P. 1
doc(2)

doc(2)

1.0

|Views: 12,810|Likes:

More info:

Published by: Fanny Zaniadi Caniago on Mar 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/17/2013

pdf

text

original

Sections

  • SKRIPSI
  • Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata 1
  • Oleh
  • Nama Mahasiswa : Erianawati
  • NIM : 1124000048
  • Program Studi : S1 Kurikulum Teknologi Pendidikan
  • PERSETUJUAN PEMBIMBING
  • PENGESAHAN
  • PERNYATAAN
  • MOTTO DAN PERSEMBAHAN
  • ABSTRAK
  • Kata Kunci: Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak
  • Hiperaktif
  • KATA PENGANTAR
  • DAFTAR ISI
  • BAB I PENDAHULUAN
  • BAB II KAJIAN PUSTAKA
  • BAB III METODE PENELITIAN
  • BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  • BAB V SIMPULAN DAN SARAN
  • A. SIMPULAN ...162
  • DAFTAR TABEL
  • DAFTAR GAMBAR
  • DAFTAR BAGAN
  • BAB I
  • PENDAHULUAN
  • A. Latar Belakang Permasalahan
  • B. Permasalahan
  • C. Penegasan Istilah
  • D. Identifikasi Permasalahan
  • E. Pembatasan Permasalahan
  • F. Rumusan Permasalahan
  • G. Tujuan Penelitian
  • H. Manfaat Penelitian
  • I. Sistematika Skripsi
  • BAB II
  • KAJIAN PUSTAKA
  • A. Hakikat Pembelajaran
  • B. Media Pembelajaran
  • C. Anak Hiperaktif
  • D. Media Visual
  • E. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak
  • BAB III
  • METODE PENELITIAN
  • A. Pendekatan dan Prosedur Penelitian
  • B. Latar dan Sasaran Penelitian
  • C. Teknik Pengumpulan Data
  • D. Teknik Analisis Data
  • E. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
  • BAB IV
  • HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  • A. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN
  • 1. Deskripsi Setting Penelitian
  • 2. Deskripsi Informasi Pelaksanaan Proses Pembelajaran Anak Hiperaktif
  • dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak
  • Al Tisma Kudus
  • Informan Penelitian I
  • Nama : Ibu Nh sebagai Kepala Terapi dan merangkap sebagai guru
  • pembimbig/terapis anak yang bernama Ferdinan Troy
  • Informan Penelitian II
  • Nama : Ibu Pr, Ibu Ed dan Ibu Yl (Guru Pembimbing/Terapis)
  • Ibu Pr sebagai guru pembimbing/terapis Galih dan Alvin
  • Ibu Ed sebagai guru pembimbing/terapis Khusnul Ma’Ali
  • Ibu Yl sebagai guru pembimbing/terapis Anis dan Martika
  • Informan Penelitian III
  • Ibu Nr dan Ibu Ut (orang tua siswa)
  • B. ANALISIS DATA
  • 1. Perencanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan
  • Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus
  • 2. Pelaksanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan
  • 3. Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media
  • Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus
  • Khusnul Ma’ali
  • Galih
  • Ferdinan Troy
  • Alvin
  • Anis
  • Martika
  • C. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
  • Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak
  • Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak
  • Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak
  • BAB V
  • SIMPULAN DAN SARAN
  • A. Simpulan
  • B. Saran
  • DAFTAR PUSTAKA
  • 1. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri?
  • 4. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas
  • (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka
  • menurut pada anda?
  • C. Wawancara dengan orang tua siswa Terapi Anak Al Tisma
  • Kudus
  • 3. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu?
  • III. T. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri?
  • J. Terapi Anak ini berdiri sejak Maret tahun 2001
  • Ibu Endang Sulastri
  • IV. T. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas
  • (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut
  • pada anda?
  • Ibu Nur
  • V. T. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu?
  • Ibu Utami
  • VI. T. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu?

1

PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI LEMBAGA TERAPI ANAK ALTISMA KUDUS

SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata 1 untuk meraih gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Nama Mahasiswa NIM Program Studi

: Erianawati : 1124000048 : S1 Kurikulum Teknologi Pendidikan

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

2

PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada : Hari Tanggal : :

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Hardjono NIP. 130781006

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

Mengetahui : Ketua Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan

Drs. Haryanto NIP. 131404301

3

PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : Rabu : 29 Juni 2005

Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. Siswanto, MM NIP. 130515769 Pembimbing I

Dra. Nurussaadah, Msi NIP. 131469642 Anggota Penguji Penguji I

Drs. Hardjono NIP.130781006 Pembimbing II

Drs. Kustiono, M.Pd NIP. 131998682 Penguji II

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

Drs. Hardjono NIP.130781006 Penguji III

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

4

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi atau tugas akhir ini benarbenar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang,

Erianawati NIM. 1124000048

” (Q.” (HR.5 MOTTO DAN PERSEMBAHAN “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan. sesungguhnya mencari ilmu itu wajib bagi orang-orang Islam. Baihaqi) “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila mengerjakan suatu pekerjaan dilakukan secara itqon (professional)” (HR. Alam Nasyrah : 6) “Carilah ilmu walaupun (keberadaan ilmu) di negeri Cina. Baihaqi) PERSEMBAHAN Ayahanda dan Ibunda kami tercinta Kakanda dan Adinda kami tercinta Teman-teman kami TP Angkatan 2000 dan Almamater .S.

pengasuhan dan penanganan secara khusus sejak dini. guru. Si.. energi. Untuk itu peran pendidik (orang tua. Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Di dalam pembelajaran anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus tidak lepas dari penggunaan media. namun dengan dilakukannya terapi secara intensif akan membantu penyembuhannya dan secara bertahap hiperaktifitasnya akan berkurang. Terkait dengan pembelajaran anak hiperaktif penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perencanaan. terutama media visual. Kelemahan tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menggunakan strategi kognitif yang terorganisir sehingga sulit memusatkan dan mempertahankan perhatian. Suripto. M. salah satunya adalah dengan terapi. dan disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). Perilaku mereka tidak diatur melalui aturan yang jelas. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Kata Kunci: Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) berbunyi: “Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapat pengajaran. Hardjono.6 ABSTRAK Erianawati. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. Pembimbing II Drs. 1987). Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menggambarkan anakanak yang menderita ketidakmampuan untuk ‘stop. dan orang dewasa lain) sangat diperlukan dalam upaya penyembuhan anak hiperaktif. memakan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. listen and think’ (Abikoff. Agar perkembangan anak hiperaktif bisa kembali seperti anak normal atau setidaknya bisa berkurang hiperaktifitasnya dan dapat berkomunikasi/menjalin hubungan baik dengan orang-orang disekitarnya maka anak hiperaktif perlu mendapatkan pendidikan. 2005. salah satunya adalah anak hiperaktif. look. Walaupun dibutuhkan kesabaran. Pembimbing I Drs.” Kata tiap-tiap menunjukkan bahwa semua warga negara Indonesia termasuk anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus berhak untuk memperoleh pendidikan. karena media visual (gambar) merupakan alat bantu komunikasi yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak. .

karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. Sedangkan dalam membelajarkan anak hiperaktif digunakan sistem pembelajaran lovaas one on one (pembelajaran satu guru satu murid). yaitu cara pengambilan informan penelitian yang bukan didasarkan atas strata. sedangkan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi yaitu anak yang mengalami gangguan perilaku tetapi ringan (hiperaktif ringan) dan kurang kokonsentrasi. mencocokkan (matching). 3) mengetahui bagaimana evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Dan dengan informan peneliti 6 (enam) orang yang terdiri dari Kepala Terapi. bentuk. terutama media visual (gambar). identifikasi warna.7 Adapun tujuan penelitian ini untuk: 1) mengetahui bagaimana merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). besaran dan lain-lain. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Penelitian ini dilakukan di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus dengan sasaran penelitian anak hiperaktif. Dalam memberikan perintah/instruksi ini harus disampaikan dengan singkat. afektif dan psikomotorik pada anak. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi. wawancara dan dokumentasi. Untuk itulah dalam membelajarkan anak hiperaktif tidak lepas dari penggunaan media. interaksi sosial dan aktivitas imajinasi (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan kelainan perilaku. Autis dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi. ukuran. Pemilihan informan penelitian dilakukan dengan cara sampel bertujuan (purposive sample). peneliti memperoleh gambaran bahwa perencanaan pembelajaran (kurikulum) anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah menggunakan kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup Identifikasi benda. 2) mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). dan beri perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Speech Delayed dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan terlambat bicara dan kelainan perilaku. jelas dan konsisten dan dengan suara netral . sehingga anak dapat menangkap pesan. identifikasi angka dan identifikasi kata kerja. identifikasi huruf. kognitif. identifikasi bentuk. Metode pengumpulan data adalah metode observasi. Pembelajaran ini bertujuan untuk membantu anak dalam generalisasi dan supaya anak menguasai berbagai konsep seperti warna. random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu untuk memenuhi kebutuhan informasi sesuai dengan permasalahan penelitian. Dan metode yang digunakan dalam pengajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Cara membelajarkannya dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. Guru Pembimbing/Terapis dan Orang Tua Siswa. Disamping itu untuk meningkatkan kemampuan bahasa. yang termasuk kategori hiperaktif disini adalah Speech Delayed dan Hiperaktif (SD & H). Autis dan Hiperaktif (A & H) dan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi (NH & KK). arah.

. tetapi dengan adanya media visual (gambar) dan prompt (bantuan/arahan) dari terapis dapat membantu mengurangi/menghilangkan gangguan pemahaman bahasa pada anak. Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah evaluasi proses yaitu evaluasi yang dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. guru pembimbing/terapis. Hal ini terbukti dengan 75 % anak hiperaktif berhasil menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru pembimbing/terapis melalui media visual (gambar) ini. seperti hadiah untuk menarik minat mereka belajar. dan Departemen Pendidikan Nasional hendaknya aktif dalam meningkatkan kinerjanya serta mendukung program terapi ini sehingga dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami. Disamping itu dapat meningkatkan kemampuan bahasa. psikiater anak. identifikasi bentuk dan identifikasi kata kerja dimana kasusnya sama yaitu kurangnya ketelitian anak dalam membaca gambar dan gangguan dalam pemahaman bahasa. afektif dan psikomotorik pada anak. kognitif. orang tua siswa. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. dokter anak. . Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespon dengan benar. maka mengajar tanpa prompt dan memberikan reinforce respons yang benar saja. anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan. Saran dari penulis kepada pihak-pihak yang terkait diantaranya yaitu kepala terapi. psikolog anak. maka berikan prompt (bantuan/arahan) pada anak dan setiap kali anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar maka berikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan). Berdasarkan evaluasi proses dari hasil pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada 6 anak hiperaktif dapat disimpulkan bahwa pelajaran yang masih sering mengalami kendala/hambatan adalah identifikasi benda.8 (cukup keras. Apabila dalam pembelajaran. Apabila anak sulit untuk diajarkan maka cukup diberi iming-iming. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media visual (gambar) memudahkan anak dalam memahami konsep dan membantu dalam generalisasi.

Drs. MM. Rektor Universitas Negeri Semarang. SH. Drs. Drs. baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Suripto. Drs. pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini. tidak lepas dari peranan berbagai pihak. Haryanto. oleh karenanya pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada : 1. A T. 2. Ketua Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. 3. MM. Menyadari keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki. Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan. maka dalam penyusunan skripsi ini. Siswanto. Drs. Skripsi ini disusun dalam rangka menyelesaikan studi strata satu untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Semarang. segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga skripsi yang berjudul “Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus” telah terselesaikan. Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan. . 4. Soegito. 5. Msi. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian. Hardjono. pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini.9 KATA PENGANTAR Dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan rasa syukur Alhamdulillah.

Amin Akhirnya peneliti mengharapkan semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembacanya. Ibu Nur Halimah.10 6. Penulis . 7. Semarang. yang tidak dapat disebutkan satu persatu. 8. Para Guru Pembimbing Terapi Anak Bermasalah Al Tisma Kudus yang telah meluangkan waktu guna memberi arahan dalam wawancara yang diperlukan dalam penelitian ini. 10. ilmunya kepada penulis. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan yang telah memberikan pengalaman. terima kasih ku ucapkan atas do’a dan kasih sayang serta pengertian dan perhatiannya selama ini. Semoga semua bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Bapak dan Ibu-ku. 9. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai. Kepala Terapi Anak Bermasalah Al Tisma Kudus yang telah memberikan ijin penelitian dan informasi yang berguna bagi penulis.

.......................................... Latar Belakang Permasalahan.................................................... B.....................................9 Rumusan Permasalahan .............xi DAFTAR TABEL ....................................................................................................................1 Permasalahan .... xvii DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................................... xvi DAFTAR GAMBAR ......................... C.............. ix DAFTAR ISI .............11 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..............6 Penegasan Istilah .............................................9 ................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... D............................7 Pembatasan Permasalahan ....................................9 Tujuan Penelitian ............................................................................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... G.............. F........................................... XVIII BAB I PENDAHULUAN A......................... iv HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN .............................................................. iii HALAMAN PERNYATAN ............................... vi KATA PENGANTAR .......................................... E...............................................................6 Identifikasi Permasalahan ..................................v ABSTRAK .......................

.... Ciri-ciri Pembelajaran .......16 6....... Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran ........ Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran ............... Media Pembelajaran .10 Sistematika Skripsi ..................................................... Unsur-unsur Dinamis dalam Pembelajaran ....... Masalah Anak Hiperaktif dan Penyelesaiannya ....15 4............................................. Cara Menangani Anak Hiperaktif ..................39 ........................................15 3............................10 BAB II KAJIAN PUSTAKA A....24 4.............. Hakekat Pembelajaran ................................ Pengertian Media Pembelajaran .........................16 5.................12 2..31 4....18 1.............................17 B... Asumsi Proses Pembelajaran ............18 2...............29 3.............................................................27 1...............25 5....19 3................26 C....................... I........................................................................ Manfaat Media Pembelajaran ... Anak Hiperaktif ......................12 H............................. Pengertian Belajar dan Pembelajaran .......................................... Ciri-ciri Hiperaktif ........................ Peranan Media Pembelajaran ................................................... Pengertian Hiperaktif .......... Tujuan Pembelajaran .........12 1....... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar .....27 2............................... Manfaat Penelitian ......

..........50 Penggunaan Media Visual dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif 80 E............................................... Pengembangan Kurikulum ....................................................92 D.. Latar dan Sasaran Penelitian ..81 3........................ Pengembangan Media Visual ..........80 1.91 C........ Media Visual . Pelaksanaan Pembelajaran ...........89 B..44 2.......96 E................. Teknik Analisis Data ...............45 3..... Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data............ Pengertian Media Visual ........87 BAB III METODE PENELITIAN A..................... Penggunaan Media Visual ...............................13 D......99 ............... Evaluasi ........................ Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif ............ Fungsi Media Visual ....... Teknik Pengumpulan Data ..80 2.................................................................................................................................................................44 1.. Pendekatan dan Prosedur Penelitian ..........................................................................................................................................................................................48 5.45 4................................. Bentuk Media Visual (Gambar) ..................

.......................... EVALUASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .... 123 1... PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ....................................................... DESKRIPSI SETTING PENELITIAN .................... ANALISIS DATA ............ 124 DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS 2..... PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR .................. 147 DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .......................... PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ............. PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR ......................14 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A....101 1........ DESKRIPSI INFORMASI PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN DI MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ................. 147 1............. 134 C................................................................ 107 B.. 125 3.............................................. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN ...101 2..................

... PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ........... SIMPULAN ................. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN ... 164 LAMPIRAN-LAMPIRAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN D............................101 3.......... 158 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A............... Saran ......... DESKRIPSI SETTING PENELITIAN .................................... 148 3.....................15 2............................101 ........... Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus .................................................. 162 B........................................................................................................................................................................... 163 DAFTAR PUSTAKA .....

..................... 107 E......... 124 5.. 123 4.. EVALUASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS . PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ......................................16 4.......... 147 .................................. PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ............................................................................. DESKRIPSI INFORMASI PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .. ANALISIS DATA ............ 125 6........................................... PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ... PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ............. 134 F.................................................................................................................................................. 147 4....

....................... 164 LAMPIRAN-LAMPIRAN .................... PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ...... 148 6................. 162 B.................... 163 DAFTAR PUSTAKA .............................................. Saran ............17 5.......................................................................... 158 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A........... SIMPULAN ........................................................................................... Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus ...................

....2.....................105 ..... Data Siswa Hiperaktif ...18 DAFTAR TABEL Tabel Hal 4...............103 4......3...... Data Siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus Tahun 2001-2004 ....1..............104 4............................ Data Terapis Tahun 2004/2005 ...........................

.................1................19 DAFTAR GAMBAR Gambar 2... Grafik perbandingan jumlah aktivitas “tak terarah” Hal anak hiperaktif dan anak normal . 29 .................

......20 DAFTAR BAGAN Bagan Hal 3................................ 98 .. Bagan analisis data kualitatif ....................1.

......................................21 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Hal 1......... Lembar Penilaian ....215 ....................................................................... Hasil Dokumentasi ..............................................................167 2.................169 4.......................................... Pedoman Wawancara ........................207 6.............. Pedoman Kurikulum ..................175 5............214 8............................213 7........................... Surat Keterangan Penelitian ........................168 3...... Hasil Wawancara ..................................................... Permohonan Ijin Penelitian ............................... Denah Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus .........................................................

” . tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 8 ayat (1) berbunyi: “Warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa. Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) berbunyi: “Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapat pengajaran. tentang Pendidikan Luar Biasa pasal 3 ayat (1) “Jenis kelainan peserta didik terdiri atas kelainan fisik dan/atau mental. Latar Belakang Permasalahan Pendidikan adalah usaha sadar untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak didik yang terarah menuju tercapainya pendidikan nasional.” Selanjutnya ayat (2) berbunyi: “Ciri khas satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat tetap diindahkan. selanjutnya pasal 47 ayat (1) berbunyi: “Masyarakat sebagai mitra pemerintah berkesempatan seluas-luasnya dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.22 BAB I PENDAHULUAN A. dan/atau kelainan perilaku.” Sebagai tindak lanjut dari Undang-undang tersebut sudah diterbitkan pula Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1991. Salah satu upaya Pemerintah dalam memantapkan pembangunan di bidang pendidikan adalah disahkannya Undang-Undang No. 20 Tahun 2003.” Kata tiap-tiap menunjukkan bahwa semua warga negara Indonesia termasuk anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus/berkelainan berhak untuk memperoleh pendidikan.

perkembangan otak saat kehamilan. Kelemahan tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menggunakan strategi kognitif yang terorganisir sehingga sulit memusatkan dan mempertahankan perhatian. listen and think’ (Abikoff. look. Perilaku mereka tidak diatur melalui aturan yang jelas. antara lain adalah hiperaktif. . Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menggambarkan anakanak yang menderita ketidakmampuan untuk ‘stop. tingkat kecerdasan (IQ). dikatakan pada beberapa referensi bahwa penyebab terjadinya hiperaktifitas bersifat multi faktorial dimulai dari faktor genetik. tidak bisa duduk dengan tenang. perkembangan otak saat perinatal. sehingga perlu pelayanan pendidikan khusus. terburu-buru. Penyebab pasti hiperaktifitas pada anak tidak dapat disebutkan dengan jelas. guru dan orang-orang yang berpengaruh di sekitarnya. 1987). sosial dan pola pengasuhan anak oleh orang tua. menjawab pertanyaan yang belum selesai ditanyakan dan tidak sabaran menunggu giliran. Pada tahun 1996 NIMH menyebutkan beberapa gejala utama hiperaktifitas: Perasaan gelisah. pada salah satu pasalnya berbunyi bahwa anak yang memerlukan perhatian khusus.23 Peraturan Pemerintah tahun 2002 tentang Pendidikan Luar Biasa yang merupakan penyempurnaan terhadap PP PLB. lingkungan fisik. ketidak teraturan hormonal. terjadinya disfungsi metabolisme. selalu menggerakkan tangan dan kaki tanpa maksud tertentu.

dan merupakan suatu bentuk kelainan perilaku dengan jumlah kejadian gangguan afektif yang bersifat kronis terbanyak pada anak-anak usia sekolah. problem hubungan interpersonal baik dengan keluarga atau dengan lingkungan di sekitarnya (teman sepermainan) dan cenderung kurang percaya diri (minder). National Institute of Mental Health (2003). Perrin dkk. seperti rendahnya kemampuan akademis di sekolah. rendah diri dan beberapa masalah emosi yang tidak terkendali. Dalam perkembangannya seorang anak dengan kelainan ini akan terjadi depresi.24 James M. menyebutkan beberapa hal yang berhubungan dengan ADHD: . Gangguan hiperaktif merupakan salah satu kelainan yang sering dijumpai pada kasus-kasus psikiatri anak. menyatakan bahwa hiperaktifitas (sebagai bagian dari ADHD) adalah kelainan perilaku yang bersifat neurologis tersering yang terjadi pada masa kanak-kanak. Anak-anak dengan ADHD biasanya juga disertai dengan berbagai kendala fungsional lainnya. dan tidak pernah menyelesaikan suatu pekerjaan dengan tuntas. Pengelompokan ADHD merujuk gejala yang paling menonjol yang terjadi meliputi kurang perhatian. tidak dapat duduk dengan tenang. hal ini dapat berlanjut hingga masa remaja bahkan saat dewasa. bergerak tanpa arah dan tujuan. Jika tidak tertangani dengan segera akan berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan dalam bersosialisasi serta kemampuan menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. yang ditandai dengan: kurangnya perhatian pada satu bentuk kegiatan tertentu. Data dari NIMH (2001). hiperaktifitas (bagian terbesar) dan impulsifitas.

padahal anak hiperaktif memerlukan pendidikan spesifik. Akibatnya anak hiperaktif yang IQ nya normal atau di atas normalpun tidak mendapat pendidikan yang maksimal atau sesuai dengan kebutuhan. 4.25 1. Agar perkembangan anak hiperaktif bisa kembali seperti anak normal atau setidaknya bisa berkurang hiperaktifitasnya dan dapat berkomunikasi/menjalin hubungan baik dengan orang-orang disekitarnya maka anak hiperaktif perlu mendapatkan pendidikan. Diperkirakan diderita 4. Gejala-gejala ADHD biasanya ditemukan pada usia prasekolah atau sekolah dasar dan menetap hingga remaja bahkan terkadang berlanjut hingga dewasa. 3. lebih-lebih terhadap anak hiperaktif yang disertai IQ di bawah rata-rata. Anak dengan ADHD lebih sering mengalami trauma dibandingkan dengan anak normal. Laki-laki lebih sering 2 sampai 3 kali dari pada perempuan. Selama ini pelayanan pendidikan untuk anak hiperaktif atau anak yang ber kebutuhan khusus lainnya di Indonesia lebih cenderung dimasukkan kependidikan anak terbelakang mental/tunagrahita. .1 persen anak usia 9 hingga 17 tahun selama periode 6 bulan. ADHD sering disertai dengan terjadinya gangguan depresi. 2. demikian juga dengan kebutuhan guru-gurunya. gangguan kecemasan. salah satunya adalah dengan terapi. gangguan hubungan personal. ketergantungan obat dan perilaku anti sosial. pengasuhan dan penanganan secara khusus sejak dini. 5.

Walaupun dibutuhkan kesabaran. dan disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). namun dengan dilakukannya terapi secara intensif akan membantu penyembuhannya dan secara bertahap hiperaktifitasnya akan berkurang. Amerika Serikat. maka penulis tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul: “Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus”. Berdasarkan uraian di atas. terutama dalam pembelajaran anak hiperaktif.. Pendidikan melalui media visual adalah metode/cara untuk memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dapat dilihat daripada sesuatu yang didengar atau dibacanya.26 Menurut penelitian di Virginia University. guru. dan orang dewasa lain) sangat diperlukan dalam upaya penyembuhan anak hiperaktif. Dalam pembelajaran anak hiperaktif di tempat-tempat terapi di Jawa Tengah termasuk di Kudus. karena media visual (gambar) merupakan alat bantu komunikasi yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak. sedangkan 80% menunjukkan IQ di bawah rata-rata (ringan. dan berat). terutama media visual. tidak lepas dari penggunaan media. . memakan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. kemampuan menerima pengetahuan (Cognitive Ability) anak hiperaktif 20% masih menunjukkan kemampuan berpikir yang normal atau di atas normal. Dengan menggunakan media visual dapat meningkatkan efektifitas dan efesiensi proses pembelajaran. energi. Untuk itu peran pendidik (orang tua. sedang.

(KBBI. Tapi dalam hal ini hanya dikhususkan pada media gambar. Media Visual Media adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai dengan lebih baik. Melalui media visual. diharapkan proses pembelajaran akan mendorong tumbuhnya perhatian dan pencapaian hasil belajar yang lebih baik bagi siswa. memanfaatan sesuatu untuk tujuan tertentu. 1993:27). Media ini dapat berupa: media bentuk papan.27 B. 1989:569). penggunaan dapat diartikan proses. Media visual adalah semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar mengajar yang bisa dinikmati lewat panca-indera mata. media gambar dan media proyeksi (Daryanto. . timbul permasalahan “Bagaimana cara menggunakan media visual (gambar) dalam pembelajaran anak hiperaktif ?” mengingat betapa pentingnya media tersebut demi perkembangan mereka. cara. 1999:569) 2. C. yaitu sebagai berikut: 1. Penegasan Istilah Berkaitan dengan judul di atas ditegaskan pengertian masing-masing istilah. Penggunaan Secara harfiah. lebih sempurna (Depdikbud. Permasalahan Dari uraian diatas.

salah satunya adalah anak hiperaktif. 1996:10). Kids Health. . Terapi Anak Al Tisma Kudus Adalah salah satu bentuk pelayanan pendidikan nonformal dalam rangka penyembuhan gangguan perilaku dan pemusatan perhatian yang khusus menangani anak berkebutuhan khusus di Kudus. 4. Pembelajaran Pembelajaran merupakan interaksi antara guru dengan siswa untuk mencapai suatu tujuan. Komponen lingkungan belajar menurut Sudjana (1997:1) mencakup (a) tujuan pengajaran. D. Dalam pembelajaran ada pengakuan terhadap kemampuan siswa untuk belajar dan kemampuan ini akan terwujud apabila dibantu dan dibimbing oleh guru (Tim MKDK.28 3. atau yang dikenal sebagai ADD (Attention Deficit Disorder) atau ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder) (Keluarga. Mengacu pada pengertian istilah di atas maka pengertian judul di atas adalah pemanfaatan media visual (gambar) untuk pembelajaran anak hiperaktif. 5. (b) bahan pengajaran. 1999:8). Org. Hiperaktif Hiperaktif merupakan gangguan pemusatan perhatian yang disertai gejala hiperaktivitas motorik. Identifikasi Permasalahan Untuk mengajarkan anak hiperaktif dalam rangka mencapai tujuan instruksional diperlukan sistem lingkungan belajar.

Komponen-komponen ini saling berinteraksi secara bervariasi dalam proses belajar. Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yakni metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar. sehingga dapat memotivasi anak untuk belajar. Di dalam pembelajaran. Pentingnya penggunaan media visual dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran anak hiperaktif mengingat betapa bandelnya dan sulitnya anak hiperaktif untuk diatur sehingga diharapkan dengan penggunaan media visual ini dapat menarik minat mereka untuk belajar. . dan orang dewasa) dalam upaya pengembangan potensi anak terutama anak hiperaktif demi masa depan mereka nantinya. 2. Berdasarkan uraian di atas. berbagai permasalahan yang memperkuat alasan penelitian dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1. khususnya anak hiperaktif masih dalam tahap konkret-operasional yaitu pola berpikir anak masih terbatas pada benda-benda konkret yang dapat dilihat dan diraba. Masih banyaknya bentuk media visual yang digunakan dalam pembelajaran yang harus diketahui oleh seorang guru terutama dalam membimbing anak hiperaktif.29 (c) metodologi pengajaran. guru. Pentingnya peran pendidik (orang tua. Untuk dapat mencapai tujuan instruksional peranan guru dalam menggunakan metode serta media jelas akan menolong siswa dalam belajar memahami suatu materi pelajaran tersebut. (d) penilaian pengajaran. 3.

Merancang materi pembelajaran. Rumusan Permasalahan Dalam penelitian ini yang menjadi rumusan masalah adalah: Bagaimanakah merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Penelitian dilakukan pada anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: . 2. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Tujuan Penelitian Berdasarkan atas permasalahan yang diajukan.30 E. Bagaimanakah evaluasi pembelajaran anak hiperaktif media visual (gambar). pelaksanakan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran yang hanya dibatasi dengan menggunakan media visual (gambar) saja. Pembatasan Permasalahan Dalam penelitian ini untuk menghindari terjadinya pembiasan. maka peneliti memberi batasan masalah antara lain: 1. dengan menggunakan G. sebagai populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua siswa hiperaktif yang berjumlah ± 6 orang siswa. F.

3. 4. 3. Manfaat Praktis: diharapkan para Pendidik/Guru (terutama pembimbing anak hiperaktif) dapat mengembangkan media pembelajaran melalui media visual: merancang media. Sistematika Skripsi Skripsi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bagian Awal Skripsi. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). 2. memilih model penggunaan media visual yang cocok bagi kebutuhan siswa. 2. Manfaat Teoritis: menambah wawasan tentang kependidikan dalam penggunaan media visual (gambar) sebagai media pembelajaran. I. H. Manfaat bagi orang tua: memberikan wawasan yang lebih luas tentang anak hiperaktif dan cara mengatasinya. Manfaat bagi Peneliti: menambah pengetahuan tentang pembelajaran khususnya dalam penggunaan media visual bagi anak hiperaktif.31 1. Untuk mengetahui bagaimana merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). berisi: . Untuk mengetahui bagaimana mengevaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). yaitu: 1. Manfaat Penelitian Ada beberapa manfaat dalam penelitian ini.

Media Visual dan Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif. Anak Hiperaktif. Kata Pengantar. Halaman Pengesahan. Bagian Isi Skripsi. Teknik Pengumpulan Data. Latar dan Sasaran Penelitian. Halaman Motto dan Persembahan. dan Daftar Lampiran. Halaman Pernyataan. Media Pembelajaran. Kajian Pustaka Pokok-pokok yang tercakup dalam kajian pustaka ini adalah uraian tentang Hakekat Pembelajaran. BAB II. berisi: Daftar Pustaka dan Lampiran-lampiran. Manfaat Penelitian dan Sistematika Skripsi. Daftar Isi. . BAB III. BAB V. Identifikasi Permasalahan. BAB IV. dan Teknik Analisis Data. Permasalahan. Daftar Gambar. Pembatasan Penegasan Permasalahan. Abstrak.32 Halaman Judul. Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab ini menerangkan Hasil Penelitian dan Pembahasan. Penelitian. Halaman Persetujuan Pembimbing. Metode Penelitian Dalam bab ini diuraikan tentang Pendekatan dan Prosedur Penelitian. Simpulan dan Saran Bagian Akhir Sripsi. Istilah. Pendahuluan Dalam bab ini dijelaskan tentang Latar Belakang Permasalahan. Tujuan Rumusan Permasalahan. berisi: BAB I. Daftar Tabel.

ketrampilan maupun sikap. Menurut Badawi (1985:59) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh perubahan tingkah laku baru individu secara keseluruhan sebagai hasil perjalanan individu dalam berinteraksi dengan lingkungan. bersifat kontinyu. sikap dan tingkah laku ketrampilan. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk perubahan pengetahuan. Artinya. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Batasan tentang teori belajar yang dikemukakan para ahli tergantung sudut pandang yang dipakai masing-masing dalam memberi arti belajar karena itu banyak dijumpai pengertian-pengertian tentang belajar. Hakikat Pembelajaran 1. tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku. pemahaman. bersifat positif serta bertujuan dan berarah. kebiasaan. serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada diri individu yang sedang belajar. kecakapan.169 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. bahwa: Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. baik yang menyangkut pengetahuan. bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Seperti yang dikemukakan oleh Djamarah dan Zain (2002:11). . Menurut Sujana (2000:28) pengertian belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan perubahan pada diri seseorang. Perubahan tingkah laku itu terjadi secara sadar.

to read. afektif dan psikomotor. mengamati. dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca. latihan dan bukan secara kebetulan. to imitate. meniru dan lain sebagainya. to try something themselves. Juga belajar itu akan lebih baik. b. jadi tidak bersifat verbalistik. antara lain dapat diuraikan sebagai berikut: a. mendengarkan. Usaha pemahaman mengenai makna belajar ini akan diawali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. Perubahan-perubahan tersebut bersifat kontinyu. Dengan adanya pengertian-pengertian belajar di atas belajar dapat diartikan sebagai tindakan atau usaha individu yang merupakan suatu proses dalam berinteraksi dengan lingkungan agar memperoleh pengetahuan dalam rangka mendapatkan perubahan tingkah laku baik yang berupa kognitif. Geoch. kalau subjek belajar itu mengalami atau melakukannya.170 Selain itu dalam bukunya Sardiman (2000:20). mengatakan: “Learning is a change in performance as a result of practice”. positif. pengalaman. maka dapat diterangkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan. baik yang disadari maupun yang timbul sendiri akibat praktek. to listen. Dari ketiga definisi di atas. Harold Spears memberikan batasan: “Learning is to observe. berarah dan bertujuan serta terdapat dua aspek yang sama yaitu adanya perubahan tingkah laku dan pengalaman yang mempengaruhi beberapa faktor. . to follow direction”. Cronbach memberikan difinisi: “Learning is shown by a change in behavior as a result of experience”. c.

Oleh karena itu istilah mengajar yang dianggap berkonotasi “teacher centered” diganti dengan istilah pembelajaran. Perubahan itu tidak hanya pada pengetahuan saja akan tetapi dalam kecepatan. ketrampilan. Sesuai dengan pengertian pembelajaran. Guru berfungsi sebagai fasilitator. kebiasaan. tanpa memperhatikan bahwa siswa-siswanya dapat belajar atau tidak. yaitu usaha sadar guru untuk membantu siswa atau anak didik. agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. . dan sikap. Istilah “pembelajaran” merupakan pengganti istilah “mengajar”. Dengan ini guru diharapkan selalu ingat bahwa tugasnya adalah membelajarkan siswa atau dengan kata lain membuat siswa dapat belajar untuk mencapai hasil yang optimal. mampu melakukan evaluasi belajar dll. dan ketrampilan yang didapat dari hasil proses belajar yang diberikan. yaitu orang yang menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang mendukung agar siswa dapat mewujudkan kemampuan belajarnya. 1996:10). Artinya bila guru mengajar ia lebih mempersiapkan dirinya supaya berhasil dalam menyampaikan materi pelajaran. Ia harus menguasai materi. praktek mengajar di sekolah-sekolah pada umumnya lebih banyak berpusat pada guru.171 Belajar diharapkan terjadi perubahan-perubahan pada individu yang belajar. (Tim MKDK. Menurut Rohani (1997:24) pembelajaran adalah usaha sadar guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan. penguasaan diri. menguasai metode mengajar. sikap. Menurut para pakar pendidikan.

baik kuantitas maupun kualitas. 2000:25) dapat dikemukakan sebagai berikut: a. dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa. c. ketrampilan. . 3. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis.172 2. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa. Oleh karena itu pembelajaran pasti mempunyai tujuan. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik. b. Ciri-ciri Pembelajaran Ciri-ciri pembelajaran (Tim MKDK. Tingkah laku itu meliputi pengetahuan. d. e. Tujuan Pembelajaran Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. baik secara fisik maupun psikologis. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran. f. Tujuan pembelajaran adalah membantu para siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.

