Buletin Prapaska I - Masa Prapaska 2011, GKI Kwitang

Uraian Tema Masa Paska 2011

Page

1

LIHATLAH MANUSIA ITU !
Latar belakang 1. WAJAH KEMANUSIAAN YANG TERKOYAK

a. Faktor eksternal: bencana sosial dan bencana alam.

D

alam skala besar dan rentang waktu yang relatif panjang, pertikaian antarsuku pernah beberapa kali terjadi di negeri ini. Kita masih ingat antara lain konflik ”segitiga” suku di Sambas, Kalimantan Barat, konflik di Ambon, Maluku, dan konflik Sampit, Kalimantan Tengah. Jumlah korban jiwa dan materi dalam beberapa

P
Page

eristiwa ”perang sipil” itu sungguh sangat besar, dengan dampak psikososial berupa trauma dan rasa khawatir bisa terulang lagi atau bahkan rasa kebencian antarsuku yang bertikai. Ini adalah bagian yang melekat dalam jiwa sosial,
Buletin Edisi 1 GKI Kwitang - Jakarta

2

termasuk di dalamnya generasi muda. Ini berarti, derajat sensitivitas sosial pasca-bentrokan akan sangat tinggi.

K

ondisi psikososial pascakonflik memang akan berdampak negatif kalau muncul dendam sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi atau melekat secara berkepanjangan. Hal ini bisa membuat hubungan sosial antarkomunitas etnik yang berbeda juga tidak sehat. Singkatnya, modal sosial berbasis keragaman etnik dan budaya akan retak, padahal itulah yang menjadi bagian dari kekuatan dasar bangsa ini.

M
F

embangun masyarakat plural yang harmonis tidak harus dan bahkan tidak boleh dipicu dengan konflik, apalagi dengan korban jiwa dan materi. Masyarakat majemuk tidak akan dapat dibangun bila wajah kemanusiaan kita terkoyak.

Uraian Tema Masa Paska 2011

Page

enomena anarkisme massa yang diwarnai kekerasan dan mewariskan trauma sosial telah merebak di banyak tempat di seantero Indonesia. Fenomena itu sengaja diangkat di sini karena menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia Indonesia, mulai dari aspek ekonomi: masalah kesenjangan dan

3

ketidakadilan ekonomi; politik: krisis kepemimpinan politik tanpa keteladanan; agama: radikalisme ekstrem yang mengganggu perkembangan pluralism; dan budaya-etnik: sisasisa primordialisme yang rentan oleh kesenjangan ekonomi. Apabila anarkisme penuh kekerasan ini tidak dapat dibendung, kita akan melihat manusia-manusia Indonesia yang terkoyak, terpecah dan hancur berantakan. Tetapi, bukankah sebuah bangsa adalah manusia-manusianya? Bila kemanusian terkoyak justru oleh sesamanya sendiri, kondisi bangsa itu sangat serius memprihatinkan. Inilah bencana sosial yang bila tidak dapat diatasi akan menambah jenis bencana yang selama ini sudah mengungkung negeri ini.

M

Page

ampukah kita menanggung multi bencana: bencana alam yang tidak pernah kunjung berhenti seperti gempa, tsunami (di Mentawai) , banjir (di Wasior), letusan gunung berapi (erupsi luar biasa Merapi), longsor, luapan lumpur (bencana karena ulah manusia di Sidoarjo), badai/angin kencang, rob, cuaca ekstrem; bencana kecelakaan lalu lintas: darat, laut dan udara (kita ingat kecelakaan KA yang sering terjadi di negeri ini); bencana moral korupsi yang menggerogoti kesejahteraan dan keadilan rakyat; bencana kekerasan dan penyiksaan TKI, dan masih ditambah dengan bencana sosial: konflik yang diwarnai anarkisme dan kekerasan ini?
Buletin Edisi 1 GKI Kwitang - Jakarta

