P. 1
doc(2)

doc(2)

1.0

|Views: 12,810|Likes:

More info:

Published by: Fanny Zaniadi Caniago on Mar 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/17/2013

pdf

text

original

Sections

  • SKRIPSI
  • Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata 1
  • Oleh
  • Nama Mahasiswa : Erianawati
  • NIM : 1124000048
  • Program Studi : S1 Kurikulum Teknologi Pendidikan
  • PERSETUJUAN PEMBIMBING
  • PENGESAHAN
  • PERNYATAAN
  • MOTTO DAN PERSEMBAHAN
  • ABSTRAK
  • Kata Kunci: Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak
  • Hiperaktif
  • KATA PENGANTAR
  • DAFTAR ISI
  • BAB I PENDAHULUAN
  • BAB II KAJIAN PUSTAKA
  • BAB III METODE PENELITIAN
  • BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  • BAB V SIMPULAN DAN SARAN
  • A. SIMPULAN ...162
  • DAFTAR TABEL
  • DAFTAR GAMBAR
  • DAFTAR BAGAN
  • BAB I
  • PENDAHULUAN
  • A. Latar Belakang Permasalahan
  • B. Permasalahan
  • C. Penegasan Istilah
  • D. Identifikasi Permasalahan
  • E. Pembatasan Permasalahan
  • F. Rumusan Permasalahan
  • G. Tujuan Penelitian
  • H. Manfaat Penelitian
  • I. Sistematika Skripsi
  • BAB II
  • KAJIAN PUSTAKA
  • A. Hakikat Pembelajaran
  • B. Media Pembelajaran
  • C. Anak Hiperaktif
  • D. Media Visual
  • E. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak
  • BAB III
  • METODE PENELITIAN
  • A. Pendekatan dan Prosedur Penelitian
  • B. Latar dan Sasaran Penelitian
  • C. Teknik Pengumpulan Data
  • D. Teknik Analisis Data
  • E. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
  • BAB IV
  • HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  • A. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN
  • 1. Deskripsi Setting Penelitian
  • 2. Deskripsi Informasi Pelaksanaan Proses Pembelajaran Anak Hiperaktif
  • dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak
  • Al Tisma Kudus
  • Informan Penelitian I
  • Nama : Ibu Nh sebagai Kepala Terapi dan merangkap sebagai guru
  • pembimbig/terapis anak yang bernama Ferdinan Troy
  • Informan Penelitian II
  • Nama : Ibu Pr, Ibu Ed dan Ibu Yl (Guru Pembimbing/Terapis)
  • Ibu Pr sebagai guru pembimbing/terapis Galih dan Alvin
  • Ibu Ed sebagai guru pembimbing/terapis Khusnul Ma’Ali
  • Ibu Yl sebagai guru pembimbing/terapis Anis dan Martika
  • Informan Penelitian III
  • Ibu Nr dan Ibu Ut (orang tua siswa)
  • B. ANALISIS DATA
  • 1. Perencanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan
  • Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus
  • 2. Pelaksanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan
  • 3. Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media
  • Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus
  • Khusnul Ma’ali
  • Galih
  • Ferdinan Troy
  • Alvin
  • Anis
  • Martika
  • C. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
  • Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak
  • Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak
  • Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak
  • BAB V
  • SIMPULAN DAN SARAN
  • A. Simpulan
  • B. Saran
  • DAFTAR PUSTAKA
  • 1. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri?
  • 4. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas
  • (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka
  • menurut pada anda?
  • C. Wawancara dengan orang tua siswa Terapi Anak Al Tisma
  • Kudus
  • 3. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu?
  • III. T. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri?
  • J. Terapi Anak ini berdiri sejak Maret tahun 2001
  • Ibu Endang Sulastri
  • IV. T. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas
  • (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut
  • pada anda?
  • Ibu Nur
  • V. T. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu?
  • Ibu Utami
  • VI. T. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu?

1

PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI LEMBAGA TERAPI ANAK ALTISMA KUDUS

SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata 1 untuk meraih gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Nama Mahasiswa NIM Program Studi

: Erianawati : 1124000048 : S1 Kurikulum Teknologi Pendidikan

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

2

PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada : Hari Tanggal : :

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Hardjono NIP. 130781006

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

Mengetahui : Ketua Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan

Drs. Haryanto NIP. 131404301

3

PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : Rabu : 29 Juni 2005

Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. Siswanto, MM NIP. 130515769 Pembimbing I

Dra. Nurussaadah, Msi NIP. 131469642 Anggota Penguji Penguji I

Drs. Hardjono NIP.130781006 Pembimbing II

Drs. Kustiono, M.Pd NIP. 131998682 Penguji II

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

Drs. Hardjono NIP.130781006 Penguji III

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

4

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi atau tugas akhir ini benarbenar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang,

Erianawati NIM. 1124000048

Baihaqi) “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila mengerjakan suatu pekerjaan dilakukan secara itqon (professional)” (HR.” (Q. sesungguhnya mencari ilmu itu wajib bagi orang-orang Islam.S.” (HR.5 MOTTO DAN PERSEMBAHAN “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan. Baihaqi) PERSEMBAHAN Ayahanda dan Ibunda kami tercinta Kakanda dan Adinda kami tercinta Teman-teman kami TP Angkatan 2000 dan Almamater . Alam Nasyrah : 6) “Carilah ilmu walaupun (keberadaan ilmu) di negeri Cina.

dan disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). pengasuhan dan penanganan secara khusus sejak dini. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. karena media visual (gambar) merupakan alat bantu komunikasi yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak. Walaupun dibutuhkan kesabaran.. Terkait dengan pembelajaran anak hiperaktif penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perencanaan. Kata Kunci: Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) berbunyi: “Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapat pengajaran.6 ABSTRAK Erianawati. . listen and think’ (Abikoff. energi. Kelemahan tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menggunakan strategi kognitif yang terorganisir sehingga sulit memusatkan dan mempertahankan perhatian.” Kata tiap-tiap menunjukkan bahwa semua warga negara Indonesia termasuk anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus berhak untuk memperoleh pendidikan. 1987). Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. 2005. Si. salah satunya adalah dengan terapi. Perilaku mereka tidak diatur melalui aturan yang jelas. Di dalam pembelajaran anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus tidak lepas dari penggunaan media. dan orang dewasa lain) sangat diperlukan dalam upaya penyembuhan anak hiperaktif. M. salah satunya adalah anak hiperaktif. Suripto. terutama media visual. Pembimbing I Drs. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. memakan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menggambarkan anakanak yang menderita ketidakmampuan untuk ‘stop. look. Agar perkembangan anak hiperaktif bisa kembali seperti anak normal atau setidaknya bisa berkurang hiperaktifitasnya dan dapat berkomunikasi/menjalin hubungan baik dengan orang-orang disekitarnya maka anak hiperaktif perlu mendapatkan pendidikan. Untuk itu peran pendidik (orang tua. Pembimbing II Drs. Hardjono. guru. namun dengan dilakukannya terapi secara intensif akan membantu penyembuhannya dan secara bertahap hiperaktifitasnya akan berkurang.

jelas dan konsisten dan dengan suara netral . Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi. sehingga anak dapat menangkap pesan. arah. identifikasi bentuk. identifikasi angka dan identifikasi kata kerja. Metode pengumpulan data adalah metode observasi. Untuk itulah dalam membelajarkan anak hiperaktif tidak lepas dari penggunaan media. besaran dan lain-lain. bentuk. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. 2) mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). 3) mengetahui bagaimana evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Autis dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi. Guru Pembimbing/Terapis dan Orang Tua Siswa. yaitu cara pengambilan informan penelitian yang bukan didasarkan atas strata. kognitif. Disamping itu untuk meningkatkan kemampuan bahasa. terutama media visual (gambar). dan beri perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Pembelajaran ini bertujuan untuk membantu anak dalam generalisasi dan supaya anak menguasai berbagai konsep seperti warna. Dan metode yang digunakan dalam pengajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. wawancara dan dokumentasi. identifikasi warna. Pemilihan informan penelitian dilakukan dengan cara sampel bertujuan (purposive sample). Cara membelajarkannya dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu untuk memenuhi kebutuhan informasi sesuai dengan permasalahan penelitian. sedangkan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi yaitu anak yang mengalami gangguan perilaku tetapi ringan (hiperaktif ringan) dan kurang kokonsentrasi. Dalam memberikan perintah/instruksi ini harus disampaikan dengan singkat. identifikasi huruf. Autis dan Hiperaktif (A & H) dan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi (NH & KK). yang termasuk kategori hiperaktif disini adalah Speech Delayed dan Hiperaktif (SD & H). peneliti memperoleh gambaran bahwa perencanaan pembelajaran (kurikulum) anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah menggunakan kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup Identifikasi benda. Speech Delayed dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan terlambat bicara dan kelainan perilaku. afektif dan psikomotorik pada anak. Dan dengan informan peneliti 6 (enam) orang yang terdiri dari Kepala Terapi. mencocokkan (matching). karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. ukuran. interaksi sosial dan aktivitas imajinasi (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan kelainan perilaku. Penelitian ini dilakukan di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus dengan sasaran penelitian anak hiperaktif.7 Adapun tujuan penelitian ini untuk: 1) mengetahui bagaimana merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Sedangkan dalam membelajarkan anak hiperaktif digunakan sistem pembelajaran lovaas one on one (pembelajaran satu guru satu murid).

Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media visual (gambar) memudahkan anak dalam memahami konsep dan membantu dalam generalisasi. maka berikan prompt (bantuan/arahan) pada anak dan setiap kali anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar maka berikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan). . Apabila anak sulit untuk diajarkan maka cukup diberi iming-iming. afektif dan psikomotorik pada anak. Saran dari penulis kepada pihak-pihak yang terkait diantaranya yaitu kepala terapi.8 (cukup keras. dan Departemen Pendidikan Nasional hendaknya aktif dalam meningkatkan kinerjanya serta mendukung program terapi ini sehingga dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. orang tua siswa. identifikasi bentuk dan identifikasi kata kerja dimana kasusnya sama yaitu kurangnya ketelitian anak dalam membaca gambar dan gangguan dalam pemahaman bahasa. maka mengajar tanpa prompt dan memberikan reinforce respons yang benar saja. guru pembimbing/terapis. Apabila dalam pembelajaran. kognitif. Disamping itu dapat meningkatkan kemampuan bahasa. tetapi dengan adanya media visual (gambar) dan prompt (bantuan/arahan) dari terapis dapat membantu mengurangi/menghilangkan gangguan pemahaman bahasa pada anak. Hal ini terbukti dengan 75 % anak hiperaktif berhasil menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru pembimbing/terapis melalui media visual (gambar) ini. psikolog anak. Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah evaluasi proses yaitu evaluasi yang dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. dokter anak. Berdasarkan evaluasi proses dari hasil pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada 6 anak hiperaktif dapat disimpulkan bahwa pelajaran yang masih sering mengalami kendala/hambatan adalah identifikasi benda. tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami.. Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespon dengan benar. psikiater anak. seperti hadiah untuk menarik minat mereka belajar. anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan.

SH. Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan. Menyadari keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki. Haryanto. . pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini. Msi. Drs. tidak lepas dari peranan berbagai pihak. 4. Drs. 5. Siswanto. baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan. MM. MM. Skripsi ini disusun dalam rangka menyelesaikan studi strata satu untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Semarang. oleh karenanya pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada : 1. Soegito. Suripto. Ketua Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian. Hardjono. segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga skripsi yang berjudul “Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus” telah terselesaikan. Drs. Drs. 3. pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini. 2. maka dalam penyusunan skripsi ini. Rektor Universitas Negeri Semarang. Drs. A T.9 KATA PENGANTAR Dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan rasa syukur Alhamdulillah.

Bapak dan Ibu-ku. Kepala Terapi Anak Bermasalah Al Tisma Kudus yang telah memberikan ijin penelitian dan informasi yang berguna bagi penulis. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan yang telah memberikan pengalaman. 8. Amin Akhirnya peneliti mengharapkan semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembacanya. Semoga semua bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Semarang. ilmunya kepada penulis. 7.10 6. Ibu Nur Halimah. yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai. terima kasih ku ucapkan atas do’a dan kasih sayang serta pengertian dan perhatiannya selama ini. Para Guru Pembimbing Terapi Anak Bermasalah Al Tisma Kudus yang telah meluangkan waktu guna memberi arahan dalam wawancara yang diperlukan dalam penelitian ini. 9. 10. Penulis .

.........6 Identifikasi Permasalahan ................................................................................................................................................. Latar Belakang Permasalahan.......................................... D................... XVIII BAB I PENDAHULUAN A...........7 Pembatasan Permasalahan .................................................... G.................................1 Permasalahan .................................v ABSTRAK ....... C....................................................................................................................................9 Tujuan Penelitian ........................................... B........... iv HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ..................................................................xi DAFTAR TABEL ................ E.................. xvi DAFTAR GAMBAR .................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .................................................. xvii DAFTAR LAMPIRAN .................. ix DAFTAR ISI ..............................................9 ............................................6 Penegasan Istilah ..... vi KATA PENGANTAR ...................................................................................... F......................9 Rumusan Permasalahan ................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................................................... iii HALAMAN PERNYATAN .....11 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..................................

.......25 5............................ Ciri-ciri Hiperaktif .10 Sistematika Skripsi ................................29 3.............16 5....................................................18 1....12 H...............................................18 2......... Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran .......27 1...... Manfaat Media Pembelajaran ....................................... Tujuan Pembelajaran ...................................................................15 4.... Unsur-unsur Dinamis dalam Pembelajaran ...... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ......24 4... Pengertian Hiperaktif .... Cara Menangani Anak Hiperaktif .........12 1............ Masalah Anak Hiperaktif dan Penyelesaiannya .... Pengertian Media Pembelajaran ..................................17 B.......... Ciri-ciri Pembelajaran .......................31 4..................................... Asumsi Proses Pembelajaran .........16 6............ Manfaat Penelitian .................................................... Peranan Media Pembelajaran ..........................27 2. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran ................................... Hakekat Pembelajaran ................................... Anak Hiperaktif ..........15 3. I............19 3......................................26 C.10 BAB II KAJIAN PUSTAKA A.........39 .............12 2............................................................... Pengertian Belajar dan Pembelajaran ............................ Media Pembelajaran ...............

..... Latar dan Sasaran Penelitian ...........81 3............................ Pendekatan dan Prosedur Penelitian .................. Pengembangan Kurikulum ...............91 C........... Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data...... Pengembangan Media Visual ........................99 .. Pelaksanaan Pembelajaran ......48 5.. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif ...............................89 B..................87 BAB III METODE PENELITIAN A.. Teknik Analisis Data ....................... Media Visual ............................. Fungsi Media Visual ........ Penggunaan Media Visual ......92 D...........................................50 Penggunaan Media Visual dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif 80 E.............45 3... Pengertian Media Visual .......................................................................... Bentuk Media Visual (Gambar) ................................80 2..............................................................................80 1........96 E...........................................................45 4................................44 2................. Teknik Pengumpulan Data ............................................................................... Evaluasi ..................................................44 1.........13 D...........

...................101 2..................... 147 1................. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN .......... PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR .................... ANALISIS DATA ................................... DESKRIPSI HASIL PENELITIAN ........ DESKRIPSI INFORMASI PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN DI MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ................................................ PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .............................. 147 DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .............. 123 1...................14 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A........................ EVALUASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ......... 134 C.... 125 3.. DESKRIPSI SETTING PENELITIAN . PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR ......... 107 B.101 1...... 124 DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS 2..................................................................................

......................... DESKRIPSI HASIL PENELITIAN .........15 2........ DESKRIPSI SETTING PENELITIAN ........................ 158 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A....................101 ........... PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .......................................... Saran ........................................... SIMPULAN .......................................... 163 DAFTAR PUSTAKA ... 164 LAMPIRAN-LAMPIRAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN D........ 148 3............................. 162 B..........................................................101 3................................................................................... Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus .............

..........................16 4............................. 125 6................................................ 134 F................................................ 107 E.......................... PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ............. 123 4............................................. EVALUASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ..................... DESKRIPSI INFORMASI PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ......... 147 .......... 124 5........ 147 4............................................. ANALISIS DATA .............. PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ..... PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .................................................................. PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ....

.............................................. Saran ............ 148 6........ SIMPULAN .............................. 163 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 162 B.................................. Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus ........................... PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .. 158 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A........................................17 5................................................ 164 LAMPIRAN-LAMPIRAN ...................

.103 4...........3.. Data Terapis Tahun 2004/2005 ............. Data Siswa Hiperaktif ....................104 4..............................2........... Data Siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus Tahun 2001-2004 ................18 DAFTAR TABEL Tabel Hal 4.........1.........105 ...........

............ 29 ......................19 DAFTAR GAMBAR Gambar 2. Grafik perbandingan jumlah aktivitas “tak terarah” Hal anak hiperaktif dan anak normal ............1.......

.....................1........... 98 ............. Bagan analisis data kualitatif ....20 DAFTAR BAGAN Bagan Hal 3............

.........................215 ............................. Pedoman Kurikulum ......................................................21 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Hal 1....................167 2.......214 8. Permohonan Ijin Penelitian .............. Surat Keterangan Penelitian ......................... Lembar Penilaian ....................................207 6......................................................... Pedoman Wawancara ..........................168 3...............................................213 7................................175 5.......................................................................................169 4............. Denah Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus .............................................. Hasil Wawancara ............. Hasil Dokumentasi .....

20 Tahun 2003. tentang Pendidikan Luar Biasa pasal 3 ayat (1) “Jenis kelainan peserta didik terdiri atas kelainan fisik dan/atau mental. 72 Tahun 1991. Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) berbunyi: “Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapat pengajaran. selanjutnya pasal 47 ayat (1) berbunyi: “Masyarakat sebagai mitra pemerintah berkesempatan seluas-luasnya dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.” Sebagai tindak lanjut dari Undang-undang tersebut sudah diterbitkan pula Peraturan Pemerintah No.” . Salah satu upaya Pemerintah dalam memantapkan pembangunan di bidang pendidikan adalah disahkannya Undang-Undang No. tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 8 ayat (1) berbunyi: “Warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa.” Selanjutnya ayat (2) berbunyi: “Ciri khas satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat tetap diindahkan. dan/atau kelainan perilaku.” Kata tiap-tiap menunjukkan bahwa semua warga negara Indonesia termasuk anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus/berkelainan berhak untuk memperoleh pendidikan. Latar Belakang Permasalahan Pendidikan adalah usaha sadar untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak didik yang terarah menuju tercapainya pendidikan nasional.22 BAB I PENDAHULUAN A.

listen and think’ (Abikoff. dikatakan pada beberapa referensi bahwa penyebab terjadinya hiperaktifitas bersifat multi faktorial dimulai dari faktor genetik. look. perkembangan otak saat kehamilan. lingkungan fisik. pada salah satu pasalnya berbunyi bahwa anak yang memerlukan perhatian khusus. . Kelemahan tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menggunakan strategi kognitif yang terorganisir sehingga sulit memusatkan dan mempertahankan perhatian. terjadinya disfungsi metabolisme. perkembangan otak saat perinatal. Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menggambarkan anakanak yang menderita ketidakmampuan untuk ‘stop. Penyebab pasti hiperaktifitas pada anak tidak dapat disebutkan dengan jelas. sosial dan pola pengasuhan anak oleh orang tua. sehingga perlu pelayanan pendidikan khusus.23 Peraturan Pemerintah tahun 2002 tentang Pendidikan Luar Biasa yang merupakan penyempurnaan terhadap PP PLB. ketidak teraturan hormonal. menjawab pertanyaan yang belum selesai ditanyakan dan tidak sabaran menunggu giliran. terburu-buru. guru dan orang-orang yang berpengaruh di sekitarnya. tingkat kecerdasan (IQ). 1987). antara lain adalah hiperaktif. tidak bisa duduk dengan tenang. Perilaku mereka tidak diatur melalui aturan yang jelas. selalu menggerakkan tangan dan kaki tanpa maksud tertentu. Pada tahun 1996 NIMH menyebutkan beberapa gejala utama hiperaktifitas: Perasaan gelisah.

bergerak tanpa arah dan tujuan. menyatakan bahwa hiperaktifitas (sebagai bagian dari ADHD) adalah kelainan perilaku yang bersifat neurologis tersering yang terjadi pada masa kanak-kanak. seperti rendahnya kemampuan akademis di sekolah. Perrin dkk. Jika tidak tertangani dengan segera akan berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan dalam bersosialisasi serta kemampuan menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Anak-anak dengan ADHD biasanya juga disertai dengan berbagai kendala fungsional lainnya. menyebutkan beberapa hal yang berhubungan dengan ADHD: .24 James M. Gangguan hiperaktif merupakan salah satu kelainan yang sering dijumpai pada kasus-kasus psikiatri anak. rendah diri dan beberapa masalah emosi yang tidak terkendali. dan merupakan suatu bentuk kelainan perilaku dengan jumlah kejadian gangguan afektif yang bersifat kronis terbanyak pada anak-anak usia sekolah. National Institute of Mental Health (2003). Data dari NIMH (2001). hiperaktifitas (bagian terbesar) dan impulsifitas. Dalam perkembangannya seorang anak dengan kelainan ini akan terjadi depresi. problem hubungan interpersonal baik dengan keluarga atau dengan lingkungan di sekitarnya (teman sepermainan) dan cenderung kurang percaya diri (minder). Pengelompokan ADHD merujuk gejala yang paling menonjol yang terjadi meliputi kurang perhatian. yang ditandai dengan: kurangnya perhatian pada satu bentuk kegiatan tertentu. dan tidak pernah menyelesaikan suatu pekerjaan dengan tuntas. tidak dapat duduk dengan tenang. hal ini dapat berlanjut hingga masa remaja bahkan saat dewasa.

Laki-laki lebih sering 2 sampai 3 kali dari pada perempuan. Diperkirakan diderita 4. Selama ini pelayanan pendidikan untuk anak hiperaktif atau anak yang ber kebutuhan khusus lainnya di Indonesia lebih cenderung dimasukkan kependidikan anak terbelakang mental/tunagrahita.25 1. Akibatnya anak hiperaktif yang IQ nya normal atau di atas normalpun tidak mendapat pendidikan yang maksimal atau sesuai dengan kebutuhan. 3. ADHD sering disertai dengan terjadinya gangguan depresi. . demikian juga dengan kebutuhan guru-gurunya. padahal anak hiperaktif memerlukan pendidikan spesifik. pengasuhan dan penanganan secara khusus sejak dini. 4. Anak dengan ADHD lebih sering mengalami trauma dibandingkan dengan anak normal.1 persen anak usia 9 hingga 17 tahun selama periode 6 bulan. lebih-lebih terhadap anak hiperaktif yang disertai IQ di bawah rata-rata. salah satunya adalah dengan terapi. Gejala-gejala ADHD biasanya ditemukan pada usia prasekolah atau sekolah dasar dan menetap hingga remaja bahkan terkadang berlanjut hingga dewasa. ketergantungan obat dan perilaku anti sosial. gangguan hubungan personal. Agar perkembangan anak hiperaktif bisa kembali seperti anak normal atau setidaknya bisa berkurang hiperaktifitasnya dan dapat berkomunikasi/menjalin hubungan baik dengan orang-orang disekitarnya maka anak hiperaktif perlu mendapatkan pendidikan. gangguan kecemasan. 5. 2.

dan orang dewasa lain) sangat diperlukan dalam upaya penyembuhan anak hiperaktif. Untuk itu peran pendidik (orang tua. karena media visual (gambar) merupakan alat bantu komunikasi yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak. energi. guru.26 Menurut penelitian di Virginia University.. maka penulis tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul: “Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus”. dan disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). Amerika Serikat. memakan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. terutama dalam pembelajaran anak hiperaktif. terutama media visual. dan berat). Walaupun dibutuhkan kesabaran. Dengan menggunakan media visual dapat meningkatkan efektifitas dan efesiensi proses pembelajaran. . kemampuan menerima pengetahuan (Cognitive Ability) anak hiperaktif 20% masih menunjukkan kemampuan berpikir yang normal atau di atas normal. Berdasarkan uraian di atas. Dalam pembelajaran anak hiperaktif di tempat-tempat terapi di Jawa Tengah termasuk di Kudus. Pendidikan melalui media visual adalah metode/cara untuk memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dapat dilihat daripada sesuatu yang didengar atau dibacanya. sedang. sedangkan 80% menunjukkan IQ di bawah rata-rata (ringan. tidak lepas dari penggunaan media. namun dengan dilakukannya terapi secara intensif akan membantu penyembuhannya dan secara bertahap hiperaktifitasnya akan berkurang.

Permasalahan Dari uraian diatas. lebih sempurna (Depdikbud. Melalui media visual. Media ini dapat berupa: media bentuk papan. . C. diharapkan proses pembelajaran akan mendorong tumbuhnya perhatian dan pencapaian hasil belajar yang lebih baik bagi siswa. Penggunaan Secara harfiah. Penegasan Istilah Berkaitan dengan judul di atas ditegaskan pengertian masing-masing istilah. cara. (KBBI.27 B. 1989:569). penggunaan dapat diartikan proses. media gambar dan media proyeksi (Daryanto. Media Visual Media adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai dengan lebih baik. Media visual adalah semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar mengajar yang bisa dinikmati lewat panca-indera mata. yaitu sebagai berikut: 1. memanfaatan sesuatu untuk tujuan tertentu. 1999:569) 2. timbul permasalahan “Bagaimana cara menggunakan media visual (gambar) dalam pembelajaran anak hiperaktif ?” mengingat betapa pentingnya media tersebut demi perkembangan mereka. Tapi dalam hal ini hanya dikhususkan pada media gambar. 1993:27).

Org. Komponen lingkungan belajar menurut Sudjana (1997:1) mencakup (a) tujuan pengajaran. Pembelajaran Pembelajaran merupakan interaksi antara guru dengan siswa untuk mencapai suatu tujuan. D. Dalam pembelajaran ada pengakuan terhadap kemampuan siswa untuk belajar dan kemampuan ini akan terwujud apabila dibantu dan dibimbing oleh guru (Tim MKDK. Mengacu pada pengertian istilah di atas maka pengertian judul di atas adalah pemanfaatan media visual (gambar) untuk pembelajaran anak hiperaktif. (b) bahan pengajaran. Hiperaktif Hiperaktif merupakan gangguan pemusatan perhatian yang disertai gejala hiperaktivitas motorik. 4. Kids Health. . 5. Terapi Anak Al Tisma Kudus Adalah salah satu bentuk pelayanan pendidikan nonformal dalam rangka penyembuhan gangguan perilaku dan pemusatan perhatian yang khusus menangani anak berkebutuhan khusus di Kudus. 1999:8). 1996:10). Identifikasi Permasalahan Untuk mengajarkan anak hiperaktif dalam rangka mencapai tujuan instruksional diperlukan sistem lingkungan belajar. salah satunya adalah anak hiperaktif.28 3. atau yang dikenal sebagai ADD (Attention Deficit Disorder) atau ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder) (Keluarga.

. Pentingnya penggunaan media visual dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran anak hiperaktif mengingat betapa bandelnya dan sulitnya anak hiperaktif untuk diatur sehingga diharapkan dengan penggunaan media visual ini dapat menarik minat mereka untuk belajar. Berdasarkan uraian di atas.29 (c) metodologi pengajaran. Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yakni metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar. Pentingnya peran pendidik (orang tua. khususnya anak hiperaktif masih dalam tahap konkret-operasional yaitu pola berpikir anak masih terbatas pada benda-benda konkret yang dapat dilihat dan diraba. berbagai permasalahan yang memperkuat alasan penelitian dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Komponen-komponen ini saling berinteraksi secara bervariasi dalam proses belajar. 3. Di dalam pembelajaran. dan orang dewasa) dalam upaya pengembangan potensi anak terutama anak hiperaktif demi masa depan mereka nantinya. guru. Masih banyaknya bentuk media visual yang digunakan dalam pembelajaran yang harus diketahui oleh seorang guru terutama dalam membimbing anak hiperaktif. 2. (d) penilaian pengajaran. sehingga dapat memotivasi anak untuk belajar. Untuk dapat mencapai tujuan instruksional peranan guru dalam menggunakan metode serta media jelas akan menolong siswa dalam belajar memahami suatu materi pelajaran tersebut.

Pembatasan Permasalahan Dalam penelitian ini untuk menghindari terjadinya pembiasan. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). sebagai populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua siswa hiperaktif yang berjumlah ± 6 orang siswa. 2. Merancang materi pembelajaran. dengan menggunakan G. pelaksanakan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran yang hanya dibatasi dengan menggunakan media visual (gambar) saja. Tujuan Penelitian Berdasarkan atas permasalahan yang diajukan. Rumusan Permasalahan Dalam penelitian ini yang menjadi rumusan masalah adalah: Bagaimanakah merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). F. maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: . maka peneliti memberi batasan masalah antara lain: 1. Penelitian dilakukan pada anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. Bagaimanakah evaluasi pembelajaran anak hiperaktif media visual (gambar).30 E.

3. yaitu: 1. memilih model penggunaan media visual yang cocok bagi kebutuhan siswa. Untuk mengetahui bagaimana merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). 2. I. Untuk mengetahui bagaimana mengevaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Manfaat Praktis: diharapkan para Pendidik/Guru (terutama pembimbing anak hiperaktif) dapat mengembangkan media pembelajaran melalui media visual: merancang media. H. 4. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). 3. Manfaat bagi orang tua: memberikan wawasan yang lebih luas tentang anak hiperaktif dan cara mengatasinya. 2. Manfaat Teoritis: menambah wawasan tentang kependidikan dalam penggunaan media visual (gambar) sebagai media pembelajaran. Sistematika Skripsi Skripsi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bagian Awal Skripsi. berisi: . Manfaat bagi Peneliti: menambah pengetahuan tentang pembelajaran khususnya dalam penggunaan media visual bagi anak hiperaktif.31 1. Manfaat Penelitian Ada beberapa manfaat dalam penelitian ini.

BAB III. Halaman Persetujuan Pembimbing. BAB V. Pembatasan Penegasan Permasalahan. Bagian Isi Skripsi. . Identifikasi Permasalahan. Latar dan Sasaran Penelitian. dan Daftar Lampiran. Permasalahan. Istilah. Simpulan dan Saran Bagian Akhir Sripsi. Media Pembelajaran.32 Halaman Judul. Kata Pengantar. Halaman Pernyataan. berisi: Daftar Pustaka dan Lampiran-lampiran. Metode Penelitian Dalam bab ini diuraikan tentang Pendekatan dan Prosedur Penelitian. berisi: BAB I. Halaman Motto dan Persembahan. Halaman Pengesahan. Penelitian. Manfaat Penelitian dan Sistematika Skripsi. dan Teknik Analisis Data. BAB IV. BAB II. Tujuan Rumusan Permasalahan. Anak Hiperaktif. Teknik Pengumpulan Data. Daftar Tabel. Media Visual dan Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif. Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab ini menerangkan Hasil Penelitian dan Pembahasan. Pendahuluan Dalam bab ini dijelaskan tentang Latar Belakang Permasalahan. Daftar Isi. Abstrak. Kajian Pustaka Pokok-pokok yang tercakup dalam kajian pustaka ini adalah uraian tentang Hakekat Pembelajaran. Daftar Gambar.

Hakikat Pembelajaran 1. bersifat positif serta bertujuan dan berarah. Seperti yang dikemukakan oleh Djamarah dan Zain (2002:11). kecakapan. pemahaman. bahwa: Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. baik yang menyangkut pengetahuan. tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku. Menurut Sujana (2000:28) pengertian belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan perubahan pada diri seseorang. serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada diri individu yang sedang belajar. kebiasaan. Artinya. Menurut Badawi (1985:59) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh perubahan tingkah laku baru individu secara keseluruhan sebagai hasil perjalanan individu dalam berinteraksi dengan lingkungan.169 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Perubahan tingkah laku itu terjadi secara sadar. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk perubahan pengetahuan. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Batasan tentang teori belajar yang dikemukakan para ahli tergantung sudut pandang yang dipakai masing-masing dalam memberi arti belajar karena itu banyak dijumpai pengertian-pengertian tentang belajar. bersifat kontinyu. bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. ketrampilan maupun sikap. . sikap dan tingkah laku ketrampilan.

mengatakan: “Learning is a change in performance as a result of practice”. afektif dan psikomotor. Juga belajar itu akan lebih baik.170 Selain itu dalam bukunya Sardiman (2000:20). pengalaman. dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca. maka dapat diterangkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan. . meniru dan lain sebagainya. latihan dan bukan secara kebetulan. to follow direction”. antara lain dapat diuraikan sebagai berikut: a. Perubahan-perubahan tersebut bersifat kontinyu. jadi tidak bersifat verbalistik. Dengan adanya pengertian-pengertian belajar di atas belajar dapat diartikan sebagai tindakan atau usaha individu yang merupakan suatu proses dalam berinteraksi dengan lingkungan agar memperoleh pengetahuan dalam rangka mendapatkan perubahan tingkah laku baik yang berupa kognitif. Harold Spears memberikan batasan: “Learning is to observe. Cronbach memberikan difinisi: “Learning is shown by a change in behavior as a result of experience”. to imitate. to listen. positif. b. baik yang disadari maupun yang timbul sendiri akibat praktek. mengamati. Usaha pemahaman mengenai makna belajar ini akan diawali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. Dari ketiga definisi di atas. mendengarkan. to read. berarah dan bertujuan serta terdapat dua aspek yang sama yaitu adanya perubahan tingkah laku dan pengalaman yang mempengaruhi beberapa faktor. to try something themselves. Geoch. kalau subjek belajar itu mengalami atau melakukannya. c.

agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Guru berfungsi sebagai fasilitator. Ia harus menguasai materi. menguasai metode mengajar. Istilah “pembelajaran” merupakan pengganti istilah “mengajar”. penguasaan diri. Sesuai dengan pengertian pembelajaran. praktek mengajar di sekolah-sekolah pada umumnya lebih banyak berpusat pada guru. Menurut Rohani (1997:24) pembelajaran adalah usaha sadar guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan. 1996:10). . Oleh karena itu istilah mengajar yang dianggap berkonotasi “teacher centered” diganti dengan istilah pembelajaran. mampu melakukan evaluasi belajar dll. kebiasaan. dan sikap. Dengan ini guru diharapkan selalu ingat bahwa tugasnya adalah membelajarkan siswa atau dengan kata lain membuat siswa dapat belajar untuk mencapai hasil yang optimal. yaitu orang yang menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang mendukung agar siswa dapat mewujudkan kemampuan belajarnya. sikap.171 Belajar diharapkan terjadi perubahan-perubahan pada individu yang belajar. ketrampilan. tanpa memperhatikan bahwa siswa-siswanya dapat belajar atau tidak. Perubahan itu tidak hanya pada pengetahuan saja akan tetapi dalam kecepatan. yaitu usaha sadar guru untuk membantu siswa atau anak didik. (Tim MKDK. Artinya bila guru mengajar ia lebih mempersiapkan dirinya supaya berhasil dalam menyampaikan materi pelajaran. Menurut para pakar pendidikan. dan ketrampilan yang didapat dari hasil proses belajar yang diberikan.

Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran. . c. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik. Tujuan Pembelajaran Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa. dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. baik secara fisik maupun psikologis. d. ketrampilan. Oleh karena itu pembelajaran pasti mempunyai tujuan. 3. f. baik kuantitas maupun kualitas. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar. 2000:25) dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis. Ciri-ciri Pembelajaran Ciri-ciri pembelajaran (Tim MKDK. b. Tujuan pembelajaran adalah membantu para siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah. Tingkah laku itu meliputi pengetahuan.172 2. e.

Faktor internal. Unsur-unsur Dinamis dalam Pembelajaran Unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran kongruen dengan unsur-unsur dalam belajar. suasana pembelajaran. yaitu faktor internal dan faktor eksternal. 2) Faktor psikologis (rohaniah) Faktor biologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan kondisi mental seseorang. juga terdapat pada diri guru (motivasi dan kesiapan membelajarkan siswa).173 4. yaitu kondisi fisik yang normal dan kondisi kesehatan fisik. dan kondisi atau kesiapan siswa mengikuti pembelajaran baik fisik maupun psikologis. Artinya unsur-unsur yang diperlukan dalam belajar yang keadaannya dapat berubah-ubah. Faktor internal terdiri dari faktor biologis dan faktor psikologis. 5. dan pada suatu ketika dapat menurun atau hilang. Faktor ini merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. terutama hal-hal yang berkaitan dalam proses . dan pada upaya guru menyiapkan bahan pembelajaran. a. 1) Faktor biologis (jasmaniah) Faktor biologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan keadaan fisik atau jasmani individu yang bersangkutan. yaitu kondisi mental yang mantap dan stabil dimana kondisi ini tampak dalam bentuk sikap mental yang positif dalam menghadapi segala hal. Unsurunsur ini kadang-kadang baik. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dibagi menjadi dua. alat bantu pembelajaran.

b. e. Selain berkaitan erat dengan sikap mental yang positif. Asumsi Proses Pembelajaran Dalam proses pembelajaran. Faktor eksternal Faktor eksternal merupakan faktor yang bersumber dari luar individu itu sendiri. dan faktor waktu. c. diasumsikan terjadi situasi atau kegiatan tertentu yang menyebabkan guru dan siswa menjadi aktif dan kreatif. Bahwa inti proses pembelajaran adalah kegiatan belajar siswa secara optimal. d. . b. faktor lingkungan masyarakat.174 belajar. Bahwa proses pembelajaran lebih efektif apabila menggunakan metoda dan teknik yang tepat. bakat. daya ingat dan daya konsentrasi. Adapun asumsi-asumsi tersebut adalah sebagai berikut: a. 6. faktor lingkungan sekolah. Bahwa dalam proses pembelajaran harus terjadi interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru. Bahwa proses pembelajaran direncanakan dan dilaksanakan sebagai suatu sistem. faktor psikologis ini meliputi intelegensi/tingkat kecerdasan. kemauan/minat. Bahwa pembelajaran harus melihat pentingnya produk dan proses secara seimbang. Faktor eksternal meliputi faktor lingkungan keluarga.

Bahan di sini merupakan barangbarang yang biasanya disebut perangkat lunak atau software yang di dalamnya terkandung pesan-pesan untuk disampaikan dengan mempergunakan peralatan (Sadiman. artinya alat yang dapat dilihat dan didengar yang dipakai dalam proses pembelajaran dengan maksud untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif dan efisien. 2002: 6). Dengan penggunaan alatalat ini guru dan siswa dapat berkomunikasi lebih mantap dan hidup serta interaksinya bersifat banyak arah. Menurut Daryanto (1993:1) bahwa media adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat disampaikan dengan lebih baik dan lebih sempurna. Media dalam kawasan teknologi pendidikan merupakan sumber belajar yang berupa gabungan dari bahan dan peralatan. paling tidak yang digunakannnya adalah media verbal yang berupa kata-kata yang diucapkan dihadapan siswa. 2002:19). Kata media berasal dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman. Apapun yang disampaikan oleh guru sebaiknya menggunakan media. Media mengandung pesan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa tidak menjadi bosan dalam meraih tujuan-tujuan belajar. Pengertian Media Pembelajaran Media disebut juga alat-alat audio visual. . Media Pembelajaran 1.175 B.

dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. dan memadatkan informasi. membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. memudahkan penafsiran data. Penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses belajar mengajar dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. 2. . Media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman. maka dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran. Briggs (1970) dalam Sadiman (2002:6) menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. perasaan. menyajikan dengan menarik dan terpercaya. didengar dan dibaca. Sedangkan NEA (National Education Association) menyatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio-visual serta peralatannya. dilihat.176 AECT (Association of Education and Communication Technology) memberikan batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. Manfaat Media Pembelajaran Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. Dari beberapa batasan pengertian media tersebut di atas. Media hendaknya dapat dimanipulasi. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar.

. c. Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. Pengajaran bisa lebih menarik. d. umpan balik dan penguatan. beban guru untuk penjelasan yang berulang-ulang mengenai isi pelajaran dapat dikurangi bahkan dihilangkan sehingga ia dapat memusatkan perhatian kepada aspek penting lain dalam proses belajar mengajar. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif. Kualitas hasil pelajaran dapat ditingkatkan bilamana integrasi kata dan gambar sebagai media pengajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan dengan baik.177 Menurut Kemp & Dayton (1985:3-4) dampak positif dari penggunaan media pembelajaran adalah sebagai berikut: a. spesifik dan jelas. Pengajaran dapat diberikan kapan dan di mana diinginkan atau diperlukan terutama jika media pengajaran dirancang untuk penggunaan secara individu. g. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa. Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan. b. h. f. Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat e.

g. Meningkatkan rasa saling pengertian dan simpati dalam kelas. Hubungan guru-siswa tetap merupakan elemen paling penting dalam sistem pendidikan modern saat ini. Memperluas wawasan dan pengalaman siswa yang mencerminkan pembelajaran non verbalistik dan membuat generalisasi yang tepat. Menunjukkan hubungan antara mata pelajaran dan kebutuhan pelajaran dan minat siswa dengan meningkatnya motivasi belajar siswa. c. j. d. b. Melengkapi pengalaman yang kaya dengan pengalaman itu konsep-konsep yang bermakna dapat dikembangkan. Membuat hasil belajar lebih bermakna bagi berbagai kemampuan siswa.178 Dale (1969:180) mengemukakan bahwa bahan-bahan audio-visual dapat memberikan banyak manfaat asalkan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran. h. Meyakinkan diri bahwa urutan dan kejelasan pikiran yang siswa butuhkan jika mereka membangun struktur konsep dan sistem gagasan yang bermakna. e. Guru harus selalu hadir untuk menyajikan materi pelajaran dengan bantuan media apa saja agar manfaat berikut ini dapat terealisasi: a. f. Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa. Mendorong pemanfaatan yang bermakna dari mata pelajaran dengan jalan melibatkan imajinasi dan partisipasi aktif yang mengakibatkan meningkatnya hasil belajar. Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak telah mereka pelajari. . i. Membuahkan perubahan signifikan tingkah laku siswa.

tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru. b. Metode mengajar akan lebih bervariasi. melakukan. Encyclopedia of Educational Research dalam Hamalik (1994:15) merinci manfaat media pembelajaran sebagai berikut: a. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar. apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran. dan lain-lain. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berpikir. . oleh karena itu mengurangi verbalisme. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa. tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati.179 Sudjana & Rivai (1992:2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa. d. mendemonstrasikan. Memperbesar perhatian siswa. sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga. c. memerankan. oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pengajaran c. b. d. yaitu: a. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru.

dan membantu efisiensi dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar. g. interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya. b. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu. radio. c. slide disamping secara verbal. atau model. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses hasil belajar. Obyek atau benda yang terlalu besar untuk ditampilkan di ruang kelas dapat diganti dengan gambar. realita. slide. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera. ruang. slide. . film.180 e. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain. Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa. foto. foto. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. terutama melalui gambar hidup. f. Obyek atau benda yang terlalu kecil yang tidak tampak oleh indera dapat disajikan dengan bantuan mikroskop. dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya. atau gambar. dan waktu. Dari beberapa batasan manfaat media pembelajaran di atas. Kejadian langka yang terjadi di masa lalu atau terjadi sekali dalam puluhan tahun dapat ditampilkan melalui rekaman video. maka dapat disimpulkan bahwa manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut: a. film. film.

gambar. atau komputer. Tujuan Media yang dipilih hendaknya menunjang pencapaian tujuan pengajaran. 1993:3) a. kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang. dan video. video. dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran. . Kejadian atau percobaan yang dapat membahayakan dapat disimulasikan dengan media seperti komputer. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran. 3. b. Ketepatgunaan Hendaknya dipilih ketepatan dan kegunaannya untuk menyampaikan pesan yang hendak dikomunikasikan atau diinformasikan. Peristiwa alam seperti meletusnya gunung berapi atu proses yang dalam kenyataan memakan waktu lama seperti proses kepompong menjadi kupukupu dapat disajikan dengan teknik-teknik rekaman seperti time-lapse untuk film. d.181 Obyek atau proses yang amat rumit seperti peredaran darah dapat ditampilkan secara kongkret melalui film. slide. atau simulasi komputer. masyarakat. film. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka. dan pemilihan media mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut: (Daryanto. slide. serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru.

detail kurang bisa dipahami). c. direncanakan untuk perorangan atau kelompok. d. e. Ketersediaan Apakah media yang diperlukan tersedia atau tidak. Alat untuk memperjelas bahan pengajaran pada saat guru menyampaikan pelajaran. . Peranan Media Pembelajaran Peranan media dalam proses pembelajaran dapat ditempatkan sebagai: a. jika media sudah rusak atau kurang jelas/terganggu sehingga mengganggu proses transfer informasi (tidak menarik.182 c. Sumber belajar bagi siswa. apakah ada pengganti yang relevan. Alat untuk mengangkat atau menimbulkan persoalan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan oleh para siswa dalam proses belajarnya. 4. Tingkat kemampuan siswa Media yang dipilih hendaknya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. f. Mutu teknis Kualitas media harus dipertimbangkan. pendekatan terhadap pokok masalah. Biaya Biaya yang dikeluarkan hendaknya seimbang dengan hasil yang diharapkan dan tergantung kemampuan dana yang tersedia. besar kecilnya kelompok atau jangkauan penggunaan media tersebut. artinya media tersebut berisikan bahan-bahan yang harus dipelajari para siswa baik individual maupun kelompok. b.

persoalan media dan sumber sangat penting. yang nantinya akan bermanfaat bagi mereka terutama anak-anak yang mempunyai kelainan khusus seperti anak hiperaktif.183 Sungguhpun demikian media sebagai alat dan sumber pembelajaran tidak bisa menggantikan guru sepenuhnya. Tidak ada alat bantu yang paling baik untuk semua tujuan. tanpa adanya bantuan media dan sumber belajar (guru dan buku-buku pelajaran). Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran Untuk menunjang terjadinya keaktifan siswa dalam belajar. Dengan adanya media dan bimbingan dari orang-orang yang ada disekitarnya (guru dan oranng tua siswa) dapat mempermudah siswa dalam memahami suatu pelajaran. Empat prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam menggunakan media pembelajaran adalah sebagai berikut: a. Alat bantu yang digunakan hendaknya dipilih secara obyektif. . Peranan guru masih tetap diperlukan sekalipun media telah merangkum semua bahan pengajaran yang diperlukan oleh siswa. Disamping itu dapat membuat mereka terlatih memecahkan permasalahanpermasalahan yang riil. 5. Siswa tidak mungkin aktif menemukan sendiri suatu kesimpulan. artinya media tanpa guru suatu hal yang mustahil dapat meningkatkan kualitas pengajaran. Hendaknya menguasai /mengenal dengan baik media yang akan digunakan c. Media yang digunakan hendaknya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai b. yang mungkin mereka hadapi kelak. tidak didasarkan atas selera atau kesenangan pribadi gurunya d. karena tergantung situasi-kondisi dan ada keuntungan-kerugian dari masing-masing media.

Anak Hiperaktif 1. Sedangkan Tailor (1989) mengatakan bahwa kata 'hiperaktif' merupakan suatu terminologi yang mencakup beberapa kelainan perilaku meliputi: perasaan gelisah. Hal ini sering kali dikeluhkan oleh orang tua dan guru. dan menjadi alasan sehingga si anak dirujuk untuk mendapatkan pendidikan. pengasuhan dan penanganan secara khusus. perasaan yang meletup-letup. atau tidak semua bahan pengajaran ada dalam buku sumber. gangguan perhatian. . Tidak semua sekolah mempunyai buku sumber. Guru tidak bergairah untuk menjelaskan bahan pengajaran melalui penuturan kata-kata (verbal) akibat terlalu lelah disebabkan telah mengajar cukup lama.184 Pada waktu berlangsungnya pengajaran hendaknya penggunaan media digunakan guru pada situasi sebagai berikut: a. suka membuat keributan. Bahan pengajaran yang dijelaskan guru kurang dipahami siswa. aktifitas yang berlebihan. Pengertian Hiperaktif Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menurut National Medical Series (1996) adalah suatu peningkatan aktifitas motorik hingga pada tingkatan tertentu yang menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi. membangkang dan destruktif yang menetap. b. setidaknya pada dua tempat dan suasana yang berbeda. C. Kurangnya perhatian siswa akibat kebosanan mendengarkan uraian guru. d. Terbatasnya sumber pengajaran. c.

tetapi tidak didapatkan kelainan otak yang spesifik. guru dan lingkungannya memperlakukan dengan tidak tepat dan tidak menyelesaikan masalah. Pada umumnya prestasi akademik mereka tergolong rendah dan minder. kurang sopan. tidak menghiraukan mainan atau sesuatu miliknya. Mereka sering menunjukkan tindakan anti sosial sehingga orangtua. Sering kurang memperhatikan. Mereka biasanya bertindak 'nekat' dan impulsif. tidak mampu berkonsentrasi dan sering tidak tuntas dalam mengerjakan sesuatu serta berusaha menghindari pekerjaan yang membutuhkan daya konsentrasi tinggi. mudah marah. Pada anak ini menunjukkan perilaku yang berlebihan dalam menjalankan tugas/pekerjaannya.185 Lissauer & Clayden (2001) menyatakan bahwa pada anak dengan hiperaktif terjadi disorganisasi afektif. sulit bergaul dan sering tidak disukai teman sebayanya. tidak bisa duduk dengan tenang. Wenar (1994) menyebutkan bahwa anak dengan kelainan hiperaktif dalam aktifitas sehari-hari (24 jam) lebih tinggi dibandingkan dengan anak normal bahkan saat tidur sekalipun. sering menggerak-gerakkan tangan dan kaki di saat duduk meski tanpa tujuan tertentu. Tetapi dikatakan bahwa perilaku ini berangsur berkurang dengan bertambahnya umur. seperti yang terlihat pada gambar diagram berikut: . gejala hiperaktif yang muncul sangat dipengaruhi (tergantung) oleh situasi dan kondisi yang berlaku yang dihadapi. dan suka menyela pembicaraan serta mencampuri urusan orang lain. penurunan kontrol diri dan aktifitas yang berlebihan secara nyata. Tidak jarang mereka dengan kelainan ini disertai adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

Seperti: sering tidak berhasil menyelesaikan tugas.melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikir lebih dahulu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang anak yang menderita hiperaktif adalah mereka yang mempunyai gangguan perilaku yang berlebihan. 2. tidak bisa konsentrasi pada satu hal dan kadang bersikap impulsif . Grafik perbandingan jumlah aktivitas “tak terarah” anak hiperaktif dan anak normal.1.186 Jumlah “aktivitas tak terarah” Anak yang hiperaktif Anak normal 3 5 7 9 11 13 Usia anak (tahun) Gambar 2. akan tetapi tingkat aktivitas semua anak semakin terkendali dengan meningkatnya usia. tidak dapat . Inattention/ tidak adanya perhatian Yaitu kesulitan untuk memusatkan perhatian pada hal yang sedang dilakukannya. 1990 menyebut hal ini sebagai ‘the holy trinity of ADHD’): a. Ciri-ciri Hiperaktif Ada 3 gejala utama atau primary symtoms pada penderita ADHD (Barkley. Anak-anak yang hiperaktif jumlah aktivitas “tak terarah” -nya lebih banyak daripada jumlah aktivitas “tak terarah” anak-anak yang normal. anak tampak tidak mendengarkan apa yang dikatakan lawan bicaranya.

sering melakukan hal lain sebelum satu hal selesai. Hyperactivity/ hiperaktivitas Gejala ketiga ini meliputi semua kecenderungan penderita untuk melakukan suatu aktivitas secara berlebihan. jika anak cukup banyak menerima penguatan atau kontrol yang ketat. selalu bergerak seperti digerakkan oleh mesin atau selalu ‘on the go’. perlu banyak pengawasan. Gejala-gejala tersebut akan semakin memburuk pada situasi-situasi yang menuntut adanya perhatian. b.187 konsentrasi. Seperti: sering bertindak sebelum berpikir. c. tidak bisa tetap duduk. Di lain pihak. gagal untuk menunggu giliran dalam situasi bermain atau kelompok. Impulsivity/impulsivitas Yaitu ketidakmampuan individu untuk mengontrol perilakunya. perhatian mudah dialihkan oleh stimulus dari luar. Sering. kesulitan dalam mengorganisir pekerjaan (tetapi tidak berhubungan dengan kelemahan kognitif). gelisah (juga dalam tidur). selalu bergerak (melompat berlebihan). . baik aktivitas secara motoris maupun verbal. atau ketika anak di dalam situasi ‘face to face’. sering menggumamkan katakata yang tidak jelas maksudnya. tanda-tanda gangguan bisa sedikit atau tidak sama sekali. sering berteriak di kelas dan mudah menginterupsi pembicaraan orang lain (misal menjawab pertanyaan sebelum selesai diajukan). dengan kata lain penderita sering menuruti dorongan hatinya. mempunyai kesulitan untuk mempertahankan perhatian pada kegiatan bermain. Seperti: tidak bisa duduk tenang. anak tersebut oleh orang lain akan dianggap sebagai anak yang menyusahkan atau nakal.

Karena mengalami luka di otak mereka sering tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan. 2000:138). Ia juga mengalami kesulitan dalam mengutarakan pikiran dan perasaan melalui kata-kata. dan sebagainya sehingga mengalami kesulitan dalam membaca. kemampuan belajar lemah. Perilaku yang sulit diduga itu kadang membuat orang tua. Masalah intelek Anak hiperaktif jelas mengalami gangguan dalam otak. Masalah Anak Hiperaktif dan Penyelesaiannya Beberapa masalah yang dihadapi anak hiperaktif (Setiawani. sering kacau dalam menanggapi citra yang diterima. apalagi terhadap petunjuk yang mengandung langkah-lanngkah atau tahapantahapan. Daya pikir penangkapannya lemah sehingga sulit untuk menghadapi pelajaran matematika. . antara lain: a. tidak dapat berencana atau menduga apa akibat yang dilakukannya. Kadangkala mereka sadar harus mematuhi peraturan. khususnya ketika masuk ke suasana kelas yang dinamis. tetapi tidak mampu mengendalikan diri. misalnya: “m” dengan “w”. Ia sulit menggabungkan satu hal dengan hal lainnya. guru atau teman-temannya merasa khawatir. kurang kendali diri. susah bergaul. “d” dianggap “b” atau “p” dianggap “q”. sering tidak dapat berkonsentrasi dan pelupa.188 3. Adakalanya mereka sulit mengerti pembicaraan orang secara umum. Ia sulit menentukan mana yang penting dan mana yang harus diprioritaskan terlebih dulu selain sulit menyelesaikann pelajaran. emosinya menjadi mudah terangsang.

seperti: coklat. dan kebiasaan tidur mereka bermacam-macam: ada yang bermimpi sambil berjalan. kadang begitu senang dan ceria. Pernyataan emosinya sangat ekstrim dan kurang kendali diri. meraba dan menyentuh benda-benda untuk merasakan lingkungan di sekitarnya. bila berbaris selalu berebutan. . seperti berolah raga atau lompat tali. dan sembrono sehingga besar kemungkinan bisa mengalami kecelakaan. tetapi sebentar kemudian marah dan sedih. mewarnai atau menggambar. daging. telor ayam.. dan emosional. sepertinya sedang begitu sibuk melakukan sesuatu sehingga tidak dapat beristirahat. Sebaliknya gerakan tenang pun bermasalah. gula dan gandum. Juga emosi sering berubah-ubah sehingga tidak mudah diduga. kurang sabar. debu dan bahan kosmetik. susu. Mereka sulit tidur dengan nyenyak dan mudah terbangun. Anak hiperaktif juga peka terhadap bahan kimia.189 b. Masalah biologis Mereka suka sekali berlari-lari dan sulit untuk menyuruh mereka diam. misalnya bila disuruh menulis. mereka tidak dapat menggunakan alat tulis dengan baik. kedelai. babi. Seorang ahli berpendapat bahwa yang sangat dibutuhkan mereka adalah melatih mereka untuk dapat mengendalikan diri. semangatnya kuat. suka merusak. bermain kasar. bulu. Masalah emosi Anak hiperaktif umumnya bersifat egois. mengigau atau mengompol. obat. Mereka tidak dapat berolahraga dengan banyak gerak dan banyak tenaga. tidak sabar menunggu. Mereka juga sensitif terhadap makanan tertentu. tidak takut bahaya. c. jagung. suka berteriak dan ribut.

Misalnya. obat-obat di atas adalah obat penggiat. anak tidak memiliki daya kontrol secukupnya untuk mencegah perilakunya atau membuat dia dapat duduk tenang atau berkonsentrasi lama. masuk ke kamar orang lain. Namun. antara lain: a. mencuri dengar pembicaraan telepon orang lain sehingga kesan orang banyak adalah anak ini bermasalah dan bermoral rendah. Ia bisa mencuri uang orang tua atau permen di toko. tidak mengembalikan barang yang dipinjam. obat ini nampaknya “memperlambat” anak yang hiperaktif. Pengobatan tertentu berdampak berlawanan dari harapan. biasanya obat itu justru menambah tingkat aktivitasnya dan tidak dapat tidur semalam suntuk. mencela pembicaraan orang. seperti Ritalin. maka mereka pun tidak memiliki kepekaan dalam hati nurani. Ada beberapa cara dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi anak hiperaktif (Setiawani.190 d. kerap kali digunakan untuk mengatasi hiperaktivitas. Sebaliknya. kalau obat penenang diberikan kepada anak yang hiperaktif atau obat yang akan memperlambat atau menidurkan kita. Obat-obat yang dipakai pada anak yang di diagnosis sebagai hiperkinetik adalah obat penggiat (stimulan) sistem saraf pusat. yang mengaktifkan bagian- . Masalah moral Karena mengalami berbagai masalah seperti di atas. Penggiat sistem saraf pusat. Dekedrine. Penggunaan obat Hiperaktivitas merupakan akibat keterlambatan perkembangan atau penyimpangan. Apabila orang yang normal menggunakannya. atau Cylert. obat itu akan memacu dan menyebabkan kita hiperaktif. 2000:139).

Obat membantu mengendalikan gejala-gejala hiperaktif yang mengganggu. Akibat pengobatan hiperaktivitas: 1) Obat itu akan “membuat dia tenang”. Akibatnya kalau ia ditanya atau harus melakukan sesuatu. sebab ia mudah terganggu atau tidak dapat memperhatikan guru cukup lama dan oleh karena itu. sebagian besar gejala hiperaktifnya berkurang dan umumnya akan . Anak-anak hiperaktif biasanya mengalami kesulitan besar di ruang kelas. Pengobatan tidak membuat anak lebih pandai atau dapat belajar lebih cepat melainkan menghilangkan gejala hiperaktivitas yang mengganggu. kontrolnya setara dengan “motor”nya. tidak dapat konsentrasi. anak lebih mudah diurus dan menampakkan sedikit masalah dalam kaitannya dengan sekolah. Obat itu tidak hanya membantu anak duduk tenang dan mengurangi kegaduhan. hiperaktivitas kognitif (misalnya rentang perhatian sempit. ia tidak pernah menerima informasi. ia tidak berhasil. Penampilannya buruk. Obat secara tidak langsung menguntungkan anak karena memberi kontrol lebih banyak. Pada umumnya. tetapi juga memperbaiki rentang perhatian dan mengurangi kebingungannya. Ia tidak dibuat tenang atau “dibius”. Ia dapat mengontrol dirinya lebih baik. Ia kurang aktif dan lebih mampu berkonsentrasi dalam waktu yang lebih lama. mudah bingung) merupakan kendala terbesar dalam nilai sekolahnya.191 bagian badan tertentu. obat itu menggiatkannya yang memberi kendali pada anak. Maka. Hal itu kerap kali terjadi pada anak hiperaktif di kelas. Dengan kata lain.

sangat penting untuk tetap berhubungan dengan dokter. Kalau ini terjadi. anak itu mungkin hiperaktif.192 menampakkan perbaikan positif. barangkali ia hiperaktif tetapi meminum obat terlalu banyak. Selama mengobati anak. Karena banyak obat diberikan untuk mengatasi kesulitan sekolah dan terutama diberikan selama jam-jam sekolah (yakni sebelum makan pagi dan makan siang). 3) Mungkin anak nampak mengantuk atau kecapaian. Kedua pakar teori dalam bidang ini adalah Ben Feingold dan Lendon Smith. hubungilah dokter. maka perlu mendapatkan laporan dari gurunya. 4) Anak mungkin menjadi lebih aktif. Biasanya kita dapat melihat satu diantara akibat-akibat di atas dalam 1 sampai 7 hari sesudah anak mulai minum obat. 2) Tidak terjadi apa-apa. dosis obat itu ditambah. Pengaturan makanan Selama 50 tahun yang lalu beberapa laporan mengkaitkan hiperaktivitas dengan alergi makanan. Kalau terjadi. b. Hendaknya orang tua jangan menambah atau mengurangi dosis obat anak tanpa konsultasi dengan dokter. . Anak tidak menampakkan perubahan apa pun. Akhir-akhir ini. Banyak dokter mulai dengan dosis obat terendah. banyak dilakukan studi tentang diet atau gizi makanan atas perilaku hiperaktivitas. Kalau ini terjadi.3 dan 4. tetapi tidak menerima cukup obat. dan mungkin jatuh tertidur waktu melihat TV. Kalau ini terjadi. Lalu diperiksa dampaknya dan jika tak ada akibat positif. Maka jika terjadi reaksi 2. berarti ia memang hiperaktif dan dosisnya sesuai. anak itu tidak hiperaktif dan pengobatan harus dihentikan.

Makanan baru dalam Kelompok II harus diperhatikan. dapat ditambahkan jenis makanan lain. yakni harus dicoba selama 3 atau 4 hari. aberikos.193 Diet Feingold Menurut Diet Feingold. makanan itu harus dihentikan. nektarin. kismis. sari buah ataupun sebagai bahan makanan-seperti : apel. murbei hitam. Buah-buahan dan sayursayuran yang tidak menimbulkan reaksi kurang baik pada anak dapat dimasukkan dalam diet. dikalengkan. mentimun. dikeringkan. makanan dalam Kelompok I dapat berangsur-angsur dimakan. Kelompok II terdiri dari segala jenis makanan yang mengandung warna atau aroma sintetis (buatan). dibekukan. Tetapi kalau timbul reaksi yang kurang baik. murbei. jeruk manis. makanan tersebut dapat dimasukkan dalam dietnya. Diat ini tidak berkaitan dengan pengawet makanan. ceri. Jika anak tidak memperlihatkan aktivitas yang meningkat atau kesulitan perhatian. Tetapi semua makanan yang mengandung warna atau aroma buatan harus dijauhkan dari diet anak. . ada dua kelompok makanan yang harus dihindari anak hiperaktif. kecuali butilat hidroksitoluena yang memperlihatkan reaksi bertentangan bagi beberapa anak. Kalau anak memperlihatkan reaksi yang menggembirakan atas Diet Feingold sesudah 4 sampai 6 minggu. persik. tomat. Daftar buah-buahan dan sayur-sayuran yang harus disingkirkan dari diet anak-anak dalam semua bentuknya-segar. anggur. jika tidak ada reaksi yang tidak menyenangkan. Makanan kelompok I mengandung salsilat dan meliputi buahbuahan dan sayur-sayuran.

Feingold memberi beberapa petunjuk bagi orang tua yang anaknya menjalankan diet. Gula dan makanan “asal-asalan” tidak . Kalau meragukan. 2) Diet itu harus ditaati dengan ketat. Disamping diet umum ini. 6) Dalam beberapa hal. diemulsikan. Beberapa di antaranya seperti berikut: 1) Semua makanan harian yang dimakan anak harus dicatat. Smith Dr. perlu diamati rata-rata selama 1 sampai 3 minggu. lebih baik jangan disantap. diberi warna atau diawetkan. ditambahai. Diet Pencegahan itu terdiri atas 3 bagian: 1) Bahan-bahan anti gizi hendaknya dihindari. 5) Kalau nampak ada perbaikan. dokter anak harus selalu dihubungi sebelum penngobatan diganti atau dikurangi. Pola makanan ini disebut diet pencegahan. ia memberikan saran khusus untuk mengendalikan gejala-gejala hiperaktivitas. dibakukan. Namun. 4) Semua etiket makanan harus dibaca dengan cermat. diproses. obat yang digunakan untuk mengontrol perilaku hiperaktif dapat dihentikan setelah anak menjalani diet selama 2 atau 3 minggu. Pendekatan Gizi Dr. Lendon Smith berpendapat bahwa setiap orang harus mengikuti pola makanan umum sebagai bagian program sepanjang hidup. 100% 3) Tidak ada batasan terhadap banyak makanan yang manis buatan sendiri. Pada umumnya produksi dagang sedapat mungkin harus dihindari.194 Dr. Hal ini umumnya mencakup makanan yang telah dikemas.

Sikap bertahan ini bukan berarti kejam. Anak jangan dimanjakan kalau tahu bahwa penyebab hiperaktifnya karena masalah biologis. d. 3) Mulailah setiap hari dengan vitamin dan mineral (diandaikan anak kekurangan bahan-bahan tersebut). telur. kacangkacangan. ikan. dan miju-miju). sirup. sebaiknya pindah rumah agar anak itu dapat bertumbuh dalam situasi yang baik. diktator atau berhati baja. tetapi sebaliknya untuk membina dan mengajar anak tentang apa yang harus mereka lakukan. keras. Orang tua harus bertahan dengan peraturan yang telah diberikan dan menuntut anak agar menaatinya. buncis. jagung. Di antaranya sebagai berikut: sayuran segar (mentah). misalnya: di kamar atau di ruang bermain. es krim yang diperdagangkan. . 2) Makanan alami harus disantap 4 atau 6 kali sehari. c. buah-buahan mentah. Beberapa makanan yang harus dihilangkan yakni: gula putih dan gula coklat. Bila lingkungan tempat tinggalnya sangat bising. Tunjukkan dengan mantap dan wibawa bahwa orang tua ingin ditaati oleh anak-anaknya. madu. gandum yang dibungkus. sayur mayur (seperti kacang panjang. daging ayam. air tebu. tepung putih. Hindarkan pemanjaan. dalam jumlah kecil. keju putih. Menciptakan lingkungan yang tenang Usahakan untuk menciptakan suasana yang tenang di tempat anak itu biasa bergerak. susu pasterisasi.195 diperkenankan. gula tebu.

. Memang dibutuhkan kesabaran. Bila orang tua tidak putus asa. kemudian tentukan suatu standar yang sesuai dengan kebenaran. Setiap perilaku yang tidak dapat diterima harus dicegah. anak akan mempunyai harapan untuk disembuhkan. pilihlah acara teve yang beradegan lembut dan baik. energi dan biaya yang tidak sedikit.196 e. Membimbing dalam kebenaran Meski anak hiperaktif sering tidak mampu menguasai diri dan perilakunya. f. Perlu ada kesabaran untuk mengajarkan hal ini. dapat merangsang anak dan mengakibatkan mereka emosional. Terapi perilaku. orang tua atau guru tidak seharusnya bersikap acuh dan menyerah. Memilih acara teve dengan hati-hati Acara teve yang menampilkan adegan kekerasan. Cara Menangani Anak Hiperaktif Anak hiperaktif perlu diterapi agar tidak menghambat perkembangan kecerdasan dan sosialnya. terapi konsentrasi. Cegahlah anak untuk meniru adegan-adegan yang tidak baik. Oleh sebab itu. 1994:158). Gunakan tenaga ekstra dengan tepat Anak ini kurang dapat mengendalikan diri dan apabila sikap agresifnya dapat disalurkan dalam aktivitas yang tepat. terapi wicara. lagu yang ribut dan sinar yang bergerak menyilaukan. namun biasanya kalau terapi dilakukan secara intensif maka perkembangannya akan maju secara bertahap. maka itu akan mengurangi keonaran. g. 4. obatobatan bahkan keluarganya pun perlu mendapat terapi untuk meneruskan terapi di rumah dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak-anak hiperaktif (Clerq. walaupun harus dilakukan berulang-ulang.

sebagian besar anak-anak dan remaja ADHD (60-90%. 1980) menunjukkan perbaikan yang penting dalam hal gejalagejala utama gangguan. dan belajar. Selain itu juga perlu disadari bahwa terapi yang efektif adalah terapi yang melibatkan semua pihak. ada banyak kepentingan klinis yang terkait dengan intervensi terapi alternatif yang berusaha untuk memberikan taktik dan ketrampilan kepada anak-anak ADHD yang memungkinkan mereka untuk mengatasi permasalahan dengan lebih efektif. Pendekatan kognitif-behavioral nampaknya memberikan jawaban yang efektif. dengan self-instruction training (training instruksi kepada diri sendiri) dan social problem-solving strategies (strategi pemecahan masalah sosial). orang tua. Hanya ada sedikit bukti bahwa pengobatan stimulan selam jangka-panjang bisa mengubah hasil akhir anak-anak . guru. Selanjutnya. Menurut Abikoff (1987) pengobatan nampaknya hanya mempunyai sedikit pengaruh terhadap kemampuan kognitif seperti penalaran. Terapi Anak Perawatan yang paling banyak dipakai untuk menangani anak-anak hiperaktif sampai sekarang adalah medikasi psikostimulan. Bagaimanapun juga beberapa kerugian akan tetap timbul dengan pendekatan medis ini. walaupun pengobatan menghilangkan perilaku yang mengganggu dalam kelas. dokter dan psikologi. Dengan adanya keterbatasan-keterbatasan ini. pemecahan masalah. Whalen & Henker. Dengan pengobatan. Medikasi Psikostimulan Kemanjuran klinis jangka-pendek dari obat-obat ini telah dicatat dengan baik.197 a. hal ini tidak berarti meningkatkan ketrampilan sosial interpersonal.

tetap ada pada masa remaja dan awal masa dewasa. Berdasarkan pendekatan ini pada teori Vygotsky dan Luria (1962) yang menekankan pentingnya pengaruh bahasa dan pikiran pada tingkah laku. Luria mengemukakan tiga tahap: 1) Tahap pertama: tingkah laku anak dokontrol oleh bahasa orang lain. Selama terapi. Tujuannya adalah untuk memotivasi anak untuk menjembatani secara verbal. pemikiran dan tindakannya sendiri. Self-Instruction Training-Latihan Instruksi Diri. . mengintegrasikan teknik-teknik kognitif (menyederhanakan proses pemecahan masalah) dan prinsip-prinsip mempelajari tingkah laku (modeling dan behavioral rehearsal). Self-instruction training. 3) Tahap ketiga: pada usia sekitar 5-6 tahun. anak memperoleh kontrol diri dengan menggunakan instruksi diri secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam (covert self-instructions). dikembangkan oleh Meichenbaum dan Goodman (1971). dialog internal ini (instruksi diri atau self-instruction) digunakan sebagai titik awal untuk mencapai perubahan perilaku. Teknik instruksi diri dan self-monitoring digunakan untuk mengurangi respon impulsif.198 ini: riset menunjukkan bahwa ketrampilan belajar dan sosial yang rendah serta prestasi akademis yang buruk. 2) Tahap kedua: anak mengatur perilakunya dengan bicara keras-keras pada dirinya sendiri (self-instructing aloud). karena anak diminta untuk berhenti secara periodik dan mengevaluasi penampilannya. terutama orang tua.