Unsur-unsur Dinamis dalam Pembelajaran Unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran kongruen dengan unsur-unsur dalam belajar. Faktor internal. alat bantu pembelajaran. yaitu kondisi fisik yang normal dan kondisi kesehatan fisik. 2) Faktor psikologis (rohaniah) Faktor biologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan kondisi mental seseorang. Unsurunsur ini kadang-kadang baik. a. yaitu kondisi mental yang mantap dan stabil dimana kondisi ini tampak dalam bentuk sikap mental yang positif dalam menghadapi segala hal. juga terdapat pada diri guru (motivasi dan kesiapan membelajarkan siswa). suasana pembelajaran. 5. Artinya unsur-unsur yang diperlukan dalam belajar yang keadaannya dapat berubah-ubah. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dibagi menjadi dua.173 4. yaitu faktor internal dan faktor eksternal. terutama hal-hal yang berkaitan dalam proses . Faktor internal terdiri dari faktor biologis dan faktor psikologis. Faktor ini merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. dan pada upaya guru menyiapkan bahan pembelajaran. 1) Faktor biologis (jasmaniah) Faktor biologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan keadaan fisik atau jasmani individu yang bersangkutan. dan pada suatu ketika dapat menurun atau hilang. dan kondisi atau kesiapan siswa mengikuti pembelajaran baik fisik maupun psikologis.

faktor psikologis ini meliputi intelegensi/tingkat kecerdasan. Asumsi Proses Pembelajaran Dalam proses pembelajaran. e. Bahwa pembelajaran harus melihat pentingnya produk dan proses secara seimbang. faktor lingkungan masyarakat. dan faktor waktu. daya ingat dan daya konsentrasi. d. Selain berkaitan erat dengan sikap mental yang positif. faktor lingkungan sekolah. c. Bahwa inti proses pembelajaran adalah kegiatan belajar siswa secara optimal.174 belajar. diasumsikan terjadi situasi atau kegiatan tertentu yang menyebabkan guru dan siswa menjadi aktif dan kreatif. Adapun asumsi-asumsi tersebut adalah sebagai berikut: a. b. Bahwa proses pembelajaran direncanakan dan dilaksanakan sebagai suatu sistem. Bahwa proses pembelajaran lebih efektif apabila menggunakan metoda dan teknik yang tepat. kemauan/minat. 6. b. Faktor eksternal Faktor eksternal merupakan faktor yang bersumber dari luar individu itu sendiri. Bahwa dalam proses pembelajaran harus terjadi interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru. Faktor eksternal meliputi faktor lingkungan keluarga. bakat. .

175 B. Media mengandung pesan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa tidak menjadi bosan dalam meraih tujuan-tujuan belajar. Pengertian Media Pembelajaran Media disebut juga alat-alat audio visual. Media dalam kawasan teknologi pendidikan merupakan sumber belajar yang berupa gabungan dari bahan dan peralatan. Dengan penggunaan alatalat ini guru dan siswa dapat berkomunikasi lebih mantap dan hidup serta interaksinya bersifat banyak arah. artinya alat yang dapat dilihat dan didengar yang dipakai dalam proses pembelajaran dengan maksud untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif dan efisien. paling tidak yang digunakannnya adalah media verbal yang berupa kata-kata yang diucapkan dihadapan siswa. Kata media berasal dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman. Apapun yang disampaikan oleh guru sebaiknya menggunakan media. 2002:19). Bahan di sini merupakan barangbarang yang biasanya disebut perangkat lunak atau software yang di dalamnya terkandung pesan-pesan untuk disampaikan dengan mempergunakan peralatan (Sadiman. . 2002: 6). Media Pembelajaran 1. Menurut Daryanto (1993:1) bahwa media adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat disampaikan dengan lebih baik dan lebih sempurna.

membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. perasaan. memudahkan penafsiran data. dilihat. Sedangkan NEA (National Education Association) menyatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio-visual serta peralatannya. .176 AECT (Association of Education and Communication Technology) memberikan batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. maka dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran. Manfaat Media Pembelajaran Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. 2. didengar dan dibaca. Briggs (1970) dalam Sadiman (2002:6) menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman. Media hendaknya dapat dimanipulasi. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses belajar mengajar dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. dan memadatkan informasi. Dari beberapa batasan pengertian media tersebut di atas. menyajikan dengan menarik dan terpercaya.

umpan balik dan penguatan. Kualitas hasil pelajaran dapat ditingkatkan bilamana integrasi kata dan gambar sebagai media pengajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan dengan baik. Pengajaran dapat diberikan kapan dan di mana diinginkan atau diperlukan terutama jika media pengajaran dirancang untuk penggunaan secara individu. g. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif. Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan. spesifik dan jelas. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa. Pengajaran bisa lebih menarik. . d.177 Menurut Kemp & Dayton (1985:3-4) dampak positif dari penggunaan media pembelajaran adalah sebagai berikut: a. beban guru untuk penjelasan yang berulang-ulang mengenai isi pelajaran dapat dikurangi bahkan dihilangkan sehingga ia dapat memusatkan perhatian kepada aspek penting lain dalam proses belajar mengajar. h. Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. f. Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat e. b. c.

Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak telah mereka pelajari. . Meyakinkan diri bahwa urutan dan kejelasan pikiran yang siswa butuhkan jika mereka membangun struktur konsep dan sistem gagasan yang bermakna. Meningkatkan rasa saling pengertian dan simpati dalam kelas. Melengkapi pengalaman yang kaya dengan pengalaman itu konsep-konsep yang bermakna dapat dikembangkan. Guru harus selalu hadir untuk menyajikan materi pelajaran dengan bantuan media apa saja agar manfaat berikut ini dapat terealisasi: a. Menunjukkan hubungan antara mata pelajaran dan kebutuhan pelajaran dan minat siswa dengan meningkatnya motivasi belajar siswa. h. Membuahkan perubahan signifikan tingkah laku siswa. Membuat hasil belajar lebih bermakna bagi berbagai kemampuan siswa. Memperluas wawasan dan pengalaman siswa yang mencerminkan pembelajaran non verbalistik dan membuat generalisasi yang tepat. b. Hubungan guru-siswa tetap merupakan elemen paling penting dalam sistem pendidikan modern saat ini.178 Dale (1969:180) mengemukakan bahwa bahan-bahan audio-visual dapat memberikan banyak manfaat asalkan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran. Mendorong pemanfaatan yang bermakna dari mata pelajaran dengan jalan melibatkan imajinasi dan partisipasi aktif yang mengakibatkan meningkatnya hasil belajar. g. i. j. f. e. d. Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa. c.

Memperbesar perhatian siswa. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar. b. memerankan. Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berpikir. tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. melakukan. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pengajaran c. d. Encyclopedia of Educational Research dalam Hamalik (1994:15) merinci manfaat media pembelajaran sebagai berikut: a. b.179 Sudjana & Rivai (1992:2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa. apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa. c. sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga. oleh karena itu mengurangi verbalisme. tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru. dan lain-lain. d. . Metode mengajar akan lebih bervariasi. yaitu: a. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru. oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap. mendemonstrasikan.

slide. atau model. Obyek atau benda yang terlalu kecil yang tidak tampak oleh indera dapat disajikan dengan bantuan mikroskop. film. dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya. realita. atau gambar. dan waktu. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera. foto. slide disamping secara verbal.180 e. g. terutama melalui gambar hidup. maka dapat disimpulkan bahwa manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut: a. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. f. foto. film. Kejadian langka yang terjadi di masa lalu atau terjadi sekali dalam puluhan tahun dapat ditampilkan melalui rekaman video. c. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses hasil belajar. interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya. radio. slide. ruang. Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa. . b. dan membantu efisiensi dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar. Obyek atau benda yang terlalu besar untuk ditampilkan di ruang kelas dapat diganti dengan gambar. film. Dari beberapa batasan manfaat media pembelajaran di atas. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain.

serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka. 3. masyarakat. gambar. kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang. dan pemilihan media mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut: (Daryanto. d. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran.181 Obyek atau proses yang amat rumit seperti peredaran darah dapat ditampilkan secara kongkret melalui film. video. dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata. atau simulasi komputer. Ketepatgunaan Hendaknya dipilih ketepatan dan kegunaannya untuk menyampaikan pesan yang hendak dikomunikasikan atau diinformasikan. Kejadian atau percobaan yang dapat membahayakan dapat disimulasikan dengan media seperti komputer. 1993:3) a. film. b. dan video. atau komputer. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran. Tujuan Media yang dipilih hendaknya menunjang pencapaian tujuan pengajaran. . slide. slide. Peristiwa alam seperti meletusnya gunung berapi atu proses yang dalam kenyataan memakan waktu lama seperti proses kepompong menjadi kupukupu dapat disajikan dengan teknik-teknik rekaman seperti time-lapse untuk film.

direncanakan untuk perorangan atau kelompok. Ketersediaan Apakah media yang diperlukan tersedia atau tidak. pendekatan terhadap pokok masalah. Alat untuk mengangkat atau menimbulkan persoalan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan oleh para siswa dalam proses belajarnya. Mutu teknis Kualitas media harus dipertimbangkan. Alat untuk memperjelas bahan pengajaran pada saat guru menyampaikan pelajaran. apakah ada pengganti yang relevan. e. . b. besar kecilnya kelompok atau jangkauan penggunaan media tersebut. Peranan Media Pembelajaran Peranan media dalam proses pembelajaran dapat ditempatkan sebagai: a. f.182 c. Sumber belajar bagi siswa. Tingkat kemampuan siswa Media yang dipilih hendaknya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. 4. detail kurang bisa dipahami). d. jika media sudah rusak atau kurang jelas/terganggu sehingga mengganggu proses transfer informasi (tidak menarik. artinya media tersebut berisikan bahan-bahan yang harus dipelajari para siswa baik individual maupun kelompok. c. Biaya Biaya yang dikeluarkan hendaknya seimbang dengan hasil yang diharapkan dan tergantung kemampuan dana yang tersedia.

Media yang digunakan hendaknya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai b.183 Sungguhpun demikian media sebagai alat dan sumber pembelajaran tidak bisa menggantikan guru sepenuhnya. persoalan media dan sumber sangat penting. tanpa adanya bantuan media dan sumber belajar (guru dan buku-buku pelajaran). Dengan adanya media dan bimbingan dari orang-orang yang ada disekitarnya (guru dan oranng tua siswa) dapat mempermudah siswa dalam memahami suatu pelajaran. Disamping itu dapat membuat mereka terlatih memecahkan permasalahanpermasalahan yang riil. yang mungkin mereka hadapi kelak. 5. Empat prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam menggunakan media pembelajaran adalah sebagai berikut: a. karena tergantung situasi-kondisi dan ada keuntungan-kerugian dari masing-masing media. Alat bantu yang digunakan hendaknya dipilih secara obyektif. tidak didasarkan atas selera atau kesenangan pribadi gurunya d. Tidak ada alat bantu yang paling baik untuk semua tujuan. . Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran Untuk menunjang terjadinya keaktifan siswa dalam belajar. yang nantinya akan bermanfaat bagi mereka terutama anak-anak yang mempunyai kelainan khusus seperti anak hiperaktif. Siswa tidak mungkin aktif menemukan sendiri suatu kesimpulan. Peranan guru masih tetap diperlukan sekalipun media telah merangkum semua bahan pengajaran yang diperlukan oleh siswa. Hendaknya menguasai /mengenal dengan baik media yang akan digunakan c. artinya media tanpa guru suatu hal yang mustahil dapat meningkatkan kualitas pengajaran.

Hal ini sering kali dikeluhkan oleh orang tua dan guru. atau tidak semua bahan pengajaran ada dalam buku sumber. Anak Hiperaktif 1. dan menjadi alasan sehingga si anak dirujuk untuk mendapatkan pendidikan. Pengertian Hiperaktif Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menurut National Medical Series (1996) adalah suatu peningkatan aktifitas motorik hingga pada tingkatan tertentu yang menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi. suka membuat keributan. d. Bahan pengajaran yang dijelaskan guru kurang dipahami siswa. pengasuhan dan penanganan secara khusus.184 Pada waktu berlangsungnya pengajaran hendaknya penggunaan media digunakan guru pada situasi sebagai berikut: a. setidaknya pada dua tempat dan suasana yang berbeda. aktifitas yang berlebihan. Guru tidak bergairah untuk menjelaskan bahan pengajaran melalui penuturan kata-kata (verbal) akibat terlalu lelah disebabkan telah mengajar cukup lama. perasaan yang meletup-letup. gangguan perhatian. Sedangkan Tailor (1989) mengatakan bahwa kata 'hiperaktif' merupakan suatu terminologi yang mencakup beberapa kelainan perilaku meliputi: perasaan gelisah. . c. Terbatasnya sumber pengajaran. membangkang dan destruktif yang menetap. Tidak semua sekolah mempunyai buku sumber. Kurangnya perhatian siswa akibat kebosanan mendengarkan uraian guru. b. C.

kurang sopan.185 Lissauer & Clayden (2001) menyatakan bahwa pada anak dengan hiperaktif terjadi disorganisasi afektif. Pada umumnya prestasi akademik mereka tergolong rendah dan minder. tidak mampu berkonsentrasi dan sering tidak tuntas dalam mengerjakan sesuatu serta berusaha menghindari pekerjaan yang membutuhkan daya konsentrasi tinggi. Tetapi dikatakan bahwa perilaku ini berangsur berkurang dengan bertambahnya umur. Tidak jarang mereka dengan kelainan ini disertai adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan. tidak menghiraukan mainan atau sesuatu miliknya. Pada anak ini menunjukkan perilaku yang berlebihan dalam menjalankan tugas/pekerjaannya. Mereka sering menunjukkan tindakan anti sosial sehingga orangtua. Wenar (1994) menyebutkan bahwa anak dengan kelainan hiperaktif dalam aktifitas sehari-hari (24 jam) lebih tinggi dibandingkan dengan anak normal bahkan saat tidur sekalipun. Sering kurang memperhatikan. Mereka biasanya bertindak 'nekat' dan impulsif. tetapi tidak didapatkan kelainan otak yang spesifik. guru dan lingkungannya memperlakukan dengan tidak tepat dan tidak menyelesaikan masalah. sering menggerak-gerakkan tangan dan kaki di saat duduk meski tanpa tujuan tertentu. seperti yang terlihat pada gambar diagram berikut: . mudah marah. dan suka menyela pembicaraan serta mencampuri urusan orang lain. sulit bergaul dan sering tidak disukai teman sebayanya. tidak bisa duduk dengan tenang. gejala hiperaktif yang muncul sangat dipengaruhi (tergantung) oleh situasi dan kondisi yang berlaku yang dihadapi. penurunan kontrol diri dan aktifitas yang berlebihan secara nyata.

186 Jumlah “aktivitas tak terarah” Anak yang hiperaktif Anak normal 3 5 7 9 11 13 Usia anak (tahun) Gambar 2. 1990 menyebut hal ini sebagai ‘the holy trinity of ADHD’): a.melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikir lebih dahulu. Seperti: sering tidak berhasil menyelesaikan tugas. anak tampak tidak mendengarkan apa yang dikatakan lawan bicaranya. tidak dapat . Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang anak yang menderita hiperaktif adalah mereka yang mempunyai gangguan perilaku yang berlebihan. akan tetapi tingkat aktivitas semua anak semakin terkendali dengan meningkatnya usia. Ciri-ciri Hiperaktif Ada 3 gejala utama atau primary symtoms pada penderita ADHD (Barkley. 2. Inattention/ tidak adanya perhatian Yaitu kesulitan untuk memusatkan perhatian pada hal yang sedang dilakukannya.1. tidak bisa konsentrasi pada satu hal dan kadang bersikap impulsif . Anak-anak yang hiperaktif jumlah aktivitas “tak terarah” -nya lebih banyak daripada jumlah aktivitas “tak terarah” anak-anak yang normal. Grafik perbandingan jumlah aktivitas “tak terarah” anak hiperaktif dan anak normal.

selalu bergerak (melompat berlebihan). Hyperactivity/ hiperaktivitas Gejala ketiga ini meliputi semua kecenderungan penderita untuk melakukan suatu aktivitas secara berlebihan. atau ketika anak di dalam situasi ‘face to face’. dengan kata lain penderita sering menuruti dorongan hatinya. gelisah (juga dalam tidur). c. baik aktivitas secara motoris maupun verbal. sering menggumamkan katakata yang tidak jelas maksudnya. . Sering. sering berteriak di kelas dan mudah menginterupsi pembicaraan orang lain (misal menjawab pertanyaan sebelum selesai diajukan). Seperti: sering bertindak sebelum berpikir. anak tersebut oleh orang lain akan dianggap sebagai anak yang menyusahkan atau nakal. perlu banyak pengawasan. jika anak cukup banyak menerima penguatan atau kontrol yang ketat. kesulitan dalam mengorganisir pekerjaan (tetapi tidak berhubungan dengan kelemahan kognitif). b. tanda-tanda gangguan bisa sedikit atau tidak sama sekali. tidak bisa tetap duduk. Di lain pihak. Seperti: tidak bisa duduk tenang. gagal untuk menunggu giliran dalam situasi bermain atau kelompok. Impulsivity/impulsivitas Yaitu ketidakmampuan individu untuk mengontrol perilakunya.187 konsentrasi. sering melakukan hal lain sebelum satu hal selesai. mempunyai kesulitan untuk mempertahankan perhatian pada kegiatan bermain. perhatian mudah dialihkan oleh stimulus dari luar. Gejala-gejala tersebut akan semakin memburuk pada situasi-situasi yang menuntut adanya perhatian. selalu bergerak seperti digerakkan oleh mesin atau selalu ‘on the go’.

susah bergaul. emosinya menjadi mudah terangsang. Ia juga mengalami kesulitan dalam mengutarakan pikiran dan perasaan melalui kata-kata. Daya pikir penangkapannya lemah sehingga sulit untuk menghadapi pelajaran matematika. antara lain: a. sering tidak dapat berkonsentrasi dan pelupa. apalagi terhadap petunjuk yang mengandung langkah-lanngkah atau tahapantahapan. Ia sulit menggabungkan satu hal dengan hal lainnya. misalnya: “m” dengan “w”. Karena mengalami luka di otak mereka sering tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan. tetapi tidak mampu mengendalikan diri. “d” dianggap “b” atau “p” dianggap “q”. dan sebagainya sehingga mengalami kesulitan dalam membaca. Adakalanya mereka sulit mengerti pembicaraan orang secara umum. khususnya ketika masuk ke suasana kelas yang dinamis. sering kacau dalam menanggapi citra yang diterima. 2000:138). Kadangkala mereka sadar harus mematuhi peraturan.188 3. . Perilaku yang sulit diduga itu kadang membuat orang tua. tidak dapat berencana atau menduga apa akibat yang dilakukannya. guru atau teman-temannya merasa khawatir. kurang kendali diri. Ia sulit menentukan mana yang penting dan mana yang harus diprioritaskan terlebih dulu selain sulit menyelesaikann pelajaran. kemampuan belajar lemah. Masalah Anak Hiperaktif dan Penyelesaiannya Beberapa masalah yang dihadapi anak hiperaktif (Setiawani. Masalah intelek Anak hiperaktif jelas mengalami gangguan dalam otak.

seperti berolah raga atau lompat tali. mengigau atau mengompol. susu. Mereka sulit tidur dengan nyenyak dan mudah terbangun. tetapi sebentar kemudian marah dan sedih. jagung. debu dan bahan kosmetik.189 b. dan emosional. mereka tidak dapat menggunakan alat tulis dengan baik. misalnya bila disuruh menulis. dan sembrono sehingga besar kemungkinan bisa mengalami kecelakaan. Juga emosi sering berubah-ubah sehingga tidak mudah diduga. kurang sabar. meraba dan menyentuh benda-benda untuk merasakan lingkungan di sekitarnya. kedelai.. Mereka juga sensitif terhadap makanan tertentu. kadang begitu senang dan ceria. Sebaliknya gerakan tenang pun bermasalah. telor ayam. gula dan gandum. suka merusak. bila berbaris selalu berebutan. Masalah biologis Mereka suka sekali berlari-lari dan sulit untuk menyuruh mereka diam. . semangatnya kuat. Pernyataan emosinya sangat ekstrim dan kurang kendali diri. daging. Mereka tidak dapat berolahraga dengan banyak gerak dan banyak tenaga. tidak takut bahaya. bermain kasar. dan kebiasaan tidur mereka bermacam-macam: ada yang bermimpi sambil berjalan. Seorang ahli berpendapat bahwa yang sangat dibutuhkan mereka adalah melatih mereka untuk dapat mengendalikan diri. obat. sepertinya sedang begitu sibuk melakukan sesuatu sehingga tidak dapat beristirahat. Anak hiperaktif juga peka terhadap bahan kimia. seperti: coklat. bulu. tidak sabar menunggu. babi. suka berteriak dan ribut. c. mewarnai atau menggambar. Masalah emosi Anak hiperaktif umumnya bersifat egois.

masuk ke kamar orang lain. mencuri dengar pembicaraan telepon orang lain sehingga kesan orang banyak adalah anak ini bermasalah dan bermoral rendah. Ia bisa mencuri uang orang tua atau permen di toko. antara lain: a. anak tidak memiliki daya kontrol secukupnya untuk mencegah perilakunya atau membuat dia dapat duduk tenang atau berkonsentrasi lama. Penggunaan obat Hiperaktivitas merupakan akibat keterlambatan perkembangan atau penyimpangan. atau Cylert. tidak mengembalikan barang yang dipinjam. Namun. Pengobatan tertentu berdampak berlawanan dari harapan. 2000:139). mencela pembicaraan orang. yang mengaktifkan bagian- .190 d. kerap kali digunakan untuk mengatasi hiperaktivitas. Dekedrine. biasanya obat itu justru menambah tingkat aktivitasnya dan tidak dapat tidur semalam suntuk. Penggiat sistem saraf pusat. Ada beberapa cara dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi anak hiperaktif (Setiawani. Obat-obat yang dipakai pada anak yang di diagnosis sebagai hiperkinetik adalah obat penggiat (stimulan) sistem saraf pusat. Sebaliknya. maka mereka pun tidak memiliki kepekaan dalam hati nurani. obat-obat di atas adalah obat penggiat. Misalnya. obat ini nampaknya “memperlambat” anak yang hiperaktif. Masalah moral Karena mengalami berbagai masalah seperti di atas. seperti Ritalin. kalau obat penenang diberikan kepada anak yang hiperaktif atau obat yang akan memperlambat atau menidurkan kita. Apabila orang yang normal menggunakannya. obat itu akan memacu dan menyebabkan kita hiperaktif.

Dengan kata lain. Obat secara tidak langsung menguntungkan anak karena memberi kontrol lebih banyak. Hal itu kerap kali terjadi pada anak hiperaktif di kelas. Ia tidak dibuat tenang atau “dibius”. Penampilannya buruk. Ia dapat mengontrol dirinya lebih baik. Ia kurang aktif dan lebih mampu berkonsentrasi dalam waktu yang lebih lama. anak lebih mudah diurus dan menampakkan sedikit masalah dalam kaitannya dengan sekolah. hiperaktivitas kognitif (misalnya rentang perhatian sempit. Pada umumnya. Pengobatan tidak membuat anak lebih pandai atau dapat belajar lebih cepat melainkan menghilangkan gejala hiperaktivitas yang mengganggu. Anak-anak hiperaktif biasanya mengalami kesulitan besar di ruang kelas. ia tidak pernah menerima informasi. Obat itu tidak hanya membantu anak duduk tenang dan mengurangi kegaduhan. tidak dapat konsentrasi. Obat membantu mengendalikan gejala-gejala hiperaktif yang mengganggu. kontrolnya setara dengan “motor”nya. tetapi juga memperbaiki rentang perhatian dan mengurangi kebingungannya. Akibatnya kalau ia ditanya atau harus melakukan sesuatu. sebab ia mudah terganggu atau tidak dapat memperhatikan guru cukup lama dan oleh karena itu. mudah bingung) merupakan kendala terbesar dalam nilai sekolahnya. Maka. obat itu menggiatkannya yang memberi kendali pada anak.191 bagian badan tertentu. ia tidak berhasil. Akibat pengobatan hiperaktivitas: 1) Obat itu akan “membuat dia tenang”. sebagian besar gejala hiperaktifnya berkurang dan umumnya akan .

Lalu diperiksa dampaknya dan jika tak ada akibat positif. Pengaturan makanan Selama 50 tahun yang lalu beberapa laporan mengkaitkan hiperaktivitas dengan alergi makanan. hubungilah dokter. maka perlu mendapatkan laporan dari gurunya. Banyak dokter mulai dengan dosis obat terendah. banyak dilakukan studi tentang diet atau gizi makanan atas perilaku hiperaktivitas. berarti ia memang hiperaktif dan dosisnya sesuai. Kedua pakar teori dalam bidang ini adalah Ben Feingold dan Lendon Smith. b. anak itu tidak hiperaktif dan pengobatan harus dihentikan. Kalau ini terjadi. Hendaknya orang tua jangan menambah atau mengurangi dosis obat anak tanpa konsultasi dengan dokter. tetapi tidak menerima cukup obat. Kalau ini terjadi. barangkali ia hiperaktif tetapi meminum obat terlalu banyak. Selama mengobati anak. 4) Anak mungkin menjadi lebih aktif. Karena banyak obat diberikan untuk mengatasi kesulitan sekolah dan terutama diberikan selama jam-jam sekolah (yakni sebelum makan pagi dan makan siang). . 2) Tidak terjadi apa-apa. Akhir-akhir ini. dosis obat itu ditambah. dan mungkin jatuh tertidur waktu melihat TV.3 dan 4. Anak tidak menampakkan perubahan apa pun. Maka jika terjadi reaksi 2. sangat penting untuk tetap berhubungan dengan dokter. 3) Mungkin anak nampak mengantuk atau kecapaian. Kalau ini terjadi.192 menampakkan perbaikan positif. Biasanya kita dapat melihat satu diantara akibat-akibat di atas dalam 1 sampai 7 hari sesudah anak mulai minum obat. anak itu mungkin hiperaktif. Kalau terjadi.

aberikos. makanan tersebut dapat dimasukkan dalam dietnya. Diat ini tidak berkaitan dengan pengawet makanan. kecuali butilat hidroksitoluena yang memperlihatkan reaksi bertentangan bagi beberapa anak. dikalengkan.193 Diet Feingold Menurut Diet Feingold. . murbei. makanan dalam Kelompok I dapat berangsur-angsur dimakan. ada dua kelompok makanan yang harus dihindari anak hiperaktif. ceri. Makanan kelompok I mengandung salsilat dan meliputi buahbuahan dan sayur-sayuran. kismis. Kalau anak memperlihatkan reaksi yang menggembirakan atas Diet Feingold sesudah 4 sampai 6 minggu. Buah-buahan dan sayursayuran yang tidak menimbulkan reaksi kurang baik pada anak dapat dimasukkan dalam diet. Jika anak tidak memperlihatkan aktivitas yang meningkat atau kesulitan perhatian. Kelompok II terdiri dari segala jenis makanan yang mengandung warna atau aroma sintetis (buatan). Tetapi semua makanan yang mengandung warna atau aroma buatan harus dijauhkan dari diet anak. anggur. jika tidak ada reaksi yang tidak menyenangkan. nektarin. dibekukan. makanan itu harus dihentikan. Tetapi kalau timbul reaksi yang kurang baik. Makanan baru dalam Kelompok II harus diperhatikan. tomat. dikeringkan. dapat ditambahkan jenis makanan lain. persik. mentimun. jeruk manis. sari buah ataupun sebagai bahan makanan-seperti : apel. Daftar buah-buahan dan sayur-sayuran yang harus disingkirkan dari diet anak-anak dalam semua bentuknya-segar. yakni harus dicoba selama 3 atau 4 hari. murbei hitam.

diproses. dokter anak harus selalu dihubungi sebelum penngobatan diganti atau dikurangi. Beberapa di antaranya seperti berikut: 1) Semua makanan harian yang dimakan anak harus dicatat. obat yang digunakan untuk mengontrol perilaku hiperaktif dapat dihentikan setelah anak menjalani diet selama 2 atau 3 minggu. Namun. Pola makanan ini disebut diet pencegahan. Pada umumnya produksi dagang sedapat mungkin harus dihindari. Hal ini umumnya mencakup makanan yang telah dikemas. Pendekatan Gizi Dr. Disamping diet umum ini. Kalau meragukan. 5) Kalau nampak ada perbaikan. diberi warna atau diawetkan. 4) Semua etiket makanan harus dibaca dengan cermat. 2) Diet itu harus ditaati dengan ketat. diemulsikan. Feingold memberi beberapa petunjuk bagi orang tua yang anaknya menjalankan diet. 100% 3) Tidak ada batasan terhadap banyak makanan yang manis buatan sendiri. ia memberikan saran khusus untuk mengendalikan gejala-gejala hiperaktivitas. ditambahai. 6) Dalam beberapa hal.194 Dr. Gula dan makanan “asal-asalan” tidak . Lendon Smith berpendapat bahwa setiap orang harus mengikuti pola makanan umum sebagai bagian program sepanjang hidup. lebih baik jangan disantap. Smith Dr. Diet Pencegahan itu terdiri atas 3 bagian: 1) Bahan-bahan anti gizi hendaknya dihindari. dibakukan. perlu diamati rata-rata selama 1 sampai 3 minggu.

d. Bila lingkungan tempat tinggalnya sangat bising. Sikap bertahan ini bukan berarti kejam. buah-buahan mentah. madu. tepung putih. Anak jangan dimanjakan kalau tahu bahwa penyebab hiperaktifnya karena masalah biologis. dalam jumlah kecil. Menciptakan lingkungan yang tenang Usahakan untuk menciptakan suasana yang tenang di tempat anak itu biasa bergerak. 3) Mulailah setiap hari dengan vitamin dan mineral (diandaikan anak kekurangan bahan-bahan tersebut). dan miju-miju). susu pasterisasi. keju putih. sayur mayur (seperti kacang panjang. air tebu. sirup. daging ayam. c. sebaiknya pindah rumah agar anak itu dapat bertumbuh dalam situasi yang baik. buncis. jagung. Tunjukkan dengan mantap dan wibawa bahwa orang tua ingin ditaati oleh anak-anaknya.195 diperkenankan. tetapi sebaliknya untuk membina dan mengajar anak tentang apa yang harus mereka lakukan. Di antaranya sebagai berikut: sayuran segar (mentah). 2) Makanan alami harus disantap 4 atau 6 kali sehari. telur. . gandum yang dibungkus. diktator atau berhati baja. ikan. Hindarkan pemanjaan. kacangkacangan. keras. misalnya: di kamar atau di ruang bermain. gula tebu. Beberapa makanan yang harus dihilangkan yakni: gula putih dan gula coklat. Orang tua harus bertahan dengan peraturan yang telah diberikan dan menuntut anak agar menaatinya. es krim yang diperdagangkan.

1994:158). namun biasanya kalau terapi dilakukan secara intensif maka perkembangannya akan maju secara bertahap. energi dan biaya yang tidak sedikit. walaupun harus dilakukan berulang-ulang.196 e. lagu yang ribut dan sinar yang bergerak menyilaukan. maka itu akan mengurangi keonaran. kemudian tentukan suatu standar yang sesuai dengan kebenaran. f. pilihlah acara teve yang beradegan lembut dan baik. anak akan mempunyai harapan untuk disembuhkan. Gunakan tenaga ekstra dengan tepat Anak ini kurang dapat mengendalikan diri dan apabila sikap agresifnya dapat disalurkan dalam aktivitas yang tepat. g. dapat merangsang anak dan mengakibatkan mereka emosional. Bila orang tua tidak putus asa. Oleh sebab itu. Cara Menangani Anak Hiperaktif Anak hiperaktif perlu diterapi agar tidak menghambat perkembangan kecerdasan dan sosialnya. obatobatan bahkan keluarganya pun perlu mendapat terapi untuk meneruskan terapi di rumah dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak-anak hiperaktif (Clerq. orang tua atau guru tidak seharusnya bersikap acuh dan menyerah. terapi wicara. Memilih acara teve dengan hati-hati Acara teve yang menampilkan adegan kekerasan. Perlu ada kesabaran untuk mengajarkan hal ini. Setiap perilaku yang tidak dapat diterima harus dicegah. Terapi perilaku. 4. Membimbing dalam kebenaran Meski anak hiperaktif sering tidak mampu menguasai diri dan perilakunya. Cegahlah anak untuk meniru adegan-adegan yang tidak baik. terapi konsentrasi. Memang dibutuhkan kesabaran. .

pemecahan masalah. Menurut Abikoff (1987) pengobatan nampaknya hanya mempunyai sedikit pengaruh terhadap kemampuan kognitif seperti penalaran.197 a. Selain itu juga perlu disadari bahwa terapi yang efektif adalah terapi yang melibatkan semua pihak. dan belajar. ada banyak kepentingan klinis yang terkait dengan intervensi terapi alternatif yang berusaha untuk memberikan taktik dan ketrampilan kepada anak-anak ADHD yang memungkinkan mereka untuk mengatasi permasalahan dengan lebih efektif. guru. Whalen & Henker. Selanjutnya. hal ini tidak berarti meningkatkan ketrampilan sosial interpersonal. Terapi Anak Perawatan yang paling banyak dipakai untuk menangani anak-anak hiperaktif sampai sekarang adalah medikasi psikostimulan. 1980) menunjukkan perbaikan yang penting dalam hal gejalagejala utama gangguan. Pendekatan kognitif-behavioral nampaknya memberikan jawaban yang efektif. Dengan pengobatan. Hanya ada sedikit bukti bahwa pengobatan stimulan selam jangka-panjang bisa mengubah hasil akhir anak-anak . Medikasi Psikostimulan Kemanjuran klinis jangka-pendek dari obat-obat ini telah dicatat dengan baik. orang tua. Bagaimanapun juga beberapa kerugian akan tetap timbul dengan pendekatan medis ini. sebagian besar anak-anak dan remaja ADHD (60-90%. Dengan adanya keterbatasan-keterbatasan ini. walaupun pengobatan menghilangkan perilaku yang mengganggu dalam kelas. dokter dan psikologi. dengan self-instruction training (training instruksi kepada diri sendiri) dan social problem-solving strategies (strategi pemecahan masalah sosial).

dialog internal ini (instruksi diri atau self-instruction) digunakan sebagai titik awal untuk mencapai perubahan perilaku. 3) Tahap ketiga: pada usia sekitar 5-6 tahun. dikembangkan oleh Meichenbaum dan Goodman (1971). Tujuannya adalah untuk memotivasi anak untuk menjembatani secara verbal. mengintegrasikan teknik-teknik kognitif (menyederhanakan proses pemecahan masalah) dan prinsip-prinsip mempelajari tingkah laku (modeling dan behavioral rehearsal). Berdasarkan pendekatan ini pada teori Vygotsky dan Luria (1962) yang menekankan pentingnya pengaruh bahasa dan pikiran pada tingkah laku. tetap ada pada masa remaja dan awal masa dewasa. Selama terapi. Luria mengemukakan tiga tahap: 1) Tahap pertama: tingkah laku anak dokontrol oleh bahasa orang lain. .198 ini: riset menunjukkan bahwa ketrampilan belajar dan sosial yang rendah serta prestasi akademis yang buruk. pemikiran dan tindakannya sendiri. 2) Tahap kedua: anak mengatur perilakunya dengan bicara keras-keras pada dirinya sendiri (self-instructing aloud). Teknik instruksi diri dan self-monitoring digunakan untuk mengurangi respon impulsif. Self-Instruction Training-Latihan Instruksi Diri. karena anak diminta untuk berhenti secara periodik dan mengevaluasi penampilannya. anak memperoleh kontrol diri dengan menggunakan instruksi diri secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam (covert self-instructions). Self-instruction training. terutama orang tua.