4

b. Faktor internal gereja

D

Uraian Tema Masa Paska 2011

Page

5

alam refleksi penuh keprihatinan dan kerendahan hati, kita buka juga apa yang terjadi di dalam kehidupan bergereja. Ternyata konflik-konflik yang tidak seharusnya muncul dalam persekutuan atau paguyuban cinta kasih bernama gereja juga diwarnai dengan tersulutnya emosi dan bahkan kekerasan (mungkin tidak fisik tetapi kekerasan psikologis dan verbal). Luapan emosi dan kekerasan itu dijadikan alat untuk memenangkan kelompok sendiri. Sangat menyedihkan bila kita ingat betapa sering terjadi konflik gerejawi karena benturan kepentingan dalam proses pemanggilan dan pemilihan pendeta (baru), masalah kedudukan/kekuasaan gerejawi, jabatan, prestise, dan uang serta masalah-masalah gerejawi lainnya. Cara penyelesaian yang dipakai tidak jauh berbeda (kendati seharusnya berbeda) dengan apa yang dipakai dalam kehidupan masyarakat. Persekutuan kasih gerejawi yang sebenarnya menjadi sisi dari wajah kemanusiaan gereja menjadi terkoyak. Bila demi kekuasaan rohani gerejawi dan kepentingan kelompok atau pribadi masih terjadi pembiaran terhadap cara berpikir, berperasaan dan perilaku yang destruktif, keras dan mau menang sendiri, kita akan sulit melihat wajah kemanusiaan gereja yang dikehendaki Kristus. Suara seperti ini

“.....hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus…” (Filipi 2:2-5) makin sulit diucapkan dan didengar dengan jernih di dalam relasi antarumat dan antarpemimpin gereja yang keruh dalam intrik dan konflik.

D

Page

alam bayang-bayang kegelapan akibat konflik penuh kekerasan yang saling menyakitkan dan penderitan rakyat atau umat yang terungkap dalam masyarakat dan bahkan gereja itu, masih adakah harapan untuk ke depan? Masihkah manusia-manusia yang berada di bawah, rakyat jelata, warga gereja atau umat yang sebenarnya hanya mendambakan kasih sayang akan selaku menjadi korbankorban? Kepada siapa kita harus dan dapat memandang serta menaruh harapan? Lihatlah Dia, lihatlah Sang Manusia, lihatlah Manusia itu,! Dan sampailah kita pada Tema Masa Paskah 2011. Tema yang akan menjadi fokus pergumulan kita bersama sebagai gereja yang hadir di negeri Indonesia.
Buletin Edisi 1 GKI Kwitang - Jakarta

6

2. LIHATLAH MANUSIA ITU ! (ECE HOMO)

L

ihatlah Manusia itu!”, tercatat dalam Injil sebagai ucapan Pontius Pilatus ketika menunjuk pada Yesus (Yoh, 19:5). Sebuah pengakuan yang kemudian dengan terbuka direfleksikan dalam perjalanan gereja ini seharusnya menjadi suatu dasar etis untuk menilai kemanusiaan. Yesus dan kemanusiaan-Nya menjadi acuan untuk menilai kondisi kemanusiaan manusia. Ketika kondisi kemanusiaan terpuruk dan terkoyak hampir hancur oleh kekerasan dan penderitaan, lihatlah Manusia itu. Lihatlah Sang Manusia! Ketika kita masih mampu melihat acuan atau dasar yang jelas, harapan untuk pemulihan dari kehancuran masih tersedia dan bahkan dapat ditumbuhkan lagi. Bahkan ketika kita melihat Yesus, Sang Manusia itu, kita akan melihat manusia-manusia didalam diriNya (bandingkan dengan Matius 25:34-46).

