You are on page 1of 10

Antara agama dan akal terdapat hubungan dua arah dimana hubungan

ini berada dalam bentuk yang sedemikian eratnya sehingga mustahil


membayangkan adanya pemisahan di antara keduanya. Makna hubungannya
bisa dijabarkan dalam bentuk yang lain.

Akal yang karena dipandang sebagai sebuah alat makrifat dan


pengetahuan serta sekaligus berhubungan secara langsung dengan dimensi-
dimensi teoritis dan ilmiah, maka sangat urgen untuk dibahas dan dipaparkan.
Akal, meskipun memiliki begitu banyak istilah-istilah khusus, secara umum
dapat dibagi dalam dua realitas:

A. Akal teoritis

Akal ini, menurut sebuah istilah, hanya terkhusus untuk menganalisa dan
mengkaji persoalan-persoalan yang bersifat teoritis, serta wilayah penilaian
dan keputusan akal ini senantiasa berada pada aspek-aspek "ada"
(keberadaan) atau "tiada" (ketiadaan). Dalam wilayah akal ini terdapat tiga
tingkatan dan tahapan yang membentuk sebuah pemikiran teoritis pada
seseorang, yaitu tahapan imajinasi, khayal, dan indera lahiriah. Hasil-hasil
yang diperoleh dari akal ini adalah suatu kebenaran yang berkaitan dengan
perkara-perkara eksistensial atau masalah-masalah kewujudan. Hal-hal yang
dibahas di dalamnya misalnya, pembuktian tentang wujud Tuhan, penegasan
keberadaan Nabi, urgensi eksistensi alam akhirat, dan yang semacamnya.

B. Akal praktis

Akal ini, menurut istilahnya, hanya menganalisa persoalan-persoalan


praktis, dan wilayah penilaian serta keputusannya berada pada dimensi-
dimensi "keharusan" (kemestian dan kewajiban) dan "larangan"
(ketidakbolehan). Hasil-hasil yang dicapai dari akal ini adalah suatu
kebenaran yang bersifat relatif atau hal-hal yang tidak terkait langsung
dengan masalah-masalah eksistensial. Ranah dan domain pembahasannya
misalnya berkaitan dengan hak-hak manusia seperti hak kebebasan, hak
kepemilikan, hak tinggal, dan hak-hak lainnya. Potensi-potensi yang berada di
bawah akal praktis ini antara lain adalah syahwat dan emosi, dan melalui
kedua potensi inilah akan terbentuk berbagai tahapan-tahapan berbeda dari
kehendak, iradah, dan keinginan.

Mungkin saja akal manusia akan berhenti dan terbatas pada tahapan-
tahapan tertentu di atas, seperti dalam akal teoritis misalnya, terdapat
kemungkinan bahwa pemikiran teoritis seseorang akan terbatas hanya pada
tahapan imajinasi atau berhenti pada tahapan indera lahiriahnya saja. Dan
bisa jadi pula, seseorang untuk membangun niat dan motivasi perilaku dirinya
akan memanfatkan akal yang telah terwarnai oleh syahwat dan emosi. Pada
tiap-tiap bentuk ini, meskipun adalah benar menyebutnya sebagai suatu
bentuk tafakkur, berkontemplasi, dan berpikir, akan tetapi, pada hakikatnya
akal baru bisa dikatakan mencapai suatu tahapan akal yang sempurna dan
hakiki ketika akal teoritis tersebut telah mencapai pengetahuan yang universal
dengan petunjuk, panduan, dan arahan imajinasi, khayal, dan indera lahiriah,
atau akal praktis tersebut telah mampu melepaskan diri dari cengkeraman
syahwat dan pengaruh emosi secara total dalam mengkontruksi dan
mengatur motivasi-motivasi dan niat-niatnya.

Di sinilah sehingga para pemilik akal atau pemikir mampu menentukan


langkah-langkah mendasar dan fundamental untuk mencapai tahapan akal
murni dan meraih akal sempurna dengan cara menggunakannya secara
maksimal pada aspek-aspek positif dalam kehidupan di alam ini dan
melakukan proses penyelamatan dirinya dari segala bentuk penyimpangan,
kesalahan, dan kekeliruan.