199

Lima tahap belajar melalui proses modeling bisa dibedakan dalam situasi belajar ini: 1) Model orang dewasa melakukan suatu tugas dengan instruksi verbal yang keras (cognitive modeling) 2) Anak melakukan tugas yang sama dengan instruksi yang keras dari model orang dewasa (overt extern guidance) 3) Anak melakukan tugas dengan instruksi sendiri yang keras (external selfinstruction) 4) Anak melakukan tugas dengan membisikkan instruksi-diri (whispering external self-instruction) 5) Anak melakukan tugas dengan instruksi-diri intern (covert self-instructions) Instruksi-diri atau self-instruction mendukung dan mengatur tingkah laku anak. Melalui 5 tahap modeling ini, anak belajar untuk menunda perilaku: ‘stoplook-do’ (berhenti-lihat-lakukan). Verbalisasi sedikit demi sedikit akan hilang dengan adanya latihan dan pengulangan (behavioral rehearsal) sampai semuanya diinternalisasi : berpikir dan bertindak akan menjadi proses yang otomatis. Social Problem-Solving Skills Training-Latihan Ketrampilan Pemecahan Masalah Sosial. Terapi ini menekankan pada perkembangan strategi kognitif untuk meningkatkan kontrol diri dan respon sosial dalam menyelesaikan suatu masalah. Untuk mengembangkan srategi kognitif ini diperlukan modeling secara verbal, latihan dan penguatan sosial (social reinforcement), yang dilakukan dalam kelompok kecil (3 sampai 8 orang) atau secara individual. Tujuan dari terapi ini

200

adalah untuk mengembangkan kompetensi dan interaksi interpersonal yang memadai. Terapis memberikan suatu problem dan menunjukkan beberapa perilaku yang efektif untuk menghadapi masalah tersebut. Setelah itu terapis menanyakan pada anggota kelompok satu demi satu, bagaimana respon mereka terhadap permasalahan tersebut. b. Terapi Orang Tua Terapi ini menekankan pada parents monitoring (memonitor/supervisi oleh orang tua) dan parents management skills. Orang tua dilatih untuk berinteraksi dengan anaknya yang menderita ADHD dengan menggunakan penguat yang positif, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anaknya. Misalnya: memuji perilaku anak yang sesuai, memberi peraturan yang jelas pada anak, selalu mengawasi atau mengontrol perilaku anaknya. Disamping itu terapis juga sebaiknya memberikan penjelasan tentang latar belakang dan perkembangan aspek-aspek ADHD pada guru. Hal ini dengan tujuan agar guru tidak bersikap menolak anak didiknya yang menderita ADHD. Bantuan yang dapat diberikan untuk mereka yang hiperaktif Org. Kids Health, 1999:8) yakni: a. Dengan mengadakan kontak agar pada waktu tertentu menguasai emosinya, tidak boleh dikerasi karena akan bertambah melawan. b. Dengan diajak bicara dengan pendekatan individual sebelum memberikan pertanyaan/tugas. (Keluarga.

201

c. Anak yang kesulitan berkonsentrasi untuk memulai tugas dilakukan dengan menatap mata anak, memberikan instruksi secara individual, menyuruh mengulangi perintah dan tugasnya. Sementara bagi anak yang tidak dapat menyelesaikan tugas sehingga kehilangan konsentrasi maka berikan tugas menjadi porsi-porsi kecil.

D. Media Visual 1. Pengertian Media Visual Media Visual (Daryanto, 1993:27), artinya semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar yang bisa dinikmati lewat panca-indera mata. Media visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi. Dengan demikian media visual dapat diartikan sebagai alat pembelajaran yang hanya bisa dilihat untuk memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan akan isi materi pelajaran. Pendidikan melalui media visual adalah metoda/cara untuk memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dapat dilihat daripada sesuatu yang didengar atau dibacanya.

202

2. Fungsi Media Visual Levie & Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu fungsi atensi, fungsi efektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau teks materi pelajaran. Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras. Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. 3. Penggunaan Media Visual Selama proses belajar mengajar kita cenderung menggunakan pancaindera penglihatan, kita memakai mata kita untuk memperoleh informasi, isyarat, tanda atau hal yang menarik perhatian kita, kenyataan ini mempunyai arti yang

b.. gunakan yang asli (master) untuk membuat setiap turunan/kopi/duplikat untuk menjaga kualitas gambar. Penampilan visual tidak boleh mengganggu. Kemampuan penglihatan harus dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan proses belajar mengajar. Usahakan visual itu sesederhana mungkin dengan menggunakan gambar garis. Untuk mendapatkan gambaran tentang ukuran dan bentuknya. Visual tidak boleh meragukan. dan diagram. untuk itu harus jelas dan terang. Prinsip umum untuk penggunaan efektif media visual. gambar dan tulisan yang diproyeksikan harus dapat dibaca. bagan. Visual digunakan untuk menekankan informasi sasaran (yang terdapat teks) sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. Media visual haruslah sesuai dengan kenyataan dan dapat diterima. karton. Media visual tidak boleh terlalu ramai dan kacau supaya informasi yang dimaksudkan dapat tertangkap jelas oleh siswa. artinya obyek-obyek yang masih asing atau belum dikenal hendaklah ditampilkan sedini mungkin.203 penting untuk keperluan belajar dan mengajar. kalau mungkin gerakan gambar. Gambar realistis harus digunakan secara hati-hati karena gambar yang amat rinci seringkali mengganggu perhatian siswa untuk mengamati apa yang seharusnya diperhatikan. c. yaitu : a. Gunakan grafik untuk menggambar ikhtisar keseluruhan materi sebelum menyajikan unit demi unit pelajaran untuk digunakan oleh siswa mengorganisasikan informasi. grafis atau slide yang asli untuk membuat master copy (duplikat asli yang pertama kali). harus terlihat perbandingannya dengan obyek lain yang sudah dikenal. .

memberi nama orang. dan menyatakan apa yang orang dalam gambar itu sedang kerjakan. Visual yang diproyeksikan harus dapat terbaca dan mudah dibaca. Caption (keterangan gambar) harus disiapkan terutama untuk menambah informasi yang sulit dilukiskan secara visual. g. m. k. dan semua obyek dan aksi yang dimaksudkan dilukiskan secara realistik sehingga tidak terjadi penafsiran ganda. Visual. tempat atau obyek. menghubungkan kejadian atau aksi dalam lukisan dengan visual sebelum atau sesudahnya. Warna dan pemberian bayangan digunakan untuk mengarahkan perhatian dan membedakan komponen-komponen. . n. Warna harus digunakan secara realistik. l. Unsur-unsur pesan dalam visual itu harus ditonjolkan dan dengan mudah dibedakan dari unsur-unsur latar belakang untuk mempermudah pengolahan informasi. pikirkan atau katakan. seperti lumpur. amat membantu untuk mempelajari materi yang agak kompleks j. khususnya diagram. kemiskinan. Visual yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan gagasan khusus akan efektif apabila jumlah obyek dalam visual yang akan ditafsirkan dengan benar dijaga agar terbatas. h.204 d. Tekankan kejelasan dan ketepatan dalam semua visual. Ulangi sajian visual dan libatkan siswa untuk meningkatkan daya ingat. Gunakan gambar untuk melukiskan perbedaan konsep-konsep f. e. i. Hindari visual yang tak berimbang.

dan gabungan dari dua bentuk atau lebih. gambar/ilustrasi. tekstur. papan informasi. keterpaduan. dan dapat menarik perhatian sehingga ia mampu menyampaikan pesan yang diinginkan oleh penggunaannya. garis. Bahan-bahan grafis. iklan-iklan. grafik merupakan representasi simbolis dan artistik sesuatu obyek atau situasi. Bentuk. seperti majalah. sketsa/gambar garis. Tataan dapat dimengerti. bagan.205 Pengembangan Media Visual Visualisasi pesan. ruang. Dalam proses penataan itu harus diperhatikan prinsip-prinsip desain. seperti foto. Jumlah elemen yang lebih sedikit memudahkan siswa menangkap dan memahami pesan yang disajikan visual itu. mempunyai banyak gagasan untuk merancang bahan visual yang menyangkut penataan elemen-elemen visual yang akan ditampilkan. chart. Elemen- . gambar dan lain-lain yang ada disekitar kita. Pesan atau informasi yang panjang atau rumit harus dibagi-bagi ke dalam beberapa bahan visual. penekanan. dan keseimbangan. Foto menghadirkan ilustrasi melalui gambar yang hampir menyamai kenyataan dari sesuatu obyek atau sesuatu. informasi. antara lain prinsip kesederhanaan. Sementara itu. Keterpaduan Keterpaduan mengacu kepada hubungan yang terdapat di antara elemenelemen visual yang ketika diamati akan berfungsi secara bersama-sama. dibaca. atau konsep yang ingin disampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk. dan warna juga perlu dipertimbangkan Kesederhanaan Kesederhanaan mengacu kepada jumlah elemen yang terkandung dalam suatu visual. grafik.

Bentuk Bentuk yang aneh dan asing bagi siswa dapat membangkitkan minat dan perhatian. Keseimbangan Bentuk atau pola yang dipilih sebaiknya menempati ruang penayangan yang memberikan persepsi keseimbangan meskipun tidak seluruhnya simetris tetapi memberikan kesan dinamis dan dapat menarik perhatian disebut keseimbangan formal. hubungan-hubungan. Oleh karena itu. atau ruang penekanan dapat diberikan kepada unsur terpenting. Keseimbangan seperti ini menampakkan dua bayangan visual yang sama dan sebangun. seringkali konsep yang ingin disajikan memerlukan penekanan terhadap salah satu unsur yang akan menjadi pusat perhatian siswa.206 elemen itu harus saling terkait dan menyatu sebagai suatu keseluruhan sehingga visual itu merupakan suatu bentuk menyeluruh yang dapat dikenal yang dapat membantu pemahaman pesan dan informasi yang dikandungnya. pemilihan bentuk sebagai unsur visual dalam penyajian pesan. . Dengan menggunakan ukuran. Garis Garis digunakan untuk menghubungkan unsur-unsur sehingga dapat menuntun perhatian siswa untuk mempelajari suatu urutan-urutan khusus. warna. perspektif. informasi atau isi pelajaran perlu diperhatikan. Penekanan Meskipun penyajian visual dirancang sesederhana mungkin.

. 5. Warna Warna merupakan unsur visual yang penting. Tujuan utama penampilan berbagai jenis media visual (gambar) ini adalah untuk memvisualisasikan konsep yang ingin disampaikan kepada siswa/anak. dan menciptakan respons emosional tertentu. alat permainan visual edukatif dan berbagai media visual gambar lainnya. tetapi ia harus digunakan dengan hati-hati untuk memperoleh dampak yang baik. warna dapat mempertinggi tingkat realisme obyek atau situasi yang digambarkan. atau untuk membangun keterpaduan. Disamping itu. foto. menunjukkan persamaan dan perbedaan. Warna digunakan untuk memberi kesan pemisahan atau penekanan. Tekstur dapat digunakan untuk penekanan suatu unsur seperti halnya warna. (2) nilai warna (tingkat ketebalan dan ketipisan warna itu dibandingkan dengan unsur lain dalam visual tersebut). gambar chart berseri (flipchart). dan sebagainya). Bentuk Media Visual (Gambar) Ada berbagai bentuk media visual (gambar) yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama anak hiperaktif yaitu media gambar yang meliputi gambar chart. Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan ketika menggunakan warna. dan (3) intensitas atau kekuatan warna itu untuk memberikan dampak yang diinginkan.207 Tekstur Tekstur adalah unsur visual yang dapat menimbulkan kesan kasar atau halus. kuning. yaitu (1) pemilihan warna khusus (merah. biru.

Untuk mengajar/menjelaskan kepada siswa kita jangan menunjuk gambar chart dengan tangan langsung karena ini bisa menghalangi gambar yang ditampilkan. 2) Chart berseri/flip chart adalah satu kesatuan informasi yang dituangkan dalam beberapa tahapan atau dibuat berseri . Gambar Chart Chart adalah sebuah lembaran kertas yang berisi informasi dalam bentuk gambar dan tulisan. . grafik dan sebagainya yang berguna untuk memperjelas materi pelajaran yang diajarkan oleh guru di depan siswa. tetapi gunakan alat penunjuk yang berupa: batang bambu kecil panjang. Fungsi chart adalah untuk menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan dengan cara yang lebih visualisasi agar lebih mudah dimengerti dengan melalui penjelasan gambar. Jenis chart ada 2 yakni: 1) Chart tunggal adalah satu kesatuan informasi yang dituangkan dalam satu lembar. atau pulpen yang tangkainya bisa diperpanjang seperti antene radio.208 a. 4) Semua guru bisa membuatnya. cukup menempelkan saja) 2) Dapat digunakan berulangkali. angka. Keuntungan menggunakan gambar chart: 1) Menghemat waktu dalam proses belajar mengajar (tidak perlu menggambar/menulis lagi di papan tulis. diagram. 3) Biaya tidak terlalu mahal dan relatif murah. tabel.

ukuran dan waktu (maksudnya adalah memperkecil ukuran yang besar. memperlama proses yang cepat dan sebagainya). memperbesar ukuran yang kecil. perbedaannya adalah pada chart berseri (flipchart) serangkaian beberapa lembar gambar merupakan satu komponen/kesatuan informasi yang disajikan secara berurutan dengan cara ditumpuk/dibendel dan dijepit menjadi satu. rengat. mempercepat proses yang memakan waktu lama. Ciri khas dari flipchart adalah lembaran-lembaran gambar chart adalah berurutan di mana satu bendel merupakan satu kesatuan yang utuh. lembab. 4) Kurang bisa menggambarkan unsur gerak atau proses. 5) Perlu ketrampilan menggambar. 6) Bisa memperjelas masalah.209 5) Bisa mengatasi ruang. luka dan sobek). informasi sebelumnya yang terdapat pada lembar-lembar chart dibawahnya tidak boleh dilihat oleh siswa. . 2) Perlu perawatan yang baik karena kertas mudah rusak (kena air. b. 3) Perlu tempat yang cukup untuk penyimpanan. Kerugian menggunakan gambar chart: 1) Untuk membuat chart yang baik dan tepat diperlukan waktu persiapan/pembuatan yang cukup lama. Gambar chart berseri (flipchart) Gambar chart berseri (flipchart) sebenarnya sama dengan chart tunggal. sehingga sebelum lembar pertama telah jelas baru boleh dibuka lembaran berikutnya sehingga ada hubungan kesatuan dari lembar pertama ke lembar berikutnya.

majalah-majalah. Foto dapat membatasi ruang. Foto merupakan media visual yang efektif karena lebih nyata. pada setiap jenjang pendidikan dan berbagai disiplin ilmu. dramatisasi. Gambar fotografi itu pada dasarnya membantu mendorong para siswa dan dapat membangkitkan minatnya pada pelajaran. kongkret. hanya perbedaannya gambar ini didapatkan dengan peralatan yang dinamakan kamera foto sehingga obyek yang digambar sesuai dengan apa yang ada. lukisan. Obyek yang tidak mungkin dibawa ke kelas. kejadian yang sudah tidak mungkin diulangi bisa digantikan dengan media foto ini. dimensi/skala benar dan akurat. . berukuran besar/terlalu kecil yang tidak memungkinkan dibawa ke kelas. c. kartun. bacaan. Gambar fotografi dapat diperoleh dari berbagai sumber. dan pernyataan kreatif dalam bercerita. Membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan berbahasa. serta membantu mereka menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi bacaan dari buku teks. brosur-brosur dan buku-buku. ilustrasi. realistis. waktu dan ukuran. menulis dan menggambar. Foto Hasil pemotretan fotografi adalah merupakan media (alat bantu mengajar) gambar juga. akurat. Gambar. penulisan. alamiah. foto yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut dapat digunakan oleh guru secara efektif dalam kegiatan belajar mengajar. kegiatan seni.210 Flipchart disajikan lembar demi lembar sehingga minat dan konsentrasi siswa terarah pada penjelasan gambar chart yang dijelaskan oleh guru tersebut. misalnya dari surat-surat kabar.

sederhana atau tidak rumit sehingga siswa tidak salah menafsirkan pesan dalam foto itu. foto harus cukup besar dan jelas untuk kelompok siswa yang dihadapi. Foto yang digunakan sebagai media pegajaran harus artistik dalam arti foto tersebut mempertimbangkan faktor-faktor seperti komposisi. foto dapat pula digunakan secara berkelompok terutama untuk melancarkan kegiatan diskusi tentang isi pelajaran. atau perbedaan gaya arsitek dari berbagai negara dan zaman. pewarnaan yang efektif. dan membantu siswa menafsirkan serta mengingat isi pelajaran yang berkenaan dengan foto-foto tersebut. Dengan demikian foto bisa memenuhi fungsinya untuk membangkitkan motivasi dan minat siswa. validitas. foto haruslah dipilih dan digunakan sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. kualitas artistik. kejelasan dan ukuran yang memadai. Diskusi tentang jenis-jenis spesies tertentu dari binatang akan berjalan efektif apabila disertai dengan foto-foto berbagai jenis binatang yang termasuk spesies yang sedang dibicarakan. Foto disesuaikan dengan tingkat usia siswa. dan teknik pengambilan dann pemrosesan yang baik. dan menarik.211 Sebagai media pengajaran. Foto benarbenar melukiskan konsep atau pesan isi pelajaran yang ingin disampaikan sehingga dapat memperlancar pencapaian tujuan. foto dapat digunakan dengan efektif. yaitu mendukung pencapaian tujuan pengajaran. Foto harus jelas . mengembangkan kemampuan siswa berbahasa. Untuk menunjukkan berbagai jenis gaya bangunan (arsitek) Islam. Sudjana & Rivai (1991) menguraikan beberapa kriteria pemilihan foto untuk tujuan pengajaran. misalnya. Selanjutnya. Disamping siswa dapat menggunakan foto secara perorangan.

majalah. kereta api.” Disamping itu.212 karena dengan ketajaman dan kontras yang baik yang dapat memberikan ketepatan dan rincian yang memadai untuk menggambarkan kenyataan yang ditampilkannya. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari gambar fotografi dalam hubungannya dengan kegiatan pengajaran. dan lain-lain. antara lain: 1) Mudah dimanfaatkan di dalam kegiatan belajar mengajar. 2) Harganya relatif lebih murah daripada jenis-jenis media pengajaran lainnya. Mungkin foto tentang sesuatu obyek yang asing bagi siswa dapat menarik perhatian siswa karena baru pertama kalinya berkumpul dan siswa ingin mengetahui lebih jauh tentang obyek itu. misalnya foto-foto mengenai benda-benda atau obyek yang akrab dengan kehidupan siswa seperti binatang. surat kabar dan bahan-bahan grafis lainnya. . dibandingkan dengan seorang petani dari desa kita yang memanen padi di sawah dengan “mesin traktor penggiling padi. dan cara memperolehnya pun mudah sekali tanpa perlu mengeluarkan biaya. tidak berarti foto mengenai obyek yang kurang akrab dengan siswa tidak boleh disajikan. Dengan memanfaatkan kalender bekas. Kebenaran foto atau validitas foto menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. foto-foto untuk tujuan pengajaran harus dapat memikat perhatian siswa. karena praktis tanpa memerlukan perlengkapan apa-apa. Namun demikian. bukanlah foto sesuatu obyek atau peristiwa yang dibuat-buat atau didramatisasi: foto seorang petani di desa kita yang sedang menuai padi dengan pisau alat panen merupakan kenyataan yang sesungguhnya. boneka dan mainan.

dengan maksud guna meningkatkan daya efektifitas proses belajar mengajar. Karakteristik dari gambar fotografi: 1) Gambar fotografi itu adalah dua dimensi. Mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. . dari lambang kata (verbal symbols) beralih kepada tahapan yang lebih kongkret yaitu lambang visual (visual symbols). kecuali bilamana diproyeksikan melalui proyektor opek. Kecuali bilaman dilengkapi dengan beberapa seri gambar untuk objek yang sama atau adegan yang diambil dilakukan dari berbagai sudut pemotretan yang berlainan. Menurut Edgar Dale. Kelemahan gambar fotografi antara lain: 1) Beberapa gambarnya sudah cukup memadai akan tetapi tidak cukup besar ukurannya bila dipergunakan untuk tujuan pengajaran kelompok besar. 4) Gambar fotografi dapat menerjemahkan konsep atau gagasan yang abstrak menjadi lebih realistik. dari sudut pandang pembelajaran hal itu menjadi amat penting terutama untuk mata pelajaran yang rumit. beberapa gambar fotografi seri yang disusun secara berurutan dapat memberikan kesan gerak dapat saja dicobakan. 3) Gambar fotografi bagaimana pun indahnya tetap tidak memperlihatkan gerak seperti halnya gambar hidup. dari ilmu-ilmu sosial sampai ilmu-ilmu eksakta. sehingga sukar untuk melukiskan bentuk sebenarnya yang berdimensi tiga. Namun demikian.213 3) Gambar fotografi bisa dipergunakan dalam banyak hal. untuk berbagai jenjang pengajaran dan berbagai disiplin ilmu. gambar fotografi dapat mengubah tahap-tahap pengajaran. 2) Gambar fotografi adalah berdimensi dua.

validitas serta menarik. kejelasan dan ukuran yang cukup. 5) Gambar datar memberi kesempatan untuk diamati rinciannya secara individual. yaitu harus memadai untuk tujuan pengajaran. 6) Gambar datar dapat melayani berbagai mata pelajaran. misalnya hasil pemotretan jagat raya dengan benda-benda langitnya. pertama dari sudut pendidikan dan kedua dari sudut seni. kualitas artistik.214 2) Gambar datar adalah medium yang “diam” oleh sebab itu dalam hal ini seringkali dipergunakan istilah gambar tetap atau gambar diam. misalnya gambar yang memperlihatkan adegan di jalan raya sangat efektif. dan memilihnya yang terbaik untuk tujuan khusus pengajaran. 3) Gambar datar dapat memberi kesan gerak. segala macam objek dapat dipotret dari yang kongkret sampai kepada gagasan yang abstrak. Dari sudut pandang ini ada dua macam pertimbangan. Ada beberapa kriteria dalam memilih gambar-gambar yang memenuhi persyaratan bagi tujuan pengajaran. Dalam hal ini guru hendak menetapkan kegunaan-kegunaan gambar yang secara relatif memadai. Dalam memilih gambar fotografi ada lima kriteria untuk tujuan pengajaran. 4) Gambar datar menekankan gagasan pokok dan impresi. untuk menyatakan bahwa gambar itu tidak bergerak. . memerlukan pengamatan rincian gambar yang tekun. Dengan satu pusat perhatian maka seluruh adegan akan mendukung kepada pesan apa yang ingin disampaikan. bahwa untuk menilai dan memilih gambar datar yang baik harus menampilkan satu gagasan utama.

2) Pewarnaan yang efektif. Di samping itu gambar fotografi hendaknya realistik dan hidup. dan harus cukup besar sehingga rinciannya bisa diamati untuk dipelajari. artinya untuk tujuan pengajaran yaitu harus menampilkan gagasan. gambar-gambar itu harus memenuhi persyaratan artistik yang bermutu. Demikian pula pola gambarnya harus sederhana dan gagasannya tidak kompleks. Keefektifan suatu gambar ditentukan oleh sejauh mana baiknya gagasan dikomunikasikan melalui gambar-gambar itu. Sedikit unsur terdapat di dalam gambar adalah cocok bagi anak-anak usia muda. pewarnaan yang bagus.215 Pertama gambar fotografi itu harus cukup memadai. pemakaian cahaya. Gambar berwarna harus dipilih betul menurut kenyataan. kedudukan dan arah garisgaris. merupakan ciri fundamental efektivitas gambar yang baik atau pengorganisasian ke seluruh unsur-unsur gambar yang baik. bagian informasi atau satu konsep jelas yang mendukung tujuan serta kebutuhan pengajaran. Jadi pusat perhatian dari suatu gambar adalah gagasan. . berarti pemakaian warna-warna secara harmonis merupakan ciri kedua dari kualitas artistik suatu gambar. untuk memilih gambar fotografi perlu memperhitungkan kesesuaiannya dengan tingkat usia siswa. Artinya gambar itu mempunyai pusat perhatian yang jelas sehingga memberikan keseimbangan kepada gambar secara keseluruhan.. Gambar-gambar yang memenuhi persyaratan mutu seni juga harus memenuhi faktor-faktor: 1) Komposisi yang baik. bayangan serta pewarnaan. Dalam pada itu. Kedua. pesan yang ingin dikomunikasikan bukan bersifat fisik. dan alamiah misalnya merah. biru. misi.

Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam mempergunakan gambargambar fotografi sebagai media visual pada setiap kegiatan pengajaran. Gambar yang tajam dan kontras mempunyai kelebihan. Gambar-gambar fotografi yang melukiskan suasana dramatis atau mencekam. perahu. yaitu terhadap bendabenda yang akrab dengan kehidupan mereka. gambar fotografi untuk tujuan pengajaran harus cukup besar dan jelas. anakanak. kereta api. pemahaman dan daya tarik terhadap gambar merosot dan perhatian siswa kepada gambar pun hilang. Keempat. antara lain: . Gambar-gambar yang representatif dari bidang studi tertentu yang menampilkan pesan yang benar menurut ilmu. karena ketepatan dan rinciannya menggambarkan kenyataan secara lebih baik.216 hijau dan violet. Bilamana ukuran gambar terlalu kecil maka akan sulit diamati. kapal terbang dan sebagainya. merupakan gambar-gambar yang tepat untuk maksud pengajaran yang sahih. misalnya binatang-binatang. Kelima memikat perhatian kepada anak-anak. Yang tidak kurang pentingnya adalah besarnya gambar. Memikat perhatian bagi anak-anak cenderung kepada hal-hal yang diminatinya. adegan yang ideal. Warna-warna campuran hanya dipergunakan bila ingin menonjolkan makna tertentu terhadap gagasan yang ditampilkan ke depan. 3) Teknik pemotretan yang unggul bernilai lebih dari komposisi dan pewarnaan. lebih pantas dipajang daripada untuk tujuan pengajaran. validitas gambar. Ketiga. sehingga tampak jelas ke seluruh siswa.

2) Padukan gambar-gambar kepada pelajaran. Melalui gambar itulah mereka memperoleh kejelasan tentang istilah verbal. siswa akan menjelaskan mengapa bentuknya tidak sama. akan tetapi tidak menghasilkan kesan atau impresi visual yang jelas. seni grafis dan bentuk-bentuk kegiatan lainnya. 3) Pergunakanlah gambar-gambar itu sedikit saja. sebab keefektifan pemakaian gambar-gambar fotografi di dalam proses belajar mengajar memerlukan keterpaduan. daripada mempergunakan banyak gambar tetapi tidak efektif. akan mengakibatkan para siswa merasa dirongrong oleh sekelompok gambar yang memikat mereka.217 1) Pergunakanlah gambar untuk tujuan-tujuan pelajaran yang spesifik. oleh karena gambar-gambar itu justru sangat penting dalam mengembangkan kata-kata atau cerita. Keterampilan jenis . Banyaknya ilustrasi gambar secara berlebihan. apa yang membedakan ciri-ciri satu sama lain. melalui gambar-gambar para siswa akan didorong untuk mengembangkan keterampilan berbahasa lisan dan tulisan. 4) Kurangilah penambahan kata-kata pada gambar. lebih baik daripada dua kali mempertunjukkan gambar-gambar yang serabutan tanpa pilih-pilih. Misalnya gambar-gambar candi gaya Jawa Tengah dan Jawa Timur. 5) Mendorong pernyataan yang kreatif. Tujuan khusus itulah yang mengarahkan minat siswa kepada pokok-pokok terpenting dalam pelajaran. yaitu dengan cara memilih gambar tertentu yang akan mendukung penjelasan inti pelajaran atau pokok-pokok pelajaran. atau dalam menyajikan gagasan baru. Jumlah gambar yang sedikit tetapi selektif.

Pemakaian instrumen tes secara bervariasi akan sangat baik dilakukan. manfaat dan menjadi bermacam-macam bentuk. Dalam kegiatan bermain ini anak membentuk sesuatu. gabungan bermacam-macam bahan yang dapat digunakan untuk mencipta bangunan. Alat Permainan Visual Edukatif Alat permainan edukatif adalah alat permainan yang dirancang khusus untuk kepentingan pendidikan dan mempunyai beberapa ciri yaitu: 1) Dapat digunakan dalam berbagai cara. Terdiri dari semua alat permainan yang dibuat dengan berbagai macam bahan seperti plastik. . slides atau transparan untuk melakukan evaluasi hasil belajar siswa. dalam upaya memperoleh hasil tes yang komprehensif serta menyeluruh. 3) Segi keamanan sangat diperhatikan baik dari bentuk maupun penggunaan cat 4) Membuat anak terlibat secara aktif 5) Sifatnya konstruktif. kayu. Jadi guru bisa mempergunakan gambar datar.218 keterbacaan visual dalam hal ini sangat diperlukan bagi siswa dalam “membaca” gambar-gambar itu. Alat ini dapat berbentuk balok-balok dalam berbagai macam ukuran. d. maksudnya dapat dimainkan dengan bermacam-macam tujuan. Macam-macam alat permainan visual edukatif: 1) Alat edukatif untuk membangun. bisa juga dengan memanfaatkan gambar-gambar baik secara umum maupun secara khusus. 6) Mengevalusi kemajuan kelas. 2) Ditujukan terutama untuk anak-anak pra sekolah dan berfungsi mengembangkan berbagai aspek perkembangan kecerdasan dan motorik anak.

karena anak akan merasa senang dan tanpa ia sadari ternyata ia sudah banyak belajar. Melalui kegiatan bermain dengan A. Misalnya: membuat rumah-rumahan dengan balok kayu atau potongan lego. Tidak jarang anak mampu menguasai bahasa yang canggih karena kemampuan ingatan pendengarannya bagus sehingga kita tidak perlu terlalu takut untuk menggunakan bahasa yang umumnya digunakan orang dewasa. menggambar. besaran dan lain-lain. Alat permainan edukatif yang mengandung unsur konsep . Misalnya kertas.219 menciptakan bangunan tertentu dengan alat permainan yang tersedia. menyusun kepingan-kepingan kayu bergambar dan yang semacamnya. kayu dan sebagainya.E. bentuk dan ukuran. Karena kegiatan ini bermanfaat untuk melatih ketekunan. plastik. Kegiatan ini sangat baik diberikan pada anak yang mempunyai gangguan/berkebutuhan khusus seperti hiperaktif dan autisme. mengembangkan kreativitas. anak usia prasekolah terutama anak hiperaktif akan lebih mudah belajar pengenalan konsep-konsep ini apabila dilakukan sambil bermain (melalui kegiatan bermain). ini maka kosa kata yang didapat juga tak ternilai.P. mengisi waktu luang. konsentrasi (pemusatan perhatian). Pada usia prasekolah anak perlu menguasai berbagai konsep seperti warna. 2) Alat permainan edukatif untuk melatih berbagai macam pengertian mengenai warna. bentuk. Dengan rentang perhatian yang terbatas dan masih sulit diatur atau masih sulit belajar dengan “serius”. ukuran. arah. koordinasi mata dengan tangan. Misalnya dalam memperkenalkan warna dan ukuran bisa digunakan kegiatan bermain memancing ikan yang terdiri dari bermacam-macam warna dan ukuran. Peralatan ini terbuat dari berbagai macam bahan.

jumlah. Dengan memainkan alat permainan ini anak belajar tentang bentuk. sekaligus melatih motorik halus. oval dan sebagainya). segi tiga dan segi enam. 3) Puzzle (mainan bongkar pasang). segi tiga. Beberapa contoh alat permainan edukatif yang dapat mengembangkan ketrampilan gerakan halus dan koordinasi mata dan tangan: 1) Lotto-lotto berwarna 2) Alat permainan menara gelang ganda bentuk bulat. posisi benda (di atas. Misalnya. bentuk dan ukuran. Kata “lingkaran” diganti menjadi bundar.220 bentuk tidak perlu mendapat penekanan berlebih. bintang. setelah gambar tersebut ditebarkan di meja. bila terlalu sulit bagi anak untuk mengingat nama segi empat dapat diganti dengan istilah kotak atau tahu. dan di samping). anak diminta menyatukan kembali. belajar hukum sebab akibat. Yang paling sederhana adalah papan bentuk (lingkaran. juga melalui pengulangan bermain dengan alat ini akan membuat anak makin memiliki konsep dan mengenal nama bentuk tersebut dengan spontan. Model puzzle lain adalah suatu gambar tertentu yang kemudian dipotong-potong. Dengan bermain dan secara tidak khusus disebutkan nama bentuknya. segi empat. warna. 6) Papan-papan hitung 7) Papan paku (dengan pengawasan cermat) . yaitu suatu sarana menyalurkan energi dan agresivitas anak. 4) Tangga bentuk silinder dan kubus. di bawah. segi empat. 5) Papan-papan pasak. Dengan alat permainan ini anak-anak akan mengenal konsep warna.

sejenis atau sama. daya tahan. melatih ketrampilan motorik halus. anak dapat menyusun suatu bentuk tertentu. ketekunan. alat permainan LASY. akan menimbulkan rasa puas. Dapat juga anak melakukan peran imajinatif atau dongeng. 10) Berbagai macam miniatur binatang. jadi batman atau kesatria baja hitam. Materi tersebut meliputi: kertas dan pensil. antara lain mengembangkan kemampuan anak untuk berdaya cipta (kreatif). Manfaat yang bisa diperoleh melalui kegiatan bermain ini. . polisi dan penjahat. dapat meningkatkan kosa kata serta belajar mengelompokkan berdasarkan fungsinya. Yaitu materi yang membawa anak untuk kesiapan akademik bagi anak. Dalam bermain pura-pura anak menirukan kegiatan orang yang pernah dijumpainya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau ia berhasil.221 8) Biji untuk meronce 9) Kartu berpasangan. 12) Materi yang berorientasi pada kegiatan yang bersifat akademik. mendapat pujian dari orang lain yang akan meningkatkan keinginan anak bekerja lebih baik lagi. yaitu untuk mengembangkan kreativitas. Misalnya: main rumah-rumahan. melatih konsentrasi. pola bentuk untuk dijiplak (sebagai persiapan membuat huruf). 11) Alat permainan yang bersifat konstruksi. bentuk angka-angka (untuk memperkenalkan bentuk angka) dan sebagainya. dapat dengan contoh atau berdasarkan kreasinya sendiri. misalnya balok meja. orang (tokoh) yang bermanfaat untuk bermain peran sekaligus meningkatkan pengetahuan anak. Dengan alat permainan tersebut.