D

Uraian Tema Masa Paska 2011

Page

alam konteks sosial Indonesia, tema “Lihatlah Manusia Itu!” bisa bermakna ganda. Kita diajak untuk melihat Yesus, Sang Manusia itu dan sekaligus dengan melihat Yesus, kita melihat manusia, sesama kita. Melihat ke atas, vertikal kepada Yesus, Manusia dan Allah sejati serta sekaligus melihat ke samping, horisontal kepada sesama manusia di sekitar kita yang sedang hidup dalam pergumulan penuh kekerasan. Lihatlah manusia-manusia yang menjadi korban konflik penuh kekerasan, korban bencana alam (para pengungsi), TKI/TKW

7

korban kekerasan dan penyiksaan ketidakadilan itu!

dan para korban

K

etika kebangkitan Yesus disangsikan dan bahkan ada yang menertawakannya, kita malah memandang Yesus sebagai Sang Manusia dengan jernih. Yesus sebagai manusia mengalami kekerasan, penganiayaan dan ditinggalkan, Ia menjadi korban seperti manusia-manusia yang menjadi korban dari ketidakadilan, salah urus negara (misalnya dalam peristiwa kecelakaan KA yang merenggut banyak nyawa rakyat kecil), fenomena anakisme penuh kekerasan yang merebak di mana-mana. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia tidak menanggapi kekerasan yang dialaminya dengan cara yang yang lazim dilakukan. Ia bertahan dan rela menjadi korban dengan tetap mengasihi para musuh-Nya. Jalan yang sama sekali tidak populer dan jauh dari maraknya konsumerisme. Alih-alih memuaskan diri dengan semua yang ditawarkan dunia, Ia justru mengosongkan diri sampai mati di salib (Filipi 2:5-8). Ia menyerahkan diri-Nya menjadi persembahan hidup yang memulihkan kemanusiaan yang terkoyak. Didalam diri-Nya dan karya pengorbanan-Nya kita melihat dan mengalami kehadiran Tuhan yang menghidupkan. alib adalah paling agung. S Keteladanan perjuangan hidup Yesus yang kekerasan dan Yesus terlihat dalam sikap anti
Buletin Edisi 1 GKI Kwitang - Jakarta

Page

8

kesediaan-Nya berkorban diri. Yesus menjadi korban karena tindak kejahatan dan kekerasan manusia dan sekaligus korban persembahan bagi Allah. Tubuh dan jiwa Yesus, Sang Manusia itu terkoyak (seperti kita hayati secara ritual sakramental dalam Perjamuan Kudus) demi perdamaian vertikal dan horisontal. Ia seperti anak domba yang kelu (Yesaya 53:7) dan tetap diam bertahan dengan rendah hati ketika kekerasan menimpa diriNya: dirajam, dianiaya, dilukai dan ditinggalkan. Ia tidak merespon kekerasan dengan dendam kekerasan yang lebih hebat melainkan dengan pengampunan dan cinta kasih yang memulihkan dan menghidupkan.

P

ada puncaknya, Kristus disalib dan menjadi Korban Yang Agung. Di dalam kematian-Nya, kita menjadi hidup. Mengapa demikian? Karena kematian Kristus segera dilanjutkan dengan kebangkitan, Paskah! Paskah adalah fajar pengharapan yang muncul dan berkembang ketika kemanusiaan ditiadakan, mati dan penuh kegelapan. Ketika manusia justru saling mematikan lewat kekerasan, kebangkitan Kristus memberi harapan baru. Konflik yang mematikan digantikan perdamaian dalam keadilan. Manusia dapat hidup bersama dan makan minum bersama. Dalam refleksi inilah, pengharapan dalam kebangkitan Kristus berarti “Makan dan minum bersama Yesus yang bangkit” (Kis. 10:41). Mari kita berdamai, duduk di meja makan bersama manusiaUraian Tema Masa Paska 2011

Page

9

manusia lain yang sesungguhnya adalah saudara kita. Di dalam persekutuan perdamaian, harapan dapat dibangun lagi. Perdamaian yang menghidupkan!

