta hal-hal yang dianggap perlu oleh daerah yang bersangkutan. Pengembangan mata kuliah muatan lokal Pemberlakuan KTSP membawa implikasi bagi perguruan tinggi dalam melaksanakan KBM sejumlah mata kuliah, dimana hampir semua mata kuliah sudah memiliki Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Sedangkan untuk Mata kuliah Muatan Lokal yang merupakan kegiatan kurikuler yang harus diajarkan di kelas tidak mempunyai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasarnya. Hal ini membuat kendala bagi perguruan tinggi untuk menerapkan Mata kuliah Muatan Lokal. Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata kuliah Muatan Lokal bukanlah pekerjaan yang mudah, karena harus dipersiapkan berbagai hal untuk dapat mengembangkan Mata kuliah Muatan Lokal. Ada dua pola pengembangan Mata kuliah Muatan Lokal dalam rangka menghadapi pelaksanaan KTSP. Pola tersebut adalah:

112

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dalam Menjaga Keberlangsungan Perdamaian di Aceh

Pengembangan Muatan Lokal Sesuai dengan Kondisi Perguruan tinggi Agama Islam saat ini. Langkah-langkah pengembangan Mata kuliah Muatan Lokal bagi PTAI yang perlu dikembangkannya, antara lain adalah: 1. Analisis Mata kuliah Muatan Lokal yang ada di perguruan tinggi. Apakah masih layak dan relevan Mata kuliah Muatan Lokal diterapkan di Perguruan tinggi? Ini kemudian dikelompokkan ke dalam mata kuliah yang ada. 2. Substansi mata kuliah muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak terbatas pada mata kuliah keterampilan. Muatan lokal merupakan bagian dari struktur dan muatan kurikulum yang terdapat pada Standar Isi di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. 3. Keberadaan mata kuliah muatan lokal merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang tidak terpusat, sebagai upaya agar penyelenggaraan pendidikan di masing-masing daerah lebih meningkat relevansinya terhadap keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan. Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan nasional sehingga keberadaan kurikulum muatan lokal mendukung dan melengkapi kurikuiurn nasional. 4. Muatan lokal merupakan dimasukkan sebagai mata kuliah lainnya, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata kuliah muatan lokal setiap semester. Ini berarti bahawa dalam satu tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata kuliah muatan lokal. Penutup Kurikulum muatan lokal ialah program pendidikan yang diisi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah dan wajib dipelajari oleh mahasiswa didaerah mereka. Kurikulum muatan lokal pada hakikatnya diberikan
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

113

M. Nasir Budiman

bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum didalam GBHN. Sebagai salah satu kurikulum baru dalam dunia pendidikan, Muatan lokal dalam pembelajarannya banyak ditemukan kendala dan rintangan yang ditemukan antara lain dari segi: peserta didik, guru, administrasi, sarana dan prasarana, bahkan kurikulumnya sendiri. Tetapi kendala tersebut lambat laun dapat diminimalisir dengan berbagai metode antara lain dengan mengadakan pelatihan bagi para pengajar, lebih memantapkan Syllabi dan SAP, serta dilaksanakan evaluasi yang berkesinambungan oleh pihak yang profesional seperti Pusat Penjaminan Mutu, baik di tingkat internal maupun eksternal. Muatan lokal perlu untuk diberikan kepada peserta didik agar peserta didik lebih mengetahui dan mencintai budaya daerahnya sendiri, berbudi pekerti luhur, mandiri, kreatif dan profesional yang pada akhirnya dapat menumbuhkan rasa cinta kepada budaya tanah air serta memungkinkan mengawal keberlangsungan perdamaian di Aceh.

114

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dalam Menjaga Keberlangsungan Perdamaian di Aceh

DAFTAR PUSTAKA
Mohammad Ali. Pengembangan Kurikulum Sekolah. Nana Syaodih Sukmadinata. Kurikulum. Prinsip dan Landasan Pengembangan

Nasution, S. Asas-Asas Kurikulum. _______ . Kurikulum dan Pengajaran. Subandijah. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Nana Sudjana. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum. Hamid Syarif, A. Pengenalan Kurikulum. _______ . Pengembangan Kurikulum. Iskandar Wiryokusumo. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Mulyasa, H.E. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Masnur Muslich. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) - Dasar Pemahaman dan Pengembangan. _______ . KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) - Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Oemar Hamalik. Kurikulum dan Pembelajaran. Wina Sanjaya. Kurikulum Dan Pembelajaran (Teori & Praktek KTSP). Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah Madrasah. Muhaimin. Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dakir, H. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Suryosubroto, H. Tatalaksana Kurikulum.

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

115

Promoting Peace Education Through Multicultural Education in Aceh
Lessons Learned from the U.S. Context

Muhammad Thalal
Researcher at LKAS Banda Aceh, lecturer at IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, Master of Education in Curriculum and Instruction from Texas A&M University, USA

Prologue Aceh has been in an armed conflict for more than 30 years between the Free Aceh Movement and the Government of Indonesia until eventually the peace accord took place in Helsinki, Finland, on August 15, 2005. Barron (from Conciliation Resources website) states that the conflict has killed an estimated of 15,000 life, displaced over 100,000 people and caused a widespread trauma to conflict survivors. Until the first half of 2003 when the martial law was in effect, an estimated of 880 schools and education facilities were closed due to damage. In addition, other important facilities such as village health clinics, water and electricity infrastructures and transportation were also directly damaged by the conflict. Conflict is also claimed as the main caused to increase poverty rates in the region. According the Barron, the poverty rates increased significantly from 14.8 per cent in 1998 to 28.4 per cent in 2004, and by 2005, the poverty rates in rural areas of Aceh have achieved 36.2 per cent. Aceh is one of the poorest provinces in Indonesia despite its large natural resources including oil and gas reserves. Conflict and poverty have become

117

Muhammad Thalal

the causal factor in reducing the educational opportunity of children in Aceh Province (Thalal, 155). Efforts to promote peace education in Aceh has been started as early as 2002 where a group of academics and activists created a peace curriculum grounded in the Islamic core peace beliefs and rooted in the Acehnese social and cultural values. The curriculum is targeted mainly those under-educated rural Acehnese who experienced violence, inequity and trauma during the conflict. Six basic principles form the foundation for the curriculum were also employed namely: introspection and sincerity, rights and responsibilities, conflict and Violence, democracy and justice, plurality of creation, and paths to peace (Wells, 2002). Aceh Province is a multi-ethnic province since it is inhabited by people of different backgrounds and spoken languages. Although the majority of population is Acehnese and main religion is Islam, other population is also occupying the rural areas of Aceh Province such as Gayo, Javanese, Alas, Singkil, Tamiang, Simeulue and Chinese (Thalal, 151). Hence, it is essential that the promotion of peace education in Aceh Province regard the background differences of all its inhabitants. Despite the current effort to promote peace education by integrating local values and religious beliefs (e.g. Wells, 2002), this paper is intended to seek the possibility of promoting peace education in Aceh Province by employing the multicultural education concept as it was applied before in the United States. The concept reviewed is based on James Banks’ Handbook of Research on Multicultural Education published in 2004. The discussion is also supported by other relevant references in multicultural education. The concept of multicultural education: bringing concept into practice The purpose of multicultural education is to reform educational domains so that students from diverse racial, ethnic, and social backgrounds and also gender will achieve an equal opportunity in education (Banks, 2004, 3). This reform includes institutional changes in the curriculum, the teaching materials, teaching and learning styles, the attitudes, perceptions, behaviors, and the goals, norms and culture of the school.

118

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Promoting Peace Education Through Multicultural Education in Aceh

Banks (2004, 22) also conceptualizes five multicultural education dimensions which are (1) content integration, (2) the knowledge construction process, (3) prejudice reduction, (4) equity pedagogy, and (5) empowering school culture and social culture. These dimensions are essential concepts to explain better understanding about multicultural education theories. In addition, Banks emphasized at the end of his research review that practice is the most important action to be taken after its theories were conceptualized and formulated. Multicultural education should be implemented broadly in order to make meaningful change within the educational institutions. In his other work, Banks (2002) states that multicultural education is a reform movement to do some changes within educational institutions to achieve acquaintance and understanding that will reduce pain and discrimination faced by students of color (in the U.S. context) due to their racial, physical and cultural differences. Similar to Banks, CummingMcCann (2003, 11) agrees that bringing multicultural education into practice is very important to students so they will feel more confident during the educational process. Implementing multicultural education effectively will consume time, energy and a lot of work, but this task will result in providing an opportunity for students of color to see the world as a fair and equitable place. It is clear that schools should be reformed in terms of emphasizing multicultural education within the curriculum, teaching materials and behaviors. It seems easy in concepts and theories, but when we are going to implement these in the real life situation, practice will be very difficult. Teaching in a multicultural class consisting a variety of ethnics and colors is complicated, especially if teachers are not aware about multicultural education issues. For instance, are they going to say during the teaching and learning process that White is good and Black is evil? This will be very painful to non-white students and will develop prejudice and hatred among students. Ladson-Billings (2004, 53) comes with some forms of multiculturalism such as conservative multiculturalism, liberal multiculturalism, and leftliberal multiculturalism. By using the works of McClaren (1994) and King
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

119

Muhammad Thalal

(2001), she points out that all forms are intended at different agendas. For instance, although various ethnic groups have been represented in school text and curriculum, the way people being represented may be conservative or marginalizing without eliminating the privilege enjoyed by the dominant class. It is imperative to take into account five approaches in multicultural education based on Sleeter and Grant’s classification which are: 1) teaching the exceptional and the culturally different; 2) human relations; 3) singlegroup studies to acquire knowledge, awareness, respect, and acceptance of one group at a time; 4) multicultural education and; 5) education that is multicultural and social reconstructionists (Gay, 2004, 42-43). Gay (2004, 44) also states that the emphasis on critical analysis, knowledge reconstruction, social transformation, and personal empowerment are common themes in all approaches to multicultural education. She concludes that multicultural education should be as interdisciplinary, integrative, inclusive, comprehensive, transformative, liberative, and celebratory enterprise. On the other hand, Bennett (2001, 175) describes a conceptual framework illustrating the rich field of multicultural education in which she categorizes 12 genres of research within four clusters: curriculum reform, equity pedagogy, societal equity, and multicultural competence. Critical Race Theory (CRT): Learning from the cases in the United States Banks (2004, 57-58) explains that one of the theoretical frameworks in the field of multicultural education is Critical Race Theory (CRT). In this theory, one is not necessarily privileging race over class, gender or other identity category. CRT includes some concepts: 1) the proposition that racism is normal, ordinary, and natural; 2) the use of storytelling to challenge racial oppression and; 3) the concept of interest convergence. CRT has created a new way to analyze current practices in education by connecting issues like school funding and school desegregation. LadsonBillings (2004, 61) emphasizes that CRT can be used as a theoretical tool for revealing many types of inequity and social injustice. Banks (1995, 391) also underlines that multiculturalism and

120

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Promoting Peace Education Through Multicultural Education in Aceh

multicultural education have different meanings. Multiculturalism is “a term often used by the critics of diversity to describe a set of educational practices they oppose. Whereas multicultural education is an idea, educational reform and a continuing process that never ends within a democratic and pluralistic society. The Critical Race Theory (CRT) has been utilized by Solorzano, Ceja & Yosso (2000) as a framework to examine the racial microagressions [subtle forms of racism] and how they influence the campus racial climate. The study reveals that racial microagressions exist in both academic and social spaces in the campus environment and have a negative impact on the campus racial climate. Awareness of language differences in multicultural education Minami and Ovando (2004, 576) describe that children of many bilingual and multilingual communities have experienced a shift to English as the dominant language of the United States. The language shift is so rapid that people of color cannot maintain informal communication in their heritage languages even within the scopes of the family and their children start to lose their native tongues or use the languages in the diglossic situations. In addition, Minami and Ovando (2004, 580-583) also stress the importance of preservation of students of color’s languages and cultures by empowering students of color, their parents, and their community. Empowering students of color through bilingual education plays a crucial role in supporting students of color maintain their ethnic identity while at the same time introducing White students to languages and cultures of students of color. In addition, parental and community participation in students of color’s education will promote their achievement. In supporting the above, Alba, Logan, Lutz, & Stults (2002) find in their research that as of 1990, the rates of only English for the third generation immigrants of a number of groups suggest that Anglicization occurred almost similarly for Asians as it did for the Europeans who came to the U.S. in the early twentieth century. However, the Anglicization is slower among the descendants of Spanish speakers. Their research also shows that the
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

121

Muhammad Thalal

majority of third-and later-generation children speak only English at home, which means that they will grow up to be English monolinguals with little or no knowledge of their mother tongues. Realizing the threat of stereotype in classroom diversity Besides taking into account the language differences, stereotype is a very important term to be regarded in multicultural education. It is a threat and so dangerous to peace education. Steele (2004, 686) asserts stereotype threat as a situational threat that can affect the members of any group about whom negative or bad stereotype exists. In addition, the threat of stereotypes can be sharply felt and hampers the academic achievement of group members (p. 683). Steele’s definition of stereotype threat is as follows: “the event of a negative stereotype about a group to which one belongs becoming self-relevant, usually as a plausible interpretation for something one is doing, for an experience one is having, or for a situation one is in, that has relevance to one’s self definition.” For instance, Steele explains stereotype threats experienced by women in performing Math and African Americans on standardized tests. His findings show that the gender difference conditions did not reduce women’s performance in math (p. 689). On African American standardized tests, he finds strong evidence of stereotype threat that Black greatly underperformed White in the diagnostic condition but equaled them in the nondiagnostic condition (p. 690). Therefore, stereotype threat is assumed to have an everlasting effect on their academic achievement. As a support to Steele, Aronson (2004) emphasizes that everyone is vulnerable to stereotype threat. Studies indicate similar effects for women on math tests, Latinos on verbal tests, and elderly on tests of short-term memory. He adds that even groups who carry no historical stigma of inferiority can be impaired if one arranges the situation to their disadvantage. Schools, colleges, and universities in the United States are becoming increasingly diverse due to the growth of people of color. Students come from various linguistic, cultural, and educational backgrounds create a big challenge for schools in providing equitable classrooms. Diverse students

122

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Promoting Peace Education Through Multicultural Education in Aceh

with different previous academic achievement make it very likely that they will form a social ranking and once this status has formed, it has negative consequences for behavior and learning (Cohen and Lotan, 2004, 737-738). Caruthers (n.d.) suggests some action steps to improve the quality of teacher and student interactions that range from exploring, understanding, and acting. During the exploring phase, the teacher should emphasize the belief that all students can learn. In understanding phase, the teacher uses curriculum development skills to help students acquire and use knowledge for instance by incorporating multicultural contents. Finally, in the acting phase, the teacher focuses on learning, application, and assessment strategies that provide opportunities to students to demonstrate their skills in multiple settings. Employing multicultural education to promote peace education in Aceh Province Meirio (2007) argues that peace education is urgent to be implemented in Aceh Province especially after a 30 year of conflict in order to guarantee the true peace. He targets the peace education into three community segments namely ex-combatants, government officers especially military officers, and civilian. He divides civilian into children and adult. Peace education for adults can be held in non formal education premises such as meunasah (prayer hall) and village halls. However, Meirio does not indicate further the way to build peace education for children on schools. Therefore, it opens the path in this section to employ multicultural education in promoting peace education in Aceh Province especially to school students. Based on Gay’s description and Bennett’s framework, multicultural education can be viewed as a rich field of study that still requires many researches and works that are not limited in the U.S. scope as it was reviewed earlier in this paper, but in the whole world. As for teacher in a multicultural nation of Indonesia, especially the Aceh Province, there is a necessity to learn from the U.S. multicultural education practices in order to maintain tolerance and intergroup harmony in Aceh Province after a long term of armed conflict.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

123

Muhammad Thalal

Teacher in Aceh Province will need a tool to address ethnicity and ethnic differences in classroom. It is possible that by utilizing the Critical Race Theory (CRT), a teacher will be able to create a dynamic classroom that challenges the old canon, stereotypes and dogmas. CRT will help teacher to understand the multiple intersections of inequality and ethnicity and improve a critical awareness in teacher and eventually in students. It will result in the rise of awareness to respect other human being regardless their looking as a member of specific ethnic group such as Aceh, Gayo or Singkil. As a matter of fact, Steele (2004) seems to be right when he stated that stereotypes are widely disseminated throughout the society. Stereotypes are not also labeled to specific ethnicity but also to specific gender. Based on own experience during high school time in Aceh, a male teacher always tells classroom that female could not assume leadership in the society such as governor, president and so forth because they are inferior to male. Before the 2004 presidential election in Indonesia, some politicians postulated religious verses from the Quran to deny a female presidential candidate. When the writer was studying at Texas A&M University in the U.S. a male teacher used to say that if Hillary Clinton is elected president, he will move to Canada because the U.S. will be a weak country. It is not sure whether his statement based on his doubt on Hillary’s capacity as professional or because of Hillary’s gender. Anyway, based on the multicultural education concept it is imperative to reduce the threats caused by stereotyping because stereotype threats affect one’s performance. From the need to reduce or if possible to eliminate stereotypes, peace education must also take into account the maintenance of vernacular. Maintaining the vernacular or first language is essential in multicultural education. The shift to a dominant language is occurring in Aceh Province since Bahasa Indonesia was pronounced as the only official and educational language for the whole nation. The fact shows that Acehnese children started to switch to the Bahasa Indonesia in their daily communication. Frankly, most Acehnese of the old days are bilingual by nature since they speak both Acehnese and Bahasa Indonesia. But currently, the vast majority of Acehnese children start to maintain only the national language and the

124

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Promoting Peace Education Through Multicultural Education in Aceh

vernacular is soon will be forgotten. The loose of vernacular is a sign to a loose of self-identity which will lead to another conflict in the future. Cohen and Lotan (2004, 742-746) suggest two ways of “status treatment” to create equal-status interaction in the classrooms and minimize the problem of unequal access and learning for low-status students. This status treatment seems appropriate to be applied in Aceh as well. The first way is changing expectations for competence by utilizing multiple ability treatment that highlights specific skills and abilities students need for their particular tasks rather than assuming that all students can be ranked along a single dimension of intelligence, and by assigning competence to low-status students. Both methods will enhance the frequency of activity of low-status students in their groups. The second way is transforming the classroom by fostering cooperative learning among students, broadening the curriculum, utilizing multiple intellectual abilities, and conducting group and individual performance assessment. Epilogue As diversity is on the rise in Aceh Province, a school classroom is a reflection of its population. Building peace education without taking into account the diversity of current population in Aceh is likely to succeed slowly. It should be agreed with Cohen and Lotan (2004) that classroom is a powerful social system that can create status order much stronger than race in affecting behavior in groups. Teachers should not assume that specific students have low social status among their classmates since this assumption will lower teacher’s expectations on their academic success and will not help in sustaining the peace education in Aceh Province.

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

125

Muhammad Thalal

REFERENCES
Alba, R., Logan, J., Lutz, A., & Stults, B. Only English by the third generation? Loss and preservation of the mother tongue among the grandchildren of contemporary immigrants. Demography, 39 (3), 467-484. Retrieved on March 16, 2008, from Project MUSE, 2002 Aronson, J. (2004). Closing achievement gaps: The threat of stereotype. Educational Leadership, 62 (3), 14-19. Banks, J.A. Multicultural education and curriculum transformation. The Journal of Negro Education, 64 (4), 390-400. Retrieved on February 2, 2008, from JSTOR database,1995 Banks, J. A. An introduction to multicultural education. Boston: Allyn and Bacon, 2002 Banks, J. A. Multicultural education: Historical development, dimensions, and practice. In J.A. Banks & C. A. M. Banks (Eds.), Handbook of research on multicultural education (pp. 3-29). San Francisco: Jossey-Bass, 2004 Barron, Patrick. (n.d.). Managing the resources for peace: Reconstruction and peacebuilding in Aceh. Conciliation Resources, retrieved on May 20, 2010 from http://www.c-r.org/our-work/accord/aceh/ reconstruction.php. Bennett, Christine. Genres of research in multicultural education. Review of Education Research, 71 (2), 171-217. Retrieved on February 2, 2008, from Sage Journals database, 2001 Caruthers, L. (n.d.). Classroom interactions and achievement. Retrieved on March 19, 2008, from http://www.mcrel.org/PDF/Noteworthy/ Learners_Learning_Schooling/loycec.asp. Cohen, E. G., & Lotan, R. A. Equity in heterogeneous classrooms. In J.A. Banks & C. A. M. Banks (Eds.), Handbook of research on multicultural education (pp. 736-750). San Francisco: Jossey-Bass, 2004 Cumming-McCann, Allison. Multicultural education: Connecting theory to practice. Focus on Basics, 6B, 9-12, 2003 Gay, Geneva. Curriculum theory and multicultural education. In J.A. Banks & C. A. M. Banks (Eds.), Handbook of research on multicultural education (pp. 30-49). San Francisco: Jossey-Bass, 2004

126

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Promoting Peace Education Through Multicultural Education in Aceh

Ladson-Billings, Gloria. New directions in multicultural education: Complexities, boundaries, and critical race theory. In J.A. Banks & C. A. M. Banks (Eds.), Handbook of research on multicultural education (pp. 50-65). San Francisco: Jossey-Bass, 2004 Meirio, Akbar. The urgency of peace education in Aceh. The Aceh Institute. Retrieved on May 20, 2010 from http://www.acehinstitute.org, 2007 Minami, M. & Ovando, C. J.. Language Issues in Multicultural Contexts. In J.A. Banks & C. A. M. Banks (Eds.), Handbook of research on multicultural education (pp. 567-588). San Francisco: Jossey-Bass, 2004 Solorzano, D., Ceja, M., & Yosso, T. Critical race theory, racial microagressions, and campus racial climate: The experiences of African American college students. The Journal of Negro Education, 69 (1/2), 60-73. Retrieved on February 2, 2008, from JSTOR database, 2000 Steele, C. M. A threat in the air: How stereotypes shape intellectual identity and performance. In J.A. Banks & C. A. M. Banks (Eds.), Handbook of research on multicultural education (pp. 682-698). San Francisco: Jossey-Bass, 2004 Thalal, Muhammad. The future of Acehnese children: Equity and access to primary schooling in Aceh province. At-Ta’dib 1(2), 150-159, 2009 Wells, Leah. Islamic peace education in Aceh. CommonDreams.org. Retrieved on May 20, 2010 from http://www.commondreams.org/ views02/0718-08.htm, 2002, July 18

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

127

Karekteristik Kebudayaan Aceh dan Implikasinya Terhadap Kedamaian Hidup Masyarakat

Fuad Mardhatillah UY. Tiba
Dosen tetap pada Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Menyelesaikan Master dalam bidang Filsafat Pendidikan pada McGill University, Montreal, Canada

Pentingnya memahami suatu karakter dan identitas suatu etnis “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lakilaki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungghunya Allah Maha Mengenal dan Maha Mengetahui”. (Q.S. Alquran (49) :13) Ayat di atas, adalah satu petunjuk Allah, menyangkut hal ikhwal alam kodrat manusia dalam urusan bagaimana merajut dan membangun suatu kehidupan bersama baik dalam konteks kehidupan antar individu maupun antar kelompok masyarakat. Lebih tegasnya, di sini manusia harus dilihat baik sebagai makhluk yang bersifat individual, yang memiliki egositas (potensi dan kecendrungan untuk lebih mementingkan diri sendiri), bersama sejumlah karakteristik individualnya yang juga saling berbeda antara satu individu dengan individu lain. Maupun sebagai makhluk sosial yang meniscayakan bahwa manusia tidak mungkin hidup sendiri-sendiri,

129

Fuad Mardhatillah UY. Tiba

yang maka kemudian melahirkan kehidupan perkelompokkan, yang antara satu kelompok dengan kelompok lain juga saling berbeda. Dalam ayat tersebut, Tuhan memberi pedoman kepada manusia yang berpikir, bahwa eksistensi makhluk manusia memiliki sifat-sifat, hukumhukum dan norma-norma yang secara kodrati melekat sebagai suatu keniscayaan universal. Konsekwensi logisnya, kehidupan manusia yang berkelompokkelompok itu mensyaratkan perlunya membangun relasi, interaksi, komunikasi, interkoneksi dan jejaringan dan kerjasama, untuk kemudian satu sama lain hendaknya menjadi saling mengenal, mengerti dan memahami, bersama segala bentuk keharusan sosiologis (sociologicalmust) lainnya, seperti keharusan tolong menolong, berkorban, toleransi dan akomodasi. Karena hal-hal tersebut adalah sangat berperan penting dan berguna dalam membangun dan membina suatu tata kehidupan bersama yang harmonis, saling mengayom dan mendamaikan. Maka, bahwa sifat eksistensial umat manusia yang niscaya hidup secara berkelompok-kelompok dan satu sama lain memiliki aneka perbedaannya masing-masing itu, baik secara formal, simbolik, substansial maupun esensial, adalah sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan, dipahami dan disadari sebagai sesuatu yang absah, wajar dan logis-rasional. Perbedaan-perbedaan yang ada dalam dan antar kelompok itu merupakan suatu hasil konstruksi historisitas sosial yang berlangsung secara alamiah, dan terbangun melalui proses-proses rasionalitas, emosionalitas dan spiritualitas tertentu, baik yang tumbuh di dalam kelompoknya masingmasing, maupun saat mereka harus hidup berdampingan dengan berbagai kelompok lain yang ada di sekeliling eksistensinya. Dan secara tak terelakkan semua proses tersebut membentuk perbedaan-perbedaan antar kelompok, yang terus terjadi sepanjang sejarah sejak kelahiran dan hingga terbentuknya kelompok (etnis) itu sendiri. Kemudian semua produk historisitas sosial itulah yang turun temurun diwariskan secara transgenerasional, dari satu generasi ke generasi selanjutnya, sepanjang sejarah eksistensinya. Dari realitas pengalaman sejarah kehidupan berkelompok yang panjang ini, terbentuklah berbagai unsur alam pikiran dasar yang meliputi:

130

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Karekteristik Kebudayaan Aceh dan Implikasinya Terhadap Kedamaian Hidup Masyarakat

world-view, common sense, kepercayaan, tata-nilai, upacara-upacara dan prinsip-prinsip, system kebudayaan, mitologi, totemisme dan ritual. Semua ini disepakati, dipercayai, dipegang-teguh dan diyakini secara bersama sebagai kaedah-kaedah normatif yang mengikat dan mejadi elemen-elemen dasar bagi konstruksi kehidupan bersama kekelompokan mereka. Kaedah-kaedah normative ini, terkadang memiliki tingkat sakralitas tertentu, yang sangat dipengaruhi oleh berbagai ajaran agama, latar filosofi kehidupan dalam menata kehidupan bersama, yang kemudian dianggap agung, dimuliakan dan muncul menjelma ke dalam dan mewarnai pola-pikir dan pola prilaku, yang pada gilirannya menjadi kebiasaan kelompok, adat istiadat dan kebudayaannya. Oleh karenanya, faktor-faktor ethnografis yang saling berbeda antar kelompok itulah yang kemudian mengisyaratkan perlunya jalinan hubungan interaksional, yang satu sama lain harus melakukan aksi-aksi untuk saling “kenal-mengenal,” yang hendaknya selalu dapat berlangsung secara kreatif, inovatif dan produktif dari individu dan antar kelompok yang saling berbeda-beda itu. Di sini, konteks interaksi kreatif, inovatif dan produktif itu harus dipahami sebagai suatu kesediaan dan kerelaan, baik antar warga dalam suatu kelompok etnis (ingroup relation), maupun antar kelompok (outgroups relation). Di sini, setiap warga dan kelompok harus telah memiliki dan menciptakan serbaneka cara atau jalan untuk mencari tahu secara berkelanjutan, tentang seluk beluk satu sama lain, agar kemudian mereka dapat saling “kenal-mengenal” tentang spesifikasi dan keunikan yang dimiliki masing-masing kelompok, di luar kelompok dirinya sendiri. Pada dasarnya, kesediaan untuk saling kenal-mengenal ini, hanyalah suatu kegiatan saling belajar dan mempelajari belaka, tentang berbagai keunikan masing-masing kelompok masyarakat etnis atau suku, yang ternyata satu sama lainnya memang berbeda-beda dalam berbagai bentuk perbedaan yang sangat variatif. Dari kegiatan belajar terhadap berbagai bentuk perbedaan itu, diharapkan dapat menciptakan dan menumbuhkan suatu kesadaran imajinatif, dimana setiap pribadi yang terpelajar itu mampu selalu menyiapkan diri untuk bersedia memahami keberadaan orang-orang lain dengan segala bentuk perbedaan yang berbeda dengan dirinya.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

131

Fuad Mardhatillah UY. Tiba

Kesadaran semacam itulah yang oleh Elene Scarry disebut spontaneous imaginative, yang secara fungsional digunakan untuk memahami, mengerti dan menghargai keragaman yang terdapat dalam kelompok-kelompok masyarakat. Jika banyak dari warga terpelajar, termasuk para local genius nya suatu kelompok masyarakat, memiliki kapasitas spontaneous imaginative ini, maka dapat dipastikan akan tercipta suatu kesalingan timbal-balik dalam jalinan komunikasi dan interaksi sosial yang konstruktif dalam menyusun, membangun, dan membina suatu kehidupan bersama yang penuh pengertian dan mendamaikan. Semua pemikiran di atas sungguh merupakan cita-cita ideal kehidupan, yang menjadi hukum kodrat atau natural-law dari makhluk manusia, yang di satu sisi menunjukkan kodrat egosentrisme yang memusatkan segala kesadarannya untuk lebih cendrung pada pementingan diri keakuannya. Darisini menumbuhkan sifat-sifat alamiah manusia yang sangat cinta pada diri sendiri (egoistic).1 Namun, di sisi yang lain, manusia juga memiliki dimensi sosiologis bersama dengan segala keharusan altruistiknya, yang juga merupakan kodrat alamiahnya. Dari dua sisi kodrati manusia yang terkesan bertentangan secara diametral ini, terciptalah gaya tarik-menarik yang cendrung membentuk polarisasi ekstrim antar kedua dorongan kodrati tersebut. Disini, dorongan egoisme individual tampaknya seringkali mampu membuat berbagai keharusan altruistik itu menjadi terpinggirkan dan bahkan ekstrimnya boleh jadi menjadi terabaikan sama sekali. Oleh karena itu, dari kecendrungan kepada dorongan egositas individualisme tersebut, membentuk berbagai kesulitan atau hambatan internal-psychologis, baik dalam konteks psychologi individual maupun Secara fenomenologis, bahwa pementingan dan bahkan pengagungan terhadap diri atau kelompok sendiri merupakan bagian dari ketaksadaran manusia yang seringkali mempengaruhi pola-pola nilai dan ideologi seseorang atau dalam lingkup yang lebih luas menjadi kesadaran suatu kelompok masyarakat etnis tertentu ketika ia berpikir, mempertimbangkan dan bereaksi dalam merespon segala sesuatu yang berhubungan dengan orang lain. Untuk kajian fenomenologi terntang ketaksadaran manusia ini, baca misalnya, Alice Kasakoff, “Levi Strauss’ Idea of Social Unconscious: The Problem of Elementary and Complex Structures in Gitksan Marriage Choice,” dalam Ino Rossi, (ed.), The Unconscious in Culture, the Structuralism of Claude Levi Strauss in Perspective (New York: E.P Dutton & Co, Inc, 1974), 143-165.
1

132

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Karekteristik Kebudayaan Aceh dan Implikasinya Terhadap Kedamaian Hidup Masyarakat

psychologi komunal (kekelompokan) dalam membangun kesediaan setiap dirinya, untuk selalu berkenan mencoba mempelajari, mengenali, memahami dan menghormati orang lain, dan/atau lebih luasnya kelompok lain (respect for others). Dalam lingkaran kesadaran yang lebih luas, kecendrungan egositas itu berakumulasi menjadi kesadaran kelompok, dan selanjutnya menjadi kesadaran ethnografis dari suatu kelompok rumpun etnis/bangsa.2 Ketika perihal hakikat jati-diri manusia seperti yang telah diutarakan di atas dihubungkan dengan terjadinya berbagai konflik, pertikaian dan bahkan permusuhan umat manusia, maka faktor-faktor dan elemen-elemen kodrati dari eksistensi manusia itu perlu dan penting untuk dicermati, ditelusuri, diteliti, dipelajari, dipahami dan dihargai sedemikian rupa, baik dalam konteks hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, maupun dengan konteks kelembagaan kelompoknya (ingroup) dan dengan konteks orang-orang di luar kelompoknya (outgroup). Sebaliknya, dapat diyakini pula, bahwa harmoni yang misalnya terbangun dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat, itu juga semestinya dipahami sebagai adanya seperangkat world-view atau common sense yang berlaku dan mengikat komitmen mereka dalam kebersamaan. Inilah yang secara historis diturunkan untuk diterima, diwarisi, dipegang teguh secara bersama oleh setiap warga suatu kelompok masyarakat sebagai tata-nilai, karakter, sifat dan adat-istiadat. Dan kemudian digunakan sebagai patron dalam membina suatu kelembagaan kehidupan bersama dalam kelompok masyarakatnya. Sementara adanya suatu harmoni dan kedamaian hidup berdampingan Dalam konteks berbagai kesulitan yang mungkin mucul dalam membina kesediaan untuk memikirkan orang atau kelompok lain, baik yang orang-orang dikenal (acquaintances) maupun yang tidak dikenal (foreigners) lain, ada deskripsi dan ilustrasi menarik yang penting dibaca dan direnungkan, sebut misalnya buah pikiran Elene Scarry, “The Difficulty of Imagining Other Persons” dalam Eugene Weiner, (ed.), The Handbook of Interethnic Coexistence, (New York: The Continuum Publishing Company, 1998), 40-62. Kesulitan tersebut potensial untuk kemudian berkembang menjadi dorongan membenci eksistensi kelompok atau orang lain, yang seterusnya dapat memuarakan aneka kekerasan. Untuk mengatasi kemungkinan ekstrim tersebut, ia mengusulkan penting adanya semacam constitutional design, tempat dimana spontaneous imaginative dapat berlangsung dan berkembang, dalam misalnya suatu komunitas masyarakat di suatu negara atau antar negara/bangsa.
2

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

133

Fuad Mardhatillah UY. Tiba

dengan kelompok-kelompok lain yang ada di sekelilingnya, adalah juga hasil yang diperoleh setelah mereka satu sama lainnya saling mampu menghargai world view mereka masing-masing, bersama seluruh turunan rasional dan irrasionalnya, seperti system mitos dan tabu. Maka dari situ tumbuh semacam kesepahaman yang dapat secara bersama dirumuskan menjadi tata-nilai, prinsip dan cita-cita universal, seperti keadilan dan kesejahteraan, dalam konteks kehidupan bersama antara kelompok masyarakat. Maka dapatlah disimpulkan bahwa keharmonisan hidup umat manusia yang memiliki sifat-sifat individual dan social, selalu sangat ditentukan oleh sejauhmana setiap individu, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, mampu menempatkan kepentingan individualnya secara tepat, seimbang dan tidak berlebihan serta sebanding dengan keharusan mempertimbangkan kelompok lain.3 Metodologi dan pendekatan dalam memahami karakter dan identitas. Sebelum memahami “karakter” dan “identitas” suatu kaum, kiranya perlu lebih dulu dijelaskan apa batasan pengertian (definisi) yang sebenarnya terkandung dalam ke dua kosa-kata tersebut. Sehingga jelas apa focus dan objek yang ingin dicermati dalam konteks kehidupan kolektif perkauman (etnis), baik secara personal maupun komunal. Dalam hal ini, karakter dan identitas yang ingin ditelusuri itu, adalah sangat berhubungan dengan persoalan bingkai pola-nilai yang menyifati dan menandai keberadaan suatu kaum, dalam segala aktivitas dan aktualitas kehidupannya yang multi aspek. Ini berarti bahwa, ketika seseorang berada di tengah orangorang lain (ingroup maupun outgroup), baik secara sadar maupun taksadar, semua ucapan dan tindakannya selalu berlangsung bersama segala Problem ketidak-seimbangan dan tarik-menarik antar kepentingan keakuan dan tuntutan social inilah sering menjadi sumber masalah bagi munculnya suasana ketidak-damaian dalam kehidupan masyarakat, dan dalam konteks kekelompokan antar kelompok untuk dapat hidup berdampingan secara damai dan saling menguntungkan. Untuk mencermati bagaimana sejarah imajinasi komunitas etnis tertentu dalam memahami keberadaan suatu kelompok lain yang ada disekelilingnya, baca misalnya, Comaroff, Jean, Ethnography and the Historical Imagination (Oxford, San Fransisco: Westview Press, 1992).
3

kepentingan

orang-orang

lain

atau

kelompok-

134

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Karekteristik Kebudayaan Aceh dan Implikasinya Terhadap Kedamaian Hidup Masyarakat

simbol dan substansinya, yang secara kolektif mencirikan sifat dan tanda keberadaannya. Dengan demikian, sifat dan ciri yang dimiliki bersama itu berlangsunglah proses identifikasi diri, bersama interpretasi dan interaksi seseorang sebagai anggota dari suatu kaum atau kelompok masyarakat, dalam menanggapi dan bertindak, dimana di dalamnya terdapat unsurunsur yang secara kolektif menjadi pengikat dan pemersatunya.4 Jadi batasan pengertian dari apa yang kita pahami dan sebut sebagai karakter adalah, sifat-sifat atau watak-watak yang secara historis dimiliki para warga suatu kaum. Sifat dan watak ini, pada awalnya tidak terbentuk begitu saja, tetapi merupakan hasil yang terbentuk setelah adanya pertimbanganpertimbangan dan proses-proses rasionalitas betapapun dangkalnya. Maka barangkali lebih banyak dipengaruhi oleh emosionalitas dan imagi-imagi yang secara intriksik melekat dalam keinginan “ego-kolektif” suatu kaum. Ini semua lantas membentuk semacam basic personality structure,5 dan kemudian diwariskan secara transgenerasional. Sifat dan watak yang terlahir dan terbentuk dari pertimbangan dan proses-proses rasionalitas, emosionalitas dan imagi-imagi ini, secara dominan kembali mempengaruhi pola-pikir dan pola manifestasinya dalam peri-laku individu-individu dalam menyikapi berbagai suasana dan problema hidup sehari-hari, dyang berjalan dalam rentangan sejarah eksistensinya yang panjang, sehingga lepas dari segala kesadaran awal saat ia terbentuk Melalui perspektif teori Interaksionisme Simbolis, dapatlah ditegaskan bahwa tindakan sosial merupakan tindakan individu yang lahir dari hasil tafsiran, tanggapan dan peranan seseorang yang sebelumnya telah memiliki warisan pola berpikir dan cara bertindak tertentu yang kiranya sangat sulit untuk dirubah, tanpa adanya suatu pendekatan transformative tertentu yang tepat, yang lebih dulu mampu memahami dan mempertimbangkan unsureunsur esensial yang terkandung di fdalam pola dan cara yang telah diwariskan itu. Untuk lebih lanjut baca, misalnya, Margaret M. Poloma, (terj.), Sosiologi Kontemporer (Jogjakarta: Yayasan Solidaritas Gadjah Mada, 1984), 268-278.
4

Basic Personality Structure merupakan suatu entitas kepribadian yang tersusun dari unsurunsur karakter dan identitas yang terdapat dalam pikiran setiap warga dari suatu kelompok masyarakat etnis yang kiranya penting untuk dipahami. Namun, pemahaman itu bukan dalam konteks penaklukan, tetapi lebih dalam konteks membangun harmoni, yang dapat menghindarkan kita dari kemungkinan-kemungkinan konflik yang seharusnya tak perlu terjadi. Untuk lebih detilnya, baca misalnya, Philip K. Bock, Continuities in Psychological Anthropology, (San Franscisco: W.H. Freeman Company, 1980), khususnya, 85-95.
5