Tempelkan foto-foto itu di karton/kertas tebal. Huruf-huruf ini akan terasa menonjol bila diraba oleh si kecil. lalu potong. Kegiatan: suruh anak untuk menunjuk beberapa benda dan menyebutkan huruf awal serta bunyinya dengan demikian anak akan dapat mengenal abjad. Lalu ajaklah si kecil memainkan permainan “konsentrasi” dengan cara mengocok tumpukan foto itu. Permainan ini membantu si kecil untuk membedakan secara visual dan mengingat-ngingat letak kartu sehingga ia tidak hanya sekedar menebak saja selama permainan ini. gunting dan tutup setiap guntingan foto dengan plastik bening sehingga terbungkus rapi. Tujuannya adalah mencari pasangan setiap foto itu. atau meletakkannya dengan posisi terbalik di atas meja dan membuka secara bergantian dua kartu sekaligus. Susunlah tiap huruf tersebut di atas karton tebal. Kita bisa . pertama dengan mencobanya bersama kita dan kemudian ia akan memperhatikan kita menggunakan jari untuk menelusuri bentuk huruf secara benar.222 Alat permainan visual edukatif ciptaan Montessori: Aktivitas Bahasa 1) Album Foto Abjad Terbuat dari foto berbagai obyek dan di bawah foto ditulis huruf awalnya. 3) Huruf-huruf Amplas Cara membuatnya siapkan beberapa lembar amplas. Suruhlah ia meraba huruf-huruf itu. mengenal bunyi huruf dan membedakan bunyi. Cara membuatnya potret berbagai benda yang dikenal si kecil dan cetak dua buah untuk masing-masing foto. 2) Foto-foto berpasangan.

dan beri tiga atau empat petunjuk. Untuk anak yang lebih kecil. Kita juga bisa membuat huruf besar dan huruf kecil dari lembaran amplas kemudian memainkan permainan “konsentrasi” untuk memasangkan huruf besar dengan huruf kecil. Bagian depan kulkas misalnya bisa dijadikan tempat untuk menempelkan huruf-huruf dengan menggunakan magnet. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk anak-anak yang baru mulai belajar membaca dengan mengenal tulisan. Kegiatan ini dapat membuat anak berpikir kritis dan berpikir imajinatif. gambar . Untuk buku atau kartu permainan. 5) Buku Teka-teki Abjad Cara membuat buku teka-teki yaitu dimana satu halaman berisi petunjuk dan halaman selanjutnya berisi jawaban. Misalnya: saya buah. saya rasanya asam. Kegiatan ini bisa membantu si kecil mengenal abjad 4) Dinding Kata Dinding kata ini dapat dibuat di berbagai tempat. bantulah si kecil menentukan obyeknya. atau langsung memasangkan huruf besar dan huruf kecil bersama-sama.223 membimbing jarinya untuk menelusuri setiap huruf saat kita menyebutkan nama huruf tersebut. Tabel tugas bisa dibuat dengan menggunakan amplop bertuliskan nama anak dan kartu bergambarkan tugas mereka. Untuk mengatur tugas anak dapat dibuat tabel penuh warna agar lebih menarik. 6) Tabel Tugas Memberikan tugas pada anak bisa mendorong keinginannya untuk mandiri dan memberikan kepuasan saat tugasnya telah selesai dilaksanakan. saya berwarna kuning.

Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada tulisan dan membedakan secara visual. Sedangkan menggunting dan menempel gambar adalah latihan yang tepat untuk mengembangkan ketrampilan motorik halusnya. Masukkan benang yang sudah diikatkan ke sebatang lidi kecil ke lubang itu hingga ujung benangnya menembus ke belakang. 7) Menyortir Gambar-gambar Ajaklah si kecil mengumpulkan gambar berbagai jenis makanan yang ia sukai dan yang tidak ia sukai dari majalah dan menempelkannya untuk dijadikan hiasan kolase. Setelah selesai. Lalu. ikatkan lagi lidi kecil sehingga anak panah dan lingkaran saling menempel. di ujung benang tadi. sehingga posisinya seperti jarum jam.224 merupakan suatu pesan. Jadi pastikan setiap tugas ditampilkan dengan gambar yang sesuai. dan gunting kemudian tempelkan gambar-gambar benda dan gambarlah sebuah anak panah di karton. lubangi pusat lingkaran itu. Lubangi anak panah tadi sehingga terbentuk lubang yang menembus pusat lingkaran ke belakang. menyortir gambar-gambar itu atau memilih foto atau gambar makanan bisa mengembangkan ketrampilannya dalam mebedakan obyek secara visual. setelah itu tempelkan sepotong karton tebal di bawahnya. 8) Jam Gambar Cara membuatnya yaitu gambarlah sebuah lingkaran di karton tebal. letakkan di atas lingkaran. Cara menggunakannya anak harus menemukan gambar di kartu itu . dan anak panah bisa diputar. Meski hasil guntingannya tidak rapi.

Mulailah dengan satu garis lurus yang panjang dan pendek serta satu buah bentuk setengah lingkaran berukuran kecil. Hal ini membantu anak bisa belajar menghitung hingga angka 100. Kegiatan ini bisa membantunya memahami bahwa semua huruf terbentuk dari garis lurus dan lengkungan. 2) Kwartet angka. 9) Garis dan lengkungan Cara membuatnya adalah guntinglah garis lurus yang panjang dan pendek serta setengah lingkaranyang besar dan kecil dari karton. Tanyakan pada anak. Lalu pasangkan benda tersebut dengan angkanya. Kartu tersebut bisa dibuat dalam ukuran yang . Aktivitas Matematika 1) Deretan angka Cara membuat deretan angka dengan menggunting angka-angka pada kalender bekas dan menaruhnya di sebuah kotak.225 yang bunyi konsonan awalnya sama dengan gambar yang tertunjuk oleh anak panah. huruf apa saja yang bisa dibuat dari potongan tersebut. Usahakan agar kertas tidak terlalu panjang agar anak bisa menyelesaikannya dengan baik. Kumpulkan bermacammacam benda. Kemudian tempelkan angka tersebut secara berurutan pada selembar kertas berwarna. dan berikan beberapa guntingan kertas itu kepada si kecil sekaligus. mintalah anak untuk menghitung jumlah benda yang sesuai dengan angka yang tertera pada masing-masing kartu. (jawabannya huruf besar “R” serta huruf besar dan kecil dari “p”). Buatlah kartu-kartu dengan angka di dalamnya.

Jadi menurut mereka angka 5 atau 7 tidak dapat ditampilkan dengan cara lain dan masih tetap merupakan 5 atau 7. empat tusuk gigi bisa disusun menjadi sebuah rumah. 5) Menjiplak uang logam. Lalu. maka ajaklah anak untuk melakukan kegiatan dengan tusuk gigi. Perkenalkanlah semua uang jenis logam. atau menjadi persegi panjang. Jelaskanlah padanya bahwa jumlah tusuk gigi pada setiap susunan tersebut tetaplah empat. letakkan uang logam di bawah kertas putih dan bantulah ia menjiplak dengan menggunakan krayon. Buatlah jiplakan dari kedua sisi uang logam. dibariskan berjajar atau membentuk satu garis lurus. Misalnya. Aktivitas ini dapat membantu si kecil yang baru mengenal uang logam . mintalah anak untuk menyusun empat angka dengan empat cara yang berbeda.226 cukup besar sehingga seluruh benda itu bisa diletakkan semuanya di atas kartu. kemudian tanyakan jam berapa kepada anak sesuai dengan gambar atau anak diminta menunjukkan/mengarahkan arah jarum jam sesuai yang kita perintahkan. Hitunglah jumlah tusuk gigi itu bersama-sama saat ia menyusun (dan menempelkan) tusuk gigi dengan cara yang berbeda. Untuk belajar memahami bahwa sebuah angka tetap sama meski diatur dengan cara berbeda. Setelah itu. pada empat lembar kertas yang berbeda. 4) Jam tiruan Buatlah jam tiruan dari kertas kardus. 3) Tusuk Gigi Anak-anak yang masih kecil biasanya berpikir bahwa angka selalu statis. Siapkan beberapa tusuk gigi.

c) Melatih kesabaran anak. suku kata. yang dilakukan oleh anak sendiri. serta kombinasinya. b) Memberi variasi dalam cara memantapkan pengertian bilangan. b) Belajar menyusun kalimat. . dan huruf melalui pelajaran persiapan membaca permulaan. 3) Kotak baca Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan kalimat.227 Alat-alat yang diperlukan untuk pendidikan persiapan permulaan membaca dan menulis dan persiapan permulaan berhitung/matematika: 1) Balok bangunan Fungsi/kegunaan: a) Mengenal bentuk-bentuk benda serta hubungannya antara satu dengan yang lainnya. b) Sebagai alat untuk mendorong anak dalam membangun sesuatu dengan daya fantasi dan kreatifitasnya. suku kata. kata. 2) Kotak merjan Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan 5 macam bentuk dan warna. kata.

228 Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari: Kotak bertutup yang dapat dibuka Tutup kotak yang di dalamnya terdapat gambar yang bertuliskan “nina beli buku” Isi kotak papan baca 1 Kepingan kalimat “nina beli buku” 2 Set kepingan kata “nina beli buku” 2 Set kepingan suku kata “nina beli buku” 2 Set kepingan huruf “nina beli buku” 4) Papan pengenalan warna Fungsi/kegunaan: Memperkenalkan 9 macam warna (yang terdiri dari warna merah. ungu. jingga. nila. b) Bahan terbuari dari triplek c) Warna yang digunakan adalah Papan penampang berwarna abu-abu Kepingan geometris sesui dengan yang tersebut diatas. hijau. d) Jumlah 1 papan penampang dengan 9 lubang lingkaran 9 potong kepingan setengah lingkaran . biru. kuning. putih dan hitam) Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari papan penampang dan kepingan setengah lingkaran.

6) Boneka Fungsi/kegunaan: Alat peraga untuk kegiatan bermain sandiwara boneka. alas pohon. masing-masing dengan urutan warna yang paling muda dan meningkat ke warna paling tua. .229 5) Papan nuansa warna Fungsi/kegunaan: Mengenalkan nuansa 5 jenis warna. buah nanas. daun dan sebagainya. buah kecil. 7) Papan geometris Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan bentuk-bentuk geometris b) Melatih otot-otot jari anak c) Untuk latihan menulis Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari papan penampang dan9 potongan-potongan bentuk geometris b) Bahan terbuat dari papan triplek 8) Pohon hitung Fungsi/kegunaan: a) Memperkenalkan konsep bilangan b) Menanamkan pengertian tentang perbandingan (lebih banyak kurang) Spesifikasi alat: Unsur-unsur pada pohon hitung adalah pohon. dan isi pohon yang terdiri dari bentuk bunga.

meja-kursi. pensil-buku. kaos kaki-sepatu. papan/setrika-setrikaan b) Bahan terbuat dari triplek dan harbort . Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari Papan penampang yang bergambar Kepingan yang bergambar berpasangan: Daun-bunga. raket-kok. c) Membandingkan bentuk-bentuk geometris 11) Lotto gambar benda berpasangan Fungsi/kegunaan: Mengenalkan hubungan antara benda-benda yang berpasangan. 10) Kotak pos Fungsi/kegunaan: a) Mengenal bentuk-bentuk geometris (benda 3 dimensi) dengan beberapa penampang b) Melatih keseimbangan otot untuk memasukkan bentuk-bentuk geometris pada penampang yang benar. rok-baju.230 9) Papan pengenalan angka Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan angka 91-5) sebagai lambang bilangan b) Melatih anak untuk mengenal angka dan menghitung sendiri banyaknya paku jamur sebagai angka. sendok-garpu. penggorengan-sodet. tatakan-cangkir.

hijau. b) Bahan yang digunakan adalah sepuluh kue c) Warna: merah. kuning dan coklat. 14) Kuas gambar Fungsi/kegunaan: Alat pencetus pengungkapan ekspresi menggambar anak Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari tangkai dan bulu-bulu kuas b) Bahan yang digunakan adalah kayu dan ijuk/rambut c) Tiga macam warna. merah. kuning dan biru.231 12) Loto gambar benda yang sama Fungsi/kegunaan: Mengenalkan persamaan dan perbedaan bentu antara benda-benda Spesifikasi alat: a) Unsur alat terdiri dari papan tempat keping bergambar dan isi berupa 12 keping bergambar b) Bahan dari triplek dilapis formika 13) Serbuk berwarna Fungsi/kegunaan: a) Bahan untuk menggambar b) Finger painting Spesifikasi alat: a) Unsur dari serbuk berwarna ¼ (seperempat) kilogram setiap warna. d) Jumlah terdiri 1 set dengan 3 ukuran (besar-sedang-kecil) .

jingga d) Jumlah menurut keperluan 16) Gambang Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan salah satu alat musik pukul pada anak b) Sebagai alat untuk membangkitkan/memupuk rasa senang pada musik. biru Beberapa media pembelajaran visual lainnya yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama belajar membaca asosiasi antara arti dan kata. kuning. hijau.232 15) Plastisin Fungsi/kegunaan: Alat untuk membentuk dan melatih otot-otot jari anak Spesifikasi alat: a) Unsur dari barang yang lunak dan dapat dibentuk b) Bahan terbuat dari Tanah liat atau plastisin c) Warna: merah.kuning. yaitu: 1) Peralatan yang terbuat dari sehelai karton. hijau. Dan dua buah panah yang terbuat dari karton yang dapat digerakkan ke atas dan ke bawah melalui pita/tali. dimana pada bagian kiri memuat gambar dari berbagai benda dan pada bagian kanan memuat nama dari benda itu. ungu. biru. Tugas anak adalah menggerakkan panahpanah itu sehingga panah kanan menunjukkan nama (kata) dari benda yang ditunjuk oleh panah kiri. jingga. logam dan karet (penahan logam) b) Warna: merah. . Spesifikasi alat: a) Bahan terbuat dari kayu.

Tugas anak adalah menggabungkan kartu gambar dan kata sesuai dengan bentuknya 3) Satu set kwartet yang terdiri atas 5 atau 6 atau 7 helai kartu. Agar ikan dapat dikail. 4) Alat ini terdiri dari 8 sampai 12 helai kartu yang masing-masing berbentuk ikan. Tugas anak adalah menyusun kartu-kartu ini dalam sebuah lingkaran. . jepitlah masing-masing dengan sebuah paperclip pada ujung tali pengail. Tugas anak mencari kata yang sesuai dengan gambar atau sebaliknya. jika benar ikan boleh ditahan. nama dibacanya jika salah ikan dikembalikan dalam kolam. dimana bagian kiri memuat kata dan bagian kanan memuat gambar atau dua bagian memuat suku kata. Cara menggunakannya: ikan diletakkan dengan kata disebelah atas dan anak membacanya. Beberapa media pembelajaran visual lainnya yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama analisa sintese. dimana bagian muka dari kartu memuat gambar dan bagian belakang kartu memuat nama (kata) dari gambar itu. ikan dibalikkan (dengan dikail) tiap kali anak menangkap seekor ikan.233 2) Gambar penghubung. ikatkan sebuah magnet kecil. Alat ini bersifat self corrective. karena adanya sambungan tertentu antara kartu gambar dan kartu kata. Untuk mengontrol benar atau tidak dalam membacanya. yaitu: 1) Alat yang terbuat dari dua helai kartu (satu set mainan kwartet) dimana kartu yang satu memuat nama (kata) dan kartu yang satunya lagi memuat gambar. Tiap kartu terdiri dari dua bagian.

kata disusunnya menurut gambar. yaitu kartu yang memuat huruf/lambang. Set ini adalah merupakan self corrective (dapat mengoreksi diri sendiri) 3) Peralatan yang membantu proses mengenal lambang dan bunyi. dimana tiap kartu dipotong menjadi dua bagian. Guru menunjukkan huruf (lambang): siswa menyebut kata-kata yang mulai/berakhir dengan huruf itu. agar anak menangkap struktur kata dengan cepat. Cara menggunakannya: Huruf ditunjukkan: Siswa mengucapkan bunyinya (bukan namanya) Guru menyebut bunyi siswa menunjukkan hurufnya. Bagi anak demikian gambar hanya berfungsi sebagai alat pengontrol. tidak menghiraukan gambar. dsb . Misal untuk huruf n: nasi-nangka-aminiman-taman. Dimana titik yang agak besar pada bagian atas dari kartu menunjukkan bagian atas dari huruf. Ia menyusun kata atas strukturnya. 2) Satu set mainan kwartet.234 Tujuannya: agar anak belajar cepat mengidentifikasi benda dan nama. Sedangkan anak yang telah maju. Bagi anak yang lambat. Tugas anak adalah menyusun kata. Panah menunjukkan dimana harus memulai jika ia menulis huruf.

5) Flash card yaitu kartu yang memuat kata dan yang ditunjukkan kepada anak untuk dilihat selama sekejap mata saja. anak membaca dari atas ke bawah. Lemari ini diberikan sebuah dasar. . dibuat dari karton. tiap laci diberi manyi. ai. 6) Alat ini terdiri dari sehelai karton dibagi dua bagian. Dengan tujuan agar anak membaca kata-kata dengan cepat. e. anak menyebut bunyi huruf itu/kata yang mulai/berakhir dengan “s”. dibuat dari kotak korek api dijadikan satu lemari (direkatkan) dan tiap kotak merupakan sebuah laci. 4) Sebuah dadu yang dibuat dari karton tebal. 7) “Lemari huruf” yaitu merupakan alat untuk menyusun kata. dibungkus dengan kain dril. dipinggir kiri dan kanan ada pita tempat menggerakkan huruf ke atas dan ke bawah. Cara menggunakannya dadu dijatuhkan ke lantai. Agar mudah menarik laci untuk mengambil huruf yang diperlukan. au dll. Justru disinilah terletak kemajuan anak.235 Dalam hal ini tidak perlu mengetahui bagaimana menulis kata yang disebutnya mungkin anak menyebut kata baru yang belum diajarkan. Cara menggunakannya: dengan menggerakkan huruf “s” melalui pita. kalau jatuh dengan huruf “s” ke atas. Kalau anak melihat huruf “n” lalu menyebut nama mobil maka ia berarti belum tahu bahwa huruf n adalah lambang untuk bunyi n. Dipakai 30 buah kotak agar ada tempat bagi huruf-huruf seperti j. Hendaknya instruksi pada anak itu jelas agar tidak membingungkan anak. agar kuat dan awet. maka yang penting adalah mengenal bunyi huruf sebagai bunyi pertama/terakhir dalam sebuah kata.

Hal-hal yang terjadi pada anak tiap kali ia menyusun sebuah kata: Anak memikirkan kata mana yang akan disusun Anak menganalisa kata itu Anak mengidentifikasi tiap bunyi dalam kata itu dengan hurufnya. Dapat mempermahir siswa menyusun kata-kata menjadi satu untaian kalimat . anak harus mengembalikan huruf pada tempatnya masingmasing. jika dua orang dapat dilakukan dengan bekerja sama. 8) Papan Kantong Diperlukan papan triplek/karton tebal dan kartu kata dengan panjang triplek kira-kira 90 cm dan tinggi 60 cm. tugas anak menyusun kata dengan huruf dalam laci itu. Kalau anak telah dapat mengerjakan hal ini dengan lancar. Setelah pekerjaan selesai.236 Pada laci yang berisi huruf “a” ditempelkan huruf “a”. yaitu berupa kartu-kartu kata dibuat dengan karton yang ditulis kata-kata. pada papan dilekatkan deretan kantong karton tinggi 5 cm. Dengan alat ini mereka dapat menguji kekuatan sendiri yaitu dapat dipakai oleh 1-2 orang. 9) Teknik strip story. pada deretan kantong dapat dipindah-pindahkan beberapa karton-karton kecil yang bertuliskan kata-kata. ini berarti bahwa kunci untuk kepandaian membaca telah ada padanya. saling membantu dan mengoreksi.

Program Pengembangan kelompok bermain (usia 2-3 tahun) b. Kemampuan dasar kognitif b. dan . Kurikulum SLB Tuna Rungu e. Kemampuan dasar bina diri. Kurikulum SLB Tuna Rungu dan Tunagrahita Penyusunan program layanan pendidikan dan pengajaran diambil dari kurikulum tersebut dengan mempertimbangkan kemampuan dan ketidakmampuan (kebutuhan) anak. dengan bertitik tolak pada kebutuhan masing-masing anak berdasarkan hasil identifikasi. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif 1. Kurikulum bagi anak hiperaktif dititik beratkan pada pengembangan kemampuan dasar. Pengembangan Kurikulum Anak hiperaktif memiliki kemampuan yang berdeferensiasi. Kurikulum Taman Kanak-kanak (usia 4-5 tahun) c. Oleh karena itu kurikulum dapat dipilih. Kemampuan dasar bahasa/komunikasi c. dengan modifikasi. yaitu: a. serta proses perkembangan dan tingkat pencapaian programpun juga tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Pelayanan pendidikan bagi anak hiperaktif akan lebih baik apabila dimulai sejak dini (intervensi dini). Kurikulum Sekolah Dasar d.237 E. dimodifikasi dan dikembangkan sendiri oleh guru pembimbing/terapis. Sehingga untuk mengembangkan kurikulum mengacu pada: a.

Sehingga perilaku yang baik dapat terus dilakukan. atau dengan kata “tidak”). Berhenti sejenak dilanjutkan dengan perintah selanjutnya Sedangkan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Sosialisasi Apabila kemampuan dasar tersebut dapat dicapai oleh anak dengan mengacu pada kemampuan anak yang sebaya dengan usia biologi/kalendernya. sedangkan perilaku buruk dihilangkan (melalui time out. Yaitu dengan memberikan reinforcement yang positif sebagai kunci dalam merubah perilaku. yaitu: a. hukuman.238 d. Dalam teknisnya program loovas (Discrete Trial Training/DTT dari Lovaas) ini terdiri dari 4 bagian. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” . meliputi kemampuan: membaca. menulis. sehingga anak dapat menangkap pesan. Pelaksanaan Pembelajaran Dalam membelajarkan anak hiperaktif digunakan sistem pembelajaran lovaas one on one (pembelajaran satu guru satu murid) yang didasari oleh model perilaku kondisioning operant (Operant Conditioning) dimana efektifitas pengajaran berkaitan dengan kontrol terhadap antecedent/perilaku yang lalu dan konsekwensi. Konsekwensi d. maka kurikulum dapat ditingkatkan pada kemampuan pra akademik dan kemampuan akademik. Stimuli dari guru agar anak berespons b. Respon anak c. 2. dan matematika (berhitung).

gambar huruf. meliputi: 1) Identifikasi Benda a. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya . gambar bentuk. Katakan “Ini apa?” Prompt (bantuan/arahkan) anak untuk melabel (menyebutkan nama bendabenda) gambar tersebut dan beri reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. terutama media visual (gambar).239 tersebut. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi gambar: Gambar diletakkan di meja di depan anak. gambar angka dan gambar kata kerja. Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. Melabel gambar: Duduk di kursi berhadapan dengan anak . Media visual (gambar) itu mencakup gambar benda. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media. dan kartu gambar c. Kegiatan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual gambar. Persiapkan perhatian dan beri perintah “Tunjuk … (nama benda gambar tersebut)”. gambar warna. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Materi yang diajarkan adalah menunjuk dan menyebutkan gambar b. Prompt (bantuan/arahkan) anak untuk menunjuk gambar tersebut dan beri reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. persiapkan perhatian dan beri sebuah gambar. karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami.

Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna c. Materi yang diajarkan adalah mencocokkan gambar b. c.240 tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk warna yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. kartu huruf. 3) Identifikasi warna a. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama warna)”. Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. Kurangi sedikit . Prompt (bantu) anak untuk meletakkan benda yang diberikan di atas atau di depan benda yang cocok/sesuai. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. dan berbagai bentuk. 2) Mencocokkan (Matching) a. Proses/Prosedur pembelajaran: Letakkan benda (benda-benda) pada meja di hadapan anak. Beri sebuah benda yang cocok/sesuai dengan salah satu benda di hadapan anak dan berikan perintah “Samakan”. dan beri reinforcer (hadiah/pujian). b. Materi yang diajarkan adalah mengidentifikasi gambar-gambar dan melabel (menyebutkan nama) benda-benda dan gambar-gambar. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi warna: Letakkan bahan-bahan berwarna di meja di hadapan anak. benda berwarna. kartu angka.

Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama bentuk)”. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah bentuk. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi bentuk: letakkan sebuah bentuk (berbagai bentuk) pada meja dihadapan anak. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah benda berwarna. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel warna yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya.241 demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar c. Materi yang diajarkan adalah identifikasi bentuk dan melabel bentuk b. Katakan “Warna apa (ini)?”. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel bentuk yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk bentuk yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Melabel bentuk: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. 4) Identifikasi Bentuk a. Melabel warna: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Kurangi sedikit demi . Katakan “Bentuk apa (ini)?”.

Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah bentuk. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel bentuk yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi huruf: Letakkan huruf (-huruf) pada meja dihadapan anak. 5) Identifikasi huruf a. Materi yang diajarkan adalah identifikasi angka dan melabel angka b. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk bentuk yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Media yang akan digunakan adalah kartu-kartu angka c. Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf c. Materi yang diajarkan adalah identifikasi huruf dan melabel huruf b. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. 6) Identifikasi angka a. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama huruf)”.242 sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Melabel bentuk: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Proses/Prosedur pembelajaran: . Katakan “Huruf apa (ini)?”.

Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah angka. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk angka yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama angka)”. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi kata kerja: Letakkan gambar aktivitas orang pada meja dihadapan anak. Materi yang diajarkan adalah identifikasi kata kerja. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (gambar aktivitas orang)”. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya . Katakan “Angka (ber) apa (ini)?”. Media yang digunakan adalah foto/Gambar aktivitas orang c. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Melabel angka: Duduk dikursi berhadapan dengan anak.243 Identifikasi angka: Letakkan angka (-angka) pada meja dihadapan anak. melabel kata kerja dan menirukan gambar b. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk gambar yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. 7) Identifikasi kata kerja a. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel angka yang dimaksud dan reinforce responsnya.

244 tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Melabel kata kerja: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Hal ini dilakukan pembimbing dengan cara memberi reward atau demonstrasi secara verbal dan . Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah gambar. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel gambar yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Persiapkan perhatian anak dan beri perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar). 3. Katakan “Gambar apa (ini)?”. Evaluasi Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif meliputi: a) Evaluasi proses Evaluasi proses ini dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang atau pembelajaran yang sedang berlangsung seketika itu juga. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menirukan aktivitas seperti dalam gambar. reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja.

Hal ini dapat dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi bersama atau case conference. c) Evaluasi Catur Wulan Evaluasi ini disebut juga dengan evaluasi program yang dimaksud sebagai tolak ukur keberhasilan program secara menyeluruh. sebaliknya apabila program belum dapat terkuasai oleh anak maka diadakan pengulangan program (remedial) atau meninjau ulang apa yang menyebabkan ketidak berhasilan pencapaian program. b) Evaluasi Bulanan Evaluasi ini bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah. . maka kelanjutan program dan kesinambungan program ditingkatkan dengan bertolak dari kemampuan akhir yang dikuasai anak. Apabila tujuan program pendidikan dan pengajaran telah tercapai dan dapat dikuasai anak. Di samping itu untuk mengetahui sejauh mana program yang dicapai anak dapat diketahui dengan cara adanya catatan khusus/buku penghubung. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif yang menjadi contoh kasus.245 konkrit.

2000:5). Alasan digunakan pendekatan kualitatif karena lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan yang tidak terkonsep sebelumnya tentang keadaan di lapangan yang sebenarnya. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong. penyusunan data dan analisis data yang diperoleh. tingkah laku dan tindakan para pelaku dalam peristiwa belajar dan mengajar di tempat Terapi Anak. Landasan ini digunakan untuk menjaring data informan. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran pada anak hiperaktif yang dikhususkan pada penggunaan media visual (gambar) saja. karena data-data yang terkumpul berupa uraian kata-kata dan gambar (Moleong. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam penelitian deskriptif ini: pengumpulan data. kreativitas. 2001:2) dalam penelitian kualitatif dapat dikemukakan definisi mengenai metodelogi kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Untuk mengkaji masalah tersebut dipilih pendekatan kualitatif. Pendekatan dan Prosedur Penelitian Fokus penelitian ini adalah perencanaan. Fokus ini mengarahkan perhatian kepada aktivitas. pendekatan kualitatif dapat menghasilkan data .246 BAB III METODE PENELITIAN A. yaitu para guru dan peneliti dianggap mengetahui tentang pembelajaran pada anak hiperaktif khususnya dalam penggunaan media visual (gambar).

Sebagai langkah pertama yang dilaksanakan peneliti adalah mengadakan studi pendahuluan di lokasi penelitian. diperoleh dari (1) Kepala Terapi Anak. Langkah kedua adalah pengurusan izin penelitian pada pihak-pihak terkait. Untuk memperoleh data perencanaan. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya terhadap pihak yang memerlukan data meliputi para guru Terapi Anak Al Tisma Kudus. observasi partisipan dan pengumpulan dokumen. dan pendekatan kualitatif lebih peka dan dapat menyesuaikan dengan berbagai penajaman pengaruh bersama maupun terhadap pola-pola nilai yang dihadapi selama penelitian berlangsung. Langkah ketiga adalah pelaksanaan penelitian untuk mengambil data yang diperlukan dalam penelitian dengan menggunakan teknik: wawancara. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). Dari hasil studi pendahuluan dilakukan identifikasi mengenai pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di lokasi penelitian. yaitu di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. untuk menyaring data tentang perencanaan. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif khususnya dengan menggunakan media visual (gambar) digunakan dua sumber yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. sebagai landasan struktural formal untuk dilaksanakannya penelitian.247 secara utuh dari informan dan perilaku yang dapat diamati sebagian dari suatu keutuhan. Sedangkan data sekunder yaitu data yang cara mendapatkannya tidak secara langsung melalui sumbernya. berkenaan dengan informasi .

terutama dengan melihat dari segi kualitas tempat terapi dan aksesibilitas. Termasuk kategori hiperaktif disini adalah Speech Delayed dan Hiperaktif (SD & H). serta sejarah berdirinya LembagaTerapi Anak Al Tisma Kudus. B. Dengan mempertimbangkan hal ini. Autis dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi. Autis dan Hiperaktif (A & H) dan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi (NH & KK). interaksi sosial dan aktivitas imajinasi (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan kelainan perilaku. yakni dengan memilih sebuah kasus pembelajaran anak hiperaktif di Kota Kudus. sedangkan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi yaitu anak yang mengalami gangguan perilaku tetapi ringan (hiperaktif ringan) dan kurang kokonsentrasi.248 tentang berbagai kegiatan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar dan (2) dokumentasi tentang statistik jumlah siswa. Sasaran kajian dalam penelitian ini adalah perencanaan. telah dapat dipilih sebuah kasus di tempat terapi sebagai latar penelitian ini yaitu Terapi Anak Al Tisma Kudus. latar penelitian ditentukan secara purposif. Pemilihan latar penelitian ini ditentukan dengan mendasarkan pada kelayakan informasi-informasi yang diperoleh dalam proses penelitian di lapangan. Latar dan Sasaran Penelitian Sesuai dengan pendekatan metodelogis yang digunakan. Speech Delayed dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan terlambat bicara dan kelainan perilaku. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual .

yang meliputi bangunan fisik sekolah. aktivitas belajar pada siswa dan penggunaan media visual (gambar). alat-alat pembelajaran yakni media visual (gambar) dan proses belajar mengajar. observasi partisipan dan dokumentasi. karakteristik guru dan siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). pola komunikasi siswa. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. 2. Teknik Wawancara Mendalam Wawancara merupakan memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dan responden dengan menggunakan panduan wawancara (Dian. 1996:66).249 (gambar). Ketiga. maka teknik yang dipilih untuk mengumpulkan data di lapangan adalah teknik : pengamatan fisik terfokus. kajian diarahkan pada faktor pendorong dan penghambat yang muncul dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). . wawancara mendalam. Teknik Pengumpulan Data Sesuai dengan permasalahan dan pendekatan penelitian. pertama sasaran kajian diarahkan pada kondisi lingkungan fisik. Pengamatan Fisik Terfokus Pengamatan fisik terfokus adalah dengan bantuan alat kamera foto digunakan sebagai teknik untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan halhal fisik yang sesuai dengan masalah penelitian. C. materi pendidikan. 1. sasaran kajian diarahkan pada perencanaan. Kedua. Secara khusus.

perencanaan. Agar dalam pelaksanaan wawancara berjalan dengan lancar dan sistematis. faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). maka dibuat suatu pedoman wawancara. 2001:135). pengetahuan tentang proses belajar mengajar. Wawancara yang dilakukan peneliti adalah wawancara mendalam. Dalam pelaksanaan wawancara dilakukan dengan cara terpimpin yaitu pewawancara membuat kerangka dan garis besar mengenai pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara antara lain: identitas informan (baik informan kunci atau informan pelengkap). yaitu wawancara dengan menggunakan bahasa campuran (bahasa daerah dan bahasa Indonesia) dan melibatkan emosi pada kebebasan dalam sifat kekeluargaan.250 Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan (Moleong. Hal ini dilakukan untuk menjaring data-data secara lebih jelas dan mendalam untuk kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai laporan hasil penelitian. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). Di dalam pelaksanaan wawancara dilakukan lebih dari satu kali dengan mewawancarai informan kunci kemudian ke informan pelengkap secara berurutan sesuai dengan keadaan informan dalam konteks wawancara yang sebenarnya. upaya pemecahan masalah dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). Dengan demikian proses wawancara akan terarah dan tidak akan menyimpang jauh dari sasaran maupun tujuan yang telah direncanakan. .