199

Lima tahap belajar melalui proses modeling bisa dibedakan dalam situasi belajar ini: 1) Model orang dewasa melakukan suatu tugas dengan instruksi verbal yang keras (cognitive modeling) 2) Anak melakukan tugas yang sama dengan instruksi yang keras dari model orang dewasa (overt extern guidance) 3) Anak melakukan tugas dengan instruksi sendiri yang keras (external selfinstruction) 4) Anak melakukan tugas dengan membisikkan instruksi-diri (whispering external self-instruction) 5) Anak melakukan tugas dengan instruksi-diri intern (covert self-instructions) Instruksi-diri atau self-instruction mendukung dan mengatur tingkah laku anak. Melalui 5 tahap modeling ini, anak belajar untuk menunda perilaku: ‘stoplook-do’ (berhenti-lihat-lakukan). Verbalisasi sedikit demi sedikit akan hilang dengan adanya latihan dan pengulangan (behavioral rehearsal) sampai semuanya diinternalisasi : berpikir dan bertindak akan menjadi proses yang otomatis. Social Problem-Solving Skills Training-Latihan Ketrampilan Pemecahan Masalah Sosial. Terapi ini menekankan pada perkembangan strategi kognitif untuk meningkatkan kontrol diri dan respon sosial dalam menyelesaikan suatu masalah. Untuk mengembangkan srategi kognitif ini diperlukan modeling secara verbal, latihan dan penguatan sosial (social reinforcement), yang dilakukan dalam kelompok kecil (3 sampai 8 orang) atau secara individual. Tujuan dari terapi ini

200

adalah untuk mengembangkan kompetensi dan interaksi interpersonal yang memadai. Terapis memberikan suatu problem dan menunjukkan beberapa perilaku yang efektif untuk menghadapi masalah tersebut. Setelah itu terapis menanyakan pada anggota kelompok satu demi satu, bagaimana respon mereka terhadap permasalahan tersebut. b. Terapi Orang Tua Terapi ini menekankan pada parents monitoring (memonitor/supervisi oleh orang tua) dan parents management skills. Orang tua dilatih untuk berinteraksi dengan anaknya yang menderita ADHD dengan menggunakan penguat yang positif, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anaknya. Misalnya: memuji perilaku anak yang sesuai, memberi peraturan yang jelas pada anak, selalu mengawasi atau mengontrol perilaku anaknya. Disamping itu terapis juga sebaiknya memberikan penjelasan tentang latar belakang dan perkembangan aspek-aspek ADHD pada guru. Hal ini dengan tujuan agar guru tidak bersikap menolak anak didiknya yang menderita ADHD. Bantuan yang dapat diberikan untuk mereka yang hiperaktif Org. Kids Health, 1999:8) yakni: a. Dengan mengadakan kontak agar pada waktu tertentu menguasai emosinya, tidak boleh dikerasi karena akan bertambah melawan. b. Dengan diajak bicara dengan pendekatan individual sebelum memberikan pertanyaan/tugas. (Keluarga.

201

c. Anak yang kesulitan berkonsentrasi untuk memulai tugas dilakukan dengan menatap mata anak, memberikan instruksi secara individual, menyuruh mengulangi perintah dan tugasnya. Sementara bagi anak yang tidak dapat menyelesaikan tugas sehingga kehilangan konsentrasi maka berikan tugas menjadi porsi-porsi kecil.

D. Media Visual 1. Pengertian Media Visual Media Visual (Daryanto, 1993:27), artinya semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar yang bisa dinikmati lewat panca-indera mata. Media visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi. Dengan demikian media visual dapat diartikan sebagai alat pembelajaran yang hanya bisa dilihat untuk memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan akan isi materi pelajaran. Pendidikan melalui media visual adalah metoda/cara untuk memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dapat dilihat daripada sesuatu yang didengar atau dibacanya.

202

2. Fungsi Media Visual Levie & Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu fungsi atensi, fungsi efektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau teks materi pelajaran. Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras. Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. 3. Penggunaan Media Visual Selama proses belajar mengajar kita cenderung menggunakan pancaindera penglihatan, kita memakai mata kita untuk memperoleh informasi, isyarat, tanda atau hal yang menarik perhatian kita, kenyataan ini mempunyai arti yang

harus terlihat perbandingannya dengan obyek lain yang sudah dikenal. Untuk mendapatkan gambaran tentang ukuran dan bentuknya. Media visual haruslah sesuai dengan kenyataan dan dapat diterima. untuk itu harus jelas dan terang. kalau mungkin gerakan gambar. Usahakan visual itu sesederhana mungkin dengan menggunakan gambar garis. c. gambar dan tulisan yang diproyeksikan harus dapat dibaca. yaitu : a. Penampilan visual tidak boleh mengganggu. artinya obyek-obyek yang masih asing atau belum dikenal hendaklah ditampilkan sedini mungkin. gunakan yang asli (master) untuk membuat setiap turunan/kopi/duplikat untuk menjaga kualitas gambar. Kemampuan penglihatan harus dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan proses belajar mengajar. b. Prinsip umum untuk penggunaan efektif media visual.203 penting untuk keperluan belajar dan mengajar. Visual digunakan untuk menekankan informasi sasaran (yang terdapat teks) sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. dan diagram. grafis atau slide yang asli untuk membuat master copy (duplikat asli yang pertama kali). bagan. Gambar realistis harus digunakan secara hati-hati karena gambar yang amat rinci seringkali mengganggu perhatian siswa untuk mengamati apa yang seharusnya diperhatikan.. Media visual tidak boleh terlalu ramai dan kacau supaya informasi yang dimaksudkan dapat tertangkap jelas oleh siswa. . Gunakan grafik untuk menggambar ikhtisar keseluruhan materi sebelum menyajikan unit demi unit pelajaran untuk digunakan oleh siswa mengorganisasikan informasi. karton. Visual tidak boleh meragukan.

dan semua obyek dan aksi yang dimaksudkan dilukiskan secara realistik sehingga tidak terjadi penafsiran ganda.204 d. Unsur-unsur pesan dalam visual itu harus ditonjolkan dan dengan mudah dibedakan dari unsur-unsur latar belakang untuk mempermudah pengolahan informasi. h. Warna harus digunakan secara realistik. Visual yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan gagasan khusus akan efektif apabila jumlah obyek dalam visual yang akan ditafsirkan dengan benar dijaga agar terbatas. Visual. tempat atau obyek. amat membantu untuk mempelajari materi yang agak kompleks j. seperti lumpur. g. dan menyatakan apa yang orang dalam gambar itu sedang kerjakan. e. k. n. Caption (keterangan gambar) harus disiapkan terutama untuk menambah informasi yang sulit dilukiskan secara visual. Visual yang diproyeksikan harus dapat terbaca dan mudah dibaca. m. . Gunakan gambar untuk melukiskan perbedaan konsep-konsep f. Hindari visual yang tak berimbang. Ulangi sajian visual dan libatkan siswa untuk meningkatkan daya ingat. khususnya diagram. memberi nama orang. l. menghubungkan kejadian atau aksi dalam lukisan dengan visual sebelum atau sesudahnya. kemiskinan. Tekankan kejelasan dan ketepatan dalam semua visual. pikirkan atau katakan. i. Warna dan pemberian bayangan digunakan untuk mengarahkan perhatian dan membedakan komponen-komponen.

gambar dan lain-lain yang ada disekitar kita. Dalam proses penataan itu harus diperhatikan prinsip-prinsip desain. penekanan. dan dapat menarik perhatian sehingga ia mampu menyampaikan pesan yang diinginkan oleh penggunaannya. Tataan dapat dimengerti. iklan-iklan. antara lain prinsip kesederhanaan. mempunyai banyak gagasan untuk merancang bahan visual yang menyangkut penataan elemen-elemen visual yang akan ditampilkan. seperti foto. dan keseimbangan. sketsa/gambar garis. informasi. keterpaduan. dan warna juga perlu dipertimbangkan Kesederhanaan Kesederhanaan mengacu kepada jumlah elemen yang terkandung dalam suatu visual. Bentuk. garis. dibaca. ruang. gambar/ilustrasi. tekstur. atau konsep yang ingin disampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk. dan gabungan dari dua bentuk atau lebih. Jumlah elemen yang lebih sedikit memudahkan siswa menangkap dan memahami pesan yang disajikan visual itu. Keterpaduan Keterpaduan mengacu kepada hubungan yang terdapat di antara elemenelemen visual yang ketika diamati akan berfungsi secara bersama-sama. grafik merupakan representasi simbolis dan artistik sesuatu obyek atau situasi. chart. Bahan-bahan grafis. Elemen- . Pesan atau informasi yang panjang atau rumit harus dibagi-bagi ke dalam beberapa bahan visual. papan informasi. bagan. Sementara itu.205 Pengembangan Media Visual Visualisasi pesan. Foto menghadirkan ilustrasi melalui gambar yang hampir menyamai kenyataan dari sesuatu obyek atau sesuatu. grafik. seperti majalah.

. Keseimbangan Bentuk atau pola yang dipilih sebaiknya menempati ruang penayangan yang memberikan persepsi keseimbangan meskipun tidak seluruhnya simetris tetapi memberikan kesan dinamis dan dapat menarik perhatian disebut keseimbangan formal. perspektif.206 elemen itu harus saling terkait dan menyatu sebagai suatu keseluruhan sehingga visual itu merupakan suatu bentuk menyeluruh yang dapat dikenal yang dapat membantu pemahaman pesan dan informasi yang dikandungnya. seringkali konsep yang ingin disajikan memerlukan penekanan terhadap salah satu unsur yang akan menjadi pusat perhatian siswa. atau ruang penekanan dapat diberikan kepada unsur terpenting. Oleh karena itu. Garis Garis digunakan untuk menghubungkan unsur-unsur sehingga dapat menuntun perhatian siswa untuk mempelajari suatu urutan-urutan khusus. Dengan menggunakan ukuran. Keseimbangan seperti ini menampakkan dua bayangan visual yang sama dan sebangun. pemilihan bentuk sebagai unsur visual dalam penyajian pesan. informasi atau isi pelajaran perlu diperhatikan. Bentuk Bentuk yang aneh dan asing bagi siswa dapat membangkitkan minat dan perhatian. Penekanan Meskipun penyajian visual dirancang sesederhana mungkin. warna. hubungan-hubungan.

dan (3) intensitas atau kekuatan warna itu untuk memberikan dampak yang diinginkan. dan sebagainya). biru. Warna Warna merupakan unsur visual yang penting. 5. (2) nilai warna (tingkat ketebalan dan ketipisan warna itu dibandingkan dengan unsur lain dalam visual tersebut). Tujuan utama penampilan berbagai jenis media visual (gambar) ini adalah untuk memvisualisasikan konsep yang ingin disampaikan kepada siswa/anak. yaitu (1) pemilihan warna khusus (merah. warna dapat mempertinggi tingkat realisme obyek atau situasi yang digambarkan. foto. Tekstur dapat digunakan untuk penekanan suatu unsur seperti halnya warna. tetapi ia harus digunakan dengan hati-hati untuk memperoleh dampak yang baik. alat permainan visual edukatif dan berbagai media visual gambar lainnya. Warna digunakan untuk memberi kesan pemisahan atau penekanan. atau untuk membangun keterpaduan.207 Tekstur Tekstur adalah unsur visual yang dapat menimbulkan kesan kasar atau halus. . Bentuk Media Visual (Gambar) Ada berbagai bentuk media visual (gambar) yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama anak hiperaktif yaitu media gambar yang meliputi gambar chart. gambar chart berseri (flipchart). Disamping itu. Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan ketika menggunakan warna. dan menciptakan respons emosional tertentu. kuning. menunjukkan persamaan dan perbedaan.

grafik dan sebagainya yang berguna untuk memperjelas materi pelajaran yang diajarkan oleh guru di depan siswa. atau pulpen yang tangkainya bisa diperpanjang seperti antene radio. Untuk mengajar/menjelaskan kepada siswa kita jangan menunjuk gambar chart dengan tangan langsung karena ini bisa menghalangi gambar yang ditampilkan. Gambar Chart Chart adalah sebuah lembaran kertas yang berisi informasi dalam bentuk gambar dan tulisan.208 a. tabel. . 4) Semua guru bisa membuatnya. Keuntungan menggunakan gambar chart: 1) Menghemat waktu dalam proses belajar mengajar (tidak perlu menggambar/menulis lagi di papan tulis. Fungsi chart adalah untuk menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan dengan cara yang lebih visualisasi agar lebih mudah dimengerti dengan melalui penjelasan gambar. 3) Biaya tidak terlalu mahal dan relatif murah. angka. Jenis chart ada 2 yakni: 1) Chart tunggal adalah satu kesatuan informasi yang dituangkan dalam satu lembar. tetapi gunakan alat penunjuk yang berupa: batang bambu kecil panjang. cukup menempelkan saja) 2) Dapat digunakan berulangkali. diagram. 2) Chart berseri/flip chart adalah satu kesatuan informasi yang dituangkan dalam beberapa tahapan atau dibuat berseri .

2) Perlu perawatan yang baik karena kertas mudah rusak (kena air. sehingga sebelum lembar pertama telah jelas baru boleh dibuka lembaran berikutnya sehingga ada hubungan kesatuan dari lembar pertama ke lembar berikutnya. 6) Bisa memperjelas masalah. mempercepat proses yang memakan waktu lama. b. Kerugian menggunakan gambar chart: 1) Untuk membuat chart yang baik dan tepat diperlukan waktu persiapan/pembuatan yang cukup lama. Gambar chart berseri (flipchart) Gambar chart berseri (flipchart) sebenarnya sama dengan chart tunggal. luka dan sobek). memperbesar ukuran yang kecil. ukuran dan waktu (maksudnya adalah memperkecil ukuran yang besar. memperlama proses yang cepat dan sebagainya). 4) Kurang bisa menggambarkan unsur gerak atau proses. . lembab.209 5) Bisa mengatasi ruang. 5) Perlu ketrampilan menggambar. rengat. Ciri khas dari flipchart adalah lembaran-lembaran gambar chart adalah berurutan di mana satu bendel merupakan satu kesatuan yang utuh. informasi sebelumnya yang terdapat pada lembar-lembar chart dibawahnya tidak boleh dilihat oleh siswa. 3) Perlu tempat yang cukup untuk penyimpanan. perbedaannya adalah pada chart berseri (flipchart) serangkaian beberapa lembar gambar merupakan satu komponen/kesatuan informasi yang disajikan secara berurutan dengan cara ditumpuk/dibendel dan dijepit menjadi satu.

kartun. pada setiap jenjang pendidikan dan berbagai disiplin ilmu. Obyek yang tidak mungkin dibawa ke kelas. brosur-brosur dan buku-buku. Foto Hasil pemotretan fotografi adalah merupakan media (alat bantu mengajar) gambar juga. misalnya dari surat-surat kabar. dimensi/skala benar dan akurat. Membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan berbahasa. Gambar fotografi dapat diperoleh dari berbagai sumber. serta membantu mereka menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi bacaan dari buku teks. akurat. bacaan. hanya perbedaannya gambar ini didapatkan dengan peralatan yang dinamakan kamera foto sehingga obyek yang digambar sesuai dengan apa yang ada. dramatisasi. Foto dapat membatasi ruang. c. penulisan. Foto merupakan media visual yang efektif karena lebih nyata. realistis. kegiatan seni. lukisan. alamiah. ilustrasi.210 Flipchart disajikan lembar demi lembar sehingga minat dan konsentrasi siswa terarah pada penjelasan gambar chart yang dijelaskan oleh guru tersebut. berukuran besar/terlalu kecil yang tidak memungkinkan dibawa ke kelas. menulis dan menggambar. kongkret. kejadian yang sudah tidak mungkin diulangi bisa digantikan dengan media foto ini. Gambar fotografi itu pada dasarnya membantu mendorong para siswa dan dapat membangkitkan minatnya pada pelajaran. dan pernyataan kreatif dalam bercerita. Gambar. waktu dan ukuran. majalah-majalah. foto yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut dapat digunakan oleh guru secara efektif dalam kegiatan belajar mengajar. .

pewarnaan yang efektif. validitas. dan membantu siswa menafsirkan serta mengingat isi pelajaran yang berkenaan dengan foto-foto tersebut. Foto disesuaikan dengan tingkat usia siswa. dan menarik. foto dapat digunakan dengan efektif. Disamping siswa dapat menggunakan foto secara perorangan. Foto benarbenar melukiskan konsep atau pesan isi pelajaran yang ingin disampaikan sehingga dapat memperlancar pencapaian tujuan. mengembangkan kemampuan siswa berbahasa.211 Sebagai media pengajaran. Selanjutnya. sederhana atau tidak rumit sehingga siswa tidak salah menafsirkan pesan dalam foto itu. foto dapat pula digunakan secara berkelompok terutama untuk melancarkan kegiatan diskusi tentang isi pelajaran. kejelasan dan ukuran yang memadai. Foto harus jelas . foto harus cukup besar dan jelas untuk kelompok siswa yang dihadapi. Untuk menunjukkan berbagai jenis gaya bangunan (arsitek) Islam. Dengan demikian foto bisa memenuhi fungsinya untuk membangkitkan motivasi dan minat siswa. atau perbedaan gaya arsitek dari berbagai negara dan zaman. yaitu mendukung pencapaian tujuan pengajaran. kualitas artistik. dan teknik pengambilan dann pemrosesan yang baik. Diskusi tentang jenis-jenis spesies tertentu dari binatang akan berjalan efektif apabila disertai dengan foto-foto berbagai jenis binatang yang termasuk spesies yang sedang dibicarakan. misalnya. Sudjana & Rivai (1991) menguraikan beberapa kriteria pemilihan foto untuk tujuan pengajaran. Foto yang digunakan sebagai media pegajaran harus artistik dalam arti foto tersebut mempertimbangkan faktor-faktor seperti komposisi. foto haruslah dipilih dan digunakan sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.

dibandingkan dengan seorang petani dari desa kita yang memanen padi di sawah dengan “mesin traktor penggiling padi. misalnya foto-foto mengenai benda-benda atau obyek yang akrab dengan kehidupan siswa seperti binatang. bukanlah foto sesuatu obyek atau peristiwa yang dibuat-buat atau didramatisasi: foto seorang petani di desa kita yang sedang menuai padi dengan pisau alat panen merupakan kenyataan yang sesungguhnya. dan cara memperolehnya pun mudah sekali tanpa perlu mengeluarkan biaya. kereta api. Dengan memanfaatkan kalender bekas. antara lain: 1) Mudah dimanfaatkan di dalam kegiatan belajar mengajar.” Disamping itu. Mungkin foto tentang sesuatu obyek yang asing bagi siswa dapat menarik perhatian siswa karena baru pertama kalinya berkumpul dan siswa ingin mengetahui lebih jauh tentang obyek itu. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari gambar fotografi dalam hubungannya dengan kegiatan pengajaran. majalah. foto-foto untuk tujuan pengajaran harus dapat memikat perhatian siswa.212 karena dengan ketajaman dan kontras yang baik yang dapat memberikan ketepatan dan rincian yang memadai untuk menggambarkan kenyataan yang ditampilkannya. 2) Harganya relatif lebih murah daripada jenis-jenis media pengajaran lainnya. surat kabar dan bahan-bahan grafis lainnya. karena praktis tanpa memerlukan perlengkapan apa-apa. boneka dan mainan. tidak berarti foto mengenai obyek yang kurang akrab dengan siswa tidak boleh disajikan. Kebenaran foto atau validitas foto menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Namun demikian. dan lain-lain. .

beberapa gambar fotografi seri yang disusun secara berurutan dapat memberikan kesan gerak dapat saja dicobakan. Kelemahan gambar fotografi antara lain: 1) Beberapa gambarnya sudah cukup memadai akan tetapi tidak cukup besar ukurannya bila dipergunakan untuk tujuan pengajaran kelompok besar. gambar fotografi dapat mengubah tahap-tahap pengajaran. dari ilmu-ilmu sosial sampai ilmu-ilmu eksakta. Mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. . kecuali bilamana diproyeksikan melalui proyektor opek.213 3) Gambar fotografi bisa dipergunakan dalam banyak hal. 4) Gambar fotografi dapat menerjemahkan konsep atau gagasan yang abstrak menjadi lebih realistik. 2) Gambar fotografi adalah berdimensi dua. sehingga sukar untuk melukiskan bentuk sebenarnya yang berdimensi tiga. Karakteristik dari gambar fotografi: 1) Gambar fotografi itu adalah dua dimensi. dari lambang kata (verbal symbols) beralih kepada tahapan yang lebih kongkret yaitu lambang visual (visual symbols). 3) Gambar fotografi bagaimana pun indahnya tetap tidak memperlihatkan gerak seperti halnya gambar hidup. Menurut Edgar Dale. Kecuali bilaman dilengkapi dengan beberapa seri gambar untuk objek yang sama atau adegan yang diambil dilakukan dari berbagai sudut pemotretan yang berlainan. untuk berbagai jenjang pengajaran dan berbagai disiplin ilmu. dari sudut pandang pembelajaran hal itu menjadi amat penting terutama untuk mata pelajaran yang rumit. dengan maksud guna meningkatkan daya efektifitas proses belajar mengajar. Namun demikian.

bahwa untuk menilai dan memilih gambar datar yang baik harus menampilkan satu gagasan utama. 4) Gambar datar menekankan gagasan pokok dan impresi. 3) Gambar datar dapat memberi kesan gerak. Ada beberapa kriteria dalam memilih gambar-gambar yang memenuhi persyaratan bagi tujuan pengajaran. kejelasan dan ukuran yang cukup. pertama dari sudut pendidikan dan kedua dari sudut seni. misalnya hasil pemotretan jagat raya dengan benda-benda langitnya. 5) Gambar datar memberi kesempatan untuk diamati rinciannya secara individual. 6) Gambar datar dapat melayani berbagai mata pelajaran. validitas serta menarik.214 2) Gambar datar adalah medium yang “diam” oleh sebab itu dalam hal ini seringkali dipergunakan istilah gambar tetap atau gambar diam. yaitu harus memadai untuk tujuan pengajaran. Dari sudut pandang ini ada dua macam pertimbangan. Dalam memilih gambar fotografi ada lima kriteria untuk tujuan pengajaran. segala macam objek dapat dipotret dari yang kongkret sampai kepada gagasan yang abstrak. . kualitas artistik. memerlukan pengamatan rincian gambar yang tekun. misalnya gambar yang memperlihatkan adegan di jalan raya sangat efektif. Dalam hal ini guru hendak menetapkan kegunaan-kegunaan gambar yang secara relatif memadai. Dengan satu pusat perhatian maka seluruh adegan akan mendukung kepada pesan apa yang ingin disampaikan. dan memilihnya yang terbaik untuk tujuan khusus pengajaran. untuk menyatakan bahwa gambar itu tidak bergerak.

Keefektifan suatu gambar ditentukan oleh sejauh mana baiknya gagasan dikomunikasikan melalui gambar-gambar itu. Kedua. Gambar-gambar yang memenuhi persyaratan mutu seni juga harus memenuhi faktor-faktor: 1) Komposisi yang baik. pewarnaan yang bagus. kedudukan dan arah garisgaris. Sedikit unsur terdapat di dalam gambar adalah cocok bagi anak-anak usia muda. Demikian pula pola gambarnya harus sederhana dan gagasannya tidak kompleks. Jadi pusat perhatian dari suatu gambar adalah gagasan. biru.. Gambar berwarna harus dipilih betul menurut kenyataan. 2) Pewarnaan yang efektif. pesan yang ingin dikomunikasikan bukan bersifat fisik. gambar-gambar itu harus memenuhi persyaratan artistik yang bermutu. artinya untuk tujuan pengajaran yaitu harus menampilkan gagasan. untuk memilih gambar fotografi perlu memperhitungkan kesesuaiannya dengan tingkat usia siswa. Artinya gambar itu mempunyai pusat perhatian yang jelas sehingga memberikan keseimbangan kepada gambar secara keseluruhan. berarti pemakaian warna-warna secara harmonis merupakan ciri kedua dari kualitas artistik suatu gambar.215 Pertama gambar fotografi itu harus cukup memadai. dan alamiah misalnya merah. bagian informasi atau satu konsep jelas yang mendukung tujuan serta kebutuhan pengajaran. Di samping itu gambar fotografi hendaknya realistik dan hidup. misi. bayangan serta pewarnaan. dan harus cukup besar sehingga rinciannya bisa diamati untuk dipelajari. pemakaian cahaya. . Dalam pada itu. merupakan ciri fundamental efektivitas gambar yang baik atau pengorganisasian ke seluruh unsur-unsur gambar yang baik.

gambar fotografi untuk tujuan pengajaran harus cukup besar dan jelas. Memikat perhatian bagi anak-anak cenderung kepada hal-hal yang diminatinya. validitas gambar. kapal terbang dan sebagainya. Kelima memikat perhatian kepada anak-anak. Warna-warna campuran hanya dipergunakan bila ingin menonjolkan makna tertentu terhadap gagasan yang ditampilkan ke depan. yaitu terhadap bendabenda yang akrab dengan kehidupan mereka. Bilamana ukuran gambar terlalu kecil maka akan sulit diamati. kereta api. Yang tidak kurang pentingnya adalah besarnya gambar. perahu. Keempat. lebih pantas dipajang daripada untuk tujuan pengajaran. merupakan gambar-gambar yang tepat untuk maksud pengajaran yang sahih. Gambar-gambar yang representatif dari bidang studi tertentu yang menampilkan pesan yang benar menurut ilmu. pemahaman dan daya tarik terhadap gambar merosot dan perhatian siswa kepada gambar pun hilang. Gambar yang tajam dan kontras mempunyai kelebihan. misalnya binatang-binatang. sehingga tampak jelas ke seluruh siswa. 3) Teknik pemotretan yang unggul bernilai lebih dari komposisi dan pewarnaan. antara lain: . adegan yang ideal. Ketiga. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam mempergunakan gambargambar fotografi sebagai media visual pada setiap kegiatan pengajaran. karena ketepatan dan rinciannya menggambarkan kenyataan secara lebih baik. anakanak.216 hijau dan violet. Gambar-gambar fotografi yang melukiskan suasana dramatis atau mencekam.

Melalui gambar itulah mereka memperoleh kejelasan tentang istilah verbal. 5) Mendorong pernyataan yang kreatif. melalui gambar-gambar para siswa akan didorong untuk mengembangkan keterampilan berbahasa lisan dan tulisan. daripada mempergunakan banyak gambar tetapi tidak efektif. yaitu dengan cara memilih gambar tertentu yang akan mendukung penjelasan inti pelajaran atau pokok-pokok pelajaran. Misalnya gambar-gambar candi gaya Jawa Tengah dan Jawa Timur. 4) Kurangilah penambahan kata-kata pada gambar.217 1) Pergunakanlah gambar untuk tujuan-tujuan pelajaran yang spesifik. 3) Pergunakanlah gambar-gambar itu sedikit saja. Tujuan khusus itulah yang mengarahkan minat siswa kepada pokok-pokok terpenting dalam pelajaran. atau dalam menyajikan gagasan baru. Banyaknya ilustrasi gambar secara berlebihan. seni grafis dan bentuk-bentuk kegiatan lainnya. 2) Padukan gambar-gambar kepada pelajaran. akan mengakibatkan para siswa merasa dirongrong oleh sekelompok gambar yang memikat mereka. Keterampilan jenis . lebih baik daripada dua kali mempertunjukkan gambar-gambar yang serabutan tanpa pilih-pilih. apa yang membedakan ciri-ciri satu sama lain. oleh karena gambar-gambar itu justru sangat penting dalam mengembangkan kata-kata atau cerita. siswa akan menjelaskan mengapa bentuknya tidak sama. Jumlah gambar yang sedikit tetapi selektif. sebab keefektifan pemakaian gambar-gambar fotografi di dalam proses belajar mengajar memerlukan keterpaduan. akan tetapi tidak menghasilkan kesan atau impresi visual yang jelas.

218 keterbacaan visual dalam hal ini sangat diperlukan bagi siswa dalam “membaca” gambar-gambar itu. slides atau transparan untuk melakukan evaluasi hasil belajar siswa. Jadi guru bisa mempergunakan gambar datar. bisa juga dengan memanfaatkan gambar-gambar baik secara umum maupun secara khusus. Alat ini dapat berbentuk balok-balok dalam berbagai macam ukuran. dalam upaya memperoleh hasil tes yang komprehensif serta menyeluruh. manfaat dan menjadi bermacam-macam bentuk. Macam-macam alat permainan visual edukatif: 1) Alat edukatif untuk membangun. gabungan bermacam-macam bahan yang dapat digunakan untuk mencipta bangunan. Dalam kegiatan bermain ini anak membentuk sesuatu. Alat Permainan Visual Edukatif Alat permainan edukatif adalah alat permainan yang dirancang khusus untuk kepentingan pendidikan dan mempunyai beberapa ciri yaitu: 1) Dapat digunakan dalam berbagai cara. 6) Mengevalusi kemajuan kelas. . Pemakaian instrumen tes secara bervariasi akan sangat baik dilakukan. d. maksudnya dapat dimainkan dengan bermacam-macam tujuan. 2) Ditujukan terutama untuk anak-anak pra sekolah dan berfungsi mengembangkan berbagai aspek perkembangan kecerdasan dan motorik anak. 3) Segi keamanan sangat diperhatikan baik dari bentuk maupun penggunaan cat 4) Membuat anak terlibat secara aktif 5) Sifatnya konstruktif. Terdiri dari semua alat permainan yang dibuat dengan berbagai macam bahan seperti plastik. kayu.

koordinasi mata dengan tangan. konsentrasi (pemusatan perhatian).E. 2) Alat permainan edukatif untuk melatih berbagai macam pengertian mengenai warna. arah. kayu dan sebagainya. Misalnya: membuat rumah-rumahan dengan balok kayu atau potongan lego.P. Misalnya dalam memperkenalkan warna dan ukuran bisa digunakan kegiatan bermain memancing ikan yang terdiri dari bermacam-macam warna dan ukuran. bentuk. ini maka kosa kata yang didapat juga tak ternilai. Dengan rentang perhatian yang terbatas dan masih sulit diatur atau masih sulit belajar dengan “serius”. ukuran. Pada usia prasekolah anak perlu menguasai berbagai konsep seperti warna. anak usia prasekolah terutama anak hiperaktif akan lebih mudah belajar pengenalan konsep-konsep ini apabila dilakukan sambil bermain (melalui kegiatan bermain). Karena kegiatan ini bermanfaat untuk melatih ketekunan. mengisi waktu luang. besaran dan lain-lain. mengembangkan kreativitas. Misalnya kertas. karena anak akan merasa senang dan tanpa ia sadari ternyata ia sudah banyak belajar.219 menciptakan bangunan tertentu dengan alat permainan yang tersedia. menyusun kepingan-kepingan kayu bergambar dan yang semacamnya. menggambar. Alat permainan edukatif yang mengandung unsur konsep . bentuk dan ukuran. Tidak jarang anak mampu menguasai bahasa yang canggih karena kemampuan ingatan pendengarannya bagus sehingga kita tidak perlu terlalu takut untuk menggunakan bahasa yang umumnya digunakan orang dewasa. Kegiatan ini sangat baik diberikan pada anak yang mempunyai gangguan/berkebutuhan khusus seperti hiperaktif dan autisme. Peralatan ini terbuat dari berbagai macam bahan. plastik. Melalui kegiatan bermain dengan A.

di bawah. dan di samping). segi empat. posisi benda (di atas. sekaligus melatih motorik halus. Dengan alat permainan ini anak-anak akan mengenal konsep warna. juga melalui pengulangan bermain dengan alat ini akan membuat anak makin memiliki konsep dan mengenal nama bentuk tersebut dengan spontan. 3) Puzzle (mainan bongkar pasang). bila terlalu sulit bagi anak untuk mengingat nama segi empat dapat diganti dengan istilah kotak atau tahu. Dengan memainkan alat permainan ini anak belajar tentang bentuk. Kata “lingkaran” diganti menjadi bundar. bentuk dan ukuran. 5) Papan-papan pasak. Dengan bermain dan secara tidak khusus disebutkan nama bentuknya. segi tiga. oval dan sebagainya). segi tiga dan segi enam. Yang paling sederhana adalah papan bentuk (lingkaran.220 bentuk tidak perlu mendapat penekanan berlebih. Model puzzle lain adalah suatu gambar tertentu yang kemudian dipotong-potong. segi empat. jumlah. Misalnya. 4) Tangga bentuk silinder dan kubus. 6) Papan-papan hitung 7) Papan paku (dengan pengawasan cermat) . yaitu suatu sarana menyalurkan energi dan agresivitas anak. anak diminta menyatukan kembali. Beberapa contoh alat permainan edukatif yang dapat mengembangkan ketrampilan gerakan halus dan koordinasi mata dan tangan: 1) Lotto-lotto berwarna 2) Alat permainan menara gelang ganda bentuk bulat. warna. bintang. belajar hukum sebab akibat. setelah gambar tersebut ditebarkan di meja.