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

135

Fuad Mardhatillah UY. Tiba

dulu. Maka para warga suatu kaum yang datang kemudian tidak lagi merasa perlu mengkritisinya, namun dipakai begitu saja perkaumannya (etnis). Dengan adanya konsep pemahaman sifat dan watak individual para warga dari suatu kaum seperti itulah, menuntut para outsiders untuk berkenan memberikan pertimbagan, pengertian dan penghargaannya. Karena ini merupakan hasil konstruksi sosial alamiah, yang boleh jadi juga rasional, adalah salah satu faktor penting yang perlu dimiliki dan dihayati lebih dulu, ketika suatu konstruksi kehidupan bersama secara berdampingan dari berbagai etnis ingin dibangun. Meskipun kita menyadari, ada berbagai kesulitan yang dimiliki para outsiders untuk membayangkannya dan sekaligus bersedia mempertimbangkan. Khususnya ketika para outsiders merasa memiliki kekuasaan, dimana ia kemudian berkeinginan membangun hegemoni kelompok-kelompok lain yang ingin dikuasai. Untuk menjelajahi dan lantas memahaminya, berbagai karakter dan identitas etnografis keacehan dapat digunakan pendekatan semiotika bahasa yang perlambangannya tersusun dalam berbagai proverb atau dalam ungkapan lokal disebut Hadih Madja yang telah eksis sejak ratusan lalu dan hingga kini masih diakui oleh masyarakat Aceh sebagai sesuatu yang wajar atau benar. Hadih Madja ini adalah suatu ungkapan padat dan singkat yang mengandung kebenaran umum atau pembenaran yang memiliki filosofi hidup tersendiri, yang lahir dari suatu kesadaran tentang suatu aspek kehidupan, setelah berlangsung dalam rentangan sejarah yang panjang. Sehingga semua ungkapan itu tidak lagi dimungkinkan untuk diketahui siapa sesungguh penggagas dan pengucap pertamanya. Namun, secara etnografis, hadith madja ini telah diterima masyarakat Aceh sebagai sebuah kebenaran dan pembenaran yang muatan dan isinya dapat memberi gambaran tentang karakter dan identitas etnis Aceh. Jadi kandungannya dapat dipahami sebagai sebuah warisan yang diturunkan secara turun temurun, meskipun untuk sebagiannya, pada hari ini barangkali, sudah tidak lagi diterima sebagai kebenaran yang perlu dipertahankan. atas keberadaan baik dalam konteks dirinya sendiri sebagai individu, maupun dalam konteks sebagai warga dari

136

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Karekteristik Kebudayaan Aceh dan Implikasinya Terhadap Kedamaian Hidup Masyarakat

Tetapi secara umum, banyak dari Hadih Madja ini yang masih sangat diterima oleh masyarakat Aceh sebagai diktum aksiomatik, yang seringkali memberi justifikasi terhadap prilaku budaya, meskipun terkadang sangat tidak rasional, atau sangat emosional, namun cukup dipandang wajar. Hubungan timbal-balik antara karakter/identitas dan perdamaian Jika karakter yang menjadi identitas budaya suatu etnis itu ditelusuri implikasi nya terhadap penciptaan suasana kehidupan bermasyarakat, tentu akan memperlihat suatu hubungan timbal-balik dan kausalitas yang amat dekat dan potensial, baik bagi membangun masyarakat yang damai ataupun sebaliknya yang merusak perdamaian. Sebut saja misalnya sikap keras yang muncul dalam sikap-sikap yang militan dan ekstrim (ni bak sihet, leubeh got roe, ni bak puteh mata leubeh got puteh tuleung, dll) yang jika dihubungkan dengan cara-cara menyelesaikan konflik yang sering muncul dalam masyarakat, tentu saja kekerasan kemudian cendrung digunakan dalam upaya menyelesaikan pertikaian. Ini tentu saja besar pengaruhnya bagi rusaknya suasana hidup yang aman dan damai. Demikian pula, karakter budaya yang suka berterus-terang, atau blak-blakan yang terkadang dapat pula membuat situasi menjadi tegang dan bermusuhan. Akan tetapi, dalam budaya Aceh, sebenarnya juga telah ada suatu mekanisme penyelesaian konflik dengan menggunakan kearifan lokal sebagai jalan penyelesaian-nya. Dengan metoda ini, kebijakan lokal menggunakan mekanisme pengakuan bersalah dan pembayaran konpensasi sebagai jalan untuk meniadakan permusuhan yang berkelanjutan antara para pihak yang bertikai. Terlihat disini, bahwa di satu pihak terdapat budaya kekerasan dalam masyarakat, namun di pihak lain terdapat kearifan local yang coba menengahi pertikaian masyarakat yang secara tradisional telah diterima masyarakat tempo dulu sebagai suatu dispute settlement. Jadi dapatlah disimpulkan disini, bahwa ada sejumlah karakter budaya Aceh yang punya potensi untuk merusak suasana damai dalam suatu hubungan pergaulan, disaat satu sama lain tidak cukup paham karakter kebudayaan dari masing-masing pihak dan tidak arif dalam mencari penyelesaian.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

137

Fuad Mardhatillah UY. Tiba

Wali Nanggroe: sebuah alternatif pemersatu Melihat pada konteks raison d’etre sebagai landasan keinginan masyarakat Aceh terhadap institusi Wali Nanggroe, seperti yang tersebut dalam UUPA (pasal 96, ayat 1), agaknya ada kebutuhan masyarakat Aceh tentang perlunya lembaga yang berfungsi sebagai penjaga adat-istiadat, nilainilai luhur kebudayaan dan sekaligus berfungsi sebagai lembaga pemersatu masyarakat. Padahal dalam sejarah Aceh agaknya belum pernah dikenal adanya lembaga semacam Wali Nanggroe ini. Yang pernah ada adalah lembaga Qadhi Malikul Adil yang fungsinya lebih sebagai lembaga Yudikatif yang punya wewenang untuk mendelegitimasi keputusan-keputusan politik eksekutif (Sulthan). Akan tetapi, lembaga Wali Nanggroe ini dipandang perlu keberadaannya sekarang, setelah dirasakan adanya semacam ancaman memudar, melemah dan bahkan cebdrung menghilangnya berbagai kekayaan adat dan budaya Aceh di tengah budaya masyarakat Aceh hari ini, yang juga dirasa tidak menyenangkan. Maka persoalannya adalah, sejauh mana fungsi lembaga wali nanggroe dapat pula menjadi sebuah kekuatan yang berfungsi sebagai perekat persatuan masyarakat Aceh dan sekaligus menjadi penjaga perdamaian?

138

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Karekteristik Kebudayaan Aceh dan Implikasinya Terhadap Kedamaian Hidup Masyarakat

DAFTAR PUSTAKA
Amin, S.M. Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh. Jakarta: Soerongan, 1956. Bernard, H. Russel. Handbook of Methods in Cultural Anthropology. California: Altamira Press, 1998. Carmejoole, P.J. Atjeh. Groningen, 1931. Coakley, John. The Territorial Management of Ethnic Conflict. London: Frank Cass and Co. Ltd., 1993. Comaroff, Jean. Ethnography and the Historical Imagination. Oxford, San Fransisco: Westview Press, 1992. Flynn, Pierce J. The Ethnomethodological Movement, Sociosemiotic Interpretations. New York: Walter de Gruyter & Co, 1991. Forbes, H.D. Ethnic Conflict: Commerce, Culture, and the Contact Hypothesis. New Haven. London: Yale University Press, 1997. Fukuyama, Francis. The End of History and the Last Man. New York: the Free Press, 1992. Gellner, Ernest. Nations and Nationalism. Ithaca, NY: Cornell University Press, 1983. Ra’anan, Uri, et.al., (eds.), State and Nation in Multi-ethnic Societies. New York: Manchester University Press, 1991. Reid, Anthony J.S. The Contest of North Sumatra. Kuala Lumpur: Univer-sity of Malaya Press. Said, Muhammad. Centuries Along with the Acehnese History. Medan, 1961. Siddiqi, Mazheruddin. The Quranic Concept of History. Karachi: Central Institute of Islamic Research, 1965. Stavenhagen, Rudolfo. Ethnic Question: Conflict, Development and Human Rights. Tokyo: United Nation University Press, 1990. Tiskov, Valery A., et.al, (eds.), Ethnicity and the Power in the Contemporary World. Tokyo: United Nation University Press, 1994. Weiner, Eugene. The Handbook of Interethnic Coexistence. New York: Continuum Publishing Company, 1998. Wicker, Hans-Rudolf. Rethinking Nationalism and Ethnicity, the Struggle for
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

139

Fuad Mardhatillah UY. Tiba

Meaning and Order in Europe. New York: Berg Publisher, 1997. Willet, Cynthia. Theorizing Multiculturalism: A Guide to the Current Debate. Massachusets: Blackwell Publisher, 1998. Will, Kymlicka. Multicultural Citizenship. Oxford: Clarendon Press, 1995. Wuthnow, Robert, et.al., (eds.). Cultural Analysis. London: Routledge, 1984. Yinger, J. Milton. Ethnicity: Source of Strength? Source of Conflict?. New York: State University of New York Press, 1994.

140

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Pendidikan Damai dalam Membangun Perdamaian di Aceh

Asmawati
Dosen tetap pada Fakultas Ekonomi, Universitas Abulyatama, Aceh. Menyelesaikan S-1 pada Pendidikan Matematika Universitas Syiah Kuala, S-2 pada Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Universitas Syiah Kuala, sekarang sedang menyelesaikan program Doktor dalam Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan pada Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Pendahuluan Penandatanganan Nota Kesepahaman antara GAM dan Pemerintah RI telah mengantarkan rakyat Aceh ke dalam babak baru yang dicita-citakan yaitu perdamain. Namun demikian, damai yang telah tercapai barulah damai dalam arti sempit (pasif) yaitu tidak ada lagi peperangan. Sementara damai dalam arti luas (aktif) adalah damai yang memenuhi kondisi keadilan sosial, kesejahteraan masyarakat, penegakan dan penghormatan hak azasi manusia, perlu terus diupayakan pencapaiannya. Johan Galtung (seperti ditulis Ghifarie 2010) mengartikan perdamaian sebagai tiadanya kekerasan struktural, kultural, dan personal. Dengan demikian, menghilangkan semua bentuk kekerasan tersebut harus merupakan agenda paling penting dalam pembangunan Aceh pasca perjanjian damai. pohon perdamaian yang kuat. Terkait dengan perdamaian, Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) memberikan sejumlah karakteristik: “1) perdamaian itu dinamis; 2) perdamaian itu merupakan penyelesaian Ibarat pohon, perdamaian Aceh merupakan pohon muda yang perlu dirawat agar tumbuh menjadi

141

Asmawati

masalah yang adil tanpa kekerasan; 3) perdamaian itu menghasilkan keseimbangan dalam interaksi sosial sehingga manusia hidup dalam relasi yang harmonis; 4) perdamaian itu baik untuk masyarakat; 5) bila ada kekerasan, tidak akan ada perdamaian; 6) supaya ada keseimbangan dalam dinamika interaksi sosial, perdamaian harus berdiri di atas keadilan dan kebebasan; 7) bila ada ketidakadilan dan ketidakbebasan, tidak akan ada perdamaian” (Suparno, 2008). Lebih lanjut tentang pentingnya membela perdamaian, BoutrosGhali (1993) menyatakan “Tanpa perdamaian tidak ada pembangunan dan demokrasi. Tanpa pembangunan, basis demokrasi akan hilang dan masyarakat cenderung jatuh dalam konflik. Dan tanpa demokrasi, pembangunan berkelanjutan tidak akan terjadi, dan tanpa pembangunan seperti itu, perdamaian yang panjang tidak dapat dipertahankan”. Dengan demikian. dapat dikatakan bahwa karakter masyarakat dalam perdamaian yang aktif adalah masyarakat yang terus melakukan perubahan-perubahan untuk mencapai keadilan dan hidup harmonis tanpa ada kekerasan dalam bentuk apapun. Didasarkan pada karakteristik tersebut, maka dapat dikatakan perdamaian itu sendiri merupakan suatu proses sekaligus juga tujuan, karenanya membangun perdamaian atau peace building adalah proses yang tak pernah berhenti. Heathershaw (2007) menyebutkan peace building dalam praktek sebagai “travelling concept” yang akan menemukan pengertian baru di wilayah mana ia diimplementasikan. Ini dapat diartikan bahwa membangun perdamaian adalah proses yang terintegrasi dengan potensi lokal, baik potensi yang dapat mendukung proses perdamaian maupun potensi yang dapat memicu konflik kekerasan. Masyarakat Aceh pasca konflik Dalam konteks Aceh, harus disadari, konflik dengan kekerasan yang berlangsung lebih dari tiga dasawarsa telah mengakibatkan pergeseran nilai dalam masyarakat. Nilai-nilai yang dapat memperkuat kohesi sosial telah luntur. Nilai kebersamaan, demokrasi dan gotong royong, mulai berganti dengan nilai yang sangat mementingkan diri sendiri dan kelompok, egois

142

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Pendidikan Damai dalam Membangun Perdamaian di Aceh

dan tidak peduli pada kepentingan orang lain. Hubungan sosial mulai berganti dengan nilai hubungan yang bersifat materi. Nilai musyawarah dan demokrasi berganti dengan pemaksaan kehendak dan kekerasan. Kemandirian dan sikap optimis mulai berganti dengan ketergantungan dan sikap apatis. Dalam hal ini, Meirio (2007) menyatakan bahwa “di beberapa tempat di Aceh, kini bisa dijumpai orang-orang yang mempunyai karakter yang oleh Thomas Hobbes menyebutkannya sebagai “evil” yaitu orangorang yang tidak patuh pada aturan yang berlaku dan menghalalkan caracara kekerasan untuk mencapai tujuan”. Di sisi lain, kondisi masyarakat Aceh saat ini memperlihatkan fenomena adanya segmen-segmen dalam masyarakat akibat konflik. Pertama, yang paling dominan adalah kelompok yang merasa paling berjasa dalam perjuangan mewujudkan Aceh seperti saat ini (dimana kekuasaan yang lebih besar diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah Aceh dalam mengurus pemerintahan sendiri dan pembagian hasil yang lebih besar dari sumber daya hidrokarbon yang dimiliki). Kelompok ini, mempunyai akses yang cukup baik pada kekuasaan, informasi dan sumber daya. Kedua, adalah kelompok masyarakat yang merasa berjasa dalam perjuangan tetapi tidak memiliki akses pada kekuasaan, informasi dan sumber daya. Kelompok ketiga adalah mereka yang menjadi korban konflik baik langsung maupun tidak langsung dan tidak mempunyai akses pada informasi, kekuasaan dan sumber daya. Kelompok ini jumlahnya lebih besar. Keempat, kelompok masyarakat profesional, yang memiliki akses tetapi terbatas pada sumber daya, informasi dan kekuasaan. Selain itu, bantuan langsung yang diberikan pemerintah kepada masyarakat melalui badan-badan, dinas-dinas, atau organisasi non pemerintah, disinyalir berpotensi memunculkan konflik baru dalam masyarakat akibat adanya persaingan untuk mendapatkan bantuan, dan berdampak memunculkan ketergantungan. Seringkali kita mendengar ungkapan “saya juga korban tetapi belum pernah mendapat bantuan dari manapun”. Ekses dari konflik dan perang sampai hari ini masih menyisakan rasa sakit hati dan dendam di hati korban, terutama jika pelaku dengan jelas diketahui dan tinggal bersama dalam satu wilayah. Hal ini berpotensi
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

143

Asmawati

menimbulkan ketegangan antar personal dan antar keluarga, jika tidak diselesaikan dengan baik. Dendam juga bisa dialamatkan kepada institusi atau pemerintah. Saya mengenal seorang ibu yang anaknya menjadi korban penculikan dan hilang. Ibu itu mengetahui dengan pasti salah seorang yang melakukannya. Meskipun pelaku itu juga menjadi korban dan telah meninggal, tetapi ibu itu mengakui sulit melupakan dan merasa sakit hati pada keluarga pelaku. Walaupun ia menyadari dan mengakui keluarganya sama sekali tidak berdosa. Sebenarnya hanya satu keinginan ibu itu, yaitu mengetahui dimana kuburan anaknya. Ini hanya satu contoh, masih banyak kejadian serupa yang sampai hari ini belum diselesaikan, termasuk pelecehan seksual dan perkosaan. Belum ada pengungkapan kebenaran dan rekonsiliasi. Pergeseran nilai-nilai yang dianut, dan segmentasi yang tercipta dalam masyarakat, memunculkan kekhawatiran tentang adanya kemungkinan hasil pembangunan yang timpang. Dimana sebagian besar hasil-hasil pembangunan hanya dinikmati dan dikuasai oleh sebagian kecil penduduk, dan bagian terbesar penduduk hanya menikmati bagian sisa yang kecil dari kue pembangunan. Pertumbuhan ekonomi misalnya, secara makro kemungkinan akan cukup baik, tetapi soal pemerataan kemungkinan akan sangat buruk. Hal ini akan memunculkan kemiskinan struktural yang parah dan luas, selanjutnya dapat memberikan efek sangat yang buruk pada pembangunan perdamaian. Karena bagaimanapun, kemiskinan adalah suatu bentuk penjajahan non fisik. Aturan kelembagaan, dan kebijakan sosial politik terkadang justru melestarikan dan memunculkan kemiskinan. Ditambah lagi dengan adanya persoalan-persoalan masa konflik yang belum menemukan penyelesaian dan keadilan, akan semakin berpengaruh buruk pada pembangunan perdamaian. Mengenai hubungan kemiskinan dan perdamaian, Paus Benedictus seperti ditulis Wawan (2009) mengatakan, “kemiskinan kadang merupakan suatu faktor pembentuk konflik”. Selanjutnya Ketua Komite Nobel Norwegia tahun 2006, Ole Danbolt Mjoes, menegaskan,”perdamaian yang berkelanjutan tak akan bisa diraih jika sebagian besar warga tidak menemukan jalan untuk keluar dari jeratan kemiskinan”. Berikutnya, Direktur Institut Norwegia untuk Masalah Internasional Sverre Lodgaard

144

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Pendidikan Damai dalam Membangun Perdamaian di Aceh

juga mengatakan, “Tantangan bagi perdamaian dunia makin berbeda dari tahun ke tahun. Kita makin sadar bahwa ada gejala baru yang berdampak negatif pada keamanan kita. Perdamaian tidak saja berupa ketiadaan perang tetapi juga ketiadaan faktor-faktor yang menyebabkan perang, Salah satu penyebab perang, yakni kelaparan dan kemiskinan, harus diatasi mulai dari akarnya” (Kompas, 14 Oktober 2006). Membebaskan orang dari kemiskinan adalah membebaskan orang dari kekerasan. Dan, membebaskan orang dari kekerasan adalah modal menciptakan perdamaian. Singkatnya, seluruh kebebasan, termasuk kebebasan dari kemiskinan pada masa sekarang (terutama di negara-negara miskin) jauh lebih penting dari sekedar bebas dari kekerasan dan perang. Mengatasi kemiskinan lebih penting dari sekedar menghadirkan perdamaian. Dus, kalimat “apalah artinya damai jika miskin,” sangat mewakili, demikian Tjakrawerdaja (2007). Pendapat-pendapat tersebut semakin memberikan kesadaran tanpa bahwa diperlukan suatu upaya yang sistematis untuk menjaga jangan sampai pembangunan Aceh hanya terfokus pada pertumbuhan lapisan masyarakat/segmen maupun antar region. mempertimbangkan faktor pemerataan (equity). Baik pemerataan antar Bagaimanapun, disparitas pembangunan antar region juga mungkin akan terjadi, dilihat dari kondisi yang digambarkan di atas. Jika ini terjadi akan sangat berpotensi mengancam upaya membangun perdamaian. Kesadaran akan adanya saling ketergantungan antar region, sangatlah penting. Pendidikan damai untuk membangun perdamaian Seyogianya, membangun perdamaian harus merupakan konsep yang terintegrasi dengan membangun bangsa (nation building) atau pembangunan itu sendiri. Kegiatan membangun perdamaian merupakan kerja yang terintegrasi dari banyak komponen dan dapat dilihat dalam tiga aspek sebagai berikut: 1) Muatan Muatan yang ingin diwujudkan antara lain adalah pemerintahan yang baik (good governance), keteraturan dan penegakan hukum, demokrasi partisipatif, pemenuhan hak asasi manusia, dan
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

145

Asmawati

kelestarian lingkungan hidup. Kelima komponen ini saling terkait. Pemerintahan yang baik akan menjamin terbentuknya aturan dan penegakan hukum yang jelas, pelaksanaan demokrasi yang partisipatif, juga terpenuhinya hak-hak asasi manusia, lingkungan hidup yang terjaga. Adanya aturan dan penegakan hukum, maka demokrasi partisipatif dapat berjalan lancar, hak asasi manusia dapat terpenuhi, sekaligus dapat mengontrol jalannya pemerintahan dan kerusakan lingkungan. Terwujudnya demokrasi partisipatif menjadi sarana untuk penyuaraan pemenuhan hak asasi manusia, pengawasan pemerintahan, mengontrol penegakan hukum, dan mengontrol eksploitasi lingkungan hidup. Terpenuhinya hak asasi manusia menjadi dasar agar tiap individu dapat menjalankan perannya dengan baik, yaitu menjalankan dan mengawasi jalannya pemerintahan, menegakkan dan mematuhi hukum dan aturan serta menegakkan demokrasi dan menjaga lingkungan hidup. 2) Hubungan Hubungan yang dimaksud dalam membangun perdamaian adalah kesetaraan peran dari semua pihak antar institusi dan antar elemen dalam masyarakat, baik aparat pemerintahan, tokoh masyarakat, para professional, anak, baik pemuda, orang tua, dan anakperempuan maupun laki-laki, kelompok minoritas

atau mayoritas, semuanya mempunyai kedudukan yang setara dan sama-sama memiliki posisi penting dan berkontribusi dalam membangun perdamaian. 3) Metode Metode yang dipakai dalam membangun perdamaian adalah metode-metode yang meninggalkan cara-cara kekerasan, melibatkan semua pihak tanpa diskriminasi, dan memasukkan aspek inter temporal, yang berarti membangun perdamaian bukan hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan saat ini, akan tetapi juga memikirkan kebutuhan generasi mendatang agar anak cucu kita nanti juga masih dapat menikmati perdamaian. Cara-cara nir-kekerasan tersebut, sangat terkait dengan pembentukan

146

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Pendidikan Damai dalam Membangun Perdamaian di Aceh

watak bangsa yang berperadaban serta bermartabat tinggi. Pendidikan masih tetap menjadi andalan untuk membentuk karakter/watak tersebut. Di sinilah urgensinya pendidikan damai (peace education). Hanya pendidikan damai yang dapat menguatkan kembali nilai-nilai positif yang hidup dalam masyarakat, mengembalikan hakekat manusia sebagai mahkluk sosial yang cinta damai, memberikan pemahaman bahwa secara alamiah kehidupan manusia saling tergantung secara local dan juga global, memahami implikasinya dan tanggungjawabnya. Pendidikan damai dan membangun perdamaian harus menjadi bagian dari satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling melengkapi. Ketika kita melaksanakan pendidikan damai, maka pada saat itu pula kita melaksanakan kegiatan membangun perdamaian, demikian juga sebaliknya ketika kita melakukan kegiatan membangun perdamaian, saat itu pula kita memerlukan pendidikan damai. Masyarakat yang hidup dalam suasana konflik yang berlarut-larut, melihat dan merasakan ketidakadilan dan kekerasan, sedikit banyak akan melahirkan pribadi yang egois, mau menang sendiri, merasa paling benar, sulit menerima pendapat orang lain, curiga dan sulit menerima kelompok yang dianggap berbeda, dan tentu saja sulit untuk berdemokrasi dan suka kekerasan. Pendidikan damai menjadi sangat penting dalam hal ini untuk mampu melakukan “switching mentality” dari mental kekerasan kepada mental damai yang mengarah pada pembentukan budaya damai (culture of peace). Dalam hal ini, Yusny Saby (2007) menyatakan bahwa konflik dan damai adalah budaya yang dapat direkayasa. Program pendidikan damai adalah salah satu cara merekayasa budaya damai, sehingga mampu mengelola potensi kemajemukan dengan credo non violence dan berbasis kearifan lokal dalam mereduksi potensi konflik. Untuk menyukseskan program pendidikan damai, UNESCO mengajukan sepuluh dasar budaya damai (Suparno, 2008), sebagai berikut: (1) Terpenuhinya kebutuhan dasar, termasuk kebutuhan material, politis, sosial, hukum, pendidikan, kesehatan dan sebagainya; (2) Pendidikan bagi perubahan untuk meningkatkan nilai-nilai yang menentukan tindakan manusia sehari-hari; (3) Terbebas dari mitos-mitos yang menyebabkan
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

147

Asmawati

manusia menghindari tangung-jawab; (4) Demilitarisasi pertahanan: konflik tidak harus diselesaikan dengan kekuatan militer; (5) Tidak merasa terancam; (6) Feminisasi budaya: ditandai otoritas sosial yang didominasi pria; (7) Ketidakpatuhan sebagai kebijakan: kesadaran kritis untuk menyelesaikan konflik; (8) Menghargai identitas kultural, menghilangkan kebijakan imperialisme dan kolonialisme, dan menghindari kecenderungan memaksakan terbentuknya sebuah budaya semesta; (9) Mengatasi logika polarisasi blok, menerima dunia yang plural, dan membangun toleransi; (10) Memberdayakan yang kecil. Untuk menumbuhkan budaya damai tersebut pada masyarakat yang pernah mengalami konflik, tentu memerlukan pendekatan yang berbeda dengan situasi masyarakat sedang konflik, atau tidak pernah mengalami konflik kekerasan. Materi pendidikan damai perlu disesuaikan dengan situasi masyarakat yang menjadi sasaran. Demikian juga metode yang dipakai. Untuk kasus Aceh yang baru lepas dari situasi perang dan sedang membangun perdamaian, materi dasar pendidikan damai setidaknya harus mencakup: 1) pendidikan untuk menghapus budaya perang dan kekerasan; 2) pendidikan untuk resolusi konflik; 3) pendidikan untuk menghormati hak asasi manusia, keadilan dan kesetaraan gender, demokrasi dan penegakan hukum; 4) pendidikan untuk membangun sikap tolerans dan solidaritas antar budaya dan etnik; 5) pendidikan untuk hidup penuh kasih sayang dan mempunyai kepekaan sosial yang tinggi; 6) pendidikan untuk memelihara lingkungan hidup baik lingkungan fisik maupun lingkungan social; 7) pendidikan untuk menumbuhkan kesadaran akan adanya saling ketergantungan antar manusia dan region, mengetahui implikasinya dan menerima tanggungjawabnya. Ketujuh materi ini diberikan dengan tujuan akhir membangun perdamaian, dan ketujuh materi ini tidak harus diberikan terpisah. Kelompok sasaran pendidikan damai adalah seluruh masyarakat. Menurut Meirio (2007) “pendidikan damai untuk masyarakat Aceh dapat dibagi dalam tiga segmen besar yaitu aparatur pemerintahan termasuk tentara dan polisi, mantan kombatan dan masyarakat umum”. Pembagian kelompok sasaran yang lebih rinci juga diperlukan, karena modul-modul pendidikan perlu dirancang sesuai dengan kelompok sasaran dimana modul

148

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Pendidikan Damai dalam Membangun Perdamaian di Aceh

tersebut akan diimplementasikan. Modul untuk aparat pemerintahan, tentu berbeda strategi penyampaian materinya dengan modul yang diperuntukkan bagi mantan kombatan, guru, dosen, anak sekolah atau masyarakat akar rumput. Perbedaan strategi penyampaian ini perlu dilakukan, mengingat adanya perbedaan latar belakang dan perbedaan peran yang dimainkan dalam membangun perdamaian. Namun demikian, setidaknya ada tiga prinsip yang perlu diperhatikan dalam merancang sebuah modul pendidikan damai: pertama, modul harus mampu memfasilitasi kelompok sasaran untuk berpikir obyektif, kritis, kreatif, dan integratif tentang akar aspirasi keadilan sosial. Kedua, mampu mengembangkan kesadaran kritis sebagai acuan pengembangan sikap dan perilaku. Ketiga, dapat membangun kemandirian dalam memetakan potensi ketidakadilan sosial, serta berinisiatif mengelola kemajemukan berbasis kearifan lokal. Membangun perdamaian berarti membangun bangsa. Membangun bangsa berarti membangun setiap pribadi dalam masyarakat. Jadi, membangun perdamaian berarti membangun setiap pribadi. Dengan demikian. pendidikan damai harus menjangkau setiap pribadi yang merupakan elemen masyarakat dengan metode atau pendekatan yang mungkin berbeda. Anak usia sekolah harus mendapat pendidikan damai di sekolah, tidak hanya pendidikan damai yang dipelajari sebagai ilmu dan tertera secara eksplisit pada lembar kurikulum sekolah, tetapi harus menghasilkan tindakan nyata berupa bangunan budaya sekolah sebagai budaya damai. Untuk itu, diperlukan keteladanan dan proses pembelajaran yang tidak hanya bertumpu pada aspek kognitif semata, aspek afektif dan psikomotor juga harus menjadi perhatian utama. Pendekatan yang dipakai kepada aparat pemerintahan, guru, dosen, para professional, kombatan, masyarakat umum dapat melalui workshop, diskusi, seminar, pelatihan, seni budaya dan bahan-bahan bacaan lainnya. Seluruh kegiatan tersebut harus menimbulkan tindakan nyata berupa perubahan prilaku keseharian dalam seluruh aktivitasnya ke arah budaya damai. Karena, secara pedagogis, indikator efektivitas komunikasi dan berpikir kritis yang paling penting adalah menimbulkan tindakan nyata.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

149

Asmawati

Pada aparat pemerintahan misalnya, tindakan nyata yang dihasilkan dari proses pendidikan damai adalah menghasilkan rancangan pembangunan dan proses pelaksanaannya yang mengedepankan aspek pemerataan (equity), keseimbangan lingkungan hidup baik fisik maupun sosial, transparan dan bebas dari KKN. Dengan kata lain menghasilkan rancangan pembangunan yang sensitif konflik. Bagi guru dan dosen, tindakan nyata yang dihasilkan dapat berupa prilaku disiplin, bertanggungjawab dan cara-cara mendidik yang tanpa kekerasan, menyisipkan nilai-nilai budaya damai dalam setiap materi yang diajarkan, bahwa setiap ilmu yang dipelajari mempunyai relevansi dengan budaya damai dan pembangunan perdamaian. Demikian juga bagi mantan kombatan, tentara, polisi tindakan nyata dapat berupa tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan untuk pemaksaan kehendak, cara musyawarah harus menjadi prioritas. Secara keseluruhan pendidikan perdamaian harus menghasilkan masyarakat yang sejahtera, demokratis, patuh pada aturan, hukum yang tertegakkan, dan yang terpenting tidak ada kekerasan dalam berbagai bentuk, lebih tegas lagi menghasilkan budaya damai. Akhirnya, pendidikan damai dapat dilakukan oleh pemerintah, NGO, LSM, partai politik, atau organisasi profesi, ormas dan masyarakat umum, yang konsen pada membangun perdamaian. Penutup Dari pembahasan di atas maka beberapa simpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut: 1. Pembangunan Aceh yang berkelanjutan dan bermartabat harus dilakukan dalam kerangka membangun perdamaian. 2. Pendidikan damai harus merupakan kegiatan yang terintegrasi dengan membangun perdamaian. 3. Pendidikan damai harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat dengan strategi penyampaian yang sesuai. 4. Program pendidikan damai harus menghasilkan tidakan nyata berupa terwujudnya budaya damai.

150

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Pendidikan Damai dalam Membangun Perdamaian di Aceh

DAFTAR PUSTAKA
Boutros,Ghali. Report on the Work of the Organization From the Fortyseventh to the Forty-eight Session of the General Assemgly. New York. United Nation, 1993 Ghifarie Ibn .Terorisme, Ketidakadilan, dan Pendidikan Perdamaian. Detik com. Suara Pembaca, 2010 Heathershaw,John. Peacebuilding as Practice: Discourses from Post-conflict Tajikistan. International Peacekeeping, Vol 14 no 2 April 2007 Kompas. M. Tunus Terima Nodel Perdamaian. Berita Utama, 14 Oktober 2006 Meirio,Akbar. Urgensi Pendidikan Damai di Aceh. Aceh Institute, 2007 Suparno, Pendidikan Damai Kunci Membentuk Manusia yang Berperadaban dan Bermartabat. Disampaikan pada sambutan membuka Seminar Nasional dan Diskusi Panel Pendidikan Damai. di Aula Utama UM, 22 Desember 2008. Tjakrawerdaja,Subiakto. Nobel Kemiskinan. Gemari online, 16 Maret 2007 Yusni Saby, Konflik dan Damai Budaya yang Dapat Direkayasa. Pengantar buku Pergulatan Panjang Budaya Damai dalam Masyarakat Multikultural. Yayasan Pena dan IAIN Ar Raniry, 2007 Wawan.S. Melawan Kemiskinan Untuk Membangun Perdamaian, Pesan Bapa Suci Paus Benedictus 1 Januari 2009. Wikimu, Kanal: Peristiwa (2009)

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

151

Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh

Abd. Wahid
Dosen tetap Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Menyelesaikan studi S-1 di IAIN Ar-Raniry, S-2 di PPs IAIN Ar-Raniry dan S-3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Email: wahidarsyad@yahoo.com

Pendahuluan Secara historis komunitas Aceh telah mengalami sejarah panjang dari zaman sebelum masuknya Islam ke nusantara, masa Kerajaan Aceh, dan masuknya Islam ke Aceh, masa kolonial, dan masa bergabungnya Aceh ke dalam Negara Republik Indonesia NKRI. Salah satu hal yang penting berkenaan dengan masyarakat Aceh adalah pengalaman konflik dan perang yang berkepanjangan. Hal ini menimbulkan kesan dengan bermacam-macam untuk menjuluki daerah atau untuk masyarakat Aceh, seperti ”orang Aceh hobi perang”, ”orang Aceh keras kepala” bahkan ”Aceh Pungoe” dan lain-lain. Pada masa sekarang (2010), Aceh telah aman dan damai. Hal ini merupakan anugerah Allah Swt. yang sangat berharga yang sangat penting dipelihara agar damai tersebut dapat bertahan sampai masa-masa yang tidak mengenal batasnya. Untuk itu, masyarakat bersama pemerintah yang berkuasa memiliki kewajiban melalui berbagai pendekatan untuk menjaga perdamaian tersebut agar tetap abadi sepanjang masa. Salah satu cara atau pendekatan yang ditempuh oleh berbagai komponen masyarakat maupun

153

Abd. Wahid

pemerintah adalah, menghubungkan damai tersebut dengan pendidikan. Istilah ini setidaknya masih tergolong baru, karena keadaan damai tersebut belum begitu lama terjadi di Aceh. Di samping itu, Aceh juga merupakan salah satu daerah yang memiliki peran penting dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Hal ini dikarenakan Aceh memiliki berbagai keunikan dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Salah satu hal terpenting dalam hal perkembangan pendidikan Islam adalah ditetapkannya Aceh sebagai daerah pemberlakuan syari’at Islam. Cakupan syari’at Islam yang dimaksudkan bukan hanya dalam bidang hukum saja, tetapi mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Pada sisi lain, sistem pendidikan secara nasional diatur oleh pemerintah pusat melalui lembaga Departemen Pendidikan Nasional. Namun demikian, khusus dalam hal pendidikan keagamaan terdapat kewenangan yang terbatas bagi Departemen Agama. Seperti halnya di provinsi lain, lembaga-lembaga pendidikan di Aceh juga terbagi dalam berbagai bentuk, seperti pendidikan umum di bawah Departemen Pendidikan Nasional dan pendidikan khusus (keagamaan) di bawah Departemen Agama. Di samping itu, terdapat juga lembagalembaga pendidikan khusus seperti pendidikan kejuruan, dan profesi dalam berbagai tingkatannya. Seiring dengan pemberlakuan Syari’at Islam di Aceh, lembaga-lembaga pendidikan dimaksud tentu menjadi salah satu aspek yang perlu diperbaharui dan disesuaikan dengan perkembangan Daerah (Aceh). Dalam pengembangan pendidikan yang bernuansa syari’at, tentu harus melalui berbagai langkah yang sistematis dan strategis. Langkah-langkah dimaksud adalah sebuah upaya penyesuaian konsep dan bentuk pendidikan di Aceh dengan Undang-Undang Syari’at Islam. Pada sisi lain, Aceh juga merupakan daerah Otonomi Khusus yang terjelma dalam ”Nanggroe Aceh Darussalam”. Nuansa otonomi khusus, dalam hal-hal tertentu memiliki hubungan yang erat dengan Syari’at Islam. Namun demikian, memerlukan penelaahan secara mendalam untuk memperoleh suatu rumusan yang merangkum ke dua Undang-Undang tersebut (Syari’at Islam dan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam).

154

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh

Arah pengembangan pendidikan Islam di Aceh dipengaruhi oleh pemberlakuan Undang-Undang nomor 18 tahun 2001 tentang ”Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam” pada tanggal 9 Agustus 2001 telah memberi kesempatan kepada rakyat Aceh untuk membuat aturan hukum dan mengatur tata kehidupan dalam wilayahnya, sejalan dengan undang-undang Negara Republik Indonesia. Kesempatan ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dapat menetapkan sejumlah peraturan daerah (Perda) dan qanun sebagai penjabaran UndangUndang nomor 18 tahun 2001 tersebut. Ada beberapa Perda dan qanun yang telah disahkan, antara lain Perda nomor 5 tahun 2000 tentang pelaksanaan syari’at Islam dan qanun nomor 23 tahun 2002 tentang penyelenggaraan pendidikan. Pelaksanaan syariat Islam yang termaktub dalam Perda nomor 5 tahun 2000 meliputi aqidah, ibadah, mu’amalah, akhlak, pendidikan, dakwah islamiyah/amar ma’ruf nahi mungkar, baitul mal, kemasyarakatan, syiar agama, pembelaan Islam, qadha, jinayat, munakahat dan mawaris. (MPU, 2003: 27) Untuk itu, dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, UU Nomor 44 Tahun 1999, tentang penyelenggaraan keistimewaan Aceh dan UU Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dapat diterapkan secara luas dalam masyarakat, di antaranya adalah pelaksanaan Syari’at Islam yang diatur dalam Perda Nomor 5 Tahun 2001. Penerapan Syari’at Islam di NAD merupakan fenomena menarik sekaligus menantang. Menantang di sini dimaksudkan terutama kesiapan pemerintah NAD dan masyarakat dalam menerima dan melaksanakan Syariat Islam secara kaffah, termasuk bidang pendidikan yang berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan syari’at Islam tersebut. Demikian juga dalam bidang pendidikan, pemerintah telah mengambil kebijakan menyusun Qanun Nomor 23 tahun 2002 tentang penyelenggaraan pendidikan. Dalam Qanun Nomor 23 tahun 2002 tersebut dinyatakan bahwa pendidikan provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) berdasarkan pada
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

155

Abd. Wahid

al-Qur’an dan al-Hadits, falsafah negara Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan kebudayaan Aceh. Pendidikan provinsi NAD berfungsi untuk memantapkan iman dan taqwa kepada Allah SWT, mengembangkan kemampuan, ilmu dan amal saleh dalam upaya meningkatkan mutu kehidupan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Lebih lanjut lagi tujuan pendidikan provinsi NAD adalah untuk membina pribadi muslim seutuhnya, yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, demokratis, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan hak asasi manusia, berpengetahuan, berketerampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian baik dan mandiri, mampu menghadapi berbagai tantangan global, dan memiliki tanggung jawab kepada Allah Swt., masyarakat dan Negara (MPU, 2003: 223). Bagaimanakah mengintegrasikan damai ke dalam ranah pendidikan? Apakah harus dibuat kurikulum khusus dalam bentuk pelajaran damai? Atau dapatkah damai itu diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan dari berbagai jenjang? Tulisan ini, paling tidak berusaha mengemukakan beberapa pemikiran ke arah itu. Konsep pendidikan damai dalam ajaran Islam 1. Definisi pendidikan Islam Pendidikan, secara etimologi berasal dari bahasa Inggris yaitu education yang berarti bimbingan dan pertolongan yang diberikan kepada orang lain, baik fisik maupun mental, dengan cara penuh tanggung jawab untuk membawa orang lain agar mampu mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik secara benar dan wajar (Cryn dan Reksosiswoyo: 1989, 7). Menurut Kamus Bahasa Indonesia pendidikan diartikan sebagai suatu pekerjaan (hal, cara dan sebagainya). Mendidik juga berarti pengetahuan tentang mendidik atau pemeliharaan badan, batin, dan sebagainya (W.J.S. Poerwadarminta: 1991, 250). Dalam bahasa Arab, istilah pendidikan sering disebut tarbiyah yaitu isim mashdar dari rabba yarubbu yang berarti mengasuh atau mendidik (Mahmud Yunus: 1988, 136).