3. selama berlangsungnya wawancara dilakukan pencatatan dengan mempergunakan buku catatan di lapangan dan mempergunakan alat perekam (tape recorder) merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. sehingga mempunyai dua peranan yaitu sebagai pengamatan dan menjadi anggota kelompok yang diamati (Moleong. khususnya Kepala Terapi Anak yang memiliki pengetahuan.251 sehingga informan yang diperlukan terjaring semua. Teknik wawancara mendalam ini dilakukan dengan para informan kunci. Hasil catatan dan rekaman dari wawancara tersebut nantinya akan menjadi data yang diperlukan dalam penelitian yang berguna untuk pengecekan verifikasi data yang diperoleh dari sumber data yang lain. Karena tujuan wawancara adalah untuk memperoleh data yang sangat dibutuhkan dalam proses penelitian. Teknik Observasi Partisipan Observasi dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala atau fenomena yang diselidiki dengan menggunakan mata sebagai alat tanpa ada pertolongan alat standar lain (Dian. terutama pada saat proses pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) dengan tujuan untuk mengetahui ciri mengenai kondisi dan informasi yang diperlukan. Teknik observasi partisipan dilakukan peneliti dengan melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran. Observasi partisipan yaitu pengamatan menjadi anggota penuh dari kelompok yang diamati. 2001:126). 1996:60). . pengalaman dan wawasan yang cukup luas.

maka ada beberapa aspek yang akan diamati meliputi tiga hal. Latar yang diamati meliputi situasi umum fisik yang relevan.252 Dalam mengumpulkan informasi. berkaitan dengan aspek fisik dan dokumen administrasi. Pelaku yang dimaksud disini adalah guru dan murid. dengan menelusuri data arsip atau dokumen yang berada di kantor Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus (Moleong. Teknik dokumentasi digunakan untuk menjaring data aspek kesejarahan. Di samping menggunakan alat tulis dalam pelaksanaan metode observasi ini dibantu dengan kamera foto untuk memperkuat argumentasi dengan gambar visual hasil rekaman kamera foto tersebut. sehingga peneliti relatif lebih bebas dalam membuat catatan yang diperlukan berdasarkan pedoman observasi yang telah direncanakan. 2001:161). 4. . pelaku dan aktivitas dalam situasi pembelajaran. Berkaitan dengan penelitian ini. Sedangkan aktivitas yang dimaksud adalah perilaku guru dan murid dalam situasi pembelajaran. berkaitan dengan berdirinya. peneliti menggunakan proses pengamatan peran serta atau partisipasi. yaitu setting latar. Studi dokumentasi dilakukan dengan menelusuri catatan yang ada di daerah penelitian baik yang dimiliki sekolah maupun pihak-pihak yang berkenaan dengan sekolah tersebut. Teknik Studi Dokumentasi Teknik studi dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan data-data sekunder dari dokumen-dokumen yang mungkin ada dapat mendukung perolehan data dalam penelitian ini.

. Berikut ini tahapan analisis data yaitu sebagai berikut: a Pengumpulan data Peneliti mencatat semua data secara obyektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan. oleh sebab itu laporan tersebut perlu direduksi. Analisis data dilakukan secara induktif. dipilih hal-hal yang pokok. b Reduksi data Yaitu memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan focus penelitian. Analisis data di dalam penelitian kualitatif dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. difokuskan pada hal yang penting. Teknik Analisis Data Analisis data menurut Payton dalam Moleong (1991:103) adalah proses mengatur urutan data. Menurut Miles dan Hoberman dalam Rachman (1999:120) peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil wawancara di lapangan.253 D. mengorganisasikannya kedalam suatu pola. mempelajari. Disamping itu laporan sebagai bahan mentah juga perlu disingkatkan direduksi. menganalisis. dan dicari tema atau polanya. dan disusun lebih sistematis sehingga lebih mudah dikendalikan. Data yang diperoleh dalam lapangan ditulis dalam bentuk uraian terinci yang akan terus bertambah sejalan bertambahnya waktu penelitian. dirangkum. yaitu dimulai dari lapangan atau fakta empiris dengan terjun kelapanagan. kategori dan satu uraian dasar. menafsir dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan.

2000:19). Untuk menampilkan data-data tersebut agar lebih menarik maka diperlukan penyajian yang menarik pula. grafik. chart network. . yaitu yang merupakan validitasnya (Milles dan Hoberman. Hasil dari data-data yang telah didapatkan dari laporan penelitian selanjutnya digabungkan dan disimpulkan serta diuji kebenarannya. matrik. kekokohannya dan kecocokannya.254 c Penyajian data (display data) Yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. hubungan. hipotesis dan sebagainya. Dalam pelaksanaan penelitian penyajian-penyajian data yang lebih baik merupakan suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid. misalnya gambar. 2000:17) d Pengambilan keputusan atau verifikasi Yaitu data-data dari hasil penelitian setelah direduksi. Penarikan kesimpulan merupakan bagian dari satu kegiatan konvigurasi yang utuh. Kesimpulan adalah tinjauan ulang pada catatan di lapangan atau kesimpulan dapat ditinjau sebagai makna-makna yang muncul dari data yang harus diuji kebenarannya. Untuk itu peneliti berusaha mencari pola. diagram. Dalam penyajian ini dapat dilakukan melalui berbagai macam visual. Sejak semula peneliti berusaha mencari makna dari data yang diperoleh. disajikan langkah terakhir adalah kesimpulan-kesimpulan. Verifikasi data yaitu pemeriksaan tentang besar dan tidaknya hasil laporan penelitian. persamaan. dan sebagainya (Milles dan Hoberman. tema. sehingga kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. halhal yang sering muncul. model.

. Karena data yang dikumpulkan banyak maka diadakan reduksi data. Apabila ketiga tahapan tersebut selesai dilakukan diambil suatu keputusan atau verifikasi. PENGUMPULAN DATA REDUKSI DATA SAJIAN DATA PENGAMBILAN KEPUTUSAN ATAU VERIFIKASI Bagan 3. selain itu pengumpulan data juga digunakan untuk penyajian data.255 Tahapan analisis data kualitatif tersebut dapat dilihat dalam bagan di bawah ini. Analisis Data Kualitatif.1. Sumber: Milles dan Hoberman dalam Rahman (1999:20) Keempat komponen tersebut saling mempengaruhi dan terkait. Setelah direduksi kemudian diadakan sajian data. Pertamatama peneliti di lapangan dengan mengadakan wawancara atau observasi yang disebut di tahap pengumpulan data.

Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Setelah tahapan analisis data dilakukan. kegiatan ketika proses belajar berlangsung. 2) triangulasi (triangulation) dan 3) pengecekan anggota (member checking). Dalam hal ini digunakan teknik 1) keikutsertaan di lapangan dalam rentang waktu yang panjang (prolonged engagement). Sebagai langkah untuk mendukung kebenaran data secara akurat maka peneliti juga mengadakan pemotretan terhadap tempat terapi. perlu diperhatikan juga keabsahan data yang terkumpul. Foto-foto terhadap objek pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media visual (gambar) dan observasi terhadap data-data ini dimaksudkan untuk mendukung kebenarannya antara hasil wawancara dengan kenyataan yang sebenarnya yang ada pada lapangan. Menurut Moleong (2001:173) untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan. Selain itu peneliti juga mengadakan pengamatan terhadap data-data mengenai sarana prasarana dan proses belajar mengajar. . maka perlu mengadakan keikutsertaan dalam rentang waktu yang panjang. 1) Keikutsertaan di Lapangan dalam Rentang Waktu yang Panjang Dalam penelitian ini untuk menguji kepercayaan terhadap data yang telah dikumpulkan dari informan utama yaitu Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus.256 E. bahan belajar. Adapun maksud utama adanya perpanjangan di lapangan ini untuk mengecek kebenaran data yang diberikan baik dari informan utama maupun informan penunjang.

sebagai latar dalam penelitian ini.257 2) Triangulasi Untuk pemeriksaan keabsahan data yang telah dikumpulkan agar memperoleh kepercayaan dan kepastian data. karena anggota yang dimaksudkan adalah guru-guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Menurut Patton dalam Moleong (2001:178) triangulasi dengan sumber lain berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. peneliti telah memperoleh kelengkapan data dan akurasi data tentang pelaksanaan kegiatan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. maka peneliti melaksanakan pemeriksaan dengan teknik mencari informasi dari sumber lain. Pelaksanaan pengecekan anggota ini lebih banyak dilaksanakan peneliti secara informan. 3) Pengecekan Anggota Peneliti mengadakan pengecekan anggota dengan tujuan untuk menguji terhadap derajat kepercaan tentang data-data yang diberikan oleh informan utama. sehingga informasi yang diberikan oleh informan utama pada penelitian dapat mewakili validitas dan mendapatkan derajat kepercayaan yang tinggi. (2) membandingkan data hasil dari informan utama (primer) dengan informasi yang diperoleh dari informan lainnya (sekunder). Hal ini dapat dicapai dengan jalan: (1) membandingkan data informasi hasil observasi dengan informasi dari hasil wawancara kemudian menyimpulkan hasilnya. (3) membandingkan hasil wawancara dari informan dengan didukung dokumentasi sewaktu penelitian berlangsung. Dari kegiatan ini. ..

258 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. dibantu oleh beberapa guru pembimbing/terapis. retardasi mental (idiot). 06 / RW. down sindrome. b. microcepalus (anak yang lahir dengan ukuran lingkar kepala kurang dari standart kelahiran). Letak Geografis Terapi Anak Al Tisma Kudus Secara geografis Terapi Anak Al Tisma Kudus terletak disudut kota di Jalan Besito Gang II RT. c. disphasia (anak yang mengalami gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam). speech delayed (terlambat bicara). Bagan Organisasi Terapi Anak Al Tisma Kudus dipimpin oleh Kepala Terapi. Tinjauan Historis Terapi Anak Al Tisma Kudus Terapi Anak Al Tisma Kudus didirikan sejak Maret tahun 2001. 259 Gebog Kudus. Bagan Organisasi Terapi Anak Al Tisma Kudus. Walaupun lokasi terapi ini terletak disudut kota dan ditengah-tengah perkampungan akan tetapi sangat mudah apabila ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum. Deskripsi Setting Penelitian a. hiperaktif. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN 1. gangguan konsentrasi. 07 No. seperti autisme. dan kurang stimulasi. . merupakan salah satu tempat terapi untuk anak berkebutuhan khusus. IQ rendah.

1) Keadaan Guru Terapi Anak Al Tisma Kudus dipimpin oleh 1 Kepala Terapi yang juga merangkap sebagai terapis dengan dibantu 6 guru pembimbing/terapis yang berjenis kelamin perempuan semua. dlsb. (Sumber: Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus. Siswa.259 Adapun personal dari Terapi Anak Al Tisma Kudus. terutama dalam memberikan solusi untuk menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus. 2004). Keadaan Guru. Sarana dan Prasarana Terapi Anak Al Tisma Kudus. yaitu terdiri dari 7 terapis termasuk didalamnya Kepala Terapi yang juga merangkap sebagai terapis. Adapun pihak-pihak terkait yang diajak kerjasama dalam Terapi Anak Al Tisma Kudus ini. 2004) Mekanisme kerja yang dilakukan adalah semua terapis melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing. Guru pembimbing/terapis di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus yang bergelar ahli madya hanya 1 orang dan lainnya adalah tamatan SMA. termasuk hiperaktif yaitu: Psikolog anak Psikiater anak Dokter. d. dokter spesialis metabolitas Departemen Pendidikan Nasional Dan tenaga ahli yang lain seperti: ahli gizi. dimana setiap terapis memegang satu-dua anak dengan sistem pembelajaran individual (lovaas one on one – satu guru satu murid) di bawah kendali dan supervisi Kepala Terapi. (Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus. . dokter spesialis syaraf. meliputi dokter spesialis yang menangani gangguan perkembangan anak.

00 – 17. Sumarni Yuliana Wijayanti Ida Lestariningrum Sahrul dan Hilmi Anis dan Martika Agusta Fahmi dan Bagas Terapis Terapis Terapis (Profil Pendidikan Terapi Anak Al Tisma Kudus.00 WIB Session IV dilaksanakan pada pukul 15.00 – 10. 2. dan Fahmi Qoulani Terapis 5.00 – 15. 7. Alvin dan Galih Terapis 4. Nur Halimah Endang Sulastri Troy Khusnul Ma’ali. Purwati Dimas.00 WIB Session II dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB Session III dilaksanakan pada pukul 13. Andi Kumala.260 Tabel 4.1. Terapi dilaksanakan setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat dan dalam satu hari dibagi dalam 4 session yaitu: Session I dilaksanakan pada pukul 08. 6. Adinda Ayuditya dan Fakhari Husaini Kepala Terapis Terapis 3.2004) 2) Keadaan Siswa Pada tahun 2001– 2004 jumlah siswa secara keseluruhan yang diterapi di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus berjumlah 24 siswa. dan siswa lainnya yang dirasa sudah sembuh cukup diterapi di rumah dengan masih tetap berkonsultasi dengan pihak terapi. sedangkan yang masih diterapi sampai saat ini kurang lebih ada 15 siswa. Sari Naja. Data Terapis Tahun 2004/2005 NO NAMA TERAPIS ANAK KETERANGAN 1.00 WIB .00 – 12. Mikail Hima.

Kds Bae. 4. 8. Jpr Kudus Kota Pati Loram. terbukti dengan banyaknya siswa dengan berbagai jenis berkebutuhan khusus yang disembuhkan melalui terapi ini dan semakin banyaknya orang tua yang ingin anaknya diterapi disini. Kds Mejobo. Kds Lk Lk Lk Lk Lk Lk Lk Lk 8 th 10 th 5 th 9 th 9 th 7 th 8 th 6 th IQ rendah & Autis Autis & Hiperaktif ADD Autis Microcepalus IQ rendah Autis & Hiperaktif Speech Delayed dan Hiperaktif 14. Kds Bae. Data Siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus Tahun 2001-2004 NO 1. akan tetapi dengan terbatasnya guru/terapis mengakibatkan banyak anak yang ditolak. Mejobo. 7. 5. Andy Kumala Ferdinan Troy M. Kds Pr 5 th Down Sindrome . 10. UMUR 7 th 6 th 7 th 7 th 8 th JENIS KELAINAN Dimas Adi Nugraha Naja Khusnul Ma’ali Mikail Hima Galih Ds. 3. Kds Langgar Dalam. Haidar Hilmi Agusta Fahmi Fahmi Qoulani Bagas Alvin Anis Mayong. 9. 12. Adinda Ayu Ditya Gebog. 13. Kds Mejobo. 2.261 Sejak berdiri hingga saat sekarang ini.2. Kds Gebog. Kds Besito. yang selalu berupaya keras dalam penyembuhan mereka. 11. Hal ini tentu tidak terlepas dari pembinaan yang diberikan baik oleh kepala terapi maupun para guru pembimbing/terapis di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. NAMA ALAMAT KEL. Tabel 4. Kds Lk Lk Lk Lk Lk Autis Speech Delayed Hiperaktif Disphasia Speech Delayed & Hiperaktif 6. Terapi Anak Al Tisma Kudus sudah bisa terbilang sukses. Kds Gebog.

18. Kds Besito. 24. 6. yakni sebagai berikut: Tabel 4. 2. Kds Gebog. UMUR 7 th 8 th 10 th 8 th 6 th 10 th JENIS KELAINAN Khusnul Ma’ali Galih Ferdinan Troy Alvin Anis Martika Lk Lk Lk Lk Lk Pr Hiperaktif Speech Delayed & Hiperaktif Autis & Hiperaktif Autis & Hiperaktif Speech Delayed dan Hiperaktif Normal Hiperaktif & Kurang Konsentrasi 3) Keadaan Sarana dan Prasarana Terapi Anak Al Tisma Kudus Terapi Anak Al Tisma Kudus dilaksanakan di rumah pribadi Kepala Terapi dengan 5 ruang kelas. 2001-2004) Dari data tersebut yang termasuk dalam kategori hiperaktif dan sebagai sasaran penelitian ada 6 siswa. Kds Langgar dalam. Kds Jepara Langgar dalam. Kds Bae. 17.3. 4. 20. 19. 23. Data Siswa Hiperaktif NO 1. 3. 22. Fachrul Meka Firanita Martika Besito. NAMA KEL. . 5. Kds Gebog. Kds Gebog. Hanif Al Falih Sadath Haidar Ahmad Fatih Nia Famison (Icon) Tito Angguraji Rizal A. 16. Kds Prambatan. 21.262 15. Kds Lk Lk Lk Pr Lk Lk Lk Lk Pr Pr 9 th 5 th 6 th 7 th 6 th 7 th 7 th 7 th 9 th 10 th Gejala Autis Gejala Autis ADD IQ rendah Gangguan Konsentrasi Gangguan Konsentrasi Retardasi Mental Kurang Stimulasi Retardasi Mental Normal Hiperaktif & Kurang Konsentrasi (Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus.

buku-buku pelajaran. speech delayed. baik itu alat-alat permainan seperti puzzle. disamping itu juga untuk membantu kita dalam berkomunikasi dengan siswa. Karena dilembaga terapi ini khusus menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti autisme. . Disamping itu meja yang digunakan untuk belajar dirancang khusus agar siswa tidak leluasa bergerak dan tetap konsentrasi pada pelajaran. gambar alat transpotasi. model/benda-benda tiruan dan berbagai media visual (gambar). down sindrome dan gangguan lainnya. foto/gambar aktivitas orang dlsb yang kebanyakan media itu dibuat sendiri dengan sangat sederhana. gambar buah-buahan. Begitu juga dengan kursi guru dibuat sejajar dengan siswa dengan tujuan agar perhatian siswa tidak mudah teralihkan saat belajar. maupun media pembelajaran seperti papan tulis. Akan tetapi karena terbatasnya tempat menjadikan tempat terapi ini tidak mempunyai sarana bermain diluar. maka dengan sistem pembelajaran yang digunakan yaitu lovaas one on one (satu guru satu murid) mengharuskan setiap siswa belajar di ruangan tersendiri dimana ruangan tersebut tidak diperbolehkan adanya gambargambar/benda yang dipajang yang bisa menarik perhatian siswa. balok kayu dlsb. dimana media ini sangat berguna sekali untuk menarik perhatian siswa dalam belajar dan membantu siswa memahami materi pelajaran. hiperaktif. gambar warna. gambar huruf. gambar binatang.263 Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus mempunyai perlengkapan pembelajaran seperti di Taman Kanak-kanak (TK). gambar benda-benda disekitar kita. gambar sayur-sayuran. buku-buku cerita. papan planel. seperti gambar angka.

Sesuai dengan rancangan awal yang menyebutkan bahwa metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi. Alat ini terdiri dari dua matras dimana penggunaanya anak di jepit antara dua matras tersebut dan ditindih oleh seorang guru. 2. Memang kelihatan kejam tapi itulah salah satu cara yang efektif untuk menenangkan mereka dan mengenalkan pada mereka bahwa alat ini tidak menakutkan dan membahayakan bagi dirinya. data dari hasil observasi.264 Ada satu alat yang sangat penting untuk menenangkan anak yang hiperaktifnya tergolong berat yang bernama Bean Back. maupun catatan lapangan lebih lanjut dapat dipahami. wawancara dan dokumentasi. Deskripsi Informasi Pelaksanaan Proses Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Langkah ini dilakukan supaya data mentah yang pengambilannya memanfaatkan tape recorder. 3 guru pembimbing/terapis dan 2 orang tua siswa. wawancara dan dokumentasi. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Penyajian data dilakukan secara berurutan dari hasil observasi. yaitu kepala terapi. kamera. wawancara dan dokumentasi. . berikut ini disajikan deskripsi penemuan data mengenai tahap perencanaan. Adapun informan yang dimintai keterangan sebanyak enam orang yang terdiri dari berbagai unsur yang terkait dalam pelaksanaan pembelajaran di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. maka dalam sub bagian ini akan disajikan informasi.

manajemen keuangan.265 Demi menjaga kenyamanan informan paska memberi informasi. Yl. Sedangkan metode yang digunakan dalam pengajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Informan Penelitian I Nama : Ibu Nh sebagai Kepala Terapi dan merangkap sebagai guru pembimbig/terapis anak yang bernama Ferdinan Troy. Ed. sehingga anak dapat menangkap pesan. (Ibu Nh. penataan segala administrasi hingga peningkatan sumber daya manusia bagi guru/terapis di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. sesuai dengan etika penelitian menyebutkan nama hanya dengan menyebutkan inisial saja yaitu Nh. (Ibu Nh. 12) Pendekatan yang digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus yaitu dengan menggunakan pendekatan individual (lovaas one on one . Ut. Nr. akan tetapi pendekatan dan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif sama dengan pendekatan dan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus lainnya. Pr. 6) Walaupun dalam menangani anak hiperaktif tidak jauh berbeda dengan menangani anak berkebutuhan khusus lainnya.pembelajaran satu guru satu murid). Secara umum Kepala Terapi mempunyai tugas mengkoordinator dan bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan terapi mulai dari pengelolaan terapi. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan .

karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. ventilasi dan penerangan yang cukup). Maka guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak hiperaktif. Kemampuan untuk meningkatkan ketahanan konsentrasi anak. Hal yang terpenting sebelum guru melaksanakan kegiatan pembelajaran adalah mengkondisikan anak dalam keadaan kestabilan emosi.266 menggunakan media visual (gambar-gambar). Guru pembimbing sebagai model untuk anak hiperaktif harus memiliki kepekaan. 2. 13) Menurut Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus dalam upaya membelajarkan anak hiperaktif tidak mudah. ketelatenan. penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang. 4. (Ibu Nh. Mengupayakan adanya kontak mata yang sejajar antara guru-siswa 3. Beberapa pra syarat yang harus dilakukan dan dipersiapkan oleh seorang guru pembimbing anak hiperaktif sebelum mengerjakan/melaksanakan kegiatan belajar mengajar yakni: 1. Oleh karena anak hiperaktif pada umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain. Menciptakan situasi yang kondusif untuk pembelajaran meliputi: a) Emosi yang stabil dari anak hiperaktif. b) Ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster. alat-alat belajar. . kreatif dan konsisten di dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Mengupayakan kepatuhan dari anak hiperaktif dan pemahaman bahasa reseptif.

harus tegas dan sabar dalam menghadapi siswa. Pembimbing harus menyadari dan memahami tujuan apa yang akan dicapai dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. (Ibu Nh. Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran untuk anak hiperaktif. Seorang guru pembimbing anak hiperaktif harus memiliki dedikasi. tidak menggunakan aksesoris yang berlebihan. ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya. dapat menarik perhatian siswa. 16) Pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: a) Terstruktur Artinya dalam pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Maka materi pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata “ambil”. ketelatenan. Berbicara dengan singkat dan artikulasi yang jelas. Setelah kemampuan tersebut dikuasai. Sebagai contoh untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna dari instruksi “Ambil bola merah”. Setelah . “bola” dan “merah”.267 5. keuletan. 14) Kurikulum pembelajaran anak hiperaktif yang digunakan di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus sama dengan kurikulum yang digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu Kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. dan kreativitas di dalam membelajarkan anak didiknya. (lamp) (Ibu Nh.

baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya). demikian pula apabila anak berperilaku negatif (reinforcement). Sedangkan arti konsisten bagi anak adalah tetap dalam mempertahankan dan menguasai kemampuan sesuai dengan stimulan yang muncul dalam ruang dan waktu yang berbeda. bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang. b) Terpola Terpola disini maksudnya dalam kegiatan anak hiperaktif harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur. Apabila anak berperilaku positif/memberi respon positif terhadap sesuatu stimulan (rangsangan). bila diartikan secara bebas konsisten mencakup tetap dalam berbagai hal. c) Terprogram Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evalusi. dapat dilatih dengan kondisi dilingkungannya. supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). dan waktu.268 anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi “Ambil bola merah” kedalam perbuatan kongkrit. d) Konsisten Konsisten memiliki arti “Tetap”. mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Orang tua pun dituntut konsisten . Namun. merespon dan memperlakukan anak sesuai dengan karakter dan kemampuan yang dimiliki masing-masing anak hiperaktif. tetap dalam bersikap. Konsisten bagi guru pembimbing berarti. maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan). ruang.

binatang. terapi perilaku dan pendidikan bagi anak hiperaktif harus dilaksanakan secara berkesinambungan.269 dalam pendidikan bagi anaknya. 17) Sarana belajar sangat diperlukan. Karena pola pikir anak hiperaktif pada umumnya adalah pola pikir konkrit. Dan kebetulan anak yang diterapi di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah kebanyakan anak usia prasekolah maka sarana belajarnyapun dsesuaikan dengan usia pendidikan anak yaitu berupa: Alat peraga: pengenalan warna. (Ibu Nh. tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan di rumah dan lingkungan sekitar anak. buah. bentuk. karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. Alat bantu komunikasi: berupa gambar-gambar yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak . program pendidikan dan pelaksanaannya. e) Kontinyu Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran. yakni dengan bersikap dan memberikan perlakuan terhadap anak sesuai dengan program pendidikan yang telah disusun bersama antara pembimbing dan orang tua sebagai wujud dari generalisasi pembelajaran di sekolah dan di rumah. Kesimpulannya. benda-benda sekitar. huruf dan angka. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah. sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus konkrit. simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu). kendaraan.

Dimana evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian yang setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. menggunting. dlsb Mainan edukatif (Ibu Nh. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. tali. mewarna. dengan alat visual/gambar/kartu. padat dan konsisten.270 Alat bantu pengembangan motorik halus: cara memegang pensil. Disamping itu juga mengadakan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. dan memperlihatkan hasil yang menggembirakan (berperilaku seperti anak normal) kemudian anak dipersiapkan dan diperkenalkan pada pengajaran dengan kurikulum sekolah biasa. tetapi melalui tata cara pengajaran untuk anak bermasalah (kelas kecil dengan jumlah guru besar atau satu guru satu murid. 15) Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah: evaluasi proses yang dilakukan dengan cara seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga. dsb Alat bantu pengembangan motorik kasar: bola. 19) Setelah anak diterapi secara terpadu dan terstruktur. dsb) dengan tujuan untuk membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler dan belajar secara intensif . instruksi yang jelas. dengan memberi reward (hadiah/pujian)untuk respons yang benar. (Ibu Nh.

Anak biasa ditangani dengan guru khusus sendirian. Guru pembimbing khusus adalah seseorang yang dapat membantu guru kelas dalam mendampingi anak yang . berinteraksi/bersosialisasi dengan teman sebayanya dan harus mengerti instruksi guru dengan cepat. sehingga dapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnya. Guru pembimbing/shadow bukanlah asisten anak disekolah yang bertugas membantu anak dalam segala hal. Untuk itu dalam sekolah anak harus didampingi guru pembimbing/terapis sampai ia benar-benar bisa mandiri dan mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. tetapi di sekolah umum anak masih memerlukan waktu penyesuaian untuk dapat mengikuti tatacara pengajaran yang berbeda dengan pada saat terapi. 20) Tugas seorang shadow/guru pembimbing khusus (GPK) adalah: 1. Menjembatani instruksi guru dan anak 2. Ia perlu belajar mengenal dan mengikuti peraturan disekolahnya. Membantu anak untuk tetap berkonsentrasi 4. Mengendalikan perilaku anak dikelas 3.271 pelajaran yang tertinggal di kelas reguler. Akan tetapi banyak persepsi yang salah mengenai guru pembimbing khusus ini. dan dikelas anak harus berbagi dengan teman-temannya dengan bahasa guru yang berbeda dengan terapisnya dan bersifat klasikal. (Ibu Nh. Membantu anak belajar bermain/berinteraksi dengan teman-temannya 5. Walaupun anak sudah patuh dan dapat berkonsentrasi pada saat terapi. Menjadi media informasi antara guru dan orang tua dalam membantu anak mengejar ketinggalan dari pelajaran dikelasnya.

22) Sebagai contoh dalam penanganan anak hiperaktif dan pembelajarannya dengan menggunakan media visual (gambar) dapat dilihat pada Ibu Nh yang juga terjun langsung sebagai terapis/guru pembimbing Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan autis (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan hiperaktif. sarana pendidikan. Usia pada saat diagnosis 3. Kesehatan dan kestabilan emosi anak 7. yaitu: 1. Tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa 4. kurikulum. Berat-ringannya kelainan/gejala 2. Tingkat kelebihan (streng) dan kekurangan (weakness) yang dimiliki anak 5. dalam penanganannya Ibu Nh menempatkan anak ini diruangan khusus (ruangan kosong) dan didudukkan di meja kursi khusus tujuannya agar anak ini agar tidak terlalu banyak gerak (hiperaktif) dan tetap kontak mata dengan terapis. Guru kelas tetap mempunyai wewenang penuh akan kelasnya serta bertanggung jawab atas terlaksananya peraturan yang berlaku. sekolah dan masyarakat). metode. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif. disamping itu agar anak tidak terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan agar dia tahu bahwa dihadapannya itu ada orang yang sedang memperhatikannya. Terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru. sehingga proses pengajaran dapat berjalan lancar tanpa gangguan. lingkungan (keluarga. (Ibu Nh.272 bermasalah pada saat diperlukan. Kecerdasan/IQ 6. Setelah anak bisa diam agak lama baru Ibu Nh mulai pelajaran dengan menunjukkan gambar satu .

Untuk itulah Ibu Nh selalu mempersiapkan media visual (gambar) dan mainan edukatif di samping sebelum pelajaran dimulai. tetapi dalam memberikan materi harus cepat dan cekatan karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. Ibu Ed dan Ibu Yl (Guru Pembimbing/Terapis) Ibu Pr sebagai guru pembimbing/terapis Galih dan Alvin Ibu Ed sebagai guru pembimbing/terapis Khusnul Ma’Ali Ibu Yl sebagai guru pembimbing/terapis Anis dan Martika Melihat tingkah laku anak berkebutuhan khusus sekilas kita tidak bisa membedakan tergolong tipe apa yang diderita mereka. sehingga mendapinginya di sekolah (Ibu Nh. 21) Informan Penelitian II Nama : Ibu Pr. Sehingga hasil pembelajarannya cukup memuaskan dan anak ini bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya walaupun tingkat kehiperaktifitasannya sedikit berkurang akan tetapi masih bisa dikendalikan dan seringkali mengucapkan kata-kata yang tidak jelas arah tujuannya.273 persatu dihadapan anak tanpa distraksi/gambar lain dimulai dari materi yang mudah ke yang sulit (disesuaikan dengan kurikulum) dan disesuaikan dengan kemampuan anak. yang membedakan hanyalah apakah dia itu tergolong hiperaktif ringan atau hiperaktif berat. Walaupun sistem dan metode pembelajaran yang digunakan untuk membelajarkan Ibu Nh . karena kebanyakan tingkah mereka itu sama yaitu tergolong anak yang hiperaktif. karena anak ini cukup cerdas dan cepat tanggap maka semua materi yang diberikan dengan menggunakan media visual (gambar) tidak mengalami kendala/hambatan dalam membelajarkannya.

Sedangkan untuk Galih karena dia mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif Ibu Pr menekankan dalam berkomunikasi. Kalau Anis. Dan Ibu Yl dalam menangani Anis yang mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif dan Martika yang mempunyai gangguan normal hiperaktif (hiperaktif ringan) dan kurang konsentrasi dirasakan tidak jauh berbeda antara keduanya. sehingga anak itu mengerti/maksud dari perintah Ibu Pr. Sedangkan Ibu Ed dalam menangani Khusnul Ma’Ali yang mempunyai gangguan autis dan hiperaktif dengan cara menatap mata si anak dan memegangi kedua tangannya agar tidak bergerak kesana kemari sampai anak itu benar-benar bisa tenang. karena . bagaimana caranya agar anak itu mau berbicara dan mau menirukan apa yang Ibu Pr ucapkan. Karena Alvin mempunyai gangguan autis dan hiperaktif Ibu Pr menekankan agar selalu kontak mata dengan Alvin agar ia tidak mempunyai kesempatan untuk asyik dengan dunianya sendiri (misalnya melamun atau sibuk dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak menganggap ada orang dihadapannya).274 anak berkebutuhan khusus sama tapi dalam penanganan mereka (untuk membuat mereka tenang dan konsentrasi pada pelajaran) berbeda-beda tergantung dari tipe apa yang diderita anak itu (Ibu Pr. tentunya ini harus dengan prompt. Sedangkan Martika lebih mengkonsentrasikan anak itu pada tugas yang diberikan. dalam menyampaikan lebih dipertajam bahasanya agar dia lebih memahami maksud dari ucapan/perintah kita. Ibu Ed dan Ibu Yl) Ibu Pr sebagai pembimbing anak yang tergolong hiperaktif yaitu Alvin dan Galih dirasakan ada perbedaan dalam penanganannya.

alat peraga dan konsep/cara membelajarkan anak hiperaktif (Ibu Pr). Menurut (Ibu Ed dan Ibu Yl) cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas yaitu: Pertama kita berusaha menenangkan mereka. Sebelum mengajarkan anak hiperaktif yang harus dipersiapkan terlebih dahulu adalah program pembelajaran. Disampaikan secara tegas dan lugas (Ibu Pr). harus diulang-ulang. baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. walaupun sebenarnya anak itu . Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar.275 anak itu seringkali mengabaikan tugas yang diberikan dan tidak jarang dalam menyampaikan perintah cukup pintar. Pegang kedua tangannya dengan lembut. Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. kemudian ajaklah untuk duduk diam. Selanjutnya yang paling penting dalam membelajarkan anak hiperaktif adalah mempersiapkan konsentrasi anak (Ibu Ed) dan tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri (Ibu Yl). tetapi tidak semudah itu karena ditengah-tengah pelajaran anak sudah mulai banyak gerak sehingga konsentrasi buyar. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Setelah bisa duduk lebih lama.

balok kayu dlsb dalam membelajarkan anak hiperaktif juga harus menggunakan alat bantu pengajaran terutama media visual (gambar). karena media visual (gambar) ini sangat penting untuk menarik perhatian/minat mereka dalam belajar. tegas. dan bermakna dan apabila ada yang tidak dimengerti oleh anak kita gunakan gambar (visual) yang kita ibaratkan apa yang kita ucapkan untuk membantu kita dalam berkomunikasi (Ibu Pr dan Ibu Ed) Disamping menggunakan mainan edukatif seperti puzzle. buah-buahan. lalu kita tingkatkan tahap demi . mengenal nama-nama benda disekitar kita dan aktifitas orang. (Ibu Pr) Hampir semua mata pelajaran dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu. Cara membelajarkannya dikelas: dengan disampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain. jelas. membaca (mengenal huruf). diluar rumah. (Ibu Yl) Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup berhitung (mengenal angka). binatang. mengenal berbagai gambar yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu gambar sayur-sayuran.276 Agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar maka dalam berkomunikasi dengan anak hiperaktif dapat dilakukan dengan cara: • Menatap mata si anak dengan tanpa bicara berbelit-belit karena itu akan menyulitkan anak untuk memahami perkataan kita (Ibu Yl) • Berbicara harus singkat. alat transportasi dan berbagai hal yang belum mereka ketahui. Gambargambar itu mencakup bidang: gambar-gambar yang ada dilingkungan yaitu didalam rumah.