Dengan alat permainan tersebut. anak dapat menyusun suatu bentuk tertentu. Misalnya: main rumah-rumahan. alat permainan LASY. sejenis atau sama. Yaitu materi yang membawa anak untuk kesiapan akademik bagi anak. Manfaat yang bisa diperoleh melalui kegiatan bermain ini. misalnya balok meja. Materi tersebut meliputi: kertas dan pensil. ketekunan. 12) Materi yang berorientasi pada kegiatan yang bersifat akademik. . 11) Alat permainan yang bersifat konstruksi.221 8) Biji untuk meronce 9) Kartu berpasangan. pola bentuk untuk dijiplak (sebagai persiapan membuat huruf). Dalam bermain pura-pura anak menirukan kegiatan orang yang pernah dijumpainya dalam kehidupan sehari-hari. bentuk angka-angka (untuk memperkenalkan bentuk angka) dan sebagainya. daya tahan. mendapat pujian dari orang lain yang akan meningkatkan keinginan anak bekerja lebih baik lagi. Dapat juga anak melakukan peran imajinatif atau dongeng. dapat dengan contoh atau berdasarkan kreasinya sendiri. jadi batman atau kesatria baja hitam. dapat meningkatkan kosa kata serta belajar mengelompokkan berdasarkan fungsinya. 10) Berbagai macam miniatur binatang. melatih ketrampilan motorik halus. polisi dan penjahat. Kalau ia berhasil. melatih konsentrasi. akan menimbulkan rasa puas. yaitu untuk mengembangkan kreativitas. antara lain mengembangkan kemampuan anak untuk berdaya cipta (kreatif). orang (tokoh) yang bermanfaat untuk bermain peran sekaligus meningkatkan pengetahuan anak.

gunting dan tutup setiap guntingan foto dengan plastik bening sehingga terbungkus rapi. 2) Foto-foto berpasangan. Suruhlah ia meraba huruf-huruf itu. atau meletakkannya dengan posisi terbalik di atas meja dan membuka secara bergantian dua kartu sekaligus. Kita bisa . Lalu ajaklah si kecil memainkan permainan “konsentrasi” dengan cara mengocok tumpukan foto itu. Huruf-huruf ini akan terasa menonjol bila diraba oleh si kecil. Susunlah tiap huruf tersebut di atas karton tebal. Tujuannya adalah mencari pasangan setiap foto itu. Permainan ini membantu si kecil untuk membedakan secara visual dan mengingat-ngingat letak kartu sehingga ia tidak hanya sekedar menebak saja selama permainan ini. 3) Huruf-huruf Amplas Cara membuatnya siapkan beberapa lembar amplas. Tempelkan foto-foto itu di karton/kertas tebal. lalu potong. Kegiatan: suruh anak untuk menunjuk beberapa benda dan menyebutkan huruf awal serta bunyinya dengan demikian anak akan dapat mengenal abjad. mengenal bunyi huruf dan membedakan bunyi. pertama dengan mencobanya bersama kita dan kemudian ia akan memperhatikan kita menggunakan jari untuk menelusuri bentuk huruf secara benar.222 Alat permainan visual edukatif ciptaan Montessori: Aktivitas Bahasa 1) Album Foto Abjad Terbuat dari foto berbagai obyek dan di bawah foto ditulis huruf awalnya. Cara membuatnya potret berbagai benda yang dikenal si kecil dan cetak dua buah untuk masing-masing foto.

saya rasanya asam. Tabel tugas bisa dibuat dengan menggunakan amplop bertuliskan nama anak dan kartu bergambarkan tugas mereka. Bagian depan kulkas misalnya bisa dijadikan tempat untuk menempelkan huruf-huruf dengan menggunakan magnet.223 membimbing jarinya untuk menelusuri setiap huruf saat kita menyebutkan nama huruf tersebut. bantulah si kecil menentukan obyeknya. gambar . Untuk buku atau kartu permainan. Misalnya: saya buah. 6) Tabel Tugas Memberikan tugas pada anak bisa mendorong keinginannya untuk mandiri dan memberikan kepuasan saat tugasnya telah selesai dilaksanakan. saya berwarna kuning. Kegiatan ini bisa membantu si kecil mengenal abjad 4) Dinding Kata Dinding kata ini dapat dibuat di berbagai tempat. 5) Buku Teka-teki Abjad Cara membuat buku teka-teki yaitu dimana satu halaman berisi petunjuk dan halaman selanjutnya berisi jawaban. Kegiatan ini dapat membuat anak berpikir kritis dan berpikir imajinatif. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk anak-anak yang baru mulai belajar membaca dengan mengenal tulisan. Kita juga bisa membuat huruf besar dan huruf kecil dari lembaran amplas kemudian memainkan permainan “konsentrasi” untuk memasangkan huruf besar dengan huruf kecil. Untuk mengatur tugas anak dapat dibuat tabel penuh warna agar lebih menarik. Untuk anak yang lebih kecil. atau langsung memasangkan huruf besar dan huruf kecil bersama-sama. dan beri tiga atau empat petunjuk.

224 merupakan suatu pesan. menyortir gambar-gambar itu atau memilih foto atau gambar makanan bisa mengembangkan ketrampilannya dalam mebedakan obyek secara visual. ikatkan lagi lidi kecil sehingga anak panah dan lingkaran saling menempel. Cara menggunakannya anak harus menemukan gambar di kartu itu . setelah itu tempelkan sepotong karton tebal di bawahnya. Meski hasil guntingannya tidak rapi. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada tulisan dan membedakan secara visual. sehingga posisinya seperti jarum jam. Masukkan benang yang sudah diikatkan ke sebatang lidi kecil ke lubang itu hingga ujung benangnya menembus ke belakang. Jadi pastikan setiap tugas ditampilkan dengan gambar yang sesuai. 8) Jam Gambar Cara membuatnya yaitu gambarlah sebuah lingkaran di karton tebal. Lalu. Setelah selesai. dan anak panah bisa diputar. dan gunting kemudian tempelkan gambar-gambar benda dan gambarlah sebuah anak panah di karton. letakkan di atas lingkaran. lubangi pusat lingkaran itu. Sedangkan menggunting dan menempel gambar adalah latihan yang tepat untuk mengembangkan ketrampilan motorik halusnya. di ujung benang tadi. 7) Menyortir Gambar-gambar Ajaklah si kecil mengumpulkan gambar berbagai jenis makanan yang ia sukai dan yang tidak ia sukai dari majalah dan menempelkannya untuk dijadikan hiasan kolase. Lubangi anak panah tadi sehingga terbentuk lubang yang menembus pusat lingkaran ke belakang.

dan berikan beberapa guntingan kertas itu kepada si kecil sekaligus.225 yang bunyi konsonan awalnya sama dengan gambar yang tertunjuk oleh anak panah. Aktivitas Matematika 1) Deretan angka Cara membuat deretan angka dengan menggunting angka-angka pada kalender bekas dan menaruhnya di sebuah kotak. Hal ini membantu anak bisa belajar menghitung hingga angka 100. Mulailah dengan satu garis lurus yang panjang dan pendek serta satu buah bentuk setengah lingkaran berukuran kecil. Kumpulkan bermacammacam benda. 2) Kwartet angka. Usahakan agar kertas tidak terlalu panjang agar anak bisa menyelesaikannya dengan baik. Tanyakan pada anak. Kemudian tempelkan angka tersebut secara berurutan pada selembar kertas berwarna. Lalu pasangkan benda tersebut dengan angkanya. mintalah anak untuk menghitung jumlah benda yang sesuai dengan angka yang tertera pada masing-masing kartu. huruf apa saja yang bisa dibuat dari potongan tersebut. (jawabannya huruf besar “R” serta huruf besar dan kecil dari “p”). 9) Garis dan lengkungan Cara membuatnya adalah guntinglah garis lurus yang panjang dan pendek serta setengah lingkaranyang besar dan kecil dari karton. Kartu tersebut bisa dibuat dalam ukuran yang . Kegiatan ini bisa membantunya memahami bahwa semua huruf terbentuk dari garis lurus dan lengkungan. Buatlah kartu-kartu dengan angka di dalamnya.

pada empat lembar kertas yang berbeda. Untuk belajar memahami bahwa sebuah angka tetap sama meski diatur dengan cara berbeda. Setelah itu. maka ajaklah anak untuk melakukan kegiatan dengan tusuk gigi. 4) Jam tiruan Buatlah jam tiruan dari kertas kardus. empat tusuk gigi bisa disusun menjadi sebuah rumah. 3) Tusuk Gigi Anak-anak yang masih kecil biasanya berpikir bahwa angka selalu statis. atau menjadi persegi panjang. dibariskan berjajar atau membentuk satu garis lurus. 5) Menjiplak uang logam. Hitunglah jumlah tusuk gigi itu bersama-sama saat ia menyusun (dan menempelkan) tusuk gigi dengan cara yang berbeda. Siapkan beberapa tusuk gigi.226 cukup besar sehingga seluruh benda itu bisa diletakkan semuanya di atas kartu. letakkan uang logam di bawah kertas putih dan bantulah ia menjiplak dengan menggunakan krayon. Jelaskanlah padanya bahwa jumlah tusuk gigi pada setiap susunan tersebut tetaplah empat. Lalu. Aktivitas ini dapat membantu si kecil yang baru mengenal uang logam . mintalah anak untuk menyusun empat angka dengan empat cara yang berbeda. kemudian tanyakan jam berapa kepada anak sesuai dengan gambar atau anak diminta menunjukkan/mengarahkan arah jarum jam sesuai yang kita perintahkan. Jadi menurut mereka angka 5 atau 7 tidak dapat ditampilkan dengan cara lain dan masih tetap merupakan 5 atau 7. Misalnya. Buatlah jiplakan dari kedua sisi uang logam. Perkenalkanlah semua uang jenis logam.

b) Sebagai alat untuk mendorong anak dalam membangun sesuatu dengan daya fantasi dan kreatifitasnya. b) Memberi variasi dalam cara memantapkan pengertian bilangan. . suku kata. c) Melatih kesabaran anak. yang dilakukan oleh anak sendiri. suku kata. serta kombinasinya. kata. kata. 2) Kotak merjan Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan 5 macam bentuk dan warna. 3) Kotak baca Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan kalimat. dan huruf melalui pelajaran persiapan membaca permulaan. b) Belajar menyusun kalimat.227 Alat-alat yang diperlukan untuk pendidikan persiapan permulaan membaca dan menulis dan persiapan permulaan berhitung/matematika: 1) Balok bangunan Fungsi/kegunaan: a) Mengenal bentuk-bentuk benda serta hubungannya antara satu dengan yang lainnya.

kuning. d) Jumlah 1 papan penampang dengan 9 lubang lingkaran 9 potong kepingan setengah lingkaran . nila. biru. ungu. hijau. b) Bahan terbuari dari triplek c) Warna yang digunakan adalah Papan penampang berwarna abu-abu Kepingan geometris sesui dengan yang tersebut diatas. jingga.228 Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari: Kotak bertutup yang dapat dibuka Tutup kotak yang di dalamnya terdapat gambar yang bertuliskan “nina beli buku” Isi kotak papan baca 1 Kepingan kalimat “nina beli buku” 2 Set kepingan kata “nina beli buku” 2 Set kepingan suku kata “nina beli buku” 2 Set kepingan huruf “nina beli buku” 4) Papan pengenalan warna Fungsi/kegunaan: Memperkenalkan 9 macam warna (yang terdiri dari warna merah. putih dan hitam) Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari papan penampang dan kepingan setengah lingkaran.

dan isi pohon yang terdiri dari bentuk bunga. . buah kecil. 7) Papan geometris Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan bentuk-bentuk geometris b) Melatih otot-otot jari anak c) Untuk latihan menulis Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari papan penampang dan9 potongan-potongan bentuk geometris b) Bahan terbuat dari papan triplek 8) Pohon hitung Fungsi/kegunaan: a) Memperkenalkan konsep bilangan b) Menanamkan pengertian tentang perbandingan (lebih banyak kurang) Spesifikasi alat: Unsur-unsur pada pohon hitung adalah pohon. daun dan sebagainya. masing-masing dengan urutan warna yang paling muda dan meningkat ke warna paling tua. alas pohon.229 5) Papan nuansa warna Fungsi/kegunaan: Mengenalkan nuansa 5 jenis warna. buah nanas. 6) Boneka Fungsi/kegunaan: Alat peraga untuk kegiatan bermain sandiwara boneka.

papan/setrika-setrikaan b) Bahan terbuat dari triplek dan harbort . kaos kaki-sepatu. Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari Papan penampang yang bergambar Kepingan yang bergambar berpasangan: Daun-bunga. 10) Kotak pos Fungsi/kegunaan: a) Mengenal bentuk-bentuk geometris (benda 3 dimensi) dengan beberapa penampang b) Melatih keseimbangan otot untuk memasukkan bentuk-bentuk geometris pada penampang yang benar. tatakan-cangkir. meja-kursi. raket-kok. c) Membandingkan bentuk-bentuk geometris 11) Lotto gambar benda berpasangan Fungsi/kegunaan: Mengenalkan hubungan antara benda-benda yang berpasangan.230 9) Papan pengenalan angka Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan angka 91-5) sebagai lambang bilangan b) Melatih anak untuk mengenal angka dan menghitung sendiri banyaknya paku jamur sebagai angka. penggorengan-sodet. sendok-garpu. rok-baju. pensil-buku.

kuning dan coklat. b) Bahan yang digunakan adalah sepuluh kue c) Warna: merah. kuning dan biru. d) Jumlah terdiri 1 set dengan 3 ukuran (besar-sedang-kecil) . merah.231 12) Loto gambar benda yang sama Fungsi/kegunaan: Mengenalkan persamaan dan perbedaan bentu antara benda-benda Spesifikasi alat: a) Unsur alat terdiri dari papan tempat keping bergambar dan isi berupa 12 keping bergambar b) Bahan dari triplek dilapis formika 13) Serbuk berwarna Fungsi/kegunaan: a) Bahan untuk menggambar b) Finger painting Spesifikasi alat: a) Unsur dari serbuk berwarna ¼ (seperempat) kilogram setiap warna. hijau. 14) Kuas gambar Fungsi/kegunaan: Alat pencetus pengungkapan ekspresi menggambar anak Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari tangkai dan bulu-bulu kuas b) Bahan yang digunakan adalah kayu dan ijuk/rambut c) Tiga macam warna.

ungu. dimana pada bagian kiri memuat gambar dari berbagai benda dan pada bagian kanan memuat nama dari benda itu. Dan dua buah panah yang terbuat dari karton yang dapat digerakkan ke atas dan ke bawah melalui pita/tali. jingga d) Jumlah menurut keperluan 16) Gambang Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan salah satu alat musik pukul pada anak b) Sebagai alat untuk membangkitkan/memupuk rasa senang pada musik. hijau. . biru Beberapa media pembelajaran visual lainnya yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama belajar membaca asosiasi antara arti dan kata. logam dan karet (penahan logam) b) Warna: merah. hijau.kuning. Spesifikasi alat: a) Bahan terbuat dari kayu. Tugas anak adalah menggerakkan panahpanah itu sehingga panah kanan menunjukkan nama (kata) dari benda yang ditunjuk oleh panah kiri. kuning. biru. yaitu: 1) Peralatan yang terbuat dari sehelai karton.232 15) Plastisin Fungsi/kegunaan: Alat untuk membentuk dan melatih otot-otot jari anak Spesifikasi alat: a) Unsur dari barang yang lunak dan dapat dibentuk b) Bahan terbuat dari Tanah liat atau plastisin c) Warna: merah. jingga.

4) Alat ini terdiri dari 8 sampai 12 helai kartu yang masing-masing berbentuk ikan. dimana bagian muka dari kartu memuat gambar dan bagian belakang kartu memuat nama (kata) dari gambar itu. ikatkan sebuah magnet kecil. Tugas anak mencari kata yang sesuai dengan gambar atau sebaliknya. . ikan dibalikkan (dengan dikail) tiap kali anak menangkap seekor ikan. Cara menggunakannya: ikan diletakkan dengan kata disebelah atas dan anak membacanya. karena adanya sambungan tertentu antara kartu gambar dan kartu kata. Tugas anak adalah menyusun kartu-kartu ini dalam sebuah lingkaran. jepitlah masing-masing dengan sebuah paperclip pada ujung tali pengail. jika benar ikan boleh ditahan. Beberapa media pembelajaran visual lainnya yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama analisa sintese. yaitu: 1) Alat yang terbuat dari dua helai kartu (satu set mainan kwartet) dimana kartu yang satu memuat nama (kata) dan kartu yang satunya lagi memuat gambar. Tugas anak adalah menggabungkan kartu gambar dan kata sesuai dengan bentuknya 3) Satu set kwartet yang terdiri atas 5 atau 6 atau 7 helai kartu. nama dibacanya jika salah ikan dikembalikan dalam kolam. dimana bagian kiri memuat kata dan bagian kanan memuat gambar atau dua bagian memuat suku kata. Untuk mengontrol benar atau tidak dalam membacanya.233 2) Gambar penghubung. Alat ini bersifat self corrective. Agar ikan dapat dikail. Tiap kartu terdiri dari dua bagian.

tidak menghiraukan gambar. Ia menyusun kata atas strukturnya. dsb . 2) Satu set mainan kwartet.234 Tujuannya: agar anak belajar cepat mengidentifikasi benda dan nama. Misal untuk huruf n: nasi-nangka-aminiman-taman. Sedangkan anak yang telah maju. Tugas anak adalah menyusun kata. Dimana titik yang agak besar pada bagian atas dari kartu menunjukkan bagian atas dari huruf. Bagi anak yang lambat. Cara menggunakannya: Huruf ditunjukkan: Siswa mengucapkan bunyinya (bukan namanya) Guru menyebut bunyi siswa menunjukkan hurufnya. yaitu kartu yang memuat huruf/lambang. Panah menunjukkan dimana harus memulai jika ia menulis huruf. agar anak menangkap struktur kata dengan cepat. Set ini adalah merupakan self corrective (dapat mengoreksi diri sendiri) 3) Peralatan yang membantu proses mengenal lambang dan bunyi. Guru menunjukkan huruf (lambang): siswa menyebut kata-kata yang mulai/berakhir dengan huruf itu. Bagi anak demikian gambar hanya berfungsi sebagai alat pengontrol. kata disusunnya menurut gambar. dimana tiap kartu dipotong menjadi dua bagian.

dibuat dari karton. 6) Alat ini terdiri dari sehelai karton dibagi dua bagian. Lemari ini diberikan sebuah dasar. anak menyebut bunyi huruf itu/kata yang mulai/berakhir dengan “s”. Kalau anak melihat huruf “n” lalu menyebut nama mobil maka ia berarti belum tahu bahwa huruf n adalah lambang untuk bunyi n. Dipakai 30 buah kotak agar ada tempat bagi huruf-huruf seperti j. Hendaknya instruksi pada anak itu jelas agar tidak membingungkan anak. maka yang penting adalah mengenal bunyi huruf sebagai bunyi pertama/terakhir dalam sebuah kata. anak membaca dari atas ke bawah. ai. agar kuat dan awet. 5) Flash card yaitu kartu yang memuat kata dan yang ditunjukkan kepada anak untuk dilihat selama sekejap mata saja. 7) “Lemari huruf” yaitu merupakan alat untuk menyusun kata. Agar mudah menarik laci untuk mengambil huruf yang diperlukan. 4) Sebuah dadu yang dibuat dari karton tebal. dipinggir kiri dan kanan ada pita tempat menggerakkan huruf ke atas dan ke bawah. Dengan tujuan agar anak membaca kata-kata dengan cepat. tiap laci diberi manyi. .235 Dalam hal ini tidak perlu mengetahui bagaimana menulis kata yang disebutnya mungkin anak menyebut kata baru yang belum diajarkan. dibuat dari kotak korek api dijadikan satu lemari (direkatkan) dan tiap kotak merupakan sebuah laci. e. Cara menggunakannya: dengan menggerakkan huruf “s” melalui pita. au dll. Justru disinilah terletak kemajuan anak. kalau jatuh dengan huruf “s” ke atas. dibungkus dengan kain dril. Cara menggunakannya dadu dijatuhkan ke lantai.

ini berarti bahwa kunci untuk kepandaian membaca telah ada padanya. yaitu berupa kartu-kartu kata dibuat dengan karton yang ditulis kata-kata. 8) Papan Kantong Diperlukan papan triplek/karton tebal dan kartu kata dengan panjang triplek kira-kira 90 cm dan tinggi 60 cm. Hal-hal yang terjadi pada anak tiap kali ia menyusun sebuah kata: Anak memikirkan kata mana yang akan disusun Anak menganalisa kata itu Anak mengidentifikasi tiap bunyi dalam kata itu dengan hurufnya. anak harus mengembalikan huruf pada tempatnya masingmasing. Dengan alat ini mereka dapat menguji kekuatan sendiri yaitu dapat dipakai oleh 1-2 orang. 9) Teknik strip story. tugas anak menyusun kata dengan huruf dalam laci itu. pada deretan kantong dapat dipindah-pindahkan beberapa karton-karton kecil yang bertuliskan kata-kata. Kalau anak telah dapat mengerjakan hal ini dengan lancar. Dapat mempermahir siswa menyusun kata-kata menjadi satu untaian kalimat . saling membantu dan mengoreksi. pada papan dilekatkan deretan kantong karton tinggi 5 cm.236 Pada laci yang berisi huruf “a” ditempelkan huruf “a”. Setelah pekerjaan selesai. jika dua orang dapat dilakukan dengan bekerja sama.

237 E. yaitu: a. Kurikulum Sekolah Dasar d. Kurikulum Taman Kanak-kanak (usia 4-5 tahun) c. dan . Program Pengembangan kelompok bermain (usia 2-3 tahun) b. Pelayanan pendidikan bagi anak hiperaktif akan lebih baik apabila dimulai sejak dini (intervensi dini). Oleh karena itu kurikulum dapat dipilih. serta proses perkembangan dan tingkat pencapaian programpun juga tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Kemampuan dasar bahasa/komunikasi c. Sehingga untuk mengembangkan kurikulum mengacu pada: a. Kurikulum SLB Tuna Rungu e. Kurikulum SLB Tuna Rungu dan Tunagrahita Penyusunan program layanan pendidikan dan pengajaran diambil dari kurikulum tersebut dengan mempertimbangkan kemampuan dan ketidakmampuan (kebutuhan) anak. dimodifikasi dan dikembangkan sendiri oleh guru pembimbing/terapis. Pengembangan Kurikulum Anak hiperaktif memiliki kemampuan yang berdeferensiasi. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif 1. dengan modifikasi. Kurikulum bagi anak hiperaktif dititik beratkan pada pengembangan kemampuan dasar. Kemampuan dasar kognitif b. Kemampuan dasar bina diri. dengan bertitik tolak pada kebutuhan masing-masing anak berdasarkan hasil identifikasi.

Konsekwensi d. Sosialisasi Apabila kemampuan dasar tersebut dapat dicapai oleh anak dengan mengacu pada kemampuan anak yang sebaya dengan usia biologi/kalendernya. Sehingga perilaku yang baik dapat terus dilakukan. sedangkan perilaku buruk dihilangkan (melalui time out. menulis. Stimuli dari guru agar anak berespons b.238 d. meliputi kemampuan: membaca. hukuman. Berhenti sejenak dilanjutkan dengan perintah selanjutnya Sedangkan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Respon anak c. Pelaksanaan Pembelajaran Dalam membelajarkan anak hiperaktif digunakan sistem pembelajaran lovaas one on one (pembelajaran satu guru satu murid) yang didasari oleh model perilaku kondisioning operant (Operant Conditioning) dimana efektifitas pengajaran berkaitan dengan kontrol terhadap antecedent/perilaku yang lalu dan konsekwensi. maka kurikulum dapat ditingkatkan pada kemampuan pra akademik dan kemampuan akademik. Yaitu dengan memberikan reinforcement yang positif sebagai kunci dalam merubah perilaku. yaitu: a. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” . Dalam teknisnya program loovas (Discrete Trial Training/DTT dari Lovaas) ini terdiri dari 4 bagian. 2. sehingga anak dapat menangkap pesan. dan matematika (berhitung). atau dengan kata “tidak”).

Katakan “Ini apa?” Prompt (bantuan/arahkan) anak untuk melabel (menyebutkan nama bendabenda) gambar tersebut dan beri reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. terutama media visual (gambar). gambar huruf. gambar bentuk. Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi gambar: Gambar diletakkan di meja di depan anak. Prompt (bantuan/arahkan) anak untuk menunjuk gambar tersebut dan beri reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Media visual (gambar) itu mencakup gambar benda. karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. meliputi: 1) Identifikasi Benda a. Kegiatan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual gambar. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Materi yang diajarkan adalah menunjuk dan menyebutkan gambar b. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya . gambar angka dan gambar kata kerja. Persiapkan perhatian dan beri perintah “Tunjuk … (nama benda gambar tersebut)”. gambar warna. persiapkan perhatian dan beri sebuah gambar. Melabel gambar: Duduk di kursi berhadapan dengan anak . dan kartu gambar c.239 tersebut. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media.

Beri sebuah benda yang cocok/sesuai dengan salah satu benda di hadapan anak dan berikan perintah “Samakan”. kartu huruf. Proses/Prosedur pembelajaran: Letakkan benda (benda-benda) pada meja di hadapan anak.240 tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama warna)”. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi warna: Letakkan bahan-bahan berwarna di meja di hadapan anak. b. Materi yang diajarkan adalah mengidentifikasi gambar-gambar dan melabel (menyebutkan nama) benda-benda dan gambar-gambar. Prompt (bantu) anak untuk meletakkan benda yang diberikan di atas atau di depan benda yang cocok/sesuai. Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna c. 3) Identifikasi warna a. Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. kartu angka. 2) Mencocokkan (Matching) a. benda berwarna. c. dan berbagai bentuk. Materi yang diajarkan adalah mencocokkan gambar b. Kurangi sedikit . Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk warna yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. dan beri reinforcer (hadiah/pujian).

Katakan “Bentuk apa (ini)?”. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi bentuk: letakkan sebuah bentuk (berbagai bentuk) pada meja dihadapan anak. Kurangi sedikit demi . Materi yang diajarkan adalah identifikasi bentuk dan melabel bentuk b. Katakan “Warna apa (ini)?”. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama bentuk)”. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah bentuk. Melabel warna: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel warna yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Melabel bentuk: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah benda berwarna. Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar c. 4) Identifikasi Bentuk a. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk bentuk yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel bentuk yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya.241 demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja.

Melabel bentuk: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel bentuk yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Media yang akan digunakan adalah kartu-kartu angka c. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah bentuk. Katakan “Huruf apa (ini)?”. Proses/Prosedur pembelajaran: . Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi huruf: Letakkan huruf (-huruf) pada meja dihadapan anak. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama huruf)”.242 sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Materi yang diajarkan adalah identifikasi angka dan melabel angka b. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Materi yang diajarkan adalah identifikasi huruf dan melabel huruf b. 6) Identifikasi angka a. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk bentuk yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. 5) Identifikasi huruf a. Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf c.

Media yang digunakan adalah foto/Gambar aktivitas orang c. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk gambar yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama angka)”. Melabel angka: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Materi yang diajarkan adalah identifikasi kata kerja. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (gambar aktivitas orang)”. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi kata kerja: Letakkan gambar aktivitas orang pada meja dihadapan anak. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah angka. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya . Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel angka yang dimaksud dan reinforce responsnya. melabel kata kerja dan menirukan gambar b. Katakan “Angka (ber) apa (ini)?”. 7) Identifikasi kata kerja a. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk angka yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya.243 Identifikasi angka: Letakkan angka (-angka) pada meja dihadapan anak.

Katakan “Gambar apa (ini)?”. 3. Evaluasi Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif meliputi: a) Evaluasi proses Evaluasi proses ini dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang atau pembelajaran yang sedang berlangsung seketika itu juga. Hal ini dilakukan pembimbing dengan cara memberi reward atau demonstrasi secara verbal dan . Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel gambar yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menirukan aktivitas seperti dalam gambar.244 tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Melabel kata kerja: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Persiapkan perhatian anak dan beri perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar). Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah gambar.

245 konkrit. Hal ini dapat dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi bersama atau case conference. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif yang menjadi contoh kasus. b) Evaluasi Bulanan Evaluasi ini bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah. c) Evaluasi Catur Wulan Evaluasi ini disebut juga dengan evaluasi program yang dimaksud sebagai tolak ukur keberhasilan program secara menyeluruh. Apabila tujuan program pendidikan dan pengajaran telah tercapai dan dapat dikuasai anak. sebaliknya apabila program belum dapat terkuasai oleh anak maka diadakan pengulangan program (remedial) atau meninjau ulang apa yang menyebabkan ketidak berhasilan pencapaian program. maka kelanjutan program dan kesinambungan program ditingkatkan dengan bertolak dari kemampuan akhir yang dikuasai anak. . Di samping itu untuk mengetahui sejauh mana program yang dicapai anak dapat diketahui dengan cara adanya catatan khusus/buku penghubung.

2001:2) dalam penelitian kualitatif dapat dikemukakan definisi mengenai metodelogi kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong. Untuk mengkaji masalah tersebut dipilih pendekatan kualitatif.246 BAB III METODE PENELITIAN A. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran pada anak hiperaktif yang dikhususkan pada penggunaan media visual (gambar) saja. Pendekatan dan Prosedur Penelitian Fokus penelitian ini adalah perencanaan. karena data-data yang terkumpul berupa uraian kata-kata dan gambar (Moleong. pendekatan kualitatif dapat menghasilkan data . Alasan digunakan pendekatan kualitatif karena lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan yang tidak terkonsep sebelumnya tentang keadaan di lapangan yang sebenarnya. tingkah laku dan tindakan para pelaku dalam peristiwa belajar dan mengajar di tempat Terapi Anak. 2000:5). Fokus ini mengarahkan perhatian kepada aktivitas. Landasan ini digunakan untuk menjaring data informan. kreativitas. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam penelitian deskriptif ini: pengumpulan data. penyusunan data dan analisis data yang diperoleh. yaitu para guru dan peneliti dianggap mengetahui tentang pembelajaran pada anak hiperaktif khususnya dalam penggunaan media visual (gambar).

Sebagai langkah pertama yang dilaksanakan peneliti adalah mengadakan studi pendahuluan di lokasi penelitian. diperoleh dari (1) Kepala Terapi Anak. Langkah ketiga adalah pelaksanaan penelitian untuk mengambil data yang diperlukan dalam penelitian dengan menggunakan teknik: wawancara. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). Dari hasil studi pendahuluan dilakukan identifikasi mengenai pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di lokasi penelitian. berkenaan dengan informasi .247 secara utuh dari informan dan perilaku yang dapat diamati sebagian dari suatu keutuhan. Untuk memperoleh data perencanaan. Sedangkan data sekunder yaitu data yang cara mendapatkannya tidak secara langsung melalui sumbernya. sebagai landasan struktural formal untuk dilaksanakannya penelitian. yaitu di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. observasi partisipan dan pengumpulan dokumen. Langkah kedua adalah pengurusan izin penelitian pada pihak-pihak terkait. untuk menyaring data tentang perencanaan. dan pendekatan kualitatif lebih peka dan dapat menyesuaikan dengan berbagai penajaman pengaruh bersama maupun terhadap pola-pola nilai yang dihadapi selama penelitian berlangsung. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya terhadap pihak yang memerlukan data meliputi para guru Terapi Anak Al Tisma Kudus. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif khususnya dengan menggunakan media visual (gambar) digunakan dua sumber yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.

interaksi sosial dan aktivitas imajinasi (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan kelainan perilaku. B. yakni dengan memilih sebuah kasus pembelajaran anak hiperaktif di Kota Kudus. terutama dengan melihat dari segi kualitas tempat terapi dan aksesibilitas.248 tentang berbagai kegiatan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar dan (2) dokumentasi tentang statistik jumlah siswa. Dengan mempertimbangkan hal ini. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual . Autis dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi. Speech Delayed dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan terlambat bicara dan kelainan perilaku. Latar dan Sasaran Penelitian Sesuai dengan pendekatan metodelogis yang digunakan. Pemilihan latar penelitian ini ditentukan dengan mendasarkan pada kelayakan informasi-informasi yang diperoleh dalam proses penelitian di lapangan. telah dapat dipilih sebuah kasus di tempat terapi sebagai latar penelitian ini yaitu Terapi Anak Al Tisma Kudus. sedangkan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi yaitu anak yang mengalami gangguan perilaku tetapi ringan (hiperaktif ringan) dan kurang kokonsentrasi. Autis dan Hiperaktif (A & H) dan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi (NH & KK). serta sejarah berdirinya LembagaTerapi Anak Al Tisma Kudus. Sasaran kajian dalam penelitian ini adalah perencanaan. latar penelitian ditentukan secara purposif. Termasuk kategori hiperaktif disini adalah Speech Delayed dan Hiperaktif (SD & H).

2. pertama sasaran kajian diarahkan pada kondisi lingkungan fisik. observasi partisipan dan dokumentasi. yang meliputi bangunan fisik sekolah. .249 (gambar). 1. 1996:66). Kedua. C. Pengamatan Fisik Terfokus Pengamatan fisik terfokus adalah dengan bantuan alat kamera foto digunakan sebagai teknik untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan halhal fisik yang sesuai dengan masalah penelitian. wawancara mendalam. materi pendidikan. Teknik Wawancara Mendalam Wawancara merupakan memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dan responden dengan menggunakan panduan wawancara (Dian. maka teknik yang dipilih untuk mengumpulkan data di lapangan adalah teknik : pengamatan fisik terfokus. Ketiga. Teknik Pengumpulan Data Sesuai dengan permasalahan dan pendekatan penelitian. Secara khusus. karakteristik guru dan siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. aktivitas belajar pada siswa dan penggunaan media visual (gambar). pola komunikasi siswa. sasaran kajian diarahkan pada perencanaan. alat-alat pembelajaran yakni media visual (gambar) dan proses belajar mengajar. kajian diarahkan pada faktor pendorong dan penghambat yang muncul dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar).

pengetahuan tentang proses belajar mengajar. Dalam pelaksanaan wawancara dilakukan dengan cara terpimpin yaitu pewawancara membuat kerangka dan garis besar mengenai pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara antara lain: identitas informan (baik informan kunci atau informan pelengkap). pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). perencanaan. upaya pemecahan masalah dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). . Dengan demikian proses wawancara akan terarah dan tidak akan menyimpang jauh dari sasaran maupun tujuan yang telah direncanakan. Hal ini dilakukan untuk menjaring data-data secara lebih jelas dan mendalam untuk kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai laporan hasil penelitian. Di dalam pelaksanaan wawancara dilakukan lebih dari satu kali dengan mewawancarai informan kunci kemudian ke informan pelengkap secara berurutan sesuai dengan keadaan informan dalam konteks wawancara yang sebenarnya. faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). 2001:135). Agar dalam pelaksanaan wawancara berjalan dengan lancar dan sistematis. maka dibuat suatu pedoman wawancara.250 Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan (Moleong. Wawancara yang dilakukan peneliti adalah wawancara mendalam. yaitu wawancara dengan menggunakan bahasa campuran (bahasa daerah dan bahasa Indonesia) dan melibatkan emosi pada kebebasan dalam sifat kekeluargaan.