3.Menghadirkan Damai Yang Menghidupkan Kita mungkin sulit melupakan, tetapi harus bisa memaafkan!” Kalimat itu diucapkan Nelson Mandela saat membujuk orangorang kulit hitam Afrika Selatan untuk hidup bersama mereka yang pernah menjadi musuh. Dengan pengendalian diri yang kuat atas kepedihan masa lalunya, Mandela berpetuah, Untuk berdamai dengan musuh, seseorang harus bisa bekerja sama dengan musuh dan musuh itu akan menjadi mitramu.” Petuah ini seperti yang sering dianjurkan teolog rekonsiliasi Afrika Selatan, Desmond Tutu Di negeri ini, semangat memaafkan untuk menghidupkan kembali masa kini seperti dinasehatkan Mandela disuarakan oleh Chaterine Pandjaitan (putri pahlawan revolusi, Mayjen DI Pandjaitan) : ”Banjir air mata menggenangiku separuh waktu. Itu lebih dari cukup. Jangan lagi ada tangis. Anak-anak masa depan tak sepantasnya tumbuh dalam akar dendam masa lalu, yang membuat masa depan bangsa karam dalam bah air mata prahara.” Sebuah kesaksian dan harapan yang
Buletin Edisi 1 GKI Kwitang - Jakarta

Page

10

disampaikan saat para keturunan tokoh bangsa yang pernah terlibat konflik di masa lalu berkumpul di gedung tempat MPR bersidang, tepat pada hari Kesaktian Pancasila 2010.

Memaafkan itu menghidupkan! Sungguh mengharukan dan membanggakan. Di tengah arus besar mentalitas kerdil, masih tersisa jiwa besar yang bisa berdamai. Inilah keseimbangan yang dibutuhkan demi mekarnya bunga perdamaian dan kesejahteraan Indonesia. Dari kemampuan memaafkan itu, semoga terbit kesadaran untuk menghidupkan! Mereka sepakat untuk berhenti mewariskan konflik dan menimbulkan konflik baru sebagai komitmen untuk membangun negeri ini. Lalu, bagaimana dengan gereja? Dalam Masa Paska 2011 ini, kita diajak untuk menyatukan pandangan hati kita bersama untuk melihat Dia: Lihatlah Manusia itu! “Melihat, lihatlah” bukan hanya gerak fisiologis dari syaraf mata yang terarah ke suatu tujuan melainkan suatu komitmen untuk mengarahkan hati dan seluruh hidup kita sebagai umat-Nya hanya kepada Kristus. Ketika tidak ada lagi yang mampu menjadi teladan dan tempat menaruh harapan, masih ada Kristus yang dapat kita lihat. Lalu, ketika pandangan kita bertemu dengan pandangan mata Kristus yang penuh welas asih, terjadilah percikan harapan yang menjadi awal pemulihan. Kristus yang datang dan hadir untuk memulihkan wajah kehidupan adalah juga Kristus, Sang Manusia yang menjadi teladan dan harapan bagi kita
Uraian Tema Masa Paska 2011

Page

11

yang mengalami terkoyaknya wajah kehidupan kekerasan. Inilah hakikat dan inti spiritualitas Kristiani.

akibat

Spiritualitas Kristiani yang ciri utamanya adalah berpusatkan pada Allah. Allah menjadi pusat kehidupan karena kepada-Nya kita arahkan pandangan hidup kita. Dalam persekutuan dengan Allah atau spiritualitas yang berpusatkan pada Allah kita akan mengalami kebebasan dari emosi yang tak terkendali dan frustasi yang hebat melumpuhkan. Kita juga dibebaskan dari godaan-godaan untuk berkuasa, menjadi bintang dan menang sendiri seperti Yesus juga mengalami kebebasan dari godaangodaan di padang gurun (Matius 4:1-11).

Page

Dalam upaya untuk kembali ke spiritualitas dan dalam konteks dimana konflik penuh kekerasan masih mewarnai kehidupan bersama baik dalam masyarakat maupun di dalam gereja, ada pertanyaan yang sederhana dan mendasar untuk kita. Pertanyaan itu bila diungkapkan dengan memakai istilah klasik “demi kemuliaan Allah” akan berbunyi , “Benarkah kita hidup bersama sebagai gereja demi kemuliaan Allah?” Bila pertanyaan ini sudah tidak mampu dijawab ketika konflik yang saling menyakitkan juga terjadi di dalam gereja, pandangan batin dan iman kita memang harus berbalik (bertobat) dari arah
Buletin Edisi 1 GKI Kwitang - Jakarta

12

yang dituntut oleh egoisme pribadi dan kelompok menuju arah dan pandangan yang dituntun hanya kepada Dia, kepada Allah dan sekaligus juga kepada Sang Manusia! Namun spiritualitas Kristiani tidak hanya berdimensi vertikal. Ciri utama spiritualitas Kristiani juga selalu bersumber dalam perjumpaan dengan manusia. Di dalam manusia kita menjumpai Sang Manusia.