156

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh

Dalam terminologi Islam, tidak semua ahli sepakat untuk menyebutkan istilah tarbiyyah sebagai ungkapan bermakna pendidikan. Namun tidak sedikit para ahli yang cenderung mengatakan bahwa kata tarbiyah sebagai istilah yang paling cocok untuk memberi makna pendidikan. Muhammad Naquib al-Attas, sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata mengatakan bahwa penggunaan kata tarbiyah untuk pendidikan merupakan istilah yang masih relatif baru dan merupakan terjemahan dari kata education dalam bahasa Inggris. Menurutnya, istilah ini lebih bersifat meniru konsep Barat dalam menjelaskan pendidikan kepada masyarakat. Ia menambahkan bahwa istilah tarbiyah memiliki sasaran yang bersifat umum yang meliputi semua jenis spesies makhluk hidup baik yang berakal maupun tidak. Untuk memperkuat pendapatnya al-Attas mengajukan sebuah konsep pendidikan yang mengacu pada pemberian ilmu pengetahuan, pengalaman, kepribadian dan sebagainya. Menurutnya, pendidikan Islam harus dibangun dari paduan kata ’ilm (ilmu pengetahuan), ’adl (keadilan), ’amal (perbuatan/ tindakan), dan haq (kebenaran) serta segala sesuatu yang berkaitan dengan kebenaran itu, seperti nalar, ’aql dan qalb (hati). Semua istilah tersebut terangkum dalam kata al-adab (Syed Muhammad Naquib al-Attas: 1994, 65). Menurutnya istilah al-adab merupakan sebuah konsep tentang pendidikan Islam. Dengan kata lain, menurut Naquib, istilah tarbiyah tidak dapat dikatakan sebagai istilah yang bermakna pendidikan, tetapi al-adab. Perbedaan pandangan dalam menetapkan suatu istilah, tentunya bukan sesuatu yang harus ditolak, karena masing-masing penggagas memiliki argumen tersendiri sebagai penguatnya. Pendidikan dapat dipahami sebagai suatu proses belajar mengajar dengan memanfaatkan fasilitas yang memadai dalam rangka meningkatkan kemampuan (skill) orang lain atau anak didik sehingga mereka dapat tampil dengan terampil sebagai pribadi-pribadi yang tangguh dan paripurna. Dalam hal ini, Khursyid Ahmad (1992,14).berpendapat bahwa pendidikan adalah suatu upaya menyampaikan informasi dan menyalurkan bakat dalam rangka mengembangkan bakat yang tersembunyi. Nampaknya, Khursyid lebih condong menggolongkan pendidikan
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

157

Abd. Wahid

sebagai suatu proses penggalian identitas diri manusia. Secara psikologis, setiap individu itu pada dasarnya memiliki potensi luar biasa yang masih tersembunyi. Potensi itu akan berkembang sesuai dengan tingkat rangsangan yang diberikan terhadap individu yang bersangkutan. Untuk itu pendidikan merupakan salah satu upaya merangsang seseorang agar potensi yang masih tersembunyi itu nampak ke permukaan, sehingga lahirlah ia sebagai individu yang sempurna. Al-Nahlawi, seorang ulama dan pemikir Islam kontemporer, termasuk tokoh yang setuju dengan konsep tarbiyah untuk menjelaskan pendidikan secara menyeluruh, meskipun konsep ini lebih bersifat interpretative (Abdurrahman al-Nahlawiy: 1983, 20). Ketika istilah tarbiyah ini diterima menjadi konsep pendidikan dalam Islam, maka secara otomatis konsep tersebut akan berbeda dengan istilah education dalam literatur Inggris. Konsep education lebih bersifat umum dan cenderung berorientasi kepada konsep-konsep Barat. Sedangkan tarbiyah merupakan konsep pendidikan yang mengacu dan merujuk kepada Islam (al-Qur’an dan Sunnah) dan hasil rumusan para ulama yang ahli di bidang ini. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam adalah suatu proses pencerahan yang dilakukan baik secara formal atau tidak, sesuai dengan tuntunan dan tuntutan ajaran Islam. Berdasarkan objeknya, pendidikan Islam mengacu kepada dua sasaran pokok, yaitu pendidikan yang bersifat pembinaan dan penajaman wawasan intelektual dan pembinaan ketajaman spiritual. Ketajaman intelektual diarahkan agar peserta didik itu mampu menggunakan akalnya untuk memahami berbagai fenomena yang ada di alam ini sehingga mampu menggali sumber daya alam yang ada, seperti belerang, minyak dan gas, demi kesejahteraan masyarakat banyak. Di samping ketajaman intelektual, ketajaman spiritual pun sangat dibutuhkan dalam rangka menemukan jati diri manusia yang sesungguhnya. Melalui ketajaman spiritual ini manusia akan menemukan tiga unsur kehidupan yang salng terkait satu dengan yang lain, yaitu unsur alam, manusia dan Tuhan (Allah). Dengan menyadari adanya ketiga elemen tersebut di atas maka manusia akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa ia tidak berbuat apa-

158

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh

apa tanpa adanya Tuhan dan alam itu. Kesimpulan ini akan membawa manusia semakin patuh dan tunduk terhadap semua perintah Tuhan. Dengan ketundukan itulah maka kepada mereka diberi tugas oleh Allah sebagai Khalifah di permukaan bumi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketajaman intelektual akan mendorong manusia untuk menjadi orang-orang yang cerdas dan kecerdasaran intelektual akan melahirkan orang-orang yang tunduk (tawadhu’) dan rendah hati. Pintar, cerdas dan tawadhu’ merupakan cita-cita mulia pendidikan Islam. 2. Definisi pendidikan damai Istilah ”Pendidikan Damai” merupakan rangkai dua kata yang terdiri dari ”pendidikan” yang dapat diartikan sebagai proses belajar mengajar, kurikulum serta hal-hal lain yang berkaitan dengannya. Sedangkan ”damai” dapat bermakna: tidak ada peperangan, tidak ada kerusuhan, aman, tenteram, tenang serta rukun (Depdiknas, 2003, 263). Dalam istilah al-Qur’an istilah yang dapat dikategorikan ungkapan terhadap damai adalah: al-sulh. Kalimat ini juga berarti ”baik”. Di samping itu damai juga terkandung dalam kalimat Islam itu sendiri, yaitu dari kata salima, yaslamu, yang bermakna selamat, damai, sejahtera dan sebagainya. Dengan demikian, pendidikan damai dapat diartikan dalam beberapa makna, seperti: pendidikan bernuansa damai; pendidikan yang di dalamnya terdapat pembelajaran tentang perdamaian; pendidikan yang di dalamnya dibicarakan unsur-unsur perdamaian; pendidikan yang di dalamnya terkandung unsur pembicaraan tentang bagaimana menjaga perdamaian, dan lain-lain. Pendidikan damai dalam koridor Undang-undang otonomi khusus Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan wilayah paling ujung sebelah Barat pulau Sumatera. Menurut catatan sejarah, ”letak Aceh di bagian Barat dan wilayahnya memiliki dua muka laut (Samudera India dan Selat Malaka)”… ”bahwa wilayah ini tempat singgah permulaan dari kegiatan mondar mandir pelayaran antara kepulauan Indonesia dengan pelabuhanProceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

159

Abd. Wahid

pelabuhan sebelah Barat baik India, Parsi, Iraq, Arab, Afrika, (Madagaskar, Abessinia) maupun Mesir, Rumawi dan Eropa lainnya (Muhammad Said: 1981, 17). Dapatlah diperhitungkan bahwa Aceh merupakan wilayah Indonesia yang pertama dikunjungi oleh para saudagar dari luar negeri. Menurut catatan sejarah Islam masuk Nusantara dibawa oleh para saudagar Islam yang berasal dari Gujarat–India. Kerajaan yang pertama dikunjungi adalah kerajaan Peureulak, Lamuri dan Pasai.” Di sinilah mereka mendirikan kerjaan Islam yang pertama di Nusantara dan pada akhirnya tersebut di seluruh pelosok di Indonesia. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah wilayah integral Indonesia sejak perang kemerdekaan sampai dengan sekarang. Indonesia telah menjadi sebuah negara berdaulat yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Aceh masih tetap dalam bingkai NKRI. Akan tetapi pada tahun 1953-1960 terjadi suatu pergolakan politik di Aceh untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (Perang DI/TII). Pergolakan tersebut berakhir dengan perjanjian antara pemerintah pusat dengan pimpinan gerakan DI/TII yang dipegang oleh Muhammad Daud Beureu’eh. Karena ia ”menghendaki pelaksanaan unsur-unsur Syari’at Islam berlaku di Aceh”. Dari perjanjian damai tersebut diberikan kepada kepada Aceh hak istimewa untuk menjalankan ”unsur-unsur Syari’at Islam bagi Daerah Istimewa Aceh di depan kaum muslimin ketika itu” (M. Kaoy Syah: 2000, 28). Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang telah mendapat hak istimewa dari Pemerintah Pusat sejak dikeluarkan ”Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia No. I/MISSI/1959 (dikenal dengan Missi Hardi). Keistimewaan tersebut meliputi bidang agama, adat istiadat dan pendidikan. Pada tahun 1999 pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan ”Undang-Undang No. 44 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”. Undang-undang inilah sebagai payung hukum yang kuat untuk menegakkan Syari’at Islam di Aceh sebagai salah satu propinsi yang pertama dalam susunan propinsi di Indonesia. Di samping undang-undang tersebut pelaksanaan Syari’at Islam perlu ada sebuah ketetapan khusus dari pemerintah daerah berdasarkan fatwa Majelis Pertimbangan Ulama,

160

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh

sehingga menjadi tolak ukur yang jelas tentang syari’at itu sendiri untuk dilaksanakan. Melalui perjalanan sejarah yang melelahkan, akhirnya pada tahun 1999 yang lalu dikeluarkan Undang-undang No. 44 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah Aceh dan ditambah dengan otonomi khusus. Terlepas dari berbagai unsur politis yang mungkin saja ada, hal itu merupakan sebuah kemenangan untuk menjalankan keistimewaan yang pernah hilang. Di samping itu mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, Syari’at Islam merupakan sebuah alternatif ideal untuk segera diimplementasikan kepada seluruh aparatur pemerintah di bawah pemerintahan Aceh. Arah pengembangan pendidikan Islam di Aceh dipengaruhi oleh pemberlakuan Undang-Undang nomor 18 tahun 2001 tentang ”Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam” pada tanggal 9 Agustus 2001 telah memberi kesempatan kepada rakyat Aceh untuk membuat aturan hukum dan mengatur tata kehidupan dalam wilayahnya, sejalan dengan undang-undang Negara Republik Indonesia. Kesempatan ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dapat menetapkan sejumlah peraturan daerah (Perda) dan qanun sebagai penjabaran UndangUndang Nomor 18 Tahun 2001 tersebut. Ada beberapa Perda dan qanun yang telah disahkan, antara lain Perda Nomor 5 tahun 2000 tentang pelaksanaan syari’at Islam dan qanun nomor 23 Tahun 2002 tentang penyelenggaraan pendidikan. Pelaksanaan syariat Islam yang termaktub dalam Perda nomor 5 tahun 2000 meliputi aqidah, ibadah, mu’amalah, akhlak, pendidikan, dakwah islamiyah/amar ma’ruf nahi mungkar, baitul mal, kemasyarakatan, syiar agama, pembelaan Islam, qadha, jinayat, munakahat dan mawaris. Berkenaan dengan pengintegrasian damai, sejauh penelitian penulis, tidak ditemukan secara langsung pasal-pasal atau qanun yang mengatur tentang pendidikan berasaskan perdamaian, atau nilai-nilai perdamaian dalam pendidikan di Aceh. Ada dua alternatif model integrasi damai dalam pendidikan. Pertama, menjadikan semua mata pelajaran yang
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

161

Abd. Wahid

diajarkan kepada peserta didik sebagai media penyampaian tentang makna perdamaian serta faktor-faktor yang dapat melestarikan damai tersebut. Kedua, menciptakan suatu mata pelajaran sebagai media khusus mengajarkan tentang perdamaian. Dalam konteks ini kedua alternatif tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Opsi pertama memiliki kelebihan antara lain tidak terganggunya kurikulum yang sudah didesign sedemikian rupa, karena ia hanya membutuhkan beberapa menit dalam semua pelajaran untuk menyampaikan pesan-pesan perdamaian. Sementara kelemahannya adalah penyampaian yang terlalu singkat tidak dapat memberikan informasi yang lengkap dan sempurna. Adapun kelebihan opsi kedua adalah dapat tersampaikan informasi dan pesan-pesan serta halhal lain yang berhubungan dengan damai karena disampaikan dalam waktu yang khusus, akan tetapi hal ini akan menganggu kurikulum yang sudah disusun sedemikian rupa, baik dalam hal keseimbangan materi maupun jumlah jam pelajarannya. Untuk itu, ada baiknya hal ini dilakukan suatu seminar yang melibatkan para ahli, untuk menghasilkan sebuah konsep yang baku tentang pendidikan damai. Kedua opsi tersebut, pada dasarnya juga bukan menjadi tujuan, tetapi merupakan teknis saja. Dengan kata lain, dapat saja kedua opsi tersebut tidak menjadi tumpuan pelaksanaan, namun yang terpenting adalah tercapainya tujuan dan sasaran yang akan dicapai dalam pelaksanaan pendidikan damai. Oleh karena itu, mengetahui tentang tujuan dari pendidikan damai juga sesuatu yang sangat penting, sehingga mudah dalam menentukan metode atau teknisnya. Di antara tujuan pendidikan damai dapat disebutkan seperti berikut: ● Memperkenalkan nilai-nilai damai serta membangun budaya damai pada anak-anak, guru, dan orangtua melalui majalah Harmonis. ● ● Melatih guru untuk menggunakan alat bantu atau media belajar mengajar yang menarik dan menyenangkan bagi anak. Meningkatkan akses pada anak-anak untuk mendapatkan media belajar yang menarik dan menyenangkan. (World Vision, t.th) Sedangkan dari segi tema-tema yang dapat diperkenalkan adalah

162

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh

sebagai berikut: 1. Menghargai Keanekaragaman (suku, budaya, agama, jenis kelamin) 2. Kerjasama ● Menyadari manusia sebagai makhluk sosial ● Mengakui bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan ● Adanya rasa ketergantungan antar manusia ● Saling tolong menolong ● Kerjasama untuk menghasilkan sinergi 3. Komunikasi ● Komunikasi berarti hubungan dua arah (Mendengar & berbicara) ● Menghilangkan prasangka & curiga ● Menghilangkan Stereotype (Pelabelan) ● Empati (memahami perasaan) ● Persepsi (cara pandang) yang baik ● Saling percaya 4. Menjadi anak damai ● Mengenal dan menerima diri (Kelebihan dan kekurangan) ● Mengenal dan menerima orang lain apa adanya (dengan kelebihan dan kekurangan) ● Berani minta maaf untuk mengakui kesalahan ● Tidak pelit dalam memberi maaf ● Pemecahan masalah secara kreatif ● Menyikapi masalah dan konflik ● Penyelesaian masalah dan konflik tanpa kekerasan (melalui dialog) ● Menciptakan berbagai pilihan untuk menyelesaikan masalah dan konflik . (World Vision, t.th) Penutup Pendidikan tentang pentingnya perdamaian tidak hanya menjadi pembicaraan yang bersifat lokal, tetapi juga menjadi isu nasional dan
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

163

Abd. Wahid

internasional. Dalam sebuah dialog, penguasa negara adidaya pernah dikejutkan oleh seorang pendidikan asal Indonesia dengan pernyataan tentang betapa besarnya biaya perang yang dikeluarkan oleh Negara Amerika itu, sementara di Indonesia memiliki jumlah lembaga serta peserta didik yang kekurangan dana. Tokoh itu bernama Arief Rahman, Dosen Universitas Negeri Jakarta. Saat berdialog dengan George W. Bush pada 20 Nopember lalu, ia memberikan gambaran bahwa Indonesia mempunyai lebih dari 41 juta siswa yang harus kita didik dari TK sampai SMA, 2,1 juta guru yang harus terus mengikuti perkembangan keilmuan dan harus terus diperbaiki, dan 300.000 lembaga pendidikan yang harus terus ditingkatkan kemampuannya. Seperti sejumlah tokoh lainnya yang diundang berdialog dengan Bush, Arief hanya diberi waktu tiga menit untuk memaparkan pemikirannnya. Ia lantas mengusulkan kepada sang presiden agar biaya untuk peperangan di dunia ini sebaiknya dialihkan untuk pembangunan pendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Gambaran ini, merupakan salah satu bukti, bahwa betapa pentingnya mengintegrasikan damai dalam konsep dan tata laksana pendidikan, baik di Aceh, maupun di Indonesia secara umum serta di berbagai belahan dunia.

164

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh

DAFTAR PUSTAKA
Abbas, Syahrizal, dkk. Dimensi Pemikiran Hukum dalam Implementasi Syari’at Islam di Aceh. Banda Aceh: Dinas Syari’at Islam, 2007 Abuddin. “Konsep Pendidikan Ibn Sina”, Disertasi. Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, 1997 --------------.Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006 Alfian, Ibrahim. Perang di Jalan Allah. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987. --------------.Wajah Aceh Dalam Lintas Sejarah. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, 1999 Ahmad, Khursyid. Principles of Islamic Education, terj. A.S. Robith, Surabaya: Pustaka Progressif, 1992 Ali Hasan, M., dan Mukti Ali. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2003 Amiruddin, A. Hasbi. Ulama Dayah: Pengawal Agama Masyarakat Aceh. Lhokseumawe: Nadia Foundation, 2003 al-Attas, Syed Muhammad Naquib. The Concept of Education in Islam: Frame Work for an Islamic Philosophy of Education, terj. Haidar Bagir, Bandung: Mizan, 1994 Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Prenada Media, 2004 Budiman, M. Nasir. “Pendidikan Moral Qur’ani: Strategi Belajar Mengajar dan Evaluasi pada MAN se Daerah Istimewa Aceh. Disertasi. Yogyakarta: Pascasarjana IAIN Yogyakarta, 1998 --------------. Pendidikan dalam Perspektif Alquran. Jakarta: Madani Press, 2001. Cryn dan Reksosiswoyo, Pengantar Pendidikan Pengajaran, Jakarta: Noor Dhof, 1989 Djajadiningrat, P.A. Hoesein, , “Islam di Indonesia”, Dari Sini Ia bersemi. Banda Aceh: Panitian Penyelenggara MTQ Tingkat Nasional, 1881 Fadjar, A. Malik. Madrasah dan Tantangan Modernitas. Bandung: Mizan, 1998

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

165

Abd. Wahid

Hasbullah. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia: Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999 Hasjmy, A., “Pendidikan Islam di Aceh dalam Perjalanan Sejarah”, Majalah Sinar Darussalam, No. 63, Banda Aceh: Ar-Raniry Pos, 1975. --------------.Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah. Jakarta: Beuna, 1983. --------------.“Keistimewaan Aceh dalam Bidang Pendidikan”, Perkembangan Pendidikan di Daerah Istimewa Aceh. Banda Aceh: Majelis Pendikan Derah Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 1995. Hurgronje, Snouck, Aceh di Mata Kolonialis, Jilid II. Jakarta: Yayasan Soko Guru, 1985 Idris, Safwan. “Perkembangan Pendidikan Pesantren/Dayah: Antara Tradisi dan Pembaharuan”, Perkembangan Pendidikan di Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh: Majelis Pendikan Derah Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 1995 Ismail, Azman, dkk, Syari’at Islam di Nanggroe Aceh Darussalam, Banda Aceh: Dinas Syari’at Islam, 2007 Maksum.“Transformasi Pendidikan Islam di Lingkungan Departemen Agama pada Masa Orde Baru: Studi Tentang Pembaharuan Kurikulum dan Kelembagaan Madrasah”. Disertasi, Jakarta: Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1998 MPU. Kumpulan Undang-Undang, Perda, Qanun dan Instruksi Gubernur tentang Keistimewaan nanggroe Aceh Darussalam. Banda Aceh: MPU, 2003 Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Bandung: Rosdakarya, cet. II. 2002 al-Nahlawiy, Abdurrahman. Pendidikan di Rumah-Sekolah dan Masyarakat, terj. Shihabuddin. Jakarta: Gema Insani Press, 1983 Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, Pustaka, 1991 Jakarta: Balai

Rijal, Syamsul, dkk. Dinamika Keagamaan dalam Pelaksanaan Syari’at Islam, Banda Aceh: Dinas Syari’at Islam, 2007 --------------. Dinamika dan Problematika Penerapan Syari’at Islam. Aceh: Dinas Syari›at Islam, 2007 Banda

166

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Integrasi Damai dalam Pendidikan Islam Berasaskan Otonomi Khusus di Aceh

Said, Muhammad. Aceh Sepanjang Abad. Medan: Penerbit Madju, 1981 Saleh, Abdul Rachman. Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa: Visi, Misi dan Aksi. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006 Steenbrink, Karel A. Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19. Jakarta: Bulan Bintang, 1984 Syah, M. Kaoy. Keistimewaan Aceh dalam Lintasan Sejarah, Proses Pembentukan UU No. 44/1999. Jakarta: Pengurus Besar al-Jami’atul Washliyah, 2000 Undang-Undang Sisdiknas 2003. Jakarta: Sinar Grafika, 2006 World Vision, KONSEP DASARIntegrasi Pendidikan Damai dalam KTSP SD Melalui Majalah Harmonis Sebagai Sumber Belajar dengan Metode PAKEM, t.th Yunus, Mahmud. Kamus Arab – Indonesia. Jakarta: Yayasan Penyelenggaraan Penterjemah Alquran, 1988

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

167

Pembelajaran Civic Education dalam Rangka Memperkuat Demokratisasi di Aceh

Juhari Hasan
Juhari Hasan merupakan Dosen Sosiologi dan Civic Education pada Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Beberapa pelatihan yang pernah diikuti antara lain: Studi Purna Ulama (SPU), IAIN ArRaniry, tahun 1993-1994; Workshop for Lecturers on Civic Education, UIN Jakarta, tahun 2001; Workshop for Lecturers on Civic Education, IAIN Imam Bonjol Padang, tahun 2002 dan tahun 2003; Workshop for Lecturers on Civic Education, Pusdiklat BPKP, Bogor, 2007; dan Short Course on Community Development, McGill University, Canada, 2008 Pendahuluan Sepanjang sejarah, Aceh hampir tidak pernah sepi dari berbagai konflik dan perang, seperti perang kemerdekaan melawan penjajah Belanda, Jepang dan Portugis, Perang Cumbok, peristiwa DI/TII tahun1953, G.30 S/ PKI tahun dan Gerakan Aceh Merdeka pada tahun 1976 (A.Rani Usman, 2003 : 114 – 133; Anthony Reid, 2007 : 2-3). Pergolakan politik yang terus menerus mewarnai kehidupan sosial di Aceh telah mendorong masyarakatnya terjebak ke dalam situasi yang kurang menguntungkan. Salah satu problema yang dirasakan hingga saat ini adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM) handal yang mampu memajukan Aceh sejajar dengan daerah lain di Indonesia. Meskipun Provinsi Aceh telah mendapatkan julukan sebagai daerah modal dan memiliki predikat istimewa yang diukuhkan melalui surat keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Mr. Hardi Nomor : 1/ Missi/ 1959 (T.M.Yunus Nagor, 1995 : 67) dan Pengesahan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang keistimewaan Aceh serta Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus (Himpunan UU, Kepres, Perda/ Qanun, Ingub dan Edaran

169

Juhari Hasan

Gubernur : 2005 : 1 dan 12),

namun kenyataan memperlihatkan bahwa

kehebatan Aceh saat ini tidak sehebat namanya. Di samping lemahnya Sumber Daya Manusia, tidak berkembangnya ekonomi kerakyatan, rendahnya pemahaman rakyat terhadap pendidikan politik dan kekurangterbukaannya para tokoh agama dalam memahami dan menghargai perbedaan yang ada baik secara tekstual maupun kontekstual juga merupakan problema lain yang ikut mendorong mundurnya kehidupan sosial di Aceh. Dalam situasi yang demikian, maka peluang bagi setiap individu atau kelompok tertentu untuk mengklaim kelompok yang tidak benar sangatlah terbuka lebar. Klaim-klaim kebenaran yang terjadi di kalangan masyarakat, baik yang berkaitan dengan urusan agama maupun politik merupakan fenomena dari rendahnya sikap demokrasi yang diperlihatkan masyarakat baik ditingkat grass root maupun di kalangan elite. Fenomena ini tidak saja didapati di Aceh secara khusus, akan tetapi telah menjadi persoalan bangsa secara nasional. Artinya, persoalan yang sama juga ditemukan di berbagai daerah lain di Indonesia. Menyikapi berbagai persoalan bangsa yang ada, maka pada tahun 2000 muncul gerakan intelektual di kalangan dosen IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang Universitas Islam Negeri, disingkat UIN) untuk menggalang kekuatan sehingga lahirlah mata kuliah Civic Education. Pada tahun 2003 atas dukungan The Asia Foundation dan Indonesian Centre for Civic Education (ICCE) mata kuliah ini mendapat pengesahan resmi Menteri Agama Republik Indonesia sebagai pengganti mata kuliah “Pendidikan Kewiraan” khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia. Di antara tujuan mata kuliah ini adalah ingin mewujudkan masyarakat Indonesia yang mampu mengembangkan kehidupan yang maju, demokratis, adil dan beradab dengan selalu menjunjung tinggi hukum dan HAM (Dede Rosyada, dalam A Ubaidillah: 2000:i). Sejak tahun 2000 kelompok ini telah berhasil membangun jaringan ke seluruh IAIN, UIN dan STAIN se-Indonesia, termasuk IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dalam rangka memperkuat civil society, penegakan HAM dan demokrasi di Indonesia yang proses penegakannya diawali di kalangan mahasiswa. dirinya sebagai kelompok paling sahih dan menolak keberadaan kelompok lain sebagai

170

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pembelajaran Civic Education dalam Rangka Memperkuat Demokratisasi di Aceh

Pola pembelajaran Civic Education bagi mahasiswa tidak bersifat mendikte atau memaksakan kehendak dari si pengajar akan tetapi lebih bersifat membuka wawasan mahasiswa untuk memahami dan menemukan sendiri berbagai persoalan yang ada di lingkungannya (baik lingkungan kampus maupun di sekitar tempat tinggal mereka), demokratis, arif dan bijaksana. Civic education di perguruan tinggi Islam Istilah Civic Education berasal dari kata Civic yang berarti masyarakat sipil atau warga negara dan education yang bermakna pendidikan (John M.Echols dan Hassan Shadily, 2003: 115 dan 207). Bila kedua kata ini digabungkan maka akan melahirkan makna pendidikan kewargaan. Penggunaan Civic Education menjadi salah satu mata pelajaran pokok di Perguruan Tinggi, khususnya Perguruan Tinggi Islam di Indonesia, telah dimulai sejak tahun 2000. Sebelum zaman reformasi, khususnya saat rezim orde baru berkuasa istilah civic education sebagai sebuah mata pelajaran agaknya belum dipakai di kalangan Perguruan Tinggi. Namun pendidikan hampir serupa ini telah dipraktekkan dalam kurikulum nasional Indonesia seperti Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Kewiraan. Pada dasarnya beberapa pelajaran tersebut menginginkan tumbuh dan berkembangnya semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan peserta didik. Namun pada akhirnya cenderung memperlihatkan sesuatu yang berbeda, dimana kepentingan politik pro status quo agaknya menjadi sangat dominan dalam proses pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan formal. Fenomena ini dipersulit lagi dengan adanya doktrin-doktrin politik yang mengarah pada hilangnya semangat berdemokrasi dan pengekangan hak-hak azasi manusia yang seharusnya dijunjung tinggi. Pola pembelajaran demikian semakin lama agaknya semakin menutup kebebasan berpikir, berkreasi dan berdemokrasi baik di kalangan mahasiswa, dosen maupun di kalangan pegawai negeri lainnya, sehingga telah menampilkan gaya-gaya kepemimpinan yang cenderung militeristik,
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

serta mendorong

mereka untuk mencoba menyelesaikan persoalan yang ada itu secara

171

Juhari Hasan

lemahnya penegakan hukum dan hak-hak azasi manusia yang akhirnya telah menimbulkan ketidakpercayaan rakyat terhadap pemimpin mereka. Karena itu dapat dikatakan bahwa, bila berangkat dari suatu kurikulum dan pola pembelajaran yang berbasis kepentingan politik suatu kelompok tertentu, maka akan berujung pada kehancuran suatu bangsa itu sendiri. Gerakan mahasiswa yang menuntut presiden Soeharto turun tahta dan segera melakukan reformasi total di segala bidang merupakan wujud kekecewaan anak bangsa terhadap sistem kepemimpinan negara yang cenderung mengabaikan nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan serta hakhak warga negara. Berangkat dari fenomena sosial, ekonomi, hukum dan politik yang kurang mengenakkan di zaman orde baru, maka muncul beberapa tokoh yang menginginkan adanya pembaharuan kurikulum dalam rangka mengembalikan harkat dan martabat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang maju dan demokratis. Karena itu pada tahun 2000 muncul sebuah gerakan reformasi kurikulum berbasis kenegaraan yang diprakarsai oleh Universitas Islam Negari (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang diberi nama Civic Education. Azyumardi Azra menyebutkan bahwa pada tingkat praktis UIN Jakarta sejak tahun akademik 2000 mulai menyelenggarakan Pilot Project mata pelajaran Civic Education sebagai pengganti mata kuliah Pendidikan Kewiraan (Azyumardi Azra, 2007 : 2). Pada tahun 2001 atas bantuan dari The Asia Foundation, pilot Project ini diperluas sekaligus disosialisasikan ke seluruh UIN, IAIN dan STAIN, yaitu 6 UIN, 14 IAIN dan 30 STAIN yang ada di Indonesia. Evaluasi menyeluruh terhadap Pilot Project ini dilakukan di Mataram pada tahun 2004 dengan menghadirkan Menteri Agama, para Rektor dan ketua STAIN se- Indonesia. Hasil evaluasi terhadap proses pembelajaran Civic Education dengan mengedepankan strategi Active Learning, Learning by Doing dan Contextual Teaching and Laerning (CTL) menunjukkan hasil yang sangat baik dan menjanjikan dalam rangka mengajarkan Civic Culture di kalangan mahasiswa (Azyumardi Azra, 2007 : 2). Berangkat dari evaluasi nasional tersebut Menteri Agama telah mengesahkan Civic Education menjadi mata kuliah pengganti Pendidikan Kewiraan yang selama ini dinilai kurang

172

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pembelajaran Civic Education dalam Rangka Memperkuat Demokratisasi di Aceh

memberikan wawasan demokrasi bagi peserta didik. Adapun muatan kurikulum nasional pelajaran Civic Education dibagi ke dalam 2 (dua) aspek, yaitu 3 (tiga) materi utama dan 5 (lima) materi pendukung. Termasuk dalam materi utama adalah: (1) demokrasi, (2) HAM dan (3) Masyarakat Madani. Sedangkan materi pendukung terdiri dari: (1) Identitas Nasional dan Globalisasi, (2) Membangun Negara Berkeadaban, (3) Konstitusi dan Tata Perundang-Undangan, (4) Otonomi Daerah Dalam Kerangka NKRI, (5) dan Good and Clean Governance (A.Ubaedillah,dkk : 2006). Kedelapan materi tersebut dibahas secara bersama-sama antara dosen dan mahasiswa dengan menempatkan mahasiswa dalam posisi sebagai pencari informasi berdasarkan fenomena sosial yang ada relevansinya dengan topik-topik yang dibahas. Dengan demikian melalui proses pembelajaran dimaksud sekaligus telah mewariskan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan mahasiswa. Pembelajaran civic education sebagai wahana pendidikan demokrasi di Aceh Dalam kajian Civic Education ditemukan ada 3 (tiga) grand concept yang sering dipakai dalam menjelaskan pendidikan kewargaan. Ketiga konsep ini ditemukan dalam tulisan Udin Winataputra (2007: 12) yang menyebutkan bahwa secara terminologis terdapat ada 3 (tiga) grand concept yang sering dipakai dalam menjelaskan Pendidikan Kewargaan, yaitu Civics, Civic Education dan Citizenship Education. Kata Civics merupakan istilah yang paling tua sejak digunakan pertama kalinya oleh Chreshore pada tahun 1886 yang berisi antara lain mempelajari hubungan antar warga negara dan hubungan warga negara dengan negaranya. Hingga saat ini istilah Civics masih digunakan sebagai nama mata pelajaran yang berdiri sendiri atau terintegrasi ke dalam kurikulum sekolah lanjutan di Perancis, Italia, Hongaria, Jepang, Netherlands, Spanyol, USA dan Singapore. Di Indonesia sendiri istilah Civics ini pernah digunakan dalam kurikulum SMP dan SMA pada tahun 1962, kurikulum SD pada tahun 1968 dan kurikulum IKIP Bandung pada tahun 1973. Pada tahun 1900-an diperkenalkan istilah Citizenship Education dan
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

173

Juhari Hasan

Civic Education di Amerika Serikat. Istilah Citizenship Education cenderung dipakai secara lebih luas tidak saja dalam pendidikan formal akan tetapi juga di luar pendidikan formal. Hal ini berbeda dengan Civic Education yang cenderung digunakan dalam pendidikan formal semata. Namun – menurut Udin (2007) – kini istilah Civic Education lebih banyak digunakan di USA serta beberapa negara baru di Eropa timur yang mendapat pembinaan profesional dari Centre for Civic Education dan Universitas mitra kerjanya di Amerika. (Udin S Winataputra, 2007 : 13). Secara paradigmatik, Civic Education memiliki visi formal pedagogik dalam rangka mendidik warga negara yang demokratis dalam konteks pendidikan formal. Dalam rangka menyukseskan pembangunan Indonesia menuju masyarakat madani, maka pembelajaran Civic Education mengusung beberapa orientasi, antara lain : 1. Orientasi sosio – pedagogis, yaitu suatu orientasi yang dicanangkan dalam rangka menggali dan mengembangkan potensi setiap individu dari peserta didik (mahasiswa) untuk tampil sebagai makhluk Tuhan di satu sisi dan sebagai makhluk sosial di sisi lain. Sebagai makhluk Tuhan maka individu yang bersangkutan diharapkan mampu menempatkan dirinya menjadi individu yang taat dengan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai ilahiyat dalam hidupnya. Sedangkan sebagai makhluk sosial diharapkan setiap peserta didik menjadi warga negara yang bertanggung jawab, demokratis, religius, egaliter, solider, adil dan beradab. 2. Orientasi sosiokultural, yaitu membangun wawasan kebersamaan dan partisipatif di kalangan anak didik. Mahasiswa diharapkan mampu memfasilitasi dan berpartisipasi dalam mewujukan cita-cita, sistem nilai dan kepercayaan, konsep, prinsip dan semangat demokrasi dalam konteks pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia yang maju, adil dan makmur (masyarakat madani) secara cerdas dan bersahaja. 3. Orientasi substanstif–akademik, yaitu ikut mengembangkan konsepkonsep ilmiah berkaitan dengan kehidupan kewargaan sebagai sumber pengetahuan Civic Education, baik berkenaan dengan kemaslahatan warga negara maupun pengembangan budaya bangsa itu sendiri. Orientasi ini dapat diwujudkan melalui aktivitas riset tentang berbagai

174

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pembelajaran Civic Education dalam Rangka Memperkuat Demokratisasi di Aceh

fenomena kebangsaan, terutama yang berhubungan dengan upayaupaya penegakan demokrasi, HAM dan masyarakat madani. Ketiga orientasi agaknya menjadi modal dasar dalam membangun tegaknya proses demokratisasi di Aceh. Konflik berkepanjangan yang selama ini terjadi di Aceh agaknya juga bermuara pada rendahnya semangat berdemokrasi yang dibangun oleh pemerintah pusat. Model pemerintahan sentralistik yang diterapkan sejak pemerintahan Orde lama dan Orde Baru terkesan telah memperkosa hak-hak demokrasi masyarakat sipil di berbagai daerah, khususnya di Aceh. Inilah yang mendorong masyarakat Aceh meneriakkan hak-haknya sebagai warga negara, namun teriakan itu kurang terdengar oleh pemerintah pusat sehingga orang Aceh harus beberapa kali berseteru dengan pemerintah pusat dalam bentuk pemberontakan (Mustafa Abubakar, 2006 : 12, Ahmad Farhan Ahmid, 2006: bagian I). Berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka menyelesaikan konflik Aceh, terutama melalui pendekatan pertahanan keamanan dengan menempatkan militer sebagai ujung tombak penyelesaian. Pola penyelesaian demikian terbukti tidak efektif dan tidak membuahkan hasil yang maksimal. Namun setelah melalui pendekatan musyawarah (dialog) dengan mengedepankan nilai-nilai demokrasi maka kedamaian di Aceh dapat dinikmati oleh seluruh komponen masyarakat (Ahmad Farhan Hamid, 2006 : 477) menjelaskan bahwa saling mempercayai dan membangun kerjasama yang harmonis antara pihak yang bertikai merupakan kunci untuk membangun dan menjaga keberlangsungan damai di Aceh. Berpijak dari kenyataan yang ada dalam masyarakat Aceh, dapat ditegaskan bahwa penegakan demokrasi yang sesungguhnya di Aceh merupakan salah satu pilihan upaya yang sangat urgen bagi meningkatkan kenyamanan dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Untuk itu pemberian pemahaman yang komprehensif tentang makna demokrasi bagi seluruh komponen masyarakat merupakan sesuatu yang mesti dilakukan. Salah cara yang efektif untuk mensosialisasikan dan mewariskan nilai-nilai demokrasi adalah melalui lembaga-lembaga pendidikan. Perguruan Tinggi merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang memiliki peran strategis untuk mewariskan nilai-nilai demokrasi
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

175

Juhari Hasan

dan kebangsaan bagi generasi muda. Pendidikan dimaksud adalah model pendidikan yang berorientasi pada pembangunan karakter bangsa melalui pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran melalui cara-cara yang demokratis, kritis, partisipatif, kreatif dan moralis. Dalam konteks ini proses belajar mengajar bukan lagi menjadi monopoli guru atau dosen, akan tetapi menjadi milik bersama dan menjadikan proses belajar mengajar sebagai wadah untuk berdialog, berdiskusi dan belajar bersama (A.Ubaedillah dan Abdul Rozak, 2006: vii – viii). Pola pembelajaran yang demikian dinilai sangat relevan bagi upaya pengembangan pendidikan demokrasi di Aceh, sebab pengalaman belajar di kelas dengan mempraktekkan demokrasi akan berpengaruh positif terhadap proses transformasi nilai-nilai demokrasi yang diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sekolah atau Perguruan Tinggi merupakan laboratorium yang sangat berguna untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan memiliki komitmen menegakkan hukum, HAM dan demokrasi dengan penuh tanggung jawab. Penutup Istilah Civic Education berasal dari kata Civic yang berarti masyarakat sipil atau warga negara dan education yang bermakna pendidikan. Bila kedua kata ini digabungkan maka akan melahirkan makna pendidikan kewargaan. Pengesahan Civic Education menjadi salah satu mata pelajaran pokok di Perguruan Tinggi – khususnya Perguruan Tinggi Islam seperti UIN, IAIN dan STAIN di Indonesia. Di antara tujuan pembelajaran Civic Education di Perguruan Tinggi adalah menumbuhkembangkan semangat berdemokrasi dan saling menghargai perbedaan di kalangan mahasiswa sebagai penerus estafet kepemimpinan bangsa. Proses pembelajaran Civic Education dititikberatkan pada 3 (tiga) orientasi utama, yaitu : (1) Orientasi sosio – pedagogis, yaitu suatu orientasi yang dicanangkan dalam rangka menggali dan mengembangkan potensi setiap individu untuk tampil sebagai makhluk Tuhan yang taat dengan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai Ilahiyat dalam hidupnya. Sedangkan

176

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pembelajaran Civic Education dalam Rangka Memperkuat Demokratisasi di Aceh

sebagai makhluk sosial diharapkan setiap peserta didik menjadi warga negara yang bertanggung jawab, demokratis, religius, egaliter, solider, adil dan beradab. (2) Orientasi Sosio – Kultural, yaitu membangun kebersamaan dan semangat partisipatif di kalangan anak didik. Mereka diharapkan mampu memfasilitasi dan berpartisipasi dalam mewujukan cita-cita, sistem nilai dan kepercayaan, konsep, prinsip dan semangat demokrasi dalam kontek pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia yang maju, adil, makmur dan beradab. (3) Orientasi substanstif – Akademik, yaitu ikut mengembangkan konsep-konsep ilmiyah berkaitan dengan kehidupan kewargaan sebagai sumber pengetahuan Civic Education, baik berkenaan dengan kemaslahatan warga negara maupun pengembangan budaya bangsa itu sendiri. Orientasi ini dapat diwujudkan melalui aktivitas riset tentang berbagai fenomena kebangsaan, terutama yang berhubungan dengan upayaupaya penegakan demokrasi, HAM dan masyarakat madani. Pendidikan Civic Education yang berorientasi pada pembangunan karakter bangsa dengan menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran melalui cara-cara yang demokratis, kritis, partisipatif, kreatif dan moralis merupakan salah satu model pembelajaran yang sangat efektif dalam rangka mewariskan nilai-nilai demokrasi di kalangan anak didik. Dalam konteks ini proses belajar mengajar bukan lagi menjadi monopoli guru atau dosen, akan tetapi menjadi milik bersama dan menjadikan proses belajar mengajar sebagai wadah untuk berdialog, berdiskusi dan belajar bersama Model pembelajaran demikian tentu sangat relevan bagi upaya pengembangan pendidikan demokrasi di Aceh, sebab pengalaman belajar di kelas dengan mempraktekkan demokrasi akan berpengaruh positif terhadap proses transformasi nilai-nilai demokrasi yang diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sekolah atau Perguruan Tinggi merupakan Laboratorium yang sangat berguna bagi mempersiapkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan memiliki komitmen menegakkan hukum, HAM dan demokrasi dengan penuh tanggung jawab.