(Ibu Pr) Menurut (Ibu Pr) kesulitan pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar) adalah apabila dalam penanganannya anak pertama kali. Sedangkan menurut (Ibu Ed) kesulitannya adalah apabila kita memperkenalkan pada gambar yang terlihat asing bagi mereka. apalagi jika gambar-gambar itu berwarna. dengan tingkahnya yang tidak bisa diam dan konsentrasinya yang mudah pudar. sulit memperhatikan. tetapi harus satu terlebih dahulu. kemudian ditambah lagi sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak itu tadi.277 tahap jumlah-jumlah apa yang kita berikan ( dimulai dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit sesuai dengan kurikulum yang ada). kita harus berusaha mengulangi sampai benar-benar anak itu tahu/memahami. untuk itu pada saat akan mengeluarkan gambar tidak diperkenankan mengeluarkan banyak. Dan menurut (Ibu Yl) kesulitannya yaitu pada awal-awalnya anak mulai . Anak selalu dalam kondisi yang tidak tenang. (Ibu Ed) • Dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual itu akan menarik minat mereka dalam belajar. (Ibu Ed) Faktor yang mendukung penggunaan media visual (gambar) dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah • Untuk membimbing anak dalam memahami suatu benda atau hal yang baru (Ibu Yl) • Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa memungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah/membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi. anak akan lebih tertarik untuk melihat dan memperhatikan apa yang kita sampaikan.

(Ibu Ed). (Ibu Yl) . dan dia masih suka mengoceh sendiri yang tidak jelas arah tujuannya. Tidak hanya memperkenalkan pada suatu media tapi untuk mulai pembelajarannya saja itu sulit. dia bisa mengikuti dengan baik. walaupun dalam mengartikan gambar dengan dua kata ia masih agak sulit (Ibu Pr) Sedangkan Khusnul Ma’ali terbukti dengan hiperaktifitasnya mulai berkurang. sehingga waktu dua jam itu hanya digunakan untuk menenangkan anak. putih menjadi uti. kotak menjadi otak tetapi dia cukup pintar terbukti kalau nilai-nilainya itu baik.278 ditangani. sudah bisa berkonsentrasi dan dapat diajak komunikasi. Dan hasil dari pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) ini dirasakan sudah cukup berhasil. Dan untuk Martika walaupun dia kurang konsentrasi dalam belajar dan penangkapannya itu kurang tetapi dengan ketelatenan dan pembelajaran yang berulang-ulang hasilnyapun cukup memuaskan. Dan dalam pelajaran tidak ada kendala. Dan Anis terbukti kalau sudah bisa bicara walaupun cedal dan dalam membaca hurufnya ada yang dihilangkan seperti biru menjadi bi u. Terbukti sekarang Alvin sudah bisa dikendalikan emosinya dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik walaupun dia masih bingung membedakan antara jantan dan betina tetapi dengan prompt akhirnya dia mengerti juga. Dan Galih kosa kata bicaranya sudah mulai meningkat. walaupun awalnya ia agak kesulitan membedakan bentuk lingkaran dan oval.

Ciri-cirinya dapat dilihat dari gerakan-gerakannya. kontak matanya. Dengan demikian kita akan tahu perkembangan anak tiap harinya. perilakunya. baik itu di tempat terapi maupun dirumah. . biasanya ia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). Di rumah sebaiknya orang tua juga menyediakan perlengkapan pembelajaran seperti yang ada di tempat terapi untuk mengajarkan/mengulang kembali apa yang diajarkan di tempat terapi. walaupun anak cenderung lebih tidak konsentrasi.(Ibu Ut).(Ibu Nr dan Ibu Ut) Anak hiperaktif akan terlihat jelas saat ia mulai terlambat berbicara. Ia suka mengoceh sendiri seperti orang latah dan bicaranya tidak jelas arah tujuannya (Ibu Ut). Saat diketahui itulah sebaiknya anak dibawa ke dokter anak. jam kurang tidur dan yang paling penting adalah hasil dari diagnosa dokter. dari situlah mungkin dokter akan menganjurkan untuk membawa ke tempat-tempat terapi anak yang khusus menangani anak yang bermasalah (mempunyai gangguan perkembangan) untuk membantu kesembuhan mereka (Ibu Nr). tetapi kita harus tetap konsisten untuk mengajarinya pada jam yang sudah ditentukan (Ibu Nr) dan apabila masih sulit untuk diatasi salah satunya jalan adalah dengan memberikan obat penenang dari dokter yang tentunya penggunaannya sesuai dengan resep dokter.279 Informan Penelitian III Ibu Nr dan Ibu Ut (orang tua siswa) Seorang anak diketahui hiperaktif biasanya ketika anak itu mulai tumbuh yaitu menginjak usia 2 tahun. manja karena diajari oleh orang tuanya sendiri.

artikel dan sebagainya (Moleong. maka biasakanlah dulu anak makan dengan masakan/makanan yang dibuat sendiri. Sedangkan proses analisis data telah dilakukan sejak penyusunan deskripsi penemuan data pada sub bab IV A. jika anak menangis minta dibelikan makanan maka selaku orang tua adalah memberi pengertian bahwa makanan itu tidak boleh agar cepat sembuh (Ibu Nr). Nr dan Ut).280 Selain itu orang tua juga harus memperhatikan makanan yang dimakan anaknya yang hiperaktif sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi. Dan untuk menunjang kelancaran alangkah baiknya jika satu keluarga juga ikut diet (Ibu Ut). Karena kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif. Setelah dibaca. catatan lapangan dan komentar peneliti. 1998: 103). B. menyusunnya dalam satuan-satuan yang selanjutnya akan dikategorikan. Pr. gambar. . Berkaitan dengan proses analisis data tersebut maka pada bagian ini akan disajikan urutan proses analisis data dari mulai penyusunan satuan-satuan. foto. dokumen berupa laporan. biografi. Berdasarkan data temuan hasil wawancara dengan keenam informan penelitian yaitu (Nh. Yl. hasil observasi dan hasil dokumentasi dibawah ini disajikan data yang kemudian akan dilakukan kategorisasi. dipelajari dan ditelaah maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data. Ed. ANALISIS DATA Proses analisis data dimulai dari menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber wawancara.

Dimana hal tersebut juga dikuatkan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Dalam membelajarkan anak hiperaktif kami menggunakan kurikulum yang sudah banyak digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia yang tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemampuan anak. kurikulum yang digunakan untuk pembelajaran anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus mengacu pada kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia (Lamp). Kategori perencanaan. dan tidak mampuannya.281 Sedangkan analisis data mengenai tiap-tiap satuan dari sumber data akan disajikan dalam laporan. langkah selanjutnya adalah analisis data. usia anak. Kategorisasi ini didasarkan pada tujuan dan kemiripan isi dengan menggunakan kriteria tertentu. serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. Setelah pemrosesan satuan (unityzing). . pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus dapat disajikan sebagai berikut: 1. Perencanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Berdasarkan hasil observasi.

alat-alat belajar. dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak. Pembelajaran ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dimana pembelajarannya setiap satu guru memegang satu murid atau dua guru memegang satu murid dan ini berlaku bagi anak yang masih sangat sulit untuk dikendalikan (hiperaktif berat) dan bersifat sementara sampai tingkat kehiperaktifitasan anak sedikit berkurang.282 2. Pelaksanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Berdasarkan hasil observasi di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dilakukan dikamar khusus bebas distraksi. Metode ini memberikan gambaran konkrit tentang . Dimana guru yang satu (terapis) duduk berhadapan dengan anak memberikan materi pelajaran dan guru yang satunya lagi (asisten terapis) duduk dibelakang anak/memangku anak dan memegangi anak sambil mengarahkan. Sedangkan metode yang digunakan di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini adalah perpaduan dari metode yang ada. Dimana hal tersebut juga dikemukakan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Pembelajaran anak hiperaktif dilakukan diruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster. ventilasi dan penerangan yang cukup). penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang.

pembelajaran satu guru satu murid). diantaranya adalah Ibu Yl yang menjelaskan bahwa penggunaan media visual (gambar) sangat diperlukan untuk membimbing anak dalam memahami suatu benda atau hal yang baru. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut.283 “sesuatu”. sehingga anak dapat menangkap pesan. Dimana hal tersebut juga dikemukakan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Disini kami dalam membelajarkan anak hiperaktif mengggunakan pendekatan individual (lovaas one on one . informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. dan biasanya juga diimbangi dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. seperti yang dikemukakan oleh para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. Sedangkan metode yang kami gunakan adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. dan dengan gambar-gambar yang berwarna. sehingga anak dapat menangkap pesan. Disamping mainan edukatif penggunaan media visual (gambar) sangat mutlak diperlukan dalam pembelajaran anak hiperaktif. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar-gambar). anak akan jadi lebih tertarik untuk . karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. Sedangkan Ibu Pr menjelaskan bahwa media visual itu sangat diperlukan karena disamping anak ini hiperaktif ia juga kehilangan konsentrasi. apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif divisualkan lewat gambar-gambar.

Mencocokkan (Matching) Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. tak terkecuali di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini. benda berwarna. kartu angka. kartu huruf. Hal senada juga dikemukakan oleh Ibu Ed yang menjelaskan sebagai berikut: Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah/membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi. disamping itu cara yang termudah untuk menyampaikan kepada anak supaya mengerti adalah dengan menggunakan media visual (gambar). Sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. dan kartu gambar. dan berbagai bentuk. pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus itu mencakup: 1. . Identifikasi benda dan melabel (menyebutkan) gambar Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. Lalu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya itu memungkinkan penggunaan media visual itu akan lebih menarik minat anak dalam belajar. 2. terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu. Hampir semua mata pelajaran dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar).284 melihat dan memperhatikan apa yang disampaikan.

Apabila disaat pelajaran berlangsung konsentrasi anak mulai hilang dan anak sulit untuk dikendalikan maka guru biasanya akan memegangi kedua tangan atau pipi (sekitar kepala) anak itu. Identifikasi angka dan melabel angka Media yang digunakan adalah kartu-kartu angka 7.285 3. Identifikasi warna dan melabel warna Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna 4. melabel kata kerja dan menirukan gambar Media yang digunakan adalah foto/gambar aktivitas orang Menurut Kepala Terapi Anak yang juga terjun langsung dalam mengajar anak hiperaktif. Identifikasi kata kerja. Identifikasi bentuk dan melabel bentuk Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar 5. cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas dengan menggunakan media (visual) gambar adalah sebagai berikut: Setelah anak bisa diam agak lama baru memulai pelajaran dengan menunjukkan gambar satu persatu dihadapan anak tanpa distraksi/gambar lain dimulai dari materi yang mudah ke yang sulit (disesuaikan dengan kurikulum) dan disesuaikan dengan kemampuan anak dan dalam memberikan materi harus cepat dan cekatan karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. Identifikasi huruf dan melabel huruf Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf 6. bila perlu kaki anak dijepit di antara paha guru atau tungkai guru/terapis menjepit/merangkum kursi di belakang anak .

Tindakan dan kata-kata inilah yang selalu diucapkan guru untuk mencegah/melarang anak yang berbuat sesuka hati bahwa perbuatannya itu salah/tidak benar dan untuk melarang/menyuruh diam disaat anak mengoceh sendiri. tepuk tangan dan acungan jempol. antara lain adalah Ibu Pr yang menjelaskan sebagai berikut: Gambar-gambar yang sudah kita dapatkan kita potong-potong dalam bentuk kecil-kecil kemudian kita sampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain. . Sebaliknya apabila anak sudah mulai mengerti dengan maksud kita dan berusaha memperbaiki tindakannya yang salah baru kita katakan “ya”.286 dan menatap anak itu dan mengatakan “… (nama anak) lihat” dan mengatakan “Tidak…”. lalu kita tingkatkan tahap demi tahap jumlahjumlah apa yang kita berikan. sebab dengan ditertawakan akan membuat anak itu merasa bangga karena merasa diperhatikan dan merasa bahwa apa yang dilakukannya/diucapkannya itu benar/baik. bukannya ditertawakan karena lucu. Dan dalam mengajar kita sampaikan secara tegas. Cara membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) ini juga diperjelas oleh para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. bisa berupa imbalan/hadiah. applaus. lugas dan setiap kali respon yang diberikan oleh anak harus kita kasih reinforcer.

Hal senada juga diperkuat oleh Ibu Yl yang menjelaskan bahwa cara membelajarkan anak hiperaktif yang dilakukan adalah menyuruh anak untuk duduk dan memusatkan perhatian mereka dengan menatap mata anak dan memegang kedua tangannya.287 Sedangkan menurut Ibu Ed cara adalah: membelajarkan anak hiperaktif di kelas Pertama kita berusaha menenangkan mereka. tegas dan bukan membentak) tujuannya agar anak mudah memahami. Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming. Setelah bisa duduk lebih lama. dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. kemudian ajaklah untuk duduk diam.. Pegang kedua tangannya dengan lembut. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. setelah anak diam beberapa lama baru kita mulai pembelajarannya secara bertahap dimulai dari yang mudah/sederhana sampai ke yang rumit sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. . guru dalam memberikan perintah/instruksi pada anak adalah dengan disampaikan secara singkat. Sedangkan berdasarkan hasil observasi. Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar.

Apabila materi pelajaran identifikasi gambar maka guru memberikan perintah “Tunjuk … (nama gambar tersebut)” dan apabila materi pelajaran melabel (menyebutkan) guru memberi perintah “Ini apa?” atau “Apa ini?” dan apabila materi pelajaran mencocokkan (matching) guru memberi perintah “Samakan” atau “Kasih ke Ibu”. Sedangkan konsisten maksudnya dalam memberikan perintah/instruksi kata yang diucapkan harus persis sama untuk instruksi selanjutnya. . Untuk itu dalam membelajarkan anak hiperaktif harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.288 Singkat maksudnya dalam memberikan perintah guru hanya mengucapkan satu kata (kata kuncinya saja) dan bukan kalimat yang panjang. Ingin mengajarkan imitasi beda dengan mengikuti perintah sederhana (satu-tahap). karena anak hiperaktif mempunyai gangguan perlambatan dalam menangkap pesan seperti suara radio gelombang pendek (suara hilang timbul) sehingga anak hanya menangkap sepotong-potong. Misalnya instruksi “masukkan” jangan diganti “masukkin”. selanjutnya untuk menyuruh anak menirukan gambar guru memberikan perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar)”. Dan dalam perintah sederhana : instruksi “Tepuk tangan” berarti tangan guru/terapis diam sama sekali. Jelas maksudnya guru dalam memberikan perintah sesuai dengan apa yang ingin diajarkan. “masukken” atau “masuppin” karena ini akan membingungkan anak. hemat kata dan hemat gerakan. Misalnya dalam pelajaran Imitasi: instruksi “Tiru” berarti guru/terapis memberikan contoh (misal: tepuk tangan).

Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. maka guru mengajar tanpa prompt dan memberikan reinforce respons yang benar saja. kemudian diajak untuk duduk diam. Dalam memberikan perintah/instruksi ini guru menyampaikan dengan singkat. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan. kemudian guru memberi perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespon dengan benar. Dengan cara menatap mata anak dan memegangi kedua tangannya dengan lembut. Apabila anak sulit untuk diajarkan maka berilah dia iming-iming. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. maka dapat disimpulkan bahwa cara membelajarkan anak hiperaktif dikelas adalah: Pertama guru mempersiapkan perhatian anak dan berusaha menenangkan mereka. guru memberikan prompt (bantuan/arahan) pada anak dan setiap kali anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar guru memberikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan). guru mulai pelajaran dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak.289 Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang diperoleh dari para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus di atas. Apabila dalam pembelajaran. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. . tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami. Setelah keadaan tenang dan bisa duduk lebih lama.

.290 Berdasarkan hasil observasi di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus dengan menggunakan catatan lapangan. dlsb). 2. tetapi diluar jangkauan anak. Sedangkan dalam pelajaran identifikasi warna guru juga menggunakan tehnik insidental (berkebetulan). yaitu: 1. 3. melepas sepatu. maka guru akan menanyakan terlebih dahulu apa warna benda tersebut sebelum memberikannya. Guru meletakkan dua kelompok gambar yang mempunyai gambar berpasangan dan anak disuruh mencocokkan/memasangkan gambar-gambar itu. Guru meletakkan sebuah benda dihadapan anak dan berbagai macam gambar yang berbeda (max 5 gambar) dan anak disuruh mencocokkan/memilih gambar yang sesuai dengan benda. Jika anak meminta benda tersebut. Guru memegang satu gambar dan meletakkan beberapa gambar dihadapan anak lalu anak disuruh memilih gambar yang sesuai dengan gambar yang dipegang guru. menirukan gambar/melakukan aktivitas guru biasanya memulai dengan memerintahkan anak untuk mengambil sesuatu yang ada di sekitar/diruang kelas kemudian anak diajarkan pada hal-hal yang lebih spesifik dan anak diperintahkan meniru guru (misalnya minum dari gelas.. Dengan cara mengatur benda-benda yang berlainan warna. menggosok gigi. ada berbagai macam cara yang digunakan guru dalam mengajar mata pelajaran mencocokkan (matching). makan dengan menggunakan sendok dan garpu. Dalam identifikasi kata kerja.

Hal ini dapat . Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif yang menjadi contoh kasus. Sedangkan evaluasi bulanan bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. dengan ketentuan penilaian yaitu jika anak menguasai materi pelajaran atau memberikan respons benar maka anak mendapat nilai A. evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini adalah evaluasi proses dan evaluasi bulanan. Evaluasi proses dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung. dan apabila anak mengalami kendala/hambatan dalam menerima pelajaran maka anak mendapatkan nilai P yang berarti belum bisa atau nilai P+ yang berarti sudah mulai/sesekali bisa. Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Dari hasil observasi dan wawancara dengan Kepala Terapi. Evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian. dengan memberi reward (hadiah/pujian) untuk respons yang benar. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak.291 3. dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga. dimana lembar penilaian ini setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. untuk itulah anak harus dibantu/diarahkan (prompt setengah/sebagian/ringan) (nilai P++) hingga akhirnya anak mendapatkan nilai A yang berarti anak benar-benar menguasai.

Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A . maka diperoleh hasil evaluasi pembelajaran sebagai berikut: Khusnul Ma’ali 1. 2. 3. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. gambar sayuran dan alat transportasi. yang hanya dikhususkan pada mata pelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). matching buahbuahan dan matching sayuran. matching bentuk. anak menunjukkan tingkat penguasaan yang baik terbukti selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. matching huruf besar. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. gambar buah-buahan. matching binatang.292 dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi bersama (case conference) Berdasarkan lembar penilaian pada 6 anak hiperaktif dari evaluasi proses. anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik bahkan ia melaksanakannya dengan waktu yang cepat ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A dan A+.

ini terbukti bahwa pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa menjawab dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang.293 4. kotak. wajik. segitiga. Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10 anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik 7. akan tetapi ia agak sulit membedakan antara lingkaran dan oval sehingga harus diulang beberapa kali baru ia memahami . . Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. 5. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. oval.

gambar buah-buahan.294 Galih 1. P+. Dalam identifikasi gambar binatang anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A akan tetapi ada beberapa gambar binatang yang sulit dipahaminya diantaranya adalah ayam betina karena anak belum mengerti dan belum bisa membedakan mana ayam jantan dan mana ayam betina yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga ia harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan) dan bahkan ia sudah mulai/sesekali bisa. alat transportasi. matching binatang. ini terbukti dengan ia mendapatkan nilai P. P++ dan sampai mendapatkan nilai A. matching bentuk. 2. Dalam identifikasi buah-buahan dan alat transportasi anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. matching huruf besar. P++ sampai akhirnya ia mendapatkan nilai A yaitu benar-benar bisa/menguasai. Sedangkan dalam identifikasi buah-buahan ada yang mudah dikuasai dan ada yang masih sulit dikuasai/dimengerti dan ini membutuhkan prompt terbukti pada buah tomat anak mendapatkan nilai P+. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda ada beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan .

Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. wajik. kotak. untuk angka 1.3. 3. lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5.4. oval. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang.295 baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. segitiga.6.7.10 anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. akan tetapi setelah menginjak angka 5 dan 8 anak mengalami kesulitan ia sulit menghafal sampai 3 kali pertemuan baru ia hafal terbukti pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ . Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10.2.9.

lari dlsb anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. 7. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda anak tidak mengalami masalah saat ditanya bahkan ia langsung bisa menjawab tanpa diberi prompt oleh karena itu ia mendapatkan nilai A+ 2. meniup harmonika dlsb.296 dimana anak sudah mulai/sesekali bisa dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan hingga anak mendapatkan nilai A dimana ia benar-benar telah menguasai. ini terbukti bahwa pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa menjawab dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan. Mencocokkan (Matching) Karena dalam pembelajaran mencocokkan (matching) adalah merupakan hal yang paling mudah anak tidak mengalami masalah saat disuruh mengerjakan tugas sehingga ia mendapatkan nilai A . membaca. akan tetapi dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan dua kata atau lebih anak masih mengalami kesulitan seperti main bola. Ferdinan Troy 1. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan satu kata seperti memasak.

297

3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10, anak juga tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik, dan materinyapun ditingkatkan mulai dari penjumlahan dan pengurangan sesuai dengan pelajaran di sekolah.

298

7. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Alvin 1. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang, gambar buah-buahan, alat transportasi anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A, akan tetapi sama halnya yang dialami Galih ada beberapa gambar binatang yang sulit dipahaminya diantaranya adalah ayam betina karena anak belum mengerti dan belum bisa membedakan mana ayam jantan dan mana ayam betina yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga ia harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan) dan bahkan ia sudah mulai/sesekali bisa, ini terbukti dengan ia mendapatkan nilai P, P+, P++ sampai akhirnya ia mendapatkan nilai A yaitu benar-benar bisa/menguasai. 2. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna, matching huruf besar, matching bentuk, matching binatang, matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A.

299

3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10, anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik, akan tetapi ia mengalami kesulitan saat disuruh menulis angka. 7. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan

300

pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A, walaupun kadang-kadang arah pembicaraannya mulai tidak jelas dan ngelantur kemana-mana. Anis 1. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang, gambar sayuran, gambar buah-buahan dan alat transportasi hanya gambar sayuran yang masih sulit dikuasai/dimengerti oleh anak dan ini membutuhkan prompt terbukti pada buah tomat anak mendapatkan nilai P+, P++ dan sampai mendapatkan nilai A. 2. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. 3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A

301 5. putih menjadi uti. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja sebenarnya anak tidak mengalami kendala ia cepat menguasai materi yang diberikan hanya saja karena anak ini cedal dan pemahaman bahasanya kurang. 7. akan tetapi untuk angka 5 anak mengalami kesulitan ia sulit menghafal sampai 3 kali pertemuan baru ia hafal terbukti pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan hingga anak mendapatkan nilai A dimana ia benar-benar telah menguasai. seperti biru menjadi bi u. kotak menjadi otak dlsb. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10. mungkin dalam menyampaikannya saja yang salah dan selalu ada saja huruf yang dihilangkan. . anak tidak mengalami kendala saat ditanya walaupun angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik.

Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. . 3. wajik. lingkaran dan trapesium) anak masih sulit membedakan antara lingkaran dan oval ini terbukti dengan nilai yang didapat P+. matching bentuk. matching huruf besar.302 Martika 1. oval. segitiga. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. P++ dan A dimana anak sesekali bisa dan harus diberi prompt hingga akhirnya tanpa prompt. matching binatang. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan terutama gambar binatang selalu ada saja nama yang terbalik seperti itik. matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. kotak. 2. angsa. bebek untuk itu tidak jarang disertai dengan prompt hingga ia benarbenar bisa membedakan.

Dari hasil wawancara diatas. Dan dengan gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan penggunaaan media visual (gambar) akan mewujudkan tujuan komunikasi dari anak.303 5. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 7. disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. . dapat disimpulkan bahwa dalam menangani anak hiperaktif salah satu cara yang terbaik adalah dengan dibawa ke tempat terapi anak yang khusus menangani anak bermasalah (gangguan perkembangan) dan cara yang paling mudah bagi guru pembimbing/terapis dalam menangani/membelajarkan anak hiperaktif adalah dengan menggunakan media visual (gambar) karena dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual (gambar) itu akan lebih menarik minat anak dalam belajar. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10.

dan tidak mampuannya. Perencanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak. tahapan-tahapannya disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. Kurikulum pembelajaran untuk anak hiperaktif disesuaikan dengan tingkat perkem bangan kemampuan anak. 1. serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. Fungsi otaknya yang terganggu harus dilatih dengan terapi kesibukan. (Bryn.304 C. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Setelah keseluruhan data yang ditemukan peneliti pada latar penelitian dilakukan proses analisis komparatif antar informan peneliti maupun dengan menggunakan catatan lapangan dan dokumentasi selanjutnya peneliti menyajikan kesimpulan tentang perencanaan. (lamp) Hal ini diperkuat oleh teori Sobur (1986:125) bahwa hanya “terapi terarah” yang dapat membantu anak keluar dari masalah hiperaktif. Hal ini diperkuat oleh teori Clerq (1994:126) bahwa terapi individu yang diterapkan. 1989:73) Kurikulum yang digunakan untuk pembelajaran anak hiperaktif ditempattempat terapi anak mengacu pada kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. 1992:200) . usia anak. Dimana sekolah-sekolah khusus itu mengatur program yang akan memenuhi kebutuhan anak. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di tempat terapi anak. Pada umumnya terapi perilaku bersifat pendidikan (Singgih.

Hal ini juga diperkuat oleh teori Sobur (1986:125-126) bahwa disamping perlunya pemeriksaan medis. Dengan cara dipangku/dipegang tangannya sambil muka berhadap-hadapan untuk dilatih . alatalat belajar. Hal ini diperkuat oleh teori Taylor (1988:125) bahwa anak hiperaktif perlu diterapi langsung untuk mengubah perilakunya yaitu dengan sistem pengajaran satu guru satu murid. Dilakukan dengan cara guru yang satu (terapis) duduk berhadapan dengan anak memberikan materi pelajaran dan guru yang satunya lagi (asisten terapis) duduk dibelakang anak/memangku anak dan memegangi anak sambil mengarahkan. penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang. Dengan dimasukkan di kelas-kelas kecil itu anak-anak hiperkinetik akan memperoleh perhatian dan pengawasan yang diperlukan (Bryn. 1989:73) Pembelajaran ini dilakukan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dimana pembelajarannya setiap satu guru memegang satu murid atau dua guru memegang satu murid dan ini berlaku bagi anak yang masih sangat sulit untuk dikendalikan (hiperaktif berat) dan bersifat sementara sampai tingkat hiperaktifitas anak sedikit berkurang.305 2. ventilasi dan penerangan yang cukup). yang memudahkan beralih perhatian. Pelaksanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dilakukan dikamar khusus bebas distraksi yaitu ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster. Misalnya. dapat disarankan latihan-latihan untuk mengurangi kebanyakan gerak ini. tata ruang yang diusahakan jangan terlalu ramai dengan bermacam-macam benda.

apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif divisualkan lewat gambar. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Misal. Ada cara lain untuk mengatasi anak-anak semacam ini. Bila latihan ini dilakukan secara intensif. sehingga anak dapat menangkap pesan. setiap kali dimulai dengan tiga menit. lalu ditambah menjadi empat menit dst. Disamping itu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual (gambar) itu akan lebih menarik . memungkinkan anak untuk mengatasi kemampuannya berbicara yang masih terbatas.306 konsentrasi. Itu sudah bagus. Makin lama jangka waktu latihan ini makin meningkat. dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak. Dan dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. Pada hari-hari pertama mungkin hanya berhasil selama sepuluh menit. terutama media visual (gambar). karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. Ruangan seperti itu tidak memungkinkan anak untuk pegang ini pegang itu. Untuk itulah dalam membelajarkan anak hiperaktif tidak lepas dari penggunaan media. lama kelamaan hiperaktifnya dapat diatasi. Sedangkan metode yang digunakan adalah perpaduan dari metode yang ada. Anak didudukkan dipojok dan diusahakan untuk menarik perhatiannya kepada suatu kesibukan. Hal ini diperkuat dengan teori Sobur (1986:254) bahwa bentuk “tidak verbal” suatu gambar. Metode ini memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. yaitu menempatkan anak dalam ruangan kecil yang tidak ada rangsangan-rangsangan (misalnya gambar-gambar dan sebagainya).

perkakas rumah. binatang. dan kartu gambar. bisa berupa kuartet buah-buahan. tumbuh-tumbuhan. Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:43) bahwa dalam mengidentifikasi benda dan nama digunakan alat yang merupakan satu set mainan kuartet. dengan tujuan: Agar anak belajar cepat mengidentifikasi benda dan namanya. Ahli-ahli seni rupa menyatakan bahwa gambar bisa meningkatkan kapasitas belajar dalam hal lain yang tak berkaitan dengan seni. dan sebagainya. . pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) itu mencakup: 1. 1986:259). seperti pengetahuan alam dan matematika (Sobur.307 perhatian/minat mereka dalam belajar. Identifikasi benda dan melabel (menyebutkan) gambar Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. Sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. alat-alat dapur. Hal ini juga diperkuat oleh Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:22) bahwa fungsi gambar adalah untuk: Menarik perhatian anak Mengadakan motivasi dan merangsang anak Memberikan suatu latar belakang pada bacaan Merangsang percakapan (ekspresi) dan diskusi Mendidik sifat kritis pada anak Memperkenalkan kata-kata baru. Agar anak belajar menangkap struktur kata dengan cepat.

kemudian diajak untuk duduk diam. Identifikasi huruf dan melabel huruf Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf 6. kartu angka. Jauhkan segala sesuatu yang mungkin mengganggu . kartu huruf. Identifikasi warna dan melabel warna Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna 4.308 2. melabel kata kerja dan menirukan gambar Media yang digunakan adalah foto/gambar aktivitas orang Cara guru membelajarkannya di kelas dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut adalah: Pertama guru mempersiapkan perhatian anak. benda berwarna. Hal ini diperkuat oleh teori Sobur (1986:69) bahwa cara menolong anak agar dapat belajar dengan baik adalah dengan mengajak anak untuk bisa berkonsentrasi. Identifikasi kata kerja. dan berbagai bentuk. Dengan cara menatap mata anak dan memegangi kedua tangannya dengan lembut. 3. Identifikasi angka dan melabel angka Media yang digunakan adalah kartu-kartu angka 7. Mencocokkan (Matching) Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. Identifikasi bentuk dan melabel bentuk Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar 5. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. dengan berusaha menenangkan mereka. Anak-anak harus membiasakan diri memusatkan perhatiannya kepada pelajaran selama waktu belajar.

work while you work. and study while you study. Singkat maksudnya dalam memberikan perintah guru hanya mengucapkan satu kata (kata kuncinya saja) dan bukan kalimat yang panjang.309 konsentrasi si anak. Seorang pendidik pernah berkata “Play while you play. Apabila materi pelajaran identifikasi gambar maka . Dalam memberikan perintah/instruksi ini guru menyampaikan dengan singkat.” Apabila seseorang betul-betul memusatkan perhatian sepenuhnya pada sesuatu tanpa merasa terganggu oleh suasana sekitar untuk beberapa saat. Hal ini juga diperkuat oleh teori Pearce (1990:74) bahwa latihan konsentrasi dapat membantu dengan meminta anak hiperaktif untuk berkonsentrasi pada suatu tugas selama beberapa detik dan kemudian meningkatkan waktunya secara bertahap selama beberapa minggu dan selalu mengakhiri setiap sesi konsentarsi dengan catatan keberhasilan Setelah keadaan anak tenang.” Artinya. tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami. baru guru mulai pelajaran dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. kemudian guru memberi perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan. “Waktu bermain bermainlah. waktu bekerja bekerjalah sungguh-sungguh dan waktu belajar benarbenarlah belajar. dan bisa duduk lebih lama. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. karena anak hiperaktif mempunyai gangguan perlambatan dalam menangkap pesan seperti suara radio gelombang pendek (suara hilang timbul) sehingga anak hanya menangkap sepotong-potong. maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut mampu berkonsentrasi. (75).

“masukken” atau “masuppin” karena ini akan membingungkan anak. Ingin mengajarkan imitasi beda dengan mengikuti perintah sederhana (satu-tahap). Sedangkan konsisten maksudnya dalam memberikan perintah/instruksi kata yang diucapkan harus persis sama untuk instruksi selanjutnya. yaitu: . pendekatan yang tidak konsisten hampir pasti gagal dan menimbulkan kesulitan perilaku. Jelas maksudnya guru dalam memberikan perintah sesuai dengan apa yang ingin diajarkan. Untuk itu dalam membelajarkan anak hiperaktif harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.310 guru memberikan perintah “Tunjuk … (nama gambar tersebut)” dan apabila materi pelajaran melabel (menyebutkan) guru memberi perintah “Ini apa?” atau “Apa ini?” dan apabila materi pelajaran mencocokkan (matching) guru memberi perintah “Samakan” atau “Kasih ke Ibu”. Misalnya instruksi “masukkan” jangan diganti “masukkin”. selanjutnya untuk menyuruh anak menirukan gambar guru memberikan perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar)”. Sebaliknya. Misalnya dalam pelajaran Imitasi: instruksi “Tiru” berarti guru/terapis memberikan contoh (misal: tepuk tangan). (Fontenelle. Teori yang mendukung adalah konsistensi dianggap sebagai dasar mengatasi anak hiperaktif. Dan dalam perintah sederhana : instruksi “Tepuk tangan” berarti tangan guru/terapis diam sama sekali. Dengan cara yang konsisten kemungkinan akan keberhasilan teknik-teknik yang diterapkan. 1991:40) Ada berbagai macam cara yang digunakan guru dalam mengajar mata pelajaran mencocokkan (matching). hemat kata dan hemat gerakan.

Guru memegang satu gambar dan meletakkan beberapa gambar dihadapan anak lalu anak disuruh memilih gambar yang sesuai dengan gambar yang dipegang guru. menirukan gambar/melakukan aktivitas guru biasanya memulai dengan memerintahkan anak untuk mengambil sesuatu yang ada di sekitar/diruang kelas kemudian anak diajarkan pada hal-hal yang lebih spesifik dan anak diperintahkan meniru guru (misalnya minum dari gelas. 5. anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan. 6. Dalam identifikasi kata kerja.. maka guru memberikan prompt (bantuan/arahan) pada anak untuk menunjuk atau melabel atau mencocokkan gambar atau menirukan aktivitas seperti dalam gambar tersebut sesuai dengan materi yang diajarkan pada . Guru meletakkan sebuah benda dihadapan anak dan berbagai macam gambar yang berbeda (max 5 gambar) dan anak disuruh mencocokkan/memilih gambar yang sesuai dengan benda. dlsb). tetapi diluar jangkauan anak. melepas sepatu. Guru meletakkan dua kelompok gambar yang mempunyai gambar berpasangan dan anak disuruh mencocokkan/memasangkan gambar-gambar itu. Sedangkan dalam pelajaran identifikasi warna guru juga menggunakan tehnik insidental (berkebetulan). Apabila dalam pembelajaran. makan dengan menggunakan sendok dan garpu. menggosok gigi. maka guru akan menanyakan terlebih dahulu apa warna benda tersebut sebelum memberikannya. Dengan cara mengatur benda-benda yang berlainan warna.311 4. Jika anak meminta benda tersebut.