Perlu dikatakan bahwa pengetahuan dan makrifat teoritis adalah berbeda


dengan akal teoritis, demikian juga, pengetahuan praktis adalah berbeda
dengan akal praktis. Yang benar adalah bahwa akal teoritis bertanggung
jawab atas segala pemikiran, baik hal tersebut bersifat pengetahuan teoritis
ataupun pengetahuan praktis, sedangkan akal praktis bertanggungjawab atas
segala bentuk motivasi, baik motivasi tersebut berhubungan erat dengan
aspek-aspek keimanan dan hakikat-hakikat kebenaran ataupun berkaitan
dengan pelaksanaan dan pengamalan hak-hak manusia yang bersifat relatif.

Korelasi Agama dan Akal

Antara agama dan akal terdapat hubungan dua arah dimana hubungan
ini berada dalam bentuk yang sedemikian eratnya sehingga mustahil
membayangkan adanya pemisahan di antara keduanya. Makna hubungannya
bisa dijabarkan dalam bentuk yang lain.

Agama dari satu sisi telah menjelaskan urgensi akal dalam dua dimensi
teoritis dan praktis, misalnya dalam salah satu ayat-Nya Allah Swt berfirman,
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah
Allah senantiasa turun di antara keduanya, agar kamu mengetahui
bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu
Allah benar-benar meliputi segala sesuatu." (QS. ath-Thalaq: 12)
Berdasarkan ayat ini, tujuan penciptaan seluruh langit adalah
keberilmuan seluruh manusia, dan karena akal teoritis memegang
tanggungjawab dalam pemikiran dan tafakkur, maka menjadi jelaslah bahwa
hasil-hasil pemikiran yang berangkat dari penciptaan keseluruhan langit dan
alam, sangat bergantung pada akal teoritis ini, dan manusia ketika meraih
tujuan hakiki penciptaan alam, maka niscaya dia telah berhasil memanfaatkan
dan menggunakan secara maksimal potensi akalnya dan juga dengan
perantaraan akal teoritis inilah manusia akan mampu menyingkap berbagai
hakikat-hakikat alam dan menambah luas pengetahuan-pengetahuan
teoritisnya.

Demikian juga, dalam salah satu ayat-Nya, Allah Swt menjelaskan


tentang urgensi akal praktis sebagai berikut, "Dan Aku tidak menciptakan jin
dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. adh-Dhariyat).
Allah Swt dalam ayat ini menganggap bahwa tujuan penciptaan jin dan
manusia adalah ibadah dan penghambaan. Dari satu sisi, ibadah dan
penghambaan berada dalam cakupan motivasi-motivasi yang benar dan hal
ini tidak akan terwujud tanpa memanfaatkan akal praktis, dengan artian
bahwa jika manusia tidak mampu menciptakan motivasi-motivasi yang benar
dan bernilai dalam dirinya dan ia tidak mampu menentukan tujuan mulia untuk
segala perbuatannya sendiri di alam materi, maka makna yang benar dan
tepat dari aspek penghambaan dan ubudiyahnya ini tidak akan pernah dia
temukan.

Dari sini, bisa dikatakan bahwa kesadaran tentang kebertujuan


penciptaan alam dan makhluk tersebut juga merupakan hasil dari akal praktis.
Dan tanpa adanya akal praktis ini, manusia tidak akan memiliki kemampuan
untuk menciptakan motivasi-motivasi yang tepat, ibadah-ibadah yang lurus,
dan penghambaan yang benar, dengan demikian tanpa adanya akal praktis,
manusia akan terhalang dalam pencapaian tujuan hakiki penciptaannya.

Tentunya tidak tepat jika kita berkesimpulan bahwa apabila akal teoritis
dan akal praktis adalah tujuan penciptaan itu sendiri, karena hal ini akan
memunculkan adanya pertentangan dan kontradiksi, dengan demikian
penyimpulan ini tidaklah benar karena tiap-tiap dari dua jenis akal ini dalam
batasannya masing-masing memiliki peran yang riil dan hakiki, dan dua
realitas yang sama-sama hakiki tidak akan pernah saling bertolak belakang
dan saling menafikan satu sama lain.

Dari sisi lainnya, agama di samping menyebutkan tentang nilai penting


akal, juga mengajarkan tentang arah dan alur berpikir yang benar serta
metodologi yang benar dalam memilih motivasi-motivasi, berarti dengan
demikian, agama tidak akan meninggalkan dan melepaskan akal secara
sendirian, melainkan dia akan membimbing akal untuk memperoleh hakikat-
hakikat dan pengetahuan-pengetetahuan dengan menjelaskan berbagai
metode dan cara-cara yang benar.

Setelah memperhatikan sebuah sisi dari suatu pemikiran, memberikan


perhatian pada arah lainnya pun merupakan suatu hal yang sangat penting
dan berharga. Pada sisi ini, nilai-nilai akal dan pemikiran tersebut telah
dikenali melalui argumen-argumen yang kokoh dari sudut pandang agama.
Penegasan nilaia-nilai ini akan terbukti dengan memperhatikan empat hal
berikut ini:

1. Tolok ukur dan ruang lingkup syariat adalah hukum Tuhan;

2. Satu-satunya sumber hukum Tuhan adalah kehendak Tuhan;

3. Dalil-dalil syar'i hanyalah penyingkap dari kehendak Tuhan;

4. Dalil-dalil syar'i terbagi dalam dua kelompok yaitu aqli (rasio dan akal)
dan naqli (teks-teks keagamaan), dan yang dimaksud dengan dalil naqli
(tekstual) adalah kitab suci atau sunnah Nabi dan sunnah para Imam Ahlulbait
Nabi.

Konklusi yang bisa diambil dari keempat poin di atas adalah bahwa akal
-sebagaimana halnya teks-teks keagamaan seperti kitab suci dan hadis-hadis
(baik yang diriwayatkan secara tunggal maupun mutawatir), ijma' para ulama,
dan yang sejenisnya- juga memiliki keistimewaan dan berperan sebagai
hujjah, dalil, penjelas, dan penyingkap dari kehendak dan hukum Tuhan. Oleh
karena itu, akal murni juga merupakan hujjah Tuhan dan sepadan dengan
teks-teks agama yang otentik. Dengan demikian, akal sama sekali tidak
memiliki perbedaan sedikitpun dengan dalil-dalil syar'i lainnya (baca: teks-teks
suci agama). Demikian juga menjadi jelaslah bahwa akal tidaklah bertolak
belakang dan bertentangan dengan agama serta tidak terpisah dari agama itu
sendiri. Bahkan inti, pesan, dan kandungan ajaran agama itu sendiri adalah
dibentuk oleh nilai-nilai aqli (rasional dan akal) dan naqli (teks-teks agama).
Jadi yang terkadang bertentangan dan bertolak belakang secara lahiriah
adalah akal dan teks-teks suci agama, bukan akal dan agama.

Sekarang apabila kita dengan seksama meneliti hubungan akal dan


agama serta ketidakterpisahan zona-zona riil mereka, maka sangat jelaslah
bagi kita akan ketidakbenaran konsep dan gagasan Sekuarisme yang
memisahkan antara zona-zona akal dan agama, dan tidak bisa lagi dikatakan
bahwa agama itu hanya berhubungan dengan Tuhan sebagai penentu
hukum-hukum agama (syariat) dan akal tidak ada kaitannya dengan agama,
karena pada dasarnya keduanya telah mendapatkan penegasan dari Tuhan
dengan tanpa adanya sedikitpun pembedaan.

Dengan kata lain, sebagaimana halnya teks-teks yang otentik dan valid
merupakan hujjah Tuhan, maka akal murni pun merupakan hujjah Tuhan, dan
kandungan yang berada di dalamnya –dalam bentuk apapun itu– baik
kandungannya yang berupa hukum-hukum fikih dan rukun-rukun keimanan
(mulai dari konsep ketuhanan, keadilan Tuhan, kenabian, Imamah, dan
eskatologi) adalah tidak memiliki perbedaan sama sekali dengan kandungan-
kandungan yang bersumber langsung dari teks-teks suci agama. Oleh karena
itu, dalam semua persoalan keagamaan, hukum-hukum yang terambil dari
teks-teks hadis dan al-Quran adalah tidak berbeda dengan hasil-hasil yang
diperoleh dari argumentasi akal.