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

177

Juhari Hasan

DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi. “Pendidikan Kewargaan: Tinjauan Politik”, Makalah Tidak Diterbitkan, disampaikan pada Seminar RUU Pendidikan Kewarganegaraan, Jakarta, 2007 Bakar, Mustafa Abu. Aceh Lon Damai Aceh Merdeka Abadi. Banda Aceh: BRR NAD – Nias, 2006 Echols, John dan Hassan Shadly. Kamus Inggris – Indonesia, Jakarta: Gramedia, 2003 Hamid, Ahmad Farhan. Jalan Damai Nanggroe Endatu. Jakarta: Suara Bebas, 2006 Nagor, M Yunus. Melestarikan Tiga Keistimewaan Aceh. Banda Aceh: Citra Karya, 1995 Reid, Anthony. Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatra hingga Akhir Kerajaan Aceh. Jakarta: Yayasan Obor, 2007 Ubaedillah, A. dan Abdul Rozak. Demokrasi, Hak-Hak Azasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta: ICCE – UIN, 2006 Usman, A Rani. Sejarah Peradaban Aceh. Jakarta:Yayasan Obor, 2003 Winataputra, Udin S. “Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Alternatif Pembelajaran Demokrasi, HAM dan Civil Society”, Makalah tidak Diterbitkan, disampaikan Workshop for Lecturers on Civic Education, Jakarta, 2007 -----------. Himpunan UU, Kepres, Perda/ Qanun, Ingub dan Edaran Gubernur, Dinas Syariat Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2005

178

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Maslahah dalam Civil Society

(Kajian dalam Perspektif Fiqh Siyasah untuk Konstribusi Perdamaian Aceh)

Syamsuar Basyariah
Ketua STAI Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Menyelesaikan Sarjana (S-1) pada Fakultas Dakwah, Magister (S-2) Konsentrasi Penyiaran dan Penerangan Agama Islam pada Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, dan Doktor (S-3) pada IAIN ArRaniry, konsentrasi Fiqh Modern

Pendahuluan Mashlahah mursalah adalah suatu kemaslahatan yang tidak disinggung oleh syara’ dan tidak pula terdapat dalil-dalil yang menyuruh untuk mengerjakan atau meninggalkannya. Namun, jika dikerjakan akan mendatangkan kebaikan yang besar atau kemaslahatan. Mashlahat mursalah disebut juga mashlahat yang mutlak. Karena tidak ada dalil yang mengakui kesahan atau kebatalannya. Jadi pembentuk hukum dengan cara mashlahat mursalah semata-mata untuk mewujudkan kemaslahatan manusia dengan arti untuk mendatangkan manfaat dan menolak kemudharatan dan kerusakan bagi manusia. Para ahli usul al-fiqh mengemukakan beberapa pembagian maslahah,1 Kemaslahatan manusia itu mempunyai tingkatan-tingkatan. Tingkatan pertama lebih utama dari tingkatan kedua dan tingkat yang kedua lebih utama dari tingkatan yang ketiga. Tingkatan-tingkatan itu, antara lain: Abu Ishaq al-Syatibi, al-Muwafaqat fi Usul al-Syari‘ah (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1973), 8-12. Abu Hamid al-Ghazali al-Mustasyfa fi ‘Ilm al-Usul, Jilid I (Beirut: Dar al-Kutub alIslamiyyah, 1983),139.
1

179

Syamsuar Basyariah

Tingkatan pertama yaitu tingkatan dhurari, tingkatan yang harus ada. Tingkatan ini terdiri atas lima tingkatan pula, tingkatan pertama lebih utama dari yang kedua, yang kedua lebih utama dari yang ketiga dan seterusnya. Tingkatan-tingkatan itu adalah memelihara agama; memelihara jiwa; memelihara akal; memelihara keturunan; dan memelihara harta. Sementara tingkat yang kedua adalah tingkat yang diperlukan (haji), dan tingkat ketiga, adalah tingkat tahsini. Dengan demikian kata Asafri Jaya Bakti, “Tidak terwujudnya aspek daruriyyah dapat merusak kehidupan manusia dunia dan akhirat secara keseluruhan. Pengabaian terhadap aspek hajiyyah, tidak sampai merusak keberadaan lima unsur pokok, akan tetapi hanya membawa kepada kesulitan bagi manusia sebagai mukallaf dalam merealisasikannya. Sedangkan pengabaian aspek tahsiniyyah, membawa upaya pemeliharaan lima unsur pokok tidak sempurna.”2 Ketiga kemashalahatan ini perlu dibedakan, sehingga seorang muslim dapat menentukan prioritas dalam mengambil suatu kemaslahatan. Kemaslahatan daruriyyah harus lebih didahulukan daripada kemaslahatan hajiyyah dan kemaslahatan hajiyyah lebih didahulukan dari kemaslahatan tahsiniyyah.3 Dengan demikian, berarti telah menempatkan kemaslahatan pada tempat yang proporsional. Di antara contoh mashlahat mursalah adalah usaha khalifah Abu Bakar mengumpulkan Alquranyang terkenal dengan jam’ul Quran. Pengumpulan Alquran ini tidak disinggung sedikitpun oleh syara’, tidak ada nash yang memerintahkan dan tidak ada nash yang melarangnya. Setelah terjadi peperangan Yamamah banyak para penghafal Alquranyang mati syahid (± 70 orang). Umar bin Khattab melihat kemaslahatan yang sangat besar pengumpulan Alquranitu, bahkan menyangkut kepentingan agama (dhurari). Seandainya tidak dikumpulkan, dikhawatirkan Alquran akan hilang dari permukaan dunia nanti. Karena itu Khalifah Abu Bakar menerima anjuran Umar dan melaksanakannya. Demikian pula tidak disebut oleh syara’ tentang keperluan mendirikan rumah penjara, menggunakan mikrofon di waktu adzan atau shalat jama’ah, Asafri Jaya Bakri, Konsep Maqasid Syari‘ah Menurut al-Syatibi, Cet. I (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), 72.
2 3

Nasrun Haroen, Ushul Fiqh I, Jil. I, Cet. II (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), 116.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

180

Maslahah dalam Civil Society

menjadikan tempat melempar jumrah menjadi dua tingkat, tempat sa’i dua tingkat, tetapi semuanya itu dilakukan semata-mata untuk kemashlahatan agama, manusia dan harta. Dalam mengistinbatkan hukum, sering kurang dibedakan antara qiyas, istihsan dan mashlahat mursalah. Pada qiyas ada dua peristiwa atau kejadian, yang pertama tidak ada nashnya, karena itu belum ditetapkan hukumnya, sedang yang kedua ada nashnya dan telah ditetapkan hukumnya. Pada istihsan hanya ada satu peristiwa, tetapi ada dua dalil yang dapat dijadikan sebagai dasarnya. Dalil yang pertama lebih kuat dari yang kedua. tetapi karena ada sesuatu kepentingan dipakailah dalil yang kedua. Sedang pada mashlahat mursalah hanya ada satu peristiwa dan tidak ada dalil yang dapat dijadikan dasar untuk menetapkan hukum dari peristiwa itu, tetapi ada suatu kepentingan yang sangat besar jika peristiwa itu ditetapkan hukumnya. Karena itu ditetapkanlah hukum berdasar kepentingan itu. Imam al-Ghazali menggunakan istilah istishlah sebagai kata yang sama artinya dengan mashlahat mursalah. Dasar hukum Para ulama yang menjadikan mashlahat mursalah sebagai salah satu dalil syara’, menyatakan bahwa dasar hukum mashlahat mursalah adalah sebagai berikut: a) demikian Persoalan yang dihadapi manusia selalu tumbuh dan berkembang, pula kepentingan dan keperluan hidupnya. Kenyataan

menunjukkan bahwa banyak hal-hal atau persoalan yang tidak terjadi pada masa Rasulullah, kemudian timbul dan terjadi pada masa-masa sesudahnya, bahkan ada yang terjadi tidak lama setelah Rasulullah meninggal dunia. Seandainya tidak ada dalil yang dapat memecahkan hal-hal yang demikian berarti akan sempitlah kehidupan manusia. Dalil itu ialah dalil yang dapat menetapkan mana yang merupakan kemaslahatan manusia dan mana yang tidak sesuai dengan dasar-dasar umum dari agama Islam. Jika hal itu telah ada, maka dapat direalisir kemaslahatan manusia pada setiap masa, keadaan dan tempat. b) Sebenarnya para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan para ulama
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

181

Syamsuar Basyariah

yang datang sesudahnya telah melaksanakannya, sehingga mereka dapat segera menetapkan hukum sesuai dengan kemaslahatan kaum muslimin pada masa itu. Khalifah Abu Bakar telah mengumpulkan AIquran, Khalifah Umar telah menetapkan talak yang dijatuhkan tiga kali sekaligus jatuh tiga, padahal pada masa Rasulullah hanya jatuh satu, Khalifah Utsman telah memerintahkan penulisan Alquran dalam satu mushaf dan Khalifah Ali pun telah menghukum bakar hidup golongan Syi’ah Rafidhah yang memberontak, kemudian diikuti oleh para ulama yang datang sesudahnya. c) Obyek mashlahat mursalah Yang menjadi obyek mashlahat mursalah, ialah kejadian atau peristiwa yang perlu ditetapkan hukumnya, tetapi tidak ada satupun nash (Alqurandan Hadits) yang dapat dijadikan dasarnya. Prinsip ini disepakati oleh kebanyakan pengikut madzhab yang ada dalam fiqh, demikian pernyataan Imam al-Qarafi ath-Thufi dalam kitabnya Mashalihul Mursalah menerangkan bahwa mashlahat mursalah itu sebagai dasar untuk menetapkan hukum dalam bidang mu’amalah dan semacamnya. Sedang dalam soal-soal ibadah adalah Allah untuk menetapkan hukumnya, karena manusia tidak sanggup mengetahui dengan lengkap hikmah ibadat itu. Oleh sebab itu hendaklah kaum muslimin beribadat sesuai dengan ketentuanNya yang terdapat dalam Alquran dan Hadis. Menurut Imam al-Haramain: Menurut pendapat Imam asy-Syafi’i dan sebagian besar pengikut Madzhab Hanafi, menetapkan hukum dengan mashlahat mursalah harus dengan syarat, harus ada persesuaian dengan mashlahat yang diyakini, diakui dan disetujui oleh para ulama. Seluk beluk civil society Sebagai sebuah gagasan, civil society adalah produk pengalaman sejarah, yakni sejarah masyarakat Barat. Sepanjang sejarahnya, civil society mengalami pelbagai model pemaknaan, sejalan dengan keragaman dan dinamika pemikiran serta keragaman dan dinamika konteks kesejarahan tempat pemikiran itu diterapkan. Dalam sejumlah literatur, terdapat sejumlah model pemaknaan civil society. Pemahaman yang paling kuno, civil society dipahami sebagai sistem

182

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Maslahah dalam Civil Society

kenegaran. Civil society identik dengan state (Negara).4 Pemahaman demikian dikembangkan oleh Aristoteles dan lain-lain. Pada paruh kedua abad ke-18, Adam Ferguson (1767)5 lebih memaknai civil society sebagai visi etis dalam kehidupan bermasyarakat untuk memelihara tanggung jawab sosial yang bercirikan solidaritas sosial dan yang terilhami oleh sentiment moral serta sikap saling menyayangi antar warga secara alamiah. Ketiga, Thomas Paine (1792) mulai memaknai civil society dalam posisi diametral dengan Negara, bahkan civil society dinilai sebagai antitesis Negara. Negara harus dibatasi sampai sekecil-kecilnya, karena keberadaannya hanyalah keniscayaan buruk (necessary evil)6 belaka. Civil society harus lebih kuat dan mengontrol Negara demi keperluannya. Bila Karl Marx menempatkan civil society pada basis material, Gramsci menaruhnya pada superstruktur, berdampingan dengan Negara yang ia sebut sebagai political society. Civil society adalah tempat perebutan posisi hegemonik di luar kekuatan Negara. Di dalamnya, aparat hegemoni mengembangkan hegemoni untuk membentuk consensus dalam masyarakat. Mohammad AS. Hikam7mengkatagorikan Hegel, Karl Marx, dan Gramsci ini sebagai pemakna civil society dalam pengertian ”elemen ideology kelas dominant”. Itulah model keempat pemaknaan civil society. Model terakhir ini kemudian diperkaya oleh Hannah Arendt dan Juergen Habermas dengan ”ruang publik yang bebas” (the free public sphere). Dengan demikian, terwujudnya ruang publik yang bebas merupakan elemen utama dalam perjuangan pembentukan civil society. Istilah Civil Society (koinonie politike, societas civilis, buergarliche gesellschaft, civil society, societa civile), dipakai secara bergantian dengan state (polis, civitas, etat, staat, state, dan stato). John Keane, “Despotism and Democracy The Origins and Development of The Distinction Between Civil Society and The State 1750-1850”, dalam John Keane (ed.), Civil Society and The State New European Perspectives, (New York: Verso, 1988), 35.
4

Ernest Gellner, Membangun Masyarakat Sipil Prasyarat Menuju Kebebasan (Bandung: Mizan, 1995), 68-90.
5 6 7

John Keane, Civil Society and … , 45.

Muhammad AS. Hikam, Civil Society dan Masyarakat Indonesia, makalah seminar “Mencari Konsep, Keberadaan, dan Strategi Mewujudkan Civil Society di Indonesia” oleh LP3ES dan YAPPIKA, Jakarta, 14 April 1998, 5-8.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

183

Syamsuar Basyariah

Civil society model Tocqueville sebagai rekonstruksi pengalaman Amerika dan kemudian tumbuh di Eropa inilah yang selanjutnya menjadi basis kehidupan demokrasi modern, yang berlandaskan prinsip toleransi, desentralisasi, kewarganegaraan, aktivisme dalam ruang publik, sukarela, swasembada, swadaya, otonom, dan konstitusionalisme. Secara institutional, civil society mewujud dalam berbagai asosiasi yang dibuat masyarakat di luar pengaruh Negara. Misalnya, lembaga swadaya masyarakat, organisasi sosial dan keagamaan, paguyuban, kelompok kepentingan, partai politik, hingga organisasi yang awalnya dibentuk Negara, namun berfungsi sebagai pelayan masyarakat, seperti Konnas HAM di Indonesia. Masyarakat madani yang dikenal dari bahasa asalnya civil society berasal dari bahasa Latin “civilis,” yang berarti warga, diterjemahkan dengan bermacam-macam. Diperkenalkan pertama kali oleh Anwar Ibrahim,8 dan kemudian dipopulerkan oleh cendekiawan muslim, pakar fiqh siyasah dusturiyyah, Nurcholish Madjid. Nurcholish Madjid juga menterjemahkan dengan bahasa yang sama “masyarakat madani.” Terjemahan ini dipromosikan Nurcholish Madjid dan sangat kuat diterima oleh Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani semasa B. J. Habibie.9 Dalam buku kecil Ringkasan Eksekutifnya, disimpulkan antara lain: “Untuk menghindari perdebatan yang berkepanjangan dan tidak perlu, maka “masyarakat madani.”
8 10

disepakati sebagai terjemahan dari “civil society.” Walaupun

Dalam ceramahnya pada Simposium Nasional dalam rangka Festival Istiqlal di Jakarta, 26 September 1995, Anwar Ibrahim-saat itu masih menjabat sebagai Menteri Keuangan dan Timbalan Perdana Menteri Malaysia-memperkenalkan istilah “masyarakat madani” untuk civil society yang memang sudah berkembang di Malaysia. Dawam Rahardjo, “Masyarakat Madani ... , 1. Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani, Transformasi Bangsa Menuju Masyarakat Madani (Jakarta: Sekretariat Tim Madani, kantor Sekwapres, 1999), 2-3.
9

Nurcholish Madjid tidak menterjemahkan civil society dengan masyarakat sipil karena dikhawatirkan akan bertentangan dengan masyarakat militer. Hal ini dipertegas oleh Azyumardi Azra, yang katanya “sejauh yang saya ketahui, dia tidak mempersoalkan antara sipil dengan militer. Cak Nur tetap menolak keterlibatan militer di dalam politik. Masyarakat madani, bagi dia adalah tegaknya nilai-nilai keadaban, apakah melalui lembaga pemerintah atau non pemerintah sehingga civil society bisa hidup. Ada law and order.” Azyumardi Azra, Islam Substantif: Agar Umat Tidak Menjadi Buih, Cet. I (Bandung: Mizan, 2000), 313.
10

184

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Maslahah dalam Civil Society

wacana tentang masyarakat madani belum berumur panjang, namun citacita untuk mewujudkan masyarakat madani telah berkembang sejak zaman pergerakan kemerdekaan.” Satu konsep pentingnya adalah fungsi relasional “negara vs masyarakat,” yakni melindungi individu, sebagai suplementer kepada tugas negara, dan sebagai pengisi atau komplemen “terhadap halhal penting dalam kehidupan sosial yang berada di luar jangkauan atau perhatian negara.”11 Bagaimana Nurcholish Madjid mengartikan masyarakat madani?. Masyarakat madani menurut Nurcholish terdiri dari dua kata yakni “masyarakat” dan “madani.” “madani” berasal dari kata ‘Arab al-madaniyyah yang artinya peradaban. Dalam bahasa Inggris, istilah yang sepadan dengan ini adalah kata civility yang berarti “keadaban.” Dalam bahasa ‘Arab modern, terjemahan civil society adalah al-mujtama‘ al-madani. Nampak jelas bahwa dalam konteks ini yang menjadi kata kunci bagi Nurcholish Madjid adalah “Madinah” yang secara etimologis berarti “kota.” Dalam literatur bahasa ‘Arab, kata ini bermakna “pola hidup berperadaban,” yang karena itu, istilah madaniyah berarti “peradaban.” Dengan mengutip Ensiclopedia Britannica, Nurcholish Madjid mengatakan bahwa kata ini pun dipergunakan dalam bahasa Ibrani menjadi Madinah, madinat, atau medinat, dan mengalami perubahan makna menjadi “negara.” Dalam bahasa Ibrani, nama resmi Israel adalah Madinat Israel atau Medinat Yisra’il. Kesimpulannya, istilah Madinah, erat kaitannya dengan “negara.” Setidaknya “negara-kota” yang menyiratkan pentingnya aspek keadaban, dan dalam bahasa ‘Arab hal tersebut adalah madaniyah atau dalam bahasa Inggris disebut civility.12 Selanjutnya, dalam membahas atau merumuskan masyarakat madani, Nurcholish Madjid sering mengintegralistikkan antara tiga kata yakni masyarakat madani, civility, dan demokrasi.13 Dalam pandangan Nurcholish
11

Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani, Transformasi Bangsa … . 2-3.

Nurcholish Madjid, “Asas-asas Pluralisme dan Toleransi dalam Masyarakat Madani,” Makalah yang disempurnakan dari pidato Halal bi Halal KAHMI, Jakarta, 11 Syawal 1419/28 Januari 1999, 1-2.
12 13

Reformasi tidak dapat dipisahkan dari demokrasi. Tetapi demokrasi, menurut suatu
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

185

Syamsuar Basyariah

Madjid, jika demokrasi-sebagaimana dipahami di negara maju-harus mempunyai “rumah,” maka rumahnya adalah “masyarakat madani” atau “civil society,” sementara “civility” merupakan kualitas etik yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri,14 seperti toleransi, keterbukaan, kebebasan, dan tanggung jawab. Bagaimana keterkaitan masyarakat madani dengan civility? Eksistensi masyarakat madani, lebih jauh, tegas Nurcholish Madjid sangat determinan oleh sejauh mana kualitas civility tersebut dimiliki warganya. Civility mengandung makna toleransi, kesediaan pribadi-pribadi untuk menerima berbagai macam pandangan politik dan tingkah laku sosial, juga kesediaan untuk menerima pandangan bahwa tidak selalu ada jawaban yang benar15 atas suatu masalah.16 Di atas segalanya, rumusan yang diajukan oleh Nurcholish Madjid harus diberi perhatian secara lebih luas. Sebagian besar melalui rumusannya, wacana tentang civil society dengan terjemahan “masyarakat madani” akhirnya dapat diterima banyak kalangan di Indonesia.17 Bahkan, dalam beberapa hal, rumusan Nurcholish Madjid itulah yang menandai titik akhir

analisis pengamat sosial politik, tidak mungkin berlangsung jika civil society lemah dalam berhadapan dengan negara. Demokrasi akan berlangsung jika civil society kuat dalam berhadapan dengan negara. Mengenai pengertian dan konsep demokrasi dan nilainilainya yang dimaksudkan Nurcholish Madjid telah dikaji dalam bentuk tesis oleh Anas Urbaningrum (mantan Ketua Umum PB HMI-sekarang Ketua DPP Partai Demokrat) dengan judul Islamo-Demokrasi: Pemikiran Nurcholish Madjid, Cet. I (Jakarta: Republika, 2004). Nurcholish Madjid, Cita-cita Politik Islam Era Reformasi, Cet. I (Jakarta: Paramadina, 1999), 144-149.
14

Kebenaran manusia dalam pandangan Nurcholish Madjid bersifat relatif, sementara kebenaran absolut hanya ada di tangan Tuhan. Jadi dengan demikian, kata Nurcholish Madjid “tidak ada klaim kebenaran.”
15 16 17

Nurcholish Madjid, Cita-cita Politik … ,148.

Suatu isu penting dalam “Konstitusi Madinah” adalah persamaan semua warga, sebagai elemen pokok civil society atau “masyarakat madani” satu terjemahan yang dipromosikan Nurcholish Madjid dan sangat kuat diterima oleh Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani semasa B. J. Habibie. Tim Nasional Reformasi menuju Masyarakat Madani, Transformasi Bangsa menuju Masyarakat Madani, (Jakarta: Sekretariat Tim Madani, kantor Sekwapres, 1999).

186

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Maslahah dalam Civil Society

dari usaha merumuskan visi tentang civil society bagi kalangan muslim.18 Ketika para intelektual dan aktivis lain seperti Mohammad AS Hikam, Dawam Rahardjo, dan Mansour Fakih mengalami kesulitan mendasar untuk menarik wacana civil society ke dalam konteks kesejarahan Islam, karena keyakinan mereka bahwa tradisi Islam tidak memiliki pengalaman historis mengenai hal tersebut, Nurcholish Madjid secara meyakinkan meminjam istilah Anwar Ibrahim dan kemudian melacak akar-akar sejarah sosial Islam dari konsep tersebut. Hal inilah yang agaknya membuat banyak orang merasa bahwa ternyata Islam memiliki fondasi yang kuat dalam apa yang sekarang disebut civil society. Melalui tangan Nurcholish Madjid, istilah “masyarakat madani” seakan-akan mendapatkan kesejatian dan daya tarik yang ampuh.19Kemudian dari hasil bacaan dan pengamatan Hendro Prasetyo, Ali Munhanif, dan kawan-kawan, mengatakan “wacana tentang masyarakat madani kemudian menjadi semakin dekat dengan wacana keagamaan Islam. Inilah salah satu yang akhirnya menjadi acuan bagi banyak orang untuk tidak lagi ragu mensandingkan wacana tentang civil society dan pesan-pesan sosial politik Islam.”20 Atas dasar penjelasan di atas, dalam sebuah wawancara dengan Ahmad Baso, yang direkam kembali oleh Hendro Prasetyo, Ali Munhanif, dan kawankawan, bahwa rumusan Nurcholish Madjid tentang masyarakat madani menyebabkan “banyak kalangan intelektual-aktivis Islam tidak lagi mengalami stigma intelektual ketika berbicara mengenai wacana tersebut, dimana sebutan-sebutan yang kental dalam nuansa civil society dari pengalaman sejarah sosial Eropa, seperti masyarakat borjuis, sekuler, liberalisme, dan kritik terhadap institusi dan kekuasaan, muncul.”21 Di sini masyarakat madani

Ahmad Baso, Civil Society versus Masyarakat Madani: Arkeologi Pemikiran Civil Society dalam Islam Indonesia (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999).
18 19 20 21

Hendro Prasetyo, Ali Munhanif, dkk., Islam dan Civil Society … , 169. Nurcholish Madjid, “Asas-asas Pluralisme … , 1-2. Hendro Prasetyo, Ali Munhanif, dkk., Islam dan Civil Society … , 169.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

187

Syamsuar Basyariah

dengan ciri khas22 terpokok menjadikan kehidupan masa Nabi Muhammad sebagai teladan tentu memiliki nilai tambah tersendiri dibanding dengan gerakan civil society kalangan lain yang lebih banyak mendasarkan diri pada pengisian makna dari konsep-konsep dan pengalaman Barat. Dengan bahasa lain, dalam konsep civil society kelihatan nuansa agama yang tidak dominan, dan itu berarti belum mencapai tingkat civility.23 Nabi Muhammad telah merintis dan memberi teladan kepada umat manusia dalam membangun masyarakat madani (masyarakat yang berperadaban) dengan mereformasi sosio-kultural masyarakat Yasthrib yang kering dari nilai-nilai etika, dan tidak mengindahkan hak-hak azasi perorangan serta suatu tatanan masyarakat yang kacau. Perubahan mendasar yang dipelopori Nabi Muhammad ini, kata Nurcholish Madjid mengantarkan masyarakat Yasthrib kepada suatu tatanan masyarakat berperadaban (ber-madaniyyah), masyarakat yang tunduk dan patuh kepada ajaran kepatuhan (al-Din) dan dinyatakan dalam supremasi hukum dan peraturan.24 Usaha Nabi Muhammad itu disebut juga sebagai proses pembinaan kesadaran dan perpecahan dengan mencari dan mengaktualkan kembali petunjuk Allah, sehingga mentransformasikan masyarakat Arab menjadi masyarakat madani. Proses ini dapat dikatakan sebagai proses yang relatif panjang, sebab lebih kurang dua puluh tiga tahun lamanya Nabi Muhammad berjuang untuk itu.25 Ciri-ciri mendasar masyarakat madani yang dibangun Nabi Muhammad menurut Nurcholish Madjid di antaranya: 1). Egalitarianisme; 2). Penghargaan kepada orang berdasarkan prestasi (bukan kesukuan, keturunan, ras, dan sebagainya); 3). Keterbukaan partisipasi seluruh anggota masyarakat; 4). Penegakan hukum dan keadilan; 5). Toleransi dan pluralisme; 6). Musyawarah. Nurcholish Madjid, Adi Suryadi Culla, Masyarakat Madani: Pemikiran, Teori, dan Relevansinya dengan Cita-cita Reformasi, Cet. II, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999), 193.
22 23 24

Ahmad Baso, Civil Society versus Masyarakat Madani: … , 254.

Nurcholish Madjid, “Masyarakat Madani dalam Perspektif Agama dan politik, Asas-Asas Pluralisme dalam Masyarakat Madani”. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional di Auditorium IAIN Jakarta 22 Pebruari 1999, 1. Safwan Idris, “Menuju Masyarakat Madani dengan Bimbingan al-Qur’an”, makalah disampaikan pada acara Ceramah Nuzul Quran 17 Ramadhan 1419 H/4 Januari 1999 M di masjid Istiqlal Jakarta.
25

188

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Maslahah dalam Civil Society

Setelah mencapai tingkat kemapanan, nama Yathrib dirubah Nabi Muhammad menjadi “Madinah”26 artinya “kota,” kemudian sering dilengkapi menjadi “al-Madinah al-Nabiy,” sampai sekarang terkenal dengan nama “alMadinah al-Munawwarah.”27 Secara konvensional, perkataan “Madinah” diartikan dengan “kota,” tetapi secara ilmu kebahasaan perkataan itu mengandung makna peradaban. Dalam bahasa ‘Arab, untuk “peradaban” digunakan kata-kata “madaniyyah” atau “tamaddun,”28 selain kata hadarat. Berangkat dari pengertian kata tersebut, Nurcholish Madjid memandang tindakan Nabi Muhammad merubah nama “Yathrib” menjadi “Madinah” pada dasarnya adalah pernyataan niat, atau proklamasi, bahwa Nabi Muhammad bersama pendukungnya (Muhajirin dan Ansar) hendak mendirikan dan membangun masyarakat yang berperadaban (bermadaniyyah),29 sehingga perubahan nama memiliki makna yang integral dan sesuai dengan karakter masyarakatnya. Cita-cita fiqh siyasah dusturiyyah Nurcholish Madjid ingin mewujudkan masyarakat Islam (Islamic society) yang dalam wacana lain sering disebut “masyarakat madani” yang ia terjemahkan dari “civil society.” Civil society menurut Nurcholish Madjid sebagaimana dikutip Ernest Gellner adalah “produk Barat.” Tetapi secara substansial paradigma nilai masyarakat madani itu telah terdapat dalam ajaran Islam. Adanya hubungan konseptual antara civil society dengan nilai-nilai dasar Islam, dalam perspektif Nurcholish Madjid dapat ditemukan dalam seluk-beluk demokrasi. Sebelumnya bernama Yathrib. Yathrib sebuah nama yang mengandung konotasi pagan, dan kemudian berubah menjadi Madinat al-Nabiy (kota Nabi) paska hijrahnya Rasulullah ke negeri ini. Cyril Glassie, The Concice Encyclopedia of Islam, (London: Stacey International, 1989), h. 226. Madinah mempunyai 29 nama, dimana salah satunya adalah Yathrib.
26

Diterimanya perubahan nama dari Yathrib menjadi Madinah al-Nabiy atau Madinah al-Munawwarah sebagai bentuk penghormatan terhadap Nabi Muhammad. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Cet. IX (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999), 25.
27

Wahbah Zuhaily membedakan pengertian antara term tamaddun dan madaniyyah. Tamaddun berarti juga modernisasi atau kosmopolitansi, sementara madaniyyah merupakan fisik kosmopolitansi. Fisik, sarana perhubungan yang dapat diterima.
28 29

Nurcholish Madjid, Cita-cita Politik … , 164.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

189

Syamsuar Basyariah

Masyarakat madani memiliki banyak ide (bersifat kelompok atau lokal) tentang kiat-kiat membangun negara, sementara negara adalah representasi ide universal yang bertugas melindungi kepentingan politik warganya dan berhak penuh untuk intervensi ke dalam civil society. Dengan demikian, civil society adalah entitas yang cenderung melumpuhkan diri sendiri (myself crippling entity),30 dan karenanya memerlukan tuntunan negara lewat kontrol hukum, administrasi, dan politik. Intervensi negara dalam wilayah masyarakat, bagi Nurcholish Madjid, bukanlah tindakan illegitimate. Karena negara adalah pemilik ide universal, dan hanya pada dataran negara, politik bisa berlangsung murni serta utuh. Selain itu, masyarakat madani atau civil society modern pada kenyataannya tidak mampu mengatasi kelemahannya sendiri serta tidak mampu mempertahankan keberadaannya bila tanpa keteraturan politik dan ketertundukan pada institusi lebih tinggi, yakni negara. Demokrasi dalam pandangan Nurcholish Madjid berfungsi sebagai the rule of game. Tentu saja demokrasi digunakan sebagai mekanisme untuk mengoreksi “kesalahan-kesalahan pelaksanaan pemerintahan dan penggunaan kekuasaan ditinjau dari sudut kepentingan rakyat dan ketentuan-ketentuan konstitusional.”31 Jika demikian, demokrasi akan berkembang secara dinamis, dan karenanya pula perlu pengawasan yang lestari dengan mengikutsertakan semua warga negara dalam keterbukaannya sistem demokrasi. Keikutsertaan masyarakat menyebabkan demokrasi itu tidak statis. Ukurannya adalah proses progresif yang mengikuti suatu garis kontinum. Jadi kata Nurcholish Madjid “antara keadaan masyarakat kita sekarang ini (das Sein) dan keadaan demokratis yang kita kehendaki (das Sollen) tidak bisa kita ukur jarak ruang atau waktunya.” Selanjutnya, Nurcholish Madjid mengatakan bahwa “suatu masyarakat tidak demokratis jika tidak ada proses demokratisasi. Sebaliknya, cukuplah suatu masyarakat disebut demokratis, jika terdapat proses demokratisasi yang lestari dan konsisten.” Proses seperti ini, lanjutnya, adalah bisa
30 31

John Keane, Civil Society and … , 50. Nurcholish Madjid, Cita-cita Politik … , 69.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

190

Maslahah dalam Civil Society

diukur atau diketahui dalam beberapa “check-list,” terutama bagaimana kita mengembangkan nilai-nilai yang merupakan implikasi masyarakat demokratis seperti nilai-nilai tawhid, hak-hak asasi manusia, kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan berserikat, tertib dan keadilan hukum, perwujudan, kesempatan yang merata, dan seterusnya.32Nilai-nilai ini jika diaplikasikan dalam kehidupan, diyakini akan membawa pelakunya kepada kemaslahatan. Maslahah dalam civil society Maslahah dalam ushul fiqh terbagi tiga macam sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Ketika kajian fiqh siyasah dikaitkan dengan maslahah, maka ternyata dalam fiqh siyasah dapat juga dimasukkan ketiga macam mahlahah yang terdapat dalam pembahasan ushul fiqh yaitu Daruriyyah (primer), Hajiyyah (sekunder), dan Tahsiniyyah (tertier). Berdasarkan pembahasan yang telah lalu, ditemukan sejumlah nilai-nilai civil society yang relevan dengan maslahah sebagimana terdapat pada tabel berikut: Nilai-nilai Civil Society Berdasarkan Maslahah No. 1. 2. Macam-macam Maslahah Daruriyyah (primer) Hajiyyah (sekunder) Nilai-nilai Civil Society Tawhid Keadilan, musyawarah, amanah, kebebasan, persaudaraan, penegakan hukum, persamaan, HAM, dan nilai pertanggung jawaban publik. -

3.