Observasi partisipan yaitu pengamatan menjadi anggota penuh dari kelompok yang diamati. Teknik Observasi Partisipan Observasi dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala atau fenomena yang diselidiki dengan menggunakan mata sebagai alat tanpa ada pertolongan alat standar lain (Dian. 2001:126). selama berlangsungnya wawancara dilakukan pencatatan dengan mempergunakan buku catatan di lapangan dan mempergunakan alat perekam (tape recorder) merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif.251 sehingga informan yang diperlukan terjaring semua. 1996:60). terutama pada saat proses pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) dengan tujuan untuk mengetahui ciri mengenai kondisi dan informasi yang diperlukan. Teknik observasi partisipan dilakukan peneliti dengan melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran. . pengalaman dan wawasan yang cukup luas. Hasil catatan dan rekaman dari wawancara tersebut nantinya akan menjadi data yang diperlukan dalam penelitian yang berguna untuk pengecekan verifikasi data yang diperoleh dari sumber data yang lain. sehingga mempunyai dua peranan yaitu sebagai pengamatan dan menjadi anggota kelompok yang diamati (Moleong. Karena tujuan wawancara adalah untuk memperoleh data yang sangat dibutuhkan dalam proses penelitian. 3. khususnya Kepala Terapi Anak yang memiliki pengetahuan. Teknik wawancara mendalam ini dilakukan dengan para informan kunci.

pelaku dan aktivitas dalam situasi pembelajaran. berkaitan dengan berdirinya. Berkaitan dengan penelitian ini. Teknik dokumentasi digunakan untuk menjaring data aspek kesejarahan. 2001:161). Studi dokumentasi dilakukan dengan menelusuri catatan yang ada di daerah penelitian baik yang dimiliki sekolah maupun pihak-pihak yang berkenaan dengan sekolah tersebut. yaitu setting latar. Latar yang diamati meliputi situasi umum fisik yang relevan. peneliti menggunakan proses pengamatan peran serta atau partisipasi. Pelaku yang dimaksud disini adalah guru dan murid. Teknik Studi Dokumentasi Teknik studi dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan data-data sekunder dari dokumen-dokumen yang mungkin ada dapat mendukung perolehan data dalam penelitian ini. berkaitan dengan aspek fisik dan dokumen administrasi. Di samping menggunakan alat tulis dalam pelaksanaan metode observasi ini dibantu dengan kamera foto untuk memperkuat argumentasi dengan gambar visual hasil rekaman kamera foto tersebut. 4. sehingga peneliti relatif lebih bebas dalam membuat catatan yang diperlukan berdasarkan pedoman observasi yang telah direncanakan. dengan menelusuri data arsip atau dokumen yang berada di kantor Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus (Moleong. Sedangkan aktivitas yang dimaksud adalah perilaku guru dan murid dalam situasi pembelajaran.252 Dalam mengumpulkan informasi. maka ada beberapa aspek yang akan diamati meliputi tiga hal. .

mempelajari.253 D. menafsir dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. Analisis data di dalam penelitian kualitatif dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. dan disusun lebih sistematis sehingga lebih mudah dikendalikan. mengorganisasikannya kedalam suatu pola. dirangkum. kategori dan satu uraian dasar. Berikut ini tahapan analisis data yaitu sebagai berikut: a Pengumpulan data Peneliti mencatat semua data secara obyektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan. Analisis data dilakukan secara induktif. Data yang diperoleh dalam lapangan ditulis dalam bentuk uraian terinci yang akan terus bertambah sejalan bertambahnya waktu penelitian. . b Reduksi data Yaitu memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan focus penelitian. menganalisis. difokuskan pada hal yang penting. Teknik Analisis Data Analisis data menurut Payton dalam Moleong (1991:103) adalah proses mengatur urutan data. dan dicari tema atau polanya. yaitu dimulai dari lapangan atau fakta empiris dengan terjun kelapanagan. oleh sebab itu laporan tersebut perlu direduksi. Menurut Miles dan Hoberman dalam Rachman (1999:120) peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil wawancara di lapangan. dipilih hal-hal yang pokok. Disamping itu laporan sebagai bahan mentah juga perlu disingkatkan direduksi.

sehingga kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Hasil dari data-data yang telah didapatkan dari laporan penelitian selanjutnya digabungkan dan disimpulkan serta diuji kebenarannya. halhal yang sering muncul. misalnya gambar. diagram. Penarikan kesimpulan merupakan bagian dari satu kegiatan konvigurasi yang utuh. chart network. disajikan langkah terakhir adalah kesimpulan-kesimpulan. grafik. Verifikasi data yaitu pemeriksaan tentang besar dan tidaknya hasil laporan penelitian. Untuk menampilkan data-data tersebut agar lebih menarik maka diperlukan penyajian yang menarik pula.254 c Penyajian data (display data) Yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. hipotesis dan sebagainya. hubungan. Kesimpulan adalah tinjauan ulang pada catatan di lapangan atau kesimpulan dapat ditinjau sebagai makna-makna yang muncul dari data yang harus diuji kebenarannya. yaitu yang merupakan validitasnya (Milles dan Hoberman. 2000:17) d Pengambilan keputusan atau verifikasi Yaitu data-data dari hasil penelitian setelah direduksi. model. dan sebagainya (Milles dan Hoberman. Untuk itu peneliti berusaha mencari pola. . kekokohannya dan kecocokannya. Dalam penyajian ini dapat dilakukan melalui berbagai macam visual. 2000:19). tema. matrik. Sejak semula peneliti berusaha mencari makna dari data yang diperoleh. persamaan. Dalam pelaksanaan penelitian penyajian-penyajian data yang lebih baik merupakan suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid.

selain itu pengumpulan data juga digunakan untuk penyajian data. Analisis Data Kualitatif. PENGUMPULAN DATA REDUKSI DATA SAJIAN DATA PENGAMBILAN KEPUTUSAN ATAU VERIFIKASI Bagan 3.255 Tahapan analisis data kualitatif tersebut dapat dilihat dalam bagan di bawah ini. Setelah direduksi kemudian diadakan sajian data. Apabila ketiga tahapan tersebut selesai dilakukan diambil suatu keputusan atau verifikasi. Karena data yang dikumpulkan banyak maka diadakan reduksi data. . Sumber: Milles dan Hoberman dalam Rahman (1999:20) Keempat komponen tersebut saling mempengaruhi dan terkait. Pertamatama peneliti di lapangan dengan mengadakan wawancara atau observasi yang disebut di tahap pengumpulan data.1.

bahan belajar. 2) triangulasi (triangulation) dan 3) pengecekan anggota (member checking). perlu diperhatikan juga keabsahan data yang terkumpul. Selain itu peneliti juga mengadakan pengamatan terhadap data-data mengenai sarana prasarana dan proses belajar mengajar. Sebagai langkah untuk mendukung kebenaran data secara akurat maka peneliti juga mengadakan pemotretan terhadap tempat terapi. . Dalam hal ini digunakan teknik 1) keikutsertaan di lapangan dalam rentang waktu yang panjang (prolonged engagement). kegiatan ketika proses belajar berlangsung. Adapun maksud utama adanya perpanjangan di lapangan ini untuk mengecek kebenaran data yang diberikan baik dari informan utama maupun informan penunjang. Menurut Moleong (2001:173) untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Setelah tahapan analisis data dilakukan. maka perlu mengadakan keikutsertaan dalam rentang waktu yang panjang. 1) Keikutsertaan di Lapangan dalam Rentang Waktu yang Panjang Dalam penelitian ini untuk menguji kepercayaan terhadap data yang telah dikumpulkan dari informan utama yaitu Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus. Foto-foto terhadap objek pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media visual (gambar) dan observasi terhadap data-data ini dimaksudkan untuk mendukung kebenarannya antara hasil wawancara dengan kenyataan yang sebenarnya yang ada pada lapangan.256 E.

maka peneliti melaksanakan pemeriksaan dengan teknik mencari informasi dari sumber lain. Menurut Patton dalam Moleong (2001:178) triangulasi dengan sumber lain berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. peneliti telah memperoleh kelengkapan data dan akurasi data tentang pelaksanaan kegiatan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Hal ini dapat dicapai dengan jalan: (1) membandingkan data informasi hasil observasi dengan informasi dari hasil wawancara kemudian menyimpulkan hasilnya. 3) Pengecekan Anggota Peneliti mengadakan pengecekan anggota dengan tujuan untuk menguji terhadap derajat kepercaan tentang data-data yang diberikan oleh informan utama. . sehingga informasi yang diberikan oleh informan utama pada penelitian dapat mewakili validitas dan mendapatkan derajat kepercayaan yang tinggi. sebagai latar dalam penelitian ini.257 2) Triangulasi Untuk pemeriksaan keabsahan data yang telah dikumpulkan agar memperoleh kepercayaan dan kepastian data. Pelaksanaan pengecekan anggota ini lebih banyak dilaksanakan peneliti secara informan. Dari kegiatan ini. (2) membandingkan data hasil dari informan utama (primer) dengan informasi yang diperoleh dari informan lainnya (sekunder). karena anggota yang dimaksudkan adalah guru-guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. (3) membandingkan hasil wawancara dari informan dengan didukung dokumentasi sewaktu penelitian berlangsung..

disphasia (anak yang mengalami gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam). Bagan Organisasi Terapi Anak Al Tisma Kudus. retardasi mental (idiot). 06 / RW. Bagan Organisasi Terapi Anak Al Tisma Kudus dipimpin oleh Kepala Terapi.258 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. microcepalus (anak yang lahir dengan ukuran lingkar kepala kurang dari standart kelahiran). Tinjauan Historis Terapi Anak Al Tisma Kudus Terapi Anak Al Tisma Kudus didirikan sejak Maret tahun 2001. dibantu oleh beberapa guru pembimbing/terapis. down sindrome. dan kurang stimulasi. merupakan salah satu tempat terapi untuk anak berkebutuhan khusus. c. b. speech delayed (terlambat bicara). seperti autisme. IQ rendah. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN 1. . Letak Geografis Terapi Anak Al Tisma Kudus Secara geografis Terapi Anak Al Tisma Kudus terletak disudut kota di Jalan Besito Gang II RT. Deskripsi Setting Penelitian a. hiperaktif. 259 Gebog Kudus. gangguan konsentrasi. 07 No. Walaupun lokasi terapi ini terletak disudut kota dan ditengah-tengah perkampungan akan tetapi sangat mudah apabila ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum.

yaitu terdiri dari 7 terapis termasuk didalamnya Kepala Terapi yang juga merangkap sebagai terapis. termasuk hiperaktif yaitu: Psikolog anak Psikiater anak Dokter. Guru pembimbing/terapis di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus yang bergelar ahli madya hanya 1 orang dan lainnya adalah tamatan SMA. . 2004). 2004) Mekanisme kerja yang dilakukan adalah semua terapis melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing.259 Adapun personal dari Terapi Anak Al Tisma Kudus. dimana setiap terapis memegang satu-dua anak dengan sistem pembelajaran individual (lovaas one on one – satu guru satu murid) di bawah kendali dan supervisi Kepala Terapi. Adapun pihak-pihak terkait yang diajak kerjasama dalam Terapi Anak Al Tisma Kudus ini. Sarana dan Prasarana Terapi Anak Al Tisma Kudus. 1) Keadaan Guru Terapi Anak Al Tisma Kudus dipimpin oleh 1 Kepala Terapi yang juga merangkap sebagai terapis dengan dibantu 6 guru pembimbing/terapis yang berjenis kelamin perempuan semua. (Sumber: Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus. Keadaan Guru. meliputi dokter spesialis yang menangani gangguan perkembangan anak. terutama dalam memberikan solusi untuk menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus. Siswa. dlsb. dokter spesialis syaraf. (Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus. dokter spesialis metabolitas Departemen Pendidikan Nasional Dan tenaga ahli yang lain seperti: ahli gizi. d.

Andi Kumala.00 WIB Session II dilaksanakan pada pukul 10.00 – 17.260 Tabel 4. Mikail Hima. Nur Halimah Endang Sulastri Troy Khusnul Ma’ali. Sari Naja. Alvin dan Galih Terapis 4. Adinda Ayuditya dan Fakhari Husaini Kepala Terapis Terapis 3.00 WIB Session IV dilaksanakan pada pukul 15. dan siswa lainnya yang dirasa sudah sembuh cukup diterapi di rumah dengan masih tetap berkonsultasi dengan pihak terapi.1. dan Fahmi Qoulani Terapis 5. Data Terapis Tahun 2004/2005 NO NAMA TERAPIS ANAK KETERANGAN 1.00 – 15. 2. sedangkan yang masih diterapi sampai saat ini kurang lebih ada 15 siswa.00 – 10. 6. 7. Sumarni Yuliana Wijayanti Ida Lestariningrum Sahrul dan Hilmi Anis dan Martika Agusta Fahmi dan Bagas Terapis Terapis Terapis (Profil Pendidikan Terapi Anak Al Tisma Kudus.00 WIB .2004) 2) Keadaan Siswa Pada tahun 2001– 2004 jumlah siswa secara keseluruhan yang diterapi di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus berjumlah 24 siswa.00 WIB Session III dilaksanakan pada pukul 13. Purwati Dimas.00 – 12. Terapi dilaksanakan setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat dan dalam satu hari dibagi dalam 4 session yaitu: Session I dilaksanakan pada pukul 08.

Kds Gebog. Tabel 4. 5. Kds Pr 5 th Down Sindrome . Jpr Kudus Kota Pati Loram. 3. 4. 2. Kds Langgar Dalam. Terapi Anak Al Tisma Kudus sudah bisa terbilang sukses. akan tetapi dengan terbatasnya guru/terapis mengakibatkan banyak anak yang ditolak. Kds Gebog. 7. UMUR 7 th 6 th 7 th 7 th 8 th JENIS KELAINAN Dimas Adi Nugraha Naja Khusnul Ma’ali Mikail Hima Galih Ds. Kds Lk Lk Lk Lk Lk Autis Speech Delayed Hiperaktif Disphasia Speech Delayed & Hiperaktif 6. yang selalu berupaya keras dalam penyembuhan mereka. 9.261 Sejak berdiri hingga saat sekarang ini. Kds Mejobo. Andy Kumala Ferdinan Troy M. Haidar Hilmi Agusta Fahmi Fahmi Qoulani Bagas Alvin Anis Mayong. Kds Bae. 12. 13. 10. Kds Mejobo. Data Siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus Tahun 2001-2004 NO 1. 8. Kds Bae.2. terbukti dengan banyaknya siswa dengan berbagai jenis berkebutuhan khusus yang disembuhkan melalui terapi ini dan semakin banyaknya orang tua yang ingin anaknya diterapi disini. Hal ini tentu tidak terlepas dari pembinaan yang diberikan baik oleh kepala terapi maupun para guru pembimbing/terapis di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. 11. Mejobo. Adinda Ayu Ditya Gebog. Kds Lk Lk Lk Lk Lk Lk Lk Lk 8 th 10 th 5 th 9 th 9 th 7 th 8 th 6 th IQ rendah & Autis Autis & Hiperaktif ADD Autis Microcepalus IQ rendah Autis & Hiperaktif Speech Delayed dan Hiperaktif 14. Kds Besito. NAMA ALAMAT KEL.

Data Siswa Hiperaktif NO 1. Kds Gebog. Kds Bae.262 15. 5. Fachrul Meka Firanita Martika Besito. Kds Jepara Langgar dalam. 18. NAMA KEL. Kds Gebog. Kds Besito. 3. 22. 23. 21. 17. 2. Hanif Al Falih Sadath Haidar Ahmad Fatih Nia Famison (Icon) Tito Angguraji Rizal A. yakni sebagai berikut: Tabel 4. 2001-2004) Dari data tersebut yang termasuk dalam kategori hiperaktif dan sebagai sasaran penelitian ada 6 siswa. UMUR 7 th 8 th 10 th 8 th 6 th 10 th JENIS KELAINAN Khusnul Ma’ali Galih Ferdinan Troy Alvin Anis Martika Lk Lk Lk Lk Lk Pr Hiperaktif Speech Delayed & Hiperaktif Autis & Hiperaktif Autis & Hiperaktif Speech Delayed dan Hiperaktif Normal Hiperaktif & Kurang Konsentrasi 3) Keadaan Sarana dan Prasarana Terapi Anak Al Tisma Kudus Terapi Anak Al Tisma Kudus dilaksanakan di rumah pribadi Kepala Terapi dengan 5 ruang kelas. 24. .3. Kds Langgar dalam. 19. 6. 16. 20. Kds Gebog. Kds Prambatan. 4. Kds Lk Lk Lk Pr Lk Lk Lk Lk Pr Pr 9 th 5 th 6 th 7 th 6 th 7 th 7 th 7 th 9 th 10 th Gejala Autis Gejala Autis ADD IQ rendah Gangguan Konsentrasi Gangguan Konsentrasi Retardasi Mental Kurang Stimulasi Retardasi Mental Normal Hiperaktif & Kurang Konsentrasi (Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus.

Disamping itu meja yang digunakan untuk belajar dirancang khusus agar siswa tidak leluasa bergerak dan tetap konsentrasi pada pelajaran. baik itu alat-alat permainan seperti puzzle. gambar huruf. speech delayed. gambar binatang. papan planel. down sindrome dan gangguan lainnya. Begitu juga dengan kursi guru dibuat sejajar dengan siswa dengan tujuan agar perhatian siswa tidak mudah teralihkan saat belajar. gambar alat transpotasi. dimana media ini sangat berguna sekali untuk menarik perhatian siswa dalam belajar dan membantu siswa memahami materi pelajaran. foto/gambar aktivitas orang dlsb yang kebanyakan media itu dibuat sendiri dengan sangat sederhana. Akan tetapi karena terbatasnya tempat menjadikan tempat terapi ini tidak mempunyai sarana bermain diluar. model/benda-benda tiruan dan berbagai media visual (gambar). gambar sayur-sayuran.263 Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus mempunyai perlengkapan pembelajaran seperti di Taman Kanak-kanak (TK). maupun media pembelajaran seperti papan tulis. Karena dilembaga terapi ini khusus menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti autisme. gambar buah-buahan. disamping itu juga untuk membantu kita dalam berkomunikasi dengan siswa. buku-buku cerita. hiperaktif. . balok kayu dlsb. maka dengan sistem pembelajaran yang digunakan yaitu lovaas one on one (satu guru satu murid) mengharuskan setiap siswa belajar di ruangan tersendiri dimana ruangan tersebut tidak diperbolehkan adanya gambargambar/benda yang dipajang yang bisa menarik perhatian siswa. buku-buku pelajaran. gambar benda-benda disekitar kita. seperti gambar angka. gambar warna.

data dari hasil observasi. Langkah ini dilakukan supaya data mentah yang pengambilannya memanfaatkan tape recorder. Adapun informan yang dimintai keterangan sebanyak enam orang yang terdiri dari berbagai unsur yang terkait dalam pelaksanaan pembelajaran di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. yaitu kepala terapi. maka dalam sub bagian ini akan disajikan informasi. Penyajian data dilakukan secara berurutan dari hasil observasi. Deskripsi Informasi Pelaksanaan Proses Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. maupun catatan lapangan lebih lanjut dapat dipahami.264 Ada satu alat yang sangat penting untuk menenangkan anak yang hiperaktifnya tergolong berat yang bernama Bean Back. 3 guru pembimbing/terapis dan 2 orang tua siswa. Memang kelihatan kejam tapi itulah salah satu cara yang efektif untuk menenangkan mereka dan mengenalkan pada mereka bahwa alat ini tidak menakutkan dan membahayakan bagi dirinya. kamera. wawancara dan dokumentasi. wawancara dan dokumentasi. Sesuai dengan rancangan awal yang menyebutkan bahwa metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi. berikut ini disajikan deskripsi penemuan data mengenai tahap perencanaan. Alat ini terdiri dari dua matras dimana penggunaanya anak di jepit antara dua matras tersebut dan ditindih oleh seorang guru. . pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). 2. wawancara dan dokumentasi.

penataan segala administrasi hingga peningkatan sumber daya manusia bagi guru/terapis di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. 6) Walaupun dalam menangani anak hiperaktif tidak jauh berbeda dengan menangani anak berkebutuhan khusus lainnya. Nr. Pr.265 Demi menjaga kenyamanan informan paska memberi informasi. akan tetapi pendekatan dan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif sama dengan pendekatan dan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus lainnya. Yl. sehingga anak dapat menangkap pesan. 12) Pendekatan yang digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus yaitu dengan menggunakan pendekatan individual (lovaas one on one . Ed.pembelajaran satu guru satu murid). Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan . Secara umum Kepala Terapi mempunyai tugas mengkoordinator dan bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan terapi mulai dari pengelolaan terapi. sesuai dengan etika penelitian menyebutkan nama hanya dengan menyebutkan inisial saja yaitu Nh. Sedangkan metode yang digunakan dalam pengajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Informan Penelitian I Nama : Ibu Nh sebagai Kepala Terapi dan merangkap sebagai guru pembimbig/terapis anak yang bernama Ferdinan Troy. (Ibu Nh. (Ibu Nh. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Ut. manajemen keuangan.

kreatif dan konsisten di dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. alat-alat belajar. karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. ketelatenan.266 menggunakan media visual (gambar-gambar). 2. Menciptakan situasi yang kondusif untuk pembelajaran meliputi: a) Emosi yang stabil dari anak hiperaktif. 4. (Ibu Nh. Oleh karena anak hiperaktif pada umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain. Kemampuan untuk meningkatkan ketahanan konsentrasi anak. Mengupayakan kepatuhan dari anak hiperaktif dan pemahaman bahasa reseptif. Mengupayakan adanya kontak mata yang sejajar antara guru-siswa 3. 13) Menurut Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus dalam upaya membelajarkan anak hiperaktif tidak mudah. Beberapa pra syarat yang harus dilakukan dan dipersiapkan oleh seorang guru pembimbing anak hiperaktif sebelum mengerjakan/melaksanakan kegiatan belajar mengajar yakni: 1. Hal yang terpenting sebelum guru melaksanakan kegiatan pembelajaran adalah mengkondisikan anak dalam keadaan kestabilan emosi. Guru pembimbing sebagai model untuk anak hiperaktif harus memiliki kepekaan. Maka guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak hiperaktif. b) Ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster. ventilasi dan penerangan yang cukup). . penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang.

tidak menggunakan aksesoris yang berlebihan. Sebagai contoh untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna dari instruksi “Ambil bola merah”. Setelah . harus tegas dan sabar dalam menghadapi siswa. Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran untuk anak hiperaktif. ketelatenan. Maka materi pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata “ambil”. 16) Pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: a) Terstruktur Artinya dalam pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Seorang guru pembimbing anak hiperaktif harus memiliki dedikasi. ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya. Berbicara dengan singkat dan artikulasi yang jelas. dapat menarik perhatian siswa. (lamp) (Ibu Nh. dan kreativitas di dalam membelajarkan anak didiknya. 14) Kurikulum pembelajaran anak hiperaktif yang digunakan di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus sama dengan kurikulum yang digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu Kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. (Ibu Nh. “bola” dan “merah”. Pembimbing harus menyadari dan memahami tujuan apa yang akan dicapai dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. keuletan. Setelah kemampuan tersebut dikuasai.267 5.

maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan). d) Konsisten Konsisten memiliki arti “Tetap”. bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang. Namun. merespon dan memperlakukan anak sesuai dengan karakter dan kemampuan yang dimiliki masing-masing anak hiperaktif. b) Terpola Terpola disini maksudnya dalam kegiatan anak hiperaktif harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur. Orang tua pun dituntut konsisten .268 anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi “Ambil bola merah” kedalam perbuatan kongkrit. dapat dilatih dengan kondisi dilingkungannya. dan waktu. demikian pula apabila anak berperilaku negatif (reinforcement). c) Terprogram Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evalusi. mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya). Konsisten bagi guru pembimbing berarti. Sedangkan arti konsisten bagi anak adalah tetap dalam mempertahankan dan menguasai kemampuan sesuai dengan stimulan yang muncul dalam ruang dan waktu yang berbeda. tetap dalam bersikap. ruang. bila diartikan secara bebas konsisten mencakup tetap dalam berbagai hal. Apabila anak berperilaku positif/memberi respon positif terhadap sesuatu stimulan (rangsangan). supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas yang berlaku (menjadi lebih fleksibel).

sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus konkrit. benda-benda sekitar. Alat bantu komunikasi: berupa gambar-gambar yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak . yakni dengan bersikap dan memberikan perlakuan terhadap anak sesuai dengan program pendidikan yang telah disusun bersama antara pembimbing dan orang tua sebagai wujud dari generalisasi pembelajaran di sekolah dan di rumah. huruf dan angka. Kesimpulannya. Karena pola pikir anak hiperaktif pada umumnya adalah pola pikir konkrit. kendaraan. simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu). terapi perilaku dan pendidikan bagi anak hiperaktif harus dilaksanakan secara berkesinambungan. (Ibu Nh. Dan kebetulan anak yang diterapi di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah kebanyakan anak usia prasekolah maka sarana belajarnyapun dsesuaikan dengan usia pendidikan anak yaitu berupa: Alat peraga: pengenalan warna. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah. karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. e) Kontinyu Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran. 17) Sarana belajar sangat diperlukan.269 dalam pendidikan bagi anaknya. program pendidikan dan pelaksanaannya. buah. tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan di rumah dan lingkungan sekitar anak. binatang. bentuk.

dsb) dengan tujuan untuk membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler dan belajar secara intensif . dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. dengan alat visual/gambar/kartu. 15) Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah: evaluasi proses yang dilakukan dengan cara seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga. dlsb Mainan edukatif (Ibu Nh. 19) Setelah anak diterapi secara terpadu dan terstruktur. dsb Alat bantu pengembangan motorik kasar: bola. dengan memberi reward (hadiah/pujian)untuk respons yang benar. tali. (Ibu Nh. padat dan konsisten. Dimana evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian yang setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. dan memperlihatkan hasil yang menggembirakan (berperilaku seperti anak normal) kemudian anak dipersiapkan dan diperkenalkan pada pengajaran dengan kurikulum sekolah biasa.270 Alat bantu pengembangan motorik halus: cara memegang pensil. menggunting. mewarna. Disamping itu juga mengadakan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. instruksi yang jelas. tetapi melalui tata cara pengajaran untuk anak bermasalah (kelas kecil dengan jumlah guru besar atau satu guru satu murid.

Untuk itu dalam sekolah anak harus didampingi guru pembimbing/terapis sampai ia benar-benar bisa mandiri dan mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. Mengendalikan perilaku anak dikelas 3. Membantu anak untuk tetap berkonsentrasi 4. Menjembatani instruksi guru dan anak 2. 20) Tugas seorang shadow/guru pembimbing khusus (GPK) adalah: 1. sehingga dapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnya. Anak biasa ditangani dengan guru khusus sendirian. berinteraksi/bersosialisasi dengan teman sebayanya dan harus mengerti instruksi guru dengan cepat.271 pelajaran yang tertinggal di kelas reguler. Ia perlu belajar mengenal dan mengikuti peraturan disekolahnya. Guru pembimbing khusus adalah seseorang yang dapat membantu guru kelas dalam mendampingi anak yang . Akan tetapi banyak persepsi yang salah mengenai guru pembimbing khusus ini. Menjadi media informasi antara guru dan orang tua dalam membantu anak mengejar ketinggalan dari pelajaran dikelasnya. (Ibu Nh. tetapi di sekolah umum anak masih memerlukan waktu penyesuaian untuk dapat mengikuti tatacara pengajaran yang berbeda dengan pada saat terapi. Guru pembimbing/shadow bukanlah asisten anak disekolah yang bertugas membantu anak dalam segala hal. Walaupun anak sudah patuh dan dapat berkonsentrasi pada saat terapi. dan dikelas anak harus berbagi dengan teman-temannya dengan bahasa guru yang berbeda dengan terapisnya dan bersifat klasikal. Membantu anak belajar bermain/berinteraksi dengan teman-temannya 5.

Usia pada saat diagnosis 3. Tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa 4. 22) Sebagai contoh dalam penanganan anak hiperaktif dan pembelajarannya dengan menggunakan media visual (gambar) dapat dilihat pada Ibu Nh yang juga terjun langsung sebagai terapis/guru pembimbing Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan autis (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan hiperaktif. Terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru. Kesehatan dan kestabilan emosi anak 7. Guru kelas tetap mempunyai wewenang penuh akan kelasnya serta bertanggung jawab atas terlaksananya peraturan yang berlaku. metode. Tingkat kelebihan (streng) dan kekurangan (weakness) yang dimiliki anak 5. sehingga proses pengajaran dapat berjalan lancar tanpa gangguan.272 bermasalah pada saat diperlukan. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif. yaitu: 1. Setelah anak bisa diam agak lama baru Ibu Nh mulai pelajaran dengan menunjukkan gambar satu . kurikulum. Kecerdasan/IQ 6. disamping itu agar anak tidak terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan agar dia tahu bahwa dihadapannya itu ada orang yang sedang memperhatikannya. dalam penanganannya Ibu Nh menempatkan anak ini diruangan khusus (ruangan kosong) dan didudukkan di meja kursi khusus tujuannya agar anak ini agar tidak terlalu banyak gerak (hiperaktif) dan tetap kontak mata dengan terapis. sekolah dan masyarakat). Berat-ringannya kelainan/gejala 2. (Ibu Nh. sarana pendidikan. lingkungan (keluarga.

Untuk itulah Ibu Nh selalu mempersiapkan media visual (gambar) dan mainan edukatif di samping sebelum pelajaran dimulai. 21) Informan Penelitian II Nama : Ibu Pr. karena anak ini cukup cerdas dan cepat tanggap maka semua materi yang diberikan dengan menggunakan media visual (gambar) tidak mengalami kendala/hambatan dalam membelajarkannya. yang membedakan hanyalah apakah dia itu tergolong hiperaktif ringan atau hiperaktif berat. Walaupun sistem dan metode pembelajaran yang digunakan untuk membelajarkan Ibu Nh . tetapi dalam memberikan materi harus cepat dan cekatan karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. Sehingga hasil pembelajarannya cukup memuaskan dan anak ini bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya walaupun tingkat kehiperaktifitasannya sedikit berkurang akan tetapi masih bisa dikendalikan dan seringkali mengucapkan kata-kata yang tidak jelas arah tujuannya. sehingga mendapinginya di sekolah (Ibu Nh. Ibu Ed dan Ibu Yl (Guru Pembimbing/Terapis) Ibu Pr sebagai guru pembimbing/terapis Galih dan Alvin Ibu Ed sebagai guru pembimbing/terapis Khusnul Ma’Ali Ibu Yl sebagai guru pembimbing/terapis Anis dan Martika Melihat tingkah laku anak berkebutuhan khusus sekilas kita tidak bisa membedakan tergolong tipe apa yang diderita mereka.273 persatu dihadapan anak tanpa distraksi/gambar lain dimulai dari materi yang mudah ke yang sulit (disesuaikan dengan kurikulum) dan disesuaikan dengan kemampuan anak. karena kebanyakan tingkah mereka itu sama yaitu tergolong anak yang hiperaktif.

karena . Kalau Anis. dalam menyampaikan lebih dipertajam bahasanya agar dia lebih memahami maksud dari ucapan/perintah kita. bagaimana caranya agar anak itu mau berbicara dan mau menirukan apa yang Ibu Pr ucapkan. sehingga anak itu mengerti/maksud dari perintah Ibu Pr. Ibu Ed dan Ibu Yl) Ibu Pr sebagai pembimbing anak yang tergolong hiperaktif yaitu Alvin dan Galih dirasakan ada perbedaan dalam penanganannya.274 anak berkebutuhan khusus sama tapi dalam penanganan mereka (untuk membuat mereka tenang dan konsentrasi pada pelajaran) berbeda-beda tergantung dari tipe apa yang diderita anak itu (Ibu Pr. Sedangkan Ibu Ed dalam menangani Khusnul Ma’Ali yang mempunyai gangguan autis dan hiperaktif dengan cara menatap mata si anak dan memegangi kedua tangannya agar tidak bergerak kesana kemari sampai anak itu benar-benar bisa tenang. Karena Alvin mempunyai gangguan autis dan hiperaktif Ibu Pr menekankan agar selalu kontak mata dengan Alvin agar ia tidak mempunyai kesempatan untuk asyik dengan dunianya sendiri (misalnya melamun atau sibuk dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak menganggap ada orang dihadapannya). Dan Ibu Yl dalam menangani Anis yang mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif dan Martika yang mempunyai gangguan normal hiperaktif (hiperaktif ringan) dan kurang konsentrasi dirasakan tidak jauh berbeda antara keduanya. Sedangkan Martika lebih mengkonsentrasikan anak itu pada tugas yang diberikan. tentunya ini harus dengan prompt. Sedangkan untuk Galih karena dia mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif Ibu Pr menekankan dalam berkomunikasi.

Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Pegang kedua tangannya dengan lembut. kemudian ajaklah untuk duduk diam. Setelah bisa duduk lebih lama. alat peraga dan konsep/cara membelajarkan anak hiperaktif (Ibu Pr). Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada.275 anak itu seringkali mengabaikan tugas yang diberikan dan tidak jarang dalam menyampaikan perintah cukup pintar. Disampaikan secara tegas dan lugas (Ibu Pr). harus diulang-ulang. tetapi tidak semudah itu karena ditengah-tengah pelajaran anak sudah mulai banyak gerak sehingga konsentrasi buyar. Menurut (Ibu Ed dan Ibu Yl) cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas yaitu: Pertama kita berusaha menenangkan mereka. walaupun sebenarnya anak itu . Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Selanjutnya yang paling penting dalam membelajarkan anak hiperaktif adalah mempersiapkan konsentrasi anak (Ibu Ed) dan tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri (Ibu Yl). Sebelum mengajarkan anak hiperaktif yang harus dipersiapkan terlebih dahulu adalah program pembelajaran.

membaca (mengenal huruf). Gambargambar itu mencakup bidang: gambar-gambar yang ada dilingkungan yaitu didalam rumah. (Ibu Yl) Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup berhitung (mengenal angka). diluar rumah. lalu kita tingkatkan tahap demi . mengenal nama-nama benda disekitar kita dan aktifitas orang. buah-buahan. jelas. (Ibu Pr) Hampir semua mata pelajaran dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu.276 Agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar maka dalam berkomunikasi dengan anak hiperaktif dapat dilakukan dengan cara: • Menatap mata si anak dengan tanpa bicara berbelit-belit karena itu akan menyulitkan anak untuk memahami perkataan kita (Ibu Yl) • Berbicara harus singkat. tegas. binatang. mengenal berbagai gambar yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu gambar sayur-sayuran. balok kayu dlsb dalam membelajarkan anak hiperaktif juga harus menggunakan alat bantu pengajaran terutama media visual (gambar). dan bermakna dan apabila ada yang tidak dimengerti oleh anak kita gunakan gambar (visual) yang kita ibaratkan apa yang kita ucapkan untuk membantu kita dalam berkomunikasi (Ibu Pr dan Ibu Ed) Disamping menggunakan mainan edukatif seperti puzzle. karena media visual (gambar) ini sangat penting untuk menarik perhatian/minat mereka dalam belajar. Cara membelajarkannya dikelas: dengan disampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain. alat transportasi dan berbagai hal yang belum mereka ketahui.

kemudian ditambah lagi sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak itu tadi. untuk itu pada saat akan mengeluarkan gambar tidak diperkenankan mengeluarkan banyak. dengan tingkahnya yang tidak bisa diam dan konsentrasinya yang mudah pudar. anak akan lebih tertarik untuk melihat dan memperhatikan apa yang kita sampaikan. tetapi harus satu terlebih dahulu.277 tahap jumlah-jumlah apa yang kita berikan ( dimulai dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit sesuai dengan kurikulum yang ada). apalagi jika gambar-gambar itu berwarna. (Ibu Ed) • Dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual itu akan menarik minat mereka dalam belajar. Anak selalu dalam kondisi yang tidak tenang. sulit memperhatikan. Sedangkan menurut (Ibu Ed) kesulitannya adalah apabila kita memperkenalkan pada gambar yang terlihat asing bagi mereka. (Ibu Pr) Menurut (Ibu Pr) kesulitan pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar) adalah apabila dalam penanganannya anak pertama kali. Dan menurut (Ibu Yl) kesulitannya yaitu pada awal-awalnya anak mulai . kita harus berusaha mengulangi sampai benar-benar anak itu tahu/memahami. (Ibu Ed) Faktor yang mendukung penggunaan media visual (gambar) dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah • Untuk membimbing anak dalam memahami suatu benda atau hal yang baru (Ibu Yl) • Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa memungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah/membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi.