Di sini kami akan mengingatkan beberapa poin:

1. Posisi akal berada dalam posisinya yang berhadapan dengan teks-


teks suci agama (naqli), bukan berhadapan dengan agama itu sendiri. Dan
merupakan sebuah tindakan yang tidak benar apabila kita menghadap-
hadapkan akal dengan syariat (baca:agama), dan yang benar adalah
membagi agama itu dalam dua kelompok, yakni argumen akal (aqli) dan teks-
teks suci (naqli);

2. Keabsahan dan validitas akal memiliki syarat, sebagaimana halnya


hujjiyah dan validitas teks-teks suci agama;

3. Akal bukanlah qiyas (baca: qiyas dalam hukum fikih), karena akal
adalah hujjah sedangkan qiyas bukanlah hujjah.
Berikut ini sekilas mengenai akal dan betapa pentingnya akal dalam
beragama. Lawan dari akal adalah jahl, atau sering pula diistilahkan dengan
hawa nafsu. Kita semua tahu, ditinjau dari keberadaan akal dan nafsu,
mahluk2 yang Allah karuniai kemampuan berpikir itu ada tiga jenis: malaikat,
yang dikaruniai akal saja, tanpa nafsu; hewan, yang hanya dikaruniai nafsu,
tanpa akal; dan manusia dan jin, yang Allah swt karuniai akal maupun nafsu.

Ayat-ayat Al Quran berikut dengan tegas memaksa kita untuk


menyimpulkan bahwa hanya kaum Muslimin-Mu’minin lah yang menggunakan
akalnya. Kaum yang lain, entah itu kafirin, musyrikin, munafikin, Nasrani,
Yahudi, ataupun lainnya, oleh Al Quran dikatakan sebagai kaum yang tidak
berakal (laa ya’qilun).

Silakan simak ayat-ayat berikut…

Al Baqarah: 164
َ ‫ت و اْل‬
‫ل وَ الن َّهاِر‬ ِ ْ ‫ف ال ّي‬ ِ ‫خت َِل‬ ْ ‫ض وَ ا‬ ِ ‫ر‬
ْ َ ِ ‫ماَوا‬ َ ‫س‬ ّ ‫ق ال‬ ِ
ْ ‫خل‬
َ ‫ى‬ ِ ‫نف‬ ّ ِ‫إ‬
َ
َ ‫ما أنَز‬
‫ل‬ َ َ‫س و‬ َ ‫ما َينَفعُ الّنا‬ َ ِ ‫حرِ ب‬ ْ َ ‫ى ال ْب‬ِ ‫رى ف‬ ِ َْ ‫ى ت‬
‫ج‬ ِ ‫ك اّلت‬ ِ ْ ‫وَ ال ُْفل‬
‫ث‬ َ ‫حَيا بهِ اْل‬ َ ‫الل ّه من السماِء من ماٍء فَأ‬
ّ َ ‫وت َِها وَ ب‬ ْ ‫م‬
َ َ ‫د‬ ْ ‫ع‬َ ‫ب‬ ‫ض‬
َ ‫ر‬ْ ِ ْ ّ ِ َ ّ َ ِ ُ
‫ن‬
َ ْ ‫خرِ ب َي‬ّ ‫س‬َ ‫م‬ ُ ْ ‫ب ال‬ ِ ‫حا‬ َ ‫س‬ ّ ‫ف الّري َِح وَ ال‬ ِ ‫ري‬ ِ ‫ص‬ ْ َ ‫لِ َداب ّةٍ وَ ت‬ ّ ُ ‫من ك‬ ِ ‫ِفيَها‬
‫ت ل َّقوْم ٍ ي َعِْقُلون‬ ٍ ‫ض ل ََيا‬ ‫ر‬ َ ‫السماِء و اْل‬
ِ ْ َ َ ّ
“Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi; dan pertukaran malam
dan siang; dan (pada) kapal-kapal yang belayar di laut dengan membawa
benda-benda yang bermanfaat kepada manusia; demikian juga (pada) air
hujan yang Allah turunkan dari langit lalu Allah hidupkan dengannya tumbuh-
tumbuhan di bumi sesudah matinya, serta Ia biakkan padanya dari berbagai-
bagai jenis binatang; demikian juga (pada) peredaran angin dan awan yang
tunduk (kepada kuasa Allah) terapung-apung di antara langit dengan bumi;
sesungguhnya ada tanda-tanda (yang membuktikan keesaan Allah,
kekuasaanNya, kebijaksanaanNya, dan keluasan rahmatNya) bagi kaum
yang menggunakan akal fikiran (liqaumiy ya’qiluun)”.

Al Jatsiyah: 5
‫من‬ِ ‫ماِء‬ َ ‫س‬
ّ ‫ن ال‬ َ ‫م‬
ِ ‫ه‬ُ ّ ‫ل الل‬َ ‫ما َأنَز‬ َ َ‫ل وَ الن َّهارِ و‬ ِ ْ ‫ف ال ّي‬
ِ ‫خت َِل‬
ْ ‫وَ ا‬
َ َ
‫ت‬
ٌ ‫ح َءاَيا‬ ِ ‫ف الّرَيا‬
ِ ‫ري‬ ِ ‫ص‬
ْ َ ‫وتَِها وَ ت‬ْ ‫م‬ َ َ ‫ض ب َعْد‬َ ‫حَيا ب ِهِ اْلْر‬ْ ‫ق فَأ‬ ٍ ‫ّرْز‬
‫قُلون‬ ِ ْ‫ل َّقوْم ٍ ي َع‬
Dan (pada) pertukaran malam dan siang silih berganti, dan juga (pada)
rezeki yang diturunkan oleh Allah dari langit, lalu Ia hidupkan dengannya
tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya, serta (pada) peredaran angin,
(semuanya itu mengandungi) tanda-tanda (yang membuktikan keesaan Allah,
kekuasaanNya, kebijaksanaanNya, serta keluasan rahmatNya) bagi kaum
yang mahu menggunakan akal fikiran (liqaumiy ya’qiluun).

Al Baqarah: 171

‫معُ إ ِّل‬ ْ َ ‫ما َل ي‬


َ ‫س‬ َِ ‫ذى ي َن ْعِقُ ب‬ِ ّ ‫ل ال‬
ِ َ ‫مث‬َ َ ‫ن ك ََفُروا ْ ك‬
َ ‫ذي‬ ِ ّ ‫ل ال‬
ُ َ ‫مث‬
َ َ‫و‬
‫م َل ي َعِْقُلون‬ْ ُ‫ى فَه‬ ٌ ‫م‬ْ ُ‫م ع‬ ٌ ْ ‫م ب ُك‬ ّ ‫ص‬ُ ‫داًء‬ َ ِ ‫عاًء وَ ن‬َ ُ‫د‬
Dan bandingan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir, samalah
seperti orang yang berteriak memanggil binatang yang tidak dapat memahami
selain dari mendengar suara panggilan sahaja; mereka itu ialah orang-orang
yang pekak, bisu dan buta; oleh sebab itu mereka tidak dapat menggunakan
akalnya (laa ya’qiluun).

Al Maidah: 58

َ ِ ‫ها هُُزًوا وَ ل َعًِبا َذال‬


‫ك‬ ُ ‫خ‬
َ ‫ذو‬ َّ ‫و إَذا َناديت ُم إلى الصَلوةِ ات‬
ّ ََ ِ ْ ْ َ ِ َ
‫م ّل ي َعِْقُلون‬
ٌ ْ‫م قَو‬
ْ ُ‫ب ِأن ّه‬
Dan apabila kamu menyeru untuk mengerjakan shalat, mereka
menjadikannya (shalat itu) sebagai ejek-ejekan dan permainan. Yang
demikian itu ialah karena mereka suatu kaum yang tidak berakal (laa
ya’qiluun).

Al Anfaal: 22

‫ن َل ي َعِْقُلون‬ ِ ّ ‫م ال‬
َ ‫ذي‬ ُ ْ ‫م ال ْب ُك‬ ّ ‫عند َ الل ّهِ ال‬
ّ ‫ص‬ ِ ِ‫ب‬ َ ‫ن‬
ّ ‫شّر الد َّوا‬ ّ ِ‫إ‬
Sesungguhnya sejelek-jelek makhluk yang melata di sisi Allah ialah
orang-orang yang pekak lagi bisu, yang tidak mau menggunakan akal
(alladziina laa ya’qiluun).

Yunus: 42

َْ ‫م وَ ل‬ َ َ‫ك أ َ ف‬ َ ْ ‫ن إ ِل َي‬
‫و‬ ‫ص‬
ّ ّ ‫ال‬ ُ ‫ع‬‫م‬ِ ‫س‬
ْ ُ ‫ت‬ ‫ت‬
َ ‫أن‬ َ ‫مُعو‬ ِ َ ‫ست‬ ّ ‫من ُْهم‬
ْ َ ‫من ي‬ ِ َ‫و‬
‫قُلون‬ ِ ْ‫كا َُنوا ْ َل ي َع‬
Dan di antara mereka (yang ingkar) itu, ada yang datang mendengar
ajaranmu; maka engkau (wahai Muhammad) tidak berkuasa menjadikan
orang-orang yang pekak itu mendengar kalau mereka menjadi orang-orang
yang tidak mau berakal (laa ya’qiluun).

Yunus: 100

‫س‬ ‫ج‬ ‫ر‬ ‫ال‬ ُ


‫ل‬ ‫ع‬‫ج‬ْ ‫ي‬ ‫و‬ ‫ه‬ ّ ‫ل‬‫ال‬ ‫ن‬ ْ ‫ذ‬ ‫إ‬ ‫ب‬ ّ
‫ل‬ ‫إ‬ ‫ن‬ ‫م‬ ْ ‫ؤ‬ ‫ت‬ َ ‫و ما كا َن ل ِنْفس‬
‫أن‬
َ ْ ّ َ َ َ ِ ِ ِ ِ َِ ِ ُ ٍ َ َ َ َ
‫ن َل ي َعِْقُلون‬ ِ ّ ‫ى ال‬
َ ‫ذي‬ َ ‫عل‬
َ
Dan tiadalah sebarang kuasa bagi seseorang untuk beriman melainkan
dengan izin Allah; dan Allah menimpakan azab (arrijsa) atas orang-orang
yang tidak mau berakal (laa ya’qiluun).

Al Hajj: 4 – Hati untuk berakal

‫ن ب َِها‬َ ‫ب ي َعِْقُلو‬
ٌ ‫م قُُلو‬ْ َُ‫ن له‬َ ‫كو‬ ُ َ ‫ى اْل َْرض فَت‬ ِ ‫ف‬ ْ ‫سيُروا‬ِ َ ‫ي‬ ‫م‬
ْ َ ‫أ َ فَل‬
َ ِ َ
‫مى‬ َ ْ‫كن ت َع‬ َ
ِ ‫صاُر وَ ل‬ ْ
َ ْ ‫مى الب‬ َ ْ‫ن ب َِها فَِإن َّها ل ت َع‬
َ َ ‫مُعو‬ َ ‫س‬ ْ َ‫ن ي‬ ٌ ‫أوْ َءاَذا‬
‫دور‬ ُ ‫ص‬ّ ‫ى ال‬ِ ‫ىف‬ ِ ‫ب اّلت‬ ُ ‫ال ُْقُلو‬
Oleh itu, bukankah ada baiknya mereka mengembara di muka bumi
supaya - dengan melihat kesan-kesan yang tersebut - mereka menjadi orang-
orang yang ada hati yang dengannya mereka dapat memahami (ya’qiluuna
bihaa), atau ada telinga yang dengannya mereka dapat mendengar? (Tetapi
kalaulah mereka mengembara pun tidak juga berguna) kerana keadaan yang
sebenarnya bukanlah mata kepala yang buta, tetapi yang buta itu ialah mata
hati yang ada di dalam dada.

Al Furqan: 44
‫م إ ِّل‬ َ ‫كثرهُم يسمعو‬ َ َ ‫حسب أ‬ َ
ْ ُ‫ن ه‬ َ ‫ن أوْ ي َعِْقُلو‬
ْ ِ‫ن إ‬ َ ُ َ ْ َ ْ َ ْ ‫نأ‬ ّ ُ َ َْ ‫م ت‬
ْ ‫أ‬
‫سِبيل‬ ّ ‫ض‬ َ ُ‫ل ه‬ْ َ ‫كا َْل َن َْعام ِ ب‬
َ ‫ل‬ َ ‫مأ‬ْ
Atau adakah engkau menyangka bahawa kebanyakan mereka
mendengar atau memahami (ya’qiluun)? Mereka hanyalah seperti binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.