Hal ini diperkuat dengan teori Pearce (1990:28) bahwa ganjaran memiliki banyak bentuk yang berbeda. pelukan atau beberapa patah kata. . (1997:136-137) bahwa penguat (reinforcemen)t adalah alat pendidikan yang menyebabkan tingkah laku individu lain yang kita hadapi (anak didik peserta didik) akan terpatri. Hadiah/ganjaran diberikan pada orang yang telah melakukan suatu kebaikan. ganjaran. Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespons dengan benar guru biasanya mengajar tanpa prompt dan hanya memberikan reinforce respons yang benar saja. senyuman. Hal ini juga diperkuat oleh teori Fontenelle (1991:90) bahwa hadiah atau ganjaran sangat berguna dalam mengatasi beberapa kesulitan akibat hiperaktivitas. Hal ini diperkuat oleh Nur’aeni. hukuman. Hal inilah yang menjadi salah satu cara untuk menghilangkan kebiasaan anak dari sifat manja. sentuhan. teladan dan contoh.312 saat itu dan setiap kali anak melakukan/merespons dengan benar tak jarang guru memberikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan). bukan penyuapan. Alat itu antara lain: pujian. hadiah. Alat pendidikan itu adalah upaya/siasat yang sengaja dibuat dilaksanakan untuk mencapai tujuan. karena anak terbiasa dengan pemberian hadiah/iming-iming sebelum anak melakukan sesuatu (agar anak melakukan sesuatu) dan kebiasaan itu harus dihilangkan dengan cara mengganti hadiah yang berupa benda riil itu dengan pujian/tepukan. diantaranya: Perhatian Perhatian dapat diberikan dengan banyak cara: pandangan. Dalam konteks ini pemberian ganjaran merupakan sarana Bantu untuk belajar.

bila perlu kaki anak dijepit di antara paha guru atau tungkai guru/terapis menjepit/merangkum kursi di belakang anak dan menatap anak itu dan mengatakan “… (nama anak) lihat” dan mengatakan “Tidak…” tindakan dan kata-kata inilah yang selalu diucapkan guru untuk mencegah/melarang anak yang berbuat sesuka hati bahwa perbuatannya itu salah/tidak benar dan untuk melarang/menyuruh diam disaat anak mengoceh sendiri. bukannya ditertawakan karena lucu.313 Pujian Hadiah khusus Hadiah khusus digunakan sebagai cara untuk mendukung dan menguatkan setiap pujian yang diberikan. kadang ia suka mengoceh sendiri tak jelas arah tujuannya dan menoleh/bergerak kesana kemari walaupun sudah dihalangi meja. Hal yang terbaik dalam memberikan hadiah khusus adalah menggunakan satu/dua hal secara teratur sebagai ganjaran dan menyimpannya sebagai hadiah khusus untuk membuatnya lebih diharapkan dan berharga. biasanya guru akan memegangi kedua tangan atau pipi (sekitar kepala) anak itu. Disaat pelajaran berlangsung tak jarang konsentrasi anak mulai hilang. sebab dengan ditertawakan akan membuat anak itu merasa bangga karena merasa diperhatikan dan merasa bahwa . kondisi anak dan akibat sampingan yang mungkin timbul. Hal tersebut juga diperkuat oleh Nur’aeni (1997:141) bahwa pendidik/orang tua harus jeli dalam memilih alat-alat pendidikan yang sesuai dengan harapan. suasana sekitar. hal inilah yang menguji kesabaran guru dalam membimbing anak hiperaktif.

Inilah yang dimaksud dengan disiplin. Ada banyak cara untuk mengatakan tidak: Dengan nada suara yang tajam Dengan bentakan yang keras Mengatakan “tidak” dengan berbisik Menggoyangkan jari Mengerutkan dahi dan memasang wajah marah Berpaling dan tidak memberikan perhatian. Dan apabila anak masih tetap sulit untuk diajak dian dan diajar maka guru akan memberi anak itu imingiming. dan anak akan secara bertahap pula mengetahui batasan dari apa yang dapat diterima dan apa yang tidak dapat diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui pengelolaan dan penanganan yang serius dibarengi dengan upaya mengatasi tingkat gangguan . Dan apabila anak sudah mulai mengerti dengan maksud kita dan berusaha memperbaiki tindakannya yang salah. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Hal ini diperkuat dengan teori Pearce (1990:7) bahwa dengan mengatakan “tidak” dapat secara bertahap memperkenalkan anak dengan gagasan bahwa ada batas mengenai berapa banyak kebutuhan yang dapat dipenuhi.314 apa yang dilakukannya/diucapkannya itu benar/baik. dimana hal ini diperkuat oleh teori Pearce (1990:8) adalah mungkin untuk mengatakan “ya” dan memberikan pujian setiap kali seorang anak melakukan sesuatu yang baik dan sebagai akibatnya kita tidak perlu mengatakan “tidak”. cukup kita katakan “ya”.

dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga. Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian).. Sedangkan evaluasi bulanan bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif .315 dapat membantu mengarahkan kondisi hiperaktif untuk menunjang hal-hal positif perkembangan anak. dengan tujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. 3. . dengan memberi reward (hadiah/pujian) untuk respons yang benar.Menurut Bloom (Handbook on Formative and Sumative Evaluation of Student Learning) mengemukakan bahwa “Evaluasi adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar penetapan ada tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau anak didik. Evaluasi proses dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung.” Evaluasi pembelajaran anak hiperaktif yang umum digunakan di tempattempat terapi anak adalah evaluasi proses dan evaluasi bulanan. Evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian.

Begitu juga dengan gambar tomat mungkin karena bentuk dan warnanya hampir sama dengan gambar lain misal: jeruk sehingga anak masih bingung membedakan dan ragu untuk menjawab. matching bentuk. Hanya gambar binatang dan gambar sayuran saja yang masih membingungkan anak hal ini dikarenakan adanya kesamaan dalam gambar dan anak masih belum bisa membedakannya seperti ayam jantan dan ayam betina. .316 Berdasarkan lembar penilaian dari evaluasi proses maka dapat disimpulkan bahwa hasil evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada 6 anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah sebagai berikut: 1) Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. matching buahbuahan dan matching sayuran anak tidak mengalami kendala/hambatan karena pelajaran ini termasuk yang paling mudah hanya saja anak dituntut untuk lebih teliti dalam memasangkan gambar. yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga anak harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan). alat transportasi. matching binatang. matching huruf besar. 3) Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak tidak mengalami kendala/hambatan. 2) Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. gambar buah-buahan.

yaitu suka terbalik-balik dan tidak rapi. Tulisan tangannya biasanya jelek. Dalam pelajaran ini hambatan/kendala yang dialami anak hanya dalam penulisannya. Bagi anak ini. Hal ini diperkuat dengan teori Fontenelle (1991:20) bahwa beberapa anak yang tergolong hiperaktif memperlihatkan kekurangan-kekurangan motoris-perseptual (kekurangan motoris-visual dan koordinasi motoris halus atau koordinasi tangan-mata). oval. huruf diperkenalkan kepada anak dengan namanya dalam abjad. menulis itu pekerjaan yang sukar. huruf “s” sebagai “es”. bukan dengan bunyinya. dan seterusnya. Setelah mengenal huruf-huruf dengan namanya. Hal ini diperkuat oleh Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:3) bahwa dengan metode eja. huruf “e” sebagai “e”. 5) Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak menguasai materi dengan baik. segitiga. lingkaran dan trapesium) anak sering dibingungkan antara lingkaran dan oval karena bentuknya yang hampir sama. Kesulitan dalam bidang ini biasanya mempengaruhi kecakapan menulis. Pengajaran menulis diberikan bersamasama dengan pengajaran membaca. Misal huruf “b” disebut atau dilafalkan sebagai “be”. maka si anak belajar merangkai suku kata dan dirangkai lagi menjadi kata.317 4) Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. kotak. wajik. Ia sukar . Tetapi dengan prompt (arahan/bantuan) lama-lama anak menjadi tahu dan memahami. maka semua aktivitas tangan dan pensil itu sulit.

ia “lambat” dalam menulis. tetapi makin lama makin jelek. . ditengah. akan tetapi ada angka dimana anak mengalami kesulitan menghafal. Dan kerap kali ia membalikkan huruf dan angka. akan tetapi dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan dua kata atau lebih anak masih mengalami kesulitan seperti main bola. kotak menjadi otak dlsb. Mungkin tulisannya mula-mula rapi. lari dlsb anak tidak mengalami kendala/hambatan. Karena ia harus berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan kertas dan pensil. membaca. meniup harmonika dlsb. atau dibelakang karena kesulitan dalam berbicara seperti kata biru menjadi bi u. anak kadang-kadang sudah mulai/sesekali bisa atau anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan yaitu angka 5 dan 8. 6) Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10. anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak. Dan untuk anak yang mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) tidak jarang dia mengucapkan kata dengan menghilangkan satu huruf entah itu didepan. sering tidak menyelesaikan pekerjaan tulis. 7) Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan satu kata seperti memasak.318 menyalin dari papan tulis sebab mengabaikan huruf-huruf dan kata-kata biasanya pekerjaannya tampak teledor dan acak-acakan. padahal perilaku ini wajar bagi semua anak. putih menjadi uti.

319 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. identifikasi bentuk. identifikasi warna. sehingga anak dapat menangkap pesan. identifikasi huruf. dan identifikasi kata kerja. Kurikulum yang digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. kemudian prompt dan reinforce itu dikurangi sedikit demi sedikit sampai tidak menggunakan sama sekali dan anak benar-benar menguasai materi pelajaran. mencocokkan (matching). Dimana dalam membelajarkannya dengan menunjukkan gambar satu persatu di depan anak dengan disertai prompt (bantuan/arahan) dan reinforce (hadiah/pujian) untuk respons yang benar. Salah satunya adalah dengan penggunaan media visual (gambar). identifikasi angka. Dalam pembelajaran anak hiperaktif dilaksanakan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dan dengan metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. . penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. 2. Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup Identifikasi benda. Simpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab di muka. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut.

tidak hanya menggunakan media visual (gambar) saja tetapi juga dengan menggunakan media lain. Hal ini terbukti dengan 75 % anak hiperaktif berhasil menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru pembimbing/terapis melalui media visual (gambar) ini. pelaksanaan dan evaluasi. . 3. Kepada Kepala Terapi disarankan untuk mengembangkan materi pelajaran dan metode pembelajarannya. 2. B. Kepada Guru Pembimbing/Terapis disarankan untuk lebih memperdalam konsep pembelajaran anak berkebutuhan khusus baik itu dalam perencanaan.320 3. afektif dan psikomotorik pada anak. Dari hasil pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada anak hiperaktif. kognitif. maka disarankan sebagai berikut: 1. dapat disimpulkan bahwa media visual (gambar) memudahkan anak dalam memahami konsep dan membantu dalam generalisasi. Saran Berdasarkan hasil penelitian tentang Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Disamping itu dapat meningkatkan kemampuan bahasa. Kepada peneliti lain disarankan untuk mengadakan penelitian tentang Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dengan objek penelitian yang berbeda dan dengan topik yang berbeda. Kepada Terapi disarankan untuk lebih terbuka kepada masyarakat 4.

Dahar. Aswan 2000. Ahmad. 1993. Media Visual untuk Pengajaran Teknik. Jakarta: Puspa Swara. Linda De. Arsyad. 1997. Thursan. . Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Erlangga. Gunarsa. Yogyakarta: Penerbit FIP-IKIP. Media Pembelajaran. Suharsimi. Konseling dan Psikoterapi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Memahami dan Mengatasi Anak Overaktif.321 DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Jakarta: Bina Aksara Arikunto. 1996. Jakarta: Rineka Cipta. Azhar. Clerq. 1985. Don H. Belajar Secara Efektif. 1991. 1992. Wilis. Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktek. Syaiful Bahri dan Zain. 2002. Jakarta: Grasindo. Tingkah Laku Abnormal. 2002. 2000. Jakarta: Rineka Cipta. Teori-teori Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. 1994. Kelompok Belajar sebagai Teknik Bimbingan dan Penyuluhan Metode pengajaran. Badawi. Djamarah. Singgih D. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. 1986. Fontenelle. Jakarta: Rineka Cipta. Pedoman Pelayanan Pendidikan Bagi Anak Austik. Jakarta: Gunung Mulia. Hakim. Depdiknas. 1996. Suharsimi. Suharsimi. Jakarta: Gunung Mulia. Jakarta: Raja Grafindo. Tarsito Bandung. Daryanto. Arikunto.

Semarang: STIMIK Dian Nuswantoro. Pearce. Jakarta: Bhratara Karya Aksara. Lemah Belajar dan ADHD. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Alex. Media Pendidikan. Menerobos Dunia Anak. Setiawani. 1997. Sadiman.322 Lask. Osman. Lexy. Bandung: Yayasan Kalam Hidup. 2000. 1989. Jakarta: Rineka Cipta. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Pendidikan Anak Prasekolah. Sobur. Jakarta: Grasindo Pakasi. 1984. Jakarta: Gramedia. 1990. Jakarta: Rineka Cipta. Arief. 2002. 1981. Dian Retno. Mary Go. 2000. Bagaimana Binarupa Aksara. Ngatidriatun. Ahmad. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Bandung: Remaja Rosdakarya. Bandung: Angkasa . Anak Masa Depan. 2003. Soemiarti. Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An. Patmonodewo. Betty B. Jakarta: Rineka Cipta. Intervensi Dini bagi Anak Bermasalah. 1996. Moleong. Media Instruksional Edukatif. Jakarta: Rohani. Jakarta: Raja Grafindo Persada Sardiman. 1986. Nur’aeni. Soepartinah. 1997. John. Memahami dan Mengatasi Masalah Anak Anda. Metodelogi Penelitian. Mengatasi Perilaku yang Buruk. Bryn. 2001.

Semiloka Mengenal dan Membimbing Anak Hiperaktif. Unika. Helping Children with Special Needs : The Hiperactive Child. Jakarta: Prestasi Pustaka. Jakarta: Primamedia Pustaka. Unika. Kiat Membantu Anak Hiperaktif. Bermain. Sudjana. Jakarta: DepDikBud Sumber : Keluarga.google. . Eric. 2003. Mengatasi Problem Psikologi Balita.google. Weaver. UNS Surakarta. 2000. Org. Ventura. http//www.323 Soemardji & Sutaryadi. Taylor. 1994. 1998. Media Pengajaran. Jakarta: Graha Sucof.com. 1997. Mary. Anak yang Hiperaktif. Mayke. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. 2001. 1992. 1995. Jakarta: Gramedia Tim Redaksi Puspa Swara. Yayasan Autisma Indonesia. Kids Healt. Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC Pada Penyandang Autisme Gangguan Perkembangan Pada Anak. Ahmad. Kegiatan Untuk Anak Dini Usia.com. Bandung: Sinar Baru Algensindo Sugianto T. Gospel Light. 1999. Mainan dan Permainan. Agar Anak Tangkas Mengatasi Hidup. 1988. Hal 65. Wes & Sheryl Haystead. Sudjana. http//www. Sunday School Smart Pages. 2004. Bandung: Sinar Baru. Nana dan Rivai. 2000. Semarang. Edward T. http//www.google. Jakarta: Puspa Swara.com Tan dan Chan. Evaluasi Hasil Belajar dan Pengajaran Remedial.

Selain penanganan khusus anak hiperaktif (terapi) apakah disini juga memberikan pelayanan lain seperti terapi (konsultasi) orang tua dalam menangani anaknya dirumah. ada bermacam-macam tipe anak berkebutuhan khusus. sedangkan di tempat terapi anak ini ada bermacam-macam anak berkebutuhan khusus. Adakah kriteria khusus (syarat-syarat) dalam membimbing anak hiperaktif? 15. Melihat cerita anda tadi. Apa yang mendorong/menggerakkan hati anda sehingga ingin mendirikan Terapi Anak? Apakah ada pihak-pihak terkait yang diajak bekerja sama dalam menyelenggarakan program terapi anak ini? 4. 1. 8. Ada berapa jumlah siswa yang diterapi disini? 10. Tolong beri penjelasan tentang jadwal terapi disini? Apakah tugas anda sebagai Kepala Terapi Anak? Ada berapa jumlah guru yang membantu anda mengajar disini? Bagaimana cara mencari guru untuk mengajar anak berkebutuhan khusus. Pendekatan dan metode apakah yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif? 14. 3. seperti yang kita ketahui bahwa tidak mudah seseorang itu membimbing anak yang mempunyai kebutuhan khusus apalagi anak itu tergolong hiperaktif. Berapa rata-rata umur mereka dan kebanyakan anak nomor berapa yang diterapi disini? 11. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri? 2. Sebelumnya saya mau tanya. 7. tipe apa saja yang diterapi disini dan bagaimana anda mengetahui kalau anak itu tergolong tipe itu? 12. Wawancara dengan Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus. apakah sama penanganan dan sistem pembelajaran anak hiperaktif dengan anak berkebutuhan khusus lainnya? 13. apakah dalam hal ini diperlukan kiat-kiat khusus seperti diadakan pelatihan dalam membimbing anak sebelum mengajar di kelas? 9.324 PEDOMAN WAWANCARA PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS A. . karena penelitian saya adalah pembelajaran khusus untuk anak hiperaktif. Ada berapa ruang kelas yang digunakan untuk mengajar? Apakah ruangan ini juga didesain khusus untuk membelajarkan anak hiperaktif agar anak lebih konsentrasi dalam belajar? 5. 6.

Apakah selama ini ada hambatan/kendala dalam mengelola tempat terapi anak ini baik itu dari administrasinya. Bagaimanakah cara merancang pembelajaran anak hiperaktif ? 17. lalu bagaimana hasilnya? 22. para guru/terapis dan siswanya? 24. Bagaimana cara anda menanganinya dan mengajarkannya terutama dengan menggunakan media visual (gambar). Apa yang menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan dan pengajaran bagi anak hiperaktif. dan dari data yang saya terima anda mengajar Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan Autis dan Hiperaktif. Bagaimana cara mengevaluasi pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? 20. SMP. menurut anda? 23. Jika anak itu sudah dikatakan cukup sembuh (tingkat aktifitasnya berkurang) apakah pihak sekolah menyarankan agar anak itu juga disekolahkan disekolah reguler/formal (TK. Apakah prinsip-prinsip yang digunakan dalam pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? 18. Disamping sebagai kepala terapi anda juga ikut mengajar/sebagai terapis. apalagi mereka juga memerlukan perhatian yang ekstra? 21. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? . Sarana pembelajaran apa saja yang disediakan disini khusus digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif? 19. SMA) sesuai dengan umur anak dan tingkat kemampuan anak. Wawancara dengan guru pembimbing/pengajar (terapis) Terapi Anak Al 1. Tisma Kudus Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? 2. Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian).325 pengaturan makanan dan pemberian obat pada anak hiperaktif yang tentunya dengan persetujuan dokter? 16. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak hiperaktif)? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran? 3. selain di tempat terapi anak itu sendiri? Lalu bagaimana cara mensiasatinya agar anak itu juga bisa menerima pelajaran di sekolah umum. SD. gedung/perlengkapannya. Apakah pesan anda pada para orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/ anak berkebutuhan khusus lainnya? B.

Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? 16. 8. faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? 10. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? 6. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? 14. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? 5. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? 13. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? 11. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? 9. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya.326 4. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? . Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? 7. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? 12. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? 15.

Apakah disamping anak anda diterapi disini. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak? 10. Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? 6. Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? 9. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? . 5. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? 19.327 17. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? 4. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? 7. 2. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? 3. dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi anak? 12. meja kursi . Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). Umur berapa anak anda diterapi disini? 11. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? C. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? 20. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? 14. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? 18. Wawancara dengan orang tua siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus 1. alat/media pembelajaran dan mainan? 13. Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? 8.

setelah dipikir-pikir kenapa saya tidak menolong mereka kalau saya saja berhasil menyembuhkan anak saya. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. Dan alhamdulillah siswanya juga cukup banyak dan tidak sedikit pula siswa yang berhasil saya tangani. lalu saya coba untuk mendirikan terapi untuk anak berkebutuhan khusus. Apa yang mendorong/menggerakkan hati anda sehingga ingin mendirikan Terapi Anak ? J. . mereka mengeluh pada saya tentang anak mereka dan saya disuruh membantu menyembuhkan mereka. T. karena tidak hanya anak hiperaktif saja yang diterapi disini tetapi juga anak autisme dan anak-anak yang berkebutuhan khusus lainnya (mempunyai kelainan dalam dirinya) tentunya itu semua dengan dukungan dari suami dan keluarga saya. justru ide ini muncul dari temanteman saya yang juga mempunyai anak berkebutuhan khusus seperti anak saya yang alhamdulillah sekarang dia sudah sembuh. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? 17.328 15. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri? J. Terapi Anak ini berdiri sejak Maret tahun 2001 T. Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? 16. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? 20. Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? 19. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? HASIL WAWANCARA PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS Wawancara Dengan Kepala Terapi Anak Ibu Nur Halimah III. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif. Pertama sih saya tidak kepikiran untuk mendirikan terapi ini. tentunya ini dengan bantuan para pengajar. lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? 18.

00 WIB Session II dilaksanakan pada pukul 10. T. Ada.00 WIB Session III dilaksanakan pada pukul 13. Bagaimana cara mencari guru untuk mengajar anak berkebutuhan khusus.00 WIB Session IV dilaksanakan pada pukul 15. Karena saya yang mendirikan terapi anak ini sekaligus sebagai kepala dan terapis disini. dan kesembuhan anakanaknya (siswa-siswi) walaupun dalam hal ini juga menjadi tanggung jawab guru pembimbing/terapis.00 – 15. Departemen Pendidikan Nasional. Dimana setiap satu-dua bulan sekali Badan Psikiater dan Psikologi Anak selalu mengadakan seminar tentang anak-anak berkebutuhan khusus. T. Apakah ada pihak-pihak terkait yang diajak bekerja sama dalam menyelenggarakan terapi anak ini? J. pihak-pihak terkait yang juga sangat menunjang dalam penyelenggaraan terapi anak ini.00 – 12. Karena dalam membelajarkan anak hiperaktif itu harus di ruangan yang kosong tanpa ada hiasan dinding yang bisa mengganggu konsentrasi mereka pada pelajaran. Dokter. disitu kita mengemukakan masalah yang kita hadapi selama ditempat terapi untuk menemukan solusinya. Terapi disini dilaksanakan setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat dan dalam satu hari dibagi dalam 4 session yaitu: Session I dilaksanakan pada pukul 08. Ada 5 kelas.00 – 17. diantaranya: Psikolog anak. seperti yang kita ketahui bahwa tidak mudah seseorang itu membimbing anak yang mempunyai kebutuhan . fasilitator.asal bisa digunakan untuk membelajarkan mereka dan lebih mengkonsentrasikan mereka pada pelajaran. disamping itu saya juga harus bertanggung jawab terhadap perkembangan terapi ini. T. dlsb. Psikiater anak. otomatis semua tugas menjadi tanggung jawab saya. Apakah tugas anda sebagai Kepala Terapi Anak? J. baik itu sebagai administrator.00 WIB Jadi setiap membelajarkan anak itu dilaksanakan selama ± 2 jam. Ada berapa jumlah guru yang membantu anda mengajar disini? J. dengan begitu pengetahuan kita akan bertambah tentang anak-anak yang berkebutuhan khusus dan cara menanganinya. dan kebetulan mereka perempuan semua. T. dan tenaga ahli yang lain seperti: ahli gizi.329 T. dokter spesialis metabolitas. maupun koordinator serta peningkatan sumber daya manusia bagi guru/terapis. dokter disini meliputi dokter spesialis yang menangani gangguan perkembangan anak. Guru yang mengajar disini ada 6. Ada berapa ruang kelas yang digunakan untuk mengajar? Apakah ruangan ini juga didesain khusus untuk membelajarkan anak hiperaktif agar anak lebih konsentrasi dalam belajar? J.00 – 10. dokter spesialis syaraf. Tolong beri penjelasan tentang jadwal terapi disini? J. Di desain sih nggak. T.

330

khusus apalagi anak itu tergolong hiperaktif, apakah dalam hal ini diperlukan kiat-kiat khusus seperti diadakan pelatihan dalam membimbing anak sebelum mengajar di kelas? J. Mengingat terapi anak ini berada di kota kecil dengan biaya yang tidak banyak, saya tidak mengharuskan seseorang yang membantu saya untuk mengajar disini orang yang mempunyai gelar sarjana, tetapi saya ingin membantu mereka yang benar-benar membutuhkan pekerjaan, cukup dengan diberi pengarahan sedikit dan buku panduan tentang membelajarkan anak yang berkebutuhan khusus mereka akan cepat tanggap dan mengerti apa yang harus mereka kerjakan, maka dari itu kebanyakan mereka adalah lulusan SMA. Sedangkan untuk pelatihan, pertama saya suruh mereka untuk membantu terapis lainnya mengajar, sambil melihat dan memahami cara mengajar anak yang benar, karena cara mengajar ini tidak seperti cara mengajar di Taman Kanak-kanak yang siswanya adalah anak-anak normal akan tetapi yang dihadapi nanti adalah anak yang sulit diatur dan mempunyai berbagai macam masalah. Setelah mereka memahami cara mengajar yang benar baru saya beri wewenang untuk mengajar sendiri dan berhasil tidaknya dalam pengajaran itu tergantung dari dirinya sebagai terapis/guru pembimbing. T. Ada berapa jumlah siswa yang diterapi disini? J. Sejak saya mendirikan terapi ini sampai sekarang jumlah siswa yang diterapi disini kurang lebih ada 24 anak, sedangkan yang masih diterapi sampai saat ini kurang lebih ada 15 anak, dan siswa lainnya yang dirasa sudah sembuh cukup diterapi di rumah dengan masih tetap berkonsultasi dengan pihak terapi. T. Berapa rata-rata umur mereka dan kebanyakan anak nomor berapa yang diterapi disini? J. Umur mereka rata-rata 5 sampai 10 tahun. Dan kebanyakan dari mereka adalah anak pertama (sulung), dan ada juga lho anak yang sepupunya juga diterapi disini tetapi masalahnya berbeda yang satunya IQ rendah sedangkan sepupunya mengidap autis dan hiperaktif. Selain itu disini ada juga anak kembar tetapi kembarannya itu normal, dan ada juga yang kakak adik diterapi disini dan kedua-duanya itu mempunyai masalah autisme. T. Melihat cerita anda tadi, ada bermacam-macam tipe anak berkebutuhan khusus, tipe apa saja yang diterapi disini dan bagaimana anda mengetahui kalau anak itu tergolong tipe itu? J. Tipe anak yang diterapi disini banyak, ada yang hiperaktif, autis, ADD, speech delayed (terlambat bicara), disphasia (anak yang mengalami gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam), IQ rendah, microcepalus (anak yang lahir dengan ukuran lingkar kepala kurang dari standart kelahiran), down sindrome, gangguan konsentrasi, retardasi mental (idiot), dan kurang stimulasi. Dan untuk mengetahui tergolong tipe apa anak itu, biasanya kami melihat dari tingkah lakunya selang beberapa hari setelah anak diterapi disini, atau kalau nggak biasanya dari psikiater atau psikolog kami sudah diberitahu kalau anak itu tergolong tipe ini.

331

T. Sebelumnya saya mau tanya, karena penelitian saya adalah pembelajaran khusus untuk anak hiperaktif, sedangkan di tempat terapi anak ini ada bermacam-macam anak berkebutuhan khusus, apakah sama penanganan dan sistem pembelajaran anak hiperaktif dengan anak berkebutuhan khusus lainnya? J. Penanganan dan sistem pembelajarannya itu sama, akan tetapi karena pertama kali anak dibawa di tempat terapi ini dengan permasalahan yang berbeda-beda, mungkin cara penanganan pertama itu saja yang berbeda, Misalnya anak hiperaktif berat dengan hiperaktif ringan, anak hiperaktif berat lebih sulit penanganannya dibandingkan dengan anak hiperaktif ringan dan biasanya kami menangani anak yang hiperaktif berat dengan bantuan alat “been back” yang tujuannya agar hiperaktifnya itu berkurang, sedangkan anak yang tergolong hiperaktif ringan cukup dengan diarahkan saja tanpa menggunakan alat “been back”. Pernah ada anak yang bernama Anis dia tergolong speech delayed (terlambat bicara), selama enam tahun tidak mau berbicara dan bagaimana cara kita membuat anak itu mau bicara dan

melenturkan lidah yang kaku itu, dan alhamdulillah setelah melalui terapi dia mau berbicara walaupun bicaranya cedal akibat lama tidak bicara. T. Pendekatan dan metode apakah yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif? J. Disini kami dalam membelajarkan anak hiperaktif mengggunakan pendekatan individual (lovaas one on one - pembelajaran satu guru satu murid). Sedangkan metode yang kami gunakan adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”, sehingga anak dapat menangkap pesan, informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar-gambar), karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. T. Adakah kriteria khusus (syarat-syarat) dalam membimbing anak hiperaktif? J. Dalam upaya membelajarkan anak hiperaktif tidak mudah. Guru pembimbing sebagai model untuk anak hiperaktif harus memiliki kepekaan, ketelatenan, kreatif dan konsisten di dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh karena anak hiperaktif pada umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain. Maka guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak hiperaktif. Ada beberapa pra syarat yang harus dilakukan dan dipersiapkan oleh seorang guru pembimbing anak hiperaktif sebelum mengerjakan/melaksanakan kegiatan belajar mengajar yakni: 6. Menciptakan situasi yang kondusif untuk pembelajaran yang meliputi: c) Emosi yang stabil dari anak hiperaktif.

d) Ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan. 7. 8. Mengupayakan adanya kontak mata yang sejajar antara guru-siswa Kemampuan untuk meningkatkan ketahanan konsentrasi anak.

332

9.

Mengupayakan kepatuhan dari anak hiperaktif dan pemahaman bahasa reseptif.

10. Pembimbing harus menyadari dan memahami tujuan apa yang akan dicapai dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran untuk anak hiperaktif. T. Selain penanganan khusus anak hiperaktif (terapi) apakah disini juga memberikan pelayanan lain seperti terapi (konsultasi) orang tua dalam menangani anaknya dirumah, pengaturan makanan dan pemberian obat pada anak hiperaktif yang tentunya dengan persetujuan dokter? J. Disini kami memberikan pelayanan konsultasi bagi orang tua, karena ini sangat penting untuk mengetahui perkembangan anaknya dirumah. Melalui bimbingan para guru/terapis serta kerjasama yang baik dengan orang tua dan orang-orang disekitarnya, dapat dikembangkan potensi anak. Akan tetapi pelayanan pengaturan makanan dan pemberian obat adalah wewenang dokter, dan kami ditempat terapi hanya menjalankannya saja apa yang dianjurkan oleh dokter dan menjalankan proses penyembuhannya (terapinya) untuk mempersiapkan anak sekolah di sekolah reguler. T. Bagaimanakah cara merancang pembelajaran anak hiperaktif ? J. Dalam membelajarkan anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya kami menggunakan kurikulum yang sudah banyak digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia yang tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemampuan anak, dan tidak mampuannya, usia anak, serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. Mungkin mbak Eri nanti bisa lihat sendiri di buku panduan yang sudah saya berikan. T. Apakah prinsip-prinsip yang digunakan dalam pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? J. Pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: f) Terstruktur Yaitu pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Setelah dikuasai, kemudian ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya. Contohnya untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna dari instruksi “Ambil bola merah”. Maka materi pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata “ambil”, “bola” dan “merah”. Setelah anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi “Ambil bola merah” kedalam perbuatan kongkrit. g) Terpola Terpola disini maksudnya dalam kegiatan anak hiperaktif harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur, baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya)

333

Namun, bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang; dapat dilatih dengan kondisi dilingkungannya, supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). h) Terprogram Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evalusi. Sebab dalam program materi pendidikan harus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan pada kemampuan anak. i) Konsisten Artinya: apabila anak berperilaku positif memberi respon positif terhadap sesuatu stimulan (rangsangan), maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan), demikian pula apabila anak berperilaku negatif (reinforcement). Hal tersebut juga dilakukan dalam ruang dan waktu lain yang berbeda secara tetap dan tepat, dalam arti respon yang diberikan harus sesuai dengan perilaku sebelumnya. j) Kontinyu Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran, program pendidikan dan pelaksanaannya. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan di rumah dan lingkungan sekitar anak. Kesimpulannya, terapi perilaku dan pendidikan bagi anak hiperaktif harus dilaksanakan secara berkesinambungan, simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu). T. Sarana pembelajaran apa saja yang sangat diperlukan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. Sarana belajar itu sangat diperlukan dalam pembelajaran anak hiperaktif, karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. Karena pola pikir anak hiperaktif pada umumnya adalah pola pikir konkrit, sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus konkrit. Dan kebetulan anak yang diterapi disini adalah kebanyakan anak usia prasekolah maka sarana belajarnyapun dsesuaikan dengan usia pendidikan anak yaitu berupa: alat peraga: pengenalan warna, bentuk, huruf dan angka, benda-benda sekitar, buah, binatang, kendaraan, alat bantu komunikasi: berupa gambar-gambar yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak, alat bantu pengembangan motorik halus: cara memegang pensil, menggunting, mewarna, dsb, alat bantu pengembangan motorik kasar: bola, tali, dlsb, dan ditambah berbagai macam mainan edukatif T. Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian). Bagaimana cara mengevaluasi pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? J. Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif disini adalah: evaluasi proses yang dilakukan dengan cara seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga, dengan memberi

Jika anak itu sudah dikatakan cukup sembuh (tingkat aktifitasnya berkurang) apakah pihak sekolah menyarankan agar anak itu juga disekolahkan disekolah reguler/formal (TK. lalu bagaimana hasilnya? J. Pertama kali Troy (begitu nama panggilan Ferdinan Troy) dibawa kesini saya melihat bahwa kasus anak ini sama dengan kasus yang dialami anak saya dulu. selain di tempat terapi anak itu sendiri? Lalu bagaimana cara mensiasatinya agar anak itu juga bisa menerima pelajaran di sekolah umum. tetapi di sekolah umum anak masih memerlukan waktu penyesuaian untuk dapat mengikuti tatacara pengajaran yang berbeda dengan pada saat terapi. T. Untuk itu dalam sekolah anak harus didampingi guru pembimbing/terapis sampai benar-benar ia bisa mandiri dan mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. karena dia mempunyai gangguan autis yang hanya tertarik pada dunianya sendiri dan hiperaktif. Disamping sebagai kepala terapi anda juga ikut mengajar/sebagai terapis. sehingga dapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnya. Benar. dan dikelas anak harus berbagi dengan teman-temannya dengan bahasa guru yang berbeda dengan terapisnya dan bersifat klasikal. saya mencoba untuk menenangkan anak ini agar tidak terlalu banyak gerak (hiperaktif) dengan saya tempatkan diruangan khusus dan saya dudukkan di meja kursi khusus tujuannya agar anak ini tetap kontak mata dengan saya dan tidak asyik dengan dunianya sendiri dan agar dia tahu bahwa . Walaupun anak sudah patuh dan dapat berkonsentrasi pada saat terapi. T. dan dari data yang saya terima anda mengajar Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan Autis dan Hiperaktif. berinteraksi/bersosialisasi dengan teman sebayanya dan harus mengerti instruksi guru dengan cepat. tetapi melalui tata cara pengajaran untuk anak bermasalah (kelas kecil dengan jumlah guru besar atau satu guru satu murid. Ia perlu belajar mengenal dan mengikuti peraturan disekolahnya. apalagi mereka juga memerlukan perhatian yang ekstra? J. dengan alat visual/gambar/kartu. Dimana evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian yang setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. dsb) dengan tujuan untuk membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler dan belajar secara intensif pelajaran yang tertinggal di kelas reguler. SMA) sesuai dengan umur anak dan tingkat kemampuan anak. instruksi yang jelas. padat dan konsisten. Bagaimana cara anda menanganinya dan mengajarkannya terutama dengan menggunakan media visual (gambar). Anak biasa ditangani dengan guru khusus sendirian. Disamping itu kami juga mengadakan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. Setelah anak diterapi secara terpadu dan terstruktur.334 reward (hadiah/pujian)untuk respons yang benar. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. SD. anak dipersiapkan dan diperkenalkan pada pengajaran dengan kurikulum sekolah biasa. SMP.