Tahsiniyyah (tertier)

Dilihat dari macam-macam maslahah yang terbagi kepada tiga yaitu maslahah daruryyah, hajiyyah, dan tahsiniyyah, maka nilai-nilai civil society dapat digolongkan kepada dua macam maslahah. Pertama, maslahah daruriyyah dan yang termasuk di dalamnya hanya satu yaitu prinsip pokok atau tawhid. Kedua, maslahah hajiyyah dan yang termasuk
32

Nurcholish Madjid, Cita-cita Politik …, 70-71.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

191

Syamsuar Basyariah

dalam kelompok ini adalah nilai-nilai keadilan, musyawarah, amanah, kebebasan, persaudaraan, penegakan hukum, persamaan, HAM, dan prinsip pertanggung jawaban publik. Kesesuaian Nilai-nilai civil society dengan Maqasid Syar‘iyyah No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nilai-nilai Civil Cociety Tawhid Keadilan Musyawarah Amanah Kebebasan Persaudaraan HAM Persamaan Pertanggung jawaban publik Maqasid syar‘iyyah Hifz al-din Hifz al-mal Hifz al-‘aql Hifz al-mal Hifz al-nafs Hifz al-nasl Hifz al-nasl Hifz al-mal Hifz al-din

Konsep dan penerapan nilai utama (tawhid) yang baik dikaitkan dengan maqasid syar‘iyyah pada tabel di atas termasuk katagori Hifz aldin (menjaga agama). Adapun penerapan nilai-nilai pendukung (keadilan, musyawarah, amanah, kebebasan, persaudaraan, termasuk katagori hifz al-mal (menjaga harta). Penerapan nilai musyawarah termasuk katagori hifz al-‘aql (menjaga akal) dan nilai persaudaraan termasuk katagori hifz al-nasl (menjaga keturunan). Sementara penerapan prinsip pendukung (HAM) yang dikaitkan dengan maqasid syar’iyyah termasuk katagori hifd al-nafs (menjaga jiwa).33 ‘Illatnya karena manusia adalah makhluk paling mulia dan ciptaan Allah tertinggi. Maka memelihara, menjaga dan melindungi jiwa serta memenuhi Dibandingkan dengan Ahmad Farrag, ‘Ali Shari‘ati, Brugger, Hohfeid, Jack Donnelly, Muhammad Arkoun, A. Gewirth, C.R. Beitz, McClosky, dan Feinberg, Nurcholish Madjid dalam pandangan M. M. Billah “belum mengelaborasi implikasi pandangannya tentang konsep manusia itu ke dalam pemikiran tentang hak asasi manusia, kecuali amat sekilas mendaftar beberapa hak secara tersurat.” M. M. Billah, “Refleksi atas Pemikiran HAM Cak Nur,” dalam Abdul Halim, (Editor): Menembus Batas Tradisi, Menuju Masa Depan yang Membebaskan: Refleksi atas Pemikiran Nurcholish Madjid, Cet. I (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006), 254.
33

persamaan, dan nilai

pertanggung jawaban publik) dikaitkan dengan maqasid syar‘iyyah

192

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Maslahah dalam Civil Society

hak-hak dasarnya merupakan kewajiban bersama masyarakat Aceh. Sebagai gambaran, Aceh yang sebelumnya pernah disebut dengan nama Daerah Istimewa Aceh (1959-2001) dan Nanggroe Aceh Darussalam (2001-2009) adalah sebuah provinsi di Indonesia dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Aceh memiliki otonomi yang diatur tersendiri, berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia, karena alasan sejarah. Daerah ini berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah Barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan. Ibu kota Aceh ialah Banda Aceh. Pelabuhannya adalah Malahayati-Krueng Raya, Ulee Lheue, Sabang, Lhokseumawe dan Langsa. Aceh merupakan kawasan yang paling buruk dilanda gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Beberapa tempat di pesisir pantai musnah sama sekali. Yang terberat adalah Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Singkil dan Simeulue. Aceh mempunyai kekayaan sumber alam seperti minyak bumi dan gas alam. Sumber alam itu terletak di Aceh Utara dan Aceh Timur. Aceh juga terkenal dengan sumber hutannya, yang terletak di sepanjang jajaran Bukit Barisan, dari Kutacane, Aceh Tenggara, Seulawah, Aceh Besar, sampai Ulu Masen di Aceh Jaya. Sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) juga terdapat di Aceh Tenggara. Pada zaman kekuasaan zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, Aceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur. Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh di zaman tersebut, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau. Kekuasaan Aceh pula meliputi hingga Perak. Kesultanan Aceh telah menjalin hubungan dengan kerajaankerajaan di dunia Barat pada abad ke-16, termasuk Inggris, Ottoman, dan Belanda. Kesultanan Aceh terlibat perebutan kekuasaan yang berkepanjangan sejak awal abad ke-16, pertama dengan Portugal, lalu sejak abad ke18 dengan Britania Raya (Inggris) dan Belanda. Pada akhir abad ke-18, Aceh terpaksa menyerahkan wilayahnya di Kedah dan Pulau Pinang di Semenanjung Melayu kepada Britania Raya. Pada tahun 1824, Persetujuan Britania-Belanda ditandatangani, di mana Britania menyerahkan wilayahnya
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

193

Syamsuar Basyariah

di Sumatra kepada Belanda. Pihak Britania mengklaim bahwa Aceh adalah koloni mereka, meskipun hal ini tidak benar. Pada tahun 1871, Britania membiarkan Belanda untuk menjajah Aceh, kemungkinan untuk mencegah Perancis dari mendapatkan kekuasaan di kawasan tersebut. Kesultanan Aceh merupakan kelanjutan dari Kesultanan Samudera Pasai yang hancur pada abad XIV. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota Kutaradja (Banda Aceh). Dalam sejarahnya yang panjang itu (1496 - 1903), Aceh telah mengukir masa lampaunya dengan begitu megah dan menakjubkan, terutama karena kemampuannya dalam mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, komitmennya dalam menentang imperialisme bangsa Eropa, sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik, mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan, hingga kemampuannya dalam menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain. Analisis Dua sejarah Aceh yang masih segar dalam ingatan masyarakat kita, sekaligus menjadi sejarah dunia, yaitu komflik Aceh yang berkepanjangan mencapai puluhan tahun, telah menelan korban dalam jumlah yang banyak, perusakan pembangunan fisik yang tidak terelakkan, suasana kehidupan yang mencekam, masyarakat hidup penuh ketakutan. Dan peristiwa Tsunami 26 Desember 2004 telah membuat Aceh lebih hancur berantakan. Kuburan Massal dimana-mana menjadi bukti sejarah sepanjang masa untuk dikenang. Dua perintiwa ini mengundang perhatian dunia luar dari berbagai arah. Sejumlah besar negara-negara seketika itu tiba di tanah rencong dengan misi kemanusiaan, membantu dan menghibur masyarakat yang lagi mengalami keguncangan yang memilukan dan luka yang sangat dalam. Belum lagi usai konflik di tengah-tengah masyarakat Aceh, ditambah dengan amukan gelombang air laut, membuat Aceh menjadi lebih parah. Sebagian warga yang ikut dibawa bersama air bah berkata “kiamat telah tiba”. Aceh benar-benar hancur dan lumpuh. Banda Aceh sebagai pusat kota provinsi Aceh, biasanya sarat dengan kurumunan manusia dengan berbagai aktifitas menjadi kota mati seketika.

194

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Maslahah dalam Civil Society

Di sela-sela pemulihan Aceh dari amukan stunami yang dahsyat, berbagai pihak terus berjuang berusaha mencari solusi bagaimana Aceh bisa dipulihkan kembali dari peristiwa demi peristiwa yang menderanya. Melalui sebuah perjalanan panjang, yang difasilitasi komunitas Internasional, Aceh dapat dirujuk kembali kepangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 15 Agustus 2005 merupakan awal perdamaian Aceh, tepatnya pukul 15.00 Wib dan pukul 11.00 waktu Helsinki Finlandia. Ribuan masyarakat Aceh menyambut gembira menyaksikan penandatanganan MoU perdamaian GAM dan Pemerintah RI. Mulai saat itu dan seterusnya masyarakat Aceh akan hidup dalam kedamaian. Jauh dari kesengsaraan yang telah dialami selama 30 tahun. Seiring berjalannya MoU, selama itu pula perdamaian terbangun dengan baik di Aceh. Perlahan-lahan iklim damai mulai dirasakan masyarakat. Suasana mulai berubah, kondusif dan menyenangkan. Masyarakat terlihat bersemangat membangun kembali Aceh Baru. Hal ini tentunya tidak terlepas dari bantuan berbagai lembaga seperti AMM, BRA, dukungan masyarakat Aceh, masyarakat internasional, NGO dan KPA. Namun, yang menjadi pertanyaan kita hari ini adalah “Mampukan masyarakat Aceh, Pemerintah dan GAM melestarikan perdamaian dengan berbagai persoalan yang ada?” Tidak ada pilihan lain untuk menjawab pertaanyaan di atas, selain “harus mampu”. Harus mampu membangun strategi .dalam menata kehidupan Aceh ke arah yang lebih baik dalam era damai menjadi sebuah tuntutan mutlak. Rakyat Aceh telah lama merindukan kedamaian di bumi tercinta ini. MoU telah membuka jalan sekaligus menjadi dasar bagi penyusunan sistem pemerintah Aceh yang demokratis dan sistem pengelolaan anggaran yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat. MoU membuka kesempatan Aceh untuk mengelola kekayaan alam, budaya dan sumber daya manusia untuk keluar dari jeratan kemiskinan dan ketidak adilan. Serta keluar dari berbagai bentuk kekerasan dan teror. Hasil sosialisasi MoU Helsinki, melahirkan RUUPA dan telah menjadi UUPA No. 11 Tahun 2006 sebagai dasar konstitusional dalam perwujudan perdamaian, keadilan dan kesejahteraan. Membangun dan menata kembali Aceh dalam bentuk yang bermartabat serta mampu bersaing dengan
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

195

Syamsuar Basyariah

wilayah lain di Indonesia dalam berbagai bidang dan dunia internasional di era kontemporer yang serba kompetitif. Perdamaian Aceh berjalan sudah lebih 5 tahun. Perkembangan yang terjadi cukup dinamis, baik politik, ekonomi, keamanan dan rencanarencana Aceh ke depan. Salah satu yang terpenting, Aceh telah mampu melewati pilkada 2006 dengan suasana yang aman dan kondusif. Seluruh rakyat bisa ikut serta memberikan suara secara bebas tanpa intervensi dari pihak mana pun. Ini menunjukkan perdamaian di Aceh benar-benar tercipta dan terpelihara dengan baik. Keberhasilan Aceh baru yang bermartabat, terletak ditangan rakyat Aceh. Bagaimana rakyat Aceh bisa menghargai dan memaknai pentingnya sebuah perdamaian. Karena tanpa perdamaian mustahil pembangunan menuju arah perbaikan dan kemajuan bisa digapai. Dunia pendidikan bisa ditingkatkan, kesejahteraan semakin merata, keadilan bisa dirasakan diberbagai tingkat lapisan masyarakat. Melalui suasana perdamaianlah Aceh akan bangkit dari keterpurukan dan kehancuran yang selama ini melandanya. Berbagai elemen yang ada turut membantu melestarikan perdamaian secara bersamaan, yaitu dengan mendukung berkembangnya sistem politik baru yang demokratis, ruang gerak dan pertisipasi terbuka dan keamanan yang perlahan-lahan membaik serta ikut pula perbaikan perekonomian. Suasana perdamaian yang saat ini dimiliki rakyat Aceh, membuat mereka lebih kreatif, inovatif, produktif dalam melahirkan ide-ide barunya untuk membangun Aceh ke depan. Berbagai jenis usaha mulai bermunculan kembali di Aceh. Berbagai bidang usaha digeluti masyarakat tanpa rasa takut dan was-was. Kehidupan dan aktifitas malam hari menjadi pulih kembali. Artinya, rakyat Aceh aktif mendukung pemerintah Aceh mewujudkan masyarakat sejahtera dan makmur. Demikian juga di bidang pendidikan, masyarakat Aceh terlihat begitu antusias mendukung kemajuan pendidikan. Masyarakat di seluruh Aceh sadar akan pentingnya kemajuan pendidikan untuk memajukan anak bangsa. Hal ini terlihat seperti lahirnya Universitas-Universitas, sekolah tinggi-sekolah tinggi seperti di wilayah Barat Aceh, telah lahir, menampakkan diri dan sekaligus memantapkan

196

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Maslahah dalam Civil Society

dirinya sebagai Universitas Teuku Umar, dan Sekolah Tinggi Agama Islam Teungku Dirundeng Meulaboh yang berdiri tahun 1986. Tidak hanya itu, di berbagai wilayah kabupaten/kota dalam jumlah yang banyak juga terdapat sekolah tinggi-sekolah tinggi. Hal ini terbuka peluang bagi masyarakat luas untuk dapat menikmati dunia pendidikan secara menyeluruh. Perdamaian yang saat ini dirasakan rakyat Aceh, tidak menutup kemungkinan sewaktu-waktu suasana kekacauan akan muncul kembali. Terlebih lagi pemilu 2011 yang sudah di ambang pintu. Jumlah partai yang ikut dalam pemilihan umum lebih dari 40 partai dan diperkirakan pemilukada 2011 kalau tidak menurun drastis, kemungkinan akan bertambah. Tentunya saingan para elit politik semakin ketat untuk menuju kursi panas. Kondisi ini membuka peluang terwujudnya pertikaian internal, yang kadangkala juga bisa membesar menjadi pertikaian eksternal. Situasi buruk biasanya diawali dengan terjadinya polarisasi yang tajam ditingkat elit politik karena sibuk memperebut sumberdaya politik dan ekonomi. Situasi ini bisa memperkeruh pedamaian Aceh, karena itu perlu diwaspai. Dalam perspektif Islam, antara kandidat pimpinan bersama seluruh pendukungnya dengan kandidat pimpinan lain bersama seluruh pendukung mereka harus saling menghargai, saling menghormati, tidak menghardik serta melakukan intimidasi terhadap calon dan pendukung yang lain. Apa lagi melakukan fitnah, dilarang oleh Allah (Q. S. al-Hujarat/49: 10-13). Visi dan misi serta program strategi masing-masing kandidat melalui dengan cara-cara yang baik dan santun serta mudah dipahami. Situasi seperti ini perlu dipelihara dan dilestarikan dibumi persada agar perdamaian Aceh abadi. Kesejahteraan masyarakat dalam suatu wilayah pemerintahan atau suatu daerah sangat ditentukan oleh peraturan dan kebijakan yang ada dalam daerah tersebut. Keadaan ini dapat di capai bila pemimpin dan para pembantunya mempunyai kapasitas dan kapabilitas untuk melaksanakan pemerintahan yang sungguh-sungguh, berlaku adil, dan senantiasa memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Masyarakat dapat memperoleh segala imformasi yang dibutuhkan dengan mudah. Terjalinnya komonikasi yang harmonis dan merasa saling membutuhkan.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

197

Syamsuar Basyariah

Sesungguhnya terbentuk masyarakat Aceh Baru adalah sumbangan terbesar terhadap proses pembentukan Dinamika sosial-politik dan budaya masyarakat baru di Indonesia. yang terjadi Aceh telah menjadi

modalitas untuk pembentukan masyarakat Indonesia yang baru dan modern. Apa yang terjadi di Aceh saat ini, memberi ispirasi pula pada dunia dalam mgupayakan rehabilitasi dan konstruksi pasca bencana alam besar dan perdamaian. Rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi modali awal yang diberikan dunia menuju Aceh baru dan masyarakat Indonesia Baru. Karena itu, kesadaran akan solidaritas kemanusiaan secara universal bersifat mutlak. Perdamaian, menunjukkan bahwa kontinuitas Indonesia tidak lagi diurus dengan senjata tetapi dengan hati. Sejak tahun 1976, organisasi pembebasan bernama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah berusaha untuk memisahkan Aceh dari Indonesia melalui upaya militer. Pada 15 Agustus 2005, GAM dan pemerintah Indonesia akhirnya menandatangani persetujuan damai sehingga mengakhiri konflik antara kedua pihak yang telah berlangsung selama hampir 30 tahun. Pada 26 Desember 2004, sebuah gempa bumi besar menyebabkan tsunami yang melanda sebagian besar pesisir barat Aceh, termasuk Banda Aceh, dan menyebabkan kematian ratusan ribu jiwa. Di samping itu, telah muncul aspirasi dari beberapa wilayah Aceh, khususnya di bagian barat, selatan dan pedalaman untuk memisahkan diri dari Aceh dan membentuk provinsi-provinsi baru. Pasca Gempa dan Tsunami 2004, yaitu pada 2005, Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka sepakat mengakhiri konflik di Aceh. Perjanjian ini ditandatangani di Finlandia, dengan peran besar daripada mantan petinggi Finlandia, Marti Ahtisaari. Proses perdamaian Aceh difasilitasi oleh Crisis Management Initiative (CMI) yang bermarkas di Finlandia. Adapun tahap tahap menuju perdamaian melalui pembentukan Komisi Keberlanjutan Perdamaian Aceh (Cospa), Badan Reintegrasi-Damai Aceh (BRA), Kesepakatan Damai 15 Agustus 2005, Perjanjian Penghentian Permusuhan (Coha), Jeda Kemanusiaan. Perdamaian Aceh tidak berjalan mulus, bahkan mengalami berbagai hambatan seperti milisi di Aceh, terhambatnya proses demokrasi yang

198

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Maslahah dalam Civil Society

sehat, institusi politik yang belum mapan, masih adanya pelanggaran HAM, tata kelola pemerintahan yang masih kotor, law inforcement yang lemah, pembangunan ekonomi yang masih belum merata, pelaksanaan dan penerapan syariat Islam belum maksimal, tuntutan pemekaran provinsi Aceh yaitu pemekaran provinsi Aceh Lauser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan (ABAS) masih mengental. Damai Aceh Baru perlu diwujudkan, dipertahankan, dan dirawat agar selalu eksis, dan kokoh. Pesan terakhir Hasan Tiro (85) sebelum meninggal dunia adalah menyangkut perdamaian Aceh. Pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini ingin perdamaian terus terjaga di bumi Serambi Makkah. ”Dia sudah melihat kedamaian di Aceh. Hasan Tiro ingin perdamaian ditumbuhkembangkan, karena perdamaian ini yang ditunggu-tunggu rakyat Aceh,” kata pendiri Institut Perdamaian, Farid Husein. Aceh Baru pasca MoU Helsinki di Finlandia itu diharapkan senantiasa berpijak pada nilai-nilai yang pernah ditawarkan dan dipraktikkan pada masyarakat Madinah ketika dipimpin oleh Nabi Muhammad. Nilai-nilai civil soceity tersebut di antaranya ialah nilai-nilai tawhid, keadilan, ukhuwwah, persatuan, HAM, dan pertanggung jawaban publik. Nilai-nilai ini harus dipraktikkan oleh masyarakat Aceh Baru karena relevan dengan budaya/ kearifan lokal orang Aceh yang berjalan seiring antara syari’at dengan adat. Semua orientasi adat/budaya orang Aceh, begitu juga dengan orientasi akhir dari syari’at Islam adalah terwujudnya lima kemashlahatan yaitu kemashlatan agama, kemashlahatan jiwa, kemashlahatan akal, kemashlatan keturunan, dan kemashlahatan harta benda. Terwujudnya tujuan syara’ ini sekaligus dapat terjawab qaidah ushul fiqh “adh-dhararu yuzal” artinya kemudharatan harus dihilangkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan mempraktikkan nilai-nilai masyarakat madani/civil soceity, masyarakat Aceh Baru akan mampu memberantas kemudharatan yang dapat merusak agama, akal, jiwa, keturunan, dan harta, yang sudah tentu dengan konsekwensi logisnya, kemashlahatan atau konsep mashlahah mursalah dapat terimplementasi.

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

199

Syamsuar Basyariah

DAFTAR PUSTAKA
Abu Hamid al-Ghazali. al-Mustasyfa fi ‘Ilm al-Usul, Jilid I. Beirut: Dar alKutub al-Islamiyyah, 1983 Abu Ishaq al-Syatibi. al-Muwafaqat fi Usul al-Syari‘ah. Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1973. Adi Suryadi Culla. Masyarakat Madani: Pemikiran, Teori, dan Relevansinya dengan Cita-cita Reformasi, Cet. II. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999 Adi Suryadi Culla.“Masyarakat Madani dalam Perspektif Agama dan politik, Asas-Asas Pluralisme dalam Masyarakat Madani”. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional di Auditorium IAIN Jakarta 22 Pebruari 1999 Ahmad Baso. Civil Society versus Masyarakat Madani: Arkeologi Pemikiran Civil Society dalam Islam Indonesia. Bandung: Pustaka Hidayah, 1999 Anas Urbaningrum. Islamo-Demokrasi: Pemikiran Nurcholish Madjid, Cet. I. Jakarta: Penerbit Republika, 2004 Asafri Jaya Bakri. Konsep Maqasid Syari‘ah Menurut al-Syatibi, Cet. I. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996 Azyumardi Azra. Islam Substantif: Agar Umat Tidak Menjadi Buih, Cet. I. Bandung: Mizan, 2000 Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam, Cet. IX. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999. Cyril Glassie. The Concice Encyclopedia of Islam. London: Stacey International, 1989. Ernest Gellner. Membangun Masyarakat Sipil Prasyarat Menuju Kebebasan. Bandung: Mizan, 1995 John Keane. “Despotism and Democracy The Origins and Development of The Distinction Between Civil Society and The State 1750-1850”, dalam John Keane (ed.), Civil Society and The State New European Perspectives. New York: Verso, 1988 M. M. Billah. “Refleksi atas Pemikiran HAM Cak Nur,” dalam Abdul Halim, (Ed.), Menembus Batas Tradisi, Menuju Masa Depan yang Membebaskan:

200

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Maslahah dalam Civil Society

Refleksi atas Pemikiran Nurcholish Madjid, Cet. I. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006. Muhammad AS. Hikam. Civil Society dan Masyarakat Indonesia, makalah seminar “Mencari Konsep, Keberadaan, dan Strategi Mewujudkan Civil Society di Indonesia” oleh LP3ES dan YAPPIKA. Jakarta, 14 April 1998 Nasrun Haroen. Ushul Fiqh I Jilid I, Cet. II. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997 Nurcholish Madjid. “Asas-asas Pluralisme dan Toleransi dalam Masyarakat Madani,” Makalah yang disempurnakan dari pidato Halal bi Halal KAHMI, Jakarta, 11 Syawal 1419/28 Januari 1999 ----------------. Cita-cita Politik Islam Era Reformasi, Cet. I. Jakarta: Paramadina, 1999. Safwan Idris. “Menuju Masyarakat Madani dengan Bimbingan Alquran”, makalah disampaikan pada acara Ceramah Nuzul Alquran17 Ramadhan 1419 H/4 Januari 1999 M di Masjid Istiqlal Jakarta Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani. Transformasi Bangsa Menuju Masyarakat Madani. Jakarta: Sekretariat Tim Madani, Kantor Sekwapres, 1999

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

201

Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

(Penguatan Civil Society dan Supremasi Hukum di Aceh dalam Bingkai NKRI)

Andi Nuzul
Dosen Ilmu Hukum pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Watampone, Sulawesi Selatan. Menyelesaikn S-1 pada IAIN Alauddin, Watampone (1978), S-2 pada UGM (2003), S-3 pada UGM (2009) jurusan Ilmu Hukum

Pendahuluan Reformasi Hukum merupakan salah satu amanat penting dalam rangka pelaksanaan agenda reformasi nasional. Di dalamnya tercakup agenda penataan kembali berbagai institusi hukum dan politik mulai dari tingkat pusat sampai ke tingkat pemerintahan desa (gampong), pembaruan berbagai perangkat peraturan perundang-undangan mulai dari UUD sampai ke tingkat Peraturan Desa, dan pembaruan dalam sikap, cara berpikir dan berbagai aspek perilaku masyarakat hukum kita ke arah kondisi yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Menurut Jimly Asshiddiqie,1 agenda reformasi hukum tercakup pengertian reformasi kelembagaan (institutional reform), reformasi perundang-undangan (instrumental reform), dan reformasi budaya hukum (cultural reform). Pendekatan yang dikemukakan Jimly ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari teori Jimly Asshiddiqie, “Hukum Islam Dan Reformasi Hukum Nasional”, disampaikan dalam Seminar Penelitian Hukum tentang Eksistensi Hukum Islam Dalam Reformasi Sistem Nasional, diselenggarakan oleh BPHN Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, di Jakarta, 27 September, 2000, 7, http://www.theceli.com/dokumen/produk/jurnal/jimly/ j011.htm#_ftn1 (Down load, Juni 2009).
1

203

Andi Nuzul

L.M. Friedman bahwa dalam rangka membangun sistem hukum yang kuat dan demokratis harus tertuju pada 3 aspek dasarnya yaitu struktur hukum; substansi hukum dan kultur hukum2. Hukum Islam di Indonesia tidak ada yang meragukan eksistensinya, kecuali jika masih ingin mempercayai teorinya Receptie Snouck Hurgronje3. Akan tetapi kini muncul pertanyaannya, bagaimana membumikan hukum Islam dalam sistem hukum di Indonesia?, Atau dalam kerangka kebijakan otonomi daerah, sejauhmana hukum Islam dapat didesentralisasikan. Perkembangan eksistensial hukum Islam 1) Otonomi daerah dan desentralisasi sistem hukum Berdasarkan konsep kekuasaan yang diatur dalam Pasal 7 ayat (1) UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, kemudian UU ini diganti dengan UU No. 32 tahun 2004, di mana kekuasaan peradilan termasuk urusan yang ditentukan sebagai kewenangan pemerintahan pusat. Masalahnya, apakah yang dimaksudkan dengan peradilan itu mencakup pula pengertian substansi hukum yang dijadikan pegangan dalam proses peradilan. Jika kekuasaan peradilan dipahami dalam pengertian institusi peradilan yang terstruktur mulai dari Pengadilan tingkat Pertama sampai ke tingkat Mahkamah Agung, maka pembinaan administrasinya dan pengelolaan sistem peradilannya tentu tidak dapat didesentralisasikan. Karena kekuasaan peradilan itu, sesuai ketentuan UUD 1945, berpuncak pada Mahkamah Agung yang mandiri. Bahkan, berdasarkan ketentuan UU No.4 Tahun 2004, baik urusan acara peradilan maupun administrasi peradilan, dikembangkan menjadi satu atap di bawah Mahkamah Agung Riedman, M. Lawrence, 2001, American Law An Introduction,( Second Edition), diterjemahkan oleh Wishnu Basuki dengan judul, “Hukum Amerika Sebuah Pengantar, Cet. I (Jakarta: Tatanusa, tt), 8-9.
2

“Hukum yang hidup dan berlaku di kalangan rakyat Indonesia (pada waktu itu: bumi putra) adalah hukum adat. Hukum Islam meresepsi terhadap hukum adat. Hukum Islam hanya mempunyai kekuatan berlaku jika hukum adat menghendakinya”, Andi Nuzul, 2008, Pengaruh Ajaran Hukum Kewarisan Bilateral Hazairin Terhadap Pembaruan Hukum Kewarisan Islam Di Indonesia, Hasil Penelitian yang dibiayai DIPA STAIN Watampone Tahun 2008, 48.
3

204

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

(one roof sysiem of judicial). Akan tetapi, dalam hubungannya dengan materi hukum dan budaya hukum sebagai dua komponen penting dalam sistem peradilan nasional dan sistem hukum nasional secara keseluruhan, tidak ada ketentuan yang menegaskan keharusan untuk diseragamkan di seluruh wilayah hukum Republik Indonesia. Karena pada dasarnya yang menjadi tujuan ideal dari hukum adalah “untuk mencapai kesempurnaan hidup atau ketertiban masyarakat”4 Dalam hubungannya dengan pertanyaan sejauhmana sistem hukum Islam dapat didesentralisasikan guna mencapai tujuan ideal dari sistem hukum yang memiliki dasar yang kuat dalam kehidupan masyarakat, maka ada baiknya kita telusuri beberapa ketentuan baik yang bersumberkan dari UUD tahun 1945 maupun berbagai turunannya. Dalam Pasal 18 ayat (5) Perubahan Kedua UUD 1945 dinyatakan: “Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat. Kemudian dalam Pasal 18 A UUD tahun 1945 menyebutkan, “Bahwa hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota, atau antara provinsi dan kabupaten dan kota, diatur dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah”. Bahkan dalam ayat (6) Pasal 18 A tersebut dinyatakan pula, “Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas perbantuan”. Kemudian dalam Pasal 18 B ayat (1) dinyatakan secara tegas: “Negara mengakui dan menghormati satuansatuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang”. Selanjutnya pada ayat (2) dinyatakan: “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”. Kemudian ketentuan Pasal UUD Tahun 1945 di atas diadopsi secara penuh masuk dalam ketentuan Pasal 2 ayat (8 dan 9) UU No. 32 tahun 2004. Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum, Sebuah Pengantar, Cet. I (Yogyakarta: Liberty, 1996), 8.
4

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

205

Andi Nuzul

Dengan demikian UUD Tahun 1945 mengakui dan menghormati pluralisme hukum dalam masyarakat, meskipun sistem peradilan nasional bersifat terstruktur dalam kerangka sistem nasional, namun materi hukum yang dijadikan pegangan oleh para hakim dapat dikembangkan secara beragam. Apalagi secara historis, sistem hukum nasional Indonesia seperti dikenal sejak lama memang bersumber dari berbagai sub sistem hukum, yaitu sistem hukum Barat, sistem hukum Adat, dan sistem hukum Islam, ditambah dengan praktik-praktik yang hidup dalam masyarakat dipengaruhi oleh berbagai perkembangan hukum nasional sejak kemerdekaan dan perkembangan-perkembangan yang diakibatkan oleh pengaruh pergaulan bangsa Indonesia dengan tradisi hukum dari dunia internasional. Dalam dunia yang terus berubah ke arah hubungan-hubungan yang makin saling mempengaruhi seperti sekarang ini, tidak mungkin dapat menolak ide-ide dan norma-norma hukum yang berasal dari tradisi dan praktek hukum negara-negara lain yang mempengaruhi sistem hukum nasional kita. Demikian pula keragaman tradisi hukum yang tumbuh dan hidup dalam pergaulan masyarakat kita sendiri yang sangat plural dari Sabang sampai ke Merauke, tidak mungkin diabaikan jika sistem hukum nasional kita diharapkan dapat bekerja secara efektif sebagai instrumen untuk menciptakan kedamaian dan keadilan dalam kehidupan bersama. Oleh karena itu, sumber-sumber tradisi hukum adat (kearifan lokal) masyarakat kita yang masih menjadi kesadaran hukum, sumbersumber tradisi hukum yang dihayati secara mendalam dalam keyakinan keagamaan masyarakat kita, dan bahkan sumber-sumber norma hukum yang sama sekali asing sekalipun, sepanjang memang kita butuhkan dan tidak melemahkan persatuan dan kesatuan sebagai substansi NKRI untuk mewujudkan keadilan dan kebenaran serta kedamaian hidup, tidak mungkin ditolak pemberlakuannya dalam kesadaran hukum masyarakat dan bangsa kita. 2) Pengakuan secara filosofis, sosiologis dan ketatanegaraan atas hukum Islam Dari sejarah hukum diketahui bahwa hukum Islam secara yuridis

206

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

telah berdiri sendiri untuk waktu yang cukup lama. Reglement op het beleid Regeering van Nederlandhschi atau disingkta RR yang di muat dalam Staatsdblad Hindia Belanda 1885 No. 2 Pasal 75 ayat (2), menyebutkan bahwa, Hakim Indonesia hendaknya memberlakukan undang-undang agama dan kebiasaan penduduk Indonesia. Bahkan dalam Pasal 78 RR ayat (2) ditegaskan lagi bahwa jika terjadi perkara perdata anatara sesama orang Indonesia atau yang dipersamakan dengan mereka, maka mereka tunduk pada putusan hakim agama atau kepala masyarakat mereka menurur undang-undang agama atau ketentuan-ketentuan lama mereka5 Namun dalam kenyataan sejarah pula, hubungan antara hukum adat dan hukum Islam telah memperlihatkan hubungan yang tidak harmonis antara keduanya, sehingga melahirkan beberap teori6, yang menunjukkan bentuk pemberlakuan hukum Islam dalam kaitannya dengan hukum adat. Dalam rangka mewujudkan sistem hukum Islam dalam bangunan sistem hukum nasional, perlu ditelaah mengenai berbagai aspek perkembangan eksistensial hukum Islam baik secara empiris, filosofis maupun secara ketatanegaraan dalam kaitannya dengan pelaksanaan agenda reformasi hukum nasional yang sekarang tengah berlangsung. Di satu segi, hukum Islam perlu dijadikan objek penelaahan, karena ia berasal dari kesadaran keyakinan bagi umat Islam Indonesia. Oleh karena itu agenda pembaruan atau reformasi hukum nasional juga mencakup pengertian pembaruan terhadap hukum Islam itu sendiri. Jangan sampai, misalnya, karena kesibukan dalam memikirkan keseluruhan sistem hukum nasional yang perlu direformasi, atau kesibukan kita disita oleh berbagai kasus kejahatan besar di negara kita ini yang modus operandinya bermacam-macam yang menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, menyebabkan kita lalai memperhitungkan faktor sistem hukum Islam yang sangat penting. Artinya dalam keseluruhan bangunan sistem hukum Nasional yang sedang mengalami proses transformasi menuju ke masa depan yang diharapkan Syahrizal, Hukum Adat Dan Hukum Islam Di Indonesia, Cet. I (Batuphat-Lhokseumawe: Yayasan Nadiya, 2004),159-160.
5

Teori reception in complexu; teori receptie; teori reception a contrario; teori otoritas penataan hukum dan teori eksistensi, Syahrizal, Hukum Adat …,160-187.
6

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

207

Andi Nuzul

akan menjadikan hukum sebagai satu kesatuan sistem yang ‘supreme’ dalam bangunan NKRI. Secara instrumental telah banyak ketentuan perundang-undangan Indonesia yang telah mengadopsi berbagai materi hukum Islam ke dalam pengertian hukum nasional. Secara institusional, eksistensi Pengadilan Agama sebagai warisan penerapan sistem hukum Islam sejak zaman pra penjajahan Belanda, juga terus dimantapkan keberadaannya dan menjadi bukti historis. Bahkan secara sosiologis-empirik, praktek-praktek penerapan hukum Islam itu di tengah-tengah masyarakat juga terus berkembang dan makin lama makin meningkat dan meluas ke sektor-sektor kehidupan hukum yang sebelumnya, belum diterapkan menurut ketentuan hukum Islam. Misalnya perkembangan ekonomi kesyariahan, perda tentang zakat dan penegakan norma-norma agama dibeberapa tempat di wilayah NKRI, serta beberapa qanun (perundang-undangan) yang lahir di provinsi NAD. Perkembangan itu semua, bahkan turut berpengaruh terhadap kegiatan pendidikan hukum di tanah air, sehingga kepakaran dan penyebaran kesadaran mengenai eksistensi hukum Islam itu di Indonesia makin meningkat pula dari waktu ke waktu. Dengan ruh reformasi yang tercetus tahun 1998, memungkinkan fungsi peradilan dan penyelelesaian sengketa hukum selain tergantung pada lembaga peradilan, juga berkaitan dengan sistem penyelesaian sengketa dengan menggunakan mekanisme ‘Alternative Dispute Resolution’ (ADR) seperti melalui penggunaan fungsi lembaga arbitrase dan hakim perdamaian seperti di desa ataupun dengan menggunakan jasa para tokoh dan pemimpin informal yang dipercaya oleh masyarakat, seperti para ulama dan guru. Karena itu, perlu ditelaah pula sejauhmana sistem hukum Islam dapat berperan dalam pengembangan pemikiran dan praktek mengenai penyelesaian sengketa hukum melalui mekanisme alternatif ini. Menurut Jimli Ash-Shiddieqy7 bahwa, “di bidang ini, ia telah memprakarsai pembentukan Badan Arbitrase Mualamat Indonesia (BAMUI) yang dewasa ini telah menjalankan fungsinya dalam menyelesaikan berbagai kemungkinan
7

Jimly Ash-shiddiqie, “Hukum Islam …, 2..
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

208

Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

timbulnya sengketa mu’amalat antara lembaga perbankan syari’ah dengan para nasabahnya. Misalnya, ketentuan mengenai hal ini selalu dicantumkan dalam naskah kontrak antara Bank Mu’amalat Indonesia dengan para nasabahnya. Diharapkan semua kontrak yang dibuat antara perusahaan yang menerapkan prinsip syari’at Islam dengan para nasabah atau pelanggannya, dapat mengaitkan ketentuan mengenai penyelesaian sengketa di antara mereka dengan fungsi Arbitrase Mu’amalat ini”. Hanya saja menjadi masalah sampai sampai saat ini, meskipun peradilan agama telah berkembang fungsi dan peranannya, terutama masuknya ekonomi syariah dalam deretan kewenangannya, tapi dikesani sebagian besar para hakim peradilan agama belum siap secara mandiri dan professional dalam menghadapi kasus-kasus baru yang muncul dalam penyeleseaian sengketa syariah itu. Termasuk tidak kesiapan Mahkamah Agung untuk menerima Sarjana yang bertitel Sarjana Ekonomi Islam (SEI) luaran Perguruan Tinggi Islam (UIN. IAIN, dan STAIN) sebagai hakim di peradilan agama, mengingat karena dalam Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman (Pasal 12 UU No. 3 Tahun 2006), maupun dalam Undang-Undang Advokat (UU No. 18 tahun 2003) masih tetap meneguhkan bahwa yang memenuhi syarat untuk menjadi hakim dan pengacara dalam lingkup peradilan agama adalah hanyalah yang memiliki gelar/titel Sarjana Hukum Islam (S.HI), dan Sarjana Hukum (SH) yang menguasai hukum Islam. Pemberlakuan Hukum Islam di bidang mu’amalat dapat dikatakan telah mempunyai kedudukannya yang tersendiri. Dalam hukum perdata Islam--hukum ekonomi Islam, telah lahir beberapa unadng-undang yang berkaitan perekonomian umat, misalnya UU zakat (UU No 38 tahun 1999), Perwakapan (UU No. 41 tahun 2004), dan sejak tahun 1992 telah diundangkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, kemudian undang-undang ini diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998. Dalam UU Perbankan Indonesia tersebut telah mengakomodir lahirnya BMT dan Bank Syariah. Dalam undang-undang tersebut secara tegas mengakui keberadaan bank yang berdasarkan prinsip syariah di samping bank konvensional. Sebagai tindak lanjut dari keluarnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 waktu itu, pemerintah mengeluarkan PP nomor 72
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

209

Andi Nuzul

tahun 1992 tentang Bank berdasarkan Bagi Hasil. Bahkan saat ini sudah ada RUU Perbankan Syariah yang merupakan RUU inisiatif DPR Komisi XI. 8 Sebelum berlakunya UU tentang Perbankan Tahun 1992, ketentuan hukum Islam di bidang perbankan belum diakui dalam kerangka sistem hukum nasional. Namun, sejak diberlakukannya UU tentang Perbankan 1992 yang diikuti dengan terbitnya Peraturan Pemerintah dalam rangka pelaksanaannya, maka sistem operasi Bank Mua’malat Indonesia berdasarkan syari’at Islam diakui secara hukum. Sejak itu, berkembang luas praktek penerapan sistem mu’amalat itu dalam sistem perekonomian nasional dan praktek dunia usaha. Dapat dilihat perkembangan Bank Perkreditan Syari’ah yang berjumlah ratusan. Meskipun konsep pokoknya sendiri, yaitu konsep Bank Perkreditan Rakyat (BPR), di kemudian hari dinilai kurang berhasil, tetapi aspek penerapan hukum mu’malat dalam sistem operasional Bank Perkreditan Rakyat (BPR) tersebut telah memperlihatkan kenyataan mengenai pemberlakuan aspek hukum syariatnya.9Lembagalembaga pembiayaan lainnya seperti ‘Baitul Maal wa al-Tamwil” (BMT) yang kadang-kadang di beberapa daerah disebut Balai-usaha Mandiri Terpadu (BMT) yang dibina dan dikembangkan oleh Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) yang bernaung di bawah Yayasan Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (YINBUK). Yayasan ini didirikan oleh Ikatan Cendekiawan Muslim seIndonesia (ICMI) bersama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Bank Mu’amalat Indonesia (BMI). Di samping itu, atas prakarsa Pengurus ICMI, telah pula didirikan usaha asuransi yang menjalankan prinsip syari’at (takaful) dengan nama Takaful Umum dan Takaful Keluarga yang berdiri berdasarkan sistem syari’at Islam. Bahkan, Pemerintah sendiri telah pula mengembangkan Bank Pemerintah tersendiri yang menggunakan sistem syari’ah, yaitu dengan berdirinya Bank Syari’ah Mandiri10. Kita bayangkan betapa ironisnya Indonesia yang negara agraris namun .Abdul Ghofur Anshori, Peradilan Agama di Indonesia: Pasca UU No. 3 Tahun 2006 (Sejarah, Kedudukan, & Kewenangan) (Yogyakarta: UII Press, 2007), 59.
8 9

. Ibid., 3. Jimly Asshiddiqie, “Hukum Islam…, 4
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

10

210

Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

impor pangannya luar biasa. Setiap tahun 25% daging sapi yang kita makan harus didatangkan dari luar. Sebanyak 30% gula, 2% beras, 90% bawang putih, 70% susu, dan juga 70% kacang kedelai untuk membuat tahu-tempe, dibeli dari luar negeri. Celakanya lagi, Indonesia yang luas lautannya dua pertiga dari daratan, ternyata harus mengimpor 50% garam dari mancanegara11. Haruskah kita masih mempertahankan sistem yang eksploitatif ini? Tentu jawabnya tidak! Sistem ekonomi demikian itu tak cocok dengan nilai-nilai yang dianut sebagian besar masyarakat Indonesia. Modal sosial bangsa kita harus dioptimalkan. Semangat gotong royong perlu lebih dikedepankan ketimbang persaingan bebas yang mematikan. Prinsip ekonomi yang mengarah pada keadilan harus menjadi arah kebijakan pemerintah, ekonomi kita harus melibatkan dan mengoptimalkan sumber-sumber milik sendiri, termasuk sumberdaya manusia (SDM) dan hal demikian merupakan inti bagian dari sistem ekonomi Islam. Ekonomi basis Syariah merupakan suatu perekonomian yang orientasinya pada keterlibatan orang banyak dalam aktivitas ekonomi, yakni aktivitas produksi, aktivitas konsumsi dan aktivitas distribusi. Hal yang berbeda dengan ekonomi kapitalistik, yang bias pada konglomerat, dan kepentingan individual lebih dominan serta mengejar keuntungan secara berlebihan. Ekonomi yang kapitalistik menomorsatukan pengejaran keuntungan tanpa batas dengan cara bersaing, kalau perlu saling mematikan (free fight competition). Sebaliknya, dalam perekonomian syariah semangat yang lebih menonjol adalah bekerja sama, karena hanya melalui kerja sama berdasar asas kekeluargaan tujuan usaha dapat dicapai. Dengan situasi yang tidak menentu saat ini, kita tidak hanya merespons dengan kebijakan-kebijakan jangka pendek sebagai “pemadam kebakaran”, atau merespons situasi yang dalangnya di negeri lain. Kita harus melakukan kaji ulang sistem dan praktik ekonomi nasional secara mendasar, kembali membangun ekonomi dengan nilai-nilai Islam dan kearifan lokal, atau nilai-nilai keindonesiaan, dan nilai-nilai religiusitas, atau nilai-nilai yang dianut oleh sebagian besar warga bangsa ini yang didasarkan atas asas Edy Suandi Hamid, “Ekonomi Pancasila” Kedaulatan Rakyat, 26 Oktober 2008: Tahun LXIV No. 28). http:Iiwww.kr.co.id).
11

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

211

Andi Nuzul

usaha bersama berdasar atas semangat kekeluargaan. Ibaratnya antara pembangunan hukum ekonomi dengan aktivitas ekonomi yang dijalankan para ekonom seperti pepatah yang mengatakan het recht hinkt achter de feiten aan sehingga hukum tertatih tatih di belakang pelaku ekonomi yang terus maju bergerak cepat dan seolah-olah telah meninggalkan prinsipprinsip hukum ekonomi yang “adil berimbang (equilibrium) di bawah panjipanji ketauhidan”12. Akibatnya terjadi kesenjangan dalam masyarakat yang pada gilirannya melahirkan realita kehadiran konglomerat dan kaum melarat, dan tatanan hukum ekonomi telah jauh dari prinsip-prinsip dasar Pasal 33 ayat (1) UUD Tahun 1945 bahwa, “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”. Beberapa hukum pokok (basic law) di bidang hukum ekonomi warisan kolonial Belanda, seperti BW (Burgerlijk Wetboek/KUHPerdata) dan WvK (Wetboek van Koophandel/KUH Dagang) masih tetap berlaku. Pada hal hukum Barat (BW dan WvK) menurut sejarahnya bukan diciptkan untuk bangsa Indonesia, apalagi setelah kemerdekaan. Pandangan individualiasme, dan materialisme satu bukti ke arah itu, tidak mampu mengantarkan bagi masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraannya di bidang ekonomi. Di satu sisi hukum Adat bangsa Indonesia yang masih tradisional, yang sifatnya tidak tertulis, yang menentukan perjanjian sebagai perbuatan riil, konkret, dan tunai, hanya mengatur kegiatan ekonomi lokal masyarakat tradisional. Hukum Adat (bersifat lokal) tersebut tidak mungkin mampu mengatur segala kebutuhan dan kegiatan ekonomi global pada masyarakat dunia modern, seperti perdagangan internasional, pasar saham, perbankan, perkreditan, perdagangan lewat electronic/internet (E- Commerce), dan seterusnya. Oleh karena dalam pembangunan hukum, tak terkecuali pada bidang hukum ekonomi ada tiga hal penting yang harus dibenahi, yaitu struktur hukum (legal structure) meliputi institusi/lembaganya, termasuk aparatnya, jadi bagian dari rangka, bagian yang tetap bertahan lama, bagian yang memberi semacam bentuk dan batasan terhada keseluruhan, misalnya Muhammad dan Alimin, Etika Dan Perlindungan Konsumen Dalam Ekonomi Islam, Cet. I (Yogyakarta : BPFE Yogyakarta, 2004,), 38-40.
12

212

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

kedudukan peradilan, berapa seharusnya hakim agung,

yuridiksinya,

bagaimana badan legislatif ditata, dsb; Kemudian subtansi hukum (legal substantive), berupa aturan norma, pola perilaku nyata manusia yang berada dalam sistem itu, atau produk/materi hukum yang dihasilkan oleh orang yang berada dalam sistem itu, atau keputusan yang mereka keluarkan, atau aturan baru yang mereka susun; serta kultur hukumnya (legal culture), berupa suasana pikiran sosial dan atau kekuatan sosial yang menentukan bagaimana hukum digunakan atau dimanfaatkan, dihindari atau pun disalahgunakan Pendeknya ketiga unsur sistem hukum ini dapat diibaratkan, struktur hukum adalah mesin; substansi adalah apa yang dihasilkan atau dikerjakan oleh mesin tersebut, sedangkan budaya hukum adalah apa saja atau siapa saja yang memutuskan untuk menghidupakan dan mematikan mesin itu (Friedman, M. Lawrence: 2001). Dari gambaran sistem hukum di atas, maka sebetulnya dapat dipahami bahwa kemauan politik bangsa menentukan supremasi tidaknya sistem hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena dengan kemauan politik dari bangsa ini akan mendorong lahirnya berbagai kebijakan di bidang hukum untuk kemaslahatan, termasuk bidang hukum ekonomi. Bukankah ada pendapat yang mengatakan bahwa hukum yang dibuat pada hakikatnya tiada lain adalah produk politik, karena itu politik hukum yang banyak menentukan arah pengembangan sistem hukum yang akan diberlakukan. Oleh karena itu, hukum ekonomi Islam sebagai salah satu pilihan alternatif dalam mengatasi krisis perekonomian di negara Indonesia, mengingat bahwa hukum ekonomi Islam menganut sistem keseimbangan dalam mengelola asset perekonomian dan pelaku ekonom, memperhatikan keseimbangan aspek individu dan aspek publik. 3) Bentuk peraturan hukum (Qanun).