Al Ankabut: 63
َ َ َ
َ ‫حَيا ب ِهِ اْلْر‬
‫ض‬ ْ ‫ماًء فَأ‬ َ ‫ماِء‬ َ ‫س‬ّ ‫ن ال‬ َ ‫م‬
ِ ‫ل‬ َ ‫من ن ّّز‬ ّ ‫سأل ْت َُهم‬ َ ‫ن‬ ِ ‫وَ َلئ‬
‫م َل‬ ْ َ‫ل أ‬
ْ ُ‫كث َُره‬ ِ ّ ‫مد ُ ل ِل‬
ْ َ‫ه ب‬ ْ ‫ح‬َ ْ ‫ل ال‬
ِ ُ‫ه ق‬ُ ّ ‫ن الل‬ ّ ُ ‫موْت َِها ل َي َُقول‬
َ ِ‫من ب َعْد‬ِ
‫ي َعِْقُلون‬
Dan sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada
mereka (yang musyrik) itu: "Siapakah yang menurunkan hujan dari langit, lalu
Ia hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya?" Sudah
tentu mereka akan menjawab: "Allah". Ucapkanlah (wahai Muhammad):
"Alhamdulillah", bahkan kebanyakan mereka tidak memahami (laa ya’qiluun).

Al Hasyr: 14
َ َ
ِ‫من وََراء‬ ِ ْ‫صن َةٍ أو‬ ّ ‫ح‬ ّ ‫ى قًُرى م‬ ِ ‫ميًعا إ ِّل ف‬ ِ ‫ج‬َ ‫م‬ ْ ُ ‫َل ي َُقات ُِلون َك‬
ْ ‫جد ر بأ‬
‫ى‬ ‫شت‬َ ‫م‬ْ ُ ‫ه‬ ُ ‫ب‬ ُ ُ‫ميًعا وَ ق‬
‫لو‬ ِ ‫ج‬
َ ‫م‬ْ ُ ‫ه‬ُ ‫ب‬‫س‬ َ ْ
‫ح‬ َ ‫ت‬ ٌ ‫د‬ ‫دي‬ ِ َ
‫ش‬ ‫م‬
ْ ُ ‫ه‬ َ ‫ن‬ْ ‫ي‬َ ‫ب‬ ‫هم‬
ُ ‫س‬
ُ َ ِ ُ ُ
َ َ
‫م ّل ي َعِْقُلون‬ ٌ ْ‫م قَو‬ ْ ُ‫ك ب ِأن ّه‬ َ ِ ‫َذال‬
(Orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik) dengan keadaan bersatu
padu sekalipun, tidak berani memerangi kamu melainkan di kampung-
kampung yang berbenteng kukuh, atau dari sebalik tembok. (Sebabnya):
permusuhan di antara mereka sesama sendiri amatlah keras; engkau
menyangka mereka bersatu padu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang
demikian itu, kerana mereka adalah kaum yang tidak berakal (qaumul laa
ya’qiluun).

Setelah jelas penegasan Al Quran bahwa hanya kaum mu'minin-


muslimin sajalah yang menggunakan akalnya, sedangkan kaum lainnya
adalah tidak berakal, maka tidak ada kesimpulan lain selain bahwa akal
menduduki posisi sangat penting dalam beragama dan berkehidupan. Kita
harus menggunakan akal kita jika kita ingin selamat mencapai tujuan ukhrawi
kita. Tapi, jika kita tengok keadaan dunia saat ini, dimana science dan
teknologi dikuasai oleh negara-negara maju yang kebanyakan adalah dunia
Barat yang mayoritas penduduknya non-muslim - dan bahkan banyak
penduduknya yang mengklaim atheis -, juga jika kita lihat bahwa kehidupan
sosial yang harmonis dan maju justru ditunjukkan oleh western ataupun non-
muslim society itu, sementara kehidupan di banyak negara-negara muslim
justru miskin, terbelakang dan semrawut, tentu ini menjadi ganjalan buat kita
yang mengklaim muslimin ini. Bukankah majunya ilmu dan teknologi serta
teraturnya society menunjukkan bahwa mereka adalah kaum yang berakal?