Di dalam persaudaraan sesama manusia kita mengalami karya perdamaian yang kita yakini dalam karya pengampunan dan penebusan Kristus di atas kayu salib. Yang bertikai harus merendahkan diri dengan rendah hati karena nama baik atau kemuliaan Allah dipertaruhkan bila kita tetap tersulut emosi penuh kemarahan. Memaafkan itu menghidupkan! Dengan begitu, Spiritualitas Kristiani bukanlah sekedar urusan ritual keagamaan yang eksklusif melainkan sekaligus menjadi Spiritualitas atau Kesalehan Sosial.

Uraian Tema Masa Paska 2011

Page

Ayo berdamai, karena dunia membutuhkan keteladanan dan dunia sedang melihat dan menantikan apa yang dapat dilakukan atau disumbangkan oleh gereja untuk ikut memadamkan api amuk massa. Kalau gereja berani berkata, “Lihatlah Manusia itu! “ sebenarnya yang dimaksudkan adalah

13

“Lihatlah Kristus! Lihatlah Tubuh Kristus! Lihatlah manusiamanusia Kristen yang menyebut diri mereka Tubuh Kristus di dunia ini! Lihatlah gereja, lihatlah kami! Kami memang tidak luput dari pengalaman konflik yang mungkin memalukan dan tidak patut, tetapi lihat kami sekarang! Sang Manusia itu telah memandang kami dengan welas asih karena kami mau melihat Manusia itu. Kami menerima rahmat kehidupan dalam kematian-Nya dan pengharapan ke depan dalam kebangkitan-Nya”. Inilah kesaksian gereja yang disampaikan dengan rendah hati dan mungkin di sana sini masih harus diperjuangkan agar berani diucapkan, dilaksanakan dalam komitmen untuk menghadirkan perdamaian yang menghidupkan gereja itu sendiri dan masyarakat yang sedang terkoyak. Dari semangat rekonsiliasi pihak- pihak yang terlibat konflik gereja di masa lalu dan masa kini, kita bisa belajar untuk berhenti mewariskan konflik dan tidak membuat konflik baru. Semangat rekonsiliasi itu dimulai dan diwujudkan dengan memaafkan. Sekali lagi, dari kemampuan memaafkan itu,semoga terbit perdamaian yang menghidupkan! Uraian tema ini diambil dari bahan LPPS Sinode GKISW Jateng-GKJ (WA) 

Page

14

 
Buletin Edisi 1 GKI Kwitang - Jakarta

Rabu Abu, awal masa Prapaska

M

ulai tgl. 13 Maret 2011, kita memasuki masa Prapaska yang diawali dengan Rabu Abu (Ash Wednesday) yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 9 Maret 2011. Ibadah Rabu Abu akan dilaksanakan dengan maksud agar secara utuh jemaat mengenal tatacara gereja-gereja dalam menata dan mengatur ibadahnya sepanjang Masa Prapaska (Prapaska 1 – 6).

R

Uraian Tema Masa Paska 2011

Page

abu Abu adalah hari pertama pembuka masa Prapaska, dimengerti sebagai masa pertobatan, perkabungan, introspeksi diri, pendekatan diri kepada Tuhan dan berpuasa. Menurut tradisi Israel, abu melambangkan kefanaan manusia, manusia berasal dari debu dan kembali kepada debu (Kej. 3 :

15

19, 18:27). Abu juga dimaksud agar manusia menyesali diri dan bertobat (Yosua 7 :6, Est. 4:3 dlsb.)