Apa yang menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan dan pengajaran bagi anak hiperaktif. kecerdasan/IQ.335 dihadapannya itu ada orang yang sedang memperhatikannya. karena guru hanya membantu di tempat terapi dan tanpa kerjasama antara orang tua siswa dan guru tidak mungkin sukses dalam penyembuhan itu. T. Alhamdulillah sekarang dia bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya walaupun saya masih mendapinginya di sekolah.tetapi ya itu kita sebagai terapis harus cepat dan cekatan dalam memberikan materi karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. metode. sarana pendidikan. menurut anda? J. usia pada saat diagnosis. Untuk itulah kita harus siap dengan media visual (gambar) disamping kita dan mainan edukatif. yang terakhir adalah terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru. Pesan saya kepada para orang tua yang mempunyai anak bermasalah segeralah bawa ke dokter spesialis anak dari situ mungkin dokter akan menyarankan ke psikiater/psikolog anak dan cari informasi tentang terapi khusus untuk menangani anak yang berkebutuhan khusus. Dan hasilnya bisa mbak Eri lihat sendiri di lembar penilaian. diantaranya: berat-ringannya kelainan/gejala. kurangnya tenaga pengajar. dan saya berusaha tenang dan tidak tertawa setiap anak ini mengoceh. tingkat kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak. Menurut saya yang menjadi penentu keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif. gedung/perlengkapannya. lingkungan (keluarga. T. karena ocehannya ini suka ngelantur kemana-mana tanpa jelas. para guru/terapis dan siswanya? J. antara lain: terbatasnya ruang dalam belajar. dll padahal masih banyak orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya untuk diterapi disini dan terpaksa saya tolak. Apakah pesan anda pada para orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/anak berkebutuhan khusus lainnya? J. kesehatan dan kestabilan emosi anak. kurikulum. setiap dia menoleh dan mulai bergerak saya usahakan agar menatap saya . dan ternyata anak ini cukup cerdas dan cepat tanggap pada materi yang saya berikan sehingga tidak ada kendala dalam membelajarkannya. tetapi jangan lupa orang tua juga harus ikut andil dalam penyembuhan anaknya dirumah. Setelah anak ini bisa diam agak lama baru saya mulai pelajaran dengan saya tunjukkan gambargambar. Apakah selama ini ada hambatan/kendala dalam mengelola terapi anak ini baik itu dari administrasinya. tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa. kurangnya sarana dan prasarana dalam belajar. sekolah dan masyarakat). T. Saya kira masih banyak sekali hambatan-hambatan dalam mengelola sekolah ini. Wawancara Dengan Guru Pembimbing/Pengajar (Terapis) .

Kami mempersiapkan program yang diberikan secara sistematis. sehingga ia autis dan hiperaktif. lugas dan setiap kali respon yang diberikan oleh anak harus kita kasih reinforcer bisa berupa imbalan/hadiah. Bicara dengan anak hiperaktif tidak boleh dengan bertele-tele harus singkat. alat peraga dan cara/konsep membelajarkan anak hiperaktif. Yang tergolong hiperaktif itu ada dua anak yaitu Alvin dan Galih. T. T. T. Kalau Alvin mempunyai gangguan hiperaktif. Sedangkan untuk Galih karena dia mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif saya menekankan pada bicara. Disampaikan secara tegas. bagaimana caranya agar anak itu mau berbicara dan mau menirukan apa yang saya ucapan. Karena Alvin mempunyai gangguan autis dan hiperaktif saya menekankan agar selalu kontak mata dengan Alvin agar ia tidak mempunyai kesempatan untuk asyik dengan dunianya sendiri (misalnya melamun atau sibuk dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak menganggap ada orang dihadapannya). tepuk tangan dan acungan jempol. Kira-kira jumlahnya ada 7 anak yaitu Autis klasik. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. applaus. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak hiperaktif)? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran ? J. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? J. Ada. autis. T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? . tegas dan bermakna. T. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. sedangkan Galih speech delayed (terlambat bicara) dan mengerti/maksud dari perintah saya tentunya ini harus dengan prompt. apabila ada bahasa yang tidak dimengerti oleh anak kita buatkan bentuk visualnya yaitu gambar-gambar yang kita ibaratkan apa yang kita ucapkan. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. hiperaktif dan gangguan konsentrasi.336 Ibu Purwati T.

Ya.337 J. T. binatang. kemudian ditambah lagi sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak itu tadi. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. anak akan jadi lebih tertarik untuk melihat dan memperhatikan apa yang kita sampaikan. nah apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif kita visualkan lewat gambar-gambar itu tadi. T. karena mainan itu bukan mainan biasa tetapi mainan edukatif yang tujuannya memang digunakan untuk belajar. buah-buahan. lha pada saat mau mengeluarkan alat peraga dan gambar itu tadi tidak diperkenankan mengeluarkan banyak. Dan hampir semua mata pelajaran menggunakan media visual. diluar rumah. papan tulis dan bisa dibuat dengan tangan. faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? J. lalu kita tingkatkan tahap demi tahap jumlah-jumlah apa yang kita berikan. . Media itu ada yanng sedikit dibeli dan banyak yang dibuat sendiri. Anak selalu dalam kondisi yang tidak tenang. gambar-gambar dikomputer yang dicetak. sulit memperhatikan. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. T. mainan juga digunakan untuk membelajarkan anak hiperaktif. alat transportasi dan berbagai hal yang belum mereka ketahui. media itu berupa kertas. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? J. apakah itu bahasa Indonesia ataupun matematika. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. Media visual itu sangat diperlukan karena disamping anak ini hiperaktif ia juga kehilangan konsentrasi. Gambar-gambar itu mencakup bidang: gambar-gambar yang ada dilingkungan itu yaitu didalam rumah. dan biasanya juga diimbangi dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. Biasanya untuk pertama kalinya anak yang mengalami hiperaktifitas dalam penanganannya anak pertama kali. tetapi harus satu terlebih dahulu. Cara membelajarkannya dikelas: gambar-gambar yang sudah kita dapatkan kita potong-potong dalam bentuk kecil-kecil kemudian kita sampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain. T. mengenal berbagai gambar yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu gambar sayur-sayuran. Ya. terus dengan gambar-gambar yang berwarna.

tetapi diganti dengan pujian. tahap demi tahap. Tidak. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. Ya.338 T. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. justru obat tersebut sangat membantu mereka dalam berkonsentrasi T. hadiah-hadiah itu bisa diganti dengan jalan-jalan/apa saja setelah proses penanganan terapi. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? J. konsep perhatiannya sudah mulai membaik dan semuanya sudah mulai ada titik kesembuhan. T. itu tidak akan terjadi asal para terapis dan orang tua konsisten dengan apa yang kita berikan. karena kita memberikan hadiah (reinforcer) pada anak karena mereka melakukan respon baik dan itu akan kita berikan pada saat anak menjalani terapi pada awal penanganan. mungkin bahkan jika anak itu kepatuhannya sudah mulai pulih. semua anak hiperaktif selalu kesulitan dalam bergaul karena tingkat aktivitasnya yang sangat tinggi. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. Mungkin dengan menghubungi dokter untuk meningkatkan dosisnya. kita bekerja sama dengan dokter untuk menyembuhkan anak tersebut. justru cara termudah untuk menyampaikan anak supaya mengerti adalah pakai gambar visual. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. T. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. T. Ya. Tidak. tidak . karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? J. tepuk tangan. semua anak disini disamping penanganan terapi. tengah pertengahan sesi pemberian hadiah mulai dikurangi. Tidak ada. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. ciuman. T. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? J. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. hingga ia melakukan gerakan-gerakan itu ditempat lingkungan sosialnya. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. tidak dihilangkan dan hadiah-hadiah itu dikurangi/diganti tidak berupa riil/benda.

apa yang diharapkan tidak sesuai dengan harapan semua. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. T. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif terutama Alvin dan Galih sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. jika tidak aktif apa yang dihasilkan. Ya di tempat terapi ini sangat membutuhkan kerja sama orang tua wali. hambatan kami dalam membelajarkan anak hiperaktif adalah jika anak itu memang dalam proses penanganan dan baru beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang baru kita berikan. Pesan saya kepada orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya jangan lupa untuk selalu mengawasi mereka dimanapun anak itu berada. karena kondisi tingkat kehiperaktifitasannya itu yang belum bisa ditempatkan diluar ruang sempit. salah sendiri karena melakukan kegiatan yang tidak sama dengan anak lain.339 ada yang melakukan sama seperti anak itu tadi. Caranya kita mulai perkenalkan secara satu persatu dengan media visual (gambar-gambar) dan tentunya harus diikuti dengan aktifnya orang tua di rumah. Buktinya sekarang Alvin sudah bisa dikendalikan emosinya dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik walaupun dia masih bingung membedakan antara jantan dan betina tetapi dengan prompt akhirnya dia mengerti juga. Ada. mereka selaku orang tua dan kami selaku terapis. karena disini modalnya adalah sistem orang tua aktif. T. selalu memberikan yang terbaik dan jangan lupa jika ada yang merasa putranya mengalami gangguan perkembangan cepat dibawa ke ahlinya. bukannya mereka disisihkan tetapi mereka memang tersisih. Dan Galih kosa kata bicaranya sudah mulai meningkat. . T. dan dia masih suka mengoceh sendiri yang tidak jelas arah tujuannya. Selaku guru pembimbing/terapis kita berikan program sosialisasi dengan tahapan-tahapan dengan tidak secara langsung dengan jumlah teman yang banyak diatas 5 orang tetapi dibawah 5 mungkin bahkan bisa dimulai dari jumlah 2 orang dalam ruang lingkup yang sempitbukan diarea luar rumah yang lebih luas. T. sehingga kalau dilihat dari amatan awam anak itu memang kelihatan berbeda. Ya saya rasa sudah cukup berhasil. walaupun dalam mengartikan gambar dengan dua kata ia masih agak sulit. mereka juga tidak bisa melakukan interaksi dia juga kadang asyik dengan dirinya sendiri. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J.

340

Ibu Endang Sulastri
T. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. Disini saya menangani 2 siswa yang mempunyai tipe hiperaktif dan autis. Namanya Khusnul Ma’Ali T. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak yang berbeda tipe)? Bagaimana cara menangani anak yang hiperaktif terutama saat pembelajaran? J. Ada. Dalam menangani anak hiperaktif kita berusaha untuk menenangkannya dengan cara menatap mata si anak dan memegangi kedua tangannya agar tidak bergerak kesana kemari sampai anak itu benar-benar bisa tenang. T. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. Pertama alat pembelajarannya dulu kita persiapkan kemudian konsentrasi anak, setelah anak mulai konsentrasi baru kita mulai pelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada, akan tetapi sebelum melanjutkan ke materi selanjutnya kita ulangi materi sebelumnya sekedar untuk mengingatkannya kembali.

IV. T.

Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas

(langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda?
J. Sebenarnya sih sama saja dalam menghadapi berbagai tipe anak berkebutuhan khusus, cuma bagaimana cara/usaha kita menenangkan anak agar bisa konsentrasi dalam pelajaran.

Pertama kita berusaha menenangkan mereka. Pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Setelah bisa duduk lebih lama, baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada, tetapi tidak semudah itu karena ditengah-tengah pelajaran anak sudah mulai banyak gerak sehingga konsentrasi buyar. Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming, seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Jadi intinya dalam mengajarkan anak hiperaktif yaitu bagaimana anak itu bisa konsensentrasi pada pelajaran.

341

T. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif, bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. Dengan menatap mata si anak dengan tanpa bicara berbelit-belit karena itu akan menyulitkan anak untuk memahami perkataan kita. T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? J. Ya, karena itu sangat penting untuk menarik perhatian mereka dalam belajar. Salah satunya yang paling penting disini adalah menggunakan media gambar. Kebanyakan gambar-gambar itu dibuat sendiri entah itu kita ambil dari majalah-majalah/buku atau kita ambil dari komputer yang kemudian dilaminating agar tidak cepat rusak/kotor. T. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. Tentu saja ya, terutama mainan edukatif seperti puzzle, balok kayu, dlsb, karena ini penting untuk mengasah kecerdasan mereka, kita jadi tahu sampai sejauh mana mereka kemampuan mereka untuk menyelesaiannya. T. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas?

J.

Pembelajaran mencakup

dengan

menggunakan (mengenal

media

visual

berhitung

angka),

membaca

(mengenal huruf), mengenal nama-nama benda disekitar kita dan aktifitas orang. Dan saya rasa semua mata pelajaran menggunakan sesuai media dengan visual itu. Cara kita

membelajarkannya

kurikulum

ajarkan/perkenalkan dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit, mungkin adik nanti bisa lihat cara membelajarkan anak hiperaktif dikelas dan kalau untuk lebih jelasnya lagi bisa melihat di buku Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC disitu lengkap sudah ada kurikulumnya dan cara pembelajarannya.
T. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif, faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu?

342

J.

Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah /membantu kita dalam

berkomunikasi/berinteraksi. Lalu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya itu memungkinkan penggunaan media visual itu akan lebih menarik minat mereka dalam belajar. T. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. Kesulitannya adalah apabila kita memperkenalkan pada gambar yang terlihat asing bagi mereka, dengan tingkahnya yang tidak bisa diam dan konsentrasinya yang mudah pudar, kita harus berusaha mengulangi sampai benar-benar anak itu tahu/memahami. T. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. Tidak ada

T. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar, salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya, karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu, lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. Benar, untuk itu sedikit demi sedikit kita harus menghilanginya/menggantinya karena reiforcer itu kan tidak harus berupa benda riil tetapi bisa berupa pujian, tepuk tangan dll. T. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka, yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. Tidak pasti, tergantung dari kondisi anak apakah anak itu mudah ditangani atau tidak.

T. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? J. Tidak ya, karena itu obat penenang (konsentrasi)

T. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif, karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? J. Sesuai dengan petunjuk dokter, mungkin orang tua diminta konsultasi dengan dokter.

T. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal, apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya?

343

J.

Ya, terutama kendalanya dalam berkomunikasi, tetapi itu tidak penting, bagi anak kecil asalkan bisa diajak bermain mereka akan enjoy aja. Dan kami disini sebagai terapis memberikan program sosialisasi dimulai dari ruang lingkup yang kecil.

T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. Tentu saja, hal itu sangat penting untuk mengetahui perkembangan si anak.

T. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. Pasti ada, salah satunya apabila anak itu sulit untuk berkonsentrasi. Perhatian anak dalam belajar kadang belum dapat bertahan untuk waktu yang lama dan masih berpindah pada obyek/kegiatan lain yang lebih menarik bagi anak. Hal inilah yang dapat mengakibatkan waktu pembelajaran terbuang dengan sia-sia, karena hanya cukup untuk menenangkan anak saja. Dan biasanya yang kami lakukan adalah: Waktu untuk belajar bagi anak ditingkatkan secara bertahap Kegiatan dibuat semenarik mungkin, dan bervariasi Istirahat sebentar kemudian dilanjutkan kembali, dimaksudkan untuk mengurangi kejenuhan pada anak. T. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif (Khusnul Ma’Ali) sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. Saya rasa bisa dibilang cukup berhasil. Terbukti dengan hiperaktifitasnya mulai berkurang, sudah bisa berkonsentrasi dan dapat diajak komunikasi. Dan dalam pelajaran tidak ada kendala, dia bisa mengikuti dengan baik, walaupun awalnya ia agak kesulitan membedakan bentuk lingkaran dan oval. T. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. Diharapkan apa yang dipelajari di tempat terapi diulang lagi dirumah.

Ibu Yuliana Wijayanti
T. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. Disini saya mengajar dua orang siswa dan semuanya hiperaktif, yaitu Anis dan Martika. Kalau Anis mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif sedangkan Martika mempunyai gangguan normal hiperaktif (hiperaktif ringan) dan kurang konsentrasi. T. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran?

Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? J. T. Ada. Yang dilakukan adalah menyuruh anak untuk duduk dan memusatkan perhatian mereka dengan menatap mata anak dan memegang kedua tangannya. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. siswanya dalam berkonsentrasi. baru kita mulai kegiatan belajar mengajar dan tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? J. Hanya saja kalau Anis. Hampir semua dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? J. Ya. materi pembelajarannya. dalam menyampaikan kita lebih mempertajam bahasa kita agar dia lebih memahami maksud dari ucapan/perintah kita. T. Sedangkan untuk Martika kita lebih mengkonsentrasikan anak itu pada tugas yang kita berikan. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. Ya. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. . karena memang anak itu seringkali mengabaikan tugas yang kita berikan dan tidak jarang dalam kita menyampaikan perintah harus diulang-ulang. apabila ada yang tidak dimengerti oleh anak kita gunakan gambar untuk membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi. T.344 J. tapi keduanya mudah diatur koq. Cara pembelajarannya dengan bertahap dimulai dari yang mudah/sederhana sampai ke yang rumit sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. Yang pertama kita siapkan adalah media pembelajarannya dulu. setelah anak diam beberapa lama baru kita mulai pembelajarannya. kebanyakan media itu adalah media visual gambar yang dibuat sendiri. T. tentunya mainan edukatif T. Bicara dengan anak hiperaktif harus tegas dan jelas.

Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? Tidak. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. justru obat tersebut sangat membantu mereka dalam berkonsentrasi T. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. Tergantung dari kondisi anak.345 T. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? Kita akan menghubungi dokter untuk diminta meningkatkan dosisnya. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka . T. sehingga waktu dua jam itu hanya digunakan untuk menenangkan anak. T. ciuman. Tidak ada. faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? J. Untuk membimbing anak dalam memahami sesuatu baik itu dalam memahami suatu benda atau ucapan. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. T. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. T. apakah anak itu mudah untuk diatasi ataukah sulit untuk diatasi/ditenangkan untuk konsentrasi. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. karena hadiah itu tidak hanya berupa benda. T. Tidak hanya memperkenalkan pada suatu media tapi untuk mulai pembelajarannya saja itu sulit. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. Kesulitannya yaitu pada awal-awalnya anak mulai ditangani. Tidak. justru cara yang paling mudah dalam menyampaikan materi pelajaran adalah menggunakan media visual (gambar) bahkan media ini sangat membantu kita dalam berkomunikasi pada anak. tepuk tangan. tetapi bisa diganti dengan pujian. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J.

tidak menyakiti diri. banyak sekali masalah yang ditimbulkan si anak. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. Ya. Ada. Disini kami mencoba untuk mengajarkan sosialisasi pada anak dimulai dengan kelompok kecil anatara 2-3 orang disitu kita mengamati tingkah anak sambil mungkin diadakan suatu permainan. terutama dalam mengendalikan anak untuk belajar. Ya itu pasti orang tua harus aktif dalam membelajarkan anaknya dirumah. Tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri Menyiapkan kegiatan yang menarik dan positif Menciptakan situasi yang kondusif bagi anak. misalnya: menangis.346 bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? J. memberontak. putih menjadi uti. Maka cara mengatasinya: Berusaha mencari dan menemukan penyebabnya Berusaha menenangkan anak dengan cara tetap bersikap tenang Setelah kondisi emosinya mulai membaik. T. untuk itu lembar penilaian selalu dibawa pulang tujuannya agar orang tua mengulang apa yang diajarkan diterapi. sehingga orang tua dan kita sebagai terapis bisa mengetahui perkembangan si anak baik dirumah maupun ditempat terapi. mungkin ia cenderung asik dengan dunianya sendiri/permainannya sendiri. Sedangkan apabila emosi anak dalam keadaan tidak stabil. kegiatan dapat dilanjutkan. tertawa tanpa sebab yang jelas. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. mengamuk. T. baik itu masalah perilaku maupun emosi anak yang tidak stabil Cara mengatasinya: Memberikan reinforcement. terutama kendalanya dalam berkomunikasi dan dalam ia bersikap. kotak menjadi otak tetapi dia cukup pintar terbukti kalau nilai-nilainya itu baik. Dan untuk . tantrum dsb. Terbukti kalau Anis sudah bisa bicara walaupun cedal dan dalam membaca hurufnya ada yang dihilangkan seperti biru menjadi bi u. berteriak. destruktif. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. Alhamdulillah cukup berhasil.

Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? J. Ya. T. Wawancara Dengan Orang Tua Siswa Ibu Nur T. Punya. Umur berapa anak anda diterapi disini? .347 Martika walaupun dia kurang konsentrasi dalam belajar dan penangkapannya itu kurang tetapi dengan ketelatenan dan pembelajaran yang berulang-ulang hasilnyapun cukup memuaskan. Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? J. perilakunya. Ya. Dari koran. ada 3 T. T. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? J. Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? J. Anak pertama T. V. dia mengoceh sendiri T. Dari gerakan-gerakannya. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak berkebutuhan khusus? J. jam kurang tidur dan yang tambah yakin dari kami adalah dari diagnosa dokter. Pesan saya kepada orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya usahakan untuk membimbing anaknya di rumah dengan tegas dan disiplin. sering. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? J. lalu kami mencari petunjuk seorang dokter untuk dibawa kemana anak saya yang mengalami gangguan perkembangan ini. khususnya hiperaktif/autisma. T. Kami waktu itu tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? J. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). oleh dokter kami dianjurkan untuk dibawa ke pusat terapi khusus untuk menangani anak bermasalah. Sejak usia mendekati 2 tahun T. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. T. T. tidak ada yang dia tirukan. kontak matanya.5 tahun. kalau nggak salah usia 4. Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? J. Ya T. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? J.

Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? J. T. T. Ya saya selaku orang tua selalu meluangkan waktu untuk membimbing dan mengajari anak saya. manja karena diajari oleh orang tuanya sendiri di rumah. Ya kami memperhatikan sekali pola makanan yang dikonsumsi oleh anak kami. karena ini berhubungan dengan perkembangan anak kami maka kami harus bekerja sama dengan terapis dan dokter. perkembangan bicaranya dia sudah bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dalam bentuk kalimat. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif . T. T. Perubahannya memang sangat mencolok sekali.348 J. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. Umur 4. dan kami cara mengatasinya adalah kami tetap harus konsisten untuk mengajarinya pada jam yang sudah ditentukan. Yang kami lakukan kami membiasakan dulu dengan masakan-masakan/makanan-makanan yang kami buat sendiri. lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? J. dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi? J. T. Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? . berinisiatif untuk mengungkapkan keinginannya/pendapatnya sendiri. kami menyediakan fasilitas lengkap untuk anak kami yang mempunyai gangguan perkembangan autis dan hiperaktif ini. Ya. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? J. Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? J. T. buktinya anak saya sekarang sudah sembuh dan baik. meja kursi . T. Ya.5 tahun T. Ada. Apakah disamping anak anda diterapi disini. alat/media pembelajaran dan mainan? J. Ya tentu. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? J. kami selalu konsultasi dan berobat ke dokter setiap 2 bulan sekali. jika anak kami menangis minta dibelikan makanan kami selaku orang tua adalah memberi pengertian bahwa makanan itu tidak boleh agar cepat sembuh. anak cenderung lebih tidak konsentrasi.

Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? J. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? J. T. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? J. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? J. jadi kalau ingin makan makanan yang dibeli di luar makanannya harus ngumpet. T. Hambatan-hambatan itu ada pada awal sebelum penanganan tetapi setelah terjadi penanganan anak kami sudah mulai berinteraksi. dia berbicara sejak dia mulai mengoceh tapi bicaranya itu tidak jelas sampai akhirnya saya bawa ke tempat terapi ini. jadi harus menghormatinya. T. Pesan saya pada orang tua yang mempunyai anak hiperaktif tolong bahwa tiap anak mempunyai hak yang sama. Ya. sekeluarga alangkah baiknya memang mendukung dan keluarga kami juga mendukung. Karena anak itu banyak gerak dan sulit diatur. ada 2 orang. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. hak pendidikan yang sama dengan anak yang tidak mempunyai gangguan perkembanngan. tolong masukkanlah ke tempat-tempat terapi karena disitulah tempatnya dan penanganan yang tepat agar anak anda menjadi manusia yang berguna. Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? J. tapi mungkin anak saya yang hiperaktif ini lebih diperhatikan lagi.2 T. Ibu Utami T. karena memang ada satu anak yang bermasalah dari keluarga kami sehingga keluarga yang lainpun harus tahu bahwa ada saudaranya yang tidak boleh makan makanan itu. Tidak. Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? J. sudah sembuh. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? J. Kurang lebih berumur 2 tahun. VI. Sebelumnya saya bawa kedokter kemudian oleh dokter disuruh dibawa ke tempat terapi. T. Anak no. T. T. Ya. menjadi seorang anak yang anda inginkan dan anak itu inginkan. .349 J. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? J. Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? J. T. sudah pulih dan bergaul dengan siapa saja. Ya. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara).

Dari teman saya yang juga mempunyai anak seperti saya. demi perkembangan dan kesembuhan anak saya setiap ada seminar/pelatihan tentang anak bermasalah saya berusaha untuk mengikutinya. Ya saya berusaha untuk meluangkan waktu untuk membelajarkannya dirumah. Umur 5 tahun T. Apakah disamping anak anda diterapi disini. T. Umur berapa anak anda diterapi disini? J. T. T. Ya. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. Dulu sih tidak pernah. Banyak sekali dan hasilnya cukup memuaskan walaupun itu memerlukan waktu yang cukup lama. perilakunya sudah mulai bisa dikendalikan. T. dan tidak seaktif dulu.350 T. T. lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? . dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi? J. mulai dari dia sudah bisa diajak berkomunikasi. karena sebelum dibawa ke tempat terapi saya merujuk ke dokter. dan dari tempat terapi sendiri juga menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. T. Ya. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif . Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? J. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak berkebutuhan khusus? J. T. tetapi setelah anak saya mulai diterapi. mungkin karena diajarkan sendiri oleh orang tuanya jadi anak itu menjadi manja dan sulit konsentrasi akibatnya saya selalu memberikan obat penenang sebelum mengajarkan anak saya di rumah. meja kursi . Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? J. Ya. alat/media pembelajaran dan mainan? J. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? J. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? J. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? J. Ya T.

tidak di depan anak saya yang hiperaktif. T. T. Setelah dipikir-pikir itu baik juga untuk semuanya. apalagi setelah mengetahui anak saya ada yang bermasalah. Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? J. Ya. untuk itu peran anggota keluarga juga sangat penting dalam mengajarkan dia berkomunikasi. tetapi kalau dengan orang dewasa kendalanya dalam berkomunikasi. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? J. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? J. T. Selama ini saya mengajarkan pada anak-anak saya untuk tidak membiasakan jajan diluar rumah. karena anak kecil itu kan nggak tahu apa-apa asal bisa diajak bermain mereka senang saja. saya mencoba untuk membuat makanan sendiri sesuai dengan anjuran dokter. mungkin dari situ akan merujuk ke tempat terapi. HASIL DOKUMENTASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF . Dan dalam proses terapi jangan lupa anak juga diterapi dirumah untuk itu sebagai orang tua kita harus sabar dalam menghadapi anak. Jadi tidak anak saya yang bermasalah saja yang diet tetapi semua anggota keluarga ikut diet. Saya sarankan kepada orang tua yang mempunyai anak bermasalah seperti saya ini untuk dibawa ke dokter anak atau ke psikiater anak. Kalau dengan teman sebaya sih enggak.351 J. apabila disitu ada yang ingin makan saya suruh menghindar. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya.

352 Wawancara dengan Kepala Terapi Pemusatan perhatian pada anak Melabel nama buah Menulis huruf Menulis angka Menunjuk angka .

353 Belajar Menabung Melabel Angka Melabel warna Menyebutkan nama binatang Mencocokkan benda Pemberian reinforcer (hadiah) berupa krupuk .

354 Melabel nama binatang Pemberian reinforcer (pujian) Membaca suku kata Menyelesaikan mainan puzzle Belajar membaca MACAM-MACAM MEDIA VISUAL (GAMBAR) .

355 Gambar alat transportasi Gambar benda dengan jumlah yang lebih banyak Gambar warna Gambar angka Gambar buah-buahan Gambar huruf .

356 Gambar aktivitas orang (kata kerja) Gambar suku kata Gambar arah jarum jam Gambar nama benda Gambar aktivitas orang secara bertahap Gambar aktivitas orang secara bertahap .

Kemampuan Imitasi (Meniru) Imitasi gerakan motorik kasar Imitasi tindakan (aksi) terhadap benda Imitasi gerakan motorik halus Imitasi gerakan motorik mulut 1. 4. 4. Mengikuti perintah sederhana (satutahap) . Kemampuan Bahasa Reseptif 1. 3. 3.357 Macam-macam mainan edukatif “Been Back” Alat untuk mengurangi hiperaktifitas pada anak PEDOMAN KURIKULUM Kemampuan Mengikuti Tugas/Pelajaran Duduk mandiri di kursi Kontak mata saat dipanggil “Galih” Kontak mata ketika diberi perintah “Lihat [(ke) sini]” Berespons terhadap arahan “Tangan ke bawah” 1. 2. 2.

7. 11. 9. dan diri sendiri Menyebutkan (melabel) kata kerja di gambar. Benda dengan gambar Warna. orang lain. Kemampuan Bantu-diri 1. 13. 11. Identifikasi bagian-bagian tubuh Identifikasi benda-benda Identifikasi gambar-gambar Identifikasi orang-orang dekat (familier)/anggota keluarga Mengikuti perintah kata kerja Identifikasi kata-kata kerja pada gambar Identifikasi benda-benda di lingkungan Menunjuk gambar-gambar dalam buku Identifikasi benda-benda menurut fungsinya Identifikasi kepemilikan Identifikasi suara-suara di lingkungan Kemampuan Bahasa Ekspresif Menunjuk sesuatu yang diingini sebagai respons dari “Mau apa?” Menunjuk secara spontan benda-benda yang diingini Imitasi suara dan kata Menyebutkan (melabel) benda-benda Menyebutkan (melabel) gambargambar Mengatakan (secara verbal) bendabenda yang diinginkan Menyatakan atau dengan isyarat “ya” dan “tidak” untuk sesuatu yang disukai (diingini) dan yang tidak disukai (tidak diingini) Menyebutkan (melabel) orang-orang dekat (familier)/anggota keluarga Membuat pilihan Saling menyapa Menjawab pertanyaan-pertanyaan sosial Menyebutkan (melabel) kata kerja di gambar. 5. 12. 9. 12. Melepas sepatu 4. 3. 14. 6. Toilet-training untuk buang air kecil 8. 4. angka Benda-benda yang non-identik Asosiasi (hubungan) antara berbagai benda Menyelesaikan aktivitas sederhana secara mandiri Identifikasi warna-warna Identifikasi berbagai bentuk Identifikasi huruf-huruf Identifikasi angka-angka Menyebut (menghafal) angka 1 sampai 10 Menghitung benda-benda 1. Melepas baju 7. Makan dengan menggunakan sendok dan garpu 3. 12.358 2. 15. 10. 5. 11. Melepas kaos kaki 5. 10. Kemampuan Pre-Akademik 1. 2. 6. 7. Minum dari gelas 2. 8. 3. 8. Gambar-gambar yang identik . 9. huruf. Melepas celana 6. orang lain dan diri sendiri Menyebutkan (melabel) benda sesuai fungsinya Menyebutkan (melabel) kepemilikan 4. 13. 5. 6. Benda-benda yang identik 3. 10. Menggunakan serbet/tissue 8. bentuk. 14. 4. 7. Mencocokkan 2.

Bila dalam 1 session seorang terapis melakukan suatu aktivitas lebih dari satu siklus. Catatan : 1. atau P+. AAP (bila AAA cukup ditulis dengan A saja). 4. tetapi harus konsisten). A. aktivitas tersebut dimasukkan ke dalam program dan lembar penilaian. : …………………………………………………………………….. Sehingga mudah terlihat berapa kali seorang terapi telah melakukan suatu aktivitas. Yaitu 3 terapis pada 3 session (kesempatan/waktu belajar) yang berbeda-beda secara berurutan memperoleh nilai A (yaitu berturut-turut 3 instruksi pertama mendapat 3 respons yang benar semua). P++.-. . 2. 1/lebih respons salah.359 LEMBAR PENILAIAN Kategori Instruksi Respon Benar : …………………………………………………………………….. Hal ini dapat dikerjakan dengan tujuan untuk membedakan apakah anak memang benar-benar belum bisa atau sudah mulai /sesekali bisa atau bisa dengan prompt setengah/sebagian/ringan. dan mudah dievaluasi sudah berapa kali seorang (dan keseluruhan) terapis telah mendapatkan nilai A (achieved). Suatu aktivitas dinyatakan telah dikuasai anak bila memenuhi kriteria 3 x 3 A. Juga mudah dievaluasi terapis (atau waktu-waktu tertentu) yang mana yang selalu mendapat P atau A.. : ……………………………………………………………………. atau A-. Bila dalam 3 instruksi pertama berturut-turut. Masing-masing terapis menggunakan ball point dengan warna tinta yang berbeda. 3. Bila suatu aktivitas telah mendapatkan 3 x 3 A. untuk pencatatannya tanggal ditulis hanya sekali dan bagian tanggal berikutnya dicoret supaya mudah terlihat dan mudah dievaluasi. dinilai P. dan lain-lain (sesuai kesepakatan seluruh terapis dan orang tua. Dapat juga digunakan kode misalnya APP.

. kemudian dengan instruksi #3 + prompot.360 Yang dimaksud satu siklus yaitu pada instruksi #1 dan #2 anak tidak berespons atau berespons salah. kemudian imbalan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->