Dan dalam pelajaran tidak ada kendala. (Ibu Yl) . Dan Anis terbukti kalau sudah bisa bicara walaupun cedal dan dalam membaca hurufnya ada yang dihilangkan seperti biru menjadi bi u. Dan hasil dari pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) ini dirasakan sudah cukup berhasil. putih menjadi uti. Dan Galih kosa kata bicaranya sudah mulai meningkat.278 ditangani. walaupun awalnya ia agak kesulitan membedakan bentuk lingkaran dan oval. dan dia masih suka mengoceh sendiri yang tidak jelas arah tujuannya. Dan untuk Martika walaupun dia kurang konsentrasi dalam belajar dan penangkapannya itu kurang tetapi dengan ketelatenan dan pembelajaran yang berulang-ulang hasilnyapun cukup memuaskan. (Ibu Ed). kotak menjadi otak tetapi dia cukup pintar terbukti kalau nilai-nilainya itu baik. dia bisa mengikuti dengan baik. sudah bisa berkonsentrasi dan dapat diajak komunikasi. Tidak hanya memperkenalkan pada suatu media tapi untuk mulai pembelajarannya saja itu sulit. sehingga waktu dua jam itu hanya digunakan untuk menenangkan anak. Terbukti sekarang Alvin sudah bisa dikendalikan emosinya dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik walaupun dia masih bingung membedakan antara jantan dan betina tetapi dengan prompt akhirnya dia mengerti juga. walaupun dalam mengartikan gambar dengan dua kata ia masih agak sulit (Ibu Pr) Sedangkan Khusnul Ma’ali terbukti dengan hiperaktifitasnya mulai berkurang.

279 Informan Penelitian III Ibu Nr dan Ibu Ut (orang tua siswa) Seorang anak diketahui hiperaktif biasanya ketika anak itu mulai tumbuh yaitu menginjak usia 2 tahun. . Ia suka mengoceh sendiri seperti orang latah dan bicaranya tidak jelas arah tujuannya (Ibu Ut). Dengan demikian kita akan tahu perkembangan anak tiap harinya. Saat diketahui itulah sebaiknya anak dibawa ke dokter anak. kontak matanya. biasanya ia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). perilakunya. walaupun anak cenderung lebih tidak konsentrasi. dari situlah mungkin dokter akan menganjurkan untuk membawa ke tempat-tempat terapi anak yang khusus menangani anak yang bermasalah (mempunyai gangguan perkembangan) untuk membantu kesembuhan mereka (Ibu Nr). manja karena diajari oleh orang tuanya sendiri. Ciri-cirinya dapat dilihat dari gerakan-gerakannya. Di rumah sebaiknya orang tua juga menyediakan perlengkapan pembelajaran seperti yang ada di tempat terapi untuk mengajarkan/mengulang kembali apa yang diajarkan di tempat terapi.(Ibu Nr dan Ibu Ut) Anak hiperaktif akan terlihat jelas saat ia mulai terlambat berbicara. baik itu di tempat terapi maupun dirumah. jam kurang tidur dan yang paling penting adalah hasil dari diagnosa dokter. tetapi kita harus tetap konsisten untuk mengajarinya pada jam yang sudah ditentukan (Ibu Nr) dan apabila masih sulit untuk diatasi salah satunya jalan adalah dengan memberikan obat penenang dari dokter yang tentunya penggunaannya sesuai dengan resep dokter.(Ibu Ut).

. Berkaitan dengan proses analisis data tersebut maka pada bagian ini akan disajikan urutan proses analisis data dari mulai penyusunan satuan-satuan. Nr dan Ut). Setelah dibaca. Ed. Dan untuk menunjang kelancaran alangkah baiknya jika satu keluarga juga ikut diet (Ibu Ut). jika anak menangis minta dibelikan makanan maka selaku orang tua adalah memberi pengertian bahwa makanan itu tidak boleh agar cepat sembuh (Ibu Nr). Sedangkan proses analisis data telah dilakukan sejak penyusunan deskripsi penemuan data pada sub bab IV A. Berdasarkan data temuan hasil wawancara dengan keenam informan penelitian yaitu (Nh. hasil observasi dan hasil dokumentasi dibawah ini disajikan data yang kemudian akan dilakukan kategorisasi. foto. Yl. ANALISIS DATA Proses analisis data dimulai dari menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber wawancara. catatan lapangan dan komentar peneliti. dokumen berupa laporan. menyusunnya dalam satuan-satuan yang selanjutnya akan dikategorikan. Pr. gambar. Karena kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif. B. artikel dan sebagainya (Moleong. 1998: 103). dipelajari dan ditelaah maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data.280 Selain itu orang tua juga harus memperhatikan makanan yang dimakan anaknya yang hiperaktif sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi. biografi. maka biasakanlah dulu anak makan dengan masakan/makanan yang dibuat sendiri.

pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus dapat disajikan sebagai berikut: 1.281 Sedangkan analisis data mengenai tiap-tiap satuan dari sumber data akan disajikan dalam laporan. langkah selanjutnya adalah analisis data. Perencanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Berdasarkan hasil observasi. serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. Dimana hal tersebut juga dikuatkan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Dalam membelajarkan anak hiperaktif kami menggunakan kurikulum yang sudah banyak digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia yang tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemampuan anak. dan tidak mampuannya. Setelah pemrosesan satuan (unityzing). kurikulum yang digunakan untuk pembelajaran anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus mengacu pada kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia (Lamp). Kategorisasi ini didasarkan pada tujuan dan kemiripan isi dengan menggunakan kriteria tertentu. . Kategori perencanaan. usia anak.

Dimana hal tersebut juga dikemukakan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Pembelajaran anak hiperaktif dilakukan diruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster. Sedangkan metode yang digunakan di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini adalah perpaduan dari metode yang ada. dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak. Metode ini memberikan gambaran konkrit tentang . alat-alat belajar. ventilasi dan penerangan yang cukup). Dimana guru yang satu (terapis) duduk berhadapan dengan anak memberikan materi pelajaran dan guru yang satunya lagi (asisten terapis) duduk dibelakang anak/memangku anak dan memegangi anak sambil mengarahkan.282 2. Pelaksanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Berdasarkan hasil observasi di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dilakukan dikamar khusus bebas distraksi. penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang. Pembelajaran ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dimana pembelajarannya setiap satu guru memegang satu murid atau dua guru memegang satu murid dan ini berlaku bagi anak yang masih sangat sulit untuk dikendalikan (hiperaktif berat) dan bersifat sementara sampai tingkat kehiperaktifitasan anak sedikit berkurang.

283 “sesuatu”. seperti yang dikemukakan oleh para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Dimana hal tersebut juga dikemukakan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Disini kami dalam membelajarkan anak hiperaktif mengggunakan pendekatan individual (lovaas one on one . apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif divisualkan lewat gambar-gambar. sehingga anak dapat menangkap pesan.pembelajaran satu guru satu murid). karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. Sedangkan Ibu Pr menjelaskan bahwa media visual itu sangat diperlukan karena disamping anak ini hiperaktif ia juga kehilangan konsentrasi. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. diantaranya adalah Ibu Yl yang menjelaskan bahwa penggunaan media visual (gambar) sangat diperlukan untuk membimbing anak dalam memahami suatu benda atau hal yang baru. Disamping mainan edukatif penggunaan media visual (gambar) sangat mutlak diperlukan dalam pembelajaran anak hiperaktif. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar-gambar). sehingga anak dapat menangkap pesan. Sedangkan metode yang kami gunakan adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. dan dengan gambar-gambar yang berwarna. anak akan jadi lebih tertarik untuk . dan biasanya juga diimbangi dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam.

terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu. . 2. Lalu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya itu memungkinkan penggunaan media visual itu akan lebih menarik minat anak dalam belajar. dan berbagai bentuk. Hampir semua mata pelajaran dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). dan kartu gambar. disamping itu cara yang termudah untuk menyampaikan kepada anak supaya mengerti adalah dengan menggunakan media visual (gambar). Identifikasi benda dan melabel (menyebutkan) gambar Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. Sesuai dengan kurikulum yang sudah ada.284 melihat dan memperhatikan apa yang disampaikan. benda berwarna. Mencocokkan (Matching) Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. Hal senada juga dikemukakan oleh Ibu Ed yang menjelaskan sebagai berikut: Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah/membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi. tak terkecuali di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini. pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus itu mencakup: 1. kartu angka. kartu huruf.

285 3. Identifikasi angka dan melabel angka Media yang digunakan adalah kartu-kartu angka 7. Identifikasi kata kerja. Identifikasi bentuk dan melabel bentuk Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar 5. Apabila disaat pelajaran berlangsung konsentrasi anak mulai hilang dan anak sulit untuk dikendalikan maka guru biasanya akan memegangi kedua tangan atau pipi (sekitar kepala) anak itu. melabel kata kerja dan menirukan gambar Media yang digunakan adalah foto/gambar aktivitas orang Menurut Kepala Terapi Anak yang juga terjun langsung dalam mengajar anak hiperaktif. Identifikasi warna dan melabel warna Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna 4. cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas dengan menggunakan media (visual) gambar adalah sebagai berikut: Setelah anak bisa diam agak lama baru memulai pelajaran dengan menunjukkan gambar satu persatu dihadapan anak tanpa distraksi/gambar lain dimulai dari materi yang mudah ke yang sulit (disesuaikan dengan kurikulum) dan disesuaikan dengan kemampuan anak dan dalam memberikan materi harus cepat dan cekatan karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. Identifikasi huruf dan melabel huruf Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf 6. bila perlu kaki anak dijepit di antara paha guru atau tungkai guru/terapis menjepit/merangkum kursi di belakang anak .

. Cara membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) ini juga diperjelas oleh para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. lalu kita tingkatkan tahap demi tahap jumlahjumlah apa yang kita berikan. Sebaliknya apabila anak sudah mulai mengerti dengan maksud kita dan berusaha memperbaiki tindakannya yang salah baru kita katakan “ya”. lugas dan setiap kali respon yang diberikan oleh anak harus kita kasih reinforcer. sebab dengan ditertawakan akan membuat anak itu merasa bangga karena merasa diperhatikan dan merasa bahwa apa yang dilakukannya/diucapkannya itu benar/baik. bisa berupa imbalan/hadiah. tepuk tangan dan acungan jempol. Dan dalam mengajar kita sampaikan secara tegas. antara lain adalah Ibu Pr yang menjelaskan sebagai berikut: Gambar-gambar yang sudah kita dapatkan kita potong-potong dalam bentuk kecil-kecil kemudian kita sampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain.286 dan menatap anak itu dan mengatakan “… (nama anak) lihat” dan mengatakan “Tidak…”. Tindakan dan kata-kata inilah yang selalu diucapkan guru untuk mencegah/melarang anak yang berbuat sesuka hati bahwa perbuatannya itu salah/tidak benar dan untuk melarang/menyuruh diam disaat anak mengoceh sendiri. bukannya ditertawakan karena lucu. applaus.

seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Hal senada juga diperkuat oleh Ibu Yl yang menjelaskan bahwa cara membelajarkan anak hiperaktif yang dilakukan adalah menyuruh anak untuk duduk dan memusatkan perhatian mereka dengan menatap mata anak dan memegang kedua tangannya.287 Sedangkan menurut Ibu Ed cara adalah: membelajarkan anak hiperaktif di kelas Pertama kita berusaha menenangkan mereka. Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming. Pegang kedua tangannya dengan lembut. Sedangkan berdasarkan hasil observasi. Setelah bisa duduk lebih lama. kemudian ajaklah untuk duduk diam. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. setelah anak diam beberapa lama baru kita mulai pembelajarannya secara bertahap dimulai dari yang mudah/sederhana sampai ke yang rumit sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit. tegas dan bukan membentak) tujuannya agar anak mudah memahami. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras.. . guru dalam memberikan perintah/instruksi pada anak adalah dengan disampaikan secara singkat.

hemat kata dan hemat gerakan. .288 Singkat maksudnya dalam memberikan perintah guru hanya mengucapkan satu kata (kata kuncinya saja) dan bukan kalimat yang panjang. Ingin mengajarkan imitasi beda dengan mengikuti perintah sederhana (satu-tahap). selanjutnya untuk menyuruh anak menirukan gambar guru memberikan perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar)”. Untuk itu dalam membelajarkan anak hiperaktif harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Misalnya dalam pelajaran Imitasi: instruksi “Tiru” berarti guru/terapis memberikan contoh (misal: tepuk tangan). Dan dalam perintah sederhana : instruksi “Tepuk tangan” berarti tangan guru/terapis diam sama sekali. karena anak hiperaktif mempunyai gangguan perlambatan dalam menangkap pesan seperti suara radio gelombang pendek (suara hilang timbul) sehingga anak hanya menangkap sepotong-potong. Sedangkan konsisten maksudnya dalam memberikan perintah/instruksi kata yang diucapkan harus persis sama untuk instruksi selanjutnya. “masukken” atau “masuppin” karena ini akan membingungkan anak. Jelas maksudnya guru dalam memberikan perintah sesuai dengan apa yang ingin diajarkan. Apabila materi pelajaran identifikasi gambar maka guru memberikan perintah “Tunjuk … (nama gambar tersebut)” dan apabila materi pelajaran melabel (menyebutkan) guru memberi perintah “Ini apa?” atau “Apa ini?” dan apabila materi pelajaran mencocokkan (matching) guru memberi perintah “Samakan” atau “Kasih ke Ibu”. Misalnya instruksi “masukkan” jangan diganti “masukkin”.

guru mulai pelajaran dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. kemudian guru memberi perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan. maka guru mengajar tanpa prompt dan memberikan reinforce respons yang benar saja. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. kemudian diajak untuk duduk diam. maka dapat disimpulkan bahwa cara membelajarkan anak hiperaktif dikelas adalah: Pertama guru mempersiapkan perhatian anak dan berusaha menenangkan mereka. Dalam memberikan perintah/instruksi ini guru menyampaikan dengan singkat. Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespon dengan benar. Dengan cara menatap mata anak dan memegangi kedua tangannya dengan lembut. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. . Apabila anak sulit untuk diajarkan maka berilah dia iming-iming.289 Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang diperoleh dari para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus di atas. Apabila dalam pembelajaran. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Setelah keadaan tenang dan bisa duduk lebih lama. guru memberikan prompt (bantuan/arahan) pada anak dan setiap kali anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar guru memberikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan). anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan. tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami.

Guru meletakkan dua kelompok gambar yang mempunyai gambar berpasangan dan anak disuruh mencocokkan/memasangkan gambar-gambar itu. Dalam identifikasi kata kerja. menggosok gigi.. maka guru akan menanyakan terlebih dahulu apa warna benda tersebut sebelum memberikannya. menirukan gambar/melakukan aktivitas guru biasanya memulai dengan memerintahkan anak untuk mengambil sesuatu yang ada di sekitar/diruang kelas kemudian anak diajarkan pada hal-hal yang lebih spesifik dan anak diperintahkan meniru guru (misalnya minum dari gelas. yaitu: 1. dlsb). makan dengan menggunakan sendok dan garpu.290 Berdasarkan hasil observasi di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus dengan menggunakan catatan lapangan. Jika anak meminta benda tersebut. Dengan cara mengatur benda-benda yang berlainan warna. Guru memegang satu gambar dan meletakkan beberapa gambar dihadapan anak lalu anak disuruh memilih gambar yang sesuai dengan gambar yang dipegang guru. 3. Guru meletakkan sebuah benda dihadapan anak dan berbagai macam gambar yang berbeda (max 5 gambar) dan anak disuruh mencocokkan/memilih gambar yang sesuai dengan benda. 2. Sedangkan dalam pelajaran identifikasi warna guru juga menggunakan tehnik insidental (berkebetulan). ada berbagai macam cara yang digunakan guru dalam mengajar mata pelajaran mencocokkan (matching). . tetapi diluar jangkauan anak. melepas sepatu.

dengan ketentuan penilaian yaitu jika anak menguasai materi pelajaran atau memberikan respons benar maka anak mendapat nilai A. evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini adalah evaluasi proses dan evaluasi bulanan. Sedangkan evaluasi bulanan bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. untuk itulah anak harus dibantu/diarahkan (prompt setengah/sebagian/ringan) (nilai P++) hingga akhirnya anak mendapatkan nilai A yang berarti anak benar-benar menguasai. Hal ini dapat . Evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian. Evaluasi proses dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung. Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Dari hasil observasi dan wawancara dengan Kepala Terapi. dimana lembar penilaian ini setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga. dan apabila anak mengalami kendala/hambatan dalam menerima pelajaran maka anak mendapatkan nilai P yang berarti belum bisa atau nilai P+ yang berarti sudah mulai/sesekali bisa. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif yang menjadi contoh kasus. dengan memberi reward (hadiah/pujian) untuk respons yang benar.291 3.

gambar sayuran dan alat transportasi. matching binatang. matching huruf besar. anak menunjukkan tingkat penguasaan yang baik terbukti selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. maka diperoleh hasil evaluasi pembelajaran sebagai berikut: Khusnul Ma’ali 1. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A . 3. 2. gambar buah-buahan.292 dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi bersama (case conference) Berdasarkan lembar penilaian pada 6 anak hiperaktif dari evaluasi proses. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik bahkan ia melaksanakannya dengan waktu yang cepat ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A dan A+. matching bentuk. yang hanya dikhususkan pada mata pelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). matching buahbuahan dan matching sayuran.

segitiga. oval. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. . lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. ini terbukti bahwa pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa menjawab dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan.293 4. 5. akan tetapi ia agak sulit membedakan antara lingkaran dan oval sehingga harus diulang beberapa kali baru ia memahami . Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10 anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik 7. kotak. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. wajik.

Dalam identifikasi gambar binatang anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A akan tetapi ada beberapa gambar binatang yang sulit dipahaminya diantaranya adalah ayam betina karena anak belum mengerti dan belum bisa membedakan mana ayam jantan dan mana ayam betina yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga ia harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan) dan bahkan ia sudah mulai/sesekali bisa. P++ sampai akhirnya ia mendapatkan nilai A yaitu benar-benar bisa/menguasai. 2. matching bentuk. P+. Sedangkan dalam identifikasi buah-buahan ada yang mudah dikuasai dan ada yang masih sulit dikuasai/dimengerti dan ini membutuhkan prompt terbukti pada buah tomat anak mendapatkan nilai P+. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. Dalam identifikasi buah-buahan dan alat transportasi anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A.294 Galih 1. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda ada beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. matching binatang. matching huruf besar. alat transportasi. P++ dan sampai mendapatkan nilai A. ini terbukti dengan ia mendapatkan nilai P. matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan . gambar buah-buahan.

3. wajik. akan tetapi setelah menginjak angka 5 dan 8 anak mengalami kesulitan ia sulit menghafal sampai 3 kali pertemuan baru ia hafal terbukti pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ . Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. kotak.9. oval.6. 3. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. untuk angka 1.295 baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A.7. segitiga.10 anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik.4.2. Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10.

Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan satu kata seperti memasak. lari dlsb anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. meniup harmonika dlsb. membaca. Mencocokkan (Matching) Karena dalam pembelajaran mencocokkan (matching) adalah merupakan hal yang paling mudah anak tidak mengalami masalah saat disuruh mengerjakan tugas sehingga ia mendapatkan nilai A . ini terbukti bahwa pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa menjawab dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan.296 dimana anak sudah mulai/sesekali bisa dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan hingga anak mendapatkan nilai A dimana ia benar-benar telah menguasai. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda anak tidak mengalami masalah saat ditanya bahkan ia langsung bisa menjawab tanpa diberi prompt oleh karena itu ia mendapatkan nilai A+ 2. 7. akan tetapi dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan dua kata atau lebih anak masih mengalami kesulitan seperti main bola. Ferdinan Troy 1.

297

3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10, anak juga tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik, dan materinyapun ditingkatkan mulai dari penjumlahan dan pengurangan sesuai dengan pelajaran di sekolah.

298

7. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Alvin 1. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang, gambar buah-buahan, alat transportasi anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A, akan tetapi sama halnya yang dialami Galih ada beberapa gambar binatang yang sulit dipahaminya diantaranya adalah ayam betina karena anak belum mengerti dan belum bisa membedakan mana ayam jantan dan mana ayam betina yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga ia harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan) dan bahkan ia sudah mulai/sesekali bisa, ini terbukti dengan ia mendapatkan nilai P, P+, P++ sampai akhirnya ia mendapatkan nilai A yaitu benar-benar bisa/menguasai. 2. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna, matching huruf besar, matching bentuk, matching binatang, matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A.

299

3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10, anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik, akan tetapi ia mengalami kesulitan saat disuruh menulis angka. 7. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan

300

pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A, walaupun kadang-kadang arah pembicaraannya mulai tidak jelas dan ngelantur kemana-mana. Anis 1. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang, gambar sayuran, gambar buah-buahan dan alat transportasi hanya gambar sayuran yang masih sulit dikuasai/dimengerti oleh anak dan ini membutuhkan prompt terbukti pada buah tomat anak mendapatkan nilai P+, P++ dan sampai mendapatkan nilai A. 2. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. 3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A

putih menjadi uti. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6.301 5. 7. kotak menjadi otak dlsb. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja sebenarnya anak tidak mengalami kendala ia cepat menguasai materi yang diberikan hanya saja karena anak ini cedal dan pemahaman bahasanya kurang. . akan tetapi untuk angka 5 anak mengalami kesulitan ia sulit menghafal sampai 3 kali pertemuan baru ia hafal terbukti pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan hingga anak mendapatkan nilai A dimana ia benar-benar telah menguasai. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10. mungkin dalam menyampaikannya saja yang salah dan selalu ada saja huruf yang dihilangkan. seperti biru menjadi bi u. anak tidak mengalami kendala saat ditanya walaupun angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik.

P++ dan A dimana anak sesekali bisa dan harus diberi prompt hingga akhirnya tanpa prompt. 3. matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. lingkaran dan trapesium) anak masih sulit membedakan antara lingkaran dan oval ini terbukti dengan nilai yang didapat P+. . matching bentuk. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. wajik. segitiga. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. matching binatang. 2. matching huruf besar. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. oval. kotak. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan terutama gambar binatang selalu ada saja nama yang terbalik seperti itik. bebek untuk itu tidak jarang disertai dengan prompt hingga ia benarbenar bisa membedakan.302 Martika 1. angsa.

Dan dengan gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan penggunaaan media visual (gambar) akan mewujudkan tujuan komunikasi dari anak. dapat disimpulkan bahwa dalam menangani anak hiperaktif salah satu cara yang terbaik adalah dengan dibawa ke tempat terapi anak yang khusus menangani anak bermasalah (gangguan perkembangan) dan cara yang paling mudah bagi guru pembimbing/terapis dalam menangani/membelajarkan anak hiperaktif adalah dengan menggunakan media visual (gambar) karena dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual (gambar) itu akan lebih menarik minat anak dalam belajar.303 5. . Dari hasil wawancara diatas. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10. anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 7. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6.

Hal ini diperkuat oleh teori Clerq (1994:126) bahwa terapi individu yang diterapkan. 1992:200) . 1989:73) Kurikulum yang digunakan untuk pembelajaran anak hiperaktif ditempattempat terapi anak mengacu pada kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. Fungsi otaknya yang terganggu harus dilatih dengan terapi kesibukan. 1. usia anak. dan tidak mampuannya. tahapan-tahapannya disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. Perencanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak. Dimana sekolah-sekolah khusus itu mengatur program yang akan memenuhi kebutuhan anak. serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Setelah keseluruhan data yang ditemukan peneliti pada latar penelitian dilakukan proses analisis komparatif antar informan peneliti maupun dengan menggunakan catatan lapangan dan dokumentasi selanjutnya peneliti menyajikan kesimpulan tentang perencanaan. (Bryn. (lamp) Hal ini diperkuat oleh teori Sobur (1986:125) bahwa hanya “terapi terarah” yang dapat membantu anak keluar dari masalah hiperaktif. Kurikulum pembelajaran untuk anak hiperaktif disesuaikan dengan tingkat perkem bangan kemampuan anak. Pada umumnya terapi perilaku bersifat pendidikan (Singgih. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di tempat terapi anak.304 C.

Hal ini juga diperkuat oleh teori Sobur (1986:125-126) bahwa disamping perlunya pemeriksaan medis. Dengan cara dipangku/dipegang tangannya sambil muka berhadap-hadapan untuk dilatih . Misalnya. dapat disarankan latihan-latihan untuk mengurangi kebanyakan gerak ini.305 2. Dilakukan dengan cara guru yang satu (terapis) duduk berhadapan dengan anak memberikan materi pelajaran dan guru yang satunya lagi (asisten terapis) duduk dibelakang anak/memangku anak dan memegangi anak sambil mengarahkan. Pelaksanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dilakukan dikamar khusus bebas distraksi yaitu ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster. 1989:73) Pembelajaran ini dilakukan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dimana pembelajarannya setiap satu guru memegang satu murid atau dua guru memegang satu murid dan ini berlaku bagi anak yang masih sangat sulit untuk dikendalikan (hiperaktif berat) dan bersifat sementara sampai tingkat hiperaktifitas anak sedikit berkurang. Hal ini diperkuat oleh teori Taylor (1988:125) bahwa anak hiperaktif perlu diterapi langsung untuk mengubah perilakunya yaitu dengan sistem pengajaran satu guru satu murid. Dengan dimasukkan di kelas-kelas kecil itu anak-anak hiperkinetik akan memperoleh perhatian dan pengawasan yang diperlukan (Bryn. ventilasi dan penerangan yang cukup). yang memudahkan beralih perhatian. alatalat belajar. tata ruang yang diusahakan jangan terlalu ramai dengan bermacam-macam benda. penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang.

lalu ditambah menjadi empat menit dst. Sedangkan metode yang digunakan adalah perpaduan dari metode yang ada. Dan dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak. Ruangan seperti itu tidak memungkinkan anak untuk pegang ini pegang itu. memungkinkan anak untuk mengatasi kemampuannya berbicara yang masih terbatas. Disamping itu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual (gambar) itu akan lebih menarik . Hal ini diperkuat dengan teori Sobur (1986:254) bahwa bentuk “tidak verbal” suatu gambar. karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. Misal. Anak didudukkan dipojok dan diusahakan untuk menarik perhatiannya kepada suatu kesibukan. lama kelamaan hiperaktifnya dapat diatasi. setiap kali dimulai dengan tiga menit. sehingga anak dapat menangkap pesan. yaitu menempatkan anak dalam ruangan kecil yang tidak ada rangsangan-rangsangan (misalnya gambar-gambar dan sebagainya). Metode ini memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Ada cara lain untuk mengatasi anak-anak semacam ini. Itu sudah bagus. Makin lama jangka waktu latihan ini makin meningkat. Untuk itulah dalam membelajarkan anak hiperaktif tidak lepas dari penggunaan media. Bila latihan ini dilakukan secara intensif.306 konsentrasi. apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif divisualkan lewat gambar. terutama media visual (gambar). Pada hari-hari pertama mungkin hanya berhasil selama sepuluh menit.

tumbuh-tumbuhan. Agar anak belajar menangkap struktur kata dengan cepat. Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:43) bahwa dalam mengidentifikasi benda dan nama digunakan alat yang merupakan satu set mainan kuartet. Sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. binatang.307 perhatian/minat mereka dalam belajar. seperti pengetahuan alam dan matematika (Sobur. Hal ini juga diperkuat oleh Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:22) bahwa fungsi gambar adalah untuk: Menarik perhatian anak Mengadakan motivasi dan merangsang anak Memberikan suatu latar belakang pada bacaan Merangsang percakapan (ekspresi) dan diskusi Mendidik sifat kritis pada anak Memperkenalkan kata-kata baru. 1986:259). bisa berupa kuartet buah-buahan. Ahli-ahli seni rupa menyatakan bahwa gambar bisa meningkatkan kapasitas belajar dalam hal lain yang tak berkaitan dengan seni. perkakas rumah. alat-alat dapur. Identifikasi benda dan melabel (menyebutkan) gambar Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. dengan tujuan: Agar anak belajar cepat mengidentifikasi benda dan namanya. . dan kartu gambar. dan sebagainya. pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) itu mencakup: 1.

dan berbagai bentuk. Identifikasi kata kerja. Identifikasi bentuk dan melabel bentuk Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar 5. Identifikasi huruf dan melabel huruf Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf 6. melabel kata kerja dan menirukan gambar Media yang digunakan adalah foto/gambar aktivitas orang Cara guru membelajarkannya di kelas dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut adalah: Pertama guru mempersiapkan perhatian anak. Anak-anak harus membiasakan diri memusatkan perhatiannya kepada pelajaran selama waktu belajar. Jauhkan segala sesuatu yang mungkin mengganggu . kartu angka. dengan berusaha menenangkan mereka.308 2. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Dengan cara menatap mata anak dan memegangi kedua tangannya dengan lembut. kemudian diajak untuk duduk diam. Hal ini diperkuat oleh teori Sobur (1986:69) bahwa cara menolong anak agar dapat belajar dengan baik adalah dengan mengajak anak untuk bisa berkonsentrasi. kartu huruf. Identifikasi angka dan melabel angka Media yang digunakan adalah kartu-kartu angka 7. Mencocokkan (Matching) Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. 3. benda berwarna. Identifikasi warna dan melabel warna Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna 4.

dan bisa duduk lebih lama. tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami. work while you work. karena anak hiperaktif mempunyai gangguan perlambatan dalam menangkap pesan seperti suara radio gelombang pendek (suara hilang timbul) sehingga anak hanya menangkap sepotong-potong.309 konsentrasi si anak. Seorang pendidik pernah berkata “Play while you play. maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut mampu berkonsentrasi. baru guru mulai pelajaran dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. Hal ini juga diperkuat oleh teori Pearce (1990:74) bahwa latihan konsentrasi dapat membantu dengan meminta anak hiperaktif untuk berkonsentrasi pada suatu tugas selama beberapa detik dan kemudian meningkatkan waktunya secara bertahap selama beberapa minggu dan selalu mengakhiri setiap sesi konsentarsi dengan catatan keberhasilan Setelah keadaan anak tenang. Dalam memberikan perintah/instruksi ini guru menyampaikan dengan singkat.” Apabila seseorang betul-betul memusatkan perhatian sepenuhnya pada sesuatu tanpa merasa terganggu oleh suasana sekitar untuk beberapa saat. (75). “Waktu bermain bermainlah. waktu bekerja bekerjalah sungguh-sungguh dan waktu belajar benarbenarlah belajar.” Artinya. Apabila materi pelajaran identifikasi gambar maka . and study while you study. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. kemudian guru memberi perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Singkat maksudnya dalam memberikan perintah guru hanya mengucapkan satu kata (kata kuncinya saja) dan bukan kalimat yang panjang.

yaitu: . Untuk itu dalam membelajarkan anak hiperaktif harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan cara yang konsisten kemungkinan akan keberhasilan teknik-teknik yang diterapkan. Sedangkan konsisten maksudnya dalam memberikan perintah/instruksi kata yang diucapkan harus persis sama untuk instruksi selanjutnya. Misalnya dalam pelajaran Imitasi: instruksi “Tiru” berarti guru/terapis memberikan contoh (misal: tepuk tangan). Sebaliknya. Misalnya instruksi “masukkan” jangan diganti “masukkin”. selanjutnya untuk menyuruh anak menirukan gambar guru memberikan perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar)”. Jelas maksudnya guru dalam memberikan perintah sesuai dengan apa yang ingin diajarkan. Ingin mengajarkan imitasi beda dengan mengikuti perintah sederhana (satu-tahap). pendekatan yang tidak konsisten hampir pasti gagal dan menimbulkan kesulitan perilaku. hemat kata dan hemat gerakan. Teori yang mendukung adalah konsistensi dianggap sebagai dasar mengatasi anak hiperaktif. Dan dalam perintah sederhana : instruksi “Tepuk tangan” berarti tangan guru/terapis diam sama sekali. 1991:40) Ada berbagai macam cara yang digunakan guru dalam mengajar mata pelajaran mencocokkan (matching). “masukken” atau “masuppin” karena ini akan membingungkan anak.310 guru memberikan perintah “Tunjuk … (nama gambar tersebut)” dan apabila materi pelajaran melabel (menyebutkan) guru memberi perintah “Ini apa?” atau “Apa ini?” dan apabila materi pelajaran mencocokkan (matching) guru memberi perintah “Samakan” atau “Kasih ke Ibu”. (Fontenelle.

menirukan gambar/melakukan aktivitas guru biasanya memulai dengan memerintahkan anak untuk mengambil sesuatu yang ada di sekitar/diruang kelas kemudian anak diajarkan pada hal-hal yang lebih spesifik dan anak diperintahkan meniru guru (misalnya minum dari gelas. dlsb). makan dengan menggunakan sendok dan garpu. Apabila dalam pembelajaran. Dengan cara mengatur benda-benda yang berlainan warna. Jika anak meminta benda tersebut. maka guru memberikan prompt (bantuan/arahan) pada anak untuk menunjuk atau melabel atau mencocokkan gambar atau menirukan aktivitas seperti dalam gambar tersebut sesuai dengan materi yang diajarkan pada .311 4. Guru memegang satu gambar dan meletakkan beberapa gambar dihadapan anak lalu anak disuruh memilih gambar yang sesuai dengan gambar yang dipegang guru. maka guru akan menanyakan terlebih dahulu apa warna benda tersebut sebelum memberikannya. 6. tetapi diluar jangkauan anak. anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan.. Guru meletakkan dua kelompok gambar yang mempunyai gambar berpasangan dan anak disuruh mencocokkan/memasangkan gambar-gambar itu. melepas sepatu. Dalam identifikasi kata kerja. 5. Sedangkan dalam pelajaran identifikasi warna guru juga menggunakan tehnik insidental (berkebetulan). Guru meletakkan sebuah benda dihadapan anak dan berbagai macam gambar yang berbeda (max 5 gambar) dan anak disuruh mencocokkan/memilih gambar yang sesuai dengan benda. menggosok gigi.

teladan dan contoh. Hal ini juga diperkuat oleh teori Fontenelle (1991:90) bahwa hadiah atau ganjaran sangat berguna dalam mengatasi beberapa kesulitan akibat hiperaktivitas. Alat pendidikan itu adalah upaya/siasat yang sengaja dibuat dilaksanakan untuk mencapai tujuan.312 saat itu dan setiap kali anak melakukan/merespons dengan benar tak jarang guru memberikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan). Hal ini diperkuat dengan teori Pearce (1990:28) bahwa ganjaran memiliki banyak bentuk yang berbeda. (1997:136-137) bahwa penguat (reinforcemen)t adalah alat pendidikan yang menyebabkan tingkah laku individu lain yang kita hadapi (anak didik peserta didik) akan terpatri. Hal ini diperkuat oleh Nur’aeni. Alat itu antara lain: pujian. Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespons dengan benar guru biasanya mengajar tanpa prompt dan hanya memberikan reinforce respons yang benar saja. pelukan atau beberapa patah kata. hadiah. Hal inilah yang menjadi salah satu cara untuk menghilangkan kebiasaan anak dari sifat manja. hukuman. Dalam konteks ini pemberian ganjaran merupakan sarana Bantu untuk belajar. karena anak terbiasa dengan pemberian hadiah/iming-iming sebelum anak melakukan sesuatu (agar anak melakukan sesuatu) dan kebiasaan itu harus dihilangkan dengan cara mengganti hadiah yang berupa benda riil itu dengan pujian/tepukan. sentuhan. ganjaran. . Hadiah/ganjaran diberikan pada orang yang telah melakukan suatu kebaikan. senyuman. diantaranya: Perhatian Perhatian dapat diberikan dengan banyak cara: pandangan. bukan penyuapan.