Memang benar, berdasarkan prinsip ‘lex superiore derogat lex infiriore’ maka secara hirarkis peraturan perundang-undangan yang tingkatannya di bawah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang tingkatannya lebih tinggi. Akan tetapi, dalam hukum juga berlaku prinsip ‘lex specialis derogat lex generalis’ yang berarti bahwa peraturan yang khusus dapat
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

213

Andi Nuzul

mengesampingkan berlakunya suatu peraturan yang bersifat umum. Kecenderungan desentralisasi dan keragaman sistem hukum itu berkembang sesuai dengan prinsip ‘lex specialis derogat lex generalis’ yang dikenal dan diakui sebagai doktrin yang universal dalam hukum. Akan tetapi, semua ini haruslah kita lihat sebagai elemen substantif dari sistem hukum kita itu. Aspek substansi itu masih harus ditata dan dilembagakan dalam bentuk-bentuk hukum yang memang disepakati bersama secara demokratis. Dalam UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, dalam Pasl 7 ayat (1) disebutkan jenisjenis peraturan yang dapat dijadikan dasar dalam pelaksanaan hukum dan peraturan, mencakup UUD tahun 1945, Undang-Undang, Perpu, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, dan Peraturan Daerah. Kemudian dalam 7 ayat (2) tersebut ditegaskan bahwa Peraturan Daerah meliputi Perda Provinsi, Perda Kabupaten/Kota, dan Peraturan Desa. Perda merupakan peraturan untuk melaksanakan aturan hukum di atasnya, dan menampung kondisi khusus dari daerah yang bersangkutan. Dengan pentingnya posisi hukum Islam dalam menambah khasanah wawasan sistem hukum nasional yang sebagian dari bidang-bidang hukumnya masih di cita-citakan (ius constituendum), maka pilihannya adalah apakah materi hukum Islam bersifat integrasi atau mandiri dalam perwujudannya? Terintegarsinya hukum Islam masuk melebur menjadi norma dalam hukum nasional seperti sejak lama dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Agararia; hukum Perkawinan berdasarkan UU No. 1 tahun 19974; UU tentang Perbankan Tahun 1992 yang sudah diperbaharui pada tahun 1998. Atau ke depan perlunya UndangUndang Hukum Kewarisan dengan corak bilateral yang sejak tahun 1960 melalui TAP MPRS No. II/1960 dengan memperhatikan aspek agama dan kearifan lokal yang masih hidup dalam masyarakat sudah lama diamanatkan. Sedangkan kalau norma hukum Islam menjadi bersifat mandiri, maka hukum Islam berlaku intern bagi penganutnya, dan tidak boleh dipaksakan kepada penganut agam lain, seperti keberlakuan INPRES No. 1 tahun 1991 mengenai Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang materi hukumnya meliputi Perkawinan,

214

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

Kewarisan; UU Haji; UU Zakat. Kini persoalan yang harus disikapi secara cermat dan konfrehensif serta penuh hati-hati yaitu, pemberlakukan hukum Islam dalam bidang hukum publik terutama dalam kontek hukum pidana Islam, umpamanya hukum rajam, hukum cambuk, qisash yang embrio pengamalannya telah terbangun di Aceh dengan bersenjatakan pada UU Pemerintahan NAD (UU No. 11 thn 2006), jo UU RI No. 18 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Daerah Aceh Sebagai Provinsi NAD; jo Qanun Provinsi NAD No. 10 Tahun 2002 Tentang Peradilan Syariat Islam. Sebab sebagai negara (Indonesia) yang berpenduduk mayoritas muslim, tidak ada yang menafikan kedudukan hukum Islam dalam tata hukum Indonesia, kecuali jika orang tersebut adalah antek-antek C.v. Vollen Hoven dan Snouck Hurgronje, karena dijamannyalah hukum Islam di keluarkan dari tata hukum Hindia Belanda. Akan tetapi perdebatan utamanya sekarang terletak pada cara-cara penerapan norma hukum Islam, misalkan haruskah qisash, rajam, potong tangan; cambuk, atau qisash diyat dsb. 4) Membangun kesadaran hukum bagi masyarakat Aceh

Apa yang diuraikan di atas pada pokoknya menyangkut agenda penataan kembali institusi hukum dan pembaruan berbagai perangkat perundang-undangan yang diperlukan dalam upaya membangun sistem hukum nasional di Provinsi Aceh yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan kesadaran berhukum masyarakatnya. Tujuannya tidak lain juga adalah membangun kembali civil society yang pernah porak poranda pada masa Daerah Operasi Militer (DOM) dan bencana Stunami. Oleh karena itu, agenda pembangunan hukum di Aceh adalah untuk penguatan civil society dalam bingkai NKRI. Jadi apapun nantinya yang dicapai dari keberhasilan membangun sistem hukum yang bersendikan syariat di Aceh dalam upaya rekonstruksi dan penguatan civil society pasca DOM atau bencana Tsunami tersebut adalah menguatkan Aceh sebagai bagian NKRI. Akan tetapi reformasi atau pembangunan hukum termasuk reformasi kelembagaan (institutional reform) dan reformasi perundang-undangan (instrumental reform) di Aceh tersebut tidak akan dapat diharapkan berfungsi efektif apabila kesadaran hukum dan budaya hukum masyarakat tidak menunjang. Karena itu, perlu
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

215

Andi Nuzul

dikembangkan upaya-upaya pembinaan dan pembaruan yang sistematis dan terarah mengenai oreintasi pemikiran, pendidikan hukum, sikap tindak, dan kebiasaan berperilaku dalam kehidupan masyarakat luas (cultural reform) di Aceh. Sikap menghormati hukum dan orientasi berpikir dan bertindak yang selalu didasarkan atas hukum masih harus dibina dan dikembangkan menjadi kebiasaan hidup rakyat Indonesia. Di tengah isu hak asasi manusia (HAM) yang dewasa ini menghantui cara berpikir hampir semua orang, juga perlu disadari secara berbanding lurus mengenai pentingnya dimensi kewajiban dan tanggungjawab asasi manusia (TAM). Sejatinya hukum dan keadilan justeru terletak pada keseimbangan dinamis dalam hubungan antara hak dan kewajiban yang tidak dapat dilepaskan dari kepentingan para subjek hukum dalam arti sempit ataupun kepentingan masyarakat pada umumnya13. Pembinaan kesadaran hukum dan budaya hukum masyarakat di Aceh itu perlu dikembangkan, baik melalui saluran pendidikan masyarakat dalam arti yang seluas-luasnya maupun melalui saluran media komunikasi massa dan sistem informasi yang menunjang upaya pemasyarakatan dan pembudayaan kesadaran hukum yang luas. Sudah saatnya semua pihak menanamkan keyakinan yang sunguh-sungguh mengenai pentingnya menempatkan hukum sebagai “kalimatun sawa’” atau ‘pegangan normatif’ tertinggi dalam kehidupan bersama14 sebagai panglima dalam kehidupan bersama. Demokratisasi hukum harus tetap teguh dalam prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, keberpihakan pada kebenaran, bukan demokratisasi atas nama kebebasan yang kebabalasan yang sering diperontonkan baik oleh elit politik, elit penguasa, juga pada kelompok masyarakat. Hukum yang tertinggi adalah perilaku yang mengenal hak dan kewajiban secara baik. Pengakuan terhadap sistem hukum Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem hukum nasional, akan berdampak sangat positif terhadap upaya pembinaan hukum nasional. Setidak-tidaknya, kita dapat
13 14

Jimly Asshiddiqie, “Hukum Islam …, 7. Ibid.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

216

Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

memastikan bahwa di kalangan sebagian terbesar masyarakat Indonesia yang akrab dengan nilai-nilai Islam, kesadaran kognitif dan pola perilaku mereka dapat dengan mudah memberikan dukungan terhadap normanorma yang sesuai dengan kesadaran dalam menjalankan syari’at agama. Dengan demikian, pembinaan kesadaran hukum masyarakat dapat lebih mudah dilakukan dalam upaya membangun supremasi hukum di masa yang akan datang. Hal itu akan sangat berbeda jika norma-norma hukum yang diberlakukan justru bersumber dan berasal dari luar kesadaran hukum masyarakat. Penutup Secara filofos, teoritik dan empirs, perkembangan ke arah adopsi yang makin luas terhadap sistem hukum Islam ke dalam bangunan sistem hukum nasional yang bersesuaian dengan dinamika kesadaran hukum dalam masyarakat Indonesia, yang dituangkan dalam berbagai bentuk peraturan perundang-undangan serta diwujudkan dalam esensi kelembagaan hukum yang dikembangkan dapat dikaitkan pula dengan pertimbangan-pertimbangan yang bersifat, historis, sosiologis dan filosofis serta ketatanegaraan. Secara umum dapat diakui bahwa UUD Tahun 1945 mengakui dan menganut ide ketauhidan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ide ketauhidan itu tidak saja ditegaskan dalam rumusan Pembukaan UUD Tahun 1945 yang menyebut secara eksplisit adanya pengakuan ini, tetapi juga dengan tegas mencantumkan Ketuhanan Yang Maha Esa itu sebagai sila pertama dan utama dalam rumusan Pancasila. Bahkan, dalam Pasal 29 UUD 1945, ditegaskan pula bahwa negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Juga dalam Pasal 9 UUD Tahun 1945 disebutkan Allah”. Ide Ketauhidan yang dikaitkan dengan ide Ke-Maha Kuasaan Tuhan yang tidak lain merupakan gagasan Kedaulatan Tuhan dalam pemikiran kenegaraan Indonesia. Namun, prinsip Kedaulatan Tuhan itu berbeda dari
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

bahwa setiap Presiden dan Wakil Presiden sebelum

memangku jabatan diwajibkan untuk bersumpah menurut agama “Demi

217

Andi Nuzul

paham teokrasi barat yang dijelmakan dalam kekuasaan Raja,15 maka dalam sistem pemikiran ketatanegaraan berdasarkan UUD 1945, hal itu dijelmakan dalam prinsip-prinsip kedaulatan rakyat. Selanjutnya, prinsip kedaulatan rakyat dijelmakan ke dalam sistem kelembagaan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang selanjutnya akan menentukan haluan-haluan dalam penyelenggaraan negara berupa produk-produk hukum tertinggi, yang akan menjadi sumber bagi penataan dan pembinaan sistem hukum nasional. MPRlah yang dijadikan sumber kewenangan hukum bagi upaya pemberlakuan sistem hukum Islam itu dalam kerangka sistem hukum nasional. Dari perspektif hukum Islam, proses pemikiran yang demokratis yang berhubungan erat dengan penafsiran inovatif terhadap ayat al-Quran yang mewajibkan ketaatan kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada ‘ulul amri’. Pengertian ‘ulul amri’ yang seringkali disalahpahami sebagai konsep mengenai ’pemimpin’ (waliyu al-amri), justeru dipahami sebagai konsep mengenai “perwakilan kepemimpinan” atau “para pemimpin yang mewakili rakyat” (ulul amri)16. Karena itu, konsep parlemen dalam pengertian modern dapat diterima dalam kerangka pemikiran hukum Islam, melalui mana norma-norma hukum Islam itu diberlakukan dengan dukungan otoritas kekuasaan umum, yaitu melalui pelembagaannya menjadi ‘qanun’ atau peraturan perundang-undangan negara. Karena itu, dapat dikatakan bahwa eksistensi hukum Islam dalam kerangka Sistem Hukum Nasional Indonesia (SHNI) sangat kuat kedudukannya, baik secara historis, empiris dan filosofis, politits, maupun juridis. Oleh karenanya meluasnya kesadaran mengenai reformasi hukum nasional di NAD dewasa ini justeru memberikan peluang yang makin luas bagi sistem hukum Islam untuk berkembang makin luas dalam upaya memberikan sumbangan terhadap perwujudan penguatan civil society dan penegakan supremasi hukum di Aceh dalam bingkai NKRI.

15 16

Ibid., 9. .Ibid.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

218

Hukum Islam di Tengah Bangunan Sistem Hukum Nasional

DAFTAR PUSTAKA
Anshori, Abdul Ghofur. Peradilan Agama Di Indonesia: Pasca UU No. 3 Tahun 2006 (Sejarah, Kedudukan, & Kewenangan). Yogyakarta: UII Press, 2007 Friedman, M. Lawrence American Law An Introduction,( Second Edition), diterjemahkan oleh Wishnu Basuki dengan judul, “Hukum Amerika Sebuah Pengantar, Cet. I Jakarta: Tatanusa, 2001 Hamid, Edy Suwandi. “Ekonomi Pancasila” Kedaulatan Rakyat, 26 Oktober 2008 Tahun LXIV No. 28). : http:Iiwww.kr.co.id. Jimly Asshiddiqie. “Hukum Islam Dan Reformasi Hukum Nasional”, disampaikan dalam Seminar Penelitian Hukum tentang Eksistensi Hukum Islam Dalam Reformasi Sistem Nasional, diselenggarakan oleh BPHN Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, di Jakarta, 27 September, 2000, http://www.theceli.com/dokumen/produk/jurnal/ jimly/j011.htm#_ftn1 (Down load, Juni 2009). Mertokusumo, Sudikno. Penemuan Hukum, Sebuah Pengantar, Cet. I. Yogyakarta: Liberty, 1996 Muhammad, dan Alimin. Etika Dan Perlindungan Konsumen Dalam Ekonomi Islam, Cet. I. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta, 2004. Nuzul, Andi, 2008, Pengaruh Ajaran Hukum Kewarisan Bilateral Hazairin Terhadap Pembaruan Hukum Kewarisan Islam Di Indonesia, Hasil Penelitian yang dibiayai DIPA STAIN Watampone Tahun 2008. Qanun Prov. NAD Nomor 10 Tahun 2002 tentang Peradilan Syariat Islam. Syahrizal. Hukum Adat Dan Hukum Islam Di Indonesia, Cet. I. BatuphatLhokseumawe, NAD: Yayasan Nadiya, 2004 Undang-undang Dasar Tahun 1945. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh Undang-undang Nomor 18 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi NAD

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

219

Pendidikan Karakter Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

Syarifuddin
Dosen pada Fakultas ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dan pengurus Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh

Pendahuluan Bicara tentang pendidikan, tidak hanya secara nasional, namun secara lokal ke-Acehan, bertolak dari paham tentang manusia adalah hal yang sangat wajar, karena manusia merupakan pokok utama persoalan pendidikan. Menurut Aristoteles, hanya manusia yang membutuhkan pendidikan. Para dewa, sebagai makhluk rohani, sudah sempurna dan tidak membutuhkan pendidikan lagi, sementara binatang merupakan makhluk yang nasibnya sudah ditentukan, maka juga tidak membutuhkan pendidikan. Jadi, hanya manusia yang memerlukan pendidikan. Banyak hal yang diasumsikan oleh filsafat pendidikan sebagai prasyarat. Pertama, manusia mempunyai kesadaran yang membuat dirinya mampu mengambil jarak dari yang lain dan dari dirinya sendiri. Dalam proses pendidikan kesadaran berperan penting dalam mengetahui diri sebagai subjek dan keistimewaannya dibandingkan dengan makhluk lain. Kedua, manusia mempunyai, atau setidaknya, merasakan adanya kebebasan. Hal ini erat berkaitan dengan konsep pendidikan sebagai dorongan dan kemampuan untuk menentukan pilihannya. Ketiga, karena

221

Syarifuddin

adanya kemampuan untuk memilih, ia pun peka dan peduli akan nilai-nilai dan dapat membandingkan yang baik dan buruk. Dan keempat, pilihan ke arah yang baik berlangsung terus tiada henti. Hal ini membawa manusia pada keterbukaan pada yang transenden, kesediaan untuk melangkah ke depan yang belum diketahuinya. Kesadaran, kebebasan, peduli nilai, dan keterbukaan atau orientasi ke depan ini merupakan hal-hal yang mendasar dalam proses pendidikan (A. Sidiarja, Basis: 2007). Aktivitas pendidikan sejak awal telah menjadi cara bertindak dari sebuah masyarakat. Dengan pendidikan, para pendahulu melanggengkan warisan budaya mereka. Kepada generasi yang lebih muda, mereka mewariskan nilai-nilai yang menjadi bagian penting dari kultur masyarakat. Jika tidak ada proses pewarisan itu, nilai-nilai yang menghidupi kebudayaan masyarakat terancam punah. Karena itu, pendidikan mempunyai peran vital sebab tidak hanya menentukan keberlangsungan masyarakat, namun juga mengukuhkan identitas sebuah masyarakat. Belakangan pendidikan dikeluhkan tanpa visi dan tanpa tujuan yang jelas. Berbagai macam perubahan dalam bidang pendidikan justru semakin membebani peserta didik. Apalagi ditambah dengan situasi sosial dan kultural masyarakat akhir-akhir ini kian mengkhawatirkan. Berbagai macam peristiwa juga kian merendahkan harkat dan derajat manusia. Di samping ditagih hasilnya berupa sumber daya manusia yang siap pakai, belakangan ini pendidikan banyak ditagih tanggung jawabnya dalam membentuk manusia. Tingginya pelanggaran moral dalam masyarakat, buruknya etika kehidupan dan tensi kesenjangan sosial yang menganga, dan korupsi yang kian merajalela menyebabkan orang bertanya mana tanggung jawab pendidikan. Ada masalah apa dengan pendidikan formal sehingga tidak mampu memberikan kontribusi yang nyata dalam dinamika dan gerak masyarakat. Banyak penyebab mengapa pendidikan kita dalam konteks lokal tidak mampu memelihara nilai-nilai lokal yang sebenarnya amat luhur bagi pembentukan jati diri bangsa, sedangkan dalam konteks global kita seperti anak ayam kehilangan induk. Dari segi tradisi pendidikan, jika dibandingkan dengan negara-negara maju, kita memiliki tradisi yang relatif

222

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

muda. Perencanaan dalam pendidikan baru dilaksanakan pada pertengahan abad XX. Sebelumnya, kita sibuk dengan perang dan pergulatan mencapai kemerdekaan (Mujiran, Media Indonesia: 2007). Oleh karenanya, karakter merupakan struktur antropologis manusia. Pendidikan karakter akan memberikan bantuan sosial agar individu dapat tumbuh dalam menghayati kebebasannya dalam hidup bersama dengan orang lain di dunia. Pendidikan karakter di Indonesia telah lama berakar dalam tradisi pendidikan. Ki Hadjar Dewantara, Soekarno, Hatta dan lainlain, telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan integritas bangsa sesuai dengan konteks dan situasinya (Koesoema, A: 2007, 7). Karakter sebagai struktur antropologis melihat bahwa karakter bukan sekadar hasil dari sebuah tindakan, melainkan secara simultan merupakan hasil dan proses. Dinamika ini menjadi semacam dialektika terus-menerus dalam diri manusia untuk menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasannya. Karakter mrupakan kondisi dinamis struktur antropologis individu, yang tidak mau sekadar berhenti atas determinasi kodratinya, melainkan juga sebuah usaha hidup untuk menjadi semakin integral mengetasi determinasi alam dalam dirinya demi proses penyempurnaan diri secara terus-menerus (Koesoema A, Basis, 2007) Karakter Pada prinsipnya, istilah karakter menimbulkan ambiguitas. Secara etimologi berasal dari bahasa Yunani karasso, berarti cetak biru, format dasar, sidik seperti misalnya dalam sidik jari. Karakter adalah sesuatu yang tidak dapat dikuasai oleh intervensi manusiawi, sebagaimana ganasnya laut dengan gelombang pasang dan angin yang menyertainya. Memahami karakter seperti laut, karena laut tidak terselami dan tidak dapat diintervensi. Oleh karenanya, berhadapan dengan apa yang memiliki karakter, manusia tidak dapat ikut campur tangan atasnya. Manusia tidak dapat memberikan bentuk atasnya, sama seperti bumi, karena manusia tidak dapat membentuknya sebab bumi memiliki karakter berupa sesuatu. Namun sekaligus, bumi itu sendirilah yang memberikan karakter pada realitas lain.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

223

Syarifuddin

Tentang ambiguitas terminologi karakter, memiliki dua cara interpretasi atau karakter tersebut dapat dilihat melalui dua hal, yaitu pertama, sebagai sekumpulan kondisi yang telah diberikan begitu saja, atau telah ada begitu saja, yang lebih kurang dipaksakan dalam diri kita. Karakter yang demikian dianggap sebagai sesuatu yang telah ada. Kedua, karakter juga dapat dipahami sebagai tingkat kekuatan melalui mana seorang individu mampu menguasai kondisi tersebut. Karakter yang demikian ini sebagai sebuah proses yang dikehendaki (willed) (Koesoema A, Basis: 2007). Karakter adalah titian ilmu pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill). Pengetahuan tanpa landasan kepribadian yang benar akan menyesatkan dan keterampilan tanpa kesadaran diri akan menghancurkan. Karena itu, karakter menjadi prasyarat dasar dan integral. Karakter itu akan membentuk motivasi, pada saat yang sama juga karakter dibentuk dengan metode dan proses yang bermartabat. Karena itu, karakter bukan sekadar penampilan lahiriah, melainkan secara implisit mengungkapkan hal-hal tersembunyi. Itu sebabnya orang mendefinisikan karakter sebagai “siapa anda dalam kegelapan” (character is what you are in the dark). Oleh karenanya, jika pembentukan karakter yang sehat dan benar itu membutuhkan suatu proses (Sixtus Tanje, Seputar Indonesia, 2007). Secara bebas karakter dapat diartikan sebagai sifat-sifat dasar yang ada dalam diri manusia. Begitu mendasarnya sifat ini sehingga dapat menjadi suatu ciri atau karakter yang sangat kuat dari setiap individu. Sebagai suatu sifat, karakter dapat dibentuk. Pembentukan karakter seseorang terjadi karena pengaruh lingkungan dan proses pendewasaan pribadi seseorang. Mengingat bahwa sebagian besar waktu menjelang seseorang mencapai titik tersebut dihabiskan di lingkungan sekolah, suka atau tidak suka pembentukan karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh karakter tempat orang tersebut bersekolah. Karakter suatu sekolah juga merupakan suatu hasil pembentukan dari proses yang terus bekesinambungan mulai dari visi pendiri sekolah tentang pembentukan sekolah tersebut. Visi merupakan suatu gambaran tentang apa yang ingin dicapai dengan pendirian sekolah (Francesco Marianti, Basis: 2007).

224

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

Pemaknaan pendidikan bagi pengembangan karakter Pendidikan merupakan suatu aktivitas dalam rangka mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup (Zuhairini dkk, 1997:149). Dengan kata lain pendidikan tidak hanya berlangsung dalam kelas, akan tetapi juga dapat berlangsung di luar kelas. Demikian juga pendidikan merupakan tidak hanya bersifat formal, tetapi juga mencakup non-formal dan informal (Muslim, 2007:1). Pendidikan juga sebagai proses timbal balik dari tiap pribadi manusia dalam rangka penyesuaian dirinya dengan alam semesta dan temannya. Pendidikan merupakan perkembangan yang terorganisasi dan kelengkapan dari semua potensi-potensi manusia, moral, intelektual dan jasmani (fisik), oleh dan untuk kepribadian individunya dan kegunaan yang diharapkan demi menghimpun semua aktivitas tersebut bagi tujuan akhir hidupnya. Demikian juga pendidikan adalah proses, di mana potensi-potensi kemampuan kapasitas manusia yang mudah dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan supaya disempurnakan oleh kebiasaan sedemikian rupa dan dikelola oleh manusia untuk menolong orang lain atau dirinya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan (Brubacher: 1950, 371). Pendidikan diyakini sebagai usaha sadar, terarah, dan disertai dengan pemahaman yang baik untuk menciptakan perubahan-perubahan yang diharapkan pada perilaku individu, dan selanjutnya pada perilaku jamaah atau komunitas di mana individu tersebut hidup (Afifi, 1964:163), hal ini termasuk dalam usaha internalisasi pendidikan karakter terhadap peserta didik, di mana sebagian pakar dalam dunia pendidikan menganggap telah terjadi pergeseran makna atau arah perubahan yang menjadi tujuan pendidikan sudah jauh panggang daripada api. Masalah pendidikan merupakan masalah yang berhubungan langsung dengan kehidupan manusia, merupakan usaha manusia dewasa yang telah sadar akan kemanusiaannya, dalam membimbing, melatih, mengajar, dan menanamkan nilai-nilai serta dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda, agar nantinya menjadi manusia yang sadar dan bertanggung jawab akan tugas-tugas hidupnya sebagai manusia sesuai dengan hakikat dan ciri-ciri kemanusiaannya (Zuhairini, 1997:11). Dengan demikian pendidikan
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

225

Syarifuddin

mencakup seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia. Maka, sangat dibutuhkan materi-materi pendidikan yang dapat berperan untuk mengatasi problema yang dihadapi subyek didik dan masyarakat dalam kehidupannya (Muslim: 2007, 11). Menurut Komaruddin Hidayat (Kompas: 2005), ketika pendidikan tidak lagi menempatkan prinsip-prinsip moralitas agung sebagai basisnya, maka yang akan dihasilkan adalah orang yang selalu mengejar materi untuk memenuhi tuntutan physical happiness yang durasinya hanya sesaat dan potensial membunuh nalar sehat dan nurani. Padahal, aktualisasi nilai kemanusiaan membutuhkan perjuangan hidup sehingga seseorang akan merasa lebih berharga dan bahagia saat mampu meraih kebahagiaan nonmateri, yaitu intellectual happiness, aesthetical happiness, moral happiness, dan spiritual happiness. Pendidikan yang sehat adalah yang secara sadar membantu anak didik bisa merasakan, menghayati, dan menghargai jenjang makna hidup dari yang bersifat fisikal sampai yang moral, estetikal, dan spiritual. Peradaban dunia selalu dibangun oleh tokoh-tokoh moral-spiritual, yang dihancurkan politisi dan teknokrat yang mabuk kekuasaan. Selama ini produk pendidikan amat kurang membantu pertumbuhan spiritualitas anak sehingga mereka sulit mengagumi keramahan langit terhadap bumi, gemercik air, festival awan, kekompakan hidup dunia semut, dan perilaku alam lain yang semua itu merupakan ayat-ayat Tuhan dan bacaan terbuka yang amat indah. Ini semua disebabkan kesalahan proses pendidikan yang kita dapat, yang hampir melupakan dimensi akal budi dan emosi serta tidak memandang alam sebagai entitas yang hidup. Pendidikan kita kurang mengajarkan bagaimana bersahabat dan berdialog dengan kehidupan secara menyeluruh. Berdasarkan persoalan-persoalan tersebut, maka arah pencapaian pendidikan harus ditata kembali, apalagi istilah pendidikan selama ini agak sulit dirumuskan secara pasti karena bermakna ganda atau lebih. Ketidakjelasan makna pendidikan, menurut M.D. Dahlan disebabkan karena pengertiannya yang berbeda-beda, adakalanya pendidikan dipandang sebagai:

226

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

a.

Persekolahan yang mencakup segala kegiatan di lembaga pendidikan, seperti taman kanak-kanak, sekolah, perguruan tinggi, dan akademisi;

b. c. d.

Pembelajaran berkenaan dengan keterampilan tertentu atau pelatihan di lokasi tertentu; Pelatihan tingkah laku tertentu yang seyogyanya dimiliki oleh siswa; Proses penanaman sikap, keyakinan, dan nilai tertentu yang diperoleh melalui berbagai kegiatan sosial di sekolah.

Fenomena inilah yang menuntut untuk segera menafsirkan pendidikan secara luas, sehingga pengertian pendidikan tidak hanya dibatasi sebagai schooling, tetapi memerlukan pengertian pendidikan yang integral, baik itu pengertian yang bersifat teoritis dan bersifat praktis sekaligus. Pendidikan integral ini haruslah mendasarkan sistem pendidikannya pada norma atau landasan hukum tertentu tanpa harus menafikan adanya proses lanjut yaitu aspek pelaksanaannya (Ma’arif: 2005,74). Untuk memahami pengertian pendidikan dengan benar, pendidikan dapat dibedakan dari dua pengertian, yaitu pengertian yang bersifat teoritis filosofis dan pengertian pendidikan dalam arti praktis. Pendidikan dalam arti teoritis filosofis adalah pemikiran manusia terhadap masalah-masalah kependidikan untuk memecahkan dan menyusun teori-teori baru dengan mendasarkan kepada pemikiran normatif, spekulatif, rasional empirik, rasional filosofis, maupun historis filosofis. Sedangkan dalam arti praktis, adalah suatu proses pemindahan pengetahuan ataupun pengembangan potensi-potensi yang dimiliki subjek didik untuk mencapai perkembangan secara optimal, serta membudayakan manusia melalui proses transformasi nilai-nilai yang utama (Thoha, 1996:98). Berdasarkan kedua sifat pengertian pendidikan tersebut, perlu definisi pendidikan yang tepat dalam menghadapi era globalisasi yang serba terbuka dan pergeseran nilai termasuk dalam dunia pendidikan dewasa ini. Menurut Ibrahim Ismat Muthawi’ dalam Syamsul Ma’arif (2005:76), pendidikan harus diartikan sebagai proses menumbuhkan sisi-sisi kepribadian manusia secara seimbang dan integral. Dalam terminologi H.A.R. Tilar (2000:56),
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

227

Syarifuddin

pendidikan merupakan proses pembudayaan. Artinya, antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang saling berkaitan. Tidak ada kebudayaan tanpa pendidikan dan begitu pula tidak ada praksis pendidikan di dalam vakum tetapi selalu berada di dalam lingkup kebudayaan yang konkret. Pendidikan memang bukan hanya menghasilkan manusia yang pintar yang terdidik tetapi yang lebih penting ialah manusia yang terdidik dan berbudaya (educated and civilized human being) pendidikan dapat kita segarkan maknanya sebagai sebuah proses humanisasi dan hominisasi seseorang yang berlangsung di dalam lingkungan hidup keluarga dan masyarakat yang berbudaya, dan suatu proses pembudayaan yang diarahkan kepada berkembangnya kepribadiaan seseorang yang demokratis (Tilar, 2000:89). Pendidikan harus dipandang sebagai upaya pendewasaan moral, sosial, ekonomi yaitu bahwa pendidikan seyogyanya menghasilkan manusia yang memiliki pandangan dan pegangan hidup tertentu serta mampu membuat keputusan normatif, mampu menjadi warga negara yang konstruktif, produktif, dan turut bertanggungjawab atas kelangsungan hidup masyarakatnya; mampu mencakup wilayah mikro (sempit, seperti latihan pemecahan masalah, penguasaan pengoperasian mesin baru) maupun makro (luas, seperti pendidikan sepanjang hayat, pendidikan massa dan politik). Sekaligus pendidikan dipandang sebagai upaya penguatan rasa kebangsaan, keagamaan, dan kesetiakawanan kelompok (Ma’arif: 2005, 79). Dengan demikian, pendidikan di samping harus mentransfer pengetahuan (transfer of knowledge), sekaligus harus transfer of value seperti sikap dapat menghargai pluralitas, kebhinnekaan, dan keragaman. Pengertian pendidikan semacam inilah yang sangat dibutuhkan pada era sekarang, untuk menciptakan perdamaian dunia. Sifat hakiki dari pendidikan adalah bahwa pandangannya selalu tertuju ke masa depan. Pendidikan adalah potensi pembuat cetak biru masa depan yang dikehendaki dan direncanakan, bukan sekadar masa depan yang kebetulan dan tiba-tiba menyerbu. Pendidikan hari ini harus mampu mengembangkan segala potensi untuk generasi sekarang, tetapi tetap memungkinkan generasi berikutnya untuk lebih lanjut membangun masa

228

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

depan mereka. Pendidikan hari ini adalah usaha membangun masa depan (Surakhmad: 2009, 22-23). Pendidikan karakter Berbicara tentang pendidikan karakter, ada dua sisi yang mesti menjadi pertimbangan. Pertama, pendidikan senantiasa berkaitan dengan dimensi sosialita manusia. Manusia sejak kelahirannya telah membutuhkan kehadiran orang lain dalam menopang hidupnya. Pendidikan merupakan usaha sadar yang ditujukan bagi pengembangan diri manusia secara utuh, melalui berbagai macam dimensi yang dimilikinya (religius, moral, personal, sosial, kultural, temporal, institusional, relasional, dan sebagainya) demi proses penyempurnaan dirinya secara terus-menerus dalam memaknai hidup dan sejarahnya di dunia ini dalam kebersamaan dengan orang lain. Sedangkan karakter lebih bersifat subjektif, sebab berkaitan dengan struktur antropologis manusia dan tindakannya dalam memaknai kebebasannya, sehingga ia mengukuhkan keunikannya berhadapan dengan orang lain. Karena itu, pendidikan karakter merupakan keseluruhan dinamika relasional antarpribadi dengan berbagai macam dimensi, baik dari dalam maupun dari luar dirinya, agar pribadi itu semakin dapat menghayati kebebasannya, sehingga ia dapat semakin bertanggung jawab atas pertumbuhan dirinya sendiri sebagai pribadi dan perkembangan orang lain dalam hidup mereka (Koesoema A., Basis, 2007) Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh, telah menggagas sebuah terobosan dalam dunia pendidikan tahun 2010 yaitu mengenai Pendidikan Karakter untuk Keberadaban Bangsa. Hal ini merupakan suatu kejutan serta keprihatinan seorang menteri dalam melihat kondisi dan situasi keberadaan sistem pendidikan di Indonesia selama ini. Sindrom trapped in a comfort zone dalam dunia materialistik, yang hanya melahirkan orangorang pinter secara IQ namun miskin karakter dan buta mata batin, sudah mendesak untuk direvolusi. Pendidikan yang cuma melahirkan manusia mesin dengan mengabaikan nilai-nilai kearifan, kejujuran, kesantunan budi, sudah tidak layak menjadi cita-cita. Disinilah penanaman nilai-nilai luhur kemanusiaan dengan berorientasi pada sistem pendidikan, kurikulum
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

229

Syarifuddin

maupun metode pembelajarannya untuk bagaimana memanusiakan manusia harus senantiasa dihidupkan dan diinternalisasikan dalam setiap mata pelajaran. Gagasan besar Menteri Pendidikan untuk menjadikan pendidikan karakter sebagai titik balik membangun peradaban bangsa, sejatinya juga menjadi agenda besar para pemangku kepentingan, untuk diimplementasikan dengan serius dan berkelanjutan pada setiap jenjangnya (Lailan F. Saidina, 2010). Pendidikan adalah usaha sistematis dengan penuh kasih untuk membangun peradaban bangsa. Di balik sukses ekonomi dan teknologi yang ditunjukkan oleh negara-negara maju, semua itu semula disemangati nilai-nilai kemanusiaan agar kehidupan bisa dijalani lebih mudah, lebih produktif, dan lebih bermakna. Namun banyak masyarakat yang lalu gagal menjaga komitmen kemanusiaannya setelah sukses di bidang materi, yang oleh John Naisbit diistilahkan High-Tech, Low-Touch. Yaitu gaya hidup yang selalu mengejar sukses materi, tetapi tidak disertai dengan pemaknaan hidup yang dalam. Akibatnya, orang lalu menitipkan harga dirinya pada jabatan dan materi yang menempel, tetapi kepribadiaannya keropos. Seseorang merasa diri hebat dan berharga bukan karena kualitas pribadinya, tetapi jabatan dan kekayaan, meski diraih dengan cara yang tidak terhormat. Pribadi semacam ini oleh Erich Fromm disebut having oriented, bukan being oriented, pribadi yang obsesif untuk selalu mengejar harta dan status, tetapi tidak peduli pada pengembangan kualitas moral (Hidayat, Kompas: 2005). Terhadap persoalan-persoalan yang berkembang khususnya persoalan dalam dunia pendidikan dewasa ini, maka pendidikan karakter bisa menjadi sarana penyembuh penyakit sosial karena akan menghasilkan peserta didik sebagai pribadi yang kokoh dan tahan uji. Pendidikan karakter dapat menjadi sarana masyarakat keluar dari beragam masalah yang mencengkeramnya. Situasi sosial yang kacau menjadikan pendidikan karakter relevan untuk dilaksanakan (Mujiran, Media Indonesia: 2007). Untuk memahami pendidikan karakter secara lebih utuh dan menyeluruh, maka perlu melihat kembali bagaimana gagasan dasar tentang manusia. Jika pendidikan merupakan proses pemanusiaan, atau humanisasi dan proses pembudayaan, mengkritisi pemahaman tentang manusia

230

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

merupakan langkah awal yang tidak dapat ditinggalkan jika gagasan kita tentang pendidikan karakter ingin solid dan memadai. Driyarkara (2006: 285) sebagaimana dikutip oleh Doni Koesoema A (Basis: 2009), membedakan pemahaman tentang keberadaan manusia sebagai individu dan persona. Manusia sebagai individu bersifat tertutup dalam dirinya sendiri. Sedangkan persona atau sebagai pribadi memiliki sifat terbuka terhadap orang lain dan dunia. Karenanya individu bersifat unik, tidak ada duanya dan khas. Sedangkan dengan persona, individu bertransaksi dengan individu lain dalam kebersamaan dalam rangka membangun dunianya. Individu yang memiliki sifat tertutup, bisa dilepaskan dari masyarakat dan tetap eksis dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, dalam berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain, akan selalu muncul konflik antara kebutuhan dasar manusia sebagai individu maupun pribadi. Namun, justeru dalam dinamika inilah manusia perlu menempatkan proses pembentukan dirinya sebagai manusia berkarakter. Menurut Brooks an Goble sebagaimana dikutip Koesoema A (2007:116), menyebutkan pendidikan karakter yang diterapkan dalam pendidikan dasar dan menengah merupakan daya tawar berharga bagi seluruh komunitas. Peserta didik mendapatkan keuntungan dengan memperoleh perilaku dan kebiasaan positif yang mampu meningkatkan rasa percaya diri dalam diri mereka, membuat mereka lebih hidup, bahagia, dan produktif. Tugas guru menjadi lebih ringan dan lebih memberikan kepuasan ketika peserta didik memiliki disiplin yang besar di dalam kelas. Orang tua bergembira ketika anakanak mereka bergembira untuk belajar, menjadi lebih sopan dan produktif. Para pengelola sekolah menyaksikan berbagai macam perbaikan dalam hal disiplin, kehadiran, beasiswa, pengenalan nilai-nilai moral bagi siswa maupun guru demikian juga berkurangnya tindakan vandalisme di sekolah. Secara ringkas, pendidikan karakter diaktualisasikan dalam tindakan mengajarkan. Dalam pendidikan karakter, tugas pendidikan adalah mengajarkan nilai-nilai sehingga anak didik mempunyai gagasan konseptual tentang nilai-nilai pemandu perilaku yang bisa dikembangkan dalam karakter pribadi. Pendidikan dalam hal ini adalah proses diseminasi nilai yang tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas dengan
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

231

Syarifuddin

memanfaatkan semua unsur lain dalam dunia pendidikan yang membantu peserta didik. Aspek yang tidak kalah penting adalah menempatkan pendidikan karakter bagi pendidik sendiri. Pendidikan karakter terutama merupakan tuntutan bagi kalangan pendidik sendiri. Keteladanan memang menjadi salah satu hal klasik bagi berhasilnya sebuah tujuan pendidikan karakter (Mujiran, Media Indonesia: 2007). Menurut Lickona dkk (2007) terdapat sebelas prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan secara efektif, yaitu 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik, Definisikan ‘karakter’ secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku, Gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam mengembangkan karakter, Ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian, Beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral, Buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil, 7. 8. Usahakan mendorong motivasi diri siswa, Libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa, 9. Tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter, 10. Libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter, 11. Evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidikan karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik. Khoiruddin Bashori (2010), Pengamat dan Psikolog Pendidikan, dalam tulisannya Menata Ulang Pendidikan Karakter Bangsa, menganggap

232

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

bahwa pendidikan karakter penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan sebagai basis karakter yang baik. Sekolah harus berkomitmen untuk mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai dimaksud, mendefinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari, mencontohkan nilai-nilai itu, mengkaji dan mendiskusikannya, menggunakannya sebagai dasar dalam hubungan antarmanusia, dan mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebut di sekolah dan masyarakat. Yang terpenting adalah semua komponen sekolah bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti. Karakter yang baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika inti. Karenanya, pendekatan holistik dalam pendidikan karakter berupaya untuk mengembangkan keseluruhan aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral. Seswa memahami nilai-nilai inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya, mengamati perilaku model, dan mempraktekkan pemecaham masalah yang melibatkan nilai-nilai. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan ketrampilan empati, membentuk hubungan yang penuh perhatian, membantu menciptakan komunitas bermoral, mendengar cerita ilustratif, dan merefleksikan pengalaman hidup. Sekolah yang telah berkomitmen untuk mengembangkan karakter melihat diri mereka sendiri melalui lensa moral, untuk menilai apakah segala sesuatu yang berlangsung di sekolah mempengaruhi perkembangan karakter siswa. Di samping itu, sekolah dan keluarga perlu meningkatkan efektifitas kemitraan dengan merekrut bantuan dari komunitas yang lebih luas (bisnis, organisasi pemuda, lembaga keagamaan, pemerintah dan media) dalam mempromosikan pembangunan karakter. Kemitraan sekolah-orang tua ini dalam banyak hal sering kali tidak dapat berjalan dengan baik karena terlalu banyak menekankan pada penggalangan dukungan finansial, bukan pada dukungan program.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

233

Syarifuddin

Urgensi pendidikan karakter, lokal ke-Acehan Secara lingkup lokal Aceh, persoalan yang dihadapi dunia pendidikan pada prinsipnya juga tidak jauh beda di tempat lain, hanya saja bagaimana cara pendidikan dapat mensinergiskan budaya lokal dalam menerapkan suatu sistem pendidikan. Perkembangan perjalanan pendidikan di suatu daerah tidak lepas dari sistem budaya yang berlaku di suatu daerah, tinggal saja bagaimana menggagas sistem pendidikan sehingga di suatu daerah tanpa menggilas budaya lokal dan cita-cita dari sistem pendidikan juga dapat berjalan sebagaimana mestinya. Pada prinsipnya tujuan dari pelaksanaan pendidikan sebagaimana dijelaskan di atas juga sama, yaitu dalam rangka mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup, sebagai proses timbal balik dari tiap pribadi manusia dalam rangka penyesuaian dirinya dengan alam semesta dan temannya, perkembangan yang terorganisasi dan kelengkapan dari semua potensipotensi manusia, moral, intelektual dan jasmani (fisik), oleh dan untuk kepribadian individunya dan kegunaan yang diharapkan demi menghimpun semua aktivitas tersebut bagi tujuan akhir hidupnya. Maksud pendidikan lokal ke-Acehan adalah pendidikan yang membantu siswa berkembang seturut dengan talenta dan bakatnya, dan sesuai dengan kebutuhan budaya lokal. Di setiap daerah memiliki ciri khas pengembangannya sesuai dengan kultur budaya daerahannya demikian juga perkembangan iklim di suatu daerah. Bila kemampuan intelektualias seorang siswa memang rendah, maka keterampilan lainlah yang dikembangkan atau kalau ternyata seorang siswa mempunyai karakter yang baik, maka sisi itulah yang akan dikembangkan. Dengan demikian, tiap pribadi anak yang memang unik akan dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kepribadiannya atau potensi lokal wilayahnya. Melihat Indonesia yang begitu bervariasi, sekolah lokal kiranya perlu lebih digalakkan. Menurut Paul Suparno (Basis: 2009) ada beberapa hal yang mempunyai keuntungan dalam menggalakkan sekolah lokal, yaitu: 1. Semua anak bisa maju untuk menemukan potensi dan keterampilannya yang unik dan dapat mengembangkannya dengan optimal.

234

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

2.

Sekolah dapat dengan sungguh memainkan perannya membantu siswa secara riil, memperkuat yang lemah dan memberi kesempatan untuk berkembang pada keunikan dan keunggulan lokal.

3. 4.

Sistem ini juga memberi kesempatan pada semua pihak untuk lebih menghargai perbedaan dan kepekaan pada yang lemah. Pembelajaran untuk menghargai potensi lokal berarti memperkuat ketahanan hidup masyarakat setempat karena tidak harus tergantung pada pihak lain sehingga tidak ketakutan untuk tetap hidup sebagai dirinya sendiri yang autentik secara damai dan gembira.

Selanjutnya Doni Koesoema A (Basis: 2007), memberikan panorama tentang urgensi pendidikan karakter, faktor-faktor yang menyebabkan pendidikan karakter mengalami kemunduran, dan tujuan pendidikan karakter. Menurut beliau ada dua macam paradigma dalam pendidikan karakter. Pertama, memandang pendidikan karakter dalam cakupan pemahaman moral yang sifatnya lebih sempit (narrow scope to moral education). Paradigma ini lebih memandang pendidikan karakter berkaitan dengan bagaimana menanamkan nilai-nilai tertentu dalam diri anak didik di sekolah. Dan yang kedua, melihat pendidikan karakter dari sudut pandang pemahaman isu-isu moral yang lebih luas, terutama melihat keseluruhan peristiwa dalam dunia pendidikan itu sendiri (educational happenings). Integrasi atas kedua paradigma inilah yang melahirkan gagasan baru tentang pendidikan karakter sebagai pedagogi yang akan menyertakan tiga sebagai mantra pertumbuhan manusia, yaitu individu, sosial dan moral. Individu, sosial, dan moral Pada dasarnya, penerapan program pendidikan karakter dalam setiap lembaga pendidikan tidak dapat melepaskan diri dari tiga hal, yaitu individu, sosial, dan moral. Secara historis, tiga hal ini tidaklah muncul begitu saja. Ketiga hal itu bermula dari kelahiran pendidikan baru yang dipelopori oleh Rousseau, terlepas dengan hadirnya berbagai macam kritik secara positif atau negatif, namun hal ini merupakan suatu sumbangan besar Rousseau
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

235

Syarifuddin

dalam membuka mata kita akan adanya relasi negatif yang terjadi antara masyarakat dan individu. Dalam Emile, sebagai mana dikutip oleh seorang pengamat pendidikan Doni Koesoema A (2007: 22-23), Rousseau menegaskan bahwa secara kodrat manusia itu baik, namun masyarakatlah yang membelenggu individu itu sehingga ia menjadi manusia yang bertumbuh semakin menjauh dari kodratnya. Melalui Emile Rausseau menegaskan bahwa ada hubungan erat antara lembaga pendidikan, kultur politik, kehidupan sosial, dan pertumbuhan individu. Agar manusia itu bertumbuh sesuai dengan kemampuan kodratnya, maka pendidikan semestinya melepaskan belenggubelenggu sosial dan membiarkan alam berkembang menjadi guru. Inilah yang kemudian berkembang menjadi sebuah pendidikan negatif, yaitu sebuah pendidikan yang mencoba menghilangkan hal-hal yang menghalangi siswa untuk belajar secara mandiri sesuai dengan kemampuan alamiahnya. Jika alam itu adalah guru, manusia akan semakin dapat menemukan kebaikan di dalam dirinya. Belajar sesuai dengan perkembangan kodrat manusia lantas menjadi semacam prinsip dasar bagi sebuah pendidikan yang membebaskan. Pendidikan karakter memberikan perhatian pada perkembangan individu, meletakkannya dalam kerangka matriks sosial (tatana sosial dalam masyarakat), melalui interpretasi nilai, semakin mengukuhkan diri manusia sebagai makhluk yang bermoral. Fenomena ini menjadikan setiap pendidikan karakter memiliki fungsi pedagogis. Melepaskan salah satu matra (individual, sosial, dan moral) dari tiga matra penting yang sangat fundamental bagi pendidikan karakter membuat setiap usaha pengembangan pendidikan karakter menjadi timpang, superfisial dan tidak efektif. Pendidikan karakter sebagai sebuah pedagogi memberikan prioritas utama pada pendidikan karakter dari sudut pandang pemahaman isu-isu moral yang lebih luas, terutama melihat-isu-isu moral dalam keseluruhan peristiwa yang terjadi di dunia pendidikan itu sendiri (educational happenings). Pendidikan karakter apa pun yang diterapkan di dalam sekolah tidak dapat melepaskan diri dari konteksnya yang lebih luas, terlebih struktur-struktur yang mempengaruhi bagaimana seorang individu yang

236

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

terlibat dalam dunia pendidikan berperan sebagai subjek moral yang aktif. Jika dimensi moral itu dilepaskan dari konteks kelembagaan di mana seorang individu itu menghayati kebebasan dan tanggung jawabnya, usaha menerapkan pendidikan karakter dalam konteks sekolah menjadi inkonsisten dan parsial. Pendidikan karakter jika dipahami terlepas dari peristiwa-peristiwa dalam dunia pendidikan itu sendiri akan menjadi sebuah gerakan yang stagnan, buang energi, tenaga, pikiran dan biaya. Pendidikan karakter sebagai sebuah pedagogi memberikan ruang pertumbuhan bagi setiap individu dalam lembaga pendidikan untuk bertumbuh secara integral sebagai manusia yang menghayati nilai, khususnya nilai-nilai moral, nilai religius dan nilai-nilai kewarganegaraan (Koesoema A, Basis: 2007). Sejatinya pendidikan karakter harus mulai dibangun sejak dari rumah, untuk selanjutnya dikembangkan di sekolah. Di sinilah penanaman nilai-nilai luhur kemanusiaan dengan berorientasi pada sistem pendidikan, kurikulum maupun metode pembelajarannya untuk bagaimana memanusiakan manusia harus senantiasa dihidupkan dan diinternalisasikan dan setiap mata pelajaran, sehingga pendidikan tidak lagi berpisah dari kehidupan. Gagalnya pendidikan di Indonesia (sebagaimana menjadi wacana beberapa pakar pendidikan mengakui bahwa sistem pendidikan yang telah ada, khususnya dalam bidang kepribadian/karakter telah gagal dilakukan) menghasilkan manusia yang kurang berkarakter masih bisa diperdebatkan. Bahkan kegagalan pendidikan ini dianggap karena pendidikan nasional cenderung hanya menonjolkan pembentukan kecerdasan berpikir dan menepikan penempatan kecerdasan rasa, kecerdasan budi, bahkan kecerdasan batin. Dari sini lahirlah manusia-manusia yang berotak pintar, manusia berprestasi dari secara kuantitatif akademik, namun tiada kecerdasan budi sekaligus sangat berkegantungan, tidak merdeka mandiri. Kurang berhasilnya sistem pendidikan membentuk sumber daya manusia dengan karakter yang tangguh, berbudi pekerti luhur, bertanggung jawab, berdisiplin, dan mandiri, terjadi hampir di semua lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta, baik yang berbasis agama maupun umum. Lebih lanjut upaya nation character building sesuai dengan nilai-nilai budaya
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

237

Syarifuddin

bangsa Indonesia terkesan tidak berjalan seperti yang diinginkan (Djudjun Djaenuddin Supriadi, Penabur Jakarta: 2009). Menurut Doni Koesoema A, pendidikan karakter jika ingin efektif dan utuh mesti menyertakan tiga basis desain, tanpa tiga basis tersebut maka program pendidikan karakter di sekolah hanya akan menjadi wacana semata, tiga basis desain tersebut adalah; Pertama, desain pendidikan karakter berbasis kelas. Desain ini berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar di dalam kelas. Konteks pendidikan karakter adalah proses relasional komunitas kelas dalam konteks pembelajaran. Relasi guru-pembelajar bukan monolog, melainkan dialog dengan banyak arah sebab komunitas kelas terdiri dari guru dan siswa yang sama-sama berinteraksi dengan materi. Memberikan pemahaman dan pengertian akan keutamaan yang benar terjadi dalam konteks pengajaran ini, termasuk di dalamnya pula adalah ranah noninstruksional, seperti manajemen kelas, konsensus kelas, dan lain-lain, yang membantu terciptanya suasana belajar yang nyaman. Kedua, desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Desain ini mencoba membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa. Untuk menanamkan nilai kejujuran tidak cukup hanya dengan memberikan pesan-pesan moral kepada anak didik. Pesan moral ini mesti diperkuat dengan penciptaan kultur kejujuran melalui pembuatan tata peraturan sekolah yang tegas dan konsisten terhadap setiap perilaku ketidakjujuran. Ketiga, desain pendidikan karakter berbasis komunitas. Dalam mendidik, komunitas sekolah tidak berjuang sendirian. Masyarakat di luar lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum, dan negara, juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka. Ketika lembaga negara lemah dalam penegakan hukum, ketika mereka yang bersalah tidak pernah mendapatkan sanksi yang setimpal, negara telah mendidik masyarakatnya untuk menjadi manusia yang tidak menghargai makna tatanan sosial bersama.

238

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

UNESCO

juga

menegaskan

bahwa

fungsi

utama

pendidikan

menurutnya adalah learning to know (belajar untuk tahu), learning to do (belajar untuk berbuat), learning to live together (belajar untuk hidup bersama-sama). Untuk persoalan ini, sekolah memiliki peran besar dalam membentuk karakter individu-individu yang dididiknya secara klasikal. Sekolah diharapkan mampu menjadi guiding light bagi generasi muda penerus bangsa. Sekolah juga berfungsi membentuk akhlak anak didik sehingga menjadi manusia berbudi pekerti yang luhur. Pendidikan seharusnya mengajarkan kepada setiap anggota masyarakat untuk dapat menghargai kemajemukan dan membekali mereka dengan kemampuan untuk hidup bersama secara rukun sebagai sesama umat manusia. Kalau pendidikan memang disepakati sebagai upaya dan tugas kultural untuk melahirkan manusia berwatak dan merdeka mandiri, maka mengakaran, pengasahan, dan pemekaran rasa justru menemukan lahan suburnya lewat pengalbuan rasa estetis sejak dini. Pendidikan yang berfungsi memekarkan rasa menjadi penting dipertimbangkan kembali, karena dengan pendidikan olah rasa dapat menjadikan manusia memperoleh kepekaan terhadap masalah dan menjadikan manusia dapat berpikir (bercipta) unggul dan berkarsa tangguh tidak semena-mena pada pihak lain (Ma’arif: 2005, 86-87). Penutup Akhirnya dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwa pendidikan dan berfunsi sebagai berikut, yaitu: pertama, menjaga kebudayaan suatu masyarakat dan memindahkannya kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan agen sosialisasi yang utama dan tempat di mana orang mempelajari prinsip-prinsip yang akan mendasari perilakunya sebagai warga masyarakat. Kedua, education had to be tied to life if it was to be effective. Schooling found its justification in serving all areas of life, not simply the narrawly intellectual and cultural. Ketiga, sekolah dan atmosfirnya harus mampu mewujudkan jalan kepada peserta didik menuju kehidupan secara personal dan sosial. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai sebuah bantuan sosial agar individu itu dapat bertumbuh dalam menghayati kebebasannya
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

239

Syarifuddin

dalam hidup bersama dengan orang lain dalam dunia yang dihadapinya. Pendidikan karakter bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan yang berkeutamaan. Pendidikan karakter tidak hanya berurusan dengan penanaman nilai bagi siswa, namun lebih jauh merupakan sebuah usaha bersama untuk menciptakan sebuah lingkungan pendidikan di man setiap individu dapat menghayati kebebasannya sebagai sebuah prasyarat bagi kehidupan moral yang dewasa.

240

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Pendidikan Karakter: Solusi Pembentukan Manusia Aceh yang Berkeadaban

DAFTAR PUSTAKA
Afifi, al-Hadi, Muhammad. Al-Tarbiyah wa al-Taghoyyur al-Tsaqafi. Kairo: Maktabah Angelo al-Mishriyyah, 1964 Brubacher, John S. Modern Philosophies of Education. New York: McGraw Hill-Book, 1950 Dewey, John. Democracy and Education. New York: Mac-millan, 1916 Driyarkara. Karya lengkap Driyarkara. Essai-Essai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya. Disunting oleh Sudiarja, A., Budi Subanar, G., Sunardi, St., & Sarkim, T (Eds). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006 Koesoema A, Doni. Driyarkara: Transformasi Sosial Pendidikan, BASIS, Edisi September-Oktober 2009 ----------------. http://pendidikankarakter.org/index.php?p=2_2 ----------------. Pendidikan Karakter di Zaman Keblinger: Mengembangkan Visi Guru sebagai Pelaku Perubahan dan Pendidik Karakter. Jakarta: Grasindo, 2009 ----------------. Pendidikan Karakter, Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo, 2007 ----------------. Tiga Mantra Pendidikan Karakter, BASIS, Edisi Juli-Agustus 2007. Ma’arif, Syamsul. Pendidikan Pluralisme di Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka, 2005 Mujiran, Paulus. “Pentingnya Pendidikan Karakter di Sekolah”, dalam Media Indonesia, 24 November 2007. Muslim, Bukhari. Konsep Kurikulum Pendidikan Barat Menurut Perspektif Pendidikan Islam (Tinjauan Terhadap Filsafat Progressivisme), Banda Aceh: Ar-Raniry Press IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh bekerjasama dengan AK Group Yogyakarta, 2007. Muthawi’, Ibrahim. Ushul al-Tarbiyyah. Cet. I. Kairo: Dar al-Ma’arif, 1979 Sudiarja, A., Driyarkara: Pendidikan Kepribadian Nasional. BASIS. Edisi JuliAgustus 2007

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

241

Syarifuddin

Suparno, Paul. “Pendidikan Global vs Pendidikan Lokal”, dalam BASIS, Edisi Juli-Agustus 2009 Supriadi, Djudjun Djaenudin. Program Pendidikan Karakter di Lingkungan BPK , Tabloid Penabur Jakarta, Edisi Maret-April 2009 Surakhmad, Winarno. Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2009 Tanje, Sixtus. Pengembangan Karakter. Seputar Indonesia, Edisi 9 Desember 2007. Tilar, H.A.R. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta, 2000 Zuhairini dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1997

242

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

M. Jamil Yusuf
Dosen tetap Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam pada Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh. Menyelesaikan sarjana (S1) pada Fakultas Tarbiyah (1984), melanjutkan studi S2 pada Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Program Studi Bimbingan dan Konseling (2000) dan melanjutkan Program S3 pada Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Program Studi Bimbingan dan Konseling (2007)

Pendahuluan Di Eropa, gerakan pemikiran mengenai urgensi pendidikan nilai telah dimulai sejak berakhirnya Perang Dunia I ketika mereka menyaksikan berbagai kehancuran yang ditimbulkan oleh perang tersebut. Dalam Perang Dunia I jutaan manusia mati sia-sia. Lalu orang-orang ketika itu saling menyapa “apa yang terjadi di antara kita?.” Dalam berbagai kesempatan, mereka memperbincangkan tentang sesuatu yang lebih bernilai dari sekedar kelimpahan materi, kehebatan sains dan teknologi, kemampuan militer dan kekuatan ekonomi. Namun demikian, sebagai bagian dari tabi’at manusia bahwa ia mudah lupa terhadap sesuatu. Penyesalan orang Eropa pada akhir Perang Dunia I (1914-1918) itu dalam waktu kurang dari seperempat abad lenyap ditelan masa dengan terjadinya Perang Dunia II (1941-1945) yang jauh lebih dahsyat daripada perang-perang sebelumnya. Begitu selesai Perang Dunia II, terus terjadi Perang Dingin (1945-1989) yang hampir saja membawa manusia pada konflik nuklir yang diprediksikan bisa membuat permukaan bumi ini menjadi rawa-rawa. Selama Perang Dingin, isu-isu tentang nilai, moral, etika kehidupan, termasuk kelestarian

243

M. Jamil Yusuf

lingkungan hangat diperbincangkan. Di samping itu, studi polemologi – yang mengkhususkan diri pada asal usul, hakikat dan dimensi-dimensi perdamaian serta cara menciptakannya— menjadi isu yang sangat populer. Masyarakat pun menjadi sangat sensitif terhadap isu-isu apa pun yang bermuatan nilai. Begitu juga halnya ketika umat manusia menyambut datangnya abad 21, di mana majalah Newsweek pernah menurunkan laporan utama yang mengevaluasi perjalanan manusia selama abad 20. Dalam laporan tersebut disimpulkan bahwa selama abad ke-20 manusia lebih banyak menggunakan waktunya untuk saling berperang daripada untuk saling mewujudkan perdamaian.1 Di samping itu, isu pendidikan nilai ini juga ada kaitannya dengan isu perbincangan masalah kecerdasan emosional (Emotional Intelligence/Quotient, SI/EQ). Masalah SI/EQ ini telah mengambil alih popularitas perbincangan mengenai intelegensi intelektual (Intellegence Quotient, IQ) yang telah begitu lama mendominasi arena psikologi sejak dasawarsa kedua abad ke-20.2 Di Indonesia, masalah pendidikan nilai juga lama menjadi tema sentral untuk diperbincangkan, tetapi pada implementasinya belum digarap secara serius dalam setiap gerak langkah pendidikan. Begitu juga halnya, dalam gerak langkah pendidikan di Aceh dapat dikatakan belum ada gerakan yang sistematis untuk penerapan pendidikan nilai. Dalam beberapa tahun terakhir ini memang ada arus pemikiran dalam dunia pendidikan di Indonesia untuk memberikan perhatian yang proporsional terhadap dimensi-dimensi nilai dari tujuan pendidikan, bersama-sama dengan aspek pengetahuan dan keterampilan. Sejak akhir dasawarsa 1970-an, para ahli mulai secara sungguh mengembangkan teori pendidikan yang menekankan pada aspek nilai dan sikap. Sedangkan dalam referensi Barat, gerakan ini ditandai dengan munculnya teori confluence education, affective education atau values education. Dilihat dari sudut pandang kehidupan masyarakat Aceh pasca Rohmat Mulyana, Mengaktualisasikan Pendidikan Nilai (Bandung: Alfabeda, 2004), iiiii.
1

J.P. Chapplin, Kamus Lengkap Psikologi (Alih bahasa) Kartini Kartono (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006), 253.
2

244

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

penandatangan perjanjian di Helsinki, maka urgensi pendidikan nilai terletak pada upaya mengokohkan keyakinan peserta didik supaya mereka berbuat kebenaran, kebaikan dan keindahan, yang keberhasilannya diukur pada tema-tema nilai yang universal. Idealnya, akibat dari proses pendidikan dan pengajaran yang dilaluinya, —dengan program rehabilitasi dan rekonstruksi sarana dan prasara pendidikan terutama pasca konflik dan tsunami, mereka mampu berpikir logis dan menggunakan berbagai pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Dengan kecerdasan, kemudahan teknologi dan kecukupan sarana pendidikan, seyogianya mereka nantinya lebih bijak dan arif dalam menempuh kehidupan ini. Dalam kenyataan sekarang ini, ada sebagian lulusan yang kualitas kemanusiaannya lebih rendah dibandingkan dengan kemajuan berpikir dan teknologi yang dicapainya. Seharusnya dengan keadaan hidup yang telah diperbaiki dan dibangun kembali (rehab rekons) itu dapat mewujudkan suatu kehidupan yang aman dan damai serta lebih arif dan bijak dalam mempersiapkan diri untuk membangun masa depan. Begitu pentingnya pendidikan nilai seperti digambarkan di atas, maka seyogianya masalah ini memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dan terintegrasi. Dengan demikian, pandangan monolistik dengan melimpahkan tanggung jawab pendidikan nilai kepada guru bidang studi pendidikan agama saja, tentunya sudah tidak relevan lagi. Dalam kajian ini ditekankan pada upaya menemukan pandangan komplementer (tanggung jawab bersama) untuk penerapan pendidikan nilai. Dengan demikian, diharapkan dengan kualitas kepribadian, moral, pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki peserta didik dapat menjadi salah satu pilar terwujudnya Aceh damai berkelanjutan. Urgensi pendidikan nilai Pertimbangan nilai merupakan peristiwa yang selalu dialami dalam kehidupan seseorang. Pertimbangan nilai dapat terjadi pada setiap persoalan kehidupan, mulai dari persoalan yang sederhana sampai pada persoalan yang amat kompleks. Bayi yang menangis untuk mendapat perhatian, pembeli yang memilih barang di pasar atau politisi yang berdebat
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

245

M. Jamil Yusuf

mengenai persoalan bangsa, itu semua melibatkan persoalan nilai. Beberepa pertimbangan nilai dapat terjadi pada persoalan-persoalan kecil, seperti apakah seseorang memilih minum kopi, teh dingin, teh panas atau teh tawar ketika ia hendak memesan minumannya. Bisa jadi dalam beberapa pertimbangan itu terdapat nilai ekonomi, kesehatan atau nilai pergaulan/ persahabatan. Begitu pula halnya pertimbangan nilai mengambil peranan penting ketika seseorang menentukan pilihan-pilihan strategis dan memiliki dampak besar bagi kehidupan secara keseluruhan, baik individu, masyarakat dan bangsa. Individu memiliki pertimbangan nilai tersendiri ketika ia hendak menjalani hidup sebagai ilmuwan, pengusaha, memasuki dunia politik, dunia seni, memasuki dunia olahraga professional atau ketika seseorang memilih berbeda pendapat dan pandangan, bahkan peperangan. Pada prinsipnya, kehidupan selalu menuntut untuk menentukan pilihan atas dasar acuan nilai baik-buruk, benar-salah dan sebagainya. Sejak zaman filsafat Yunani, persoalan nilai telah diangkat dalam kerangka teoritik. Sekurang-kurangnya sejak zaman Plato, ide ”baik” ditempatkan paling atas dalam hirarki ide-ide. Karena itu, kajian tentang nilai merupakan kajian yang sudah sangat tua usianya. Namun pada akhir abad ke-19, kajian tentang nilai semakin mendapat uraian mantap dalam filsafat akademis, yang akhirnya melahirkan satu cabang filsafat baru yang disebut aksiologi atau teori nilai.3 Teori nilai yang meliputi keaslian, hakikat, pengelompokan, dan tempat kemudian mendapat perhatian yang cukup besar dalam kajian para sarjana, yang akhirnya menjadi kajian yang amat menarik dewasa ini. Masalah etika sebagai kajian nilai dalam tindakan manusia dan estetika sebagai kajian nilai dalam seni merupakan dua masalah penting dalam kajian urgensi pendidikan nilai ini. Dalam masyarakat yang statis, nilai diletakkan dalam kebiasaan dan tradisi. Dalam masyarakat seperti itu, mereka menerima dan mengikuti nilai-nilai yang dirujuk dengan penuh kesadaran dan ketaatan. Berbeda dengan masyarakat modern yang kehidupannya cepat berubah, nilai sering muncul sebagai topik kontroversial dan menyebabkan konflik. Peristiwa3

Bertens, Etika, Seri Filsafat Atma Jaya 15 (Jakarta: Gramedia, 1999), 20.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

246

Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

peristiwa yang terjadi di berbagai daerah, seperti konflik di Poso, Maluku, Aceh dan pro kontra masalah ”pornoaksi” dan ”pornografi” di DPR RI beberapa waktu yang lalu merupakan fenomena yang amat nyata tentang pertentangan nilai. Pertentangan itu muncul disebabkan oleh perbedaan pertimbangan nilai, perbedaan rujukan nilai dan perbedaan kepentingan. Di samping itu, masalah standar nilai benar salah, baik buruk, indah tidaknya suatu tindakan ditempatkan pada kategori interpretasi yang subyektif. Nilai itu sebenarnya merupakan makna yang terkandung di balik fenomena kehidupan seseorang. Dengan kata lain, nilai adalah makna yang mendahului fenomena kehidupan itu. Pada waktu nilai itu berubah, fenomena kehidupan pun mengikuti perubahan nilai tersebut. Demikian pula sebaliknya, jika fenomena kehidupan itu berubah, maka nilai cenderung mengikutinya. Oleh karena itu, salah satu cara mengamati nilai dapat dilakukan dengan memperhatikan fenomena yang lahir dalam kehidupan individu dan masyarakatnya. Dalam konteks ini, ada beberapa hal penting yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Aceh akhir-akhir ini dan menjadikan kehidupan masyarakat Aceh sudah jauh berubah dari sebelumnya. Pertama, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) telah membawa masyarakat Aceh pada umumnya ke dalam kancah kehidupan modern. Kehidupan modern yang ditandai oleh kemajuan Iptek yang demikian cepat, sering kali membuat sebagian anggota masyarakat mendadak kaget dengan perubahan-perubahan yang terjadi di sekeliling mereka. Mengapa demikian, dapat disimak dari pendapat Rohmat Mulyana yang menyatakan bahwa jumlah penemuan di akhir abad ke-20 sama banyaknya dengan jumlah penemuan sepanjang sejarah umat manusia. Di samping itu, diperkirakan bahwa 90% dari semua ilmuwan yang pernah dilahirkan di dunia ini, sekarang mereka itu masih hidup dan sedang produktif bekerja untuk berbagai penemuan ilmiah berikutnya.4 Dengan kemajuan Iptek benar-benar telah mengubah tatanan kehidupan menjadi serba mudah dan instant. Namun di balik perubahan tatanan kehidupan
4

Rohmat Mulyana, Mengaktualisasikan..., 99-100.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

247

M. Jamil Yusuf

yang bersifat material ini sering menimbulkan konflik nilai yang amat rumit dipecahkan. Kedua, dengan perkembangan globalisasi di mana masyarakat Aceh merupakan bagian yang tak terpisahkan daripadanya, maka persoalan pendidikan merupakan salah satu pilar utama yang perlu ditumbuh kembangkan. Secara filosofis Socrates menegaskan bahwa pendidikan itu merupakan proses pengembangan manusia ke arah kearifan (wisdom), pengetahuan (knowledge) dan etika (conduct). Oleh karena itu, membangun aspek kognisi, afeksi dan psikomotor secara seimbang dan berkesinambungan adalah nilai pendidikan yang paling tinggi. Zaim Elmubarok menyebut ketika Uni Sovyet meluncurkan pesawat luar angkasanya yang pertama Spotnic tanggal 4 Oktober 1957, lalu dengan segera Amerika Serikat menghadang karena—Amerika Serikat sebagai negara dengan kemampuan teknologi tinggi— merasa dipecundangi oleh Uni Sovyet.5 Presiden Amerika Serikat ketika itu langsung membentuk tim khusus (special unit) guna merespon perkembangan yang terjadi di Uni Sovyet. Tim ini tidak dimaksudkan untuk menandingi kecanggihan teknologi Uni Sovyet, tetapi secara khusus dibentuk untuk meninjau kembali kurikulum pendidikan di AS mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Dalam waktu yang singkat tim ini membuat sebuah statemen yang amat mengejutkan, yakni kurikulum pendidikan Amerika sudah tidak layak pakai dan segera harus direvisi. Amerika pun melakukan pembaharuan di bidang pendidikan mulai dari kurikulum, mata pelajaran, tenaga pengajar, sarana pendidikan sampai kepada sistem evaluasi. Usaha yang amat berani ini segera membuahkan hasil yang luar biasa. Salah satu indikatornya, tanggal 14 Juli 1969 Amerika berhasil menempatkan manusia pertama di permukaan bulan. Dengan indikator ini sekaligus menempatkan Amerika Serikat berhasil mengungguli teknologi Uni Sovyet dalam masa 12 tahun. Pada kejadian yang hampir serupa juga pernah terjadi di Jepang seusai kekalahan mereka dalam Perang Dunia II dengan dijatuhkan bom atom di Zaim Elmubarok, Membumikan Pendidikan Nilai: Mengumpul yang Terserak, Menyambung yang Terputus dan Menyatu yang Tercerai (Bandung: Alfabeta, 2008), 4.
5

248

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

Hiroshima dan Nagasaki tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Keadaan Jepang ketika itu praktis lumpuh dalam segala segi kehidupan. Bahkan Kaisar Jepang kala itu menyatakan bahwa mereka sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali tanah dan air. Dalam suasana duka yang mendalam itu, Kaisar memanggil para pejabat yang ada dan bertanya: ”berapa orang guru yang masih hidup?” Ini merupakan pertanyaan yang amat sederhana ketika itu, tetapi mengandung makna yang amat mendalam dalam bidang pendidikan dan memberikan kontribusi yang amat signifikan bagi kemajuan teknologi Jepang di masa sekarang. Jepang secara amat terprogram dan sistematis membenahi sistem pendidikannya pada semua jenjang pendidikan. Dengan pembenahan awal yang dimulai pada bidang pendidikan, Jepang berhasil bangkit dari keterpurukan menjadi negara yang kuat dalam bidang teknologi, ekonomi, komunikasi dan kemajuan bidang pendidikan itu sendiri, bahkan menjadi pesaing utama bagi Amerika Serikat. Ketiga, jika Jepang dibom tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 dibandingkan dengan Indonesia yang merdeka tanggal 17 Agustus 1945, maka kedua negara ini dapat digolongkan sama-sama memulai pembenahan diri dari keterpurukan pada waktu yang bersamaan. Pada tahun 2009 ini (dalam masa 64 tahun) kedua profil negara ini memperlihatkan dua kondisi yang saling bertolak belakang. Jepang kini tampil sebagai negara maju, kuat dan rakyatnya sejahtera, sementara Indonesia masih menamakan diri sebagai negara berkembang, dililit oleh utang, upah buruh yang rendah, mayoritas rakyatnya miskin harus diberi bantuan langsung tunai, para birokrat masih miskin appresiasi dan bergelimang dengan korupsi serta haus kekuasaan. Salah satu contoh kemajuan pendidikan di Jelang adalah berubahnya pengertian ”buta huruf” dari ”tidak bisa tulis baca dan berhitung” menjadi ”tidak bisa menggunakan komputer untuk berbagai kepentingan kehidupan”. Sedangkan di Indonesia pengertian ”buta huruf” masih abadi seperti pengertian semula ketika Indonesia baru merdeka tahun 1945, yakni ”tidak bisa membaca, menulis dan berhitung”. Bahkan pada tingkat regional di Aceh baru-Baru ini, hasil survey Yayasan Anak Bangsa (YAB) pada empat SD di Kecamatan Banda Sakti dan Kecamatan Muara Dua,
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

249

M. Jamil Yusuf

Kota Lhokseumawe ditemukan 112 murid kelas IV s/d VI yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis.6 Oleh karenanya, program pemberantasan buta aksara (Program Paket A) masih merupakan program prioritas untuk pendidikan luar sekolah di Aceh. Anehnya, belum ada suatu kebijakan khusus dari Pemerintah Daerah, termasuk Pemerintah Kabupaten/Kota dalam era otonomi ini yang secara tegas menyatakan bagaimana program ini disukseskan dan kapan ia akan berakhir. Keempat, dengan memperhatikan fakta sejarah yang ada, maka agenda kebangkitan dan kemajuan Aceh harus diletakkan pada pendidikan yang memiliki nilai-nilai tertentu bagi terwujudkan kondisi Aceh yang damai secara berkelanjutan. Begitu sentralnya peranan pendidikan bagi kebangkitan dan kemajuan ini, maka krisis multidimensi separah apapun akan dapat diatasi jika dimulai dengan membenahi bidang pendidikan secara terprogram dan sistematis. Dalam hal ini Mohd. Djawad Dahlan mengatakan ”Kita memiliki orang-orang terdidik lulusan perguruan tinggi yang jauh lebih banyak sepanjang sejarah. Namun, kemanusiaan kita berpenyakit. Jadi, sekarang bukan pengetahuan yang kita butuhkan. Kemanusiaan kita membutuhkan sesuatu yang spiritual”. Perguruan tinggi telah banyak mencetak manusia yang tidak utuh, manusia bernalar tinggi tetapi berhati kering, mereka meraksasa dalam teknik, tetapi merayap dalam etika dan moral. Di mana-mana tersebar orang intelek yang pongah dengan IPTEK, mereka bingung dalam menikmati hidup selaku hamba Allah.7 Lebih lanjut Mohd. Djawad Dahlan menyebut bahwa hakikat pengembangan SDM harus bertumpu pada pendidikan akhlak dan moral bangsa. Jika pada bidang ini berhasil, kita mudah mengembangkan keunggulan di bidang lainnya. Ini penting, karena fenomena yang ada di tengah-tengah masyarakat mengisyaratkan: ”semakin banyak orang pandai, Surat Kabar Harian Serambi Indonesia, ”Banyak Murid SD Tak Bisa Membaca”, tanggal 22 Juli 2009, 22.
6

Mohamad Djawad Dahlan, "Warna Arah Bimbingan dan Konseling Alternatif Di Era Globalisasi" (Bandung: Psikopedagogia: Jurnal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Vol. 2 nomor 3, Mei 2001), 139-140.
7

250

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

semakin sulit dicari orang jujur”. Jadi, agar kita lebih manusiawi, dibutuhkan sesuatu yang sifatnya ruhaniah.8 Atas dasar tuntutan dan harapan inilah, maka ada dua hal yang patut dipertanyakan di sini, yakni: (1) apa kesalahan dalam sistem pendidikan yang ada sehingga tidak mampu menyiapkan manusia berakhlak tinggi dan unggul di bidang keahliannya; dan (2) sistem pendidikan seperti apakah yang dapat memenuhi harapan itu? Adakah kesalahan dalam sistem pendidikan yang ada sehingga menyebabkan tak selarasnya antara ilmu yang dimiliki oleh para lulusan dengan rendahnya akhlak yang dimilikinya itu. Di sinilah letak urgensinya pendidikan nilai bagi kelangsungan hidup paserta didik di masa depan. Pendidikan nilai dan implikasi-implikasinya Pada intinya nilai terdiri dari dua kategori, yakni nilai-nilai nurani (values of being) dan nilai-nilai memberi (values of giving). Nilai-nilai nurani adalah nilai yang ada dalam diri individu kemudian berkembang menjadi perilaku dan menjadi cara individu itu memperlakukan orang lain. Yang termasuk ke dalam nilai-nilai nurani, yakni kejujuran, keberanian, cinta damai, disiplin, kesesuaian dan kepantasan. Sedangkan nilai-nilai memberi adalah nilai yang seyogianya dipraktikkan atau diwujudkan oleh setiap individu untuk kemudian ia akan menerima sesuai dengan apa yang ia praktikkan. Di antara nilai-nilai yang termasuk kategori ini adalah kesetiaan, kepercayaan, saling menghormati, kasih sayang, baik hati, ramah, berlaku adil, kepedulian dan sebagainya. Terkait dengan persoalan nilai ini, UNESCO menekankan pentingnya martabat manusia (human dignity) sebagai nilai tertinggi. Penghargaan terhadap martabat manusia dipandang sebagai nilai yang tidak terbatas dan dapat mendorong manusia untuk memilih nilainilai dasar yang terkait dengannya, di antaranya nilai dasar kebenaran, kesehatan, kasih sayang, spiritual, tanggung jawab sosial, efesiensi ekonomi, nasionalisme dan nilai dasar solidaritas global. Di samping itu, UNESCO telah merumuskan empat pilar pendidikan yang inovatif dan relevan untuk pengembangan pendidikan nilai, yakni
8

Ibid, 140-141.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

251

M. Jamil Yusuf

belajar mengetahui (learning to know), belajar berbuat (learning to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be) dan belajar hidup bersama (learing to live together). Apabila empat pilar pendidikan ini diartikulasikan dalam pendidikan nilai, maka pendidikan nilai dituntut untuk menyediakan suasana kondusif bagi perkembangan peserta didik.9 Penyediaan suasana kondusif ini dalam sistem pendidikan formal di Aceh dapat ditempuh melalui peningkatan pemahaman dan kesadaran terhadap nilai dengan cara-cara sebagai berikut: 1. Peserta didik dibimbing dan dilatih untuk memperluas wawasan pengetahuannya tentang nilai, sehingga mereka dapat memberikan alasan-alasan moral sebelum mereka dituntut untuk melakukan suatu perbuatan atau tindakan. Dengan demikian, proses belajar untuk mengetahui (learning to know) terhadap nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan dapat diterapkan dalam suasana yang penuh pemahaman dan kesadaran. 2. Peserta didik dibimbing dan dilatih untuk memiliki keterampilan melakukan suatu tindakan atau perbuatan dari apa yang diyakininya sebagai nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Tindakan atau perbuatan ini adalah dua hal yang selalu melekat dalam realitas kehidupan seseorang. Oleh karenanya, belajar bertindak dan berbuat itu merupakan belajar mengalami kehidupan yang sebenarnya. Jadi, membimbing dan melatih peserta didik untuk mampu berbuat dan bertindak (learning to do) itu harus memiliki landasan empirik yang kuat sesuai dengan kultur budaya dan pengalaman hidup yang sesunguhnya serta memiliki signifikansinya terhadap prediksi keterampilan perilaku yang dibutuhkan untuk hidup di masa depan. 3. Peserta didik dibimbing dan dilatih untuk memiliki sifat-sifat baik dan melekat pada diri mereka. Nilai-nilai yang diputuskan oleh peserta didik itu untuk selalu diwujudkan dalam suatu perbuatan atau tindakan nyata, maka keberlangsungan perwujudannya itu haruslah sepanjang hayat. Untuk itu, proses pendidikan nilai
9

Rohmat Mulyana, Mengaktualisasikan..., 172.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

252

Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

memerlukan tingkat konsistensi, intensitas dan frekuensi yang tinggi dalam pembiasaannya mengenai hal-hal yang diputusan sebagi benar, baik, indah dan bermoral. Dengan demikian, belajar untuk menjadi dirinya sendiri (learning to be) itu harus benar-benar melalui proses internalisasi yang mendalam dan berkesinambungan. Mohamad Surya menyebut salah satu tugas hidup yang perlu dibimbing dan dilatih dalam bidang ini adalah regulasi diri, yakni peserta didik mampu mengatur diri sendiri, seperti dalam hal: (1) mewujudkan dan mempertahankan harga diri; (2) pengendalian diri; (3) keyakinan dan harapan yang realistik; (4) spontanitas dan respon emosionalnya secara tepat; (5) stimulasi intelektual, pemecahan masalah dan kreativitas; (6) rasa humor; dan (7) kesegaran jasmani serta mampu menumbuh kembangkan kebiasaan hidup sehat.10 4. Peserta didik dibimbing dan dilatih untuk hidup secara harmonis dalam lingkungannya. Setiap individu sebenarnya tidak dapat hidup tanpa orang lain dan selalu mempunyai kepentingan terhadap individu lainnya (hidup sebagai anggota masyarakat). Untuk itu, peserta didik sebagai anggota masyarakat dituntut mampu menampilkan perilakuperilaku yang baik dan benar, sehingga dapat hidup harmonis dalam lingkungan masyarakatnya serta tidak merugikan orang lain. Dalam penerapan pendidikan nilai ini selain menitik beratkan pada kemampuan peserta didik untuk kebebasan memilih, keaslian tindakan dan konsistensi, juga dititik beratkan pada pelibatan berbagai pihak, seperti keluarga, masyarakat dan dinas/intansi terkait untuk turutserta memfasilitasi peserta didik dapat belajar hidup bersama (learning to live together). Lebih lanjut Mohamad Surya juga menekankan pentingnya peserta didik dibimbing dan dilatih untuk mampu mengemban tugas hidup bidang persahabatan,11 yakni membangun hubungan sosial antar individu dalam masyarakat dengan suatu komitmen bersama atas dasar keakraban dan saling
10 11

Mohamad Surya, Psikologi Konseling (Bandung: Pustaka Bani Quraisy,2003), 204.

Ibid, 205.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

253

M. Jamil Yusuf

pengertian. Dalam persahabatan ini, peserta didik akan memperoleh dukungan sosial, dukungan emosional, dukungan informasl dan sebagainya. Program aksi bagi Aceh damai berkelanjutan Sejalan dengan beberapa implikasi pendidikan nilai bagi pengembangan martabat manusia dan nilai-nilai dasar yang terkait dengannya sebagaimana dikemukakan di atas, maka di sini diajukan beberapa program aksi pendidikan nilai bagi masyarakat Aceh, yang dalam kajian ini ditekankan pada aspek penanaman nilai-nilai religius, nilai kewirausahaan dan praktik pendidikan tanpa kekerasan. Dengan fokus pada tiga aspek ini memang diakui belum menyentuh secara menyeluruh upaya-upaya mewujudkan Aceh damai secara berkelanjutan. Namun demikian, setidak-tidaknya jika tiga aspek ini diterapkan secara baik, sistematis dan berkesinambungan juga memberikan kontribusi siginfikan untuk Aceh damai itu dari sisi peranan pendidikan formal di sekolah. Pertama, menanamkan nilai-nilai Islami sebagai pandangan hidup peserta didik. Mohamad Djawad Dahlan menyebut bahwa adanya perbedaan pandangan hidup berdampak besar terhadap penerapan pendidikan nilai yang dikembangkan di negara itu12. Sejalan dengan pernyataan ini dapat dilihat misalnya, Amerika Serikat menganut sistem liberal yang menganggap tinggi nilai individu. Kebenaran dipandangnya tidak mutlak. Individu berhak menginterpretasi terhadap kebenaran, bahkan nilai sebagai individu mendapat perlindungan hukum. Implikasi pendidikannya adalah individu diberi berbagai alternatif yang dapat dipilihnya. Artinya individu dihadapkan pada berbagai model cara hidup dan cara menyelesaikan masalahnya. Lain halnya di negara komunis yang menganggap adanya kebenaran negara. Yang benar ialah komunisme. Nilai sebagai individu tidak begitu tinggi, sehingga pendidikan lebih melihat individu sebagai makhluk biologis. Dalam prinsip pendidikan, tingkah laku individu dibentuk berdasarkan upaya rekayasa dan pengkondisian lingkungan. Mohamad Djawad Dahlan, Beberapa Pendekatan dalam Penyuluhan (Konseling): Psikoanalisa, Berpusat Pada Klien, Terapi Tingkah Laku (Bandung, Diponegoro, 2005), 19.
12

254

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

Berbeda halnya dengan Indonesia yang menganut adanya kebenaran mutlak yang berasal dari Tuhan YME. Kebenaran mutlak tersebut menentukan pola tingkah laku manusia, melalui proses pengembangan potensi yang memiliki kebebasan untuk berkembang. Implikasi pendidikan adalah individu perlu diberi rambu-rambu untuk menuju kepada kemutlakan dan diharapkan dapat menemukan makna dirinya selaku hamba dari Pencipta Kemutlakan, yakni Allah Swt. Kedua, menanamkan nilai kewirausahaan (entrepreneurship) ke dalam diri peserta didik. Idealnya, ketika seseorang lulus menjadi sarjana misalnya, adalah merupakan suatu prestasi yang amat membanggakan. Namun bila dalam waktu yang lama belum mendapat pekerjaan, maka rasa bangga itu akan luntur dan berbalik menjadi rasa malu, stress yang akan berlanjut menjadi frustasi. Situasi ini akan diperparah lagi, karena sebagian besar para lulusan perguruan tinggi di Aceh, --meski belum dilakukan survey yang mendalam--, adalah berjiwa ”pencari kerja”. Jiwa ”pencari kerja” ini sebagian besar disebabkan oleh sistem pembelajaran di Aceh pada umumnya bersifat mendorong peserta didiknya untuk cepat lulus dan segera ”mencari kerja”. Para lulusan kurang mendapat pembinaan untuk menjadi lulusan yang mampu menciptakan lapangan kerja untuk diri sendiri dan membuka lapangan kerja baru yang bisa menyerap banyak tenaga kerja dari masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu, ada satu hal yang perlu diluruskan dalam tradisi penyelenggaraan pendidikan di Aceh, yakni lembaga pendidikan merupakan lembaga paling efektif untuk proses menanamkan nilai-nilai kewirausahaan. Untuk kasus perguruan tinggi, di tengah suasana semakin sulitnya mencari pekerjaan bagi para lulusannya, telah muncul beberapa perguruan tinggi di kota-kota besar yang berusaha membuka progran studi baru yang berbasis pada ekonomi dan bisnis dengan soft skill wirausaha. Soft skill merupakan keterampilan yang bersifat invisible dan tidak langsung atau segera, misalnya kemampuan beradabtasi, komunikasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan conflict resolution. Sebagian dari program studi yang baru dibuka itu, menawarkan materimateri kuliah dengan muatan ekonomi dan bisnis yang lebih variatif untuk
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

255

M. Jamil Yusuf

memenangkan persaingan global yang semakin ketat.13 Di samping itu, juga ditemukan sejumlah perguruan tinggi baru dengan amat berani menawarkan bahwa nilai-nilai kewirausahaan menjadi jiwa dari perguruan tinggi tersebut. Artinya tidak hanya dalam muatan materi kuliahnya saja sebagai soft skill, namun juga metode pembelajarannya pun mengutamakan nilai-nilai kewirausahaan. Mengapa demikian? Karena suatu masyarakat tidak akan maju jika hanya mampu menghasilkan sarjana ”pencari kerja”. Sebaliknya, akan menjadi masyarakat yang makmur, jika mampu menghasilkan para lulusan yang tidak hanya sebagai intelektual tetapi juga mampu ”menciptakan” lapangan pekerjaan. Dengan demikian, program aksi yang penting difokuskan di sini adalah nilai-nilai kewirausahaan harus menjadi arah pengembangan paradigma baru pendidikan di Aceh. Dengan terbukanya berbagai lapangan kerja, para pemuda lebih berpeluang untuk mengembangkan karirnya. Ini sekaligus menjadi faktor yang mendukung peningkatan pendapatan, membuat hidup masyarakat menjadi sejahtera, aman dan damai. Ketiga, program aksi berikutnya adalah menerapkan praktik pendidikan sekolah tanpa kekerasan. Dengan praktik tak ada kekerasan di sekolah, baik guru maupun peserta didik harus berusaha menghindari diri dari kebiasaan buruk berlaku kasar ketika proses belajar mengajar berlangsung maupun dalam pergaulannya di lingkungan sekolah. Dengan motto tak ada kekerasan ini merupakan disiplin serius yang harus ditegakkan oleh setiap sekolah di Aceh. Hal ini penting, mengingat pengalaman konflik masa lalu yang amat melelahkan dan pengalaman psikologis peserta didik akibat gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004. Dari pengalaman yang tak ada kekerasan inilah diharapkan manajemen sekolah menebarkan kredo/motto non-violence kepada senegap warga masyarakat luas, baik melalui rapat-rapat komite sekolah maupun dari mulut ke mulut terutama melalui penuturan peserta didik berbasis pengalaman mereka belajar di sekolah dalam suasana yang menyenangkan. Mengapa masalah praktik pendidikan sekolah tanpa kekerasan Surat Kabar Media Indonesia, ”Jika Jiwa Wirausaha Jauh Panggang dari Api”, tanggal 30 April 2009, 23.
13

256

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

ini dipandang penting untuk ditumbuhkembangkan, karena di berbagai media massa sering dilaporkan bahwa tindak kekerasan dari pihak sekolah terhadap peserta didiknya masih kerap terjadi. Sebagai contoh kasus, dugaan tindak kekerasan terhadap peserta didik yang dilakukan oleh guru pada SMAN I Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara. Seperti diberitakan oleh Surat Kabar Harian Serambi Indonesia, bahwa Mutia Phonna (15 tahun) ditampar dan ditarik pada jilbabnya oleh guru hingga ia tersungkur ke lantai. Akibatnya, Mutia Phonna harus dirawat di RS Kesrem Lhohseumawe karena mengalami infeksi telingan.14 Dalam konteks kasus seperti di atas, maka seyogianya guru mampu menampilkan diri sebagai sosok pendidik teladan, dipercaya dan ditiru tingkah lakunya oleh peserta didik.15 Oleh karena itu, guru adalah digugu dan ditiru. Ungkapan semacam ini merupakan gambaran idealisme guru. Idealnya untuk Aceh damai berkelanjutan, ungkapan ini perlu dicanangkan menjadi suatu model praktik pendidikan sekolah tanpa kekerasan, yakni guru sebagai pendidik profesional harus selalu memikirkan dan merenungkan perilaku diri sendiri dalam proses pembelajaran. Mengapa demikian, karena apa saja yang dilakukan guru akan dijadikan teladan tidak hanya oleh peserta didiknya, tetapi oleh masyarakat di sekitarnya. Model praktik pendidikan tanpa kekerasan adalah model yang sangat umum dan dapat diamati dalam kehidupan pendidikan sekolah sehari-hari. Di samping itu, perlu juga dikembangkan model pendidikan yang sifatnya tersirat dalam berbagai pepatah budaya yang secara umum mudah dipahami oleh setiap orang. Di antaranya, pepatah ”jika guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Dalam diintegrasikan proses sosio-kultural, maka pendidikan nilai religius, kewirausahaan dan praktik pendidikan tanpa kekerasan ini selanjutnya dengan nilai-nilai yang berlaku dalam suatu lingkungan kultural tertentu, yakni adat budaya masyarakat Aceh. Oleh karena itu, perlu Surat Kabar Harian Serambi Indonesia, ”Pendidikan Harus Bebas dari Tindak Kekerasan”, tanggal 28 Juli 2009, 1.
14

Wakhid Akhdinirwanto dan Ida Ayu Sayogyani, Cara Mudah Mengembangkan Profesi Guru (Yogyakarta: Pengurus Wilayah Agupena DIY dan Sabda Media, 2009), 16.
15

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

257

M. Jamil Yusuf

adanya komitmen dan kesepakatan antara pihak sekolah dan masyarakat setempat —yang dalam praktik sekarang ini disebut Komite Sekolah, untuk merumuskan dan mendukung penerapan nilai-nilai yang harus diajarkan kepada peserta didik dan peranan-peranan yang harus dimainkan oleh pihak sekolah dan oleh masyarakatnya. Penutup Manusia adalah makhluk sosial, tidak ada orang yang dapat hidup tanpa orang lain. Bayi yang baru lahir perlu kepada pertolongan ibunya untuk menyusui, makan, tidur, istirahat dan lain-lain. Setelah bayi agak besar, ia perlu kepada kawan-kawan untuk bermain. Di sekolah ia perlu kepada bantuan guru untuk mempelajari bermacam-macam ilmu pengetahuan. Ketika remaja, ia perlu kepada teman sebaya untuk bertukar pikiran dan menyampaikan isi hati serta perasaan. Setelah dewasa ia perlu berkeluarga dan membina rumah tangga yang harmonis dan bahagia. Dalam dunia kerja ia perlu kerjasama dengan teman-temannya untuk meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan. Ketika usia lanjut ia perlu bantuan orang lain, terutama sanak keluarga untuk menikmati hari-hari tuanya. Bahkan ketika meninggal dunia pun ia perlu bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan tajhiz janazah, penyelesaian harta warisan, utang piutang dan sebagainya. Dalam berbagai interaksi itu, adanya konflik antar manusia adalah merupakan masalah yang amat penting untuk dihindari. Dalam hubungan antar manusia, konflik bermakna perlawanan atau bentrokan yang terjadi antara dua orang atau lebih karena adanya faktor-faktor pemicunya. Beberapa faktor itu, antara lain adanya perilaku seseorang yang mengganggu orang lain, persaingan tidak sehat dalam memenuhi kebutuhan atau mereka tidak memiliki kesamaan persepsi mengenai nilai-nilai kebenaran, keadilan, kebaikan dan keindahan, tidak terkecuali dengan konflk yang terjadi di Aceh beberapa waktu yang lalu. Penerapan pendidikan nilai dalam sistem pendidikan sekolah di Aceh haruslah menyentuh aspek filosofi tujuan pendidikan, yakni memanusiakan manusia, membangunan manusia paripurna dan membentuk insan kamil atau manusia seutuhnya. Salah satu indikatornya adalah menjadi individu

258

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Urgensi Pendidikan Nilai Untuk Aceh Damai Berkelanjutan

yang secara gigih memperjuangkan hak-haknya dan secara arif pula menghormati hak-hak orang lain. Kegagalan pendidikan yang paling fatal adalah ketika produk didik (para lulusan) tidak lagi memiliki kepekaan nurani yang berlandaskan nilai-nilai religiusitas, moralitas dan sence of humanity. Ketika para lulusan pendidikan tidak lagi peduli, bahkan secara tragis berusaha menafikan eksistensi kemanusiaan orang lain, seperti intimidasi, penculikan, penghilangan dan pembunuhan, maka produk pendidikan yang dihasilkan itu telah berada pada tingkat yang sangat rendah dan menakutkan. Oleh karena itu, dengan penerapan nilai-nilai Islami, diharapkan masa depan kehidupan peserta didik menjadi terarah dan tidak salah kaprah. Dengan penerapan nilai keriwausahaan, diharapkan peserta didik memiliki kemampuan dan keterampilan berkiprah dalam kancah persaingan global, mampu bekerja dengan penghasilan yang layak dan memenuhi kebutuhan kehidupan, bahkan siap menciptakan lapangan pekerjaan. Demikian pula dengan penerapan praktik pendidikan tanpa kekerasaan, diharapkan peserta didik dapat menghayati indahnya kehidupan, cinta damai, hidup harmonis, dan suka menebarkan kasih sayang. Mereka menjadi tidak suka kepada permusuhan, pertikaian, pembunuhan dan berbagai tindak kekerasan lainnya.

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

259

M. Jamil Yusuf

DAFTAR PUSTAKA
Bertens, Etika. Seri Filsafat Atma Jaya 15. Jakarta: Gramedia, 1999. J.P. Chapplin. Kamus Lengkap Psikologi (Alih bahasa) Kartini Kartono. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006 Mohamad Djawad Dahlan. ”Warna Arah Bimbingan dan Konseling Alternatif Di Era Globalisasi”. Bandung: Psikopedagogia: Jurnal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Vol. 2 nomor 3, Mei 2001 Mohamad Djawad Dahlan. Beberapa Pendekatan dalam Penyuluhan (Konseling): Psikoanalisa, Berpusat Pada Klien, Terapi Tingkah Laku. Bandung, Diponegoro, 2005 Mohamad Surya. Psikologi Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy,2003 Rohmat Mulyana. Mengaktualisasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeda, 2004 Surat Kabar Harian Serambi Indonesia. ”Banyak Murid SD Tak Bisa Membaca”, tanggal 22 Juli 2009 Surat Kabar Harian Serambi Indonesia. ”Pendidikan Harus Bebas dari Tindak Kekerasan”, tanggal 28 Juli 2009 Surat Kabar Media Indonesia. ”Jika Jiwa Wirausaha Jauh Panggang dari Api”, tanggal 30 April 2009 Wakhid Akhdinirwanto dan Ida Ayu Sayogyani. Cara Mudah Mengembangkan Profesi Guru. Yogyakarta: Pengurus Wilayah Agupena DIY dan Sabda Media, 2009 Zaim Elmubarok. Membumikan Pendidikan Nilai: Mengumpul yang Terserak, Menyambung yang Terputus dan Menyatu yang Tercerai. Bandung: Alfabeta, 2008

260

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

YAYASAN PENDIDIKAN TEUKU UMAR JOHAN PAHLAWAN

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
TEUNGKU DIRUNDENG MEULABOH

IZIN DIRJEN PENDIDIKAN ISLAM NOMOR: Dj.1/201/2008
ALAMAT: JALAN T.UMAR KOMPLEK NURUL HUDA MEULABOH TELP. (0655) 7551591

SURAT KEPUTUSAN KETUA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) YAYASAN PENDIDIKAN TEUKU UMAR JOHAN PAHLAWAN NOMOR : 379 /STAI-YPTU-JP/KEP/2010 TENTANG

STAI TEUNGKU DIRUNDENG MEULABOH TA 2009/2010

PANITIA PELAKSANA SEMINAR INTERNASIONAL

KETUA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM TEUNGKU DIRUNDENG MEULABOH Menimbang Mengingat : a. Bahwa dalam Pelaksanaan Seminar Internasional Sekolah Tinggi Agama Islam Teungku Dirundeng Meulaboh, maka perlu dibentuk Panitia Pelaksana Seminar Internasional tahun 2010. b. Bahwa untuk maksud tersebut perlu ditetapkan dalam suatu Surat Keputusan. : 1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 2. Peraturan Pemerintah Nomor. 60 Tahun 1996 tentang Perguruan Tinggi 3. Akte Notaris Nomor 155 Tahun 2009 tentang Pembentukan YAPENTU-JP 4. Surat Keputusan Yayasan Pendidikan Teuku Umar Johan Pahlawan Nomor: 01/YPTU/KPTS/2010 Tentang Pengangkatan Pimpinan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh .

Memperhatikan : 1. Hasil rapat Pimpinan STAI Teungku Dirundeng Meulaboh tanggal 14 April 2010. Menetapkan Kesatu MEMUTUSKAN : : Membentuk panitia pelaksana Seminar Internasional tahun 2010 STAI Teungku Dirundeng Meulaboh sebagaimana dalam Surat Keputusan ini.

261

Lampiran

Kedua

: Panitia Pelaksana melaksanakan tugas-tugas yang menyangkut dengan Pelaksanaan Seminar Internasional tahun 2010 dan melaporkan secara tertulis kepada Ketua STAI Teungku Dirundeng Meulaboh. : Segala biaya akibat dikeluarkannya Surat Keputusan ini dibebankan pada anggaran STAI Teungku Dirundeng Meulaboh tahun 2010. : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diperbaiki sebagaimana mestinya. Ditetapkan : Di Meulaboh Pada Tanggal : 14 April 2010. K e t u a,

Ketiga Keempat

DR. SYAMSUAR, M.Ag Nik : 0502050

262

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Lampiran

Lampiran Tentang Nomor Tanggal

: Surat Keputusan Ketua STAI Tgk. Dirundeng Meulaboh : Panitia Pelaksana Seminar Internasional 2010. : 379 /STAI-YPTU-JP/KEP/2010. : 14 April 2010.

No I II III IV V VI VII VIII

IX X

Nama Panitia Ramli, MS (Bupati Aceh Barat) H. T. Bustami Puteh, SE (Ketua Yayasan) Dr. Syamsuar, M.Ag (Ketua STAI) Usamah El-Madny (Ketua LKAS) Erizar, M.Ed Asmawati, MA T. Mairizal, MA Suharman, M.Si Sunarto. S.Ag Amrizal Hamsa, S.HI Nurhayati. A.Md Hanifuddin Jamin Zulhanli Muchsinuddin, S.Ag Junlizar Banta Ali, Lc Dra. Syarifah Rohana,S.Pd Dra. Mariani Safrida, A.Md Maidijar

Jabatan dalam Panitia Pembina Penasehat Penanggung Jawab Pengarah Ketua Umum Wk Ketua Sekretaris Umum Wk Sekretaris Bendahara Koordinator Kesekretariatan Anggota Sda Sda Koordinator Akomodasi dan Publikasi Anggota Sda Koordinator Konsumsi Anggota Sda Sda

Ditetapkan : Di Meulaboh Pada Tanggal : 14 April 2010. K e t u a,

DR. SYAMSUAR, M.Ag Nik : 0502050

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

263

TERM OF REFERENCE INTERNATIONAL SEMINAR ON PROMOTING CIVIC EDUCUATION AS A PEACE BUILDING TOWARDS CIVIC SOCIETY CONSTRUCTION IN ACEH
ACTIVITIES PEMBUKAAN DR. JEFFERY MILLIGAN PROF. DR. WARUL WALIDIN AK, MA PROF. DR. M. NASIR BUDIMAN, MA SUHARMAN, M.Si MULIADI KURDI, S.Ag, M.Ag ANTON WIDYANTO, S.Ag, M.Ag PANITIA SPEAKERS MODERATORS PERSON IN CHARGE PANITIA PANITIA PANITIA PANITIA

8

SUNDAY, 23 MAY 2010

264
DR. FAUZI SALEH, Lc, MA ASMAWATI, MA PANITIA DR. H. MUHIBUTHTHABARY, M.Ag MUKHSINUDDIN, S.Ag PANITIA

Lampiran

NO

DATE/DAY

TIME

1

8.30-9.30

2

9.30-11.00

EMPOWERING CIVIC EDUCATION

3

11.00-11.30

INTEGRASI PERDAMAIAN DALAM KURIKULUM PKN DI ACEH

4

11.30-12.00

PENGEMBANGAN KURIKULUM MUATAN LOKAL DALAM MENJAGA KEBERLANGSUNGAN PERDAMAIAN DI ACEH

5

12.00-12.30

TANYA JAWAB/DISKUSI

6

12.30-14.00

LUNCH BREAK

7

14.00-14.30

14.30-15.00

PENDIDIKAN HUKUM DAN PEMBERDAYAAN CIVIL SOCIETY DALAM PERDAMAIAN DI ACEH MEMBUMIKAN PERDAMAIAN ACEH DALAM BINGKAI SYARI'AT ISLAM

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

9

15.00-15.30

TANYA JAWAB/DISKUSI

10 11

15.30-16.00 16.00-17.00

BREAK PENUTUPAN DAN PENYELESAIAN ADMINISTRASI

KETUA PANITIA, ERIZAR, M.Ed

Lampiran

Direktur LKAS Banda Aceh, Usamah El-Madny, menyampaikan sambutan pada pembukaan International Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local Values di Meulaboh, Aceh Barat.

Ketua STAI Teungku DIrundeng, Dr. Syamsuar Basyariah, M.Ag, menyampaikan sambutan pada pembukaan International Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local Values di Meulaboh, Aceh Barat.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

265

Lampiran

Direktur LKAS Banda Aceh, Usamah El-Madny, menyerahkan buku terbitan LKAS kepada perwakilan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat pada International Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local Values di Meulaboh, Aceh Barat.

Para peserta International Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local Values di Meulaboh, Aceh Barat.

266

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Lampiran

Direktur LKAS Banda Aceh, Usamah El-Madny, menyerahkan buku terbitan LKAS kepada Prof. Jeffrey Ayala Milligan, Ph.D, associate professor Florida State University, pada International Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local Values di Meulaboh, Aceh Barat.

Para peserta International Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local Values di Meulaboh, Aceh Barat.
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

267

Lampiran

Anton Widyanto (translator LKAS) pada International Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local Values di Meulaboh, Aceh Barat.

Pengurus LKAS Banda Aceh dan STAI Teungku Dirundeng berfoto bersama pemateri International Seminar on Sustaining Peace in Aceh Through the Integration of Local Values di Meulaboh, Aceh Barat.

268

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Profil Lembaga

LKAS

singkatan dari Lembaga Kajian Agama dan Sosial. Didirikan di Banda Aceh, Provinsi Aceh pada Kamis, 22 Desember 2008 bertepatan dengan 25 Dzulhijjah 1429 H dengan akte notaris Sabaruddin Salam, SH, SpN No. 97 Tahun 2008. Tujuan didirikan lembaga ini antara lain ingin mewujudkan pencerahan kehidupan sosial-keagamaan bagi masyarakat dalam berbagai aspeknya. Diharapkan LKAS mampu menjadi lembaga professional dalam internalisasi nilai-nilai agama, sosial, moral dan pendidikan masyarakat. Sesuai dengan tujuan dimaksud LKAS membentuk beberapa divisi antara lain: Divisi Penelitian dan Pengkajian. Divisi ini bertugas melaksanakan riset, seminar, dan forum diskusi ilmiah di bidang agama, pendidikan dan sosial kemasyarakatan yang meliputi seluruh realitas kehidupan dalam berbagai dimensinya sekaligus merumuskan solusi atas masalahmasalah aktual dari problematika yang berkembang. Divisi Pelatihan. Divisi ini bertugas memberikan jasa training, workshop, training of trainer bagi pemberdayaan sumber daya manusia dalam berbagai aspek. Divisi Perberdayaan Perempuan dan Anak. Divisi ini bertugas mengadakan kegiatan-kegiatan pemberdayaan perempuan dalam bidang pendidikan, professionalisme, persamaan hak dan keadilan. Di samping itu divisi ini bertugas mengadakan kegiatan pemberdayaan dan pendidikan anak melalui partispasi masyarakat agar tercipta percerahan bagi masa depan anak-anak. Divisi Pendidikan Politik. Divisi ini bertugas meningkatkan pemahaman dan wawasan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan sehingga tumbuh dan berkembang sistem pendidikan politik yang jujur, adil dan bermartabat. Divisi Kemitraan. Divisi ini bertugas membangun kerja sama dalam internalisasi nilai-nilai sosial dan agama dengan Pemerintah Aceh, LSM, NGO dan lembaga swasta lainnya. Divisi Penerbitan dan Publikasi. Divisi ini bertugas menerbitkan buku-buku, jurnal ilmiah dan artikel-artikel yang sangat berguna bagi masyarakat. Di samping itu divisi ini bertugas mengadakan publikasi lembaga dan melaksnakan kegiatan-kegiatan kelembagaan. Dalam menjalankan tugas sesuai yang telah ditentukan maka setiap devisi telah diisi oleh tenaga profesional dan proporsional yang terdiri dari Philosophy of Doctor (Ph.D), Doktor, Master (MA) dan Magister. Umumnya pengurus LKAS di samping berprofesi sebagai dosen pada IAIN ArRaniry Banda Aceh dan Universitas Syiah Kuala, mereka juga pernah bekerja pada NGO dan lembaga-lembaga swasta lainnya. LKAS hingga hari ini telah menerbitkan beberapa karya penting antara lain: Aceh di Mata Sejarawan;
Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

269

Profil Lembaga

Rekonstruksi sejarah sosial Budaya karya Muliadi Kurdi, Materi Khutbah Jumat karya Muliadi Kurdi & Usamah El-Madny, Anthropomorphisme AlJuwayni karya Dr. Muhibbuththabary,M.Ag, Menalar Hukum Tuhan karya Jabbar Sabil,MA, Pembaharuan Hukum Islam karya Prof. Dr. Mukhsin Nyak Umar,MA. Karya yang akan terbit antara lain: Ensiklopedi Ulama Besar Aceh karya Tim LKAS, Nikah Sirri karya Dr. Fauzi Saleh, Lc, MA & Muliadi Kurdi,S.Ag, M.Ag, Pertalian Darah Menurut Hazairin karya Prof. Dr. Al Yasa’ Abubakar,MA, Toponimi Aceh karya LKAS, Konsep Pemikiran Pendidikan Prof.Dr. Safwan Idris,MA. Selain itu, LKAS telah menerbitkan sejumlah jurnal dan buletin seperti jurnal Progresif, Bidayah STAI Teungku Dirundeng, AtTasri’ STAI Teungku Dirundeng, At-Ta’dib STAI Teungku Dirundeng, AtTanzir STAI Teungku Dirundeng, Peunawa dan lain-lain.

270

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

Profil Lembaga

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
Teungku Dirundeng Meulaboh adalah sebuah Perguruan Tinggi Islam di pantai Barat, Aceh. Lembaga yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Teuku Umar Johan Pahlawan ini berdiri pada tahun 1986. STAI memiliki tiga Program Studi yaitu Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah), Mu’amalah/ Ekonomi Islam (Syari’ah), dan prodi Komunikasi Penyiaran Islam (Dakwah). Sistem yang diterapkan STAI adalah perkuliahan regular dan non regular. Sejak berdiri, lembaga ini semakin ramai diminati oleh mahasiswa. Jumlah mahasiswa yang sedang kuliah di perguruan tinggi tahun pelajaran 2010/2011 berkisar 1.925 orang. Tercatat sejak berdiri hingga Juni 2010 lembaga ini telah tujuh kali mewisudakan sarjana (S1) dengan jumlahnya mencapai 1.450 orang. Pada tahun 2000 sampai 2010 STAI memperoleh nilai akreditasi dengan peringkat B. Jumlah tenaga pengajar/dosen 93 orang dengan 38 dosen tetap. Dosen luar biasa 20 orang dengan rincian Professor 5 orang, Doktor 8 orang, dan dosen S2 berjumlah 32 orang. STAI memiliki tiga kampus yaitu Kampus A lokasi Komplek Masjid Nurul Huda Meulaboh, Kampus B di Desa Gampa, dan Kampus C di Alue Peunyarieng dengan jumlah areal 75 Hektar. Kelompok belajar terdiri dari 35 unit dengan waktu belajar pagi dan sore. Tahun 2010 STAI memberikan beasiswa kepada tiga dosen untuk melanjutkan program S3 ke dalam dan luar negeri. Dalam bidang penerbitan sejak dua tahun terakhir STAI bekerjasama dengan LKAS Banda Aceh telah mampu melahirkan empat jurnal ilmiah masing-masing: At-Tanzir (Prodi KPI), At-Tasyri’ (Prodi Mu’amalah), At-Ta’dib (Prodi PAI), dan Bidayah (jurnal ilmiah institusi). Semua jurnal itu diharapkan dapat sebagai media peningkatan kualitas dosen di sekolah tinggi ini. Sejak berdiri hingga saat ini STAI telah diisi oleh dua pimpinan antara lain: Drs. H. Razali Azis (mantan Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh), Ketua STAI pada periode pertama dan setelah itu hingga sekarang ini STAI dipimpin Dr. Syamsuar Basyariah, M.Ag.

Proceedings of International Seminar on SUSTAINING PEACE IN ACEH THROUGH THE INTEGRATION OF LOCAL VALUES

271

Sustaining Peace in Aceh
Through the Integration of Local Values
We present this work as a starting point for everyone who cares in establishing peace education as part of the Acehnese community. As a nation, we should realize that history will always be our spirit in enlightening our life towards par excellent. In addition to be a precious documentation, this work is expected to be a reflection in learning and mantaining peace on the land of Iskandar Muda to achieve a brighter and more prestigious future for Aceh.

Proceedings of International Seminar on

Sengaja kami suguhkan karya ini agar menjadi starting point bagi para pihak yang peduli untuk menjadikan pendidikan damai bagian dari masyarakat Aceh. Sebagai bangsa, kita harus sadar sejarah yang senantiasa menjadi semangat dalam melakukan berbagai pencerahan kehidupan menuju par excellent. Di samping menjadikan dokumentasi berharga, karya ini diharapkan menjadi bahan renungan dalam menghikmahi serta memelihara perdamaian dan kedamaian di bumi Iskandar Muda ini. Semoga masa depan Aceh lebih cerah dan bermartabat.

ISBN 978-602-95838-7-8

published by

LEMBAGA KAJIAN AGAMA DAN SOSIAL (LKAS) BANDA ACEH
I nstitute for R eligi o u s a n d S o c i a l S t u d i e s

in cooperation with
9 786029 583878

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) TEUNGKU DIRUNDENG MEULABOH, ACEH BARAT
College for Islami c S t u d i e s