S

imbolis-simbolis dalam kehidupan manusia perlu dimengerti dan dihidupkan untuk memperkaya pemahaman dan makna ibadah. Pada abad 4 – 10 belum dikenal istilah Rabu Abu, baru pada abad 11 – 13 tradisi penggunaan abu terjadi. Paus Urbanus II dalam Sinode Benevento (1091) merekomendasikan penggunaan abu di setiap gereja. Imam dan laki-laki menaburkan di kepala, para wanita membubuhkan di dahi. Pada abad 12, abu di ambil dari daun palem yang dikeringkan sejak minggu palem setahun sebelumnya. Penyimpanan palem hingga kering sepanjang tahun untuk mengingatkan penyesalan dan pertobatan, sebagai ritus pribadi. Pada th. 1970 penggunaan abu ditaburkan kepada umat setelah Injil dan kotbah (Kej. 3:19 atau Markus 1: 15 : bertobatlah dan percayalah kepada Injil). Leksionari atau pembacaan alkitab pada Rabu Abu diambil dari uraian tentang puasa, doa san sedekah, atau tentang penyesalan dan pertobatan.

Page

Istilah Rabu Abu dalam ibadah gereja terkait dengan Kalender Gereja. Kalender gereja atau
Buletin Edisi 1 GKI Kwitang - Jakarta

16

Tahun gereja digunakan untuk mengatur tata waktu liturgi yang sangat berguna untuk mengatur hubungan antara hari raya gereja yang satu dengan lainnya. Penyusunan hari raya liturgi perlu dipahami bukan sebagai rekayasa kronologis dan historis, misalnya Natal bukan yang pertama dan Pentakosta itu terakhir.

Dalam perjalanan sejarah gereja muncul di sana sini hari raya gereja, yang kemudian disusun, pada kira-kira akhir abad 4 mulailah dibentuk adanya tiga siklus (lingkaran) hari raya gereja yang disusun menurut kronologis kisah Yesus. Urutan hari raya tsb. Menjadi klasifikasi masa raya liturgi, yaitu :

A. Masa raya Paska, yaitu Rabu Abu, Minggu-minggu Prapaska, Minggu Sengsara / Minggu Palem, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, Paska, Minggu-minggu Paska, kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, Novena (masa penantian turunnya Roh Kudus) dan Pentakosta. B. Masa Raya Natal, yaitu Minggu-minggu Adven, Natal Pertama (24 Des.) dan Natal Pagi (25 Des), hari Minggu setelah Natal, 1 Januari dan Epifania (penampakan).
Page

C. Masa Biasa atau minggu-minggu Biasa (Trinitas) terdiri
Uraian Tema Masa Paska 2011

17

dari dua bagian:   Pertama antara Minggu setelah Epifania sampai hari Minggu sebelum Rabu Abu. Kedua antara Minggu setelah Pentakosta (atau setelah Minggu Trinitatis) sampai Minggu sebelum Adven (disebut hari Kristus Raja, jumlahnya tiga puluh tiga atau tiga puluh empat minggu).

S

emula hari raya Liturgi dimulai dan berpusat pada Paska, kemudian berkembang berdasarkan pemahaman dan penyusunan yang teratur dan dirapihkan, dari yang tidak sistematis dan tidak terencana dalam merayakan peristiwa Kristus (apa yang Tuhan Yesus kerjakan dalam rangka karya penyelamatanNya), selama abad 2 – 4, kemudian barulah secara berurutan para Bapa gereja membentuk dan menyusun kisah teologis agar tahun liturgi mempunyai makna, tema dan cerita.

H
Page

ari raya Liturgi menjadi suatu cara gereja dalam membina jemaat agar dapat menghayati kisah Kristus sesuai kesaksian Kitab Suci untuk diberi bentuk perayaan. Yang berperan adalah para imam/pendeta dan umat/jemaat. Semua dilakukan oleh gereja sebagai persekutuan yang diutus. Setiap orang yang berperan ikut mengenang, merayakan, memberitakan Karya Keselamatan Allah. Karya keselamatan
Buletin Edisi 1 GKI Kwitang - Jakarta

18

Allah dimengerti dalam tiga babak peristiwa : yaitu percaya akan pernyataan Allah, kebangkitran Kristus, dan Roh Kudus yang membangun gereja_Nya. Para ahli menyebut dengan istilah “drama” yang kita saksikan secara berurutan dalam peristiwa Kristus di dunia. Gereja merayakan kehadiran Allah yang berkarya di dunia ini menurut waktu kalender gereja di dalam ibadahnya.