Hal yang terbaik dalam memberikan hadiah khusus adalah menggunakan satu/dua hal secara teratur sebagai ganjaran dan menyimpannya sebagai hadiah khusus untuk membuatnya lebih diharapkan dan berharga. Hal tersebut juga diperkuat oleh Nur’aeni (1997:141) bahwa pendidik/orang tua harus jeli dalam memilih alat-alat pendidikan yang sesuai dengan harapan. biasanya guru akan memegangi kedua tangan atau pipi (sekitar kepala) anak itu. hal inilah yang menguji kesabaran guru dalam membimbing anak hiperaktif. sebab dengan ditertawakan akan membuat anak itu merasa bangga karena merasa diperhatikan dan merasa bahwa . kondisi anak dan akibat sampingan yang mungkin timbul.313 Pujian Hadiah khusus Hadiah khusus digunakan sebagai cara untuk mendukung dan menguatkan setiap pujian yang diberikan. bukannya ditertawakan karena lucu. Disaat pelajaran berlangsung tak jarang konsentrasi anak mulai hilang. suasana sekitar. kadang ia suka mengoceh sendiri tak jelas arah tujuannya dan menoleh/bergerak kesana kemari walaupun sudah dihalangi meja. bila perlu kaki anak dijepit di antara paha guru atau tungkai guru/terapis menjepit/merangkum kursi di belakang anak dan menatap anak itu dan mengatakan “… (nama anak) lihat” dan mengatakan “Tidak…” tindakan dan kata-kata inilah yang selalu diucapkan guru untuk mencegah/melarang anak yang berbuat sesuka hati bahwa perbuatannya itu salah/tidak benar dan untuk melarang/menyuruh diam disaat anak mengoceh sendiri.

Ada banyak cara untuk mengatakan tidak: Dengan nada suara yang tajam Dengan bentakan yang keras Mengatakan “tidak” dengan berbisik Menggoyangkan jari Mengerutkan dahi dan memasang wajah marah Berpaling dan tidak memberikan perhatian. Hal ini diperkuat dengan teori Pearce (1990:7) bahwa dengan mengatakan “tidak” dapat secara bertahap memperkenalkan anak dengan gagasan bahwa ada batas mengenai berapa banyak kebutuhan yang dapat dipenuhi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui pengelolaan dan penanganan yang serius dibarengi dengan upaya mengatasi tingkat gangguan . Dan apabila anak masih tetap sulit untuk diajak dian dan diajar maka guru akan memberi anak itu imingiming. dimana hal ini diperkuat oleh teori Pearce (1990:8) adalah mungkin untuk mengatakan “ya” dan memberikan pujian setiap kali seorang anak melakukan sesuatu yang baik dan sebagai akibatnya kita tidak perlu mengatakan “tidak”. Inilah yang dimaksud dengan disiplin. cukup kita katakan “ya”. Dan apabila anak sudah mulai mengerti dengan maksud kita dan berusaha memperbaiki tindakannya yang salah. dan anak akan secara bertahap pula mengetahui batasan dari apa yang dapat diterima dan apa yang tidak dapat diterima. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar.314 apa yang dilakukannya/diucapkannya itu benar/baik.

” Evaluasi pembelajaran anak hiperaktif yang umum digunakan di tempattempat terapi anak adalah evaluasi proses dan evaluasi bulanan.. dengan memberi reward (hadiah/pujian) untuk respons yang benar. . dengan tujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. Evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian. 3. Sedangkan evaluasi bulanan bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah.Menurut Bloom (Handbook on Formative and Sumative Evaluation of Student Learning) mengemukakan bahwa “Evaluasi adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar penetapan ada tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau anak didik. Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian). dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga. Evaluasi proses dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung.315 dapat membantu mengarahkan kondisi hiperaktif untuk menunjang hal-hal positif perkembangan anak. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif .

Begitu juga dengan gambar tomat mungkin karena bentuk dan warnanya hampir sama dengan gambar lain misal: jeruk sehingga anak masih bingung membedakan dan ragu untuk menjawab. . matching buahbuahan dan matching sayuran anak tidak mengalami kendala/hambatan karena pelajaran ini termasuk yang paling mudah hanya saja anak dituntut untuk lebih teliti dalam memasangkan gambar. matching bentuk. gambar buah-buahan. alat transportasi. yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga anak harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan).316 Berdasarkan lembar penilaian dari evaluasi proses maka dapat disimpulkan bahwa hasil evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada 6 anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah sebagai berikut: 1) Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. 2) Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. 3) Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak tidak mengalami kendala/hambatan. matching huruf besar. Hanya gambar binatang dan gambar sayuran saja yang masih membingungkan anak hal ini dikarenakan adanya kesamaan dalam gambar dan anak masih belum bisa membedakannya seperti ayam jantan dan ayam betina. matching binatang.

Bagi anak ini. Kesulitan dalam bidang ini biasanya mempengaruhi kecakapan menulis. dan seterusnya. Hal ini diperkuat dengan teori Fontenelle (1991:20) bahwa beberapa anak yang tergolong hiperaktif memperlihatkan kekurangan-kekurangan motoris-perseptual (kekurangan motoris-visual dan koordinasi motoris halus atau koordinasi tangan-mata). maka si anak belajar merangkai suku kata dan dirangkai lagi menjadi kata. lingkaran dan trapesium) anak sering dibingungkan antara lingkaran dan oval karena bentuknya yang hampir sama. Pengajaran menulis diberikan bersamasama dengan pengajaran membaca. Tetapi dengan prompt (arahan/bantuan) lama-lama anak menjadi tahu dan memahami. Dalam pelajaran ini hambatan/kendala yang dialami anak hanya dalam penulisannya. Ia sukar . Tulisan tangannya biasanya jelek. bukan dengan bunyinya. wajik. Misal huruf “b” disebut atau dilafalkan sebagai “be”. huruf “s” sebagai “es”. yaitu suka terbalik-balik dan tidak rapi. Hal ini diperkuat oleh Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:3) bahwa dengan metode eja. Setelah mengenal huruf-huruf dengan namanya. 5) Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak menguasai materi dengan baik. huruf diperkenalkan kepada anak dengan namanya dalam abjad. menulis itu pekerjaan yang sukar. huruf “e” sebagai “e”. maka semua aktivitas tangan dan pensil itu sulit. kotak. segitiga.317 4) Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. oval.

akan tetapi ada angka dimana anak mengalami kesulitan menghafal. putih menjadi uti. lari dlsb anak tidak mengalami kendala/hambatan. tetapi makin lama makin jelek. akan tetapi dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan dua kata atau lebih anak masih mengalami kesulitan seperti main bola. sering tidak menyelesaikan pekerjaan tulis.318 menyalin dari papan tulis sebab mengabaikan huruf-huruf dan kata-kata biasanya pekerjaannya tampak teledor dan acak-acakan. Mungkin tulisannya mula-mula rapi. anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak. Karena ia harus berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan kertas dan pensil. Dan untuk anak yang mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) tidak jarang dia mengucapkan kata dengan menghilangkan satu huruf entah itu didepan. 6) Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10. anak kadang-kadang sudah mulai/sesekali bisa atau anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan yaitu angka 5 dan 8. padahal perilaku ini wajar bagi semua anak. atau dibelakang karena kesulitan dalam berbicara seperti kata biru menjadi bi u. Dan kerap kali ia membalikkan huruf dan angka. ia “lambat” dalam menulis. kotak menjadi otak dlsb. . 7) Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan satu kata seperti memasak. meniup harmonika dlsb. membaca. ditengah.

Dalam pembelajaran anak hiperaktif dilaksanakan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dan dengan metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. . Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup Identifikasi benda. dan identifikasi kata kerja. identifikasi angka. Kurikulum yang digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. Simpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab di muka. mencocokkan (matching). identifikasi huruf. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Dimana dalam membelajarkannya dengan menunjukkan gambar satu persatu di depan anak dengan disertai prompt (bantuan/arahan) dan reinforce (hadiah/pujian) untuk respons yang benar. 2. kemudian prompt dan reinforce itu dikurangi sedikit demi sedikit sampai tidak menggunakan sama sekali dan anak benar-benar menguasai materi pelajaran. identifikasi bentuk.319 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. sehingga anak dapat menangkap pesan. penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Salah satunya adalah dengan penggunaan media visual (gambar). identifikasi warna.

2. Saran Berdasarkan hasil penelitian tentang Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. kognitif. Hal ini terbukti dengan 75 % anak hiperaktif berhasil menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru pembimbing/terapis melalui media visual (gambar) ini. maka disarankan sebagai berikut: 1. Kepada peneliti lain disarankan untuk mengadakan penelitian tentang Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dengan objek penelitian yang berbeda dan dengan topik yang berbeda. Disamping itu dapat meningkatkan kemampuan bahasa. 3. tidak hanya menggunakan media visual (gambar) saja tetapi juga dengan menggunakan media lain. Dari hasil pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada anak hiperaktif. Kepada Terapi disarankan untuk lebih terbuka kepada masyarakat 4. B. Kepada Kepala Terapi disarankan untuk mengembangkan materi pelajaran dan metode pembelajarannya. Kepada Guru Pembimbing/Terapis disarankan untuk lebih memperdalam konsep pembelajaran anak berkebutuhan khusus baik itu dalam perencanaan. pelaksanaan dan evaluasi.320 3. dapat disimpulkan bahwa media visual (gambar) memudahkan anak dalam memahami konsep dan membantu dalam generalisasi. afektif dan psikomotorik pada anak. .

Arsyad. Memahami dan Mengatasi Anak Overaktif. Tarsito Bandung. Konseling dan Psikoterapi. Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktek. 1994. Fontenelle. 1997. Teori-teori Belajar. Suharsimi. 1991. Singgih D. Media Visual untuk Pengajaran Teknik. Wilis. Jakarta: Grasindo. Hakim. 1986. Suharsimi. 2000. . Ahmad. Gunarsa. 1996. 1992. Aswan 2000. 1996. Yogyakarta: Penerbit FIP-IKIP. Pedoman Pelayanan Pendidikan Bagi Anak Austik. Syaiful Bahri dan Zain. Thursan. Arikunto. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Linda De. Jakarta: Rineka Cipta. 1993. Belajar Secara Efektif. 1985. Clerq. Jakarta: Gunung Mulia. Daryanto. Don H. Djamarah. Dahar. Jakarta: Rineka Cipta. Badawi.321 DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Kelompok Belajar sebagai Teknik Bimbingan dan Penyuluhan Metode pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Bina Aksara Arikunto. Jakarta: Puspa Swara. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Jakarta: Gunung Mulia. Jakarta: Raja Grafindo. Media Pembelajaran. Azhar. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Tingkah Laku Abnormal. 2002. Suharsimi. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Erlangga. Depdiknas.

Metodelogi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rohani. John. Jakarta: Rineka Cipta. Mary Go. 2000. 1981. Menerobos Dunia Anak. Ngatidriatun. 1997. Pearce. Bagaimana Binarupa Aksara. 1996. Alex. Jakarta: Bhratara Karya Aksara. Media Instruksional Edukatif. Soemiarti. Mengatasi Perilaku yang Buruk. Intervensi Dini bagi Anak Bermasalah. Jakarta: Rineka Cipta. Bandung: Angkasa . Anak Masa Depan. Jakarta: Grasindo Pakasi. Soepartinah. Jakarta: Rineka Cipta. Betty B. 2001. Semarang: STIMIK Dian Nuswantoro. Jakarta: Gramedia. Media Pendidikan. Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An. Osman. 2003. Bandung: Remaja Rosdakarya. Nur’aeni. 1986. Sobur. 1997. Ahmad. Arief. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Bandung: Yayasan Kalam Hidup. Metodelogi Penelitian. Setiawani. Moleong. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1989. Bryn. Jakarta: Raja Grafindo Persada Sardiman. 1990. 2000. 1984. Sadiman.322 Lask. Pendidikan Anak Prasekolah. 2002. Patmonodewo. Lexy. Lemah Belajar dan ADHD. Memahami dan Mengatasi Masalah Anak Anda. Dian Retno.

Mayke. 2000. Sudjana. Weaver. Edward T. Hal 65. 2004. Agar Anak Tangkas Mengatasi Hidup. Gospel Light. Nana dan Rivai.google. Unika. Jakarta: Prestasi Pustaka. http//www. Jakarta: Primamedia Pustaka. Jakarta: Puspa Swara. Semiloka Mengenal dan Membimbing Anak Hiperaktif. http//www. Eric. 1999. http//www. 1995. Jakarta: Gramedia Tim Redaksi Puspa Swara. Ventura. Semarang. Sunday School Smart Pages. Jakarta: DepDikBud Sumber : Keluarga. Kegiatan Untuk Anak Dini Usia. 2001. Media Pengajaran. Kids Healt.com Tan dan Chan. 1994. Bermain. Bandung: Sinar Baru.323 Soemardji & Sutaryadi. 2003. Anak yang Hiperaktif. 2000. Unika. Yayasan Autisma Indonesia. Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC Pada Penyandang Autisme Gangguan Perkembangan Pada Anak. Org. Kiat Membantu Anak Hiperaktif. . 1988. 1998.com.google. UNS Surakarta. 1997. Sudjana. Mary. Bandung: Sinar Baru Algensindo Sugianto T. Ahmad.google. Wes & Sheryl Haystead. Helping Children with Special Needs : The Hiperactive Child. Mainan dan Permainan. Mengatasi Problem Psikologi Balita.com. Evaluasi Hasil Belajar dan Pengajaran Remedial. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Taylor. Jakarta: Graha Sucof. 1992.

Selain penanganan khusus anak hiperaktif (terapi) apakah disini juga memberikan pelayanan lain seperti terapi (konsultasi) orang tua dalam menangani anaknya dirumah. Tolong beri penjelasan tentang jadwal terapi disini? Apakah tugas anda sebagai Kepala Terapi Anak? Ada berapa jumlah guru yang membantu anda mengajar disini? Bagaimana cara mencari guru untuk mengajar anak berkebutuhan khusus. karena penelitian saya adalah pembelajaran khusus untuk anak hiperaktif. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri? 2. seperti yang kita ketahui bahwa tidak mudah seseorang itu membimbing anak yang mempunyai kebutuhan khusus apalagi anak itu tergolong hiperaktif. Ada berapa ruang kelas yang digunakan untuk mengajar? Apakah ruangan ini juga didesain khusus untuk membelajarkan anak hiperaktif agar anak lebih konsentrasi dalam belajar? 5. . sedangkan di tempat terapi anak ini ada bermacam-macam anak berkebutuhan khusus. 6. Wawancara dengan Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus. Melihat cerita anda tadi. Pendekatan dan metode apakah yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif? 14. Adakah kriteria khusus (syarat-syarat) dalam membimbing anak hiperaktif? 15. 3. Ada berapa jumlah siswa yang diterapi disini? 10. Berapa rata-rata umur mereka dan kebanyakan anak nomor berapa yang diterapi disini? 11. Apa yang mendorong/menggerakkan hati anda sehingga ingin mendirikan Terapi Anak? Apakah ada pihak-pihak terkait yang diajak bekerja sama dalam menyelenggarakan program terapi anak ini? 4. tipe apa saja yang diterapi disini dan bagaimana anda mengetahui kalau anak itu tergolong tipe itu? 12. 8. apakah dalam hal ini diperlukan kiat-kiat khusus seperti diadakan pelatihan dalam membimbing anak sebelum mengajar di kelas? 9.324 PEDOMAN WAWANCARA PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS A. apakah sama penanganan dan sistem pembelajaran anak hiperaktif dengan anak berkebutuhan khusus lainnya? 13. 7. ada bermacam-macam tipe anak berkebutuhan khusus. Sebelumnya saya mau tanya. 1.

apalagi mereka juga memerlukan perhatian yang ekstra? 21. Apa yang menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan dan pengajaran bagi anak hiperaktif. Disamping sebagai kepala terapi anda juga ikut mengajar/sebagai terapis. SMP. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? . dan dari data yang saya terima anda mengajar Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan Autis dan Hiperaktif. SMA) sesuai dengan umur anak dan tingkat kemampuan anak. Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian). SD. Wawancara dengan guru pembimbing/pengajar (terapis) Terapi Anak Al 1. menurut anda? 23. Bagaimana cara anda menanganinya dan mengajarkannya terutama dengan menggunakan media visual (gambar). Apakah selama ini ada hambatan/kendala dalam mengelola tempat terapi anak ini baik itu dari administrasinya. gedung/perlengkapannya. para guru/terapis dan siswanya? 24. selain di tempat terapi anak itu sendiri? Lalu bagaimana cara mensiasatinya agar anak itu juga bisa menerima pelajaran di sekolah umum. Tisma Kudus Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? 2. lalu bagaimana hasilnya? 22. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak hiperaktif)? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran? 3. Apakah pesan anda pada para orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/ anak berkebutuhan khusus lainnya? B. Sarana pembelajaran apa saja yang disediakan disini khusus digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif? 19.325 pengaturan makanan dan pemberian obat pada anak hiperaktif yang tentunya dengan persetujuan dokter? 16. Apakah prinsip-prinsip yang digunakan dalam pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? 18. Bagaimanakah cara merancang pembelajaran anak hiperaktif ? 17. Bagaimana cara mengevaluasi pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? 20. Jika anak itu sudah dikatakan cukup sembuh (tingkat aktifitasnya berkurang) apakah pihak sekolah menyarankan agar anak itu juga disekolahkan disekolah reguler/formal (TK.

Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. 8. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? 15. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? 13. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? 7. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? 9.326 4. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? 12. faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? 10. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? 11. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? . yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? 14. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? 16. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? 6. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? 5.

Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? 8. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan.327 17. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? 3. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). Wawancara dengan orang tua siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus 1. Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? 9. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? . meja kursi . Apakah disamping anak anda diterapi disini. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? 20. 5. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? C. alat/media pembelajaran dan mainan? 13. Umur berapa anak anda diterapi disini? 11. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak? 10. Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? 6. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? 4. 2. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? 18. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? 14. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? 7. dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi anak? 12. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? 19.

Terapi Anak ini berdiri sejak Maret tahun 2001 T. Dan alhamdulillah siswanya juga cukup banyak dan tidak sedikit pula siswa yang berhasil saya tangani. setelah dipikir-pikir kenapa saya tidak menolong mereka kalau saya saja berhasil menyembuhkan anak saya. lalu saya coba untuk mendirikan terapi untuk anak berkebutuhan khusus. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. T. lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? 18. tentunya ini dengan bantuan para pengajar. justru ide ini muncul dari temanteman saya yang juga mempunyai anak berkebutuhan khusus seperti anak saya yang alhamdulillah sekarang dia sudah sembuh. mereka mengeluh pada saya tentang anak mereka dan saya disuruh membantu menyembuhkan mereka. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? 20. Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? 19. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? 17. Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? 16. Pertama sih saya tidak kepikiran untuk mendirikan terapi ini. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri? J. .328 15. Apa yang mendorong/menggerakkan hati anda sehingga ingin mendirikan Terapi Anak ? J. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? HASIL WAWANCARA PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS Wawancara Dengan Kepala Terapi Anak Ibu Nur Halimah III. karena tidak hanya anak hiperaktif saja yang diterapi disini tetapi juga anak autisme dan anak-anak yang berkebutuhan khusus lainnya (mempunyai kelainan dalam dirinya) tentunya itu semua dengan dukungan dari suami dan keluarga saya.

Terapi disini dilaksanakan setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat dan dalam satu hari dibagi dalam 4 session yaitu: Session I dilaksanakan pada pukul 08. Apakah ada pihak-pihak terkait yang diajak bekerja sama dalam menyelenggarakan terapi anak ini? J. Ada berapa jumlah guru yang membantu anda mengajar disini? J. T. T. Bagaimana cara mencari guru untuk mengajar anak berkebutuhan khusus. dan kesembuhan anakanaknya (siswa-siswi) walaupun dalam hal ini juga menjadi tanggung jawab guru pembimbing/terapis. baik itu sebagai administrator.00 – 12.329 T. dlsb. Karena saya yang mendirikan terapi anak ini sekaligus sebagai kepala dan terapis disini. T. maupun koordinator serta peningkatan sumber daya manusia bagi guru/terapis. T. Di desain sih nggak.00 WIB Session III dilaksanakan pada pukul 13. Ada 5 kelas. disamping itu saya juga harus bertanggung jawab terhadap perkembangan terapi ini.00 – 15.00 – 17. Apakah tugas anda sebagai Kepala Terapi Anak? J. Dokter. dokter spesialis metabolitas. Departemen Pendidikan Nasional. diantaranya: Psikolog anak. pihak-pihak terkait yang juga sangat menunjang dalam penyelenggaraan terapi anak ini. T.00 WIB Session II dilaksanakan pada pukul 10. otomatis semua tugas menjadi tanggung jawab saya.00 – 10. Karena dalam membelajarkan anak hiperaktif itu harus di ruangan yang kosong tanpa ada hiasan dinding yang bisa mengganggu konsentrasi mereka pada pelajaran. disitu kita mengemukakan masalah yang kita hadapi selama ditempat terapi untuk menemukan solusinya. Guru yang mengajar disini ada 6. dengan begitu pengetahuan kita akan bertambah tentang anak-anak yang berkebutuhan khusus dan cara menanganinya. Dimana setiap satu-dua bulan sekali Badan Psikiater dan Psikologi Anak selalu mengadakan seminar tentang anak-anak berkebutuhan khusus.00 WIB Session IV dilaksanakan pada pukul 15. dokter spesialis syaraf. fasilitator.00 WIB Jadi setiap membelajarkan anak itu dilaksanakan selama ± 2 jam. seperti yang kita ketahui bahwa tidak mudah seseorang itu membimbing anak yang mempunyai kebutuhan . dan kebetulan mereka perempuan semua.asal bisa digunakan untuk membelajarkan mereka dan lebih mengkonsentrasikan mereka pada pelajaran. Psikiater anak. Ada. Ada berapa ruang kelas yang digunakan untuk mengajar? Apakah ruangan ini juga didesain khusus untuk membelajarkan anak hiperaktif agar anak lebih konsentrasi dalam belajar? J. Tolong beri penjelasan tentang jadwal terapi disini? J. dan tenaga ahli yang lain seperti: ahli gizi. dokter disini meliputi dokter spesialis yang menangani gangguan perkembangan anak.

330

khusus apalagi anak itu tergolong hiperaktif, apakah dalam hal ini diperlukan kiat-kiat khusus seperti diadakan pelatihan dalam membimbing anak sebelum mengajar di kelas? J. Mengingat terapi anak ini berada di kota kecil dengan biaya yang tidak banyak, saya tidak mengharuskan seseorang yang membantu saya untuk mengajar disini orang yang mempunyai gelar sarjana, tetapi saya ingin membantu mereka yang benar-benar membutuhkan pekerjaan, cukup dengan diberi pengarahan sedikit dan buku panduan tentang membelajarkan anak yang berkebutuhan khusus mereka akan cepat tanggap dan mengerti apa yang harus mereka kerjakan, maka dari itu kebanyakan mereka adalah lulusan SMA. Sedangkan untuk pelatihan, pertama saya suruh mereka untuk membantu terapis lainnya mengajar, sambil melihat dan memahami cara mengajar anak yang benar, karena cara mengajar ini tidak seperti cara mengajar di Taman Kanak-kanak yang siswanya adalah anak-anak normal akan tetapi yang dihadapi nanti adalah anak yang sulit diatur dan mempunyai berbagai macam masalah. Setelah mereka memahami cara mengajar yang benar baru saya beri wewenang untuk mengajar sendiri dan berhasil tidaknya dalam pengajaran itu tergantung dari dirinya sebagai terapis/guru pembimbing. T. Ada berapa jumlah siswa yang diterapi disini? J. Sejak saya mendirikan terapi ini sampai sekarang jumlah siswa yang diterapi disini kurang lebih ada 24 anak, sedangkan yang masih diterapi sampai saat ini kurang lebih ada 15 anak, dan siswa lainnya yang dirasa sudah sembuh cukup diterapi di rumah dengan masih tetap berkonsultasi dengan pihak terapi. T. Berapa rata-rata umur mereka dan kebanyakan anak nomor berapa yang diterapi disini? J. Umur mereka rata-rata 5 sampai 10 tahun. Dan kebanyakan dari mereka adalah anak pertama (sulung), dan ada juga lho anak yang sepupunya juga diterapi disini tetapi masalahnya berbeda yang satunya IQ rendah sedangkan sepupunya mengidap autis dan hiperaktif. Selain itu disini ada juga anak kembar tetapi kembarannya itu normal, dan ada juga yang kakak adik diterapi disini dan kedua-duanya itu mempunyai masalah autisme. T. Melihat cerita anda tadi, ada bermacam-macam tipe anak berkebutuhan khusus, tipe apa saja yang diterapi disini dan bagaimana anda mengetahui kalau anak itu tergolong tipe itu? J. Tipe anak yang diterapi disini banyak, ada yang hiperaktif, autis, ADD, speech delayed (terlambat bicara), disphasia (anak yang mengalami gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam), IQ rendah, microcepalus (anak yang lahir dengan ukuran lingkar kepala kurang dari standart kelahiran), down sindrome, gangguan konsentrasi, retardasi mental (idiot), dan kurang stimulasi. Dan untuk mengetahui tergolong tipe apa anak itu, biasanya kami melihat dari tingkah lakunya selang beberapa hari setelah anak diterapi disini, atau kalau nggak biasanya dari psikiater atau psikolog kami sudah diberitahu kalau anak itu tergolong tipe ini.

331

T. Sebelumnya saya mau tanya, karena penelitian saya adalah pembelajaran khusus untuk anak hiperaktif, sedangkan di tempat terapi anak ini ada bermacam-macam anak berkebutuhan khusus, apakah sama penanganan dan sistem pembelajaran anak hiperaktif dengan anak berkebutuhan khusus lainnya? J. Penanganan dan sistem pembelajarannya itu sama, akan tetapi karena pertama kali anak dibawa di tempat terapi ini dengan permasalahan yang berbeda-beda, mungkin cara penanganan pertama itu saja yang berbeda, Misalnya anak hiperaktif berat dengan hiperaktif ringan, anak hiperaktif berat lebih sulit penanganannya dibandingkan dengan anak hiperaktif ringan dan biasanya kami menangani anak yang hiperaktif berat dengan bantuan alat “been back” yang tujuannya agar hiperaktifnya itu berkurang, sedangkan anak yang tergolong hiperaktif ringan cukup dengan diarahkan saja tanpa menggunakan alat “been back”. Pernah ada anak yang bernama Anis dia tergolong speech delayed (terlambat bicara), selama enam tahun tidak mau berbicara dan bagaimana cara kita membuat anak itu mau bicara dan

melenturkan lidah yang kaku itu, dan alhamdulillah setelah melalui terapi dia mau berbicara walaupun bicaranya cedal akibat lama tidak bicara. T. Pendekatan dan metode apakah yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif? J. Disini kami dalam membelajarkan anak hiperaktif mengggunakan pendekatan individual (lovaas one on one - pembelajaran satu guru satu murid). Sedangkan metode yang kami gunakan adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”, sehingga anak dapat menangkap pesan, informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar-gambar), karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. T. Adakah kriteria khusus (syarat-syarat) dalam membimbing anak hiperaktif? J. Dalam upaya membelajarkan anak hiperaktif tidak mudah. Guru pembimbing sebagai model untuk anak hiperaktif harus memiliki kepekaan, ketelatenan, kreatif dan konsisten di dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh karena anak hiperaktif pada umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain. Maka guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak hiperaktif. Ada beberapa pra syarat yang harus dilakukan dan dipersiapkan oleh seorang guru pembimbing anak hiperaktif sebelum mengerjakan/melaksanakan kegiatan belajar mengajar yakni: 6. Menciptakan situasi yang kondusif untuk pembelajaran yang meliputi: c) Emosi yang stabil dari anak hiperaktif.

d) Ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan. 7. 8. Mengupayakan adanya kontak mata yang sejajar antara guru-siswa Kemampuan untuk meningkatkan ketahanan konsentrasi anak.

332

9.

Mengupayakan kepatuhan dari anak hiperaktif dan pemahaman bahasa reseptif.

10. Pembimbing harus menyadari dan memahami tujuan apa yang akan dicapai dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran untuk anak hiperaktif. T. Selain penanganan khusus anak hiperaktif (terapi) apakah disini juga memberikan pelayanan lain seperti terapi (konsultasi) orang tua dalam menangani anaknya dirumah, pengaturan makanan dan pemberian obat pada anak hiperaktif yang tentunya dengan persetujuan dokter? J. Disini kami memberikan pelayanan konsultasi bagi orang tua, karena ini sangat penting untuk mengetahui perkembangan anaknya dirumah. Melalui bimbingan para guru/terapis serta kerjasama yang baik dengan orang tua dan orang-orang disekitarnya, dapat dikembangkan potensi anak. Akan tetapi pelayanan pengaturan makanan dan pemberian obat adalah wewenang dokter, dan kami ditempat terapi hanya menjalankannya saja apa yang dianjurkan oleh dokter dan menjalankan proses penyembuhannya (terapinya) untuk mempersiapkan anak sekolah di sekolah reguler. T. Bagaimanakah cara merancang pembelajaran anak hiperaktif ? J. Dalam membelajarkan anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya kami menggunakan kurikulum yang sudah banyak digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia yang tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemampuan anak, dan tidak mampuannya, usia anak, serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. Mungkin mbak Eri nanti bisa lihat sendiri di buku panduan yang sudah saya berikan. T. Apakah prinsip-prinsip yang digunakan dalam pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? J. Pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: f) Terstruktur Yaitu pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Setelah dikuasai, kemudian ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya. Contohnya untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna dari instruksi “Ambil bola merah”. Maka materi pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata “ambil”, “bola” dan “merah”. Setelah anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi “Ambil bola merah” kedalam perbuatan kongkrit. g) Terpola Terpola disini maksudnya dalam kegiatan anak hiperaktif harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur, baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya)

333

Namun, bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang; dapat dilatih dengan kondisi dilingkungannya, supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). h) Terprogram Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evalusi. Sebab dalam program materi pendidikan harus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan pada kemampuan anak. i) Konsisten Artinya: apabila anak berperilaku positif memberi respon positif terhadap sesuatu stimulan (rangsangan), maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan), demikian pula apabila anak berperilaku negatif (reinforcement). Hal tersebut juga dilakukan dalam ruang dan waktu lain yang berbeda secara tetap dan tepat, dalam arti respon yang diberikan harus sesuai dengan perilaku sebelumnya. j) Kontinyu Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran, program pendidikan dan pelaksanaannya. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan di rumah dan lingkungan sekitar anak. Kesimpulannya, terapi perilaku dan pendidikan bagi anak hiperaktif harus dilaksanakan secara berkesinambungan, simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu). T. Sarana pembelajaran apa saja yang sangat diperlukan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. Sarana belajar itu sangat diperlukan dalam pembelajaran anak hiperaktif, karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. Karena pola pikir anak hiperaktif pada umumnya adalah pola pikir konkrit, sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus konkrit. Dan kebetulan anak yang diterapi disini adalah kebanyakan anak usia prasekolah maka sarana belajarnyapun dsesuaikan dengan usia pendidikan anak yaitu berupa: alat peraga: pengenalan warna, bentuk, huruf dan angka, benda-benda sekitar, buah, binatang, kendaraan, alat bantu komunikasi: berupa gambar-gambar yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak, alat bantu pengembangan motorik halus: cara memegang pensil, menggunting, mewarna, dsb, alat bantu pengembangan motorik kasar: bola, tali, dlsb, dan ditambah berbagai macam mainan edukatif T. Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian). Bagaimana cara mengevaluasi pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? J. Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif disini adalah: evaluasi proses yang dilakukan dengan cara seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga, dengan memberi

dan dari data yang saya terima anda mengajar Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan Autis dan Hiperaktif. Ia perlu belajar mengenal dan mengikuti peraturan disekolahnya. SMA) sesuai dengan umur anak dan tingkat kemampuan anak. dsb) dengan tujuan untuk membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler dan belajar secara intensif pelajaran yang tertinggal di kelas reguler.334 reward (hadiah/pujian)untuk respons yang benar. Walaupun anak sudah patuh dan dapat berkonsentrasi pada saat terapi. lalu bagaimana hasilnya? J. apalagi mereka juga memerlukan perhatian yang ekstra? J. dan dikelas anak harus berbagi dengan teman-temannya dengan bahasa guru yang berbeda dengan terapisnya dan bersifat klasikal. T. Bagaimana cara anda menanganinya dan mengajarkannya terutama dengan menggunakan media visual (gambar). SMP. tetapi di sekolah umum anak masih memerlukan waktu penyesuaian untuk dapat mengikuti tatacara pengajaran yang berbeda dengan pada saat terapi. tetapi melalui tata cara pengajaran untuk anak bermasalah (kelas kecil dengan jumlah guru besar atau satu guru satu murid. SD. instruksi yang jelas. selain di tempat terapi anak itu sendiri? Lalu bagaimana cara mensiasatinya agar anak itu juga bisa menerima pelajaran di sekolah umum. karena dia mempunyai gangguan autis yang hanya tertarik pada dunianya sendiri dan hiperaktif. Disamping sebagai kepala terapi anda juga ikut mengajar/sebagai terapis. anak dipersiapkan dan diperkenalkan pada pengajaran dengan kurikulum sekolah biasa. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. sehingga dapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnya. saya mencoba untuk menenangkan anak ini agar tidak terlalu banyak gerak (hiperaktif) dengan saya tempatkan diruangan khusus dan saya dudukkan di meja kursi khusus tujuannya agar anak ini tetap kontak mata dengan saya dan tidak asyik dengan dunianya sendiri dan agar dia tahu bahwa . padat dan konsisten. Pertama kali Troy (begitu nama panggilan Ferdinan Troy) dibawa kesini saya melihat bahwa kasus anak ini sama dengan kasus yang dialami anak saya dulu. berinteraksi/bersosialisasi dengan teman sebayanya dan harus mengerti instruksi guru dengan cepat. Setelah anak diterapi secara terpadu dan terstruktur. T. Jika anak itu sudah dikatakan cukup sembuh (tingkat aktifitasnya berkurang) apakah pihak sekolah menyarankan agar anak itu juga disekolahkan disekolah reguler/formal (TK. Untuk itu dalam sekolah anak harus didampingi guru pembimbing/terapis sampai benar-benar ia bisa mandiri dan mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. Disamping itu kami juga mengadakan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. Anak biasa ditangani dengan guru khusus sendirian. Dimana evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian yang setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. dengan alat visual/gambar/kartu. Benar.

T. kecerdasan/IQ. Saya kira masih banyak sekali hambatan-hambatan dalam mengelola sekolah ini. gedung/perlengkapannya. menurut anda? J. dan ternyata anak ini cukup cerdas dan cepat tanggap pada materi yang saya berikan sehingga tidak ada kendala dalam membelajarkannya. tingkat kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak. antara lain: terbatasnya ruang dalam belajar.335 dihadapannya itu ada orang yang sedang memperhatikannya. Wawancara Dengan Guru Pembimbing/Pengajar (Terapis) . Apakah selama ini ada hambatan/kendala dalam mengelola terapi anak ini baik itu dari administrasinya. Dan hasilnya bisa mbak Eri lihat sendiri di lembar penilaian. T. diantaranya: berat-ringannya kelainan/gejala. kesehatan dan kestabilan emosi anak. Menurut saya yang menjadi penentu keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif. lingkungan (keluarga. sarana pendidikan. yang terakhir adalah terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru. kurikulum.tetapi ya itu kita sebagai terapis harus cepat dan cekatan dalam memberikan materi karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. tetapi jangan lupa orang tua juga harus ikut andil dalam penyembuhan anaknya dirumah. Pesan saya kepada para orang tua yang mempunyai anak bermasalah segeralah bawa ke dokter spesialis anak dari situ mungkin dokter akan menyarankan ke psikiater/psikolog anak dan cari informasi tentang terapi khusus untuk menangani anak yang berkebutuhan khusus. kurangnya tenaga pengajar. setiap dia menoleh dan mulai bergerak saya usahakan agar menatap saya . kurangnya sarana dan prasarana dalam belajar. sekolah dan masyarakat). para guru/terapis dan siswanya? J. Apakah pesan anda pada para orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/anak berkebutuhan khusus lainnya? J. karena guru hanya membantu di tempat terapi dan tanpa kerjasama antara orang tua siswa dan guru tidak mungkin sukses dalam penyembuhan itu. metode. dll padahal masih banyak orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya untuk diterapi disini dan terpaksa saya tolak. Alhamdulillah sekarang dia bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya walaupun saya masih mendapinginya di sekolah. T. Setelah anak ini bisa diam agak lama baru saya mulai pelajaran dengan saya tunjukkan gambargambar. Untuk itulah kita harus siap dengan media visual (gambar) disamping kita dan mainan edukatif. karena ocehannya ini suka ngelantur kemana-mana tanpa jelas. dan saya berusaha tenang dan tidak tertawa setiap anak ini mengoceh. Apa yang menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan dan pengajaran bagi anak hiperaktif. usia pada saat diagnosis. tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa.

apabila ada bahasa yang tidak dimengerti oleh anak kita buatkan bentuk visualnya yaitu gambar-gambar yang kita ibaratkan apa yang kita ucapkan. sedangkan Galih speech delayed (terlambat bicara) dan mengerti/maksud dari perintah saya tentunya ini harus dengan prompt. tegas dan bermakna. Ada. T. Bicara dengan anak hiperaktif tidak boleh dengan bertele-tele harus singkat. Kira-kira jumlahnya ada 7 anak yaitu Autis klasik. Sedangkan untuk Galih karena dia mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif saya menekankan pada bicara. hiperaktif dan gangguan konsentrasi. applaus. Disampaikan secara tegas. Kami mempersiapkan program yang diberikan secara sistematis. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. T. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? J. alat peraga dan cara/konsep membelajarkan anak hiperaktif. Kalau Alvin mempunyai gangguan hiperaktif. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak hiperaktif)? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran ? J. bagaimana caranya agar anak itu mau berbicara dan mau menirukan apa yang saya ucapan. lugas dan setiap kali respon yang diberikan oleh anak harus kita kasih reinforcer bisa berupa imbalan/hadiah. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? . Yang tergolong hiperaktif itu ada dua anak yaitu Alvin dan Galih. T. tepuk tangan dan acungan jempol.336 Ibu Purwati T. T. sehingga ia autis dan hiperaktif. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. Karena Alvin mempunyai gangguan autis dan hiperaktif saya menekankan agar selalu kontak mata dengan Alvin agar ia tidak mempunyai kesempatan untuk asyik dengan dunianya sendiri (misalnya melamun atau sibuk dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak menganggap ada orang dihadapannya). bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. T. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. autis.

anak akan jadi lebih tertarik untuk melihat dan memperhatikan apa yang kita sampaikan. Ya. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. binatang. Ya. diluar rumah. Anak selalu dalam kondisi yang tidak tenang. papan tulis dan bisa dibuat dengan tangan. mainan juga digunakan untuk membelajarkan anak hiperaktif. apakah itu bahasa Indonesia ataupun matematika. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? J. Biasanya untuk pertama kalinya anak yang mengalami hiperaktifitas dalam penanganannya anak pertama kali. dan biasanya juga diimbangi dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. kemudian ditambah lagi sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak itu tadi. buah-buahan. alat transportasi dan berbagai hal yang belum mereka ketahui. gambar-gambar dikomputer yang dicetak. lalu kita tingkatkan tahap demi tahap jumlah-jumlah apa yang kita berikan. Gambar-gambar itu mencakup bidang: gambar-gambar yang ada dilingkungan itu yaitu didalam rumah. T. T.337 J. nah apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif kita visualkan lewat gambar-gambar itu tadi. T. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. Cara membelajarkannya dikelas: gambar-gambar yang sudah kita dapatkan kita potong-potong dalam bentuk kecil-kecil kemudian kita sampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain. T. sulit memperhatikan. . Media visual itu sangat diperlukan karena disamping anak ini hiperaktif ia juga kehilangan konsentrasi. karena mainan itu bukan mainan biasa tetapi mainan edukatif yang tujuannya memang digunakan untuk belajar. Dan hampir semua mata pelajaran menggunakan media visual. terus dengan gambar-gambar yang berwarna. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? J. Media itu ada yanng sedikit dibeli dan banyak yang dibuat sendiri. mengenal berbagai gambar yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu gambar sayur-sayuran. tetapi harus satu terlebih dahulu. media itu berupa kertas. lha pada saat mau mengeluarkan alat peraga dan gambar itu tadi tidak diperkenankan mengeluarkan banyak.

T. ciuman.338 T. T. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. tetapi diganti dengan pujian. tepuk tangan. tidak dihilangkan dan hadiah-hadiah itu dikurangi/diganti tidak berupa riil/benda. hingga ia melakukan gerakan-gerakan itu ditempat lingkungan sosialnya. Ya. Tidak. justru obat tersebut sangat membantu mereka dalam berkonsentrasi T. tengah pertengahan sesi pemberian hadiah mulai dikurangi. Tidak ada. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? J. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. konsep perhatiannya sudah mulai membaik dan semuanya sudah mulai ada titik kesembuhan. T. Ya. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? J. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. tahap demi tahap. justru cara termudah untuk menyampaikan anak supaya mengerti adalah pakai gambar visual. Mungkin dengan menghubungi dokter untuk meningkatkan dosisnya. hadiah-hadiah itu bisa diganti dengan jalan-jalan/apa saja setelah proses penanganan terapi. kita bekerja sama dengan dokter untuk menyembuhkan anak tersebut. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? J. semua anak disini disamping penanganan terapi. T. karena kita memberikan hadiah (reinforcer) pada anak karena mereka melakukan respon baik dan itu akan kita berikan pada saat anak menjalani terapi pada awal penanganan. semua anak hiperaktif selalu kesulitan dalam bergaul karena tingkat aktivitasnya yang sangat tinggi. mungkin bahkan jika anak itu kepatuhannya sudah mulai pulih. itu tidak akan terjadi asal para terapis dan orang tua konsisten dengan apa yang kita berikan. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. Tidak. tidak .

Selaku guru pembimbing/terapis kita berikan program sosialisasi dengan tahapan-tahapan dengan tidak secara langsung dengan jumlah teman yang banyak diatas 5 orang tetapi dibawah 5 mungkin bahkan bisa dimulai dari jumlah 2 orang dalam ruang lingkup yang sempitbukan diarea luar rumah yang lebih luas. sehingga kalau dilihat dari amatan awam anak itu memang kelihatan berbeda. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. Caranya kita mulai perkenalkan secara satu persatu dengan media visual (gambar-gambar) dan tentunya harus diikuti dengan aktifnya orang tua di rumah. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. Pesan saya kepada orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya jangan lupa untuk selalu mengawasi mereka dimanapun anak itu berada. T. Ya di tempat terapi ini sangat membutuhkan kerja sama orang tua wali. mereka selaku orang tua dan kami selaku terapis. bukannya mereka disisihkan tetapi mereka memang tersisih. T. apa yang diharapkan tidak sesuai dengan harapan semua. Buktinya sekarang Alvin sudah bisa dikendalikan emosinya dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik walaupun dia masih bingung membedakan antara jantan dan betina tetapi dengan prompt akhirnya dia mengerti juga. mereka juga tidak bisa melakukan interaksi dia juga kadang asyik dengan dirinya sendiri. dan dia masih suka mengoceh sendiri yang tidak jelas arah tujuannya. walaupun dalam mengartikan gambar dengan dua kata ia masih agak sulit. T. karena kondisi tingkat kehiperaktifitasannya itu yang belum bisa ditempatkan diluar ruang sempit. hambatan kami dalam membelajarkan anak hiperaktif adalah jika anak itu memang dalam proses penanganan dan baru beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang baru kita berikan. Ada. karena disini modalnya adalah sistem orang tua aktif.339 ada yang melakukan sama seperti anak itu tadi. T. selalu memberikan yang terbaik dan jangan lupa jika ada yang merasa putranya mengalami gangguan perkembangan cepat dibawa ke ahlinya. . jika tidak aktif apa yang dihasilkan. salah sendiri karena melakukan kegiatan yang tidak sama dengan anak lain. Dan Galih kosa kata bicaranya sudah mulai meningkat. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif terutama Alvin dan Galih sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. Ya saya rasa sudah cukup berhasil.

340

Ibu Endang Sulastri
T. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. Disini saya menangani 2 siswa yang mempunyai tipe hiperaktif dan autis. Namanya Khusnul Ma’Ali T. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak yang berbeda tipe)? Bagaimana cara menangani anak yang hiperaktif terutama saat pembelajaran? J. Ada. Dalam menangani anak hiperaktif kita berusaha untuk menenangkannya dengan cara menatap mata si anak dan memegangi kedua tangannya agar tidak bergerak kesana kemari sampai anak itu benar-benar bisa tenang. T. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. Pertama alat pembelajarannya dulu kita persiapkan kemudian konsentrasi anak, setelah anak mulai konsentrasi baru kita mulai pelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada, akan tetapi sebelum melanjutkan ke materi selanjutnya kita ulangi materi sebelumnya sekedar untuk mengingatkannya kembali.

IV. T.

Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas

(langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda?
J. Sebenarnya sih sama saja dalam menghadapi berbagai tipe anak berkebutuhan khusus, cuma bagaimana cara/usaha kita menenangkan anak agar bisa konsentrasi dalam pelajaran.

Pertama kita berusaha menenangkan mereka. Pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Setelah bisa duduk lebih lama, baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada, tetapi tidak semudah itu karena ditengah-tengah pelajaran anak sudah mulai banyak gerak sehingga konsentrasi buyar. Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming, seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Jadi intinya dalam mengajarkan anak hiperaktif yaitu bagaimana anak itu bisa konsensentrasi pada pelajaran.

341

T. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif, bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. Dengan menatap mata si anak dengan tanpa bicara berbelit-belit karena itu akan menyulitkan anak untuk memahami perkataan kita. T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? J. Ya, karena itu sangat penting untuk menarik perhatian mereka dalam belajar. Salah satunya yang paling penting disini adalah menggunakan media gambar. Kebanyakan gambar-gambar itu dibuat sendiri entah itu kita ambil dari majalah-majalah/buku atau kita ambil dari komputer yang kemudian dilaminating agar tidak cepat rusak/kotor. T. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. Tentu saja ya, terutama mainan edukatif seperti puzzle, balok kayu, dlsb, karena ini penting untuk mengasah kecerdasan mereka, kita jadi tahu sampai sejauh mana mereka kemampuan mereka untuk menyelesaiannya. T. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas?

J.

Pembelajaran mencakup

dengan

menggunakan (mengenal

media

visual

berhitung

angka),

membaca

(mengenal huruf), mengenal nama-nama benda disekitar kita dan aktifitas orang. Dan saya rasa semua mata pelajaran menggunakan sesuai media dengan visual itu. Cara kita

membelajarkannya

kurikulum

ajarkan/perkenalkan dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit, mungkin adik nanti bisa lihat cara membelajarkan anak hiperaktif dikelas dan kalau untuk lebih jelasnya lagi bisa melihat di buku Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC disitu lengkap sudah ada kurikulumnya dan cara pembelajarannya.
T. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif, faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu?

342

J.

Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah /membantu kita dalam

berkomunikasi/berinteraksi. Lalu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya itu memungkinkan penggunaan media visual itu akan lebih menarik minat mereka dalam belajar. T. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. Kesulitannya adalah apabila kita memperkenalkan pada gambar yang terlihat asing bagi mereka, dengan tingkahnya yang tidak bisa diam dan konsentrasinya yang mudah pudar, kita harus berusaha mengulangi sampai benar-benar anak itu tahu/memahami. T. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. Tidak ada

T. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar, salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya, karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu, lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. Benar, untuk itu sedikit demi sedikit kita harus menghilanginya/menggantinya karena reiforcer itu kan tidak harus berupa benda riil tetapi bisa berupa pujian, tepuk tangan dll. T. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka, yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. Tidak pasti, tergantung dari kondisi anak apakah anak itu mudah ditangani atau tidak.

T. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? J. Tidak ya, karena itu obat penenang (konsentrasi)

T. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif, karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? J. Sesuai dengan petunjuk dokter, mungkin orang tua diminta konsultasi dengan dokter.

T. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal, apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya?

343

J.

Ya, terutama kendalanya dalam berkomunikasi, tetapi itu tidak penting, bagi anak kecil asalkan bisa diajak bermain mereka akan enjoy aja. Dan kami disini sebagai terapis memberikan program sosialisasi dimulai dari ruang lingkup yang kecil.

T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. Tentu saja, hal itu sangat penting untuk mengetahui perkembangan si anak.

T. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. Pasti ada, salah satunya apabila anak itu sulit untuk berkonsentrasi. Perhatian anak dalam belajar kadang belum dapat bertahan untuk waktu yang lama dan masih berpindah pada obyek/kegiatan lain yang lebih menarik bagi anak. Hal inilah yang dapat mengakibatkan waktu pembelajaran terbuang dengan sia-sia, karena hanya cukup untuk menenangkan anak saja. Dan biasanya yang kami lakukan adalah: Waktu untuk belajar bagi anak ditingkatkan secara bertahap Kegiatan dibuat semenarik mungkin, dan bervariasi Istirahat sebentar kemudian dilanjutkan kembali, dimaksudkan untuk mengurangi kejenuhan pada anak. T. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif (Khusnul Ma’Ali) sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. Saya rasa bisa dibilang cukup berhasil. Terbukti dengan hiperaktifitasnya mulai berkurang, sudah bisa berkonsentrasi dan dapat diajak komunikasi. Dan dalam pelajaran tidak ada kendala, dia bisa mengikuti dengan baik, walaupun awalnya ia agak kesulitan membedakan bentuk lingkaran dan oval. T. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. Diharapkan apa yang dipelajari di tempat terapi diulang lagi dirumah.

Ibu Yuliana Wijayanti
T. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. Disini saya mengajar dua orang siswa dan semuanya hiperaktif, yaitu Anis dan Martika. Kalau Anis mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif sedangkan Martika mempunyai gangguan normal hiperaktif (hiperaktif ringan) dan kurang konsentrasi. T. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran?

T. setelah anak diam beberapa lama baru kita mulai pembelajarannya. Yang pertama kita siapkan adalah media pembelajarannya dulu. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? J. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? J. T. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. apabila ada yang tidak dimengerti oleh anak kita gunakan gambar untuk membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi. karena memang anak itu seringkali mengabaikan tugas yang kita berikan dan tidak jarang dalam kita menyampaikan perintah harus diulang-ulang. Yang dilakukan adalah menyuruh anak untuk duduk dan memusatkan perhatian mereka dengan menatap mata anak dan memegang kedua tangannya. siswanya dalam berkonsentrasi. tentunya mainan edukatif T. . materi pembelajarannya. tapi keduanya mudah diatur koq. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. Ya. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? J. Ada.344 J. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. Hampir semua dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu. Cara pembelajarannya dengan bertahap dimulai dari yang mudah/sederhana sampai ke yang rumit sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. T. Sedangkan untuk Martika kita lebih mengkonsentrasikan anak itu pada tugas yang kita berikan. baru kita mulai kegiatan belajar mengajar dan tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri T. kebanyakan media itu adalah media visual gambar yang dibuat sendiri. dalam menyampaikan kita lebih mempertajam bahasa kita agar dia lebih memahami maksud dari ucapan/perintah kita. Ya. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. Bicara dengan anak hiperaktif harus tegas dan jelas. Hanya saja kalau Anis. T.

Kesulitannya yaitu pada awal-awalnya anak mulai ditangani. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. Tidak hanya memperkenalkan pada suatu media tapi untuk mulai pembelajarannya saja itu sulit. karena hadiah itu tidak hanya berupa benda. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? Kita akan menghubungi dokter untuk diminta meningkatkan dosisnya. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? Tidak. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka . Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. sehingga waktu dua jam itu hanya digunakan untuk menenangkan anak. T. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. tepuk tangan. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. T. ciuman. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. Untuk membimbing anak dalam memahami sesuatu baik itu dalam memahami suatu benda atau ucapan. T. Tidak ada. Tergantung dari kondisi anak. T. Tidak. justru obat tersebut sangat membantu mereka dalam berkonsentrasi T. faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? J. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. justru cara yang paling mudah dalam menyampaikan materi pelajaran adalah menggunakan media visual (gambar) bahkan media ini sangat membantu kita dalam berkomunikasi pada anak. tetapi bisa diganti dengan pujian. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. T. apakah anak itu mudah untuk diatasi ataukah sulit untuk diatasi/ditenangkan untuk konsentrasi.345 T.

Tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri Menyiapkan kegiatan yang menarik dan positif Menciptakan situasi yang kondusif bagi anak. sehingga orang tua dan kita sebagai terapis bisa mengetahui perkembangan si anak baik dirumah maupun ditempat terapi. Ada. putih menjadi uti. mengamuk. Sedangkan apabila emosi anak dalam keadaan tidak stabil. Maka cara mengatasinya: Berusaha mencari dan menemukan penyebabnya Berusaha menenangkan anak dengan cara tetap bersikap tenang Setelah kondisi emosinya mulai membaik. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. tertawa tanpa sebab yang jelas. kegiatan dapat dilanjutkan. misalnya: menangis. terutama dalam mengendalikan anak untuk belajar. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. Ya itu pasti orang tua harus aktif dalam membelajarkan anaknya dirumah. baik itu masalah perilaku maupun emosi anak yang tidak stabil Cara mengatasinya: Memberikan reinforcement. Ya. Dan untuk . berteriak. memberontak. untuk itu lembar penilaian selalu dibawa pulang tujuannya agar orang tua mengulang apa yang diajarkan diterapi. T. banyak sekali masalah yang ditimbulkan si anak. tantrum dsb. Terbukti kalau Anis sudah bisa bicara walaupun cedal dan dalam membaca hurufnya ada yang dihilangkan seperti biru menjadi bi u. kotak menjadi otak tetapi dia cukup pintar terbukti kalau nilai-nilainya itu baik. T. Alhamdulillah cukup berhasil. mungkin ia cenderung asik dengan dunianya sendiri/permainannya sendiri. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J.346 bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? J. terutama kendalanya dalam berkomunikasi dan dalam ia bersikap. Disini kami mencoba untuk mengajarkan sosialisasi pada anak dimulai dengan kelompok kecil anatara 2-3 orang disitu kita mengamati tingkah anak sambil mungkin diadakan suatu permainan. tidak menyakiti diri. destruktif.

Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? J. T. oleh dokter kami dianjurkan untuk dibawa ke pusat terapi khusus untuk menangani anak bermasalah. Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? J. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak berkebutuhan khusus? J. lalu kami mencari petunjuk seorang dokter untuk dibawa kemana anak saya yang mengalami gangguan perkembangan ini. ada 3 T. jam kurang tidur dan yang tambah yakin dari kami adalah dari diagnosa dokter. kontak matanya. Anak pertama T. Punya. Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? J. Wawancara Dengan Orang Tua Siswa Ibu Nur T. Dari gerakan-gerakannya. Dari koran. T. perilakunya. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). V. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? J. Ya. Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? J. Pesan saya kepada orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya usahakan untuk membimbing anaknya di rumah dengan tegas dan disiplin. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. T.5 tahun. T. khususnya hiperaktif/autisma.347 Martika walaupun dia kurang konsentrasi dalam belajar dan penangkapannya itu kurang tetapi dengan ketelatenan dan pembelajaran yang berulang-ulang hasilnyapun cukup memuaskan. Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? J. Sejak usia mendekati 2 tahun T. tidak ada yang dia tirukan. Ya T. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? J. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? J. sering. Kami waktu itu tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Umur berapa anak anda diterapi disini? . T. dia mengoceh sendiri T. kalau nggak salah usia 4. Ya.

Ya tentu. Apakah disamping anak anda diterapi disini. T. Ada. buktinya anak saya sekarang sudah sembuh dan baik. Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? J.348 J. alat/media pembelajaran dan mainan? J. Ya saya selaku orang tua selalu meluangkan waktu untuk membimbing dan mengajari anak saya. perkembangan bicaranya dia sudah bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dalam bentuk kalimat. Yang kami lakukan kami membiasakan dulu dengan masakan-masakan/makanan-makanan yang kami buat sendiri. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. jika anak kami menangis minta dibelikan makanan kami selaku orang tua adalah memberi pengertian bahwa makanan itu tidak boleh agar cepat sembuh. manja karena diajari oleh orang tuanya sendiri di rumah. Ya. kami selalu konsultasi dan berobat ke dokter setiap 2 bulan sekali. T. Ya. dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi? J. Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? . Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? J. kami menyediakan fasilitas lengkap untuk anak kami yang mempunyai gangguan perkembangan autis dan hiperaktif ini. dan kami cara mengatasinya adalah kami tetap harus konsisten untuk mengajarinya pada jam yang sudah ditentukan. karena ini berhubungan dengan perkembangan anak kami maka kami harus bekerja sama dengan terapis dan dokter. Perubahannya memang sangat mencolok sekali. T. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif . Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? J. T. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? J. T. anak cenderung lebih tidak konsentrasi. T. berinisiatif untuk mengungkapkan keinginannya/pendapatnya sendiri.5 tahun T. meja kursi . Ya kami memperhatikan sekali pola makanan yang dikonsumsi oleh anak kami. lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? J. Umur 4. T.

Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? J. Kurang lebih berumur 2 tahun. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? J. jadi kalau ingin makan makanan yang dibeli di luar makanannya harus ngumpet. . Ya. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? J. Karena anak itu banyak gerak dan sulit diatur. Anak no. T. Sebelumnya saya bawa kedokter kemudian oleh dokter disuruh dibawa ke tempat terapi. menjadi seorang anak yang anda inginkan dan anak itu inginkan. tapi mungkin anak saya yang hiperaktif ini lebih diperhatikan lagi. T. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? J. karena memang ada satu anak yang bermasalah dari keluarga kami sehingga keluarga yang lainpun harus tahu bahwa ada saudaranya yang tidak boleh makan makanan itu. Tidak.349 J. Ya. T. Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? J. Pesan saya pada orang tua yang mempunyai anak hiperaktif tolong bahwa tiap anak mempunyai hak yang sama. hak pendidikan yang sama dengan anak yang tidak mempunyai gangguan perkembanngan. T. Hambatan-hambatan itu ada pada awal sebelum penanganan tetapi setelah terjadi penanganan anak kami sudah mulai berinteraksi. Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? J. sudah sembuh. T. Ibu Utami T. sudah pulih dan bergaul dengan siapa saja. sekeluarga alangkah baiknya memang mendukung dan keluarga kami juga mendukung. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. Ya. T. Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? J.2 T. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? J. tolong masukkanlah ke tempat-tempat terapi karena disitulah tempatnya dan penanganan yang tepat agar anak anda menjadi manusia yang berguna. ada 2 orang. T. jadi harus menghormatinya. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? J. dia berbicara sejak dia mulai mengoceh tapi bicaranya itu tidak jelas sampai akhirnya saya bawa ke tempat terapi ini. VI.

T. Ya. T. T. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? J. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? J. Umur berapa anak anda diterapi disini? J. T. Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? J. T. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak berkebutuhan khusus? J. dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi? J. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif . dan tidak seaktif dulu. mulai dari dia sudah bisa diajak berkomunikasi. mungkin karena diajarkan sendiri oleh orang tuanya jadi anak itu menjadi manja dan sulit konsentrasi akibatnya saya selalu memberikan obat penenang sebelum mengajarkan anak saya di rumah. lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? . Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan.350 T. karena sebelum dibawa ke tempat terapi saya merujuk ke dokter. Umur 5 tahun T. Ya saya berusaha untuk meluangkan waktu untuk membelajarkannya dirumah. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? J. Banyak sekali dan hasilnya cukup memuaskan walaupun itu memerlukan waktu yang cukup lama. Ya. Ya. alat/media pembelajaran dan mainan? J. Apakah disamping anak anda diterapi disini. Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? J. demi perkembangan dan kesembuhan anak saya setiap ada seminar/pelatihan tentang anak bermasalah saya berusaha untuk mengikutinya. meja kursi . Dari teman saya yang juga mempunyai anak seperti saya. perilakunya sudah mulai bisa dikendalikan. T. Dulu sih tidak pernah. dan dari tempat terapi sendiri juga menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. tetapi setelah anak saya mulai diterapi. T. Ya T.

tetapi kalau dengan orang dewasa kendalanya dalam berkomunikasi. Selama ini saya mengajarkan pada anak-anak saya untuk tidak membiasakan jajan diluar rumah. T. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? J.351 J. Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? J. apabila disitu ada yang ingin makan saya suruh menghindar. T. Kalau dengan teman sebaya sih enggak. HASIL DOKUMENTASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF . T. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? J. mungkin dari situ akan merujuk ke tempat terapi. Jadi tidak anak saya yang bermasalah saja yang diet tetapi semua anggota keluarga ikut diet. karena anak kecil itu kan nggak tahu apa-apa asal bisa diajak bermain mereka senang saja. Dan dalam proses terapi jangan lupa anak juga diterapi dirumah untuk itu sebagai orang tua kita harus sabar dalam menghadapi anak. Saya sarankan kepada orang tua yang mempunyai anak bermasalah seperti saya ini untuk dibawa ke dokter anak atau ke psikiater anak. apalagi setelah mengetahui anak saya ada yang bermasalah. saya mencoba untuk membuat makanan sendiri sesuai dengan anjuran dokter. Setelah dipikir-pikir itu baik juga untuk semuanya. Ya. untuk itu peran anggota keluarga juga sangat penting dalam mengajarkan dia berkomunikasi. tidak di depan anak saya yang hiperaktif.

352 Wawancara dengan Kepala Terapi Pemusatan perhatian pada anak Melabel nama buah Menulis huruf Menulis angka Menunjuk angka .

353 Belajar Menabung Melabel Angka Melabel warna Menyebutkan nama binatang Mencocokkan benda Pemberian reinforcer (hadiah) berupa krupuk .

354 Melabel nama binatang Pemberian reinforcer (pujian) Membaca suku kata Menyelesaikan mainan puzzle Belajar membaca MACAM-MACAM MEDIA VISUAL (GAMBAR) .

355 Gambar alat transportasi Gambar benda dengan jumlah yang lebih banyak Gambar warna Gambar angka Gambar buah-buahan Gambar huruf .

356 Gambar aktivitas orang (kata kerja) Gambar suku kata Gambar arah jarum jam Gambar nama benda Gambar aktivitas orang secara bertahap Gambar aktivitas orang secara bertahap .

Kemampuan Imitasi (Meniru) Imitasi gerakan motorik kasar Imitasi tindakan (aksi) terhadap benda Imitasi gerakan motorik halus Imitasi gerakan motorik mulut 1. 2. 4. 3. Kemampuan Bahasa Reseptif 1. 2.357 Macam-macam mainan edukatif “Been Back” Alat untuk mengurangi hiperaktifitas pada anak PEDOMAN KURIKULUM Kemampuan Mengikuti Tugas/Pelajaran Duduk mandiri di kursi Kontak mata saat dipanggil “Galih” Kontak mata ketika diberi perintah “Lihat [(ke) sini]” Berespons terhadap arahan “Tangan ke bawah” 1. 3. Mengikuti perintah sederhana (satutahap) . 4.

13. 4. 11. Melepas celana 6. 9. 11.358 2. 11. 12. 10. 7. Gambar-gambar yang identik . 12. 3. Benda-benda yang identik 3. Kemampuan Pre-Akademik 1. 8. Benda dengan gambar Warna. 14. 13. 6. 2. 6. 10. bentuk. 9. orang lain. 7. Melepas kaos kaki 5. 7. Mencocokkan 2. Kemampuan Bantu-diri 1. Toilet-training untuk buang air kecil 8. 5. 5. angka Benda-benda yang non-identik Asosiasi (hubungan) antara berbagai benda Menyelesaikan aktivitas sederhana secara mandiri Identifikasi warna-warna Identifikasi berbagai bentuk Identifikasi huruf-huruf Identifikasi angka-angka Menyebut (menghafal) angka 1 sampai 10 Menghitung benda-benda 1. Minum dari gelas 2. 6. 14. 4. Menggunakan serbet/tissue 8. Melepas baju 7. Melepas sepatu 4. Identifikasi bagian-bagian tubuh Identifikasi benda-benda Identifikasi gambar-gambar Identifikasi orang-orang dekat (familier)/anggota keluarga Mengikuti perintah kata kerja Identifikasi kata-kata kerja pada gambar Identifikasi benda-benda di lingkungan Menunjuk gambar-gambar dalam buku Identifikasi benda-benda menurut fungsinya Identifikasi kepemilikan Identifikasi suara-suara di lingkungan Kemampuan Bahasa Ekspresif Menunjuk sesuatu yang diingini sebagai respons dari “Mau apa?” Menunjuk secara spontan benda-benda yang diingini Imitasi suara dan kata Menyebutkan (melabel) benda-benda Menyebutkan (melabel) gambargambar Mengatakan (secara verbal) bendabenda yang diinginkan Menyatakan atau dengan isyarat “ya” dan “tidak” untuk sesuatu yang disukai (diingini) dan yang tidak disukai (tidak diingini) Menyebutkan (melabel) orang-orang dekat (familier)/anggota keluarga Membuat pilihan Saling menyapa Menjawab pertanyaan-pertanyaan sosial Menyebutkan (melabel) kata kerja di gambar. dan diri sendiri Menyebutkan (melabel) kata kerja di gambar. 15. 8. 5. 3. 12. Makan dengan menggunakan sendok dan garpu 3. 9. orang lain dan diri sendiri Menyebutkan (melabel) benda sesuai fungsinya Menyebutkan (melabel) kepemilikan 4. 10. huruf.

Juga mudah dievaluasi terapis (atau waktu-waktu tertentu) yang mana yang selalu mendapat P atau A. Yaitu 3 terapis pada 3 session (kesempatan/waktu belajar) yang berbeda-beda secara berurutan memperoleh nilai A (yaitu berturut-turut 3 instruksi pertama mendapat 3 respons yang benar semua). untuk pencatatannya tanggal ditulis hanya sekali dan bagian tanggal berikutnya dicoret supaya mudah terlihat dan mudah dievaluasi. dan lain-lain (sesuai kesepakatan seluruh terapis dan orang tua. A.. : ……………………………………………………………………. 2. atau P+. Sehingga mudah terlihat berapa kali seorang terapi telah melakukan suatu aktivitas. Hal ini dapat dikerjakan dengan tujuan untuk membedakan apakah anak memang benar-benar belum bisa atau sudah mulai /sesekali bisa atau bisa dengan prompt setengah/sebagian/ringan. 3.-. P++. Catatan : 1. tetapi harus konsisten). dinilai P. dan mudah dievaluasi sudah berapa kali seorang (dan keseluruhan) terapis telah mendapatkan nilai A (achieved). 1/lebih respons salah. Bila dalam 1 session seorang terapis melakukan suatu aktivitas lebih dari satu siklus.359 LEMBAR PENILAIAN Kategori Instruksi Respon Benar : ……………………………………………………………………. Bila suatu aktivitas telah mendapatkan 3 x 3 A. aktivitas tersebut dimasukkan ke dalam program dan lembar penilaian. . Bila dalam 3 instruksi pertama berturut-turut. : ……………………………………………………………………. Dapat juga digunakan kode misalnya APP... Masing-masing terapis menggunakan ball point dengan warna tinta yang berbeda. atau A-. 4. AAP (bila AAA cukup ditulis dengan A saja). Suatu aktivitas dinyatakan telah dikuasai anak bila memenuhi kriteria 3 x 3 A.

kemudian imbalan.360 Yang dimaksud satu siklus yaitu pada instruksi #1 dan #2 anak tidak berespons atau berespons salah. kemudian dengan instruksi #3 + prompot. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->