K

etika sejarah gereja menunjukkan terjadinya berbagai perpecahan dengan munculnya berbagai denominasi. Terjadinya perpecahan dengan terbentuknya Gereja Barat dan Gereja Timur, dan pada abad 16, terjadi lagi perpecahan di gereja Barat dengan lahirnya gereja-gereja Reformasi. Munculnya denominasi melahirkan “tradisi baru” dan “liturgi baru”, yang berhubungan dengan tata waktu liturgi atau tata kalender gereja, walaupun semua gereja itu sebenarnya sedang memperingati perayaan Kristus yang sama.

S

ecara ideal, diharapkan muncul tata perayaan liturgi yang oikumenis, yang dapat diterima oleh denominasi-denominasi gereja, baik Katolik maupun Protestan, yang ekumenikal maupun evangelikal. Gerak konvergensi ini dimaksudkan untuk mendekatkan, sehingga gereja-gereja berjalan bersama-sama dalam menghayati ibadah-ibadah yang akan memudahkan anggota jemaat untuk dapat memahami liturgi dan beribadah di manapun dengan pemahaman yang sejalan.
Uraian Tema Masa Paska 2011

Page

19

D AFTAR P USATAKA A. P ENGHITUNGAN P RAPASKA – P ENTAKOSTA

Penjelasan : Ada 6 x 6 hari ditambah 4 hari sejak Rabu Abu = 40 hari Angka 40 simbolik bagi gereja sebagai masa persiapan/ujian. (40 hari Yesus berpuasa, 40 tahun Israel mengembara di Mesir)
Page

20
Buletin Edisi 1

GKI Kwitang - Jakarta

B. T AHUN G EREJA

Uraian Tema Masa Paska 2011

Page

21

Page

22
Buletin Edisi 1

GKI Kwitang - Jakarta

TEMA KOTBAH PRA-PASKA 2011 GKI KWITANG Tema

: “Lihatlah Manusia Itu!”

RABU ABU, 9 Maret 2011, di GKI KWITANG, pkl. 19.00 WIB Tema : PANGGILAN UNTUK MEMAKNAI PERTOBATAN (Ibadah Kontemplatif, Meditatif dengan Pengolesan Abu)    PRA PASKA I , Minggu tgl. 13 Maret 2011 Tema : TAAT DALAM PERSEKUTUAN DENGAN KRISTUS (Nuansa Etnis P. Jawa)    PRA PASKA II, Minggu tgl. 20 Maret 2011 Tema : MENERIMA PILIHAN, MENGAMBIL KESEMPATAN
Uraian Tema Masa Paska 2011

Page

23

(Nuansa Etnis P. Kalimantan) PRA PASKA III, Minggu tgl. 27 Maret 2011 Tema : MENEMBUS KARANG KERAGUAN, MERUNTUHKAN TEMBOK PEMISAH (Nuansa Etnis P. Sumatera & Nias)   PRA PASKA IV, Minggu tgl. 3 April 2011 Tema : MATA HATI YANG MELIHAT TERANG (Nuansa Etnis P. Sulawesi)   PRA PASKA V, Minggu tgl. 10 April 2011 Tema : ALLAH YANG HIDUP MEMBERI KEHIDUPAN (Nuansa Etnis P. Bali, NTT, NTB)     PRA PASKA VI (PALMARUM), Minggu tgl. 17 April 2011 Tema : HAMBA, BUKAN SEBATAS NAMA (Nuansa Etnis Kep. Maluku dan Papua)
Buletin Edisi 1 GKI Kwitang - Jakarta

Page

24



Uraian Tema Masa Paska 2011

Page

25

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful